Eps 11 Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo.
Hal ini bukan hanya disebabkan oleh kelihaian ilmu pedang Kim Hong, melainkan juga karena adanya Siangkoan Wi Hong ikut mengeroyok.
Sha-kak-tin adalah ilmu silat kelompok yang dilakukan oleh tiga orang yang selalu mengatur pengepungan dengan segi tiga.
Tempat mereka itu boleh bertukar-tukar, akan tetapi selalu dalam bentuk segi tiga.
Kini dengan adanya Siangkoan Wi Hong, biarpun dasar ilmu silat mereka dari satu sumber, Akan tetapi kehadiran Siangkoan Wi Hong ini tidak memungkinkan lagi mereka memainkan Sha-kak-tin dengan sempurna.
Untuk membiarkan Siangkoan Wi Hong meninggalkan merekapun merupakan hal yang berbahaya sekali karena lawan mereka sungguh amat lihai.
Maka mereka mengepung berempat dan melakukan pengeroyokan.
Akibatnya malah mereka sendiri yang merasa dikeroyok oleh banyak sekali pedang hitam!
Memang Kim Hong sengaja mempermainkan mereka.
Ia sudah berhasil merobek baju Siangkoan Wi Hong berikut kulit dan sedikit daging di dada kirinya, melukai pundak dan paha tiga orang Pak-thian Sam-liong, akan tetapi belum mau merobohkan mereka.
Ia menanti sampai Thian Sin berhasil merobohkan Pak-san-kui dan setelah melihat Pak-san-kui roboh dan tidak bergerak lagi, barulah ia tersenyum.
"Sekarang, kalian berempat bersiaplah untuk mengiringkan guru kalian ke neraka!"
Dan gerakan pedangnyapun berubah, menjadi semakin cepat, membuat empat orang itu bingung sekali.
Dua kali sinar hitam menyambar disusul robohnya dua orang di antara Pak-thian Sam-liong.
Mereka roboh tak bergerak lagi karena ujung kedua pedang hitam itu telah menusuk antara kedua mata mereka.
Orang ke tiga dari Pak-thian Sam-liong yang marah sekali menusukkan pedangnya dengan nekad, akan tetapi kembali sinar hitam berkelebat.
Terdengar suara keras dan pedang itu buntung, disusul robohnya pemegangnya dengan leher yang hampir putus terbabat sinar hitam pedang Hok-mo Siang-kiam.
Tinggal Siangkoan Wi Hong seorang diri harus menghadapi wanita itu!
Pemuda ini menjadi pucat mukanya.
Akan tetapi dia maklum bahwa dia tidak mungkin dapat melarikan diri lagi maka diapun lalu membuat gerakan tiba-tiba, menyambitkan yang-kimnya ke arah lawan, disusul dengan kedua tangannya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dan tangan kanan mencengkeram ke arah buah dada!
Inilah serangan maut yang dimaksudkan untuk mengadu nyawa dengan gadis cantik itu!
Akan tetapi, dengan mudah Kim Hong mengelak dari sambaran yang-kim, dan sebelum serangan kedua tangan lawan dapat menyentuhnya, ia sudah membuat gerakan meloncat cepat, tubuhnya melesat ke arah belakang tubuh lawan, Kepalanya digerakkan dan tahu-tahu rambutnya yang panjang hitam dan harum itu telah menyambar ke depan dan telah membelit leher Siangkoan Wi Hong!
Bukan belitan mesra dari rambut harum itu seperti yang dibayangkan oleh Siangkoan Wi Hong, melainkan belitan yang amat kuat, melebihi kuatnya lilitan seekor ular dan rambut itu telah mencekik leher!
Siangkoan Wi Hong terkejut dan otomatis kedua tangannya bergerak ke leher untuk melepaskan belitan itu.
Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong memutar kepalanya dan tubuh Siangkoan Wi Hong terangkat dan terbawa putaran itu, diputar beberapa kali dengan amat kuat.
Tubuh Siangkoan Wi Hong melayang ke arah Thian Sin!
Tubuh itu sudah lemas karena belitan rambut tadi membuatnya tidak dapat bernapas, maka ketika Thian Sin menyambutnya dengan tamparan, Siangkoan Wi Hong yang sudah setengah mati itu tidak mampu mengelak lagi.
"Prokk!"
Tubuh pemuda itu terbanting dan seperti juga ayahnya, kepalanya retak oleh tamparan Thian Sin dan diapun tewas tak jauh dari mayat ayahnya.
Mereka kini saling berhadapan, saling pandang di bawah penerangan sinar lampu redup depan pondok itu.
Mayat lima orang itu berserakan.
"Kim Hong..."
"Mari kita pergi dari sini, kalau ketahuan pasukan penjaga kita repot juga."
Kim Hong memotong kata-kata Thian Sin dan meloncat pergi, disusul oleh Thian Sin.
Baru setelah sinar matahari pagi menciptakan warna indah cerah di ufuk timur dan mereka telah tiba jauh sekali dari kota Tai-goan, mereka berhenti.
Pagi itu cerah dan indah sekali, secerah hati Thian Sin.
Lenyaplah semua perasaan kesepian, lenyaplah semua perasaan nelangsa, terganti sinar kegembiraan memenuhi hatinya, walaupun kegembiraan ini kadang-kadang menyuram oleh bayangan betapa gadis ini pernah berciuman dengan mesra bersama Siangkoan Wi Hong!
Mereka berhenti di padang rumput, jauh dari dusun-dusun.
Hanya burung-burung yang menyambut keindahan pagi dengan nyanyian mereka sajalah yang menemani mereka di tempat sunyi itu.
Tidak nampak seorangpun manusia lain di sekitarnya.
"Kim Hong,"
Kata Thian Sin yang sejak tadi menahan-nahan perasaan hatinya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyesak di dada, karena ketika mereka berlari-lari tadi, Kim Hong seolah-olah hendak mengajaknya berlumba.
"Sekarang aku minta penjelasan darimu."
Kim Hong tersenyum, menggunakan saputangan sutera hijau untuk menghapus keringat dari leher dan dahinya, kemudian ia menggunakan saputangan itu untuk dikebut-kebutkan ke atas rumput di bawahnya.
Titik-titik embun yang menempel pada ujung-ujung rumput itu, seperti juga keringatnya tadi, tersapu bersih dan setelah sebagian rumput itu kering, iapun lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput yang sudah tidak basah itu, sambil tersenyum.
"Penjelasan apa lagi?"
Tanyanya sambil mengerling dan Thian Sin melihat betapa kerling mata dan senyum itu mengandung perpaduan antara ejekan dan rangsangan.
Thian Sin mengerutkan alisnya, rasa cemburu memanaskan dadanya dan dia menjadi tidak sabaran.
Diapun menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tidak peduli bahwa celananya menjadi basah oleh embun yang memandikan rumput-rumput hijau.
"Penjelasan banyak hal. Kenapa engkau meninggalkan aku pergi tanpa pamit? Kemudian, mengapa engkau melindungi Siangkoan Wi Hong ketika aku menyerangnya? Dan kenapa engkau bersekutu dengan Pak-san-kui dan kemudian engkau membalik melawan mereka dan membantuku? Dan kenapa... engkau membiarkan dirimu dirayu dan dicium oleh Siangkoan Wi Hong?"
Mendengar semua pertanyaan itu, Kim Hong tersenyum dan memandang kepada Thian Sin seperti pandang mata seorang dewasa memandang anak-anak yang nakal dan ingin digodanya.
Kemudian ia mencabut sebatang rumput dan menggigit-gigit rumput itu di antara giginya yang berderet rapi dan putih seperti deretan mutiara, di antara bibirnya yang merah membasah dan tersenyum simpul itu.
"Thian Sin, engkau ini seorang pendekar yang berilmu tinggi, akan tetapi jalan pikiranmu masih begitu picik dan tumpul. Kalau engkau tidak mengerti mengapa aku meninggalkanmu, biarlah engkau tinggal tolol dan aku tidak mau memberitahukan kepadamu. Akan tetapi yang lain-lain dapat kujelaskan. Aku mendahuluimu ke Tai-goan, aku hendak menyelidiki keadaan Pak-san-kui yang kau sohorkan hebat itu. Aku sengaja mendekati Siangkoan Wi Hong dan ketika aku sedang menyelidiki, lalu muncul engkau yang hendak merusak penyelidikanku dengan menyerang Siangkoan Wi Hong. Tentu saja aku mencegahmu. Aku sengaja bersekutu dengan Pak-san-kui untuk menyelidiki keadaannya dan melihat keadaan mereka amat kuat, didukung oleh pasukan penjaga keamanan Tai-goan, mana mungkin engkau mampu mengalahkannya? Maka ketika engkau menyerangnya dan aku melindunginya, engkau lari dan diam-diam aku membayangimu, tahu bahwa engkau tinggal di pondok itu. Aku lalu mengajak mereka untuk menyerbu tanpa bantuan pasukan. Nah, setelah Pak-san-kui dan puteranya dan tiga orang muridnya menyerbu, bukankah hal itu yang kau tunggu-tunggu?"
Thian Sin melongo, lalu menggerakkan tangan hendak memegang lengan gadis itu, akan tetapi Kim Hong mengelak.
"Kim Hong, maafkan aku. Kiranya engkau melakukan semua itu untuk membantuku! Sungguh benar katamu bahwa aku seperti buta, aku telah berani menyangka yang bukan-bukan, mengira engkau membelakangiku dan memihak mereka. kau maafkan aku!"
Bibir bawah yang lunak itu mencibir.
"Hemm, untuk kesalahpengertian itu aku tidak perlu memaafkanmu karena memang sebaiknya kalau engkau salah mengerti agar penyelidikanku menjadi sempurna."
"Kim Hong, kalau engkau tidak menyesal, mengapa engkau menjauhkan diri? Sungguh aku tidak mengerti."
"Apa saja yang kau mengerti kecuali membunuh orang?"
Kim Hong mengejek.
"Kim Hong... aku minta kepadamu, jangan kau biarkan aku dalam kebingungan, jelaskanlah mengapa engkau meninggalkan aku dan mengapa pula engkau membiarkan dirimu dirayu oleh Siangkoan Wi Hong."
Tiba-tiba sepasang mata itu berkilat dan alis itu berkerut.
"Ceng Thian Sin, karena engkau mendesak, aku akan memberitahu, akan tetapi kalau sesudah ini engkau tidak minta ampun kepadaku, jangan harap aku akan sudi bertemu muka denganmu lagi! Dengarlah baik-baik. Engkau telah menghinaku, engkau telah meremehkan perasaanku dengan mencium So Cian Ling di depan mataku! Itulah sebabnya maka aku meninggalkanmu! Dan engkau melihat aku membiarkan diri berciuman dan berpelukan dengan pria lain, tidak peduli siapapun pria itu? Karena aku sengaja melakukannya untuk membalas dendam kepadamu! Aku tahu engkau membayangi kami dan aku ingin engkau melihatnya! Nah, aku sudah memberi penjelasan!"
Kim Hong bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, membelakangi pemuda itu.
Thian Sin menjadi bengong sejenak, kemudian melihat betapa kedua pundak gadis itu bergoyang-goyang, tahulah dia bahwa Kim Hong menangis, walaupun ditahan-tahannya sehingga tidak terisak.
Maka diapun lalu menubruk kedua kaki gadis itu dan dengan penuh penyesalan diapun berkata.
"Kim Hong, kau ampunkanlah aku, Kim Hong."
Sikap dan ucapan Thian Sin ini seperti membuka bendungan air bah sehingga air mata gadis itu mengalir turun dan kini ia tidak dapat menahan tangisnya sesenggukan.
"Kim Hong, aku mengaku salah... aku... tidak sengaja, melihat ia menghadapi kematian, aku terharu dan... ah, ampunkan aku, Kim Hong, aku... cinta padamu."
Akan tetapi walaupun kini Thian Sin memeluk kedua kakinya dan berada di depannya, Kim Hong tidak menjawab dan hanya menangis dan menutupi mukanya dengan saputangan.
"Kim Hong, maukah engkau mengampuniku?"
Kembali Thian Sin berkata sambil mengangkat muka memandang.
Kim Hong menahan isaknya dan menjawab lirih.
"Kalau aku tidak sudah mengampunimu sejak tadi, tentu aku sudah membantu mereka mengeroyokmu dan apa kau kira saat ini kau masih dapat hidup?"
Bukan main girangnya hati Thian Sin mendengar ini dan memang diapun dapat melihat kenyataan dalam ucapan gadis itu.
Kalau tadi Kim Hong membantu Pak-san-kui mengeroyoknya, jelaslah bahwa dia takkan mungkin dapat menang.
Menghadapi Pak-san-kui seorang saja, dia hanya menang setingkat, juga demikian kalau dia melawan Kim Hong maka kalau Pak-san-kui dibantu Kim Hong menyerangnya, sudah jelas dia akan kalah.
Apalagi di situ masih ada Pak-thian Sam-liong dan Siangkoan Wi Hong!
Belum lagi diingat bahwa tanpa bantuan Kim Hong, tentu dia telah dikurung oleh ratusan orang pasukan penjaga.
Tidak, betapapun lihainya, dia tidak mungkin dapat meloloskan diri dan sekarang tentu sudah menjadi mayat seperti Pak-san-kui dan murid-muridnya.
"Terima kasih Kim Hong, terima kasih! Sungguh aku yang tolol, dan aku amat cinta padamu. Kim Hong, apakah engkau juga cinta kepadaku?"
Kim Hong menjatuhkan diri berlutut, berhadapan dengan pemuda itu.
"Tolol, kalau aku tidak cinta padamu, apa kau kira aku sudi menyerahkan diri tempo hari? Kalau aku dikalahkan oleh pria yang tidak kucinta, apa sukarnya bagiku untuk membunuh diri?"
"Kim Hong..."
Mereka berpelukan, saling dekap dan saling cium dengan penuh kemesraan, dengan panas karena di situ mereka mencurahkan semua kerinduan hati mereka yang mereka tahan-tahan selama ini.
Mereka tidak mempedulikan lagi rumput basah air embun, bahkan rumput-rumput itu menjadi tilam pencurahan kasih asmara mereka di tempat sunyi itu.
Mereka lupa akan segala dan tinggal di padang rumput itu sampai dua hari dua malam, setiap saat hanya bermain cinta, saling mencurahkan cinta berahi yang seolah-olah tidak pernah mengenal puas.
Sanggama, perbuatan yang dilakukan oleh pria dan wanita, adalah sesuatu yang amat indah, sesuatu yang tidak terelakkan, Sesuatu yang wajar, sesuatu yang mengandung kenikmatan lahir batin, sesuatu yang menjadi hal yang terutama dalam hubungan antara pria dan wanita di dunia ini.
Juga merupakan suatu perbuatan yang suci, karena di dalamnya terkandung kemujijatan besar, yaitu perkembangbiakan manusia, penciptaan manusia di dalam rahim ibunya.
Sungguh sayang bahwa sejak ribuan tahun, hal itu malah dianggap sebagai sesuatu yang harus dirahasiakan, sesuatu yang bahkan dianggap tidak pantas untuk dibicarakan, terutama sekali kepada anak-anak, kepada calon-calon manusia yang pada waktunya tidak akan terbebas daripada perbuatan itu pula.
Sementara bahkan ada pandangan orang-orang yang belum mengerti atau yang munafik, atau yang pura-pura mengerti, bahwa sanggama adalah suatu hal yang "kotor"
Untuk dibicarakan.
Mengapakah kita tidak berani mengungkap peristiwa ini, perbuatan ini, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai pantangan dan sebagai pelanggaran susila kalau membicarakannya?
Mengapa?
Apakah karena di situlah tersembunyi rahasia kelemahan kita, sesuatu yang membuat kita tidak berdaya, sesuatu yang menghancurkan seluruh gambaran dari si "aku"?
Ataukah karena begitu saratnya kata sanggama atau sex dengan hal-hal yang dianggap memalukan dan tidak pantas maka kata itu, penggambaran tentang itu dianggap tidak layak dikemukakan kepada kita yang "berbudaya", yang "sopan"
Yang "bersusila"?
Mengapa kita begitu munafiknya sehingga untuk membicarakan kita merasa malu, walaupun tidak seorangpun di antara kita yang tidak melakukannya?
Membicarakan malu, akan tetapi melakukannya, walaupun dengan sembunyi-sembunyi, tidak.
Bukankah ini munafik namanya?
Memang, seperti juga orang makan, kalau sanggama dilakukan orang hanya untuk sekedar mengejar kesenangan belaka, hal itu dapat saja menjadi sesuatu yang tidak sehat dan buruk.
Orang yang memasukkan sesuatu ke dalam perutnya melalui mulut, kalau hanya terdorong oleh nafsu keinginan belaka, bukan tidak mungkin "makan"
Lalu menjadi sesuatu yang buruk dan mungkin menimbulkan bermacam-macam penyakit.
Demikian pula dengan sanggama, kalau dilakukan hanya untuk menuruti nafsu keinginan, maka yang ada hanyalah nafsu berahi semata dan hal ini menimbulkan bermacam keburukan seperti pelacuran, perjinaan, perkosaan dan sebagainya.
Akan tetapi, kalau sanggama dilakukan dengan dasar cinta kasih, sebagai tuntutan lahir batin yang wajar, maka hubungan sanggama merupakan hubungan puncak yang paling indah dan suci bagi pria dan wanita yang saling mencinta.
Penumpahan rasa sayang, rasa cinta, rasa bersatu, yang amat agung.
Perbuatan apapun yang dilakukan manusia, termasuk terutama sekali sanggama, kalau dilakukan dengan dasar cinta kasih, maka perbuatan itu adalah benar, bersih, sehat, dan indah.
Indah sekali!
Karena perbuatan antara dua orang manusia itu dilakukan dengan penuh kesadaran, dengan penuh kerelaan, tidak terdapat sedikitpun kekerasan, di situ yang ada hanya kemesraan dan dorongan untuk saling membahagiakan.
Saling membahagiakan!
Inilah sanggama yang dilakukan dengan dasar saling mencinta.
Bukan mencari kenikmatan melalui partnernya, sama sekali tidak.
Bahkan kenikmatan itu datang karena membahagiakan partnernya.
Inilah sanggama yang benar karena cinta kasih tidak akan ada selama diri sendiri ingin senang sendiri.
Sayang sekali kalau hal yang teramat penting ini dilupakan orang.
Sekali lagi perlu kita semua ingat bahwa sanggama hanyalah suci dan bersih apabila dilakukan orang atas dasar cinta kasih!
Tanpa adanya cinta kasih maka hal itu bisa saja terperosok kepada perbuatan maksiat yang kotor.
Pada hakekatnya, semua pengejaran kesenangan adalah sesuatu yang kotor karena di situ terkandung kekerasan dalam usaha untuk mencapai apa yang dikejar, yaitu kesenangan tadi.
Jadi, perlulah bagi anak-anak kita untuk semenjak kecil sudah mengetahui dengan jelas bahwa sanggama adalah hubungan yang paling mesra antara dua orang laki-laki dan wanita yang saling mencinta.
Saling mencinta!
Dan bukan hanya saling tertarik oleh keadaan lahiriah belaka, seperti wajah cantik atau tampan, kedudukan, kepandaian, harta benda dan sebagainya.
Perlu anak-anak kita mengetahui bahwa hubungan itu adalah hubungan yang suci, yang mengandung kemujijatan terciptanya manusia baru dan sumber perkembangbiakan manusia.
Cabul?
Mudah saja orang mempergunakan kata ini untuk dijadikan dalih penutup kemunafikannya.
Semacam keranjang sampah untuk mencoba mengalihkan pandangan sendiri terhadap kekotoran sendiri yang masih mengeram di dalam batin.
Kecabulan bukanlah terletak di luar, bukan melekat di dalam kata maupun perbuatan, melainkan di dalam lubuk hati.
Cabulkah orang melukis wanita telanjang?
Jangan dinilai dari lukisannya melainkan dijenguk dasar lubuk hati si pelukis yang kadang-kadang memang ternyata di dalam lukisannya.
Kalau di waktu melukis batinnya membayangkan kecabulan, maka cabullah pelukis itu.
Cabulkah orang yang menonton gambar wanita telanjang?
Tergantung pula dari keadaan batin si penonton gambar itu.
Baru cabul namanya kalau di waktu menonton dia menggambarkan hal-hal yang cabul tentunya.
Seorang mahasiswa kedokteran yang sedang mempelajari ilmu anatomi dan memandang gambar orang telanjang, belajar dengan tekun, tentu tidak melihat kecabulan apapun.
Kecabulan timbul dari pikiran.
Pikiran yang mengenang-ngenang pengalaman-pengalaman yang nikmat, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain lewat buku-buku dan cerita-cerita, pikiran membayang-bayangkan semua kenikmatan itu sehingga timbullah keinginan, timbullah nafsu berahi tanpa adanya cinta kasih, dan nafsu berahi tanpa cinta kasih inilah kecabulan!
Keinginan untuk memperoleh kenikmatan inilah yang menciptakan berbagai macam akal, demi mencapai kenikmatan sebanyak mungkin seperti yang dibayang-bayangkan oleh pikiran, oleh si "aku"
Yang selalu ingin menyelam ke dalam kesenangan.
Dan pengejaran kesenangan ini menimbulkan segala macam cara dan inilah sumber kecabulan!
Juga kekerasan, juga kemaksiatan, juga kejahatan.
Jadi jelaslah bahwa sex itu sendiri bukanlah sesuatu yang cabul.
Cabul tidaknya sesuatu itu tergantung dari dasar batin orang yang menonjolkannya atau juga dasar batin orang yang memandangnya.
Di antara segala perbuatan di dunia ini, satu-satunya yang membuat kita merasa bebas, satu-satunya yang melenyapkan perasaan si aku untuk sesaat, hanyalah sex itulah!
Di sini tidak lagi terdapat si aku yang menikmati.
Seluruh diri lahir batin lebur menjadi satu dengan kenikmatan itu sendiri.
Dan keadaan seperti itu, keadaan tanpa aku inilah yang merupakan kenikmatan tertinggi dan membuat sex menjadi sesuatu yang teramat penting dan terpenting di dalam kehidupan, membuat orang mendewa-dewakannya.
Dan karenanya sex menjadi suatu kesenangan, dan setelah menjadi kesenangan lalu menciptakan pengejarannya.
Maka terjadilah hal-hal yang amat buruk.
Thian Sin dan Kim Hong lupa diri.
Setelah berpisah, barulah mereka merasa betapa mereka itu saling membutuhkan, dan pertemuan yang mesra ini membuat ikatan di antara mereka menjadi semakin kuat.
Walaupun tidak ada ikatan lahir seperti pernikahan dan sebagainya di antara mereka, namun di dalam batin, mereka saling mengikatkan diri.
"Sudah engkau pikirkan secara mendalamkah, Kong Liang?"
Ibunya bertanya, suaranya mengandung kekerasan karena betapapun Yap In Hong mencinta puteranya ini, namun apa yang dikemukakan puteranya itu sungguh tidak berkenan di hatinya.
"Engkau harus ingat bahwa engkau adalah putera ketua Cin-ling-pai!"
"Ibu, apakah ibu hendak menonjolkan kedudukan di sini?"
Puteranya membantah.
Cia Kong Liang sudah berusia dua puluh empat tahun, sudah lebih dari dewasa dan pandangannya sudah luas walaupun dia mewarisi kekerasan hati ibunya.
"Bukan begitu maksudku, Liang-ji. Aku tidak menonjolkan kedudukan ayahmu, melainkan hendak mengingatkanmu bahwa ayahmu seorang pendekar besar. Ibumupun sejak muda adalah seorang pendekar dan engkau tentu maklum perdirian seorang pendekar, yaitu menentang kejahatan. Dan engkau tentu maklum pula siapa adanya Tung-hai-sian Bin Mo To itu! Engkau tentu sudah mendengar perkumpulan macam apa yang disebut Mo-kiam-pang yang diketuai dan didirikan oleh Tung-hai-sian itu, menguasai seluruh dunia perbajakan."
"Akan tetapi, ibu. Yang saya cinta dan yang saya ingin agar menjadi jodohku bukanlah Tung-hai-sian, melainkan Nona Bin Biauw!"
Pemuda itu bicara penuh semangat, akan tetapi dia bertemu pandang dengan ayahnya dan sadar bahwa dia bicara terlalu keras kepada ibunya, maka disambungnya dengan suara halus.
"Ibu, aku tahu bahwa Tung-hai-sian adalah seorang datuk golongan sesat yang menguasai dunia timur. Akan tetapi ketika aku menjadi tamu di sana, aku melihat benar bahwa sikap dan wataknya sama sekali tidak membayangkan seorang yang berhati jahat. Kecuali itu, aku sama sekali tidak peduli akan keadaan orang tuanya, karena apakah kita harus menilai seseorang dari keadaan orang tuanya, ibu?"
"Betapapun juga, orang tua dan keluarga tidak mungkin dikesampingkan begitu saja, anakku. Aku tidak melarang, tidak menentang, hanya minta kebijaksanaanmu."
Cia Bun Houw tidak dapat mendiamkan saja puteranya dan isterinya berbantahan seperti itu.
Dia menarik napas panjang dan berkata.
"Sudahlah, setiap pendapat tentu saja didasari oleh perhitungan-perhitungan yang kesemuanya mengandung kebenaran, akan tetapi betapapun juga, pendapat akan bertemu dengan pendapat lain dan terjadilah perselisihan dan kalau sudah begitu, maka keduanya menjadi tidak benar lagi. Isteriku, betapapun tepat semua pendirianmu tadi, namun kita harus selalu ingat bahwa suatu perjodohan adalah urusan yang sepenuhnya mengenai diri dua orang yang bersangkutan itu sendiri. Percampurtanganan orang lain, biar orang tua sendiri sekalipun, biasanya tidak menguntungkan dan hanya menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Harap kau ingat akan hal ini."
Tentu saja Yap In Hong ingat benar akan hal itu.
Bukankah perjodohannya sendiri dengan suaminya itupun mengalami hal-hal yang menimbulkan penyesalan, Bahkan membuat suaminya itu terpaksa berpisah dari orang tua selama bertahun-tahun karena orang tua suaminya tidak menyetujui perjodohan suaminya dengannya?
Ia tahu benar akan hal ini, tahu bahwa sebenarnya ia tidak berhak menentang kehendak puteranya yang telah jatuh cinta kepada puteri Tung-hai-sian.
Akan tetapi ia adalah seorang ibu, seorang wanita, dan betapa sukarnya menerima kenyataan yang amat berlawanan dengan keinginan hatinya itu.
Maka, mendengar ucapan suaminya yang tak dapat dibantah lagi kebenarannya itu, ia hanya menundukkan mukanya dan matanya menjadi basah.
Melihat ini, Bun Houw merasa kasihan kepada isterinya.
Mereka sudah mulai tua, sudah mendekati enam puluh tahun.
Tentu saja isterinya itu ingin sekali melihat puteranya berjodoh dengan seorang dara yang memuaskan dan menyenangkan hati isterinya sebagai seorang ibu.
"Pula, kita belum pernah melihat gadis itu, isteriku. Siapa tahu, pilihan Kong Liang memang tepat."
Mendengar ini, Yap In Hong mengusap air mata dan menarik napas panjang, lalu mengangkat mukanya memandang kepada puteranya sambil memaksa senyum penuh harapan.
"Itulah harapanku dan agaknya anak kita tidak akan memilih dengan membabi buta."
Kong Liang maklum benar apa yang diusahakan oleh ayahnya dan maklum apa yang terjadi dalam perasaan ibunya.
Maka diapun mendekati ibunya dan memegang lengan ibunya dengan penuh kasih.
"Percayalah, ibu, aku selama ini banyak bertemu dengan wanita, akan tetapi dalam pandanganku, tidak ada yang dapat menyamai Nona Bin Biauw. Ia selain cantik jelita, juga amat lincah dan gagah perkasa, lesung pipit di kedua pipinya manis sekali, dan gerak-geriknya, pakaiannya, amat sederhana, sama sekali tidak membayangkan sifat pesolek walaupun ia anak orang kaya."
Ibunya tersenyum.
"Begitulah kalau sudah jatuh cinta. Ayahmu dulupun menganggap ibumu ini sebagai wanita paling cantik di dunia!"
"Tapi, ibu memang wanita paling hebat di dunia!"
Kong Liang berseru.
"Pilihan ayah sama sekali tidak keliru!"
Lenyaplah sudah semua kemasygulan dari hati Yap In Hong. Nenek ini tersenyum dan berkata.
"Tentu saja, karena aku ibumu! Dan kalau ayahmu dahulu tidak memilih aku, tentu tidak akan terlahir engkau!"
Mereka bertiga tertawa-tawa gembira dan suasana menjadi tenang dan akrab kembali.
Akhirnya kedua orang tua itu terpaksa menyetujui kehendak Kong Liang karena mereka melihat kenyataan betapa putera mereka memang telah jatuh cinta kepada puteri Tung-hai-sian Bin Mo To.
"Akan tetapi, sebaiknya kalau kita mengirim utusan saja,"
Kata Cia Bun Houw ketua Cin-ling-pai itu.
"Biarpun engkau telah merasa yakin bahwa keluarga Bin itu akan menerima pinangan kita, Kong Liang, akan tetapi keyakinanmu itu berdasarkan dugaan saja. Pula, siapa tahu kalau-kalau dara itu telah dijodohkan dengan orang lain. Tentu saja engkau tidak ingin melihat ayah bundamu mengalami pukulan batin dan rasa malu kalau sampai pinangan ini gagal. Maka, sebaiknya pinangan ini dilakukan melalui surat dan utusan, jadi andaikata gagal sekalipun tidak langsung membikin malu."
Kong Liang setuju dan dapat mengerti alasan yang diajukan ayahnya.
Memang dia dapat membayangkan betapa akan terpukul rasa hati orang tuanya apabila melakukan pinangan sendiri, datang ke rumah Tung-hai-sian kemudian pinangan mereka ditolak karena gadis itu telah ditunangkan dengan orang lain misalnya.
Demikianlah, ketua Cin-ling-pai itu lalu mengirim utusan yang membawa surat lamaran ke Ceng-tou di Propinsi Shan-tung.
Dan tentu saja lamaran itu diterima dengan amat gembira dan bangga oleh keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To.
Utusan itu dijamu penuh kehormatan, kemudian ketika mengirim jawaban yang menerima pinangan itu Bin Mo To tidak lupa membekali banyak barang-barang berharga sebagai hadiah kepada keluarga Cia!
Juga dia mengirim undangan agar keluarga itu datang untuk membicarakan penentuan hari pernikahan.
Sebelum menerima undangan calon besan ini, Cia Bun Houw berunding dengan isterinya dan puteranya.
"Kong Liang, pernikahan bukanlah hal yang remeh dan patut dipertimbangkan dengan baik-baik agar kelak tidak akan menimbulkan penyesalan. Ibumu dan aku percaya bahwa engkau telah jatuh cinta kepada Nona Bin Biauw, akan tetapi harus kau akui bahwa perkenalanmu dengan nona itu masih amat dangkal. Oleh karena itu, demi kebaikan kalian berdua sendiri, seyogyanya kalau pernikahan ditunda dulu beberapa bulan sehingga dalam masa pertunangan engkau dan juga kami dapat mengamati dan melihat bagaimana keadaan dan watak dari keluarga Bin. Karena selama belum menikah, masih belum terlambat untuk mengubah jika terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki."
Kong Liang menyetujui pendapat ayahnya, dan pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka menuju ke Ceng-tou memenuhi undangan Bin Mo To yang dalam kesempatan itu sekalian mengundang hampir semua tokoh kang-ouw karena dia hendak mengumumkan pertunangan puterinya dengan putera Cin-ling-pai.
Dan tentu saja dalam kesempatan ini dia yang merasa bangga sekali itu memperoleh kesempatan untuk menikmati kebanggaannya.
Pada hari yang ditentukan itu, suasana dalam rumah gedung keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To sungguh amat meriah.
Rumah gedung besar itu dihias dengan indah, dan semua anak buahnya, yaitu para anggauta Mo-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan) nampak sibuk sekali.
Tamu-tamu berdatangan dari segenap penjuru, diterima oleh murid-murid kepala atau tokoh-tokoh Mo-kiam-pang yang mewakili pihak tuan rumah.
Sementara itu, keluarga Bin Mo To sendiri sibuk melayani keluarga Cia yang sudah lebih dulu datang dan terjadi pertemuan ramah tamah di dalam gedung, di mana keluarga Cia disambut penuh kehormatan, keramahan dan kegembiraan.
Tung-hai-sian Bin Mo To merasa amat berbahagia dan bangga.
Hal ini tidaklah mengherankan.
Dia adalah seorang Jepang, biarpun keturunan samurai sekalipun, namun tetap merupakan seorang asing, orang Jepang yang selalu dianggap rendah oleh orang Han, dianggap sebagai pelarian, sebagai bangsa biadab dan digolongkan sebagai bangsa bajak dan perampok!
Dan betapapun juga, tidak dapat diingkari bahwa dia merupakan seorang datuk golongan hitam, seorang tokoh besar di antara dunia penjahat yang biasanya dipandang rendah dan dimusuhi oleh para pendekar.
Dan sekarang, dia hendak berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, sebuah partai persilatan besar yang disegani.
Puteri tunggalnya ternyata berjodoh dengah putera tunggal ketua Cin-ling-pai!
Tentu saja hal ini merupakan penghormatan besar sekali baginya dan akan mengangkat namanya ke tempat tinggi dalam pandangan dunia kang-ouw dan para pendekar.
Karena itu, biarpun pesta yang diadakan itu hanya untuk merayakan pertunangan, bukan pernikahan, namun dia mengerahkan harta bendanya untuk membuat pesta yang besar dan meriah sekali, dan mengirim undangan ke segenap pelosok.
Semua tokoh besar dari semua kalangan, baik itu merupakan kaum liok-lim, kang-ouw atau kaum pendekar, dikirimi undangan.
Maka, pada hari yang telah ditentukan, tempat tinggal keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To atau nama aselinya Minamoto itu dibanjiri tamu dari berbagai golongan.
Bukan hanya gedung yang memiliki ruangan depan amat luas itu yang penuh, bahkan di pekarangan depan yang lebih luas lagi yang kini dibangun atap darurat, penuh dengan para tamu.
Minuman berlimpahan disuguhkan berikut kuih-kuih ringan sebelum hidangan dikeluarkan dan tempat itu amat berisik dengan suara para tamu yang bercakap-cakap sendiri antara teman semeja.
Suara berisik para tamu ini bahkan mengatasi suara musik yang sejak tadi pagi telah dibunyikan oleh rombongan musik.
Semua wajah nampak gembira seperti biasa nampak dalam pesta perayaan seperti itu, di mana para tamu bergembira karena minuman yang memasuki perut dan mendapat kesempatan bertemu dengan teman-teman dan kenalan-kenalan yang duduk semeja.
Kelompok memilih kelompok dan setiap pendatang baru mengangkat muka melihat-lihat untuk mencari kelompoknya sendiri-sendiri, atau mencari orang-orang yang mereka kenal baik.
Dengan wajah penuh senyum, mata bersinar-sinar dan muka berseri-seri, Bin Mo To sendiri sudah keluar ke tempat kehormatan di atas panggung, mengiringkan tamu kehormatan, yaitu keluarga Cia.
Untuk keperluan ini, Bin Mo To tidak melupakan asal-usulnya dan dia mengenakan pakaian tradisional Jepang, dengan jubah lebar dan sandal jepit berhak tinggi dan tebal.
Kepalanya yang agak botak itu licin, rambutnya digelung ke atas dan dihias dengan tusuk konde emas permata.
Pedang samurainya tergantung di pinggang, dengan sarung pedang berukir dan berwarna-warni seperti juga pakaiannya.
Dia nampak gagah sekali dan ketika berjalan, tubuhnya yang pendek tegap itu berlenggang seperti langkah seeker harimau.
Isterinya yang pertama berjalan bersama dengan isteri ke dua, yaitu wanita Korea yang menjadi ibu kandung Bin Biauw.
Hanya isteri pertama dan isteri ke dua inilah yang hadir secara resmi, sedangkan belasan isterinya yang lain sibuk di dapur, kemudian merekapun muncul di pinggiran.
Bagaimanapun juga, Bin Mo To merasa sungkan untuk menonjolkan belasan orang selirnya itu.
Isterinya yang tertua sudah berusia hampir enam puluh tahung juga seorang wanita Jepang yang pendek.
Akan tetapi isterinya yang ke dua, ibu kandung Bin Biauw, merupakan seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi semampai dengan pakaian yang khas Korea masih nampak cantik.
Bin Biauw sendiri berjalan bersama ibunya.
Dara ini nampak cantik jelita dan manis sekali, juga gagah.
Karena perayaan pertunangan itu tidak diadakan upacara resmi, Maka iapun berpakaian sebagai seorang pendekar wanita bangsa Han, walaupun rambutnya sama dengan gelung rambut ibunya, yaitu gelung rambut seorang puteri bangsa Korea, dengan tusuk konde yang panjang melintang ke kanan kiri dihias ronce-ronce yang indah.
Untung bahwa dara ini memiliki bentuk tubuh menurun ibunya, tidak seperti ayahnya.
Tubuhnya ramping dan biarpun ia menjadi tokoh utama dalam pesta itu karena pesta itu untuk hari pertunangannya, namun pakaiannya yang indah itu tidak terlalu menyolok, bahkan mukanya tidak dibedak terlalu tebal dan juga tidak memakai gincu dan pemerah pipi.
Memang tidak perlu, karena kedua pipinya sudah merah dan segar membasah.
Dara ini memang manis sekali dan dalam pertemuannya dengan calon mantu ini, diam-diam Yap In Hong sendiripun merasa puas.
Suami isteri pendekar dari Cin-ling-san itu sendiri, yang menjadi tamu-tamu kehormatan, menjadi pusat perhatian orang.
Pendekar Cia Bun Houw, ketua Cin-ling-pai itu biarpun usianya sudah enam puluh tahun namun masih nampak gagah dan jauh lebih muda daripada usia yang sebenarnya.
Pakaiannya sederhana berwarna abu-abu dan nampak berwibawa walaupun wajahnya tersenyum ramah dan langkahnya tegap.
Dia tidak nampak membawa senjata.
Akan tetapi pedang Hong-cu-kiam pada saat itu menjadi sabuk atau ikat pinggangnya.
Isterinya, Yap In Hong, yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu, juga berpakaian sederhana dan nyonya tua ini juga masih nampak gesit dan padat tubuhnya, bertangan kosong pula dan sepasang matanya amat tajam.
Dibandingkan dengan ayah bundanya Cia Kong Liang berpakaian lebih mewah dan rapi.
Di punggungnya nampak gagang pedang dan langkahnya tegap, dadanya yang bidang itu agak membusung dan sepintas lalu nampak bahwa pemuda ini mempunyai sikap yang agak tinggi hati.
Betapapun juga, harus diakui bahwa dia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, tidak mengecewakan menjadi putera tunggal ketua Cin-ling-pai.
Tempat pesta sudah penuh tamu dari berbagai kalangan.
Memang sudah disediakan tempat yang bertingkat-tingkat, sesuai dengan kedudukan dan tingkat para tamu.
Di barisan pertama nampak duduk wakil-wakil dari partai persilatan besar dan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw dan liok-lim, juga tokoh-tokoh besar dari dunia persilatan.
Semua tempat sudah penuh, dan yang paling ramai dan riuh adalah bagian terbelakang di mana berkumpul orang-orang muda yang termasuk tingkatan paling rendah, Yaitu murid-murid atau anggauta-anggauta dari berbagai perkumpulan silat.
Juga tamu umum yang tidak begitu menonjol dalam dunia persilatan kebagian tempat di sini sehingga tempat itu penuh dengan orang-orang berbagai golongan yang tak saling mengenal.
Ketika Tung-hai-sian Bin Mo To bangkit dan menjura ke arah suami isteri yang menjadi besannya itu dia berjalan ke tepi panggung menghadapi semua tamunya, maka suara yang berisikpun perlahan-lahan berhenti.
Tuan rumah yang bertubuh pendek tegap ini berdiri dengan kedua kaki terpentang dan dia mengangkat kedua tangannya ke atas memberi isyarat agar para tamu tenang dan bahwa dia minta perhatian.
Setelah suasana menjadi sunyi, barulah kakek pendek ini mengeluarkan suaranya yang terdengar lantang, tegas, namun dengan nada suara yang agak kaku dengan lidah asingnya itu.
"Saudara sekalian yang terhormat dan yang gagah perkasa! Kami berterima kasih sekali bahwa cu-wi telah memenuhi undangan kami dan kami merasa bergembira bahwa hari ini kita dapat berkumpul dalam suasana gembira. Seperti cu-wi telah ketahui, pesta ini dirayakan untuk menyambut hari pertunangan anak kami, yaitu Bin Biauw, yang dijodohkan dengan Cia Kong Liang, putera tunggal dari ketua Cin-ling-pai, yang terhormat Saudara Cia Bun Houw dan isterinya."
Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut pengumuman ini dan wajah kakek pendek itu berseri gembira.
Dia membiarkan sambutan sorak-sorai itu beberapa lamanya, kemudian dia mengangkat kedua tangan mohon perhatian.
Suasana kembali menjadi hening ketika orang-orang menghentikan sorak-sorainya.
"Bagi kami, ikatan perjodohan ini merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan yang teramat besar. Dan untuk menghormati kedudukan besan kami yang menjadi ketua Cin-ling-pai, maka kamipun tahu diri dan berusaha untuk menyesuaikan diri. Kami hendak mencuci tangan membersihkan diri agar tidak sampai menodai nama mantu dan besan kami yang terhormat. Oleh karena itu, kami mohon hendaknya cu-wi menjadi saksi akan peristiwa yang terjadi ini!"
Si Pendek ini lalu mengangkat tangan kanannya memberi isyarat kepada anak buahnya.
Delapan orang yang berpakaian seragam hitam, yaitu para anggauta dari Mo-kiam-pang, bergerak maju, memberi hormat kepada ketua mereka lalu mereka melangkah ke arah papan nama yang tergantung di depan.
Sebuah papan nama yang bertuliskan MO KIAM PANG dari papan hitam dengan huruf perak, amat megah nampaknya.
Ketika delapan orang itu berjalan tiba di depan dan bawah papan nama (Lanjut ke
Jilid 38) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38 besar itu, Mereka menggerakkan tangan dan nampaklah bayangan pedang berkelebat menyambar ke atas ke arah kawat yang menggantung papan nama itu.
Papan nama itu tentu saja terlepas dan jatuh ke bawah, diterima oleh tangan delapan orang itu, yang membawa papan nama itu kepada Tung-hai-sian.
Sejenak, kakek ini memandang papan nama itu dengan muka agak pucat, tanda bahwa perasaannya terguncang, kemudian dia menarik napas panjang dan begitu tangannya bergerak, nampak bayangan samurai berkelebat disusul bunyi keras dan papan nama yang terpegang oleh delapan orang itu runtuh ke bawah menjadi kepingan-kepingan kayu yang tak terhitung banyaknya!
Kemudian, tanpa dapat diikuti pandang mata bagaimana pedang samurai itu sudah kembali ke sarungnya, Bin Mo To sudah menjura kepada para tamunya dan berkata.
"Mulai saat ini, Mo-kiam-pang telah tidak ada lagi. Para bekas anggauta Mo-kiam-pang diperbolehkan memilih. Pulang ke tempat asal mereka atau tetap menjadi pembantu kami, dalam hal ini membantu perusahaan perdagangan kami."
Tentu saja perbuatan Tung-hai-sian membuat semua orang melongo.
Tak disangkanya bahwa datuk ini akan membubarkan perkumpulannya demikian saja.
Dan pembubaran ini berarti bahwa semua bajak dan perampok di daerah pesisir itu telah dibebaskan, tidak lagi berada di bawah pengamatan dan perlindungan Mo-kiam-pang!
Sungguh merupakan peristiwa besar yang mengejutkan, baik pihak kaum sesat maupun kaum pendekar.
Akan tetapi, mereka merasa lebih terkejut lagi ketika kembali Tung-hai-sian mengangkat kedua tangannya dan suaranya mengatasi semua kegaduhan.
"Harap cu-wi suka mendengarkan sebuah pengumuman lagi dari kami!"
Semua drang memandang dan suasana menjadi sunyi.
"Cu-wi yang terhormat, mulai detik ini, bukan hanya Mo-kiam-pang yang bubar, akan tetapi juga tidak ada lagi sebutan Tung-hai-sian, tidak ada sebutan Datuk Dunia Timur! Mulal saat ini, saya hanyalah seorang saudagar biasa saja yang bernama Bin Mo To. Saya mencuci tangan dan melepaskan diri dari dunia kang-ouw!"
Pengumuman ini sungguh mengejutkan semua orang.
Orang bisa saja membubarkan perkumpulan, akan tetapi mana mungkin meninggalkan julukan dan nama besar sebagai Datuk Dunia Timur?
Tentu saja, kalau pihak para pendekar mengangguk-angguk dengan hati kagum dan memuji, sebaliknya para tokoh dunia hitam mengerutkan alisnya.
Mereka akan kehilangan seorang tokoh dan berarti bahwa golongan mereka menjadi lemah.
Apalagi tiga orang datuk lain telah tumbang, Lam-sin tidak lagi terdengar beritanya dan kabarnya lenyap tanpa meninggalkan jejak.
See-thian-ong telah tewas, demikian pula Pak-san-kui, tewas di tangan Pendekar Sadis seorang yang agaknya berdiri di pihak para pendekar karena memusuhi para datuk kaum sesat, akan tetapi yang kekejamannya malah melebihi kekejaman golongan sesat yang manapun juga!
Di antara empat datuk, hanya tinggal Tung-hai-sian dan kini datuk inipun mengundurkan diri.
Karena merasa penasaran, seorang tokoh kaum sesat yang hadir di situ bangkit berdiri dan berseru.
"Locianpwe Tung-hai-sian meninggalkan kedudukannya tanpa alasan, apakah gentar oleh munculnya Pendekar Sadis?"
Ucapan ini mendatangkan ketegangan di antara para tamu.
Memang berita tentang para datuk yang diserbu dan bahkan sampai tewas oleh Pendekar Sadis, Sudah tersiar sampai ke mana-mana.
Menurut berita itu, See-thian-ong dan Pak-san-kui, dengan murid-murid mereka, semua tewas oleh Pendekar Sadis, dan Lam-sin dikabarkan lenyap tak meninggalkan jejak setelah pendekar itu muncul di selatan pula.
Melihat sepak terjang Pendekar Sadis yang memusuhi para datuk, maka tentu saja semua orang dapat menduga bahwa pada suatu hari tentu pendekar itu akan muncul di timur untuk menghadapi dan menandingi datuk timur Tung-hai-sian Bin Mo To.
Inilah sebabnya mengapa ucapan tokoh kaum sesat itu mendatangkan ketegangan dan semua orang memandang kepada pembicara itu sebelum mereka semua menoleh dan memandang ke arah tuan rumah yang wajahnya berubah merah karena pertanyaan yang sifatnya menyerang dan menyudutkannya itu.
"Aha, kiranya Giok Lian-cu Totiang yang mengajukan pertanyaan kepada kami,"
Kata datuk itu sambil tersenyum penuh kesabaran, walaupun hatinya mendongkol bukan main.
Baru saja dia menyatakan melepaskan kedudukannya, orang telah berani memandang rendah kepadanya seperti itu!
"Benar, pinto adalah Giok Lian-cu, akan tetapi dalam hal pertanyaan yang pinto ajukan ini, katakanlah bahwa pinto mewakili seluruh tokoh kang-ouw dan kami semua mengharapkan jawaban locianpwe secara terus terang."
Bagaimanapun juga para tamu merasa senang mendengar ini karena merekapun rata-rata merasa tidak puas dan ingin sekali tahu apa yang mendorong atau memaksa datuk itu meninggalkan kedudukannya dan melepaskan julukan semudah itu.
Padahal, semua tokoh maklum belaka betapa sukarnya mencapai kedudukan tinggi seperti Tung-hai-sian dan julukannya itu tidak diperolehnya secara mudah.
"Telah kunyatakan tadi bahwa setelah keluarga kami berbesan dengan keluarga ketua Cin-ling-pai, maka kami menyadari sepenuhnya bahwa kami tidak mungkin lagi melanjutkan kedudukan lama kami. Bagaimanapun juga, kami harus menghormati kedudukan ketua Cin-ling-pai. Demi kebahagiaan puteri kami, maka kami rela mencuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia kang-ouw, dan menjadi seorang berdagang biasa saja. Tidak ada persoalan gentar kepada siapapun juga."
"Bohong! Ucapan bohong dan memang Tung-hai-sian telah menjadi seorang penakut!"
Ucapan suara wanita ini tentu saja mengejutkan semua orang dan semua mata memandang ke arah wanita yang berani bicara seperti itu.
Orang-orang menjadi semakin heran ketika melihat bahwa yang bicara itu hanyalah seorang dara muda remaja yang duduk di antara tamu tingkat paling rendah!
Dara itu kini sudah bangkit berdiri dan orang yang memandangnya bukan hanya terheran karena keberaniannya, melainkan terutama sekali terpesona oleh kecantikannya.
Seorang dara yang cantik jelita dan manis sekali, bahkan agaknya tidak kalah cantiknya dibandingkan dengan Nona Bin Biauw yang menjadi bunga perayaan saat itu.
Kulit muka, leher dan tangannya nampak putih mulus, dengan sepasang mata yang tajam mencorong, mulut manis yang selalu tersenyum dan pada saat itu senyumannya mengandung ejekan, kedua tangannya bertolak pinggang, menekan kanan kiri pinggang yang ramping itu.
Sikapnya gagah dan sedikitpun ia tidak nampak malu-malu atau takut-takut, padahal seluruh pandang mata para tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw, liok-lim dan para pendekar itu ditujukan kepadanya.
Tung-hai-sian Bin Mo To memandang kepada gadis itu dan dia mengerutkan alisnya karena dia tidak merasa mengenal gadis ini.
Tahulah dia bahwa gadis ini memang sengaja mencari gara-gara, dan mungkin gadis itu adalah seorang di antara kaki tangan para tokoh yang merasa tidak puas dengan pengunduran dirinya.
Dia tahu bahwa banyak pihak, di antaranya pihak Pek-lian-kauw yang tadi diwakili oleh Giok Lian-cu, merasa terpukul dan dirugikan kalau dia mengundurkan diri dari dunia hitam.
Akan tetapi karena yang memakinya bohong dan penakut hanya seorang gadis muda remaja, tentu saja sebagai orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi, Bin Mo To terpaksa menahan kembali kemarahannya.
Dia memaksa senyum dan berkata dengan suara yang cukup sabar dan tenang.
"Agaknya nona hendak mengatakan sesuatu. Silakan dan hendaknya nona suka memperkenalkan diri kepada kami dan para tamu yang tentu ingin sekali mengenal siapa adanya nona."
Dengan ucapan ini, Bin Mo To telah menempatkan dirinya di tempat terang dan seperti memaksa gadis itu untuk memperkenalkan diri karena kalau tidak tentu gadis itu akan nampak tolol dan juga bersalah sekali.
Akan tetapi, tiba-tiba dara itu mengeluarkan suara ketawa yang merdu dan manis sekali dan tubuhnya sudah melayang dengan gerakan yang mengejutkan orang karena ia seperti terbang melayang, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke atas papan panggung dan sudah berhadapan dengan Tung-hai-sian Bin Mo To.
Gerakan ini tentu dikenal oleh para ahli silat yang hadir sebagai gerakan yang mengandung ilmu gin-kang yang amat tinggi.
Melihat ini, Bin Mo To juga terkejut.
Gin-kang seperti ini hanya dimiliki oleh seorang ahli silat yang tingkatnya sudah tinggi.
Maka, diapun tidak berani memandang rendah dan cepat dia menyambut dengan sikap hormat.
"Kiranya nona adalah seorang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Maaf kalau kami sebagai tuan rumah yang sudah tua tidak mengenal pendekar muda dan penyambutan kami kurang menghormat. Harap nona suka memperkenalkan diri dan mengeluarkan isi hati nona."
"Aku bernama Toan Kim Hong. Kenapa aku tadi mengatakan bahwa Tung-hai-sian menjadi penakut? Karena memang agaknya dia sengaja hendak menghindarkan Pendekar Sadis! Sudah menjadi ketetapan hati pendekar itu untuk menumbangkan empat orang datuk di dunia ini. Lam-sin, datuk selatan telah kalah olehnya, juga See-thian-ong datuk barat dan Pak-san-kui datuk utara. Kini tinggal Tung-hai-sian seorang yang akan diajak bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Akan tetapi, begitu dia muncul, Tung-hai-sian mengundurkan diri! Bukankah ini berarti bahwa datuk timur telah kehilangan nyalinya dan menjadi seorang penakut?"
Wajah Tung-hai-sian menjadi merah.
Kalau hal ini terjadi kemarin sebelum puterinya bertunangan dengan putera ketua Cin-ling-pai tentu dia sudah mencabut samurainya untuk menghajar orang yang berani menghinanya seperti itu.
Akan tetapi, demi puterinya, dia harus menelan semua penghinaan itu agar tidak sampai terpancing.
Bukankah orang yang kini kedudukannya hanya sebagai pedagang tidak boleh sembarangan mencabut senjata dan mempergunakan kekerasan?
Apa artinya dia mengundurkan diri dari dunia kang-ouw dan melepaskan kedudukan dan julukannya kalau dia masih suka menyambut dan mempergunakan kekerasan?
Maka, dengan mengerahkan kekuatan batinnya, dia memaksa sebuah senyum pahit.
"Nona, aku tidak mengenal Pendekar Sadis, tidak mempunyai urusan dengan dia sama sekali. Sedangkan di waktu aku masih menjadi Tung-hai-sian sekalipun belum tentu aku mau melayani dia bertempur tanpa sebab yang jelas, apalagi sekarang setelah aku menanggalkan semua itu dan menjadi seorang pedagang biasa."
Khawatir gagal membangkitkan kemarahan tuan rumah untuk diadu dengan Thian Sin, Kim Hong mengerutkan alisnya.
Ia datang ke tempat itu bersama Thian Sin, menyelundup di antara para tamu muda yang duduk berbondong-bondong di bagian tamu umum.
Ketika Thian Sin mendapat kenyataan betapa Tung-hai-sian sedang merayakan hari pertunangan puterinya dan bahwa puterinya itu ditunangkan dengan pamannya, yaitu Cia Kong Liang, dan melihat pula betapa ketua Cin-ling-pai dan isterinya berada di situ, hatinya sudah merasa sungkan dan malu.
Dia tidak bermaksud melanjutkan niatnya menantang Tung-hai-sian, setidaknya bukan pada saat itu.
Akan tetapi Kim Hong yang tidak mempedulikan semua itu, sudah mendahuluinya dan menantang Tung-hai-sian sehingga Thian Sin terpaksa hanya menonton saja dengan hati berdebar tegang dan merasa serba salah.
"Tung-hai-sian! Pendekar Sadis sudah berada di sini dan menantangmu, tidak peduli engkau mau memakai nama Tung-hai-sian atau Bin Mo To, atau juga seorang pedagang tak bernama! Pendeknya, kalau engkau tidak berani, katakan saja, bahwa engkau takut menghadapi dan melawan Pendekar Sadis, baru aku akan pergi dari sini membawa kesan bahwa yang bernama Tung-hai-sian Bin Mo To bukan lain hanyalah seorang kakek yang penakut!"
Wajah Bin Mo To menjadi pucat dan selagi dia bingung untuk menguasai dirinya yang dibakar kemarahan, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Perempuan hina, berani engkau mengacau tempat kami?"
Dan nampak sinar pedang berkelebat ketika Bin Biauw sudah meloncat dan menyerang Kim Hong dengan tusukan pedangnya yang mengarah lehernya.
Akan tetapi, ayahnya sudah menangkap pergelangan tangan yanm memegang pedang itut menahan serangan puterinya.
"Anakku, hari ini adalah hari baikmu, tidak sepantasnya kalau engkau terjun ke dalam perkelahian. Duduklah kembali, Biauw-ji,"
Kata Bin Mo To dengan suara lemah lembut dan penuh kasih sayang.
"Hemm, anaknya jauh lebih gagah daripada ayahnya!"
Kim Hong sengaja mengejek dan ia memang merasa kagum melihat kecantikan Bin Biauw tadi.
Akan tetapi sebelum Bin Biauw kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda bertubuh tegap gagah perkasa dengan pakaian yang rapi, seorang berpotongan pendekar sejati, dengan pedang di punggung, tampan dan ganteng, sikapnya angkuh namun berwibawa.
"Biauw-moi, biarkan aku menghadapi perempuan liar ini!"
Melihat bahwa yang maju adalah calon mantunya, Bin Mo To merasa girang dan bangga.
Dia sendiri tentu saja tidak gentar menghadapi wanita itu walaupun disebutnya nama Pendekar Sadis membuat hatinya agak tidak enak.
Akan tetapi dengan munculnya mantunya yang dia tahu amat lihai, apalagi di situ hadir pula besannya, yaitu ketua Cin-ling-pai, hatinya menjadi besar dan diapun tersenyum dan berkata kepada calon mantunya.
"Harap engkau berhati-hati."
Lalu diapun mengajak puterinya kembali ke tempat duduk mereka.
Kini Cia Kong Liang berhadapan dengan Kim Hong yang agak terpesona oleh pemuda yang gagah perkasa dan ganteng ini.
Kim Hong memandang pemuda itu dan tidak menyembunyikan rasa kagumnya.
Sambil tersenyum manis iapun berkata.
"Ah, kiranya inikah yang menjadi mantu Tung-hai-sian Bin Mo To dan putera ketua Cin-ling-pai? Hebat! Sungguh pandai sekali Tung-hai-sian memilih mantu!"
Katanya dan semua orang yang mendengar menjadi semakin heran.
Gadis itu bicara tentang Tung-hai-sian seolah-olah kakek yang menjadi datuk itu hanyalah orang yang setingkat dengan dirinya saja.
Cia Kong Liang tidak mau banyak bicara dengan wanita cantik itu.
"Engkau tadi mengatakan bahwa Pendekar Sadis sudah muncul untuk mengacau di sini. Nah, akulah lawannya karena aku mewakili tuan rumah, Locianpwe Bin Mo To untuk menghadapi Pendekar Sadis. Sudah lama aku mendengar tentang kekejamannya dan hari ini aku ingin sekali untuk merasakan sampai di mana sebenarnya kelihaian orang kejam itu!"
Kim Hong tersenyum dan menjadi semakin kagum akan kegagahan sikap pemuda ini.
"Hemm, kau tentu she Cia, bukan? Aku mendengar bahwa keluarga Cia, ketua dari Cin-ling-pai merupakan pendekar-pendekar sakti yang berilmu tinggi sekali. Akan tetapi, munculnya Pendekar Sadis di sini adalah untuk menandingi Tung-hai-sian, bukan lain orang. Kalau lain orang yang maju, maka akulah lawannya!"
Cia Kong Liang mengerutkan alisnya.
"Engkau seorang wanita yang sombong sekali. Aku tidak peduli siapa yang akan maju, Pendekar Sadis atau antek-anteknya, pendeknya siapapun yang hendak mengacaukan perayaan hari ini, biarlah dia boleh berhadapan dengan aku!"
Sambil berkata demikian, Kong Liang sudah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang terbuat dari bahan yang amat baik, mengeluarkan sinar kebiruan tanda bahwa pedang itu amat tajam dan kuat.
Dengan pedang melintang di depan dadanya, Kong Liang menanti, sikapnya siap untuk bertanding.
Kim Hong memandang kagum.
Sungguh seorang pemuda yang pilihan, pikirya.
Tampan, ganteng, dan gagah perkasa.
Pantas menjadi putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal kesaktiannya itu.
Maka timbullah kegembiraannya dan ingin ia mencoba kepandaian pemuda ganteng itu.
Pula, iapun mengerti bahwa Thian Sin akan merasa sungkan untuk melawan pemuda ini yang menurut penuturan kekasihnya itu, masih terhitung paman sendiri.
"Bagus! Cia-Taihiap, mari kita main-main sebentar!"
Katanya dengan manis dan iapun sudah mencabut sepasang pedangnya yang mengeluarkan sinar hitam mengerikan.
Sikap Kim Hong seperti menghadapi suatu permainan atau pertunjukkan yang amat menarik saja, sama sekali tidak nampak tegang atau khawatir, seolah-olah ia tidak tahu bahwa ia telah menantang putera tunggal ketua Cin-ling-pai!
Kong Liang sendiri merasa mendongkol bukan main.
Perempuan sombong ini memang perlu dihajar, pikirnya.
Kalau tidak, maka tentu nama baik calon mertuanya akan tercemar.
"Ingat, nona, engkau sendiri yang datang mencari keributan, bukan kami!"
Kata Kong Liang sambil memutar pedangnya ke atas kepala sehingga pedang itu berubah menjadi gulungan sinar kebiruan.
"Hi-hik, jangan khawatir. Memang aku datang untuk membikin ribut!"
Tantang Kim Hong yang juga sudah bergerak, memasang kuda-kuda yang manis sekali, kaki kanan diangkat dan ditekuk, tubuhnya tegak lurus.
Pedang kanan menuding ke atas dada, mulutnya tersenyum dan matanya mengerling ke arah lawan karena mukanya menghadap ke kiri.
"Lihat serangan!"
Kong Liang yang bagaimanapun juga merasa tidak enak harus melawan seorang dara muda, membentak dan mulai dengan membuka serangan pertama.
Kim Hong menangkis dengan pedang kiri sambil mengerahkan tenaga karena ia melihat betapa serangan lawan itu mengandung sin-kang yang kuat.
"Cringgg...!"
Kong Liang yang tadi hanya mengeluarkan separuh tenaganya, terkejut karena pedangnya tergetar hebat.
Tahulah dia bahwa lawannya itu, walaupun hanya merupakan seorang wanita muda, namun memiliki sin-kang yang kuat.
Maka diapun menyerang lagi, sekali ini mengerahkan seluruh tenaganya.
Kim Hong yang agaknya hendak mengukur tenaga lawan, kembali menangkis.
"Tranggg...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dengan amat kerasnya dua batang pedang itu bertemu dan pedang kanan Kim Hong sudah meluncur ke depan dengan cepatnya menuju ke tenggorokah Kong Liang!
Pemuda ini terkejut.
Pertemuan pedang tadi, yang digerakkan dengan sepenuh tenaga, ternyata ditangkis oleh tenaga yang tidak kalah kuatnya, bahkan pada saat berikutnya, pedang ke dua dari lawannya sudah menusuk ke arah tenggorokannya.
Cepat dia miringkan kepala, memutar kaki dan membalas dengar sabetan pedang dari samping.
Kembali Kim Hong menangkis.
"Bagus!"
Kong Liang memuji dengan sejujurnya dan mulailah dia menggerakkan pedangnya dengan jurus-jurus Siang-bhok Kiam-sut yang hebat.
Ilmu Pedang Kayu Harum ini adalah ilmu inti dari Cin-ling-pai.
Maka kehebatannya bukar main.
Aselinya dimainkan oleh pedang kayu, akan tetapi untuk mencapai tingkat ini bukanlah mudah sehingga Kong Liang sendiripun tidak mampu kalau harus menggunakan pedang kayu, maka sebagai gantinya dia mainkan ilmu itu dengan pedang baja.
Biarpun tidak sehebat kalau ayahnya bermain pedang kayu, namun ilmu pedang pemuda ini sudah hebat bukan main.
Melihat gerakan-gerakan aneh dan indah sekali ini, Kim Hong sendiri terkejut dan kagum.
Ia amat tertarik dan untuk belasan jurus lamanya ia hanya mengelak dan menangkis sambil memperhatikan gerakan lawan.
"Bagus sekali! Inikah Siang-bhok Kiam-sut dari Cin-ling-pai? Hebat... hebat... hebat...!"
Ia menangkis lagi dan mulai membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya.
Sepasang pedangnya telah membentuk dua gulungan sinar hitam yang melingkar-lingkar seperti dua ekor naga hitam yang menyambar-nyambar.
Iapun segera mainkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Hok-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Menaklukan Iblis) dan karena ia memiliki gin-kang yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan Kong Liang maka gerakannya amat cepat dan cukup membuat Kong Liang menjadi bingung.
Pemuda ini cepat mengubah permainan pedangnya dan mempergunakan gerakan Thai-kek Sin-kun untuk melindungi dirinya.
Memang hanya ilmu inilah yang dapat dipergunakan untuk melindungi dirinya terhadap desakan lawan yang lihai.
Akan tetapi, karena mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga untuk melindungi diri, dengan sendirinya Kong Liang tidak dapat membalas dan mulailah dia terdesak dengan hebat.
Kim Hong yang merasa gembira sekali itu sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, maka tentu saja Kong Liang menjadi repot karena bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Kim Hong yang pernah menjadi Lam-sin datuk selatan itu masih lebih tinggi dari tingkatnya!
Semua orang, termasuk juga Bin Mo To, dan bahkan Cia Bun Houw dan Yap In Hong, terkejut bukan main melihat kenyataan yang pahit ini.
Tak pernah ada yang mengira bahwa gadis muda yang sama sekali tidak terkenal itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya sehingga putera ketua Cin-ling-pai yang lihai itupun menjadi kewalahan!
Yap In Hong yang melihat puteranya terdesak, sudah hendak bangkit, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.
Akan tetapi suaminya menyentuh lengannya dan iapun teringat bahwa kalau sampai ia bangkit membantu puteranya, maka tentu saja hal itu akan mencemarkan nama besar Cin-ling-pai.
Mana mungkin keluarga Cin-ling-pai main keroyok!
Akan tetapi pandang mata Cia Bun Houw lebih tajam lagi.
Dia memang dapat melihat bahwa dara itu bukan orang sembarangan, dan terutama sekali dalam hal gin-kang, wanita itu jauh mengatasi puteranya.
Puteranya akan kalah, akan tetapi betapapun juga Kong Liang telah memiliki dasar yang amat kokoh kuat maka tidak mungkin dapat celaka begitu saja dan di samping itu, agaknya wanita itupun tidak bermaksud jahat kerhadap puteranya.
Maka pendekar inipun hanya menonton saja dengan hati tegang akan tetapi wajah tetap tenang.
Juga Tung-hai-sian yang berilmu tinggi, melihat kenyataan ini diam-diam dia terheran-heran mengapa dapat muncul seorang dara yang demikian lihainya.
Apalagi ketika dia terlihat sepasang pedang hitam itu, dan gerakan-gerakan yang mengingatkan dia akan ilmu-ilmu dari Lam-sin, rekannya, yaitu datuk selatan dia menjadi semakin heran.
Apakah dara ini murid Lam-sin, pikirnya.
Akan tetapi kalau muridnya begini lihai luar biasa, tentu Lam-sin sekarang telah menjadi orang yang sukar dicari bandingnya lagi di dunia ini.
Akan tetapi kalau benar murid Lam-sin, bagaimana bisa bersahabat dengan Pendekar Sadis?
Bukankah Lam-sin lenyap karena datangnya Pendekar Sadis dan mungkin sekali juga sudah terbunuh oleh pendekar itu?
Para tamu terbelalak keheranan, terutama sekali para tokoh kang-ouw yang hadir.
Mereka semua tidak mengenal siapa adanya wanita ini, akan tetapi semua takjub menyaksikan kelihaiannya.
Maka keadaan menjadi berisik, semua tamu saling bertanya siapa adanya wanita yang mengaku bernama Toan Kim Hong ini.
Kini perkelahian itu mencapai puncaknya.
Gerakan mereka sedemikian cepatnya sehingga tubuh kedua orang itu sudah lenyap terbungkus gulungan sinar biru itu makin mengecil sedangkan dua gulungan sinar hitam makin menghimpit.
Akhirmya, terdengar suara keras dari beradunya pedang, gulungan sinar pedang terhenti dan tubuh Kong Liang terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan keringatnya membasahi dahi dan leher.
Sebaliknya, Kim Hong berdiri tegak dengan kedua pedang bersilang di depan dada, mulutnya tersenyum.
Dalam jurus terakhir, biarpun ia tidak berhasil merobohkan Kong Liang karena memang pemuda itu memiliki dasar ilmu yang tinggi dan kokoh, namun ia sudah mendesaknya dan membuat Kong Liang terhuyung.
Pemuda inipun maklum bahwa kalau saat dia terhuyung tadi lawannya mendesak, bukan tidak mungkin tidak akan celaka dan dirobohkan.
Akan tetapi Kim Hong tidak menghendaki hal itu terjadi, tidak mau ia merobohkan paman dari kekasihnya.
"Kim Hong, jangan kurang ajar engkau!"
Tiba-tiba nampak tubuh Thian Sin berkelebat dan sudah berada di atas panggung, menegur Kim Hong yang hanya tersenyum-senyum.
Thian Sin lalu menjura kepada Kong Liang dengan hati tidak enak sekali.
"Paman, maafkanlah kelancangan nona ini..."
Thian Sin memberi hormat dan menyambung.
"biarkanlah aku yang mintakan maaf, paman."
Cia Kong Liang berdiri dengan muka pucat, lalu menarik napas panjang dan menyimpan pedangnya, sejenak memandang tajam kepada Thian Sin tanpa menjawab, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempat duduknya.
Wajah Thian Sin berubah merah sekali.
Dia maklum betapa pamannya itu, putera dari adik neneknya, memandang rendah kepadanya, bahkan agaknya tidak mau mengenalnya lagi.
Dia memandang marah kepada Kim Hong dan berbisik.
"Kau mencari gara-gara!"
Kim Hong tersenyum.
"Hi-hik, bukankah aku membuka jalan bagimu? Sekarang kau hadapi sendiri!"
Gadis itupun melayang turun dan duduk di sudut menjauhi para tamu lain.
Para tamu memperhatikan wanita ini, namun Kim Hong bersikap tak acuh dan memandang ke panggung karena pemuda tampan yang baru muncul itu sudah berkata dengan suara lantang.
Apalagi karena semua orang sudah menduga bahwa tentu pemuda itulah yang berjuluk Pendekar Sadis, yang amat ditakuti oleh orang-orang dunia hitam.
Dan di antara mereka yang pernah melihat Thian Sin, sudah menjadi pucat mukanya karena memang benar bahwa yang kini berdiri di atas panggung itu adalah sang pendekar yang ditakuti itu.
"Seperti sudah dikatakan oleh temanku, Nona Toan Kim Hong tadi, kedatanganku ini adalah untuk menantang Tung-hai-sian Bin Mo To untuk mengadu ilmu! Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Tung-hai-sian dan sepanjang pendengaranku, biarpun dia seorang datuk kaum sesat, namun tindakan Tung-hai-sian tidak sewenang-wenang. Hanya karena aku sudah pernah bersumpah dan bertekad untuk mengalahkan empat datuk di dunia, maka sekarang aku datang untuk menantang kepada Tung-hai-sian untuk mengadu ilmu dan menentukan siapa di antara kami berdua yang lebih unggul. Tung-hai-sian Bin Mo To harap suka keluar dan jangan melibatkan orang lain. Mari kita mulai, disaksikan oleh banyak tokoh segala kalangan."
Tung-hai-sian yang kini sudah melepaskan julukan itu menjadi Bin Mo To biasa, melangkah maju dengan tindakan tenang menghadapi Thian Sin.
Dia menjura dan berkata.
"Sebagai tuan rumah kami mengucapkan selamat datang kepada Pendekar Sadis yang sudah lama kami dengar namanya. Bukan hanya mendengar sebagai Pendekar Sadis, akan tetapi juga sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang amat terkenal. Orang muda, sudah kukatakan tadi bahwa Tung-hai-sian kini sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah pedagang Bin Mo To yang tidak mau mencampuri urusan kang-ouw, tidak mau lagi aku mempergunakan kekerasan dan buktinya adalah ini!"
Kakek itu mengambil pedang samurainya dengan gerakan yang amat cepatnya sehingga nampak kilat menyambar dan mengejutkan hati Thian Sin yang sudah bersiap-siap.
Memang gerakan Bin Mo To mencabut pedang samurai tadi amat cepat sekali.
Akan tetapi, terdengar bunyi "trak"
Dan pedang samurai itu patah menjadi dua potong di tangan kakek itu.
Dan kini nampak ada dua butir air mata di bawah mata pendekar Jepang itu ketika dia memegangi potongan samurai, menarik napas panjang dan berkata lagi.
"Orang muda, entah sudah berapa banyaknya nyawa melayang dan darah mengalir oleh samurai ini. Dan sekarang, seperti juga patahnya samurai ini, sudah patah semangat saya untuk mempergunakan kekerasan. Biarlah aku mengaku kalah darimu, dan kalau engkau masih belum puas, dan hendak menyerang dan hendak membunuhku, silakan!"
Kakek pendek itu membusungkan dada seperti menantang Thian Sin untuk memukul dan membunuhnya.
"Tapi yang kau bunuh bukan Tung-hai-sian Si Datuk Timur, melainkan Bin Mo To saudagar biasa!"
Thian Sin menjadi ragu-ragu dan bingung bagaimana harus bicara atau bertindak menghadapi sikap seperti itu.
"Orang muda, maafkan kalau aku yang tua memberi peringatan kepadamu. Sudah puluhan tahun aku berkecimpung di dalam dunia kang-ouw dan aku tahu benar bahwa nama besar hanyalah kosong belaka, hanya mengundang datangnya orang yang merasa iri hati dan musuh-musuh yang ingin melihat kita terjungkal. Mengapa engkau yang muda, yang gagah perkasa, mencari permusuhan secara berlebihan seperti ini? Ingatlah bahwa makin tinggi kedudukan seseorang, makin terkenal namanya, akan makin menyakitkan apabila sekali waktu dia terjungkal dari kedudukannya. Mengapa engkau yang masih begini muda hendak memaksa kedudukan tinggi dengan kekerasan? Seingatku, tidak ada orang yang terkenal di dunia ini dan sekali waktu akan bertemu dengan yang lebih pandai dan yang akan merobohkannya."
"Wah-wah-wah, sekali menanggalkan julukannya, Tung-hai-sian berubah menjadi tukang kibul!"
Tiba-tiba Kim Hong berseru dan dara ini sudah meloncat lagi naik ke atas panggung, tak sempat dicegah oleh Thian Sin.
"Tua bangka, tidak perlu banyak cakap. Kalau engkau memang jerih dan takut melawan Pendekar Sadis, hayo lawanlah aku, hendak kulihat sampai di mana sih kepandaian orang yang berani mengangkat dirinya menjadi datuk timur?"
"Nona muda, aku tidak mengenalmu, mengapa engkau sengaja hendak menghina orang tua?"
Kata Tung-hai-sian dengan sabar.
"Kulihat sepasang pedang dan ilmumu dan aku yakin bahwa engkau masih mempunyai hubungan dengan Lam-sin, datuk selatan itu. Kenapa engkau tiba-tiba memusuhiku?"
"Lam-sin sudah tidak ada, yang ada hanya Toan Kim Hong dan kalau engkau tidak berani menghadapi Pendekar Sadis, biarlah kau hadapi aku saja yang menantangmu!"
"Bocah bermulut lancang dan bersikap sombong!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Yap In Hong telah berdiri di situ.
Nenek yang usianya hampir enam puluh tahun ini masih gesit sekali dan kini mukanya merah, sepasang matanya berkilat dan jelas bahwa ia marah sekali.
Ia memandang kepada Thian Sin dan menudingkan telunjuknya kepada pemuda itu.
"Ceng Thian Sin! Bagus sekali, engkau telah menjadi seorang manusia keji berjuluk Pendekar Sadis! Engkau agaknya mewarisi ambisi ayah kandungmu, akan tetapi engkau memalukan mereka yang menjadi nenek moyangmu. Hayo, majulah dan tandingi aku! Aku ingin sekali melihat sampai di mana kesadisanmu!"
Nenek ini menantang-nantang dengan penuh kemarahan.
"Ahh... tidak... tidak...!"
Thian Sin mundur-mundur menjauhi nenek itu dengan bingung. Kini Yap In Hong menghampiri Kim Hong.
"Dan engkau, engkau bocah perempuan tak tahu malu, sombong dan tak tahu aturan! Engkau mencari musuh? Mari, mari kau hadapi aku. Jangan panggil aku Yap In Hong kalau aku mundur setapak menghadapimu. Mari kita bertanding sampai salah seorang dari kita mampus di tempat ini!"
Kim Hong terkejut melihat nenek yang amat galak luar biasa ini.
Namun diam-diam ia merasa kagum sekali.
Biarpun sudah tua, nenek ini tetap cantik dan penuh semangat dan jelaslah bahwa dahulu tentu merupakan seorang pendekar wanita yang hebat.
Dan mendengar namanya, yaitu Yap In Hong, tahulah ia bahwa memang nenek ini seorang pendekar wanita yang luar biasa, yaitu isteri dari ketua Cin-lin-pai.
Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa digertak seperti Thian Sin karena ia tidak mengenal nenek ini dan juga bukan apa-apanya.
Maka ia tersenyum mengejek.
"Wah, galak-galak amat kau , nenek tua!"
"Keparat, terimalah seranganku!"
Bentak Yap In Hong dan wanita ini sudah menerjang dengan kemarahan meluap-luap.
Begitu menerjang maju, ia sudah mempergunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang yang ampuh itu.
Melihat datangnya pukulan yang membawa angin berdesir dahsyat, Kim Hong juga cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Duk! Dukkk!"
Dua kali kedua lengan wanita itu bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong ke belakang.
Tentu saja Kim Hong terkejut bukan main.
Benar dugaannya, nenek ini merupakan seorang lawan yang amat tangguh.
Maka iapun mengeluarkan bentakan marah dan membalas serangan itu yang dapat ditangkis pula oleh Yap In Hong.
"Kim Hong, jangan melawan! Jangan kurang ajar!"
Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong tidak mau mempedulikannya dan ia memang sudah saling gempur dengan nenek itu, saling pukul dengan marah seperti dua ekor singa betina yang memperebutkan seekor domba.
Tiba-tiba berkesiur angin dan terdengar bentakan.
"Tahan!"
Dan pada saat itu, Kim Hong sedang menyerang lawannya, akan tetapi tangannya bertemu dengan tangan yang luar biasa kuatnya, yang membuat ia terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung.
Ia terkejut sekali dan melihat bahwa di depannya telah berdiri seorang kakek yang gagah perkasa, yang matanya mencorong seperti mata naga sakti dan tahulah ia bahwa di depannya itu berdiri ketua Cin-ling-pai!
Maka, diam-diam Kim Hong merasa kagum bukan main.
Keluarga Cia ini memang hebat dan ia sungguh ragu-ragu apakah ia akan mampu menandingi ketua Cin-ling-pai ini.
Sementara itu, Thian Sin sudah melangkah maju menghalang di depan Kim Hong lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan Cia Bun Houw.
"Mohon maaf... mohon maaf sebesar-besarnya. Saya sungguh tidak mengira bahwa Locianpwe Tung-hai-sian telah berbesan dengan keluarga Cia... maka harap sudi memberi ampun dan sayapun menghaturkan selamat atas perjodohan Paman Cia Kong Liang dengan Nona Bin Biauw. Sekali lagi maaf!"
Setelah memberi hormat, diapun lalu bangkit berdiri, memegang tangan Kim Hong dan menariknya dengan paksa meninggalkan tempat itu.
Dengan beberapa kali loncatan saja, kedua orang muda itupun lenyap dari tempat itu.
"Bukan main...!"
Terdengar Bin Mo To berseru kagum.
"Dia benar-benar seorang pendekar yang masih muda dan hebat! Dan wanita itu... ah, benarkah ia murid Lam-sin?"
Pesta perayaan dilanjutkan dan munculnya Pendekar Sadis itu tentu saja menjadi bahan percakapan dari para tamu sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan agak terlambat berhubung dengan adanya gangguan yang tidak tersangka-sangka tadi.
Sementara itu, Kim Hong yang ditarik dan diajak pergi setengah paksa oleh Thian Sin, tiada hentinya mengomel panjang pendek.
"Engkau memang seorang manusia yang tak berjantung!"
Akhirnya Kim Hong berkata marah dan berhenti, mogok berjalan.
"Eh? Tak berjantung?"
Thian Sin memandang heran.
"Ya, tak berjantung, tak mengenal budi!"
"Apa maksudmu, Kim Hong?"
"Aku mati-matian membelamu, membantumu, engkau tidak berterima kasih, sebaliknya engkau malah membikin malu padaku! Engkau mengalah, engkau mundur teratur, bukankah itu memalukan aku yang sudah terlanjur menantang-nantang?"
"Ah, engkau tentu mengerti bahwa tidak mungkin aku menghadapi ketua Cin-ling-pai sebagai lawan, Kim Hong."
"Huh! Engkau takut? Kalau engkau ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia, kenapa takut melawan ketua Cin-ling-pai?"
Kim Hong mencela.
"Kim Hong, cita-citaku hanya ingin menundukkan dan mengalahkan seluruh tokoh kaum sesat di dunia hitam saja, sama sekali bukan ingin mengalahkan seluruh pendekar. Tak mungkin aku melawan keluarga Cia, karena kalau begitu aku tentu akan berhadapan dengan ayah angkatku sendiri, Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong. Itu sungguh tak mungkin, Kim Hong. Dan sekarang setelah Tung-hai-sian menjadi besan keluarga Cia di Cin-ling-pai, berarti keluarganya juga sudah menjadi keluargaku, bukan orang lain. Mana mungkin aku memusuhinya? Apa lagi, engkau melihat sendiri tadi, sekarang Tung-hai-sian sudah tidak ada, datuk timur sudah tidak ada dan Bin Mo To menjadi seorang saudagar biasa."
"Huhh!"
Kim Hong masih merajuk.
Thian Sin tersenyum dan merangkulnya, lalu menciumnya dengan mesra sambil berbisik.
"Betapapun, aku berterima kasih kepadamu, sayang, atas semua bantuanmu."
"Hemm, hanya cukup dengan terima kasih saja?"
"Habis, engkau mau apa lagi? Katakanlah, aku tentu akan mau membantumu, biar bertaruh nyawa sekalipun!"
Kata Thian Sin sungguh-sungguh.
Thian Sin mempererat pelukannya dan hendak mencium.
Akan tetapi Kim Hong melepaskan diri dan berkata.
"Nanti dulu, benarkah engkau mau membantuku dengan taruhan nyawa?"
"Tentu saja... asal engkau tidak minta aku memusuhi keluarga para pendekar Cin-ling-pai atau keluarga Cia..."
"Tidak, akan tetapi untuk menghadapi seorang lain yang mungkin belum kau kenal."
"Siapakah dia? Dan kenapa engkau harus menghadapinya sebagai lawan?"
"Dia adalah musuh ayah... atau orang yang membuat ayah terpaksa harus bersembunyi di pulau kosong sampai matinya. Nah, sejak dahulu aku bercita-cita untuk menghadapi orang itu dan membalas dendam ayah."
"Kenapa sampai sekarang belum juga kau lakukan? Bukankah dengan kepandaianmu..."
"Aku takkan dapat menang melawannya. Ayah sendiripun dulu sampai jerih karena orang itu amat lihai, kepandaiannya melebihi ayah. Kalau engkau membantu, nah, kita berdua tentu akan mampu mengalahkannya. Dan engkau sudah berjanji untuk membunuhku tadi."
"Ceritakanlah, siapa dia dan bagaimana dia bermusuhan dengan mendiang ayahmu."
Kim Hong lalu bercerita.
Toan Su Ong, ayah Kim Hong, adalah seorang pangeran yang suka memberontak dan menentang kebijaksanaan kaisar yang dianggapnya tidak bijaksana.
Dia dianggap pemberontak dan pangeran inipun melarikan diri dari kota raja sebagai seorang buronan dan pemberontak.
Pangeran Toan Su Ong tidak takut menghadapi pengejaran kaisar, akan tetapi ada seorang yang ditakuti, yaitu seorang suhengnya yang setelah gurunya meninggal dunia boleh dibilang menjadi wakil gurunya pula.
Suhengnya itu memiliki ilmu silat yang hanya setingkat lebih tinggi daripadanya, dan ketika Toan Su Ong sudah menikah dengan pendekar wanita Ouwyang Ci, dengan kepandaian mereka berdua, tentu mereka akan dapat mengalahkan suheng itu.
Akan tetapi suhengnya memiliki sebuah bendera pusaka peninggalan suhu mereka dan sebagai seorang murid yang berbakti, Toan Su Ong tidak berani melawan bendera ini.
Pada waktu itu, hal seperti ini tidak aneh.
Seorang murid paling takut terhadap gurunya, dan pesan seorang guru akan ditaati sampai selama hidupnya.
Maka Toan Su Ong juga tidak berani melawan suhengnya yang memegang bendera pusaka itu, seolah-olah suhengnya itu menjadi gurunya yang telah tiada.
Karena rasa takutnya terhadap suhengnya membantu kaisar untuk mengejarnya, maka Toan Su Ong hidup terlunta-lunta dan akhirnya bersembunyi di pulau kosong, yaitu Pulau Teratai Merah, sampai tiba ajalnya ketika dia tewas di tangan isterinya sendiri karena cekcok.
Hal ini diketahui oleh Kim Hong karena ia mendengar penuturan ibunya.
Mendengar penuturan ini, Thian Sin mengangguk-angguk.
Memang, bagaimanapun juga, mendiang ayah Kim Hong terlunta-lunta karena suhengnya itulah, atau supek (Uwa Guru) dari Kim Hong.
Dianggapnya sebagai hal yang sepantasnya kalau Kim Hong menaruh dendam dan hendak membalas sakit hati ayahnya karena ayahnya sendiri dahulu tidak berani melawannya.
"Akan tetapi, apakah supekmu itu masih hidup sekarang? Siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?"
"Ketika aku masih menjadi Lam-sin, hal itu kusuruh anak buahku menyelidiki dan telah kutemukan di mana adanya musuh besar ayahku itu. Akan tetapi, aku tahu bahwa aku bukanlah tandingannya, maka aku menahan sabar sampai aku bertemu dengan engkau. Dia kini telah mengasingkan diri setelah menerima pahala dari kaisar sebagai seorang pendekar yang berjasa besar untuk negara! Namanya dijunjung tinggi oleh semua orang! Padahal, bagiku dia adalah pengkhianat yang mencelakakan ayahku, adik seperguruannya sendiri. Aku harus menandinginya, baik engkau mau membantuku atau tidak!"
Gadis itu mengepal tinju.
"Tenanglah, Kim Hong. Aku pasti membantumu. Teruskan ceritamu. Siapa namanya dan di mana dia kini berada."
"Dahulu ketika dia masih menjadi penjilat kaisar, namanya adalah Gouw Gwat Leng. Akan tetapi menurut hasil penyelidikan anak buahku ketika itu, kini dia telah menjadi seorang tosu dan berjuluk Jit Goat Tosu dan bertapa di dalam kuil para tosu Kun-lun-pai..."
"Ah! Di Kun-lun-pai?"
Kim Hong mengangguk.
"Dia bertapa di dalam kuil dan kadang-kadang di dalam gua di daerah Pegunungan Kun-lun-san yang masih termasuk daerah Kun-lun-pai."
Thian Sin mengerutkan alisnya.
"Apakah dia seorang tokoh Kun-lun-pai?"
Gadis itu menggeleng kepalanya.
"Bukan. Perguruan mendiang Ayah bukanlah Kun-lun-pai, melainkan perguruan yang tidak mempunyai partai karena ilmu yang diwarisi oleh ayah dan suhengnya adalah ilmu keluarga. Akan tetapi setelah tua, agaknya suheng dari mendiang ayah itu tertarik oleh Agama To dan masuk menjadi tosu dan mungkin karena bersahabat dengan para tosu Kun-lun-pai maka dia menggabungkan diri atau mempelajari tentang agama di kuil Kun-lun-pai itu?"
Thian Sin menarik napas panjang dengan hati lapang.
"Masih baik kalau dia bukan tokoh Kun-lun-pai, Kim Hong."
"Andaikati dia anggauta Kun-lun-pai, engkau menjadi jerih dan takut dan tidak berani membantuku?"
"Bukan jerih bukan takut, melainkan khawatir sekali. Engkau tentu tahu bahwa di antara para tokoh dunia persilatan, yang paling terkenal adalah tokoh-tokoh dari partai persilatan besar di antaranya adalah Kun-lun-pai. Kalau sampai engkau menanam permusuhan dengan Kun-lun-pai, sungguh sama artinya dengan bermusuhan melawan seluruh pendekar persilatan. Akan tetapi, musuhmu itu bukan murid dan bukan tokoh Kun-lun-pai, maka legalah hatiku."
"Kau mau membantuku mencarinya ke Kun-lun-pai?"
"Tentu saja aku mau!"
"Kalau perlu dengan taruhan nyawa?"
Thian Sin mengangguk dan tiba-tiba Kim Hong menubruk dan merangkul, menciuminya sampai dia hampir terjengkang.
Thian Sin tertawa dan tenggelam dalam kemesraan yang terdorong oleh rasa girang dan terima kasih gadis itu.
Kun-lun-pai adalah satu di antara partai-partai persilatan terbesar di seluruh Tiongkok.
Kalau Siauw-lim-pai sejak pertama dipimpin oleh para tokoh beragama Buddha, maka Kun-lun-pai pada beberapa abad terakhir ini dipimpin oleh para tokoh beragama To yang berilmu tinggi.
Seperti juga Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai mempunyai banyak sekali murid-murid yang lihai, bahkan kalau Siauw-lim-pai agak ketat mengambil murid yang bukan hwesio, Kun-lun-pai mempunyai banyak murid yang menjadi anggauta Agama To atau To-kauw.
Memang dalam hal tertib keagamaan, Agama To-kauw agak lebih bebas daripada Agama Hud-kauw (Buddhis).
Namun, mengenai tertib pelajaran ilmu silat Kun-lun-pai juga ketat menjaga murid-muridnya dan baru membiarkan atau memperbolehkan seorang murid Kun-lun-pai "turun gunung"
Kalau ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi dan sudah lulus dari ujian.
Hal ini dilakukan oleh partai-partai persilatan besar untuk menjaga nama mereka, sehingga para murid itu kelak tidak akan memalukan nama partai kalau sampai bergerak di dunia ramai.
Agaknya karena peraturan yang keras inilah maka nama partai-partai seperti Siauw-lim-pai atau Kun-lun-pai menjadi semakin terkenal, karena setiap murid kedua partai ini selain dapat mengangkat nama besar perkumpulan dengan sepak terjang mereka yang gagah dan juga lihai.
Yang menjadi pimpinan dari Kun-lun-pai pada waktu itu adalah Kui Im Tosu dan Kui Yang Tosu, dua orang tosu yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, dan tentu saja selain kedua orang yang tingkatnya tertinggi di Kun-lun-pai ini, masih ada beberapa orang sute mereka yang menjadi pembantu-pembantu mereka dalam mengurus perkumpulan yang mempunyai banyak anggauta itu.
Kui Im Tosu merupakan ketuanya dan tosu, ini lebih banyak berdiam di kuil, bertapa atau mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan kepada para murid dan kalaupun dia mengajarkan ilmu silat, Maka yang diajarkan hanyalah murid-murid tingkat tinggi saja.
Yang bertugas keluar adalah wakilnya, yaitu sutenya yang bernama Kui Yang Tosu.
Oleh karena itu, yang lebih banyak dikenal oleh dunia luar terutama di dunia persilatan, adalah Kui Yang Tosu.
Jaranglah kedua orang tosu ini memperlibatkan ilmu kepandaian mereka.
Akan tetapi melihat sepak terjang para murid mereka, yaitu jagoan-jagoan atau pendekar-pendekar Kun-lun-pai yang demikian lihai dan gagah, mudah diduga bahwa kedua orang tosu ini telah mencapai tingkat yang tinggi dalam ilmu silat.
Murid-murid Kun-lun-pai tersebar luas di seluruh pelosok, dan yang tinggal di dalam kuil hanyalah belasan orang tosu sebagai penghuni tetap dan ada dua puluh lebih murid-murid yang belum lulus dari tempat penggemblengan jiwa raga itu.
Perumahan untuk para penghuni kuil dan para murid ini dikurung pagar tembok yang tingginya ada tiga meter, di lereng Pegunungan Kun-lun-san.
Di dalam daerah yang cukup luas ini terdapat sebuah kuil besar dan di belakang kuil inilah tempat para murid yang tinggal dalam rumah-rumah yang dibangun untuk mereka, merupakan bangunan panjang.
Daerah ini luas sekali, ada tamannya, ada kebun di mana mereka menanam sayur-sayur dan berladang, ada pula kebun yang penuh pohon-pohon berbuah.
Bahkan ada pula bagian bukit yang berbatu-batu yang mempunyai banyak gua-gua buatan alam di mana sering dipergunakan oleh para murid Kun-lun-pai untuk bersamadhi untuk menggembleng batin.
Karena tempat itu memang amat sunyi dan jarang sekali didatangi orang luar, maka para murid Kun-lun-pai dapat melatih diri tanpa ada gangguan dan dapat mencurahkan perhatian mereka baik terhadap pelajaran silat maupun pelajaran agama sebagai penggemblengan mental.
Semua perguruan silat yang tinggi, juga para guru silat yang benar-benar baik, tidak pernah melupakan penggemblengan mental ini, karena mereka semua tahu betul betapa berbahayanya kalau orang muda dibiarkan belajar ilmu silat tanpa disertai penggemblengan watak dan batin ini.
Ilmu silat sama dengan senjata yang ampuh dan berbahaya, maka kalau sampai terjatuh ke tangan orang yang tidak kuat batinnya, Tentu saja dengan mudah disalahgunakan, diambil manfaatnya untuk keuntungan diri sendiri sehingga muncullah perbuatan-perbuatan sewenang-wenang mengandalkan ilmu silat.
Sebaliknya, kalau ilmu silat dikuasai orang yang memiliki batin yang kuat, maka ilmu itu akan berguna sekali, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, karena ahli silat yang bermoral tinggi tentu akan mempergunakannya untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang yang lalim dan membela yang lemah.
Biarpun tempat itu merupakan pegunungan yang sunyi dan aman, namun para murid Kun-lun-pai tidak pernah lengah melakukan penjagaan secara bergilir.
Mereka tidak memusuhi orang-orang tertentu, akan tetapi mereka tahu bahwa Kun-lun-pai banyak dimusuhi orang-orang dari golongan hitam, Karena mereka yang tergolong penjahat-penjahat dan yang pernah ditentang oleh para murid Kun-lun-pai sebagai musuh.
Pula, selain untuk menjaga segala kemungkinan buruk, juga penjagaan itu merupakan pelaksanaan ketertiban yang dilaksanakan dengan ketat, yaitu para murid yang sedang digembleng di asrama itu tidak diperkenankan keluar tanpa ijin dari guru mereka.
Kui Im Tosu dan Kui Yang Tosu memimpin Kun-lun-pai dengan bijaksana sehingga nama partai persilatan itu menjadi semakin terkenal.
Digalangnya persatuan dan persahabatan yang makin erat dengan partai-partai bersih lainnya, maka nama Kun-lun-pai dibicarakan dengan rasa hormat dan segan.
Hal ini dimengerti benar oleh Thian Sin dan juga Kim Hong yang melakukan perjalanan jauh menuju ke Pegunungan Kun-lun-san itu.
Mereka telah melakukan penyelidikan dan mendengar betapa angkernya nama Kun-lun-pai sehingga mereka sudah bersepakat untuk bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menghindarkan bentrokan atau kesalahpahaman dengan fihak Kun-lun-pai.
Karena nama besar Kun-lun-pai itulah maka biarpun pada suatu senja mereka telah tiba di daerah Kun-lun-pai, mereka tidak mau mengunjungi asrama itu di waktu malam karena hal itu dianggap kurang sopan.
Juga mereka membuang niat mereka untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam, yaitu mempergunakan kepandaian untuk malam-malam memasuki asrama secara menyelundup.
Mereka bersikap hati-hati, karena memasuki Kun-lun-pai sebagai maling adalah amat berbahaya dan sukar, juga kalau sampai mereka ketahuan, hal itu tentu akan menimbulkan permusuhan dan akan mempersulit maksud mereka berurusan dengan Jit Goat Tosu tanpa melibatkan Kun-lun-pai.
Mereka bermalam di sebuah gua batu yang banyak terdapat tak jauh dari asrama Kun-lun-pai itu dan baru pada keesokan harinya setelah matahari naik tinggi, setelah mereka membersihkan diri di sumber air dan sarapan pagi daging ayam hutan panggang, mereka berdua pergi mengunjungi asrama Kun-lun-pai.
Kuil Kun-lun-pai bukanlah kuil umum di mana umum suka datang bersembahyang, melainkan kuil yang khusus dipergunakan belajar agama oleh para murid Kun-lun-pai.
Oleh karena itu, tidak ada orang luar datang bersembahyang dan ketika Thian Sin dan Kim Hong tiba di pintu gerbang asrama di mana terpancang sebuah papan nama dengan huruf-huruf besar yang berbunyi KUN LUN PAI, beberapa orang tosu dan beberapa orang murid Kun-lun-pai yang bertugas jaga segera menyambut mereka dengan pandang mata heran dan juga bercuriga.
"Ji-wi (anda berdua) siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi tempat kami?"
Tanya seorang di antara para murid yang bertugas jaga, tanpa menyembunyikan kekaguman terhadap Kim Hong, kekaguman yang jujur, tidak mengandung berahi atau sikap kurang ajar.
"Kami mohon bertemu dengan ketua Kun-lun-pai,"
Kata Thian Sin, sikapnya hormat dan bicara singkat, setelah dia dan Kim Hong memberi hormat dan dibalas oleh mereka.
"Maaf,"
Kata seorang di antara para tosu.
"akan tetapi sungguh tidak mudah untuk menghadap para pimpinan kami. Ketua kami sibuk dengan pekerjaan beliau atau sedang siulian (samadhi), sedangkan wakil ketua kami juga lebib banyak lagi pekerjaannya. Kalau tidak ada keperluan penting sekali, kami sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau berdua."
"Totiang,"
Kata Kim Hong.
"Kalau tidak ada keperluan penting, untuk apa kami jauh-jauh datang ke tempat sunyi seperti ini? Terus terang saja, yang mempunyai kepentingan adalah aku, dan kawanku ini hanya menemaniku saja. Nah, sekarang bagaimana caranya kalau kami hendak menghadap para pimpinan?"
"Caranya hanya satu, yaitu nona memperkenalkan nama dan memberitahukan kepentingan nona agar dapat kami laporkan kepada pimpinan. Itupun belum dapat kami menanggung bahwa nona akan pasti diterima menghadap, namun setidaknya kedatangan nona akan kami sampaikan sebagai laporan."
"Baiklah, katakan bahwa aku Toan Kim Hong bersama temannya minta dapat menghadap pimpinan Kun-lun-pai karena ada urusan yang amat penting."
"Maaf, Nona Toan. Kami minta agar urusan itu disebutkan sehingga kalau pimpinan kami menanyakan, kami dapat menjawab dan tidak akan mendapat teguran. Kami tidak ingin permintaan nona ditolak hanya karena nona tidak memberitahukan kepentingan nona."
Kim Hong mengerutkan alisnya.
Bagaimanapun juga, permintaan tosu ini masuk di akal dan pantas, maka terpaksa iapun harus mengaku terus terang.
"Aku minta menghadap pimpinan Kun-lun-pai untuk minta perkenan mereka agar aku diperbolehkan bertemu dengan Jit Goat Tosu yang sedang bertapa di daerah Kun-lun-pai."
Tosu itu nampak terkejut.
"Siancai..."
Katanya lirih penuh keheranan karena sesungguhnya dia sendiri sudah hampir lupa kepada seorang kakek yang telah bertahun-tahun bertapa di dalam gua di sebelah belakang ladang Kun-lun-pai di belakang perumahan itu.
Seorang kakek yang penuh rahasia dan yang menurut pimpinan Kun-lun-pai, amat sakti dan tidak boleh diganggu sama sekali.
"Ada apa, totiang? Aku sudah berterus terang, masih kurang apa lagi?"
"Ah, tidak apa-apa, nona. Baik kami akan segera melaporkan ke dalam dan harap ji-wi sudi menanti sebentar di luar."
Dan pintu gerbang itu lalu ditutup dari dalam!
Kim Hong saling pandang dengan Thian Sin dan pemuda ini hampir tertawa melihat wajah yang muram dan jengkel itu.
"Tenang dan sabar sajalah. Tiada gunanya jengkel."
"Kalau para tosu itu mempersulit, jangan salahkan aku kalau aku mencari sendiri tanpa seijin mereka!"
Gadis itu mengancam dengan hati mengkal dan melihat keadaan gadis itu, Thian Sin merasa lebih aman untuk berdiam diri saja.
Tak lama kemudian, daun pintu itu terbuka lagi, kini terbuka kedua-duanya sehingga nampaklah sebelah dalam pekarangan depan yang luas itu.
Para penjaga kini nampak berbaris rapi, dan selain para tosu yang tadi, kini nampak tiga orang tosu yang lain yang lebih tua dan melihat sikap mereka dapat diduga bahwa tentu tingkat mereka lebih tinggi daripada para tosu pertama.
Seorang di antara mereka, yang memiliki tahi lalat di dagunya, dengan pandang mata penuh selidik memandang kepada kedua orang tamunya, terutama kepada gadis yang katanya hendak bertemu dengan Jit Goat Tosu itu.
"Siancai... Nona yang masih begini muda berkeras hendak bicara dengan pimpinan kami. Akan tetapi pimpinan kami amat sibuk dan tentu saja tidak mempunyai waktu untuk melayani segala macam orang, terkecuali orang-orang istimewa yang mempunyai keperluan istimewa lagi."
"Hemm, totiang, tidak perlu bicara seperti teka-teki. Katakanlah, macam yang bagaimanakah orang istimewa itu?"
Tanya Kim Hong, menahan kemarahannya dan masih tersenyum, walaupun ia merasa dipandang rendah.
"Melihat sikap nona, tentu nona adalah seorang yang biasa berkelana di dunia kang-ouw, maka ucapan pinto tadi kiranya sudah cukup jelas. Hanya tokoh kang-ouw yang berkepandaian sajalah yang kiranya berharga untuk berhadapan dengan pimpinan kami, sedangkan tokoh kang-ouw biasa, cukuplah berurusan dengan kami, anak murid Kun-lun-pai. Tidak tahu apakah nona termasuk golongan pertama ataukah ke dua."
Hati Kim Hong mulai menjadi panas.
"Totiang, apakah yang harus kulakukan untuk membuktikan kepada kalian di sini golongan mana aku termasuk?"
"Maaf nona. Akan tetapi setiap perkumpulan mempunyai peraturan masing-masing dan Kun-lun-pai juga tidak terkecuali. Kami di sini mempunyai peraturan yang telah ditentukan sejak dahulu. Di antara para tamu kami bagi menjadi tiga golongan. Golongan paling rendah adalah mereka yang tidak dapat melewati kami dan golongan ini cukup membicarakan keperluannya dengan kami saja. Adapun golongan ke dua adalah golongan tamu yang biarpun mampu melewati kami namun tidak mampu melewati para suheng kami di ruangan tengah dan golongan itupun cukup disambut dan dilayani oleh para suheng kami itu. Adapun golongan pertama haruslah dapat melewati kami dan kemudian melewati pula para suheng kami di ruangan tengah. Barulah dia berhak untuk bicara dengan pimpinan kami."
"Begitukah? Kenapa tidak sejak tadi kalian memberitahu kepadaku? Nah, susunlah barisanmu, totiang hendak kulihat sampai di mana kehebatan barisan Kun-lun-pai!"
Kim Hong menantang dan dibisikkannya kepada Thian Sin.
"Kau jangan mencampuri yang ini."
Thian Sin tersenyum dan mengangguk.
Tentu saja dia tidak mau mencampuri karena diapun hanya hendak membantu kekasihnya kalau menghadapi musuh besarnya, Si Pertapa itu.
Dia tidak mau bermusuhan dengan Kun-lun-pai dan diapun tidak ingin kalau Kim Hong bermusuhan dengan partai besar itu.
"Ingat, jangan lukai orang,"
Bisiknya dan Kim Hong mengangguk.
Sementara itu, tiga orang tosu yang baru datang telah mengatur lima orang tosu dan sembilan orang murid Kun-lun-pai yang berpakaian biasa untuk mengatur barisan.
Sembilan orang murid itu membentuk setengah lingkaran menghadang di depan, dan di belakangnya berdiri lima orang tosu yang memegang sebatang pedang.
Adapun sembilan orang murid terendah dari Kun-lun-pai itu bertangan kosong karena tugas mereka hanya mempergunakan tenaga mencegah wanita itu maju.
"Nona Toan Kim Hong, kami sudah siap, silakan melewati kami kalau kau mampu!"
Tiba-tiba tosu yang bertahi lalat dagunya berteriak.
Kim Hong tersenyum lalu ia melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba sembilan orang itu bergerak menghadangnya dan ke manapun ia melangkah, ia selalu bertemu dengan mereka yang terus membuat gerakan menghadang.
"Kenapa menghadang di jalan? Aku mau lewat!"
Kata Kim Hong dan ia melangkah maju terus.
Tentu saja ia tabrakan dengan seorang di antara mereka yang menghadang di jalan dan dengan gerakan sikunya, orang itupun terjengkang.
Melihat ini, empat orang sudah menangkap kedua lengan dara itu, dua di kanan dan dua di kiri.
Kedua lengannya dipegang kuat-kuat oleh empat orang laki-laki muda yang kokoh kuat dan terlatih.
Kim Hong masih tersenyum dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua lengannya dan terdengarlah teriakan-teriakan ketika empat orang murid Kun-lun-pai itu terpelanting ke kanan dan ke kiri sampai beberapa meter jauhnya!
(Lanjut ke
Jilid 39) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 Empat orang murid lain yang belum jatuh, cepat menubruk dari kanan dan kiri.
Akan tetapi Kim Hong menggerakkan kakinya yang kanan dan kiri bergantian dengan kecepatan yang luar biasa dan tahu-tahu empat orang itupun sudah roboh semua.
Mereka tidak terluka, akan tetapi mengaduh-aduh karena bekas tendangan dan bekas terbanting itu cukup mendatangkan rasa nyeri, sementara itu dara yang mereka halangi sudah lewat!
Kim Hong melangkah ke depan menghadapi lima orang tosu yang memalangkan toya mereka dan begitu Kim Hong mendekat, mereka sudah mengurung dengan toya di tangan.
Sementara itu, Thian Sin tersenyum melihat sembilan orang murid Kun-lun-pai berpelantingan tadi dan dengan lenggang seenaknya diapun masuk mengikuti Kim Hong.
Dia tidak mau campur tangan, hanya menonton saja.
Kim Hong sudah dikurung oleh lima orang tosu yang melihat gerakannya, tentu tidaklah selemah sembilan orang pertama tadi.
Dan memang benarlah.
Lima orang tosu ini adalah murid-murid tingkat tiga dan sudah memiliki dasar ilmu silat Kun-lun-pai yang kokoh kuat dan latihan yang cukup matang walaupun mereka belum mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari partai besar itu.
Namun ilmu toya mereka cukup hebat karena pada waktu itu, Kui Im Tosu telah mengembangkan Ilmu Toya Kim-kauw-pang-hoat, yaitu ilmu tongkat yang sumbernya dari ilmu tongkat tokoh dongeng Si Raja Monyet Sun Go Kong, dan ilmu tongkat ini diajarkan kepada murid-murid tingkat tiga.
Apalagi mereka berlima juga membentuk barisan Ngo-heng-tin maka mereka dapat bekerja sama dan seolah-olah tenaga lima orang digabung menjadi satu!
Kim Hong yang dikepung itu masih tersenyum tenang saja.
"Benarkah kalian tidak mau memberi jalan kepada seorang muda seperti aku?"
Tanyanya.
Ditanya begini, lima orang tosu itu sejenak bingung.
Menurut pantas memang nampaknya janggal kalau lima orang pendeta seperti mereka tidak mau mengalah terhadap seorang wanita muda yang mau lewat.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim Hong untuk meloncat ke depan.
Akan tetapi dua batang tongkat sudah memotong jalan menghadang dua tongkat lain mengancam ke atas kepala dan tongkat ke lima dari belakang siap menyambar kakinya!
"Hebat!"
Katanya memuji karena memang gerakan refleks lima orang tosu itu sedemikian hebatnya.
Akan tetapi ia tidak menghentikan gerakannya dan cepat ia memegang dua tongkat di depannya, dengan gerakan tiba-tiba menarik dua tongkat itu ke atas sambil mengerahkan sin-kangnya kemudian tubuhnya meloncat untuk membiarkan tongkat yang menyambar kaki itu lewat.
"Trak! Trak!"
Dua tongkat yang dipegangnya itu menangkis tongkat yang menghantam dari atas dan selain dapat meloloskan diri dari serangan lima orang itu, juga dalam segebrakan ini Kim Hong sudah berhasil mengacaukan mereka.
Namun dengan gerakan sigap sekali lima orang tosu itu sudah dapat mengepungnya lagi sebelum ia mampu lewat!
Kim Hong tersenyum.
"Bagus, Ngo-heng-tin yang hebat!"
Katanya memuji dan tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke atas!
Melihat ini, lima orang tosu itu cepat menggerakkan toya mereka menyerang dan juga mereka berlompatan.
Akan tetapi, tubuh nona itu sudah berjungkir balik dan begitu kepalanya digerakkan, rambutnya berkelebat seperti ular dan melibat lima ulung tongkat itu, kemudian tubuhnya membalik lagi dan kedua kakinya bergerak menendang ke arah lima tangan yang memegang tongkat.
Lima orang tosu itu terkejut bukan main ketika merasa betapa tongkat mereka tidak dapat mereka tarik kembali, sudah terbelit dengan amat kuatnya oleh rambut wanita itu dan menghadapi tendangan kedua kaki di udara yang mengarah tangan mereka itu, mereka tidak dapat menghindarkan diri lagi.
Tangan mereka seketika lumpuh dan tahu-tahu tongkat mereka telah terampas dan sekali Kim Hong menggerakkan kepalanya, tongkat-tongkat itu meluncur ke bawah dan menancap di atas tanah sampai setengahnya!
Sebelum lima orang tosu itu sempat menahan lagi, Kim Hong sudah berjungkir balik dan turun di sebelah dalam, telah melewati lima orang tosu itu yang hanya mampu saling pandang, kemudian menarik tongkat masing-masing dari tanah.
Tiga orang tosu yang berada di sebelah dalam, memandang penuh kagum.
Mereka merasa kagum karena maklum bahwa dara muda ini selain lihai bukan main, juga tidak mempunyai niat buruk sehingga kini telah mengalahkan barisan pertama dari sembulan orang dan barisan ke dua dari lima orang tanpa melukai mereka sama sekali!
Mereka ini adalah murid-murid tingkat tingkat dua yang sudah memiliki kepandaian tinggi.
Melihat gerakan Kim Hong tadi, sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka sudah maklum bahwa Kim Hong adalah seorang wanita yang lihai bukan main, yang agaknya mewarisi ilmu silat dari seorang sakti.
Kelihaian dan sikap Kim Hong yang tidak mau melukai lawan itu sebetulnya sudah mendatangkan rasa simpati dalam hati mereka dan menurutkan hati mereka, agaknya mereka akan suka membiarkan Kim Hong lolos untuk menemui ketua mereka.
Akan tetapi, mereka adalah tosu-tosu yang berdisiplin, maka mereka tidak berani melanggar peraturan dan tata tertib.
Sambil menjura, tosu yang bertahi lalat di dagunya itu berkata.
"Ah, kiranya nona sungguh memiliki kepandaian yang luar biasa. Akan tetapi nona masih harus dapat melewati kami bertiga sebelum memasuki ruangan sebelah dalam."
Mereka bertiga lalu bergerak membentuk barisan segi tiga dengan pedang mereka.
Kim Hong menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir rambutnya ke belakang.
Manis sekali gerakan ini dan iapun tersenyum.
"Ah, aku tidak percaya bahwa para tosu Kun-lun-pai yang bijaksana dan baik budi akan mau mencelakakan seorang tamu wanita muda yang hanya ingin menghadap ketuanya."
Setelah berkata demikian, dara ini lalu menerjang ke depan, menerjang di antara dua batang pedang yang membuat pertahanan dan membentuk dua daun pintu.
Akan tetapi dua batang pedang itu bergerak cepat dan nampaklah gulungan sinar pedang yang menghadang di depannya.
Adapun pedang ke tiga juga sudah siap menggantikan teman dengan berputar-putar di atas kepalanya.
Tahulah Kim Hong.
Tiga orang tosu ini yang tingkatnya sudah lebih tinggi tidak akan menyerangnya seperti para penghadang pertama dan kedua tadi, melainkan membentuk sinar pedang untuk menghalangnya dan kalau ia menerjangnya dan sampai terluka oleh sinar pedang, hal itu berarti bahwa ia yang salah sendiri menerjang pedang, bukan pedang yang sengaja menyerangnya!
Maka iapun tersenyum dan tentu saja ia tidak tega untuk melukai tosu-tosu yang begini sungkan dan baik kepadanya.
Maka ia hendak memaksa agar tiga orang tosu itu memperlihatkan kepandaiannya dan tidak sungkan-sungkan lagi kepadanya, karena bukankah perasaan sungkan itu berarti sudah menyeleweng daripada tugas mereka?
Ia tidak ingin mereka itu ditegur atasan mereka sebagai penjaga-penjaga yang kurang ketat.
"Sam-wi totiang harap jangan bersikap sungkan lagi!"
Katanya dan tiba-tiba saja ia menggerakkan tangannya, bukannya dengan maksud menerobos ke dalam, melainkan menggunakan tangan untuk menyerang mereka!
Serangan tangannya tentu saja hebat sekali, didahului oleh hawa pukulan yang amat kuat dan mengeluarkan angin berdesir.
Dua orang tosu itu terkejut bukan main.
Tak disangkanya bahwa tamu ini malah berbalik menyerangnya demikian dahsyatnya.
Cepat mereka memutar pedang untuk menangkis, akan tetapi kekagetan mereka bertambah ketika gadis itu berani mempergunakan tangan kosong untuk menyambar pedang mereka!
Dengan tangan dimiringkan, gadis itu begitu saja menangkis pedang dan mereka merasa betapa tangan mereka bergetar hebat ketika pedang bertemu dengan tangan!
Tahulah kini tiga orang tosu itu bahwa lawannya benar-benar amat tangguh dan merekapun tidak bersikap sungkan lagi.
Kalau bersikap sungkan dan mengalah terhadap lawan yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi, hal itu sungguh lucu dan sama dengan menyerah kalah.
Maka kini merekapun mengubah gerakan mereka, dan Sam-ciok-tin (Barisan Segi Tiga) mereka benar-benar dipergunakan, dengan jurus-jurus serangan dari tiga penjuru sehingga sebentar saja tubuh Kim Hong sudah dijatuhi dan dihujani serangan bertubi-tubi.
"Bagus! Kun-lun Kiam-sut memang hebat!"
Kim Hong memuji, bukan hanya untuk menyenangkan lawan melainkan memang ia dapat merasakan hebatnya ilmu pedang yang dimainkan dalam barisan segi tiga ini.
Serangan mereka demikian mantap dan kuat, penjagaan mereka demikian ketat sehingga ia menghadapi lawan yang tangguh dan hal ini menimbulkan kegembiraannya.
Sementara itu lima orang tosu dan sembilan orang anak murid Kun-lun-pai sudah berdiri menonton dan merekapun merasa kagum bukan main.
Tahulah mereka bahwa gadis muda itu tadi bersikap lunak sekali terhadap mereka.
Setelah mencoba ilmu pedang tiga orang tosu tingkat dua itu selama hampir lima puluh jurus, puaslah hati Kim Hong.
Ia sudah memperlihatkan kecepatan gerakannya sehingga tiga batang pedang itu tidak pernah dapat menyentuhnya, dan yang terlalu dekat dapat ditangkis dengan tangan terbuka.
Sebaliknya, iapun membalas setiap serangan dengan totokan-totokan yang tidak kalah hebatnya dan setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba ia berseru.
"Maaf sam-wi totiang, aku mau lewat!"
Tiba-tiba saja tiga orang tosu itu merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang menjadi lemas dan lumpuh untuk beberapa detik lamanya dan kesempatan ini sudah cukup bagi Kim Hong untuk meloncat ke sebelah dalam melewati mereka!
Tiga orang itu hanya dapat memutar tubuh dan memandang bengong.
Mereka tadi hanya melihat berkelebatnya sinar hitam disertai bau harum dan tahulah mereka kini bahwa wanita tadi telah menotok pundak mereka dengan ujung rambut kunciran itu!
Diam-diam ketiganya bergidik karena kalau wanita itu menghendaki tentu bukan tempat itu yang ditotok, melainkan jalan darah yang lebih berbahaya lagi, misalnya di leher yang dapat membuat mereka roboh atau bahkan tewas!
Maka mereka bertiga lalu menjura dengan hormat kepada gadis itu dan berkata.
"Nona telah lulus dan dapat melewati kami, silakan masuk."
"Terima kasih, akan tetapi biarkan temanku lewat juga,"
Katanya sambil menanti Thian Sin yang berjalan menghampirinya dari luar.
"Akan tetapi, yang dapat melewati kami hanya nona seorang. Dia belum memperkenalkan diri dan..."
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadap pimpinan Kun-lun-pai bersama seorang kawanku? Totiang, akulah yang bertanggung jawab atas dirinya!"
Kata Kim Hong.
Tosu bertahi lalat di dagunya itu mengerutkan alisnya akan tetapi dia menarik napas panjang, lalu menggerakkan pundaknya.
"Siancai... kami telah kalah, tidak perlu banyak cakap lagi. Akan tetapi mungkin sekali para suheng kami yang di dalam akan berpikiran lain. Harap nona berhati-hati karena para suheng kami tidak boleh disamakan dengan kami yang masih bodoh."
Kim Hong menjura ke arah mereka dan tersenyum.
"Terima kasih, totiang sekalian sungguh baik sekali!"
Dan iapun melangkah masuk bersama Thian Sin, meninggalkan para penjaga di luar yang tentu saja merasa kagum dan tiada hentinya membicarakan nona cantik jelita yang berilmu tinggi itu.
Kim Hong dan Thian Sin melangkah maju terus, melalui lorong yang panjang.
Mereka berjalan dengan penuh kewasdaan, siap menghadapi segala macam rintangan.
Akan tetapi, lorong itu ternyata tidak mengandung jebakan-jebakan atau rintangan-rintangan apapun.
Setelah lorong itu habis, tibalah mereka di sebuah ruangan yang amat luas dan mereka melihat dua orang tosu yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, keduanya tinggi kurus dan wajah mereka membayangkan kehalusan budi akan tetapi sikap mereka berwibawa.
Thian Sin menahan kakinya dan membiarkan Kim Hong yang maju sendiri menghadapi dua orang tosu itu.
Mereka itu adalah murid-murid kepala dari Kun-lun-pai, yang menerima pendidikan langsung dari ketua dan wakil ketua Kun-lun-pai.
Hanya ada lima orang murid kepala dan pada waktu itu, yang berada di dalam asrama hanya dua orang inilah.
"Maaf, ji-wi totiang. Aku mohon lewat untuk menghadap ketua Kun-lun-pai,"
Kata Kim Hong dengan sikap biasa dan tenang sekali sambil menghampiri mereka.
"Siancai... Nona Toan Kim Hong dapat melewati penjagaan pertama, sungguh lihai sekali dan pinto berdua menyatakan kagum bukan main!"
Kata seorang di antara mereka yang mukanya pucat dan matanya sipit seperti terpejam.
Setelah berkata demikian, tosu ini mengangkat kedua tangan dikepal di depan dada dan memberi hormat sambil melangkah maju ke arah Kim Hong.
Angin pukulan menyambar dahsyat dari kedua tangan itu ke arah dada Kim Hong!
Maklumlah dara ini bahwa tosu bermuka pucat itu adalah ahli lwee-keh yang memiliki tenaga sakti kuat, maka mukanya selalu pucat seperti itu, mungkin disebabkan latihan yang terlalu terpaksa sehingga berakibat seperti itu.
Maka iapun cepat mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan itu sambil berkata.
"Ah, totiang terlalu memuji. Mana aku berani menerimanya?"
Dari kedua tangan nona inipun menyambar tenaga sin-kang yang merupakan angin berkesiur menyambut serangan lawan.
Tosu itu nampak terkejut ketika merasa ada hawa dingin menolak tenaganya, maka diapun membuka kedua kepalan tangannya dan kini mengulurkan kedua lengannya itu, dengan kedua telapak tangan terbuka mendorong dengan terang-terangan untuk memperkuat daya serangannya tadi.
Melihat lawannya menyerang secara terbuka, Kim Hong juga mengulurkan kedua lengannya menyambut dan kini dua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan dari situ mengalir keluar kekuatan sin-kang yang sama dahsyatnya!
Adu sin-kang terjadi dan biarpun keduanya hanya berdiri tegak dengar kedua lengan dilonjorkan, kedua tangan terbuka dan saling sentuh, namun bagi Thian Sin dan tosu ke dua merupakan saat menegangkan di mana dua orang yang memiliki sin-kang kuat saling menguji tenaga sinkang mereka!
Untuk beberapa saat lamanya Kim Hong mengerahkan sin-kangnya dari sedikit dan setelah ia mengerahkan sampai tiga perempat bagian, barulah ia dapat mengimbangi tenaga lawan.
Diam-diam ia kagum juga.
Murid kepala Kun-lun-pai telah memiliki sin-kang sekuat ini!
Akan tetapi, setelah mengukur kekuatan lawan, ia tidak ingin mencelakai lawannya itu, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan seruan nyaring dan tosu itu kaget setengah mati.
Mendadak saja dia merasa betapa telapak tangan nona itu menjadi lunak sekali dan dia merasa tenaganya seperti terjun ke tempat tanpa dasar dan diapun terjerumus ke depan.
Pada saat itu, Kim Hong sudah meloncat ke atas, melalui kepalanya dan melewatinya, tiba di belakangnya sedangkan tosu pucat ini terhuyung ke depan dan nyaris terjelungkup.
Dia membalikkan tubuh, mukanya penuh keringat dan napasnya agak memburu, lalu dia menjura.
"Terima kasih atas petunjuk nona yang lihai sekali!"
Tosu ke dua, yang mukanya ramah dan jenggotnya panjang, tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh luar biasa sekali. Di dunia ini telah bermunculan orang muda yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Sungguh membuat pinto merasa seperti seekor katak dalam tempurung! Nona Toan, kalau saudaraku tadi menguji sin-kangmu, maka sekarang tiba giliranku untuk menguji ketinggian gin-kangmu. Nah, aku akan mencegah engkau masuk, dan cobalah engkau melewati aku dengan menggunakan kecepatan gerakanmu!"
Setelah berkata demikian, tosu itu berdiri di atas ujung jari kakinya, berjingkat dan mengembangkan kedua lengannya.
Kim Hong tersenyum dan hatinya girang.
Tosu Kun-lun-pai ternyata bukanlah orang-orang yang suka mempergunakan kekerasan, walaupun murid-murid mereka di dunia kang-ouw terkenal gagah perkasa dan gigih menentang kejahatan.
"Baik, totiang. Nah kau halangilah aku!"
Tiba-tiba Kim Hong berkelebat lari ke sebelah kiri tosu itu, akan tetapi tosu itupun sudah mcloncat ke sana sehingga jalan bagi Kim Hong terhalang.
Nona itu meloncat tinggi ke atas, berjungkir balik sampai tiga kali sehingga ia mencapai langit-langit, akan tetapi tosu itupun mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya juga sudah mencelat ke atas menghadang di atas!
Kim Hong turun lagi diikuti oleh tosu itu dan selanjutnya dua orang itu seperti sedang bermain kejar-kejaran seperti anak kecil.
Tubuh mereka tidak nampak lagi saking cepatnya gerakan mereka.
Yang nampak hanya bayangan yang berkelebatan dan memang tosu yang seorang ini memiliki gerakan cepat bukan main.
Akan tetapi, kini dia bertemu dengan gadis yang pernah menjadi Lam-sin, yang terkenal sekali dengan ilmu kepandaiannya yang hebat-hebat, di antaranya kecepatan gerakannya.
Demikianlah, setelah mengajak tosu itu berkelebatan dengan cepat di mana tosu itu selalu dapat memotong jalan masuk, tiba-tiba Kim Hong mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya dan tubuhnya berpusingan cepat seperti gasing!
Tentu saja tosu itu terkejut sekali dan tidak tahu harus berbuat apa.
Untuk ikut berpusing seperti itu, dia tidak sanggup dan tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu dara itu telah melesat di sampingnya tanpa dia mampu mencegahnya, saking cepatnya gerakan itu.
Tahulah tosu itu bahwa kalau tadi-tadi nona itu mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya, dia tidak akan mampu mencegahnya.
"Hebat, hebat... pinto mengaku kalah!"
Katanya sambil tertawa dan menghapus keringatnya. Tosu yang matanya sipit tadi kembali menjura.
"Nona telah memperlihatkan ketinggian ilmu silat, kekuatan sin-kang dan ketinggian gin-kang. Nona adalah seorang tamu yang sudah sepatutnya minta berjumpa dengan wakil ketua kami. Akan tetapi, orang muda itu tidak boleh masuk. Dia hanya teman nona, dan dia tidak melalui ujian masuk."
"Totiang bersikap kurang adil sekali."
Dua orang tosu itu saling pandang dan yang bermata sipit kembali menghadapi Kim Hong.
"Siancai...! Kalau ada kesalahan kami, harap kau tunjukkan, nona. Sikap kami yang manakah yang kurang adil menurut pendepatmu?"
"Setiap orang mempunyai peraturan masing-masing. Kun-lun-pai mempunyai peraturan bahwa siapa hendak menghadap ketuanya harus melalui ujian barisan murid-murid Kun-lun-pai. Aku menghormati peraturan tuan rumah dan sudah memenuhi syarat. Sebaliknya, sebagai tamu akupun mempunyai peraturan, peraturan kepantasan yang kiranya dapat dimengerti oleh para tokoh Kun-lun-pai. Aku adalah seorang wanita muda, dan menurut patut, kalau aku menghadap seorang pria, aku harus membawa teman. Karena itulah maka untuk menghadap ketua Kun-lun-pai aku membawa temanku, apakah sudah dianggap tepat oleh ketua Kun-lun-pai untuk menerima tamu wanita muda berdua saja tanpa ada orang lain?"
Wajah kedua orang tosu itu menjadi merah dan mereka merasa bingung, saling pandang karena mereka menganggap alasan nona ini cukup kuat.
Memang, dari sudut kesusilaan, amatlah tidak pantas kalau menolak orang yang menemani nona ini menghadap ketua Kun-lun-pai, dan amatlah memalukan dan mendatangkan dugaan yang bukan-bukan kalau ketua atau wakil ketua Kun-lun-pai menerima kunjungan seorang wanita muda cantik jelita yang bukan murid dan bukan keluarga sendiri saja!
Akan tetapi, tosu berjenggot panjang yang ramah itu cerdik.
Tiba-tiba dia bertanya.
"Nona, apamukah orang muda yang hendak mengantarmu menjumpai wakil ketua kami?"
"Dia adalah kekasihku, tunanganku!"
Kim Hong berkata dengan lantang dan terus terang sehingga Thian Sin sendiri menjadi terkejut dan mukanya berubah merah.
Akan tetapi diapun lantas dapat menangkap bahwa memang jawaban terus terang itulah yang paling tepat, karena kalau bukan saudara bukan tunangan, melakukan perjalanan berdua saja tentu sudah melanggar kepantasan pula!
Selagi dua orang tosu itu termangu-mangu, tiba-tiba terdengar suara dari balik daun pintu di sebelah dalam, suara yang halus dan ramah.
"Siancai... seorang muda yang penuh semangat! Persilakan Nona Toan dan temannya masuk...!"
Dua orang tosu itu nampak lega dan menjura ke arah Kim Hong dan Thian Sin.
"Wakil ketua kami, Kui Yang Tosu, mengundang ji-wi untuk datang menghadap. Silakan!"
Mereka lalu membuka daun pintu yang besar itu.
Kim Hong dan Thian Sin membalas penghormatan mereka lalu melangkah, memasuki ambang pintu memasuki sebuah ruangan lain yang terang.
Ternyata kamar itu adalah sebuah kamar buku karena di sudut berdiri rak penuh dengan buku-buku tua, juga merangkap kamar tamu karena di situ terdapat meja kursi dan di atas dipan berkasur duduk bersila seorang tosu yang wajahnya ramah dan tosu itu duduk sambil tersenyum gembira, memandang kepada mereka.
Thian Sin dan Kim Hong juga mengangkat muka memandang kepada tosu tua yang duduk bersila di atas dipan itu.
Seorang tosu yang usianya mendekati tujuh puluh tahun, tinggi kurus, wajahnya dihias senyum gembira dan sepasang matanya membayangkan keramahan dan kehalusan budi.
Di sudut duduk pula tiga orang tosu lain yang usianya lebih muda, kurang lebih enam puluh tahun, dari sikap mereka diam menanti, tanda bahwa mereka ini kalah tinggi tingkatnya dengan tosu tua itu.
Diam-diam Thian Sin merasa seperti pernah mengenal tosu tua itu, akan tetapi dia sudah lupa lagi di mana.
Dan memanglah, dia pernah melihat tosu itu bukan lain adalah Kui Yang Tosu, tokoh Kun-lun-pai yang pernah datang mencarinya bersama tokoh-tokoh pendekar lain ketika dia membunuh Pangeran Toan Ong!
Dan tiga orang tokoh lain adalah para sutenya, pembantu-pembantunya yang tentu saja tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada dua orang murid kepala tadi.
Sementara itu, ketika dia memandang kepada wajah Thian Sin dan bertemu pandang dengan sepasang mata pemuda yang mencorong tajam itu, jantung tosu itu terguncang dan senyumnya lenyap seketika, alisnya yang putih berkerut dan sekali meloncat diapun sudah bangkit berdiri menghadapi dua orang muda itu.
"Pendekar Sadis!"
Teriaknya mengejutkan tiga orang sutenya yang juga segera bangkit ketika mendengar sebutan ini.
"Pendekar Sadis! Kiranya engkau berhasil menyelundup ke sini? Apakah engkau kini mulai dan hendak menyebar maut di Kun-lun-pai?"
Ketika Thian Sin melihat tosu itu mengeluarkan tasbehnya dari saku jubahnya yang lebar, diapun teringatlah kepada tosu ini.
Sambil tersenyum pahit Thian Sin menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Maaf, totiang. Sekali ini aku hanya menemani Nona Toan saja, dan sama sekali tidak ada urusan dengan pihak Kun-lun-pai."
"Siancai...!"
Tosu itu nampak lega mendengar ini, akan tetapi kini pandangannya terhadap Kim Hong menjadi lain, tidak seramah tadi.
"Maaf, nona. Kalau pinto tidak salah dengar, namamu adalah Toan Kim Hong. Nama keluarga Toan tidak banyak di dunia ini, apakah nona masih ada hubungan keluarga dengan mendiang Pangeran Toan Ong?"
Kim Hong tersenyum.
"Tidak ada salahnya menjawab pertanyaan itu, locianpwe, walaupun tidak ada sangkut-pautnya dengan kunjunganku ke sini. Memang benar ada hubungan keluarga, karena Pangeran Toan Ong itu adalah pamanku sendiri."
"Ahh...!"
Tosu itu terkejut.
"Apakah Toan-siocia sudah tahu siapa yang membunuh Pangeran Toan?"
Nona itu mengangguk dan mengerling ke arah Thian Sin.
"Aku sudah tahu, locianpwe, pembunuhan karena salah paham dan karena fitnah orang. Pembunuhnya adalah temanku inilah..."
"Tapi mengapa...?"
"Sudahlah, locianpwe. Kedatanganku bukan untuk urusan itu, melainkan untuk urusan yang lain sama sekali."
Kui Yang Tosu menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Benar, memang demikianlah. Nah, katakanlah, apa perlunya nona berkeras hendak bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai?"
"Kedatanganku ini ingin minta perkenan locianpwe agar aku diperbolehkan bertemu dengan Jit Goat Tosu yang sedang bertapa di asrama Kun-lun-pai."
Tosu itu mengangguk-angguk.
"Permintaan nona itu sudah pinto dengar tadi, akan tetapi pinto masih ragu-ragu karena permintaan itu sungguh amat aneh. Kehadiran Jit Coat Tosu di sini adalah suatu rahasia dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu, bagaimana nona bisa mengetahuinya? Dan bolehkah pinto mengetahui apa urusan nona dengan Jit Goat Tosu?"
"Hemm, aku cukup menghormati Kun-lun-pai, locianpwe, sehingga untuk menemuinya, aku lebih dulu menghadapi pemimpin Kun-lun-pai dan minta ijin, bukannya langsung mencarinya sampai dapat kutemukan. Aku tidak ingin melibatkan Kun-lun-pai dengan urusan kami, maka pertanyaan itu tidak dapat kujawab karena tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai."
"Siancai...! Jangan Nona Toan berpendapat demikian. Ketahuilah bahwa Jit Goat Tosu bukanlah orang lain bagi kami. Dia adalah saudara angkat kami, maka tentu saja kami ingin tahu apa yang menjadi sebabnya maka nona datang untuk mencarinya di sini."
Kim Hong mengerutkan alisnya.
Ah, urusan menjadi sulit kalau begini.
Tak disangkanya bahwa supeknya itu kini selain menjadi tosu dan mondok di asrama Kun-lun-pai, malah telah mengangkat saudara dengan para pimpinan Kun-lun-pai!
Kalau begini, agaknya tak dapat dihindarkan lagi keterlibatan Kun-lun-pai!
"Locianpwe, urusanku dengan dia adalah urusan pribadi, urusan antara seorang murid keponakan dengan supeknya.
Apakah locianpwe masih hendak mencampurinya?"
Mendengar ini terkejutlah kakek itu.
"Siancai... siancai... kiranya nona adalah puteri mendiang Toan Su Ong...?"
"Benar sekali, locianpwe."
"Ah, kalau begitu... tentu saja pinto tidak berhak mencampuri urusan pribadi nona dengan supek nona."
Lalu Kui Yang Tosu menoleh kepada tiga orang tosu itu.
"Thian-sute, harap kau antarkan Nona Toan menghadap Jit Goat Tosu. Karena beliau sedang bertapa, maka antar saja sampai di depan gua dan tinggalkan di situ. Terserah kepada yang berkepentingan mau menemui atau tidak."
"Baik, suheng,"
Jawab seorang di antara tiga tosu itu.
"Marilah, nona."
Kim Hong dan juga Thian Sin mengikuti tosu itu dan Kui Yang Tosu tidak berani mencegah ketika Thian Sin juga ikut, walaupun hatinya merasa tidak enak dengan munculnya Pendekar Sadis di tempat itu.
Maka setelah sutenya pergi mengantarkan dua orang muda itu ke arah belakang asrama, dia sendiri lalu bergegas masuk ke dalam untuk menemui suhengnya, yaitu Kui Im Tosu untuk membicarakan urusan itu.
Ternyata daerah markas Kun-lun-pai itu luas bukan main.
Melalui sebuah pintu rahasia yang kecil, mereka keluar dari pagar tembok dan mendaki bukit atau puncak pegunungan di belakang dan setelah melalui daerah berbatu, akhirnya tibalah mereka pada dinding puncak yang penuh dengan gua-gua besar.
Tosu itu membawa mereka ke sebuah gua besar yang gelap, berhenti di depan gua sambil berkata.
"Nah, di sinilah tempat Jit Goat Tosu bertapa, nona."
Setelah berkata demikian, tosu itu lalu membalikkan badan dan meninggalkan dua orang muda itu termangu-mangu di depan gua.
Thian Sin dan Kim Hong memandang ke sekeliling.
Tempat itu tentu saja sudah berada di luar pagar tembok Kun-lun-pai, akan tetapi masih termasuk daerah Kun-lun-pai.
Tempatnya amat sunyi, di dekat sebuah puncak dan kalau saja mereka tidak diantar oleh seorang tosu Kun-lun, Agaknya tidak mungkin mereka akan dapat menemukan tempat pertapaan Jit Goat Tosu.
Di situ terdapat banyak sekali gua-gua besar berjajar seperti pintu-pintu hitam atau seperti mulut-mulut raksasa, ada puluhan banyaknya.
Mereka tentu akan mempergunakan banyak waktu untuk menyelidikinya satu demi satu!
Tidak nampak seorang manusia lain, bahkan agaknya tidak ada binatang hutan di pegunungan batu ini.
Hanya ada beberapa ekor burung yang beterbangan di puncak, agaknya mempunyai sarang di sana, semacam burung pemakan bangkai.
Thian Sin memberi isyarat kepada Kim Hong untuk membuka suara.
Dara itu mengangguk, lalu ia berseru dengan suara yang mengandung tenaga khi-kang sehingga getaran suaranya itu terdengar sampai jauh dan tentu akan sampai ke dasar gua di depannya.
"Jit Goat Tosu, keluarlah! Aku Toan Kim Hong datang untuk bicara denganmu!"
Dari dalam gua itu terdengar gema suara Kim Hong, terdengar mengaung menyeramkan seolah-olah ada suara iblis yang menjawabnya.
Akan tetapi hanya gaung suara yang memantul itu saja yang terdengar, tidak ada suara lain.
Beberapa kali Toan Kim Hong mengulangi seruannya tedi, namun sia-sia.
Tidak ada suara menjawabnya.
"Sialan tosu-tosu Kun-lun-pai itu. Aku ditipu, tempat ini kosong agaknya!"
Gerutu Kim Hong. Thian Sin menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin dia membohong."
"Kalau begitu orangnya berada di dalam, sengaja tidak mau menjawab. Sebaiknya kumasuki saja dan kalau memang berada di dalam, kuseret dia keluar!"
Akan tetapi Thian Sin memegang lengannya dan menggeleng kepala.
Kim Hong teringat dan bergidik.
Bagaimana ia bisa lupa bahwa supeknya itu memiliki ilmu kepandaian yang bahkan lebih lihai daripada mendiang ayahnya?
Karena ia tidak merasa mampu melawan maka ia minta bantuan Thian Sin, bagaimana kini secara lancang hendak memasuki gua gelap itu?
Sungguh ceroboh karena hal itu akan berbahaya sekali.
"Tentu dia tidak mengenalmu, coba sebut nama ayahmu,"
Bisik Thian Sin.
Kim Hong teringat.
Betul juga, pikirnya.
Supeknya itu belum pernah melihatnya, belum pernah pula mendengar tentang dirinya, tentu saja tidak ada artinya memperkenalkan nama.
Maka ia lalu berteriak lagi, ditujukan ke dalam gua, dengan mengerahkan khi-kangnya.
"Supek Jit Goat Tosu! Supek Gouw Gwat Leng! Keluarlah, aku Toan Kim Hong puteri tunggal dari Toan Su Ong datang hendak bicara dengan supek!"
Baru saja gema suara itu menghilang, terdengarlah suara yang halus dari dalam gua itu, suara yang agak menggetar penuh perasaan.
"Siancai... siancai... siancai...!"
Dan tak lama kemudian keluarlah seorang kakek dari dalam gua itu.
Seorang kakek yang amat kurus kecil dan mukanya pucat seperti mayat, mungkin karena terlalu lama tidak pernah terkena sinar matahari.
Melihat munculnya kakek yang kelihatan amat lemah dan sudah mendekati liang kubur ini, hati Kim Hong merasa kecewa sekali.
Beginikah macamnya orang yang selama ini dicari-carinya dengan hati penuh dendam kebencian?
Hanya seorang kakek tua renta yang sudah hampir mati, tertiup angin kencang saja agaknya tentu akan roboh!
Kakek itu berdiri agak bongkok di depan gua, sepasang matanya yang lemah itu berkedip-kedip, agaknya silau oleh sinar matahari yang sudah lama sekali tidak dilihatnya.
Tangan kirinya dipergunakan melindungi matanya dari sinar matahari sedangkan tangan kanannya memegang sebuah bendera kecil yang sudah lapuk.
Bendera itu berwarna kuning dan sudah tidak nampak jelas lagi apa gambarnya, hanya bendera itu pinggirnya sudah robek-robek seperti biasanya pada bendera kuno yang sudah terlalu lama dan dimakan usia.
Gagang bendera itu ternyata merupakan sebatang anak panah terbuat dari perak.
"Mana ia puteri Toan Su Ong?"
Tanya kakek itu dengan suara gemetar.
Kim Hong hampir tidak dapat menerima kenyataan itu.
Tidak percaya bahwa mendiang ayahnya ketakutan terhadap orang lemah macam ini!
Ia meragu dan dengan hati kecewa ia bertanya.
"Mungkinkah engkau ini yang bernama Gouw Gwat Leng atau Jit Goat Tosu?"
Kakek itu memandang kepada Kim Hong, lalu terkekeh lirih.
"Heh-heh, benar... matamu seperti mata ayahmu. Engkau tentu anak sute Toan Su Ong, tidak salah lagi... heh-heh, anak baik, boleh jadi engkau meragukan diriku sebagai supekmu Gouw Gwat Leng, tetapi ayahmu tentu pernah bercerita tentang bendera pusaka kita ini, peninggalan kakek gurumu..."
Melihat bendera tua itu, hati Kim Hong menjadi panas rasanya.
Bendera itulah yang membuat ayahnya selalu tunduk terhadap suhengnya ini.
"Bendera sialan!"
Bentaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah berkelebat meloncat ke arah kakek itu dan tangannya menjangkau untuk merampas bendera itu.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tangannya hanya menangkap angin saja!
Entah bagaimana caranya, kakek yang kelihatan lemah itu telah dapat mengelakkan bendera itu dari jangkauan tangan Kim Hong yang amat cepat tadi.
"Siancai... tidak seorangpun di dunia ini boleh merampas bendera pusaka ini dari tanganku..."
Kakek itu terkekeh.
Tentu saja Kim Hong merasa penasaran sekali.
Kembali ia menubruk, kini mempergunakan kedua tangannya untuk merampas.
Akan tetapi, dua kali bendera kecil itu berkelebat dan tak dapat ditangkap oleh tangan Kim Hong.
Marahlah gadis itu dan kini pandangannya terhadap kakek itu berubah.
Biarpun nampaknya lemah, kiranya kakek ini memiliki kepandaian tinggi.
"Aku akan merampas bendera itu!"
Bentaknya dan kini ia menerjang, tangan kirinya menyerang dengan tusukan jari tangan ke arah lambung, kepalanya bergerak dan kuncir rambutnya menotok ke arah ulu hati dan tangan kanannya mencengkeram untuk merampas bendera!
Hebat bukan main jurus serangan yang dilakukan oleh Kim Hong ini dan jarang ada orang yang akan dapat menyelamatkan diri dari serangan seperti itu yang selain dilakukan amat cepat, juga dengan tenaga dahsyat dan terutama sekali penggunaan rambut sebagai senjata itu sukar diduga.
"Plak-plak-plakkk!"
Tubuh Kim Hong terbuyung ke belakang!
Kiranya kakek yang kelihatan lemah itu telah mampu menangkis semua serangannya, bukan hanya menangkis, malah juga membalas dengan dorongan yang membuat gadis itu terhuyung!
Melihat ini, Thian Sin sendiri memandang kaget dan kagum.
Gerakan kakek itu kelihatan lambat, namun begitu tepat dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali.
"Hemm, kiranya engkau pemberontak seperti ayahmu?"
Kakek itu menegur, suaranya berwibawa, biarpun suara itu masih saja agak menggetar dan agak kaku, mungkin karena lamanya dia bertapa dan selama itu tidak pernah mengeluarkan suara.
Kim Hong sendiri terkejut dan maklum bahwa yang membuat ia sampai kena terdorong adalah bendera itu.
Bendera itu ketika tadi Si Kakek menangkis, berkelebat di depan matanya dan membuatnya lengah sehingga kena didorong.
Kiranya bendera itu bukan hanya merupakan bendera pusaka, akan tetapi juga merupakan sebuah senjata aneh yang agaknya ampuh sekali walaupun belum dipergunakan sepenuhnya oleh kakek itu.
"Bocah she Toan, kau sebagai puteri Toan Su Ong merupakan satu-satunya keturunan yang seharusnya mewarisi bendera ini dan menghormati bendera ini sampai mati. Akan tetapi kini engkau malah menghinanya dan hendak merampasnya. Katakan, apa perlunya engkau datang untuk menemuiku?"
"Gouw Gwat Leng, lupakah engkau betapa ayahku sampai hidup terlunta-lunta, menjadi buronan dan selama hidupnya bersembunyi sampai mati, hanya karena engkau? Mendiang ibuku bercerita bahwa engkaulah yang menyebabkan ayah tidak berani muncul di dunia ramai, engkau dan bendera sialan itu. Ayah boleh jadi terlalu bodoh untuk merasa jerih menghadapi engkau dan bendera terkutuk itu, akan tetapi aku, anaknya, tidak! Aku yang akan membalaskan kematian dan menebus kesengsaraan ayah kepadamu, dan menghancurkan bendera terkutuk itu!"
"Siancai... akhirnya tiba juga saat yang kunanti-nantikan! Anak baik, engkau hendak berbakti secara sesat kepada ayahmu. Ayahmu sendiri takut kepadaku karena menghormati bendera dan karena tahu diri, sekarang engkau hendak melawanku? Sungguh engkau telah murtad terhadap bendera pusaka nenek moyang perguruanmu sendiri, dan engkau tidak tahu diri berani melawan supekmu!"
"Tak usah banyak cerewet, bersiaplah untuk menyusul ayah dan ibu!"
Setelah berkata demikian, Toan Kim Hong sudah mencabut sepasang pedang hitamnya dar menyerang dengan sengit.
"Trang-tranggg...!"
Gagang bendera itu telah menangkis sepasang pedang.
"Aihhh, aku telah mendengar bahwa ayah ibumu dalam persembunyiannya menciptakan Hok-mo Sin-kun! Apakah ini yang namanya Hok-mo Siang-kiam?"
Akan tetapi Kim Hong sudah tidak mempedulikan lagi dan menyerang terus, menggunakan jurus-jurus terampuh dari ilmu pedangnya.
Dan ternyata kakek itu, biarpun kelihatan sudah tua dan lemah, ternyata masih hebat!
Gerakannya begitu ringan seperti kapas tertawa angin.
Seolah-olah tubuhnya sudah terdorong oleh angin sambaran pedang lawan sehingga tanpa mengelak pedang itu tidak mengenai sasaran!
Dan benderanya bergerak-gerak, berkibar-kibar, namun bukan sembarangan berkibar karena bendera tua itu berkelebat menggelapkan pandangan dan ujung gagangnya yang tumpul menjadi alat penotok yang ampuh, sedangkan mata anak panah yang menjadi gagang bendera itupun menyambar-nyambar seperti patuk seekor rajawali!
Biarpun Kim Hong bergerak cepat dan mengerahkan tenaga, namun Thian Sin dapat melihat bahwa memang kakek itu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dengan mudah kakek itu dapat menghalau semua serangan Kim Hong tanpa banyak kesukaran, sebaliknya setiap serangan balasan kakek itu agaknya memang tepat sehingga membuat Kim Hong kewalahan dan sibuk menyetamatkan diri.
"Jit Goat Tosu, sungguh tak patut yang tua menghina yang muda, dan aku sudah menjanjikan bantuan kepada Kim Hong!"
Berkata demikian, Thian Sin sudah meloncat ke depan sambil mengelebatkan Gin-hwa-kiam sehingga nampak sinar perak menyambar ganas.
"Tranggggg...!"
Tangkisan anak panah yang menjadi gagang bendera terhadap Gin-hwa-kiam itu membuat Si Kakek terdorong ke belakang, akan tetapi juga Thian Sin terdorong mundur.
Keduanya terkejut dan kakek itu sejenak memandang kepada pemuda itu.
"Toan Kim Hong! Siapakah pemuda yang membantumu ini?"
Pertanyaan ini lebih menyerupai bentakan dan di dalamnya mengandung ancaman maut!
Kim Hong merasa malu kalau harus mengeroyok kakek itu bersama orang lain, maka iapun menyahut lantang.
"Dia adalah Ceng Thian Sin, tunanganku!"
Dengan mengaku pemuda itu sebagai tunangannya yang berarti jodohnya, maka berarti bahwa yang ikut mengeroyok kakek itu "bukan orang luar".
Dan memang pendapatnya ini tepat sekali.
Kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, pantas...! Dia tampan dan gagah, ilmunya hebat. Hayo anak-anak, hayo kita latihan dan lihatlah kehebatan ilmu dari nenek moyang perguruanmu!"
Setelah berkata demikian kakek itu menggerakkan anak panah bendera itu dan sekaligus gerakan ini menyerang Thian Sin dan Kim Hong secara bertubi-tubi.
Dua orang muda itu kaget dan juga heran bagaimana senjata kecil seperti itu dapat bergerak sedemikian anehnya dan setiap gerakan merupakan serangan maut yang berbahaya sekali.
Tentu keduanya sudah menggerakkan pedang untuk menangkis dan balas menyerang.
Kim Hong sudah mainkan Hok-mo Siang-kiam-sut dan sepasang pedangnya yang hitam itu berubah menjadi dua sinar hitam bergulung-gulung amat menyeramkan, diiringi angin dingin yang mengeluarkan suara bercuitan.
Tubuhnya sendiri lenyap terbungkus dua gulungan sinar hitam ini dan kadang-kadang ada sinar hitam mencuat dari dua gulungan itu, menyambar ke arah tubuh kakek kecil kurus.
Thian Sin juga memutar pedangnya dengan cepat, dan selain sambaran pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar perak mengimbangi dua gulungan sinar hitam itu, saling membantu, juga tangan kirinya diam-diam melancarkan pukulan-pukulan Pek-in-ciang yang dipelajarinya dari pendekar sakti Yap Kun Liong di Bwe-hoa-san.
Tangan kirinya itu mengepulkan uap putih ketika dia mempergunakan ilmu pukulan ampuh itu.
Melihat kehebatan kedua orang muda ini, berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan kagum dan kaget.
Akan tetapi kakek tua renta itu memang hebat sekali ilmu kepandaiannya.
Dia telah memiliki kematangan yang sempurna, ilmu silatnya telah mendarah daging dan berkat latihan samadhi yang tak kunjung henti, dia telah menghimpun kekuatan dalam yang luar biasa sekali, tidak lumrah dimiliki manusia.
Tubuhnya, jasmaninya memang nampak lemah, akan telapi, kekuatan sakti yang tersembunyi di tubuhnya bangkit semua dan telah terhimpun sin-kang yang mencapai puncaknya.
Gerakan anak panah berikut bendera tua itu aneh sekali, akan tetapi ke manapun senjata ini bergerak, selalu tentu dapat menahan senjata lawan dan begitu terbentur, langsung saja anak panah itu menyambar dan mengirim serangan balasan yang tidak kalah lihainya daripada serangan lawan.
Biarpun dikeroyok dua, kakek itu sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan dia seolah-olah telah menguasai ilmu lawan.
Padahal, ilmu yang dikeluarkan oleh dua orang muda itu adalah ilmu-ilmu yang belum dikenalnya, akan tetapi kematangannya dalam ilmu silat membuat dia dapat melihat intinya dan karenanya gerakan dua orang muda itu tidak mengejutkan hatinya, hanya membuatnya kagum bukan main.
"Bagus sekali ilmu pedang kalian, mari kita berlatih dengan tangan kosong!"
Setelah berkata demikian, kakek itu menyelipkan anak panah itu di pinggangnya dan menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong saja.
Melihat ini, Thian Sin otomatis menyimpan pedangnya, dan melihat sikap pemuda ini, Kim Hong juga menyimpan sepasang pedang hitamnya!
Diam-diam gadis ini merasa heran sendiri.
Ia datang untuk membunuh kakek ini, akan tetapi kenapa sekarang ia menghadapi kakek itu seperti supeknya sendiri mengajaknya berlatih saja?
Sebetulnya bukanlah demikian.
Seperti juga yang dirasakan oleh Thian Sin, Kim Hong merasa malu di sudut hatinya bahwa menghadapi seorang kakek tua renta yang kelihatan amat lemah ini ia harus menggunakan pengeroyokan.
Dan di samping itu, juga ia merasa kagum bukan main melihat kepandaian kakek ini.
Oleh karena itu melihat kakek itu menyimpan senjata, mana mungkin ia ada muka untuk menyerang kakek yang bertangan kosong itu dengan pedang?
Hal itu tentu akan memalukan sekali, dan karena inilah maka Thian Sin dan ia sendiri juga menyimpan senjata mereka.
Bagi Thian Sin, ada hal lain yang mendorongnya menyimpan senjata.
Sebetulnya, kalau dibuat perbandingan, pemuda ini lebih lihai bertangan kosong daripada mempergunakan senjata.
Hal ini adalah karena dia telah mewarisi banyak ilmu kesaktian yang dipergunakan dengan tangan kosong, antara lain seperti Ilmu Pek-in-ciang dari pendekar Yap Kun Liong, lalu Thi-khi-i-beng dari ayah angkatnya, Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong, belum lagi ilmu silat tinggi seperti Thai-kek Sin-kun, San-in-kun-hoat, Pat-hong Sin-kun dan tenaga Thian-te Sin-ciang.
Malah ilmu-ilmu yang diwarisinya dari ayah kandungnya juga ilmu silat tangan kosong yang mengandalkan kaki tangan belaka, seperti Ilmu Hok-liong Sin-ciang dan Hok-te Sin-kun itu.
Maka, ketika ditantang untuk bertanding dengan tangan kosong, dengan gembira Thian Sin menyimpan pedangnya yang diturut pula oleh Kim Hong.
Terjadilah pertandingan yahg hebat sekali, malah lebih menegangkan daripada ketika mereka mempergunakan senjata tadi.
Kalau tadi mereka bertanding dalam jarak agak jauh, kini mereka berkelahi dalam jarak pendek, saling pukul, saling tendang, menangkis dan mengelak dengan kecepatan yang mengagumkan.
Kadang-kadang gerakan mereka nampak begitu otomatis seolah-olah tiga tubuh itu telah menjadi satu dan enam batang lengan, enam batang kaki itu digerakkan oleh satu otak saja.
Dan Thian Sin menjadi semakin kagum.
Ilmu-ilmu silat tinggi telah dikeluarkannya, akan tetapi dia dan Kim Hong tidak mampu mendesak kakek itu.
Bahkan senjata rambut panjang Kim Hong tidak dapat mendesak lawan, malah beberapa kali hampir saja ujung rambut itu terkena cengkeraman kakek itu kalau saja Thian Sin tidak cepat membantunya.
Kakek itu mentertawakan Kim Hong dan mengejeknya dengan kata-kata.
"Senjata khas wanita, tapi curang!"
Karena merasa penasaran, setelah lewat hampir seratus jurus belum juga dia mampu mendesak kakek itu, ketika kakek itu menampar ke arah kepalanya, Thian Sin miringkan tubuh, akan tetapi memasang pundaknya sehingga kena ditampar.
"Plakk!"
"Uuhhhhh... apa ini...? Ahh, Thi-khi-i-beng...?"
Kakek itu berseru dan bukan menarik tenaganya malah mengerahkan tenaga sehingga Thian Sin menjadi gelagapan seperti orang yang dimasukkan ke dalam air.
Ilmu itu adalah ilmu menyedot tenaga sin-kang lawan, akan tetapi kakek itu membanjirinya dengan tenaga berlebihan sehingga dia tidak dapat menampungnya dan otomatis Thian Sin mengembalikan tenaga yang membanjir itu dan menghentikan sedotannya!
Kakek itu meloncat ke belakang.
"Orang muda, engkau dari Cin-ling-pai?"
Tanya kakek itu heran.
Biarpun tidak pernah mengenal secara pribadi, agaknya kakek ini pernah mendengar ilmu mujijat dari Cin-ling-pai itu.
"Masih ada hubungan keluarga!"
Kata Thian Sin akan tetapi hatinya merasa kecewa karena ternyata Thi-khi-i-beng juga tidak ada gunanya terhadap kakek yang hebat ini.
"Akan tetapi yang ini bukan dari Cin-ling-pai, terimalah!"
Dan Thian Sin sudah berjungkir balik, kemudian, tiba-tiba dia menghantam dari bawah.
Itulah Hok-te Sin-kun yang hebat sekali.
Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan kakek itu agaknya mengenal ilmu mujijat maka sambil berseru dia memapaki dengan pukulan tangannya.
"Desss...!"
Tubuh kakek itu terlempar dan nyaris terbanting, sedangkan Thian Sin terpaksa harus berjungkir balik beberapa kali karena pertemuan tenaga itu membuat seluruh tubuhnya tergetar.
Wajah kakek itu berubah dan matanya terbelalak.
"Ilmu setan...!"
Dia menggerutu, dan ketika Kim Hong dan Thian Sin maju lagi, dia berkata dengan nyaring.
"Tahan!"
"Toan Kim Hong, engkau tidak menghormati bendera pusaka, maka habislah riwayat bendera pusaka perguruan kami, akan tetapi ilmu silatmu juga sudah tidak aseli lagi. dan biarpun salahnya ayahmu sendiri, namun memang aku yang membuat hidup ayahmu menderita. Aku menyesal sekali dan sudah menebus dengan pertapaan, akan tetapi agaknya belum impas kalau belum mati badan tua tak berguna ini. Nah, saksikanlah. Supekmu menebus dosa dan membawa bendera pusaka bersama dan lunaslah sudah!"
Tiba-tiba kakek itu mencabut anak panah yang menjadi gagang bendera itu dan sekali menggerakkan anak panah itu, senjata ini amblas memasuki dadanya berikut benderanya dan ujung anak panah itu tembus di punggungnya.
Dia terhuyung lalu roboh miring, tak bergerak lagi.
Thian Sin dan Kim Hong merasa terkejut sekali sehingga mereka terkesima dan berdiri bengong memandang kepada tubuh kakek yang sudah tewas itu.
Setelah kakek itu tewas barulah terasa menyesal dalam hati mereka.
Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat bukan main, dan kakek ini tadi jelas tidak menghadapi mereka sebagai musuh melainkan sebagai lawan berlatih belaka.
Baru sekarang keduanya mengerti bahwa kalau kakek itu menghendaki, tadi kakek itu tentu sudah dapat merobohkan dan menewaskan mereka.
Kakek itu telah mengalah!
Dan kini kakek itu telah membunuh diri!
Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya Gouw Gwat Leng amat mencinta sutenya, yaitu Toan Su Ong.
Mereka berdua telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari guru mereka.
Sayang sekali bahwa Toan Su Ong kemudian dinyatakan sebagai pemberontak karena terlalu berani menentang kebijaksanaan kaisar.
Sebetulnya, kalau kaisar menghendaki, dengan pengerahan bala tentara, apa sukarnya menangkap dan membunuh seorang manusia saja, betapapun lihainya dia itu?
Gouw Gwat Long melihat hal ini dan diapun menghadap kaisar dan menyatakan bahwa dialah yang akan mengejar sutenya dan menghalangi sutenya agar tidak memberontak.
Dan memang dia melakukan pengejaran.
Toan Su Ong tidak berani melawan suhengnya yang menjadi ahli waris bendera pusaka guru mereka, maka diapun terus pergi menyembunyikan diri sampai matinya di Pulau Teratai Merah, terbunuh dalam pertikaian oleh isterinya sendiri.
Dan memang inilah yang dikehendaki oleh Gouw Gwat Leng, yaitu agar sutenya tidak sampai dikeroyok oleh bala tentara dan tidak sampai terbinasa oleh kaisar.
Akan tetapi, diapun merasa menyesal dan berdosa karena biarpun dia telah menyelamatkan nyawa sutenya, sebaliknya diapun membuat sutenya hidup merana dan menderita, selalu bersembunyi.
Penyesalan inilah, ditambah kedukaan bahwa sejak muda ia terpaksa harus berpisah dari sutenya yang tercinta, yang membuat Gouw Gwat Leng menjadi semakin berduka ketika mendengar akan tewasnya sutenya itu.
Dia lalu pergi ke Kun-lun-pai, minta kepada para tokoh Kun-lun-pai yang menjadi sahabat baiknya untuk menerimanya menjadi tosu dan memberi pelajaran Agama To kepadanya.
Diapun menurunkan beberapa ilmu silat tinggi kepada para pimpinan Kun-lun-pai sehingga dia dianggap sebagai saudara tua dan diperbolehkan untuk bertapa di dalam gua-gua di Kun-lun-san.
Ketika puteri sutenya itu menghadapinya sebagai musuh, sampailah Gouw Gwat Leng yang sudah menjadi Jit Goat Tosu itu pada puncak penyesalannya.
Puteri sutenya itu sebetulnya merupakan ahli waris tunggal dari ilmu-ilmu perguruan yang berikut bendera pusaka itu.
Akan tetapi gadis itu malah menghina bendera pusaka dan menghadapinya sebagai seorang musuh besar yang menyengsarakan kehidupan ayah gadis itu.
Maka, untuk menebus penyesalannya, kakek yang sudah tua sekali itu akhirnya menyimpan bendera pusaka ke dalam tubuhnya dan membunuh diri di depan Kim Hong tanpa penyesalan karena diapun sudah puas melihat puteri sutenya itu menjadi seorang gadis yang demikian lihai, Berjodoh dengan seorang pemuda yang lihai pula, bahkan seorang pemuda Cin-ling-pai pula.
Ketika mendengar gerakan di belakang mereka, Thian Sin dan Kim Hong baru sadar dan memutar tubuh.
Mereka melihat bahwa di situ telah berdiri dua orang tosu tua yang bukan lain adalah Kui Yang Tosu dan seorang tosu lain yang juga tinggi kurus akan tetapi wajahnya muram tidak segembira wajah Kui Yang Tosu.
Mereka dapat menduga bahwa tentu tosu inilah yang menjadi ketua Kun-lun-pai dan memang benar, tosu itu adalah Kui Im Tosu!
Di belakang ketua dan wakil ketua Kun-lun-pai ini berdiri para sute mereka, lalu para murid mereka dari tingkat tertinggi sampai tingkat terbawah.
Semua penghuni asrama Kun-lun-pai telah keluar dan menghadapi dua orang muda itu agaknya.
"Siancai, siancai, siancai... Saudara tua Jit Goat Tosu telah tewas dalam keadaan yang menyedihkan sekali..."
Kata Kui Im Tosu sambil memandang ke arah tubuh kurus yang rebah miring itu dengan nada suara penuh kedukaan dan wajahnya semakin muram.
"Puluhan tahun lamanya beliau tidak pernah mengganggu siapa atau apapun, tidak akan mau membunuh seekor semut, akan tetapi sekarang tewas oleh kekerasan. Di mana Pendekar Sadis tiba di situ tentu ada bekas tangannya yang kejam,"
Kata Kui Yang Tosu, kini senyumnya lenyap dari wajahnya yang biasanya gembira itu.
"Aku yang datang untuk membunuhnya, dia hanya datang menemani dan membantuku!"
Kata Kim Hong dengan lantang.
"Jit Goat Tosu membunuh diri, kalau tidak mana kalian akan mampu membunuhnya?"
Kata Kui Yang Tosu.
"Akan tetapi bagaimanapun juga, kalian yang telah mendesaknya, sehingga dia membunuh diri."
"Locianpwe, sudah kukatakan bahwa kedatanganku ke sini bukan untuk berurusan dengan Kun-lun-pai, melainkan urusan pribadi dengan Jit Goat Tosu yang masih terhitung supekku. Kami membuat perhitungan lama antara dia dan ayahku, dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai. Maka kuminta agar Kun-lun-pai jangan mencampuri urusan pribadi orang lain!"
"Siancai... tidak begitu mudah, nona,"
Kata Kui Yang Tosu yang agaknya lebih pandai bicara daripada suhengnya yang pendiam.
"Kami sudah mendengar dan melihat semua. Engkau sebagai murid keponakan telah berani melawan supek, berarti engkau telah mengkhianati bendera pusaka perguruan. Ini termasuk perbuatan jahat sekali. Dan kalian berdua telah menyebabkan kematian seorang saudara angkat kami. Tak mungkin kami mendiamkcan saja kejahatan dilakukan orang di wilayah Kun-lun-pai."
"Habis, kalian mau apa?"
Tanya Kim Hong, nadanya tidak menghormat lagi dan mengandung tantangan.
Kumat lagi sikapnya sebagai Lam-sin yang memandang rendah siapapun juga di dunia ini.
"Siancai!"
Kata Kui Im Tosu.
"Kami terpaksa harus menangkapmu untuk dimintakan pengadilan kepada rapat pertemuan para tokoh kang-ouw!"
"Singgg!"
Kim Hong sudah mencabut pedang hitamnya.
"Bagus! Seekor semutpun kalau diinjak pasti balas menggigit, seekor ayampun kalau akan ditangkap pasti melarikan diri dan seekor harimaupun kalau akan dibunuh pasti melawan. Apalagi manusia! Aku Toan Kim Hong tdak berniat memusuhi Kun-lun-pai, akan tetapi kalau ada yang mendesakku, menangkap atau membunuhku, silakan maju. Jangan disangka aku takut terhadap Kun-lun-pai!"
"Tangkap mereka!"
Kata Kui Yang Tosu kepada anak buahnya.
Dia tahu bahwa dua orang muda itu lihai sekali, maka dia sendiripun bersama sang ketua sudah siap untuk bantu mengeroyok dan menangkap, walaupun sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan tidak tergesa-gesa turun tangan.
Dan dia maklum bahwa para murid Kun-lun-pai akan mentaati perintahnya, yaitu menangkap mereka, bukan membunuh.
Melihat para tosu dan para murid Kun-lun-pai sudah bergerak, Thian Sin memegang lengan gadis itu.
"Jangan lukai atau bunuh orang. Simpan pedangmu!"
Dalam kemarahannya, Kim Hong masih dapat diingatkan dan cepat iapun menyimpan kembali sepasang pedangnya, kemudian berdiri saling membelakangi dengan Thian Sin, memandang kepada anak murid Kun-lun-pai yang telah mengepung mereka itu.
Ketika para murid Kun-lun-pai itu bergerak maju, keduanya segera mengamuk.
Dengan gerakan mereka yang cepat, Kim Hong dan Thian Sin menggerakkan kaki tangan dan merobohkan tanpa membuat mereka terluka parah.
Akan tetapi, segera murid-murid yang tingkatnya lebih tinggi sudah menyerbu, membuat mereka berdua berloncatan ke sana-sini sebelum akhirnya membalas dengan tenaga yang lebih kuat.
Para anak buah Kun-lun-pai itu, dari murid-murid kepala sampai murid-murid yang tingkatnya paling rendah, menjadi sibuk sekali seperti sekumpulan semut mengeroyok dua ekor jengkerik yang besar dan setiap gerakan jengkerik-jengkerik itu membuat semut-semut yang mengeroyok terlempar ke sana-sini.
"Mundur!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan berkelebatlah dua bayangan orang.
Kiranya Kui Yang Tosu dan Kui Im Tosu sendiri yang telah maju menghadapi dua orang muda itu.
Thian Sin terkejut sekali.
Dua orang ketua Kun-lun-pai telah maju sendiri!
Permusuhan dengan Kun-lun-pai tak dapat dihindarkan lagi!
Dan untuk melarikan diri tidaklah mudah karena dengan rapi para murid Kun-lun-pai telah mengurung tempat itu dengan ketatnya.
"Ji-wi locianpwe,"
Kata Thian Sin dengan suara merendah.
"Kami dua orang muda sama sekali tidak berniat untuk bentrok dan bermusuhan dengan Kun-lun-pai, mengapa ji-wi tidak membiarkan kami pergi dengan aman?"
"Hemm, kalian telah membunuh Jit Goat Tosu dan mengatakan tidak berniat memusuhi kami? Kalau benar kalian berniat baik, menyerahlah agar kami bawa ke depan pertimbangan dan pengadilan para tokoh kang-ouw,"
Kata Kui Yang Tosu.
"Kami bukan penjahat!"
Bentak Kim Hong.
"Kalau terpaksa kami melawan Kun-lun-pai, adalah karena kami didesak!"
"Hemm, kalian telah melakukan pembunuhan, masih berani berkata bukan penjahat?"
Kui Im Tosu berseru, dan Kui Yang Tosu sudah menerjang maju disambut oleh Kim Hong.
Kui Im Tosu juga maju, disambut oleh Thian Sin.
Kui Yang Tosu terkejut bukan main ketika tangannya bertemu dengan Kim Hong dan dia merasa betapa seluruh lengannya menjadi tergetar hampir lumpuh.
Tak disangkanya bahwa murid keponakan dari mendiang Jit Goat Tosu memiliki tenaga sin-kang yang demikian dahsyatnya.
Sebaliknya, dari pertemuan tenaga itupun Kim Hong maklum bahwa ia menghadapi lawan yang berat, maka ia tidak banyak cakap lagi, lalu cepat menyerang dengan kedua pukulan dan kedua kakinya dibantu oleh rambutnya.
Kui Yang Tosu bergerak dengan mantap dan tenang, akan tetapi dia terkejut melihat sambaran kuncir rambut yang amat cepat dan kuat itu yang nyaris menotok jalan darah di lehernya.
Cepat tangan kirinya bergerak dan terdengar suara berkerotokan nyaring ketika tasbehnya menyambar ke depan menyambut rambut itu.
Kui Yang Tosu balas menyerang, namun semua serangannya dapat dielakkan dengan baik oleh Kim Hong dan mereka bertanding dengan amat seru, dan ternyata bahwa tingkat kepandaian mereka seimbang, hal yang amat mengejutkan wakil ketua Kun-lun-pai itu.
Sementara itu pertandingan antara Thian Sin dan ketua Kun-lun-pai juga terjadi dengan amat seru dan hebatnya.
Angin pukulan menyambar-nyambar ganas dan Thian Sin mendapat kenyataan betapa lihainya ketua Kun-lun-pai ini.
Dia merasa repot sekali karena tosu yang bersilat dengan amat (Lanjut ke
Jilid 40) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 40 tenang itu seolah-olah dilindungi oleh hawa murni yang sukar diterobos, amat kuat sehingga semua serangannya, kalau tidak dapat dielakkan atau ditangkis lawan, selalu membentur tenaga yang membuat serangannya menyeleweng.
Akhirnya, secara terpaksa sekali Thian Sin yang tidak ingin bermusuhan dengan Kun-lun-pai itu mengeluarkan ilmu simpanannya.
Tiba-tiba dia berjungkir balik dan dengan tenaga dari tanah dia menerjang ke atas dan mempergunakan Ilmu Hok-te Sin-kun.
"Hiaaaaattt...!"
Dia memekik dengan nyaring sekali seketika bersamaan dengan pekik itu, tubuhnya sudah mencelat dari atas tanah dengan serangan yang amat dahsyat.
"Bresss...!"
Ketua Kun-lun-pai menangkis dengan kedua lengannya, akan tetapi kakek ini terlempar sampai empat meter dan biarpun jatuh berdiri, akan tetapi wajah kakek ini pucat dan matanya terbelalak, tanda bahwa dia terkejut bukan main menghadapi serangan yang amat luar biasa itu.
"Kim Hong, lari...!"
Teriak Thian Sin.
Kim Hong maklum bahwa amat sukarlah melawan dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu tanpa merobohkan mereka dengan serangan maut yang amat tidak dikehendakinya, maka tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan sinar halus merah menyambar ke arah tubuh jalan darah di tubuh lawan bagian depan.
"Siancai...!"
Kui Yang Tosu berseru kaget dan cepat mengebut dengan kedua lengan bajunya sehingga sinar merah itu runtuh.
Sebatang jarum merah menancap di lengan bajunya.
Mempergunakan kesempatan ini, Kim Hong meloncat jauh dan bersama Thian Sin melarikan diri.
Para murid Kun-lun-pai hendak mengejar, akan tetapi Kui Im Tosu berseru dengan tenang.
"Jangan kejar!"
Kui Yang Tosu memperlihatkan jarum merah itu kepada suhengnya.
"Suheng mengenal ini?"
Kui Im Tosu memeriksa jarum itu.
"Hemmm, bukankah jarum seperti ini, juga permainan rambut itu, menjadi ilmu yang terkenal dari datuk sesat bagian selatan yang berjuluk Lam-sin?"
Kui Yang Tosu mengangguk-angguk.
"Benar, suheng. Jelaslah bahwa Nona Toan puteri mendiang Pangeran Toan Su Ong itu tentu ada hubungannya dengan Lam-sin. Akan tetapi, menurut berita tingkat kepandaian Lam-sin seperti tingkat para datuk lain, jadi tidak banyak berbeda dengan tingkat kita. Dan gadis itu lihai bukan main, agaknya tidak mudah bagi pinto untuk mengalahkannya, agaknya kami setingkat. Kalau ia murid Lam-sin, apakah ia telah mencapai tingkat seperti gurunya?"
Kui Im Tosu menggeleng kepala.
"Pinto rasa tidak begitu, sute. Menurut perasaan pinto, ia sendirilah Lam-sin itu!"
"Ehh...?"
Kui Yang Tosu memandang kepada suhengnya dengan heran.
"Akan tetapi, bukankah menurut berita Lam-sin adalah seorang nenek yang lihai sekali?"
"Seorang nenek yang jarang sekali bertindak sendiri, bukan? Hanya perkumpulannya saja yang bernama Bu-tek Kai-pang yang mewakilinya dan bukankah berita terakhir mengatakan bahwa setelah Pendekar Sadis muncul maka nenek itupun menghilang, dan Bu-tek Kai-pang juga dibubarkan? Kemudian, ke manapun Pendekar Sadis pergi, gadis yang lihai itu ikut, ikut pula menyerbu See-thian-ong, Pak-san-kui dan bahkan Tung-hai-sian? Pinto berpendapat bahwa gadis itulah yang dahulu menjadi Lam-sin, mungkin menggunakan alat penyamaran sebagai seorang nenek."
Sutenya mengangguk-angguk.
Kini dia dapat melihat kemungkinan itu dan biasanya, biarpun suhengnya tidak pernah keluar, namun suhengnya memiliki kecerdasan yang luar biasa.
"Kita harus mengumpulkan para tokoh pendekar dan membicarakan urusan ini. Tak mungkin sepak terjang Pendekar Sadis dibiarkan saja,"
Katanya. Kui Im Tosu mengangguk-angguk.
"Dia sudah berani mengacau ke sini, dan pula sedikit banyak Cin-ling-pai bertanggung jawab, karena bukankah Pangeran Ceng Han Hduw itu masih ada hubungannya dengan Cin-ling-pai? Menurut kabar yang kita peroleh, dia adalah anak pungut Pendekar Lembah Naga. Nah, kita harus minta pertanggungan jawab para pendekar itu."
Demikianlah, orang-orang Kun-lun-pai lalu mengurus jenazah Jit Goat Tosu kemudian mereka mengirim undangan kepada para tokoh pendekar dan wakil partai-partai persilatan besar untuk membicarakan tentang Pendekar Sadis yang biarpun termasuk pendekar yang menentang orang-orang jahat, namun sepak terjangnya liar dan kekejamannya tidak patut dilakukan oleh seorang pendekar.
Di samping itu, juga Kun-lun-pai perlu memberitahukan tentang pembunuhan yang terjadi di Kun-lun-pai dan minta pertanggungan jawab para pendekar yang masih ada hubungannya dengan Pendekar Sadis.
Maka, tidak lupa dia mengundang Cin-ling-pai, juga mengirim utusan untuk mengundang Pendekar Lembah Naga!
Telah lama sekali kita tidak bertemu dengan Cia Han Tiong, putera tunggal Pendekar Lembah Naga itu.
Seperti telah diketahui, Han Tiong merasa berduka sekali ketika adik angkat yang amat dicintainya, yaitu Thian Sin, pergi meninggalkan Lembah Naga.
Diapun mulai merantau dan mencari adik angkatnya, juga mencari dara yang dicintanya dan yang telah ditunangkan dengannya, yaitu Ciu Lian Hong.
Akhirnya, dia berhasil menemukan Ciu Lian Hong di selatan, bersama datuk selatan Lam-sin karena dara itu selain telah ditolong oleh datuk ini, juga telah menjadi muridnya.
Dengan bantuan ayah bundanya, Han Tiong berhasil minta kembali tunangannya itu dan Lian Hong ikut pulang bersama calon mertuanya ke Lembah Naga.
Adapun Han Tiong sendiri belum mau pulang, hendak mencari adik angkat yang amat disayangnya itu.
Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya dia mencari dengan sia-sia saja.
Sejak adik angkatnya itu lenyap sama sekali seperti ditelan bumi.
Hal ini tidak mengherankan karena pada waktu dia mencari-cari itu, Thian Sin sedang tekun bertapa dan melatih diri dengan ilmu peninggalan ayah kandungnya, di Pegunungan Himalaya.
Setelah merantau hampir setahun lamanya dan tidak berhasil menemukan adik angkatnya, akhirnya dengan hati berat karena kecewa dan berduka Han Tiong pulang ke Lembah Naga, disambut dengan gembira oleh ayah bundanya dan juga tunangannya.
Melihat wajah Han Tiong yang muram dan berduka, ayahnya menghibur.
"Han Tiong, sudahlah jangan terlalu memikirkan adikmu. Dia sudah cukup dewasa, bukan anak kecil lagi. Kalau dia mau mengambil jalannya sendiri, bagaimana kita dapat menghalanginya? Biarkanlah saja, kelak kalau dia teringat kepada kita, tentu dia akan kembali juga."
"Ucapan ayahmu benar, Han Tiong. Watak adikmu itu agak keras dan manja maka kalau terlalu kau perlihatkan rasa sayangmu kepadanya, dia akan menjadi semakin manja kelak hanya akan menimbulkan hal-hal yang memusingkan saja,"
Sambung ibunya.
"Justeru karena itulah, ibu, karena mengingat betapa keras hatinya, maka aku merasa khawatir sekali. Dia masih seperti anak kecil saja, belum mampu berpikir secara mendalam dan memandang jauh,"
Kata Han Tiong menarik napas panjang.
"Habis, setelah engkau tidak berhasil mencarinya, apa yang dapat kau lakukan, Han Tiong?"
Tanya ayahnya.
"Kalau saja aku dapat menemukan dia, tentu aku akan dapat membujuknya untuk pulang dulu, ayah. Aku hanya ingin melihat dia berbahagia, dan hanya kalau dia dekat dengan kitalah maka ada yang mengamati dan menasihatinya."
Ibunya tersenyum, diam-diam kagum atas besarnya kasih sayang dalam hati puteranya.
"Sudahlah, ayahmu benar, Thian Sin bukan anak kecil lagi. Dan setelah kami menanti-nanti engkau pulang, kami berbahagia melihat engkau pulang dalam keadaan sehat, anakku. Dan, perkabungan Lian Hong juga sudah hampir habis dan begitu ia tidak berkabung lagi, kita dapat merayakan pernikahan kalian."
"Kata-kata ibumu memang tepat. Pernikahan itu tidak mungkin dapat ditunda lebih lama lagi,"
Sambung ayahnya.
Mendengar betapa percakapan menjurus ke urusan pernikahan, Lian Hong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali dan ia lalu berpamit untuk menyiapkan makan siang.
Kedua orang mertuanya memandang sambil tersenyum ketika gadis itu tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
"Hong-ji, engkau tidak tahu betapa baiknya tunanganmu itu. Ia anak yang baik sekali, manis budi dan kami sayang sekali kepadanya,"
Kata ibunya.
"Hemm, yang lebih dari itu, ia amat mencintaimu Han Tiong,"
Sambung ayahnya.
"Kau tidak percaya?"
Kata ibunya ketika melihat puteranya memandang kepada ayahnya.
Dia tidak pernah membicarakan engkau, akan tetapi aku tahu bahwa setiap hari ia mengharapkan kedatanganmu.
kau tahu, setiap malam jam dua balas tengah malam ia pasti bersembahyang di pekarangan, bersembahyang untukmu, Han Tiong!
Bersembahyang untuk keselamatanmu dan agar engkau lekas pulang dalam keadaan selamat."
Keharuan mencekam hati Han Tiong dan diapun menunduk.
Keharuan disertai kebahagiaan hati.
Benarkah Lian Hong mencintanya begitu mendalam?
Dan dia selama ini mempunyai keinginan dan harapan gila, yaitu ingin menjodohkan Lian Hong dengan Thian Sin, kalau hal itu akan membahagiakan hati Thian Sin!
Kini baru terbuka matanya bahwa dia hanya memikirkan Thian Sin saja dan dia lupa bahwa Lian Hong juga seorang manusia yang berhak menentukan pilihannya sendiri.
Lian Hong bukan boneka yang dapat dioper-operkan begitu saja!
"Menurut perhitungan kami, tiga bulan lagi Lian Hong bebas dari perkabungan dan kita dapat melangsungkan pernikahan kalian,"
Kata pula ibunya.
"Kuharap saja Sin-te sudah pulang pada waktu itu, ibu."
"Hemm, kenapa begitu?"
Tanya ayahnya.
"Ayah, kalau tidak ada kehadiran Sin-te, tentu aku merasa bahwa kebahagiaanku itu tidak lengkap. Aku akan bergembira, akan tetapi kalau teringat kepadanya, mungkin dia terancam bahaya dan malapetaka, bagaimana hatiku dapat berbahagia?"
Ayah ibunya saling pandang, dan ayahnya berkata.
"Ah, anak itu hanya membikin pusing saja. Biarlah aku akan menyuruh beberapa orang muda dusun di luar lembah untuk pergi menyelidiki kalau-kalau mereka akan berhasil menemukan atau mendengar tentang Thian Sin. Biarpun harapannya hanya tipis, namun hatinya agak lega mendengar janji ayahnya itu. Hatinya terhibur, apalagi di situ terdapat Lian Hong yang dicintanya dan setelah dia pulang, maka pergaulannya dengan Lian Hong semakin akrab. Gadis itu memang manis budi, bukan hanya manis wajahnya, dan dari gerak-geriknya, ucapannya, senyumnya, pandang matanya, terasa benar oleh Han Tiong bahwa memang gadis itu amat mencintanya! Ah, betapa berbahagia hidupnya, kalau saja Thian Sin juga berada di situ! Kurang lebih dua bulan kemudian, seorang di antara pemuda dusun itu pulang dan membawa kabar tentang munculnya seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Sadis! Mendengar berita tentang sepak terjang pendekar itu yang membunuh tokoh-tokoh pengemis Hwa-i Kai-pang, seketika tahulah Han Tiong bahwa yang disohorkan sebagai Pendekar Sadis itu pastilah Thian Sin orangnya! "Belum tentu dia, Tiong-ji,"
Kata ibunya dengan khawatir melihat kegelisahan puteranya.
"Siapa lagi, ibu, kalau bukan Sin-te? Sudah pasti dia orangnya dan aku akan mencarinya dan akan mencegahnya terseret lebih jauh ke dalam kekejaman yang terdorong oleh sakit hatinya."
Ayah bundanya, juga tunangannya, tidak dapat menahan pemuda itu untuk pergi lagi mencari adik angkatnya yang diduganya telah menjadi seorang tokoh kejam yang dijuluki Pendekar Sadis.
Ibunya hendak berkeras menahan, akan tetapi Cia Sin Liong mencegah isterinya, dan membiarkan pemuda itu pergi dan memberi waktu enam bulan.
Setelah pemuda itu pergi, barulah Sin Liong berkata kepada isterinya dan calon mantunya yang menangis dan saling rangkul itu.
"Sudahlah, tidak perlu ditangisi. Han Tiong adalah seorang laki-laki sejati yang mencinta adiknya dan watak seperti itu amat baik. Kalian sepatutnya berbangga akan dia. Andaikata kita larang, dia tentu akan menjadi berduka. Biarlah dia berhasil menemui Thian Sin lebih dulu, agar hatinya tenteram dan pernikahan dapat dilangsungkan dalam keadaan gembira."
Akan tetapi, baru satu bulan kemudian, Cia Sin Liong terkejut menerima surat undangan dari Kun-lun-pai yang mengundangnya untuk menghadiri pertemuan para tokoh pendekar untuk membicarakan Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan minta pertanggungan jawab keluarga pendekar itu yang telah berani mengacau di Kun-lun-pai dan membunuh saudara tua dari para ketua Kun-lun-pai.
Tentu saja Cia Sin Liong merasa terkejut bukan main dan setelah memesan kepada calon mantunya untuk tinggal di Istana Lembah Naga, dia bersama isterinya lalu berangkat karena isterinya berkeras mau ikut karena merasa khawatir akan keadaan Han Tiong yang belum ada beritanya.
Sementara itu, di dalam perjalanannya sambil mencari keterangan, Han Tiong mendengar sepak terjang yang hebat dari Pendekar Sadis.
Betapa pendekar itu membunuh seorang pangeran di kota raja, membunuh pula Tok-ciang Sian-jin dan mengacau Pek-lian-kauw.
Yang lebih mengejutkan hatinya adalah ketika dia mendengar betapa Pendekar Sadis yang kini sudah dikenal orang sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw itu telah membasmi See-thian-ong dan anak buahnya, juga telah mengamuk dan membinasakan Pak-san-kui dan murid-muridnya!
Tentu saja Han Tiong merasa terkejut bukan main.
Bagaimana adik angkatnya dapat menjadi selihai itu, mengalahkan dan membunuh para datuk?
Juga cara-cara kejam yang dipergunakan oleh Pendekar Sadis membuat hatinya berduka sekali dan dia makin mempercepat perjalanannya agar dapat segera bertemu dengan adiknya.
Ketika dia mendengar tentang sepak terjang Pendekar Sadis di Kun-lun-pai yang beritanya cepat tersiar di seluruh kang-ouw itu, dia makin terkejut dan cepat pergi menyusul adiknya ke barat.
Demikian tekun sekali ini Han Tiong menyelusuri jejak adik angkatnya dan karena nama Pendekar Sadis sedang menjadi buah bibir semua orang kang-ouw, lebih mudah baginya kini mencari adiknya sebagai pendekar itu daripada ketika dia mencari sebagai Thian Sin yang tidak dikenal orang.
Maka, tidak mengherankanlah kalau berkat ketekunannya ini pada suatu pagi dia berhasil berhadapan dengan Thian Sin dan Toan Kim Hong!
Ketika itu, Thian Sin dan Kim Hong sedang menuruni sebuah bukit sambil bergandengan tangan.
Dua sejoli ini telah dua hari tinggal di puncak bukit itu, puncak yang amat indah di mana terdapat hutan yang kaya akan binatang buruan dan pohon-pohon yang buahnya dapat dimakan.
Mereka berdua tinggal di situ, seperti sepasang pengantin baru yang setiap saat bermesraan dan berkasih sayang, bermain cinta sepuasnya tanpa ada orang lain yang mengganggu mereka.
Dan pada pagi hari itu mereka menuruni puncak sambil bergandengan tangan.
Setelah menuruni puncak, barulah menjadi persoalan dalam pikiran mereka ke mana akan pergi.
"Eh, ke manakah kita menuju sekarang...?"
Tanya Kim Hong.
Thian Sin merangkul leher kekasihnya dan sambil berangkulan mereka berjalan terus perlahan-lahan.
"Kekasihku, aku sudah mempunyai rencana untuk itu, untuk masa depan kita."
Kim Hong juga tertawa.
"Akupun sudah mempunyai rencana yang baik sekali."
"Bagus!"
Kata Thian Sin.
"Kita berdua sudah mempunyai rencana, khawatir apa lagi?"
"Tapi,"
Kata Kim Hong.
"Bagaimana kalau rencana kita berbeda dan saling bertolak belakang?"
"Ah, mana bisa? Kita kan sudah sepaham, senasib sependeritaan, dan kita saling mencinta, bukan?"
Kata Thian Sin.
"Benar, Thian Sin. Untuk membuktikan cintamu kepadaku, engkau tentu akan menyetujui rencanaku."
"Dan kalau memang benar cinta padaku seperti aku cinta padamu, Kim Hong, kau tentu tidak akan menentang rencanaku untuk hari depan kita yang amat baik."
Kim Hong melepaskan diri dari rangkulan dan mundur beberapa langkah, lalu memandang pemuda itu dengan alis berkerut.
"Nah, nah hal ini perlu dibereskan sekarang juga. Coba katakan bagaimana rencanamu, baru aku akan menceritakan rencanaku."
"Rencanaku baik sekali. Kita memerlukan tempat untuk hidup tenteram, Kim Hong. Setelah kita terlibat dalam pertengkaran dengan Kun-lun-pai, aku merasa tidak enak sekali dan kita perlu beristirahat di tempat yang aman. Dan satu-satunya tempat yang aman bagiku adalah Lembah Naga. Kita pergi ke Lembah Naga..."
"Apa? Ke tempat tinggal Pendekar Lembah Naga?"
Kim Hong bertanya dan nampak terkejut, matanya terbelalak memandang kekasihnya itu.
"Mengapa tidak? Pendekar Lembah Naga adalah ayah angkatku, dan Cia Han Tiong, putera tunggal mereka adalah kakak angkatku yang amat kuhormati dan kucinta. Engkau akan merasa seperti berada di rumah sendiri, antara keluarga sendiri. Mereka adalah keluarga yang terhormat, keluarga gagah perkasa dan budiman..."
"Tidak! Aku tidak akan ke sana!"
Kim Hong berseru marah, teringat betapa ketika masih menjadi Lam-sin, ia pernah ditolak untuk berkenalan dengan keluarga itu.
"Dan di sana bertemu dengan gadis yang kau cinta itu, Ciu Lian Hong?"
"Ah, mengapa engkau berkata demikian? Yang kucinta adalah engkau, dan dara itu telah menjadi jodoh kakak angkatku, mungkin sekarang telah menjadi isterinya. Percayalah, Kim Hong. Keluarga Cia akan menerimamu dengan manis budi kalau mereka mendengar bahwa engkau adalah kekasihku, tunanganku. Dan kita sekalian minta doa restu mereka untuk dapat berjodoh..."
"Apa? Maksudmu menjadi suami isteri?"
"Habis, apa lagi? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri? Tinggal pengesahannya saja, tinggal upacara pernikahannya saja."
"Tidak! Urusan pernikahan adalah urusan kelak. Kalau kita memang menganggap perlu, kita menikah, kalau tidak ya tidak."
"Apa... apa maksudmu?"
"Lupakah engkau, Thian Sin, ketika pertama kali kita bertemu, sudah kunyatakan bahwa aku menyerahkan diri bukan untuk menjadi isterimu melainkan untuk memenuhi sumpahku kepada ibuku? Kalau kemudian kita saling jatuh cinta, itu adalah urusan sama kita. Sedangkan pernikahan, secara umum, berarti hanya pengakuan saling mencinta kita itu kepada umum. Kalau kita tidak membutuhkan umum itu? Asal kita saling mencinta, apa hubungannya dengan umum, apakah cinta kita itu disahkan, dirayakan atau tidak? Yang penting bukan pernikahan itu, melainkan tempat kita hidup selanjutnya. Aku tidak mau di Lembah Naga."
Thian Sin merasa penasaran.
"Habis, kalau menurut rencanamu, di mana kita harus mengasingkan diri?"
"Ada suatu tempat yang paling baik, yaitu di Pulau Teratai Merah!"
"Hemmm, tempat ayah dan ibumu mengasingkan diri berdua sampai mati itu?"
"Ya, apa salahnya? Tempat itu cukup indah, tanahnya subur, dan kita dapat berhubungan dengan dunia luar melalui laut, hanya berlayar selama setengah hari. Di sana aman, kita takkan terganggu..."
"Dan begitu amannya sampai ayah bundamu cekcok dan saling bunuh?"
"Thian Sin! Kalau engkau tidak maupun tidak mengapa, tidak perlu engkau mencela ayah bundaku, keparat!"
"Eh, engkau memaki?"
"Ya, aku memaki karena engkau memualkan perut, menggemaskan. Habis, kau mau apa?"
"Engkau makin kurang ajar, Kim Hong!"
"Eh, kurang ajar? kau kira aku takut padamu? kau kira aku ini apamu, harus taat kepadamu, ya?"
Setelah berkata demikian, Kim Hong meloncat ke depan menampar dengan amat kerasnya.
Thian Sin menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Plak!"
Tangkisan yang tidak disangka oleh Kim Hong itu membuat lengan dara itu terasa nyeri dan iapun menjadi semakin marah.
Dengan mata berlinang iapun lalu menyerang kalang kabut, menyerang dengan sungguh-sungguh, terdorong hati yang marah.
Thian Sin terpaksa melayani karena diapun sudah marah.
Dua orang muda itu kini saling serang dengan ganas dan seru, lupa bahwa baru beberapa jam yang lalu mereka itu saling mencumbu rayu, dan saling menumpahkan rasa sayang masing-masing dengan hati penuh kemesraan!
Tingkat kepandaian kedua orang muda ini memang seimbang, dan andaikata mereka berdua itu saling serang untuk saling membunuh juga, kiranya Thian Sin hanya akan menang setelah lewat waktu yang cukup lama.
Apalagi kini mereka saling serang hanya karena terdorong rasa marah, maka perkelahian itu seru sekali dan agaknya keduanya tidak mau saling mengalah.
Debu mengepul di sekeliling mereka dan kedua lengan mereka telah terasa nyeri dan matang biru karena mereka saling tangkis dengan pengerahan sin-kang sekuatnya, walaupun mereka tidak mempunyai niat untuk saling bunuh.
Keunggulan Thian Sin dalam tenaga sin-kang diimbangi oleh keunggulan serangan Kim Hong yang dibantu oleh rambutnya yang amat lihai.
Beberapa kali Thian Sin sempat terdesak oleh totokan-totokan yang dilakukan dengan kuncir rambut itu.
Lebih dari lima puluh jurus mereka berkelahi dan keduanya menjadi semakin marah karena tidak mau saling mengalah, menganggap bahwa masing-masing sudah saling membenci.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu ada seorang pemuda terjun ke dalam medan perkelahian itu sambil membentak nyaring.
"Perempuan kejam, jangan ganggu adikku!"
Orang ini bukan lain adalah Cia Han Tiong!
Dia telah menemukan jejak adiknya dan cepat melakukan pengejaran dan di tengah jalan dia melihat betapa Thian Sin sedang saling serang dengan seorang wanita yang lihai bukan main.
Dia melihat betapa adiknya itu nampak sibuk dan terdesak menghadapi totokan-totokan kuncir rambut yang amat berbahaya.
Karena gerakan wanita itu amat cepat dan rambutnya merupakan bayangan hitam menyambar-nyambar, maka Han Tiong tidak dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas, hanya mengira bahwa tentu wanita itu seorang wanita iblis jahat maka menggunakan senjata yang demikian aneh dan mengerikan.
Begitu dia terjun ke dalam pertempuran, dia sudah mengulur tangan hendak mencengkeram bayangan hitam rambut itu!
Kim Hong terkejut bukan main.
Rambutnya hampir kena dicengkeram pendatang baru ini, maka ia mengelak ke samping sambil menggerakkan kepala menarik kembali kuncirnya, dan kakinya menendang dengan gerakan kilat ke arah pusar orang yang baru datang itu.
Han Tiong terkejut, tidak mengira bahwa gerakan wanita itu sedemikian cepatnya, maka diapun menangkis dengan lengan kanannya.
"Dukkk!"
Akibatnya, tubuh Han Tiong tergetar akan tetapi kaki yang menendang itupun terpental.
Han Tiong makin kaget karena sekarang dia dapat melihat bahwa wanita itu sama sekali bukan merupakan seorang wanita iblis yang mengerikan, melainkan seorang dara muda yang amat cantik jelita dan manis, akan tetapi yang nampak marah bukan main.
Juga Kim Hong mengenal Han Tiong putera Pendekar Lembah Naga yang pernah dilihatnya ketika ia masih menjadi Lam-sin itu.
Han Tiong yang mengira bahwa wanita itu adalah musuh adik angkatnya, dan tahu bahwa wanita itu lihai sekali, sudah maju menyerang lagi.
"Dukkk!"
Serangannya ditangkis oleh Thian Sin yang sudah meloncat maju ke depan.
"Tiong-ko, tahan, jangan serang, ia adalah teman sendiri!"
Han Tiong kaget, lalu menjura ke arah wanita itu.
"Harap maafkan saya."
Kemudian dua orang pemuda itu saling pandang.
Sampai lama mereka hanya saling pandang dan seperti didorong oleh sesuatu yang amat kuat, keduanya lalu saling tubruk dan saling rangkul.
"Sin-te...!"
"Tiong-ko...!"
Sampai lama mereka berangkulan seperti itu dan ketika mereka saling melepaskan, mata kedua orang pemuda ini menjadi basah.
Mereka saling pandang dengan senyum tapi mata mereka basah, dan saling berpegangan tangan.
Baru terasa oleh mereka betapa di antara mereka terdapat getaran kasih sayang yang amat besar.
"Sin-te, mengapa kau meninggalkan kami begitu lama tanpa berita?"
Han Tiong menegur dengan suara mengandung penyesalan.
Thian Sin menunduk, merasa bersalah.
Berhadapan dengan kakaknya ini, lenyaplah semua keangkuhannya, dan dia selalu merasa kecil, selalu merasa betapa dia harus mentaati kakaknya ini.
"Maafkan Tiong-ko, aku... aku harus melaksanakan urusan pribadiku... yang berhubungan dengan mendiang ayah..."
"Hemm, membalas dendam, ya? Melepas dendam hati sepuasnya dan menghukum musuh-musuh secara keji sekali sehingga engkau dijuluki orang Pendekar Sadis?"
"Tiong-ko, bukan keinginanku berjuluk demikian. Aku memang menghukum mereka, membunuh mereka yang kuanggap jahat, untuk memuaskan dendam hatiku yang bertumpuk-tumpuk. Aku membunuh mereka semua yang telah menyebabkan kematian ayah bundaku. Salahkah itu, Tiong-ko?"
Kim Hong mendengarkan dengan penuh keheranan.
Suara kekasihnya itu kini seperti anak kecil yang minta dikasihani!
"Sin-te, aku tidak menyalahkan kalau engkau mengandung sakit hati mengingat akan kematian orang tuamu, dan memang sudah menjadi tugasmu sebagai seorang pendekar untuk menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.
Akan tetapi, kalau engkau melakukan penentangan itu dengan hati penuh kebencian lalu melakukan kekejaman, lalu apa bedanya antara mereka?
Kebenaran yang dibela dengan kekejaman bukanlah kebenaran lagi, adikku, melainkan menjadi kejahatan pula!
Tujuan tidak menentukan, akan tetapi kenyataannya terletak pada pelaksanaan.
Kalau pelaksanaannya buruk, maka tujuannyapun tak dapat dinamakan baik.
Kalau caranya kotor, maka tujuannyapun tentu tidak bersih.
Tak mungkin tujuan bersih dicapai dengan melalui cara yang kotor.
Seorang pendekar yang kejam bukanlah pendekar lagi namanya, melainkan seorang penjahat."
Hening sejenak, dan akhirnya, dengan lemah Thian Sin mencoba untuk membela diri.
"Kalau begitu, apakah aku harus mengampuni mereka semua itu, Tiong-ko?"
"Apa salahnya mengampuni orang yang pernah melakukan penyelewengan dalam hidupnya kalau memang dia itu ingin kembali ke jalan benar dan sudah insyaf akan penyelewengannya? Adikku yang baik, bukalah mata dan lihatlah kenyataan di dunia ini. Siapakah orangnya yang tidak pernah melakukan penyelewengan yang dinamakan kesalahan atau dosa? Penyelewengan dalam hidup sama dengan sakit, walaupun bukan badannya yang sakit, melainkan batinnya. Setiap orang tentu pernah dilanda penyakit ini, baik badan maupun batinnya. Kalau ada orang yang melakukan penyelewengan, berarti dia itu baru sakit, apakah kita harus membunuhnya saja, menyiksanya untuk memuaskan hati kita? Bukankah sepatutnya kalau kita mengulurkan tangan membantunya keluar dari jurang kesesatannya, membantunya sembuh dari penyakitnya? Ingatlah, orang yang sakit itu sewaktu-waktu dapat sembuh. Orang yang tadinya menyeleweng dan dianggap jahat tidak selamanya demikian, sekali waktu dapat saja dia menjadi orang baik atau orang waras. Sebaliknya, yang sedang dalam keadaan sehat jangan sekali-kali memandang rendah kepada orang yang sedang sakit, karena yang sehat itu sewaktu-waktu dapat saja jatuh sakit atau menyeleweng."
Kim Hong ikut mendengarkan dan hatinya tersentuh.
Iapun merasa bahwa ia pernah menyeleweng, bahkan lebih dari penyelewengan biasa.
Ia pernah menjadi Lam-sin, menjadi datuk kaum sesat di dunia selatan, bahkan membentuk Bu-tek Kai-pang yang menjagoi seluruh dunia selatan.
Pernah membiarkan anak buahnya melakukan kesewenang-wenangan mengandalkan kepandaian, pernah melakukan kejahatan apapun juga.
Akan tetapi semenjak ia bertemu dengan Thian Sin, semenjak ia menanggalkan penyamarannya sebagai Lam-sin, ia seolah-olah hidup di dunia lain.
Iapun ingin menjadi orang sehat, bahkan lebih dari itu, ia ingin menjadi pendekar!
Maka semua kata-kata pemuda putera Pendekar Lembah Naga itu terasa benar oleh sanubarinya.
Ia sendiripun bukan keturunan penjahat!
Ayahnya adalah seorang pangeran dan ibunya seorang pendekar wanita!
"Ah, Tiong-ko, betapa aku merindukan semua kata-kata dan nasihatmu selama ini..."
Akhirnya terdengar Thian Sin mengeluh.
"Akan tetapi, apa hendak dikata, semua itu telah kulakukan, Tiong-ko, terdorong oleh rasa sakit hatiku yang bertumpuk-tumpuk. Semua telah terlewat, lalu apa yang dapat kulakukan?"
"Yang sudah-sudah memang tak dapat diperbaiki kembali, Sin-te. Akan tetapi aku mendengar bahwa akhir-akhir ini engkau juga telah menyerbu Kun-lun-pai. Benarkah berita yang kudengar itu? Bahwa engkau telah membunuh seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah tua dan sedang bertapa?"
Thian Sin melirik ke arah Kim Hong, melihat dara itu diam mendengarkan diapun mengangguk.
"Ahh, Sin-te... Sin-te...! Engkau ini pendekar bagaimana? Apakah engkau tidak tahu bahwa Kun-lun-pai adalah perguruan dan perkumpulan silat para pendekar yang terkenal di dunia kang-ouw? Yang menyerbu Kun-lun-pai, pantasnya hanya para penjahat! Bagaimana engkau sampai bisa memusuhi Kun-lun-pai, Sin-te? kau tahu, sekarang Kun-lun-pai hendak mengadakan pertemuan para pendekar untuk menuntut pertanggungan jawab dan mau tidak mau, ayah kita tentu akan terbawa-bawa. Sin-te, seorang pendekar harus berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dan aku ingin agar engkau, sebagai adikku yang tercinta, juga mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu terhadap Kun-lun-pai!"
"Maksudmu bagaimana, Tiong-ko?"
"Mari kau ikut bersamaku menghadap para pimpinan Kun-lun-pai dan pertemuan antara para pendekar itu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu."
"Ah, tidak mungkin, Tiong-ko. Aku tidak mungkin menghadap mereka!"
Thian Sin menolak dengan suara terkejut sekali.
Menghadap pimpinan Kun-lun-pai sama saja dengan mencari mati!
"Engkau harus, Sin-te!
Dan aku akan menanggungmu, aku akan membelamu, kalau perlu aku akan membelamu dengan nyawaku.
Akan tetapi, mati atau hidup, kita harus tetap bersikap sebagai seorang pendekar yang berani bertanggungjawab atas semua perbuatannya!"
"Tidak, Tiong-ko, aku tidak mau..."
Han Tiong maju selangkah.
"Sin-te mungkin ilmu kepandaianmu sudah jauh melampaui tingkatku, akan tetapi adalah menjadi kewajibanku sebagai pendekar, terutama sekali sebagai kakakmu yang mencintamu, untuk menyadarkanmu dan kalau perlu aku akan memaksamu untuk pergi bersamaku menghadap ke Kun-lun-pai."
Thian Sin memandang kakaknya dengan muka berubah dan mata terbelalak.
"Maksud... maksudmu...?"
"Kalau engkau tidak mau ikut dengan suka rela, aku akan menggunakan kekerasan, menawanmu dan membawamu menghadap dalam pertemuan para pendekar itu, atau... biarlah aku tewas dalam tanganmu demi membawamu ke jalan yang benar, adikku!"
"Tidak, Tiong-ko... engkau tidak mungkin..."
Akan tetapi Han Tiong sudah menerjang maju untuk menotok jalan darah di kedua pundak adiknya dan karena dia tahu benar akan kelihaian adiknya itu, begitu menyerang dia sudah mempergunakan ilmu andalannya, yaitu It-sin-ci, ilmu menotok yang mempergunakan satu jari.
Ilmu ini hebat bukan main dan jarang ada lawan yang mampu menghindarkan diri dari serangan It-sin-ci.
Akan tetapi pada waktu itu, tingkat kepandaian Thian Sin sudah amat tinggi, tidak kalah lihainya dibandingkan dengan kakak angkatnya, maka dengan tidak begitu sukar dia berhasil menangkis totokan-totokan itu sambil meloncat ke belakang.
"Tidak, Tiong-ko, jangan...!"
Akan tetapi Han Tiong terus mendesak dan Thian Sin yang tidak mau melawan kakaknya hanya mengelak, menangkis sambil mundur terus.
Melihat ini tiba-tiba Kim Hong meloncat ke depan dan ia menangkis totokan berikutnya sambil membentak.
"Tahan dulu!"
"Dukk!"
Kembali Han Tiong mengadu tenaga dengan Kim Hong dan sekali ini, Kim Hong yang menangkis dan kembali keduanya merasa tergetar oleh kekuaten lawan.
"Nona, urusan kami adalah urusan kakak dan adik, tidak perlu dicampuri oleh orang luar!"
"Cia Han Tiong Taihiap, aku bukanlah orang luar! Bahkan dalam urusan Kun-lun-pai, akulah yang menyerbu ke sana, dan akulah yang memusuhi pertapa itu. Thian Sin hanya kumintai bantuan saja, jadi akulah pula yang bertanggung jawab, bukan dia!"
Mendengar ucapan ini, tentu saja Han Tiong menjadi terkejut dan memandang kepada adik angkatnya dengan penuh perhatian dan alis berkerut ketika dia bertanya.
"Sin-te, apa artinya ini? Siapakah nona ini?"
"Ia... ia adalah tunanganku, Tiong-ko..."
"Ahh...!"
Seketika wajah Han Tiong berseri gembira dan dia cepat menoleh dan memandang kepada Kim Hong penuh perhatian.
Makin giranglah hatinya ketika dia mendapat kenyataan betapa nona itu memang sungguh amat cantik setelah kini dia memandang dengan jelas, cantik jelita tidak kalah dibandingkan dengan Lian Hong!
"Begitukah?
Kionghi, Sin-te, kiong-hi...!
Ah, aku girang sekali...
dan suara nona...
seperti...
pernah aku mendengarnya!"
Kim Hong tersenyum dan nampak semakin manis.
"Memang sebelumnya pernah kita saling bertemu, Taihiap."
Thian Sin hendak memberi isyarat agar kekasihnya jangan memperkenalkan dirinya, akan tetapi Kim Hong yang masih mendongkol karena pertengkarannya dengan Thian Sin tadi, melanjutkan.
"Mungkin Taihiap teringat kalau kukatakan bahwa tunangan Taihiap, Nona Ciu Lian Hong, pernah menjadi muridku..."
Han Tiong terkejut dan terbelalak heran memandang wajah nona itu.
Kini dia teringat!
Memang, suara nona ini sama benar dengan suara nenek datuk kaum sesat di selatan itu, yaitu Nenek Lam-sin yang lihai!
Tentu saja dia tidak percaya dan berkata.
"Tapi... tapi... Hong-moi ditolong dan menjadi murid Nenek Lam-sin..."
"Semenjak bertemu dengan adikmu, Taihiap, nenek Lam-sin sudah tidak ada lagi dipermukaan bumi ini, yang ada hanyalah aku, Toan Kim Hong."
Han Tiong masih belum yakin benar dan dia menoleh kepada adiknya, diguncang-guncangnya.
"Apa artinya ini, Sin-te? Apa artinya ini?"
Thian Sin memegang tangan kakaknya.
"Tiong-ko, jangan kau serang aku lagi, sampai matipun aku tidak mungkin mau melawan. Marilah kita bicara baik-baik dan dengarkan ceritaku. Yang menjadi Nenek Lam-sin itu adalah nona ini, Toan Kim Hong dan dia telah menjadi kekasihku, tunanganku, isteriku..."
Pemuda itu menarik tangan kakaknya diajak duduk di atas padang rumput tak jauh dari tempat itu, Diikuti oleh Kim Hong yang tersenyum melihat betapa Han Tiong kini menurut saja ditarik adiknya, tidak lagi marah-marah seperti tadi.
Dengan panjang lebar Thian Sin lalu menceritakan segala pengalamannya, tidak ada yang dirahasiakan kepada kakak angkatnya itu.
Betapa dia pernah gagal membalas kepada See-thian-ong dan betapa dia telah mempelajari ilmu-ilmu peninggalkan ayah kandungnya di Himalaya.
Diceritakannya ketika dia membalas dendam kepada semua musuh-musuh orang tuanya, dan juga musuh-musuh yang telah membuat keluarga Ciu terbinasa.
Betapa dia bertemu dengan Lam-sin yang kemudian menjadi Kim Hong dan menjadi isterinya dan dibantu oleh wanita itu dia berhasil membunuh See-thian-ong dan Pak-san-kui berikut semua muridnya.
"Memang dalam dendam dan sakit hatiku, aku berlaku kejam terhadap mereka, Tiong-ko. Juga para penjahat yang bertemu denganku, kubasmi secara kejam. Aku sakit hati sekali kepada mereka, sakit hati sejak orang tuaku terbunuh, sampai ketika keluarga Ciu terbasmi. Diam-diam aku sudah bersumpah untuk membasmi semua penjahat di dunia ini!"
Han Tiong mendengarkan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang menahan napas ketika adiknya menceritakan cara adiknya itu menyiksa dan membunuh para penjahat dan musuh besar itu.
Lalu dia berkata.
"Akan tetapi, engkau telah membunuh Pangeran Toan Ong yang terkenal budiman..."
"Itu merupakan kesalahanku mudah terbujuk fitnah seorang wanita jahat,"
Katanya dan diapun terang-terangan menceritakan tentang pertemuannya dengan Kim Lan dan betapa dia dibohongi Kim Lan sehingga membunuh Toan Ong.
Kemudian betapa setelah tahu akan rahasia Kim Lan dia lalu merusak muka wanita itu.
Kakak angkatnya bergidik mendengar semua penuturan yang diceritakan dengan terang-terangan itu.
"Nona Toan, engkau tadi mengatakan bahwa urusan di Kun-lun-pai adalah urusanmu. Sesungguhnya, bagaimanakah hal itu terjadi dan mengapa sampai bentrok dengan Kun-lun-pai?"
"Begini, Taihiap..."
"Nanti dulu, nona. Kalau engkau bakal menjadi isteri adikku, mengapa engkau menyebutku Taihiap segala? Membuat hatiku menjadi tidak enak saja."
"Baiklah... Tiong-ko,"
Kata Kim Hong sambil tersenyum, meniru panggilan Thian Sin terhadap Han Tiong.
Han Tiong tersenyum gembira.
"Nah, begitu lebih baik bukan, Sin-te? Kelak kalau kalian sudah punya anak, boleh sebut toa-pek (uwak) padaku!"
Mereka bertiga tertawa lagi dengan gembira akan tetapi tak lama kemudian Kim Hong lalu menceritakan tentang riwayatnya, tentang kematian ayahnya, Seorang pangeran yang dianggap buronan oleh kaisar dan dikejar-kejar sampai akhirnya hidup sengsara dan mati sebagai buronan.
Diceritakannya mengapa ia mendendam kepada supeknya, yaitu Gouw Gwat Leng yang kemudian menjadi Jit Goat Tosu dan bertapa di Kun-lun-pai, betapa ia dibantu oleh Thian Sin lalu mendatangi Kun-lun-pai, dengan baik-baik minta menghadap ketua Kun-lun-pai dan minta bertemu dengan Jit Goat Tosu tanpa melibatkan Kun-lun-pai sama sekali.
Kemudian tentang pertemuannya dengan supeknya yang amat lihai sehingga terpaksa mereka berduapun akan kalah kalau saja supeknya itu tidak mengalah, bahkan akhirnya supek mereka itu membunuh diri untuk menebus penyesalannya tentang kesengsaraan hidup sutenya, yaitu Pangeran Toan Su Ong.
"Urusan antara keluargaku dan supek Gouw Gwat Leng adalah urusan pribadi dan kami sama sekali tidak menyangkutkan Kun-lun-pai. Akan tetapi sungguh para tosu Kun-lun-pai itu tidak tahu diri. Supek mati karena membunuh diri, karena dia merasa menyesal dan baru setelah dia membunuh diri aku melihat kenyataan bahwa sebenarnya supek amat mencinta mendiang ayahku. Kematian supek sungguh sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai, akan tetapi para tosu itu dengan membabi buta mengeroyok kami, bahkan kini melaporkan kami kepada tokoh-tokoh kang-ouw!"
Kim Hong mengepal tinjunya.
Gadis ini dengan terus terang menceritakan semua riwayatnya.
Mendengar cerita nona itu, Han Tiong menarik napas panjang.
Dia merasa kagum sekali kepada kakek yang bernama Couw Gwat Leng atau Jit Coat Tosu itu.
"Beliau seorang bijaksana, sayang kalian tidak tahu akan hal itu sebelumnya sehingga terpaksa nyawa seorang yang demikian bijaksana dikorbankan dengan sia-sia. Tahukah kalian mengapa beliau membunuh diri? Bukan hanya karena penyesalan, melainkan untuk mencegah engkau berdua, karena kalau sampai beliau mati di tanganmu, hal itu akan membuat engkau seorang murid durhaka dan selamanya engkau akan menyesali perbuatanmu itu. Di atas dunia ini, segala perkara tidak akan dapat diatasi dengan kekerasan. Ilmu silat hanya patut dipergunakan mencegah terjadinya kejahatan melindungi diri sendiri dan juga orang-orang lain yang terancam bahaya. Akan tetapi, kalau ilmu silat dipergunakan untuk melampiaskan dendam, maka itu menjadi ilmu terkutuk, menjadi ilmu hitam."
Dua orang itu mendengarkan sambil bertunduk.
Berhadapan dengan kakaknya, Thian Sin merasa kehilangan semua semangat perlawanannya, membuat dia seperti mati kutu.
Hal ini adalah karena perasaan cinta kasih dan hormat yang amat besar, membuat dia tidak mungkin dapat menentang atau membantah.
Bukan karena takut, melainkan karena cinta dan juga apapun yang keluar dari mulut kakaknya itu terasa olehnya amat tepat dan tidak mungkin dapat dibantah kebenarannya lagi.
Keadaan menjadi serius lagi setelah Han Tiong bicara dengan sungguh-sungguh.
Menghadapi keadaan ini, di mana dia merasa dirinya tenggelam tak berdaya dan bahkan Kim Hong yang agaknya berwatak pemberontak itupun terdiam, Thian Sin merasa tidak enak sekali dan diapun mencoba untuk memecahkan suasana itu dengan berkelakar.
"Aduh, Tiong-ko, lama tidak bertemu denganmu, sekali berjumpa, engkau agaknya seperti telah menjadi seorang pendeta! Kuliahmu penuh dengan hal-hal batiniah belaka!"
Han Tiong tersenyum, akan tetapi jawabannya tetap saja serius.
"Sin-te, mana mungkin kita mengabaikan soal-soal batiniah? Hidup ini bukan hanya lahiriah belaka, bukan? Lahir dan batin, haruslah serasi, maju bersama, karena kalau tidak demikian, kita tentu akan terjeblos ke dalam lembah sengsara. Batin yang waspada membuat orang menjadi bijaksana, Sin-te."
"Semua ucapanmu memang benar, Tiong-ko. Akan tetapi aku ingin mendengar tentang segi lain dari hidupmu semenjak kita berpisah. Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Dan bagaimana dengan keadaan Lian Hong?"
Kini ringan saja lidah Thian Sin menyebut nama ini, tidak ada rasa berat sedikitpun di hatinya, tanda bahwa dia memang sama sekali sudah tidak mengharapkan gadis itu, dan hal inipun terasa oleh Han Tiong yang menjadi lega.
Dia tahu bahwa adiknya telah memperoleh seorang pengganti, seorang gadis yang harus diakuinya dalam segala hal tidak kalah dibandingkan dengan Lian Hong.
Bahkan lebih cantik dan dalam hal ilmu silat jauh lebih lihai.
"Ayah dan ibu baik-baik saja, sungguhpun mereka juga amat mengharapkan kedatanganmu, Sin-te. Dan Adik Lian Hong juga baik-baik saja, kini sudah tinggal di Lembah Naga bersama kami. kau tahu, Sin-te, di mana aku menemukan Hong-moi? Di sarang datuk sesat Lam-sin, bahkan sempat menjadi murid datuk itu yang ternyata juga telah menolongnya ketika terjadi keributan itu."
Han Tiong tersenyum dan memandang kepada Kim Hong yang hanya tersenyum saja.
Tentu saja Thian Sin sudah tahu akan hal itu dari Kim Hong.
Dia hanya mengangguk-angguk dan berkata.
"Syukurlah kalau ia sudah berada di Lembah Naga. Bukankah kalian sudah menikah sekarang, Tiong-ko?"
Han Tiong menggeleng kepala dan memandang kepada adiknya.
"Aku selalu mengulur waktu untuk itu, Sin-te. Aku tidak mau menikah sebelum engkau pulang..."
"Eh, kenapa begitu?"
Thian Sin bertanya kaget. Han Tiong mengerling kepada Kim Hong, lalu berkata.
"Tadinya aku selalu meragu, adikku... mana mungkin aku hidup bersenang-senang sendiri saja sementara engkau masih belum kuketahui keadaanmu? Tapi sekarang, ah, sekarang lain lagi. Tapi sudahlah, ada hal yang lebih penting yang perlu kubicarakan denganmu, Sin-te, juga denganmu, Nona Toan."
"Hal penting apakah, Tiong-ko?"
Jawab kedua orang itu hampir berbareng dan mereka berdua memandang kepada Han Tiong dengan penuh perhatian.
"Bukan lain tentang pertanggungan jawab, adik-adikku. Tanggung jawab akan perbuatan sendiri merupakan syarat mutlak bagi seorang pendekar. Oleh karena itu, aku minta kepadamu, Sin-te, agar engkau suka mempertanggungjawabkan perbuatanmu di Kun-lun-pai dan menyerahkan diri!"
"Tiong-ko...!"
Thian Sin memandang dengan mata terbelalak.
"Tiong-ko, sudah kukatakan bahwa urusan Kun-lun-pai adalah urusanku sendiri!"
Kim Hong membantah.
"Thian Sin tidak bertanggung jawab, aku yang bertanggung jawab!"
Han Tiong menggeleng kepala dan menghela napas.
"Adik Kim Hong, biarpun aku tahu bahwa ilmu silatmu amat hebat, akan tetapi agaknya namamu tidaklah sedahsyat nama julukan Sin-te sebagai Pendekar Sadis, sehingga Kun-lun-pai menekankan Pendekar Sadis dalam peristiwa di Kun-lun-pai itu sebagai pelaku utamanya. Pula, jelas bahwa Sin-te ikut pula turun tangan maka dia tidak mungkin dapat lepas dari tanggung jawab. Selain itu, setelah kalian berdua menjadi calon jodoh, bukankah berarti tanggung jawab yang seorang juga menjadi tanggung jawab yang lain? Maka, kuminta, marilah pergi ke Kun-lun-pai, biar aku yang antar kalian. Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang tentu akan bersikap bijaksana."
Thian Sin menggeleng kepalanya lalu memegang lengan kakaknya.
"Tiong-ko, engkau tidak tahu. Mereka itu memusuhi aku, memusuhi kami. Mereka itu membenciku! Ketika kami berada di Kun-lun-pai, kami sudah menjelaskan bahwa kami tidak memusuhi Kun-lun-pai, bahkan ketika mereka itu mengeroyok dan hendak menangkap kami, kami mengalah dan tidak membunuh seorangpun. Kami melarikan diri. Mana mungkin sekarang kami harus menyerahkan diri begitu saja padahal kami tidak bersalah terhadap mereka?"
Han Tiong membalas pegangan adiknya.
"Adikku, sudah kukatakan bahwa Kun-lun-pai bukanlah perkumpulan jahat, melainkan perkumpulan para pendekar dan dijunjung tinggi oleh para pendekar di seluruh dunia persilatan. Kalian telah menyebabkan kematian Jit Goat Tosu yang dianggap sebagai saudara sendiri oleh para pimpinan Kun-lun-pai, dan kematian itu terjadi di Kun-lun-pai, dan engkau masih mengatakan bahwa Kun-lun-pai tidak ada sangkut-pautnya sama sekali? Biarpun begitu, Kun-lun-pai tidak mau membalas dendam begitu saja terhadapmu, Sin-te, melainkan mau minta pertimbangan dan keadilan dalam pertemuan para pendekar. Mereka hendak menangkap kalian untuk dimintakan pengadilan, bukan untuk membalas dendam dan mencelakai kalian. Tahukah engkau bahwa menurut kabar yang kudapatkan di jalan, pihak Kun-lun-pai bahkan akan minta pertanggungan jawab Cin-ling-pai dan ayah kita di Lembah Naga? Nah, sebagai seorang gagah, marilah kuantar engkau menghadap ke Kun-lun-pai, menyerahkan diri dan menghadapi pengadilan dengan gagah pula. Percayalah, kalau terjadi ketidakadilan nanti, aku yang akan membelamu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku!"
Thian Sin menjadi ragu-ragu dan menoleh kepada Kim Hong.
Akan tetapi Kim Hong mengerutkan alisnya dan gadis itu kemudian menggeleng kepala.
"Aku tidak akan menyerahkan diri kepada tosu-tosu bau itu!"
Thian Sin juga membayangkan betapa akan malunya untuk menyerahkan diri, dan tentu para tosu yang merasa sakit hati itu akan berdaya sedapat mungkin untuk membalas dendam.
Pula, dia tidak mau kalau sampai perbuatannya harus dipertanggungjawabkan oleh semua keluarga Cin-ling-pai, apalagi harus ayah angkatnya ikut-ikut bertanggung jawab.
"Tiong-ko, ah, Tiong-ko, mengapa begitu? Mengapa engkau malah hendak membantu mereka yang hendak menangkap kami?"
Dia mengeluh sambil memandang kepada kakaknya dengan sinar mata sedih.
Han Tiong mengerutkan alisnya.
"Adikku, ke manakah kegagahanmu? Lupakan engkau bahwa seorang pendekar adalah pembela kebenaran, bahwa matipun bukan apa-apa, asal mati dalam kebenaran? Aku bukan membantu mereka yang hendak menangkapmu, adikku, melainkan membantumu kembali ke jalan lurus seorang pendekar. Marilah kuantar engkau. Biarlah kalau Adik Kim Hong tidak mau pergi, sudah sepatutnya kalau engkau yang mempertanggungjawabkan pula perbuatan calon isterimu."
Kembali Thian Sin menjadi ragu-ragu.
Menurutkan kata kesadarannya, apa yang dikatakan oleh kakaknya itu memang benar.
Kalau dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, apapun akibatnya, maka urusan akan menjadi selesai dan selanjutnya dia tidak akan merasa dikejar-kejar dan dimusuhi orang lagi.
Akan tetapi ketika dia melihat wajah Kim Hong yang cemberut, diapun maklum bahwa kalau dia menuruti kata-kata kakaknya, Kim Hong akan menentang dan marah sekali dan bukan tidak mungkin hubungan antara mereka akan putus sampai di situ saja.
"Tiong-ko, makilah aku, pukullah aku, suruh melakukan apa saja, akan tetapi jangan menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai!"
Akhirnya Thian Sin berkata.
Han Tiong bangkit berdiri dan mukanya menjadi merah, alisnya berdiri dan matanya terbelalak.
"Sin-te! Masih begitu lemahkah engkau? Sudah kupikirkan masak-masak dan satu-satunya jalan bagimu untuk dapat kembali ke jalan lurus dan membersihkan namamu, hanyalah menyerahkan dan membiarkan dirimu diadili!"
Akan tetapi Thian Sin sudah mengambil keputusan bulat.
Dia menggeleng kepala dan wajahnya menjadi agak pucat.
Sakit sekali hatinya bahwa dia terpaksa harus menentang kehendak kakaknya yang amat disayangnya dan yang telah lama sekali baru saja dijumpainya kembali itu.
"Tidak, Tiong-ko. Aku tidak akan menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai. Maafkan aku, Tiong-ko, akan tetapi sungguh aku tidak bisa menyerahkah diri kepada mereka."
"Sin-te, apakah engkau sudah menjadi seorang penakut? Engkau takut menghadapi hukuman? Takut mati?"
Thian Sin menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku hanya tidak mau diperlakukan tidak adil. Aku tidak merasa bersalah, maka tidak mungkin aku menyerahkan diri seperti orang yang bersalah."
"Akan tetapi, engkau akan diadili!"
"Hemm, pengadilan terhadap Pendekar Sadis yang dibenci sudah dapat dibayangkan lebih dulu akan bagaimana jadinya."
"Sin-te, sekali lagi, demi membersihkan nama Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang terlibat namanya olehmu, mari ikut aku ke Kun-lun-pai."
"Sekali lagi, tidak, Tiong-ko, dan maafkan aku."
"Kalau aku menggunakan kekerasan terhadapmu?"
Thian Sin tersenyum.
"Terserah, engkau tahu aku tidak akan melawanmu, aku tidak akan dapat mengangkat tangan terhadapmu. Akan tetapi engkau harus tahu benar bahwa engkau takkan dapat membawaku dan memaksaku ke Kun-lun-pai selama aku masih bernyawa. Engkau harus membunuh aku lebih dulu sebelum dapat memaksa pergi, Tiong-ko. Ah, Tiong-ko, mengapa kita harus begini?"
Dan tiba-tiba Thian Sin menubruk, merangkul dan menangis!
Kim Hong memandang dengan wajah pucat dan bengong.
Tak pernah dapat disangkanya bahwa kekasihnya, Pendekar Sadis yang demikian gagah perkasa, berani mati, dan keras hati itu kini seakan-akan mencair semua kekerasannya dan menjadi lembek dan lunak dan lemah sekali!
Han Tiong sendiri merangkul adiknya dan menengadah, mukanya pucat sekali.
"Kaupun tahu bahwa tak mungkin aku dapat melakukan kekerasan terhadap dirimu, adikku,"
Katanya dengan suara serak penuh keharuan.
"Akan tetapi engkaupun tahu bahwa tak mungkin aku membiarkan saja namamu berlepotan noda dan membawa pula nama Lembah Naga menjadi tercemar. Kalau engkau berkeras tidak mau ikut aku ke Kun-lun-pai, nah, selamat tinggal, adikku. Semoga Thian memberkahimu dan engkau dapat hidup bahagia bersama isterimu. Selamat tinggal, adikku, dan akulah yang akan menebus segalanya, selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu pergi meninggalkan Thian Sin dan Kim Hong yang memandang dengan muka pucat sampai akhirnya bayangan Han Tiong lenyap dari pandang mata mereka.
Thian Sin menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
Kesedihan besar mencekam hatinya.
Dia merasa berduka sekali bahwa pertemuannya dengan kakaknya yang tersayang, terpaksa harus berakhir seperti itu.
Kakaknya yang selama ini merindukannya, mencintanya, bahkan tidak mau menikah sebelum bertemu dengannya!
Dia tahu bahwa kakaknya itu menunggunya, bahkan dia tahu pula bahwa kakaknya itu akan mau mengalah untuk mundur dan membiarkan Lian Hong menikah dengan dia!
Dia tahu benar akan isi hati dan watak kakaknya, tahu akan kasih sayang kakaknya itu terhadap dirinya yang amat mendalam.
Kim Hong hanya memandang saja, membiarkan kekasihnya terbenam dalam lamunannya sendiri.
Iapun dapat mengerti akan kesedihan Thian Sin.
Setelah agak lama, barulah Kim Hong mendekati kekasihnya duduk di dekatnya di atas rumput, memegang tangannya tanpa bicara.
Thian Sin yang merasa tangannya dipegang dan digenggam kekasihnya, lalu mengangkat muka dan menurunkan tangannya.
Mukanya pucat dan matanya agak kemerahan, pipinya masih basah air mata.
Mereka saling pandang sejenak, kemudian Kim Hong mengangguk perlahan dan berkata lirih.
"Engkau benar, Thian Sin. Kakakmu itulah yang terlalu lemah, mau mengalah saja terhadap orang lain. Pihak manapun juga, kalau mau menang sendiri dan terlalu mendesak, harus kita tandingi, bukannya mengalah dan membiarkan diri dihina."
Thian Sin memandang wajah kekasihnya lalu menarik napas panjang.
"Engkau tidak tahu, Kim Hong. Engkau belum mengenal Tiong-ko. Dia sama sekali bukan orang lemah, bukan mengalah begitu saja, dan sama sekali tidak takut. Akan tetapi Tiong-ko selalu bertindak demi kebenaran, dan untuk membela kebenaran, dia tidak segan-segan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Dia seorang manusia yang gagah perkasa lahir batin, yang berhati tulus dan cintanya amat tulus. Aku khawatir sekali..."
"Khawatir apa, Thian Sin?"
"Aku tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya di Kun-lun-pai. Aku hanya merasa tidak enak sekali. Apa kata-katanya yang terakhir tadi? Selamat tinggal, akulah yang akan menebus segalanya. Nah, itulah yang membuat hatiku merasa gelisah sekali."
Kim Hong mengerutkan alisnya.
"Lalu, apa yang akan dilakukannya?"
"Kita harus membayanginya, Kim Hong. Aku harus melihat apa yang akan dilakukan Tiong-ko. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirinya, karena aku, maka selama hidupku aku akan menderita penyesalan batin yang lebih hebat daripada kematian. Mari, kita bayangi dia dan lihat apa yang akan dilakukannya."
Kim Hong lalu mengangguk dan keduanya lalu bangkit dan lari cepat mengejar Han Tiong, menuju ke Kun-lun-san.
Para tokoh kang-ouw sudah mulai berdatangan ke Kun-lun-pai.
Undangan dari sebuah partai persilatan seperti Kun-lun-pai tentu saja merupakan peristiwa besar dan memperoleh perhatian dari mereka yang diundang, apalagi dalam undangan itu Kun-lun-pai dengan terus terang menyatakan (Lanjut ke
Jilid 41) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 41 bahwa pertemuan antara para tokoh pendekar itu dimaksudkan untuk membicarakan tentang sepak terjang Pendekar Sadis yang namanya sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan itu.
Sehari sebelum hari yang ditetapkan, di Kun-lun-pai telah hadir belasan orang tokoh pendekar dari berbagai aliran.
Kui Im Tosu, ketua Kun-lun-pai, ditemani oleh sutenya yang menjadi wakilnya, yaitu Kui Yang Tosu, telah menyambut dan menemani para tamu-tamu yang awal datang itu di ruangan tamu yang luas itu.
Di antara belasan orang tamu yang telah datang itu terdapat pula tiga orang Shan-tung Sam-lo-eng (Tiga Pendekar Tua dari Shan-tung) dan Hwa Siong Hwesio, tokoh hwesio Siauw-lim-pai.
Mereka ini bersama dengan Kui Yang Tosu pernah menemui Pendekar Sadis untuk menegur pendekar itu karena telah membunuh Toan-ong-ya di kota raja.
Selain empat orang pendekar itu, telah hadir pula beberapa orang yang benar-benar merupakan pendekar yang dihormati dan disegani orang, antara lain Lo Pa San yang berjuluk Hui-to-sian (Dewa Golok Terbang), seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa bertubuh tinggi besar dan bermuka merah.
Pendekar ini terkenal sekali di daerah pantai Lautan Po-hai.
Thian Heng Losu, kakek tinggi kurus bertongkat bambu kuning berusia enam puluh tahun lebih, Ketua Bu-tong-pai yang berkenan datang sendiri karena selain ingin mendengar tentang Pendekar Sadis, juga ketua Bu-tong-pai ini ingin bertemu dengan para pendekar.
Juga hadir pula Liang Sim Cianjin, seorang pendekar yang terkenal sebagai seorang bun-bu-coan-jai (ahli silat dan surat) berusia enam puluh lima tahun.
Pertapa ini pakaiannya seperti petani, bercaping lebar dan sikapnya halus, tubuhnya kecil kurus sama sekali tidak membayangkan bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi.
Kehadiran ketua Bu-tong-pai, juga dari perkumpulan-perkumpulan besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Thai-san-pai dan lain-lain tentu saja membawa beberapa orang anak murid yang kini berkumpul di lain bagian karena kini kedua orang ketua Kun-lun-pai itu sedang menyambut para tamu yang sejajar atau setingkat dengan mereka berdua.
Keadaan dalam kamar tamu yang cukup luas itu meriah namun pembicaraan terjadi dengan serius.
Kui Yang Tosu menceritakan kepada belasan orang tamunya itu dalam suasana ramah tamah karena pertemuan yang resmi belum dilakukan, tentang peristiwa yang terjadi di situ ketika Pendekar Sadis dan gadis lihai itu datang sehingga mengakibatkan kematian Jit Goat Tosu yang telah menjadi saudara yang dihormati dari para pimpinan Kun-lun-pai.
Sebagai seorang yang gagah dan jujur, Kui Yang Tosu tidak menyembunyikan sesuatu, menceritakan pula alasan-alasan dua orang itu datang ke Kun-lun-pai dan hubungan antara Toan Kim Hong dan Jit Goat Tosu.
Mereka juga menceritakan hendak menangkap mereka namun gagal.
"Kami hendak menahan mereka, minta pertanggungan jawab mereka dan pertimbangan rapat para pendekar, namun Pendekar Sadis dan nona itu mengamuk dan melarikan diri. Ilmu kepandaian mereka memang tinggi sekali dan kamipun tidak berniat untuk membunuh, melainkan hendak menahan mereka, namun kami gagal. Oleh karena itu kami mengundang para orang gagah untuk dimintai pertimbangan."
Suasana menjadi sunyi ketika semua orang mendengar penuturan itu dan diam-diam mereka semua merasa terkejut dan kagum bukan main.
Pada jaman itu, kiranya sukar dicari orang yang akan mampu membebaskan diri dari kepungan orang-orang Kun-lun-pai!
Dari kenyataan itu saja sudah dapat diukur betapa lihainya Pendekar Sadis dan kawannya, wanita muda itu.
"Sungguh aku belum mengerti benar, Toyu,"
Terdengar Lo Pa San berkata.
Pendekar ini orangnya jujur, ramah dan adil, juga amat sederhana sehingga bicara dengan pimpinan Kun-lun-pai sekalipun dia hanya menyebut toyu yang berarti sahabat saja.
"Menurut penuturanmu tadi, Pendekar Sadis hanya menemani atau membantu nona bernama Toan Kim Hong datang mencari supeknya sendiri. Apa yang terjadi antaara mereka itu, sampai yang berakibat kematian Jit Goat Tosu yang membunuh diri, kiraku merupakan urusan pribadi dalam kekeluargaan mereka. Kiranya sama sekali bukan menjadi hak kita untuk mencampuri."
Beberapa orang gagah yang berada di situ mengangguk membenarkan.
Mereka itu rata-rata adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, tidak mau sembrono dan tidak mau berpihak siapapun juga, kecuali pibak kebenaran dan keadilan.
"Siancai... apa yang dikatakan Lo-enghiong memang tidak keliru. Kamipun bukanlah golongan yang suka usil dan suka mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi Jit Goat Tosu bukanlah orang lain lagi, melainkan saudara tua kami. Dan seperti telah pinto ceritakan tadi, nona itu tadi adalah seorang murid durhaka yang tidak menghormati bendera pusaka perguruan sendiri, tidak tahu pula bahwa Jit Goat Tosu telah mengalah karena kalau dia menghendaki, dua orang muda itu takkan mungkin mampu mengalahkannya. Tapi mereka mendesak terus sehingga dia mengalah dan membunuh diri. Peristiwa kejam ini terjadi di Kun-lun-pai. Sedangkan andaikata hal itu menimpa diri orang lain di luar Kun-lun-pai sekalipun, sebagai pendekar-pendekar kita haruslah turun tangan mengadilinya. Apalagi hal itu terjadi menimpa saudara tua kami, terjadi di Kun-lun-pai sendiri, dan yang terutama sekali, dilakukan oleh Pendekar Sadis yang sudah mencemarkan sebutan pendekar itu. Maka, pinto kira sudah selayaknya kalau hal ini dibahas secara teliti di dalam rapat besok di antara para pendekar."
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 9
Baca Juga: Jodoh Rajawali 13