Eps 9 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.
Bentaknya untuk berlagak bahwa dia tidak menyerang lawan tanpa peringatan lebih dahulu.
Dua gulungan sinar bekkelebat ketika sepasang pedang di tangannya digerakkan secara cepat dan kuat sekali.
Namun, dengan tenang Sie Liong bergerak mundur dan mengelak dari dua kali sambaran kilat dari sepasang pedang lawan.
Tongkat di tangannya tidak tinggal diam dan ujung tongkat itu diputarnya sedemikian rupa sehingga ujungnya seperti berubah menjadi belasan banyaknya.
Dan ujung-ujung tongkat ini sekarang menyambar-nyambar ke arah jalan darah di seluruh tubuh Ki Tok Lama!
Pendeta Lama itu terkejut bukan main dan terpaksa dia memutar sepasang pedangnya untuk melindungi diri dari serangan banyak ujung tongkat itu!
Akan tetapi, di antara ujung-ujung tongkat itu yang tentu saja sesungguhnya hanya memiliki dua ujung saja namun karena tongkat itu bergerak dengan menggetar, maka ujungnya nampak menjadi banyak, kini ada yang menyerang ke arah pergelangan lengan lawan yang memegang pedang, sementara ada ujung-ujung lain yang masih mengancam jalan darah tubuh Ki Tok Lama.
Tentu saja pendeta ini menjadi semakin kaget dan bingung.
Dia lebih condong melindungi tubuh yang akan tertotok, maka tak dapat dihindarkan lagi, kedua pergelangan tangannya tertumbuk ujung tongkat secara aneh sekali dan kedua tangan itu tiba-tiba teraaa lumpuh dan sepasang pedangnyapun terlepas dari tangannya.
Akan tetapi Sie Liong menghentikan gerakan tongkatnya, berdiri tegak di depan Ki Tok Lama dan berkata.
"Losuhu, silakan mengambil kembali sepasang pedangmu."
Dengan muka agak pucat dan mata terbelalak penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ki Tok Lama bergerak cepat, menyambar sepasang pedang itu dari atas lantai, kemudian memutar sepasang pedangnya, siap untuk melakukan penyerangan yang lebih dahsyat dan nekat lagi.
"Tahan senjata!"
Tiba-tiba Kim Sim Lama berseru.
"Ki Tok Lama, kau mundurlah!"
Ki Tok Lama hanya memandang melotot ke arah Sie Liong sejenak, akan tetapi dia tidak berani membantah perintah susioknya dan diapun mundur sambil menyimpan kembali sepagang pedangnya di balik jubah merah.
Kiranya ketika Sie Liong mulai melayani Ki Tok Lama tadi, Kim Sim Lama yang memandang penuh perhatian, menjadi kagum dan tertarik.
Dia berbisik-bisik kepada Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw.
Setelah memerintahkan Ki Tok Lama untuk mundur, Kim Sim Lama lalu diam saja dan menyerahkan kepada Thay Ku Lama untuk menghadapi Sie Liong seperti yang mereka bisikkan tadi.
Thay Ku Lama bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Sie Liong yang sudah siap siaga karena kini yang maju adalah orang pertama dari Tibet Ngo-houw.
Sejenak mereka saling pandang, kemudian Thay Ku Lama yang bertubuh besar dengan perut gendut itu menarik napas panjang.
"Omitohud, sekarang pinceng ingat. Memang engkau adalah bocah yang dahulu itu, dan agaknya engkau telah menjadi murid para tosu pelarian itu. Bukankah ilmu tongkatmu tadi adalah Thian-te Sin-tung yang amat hebat dari Pek Sim Sian-su?"
Sie Liong terkejut.
Sungguh tajam pandang mata Thai Ku Lama ini, dan pengetahuannya tentang ilmu silat amat luas.
Hal itu saja membuktikan bahwa lima orang Harimau Tibet ini memang tidak boleh dipandang ringan.
"Sesungguhnya, losuhu, aku pernah menerima bimbingan dari suhu Pek Sim Sian-su,"
Jawabnya jujur.
"Hemm, begitukah? Nah, sekarang katakan, apa keperluanmu mencari kami Tibet Ngo-houw? Katakan saja terus terang karena yang hadir di sini bukanlah orang-orang lain bagi kami."
Sie Liong memandang ke arah lima orang itu bergantian, kemudian dia berkata dengan suara lantang.
"Tibet Ngo-houw, dengarlah baik-baik. Aku mewakili para locianpwe dan para pertapa yang selama ini kalian kejar-kejar, untuk bertanya kepada kalian, apa sesungguhnya yang mendorong kalian berlima untuk memusuhi mereka! Jawablah sejujurnya, benarkah kalian menjadi utusan Dalai Lama untuk membasmi para tosu dan pertapa asal Himalaya?"
Thay Ku Lama tertawa bergelak, perutnya yang gendut itu terguncang dan di antara suara ketawanya itu terdengar bunyi berkokok dari dalam perutnya, seperti suara katak besar.
Pendeta Lama ini memang memiliki ilmu yang amat hebat, yang disebut Hek-in Tai-hong-ciang, suatu pukulan yang didorong oleh tenaga dari perut yang kalau dia pergunakan, selain dari perutnya keluar bunyi berkokok nyaring dan kedua kakinya ditekuk dalam-dalam seperti berjongkok, juga telapak tangannya itu mengeluarkan uap hitam.
"Ha-ha-ha-ha-ha, tentu saja Dalai Lama yang mengutus kami untuk membasmi para pertapa Himalaya yang dianggap pemberontak!"
"Pemberontakan apakah yang telah dilakukan oleh para locianpwe, para pertapa terhadap Dalai Lama?"
Sie Liong mengeluarkan pertanyaan yang pernah diperbincangkan para gurunya itu.
"Hemm, para tosu itu pernah membunuhi beberapa orang pendeta Lama, hal itu berarti pemberontakan!"
Kata pula Thay Ku Lama dengan sikap acuh.
"Nanti dulu, losuhu. Pernah aku mendengar bahwa mendiang locianpwe Pek Thian Siansu, seorang pertapa Himalaya, membela penduduk yang diserbu para pendeta Lama. Terjadi perkelahian antara Pek Thian Siansu dan para pendeta Lama dan ada beberapa orang pendeta Lama yang tewas. Itukah yang menjadi sebab maka para pendeta Lama lalu memusuhi para tosu dan pertapa Himalaya?"
Sie Liong pernah mendengar cerita tiga orang gurunya, yaitu Himalaya Sam Lojin tentang guru mereka itu.
"Ha, kiranya engkau sudah tahu? Nah, kenapa bertanya lagi? Para tosu itu mencampuri urusan kami para pendeta Lama, itulah maka mereka dianggap pemberontak."
"Akan tetapi, losuhu. Bukankah mendiang Pek Thian Siansu membela penduduk dusun yang mempertahankan seorang anak laki-laki yang hendak diculik oleh para para pdndeta Lama itu? Dan anak itu yang kemudian menjadi Dalai Lama! Bagaimada mungkin Dalai Lama itu malah mengutus losuhu berlima untuk memusuhi para pertapa Himalaya? Padahal, para pertapa itu dahulu bahkan pernah membelanya! Dan juga, kalau suhu berlima menjadi utusan Dalai Lama, bagalmana pula ngo-wi (anda berlima) sekarang berada di sini dan kudengar malah memusuhi Dalai Lama?"
Mendengar ucapan Sie Liong itu, Tibet Ngo-houw saling pandang dan They Ku Lama sendiri mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah.
Tak disangkanya bahwa pemuda bongkok itu agaknya telah mengerti akan segala rahasia mereka!
Akan tetapi Kim Sim Lama yang sejak tadi mendengarkan saja, tiba-tiba mengeluarkan suara ketawa.
"Ha-ha-ha! Omitohud.... Sie Taihiap agaknya mengetahui ekornya. Baiklah, pinceng yang akan memberi penjelasan kepadamu. Memang, dahulunya Tibet Ngo-houw ini, para murid keponakanku, hanya mentaati perintah Dalai Lama saja. Pinceng sudah mencoba untuk mencegahnya karena ketika itu pinceng masih menjadi wakil Dalai Lama. Akan tetapi, memang dia telah tersesat dan lalim itulah maka kami semua meninggalkan Dalai Lama dan berdiri sendiri di sini, dan kami memang bermaksud untuk menggulingkan penguasa yang lalim itu! Itulah sebabnya maka kini Tibet Ngo-houw berada di sini membantu Kim-sim-pai dan kami mempersilakan engkau untuk bekerja sama dengan kami, Sie Taihiap. Kami menentang Dalai Lama karena dia seorang pemimpin lalim, sedangkan engkau membantu kami untuk membalaskan dendam para tosu dan pertapa dari Himalaya yang pernah melepas budi kepada Dalai Lama akan tetapi malah dibalas dengan pengejaran dan pembunuhan! Dan masih banyak pula pihak-pihak yang memusuhi Dalai Lama. Gerakan kita pasti akan berhasil, Sie Taihiap!"
Sejak tadi Sie Liong mendengarkan saja, dan alisnya mulai berkerut.
Tentu saja dia tidak dapat menerima dan percaya semua yang dikatakan pendeta ketua itu.
Jelas bahwa Kim Sim Lama sedang memberontak terhadap Dalai Lama, maka tentu saja dia memburuk-burukkan nama Dalai Lama!
Dia tidak mau percauya begitu saja, pula dia tidak ingin melibatkan diri dalam pemberontakan dan pertikaian di Tibet yang bukan negaranya.
"Terimakasih, losuhu. Akan tetapi tugas saya hanya bertanya kepada Tibet Ngo-houw mengapa dia dahulu memusuhi para pertapa pelarian dari Himalaya. Sekarang, setelah mereka menjawab bahwa mereka hanya utusan dari Dalai Lama, biarlah saya akan menghadap Dalai Lama sendiri untuk bertanya, mengapa beliau membalas budi kebaikan para tosu itu dengan pengejaran dan penumpasan. Selamat tinggal, para losuhu, saya hendak pergi sekarang."
Akan tetapi, agaknya telah ada isyarat dari Kim Sim Lama, begitu dia malangkah ke arah pintu ruangan luas itu, di ambang pintu telah berdiri banyak pendeta Lama dengan berbagal macam senjata di tangan, menutup lubang pintu itu dengan sikap mengancam.
Ketika dia melirik ke arah jendela-jendela di sekeliling ruangan, di sanapun sudah tertutup oleh tubuh banyak pendeta Lama yang berjaga-jaga dan jelas mereka semua itu tidak akan memberi jalan keluar padanya.
"Nanti dulu, orang muda!"
Tiba-tiba Kim Sim Lama berseru, suaranya tidak begitu ramah lagi walaupun masih lembut. Sie Liong menatap tajam wajah pemimpin Kim-sim-pai itu.
"Ada apa lagi, losuhu?"
"Orang muda, engkau datang ke sini tanpa kami undang, dan kami telah bersikap terus terang, menceritakan segala rahasia kami kepadamu. Oleh karena itu, kalau engkau mau bekerja sama dengan kami untuk menentang Dalai Lama, hal itu sudah sepatutnya. Akan tetapi, kalau engkau menolak dan hendak pergi begitu saja, membawa semua rahasia kami, sudah tentu kami merasa keberatan!"
Sie Liong maklum bahwa saatnya sudah tiba.
Kim Sim Lama sudah membuka kartunya.
Tadi dia sudah merasa khawatir bahwa dia telah terperangkap, dan inilah buktinya.
Dia dipaksa untuk bekerja sama atau dia tidak diperkenankan pergi meninggalkan tempat itu!
"Losuhu, saya tidak ingin terlibat dalam pemberontakan!
Tibet bukan negaraku dan saya tidak mempunyai urusan dalam pemberontakan.
Saya hanya melaksanakan tugas untuk menyelidiki mengapa para pertapa di Himalaya dimusuhi oleh Dalai Lama."
"Sie Liong!"
Kim Sim Lama membentak, kini terdengar marah.
"Dengar baik-baik, pinceng pernah menjadi wakil Dalai Lama, merupakan orang ke dua sesudah Dalai Lama yang berkuasa di negeri ini! Dan sekarang pinceng adalah calon Dalai Lama atau pemilik Dalai Lama yang baru! Sekali aku memerintahkan, engkau akan mati!"
"Losuhu, mati hidup bukan di tangan siapapun, melainkan di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa! Kalau Tuhan sudah menghendaki aku harus mati, maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang akan mampu mencegahnya, sebaliknya, kalau Tuhan menghendaki aku hidup, tidak ada kekuasaan pula yang akan mampu membunuhku. Mati hidup di tangan Tuhan, akan tetapi baik buruknya langkah hidup berada di tangan kita masing-masing. Oleh karena itu, aku tetap akan melangkah melalui jalan kebenaran dan aku menyerahkan jiwa ragaku kepada Tuhan. Aku tetap menolak untuk menjadi kaki tangan pemberontak, apapun yang akan menjadi akibatnya!"
Semua pendeta Lama yang berada di situ, diam-diam merasa kagum.
Bahkan Kim Sim Lama juga merasa kagum.
Pemuda ini, biarpun bongkok, ternyata jiwanya tidak bongkok dan semangatnya tegak lurus.
Akan tetapi, betapapun kagum hatinya, dia tidak rela membiarkan Sie Liong pergi karena tentu semua rahasia akan ketahuan dan mereka terancam bahaya serbuan Dalai Lama sehelum mereka kuat benar.
"Sie Liong, engkau masih muda akan tetapi selain memiliki ketabahan besar, juga kesombongan yang agak berlebihan. Agaknya engkau terlalu mengandalkan ilmu kepandaianmu sendiri sehingga merasa bahwa di kolong langit ini tidak ada orang yang akan mampu mengalahkanau. Nah, ingin sekali pinceng melihat sampai berapa hebat kepandaianmu maka angkau berani menentang kami! They Ku Lama, pinceng ingin melihat seorang di antara kalian mengujinya!"
Kata Kim Sim Lama.
Biasanya, kalau menghadapi lawan berat, Tibet Ngo-houw tentu maju berlima.
Akan tetapi kini yang mereka hedapi hanya seorang pemuda bongkok, betapapun lihainya, kalau mereka maju berlima mengeroyok seorang pemuda bongkok, Hal ini tentu saja amat merendahkan nama besar mereka sebagai pembantu-pembantu utama Kim Sim Lama!
Bahkan Thay Ku Lama sendiripun merasa sungkan kalau harus bertanding melawan pemuda bongkok itu, maka dia memberi isyarat kepada Thay Bo Lama, saudara termuda diantara mereka berlima, untuk maju menandingi Sie Liong.
Thay Bo Lama bertubuh kurus kering dan wataknya memang keras dan berangasan.
Begitu menerima isyarat dari suhengnya, dia sudah melompat ke depan menghadapi Sie Liong.
Tangan kirinya sudah memegang sebatang tombgk karena tadi dia sudah menyambar tombaknya yang dia letakkan di atas lantai di bawah meja.
Kini, dengan tombak berdiri di sebelah kirinya, tangan kanannya bergerak ke depan, telunjuknya menuding ke arah muka Sie Liong.
"Orang muda sombong! Ketika masih kecil dahulu engkau sudah mengganggu kami, sekarang setelah dewasa, engkau masih datang mengganggu. Agaknya memang sudah dikehendaki Tuhan bahwa engkau akan mati di tanganku! Nah, engkau majulah, perlihatkan kepandaianmu kepada Thay Bo Lama!"
Sie Liong bersikap tenang.
Dia sudah siap sedia menghadapi ancaman yang paling hebat karena dia maklum bahwa hanya dengan pertolongan Tuhan saja dia akan dapat lolos dari tempat ini, lolos dari ancaman bahaya maut.
"Thay Bo Lama, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapapun juga di sini. Maka, tentu aku tidak akan menyerang siapapun, dan hanya akan membela diri kalau aku diserang."
"Sombong! Sambutlah serangan tombakku ini!"
Dia segera menggerakkan tombaknya dan terdengarlah suara bersiutan karena tombak itu bergerak dengan cepat dan kuat bukan main.
Ketika menyerang dengan tusukan, tombak itu meluncur seperti anak panah saja, menusuk ke arah dada Sie Liong!
Sie Liong melihat gerakan ini dapat menduga bahwa lawannya yang kurus kering seperti cecak mati kering itu agaknya memiliki tenaga yang amat besar.
Untuk meyakinkan dugaannya, diapun mengerahkan tenaganya pada tongkat yang dipegangnya, lalu dengan tubuh miring dia menangkis dari samping.
"Trranggg....!"
Dugaan Sie Liong memang tepat.
Biarpun lawannya itu kurus kering dan kelihatan lemah, namun ternyata di dalam lengan yang kecil dan hanya tulang terbungkus kulit itu terdapat tenaga raksasa yang mengejutkan.
Untung bahwa dia telah menduga sebelumnya sehingga tidak merasa terkejut.
Juga tidak sampai terpental karena diapun sudah mengerahkan tenaganya ketika menyambut dengan tangkisan tadi.
Di lain pihak, Thay Bo Lama yang terkejut.
Bocah bongkok itu mampu menangkis tombaknya dan tongkat yang dipegang bocah itu tidak sampai terpental atau patah, bahkan kedudukan kakinya sendiri yang menjadi goyah karena dia merasa seolah tombaknya bertemu dengan pagoda baja yang amat kuatnya!
"Bagus!
Bocah bongkok kiranya engkau telah mewarisi sedikit ilmu dari Pek Sim Sian-su dan karenanya menjadi sombong!
Akan tetapi awas, hari ini engkau akan mampus di tangan pinceng!"
Bentak Thay Bo Lama sambil melintangkan tombaknya di depan dada.
"Thay Bo Lama, ingatlah bahwa engkau yang memaksaku untuk berkelahi, bukan aku yang mencari permusuhan!"
Jawab Sie Liong dengan sikap yang amat tenang.
"Hyeeeeeehhhh.... haittt....!"
Thay Bo Lama mengeluarkan teriakan nyaring, lengan kirinya membuat gerakan memutar di depan dada untuk mengumpulkan tenaga sakti yang dipusatkan di kedua lengan.
Kakek yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun ini ternyata memang masih amat kuat sehingga dari kedua lengannya itu timbul getaran melalui tombaknya dan kini tombak itu bagaikan hidup menyambar ke arah Sie Liong.
"Wyuuuuuutt.... singgggg....!"
Ketika dielakkan, senjata itu menyambar-nyambar dan melakukan serangan bertubi-tubi dan selain mendatangkan sambaran angin yang amat kuat, juga mengeluarkan suara bersiutan dan bardesing.
Namun, Sie Liong dapat selalu menghindairkan diri dengan tidak terlampau sulit, menggunakan gerakan kedua kakinya yang lincah untuk membuat tubuhuya selalu meliuk-liuk dan menyusup-nyusup di antara sinar tombak, dan kadang-kadang tongkatnya menolak tombak dengan tangkisan yang demikian kuat sehingga beberapa kali tombak itu menyeleweng dan Thay Bo Lama sendiri terhuyung!
Sie Liong maklum bahwa dia berada di dalam bahaya, juga dalam keadaan serba salah.
Kalau dia terlalu lama melayani Thay Bo Lama, tentu tenaganya akan terkuras karena di situ masih terdapat banyak lawan yang tentu akan maju satu demi satu.
Sebaliknya, kalau terlalu cepat dia mengalahkan Thay Bo Lama, hal ini hanya akan membuat mereka menjadi semakin penasaran dan marah kepadanya!
Jalan lari tidak mungkin lagi karena dia sudah terperosok ke dalam sarang mereka.
Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi ancaman bahaya itu dengan gagah.
Tiba-tiba dia mempercepat gerakan tongkatnya dan dia mainkan Thian-te Sin-tung di bagian yang menekan dan menyerang.
Begitu Sie Liong mengubah gerakannya dan mulai menyerang, Thay Bo Lama terkejut.
Dia melihat betapa tongkat itu seperti berubah menjadi banyak sekali.
Sebagian menahan tombaknya, sebagian pula menyerangnya bagaikan gelombang lautan yang menyarbu dirinya!
Beberapa kali tubuhnya nyaris terpukul dan dia terus memutar tombak, melindungi tubuhnya sambil terdesak mundur.
Padahal, belum ada tiga puluh jurus dia melawan!
Cepat dia mengerahkan tenaga sakti dan mulutnya berkemak-kemik.
Dia hendak menggunakan kekuatan sihir untuk mengalahkan lawan yang masih muda itu.
"Hyaaaahh, orang muda berlututlah engkau!"
Namun, biar masih muda, Sie Liong adalah murid yang dikasihi dan digembleng oleh Pek Sim Sian-su, maka tentu saja dirinya sudah "berisi"
Dan segala macam kekuatan sihir tidak akan mudah mempengaruhi batinnya yang sudah kuat.
Dia merasakan getaran ilmu sihir itu, namun cepat Sie Liong mengerahkan sin-kang melindungi dirinya dan sekali tongkatnya berkelebat, dua lutut kaki lawan telah dicium ujung tongkatnya.
Thay Bo Lama mengeluarkan seruan kaget ketika tiba-tiba kedua kakinya menjadi lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi, diapun jatuh berlutut!
Ternyata jeritannya mengandung perintah tadi disusul dengan dirinya sendiri yang berlutut, bukan lawannya.
"Thay Bo Lama, tidak berani aku menerima penghormatan itu!"
Kata Sie Liong sambil melangkah mundur dan menghadap ke samping.
Sikapnya wajar dan sedikitpun tidak menunjukkan ejekan.
Justru sikap ini yang membuat Thay Bo Lama menjadi malu dan marah bukan main.
Setelah rasa kesemutan yang membuat kedua lututnya lumpuh tadi lenyap, diapun bangkit berdiri dengan muka merah dan matanya mencorong memandang pemuda bongkok itu penuh kebencian.
"Hyaaatt-ahh....!"
Tiba-tiba Thay Bo Lama, pendeta mata satu itu sudah menyerang Sie Liong dengan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang rantai baja yang panjang dan berat sekali.
Rantai itu menyambar ganas ke arah kepala Sie Liong.
Pendekar Bongkok sudah mengenal sejak dahulu akan kelihaian Tibet Ngo-houw ini, maka melihat rantai menyambar ganas, diapun merendahkan tubuhnya dan rantai itu lewat di atas kepalanya, kemudian diapun melangkah maju mendekat.
Rantai itu panjangnya ada tiga meter sehingga kalau berkelahi jarak jauh, dia akan rugi.
Rantai lawan dapat mencapai dirinya sedangkan tongkatnya yang hanya satu setengah meter panjangnya tidak akan dapat mencapai lawan.
Akan tetapi, Thay Bo Lama sudah menyambutnya dengan dorongan tangan kiri yang terbuka.
Ada angin yang berbau amis manyambar ke arah Sie Liong.
Pemuda ini meloncat ke kiri, maklum bahwa itu adalah pukulan yang mengandung racun.
Memang, pendeta Lama yang matanya buta sebelah itu, selain amat lihai memainkan rantai bajanya yang panjang dan berat, juga terkanal memiliki pukulan beracun, juga pandai mempergunakan racun sebagai senjata atau alat untuk mengalahkan lawannya.
Sambil melangkah maju, Sie Liong juga menggerakkan tongkatnya menusuk ke arah perut lawan baru ini.
Namun tiba-tiba rantai baja itu ditekuk menjadi dua dan ternyata pendeta Lama itu kini memegang rantai di bagian tengah dan rantai yang tadinya tunggal dan panjang itu berubah menjadi dua rantai pendek karena dipegang bagian tengahnya!
Dan dua batang rantai itu berputar menangkis tongkat, bahkan membalas dengan serangan dari kanan kiri, dua helai rantai baja itu melakukan gerakan menggunting.
Kembali Sie Liong melangkah ke belakang untuk menghindarkan diri dari guntingan sepasang rantai baja itu.
Akan tetapi, dia mendengar angin bersiut ke arah kepalanya dari belakang.
Cepat dia merendahkan tubuh sambil memutar tongkat untuk menyambut penyerangnya dari belakang itu.
Kiranya Thay Bo Lama yang sudah menyerangnya dengan curang sekali.
Thay Bo Lama yang tadi menghantamkan tombaknya ke arah kepala Sie Liong, kini berbalik malah diancam tongkat yang menusuk ke arah lambungnya dari samping.
Cepat dia melempar tubuhnya mengelak, akan tetapi kaki Sie Liong menyambar dan diapun terpelanting!
Untung bahwa tendangan itu tidak mengenai dengan tepat sehingga tubuh Thay Bo Lama hanya terpelanting saja dan tidak terluka.
Pada saat itu, Thay Hok Lama sudah pula menyerang dengan rentai bajanya.
Ketika Sie Liong menggerakkan tongkat menangkis, ujung rantai yang panjang itu melibat tongkat!
Maksud Thay Hok Lama tentu saja untuk merampas tongkat.
Dia membetot keras untuk membuat tongkat di tangan pemuda itu terlepas.
Akan tetapi Sie Liong mempertahankan dan dengan pengerahan sin-kangnya, diapun membalas, menarik dan.....
tubuh Thay Hok Lama melayang terbawa tarikan itu, melambung ke atas sehingga terpaksa Thay Hok Lama pelepaskan belitan rantainya dan dia meloncat turun dengan muka berubah merah.
Melihat betapa dua orang rekan mereka masih terdesak oleh Pendekar Bongkok, Thay Ku Lama memberi isyarat kepada dua orang sutenya, yaitu Thay Si Lama dan Thay Pek Lama.
Tiga orang ini serentak berloncatan turun ke gelanggang dan merekapun sudah menggerakkan senjata masing-masing melakukan pengepungan.
Thay Ku Lama yang bermuka codet dan berperut gendut itu telah memegang goloknya, Thay Si Lama yang bermuka bopeng mempergunakan senjata cambuknya, sedangkan Thay Pek Lama yang barmuka pucat memegang sepasang pedang!
Lengkaplah kini Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) mengepung Pandekar Bongkok Sie Liong!
Sie Liong tersenyum dan terbayanglah peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika dia masih kecil.
Ketika itu, diapun melihat Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan tiga orang gurunya atau juga dapat disebut suhengnya, yaitu Himalaya Sam Lojin.
Mereka adalah gurunya karena dia menerima gemblengan silat pertama dari mereka bertiga, akan tetapi merekapun kakak-kakak seperguruannya karena dia adalah murid Pek Sim Sian-su yang terhitung susiok (paman guru) dari Himalaya Sam Lojin.
Masih terbayang olehnya betapa Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan Himalaya Sam Lojin, lima orang melawan tiga orang!
Suatu pertandingan yang amat hebat dan dahsyat dan dia masih ingat betapa Himalaya Sam Lojin terdesak oleh Tibet Ngo-houw yang lihai itu.
Untung ketika itu muncul Pek Sim Sian-su dan juga sute dari kakek sakti itu, Koay Tojin yang aneh dan Tibet Ngo-houw dapat dikalahkan dan diusir.
Dan kini, dia seorang diri harus menghadapi pengeroyokan lima orang Lama yang amat lihai itu!
Namun, dia sudah monerima gemblengan lahir batin dari Pek Sim Sian-su dan dia tidak merasa gentar sedikitpun juga.
"Hemm, aku datang mewakili para tosu yang dimusuhi hanya untuk minta keterangan mengapa mereka yang tidak berdosa itu dimusuhi, dan ternyata se-karang Tibet Ngo-houw juga berusaha keras untuk mengeroyok aku! Apakah inipun termasuk perintah Yang Mulia Dalai Lama? Ataukah nama beliau itu hanya kalian pergunakan untuk menjatuhkan nama Dalai Lama? Bukankah ini juga merupakan suatu muslihat dalam pemberontakan kalian terhadap Dalai Lama? Sungguh bagus sekali!"
Sie Liong berkata.
Karena maklum bahwa dia telah masuk sarang harimau dan tidak dapat mengharapkan lolos, maka diapun tidak menyembunyikan perasaan dan dugaannya.
Ucapan ini membuat lima orang pendeta Lama itu saling pandang dan tentu saja mereka merasa betapa janggalnya dan memalukan keadaan mereka di saat itu.
Lima orang datuk besar persilatan yang namanya sudah menjulang tinggi, lima orang kakek sakti yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun dengan senjata-senjata pusaka andalan mereka di tangan, kini mengepung seorang pemuda yang cacat tubuhnya, bongkok dan hanya memegang senjata sebatang tongkat kayu pula!
Betapa memalukan keadaan ini.
Akan tetapi mereka berada di sarang sendiri, tidak ada orang luar yang menyaksikan peristiwa memalukan itu.
Yang hadir di situ hanyalah para rekan mereka, yaitu Kin Sim Lama, yang tentu maklum bahwa mereka harus maju bersama menghadapi musuh yang demikian lihainya, meskipun masih amat muda dan bongkok pula.
Betapapun juga, ucapan Sie Liong tadi menyentuh perasaan harga diri mereka dan kini mereka berdiri berjajar, tidak lagi mengepung.
Hal ini mereka lakukan atas isyarat Thay Ku Lama orang pertama di antara mereka.
Mereka hendak menggunakan tenaga gabungan mereka untuk mengalahkan Sie Liong sehingga tidak akan kelihatan terlalu mengepung dan mengeroyok!
Mereka berdiri berjajar sambil bergandeng tangan, Thay Ku Lama di ujung kanan sebagai kepala dan Thay Si Lama di sebelah kiri paling ujung sebagai ekor.
Mereka membentuk suatu barisan yang mereka ciptakan sendiri dan nama barisan ini adalah Siang-thouw-coa (Ular Berkepala Dua).
Memang barisan atau "tin"
Ini mirip garakan ular yang berkepala dua.
Mereka berlima dengan bergandeng tangan menghadapi lawan dengan gerakan melingkar-lingkar dan meliuk-liuk dan yang menjadi penyerang utama hanyalah sang kepala dan sang ekor yang keduanya dapat berganti tempat.
Jadi penyerang utama hanya Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, sedangkan tiga orang Lama yang lain, karena kedua tangan mereka bergandeng untuk menyambung barisan itu, hanya membantu dengan tendangan-tendangan saja.
Menghadapi lima orang lawan yang sudah menyimpan senjata masing-masing dan kini bergandeng tangan itu, Sie Liong mengerutkan alisnya.
Dia tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama sakti yang amat berbahaya, lihai dan licik sekali.
Maka, dia pun menduga bahwa mereka tentu akan mempergunakan suatu cara penyerangan yang istinewa, dan melihat cara mereka bergandeng tangan, diapun dapat menduga bahwa ini tentu semacam tin (barisan) dan cara bergandeng tangan itu menunjukkan bahwa mereka berlima tentu akan menyatukan tenaga sin-kang mereka.
Ini berbahaya bukan main.
Menghadapi mereka itu satu lawan satu, mungkin dia masih dapat menandingi kekuatan sin-kang mereka, bahkan mengatasi mereka.
Akan tetapi kalau tenaga sin-kang mereka berlima disatukan, dia harus berhati-hati sekali, terutama kalau hendak mengadu tangan!
"Sie Liong, bocah sombong!
Hendak kami lihat apakah engkau mampu menandingi barisan kami!"
Teriak Thay Ku Lama dan "barisan"
Lima orang ini mulai bergerak, melenggang-lenggok dan seperti ular berjalan mengelilingi Sie Liong!
Thay Ku Lama berada paling depan sebagai kepala dan Thay Si Lama paling belakang sebagai ekor.
Melihat lima orang pendeta Lama ini berjalan beriringan sambil bergandeng tangan seperti itu, sungguh merupakan penglihatan yang aneh dan lucu, seperti melihat lima orang anak kecil bermain-main saja.
Akan tetapi Sie Liong sama sekali tidak menganggap demikian.
Dia tetap waspada, melintangkan tongkatnya di depan dada dan pandang matanya, juga pande-ngaran telinganya, tak pernah melepaskan gerakan lima orang lawan itu.
Ketika lima orang itu mengelilinginya, dia tidak ikut memutar-mutar tubuh, hanya lenernya saja bergerak perlahan mengikuti mereka dan setelah mereka tiba di belakang tubuhnya, diapun memutar leher dari arah lain dan mengikuti gerakan mereka lagi hanya dengan menggerakkan leher.
Tak pernah dia menggeser kaki yang selalu siap bergerak dengan sikap bertahan dan menjaga diri.
Pancingan pertama ini saja sudah tidak berhasil.
Tadinya, Siang-thouw Coa-tin (Barisan Ular Kepala Dua) ini mengelilingi lawan memancing agar lawan ikut pula berputar.
Kalau lawan melakukan ini, mereka akan berlari cepat mengelilinginya, memaksa lawan berputar demikian cepat dan dengan mengubah-ubah arah, berbalik-balik, maka lawan yang berputaran di dalam lingkaran mereka tentu akan menjadi bingung dan juga pening sehingga kedudukannya menjadi lemah.
Namun, Pendekar Bongkok itu tidak mau memutar tubuh, hanya mengikuti gerakan mereka dengan leher saja.
Kalau dilanjutkan seperti itu, bukan Pendekar Bongkok yang menjadi bingung, pening dan lelah, melainkan mereka sendiri.
Gerakan Siang-thouw Coa-tin itu kini berubah, mereka masih mengitari Sie Liong akan tetapi berganti arah, yang tadinya ekor menjadi kepala dan kepala menjadi ekor.
Berubah lagi beberapa kali, kemudian, atas isyarat Thay Ku Lama yang melihat pemuda itu tidak terpancing dan tenang saja, Thay Si Lama melakukan penyerangan pertama.
Ta-ngan kirinya bergandeng dengan tangan Thay Pek Lama, kini dia mempergunakan tangan kanan untuk menghantam ke arah kepala Sie Liong.
"Wuuuuuuttt....!"
Sie Liong cepat mengelak karena dia merasa betapa pukulan itu mengandung angin pukulan yang amat dahsyat.
Ketika pukulan itu melewati atas kepalanya, tiba-tiba barisan itu membalik dan kini "ekornya", yaitu Thay Ku Lama sudah berganti kedudukan menjadi kepala dan tangan kiri orang pertama dari Tibet Ngo-houw ini sudah mencengkeram ke arah dada Sie Liong!
Cepat dan tidak terduga sekali gerakan ini sehingga Sie Liong terkejut.
Dia cepat membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik.
"Brettt....!"
Ujung baju di dada Sie Liong tersentuh cengkeraman tangan kiri Thay Ku Lama dan terbukalah lubang di baju bagian dada itu, dan bekas robekan menjadi hangus!
Sambil melompat menjauhi, Sie Liong yakin bahwa dugaannya benar.
Lima orang itu menyatukan tenaga sin-kang dan dia seolah menghadapi seorang lawan yang memiliki kekuatan sin-kang yang amat hebat.
Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir banyak karena pada saat itu, Siang-thouw Coa-tin telah bergerak lagi dan dengan dahsyat dan cepatnya, juga dengan cara yang aneh dan tidak dapat diduga sebelumnya, menyerangnya dengan hantaman-hantaman tangan yang mengandung sin-kang amat kuat.
Sukar diduga siapa yang akan menyerangnya, Thay Ku Lama ataukah Thay Si Lama.
Namun, Sie Liong sudah cepat mempergunakan langkah-langkah ajaib yang pernah dilatihnya dari Pek Sim Sian-su.
Langkah-langkah yang menjadi dasar dari Thian-te Sin-tung dan yang membuat tubuhnya berkelebatan bagaikan bayang-bayang saja dan biarpun dia terdesak hebat, namun sampai belasan jurus lamanya, belum pernah ada pukulan lawan yang mampu menyerempetnya lagi.
Setelah dua puluh jurus dia selalu mengelak sambil memperhatikan gerakan barisan lima orang itu, akhirnya diapun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Ular Kepala Dua adalah karena dua orang yang berada di kedua ujung itulah yang menyerangnya secara bergantian, dan mereka itulah kepala dan ekor, akan tetapi ekor dapat pula menjadi kepala dan sebaliknya.
Justeru perubahan tiba-tiba inilah yang membingungkan lawan.
Dan diapun melihat betapa tiga o-rang pendeta Lama lainnya yang menjadi penghubung dan penyalur tenaga sin-kang yang disatukan, tidak dapat banyak berbuat sebagai penyerang karena kedua tangan mereka saling gandeng.
Hanya kadang-kadang saja tiga orang ini membantu dengan tendangan kaki, akan tetapi karena tubuh mereka tidak bebas, dengan kedua tangan saling bergandengan itu mereka seperti terikat oleh barisan, maka tendangan mereka itu pun tldak banyak artinya bagi Sie Liong.
Dan pemuda yang cerdik inipun menemukan suatu kenyataan yang memberi harapan, yaitu bahwa di bagian "tubuh"
Atau tengah yang dimainkan tiga orang inilah bagian barisan itu yang paling lemah! "Yaaaaattt....!"
Thay Ku Lama sudah menyerang lagi dengan hantaman telapak tangan terbuka ke arah dada Sie Liong ketika pemuda itu membalik dari elakan serangan sebelumnya.
Bukan main kerasnya angin pukulan itu.
Sie Liong yang sudah membuat perhitungan matang, lalu menggerakkan kedua tangan pula untuk menyambut pukulan itu dari jarak dua meter.
Dia tentu saja tidak berani menyambut langsung, maklum betapa hebatnya tenaga gin-kang yang mendorong pukulan itu.
Akan tetapi dalam jarak dua meter, dia berani mengambil resiko karena tidak terlalu berbahaya.
Dia juga mengerahkan sin-kang yang lemas, tidak mau mengadu keras lawan keras karena tenaga sin-kang jelas jauh kalau dibandingkan tenaga lawan yang disatukan itu, jauh kalah.
"Desss....!"
Dua pasang tangan itu tidak sampai bertemu, tidak saling sentuh, akan tetapi tenaga sin-kang yang menyambar sebagai kekuatan dahsyat itu telah saling bertemu dan bertumbuk di udara.
Akibatnya hebat bukan main.
Sie Liong merasa seperti didorong oleh angin taufan dan diapun terlempar!
Namun, dia sudah memperhitungkan sehingga dia membiarkan dirinya terjatuh ke atas tanah lalu dia bergulingan.
Dengan cepat tubuhnya berguling-guling ke sana-sini sehingga mematahkan tenaga luncuran sambil memperhatikan keadaan barisan lawan.
Seperti yang diduganya, lima orang Tibet Ngo-houw itu mengira bahwa dia tentu terluka, dan mereka itu sudah datang menghampiri dengan cepat, dengan gerakan lenggak-lenggpk seperti seekor ular.
Tiba-tiba Sie Liong yang bergu-lingan itu tubuhnya menyambut dan setelah cukup dekat, dia meloncat dan mengeluarkan suara melengking nyaring, tongkatnya bergerak-gerak sehingga ujungnya menjadi banyak dan diseranglah tiga orang yang berada di tengah-tengah!
Serangan yang tiba-tiba ini membuat Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang berada di tengah-tengah terkejut bukan main.
Juga Thay Ku Lama dan Thay Si Lama yang menjadi kepala dan ekor barisan itu terkejut.
Mereka tadi salah perhitungan.
Mereka mengira bahwa Sie Liong terluka.
Sungguh tak mereka sangka kini pemuda itu bahkan menyerang dengan hebat ke arah bagian barisan yang lemah.
Tiga orang sute mereka itu hanya mampu membantu dengan penyaluran tenaga, sama sekali tidak dapat menangkis atau mengelak karena mereka itu seperti terkait dan terjepit!
Padahal, serangan tongkat di tangan pemuda bongkok itu dahsyat bukan main karena dia memainkan jurus-jurus Thian-te Sin-tung!
"Lepaskan ikatan!"
Bentak Thay Ku Lama yang melihat betapa tiga orang sutenya terancam bahaya maut oleh tongkat kayu yang digerakkan secara lihai sekali itu.
Terlepaslah tangan mereka yang bergandengan dan kini tiga orang pendeta Lama yang diserang itu dapat menggunakan kaki tangan mereka untuk membela diri.
Merekapun segera bargerak, ada yang mengelak dan ada yang menangkis.
Namun, gerakan mereka malepaskan diri dari ikatan barisan tadi terlambat sedikit dan akibatnya, Thay Pek Lama terjengkang dengan pundak tertotok ujung tongkat, Thay Hok Lama juga terpelanting karena kakinya menjadi lumpuh sebelah ketika ujung tongkat singgah di lutut kirinya, Sedangkan Thay Bo Lama terhuyung ke belakang, dadanya kena didorong tangan kiri Sie Liong sehingga terasa napasnya sesak dan dadanya nyeri.
Masih untung bagi tiga orang pendeta Lama itu bahwa Sie Liong hanya berniat menghancurkan Siang-thouw Coa-tin itu saja, tidak berniat membunuh sehingga baik tongkat maupun tangan kirinya, menyerang dengan tenaga yang terbatas.
Bagaimanapun juga, jelas bahwa barisan itu dapat dia pecahkan dan kini lima orang pendeta Lama itu berdiri dengan muka berubah merah karena malu dan marah.
Tiga orang pendata Lama yang tadi terkena serangan, juga sudah dapat memulihkan tenaga dan mereka sudah menyambar senjata masing-masing, seperti juga yang dilakukan Thay Ku Lama dan Thay Si Lama!
Melihat ini, Sie Liong menjura.
"Apakah ucapan Tibet Ngo-houw tidak dapat dipercaya lagi? Aku sudah menandingi barisanmu dan berhasil memecahkannya, kenapa kalian malah mengeluarkan senjata?"
"Pendekar Bongkok, apakah engkau takut?"
Thay Ku Lama bertanya dengan suara mengejek, juga empat orang sutenya mengeluarkan suara mengejek, semua ini tentu saja untuk menghibur atau menutupi kekalahannya tadi yang membuat mereka merasa malu, penasaran dan marah.
Mendengar ini, tiba-tiba saja Sie Liong menekuk punggungnya yang bongkok ke belakang dan dia monangadah, memandang langit-langit ruangan yang luas itu dan diapun mengeluarkan suara ketawa yang membuat semua orang di situ terkejut dan tercengang.
Suara ketawa itu amat nyaring melengking, akan tetapi juga bergelak dan gemuruh seperti gelombang, mendatangkan getaran dahsyat yang seolah-olah akan meruntuhkan bangunan ruangan itu!
Bahkan Kim Sim Lama sendiri memandang kagum.
Belum pernah selamanya dia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini, yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali!
Bukan hanya hebat ilmu kepandaiannya, akan tetapi juga luar biasa sekali tabah dan beraninya!
Seorang diri memasuki sarangnya dan menyambut tantangan Tibet Ngo-houw!
Sungguh hampir tak masuk akal dan sukar dipercaya!
Kehebatan Sie Liong ini saja sudah mendatangkan perasaan sayang di dalam hatinya dan betapa akan senangnya kalau dia dapat mempunyai seorang pendukung atau pembantu seperti pemuda bongkok itu!
"Ha-ha-ha-ha-ha!"
Sie Liong menghentikan ketawanya yang bergelombang dan bergemuruh tadi, lalu menudingkan tongkatnya ke arah muka Tibet Ngo-houw dan suaranya terdengar tidak seperti tadi, lemah lembut, melainkan tegas dan berani penuh kekuatan dan kegagahan.
"Tibet Ngo-houw, bukan aku yang takut, melainkan kalian! Buktinya kalian mengeroyok aku! Seorang seperti aku ini, apa artinya takut? Aku seorang sebatangkara yang tidak memiliki apa-apa, tubuhpun cacat, dan kematian bagi-ku hanya kembali ke tempat yang jauh lebih baik daripada di dunia yang penuh kekotoran dan manusia busuk macam kalian ini! Bagiku, yang ada hanyalah berpegang kepada kebenaran dan keadilan. Demi kebenaran dan keadilan, matipun tidak apa-apa! Kematian hanya pulang dan kembali kepada sumber kebenaran dan keadilan! Sebaliknya, kalian ini biarpun berpakaian pendeta, selalu menuruti nafsu angkara murka, menjadi setan sehingga kalian takut mati, karena kematian kalian akan menyeret kalian kepada kerajaan setan dan iblis!"
Seperti juga suara ketawanya tadi, kini ucapannya itu membuat banyak orang di situ merasa panas dingin dan bulu tengkuk mereka meremang.
Akan tetapi, Tibet Ngo-houw yang sudah merasa malu dan penasaran, tidak memperdulikan semua itu dan atas isyarat Thay Ku Lama, mereka sudah bergerak mengepung dengan senjata masing-masing di tangan Sie Liong berada di tengah-tengah dan diapun sudah siap siaga.
Dia tahu bahwa kalau dia dikeroyok dengan pengepungan seperti ini, akan rugilah dia kalau hanya mempertahankan diri saja.
Kalau sampai dia terdesak, akan sukarlah meloloskan diri dari kepungan, sukar untuk membalas serangan lawan yang tentu bertubi-tubi datangnya.
Oleh karena itu, diapun mengambil keputusan untuk mendahului lawan dan mengambil sikap menyerang dan mengamuk!
Tiba-tiba dia mengeluarkan lengkingan dahsyat dan tubuhnya bergerak ke kiri.
Pemuda bongkok itu sudah menyerang Thay Bo Lama yang berada di sebelah kirinya.
Karena dia menggunakan jurus dari ilmu tongkat Thian-te Sin-tung, tentu saja serangannya itu hebat bukan main.
Thay Bo Lama menggerakkan tombaknya menangkis, dan Thay Hok Lama yang berada di sampingnya juga mengayun rantai baja untuk melindungi sutenya, juga untuk menyerang Sie Liong!
Namun, begitu serangannya gagal, Sie Liong tidak membiarkan dirinya diserang.
Serangan Thay Hok Lama itu dia hindarkan dengan loncatan ke kanan dan dia sudah menotokkan ujung tongkatnya ke arah leher Thay Si Lama.
"Tar-tar-tarrrr!"
Thay Si Lama menggerakkan cambuknya meledak-ledak ketika ujung tongkat di tangan Sie Liong itu bagaikan seekor lalat menyambar-nyambar ke arah lehernya.
Dia tahu betapa hebatnya totokan itu kalau mengenai sasaran, maka dengan sibuk diapun melindungi dirinya dengan putaran cambuk.
Sementara itu, Thay Pek Lama juga menggerakkan siang-kiam (sepasang pedang) untuk membantu suhengnya dan membalas serangan Sie Liong.
Ketika pedang itu menyambar pinggang dan leher, Sie Liong melempar tubuh ke bawah dan bergulingan ke arah Thay Ku Lama.
Begitu melompat, tongkatnya sudah menyerang dengan tusukan ke perut orang pertama Tibet Ngo-houw itu!
Lama ini cepat memutar golok menjaga dirinya.
Akan tetapi Sie Liong sudah membalik ke belakang lagi untuk menyerang Thay Hok Lama!
Amukan Sie Liong itu mangejutkan Tibet Ngo-houw.
Gerakan pemuda itu demikian cepat, membagi-bagi serangan sehingga mereka tidak sempat menyusun kekuatan untuk mengepung dan menghimpit.
Melihat ini, dengan muka merah dan hati panas sekali Thay Ku Lama berseru nyaring.
"Ngo-heng-tin (barisan lima unsur)!"
Mendengar bentakan ini, para sutenya sadar dan mereka segera berlompatan menjauhi Sie Liong dan membuat berisan segi lima!
Dan merekapun mulai bergerak mengelilingi Sie Liong, semakin lama semakin cepat dan lingkaran yang mereka buat itu semakin sempit.
Sie Liong tidak berani lagi menyerang seperti tadi karena maklum bahwa begitu dia menyerang seorang di antara mereka, yang empat orang akan menubruk dan menyerangnya dari empat jurusan secara berbareng!
Dia pernah mendengar dari Pek Sim Sian-su tentang beberapa tin (barisan) dan Ngo-heng-tin merupakan barisan yang berbahaya, apalagi karena lima orang anggautanya mempergunakan lima macam senjata sehingga sukar sekali diduga gerakan dan corak penyerangan mereka.
Akan tetapi diapun teringat pelajaran yang diberikan oleh para gurunya.
Antara lain Pek Sim Sian-su pernah menceritakan sifat dan kehebatan Ngo-heng tin.
"Dalam Ngo heng tin terdapat unsur Im yang pula, demikian kata kakek sakti itu. Lima unsur itu saling bantu, sehingga kalau ada seorang anggauta diserang, selain dia sendiri dapat membela diri, juga ada anggauta lainnya yang melindunginya, sedangkan tiga orang lainnya tentu akan membarengi saat itu untuk menghantam lawan. Memang kalau lima orang anggauta Ngo heng tin itu memiliki tenaga dan kepandainn yang setingkat denganmu, amat sukarlah mengalahkan mereka. Akan tetapi, dengan Thian te Sin tung dan langkah langkah ajaib, tentu engkau akan dapat mempertahankan diri. Kalau engkau bisa memecahkan unsur yang paling membantu itu, baru engkau akan dapat mengacaukan pertahanan mereka. Usahakan agar engkau mengenal siapa di antara mereka itu yang saling melindungi, siapa yang memegang unsur air, api, kayu, tanah dan angin."
Demikianlah petunjuk yang diperolehnya dari Pek Sim Sian su.
Terdengar seruan keras ketika Thay Ku Lama membuka serangan pertama!
Golok di tangannya itu mula mula diacungkan ke atas, dan kedua kaki pendeta yang bertubuh gemuk dengan perut gendut itu ditekuk sehingga tubuhnya hampir berjongkok.
Dari perutnya berbunyi suara berkokokan seperti suara katak besar dan perut yang gendut itu bergoyang goyang, kemudian tubuhnya meloncat ke depan dan tangan kirinya dengan jari terbuka mendorong ke arah Sie Liong.
Uap hitam disertai angin keras menyambar ke arah Sie Liong.
Itulah pukulan Hek in Tai hong ciang (Tangan Angin Taufan Awan Hitam) yang amat berbahaya.
Sie Liong mengenal pukulan ampuh, maka diapun melempar tubuh ke kiri sehingga angin pukulan itu lewat.
Ketika sinar golok di tangan kanan Thay Ku Lama menyambar, dia menggerakkan tongkatnya menangkis, lalu membalas dengan totokan totokan ke arah tujuh jalan darah utama di bagian depan tubuh lawan!
Menghadapi jurus hebat dari Thian te Sin tung ini yang membuat dirinya terancam maut oleh totokan-totokan, Thay Ku Lama menjadi sibuk dan cepat memutar goloknya untuk melindungi tu-buhnya.
Thay Si Lama cepat sekali memutar cambuknya, selain melindungi sehengnya, juga ujung cambuk itu berusaha membelit tongkat untuk merampasnya!
Sie Liong mulai merasakan keampuhan barisan Ngo-heng-tin.
Dengan otomatis, ketika Thay Ku Lama diserangnya, Thay Si Lama sudah berada di situ, melindunginya dan ikut pula menyerangnya.
Dia meloncat tinggi melewati tubuh para pengepungnya dan tiba di belakang Thay Hok Lama, akan tetapi begitu lima orang pengeroyoknya membuat gerakan berlari dan berlompatan, dirinya sudah dikepung lagi oleh barisan segi lima itu.
Dia cepat menubruk ke depan, menggerakkan pedangnya yang mula-mula menusuk ke arah sepasang mata Thay Pok Lama, kemudian ujung tongkat digetarkan untak menghantam leher dan ubun-ubun secara bergantian.
Thay Hok Lama cepat mengeluarkan sepasang pedangnya menangkis, dan pada saat itu, secara otomatis pula Thay Hok Lama sudah menggunakan rantai bajanya melindungi Thay Pek Lama.
Dan kedua orang pendeta Lama ini bergabung dan menyerang Sie Liong.
Setelah mencoba untuk mengamuk beberapa belas jurus lamanya, tehulah Sie Liong bahwa benar seperti dikatakan gurunya, lima orang itu saling melindungi.
Dia lalu mencari mata rantai yang tidak bersambung dalam barisan itu.
Tiba-tiba dia menyerang Thay Si Lama dengan hebatnya.
Dia tahu bahwa tentu Thay Pek Lama yang akan melindungi suhengnya itu.
Dan benar saja, Thay Pek Lama secara otomatis telah melindungi Thay Si Lama, akan tetapi ketika mereka berdua hendak membalas serangan Sie Liong, pemuda itu telah membalik secara tiba-tiba dan diapun sudah menyerang Thay Bo Lama!
Dia sudah memperhitungkan bahwa tentu Thay Ku Lama yang akan melindungi orang termuda dari Tibet Ngo-houw itu.
Ketika Thay Ku Lama bergerak, diapun menarik kembali serangannya dan tiba-tiba dia menyerang Thay Hok Lama si mata satu!
Serangannya sekali ini hebat bukan main, karena selain tongkatnya membuat serangan tusukan beruntun yang dahsyat, juga tangan kirinya dengan tenaga sin-kang sepenuhnya melakukan hantaman dengan ilmu Pay-san-ciang (Tangan Menolak Gunung), ilmu pukulan sakti yang dia pelajari dari Hek Bin Tosu.
Thay Hok Lama terkejut bukan main dan memutar rantai melindungi dirinya.
Dia mengharapkan perlindungan Thay Bo Lama seperti telah menjadi bagian masing-masing dalam barisan itu, namun baru saja Thay Bo Lama bergerak mundur karena desakan Sie Liong yang ternyata hanya pura-pura itu, maka sekali ini, Thay Hok Lama harus melinduagi diri sendiri dan tidak mempunyai pelindung lain.
Akan tetapi, serangan Sie Liong itu terlampau hebat.
Dia mampu monangkis tongkat, akan tetapi tidak mampu manghindarkan diri sama sekali dari tangan kiri Pendekar Bongkok yang memukulnya.
Namun dia masih berusaha menangkis dangan tangan kirinya.
"Desss....!"
Tubuh Thay Hok Lama terpelanting keras dan terbanting sampai terguling-guling.
Tentu saja para Lama yang lain menjadl terkejut bukan main.
Tak pernah mereka bermimpi bahwa Ngo-heng-tin akan dapat dipecahkan sedemikian mudahnya oleh Pendekar Bongkok sehingga belum lewat tiga puluh jurus saja seorang dari mereka sudah roboh!
Tiba-tiba nampak bayangan merah berkelebat dan tahu-tahu Kim Sim Lama yang memegang sebatang tongkat pendeta telah berada di tempat di mana tadi Thay Bo Lama berdiri.
"Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang)!"
Serunya dengan suaranya yang lembut namun berwibawa.
Empat orang Lama itupun bergerak dan dipimpin oleh Kim Sim Lama sendiri, mereka membentuk barisan Bintang Lima yang gerakannya aneh namun cepat, seperti bintang yang berkedap-kedip karena senjata mereka digerak-gerakkan berkilauan dan kedudukan mereka selalu berubah.
Tiba-tiba mareka berlima itu menyerang dari lima penjuru!
Sie Liong cepat memutar tongkatnya melindungi diri, dan tangan kirinya mendorong dengan pukulan yang dia ubah-ubah pula untuk membingungkan para pengeroyoknya.
Tongkatnya membentuk benteng yang amat kuat sehingga semua senjata terpental kalau hendak menerobos ke dalam lingkaran benteng sinar itu.
Hanya tongkat di tangan Kim Sim Lama saja yang mampu membuat Sie Liong merasakan lengannya terguncang hebat dan kedudukan kakinya terhuyung.
"Trakkk!"
Pertemuan antara tongkat di tangan Sie Liong dan tongkat pendeta berkepala naga yang besar di tangan Kim Sim Lama amatlah hebatnya.
Bukan saja Sie Liong tergetar, juga Kim Sim Lama tercengang dan jelas nampak betapa wajahnya dibayangi kekaguman dan keheranan karena dia mendapatkan kenyataan bahwa pemuda itu mampu menandingi kekuatan sing-kangnya!
Sie Liong tidak membiarkan dirinya dilanda kekagetan, melainkan cepat dia menghindarkan diri dari sambaran tombak Thay Bo Lama yang menusuk ke arah lehernya.
Dia merendahkan dirinya dan tangan kirinya mendorong ke arah penyerangnya itu, cepat sekali.
"Hyaaaattt....!"
Hawa yang amat dingin menyambar ganas ke arah dada Thay Bo Lama.
Ternyata Pendekar Bongkok telah mempergunakan Swat-liong-ciang (Tangan Naga Salju) yang dilatihnya dari Swat Hwa Cinjin, seorang di antara Himalaya Sam Lojin.
Pukulan ini memang mengandung sin-kang yang berhawa dingin seolah-olah ada hawa salju yang menyambar ganas.
Thay Bo Lama terkejut dan menangkis dengan lengan kirinya pula.
"Plakkk!"
Dan akibatnya, tubuhnya terguling dan diapun menggigil kedinginan!
Saat itu dipergunakan oleh Thay Ku Lama untuk menyambarkan goloknya yang mengeluarkan suara berdesing!
Sie Liong menundukkan mukanya dan menggerakkan tongkat menangkis.
Pada saat yang sama, tongkat naga di tangan Kim Sim Lama kembali menyambar.
Sie Liong yang maklum akan kehebatan pemimpin pemberontak ini, terpaksa menggunakan tongkat yang tadi membalik ketika menangkin golok Thay Ku Lama, untuk menghadapi sambaran tongkat naga Kim Sim Lama.
"Dukkk!"
Sekali ini, demikian kuatnya Kim Sim Lama menghantamkan tongkatnya, pula karena Sie Liong baru saja menangkis golok Thay Ku Lama sehingga tenaganyapun tidak sepenuhnya.
Aki-batnya Sie Liong terpelanting!
Kesempatan itu dipergunakan oleh Thay Si Lama untuk manghantamkan cambuknya ke arah kepala Sie Liong.
Cambuk itu melecut dengan cepat seperti kilat menyambar!
Sie Liong masih berhasil menggerakkan tongkatnya menangkis walaupun dia sudah terpelanting.
Namun, ujung cambuk itu membelit tongkatnya dan terjadi tarik menarik.
Sie Liong mengerahkan tenaga dan tangan kirinya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah Thay Si Lama.
Thay Si Lama yang menguasai ilmu silat Sin-kun Hoat-lek, yaitu silat yang bukan saja mengandung tenaga sin-kang kuat, akan tetapi bahkan juga mengandung ilmu sihir itu, tidak gentar dan diapun menggerakkan telapak tangan kiri menyambut.
"Desss....!"
Hebat buken main pertempuran dua telapak tangan dan akibatnya, tubuh Thay Si Lama terjengkang dan diapun muntah darah!
Sie Liong sendiri juga terjengkang karena kedudukannya tadi tidak menguntungkan ketika dia mengadu tenaga dalam dengan Thay Si Lama.
Kuda-kudanya tidak kokoh karena dia tadi dalam keadaan terpelanting dan terhuyung.
Pada saat dia terjengkang, ujung tongkat di tangan Kim Sim Lama menyambar dan menyentuh punggungnya.
Sie Liong terkulai lemas dan roboh pingsan!
Melihat betapa Thay Si Lama muntah darah, empat orang rekannya menjadi marah dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk melumatkan tubuh Pendekar Bongkok.
"Tahan!"
Kim Sim Lama berseru dan tongkatnya diputar melindungi tubuh Sie Liong.
Lima orang Harimau Tibet itu kini memandang heran kepada pemimpin mereka.
Bahkan Thay Si Lama yang mengusap darah dari bibirnya, mengerutkan alisnya.
"Maaf, susiok (paman guru), akan tetapi Pendekar Bongkok ini berbahaya sekali. Sudah selayaknya kalau dia dibunuh!"
Katanya dengan nada tidak senang.
"Hemm, kalian ini sudah berpengalaman luas, mengapa masih berpandangan picik dan masih mudah dipengaruhi kemarahan dan dendam? Yang penting bagi kita adalah langkah yang kita perhitungkan, langkah yang pasti akan mengun-tungkan usaha kita! Kalau dia kalian bunuh, lalu apa untungnya? Boleh jadi dia lihai, akan tetapi tidak cukup lihai untuk membuat kita gentar. Pula, apa artinya dia seorang diri saja menghadapi kita? Sebaliknya, kalau dia tidak dibunuh, banyak pilihan bagi kita untuk memanfaatkan bocah ini dan menarik keuntungan sebesarnya."
Lima orang pendeta Lama itu memandang penuh perhatian dan Thay Ku Lama mewakili para sutenya bertanya.
"Susiok, manfaat apa yang dapat kita ambil dari bocah bongkok ini?"
"Ha-ha-ha-ha! Nah, kalian lihatlah,"
Katanya kepada belasan orang pembantu utamanya.
"Tanpa pimpinan pinceng, kalian sama seperti sekumpulan gajah kehilangan pembimbing. Biarpun kalian kuat, kelau tidak pandai mempergunakan akal, tidak akan ada gunanya dan tidak akan mencapai jauh! Dengarlah. Kita semua telah melihat bahwa bocah ini, biarpun masih muda dan tubuhnya bongkok, namun dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang hebat dan kiranya hanya pinceng seorang saja yang akan mampu menandinginya. Kalian semua, kalau maju satu lawan satu, bukanlah tandingannya! Nah, kalian tentu tahu betapa akan baik dan menguntungkan sekali bagi kita kalau saja dia mau membantu gerakan kita."
"Akan tetapi, susiok! Dia adalah murid Himalaya Sam Lojin, bahkan juga murid Pek Sim Sian-su. Dia musuh kita dan mana mungkin dia mau membantu gerakan kita?"
Thay Si Lama mencela.
"Bagaimana kalau kita mempergunakan sihir agar dia kehilangan ingatan dan suka membantu kita?"
Kata Thay Hok Lama. Kim Sim Lama menggeleng kepalanya.
"Memang benar bahwa kiranya takkan mungkin dia membantu kita, dan penggunaan sihirpun tidak ada artinya bagi seorang yang sudah memiliki sin-kang sekuat itu."
"Pinceng dapat membuatkan racun perampas ingatan...."
Kata pula Thay Hok Lama si ahli racun. Kim Sim Lama tetap menggeleng kepalanya.
"Biarpun dia sudah kehilangan ingatan, watak dasarnya tentu melarang dia untuk membantu kita. Dan apa artinya orang yang kehilangan ingatan untuk kita? Bahkan dia akan dapat menimbulkan kekacauan karena ketololannya. Tidak, agaknya kita tidak boleh mengharapkan dia membantu perjuangan kita dengan tenaganya."
"Lalu untuk apa lagi, susiok?"
Thay Pek Lama bertanya.
Kim Sim Lama tersenyum dan mukanya yang merah kekanak-kanakan itu kini kelihatan cerdik luar biasa.
Matanya mencorong, berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.
"Kita dapat mempergunakan dia untuk memperuncing hubungan yang sudah memburuk antara Dalai Lama dan para tosu. Kalau dia sebagai utusan para tosu sampai terbunuh oleh Dalai Lama, barulah kematiannya ada gunanya untuk kita."
Lima orang Tibet Ngo-houw mengangguk-angguk dan merekapun melihat manfaat itu.
"Akan tetapi, bagaimana caranya agar dia dapat terbunuh oleh Dalai Lama, atau agar para tosu menganggap kematiannya disebabkan oleh Dalai Lama?"
"Tentu saja satu-satunya jalan adalah agar dia mati di dalam istana Dalai Lama di Lasha!"
Kata Kim Sim Lama.
"Akan tetapi, bagaimana caranya menyelundupkan dia ke dalam istana?"
Tanya Thay Bo Lama. Kim Sim Lama tersenyum lagi.
"Tidak percuma pinceng menyebar orang-orang ke dalam Lasha. Biarlah kita menanti kesempatan yang baik. Sementara ini, kita tahan dia di dalam penjara lebih dulu."
"Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali, susiok! Dia amat lihai, kalau dibiarkan hidup di dalam penjara, bagaimana kalau sekali waktu dia memberontak dan berhasil lolos dari dalam penjara?"
Thay Ku Lama berseru khawatir.
"Ha-ha-ha-ha, mengapa engkau begitu bodoh? Tentu saja kita harus membuat dia tidak berdaya lebih dahulu. Nah sekarang racunmu perampas ingatan itu kita butuhkan, Thay Hok Lama."
Thay Hok Lama merasa girang karena dia dapat berjasa. Cepat dia mengeluarkan dua butir pel hitam.
"Ingatannya dihilangkan sama sekali ataukah untuk sementara, susiok?"
"Maksudmu bagaimana?"
Tanya Kim Sim Lama.
"Pinceng mempunyai dua butir pel racun perampas ingatan. Kalau diminumkan sebutir, maka dia akan kehilangan ingatan selama satu bulan saja. Akan tetapi, kalau dua butir sekaligus dimasukkan ke perutnya, racun yang bekerja sedemikian hebatnya sehingga semua syaraf ingatan di kepalanya akan hangus dan diapun akan kehilangan ingatan untuk selamanya."
Thay Hok Lama tertawa gembira karena bangga akan keahliannya tentang racun.
"Berikan sebutir saja. Mungkin kita memerlukan dia dalam keadaan sadar dan setelah sebulan, kalau perlu, kita bisa meminumkannya sebutir lagi."
Thay Hok Lama menghampiri tubuh Sie Liong yang masih pingsan, menotok lehernya sehingga dengan mudah dia membukakan mulut pemuda itu dan memaksakan sebutir pel ke dalam kerongkongannya.
Dengan arak yang dituangkan dengan paksa, maka pel itu memasuki perut Sie Liong tanpa diketahui pemuda yang masih pingsan itu.
"Ha-ha-ha, setelah siuman dia sudah akan lupa segala-galanya, susiok. Apakah boleh kami lempar dia di dalam kamar tahanan?"
Tanya Thay Hok Lama.
"Nanti dulu! Biarpun ingatannya hilang, kalau tenaganya masih demikian kuat dan nalurinya masih membuat dia mampu bersilat, hal itu tetap saja membahayakan."
"Jangan khawatir, susiok. Pinceng mempunyai racun lain yang akan meracuni darahnya sehingga kalau dia mengerahkan sin-kangnya dia akan roboh sendiri,"
Kata Thay Hok Lama dan kembali dia mengeluarkan obat bubuk yang dituangkan ke dalam perut Sie Liong melalui mulutnya.
Setelah itu, barulah Sie Liong dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang berpintu besi.
"Ha-ha-ha, dalam keadaannya seperti itu, dia tidak berbahaya lagi, seperti orang biasa saja. Tidak perlu kita sendiri yang berjaga, cukup dijaga anak buah saja,"
Kata Thay Hok Lama dan demikianlah, Sie Liong dilempar ke dalam kamar tahanan dan pemuda itu menggeletak pingsan di atas lantai kamar yang dingin itu.
Lima orang Tibet Ngo-houw meninggalkan kamar itu setelah menyuruh enam orang penjaga berjaga di luar pintu besi dengan senjata di tangan.
Tidak perlu dijagapun, pemuda yang sudah makan dua macam obat beracun itu takkan mampu membebaskan diri dari dalam kamar penjara!
"Tahan!"
Kim Sim Lama berseru dan tongkatnya diputar melindungi tubuh Sie Liong.
Lima orang Harimau Tibet itu kini memandang heran kepada pemimpin mereka.
Bahkan Thay Si Lama yang mengusap darah dari bibirnya, mengerutkan alisnya.
"Maaf, susiok (paman guru), akan tetapi Pendekar Bongkok ini berbahaya sekali. Sudah selayaknya kalau dia dibunuh!"
Katanya dengan nada tidak senang.
"Hemm, kalian ini sudah berpengalaman luas, mengapa masih berpandangan picik dan masih mudah dipengaruhi kemarahan dan dendam? Yang penting bagi kita adalah langkah yang kita perhitungkan, langkah yang pasti akan menguntungkan usaha kita! Kalau dia kalian bunuh, lalu apa untungnya? Boleh jadi dia lihai, akan tetapi tidak cukup lihai untuk membuat kita gentar. Pula, apa artinya dia seorang diri saja menghadapi kita? Sebaliknya, kalau dia tidak dibunuh, banyak pilihan bagi kita untuk memanfaatkan bocah ini dan menarik keuntungan sebesarnya."
Lima orang pendeta Lama itu memandang penuh perhatian dan Thay Ku Lama mewakili para sutenya bertanya.
"Susiok, manfaat apa yang dapat kita ambil dari bocah bongkok ini?" (Lanjut ke
Jilid 21) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21
"Ha-ha-ha-ha! Nah, kalian lihatlah,"
Katanya kepada belasan orang pembantu utamanya.
"Tanpa pimpinan pin-ceng, kalian sama seperti sekumpulan gajah kehilangan pembimbing. Biarpun kalian kuat, kelau tidak pandai mempergunakan akal, tidak akan ada gunanya dan tidak akan mencapai jauh! Dengarlah. Kita semua telah melihat bahwa bocah ini, biarpun masih muda dan tubuhnya bongkok, namun dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang hebat dan kiranya hanya pinceng seorang saja yang akan mampu menandinginya. Kalian semua, kalau maju satu lawan satu, bukanlah tandingannya! Nah, kalian tentu tahu betapa akan baik dan menguntungkan sekali bagi kita kalau saja dia mau membantu gerakan kita."
"Akan tetapi, susiok! Dia adalah murid Himalaya Sam Lojin, bahkan juga murid Pek Sim Sian-su. Dia musuh kita dan mana mungkin dia mau membantu gerakan kita?"
Thay Si Lama mencela.
"Bagaimana kalau kita mempergunakan sihir agar dia kehilangan ingatan dan suka membantu kita?"
Kata Thay Hok Lama. Kim Sim Lama menggeleng kepalanya.
"Memang benar bahwa kiranya takkan mungkin dia membantu kita, dan penggunaan sihirpun tidak ada artinya bagi seorang yang sudah memiliki sin-kang sekuat itu."
"Pinceng dapat membuatkan racun perampas ingatan...."
Kata pula Thay Hok Lama si ahli racun. Kim Sim Lama tetap menggeleng kepalanya.
"Biarpun dia sudah kehilangan ingatan, watak dasarnya tentu melarang dia untuk membantu kita. Dan apa artinya orang yang kehilangan ingatan untuk kita? Bahkan dia akan dapat menimbulkan kekacauan karena ketololannya. Tidak, agaknya kita tidak boleh mengharapkan dia membantu perjuangan kita dengan tenaganya."
"Lalu untuk apa lagi, susiok?"
Thay Pek Lama bertanya.
Kim Sim Lama tersenyum dan mukanya yang merah kekanak-kanakan itu kini kelihatan cerdik luar biasa.
Matanya mencorong, berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.
"Kita dapat mempergunakan dia untuk memperuncing hubungan yang sudah memburuk antara Dalai Lama dan para tosu. Kalau dia sebagai utusan para tosu sampai terbunuh oleh Dalai Lama, barulah kematiannya ada gunanya untuk kita."
Lima orang Tibet Ngo-houw mengangguk-angguk dan merekapun melihat manfaat itu.
"Akan tetapi, bagaimana caranya agar dia dapat terbunuh oleh Dalai Lama, atau agar para tosu menganggap kematiannya disebabkan oleh Dalai Lama?"
"Tentu saja satu-satunya jalan adalah agar dia mati di dalam istana Dalai Lama di Lasha!"
Kata Kim Sim Lama.
"Akan tetapi, bagaimana caranya menyelundupkan dia ke dalam istana?"
Tanya Thay Bo Lama. Kim Sim Lama tersenyum lagi.
"Tidak percuma pinceng menyebar orang-orang ke dalam Lasha. Biarlah kita menanti kesempatan yang baik. Sementara ini, kita tahan dia di dalam penjara lebih dulu."
"Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali, susiok! Dia amat lihai, kalau dibiarkan hidup di dalam penjara, bagaimana kalau sekali waktu dia memberontak dan berhasil lolos dari dalam penjara?"
Thay Ku Lama berseru khawatir.
"Ha-ha-ha-ha, mengapa engkau begitu bodoh? Tentu saja kita harus membuat dia tidak berdaya lebih dahulu. Nah sekarang racunmu perampas ingatan itu kita butuhkan, Thay Hok Lama."
Thay Hok Lama merasa girang karena dia dapat berjasa. Cepat dia mengeluarkan dua butir pel hitam.
"Ingatannya dihilangkan sama sekali ataukah untuk sementara, susiok?"
"Maksudmu bagaimana?"
Tanya Kim Sim Lama.
"Pinceng mempunyai dua butir pel racun perampas ingatan. Kalau diminumkan sebutir, maka dia akan kehilangan ingatan selama satu bulan saja. Akan tetapi, kalau dua butir sekaligus dimasukkan ke perutnya, racun yang bekerja sedemikian hebatnya sehingga semua syaraf ingatan di kepalanya akan hangus dan diapun akan kehilangan ingatan untuk selamanya."
Thay Hok Lama tertawa gembira karena bangga akan keahliannya tentang racun.
"Berikan sebutir saja. Mungkin kita memerlukan dia dalam keadaan sadar dan setelah sebulan, kalau perlu, kita bisa meminumkannya sebutir lagi."
Thay Hok Lama menghampiri tubuh Sie Liong yang masih pingsan, menotok lehernya sehingga dengan mudah dia membukakan mulut pemuda itu dan memaksakan sebutir pel ke dalam kerongkongannya.
Dengan arak yang dituangkan dengan paksa, maka pel itu memasuki perut Sie Liong tanpa diketahui pemuda yang masih pingsan itu.
"Ha-ha-ha, setelah siuman dia sudah akan lupa segala-galanya, susiok. Apakah boleh kami lempar dia di dalam kamar tahanan?"
Tanya Thay Hok Lama.
"Nanti dulu! Biarpun ingatannya hilang, kalau tenaganya masih demikian kuat dan nalurinya masih membuat dia mampu bersilat, hal itu tetap saja membahayakan."
"Jangan khawatir, susiok. Pinceng mempunyai racun lain yang akan meracuni darahnya sehingga kalau dia mengerahkan sin-kangnya dia akan roboh sendiri,"
Kata Thay Hok Lama dan kembali dia mengeluarkan obat bubuk yang dituangkan ke dalam perut Sie Liong melalui mulutnya.
Setelah itu, barulah Sie Liong dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang berpintu besi.
"Ha-ha-ha, dalam keadaannya seperti itu, dia tidak berbahaya lagi, seperti orang biasa saja. Tidak perlu kita sendiri yang berjaga, cukup dijaga anak buah saja,"
Kata Thay Hok Lama dan demikianlah, Sie Liong dilempar ke dalam kamar tahanan dan pemuda itu menggeletak pingsan di atas lantai kamar yang dingin itu.
Lima orang Tibet Ngo-houw meninggalkan kamar itu setelah menyuruh enam orang penjaga berja-ga di luar pintu besi dengan senjata di tangan.
Tidak perlu dijagapun, pemuda yang sudah makan dua macam obat beracun itu takkan mampu membebaskan diri dari dalam kamar penjara!
Bayangan itu berkelebat cepat sekali meninggalkan wuwungan rumah penginapan.
Bulan sepotong sudah naik tinggi dan sinarnya yang remang-remang menyinari muka orang yang berkelebat turun dari wuwungan genteng rumah penginapan itu.
Dia seorang pemuda tampan sekali, dengan wajahnya yang bulat bersih dan sepasang alis yang hitam lebat, hidungnya mancung dan matanya mencorong, mulutnya selalu tersenyum memikat dan pakaiannya mewah dan bersih.
Dia tersenyum-senyum ketika berhenti di kebun rumah penginapan itu, menoleh ke arah kamarnya yang berada di bagian tengah.
"Selamat tidur, suci yang manis,"
Bisiknya sambil tersenyum.
Pemuda ini adalah Coa Bong Gan, murid ke dua Koay Tojin yang melakukan perjalanan bersama sucinya, Yauw Bi Sian ke Lasha untuk mencari Pendekar Bongkok Sie Liong.
Seperti telah diceritdkan di bagian depan, mereka memasuki kota Lasha dan di kota ini mereka berhasil mendapat keterangan tentang Pendekar Bongkok yang kabarnya akan melakukan penyelidikan ke sarang Kim-sim-pai daerah Telaga Yam-so.
Tentu saja Bi Sian segera akan melakukan pengejaran ke sana, akan tetapi Bong Gan mencegahnya, mengingat-kan bahwa mereka harus lebih dulu menyelidiki Kim-sim-pai yang amat ditakuti penduduk dan di mana adanya sarang perkumpulan yang akan didatangi Sie Liong itu.
Selain alasan ini, juga ada alasan rahasia yang membuat Bong Gan menahan sucinya agar jangan hari itu juga pergi meninggalkan Lasha!
Tadi, di rumah makan, dia bertemu dengan seorang wanita yang demikian cantik manis sehingga membuat hatinya jungkir balik!
Yang membuat dia tergila-gila dan mengobarkan berahinya adalah ketika wanita yang cantik manis itu di rumah makan tadi jelas memberi tanda kepadanya dengan main mata!
Kerling dan senyum wanita itu demikian memikatnya sehingga dia tidak ragu lagi bahwa dia tidak bertepuk tangan sebelah.
Bukan dia saja yang bangkit berahinya, melainkan wanita itupun jelas tidak menyembunyikan perasaan hatinya yang tertarik kepadanya!
Dia harus dapat bertemu dengan wanita itu, malam ini juga!
Sebelum dia dan sucinya meninggalkan Lasha, dia harus dapat mendekati wanita itu untuk mempererat hubungan, untuk berkenalan.
Akan tetapi, setelah berhasil keluar dari rumah penginapan tanpa diketahui siapapun, dan sucinya tentu sudah tidur di kamar sebelah yang sudah gelap dan sunyi, dia menjadi bingung sendiri.
Ke mana dia harus mencari wanita itu?
Ada sesuatu pada wajah wanita itu yang amat menarik hatinya, yang secara mendadak saja menimbulkan gairah cintanya.
Tiba-tiba hidungnya kembang kempis.
Keharuman mawar demiktan menyolok hidungnya.
Apakah kebun ini banyak bunga mawarnya?
Akan tetapi ketika dia menoleh ke sekeliling, tidak ada pohon bunga mawar di situ.
Akan tetapi keharuman itu demikian keras dan semakin keras lagi.
Tiba-tiba ia merasa ada orang di belakang.
Cepat dia memutar tubuhnya dan....
benar saja, dalam jarak lima meter dia melihat sesosok tubuh yang ramping.
Akan tetapi, jarak itu terlampau jauh dalam keremangan itu untuk dapat mengenal mukanya.
Hanya terdengar suara kekeh wanita dan orang itupun meloncat dan berkelebat pergi.
Seorang wanita!
Cepat Bong Gan melakukan pengejaran.
Dia makin heran dan kagum.
Wanita itu sungguh memiliki ilmu berlari cepat yang hebat!
Dia mengejar terus.
Wanita itu melalui jalan-jalan sunyi dan setelah tiba di sebuah lapangan rumput dekat sungai kecil yang sunyi karena tempat itu merupakan pinggiran kota Lasha, dengan suara ketawa kecil masih terdengar, ia berhenti, seolah menanti.
Bong Gan meloncat ke depan wanita itu dan dia terpesona, terbelalak dan sejenak dia bengong.
Wanita itu adalah wanita cantik manis yang membuatnya tergila-gila tadi!
Betapa manisnya wajah yang bulat telur dengan dagu runcing itu.
Kulit muka dan leher itu putih mulus, manisnya bukan main!
"Hi-hik, kenapa engkau mengejarku?"
Terdengar suaranya yang merdu dan penuh godaan.
"Karena aku tergila-gila kepadamu, nona. Pertemuan antara kita di rumah makan itu telah membuat aku jatuh cinta padamu, nona!"
Jawab Bong Gan yang masih belum hilang kekaguman dan keheranannya karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa gadis cantik jelita yang membuatnya tergila-gila itu bukan wanita sembarangan saja, melainkan seorang wanita yang memiliki ilmu lari cepat yang agaknya tidak berada di bawah tingkatnya!
Wanita itu bukan lain adalah Pek Lan.
Sebagai seorang yang mata keranjang dan gila pria ganteng, begitu bertemu dengan Bong Gan tentu saja ia sudah tertarik bukan main.
Ia merasa betapa wajah pemuda ganteng itu tidak asing baginya, namun ia lupa lagi entah di mana pernah bertemu pemuda yang gagah dan ganteng itu.
Sayang pemuda itu sudah mempunyai pasangan, seorang ga-dis yang demikian cantik.
Akan tetapi justeru hal ini bahkan menimbulkan gairahnya, karena ia merasa ada saingan dan ia harus menang!
Ia sudah bosan dengan permainan cinta Thai-yang Suhu yang biarpun masih tampan dan gagah, narnun sudah tua itu.
Malam itu, setelah ia tadi memba-yangi pemuda dan gadis itu dan mengetahui rumah penginapan mereka, ia lalu pergi mengunjungi rumah penginapan dan tanpa disangka-sangkanya, ia melihat bayangan melayang turun dari wuwungan rumah penginapan.
Tentu saja ia terkejut dan heran, dan lebih besar lagi keheranannya ketika ia mengenal pemuda tampan yang digandrungi itulah bayangan yang amat gesit itu.
Hatinya menjadi semakin bergairah.
Kiranya seorang pemuda yang lihal!
Ia semakin tertarik, dan ia lalu memancing pemuda itu keluar dari daerah ramai, menuju ke tempat sunyi di tepi sungai kecil yang mengalir di dekat tembok kota Lasha.
Kini, mendengar pengakuan pemuda itu yang mengaku tergila-gila dan jatun cinta padanya, Pek Lan tertawa.
"Aih, benarkah engkau jatuh cinta padaku? Kalau begitu, aku harus mengujimu dulu apakah engkau cukup gagah untuk dapat berdekatan dengan aku. Sambut seranganku ini!"
Dan tiba-tiba Pek Lan sudah melakukan penyerangan dengan tangan kosong.
Gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga kuat sehingga terdengar angin berdesir.
Timbul kegembiraan di hati Bong Gan.
Kiranya bukan hanya pandai berlari cepat, pikirnya.
Dia harus menunjukkan bahwa dia cukup jantan dan gagah untuk dapat "berdekatan"
Dengan wanita cantik yang menantang ini.
Cepat diapun mengelak untuk menghindarkan serangan orang dan diapun membalas.
Tarnyata wanita itu memiliki gerakan yang gesit dan serangan Bong Gan dapat pula ia elakkan dengan cepat, kemudian ia melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat Bong Gan diam-diam menjadi se-makin kagum.
Kalau tadinya dia masih tersenyum mengejek dan hendak main-main, kini dia tahu bahwa wanita itu sungguh lihai dan dia sama sekali tidak boleh memandang ringan!
Segera dia mainkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu inti dari Koay Tojin.
Ilmu silat ini dapat dimainkan dengan tangan kosong, atau dapat pula dengan pedang, namun pada intinya ilmu silat ini adalah ilmu silat tongkat yang disebut Ta-kwi Tung-hoat (Silat Tongkat Pemukul IbliS).
Begitu dia memainkan ilmu silat ini, kedua tangannya merupakan sepasang tongkat yang ampuh sekali dan memiliki gerakan yang aneh sehingga Pek Lan beberapa kali mengeluarkan seruan kagum.
Namun, biarpun agak terdesak, ia masih dapat mengindarkan semua rangkaian serangan lawan.
Karena ia memang sudah tertarik kepada pemuda itu, maka ia tidak mau mengeluarkan ilmu pukulan yang amat dahsyat, yaitu Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam).
"Tahan dulu....!"
Serunya sambil melompat ke belakang.
Bong Gan berdiri dan tersenyum, merasa menang karena betapapum juga, dia tadi sudah berhasil mendesak lawan dengan ilmu silat Pemukul Iblis dan wanita itu yang minta berhenti.
Akan tetapi Pek Lan sudah mengeluarkan pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada sambil tersenyum.
Manis dan gagah sekali.
"Aku sudah melihat ilmu silat tangan kosongmu dan merasa kagum. Akan tetapi aku belum melihat bagaimana kehebatanmu kalau bermain senjata. Nah, keluarkan senjatamu dan mari kita main-main sebentar. Sebelum berkenalan, aku ingin mengenal kepandaianmu lebih dulu."
Ketika masih ikut Koay Tojin, baik Bong Gan maupun Bi Sian tidak pernah diperbolehkan menggunakan senjata tajam walaupun mereka diajar bermain ilmu tongkat Ta-kwi Tung-hoat yang dapat dimainkan dengan pedang.
Bi Sian sendiri juga tidak pernah menggunakan pedang.
Baru setelah ia mewarisi pedang Pek-lian-kiam dari ayahnya gadis itu membawa senjata tajam.
Demikian pula Bong Gan hampir tidak pernah membawa senjata tajam karena kedua kaki tangannya saja sudah cukup ampuh untuk menghadapi lawan yang bersenjata sekalipun.
Dia tidak gentar menghadapi gadis yang berpedang itu dengan tangan kosong, akan tetapi sebagai seorang laki-laki gila perempuan yang sudah banyak mengenal wanita, Bong Gan maklum akan watak wanita yang pada umumnya suka disanjung, suka dimanja dan dihargai.
Kalau kini dia maju dengan tangan kosong tentu wanita itu akan tersinggung dan merasa dipandang rendah.
Hal ini sungguh akan merugikan dirinya.
Dia lalu mengambil sebatang ranting pohon sebesar lengannya, dan sambil melintangkan tongkat sepanjang hampir dua meter itu dia berkata.
"Maaf, nona. Aku tidak pernah membawa senjata. Pula, kita adalah kenalan baru yang hendak mempererat hubungan, bagaimana aku tega untuk mengangkat senjata tajam melawanmu? Biarlah aku menggunakan tongkat ini saja."
Pek Lan mengerutkan alisnya.
"Engkau memandang rendah kepadaku?"
Bong Gan menahan senyumnya.
Tepat seperti yang diduganya.
Wanita ini tidak menyimpang dari watak wanita pada umumnya, tidak suka dipandang rendah dan ingin selalu dihargai.
Maka diapun cepat berkata.
"Aih, siapa berani memandang rendah kepadamu, nona? Dari pertandingan tangan kosong tadi saja aku tahu bahwa aku bukanlah tandinganmu! Apalagi kalau engkau berpedang, mana aku berani memandang rendah? Terus terang saja, satu-satunya senjata yang paling dapat kuandalkan adalah tongkat dan kalau ada tujuh belas macam senjata pilihan di sini, aku tetap akan memilih sebatang tongkat."
Lenyap kerut di antara sepasang alis yang hitam panjang melengkung indah itu.
"Bagus, kalau begitu, aku ingin melihat ilmu tongkatmu! Sambutlah pedangku ini!"
Dan iapun menyerang dengan gerakan cepat dan dahsyat sekali.
Bong Gan memang benar tidak berani memandang rendah.
Dia tahu bahwa lawannya ini hebat dan lihai sekali, maka diapun cepat menggerakkan tongkatnya dan memainkan Ta-kwi Tung-hoat yang merupakan ilmu inti yang diajarkan oleh Koay Tojin kepada dua orang muridnya.
Dan begitu ada tongkgt di tangannya dan setelah memainkan tongkat itu dangan ilmu Ta-kwi Tung-hoat, Bong Gan memang menjadi lihai sekali.
Tongkatnya itu bagikan seekor naga bermain di angkasa, berkelebatan dan manyambar-nyambar dengan ganasnya.
Pek Lan telah digembleng oleh Hek-in Kui-bo, seorang datuk sesat yang berilmu tinggi.
Namun, tingkat nenek itu masih kalah dibandingkan tingkat Koay Tojin, maka ilmu yang telah diserap oleh Bong Gan juga lebih tinggi tingkatnya dibandingkan ilmu yang dikuasai Pek Lan.
Kalau Pek Lan menggunakan kecurangan seperti yang diajarkan oleh gurunya, menggunakan senjata rahasia beracun dan sebagainya, baru mungkin ia dapat mengimbangi kelihaian Bong Gan.
Akan tetapi wanita itu sama sekali tidak ingin melukai Bong Gan apalagi membunuhnya.
In sudah menjadi semakin tertarik kepada pemuda tampan dan gagah, juga berkepandaian tinggi.
Sungguh seorang kawan dan rekan yang akan amat menyenangkan hati sebagai selingan kebosanannya harus melayani Thai-yang Suhu saja!
Bong Gan juga kagum.
Ilmu pedang yang dimainkan gadis itu harus diakuinya amat hebat sehingga andaikata dia tidak menggunakan tongkat, tentu dia akan kalah.
Bahkan dangan tongkatnyapun, dengan ilmu tongkatnya, dia hanya dapat mengimbangi permainan pedang, mampu melindungi diri dan juga membalas dengan sama dahsyatnya.
Pertandingan itu berjalan seru di bawah sinar bulan sepotong dan diam-diam keduanya merasa saling tertarik dan kagum.
Kemudian Bong Gan mengeluarkan seruan keras dan dia menggunakan jurus Menghitung Tulang Iga.
Ujung tongkatnya itu bagaikan berubah menjadi banyak dan menusuk-nusuk ke arah dada lawan, seperti hendak mematahkan setiap tulang iga di dada itu!
Pek Lan terkejut bukan main.
Ia sudah berusaha memutar pedangnya menangkis, namun ujung tongkat itu seperti hendak menyentuh dan menotok kedua payudaranya.
Memang ia berhasil melindungi diri dengan sinar pedangnya sehingga ujung tongkat tidak sampai menyentuhnya, namun angin pukulan tongkat itu tetap menyambar-nyambar dan seperti jari tangan yang meraba-raba dadanya!
Sejak tadi ia memang sudah kagum bukan main dan kini gairah berahinya bangkit, menyala dan barkobar.
Sambil mengeluarkan suara melengking panjang, Pek Lan menggerakkan pedangnya menangkis tongkat dan mengerahkan tenaga sin-kang untuk menempel.
Pedang bertemu tongkat dan melekat!
Pek Lan menggunakan tangan kirinya untuk mendorong ke arah dada lawan, akan tetapi pada saat itu, Bong Gan juga melepaskan tangan kanannya, memegang tongkat hanya dengan tangan kiri dan tangan kanan itu menyambut dorongan tangan kiri Pek Lan.
"Plakkk!"
Dua buah tangan dengan jari terbuka itu bertemu dan saling melekat pula, seperti pedang dan tongkat!
Mereka tak bergerak, saling pandang dalam jarak hanya satu meter lebih sehingga mereka dapat melihat wajah masing-masing cukup jelas.
Bong Gan tersenyum.
"Nona, engkau sungguh cantik jelita...."
Pek Lan juga tersenyum.
"Dan engkau perayu besar!"
"Tidak, nona. Aku bicara sejujurnya. Engkau memang cantik jelita dan manis sekali, dan ilmu kepandaianmu hebat, aku tergila-gila kepadamu, aku.... aku tidak ingin berkelahi denganmu, melainkan ingin bercinta denganmu, ingin mencium mulutmu yang manis itu...."
Senyum Pek Lan melebar.
Gairah berahinya sudah berkobar membakar seluruh dirinya karena sikap dan ucapan Bong Gan bagaikan minyak bakar disiramkan pada api nafsu berahinya.
Ia menggerakkan kepalanya.
Rambutnya yang digelung itu terlepas dan rambut yang panjang itu menyambar ke depan, melingkari leher Bong Gan.
Ia menarik dan muka pemuda itu mendekat.
Ketika dua mulut itu bertemu dalam ciuman yang penuh nafsu, pedang dan tongkat jatuh dan dua pasang lengan itu saling dekap, keduanya terguling ke atas rumput!
Mereka bagaikan dua orang yang mabok, mabok oleh nafsu berahi mereka sendiri.
Kedua orang ini memang cocok, keduanya mempunyai kelemahan yang sama, yaitu menjadi hamba nafsu berahi.
Mereka saling menumpahkan berahi mereka lewat kemesraan yang panas.
Tiba-tiba, masing-masing terbelalak dan melepaskan rangkulan, bangkit duduk dengan napas masih terengah-engah dan keringat membasahi dahi dan leher, saling tatap seperti orang terkejut.
"Kau.... kau.... Bong Gan....?"
"Kau.... Pek Lan....? Tadinva mereka memang hanya merasa pernah saling bertemu akan tetapi keduenya sudah saling tidak mengenal. Hal ini dapat dimaklumi, karena ketika mereka dahulu menjadi kekasih masing-masing, usia Pek Lan baru tujuh belas tahun dan usia Bong Gan bahkan baru tiga belas atau empat belas tahun! Kini, Pok Lan telah menjadi seorang wanita cantik yang matang, sedangkan Bong Gan menjadi seorang pemuda tampan yang sudah dewasa, bukan lagi remaja setengah kanak-kanak seperti dahulu. Pula, dahulu keduanya sama sekali tidak dapat bersilat dan kini keduanya telah menjadi orang yang lihai ilmu silatnya. Akan tetapi, setelah keduanya bermesraan, barulah mereka saling mengenal dan tentu saja keduanya terkejut bukan main, terheran, juga marasa girang sekali! "Pek Lan, ah kau Pek Lan, kekasihku...."
"Bong Gan, betapa aku rindu kepadamu....!"
Keduanya saling rangkul dan saling cium lagi, seperti dua orang kekasih yang sudah bertahun-tahun berpisah kini saling jumpa kembali.
Mereka agaknya sudah lupa bahwa dalam pertemuan terakhir dahulu mereka saling serang dengan penuh kemarahan dan dendam, saling menyalahkan karena keduanya terpakea harus pergi dari rumah gedung hartawan Coa karena tertangkap basah ketika mereka berdua melakukan hubungan gelap, berjina!
Kembali mereka tenggelam dalam gelombang nafsu berahi.
Akan tetapi tiba-tiba Pek Lan menahan dada Bong Gan yang menggelutinya, lalu mendorong pemuda itu sehingga keduanya kembali bangkit duduk.
"Ada apakah, Pek Lan, kekasihku? "Aku.... amat rindu kepadamu...."
Bong Gan berbisik, terengah-engah.
"Nanti dulu, aku melihat engkau bersama gadis cantik itu. Isterimukah ia?"
Tanya Pek Lan, bukan karena cemburu hanya ingin tahu saja.
Bong Gan tersenyum lega.
Disangkanya mengapa Pek Lan menghentikan percumbuan mereka, kiranya hanya untuk mengetahui hal itu.
"Bukan, sama sekali bukan. Ia bernama Yauw Bi Sian dan ia adalah kakak seperguruanku."
"Suci-mu? Hemm, kalau begitu ia tentu lihai sekali."
"Sudahlah, kenapa membicarakan orang lain? Engkau mengganggu saja....!"
Bong Gan merangkul dan kembali mereka tenggelam ke dalam lautan kemesraan yang penuh nafsu berahi.
Semalam suntuk, dua orang ini membiarkan diri mareka dipermainkan gelombang berahi.
Mereka lupa diri, lupa susila dan lupa sagalanya, karena yang terasa hanyalah gairah nafsu yang tak terkendalikan, nafsu yang menuntut pemuasan namun yang tak mengenal puas.
Dan setiap kali mereka mendapat waktu luang untuk istirahat, mereka bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing semenjak mereka berpisah.
"Sungguh aneh keadaan kita ini, Pek Lan,"
Kata Bong Gan sambil membelai rambut kekasihnya dalam rangkulan.
"Dahulu, ketika aku masih remaja, kita sudah saling jatuh cinta, kita bermain cinta. Kemudian, ketika kita terusir keluar dari rumah keluarga Coa, kita saling serang sampai engkau diambil murid Hek-in Kui-bo seperti yang kau ceritakan tadi, dan aku menjadi murid Koay Tojin. Kemudian, begitu bertem, kita saling tertarik lagi tanpa saling mengenal, kemudian kita bertanding lagi, sebelum saling bermain cinta."
"Engkau memang sudah kucinta sejak dulu, Bong Gan,"
Kata Pek Lan sambil mencium dagu pemuda itu.
"Dan engkau sampai tiba di Lasha ada keperluan apakah?"
"Aku diminta suci-ku untuk membantunya mencari musuh besarnya."
"Hemm, siapakah musuh besarnya?"
"Dia bernama Sie Liong dan berjuluk Pendekar Bongkok."
Pok Lan melepaskan rangkulannya, bahkan bangkit duduk seperti orang terkejut.
"Pendekar Bongkok? Dia....?"
Kalau gairah nafsu sudah terpuaskan dan mulai menipis, maka apa yang tadinya nampak amat indah menjadi berubah.
Bong Gan tidak begitu merasakan bentuk tubuh Pek Lan yang bermandikan sinar bulan itu, tidak seindah tadi.
Apalagi yang menjadi bahan percakapan kini menarik hatinya.
"Engkau sudah mengenal dia, Pek Lan?"
"Mengenalnya....?"
Pek Lan tersenyum getir. Tentu saja ia sudah mengenal Pendekar Bongkok, mengenalnya dengan cara yang paling pahit.
"Aku pernah bertemu dengan dia. Dia.... hemm, lihai bukan main. Jadi Pendekar Bongkok itu musuh besar suci-mu?"
"Ya, musuh besar akan tetapi juga pamannya, adik ibu kandungnya."
"Ehh? Ceritakan kepadaku, mengapa begitu, Bong Gan,"
Kata Pek Lan dan karena hawa mulai dingin menjelang subuh itu, ia menutupi tubuhnya dengan pakaiannya, meskipun belum ia pakai sebagaimana mestinya.
Bong Gan juga mulai mengenakan kembali pakaiannya.
Dia tidak begitu bargairah lagi setelah semua nafsu yang bergelora disalurkan dan terpuaskan.
Dia mulai teringat akan hal-hal lain seperti Bi Sian dan perjalanan mereka ke Lasha.
"Suci adalah keponakan Pendekar Bongkok karena Sie Liong itu adik kandung ibunya...."
"Tapi Pendekar Bongkok itu masih amat muda!"
"Memang selisih usia mereka tidak banyak. Pendekar Bongkok adalah murid Himalaya Sam Lojin dan Pek Sim Sian-su, yaitu subeng dari guruku, Koay Tojin. Pada suatu hari, Pendekar Bongkok telah.... eh, dia membunuh ayah kandung suci. Karena itu, suci mendendam dan mencari Pendekar Bongkok, pamannya itu. Karena tahu akan kelihaian pamannya, maka dia minta bantuanku dan kami berdua mengikuti jejak Pendekar Bongkok sampai ke Lasha."
"Hemm, kalau begitu, kita mempunyai kepentingan yang sama. Akupun dimusuhi Pendekar Bongkok dan dia kami anggap sebagai musuh. Kalau engkau suka bergabung dengan kami, Bong Gan, tentu keadaan kita akan lebih kuat. Apalagi, setelah kini saling bertemu, aku tidak ingin berpisah lagi denganmu. Entah bagaimana dengan engkau!"
Song Gan mendekat dan mencium pipi wanita itu.
"Engkau tahu perasaanku terhadapmu, Pek Lan, dan engkau tahu tidak ada kesenangan lebih besar bagiku melebihi kesenangan bekerja sama denganmu dan selalu berada di dekatmu. Akan tetapi, bagaimana dangan suci? Kalau ia marah kepadaku dan menentang kita, ia akan menjadi penghalang besar dan menambah musuh yang amat berbahaya bagi kita."
"Kenapa menjadi musuh? Bukankah ia memusuhi Pandekar Bongkok? Ajak saja ia bergabung dangan kami. Thai-yang Suhu, guruku dalam ilmu sihir itu tentu akan suka pula bergabung dangan kalian."
"Maksudmu pendeta yang kulihat bersamamu di rumah makan itu?"
Baru sekarang Bong Gan teringat akan pendeta itu.
"Jadi dia itu gurumu yang baru?"
"Dia sahabat subo Hek-in Kui-bo dan kini mengajarkan ilmu sihir kepadaku, menjadi guruku pula."
"Dan kalian hendak pergi ke mana-kah? Mengapa sampai pula di Lasha?"
"Kami hendak pergi menghadap Kim Sim Lama, ketua Kim-sim-pai...."
"Ah! Sie Liong Si Pendekar Bongkok juga ke sana!"
"Akan tetapi dia sebagai lawan Kim-sim-pai, sedangkan kami datang sebagai sababat. Guruku, Thai-yang Suhu, adalah seorang sahabat Kim Sim Lama dan kami datang untuk menggabungkan diri dengan Kim-sim-pai yang mempunyai cita-cita besar."
"Cita-cita bagaimana?"
Bong Gan mulai tertarik.
"Menggulingkan Dalai Lama dan menjadi penguasa seluruh Tibet!"
"Wah, pemberontakan? Apa hubungannya itu dengan kita? Aku tidak mau menjadi pemberontak di negeri asing!"
"Bong Gan, engkau bodoh. Kaukira akupun suka membantu pemberontakan orang Tibet? Kita bukan ikut memberontak, melainkan membantu Kim-sim-pai mencapai cita-citanya. Kalau mereka berhasil, kita tinggal pilih. Kedudukan tinggi dan kekuasaan di Tibet, atau kita dapat pulang ke timur membawa kekayaan yang amat besar. Di sini tempat harta yang amat banyak, emas permata, dan benda-benda aneh yang tak ternilai harganya."
Bong Gan mengerutkan alisnya.
"Jadi engkau dan Thai-yang Suhu hendak bersekutu dengan Kim-sim-pai, membantu pemberontakan mereka untuk mencari kedudukan tinggi atau harta benda?"
"Tentu saja, untuk apa lagi kalau bukan mencari keuntungan? Apa artinya hidup ini kalau tidak mencari keuntungan dan kesenangan?"
Bong Gan mengangguk-angguk.
"Hem, aku tertarik sekali, Pek Lan. Akan tetapi.... bagaimana dengan suci Yauw Bi Sian?"
"Kau ajak saja ia bersama kami."
"Uh, engkau tidak tahu bagaimana wataknya! Ia keras hati dan sudah pasti ia tidak akan suka kalau mendengar kita membantu Kim-sim-pai untuk suatu pemberontakan di Tibet. Ia.... ia.... hemm, condong untuk menentang segala yang dianggapnya jahat."
"Hi-hik, kaumaksudkan ia seorang pandekar wanita?"
Bong Gan mengangguk.
"Begitulah! Guru kami, Koay Tojin, menentang segala bentuk kejahatan dan...."
"Dan kau sendiri?"
Bong Gan menyeringai.
"Aku lebih suka mencari kesenangan dan keuntungan seperti engkau, Pek Lan."
"Kalau begitu, tinggalkan saja suci-mu yang pura-pura alim itu. Engkau ikut dangan kami bargabung dengan Kim-sim-pai dan persetan dengan gadis itu!"
"Ah, tidak bisa begitu, Pek Lan. Meninggalkan ia begitu saja? Ah, aku.... aku...."
"Hemmm, aku tahu! Engkau jatuh cinta kepada suci-mu yang cantik itu, bukan? Dasar mata keranjang kau!"
"Tidak banyak bedanya denganmu, Pek Lan."
Bong Gan membalas.
"Hemm, kalau begitu. Bujuk dan rayu ia agar suka bergabung dengan kami. Kalau ia begitu lihai, kami lebih senang lagi dan Kim Sim Lama tentu akan suka menerima bantuannya."
"Itulah sukarnya, Pek Lan. Terus terang saja, pernah aku menyatakan cintaku kepadanya dan ia.... ia agaknya tidak menolak, akan tetapi dengan tegas mengatakan bahwa aku dilarang bicara tentang cinta sebelum kami bertemu Pendekar Bongkok dan berhasil membalas kematian ayahnya. Kalau saja ia suka menerima cintaku sekarang juga.... kalau saja ia dapat menjadi milikku sekarang, tentu akan mudah mengajaknya bekerja sama denganmu."
Pek Lan terkekeh genit dan merangkul leher kekasihnya.
"Huh, kalau bukan aku yang mendengar ucapanmu itu, apakah orang tidak akan menjadi gila oleh cemburu? Engkau laki-laki mata keranjang! Baiklah, jangan khawatir, guruku Thai-yang Suhu tentu akan dapat membantumu menundukkan suci-mu itu. Akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu setelah engkau berhasil menundukkan suci-mu, engkau harus mengajaknya untuk bergabung dengan kami!"
Tentu saja Bong Gan merasa girang bukan main.
"Baik, aku berjanji! Dan iapun tentu akan setuju karena bukankah dengan bekerja sama, akan lebih mudah untuk menghadapi Pendekar Bongkok?"
"Dan setiap saat aku menginginkan engkau harus melayaniku dengan taat!"
Bong Gan tertawa.
"Tentu saja, dengan segala senang hati!"
"Nah, kalau begitu, sekarang aku menginginkan"."
Keduanya tertawa dan kembali mereka menyelam ke dalam lautan kemesraan yang panas dan memabokkan.
Mereka memasuki kota Lasha sambil menuntun kuda tunggangan mereka yang nampak lelah sekali.
Sie Lan Hong memandang ke kanan kiri, mengagumi bangunan-bangunan kuno yang kokoh dan megah di lereng bukit-bukit itu.
Sungguh sebuah kota yang aneh dan juga asing baginya.
Melihat daerah yang luas itu, perumahan yang berada di lereng-lereng bukit, orang-orang yang berlalu lalang di jalan-jalan lebar, iapun mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.
"Lie-toako, di tempat besar seperti ini, ke mana kita harus mencari puteriku dan adikku?"
Lie Bouw Tek tersenyum, dan memandang wanita itu dengan sinar mata lembut dan menghibur.
"Jangan khawatir, Hong-moi. Yang kita cari adalah dua orang Han, maka tentu tidak akan begitu sukar. Tidak banyak orang Han di sini, maka kalau mereka berada di sini, tentu ada yang melihat mereka."
"Sekarang, kita ke mana toako?"
"Kita mencari tempat penginapan dulu, menyewa dua buah kamar, dan membiarkan kuda kita mendapat perawatan, kemudian kita membersihkan diri, lalu makan. Setelah itu, baru kita pergi menghadap atau berusaha agar dapat diterima menghadap Dalai Lama."
"Menghadap Dalai Lama? Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa kedudukan Dalai Lama amat tinggi, hampir seperti kaisar kita, dan tidak akan mudah menghadap beliau."
"Benar, akan tetapi aku yakin akan dapat diterimanya, Hong-moi. Aku mengenal beliau pribadi, karena aku pernah membantu beliau ketika ada segerombolan penjahat hendak membunuh beliau."
"Akan tetapi, adikku Sie Liong mungkin pergi mencari Tibet Ngo-houw, kenapa engkau hendak mengajak aku menghadap Dalai Lama?"
"Begini, Hong-moi. Aku sendiri menerima tugas dari Kun-lun-pai untuk menyelidiki mengapa Tibet Ngo-houw memusuhi para tosu, bahkan memusuhi pula Kun-lun-pai. Dan di sepanjang perjalanan kita mendengar akan adanya perkumpulan Kim-sim-pai yang kabarnya hendak memberontak. Maka, kupikir sebaiknya kalau aku langsung saja bertanya kepada Dalai Lama tentang sikap Tibet Ngo-houw itu. Aku yakin di sana aku akan bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas. Dan tentang mencari adikmu dan puterimu, kukira orang-orang Dalai Lama akan lebih tahu, atau setidaknya akan lebih mudah kedua orang itu ditemukan kalau Dalai Lama membantu, menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki dan mencari."
Sie Lan Hang mengangguk-angguk.
Memang ia tahu bahwa Lie Bouw Tek adalah seorang pria yang hebat, yang gagah perkasa, cerdik dan juga berpengalaman.
Ia merasa lemah dan bodoh sekali berada di samping pria ini, dan ia merasa aman dan terlindung.
Alangkah bedanya ketika ia masih menjadi isteri Yauw Sun Kok.
Ia tak pernah merasa tenteram, tak pernah merasa aman bahkan selalu merasa gelisah, takut dan juga sakit hati.
Lie Bouw Tek yang bukan apa-apanya, tidak ada hubungan apapun antara mereka telah bersikap demikian baiknya!
Begitukah sikap setiap orang pendekar, ataukah ada sesuatu yang istimewa dalam hubungan di antara mereka?
Mengingat akan hal ini, seringkali Lan Hong tersipu malu.
Tidak, bantahnya kepada diri sendiri.
Ia hanya seorang janda yang mempunyai seorang puteri lagi.
Ia bukan seorang gadis muda!
Sedangkan Lie Bouw Tek adalah seorang pendekar gagah perkasa dan budiman, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal!
Betapa mungkin....
ah, ia telah mengharapkan terlalu jauh, sungguh tidak tahu malu!
Lan Hong menurut saja ketika Lie Bouw Tek mengajaknya mencari rumah penginapan.
Mereka menyewa dua buah kamar yang berdampingan dan menyerahkan dua ekor kuda mereka kepada pelayan untuk diberi makan.
Setelah mandi, dengan tubuh terasa segar dan pakaian bersih menggantikan pakaian mereka yang penuh debu, keduanya lalu pergi ke rumah makan.
Mereka tidak terlalu menarik perhatian, seperti sepasang suami isteri saja.
Lie Bouw Tek sendiri walaupun dia seorang pendekar besar, namun dia tidak menonjolkan diri dan pedang pusakanyapun tersembunyi di balik baju luarnya.
Atas nasihat Lie Bouw Tek pula, Sie Lan Hong juga menyembunyikan pedangnya sehingga tidak terlalu menyolok.
Pedang Lan Hong memang hanya pedang pendek, maka setelah diselipkan di ikat pinggang, ujung sarung pedang masih tertutup baju, dan gagangnya juga tidak nampak walaupun ada kalanya ujung itu menonjol keluar.
Setelah makan, merekapun pada pagi hari itu juga menuju ke istana Dalai Lama di lereng bukit.
Suasana di bukit itu sungguh nyaman.
Terdapat beberapa buah taman bunga yang indah, dan suasananya aman dan tenteram.
Para pendeta Lama yang kadang-karang bersimpang jalan dengan mereka, bersikap hormat dan ramah.
Akan tetapi ketika mereka tiba di pintu gerbang memasuki daerah istana itu, beberapa orang pendeta Lama menghadang mereka.
Biarpun sikap mereka hormat, namun mereka dengan tegas mengatakan bahwa orang luar tidak diperkenankan memasuki daerah itu tanpa ijin.
"Harap kalian memaafkan kami,"
Kata kepala jaga dengan sikap hormat.
"Kalau hendak berjalan-jalan dan menikmati keadaan, harap lakukan itu di luar daerah istana. Tak seorangpun, tanpa ijin, diperbolehkan memasuki daerah dalam pintu gerbang."
Lie Bouw Tek tersenyum dan menjura dengan hormat, diikuti pula oleh Lan Hong.
"Harap saudara sekalian suka memaafkan saya. Memang saya sengaja datang ke Lasha untuk menghadap Dalai Lama. Harap saudara sudi melaporkan ke dalam dan mengatakan bahwa kami ingin menghadap Dalai Lama karena ada suatu keperluan yang amat penting."
"Omitohud....!"
Kepala jaga itu berseru.
"Apakah sicu (tuan yang gagah) mengira akan demikian mudah saja bertemu dengan beliau? Tanpa panggilan bagaimana sicu dapat diperkenankan menghadap? Pinceng (saya) sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau di pagi hari ini, tanpa alasan yang cukup kuat."
"Sobat, harap sampaikan saja ke dalam bahwa saya adalah utusan dari Kun-lun-pai yang ingin menyampaikan sesuatu yang teramat penting untuk Dalai Lama,"
Kata pula Lie Bouw Tek dengan sikap dan suaranya yang tenang berwibawa.
Mendengar disebutnya Kun-lun-pai, sikap para pendeta penjaga itu berubah dan kepala jaga memandang dengan sikap lebih hormat.
"Omitohud, kiranya sicu utusan dari Kun-lun-pai? Harap sicu menyampaikan surat dari ketua Kun-lun-pai lebih dahulu kepada Dalai Lama melalui kami. Setelah surat itu kami sampaikan, tentu sicu diperkenankan masuk menghadap."
Akan tetapi Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya.
"Sobat, sampaikan saja kepada Dalai Lama bahwa saya, Lie Bouw Tek murid Kun-lun-pai, mohon menghadap. Kalau mendengar nama saya, tentu beliau akan sudi menerimaku."
Pada saat itu, seorang pendeta Lama yang usianya sudah lima puluh tahun lebih berjalan tenang dari sebelah dalam.
Begitu melihat Lie Bouw Tek, diapun cepat menghampiri dan menjura dengan sikap hormat.
"Omitohud.... kiranya Lie Taihiap yang berada di sini! Selamat datang, taihiap. Ada keperluan apakah gerangan yang membawa taihiap datang berkunjung ke Lasha?"
Lie Bouw Tek tidak mengenal pendeta Lama itu, akan tetapi dia tahu bahwa pendeta ini tentu seorang di antara mereka yang dulu tahu akan bantuan yang dia berikan kepada Dalai Lama.
Diapun cepat memberi hormat dan berkata dengan lembut.
"Selamat bertemu, losuhu. Saya datang untuk mohon menghadap Dalai Lama karena ada suatu hal yang amat penting harus saya sampaikan kepada beliau. Tolonglah, harap mintakan ijin kepada beliau agar saya diperkenankan menghadap sekarang juga."
"Baik, taihiap. Tunggulah sebentar di sini!"
Kata pendeta itu yang bergegas masuk ke arah bangunan istana yang megah itu.
Kini para pendeta jaga bersikap hormat dan ramah, bahkan mempersilakan Bouw Tek dan Lan Hong untuk duduk menanti di dalam gardu penjagaan.
Tak lama kemudian, muncullah enam orang pendeta Lama yang merupakan sebuah pasukan kecil berbaris menghampiri tempat itu.
Mereka ditemani oleh pendeta Lama yang tadi menegur Bouw Tek, yang kini tersenyum ramah.
"Silakan, taihiap. Dalai Lama yang agung mengundang taihiap."
"Akan tetapi, saya datang bersama Sie-toanio ini, harap agar iapun diperkenankan menemani saya untuk menghadap Dalai Lama."
Pendeta itu mengerutkan alisnya.
"Tidak biasanya Dalai Lama mau menerima tamu wanita. Akan tetapi karena toanio ini datang bersamamu, maka silakan masuk. Terserah kepada Dalai Lama sendiri nanti setelah ji-wi (kalian berdua) tiba di luar ruangan tamu, apakah toanio ini diperkenankan ikut masuk ataukah dipersilakan menunggu di luar ruangan."
Lie Bouw Tek mengangguk dan bersama Lan Hong, dia lalu mengikuti enam orang pendeta itu yang mengawal dan menjadi penunjuk jalan.
Setelah mereka memasuki istana, tidak seperti Lie Bouw Tek yang pernah satu kali masuk ke istana ini, Lan Hong memandang ke kanan kiri dengan bengong.
Ia terpesona menyaksikan segala keindahan yang terdapat di istana itu.
Ukir-ukiran yang indah sekali, marmar, emas, perak, sutera beraneka warna!
Ia merasa seperti memasuki sebuah istana dalam mimpi!
Patung-patung logam, marmar, perak atau emas yang ukirannya amat indahnya, lukisan-lukisan.
Pendeknya, selama hidupnya belum pernah Lan Hong menyaksikan keindahan seperti itu.
Ketika mereka tiba di luar sebuah pintu besar yang terjaga, enam orang pendeta pengawal itu mempersilakan mereka menanti sebentar.
Seorang di antara mereka memasuki ruangan di balik pintu besar itu, dari mana keluar keharuman cendana yang nyaman.
Tak lama kemudian, pendeta itu keluar lagi dengan wajah cerah.
"Taihiap dan toanio dipersilakan masuk untuk menghadap Yang Agung Dalai Lama!"
Dengan wajah gembira Lie Bouw Tek lalu mengajak Sie Lan Hong menasuki ruangan itu.
Akan tetapi Sie Lan Hong sendiri agak gemetar ketika melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan nampak sunyi karena kosong.
Di sudut paling belakang, nampak ada seorang pria duduk di atas sebuah kursi yang besar dan terukir indah, mengenakan jubah dan kepalanya tertutup topi pendeta.
"Selamat datang, pendekar perkasa Lie Bouw Tek dan toanio! Silakan duduk!"
Lie Bouw Tek cepat maju memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada dan membungkuk sampai dalam.
Sie Lan Hong juga memberi hormat, akan tetapi ia merasa heran bukan main.
Tadinya ia membayangKan bahwa Dalai Lama yang mengepalai para pendeta Lama di Tibet, tentu seorang kakek yang tua renta keriputan dan buruk.
Akan tetapi ternyata sama sekali tidak demikian!
Pendeta yang duduk menyendiri itu usianya hanya beberapa tahun saja lebih tua dari Lie Bouw Tek, dan wajahnya tampak bersih!
Wajah yang cerah dengan sepasang mata yang terang dan jernih, senyum yang terbuka dan seluruh gerak geriknya membayangkan kesabaran, keagungan dan kebesaran hati.
Setelah Bouw Tek dan Lan Hong duduk di atas kursi yang agaknya sudah disediakan untuk mereka, menghadap ke arah Dalai Lama, nampaklah oleh mereka bahwa di belakang Dalai Lama terdapat sehelai kain sutera putih dan di balik kain sutera itu berdiri beberapa orang pendeta Lama yang tak bergerak bagaikan arca-arca mati saja.
Bouw Tok maklum bahwa sedikitnya sepuluh orang pendeta Lama berdiri di sana, dan mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, yang merupakan pasukan pengawal yang melindungi keselamatan Dalai Lama.
Dalai Lama sendirl memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ditambah penjagaan pasukan pengawal pribadi ini, dan adanya ratusan orang pendeta Lama di kompleks istana itu, maka tentu saja tempat itu amatlah kuatnya.
Apalagi di benteng yang setiap waktu siap mentaati perintah Dalai Lama.
"Nah, menurut laporan tadi engkau datang sebagai utusan Kun-lun-pai, maka katakanlah semua keperluanmu berkunjung ke sini, taihiap."
Dari tempat duduknya, Bouw Tek memberi hormat kepada orang pertama yang paling berkuasa di Tibet itu.
"Mohon dimaafkan kelancangan saya. Karena para pimpinan Kun-lun-pai yang mengutus saya itu hanya menyampaikan pesan melalui beberapa orang murid yang menyusul saya, maka saya tidak membawa surat perintah tertulis. Sebetulnya, tugas saya dari Kun-lun-pai adalah untuk menyelidiki Tibet Ngo-houw, akan tetapi ka-rena saya merasa yakin akan dapat paduka terima dengan baik, maka saya langsung saja menghadap paduka untuk mohon pertimbangan dan kebijaksanaan."
Dalai Lama masih tersenyum walaupun pandang matanya kehilangan cahaya kelembutannya sebentar mendengar disebutnya nama Tibet Ngo-houw tadi.
"Tibet Ngo-houw? Taihiap, ada urusan apakah dengan Tibet Ngo-houw?"
Jelas bagi Bouw Tek bahwa pertanyaan itu memancing.
Dia merasa heran.
Sejak dahulu semua orang juga tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama yang terkenal sebagai pembantu-pembantu Dalai Lama yang dipercaya.
Dan mungkin saja mereka kinipun berada di balik sutera putih di belakang Dalai Lama itu.
Mengapa Dalai Lama masih bertanya lagi?
"Ampunkan saya, bukan maksud saya untuk mengadu, hanya saya diutus oleh para pimpinan Kun-lun-pai untuk menyelidiki mengapa Tibet Ngo-houw datang ke Kun-lun-san, bukan hanya mencari dan menyerang dengan maksud membunuhi para pertapa dan tosu yang berasal dari Himalaya dan kini bertapa di sana, akan tetapi juga bahkan mereka berlima itu memusuhi Kun-lun-pai.
Karena mereka itu mengaku diutus oleh paduka, maka saya kira lebih baik saya langsung saja bertanya kepada paduka mengenai sepak terjang Tibet Ngo-houw itu."
Dalai Lama mengangguk-angguk, agaknya sama sekali tidak heran atau terkejut mendengar ucapan Bouw Tek ini, bahkan terdengar dia berkata lirih, seperti kepada diri sendiri.
"Hemm, sampai begitu jauh mereka berusaha memburukkan nama kami?"
Dalai Lama bertepuk tangan dua kali dan mun-cullah seorang pendeta Lama dari balik kain sutera putih.
Dia seorang pendeta yang bertubuh tinggi besar, bersikap agung dan usianya sudah enam puluh tahun lebih, mukanya persegi seperti muka singa, membayangkan kekerasan dan kekokohan, akan tetapi sinar matanya lembut.
Dia menjura di depan Dalai Lama, menanti perintah.
"Lie-taihiap, engkau tentu masih ingat kepada Kong Ka Lama yang bijaksana dan sakti ini. Nah, dialah yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Maafkan, tiba saatnya bagi saya untuk melakukan meditasi, maka selanjutnya, rundingkanlah segalanya dengan Kong Ka Lama."
Setelah berkata demikian, Dalai Lama bangkit berdiri.
Bouw Tek cepat bangkit berdiri diikuti oleh Lan Hong dan setelah sedikit mengangguk kepada mereka Dalai Lama lalu melangkah masuk dari pintu di belakang sutera putih, meninggalkan Bouw Tek dan Lan Hong berdua dengan pendeta Lama yang bernama Kong Ka Lama itu.
Setelah Dalai Lama dan para pendeta yang mengawalnya memasuki pintu yang segera tertutup kembali, barulah Kong Ka Lama menghadapi Bouw Tek dan Lan Hong, membuat gerakan dengan tangan menunjuk pintu samping dan berkata.
"Taihiap dan toanio, mari kita bicara di ruangan sebelah."
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, melalui pintu samping mereka memasuki sebuah ruangan lain yang tidak begitu besar.
Ruangan inipun kosong dan hanya ada sebuah meja dan beberapa buah kursi.
Kong Ka Lama mempersilakan dua orang tamu itu duduk dan dia sendiripun duduk menghadapi mereka.
Tentu saja Lie Bouw Tek masih ingat kepada pendeta Lama ini.
Kong Ka Lama atau artinya Lama Salju Putih adalah seorang di antara jagoan Tibet yang mengawal Dalai Lama.
Bahkan dulu, ketika Dalai Lama dalam perjalanan keluar Lasha dihadang para pemberontak yang menyerangnya, Kong Ka Lama yang mengepalai para pengawal melakukan perlawanan dan melindungi Dalai Lama yang berada di dalam tandu.
Pada waktu itulah kebetulan dia melakukan perjalanan dan melihat peristiwa itu, lalu dia turun tangan membantu para pendeta Lama, menghalau para penghadang sehingga akhirnya Dalai Lama dapat diselamatkan.
Kong Ka Lama adalah seorang pendeta Lama yang berilmu tinggi dan masih saudara seperguruan dengan lima orang Tibet Ngo-houw, maka dapat dibayangkan kelihaiannya.
"Taihiap, pinceng (saya) memenuhi perintah Dalai Lama untuk memberi keterangan dan penjelasan kepada taihiap tentang sepak terjang Tibet Ngo-houw terhadap para tosu yang berasal dari Himalaya dan yang kini mengungsi ke Kun-lun-san itu. Mungkin taihiap sudah mendengar betapa yang mulia Dalai Lama dahulunya terlahir di sebuah dusun dan melihat bahwa beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang tua, maka para pandeta Lama yang ketika itu dipimpin oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama mengambil calon Dalai Lama baru itu secara paksa. Hal ini diketahui oleh seorang pertapa Himalaya dan terjadilah bentrokan ketika pertapa itu membela orang-orang dusun yang hendak mempertahankan anak itu sehingga akibatnya, tiga orang pendeta Lama tewas. Akan tetapi anak itu dapat dibawa ke sini. Kemudian, dengan bimbingan Kim Sim Lama, anak itu diangkat menjadi Dalai Lama."
Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong mendengarkan dengan penuh perhatian.
Lie Bouw Tek tidak merasa heran karena dia pernah mendengar sendiri dari Dalai Lama, yaitu ketika dia menolongnya baberapa tahun yang lalu bahwa Dalai Lama ketika kecilnya menimbulkan keributan karena dia dipaksa oleh para pendeta Lama ke Tibet sehingga timbul pertempuran antara para pendeta Lama dan orang-orang dusun yang mempertahankannya.
"Itulah yang aneh, lo-suhu,"
Katanya.
"Kalau sedikit banyak para tosu Himalaya sudah berjasa membela Dalai Lama ketika masih kecil, kenapa sekarang Dalai Lama yang mulia dan adil bahkan menyuruh Tibet Ngo-houw untuk membunuhi para tosu dari Himalaya, bahkan memusuhi para tosu Kun-lun-pai?"
Kong Ka Lama menarik napas panjang.
"Omitohud.... memang demikianlan agaknya yang dikehendaki mereka yang hendak merusak nama baik yang mulia Dalai Lama. Dengarkah, taihiap, akan pinceng lanjutkan penjelasan itu."
Kong Ka Lama berhenti sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.
"Karena ketika diangkat menjadi Dalai Lama, pemimpin kami itu masih belum dewasa, maka kekuasaan dipegang sementara oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama yang sudah berpengalaman. Adalah Kim Sim Lama ini yang dahulu mengamuk, mengirim para pendeta Lama ke Himalaya dan menyerang para tosu dan pertapa Himalaya. Tindakan itu dia lakukan karena dendam, yaitu karena kematian tiga orang pendeta Lama ketika terjadi pertempuran memperebutkan Dalai Lama ketika masih kecil. Perbuatan itu mendatangkan keributan dan banyak para tosu dan pertapa tewas, terluka dan lebih banyak lagi yang melarikan diri meninggalkan Himalaya. Di antaranya banyak yang mengungsi ke Kun-lun-san."
Lie Bouw Tek mengangguk-angguk.
"Akan tetapi, kiranya peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan plhak Kun-lun-pai, lo-suhu."
"Omitohud, memang tidak ada hubungannya. Harap taihiap dengarkan selanjutnya, nanti taihiap akan mengerti. Beberapa tahun kemudian, setelah Dalai Lama menjadi dewasa dan mengerti, beliau mendengar tentang segala sepak terjang Kim Sim Lama yang menjadi wakil, juga pembimbingnya ketika beliau masih kecil. Beliau terkejut sekali. Pertama, beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang selalu hidup suci, maka tentu saja beliau tidak suka mendengar tentang permusuhan, apalagi dendam kebencian dan bunuh membunuh. Apalagi yang dikejar-kejar adalah para pertapa, para tosu karena dahulu seorang di antara mereka pernah membantu penduduk dusun yang mempertahankan dirinya yang hendak dibawa dengan paksa oleh para pendeta Lama. Juga masih banyak kebijaksanaan yang diambil Kim Sim Lama tidak disetujuinya. Beliau menegur Kim Sim Lama dan terjadilah bentrokan!"
"Hemm, terjadi pemberontakan, begitukah maksud lo-suhu?"
Pendeta Lama itu mengangguk.
"Semacam itulah. Dalai Lama tidak suka meributkan peristiwa itu, karena hanya akan memukul nama baik Tibet sendiri. Kim Sim Lama dapat ditundukkan dan dia pun meninggalkan Lasha, tidak mau lagi membantu Dalai Lama. Bahkan dia membentuk suatu perkumpulan yang disebut Kim-sim-pai yang berpusat di sekitar Telaga Yam-so, sebelah selatan Lasha. Akan tetapi, karena sampai sekarang mereka tidak pernah melakukan gerakan pemberontakan, Dalai Lama mendiamkan saja, bahkan memesan kepada kami semua agar tidak membuat keributan dengan Kim-sim-pai, apalagi mengingat bahwa Kim Sim Lama adalah seorang tokoh tua di sini dan sudah banyak jasanya dahulu ketika menjadi wakil Dalai Lama."
"Akan tetapi, bagaimana dengan Tibet Ngo-houw yang mengamuk di Kun-lun-san?"
"Omitohud....! Sungguh hal itu sama sekali tidak kami ketahui sebelumnya, taihiap. Agaknya, Yang Mulia Dalai Lama terlalu memberi hati kepada mereka dan agaknya sudah tiba saatnya untuk menghentikan nafsu mereka yang merajalela. Hendaknya taihiap ketahui banwa Tibet Ngo-houw merupakan tokoh-tokoh Tibet yang juga menjadi anak buah Kim Sim Lama. Jelas bahwa perbuatan Tibet Ngo-houw itu sengaja mereka lakukan, bukan lagi uutuk membalas dendam sekarang, melainkan terutama sekali untuk memburukkan nama baik Dalai Lama, atau untuk mengadu domba agar para tosu, dan juga Kun-lun-pai, memusuhi Dalai Lama."
"Ah, betapa liciknya!"
Bouw Tek berseru.
"Sekarang baru saya mengerti, lo-suhu. Untung bahwa saya langsung datang menghadap Dalai Lama sehingga memperolen keterangan yang teramat penting ini."
"Omitohud, sukurlah kalau taihiap sudah dapat mengerti. Harap taihiap sudi menyampaikan maaf kami kepada Kun-lun-pai dan para tosu di pegunungan Kun-lun-san dan suka memberitahukan keadaan yang sesungguhnya. Bahwa Dalai Lama sama sekali tidak memusuhi para tosu, dan bahwa semua itu, sejak dahulu, adalah tindakan yang diambil oleh Kim Sim Lama."
"Akan tetapi, apakah perbuatan itu harus didiamkan saja? Jelas bahwa Kim Sim Lama melakukan perbuatan menyeleweng dan jahat terhadap nama baik Dalai Lama...."
"Lie-taihiap, hal itu merupakan urusan dalam kami sendiri. Dalai Lama tentu akan mengambil kebijaksanaan dan apapun yang diambilnya, kebijaksanaan itu tidak ada hubungannya dengan pihak luar. Oleh karena itu, kami harap agar taihiap juga tidak mencampuri. Bahkan pinceng yakin bahwa yang mulia Dalai Lama sendirilah yang akan bertindak. Nah, kiranya cukup jelas, taihiap. Sekarang kami persilakan ji-wi kembali ke luar istana, dan kalau mungkin secepatnya meninggalkan Lasha agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Pendeta Lama itu bangkit berdiri. Bouw Tek dan Lan Hong bangkit berdiri.
"Maaf, lo-suhu. Ada sedikit lagi pertanyaan dari kami. Harap saja lo-suhu suka membantu kami."
"Hemm, urusan apakah itu, taihiap?"
"Sie-toanio ini datang ke Lasha untuk mencari dua orang, lo-suhu. Yang pertama adalah puterinya, seorang gadis bernama Yauw Bi Sian yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, dan yang ke dua adalah adiknya yang bernama Sie Liong dan terKenal dengan julukan Pendekar Bongkok. Kami perkirakan merekapun datang ke Lasha. Kalau barangkali lo-sunu dapat memberi keterangan tentang mereka...."
Pendeta Lama itu mengelus jenggotnya yang dibiarkan memanjang, alisnya berkerut dan dia mengangguk-angguk sambil memandang kepada Sie Lan Hong.
"Hemm, jadi, toanio ini kakak dari Pendekar Bongkok yang terkenal itu? Toanio, tentang puteri toanio ini, kami tidak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau Pendekar Bongkok.... hemm, namanya sudah sampai pula ke dalam istana ini. Memang dia pernah berada di Lasha, kabarnya bersama seorang gadis peranakan Tibet Han. Dan kebetulan pula menurut kabar yang kami dengar, dia pernah bentrok dengan seorang anggauta Kim-sim-pai." (Lanjut ke
Jilid 22) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22
"Aih, Terimakasih, lo-suhu. Dapatkah lo-suhu memberitahu, di mana dia sekarang?"
Tanya Lan Hong yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara.
"Menurut penyelidikan para anak buah kami yang diam-diam kami taruh di mana-mana untuk menjaga keamanan Lasha, ada yang melihat PendeKar Bongkok mendatangi sarang Kim-sim-pai. Akan tetapi karena anak bush kami itu dipesan dengan keras agar jangan sampai terlibat dalam urusan Kim-sim-pai, dan karena tidak ada sangkut-pautnya dengan kami, maka kamipun tidak tahu apa yang terjadi di sana. Nah, kiranya cukup keterangan kami, taihiap dan toanio."
Lie Bouw Tek tidak berani mengganggu lagi dan diapun menghaturkan Terimakasih, lalu meninggalkan istana itu bersama Lan Hong.
Wanita itu menahan-nahan perasaannya, dan baru setelah mereka keluar dari istana itu, Lan Hong berkata dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Aih, toako. Apa yang hurus kulakukan sekarang? Aku ingin cepat menyusul dan mencari Sie Liong. Aku harus lebih dahulu bertemu dia sebelum Bi Sian mendahuluiku. Aih, ngeri aku membayangkan mereka saling bertemu sebelum aku menemui adikku...."
"Tenanglah, Hong-moi. Biar aku akan melakukan penyelidikan ke daerah Telaga Yam-so untuk mencari Pendekar Bongkok dan aku akan mengajaknya ke sini menemuimu."
"Tidak! Aku harus ikut, toako. Aku harus cepat menemukannya. Sekarang juga."
"Akan tetap hal itu berbahaya sekali, Hong-moi. Tentu engkau tadi sudah mendengar keterangan Kong Ka Lama. Daerah telaga Yam-so itu menjadi sarang Kim-sim-pai dan mereka adalah para pendeta Lama yang memberontak. Banyak terdapat orang sakti di sana, Hong-moi. Lebih baik engkau menanti saja di rumah penginapan dan biarlah aku yang akan mencari adikmu di sana."
"Toako, tidak boleh begitu. Yang mempunyai kepentingan adalah aku, bagaimana mungkin engkau yang susah payah menempuh bahaya dan aku yang enak-enak menanti sambil tiduran di kamar? Tidak, aku harus ikut! Aku tidak takut menghadapi bahaya dan aku juga dapat menjaga diriku sendiri, toako!"
"Akan tetapi, sungguh aku amat mengkhawatirkan keselamatan dirimu, Hong-moi. Bagaimana kalau sampai datang ancaman bahaya dan aku sampai tidak mampu melindungi dirimu? Aih, Hong-moi, tak dapat aku membayangkan hal itu terjadi...."
Suara pendekar perkasa itu tiba-tipa agak gemetar.
".... tidak, aku tidak dapat membiarkan engkau terancam bahaya. Aku.... aku akan merasa menyesal selama hidupku!"
Melihat pendekar itu bicara seperti itu, seperti tanpa disadarinya bahwa dia membuka rahasia hatinya, tiba-tiba wajah Lan Hong berubah merah dan iapun tersipu.
Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan yang menegangkan, tentu ia akan semakin tersipu malu, walaupun ada rasa bahagia dan bangga menyelinap di dalam hatinya.
"Toako, banyak Terimakasih atas perhatianmu kepada diriku, akan tetapi sebaliknya, toako. Kalau engkau pergi sendiri meninggalkan aku untuk mencari adikku, kemudian terjadi sesuatu de-ngan dirimu, maka akupun akan merasa menyesal selama hidupku, bahkan tak mungkin lagi aku menghadapi kehidupan yang kejam ini seorang diri saja...."
Keduanya menunduk dan dalam saat seperti itu, biarpun mereka tidak secara langsung mengucapkan pengakuan, namun keduanya merasa benar betapa keduanya saling membutuhkan, saling manyayang, saling mencinta dan merasa ngeri kalau-kalau saling kehilangan!
"Baiklah, Hong-moi.
Kita pergi bersama, akan tetapi kita harus berhati-hati dan membuat persiapan.
Aku akan melakukan penyelidikan yang lebih seksama dulu.
Besok baru kita berangkat ke Telaga Yam-so."
"Terimakasih, toako. Selama hidupku, aku tidak akan pernah dapat melupakan semua budi kebaikanmu ini,"
Kata Lan Hong lirih dengan suara mengandung isak haru.
Telaga Yam-so merupakan sebuah telaga yang besar dan luas di sebelah selatan.
Orang Tibet menyebutnya dalam Bahasa Tibet sebagai Yamzho Yumco (Telaga Yamso).
Letaknya di sebelah selatan sungai besar Brahmaputra yang amat panjang.
Sungai itu mengalir di sepanjang negara Tibet sampai membelok ke selatan dan berakhir di selatan negara Bangladesh sebelah timur India.
Daerah inilah, dari Sungai Brahmaputra sampai ke Telaga Yamso, menjadi daerah yang dikuasai Kim-sim-pai!
Daerah ini amat sunyi, penuh dengan hutan belantara yang liar, yang sambung menyambung sampai ke selatan, sampai ke Pegunungan Himalaya.
Dusun-dusun hanya dihuni orang-orang pribumi Tibet, dan ada pula peranakan Tibet Bhutan dan beberapa orang peranakan India.
Namun mereka adalah orang-orang gunung yang sederhana, dan agaknya Kim-sim-pai tidak mengusik mereka yang hidup tenang dan damai karena setiap harinya mereka hanya mengurus mencari makan dengan jalan berburu, beternak kecil-kecilan, dan ada pula yang menjadi penangkap ikan di sepanjang Sungai Brahmaputra atau Telaga Yamso.
Akan tetapi, akhir-akhir ini bermunculan banyak orang Nepal di daerah itu dan mulailah terdapat gangguan-gangguan yang mengusik kehidupan yang tadinya aman damai dari para penghuni dusun di daerah itu.
Orang-orang Nepal ini adalah anak buah dari pangeran Nepal pelarian yang kini telah bersekutu dengan Kim-sim-pai.
Pangeran itu, Janghar Singh, telah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan dia berjanji untuk membantu gerakan para pendeta Lama yang memberontak terhadap Dalai Lama itu, sedangkan pihak Kim-sim-pai juga berjanji bahwa kelak, kalau mereka telah menguasai Tibet, Mereka akan membantu Pangeran Janghar Singh yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Nepal.
Gangguan para orang Nepal itu kadang amat menggelisahkan penduduk.
Kalau mereka itu kadang hanya minta dengan paksa beberapa ekor hewan ternak, hal itu masih dapat diberikan dengan hati sabar oleh para penghuni dusun.
Akan tetapi ada kalanya, orang-orang Nepal itu mengganggu wanita!
Karena itu, maka banyaklah wanita muda yang cantik atau bersih, diungsikan keluarga mereka ke tempat yang jauh dari daerah itu, terutama mereka yang tinggal di lereng Pegunungan Himalaya yang menjadi perbatasan antara Tibet dengan Nepal.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang menunggang kuda tiba di lereng bukit dekat Telaga Yam-so.
"Sute, berhenti dulu!"
Kata Bi Sian menahan kendali kudanya. Bong Gan juga menahan kudanya dan menoleh lalu menghampiri suci-nya.
"Ada apakah, suci?"
Tanyanya, sambil memandang ke sekeliling dengan khawatir.
"Lihat, sute, betapa indahnya pemandangan di sini. Lihat telaga di bawah itu, airnya seperti permadani biru dikelilingi bukit menghijau. Indah sekali!"
Bong Gan menarik napas lega.
Dia sudah mengatur rencana bersama Pek Lan dan menurut rencana itulah pada pagi ini ia dan Bi Sian tiba di lareng bukit itu.
Tadinya, ketika Bi Sian minta berhenti, dia khawatir kalau-kalau sucinya itu mencurigai sesuatu.
Kiranya gadis itu hanya mengagumi alam yang memang amat indah itu.
"Memang indah sekali tempat ini, suci. Hawanya nyaman dan sejuk sekali. Aahh, alangkah senangnya kalau kita dapat tinggal beberapa lamanya di tempat seindah ini!"
Bi Sian menoleh dan memandang pemuda itu yang mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup udara yang amat menyegarkan itu. Ia tersenyum.
"Ih, sute. Lupakah engkau bahwa kita datang ke tempat ini bukan untuk pesiar melainkan untuk mencari musuh besarku?"
"Wah, memang kadang-kadang aku lupa, suci. Perjalanan ini demikian menyenangkan bagiku. Siapa tahu, kita dapat cepat menemukan musuhmu dan membereskan perhitungan, agar kita mempunyai banyak waktu untuk menikmati tempat indah ini."
Tiba-tiba sepasang mata Bi Sian terbelalak.
Bukan hanya matanya yang menangkap berkelebatnya banyak bayangan orang, akan tetapi juga pendengaran telinganya menangkap gerakan banyak o-rang di sekitar tempat itu.
"Ada orang....!"
Bisiknya.
"Mereka mengepung kita!"
Bong Gan juga berbisik dan pemuda ini kelihatan terkejut.
Padahal, di dalam hatinya dia bersukur karena dia tahu bahwa ini merupakan siasat yang dijalankan oleh Pek Lan.
Maka, diapun hanya berpura-pura ketika kelihatan terkejut, tidak seperti Bi Sian yang merasa benar-benar kaget karena melihat bahwa mereka telah dikepung oleh sedikitnya tiga puluh orang.
Bukan orang Han, bukan pula orang Tibet, melainkan orang-orang yang aneh, rata-rata berkulit kehitaman dan gelap, bentuk tubuh mereka tinggi dan sebagian besar dari mereka menggunakan penutup kepala berupa sorban putih yang tebal.
"Mereka orang-orang asing...."
Kata pula Bong Gan.
Padahal dia sudah mendengar dari Pek Lan yang mengatur siasat itu bahwa yang akan mengepung mereka adalah orang-orang Nepal.
Melihat banyak orang mengepung dan maju mendekat, dua ekor kuda yang mereka tunggangi menjadi panik.
Bi Sian lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan berkata kepada Bong Gan.
"Sute, turun saja dari atas kuda, agar kita dapat membela diri lebih leluasa!"
Keduanya sudah melompat turun dari atas punggung kuda dan dengan sikap tenang namun penuh kesiapsiagaan, kakak adik seperguruan ini berdiri dengan saling membelakangi.
"Sute, biarkan aku yang bicara dengan mereka,"
Bisik Bi Sian dan diam-diam Bong Gan tersenyum.
Memang sebaiknya begitu agar tidak akan terdengar suaranya yang sumbang.
Kini, tigapuluh orang lebih perajurit Nepal itu sudah datang dekat dan seorang di antara mereka, yang melihat pakaiannya tentu merupakan komandannya berdiri di depan Bi Sian.
Dia seorang pria berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, matanya cekung ke dalam dan hidungnya yang panjang itu agak bengkok ke kiri sehingga mulutnya kelihatan seperti mengejek selalu.
"Hei, kalian dengarlah baik-baik!"
Bi Sian berseru dengan suara lantang.
"Kami dua orang pelancong dari timur, tidak ingin bermusuhan dengan penduduk pribumi. Kenapa kalian menghadang dan mengepung kami yang tidak bersalah?"
Orang tinggi kurus itu memandang tajam, lalu menjawab. Dia dapat bicara dalam Bahasa Han, walaupun logatnya aneh dan lucu.
"Kami biasa menghormati tamu yang datang diundang. Akan tetapi kalian berdua tidak diundang, telah melanggar wilayah kami. Sudah sepatutnya kalau kami membunuh kalian, akan tetapi mengingat kalian dua orang muda, dan seorang di antaranya bahkan wanita, kami tidak akan bersikap keras. Orang-orang muda, menyerahlah kalian dengan baik, agar kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami!"
Bi Sian menatap orang itu.
Sikap mereka cukup gagah, pikirnya, tidak seperti gerombolan perampok atau penjahat yang kejam.
Maka, iapun berkata lantang.
"Maafkan kalau tanpa disengaja kami melanggar wilayah kalian. Akan tetapi kami tidak bersalah, harap biarkan kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak suka untuk ditawan."
Pemimpin tinggi kurus itu mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung panjang, dan dia berkata dengan tegas.
"Di wilayah ini, kami yang berkuasa! Mau atau tidak mau, kalian harus menyerah untuk menjadi tawanan kami. Harap kalian menyerah dengan damai!"
"Kalau kami tidak mau menyerah?"
Tanya Bi Sian yang sudah mulai marah dan penasaran.
"Terpaksa kami menggunakan kekerasan untuk menangkap kalian!"
"Singg....!"
Nampak sinar putih berkilauan ketika ia mencabut pedang Pek-lian-kiam (Pedang Teratai Putih).
"Bagus! Andaikata aku mau menyerahpun, pedang ini yang tidak membolehkannya. Karena tidak merasa bersalah, tentu saja aku tidak mau menyerah dan kalau kalian hendak memaksaku dan menggunakan kekerasan, jangan salahkan aku kalau kalian menjadi korban pedangku!"
Bong Gan juga sudah menyambar se-batang dahan pohon di atasnya, membuangi ranting dan daunnya dan kini dia sudah memegang sebatang tongkat.
"Kalau kalian memaksa, kami akan melawan!"
Diapun membentak dan sambil berdiri saling membelakangi dengan sucinya, dia melintangkan tongkatnya dan siap melakukan perlawanan.
"Kami tidak akan membunuh kalian, akan tetapi terpaksa harus menangkap kalian!"
Bentak pemimpin rombongan itu dan diapun mengeluarkan aba-aba dalam Bahasa Nepal.
Tiga puluh orang lebih itu, dengan senjata tombak atau golok dan perisai, kini mengepung ketat dan kepungan itu makin mendesak.
"Sute, sedapat mungkin robohkan mereka akan tetapi jangan bunuh!"
Kata Bi Sian.
Dara itu menganggap mereka itu bukan orang jahat, hanya akan menangkap dan tidak membunuh, oleh karena itu iapun tidak ingin sutenya melakukan pembunuhan sehingga menanam permusuhan yang semakin dalam.
"Baik, suci,"
Kata Bong Gan.
Pada saat kepungan itu sudah makin dekat dan dua orang murid Koay Tojin itu siap bergerak menyerang pengeroyok terdekat, tiba-tiba terdengar seruan nyaring suara seorang wanita.
"Tahan....! Jangan bertempur!"
Para pengepung itu menahan senjata mereka dan mundur.
Bi Sian dan Bong Gan menoleh ke arah suara wanita itu dan mereka melihat seorang wanita yang berusia dua puluh empat tahun lebih, cantik manis dengan muka lonjong dan kulit putih mulus berambut keemasan, muncul bersama seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang berkepala gundul, berjubah pendeta dengan gambar Teratai Putih di dadanya.
Kakek itu masih nampak muda dan tampan, dengan tubuh tinggi besar.
Begitu dua orang ini mendekat, semerbak bau keharuman bunga mawar.
Tentu saja Bong Gan mengenal wanita itu, wanita yang beberapa hari yang lalu, semalam suntuk berada dalam pelukannya.
Wanita itu adalah Pek Lan dan kakek yang nampak muda itu adalah Thai-yang Suhu, tokoh Pek-lian-kauw.
Akan tetapi Bi Sian tidak mengenalnya.
Melihat para pengepung itu mundur, Bi Sian mengerti bahwa ia berhadapan dengan pemimpin gerombolan orang asing yang menghadangnya.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa dua orang itu telah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan kini menjalankan siasat untuk menjebaknya!
Dan para pengepung itu adalah orang-orang Nepal yang dipergunakan untuk membantu siasat itu, yang juga sudah diketahui oleh Bong Gan.
Sambil memandang tajam wanita cantik yang sikapnya genit itu, Bi Sian berkata, pedang Pek-lian-kiam masih melintang di depan dadanya.
"Hemm, kiranya kalian berdua, seorang gadis cantik dan seorang pendeta, yang memimpin gerombolan ini. Apa alasan kalian menghadang perjalanan kami dan orang-orangmu yang mengepung kami ini hendak menawan kami?"
Suara Bi Sian penuh wibawa, tanda bahwa ia sama sekali tidak merasa gentar.
Diam-diam Pek Lan kagum.
Pantas Bong Gan tergila-gila kepada suci-nya sendiri dan ingin memperisterinya.
Memang manis dan jelita sekali!
Dan diam-diam Thai-yang Suhu mengamati pedang di tangan gadis itu.
Pedang itu bersinar putih dan ada ukiran bunga teratai.
Pedang Teratai Putih!
Sungguh merupakan pedang yang cocok sekali kalau menjadi miliknya, bahkan kalau menjadi pusaka dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sekiranya pedang itu memang sebuah pusaka yang ampuh, bukan pedang biasa saja.
Pek Lan tersenyum dan nemang ia memiliki deretan gigi yang rapi dan putih sehingga nampak menarik sekali ketika tersenyum, dan kerling matanya ke arah Bong Gan penuh daya pikat.
Diam-diam Bong Gan membandingkan dua orang wanita itu.
Memang, biarpun Bi Sian amat manis, namun ia tidak mampu bergaya seperti Pek Lan sehingga daya tariknya tidak sekuat Pek Lan.
Bagaimanapun juga, kalau harus memilih keduanya untuk menjadi isterinya, tanpa ragu-ragu dia akan memilih Bi Sian.
Bi Sian seorang gadis yang masih perawan dan hatinya juga bersih, sebaliknya Pek Lan adalah seorang wanita yang matang dan juga genit sehingga sukar diharapkan dapat menjadi seorang isteri yang setia.
Akan tetapi kalau untuk bersenang-senang, tentu Pek Lan akan lebih memuaskan dan menyenangkan.
"Adik yang baik, engkau sungguh cantik jelita dan gagah berani. Jangan salah mengerti, kalau anak buah kami melakukan penghadangan, hal itu terjadi karena kalian telah melanggar wilayah kekuasaan kami. Akan tetapi, kami dapat pula menghargai orang-orang gagah. Melihat kalian berdua yang tidak gentar menghadapi pengepungan orang-o-rang kami, tentu kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami ingin sekali berkenalan melalui adu silat. Kalau memang kalian pantas menjadi kenalan kami, tentu akan kami persilakan untuk menjadi tamu dari Sang Pangeran yang menjadi tuan rumah kami. Suhu, engkau ujilah kepandaian adik manis ini, biar aku yang menguji pemuda ini,"
Katanya kepada Thai-yang Suhu.
Memang Pek Lan cerdik.
Ia sudah mendengar dari Bong Gan bahwa tingkat kepandaian Bi Sian bahkan lebih tinggi dibandingkan pemuda itu, padahal baginya, menghadapi Bong Gan saja ia hanya mampu mengimbangi.
Berbahaya kalau ia menghadapi Bi Sian kemudian sampai kalah!
Maka ia sengaja menyuruh Thai-yang Suhu yang menghadapi gadis itu sedangkan ia akan menghadapi Bong Gan yang tentu saja hanya akan main-main tidak bertanding sungguh-sungguh.
Biarpun ilmu kepandaian silat dari tokoh Pek-lian-kauw itupun tidak jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, namun setidaknya pendeta itu memiliki kekuatan sihir untuk melindungi diri.
Thai-yang Suhu memang sudah tertarik sekali, bukan kepada Bi Sian saja, melainkan terutama sekali tertarik melihat pedang di tangan gadis itu.
Kini dia memperoleh kesempatan untuk menguji apakah pedang Teratai Putih itu sebuah pedang pusaka ampuh ataukah pedang biasa saja.
Dia tidak menurunkan sepasang pedangnya karena sepasang pedangnya merupakan pedang yang baik dan dia khawatir pedangnya akan menjadi rusak kalau pedang di tangan gadis itu benar pedang pusaka ampuh.
Maka diapun meminjam sebatang pedang yang dipegang oleh seorang perajurit Nepal, kemudian menghampiri Bi Sian.
"Siancai.... harap maafkan pinto (saya), nona. Kami memang hanya ingin menguji, karena hanya melalui pertandingan silat maka perkenalan menjadi erat. Nah, silakan, nona!"
Melihat sikap dua orang itu cukup hormat dan sopan, Bi Sian juga merasa tidak enak kalau ia bersikap keras.
Biarpun tadi pasukan itu mengepungnya, namun mereka belum melakukan penyerangan.
"Aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapapun juga, dan akupun tidak sengaja melanggar wilayah siapapun juga. Wilayah ini bukan pekarangan, tidak dipagari, melainkan pe-gunungan dan telaga. Bagaimana aku tahu bahwa tempat ini ada orang yang memilikinya? Akan tetapi, biarpun tidak mau bermusuhan, kalau dimusuhi, jangan dikira aku takut!"
"Siancai....! Nona memang gagah perkasa, karena itu pinto ingin sekali menguji kepandaianmu, bukan berkelahi atau bermusuhan. Nona, lihat pedang!"
Kata Thai-yang Suhu sambil menggerakkan pedang pinjamannya, mengirim serangan gertakan ke arah kepala gadis itu.
Bi Sian mengelak dengan cepat dan ketika tangannya bergerak, pedang Pek-lian-kiam sudah menyambar ke depan, menusuk ke arah dada merupakan sinar putih berkelebat.
Thai-yang Suhu terkejut dan cepat dia juga melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, kemudian menyerang lagi dengan berhati-hati karena biarpun hanya menguji kepandaian, kalau ilmu pedang lawan itu terlalu berat, mungkin saja dia akan terluka.
Dia tidak berani memandang ringan lawannya yang dapat membalas serangan sedemikian cepat dan kuatnya.
Sementara itu, Bong Gan juga sudah menggerakkan ranting di tangannya dan menyerang Pek Lan yang menyambut dengan pedangnya.
Merekapun bertanding dengan seru, tentu saja hanya nampaknya demikian karena hati mereka yang tahu bahwa mereka hanya bersandiwara dan tidak sungguh-sungguh bertanding.
Thai-yang Suhu mendapatkan kesempatan untuk menguji keampuhan pedang di tangan Bi Sian.
Ketika pedang bersinar putih itu menyambar dengan bacokan ke arah lehernya, dia memutar tubuhnya dan mengerahkan tenaga sekuatnya, menggunakan pedang pinjaman itu untuk menangkis.
"Trangggg....!"
Terdengar bunyi nyaring disusul pijaran bunga api dan....
pedang di tangan pendeta Pek-lian-kauw itu tinggal sepotong!
Pedang itu patah di tengah-tengah, padahal pedang perajurit Nepal itu merupakan pedang melengkung yang cukup berat dan tajam.
Thai-yang Suhu berseru.
"Lihai sekali!"
Dan diapun melempar gagang pedangnya dan memberi hormat kepada Bi Sian.
"Nona yang lihai, pinto kagum sekali kepadamu!"
Pada saat itu, Pek Lan juga mengeluarkan jerit tertahan dan iapun melompat ke belakang, lalu memberi hormat kepada Bong Gan.
"Saudara sungguh gagah, membuat kami kagum sekali. Perkenalkanlah, kami berdua adalah sahabat-sahabat baik dari Pangeran Maranta Sing yang menguasai lembah ini. Namaku Pek Lan dan suhu ini adalah Thai-yang Suhu. Kalau kami boleh mengetahui, siapakah ji-wi (anda berdua) dan apa yang anda berdua cari di tempat ini? Ataukah sekedar melancong saja?"
Sebelum Bi Sian menjawab, dengan cepat sesuai dengan rencana Bong Gan sudah menjawab.
"Kami kakak beradik seperguruan. Namaku Coa Bong Gan dan suci ini bernama Yauw Bi Sian. Kami datang ke tempat ini bukan sekedar melancong, melainkan hendak mencari seorang musuh besar kami yang bernama Sie Liong dan berjuluk Pendekar Bongkok....!"
Bi Sian memberi isyarat kepada sutenya agar diam, akan tetapi sudah terlambat karena sutenya telah memperkenalkan nama mereka dan juga menyebut nama Pendekar Bongkok.
Dan tiba-tiba saja sikap kedua orang itu berubah, alis mereka berkerut akan tetapi sikap mereka bahkan semakin ramah.
"Aih, kiranya ji-wi musuh Pendekar Bongkok? Kalau begitu, di antara kita terdapat ikatan yang kuat karena kamipun menganggap Pendekar Bongkok sebagai musuh besar kami! Adik Bi Sian dan adik Bong Gan, aku akan merasa senang sekali untuk bekerja sama dengan kalian menghadapi Pendekar Bongkok yang amat lihai itu!"
Akan tetapi Bi Sian mengerutkan alisnya.
Biarpun Pek Lan dan Thai-yang Suhu memperlihatkan sikap yang ramah dan bersahabat, namun di dalam hatinya ia merasa tidak suka kepada mereka.
"Enci Pek Lan,"
Kata Bong Gan yang agaknya hendak bersikap ramah karena Pek Lan menyebut adik kepadanya dan kepada Bi Sian.
"Kami tidak ingin bekerja sama dengan kalian, dan kami akan cukup berterimakasih kalau engkau dapat memberitahu kepada kami di mana adanya Pendekar Bongkok. Tahukah engkau di mana dia?"
Pertanyaan ini berkenan di hati Bi Sian dan iapun mengangguk, menyatakan setuju dengan pertanyaan sute-nya itu.
Akan tetapi Pek Lan tersenyum manis sekali.
"Kalian ini adik-adik yang gagah perkasa, mengapa sungkan dan ingin enak sendiri saja? Kalau kita hendak bekerja sama, tentu sebaiknya kalau ji-wi menerima undangan kami untuk mempererat perkenalan. Kalau kita sudah menjadi sahabat yang akrab, tentu kami tidak akan ragu lagi untuk membagi semua rahasia, termasuk di mana adanya Pendekar Bongkok. Nah, kami ulangi undangan kami kepada ji-wi."
Bong Gan menoleh kepada sucinya seperti orang minta pertimbangan, lalu terdengar dia berkata.
"Suci, kita tidak mengenal daerah ini, maka kalau enci Pek Lan ini sudah berbaik hati untuk menunjukkan di mana adanya musuh besar itu, kurasa tidak ada salahnya kalau kita memenuhi undangannya. Tidak tahu bagaimana pendapatmu?"
Bi Sian tidak melihat pilihan la-in kecuali mengangguk. Ia menyarungkan pedangnya kembali. Thai-yang Suhu segera memberi hormat kepadanya.
"Nona yang masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga sebatang pedang pusaka yang ampuh sekali. Kalau boleh pinto mengetahui apa nama pedang pusaka itu, nona."
Bi Sian merasa bangga dengan pedangnya. Ia menepuk gagang pedang di pinggangnya dan menjawab.
"Totiang (bapak pendeta), pedangku ini adalah Pek-lian-kiam peninggalan ayahku."
Makin giranglah rasa hati Thai-yang Suhu.
Pek-lian-kiam, sebatang pedang yang patut menjadi miliknya, bahkan menjadi lambang dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw!
Akan tetapi dia menyembunyikan kegirangan ini di dalam hatinya saja.
Bagaimanapun juga, pedang itu harus dapat menjadi miliknya!
Bong Gan dan Bi Sian merasa kagum sekali ketika memasuki gedung besar yang didirikan di antara pohon-pohon dalam hutan di lereng bukit itu.
Sebuah gedung yang besar dan di dalamnya mewah sekali, seperti rumah raja-raja maja layaknya.
Dan di sekeliling gedung itu terdapat banyak rumah-rumah, merupakan perkampungan yang dikelilingi tembok seperti sebuah benteng saja.
Itulah tempat tinggal Pangeran Maranta Sing, pangeran Nepal yang menjadi buruan pemerintahnya, karena telah memberontak itu.
Dia tinggal di perbatasan itu bersama anak buahnya, yaitu sisa-sisa para perajurit anggauta pasukan pemberontakan yang dipimpinnya dan telah gagal itu.
Bong Gan dan Bi Slan dijamu oleh Pangeran itu yang menyambut mereka dengan ramah dan hormat.
Bong Gan memperlihatkan kegembiraannya dan Bi Sian akhirnya juga merasa gembira karena pihak tuan rumah sungguh ramah kepadanya.
"Harap jangan khawatir tentang Pendekar Bongkok,"