Ceritasilat Novel Online

Kasih Diantara Remaja 9

Eps 9 Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Baca online Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Cersil Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo.

Ia melihat Pangeran Mongol itu tengah menulis di atas kertas kuning dengan huruf-huruf hitam.

Huruf-huruf besar dan indah.

Memang pandai sekali Pangeran Mongol ini menulis indah.

Huruf huruf bersajak pula.

Saking tertarik, dari atas genteng melalui celah-celah yang dibuatnya, ia membaca tulisan itu.

"Menjadikan Turkistan "

Tibet -Sin kiang sekutu. Menghancurkan semua barisan Mancu. Setelah seluruh Tiongkok ditaklukkan Apa sukarnya mengusir sekutu bekas taklukan?"

Membaca tulisan ini, Han Sin menjadi marah sekali.

Alangkah besarnya dan kejinya cita-cita keturunan Jenghis Khan ini.

Hendak mengajak negara tetangga untuk bersekutu merampas dan menduduki Tiongkok, kemudian memukul sekutu ini yang dianggapnya hanyalah negara-negara bekas taklukan nenek moyangnya, Jenghis Khan!

Benar-benar seorang pemuda yang bercita-cita besar tapi amat curang dan keji.

"Bhok Kian Teng, aku datang!"

Han Sin berseru perlahan.

Ia melihat pangeran itu kaget dan berdiri dari bangkunya di belakang meja, akan tetapi di lain detik Han Sin sudah berdiri di depannya, hanya terhalang meja di mana terbentang tulisannya tadi.

Han Sin berdiri dengan keren, bertolak pinggang sambil menatap wajah pangeran itu yang kelihatan pucat dan kehilangan akal.

Akhirnya Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng dapat menguasai ketakutannya, tersenyum lebar dan berkata ramah.

"Aha, kiranya orang gagah nomor satu di kolong langit yang datang mengunjungiku. Kebetulan sekali, saudara Cia. Aku sedang kesepian dan membutuhkan sahabat yang cocok untuk diajak mengobrol. Saudara Cia Han Sin, kau muda dan gagah, memiliki kelihaian luar biasa. Kenapa kau menyia-nyiakan masa muda dan kepandaianmu? Akupun masih muda dan biarpun tidak selihai kau dalam ilmu silat, namun aku memiliki kepandaian khusus dalam hal ketatanegaraan dan ilmu perang. Mari kita bersatu, kita bersama merebut dunia......"

"Gila! Siapa sudi mendengar obrolanmu, Bhok Kian Teng, kau apakan Bi Eng? Kau yang sudah membunuh Ciu-ong Mo-kai, membunuh Lie Ko Sianseng, membunuh Thio-ciangkun, membunuh banyak pula orang-orang gagah, patriot-patriot menjadi pengkhianat-pengkhianat. Kau apakan Bi Eng? Di mana dia sekarang? Ayoh, kau lekas mengaku dan bebaskan Bi Eng!"

Han Sin marah bukan main, suaranya keras, matanya berapi dan telunjuk kirinya ditudingkan ke muka pangeran itu, sedangkan tangan kanannya bertolak pinggang, sikapnya menantang dan mengancam.

Namun Bhok-kongcu hanya tersenyum ramah.

Matanya memandang penuh ejekan.

"Aku tidak mengganggu adikmu, tidak melihat nona Bi Eng harap kau, jangan menuduh yang bukan-bukan....."

"Bohong! Setan pengecut. Seorang laki-laki berani berbuat harus berani menanggung resikonya, harus berani bertanggung jawab. Kau seorang laki-laki pengecut, dan......."

"Diri sendiri pengecut, memaki orang lain, cih, sungguh tak tahu malu......."

Tiba-tiba terdengar suara mencela, suara yang nyaring halus tapi ketus, yang membuat tersirap darah Han Sin dan pemuda ini menoleh cepat. Bi Eng sudah berdiri di belakangnya! "Bi Eng......!"

Gadis ini berdiri dengan gagah dan keren, bertolak pinggang, gagang pedang tersembul di balik pundak, sepasang matanya bernyala menatap wajah Han Sin.

"Bi Eng..... adikku........"

"Siapa adikmu? Cih, benar-benar tak tahu malu. Pura-pura tidak tahu lagi.......! Orang she Cia, biarlah kubalaskan sakit hati ibuku yang sudah terhina oleh ayahmu!"

Gadis itu mencabut pedangnya, namun masih ragu-ragu melihat Han Sin berdiri seperti patung, pucat dan lemas.

"Nona Tilana, serang saja musuh kita ini!"

Kata Bhok Kian Teng sambil menendang meja di depannya yang melayang ke arah Han Sin.

Tanpa menoleh Han Sin yang berdiri menghadapi gadis itu, membelakangi Bhok-kongcu, menggerakkan kepalan tangannya ke belakang dan "brakkk!"

Meja dari kayu tebal itu hancur berkeping-keping! Demikianlah hebatnya dan dahsyatnya pukulan pemuda itu, membuat Bhok Kian Teng terkejut dan otomatis melangkah mundur saking jerihnya.

"Bi Eng,.... Eng-moi..... kenapa kau sekarang bernama Tilana? Apa yang terjadi? Apa dosaku terhadapmu......? Andaikata betul kau sudah tahu..... bahwa kau...... bukan adik kandungku...... mengapa kau jadi begini? Mengapa kau membenciku.....? Eng-moi........?"

"Tutup mulutmu!"

Bi Eng membentak dengan suara nyaring sambil menyerang dengan pedangnya, menusuk tenggorokan Han Sin!

Akan tetapi bentakannya itu terdengar jelas oleh Han Sin bahwa di dalamnya terkandung isak tangis!

Pemuda ini bingung dan hancur hatinya.

la cepat mengelak.

Kerling matanya melihat betapa Bhok Kian Teng sudah lenyap dari situ.

Tadinya ia hendak menangkap Pangeran Mongol itu yang ia kira tentulah menjadi biang keladi semua peristiwa aneh ini.

Akan tetapi pangeran yang licik itu sudah melenyapkan diri dan sebagai gantinya, dari balik pintu belakang muncul tiga orang raksasa berkulit putih!

la sudah mengenal mereka, sudah mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang lihai pembantu Bhok Kian Teng.

Andaikata di sini tidak ada Bi Eng yang ikut menyerangnya, tentu ia akan menghadapi dan melayani tiga orang aneh itu mati-matian.

Akan tetapi bagaimana dia bisa melawan Bi Eng?

Han Sin mengeluarkan pekik yang amat nyaring, pekik dari perihnya hati dan perasaannya, pekik nyaring yang membuat gadis yang menyerang itu sekaligus menjadi lemas dan hampir roboh karena kedua kakinya terasa lemas.

Bahkan tiga orang aneh itupun terhuyung-huyung.

Ketika mereka sudah dapat menenangkan hati, ternyata Han Sin sudah lenyap dari tempat itu!

Han Sin tidak melihat lagi betapa gadis itu berlari memasuki sebuah kamar, membanting diri di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.

Berkali-kali Han Sin menyelidiki tempat itu.

Akan tetapi alangkah kaget dan menyesalnya ketika mendapat kenyataan bahwa keesokan harinya, gedung itu telah kosong!

Tak seorangpun tahu ke mana perginya Bhok Kian Teng bersama pembantu-pembantunya dan ke mana pula perginya Bi Eng......

ataukah bukan Bi Eng gerangan gadis itu?

Dengan hati kosong dan gelisah sekali Han Sin meninggalkan kota Potouw dan semenjak saat itu, pikiran Han Sin menjadi tidak karuan.

Terlampau berat tekanan batin yang dideritanya.

Belum lagi beres urusannya dengan Tilana yang amat berat menindih hatinya, sekarang ditambah lagi dengan urusan Bi Eng yang amat aneh.

Apakah yang terjadi dengan gadis itu?

Tadinya ia tinggal di Ta-tung, bersama Lie Hoa dan yang lain-lain.

Kenapa tahu-tahu berada di utara, berkeliaran bersama Bhok-kongcu, mengaku bernama Tilana dan bersikap memusuhinya?

Malah seakan-akan sudah tahu bahwa dia puteri Balita, terbukti dari ucapannya hendak membalaskan sakit hati ibunya yang telah dihina oleh ayahnya!

Dengan adanya Bi Eng di samping Bhok-kongcu, kebencian Han Sin terhadap Pangeran Mongol itu makin memuncak.

Malah sekarang ia menjadi benci sekali kepada setiap orang Mongol.

Kehancuran hatinya membuat ia berpendirian lain sekarang.

Setiap kali ia bersua dengan pasukan Mongol yang sudah cerai-berai itu, tanpa ragu-ragu lagi Han Sin lalu mengamuk dan membasminya!

Tanpa disadari, kemarahan dan kebenciannya terhadap Bhok-kongcu membuat ia menjadi seorang pembantu Mancu yang banyak jasanya.

Setiap kali melihat orang Mongol, ia lalu menangkapnya dan memaksanya memberi keterangan di mana adanya Pangeran Galdan.

Dia terus mencari pangeran ini dengan hati penuh dendam.

Pada suatu hari ia melihat sepasukan besar tentara Mancu menuju ke barat, melalui tapal batas antara Mongolia dan Sin-kiang.

Tentu mereka sedang mengejar-ngejar bala tentara Mongol, pikir Han Sin.

Oleh karena itu Han Sin lalu mengikuti dari jauh.

Ketika menjelang senja barisan itu tiba di selat gunung, tiba-tiba pasukan-pasukan Mongol yang dikejar itu membalik dan melakukan serangan.

Terjadilah perang di selat gunung.

Barisan Mancu lebih besar jumlahnya, maka sia-sialah bala tentara Mongol itu melakukan perlawanan.

Akan tetapi, setelah terdengar sorak-sorai riuh dari balik gunung, baru tahu orang-orang Mancu bahwa mereka telah terjebak.

Orang-orang Mongol itu ternyata telah mengatur siasat telah bersekutu dengan suku-suku bangsa lain di daerah ini, mengerahkan pasukan-pasukan dari Sin-kiang, dari Mongolia Luar, bahkan ada pula pasukan Turkestan, lalu mengepung barisan Mancu dari tiga jurusan!

Perang tanding hebat terjadi, namun sekarang pihak Mancu yang mengalami kerugian dan terdesak hebat.

Tadinya Han Sin hanya menonton saja pertandingan itu dari atas puncak.

Ia tidak mau perduli.

Akan tetapi, ketika ia melihat bayangan Pak-thian-tok Bhok Hong, tak dapat ia menahan kemarahannya.

Segera ia berlari turun dari puncak untuk menghadapi musuh besar itu.

Dari puncak ke tempat peperangan itu bukan dekat, melalui hutan kecil dan jurang.

Ketika tiba di tempat pertempuran, Han Sin kehilangan Bhok Hong.

Tidak dilihatnya lagi tokoh besar itu di antara mereka yang masih berperang.

Mayat bertumpuk-tumpuk, tanah banjir darah.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh seruan orang yang memiliki khikang yang amat tinggi.

Itulah tanda bahwa tak jauh dari situ terdapat orang-orang pandai sekali sedang bertempur.

Han Sin tidak perduli akan peperangan antara orang Mongol dan orang Mancu.

Ketika tiba di situ dan berada di tengah peperangan, siapa saja yang dekat dengannya dan mencoba menyerangnya, baik tentara Mongol maupun tentara Mancu, tentu ia robohkan dengan pukulan atau tendangan.

Setelah mendengar seruan-seruan aneh itu, Han Sin lalu berlari pergi meninggalkan gelanggang peperangan, terus berlari cepat menuju ke sebuah hutan di mana tidak terdapat tentara yang sedang berperang.

Dari sinilah datangnya seruan-seruan tadi.

Makin dekat dengan tempat itu, makin kagetlah Han Sin, di samping keheranannya.

Suara-suara itu benar-benar hebat, membuat jantungnya tergetar dan cepat ia harus mengerahkan lweekangnya untuk menahan getaran-getaran itu.

Makin tertarik hatinya.

Tentu orang-orang luar biasa yang sedang mengadu ilmu.

Setelah dekat, benar saja dugaannya.

Ternyata Pak-thian-tok Bhok Hong sendiri yang sedang berhadapan dengan seorang kakek tua, duduk bersila berhadapan dalam jarak tiga meter, saling bercakap-cakap mempergunakan tenaga khikang yang hebat!

Kadang-kadang mereka tertawa, juga dalam suara ketawa ini mengerahkan tenaga untuk menindih lawan.

Dengan amat tertarik, Han Sin menyelinap di balik pohon besar dan mengintai, Bhok Hong duduk bersila dengan tubuh tegak, matanya bersinar-sinar, mukanya tegang dan mulutnya membayangkan kemarahan dan penasaran.

Pada saat itu, terdengar kakek tua di depannya berkata, suaranya perlahan, akan tetapi mengandung tenaga yang luar biasa.

"Pak-thian-tok, semenjak muda kita sama-sama berkelana di dunia, sama-sama melihat dan mengalami bermacam hal. Semenjak itu kau selalu mengambil jalan sesat, sudah beberapa kali aku menentangmu, memberi peringatan dan nasihat. Akan tetapi sampai sekarang kau bukannya berubah. Malah makin jauh tersesat. Bhok Hong, apakah kau tidak takut akan kemurkaan Tuhan? Apakah kau tidak mengenal Tuhan?"

Han Sin makin tertarik.

Orang-orang tua ini agaknya tidak hanya mengadu ilmu kepandaian silat, agaknya hendak berdebat pula tentang kebatinan dan tentang pengetahuan-pengetahuan yang dalam.

Filsafat-filsafat hidup, ini kesukaannya.

Maka ia mendengarkan dengan penuh perhatian sambil diam-diam menduga-duga siapa gerangan kakek di depan Pak-thian-tok Bhok Hong itu.

Kakek itu sudah tua sekali, pakaiannya sederhana dari kain putih yang kasar, rambutnya tak terurus, akan tetapi bersih dan penuh uban seperti jenggotnya, panjang terurai ke belakang.

Di dekat tempat ia duduk bersila terdapat sebatang tongkat buruk sekali.

Menghadapi celaan kakek itu, Pak-thian-tok Bhok Hong tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring sekali sampai Han Sin merasa betapa pohon yang disentuhnya tergetar!

"Ha ha ha ha!

Hui-kiam Koai-sian!

Kau bicara tentang Tuhan?

Ha ha ha!

Khong Cu sendiri orang yang kalian orang-orang Han anggap sebagai nabi atau guru besar kebatinan, dia jarang sekali menyebut-nyebut tentang Tuhan!

Kurasa Khong Cu sendiri juga tidak mau tahu tentang Tuhan!"

"Kau keliru, Pak-thian-tok. Justeru karena Nabi Khong Cu amat mengenal Tuhan, amat tebal imannya sehingga beliau menjadi amat setia dan taat kepada Tuhan, maka semua pelajaran yang beliau ajarkan adalah sesuai dengan Ketuhanan........"

"Koai-sian! Kau kira aku ini orang macam apa? Apa kaukira aku belum pernah membaca kitab-kitabnya? Khong Cu hanya mengajarkan tata susila hidup, mengajarkan prikemanusiaan, bukan Ketuhanan. Pernahkah Khong Cu menyebut-nyebut tentang sabda Tuhan, tentang kegaiban Tuhan? Itu tandanya dia tidak mau mengenal Tuhan!"

"Kembali kau keliru, Pak-thian-tok. Ketuhanan merupakan dasar kepercayaan, merupakan iman dan pegangan bagi manusia bahwa di alam semesta ini, ada kekuasaan Tertinggi yang mengatur dan menentukan segala sesuatu, kekuasaan tertinggi Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, yang tak terselami alam pikiran manusia. Ketuhanan ialah iman pada Yang Maha Kuasa. Karena imannya sudah penuh dan ketaatan dan kesetiannya terhadap Tuhan sudah mutlak, maka Nabi Khong Cu mengajarkan tata susila hidup dan prikemanusiaan pada umat manusia."

"Apa kataku tadi? Dia hanya mengajarkan prikemanusiaan dan jangan kau campur-campur tentang prikemanusiaan itu dengan Ketuhanan,"

Bantah Bhok Hong.

"Diumpamakan pohon, Ketuhanan adalah akar dan batangnya, prikemanusiaan adalah cabang-cabang, ranting-ranting dan daun-daunnya. Bagaimana tidak harus dicampurkan? Karena memang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Ketuhanan merupakan iman kepercayaannya, adapun prikemanusiaan merupakan jalannya atau cara membuktikan adanya iman itu. Prikemanusiaan dan tata susila hidup bukan lain adalah prikebajikan, yang berarti pula hukum yang ditentukan oleh Tuhan. Ketuhanan tanpa prikemanusiaan takkan berarti karena tanpa bukti perbuatan yang nyata, sebaliknya prikemanusiaan tanpa Ketuhanan dapat menyeleweng karena tidak berdasar pada sumber atau pokoknya. Karena itu, Nabi Khong Cu mengajarkan tentang mempertebal tata susila hidup dan prikemanusiaan, karena kebiasaan-kebiasaan baik akan mendatangkan watak yang baik, dan semua ini sebetulnya hanyalah jalan untuk mendekatkan orang kepada Tuhannya."

"Ha ha ha, Koai-sian, kau memang tukang omong! Omong kosong belaka! Kau sebut-sebut nama Tuhan itu berarti bahwa manusialah yang menciptakan sebutan Tuhan! Tuhan itu apa sih? Tak dapat kuraba, tak dapat kulihat, tak dapat kedengarkan suaranya. Mana ada Tuhan? Kalau benar ada, Hui-kiam Koai-sian, coba kau keluarkan, biar kulihat dan kuraba dia!"

Hui-kiam Koai-sian tersenyum sabar. Han Sin yang mendengarkan di balik pohon menjadi makin tertarik. Hebat "perang tanding"

Kebatinan ini, pikirnya.

"Tak salah kata-katamu tadi bahwa sebutan Tuhan, seperti juga sebutan lain yang diucapkan oleh bibir, adalah ciptaan manusia. Demikian pula sebutan untuk Yang Maha Kuasa yang diucapkan oleh manusia-manusia berbangsa lain dengan bahasa mereka yang berbeda. Namun, seperti juga langit dan bumi, disebut apapun juga oleh bahasa apapun di dunia ini, kenyataannya tetap ada langit dan bumi itu. Demikian pula Tuhan, biarpun ada seribu satu macam sebutan di dunia ini sesuai dengan bahasa masing-masing, sebetulnya hanyalah Satu, yaitu Yang Maha Kuasa."

"Sekarang, kalau memang betul Tuhan itu ada, kau keluarkan biar kulihat dia, Koai-sian."

Bhok Hong menantang, mengejek.

"Bicara dengan seorang yang berwatak curang memang harus siap menghadapi segala macam tipu muslihat omongan, Pak-thian-tok. Kukatakan tadi bahwa Ketuhanan adalah soal iman, tinggal percaya atau tidak."

"Buktikan! Buktikan kalau memang ada, jangan putar balik omongan!"

"Sabarlah, tentu saja aku bisa buktikan, akan tetapi ada syaratnya."

"Bagaimana, teruskan!"

Bhok Hong menantang.

"Pak-thian-tok Bhok Hong, aku tidak berani mengatakan bahwa kau seorang yang tidak mempunyai pikiran. Kau tentu mempunyai pikiran, bukan?"

"Tentu saja! Bahkan pikiranku lebih terang dari pada pikiranmu!"

"Tentu....., tentu.....! Dan kaupun tentu mempunyai nyawa, ataukah..... barangkali kau sudah tidak bernyawa lagi......?"

"Setan! Kalau aku tidak bernyawa tentu aku mampus. Tentu saja aku mempunyai nyawa!"

"Nah, begitulah, Pak-thian-tok. Aku sudah membuktikan kepadamu tentang adanya Tuhan, apakah kau masih tidak mengerti?"

Bhok Hong melengak heran.

"Mana dia, Tuhanmu itu? Apa maksudmu?"

Hui-kiam Koai-sian mengelus-elus jenggotnya yang putih.

"Kau tadi minta aku mengeluarkan Tuhan. Aku akan dapat mengeluarkan Tuhan untuk kaulihat dan raba. Pak-thian-tok, asal saja kaupun bisa mengeluarkan pikiran dan nyawamu untuk kulihat dan kuraba! Bukankah kau mengaku bahwa aku mempunyai pikiran dan nyawa? Nah, akupun mengaku bahwa aku mempunyai Tuhan. Kau keluarkanlah pikiran dan nyawamu, dan aku akan mengeluarkan Tuhanku. Bagaimana?"

Pak-thian-tok tak dapat menjawab.

"Itu..... hal itu..... ah, kau telah menipu dan menjebakku!"

Hui-kiam Koai-sian menggeleng kepala.

"Tidak sama sekali. Kau harus mengakui bahwa memang ada hal-hal yang tidak kelihatan, tidak dapat diraba oleh panca indera, namun yang dapat dirasa oleh hati kita. Dan rasa itulah yang mengenal adanya pikiran dan nyawa atau hal-hal lain yang tidak mempunyai wujud yang dapat dilihat atau dirasa oleh panca indera."

Pak-thian-tok Bhok Hong merasa terpukul dan terdesak. Ia mendengarkan saja uraian Hui-kiam Koai-sian yang sedang memberi "kuliah"

Kepadanya tentang Ketuhanan.

Ia maklum bahwa di dalam suaranya, Hui-kiam Koai-sian telah mengerahkan khikang yang takkan mungkin ditembusi oleh penyerangan gelap dari pengaruh suara lain.

Diam-diam Pak-thian-tok Bhok Hong mengerahkan tenaga ke dalam sepasang lengannya dan bersiap siaga untuk melakukan penyerangan tiba-tiba.

Hui-kiam Koai-sian agaknya tidak melihat akan tetapi Han Sin yang dapat menduga, karena pemuda ini melihat betapa Pak-thian-tok Bhok Hong memusatkan perhatian, mengatur napas dan kedua lengannya perlahan-lahan berubah hitam, tanda bahwa kakek itu menyalurkan tenaga Hek-tok-sin-kang.

Pemuda ini merasa khawatir sekali.

Ia sudah mendengar nama Hui-kiam Koai-sian sebagai pencipta ilmu Lo-hai Hui-kiam yang ia pelajari dari Giok Thian Cin Cu, maka secara tidak langsung kakek ini boleh dibilang masih terhitung gurunya sendiri dalam ilmu silat itu.

Akan tetapi iapun maklum bahwa dalam perang tanding antara dua orang tokoh besar ini amat tidak baik kalau ia ikut-ikut, kecuali kalau melihat kakek itu dikeroyok.

Maka ia hanya memandang dengan hati berdebar sambil mendengarkan uraian Hui-kiam Koai-sian tentang sifat sifat Ketuhanan.

"....... mau tahu kekuasaan Tuhan?"

Kakek itu melanjutkan uraiannya dengan mata setengah berkatup.

"Lihatlah di sekelilingmu...... pasir, batu, rumput, kembang, awan, matahari..... dan apa saja yang dapat kaulihat. Alangkah hebatnya, alangkah indahnya semua itu. Semua itu sudah terang ada dan semua yang ada tadinya dari tiada, karena itu yang ada tentu ada yang Mengadakan! Dia yang Mengadakan inilah Yang Maha Kuasa. Betapa gaibnya kembang-kembang itu, dengan warna tertentu, bentuk tertentu, lihat burung-burung terbang bersayap, ikan-ikan berenang di dalam air, semua sudah sempurna semenjak tercipta. Itulah Kuasa Tuhan!"

Hui-kiam Koai-sian berhenti sebentar, menarik napas panjang, wajahnya berseri.

"Mau tahu akan kemurahan hati Tuhan? Lihat, semua yang tampak di dunia ini diberikan kepada kita! Setiap benda di dunia ini ada gunanya, hanya terserah kepada kemampuan kita untuk menyelidiki apa kegunaan tiap benda itu. Dan semua itu diberikan kepada kita tanpa minta balasan! Tidak, memilih dulu. Bangsa apapun juga, mahluk apapun juga, yang jahat maupun yang baik, semua disamakan, semua mendapat bagian, semua diberi anugerah itu......."

Pada saat itu, secara tiba-tiba Bhok Hong mengirim serangannya dari jauh, dengan memukulkan kedua tangannya yang penuh hawa beracun Hek-tok-sin-kang itu ke depan, sepenuh tenaga.

lnilah penyerangan gelap yang amat berbahaya.

Biarpun jarak di antara tempat mereka duduk ada tiga meter lebih, namun penyerangan ini tak kalah berbahayanya dari pada pukulan yang menghantam kulit dan daging secara langsung.

Tenaga pukulannya mendatangkan angin yang hebat, yang sebelum sampai pada sasarannya sudah membawa angin pukulan yang panas dan bersuara seperti pedang diayun.

Hui-kiam Koai-sian adalah seorang ahli silat tinggi yang banyak pengalamannya.

Tentu saja, biarpun perhatiannya tadi ditujukan kepada pembicaraannya, namun angin pukulan itu tidak terlepas dari pendengarannya.

"Manusia curang.....!"

Keluhnya, maklum akan bahaya maut yang mengancamnya.

Ia mengempos semangatnya, menggerakkan tangan kiri setengah lingkaran di depan dada untuk menjaga bagian tubuh ini sedangkan dua jari tangan kanannya ia tusukkan ke depan mengarah dada lawan untuk menangkis atau menggempur serangan Pak-thian-tok Bhok Hong.

Han Sin membelalakkan kedua matanya.

Ia mengenal gerakan yang dilakukan oleh kakek itu.

Itulah jurus Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan), jurus ke tujuh belas dari Ilmu Silat Lo-hai Hui-kiam yang tiga puluh enam jurus banyaknya.

Indah dan hebat gerakan itu dan ia maklum pula bahwa memang jurus-jurus itulah yang paling tepat untuk menangkis serangan gelap yang dahsyat dari Bhok Hong itu.

Pemuda ini seakan-akan mendengar suara bertumbuknya dua tenaga dahsyat itu di tengah udara dan maklum pula bahwa Hui-kiam Koai-sian menderita kerugian dalam bentrokan pertama ini.

Dia kalah persiapan dan kalah dulu, maka sebagian tenaga penyerangan Bhok Hong dapat mendobrak pertahanan Hui-kiam Koai-sian dan terus menyerang dada kakek itu.

Baiknya Hui-kiam Koai-sian sudah menjaga diri sehingga biarpun tenaga pukulan Hek-tok-sin-kang itu mengenai dadanya, namun sudah tertahan oleh tangan kiri yang dilingkarkan di depan dada.

Betapapun juga, kakek ini menjadi pucat seketika dan.....

muntahlah darah segar dari mulutnya!

Wajah Pak-thian-tok Bhok Hong membayangkan kegembiraan, akan tetapi mulutnya tertutup.

Ia hanya mengirim serangan lagi secara bertubi-tubi, semua dilakukan dengan tangan yang mengandung cengkeraman-cengkeraman maut!

Biarpun Hui-kiam Koai-sian sudah terluka dan muntah darah, namun dengan tenang kakek ini masih dapat menangkis semua serangan, malah kini mulai balas menyerang dengan Ilmu Silat Lo-hai Hui-kiam yang amat lihai itu.

Han Sin yang menonton pertandingan mati-matian yang dilakukan dengan tenaga dalam sepenuhnya, dilakukan tanpa mengeluarkan suara karena semua tenaga dikerahkan dalam pertandingan ini, diam-diam merasa amat kagum akan Ilmu Silat Lo-hai Hui-kiam yang dimainkan kakek itu.

Ia baru tahu bahwa ilmu silat ini benar-benar hebat, kalau sudah dilatih secara sempurna, ternyata yang tiga puluh enam jurus itu sudah cukup kuat untuk menghadapi serangan sedahsyat serangan Pak-thian-tok Bhok Hong, malah dapat membalas dengan serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Makin lama serang menyerang antara dua orang kakek yang duduk bersila sejauh jarak tiga meter itu, makin hebat.

Akan tetapi anehnya, gerakan mereka makin lambat.

Jangan dikira bahwa mereka kehabisan tenaga atau kelelahan, tidak sama sekali, pukulan-pukulan yang dilakukan makin lambat ini sebetulnya malah makin berbahaya karena itulah tanda bahwa pukulan itu mengandung tenaga dalam yang sepenuhnya.

Seakan-akan tergetar udara sekeliling dua orang kakek itu.

Tanpa diketahui dan tanpa dilihat pula, tempat duduk mereka tergeser makin dekat tanpa mereka menggerakkan kedua kaki yang bersila!

Sementara itu, sorakan-sorakan orang yang berperang di dekat gunung masih terdengar sayup sampai dari tempat itu.

Han Sin tak dapat membedakan lagi suara-suara itu dan tidak tahu bagaimana kesudahan perang antara barisan Mongol dan barisan Mancu.

Perhatiannya amat tertarik oleh perang tanding antara dua orang tokoh di dunia persilatan yang pada masa itu kiranya sudah boleh dianggap dua orang yang paling tinggi kedudukannya, tentu saja di bawah Pek Sin Niang-niang yang memiliki kesaktian luar biasa.

Tiba-tiba Han Sin dikejutkan oleh suara lengking yang luar biasa, serak seperti suara burung gagak, seperti suara ketawa, akan tetapi lebih patut disebut ketawa iblis dari pada ketawa manusia.

"Hoa Hoa Cinjin......"

Han Sin segera mengenal suara ini dan jantungnya berdebar.

Teringat ia akan Hoa-ji dan ia mengharapkan tokoh jahat ini akan muncul bersama anak angkatnya, Hoa-ji.

Tepat seperti dugaannya.

Dari jauh mendatangi dua bayangan yang cepat larinya dan tak lama kemudian muncullah Hoa Hoa Cinjin, tosu jahat yang bermata luar biasa itu, bersama nona berkedok, Hoa-ji!

Tosu ini begitu melihat keadaan Pak-thian-tok Bhok Hong yang sedang bertempur mati-matian melawan Hui-kiam Koai-sian, maklum bahwa dia sendiri tidak mungkin dapat campur tangan dalam pertandingan antara dua orang tokoh besar yang kepandaiannya masih beberapa tingkat lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi, dasar orang jahat, tiba-tiba dan sayangnya Han Sin terlalu memperhatikan Hoa-ji yang membuat jantungnya berdebar kalau teringat bahwa di bawah kedok itu bersembunyi wajah adik kandungnya sehingga pemuda ini tidak melihat gerakan Hoa Hoa Cinjin, tosu itu mengayun tangannya dan sinar hijau menyambar ke arah tenggorokan Hui-kiam Koai-sian!

Pada saat itu, jarak antara Hui-kiam Koai-sian dan Pak-thian-tok hanya tinggal dua meter lagi.

Pertandingan antara mereka sedang terjadi dengan hebatnya.

Dua pasang lengan itu bergerak-gerak, saling serang dan saling desak, angin pukulan mereka membuat rambut dan pakaian mereka bergerak-gerak seperti tertiup angin puyuh.

Pada saat sinar hijau dari beberapa batang Cheng-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) itu menyambar ke arah tenggorokan Hui-kiam Koai-sian, kakek ini kaget sekali akan tetapi ia tak sempat mengelak karena sedang menghadapi desakan Bhok Hong.

Anehnya jarum-jarum itu sebelum mengenai leher, sudah runtuh semua ke bawah, seakan-akan tertolak semacam hawa yang ajaib.

Hanya ada dua batang yang terbangnya agak ke bawah, tepat menancap di pundak Hui-kiam Koai-sian yang mengeluarkan rintihan perlahan.

Gerakan kakek ini menjadi lambat karenanya, dan kini ia berada dalam keadaan berbahaya, terdesak hebat oleh Bhok Hong, bahkan terkurung oleh rangkaian penyerangan racun utara itu.

"Manusia curang.....!"

Han Sin tak dapat menahan kemarahannya ketika menyaksikan hal ini dan cepat ia melompat ke depan sebelum Hoa Hoa Cinjin sempat menggunakan jarum-jarumnya lagi.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hoa Hoa Cinjin ketika melihat pemuda yang sakti dan aneh itu muncul.

Dia sudah tahu akan kelihaian Han Sin, maka begitu melihat pemuda ini muncul, cepat ia mencabut pedangnya dan berteriak kepada Hoa-ji.

"Hoa-ji, ayoh kita gempur bocah siluman ini!"

Tanpa menjawab nona berkedok itupun mencabut pedangnya.

Dua sinar gemilang berkeredepan ketika ayah dan anak angkat itu maju menyerang Han Sin.

Pemuda inipun tidak tinggal diam, cepat meloloskan Im-yang-kiam yang dibelitkan di pinggangnya.

Pertandingan seru terjadi di dekat dua orang kakek yang masih mengadu ilmu secara mati-matian itu.

"Nona Hoa-ji, harap jangan ikut menyerangku. Aku.... aku membawa pesan Pangeran Yong Tee untukmu....."

Kata Han Sin sambil menangkis pedang Hoa Hoa Cinjin dan mengelak dari tusukan Hoa-ji.

Nona itu nampak ragu-ragu, akan tetapi karena tidak dapat melihat wajahnya, sukarlah untuk menduga apa reaksi kata-kata yang diucapkan Han Sin ini.

Setelah ragu-ragu sebentar, nona itu menoleh ke arah Hoa Hoa Cinjin dan.....

menyerang Han Sin lagi lebih sengit.

Pemuda itu amat cerdik, dapat menduga bahwa andaikata benar ada hubungan antara nona berkedok ini dengan Pangeran Mancu, tentu gadis ini takut kepada ayah angkatnya, maka setelah ragu-ragu sejenak mendengar disebutnya nama Pangeran Mancu itu, setelah memandang kepada ayah angkatnya lalu menyerang kembali.

Hoa Hoa Cinjin menyerang lagi, bahkan kini tangan kirinya ikut pula menyerang dengan ilmu pukulannya yang ampuh, yaitu Cheng-tok-ciang (Tangan Racun Hijau) sedangkan tangan kanannya menyerang dengan pedangnya yang cepat dan dahsyat gerakannya.

Namun Han Sin selalu dapat menghindarkan diri, malah sekali memutar pedang ia selalu dapat menangkis pedang dua orang pengeroyoknya, membuat tangan Hoa-ji tergetar dan seperti lumpuh sedangkan Hoa Hoa Cinjin juga tergetar telapak tangannya.

"Hoa Hoa Cinjin, kau dulu bersusah payah hendak membunuhku. Kalau aku menghendaki, apa susahnya membalas semua itu? Akan tetapi aku tidak akan membalas..... traaangggg!"

Pedang di tangan Hoa Hoa Cinjin terpukul hampir terlepas dari genggaman, sedangkan pedang Hoa-ji yang menyambar leher Han Sin, dielakkan dengan menundukkan kepala secara mudah saja.

"Yang kukehendaki hanya pengakuanmu. Apakah nona Hoa-ji ini anak yang dulu kaurampas dari tangan Kalisang si pemelihara macan?"

Hoa Hoa Cinjin nampak kaget dan marah.

"Setan! Mau apa kau tanya-tanya urusan orang lain? Hoa-ji adalah anak angkatku, kalau benar aku menyelamatkannya dari tangan pemelihara macan, habis kau mau apa?"

Hampir saja Han Sin bersorak girang mendengar ini.

Tak salah lagi, Hoa-ji adalah adik kandungnya!

Akan tetapi ia bergidik juga kalau teringat akan pertemuannya dengan gadis berkedok ini dahulu.

Gadis ini sedikit banyak sudah mewarisi sifat kejam dan liar dari ayah angkatnya.

"Hoa Hoa Cinjin, apakah kau dulu membunuh ayah bundaku di Min-san? Kau yang menghendaki kitab wasiat, tentu kau menyerang mendiang ayahku pula!"

Keder juga hati Hoa Hoa Cinjin.

Pemuda ini begini lihai, kalau saja tidak begini lihai tentu ia akan menyombong dan mengaku saja membunuh Cia Sun dan isterinya, sungguhpun ia sama sekali tidak melakukan hal itu dan sungguhpun ia tahu akan hal kematian mereka, akan tetapi untuk menyangkal sama sekalipun ia merasa malu.

"Benar dulu aku datang ke Min-san. Aku tidak membunuh mereka, tapi aku tahu bagaimana mereka tewas!"

Katanya kembali sambil menyerang lagi.

Pada saat itu pedang di tangan Hoa-ji juga sudah datang menusuk ke arah punggung Han Sin.

Pemuda ini kaget dan girang mendengar pengakuan Hoa Hoa Cinjin, maka cepat bagaikan kilat ia menggunakan pedang Im-yang-kiam untuk "menempel"

Pedang Hoa Hoa Cinjin sehingga pedang tosu itu tak dapat ditariknya kembali.

Tangan kiri tosu itu yang memukul dengan Cheng-tok-ciang, diterima oleh sambaran tangan Han Sin, dibarengi dengan tendangan ke arah kedua lutut tosu itu yang serentak menjadi lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh berlutut.

Pada saat itu, pedang Hoa-ji sudah tiba, tepat menusuk punggung Han Sin.

Alangkah kagetnya gadis itu ketika pedangnya menusuk punggung yang seperti karet uletnya dan seperti baja kerasnya.

Pedangnya meleset, telapak tangannya lecet dan sakit!

Cepat ia meloncat mundur dengan muka pucat.

"Hoa Hoa Cinjin, aku tidak akan membunuhmu. Tapi kau harus mengaku bagaimana matinya ayah bundaku."

"Kenapa kau memaksaku? Mau apa kau?"

Bentak Hoa Hoa Cinjin yang sudah tak berdaya itu.

"Orang tua, ketahuilah. Hal itu amat penting bagiku. Juga ketahuilah bahwa Hoa-ji ini, anak angkatmu yang dulu kaurampas dari tangan Kalisang, dia ini bukan lain adalah anak ayah bundaku juga, adik kandungku yang hilang semenjak kecil, ditukar oleh Ang-jiu Toanio....."

Terdengar jerit tertahan dan Hoa ji yang berdiri di belakangnya hampir roboh terguling, pedang di tangannya terlepas. Gadis berkedok itu menekan dadanya, kemudian lari pergi dari tempat itu.

"Hoa-ji, tunggu! Aku kakakmu sendiri, kakak kandungmu......"

Han Sin meninggalkan Hoa Hoa Cinjin yang masih berlutut dengan mata terbelalak heran.

Pemuda itu lalu mengejar Hoa-ji yang berlari sambil menangis.

Hoa Hoa Cinjin teringat akan Bhok Hong.

Kalau kakek Mongol itu tidak senang menghadapi Hui-kiam Koai-sian, tentu dapat membantunya tadi menghadapi Cia Han Sin.

Ia cepat menengok dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa pertandingan antara dua orang kakek itu sudah mencapai puncak yang paling berbahaya, tegang dan menentukan.

Dua orang kakek itu kini sudah duduk berhadapan dalam jarak dekat sekali, malah dua pasang tangan itu sudah saling menempel, dua pasang telapak tangan saling tempel dan saling dorong.

Seluruh tenaga dalam dikerahkan, wajah mereka kerut-merut, penuh peluh, dari kepala mereka nampak uap mengepul, mata mereka saling pandang tanpa berkedip, dan napas mereka sudah terengah-engah!

Hoa Hoa Cinjin adalah seorang ahli silat tinggi, ia tahu akan arti pertandingan ini.

Pertandingan mati-matian dan seorang di antara mereka pasti akan tewas.

Siapa menang dia mungkin hidup.

Keadaan mereka berimbang, keduanya berada dalam bahaya.

Hui-kiam Koai-sian sudah amat tua, namun nampaknya lebih tenang, kalau aku tidak bantu Pak-thian-tok, bagaimana Racun Utara itu dapat menang?

Dengan keputusan ini, Hoa Hoa Cinjin yang kedua kakinya lumpuh karena tendangan Han Sin tadi, tiba-tiba menggerakkan kedua pahanya dan tubuhnya melayang ke arah Hui-Kiam Koai-sian dari belakang.

Tangan kanannya berkelebat menghantam punggung Hui-kiam Koai-sian dengan pukulan Cheng-tok-ciang.

"Bukkk!"

Terdengar teriakan ngeri dan tubuh Hoa Hoa Cinjin terlempar ke belakang, dari mulutnya keluar darah segar dan tosu jahat ini terbanting dengan mata mendelik, pingsan!

Perubahan hebat terjadi karena kecurangan Hoa Hoa Cinjin ini.

Biarpun dengan sinkangnya yang luar biasa Hui-kiam Koai-sian dapat merobohkan penyerang gelapnya, namun karena sebagian tenaganya molos keluar, pertahanannya kurang kuat.

Saat baik itu dipergunakan oleh Pak-thian-tok Bhok Hong untuk menarik tangan kanannya yang tertempel pada tangan kiri lawan dan secepat kilat jari jari tangannya mencengkeram leher Hui-kiam Koai-sian.

Seketika itu juga jari-jari tangannya amblas ke dalam leher lawan!

Akan tetapi dia sendiri yang menjerit karena pada saat itu juga yaitu dalam saat maut hendak merenggut nyawanya, kakek gagah itu sudah berhasil menggunakan jari-jari tangan kirinya dengan gerak tipu Hui-kiam-thian-sia (Pedang Terbang Turun dari Langit) menusuk ke arah jidat Bhok Hong.

Jari tangan itu menancap ke dalam jidat, merusak otak dan pada saat yang hampir bersamaan nyawa kedua orang tua yang kosen ini melayang meninggalkan tubuh mereka.

Keduanya mati dalam keadaan masih duduk bersila, berhadapan dan dalam sikap yang mengerikan.

Tangan kanan Bhok Hong masih mencengkeram leher Koai-sian sebaliknya jari tangan kiri Koai-sian menancap ke jidat Bhok Hong!

Hoa Hoa Cinjin masih rebah dengan mata mendelik, telentang pingsan di dekat tempat itu.

Suasana menjadi sunyi-senyap.....!

Han Sin terus mengejar Hoa-ji yang berlari cepat memasuki hutan, melompati jurang dan mendaki gunung-gunung batu yang licin berbahaya.

Akan tetapi Han Sin terus mengejarnya sambil memanggil.

"Hoa-ji, kau adik kandungku.... tunggulah......!"

Akhirnya ia kehilangan Hoa-ji dan matahari sudah tenggelam, malam segera tiba dan keadaan amat gelap.

Terpaksa Han Sin menunda pengejarannya karena udara tiba-tiba menjadi amat gelapnya dan melakukan perjalanan di daerah yang penuh jurang ini amat berbahaya.

Semalam suntuk ia tidur, mengaso di bawah batu besar.

Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali begitu terang tanah ia sudah melanjutkan pekerjaannya, mencari-cari.

Akhirnya, alangkah girang hatinya ketika ia melihat tubuh Hoa-ji berbaring miring di bawah pohon, tidur bertilamkan sehelai saputangan lebar.

Agaknya gadis itupun terhalang larinya oleh udara yang gelap malam tadi, kemudian tertidur di situ.

Han Sin cepat meloncat menghampiri dan pada saat ia menjatuhkan diri berlutut di dekat gadis itu, Hoa-ji terjaga dan membalikkan tubuhnya terlentang.

Alangkah kagetnya ketika ia melihat pengejarnya sudah berada di situ, berlutut di dekatnya.

"Pergi kau......! Pergi......!"

Teriaknya.

"Tidak, Hoa-ji. Sudah lama kau kucari, kau..... kaulah Cia Bi Eng, kaulah adik kandungku yang sebenarnya. Kau anak ayah bunda kita, adikku. Buktinya ada, yaitu ada tanda tahi lalat di mata kaki kirimu. Coba kaulihat kau bukalah kedokmu itu aku kakak kandungmu sendiri!"

Han Sin menggerakkan tangan kirinya hendak merenggut kedok di depan muka Hoa-ji, akan tetapi tiba-tiba tangannya gemetar karena ia teringat akan pengalamannya dengan Tilana!

Juga hanya karena membuka kedok ia terlibat dalam urusan yang memusingkan dengan Tilana.

Adapun Hoa-ji ketika mendengar ucapan Han Sin ini, mengeluarkan suara keluhan perlahan, lalu bangun duduk dan suaranya terdengar gemetar.

"..... apa kau bilang......? Tanda di kaki kiri......?"

Dengan kedua tangan menggigil gadis berkedok itu lalu membuka sepatu kaki kirinya, terus membuka kaos kakinya.

Han Sin tentu saja malu untuk memandang, lalu membuang muka tidak mau memandang ke arah kaki gadis itu.

Pada waktu itu, kaki gadis yang selalu tertutup rapat oleh kaos kaki dan sepatu, merupakan bagian tubuh yang amat dirahasiakan, merupakan bagian yang tak boleh dipandang sembarang orang apa lagi laki-laki.

Tak lama kemudian Han Sin merasa dirinya dipeluk orang dan ia mendengar gadis itu menjerit perlahan.

"Kau benar.....! Kau benar....., aku adik kandungmu..... ah, kakakku..... saudaraku tidak mimpikah aku....?"

Ketika Han Sin menengok, ia melihat seorang gadis cantik, tidak tertutup lagi mukanya, menangis di pundaknya.

Han Sin cepat memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya sedikit untuk dapat memandang muka itu lebih nyata lagi.

Mereka berpandangan, dua pasang mata bertemu, saling selidik, mata kakak beradik kandung yang semenjak masih bayi dipisahkan orang.

Keduanya seakan-akan tertarik oleh sesuatu yang gaib, seakan akan merasa bahwa mereka sudah kenal baik muka masing-masing, seperti orang yang dulu sudah kenal baik baru bertemu kembali.

"Kau...... kau Bi Eng adik kandungku....! Ayah...., ibu..... akhirnya anakmu berdua dapat saling bertemu dan berkumpul kembali....."

Tak tertahankan pula air mata menetes turun dari sepasang mata Han Sin ketika ia memeluk adik kandungnya.

"...... kakakku Han Sin......, Sin ko, alangkah lamanya aku menanti-nanti saat seperti ini....... alangkah besarnya rinduku terhadap ayah ibu..... tidak kira..... ayah ibuku adalah ayah bundamu juga yang sudah lama meninggal dunia..... ibu......!"

Dan gadis itu menangis menjerit-jerit sampai akhirnya pingsan dalam pelukan kakaknya.

Hancur hati gadis itu ketika mendapat kenyataan bahwa ayah bundanya sudah meninggal.

Semenjak kecil ia maklum bahwa dia hanyalah anak angkat Hoa Hoa Cinjin, bahwa dia mempunyai ayah bunda kandung.

Akan tetapi Hoa Hoa Cinjin tak pernah mau mengaku, hanya menyatakan bahwa ayah angkatnya itu menemukannya di dalam hutan, tidak tahu anak siapa.

Alangkah besarnya rindu hatinya kepada ayah bundanya, sering kali ia bermimpi bertemu dengan ayah bundanya.

Sekarang, ia bertemu dengan kakak kandungnya dan ternyata bahwa ayah bundanya sudah meninggal dunia.

Han Sin segera dapat mengendalikan perasaannya yang tadi terpengaruh oleh keharuan.

Ia teringat akan Hui-kiam Koai-sian yang sedang mengadu nyawa dengan Pak-thian-tok Bhok Hong, teringat pula akan Hoa Hoa Cinjin yang terluka.

Tiba-tiba ia menarik lengan adiknya.

"Ayoh kita cepat menemui ayah angkatmu itu dan minta penjelasan tentang kematian ayah bunda kita."

Hoa-ji yang sebetulnya bernama Cia Bi Eng yang "tulen"

Ini, tidak membantah, berlari di samping kakaknya menuju ke dalam hutan di mana terjadi pertempuran antara dua orang tokoh besar itu.

Ketika mereka tiba di tempat itu, Hoa-ji mengeluarkan jerit tertahan melihat ayah angkatnya menggeletak dengan wajah pucat dan merintih-rintih, terluka hebat.

Betapapun juga, Hoa Hoa Cinjin adalah ayah angkatnya yang sudah menaruh kasih sayang kepadanya semenjak ia kecil, yang mendidiknya.

"Ayah....."

Ia menubruk, maju dan berlutut, Hoa Hoa Cinjin tersenyum pahit.

"Hoa-ji....., habislah..... aku kali ini......"

Bisik Hoa Hoa Cinjin. Kemudian ia memandang wajah gadis itu penuh kekaguman.

"Kau..... sudah membuka kedokmu...... sudah terbuka rahasiamu....?"

Sambil terisak Hoa-ji mengangguk.

Sementara itu, Han Sin yang sekelebatan memeriksa keadaan dua orang kakek sakti, menarik napas panjang dan merasa kagum sekali.

Dua orang kakek itu tewas dalam keadaan duduk bersila dan saling serang!

Kemudian iapun menghampiri Hoa Hoa Cinjin yang sudah payah pula keadaannya.

"Ayah, dia ini adalah kakak kandungku....."

Ia mendengar Hoa-ji menangis sambil memeluk ayahnya.

"Aku adalah anak dari Min-san........"

"Sudah kuduga..... sudah kusangka demikian.... Ang-jiu Toanio memang kejam, menukar-nukar anak!"

Hoa Hoa Cinjin terpaksa menghentikan kata-katanya karena menderita nyeri bukan main.

"Ayah, katakanlah sekarang, siapa yang membunuh ayah bundaku? Apakah yang menyebabkan kematian mereka?"

Hoa-ji bertanya, mendesak. Hoa Hoa Cinjin menggeleng kepala.

"Tidak ada.... tidak ada yang membunuh...... isteri Cia Sun..... cemburu kepada Balita...... marah-marah, bunuh diri.... dan Cia Sun yang mencintai isterinya..... menjadi kalap dan bunuh diri pula.... aduhhh, selamat tinggal......"

Hoa Hoa Cinjin menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anak angkatnya.

"Sin-ko, apa yang menyebabkan kematiannya?"

Tanya gadis itu kepada Han Sin sambil memandang penuh kedukaan karena gadis ini mengira bahwa ayah angkatnya tewas akibat pertempuran melawan Han Sin tadi. Han Sin dapat menangkap isi hati adiknya.

"Ayah angkatmu terkena pukulan yang hebat sekali. Tadi ketika aku meninggalkannya, aku hanya merobohkannya dengan menendang kedua lututnya. Agaknya ia terkena luka hebat oleh seorang di antara dua kakek sakti itu."

Suara perang di lereng gunung sudah tak terdengar lagi.

Agaknya sudah selesai.

Memang demikian halnya, pasukan-pasukan Mongol sudah dihancurkan dan sedang dikejar-kejar ke barat oleh pasukan Mancu.

Keadaan sunyi sekali.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan dari balik gunung-gunung batu yang besar berlompatan beberapa orang.

Yang terdepan adalah orang jangkung pembantu Bhok Kian Teng yang lihai itu, yang dulu mengeroyok Han Sin bersama Bhok Kian Teng dan Bi Eng.

Kini manusia aneh yang tinggi seperti pohon bambu itu muncul lagi, bersama beberapa orang pembantu Bhok Kian Teng.

Bahkan Bhok Kian Teng sendiri tampak muncul di belakang orang-orang itu.

Beberapa orang di antara mereka yang terdepan menunggang kuda, agaknya mereka ini tadi bersembunyi karena kalah perang dan sekarang siap hendak mengawal Bhok Kian Teng pergi dari situ.

Melihat mereka datang, Han Sin diam-diam terkejut dan khawatir.

"Kalau mereka melihat ayah angkatmu dan Pak-thian-tok tewas, tentu mengira aku yang melakukannya dan kau disangka mengkhianati mereka. Adikku, kau tunggulah di sini, biar aku merampas seekor kuda dan kita kabur dari sini. Perjalanan ke selatan amat jauh, lebih baik kalau kita mempunyai seekor kuda yang besar dan kuat."

Hoa-ji hanya mengangguk saja, lalu bersembunyi.

Han Sin dengan langkah lebar menghampiri rombongan orang yang sudah melihatnya itu.

Si jangkung itu begitu melihat musuh lamanya yang dulu terlepas dari tangannya ketika ditolong Pek Sin Niang-niang, mengeluarkan suara aneh lalu langsung menyerang dengan kedua tangannya yang berlengan panjang.

Han Sin tidak mau memberi hati lagi.

Sekarang setelah tenaganya pulih semua, mana ia takut menghadapi si jangkung ini?

Serangan itu ia sambut dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga.

"Plak!"

Tangan si jangkung tidak terpental oleh tangkisan Han Sin, malahan menempel seperti mengandung perekat yang kuat.

Han Sin terkejut juga, mereka berdua berkutetan mengadu tenaga, akhirnya si jangkung terpelanting dan bergulingan sampai empat lima meter ketika Han Sin mengerahkan tenaga melemparkannya!

Orang-orang kepercayaan Bhok Kian Teng maju mengeroyok.

Akan tetapi Han Sin meloncat tinggi, sekali jambret sudah berhasil melemparkan seorang penunggang kuda dan tubuhnya sendiri turun di punggung kuda itu.

"Pangeran Galdan, terima kasih atas pemberian kuda ini!"

Kata Han Sin yang cepat membedal kudanya dari situ. Di dekat tempat persembunyian Hoa-ji ia berseru.

"Kau loncatlah di belakangku!"

Hoa-ji memang sudah bersiap-siap.

Begitu kuda itu lewat ia meloncat dan tepat sekali ia duduk di belakang tubuh Han Sin.

Ia memeluk pinggang kakaknya dan kuda besar itu dibalapkan oleh Han Sin cepat sekali.

Dari belakang, si jangkung mencoba untuk mengejar, akan tetapi betapapun panjang kakinya, sukar juga mengejar kuda yang dapat berlari demikian cepatnya.

Apa lagi ia memang agak jerih menghadapi pemuda yang demikian lihainya itu.

"Sin-ko kita mau pergi ke manakah? Apakah hendak kembali ke Min-san?"

Tanya Hoa-ji setelah mereka berdua selamat melarikan diri dari kejaran Bhok Kian Teng dan kaki tangannya. Han Sin menjalankan kudanya perlahan, mereka sudah tiba di perbatasan.

"Adikku, terus terang saja, sebelum aku dapat membuka rahasiamu dan mendapatkan bukti bahwa kau adalah adik kandungku sendiri, aku memang sudah berjanji pada orang untuk membawa Hoa-ji ke selatan, untuk menyelamatkan atau merampas dirinya dari lingkungan Pangeran Galdan. Apakah kau dapat menerka siapa orang yang kuberi janji itu?"

Muka yang cantik itu menjadi merah sekali, akan tetapi Hoa-ji menggeleng kepalanya.

"Aku mana bisa menerka? Siapa dia?"

Han Sin menghentikan kudanya, meloncat turun sambil menarik tangan Hoa-ji. Dengan kedua tangan adiknya dipegang, pemuda ini menatap wajah Hoa-ji dengan tajam lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Adikku, banyak sekali hal-hal yang harus kujelaskan kepadamu. Setelah kita saling bertemu sebagai saudara kandung, tak perlu ada rahasia lagi di antara kita. Kau sudah mendengar tadi ceritaku tentang keadaanmu semenjak kecil, ditukar-tukar oleh Ang-jiu Toanio, kemudian anak Ang-jiu Toanio ditukar pula oleh Balita puteri Hui. Yang selama ini mengaku dan kuaku pula menjadi adikku bernama Cia Bi Eng, sebetulnya adalah anak Balita! Aku sudah lama tahu akan hal ini."

Sampai di sini dia menarik napas panjang dan wajahnya muram.

Teringat ia akan sikap Bi Eng beberapa hari yang lalu, hatinya kecewa dan amat gelisah.

Sampai sekarang masih belum tahu dia apa yang menyebabkan Bi Eng bersikap seaneh itu.

"Bi Eng......"

"Sin-ko, lebih baik kau menyebut Hoa-ji padaku. Nama itu kupakai semenjak kecil dan rasanya tidak enak kalau tiba tiba diganti nama baru. Pula, bukankah nama Bi Eng sudah dipakai orang lain?"

Bantah Hoa-ji dengan sikap manja.

Han Sin tertawa.

Memang cocok dengan kehendak hatinya.

Rasanya iapun akan merasa kecewa dan janggal kalau harus memanggil Bi Eng dengan sebutan nama lain, apa lagi kalau harus memanggil Bi Eng dengan nama barunya, Tilana!

Nama Tilana ini hanya akan mengingatkan dia akan pengalamannya yang amat ruwet dan tidak menyenangkan dengan gadis anak Ang-jiu Toanio itu!

"BAIKLAH, Hoa-moi (adik Hoa).

Terus terang tadi kukatakan bahwa ada orang yang menyuruh aku menyelamatkan engkau dan membawa engkau ke kota raja.

Karena kau tidak mau mengaku, biarlah kukatakan bahwa orang itu adalah Pangeran Yong Tee...."

"Ahhh....."

Hoa-ji mengeluarkan seruan perlahan, wajahnya menjadi makin merah dan ia membuang muka, tak berani menentang pandang mata kakaknya.

Bibir yang manis itu tersenyum-senyum, akan tetapi matanya ditundukkan, nampak malu sekali.

Han Sin memegang pundak adiknya.

"Hoa-moi, kau tak perlu takut, atau malu-malu. Aku sudah tahu, atau sedikitnya sudah menduga. Pangeran Yong Tee sudah bercerita secara terus terang bahwa ada hubungan kasih antara kau dan dia. Hanya yang amat mengherankan hatiku, bagaimana dia bisa jatuh hati kepada seorang gadis yang selalu berkedok seperti engkau ini. Benar-benar hebat..."

Hoa-ji mencubit lengan kakaknya.

"Sin-ko, jangan kau menggoda....."

Han Sin tertawa senang.

Sedikit banyak, ada persamaan antara Hoa-ji ini dengan Bi Eng.

Akan tetapi tiba-tiba suaranya menghilang karena ia teringat akan keadaan ini yang sebetulnya amat bertentangan dengan hatinya.

Hoa-ji adalah adiknya, adik kandungnya.

Bagaimana bisa berkasih-kasihan dengan Pangeran Mancu, musuh besar bangsanya?

Hoa-ji agaknya merasa akan perubahan ini dan matanya yang bening kini menatap wajah Han Sin menyelidik.

"Hoa-moi, kau sekarang mengetahui bahwa kau dan aku adalah anak dari mendiang Cia Sun, seorang patriot sejati yang sudah mendapat nama besar di dunia, terkenal sebagai seorang pahlawan rakyat yang tidak segan-segan mengorbankan apa saja demi nusa dan bangsa. Aku sama sekali tidak dapat menyalahkan kau yang semenjak kecil dipelihara dan dididik oleh Hoa Hoa Cinjin, yang kemudian menghambakan diri kepada penjajah. Akan tetapi..... setelah sekarang kau bertemu dengan aku, setelah sekarang kau tahu bahwa kau adalah puteri seorang patriot bangsa, sudah tentu sekali kau harus merobah keadaan hidupmu. Kita harus melanjutkan cita-cita ayah. Tentu saja tidak tepat kalau kau membantu Bangsa Mongol yang dulu dimusuhi ayah. Pula amat tidak tepat kalau kita membantu Bangsa Mancu yang menjajah tanah air...."

Han Sin melihat perubahan pada wajah adiknya, menjadi pucat ketika ia menyebut kalimat terakhir ini.

Ia dapat menyelami jiwa adiknya, akan tetapi apa boleh buat, demi kebaikan adiknya sendiri, ia harus berterus terang.

"Hoa-moi, kuatkan hatimu. Aku tahu bahwa antara kau dan Pangeran Yong Tee ada ikatan kasih. Akan tetapi.... dia seorang pangeran Mancu! Pangeran dari bangsa yang menjajah tanah air kita! Kalau saja dia bukan pangeran, mungkin lain lagi soalnya. Tapi dia pangeran, seorang yang berpengaruh pula di istana, yang aktif mengatur pemerintah Mancu. Pula.... dia mengenalmu dan cinta kepadamu sewaktu kau masih berkedok. Dia belum pernah melihat wajahmu, bagaimana dia bisa menyatakan cinta? Aku tidak percaya akan cinta yang demikian itu!"

"Sin-ko ".!"

Dalam jerit tertahan ini terkandung isak. Han Sin menepuk-nepuk pundak adiknya.

"Aku percaya akan kemurnian cintamu terhadapnya, adikku. Dan..... terus terang saja akupun agaknya tidak meragukan kejujuran hati pangeran itu. Hanya... dia Pangeran Mancu, Hoa-moi dan ini harus kau ingat baik-baik. Bagaimanakah roh ayah dapat tenteram di alam baka kalau melihat puterinya... berdampingan dengan musuh bangsa....?"

"Sin-ko...., kau menghancurkan hatiku...."

Gadis itu mengeluh.

Han Sin menarik napas panjang.

Tentu saja ia dapat merasai kehancuran hati adiknya.

Memang berat menjadi korban cinta kalau gagal di tengah jalan.

Akan tetapi Hoa-ji adalah adik kandungnya, untuk mengingatkan, untuk mencegah penyelewengan yang tak disadari.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Hoa-ji."

"Ke mana.....?"

Gadis itu bertanya lemah, menyerah.

"Ke Ta-tung."

"Eh, bukan ke Min-san?"

Ada suara girang dalam seruan ini.

Han Sin juga maklum.

Ta-tung adalah kota yang dekat kota raja dan Pangeran Yong Tee sering kali datang ke Ta-tung yang dijadikan pusat pertahanan dari penyerbuan Bangsa Mongol.

Sebetulnya ia lebih suka mengajak Hoa-ji ke Min-san, jauh dari Pangeran Yong Tee, akan tetapi....

Bi Eng!

la harus menyelidiki Bi Eng di Ta-tung, harus bertemu dengan gadis itu yang benar-benar menghancurkan perasaannya dan membingungkan hatinya.

Karena inilah maka ia hendak mengajak Hoa-ji ke Ta-tung lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Min-san.

"Tidak, Hoa-moi. Kita ke Ta-tung dulu, ada urusan di sana,"

Jawabnya singkat.

Hoa-ji juga tidak bertanya lebih lanjut.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di Ta-tung.

Alangkah kecewa hati Han Sin ketika melihat perubahan besar sekali di kota ini.

Kotanya masih ramai, malah lebih ramai dari pada dahulu.

Akan tetapi di sini tidak terlihat lagi orang-orang kang-ouw yang membantu Mancu.

Hanya ada beberapa pasukan serdadu Mancu menjaga kota.

Agaknya karena tentara Mongol sudah dihancurkan dan dipukul cerai-berai di sana-sini, kota ini dianggap sudah aman dan tidak menjadi pusat pertahanan lagi.

Lebih berat rasa hati Han Sin ketika mencari keterangan di sana-sini, tak seorangpun tahu ke mana perginya orang-orang gagah dari selatan yang tadinya membantu pertahanan bala tentara Mancu.

Tak seorangpun tahu ke mana perginya Li Hoa, Li Goat, Yan Bu, Bi Eng, para tosu dan lain-lain orang gagah.

Dengan penuh kekecewaan, Han Sin mengajak Hoa-ji bermalam di sebuah rumah penginapan.

Tak seorangpun mengenal Hoa-ji karena gadis ini baru sekarang muncul di muka umum dengan muka tidak tertutup.

Andaikata dia berkedok seperti biasa, setiap orang serdadu Mancu tentu akan mengenalnya sebagai puteri Hoa Hoa Cinjin yang membantu orang Mongol dan tentu akan timbul urusan hebat!

Kakak beradik ini mendapat sebuah kamar besar dengan tempat tidur dua buah.

Tadinya Han Sin hendak minta dua kamar, akan tetapi ternyata kamar yang lain sudah tersewa orang, penginapan-penginapan penuh sehingga terpaksa ia menerimanya juga.

Bagaimanapun juga, Hoa-ji adalah adik kandungnya.

Apa salahnya tidur sekamar apalagi berpisah pembaringan?

Han Sin malam itu gelisah, tak dapat tidur.

Ia melihat Hoa-ji segera tidur setelah membaringkan tubuhnya.

Bermacam pikiran mengganggu Han Sin, terutama sekali soal Bi Eng.

Agaknya tak dapat disangsikan lagi bahwa gadis itu sudah tahu akan keadaan dirinya yaitu bahwa dia adalah anak Balita dan bernama Tilana.

Akan tetapi andaikata sudah tahu akan hal itu, mengapa seakan-akan membencinya dan malah mengeroyoknya?

Mengapa pula membantu Bhok Kian Teng?

Hal ini benar-benar amat mengganggu hatinya, menggelisahkannya dan ia takkan mau sudah kalau belum dapat membongkar rahasia baru ini.

Aku harus bertemu dengannya, harus bicara dengannya dari hati ke hati.

Ah,....

Bi Eng...!!"

Dengan pikiran ini dan nama gadis ini di bibirnya, akhirnya Han Sin tertidur juga menjelang tengah malam.

Tiba-tiba Han Sin sadar dari tidurnya.

Ada suara yang membuat ia terbangun.

Otomatis tangan kanannya menggerayang ke gagang pedang Im-yang-kiam yang ia letakkan di sebelah kanannya sambil melirik, alangkah kagetnya melihat pembaringan Hoa-ji di sebelah kanannya telah kosong!

Hoa-ji telah meninggalkan kamar itu!

Han Sin cepat-cepat menengok ke kiri, ke arah jendela.

Ternyata jendela sudah terbuka.

Belum jauh, pikirnya.

Ke mana perginya Hoa-ji?

Harus kukejar.

Akan tetapi sebelum ia meloncat turun, tiba-tiba ia mendengar suara orang mendekati jendela.

Lilin di atas meja masih bernyala, kini bergerak-gerak tertiup angin yang masuk melalui jendela.

Memang ia sengaja tidak memadamkan lilin karena merasa tidak enak tidur sekamar dengan Hoa-ji tadi.

Apakah orang yang mendekati jendela itu Hoa-ji yang datang kembali?

Han Sin pura-pura tidur kembali, membuka sedikit matanya untuk mengintai ke arah jendela.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan orang melayang masuk melalui lubang jendela itu.

Tak dapat disangkal lagi, tubuh seorang wanita!

Tapi bukan Hoa-ji!

Siapa dia....?

Han Sin memperlebar sedikit matanya ketika melirik.

Cahaya penerangan lilin yang suram menimpa wajah wanita itu yang sudah berada di dekat meja dan....

tegang-tegang seluruh urat-syaraf di tubuh Han Sin ketika mengenal wanita ini bukan lain adalah Bi Eng!

Hampir tak kuat ia menahan gelombang perasaannya, namun ia cepat mengumpulkan tenaga menindih perasaannya, tinggal berbaring seperti orang tidur pulas, tapi diam-diam memperhatikan gerak-gerik gadis itu.

Memang gadis itu bukan lain adalah Bi Eng!

Masih manis, masih cantik jelita seperti biasa, hanya agak pucat dan sinar matanya memancarkan kemarahan di samping kedukaan yang mendalam.

Senyum yang dulu setiap saat membayang di bibirnya kini lenyap, terganti oleh bayangan siksa batin yang hebat.

"Bi Eng.... kasihan kau...."

Demikian keluh hati Han Sin.

Akan tetapi gadis itu sebaliknya.

Dengan muka beringas gadis itu mencabut pedangnya, lalu menghampiri ranjang Han Sin!

Maut membayang di mukanya, nampak jelas gigi yang dikertakkan itu berkilat ketika bibirnya terbuka sedikit, seakan-akan mengeraskan hatinya.

Sepintas gadis itu mengerling ke arah tempat tidur Hoa-ji yang kosong, lalu bibirnya mengejek.

"Laki-laki hidung belang! Mata keranjang....!"

Ucapan ini terdesis dari bibirnya, membuat Han Sin diam-diam merasa kaget dan heran sekali.

Kenapa Bi Eng menganggapnya laki-laki mata keranjang dan hidung belang?

Apakah ada hubungan dengan peristiwa Tilana dahulu?

Bibir Bi Eng bergerak-gerak lagi berbisik-bisik dengan suara menyeramkan.

".... sudah tahu aku bukan adiknya masih berpura-pura.... mencari kesempatan mempermainkanku.... musuh besar yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.... laki-laki mata keranjang, mempermainkan Kiok Hwa, sekarang punya pacar lain.... keparat....!"

Untuk sedetik Han Sin terheran.

Mempermainkan Kiok Hwa....?

Tapi pikirannya yang cerdik segera dapat menerkanya.

Agaknya Tilana yang disebut Kiok Hwa itu.

Mungkin nama aselinya, nama puteri Ang-jiu Toanio adalah Kiok Hwa!

"Lebih baik melihat kau mampus!"

Bi Eng mengangkat pedangnya, siap untuk menikam dada Han Sin.

Pemuda ini sama sekali tidak merasa takut.

Sama sekali tidak mau melawan.

Terlalu hancur hatinya untuk mengingat tentang keselamatannya.

Biarlah ia mati di tangan Bi Eng.

Untuk apa hidup kalau Bi Eng sudah membencinya sedemikian rupa?

Jelas sekarang, Bi Eng sudah bertemu dengan Balita, sudah tahu bahwa dia puteri Balita.

Sekarang Bi Eng hendak membalas dendam ibunya karena perbuatan Cia Sun.

Selain itu, agaknya Bi Eng sudah membencinya karena....

Tilana!

Dan Han Sin tak dapat menyangkal pula.

Biarlah dia mati di tangan Bi Eng.

Han Sin merapatkan matanya dan tersenyum.

Aku rela mati di tanganmu, kekasihku!

Tapi ujung pedang yang runcing tidak datang-datang.

Malah terdengar jerit tertahan disusul tangis.

".... aku tak bisa..... tak bisa membunuhnya.... ahh......"

Han Sin membuka matanya, melihat Bi Eng menutupi muka sambil menangis terisak-isak, pedangnya tergantung di tangan kanan, tangan kiri menutup muka! "Bi Eng...."

Han Sin memanggil lirih.

Gadis itu terkejut, membuka tangannya.

Untuk sesaat dua pasang mata bertemu.

Mata Han Sin memancarkan cahaya lembut dan mesra, penuh cinta kasih, mata Bi Eng terbelalak, kaget, malu, duka dan marah.

Kemudian gadis itu memutar tubuhnya dan meloncat ke arah jendela.

"Bi Eng..... aku cinta padamu....!"

Han Sin berkata sambil bergerak bangun.

Akan tetapi Bi Eng hanya memperdengarkan sedu-sedan mendengar kata-kata ini dan menghilang di dalam gelap.

Han Sin meloncat ke jendela, hanya menghadapi malam yang hitam.

Tidak nampak lagi bayangan Bi Eng, juga tidak nampak bayangan Hoa-ji.

Cepat ia mengambil pedang dan pakaian, lalu melompat keluar dan mencari dua orang gadis itu, atau lebih tepat lagi, mengejar dan mencari Bi Eng, karena dalam saat itu, kekhawatirannya akan Hoa-ji dikalahkan oleh keinginannya untuk mengejar dan bicara dengan Bi Eng.

Sampai menjelang fajar Bi Eng, yang sekarang menggunakan nama Tilana itu, berlari-lari dari Ta-tung sambil menangis sepanjang jalan.

"Aku tidak tega membunuhnya..... dia tersenyum, ah.... Sin-ko, bagaimana aku.... tega membunuhmu......?"

Demikian terdengar ucapannya di antara isak tangisnya.

Setelah tiba di sebuah hutan di selatan kota Ta-tung, ia segera memasuki hutan itu.

Tentu saja Bi Eng sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang hampir dibunuhnya, yang dikenangnya sepanjang perjalanan itu, sejak tadi mengikutinya dari jauh.

Matahari telah mulai menerangi permukaan bumi ketika Bi Eng tiba di sebuah tempat terbuka, tempat indah di mana tumbuh pohon bambu di samping dinding gunung batu yang menjulang tinggi.

Di bawah pohon-pohon bambu itu, duduklah seorang pemuda di atas batu licin bersih.

Pemuda ini berdiri sambil tersenyum ketika melihat Bi Eng datang.

Seekor monyet melompat dan hinggap di pundak Bi Eng.

"Kau baru datang? Duduklah, tentu kau lelah,"

Kata pemuda tampan itu yang bukan lain adalah Bhok-kongcu atau Bhok Kian Teng, juga belum lama ini disebut Pangeran Galdan.

Bi Eng menjatuhkan dirinya di atas rumput, mengusap kepala Siauw-ong monyet itu, lalu menarik napas panjang.

Diam-diam Bhok-kongcu melihat bekas air mata di sepanjang pipi gadis itu, maka sambil memandang tajam pemuda itu bertanya.

"Bagaimana, adik Tilana. Selesaikah tugasmu? Berhasilkah kau membunuh musuh besarmu?"

Berkata demikian pemuda ini duduk di dekat Bi Eng, lalu memegang lengan gadis itu dengan sikap mesra.

Bi Eng menarik tangannya seperti tidak sengaja, akan tetapi ketika pemuda itu memegang lagi ia menariknya dengan keras.

"Sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tak suka kau pegang-pegang, harap kau jangan memaksa!"

Bhok-kongcu tersenyum, memperlihatkan giginya yang berderet rapi dan putih.

"Adik Tilana, kau tidak tahu betapa hatiku selalu penuh olehmu, betapa aku amat mencintaimu dan ingin selalu berdekatan denganmu. Di antara tunangan dan calon suami isteri yang sudah disyahkan oleh orang tua masing-masing, apa sih halangannya kalau hanya berpegang tangan?"

Sepasang mata gadis itu mengeluarkan sinar marah.

"Memang ibuku yang menerima lamaranmu, akan tetapi bukan aku! Aku tidak membantah karena tidak mau menyusahkan hati ibu, kau tahu akan hal ini dan kau sudah berjanji akan memaklumi isi hatiku ini asal aku tidak memusuhimu. Apakah kau hendak melanggar janji?"

Bhok-kongcu menghela napas.

"Alangkah kerasnya hatimu, adik Tilana. Kapankah kau dapat bersikap lebih baik kepadaku? Biarlah aku sabar menanti, akan tetapi sedikitnya berlakulah manis kepadaku...."

"Sikapku tergantung pada sikapmu sendiri. Jangan ceriwis, jangan kurang ajar...."

Bhok-kongcu tertawa masam.

"Baiklah, aku akan bersikap seperti anak yang baik. Toh akhirnya kau menjadi punyaku. Eh, adikku yang manis, bagaimana dengan tugasmu malam tadi? Berhasilkah..... ?"

Bi Eng menggeleng kepala.

"Tak dapat aku membunuhnya....."

"Hee...?? Tak dapat membunuh musuh besar, anak orang yang sudah menghina ibumu? Tilana,..... bagaimana ini? Apakah kau sudah berhasil memasuki kamarnya? Betul tidak bahwa dia tidur bersama seorang gadis cantik?"

Bi Eng mengertak gigi, matanya memancarkan cahaya kemarahan.

"Betul....., dia bedebah, mata keranjang! Benar-benar aku malu kalau mengenangkan hal itu........ agaknya bukan perempuan baik. Malam-malam keluar dari kamar dan pergi tanpa pamit, meninggalkan dia sendiri. Aku berhasil masuk ke kamarnya setelah perempuan itu minggat, dia sedang tidur dan aku.... aku.... ah, tak tega aku membunuhnya.... bagaimana aku bisa membunuh seorang yang sejak kecil kupandang sebagai kakak kandungku.....??"

Gadis itu lalu menangis. Tiba-tiba Bhok-kongcu nampak marah sekali.

"Kau.... kau mencintai dia! Celaka! Kau malah jatuh cinta kepadanya,..... setan!"

Bi Eng meloncat berdiri serentak, sampai membuat Siauw-ong kaget sekali.

"Tutup mulutmu! Jangan kau bicara sembarangan!"

Gadis itu berdiri tegak, mukanya pucat, suaranya gemetar.

"Ha ha ha, siapa bicara sembarangan? Kau tadi nampak marah-marah ketika bicara tentang perempuan di kamarnya, tanda bahwa kau cemburu. Hanya orang yang mencinta saja bisa cemburu. Kau tidak tega membunuhnya. Hemm, apa lagi artinya kalau bukan kau sudah jatuh hati kepadanya! Tilana, jangan kau main-main. Kau adalah tunanganku, calon isteriku. Aku yang tidak membolehkan kau tergila-gila kepada laki-laki lain. Kupegang tanganmu saja kau tidak suka dan kau.... kau tergila-gila kepadanya. Mulai sekarang jangan bertingkah lagi, kau harus menjadi isteriku. Kau harus ikut dengan aku."

Setelah berkata demikian, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tubuhnya dan di lain saat Bi Eng sudah dipeluknya!

Bi Eng menjerit dan memberontak, tapi mana bisa dia melawan kekuatan Bhok-kongcu.

Pada saat itu Bhok-kongcu mengeluarkan seruan kesakitan dan terpaksa melepaskan pelukannya.

Kesempatan ini dipergunakan Bi Eng meronta dan melompat ke depan menjauhkan diri.

Ternyata Siauw-ong tadi "turun tangan"

Menyerang dan menggigit pundak Bhok-kongcu ketika melihat nonanya diganggu orang.

"Monyet keparat!"

Bhok-kongcu membentak marah dan maju memukul monyet itu.

Akan tetapi Siauw-ong bukan monyet biasa, cepat mengelak dan meloncat ke belakang Bi Eng untuk berlindung.

Sementara itu, Bi Eng sudah marah sekali.

Tanpa pikir panjang lagi ia lalu menggunakan kepalan tangannya, menyerang Bhok-kongcu dengan Ilmu Silat Liap-hong-sin-hoat, malah ketika Bhok-kongcu mendesaknya dengan ilmu silatnya yang lebih kuat, gadis ini menggunakan beberapa jurus dari Thian-po-cin-keng yang pernah ia pelajari dari Han Sin.

"Kau hendak melawan tunanganmu?"

Bhok-kongcu membentak.

"Tunggu, kelak kuberitahukan kepada Balita, tentu kau akan dihajar!"

Akan tetapi Bi Eng yang sudah marah tidak bisa ditakut-takuti lagi, terus menerjang dengan nekat.

Betapapun juga, mana bisa dia melawan Bhok-kongcu yang amat lihai, yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada gadis itu?

Segera ia terdesak mundur.

Siauw-ong maklum akan bahaya yang dihadapi nonanya, maka sambil memekik-mekik monyet inipun maju membantu Bi Eng.

Namun percuma saja, Siauw-ong bahkan dua kali kena ditendang oleh kongcu itu sampai bergulingan.

Dasar monyet berani mati dan setia, begitu bangun ia melawan pula sambil memekik-mekik seperti orang memaki-maki.

Bi Eng juga melawan dengan nekat, malah kini gadis itu tidak segan-segan menggunakan pedangnya.

"Kau mengajak mati-matian? Keparat!"

Bhok-kongcu membentak marah.

Ketika pedang Bi Eng berkelebat menusuk dadanya dengan gerakan sungguh-sungguh dalam serangan maut, pemuda ini miringkan tubuh, tangan kirinya bergerak menyambar pedang, tangan kanannya bergerak pula menangkap pergelangan lengan Bi Eng.

Di lain saat, Bi Eng tak dapat bergerak pula, pedangnya terlepas dan ia tertangkap!

"Ha ha ha, manisku, apa kau mau memberontak lagi?

Benar-benar kau seekor kuda betina yang binal!"

Sambil tertawa-tawa Bhok-kongcu menowel pipi Bi Eng.

Gadis itu bukan main marahnya, marah dan takut karena pemuda cabul itu agaknya hendak berbuat lebih kurang ajar lagi.

Siauw-ong maju hendak menolong, akan tetapi sebuah tendangan membuat monyet itu terguling-guling sampai jauh!

"Toloonggg.....!"

Bi Eng tak dapat menahan ketakutannya melihat Bhok-kongcu merangkulnya, sampai mengeluarkan teriakan minta tolong ini.

"Plakk!"

Sebuah telapak tangan menepuk pundak kanan Bhok-kongcu, membuat pemuda itu merasa lengan kanannya lemas dan lumpuh dan terpaksa ia tak dapat menahan ketika Bi Eng meronta dan melompat menjauhkan diri.

Dengan kemarahan meluap-luap Bhok-kongcu memutar tubuh dan ia berhadapan muka dengan....

Cia Han Sin!

Seketika Bhok-kongcu menjadi pucat mukanya.

"Kau....??"

Han Sin tersenyum.

"Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng, nafsu angkara murkamu telah membawa bangsamu ke kehancuran. Kau tidak bertobat dan hidup baik-baik menebus dosa, malah kau menambah dosamu dengan perbuatan-perbuatan yang makin lama makin jahat dan tak tahu malu."

"Kau.... kau hendak membunuhku.....??"

Pangeran Mongol itu nampak ketakutan. Han Sin tersenyum lebar.

"Kiranya sudah sepatutnya kalau aku melakukan hal itu. Sudah berapa kali kau berusaha membunuhku? Hanya karena aku tidak sudi mengikuti jejak hidupmu, maka aku belum membunuhmu sampai sekarang. Akan tetapi kali ini......."

Han Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena secara curang dan tiba-tiba Bhok Kian Teng sudah mengirim serangannya.

Akhir-akhir ini ia sudah mempelajari Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) dari ayahnya, akan tetapi dasar dalam kecerdikan ia lebih unggul dari pada Pak-thian-tok, ia dapat mengusahakan sedemikian rupa dengan segala macam obat penggosok kedua lengannya sehingga biarpun sudah berhasil memenuhi kedua lengan tangannya dengan hawa beracun dari Hek-tok-ciang, namun kulit kedua lengannya tetap putih mulus, tidak seperti kedua lengan Pak-thian-tok yang menjadi hitam hangus kalau mengeluarkan ilmu yang dahsyat ini!

Han Sin cepat mengelak dan di lain saat kedua orang muda itu sudah bertempur mati-matian dengan tangan kosong.

Kaget juga hati Han Sin ketika mendapat kenyataan betapa sambaran kedua tangan pemuda Mongol itu mengandung hawa aneh yang selain kuat, juga seperti mengandung hawa beracun yang dahsyat.

Bau amis menyerang hidungnya tiap kali tangan pemuda lawannya itu menyambar, padahal pada kedua lengan itu ia tidak melihat tanda-tanda bahwa lawannya menggunakan pukulan beracun.

"Kau memang manusia keji!"

Bentaknya dan dengan pukulan-pukulan dari Thian-po-cin-keng, sebentar saja ia sudah berhasil mendesak Bhok-kongcu sampai Pangeran Mongol itu tak mampu membalas, hanya main mundur, main kelit dan loncat saja.

Siauw-ong terdengar memekik-mekik gembira ketika monyet ini melihat Han Sin mendesak lawannya.

Akan tetapi, tiba-tiba teriakan girangnya terhenti ketika Bi Eng menarik tangannya dan membawa monyet itu lari cepat meninggalkan tempat itu.

"Bi Eng.....!"

Han Sin terpaksa menunda desakannya kepada Bhok-kongcu ketika melihat Bi Eng lari pergi.

Ia sedang menengok ke arah Bi Eng dan hal ini dipergunakan oleh Bhok-kongcu yang amat curang untuk mengirim serangan lagi, kini menggunakan sebuah kipas yang beracun.

Serangannya cepat dan dahsyat, mengarah lambung!

"Pengecut curang!"

Han Sin terpaksa membalikkan tubuh dan menanti kipas itu dekat, tiba-tiba tangannya bergerak menyabet dan.....

"Prakk!"

Kipas itu hancur berkeping-keping terkena sabetan jari-jari tangan Han Sin!

Bhok-kongcu terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat.

Han Sin yang sudah marah sekali melangkah maju.

Mendadak sekali sebuah lengan yang amat panjang tahu-tahu menyelonong ke tempat pertempuran dan mencengkeram pundak Han Sin yang sedang mendesak Bhok-kongcu.

Pemuda ini maklum bahwa si jangkung sudah muncul lagi.

Ia marah sekali dan cepat menggunakan tangannya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

Menurut perhitungan Han Sin, sekali tangkisannya ini tentu akan mematahkan tulang lengan si jangkung.

Akan tetapi, tiba-tiba lengan yang agaknya bisa mulur mengkeret seperti karet itu tiba-tiba ditarik menjadi pendek sehingga tangkisan Han Sin tidak mengenai sasaran.

Dan pada saat itu, si jangkung sudah menghadang di depannya, bersama dua orang lain yang segera ia kenal baik karena mereka itu bukan lain adalah dua orang raksasa kembar yang pernah mengeroyoknya dulu, yaitu pembantu-pembantu Pak-thian-tok Bhok Hong.

Sekaligus ia menghadapi tiga orang lawan yang aneh dan tinggi ilmu silatnya.

Kalau aku tak dapat menewaskan tiga orang ini, tak mungkin dapat menangkap Bhok Kian Teng, pikir Han Sin yang cepat melakukan serangan-serangan kilat.

Tiga orang lawannya juga mendesak maju dan terjadilah pertempuran yang amat hebat.

Han Sin benar seorang pemuda berjiwa gagah.

Melihat tiga orang lawannya bertangan kosong, iapun tidak mau mengeluarkan Im-yang-kiam yang terbelit di pinggangnya.

Iapun melawan dengan tangan kosong!

Malah timbul kegembiraannya karena sekarang ia mendapat kesempatan menguji ilmu silatnya dengan ilmu silat asing yang tak pernah dilihatnya.

Dan benar-benar ia mendapatkan kenyataan bahwa ilmu silat tiga orang itu benar-benar aneh.

Si jangkung memiliki ilmu silat seperti dua ekor ular yang menyambar dari atas dan bawah, yaitu kedua lengan tangannya yang panjang dan dapat mulur mengkerut!

Adapun sepasang raksasa itu, selain bertenaga besar luar biasa, juga ternyata merupakan ahli-ahli ilmu silat semacam Ilmu Silat Houw-jiauw-kang (Cakar Harimau) atau Eng-jiauw-kang (Cakar Garuda) yang mengutamakan gerakan mencengkeram, menangkap, dan membanting.

Amat berbahaya kalau sampai tertangkap oleh mereka, sungguhpun yang menangkap itu hanyalah dua buah ibu jari dari tangan kanan kiri.

Benar-benar aneh dan sukar dipercaya bagaimana orang yang hanya memiliki dua buah jari kanan kiri dapat mempelajari ilmu silat yang mengutamakan mencengkeram dan menangkap!

Setelah melawan tiga orang ini sambil diam-diam memperhatikan ilmu silat mereka, Han Sin mendapat kenyataan bahwa dalam hal menyerang mereka itu tidak begitu berbahaya, akan tetapi pertahanan mereka benar-benar amat mengagumkan.

Ia sudah membalas dengan beberapa jurus dari Thian-po-cin-keng akan tetapi setiap kali serangannya akan mengenai sasaran, tentu seorang di antara mereka dapat menolong kawan.

Ternyata mereka itu dapat bekerja sama secara baik dan teratur.

Seakan-akan mereka itu melakukan siasat dalam barisan.

Benar-benar amat mengagumkan dan kepandaian mereka ini saja sudah membangkitkan rasa simpati di hati Han Sin yang menjadi tidak tega untuk membunuh mereka!

"Kalian pergilah, aku tidak bermusuhan dengan kalian!"

Katanya dalam bahasa Mongol.

Hati Han Sin sudah amat kecewa melihat bahwa selain Bi Eng yang sudah pergi entah ke mana, juga Bhok kongcu sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya.

Kongcu yang amat curang dan cerdik itu ternyata sudah menggunakan kesempatan tadi untuk melarikan diri secara diam-diam.

Akan tetapi tiga orang pembantu Bhok-kongcu itu mana mau menyudahi pertempuran itu begitu saja?

Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari dunia utara dan barat, sekarang mengeroyok seorang pemuda tak dapat menang, benar-benar keterlaluan dan penasaran sekali!

"Belum ada yang kalah atau menang, mana bisa berhenti?"

Seru si jangkung yang suaranya tinggi kecil seperti bentuk tubuhnya.

Han Sin sebagai seorang ahli silat maklum akan perasaan mereka ini, maka cepat ia lalu mengatur langkah langkahnya dengan Ilmu Silat Thian-po-cin-keng, sedangkan kedua tangannya lalu dikepal hanya mengeluarkan dua buah jari tangan untuk mainkan jurus-jurus dari ilmu silat Lo-hai Hui-kiam!

Bukan main hebatnya ilmu silat campuran dari dua macam ilmu silat kelas tinggi ini.

Mana bisa tiga orang itu mampu menghadapinya?

Berturut-turut mereka memekik dan roboh tertusuk jari tangan Han Sin yang hanya melukai mereka saja, tidak tega membinasakan.

Setelah mereka roboh, cepat ia meloncat pergi dan mencari Bhok-kongcu dan Bi Eng.

Ia tidak tahu ke mana mereka itu pergi, maka dengan hati berat ia lalu mencari sekehendak hatinya saja.

Kemudian, setelah tidak berhasil usahanya mencari di sekitar daerah itu, ia kembali ke Ta-tung.

KE MANAKAH perginya orang-orang gagah yang dulu membantu pertahanan Mancu dan berkumpul di Ta-tung?

Yong Tee yang cerdik sekali telah mengatur sehingga mereka ini cerai-berai, ada yang ditarik ke daerah lain untuk membantu pasukan Mancu, ada pula yang diberi hadiah dan disuruh kembali ke tempat masing-masing karena kekuatan Mongol sudah hancur.

Ada pula yang ia persilakan datang ke kota raja untuk menjadi tamu agungnya.

Pendeknya, secara lihai sekali Pangeran ini mengatur supaya para orang gagah itu tidak berkumpul menjadi satu karena mereka melihat ancaman bahaya lain kalau orang-orang itu berkumpul menjadi satu!

Di antara mereka yang ia undang menjadi tamu agungnya adalah dua saudara Li Hoa dan Li Goat, dan juga Phang Yan Bu.

Pangeran Yong Tee maklum bahwa tiga orang muda yang gagah ini termasuk sahabat-sahabat baik dari Bi Eng dan Han Sin oleh karena itu ia mengundang mereka ini menjadi tamunya dan mempersilakan mereka menanti datangnya Han Sin dan Bi Eng di istananya di kota raja.

Mereka mendapat pelayanan yang amat manis dan hormat dari Yong Tee sehingga hati orang-orang muda itu mau tidak mau tertarik dan harus mereka akui bahwa pangeran ini berbeda dengan pembesar-pembesar lainnya, peramah dan rendah hati.

Di lain pihak, Yong Tee merasa gelisah selalu karena tidak ada berita dari Han Sin maupun Bi Eng.

Bagaimanakah keadaan Han Sin dalam mencari Hoa-ji si gadis berkedok?

Ia hanya merasa gelisah sekali, takut kalau-kalau kekasihnya itupun menjadi korban perang.

Hatinya perih kalau teringat akan pertemuan-pertemuannya dengan Hoa-ji dahulu, di taman dalam lingkungan istananya.

Pertemuan yang amat romantis, yang mesra dan juga pertemuan antara dua orang muda yang secara rahasia dan aneh sudah saling mencinta padahal dia belum pernah melihat wajah gadis berkedok itu.

Hoa-ji yang mengajukan syarat bahwa sebelum mereka bertunangan secara syah, pangeran itu tidak berhak membuka kedoknya dan pangeran itu dengan rendah hati dan sabar menerima syarat ini.

Secara membuta, menuturkan perasaan hatinya, Pangeran Yong Tee jatuh cinta kepada seorang gadis yang belum pernah ia lihat wajahnya.

Benar-benar aneh sekali kalau cinta sudah meracuni hati seorang muda.

Sudah beberapa lama, setiap malam Pangeran Yong Tee duduk di dalam taman itu, mengenangkan kekasihnya sambil mengharap-harapkan datangnya Han Sin membawa berita baik.

Pada malam hari itu, malam terang bulan, pangeran inipun duduk seorang diri di dalam taman, berkawan arak dan bunga.

Ia merenung dan mukanya yang tampan nampak muram oleh kegelisahan.

Sampai lama pangeran muda itu merenung sambil menatap bulan yang tampak bergerak dengan megah dan halusnya di antara mega-mega, seakan akan puteri juita sedang berjalan-jalan di tengah malam.

Ia menarik napas panjang.

Bulan tetap sama, semenjak dia masih kecil sampai sekarang, mungkin sampai dia mati, sampai semua bunga di taman gugur, sampai dunia kiamat.

Bulan akan tetap sama, atau setidaknya, akan lebih lama keadaannya daripada dirinya dan segala di sekitarnya.

Tanpa disadari lagi, pangeran ini menggerakkan bibir mengucapkan kata-kata yang pada saat itu terasa di hatinya .

"Kebahagiaan, di mana kau bersembunyi? Betulkah kata orang pandai jaman dahulu, bahwa kebahagiaan selalu pergi kalau dicari? Padahal selalu dalam diri bersatu? Berhasil membasmi pemberontakan, mana itu kegirangan? Mana itu kebahagiaan? Aahhh, hatiku penuh kedukaan hanya karena seorang perempuan......."

Memang keluhan Pangeran Yong Tee ini merupakan kenyataan pahit dalam kehidupan manusia.

Manusia selalu mengejar kebahagiaan, mengkhayalkan kebahagiaan hidup yang disangkanya pasti akan tiba apa bila maksud hati tercapai.

Namun khayal tetap khayal, membuyar setiap kali di jangkau.

Maksud hati boleh terlaksana, cita-cita boleh tercapai, namun kebahagiaan?

Kiranya bukan di situ letaknya, bukan dalam terlaksananya maksud hati, bukan pula dalam tercapainya cita-cita.

Mengapa?

Karena maksud hati tiada putusnya, cita-cita tiada habisnya.

Terlaksana yang satu, timbul kedua.

Tercapainya yang ini, belum pula yang itu, dan begitu seterusnya.

Nafsu angkara murka inilah yang selalu menguasai hati manusia yang haus akan kebahagiaan.

Padahal tidak perlu dihauskan, karena sudah berada dalam diri sendiri, sudah bersatu dengan diri, hanya tidak terasa bagi yang belum sadar.

Menurutkan kemauan nafsu angkara murka sama halnya dengan mengisi lubang yang tak berdasar, tidak akan pernah tamat.

Bahkan makin dituruti, makin terasa kekurangannya, makin diberi minum, makin haus.

Aneh tapi nyata.

Sekali lagi, menuruti nafsu sama dengan menambah kehausan bagi yang haus, makin diberi makin kurang!

Kalau demikian halnya, pada hakekatnya, apakah gerangan kebahagiaan?

Di mana letaknya?

Dibilang jauh, amatlah jauh karena dicari sekeliling dunia takkan jumpa.

Dibilang dekat, teramat dekat karena sudah ada pada diri setiap orang.

Soalnya timbul karena "dicari"

Itulah, menjadi sulit dan jauh karena timbul setelah "dicari"!

Inilah rahasianya.

Tidak dicari dia sudah ada, kalau dicari dia menghilang.

Itulah kebahagiaan!

Tuhan bersifat Adil dan Kasih.

Manusia lahir sudah membawa bahagia.

Ingin melihat tinggal membuka mata, ingin mendengar tinggal membuka telinga, semua serba menyenangkan dan karenanya serba bahagia, penuh berkah berlimpahan.

Ingin petik tinggal tanam, ingin tanam tinggal cangkul.

Tanah tersedia, tangan tersedia, air tersedia.

Bayangkan kalau Tuhan meniadakan air, atau tanah, atau tangan atau hawa!

Semua takkan jadi sempurna.

Tuhan Maha Sempurna Maha Kasih dan Maha Adil.

Semua lengkap bagi manusia.

Akan tetapi, kenapa tetap tidak bahagia?

Karena DICARI itulah.

Manusia mencari YANG TIDAK ADA!

Ada ini mencari itu yang tidak ada, sudah ada itu mencari ini yang tidak ada.

Memberi makan nafsu, makin diberi makan makin lapar!

Karena itu akibatnya, bahagia lenyap bersembunyi, dilenyapkan atau disembunyikan oleh diri sendiri yang menghamba pada NAFSU.

Demikianlah dunia selalu berputar dengan segala persoalannya.

Demikian pula Pangeran Yong Tee di dalam taman bunganya yang serba indah namun tidak kelihatan indah baginya itu.

Baru saja dia berhasil menghancurkan pemberontak Mongol.

Kini beristirahat setelah berhasil usahanya.

Semestinya bahagia, semestinya senang.

Namun, taman indah tidak kelihatan indah, kesenangan perjuangan tidak menyenangkan hati.

Kenapa?

Karena pangeran inipun mencari YANG TIDAK ADA, yaitu mencari kehadiran Hoa-ji disampingnya.

Menjadi permainan cinta yang amat aneh.

"Hoa-ji....."

Berkali-kali nama ini dikeluarkan, langsung dari hatinya melalui bibir yang menarik napas panjang pendek berulang kali.

Pangeran Yong Tee sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, bayangan seorang wanita yang langsing tubuhnya bersembunyi di balik pohon dan memandang kepadanya penuh kebencian.

Wanita yang masih muda, cantik jelita dengan kerudung pada kepalanya.

Tilana!

Gadis ini memang Tilana, yang dengan kepandaiannya sudah berhasil menyelinap memasuki taman di luar tahunya para penjaga istana pangeran itu.

Kini dengan pandang mata penuh kebencian, Tilana mengeluarkan tiga buah anak panah, dipasangnya pada gendewanya dan ditariknya tali busurnya......

"Pangeran....!"

Tilana menunda gerakannya, tidak jadi memanah pangeran itu ketika mendengar seruan ini, seruan wanita yang melompat keluar dari tembok taman.

Wanita yang baru datang ini bertopeng dan langsung berlari menghampiri Pangeran Yong Tee, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu.

"Hoa-ji.....!"

Seruan yang keluar dari bibir pangeran itu girang bukan main, lalu ia menubruk hendak memeluk gadis berkedok itu.

"Jangan.....! Jangan sentuh aku lagi, pangeran....., jangan.....!"

Yong Tee terkejut dan menahan tangannya.

"Hoa-ji, apakah yang terjadi? Apakah kau sudah bertemu dengan saudara Cia Han Sin? Kau datang dari mana dan mengapa kau bersikap begini?"

Pertanyaan ini keluar dengan suara halus, mesra, dan penuh cinta kasih.

"Pangeran, ketahuilah bahwa tadinya aku datang dengan maksud membunuhmu! Tapi.... tapi aku tidak tega.... bagaimana aku bisa membunuh seorang yang begini baik? Yang selalu kujunjung tinggi? Yang kuketahui betul-betul isi hatinya yang baik? Ya Tuhan, mengapa aku menjadi anaknya? Mengapa.....?"

Hoa-ji lalu menangis. Yong Tee nampak bingung sekali. Ia meraih tangan gadis berkedok itu, menariknya berdiri dan mengajak duduk di atas bangku.

"Duduklah, Hoa-ji, duduklah di sini, di sampingku seperti dahulu. Tidak ada apa-apa yang buruk di antara kita, masih seperti dulu. Tenangkanlah hatimu dan sekarang ceritakan apa yang menyebabkan engkau bersikap seperti ini."

Suara yang sabar, ramah dan penuh kasih sayang ini menenangkan gelora hati Hoa-ji.

Gadis ini menghentikan tangisnya, mengusap air mata menahan isak lalu bercerita.

Sambil berlinang air mata ia mengulang cerita yang ia dengar dari Han Sin.

"Dahulu, belasan tahun yang lalu, dipuncak Min-san tinggal suami isteri Cia Sun bersama dua orang anaknya, yang sulung laki-laki bernama Cia Han Sin dan yang bungsu, masih bayi, perempuan bernama Cia Bi Eng. Cia Sun dikenal sebagai seorang patriot bangsa, tentu saja sebutan ini hanya berlaku bagi rakyat Tiongkok. Pemerintah menyebutnya pemberontak! Pada suatu hari, karena pengacauan puteri Hui bernama Balita, seorang di antara musuh-musuh Cia Sun, suami isteri Cia itu mengalami malapetaka. Isteri Cia Sun cemburu dan membunuh diri, disusul pembunuhan diri Cia Sun yang amat mencinta isterinya."

Pangeran Yong Tee mendengarkan dengan hati berdebar dan amat tertarik karena apakah hubungannya dengan Hoa-ji dengan keluarga Cia?

Tidak hanya pangeran ini yang amat tertarik dan terkejut heran, juga Tilana yang diam-diam mendengarkan cerita itu, menjadi berubah air mukanya dan jantungnya berdebar keras.

Bukankah gadis berkedok itu sedang menceritakan tentang ayah bundanya dan kakaknya serta dia sendiri?

"Pada malam terjadinya peristiwa hebat itu, terjadi lain peristiwa yang kemudian merupakan rahasia kehidupan tiga orang gadis.

Pada malam hari yang malang itu, secara diam-diam muncul seorang wanita kang-ouw bernama Ang-jiu Toanio yang juga memusuhi Cia Sun.

Ang-jiu Toanio yang kebetulan mempunyai seorang bayi perempuan, lalu menukarkan bayinya dengan bayi keluarga Cia, yaitu Cia Bi Eng itu.

Belum lama seperginya Ang-jiu Toanio, muncul pula Balita puteri Hui itu membawa bayinya dan menukarkan bayinya sendiri dengan bayi yang disangkanya puteri keluarga Cia, padahal adalah anak Ang-jiu Toanio."

Kalau saja Hoa-ji tidak demikian terharu dan Pangeran Yong Tee tidak demikian tertarik dan tegang oleh cerita ini, tentu mereka akan mendengar jerit tertahan dari balik semak-semak, di mana Tilana hampir pingsan mendengar cerita itu.

"Bayi keluarga Cia yang aseli, yaitu Cia Bi Eng tulen, dibawa Ang-jiu Toanio. Akan tetapi di tengah jalan bayi ini dirampas oleh seorang pemelihara macan berbangsa Mongol bernama Kalisang dan di lain waktu dari tangan Kalisang dirampas pula oleh Hoa Hoa Cinjin. Kau tentu dapat menduga, pangeran, bahwa bocah itu, Cia Bi Eng yang tulen....., setelah dipelihara oleh Hoa Hoa Cinjin mendapatkan nama Hoa-ji..... atau aku sendiri."

Hoa-ji terisak-isak kembali dan Pangeran Yong Tee duduk bagaikan patung batu, tak dapat bergerak, tak mampu mengeluarkan kata-kata saking heran dan kagetnya.

Yang lebih hebat akibatnya ketika menerima berita ini adalah Tilana dalam tempat persembunyiannya.

Gadis ini menangis dan jatuh di atas rumput.

Tidak karuan rasa hatinya.

Terharu, sedih, bingung, dan girang.

la girang karena ternyata bahwa dia bukanlah adik kandung Han Sin!

Ini berarti dia dapat menjadi isteri pemuda itu!

Tadi hampir saja ia membunuh Yong Tee karena ia hendak meneruskan perjuangan mendiang ayahnya, hendak membunuh Pangeran Mancu, penjajah bangsanya!

Jadi dia sebetulnya anak Ang-jiu Toanio?

Pantas saja dahulu Han Sin bilang dia bukan anak Balita.

Jadi pemuda itu sudah tahu bahwa dia anak Ang-jiu Toanio?

Dia sudah tahu siapa Ang-jiu Toanio.

Sudah mendengar pula tentang putera Ang-jiu Toanio yang bernama Phang Yan Bu.

Jadi pemuda itu kakaknya?

"Demikianlah, pangeran.

Yang sekarang selalu dianggap adik Sin-ko, yang bernama Cia Bi Eng itu, sebetulnya adalah Tilana puteri Balita, sedangkan puteri Balita yang bernama Tilana itu sebetulnya adalah puteri Ang-jiu Toanio.

Aku sudah berjumpa dengan Sin-ko kakak kandungku, sudah mendengar bahwa kau menyuruh dia menyelamatkanku, membawaku ke sini....

akan tetapi,......, mendiang ayahku dianggap pemberontak, dan kau....

kau Pangeran Mancu.....

bukankah kita berhadapan sebagai musuh besar......?"

Yong Tee tersenyum, lalu memeluk pundak gadis berkedok itu.

"Hoa-ji kekasihku. Kau tetap Hoa-ji yang dulu, tak perduli siapa namamu sebetulnya, tidak perduli anak siapa kau dan bangsa apa. Aku tetap mencintaimu, dan hanya kau seorang, Hoa-ji."

Hoa-ji melepaskan pelukan pangeran itu. Tiba-tiba ia berdiri tegak dan berkata.

"Pangeran Yong Tee, hubungan kita sudah lama. Aku percaya penuh akan perasaan hatimu. Hanya satu yang meragukan hatiku. Kau selalu mengaku cinta, padahal belum pernah melihat wajahku. Bagaimana mungkin seorang mencinta tanpa melihat wajah? Aku takut kalau sekali kau melihat wajahku, cintamu akan terbang lenyap......"

Yong Tee menjawab dengan suara sungguh-sungguh.

"Justeru karena tidak pernah melihat wajahmu, aku yakin bahwa cintaku murni, Hoa-ji. Banyak macam cinta kasih di dunia ini, Hoa-ji. Cinta kasih berdasarkan keindahan bentuk dan rupa, cinta kasih berdasarkan budi, cinta kasih berdasarkan pamrih, dan cinta kasih berdasarkan nafsu berahi. Semua ini adalah cinta kasih yang dijadikan kedok nafsu. Cintaku terhadapmu tidak seperti itu, melainkan cinta yang digerakkan oleh sesuatu yang gaib, tidak memandang rupa, seperti cinta kasih ibu terhadap anaknya. Hoa-ji, apapun juga terjadi di dunia ini, cintaku terhadapmu tak akan berubah. Agaknya memang sudah menjadi Hukum Karma, maka kau jangan ragu-ragu lagi, dewiku......"

Kembali Hoa-ji terisak karena amat terharu hatinya.

Tangan kirinya bergerak dan sekaligus merenggutkan kedoknya, terlepas dari mukanya.

Mereka berpandangan dan Yong Tee menjadi bengong menyaksikan wajah ditimpa cahaya bulan itu, wajah yang seakan-akan sudah dikenalnya amat lama, yang sering kali ia jumpai dalam alam mimpi.

Benar aneh, mengapa wajah di balik kedok itu demikian cocok dengan kiraan dan dugaannya?

"Hoa-ji....."

"Pangeran....."

Dari tempat persembunyiannya, Tilana juga menjadi bengong.

Ia melihat persamaan yang tak dapat dibantah lagi antara wajah Hoa-ji dengan wajah Han Sin.

Tidak bisa salah lagi, memang Hoa-ji adalah adik kandung Han Sin.

Dan dia bukan apa-apanya ataukah betul!

Dia isterinya!

Dia berhak menjadi isteri Han Sin!

Tak kuasa Tilana menyaksikan pertemuan antara sepasang merpati yang amat asyik dan mesra itu.

Dan diam-diam ia lalu meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi ketika Tilana berlari keluar dari lingkungan istana Pangeran Yong Tee, tiba-tiba tiga bayangan orang yang amat cepat gerakannya berkelebat dan tahu-tahu tiga orang muda yang bukan lain adalah Phang Yan Bu, Li Hoa dan Li Goat sudah berdiri di depannya dengan pandang mata penuh selidik?

"Kau lagi yang datang di sini!

Apa maksudmu memasuki lingkungan istana Pangeran Yong Tee?

Bukankah kau bernama Tilana puteri Balita yang disebut Jin-cam-khoa?"

Tilana menatap wajah Yan Bu di bawah sinar bulan purnama. Ada sesuatu yang menarik hatinya. Agaknya karena ia tahu bahwa pemuda ini kakaknya, maka timbul simpati besar sekali.

"Kau..... kau bernama Phang Yan Bu putera Ang-jiu Toanio....?"

Tanyanya gagap.

"Betul sekali,"

Jawab Yan Bu heran.

"Eh, di mana adanya Bi Eng? Dulu kau yang membawanya pergi. Tentu kau tidak bermaksud baik!"

Tegur Li Goat yang tidak percaya kepada gadis berpakaian aneh, berwajah cantik bukan main tapi agak pucat itu. Tilana menundukkan mukanya sebentar.

"Dia.... dia sudah kembali kepada ibu kandungnya....."

Jawabnya tidak jelas. Jawabannya tentu saja merupakan teka teki bagi tiga orang itu, apa lagi bagi Li Hoa yang amat mengkhawatirkan keselamatan Bi Eng dan terutama Han Sin.

"Di mana Cia Han Sin? Kau tentu tahu di mana adanya pemuda itu,"

Tanya Li Hoa. Tilana tiba-tiba mengangkat mukanya dan matanya yang indah tajam itu menyambar ke wajah Li Hoa.

"Mau apa kau tanya-tanya tentang Cia Han Sin? Dia itu apamu?"

Merah muka Li Hoa. Gugup juga ia ditegur begini.

"Bu.... bukan apa-apa, hanya.... hanya sahabat. Di mana dia? Lekas katakan kalau memang kau tidak bermaksud buruk."

Akan tetapi Tilana sudah membuang muka tidak mau melayani Li Hoa, sebaliknya ia kembali memandang Yan Bu.

"Kau..... adakah kau mempunyai seorang adik perempuan?"

Yan Bu berdebar jantungnya.

"Betul, bagaimana kau bisa tahu?"

"Ibu...... eh...... ibumu sudah meninggal?"

Kembali Yan Bu mengangguk.

"Apa maksudmu bertanya tentang semua ini?"

"Dia bukan orang baik-baik!"

Tegur Li Goat penuh curiga dan cemburu.

"Kau..... kau kakak kandungku......!"

Tilana berkata sambil menahan isak, akan tetapi tubuhnya berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

"Eh, tunggu.....!"

Yan Bu berseru kaget, hendak mengejar.

Akan tetapi tangan Li Goat menyentuh lengannya, membuat pemuda itu menengok dan terpaksa menunda niatnya.

Pandang mata Li Goat begitu aneh, seperti orang marah.

Akan tetapi tak lama kemudian kedua orang muda ini baru melihat bahwa Li Hoa tidak berada di samping mereka.

"Lho, mana cici Li Hoa?"

Teriak Li Goat kaget.

"Agaknya mengejar dia......"

Jawab Yan Bu.

Mereka berdua mencoba untuk menyusul, akan tetapi karena tidak tahu ke mana arah yang ditempuh dua orang gadis itu, mereka tidak berhasil mengejar dan terpaksa kembali ke istana di mana mereka tinggal menjadi tamu Pangeran Yong Tee.

Memang dugaan Yan Bu tadi tidak keliru.

Li Hoa yang menaruh curiga kepada Tilana, diam-diam melakukan pengejaran.

Ia merasa yakin bahwa Bi Eng tentu menghadapi bencana di tangan gadis Hui itu, dan mungkin sekali gadis bangsa Hui itu tahu pula di mana adanya Han Sin.

Baiknya dalam perjalanan ini, Tilana tidak mengerahkan seluruh kepandaiannya, maka Li Hoa dapat mengikuti terus.

Akan tetapi setelah tiba di luar pintu gerbang sebelah utara kota raja, mereka melalui daerah terbuka.

Hal ini membuat Tilana dapat melihat bahwa ada bayangan yang mengikutinya.

Namun Tilana berjalan terus, hanya sedikit mempercepat larinya.

Ketika melihat bahwa bayangan itupun berlari cepat, gadis ini tersenyum mengejek.

Baiklah kutunggu sampai pagi dan kulihat, mau apa dia?

Mereka telah berada di daerah pegunungan dan Tilana berhenti di tepi sungai yang mengalir di sebelah utara kota raja.

Malam telah lewat, matahari hampir tampak, didahului cahayanya yang kemerahan.

Sambil tersenyum Tilana membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan.

"Sahabat di belakang, kau mengikuti aku dari kota raja, ada maksud apakah? Jangan bersikap seperti pengecut!"

Merah wajah Li Hoa mendengar seruan ini dan melihat sikap yang mengejek dari nona cantik jelita itu.

Ia cepat keluar dari tempat sembunyinya dan dengan dua kali loncatan jauh ia sudah berdiri tegak di depan Tilana.

Gadis ini mau tak mau kagum juga menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat, juga terkejut mendapat kenyataan bahwa yang mengikutinya bukan lain adalah gadis cantik yang di kota raja tadi bertanya tentang Han Sin.

Dadanya menjadi panas.

Kalau tadinya Tilana merasa amat berduka tiap kali teringat akan hubungannya dengan Han Sin yang dianggap kakak kandungnya, sekarang ia bahkan merasa girang kalau teringat akan hal itu.

Han Sin bukan kakak kandungnya, melainkan suaminya!

Dan cinta kasihnya terhadap Han Sin makin mendalam, tentu saja ia menjadi panas dan cemburu sekali melihat seorang gadis jelita seperti Li Hoa bertanya-tanya tentang suaminya itu!

Li Hoa yang merasa malu karena orang yang diikutinya sudah tahu akan perbuatannya, terpaksa muncul dan berkata dengan nada minta maaf.

"Aku tidak bermaksud buruk, hanya ingin kauberi tahu di mana adanya adik Bi Eng dan kanda Han Sin......"

Mengenai sebutan "adik Bi Eng"

Dan terutama sekali "kanda Han Sin"

Ini, isi dada Tilana makin panas. Namun ia tetap tersenyum manis ketika bertanya.

"Kau tanya-tanya tentang mereka. Apamu sih mereka itu?"

Muka Li Hoa menjadi makin merah.

"..... bukan..... bukan apa-apa, hanya sahabat-sahabat baik,"

Jawabnya kemudian, agak gagap karena pertanyaan dari gadis Hui yang aneh ini benar-benar tak disangka-sangkanya.

Makin cemburu hati Tilana, makin lebar senyumnya.

Tak percuma gadis ini semenjak kecil menjadi anak dan murid Balita, sedikit banyak sifat Balita sudah menurun kepadanya.

"Ehemm, kau mencinta Cia Han Sin, bukan? Katakan terus terang, kalau tidak, akupun tidak mau memberitahu kepadamu di mana adanya Cia Han Sin dan Bi Eng."

Tentu saja Li Hoa menjadi makin jengah dan malu, malah-malah ia hampir marah.

Akan tetapi mengapa tidak berterus-terang saja, pikirnya.

Lebih baik mengaku dan kemudian mendengar keterangan gadis aneh ini di mana adanya Han Sin.

Kalau ia bersitegang, tentu gadis itupun tidak mau memberi tahu dan mungkin sekali mereka menjadi musuh.

Melihat gelagatnya, musuh seperti gadis Hui ini bukanlah musuh ringan!

"Kau tidak keliru menduga.

Memang, aku cinta kepadanya.

Nah, sekarang harap kau suka memberi petunjuk di mana aku dapat menyusul dia, dan di mana pula adanya adik Bi Eng."

Setelah membuat pengakuan ini melalui mulutnya, Li Hoa tidak malu-malu lagi menentang mata Tilana.

Ia terkejut melihat betapa sepasang mata indah dari gadis Hui itu seakan-akan bernyala, akan tetapi hanya sebentar, segera berganti pandang berseri dan mulut yang manis itu tersenyum lebar.

"Ha, jadi kau mencinta Cia Han Sin? Kau masih terhitung apakah dengan Phang Yan Bu?"

Li Hoa teringat betapa gadis ini tadi menyebut Yan Bu sebagai kakak kandung, maka tanpa ragu-ragu ia menjawab.

"Aku adalah sahabat baiknya juga. Tilana, betulkah kau ini adik kandungnya? Bagaimana kau bisa mengaku begitu?"

"Hal itu bukan urusanmu. Kau tadi bilang mencinta Han Sin?"

Sambil berkata demikian, Tilana meloloskan pedang dari sarung pedangnya perlahan-lahan!

Melihat gerakan ini, Li Hoa curiga dan siap-siaga.

Boleh jadi ia salah duga, boleh jadi dengan pengakuannya ini ia malah menjadikan Tilana sebagai musuh.

Apa boleh buat, ia tidak dapat mundur lagi.

"Betul,"

Jawabnya tenang.

"aku mencinta Cia Han Sin."

"Mampuslah!"

Seru Tilana tiba-tiba dan "srattt!"

Pedangnya dicabut serentak lalu secepat itu pula pedangnya sudah meluncur menusuk ke arah muka Li Hoa.

Serangan ini seharusnya ditusukkan ke dada atau leher, kalau Tilana sudah menusuk ke arah muka, itu hanya menandakan bahwa ia amat benci dan marah.

Cepat Li Hoa mengelak.

Hal ini mudah ia lakukan karena ia memang sudah menaruh curiga dan sudah siap.

Sambil melompat ke samping ia mencabut juga pedangnya.

Dua orang wanita muda cantik, sama gagah, berdiri berhadapan dengan pedang telanjang di tangan.

"Tilana, seorang gagah tidak bersikap sembunyi-sembunyi. Aku Thio Li Hoa selamanya tidak pernah bermusuhan denganmu, semua pertanyaanmu kujawab sejujurnya. Mengapa tanpa sebab kau menyerang?"

"Li Hoa, buka telingamu baik-baik. Cia Han Sin adalah suamiku, mengerti? Orang lain, menyebut namanya saja tidak boleh, apa lagi seperti kau ini mengaku aku cinta. Cih, tak tahu malu!"

Sepasang mata Li Hoa bersinar marah.

"Perempuan rendah, tebal sekali mukamu berani membohong. Cia Han Sin belum menikah, bagaimana bisa mempunyai seorang isteri macam engkau?"

Tilana makin marah, pedangnya berkelebat dan ia menyerang dengan ganas.

Li Hoa menangkis dan sebentar saja dua orang gadis cantik itu saling serang dengan nekat dan mati-matian bagaikan dua ekor singa betina bertanding memperebutkan kelinci!

Li Hoa adalah murid pertama dari Coa-tung Sin-kai sedangkan Tilana mewarisi kepandaian Jin-cam-khoa Balita.

Kepandaian mereka pada waktu itu sudah jarang dapat ditandingi oleh gadis-gadis lain.

Watak mereka sama-sama keras dan gagah, tidak kenal takut.

Maka pertandingan itu hebatnya bukan main.

Dua batang pedang yang runcing tajam itu berkelebatan menyambar-nyambar, sewaktu-waktu dapat merobek perut atau dada, dapat memenggal leher membikin buntung tangan dan kaki!

Puluhan jurus lewat dan biarpun pertandingan masih berjalan seru sekali, namun dapat dilihat bahwa perlahan-lahan Li Hoa makin terdesak.

Ilmu pedangnya biarpun sama cepat dan kuatnya, namun kalah ganas dan repot jugalah akhirnya Li Hoa menghadapi rangsekan yang ganas dan dahsyat dari pedang Tilana.

Tiba-tiba Tilana mengeluarkan seruan nyaring, tangan kirinya tahu-tahu sudah menyambar sebatang anak panah di punggungnya dan begitu tangan kirinya itu diayun, anak panah menyambar laksana terlepas dari gendewa, ke arah dada Li Hoa!

Tentu saja Li Hoa kaget sekali menghadapi senjata rahasia ini, cepat ia menangkis dengan pedangnya.

"Traang! Anak panah terpukul runtuh, akan tetapi pada saat Li Hoa menangkis anak panah, pedang Tilana sudah "bekerja", membabat leher Li Hoa. Gadis ini terkejut dan merendahkan tubuh, akan tetapi tetap saja pundaknya terserempet pedang, kulitnya terkupas sedikit. Darah mengucur dan tubuh Li Hoa terhuyung ke belakang. Tilana mengeluarkan pekik nyaring dan liar, terus mendesak maju dengan tusukan-tusukan maut. Dua kali ia menusuk dan dua kali Li Hoa berhasil menangkis, akan tetapi ketika menangkis untuk ke tiga kalinya sambil mundur, Li Hoa menginjak batu bulat dan tergelincir, roboh terguling.

"Hemm, kau mau mencinta Han Sin? Mampuslah!"

Seru Tilana sambil mengayun pedang, penuh kebencian! "Trangg!"

Pedang di tangan Tilana bertemu dengan pedang lain yang pada saat itu menangkis. Tilana kaget dan memandang.

"Kau.....??"

Tegurnya ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya dengan muka beringas dan penuh benci adalah.....

Bi Eng!

Bi Englah yang menangkis pedang Tilana tadi, tepat pada saat Li Hoa terancam bahaya maut.

"Ya, aku!"

Jawab Bi Eng dan diam diam Tilana terheran mengapa sikap Bi Eng sekarang demikian berubah, tidak ramah dan manis seperti dulu terhadapnya, melainkan kasar dan agaknya penuh kemarahan dan kebencian.

"Jangan khawatir, enci Li Hoa, aku membantumu mengenyahkan siluman ini!"

Setelah berkata demikian, Bi Eng menggerakkan pedangnya menyerang Tilana! "Eh....., eh...., apa kau gila......?"

Tilana berseru marah sambil menangkis.

Akan tetapi Bi Eng menyerang terus dan Li Hoa juga sudah menyerangnya dengan gemas.

Menghadapi keroyokan dua orang gadis ini, Tilana tentu saja terdesak.

la mengeluarkan seruan nyaring dan liar, lalu menyerang dua orang lawannya dengan dua batang anak panahnya.

Ketika dua orang gadis itu dengan kaget mengelak, Tilana lalu melarikan diri sambil memekik nyaring, setengah tertawa, setengah menangis.

Ginkangnya hebat, dua orang gadis lawannya tak dapat menyusul larinya yang amat cepat.

Semenjak kecil Tilana sudah biasa berlari-larian di gunung-gunung, hutan-hutan dan padang pasir, tentu saja Bi Eng dan Li Hoa tidak mampu melawannya dalam hal berlari cepat.

"Adik Bi Eng, terima kasih atas pertolongamu,"

Kata Li Hoa dengan girang.

"Kau benar-benar membuat kami merasa gelisah sekali. Selama ini kaupergi ke mana sajakah?"

Li Hoa menghampiri untuk memeluk kawan baik ini. Akan tetapi aneh sekali. Dengan sikap keren dan pemarah, Bi Eng mengundurkan diri dan tidak mau menerima pelukan Li Hoa.

"Tak perlu berterima kasih,"

Jawabnya singkat.

"perempuan tadi memang jahat."

Setelah berkata demikian, Bi Eng membalikkan tubuhnya dan......

pergi meninggalkan Li Hoa!

Tentu saja Li Hoa menjadi bengong terheran menyaksikan sifat yang tidak sewajarnya ini.

Dahulu Bi Eng terkenal sebagai gadis lincah gembira yang amat peramah.

Kenapa sekarang menjadi begini dan kelihatan seperti orang berduka?

"Bi Eng, tunggu....."

Katanya mengejar.

Namun Bi Eng mempercepat jalannya dan kedua orang gadis itu kini berkejaran.

Belum jauh mereka berlari-lari, dari balik batu besar muncul seorang pemuda.

Melihat orang ini, wajah Li Hoa berubah.

Cepat ia mencabut pedangnya dan mempercepat larinya.

Sementara itu, ketika pemuda itu melihat Bi Eng, ia tertawa lebar.

"Ha ha ha, kalau jodoh, kemanapun juga akan bertemu. Kekasihku, benar-benar kita berjodoh, maka dapat bertemu pula di sini. Ha ha!"

Akan tetapi Bi Eng tidak menjawab, hanya merengut dan membuang muka. Pada saat itu Li Hoa sudah tiba di depan pemuda tadi. Li Hoa menudingkan pedangnya membentak.

"Pemberontak keparat! Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kau membunuh ayahku, sekarang aku akan membunuhmu!"

Biarpun pundaknya masih terasa sakit karena luka akibat pedang Tilana tadi, namun saking marahnya melihat musuh besar ini, ia lalu maju menyerang dengan hebat.

Pemuda itu bukan lain adalah Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu.

Tadi ia terlampau girang melihat munculnya Bi Eng, yang betul-betul tak pernah ia sangka berada di tempat itu, maka ia kurang memperhatikan Li Hoa.

Sekarang, melihat bahwa gadis yang seorang lagi adalah Li Hoa, gadis yang dulu pernah membuat ia tergila-gila kegirangannya memuncak.

"Aha, kaukah ini, nona Thio Li Hoa?"

Katanya sambil mengelak dengan mudah.

"Kebetulan sekali, aku sedang kesepian tiada kawan, kaupun muncul di sini. Bagus, bagus....! Kau makin manis.... saja.... ha ha ha.......!"

Li Hoa yang tiga kali berturut turut tidak berhasil dengan serangannya, mendengar ini menjadi gemas sekali.

Ia mengertak gigi, memegang gagang pedangnya erat-erat, lalu maju menubruk dengan sebuah tusukan kilat.

"MAKIN liar dan ganas, makin menyenangkan...."

Bhok-kongcu yang terkenal mata keranjang itu menggoda terus, kali ini ia mengelak sambil menggerakkan tangan, sekali pegang saja ia berhasil menangkap pergelangan tangan Li Hoa yang memegang pedang, diputarnya cepat-cepat membuat Li Hoa memekik kesakitan dan pedangnya terlepas.

Di lain saat, sebelum Li Hoa mampu bergerak, gadis itu sudah dipeluk oleh Bhok-kongcu!

"Lepaskan aku!

Keparat keji, lepaskan...!"

Li Hoa meronta dan berteriak, namun makin ia meronta, pelukan Bhok-kongcu makin erat pula sampai ia tak mampu berkutik lagi.

"Tak tahu malu! Lepaskan dia!"

Bi Eng tiba-tiba membentak dan pedangnya membabat ke arah leher Bhok-kongcu.

"Hayaaa, kaupun menyerangku? Celaka, diserang oleh tunangan sendiri!"

Bhok-kongcu hendak berkelakar, namun serangan ini adalah gerakan Cin-po-thian-keng yang lihai dari Ilmu Silat Thian-po-cin-keng!

Bhok-kongcu kaget sekali ketika tahu-tahu mata pedang hampir membabat lehernya.

Cepat ia meloncat ke belakang dan karena gerakan ini, pelukannya pada tubuh Li Hoa mengendur.

Hal ini tidak disia-siakan oleh Li Hoa yang cepat menggerakkan kedua tangannya.

"Dukkk!"

Kepalan kanan Li Hoa berhasil "memasuki"

Perut Bhok-kongcu dengan tepat.

"Aduuhhh....!"

Pemuda itu terlempar ke belakang, wajahnya pucat dan biarpun tidak membahayakan jiwanya, ternyata ia telah menderita luka dalam.

la tersenyum pahit, nafsu cintanya terhadap Li Hoa berubah seketika, berubah menjadi kemarahan dan kebencian.

"Kau berani memukulku?"

"Aku malah akan membunuhmu!"

Li Hoa berteriak lagi setelah mengambil pedangnya, lalu menubruk dengan serangannya yang dilakukan secara nekat.

"Baik, cobalah sebelum kau kukirim menyusul ayahmu!"

Bhok-kongcu mengelak dan cepat mencabut senjatanya, yaitu sebuah kipas lebar.

Beberapa belas jurus mereka bertempur dan Bi Eng berdiri ragu-ragu, tidak membantu, hanya pedangnya masih terpegang di tangan kanan.

Pada jurus ke lima belas, Bhok-kongcu sengaja memperlambat tangkisannya, akan tetapi ketika ujung pedang di tangan Li Hoa sudah dekat, ia cepat menggunakan sepasang gagang kipasnya menjepit pedang itu.

Selagi Li Hoa berusaha melepaskan pedangnya, tangan kiri Bhok-kongcu datang menyambar.

"Plakk!"

Tangan kiri yang putih halus, akan tetapi mengandung penuh tenaga Hek-tok-ciang itu telah menghantam dada Li Hoa.

Gadis itu menjerit ngeri dan roboh terguling, tak dapat bergerak lagi!

"Manusia keji, di mana-mana membunuh orang!"

Bi Eng berseru marah.

"Kaupun banyak rewel sekarang, lekas-lekas menjadi isteriku lebih baik, harus diberi hajaran!"

Bhok-kongcu balas membentak dan sebelum Bi Eng sempat menyerang, pemuda itu sudah menerjangnya, tangan kiri memukul ke arah pedang dan tangan kanan menyambar pinggang Bi Eng.

Terus saja ia memanggul tubuh Bi Eng yang menjerit-jerit, memaki-maki dan meronta-ronta, dibawa lari cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan tubuh Li Hoa yang tidak bergerak dan pakaian di dadanya sudah hancur memperlihatkan kulit dada yang hangus kehitaman.

"Saudara Cia Han Sin!"

Han Sin terkejut mendengar panggilan ini dan cepat menengok.

Ternyata Phang Yan Bu yang memanggilnya.

Yan Bu berlari datang bersama seorang gadis cantik dan gagah.

Ternyata bahwa gadis itu adalah Thio Li Goat, adik Li Hoa.

"Ah, Phang-loheng, kau hendak ke manakah?"

Akan tetapi sampai lama Yan Bu tak menjawab, hanya memandang pemuda itu yang menjadi pucat dan kurus sekali dengan perasaan kasihan.

la tidak banyak tahu tentang pemuda aneh dan sakti ini, hanya dapat menduga bahwa banyak hal-hal yang amat sengsara terjadi menimpa keluarga Cia dan karenanya membuat ia menaruh hati kasihan.

"Kami sedang mencari jejak adikmu. Nona Cia Bi Eng...."

".... di mana dia........?"

Han Sin memotong dengan tergesa-gesa, penuh gairah.

"Sabar dulu, saudara. Beginilah ceritanya,"

Yan Bu lalu menuturkan secara singkat kemunculan Tilana yang mengaku adik kandungnya itu, lalu betapa Li Hoa mengejarnya.

Agaknya hanya Tilana yang tahu di mana adanya Bi Eng, maka kini Yan Bu dan Li Goat lalu pergi mencari.

"Aneh sikap Tilana itu, saudara Cia Han Sin. Dia mencarimu, dan dulupun dia yang membawa pergi Bi Eng. Dia kelihatan jahat, kami amat mengkhawatirkan keselamatan Bi Eng dan.... enci Li Hoa. Kebetulan sekali kami mendapat keterangan bahwa jejaknya berada di daerah ini."

"Kalau begitu mari kita bersama mengejarnya,"

Kata Han Sin tidak sabar lagi.

Ia tidak mau banyak bercerita, hanya ingin lekas-lekas dapat mencari dan menemui Bi Eng.

Karena Bi Englah, ia menjadi pucat dan kurus kering, lupa makan, lupa tidur.

Sayang sekali mereka sedikit terlambat, kalau tidak kiranya Li Hoa takkan mengalami nasib sedemikian mengerikan.

Hanya satu dua jam setelah Li Hoa roboh dan ditinggal pergi Bhok-kongcu yang menculik Bi Eng di tempat itu muncul Han Sin, Yan Bu dan Li Goat!

"Hoa-ci....!!"

Li Goat cepat menubruk cicinya dan menangis. Li Hoa membuka matanya, memandang tiga orang itu. Melihat Han Sin, ia berbisik.

"Han Sin... bagus sekali kau datang.... ke sinilah kau...."

Han Sin berlutut mendekati Li Hoa. Ngeri ia melihat dada yang sudah tak tertutup lagi karena pakaiannya sudah hancur, akan tetapi dada itu sudah hangus kehitaman! "Kau terpukul Hek-tok-ciang...."

Katanya sedih.

Teringat ia betapa baik gadis ini terhadapnya, betapa dulu ia tertolong oleh Li Hoa, bahkan dibela dengan taruhan nyawa, betapa dulu ketika terluka iapun dirawat oleh gadis itu.

Dengan terharu ia lalu mengangkat kepala gadis itu dan dipangkunya, lalu mengambil baju luarnya untuk diselimutkan di atas dada.

Kemudian beberapa jalan darah ia totok dan urut, bukan untuk mengobati, hanya untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat.

"Terima kasih...."

Li Hoa bernapas lega.

"Sekarang enakan.... tidak sepanas tadi...."

Gadis itu memandang kepada Han Sin dengan muka berseri!

"Kau....

kau baik sekali.

Han Sin....

tidak percuma....

aku mencintamu....

eh, kenapa kau kurus dan pucat?

Han Sin, jaga baik-baik dirimu.....

aku ikut berduka kalau melihat kau susah...

dahulu itu, ketika kau disiksa Thian-san Sam-sian....

aduh, sakit sekali hatiku....."

Melihat gadis yang sudah menghadapi maut itu masih memperlihatkan kasih sayang kepadanya, Han Sin menjadi amat terharu. Tak terasa lagi, dua butir air matanya jatuh menimpa pipi Li Hoa.

"Kau..... kau menangis....? Untukku....? Ahhh, aku puas.... matipun ikhlas.... Phang Yan Bu, kau harap bersikap baik terhadap adikku.... sebaik Han Sin ini...."

Tiba-tiba suaranya terhenti dan napasnyapun terhenti.

Han Sin cepat sekali menggerakkan tangan menghidupkan peredaran darah dan mengerahkan sinkang untuk membantu jalan darah dan menghidupkan urat syaraf gadis itu, lalu berbisik di telinganya.

"Di mana Bi Eng......."

".... Bi Eng..... dia diculik Bhok.... ke sana....."

Matanya mengerling ke arah perginya Bhok-kongcu lalu mata itu meram dan..... napasnyapun terhenti sama sekali. Gadis itu meninggal dalam pelukan Han Sin.

"Kalian urus jenazahnya. Aku harus mengejar Bhok-kongcu si bedebah. Bhok Kian Teng yang membunuh Li Hoa, dengan pukulan Hek-tok-ciang. Tentu dia belum jauh!"

Yan Bu dan Li Goat mengangguk tanda setuju.

Memang, siapa lagi yang dapat menghadapi Bhok Kian Teng yang lihai itu selain Han Sin?

Setelah memberikan jenazah Li Hoa kepada sepasang orang muda itu untuk membawanya pergi, Han Sin cepat berlari seperti terbang ke arah yang ditunjuk oleh Li Hoa tadi.

Ia berlari-lari bagaikan terbang cepatnya.

Segera ia sampai di daerah yang berbatu-batu dan tahulah ia bahwa ia telah tiba dekat sungai besar.

Tiba-tiba telinganya menangkap jerit wanita.

"Lepaskan aku.....!"

Dengan jantung berdebar Han Sin berlari makin cepat lagi ke arah suara itu.

Setelah melompati beberapa buah batu besar, akhirnya ia melihat Bhok Kian Teng berjalan perlahan-lahan sambil memondong tubuh Bi Eng yang meronta-ronta dan memaki-maki.

"Diamlah, manis... diamlah, sayang.... bukanlah kau calon isteriku yang syah? Ibumu sendiri sudah menyerahkan kau kepadaku. Tunggu saja, kau akan menjadi permaisuri..... ha ha ha!"

Bhok Kian Teng membelai rambut gadis yang dipondongnya itu, yang terurai menutupi lengannya.

Hampir meledak isi dada Han Sin menyaksikan penglihatan ini.

Sekali melayang ia telah tiba di depan Bhok-kongcu sambil membentak.

"Iblis bermuka manusia! Lepaskan dia!"

Pucat muka Bhok-kongcu ketika tiba-tiba ia melihat musuh yang paling ia takuti ini berdiri di depannya.

"Kau....? Kau......??"

Dan ia lalu lari sambil memondong tubuh Bi Eng. Anehnya, sekarang gadis itu tidak meronta lagi, malah tidak mengeluarkan suara.

"Kau hendak membunuhku....? Ha ha ha, tak mungkin, Cia Han Sin Aku calon raja. Aku pangeran besar, keturunan Jenghis Khan! Ha ha ha! Dan nona Tilana ini adalah calon permaisuriku......!"

Bukan main cemasnya hati Han Sin.

Agaknya Bhok-kongcu sudah menjadi gila.

Hendak menyerang, ia takut kalau-kalau Bi Eng celaka di tangan pemuda Mongol itu.

Maka ia cepat mengejar dengan maksud merampas tubuh Bi Eng yang dipondong Bhok-kongcu.

Akan tetapi Bhok-kongcu mengerti akan maksud ini, maka ia cepat menggunakan tubuh Bi Eng untuk menyerang Han Sin!

Han Sin cepat mengelak dan pucatlah wajahnya ketika melihat gadis itu sudah lemas, tidak bergerak lagi.

Saking kagetnya ia sampai berdiri tidak mengejar ketika Bhok-kongcu berlari terus.

Baru setelah hilang kagetnya, ia mengejar lagi.

"Orang gila, akan kuhancurkan kepalamu kalau kau berani mengganggu dia!"

Geramnya marah sekali. Bhok-kongcu sudah berlari sampai di pinggir sungai yang amat curam. Ia angkat tubuh Bi Eng dan mengancam.

"Majulah setindak lagi dan.... akan kulemparkan dia ke bawah!"

Han Sin memandang dengan mata terbelalak, menjadi seperti patung, berdiri dalam jarak lima meter dari Bhok-kongcu, tidak berani bergerak.

"Jangan.... jangan lakukan itu..... dia tidak berdosa......"

Suaranya memohon dengan gemetar.

"Ha ha ha ha! Dia isteriku, dia calon permaisuriku.... kau perduli apa.....? Aku boleh melakukan apa yang kusuka. Lihat....!"

Tak usah diminta lagi, Han Sin memang sudah melihat hal yang amat mengerikan hatinya.

Melihat betapa baju di lambung kiri Bi Eng telah hancur.....

dan kulit lambung yang tampak berwarna hitam!

Tak salah lagi, pemuda gila itu sudah melukai lambung Bi Eng dengan pukulan Hek-tok-ciang, tentu pada saat Han Sin muncul tadi karena sebelumnya Bi Eng masih memaki-maki!

Muka Han Sin menjadi beringas, sebentar pucat, sebentar merah.

Sepasang matanya seperti mengeluarkan api, dan dari kepalanya mengepul uap!

Melihat keadaan pemuda itu, Bhok-kongcu sampai merasa ngeri dan ketakutan.

"Awas kau..... kuhancurkan kepalamu...... kukeluarkan isi perutmu..... kuseret kau ke neraka jahanam...."

Dengan langkah satu-satu Han Sin menghampiri Bhok-kongcu.

"Jangan dekat, kulemparkan dia nanti ke bawah!"

Bhok-kongcu mengancam lagi.

Akan tetapi Han Sin tidak perduli lagi, karena ia maklum bahwa biarpun dia tidak menangkap Pangeran Mongol itu, tetap saja nyawa Bi Eng sukar ditolong lagi.

Kemarahannya meluap-luap, belum pernah selama hidupnya Han Sin semarah itu.

Bhok Kian Teng membelalakkan matanya.

Ia melihat pemuda itu selangkah demi selangkah, lambat-lambat menghampirinya dan.....

setiap melangkah, kakinya meninggalkan bekas yang dalam dan nyata di atas batu!

Sekali saja Han Sin menggerakkan tangan, tanpa menyentuh tubuh Bhok-kongcu, pemuda gila ini tentu akan remuk isi perutnya.

Hawa sinkang sudah berkumpul seluruhnya di dalam tangan kaki Han Sin.

Tiba-tiba Bhok-kongcu berteriak parau.

"Inginkan dia? Nih, terimalah, ha ha ha ha!"

Tubuh Bi Eng ia lontarkan dengan kuat sekali ke arah Han Sin dan dia sendiri saking takut dan paniknya sudah melompat ke belakang, ke...

tempat kosong.

Tubuhnya melayang ke bawah dan terdengar pekiknya yang menggema di lembah itu, pekik kematian karena tubuhnya disambut oleh batu-batu keras yang runcing dan mengerikan di antara air sungai.

Han Sin cepat menyambar tubuh Bi Eng.

la tidak perduli lagi kepada Bhok-kongcu.

Cepat ia memeriksa detak jantung dan pernapasan.

Sepuluh jari tangannya menggigil saking tegangnya hati.

"Aduhh....., syukur kau masih hidup, Bi Eng.... tapi..... tapi....."

La maklum bahwa ia takkan mungkin dapat mengobati Bi Eng.

Pikirannya sekilat melayang kepada Phoa Kek Tee si raja obat.

Akan tetapi pikiran itu buyar kembali ketika ia mengingat bahwa sekarang raja obat itu sudah kehilangan kepandaiannya karena.....

dia.

"Ahhh..... Bi Eng..... kalau kau mati.... akupun ikut serta....."

Tiba-tiba ia teringat akan Pek Sin Niang-niang.

Ya, betul dia?

Satu-satunya orang di dunia ini yang dapat dimintai tolong, hanya pertapa wanita itulah.

Han Sin memondong tubuh Bi Eng.

lalu berlari secepat terbang.

Siang malam tiada henti-hentinya ia berlari terus menuju ke Go-bi-san, tempat pertapaan Pek Sin Niang-niang.

"Niang-niang, tolonglah teecu.... tolonglah kalau Niang-niang tidak ingin melihat kami berdua mati....."

Han Sin dengan Bi Eng dalam pondongannya, berlutut sambil memohon-mohon dan menangis di depan pertapa wanita Pek Sin Niang-niang yang bersikap tenang saja.

"Cia-sicu, tak layak seorang gagah mengucurkan air mata. Nona ini siapakah?"

"Oh, Niang-niang..... dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini..... dia ini ya saudaraku, ya kekasihku, ya satu-satunya orang yang kukasihi dan untuknya aku mau hidup... Niang-niang, tolonglah kami....."

"Tenanglah, dan ceritakan mengapa dia sampai terluka seperti itu."

Dengan singkat Han Sin lalu menceritakan segala-galanya tentang Bi Eng yang dulu semenjak kecil ia anggap adik kandungnya, dan tentang segala perasaannya terhadap Bi Eng serta kejadian-kejadian yang amat merisaukan hatinya akhir-akhir ini.

Setelah selesai, Pek Sin Niang-niang lalu memeriksa luka Bi Eng sambil berkata tersenyum.

"Memang kau agaknya ditakdirkan untuk mengalami permainan asmara yang berbelit-belit, Cia-sicu. Nona ini berat lukanya, baiknya kau sudah menghentikan jalan darahnya, kalau tidak, begitu racun menyerang jantung, dia takkan tertolong lagi. Sekarang dia harus banyak beristirahat sambil berobat di sini. Akan tetapi, percayalah, kalau Thian menghendaki, dia akan sembuh."

Bukan main girangnya Han Sin.

Ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di depan pertapa wanita itu seperti seekor ayam makan padi!

Pek Sin Niang-niang adalah bibi guru dari Raja Obat Phoa Kok Tee.

Ilmunya tentang pengobatan amat dalam, apa lagi memang pertapa ini mengutamakan ilmu pengobatan anti racun.

Dengan amat teliti ia merawat dan mengobati Bi Eng yang menjadi sadar dari pingsannya pada tiga hari kemudian.

Gadis ini amat lemah dan dadanya terasa sakit sekali.

Ketika ia sadar dan melihat Han Sin duduk di dekat pembaringannya, ia merengut dan hendak marah-marah.

Akan tetapi Han Sin menyabarkannya dan mencegah gadis itu bangun.

"Eng-moi, kau tenang dan mengasolah. Kau terluka hebat oleh Bhok-kongcu, syukur Pek Sin Niang-niang berkenan menolongmu di sini dan memberi obat. Kau harus banyak mengaso....."

Suara pemuda ini lemah-lembut, penuh kasih sayang.

Naik sedu-sedan dari dada Bi Eng.

Selama ini memang di dalam dadanya penuh dengan cinta dan rindu kepada pemuda ini, akan tetapi semua perasaan itu ia tekan dan coba matikan sendiri.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk membenci pemuda ini, dengan menjejalkan pikiran bahwa pemuda ini sudah berlaku tidak patut terhadap Tilana atau yang sebetulnya bernama Kiok Hwa puteri Ang-jiu Toanio.

Malah ia meyakinkan dalam hatinya bahwa dia bukan Bi Eng, melainkan Tilana puteri Balita.

Akan tetapi semua usahanya ini selalu gagal, kalah oleh rasa rindu kepada Han Sin, bekas kakak kandungnya.

Malah sudah pernah ia memaksa hatinya untuk menerima perintah ibunya, yaitu yang mengikat dia kepada Bhok-kongcu sebagai tunangan.

Namun, makin dekat Bhok-kongcu makin bencilah ia kepada Pangeran Mongol itu.

"Kau pergilah..... kau pergilah....."

Akhirnya ia berkata sambil menangis.

Han Sin yang maklum bahwa perasaan gadis itu amat tertekan entah oleh apa, mengalah dan keluar dari kamar itu.

Betapapun juga, hatinya lega melihat gadis itu sudah siuman.

Pek Sin Niang-niang muncul ke dalam kamar membawa semangkok bubur hangat.

Bi Eng yang melihat wanita pertapa ini, memandang kagum.

Ia segera dapat menduga bahwa pertapa inilah yang menolongnya, maka ia lalu mencoba untuk turun dari pembaringan.

"Jangan banyak bergerak, nona. Berbaringlah saja dan kau makanlah bubur ini."

Pertapa itu lalu menyuapkan bubur ke mulut Bi Eng. Akan tetapi gadis itu tidak mau menerimanya.

"Apakah..... apakah kau Pek Sin Niang-niang......?"

Ketika pertapa itu mengangguk Bi Eng berlinang air mata.

"Niang-niang telah menolong nyawa teecu, seharusnya teecu berlutut menghaturkan terima kasih. Bagaimana teecu berani melelahkan Niang-niang untuk merawat teecu seperti ini. Pek Sin Niang-niang tersenyum ramah.

"Aku tidak mengenal apa itu tolong-menolong, anak baik. Manusia hidup harus memenuhi kewajibannya masing-masing dengan sempurna, baru tak percuma hidup di dunia. Kewajibanku saat ini ialah merawat dan mengobatimu, sedangkan kewajibanmu ialah taat pada pinni agar cepat sembuh."

"Tapi..... tapi...... harap Niang-niang menyuruh seorang pembantu saja untuk merawat teecu....."

Bi Eng benar-benar merasa malu dan sangat tak enak kalau membiarkan pertapa tua ini turun tangan sendiri merawatnya, seperti menyuapkan makan dan lain-lain.

Pek Sin Niang-niang tertawa girang.

Boleh juga bocah ini, pikirnya.

"Boleh, akan kusuruh pembantuku. Akan tetapi kau harus berjanji bahwa kau akan taat dan tidak membantah. Begitu barulah kau seorang anak yang baik."

"Teecu sudah menerima budi, bagaimana berani membantah,"

Bi Eng menyanggupi.

"Nah, pertama, kau tidak boleh bergerak dan tidak boleh turun dari pembaringan, apapun juga yang terjadi. Ke dua, kau harus menurut segala permintaan pembantuku."

"Baiklah, Niang-niang."

"Dan sekali-kali kau tidak boleh marah-marah. Racun masih ada bekasnya di dalam tubuhmu. Pemuda itu bukan main. Kau dipondongnya ke sini setelah melalui perjalanan empat hari empat malam tiada berhenti-henti."

Setelah berkata demikian, Pek Sin Niang-niang meninggalkan kamar itu dan menutupkan daun pintu.

Bi Eng menanti datangnya pembantu pertapa itu yang disangkanya tentu seorang wanita pula.

Ketika pintu kamar terbuka, ia melirik dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa yang memasuki kamar adalah....

Han Sin yang membawa mangkok bubur tadi.

"Niang-niang minta kepadaku untuk menyuapkan bubur ini kepadamu...."

Kata Han Sin.

"Bi Eng, kau makanlah bubur ini agar segera sembuh."

Bi Eng hendak marah, akan tetapi teringat akan pesan Pek Sin Niang-niang, ia menahan diri, hanya mengomel lirih.

"Namaku Tilana, bukan Bi Eng......"

"Kau tetap Bi Eng bagiku, adik Bi Eng yang baik...."

Bi Eng terharu.

"Aku bukan adik kandungmu....."

"Aku tahu. Kau makanlah....."

Dan Han Sin lalu menyuapkan bubur ke mulut nona itu yang tak dapat membantah lagi. Setelah bubur itu habis, Bi Eng kelihatan menderita.

"Aduh...... aduh..... sakit sekali perutku"

Han Sin sudah diberi tahu oleh Pek Sin Niang-niang tadi, maka ia tidak khawatir, biarpun ia memperlihatkan muka khawatir.

"Ada apakah? Bagaimana rasanya?"

"Perutku sakit, kepalaku pening..... aahhh...."

Dan tak tertahan lagi, Bi Eng muntah-muntah.

Karena Han Sin duduk di dekat pembaringan, tak dapat dicegah lagi pakaian Han Sin tersembur oleh isi perut yang dimuntahkan Bi Eng.

Di antara bubur yang keluar lagi itu, nampak banyak darah hitam!

"Celaka....

aku....

aku mengotorkan pakaianmu....."

Akan tetapi Han Sin hanya tersenyum, bahkan dengan saputangannya ia lalu membersihkan bibir Bi Eng dan pinggir bantal yang terkena kotoran pula.

"Tidak apa Bi Eng. Memang di dalam bubur diberi obat untuk mengeluarkan darah beracun yang masih berada di dalam perutmu. Sekarang darah itu sudah keluar semua, kaulihat. Ini berarti kau akan sembuh, adikku sayang...."

"Aku.... aku bukan adikmu.....!"

Biarpun lemah sekali tubuhnya, Bi Eng masih bisa membentak, merengut dan matanya membelalak marah.

"Memang bukan, lebih dari pada adik malah..."

Jawab Han Sin tersenyum.

"Sekarang kau tidurlah, Bi Eng, tidurlah..."

Dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang, Han Sin membetulkan letak kepala gadis itu pada bantal, lalu menarik selimut sampai ke leher Bi Eng.

Gadis itu menarik terus selimut menutupi mukanya dan di dalam selimut terdengar ia mengisak perlahan.

Di kedua mata Han Sin juga tampak dua butir air mata ketika pemuda ini perlahan-lahan meninggalkan kamar untuk berganti pakaian.

Demikianlah, dengan amat teliti dan sabar Han Sin merawat Bi Eng di bawah pengawasan Pek Sin Niang-niang, dan sebulan kemudian sembuhlah Bi Eng.

Seperti juga dulu ketika Han Sin berobat di situ, setelah Bi Eng sembuh, pertapa wanita itu tidak kelihatan lagi bayangannya.

Kemarin harinya ia sudah memesan Han Sin dan Bi Eng supaya hari itu meninggalkan Go-bi-san, dan pada hari keberangkatan mereka, ia sengaja pergi, tidak bersedia menerima ucapan terima kasih!

Han Sin dan Bi Eng hanya berlutut dan dengan suara terharu menghaturkan terima kasih kepada pertapa sakti itu.

Lalu mereka turun dari Go-bi-san.

Mereka melakukan perjalanan tanpa banyak bercakap.

Memang Bi Eng menjadi pendiam semenjak berobat di Go-bi-san.

Tak pernah mau bicara dengan Han Sin, malah selalu menghindarkan pertemuan pandang mata.

Anehnya, tiap kali tanpa disengaja pandang mata mereka bertemu, gadis itu tak dapat menahan bercucurnya air matanya!

Setelah menuruni puncak Go-bi-san, Han Sin berhenti dan memegang lengan tangan Bi Eng.

la tak tahan lagi didiamkan begitu saja.

"Bi Eng..... kita harus bicara dari hati ke hati....."

Gadis itu berdiri di depannya, menundukkan muka.

"Bicara apa lagi! Kau sudah mempermainkan aku. Sudah lama tahu aku bukan adik kandungmu, kau diam saja. Kau putera Cia Sun, aku anak Balita. lbuku dan ayahmu musuh besar. Dan kau... kau... kau suami Kiok Hwa...."

"Kiok Hwa siapakah?"

"Yang dulu bernama Tilana, dia anak Ang-jiu Toanio. Kaupun sudah tahu akan hal itu. Kau tahu segalanya, tapi menutup mulut....."

"Tidak Bi Eng. Tidak demikian. Memang aku tahu bahwa kau bukan adik kandungku. Aku tidak memberi tahu karena..... karena...... aku tidak ingin berpisah darimu pula, aku ingin membongkar segala rahasia mengenai dirimu, mengenai hal-hal yang terjadi sebelum orang tuaku meninggal dunia. Terutama sekali....... aku tidak ingin kehilangan kau dari sampingku karena..... karena aku cinta padamu, Bi Eng. Aku akan mati kalau kau tinggalkan. Aku cinta padamu."

Bi Eng mengangkat mukanya dan kedua matanya sudah penuh air mata.

"Kau bohong...."

Bibirnya gemetar.

"Kau laki-laki mata keranjang, kau bohong! Kau adalah suami Kiok Hwa......"

Han Sin menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang.

"Bi Eng, kau sendiri menjadi saksi betapa aku hampir saja membunuh Tilana.... atau Kiok Hwa itu karena perbuatannya yang tak tahu malu. Entah bagaimana, agaknya dia menggunakan racun dalam minuman yang membuat aku seperti mabok, lebih lagi, seperti gila.... aku tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu aku bangun di sisinya. Kau tahu akan hal ini... aku tidak cinta padanya. Kaulah satu-satunya wanita di dunia ini yang kucinta, Bi Eng. Aku sudah menyatakan terus terang kepada Tilana itu......"

"Tapi..... tapi........ kau anak musuh besar ibuku......."

Han Sin merangkul pundak Bi Eng.

"Bi Eng, urusan dahulu tak perlu kita campuri. Aku tahu, aku merasa di dalam hatiku, bahwa kau mencintaiku pula, bukan..... bukan seperti kakak kandung....... aku dapat melihat itu di dalam sinar matamu, dahulu sebelum kau tahu akan hal ini. Karena perasaanmu itulah maka kau dulu berusaha menjodohkan aku dengan Tilana. Karena kau takut jatuh cinta kepada kakak kandung sendiri! Bukankah begitu?"

Makin deras air mata membasahi pipi Bi Eng.

Mereka berpandangan, cinta dan rindu bergelora memenuhi dada dan akhirnya dua orang muda yang sudah berkumpul semenjak masih kecil itu mengeluarkan jerit tertahan ketika mereka saling rangkul, saling peluk sambil bertangisan.

"Sin-ko.... Sin-ko..... bagaimana aku bisa membencimu? Kaulah satu-satunya orang di dunia ini bagiku.... kalau saja dulu kau memberi tahu..... takkan berlarut-larut begini....."

"Eng-moi, kau pujaan hatiku. Kau kurang sabar menanti, Eng-moi. Kau tak tahu betapa tersiksa hatiku itu, menahan-nahan cinta, berpura-pura seperti kakak sendiri. Alangkah sukarnya. Betapa hancur hatiku ketika kau memaksaku dengan Tilana....."

Disebutnya nama ini mengingatkan Bi Eng akan sesuatu. Cepat ia merenggutkan dirinya atas dada Han Sin.

"Tidak bisa..... ! Aku anak ibuku! Bagaimana bisa aku mengkhianati ibu sendiri? Ah, Sin-ko, bagaimana ini..........??"

Han Sin maklum.

"Marilah, Bi Eng. Mari kita pergi menemui ibumu. Memang kita harus mengaku terus terang. Biarlah ibumu melihat bahwa permusuhan lama itu kita akhiri dengan..... perjodohan. Marilah......"

Terhiburlah hati Bi Eng.

Dengan bergandengan tangan mereka lalu pergi ke arah tempat tinggal Balita.

Andaikata harus membuat pengakuan seorang diri, agaknya Bi Eng takkan berani.

Akan tetapi, berdua dengan Han Sin, ia akan berani menempuh apapun juga.

Ketika mereka tiba di kaki bukit di mana tinggal Balita, tiba-tiba muncul seorang gadis yang membuat kedua merpati ini berdiri seperti patung dan menjadi pucat.

Di depan mereka berdiri......

Tilana atau Kiok Hwa, gadis berkerudung itu.

Tilana berdiri dengan muka lebih pucat lagi, ketika dengan tubuh kurus dan mata layu.

Tanpa disengaja Bi Eng lalu menggandeng lengan Han Sin, seakan-akan ia takut kalau-kalau Han Sin hendak pergi bersama Tilana.

"Bi Eng, dia bukan kakak kandungmu. Dia itu musuhmu, anak musuh besar ibumu!"

Tilana berkata dengan suara lantang.

"Tidak, cici Tilana. Dia memang bukan kakak kandungku, akan tetapi dia bukan musuhku."

Bibir Tilana gemetar.

"Keparat....., kau..... kau juga mencintainya......?"

Bi Eng mengangguk berani.

"Karena cintaku kepadanya maka dulu aku membantumu dengan sengaja. Kalau dulu aku tahu bahwa dia bukan kakakku sendiri, jangankan membantumu, mungkin pedangku sudah menembusi dadamu!"

Tilana mendekap mukanya dan menjerit lirih.

Pernyataan Bi Eng ini merupakan ujung pedang yang sudah menancap dadanya.

la sayang kepada Bi Eng, karena merasa berhutang budi.

Ketika ia membuka lagi tangan yang menutupi muka, ia menjadi makin pucat.

Dengan bingung ia memandangi dua orang di depannya itu.

"Han Sin......, apakah kau masih tetap dengan cintamu? Masih tetap mencinta dia seperti pengakuanmu dulu?"

Han Sin mengangguk pasti.

".... ahhh..., kalau begitu...., kalian saling mencinta.... dan aku... aku......bagaimana.....?"

Han Sin tak dapat menjawab, hanya berdiri lemas, hatinya terharu bukan main. Bi Eng melihat hal ini dan dia yang menjawab.

"Salahmu sendiri, cici Tilana. Kau menggunakan akal busuk dan rendah. Cinta tak dapat dipaksa melalui segala obat racun, melalui segala alat kecantikan. Cinta demikian hanyalah cinta palsu....."

"Tapi kau dulu membantuku....."

"Ya, tapi bukan dengan maksud rendah seperti maksudmu. Aku membantumu karena kusangka dia kakak kandungku sendiri, aku malah takut kalau-kalau jatuh cinta kepadanya....."

Cekalannya kepada lengan Han Sin dipererat.

"Keparat.....!"

Tilana mencabut pedangnya, sikapnya mengancam. Matanya beringas.

"Han Sin, kalau aku bunuh Bi Eng, bagaimana?"

"Aku akan melindunginya, kalau perlu aku akan lebih dulu membunuhmu."

"Kalau aku membunuhnya secara diam-diam, di luar dugaanmu?"

"Kalau begitu, aku akan membunuh diri sendiri...."

Tilana menjerit ngeri, meloncat ke depan dan mengangkat pedangnya.

Han Sin melindungi Bi Eng, akan tetapi ia segera berteriak kaget sekali ketika melihat darah menyembur, disusul robohnya tubuh Tilana yang ternyata telah menggorok leher sendiri dengan pedangnya!

"Tilana......!"

"Cici Tilana......!"

Han Sin dan Bi Eng sudah lupa akan kebencian mereka.

Keduanya berlutut dekat tubuh Tilana, Bi Eng menangis dan Han Sin kelihatan terharu sekali.

Tilana masih dapat tersenyum dan hanya matanya yang memandang mereka dengan sinar mata menyatakan harapan.

"Semoga kalian berbahagia."

Beberapa menit kemudian, nampak Han Sin dan Bi Eng mengubur jenazah Tilana dengan khidmat.

"Anak durhaka! Anak tidak berbakti! Kau mau ikut dengan jahanam ini? Dia sudah melakukan perbuatan zina dengan adik kandungnya sendiri. Ha ha ha, dia anak Cia Sun sudah berzina dengan adik kandungnya sendiri...."

"Tidak, ibu. Dugaanmu meleset. Cici Tilana itu bukanlah adik kandung melainkan anak Ang-jiu Toanio. Sebelum ibu menukarkan aku dengan anak keluarga Cia, ibu sudah didahului Ang-jiu Toanio. Adik kandung Sin-ko jatuh di tangan Hoa Hoa Cinjin, menjadi nona Hoa-ji gadis berkedok."

"Apa......??"

Balita membentak dan menatap wajah Han Sin dengan penuh keheranan.

"Betul demikian,"

Kata Han Sin.

"Kami, aku dan adik Bi Eng, saling mencinta dan tidak ada kekuasaan di dunia ini yang dapat memisahkan kami. Akan tetapi, sudah sepatutnya kami menghadap locianpwe untuk mohon ijin agar kami dapat menghapus permusuhan orang-orang tua dahulu dengan sebuah pernikahan."

"Apa.....? Anakku..... darahku....menikah dengan anak nyonya Cia......?"

Matanya melotot, rambutnya riap-riapan di antara matanya. Han Sin mendapat pikiran bagus.

"Bukan hanya anak nyonya Cia, locianpwe, melainkan anak darah keturunan Cia Sun sendiri. Alangkah baiknya, puteri dari Jim-cam-khoa Balita menikah dengan putera dari taihiap Cia Sun."

Balita menggerakkan kepalanya dan rambut yang riap-riapan ke depan itu kini ke belakang pundak semua. Matanya bersinar, mulutnya bergerak-gerak, kemudian ia berseru.

"Bagus sekali! Seluruh dunia kang-ouw akan mendengar, akan melihat. Lihat akhirnya putera Cia Sun mengawini puteri Balita. Hi hi hi, Cia Sun, tengoklah. Kau dulu menolakku, sekarang puteramu memaksa mengawini anakku. Hi hi hi, kau masih bilang tidak mencinta aku? Lihat puteramu yang lebih tampan dari pada engkau, sekarang mencinta anakku yang tidak secantik aku. Bukankah ini pembalasan namanya? Ha ha!"

Pada saat itu Siauw-ong meloncat turun dari pohon dan hinggap di pundak Han Sin. Hal ini membuyarkan pikiran Balita yang cepat berubah dan berteriak.

"Monyet keparat!"

Memang perempuan ini aneh. Selama Bi Eng pergi, monyet itu ditinggalkan di situ dan Balita selalu bersikap baik. Sekarang mendadak ia membenci.

"Monyet bedebah! Eh, Cia Han Sin anak Cia Sun, kau bilang betul-betul mencinta Bi Eng? Mau berkorban apa saja?"

"Betul, aku bersumpah bahwa aku mencinta Bi Eng, bersiap mengorbankan apa saja demi cintaku."

"Tapi tidak akan sah kalau tidak mendapat perkenanku, bukan? Hi hi hi. Bi Eng ini adalah Tilana, puteriku yang kukandung sembilan bulan lamanya, hi hi!"

"Betul kata-kata cianpwe, memang kami datang menghadap untuk mohon perkenan."

"Aku tidak memberi ijin."

"Ibu.....!"

Bi Eng memeluk kaki ibunya dan menangis.

"Aku lebih baik mati......"

"Harap cianpwe ingat bahwa perjodohan ini akan menghapus segala permusuhan, akan menebus segala kesalahan ayah dahulu."

"Betul....., betul. Tapi aku masih tidak percaya. Kau betul mencintanya?"

"Aku bersumpah!"

"Lebih mencinta anakku dari pada mencinta monyet ini?"

"Sudah tentu saja......"

"Nah, kalau begitu penggal kepala monyet ini! Ayoh penggal, sebagai bukti cintamu!"

Bukan main kagetnya Han Sin dan Bi Eng. Mereka memandang kepada Siauw-ong yang melongo-longo tidak tahu apa-apa. Bi Eng menjerit dan memeluk Siauw-ong.

"Ibu, kau kejam sekali! Tarik kembali permintaanmu."

Balita tertawa.

"Tidak bisa. Sekali kata-kata dikeluarkan, tak dapat ditarik kembali. Eh, Cia Han Sin, kau pilih satu antara dua, kau boleh mendapat persetujuanku setelah kau memenggal batang leher monyetmu sebagai tanda cintamu terhadap Bi Eng. Kalau kau lebih sayang monyetmu dari pada Bi Eng, nah, kau pergilah bawa monyetmu dan tinggalkan anakku di sini."

Han Sin menjadi pucat dan bingung. Beberapa kali ia memandang kepada Bi Eng yang lalu berdiri dengan tubuh menggigil, matanya tajam menatap wajah ibunya.

"Ibu, kalau kau memaksa aku selamanya takkan mengakuimu sebagai ibu! Kau kejam sekali!"

"Bi Eng, jangan kau berkata demikian!"

Han Sin mencela. Betapapun juga, ia tidak mau melihat Bi Eng menjadi seorang anak yang mendurhakai ibunya.

"Cianpwe, apakah syaratmu itu sudah pasti. Apakah kau hendak menggunakan kekejamanku terhadap monyetku sebagai bukti cintaku kepada anakmu?"

"Ayoh penggal, tak usah banyak cakap. Penggal lehernya dan kau akan kuambil menantu!"

Han Sin. mencabut pedangnya, menghadapi Siauw-ong yang berdiri bingung.

"Siauw-ong, seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan. Aku harus memilih dan keputusanku tidak bisa aku mengorbankan kebahagiaan kami berdua untuk hidupmu. Kau hanya seekor monyet dan siapa tahu kematianmu hanya akan membebaskan aku dari pada hukuman karma. Siauw-ong, kau ampunkanlah aku. Aku Cia Han Sin bersedia menerima hukuman, bersedia kelak menerima pembalasanmu, demi cinta kasihku terhadap nonamu."

Secepat kilat, sebelum Siauw-ong dapat menyangkanya, pedangnya berkelebat dan Im-yang-kiam sudah membabat putus leher Siauw-ong yang tewas tanpa dapat mengeluh lagi.

Han Sin cepat menyambar kepala monyetnya yang melayang, mencium muka itu, kemudian dengan hati-hati ia menaruh kepala itu di atas saputangannya.

Bi Eng menjerit dan menangis terisak-isak, menutupi mukanya.

"Inilah, gak-bo (ibu mertua), inilah emas kawin yang kau minta,"

Kata Han Sin menyerahkan kepala Siauw-ong di atas saputangan itu, sambil memasukkan pedangnya. Bi Eng menangis dan merangkul pundak Han Sin.

"Sin-ko, mari kita pergi saja..... tak tahan aku berada di sini lebih lama...... marilah, Sin-ko....."

Mereka berdua tak dapat menahan bercucurnya air mata. Tiba-tiba Balita menangis.

"Kau betul-betul membunuh Siauw-ong? Celaka! Kalau Tilana pergi, dia kawanku satu-satunya sekarang kau bunuh pula. Kalian orang-orang celaka, ayoh pergi dari sini. Minggat! Dan jangan muncul lagi di hadapanku!"

Setelah berkata demikian Balita lalu memondong tubuh dan kepala Siauw-ong yang sudah terpisah itu, dibawa masuk ke dalam pondoknya!

Han Sin dan Bi Eng lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka tidak tahu betapa dari belakang pintu, Balita memandang mereka sambil bercucuran air mata.

Memandang ke arah bayangan dua orang muda yang berjalan sambil saling memeluk pinggang, sampai bayangan itu lenyap di balik gunung batu.

Demikianlah, sebagai suami isteri yang penuh kasih sayang, Han Sin dan Bi Eng hidup berdua di Min-san.

Hubungan mereka dengan dunia ramai hanya ketika mereka menghadiri pernikahan Pangeran Yong Tee dan Hoa-ji, kemudian pernikahan antara Yan Bu dan Li Goat.

Han Sin menolak keras ketika Pangeran Yong Tee berusaha mengangkatnya menjadi seorang pembesar di kota raja.

Betapapun juga, di lubuk hatinya Han Sin masih tetap memandang pemerintah Mancu sebagai musuhnya, sebagai musuh bangsanya yang kembali terjajah.

Betapapun baik bangsa Mancu menjalankan pemerintahan, namun mereka tetap bangsa penjajah dan Han Sin diam-diam menanti saat baik, saat di mana para patriot bangsa akan bangkit dan dengan semangat menggelora akan mengusir penjajah itu dari tanah air.

TAMAT andu,

http.//indozone.net

/literatures/literature/279 8 Maret 2008 jam 3.39pm

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 1

Baca Juga: Pendekar Sadis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert