Ceritasilat Novel Online

Kisah Pendekar Bongkok 8

Eps 8 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.

Kalau saja mereka pergi berdua, pikir Lan Hong, tentu hatinya tidak serisau sekarang ini.

"Dia pergi sendiri,toako. Ia pergi untuk mencari panannya yang pergi lebih dahulu."

"Hemm, sungguh berbahaya kalau begitu. Dan sungguh berani sekali puterimu itu. Seorang anak perempuan kecil pergi seorang diri mencari pamannya, ke arah Tibet pula!"

Tiba-tiba Lie Bouw Tek memandang dengan mata terbelalak melihat betapa wanita yang duduk di seberang api unggun itu tertawa geli sambil menutupi mulut dengan punggung tangannya.

"Eh? Kenapa engkau tertawa geli, Hong-moi?"

"Habis, engkau lucu sih, toako. Bi Sian bukan seorang anak kecil lagi! Dia sudah berusia delapan belas tahun dan ia bukan pula seorang gadis lemah!"

"Ah, tidak mungkin! Aku tidak percaya!"

Kini Lan Hong yang terbelalak dan memandang heran.

"Apa maksudmu, toako? Engkau tidak percaya kepadaku? Apa kau kira aku membobong?"

Dalam suaranya torkandung penasaran. Entah mengapa, hatinya terada nyeri kalau tidak dipercaya oleh pendekar itu.

"Aku tidak mengatakan engkau membohong, Hong-moi, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa engkau mempunyai seorang puteri yang berusia delapan belas tahun? Anakmu sendiri ataukan anak tiri, atau anak angkat?"

"Eh? Kenapa begitu, toako? Tentu saja anakku sendiri!"

"Itulah yang tidak mungkin! Kalau puterimu itu berusia tujuh atau delapan tahun, baru masuk akal. Akan tetapi delapan belas tahun?"

Kini mengertilah Lan Hong dan senyumnya manis sekali, matanya bersinar dan untuk sejenak kedukaan yang membayang di dalamnya menipis.

"Lie-toako, berapa kaukira usiaku sekarang?"

"Paling banyak dua puluh lima tahun."

Kembali Lan Hong tertawa geli dan menutupi mulutnya dengan tangan.

"Hi-hik, engkau lucu, toako. Umurku tahun ini sudah tiga puluh tiga tahun."

"Apa? Tidak mungkin sama sekali! Engkau.... sungguh tidak pantas berusia sebanyak itu!"

Teriak Lie Bouw Tek penasaran sehingga Lan Hong tertawa geli.

Wanita mana yang tidak akan senang sekali hatinya melihat orang lain, apalagi kalau orang itu seorang pria, yang dikaguminya pula, mengira ia jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya?

"Lie-toako, aku yang mempunyai usia itu, tentu aku yang lebih tahu dan tidak bohong."

"Aihhh.... maafkan aku. Sungguh mati sukar dipercaya bahwa engkau sudah berusia tiga puluh tiga tahun, Hong-moi."

"Bahkan sudah hampir tiga puluh empat tahun, toako, mungkin malah lebih tua daripadamu."

"Ah, tidak, tidak!"

Jawab Lie Bouw Tek cepat.

"Usiaku sudah tiga puluh enam tahun."

"Tentu engkau sudah mempunyai beberapa orang putera dan puteri, toako, Berapa banyak anakmu dan berapa usia anakmu yang pertama?"

Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya.

"Aku tidak mempunyai anak, bahkan aku belum pernah menikah, Hong-moi."

"Ahh....!"

Lan Hong menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi kemerahan dan ia memaki dirinya sendiri mengapa begitu tak tahu malu untuk merasa girang mendengar bahwa pendekar itu belum menikah!

Ingatlah engkau, tak tahu malu, makinya pada diri sendiri, engkau sudah janda dan memiliki anak yang sudah dewasa, sedangkan dia ini masih perjaka, seorang pendekar besar yang budiman.

Jangan mengharapkan yang bukan-bukan!

Kembali keduanya berdiam diri seperti tenggelam ke dalam lamunan yang lebih dalam lagi.

Suasana semakin sunyi karena malam semakin larut.

Ketika Lan Hong menambahkan kayu bakar pada api unggun, gerakannya itu seperti menghidupkan lagi suasana yang tadinya seperti mati.

Lie Bouw Tek soperti sadar kembali dari lamunan.

"Hong-moi, berapakah usia adikmu yang berjuluk Pendekar Bongkok itu?"

"Dia masih muda, toako, baru dua -puluh tahun lebih, paling banyak dua puluh satu tahun."

"Hemm, sudah demikian lihainya walaupun masih amat muda. Kalau dia melakukan perjalanan seorang diri ke Tibet, hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi puterimu itu siapa namanya tadi?"

"Bi Sian, Yauw Bi Sian."

"Nah, Bi Sian seorang gadis berusia delapan belas tahun, sungguh berba-haya melakukan perjalanan ke daerah ini. Sedangkan untuk engkau sendiri saja sudah amat berbahaya, apalagi untuk puterimu yang berusia delapan belas tahun."

Lan Hong tersenyum, senyum penuh kebanggaan.

"Kurasa tidak, toako. Biarpun usianya baru delapan belas tahun, akan tetapi Bi Sian memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada aku, atau bahkan mendiang ayahnya, bahkan pula, kurasa tidak kalah jauh dibandingkan Sie Liong."

"Apa?"

Kembali Bouw Tek terbelalak. Sudah terlalu sering dia mendengar hal-hal yang amat aneh dan tidak terduga dari janda muda yang manis ini.

"Selihai Pendekar Bongkok? Wah, hebat! Murid siapakah puterimu itu, Hong-moi?"

Di dalam hatinya, sukar untuk dapat mempercayai keterangan Lan Hong tentang puterinya itu.

"Menurut pengakuannya, Bi Sian menjadi murid seorang pertapa sakti yang berjuluk Koay Tojin."

"Benarkah?"

Kembali pandekar itu terkejut.

"Nama besar Koay Tojin amat terkenal di daerah barat dan utara! Dia seorang pertapa sakti yang namanya sejajar dengan nama basar Pek-sim Sian-su."

"Memang benar, toako. Menurut keterangan Bi Sian, gurunya itu memang sute dari Pek-sim Sian-su guru Sie Liong."

Pendekar itu tertegun kagum, lalu menarik napas panjang.

"Sungguh hebat sekali! Engkau memiliki keluarga yang hebat, Hong-moi. Aku jadi semakin tertarik untuk mengetahui riwayatmu dan keadaan keluargamu. Kalau boleh aku bertanya, kenapa suamimu meninggal dalam usia yang masih muda? Apakah karena penyakit?"

Sejenak Lan Hong menunduk dan berdiam diri. Bagaimana ia dapat menjawab? Sampai lama ia tak mengeluarkan suara.

"Maafkan aku banyak-banyak, Hong-moi, kalau pertanyaanku tadi terlalu lancang dan tidak menyenangkan hatimu, maafkan dan engkau tidak perlu menjawabnya."

Di dalam suara itu terkandung keluhan.

Lan Hong mengangkat mukanya menatap wajah pendekar itu.

Tidak, ia tidak perlu menyembunyikannya.

Bahkan ia perlu menceritakan kepada pendekar itu, orang yang telah mendapat keparcayaannya, bahkan yang bersedia mengantar dan membantunya sampai ia dapat bertemu dengan adiknya atau puterinya.

Ia merasa bahwa pendekar yang duduk bersila di depannya itu bukan orang lain lagi, ia sudah merasa demikian akrab, apalagi setelah bercakap-cakap malam ini, setelah mereka saling menyebut toako dan siauw-moi.

Akhirnya Lan Hong menarik napas panjang.

"Akulah yang minta maaf, toako, karena aku tadi telah meragukannya. Baiklah, akan kukatakan kepadamu. Suamiku itu.... tewas karena terbunuh orang."

"Ahhh!"

Lie Bouw Tek mangepalkan tinju, memandang dengan penasaran dan kasihan sekali.

"Siapakah penjahat yang telah berani melakukannya, Hong-moi? Bagaimana si jahat itu berani melakukannya kalau di sana terdapat adik kandungmu dan puterimu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Lan Hong menggeleng kepalanya.

"Tidak diketahui siapa pembunuhnya, Lie-toako."

"Aku akan menyelidikinya! Aku akan menangkap pembunuh jahanam itu untukmu, Hong-moi! Lalu.... mengapa adikmu malah pergi, juga puterimu? Apakah mereka berdua itu sudah pergi ketika peristiwa itu terjadi? Apakah mereka tidak tahu akan pembunuhan itu?"

Lan Hong menarik napas panjang.

Karena Bouw Tek membantunya mencari adiknya dan puterinya, maka akhirnya ia tentu akan mengetahuinya, dan pendekar itu sudah terlibat dalam urusan keluarganya.

"Mereka berdua tahu, toako. Justeru karena pembunuhan itulah mereka pergi meninggalkan rumah. Bi Sian, puteriku itu, menuduh bahwa adikku Sie Liong yang membunuh ayahnya. Karepa tuduhan ini, Sie Liong melarikan diri dan anakku itu melakukan pengejaran, mencari pamannya untuk dibunuh, untuk membalas dendam kematian ayahnya."

"Ah.... ahh....!"

Bouw Tek kini tidak mampu bicara lagi.

Tarlalu berat peristiwa yang menimpa keluarga janda ini, pikirnya dan dia merasa terharu, juga bingung dan tak tahu harus berkata apa lagi.

Akhirnya dia hanya mengeluh.

"Hong-moi.... sungguh kasihan sekali engkau. Keluargamu hebat, akan tetapi juga tertimpa malapetaka yang hebat pula. Sungguh membuat aku merasa penasaran, Hong-moi. Adikmu demikian lihai, juga puterimu, akan tetapi suamimu dapat dibunuh orang, dan sekarang puterimu malah mengejar-ngejar pamannya yang dituduh melakuken pembunuhan itu. Sebetulnya bagaimana duduknya perkara, Hong-moi? Maukah engkau menceritakan kepadaku? Percayalah, aku siap untuk membantu, sedapat mungkin akan kubongkar rahasia itu yang meliputi seluruh keluargamu. Menurut keterangan dua orang murid keponakanku, Pendekar Bongkok adalah seorang pendekar budiman yang hebat, bagaimana mungkin membunuh kakak iparnya sendiri?"

"Tadinya.... aku sendiri percaya bahwa dia yang membunuh suamiku, tapi.... tapi sekarang tidak lagi...."

"Lebih aneh lagi kalau begitu. Wahai, Hong-moi, ternyata dirimu dilingkari banyak rahasia sehingga membuat aku beberapa kali terheran-heran dan terkejut mendengar keteranganmu."

Sudah kepalang basah, pikir Lan Hong.

Ia harus menceritakan segalanya.

Terserah kepada pendekar ini kalau nanti akan berubah pandangan terhadap dirinya.

Ia tertarik kepada pendekar ini dan kalau ia menghendaki pergaulan yang jujur, iapun harus terbuka dan jujur.

Pendekar itu harus mengenal dirinya, mengenal riwayatnya dan ia tidak perlu menutupi rahasia, yang paling buruk sekalipun!

Ia sudah nekat karena ia ingin dikenal benar oleh pendekar itu, dikenal semua keadaannya sehingga ia dapat melihat bagaimana nanti sikap pendekar itu terhadap dirinya.

Berubahkah?

Memandang rendahkah?

Biarlah, ia akan menghadapi segala resikonya.

"Lie-toako, terus terang saja, riwayat hidupku penuh dengan noda dan baru kepadamu seoranglah aku akan menceritakannya. Terserah kemudian bagaimana tanggapanmu. Riwayatku dimulai dengan terbunuhnya ayah dan ibu kami oleh seorang musuh besar. Ayah kami bernama Sie Kian atau juga disebut Sie Kauwsu, seorang guru silat bayaran di kota Tiong-cin. Karena ayah kami suka menentang kejahatan, maka dia banyak dimusuhi orang jahat dan pada suatu hari, seorang penjahat yang mendendam kepada ayah kami, telah datang dan membunuh ayah dan ibu kami. Ketika itu aku berusia lima belas tahun dan adikku, Sie Liong, berusia sepuluh bulan."

Ia herhenti sebentar dan bergidik ketika membayangkan peristiwa itu.

Lie Bouw Tek yang sudah merasa kasihan mendengar wanita itu kehilangan suami yang dibunuh orang, kini meman-dang dengan terharu.

Betepa buruk nasibnya, ketika remaja sudah kehilangan ayah bunda yang dibunuh orang.

"Sungguh keji penjahat itu!"

Komentarnya. Sie Lan Hong tersenyum, senyum yang pahit sekali.

"Lebih dari pada keji, toako. Setelah membunuh ayah ibu kami, dia bahkan memaksaku untuk melayaninya dengan mengancam akan membunuh adikku yang berusia sepuluh bulan itu kalau aku menolak keinginannya yang kotor. Melihat adikku yang masih bayi itu dibawah ancaman golok, apa yang dapat kulakukan selain menyerah? Aku menyerah. toako, demi menyelamatkan adikku."

Wajah yang jantan itu berubah menjadi kemerahan, matanya mengeluarkan sinar mencorong dan Bouw Tek mengepal tinju.

"Jahanam keparat! Kalau aku bertemu dengan jahanam itu, akan kuhancurkan kepalanya!"

Melihat kemarahan pendekar itu, kembali Lan Hong tersenyum, dan senyumnya masih pahit sekali.

"Sebaiknya kulanjutkan riwayatku, toako. Musuh itu lalu membawaku pergi meninggalkan kota kami, dan dia memaksa aku menjadi isterinya dengan ancaman yang sama, yaitu kalau aku menolak, Sie Liong akan disembelihnya. Aih, toako, kalau saja tidak ada adikku yang masih bayi terancam maut mengerikan, aku takkan takut menghadapi ancamannya, aku lebih suka mati daripada harus menyerah. Percayakah engkau, toako?"

"Aku percaya, aku percaya.... aih, si keparat!"

Kata Bouw Tek.

"Setelah aku menjadi isterinya, dia meninggalkan pekerjaan sesat dan berdagang di kota Sung-jan, dan harus kuakui bahwa sikapnya terhadap diriku amat baik dan menyayang. Akan tetapi diapun maklum bahwa kalau dia mengganggu adikku, tentu aku akan membunuh diri. Sampai akhirnya aku melahirkan Bi Sian, puteriku itu...."

"Hemm...."

Bouw Tek mengerutkan alisnya dan tidak lagi berani memberi komentar.

Bagaimana dia dapat memaki laki-laki yang telah monjadi suami Lan Hong, bahkan menjadi ayah kandung puterinya?

Keadaan menjadi semakin membingungkan dan ruwet, dan dia merasa semakin kasihan kepada wanita di depannya itu.

Bahkan untuk menghapus makian-makiannya tadi, dia berkata lirih.

"Hemm, dia telah menjadi seorang suami dan ayah yang baik...."

Lan Hong menggeleng kepalanya.

"Nampaknya saja begitu, toako. Akan tetapi, dia tetap seorang yang amat jahat. Dia selalu merasa takut kalau-kalau kelak Sie Liong, adikku itu, akan tahu tentang pembunuban yang dilakukan terhadap orang tua kami, dia takut kalau Sie Liong kelak membalas dendam. Maka, kalau dia mengajarkan silat kepada Bi Sian, dia melarang Sie Liong belajar silat. Dan baru sekarang aku dapat menduga bahwa Sie Liong menjadi cacat, menjadi bongkok, tentu karena perbuatan dia pula! Yang kuketahui ketika itu hanya bahwa Sie Liong jatuh sakit keras dan setelah sembuh dia menjadi bongkok."

"Ahhh....! Hemmm....!"

Tadinya Bouw Tek ingin memaki lagi, akan tetapi mengingat bahwa yang akan dimaki itu suami wanita ini, dia tidak jadi dan hanya menggeleng-geleng kepalanya.

"Agaknya, Sie Liong menyadari bahwa dia dibenci kakak iparnya, maka ketika dia berusia dua belas atau tiga belas tahun, dia minggat dari rumah kami dan tak lama setelah itu, puteri kami, Bi Sian, bertemu dengan Koay Tojin dan dibawa pergi sebagai muridnya. Nah, setelah adikku dan puteriku pergi, berubahlah kembali watak suamiku itu, toako. Dia seolah-olah seekor harimau yang menanggalkan kedok dombanya. Dia menjadi kejam, kasar dan suka mulai mabok-mabokan dan melacur. Dia mulai suka memaki dan memukuli aku. Ahh.... kalau saja tidak ingat kepada puteriku, mungkin tak kuat aku menahan derita itu...."

Wanita itu berhenti dan menutupi mukanya, akan tetapi ia tidak menangis.

Lie Bouw Tek memandang dengan tubuh diam tak bergerak, seperti patung.

Dia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana dan berkata apa.

Tak lama kemudian Lan Hong menurunkan kedua tangan dari depan mukanya dan wajahnya agak pucat, akan tetapi ia tidak menangis.

Ketika ia memandang kepada Bouw Tek yang kelihatan diam seperti patung, ia melanjutkan.

"Selama tujuh tahun aku menderita. Harta kamipun dihamburkan oleh suamiku itu dan akupun tidak berdaya. Aku seolah hanya hidup untuk menantl pulangnya anakku dan adikku. Dan pada suatu hari, setelah tujuh tahun lewat, muncullah Sie Liong yang telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun."

"Dan menjedi seorang pendekar yang sakti yang dijuluki Pendekar Bongkok?"

"Benar, dan melihat Sie Liong, suamiku menjadi marah dan hendak memukulnya. Akan tetapi dangan mudah Sie Liong mengalahkannya tanpa melukainya. Sama sekali suamiku tidak berdaya melawan Sie Liong yang menjadi sakti itu."

"Dan adikmu tidak tahu bahwa suamimu itu yang membunuh ayah ibu kalian?"

Lan Hong menggeleng kepalanya.

"Ketika peristiwa itu terjadi, dia baru berusia sepuluh bulan, dan ketika tubuhnya menjadi cacat, diapun masih kecil. Dia sama sekali tidak tahu, dan akupun tentu saja merahasiakan hal itu. Akan tetapi, Sie Liong melihat betapa harta kami telah habis dan betapa aku mendapatkan perlakuan buruk dari suamiku. Bahkan mereka bentrok ketika suamiku memukuliku dan Sie Liong melindungiku. Dan beberapa hari kemudian, tiba-tiba puteriku, Bi Sian pulang!"

Wajah Lan Hong agak berseri ketika ia teringat akan peristiwa itu.

"Dan ia telah menjadi seorang ga-dis yang sakti pula, murid Koay Tojin."

Kata Bouw Tek, mulai dapat menggambarkan keadaan keluarga wanita itu.

"Benar, toako. Ia berusia delapan belas tahun, menjadi seorang gadis yang cantik dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dan iapun gembira sekali bertemu dengan pamannya. Kautahu, toako, diantara adikku dan puteriku yang usianya hanya selisih dua tiga tahun itu terdapat hubungan yang amat akrab dan mereka itu saling menyayang karena mereka tumbuh besar bersama-sama. Bi Sian pulang ditemani sutenya yang bermalam di luar rumah kami, di rumah penginapan."

Wanita itu berhenti lagi dan Bouw Tek dengan tenang menanti kelanjutan cerita itu karena dia merasakan datangnya suatu peristiwa yang paling hebat, yaitu kematian suami wanita itu.

"Kemudian, tiba-tiba saja terjadi peristiwa itu, toako,"

Kata Lan Hong seolah-olah dapat membara pikiran pendekar itu dan menjawabnya.

"Siang hari itu suamiku pergi dan pada malam harinya dia dibunuh orang."

Kembali Lan Hong diam dan kini ia nampak demikian berduka.

"Dan engkau tentu sangat berduka, Hong-moi."

Lan Hong mengangkat mukanya dan sejenak mereka saling pandang. Lan Hong lalu mengerutkan alisnya.

"Mungkin engkau akan menganggap aku jahat, toako. Akan tetapi terus terang saja aku tidak berduka atas kematiannya. Akhir-akhir itu dia mendatangkan kesan buruk sekali dalam hatiku karena sikapnya selama tujuh tahun itu. Yang membuat aku berduka adalah karena Bi Sian menuduh Sie Liong yang melakukan pembunuhan itu dan ia menyerang Si Liong mati-matian untuk membalas dendam!"

"Hemm, sepatutnya gadis itu menyadari akan kejahatan ayahnya yang telah membunuh orang tua Pendekar Bongkok!"

Kata Bouw Tek penasaran.

"Gadis itu puteriku, toako...."

"Ah, maafkan aku, Hong-moi, riwayatmu demikian mencekam hatiku sehingga aku lupa diri. Lalu bagaimana kelanjutannya, Hong-moi?"

"Ketika diserang Bi Sian, Sie Liong lalu pergi melarikan diri. Tak lama kemudian, Bi Sian juga pergi melakukan pengejaran."

"Dan puterimu itu tidak tahu bahwa ayahnya adalah pembunuh orang tua ibunya dan pamannya?"

Lan Hong menggeleng kepalanya.

"Bagaimana aku dapat menceritakan hal itu kepadanya, toako? Tentu hal itu akan menghancurkan hatinya, karena bagaimanapun juga, suamiku itu adalah ayah kandungnya."

Lie Bouw Tek termenung. Memang serba salah dan serba susah bagi wanita yang malang ini, pikirnya.

"Akan tetapi, tentu Pendekar Bongkok sudah me-ngetahui rahasia itu maka dia membunuh musuh besarnya."

Lan Hong menggeleng kepalanya. (Lanjut ke

Jilid 18) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18

"Kurasa tidak begitu. Memang, setelah terjadi pembunuhan, akupun mengira demikian. Akan tetapi, dia tidak tahu akan rahasia itu, buktinya setelah kuceritakan, baru dia mangetahuinya! Dia menyanggal bahwa dia telah membunuh kakak iparnya, dan diapun baru tahu akan rahasia itu setelah aku bercerita kepadanya."

"Lalu bagaimana puterimu menuduh dia sebagai pembunuh ayahnya?"

"Karena sebelumnya, ayahnya mengatakan bahwa Sie Liong mmukulnya, dan dalam keadaan mabok dia minta agar Bi Sian membalaskan penghinaan itu. Dan pada saat terjadinya pembunuhan, Bi Sian melihat bayangan seorang yang bongkok di taman, seorang bongkok yang bertopeng, dan Bi Sian manemukan topeng itu. Maka, ia menuduh pamannya sebagai pembunuh. Ah, itulah yang menyusahkan hatiku, toako. Bagaimana kalau mereka saling jumpa dan anakku itu nekat menyerang dan hendak membunuh pamannya? Karena itulah, maka aku nekat melakukan perjalanan ini, untuk mencari mereka dan untuk membujuk puteriku agar jangan memusuhi Sie Liong karena sekarang aku yakin bahwa bukan Sie Liong yang membunuh suamiku."

"Eh? Bagaimana engkau bisa yakin, Hong-moi?"

Lan Hong lalu menceritakan tentang penyelidikannya ke rumah pelesiran, tentang segala keterangan yang diperolehnya dari para pelacur yang pada hari terakhir itu melayani suaminya.

Lie Bouw Tek mendengarkan dengan penuh kagum.

Wanita ini selain tabah, juga amat cerdik, pikirnya.

"Dari keterangan itu aku yakin bahwa adikku tidak membunuh kakak iparnya, toako. Kalau dia yang membunuh, tidak perlu dia bertopeng, dan tidak perlu pula dia berpura-pura kepadaku. Dia memang belum pernah mengetahui rahasia itu sebelum mendengar dariku. Kalau bukan dia yang membunuhnya, berarti si pembunuh sengaja menyamar sebagai seorang yang bongkok dan mengenakan topeng. Tidak sukar menyamar sebagai orang berpunuk dan bongkok, tinggal mengganjalkan sesuatu di punggungnya. Tentu saja dia bertopeng untuk menutupi wajahnya agar jangan ada yang tahu bahwa dia bukanlah Sie Liong. Jelas dia sengaja membunub dan melempar fitnah kepada adikku. Dan penyelidikanku ke rumah pelacuran itu membuktikan bahwa memang ada yang membunuh suamiku. Dia bukan lain adalah sute dari Bi Sian."

"Hemmm...."

Lie Bouw Tek meraba-raba jenggotnya yang terpelihara rapi.

"Pendapatmu itu memang nampaknya tepat Hong-moi. Teorimu juga masuk di akal. Hanya ada satu hal yang meragukan. Kalau benar seperti yang kausangka bahwa yang membunuh suamimu adalah sute dari puterimu, lalu apa alasannya? Mengapa dia membunuh suamimu yang baru dijum-painya?"

"Akupun sudah memikirkan hal itu dan menemukan jawabannya. Aku dapat melihat bahwa sute dari puteriku yang namanya kalau tidak salah Coa Bong Gan, yang usianya lebih tua dari puteriku walaupun dia sutenya, agaknya jatuh cinta kepada Bi Sian. Sebagai orang yang jatuh cinta dan mengharapkan cintanya terbalas, tentu saja dia ingin selalu kelihatan sebagai seorang pemuda yang baik, bukan?"

Bouw Tek mengangguk, menatap tajam karena dia mengikuti dengan penuh perhatian dan amat tertarik.

"Nah, dalam penyelidikanku itu, aku mendengar bahwa Bong Gan itu juga berada di rumah pelacuran ketika suamiku ke sana. Mereka saling melihat walaupun Bong Gan pura-pura tidak mengenalnya. Pertemuan itulah yang menjadi alasan mengapa pemuda itu membunuh ayah Bi Sian. Tentu dia khawatir kalau-kalau Bi Sian akan mendengar dari ayahnya bahwa dia melacur di rumah pelacuran! Dan karena dia pun memiliki ilmu kepandaian tinggi sebagai murid Koay Tojin, maka dengan mudah dia melakukan pembunuhah itu dan menyamar sebagai Sie Liong. Dengan memakai kedok dan mengganjal punggungnya menjadi bongkok, mudah saja dia menjatuhkan fitnah kepada Sie Liong. Nah, bagaimana pendapatmu, toako?"

Lie Bouw Tek masih memandang dengan kagum dan mendengar pertanyaan itu dia mengangguk-angguk.

"Kuat juga alasan itu, Hong-moi. Dan mengapa engkau melakukan pencarian ke daerah Tibet? Apakah engkau sudah yakin bahwa adikmu dan puterimu itu pergi ke Tibet? Dan di mana pula adanya sute dari puterimu itu?"

"Coa Bong Gan pergi bersama Bi Sian, agaknya hendak membantunya menghadapi Sie Liong. Pernah Sie Liong bercerita kepadaku bahwa dia diberi tugas oleh para gurunya untuk melakukan penyelidikan terhadap para pendeta Lama di Tibet, entah untuk apa aku tidak tahu. Karena teringat akan keterangannya itulah aku mencari ke daerah ini dan hendak pergi ke Lasha."

Lie Bouw Tok diam-diam terkejut dan juga girang.

Kiranya Pendekar Bongkok menertma tugas dari guru-gurunya dan tugasnya itu sama benar dengan tugas yang dia terima dari Kun-lun-pai, menyelidiki keadaan para pendeta Lama di Tibet yang memusuhi Kun-lun-pai!

Diapun pernah mendengar dalam perantauannya di daerah ini bahwa para pendeta Lama di Tibet memusuhi para pertapa dan terutama para tosu di Himalaya sehingga banyak tosu yang menyelamatkan diri meninggalkan Pegunungan Himalaya.

Agaknya tugas Pendekar Bongkok yang menyelidiki para pandeta Lama itu ada hubungannya dangan hal itu.

"Setelah mendangar riwayatmu, aku sekarang jelas mengapa engkau pergi seorang diri mencari puterimu dan adikmu di daerah yang berbahaya ini, Hong-moi. Jangan khawatir, aku akan membantumu mencari mereka sampai dapat. Sukurlah kalau belum terjadi apa-apa antara adikmu dan puterimu. Akan tetapi menurut pengetahuanmu, siapa diantara mereka yang lebih lihai, Hong-moi?"

"Kukira Sie Liong lebih lihai, akan tetapi akupun yakin bahwa dia tidak mungkin mau melawan keponakan yang amat disayangnya itu. Aku khawatir sekali, toako."

"Kalau begitu, yang penting adalah mencari dan menemukan puterimu, Hong-moi. Engkau harus menceritakan senua rahasia itu kepadanya, tentang pembunuhan terhadap ayahnya yang dilakukan sutenya sendiri, bukan oleh pamannya."

Lan Hong mengangguk lemah.

"Akan kulakukan itu, walaupun hal itu pasti akan sangat menyedihkan hatinya."

Malam telah larut dan Lan Hong dipersilakan mengaso dan tidur, sedangkan Bouw Tek berjaga di depan guha, dekat api unggun.

Dia semakin tertarik kepada Lan Hong.

Tak dapat dia menyalahkan Lan Hong yang dahulu terpaksa menyerahkan diri kepada pembunuh orang tuanya itu untuk menyelamatkan adik kandungnya.

Sungguh terkutuk perbuatan ayah Bi Sian itu, akan tetapi dia sudah mati dan memang sepatutnya kalau dia mati terbunuh.

Orang yang amat jahat!

Dan diapun menjadi semakin kagum kepada Pendekar Bongkok, dan ingin sekali mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan pendekar itu.

Bukan saja untuk berkenalan, akan tetapi juga untuk....

membicarakan soal keputusan hatinya.

Setelah mendengarkan riwayat Lan Hong, sudah bulat tekadnya untuk meminang janda ini menjadi isterinya!

Semua mata memandang, semua kepala menoleh ketika Sie Liong dan Ling Ling memasuki kedai makanan itu.

Ling Ling adalah sebrang gadis yang terlampau menarik untuk dilewatkan begitu saja oleh mata pria.

Dan temannya, Sie Liong, juga seorang pemuda yang terlampau aneh dengan cacatnya, sehingga semua orang tertarik untuk memandangnya.

Mereka memasuki sebuah kedai makan di kota Nam-leng yang berada di sebelah barat kota besar Lasha pada tengah hari itu untuk makan siang.

Seorang pelayan kedai menyambut mereka dan membawa mereka ke sebuah meja kosong di sudut kanan, diikuti pandang mata belasan orang tamu yang sedang duduk makan di kedai itu.

Segera terdengar suara bisik-bisik, bahkan ada yang agak keras diselingi tawa sehingga terdengar sepenuhnya oleh pendengaran Sie Liong yang tajam terlatih, dan terdengar sebagian oleh Ling Ling.

"Amboi.... manisnya....!"

"Lihat bentuk tubuhnya.... seperti kijang emas....!"

"Matanya.... ah, begitu jeli seperti bintang kejora!"

"Kalau aku, yang paling menarik adalah mulutnya. Lihat, bibirnya tipis merah segar, seperti buah masak membikin gemes!"

"Sayang ya, gadis semolek itu ditemani seorang.... ha-ha, seekor monyet!"

"Bukan monyet, dia setan bongkok yang baru muncul dari kuburan, ha-ha!"

"Siapa tahu, dia hanya pelayannya saja!"

"Atau saudaranya!"

"Tidak mungkin dia suaminya atau pacarnya. Huh, seperti onta begitu, mana mungkin berpasangan bidadari?"

Sie Liong diam saja, akan tetapi dia merasa betapa jantungnya seperti ditusuk-tusuk.

Dia tidak dapat merasa sakit hati lagi kalau dirinya diperolok orang.

Dia sudah yakin sepenuhnya akan keburukan dirinya yang cacat.

Dia pun tidak iri atau cemburu mendengar pria-pria itu memuji-muji kecantikan Ling Ling.

Memang Ling Ling seorang gadis yang manis sekali.

Akan tetapi semua olok-olok itu membuka matanya, menekan batinnya, membuat dia sadar sepenuhnya bahwa dia tidak pantas bersanding dengan Ling Ling!

Apalagi mencintanya!

Sungguh dia tidak tahu diri.

Pria cacat seperti dia mana pantas menjadi pacar atau suami seorang gadis semanis Ling Ling?

Mereka itu benar dalam olok-olok mereka.

Menjadi pelayan Ling Ling saja tidak patut kalau melakukan perjalanan bersama seperti itu.

Hanya akan menyeret Ling Ling dalam kerendahan dan membuat Ling Ling menjadi bahan olok-olok orang lain.

Ling Ling hanya dapat mendengar sebagian saja, akan tetapi cukup membuat kedua pipinya menjadi merah sekali.

Ingin rasanya ia memaki-maki para tamu itu.

Mereka berani merendahkan dan menghina Pendekar Bongkok!

Ingin ia membujuk Sie Liong agar menghajar mereka itu, agar terbuka mata mereka siapa adanya pemuda bongkok yang mereka pandang rendah dan hina itu!

Akan tetapi ia sudah cukup mengenal watak Pendekar Bongkok, tahu bahwa bujukannya takkan berhasil.

Pendekar Bongkok terlalu rendah hati dan panyabar.

Ketika ia melirik, ia melihat betapa Sie Liong sama sekali tidak terpengaruh semua ejekan itu, seolah-olah tidak pernah mandengarnya.

Diam-diam Ling Ling merasa penasaran, walaupun kagum.

Untuk melampiaskan rasa penasaran hatinya, iapun berkata dengan suara agak dikeraskan kepada Sie Liong.

"Liong-ko, kedai di sini cukup enak tempatnya, ya? Entah bagaimana dengan hidangannya, dan sayangnya, banyak sekali lalat kotor di sini!"

Sie Liong memandang kepadanya dan menahan senyumnya.

Tempat itu memang tidak amat bersih, akan tetapi juga tidak banyak lalat kotor seperti yang dikatakan Ling Ling dan dia mengerti bahwa gadis itu menjadi panas hatinya mendengar olok-olok para tamu itu.

Di antara para tamu ada segerombolan pemuda berusia lebih dua puluh lima tahun yang duduk di meja sebelah mereka, jumlah mereka ada tiga orang dan mereka tadi juga mengeluarkan kata-kata pujian terhadap Ling Ling dangan sikap berani dan berandalan.

Mendengar ucapan Ling Ling, seorang di antara mereka terkekeh.

"Wah, kita dianggap lalat kotor! Ha-ha, kalau aku benar menjadi lalat, aku akan terbang dan hinggap di pipinya untuk mencuri cium, atau di bibirnya yang akan kugigit dengan gemas!"

Kawan-kawannya tertawa mendengar kelakar yang kurang ajar itu.

"Liong-ko, yang membikin aku tidak kuat dan muak tentang lalat-lalat itu adalah suaranya. Mari kita pergi mencari kedai lain saja, Liong-ko!"

Kata pula Ling Ling, kini lebih marah lagi.

"Ha-ha, kawan-kawan. Kita tiga ekor lalat akan selalu terbang mengikutinya. Setuju?"

"Akur....!"

Seru teman-temannya pula.

Ling Ling tak dapat menahan lagi kemarahannya walaupun Sie Liong memberi isyarat dengan kedipan mata agar gadis itu diam.

Ia bangkit berdiri dan memanggil pelayan.

"Hei, bung pelayan, ke sinilah!"

Ketika pelayan datang, Ling Ling berkata sambil melirik ke arah meja di sebelah di mana tiga orang pemuda berandal itu duduk.

"Bung pelayan, kalau engkau tidak mau mangusir lalat kuning di sana itu, aku tidak jadi makan di sini. Dia kotor sakali, menjijikkan!"

Sie Liong hendak mencegah, namun gadis itu sudah terlanjur bicara, bahkan kini terang-terangan Ling Ling memandang dengan mata melotot kepada pemuda berpakaian kuning, seorang di antara mereka bertiga itu.

Tentu saja si pelayan menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ketika si baju kuning itu bangkit dengan marah dan bersama dua orang temannya menghampiri meja Ling Ling, pelayan itu mundur dan pergi ketakutan.

Si baju kuning kini menghampiri Ling Ling dan sambil tersenyum mengejek dia berkata.

"Nona manis, berani engkau menghinaku, ya? Kalau sekarang juga kupeluk kau, kucium pipimu dan kugigit bibirmu, engkau mau apa? Mau mengandalkan pengawalmu yang bongkok ini? Hayo minta maaf kepadaku, kalau tidak, akan kucium pipimu!"

Pada saat itu, Sie Liong bangkit berdiri karena dia khawatir kalau pemuda itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Berdirinya sudah terlalu dekat dan sekali tangannya menjangkau, dia tentu akan dapat merangkul Ling Ling yang kelihatan marah dan berani itu.

"Harap sam-wi suka bersabar dan maafkan kami. Kalau mulai saat ini sam-wi (kalian bertiga) tidak menyinggung kami, tentu kamipun tidak akan berani menyinggung sam-wi. Maafkanlah kami dan habiskan perkara yang tidak ada artinya ini sampai di sini saja."

Sikap dan ucapan Sie Liong ini dinilai sebagai pernyataan takut oleh tiga orang pemuda berandal itu.

"Apa kau bilang? Mana bisa kami memaafkan begitu saja! Nona ini harus minta maaf kepada kami, dan engkau ini onta bongkok harus berlutut minta maaf kepada kami, baru kami mau sudah!"

Sie Liong mangerutkan alisnya. Dia tidak ingin mencari keributan, akan tetapi kalau dia disuruh minta maaf sambil berlutut, tentu saja dia tidak sudi.

"Harap sam-wi tidak bersikap begitu. Kami adalah pendatang yang tidak ingin mencari permusuhan."

"Onta bongkok, engkau mencari permusuhan aku tidak takut! Tidak mencari pun, kami yang mencari permusuhan danganmu! Hayo ke sini rasakan hajaran kami!"

Kata si baju kuning. Pada saat itu, terdengar suara yang parau dan dalam, namun nyaring sehingga terdengar oleh semua tamu kedai makan itu.

"Ho-ho, siapa dia yang mencari permusuhan di sini? Hayo maju dan lawan aku!"

Tiga orang pemuda berandalan itu menengok dengan marah.

Mereka melihat seorang pria berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi besar, dengan jubah seperti pendeta akan tetapi pakaiannya butut seperti pengemis, dan tangan kirinya memegang sebuah hio-louw atau tempat abu sembahyang dari besi, tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut.

Melihat pakaiannya, orang-orang di situ tahu bahwa pria ini adalah sebangsa peminta derma untuk keperluan kuil atau para pendeta.

Dia semacam pesuruh para pendeta dan akan menerima imbalan beberapa bagian dari hasil pemberian derma yang dikumpulkannya.

Melihat seorang setengah pengemis yang menegur mereka, bahkan menantang, tiga orang pemuda berandalan itu tentu saja memandang rendah dan menjadi marah bukan main.

Si baju kuning lalu melompat ke dekat orang itu dan memaki.

"Kau ini pengemis busuk, jembel tua berani menegur kami dan berani menentang? Nah, aku melawanmu, nih, makan pukulanku!"

Si baju kuning langsung mangayun kepalan tangan kanannya ke arah muka orang itu.

Orang itu melihat mukanya dipukul, tidak mengelak, bahkan memutar mukanya dan menerima pukulan kepalan tangan itu dengan kepalanya yang berambut penuh uban, di bagian kiri atas telinga.

"Dukkkk!"

Pukulan itu keras sekali datangnya dan akibatnya, bukan yang punya kepala yang kesakitan melainkan si baju kuning yang menjerit kesakitan sambil terhuyung ke belakang dan memegangi tangan kanan dengan tangan kirinya.

Bukan main nyerinya tangan yang memukul tadi, seperti memukul besi dan seperti remuk rasanya semua buku tulang jari tangannya.

Hal ini membuat kedua orang temannya menjadi marah.

Mereka meloncat ke dekat kawan mereka dan kini mereka bertiga sudah mencabut golok yang tersembunyi di balik baju masing-masing.

Dengan tiga batang golok di tangan, tiga orang pemuda berandalan itu mengepung.

Akan tetapi, penarik derma itu tersenyum mengejek, tidak menurunkan hio-louw dan masih berdiri tegak dengan tongkat butut di tangan kanan.

Tiga orang pemuda itu mengeluarkan teriakan garang lalu mereka menerjang dari tiga jurusan, sementara para tamu di kedai itu memandangi dengan gelisah, akan tetapi mereka tidak berani beranjak dari tempat masing-masing, hanya menonton dengan hati penuh ketegangan.

Tiga batang golok berkelebatan ketika tiga orang pemuda itu menyerang dan biarpun gerakan mereka tidak menunjukkan gerakan silat tingkat tinggi, namun mereka masih muda dan tenaga mereka kuat, juga agaknya mereka sudah biasa berkelahi menggunakan kekerasan.

"Wuut-wuut-wuuut....!"

Tiga batang golok menyambar.

"Trang-trang-trangggggg....!"

Tiga batang golok itu disambar tongkat butut dan tiga batang golok itu terlempar dan lepas dari tangan para peme-gangnya.

Tongkat itu masih terus menyambar-nyambar dan kaki tiga orang pemuda itu terbabat, membuat mereka roboh terpelanting!

Semua orang menjadi berisik dan tiba-tiba orang itu menurunkan hio-louw di atas meja kasir.

Meja mengeluarkan suara berkeretekan saking beratnya hio-louw itu dan kini pemungut derma itu mengeluarkan sebuah bendera kecil yang ada gambarnya sebuah hati tersulam dengan benang emas.

"Kim-sim-pai....!"

Terdengar orang berbisik-bisik.

Mendengar disebutkannya Kim-sim-pang (perkumpulan Hati Emas), semua orang terkejut dan semua orang sudah tahu bahwa Kim-sim-pang adalah perkumpulan para pemberontak yang dipimpin oleh Kim Sim Lama.

Sudah terkenal sekali bahwa anggauta pemberontak ini banyak, juga mereka mempunyai jagoan-jagoan yang berilmu tinggi.

Ketika mendengar bisikan itu, tiga orang pemuda berandalan yang mengaduh-aduh sambil menggosok-gosok tulang kering kaki mereka yang terasa nyeri sekali, kini memandang dengan maka pucat dan nyali mereka terbang entah ke mana.

"Ha-ha-ha, kalian cacing tanah busuk. Hayo cepat serahkan semua milikmu sebagai sumbangan untuk menebus dosa atau kalian masih ingin berkenalan dengan tongkatku?"

"Baik...., baik...."

Tiga orang pemuda itu dengan tubuh gemetar segera mengeluarkan semua isi saku mereka, menyerahkan uang mereka kepada pengumpul derma itu dan memasukkan uang itu ke dalam hio-louw yang besar itu.

Melihat betapa tiga orang pemuda itu hanya mempunyai uang perak sebanyak tidak lebih dari sepuluh tail, pria tinggi besar itu menyeringai.

"Huh, nyawa kalian bertiga hanya kalian hargai sepuluh tail? Murah amat harganya nyawa kalian!"

"Maafkan kami, hanya itulah milik kami,"

Kata si baju kuning sambil memberi hormat, diikuti dua orang kawannya.

"Sudahlah,"

Kata pengumpul derma itu.

"Sekarang semua yang berada di sini, harap suka memberi derma kepada kami. Yang Mulia Kim Sim Lama tentu akan memberkahi kalian yang telah memberi derma. Silakan mengisi hio-louw ini!"

Para tamu saling pandang dan mereka semua sudah mendengar bahwa apabila permintaan derma orang-orang Kim-sim-pai ini tidak dipenuhi, mereka tentu akan menganggap bahwa yang tidak memberi derma adalah musuh, maka mereka akan manggunakan kekerasan untuk menghajarnya.

Maka, bangkitlah para tamu itu dan merekapun mengeluarkan isi saku mereka dan memasukkan uang ke dalam hio-louw.

Biarpun tidak semua orang menyerahkan seluruh isi kantong mereka, akan tetapi tidak ada yang berani memberi sedikit sehingga belasan orang ditambah pemberian pemilik kedai makanah, memberi derma yang cukup banyak, hampir setengah hio-louw besar itu.

Akan tetapi, Sie Liong dan Ling Ling tidak berdiri, melainkan melanjutkan makan hidangan yang mereka pesan dengan tenang.

Melihat ini, si baju kuning yang telah mendapatkan malu besar di depan para tamu dan terutama sekali penghinaan yang dideritanya itu ditonton pula oleh Pendekar Bongkok dan nona manis itu, lalu menumpahkan kedongkolannya kepada Pendekar Bongkok.

"Heiii, onta bongkok! Engkau dan nonamu itu belum juga menyerahkan derma? Apakah engkau sudah bosan hidup? Losuhu, mereka berdua itu belum menyerahkan dana, bolehkah kalau aku yang memaksa mereka untuk memberi derma?"

Untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, si baju kuning hendak menjilat si pengumpul dana dan hendak malakukan penghinaan terhadap Sie Liong dan Ling Ling.

Mendengar permintaan si baju kuning, pengumpul dana yang mulai merasa gembira karena hasil pemungutan dana itu dapat dikatakan berhasil baik, lalu mengangguk.

Si baju kuning dan dua orang temannya segera mencari golok mereka yang tadi terlepas dari tangan dan dengan lagak jagoan mereka bertiga menghampiri Sie Liong dan Ling Ling yang sedang makan.

Sementara itu, biarpun kelihatan tenang dan melanjutkan makan bersama Ling Ling seolah-olah semua keributan yang terjadi itu tidak menarik perhatiannya, namun sesungguhnya begitu si pengumpul dana itu mengeluarkan bendera kecil dan terdengar seruan orang tentang Kim-sim-pai, kemudian mendengar ucapan pria tinggi beser itu bahwa semua penyumbang akan diberkahi oleh Kim Sim Lama, dia sudah tertarik sekali.

Nama Kim Sim Lama pernah didengarnya dari Coa Kiu orang ke tiga dari Tibet Sam Sinto yang membantu Thai-yang Suhu tokoh Pek-lian-kauw ketika mereka menculik gadis-gadis dusun.

Menurut pengakuan Cia Kiu, Tibet Ngo-houw, yaitu lima orang pendeta Lama Jubah Merah yang pernah mengganggu guru-gurunya di pegunungan Kun-lun, adalah kaki tangan Kim Sim Lama yang hendak memberontak terhadap Dalai Lama!

Dan orang ini, si tinggi besar yang mengumpulkan dana dengan kekerasan, adalah seorang di antara anak bush Kim Sim Lama!

Maka, dia sudah memutar otak, mencari cara yang terbaik untuk menghubungi Kim Sim Lama melalui anak buahnya ini.

Hanya dengan memasuki tempat gerombolan pemberontak Tibet itulah dia akan dapat memperoleh keterangan yang amat baik tentang para pendeta Lama yang memusuhi para pertapa dan tosu di Himalaya.

Tiga orang pemuda berandalan yang berlagak jagoan itu, selain ingin me-ngambil hati si pemungut dana yang amat lihai itu, juga ingin melampiaskan kemarahan mereka kepada Sie Liong dan kalau mendapat kesempatan tentu saja ingin juga menggoda Ling Ling yang manis.

Dengan sikap digagah-gagahkan, dengan dada dibusungkan, mereka membawa golok mendekati Sie Liong dan Ling Ling.

Si baju kuning menggebrak meja sehingga makanan di atas meja itu ber-loncatan.

"Brakk! Hei, onta bongkok! Apakah telinganu juga sudah tuli?"

Sie Liong adalah seorang penyabar, akan tetapi sakarang dia dan terutama sekali Ling Ling diganggu orang selagi makan.

Dia mejnoleh dan memandang kepada si baju kuning.

"Hemm, sobat. Engkau tadi sudah dihajar oleh pemungut derma itu, apakah masih juga belum jera dan masih ingin menjual lagak di sini? Pergilah dan jangan ganggu kami!"

"Keparat, kau berani melawanku?"

Si baju kuning mengangkat goloknya dan diayun ke arah telinga Sie Liong.

Maksudnya jelas, untuk membuntungi sebelah telinga pemuda bongkok itu.

Melihat ini, Sie Liong menaanggalkan kesabaranhya.

Tangan kanan yang memegangi sumpit bergerak menotok ke arah pergelangan tangan si baju kuning.

"Tukkk!"

Golok itu terlepas dan sepasang sumpit itu masih terus meluncur ke depan, menotok ke arah dada.

Si baju kuning roboh berlutut dan sepakan kaki Sie Liong membuat dia terlempar dan terjengkang lalu terguling-guling!

Melihat ini, dua orang temannya yang tak tahu diri menjadi marah.

Mereka mengayun golok.

Akan tetapi, sepasang sumpit itu kini berada di kedua tangan Sie Liong, masing-masing tangan memegang sebatang dan sekali kedua tangan itu bergerak, dua orang itupun roboh terpelanting keras sekali karena mereka sudah kehilangan tenaga dan lemas seketika.

Seperti tadi, dua kali kaki Sie Liong menendang dan tubuh mereka terlempar sampai beberapa meter jauhnya.

Setelah itu, Sie Liong membersihkan sepasang sumpitnya, lalu melanjutkan makan minum.

Melihat ini, Ling Ling tersenyum gembira.

Mampus kalian, pikirnya.

Baru tahu ya siapa laki-laki yang bersama dengannya!

Biarpun hatinya menjadi benar sekali, terasa mekar saking gembira dan bangganyam, namun Ling Ling yang melihat Sie Liong kembali melanjutkan makan minum, iapun melanjutkan makan dengan sikap yang tenang sekali.

Terlalu tenang, sambil tak dapat ditahannya ia melirik ke sana sini sambil tersenyum-senyum.

Sie Liong tentu saja melihat sikap gadis itu dan diam-diam dia merasa geli, akan tetapi juga senang karena dia melihat betapa gadis itu bergembira sekali.

Tiba-tiba Ling Ling terbelalak, mukanya pucat memandang ke arah belakang Sie Liong dan ia berbisik.

"Liong-ko, awas.... dia datang....!"

Sie Liong memutar tubuhnya dan melihat pengumpul dana yang bertubuh tinggi besar itu sudah melangkah perlahan-lahan ke arah mejanya.

Sikap yang tenang dan langkah yang lambat itu bahkan mendatangkan keseraman, seolah-olah ada seekor biruang besar datang menghampiri, mengandung ancaman maut.

Sepasang matanya melotot dan agaknya dia marah sekali kepada Sie Liong.

Sie Liong hanya sejenak saja memandang, lalu dia membalikkan tubuhnya lagi dan melanjutkan makan, seolah-olah tidak terjadi sesuatu!

Melihat ini, Ling Ling juga menenang-nenangkan dirinya walaupun ia merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan gelisah.

Ia tadi sudah melihat betapa lihainya si pemungut derma itu, dan agaknya dia kini marah kepada Pendekar Bongkok.

Sementara itu, tiga orang pemuda yang tadi terkejut dan kesakitan terkena hajaran Pendekar Bongkok, kini sudah bangkit berdiri, agaknya siap membantu si pemungut dana.

Mereka tidak merasa malu telah dihajar oleh si pemungut derma yang ternyata adalah orang Kim-sim-pai, nama yang amat terkenal dan ditakuti di seluruh Tibet.

Akan tetapi dihajar oleh seorang pemuda asing yang bertubuh bongkok?

Sungguh merupakan penghinaan yang memalukan sekali, apa lagi si bongkok itu muncul bersama seorang gadis cantik!

Kini, melihat orang Kim-sim-pai menghampiri si bongkok, mereka mengharapkan agar si bongkok itu dihajar oleh orang Kim-sim-pai itu agar mereka dapat membalas penghinaan tadi, terhadap si bongkok maupun terhadap si gadls manis!

"Orang muda bongkok, dan kau juga nona.

Cepat keluarkan seluruh barang milik kalian dan karena kalian tadi berani menghina tiga orang yang membantuku, maka kalian harus juga menyerahkan pakaian yang menempel di tubuh kalian.

Hayo cepat!"

Mendengar perintah ini, tiga orang pemuda yang berada di belakang pendeta pemungut derma itu tertawa-tawa menyeringai, membayangkan betapa akan senangnya melihat nona manis itu dipakna bertelanjang bulat di depan meraka, juga si bongkok!

Akan tetapi kalau wajah Ling Ling berubah merah sekali mendengar ucapan orang Kim-sim-pai itu, sebaliknya Sie Liong bersikap tenang-tenang saja.

Akan tetapi dia memutar tubuhnya dan masih duduk, menghadapi raksaaa yang berdiri jangkung di depannya itu.

"Lo-suhu, engkau seorang pendeta, akan tetapi permintaanmu itu sungguh tidak sewajarnya. Bagaimana kalau kami menolak permintaanmu itu?"

Orang tinggi besar itu terbelalak kemudian tertawa bergelak.

Perutnya yang besar itu terguncang dan suara ketawanya menggetarkan seluruh tamu yang berada di situ.

"Ha-ha-ha! Orang muda bongkok! Engkau belum mengenal siapa aku? Aku disebut orang Si Biruang Hitam dan belum pernah ada orang berani menentang perintahku! Kalau kalian tidak mentaati aku dan berani menolak perintahku, terpaksa aku akan dengan paksa menelanjangi kalian di sini, kemudian kubikin bongkokmu menjadi lurus!"

"Ha-ha-ha!"

Tiga orang pemuda itu tertawa dan disambung oleh si baju kuning.

"Lo-suhu, kalau bongkoknya diluruskan, berarti tulang punggungnya akan patah-patah dan dia akan mampus!"

"Kebetulan kalau begitu! Si manis ini kita yang merawat dan memeliharanya!"

Kata yang lain.

Kedua pipi Sie Liong mulai berubah merah dan diapun bangkit berdiri.

Memang dia nampak bongkok dan lemah di depan anggauta Kim-sim-pai yang tinggi besar dan menyeramkan itu, seperti seekor domba berhadapan dengan seekor biruang!

Semua tamu memandang gelisah, bahkan Ling Ling juga agak pucat, khawatir kalau-kalau "jagonya"

Sekali ini akan kalah karena sikap orang Kim-sim-pai itu memang menyeramkan sekali.

"Lo-suhu, sungguh aku merasa heran sekali melihat sikap dan sepak terjangmu. Engkau berjubah pendeta dan engkau mengumpulkan dana untuk para pendeta dan kuil. Ini berarti bahwa engkau adalah seorang manusia yang menjauhkan diri dari kesesatan, menjauhkan diri dari kekuasaan iblis yang bekerja melalui pengaruh nafsu, mendekatkan diri dengan Tuhan dan selalu mengikuti jalan kebenaran. Akan tetapi mengapa sepak terjangmu seperti ini? Sebanarnya engkau ini pendeta ataukah penjahat? Sadarlah, losuhu, sebelum terlambat!"

Sepasang mata itu melotot, mulut itu ternganga karena anggauta Kim-sim-pang itu terheran-heran, hampir tidak percaya bahwa ada seorang pemuda, bertubuh cacat bongkok pula, berani mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya!

Kalau yang berkata demikian itu atasannya di Kim-sim-pang, atau setidaknya seorang pendeta Lama yang berilmu tinggi, atau seorang pejabat tinggi yang berkuasa, dia tidak akan merasa heran.

Akan tetapi seorang pemuda biasa, asing pula, bongkok pula, berani mengucapkan kata-kata seperti itu, di depan umum pula?

Dia merasa terhina bukan main dan api kemarahan seperti hendak membakar-hanguskan kepala dan dadanya!

"Demi semua dewa dan iblis!

Siapakah engkau berani berkata seperti itu kepada Biruang Hitam?

Hayo mengaku siapa engkau sebelum engkau terlanjur mampus dan menjadi mayat tanpa nama!"

Berkata demikian, Si Biruang Hitam itu sudah menggerak-gerakkan sepuluh buah jari tangannya dun terdengar bunyi berkerotokan seolah-olah semua potongan tulang jari tangannya menjadi hidup dan berteriak-teriak.

Sie Liong bersikap tenang saja.

Dia tahu apa artinya bunyi berkerotokan pada buku-buku jari tangan orang itu.

Seorang yang memiliki tenaga yang amat kuat dan jari-jari tangan itu telah terlatih, akan tetapi tenaga itu baginya tidak berbahaya, hanya merupakan tenaga luar yang nampaknya saja dahsyat.

"Namaku Sie Liong dan aku sama sekali tidak ingin memusuhimu, akan tetapi tentu saja aku akan menentang segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan oleh siapapun juga."

"Bagus! Aku akan menelanjangimu, baru membunuhmu dan menyerahkan nona ini kepada tiga orang pemuda ini!"

Berkata demikian, pendeta pemungut dana itu sudah menubruk ke depan, gerakannya memang mirip seekor biruang yang menyerang dahsyat.

Namun, Sie Liong sudah siap siaga dan dengan mudah dia menggeser kaki dan tubuhnya menyelinap ke kiri sehingga tubrukan itu luput.

"Hyaaaaahhhhh....!"

Pendeta itu semakin marah ketika tubrukannya luput dan dengan bentakan nyaring, kedua lengannya yang tadi menjulur ke depan, segera dibabatkan ke kanan mengejar bayangan Sie Liong dan kedua tangannya membentuk cakar harimau, mencengkeram ke arah dada dan muka Pendekar Bongkok.

Karena serangan susulan ini amat cepat datangnya dan dahsyat sekali, Sie Liong menyambutnya dengan tangkisan lengan kanan yang diputar dari kiri bawah ke kanan atas.

"Desss....!!"

Kedua lengan pendeta itu sekaligus tertangkis oleh lengan kanan Sie Liong yang mengerahkan sin-kang dan akibatnya, tubuh pendeta itu terpelanting dan jatuh terbanting menimpa meja!

Sungguh sial baginya, mukanya berada di bawah dan tanpa dapat dicegahnya lagi, mukanya masuk ke dalam mangkok besar yang masih terisi masakan!

Seperti harimau terjebak, dia menggereng marah dan ketika dia meloncat bangkit lagi, mukanya penuh dengan kuah dan saus tomat, nampak buruk, lucu, akan tetapi juga mengerikan!

Pada saat itu, Sie Liong mendengar suara Ling Ling menjerit dan ketika dia menoleh, ternyata tiga orang pemuda itu seperti berlumba hendak menelanjangi dan menciumi Ling Ling yang melawan mati-matian, mencakar dan menampar sejadi-jadinya.

"Pengecut-pengecut busuk!"

Sie Liong membentak marah, tangannya meraih beberapa batang supit dari meja berdekatan dan begitu tangan itu bergerak, tiga batang sumpit meluncur bagaikan anak panah.

Tiga orang pemuda yang sedang memperebutkan Ling Ling itu menjerit dan roboh sambil berteriak-teriak dan mengaduh-aduh kesakitan karena pangkal lengan mereka dekat pundak telah tertembus sebatang sumpit!

Rasa nyeri membuat tubuh mereka panas dingin, lengan lumpuh dan mereka hanya dapat mengaduh-aduh dan menggeliat-geliat seperti cacing-cacing terkena abu panas!

Ling Ling yang marah bukan main kepada mereka, segera menyambar barang seadanya di atas meja berdekatan, lalu menimpakan segala macam piring mangkok berikut sisa isinya ke atas kepala tiga orang itu.

Terdengar suara hiruk pikuk pecahnya mangkok piring di atas kepala tiga orang pemuda itu yang menjadi semakin kesakitan.

Nampak kepala mereka berdarah dan dahi mereka benjol-benjol!

Kini perkelahian antara tokoh Kim-sim-pai dan Pendekar Bongkok berlangsung seru.

Meja kursi berserakan dan pendeta itu sudah marah dan penasaran bukan main.

Semua serangannya selalu dapat dielakkan lawan, bahkan setiap kali ditangkis, dia merasa seluruh lengannya nyeri dan tubuhnya tergetar hebat.

Sebagai seorang ahli silat yang tingkatnya cukup tinggi, tahulah anggauta Kim-sim-pai itu bahwa pemuda bongkok itu sungguh memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, dan ilmu silat yang tinggi dan aneh.

"Pemuda bongkok, sekarang saatnya engkau mampus!"

Bentak orang itu dan dia menyambar tongkat bututnya yang tadi dia letakkan di atas meja bersama hio-louw yang sudah terisi banyak uang sumbangan dari para tamu yang ketakutan tadi.

Kalau tadi dia tidak mau mempergunakan tongkatnya adalah karena dia memandang rendah pemuda bongkok itu.

Setelah semua serangannya gagal bahkan tiga kali dia terpelanting, akhirnya dia tidak mau sungkan lagi dan sudah menyambar tongkat bututnya dan sambil menggereng diapun menyerang dengan tongkatnya.

Tongkat itu terbuat dari kayu hitam yang berat dan kerasnya seperti besi.

Besarnya hanya selengan tangan dan panjangnya setinggi tubuh pemiliknya.

Namun, ketika dipakai menyerang, tongkat itu berputar den lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar hitam yang mengeluarkan suara bersiutan!

Melihat gerakan lawan yang menggunakan tongkat, tahulah Sie Liong bahwa tongkat lawan itu cukup berbahaya.

Maka, diapun tidak mau membuang banyak waktu lagi.

Dia mengerahkan tenaganya dan kedua tangannya mengepulkan uap putih ketika dia bergerak dengan ilmu Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih).

Dengan berani dia menyambut gulungan sinar hitam itu dengan kedua tangannya, menangkis sambil mengerahkan tenaga Pek-in Sin-ciang.

"Krakkkk!"

Tongkat itu patah-patah menjadi tiga potong dan selagi anggguta Kim-sim-pai itu terkejut, tangan kiri Sie Liong sudah mendorongnya dengan pengerahan Swat-liong-ciang (Pukulan Naga Salju).

"Plakkk!"

Nampaknya tidak terlalu keras telapak tangan kiri Sie Liong mengenai dada dekat pundak lawan, namun akibatnya sungguh hebat.

Tubuh tinggi besar itu terjengkang menabrak meja kursi dan ketika akhirnya dia merangkak bangun, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil kedinginan!

Demikian hebatnya pukulan Swat-liong-ciang itu, mengandung kekuatan sin-kang yang amat dingin menembus tulang!

Masih untung bagi pendeta itu bahwa Sie Liong tidak berniat membunuhnya sehingga membatasi tenaganya.

Kalau dia menggunakan seluruh tenaga Swat-liong-ciang, tentu la-wannya takkan mampu bangkit kembali, darahnya akan menjadi beku dan dia akan tewas seketika.

Orang itu yang berjuluk Biruang Hitam, bangkit dan memandang kepada Sie Liong dengan mata terbelalak.

"Kau.... kau.... yang berjuluk Pendekar Bongkok....!"

Akhirnya dia bertanya. Sie Liong tidak menjawab, hanya mengangguk. Kembali orang itu nampak terkejut dan dia lalu menghela na-pas panjang.

"Pendekar Bongkok, nama besarmu bukan kosong belaka. Aku mengaku kalah, akan tetapi urusan kita bukan berakhir sampai di sini saja!"

Kalimat terakhir itu mengandung ancaman dan diapun menghampiri hio-louw di atas meja dan mengangkatnya lalu melangkah hendak pergi.

"Biruang Hitam, tahan dulu! Engkau telah merusakkan banyak prabot rumah makan ini dan hendak pergi begitu saja membawa semua sumbangan itu? Tinggalkan semua isi hio-louw itu di sini!"

Kata Sie Liong yang melihat banyak meja kursi patah-patah dan mangkok piring pecah-pecah.

Biruang Hitam itu berhenti, lalu membalikkan tubuhnya, menyeringai pahit dan tiba-tiba dia berkata.

"Nah, terimalah ini!"

Dia melontarkan hio-louw yang amat berat itu ke arah Sie Liong!

Ling Ling terkejut sekali karena hio-louw yang berat itu menyambar ke arah Sie Liong, juga para tamu di rumah makan itu terbelalak dan merasa tegang.

Namun, dengan tangan kirinya, Sie Liong menyambut hio-louw itu, lalu menuangkan seluruh isinya ke atas meja.

Kemudian, dia melontarkan kembali hio-louw itu ke arah Biruang Hitam sambil berseru.

"Bawalah pulang hio-louwmu ini dan jangan lagi mengganggu penduduk!"

Hio-louw itu melayang ke arah Biruang Hitam yang terpaksa menerimanya dengan kedua tangannya.

Akan tetapi kini berat hio-louw itu ditambah dengan tenaga lontaran yang amat kuat dari Sie Liong.

Biruang Ritam terhuyung dan biarpun dia tidak sampai roboh, namun ketika akhirnya dia dapat bertahan berdiri dengan kedua kaki gemetar, dari ujung mulutnya mengalir darah segar.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam menerima lontaran kembali hio-louw kosong tadi, dia telah menderita luka dalam.

Tanpa bicara lagi diapun melangkah pergi meninggalkan rumah makan itu.

"Pendekar Bongkok....!"

Kini para tamu berbisik-bisik, menyebutkan nama ini dan mereka memandang kepada pemuda bongkok itu dengan sinar mata penuh kagum, heran dan juga gentar.

Tiga orang pemuda yang tadi roboh terkena tusukan sumpit kemudian dihajar kepala mereka dengan mangkok piring oleh Ling Ling, kini merangkak dan dengan tubuh gemetar ketakutan mereka berlutut dan menghadap ke arah Sie Liong.

"Taihiap, harap, ampunkan kami...."

Katanya.

"Ampun, taihiap, mata kami seperti buta tidak melihat seorang pendekar sakti...."

Kata yang ke dua.

"Taihiap.... Siocia (nona).... kami tidak berani lagi...."

Kata pemuda yang ke tiga.

Melihat sikap tiga orang pemuda yang rupanya sudah tidak karuan itu, baju robek-robek, muka berlepotan kuah, masakan dan darah, dahi benjol-benjol, pundak masih tertusuk sumpit, mengangguk-angguk sambil berlutut, Ling Ling dan Sie Liong saling pandang dan keduanya lalu tertawa geli.

"Liong-ko, biarkan tiga lalat ini terbang pergi!"

Kata Ling Ling gembira dan bangga bukan main karena kemenangan Sie Liong yang menimbulkan kekaguman kepada semua orang.

Kalau tadi se-mua orang memandang kepada Sie Liong dengan sinar mata mencemooh, kini semua mata memandang kagum dan juga gentar!

Sie Liong lalu memandang kepada tiga orang itu.

"Nah, kalian sudah mendengar? Hayo terbang pergi!"

Bentaknya.

Tiga orang pemuda itu lalu bangkit dan dengan terhuyung-huyung mereka lari keluar dari rumah makan itu, diiringkan senyum bahkan suara ketawa beberapa orang tamu rumah makan.

Sie Liong memanggil pengurus rumah makan.

"Engkau perhitungkan berapa kerugian karena kerusakan ini, lalu ambil dari uang di atas meja ini. Selebihnya, kembalikan kepada para tamu yang tadi dipaksa untuk memberi sumbangan."

Dia lalu mengeluarkan uang membayar harga makanan dan minuman, kemudian memegang tangan Ling Ling dan menggandeng gadis itu keluar dari situ.

Dengan bangga sekali Ling Ling me-megang tangan pendekar itu dan ketika mereka berjalan keluar, ia merapatkan tubuhnya.

Akan tetapi ia tidak tahu betapa diam-diam Sie Liong merasa khawatir sekali.

Ikutnya Ling Ling dengannya akan mendatangkan banyak kesulitan bagi dirinya dan terutama sekali bahaya besar bagi Ling Ling.

Pula, tadi di rumah makan sudah terbukti jelas betapa gadis itu selama hidupnya akan menderita batin mendengar ejekan orang-orang kalau sampai menjadi teman hidupnya.

Gadis yang semanis Ling Ling tidak pantas menjadi isteri seorang pria cacat seperti dia!

Kalau dipaksakan, Ling Ling akan selalu mendengar ejekan orang.

Masih baik kalau perasaan dan hatinya kuat, bagaimana kalau kelak sampai terguncang?

Bukan tidak mungkin, dan dia pun tidak akan terlalu menyalahkan kalau kelak timbul penyesalan dalam hati Ling Ling, telah menjadi isteri seorang pria yang cacat!

Siapa tahu kelak akan datang penggoda, seorang pria yang tampan dan baik, sehat dan tidak cacat, dan hati Ling Ling jatuh.

Kalau terjadi demikian, dia tidak akan dapat menyalahkan Ling Ling walaupun hal itu akan menghancurkan hatinya.

Daripada menghadapi bahaya seperti itu, jauh lebih baik menyingkiri bahaya itu.

Dan satu-satunya jalan adalah berpisah dari Ling Ling!

Hal itu sudah sejak lama dia pikirkan, sebelum mereka memasuki kota Lok-yang.

Ling Ling adalah seorang gadis yang manis sekali dan setiap orang pemuda tentu akan mudah jatuh cinta kepadanya.

Masih banyak sekali pemuda yang tampan dan berbudi baik, yang pantas untuk menjadi jodoh gadis yang bernasib malang ini.

Dia tahu bahwa diam-diam dia amat tertarik kepada Ling Ling, bahkan dapat dia mengaku bahwa dia telah jatuh cinta kepada Ling Ling dan akan merasa berbahagia sekali kalau selanjutnya dia hidup berdampingan dengan gadis itu sebagai suami isteri.

Dan diapun dapat merasakan bahwa Ling Ling mencintanya!

Akan tetapi, tentu cinta gadis itu timbul karena merasa berhutang budi dan merasa kasihan, bukan cinta seorang wanita yang tertarik oleh seorang pria.

"Tidak, aku tidak boleh merusak kehidupan Ling Ling!"

Demikian dia telah mengambil keputusan sebelum mereka memasuki Lasha.

Dan begitu masuk kota itu, dalam rumah makan tadi, kembali mereka telah mengalami gangguan yang timbul karena Ling Ling berdekatan dengan dia!

Andaikata Ling Ling memasuki rumah makan itu bersama seorang pria yang sepadan, seorang pemuda yang tampan dan gagah, tak mungkin timbul keributan tadi.

Tentu tidak akan ada yang mengejek.

Peristiwa itu membuat dia semakin teguh dalam nintnya untuk memisahkan diri dari Ling Ling.

Dia sedang menunaikan tugas yang amat berbahaya.

Banyak lawan yang lihai berada di depannya.

Kalau dia diikuti oleh Ling Ling, hal itu tentu akan mendatangkan bahaya besar mengancam diri Ling Ling.

"Kita sekarang ke mana, Liong-ko?"

Tanya Ling Ling dengan sikap manis.

"Kita ke rumah penginapan dulu, Ling-moi. Engkau perlu beristirahat dan nanti aku akan pergi sebentar untuk melakukan penyelidikan, melaksanakan tugasku. Hanya kuminta agar engkau tidak keluar dari kamarmu sebelum aku pulang, karena seperti engkau lihat sendiri tadi, di sini juga banyak berkeliaran orang jahat."

Mereka memilih sebuah rumah penginapan dan menyewa dua buah kamar yang berdampingan.

Setelah mendapatkan dua buah kamar, Sie Liong sekali lagi memesan kepada Ling Ling agar jangan keluar dari dalam kamar sebelum dia kembali.

"Baik, Liong-ko. Kalau aku tidak boleh ikut denganmu, aku akan menanti dalam kamar ini sampai engkau pulang. Biar setahun akan kunanti!"

Katanya setengah bergurau, lalu disambungnya cepat.

"Akan tetapi, Liong-ko, kau nanti jangan terlalu lama, ya?"

Sie Liong mengangguk, kemudian meninggalkan kamar itu setelah menyuruh Ling Ling menutupkan daun pintu rapat-rapat.

Sie Liong lalu pergi kembali ke rumah makan tadi.

Pengurus rumah makan menyambutnya dengan ramah dan penuh hormat.

"Ah, taihiap datang kembali? Apakah yang dapat kami bantu untuk taihiap?"

Tanya pemimpin rumah makan itu.

"Dapatkah aku bicara empat mata denganmu, toako?"

Tanya Sie Liong kepada pemilik rumah makan yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu.

Pemilik rumah makan itu memandang heran, akan tetapi dia mengangguk dan mempersilakan Sie Liong masuk ke bagian belakang rumah makan itu yang merupakan rumah tinggalnya bersama isteri dan dua orang anaknya.

"Begini, toako. Aku berani bicara denganmu karena engkaulah satu-satunya orang yang kukenal di Lasha ini, walaupun barn sekali kita bertemu yaitu ketika terjadi keributan tadi. Engkau sudah mengenal siapa aku dan kuharap engkau suka membantuku. Engkau sudah melihat nona yang datang bersamaku tadi?"

Pcmilik rumah makan itu mengangguk, dan semakin heran.

"Ia adalah seorang sahabat baikku, akan tetapi ia yatim piatu dan hidup sebatangkara, juga ia seorang gadis yang lemah. Aku sedang melaksanakan tugas penting dan tidak mungkin membawanya terus karena hal itu akan menimbulkan bahaya seperti yang kaulihat sendiri dalam peristiwa tadi. Mengertikah engkau, toako?"

Pemilik rumah makan itu mengangguk, akan tetapi mengerutkan alis karena dia tetap tidak mengerti mengapa pendekar ini menceritakan itu semua kepadanya.

"Sebelum aku melanjutkan, aku hendak memperkenalkan diri kami lebih dahulu, toako. Namaku Sie Liong dan seperti engkau mendengar tadi, aku dijuluki orang Pendekar Bongkok. Adapun sahabatku itu bernama Sam Ling, biasa disebut Ling Ling. Ia yatim piatu dan menjadi tanggung jawabku. Nah, sekarang aku akan mencarikan sebuah tempat tinggal yang aman bagi Ling Ling, sebuah keluarga yang dapat kupercaya untuk ditumpangi gadis itu. Untuk sementara waktu saja, sampai aku menyelesaikan tugasku, entah berepa hari lamanya. Dan tentu saja aku akan membayar semua biaya yang dikeluarkan selama Ling Ling mondok pada keluarga itu. Demikianlah, toako, dapatkah engkau menolong kami?"

Pemilik rumah makan itu adalah seorang keturunan Han Tibet, seperti juga Ling Ling. Dia menarik napas panjang.

"Taihiap, semua orang di Lasha tahu bahwa aku adalah seorang pemilik rumah makan ini sejak ayahku dahulu dan bahwa kami adalah orang-orang yang mencari penghasilan dengan jujur. Aku dapat mengerti keadaan taihiap dan nona itu, dan seandainya tidak terjadi peristiwa tadi, tentu dengan senang hati aku menerima nona Ling Ling untuk tinggal di rumah kami sementara waktu. Akan tetapi.... setelah peristiwa tadi terjadi, amatlah berbahaya kalau ia tinggal bersama kami, taihiap. Tentu semua orang akan tahu bahwa ia mondok bersama kami dan kalau hal ini terdengar oleh tiga orang pemuda berandalan tadi, kemudian terdengar oleh Kim-sim-pai, tentu kami sekeluarga akan celaka! Taihiap tidak menghendaki kami sekeluarga celaka, bukan?"

Sie Liong menghela napas. Dia dapat mengerti alasan yang dikemukakan pemiliki rumah makan itu.

"Tentu saja kami tidak menghendaki demikian. Akan tetapi barangkali engkau dapat menunjuk keluarga lain yang kiranya dapat kutitipi Ling Ling untuk sementara waktu...."

Pemilik rumah makan itu mengingat-ingat, kemudian dia memandang pendekar itu dengan senyum cerah.

"Ah, memang ada dan tepat sekali, taihiap. Seorang bibiku yang sudah tua hidup seorang diri di kota ini, di sudut kota dan dalam kampung yang tersembunyi dan sepi. Bibi Cili tentu akan suka menerima nona Ling Ling untuk sementara tinggal bersamanya. Ia bibiku sendiri, taihiap dan boleh percaya!"

Wajah Sie Liong berseri gembira.

"Bagus! Sungguh aku berterimakasih sekali kepadamu, toako. Dapatkah kita sekarang pergi menemui bibi Cili untuk membicarakan masalah ini?"

Pemilik rumah makan itu dengan senang hati mengantar Sie Liong mengunjungi janda Cili dan benar saja seperti yang dikatakan pemilik restoran itu.

Janda itu dengan senang hati menerima kehadiran Ling Ling di rumahnya berarti ia mempunyai seorang teman.

Janda berusia lima puluh lima tahun ini ramah dan juga nampak sehat.

Rumahnya tidak terlalu besar namun bersih dan pantas, karena janda ini hidup dari tunjangan para keponakannya, antara lain dari pemilik rumah makan itu.

Malam itu juga Sie Liong mangajak Ling Ling untuk pindah ke rumah janda Cili.

"Akan tetapi kenapa kita harus pindah kamar malam ini juga, Liong-ko?"

Tanya Ling Ling ketika berkemas.

"Bukan kita, Ling-moi, melainkan engkau sendiri."

Tangan yang tadinya sibuk mengemasi pakaian berhenti bergerak dan sepasang mata Ling Ling terbelalak menatap wajah Sie Liong.

"Aku sendiri? Dan engkau....?"

"Aku harus melakukan penyelidikan melaksanakan tugasku, Ling-moi, engkau akan tinggal bersama bibi Cili untuk sementara waktu sampai selesai tugasku dan...."

"Tidak, Liong-ko, tidak..... Aku tidak mau berpisah.... aku tidak mau kautinggalkan! Aku ikut bersamamu, Liong-ko, ke manapun engkau pergi....!"

Gadis itu memandang dengan wajah membayangkan kegelisahan.

Sie Liong tersenyum dan memegang tangannya, tangan yang dingin dan gemetar, tangan seorang yang jelas amat membutuhkan perlindungannya.

"Tenanglah, Ling-moi. Tidak mungkin engkau ikut denganku selama aku mengadakan penyelidikan. Terlalu berbahaya. Ingat saja tadi, di rumah makan, sudah muncul ancaman bahaya. Apalagi kalau aku melakukan penyelidikan dan bertemu dengan banyak lawan yang tangguh...."

"Aku tidak takut, koko! Aku tidak takut! Biar sampai mati sekalipun aku rela asal dekat denganmu. Bersamamu, aku tidak takut menghadapi apapun juga, anal kita jangan saling berpisah...."

"Aku percaya bahwa engkau tidak takut, Ling-moi, akan tetapi akulah yang khawatir. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, aku akan selamanya menyesal. Karena itu, biarlah untuk sementara ini engkau tinggal bersama bibi Cili, seorang janda yang ramah. Nanti setelah tugasku selesai, aku akan menjemputmu. Bagaimanapun, engkau harun dapat membiasakan diri, Ling-moi. Tak mungkin kita akan selamanya berkumpul...."

"Liong-koko.... Aku ingin selamanya berkumpul denganmu.... ah, aku.... aku.... jangan tinggalkan aku, koko...."

Dan Ling Ling menangis!

Sie Liong mengerutkan alisnya, hatinya seperti diremas.

Dia maklum akan isi hati gadis itu.

Akan tetapi, dia harus mengeraskan hatinya.

Demi kebahagiaan Ling Ling di kemudian hari.

Sekarang ini, demi keamanan Ling Ling.

"Ling-moi! Apakah engkau mulai sekarang membantah keinginanku? Apakah engkau ingin membuat aku bingung dan susah?"

Tangis itu seketika berhenti dan gadis itu mengangkat mukanya, menatap wajah Sie Liong dengan muka pucat.

Tangisnya terhenti akan tetapi mata yang terbelalak itu kemerahan dan masih berlinang air mata.

"Maaf.... maafkan aku, koko. Aku tidak ingin membuatmu bingung dan susah.... aku taat.... aku patuh, aku hanya ingin selalu berada di sampingmu. Mati bukan apa-apa bagiku, akan tetapi berpisah dari sampingmu.... ah, tak dapat aku membayangkan itu...."

Ia menutupi mukanya, tidak menangis lagi melainkan seolah-olah hendak menutupi penglihatan bayangan yang menakutkan dan menyedihkan.

Sie Liong membiarkan gadis itu menguasai dirinya kembali.

Dia memang sudah menduga sebelumnya bahwa keputusannya yang disampaikan kepada Ling Ling tentu akan diterima dengan kaget dan sedih oleh gadis itu.

Setelah dia melihat gadis itu menurunkan kedua tangannya dari depan mukanya, Sie Liong tersenyum kepadanya, senyum yang membesarkan hati, senyum yang ramah dan penuh pengertian.

"Ling-moi, kita manusia hidup di dunia ini harus selalu siap untuk menghadapi segala macam peristiwa tanpa menilainya sebagai suka dan duka. Semua adalah wajar saja, karena kita yakin bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, Ling-moi. Pertemuan akan selalu berakhir dengan perpisahan, hanya waktu saja yang berbeda dan menentukan, oleh karena itu, kita selalu harus siap siaga menghadapinya. Kalau aku mengambil keputusan agar engkau tinggal dulu bersama bibi Cili, hal itu hanya karena aku ingin melihat engkau berada dalam keadaan yang aman, tidak terbawa ancaman bahaya seperti kalau engkau ikut denganku."

"Tapi.... tapi.... hanya untuk sementara, bukan, Liong-ko? Kalau sudah selesai tugasmu, engkau tentu akan menjemputku, bukan? Dan memperbolehkan aku hidup di sampingmu?"

Sie Liong menarik napas panjang.

Dia merasa belum waktunya baginya untuk berterus terang kepada gadis ini akan perasaan rendah dirinya, akan keputusan hatinya bahwa gadis ini tidak akan menemukan kehidupan yang cerah kalau menjadi jodohnya, akan selalu menghadapi cemoohan dan penghinaan dari orang lain.

Kelak saja, kalau perlu, setelah selesai tugasnya, dia akan memberitahu isi hatinya.

Sekarang ini, Ling Ling sudah terlampau sedih oleh perpisahan sementara sehingga dia tidak tega untuk menambah lagi beban penderitaan batinnya dengan pengakuan yang akan menghancurkan hati gadis itu.

"Aku berjanji, Ling Ling, bahwa setelah selesai tugasku, aku tentu akan menjemputmu di rumah bibi Cili."

Mendengar janji ini, seketika wajah yang tadinya pucat itu menjadi agak kemerahan dan cerah kembali.

Senyumnya muncul bagaikan matahari setelah awan gelap tercurah menjadi hujan.

"Liong-ko, katakanlah, berapa lama aku harus menanti di rumah bibi Cili?"

Pertanyaen ini tidak disangka-sangka oleh Sie Liong sehingga dia menjadi agak bingung karena tidak tahu berapa lama dia akan dapat menyeleaaikan tugas itu.

Dia hanya mendengar pengakuan Coa Kiu, orang ke tiga dari Tibet Sam Sinto bahwa Tibet Ngo-houw, lima orang yang harus diselidikinya itu merupakan tokoh-tokoh utama di Tibet, bahkan merupakan pendukung dari Kim Sim Lama yang menjadi pemimpin pemberontak terhadap Dalai Lama di Tibet!

Dia tidak tahu berapa lama dia akan mampu menyelesaikan tugasnya.

Mungkin seminggu, sebulan dan bukan tidak mungkin pula setahun baru selesai atau bahkan belum selesai!

Apalagi kalau yang diselidikinya itu menyangkut soal pemberontakan!

Melihat pemuda pujaan hatinya itu nampak ragu-ragu untuk menjawab, Ling Ling merasa khawatir sekali.

"Bagaimana, koko? Berapa lama aku harus menanti engkau datang menjemputku? Seminggu?"

"Aih, Ling-moi, urusan yang kuhadapi ini bukan mudah, membutuhkan waktu yang lebih lama. Kiranya tidak mungkin kalau hanya seminggu...."

"Kalau begitu, satu bulan? Satu bulan amat lama, koko. Tentu paling lama sebulan engkau akan datang menjemputku, bukan?"

Mendengar betapa suara gadis itu mengandung kegelisahan dan harapan, Sie Liong merasa tidak tega untuk me-ngecewakan hatinya.

Andaikata selama sebulan dia belum dapat menyelesaikan tugasnya, setidaknya dia akan dapat berkunjung ke rumah bibi Cili dan mengabarkan keadaannya kepada Ling Ling, mengatakan bahwa tugasnya belum selesai.

Maka diapun mengangguk.

"Akan kucoba untuk menyelesaikan tugasku selama sebulan."

Wajah itu nampak lega dan tersenyum kembali, dan keharuan menyelinap di dalam hati Sie Liong.

Melihat senyum itu saja, ada perasaan melekat dalam hatinya.

Bagaimana mungkin dia akan tega meninggalkan gadis yang agaknya telah menyerahkan seluruh harapan hidupnya kepadanya itu?

"Aku akan sabar menanti, koko."

Hati Sie Liong juga merasa lega.

Setidaknya, walau belum terlepas benar dari gadis itu, dia sudah dapat memisahkan diri.

Hal ini mengandung dua keuntungan.

Pertama, dia dapat melakukan penyelidikan tanpa dibebani perlindungan kepada Ling Ling yang tentu kalau ikut dengannya akan merupakan halangan dan hambatan yang amat merepotkan, juga membahayakan.

Ke dua, biarlah mereka saling berpisah untuk sementara waktu agar gadis itu memperoleh kesempatan untuk berkenalan dan bergaul dengan pemuda lain, Pemuda yang tidak cacat, yang pantas menjadi pendamping gadis itu.

Diam-diam dia sudah berpesan kepada bibi Cili agar memberi kesempatan kepada "adik angkatnya"

Itu untuk berkenalan dengan pemuda-pemuda yang baik karena dia ingin adiknya memperoleh seorang calon suami yang baik.

Juga dia mengancam bahwa kalau terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap diri adiknya, dia kelak akan membuat perhitungan, sebaliknya kalau janda itu menjaga Ling Ling dengan baik, dia akan memberi hadiah yang layak.

Pada hari itu juga, pergilah Sie Liong meninggalkan Ling Ling di rumah janda Cili, dan keberangkatannya diantar pandang mata sayu namun dengan senyum penuh kepercayaan, yang membuat langkah Sie Liong terasa berat sekali.

Bi Sian memasuki kota Lasha dengan wajah gembira.

Bangunan-bangunan kuno dan besar megah di kota itu membuat dia kagum sekali.

Sebuah kota yang lain dari pada yang lain, terletak di daerah pegunungan yang hawanya dingin dan bangunan raksasa itu berderet-deret di lereng-lereng bukit.

Bangunan raksasa yang berderet-deret itu adalah tempat tinggal Dalai Lama dan para pendeta Lama yang merupakan golongan yang paling berkuasa dan kuat di Tibet.

Ia tidak tahu betapa kemunculannya menarik perhatian banyak orang, terutama kaum prianya karena ia adalah seorang gadis yang selain cantik manis, juga pakaiannya yang tambal-tambalan itu sungguh aneh sekali.

Tambal-tambal akan tetapi tidak butut, bahkan baru dan bersih!

Bukan hanya mata para pria yang berada di jalan raya kota Lasha saja yang memandang kagum, bahkan juga Bong Gan mencuri pandang dari samping dan diapun kagum dan bangga.

Melihat gadis itu berwajah demikian cerah dan gembira, sepasang matanya yang indah itu bersinar dan mulutnya tersenyum-senyum, dengan lenggang perlahan bagaikan menari, sungguh Bi Sian merupakan seorang wanita yang memiliki daya tarik amat besar.

Dan dia berbangga hati karena dialah pria yang mendampingi gadis ini.

Bahkan pandang mata iri dari para pria di situ menambah kebanggaan hatinya!

Dia jatuh cinta kepada gadis ini dan biarpun Bi Sian belum menjawab secara meyakinkan, namun gadis itu tidak marah mendengar dia mengaku cinta.

Gadis itu sudah tahu bahwa dia mencintanya dan ia tidak marah.

Itu sudah lebih dari cukup untuk sementara ini.

Hanya, kadang dia merasa tersiksa sekali, apalagi kalau mereka terpaksa bermalam di hutan atau kuil tua, melihat gadis itu tidur pulas demikian dekatnya!

Nafsu berahinya membakar dirinya, dan dia tidak berani apa-apa, menyentuhpun tidak berani.

Sama halnya dengan seorang kelaparan melihat dan mencium makanan lezat di depan hidung dan mulut, akan tetapi tidak boleh menjamahnya!

Akan tetapi, melihat betapa gadis yang dicintanya itu menjadi perhatian banyak orang begitu memasuki kota Lasha, Bong Gan mengerutkan alisnya, teringat akan kemungkinan adanya Sie Liong (Lanjut ke

Jilid 19) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 di kota ini.

Dia lalu menyentuh lengan Bi Sian dan ketika gadis itu memandang kepadanya, dia memberi isyarat agar dia itu mengikutinya, menyelinap di antara rumah penduduk dan berada di balik sebuah rumah, tidak nampak dari jalan raya.

"Ada apakah, sute?"

Tanya Bi Sian ketika mereka berada di balik rumah itu dan tidak nampak oleh orang lain.

"Aku baru saja teringat, suci. Kita mencari Pendekar Bongkok dan mungkin saja dia sudah lebih dahulu berada di sini, maka sungguh tidak baik kalau kini kemunculanmu di sini menarik perhatian orang."

Bi Sian menatap wajah pemuda itu dengan alis berkerut karena ia mengira bahwa ucapan pemuda itu keluar dari hati yang dibakar iri dan cemburu.

Ia tadipun melihat betapa pandang mata para pria di kota itu ditujukan kepada dirinya penuh kagum dan heran, dan agaknya ini yang membuat Bong Gan berkata seperti itu.

"Hemm, mengapa tidak baik, sute?"

Tanyanya, suaranya mengandung teguran. Bong Gan tersenyum. Dia dapat menduga mengapa suci-nya itu bersikap tak senang.

"Aih, suci. Aku sama sekali tidak merasa kurang senang melihat sikap orang-orang yang kagum kepadamu, bahkan aku merasa bangga! Akan tetapi, seperti yang pernah kauceritakan kepadaku, Pendekar Bongkok itu melarikan diri ketika kauserang dan agaknya dia tidak suka berkelahi denganmu. Hal ini berarti dia ingin menghindarkan diri darimu. Nah, andaikata dia sudah tiba di sini lalu dia mendengar akan kemunculanmu, seorang gadis yang mudah dikenal dan memiliki ciri khas, yaitu cantik manis dengan pakaian tambal-tambalan yang aneh, tentu dia akan lebih dahulu melarikan diri sebelum sempat kita temui."

Bi Sian menarik napas panjang.

"Ah, engkau benar, sute. Betapa cerobohnya aku! Benar sekali, kita masuk tanpa diketahui orang, dan lebih dahulu mencari keterangan tentang dirinya. Kiranya tidak akan sukar mencari orang dengan cacat bongkok seperti dia. Nah, kita masuk di rumah makan sana itu, sute, kita makan dan kita sekalian mencari keterangan di sana."

Kembali Bi Sian yang memimpin seperti biasanya setelah ia disadarkan oleh sutenya.

Dengan berindap kini, tidak menyolok, mereka lalu menuju ke rumah makan, masuk dan memilih tempat di sudut yang agak gelap dan tidak menyolok, juga tidak nampak dari pintu depan karena terhalang tihang.

Tanpa banyak cakap mereka memesan makanan, dan minuman, lalu makan sambil diam-diam memperhatikan ruangan rumah makan itu.

Siang hari itu, tidak banyak orang makan di situ.

Karena Bi Sian sengaja duduk membelakangi ruangan menghadap dinding, make Bong Gan yang bertugas sebagai mata-mata dan menyelidiki keadaan ruangan itu, juga beberapa orang tamu yang makan minum di situ.

Hanya ada tiga meja yang terisi tamu, masing-masing empat orang sehingga selain mereka berdua, ada dua belas orang tamu pria yang sedang makan minum.

Karena Bi Sian sengaja memalingkan muka dan duduk menghadap dinding, maka ia tidak menarik banyak perhatian.

Bong Gan tadinya menyapu para tamu dengan pandang matanya yang acuh dan tidak tertarik, akan tetapi tiba-tiba sepasang mata pemuda itu bersinar-sinar, kemudlan pandang matanya melekat pada seseorang yang baru saja melangkah masuk.

Jantungnya superti berhenti berdetak untuk beberapa saat la-manya, kemudian berdebar keras sekali.

Apa yang dilihatnya membuat api gairah dalam dirinya seperti berkobar seketika, akan tetapi dia masih teringat bahwa Bi Sian duduk di depannya.

Maka dia pun dapat menguasai perasaannya, agar jangan sampai nampak oleh suci-nya.

Hanya ada satu yang dapat menarik perhatian dan membangkitkan gairah dalam hati pemuda ini, yalah wanita cantik.

Dan wanita yang kini melenggang masuk ke dalam rumah makan itu lebih daripada cantik!

Gadis itu usianya sudah dewasa dan matang, setidaknya tentu ada dua puluh empat tahun usianya.

Wajahnya barbentuk bulat telur, kulitnya putih mulus agak kemerahan dan sebagian lengannya yang nampak karena lengan bajunya tergulung sebagian, juga berkulit putih halus, dengan bulu lembut.

Wajah itu manis sekali, cantik jelita dengan daya tarik yang amat kuat.

Kecantikan wajah seorang peranakan Kirgiz dan Han.

Bentuk tubuhnya padat dan lemah gemulai, pinggangnya yang ramping itu seperti pohon yang-liu tertiup angin, lenggangnya mempesona, seperti lenggang seekor harimau kelaparan, dengan buah pinggul menari-nari, Setiap kali melangkah, tepi lutut sebelah dalam saling bersentuhan.

Pakaiannya ketat sekali, membuat lekuk lengkung tubuhnya yang padat berisi dan denok itu membayang jelas.

Yang membuatnya lebih menarik lagi adalah punggungnya yang terhias sebatang pedang beronce merah!

Ketika memasuki restoran itu barsama seorang berpakaian pendeta tosu yang usianya sudah enam puluh tahun, pria yang bertubuh tinggi besar dan biarpun usianya sudah enam puluh tahun masih nampak tampan dan gagah, dengan jubah yang lebar membungkus tubuhnya, wanita itu segera menjadi perhatian para tamu pria yang duduk di rumah makan itu.

Gadis itupun melayangkan pandang matanya ke dalam ruangan rumah makan, dan ketika ia melihat Bong Gan yang memandang kepadanya dengan kagum, Wanita itupun balas menatap dan sinar matanya memancarkan cahaya aneh, wajahnya yang berkulit putih mulus itu menjadi kemerahan, bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu mekar dalam senyum memikat, sepasang matanya lalu melepas kerling yang menyambar bagaikan kilat!

Kemudian, gadis itu duduk menghadapi sebuah meja tak jauh dari tempat duduk Bong Gan dan sengaja ia duduk menghadap ke arah Bong Gan.

Temannya, pendeta tinggi besar itu dengan sikap acuh saja lalu duduk di depannya, membelakangi meja Bong Gan.

Pelayan yang tadi juga menyambut Bong Gan dan Bi Sian dan yang menerima pesanan makanan, kini menghampiri dua orang tamu baru itu dan Song Gan dapat melihat dengan jelas bahwa pelayan itu sudah mengenal mereka, Nampak amat menghormat pendeta itu ketika menerima pesanan yang diucapkan oleh si gadis jelita dengan suara merdu.

Bi Sian dapat melihat betapa tadi sute-nya seperti tertarik oleh sesuatu, dan mendengar suara wanita yang merdu memesan makanan, iapun tertarik dan memutar sedikit tubuhnya agar miring dan iapun mengerling ke arah meja itu.

Melihat wanita yang amat cantik dengan sikap ramah terbuka, dengan pedang di punggung, tentu saja iapun amat tertarik, menduga bahwa tentu wanita itu seorang ahli silat, seorang wanita kang-ouw yang sudah biasa melakukan perantauan.

Apalagi ditemani seorang pendeta tosu yang tinggi besar, maka tentu saja kehadiran dua orang itu memang amat menarik perhatian.

Melihat betapi Bi Sian melirik ke arah wanita itu, Bong Gan bersikap alim dan diapun menundukkan muka, tidak lagi menatap wanita itu.

Wanita cantik manis itu tentu saja amat menarik dan memiliki daya tarik yang amat kuat karena ia bukan lain adalah Pek Lan, gadis peranakan Kirgiz Han yang memang memiliki kecantikan istimewa.

Yang berada di sampingnya adalah Thai-yang Suhu, tokoh Pek-lian-kauw yang tadinya adalah sahabat gurunya, Hek-in Kui-bo dan kini telah menjadi sahabat dan juga gurunya pula mengajarkan ilmu sihir dan sebagai imbalannya, Pek Lan menyerahkan dirinya untuk menjadi kekasih tokoh Pek-lian-kauw yang masih nampak muda dan tampan gagah itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Thai-yang Suhu mendapat tugas dari Pek-lian-kauw untuk mengumpulkan gadis-gadis dusun yang muda dan cantik untuk dijadikan pelayan di perkumpulan agama sesat itu.

Dalam pekerjaan ini, dia dibantu oleh Pek Lan yang menyamar sebagai "siluman merah"

Dan menculiki gadis-gadis dusun yang cantik.

Juga tokoh Pek-lian-kauw itu dibantu oleh Tibet Sam Sinto.

Akan tetapi, ketika gerombolan ini yang bersembunyi di Bukit Onta sedang mengumpulkan gadis-gadis itu, muncul Pendekar Bongkok yang bukan saja menggagalkan usaha mereka, bahkan membuat Pek Lan dan Thai-yang Suhu terpaksa harus melarikan diri, sedangkan dua orang di antara Tibet Sam Sinto tewas di tangan Pendekar Bongkok.

Thai-yang Suhu dan Pek Lan lalu melarikan diri dengan hati gentar menghadapi Pendekar Bongkok yang terlalu kuat bagi mereka.

Akan tetapi kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan ke Lasha karena Thai-yang Subu hendak mengabarkan tentang kemunculan Pendekar Bongkok itu kepada Kim Sim Lama, yaitu pimpinan pemberontak di Tibet yang bekerja sama pula dengan Pek-lian-kauw.

Dan dalam rumah makan ini, di mana Thai-yang Suhu sudah dikenal oleh pelayannya, mereka melihat Bong Gan dan Bi Sian.

Tentu saja Pek Lan segera tertarik bukan main melihat Bong Gan, seorang pemuda yang memang tampan dan gagah!

Gairahnya segera bangkit, dan Pek Lan sudah menentukan pilihannya untuk bersenang-senang malam nanti!

Gadis ini seperti telah dihinggapi penyakit.

Biarpun ia melakukan perjalanan bersama Thai-yang Suhu yang menganggapnya sebagai kekasih, namun setiap kali bertemu seorang pria yang menarik hatinya, Pek Lan tentu akan berusaha untuk menundukkannya.

Thai-yang Suhu mengenal baik watak Pek Lan dan diapun tidak mampu mencegah, bahkan tosu ini acuh saja karena dia sendiripun menganggap Pek Lan hanya sebagai hiburan dan selingan saja!

Maka, melihat betapa Pek Lan memperlihatkan kekagumannya kepada pemuda yang duduk di meja sebelah Thai-yang Suhu mengambil sikap tidak perduli.

Setelah selesai makan, Bong Gan manggapai pelayan rumah makan untuk membayar harga makanan dan minuman.

Sejak tadi, dia sudah main mata dengan gadis cantik itu dan dia melihat betapa gadis jelita itu memberi tanda-tanda dengan kerling mata dan senyumnya bahwa iapun menanggapi perasaan hati Bong Gan!

Tentu saja Bong Gan menjadi semakin terpikat dan dia mengambil keputusan untuk malam nanti mancari kesempatan, meninggalkan Bi Sian kalau gadis itu sudah tidur di kamar lain dalam penginapan, untuk mencari gadis peranakan Kirgiz yang amat mempesona ini.

Ketika pelayan menerima uang pembayaran dari Bong Gan, pemuda ini yang ingin mempercepat penyelidikan yang dilakukan Bi Sian, segera bertanya.

"Kami mencari seorang pemuda yang pungungnya bongkok. Apakah engkau barangkali mengetahuinya? Mungkin dia pernah datang ke rumah makan ini, atau engkau melihatnya di jalan?"

Bi Sign tidak sempat mencegah Bong Gan mengajukan pertanyaan itu, dan iapun memperhatikan dan menanti jawaban si pelayan.

Bagaimanapun juga, pertanyaan itu tidak akan mandatangkan kecurigaan kepada orang lain.

Tidak ada anehnya kalau mereka bertanya-tanya tentang seorang pemuda bongkok.

Akan tetapi, mereka melihat betapa wajah pelayan itu tampak terkejut bukan main.

Matanya terbelalak dan sejenak dia memandang bengong kepada Bong Gan.

Lalu dia menjawab agak gugup.

"Kongcu.... eh, apakah dia.... eh, dia seorang pemuda bongkok yang sakti?"

Tentu saja Bong Gan dan Bi Sian merasa girang bukan main mendengar pertanyaan itu.

Tak salah lagi.

Sie Liong yang dimaksudkan pelayan ini.

Di dunia ini mana lagi ada orang bongkok yang sakti?

Bong Gan mengangguk-angguk.

"Benar dia! Di manakah dia?"

"Dia....? Ah, saya tidak tahu, kongcu...."

Pelayan itu menoleh ke arah kamar pemilik rumah makan, yang juga dijadikan kantoran.

"Saya tidak tahu, akan tetapi majikan saya mungkin tahu...."

Dan dia kelihatan seperti orang ketakutan, lalu cepat meninggalkan meja itu sambil mumbawa uang pembayaran yang diberikan Bong Gan.

Tentu saja Bi Sian merasa penasaran sekali.

Dia bangkit dan berbisik kepada Bong Gan.

"Mari kita bertanya kepada pemilik rumah makan...."

Bong Gan mengangguk dan mengikuti suci-nya.

Ketika mereka melewati meja sebelah dan Bong Gan memandang, Pek Lan menghadiahi sebuah senyum manis dan kedipan mata penuh arti.

Melihat ini, Bong Gan tersenyum dan mengangguk sedikit, untuk memberi isyarat bahwa dia dapat menangkap semua isyarat gadis manis itu dan merasa setuju kalau mereka dapat mengadakan hubungan yang lebih dekat!

Bi Sian yang sudah merasa tertarik sekali mendengar berita tentang Sie Liong, sudah langsung menuju ke kantor pemilik rumah makan.

Pemilik rumah makan itu sudah mendengar dari si pela-yan bahwa gadis cantik berpakaian aneh dan pemuda tampan itu bertanya-tanya tentang Pendekar Bongkok.

Kini, melihat mereka mendatangi kantornya, si pemilik rumah makan menyambut dengan pandang mata penuh perhatian.

Semenjak dia membantu Pendekar Bongkok, yaitu mencarikan tempat pemondokan untuk gadis peranakan Tibet Han yang menjadi adik angkat Pendekar Bongkok itu, dia tidak lagi pernah bertemu dengan Pendekar Bongkok.

"Apa yang dapat saya lakukan untuk ji-wi (kalian bordua)?"

Tanyanya ramah. Bi Sian yang sudah tidak sabar lagi untuk segera mengetahui di mana adanya Sie Liong, segera langsung berkata.

"Kami ingin mengetahui tentang seorang pemuda bongkok yang bernama Sie Liong dan yang terkenal dengan sebutan Pendekar Bongkok! Engkau tahu banyak tentang dia, maka kami harap engkau suka menceritakan di mana dia sekarang!"

Bagaimanapun juga, pemilik rumah makan itu bersimpati kepada Pendekar Bongkok yang pernah mengganti kerugiannya ketika terjadi keributan di rumah makan itu, dan bahkan adik angkat Pen-dekar Bongkok pernah tinggal bersama bibinya, yaitu bibi Cili.

Maka, diapun merasa ragu apakah benar kalau dia bicara tentang Pendekar Bongkok kepada dua orang yang belum dikenalnya dan tidak diketahui maknud mereka mencari Pendekar Bongkok.

"Maaf, kalau boleh saya mengetahui, siapakah ji-wi dan ada hubungan apakah antara ji-wi dengan Sie Taihiap?"

Kini Bi Sian sudah tidak ragu lagi bahwa pemilik rumah makan ini jelas mengenal Sie Liong dan tahu di mana dia berada, maka kesabarannya habis.

Ia ingin segera mengetahui di mana adanya musuh besarnya itu!

Ketika melihat ada sumpit-sumpit berdiri di gelas tempat menyimpan sumpit, tangannya mengambil segenggam sumpit, lalu ia mengerahkan tenaganya pada jari-jari tangan yang menggenggam sumpit.

"Krekk! Krekkk!"

Sumpit-sumpit itu patah-patah dan remuk dalam genggaman tangan yang kecil dan berkulit halus lunak itu!

"Sobat, katakan saja cepat-cepat di mana adanya Sie Liong dan jangan berbohong!"

Kata Bi Sian, lirih dan wajah pemilik rumah makan itu berubah pucat.

Hampir dia tidak percaya akan penglihatannya sendiri.

Tangan yang kecil dan berkulit halus itu memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya!

"Saya....

saya tidak tahu di mana dia sekarang.

Baiklah saya ceritakan perjumpaan saya dengan dia.

Silakan duduk, silakan duduk...."

Bi Sian dan Bong Gan duduk dan pemilik rumah makan itu lalu berecrita.

Diceritakannya betapa hampir dua bulan yang lalu, Sie Liong Si Pendekar Bangkok pernah makan bersama seorang gadis yang bernama Sam Ling dan diaku sebagai adik angkatnya, di rumah makan itu.

Betapa kemudian terjadi keributan yang dilakukan oleh seorang anggauta Kim-sim-pai dan betapa kemudian semua orang baru mengetahui si bongkok itu adalah seorang sakti.

"Setelah terjadi keributan itu, Sie Taihiap minta bantuanku untuk mencarikan tempat pemondokan bagi adik angkatnya dan saya menunjukkan rumah bibiku. Kemudian adik angkatnya itu tinggal bersama bibi Cili, akan tetapi Sie Taihiap pergi entah ke mana. Sejak itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia."

"Apakah adik angkatnya itu masih tinggal di sini?"

Tanya Bi Sian. Pemilik rumah makan itu menggerakkan pundaknya.

"Sejak tinggal di sana, baru satu kali saya pernah menengok. Dua minggu sejak ia tinggal di sana dan sejak itu, saya tidak pernah lagi ke sana karena repotnya pekerjaan."

"Hayo cepat antar kami ke sana, sekarang juga!"

Kata Bi Sian dan pandang matanya penuh kepastian.

Pemilik rumah makan itu tidak berani membantah, lalu memesan kepada para pelayannya bahwa dia akan pergi sebentar.

Tak lama kemudian, keluarlah dia dari rumah makan itu, diikuti Bi Sian dan Bong Gan.

Ketika hendak meninggalkan rumah makan, Bong Gan sempat menengok ke arah gadis cantik itu dan melihat gadis itu dan pendeta yang menemaninya memandang padanya dengan penuh perhatian.

Kembali gadis cantik itu berkedip kepadanya.

Bong Gan tersenyum dengan jantung berdebar.

Sayang, pikirnya.

Dia belum sempat membuat kencan dengan gadis manis itu.

Akan tetapi dia merasa yakin bahwa gadis itupun "ada hati"

Kepadanya dan tentu mereka akan dapat saling bertemu lagi dalam suasana yang lebih bebas, berdua saja!

Pemilik rumah makan itu mengantar Bi Sian dan Bong Gan ke rumah bibi Cili.

Akan tetapi ketika mereka tiba di situ, gadis yang bernama Sam Ling atau oleh bibi Cili disebut nona Ling itu sudah tidak berada lagi di situ!

"Kurang lebih seminggu yang lalu, ia pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit!"

Kata bibi Cili ketika keponakannya datang bersama pemuda dan gadis cantik itu.

"Aku sendiri tidak tahu ke mana ia pergi karena memang tidak pamit."

Tentu saja Bi Sian marasa kecewa sekali.

"Akan tetapi, kenapa ia pergi tanpa pamit?"

Bibi Cili menggeleng kepalanya.

"Mungkin karena ia hendak mencari kakak angkatnya, Sie Taihiap itu. Setelah sebulan tinggal di sini, setiap hari ia menanti datangnya Sie Taihiap dan setiap malam ia menangis. Ia mengatakan kepadaku bahwa Sie Taihiap berjanji akan menjemputnya setelah satu bulan ia tinggal di sini. Kemudian, se-minggu yang lalu, setelah tinggal di sini kurang lebih satu setengah bulan, ia pergi tanpa pamit."

Bi Sian mengerutkan alisnya.

"Apakah selama ia berada di sini, Pendekar Bongkok tidak pernah datang menjenguk?"

"Pendekar Bongkok....? Ah, nona maksudkan Sie Taihiap? Tidak, tidak pernah lagi. Semenjak meninggalkan adik angkatnya di sini, dia pergi dan tak pernah muncul kembali."

"Apakah gadis itu tidak pernah menceritakan kepadamu ke mana perginya Sie Taihiap itu?"

Bi Sian mendesak terus. Wanita setengah tua itu mengerutkan alis dan mengingat-ingat.

"Pernah ia bercerita bahwa kakak angkatnya itu seorang pendekar yang akan melakukan penyelidikan terhadap Kim-sim-pai...."

Menyebut nama perkumpulan ini, wanita itu kelihatan takut-takut, juga pemilik rumah makan itu kelihatan khawatir sekali dan memandang keluar pintu rumah, seolah takut kalau sampai terdengar orang lain bahwa mereka membicarakan Kim-sim-pai.

"Apa itu Kim-sim-pai dan di mana tempatnya?"

Wanita itu semakin ketakutan dan menggeleng kepalanya.

"Aku tidak tahu.... ah, aku tidak tahu...."

Pemilik rumah makan itu segera membantu bibinya.

"Nona, sebetulnya kami semua merasa takut untuk menyebut nama itu, nama yang amat ditakuti seluruh penduduk Lasha. Kami hanya dapat memberitahukan kepadamu bahwa perkumpulan itu berada di sekitar Telaga Yan-so di sebelah selatan Lasha.... Sudahlah, kami tidak berani banyak bicara dan kami juga tidak tahu apa-apa lagl. Kalau nona hendak mencari Sie Taihiap, sebaiknya mencari ke sana...."

Bi Sian mengerutkan alisnya.

Ia tahu, bahwa pemilik rumah makan dan bibinya itu bicara sejujurnya dan memang mereka ketakutan.

Pernah Sie Liong bercerita tentang para pendeta Lama yang memusuhi para pertapa di Himalaya, bahkan ada pendeta Lama yang melakukan pengejaran sampai ke Kun-lun-san untuk membunuhi para pertapa dan tosu yangg melarikan diri ke sana.

Juga gurunya, Koay Tojin, pernah bicara tentang para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa di Himalaya.

Apakah penyelidikan yang dilakukan Sie Liong ada hubungannya dengan hal itu?

Memang, jalan satu-satunya untuk mencari Sie Liong adalah mengejarnya ke sarang perkumpulan Kim-sim-pai yang akan diselidiki Pendekar Bongkok itu!

Sementara itu, Bong Gan yang cerdik segera bertanya kepada wanita itu.

"Bibi, coba gambarkan bagaimana rupanya gadis bernama Sam Ling itu, agar kalau kami bertemu dengannya, kami akan mudah mengenalnya."

Bi Sian menyetujui pertanyaan sutenya, karena kalau mereka mengenal Ling Ling, siapa tahu gadis itu akan dapat membawa mereka kepada Sie Liong.

Diam-diam Bi Sian juga merasa heran bukan main mendengar bahwa pamannya itu mempunyai seorang adik angkat!

"Ia seorang gadis berusia delapan belas tahun yang amat manis, kulitnya agak gelap, sikapnya pendiam namun ia manis budi dan penurut.

Sungguh aku sudah mulai merasa cinta kepada anak itu, dan aku khawatir sekali membayangkan betapa ia melakukan perjalanan seorang diri.

Seorang gadis yang demikian manis dan menarik, tentu akan banyak mengalami ancaman bahaya...."

Diam-diam hati Bong Gan yang menjadi hamba nafsu berahinya itu sudah tertarik bukan main.

Seorang gadis yang hitam manis!

"Apakah ia seorang gadis Tibet?"

Tanyanya.

"Ia peranakan Tibet Han,"

Jawab bibi Cili. Bi Sian dan Bong Gan lalu meninggalkan rumah itu.

"Kita harus cepat mencari ke daerah Telaga Yan-so!"

Kata Bi Sian penuh semangat.

Akan tetapi Bong Gan mempunyai rencana lain.

Wajah cantik manis yang dijumpainya di rumah makan itu masih terus membayanginya.

"Suci, kurasa kita harus bertindak hati-hati. Kita selidiki dulu perkumpulan macam apa sesungguhnya Kim-sim-pai yang ditakuti penduduk itu, dan di mana letak Telaga Yan-so. Hari telah sore, sebentar lagi gelap. Sungguh tiduk menguntungkan kalau kita meningialkan kota ini dan berada dalam perjalanan yang asing di waktu malam gelap. Kita selidiki dulu, dan setelah jelas, baru kita berangkat mencari ke sana. Bagaimana pendapatmu?"

"Baiklah, kita mencari rumah penginapan,"

Kata Bi Sian singkat.

Ia sudah ingin sekali dapat menemukan Sie Liong dan membalas dendamnya!

Juga sungguh mengherankan, ia ingin sekali melihat seperti apa "adik angkat"

Pamannya itu, dan hubungan apa sesungguhnya yang ada di antara mereka!

Di sebelah selatan kota Lasha terdapat sebuah telaga yang terkunung pegunungan yang amat luas.

Telaga ini indah bukan main, akan tetapi juga sunyi karena jalan menuju ke telaga itu melalui bukit dan jurang.

Apalagi semenjak beberapa tahun ini, daerah itu merupakan daerah yang rawan.

Tidak ada orang berani melalui daerah itu yang kabarnya dihuni banyak orang jahat dan iblis.

Juga dikatakan bahwa akhir-akhir ini, perkumpulan Kim-sim-pang berpangkal di daerah itu.

Makin takutlah orang untuk melewati daerah itu.

Kim-sim-pang atau Kim-sim-pai (Perkumpulan atau Partai Hati Emas) amat ditakuti.

Menurut kabar angin, Kim-sim-pat dipimpin oleh seorang tokoh pendeta Lama yang pernah menjabat sebagai wakil Dalai Lama yang berjuluk Kim Sim Lama.

Karena terjadi perbedaan paham dengan Dalai Lama, Kim Sim Lama lolos dari Lasha, kemudian dia membentuk perkumpulan Kim-sim-pai yang berdiri sendiri, terlepas dari kekuasaan Dalai Lama, terlepas dari kekuasaan pemerintah pusat Tibet.

Karena tidak ada bukti-bukti bahwa Kim-sim-pai melakukan kejahatan apalagi pemberontakan, maka pemerintah Tibet tidak mengambil tindakan apapun.

Hal ini adalah karena Dalai Lama mengingat akan jasa-jasa Kim Sim Lama ketika masih menjadi wakil Dalai Lama dahulu.

Bahkan, Kim Sim Lama merupakan seorang tokoh besar, memiliki pengaruh yang besar pula dan jasanya sudah banyak.

Kim Sim Lama merupakan seorang pendeta Lama yang tertua, dan Dalai Lama sendiripun dahulu diangkat menjadi Dalai Lama karena desakan Kim Sim Lama, dan atas pilihan Kim Sim Lama!

Kim Sim Lama merupakan orang ke dua paling berkuasa dan berpengaruh sesudah Dalai Lama.

Karena dia tidak memiliki tanda-tanda sebagai reinkarnasi Dalai Lama yang meninggal dunia, maka tidak mungkin dia menjadi pengganti Dalai Lama dan karena itu, dia menjadi pendukung utama ketika Dalai Lama yang baru dipilih.

Dalai Lama yang baru itu seorang anak dusun saja yang memlilki ciri-ciri sebagai penitisan Dalai La-ma.

Bahkan Kim Sim Lama tidak segan-segan mempergunakan kekerasan untuk memaksa bocah itu menjadi Dalai Lama yang baru, dan ketika para penduduk dusun menentang, dia tidak segan mengamuk dan membunuh mereka yang dianggapnya memberontak.

Peristiwa ini membuat para pertapa dan para tosu di Himalaya menjadi marah.

Malah Pek Thian Sian-su, guru dari Himalaya Sam Lojin, atau suheng dari Pek-sim Sian-su, turun tangan sendiri untuk membela penduduk dusun itu.

Pertapa sakti ini bertanding melawan Pek Sim Lama yang dibantu oleh sembilan orang pendeta Lama yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Pek Thian Sian-su berhasil merobohkan dan menewaskan tiga orang pendeta Lama, akan tetapi dia sendiri terluka dan anak itu tetap saja dibawa lari Kim Sim Lama.

Karena ketika peristiwa itu terjadi Pek Thian Sian-su audah berusia hampir delapan puluh tahun, maka luka yang dideritanya membuat dia tewas tak lama kemudian.

Beberapa tahun lamanya tidak lagi terjadi keributan, akan tetapi setelah anak itu dewasa dan dijadikan Dalai Lama sudah berjalan dua tiga tahun, mulailah terjadi penyerbuan terhadap para tosu dan pertapa di pegunungan Himalaya.

Banyak yang jatuh korban dan para tosu itu segera meninggalkan Himalaya dan pergi mengungsi ke pegunungan lain.

Para pertapa menganggap bahwa Dalai Lama sungguh merupakan orang yang tidak mengenal budi.

Dahulu dibela oleh para tosu, setelah menjadi Dalai Lama bahkan memusuhi para tosu!

Para tosu itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika Kim Sim Lama memilih Dalai Lama baru, dia beranggapan bahwa akhirnya dialah yang berkuasa di Tibet karena Dalai Lama baru tentu akan tunduk terhadap semua pimpinannya.

Mula-mula memang demikian.

Akan tetapi, setelah Dalai Lama yang baru itu mengerti urusan, dia tidak sudi dijadikan boneka!

Dalai Lama yang baru itu lalu mempergunakan kedudukan dan kekuasaannya untuk menentang semua kebijaksanaan Kim Sim Lama yang dianggapnya tidak bijaksana!

Dan mulailah terjadi pertentangan antara Kim Sim Lama dan Dalai Lama.

Karena kalah kedudukan, maka Kim Sim Lama tidak berani secara berterang memusuhi Dalai Lama yang banyak pendukungnya.

Maka dia lalu mengundurkan diri dan membentuk Kim-sim-pang itu.

Dan mulailah dilakukan pengejaran terhadap para tosu!

Semua ini dilakukan oleh kaki tangan Kim Sim Lama, dengan maksud menjatuhkan nama baik Dalai Lama dan memancing agar para tosu memusuhi Dalai Lama sehingga kedudukan Dalai Lama menjadi semakin lemah.

Sementara itu, diam-diam Kim-sim-pai juga mengadakan persekutuan dengan seorang pangeran pemberontak dari Nepal yang sudah diusir oleh Raja Nepal.

Pangeran itu dengan pengikutnya yang ternyata cukup banyak, bergabung dengan Kim-sim-pai dan keduanya merencanakan pemberontakan-pemberontakan untuk bersama-sama mengusai Tibet dan Nepal.

Di sebuah bukit dekat Telaga Yan-so, Kim-sim-pai menyusun kekuatan.

Kim Sim Lama maklum bahwa kalau dia hanya mengandalkan anak buahnya dan pasukan Pangeran Nepal itu untuk menyerbu Lasha, dia akan mengalami kegagalan.

Dalai Lama memiliki pasukan yang amat kuat, terdiri dari para pendeta Lama dan banyak di antara para pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan banyak yang sakti.

Maka, diapun tidak tergesa-gesa.

Di samping usaha yang dilakukan anak buahnya untuk memusuhi berbagai pihak dengan dalih diutus oleh Dalai Lama, juga dia mulai menyusupkan pengaruh ke dalam istana dan kuil di Lasha untuk menghasut dan mempengaruhi tokoh-tokoh di pemerintahan Tibet.

Bagaikan seekor laba-laba dengan amat tekun dan sabar Kim Sim Lama mulai menyusun kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan di Tibet.

Pangeran Nepal itu sudah siap di perbatasan, sudah siap membantu gerakan Kim Sim Lama dengan janji bahwa kelak, kalau Kim Sim Lama sudah berhasil menguasai Tibet, maka dia akan membalas kebaikan pangeran itu dengan membantunya mengadakan pemberontakan di Nepal!

Dalam kedudukannya yang bagaimana pun juga, manusia tidak akan dapat terlepas dari nafsunya sendiri.

Dia boleh berusaha dengan cara bagaimanapun, bertapa, menjauhi keramaian dunia, menyendiri, berpuasa, berpantang apapun, namun tetap sekali waktu dia akan dicengkeram dan dikuasai nafsunya sendiri.

Semua usahanya itu hanyalah usaha yang dilakukan oleh akal pikirannya sendiri belaka, dan akal pikiran takkan mungkin membebaskan batin dari cengkeraman nafsu.

Nafsu sudah melekat kepada kita, merupakan alat yang amat penting bagi kita, namun juga merupakan penggoda yang paling berbahaya, yang akan menyeret kita ke dalam kesesatan dan perbuatan yang tidak benar.

Kalau sudah begitu, maka nafsu tidak lagi menjadi alat kita, bahkan kita diperalat oleh nafsu!

Semua usaha untuk membebaskan diri dari nafsu digerakkan oleh nafsu itu sendiri yang sudah menjadi satu dengan hati dan akal pikiran, bersatu dengan panca indera kita.

Apapun yang kita lakukan melalui pikirin, tentu berpamrih.

Nafsu selalu berpamrih, yaitu pamrihnya mencari senang atau yang kita anggap akan mendatangkan kesenangan.

Dan untuk semua perbuatan yang timbul dari dorongan nafsu, pikiran kita yang amat licik dan cerdik selalu sudah mempersiapkan diri menjadi pembela, Dengan segala daya akan mencari alasan untuk membenarkan tindakan kita itu.

Nafsu memang penting bagi kita, sebagai pendorong agar kita dapat memenuhi semua keperluan hidup di dunia ini, keperluan jasmani kita, makan, pakaian, tempat tinggal, dan semua kebutuhan lain.

Nafsu mutlak perlu untuk hidupnya jasmani kita, karena tanpa nafsu berarti mati.

Akan tetapi, kalau nafsu sudah mencampuri urusan batin, maka nafsu hanya menjadi sebab timbulnya duka dan sengsara, nafsu mendatangkan iri, marah, benci, cemburu, dengki takut, malu dan segala macam perasaan.

Nafsu bagaikan api, kalau terkendali menjadi pelayan yang baik sekali, sebaliknya kalau liar tak terkendali, dapat menimbulkan kebakaran dan kerusakan.

Kim Sim Lama adalah seorang yang sejak kecil hidup sebagai pendeta.

Dia sudah biasa berlatih mengendalikan dan menguanal nafsu-nafsu badannya sendiri.

Namun, pengendalian yang dilakukannya adalah pengendalian yang dilakukan dengan akal pikiran, dengan kemauan yang bukan lain adalah daya rendah pula.

Yang dikendalikan nafsu, yang mengendalikannya juga bergelimang nafsu.

Oleh karena itu, walaupun nampaknya dia hidup sebagai orang yang bebas dari cengkeraman nafsu, namun sesungguhnya nafsu masih menguasainya dan sekali waktu akan runtuh pertahanannya.

Yang mendorong dia untuk menentang Dalai Lama, untuk dapat menguasai Tibet, apa lagi kalau bukan nafsu?

Namun, tentu saja pikirannya dapat melakukan pembelaan secara cerdik sehingga dia beranggapan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah suci murni, demi kebaikan, demi kesejahteraan rakyat, demi menentang pemerintah lalim dan sebagainya.

Padahal, di dasar semua itu, mendekati nafsu ingin mendapatkan sesuatu yang dianggap akan menyenangkan hatinya, dalam hal ini kekuasaan!

Lalu bagaimana sebaiknya bagi kita?

Kalau dibiarkan, nafsu merajalela dan menguasai kita, bagaikan api membakar dan merusak.

Kalau dikendalikan, tidak akan berhasil karena yang mengendalikan juga pikiran bergelimang nafsu sehingga selalu berpamrih.

Kalau dimatikan, orangnya harus mati pula!

Apa yang dapat kita lakukan?

Tidak ada apa-apa yang dapat kita lakukan!

Tidak ada apa-apa, karena yang dapat mengatur nafsu, yang dapat mengatur alat-alat bagi kehidupan kita adalah yang menciptakannya, yang membuatnya.

Dan penciptanya adalah Tuhan!

Oleh karena itu, kita hanya dapat menyerah, hanya dapat pasrah, kepada kekuasaan Tuhan.

Menyerah sepenuhnya, sebulatnya, selengkapnya, penuh ketawakalan, kesabaran dan keikhlasan.

Badan ini hanya sebuah tempat, sebuah rumah.

Semua daya rendah, panca indrya, hati, akal pikiran dan nafsu-nafsunya, hanya merupakan alat-alat dalam rumah.

Penghuni rumah yang menguasai semua alat itu sesungguhnya adalah jiwa!

Jiwa menjadi majikannya, nafsu, hati dan akal pikiran menjadi pelayan dan alat.

Namun sungguh sayang, karena kita sudah lupa bahwa kita ini jiwa, lupa karena setiap hari dipermainkan oleh nafsu akal pikiran yang merajalela dan merebut kekuasaan menjadi majikan dalam badan kita.

Kita ini bukan pikiran.

Pikiran bisa mati namun badan tetap hidup.

Sebaliknya, kalau jiwa meninggalkan badan, semua pelayan dan alat itupun akan mati.

Dalam keadaan tidur atau pingsan, hati akal pikitan untuk sementara seperti mati, tidak bekerja.

Namun, kita tetap hidup karena jiwa masih bersemayam di dalam badan.

Kita tidak pernah memiliki rasa diri ini, lupa akan keadaan yang lebih dalam karena kita selalu terseret oleh keadaan lahir yang dangkal saja, karena dipermainkan nafsu yang selalu mengejar kesenangan dangkal.

Kim Sim Lama memiliki banyak pembantu yang pandai.

Dan pembantu-pembantu utamanya bukan lain adalah Lima Harimau Tibet!

Seperti sudah kita ketahui, para pembantu utamanya inilah yang diutus untuk melakukan pengejaran terhadap para tosu dan pertapa Himalaya yang sudah melarikan diri mengungsi ke pegunungan Kun-lun.

Pengejaran dan pembunuhan yang dilakukan Lima Harimau Tibet terhadap para tosu itu bukan semata-mata karena mereka membenci para tosu, melainkan terutama sekali, dengan dalih sebagai utusan Dalai Lama, mereka hendak merusak nama Dalai Lama agar dibenci dan dimusuhi semua golongan, terutama golongan orang-orang sakti.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, sesosok tubuh berkelebat seperti terbang cepatnya, datang dari arah telaga Yam-so menuju ke bukit yang menjadi markas Kim-sim-pai.

Melihat gerakannya yang cepat, larinya bagaikan terbang itu, mudah diketahui bahwa dia adalah seorang yang memiliki gin-kang dan ilmu berlari cepat yang hebat.

Orang akan merasa terkejut dan terheran-heran kalau melihat orangnya.

Setelah dia berhenti dan menyelinap di bawah sebatang pohon, memandang ke atas, ke arah puncak bukit itu, baru nampak bahwa dia adalah seorang pemuda yang tubuhnya bongkok!

Dia adalah Sie Liong, Si Pendekar Bongkok!

Setelah meninggalkan Ling Ling di rumah bibi Cili, hati Sie Liong merasa lega dan mulailah dia melakukan penyelidikan di Lasha tentang Kim-sim-pang.

Ketika dia melihat munculnya pemungut derma di rumah makan membawa bendera Kim-sim-pai, teringatlah dia akan nama Kim Sim Lama yang pernah didengarnya dari pengakuan seorang di antara Tibet Sam Sinto.

Tentu ada hubungan antara Kim-sim-pai dan Kim Sim Lama, pikirnya.

Agaknya pemberontakan terhadap pemerintah Tibet seperti yang diceritakan Coa Kiu orang ke tiga Tibet Sam Sinto itu tentulah perkumpulan Kim-sim-pai itu yang dipimpin oleh Kim Sim Lama dan dibgntu oleh Lima Harimau Tibet yang harus diselidikinya.

Dan dia mendapat kenyataan bahwa hampir semua orang yang ditanyanya tentang Kim-sim-pai menjadi ketakutan dan tidak berani menjawab.

Yang berani menjawab mengatakan singkat bahwa Kim-sim-pai adalah perkumpulan orang-orang Tibet yang berpusat di sebuah bukit dekat Telaga Yam-so.

Semakin jelas dan yakinlah hatinya bahwa jejak yang diikutinya benar.

Memang di tempat itulah dia harus menceri keterangan tentang apa rahasianya maka para pendeta Lama memusuhi para pertapa dan tosu dari Himalaya.

Dari kaki bukit itu, yang nampak di atas hanyalah dinding tembok yang berwarna putih, panjang dan melingkar-lingkar seperti benteng.

Akan tetapi, segera dia melihat beberapa orang mendaki bukit itu.

Ada sebuah jalan besar yang cukup baik menuju ke atas bukit dan kini terdapat beberapa orang menuju ke puncak, ada yang berjalan kaki, ada pula yang menunggaug keledai atau kuda.

Akan tetapi mereka itu sama sekali bukan kelihatan sebagai pasukan atau pendeta, melainkan penduduk biasa dan mereka semua membawa perbekalan untuk sembahyang.

Tentu saja dia merasa heran, akan tetapi diam-diam diapun lalu mendaki bukit, agak jauh di belakang serombongan orang yang memanggul atau memikul sebuah kursi di mana duduk setengah rebah seorang yang nampaknya sedang sakit.

Dari keadaan itu saja mudah diduga bahwa orang-orang ini sedang pergi ke suatu tempat untuk bersembahyang, agaknya ke sebuah kuil.

Dugaannya benar.

Kini mereka tiba di pintu gerbang dinding tembok yang panjang itu.

Bukan dinding tembok benteng, melainkan dinding yang melingkari sebuah kuil yang luas sekali.

Terdapat banyak bangunan di dalam kompleks atau perkampungan itu.

Akan tetapi bangunan paling depan adalah sebuah kuil yang besar dan cukup megah.

Di depan puntu kuil itu terdapat papan dengan tulisan tinta emas berbunyi.

KUIL HATI EMAS.

Kim-sim-tang?

Apakah ini pusat Kim-sim-pai?

Dan di sini pula tinggal pemimpin pemberontak yang berjuluk Kim Sim Lama itu?

Sungguh di luar dugaan sama sekali.

Tempat ini sama sekali tidak menyeramkan seperti tempat yang menjadi sarang pemberontak.

Bahkan me-rupakan sebuah kuil yang besar dan di mana datang banyak penduduk dusun untuk bersembahyang dan mohon sesuatu!

Akan tetapi dia segera teringat bahwa andaikata benar mereka itu pemberontak, mereka tetap saja adalah pendeta-pendeta yang biasanya memang berusaha untuk hidup saleh dan beribadat, menjauhi kejahatan dan mendekatkan diri dengan kebajikan.

Merekapun bukan memberontak terhadap suatu kerajaan, melainkan terhadap Dalai Lama, seorang pimpinan pendeta pula.

Mungkin saja suasananya menjadi lain dengan para pomberontak biasa yang biasanya terdiri dari orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, kejam dan liar.

Dia mulai memperhatikan keadaan luar kuil.

Setelah melalui pintu gerbang dinding tembok yang tingginya lebih dari dua meter, nampak kuil itu, jauhnya kurang lebih lima puluh meter dari pintu gerbang.

Di kanan kiri kuil itu terdapat bangunan-bangunan besar seperti pengawal kuil dan terdapat banyak jendela yang tertutup.

Agaknya itu merupakan asrama para pendeta, pikirnya.

Di depan kuil terdapat halaman yang luas penuh dengan tanaman bunga-bunga dan juga tanaman yang mengandung khasiat pengobatan.

Di sana sini terdapat arca-arca Buddha yang besar dan megah, juga pahatannya amat halus.

Asap dupa mengepul tebal dari cerobong yang dipasang di tengah bangunan kuil, akan tetapi ada juga asap yang mengepul keluar dari pintu depan yang besar, dan membawa keharuman yang khas.

Sie Liong melangkah masuk ke dalam kuil.

Dua orang pendeta Lama berdiri di kanan kiri pintu sebelah dalam dan menyambutnya dengan doa-doa yang tidak terdengar jelas, namun kedua tangan mereka yang dirangkap dan berada di depan dada selalu menyambut para pendatang dengan doa dan puja-puji.

Ketika Sie Liong memandang kepada mereka, kedua orang pendeta Lama yang masih muda-muda itu nampak memejamkan mata dan mereka itu kelihatan alim dan sopan.

Kuil itu penuh tumu dengan berbagai kesibukan sembahyang.

Yang menyolok adalah tidak adanya sseorangpun wanita di situ.

Sungguh berbeda dengan kuil-kuil lain yang selalu dipenuhi wanita.

Kemudian dia teringat bahwa kehidupan seorang pcndeta Lama memang amat keras dan satu di antara pantangan yang paling kuat adalah wanita.

Karena kuil itu dilayani oleh para pendeta Lama, maka agaknya tidak ada tamu wanita diperkenankan masuk!

Teringat dia akan kuil Siawu-lim-si yang juga pantang dimasuki wanita, apalagi wanita yang muda dan menarik.

Di sebelah dalam kuil, terdapat pula pendeta-pendeta tua dan muda yang melayani semua kebutuhan mereka yang datang bersembahyang.

Mereka semua rata-rata bersikap ramah, pendiam, sopan dan lembut.

Sikap pendeta tulen, tidak nampak sikap keras dan liar sehingga orang takkan mau percaya kalau mendengar bahwa para pendeta Lama itu adalah pemberontak-pemberontak.

Meja-meja sembahyang yang besar-benar penuh dengan perabot sembahyang, lilin-lilin besar bernyala.

Pendeknya, kuil itu lengkap dan juga amat luas.

Akan tetapi hanya merupakan sebagian kecil saja dari daerah perumahan yang luas sekali itu.

Di kanan kiri ruangan besar tempat sembahyang itu terdapat pintu-pintu kayu tebal dan besar, akan tetapi kedua pintu itu tertutup dan terkunci.

Memang tidak ada hubungan pintu itu dengan keperluan sembahyang.

Dan di sebelah dalam, terdapat pintu yang lebar sekali.

Ketika mendekati pintu yang menuju ke dalam ini, Sie Liong melihat bahwa di situ terdapat sedikitnya tujuh orang pendeta yang berjaga, ada yang bersila, ada yang duduk, ada pula yang berdiri.

Mereka itu tidak bergerak macam arca-arca saja, akan tetapi mata mereka tajam mengamati para tamu dan jelas bahwa tamu tidak diperkenankan masuk, karena jalan meauk itu tertutup atau terhalang oleh para penjaga ini.

Sie Liong melihat betapa pintu itu menembus ke jalan lorong yang panjang, kemudian membelok ke kiri sehingga dari situ tidak dapat melihat apa yang berada di belakang kuil itu.

"Apakah kongcu hendak melakukan sembahyang dan belum membawa perlengkapan? Kami dapat membantumu."

Sie Liong membalikkdn tubuhnya dan melihat seorang pendeta berusia empat puluhan tahun telah berdiri di depannya dengan kedua tangan terangkap di depan dada.

Mendaki bukit berkunjung ke kuil tidak aembahyang, tentu saja tidak masuk akal.

Dia belum ingin memperkenalkan diri dan menjelaskan keinginannya bertemu dengan Tibet Ngo-houw.

"Saya ingin bertanya tentang nasib diri saya,"

Jawabnya karena memang dia tidak bermaksud untuk bersembabyang.

Tadi dia melihat bagian kiri ruangan itu dan di sana terdapat sebuah meja sembahyang di mana orang-orang bertanya tentang nasib mereka.

"Ah, mari kami bantu, kongcu. Bertanya nasibpun harus melakukan sembahyang dan kalau kongcu tidak membawa perlengkapan, dapat membeli di sini, harganya tidak lebih mahal daripada kalau membeli di toko."

Kata pendeta itu dengan sikap ramah.

"Terimakasih,"

Kata Sie Liong dan diapun mengikuti pendeta Lama itu yang mengambilkan perlengkapan bersembahyang berupa lilin dan hioswa (dupa biting).

Kemudian, di bawah petunjuk pendeta itu, Sie Liong melakukan sembahyang di depan meja sembahyang, kemudian dia, Seperti para tamu lain, dipersilakan untuk mengocok ciam-si, yaitu batang-batang bambu sebesar jari tangan yang pada ujungnya bernomor.

Batang-batang bambu kecil sepanjang satu kaki ini berada di dalam tabung bambu besar dan mereka yang menanyakan nasib, setelah sembahyang dan dalam hati mengajukan permohonan tentang apa yang ingin diketahui mengenai nasibnya, diharuskan memegang tabung bambu sambil berlutut di depan meja sembahyang dan mengguncang-guncang tabung itu.

Batang-batang bambu itu akan terguncang dan setelah ada sebatang meloncat atau terloncat keluar, maka itulah batang bambu yang menjadi jawaban pertanyaannya.

Sie Liong mengguncang tabung itu dan berloncatlah sebatang bambu dari dalamnya.

Akan tetapi hal itu belum menentukan bahwa pilihan jawaban itu benar.

Dia harus pula melemparkan dua potong bambu yang permukaannya berbeda.

Kalau dua potong bambu itu terjatuh ke atas lantai lalu kedua permukaannya sama dengan yang lain, dengan ada tulisan BENAR, maka batang bambu yang terloncat itu sudah sah akan kebenarannya.

Sebaliknya, andaikata dua potong bambu itu terletak dengan permukaan yang berbeda menghadap ke atas, dia harus mengguncang sekali lagi dan memilih lagi.

Juga apa bila kedua potong bambu itu menghadapkan tulisan SALAH, dia harus memilih lagi.

Setelah mendapat tanda BENAR, Sie Liong menyerahkan batang bambu itu kepada pendeta Lama yang bertugas di bagian pertanyaan nasib itu, dan setelah dicocokkan nomornya, pendeta itu memberinya sehelai kertas yang sudah ada tulisannya.

Biasanya, kertas ini berisikan sajak atau syair yang merupakan jawaban dari permintaan orang yang bersembahyang dan minta sesuatu, dan karena sajak itu selalu mengandung perumpamaan dan maksud tersembunyi, maka ada pula pendeta yang bertugas memberi tafsirannya.

Hal ini sudah pernah didengar dan diketahui Sie Liong walaupun baru sekarang dia sendiri mengocok batang bambu untuk mendapatkan ramalan nasibnya.

Akan tetapi, ketika dia membuka gulungan kertas selembar itu, jantungnya berdesir.

Di situ tertulis dengan jelas, dengan tulisan tangan yang indah, sebuah pesan untuknya!

KALAU PENDEKAR BONGKOK INGIN BICARA DENGAN KAMI, SILAKAN MASUK SELATAN PINTU PAGAR BELAKANG.

Sie Liong mengangkat muka memandang kepada pendeta yang melayaninya, akan tetapi pendeta itu hanya merangkapkan kedua tangan depan dada dan menundukkan mukanya.

Sie Liong merasa kagum sekali.

Kiranya para pendeta Lama ini memiliki perkumpulan yang kuat dan dapat bekerja dengan rapi sehingga dia yang ingin melakukan penyelidikan, bahkan lebih dahulu menjadi bahan penyelidikan dan keinginannya sudah diketahui oleh mereka!

Diapun segera keluar dari kuil itu, keluar dari pintu gerbang pagar tembok dan mengambil jalan memutar.

Kalau pihak Kim-sim-pai sudah tahu akan keadaan dirinya, bahkan mungkin tahu pula akan maksud kedatangannya, diapun tidak perlu berpura-pura lagi.

Memang lebih baik kalau bicara dengan sejujurnya, menuntut sikap para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa Himalaya, yang kini mengungsi ke Kun-lun-san, daripada melakukan penyelidikan secara rahasia, hal yang amat tidak enak kalau sampai ketahuan pihak yang diselidiki.

Dengan sikap tenang dan hati tabah Sie Liong menuju ke arah belakang.

Ternyata, memang tempat itu luas sekali, bentuknya memanjang ke belakang, seperti sebuah perkampungan saja.

Ketika dia memutari pagar tembok itu, akhirnya di sebelah belakang dia melihat sebuah pintu yang tidak besar, bukan pintu umum, melainkan pintu untuk keluar masuk para pendeta anggauta perkampungan itu sendiri.

Di pintu kecil itu, Sie Llong disambut oleh dua orang pendeta Lama yang usiauya sekitar lima puluh tahun.

"Sie Taihiap, silakan masuk dan mengikuti kami. Para suhu telah menanti di dalam,"

Kata seorang di antara mereka berdua yang bersikap hormat.

Kembali Sie Liong kagum bukan main.

Mereka itu agaknya telah lama mengikuti gerak geriknya dan sudah tahu benar siapa dia!

Hal ini amat tidak menguntungkan bagi dia, karena tentu mereka yang sudah mengetahui akan kedatangannya itu telah membuat persiapan-persiapan, Bagaimanapun juga, dia telah tiba di situ dan tidak mungkin dapat mundur kembali.

Maka, sambil mengucapkan Terimakasih, diapun mengikuti mereka masuk ke dalam melalui subuah taman yang indah.

Ketika dia malewati sebuah bangunan besar, lapat-lapat dia mendengar suara ketawa wanita!

Namun, segera suara ketawa itu terhenti dan diapun pura-pura tidak mendengarnya.

Sie Liong hanya mencatat di dalam hatinya.

Agaknya, sikap hormat dan sopan yang dia lihat di kuil tadi, sikap saleh dan beribadat para pendeta Lama yang melayani para tamu, masih perlu diselidiki lebih seksama lagi.

Dari luarnya saja nampak bahwa pendeta itu hidupnya secara saleh dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi, namun di sini dia mendengar suara ketawa wanita!

Tak mungkin dia salah dengar.

Dua orang pendeta Lama itu membawanya ke sebuah ruangan yang luas sekali.

Sedikitnya lima ratus orang akan dapat berkumpul dalam ruangan yang luas itu.

Ruangan itu terbuka dan di sudut terdapat bangku-bangku mengelilingi beberapa buah meja yang dideretkan menjadi meja panjang dan di situ dia melihat belasan orang pendeta Lama duduk bagaikan arca-arca tak bergerak, Hanya mata mereka saja yang mencorong tajam menyambut kedatangannya.

Dua orang pendeta yang mengantarnya lalu memberi hormat dengan menyembah kepada belasan orang itu, kemudian mengundurkan diri membiarkan Sie Liong seorang diri berhadapan dengan tiga belas orang pendeta Lama itu.

Sie Liong juga melayangkan pandang matanya kepada mereka.

Segera dia mengenal lima orang di antara mereka yang duduk berjajar.

Biarpun usia mereka kini sudah enam puluh tahun lebih, dan sudah tujuh delapan tahun yang lalu dia pernah bertemu dengan mereka, namun dia tidak melupakan lima orang pendeta Lama itu.

Siapa lagi kalau bukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimati Ti-bet) yang pernah datang ke Kun-lun-pai dan menyerang Himalaya Sam Lojin dahulu!

Dan karena mereka berlima inilah maka kini dia datang ke Tibet, karena para gurunya minta kepadanya untuk menyelidiki mengapa Dalai Lama mengutus lima orang pendeta Lama ini untuk memusuhi para pertapa dan para tosu dari Himalaya, bahkan mengejar-ngejar mereka yang sudah melarikan diri mengungsi ke pegunungan Kun-lun.

Selain lima orang ini, delapan yang lain dia tidak mengenalnya.

Akan tetapi, melihat seorang pendeta Lama yang usianya sudah tujuh puluh tahunan, tinggi kurus dengan muka kemerahan kekanak-kanakan, berjubah merah dan memegang sebatang tongkat pendeta yang berlapis emas, berwibawa dan duduk di kursi paling depan, juga kursinya berbeda dengan bangku-bangku yang lain, terbuat dari gading gajah, diapun dapat menduga bahwa mungkin kakek itulah yang berjuluk Kim Sim Lama!

"Orang muda, apakah engkau yang bernama Sie Liong dan berjuluk Pendekar Bongkok?"

Kakek itu bertanya dan diam-diam Sie Liong terkejut.

Ketika dia bicara, suaranya demikian tinggi dan tajam sekali, membuat jantungnya tergetar dan wajah yang kekanak-kanakan itu mengeluarkan sinar, dan matanya mengandung wibawa yang amat kuat.

Bukan main, pikirnya.

Kakek ini bukan orang sembarangan dan akan merupakan lawan yang amat berat.

Akan tetapi dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada belasan o-rang itu.

"Benar, losuhu, nama saya adalah Sie Liong dan adapun julukan itu mungkin hanya kelakar orang-orang yang melihat keadaan tubuh saya yang cacat saja."

"Sie Liong, engkau telah berada di sini. Katakan apa yang kau kehendaki maka engkau datang ke tempat kami."

Hemm, kakek ini demikian terus terang, maka diapun tidak perlu menyembunyikan lagi keperluannya.

Sejenak dia memandang ke arah lima orang pendeta Lama yang duduk di sebelah kanan kakek itu, kemudian dengan suara lantang dia pun menjawab.

"Losuhu, sesungguhnya saya datang ke Tibet untuk bertemu dgn bicara dengan Tibet Ngo-houw. Karena saya mendengar bahwa Tibet Ngo-houw berada di sini, maka saya memberanikan diri untuk datang berkunjung, tanpa bermaksud untuk berurusan dengan Kim-sim-pai."

Sambil berkata demikian, sepasang mata Sie Liong dengan tajam menatap kepada lima orang pendeta Lama yang dimaksudkannya itu.

Namun, mereka berlima itu tetap duduk tak bergoyang seperti arca.

Hanya mata mereka yang ditujukan kepadanya, seperti mata para pendeta lainnya, dan Sie Liong kini melihat betapa pandang mata itu sama sekali tidak bersahabat, bahkan nampak marah.

"Hemm, orang muda. Kalau engkau tidak bermaksud untuk berurusan dengan Kim-sim-pai, kenapa engkau menghina orang kami yang sedang mengumpulkan sumbangan di Lasha?"

Kini suara kakek itu tidak lagi lembut, melainkan mengandung kemarahan dan lengkingan suara itu makin meninggi.

Sie Liong kini merasakan adanya bahaya yang mengancam dirinya dan dia mulai merasa menyesal telah datang ke situ, namun hal ini agaknya telah terlambat karena dia melihat gerakan banyak orang di luar dan ketika dia menengok, ternyata ruangan itu telah dikepung oleh banyak sekali orang di luar.

Bukan hanya pendeta-pendeta Lama berjubah merah, akan tetapi ada pula yang bukan pendeta Lama, dan jumlah mereka itu tentu mendekati lima puluh sampai seratus orang!

Namun, dia tetap bersikap tenang.

"Losuhu, saya sama sekali tidak pernah menghina siapapun juga, apalagi menghina orang Kim-sim-pai yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan saya. Peristiwa di rumah makan itu adalah karena saya tertekan dan saya hanya membela diri, juga saya terpaksa mencegah pengumpulan sumbangan yang dilakukan dengan paksaan. Bukan hanya Kim-sim-pai, biar dari manapun, kalau saya melihat orang minta sumbangan secara paksa, sudah menjadi kewajiban saya untuk mencegahnya. Saya tidak bermaksud menghina Kim-sim-pai, dan harap para losuhu suka maafkan saya. Saya hanya ingin berurusan dengan Tibet Ngo-houw, tidak bermaksud berurusan dengan Kim-sim-pai. Tibet Ngo-houw, harap kalian cukup gagah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian di Kun-lun-san tujuh delapan tahun yang lalu!"

Karena tahu bahwa ancaman bahaya terhadap dirinya datangnya dari Kim-sim-pai, maka Sie Liong sengaja menujukan tantangannya kepada Tibet Ngo-houw saja.

Tiba-tiba terdapat gerakan pada lima orang pendeta Lama itu yang sejak tadi diam seperti arca.

"Omitohud, dia itu anak bongkok yang dahulu menggagalkan desakan kita terhadap Himalaya Sam Lojin!"

Tiba-tiba seorang di antara mereka berlima yang bermata satu berseru.

Dia adalah Thay Hok Lama, orang ke empat dari Lima Harimau Tibet Itu.

Mendengar seruannya ini, empat orang saudaranya juga teringat dan mereka semua merasa heran.

Anak bongkok itu kini berani datang dan bersikap demikian tenang dan gagah!

"Benar sekali, Tibet Ngo-houw.

Aku adalah anak bongkok yang dulu itu dan kini aku datang mencari kalian sebagai utusan dari Himalaya dan kini berada di Kun-lun-san.

Sudah tiba saatnya kalian berlima mempertanggung jawabkan perbuatan kalian dahulu itu dan menjelaskan kepadaku apa yang menjadi sebab maka kalian memusuhi mereka yang sama sekali tidak berdosa."

"Omitohud.... betapa lancang dan sombongnya anak ini!"

Tiba-tiba seorang di antara para pendeta yang hadir di situ berseru.

Dia bukan seorang di antara Lima Harimau Tibet, melainkan seorang pendeta Lama Jubah Merah yang tubuhnya pendek kecil seperti kanak-kanak berusia belasan tahun.

Akan tetapi melihat wajahnya, tentu usianya sudah mendekati enam puluh tahun.

Dia bangkit berdiri dan menjura ke arah Kim Sim Lama.

"Susiok (paman guru), perkenankan teecu (murid) menghajar bocah lancang yang sama sekali tidak menghormati kita ini. Bocah ini tidak pantas dilayani oleh para suheng berlima!"

Kakek tua renta itu mengangguk.

Juga Tibet Ngo-houw diam saja karena merekapun merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda yang bongkok pula.

Akan menurunkan nama besar mereka sebagai pembantu-pembantu utama Kim-sim-pai!

Pendeta Lama yang bertubuh pendek kecil itu bernama Ki Tok Lama dan diapun merupakan seorang di antara "dua belas besar"

Yang menjadi para pembantu utama Kim Sim Lama.

Sebagai seorang di antara para pembantu utama, tentu saja dia memiliki tingkat ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Dua belas orang pembantu utama itu masih terhitung murid-murid keponakan Kim Sim Lama sendiri, demikian pula Tibet Ngo-houw juga merupakan murid keponakannya, sehingga tingkat kepandaian mereka satu dengan yang lain tidak banyak berselisih.

Hanya Tibet Ngo-houw sudah memiliki nama besar dan mereka berlima itu sudah biasa bertindak sebagai kelompok yang bekerja sama, maka merekalah yang menjadi pembantu-pembantu utama.

Maka kedudukan mereka berlima itu agak leblh tinggi dibandingkan para pembantu lainnya.

Ketika Ki Tok Lama sudah berdiri di depan Sie Liong, pemuda ini maklum bahwa keadaannya sungguh tidak menguntungkan baginya.

Dia bukan seorang pemuda yang bodoh.

Dia tahu bahwa dia telah terjebak, memasuki guha harimau yang amat berbahaya.

Bagaimana mungkin dia yang seorang diri dapat menandingi lawan yang demikian banyaknya!

Akan tetapi, untuk mundurpun tidak mungkin.

Tempat itu telah terkepung.

Jalan keluar telah buntu dan kalau dia nekat melarikan diri, tentu akan dikepung dan dikeroyok.

"Sie Liong!"

Ki Tok Lama membentak.

"Engkau masih bocah ingusan sudah berani memakai julukan pendekar, dan engkau berani menghina para suhengku Tibet Ngo-houw! Hemm, coba keluarkan semua ilmu kepandaianmu, hendak pinceng (saya) lihat apakah sepak terjangmu juga sehebat suara dan sikapmu. Majulah!"

Setelah berkata demikian, pendeta Lama yang bertubuh katai ini memasang kuda-kuda yang aneh.

Kedua kakinya berdiri di ujung jari seperti berjingkat, tangan kanan miring di depan dada, sedangkan tangan kiri berada di balik punggung dengan bentuk cakar.

Melihat ini, diam-diam Sie Liong dapat menduga akan keadaan batin orang ini.

Dengan berjingkat dia ingin mengangkat diri lebih tinggi sesuai dengan watak seorang yang masih dikuasai nafsu-nafsunya.

Nampak dari depan, tangan kanannya seperti sikap seorang yang beribadat, yang menaruh tangan berdiri lurus di depan dada, akan tetapi diam-diam, tangan yang lain bersembunyi di punggung dalam bentuk cakar.

Ini menandakan bahwa dia seorang munafik, yang pura-pura alim akan tetapi sesungguhnya batinnya masih bergelimang nafsu sehingga siap untuk melakukan kekerasan.

Tentu saja bukan demikian maksud Ki Tok Lama, hanya gerakannya itu mungkin saja tanpa disadarinya menggambarkan keadaan batinnya.

Sie Liong memberi hormat dan berkata dengan sikap tenang dan suara lembut.

"Losuhu, maatkan saya. Kedatangan saya ini untuk bicara dengan Tibet Ngo-houw, bukan untuk bertanding dengan siapapun juga. Sudah saya katakan bahwa saya tidak mempunyai urusan pribadi dengan Kim-sim-pai...."

"Pengecut! Engkau sudah masuk ke sini dan bersikap sombong dan sekarang engkau tidak berani menyambut tantangan pinceng?"

"Bukan tidak berani, melainkan karena saya tidak melihat adanya suatu alasan apapun untuk menyambut tantangan ini."

"Ada alasan atau tidak, mau atau tidak, engkau harus menerima seranganku ini. Nah, sambutlah!"

Ki Tok Lama tidak memperdulikan semua alasan Sie Liong dan tubuhnya sudah bergerak dan dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh itu sudah meluncur ke depan dan tangan kirinya yang membentuk cakar tadi, dari belakang telah melayang dari atas ke depan, dan karena tubuhnya tadi meloncat tinggi, maka tangan itu mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Sie Liong!

"Hyaaaaattt....!"

Dia mengeluarkan pekik melengking.

Diserang seperti itu, tentu saja Sie Liong tidak mungkin dapat tinggal diam.

Serangan itu merupakan serangan maut dan diapun terkejut melihat betapa cepatnya gerakan lawan.

Tahulah dia bahwa lawannya yang cebol itu memiliki gin-kang yang tinggi.

Namun, masih belum terlalu cepat gerakan itu baginya.

Dengan mudah diapun menggeser tubuh ke kiri dan terkaman itu luput.

Ki Tok Lama menjadi semakin marah.

Begitu tubuh turun, dia sudah membalik dan kembali dia sudah menyerang, kini lebih dahsyat, dengan kedua tangan menyambar dari kanan kiri.

Sekali lagi Sie Liong mengelak dengan loncatan mundur.

"Losuhu, aku tidak ingin bertanding denganmu!"

Katanya masih lembut, akan tetapi tidak begitu hormat lagi.

Ki Tok Lama tidak perduli.

Dua kali serangannya dengan jurus pilihan gagal.

Hal ini saja sudah membuat dia merasa malu dan menganggap bahwa pemuda itu menghinanya.

"Haiiiiiitttt....!"

Dia menyerang lagi, kini dengan pukulan-pukulan yang bertubi dan tubuhnya yang ringkas itu bergerak-gerak bagaikan seekor tupai melompat-lompat dan setiap kali serangannya luput, sudah disusulkannya serangan berikutnya.

"Losuhu, sekali lagi, aku tidak ingin berkelahi denganmu!"

Sie Liong berkata, suaranya semakin keras.

Namun jawabannya adalah serangan yang lebih genas.

Sie Liong merasa serba salah.

Kalau dia tidak melayani, tentu orang ini akan terus menyerangnya dan tak mungkin dia hanya selalu mengelak.

Kalau dia membalas, berarti dia sudah terpancing dan melibatkan diri dalam permusuhan, padahal dia berada di dalam sarang Kim-sim-pai!

"Engkau sungguh memaksaku!"

Katanya dan ketika kedua lengan lawan menghantam dengan pengerahan sin-kang, dia pun menyambut dari samping, menangkis untuk membuktikan kepada lawan bahwa kalau dia mau, tidak begitu sukar baginya untuk mengalahkan si cebol itu.

"Dukk!"

Sie Liong membatasi tenaganya, tidak mempergunakan seluruh tenaga, akan tetapi akibatnya tubuh si cebol terpelanting dan dia terhuyung-huyung hampir roboh terbanting.

Si cebol mengeluarkan teriakan melengking nyaring karena marahnya dan ketika dia melompat ke depan, dia telah memegang sepasang pedang, yaitu senjatanya yang selalu disembunyikan di balik jubah merahnya yang lebar.

"Hemm, losuhu, bagaimana seorang pendeta mau memegang sepasang senjata tajam?"

Sie Liong memperingatkan.

Sesungguhnya, merupakan pantangan bagi seorang pandeta untuk menggunakan senjata untuk membunuh, apalagi memegang senjata pedang untuk menyerang lawan tidak bersenjata!

Agaknya Ki Tok Lama masih mengingat akan kedudukannya dan dia merasa sungkan juga.

"Jangan banyak mulut, cepat kaukeluarkan senjatamu. Mari kita bertanding dengan menggunakan senjata!"

Tantangnya.

"Losuhu, aku tidak pernah memegang senjata!"

Kata Sie Liong dengan harapan agar lawannya itu merasa malu dan mundur.

"Sebaiknya kita hentikan saja ribut-ribut yang tiada gunanya ini dan membiarkan aku untuk bicara (Lanjut ke

Jilid 20) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 dengan Tibet Ngo-houw."

"Tidak! Kau kalahkan dulu sepasang pedangku, baru engkau boleh bicara dengan kelima orang suheng Tibet Ngo-houw!"

Si cebol berkeras.

Sie Liong menarik napas panjang.

Ketika dia memandang kepada para pimpinan Kim-sim-pai, mereka itu diam tak bergerak seperti arca.

Dia melihat sebuah rak senjata di sudut, dan dengan perlahan dia menghampiri rak itu, mengambil sebatang tombak bergagang kayu dan mematahkan mata tombaknya.

Gagang tombaknya saja yang berada di tangannya dan diapun berkata.

"Baiklah, kalau engkau memaksa, losuhu, biar aku meminjam gagang tombak ini saja, agar tidak sampai melukaimu dengan senjata yang tajam atau runcing."

Sie Liong mempergunakan senjata itu bukan karena takut menghadapi sepasang pedang lawan, melainkan untuk berjaga diri.

Kalau sampai terpaksa dia didesak dan dikeroyok, dia harus memiliki senjata untuk melindungi dirinya dan tidak ada senjata di dunia ini yang lebih baik baginya dari pada sebatang tongkat!

Jawaban Sie Liong itu membuat wajah Ki Tok Lama menjadi semakin merah karena jelas memandang rendah kepadanya.

"Lihat pedang!"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert