Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sadis 10

Eps 10 Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo.

Mereka saling menyiramkan air, bergurau dan akhirnya Kim Hong terlena dalam pelukan Thian Sin yang menciuminya.

"Kenapa kau tadi bilang bosan?"

"Dengarlah dulu, aku tidak bosan sekarang, akan tetapi aku tahu benar bahwa kesenangan kelak akan membosankan, baik kepadaku maupun kepadamu. Hidup rasanya hambar kalau setiap hari harus bersenang-senang saja seperti kita sekarang ini, bukan?"

Dia berhenti sebentar dan menyingkap rambut yang sebagian menutup wajah yang cantik itu.

"Perlu ada selingan, sayang. Baru namanya hidup. Aku sudah terbiasa oleh ketegangan-ketegangan, dan perlu apa kita belajar ilmu silat kalau harus membenamkan diri di tempat sunyi ini terus-terusan? Apakah engkau hendak meniru mendiang ayah bundamu yang menyembunyikan diri di pulau kosong? Kita tidak perlu bersembunyi, kita perlu melihat dunia ramai!"

Kim Hong termenung, lalu mengangguk.

"Agaknya engkau benar, Thian Sin. Aku terlampau terpengaruh oleh kehidupan orang tuaku sehingga tanpa kusadari aku ingin meniru kepada mereka, karena aku sudah terbiasa dengan kesunyian. Nah, sekarang apa kehendakmu? Aku menurut saja."

"Aku ingin keluar dari tempat sunyi ini, aku ingin mencari dan menantang, juga ingin mengalahkan orang-orang seperti Tung-hai-sian, See-thian-ong, dan Pak-san-kwi!"

"Ihhh! kau gila? Mereka itu adalah datuk-datuk kaum sesat yang lihai sekali dan mempunyai banyak kaki tangan. Engkau akan mencari bahaya maut menentang mereka!"

"Justeru itulah, sayang. Aku ingin menentang mereka, menentang bahaya. Tahukah engkau, dalam ketegangan dan bahaya itu terdapat kenikmatan?"

Kim Hong mengangguk.

Hal itu pernah dialaminya ketika ia masih menjadi Lam-sin selama hampir empat lima tahun lamanya.

"Tapi, menentang mereka sungguh berbahaya sekali!"

Katanya.

"Tidak, kalau engkau berada di sampingku. Engkau tentu mau membantuku, bukan?"

"Terdengamya menarik juga. Tapi, mengapa sih engkau ingin menentang dan mengalahkan mereka?"

"Bukan apa-apa, hanya ingin memuaskan hati saja. kau tahu, mendiang ayahku dahulu ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia, dan aku belum puas kalau aku tidak membuat cita-citanya itu menjadi kenyataan. Aku ingin mengobrak-abrik mereka dan berarti aku telah mengalahkan empat datuk kaum sesat termasuk Lam-sin, maka aku berarti telah menjadi jagoan nomor satu, bukan? Kalau engkau mau membantuku, aku yakin bahwa aku akan berhasil mengobrak-abrik ketiga datuk itu, karena sesungguhnya, aku pernah mengukur kepandaian mereka dan pernah menang ketika bertanding melawan See-thian-ong dan Pak-san-kwi."

Lalu dia menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika dia mengalahkan dua orang datuk itu.

Kim Hong termenung.

"Aku jadi ingin sekali untuk menguji kepandaianku sendiri. Dan akupun ingin bertemu dengan orang-orang pandai. Siapa tahu ada pria lain kecuali engkau yang dapat mengalahkan aku."

"Kalau ada yang mengalahkan, bagaimana? Apakah engkau juga hendak menyerahkan dirimu kepadanya?"

Melihat pandang mata pemuda itu yang mengerutkan alisnya, tiba-tiba Kim Hong tertawa.

Suara ketawanya lepas dan riang bebas sehingga nampak deretan giginya yang putih dan gua mulutnya yang kemerahan.

"Ha-ha, engkau seperti seorang suami pencemburu saja! Apakah engkau juga akan begitu setia kepadaku, tidak akan mendekati wanita lain?"

Thian Sin tertegun dan tidak mampu menjawab.

Memang tidak ada ikatan apa-apa antara dia dan wanita ini, mengapa dia mengajukan pertanyaan yang tolol dan berbau cemburu itu?

Dia menarik napas panjang.

"Kim Hong, terus terang saja, dahulu aku suka sekali kepada wanita cantik dan rasanya aku ingin mendekati seluruh wanita muda yang cantik menarik. Akan tetapi, kalau ada engkau di dekatku seperti sekarang ini, aku tidak tahu apakah aku masih ingin lagi berdekatan dengan wanita lain."

Dia mencium mulut itu.

"Dan engkau bagaimana?"

Kim Hong menggeleng dan tersenyum manis.

"Mana aku tahu? Aku belum memiliki pengalaman sebanyak engkau, dan engkaulah pria pertama yang pernah bergaul denganku!"

"Ih, kita jadi menyeleweng dari pokok pembicaraan. Bagaimana, Kim Hong, maukah engkau menemani dan membantuku menghadapi para datuk itu? Hanya untuk selingan hidup, mencari kegembiraan. Bagaimana? Kelak kita masih dapat kembali ke sini lagi kalau sudah bosan merantau."

"Mencari kegembiraan di antara cengkeraman maut? Ah, menarik juga. Baiklah, kalau aku merasa bosan, toh mudah saja bagiku untuk kembali ke sini lagi."

"Hemm, terima kasih Kim Hong. Engkau memang manis, hemmm!"

Thian Sin menciuminya dan sambil tertawa dan bergurau, mereka saling berciuman dan akhirnya Kim Hong yang kembali mendorongnya.

"Eh, apa perutmu kenyang hanya berciuman saja? Aku sih sudah lapar!"

"Lapar? Wah, setelah kau ingatkan, akupun merasa lapar sekali!"

"Tunggu apa lagi? Bubur menanti, dan daging ayam tim kemarin masih ada, tinggal memanaskan saja!"

Mereka tertawa-tawa seperti anak-anak, keluar dari sumber air itu dan berlari-larian seperti anak-anak, keluar dari sumber air itu dan berlari-larian seperti anak-anak kecil berlumba, kembali ke pondok dalam keadaan telanjang saja, seperti tadi ketika mereka berangkat untuk mandi di situ.

Melihat keadaan muda-mudi ini, timbul pertanyaan dalam hati yang membuat kita ragu-ragu untuk menjawabnya.

Pertanyaam itu adalah .

Kotor dan tidak sopankah sikap dan perbuatan mereka itu?

Tidak punya malukah mereka itu?

Kalau arti sopan dan susila dengan arti yang remeh sudah menebal dalam perasaan kita, Tentu kita akan menyeringai dan dengan mudah dan seketika mengatakan bahwa mereka itu tidak tahu malu, tidak sopan dan sebagainya, walaupun tanpa dapat kita tolak, ada perasaan mesra menyelinap dalam hati dan banyak pula yang merasa mengiri atas kebebasan cara hidup seperti itu.

Mereka itu hanya berdua, tidak ada orang lain kecuali mereka, oleh karena itu, tidak sopan terhadap siapakah?

Harus malu terhadap siapakah?

Dua orang yang sudah seperti mereka itu, tiada bedanya dengan suami isteri.

Bedanya hanya terletak kepada pernikahan, yang untuk jaman sekarang hanya merupakan sepotong surat nikah.

Dan suami isteri, atau dua orang yang sudah seperti mereka itu keadaannya, seperti satu badan dan tidak mempunyai rasa malu-malu atau bersopan-sopan, seperti kalau kita sendirian di dalam kamar mandi saja.

Karena itu, jawabannya juga tergantung dari pada tebal tipisnya kemunafikan kita sendiri.

Pada keesokan harinya, Thian Sin dan Kim Hong berangkat meninggalkan tempat indah yang sunyi terasing dan terpencil dari dunia ramai itu.

Mereka masing-masing membawa buntalan pakaian dan mereka berangkat dengan hati gembira dan bersemangat.

Thian Sin dan Kim Hong membuat perjalanan ke Propinsi Ching-hai.

Thian Sin bermaksud untuk lebih dulu mengunjungi See-thian-ong yang tinggal di Si-ning di dekat telaga besar Ching-hai.

Mereka melakukan perjalanan seenaknya tidak tergesa-gesa karena Kim Hong yang selama empat lima tahun ini selama tinggal di Heng-yang dan sebelum itu malah selalu berada di dalam pulau kosong, Maka kini memperoleh kesempatan merantau dengan Thian Sin, ia ingin menikmati setiap tempat indah yang dilaluinya.

Oleh karena itu, mereka melakukan perjalanan seperti pelancong-pelancong saja, atau seperti sepasang pengantin baru yang sedang melakukan perjalanan bulan madu yang manis, di kuil-kuil kuno, dan kalau kebetulan di dalam kota mereka menyewa sebuah kamar di rumah penginapan seperti suami isteri.

Akan tetapi, selama mereka melakukan perjalanan ini, seringkali mereka cekcok, walaupun lebih sering lagi mereka bermain cinta.

Ada perbedaan atau bahkan pertentangan watak di antara mereka, Yaitu keduanya sama keras dan tidak mau mengalah, tidak mau merasa kalah.

Oleh karena ini, maka sering kali mereka cekcok, walaupun sebentar kemudian mereka sudah saling cium dan merasa di dalam lubuk hati mereka bahwa mereka itu saling mencinta dan menyayang!

Di dalam perjalanan itu, Thian Sin menceritakan kepada Kim Hong tentang keadaan See-thian-ong, tentang kelihaian-kelihaiannya, rahasia-rahasia kepandaiannya, dan tentang kehidupannya seperti yang diketahuinya dari murid murtad datuk itu yang pernah menjadi kekasihnya, yaitu So Cian Ling.

Dia menceritakan tentang kedua murid See-thian-ong itu, yaitu Ciang Gu Sik yang lihai, dan So Cian Ling yang sebetulnya malah lebih lihai daripada suhengnya itu.

Dan memesan kepada Kim Hong agar berhati-hati terhadap ilmu sihir See-thian-ong.

"Tingkat ilmu kepandaian silatmu kiranya tidak perlu kalah berhadapan dengan ilmu silatnya, karena kulihat engkau tidak kalah lihai. Hanya dalam ilmu sihir, engkau harus hati-hati, Kim Hong. Aku dahulu pernah hampir celaka oleh ilmu sihirnya itu, yaitu sebelum aku menguasai ilmu sihir pula."

"Ihhh! Sihir? Ilmu apa sih itu? Mana bisa mengalahkan aku?"

Tiba-tiba Thian Sin memandang kekasihnya itu dengan sinar mata tajam.

"Eh, kenapa engkau memandangku seperti ini...?"

Tiba-tiba Kim Hong yang melihat perbedaan (Lanjut ke

Jilid 34) Pendekar Sadis (Seri ke 05

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 34 pandang mata itu berseru kaget.

Namun terlambat karena ia sudah berada dalam kekuasaan sihir Thian Sin melalui pandang matanya.

"Inilah ilmu sihir, Kim Hong. Engkau hendak melawanpun percuma karena kedua tanganmu tak dapat kau gerakkan. Tidak percaya? Cobalah, kedua lenganmu tak mampu bergerak!"

Di dalam suara Thian Sin itupun mengandung kekuatan sihir.

Kim Hong tidak percaya dan ia mencoba untuk menggerakkan kedua lengannya, akan tetapi...

benar saja.

Kedua lengannya tidak dapat digerakkan sama sekali, betapapun ia menjadi terkejut bukan main dan wajahnya menjadi pucat.

Thian Sin menggerakkan tangan ke atas dan berkata.

"Aku menyerangmu dengan ciuman, akan tetapi betapapun engkau hendak mengelak dan menangkis, engkau tidak sanggup menggerakkan semua bagian tubuhmu!"

Dan benar saja, Thian Sin mendekatkan mukanya dan mencium bibir gadis itu.

Kim Hong ingin mengelak, menarik mundur kepalanya, akan tetapi tidak sanggup!

Thian Sin tersenyum, lalu melepaskan pengaruh sihirnya dan berkata.

"Engkau sudah biasa kembali dan mampu bergerak lagi!"

Kim Hong meloncat ke belakang, alisnya berkerut.

"Ilmu siluman apakah ini?"

Bentaknya, akan tetapi ia benar-benar menjadi gentar.

"Nah, itulah ilmu yang dikuasai oleh See-thian-ong, maka engkau harus berhati-hati terhadap kakek itu."

"Thian Sin, kau ajarkan aku ilmu ini, agar aku dapat melawannya!"

"Tidak mudah Kim Hong. Membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang mendalam. Hanya dapat dipelajari kalau engkau mengasingkan diri bertapa. Kalau kita saling berdekatan seperti ini, mana mungkin? Akan tetapi, di dalam perjalanan ini akan kuajarkan kepadamu bagaimana agar engkau dapat menghindarkan diri dan menolak pengaruh sihir. Tidak cukup kuat, akan tetapi cukuplah untuk menjaga diri. Asal engkau tidak lengah, asal engkau tidak sampai ditarik perhatianmu olehnya, dia tidak akan dapat menguasai pikiranmu."

Mereka melanjutkan perjalanan dan di sepanjang perjalanan, Thian Sin mengajarkan ilmu penolak sihir kepada Kim Hong.

Sebetulnya yang diajarkan itu hanyalah cara memperkuat pikiran agar tidak mudah ditarik perhatiannya dan dikuasai lawan.

Dan karena Kim Hong adalah seorang gadis yang telah memiliki kekuatan khi-kang yang amat kuat, maka latihan seperti itu amat mudah baginya dan sebentar saja ia sudah memiliki kekuatan pikiran yang cukup sehingga tidak akan mudah diseret perhatiannya oleh lawan.

Ketika mereka memasuki kota Si-ning keduanya lalu mencari kamar di sebuah rumah penginapan.

Setelah menyimpan buntalan pakaian mereka di dalam kamar, Thian Sin lalu mengajak kekasihnya untuk berpesiar di Telaga Ching-hai yang amat luas itu.

Hari masih belum panas benar ketika mereka tiba di telaga.

Mereka menyewa perahu dan dengan gembira mereka berperahu di telaga, di antara perahu-perahu para pelancong.

Mereka membuat sajak-sajak sambil berperahu, makan daging panggang dan kacang, minum arak wangi dan setelah matahari naik tinggi barulah mereka kembali ke kota Si-ning.

Hari telah menjadi sore ketika mereka tiba di rumah penginapan itu.

Sama sekali mereka berdua tidak tahu bahwa banyak pasang mata dengan diam-diam memperhatikan mereka berdua sejak mereka berperahu di telaga.

Tentu saja yang mengamati mereka itu adalah para anak buah See-thian-ong!

Dengan cepat See-thian-ong diberitahu oleh anak buahnya tentang adanya Ceng Thian Sin di kota Si-ning.

Sejak dikalahkan oleh Thian Sin, datuk wilayah barat ini menaruh dendam yang amat besar sekali.

Dia merasa penasaran dan amat membenci pemuda itu, mencari kesempatan untuk dapat bertemu lagi dan menebus kekalahannya dengan menghancurkan pemuda itu!

Kini, seperti ikan mendekati umpan, tanpa dicari pemuda itu telah muncul, bersama seorang gadis cantik.

Inilah kesempatan terbaik baginya.

Cepat See-thian-ong mengumpulkan para murid dan pembantunya.

Tentu saja murid kepala Ciang Gu Sik bersama sumoinya yang telah menjadi isterinya, So Cian Ling, hadir pula.

So Cian Ling yang pernah mengkhianati gurunya ketika menjadi kekasih Thian Sin kemudian menerima hukuman dibikin remuk kedua pergelangan tangannya dan kemudian nyaris dibunuh gurunya itu kini telah menjadi murid yang setia lagi.

Gurunya tidak mau lagi mengganggunya, karena wanita itu telah menjadi isteri Ciang Gu Sik, pria yang amat mencinta sumoinya ini.

Selain kedua orang murid yang pandai ini, juga hadir pula lima orang murid lain yang belum lama ini digembleng sendiri oleh See-thian-ong.

Mereka ini adalah lima orang pria yang usianya hampir lima puluh tahun dan yang terkenal dengan julukan Ching-hai Ngo-liong (Lima Naga Ching-hai).

Biarpun tingkat kepandaian mereka masing-masing tidak setinggi tingkat So Cian Ling maupun Ciang Gu Sik, akan tetapi kalau kelima orang ini maju bersama, mereka dapat membentuk barisan yang amat kuat sehingga Ciang Gu Sik dan So Cian Ling berdua saja belum tentu dapat mengalahkan mereka.

Lima orang ini sekarang yang menjadi orang-orang yang dipercaya oleh See-thian-ong dan merekalah yang selalu mewakili datuk ini untuk "membereskan"

Urusan di luar.

Sedangkan So Cian Ling dan Ciang Gu Sik lebih banyak mengurus urusan dalam saja dan membantu See-thian-ong untuk mengamati orang-orangnya yang cukup banyak itu.

Yang hadir, selain Ciang Gu Sik, So Cian Ling, dan Ching-hai Ngo-liong, terdapat pula belasan orang pembantu yang selain berilmu tinggi juga sudah dipercaya oleh datuk itu.

"Putera Pangeran Ceng Han Houw itu telah berada di Si-ning! Sekali ini, aku harus dapat membekuknya dan membalas penghinaannya dahulu! Kerahkan semua tenaga, amat-amati dia dan gadis yang agaknya menjadi kekasihnya atau isterinya itu. Jangan sekali-kali kalian turun tangan dan mencari gara-gara. Aku sendirilah yang akan turun tangan. Dan agaknya dia datang ke sini memang untuk mengacau, maka lakukan penjagaan sebaiknya, jangan biarkan dia menyelinap ke dalam tempat kita tanpa diketahui."

Demikian antara lain See-thian-ong memberi perintah kepada para murid dan pembantunya.

"Perkenankan teecu membalas sakit hati teecu yang pernah dipermainkannya!"

Kata So Cian Ling kepada gurunya.

"Hemm, kepandaianmu masih jauh untuk dapat mengalahkannya, Cian Ling. Apalagi setelah kedua tanganmu cacad,"

Jawab gurunya.

"Engkau berdua suamimu tidak akan mampu mengalahkannya, dan kita masih belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian gadis yang datang bersamanya. Menurut laporan yang kuterima, mereka bermalam di hotel sebagai suami isteri, dan ketika mereka berpesiar di telaga, mereka itu kelihatan sangat mesra dan saling mencinta."

Diam-diam Ciang Gu Sik yang duduk agak di belakang sebelah kiri isterinya, melirik dan memperhatikan wajah So Cian Ling.

Diam-diam pria ini menuliskan sesuatu di atas kertas tanpa diketahui oleh isterinya.

Setelah membagi-bagi perintah agar mereka semua siap siaga, pertemuan itu dibubarkan dan ketika Ciang Gu Sik dan So Cian Ling juga meninggalkan tempat itu, surat yang ditulisnya tadi telah disampaikan oleh seorang di antara Ching-hai Ngo-liong kepada See-thian-ong.

Kakek ini membaca tulisan singkat itu dan mengangguk-angguk, tersenyum lebar dan merasa girang sekati.

Ciang Gu Sik ternyata adalah seorang muridnya yang paling cerdik dan juga paling setia kepadanya.

Ketika Ciang Gu Sik dan So Cian Ling meninggalkan rumah See-thian-ong, ada seorang anak buah yang menyusul mereka, menyampaikan panggilan See-thian-ong kepada murid kepala ini agar menghadap sendirian karena ada hal penting yang hendak dibicarakan.

Ciang Gu Sik cepat pergi menemui gurunya, sekali ini sendirian saja.

"Bagus!"

Kata See-thian-ong.

"Usulmu memang baik sekali."

See-thian-ong tertawa.

"Memang dugaanmu tepat. Betapapun juga, hati wanita tentu akan tergoda oleh cemburu. Betapapun juga, isterimu pernah jatuh cinta kepada putera pangeran itu. Maka, sekarang, baiknya diatur rencana yang tepat. kau suruh isterimu pergi menemui Thian Sin dan kau suruh melakukan penyelidikan untuk mengetahui apa keperluan pemuda itu datang ke Si-ning. Dalam pertemuan itu, kalau kita tidak salah sangka, tentu Cian Ling akan memperingatkan Thian Sin bahwa aku hendak membalas dendam kepadanya. Dan dalam pertemuan itu, tentu Cian Ling mengajak Thian Sin untuk bicara berdua saja. Mana mau si keras hati itu bicara dengan kekasih Thian Sin yang baru? Nah, ketika mereka berdua itu berpisah, aku akan berusaha menangkap kekasih Thian Sin!"

"Lalu bagaimana rencana suhu?"

Tanya Ciang Gu Sik, didengarkan pula oleh Ching-hai Ngo-liong yang juga hadir di situ sedangkan para pembantu lain sudah keluar dari situ.

"Aku menghendaki untuk menawan perempuan itu. Aku tidak ingin membunuh Thian Sin begitu saja, terlalu enak baginya! Setelah berhasil menawan perempuan itu, maka aku dapat memaksa dia menyerah dan aku akan menentukan selanjutnya."

Mereka mengadakan perundingan untuk menjebak Thian Sin dan Kim Hong.

Kemudian, Gu Sik pulang dan dia melihat isterinya sedang duduk termenung.

Dia duduk di dekat isterinya dan memandang wajah isterinya dengan tajam.

"Engkau kenapa?"

Cian Ling menggeleng kepalanya.

"Tidak apa-apa."

"Engkau termenung setelah mendengar Thian Sin, bukan?"

Wanita yang cantik manis itu mengangkat mukanya, sepasang matanya bersinar-sinar.

"Laki-laki jahanam itu!"

"Engkau cemburu?"

"Dia menipuku, dia mempermainkan aku. Dia membuat aku kehilangan kelihaianku karena terhukum oleh suhu. Aku harus membalasnya!"

Kata Cian Ling sambil mengepal tinjunya.

Akan tetapi suaminya yang sudah amat mengenal isterinya ini dapat melihat kerinduan dalam sinar mata isterinya itu terhadap bekas kekasih itu.

Sering kali di waktu berada dalam pclukannya, seperti sedang dalam mimpi saja dan di luar kesadarannya isterinya ini menyebut nama Thian Sin!

Itu saja sudah membuat dia maklum bahwa diam-diam isterinya ini masih mencinta Thian Sin.

Hal inilah yang membuat Gu Sik semakin benci kepada Thian Sin dan kebenciannya itu kiranya tidak kalah oleh kebencian suhunya terhadap pemuda itu!

"Kalau begitu kebetulan sekali, baru saja suhu memberi tugas kepadamu, sumoi."

"Tugas apakah, suheng?"

Memang aneh sekali dua orang ini.

Biarpun mereka itu sumoi dan suheng, akan tetapi mereka telah menjadi suami isteri, dan mereka itu masih saling menyebut sumoi dan suheng!

Dan hubungan mereka juga sama sekali tidak mesra.

Mungkin satu-satunya kemesraan hanya kalau mereka tidur bersama, dan inipun dilakukan oleh Cian Ling hanya untuk membalas kebaikan suhengnya ketika menyelamatkannya.

Kalau Gu Sik amat mencinta isterinya, sebaliknya Cian Ling tidak ada rasa cinta kepada suhengnya, hanya perasaan berhutang budi saja, dan untuk itu ia membiarkan dirinya dicinta dengan menyerahkan tubuhnya akan tetapi tidak pernah menyerahkan hatinya.

"Begini, sumoi, seperti kau ketahui sendiri tadi, suhu telah mendengar bahwa Ceng Thian Sin telah berada di Si-ning, bersama seorang wanita cantik. Suhu ingin memancingnya agar suhu dapat membalas dendam atas penghinaan yang telah diterimanya dahulu. Dan satu-satunya orang yang telah mengenalnya dengan baik adalah engkau. Maka, suhu tadi menyuruh aku menyampaikan perintahnya, yaitu agar engkau pergi menemui Thian Sin dan menggunakan perhubungan kalian yang lalu untuk menyelidikinya, apa maksudnya datang ke Si-ning dan sebagainya. Akan tetapi, mengingat akan hubunganmu yang lalu dengan dia, dan agar jangan sampai wanita yang mendampinginya itu menaruh curiga atau cemburu, sebaiknya kau usahakan agar engkau dapat bicara empat mata saja dengan Thian Sin, agar wanita itu jangan ikut mendengarkan pembicaraan kalian."

Cian Ling mengangguk-angguk.

"Baiklah, akan kulakukan itu."

"Menurut kata suhu, sebaiknya engkau berusaha menemui Thian Sin dan mengajaknya bicara empat mata malam ini juga, dan caranya bagaimana terserah kepadamu."

Kembali Cian Ling mengangguk dan alisnya berkerut karena wanita ini sudah memutar otak mencari akal bagaimana untuk dapat menemui Thian Sin berdua saja, tanpa kehadiran wanita yang agaknya menjadi kekasih baru, atau bahkan isteri Thian Sin itu.

Diam-diam hatinya panas bukan main mendengar betapa hubungan antara Thian Sin dan wanita itu amat mesranya dan terbayanglah kembali kenang-kenangan lama ketika pemuda itu bermesraan dengannya selama hampir tiga bulan!

Senja hari itu, setelah makan sore, Thian Sin menerima sepucuk surat dari pelayan rumah penginapan yang melayani mereka makan, karena Thian Sin dan Kim Hong menyuruh pelayan ini membelikan makanan dan makan di rumah penginapan itu.

Ketika Thian Sin membuka kertas berlipat itu dan membacanya dia tersenyum.

Surat itu dari So Cian Ling!

"Hemm, kau cengar-cengir setelah membaca surat itu, dari siapakah?"

"Dari So Ciang Ling, murid See-thian-ong."

Kim Hong sudah pernah mendengar cerita Thian Sin tentang gadis itu, maka ia berjebi dan membuang muka.

"Kau mau membacanya?"

"Huh, aku tidak mempunyai urusan dengan wanita itu!"

"Ha-ha, kau cemburu?"

Kim Hong memandang dengan mata bersinar marah.

"Siapa bilang cemburu? Biar kau mau menggandeng seribu orang wanita, aku tidak akan peduli! Kalau engkau menggandeng lain wanita, berarti engkau tidak suka lagi kepadaku, dan tidak ada yang memaksamu untuk suka kepadaku. Hubungan antara kita bebas tanpa ikatan!"

Thian Sin tersenyum, akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau gadis ini meninggalkannya atau tidak mau lagi mendekatinya.

Bagaimanapun juga, dia merasa amat berat untuk berpisah dari Kim Hong.

Cian Ling tidak ada artinya lagi baginya, dan hubungannya dengan Cian Ling dahulupun hanya terdorong oleh keinginan membujuk dara itu untuk membantunya mencari kelemahan See-thian-ong.

"Maafkan aku, Kim Hong, aku hanya main-main. kau bacalah suratnya, atau kau dengarkan, kubacakan. Ada jalan yang baik sekali untuk menyelidiki keadaan See-thian-ong melalui Cian Ling."

Thian Sin lalu membaca surat pendek dari Cian Ling itu.

Ceng Thian Sin, Mengingat akan hubungan kita yang lalu, aku ingin sekali bertemu denganmu untuk membicarakan hal teramat penting.

Datanglah sendirian saja begitu matahari terbenam, di luar kota Si-ning gerbang selatan.

Tertanda .

So Cian Ling.

"Hemm, agaknya ia rindu padamu,"

Kata Kim Hong, tersenyum mengejek.

"Mungkin saja, akan tetapi aku sendiri sama sekali tidak memikirkannya, Kim Hong. Kupikir, sebaiknya kalau kutemui wanita ini untuk menyelidiki tentang keadaan See-thian-ong. Siapa tahu telah terjadi perubahan besar yang tidak kuketahui."

"Sesukamulah!"

Jawab Kim Hong, bersikap tidak peduli, akan tetapi bagaimanapun juga ada perasaan tidak sedap di dalam hatinya.

Ia merasa marah kepada hatinya sendiri.

Ia tidak ingin dikuasai atau menguasai Thian Sin, tidak ingin mengikat atau diikat, akan tetapi mengapa hatinya terasa tidak enak melihat Thian Sin hendak menemui kekasih lama?

Inikah yang dinamakan cemburu?

Seperti kebanyakan orang, Kim Hong juga tidak mau melihat kenyataan bahwa cemburu tentu timbul di mana terdapat si aku yang mementingkan kesenangan sendiri.

Di mana terdapat kenikmatan dan kesenangan, tentu timbul iri hati atau cemburu.

Hubungannya dengan Thian Sin, baik sah atau tidak, resmi atau belum, baik dengan ikatan pengesahan atau tidak, telah mendatangkan kenikmatan atau kesenangan baginya.

Kesenangan inilah yang membentuk ikatan batin, dan si aku selalu enggan untuk membagi kesenangan dengan orang lain, atau lebih tepat lagi, membagi sesuatu yang mendatangkan kenikmatan dengan orang lain inilah yang melahirkan cemburu.

Milikku diganggu, punyaku diambil orang!

Malam itu, dengan hati agak panas, Kim Hong tinggal seorang diri di dalam kamar losmen itu.

Ia merasa gelisah, rebah sebentar, bangkit lagi dan duduk termenung, lalu bangkit lagi dan mondar-mandir di dalam kamarnya.

Semenjak menanggalkan topengnya sebagai Lam-sin, ia selalu berdua dengan Thian Sin dan telah mengalami kegembiraan hidup yang luar biasa, yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Memang kadang-kadang ia marah kepada Thian Sin, kadang-kadang ia menganggap pemuda itu terlalu besar kepala, tinggi hati dan juga keras hati, mau menang sendiri, dan kalau teringat akan kekejaman-kekejaman Pendekar Sadis, ada perasaan tak senang di hatinya.

Akan tetapi semua itu lenyap setelah berada dalam pelukan dan belaian Thian Sin dan kalau sudah begitu, ia tidak ingin berpisah sedikitpun juga dari pria itu.

Dan sekarang, baru pertama kali sejak mereka bertemu Thian Sin pergi meninggalkannya sendirian.

Dan ia merasa betapa tidak enaknya perasaan hatinya, begitu kesepian, begitu gelisah dan takut kehilangan pemuda itu!

Ia dan Thian Sin sering bicara tentang hubungan mereka berdua.

Dan mereka sudah setuju untuk tidak mengikat diri satu sama lain.

Oleh karena itu pula maka ia selalu minum obat, warisan dari mendiang ibunya, Untuk mencegah agar ia tidak mengandung dari hubungannya dengan Thian Sin.

Dan pemuda itupun menyetujuinya.

Kalau ada anak terlahir di antara mereka, tentu mau tidak mau mereka menjadi terikat oleh anak itu.

Mereka berdua ingin bebas, dan ingin agar hubungan di antara mereka itu atas dasar suka sama suka, bukan karena terpaksa oleh kewajiban-kewajiban yang timbul karena suatu ikatan.

Kalau mereka sudah saling bosan atau sudah tidak suka lagi hubungan itu, maka hubungan itu dapat putus sewaktu-waktu.

Atau kalau keduanya menghendaki, tentu hubungan itu dapat bertahan selama hidup!

Kini Kim Hong merasa betapa sangat sunyi dan kosongnya rasa hatinya setelah Thian Sin pergi.

Hal ini membuat ia merasa bahwa ia telah jatuh cinta benar-benar kepada pemuda itu, bahwa di luar kehendaknya, ia sebenarnya telah terikat secara batiniah.

"Aku cinta padanya! Si bedebah! Aku cinta padanya!"

Gadis yang pernah menjadi datuk kaum sesat selama hampir lima tahun ini berjalan mondar-mandir dan memukul-mukul telapak tangan kiri dengan kepalan kanannya sendiri.

Hatinya mulai risau.

Ia tidak akan bebas kalau sudah terikat, buktinya, baru ditinggal sebentar saja sudah gelisah.

Apa akan jadinya dengan dirinya kalau begini?

Belum lama Thian Sin pergi meninggalkannya, selagi ia mondar-mandir di dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar.

Hampir ia melompat dengan hati girang mengira bahwa Thian Sin telah kembali.

Akan tetapi tidak mungkin.

Kalau Thian Sin yang datang, tidak akan mengetuk pintu!

"Siapa?"

Tanyanya sambil menghentikan kakinya.

"Saya, toanio, pelayan."

Kim Hong mengenal suara pelayan yang melayani mereka makan, juga yang menyerahkan surat wanita bekas kekasih Thian Sin tadi.

Ia membuka pintu dan Sang Pelayan sudah berdiri di luar pintu sambil membungkuk dengan hormat.

"Ada apa?"

Tanyanya tidak senang.

"Maaf, toanio. Di luar ada seorang tamu yang katanya membawa berita penting sekali bagi toanio,"

Kata pelayan itu. Kim Hong memandang penuh kecurigaan, lalu membentak.

"Siapa tadi yang memberi surat yang kau berikan... suamiku?"

"Saya... saya tidak mengenalnya, toanio. Saya terima dari seorang wanita cantik, entah siapa..."

Tentu saja pelayan ini membohong karena di seluruh daerah itu tidak ada yang tidak mengenal So Cian Ling!

Akan tetapi dia takut untuk mengaku, takut terbawa-bawa karena sesungguhnya dia hanya seorang pelayan yang tidak tahu apa-apa.

"Siapa yang mencariku di luar? Wanita pengirim surat tadi?"

"Bukan, Toanio. Seorang laki-laki, sayapun tidak mengenalnya."

Kim Hong keluar dan menutupkan daun pintu kamarnya, lalu metangkah keluar.

Di ruangan depan, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh jangkung dan berkumis kecil panjang, telah menantinya.

Laki-laki itu memberi hormat ketika Kim Hong tiba di situ dan memandangnya dengan sinar mata penuh selidik.

"Siapakah engkau? Ada keperluan apa mencariku?"

Kim Hong bertanya.

"Apakah nona... eh, sahabat baik dari Ceng-Taihiap?"

Pria ini bertanya.

"Benar. Siapa kau dan ada apa?"

Pria itu memandang ke kanan kiri.

"Berita penting sekali tentang Ceng-Taihiap. Nona, dia telah masuk perangkap musuh."

"Ehh...?"

"Nona, marilah kita bicara di luar, tidak enak di tempat umum begini, takut ada yang mendengarnya."

Pria jangkung itu lalu keluar dari ruangan depan.

Kim Hong yang sudah merasa tertarik dan khawatir mendengar kata-kata tadi, lalu mengikutinya.

Pria itu berjalan perlahan-lahan ke jalan di depan losmen, di bagian yang gelap.

Ketika Kim Hong sudah berjalan di dekatnya, dia berkata lagi, suaranya berbisik-bisik.

"Bukankah tadi Ceng-Taihiap dipanggil oleh seorang wanita...?"

"Nanti dulu, siapakah engkau?"

Pria itu menjura dan berkata.

"Nama saya Sim Kiang Liong, saya seorang sahabat baik dari pendekar Ceng Thian Sin. Ceng-Taihiap tentu akan dapat menceritakan siapa adanya saya, nona. Akan tetapi sekarang yang penting, Ceng-Taihiap telah terjebak dalam perangkap musuh..."

"Musuh siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan See-thian-ong. Bukankah Ceng-Taihiap datang untuk mencarinya? Saya tahu bahwa Ceng-Taihiap bermusuh dengan datuk itu..."

Kim Hong bukanlah anak kemarin sore yang mudah saja percaya omongan orang.

Ia adalah Lam-sin, selain lihai, juga cerdik dan hati-hati sekali.

"Lalu apa maksudmu memberitahukan hal itu kepadaku?"

"Nona, Ceng-Taihiap telah berjasa bagi para pendekar di sini dan kami berhutang budi kepadanya, maka begitu melihat dia terjebak dalam perangkap, mungkin sekarang telah tertawan oleh See-thian-ong, kami para pendekar tentu saja ingin menolongnya. Karena kami merasa gentar terhadap See-thian-ong, dan karena kami pikir nona tentu akan dapat pula membantu, maka kami sengaja mengundang nona untuk bersama-sama membicarakan hal itu dan mengatur siasat untuk dapat menolong Ceng-Taihiap."

Diam-diam Kim Hong terkejut sekali dan jantungnya berdebar keras membayangkan Thian Sin terancam bahaya membuat hatinya gelisah bukan main.

Ia mengangguk.

"Baik, mari antarkan aku ke tempat para pendekar."

Tanpa banyak cakap lagi, keduanya lalu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang utara.

Tak jauh dari pintu gerbang, pria itu mengajak Kim Hong memasuki pekarangan sebuah gedung besar dan megah namun kelihatan sunyi dan angker.

"Mereka telah berkumpul menanti kita di ruangan belakang, nona. Maklumlah, menghadapi See-thian-ong yang berpengaruh dan banyak kaki tangannya, kita harus hati-hati sekali. Kita masuk dari pintu belakang. Marilah..."

Kim Hong mengikuti orang itu memasuki pekarangan dan mengambil jalan ke samping gedung dan menuju ke pintu belakang.

Orang bertubuh jangkung itu membuka daun pintu dan mereka memasuki sebuah lorong yang gelap, hanya ada sedikit penerangan sehingga remang-remang.

Sunyi sekali, tidak terdengar suara seorangpun di situ.

Pria itu lalu berhenti di depan sebuah daun pintu tertutup, lalu berkata kepada Kim Hong.

"Nona, silakan masuk, mereka berkumpul di ruangan dalam,"

Berkata demikian, Si Jangkung itu mempersilakan dan mengembangkan tangan kanannya.

Akan tetapi Kim Hong tidak pernah kehilangan kewaspadaan dan kecurigaannya.

Ia tidak bergerak dan berkata.

"Harap kau suka masuk lebih dulu, aku mengikut saja."

Orang itu menarik napas panjang.

"Ahh, agaknya nona mencurigai saya, masih belum percaya bahwa kami adalah sahabat-sahabat yang hendak menolong Ceng-Taihiap. Baiklah, aku masuk lebih dulu."

Dia membuka pintu dan ternyata di balik daun pintu itu merupakan sebuah kamar atau ruangan yang remang-remang dan kosong, Akan tetapi di sebelah kanan terdapat sebuah lubang pintu yang kelihatan gelap.

Karena melihat orang itu sudah melangkah masuk, Kim Hong juga ikut masuk.

Akan tetapi, tiba-tiba orang di depannya itu telah meloncat dengan cepat sekali ke arah pintu sebelah kanan itu.

Kim Hong terkejut dan cepat iapun meloncat, namun tiba-tiba pintu itu tertutup begitu laki-laki jangkung tadi lewat.

Kim Hong hanya terlambat dua detik saja.

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, sebelum daun pintu di belakangnya, dari mana ia masuk tadi tertutup, tubuhnya sudah mencelat hendak keluar dari pintu itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki tinggi besar di ambang pintu dan mereka ini mendorong dan memukul ke arah tubuh Kim Hong yang hendak menerobos keluar.

"Desss...!"

Tiga orang itu mengeluarkan teriakan keras dan tubuh mereka terjengkang, dari mulut mereka keluar darah segar!

Ternyata Kim Hong telah memapaki dorongan mereka itu dengan pukulan-pukulan sakti.

Akan tetapi ketika gadis itu hendak meloncat keluar, muncul seorang kakek tinggi besar yang menggunakan kedua tangan mendorongnya kembali.

Kim Hong marah dan iapun menerima atau menyambut dorongan itu dengan kedua tangannya.

"Dukkk...!"

Keduanya terkejut.

Kakek itu terhuyung ke belakangg sebaliknya Kim Hong juga terpental kembali tiga langkah ke dalam kamar dan...

tiba-tiba saja kakinya terjeblos karena lantai itu telah bergeser dan lenyap!

Karena kakinya tidak berpijak pada sesuatu, tentu saja tubuhnya melayang ke bawah.

"Haiiiiittt...!"

Kim Hong mengeluarkan suara melengking nyaring dan tiba-tiba tubuhnya yang sedang melayang ke bawah itu membuat poksai (salto) dan dapat membalik ke atas lagi.

"Dukk!"

Tubuhnya membentur lantai yang sudah tertutup kembali dan kini tubuhnya terjatuh ke bawah tanpa dapat ditahannya lagi.

Maklum bahwa ia telah terjebak, Kim Hong mengerahkan gin-kangnya dan dapat menahan luncuran tubuhnya.

Akan tetapi ketika kedua kakinya menyentuh lantai, ternyata di bawah tidak dipasangi benda tajam atau runcing sehingga ia dapat mendarat dengan selamat.

Gelap sekali tempat itu.

Kim Hong bukan seorang gadis penakut.

Begitu kedua kakinya sudah menginjak lantai ia cepat menyelidiki keadaan kamar itu dengan meraba-raba.

Sebuah kamar yang luasnya kira-kita tiga meter persegi.

Dindingnya amat kuat, terbuat dari pada beton.

Ada lubang-lubang hawa sebesar lubang-lubang jari di sebelah atas, dekat langit-langit yang tingginya kurang lebih tiga meter.

Ia meloncat dan mendorong langit-langit, akan tetapi ternyata langit-langit itu terbuat dari baja yang amat kuat.

Tidak ada pintu atau jendelanya!

Mungkin pintu rahasia yang bergeser dan masuk ke dinding, pikirnya.

Tidak ada jalan keluar.

Akan tetapi ia masih selamat dan tidak terluka.

Ini saja merupakan hiburan baginya, karena selama ia masih hidup, ia tidak akan kehilingan harapan.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara mendesis.

Kim Hong waspada dan siap.

Akan tetapi tempat itu terlalu gelap behingga ia tidak dapat melihat sesuatu.

Tangannya sendiripun tidak nampak, apalagi benda lain.

Dan tiba-tiba ia mencium bau yang harum dan keras.

Celaka, keluhnya karena ia tahu bahwa ada asap beracun dimasukkan ke dalam kamar itu.

Tentu melalui lubang hawa di atas, pikirnya.

Ia tahu bahwa melawanpun tidak ada gunanya, membuang tenaga sia-sia belaka.

Kalau ia melawan dengan menahan napas, hanya akan kuat bertahan beberapa jam saja, akhirnya ia akan tidak dapat lolos pula dari asap yang ia duga tentu mengandung obat bius itu.

Kalau ia melawan dan menahan napas sekuatnya, ada bahayanya paru-parunya akan terluka.

Lebih baik ia menyerah kepada keadaan yang tak mungkin dapat dilawannya lagi, untuk menghemat tenaga menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karena itu, Kim Hong tidak melawan, hanya cepat merebahkan dirinya terlentang di atas lantai dan melemaskan tubuhnya, mengendurkan semua urat sarafnya agar jangan menegang.

Karena ia merebahkan diri, maka asap itu agak lama baru mulai memasuki pernapasannya, yaitu setelah udara di atas penuh.

Kim Hong yang sudah banyak mempelajari racun dan obat bius, maklum bahwa asap yang disedotnya itu mengandung obat bius yang tidak mematikan, hanya membuatnya tertidur atau pingsan saja.

Maka pernapasannya juga lega dan ia jatuh pingsan dengan hati tenang.

"Cian Ling...!"

"Thian Sin, ah, Thian Sin...!"

Wanita itu menubruk dan merangkulnya sambil menangis.

Thian Sin mengelus rambut kepala itu, membiarkan Cian Ling menangis sejenak di dadanya.

Setelah agak mereda, dengan halus dia mendorong pundak wanita itu dan mereka saling pandang di dalam cuaca yang remang-remang diterangi bintang-bintang di langit itu.

"Engkau kurus..."

Kata Thian Sin dan memang wanita itu nampak kurus dibandingkan dengan ketika masih menjadi kekasihnya dahulu.

"Aku hidup menderita, Thian Sin. Aku... aku nyaris dibunuh suhu ketika engkau melarikan diri. Suheng membelaku dan menyelamatkan, maka aku terpaksa menerima saja ketika dia mengambilku sebagai isterinya. Dan suhu... suhu menghancurkan kedua tulang pergelangan tanganku."

Cian Ling memandang kepada dua tangannya dengan sinar mata sedih.

"Ah, maafkan aku, Cian Ling."

Thian Sin memegang kedua tangan itu dan mencium kedua tangan itu bergantian.

"Engkau menderita karena aku."

"Dan engkau agaknya sudah senang sekarang, ya? Lupa kepadaku dan sudah memperoleh gantinya?"

"Ah, jangan berkata demikian, Cian Ling. Bukankah engkau sudah menjadi isteri suhengmu? Nah, katakan, apa kepentingan yang hendak kau bicarakan denganku?"

"Apa pertemuan antara kita ini tidak kau anggap penting?"

"Memang, akan tetapi tentu ada yang lebih daripada itu yang hendak kau sampaikan kepadaku."

"Aku diutus suhu untuk menyelidikimu. Apa maksud kedatanganmiu di Si-ning? Tentu bukan untuk mencariku, karena kau datang dengan seorang gadis cantik. Apakah hendak memusuhi See-thian-ong?"

Thian Sin tersenyum dan mencium bibir itu.

Betapapun juga, wanita ini adalah bekas kekasihnya dan mencintanya.

Hal ini terasa benar sekarang.

"Ah, engkau diutus menyelidiki aku akan tetapi mengapa engkau berterus terang begini kepadaku?"

Inilah bukti bahwa wanita ini masih mencintanya.

"Memang tadinya aku ingin mencelakaimu, karena engkau telah meninggalkan aku, karena engkau telah menyebabkan aku begini. Tapi... tapi... mana bisa aku mencelakaimu, Thian Sin? Aku malah hendak memperingatkanmu bahwa guruku dan suamiku dan semua kaki tangannya telah siap untuk membalas dendam, untuk menawanmu, untuk menyiksamu dan membunuhmu. Karena itu, engkau hati-hatilah dan lebih baik engkau segera pergi saja dari tempat ini."

"Cian Ling, kenapa kau lakukan ini semua? Kenapa engkau lagi-lagi mengkhianati suhumu dan suamimu...?"

Than Sin bertanya, terharu juga.

"Aku... ohhh..."

Cian Ling merangkul leher Thian Sin dan menangis lagi.

Mereka saling berciuman, Cian Ling untuk melepaskan rindunya, Thian Sin untuk menyatakan keharuan dan terima kasihnya.

Setelah mereda, Cian Ling melepaskan rangkulannya.

"Aku girang bahwa aku berterus terang padamu, Thian Sin. Engkau memang patut kubela. Biarpun engkau tidak mencintaku, namun engkau seorang laki-laki yang baik, yang dapat menyenangkan hati wanita."

"Nah, ceritakan apa yang hendak mereka lakukan."

Dengan singkat namun jelas Cian Ling lalu menceritakan pertemuan yang diadakan oleh See-thian-ong dan para murid dan pembantunya setelah datuk itu mendengar akan kemunculan Thian Sin dan Kim Hong di telaga Ching-hai.

"Semenjak kalah olehmu, suhu telah melatih diri dengan tekun sekali, dan sekarang suhu malah telah memperoleh murid dan pembantu yang pandai, yaitu lima orang yang berjuluk Ching-hai Ngo-liong. Mereka itu, kalau maju bersama, lebih lihai daripada aku atau suheng sendiri. Belum lagi suhu yang kini semakin tua menjadi semakin lihai. Engkau berhati-hatilah, Thian Sin. Lebih baik engkau pergi malam ini juga meninggalkan Si-ning. Aku tidak dapat lama-lama bertemu denganmu, mereka tentu akan menjadi curiga. Akan kukatakan kepada mereka bahwa kedatanganmu ini bersama wanita itu hanya untuk pesiar saja, tidak ada keinginanmu untuk mengacau. Bukankah begitu?"

"Ya, sebaiknya katakan saja begitu. Akan tetapi untuk pergi melarikan diri, nanti dulu, Cian Ling. Aku memang ingin menentang suhumu itu, dan terima kasih atas semua kebaikanmu kepadaku."

"Jadi, engkau hendak nekad menentang suhu?"

"Dia memang pantas ditentang, apalagi setelah apa yang dilakukannya kepada dirimu."

"Ah, aku khawatir sekali!"

"Tak usah khawatir, aku dapat menjaga diri."

"Selamat berpisah."

Cian Ling ragu-ragu lalu berlari menghampiri, merangkul dan mencium Thian Sin dengan sepenuh hatinya, lalu terisak dan melarikan diri, menghilang dalam kegelapan malam.

Thian Sin berdiri tertegun, lalu tersenyum dan mengelus bibirnya.

Di antara para wanita yang pernah mendekatinya, yang pertama menyentuh hatinya adalah Kim Hong ke dua adalah Cian Ling inilah.

Lian Hong tidak dapat diperbandingkan karena perasaannya terhadap Lian Hong lain lagi, lebih halus, bahkan agaknya jauh dari kekasaran nafsu berahi.

Dia sendiri tidak tahu apakah terhadap Cian Ling atau Kim Hong.

Betapapun juga, Cian Ling takkan mudah terhapus begitu saja dari lubuk hatinya.

Wanita itu telah menyerahkan dirinya, hatinya dan pada saat inipun sudah membuktikan pembelaannya, setelah berkorban kedua pergelangan tangannya yang hampir melenyapkan ilmu kepandaiannya.

Dia tahu bahwa kalau pertemuan tadi, percakapan dan sikap Cian Ling tadi diketahui oleh See-thian-ong, tentu sekali ini nyawa wanita itu taruhannya.

Akan tetapi dia tidak akan undur selangkah.

Biarpun See-thian-ong mempersiapkan diri.

Lebih baik lagi.

Sekali ini See-thian-ong harus dapat dia kalahkan secara mutlak!

Akan tetapi, teringat akan penuturan Cian Ling betapa See-thian-ong telah mengerahkan kaki tangannya, ia harus berhati-hati juga.

Orang seperti See-thian-ong itu tentu tidak akan segan untuk mempergunakan tipu muslihat dan kecurangan.

Baiknya ia datang bersama Kim Hong yang dalam hal ilmu kepandaian tidak kalah dibandingkan dengan See-thian-ong.

Bersama dengan Kim Hong dia merasa mampu untuk menghadapi seluruh jagoan di dunia ini!

Teringat akan Kim Hong yang ditinggalkan seorang diri dalam keadaan marah dan cemburu, Thian Sin tersenyum dan mempercepat larinya, kembali ke kota, ke losmen di mana mereka bermalam.

Akan tetapi, ketika dia memasuki kamar, ternyata kamar mereka itu kosong.

Kim Hong tidak berada di situ, tidak meninggalkan surat maupun pesan.

Seketika hatinya berdebar tegang dan khawatir.

Jangan-jangan kekasihnya itu pergi meninggalkannya karena marah dan cemburu.

Akan tetapi, buntalan pakaiannya masih ada, berarti Kim Hong tidak minggat.

Akan tetapi ke manakah?

Dia pergi mencari ke belakang dan sekitar losmen itu, namun tidak dapat menemukannya.

Lalu dia memanggil pelayan yang tadi menyerahkan surat kepadanya.

"Engkau melihat nona?"

Tanyanya kepada pelayan itu.

"Tidak, tuan..."

Akan tetapi Thian Sin melihat betapa kedua kaki pelayan itu menggigil, ini menandakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pelayan itu.

"Baikiah,"

Katanya dan seperti tidak mencurigai sesuatu, diapun memasuki kamarnya.

Akan tetapi cepat sekali diapun membuka jendela, meloncat ke luar dan terus menuju ke luar, mengintai dari tempat gelap.

Dilihatnya ada tiga orang laki-laki tinggi besar berbisik-bisik dengan pelayan tadi.

Hanya terdengar olehnya Si Pelayan berkata, suaranya terdengar agak takut-takut.

"Dia sudah pulang, dan tidak menduga sesuatu. Di kamarnya..."

"Baik, kami akan menjemputnya,"

Kata seorang di antara tiga orang itu.

Thian Sin cepat meloncat dan berlari memasuki kamarnya kembali melalui jendela, menutupkan daun jendela dan merebahkan dirinya, pura-pura tidur di atas pembaringan.

"Tok-tok-tokk!"

Thian Sin membiarkan sampai ketukan pintu itu terulang beberapa kali, barulah dia menjawab dengan suara mengantuk.

"Siapa di luar?"

"Aku, utusan See-thian-ong Locianpwe! Harap buka pintu Pendekar Sadis!"

Thian Sin tersenyum, akan tetapi hatinya terasa tidak enak.

Kalau See-thian-ong sudah berani mengirim utusan secara terbuka seperti ini, hal itu hanya berarti bahwa datuk itu telah mempunyai sesuatu yang dapat dipakai sebagai andalan.

"Hemm, pintu kamarku tak pernah kukunci. Masuklah saja."

Hening sejenak.

Agaknya orang-orang yang berada di luar pintu itu meragu dan berunding.

Terdengar mereka saling berbisik.

Lalu seorang di antara mereka mondorong daun pintu.

Daun pintu terbuka dan nampak orang itu berlindung di kusen pintu, dan golok tajam berkilau di tangannya.

Akan tetapi ketika melihat Thian Sin masih rebah di atas pembaringannya, dia menjadi lebih berani, lalu melangkah masuk.

Orang tinggi besar, seorang di antara tiga orang yang dilihat Thian Sin tadi.

Thian Sin bangkit duduk dan orangnya itu maju sambil menodongkan goloknya, siap untuk menyerang.

"Hemm, kalau aku jadi engkau, lebih baik kusimpan saja golokku itu. Salah-salah golok itu bisa minum darah tuannya sendiri. Amat berbahaya itu!"

Kata Thian Sin sambil minum air teh dari mangkok di atas meja, sikapnya tidak peduli.

Orang itu jelas kelihatan gentar, mukanya agak pucat.

Dia menyeringai dan berkata dengan suara lantang, untuk menutupi rasa gentar di dalam hatinya.

"Pendekar Sadis, golok ini hanya untuk menjaga diri kalau-kalau engkau akan mengamuk sebelum habis mendengarkan kata-kataku."

"Hemm, kalau aku mengamuk, sekarang engkau tak mungkin dapat bicara lagi, juga dua orang temanmu di luar kamar itu. Masuk saja kalian semua dan katakan apa yang dipesan oleh See-thian-ong?"

Sikap Thian Sin tetap tenang saja dan justeru ketenangan inilah yang membuat jantung tiga orang itu terasa dingin membeku karena gentar.

Dua orang tinggi besar yang menanti dan berjaga-jaga di luar kamar itupun menampakkan diri sambil memegang golok dengan tangan agak gemetar.

Nama besar Pendekar Sadis sudah membuat mereka ketakutan, apalagi kalau diingat bahwa pemuda ini adalah putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang pernah mengalahkan See-thian-ong sendiri!

Mereka bertiga kini menghadapi Thian Sin, siap dengan golok di tangan dan Thian Sin memandang dengan sikap tak acuh.

"Pendekar Sadis,"

Kata seorang yang pertama tadi.

"Ketua kami hanya hendak menyampaikan pesan kepadamu bahwa engkau harus mengikuti kami menghadap beliau tanpa banyak ribut."

Thian Sin tersenyum.

"Hemm, bagaimana kalau sekarang aku menggerakkan tangan dan membunuh kalian bertiga? Apa sukarnya bagiku?"

Orang yang mewakili teman-temannya bicara itu menelan ludah sebelum menjawab, merasa sukar bicara seolah-olah jantungnya naik dan mengganjal tenggorokannya.

"Kalau... kalau kami tidak kembali bersamamu, selambat-lambatnya besok pagi setelah matahari terbit, wanita itu akan mati..."

"Wanita...?"

Thian Sin pura-pura bodoh.

"Ya, wanita cantik sahabatmu itu, Pendekar Sadis!"

Orang tinggi besar itu merasa dapat mengancam dan berada di pihak yang menang sekarang.

"Dan matinya akan mengerikan sekali! Ketua kami tidak akan kalah olehmu dalam menyiksa orang-orang yang menjadi tawanannya. Sedikit saja engkau mengganggu kami, kawanmu yang cantik itu besok sebelum matahari terbit, akan menjadi mayat dengan tubuh terhina dan tidak berupa manusia lagi!"

Thian Sin masih bersikap tak acuh.

"Huh, bagaimana aku dapat mempercaya omongan bajingan-bajingan macam kalian bertiga ini?"

Seorang di antara mereka, yang berjenggot panjang dan mempunyai muka yang menyeramkan, mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan melemparkannya ke arah Thian Sin sembil berkata.

"Lihat ini!"

Thian Sin menyambut benda itu yang ternyata adalah potongan celana dari bawah sampai ke lutut.

Celana Kim Hong!

Dia mengenal kain celana itu!

Jelaslah bahwa Kim Hong telah terjatuh ke tangan mereka, ke tangan See-thian-ong.

Dia merasa heran sekali bagaimana Kim Hong yang dia tahu amat lihai itu sampai dapat tertawan musuh.

"Hemm, di manakah ia?"

Orang pertama tertawa, suara ketawanya seperti suara burung hantu, lalu berkata.

"Pendekar Sadis, kami tidak begitu bodoh. kau ikutlah saja kalau menghendaki ia selamat!"

Thian Sin berpikir sejenak.

Diapun tahu bahwa See-thian-ong menangkap Kim Hong hanya untuk memaksanya menyerah.

Bukan Kim Hong yang dikehendaki See-thian-ong yang pasti tidak mengenal bahwa Kim Hong adalah Lam-sin, melainkan dialah yang dikehendaki orang tua itu.

Kepada dialah See-thian-ong menaruh dendam.

Dan kini baru dimengerti bahwa So Cian Ling telah menipunya.

Wanita itu, yang tadi menciumnya demikian mesra, yang tadi menangis dengan air mata panas, hanya dipergunakan oleh See-thian-ong untuk memancingnya keluar, untuk membuatnya meninggalkan Kim Hong sehingga kakek datuk kaum sesat itu dapat menangkap Kim Hong untuk memaksanya menyerahkan diri.

Akan tetapi bagaimana Kim Hong sampai dapat ditawan?

Hal ini tentu baru akan dapat diketahuinya kalau dia bertemu dengan Kim Hong.

Dan melihat celana yang dirobek itu, diam-diam dia bergidik.

Dia tahu orang macam apa mereka ini, dan kalau dia membunuh mereka ini dan tidak muncul sampai besok pagi, tentu bukan hanya sebagian celana Kim Hong yang akan dirobek oleh mereka.

"Baiklah, aku ikut dengan kalian!"

Katanya sambil bangkit berdiri.

"Ha-ha-ha, kami sudah tahu bahwa engkau tentu akan berpikir dengan tepat, Pendekar Sadis,"

Kata orang pertama.

"lihat, golok kami ini tidak perlu lagi, karena di sana ada golok yang lebih tajam tertempel di leher yang kulitnya mulus itu."

"Kami harus melucutimu dulu,"

Kata Si Jenggot Panjang sambil menghampiri Thian Sin dan mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam dari pinggang pemuda itu, juga mengambil kipasnya dan suling bambunya.

Tiga benda itu dibawanya sendiri, pedang dia gantungkan di punggung, suling dan kipas dia selipkan di pinggang.

"Mari kita berangkat!"

Kata orang pertama dan keluarlah mereka dari dalam kamar itu.

Thian Sin berjalan di tengah-tengah mereka, seperti seorang di antara sahabat-sahabat saja.

Ketika tiba di depan rumah penginapan itu, Thian Sin melihat pengurus dan para pelayan berdiri dengan sikap takut-takut, akan tetapi melihat Thian Sin pergi tanpa melawan dengan tiga orang itu, mereka nampak lega.

Mengertilah Thian Sin bahwa semua orang di dalam rumah penginapan ini adalah juga kaki tangan See-thian-ong, atau setidaknya orang-orang yang tunduk dan taat kepada datuk kaum sesat itu.

Dia memperhatikan ke mana dia akan dibawa oleh tiga orang tinggi besar yang sikapnya kasar ini.

Setelah mereka tiba di tempat gelap, dia didorong-dorong oleh mereka.

"Setelah keluar dari pintu gerbang kota, engkau harus memakai penutup mata, Pendekar Sadis. Ha-ha-ha!"

Kata orang pertama sambil mendorong pundak Thian Sin agak keras ketika pemuda itu agak lambat jalannya.

Hemm, mereka akan membawaku ke luar kota, pikirnya.

Jadi Kim Hong ditahan di luar kota.

Akan tetapi di mana?

Dia harus tahu di mana Kim Hong ditahan dan harus dapat membebaskannya sebelum matahari terbit pada esok pagi, kalau tidak, dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada diri gadis itu.

Terlalu ngeri untuk dibayangkan.

See-thian-ong tidak percuma berjuluk datuk kaum sesat.

Tentu segala daya akan dilakukan untuk menyakitkan hatinya.

Tiba-tiba Thian Sin merasa tengkuknya menjadi dingin.

Menyakitkan hatinya!

Itulah yang akan dilakukan See-thian-ong sebelum membunuhnya.

Dan melihat dia kini menyerahkan diri demi Kim Hong, tentu iblis tua itu akan dapat menduga bahwa dia mencinta Kim Hong, dan alau demikian halnya, maka TIDAK MUNGKIN kalau Kim Hong akan dibebaskan setelah dia menyerahkan diri.

Bahkan sebaliknya gadis itu akan merupakan alat yang baik sekali untuk menyiksa batinnya!

Tentu See-thian-ong akan menyiksa gadis itu di depan matanya, sebelum membunuhnya!

Mereka sudah tiba di luar pintu gerbang kota sekarang dan berjalan di jalan sunyi.

Bulan sudah muncul dan malam itu amat cerah.

Ketika mereka tiba di jalan yang sunyi, diapit-apit sawah ladang, Si Jenggot Panjang berkata.

"Sudah waktunya untuk menutupi kedua matanya."

Mereka bertiga mendekati Thian Sin dan orang pertama mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku bajunya.

"Pendekar Sadis, kami harus menutupi kedua matamu agar kau ... hukkk!"

Orang itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja tangan Thian Sin bergerak menonjok ulu hatinya, membuat napasnya terhenti dan diapun terjengkang memegangi perut.

Dua orang kawannya terkejut sekali dan mereka berdua cepat mencabut golok.

Akan tetapi Thian Sin tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka.

Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada tangan mereka yang mencabut golok dan gerakan kedua orang itu terhenti setengah jalan ketika tubuh mereka terpelanting oleh tamparan-tamparan Thian Sin.

Mereka hanya pingsan dan tidak mati, karena memang Thian Sin belum hendak membunuh mereka.

Belum lagi, mereka itu masih amat penting baginya, untuk menunjukkan di mana Kim Hong ditahan, Thian Sin sengaja menanti sampai mereka berada di luar kota, di tempat sunyi, baru dia bergerak karena kalau dia bergerak di dalam kota, tentu akan datang banyak kaki tangan See-thian-ong yang akan dapat menggagalkan usahanya menolong gadis itu.

Ketika tiga orang itu siuman mereka mendapatkan diri mereka sudah tertotok, membuat kaki tangan mereka lumpuh sama sekali dan mereka berada di dalam sebuah gubuk tempat petani menjaga sawah.

Thian Sin lalu menyeret seorang di antara mereka, yaitu orang ke tiga yang pipinya sebelah kiri ada tanda bekas lukanya.

Dua orang kawannya hanya memandang dengan mata terbelalak penuh rasa takut ketika kawan mereka itu diseret keluar dari dalam gubuk oleh Pendekar Sadis.

"Jangan takut,"

Bisik Si Jenggot Panjang kepada orang pertama.

"dia tidak mampu mengganggu kita, selama gadis itu berada di tangan ketua kita."

Orang yang codet pipinya ketakutan setengah mati ketika dia diseret oleh Pendekar Sadis menjauhi gubuk dan berhenti di bawah sebatang pohon besar di tepi jalan.

"Nah, sekarang katakan di mana gadis itu ditahan!"

Kata Thian Sin, suaranya tetap halus dan tenang, bahkan terdengar ramah dan tanpa mengandung ancaman.

Si Codet menelan ludahnya, akan tetapi dia teringat akan teman Pendekar Sadis yang sudah berada di tangan See-thian-ong, maka dia merasa yakin bahwa pendekar ini hanya akan menggertaknya saja.

Maka dia memaksa sebuah senyum yang merupakan senyum masam yang membuat wajahnya yang codet itu menjadi nampak semakin buruk dan menyeramkan.

"Hemm, kau kira aku takut dengan ancamanmu? Gadismu itu telah di dalam cengkeraman maut, dan kalau sampai besok kami tidak datang bersamamu, tentu ia akan disiksa sampai mampus, dan sebelum itu dipermainkan dulu. Heh-heh, lebih baik engkau bebaskan kami dan mari sama-sama menghadap ketua kami agar gadismu selamat, Pendekar Sadis."

"Begitukah? Kita lihat saja nanti!"

Thian Sin berkata dan dengan cekatan lalu melepaskan sabuk orang itu, mengikat kedua kakinya dan diangkatnya orang itu lalu dilemparkan ke atas melewati sebuah cabang pohon.

Ketika tubuh itu meluncur turun, dia memegang ujung sabuk dan orang itupun tergantung dengan kepala di bawah dan terpisah dari tanah kurang lebih satu setengah meter.

Thian Sin mengikatkan ujung sabuk itu ke batang pohon, kemudian dengan tenangnya lalu membuat api unggun di bawah orang yang tergantung dengan jungkir balik itu.

"Apa... apa yang hendak kau lakukan...?"

Si Codet itu berkata dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Thian Sin tidak menjawab, terus menyalakan api unggun dan asap mulai mengepul ke atas, membuat Si Codet itu terbatuk-batuk dan sesak napas.

Dia mengulang-ulangi pertanyaannya, menjadi semakin takut ketika mulai merasakan hawa panas dari api unggun yang mulai bernyala di bawah kepalanya.

Dengan panik dia mengerti bahwa Pendekar Sadis itu hendak membakarnya hidup-hidup!

Dia mulai berteriak-teriak, memaki, mengancam, memohon, akan tetapi Thian Sin sama sekali tidak menghiraukannya, bahkan melihat sedikitpun tidak, melainkan menambah kayu bakar untuk membuat api unggun itu bernyala makin besar.

Dan tersiksalah Si Codet itu, napasnya terengah-engah, akan tetapi dalam keadaan tertotok dia tidak mampu meronta, hanya berteriak-teriak.

"Ahhhhh... akhhh... aku... ah, lepaskan aku... Pendekar Sadis..."

Thian Sin sama sekali tidak peduli, seakan-akan tidak mendengarnya.

Akan tetapi sebenarnya dia terus memasang pendengarannya dan memperhatikan semua teriakan yang keluar dari mulut orang tersiksa itu.

Tubuh Si Codet penuh dengan keringat, mukanya menjadi merah seperti udang direbus dan lidah api hampir menjilat kepalanya.

Malah sudah ada bau rambut termakan api, bukan langsung dijilat lidah api melainkan rambut itu mengering dan menghangus oleh panas dari bawah.

"Aduuhhh... panas... aughhh... dengar Pendekar Sadis... gadismu itu... berada di... pesanggrahan... auhhhhh, lekas turunkan... aku akan mengaku..."

Api unggun itu mengecil karena beberapa pohon kayu bakar ditarik oleh Thian Sin.

Bahan bakarnya dikurangi dan tentu saja apinya mengecil, akan tetapi masih bernyala.

Dia kini mendekati orang yang masih tergantung itu.

"Jelaskan, di mana ia ditahan?"

Si Codet itu membelalakkan matanya.

Dia membayangkan betapa dia akan dihukum dan tentu dibunuh oleh See-thian-ong kalau dia berani mengkhianatinya, kalau dia berani mengaku di mana adanya gadis itu.

Melihat keraguan ini Thian Sin berkata sambil mengambil lagi kayu bakar yang tadi disingkirkan.

"Aku tidak mau tawar-menawar lagi kalau engkau tidak mau mengaku, api akan kubesarkan dan tidak ada apapun yang akan dapat mengubah keadaanmu!"

"Nanti... nanti dulu... ia... ia ditahan di dekat Telaga Ching-hai, di pondok merah milik ketua kami..."

Orang itu merintih dan menangis, tahu bahwa dia telah menentukan hukumannya sendiri.

Dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat selamat karena andaikata Pendekar Sadis tidak membunuhnya, tentu See-thian-ong tidak akan mau mengampuninya.

Maka dia merintih dan menangis karena menyesal dan ketakutan.

Akan tetapi, karena api unggun tidak begitu besar lagi dan biarpun masih mendatangkan panas dan asap namun tidak begitu menyiksanya lagi, diapun akhirnya menghentikan tangisnya, apalagi ketika melihat Pendekar Sadis meninggalkannya, memasuki pondok gubuk itu dan menyeretnya keluar seorang temannya, yaitu Si Jenggot Panjang.

Si Jenggol Panjang melihat keadaan temannya, Si Codet, mengerti bahwa Pendekar Sadis hendak menyiksa mereka untuk minta keterangan di mana adanya gadis itu.

Maka diapun mendahului dengan suara ketawa.

"Ha-ha, Pendekar Sadis! Percuma kalau engkau hendak menyiksa kami. Kami tidak akan bicara, dan biar engkau membunuh kami sekalipun, engkau tidak akan dapat menyelamatkan gadismu kecuali kalau engkau ikut dengan kami menghadap See-thian-ong!"

Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab, melainkan cepat menggunakan golok besar milik seorang di antara mereka untuk menggali lubang dalam tanah.

Tidak terlalu dalam, hanya kurang lebih setengah meter pula.

Dengan tenaga sin-kangnya, cepat dia menyelesaikan pekerjaan itu, lalu ditendangnya tubuh Si Jenggot Panjang memasuki lubang dalam keadaan telentang.

Si Jenggot Panjang terbelalak, tidak tahu apa maksud pendekar itu.

Akan tetapi ketika Thian Sin mulai mendorong tanah galian ke dalam lubang menimbuninya dari kaki ke atas dan berhenti sampai di dada, tahulah dia bahwa pendekar itu hendak menguburnya hidup-hidup!

Dia memandang dengan mata terbelalak.

"Apa... apa yang hendak kau lakukan...?"

Tanyanya, suaranya gemetar.

Thian Sin menghentikan pekerjaannya menimbuni Si Jenggot dengan tanah.

Memang disengaja menimbuninya sampai ke dada saja membiarkan bagian muka itu terbuka.

"Katakan di mana adanya gadis itu!"

Katanya, suaranya halus dan tenang saja, namun mengandung sikap dingin yang mengerikan.

Orang pertama, Si Codet yang masih tergantung, merasa ngeri bukan main.

Dia dapat melihat semua yang terjadi itu dengan jelas, walaupun matanya sudah menjadi merah karena sejak tadi tergantung dan kemasukan asap.

Akan tetapi Si Jenggot Panjang itu malah tertawa, suara ketawanya memang agaknya tidak takut mati.

"Ha-ha-ha-ha, engkau hendak mengancam dan memaksaku? Pendekar Sadis, biar kau bunuh sekali kami bertiga tidak akan mengaku, dan tahukah engkau apa yang akan terjadi kalau engkau tidak ikut bersama kami menghadap See-thian-ong! Ha-ha, aku sudah tahu. Gadismu yang cantik jelita itu akan diperkosa beramai-ramai, diantri oleh lebih dari dua puluh orang di antara kami. Untuk menentukan siapa yang akan kebagian daging lunak itu, kemarin ketua kami sudah mengundi! Sayang, aku sendiri tidak kebagian, akan tetapi aku ingin sekali melihatnya. Ha-ha-ha!"

Thian Sin mengerutkan alisnya dan menurut panasnya hati, ingin dia sekali pukul menghancurkan kepala Si Jenggot ini.

Akan tetapi dia menahan diri, lalu mulai mendorongkan tanah sedikit demi sedikit menimbuni dada dan muka Si Jenggot.

Si Jenggot masih berteriak-teriak, mengancam, memaki lalu menangis, Akan tetapi Thian Sin tidak peduli, walaupun dia menangkap satu demi satu semua yang keluar dari mulut Si Jenggot ini, kalau-kalau Si Jenggot menyerah dan mau mengaku.

Biarpun orang pertama sudah mengaku, namun Thian Sin masih belum puas, dan masih belum yakin benar hatinya.

Orang-orang macam ini, orang-orang golongan hitam yang pikirannya selalu penuh dengan kejahatan, sama sekali tidak boleh dipercaya begitu saja.

Akan tetapi, Si Jenggot Panjang ini memang benar-benar tidak mau mengaku.

Suaranya makin kurang ketika mukanya mulai tertimbun tanah sehingga tiap kali membuka mulut, mulutnya kemasukan tanah.

Akhirnya, seluruh mukanya sama sekali tertutup dan Si Codet memejamkan matanya agar jangan melihat lagi keadaan temannya yang keras kepala dan memilih mati dikubur hidup-hidup daripada harus mengaku itu.

Dia tidak menyesal telah mengaku tadi karena kalau dia tidak mau mengaku, tentu sekarang telah menjadi babi panggang setengah matang, dibakar hidup-hidup oleh pendekar yang ternyata amat kejam dan sadis itu.

Si Codet itu berpikir apakah pernah dia melihat orang yang lebih sadis daripada tindakan Pendekar Sadis ini.

Dia sendiripun sudah biasa bertindak kejam, juga teman-temannya, akan tetapi kekejaman mereka itu berbeda dengan kekejaman Pendekar Sadis, yang melakukan semua itu dengan sikap yang demikian halus dan tenang dan dingin, seperti sikap iblis di neraka yang melakukan tugasnya menyiksa orang berdosa saja!

Setelah menimbunkan semua tanah yang digalinya tadi di atas tubuh Si Jenggot yang rebah terlentang di dalam tanah sehingga tanah itu bergunduk merupakan sebuah kuburan baru.

Thian Sin lalu meninggalkannya ke dalam gubuk.

(Lanjut ke

Jilid 35) Pendekar Sadis (Seri ke 05

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 35

"A-ciang...!"

Si Codet berseru memanggil ke arah gundukan tanah sambil memandang dengan mata melotot.

"A-ciang...! Apakah engkau bisa mendengarku?"

Si Codet bertanya dengan hati ngeri.

Ingin dia memberi tahu dan membujuk temannya itu agar mengaku saja.

Dia lupa bahwa andaikata temannya dapat mendengarnya sekalipun, tentu teman itu tidak mampu menjawab karena kalau menjawab tentu mulutnya kemasukan tanah dan mencekiknya.

Si Codet tidak memanggil lagi ketika Thian Sin sudah mendatangi dari gubuk sambil menyeret tubuh orang pertama yang menjadi pemimpin dari rombongan tiga orang itu.

Orang ini memiliki kepandaian yang tertinggi di antara mereka dan merupakan suheng dari kedua temannya.

Hidungnya pesek dan mulutnya lebar sehingga muka itu mirip dengan muka seekor monyet.

Ketika Thian Sin melempar tubuhnya di dekat kuburan itu, Si Muka Monyet ini memandang dengan mata terbelalak, memandang ke arah Si Codet yang tergantung jungkir balik itu.

Dia terbelalak dan nampak ketakutan.

"Pendekar Sadis, apa yang kau lakukan terhadap dua orang temanku ini?"

Tanyanya.

Thian Sin tidak menjawab, melainkan melepaskan sabuk orang ke tiga ini.

Si Muka Monyet ini semakin ketakutan dan memandang kepada Si Codet yang masih tergantung dengan kepala di bawah itu.

Dia melihat bekas api unggun yang masih mengepulkan asap di bawah sutenya itu dan dia bergidik, maklum bahwa sutenya tadi tentu telah dibakar hidup-hidup.

Akan tetapi, sutenya itu belum mati, maka dia bertanya.

"Tauw-sute, di mana Ciang-sute?"

Yang ditanya hanya memandang ke arah kuburan, dan tiba-tiba mata A-tauw itu terbelalak seperti orang yang ketakutan.

Si Muka Monyet menoleh, memandang ke arah kuburan baru itu dan diapun terbelalak melihat betapa tanah kuburan itu bergoyang dan tiba-tiba nampak sebuah lengan tersembul keluar dari gundukan tanah, lalu tiba-tiba orang yang tadinya dikubur hidup-hidup itu bangkit duduk, kepala yang penuh tanah itu kini keluar, matanya berkedip-kedip karena kemasukan tanah, mulutnya mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh karena kemasukan tanah pula.

Kiranya Si Jenggot Panjang ini merupakan orang yang cukup kuat sehingga dia belum mati dan ketika ditimbun tanah itu, agaknya totokan pada tubuhnya menjadi punah dan dia mampu mengerahkan tenaganya untuk membobol tanah yang menimbuninya.

Thian Sin menghampiri, lalu bertanya.

"Kau mau mengaku."

Akan tetapi Si Jenggot Panjang itu memaki dengan suara seperti orang yang dicekik lehernya.

"Jahanam kau !"

Dan tiba-tiba dia meloncat dan menyerang kepada Thian Sin.

Keadaannya sungguh menyeramkan, seperti mayat yang baru bangkit dari kuburan.

Akan tetapi, terjangannya yang disertai gerengan seperti harimau itu tentu saja dengan mudah dapat dihindarkan Thian Sin dengan tangkisan, bahkan sekali dorong saja tubuh Si Jenggot Panjang itu sudah masuk lagi ke dalam lubang yang terbuka, lalu Thian Sin menimbuninya dengan tanah dan menginjak-injak timbunan tanah itu sampai padat!

Sekali ini Si Jenggot Panjang tidak lagi mampu bergerak.

Melihat ini, Si Codet dan temannya menggigil.

"Kalian datang untuk menangkapku dengan mengancam untuk menyiksa temanku itu? Baiklah, mungkin aku terlambat dan temanku akan mati, akan tetapi See-thian-ong dan seluruh anak buahnyapun akan kusiksa sampai mati semua. Dan kalian memperoleh giliran pertama!"

Kata Thian Sin kepada Si Muka Monyet yang sudah pucat sekali itu.

"Beri saja tanda dengan tanganmu kalau engkau mau memberi tahu di mana adanya temanku yang ditahan itu."

Berkata demikian, tiba-tiba leher Si Muka Mohyet itu telah dibelit sabuknya sendiri dan sekali saja menggerakkan kedua tangannya, Thian Sin telah melemparkan orang itu ke atas cabang pohon di mana Si Muka Monyet tergantung pada lehernya!

Ketika melontarkan tubuh orang ini, Thian Sin membebaskan totokannya, sehingga tubuh itu dapat meronta-ronta.

Sebentar saja muka itu menjadi merah dan agak membiru, lidahnya terjulur keluar dan tiba-tiba Si Muka Monyet menggerak-gerakkan kedua tangannya.

Thian Sin melepaskan ujung sabuk dan tubuh itu terbanting jatuh ke atas tanah, akan tetapi lehernya terbebas dari lilitan sabuk.

Si Muka Monyet megap-megap seperti ikan dilempar ke darat, dan untuk beberapa lamanya tidak mampu bicara, hanya memegangi lehernya seperti hendak mencekik leher sendiri.

Thian Sin duduk menanti dengan tenang.

"Nah, apa yang hendak kau katakan?"

Katanya kemudian.

"Gadis itu... ia... ditawan... di pondok merah... dekat Telaga Ching-hai..."

Kini Thian Sin merasa yakin bahwa keterangan yang didapatnya itu memang benar.

Kalau dua orang memberi keterangan yang sama, sudah pasti tidak membohong.

Tiba-tiba dia menggerakkan golok rampasan.

Sinar berkelebat dan dua orang itu tidak sempat memekik lagi karena sinar golok itu sudah menyambar ke arah leher mereka dengan kecepatan kilat dan tahu-tahu mereka tewas dengan leher putus, yang seorang menggeletak di atas tanah, yang seorang lagi dengan tubuh masih tergantung pada kakinya!

Thian Sin membuang golok itu, lalu mengambil pedangnya, kipas dan sulingnya yang tadi mereka rampas, kemudian mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya untuk lari menuju ke Telaga Ching-hai!

Ketika Kim Hong membuka kedua matanya, ia mengeluh.

Seluruh tubuhnya merasa nyeri dan ketika ia hendak menggerakkan kedua tangannya yang terasa paling nyeri, ternyata kedua tangan itu berada di belakang tubuhnya, terbelenggu oleh sesuatu yang selain amat kuat, juga runcing dan menusuk kedua pergelangan tangannya!

Seketika ia menjadi sadar betul dan membuka matanya lebar-lebar.

Teringatlah ia bahwa ia telah terjebak, lalu diserang dengan asap pembius.

Dengan tenang Kim Hong memutar pandang matanya.

Ia harus tenang dan tidak panik, itulah syarat utama menghadapi keadaan seperti sekarang ini.

Ia tahu bahwa ia berada di tangan musuh, akan tetapi satu hal yang sudah pasti dan menimbulkan harapan adalah kenyataan bahwa ia masih hidup sampai saat ini.

Dan itu berarti bahwa fihak musuh belum menghendaki kematiannya dan mempunyai suatu rencana mengapa ia masih dibiarkan hidup.

Dan selama ia masih bernapas, berarti masih ada kesempatan untuk lolos dan masih ada harapan.

Pandang matanya menyatakan bahwa ia berada di dalam sebuah kamar yang agaknya terbuat dari tembok tebal yang amat kokoh kuat.

Ada sebuah pintu saja di situ, pintu besi yang di atasnya terdapat jeruji besi yang kuat pula.

Ia tidak akan kehabisan hawa yang tentu masuk dari jeruji besi itu.

Kamar itu kosong, hanya ada sebuah dipan besi di mana ia rebah miring.

Kedua kakinya bebas, akan tetapi kedua lengannya dibelenggu ke belakang.

Jari-jari tangannya bergerak dan meraba-raba, dan tahulah ia bahwa kedua lengannya itu diikat dengan kawat berduri, dan bahwa duri-duri besi telah melukai kedua pergelangan tangannya.

Sinar lampu yang masuk melalui celah-celah jeruji menunjukkan bahwa waktu itu masih malam.

Dia mengingat-ingat.

Thian Sin menerima surat seorang wanita, bekas sahabatnya, murid See-thian-ong yang mengajaknya mengadakan pertemuan.

Begitu Thian Sin pergi, ia dipancing dan dijebak.

Padahal, See-thian-ong tidak pernah mengenalnya, apalagi bermusuhan.

Jelaslah bahwa ia ditawan itu tentu ada hubungannya dengan Thian Sin.

Otaknya yang cerdik itu diputarnya dan Kim Hong dapat menduga bahwa tentu ia ditawan untuk dijadikan umpan memancing Thian Sin.

Dan ia tahu bahwa Thian Sin sudah pasti akan mencarinya dan berusaha sedapatnya untuk menolongnya, dan agaknya hal ini yang dikehendaki oleh pihak musuh yaitu memancing datangnya Thian Sin.

Ini berarti bahwa ia sendiri sudah tertawan, dan dengan adanya kenyataan bahwa pihak musuh tidak atau belum membunuhnya, berarti bahwa ia sendiri untuk sementara waktu ini belum terancam bahaya maut, akan tetapi Thian Sin lah yang terancam.

Ia harus dapat lolos untuk memperingatkan Thian Sin!

Dengan hati-hati Kim Hong lalu bangkit, duduk di tepi pembaringan.

Pertama-tama, ia harus dapat membebaskan kawat berduri yang membelenggu ke pergelangan tangannya.

Dengan kedua kakinya yang tidak terbelenggu, ia masih akan mampu menjaga dan melindungi dirinya.

Agaknya pihak musuh terlalu memandang rendah dirinya sehingga hanya kedua tangannya saja yang dibelenggu, akan tetapi kedua kakinya dibiarkan bebas.

Betapapun juga, ia harus hati-hati karena maklum bahwa pihak musuh, Selain lihai, juga mempunyai banyak kaki tangan dan juga licin.

Ia harus melepaskan belenggu kawat berduri itu.

Akan tetapi, hal ini jauh lebih mudah dibicarakan daripada dilaksanakan.

Dengan pengerahan sin-kang, mungkin saja ia akan dapat melepaskan kedua lengannya, akan tetapi untuk itu ia akan melukai pergelangan kedua lengannya.

Dan kalau sampai urat besarnya yang terluka, dapat berbahaya juga.

Apalagi ketika ia mencoba tenaganya untuk mengukur kekuatan kawat berduri, ia memperoleh kenyataan bahwa kawat itu amat kuat, tidak mungkin dapat dipatahkan begitu saja tanpa bantuan senjata tajam.

Atau setidaknya harus ada tangan orang lain yang membukanya.

Kim Hong bangkit dan memandang ke arah kaki dipan.

Itulah satu-satunya benda keras yang terdapat di dalam kamar, yang terbuat dari besi.

Maka diapun lalu menjatuhkan diri berlutut, dan mendorongkan kedua lengan yang terbelenggu di belakang itu ke dekat kaki dipan, dan mulailah ia menggosok-gosokkan kawat itu pada kaki dipan meraba-raba dengan ujung jarinya untuk mencari sambungan kawat.

Lebih dari dua jam ia bekerja, mengerahkan tenaga, dan hasilnya baru sedikit saja, baru mulai dapat merenggangkan sambungan kawat.

Ia merasa lelah dan juga amat lapar.

Obat bius itu dan bekerja keras ini membuatnya lapar.

Untuk ketegangan yang dihadapinya dan untuk berusaha melepaskan belenggu, sungguh memakan banyak sekali tenaga dalam badan.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendatangi arah pintu kamar tahanan.

Pendengarannya yang tajam dapat menangkapnya dan Kim Hong cepat bangkit dan merebahkan dirinya lagi, miring seperti tadi.

Yang masuk adalah tiga orang laki-laki yang kesemuanya memegang pedang.

Dari gerakan mereka, tahulah Kim Hong bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi.

Kalau saja ia tidak mengkhawatirkan Thian Sin yang akan dipancing dan dijebak, tentu ia akan nekad, menyerang mereka dengan kedua kakinya.

Akan tetapi ia menahan dirinya.

Ia merasa yakin bahwa Thian Sin pasti dipancing dan akan dijebak setelah tadi ia melihat betapa sebelah celananya robek di bagian bawah.

Robekan itu hilang!

Kalau mereka itu hendak kurang ajar atau berbuat cabul, tentu bukan ujung celananya yang dirobek.

Maka Kim Hong bersikap waspada dan pura-pura baru siuman ketika mereka memasuki kamar.

Ia mengeluh, pura-pura bingung ketika menarik-narik lengannya, Kemudian dengan susah payah ia bangkit, duduk, memandang kepada tiga orang itu.

Seorang di antara mereka adalah Si Jangkung yang menjebaknya tadi.

Kim Hong bangkit dan pura-pura terhuyung.

Tiga orang itu siap menyerangnya, karena Si Jangkung ini sudah maklum bahwa gadis yang ditawannya memiliki kepandaian yang cukup hebat.

Dia adalah murid See-thian-ong pula, walaupun tingkatnya belum setinggi tingkat para suhengnya, yaitu Ching-hai Ngo-liong, namun dia dan dua orang sutenya yang bertugas menjaga di situ memiliki kepandaian yang cukup boleh diandalkan dan mereka merupakan pembantu-pembantu Ching-hai Ngo-liong.

Si Jangkung tersenyum mengejek ketika melihat gadis itu agaknya hendak melawan namun tidak berdaya dan dia melihat darah segar yang baru menitik dari luka-luka di pergelangan lengannya.

"Tak perlu engkau melawan, karena melawan berarti hanya akan menyiksa dirimu. Nona, siapakah namamu?"

"Persetan dengan kalian!"

Bentaknya.

"Kenapa engkau menjebakku di tempat ini? Kalian mau apa?"

Si Jangkung tersenyum dan mengelus jenggotnya yang hanya beberapa helai itu.

"Nona manis, simpanlah kegalakanmu. Engkau sekarang telah menjadi tawanan dari Locianpwe See-thian-ong."

"Ahhhhh...!"

Dengan sengaja Kim Hong memperlihatkan kekagetannya dan juga memperlihatkan rasa takut.

Tiga orang itu tertawa dan Si Jangkung juga senang melihat betapa gadis itu terkejut dan nampak takut.

"Ha-ha-ha-ha, karena itu, jangan mencoba untuk melawan, nona. Dan sekarang, mari ikut dengan kami, suhu See-thian-ong hendak bertemu denganmu."

Kim Hong masih memperlihatkan sikapnya yang ketakutan dan iapun mengangguk seperti orang yang terpaksa sekali.

"Baiklah, siapa berani menentang See-thian-ong?"

Ia disuruh berjalan di muka dan tiga orang itu mengikutinya dari belakang sambil menodongkan pedang.

Biarpun demikian, seandainya dia mau, Kim Hong merasa yakin bahwa dengan kedua kakinya saja, ia akan mampu merobohkan tiga orang ini.

Akan tetapi hal ini tidak ia lakukan.

Sebelum kedua tangannya bebas, ia tidak akan mau bertindak sembrono karena ia akan gagal kalau harus berhadapan dengan See-thian-ong dengan kedua tangan terbelenggu.

Dalam keadaan yang sudah mutlak berada dalam kekuasaan lawan tangguh, dan dalam keadaan tidak berdaya ini ia harus mempergunakan kecerdikan, tidak hanya melakukan kekerasan dengan nekad.

Ruangan itu luas dan See-thian-ong duduk di kursinya sambil memandang tawanan wanita itu.

Diam-diam ia merasa kagum karena wanita ini memang cantik sekali, akan tetapi mengingat bahwa wanita ini adalah sahabat baik, mungkin kekasih atau malah isteri Ceng Thian Sin, dia memandang marah.

"Duduk!"

Bentak Si Jangkung sambil mendorong tubuh Kim Hong ke atas lantai.

Gadis itu jatuh berlutut, akan tetapi ia menegakkan kepalanya memandang kepada See-thian-ong, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut kini.

Baru sekarang ia melihat kakek yang usianya hampir enam puluh tahun akan tetapi masih nampak gagah perkasa dengan tubuhnya yang tinggi besar dan berkulit hitam ini.

Selama ia menjadi Lam-sin, ia baru mendengar nama saja dari "rekan"

Ini, akan tetapi belum pernah saling berjumpa.

"Nona, engkau ini apanya Ceng Thian Sin?"

Tiba-tiba See-thian-ong bertanya.

Kim Hong tidak segera menjawab, hanya memandang ke sekelilingnya.

Di dekat kakek itu duduk seorang wanita cantik yang manis yang berpakaian mewah dan pesolek, sedangkan di sebelah wanita muda cantik itu duduk pula seorang laki-laki tinggi kurus bermuka pucat dengan mata sipit, pakaiannya berwarna kuning sederhana.

Ia dapat menduga bahwa tentu wanita ini murid See-thian-ong bernama So Cian Ling seperti yang pernah diceritakan oleh Thian Sin, dan tentu laki-laki tinggi kurus itu murid kepala yang bernama Ciang Gu Sik.

Lima orang laki-laki tua lain yang duduk di sebelah kiri See-thian-ong dan nampak gagah perkasa itu sama sekali tidak dikenalnya dan tidak dapat diduganya siapa karena Thian Sin tidak pernah menyebut-nyebutnya.

Ia tidak tahu bahwa lima orang itu adalah Ching-hai Ngo-liong murid See-thian-ong yang lihai.

Melihat So Cian Ling berada di situ, Kim Hong yang tadinya tidak ingin menjawab, kini menjawab dengan suara lantang.

"Aku adalah kekasihnya. Apakah engkau yang berjuluk See-thian-ong?"

See-thian-ong tertawa dan minum araknya dari guci besar.

Tokoh ini memang suka sekali minum arak dan kekuatan minumnya amat luar biasa.

Tak pernah dia kelihatan mabuk, betapapun banyaknya arak memasuki perutnya.

"Ha-ha, engkau memang pantas menjadi kekasih Pendekar Sadis! Engkau cukup berani. Dan engkaupun cukup manis. Siapakah namamu, nona?"

"Namaku Kim Hong!"

Jawab Kim Hong singkat tanpa menyebutkan shenya.

She Toan adalah she yang terkenal sebagal she keluarga kaisar, maka ia tidak mau menyebutnya.

Dengan menyebutkan nama Kim Hong, tentu orang akan menyangka ia she Kim dan bernama Hong.

"Nama yang manis seperti orangnya,"

Kata See-thian-ong dengan jujur, bukan untuk merayu.

"Akan tetapi sayang, Nona Kim. Nyawamu berada dalam tangan Pendekar Sadis."

"Apa maksudmu?"

Tanya Kim Hong dan memandang tajam kepada kakek itu.

"Cian Ling, katakan kepadanya apa yang akan terjadi dengan dirinya kalau Pendekar Sadis tidak muncul ke sini,"

See-thian-ong berkata kepada muridnya, tahu dari pandang mata Cian Ling betapa muridnya itu merasa cemburu dan membenci nona cantik itu.

Dan memang sesungguhnyalah.

Melihat Kim Hong yang cantik jelita itu, diam-diam Cian Ling merasa cemburu sekali dan membencinya.

Ia sendiri harus hidup di situ sebagai isteri suhengnya yang sama sekali tidak dicintanya.

Sebaliknya wanita ini selalu berdampingan dengan Ceng Thian Sin sebagai kekasihnya.

Tentu saja ia merasa iri sekali.

"Perempuan rendah,"

Kata So Cian Ling.

"dengarlah baik-baik. Kami telah mengutus orang untuk memanggil Ceng Thian Sin ke sini menghadap suhu. Kalau sampai besok pagi setelah matahari terbit dia belum juga ke sini bersama utusan kami, maka engkaulah yang akan mengalami siksaan sampai mati. Pertama-tama, engkau akan diserahkan kepada dua puluh orang yang telah menang undian, engkau akan mereka perkosa sampai mereka itu semua merasa puas. Dan kalau engkau belum mampus, engkau akan dijemur di tepi telaga sampai burung-burung pemakan bangkai datang mengeroyokmu dan makan habis dagingmu!"

Kim Hong tersenyum dan berkata dengan nada suara mengejek.

"Dan aku mati, habislah. Tapi engkau masih terus hidup, setiap hari dalam pelukan laki-laki yang tidak kau cinta sedangkan hatimu selalu merindukan Ceng Thian Sin, sampai engkau menjadi nenek-nenek keriputan yang menderita rindu. Hi-hik, Cian Ling, agaknya nasibku jauh lebih baik daripada nasibmu."

"Perempuan rendah!"

Cian Ling bangkit dan sikapnya hendak menyerang.

"Cian Ling, jangan!"

Terdengar See-thian-ong berkata sambil tertawa dan muridnya itu tentu saja tidak berani melanggar.

Kakek tinggi besar itu kembali minum araknya, lalu mengangguk-angguk.

"Memang engkau cukup tabah, nona Kim. Aku kagum akan keberanianmu dan engkau pantas diberi makan minum agar engkau melihat bahwa kami bukanlah orang-orang kejam terhadap tawanan. Ha-ha-ha! Berikan roti dan daging untuknya!"

Perintahnya kepada seorang murid, dan di antara murid-muridnya yang mengurung tempat itu segera maju dan membawa sebuah piring terisi roti dan daging panggang yang sudah dipotong kecil-kecil.

"Letakkan piring itu di depannya,"

Perintah See-thian-ong dan muridnya mentaati perintah ini.

Kim Hong dalam keadaan berlutut dan kedua lengannya dibelenggu ke belakang, dan kini piring roti dan daging itu berada di atas lantai, di depannya.

Tentu saja ia tidak dapat makan seperti orang biasa, karena ia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya.

Roti dan daging itu nampak begitu lezat dan perutnya amat lapar.

Ia tahu bahwa pihak musuh hendak menghinanya.

Kalau menuruti hatinya, tentu saja ia lebih baik memilih mati daripada menerima penghinaan itu.

Akan tetapi Kim Hong adalah seorang gadis yang amat cerdik.

Ia dapat menduga bahwa mereka ini, kecuali Cian Ling mungkin, amat membenci Thian Sin, karena itupun tentu saja membencinya sebagai kekasih pemuda itu.

Mereka ingin melihat ia terhina, dan ingin melihat Thian Sin tersiksa lahir batinnya dan kemudian melihat pemuda itu tewas.

Kalau ia menolak suguhan ini, berarti ia mengecewakan mereka dan siapa tahu mereka itu akan mencari akal penyiksaan atau penghinaan yang lebih merugikan lagi.

Selain dari itu, makanan di depannya ini amat bermanfaat baginya, dapat menambah tenaga badannya.

Kalau sampai ia kelaparan, ia akan lemas dan ilmu silatnyapun takkan mampu menolong tubuh yang kelaparan.

Maka, Kim Hong lalu mendiamkan pikirannya sehingga segala macam pikiran tentang penghinaan tidak lagi terasa, dan iapun lalu menekuk tubuhnya ke depan.

"Ha-ha, makanlah, nona manis, makanlah!"

Kata See-thian-ong, suaranya penuh dengan kegembiraan melihat betapa kekasih musuh besarnya akan makan seperti seekor anjing makan.

Dan Kim Hong lalu mengambil daging yang dipotong kecil-kecil itu dengan mulutnya, makan seperti seekor anjing!

Mulutnya menggigit potongan daging dan roti itu dari atas piring dan perbuatannya ini memancing suara ketawa dari para murid See-thian-ong.

Juga Cian Ling tersenyum dan merasa girang melihat wanita yang membuatnya cemburu itu ternyata hanya merupakan seorang wanita lemah yang mau menerima penghinaan seperti itu!

Biarpun agak sukar, piring itu kadang-kadang terdorong ke depan dan terpaksa Kim Hong harus mendekat dengan mempergunakan kedua lututnya merangkak, akhirnya roti dan daging itu habis juga dimakannya.

Badannya terasa lebih segar, akan tetapi kerongkongannya kering dan ia ingin sekali minum.

"See-thian-ong, aku ingin minum,"

Katanya terus terang, mencegah mulutnya yang ingin sekali melanjutkan kata-kata itu dengan sebuah kata lagi di akhirnya, yaitu "darahmu"!

"Ha-ha, berilah dia minum, di piringnya itu!"

Kata See-thian-ong yang merasa gembira sekali.

Dia seperti melihat Thian Sin sendiri yang mengalami penghinaan itu dan sakit hatinya agak terobati.

Seorang murid lalu mengucurkan air teh ke dalam piring dan Kim Hong, seperti seekor anjing, menjilati air teh itu dari piring, karena tidak ada cara lain lagi untuk membasahi tenggorokannya dengan air itu.

Semua orang mentertawakan melihat lidahnya terjulur menjilati air dari piring itu.

Sementara itu, tanpa ada yang melihatnya, seorang laki-laki melihat semua itu dari atas genteng.

Orang ini bukan lain adalah Thian Sin!

Dia telah berhasil memperoleh keterangan tentang di mana ditahannya Kim Hong, Dari tiga orang anak buah See-thian-ong yang kemudian dibunuhnya itu dan dengan cepat seperti terbang saja dia lalu pergi ke Telaga Ching-hai dan mencari apa yang disebut pondok merah itu.

Tidak sukar menemukan pondok itu di antara rumah-rumah indah milik hartawan-hartawan yang sengaja membangun pondok-pondok bagus di sekitar telaga yang indah itu.

Melihat betapa rumah itu dijaga ketat, Thian Sin tidak mau sembrono dan dengan mempergunakan ilmu kepandaiannya, dia memasuki pekarangan belakang pondok itu dari tembok tinggi yang mengelilingi pondok.

Dengan perlindungan bayang-bayang pohon besar, dia berhasil meloncat masuk, kemudian, menggunakan kesempatan selagi para murid See-thian-ong menikmati penghinaan yang dilakukan oleh datuk itu kepada Kim Hong.

Dengan amat hati-hati Thian Sin lalu meloncat naik ke atas genteng setelah merasa yakin bahwa di situ tidak terdapat penjaganya, dan dia berhasil mengintai ke dalam ruangan dan melihat betapa kekasihnya dihina orang.

Kalau menurutkan kata hatinya, ingin Thian Sin menyerbu ke dalam dan mengamuk.

Akan tetapi, diapun bukan orang yang biasa menurutkan perasaannya saja.

Dia dapat melihat betapa kedua pergelangan Kim Hong dibelenggu dengan kawat berduri, dan melihat luka-luka yang diakibatkan belenggu itu, dia dapat menduga bahwa tidaklah mudah bagi Kim Hong untuk melepaskan dirinya.

Selama Kim Hong masih terbelenggu dan terancam, tentu saja dia tidak boleh secara ceroboh turun tangan mengamuk, dia harus lebih dahulu menyelamatkan Kim Hong.

Ketika dia melihat betapa Kim Hong makan dan minum seperti anjing, ingin dia tertawa.

Dia mengerti mengapa Kim Hong, yang pernah menjadi Lam-sin selama bertahun-tahun, mau saja dihina seperti itu.

Dia ingin mentertawakan kebodohan See-thian-ong.

Kalau saja See-thian-ong tahu bahwa dara cantik itu adalah Lam-sin, tentu dia akan kaget setengah mati!

Kalau See-thian-ong cerdik, tentu akan dibunuhnya Kim Hong seketika itu juga, tidak mempermainkan dan menghinanya seperti itu.

Dan diapun mengerti bahwa Kim Hong sengaja membiarkan diri dihina agar tidak mengalami penyiksaan atau penghinaan yang lebih hebat lagi, dan makanan serta minuman itu memang perlu bagi gadis yang tertawan itu.

Maka Thian Sin hanya menonton saja.

Benarlah dugaannya, seperti yang juga dikehendaki oleh See-thian-ong, melihat Kim Hong mau saja dihina seperti itu, padamlah nafsu para penghinanya untuk menghinanya lebih jauh lagi.

"Bawa ia kembali ke kamar tahanan,"

Kata See-thian-ong, tidak tertawa karena dianggapnya wanita ini tidak berharga menjadi lawan yang ditakuti.

"Biarkan perempuan lemah ini tidur agar jangan ia mati sebelum Thian Sin tiba!"

Maka terhindarlah Kim Hong dari penyiksaan atau penghinaan lebih jauh, sungguhpun penghinaan yang lebih hebat masih menantinya.

Ia maklum bahwa ancaman kepadanya tadi, bahwa ia akan diperkosa oleh dua puluh orang apabila Thian Sin tidak muncul, Justeru merupakan pertanda bahwa kalau Thian Sin muncul dan tertawan, maka hukuman atau penyiksaan itu akan dideritanya di depan mata Thian Sin.

Kalau Thian Sin tidak muncul, belum tentu ia akan mengalami siksaan seperti yang diancamkan kepadanya tadi.

Tiada alasan bagi See-thian-ong untuk memperlakukan ia seperti itu.

Akan tetapi kalau Thian Sin terkena pancingan dan datang, dikeroyok dan ditangkap, jelaslah bahwa mereka akan menyiksa Thian Sin, pertama-tama menyiksa batinnya dengan membiarkan pemuda itu menyaksikan ia diperkosa oleh banyak orang di depan matanya.

Hal ini ia yakin benar!

Itu pulalah sebabnya See-thian-ong tidak mau menyiksanya sekarang, dan membiarkan ia makan minum agar keadaan tubuhnya sehat ketika ia kelak "dibantai"

Oleh dua puluh orang di depan Thian Sin!

Diam-diam wanita ini bergidik ngeri.

Sementara itu, Thian Sin mengikuti dengan pandang matanya ke mana kekasihnya dibawa pergi.

Ke belakang!

Maka diapun dengan cepat dan hati-hati sekali menuju ke wuwungan bagian belakang, dan mengintai.

Dari sini dia dapat melihat Kim Hong digiring oleh tiga orang yang dipimpin oleh orang jangkung berjenggot jarang, menuju ke sebuah kamar tahanan.

Ketika mereka hendak memasukkan kembali gadis itu ke dalam kamar tahanan, dua orang teman Si Jangkung itu menghampiri Kim Hong.

Yang bermuka bopeng segera mencium tengkuk yang berkulit kuning mulus terhias anak rambut halus melingkar-lingkar itu, sedangkan orang ke dua yang matanya sipit menggunakan tangannya menggerayangi buah dada gadis itu.

"Manis, ingatlah, kami berdua adalah dua di antara dua puluh orang yang bernasib mujur untuk melayanimu bermain cinta besok,"

Bisik Si Muka Bopeng.

Tentu saja Kim Hong merasa muak dan marah, akan tetapi ditahannya dan ia bergegas memasuki kamar tahanan itu.

"Nanti dulu,"

Kata Si Jangkung sambil mengejar dan menghampiri Kim Hong.

Gadis ini mengira bahwa Si Jangkung tentu juga akan bertindak kurang ajar seperti kedua orang temannya.

Akan tetapi ternyata tidak, Si Jangkung ini hanya melihat bahwa kawat berduri pembelenggu kedua pergelangan tangan agak mengendur, maka dia kini mempereratnya.

Ada duri kawat yang kembali menusuk kulit lengan Kim Hong dan gadis ini menggigit bibirnya.

Sakit sekali rasa hatinya.

Sudah bersusah payah diusahakannya untuk melepaskan kawat berduri.

Dua jam lebih ia berusaha menggosok-gosok kawat itu di kaki dipan dan setelah ada sedikit hasilnya, kini dipererat lagi oleh Si Jangkung.

Sungguh perbuatan Si Jangkung ini lebih merugikan dan menyakitkan daripada kekurangajaran dua orang temannya.

"Awas kau kubunuh kau lebih dulu nanti...!"

Kata suara hati Kim Hong ketika Si Jangkung mendorongnya dan keluar dari kamar itu, lalu duduk di luar pintu kamar bercakap-cakap dengan dua orang temannya.

Thian Sin melihat ini semua.

Tangannyapun sudah gatal-gatal untuk turun tangan menghajar dua orang yang kurang ajar kepada kekasihnya tadi.

Akan tetapi dia menahan diri dan tidak mau gagal.

Kalau dia menuruti hatinya dan menyerbu, kemudian seorang di antara mereka sempat berteriak memanggil teman-temannya, tentu usahanya menolong Kim Hong akan menjadi gagal.

Diapun lalu meneliti keadaan kamar itu.

Kamar itu memang kuat sekali dan lubang satu-satunya hanyalah pintu besi yang berjeruji atasnya.

Untuk memasuki dari pintu tidak mungkin.

Maka diapun lalu menyelidiki atapnya.

Langit-langitnya kamar itu amat tinggi, sehingga akan sukarlah bagi Kim Hong kalau hendak meloncat ke atas, apalagi langit-langitnya tertutup oleh papan tebal.

Dia lalu membuka genteng, tepat di atas kamar tahanan.

Tangannya meraba-raba dan akhirnya dia dapat menemukan paku-paku yang memaku papan langit-langit.

Dengan ujung pedangnya dia mengorek papan pinggir di sekeliling paku sehingga nampak paku itu, kemudian dengan menjepit paku dengan kedua jari telunjuk dan ibu jari, dia mengerahkan tenaganya dan mencabuti paku-paku itu satu demi satu.

Akhirnya, berhasillah dia membongkar papan persegi selebar satu meter itu dan mengangkatnya perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara.

Akan tetapi, sedikit saja suara itu sudah cukup bagi Kim Hong untuk mengetahui bahwa di atas kamar tahanan itu ada suatu gerakan.

Dengan hati-hati Thian Sin menggeser papan langit-langit di sudut itu dan Kim Hong yang sudah menduga dengan hati girang kini dapat melihat wajah kekasihnya!

Ia cepat memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berdiam diri, lalu gadis ini berjalan, berjingkat ke pintu, mengintai dari jeruji pintu.

Dilihatnya betapa tiga orang penjaganya itu duduk bermain kartu dengan asyiknya, maka iapun baru memberi isyarat kepada Thian Sin bahwa keadaan "aman".

Pendekar itu lalu menggeser papan dan tak lama kemudian dia sudah meloncat turun ke dalam kamar itu tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa bicara mereka berdua sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.

Thian Sin memegang dagu itu dan mencium bibir Kim Hong, kemudian diapun sudah melepaskan kawat berduri yang membelenggu kedua lengan kekasihnya.

Kim Hong menggosok-gosok kedua pergelangan lengannya yang luka-luka berdarah itu.

"Mereka sedang bermain kartu..."

Bisiknya.

"Hanya bertiga itu?"

Bisik Thian Sin kembali. Kim Hong mengangguk.

"Kita pancing mereka masuk,"

Kata Thian Sin. Kim Hong mengangguk.

"Aku pura-pura hendak bunuh diri. kau bersembunyi di belakang dipan yang kubalikkan. Aku akan merobohkan yang terdekat, dan kau menjaga agar mereka tidak mengeluarkan suara,"

Bisik gadis itu dengan sikap tenang.

Diam-diam Thian Sin kagum.

Tidak percuma gadis ini pernah menjadi Lam-sin, karena memang sikapnya bukan seperti seorang gadis muda, melainkan seorang datuk yang sudah berpengalaman dan tenang sekali.

Thian Sin membantu gadis itu menarik dipan ke tengah, lalu dia mendekam di balik dipan yang dimiringkan oleh Kim Hong.

Gadis itu lalu membuat suara berisik dengan dipan yang dipukul-pukulkan ke atas lantai, memasang kembali kawat berduri pada lengannya dan rebah miring di atas lantai dengan rambut awut-awutan, setelah menggunakan darah yang membasahi kedua lengan tangannya, dioleskan ke pipi dan dahinya dan kini ia miring memperlihatkan bagian muka yang berdarah itu.

Ia merintih-rintih lirih.

Suara gedobrakan itu tentu saja mengejutkan tiga orang yang berjaga di luar pintu dan nampak wajah tiga orang penjaga itu.

Si Jangkung dan teman-temannya terkejut sekali mellhat dipan sudah terguling, apalagi melihat dahi dan pipi sebelah kiri gadis itu berlepotan darah.

"Celaka... ia membunuh diri...!"

Kata Si Jangkung yang cepat membuka daun pintu dengan kuncinya, kemudian dia mendorong daun pintu itu dan berlari masuk diikuti oleh dua orang temannya.

Si Jangkung cepat menghampiri Kim Hong dan berjongkok di dekat gadis itu, untuk memeriksa apa yang terjadi dengan gadis tawanan itu.

Pada saat itu selagi Si Jangkung meraba dahi Kim Hong dan dua orang temannya berlari masuk, Kim Hong bergerak cepat sekali, sama cepatnya dengan gerakan Thian Sin yang meloncat dari belakang dipan yang rebah miring.

Kim Hong menyambut Si Jangkung dengan tendangan kilat yang tepat mengenai anggauta kelamin orang itu dan pada detik berikutnya, ketika Si Jangkung membuka mulut untuk berteriak, secepat kilat tangan kanan Kim Hong menyambar ke arah tenggorokannya.

"Krekkk!"

Hanya itulah suara yang keluar, suara hancurnya tulang kerongkongan yang menghalangi keluaarnya teriakan Si Jangkung yang tewas seketika dan sebelum tubuhnya jatuh ke lantai, Kim Hong sudah menyambarnya.

Pada detik yang hampir sama, nampak sinar perak berkelebat dua kali dan tubuh dua orang penjaga lainnya telah roboh dengan tenggorokan berlubang ditembusi pedang Gin-hwa-kiam.

Begitu cepatnya sinar pedang menyambar sehingga dua orang itu tidak sempat bergerak mengelak atau menangkis, bahkan untuk berteriakpun tidak sempat karena yang dijadikan sasaran ujung pedang Gin-hwa-kiam adalah tenggorokan mereka.

Mereka inipun roboh disambar oleh tangan Thian Sin sebelum jatuh berdebuk.

"Bagaimana dengan pergelangan lenganmu?"

Bisik Thian Sin setelah mereka merebahkan mayat-mayat itu tanpa mengeluarkan suara, sambil menghampiri Kim Hong.

Gadis itu memeriksa pergelangan lengannya dan menggerak-gerakkannya.

"Hanya luka di kulit saja, tidak berbahaya,"

Jawabnya.

"Tidak nyeri kalau digerakkan? Kita menghadapi banyak lawan tangguh."

"Bagus. Nih kau pakai pedangku..."

"Tidak perlu, Thian Sin. kau pakailah sendiri. kau tahu, aku biasa menggunakan pedang pasangan, dan pedang mereka ini tidak terlalu berat dan sama bentuknya, dapat kupakai sebelum aku menemukan kembali pedang pasanganku yang mereka rampas."

Kim Hong mengambil dua batang pedang milik penjaga-penjaga itu.

Setelah mencoba memutar-mutar sepasang pedang itu dengan kedua pergelangan tangannya digerak-gerakkan, Kim Hong tersenyum dan berkata.

"Mari, aku sudah siap!"

Thian Sin memandang dengan kagum.

Bukan main kekasihnya ini.

Baru saja terbebas dari ancaman bahaya yang mengerikan, namun sama sekali tidak nampak gentar atau girang karena tertolong.

Seolah-olah yang dihadapinya itu bukan bahaya yang lebih mengerikan daripada maut.

"Engkau tidak takut...?"

Thian Sin bertanya dengan bisikan.

"Tidak, aku yakin engkau pasti datang menolongku, kalau tidak, akupun tentu akan mendapatkan akal untuk membebaskan diri. Bisa kupancing mereka ini masuk, lalu kubunuh dua orang, yang seorang lagi dapat kuancam dan kupaksa membukakan belenggu ini,"

Jawab Kim Hong tenang dan Thian Sin percaya akan kemampuan gadis itu bahwa dengan kedua lengan terbelenggu sekalipun Kim Hong akan mampu membunuh mereka bertiga itu.

"Sekarang mari kita keluar. Tadinya aku hanya ingin mengalahkan See-thian-ong, akan tetapi melihat sambutannya dan perlakuannya kepadamu, kita harus membalas dendam dan menghancurkannya!"

Kata Thian Sin.

"Kita harus berhati-hati, jangan sampai melayani mereka bertempur di dalam tempat ini karena banyak mengandung rahasia yang berbahaya."

"Kita bakar saja sarang mereka ini dan memaksa semua ularnya keluar untuk dibunuh,"

Kata Thian Sin gemas dan Kim Hong mengangguk karena memang siasat ini cocok dengan rencananya.

Kini setelah langit-langit itu berlubang, keduanya tentu saja dapat meloncat dan menerobos melalui lubang dan menangkap kayu penyangga atap, kemudian keluar dari atas genteng.

Setelah memeriksa keadaan di sekeliling pondok itu dari atas, Thian Sin berbisik.

"Engkau melakukan pembakaran dari sebelah sana, aku dari sini, kemudian kita bertemu dan berkumpul di lapangan sana itu. Lapangan rumput itu enak untuk menghadapi lawan banyak."

Kim Hong mengangguk dan merekapun berpencar.

Tak lama kemudian, nampaklah api berkobar dari sebelah kanan dan kiri bangunan itu, disusul teriakan-teriakan para penjaga dan keadaan menjadi panik.

Apalagi ketika terdengar pula teriakan-teriakan bahwa gadis tawanan telah lenyap dan para penjaga terbunuh.

See-thian-ong terkejut dan marah bukan main.

Tidak disangkanya bahwa Ceng Thian Sin dapat turun tangan seperti itu.

Dia merasa yakin bahwa tentu pemuda itulah yang melakukan semua ini, membebaskan gadis tawanan dan melakukan pembakaran.

Dia memaki-maki para muridnya yang dianggapnya tolol dan lengah sehingga ada musuh masuk tanpa ada yang melihatnya.

Kemudian, diikuti oleh Ching-hai Ngo-liong, Ciang Gu Sik, dan So Cian Ling, juga belasan orang murid lain, dia melakukan pengejaran, sedangkan anak buah yang lain sibuk memadamkan api yang mengamuk dari dua jurusan itu.

See-thian-ong tidak perlu mengejar atau mencari terlalu lama karena kehadiran Thian Sin dan Kim Hong di lapangan rumput sebelah belakang pondok merah itu segera diketahui.

Di bawah sinar api yang menerangi cuaca hampir pagi yang masih remang-remang itu, See-thian-ong segera menghadapi mereka bersama murid-muridnya, dan kedua orang muda itu dikepung.

Thian Sin menyambut datangnya See-thian-ong dengan senyum, juga Kim Hong tersenyum mengejek.

"Hemm, kiranya See-thian-ong yang katanya datuk dunia barat itu bukan lain hanya seorang pengecut hina yang beraninya menggunakan kecurangan, jebakan rahasia, dan mengandalkan pengeroyokan banyak anak buahnya. Sungguh tak tahu malu...!"

Kata Kim Hong.

"Tidak perlu kau heran, Kim Hong, karena memang dari dulu dia itu hanyalah seorang pengecut tua bangka!"

Thian Sin menambahkan.

Tentu saja ucapan dua orang muda itu membuat wajah See-thian-ong yang berkulit hitam itu menjadi semakin hitam.

Kedua matanya melotot seolah-olah dia hendak menelan bulat-bulat kedua orang muda itu.

"Dua bocah setan, kematianmu sudah di depan mata dan kalian masih bicara sombong sekali!"

Bentaknya.

"Wah, betulkah? Apakah ada yang bisa mengantarku ke kematian? Hemm, ingin aku melihat siapa yang dapat membuat aku mati!"

Kim Hong melangkah maju tanpa mencabut dua batang pedang rampasan yang masih berada di punggungnya.

Sikapnya menantang dan tenang sekali.

Akan tetapi, biarpun dia tahu bahwa gadis ini memiliki kepandaian silat, namun tentu saja See-thian-ong memandang rendah kepadanya.

Maka diapun lalu menoleh kepada belasan orang muridnya yang tingkatnya lebih rendah setingkat dibandingkan dengan Ching-hai Ngo-liong, dan setingkat dengan tiga orang penjaga yang tewas di kamar tahanan itu.

Mereka ini adalah orang-orang yang tadinya sudah dipersiapkan untuk memperkosa Kim Hong di depan Thian Sin!

"Siapa di antara kalian yang dapat menangkapnya, boleh memilikinya!"

Ucapan See-thian-ong ini tentu saja disambut dengan girang oleh belasan orang itu.

Dan See-thian-ong sendiri sudah siap-siap untuk menerjang Thian Sin kalau-kalau pemuda ini hendak membantu Kim Hong.

Akan tetapi, pemuda itu tersenyum dan enak-enak saja berdiri menonton, seolah-olah melihat gadis cantik itu dikurung empat belas orang merupakan pertunjukan yang menarik sekali.

Melihat gadis cantik itu berdiri sambil tersenyum mengejek, tidak memegang senjata, belasan orang itu menjadi berani.

Mereka seperti berlumba dan lima orang sudah menubruk ke depan, dua orang dari belakang hendak memegang pundak, dua orang dari kanan kiri menangkap lengan dan seorang dari depan hendak merangkul pinggang!

Mereka bukan menyerang, melainkan hendak menangkap gadis itu yang semalam telah membuat mereka tidak dapat tidur karena mereka telah membayangkan gadis itu sebagai korban mereka!

Kim Hong tidak menjadi gugup, bahkan ia sempat membiarkan dua orang dari kanan kiri menangkap kedua lengannya.

Tiba-tiba ia mengeluarkan ketawa, kedua kakinya bergerak seperti kilat cepatnya, dengan beruntun ujung sepatu kedua kakinya telah menendang ke bagian anggauta rahasia dua orang di kanan kiri itu, dan pada saat yang sama, kepalanya digerakkan dan sinar hitam dari kuncir rambutnya yang terlepas dari sanggul menyambar ke arah ubun-ubun kepala orang yang berada di depan.

Hanya terdengar suara "tokk!"

Dan seperti dua orang yang tertendang itu, orang yang terpukul ujung kuncir itu roboh berkelojotan!

Secepat kilat Kim Hong sudah memutar tubuhnya dan kedua tangannya menampar.

Hanya terdengar suara "Plak-plak!"

Dan dua orang itupun roboh dengan kepala retak.

Lima orang itupun hanya dapat berkelojotan sebentar saja dan semua tewas seketika!

Semua yang melihat peristiwa ini, juga See-thian-ong, terbelalak dan kaget bukan main.

Dia dapat menduga bahwa gadis cantik itu lihai, akan tetapi tidak selihai itu!

Dan sembilan orang muridnya yang melihat betapa lima orang saudara mereka itu tewas dalam segebrakan saja, menjadi marah dan mereka telah mencabut senjata masing-masing.

Ada yang memegang pedang, golok, rantai, akan tetapi sebagian besar sudah menyambar tongkat mereka, senjata istimewa mereka karena guru atau ketua mereka, See-thian-ong juga terkenal lihai sekali dengan permainan tongkat Giam-lo-pang-hoat (Ilmu Tongkat Maut).

Dan kini mereka menyerbu dan mengeroyok Kim Hong, bukan lagi untuk menangkap seperti yang diperintahkan tadi, melainkan untuk membunuhnya, untuk membalas kematian kawan-kawan mereka.

Kembali terdengar gadis itu tertawa merdu dan begitu ia bergerak, semua orang terkejut karena tubuhnya lenyap dan sebagai gantinya nampak dua sinar bergulung-gulung, disusul teriakan-teriakan mengerikan, darah-darah muncrat di sana-sini dan sembilan orang pengeroyok itu roboh malang melintang.

Ketika dua sinar itu berhenti bergerak, nampak Kim Hong berdiri dengan senyum dan sembilan orang pengeroyok itu telah tewas semua menjadi mangsa sepasang pedang rampasannya!

See-thian-ong melihat gerakan sepasang pedang itu.

Dia terkejut, mengerutkan alisnya dan membentak.

"Bukankah itu Ilmu Pedang Hok-mo-kiam? Nona, engkau tentu murid Lam-sin! Ada hubungan apakah engkau dengan Lam-sin?"

Bentakan ini disusul dengan gerakan kaki maju menghampiri, sikapnya marah dan mengancam.

Betapapun juga, Lam-sin dapat dibilang masih "rekan", sama-sama datuk kaum sesat, maka kalau sekarang ada muridnya yang memusuhinya, sungguh hal ini membuat dia penasaran sekali.

"Heii, See-thian-ong, apakah matamu yang tua itu sudah menjadi lamur? Siapakah kiranya yang kau hadapi itu?"

Kata Thian Sin mengejek.

See-thian-ong terbelalak, akan tetapi masih belum mengerti benar, atau kalaupun dia mengerti, dia sama sekali tidak percaya.

"Tapi... Lam-sin adalah datuk selatan, rekan kami, bukan musuh...!"

Katanya.

"See-thian-ong, Nenek Lam-sin sudah tidak ada lagi, yang ada hanya Toan Kim Hong dan engkau telah menghinaku. Ingatkah betapa engkau memperlakukan sebagai anjing semalam?"

Wajah See-thian-ong menjadi pucat.

Jadi benarkah bahwa Lam-sin yang kabarnya seorang nenek yang amat sakti itu adalah dara ini?

Dan dia telah menghinanya sedemikian rupa.

Akan tetapi dia masih belum mau percaya dan menduga bahwa tentu Thian Sin mempermainkannya, atau sengaja mempergunakan nama Lam-sin untuk membuatnya bingung dan gentar.

"Siapapun adanya engkau, jangan menjual lagak di sini!"

Katanya dan tiba-tiba saja dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanan kiri terbuka, tubuhnya agak merendah.

Hawa pukulan yang amat dahsyat menyambar dan Kim Hong cepat mengerahkan sin-kang untuk menyambutnya, dengan pengerahan Ilmu Bian-kun (Tangan Kapas).

Tenaga sin-kang yang amat kuat menjadi tenaga lemas yang membuat tangannya lunak seperti kapas sehingga tangan ini mampu menyambut senjata tajam sekalipun tanpa terluka.

"Plakk!"

See-thian-ong terkejut sekali ketika merasa betapa tenaganya yang amat kuat seperti amblas.

Maklumlah dia bahwa lawannya benar-benar hebat dan diapun meloncat lagi ke belakang karena ada sinar hitam menyambar dahsyat, yaitu rambut Kim Hong yang sudah menyambar ganas.

"Benarkah... engkau... Lam-sin...?"

See-thian-ong berseru, kaget bukan main karena diapun pernah mendengar tentang Ilmu Bian-kun dan ilmu mempergunakan rambut dari Lam-sin.

"Tak perlu banyak ribut, See-thian-ong, kalau engkau berkepandaian, majulah!"

"Nona, jawablab, siapakah engkau sebenarnya?"

Tiba-tiba di dalam suara See-thian-ong terkandung getaran mujijat yang membuat tubuh Kim Hong menggigil!

Nona ini terkejut dan maklum bahwa lawan menggunakan kekuatan sihir.

Maka dengan cepat iapun menundukkan matanya agar tidak sampai dipengaruhi.

"Aku... aku..."

"See-thian-ong, manusia curang!"

Tiba-tiba Thian Sin membentak dan menepuk pundak Kim Hong.

"Mundurlah, Kim Hong. Tua bangka ini lawanku!"

Kim Hong yang tadi hampir saja dapat dipengaruhi dan hampir menjawab, terkejut dan melangkah mundur, membiarkan Thian Sin menghadapi kakek itu.

"Suhu, biarkanlah teecu berlima menghajar perempuan ini!"

Tiba-tiba Ching-hai Ngo-liong berseru.

See-thian-ong mengangguk dan Lima Naga Dari Ching-hai itu segera mengepung Kim Hong sambil mencabut senjata mereka yang mengerikan, yaitu golok besar di tangan kanan dan rantai baja di tangan kiri.

Akan tetapi Kim Hong tersenyum dan memandang rendah.

Dengan tenang ia berdiri mengikuti gerak-gerik mereka dengan sudut kerling matanya, tanpa mengeluarkan sepasang pedang yang tadi sudah disimpannya di balik punggung lagi setelah ia merobohkan semua pengeroyok.

Sementara itu, See-thian-ong yang berhadapan dengan Thian Sin, diam-diam sudah mengerahkan kekuatan sihirnya, mulutnya berkemak-kemik, kemudian tiba-tiba dia membentak dengan suara mengguntur.

"Ceng Thian Sin, engkau takkan kuat melawanku. Menyerahlah engkau!"

Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dikembangkan ke depan, dengan jari-jari menunjuk ke arah pemuda itu.

Dari jari-jari tangan ini keluar getaran yang amat kuatnya, mempunyai daya sihir yang berpengaruh sekali.

Akan tetapi, betapa kagetnya hati See-thian-ong, ketika melihat pemuda itu bertolak pinggang dan tertawa!

"Ha-ha-ha, See-thian-ong, simpanlah kembali permainan sulapmu itu!

Aku bukan anak kecil yang mudah kau tipu dengan permainan sulap tukang jual obat itu, dan marilah kita bertanding sebagai laki-laki sejati!"

Kakek itu maklum bahwa musuhnya ternyata kini telah memiliki ilmu untuk melawan kekuatan sihirnya, maka diapun tidak mau membuang waktu lagi dan segera menerjang sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Bocah sombong mampuslah!"

Begitu menyerang, See-thian-ong telah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang, tubuhnya merendah dan tubuh itu menjadi besar, terutama di bagian perutnya seperti seekor katak membengkak dan ketika kedua tangannya menyambar, maka angin pukulan yang dahsyat menerjang dahsyat ke arah Thian Sin.

Ketika Thian Sin merasa betapa sambaran angin dahsyat itu mengandung hawa dingin, tahulah dia bahwa ternyata kakek inipun selama ini telah memperdalam ilmunya.

Pukulan ini jauh lebih ampuh dibandingkan dengan dulu.

Ternyata Ilmu Hoa-mo-kang dari kakek itu kalau dahulu hanya merupakan pukulan jarak jauh yang amat kuat, kini ditambah lagi dengan mengandung hawa dingin dan beracun!

Tentu saja keampuhannya menjadi berlipat ganda dan juga menjadi amat berbahaya.

Namun, Thian Sin sekarang bukanlah Thian Sin dahulu ketika dia pernah mengalahkan See-thian-ong.

Bukan saja pemuda ini telah memiliki ilmu yang menandingi kekuatan sihir dari datuk dunia barat ini, juga dalam hal ilmu silat, pemuda ini telah mewarisi ilmu peninggalan dari ayah kandungnya.

Maka, menghadapi Ilmu Hoa-mo-kang dari lawan, dia sama sekah tidak merasa gentar dan menandinginya dengan Ilmu Silat Hok-liong-sin-ciang sambil mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang.

Di lain fihak, Kim Hong telah dikeroyok oleh lima orang Ching-hai Ngo-liong.

Tadinya Kim Hong memang memandang rendah, bahkan tidak mempergunakan pedang rampasannya ketika mereka mulai mengepung.

Akan tetapi setelah mereka menyerang dengan bertubi-tubi dengan cara yang amat teratur, saling bantu dan dengan pengerahan tenaga disatukan, Kim Hong terkejut juga dan maklumlah ia bahwa lima orang ini kalau maju satu demi satu memang bukan lawan yang berat baginya.

Akan tetapi ternyata mereka itu dapat maju bersama sebagai barisan yang amat kuat, kadang-kadang mirip dengan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur) dan kadang-kadang berubah pula dengan barisan yang bernama Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai).

Dan segera ia memperoleh kenyataan bahwa barisan mereka itu sungguh amat berbahaya, maka terpaksa Kim Hong lalu mengeluarkan sepasang pedang rampasan itu dan melawan dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, yaitu Hok-mo Siang-kiam.

Maka terjadilah pertandingan yang amat hebat, di satu pihak pertandingan antara Thian Sin dan See-thian-ong, dan di lain pihak adalah Kim Hong yang dikeroyok oleh Ching-hai Ngo-liong.

Betapapun lihainya Ching-hai Ngo-liong menghadapi Kim Hong mereka segera terdesak hebat sekali.

Pengepungan mereka kadang-kadang demikian kacaunya sehingga mereka tidak dapat bekerja sama lagi dan beberapa kali nyaris ada di antara mereka yang binasa kalau saja tidak cepat mereka saling melindungi lagi.

Sepasang pedang di tangan Kim Hong, ditambah lagi dengan rambutnya, sungguh amat berbahaya.

Kalau saja senjata-senjata rahasia jarum merah gadis ini tidak dirampas musuh semalam tentu sejak tadi sudah ada di antara mereka berlima yang roboh oleh jarum merahnya yang beracun itu.

Sementara itu, Ciang Gu Sik dan So Cian Ling masih berdiri menonton.

Kedua orang ini menjadi bingung juga.

Cian Ling maklum bahwa ternyata wanita yang menjadi kekasih baru Thian Sin itu lihai bukan main.

Ia merasa bahwa ia kini tidak berdaya lagi, setelah kedua pergelangan tangannya cacat, sehingga menghadapi lawan-lawan berat itu, Bantuannya boleh dibilang tidak ada artinya lagi.

Tentu saja ia tidak suka mengeroyok Thian Sin dan untuk maju mengeroyok Kim Hongpun ia merasa bahwa tenaganya terlalu lemah.

Sedangkan Ciang Gu Sik sendiri juga bingung.

Ingin dia membantu gurunya, akan tetapi mengingat akan watak gurunya, dia takut kalau-kalau hal itu akan membuat gurunya marah.

Membantu gurunya sama saja mengaku bahwa gurunya kalah kuat oleh lawan, dan hal ini dapat dianggap merendahkan gurunya.

Akan tetapi, perkelahian antara See-thian-ong melawan Ceng Thian Sin mulai nampak berat sebelah.

Terjadi perubahan yang menampakkan gejala terdesaknya kakek datuk barat itu.

Setelah kedua orang sakti ini berkelahi lebih dari seratus jurus, See-thian-ong harus mengakui bahwa lawannya kini sungguh amat tangguh, Jauh lebih lihai daripada satu setengah tahun yang lalu.

Yang membuat dia bingung adalah ilmu-ilmu peninggalan Ceng Han Houw yang sungguh amat luar biasa gerakannya.

Kalau saja datuk barat ini belum pernah mempelajari tiga buah kitab milik Thian Sin, agaknya dia tidak begitu bingung.

Lebih baik menghadapi ilmu-ilmu itu dengan asing sama sekali dan mengandalkan kepandaiannya sendiri daripada seperti dia itu yang pernah meminjam kitab-kitab itu selama tiga bulan dan telah mempelajari isi kitab-kitab itu dengan ketekunan luar biasa, siang malam.

Dia tahu bahwa kitab-kitab itu menyesatkan, mengandung rahasia-rahasia dan dia telah mempelajari secara yang salah tanpa mengetahui rahasianya.

Dia telah menghentikan latihan-latihannya berdasarkan kitab itu, tahu bahwa kalau dilanjutkan dia malah akan celaka sendiri.

Akan tetapi, setelah sekarang menghadapi lawan yang mempergunakan ilmu-ilmu seperti Hok-liong Sin-ciang dan Hok-te Sin-kun, mau tidak mau, dia teringat akan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya itu dan mau tidak mau kadang-kadang dia tanpa disengaja teringat dan mempergunakan jurus-jurus yang sebenarnya palsu itu.

Inilah yang membuat dia bingung dan sudah dua kali dia terkena tendangan kaki Thian Sin yang membuatnya terhuyung dan lambung serta pahanya terasa nyeri walaupun tidak sampai terluka oleh tendangan kilat itu.

See-thian-ong menjadi marah bukan main, juga merasa penasaran.

Selama ini, sejak dikalahkan oleh Thian Sin, kakek ini tidak pernah berhenti melatih diri dan memperdalam ilmu-ilmunya.

Akan tetapi setelah kini bertanding lagi menghadapi musuh lama itu, yang betapapun juga hanya seorang pemuda, kembali dia terdesak hebat!

"Singgg...!"

Demikian kuatnya dia menyambar dan menggerakkan toya atau tongkat itu sehingga mengeluarkan suara mendesing.

Sinar tongkatnya bergulung-gulung ketika kakek itu menyerang.

Thian Sin tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda inipun maklum akan hebatnya tongkat itu dan Ilmu Giam-lo-pang-hoat, Maka biarpun tersenyum mengejek, terpaksa dia harus mengerahkan semua tenaganya untuk dapat menghindarkan diri dengan cara mengelak ke sana-sini secepat kilat, atau kalau sudah tidak ada kesempatan mengelak lagi, menggunakan kedua lengannya itu dengan tenaga Thian-te Sin-ciang.

Dalam kegembiraannya karena melihat kenyataan, bahwa dia mampu menggungguli See-thian-ong dengan mudahnya, Thian Sin sengaja tidak mau mengeluarkan senjatanya dan menghadapi tongkat itu dengan tangan kosong saja!

Dia hendak memperlihatkan kepada datuk ini bahwa dengan tangan kosongpun dia mampu menaklukkan See-thian-ong yang mempergunakan senjata andalannya!

Maka kini perkelahian itu dilanjutkan dengan lebih seru lagi, masing-masing berusaha untuk merobohkan lawan dengan serangan-serangan maut.

Sementara itu, pertempuran antara Kim Hong melawan lima orang Ching-hai Ngo-liong juga memperlihatkan keunggulan gadis itu.

Ching-hai Ngo-liong sibuk sekali dan pertahanan mereka bobol, barisan mereka kocar-kocir.

Melihat ini, Cian Ling tidak dapat tinggal diam saja.

Biarpun cacat pada kedua pergelangan tangannya membuat ia kehilangan banyak tenaga, namun dalam hal ilmu silat, ia masih setingkat lebih lihai daripada masing-masing dari Ching-hai Ngo-liong itu.

Ia tahu bahwa lima orang itu hanya bisa diandalkan kalau bekerja sama, kini kerja sama mereka kocar-kacir, maka tentu saja mereka terdesak hebat.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Cian Ling menerjang dan memutar pedangnya.

Melihat cara gadis ini menyerang dan menggerakkan pedang, Tahulah Kim Hong bahwa gadis murid See-thian-ong ini memang cukup lihai, maka iapun menyambut dengan tangkisan pedangnya.

Akan tetapi Cian Ling tidak berani mengadu tenaga, dan menarik kembali pedangnya lalu mengirim tusukan.

Bantuan Cian Ling ini cukup berarti bagi Ching-hai Ngo-liong karena mereka memperoleh kesempatan untuk menyusun kembali barisan mereka yang tadi hampir berantakan itu.

Kemudian mereka menyerang lagi dengan kekuatan baru karena mereka sudah dapat menyusun barisan.

Kim Hong cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dari serangan yang datangnya seperti hujan itu.

Ternyata bantuan Cian Ling menguntungkan lima orang pengeroyok itu.

Melihat isterinya yang juga sumoinya itu telah terjun ke dalam medan perkelahian membantu Ching-hai Ngo-liong, Diam-diam Ciang Gu Sik lalu mencari kesempatan untuk membantu gurunya.

Dia melihat dengan jelas betapa gurunya terdesak hebat tadi, dan kini setelah gurunya mempergunakan tongkat sebagai senjata, masih saja gurunya tidak dapat menandingi Pendekar Sadis yang amat lihai itu, Ciang Gu Sik lalu mempersiapkan senjatanya, yaitu joan-pian emas yang amat ampuh itu.

Dia tidak mengeluarkan joan-pian itu, melainkan hanya bersiap sedia sambil mendekati dua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu.

See-thian-ong kini mulai merasa bingung.

Dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih dan dia mulai merasa lelah sekali.

Maklumlah datuk ini bahwa memang lawan yang masih amat muda ini benar-benar lebih unggul dari padanya dan diapun maklum bahwa sekali ini, kalau dia sampai kalah, Bukan hanya namanya yang akan jatuh, akan tetapi dia sendiripun agaknya takkan keluar dalam keadaan hidup dari medan perkelahian itu.

Hal ini membuatnya menjadi nekat.

Maka, setelah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang, diapun lalu mengeluarkan bentakan keras sekali dan menubruk ke depan, tongkatnya menyambar-nyambar ganas, mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang tanpa mempedulikan segi pertahanan karena dia sudah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang yang membuat tubuhnya menggembung seperti balon ditiup keras.

Thian Sin cepat mengelak dan menangkis tongkat, kemudian secepat kilat tangan kirinva memukul ke arah dada lawan yang terbuka.

Dan pada saat itu, Ciang Gu Sik menubruk dan senjata Kim-joan-pian itu berubah menjadi gulungan sinar emas menyambar ke arah kepala Thian Sin!

"Dukkk...!"

Dada See-thian-ong terkena pukulan Thian Sin membuat tubuh kakek itu terjengkang dan terguling-guling, akan tetapi karena tubuhnya terisi penuh tenaga Hoa-mo-kang, pukulan itu tidak melukainya.

"Desss...!"

Pada detik berikutnya, pundak Thian Sin disambar ujung joan-pian, membuat bajunya robek dan juga kulit dan sebagian dagingnya robek oleh senjata itu!

Untung bagi pemuda itu bahwa dia masih melihat menyambarnya sinar emas pada saat dia memukul See-thian-ong tadi, sinar emas yang menyambar ke arah kepalanya, dan dia cepat miringkan kepala sehingga ujung joan-pian itu mengenai pundaknya.

Ciang Gu Sik memang cerdik sekali, dia menyerang tepat pada saat Thian Sin menghantam gurunya.

Tepat pada saat pukulan Thian Sin mengenai dada suhunya yang sudah melindungi diri dengan Hoa-mo-kang, Gu Sik menyerang.

Detik setelah pukulan itu dilakukan oleh Thian Sin yang mengerahkan tenaga, tentu saja merupakan detik yang kosong di mana tubuh pemuda itu ditinggalkan kekuatan sin-kang karena baru saja tenaga itu dikerahkan untuk memukul, maka Thian Sin tidak dapat melindungi pundaknya yang terjuka oleh senjata itu.

Begitu pundaknya terluka, Thian Sin membalik dan menyerang dahsyat ke arah Ciang Gu Sik, akan tetapi murid See-thian-ong yang cerdik ini sudah meloncat jauh ke belakang sehingga terbebas dari serangan Thian Sin.

Sementara itu, See-thian-ong tertawa girang dan dia sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya, menghantam dengan tongkatnya sehingga terpaksa Thian Sin meninggalkan Gu Sik untuk menghadapi kakek itu.

Pundaknya yang terluka tidak berbahaya, akan tetapi cukup nyeri dan membuat dia marah.

Seperti kita ketahui, Cian Ling tadi ikut membantu Ching-hai Ngo-liong mengeroyok Kim Hong dan ketika melihat betapa Thian Sin kena dihantam oleh suaminya atau juga suhengnya, wanita ini menjadi khawatir sekali.

Betapapun juga, diam-diam Cian Ling masih mencinta Thian Sin, dan melihat betapa pundak Thian Sin terluka oleh joan-pian dan berdarah, hatinya gelisah dan berduka.

Disangkanya bahwa Thian Sin tentu akan celaka dan tidak akan mampu menghadapi pengeroyokan See-thian-ong dan Ciang Gu Sik.

Kini, melihat betapa Thian Sin masih bertanding melawan See-thian-ong sedangkan suaminya itu masih siap dengan joan-pian di tangan, tentu sedang menanti saat seperti tadi, Cian Ling menjadi marah dengan tiba-tiba.

Dugaannya memang benar karena pada saat Thian Sin dan See-thian-ong sedang saling serang dengan hebat, tiba-tiba Gu Sik sudah menerjang lagi dari belakang.

Tanpa banyak cakap, Cian Ling meninggalkan Kim Hong yang masih dikeroyok oleh Ching-hai Ngo-liong yang telah dapat mengatur kembali barisannya itu, dan Cian Ling lalu menyerbu ke dalam medan perkelahlan yang lain itu bukan untuk mengeroyok dan menyerang Thian Sin, melainkan untuk menggunakan pedangnya menusuk ke arah lambung suaminya dari samping!

Ciang Gu Sik sama sekali tidak mengira bahwa gerakan pedang isterinya itu untuk menyerang dirinya, maka dia tak dapat menghindarkan diri sama sekali dan tahu-tahu pedang isterinya itu menusuk dan menembus lambungnya di bawah iga, dari kanan (Lanjut ke

Jilid 36) Pendekar Sadis (Seri ke 05

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 36 ke kiri!

Ciang Gu Sik berteriak lalu terbelalak memandang kepada isterinya, joan-pian emas itu terlepas dari pegangannya, kedua tangannya menekan kedua lambungnya dan dia terhuyung ke belakang, pedang isterinya masih terbawa oleh tubuhnya.

Peristiwa yang tak disangka-sangka ini membuat See-thian-ong dan Thian Sin terkejut, sehingga keduanya undur ke belakang memandang kepada Ciang Gu Sik dan Cian Ling.

Tiba-tiba See-thian-ong menubruk ke depan dan memukul Cian Ling dengan Ilmu Hoa-mo-kang!

Thian Sin yang masih terheran itu tidak sempat mencegahnya.

Cian Ling kena terpukul dadanya dan wanita ini menjerit lalu terbanting roboh!

Semua itu terjadi sedemikian cepatnya!

Melihat isterinya roboh, Ciang Gu Sik terhuyung menghampiri dan diapun terguling roboh tak jauh dari isterinya.

"Cian Ling... kenapa kau ... kau membunuhku...?"

"Suheng... maaf... aku cinta padanya..."

Hanya itulah yang terdengar oleh Thian Sin dan tiba-tiba pemuda ini mengamuk.

Dengan cepat dia mencabut kipas dan pedang Gin-hwa-kiam dan diserangnya See-thian-ong dengan hebatnya.

Datuk ini menangkis dengan tongkatnya dan membalas sehingga dalam detik-detik berikutnya dua orang ini sudah bertanding lagi dengan seru dan mati-matian.

Sementara itu, Kim Hong sudah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok.

Kalau gadis ini menghendaki, sebetulnya sudah sejak tadi ia mampu merobohkan para pengeroyoknya.

Akan tetapi gadis ini memang sengaja hendak mempelajari ilmu barisan mereka yang dianggapnya cukup hebat itu, dan pula, Ia tadi melihat bahwa kekasihnya tidak memerlukan bantuannya.

Melihat betapa Thian Sin belum juga mengeluarkan senjata, iapun maklum bahwa kekasihnya itu merasa yakin akan keunggulannya.

Akan tetapi, tak disangka-sangkanya sama sekali bahwa Thian Sin akan terkena serangan mendadak dari Gu Sik sehingga terluka pundaknya.

Maka Kim Hong segera mempercepat gerakan sepasang pedang itu dan lima orang pengeroyoknya kembali kocar-kacir.

Apalagi sekarang Cian Ling tidak membantu mereka.

Hanya belasan jurus kemudian, sepasang pedang gadis yang pernah menjadi datuk selatan itu merobohkan dua orang pengeroyok yang tewas seketika.

Tiga orang saudaranya terkejut dan marah, melawan mati-matian, akan tetapi tentu saja mereka itu tidak merupakan lawan yang berat lagi bagi Kim Hong.

Ia terus mempercepat gerakannya dan berturut-turut tiga orang dari Ching-hai Ngo-liong itupun roboh dengan jantung tertembus pedang!

Ketika orang ke lima roboh, Kim Hong melihat bahwa sepasang pedang tipisnya tersembunyi di balik jubah orang itu.

Ia menjadi girang sekali dan cepat melempar pedang rampasannya dan mengambil kembali sepasang pedangnya.

Di pinggang orang ke dua ia menemukan kantong jarum merahnya, maka iapun mengambil senjata rahasia ini.

Setelah memperoleh kembali senjata-senjatanya, Kim Hong menoleh ke arah perkelahian antara dua orang itu.

Alisnya berkerut.

Ia melihat bahwa kekasihnya memang lebih unggul dan kakek itu telah terluka di sana-sini, bajunya berlumuran darah, kulit dadanya tergurat pedang dan pahanya juga terluka, akan tetapi kakek itu masih dapat melawan dengan tidak kurang kuatnya daripada tadi.

"Thian Sin, mengasolah dan biarkan aku mencoba kelihaian tua bangka ini!"

Kata Kim Hong dengan suara gembira.

Thian Sin meloncat ke belakang.

Tentu saja kalau dilanjutkan, akhirnya dia yang akan menang.

Akan tetapi dia tahu betapa inginnya hati kekasihnya yang pernah berjuluk Lam-sin dan terkenal sebagai datuk selatan itu ingin sekali mencoba kepandaian datuk barat!

"Maju dan cobalah macan tua ompong ini!"

Katanya.

Kim Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut terjangan See-thian-ong.

Terdengar bunyi berdencing beberapa kali dan keduanya terkejut, maklum bahwa tenaga mereka berimbang.

See-thian-ong menjadi semakin gentar melihat betapa semua muridnya telah tewas.

Tak disangkanya wanita muda ini sedemikian lihainya sehingga Ching-hai Ngo-liong juga sampai tewas semua di tangannya.

Mulailah dia meragu dan mulai percaya akan keterangan tadi yang menimbulkan dugaan bahwa gadis ini adalah Lam-sin!

"Tranggg!"

See-thian-ong menahan pedang Kim Hong, lalu membentak.

"Benarkah engkau Lam-sin?"

Kim Hong tersenyum tanpa memandang mata kakek itu.

"Lam-sin sudah tidak ada, yang ada aku Toan Kim Hong!"

Katanya sambil menyerang lagi. Akan tetapi See-thian-ong meloncat ke belakang dan berkata.

"Tahan dulu! Kalau engkau benar Lam-sin, atau engkau yang menyamar sebagai nenek dan memakai nama Lam-sin, berarti kita masih segolongan! Lam-sin sebagai datuk dunia selatan tidak akan memusuhi See-thian-ong, datuk barat!"

"Hi-hik, kakek pikun. Ketika aku masih menjadi Nenek Lam-sin, tentu saja aku tidak akan memusuhimu. Akan tetapi engkau lupa, aku sekarang bukan lagi Lam-sin, melainkan gadis biasa saja Toan Kim Hong yang ingin mencoba sampai di mana kelihaian orang yang berani berjuluk datuk dunia barat!"

"Bagus, bocah sombong mampuslah!"

Dan kakek itu sudah menerjang dengan dahsyatnya.

Dia tidak percaya bahwa gadis ini akan sekuat Thian Sin, maka biarpun nanti dia akan kalah, kalau dia sudah dapat morobohkan dan membunuh gadis ini, puaslah hatinya.

Setidaknya dia akan dapat membalas kematian murid-muridnya dan juga dapat membuat berduka hati Thian Sin yang kematian kekasihnya.

Inilah sebabnya mengapa kakek itu mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk menerjang Kim Hong sebelum Thian Sin sempat membantunya.

Thian Sin kini menghampiri Cian Ling dan memeriksa keadaan gadis itu.

Dia terkejut sekali melihat bahwa gadis itu telah menderita luka yang amat hebat, tulang-tulang dadanya remuk oleh See-thian-ong tadi.

Akan tetapi pada saat itu Cian Ling sadar dan melihat Thian Sin berlutut di dekatnya, ia tersenyum.

"Cian Ling...!"

Thian Sin berkata dengan terharu. Dia tahu bahwa gadis ini tewas karena mencoba untuk menolongnya.

"Kenapa engkau ceroboh sekali, mencoba membantuku?"

"Thian Sin... aku... aku cinta padamu... aku tidak tahan melihat engkau terancam... dan aku... tidak dapat hidup... tanpa engkau..."

Thian Sin menarik napas panjang dan dia merasa kasihan kepada gadis ini.

Bagaimanapun juga, dia tidak mencinta gadis ini, sungguhpun dia suka sekali kepadanya.

Siapa yang tidak suka kepada seorang gadis semanis Cian Ling?

"Ciang Ling..."

Thian Sin menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

Lalu dia menoleh dan melihat betapa perkelahian antara See-thian-ong dan Kim Hong terjadi amat hebatnya.

Ketika dilihatnya bahwa See-thian-ong benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan Kim Hong, diapun maklum bahwa agaknya kakek itu berusaha mati-matian untuk membunuh Kim Hong, tentu saja dengan maksud membalas kematian murid-muridnya.

Maka timbul kekhawatirannya dan diapun bangkit berdiri.

"Thian Sin..."

Dia berjongkok lagi mendengar suara Cian Ling ini.

"Kau... kau cinta padanya...?"

Thian Sin maklum apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan diapun mengangguk.

Memang, pada saat itu dia berani mengaku bahwa dia mencinta Kim Hong, walaupun dia sendiri tidak yakin apakah perasaannya terhadap Kim Hong itu yang dinamakan cinta, ataukah sama saja dengan perasaannya ketika dia sedang tergila-gila kepada para gadis lain yang pernah dicintanya, seperti Cian Ling.

"Ah... ia... ia bahagia... aku... aku... iri kepadanya..."

Napas gadis itu tinggal satu-satu dan Thian Sin memandang dengan hati kasihan.

"Tenangkanlah hatimu, Cian Ling. Seorang gagah tidak takut mati!"

Dia membesarkan hati gadis itu. Cian Ling menggerakkan lehernya seolah-olah hendak mengangguk.

"Thian Sin... maukah engkau mengantar kematianku dengan sebuah ciuman..."

Mendengar permintaan ini, Thian Sin merasa semakin iba dan diapun merangkul dan mengangkat tubuh bagian atas gadis itu.

Cian Ling menyeringai kesakitan, dan kedua lengannya merangkul ketika Thian Sin menciumnya.

Pada saat itu Thian Sin merasa betapa tubuh itu menegang lalu terkulai dan tahulah dia bahwa gadis itu menghembuskan napas terakhir pada saat dia menciumnya, maka dengan perlahan dia lalu merebahkan kembali tubuh itu ke atas tanah.

Akan tetapi pada saat itu dia mendengar angin dahsyat dari belakangnya.

Dia menengok dan terkejut bukan main melihat Kim Hong menerjang dan menendangnya.

Dia tidak sempat mengelak, maka dia menangkis dan.

"Desss...!"

Tubuhnya terlempar sampai beberapa meter jauhnya.

"Eh... kau sudah gila...?"

"Engkau yang gila, bukan aku!"

Bentak Kim Hong dan gadis ini sekarang menyerang Thian Sin dengan sepasang pedangnya!

Thian Sin menangkis beberapa kali, lalu meloncat dan mengejar See-thian-ong yang mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri!

Juga Kim Hong berlari cepat dan ternyata gin-kang dari gadis ini yang paling hebat dan dia yang lebih dulu menghadang dan menyerang See-thian-ong!

Kini See-thian-ong diserang oleh dua orang!

Tentu saja dia menjadi sibuk sekali, mengelak ke sana ke mari dan menangkis, akan tetapi tiba-tiba terdengar dia menjerit ketika sebatang pedang dari Kim Hong yang marah-marah itu membabat putus lengannya sebatas bawah siku!

Akan tetapi, kakek ini masih terus melawan, bahkan mendesak Thian Sin dengan tongkatnya.

Thian Sin menangkis lalu menghantamkan tangan kirinya sambil tubuhnya melayang ke depan.

Dia telah menggunakan jurus Hok-te Sin-kun yang ampuh.

See-thian-ong yang sudah buntung lengan kirinya itu tidak berhasil menghindarkan dirinya dan dadanya kena dipukul.

"Desss...!"

Bukan main hebatnya pukulan ini dan kalau bukan See-thian-ong tentu sudah roboh dan tewas.

Akan tetapi pukulan itu hanya membuat tubuh See-thian-ong terbanting keras ke belakang dan diapun bergulingan sampai jauh.

Ketika dia meloncat berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, wajahnya pucat dan darah bercucuran dari lengan kirinya.

Sementara itu, Kim Hong memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata berkilat.

"Engkau telah menghinaku!"

Bentak Kim Hong kepada pemuda itu.

Thian Sin masih belum mengerti mengapa Kim Hong marah-marah kepadanya dan tadi bahkan nyaris membunuhnya.

"Eh, kenapakah...?"

Lalu dia teringat dan dia tersenyum.

"Eh, apakah engkau... marah dan cemburu melihat aku mencium Cian Ling tadi? kau tahu, ia... ia minta aku mengantarkan kematiannya dengan ciuman, ia sudah mati, harap kau tidak cemburu!"

"Siapa cemburu? Cih, engkau mau menciumi wanita lain sampai mampuspun aku tidak peduli, akan tetapi kalau engkau melakukan di depan mataku, berarti bahwa engkau tidak memandang aku dan berarti engkau menghinaku! Kalau memang engkau ingin mencumbu wanita lain, pergilah dan jangan melakukannya di depanku!"

Thian Sin melongo.

Sungguh dia tidak mengerti watak wanita, terutama Kim Hong yang aneh ini.

Akan tetapi tiba-tiba See-thian-ong melompat dan lari lagi, maka diapun tidak menjawab dan sudah mengejar, disusul oleh Kim Hong yang kembali mendahuluinya dan sudah menghadang See-thian-ong!

"Hemm, kalian tidak mau melepaskan aku, ya?

Kalian menghendaki kematianku?

Baiklah, aku akan mati di depanmu!"

Dan tiba-tiba saja See-thian-ong menggerakkan tongkatnya dan...

terdengar suara keras disusul robohnya tubuh yang tidak bernyawa lagi karena kepalanya pecah dihantam tongkatnya sendiri tadi!

Kiranya See-thian-ong sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak dapat menang melawan dua orang muda itu, juga tidak dapat melarikan diri.

Maka, daripada disiksa oleh Pendekar Sadis dan mati di tangan musuh, dia memilih mati di tangan sendiri!

Thian Sin mendekatinya dan setelah mendapat kenyataan bahwa musuh besarnya ini telah tewas, dia menarik napas panjang.

Akan tetapi ketika dia menengok, dia tidak melihat lagi Kim Hong di situ.

Ternyata gadis itu telah pergi tanpa pamit, meninggalkannya.

"Kim Hong...!"

Dia memanggil dan mencari ke sana-sini sambil memanggil-manggil nama gadis itu.

Akan tetapi hasilnya sia-sia belaka, Kim Hong lenyap tanpa meninggalkah bekas.

Akhirnya Thian Sin terpaksa kembali ke pondok merah yang tadinya menjadi sarang See-thian-ong dan anak buahnya.

Akan tetapi tempat itu telah menjadi sunyi sekali.

Kebakaran telah dipadamkan orang dan hanya tinggal bekasnya saja, asap di sana-sini.

Akan tetapi mayat-mayat para murid See-thian-ong telah lenyap dan tidak seorangpun berada di tempat itu.

Juga ketika dia memasuki pondok besar yang kebakaran itu, tidak nampak seorangpun manusia.

Agaknya sisa anak buah See-thian-ong telah melarikan diri sambil membawa mereka yang tewas.

Dan pondok-pondok lain yang berada di sekitar tempat itu, agaknya tidak ada yang membuka pintu karena penghuninya ketakutan.

Maka Thian Sin meninggalkan tempat itu untuk mencari Kim Hong.

Apa yang dilakukan oleh Thian Sin dan Kim Hong di tepi Telaga Ching-hai itu merupakan peristiwa yang menggemparkan sekali.

Terutama dunia kang-ouw segera mendengar berita yang dibawa oleh sisa anak buah See-thian-ong bahwa datuk barat itu tewas di tangan Pendekar Sadis, demikian pula semua murid-murid datuk itu.

Sungguh hal ini merupakan berita yang mengejutkan hati para tokoh dunia kaum sesat.

Semua orang memang sudah tahu bahwa kemunculan Pendekar Sadis menggegerkan dunia persilatan, bukan hanya karena kejamnya melainkan juga karena kelihaiannya yang dikabarkan amat luar biasa itu.

Akan tetapi belum pernah sebelumnya ada yang menduga bahwa Pendekar Sadis akan mampu mengalahkan See-thian-ong bahkan mengobrak-abrik kaki tangan datuk itu, membunuh Si Datuk dan semua muridnya yang terpandai.

Maklumlah para tokoh dunia hitam bahwa Pendekar Sadis merupakan ancaman bahaya yang besar bagi kelangsungan hidup mereka.

Hasil yang amat baik dari penyerbuannya yang bukan hanya dapat menyelamatkan Kim Hong, bahkan akhirnya dapat mengalahkan See-thian-ong, membunuhnya dan para muridnya itu mestinya amat menggirangkan hati Thian Sin.

Akan tetapi, ternyata tidak demikian.

Dia sama sekali tidak merasa puas atau girang, bahkan merasa gelisah dan bingung.

Semua ini, dia tahu, disebabkan oleh perginya Kim Hong tanpa pamit.

Baru sekarang dia mengalami hal seperti ini.

Merasa gelisah, kesepian dan kehilangan kegembiraan, bahkan kehilangan gairah hidup.

Apakah ini disebabkan karena perginya Kim Hong?

Mengapa sebelum dia bertemu dan berkumpul dengan Kim Hong dia tidak pernah merasakan kesepian yang menghimpit ini?

Apakah ini berarti bahwa dia telah benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu?

Thian Sin mengeraskan hatinya.

Kalau Kim Hong tidak mau melanjutkan hubungan dengan dia, diapun tidak dapat berbuat apa-apa.

Tidak ada ikatan apa-apa di antara mereka, bahkan Kim Hong sudah menjelaskan bahwa di antara mereka tidak ada ikatan apapun!

Hubungan mereka adalah atas dasar suka sama suka, demikian kata Kim Hong.

Jadi, kalau seorang di antara mereka sudah tidak suka melanjutkan hubungan itupun putus sampai di situ saja!

Dan agaknya Kim Hong tidak hendak melanjutkan, maka gadis itu pergi tanpa pamit.

Dan sebabnya, menurut dugaannya, dan biarpun dibantah oleh Kim Hong, adalah rasa cemburu.

Thian Sin merasa tidak berdaya.

Seorang wanita seperti Kim Hong tidaklah mudah untuk dapat dicarinya begitu saja kalau Kim Hong tidak ingin bertemu dengannya.

Wanita itu amat lihai, dan keras hati, percaya kepada diri sendiri dan yang lebih dari kesemuanya itu, Kim Hong memiliki gin-kang yang lebih tinggi daripada dia sehingga andaikata ia dapat mencarinya juga, kalau wanita itu melarikan diri dia tidak akan mampu mengejar dan menyusulnya.

Dalam perjalanannya sekali ini, Thian Sin benar-benar merasa bingung dan kesepian.

Dia tidak tahu ke mana harus mencari Kim Hong dan maklum bahwa kalau gadis itu sendiri tidak ingin bertemu dengannya, maka tidaklah ada harapan baginya untuk dapat mencari Kim Hong.

Oleh karena itu, diapun lalu pergi menuju ke Tai-goan.

Dia telah berhasil menundukkan dua di antara empat datuk kaum sesat.

Pertama, Lam-sin telah ditundukkan, dan ke dua, See-thian-ong telah berhasil ditewaskannya.

Kini tiba giliran Pak-san-kui!

Datuk itupun merupakan musuhnya, dan sekali ini dia harus dapat menghancurkan Pak-san-kui seperti yang telah dilakukannya terhadap See-thian-ong.

Akan tetapi perjalanannya sekali ini terasa kosong dan tidak menyenangkan.

Pernah dia merasakan hal yang mirip dengan perasaannya sekarang ini, yaitu ketika dia mendapat kenyataan bahwa Ciu Lian Hong telah memilih Han Tiong, kakak angkatnya, daripada dia.

Dia merasa nelangsa sekali, merasa ditinggalkan dan terpencil, dan timbullah perasaan kesepian yang menimbulkan rasa iba diri dan merasa dirinya sengsara.

Rasa kesepian bukan hanya melanda dalam hati orang seperti Thian Sin, melainkan pernah dialami oleh hampir seluruh manusia di dunia ini.

Suatu perasaan kosong, perasaan betapa hidup ini terpencil dan sendirian tanpa ada arti yang mendalam.

Kita melihat betapa kita dipermainkan oleh suka duka, lebih banyak dukanya daripada sukanya, lebih banyak susahnya daripada senangnya.

Kesenangan-kesenangan yang mula-mula menggembirakan hati, makin lama menjadi semakin hambar tanpa arti.

Kita mencari yang lebih!

Semua kesenangan kita jangkau, akan tetapi setelah terdapat lalu kehilangan artinya, menjadi hambar dan kembali kita terbenam ke dalam kekosongan.

Dan kita teringat bahwa pada suatu saat semua ini akan berakhir, tanpa arti sama sekali, seolah-olah kita ini hanya seperti angin lalu, Hidup ini seperti segumpal awan yang melayang di angkasa kemudian lenyap untuk digantikan oleh gumpalan-gumpalan awan lainnya.

Rasa kesepian ini mengundang rasa takut, khawatir akan masa depan kita, akan hari kemudian kita, baik hari kemudian ketika kita masih hidup maupun sesudah mati.

Kita takut menghadapi kekosongan ini dan kita selalu berdaya upaya untuk mencari sesuatu yang ada isinya, untuk dapat menghibur hati kita.

Kita takut berhadapan dengan rasa kesepian, maka kitapun lari ke apa saja yang kiranya dapat menghibur kita, dapat mengusir rasa kesepian itu, yang dapat membuat kita lupa akan rasa kesepian yang menakutkan.

Namun, pelarian diri, hiburan-hiburan itu hanya membuat kita lupa sebentar saja dan rasa kesepian akan datang lagi menekan hati, Membuat kita gelisah dan tidak dapat tidur, dan kalau sudah tidur terisi oleh mimpi-mimpi buruk.

Apapun yang kita lakukan untuk mengusir rasa takut dan kesepian, akhirnya hanya akan memperkuat benih rasa takut dan kesepian itu sendiri yang akan terus mengejar-ngejar kita.

Dan kita tidak mungkin selalu memenuhi diri dengan hiburan-hiburan untuk melupakannya.

Sekali waktu kita pasti berada seorang diri dalam batin, walaupun banyak orang mengelilingi kita, dan rasa kesepian itu akan semakin mencekik, mendatangkan rasa nelangsa, merasa sengsara dan iba diri.

Rasa kesepian ini pasti timbul secara menakutkan kalau kita membayang-bayangkan masa depan kita, membayangkan masa tua di mana kita takkan banyak berguna lagi bagi dunia, di mana kita tidak akan dibutuhkan lagi oleh orang lain, Ketika tidak ada orang yang mengacuhkan kita, tidak ada orang yang memperhatikan dan mencinta kita lagi.

Rasa takut dan kesepian timbul kalau kita membayangkan betapa kita akhirnya akan terpisah dari semua yang kita senangi, kita akan bersendirian!

Sendirian!

Tidak ada siapa-siapa yang mempedulikan kita, tidak ada siapapun yang mencinta kita!

Kalau kita mau waspada, kalau kita mau menghadapi rasa kesepian yang mendatangkan rasa takut itu, menghadapinya dengan terbuka, tanpa melarikan diri melainkan kalau kita menyelidiki dengan penuh kewaspadaan, membuka mata memandangnya dengan cermat, maka akan nampaklah bagaimana rasa takut itu, bagaimana kepalanya dan bagaimana ekornya.

Rasa takut akan kesepian timbul dari bayangan yang kita ciptakan sejak kecil, bayangan berupa si aku yang selalu ingin ada dan berkuasa.

Si aku inilah yang merasa ngeri kalau-kalau dia tidak ada lagi, kalau-kalau dia lenyap dari keadaannya.

Dan si aku ini hanyalah bayangan belaka, ciptaan dari pikiran yang ingin mengulang pengalaman yang menyenangkan dan menjauhi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Kalau kita tidak melarikan diri, kalau kita menghadapi rasa kesepian yang mendatangkan rasa takut itu, rasa iba diri itu, kalau kita menghadapinya dan memandangnya tanpa berusaha untuk menekan atau mengendalikan, tanpa mengutuk dan membelanya, melainkan mengamatinya saja penuh kewaspadaan, maka pengamatan yang waspada penuh perhatian itu sendiri yang akan menghentikan rasa takut dan rasa kesepian ini.

Asalkan kita tidak terkecoh oleh si aku yang licik itu, asalkan yang mengamati bukanlah si aku itu pula, Karena kalau yang mengamati itu adalah si aku, maka akan timbullah pula keinginan agar rasa takut itu lenyap!

Dan keinginan dari si aku inilah justeru yang memperkuat adanya rasa takut itu sendiri, karena rasa takut rasa kesepian itu bukan lain adalah si aku itu juga!

Dan kalau rasa takut akan kesepian itu sudah tidak ada lagi, maka berada sendirian bukan lagi merupakan kesepian, melainkan keheningan.

Dan keheningan bukanlah rasa kesepian.

Keheningan merupakan sesuatu yang amat mendalam, yang amat luas, yang mencakup seluruh alam, di mana getaran cinta kasih mencapai puncaknya, di mana sinar cinta kasih bercahaya tanpa halangan sesuatupun.

Di dalam perjalanannya menuju ke Tai-goan, Thian Sin sering kali termenung seorang diri dengan peasaan kosong dan sunyi.

Dia sering kali membayangkan semua pengalamannya, semua perbuatannya.

Dia telah dijuluki Pendekar Sadis, dan dia tidak merasa menyesal atau malu dengan julukan itu.

Biarlah dia dikatakan sadis, akan tetapi dia bersikap kejam hanya terhadap para penjahat!

Dia memang sudah berniat untuk membasmi para penjahat dengan kekerasan, dengan menggunakan ilmu kepandaiannya.

Dia akan menghancurkan semua datuk kaum sesat dan memperkenalkan diri sebagai pembasmi para datuk, menjadi jagoan nomor satu di dunia ini, melanjutkan cita-cita mendiang ayah kandungnya yang ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia.

Dia menganggap bahwa semua tindakan itu benar, dan menurut pendapatnya, kalau semua pendekar di dunia ini bertindak seperti dia, membasmi para penjahat tanpa ampun lagi, maka dunia akan bersih dari kejahatan!

Sungguh dangkal sekali jalan pikiran pendekar muda ini.

Sayang!

Akan tetapi, dalam pikiran kitapun amat seringnya muncul pendapat yang sama seperti pendapat Thian Sin ini.

Bagi kita, yang dinamakan "adil"

Adalah kalau yang berbuat jahat itu dihukum berat, dan menurut pendapat kita, kalau semua penjahat dihukum berat, maka tidak akan ada lagi kejahatan di dunia ini!

Kita lupa bahwa kejahatan tak terpisahkan dari manusia itu sendiri, dan selama manusia belum dapat hidup waras lahir batin, maka kejahatan akan selalu timbul.

Kalaupun seluruh manusia yang jahat di dunia ini dibasmi sehingga yang bersisa hanya tinggal dua orang saja, namun selama dua orang ini belum waras dalam arti yang seluas-luasnya, maka mungkin saja timbul kejahatan di antara kedua orang ini!

Kejahatan adalah bentok kekerasan yang didasari keinginan menyenangkan diri sendiri.

Diri sendiri ini bisa saja diperluas menjadi teman sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri, aliran sendiri, bahkan bangsa sendiri.

Dan mungkinkah membasmi kejahatan, yang merupakan suatu bentuk kekerasan, dengan jalan kekerasan pula?

Sama saja dengan mencoba untuk mengakhiri perang dengan peperangan!

Juga Thian Sin mengenangkan hubungannya dengan semua wanita semenjak yang pertama kali.

Pertama-tama dia berdekatan dengan wanita adalah dengan Bwe Cu Ing, gadis dusun dekat Lembah Naga, yang merupakan cinta pertamanya.

Kedukaan pertama karena wanita adalah ketika secara paksa Bhe Cu Ing dipisahkan darinya.

Kemudian muncul Loa Hwi Leng, puteri anggauta Jeng-hwa-pang itu yang kemudian dibunuh oleh Jeng-hwa-pang, membuat dia amat membenci Jeng-hwa-pang dan mengobrak-abriknya.

Lalu bermunculanlah So Cian Ling yang telah berhubungan sangat akrab dengan dia, lebih daripada wanita-wanita lain sebelumnya.

Dan ada pula Bin Biauw, puteri Tung-hai-sian itu yang manis dan yang pada pertemuan pertama juga menggerakkan hatinya, akan tetapi dia terpaksa mundur karena di situ hadir pula Cia Kong Liang yang terhitung pamannya.

Lalu muncul pula Ang Bwe Nio, anak buah Ji Beng Tat yang terpaksa dia buntungi hidungnya karena telah mengkhianatinya itu, kemudian ada lagi Leng Ci, selir dari Raja Agahai, dan terakhir adalah Kim Hong atau Lam-sin.

Dia sering duduk termenung dan bertanya-tanya di dalam hatinya.

Apakah artinya semua wanita itu baginya?

Itukah cinta?

Ataukah semua itu hanya nafsu berahi saja?

Atau apa?

Dia sendiri tidak tahu.

Akan tetapi yang jelas, mereka semua itu mendatangkan duka setiap kali berpisah.

Juga Ciu Lian Hong, dara satu-satunya yang menimbulkan keinginan hatinya untuk memperisterinya, mendatangkan rasa duka dan sengsara karena berpisah darinya, karena harapannya untuk memperisteri dara itu gagal.

Apakah terhadap Lian Hong itu cinta?

Dan bagaimana dengan Kim Hong ini?

Cintakah?

Atau sekedar nafsu berahi.

Kalau cinta, mengapa mendatangkan duka?

Dia bingung, tak mampu menjawab!

Tai-goan adalah kota kedua sesudah ibu kota Peking yang terdekat dengan ibu kota itu, menjadi ibu kota Propinsi Shan-si.

Kota ini amat ramai karena kota itu terletak di tepi Sungai Fen-ho yang menjadi cabang dari Sungai Hoang-ho.

Dengan adanya Sungai Fen-ho ini, maka tentu saja hubungan antara kota Tai-goan dengan kota-kota lain menjadi lancar, Bukan hanya melalui darat, melainkan juga melalui air.

Hubungan antara kota Tai-goan dengan kota-kota di dalam Propinsi Ho-nan dan Shan-tung dapat melalui air dan daerah yang dilalui Sungai Fen-ho yang kemudian bersatu dengan induknya, Sungai Hoang-ho, amatlah luasnya.

Karena hubungan dengan daerah dan kota-kota lain amat lancar, maka tentu saja perdagangan di Tai-goan menjadi makmur sekali.

Berita tentang terbunuhnya See-thian-ong dan para muridnya oleh Pendekar Sadis, sudah mendahului Thian Sin dan sudah sampai ke Tai-goan, membuat gempar para pendekar dan juga para tokoh dunia hitam di daerah Tai-goan, bahkan sudah sampai pula ke daerah kota raja!

Dan tentu saja berita itu telah pula terdengar Pak-san-kui!

Seperti kita ketahui, Pak-san-kui hidup sebagai seorang hartawan yang kaya raya di kota Tai-goan.

Dia memiliki banyak perusahan dan toko-toko, terutama sekali penginapan-penginapan, restoran-restoran, rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelesiran di seluruh kota Tai-goan, boleh dibilang adalah miliknya, atau kalaupun milik orang lain, tentu berada di bawah kekuasaannya.

Datuk kaum sesat yang menguasai wilayah utara ini mempunyai banyak kaki tangan.

Akan tetapi yang menjadi murid-muridnya dan langsung menerima pelajaran ilmu silat dari datuk ini hanyalah Pak-thian Sam-liong dan tentu saja puteranya sendiri, yaitu Siangkoan Wi Hong.

Dan untuk kota Tai-goan, yang mengenalnya sebagai Pak-san-kui juga hanya para tokoh kang-ouw dan para pendekar saja, sedangkan rakyat di situ lebih mengenalnya sebagai hartawan Siangkoan Tiang atau Siangkoan-wangwe (hartawan) atau Siangkoan-loya (tuan besar).

Ketika mendengar terbunuhnya See-thian-ong dan murid-muridnya oleh Pendekar Sadis, Pak-san-kui Siangkoan Tiang menjadi terkejut dan merasa gentar.

Dia sudah dapat menduga siapa adanya Pendekar Sadis itu.

Dia teringat kepada Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw itu.

Pemuda itu pernah mengalahkannya setelah menipunya dengan kitab-kitab palsu!

Biarpun selama ini, semenjak kekalahannya, dia sudah memperdalam ilmunya bersilat dengan huncwe, namun diam-diam dia merasa gentar juga.

Lawan yang pernah mengalahkannya itu adalah orang muda.

dan amat mudahnya bagi seorang pemuda untuk memperoleh kemajuan dalam ilmu kepandaiannya, berbeda dengan orang tua seperti dia yang sudah mulai lemah.

Maka diapun lalu memanggil Pak-thian Sam-liong dan puteranya, Siangkoan Wi Hong.

"Hampir dapat dipastikan bahwa Ceng Thian Sin adalah Si Pendekar Sadis, dan kalau benar demikian, sudah tentu dia pada suatu hari akan muncul di sini,"

Kata Pak-san-kui.

"Ayah, kalau dia hanya datang seorang diri, takut apa? Dahulupun aku hanya kalah setingkat olehnya dan selama ini aku telah berlatih dengan tekun. Juga ayah telah berlatih memperdalam ilmu. Dengan adanya kita berdua, dibantu oleh para suheng Pak-thian Sam-liong, dan kalau kita mengerahkan lagi sepasukan orang-orang pilihan, tentu kita akan dapat membekuknya! Kita berlima saja kiraku akan cukup untuk membekuknya, betapapun lihainya. Bukankah benar demikian, suheng?"

Pak-thian Sam-liong mengangguk.

"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Siangkoan-sute. Dengan suhu sendiri saja, atau melawan sute sendiri sudah setingkat, apalagi kalau kita berlima maju bersama. Kami merasa yakin akan dapat membekuknya atau membunuhnya."

Mendengar ucapan murid-murid dan puteranya, legalah hati Pak-san-kui.

"Betapapun juga, kita harus berhati-hati. Penjagaan harus diperketat dan setiap malam harus diadakan perondaan dan penjagaan, jangan sampai jahanam itu menyelundup. Kalian bertiga harus mengatur sendiri penjagaan itu,"

Katanya kepada Pak-thian Sam-liong yang cepat menyatakan kesanggupan mereka.

"Wi Hong,"

Katanya kepada puteranya.

"Engkau pergilah mengunjungi Siong-ciangkun, undang dia ke sini untuk membicarakan tentang kemungkinan Pendekar Sadis mengacau Tai-goan."

"Baik, ayah."

Siangkoan Wi Hong lalu pergi untuk melaksanakan perintah ayahnya.

Siong-ciangkun atau Komandan Siong adalah komandan yang mengepalai pasukan keamanan di Tai-goan.

Seperti juga dengan para pembesar tinggi lain, baik di Tai-goan maupun di kota raja, Pak-san-kui mempunyai hubungan baik sekali, tentu saja dengan bantuan kekayaannya.

Diapun mempunyai hubungan erat dengan komandan pasukan keamanan di Tai-goan itu dan untuk menghadapi Pendekar Sadis, datuk utara itu kini mengadakan persekutuan dengan Siong-ciangkun.

Tentu saja dalam pertemuan itu Pak-san-kui sama sekali tidak membayangkan bahwa dia takut menghadapi Ceng Thian Sing, akan tetapi dia mengatakan bahwa pemuda itu adalah musuhnya dan mungkin saja mengacaukan kota Tai-goan yang tenteram itu.

Dan dia tidak lupa untuk memberi bekal yang cukup banyak untuk biaya pasukan yang akan mengadakan penjagaan ketat.

Seratus orang anggauta pasukan pilihan dibentuk menjadi pasukan yang kuat oleh komandan ini dan mereka itu disebar untuk melakukan penjagaan di kota, memata-matai semua orang yang datang, terutama sekali menghubungi Pak-san-kui setiap kali mereka menaruh curiga kepada seorang pendatang baru yang memasuki kota.

Hanya repotnya bagi para petugas itu adalah bahwa mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya orang yang berjuluk Pendekar Sadis, dan tentu saja nama julukan itu membuat mereka membayangkan wajah seorang laki-laki yang bengis.

Dan Pak-san-kui sendiripun belum berani menentukan bahwa Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin, karena hal itupun baru merupakan dugaan-dugaannya saja.

Diapun tidak berani ceroboh.

Bagaimana kalau ternyata Thian Sin bukan Pendekar Sadis?

Dia harus berhati-hati, bukan hanya terhadap Thian Sin yang telah menjadi musuhnya, akan tetapi juga terhadap kemungkinan bahwa Pendekar Sadis bukanlah Thian Sin sehingga dia harus menghadapi seorang yang berbahaya dan belum pernah dikenalnya, akan tetapi yang mungkin sekali akan mengganggunya, seperti yang dilakukan pendekar itu terhadap See-thian-ong.

Inilah sebabnya maka Thian Sin dapat memasuki kota Tai-goan tanpa banyak halangan.

Para anggauta pasukan istimewa yang disebar oleh Siong-ciangkun sebagai mata-mata itu tentu saja sama sekali tidak curiga ketika melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan halus, yang pantasnya adalah seorang pemuda terpelajar tinggi, dan melihat pakaiannya yang cukup mewah dan pesolek, pantasnya pemuda itu adalah putera bangsawan atau hartawan yang sedang berpesiar ke Tai-goan dan mungkin datang dari kota raja!

Thian Sin bukan seorang bodoh.

Dia dapat menduga bahwa di tempat itu banyak terdapat kaki tangan Pak-san-kui, maka biarpun dia tidak memasuki kota dengan cara bersembunyi, namun diapun tidak mau menonjolkan diri karena dia tidak ingin bertemu halangan sebelum sempat bertemu muka dengan Pak-san-kui sendiri.

Maka sebelum pergi ke tempat lain, dia lebih dahulu mencari-cari tempat yang baik untuk bersembunyi atau bermalam.

Dia tidak mau bermalam di rumah penginapan karena biarpun dia dapat menggunakan nama palsu, tentu dalam waktu beberapa hari saja Pak-san-kui akan mengetahui tempat itu.

Dan hatinyapun girang sekali ketika dia melihat sebuah rumah kecil di sudut kota, rumah seorang miskin yang terpencil dan letaknya di tepi sungai.

Ketika melihat bahwa rumah ini hanya dihuni oleh seorang kakek miskin yang pekerjaannya sebagai kuli mengangkut barang-barang yang diangkut oleh perahu-perahu di tempat itu, Thian Sin segera menyewa rumah itu.

Kakek yang miskin itu girang sekali dan dia memberikan satu-satunya pembaringan dalam kamar satu-satunya pula, sedangkan dia sendiri mengalah, tidur di lantai bertilam tikar rombeng.

Kepada kakek itu Thian Sin memberi tahu bahwa dia datang dari kota raja, ingin berpesiar dan tidak ingin terganggu kenalan-kenalan maka dia sengaja mencari tempat sunyi untuk menginap agar jangan terganggu orang lain.

Juga dia berpesan kepada kakek itu agar kehadirannya tidak diberitahukan kepada siapapun juga.

Kakek itu menerima uang, tentu saja dia tidak peduli akan urusan orang dan tidak mau bicara tentang tamunya yang mendatangkan rejeki baginya itu.

Setelah memperoleh tempat itu dan meninggalkan buntalan pakaiannya di dalam kamar, barulah Thian Sin memasuki daerah kota yang ramai untuk mencari rumah makan.

Sebuah rumah makan bercat merah amat menarik hatinya.

Baru melihat tempatnya yang mewah dan bersih itu saja sudah menimbulkan selera, maka diapun memasuki rumah makan itu.

"Selamat sore, kongcu."

Seorang pelayan menyambutnya dengan manis.

"Kongcu hendak makan di bawah ataukah di loteng?"

Thian Sin menengok ke atas, melihat ada tangga yang indah menuju ke sebuah ruangan di loteng, dibuat dengan cara yang nyeni sekali.

Karena melihat bahwa dia ingin makan di loteng, pelayan itu lalu mengantarnya naik ke loteng.

Tiba-tiba, setelah dia hampir sampai ke loteng, Thian Sin berhenti melangkah dan wajahnya berubah.

Dia mendengar suara Kim Hong!

"Kenapa, kongcu?"

Pelayan yang berjalan di belakangnya bertanya melihat pemuda itu berhenti.

"Aku tidak senang di ruangan loteng, kau siapkan saja semangkok bakmi dan panggang ayam dengan arak di meja bawah, di sudut jauh dari pintu keluar,"

Kata Thian Sin.

"Baik, kongcu,"

Kata pelayan itu yang segera turun kembali.

Thian Sin pura-pura melihat-lihat ke dalam ruangan loteng itu, akan tetapi hanya melongok saja dan dia melihat Kim Hong duduk di meja bagian luar loteng, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang membelakangi jalan luar.

Jantung Thian Sin berdebar dan terasa panas ketika dia mengenal pemuda itu.

Andaikata dia lupa pemuda itu, pasti dia tidak akan melupakan alat musik yang-kim yang terletak di atas meja itu.

Siangkoan Wi Hong!

Siapa lagi pemuda tampan pesolek yang ke mana-mana membawa yang-kim, alat musik yang juga merupakan senjatanya yang ampuh itu?

Dan Kim Hong duduk semeja dengan pemuda itu, bercakap-cakap dan tertawa-tawa penuh keakraban, bahkan kemesraan!

Hatinya terasa panas bukan main.

Dia mengenal Siangkoan Wi Hong sebagai seorang penakluk wanita, pemuda pengejar wanita yang amat lihai!

Cepat diapun turun tangga loteng itu dan memilih tempat duduk agak ke dalam sehingga tidak akan kelihatan oleh mereka yang masuk atau keluar melalui pintu depan.

Ketika pelayan itu datang membawa masakan yang dipesan, Thian Sin segera membayarnya sekali agar nanti dia dapat pergi tanpa menunggu-nunggu lagi kalau sudah selesai makan.

Dia makan perlahan-lahan, sama sekali tidak terasa enak karena pikirannya melayang ke atas loteng.

Seolah-olah dia masih mendengar suara Kim Hong bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan mesra bersama Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui itu dan makin dipikir, hatinya menjadi semakin panas.

Baru saja dia selesai makan, dia melihat mereka itu turun dari tangga.

Sejenak tangan mereka bersentuhan, seperti hendak bergandengan tangan, akan tetapi lalu terlepas lagi.

Akan tetapi yang sedikit itupun cukuplah bagi Thian Sin untuk menimbulkan dugaan di dalam hatinya bahwa pasti "ada apa-apa"

Antara mereka itu.

Dan merekapun keluar, lalu naik sebuah kereta yang sudah menanti di luar restoran tadi.

Thian Sin meninggalkan mejanya, tidak tergesa-gesa agar tidak menimbulkan kecurigaan, dan keluar dari rumah makan.

Dengan tenang diapun lalu membayangi kereta itu yang dijalankan perlahan-lahan menuju ke sebelah utara.

Cuaca sudah mulal gelap dan hal ini memudahkan Thian Sin untuk membayangi kereta.

Akhirnya kereta berhenti di depan sebuah rumah penginapan!

Mereka berdua itu menginap dalam sebuah rumah penginapan yang mewah!

Makin panas hati Thian Sin dan diapun menyelinap ke dalam gelap dan dari situ dia mengintai.

Dia melihat mereka berdua turun dari kereta, dan bercakap-cakap sebentar.

Agaknya, dari jauh dia dapat menduga bahwa Kim Hong minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk lebih dulu berangin-angin di taman bunga rumah penginapan itu sebelum mereka masuk.

Siangkoan Wi Hong nampak tersenyum di bawah lampu depan pekarangan itu, lalu keduanya memasuki taman bunga yang letaknya di belakang rumah penginapan dan di sebelah kirinya.

Thian Sin tetap membayangi mereka dan menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman itu sampai dia dapat mengintai mereka tidak terlalu jauh dan dapat mendengarkan percakapan mereka.

Mereka duduk di atas bangku yang saling berhadapan, dekat kolam ikan emas di mana terdapat sedikit penerangan lampu gantung.

Suasana di taman itu sungguh romantis dan pada saat itu amat sunyi.

Agaknya tidak terdapat lain orang kecuali mereka berdua.

"Nona Toan, engkau sungguh cantik seperti bidadari, dan aku berbahagia sekali dapat berjumpa dan mengenalmu, nona."

Terdengar Siangkoan Wi Hong tiba-tiba menyatakan rasa hatinya dengan sikap dan suara mesra.

Kim Hong tertawa, ketawa ditahan yang sudah amat dikenal oleh Thian Sin itu.

"Engkau juga gagah dan tampan sekali, Siangkoan-kongcu, dan akupun gembira dapat berkenalan denganmu."

"Ah... benarkah apa yang kau katakan itu, Kim Hong? Bolehkah aku memanggil namamu?"

"Tentu saja benar, dan engkau boleh memanggil namaku."

"Kim Hong... aku suka sekali kepadamu... belum, aku belum dapat mengatakan cinta karena baru beberapa hari kita berkenalan, akan tetapi aku... aku suka sekali padamu."

"Hemm, akupun suka sekali padamu, kongcu. Engkau baik sekali dan engkau gagah sekali..."

"Kim Hong..."

Pemuda itu bangkit dan menghampiri, lalu duduk di samping gadis itu dan merangkulnya.

Kim Hong tidak menolak, bahkan mengangkat mukanya sehingga memudahkan Siangkoan Wi Hong untuk menciumnya.

Mencium bibirnya dengan mesra dan lama sekali.

"Keparat jahanam! Siangkoan Wi Hong, bersiaplah engkau untuk mampus!"

Teriakan ini keluar dari mulut Thian Sin yang sudah meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, tidak dapat menahan lebih lama lagi rasa panas di dada dan perutnya menyaksikan adegan mesra antara Kim Hong dan putera Pak-san-kui itu.

Seketika dua orang yang sedang berpelukan dan berciuman itu melepaskan diri masing-masing, dan Siangkoan Wi Hong menyambar yang-kimnya dan membalik.

Wajahnya menjadi pucat ketika dia mengenal Thian Sin yang sudah berdiri di bawah lampu, wajah yang biasanya ramah itu kini nampak muram dan menakutkan.

"Thian Sin...!"

Dia berseru penuh rasa gentar akan tetapi juga marah.

"Bagus, engkau sudah mengenalku sehingga engkau tidak mati penasaran!"

Thian Sin berkata dan secepat kilat dia menerjang ke depan dengan serangan maut.

Akan tetapi Siangkoan Wi Hong bukanlah orang lemah dan dia sudah menggerakkan yang-kimnya untuk menangkis.

"Dukkk...!"

Dan terkejutlah putera Pak-san-kui itu karena tubuhnya tergetar hebat dan dia terdorong mundur, terhuyung-huyung!

Thian Sin tidak mau memberi hati lagi, terus menerjang lawan yang sudah terhuyung itu.

"Dess...!"

Thian Sin terkejut melihat bahwa Kim Hong telah menangkis pukulannya.

Sejenak mereka saling pandang.

Akan tetapi Kim Hong tidak mau membuang waktu lagi dan secepat kilat gadis ini sudah mencabut sepasang pedangnya dan menyerang Thian Sin kalang-kabut!

Tentu saja Thian Sin cepat mengelak.

Hatinya seperti ditusuk rasanya.

Begini marahkah Kim Hong kepadanya sehingga kini malah membantu Siangkoan Wi Hong dan menyerangnya mati-matian?

Ingin dia bicara, ingin dia minta maaf.

Akan tetapi di situ ada Siangkoan Wi Hong.

Dia malu kalau harus memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.

Maka diapun mencabut pedangnya dan diputarnya pedang itu untuk menangkis.

Sementara itu Siangkoan Wi Hong girang sekali melihat Kim Hong membantunya.

Dia memang telah tahu bahwa gadis itu memiliki kepandaian silat yang lihai, maka diapun lalu memutar yang-kimnya dan membantu Kim Hong.

"Pendekar Sadis, jangan harap engkau dapat lolos dari tanganku sekarang!"

Kim Hong membentak.

Bentakan ini diterima oleh Thian Sin dengan mata terbelalak.

Dia merasa heran sekali mendengar gadis itu menyebutnya Pendekar Sadis.

Ada permainan apa ini?

Akan tetapi karena Kim Hong mendesaknya dengan hebat, dibantu pula oleh pemuda itu, dia merasa serba salah.

Kalau dia melawan dengan kekerasan, dia takut kalau-kalau melukai gadis itu.

Maka diapun lalu meloncat ke dalam kegelapan dan melarikan diri.

"Lekas lapor ayahmu, aku akan mengejarnya!"

Kata Kim Hong kepada Siangkoan Wi Hong, dan diapun telah meloncat dengan cepat untuk melakukan pengejaran.

Bagaimanakah Toan Kim Hong dapat bersama-sama dengan Siangkoan Wi Hong di Tai-goan dan telah berkenalan dengan akrabnya?

Terjadinya tiga hari yang lalu, di sebuah hutan di lembah Sungai Fen-ho.

Ketika itu, seperti yang telah menjadi kesukaannya, Siangkoan Wi Hong berburu binatang hutan.

Yang-kimnya selalu dibawanya, tergantung di punggung sedangkan tangannya memegang busur dan anak panah.

Ketika melihat seekor kijang, dia cepat mengejarnya.

Kijang itu masih muda dan gesit bukan main, berloncatan amat cepatnya dan menyusup-nyusup ke dalam semak-semak, kalau didekati meloncat lagi.

Wi Hong sudah melepaskan anak panah dua kali, yang sekali luput dan yang sekali lagi hanya menyerempet betis binatang itu, membuatnya menjadi semakin ketakutan, liar dan lebih cepat lagi larinya.

Akan tetapi akhirnya Siangkoan Wi Hong dapat mendesaknya ke tepi sungai dan binatang itu kebingungan.

Wi Hong memasang anak panah pada busurnya dan siap untuk membidikkan anak panahnya.

Akan tetapi pada saat dia hendak melepaskan anak panah, tiba-tiba saja kijang itu mengeluarkan teriakan nyaring dan roboh terpelanting!

Wi Hong terkejut bukan main dan cepat meloncat, akan tetapi dia melihat bayangan berkelebat dan seorang gadis cantik jelita telah berdiri di dekat bangkai kijang.

Siangkoan Wi Hong terpesona dan memandang dengan melongo.

"Hemm, apa yang kau pandang?"

Bentak gadis itu sambil memandang dan bertolak pinggang.

Siangkoan Wi Hong baru sadar dan dia tersenyum, menyimpan gendewanya, lalu menghampiri.

"Ah, kukira ada bidadari yang turun dari kahyangan. Nona, apakah nona... eh, manusia biasa?"

Wanita itu adalah Kim Hong dan mendengar ucapan itu, Kim Hong juga tersenyum.

Pemuda tampan ini sungguh mengagumkan dan juga menyenangkan hatinya.

"Kalau aku bukan manusia, apakah kau kira aku setan atau siluman?"

Siangkoan Wi Hong memandang ke kanan kiri.

"Tempat ini amat sunyi, dan kijang ini tiba-tiba tewas sebelum kupanah, lalu muncul seorang seperti nona! Begini... cantik jelita. Aku mendengar bahwa di tempat-tempat sunyi terdapat... eh, siluman-siluman yang pandai mengubah diri menjadi wanita cantik melebihi bidadari, seperti... eh, dongeng tentang Tiat Ki dalam dongeng Hong-sin-pong itu, begitu cantiknya sampai menjatuhkan hati Kaisar Tiu-ong!"

"Hemm, apa kau tidak dapat membedakan antara manusia dan siluman?"

Kim Hong menanggapi, tidak marah disangka siluman karena cara pemuda itu mengatakannya sama sekali tidak terkandung nada menghina, melainkan memuji.

Semakin gembiraiah hati Siangkoan Wi Hong melihat betapa gadis yang cantik jelita itu mau menanggapinya, maka dia lalu pasang aksi, pura-pura memikat dan mengingat-ingat, mengerutkan alisnya, kemudian berkata dengan wajah berseri.

"Ah, aku ingat! Dalam dongeng kitab kuno tentang siluman-siluman yang menyamar sebagai wanita cantik, terdapat tanda-tanda. Ada tanda yang... ah, sebelumnya maaf, nona. Kata kitab itu, kalau siluman rase atau rubah menyamar sebagai wanita, satu hal tidak dapat dilenyapkannya, yaitu ekornya! Wanita cantik penyamaran siluman rubah itu tentu mempunyai ekor! Ah, akan tetapi tentu saja aku tidak dapat membuktikan pada dirimu..."

Dia berhenti untuk melihat reaksi gadis itu.

Akan tetapi Kim Hong masih tersenyum saja, dan agaknya tidak nampak marah sama sekali.

Hal ini membuat Siangkoan Wi Hong menjadi semakin girang dan berani.

"Akan tetapi ada tanda lain lagi yang dapat kubuktikan pada dirimu, nona. Kata kitab itu, seorang wanita penyamaran siluman rubah mempunyai dua tanda yaitu pertama, karena tubuh yang diambilnya adalah tubuh wanita yang telah mati, maka lengannya akan terasa dingin seperti mayat kalau dipegang, dan dari hawanya keluar bau rubah yang khas. Nah, kalau aku boleh menyentuh lenganmu, nona, dan kalau aku boleh mendekatimu tentu aku akan segera dapat membedakan apakah nona seorang manusia biasa ataukah sebangsa siluman."

Kim Hong tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya yang cantik manis itu berseri.

Ia juga merasa gembira oleh sikap pemuda itu.

Maka ia menyingsingkan lengan baju sebelah kiri dan menyorongkan lengan kirinya itu kepada Wi Hong sambil berkata dengan senyum.

"Nah, periksalah."

Siangkoan Wi Hong girang bukan main dan dia menelan ludahnya melihat sebuah lengan yang berkulit begitu mulus, putih dan lembut, halus dan seperti lilin diraut.

Diapun melangkah maju mendekat, lalu menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh, bahkan setelah ujung jari-jari tangannya menyentuh kulit halus lunak hangat itu dengan sepasang matanya tetap menatap wajah Kim Hong untuk melihat reaksinya, dan melihat bibir nona itu tetap tersenyum, jari-jari tangannya lalu melanjutkan dengan meraba-raba lengan dan memegangnya dengan mesra!

Kim Hong menarik lengannya dengan gerakan halus sambil berkata dengan senyum.

"Bagaimana, dingin seperti mayatkah?"

Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar dan memandang dengan mata berseri.

"Ah, sama sekali tidak, sebaliknya malah, begitu hangat, halus dan lunak... ah, dan yang tercium olehku hanya keharuman seperti bunga setaman...!"

Kim Hong tersenyum gembira, akan tetapi berlagak tak senang.

"Hemm, engkau seorang perayu! Siapakah engkau?"

Siangkoan Wi Hong menjura.

"Perkenalkan, nona, namaku Siangkoan Wi Hong. Aku sedang berburu di hutan ini dan mengejar-ngejar kijang itu sampai ke tepi sungai. Setelah aku berhasil menyudutkannya dan siap hendak melepas anak panah... eh, tahu-tahu kijang itu roboh dan tewas, lalu muncul nona. Siapakah nona dan bagaimana seorang wanita muda seperti nona dapat berada di tempat sunyi terpencil seperti ini?"

"Namaku Toan Kim Hong..."

"Nama yang indah sekali, seperti orangnya! Dan she Toan...? Ah, apakah ada hubungan dengan keluarga pangeran...?"

Kim Hong mengangguk. Siangkoan Wi Hong menjura lagi.

"Ah, maaf, maaf...! Kiranya nona adalah seorang puteri yang berdarah bangsawan! Sungguh sikap saya layak dihukum..."

Kim Hong menarik napas panjang.

"Sudahlah, urusan kebangsawanan itu dahulu, sekarang aku adalah orang biasa saja. Aku kebetulan lewat di sini dan selagi menikmati keheningan tempat ini, aku melihat seekor kijang. Karena perutku lapar, maka aku segera merobohkannya dengan sambitan jarumku."

Wi Hong terbelalak.

"Apa...? Membunuh kijang dengan sambitan jarum saja? Agaknya tak masuk akal...!"

"Siapa bilang kalau tidak masuk akal kalau jarumku memasuki kepala melalui antara matanya lalu menembus otak,"

Jawab Kim Hong.

Mendengar jawaban ini, tentu saja Siangkoan Wi Hong menjadi semakin kaget dan heran.

Sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu silat yang tinggi, dia tahu bahwa jarum hanya merupakan senjata rahasia ringan yang hanya dapat dipergunakan dari jarak dekat, Dan bukan merupakan senjata rahasia yang berbahaya.

Akan tetapi gadis ini mampu membunuh seekor kijang dari jarak jauh dengan penyambitan jarum, bahkan tanpa memeriksa lagi gadis itu dapat memastikan bahwa jarumnya telah menembus antara mata kijang itu dan sampai ke otak!

Hal ini kalau memang benar, menunjukkan bahwa gadis ini adalah seorang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi!

Dan jarum itupun tentu mengandung racun yang amat hebat.

Untuk meyakinkan hatinya diapun lalu berjongkok dan memeriksa kijang itu.

Dan betapa kagumnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa memang benar pada kepala binatang itu, antara kedua matanya, terdapat luka kecil kemerahan yang mulai membengkak dan mengeluarkan darah!

Dia cepat bangkit berdiri dan kembali dia menjura dengan hormat.

"Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita lihai! Toan-lihiap, aku girang sekali dapat berkenalan dengan seorang gadis pendekar sepertimu!"

"Ah, Siangkoan-kongcu terlalu memuji orang. Sebaliknya, akupun pernah mendengar namamu dan melihat yang-kim di pundakmu tadipun aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentulah Siangkoan-kongcu yang amat terkenal itu putera dari Locianpwe Pak-san-kui, bukan?"

"Tepat sekali, lihiap."

"Ah, jangan sebut aku lihiap, membikin aku merasa canggung dan malu saja."

"Baiklah, kalau begitu biar kusebut engkau Toan-siocia."

Siangkoan Wi Hong lalu memanggul bangkai kijang itu.

"Nona, setelah kita bertemu dan saling berkenalan di sini, aku mengundang nona untuk bersama-sama menikmati daging kijang ini. Akan kusuruh masak daging ini di rumahku. Silakan, nona."

Demikianlah, dua orang itu berkenalan dan Kim Hong mengunjungi rumah pemuda hartawan itu.

Sebaliknya Wi Hong juga sering mengunjungi hotel di mana gadis itu bermalam, mengajaknya pelesir atau makan ke restoran-restoran terbesar di kota Tai-goan, mengajaknya pesiar dengan kereta.

Dalam waktu beberapa hari saja hubungan antara mereka amat akrabnya.

Demikianlah pertemuan antara Kim Hong dengan putera Pak-san-kui itu sampai mereka dilihat oleh Thian Sin yang membayangi mereka dan Pendekar Sadis menyerang Siangkoan Wi Hong ketika melihat betapa putera datuk utara itu berpacaran dengan Kim Hong.

Dan dalam waktu beberapa hari itu, Siangkoan Wi Hong sempat mengajak Kim Hong berkunjung pula kepada ayahnya.

Pak-san-kui Siangkoan Tiang menerima perkenalan itu dengan senang.

Dia melihat bahwa bukan saja gadis itu amat cantik dan menurut puteranya juga memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi juga mengingat bahwa gadis itu masih keluarga bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Toan, maka mereka merasa girang kalau puteranya dapat berjodoh dengan gadis ini.

Terutama sekali setelah dia mendengar bahwa gadis itu adalah puteri dari mendiang Pangeran Toan Su Ong seperti pengakuannya, diam-diam dia terkejut dan semakin kagum.

Dia pernah mengenal pangeran pemberontak itu, dan maklum bahwa kepandaian pangeran itu tidak berada di bawah tingkatnya!

Bahkan akhirnya dia mendengar bahwa sebelum meninggal, pangeran itu bersama isterinya telah menemukan ilmu peninggalan Menteri The Hoo sehingga kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingannya.

Ketika Thian Sin menyerang Siangkoan Wi Hong dengan ganas karena pemuda ini sudah marah sekali dan ingin membunuhnya, Kim Hong membela sahabat barunya ini dan ketika Thian Sin melarikan diri karena pemuda ini tidak mau berkelahi melawan kekasihnya, Kim Hong lalu mengejar dan minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk melaporkan kepada ayah pemuda itu.

Dengan gin-kangnya yang memang lebih tinggi daripada Thian Sin, Kim Hong berhasil membayangi pemuda itu tanpa diketahuinya, dan dara ini dapat melihat pondok kecil yang disewa pemuda itu di tepi kota.

Maka iapun cepat meninggalkan tempat itu dan menyusul Siangkoan Wi Hong ke rumah Pak-san-kui.

Ketika tiba di rumah datuk itu, ternyata Pak-san-kui telah mengumpulkan murid-muridnya dan ketika melihat Kim Hong cepat menyambutnya dan memegang tangan dara itu.

"Nona, bagaimana...? Dapatkah engkau mengejarnya?"

"Aku tahu di mana dia, akan tetapi aku tahu dia lihai sekali, maka aku tidak berani turun tangan sendiri, dan aku cepat menyusulmu untuk memberitahukan hal itu."

Akan tetapi Pak-san-kui memandang kepada gadis itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Nona Toan, kenapakah nona membantu puteraku dan memusuhi Pendekar Sadis?"

Pertanyaan ini diajukan secara tiba-tiba dengan suara keras penuh desakan, karena memang kakek ini menaruh curiga dan sengaja menanya secara tiba-tiba untuk membuat gadis itu tidak dapat membohong tanpa diketahuinya.

Akan tetapi gadis ini bersikap tenang, dan di bawah sinar lampu yang terang itu nampak betapa gadis itu memandang kepada penanyanya dengan penasaran.

"Ah, apakah locianpwe belum tahu? Bukankah Pendekar Sadis yang membunuh pamanku, Pangeran Toan-ong di kota raja? Locianpwe, biarpun mendiang ayahku dianggap pemberontak oleh kota raja, akan tetapi telah diampuni, dan bagaimanapun juga, Toan-ong yang dibunuh Pendekar Sadis itu adalah pamanku sendiri. Maka, aku tentu saja menganggap Pendekar Sadis sebagai musuhku!"

"Ayah, selain itu, juga kami berdua saling mencinta. Aku... aku telah mengambil keputusan untuk memilih Nona Toan sebagai calon jodohku, maka sudah sepatutnya kalau ia membantuku ketika Pendekar Sadis menyerangku,"

Kata Siangkoan Wi Hong.

Kim Hong mengerling ke arah pemuda itu dan sepasang pipinya berubah merah, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu.

"Jadi engkau sudah tahu di mana dia berada, nona?"

Tanya Pak-san-kui Siangkoan Tiang. Gadis itu mengangguk.

"Sebaiknya kalau malam ini juga kita menyerbunya, selagi dia lengah,"

Katanya.

"Memang itupun menjadi rencana kami,"

Kata Pak-san-kui.

"Akan tetapi, kita masih menanti datangnya pasukan Siong-ciangkun."

"Ah, jangan menggunakan pasukan, locianpwe!"

Tiba-tiba Kim Hong berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Kenapa menghadapi satu orang saja harus menggunakan pasukan? Locianpwe sendiri adalah seorang sakti, belum lagi locianpwe masih dibantu oleh putera locianpwe yang lihai dan juga ada lagi murid-murid locianpwe ini yang terkenal pula. Dan, kalau locianpwe percaya kepadaku, akupun dapat membantu. Padahal, bukan aku sombong, kalau aku dibantu oleh Siangkoan-kongcu seorang saja, akupun sudah akan mampu menandinginya!"

Tentu saja Pak-san-kui menganggap gadis ini bicara sombong.

Betapapun lihainya, mana mungkin gadis ini mampu melawan Pendekar Sadis?

Dia sendiri saja gentar menghadapi pendekar yang telah mampu menewaskan See-thian-ong dan para muridnya itu.

Akan tetapi karena gadis inipun merupakan pembantu yang lumayan, dia diam saja tidak menanggapi sikap yang dianggapnya sombong itu.

Akan tetapi diam-diam Siangkoan Wi Hong mempercayai omongan gadis itu karena dia sudah melihat sendiri betapa gadis itu mampu menandingi Pendekar Sadis, bahkan pendekar itu yang ketihatan gentar dan melarikan diri, maka diapun cepat berkata.

"Ayah, kalau Toan-siocia membantu kita, aku yakin kita akan mampu menghancurkan Pendekar Sadis!"

"Locianpwe, sebetulnya, sudah lama aku sendiripun ingin sekali bertemu dengan pembunuh pamanku itu dan membalas dendam. Oleh karena itulah, maka sekarang ini sama sekali bukan berarti aku membantu locianpwe, bahkan dapat dikatakan sebaliknya, pihak locianpwe yang membantu aku agar berhasil membalas dendam. Karena aku tidak mau gagal, maka kuharap locianpwe jangan mengerahkan pasukan."

"Hemm, mengapa nona mengatakan begitu?"

"Pendekar Sadis adalah seorang yang amat lihai, kalau kita menyerbu menggunakan pasukan besar, tentu sebelumnya dia akan lebih dulu mengetahui dan dapat melarikan diri sehingga usaha kita akan sia-sia belaka. Sebaliknya kalau yang menyergapnya hanya kita saja, yang semua memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, maka kita tentu akan dapat datang tanpa menimbulkan suara dan dapat menyergapnya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri. Maka, kuusulkan agar locianpwe sendiri, dibantu oleh Pak-thian Sam-liong, Siangkoan-kongcu dan aku sendiri, kita berenam sudah lebih dari cukup untuk menandingi dan merobohkannya. Jangan membawa pasukan."

Pak-san-kui mengangguk-angguk.

Kini dia melihat benarnya ucapan gadis itu, dan diam-diam dia girang bahwa puteranya dapat menarik gadis ini sebagai sahabat.

Kini dia yakin pasti akan berbasil membalas dendam, bukan hanya mengalahkan Pendekar Sadis, bahkan membunuhnya.

"Baik, kita berangkat sekarang tanpa pasukan,"

Katanya dan mereka berenam lalu berangkat.

Kim Hong berjalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan.

Pondok itu memang terpencil di pinggir kota.

Dan malam sudah larut, suasana amat sunyi.

Agaknya semua penghuni rumah sudah tidur dan tidak terdengar suara apapun.

Dengan hati-hati Kim Hong memberi isyarat-isyarat kepada teman-temannya dan mereka berenam mengurung pondok kecil itu.

Kim Hong sendiri bersama Pak-san-kui menghampiri pintu depan, dan terdengarlah Pak-san-kui berseru, seperti yang telah mereka rencanakan.

"Pendekar Sadis! Kami telah mengetahui tempat sembunyimu. Keluarlah untuk menerima (Lanjut ke

Jilid 37) Pendekar Sadis (Seri ke 05

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 37 kematian!"

Sejenak sunyi saja. Pak-san-kui yang menjadi tidak sabaran itu menggedor pintu.

"Pendekar Sadis, keluarlah, kalau tidak, akan kurobohkan pondok itu!"

"Jangan dirobohkan pondokku...!"

Terdengar teriakan dan pintu depan terbuka, seorang laki-laki tua keluar dari pintu itu.

Dari dalam terdengar suara nyaring.

"Paman, jangan keluar!"

Akan tetapi terlambat!

Melihat seorang pria tua keluar, Pak-san-kui menggerakkan huncwenya.

Terdengar jerit orang itu yang terpelanting roboh tak bergerak lagi.

Pak-san-kui sendiri sampai terkejut.

Tak disangkanya bahwa orang yang keluar itu sama sekali tidak memiliki kepandaian silat sehingga begitu mudah roboh dan tewas.

Karena rumah itu menurut Kim Hong adalah tempat sembunyi Pendekar Sadis, maka tentu saja dia tadi menyangka bahwa yang keluar tentu bukan orang sembarangan.

Akan tetapi, membunuh orang, baik yang bersalah maupun yang tidak, bagi datuk ini tiada bedanya, maka diapun sama sekali tidak peduli.

Puteranya, murid-muridnya dan juga Kim Hong memandang tanpa mempedulikan, melainkan memperhatikan ke dalam pondok melalui pintu yang kini tetah terbuka itu.

Akan tetapi tidak terdengar sesuatu dari dalam pondok, juga tidak nampak sesuatu muncul dari situ.

Thian Sin yang tadinya sedang merebahkan diri di dalam pondok itu, begitu mendengar suara Pak-san-kui, sudah meloncat ke atas dan membuka genteng, lalu mengintai dari atas.

Dia melihat Pak-san-kui datang bersama Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong dan sama sekali tidak merasa gentar.

Akan tetapi yang membuat dia meragu adalah melihat Kim Hong berada pula di situ bersama mereka!

Tadipun dia sudah gelisah memikirkan betapa Kim Hong melindungi Siangkoan Wi Hong dan menyerangnya.

Dan kini ternyata gadis itu agaknya telah bersekutu dengan musuh besarnya!

Hal ini mendatangkan rasa nyeri daripada ketika melihat gadis itu berciuman dengan Siangkoan Wi Hong tadi.

Kalau memang Kim Hong sudah mengambil keputusan bersekutu dengan datuk utara itu untuk memusuhinya, diapun tidak takut!

Demikian suara hatinya yang terasa nyeri, kecewa, berduka dan marah.

Maka diapun bangkit berdiri di atas atap rumah itu.

Sinar bintang-bintang membuat dia nampak seperti tubuh siluman yang tiba-tiba muncul di situ.

Akan tetapi suaranya masih halus walaupun mengandung teguran keras.

"Kim Hong, begitu tidak tahu malukah engkau, merendahkan diri menjadi kaki tangan Pek-san-kui?"

Kemudian dia melayang turun di depan Pak-san-kui sambil menudingkan telunjuknya.

"Pak-san-kui, tua bangka keparat! Kalau memang engkau seorang datuk dan seorang laki-laki sejati, hayo lawanlah aku, keroyoklah dengan murid-muridmu, akan tetapi jangan ikut-ikutkan orang lain!"

Sebelum Pak-san-kui menjawab, tiba-tiba Kim Hong tertawa dan berkata dengan nada menghina.

"Hi-hik, Pendekar Sadis! Apakah engkau telah buta dan tidak melihat dengan siapa kau berhadapan? Locianpwe Siangkoan Tiang adalah datuk dunia utara, seorang locianpwe yang gagah perkasa. Dia sendiri saja sudah cukup untuk membikin engkau mampus, siapa butuh mengeroyokmu?"

Mendengar ucapan ini, Pak-san-kui terkejut.

Ucapan itu memang bermaksud baik, akan tetapi sungguh merugikannya!

Dan setelah mendengar gadis itu bicara demikian, tentu dia akan merasa rendah dan malu kalau begitu maju lalu mengeroyok musuhnya itu.

Maka diapun mengerling ke arah puteranya dan tiga orang muridnya.

"Aku akan menghadapinya sendiri! Kalian tahu kapan untuk turun tangan mencegah dia melarikan diri!"

Setelah berkata demikian dan merasa yakin bahwa puteranya dan tiga orang muridnya dapat mengerti apa yang dimaksudkannya, tiba-tiba saja Pak-san-kui sudah menerjang ke depan dengan senjatanya yang ampuh, yaitu huncwe maut itu.

Nampak api menyambar dari dalam huncwe yang kemudian menjadi sinar menyambar ke arah muka dan leher Thian Sin.

Cepat bukan main gerakan ini, akan tetapi Thian Sin sudah mengelak ke belakang.

Kim Hong melihat gerakan itu, kemudian melihat betapa kakek itu menggerakkan tangan kirinya dan lengan kiri itu mulur sampai panjang mengejar atau membuat serangah susulan ke arah kepala Thian Sin.

"Dukkk!"

Thian Sin menangkis dan keduanya terdorong dua langkah ke belakang.

Melihat ini, Kim Hong diam-diam terkejut dan kagum akan kelihaian datuk ini yang selain memiliki senjata huncwe yang berbahaya, juga memiliki lengan kiri yang dapat mulur panjang dan tentu saja amat berbahaya pula.

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong hanya mengurung tompat itu, siap untuk membantu karena mereka maklum bahwa kehadiran Kim Hong tentu saja membuat Pak-san-kui merasa sungkan untuk melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi mereka tahu bahwa kalau sampai Pak-san-kui terdesak, mereka berempat tentu akan segera turun tangan mengeroyok.

Maka Siangkoan Wi Hong lalu mendekati Kim Hong.

"Adik manis, kalau dia terlalu berat bagi ayah, kita baru akan turun tangan mengeroyoknya. Dia memang orang yang berbahaya sekali."

Kim Hong tidak menjawab, seperti tidak mendengar ucapan itu, melainkan menonton perkelahian itu dengan penuh perhatian.

Dan perkelahian itu memang amat menegangkan untuk ditonton.

Seru dan mati-matian, juga merupakan perkelahian antara orang-orang yang memiliki kepandaian hebat.

Dahulu, ketika untuk pertama kalinya Thian Sin mengalahkan Pak-san-kui, dia harus mengandalkan akal, menggunakan air untuk menghadapi serangan api yang kadang-kadang keluar dari huncwe maut itu, yang membuat lawan kewalahan dan panik.

Akan tetapi sekarang dia tidak membutuhkan lagi akal seperti itu, dan pula, sejak kekalahannya dari Thian Sin dahulu itu, Pak-san-kui sudah berlatih matang dan bersiap-siap kalau-kalau lawan menggunakan air lagi.

Maka andaikata Thian Sin mengulangi akalnya yang dahulu, dia tentu akan kecelik dan tidak akan berhasil.

Pemuda ini hanya menghadapinya dengan memegang kipasnya.

Setiap kali ada bunga api menyambar, atau asap yang berbau keras, kipas itulah yang mengebut dan api serta asap itu membalik dan menyerbu kakek itu sendiri!

Sedangkan serangan huncwe itu hanya dihadapi dengan tangan kosong saja oleh Thian Sin.

Huncwe maut itu menyambar-nyambar dengan ganas, mengeluarkan suara bercuitan mengerikan.

Thian Sin selalu dapat mengelak atau menangkis Huncwe dengan tangannya, bahkan membalas serangan lawan dengan sama dahsyatnya, menampar dan memukul atau menendang sambil mengerahkan sin-kang.

Thian Sin dapat melihat kenyataan bahwa dibandingkan dengan dahulu, datuk ini telah memperoleh kemajuan yang cukup banyak, maka diapun lalu mengubah gerakannya, mainkan ilmu silat warisan ayahnya yaitu Hok-liong Sin-ciang yang hanya delapan belas jurus itu.

Akan tetapi, baru saja dia mengeluarkan tiga empat jurus yang masing-masing mempunyai bagian-bagian dan perkembangan-perkembangan yang amat sulit itu, lawan telah terdesak hebat!

Pak-san-kui mengenal jurus-jurus ini, akan tetapi hanya kulitnya saja dan isinya sungguh membuat dia bingung karena mengandung daya serang yang sama sekali tidak pernah dapat diduganya, dan selain itu juga amat hebat.

Dalam serangan-serangan itu terkandung gerakan-gerakan aneh dan hampir saja dia kena dirobohkan lawan sehingga ketika kaki Thian Sin menyerempet lambungnya, dia terhuyung dan meloncat ke belakang sambil mengeluarkan seruan.

Seruan ini dikenal oleh Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong, maka mereka itu segera bergerak untuk membantu.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan menghadang mereka disertai bentakan.

"Tahan dulu!"

Siangkoan Wi Hong terkejut melihat bahwa yang menghadang itu adalah Kim Hong! Gadis ini berkata.

"Tadi sudah diadakan janji bahwa tidak akan ada pengeroyokan! Kalau kalian ingin mencoba kelihaian musuh, biarlah Pendekar Sadis menghadapi kalian. Dan karena tingkat kepandaian kalian masih rendah, kalian berempat boleh saja maju berbareng untuk menghadapinya! Hei, Pendekar Sadis tinggalkan dulu Pak-san-kui, dan hadapi mereka ini. Aku sendiri ingin merasakan kelihaian huncwe maut!"

Setelah berkata demikian, Kim Hong sudah meloncat ke dalam arena pertempuran itu sambil mencabut sepasang pedangnya dan langsung menerjang Pak-san-kui!

Perubahan sikap gadis ini sungguh mencengangkan semua orang.

Akan tetapi, kalau Siangkoan Wi Hong menjadi kaget dan marah sekali, sebaliknya Thian Sin yang juga kaget itu merasa girang bukan main.

Tadinya dia sudah merasa bingung dan gelisah kalau terpaksa harus menghadapi gadis itu sebagai musuh.

Biarpun hatinya masih panas kalau mengingat akan adegan romantis dan mesra antara Kim Hong dan Siangkoan Wi Hong, namun pembalikan sikap Kim Hong yang kini jelas berpihak kepadanya itu membuatnya girang sekali dan begitu melihat Kim Hong menyerbu Pak-san-kui, diapun lalu meloncat ke belakang untuk menghadapi Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong yang segera mengurung dan mengeroyoknya dengan serangan-serangan yang bertubi-tubi.

Terutama sekali, Siangkoan Wi Hong menyerang dengan penuh kebencian dan kemarahan.

Pemuda hartawan ini kecewa bukan main melihat betapa Kim Hong, gadis yang menjatuhkan hatinya, yang disangkanya telah terjerat olehnya, ternyata kini malah membantu Thian Sin!

Dan timbullah kecurigaannya bahwa memang gadis itu sengaja bersikap baik kepadanya untuk memancingnya, memancing ayahnya untuk menghadapi Pendekar Sadis di tempat sunyi itu.

Dan teringatlah dia betapa gadis itulah yang menganjurkan agar mereka berenam saja yang menghadapi Pendekar Sadis dan melarang agar jangan menggunakan pasukan.

Teringat akan ini, keringat dingin membasahi dahi Siangkoan Wi Hong dan dia menyerang semakin dahsyat, dibantu oleh tiga orang suhengnya yang sudah membentuk barisan Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) itu.

Thian Sin menghadapi empat orang pengeroyoknya dengan tenang-tenang saja.

Akan tetapi karena untuk menghadapi pengeroyokan empat senjata itu lebih enak kalau menggunakan senjata pula, maka selain kipasnya, diapun lalu mencabut Gin-hwa-kiam dan memutar pedangnya untuk melindungi dirinya dan kipasnya kadang-kadang menyambar dengan totokan-totokan maut.

Akan tetapi, Thian Sin tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian terhadap empat orang pengeroyoknya itu karena dia merasa khawatir kalau-kalau Kim Hong terancam bahaya, walaupun dia maklum bahwa kepandaian gadis itu kiranya tidak berada di sebelah bawah tingkat Pak-san-kui.

Pak-san-kui sendiri yang tadinya tercengang dan marah melihat betapa gadis itu membalik dan memihak musuh, dengan kemarahan meluap menghadapi Kim Hong.

"Bagus!"

Bentaknya.

"Memang anakku yang buta, tidak tahu bahwa engkau adalah seekor siluman yang jahat. Mampuslah kau di tanganku!"

Kakek itu segera menghisap huncwenya dan sekali dia menggerakkan huncwe, ada bunga api menyambar ke arah muka Kim Hong, disusul tiupan asap dari mulutnya dan dibarengi pula dengan totokan-totokan maut dari ujung huncwe!

Sungguh merupakan serangan maut yang amat hebat.

Kim Hong sejak tadi sudah melihat dan mempelajari kepandaian lawan, maka gadis ini mengerahkan gin-kangnya yang istimewa, sudah melesat ke atas untuk mengelak dari serangan bertubi-tubi itu.

Akan tetapi tangan kakek itu sudah menyambar, mulur sampai dua kali panjang lengan biasa, mencengkeram ke arah dada Kim Hong!

"Hih!"

Kim Hong berseru dan pedangnya berkelebat menyambar untuk membacok lengan yang panjang mengerikan itu.

Pak-san-kui kembali meniupkan asapnya dan menarik tangannya.

Karena asap itu selain amat kuat juga mengandung bau yang menyesakkan napas, terpaksa Kim Hong berjungkir balik di udara itu saja sudah menunjukkan kemahiran gin-kang yang amat hebat.

Dan sambil berjungkir balik ini Kim Hong sudah memindahkan pedang di tangan kirinya ke tangan kanan yang memegang dua pedang, sedangkan tangari kirinya bergerak, sinar merah menyambar dari atas ke arah kepala dan dada Pak-san-kui!

"Uhhh...!"

Pak-san-kui terkejut sekali dan dengan cepat dia memutar huncwenya menangkis.

Terdengar suara nyaring berkerincingan ketika jarum-jarum merah itu terpukul runtuh.

Akan tetapi, gadis itu telah turun ke atas tanah dan menyerang lagi dengan sepasang pedangnya, gerakannya aneh luar biasa sehingga yang nampak hanya dua gulungan sinar hitam yang bergulung-gulung seperti dua ekor naga hitam mengamuk.

Pak-san-kui menangkis beberapa kali sehingga nampak bunga-bunga api berhamburan, dari mulut huncwe dan juga dari pertemuan senjata mereka!

Kembali Pak-san-kui merasa terkejut bukan main.

"Tahan...!"

Serunya dan diapun meloncat ke belakang.

Kim Hong menyilangkan sepasang pedang hitamnya di depan dada sambil memandang dengan senyum mengejek.

"Pak-san-kui, kau hendak bicara apa lagi?"

Tanyanya, sikapnya yang tadinya menghormat datuk itu kini lenyap, berubah menjadi sikap dan suara penuh ejekan.

Pak-san-kui mengerutkan alisnya dan memandang tajam, penuh selidik.

Dan teriakannya tadi ternyata juga menghentikan pertandingan antara Thian Sin yang dikeroyok empat.

Agaknya puteranya, dan juga tiga orang muridnya, mengira bahwa teriakan itu ditujukan untuk semua sehingga mereka berempatpun meloncat ke belakang, dan tentu saja Thian Sin juga menunda gerakannya.

Dia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh kakek itu.

"Nona, aku pernah mendengar tentang jarum merah dan Hok-mo Siang-kiam. Ada hubungan apakah engkau dengan Lam-sin?"

Pertanyaan yang persis sama dengan yang pernah diajukan oleh See-thian-ong kepadanya!

Sekali ini Thian Sin diam saja, dan Kim Hong menjawab seperti ketika ia menjawab See-thian-ong.

"Lam-sin sudah tidak ada, yang ada hanyalah Toan Kim Hong saja!"

"Tapi... tapi... Lam-sin adalah datuk selatan, masih rekan dan segolongan denganku...!"

"Cukup! Kalau engkau takut menghadapiku, katakanlah, tua bangka!"

Bentak Kim Hong.

Tentu saja bentakan ini membuat Pak-san-kui marah bukan main.

Ia tahu bahwa gadis ini ternyata lihai sekali, dan mungkin sudah mewarisi semua kepandaian datuk yang bernama Lam-sin.

Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa dia takut menghadapinya, hanya kalau gadis selihai ini sekarang berpihak kepada Thian Sin, sungguh amat berbahaya bagi pihaknya.

Kini mendengar makian dan bentakan Kim Hong, dia lupa akan semua kekhawatiran itu, terganti rasa kemarahan besar sekali dan diapun membentak.

"Bocah yang bosan hidup!"

Dan huncwenya sudah menyerang lagi.

Kim Hong tersenyum mengejek dan menggerakkan sepasang pedangnya pula.

Melihat betapa mereka sudah mulai bertempur lagi, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong juga segera menyerbu Thian Sin yang menghadapi mereka sambil tersenyum dan memandang rendah.

Akan tetapi pemuda ini tetap membagi perhatiannya kepada Kim Hong karena dia tidak ingin gadis itu celaka di tangan datuk utara yang lihai itu.

Diam-diam Kim Hong merasa gembira sekali karena semenjak ia meninggalkan Pulau Teratai Merah, berkelana di dunia kang-ouw sampai mendapatkan julukan Lam-sin, baru beberapa kali saja memperoleh lawan yang cukup tangguh.

Pertama sekali adalah Thian Sin yang telah berhasil mengalahkannya, mengalahkan ilmu silatnya dan juga menundukkan hatinya, pria pertama yang ia serahi tubuhnya sebagai tanda takluk.

Kemudian ia bertemu dengan See-thian-ong yang merupakan lawan yang tangguh pula.

Dan kini, Pak-san-kui juga merupakan lawan yang menggembirakan karena memang amat lihai.

Kim Hong harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, barulah ia dapat mengimbangi kehebatan kakek itu.

Di lain pihak, Pak-san-kui terkejut bukan main setelah memperoleh kenyataan bahwa dia sungguh-sungguh tidak dapat mengatasi gadis itu!

Jurus apapun yang dikeluarkannya, selalu dapat dibendung oleh gadis itu dan dia sendiri baru dengan setengah mati dapat menyelamatkan diri dari desakan gadis itu.

Apalagi kecepatan dan keringanan tubuh gadis itu yang membuat dia hampir kewalahan.

Benar-benar seorang lawan yang agaknya tidak di bawah Pendekar Sadis sendiri tingkat kepandaiannya.

Mulailah dia merasa khawatir sekali.

Kalau gadis ini membantu Thian Sin, maka pihaknya jelas akan mengalami kerugian hebat.

Setelah membiarkan Kim Hong menghadapi dan "merasakan"

Kelihaian datuk utara itu selama lima puluh jurus lebih, tiba-tiba Thian Sin lalu melompat, meninggalkan empat orang pengeroyoknya dan menerjang datuk itu sambil berkata kepada Kim Hong.

"Jangan kau merampas musuh besar dari tanganku!"

Kim Hong tertawa dan gadis inipun membalik lalu menghadapi Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong.

Pada saat itu, Siangkoan Wi Hong sudah merasa yakin bahwa gadis ini agaknya memang sengaja mendekati keluarga Pak-san-kui untuk memancing mereka ke tempat itu, maka diapun menjadi marah sekali.

"Perempuan hina, rasakan pembalasanku!"

Yang-kimnya menyerang ganas disusul cengkeraman tangan kirinya dengan ilmu cakar garuda!

Dimaki seperti itu, Kim Hong menjadi marah sekali.

Pedangnya berkelebat menyambar, yang satu menangkis yang-kim dan yang ke dua membabat ke arah lengan kiri lawan, dan selain itu, iapun mengerahkan semua tenaganya.

"Trakkk!"

Siangkoan Wi Hong berhasil menarik kembali lengan kirinya, akan tetapi setelah terdengar suara keras itu, yang-kimnya pecah ujungnya terbabat pedang hitam!

Dan Kim Hong terus mendesaknya, akan tetapi pada saat itu Pak-thian Sam-liong telah menyerbunya dari belakang, kanan dan kiri.

Terpaksa dara itu memutar kedua pedangnya dan kembali ia menghadapi pengeroyokan mereka berempat.

Akan tetapi sekali ini Kim Hong tidak main-main lagi dan gerakan kedua pedangnya membuat empat pengeroyok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat.

Apalagi Siangkoan Wi Hong sudah mengalami kekagetan karena yang-kimnya patah ujungnya.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis cantik yang pernah membiarkan dia menciuminya mesra itu ternyata memiliki kepandaian begitu hebat sehingga ayahnya sendiripun tidak mampu mengalahkannya.

Sementara itu, perkelahian antara Thian Sin melawan Pak-san-kui juga sudah menampakkan perobahan.

Kini Thian Sin mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Kakek itu tampak lelah sekali, dan sinar lampu di depan pondok itu biarpun hanya suram saja masih dapat menerangi keadaan kakek yang wajahnya menjadi pucat, napasnya agak memburu dan dari topi sulaman bunga emas di kepalanya itu keluar uap putih yang tebal.

Thian Sin terus mendesaknya, dan setiap kali huncwe bertemu dengan Gim-hwa-kiam, tentu kakek itu tergetar dan terhuyung ke belakang.

"Tranggggg...!"

Kembali kedua senjata itu bertemu dan sekali ini sedemikian hebatnya sehingga tubuh kakek itu terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk.

Akan tetapi Pak-san-kui sudah menggerakkan lengan kirinya yang dapat memanjang itu, sambil duduk tangan kirinya itu bergerak seperti ular dan tahu-tahu telah menangkap kaki kanan Thian Sin.

Pemuda ini memang sengaja membiarkan kakinya ditangkap, akan tetapi ketika kakinya ditarik, tetap saja dia tidak mampu mempertahankan dan diapun terpelanting!

Akan tetapi bukan sembarangan terpelanting, melainkan terpelanting yang telah diaturnya sehingga ketika terguling itu, pedangnya bergerak, sinar perak berkelebat ke bawah.

"Crokk! Aughhhhh...!"

Pak-san-kui meloncat berdiri dan terhuyung ke belakang, akan tetapi lengannya tertinggal di kaki Thian Sin karena pedang itu telah membabat buntung lengan kirinya sebatas siku!

Akan tetapi, tangan kirinya itu masih saja mencengkeram pergelangan kaki pemuda itu!

Thian Sin cepat membungkuk dan melepaskan tangan kiri lawan itu dari kakinya, kemudian dia terus menubruk maju menyerang Pak-san-kui yang sudah terluka parah.

"Trang! Tranggg...!"

Kembali bunga api berpijar dan tubuh kakek itu terjengkang.

Thian Sin menyimpan Gin-hwa-kiam dan pada saat kakek itu bangkit, dia sudah menyerangnya lagi, kini mempergunakan kedua tangan kosong.

Pak-san-kui yang menyeringai kesakitan itu menyambutnya dengan pukulan huncwe sekuatnya ke arah dahi Thian Sin.

Pemuda ini menangkapnya.

Mereka saling betot dan tiba-tiba Thian Sin mempergunakan Thi-khi-i-beng!

"Ahhh...!"

Pak-san-kui terkejut sekali.

Dia sudah tahu bahwa lawannya ini memiliki ilmu Thi-khi-i-beng yang mujijat itu, akan tetapi dia sama sekali tidak menyangkanya bahwa pemuda itu akan mempergunakannya pada saat itu.

Kini huncwenya melekat pada tangan pemuda itu dan pada saat dia mengerahkan tenaga sekuatnya untuk membetot, pemuda itu mengerahkan ilmu yang seketika menyedot semua sin-kang yang tersalur lewat tangan kanannya.

Karena tangan kirinya sudah tidak dapat dipergunakan, maka kakek ini cepat menyimpan tenaga dan menghentikan pengerahan sin-kangnya.

Hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya agar tenaga lwee-kangnya tidak tersedot habis.

Akan tetapi, pada saat itu Thian Sin yang sudah memperhitungkan ini, tiba-tiba merenggut lepas huncwenya dan di lain saat huncwe itu sudah membalik ke arah kepala Pak-san-kui.

"Prakkk!"

Huncwe itu remuk, pecah berantakan, tetapi tubuh kakek itu terguling, kepalanya bagian pelipis mengucurkan darah!

Thian Sin membuang huncwe yang sudah remuk itu dan meloncat mendekati untuk memeriksa apakah lawannya telah tewas.

Baru saja dia membungkuk, tiba-tiba kaki Pak-san-kui bergerak cepat.

"Desss...!"

Tubuh Thian Sin terlempar ke belakang ketika kaki itu mengenai dadanya!

Untung bahwa dia tadi cepat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang melindungi dadanya sehingga ketika kena tendang, dia hanya terlempar saja dengan dada terasa agak nyeri, akan tetapi tidak sampai terluka dalam.

Kakek itu tertawa aneh dan tubuhnya sudah meloncat bangun lagi lalu menubruk ke arah Thian Sin yang masih rebah terlentang setelah terlempar tadi.

Thian Sin menyambutnya dengan totokan ke arah leher sambil meloncat bangun.

"Cusss...!"

Thian Sin kaget bukan main ketika jari tangannya hanya menotok kulit daging yang lunak.

Disangkanya bahkan kakek itu mempergunakan ilmu yang dimiliki Kim Hong, yaitu melepaskan daging menyembunyikan otot seperti Ilmu Bian-kun (Ilmu Silat Kapas).

Akan tetapi ketika dia memandangi ternyata kakek itu terkulai dan roboh tak bernyawa lagi!

Kiranya setelah mengeluarkan suara ketawa aneh dan pada saat menubruknya tadi, kakek itu telah tewas!

Tenaganya yang terakhir dipergunakan dalam tendangan tadi dan setelah dia memeriksanya, ternyata pelipis kepalanya telah retak oleh pukulan dengan huncwe tadi.

Thian Sin cepat menengok.

Dia melihat betapa Kim Hong mempermainkan empat orang lawannya.

Diapun tidak membantu, hanya menonton sambil berdiri di depan pondok.

Diam-diam dia semakin kagum kepada Kim Hong.

Empat orang pengeroyoknya itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang hebat dan kalau mereka berempat itu maju bersama seperti itu, agaknya malah lebih berbahaya dan lebih kuat dibandingkan dengan Pak-san-kui sendiri.

Namun, jelaslah bahwa Kim Hong menguasai perkelahian itu.

Dara ini membagi-bagi serangah seenaknya, dan dengan gin-kangnya yang luar biasa ia seperti beterbangan ke sana ke mari, seperti seekor kupu-kupu lincah beterbangan di antara empat tangkai bunga.

Sepasang pedang di tangannya membuat gulungan sinar hitam yang mengeluarkan suara berdesing-desing dan yang membuat empat orang pengeroyoknya kewalahan sekali.

Bahkan barisan Sha-kak-tin itupun sudah kocar-kacir.

Baca Juga: Si Bangau Merah 5

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert