Eps 7 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.
"Ling Ling, aku mau mengajakmu pergi, akan tetapi engkau harus mentaati semua permintaanku,"
Demikian Sie Liong berkata setelah dia dan gadis itu berada di kaki Bukit Onta, jauh dari para penduduk dusun.
Wajah yang manis itu basah oleh keringat.
Sejak tadi, Sie Liong berjalan saja, seolah tidak memperdulikan gadis yang berjalan di belakangnya, bahkan kadang-kadang dia melangkah lebar sehingga Ling Ling terpaksa harus setengah berlari untuk mengikutinya.
Sie Liong mendengar langkah kaki pendek-pendek itu, dan mendengar pula betapa pernapasan gadis itu mulai membu-ru.
Akan tetapi, sedikitpun dia tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh.
Kini, dia berhenti dan berkata demikian sambil menatap wajah itu.
Wajah itu basah oleh keringat, dan napas gadis itu agak memburu namun wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sedikitpun kekesalan hati.
Bahkan wajah itu berseri penuh kegembiraan!
Mendengar ucapan itu, ia menjawab lantang dan mantap, tanpa ragu.
"Tentu saja, taihiap! Aku akan mentaati semua perintahmu, biarpun untuk itu aku harus berkorban nyawa...."
Tiba-tiba ia menyambung cepat kalimat yang sebenarnya sudah berakhir itu.
".... asal saja taihiap tidak menyuruh aku pergi meninggalkanmu!"
Sie Liong tersenyum. Gadis dusun ini sederhana dan tabah, akan tetapi dalam keserdahanaannya, ternyata ia cerdik juga.
"Nah, kalau begitu, perintahku yang pertama adalah jangan sebut aku taihiap. Namaku Sie Liong dan mengingat engkau pantas menjadi adikku, sebut saja aku sebagai kakakmu."
"Baiklah, Liong-ko (kakak Liong)!"
Kata Ling Ling gembira.
"Dan ke dua, sekarang engkau harus mengantar aku ke rumah orang tua angkatmu."
Dia melihat wajah itu terkejut, maka disambungnya cepat.
"Bagaimanapun juga, aku ingin menemui mereka dan mengatakan bahwa engkau tidak suka kembali ke sana dan akan ikut dengan aku. Hendak kulihat bagaimana sikap mereka, dan juga tidak baik pergi begitu saja tanpa pamit."
Ling Ling mengengguk, nampak hilang kagetnya.
"Baiklah, Liong-ko."
Merekapun pergi nenuju ke dusun tempat tinggal orang tua angkat Ling Ling.
Ketika mereka tiba di rumah itu, mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang memandang kepada Ling Ling dengan mulut cemberut.
Apalagi mereka melihat bahwa gadis itu pulang bersama seorang pemuda bongkok, segera ayah angkatnya yang dipenuhi kecewa dan cemburu segera menudingkan telunjuknya ke pada Ling Ling dan mulutnya segera mengeluarkan makian.
"Perempuan tak tahu malu! Kiranya engkau bukan diculik siluman merah akan tetapi minggat bersama siluman bongkok ini, ya? Bagus, engkau membikin malu padaku!"
"Dasar anak tak tahu diri, tak mengenal budi!"
Bentak ibu angkatnya.
"Bertahun-tahun kami memeliharamu, memberi makan dan pakaian sampai kau dewasa, kini tidak membalas budi malah melempar kotoran ke rumah kami!"
Sejak tadi Sie Liong mengamati dua orang ini.
Seorang pria tinggi kurus dengan muka pucat seperti berpenyakitan, berusia kurang lebih empat puluh tahun, mulutnya lebar dan giginya yang panjang-panjang itu kelihatan separuhnya lebih di luar bibir, matanya membayangkan wataknya yang kurang baik.
Adapun wanita itu beberapa tahun lebih muda, tubuhnya gendut dan hidungnya pesek, muka yang tidak menarik dan nampaknya juga galak.
Sungguh dia merasa heran bagaimana sepasang suami isteri seperti ini menjadi orang tua angkat seorang gadis seperti Ling Ling, bahkan dipuji oleh gadis itu sebagai orang-orang yang tadinya amat baik kepadanya.
"Ayah, ibu, aku tidak minggat, memang benar diculik...."
"Diculik setan bongkok ini, ya? Sungguh kalian pantas dihajar!"
Berkata demikian, laki-laki jangkung itu menerjang maju, siap menghajar dan tangannya menampar ke arah kepala Sie Liong.
Kalau menurutkan panasnya hati karena dimaki-maki, ingin Sie Liong sekali pukul menghancurkan mulut yang giginya panjang-panjang itu.
Akan tetapi dia tidak menurutkan nafsu amarahnya, melainkan menangkap lengan yang memukul, memuntirnya dan mendorongnya.
Pria itu mengeluarkan teriakan dan roboh terbanting lalu berguling-guling, mengaduh-aduh.
Isterinya juga sudah maju dan dengan tangan membentuk cakar sudah siap mencakari muka Ling Ling yang berdiri diam saja tidak melawan.
Akan tetapi sebelum kuku-kuku jari tangan wanita itu mengenai kulit muka Ling Ling, kakinya ditendang oleh Sie Liong dan wanita itu jatuh berdebuk.
Pantat yang besar itu terbanting ke atas tanah dan ia mengaduh-aduh, mengelus pantatnya dan tidak mampu bangun, seperti seekor kura-kura yang jatuh telentang.
"Berani kamu memukul orang....?"
Ayah angkat Ling Ling sudah bangkit lagi dan membantu isterinya berdiri.
Keduanya semakin marah, akan tetapi hanya mulut mereka saja yang nyerocos, tidak berani lagi menyerang.
Pada saat itu, beberapa orang dusun yang tadi ikut menyerbu ke bukit Onta, mengiringkan dua orang gadis dusun itu yang terbebas dari penculikan.
Melihat betapa ayah dan ibu angkat Ling Ling memaki-maki Pendekar Bongkok, mereka terkejut dan cepat semua orang lari ke situ.
"Engkau setan bongkok, kunyuk bongkok berani melarikan gadis orang!"
Teriak ayah angkat gadis itu yang menjadi semakin berani melihat para tetangga berlarian datang.
"Heiii! Gumalung.... tutup mulutmu yang kotor itu!"
Bentak beberapa orang dan mendengar ini, tentu saja Gumalung, demikian nama ayah angkat Ling Ling, memandang heran.
"Sungguh engkau lancang mulut! Tahukah engkau siapa pendekar ini? Dia adalah Sie Taihiap! Dialah yang telah mengusir para penjahat yang menculik gadis-gadis itu! Bahkan anak kalian Ling Ling juga dibebaskannya. Sekarang, datang-datang dia kalian semprot dengan makian. Kalian sungguh orang-orang yang jahat!"
Mendengar ini, seketika pucat wajah Gumalung dan isterinya.
"Ahh.... ohh.... maafkan kami.... maafkan kami...."
Kata Gumalung, diikuti oleh isterinya dan mereka membongkok-bongkok.
"Sudahlah!"
Kata Sie Liong membentak dan melihat banyak orang di situ dia menganggap kebetulan sekali untuk membersihkan nama Ling Ling.
"Kalian memang suami isteri yang tidak berbudi! Ketika Ling Ling berusia sepuluh tahun, kalian dengan dalih tidak mempunyai anak, mengangkatnya sebagai anak. Ling Ling telah bekerja seperti budak di sini untuk membalas budi kalian. Akan tetapi setelah ia dewasa, engkau yang menjadi ayah angkatnya mulai bersikap tidak wajar, merayunya bahkan hendak memperkosanya. Karena Ling Ling tidak sudi memenuhi permintaanmu yang kotor itu, engkau membencinya. Dan isterinya, yang tak tahu diri ini, bukan menyalahkan suaminya, bahkan juga membenci Ling Ling karena cemburu. Nah, coba kalian berdua katakan, benar tidak apa yang kukatakan semua ini. Kalian harus mengaku terus terang, baru akan kumaafkan. Kalau kalian membohong, aku akan turun tangan menghajar kalian!"
Suami isteri itu saling pandang.
Mereka merasa takut kepada Pendekar Bongkok, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengaku di depan para tetangga yang kini sudah berdatangan ke tempat itu.
Karena merasa bingung dan serba salah, akhirnya isteri yang galak itu menuding-nudingkan telunjuknya ke muka suaminya.
"Memang engkau yang celaka! Engkau suami tidak setia, engkau suami mata keranjang, engkau rakus! Sudah kuduga bahwa tentu engkau yang hendak memaksa Ling Ling, akan tetapi engkau selalu mengatakan bahwa Ling Ling yang menggodamu! Pendusta besar! Perempuan mana yang sudi menggoda laki-laki bermuka buruk seperti mukamu? Engkau hendak memperkosanya, ya? Bagus, engkau memang layak mampus!"
Wanita itu menerjang suaminya menggunakan kedua tangannya yang hendak mencakar-cakar.
Suaminya cepat menangkap kedua pergelangan tangan istcrinya dan mereka bersitegang.
Agaknya, si suami yang kerempeng kalah tenaga sehingga dia terbawa terhuyung ke kanan kiri.
"Engkau perempuan cerewet! Engkaulah yang membenci Ling Ling, engkau iri hati melihat ia cantik jelita, tidak macam engkau ini babi gemuk!"
"Apa kau bilang? Aku babi? Dan engkau ini monyet, engkau tikus kurus mau mampus!"
Kedua suami isteri itu saling dorong dan para tetangga mulai tertawa melihat mereka berkelahi.
Sie Liong dengan gerakan tidak sabar maju dan sekali dia menggerakkan tangan, kedua suami isteri itu saling melepaskan cengkeraman dan keduanya terpelanting, untuk kedua kalinya mereka terbanting jatuh.
Keduanya terkejut, kesakitan dan ketakutan, lalu mereka berdua berlutut menghadap Pendekar Bongkok.
"Taihiap, ampunkan saya...."
Wanita itu merengek.
"Taihiap, ampunkan kami, kami mengaku salah. Kami bersalah terhadap Ling Ling...."
Kata sang suami, lalu tanpa memandang wajah anak angkatnya, dia menyambung.
"Ling Ling, maafkanlah ayahmu yang bersalah ini...."
"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu seperti kalian! Aku datang untuk berpamit, aku akan pergi meninggalkan kalian!"
"Eh....? Kenapa, Ling Ling? Kenapa engkau hendak meninggalkan kami?"
Gumalung berseru kaget, juga isterinya kaget mendengar ucapan ini.
Mereka memang tidak sayang lagi kepada Ling Ling, dan kesayangan ayah angkat itu merupakan kesayangan yang terdorong nafsu, akan tetapi mereka akan repot kalau ditinggalkan Ling Ling yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.
"Tapi, kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja, Ling Ling!"
Kata pula nyonya gendut itu.
Sie Liong sudah merasa lega.
Percekcokan suami isteri itu tadi saja sudah merupakan pengakuan dari mereka bahwa Ling Ling tidak berbohong, dan semua orang mendengarnya.
Maka, diapun lalu berkata dengan suara tegas.
"Ling Ling akan meninggalkan rumah ini, ia akan pergi bersamaku. Apakah kalian merasa berkeberatan?"
"Tapi.... tapi.... ia merupakan bantuan bagi kami di rumah ini. Tanpa Ling Ling.... pakaian tidak tercuci bersih, masakanpun tidak enak rasanya...."
"Anjing kurus, engkau mencela aku lagi, ya?"
Bentak isterinya.
"Kalau kurang bersih, kau cuci sendiri pakaianmu, dan kalau engkau tidak menyukai masakanku, pergi sana makan di luar! Taihiap, kami memang berkeberatan kalau Ling Ling pergi karena.... karena...."
"Karena apa?"
Sie Liong mendesak. Wanita gendut itu beberapa kali menelan ludah, agaknya ia takut untuk bicara, akan tetapi dengan memaksa diri akhirnya ia berkata.
".... anak itu sudah delapan tahun bersama kami.... entah sudah berapa banyak kami mengeluarkan uang untuk memeliharanya, makannya.... pakaiannya...."
Sie Liong menahan diri untuk tidak menampar muka wanita itu.
"Hemmmm, jadi engkau merasa rugi? Katakanlah, berapa banyak hutang Ling Ling kepada kalian?"
"Sedikitnya seratus tail perak...."
Terdengar suara orang-orang mengomel panjang pendek.
Banyak penduduk yang merasa keterlaluan sekali sikap orang tua angkat Ling Ling itu.
Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki beberapa ekor kuda dan ternyata yang muncul adalah Gumo Cali dan beberapa orang dusun lain yang tadi memimpin penyerbuan ke Bukit Onta.
Gumo Cali cepat memberi hormat kepada Pendekar Bongkok dan dia menurunkan sebuah bungkusan kain dari atas kudanya.
"Sie Taihiap, tadi ketika kami menggeledah rumah para penjahat di puncak Bukit Onta, kami menemukan uang sebanyak tiga ratus tail perak. Kami semua bersepakat untuk menyerahkan uang ini kepada taihiap!"
Sie Liong tersenyum.
Dia memang sedang bingung memikirkan bagaimana dia akan dapat membayar hutang Ling Ling kepada orang tua angkatnya itu, dan kini mereka datang menyerahkan uang, bukan seratus tail, bahkan tiga ratus tail!
Kalau Tuhan hendak menolong, ternyata ada saja jalannya!
"Terimakasih!"
Katanya.
"Tolong ambilkan seratus tail perak dan serahkan kepadaku."
Gumo Cali membuka kantung itu dan mengeluarkan sepertiga bagian dari isi kantung.
Gumpalan perak dari lima tail itu besar dan berkilauan, sebanyak dua puluh buah.
"Lihat, inilah uang yang telah kau keluarkan untuk Ling Ling!"
Berkata demikian, Sie Liong mengambil gumpalan-gumpalan perak itu dan melemparkannya ke arah dinding.
Potongan potongan perak itu beterbangan dan menancap pada dinding, sampai masuk ke dalam, berjajar-jajar dua puluh lubang banyaknya.
Tentu saja suami isteri itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Kalau saja gumpalan perak itu diarahkan kepada mereka, tentu akan remuk dada mereka dan pecah kepala mereka!
"Paman, harap sisanya paman bagi-bagikan kepada para gadis yang tadi menjadi korban penculikan.
Nah, selamat tinggal dan Terimakasih!"
Bersama Ling Ling yang sudah lari mengambil pakaiannya dari dalam kamarnya dan memasukkan bekal pakaian itu dalam buntalan kain, Sie Liong lalu meninggalkan tempat itu.
Mereka duduk menghadapi api unggun di bawah pohon dekat hutan besar itu.
Hawa amat dinginnya walaupun udara cerah pada sore hari itu.
Bahkan panasnya api unggun yang dihadapinya tidak cukup kuat untuk dapat mengusir hawa dingin yang dirasakan Ling Ling.
Ia kadang-kadang masih menggigil.
Melihat keadaan gadis ini, Sie Liong merasa kasihan dan dia membuka baju luarnya yang agak tebal, diselimutkan dari belakang ke tubuh gadis itu.
Melihat ini, Ling Ling tersenyum dan menarik baju luar itu agar lebih banyak menyelimuti lehernya.
"Terimakasih...."
Katanya lirih dan iapun termenung memandang ke arah api unggun yang bernyala indah.
Ia merasa betapa kedua kakinya nyeri, kiut-miut rasanya karena sehari itu mereka hampir terus menerus berjalan naik turun bukit.
Ia tidak pernah mengeluh walaupun kakinya terasa seperti akan patah-patah, dan telapak kakinya terasa tebal dan panas sekali.
Kelelahan membuat ia merasa lemas, ditambah pula rasa lapar karena sejak pagi tadi mereka tidak pernah makan apapun.
Minumpun hanya dari sumber air yang mereka lewati di kaki bukit terakhir tadi.
Ia tidak tahu betapa pemuda itu sejak tadi mencuri pandang dan mengamati wajahnya.
Ia merasa berbahagia!
Biarpun ia merasa lelah bukan main, namun senyum manis tak pernah meninggalkan mulutnya, cahaya matanya tak pernah meredup, dan wajahnya berseri-seri.
Apa lagi karena banyak bergerak jalan sepanjang hari, kedua pipinya menjadi kemerahan, puncak pipi di bawah dan kanan kiri mata bagaikan buah tomat masak.
Sie Liong duduk di seberang api unggun.
Dari atas nyala api, dia dapat memandang wajah gadis itu dengan jelas.
Cuaca sudah mulai suram, akan tetapi cahaya api yang kuning kemerahan menimpa wajah yang manis itu.
Diam-diam dia kagum sekali kepada Ling Ling.
Sudah sepekan gadis itu melakukan perjalanan dengan dia.
Sengaja dia membawa Ling Ling merasakan kelelahan, kekurangan makan dan minum, kepanasan dan kedinginan.
Namun, gadis itu selalu tersenyum, tak pernah mengeluh.
Dia sengaja menguji karena dia belum yakin apakah benar gadis ini hendak nekat ikut dengan dia mengembara dan hidup serba kekurangan.
Dan selama sepekan ini, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang gadis ini hebat!
Seorang gadis yang lemah badannya karena tidak pernah mempelajari silat, akan tetapi yang memiliki batin yang amat kuat, semangat membaja dan pantang mundur!
Seorang gadis yang sama sekali tidak cengeng.
Timbullah perasaan iba dan suka dalam hatinya terhadap Ling Ling.
Agaknya Ling Ling merasa bahwa dirinya dipandang.
Ia mengangkat muka dan pada saat itu, pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sie Liong.
Dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut agak lama.
Akhirnya Sie Liong yang mengalihkan pandang matanya, merasa tidak enak memandang orang terlalu lama dan penuh perhatian.
"Liong-ko, ada apakah? Engkau memandangku seperti hendak mengatakan sesuatu."
Sie Liong memandang padanya dan tersenyum.
"Aku hanya ingin bertanya apakah engkau masih kedinginan, Ling Ling?"
Ling Ling merapatkan baju luar yang tebal itu dan tersenyum makin lebar.
"Tadi memang, akan tetapi sekarang tidak lagi. Hangat dan nyaman, Liong-ko."
Mereka diam sejenak.
"Lelah....?"
Terdengar Sie Liong bertanya. Gadis itu mengangkat mukanya dan kembali mereka bertemu pandang. Ia mengangguk.
"Akan tetapi, betapa nyaman dan enaknya beristirahat seperti ini setelah merasa kelelahan!"
"Kakimu terasa nyeri?"
Sejenak Ling Ling tidak menjawab, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan memandang kakinya, menarik kedua kakinya dari bawah untuk diluruskan.
Gerakan ini mendatangkan perasaan nyeri bukan main, akan tetapi ia tidak mengeluh, hanya matanya tergetar sedikit dan juga bibirnya dikatupkan makin kuat.
Akan tetapi ia menggeleng kepala.
"Tidak, tidak nyeri...."
Hening lagi sejenak.
Dalam keheningan ini, pendengaran Sie Liong yang terlatih dan amat peka itu mendengar suara perut gadis itu berkeruyuk, seperti juga perutnya sendiri yang sejak tadi berkeruyuk.
"Lapar....?"
Tanyanya sambil menatap wajah itu.
Ling Ling mengangkat muka dan kembali mereka bertemu pandang.
Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sambil menambahkan kayu kering pada perapian di depannya.
"Ling Ling, aku melihat engkau seorang gadis yang tabah dan jujur, akan tetapi mengapa engkau membohongi aku?"
Gadis itu nampak terkejut sekali.
Sebatang ranting yang dipegangnya terlepas dan matanya terbelalak ketika ia memandang kepada pemuda itu.
Sepasang alisnya berkerut dan suaranya terdengar heran.
"Aku? Bohong?"
Sie Liong menganguk dan tersenyum.
"Baru saja dua kali engkau berbohong kepadaku. Kakimu nyeri sekali dan engkau mengatakan tidak, perutmu lapar dan engkau juga mengatakan tidak. Bukankah itu bohong namanya?"
Wajah yang tadinya menjadi agak pucat itu merah kembali, dan sepasang mata itu berseri kembali.
"Aih, Liong-ko, engkau mengejutkan aku. Kiranya itu yang kaunamakan bohong. Itu bukan bohong, koko, melainkan untuk melawan keadaan dan untuk menguatkan hati."
"Hemm, apa pula maksudnya itu?"
"Sebelum kujawab, aku ingin tahu bagaimana engkau begitu yakin bahwa kakiku nyeri dan perutku lapar?"
"Kita sudah berjalan sehari, naik turun bukit, sudah sepatutnya kalau kakimu nyeri dan ketika engkau meluruskan kakimu tadi, jelas nampak pada wajahmu bahwa engkau menahan rasa nyeri. Sejak pagi kita belum makan lagi, sudah sepantasnya kalau perutmu lapar, dan tadi, aku mendengar perutmu berkeruyuk."
Ling Ling tertawa dan menutupi mulutnya. Ia merasa lucu, juga merasa malu.
"Ih, engkau membikin aku malu saja, koko. Telingamu usil amat sih, mendengarkan bunyi perut orang! Sekarang aku jawab pertanyaanmu tadi. Memang kakiku nyeri, habis mengapa? Andaikata aku mengaku nyeripun, pengakuan itu tidak akan mengurangi rasa nyeri, bahkan akan menambah. Maka aku membohongi diri sendiri saja, mengatakan tidak nyeri sehingga rasa nyeri banyak berkurang. Demikian pula tentang perutku yang lapar. Kalau aku mengaku lapar juga tidak akan ada sesuatu yang dapat kumakan. Lebih baik mengaku tidak lapar agar rasa laparnya berkurang. Ketika tadi engkau bertanya apakah aku lelah dan dingin, aku menjawab ya karena di sini ada tempat beristirahat menghilangkan lelah dan api unggun penahan dingin. Nah, jelas, kan? Aku bukan pembohbng, ya koko?"
Kalimat terkahir ini terdengar manja seperti rengek kanak-kanak sehingga Sie Liong memandang dengan senyum dan hatinya terharu karena dia teringat kepada Yauw Bi Sian.
Teringat dia betapa ketika masih kecil, Bi Sian yang tidak mempunyai teman lain kecuali dia, juga suka merengek seperti ini kalau minta sesuatu kepadanya.
Dan seperti juga dahulu, ketika dia selalu menuruti permintaan Bi Sian kalau keponakannya itu sedang merengek, kinipun ia menuruti permintaan Ling Ling dan dia mengangguk.
"Engkau memang bukan pembohong, Ling Ling. Dan sekarang aku akan membuat pengakuan."
Kini gadis itu yang memandang heran dan penuh selidik.
"Engkau akan membuat pengakuan? Pengakuan apa lagi, Liong-ko?"
"Aku telah bersikap kejam sekali kepadamu, Ling Ling...."
"Aihhh! Sama sekali tidak, Liong-ko! Apa yang kaumaksudkan ini? Engkaulah satu-satunya orang yang paling baik di dunia ini bagiku. Engkau bagiku menjadi pengganti ayah ibu kandungku, pengganti saudara dan keluargaku, menjadi sahabat dan juga guruku...."
"Jangan terlalu tinggi memuji, Ling Ling. Lihat dan rasakan, bukankah selama sepekan ini engkau kubawa berjalan sampai melampaui batas kekuatanmu, memaksamu berjalan jauh melalui bukit dan tempat yang amat sukar, lalu membiarkanmu kelaparan dan kehausan? Bukankah selama sepekan ini aku membiarkan engkau mengalami sengsara, tubuhmu lelah, kakimu nyeri, perut lapar dan mulut haus? Aku telah bersikap kejam sekali!"
"Tidak, tidak! Aku tidak menganggapmu kejam, koko. Sudah sewajarnya karena memang kita berdua ini sepasang kelana yang merantau, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki rumah, bukan? Rumah kita adalah dunia ini, lantainya tanah ini, atapnya langit. Betapa indahnya rumah kita, koko, tidak ada di dunia ini yang seindah tempat tinggal kita. Di mana-mana tempat tinggal kita. Lantai kita bertilamkan rumput lunak, kebun kita penuh pohon dan bunga, kupu-kupu, burung...."
Mau tak mau Sie Liong tertawa gembira.
Bukan main gadis ini, pikirnya girang.
Memiliki ketabahan dan tahan uji, akan tetapi juga memiliki kelincahan dan kegembiraan hidup sehingga baru berkumpul sepekan saja semua kenangan buruk dan perasaan nelangsa dalam hatinya tersapu bersih, membuat diapun ikut gembira.
Tiba-tiba saja segala sesuatu di sekelilingnya nampak demikian indahnya!
"Engkau tidak tahu, Ling Ling.
Selama sepekan ini, aku memang sengaja membuatmu menderita.
Aku sengaja membuat engkau kecapaian, kelaparan dan kehausan!"
Gadis itu memandang heran.
"Kau sengaja? Aku.... aku tidak mengerti maksudmu, koko."
"Aku memang hendak mengujimu. Setelah engkau menderita, hendak kulihat apakah engkau benar-benar sudah nekat untuk ikut denganku. Kalau engkau tidak kuat, aku akan mencarikan tempat yang baik untukmu, pada sebuah keluarga, yang dapat kupercaya dan...."
"Liong-ko, kenapa begitu? Sudah kukatakan bahwa aku hanya mempunyai satu saja keinginan hidup ini, yalah ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Jangankan hanya kesukaran yang tidak seberapa ini, hanya keletihan, kelaparan dan kehausan, biarpun sampai mati aku tidak akan menyesal telah ikut denganmu, koko!"
Sie Liong menundukkan mukanya agar jangan nampak betapa wajahnya merasa terharu sekali.
Apakah yang mendorong gadis ini demikian nekat?
Mungkinkah gadis ini mencintanya?
Ah, bagaimana mungkin?
Semua orang, terutama kaum wanita, takut dan benci kepadanya, jijik melihat keadaan tubuhnya.
Bagaimana mungkin ada yang jatuh cinta kepadanya?
Dan gadis ini bukan seorang gadis yang buruk rupa ataupun cacat, melainkan seorang gadis yang sehat lahir ba-tinnya, bahkan cantik manis dan pasti akan mudah menundukkan hati pria yang manapun.
"Maafkan aku, Ling Ling. Sudahlah, sekarang lebih baik kita makan. Perut kita sudah lapar sekali. Aku masih menyimpan roti tawar, hanya tinggal mencari daging segar untuk dijadikan teman roti."
"Tapi...."
"Ssstttt, di sana ada daging....!"
Sie Liong yang sudah menyambar sebatang ranting dengan tangannya, tiba-tiba menyambitkan ranting itu ke arah kiri.
Ranting itu meluncur bagaikan anak panah ke dalam semak-semak tak jauh dari situ dan seekor kelinci putih terguling keluar dengan leher tertembus ranting dan mati seketika.
Melihat ini, tentu saja Ling Ling menjadi girang bukan main.
"Hebat, engkau hebat, Liong-ko! Kelinci ini gemuk sekali.... ah, akan kubuatkan daging kelinci panggang yang lezat untukmu, Liong-ko."
Tiba-tiba ia kelihatan masgul dan mengeluh.
"Ahh, bagaimana mungkin dapat lezat tanpa bumbu?"
Melihat wajah gadis yang tadinya amat gembira itu tiba-tiba menjadi sedih, Sie Liong tersenyum.
"Jangan khawatir, Ling Ling. Bumbu apakah yang kaubutuhkan? Katakan saja!"
Gadis itu memandang wajah Sie Liong dengan putus asa.
Yang dibutuhkannya itu hanya dapat dibeli di pasar, mana mungkin pendekar itu akan bisa dia mendapatkan daging kelinci tadi?
Dengan lesu iapun menjawab.
"Lada untuk penghilang bau amis, atau jahe, bawang putih untuk penyedap, garam.... dan gula agar terasa gurih dan manis.... agar terasa gurih dan manis...."
Akan tetapi, Ling Ling terbelalak ketika Sie Liong mengeluarkan barang-barang yang ia butuhkan itu dari dalam buntalan pakaian.
Bumbu lengkap!
Ling Ling bersorak gembira.
"Searang pengelana harus selalu menyimpan dan membawa bekal bumbu-bumbu ini, Ling Ling."
Akan tetapi gadis itu kini bekerja keras, apalagi ketika Sie Liong menyerahkan sebatang pisau yang tajam, yang juga menjadi bekal Sie Liong untuk keperluan memasak makanan.
Ia lupa akan dinginnya hawa udara dan sambil bersenandung lagu rakyat Tibet, Ling Ling menguliti kelinci gemuk itu dan mengambil dagingnya.
Kegembiraan gadis itu menular pada Sie Liong.
Diapun merasa gembira dan lincah, merasa seolah dia menjadi kanak-kanak atau remaja kembali.
Dia mempersiapkan ranting penusuk daging, membantu Ling Ling dan tak lama kemudian, bau daging panggang yang sedap karena bumbunya lengkap, membuat perut mereka semakin keras berkeruyuk saling bersahutan.
Sie Liong mengeluarkan bungkusan roti tawar dan seguci anggur merah yang tidak keras, melainkan anggur manis.
Dan kemudian merekapun makan roti tawar dengan daging kelinci panggang yang benar lezat karena masih segar, lunak dan gurih.
Ketika mereka makan inipun Sie Liong menemukan kenyataan yang membuat dia semakin termenung dan hatinya berdebar aneh.
Mengapa mereka berebut saling memilihkan daging terbaik?
Mengapa mereka saling mementingkan dan saling memperhatikan?
Inikah cinta?
Dia merasa heran dan ragu.
Pernah dia mengalami perasaan seperti ini, ketika berhadapan dengan Yauw Bi Sian, keponakannya!
Hanya bedanya, kalau dari Bi Sian dia tidak merasakan perhatian lain kecuali kasih sayang yang kekanak-kanakan dari seorang keponakan yang sejak kecil menjadi temannya bermain, sebaliknya dari Ling Ling dia merasakan perhatian yang lain, yang lebih dewasa dan membuat dia merasa dimanja, merasakan suatu kemesraan yang belum pernah dirasakannya.
Inikah cinta?
Dia tidak dapat menjawabnya.
Terlampau pagi untuk menduga sejauh itu.
Kini, perut mereka tidak berkeruyuk lagi.
Mereka menemukan sumber air tak jauh dari situ.
Setelah mencuci tangan dan mulut, mereka duduk lagi menghadapi api unggun.
Malam mulai larut dan mereka membesarkan api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk.
Kembali mereka saling berpandangan melalui atas nyala api.
"Ling Ling...."
Sie Liong meragu, suaranya lirih dan seolah dia sangsi apakah perlu dia menyatakan isi hatinya.
Gadis itu memandangnya dan bibir itu terseryyum.
Bibir yang kini nampak merah segar, tidak layu dan agak pucat seperti ketika kelaparan dan keletihan menguasainya tadi.
"Ya, Liong-ko?"
"Aku heran sekali...."
Melihat pemuda itu meragu, Ling Ling menjadi penasaran.
"Apa yang kauherankan, Liong-ko?"
"Engkau...."
"Eh? Aku kenapa sih?"
Ling Ling tertawa kecil.
"Apakah mataku tiga? Hidungku dua? Apanya yang mengherankan pada diriku?"
"Seorang gadis seperti engkau.... kenapa nekat ingin ikut dengan aku? Aku seorang laki-laki yang sebatangkara, miskin dan tidak mempunyai apa-apa...."
"Sama dengan aku!"
Ling Ling menyambung cepat.
"Akan tetapi engkau seorang gadis yang cantik dan masih muda, sedangkan aku...."
"Engkau seorang pendekar yang budiman, seorang jantan yang hebat sekali, mengagumkan dan...."
"Bukan itu maksudku, Ling Ling. Aku seorang laki-laki yang cacat, bongkok dan menjijikkan...."
"Cukup!"
Ling Ling berteriak dan ia mengerutkan alisnya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti orang marah.
"Liong-ko, kenapa engkau begitu merendahkan diri? Ketika engkau muncul di ambang pintu itu, ketika semua gadis ketakutan melihatmu dan mengira engkau seorang penjahat karena cacat tubuhmu, aku melihat betapa engkau seperti menerima tamparan atau tusukan. Aih koko, aku tidak dapat melupakan pandang matamu di saat itu dan di saat itu pula aku.... aku memutuskan untuk ikut denganmu, ke manapun engkau pergi...."
Kini sepasang mata yang tadinya nampak marah itu menjadi lembut sinarnya, mata itu seperti redup.
"Kenapa, Ling Ling? Itulah yang ingin sekali kuketahui! Kenapa tiba-tiba engkau mengambil keputusan yang begitu nekat? Pergi mengikuti aku yang tidak kaukenal sama sekali?"
"Pada saat itu aku melihat pandang matamu seperti itu, koko, aku.... aku merasa hatiku tertusuk, aku merasa terharu dan kasihan sekali kepadamu. Ingatkah engkau betapa aku menangis sesenggukan, menangis dengan sedih? Bukan hanya karena aku tidak ada yang menjemput, bukan hanya karena aku takut membayangkan harus kembali ke rumah orang tua angkatku, melainkan terutama sekali karena kasihan kepadamu!"
Sie Liong menatap tajam wajah gadis itu.
"Engkau kasihan kepadaku karena.... aku bongkok? Karena cacat tubuhku?"
Dengan tegas Ling Ling menggeleng kepalanya.
"Sama sekali tidak! Kenapa cacat tubuhmu harus dikasihani? Biarpun engkau mempunyai cacat, akan tetapi cacat itu sama sekali tidak mengganggumu, bahkan engkau memiliki kesaktian luar biasa. Tidak, aku bukan kasihan karena cacatmu, koko, melainkan kasihan karena engkau begitu menderita batin karena cacat itu, yang membuatmu begitu merendahkan diri. Engkau tentu merasa betapa semua orang, terutama wanita, jijik dan benci kepadamu...."
"Memang kenyataannya demikian!"
Kata Sie Liong, suaranya agak keras.
"Tidak, tidak semua merasa seperti itu! Hanya perempuan yang tinggi hati saja yang memandang rendah kepada seorang pria ydng cacat. Padahal, cacat tubuh bukan hal yang terlalu memalukan, tidak seperti cacat batin! Tidak, koko, tidak semua perempuan benci kepadamu, setidaknya.... aku kagum padamu, aku menganggap engkau orang yang paling baik di dunia ini, dan paling gagah...."
".... dan paling buruk?"
Sie Liong menambahkan swnbil tersenyum pahit. Ling Ling mengerutkan alisnya.
"Liong-ko, jangan tersenyum seperti itu! Begitulah engkau tersenyum ketika berdiri di ambang pintu itu, tersenyum seolah engkau melihat dunia kiamat dan engkau tidak perduli! Tidak, koko. Siapa bilang engkau paling buruk? Bagiku, engkau gagah dan tampan!"
Sie Liong membelalakkan matanya, menatap wajah gadis itu, jantungnya berdebar keras.
Dan diapun bertanya kepada matanya, bagaimana gadis itu nampak dalam pandangannya, dan dia melihat seorang gadis yang amat cantik menis, yang menimbulkan rasa iba dan suka, seorang gadis yang membuat dia merasa berbahagia, pandang mata yang bening itu seperti memberi nyala hidup dalam hatinya, Senyum manis di bibir itu seperti tetesan embun pagi pada perasaannya yang mulai mengering dan dia pun tiba-tiba tertawa bergelak.
Suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, memecahkan kesunyian malam.
Beberapa ekor burung yang bertengger di pohon yang berdekatan sampai terkejut, dan bunyi kelepak sayap mereka menandakan bahwa mereka itu terkejut dan terbang pergi menjauhi suara aneh itu.
Ling Ling juga memandang kepada Sie Liong dengah sinar mata khawatir.
Suara ketawa pemuda itu mula-mula perlahan, makin lama semakin kuat dan anehnya, ia seperti mendengar isak tangis terselip di antara bunyi tawa itu.
Seperti terdorong oleh sesuatu, Ling Ling bangkit berdiri, menghampiri Sie Liong dan berlutut di dekat pemuda itu yang masih duduk bersila sambil tertawa.
Dipegangnya pundak pemuda itu, diguncangnya dan iapun berteriak dengan gelisah.
"Liong-ko....! Liong-ko... Kau.... kau kenapa, Liong-ko?"
Ketika merasa betapa tubuhnya diguncang-guncang, Sie Liong baru sadar.
Kalau tadi ketika tertawa dia menengadah, kini dia menundukkan muka dan suara ketawanya terhenti.
Ketika dia melihat Ling Ling di dekatnya dan gadis itu kelihatan gelisah hampir menangis, mengguncang pundaknya, Sie Liong ingat akan keadaan dirinya dan seperti didorong oleh sesuatu yang amat kuat, dia lalu merangkul.
"Ling Ling....!"
"Liong-ko.... ah, Liong-koko....!"
Keduanya Saling rangkul, hanya berpelukan saja dengan kuatnya seolah-olah ingin menjadi satu dan tidak akan berpisah lagi.
Rangkulan yang penuh dengan keharuan dan rasa syukur, tidak mengandung nafsu berahi sama sekali.
Sie Liong yang lebih dulu sadar bahwa keadaan mereka itu tidak semestinya.
Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya.
Merasa akan hal ini, Ling Ling juga melepaskan rangkulannya akan tetapi ia diam saja ketika kedua tangannya dipegang oleh kedua tangan Sie Liong.
Mereka berhadapan, saling berpegang tangan dan dengan suara menggetar karena keharuan Sie Liong berkata lirih.
"Ling Ling, Terimakasih, engkau telah mengembalikan harga diriku!"
"Dan engkau telah mengembalikan pengharapanku untuk menghadapi penghidupan yang kejam ini, Liong-ko."
"Nah, sekarang mengasolah. Engkau harus tidur yang enak agar besok memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, Ling Ling."
Ling Ling bangkit berdiri, lalu membongkar buntalan pakaiannya. Dikeluarkan sehelai selimut, dibentangkan selimut itu di atas rumput dekat api unggun.
"Akan tetapi engkau bagaimana, Liong-ko? Engkaupun harus mengaso!"
Pemuda itu tersenyum.
"Aku sudah terbiasa dengan kehidupan begini, Ling Ling. Aku tidak perlu tidur karena harus menjagamu, menjaga agar api unggun tidak padam. Tidurlah, dengan bersila saja aku akan dapat melepaskan lelah."
"Baiklah, Liong-ko,"
Gadis itu menguap dan menutupi mulut dengan punggung tangan karena ia merasa lelah sekali dan mengantuk.
Begitu ia merebahkan diri miring, iapun pulas.
Ia miring menghadap api unggun sehingga Sie Liong dapat melihat mukanya.
Hatinya penuh rasa haru dan sayang melihat wajah itu tidur pulas dengan mulut tersenyum membayangkan kebahagiaan, dan napasnya amat halus.
Seorang gadis yang baik!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah pergi ke sumber air dan mandi.
Hawa amat dingin, akan tetapi karena tubuhnya memang kuat sekali, maka mandi di waktu pagi itu terasa amat segar dan nyaman.
Tubuhnya mengepulkan uap putih ketika dia merendam tubuhnya ke dalam air yang amat dingin itu.
Dia merasa segar sekali ketika dia kembali ke tempat mereka melewatkan malam dan dia mendapatkan Ling Ling sudah bangun.
Pakaian dan rambutnya kusut, namun hal ini tidak mengurangi kecantikan gadis itu.
Melihat Sie Liong datang dengan rambut masih basah, gadis itu tertawa kecil.
"Aih, sepagi ini dan sedingin ini engkau agaknya telah mandi, koko! Hih, hih, aku tidak berani mandi. Hawa begini dinginnya dan air itu tentu dingin seperti salju!"
Ia mengeluarkan pakaian dari dalam buntalannya.
"Akan tetapi aku akan bertukar pakaian dan mencuci yang kotor. Kesinikan pakaianmu yang kotor, Liong-ko, akan kucuci sekalian!"
Sie Liong memperlihatkan pakaian yang masih basah dan sudah diperasnya.
"Sudah kucuci tadi!"
Katanya. Gadis itu cemberut.
"Aih, koko. Berulang kali engkau mencuci sendiri pakaianmu. Apakah kaukira aku tidak dapat mencuci bersih? Itu sudah menjadi kewajibanku, koko. Lain kali jangan kaucuci sendiri!"
Sie Liong mengangguk dan tertawa.
"Baiklah, Ling Ling, aku berjanji."
Gadis itu berlari kecil menuju ke sumber air yang berada kurang lebih tiga ratus meter dari situ, menuruni tebing yang tidak curam.
Sie Liong memandang sejenak dari belakang, tersenyum dan setelah gadis itu menghilang di balik semak dan batang pohon, diapun membuat persiapan untuk memanggang sisa roti tawar semalam untuk dipakai sarapan.
Sie Liong merasa gembira bukan main pagi itu.
Dia merasa seolah-olah mengalami hidup baru.
Suasana nampak indah bukan main.
Matahari pagi dengan lembut mengusir kabut pagi, menggugah burung-burung yang kini sibuk membuat persiapan untuk melaksanakan tugas kewajiban mereka sehari-hari, yaitu mencari makan.
Rumput dan daun pohon juga tergugah, nampak berseri dan segar, dihias butir-butir embun yang seperti mutiara berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang masih lemah.
Kicau burung bagaikan musik yang amat riang dan merdu.
Sie Liong tersenyum-senyum seorang diri.
Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya.
Roti yang dipanggangnya sudah matang sejak tadi.
Terlalu lama gadis itu pergi ke sumber air, pikirnya.
Biarpun dengan mencuci pakaian, pakaian itu tidak berapa banyak.
Mestinya sudah selesai sejak tadi.
Dia bangkit berdiri dan memandang ke arah hutan, di mana terdapat sumber air itu.
Tidak nampak dari situ karena selain tertutup semak dan pohon, juga jalan ke sumber air itu agak menurun.
"Ling Ling....!"
Dia berteriak memanggil, mengerahkan tenaganya agar suaranya sampai ke sumber air itu. Dia menanti jawaban, namun tak kunjung tiba.
"Ling Ling, rotinya sudah masak...."
Dia berteriak lagi, lebih nyaring.
Juga tidak terdengar jawaban.
Dia mengerutkan alisnya.
Tak mungkin gadis itu tidak mendengar, dan andaikata gadis itu menjawabnya, tentu dengan pendengarannya yang peka terlatih, dia akan dapat mendengarnya.
Memang tidak pantas kalau dia mendatangi sumber air itu.
Siapa tahu gadis itu sedang mandi dan telanjang.
Akan tetapi kekhawatiran hatinya membuat dia melangkah ke arah sumber air.
Setelah tiba di atas tebing, dia berhenti dan mendengarkan.
Hanya suara gemercik air sumber bermain dengan batu-batu yang terdengar.
Tidak terdengar suara orang mandi, bermain di air, atau mencuci pakaian.
Akan tetapi dia masih belum mau turun.
"Ling Ling....!"
Dia memanggil lagi.
Kini tidak mungkin sama sekali kalau gadis itu tidak mendengar karena sumber itu berada dekat di bawahnya, walaupun belum nampak dari situ karena terhalang batu-batu besar.
Tidak ada jawaban.
Sie Liong tidak ragu-ragu lagi, dengan hati gelisah dia meloncat turun.
Dia memandang ke sana-sini.
Tidak nampak bayangan Ling Ling.
"Ling Ling....!"
Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Ketika dia mendekat ke sumber air, dia terkejut sekali melihat pakaian Ling Ling berada di situ, baik pakaian kotor yang akan dicucinya tadi maupun pakaian kering untuk ganti.
Gadis itu lenyap, tanpa berpakaian!
Wajahnya seketika pucat ketika detik jantungnya seperti terhenti, kemudian jantung itu berdebar-debar penuh ketegangan.
Diterkam harimau atau binatang buas lain?
Tentu ada bekas darahnya.
Dengan muka pucat dia lalu meneliti ke atas tanah, mencari bekas atau bercak darah.
Tidak ada darah, yang ada hanyalah jejak-jejak kaki!
Jejak banyak sepatu dengan ukuran besar.
Banyak laki-laki baru saja berada di tempat itu!
Dan jejak itu masih baru sekali.
Celaka, pikirnya, Ling Ling tentu diculik oleh entah berapa orang laki-laki, dalam keadaan telanjang bulat!
Dengan hati tidak karuan rasanya, dipenuhi kegelisahan, dia lalu mengikuti jejak itu dengan cepat.
Jejak itu membawanya masuh hutan.
Dia berlari dengan cepat mengikuti jejak itu dan tiba-tiba dia mendengar suara-suara tertahan, seperti mulut yang menjerit akan tetapi dibungkam.
Cepat dia meloncat ke kiri, ke arah suara dan matanya terbelalak, melotot ketika melihat apa yang terjadi di balik semak-semak belukar, di atas rumput tebal itu.
Ling Ling, dalam keadaan telanjang bulat, sedang menggeliat-geliat dan melawan mati-matian terhadap lima orang laki-laki yang hendak menggelutinya!
Empat orang memegangi kedua tangan dan kakinya yang dipentang dan seorang lagi, yang brewokan, sambil terkekeh-kekeh berusaha untuk memperkosanya!
Ling Ling meronta-ronta, menggigit, menjerit, akan tetapi mulutnya dibungkam.
Biarpun demikian, bagaikan seekor singa betina Ling Ling mempertaruhkan kehormatannya.
Dari dalam dada Sie Liong keluar lengking panjang yang menggetarkan hutan itu.
Lima orang itu terkejut, menengok.
Akan tetapi Sie Liong sudah tidak dapat lagi menahan kemarahan hatinya yang seolah-olah dibakar api.
Matanya mencorong, napasnya seperti mengeluarkan uap panas, dan begitu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya menyambar dan rambut kepala si brewok itu telah dijambaknya dan sekali angkat, tubuh si brewok yang setengah telanjang itu telah diangkat dan diayun-ayun ke atas kepalanya seolah-olah tubuh si brewok yang tinggi besar itu hanya sehelai kain saja.
Si brewok berteriak-teriak ketakutan setengah mati, akan tetapi Sie Liong dengan kemarahan meluap-luap membanting tubuh itu ke atas sebongkah batu.
"Prakkk!"
Kepala si brewok itu pecah dan otaknya berantakan bersama darah.
Melihat betapa pemimpin mereka tewas dalam keadaan demikian mengerikan, empat orang itu terbelalak dan mereka melepaskan kaki dan tangan Ling Ling.
Dengan marah, mereka yang belum menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar sakti, mereka mencabut golok dari punggung masing-masing dan serentak mereka menyerang Sie Liong dengan golok mereka.
Akan tetapi, Sie Liong mengeluarkan suara melengking lagi, menyambut mereka dengan kaki kanan yang melakukan tendangan berputar.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat batang golok terpental lepas dari tangan empat orang itu.
Mereka mengaduh-aduh, memegangi tangan kanan dengan tangan kiri karena pergelangan tangan mereka telah patah disambar tendangan memutar tadi!
Kini mereka memandang dengan mata terbelalak, penuh rasa takut melihat pemuda bongkok itu dengan langkah perlahan-lahan menghampiri mereka.
Saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.
(Lanjut ke
Jilid 16) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Ampun.... ampunkan kami...."
Akan tetapi, lengkingan ketige kalinya terdengar dan kembali kaki Sie Liong bergerak menendang.
Empat kali dia menendang, dan tubuh empat orang itu terjengkang dan mereka tewas seketika dengan tulang leher patah-patah!
Ling Ling yang berlutut di atas tanah, memandang dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
Biarpun ia merasa merah dan membenci lima orang itu, namun ia merasa ngeri melihat pembunuhan itu terjadi di depan matanya, melihat betapa lima orang itu tewas seketika, melihat Sie Liong yang biasanya lemah lembut itu mengamuk, seperti iblis maut sendiri!
Sie Liong meloncat dan melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat berlutut di atas tanah, diapun lalu menghampirinya.
"Ling Ling...., kau tidak apa-apa....?"
Tanyanya lembut.
"Liong-ko....!"
Ling Ling menjerit dan iapun pingsan dalam dekapan Sie Liong.
Pemuda itu lalu memondongnya, membawanya ke sumber air, mengambil pakaian Ling Ling dan membawa gadis itu ke tempat mereka melewatkan malam tadi.
Dengan memaksa matanya agar jangan melihat bagian terlarang dari tubuh gadis itu, dia merebahkan Ling Ling ke atas selimut dan menyelimuti tubuh yang telanjang.
Baru ia memijat-mijat tengkuk gadis itu untuk menyadarkannya.
Ling Ling siuman kembali, mengeluh dan membuka matanya.
Tiba-tiba ia terbelalak dan menjerit karena ia teringat akan peristiwa tadi.
Jerit melengking ketakutan sambil bangkit duduk.
Sie Liong merangkul gadis yang menjerit-jerit histeris itu.
Begitu dirangkul, Ling Ling meronta dan menjerit semakin nyaring.
"Lepaskan aku....! Lepaskan! Keparat jahanam kalian.... lepaskan akuuuu....!"
Sie Liong mendorong gadis itu dan memaksanya untuk memandang kepadanya.
"Ling Ling, lihat siapa aku....!"
Katanya setengah membentak untuk menyadarkan gadis yang dilanda ketakutan dan kengerian itu. Ling Ling terbelalak memandang, sadar dan merangkul.
"Liong-ko.... ah, Liong-ko....!"
Dan diapun menangis di dada Sie Liong, tidak sadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya terbuka.
"Tenanglah, Ling Ling. Tenanglah, engkau sudah terbebas dari lima orang anjing itu! Tenanglah, dan pakailah pakaian ini...."
Sie Liong menutupkan lagi selimut menutupi tubuh gadis itu.
Ling Ling baru sadar bahwa ia masih telanjang bulat.
Hal ini mengingatkan ia akan pengalaman tadi dan ia bergidik ngeri.
Lalu dengan kedua tangan gemetar ia mengenakan pakaiannya di balik selimut.
Sie Liong duduk di atas rumput membelakangi gadis itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menarik napas panjang.
Dia termenung dan wajahnya muram sekali.
Tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, dan suara itu lirih berbisik penuh kekhawatiran.
"Liong-ko, engkau kenapakah....! Liong-ko, kenapa kau diam saja? Tadi.... ketika aku berada di sumber, ketika aku habis mencuci muka membersihkan diri, ketika hendak berganti pakaian, tiba-tiba mereka itu datang menyergapku. Aku tidak dapat menjerit karena mereka membungkam mulutku. Aku melawan mati-matian. Ketika engkau berteriak memanggil namaku, mereka lalu membawa aku pergi ke hutan itu dan di sana.... ahh, untung engkau datang tepat pada waktunya, Liong-ko. Hampir aku tidak kuat bertahan lagi...."
Tiba-tiba Sie Liong mengepal tinju dan tangan Ling Ling yang memegang pundak itu cepat ditarik kembali karena kaget.
Pundak itu seperti mengeluarkan tenaga yang panas!
Ling Ling melangkah maju dan memandang wajah pemuda itu.
Ia terkejut.
Wajah itu pucat, mata itu seperti sayu dan sedih, seperti akan menangis!
"Liong-ko, engkau kenapakah?
Engkau kelihatan begini berduka!
Apa yang telah terjadi?"
Suara itu parau dan penuh penyesalan.
"Aku telah membunuh mereka...."
Gadis itu memandgng heran.
"Tentu saja, koko! Orang-orang seperti mereka memang layak kaubunuh! Mereka itu jahat sekali!"
Sie Liong menghela napas panjang.
"Untuk menentang kejahatan, memang kadang-kadang terpaksa membunuh, akan tetapi tidak seperti yang kulakukan tadi, Ling Ling. Membunuh karena benci! Membunuh dengan hati dipenuhi dendam kebencian, karena aku melihat mereka memperlakukan engkau seperti itu. Membunuh karena cemburu dan benci. Ah, aku menjadi kejam sekali, tidak ada bedanya dengan mereka....!"
"Tentu saja engkau berbeda sekali dengan mereka! Engkau seorang pendekar sakti yang budiman, penentang kejahatan, dan mereka itu adalah segermbolan orang jahat yang berhati kejam, yang suka melakukan kejahatan. Bayangkan saja andaikata tidak ada engkau, Liong-ko, aih.... aku akan tertimpa malapetaka yang bagiku lebih mengerikan dan menyedihkan daripada maut sendiri. Engkau sudah benar, Liong-ko, tidak ada sesuatu untuk disesalkan."
Sie Liong memandang gadis itu dan tersenyum, akan tetapi senyumnya tidaklah segembira malam tadi atau pagi tadi sebelum terjadi peristiwa itu.
"Engkau tidak mengerti, Ling Ling. Sudahlah, mari kita kemasi barang kita untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, sebelum itu aku akan menguburkan dulu lima jenazah itu."
"Menguburkan mereka?"
Gadis itu terbelalak, akan tetapi melihat sinar mata pendekar itu, iapun menunduk.
"Baiklah, Liong-ko.... aku hanya menuruti semua perintahmu."
Mendengar jawaban ini dan melihat sikap Ling Leing, senyumnya melebar dan tidak begitu pahit lagi.
Gadis ini sungguh merupakan sinar baru dalam kehidupannya.
Dia tadi merasa terpukul dan berduka sekali mengenangkan kekejaman yang telah dilakukannya terhadap lima orang yang tidak dikenalnya itu.
Dan dia tahu bahwa kekejaman itu dia lakukan karena cemburu dan kebencian yang amat hebat.
Padahal, kebencian merupakan suatu hal yang harus dihindarkan, demikian yang selalu dipesankan oleh Pek-sim Sian-su kepadanya.
Tak lama kemudian, Sie Liong sudah membuat lubang kuburan untuk lima jenazah orang-orang yang tidak pernah dikenalnya itu.
Ling Ling hanya menonton dari kejauhan, tidak mau mendekat karena merasa ngeri.
Diam-diam gadis ini semakin kagum kepada Sie Liong.
Seorang pendekar sakti yang budiman, gagah perkasa, namun berhati lembut.
Mana ada orang mau menguburkan jenazah orang-orang jahat yang tadi menjadi musuhnya?
Setelah selesai mengubur jenazah lima orang yang dibunuhnya itu dengan sederhana namun pantas, Sie Liong lalu mengajak Ling Ling melanjutkan perjalanan ke selatan.
Penyesalan dan bertaubat tidak akan ada gunanya kalau hal itu datang dari pikiran belaka.
Pikiran hanya alat dalam kehidupan ini, namun pikiran sudah bergelimang dengan daya rendah sehingga menjadi budak dari nafsu.
Perbuatan apapun yang dilakukan menurut pikiran tentu mengandung nafsu, karena pikiran sendiri sudah bergelimang nafsu.
Karena akibat dari perbuatan yang dikemudikan nafsu ini, yang dasarnya mengejar kesenangan dan kepuasan, menuju ke arah kerugian lahir batin, maka timbul penyesalan dan keinginan bertaubat.
Penyesalan dan bertaubat ini selalu muncul kalau akibat dari pada perbuatan berdasarkan nafsu itu datang menimpa diri.
Namun, kalau hanya pikiran yang berjanji untuk bertaubat, biasanya hal itu hanya sementara saja dan akan tiba saatnya pikiran melupakan janjinya atau sengaja melanggar karena tidak mampu menahan desakan nafsu.
Penyesalan dan bertaubat baru ada gunanya kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan!
Hanya Tuhanlah yang akan dapat membersihkan pikiran dari cengkeraman daya rendah.
Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat mengatur segala Besuatu menjadi beres dan tertib, sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing.
Sebaliknya, pikiran tidak mungkin dapat menertibkan diri sendiri, karena usahanya itupun masih dalam tuntunan nafsu.
Keinginan akan sesuatu, itulah sifat nafsu.
Ingin begini atau tidak ingin begini masih sama saja, ditujukan untuk mencari kesenangan, keenakan, kepuasan.
Ingin bebas dari nafsu!
Inipun merupakan ulah nafsu!
Yang "ingin"
Bebas inipun nafsu, dengan harapan bahwa kalau bebas dari nafsu itu tentu menyenangkan, tidak menyusahkan, dan segala harapan yang enak-enak.
Maka terjadilah keinginan bebas dari nafsu yang diinginkan oleh nafeu.
Jelas tidak mungkin!
Selama ada keinginan akan sesuatu, di situ nafsu bekerja dan merajalela.
Lalu timbul pertanyaan tentunya.
Bagaimanakah kita harus melangkah agar kita dapat terbebas dari nafsu?
Kita harus berhati-hati karena pertanyaan inipun datang dari nafsu itu sendiri!
Karena itu, satu-satunya jalan bagi kita adalah melihat kenyataan!
Kenyataannya ialah bahwa pikiran kita bergelimang daya-daya rendah, pikiran kita dikuasai nafsu.
Titik!
Kita menyerah kepada Tuhan, menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh keikhlasan, tanpa membiarkan diri diseret ke dalam keinginan-keinginan ini dan itu.
Tuhan Maha Kuasa dan Maha Kasih!
Telaga Nam berada di kaki Pegunungan Thang-la, di sebelah utara kota Lashe, ibu kota di Tibet.
Biarpun telaga ini amat indah, namun tidak banyak orang datang berkunjung, karena tempat ini terlalu jauh di barat bagi mereka yang tinggal di Propinsi-propinsi Cing-hai, Sin-kiang, Se-cuan, atau Yun-nan.
Hanya beberapa orang penduduk Tibet yang berkeadaan mampu saja yang kadang-kadang berpesiar ke Telaga Nam.
Orang-orang Han jarang yang tiba di tempat itu.
Orang Han yang berdatangan ke Tibet hanyalah mereka yang berdagang, dan yang mereka kunjungi hanyalah kota-kota besar seperti La-sha.
Yang berkunjung ke telaga Nam hanya orang-orang Tibet atau peranakan Han Tibet.
Akan tetapi, pada pagi hari yang cerah itu, nampak seorang pemuda dan seorang gadis mendayung perahu kecil di telaga itu.
Mereka merupakan pasangan yang cocok sekali.
Senang orang memandangnya.
Yang pria merupakan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh satu tahun, wajahnya tampan dan pakaiannya yang berwarna biru dan kuning itu rapi, menambah ketampanannya.
Wajahnya dengan kulit muka putih bersih itu berbentuk bulat, sepasang alisnya berbentuk golok dan hitam sekali.
Hidungnya besar mancung dan mulutnya selalu tersenyum mengejek.
Sepasang matanya tajam mencorong, Akan tetapi kadang-kadang ada kilatan aneh seperti mengandung kekejaman.
Adapun yang wanita adalah seorang gadis barusia kurang lebih delapan belas atau sembilan belas tahun.
Seorang gadis yang berwajah manis sekali, dengan sepasang mata yang kocak, tajam dan jeli.
Wajah yang manis ini menjadi semakin menarik karena selalu cerah, penuh dengan senyum dan pandang mata jenaka, wajah yang hampir selalu berseri.
Anehnya gadis ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, padahal pakaian itu bersih sekali dan kain-kain tambalan itu sama sekali bukan kain buntut.
Agaknya memang dibuat tambal-tambalan, dari bahan kain yang baru!
Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Mereka itu adalah Yauw Bi Sian dan sutenya, Coa Bong Gan.
Biarpun Bong Gan lebih tua dari Bi Sian, namun dia terhitung sute (adik seperguruan) gadis itu karena gadis itu yang lebih dulu menjadi murid Koay Tojin.
Seperti kita ketahui, Bi Sian marah dan mendendam kepada Sie Liong, adik ibunya yang dahulunya menjadi teman sepermainan dan dahulu amat disayangnya itu.
Ia merasa yakin bahwa pamannya itu telah membunuh ayahnya, dan karena itu maka ia minggat dari rumah untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam atas kematian ayahnYa.
Dan ia minta bantuan sutenya, Coa Bong Gan, untuk membantunya mencari Sie Liong dan membalas dendam karena ia tahu bahwa Sie Liong amat lihainya sebagai murid supeknya, yaitu Pek-sim Sian-su.
Karena dua orang ini mencari dengan sungguh-sungguh, dengan teliti, dan karena Sie Liong merupakan seorang yang bongkok dan mudah diikuti jejaknya, maka akhirnya Bi Sian dan Bong Gan mengikuti jejak Sie Liong ke daerah Tibet!
Dan di sepanjang perjalanan, mereka mendengar akan sepak terjang Pendekar Bongkok.
Mereka menduga bahwa tentulah Sie Liong yang dijuluki Pendekar Bongkok, maka mereka terus melakukan pengejaran.
Akan tetapi setelah tiba di daerah Tibet, mereka kehilangan jejak Sie Liong.
Daerah ini merupakan daerah yang masih liar dan jarang penduduknya.
Berhari-hari mereka melalui daerah yang tidak ada dusunnya, maka tentu saja amat sukarnya mencari seseorang di daerah itu, biarpun orang itu mempunyai cacat bongkok sekalipun.
"Semua orang yang pergi ke Tibet tentu akan berkunjung ke ibu kota Tibet, yaitu kota Lasha,"
Kata Bong Gan.
"Sebaiknya kita pergi saja ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan dia di sana, setidaknya kita tentu akan dapat mencari keterangan tentang dia."
Bi Sian menyetujui pendapat sutenya dan pergilah mereka menuju ke Lasha.
Pada pagi hari itu, mereka tiba di Telaga Nam.
Melihat keindahan tempat itu, mereka berhenti dan ingin berpesiar dulu di situ selama satu dua hari.
Bi Sian tidak perduli akan pandangan orang melihat pakaiannya yang aneh, penuh tambalan namun baru.
Memang ia setia kepada kebiasaan gurunya, yaitu Koay Tojin, dan biar sekarang tidak melakukan perjalanan bersama gurunya lagi, namun ia tetap masih mempergunakan pakaian tambal-tambalan.
Ia sendiri tidak tahu apakah rasa suka akan pakaian tambal-tambalan ini karena sudah terbiasa, ataukah memang ingin sederhana, ataukah melalui kesederhanaan dan tambal-tambalan yang tidak wajar itu justeru ia ingin menonjolkan diri agar diperhatikan orang!
Kesederhanaan yang ditonjolkan dan disengaja, bukanlah kesederhanaan lagi namanya, melainkan kesombongan terselubung!
Kesederhanann yang mempunyai arti adalah kalau orang itu tidak merasa lagi bahwa dia sederhana!
Kesederhanaan adalah kewajaran, tidak dibuat-buat, dan merupakan suatu keadaan kepribadian seseorang.
Bukan terletak pada pakaian seadanya, bukan terletak di luar, melainkan bersumber di sebelah dalam dirinya.
Berbeda dengan Bi Sian, Coa Bong Gan yang ketika kecilnya meniadi anak angkat seorang hartawan dan sudah biasa hidup royal, setelah berpisah dari gurunya, meninggalkan kebiasaan berpakaian tambal-tambalan.
Dia mengenakan pakaian yang selalu rapi, walaupun tidak terlalu menyolok, tidak terlalu royal karena sucinya tentu akan menegurnya.
Padahal, kalau dia mau, tentu saja dia bisa membeli pakaian yang mahal dan indah.
Uangnya?
Mudah saja!
Di setiap kota terdapat hartawan dan tidak ada penjaga yang cukup kuat, tidak ada pintu yang cukup kokoh baginya kalau dia mau mengambil uang sekehendak hatinya dari gudang harta seorang hartawan!
Semenjak melakukan perjalanan bersama Bi Sian, terjadi perang selalu dalam batin Bong Gan.
Dia memaksa diri untuk bersikap baik dan sesuai dengan yang diinginkan sucinya.
Dia memaksa diri bersikap sebagai seorang pendekar tulen dan di sepanjang perjalanan, mereka berdua selalu menentang kejahatan dan menolong mereka yang tertindas.
Akan tetapi sebenarnya, di lubuk hatinya, Bong Can muak dengan semua itu.
Bahkan dia harus menekan semua gejolak nafsunya.
Semua ini dia lakukan bukan karena dia takut kepada sucinya, melainkan karena dia telah jatuh cinta kepada Bi Sian, karena dia tidak mau menentang semua kehendak Bi Sian, ingin selalu menyenangkan hatinya.
Di lain pihak, Bi Sian bukanlah seorang kanak-kanak lagi.
Ia sudah berusia kurang lebih sembilan belas tahun, sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang terkandung dalam hati sute yang lebih tua itu terhadap dirinya.
Dan ia selalu dalam bimbang ragu, karena ia sendiri belum yakin apakah ia juga mencinta sutenya itu sebagai seorang wanita mencinta seorang pria ataukah tidak.
Ia suka kepada sute yang penurut itu, dan harus diakuinya bahwa Bong Gan adalah seorang pemuda yang baik, penurut, ramah, gagah perkasa dan juga tampan menarik!
Akan tetapi, ia selalu mengusir kebimbangan ini dan mengambil keputusan bahwa sebelum ia mampu membalas kematian ayahnya terhadap Sie Liong, ia tidak akan memikirkan urusan cinta!
Orang yang sudah menjadi hamba nafsunya, akan merasa tersiksa kalau dia dalam waktu lama tidak berkesempatan untuk memuaskan gairah nafsu itu.
Pemuasan nafsu itu sudah sedemikian dibutuhkannya, sudah mencengkeramnya sehingga dia menjadi kecanduan.
Hidupnya akan terasa hampa dan tidak ada artinya, tidak ada kesenangan kalau dia tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk memuaskannya.
Demikian pula dengan Bong Gan.
Sejak remaja, dia telah menjadi hamba nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Pek Lan, selir ayah angkatnya yang kemudian menjadi kekasihnya sehingga perhubungannya dengan selir itu tertangkap basah, membuat dia terusir dari rumah ayah angkatnya yang kaya raya.
Ketika dia menjadi murid Koay Tojin, sukar sekali baginya untuk melampiaskan nafsu berahinya.
Dia adalah seorang yang amat cerdik.
Dia tahu bahwa kalau dia melanggar, walaupun dengan sembunyi-sembunyi, suhunya yang amat lihai itu pasti akan mengetahuinya dan kalau sampai suhunya tahu bahwa dia melakukan suatu perbuatan yang menyeleweng, tentu suhunya marah kepadanya dan hal itu amat berbahaya.
Maka, selama tujuh tahun mengikuti Koay ToSin bersama Bi Sian, Bong Gan bersikap jujur dan alim!
Lingkungan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap watak seseorang.
Manusia merupakan mahluk yang teragung, terpandai akan tetapi juga amat lemahnya.
Karena dalam dirinya terkandung daya-daya rendah yang memupuk nafsu yang sudah menyatu dengan hati perasaan dan akal pikirannya, maka mudah sekali manusia terpikat dan terpengaruh oleh keadaan lingkungannya.
Terutama sekali lingkungan yang tidak sehat mudah sekali menyeret seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Segala tindak kemaksiatan memang mendatangkan kesenangan lahir dan ini memang merupakan umpan dari setan nafsu untuk memikat manusia.
Karena itu, mudah sekali lingkungan yang sesat menyeret seseorang, biarpun orang itu tadinya alim dan tidak suka melakukan kesesatan.
Bahkan lingkungan yang sehat dan bersih, biarpun daya tariknya tidak sekuat lingkungan yang sesat, tetap saja dapat mempengaruhi seseorang untuk menyesuaikan diri.
Demikian pula dengan Bong Gan.
Setelah dia hidup bersama Bi Sian dan Koay Tojin, setiap hari bergaul dengan mereka, bagaikan api, nafsu berahinya tidak lagi berkobar-kobar, melainkan kalau tidak padam juga mengecil.
Nafsu berahinya bangkit sebelum waktunya, ketika dia berusia tiga belas tahun.
Oleh karena itu, tidak begitu sukar baginya untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh dari nafsu berahi selama tujuh tahun itu.
Ini sebabnya mengapa Koay Tojin, walaupun meragukan kebersihan batin murid ini, tidak menemukan suatu kesalahan dan biarpun berlawanan dengan perasaan nalurinya, tetap mengajarkan ilmu-ilmu yang tinggi kepada Bong Gan.
Dan demikian pula Bi Sian.
Setelah selama tujuh tahun bergaul dengan Bong Gan, ia melihat sikap dan sifat yang baik dalam tingkah laku Bong Gan selama itu, maka tentu saja iapun percaya kepadanya.
Baru setelah dua orang murid ini berpisah dari guru mereka, dan Bong Gan sudah berusia dua puluh tahun, pemuda ini mulai berani membiarkan nafsu berahinya berkobar lagi, berani dia mencarl wanita untuk memuaskan gairah nafsu berahinya, baik secara suka sama suka, secara suka rela, dengan cara membeli maupun dengan paksaan mengandalkan kepandaiannya.
Namun, hal ini dilakukan dengan amat hati-hati, bahkan jarang dia memperoleh kesempatan karena biarpun sudah berpisah dari suhunya yang dia takuti, dia masih bersama sucinya (kakak seperguruan).
Bukan karena dia takut kepada Bi Sian, melainkan karena dia jatuh cinta kepada gadis itu.
Dia tidak ingin kelihatan sesat dan buruk di depan Bi Sian.
Dia tahu bahwa kalau sampai gadis itu mengetahui kesesatannya, tentu harapannya untuk mempersunting bunga yang harum itu akan lenyap.
Ketika berada di Sung-jan, tempat tinggal orang tua Bi Sian, dia bermalam di hotel dan karena itu dia mempunyai kesempatan untuk memuaskan nafsu berahinya dengan berkunjung ke rumah pelesir yang mewah.
Celakanya, di situ dia bertemu dengan mendiang Yauw Sun Kok, ayah kandung Bi Sian!
Tentu saja dia tidak ingin melihat orang ini memberitahu tentang keberadanya di rumah pelesir itu kepada Bi Sian, maka tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya!
Dibunuhnya Yauw Sun Kok dan diapun menyamar sebagai Sie Liong yang kelihatannya demikian disayang oleh Bi Sian sehingga menimbulkan perasaan cemburu di hatinya.
Perbuatannya ini berhasil baik.
Yauw Sun Kok terbunuh dan Sie Liong yang didakwa sebagai pembunuhnya.
Tentu saja dia merasa amat girang ketika Bi Sian minta bantuannya untuk mencari Sie Liong yang melarikan diri, membantunya membalaskan sakit hatinya karena Sie Liong telah membunuh Yauw Sun Kok, seperti telah dipercaya oleh semua orang.
Inilah kesempatan baik baginya, bukan saja untuk dapat terus berdekatan dengan gadis yang dicintanya, akan tetapi juga untuk membalas jasa.
Kalau mereka maju berdua, betapapun lihainya paman dari Bi Sian itu, tentu mereka berdua akan mampu merobohkannya.
Memang si bongkok itu harus dibunuh sehingga rahasia pembunuhan atas diri Yauw Sun Kok itu akan tertutup selamanya.
Akan tetapi, setelah melakukan perjalanan selama tiga bulan, dia mulai merasa tersiksa.
Gadis yang dicintanya itu, sedemikian dekatnya, setiap hari dia harus melihat segala kecantikannya, namun dia tidak boleh memilikinya, tidak boleh menyentuhnya dan tidak boleh membelainya.
Yang lebih membuatnya menderita lagi adalah karena tidak ada wanita lain yang dapat menjadi pengganti Bi Sian untuk sementara.
Jarang terdapat kesempatan baginya untuk mencari wanita pemuas nafsunya, karena dia selalu bersama Bi Sian dan dia menjaga dengan sungguh agar jangan sampai gadis yang dicintanya itu memergoki dia berhubungan dengan wanita lain.
Ketika dua orang muda itu mendayung perahu kecil di atas Telaga Nam sambil menikmati sinar matahari pagi, hawa udara sejuk hangat dan pemandangan yang amat indah itu, diam-diam Bong Gan memperhatikan gadis yang duduk di depannya.
Mereka duduk berhadapan dalam perahu kecil itu.
Dia yang menda-yung mundur, gadis itu yang mengemudikan dengan dayung lain.
Setelah perahu meluncur sampai di tengah telaga, di mana terdapat sebuah pulau kecil dan di sekeliling pulau itu terdapat bunga teratai merah dan putih, indah sekali, Bi Sian berkata.
"Kita berhenti di sini. Mari kita ke pulau itu. Alangkah indahnya di sana, sute,"
Gadis itu memang selalu bersikap gembira dan terbuka, namun hatinya keras sehingga kadang nampak galak.
Mereka mendekatkan perahu ke pantai lalu mendarat di atas pulau kecil itu.
Dengan gembira sekali Bi Sian berlari-lari ke tengah pulau, dikejar oleh Bong Gan.
Mereka lalu duduk di bagian paling tinggi dari pulau itu, duduk di atas rumput hijau tebal yang lunak.
Melihat wajah sucinya yang putih halus kemerahan itu, yang pagi itu nampak cantik sekali, melihat betapa sucinya duduk di atas rumput tebal di dekatnya, Terbayang dalam pikiran Bong Gan betapa akan senang dan nikmatnya kalau mereka telah menjadi sepasang kekasih, bermesraan dan bergumul di atas rumput hijau itu, di atas pulau kecil yang demikian sunyi, dikelilingi air telaga yang biru dan luas, tidak ada seorang lainpun yang mengganggu.
Bayangan pikiran ini membuat jantungnya berdebar dan gairah nafsunya timbul dan berkobar.
Namun, Bong Gan adalah seorang pemuda cerdik sekali.
Biarpun gairah nafsu telah mencengkeramnya, dia tidak menjadi mata gelap.
Dia tahu bahwa kalau dia mempergunakan kekerasan, selain belum tentu dia akan mampu menundukkan sucinya, juga hal itu akan membuat harapannya untuk memperisteri Bi Sian hancur sama sekali.
Gadis itu tentu akan membencinya.
Padahal, dia benar-benar jatuh cinta kepada Bi Sian, bukan sekedar hendak mempermainkannya saja, melainkan hidup bersamanya sebagai suami isteri.
"Hai, sute! Kenapa engkau memandang padaku seperti itu?"
Tiba-tiba pertanyaan yang mengejutkan hatinya itu keluar dari mulut Bi Sian.
Gadis ini merasa heran melihat betapa sutenya memandang kepadanya tidak seperti biasa, dengan sinar mata yang demikian tajam dan jelas sekali pandang mata itu mengandung kekaguman dan kemesraan yang mengejutkan hatinya.
Ditegur secara seperti itu, Bong Gan yang sedang melamun dan membiarkan dirinya dibuai khayal indah itu, terkejut dan dia tersipu.
"Suci, aku sedang gembira sekali!"
Jawabnya, kecerdikan dan ketenangannya menolongnya sehingga dia tidak nampak gugup ketika menjawab.
Melihat sikap sutenya biasa saja, lenyap kecurigaan Bi Sian dan iapun memandang ke sekeliling, lalu menghela napas panjang.
"Yahhhh.... akupun gembira sekali, sute. Memang amat indah pemandangan di sini, indah menyenangkan dan hawanyapun nyaman bukan main!"
"Aku merasa seperti di sorga, suci!"
Bi Sian memandang pemuda itu dan tertawa.
"Di sorga? Hi-hik, seperti engkau pernah tahu sorga saja. Memang indah sekali pemandangan di sini, indah dan hening, hawa udara jernih dan di sini begini tenang, begini penuh damai dan tenteram.... akan tetapi seperti sorga? Aku tidak tahu...."
"Bukan tempatnya yang mendatangkan perasaan bahagia di hatiku, suci."
Bi Sian kembali menoleh dan masih tersenyum.
"Bukan karena tempatnya dan hawa udaranya? Lalu karena apa?"
"Karena ada engkau di dekatku, suci."
"Ihhh!"
Bi Sian meloncat bangkit, kini berdiri dan bertolak pinggang, ke dua pipinya berubah merah.
"Sute, apa maksudmu dengan omongan itu?"
Bong Gan masih tetap duduk. Dia mengangkat muka, memandang wajah gadis itu dengan sikap tenang.
"Maafkan aku, suci, aku hanya bicara sejujurnya saja. Entah mengapa aku sendiri tidak mengerti, suci, akan tetapi aku selalu merasa berbahagia di sampingmu. Terutama sekali saat ini, kita hanya berdua saja di pulau kecil kosong ini. Alangkah bahagianya kalau aku terus dapat berada di sampingmu, selama hidupku."
Wajah yang tadinya kemerahan itu berubah agak pucat, dan Bi Sian merasa betapa jantungnya berdebar kencang.
Tentu saja ia mengerti apa yang menjadi isi hati sutenya itu.
"Sute, kau.... bicaramu aneh sekali. Mana mungkin kita berdampingan selama hidupmu...."
"Kenapa tidak mungkin, suci? Kalau kita menjadi suami isteri...."
"Sute....!!"
Bi Sian berseru, matanya terbelalak karena ia menganggap sutenya terlalu berani, terlalu lancang.
"Maaf, suci. Kalau suci menganggap aku bersalah atau kurang ajar, aku pasrah dan siap menerima hukuman. Akan tetapi dengarkan dulu pengakuanku, suci. Kita bergaul sejak aku berusia tiga belas tahun dan engkau sebelas tahun, mengalami suka duka yang sama, menjadi teman berlatih, teman bermain, dan bahkan sekarang, setelah kita berdua berpisah dari suhu, kita masih berdampingan. Dahulu aku memang memiliki perasaan sayang seperti seorang saudara seperguruan kepadamu, suci. Akan tetapi setelah kita sama-sama dewasa.... biarlah aku mengaku terus terang saja, akibatnya terserah kebijaksanaanmu. Aku telah jatuh cinta padamu, suci, dan aku mengharapkan kelak untuk dapat menjadi suamimu, hidup berdampingan denganmu selama hidupku."
Wajah Bi Sian sebentar pucat sebentar merah mendengar pengakuan sutenya itu.
Memang ia sudah menduga bahwa sutenya jatuh cinta padanya, akan tetapi begitu pengakuan itu keluar dari mulut sutenya sendiri, bermacam perasaan mengaduk hatinya.
Ada rasa haru, ada malu, ada pula marah karena sutenya dianggapnya lancang, ada pula rasa girang dan semua perasaan itu teraduk membuat ia sejenak tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan kata-kata.
Sejenak mereka saling pandang, dan akhirnya Bi Sian menghela napas sambil memutar tubuh membelakangi sutenya.
Kemudian terdengar suaranya lirih.
"Sute....!"
"Ya, suci?"
Jawab Bong Gan penuh harap.
"Mulai sekarang, engkau kularang bicara seperti itu lagi, kularang membicarakan tentang cinta lagi!"
"Tapi, suci, jawablah dulu pernyataan cintaku padamu. Sudikah engkau menerimanya? Sudikah engkau membalasnya? Agar ada kepastian dan tidak lagi membuat aku bimbang ragu, suci. Kasihanilah aku...."
"Cukup! Aku tidak dapat menjawab sekarang! Pendeknya, aku melarang engkau bicara tentang itu lagi sebelum aku berhasil menemukan Sie Liong dan membunuhnya. Kalau engkau tidak setuju dengan permintaanku ini, engkau boleh pergi dan aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi untuk menghadapi musuh besarku itu."
Di belakang Bi Sian, Bong Gan tersenyum, senyum kemenangan.
Kalau gadis ini tidak suka kepadaku, tentu ia sudah menjadi marah dan seketika mengusirku, pikirnya.
Akan tetapi, Bi Sian mengajukan syarat, yaitu menjawab kalau sudah berhasil membunuh Sie Liong, si bongkok!
Hal ini meyakinkan hatinya bahwa sucinya itupun "ada hati"
Kepadanya.
Andaikan tidak, tidak mungkin memberi waktu untuk menjawabnya.
Kalau gadis itu tahu bahwa jawabannya kelak akan "tidak", tentu ia tidak akan memberi waktu.
Jawabannya jelas "ya", akan tetapi tunggu sampai musuh itu dapat dibunuh.
"Baiklah, suci. Nasibku berada di tanganmu, kebahagiaan hidupu berada dalam genggamanmu. Aku menerima syaratmu itu dan maafkan kelancanganku tadi."
Bi Sian menarik napas lega, ia lalu membalikkan tubuh lagi menghadapi Bong Gan dan wajahnya sudah pulih kembali seperti biasa.
Akan tetapi agaknya ia sudah kehilangan kegembiraannya di pulau itu.
"Mari kita kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan kita ke Lasha."
"Baik, suci,"
Kata Bong Gan, tak banyak membantah karena dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, dia tidak boleh membuat sucinya marah atau jengkel.
Semenjak puterinya pergi tanpa pamit, dan setelah selesai mengurus jenazah suaminya, Sie Lan Hong hampir setiap hari menangisi nasibnya.
Nyonya ini masih muda, baru berusia tiga puluh tahun, akan tetapi sejak remaja sudah harus mengalami banyak penderitaan batin yang amat berat.
Dalam usia lima belas tahun, demi menyelamatkan adiknya, terpaksa ia harus menyerahkan dirinya kepada pria yang telah membunuh ayah ibunya di depan matanya!
Bahkan kemudian menjadi isteri pembunuh orang tuanya itu.
Penderitaan batin hebat ini menjadi ringan setelah iapun akhirnya jatuh cinta kepada pria itu dan bahkan melahirkan seorang anak perempuan dari pria yang menjadi suami dan ayah anaknya itu.
Kemudian, hatinya tersiksa lagi karena sikap suaminya kepada adiknya.
Suaminya membenci adik kandungnya sehingga adiknya itu sampai melarikan diri.
Kembali ia menderita kalau teringat kepada adiknya.
Apalagi puterinya juga pergi dibawa orang sakti menjadi muridnya.
Kebahagiaan sebentar dirasakannya lagi ketika adiknya muncul sebagai seorang pendekar walaupun tubuhnya bongkok, lebih bahagia lagi karena puterinya juga pulang sebagai seorang gadis muda yang cantik dan lihai.
Akan tetapi, betapa pendeknya kebahagiaan yang dinikmatinya.
Suaminya dibunuh oleh Sie Liong!
Dia tidak terlalu menyalahkan Sie Liong.
Bagaimana mungkin menyalahkan kalau ia mengingat bahwa suaminya adalah pembunuh ayah ibunya, ayah ibu Sie Liong?
Ia sendiri, andaikata dahulu memiliki kemampuan, tentu saja tidak sudi diperisteri, bahkan akan membalas dendam dan akan membunuh Yauw Sun Kok!
Akan tetapi, puterinya mendendam kepada Sie Liong dan kini puterinya minggat untuk mencari dan membalas dendam kematian ayahnya kepada Sie Liong!
Ia tidak dapat menyalahkan Sie Liong yang membunuh suaminya, juga tidak dapat menyalahkan Bi Sian yang hendak membalas sakit hati karena kematian ayahnya.
"Aihh, apa yang dapat dan harus kulakukan....?"
Berulang kali ia mengeluh dalam tangisnya.
Selama belasan hari ia tenggelam dalam duka sehingga tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat.
Akan tetapi pada suatu pagi, pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan keluar dari kamarnya dengan berdandan memakai pakaian ringkas, membawa sebuah buntalan panjang yang isinya adalah sebatang pedang!
Malam tadi ia mengenangkan kembali semua peristiwa, mengenangkan munculnya Sie Liong dalam kamarnya.
Ia telah menceritakan kepada Sie Liong, membuka rahasia bahwa pembunuh ayah bunda mereka adalah Yauw Sun Kok dan bahwa ia dapat mengerti mengapa adiknya membunuh suaminya.
Akan tetapi, yang membuat ia merasa ragu adalah sikap Sie Liong.
Kenapa adiknya itu terkejut mendengar cerita itu, seolah-olah baru setelah ia bercerita adiknya tahu akan hal itu?
Pula, mengapa adiknya menyangkal keras telah membunuh suaminya?
Sungguh tidak beralasan sekali bagi Sie Liong untuk terkejut dan menyangkal, kalau memang dia telah mengetahui rahasia itu dan membalas dendam atas kematian ayah ibu mereka.
Mengapa adiknya harus berpura-pura dan berbohong kepadanya?
"Sungguh aneh dan tidak masuk di akal,"
Pikir nyonya muda itu.
Pada pagi hari itu, ia tidak mampu lagi menahan kegelisahan dan keraguan hatinya.
Ia hidup seorang diri, kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Ditinggal mati suaminya, juga musuh besar yang dibencinya karena suami itu pembunuh ayah bundanya, akan tetapi juga dicintanya karena suami itu adalah ayah dari puterinya.
Kemudian ditinggal pergi Sie Liong, adik kandungnya yang amat disayangnya dan dikasihaninya karena adiknya itu seorang yang memiliki cacat di tubuhnya.
Kemudian ditinggal pergi puterinya yang terkasih.
Ia hidup kesepian, apa lagi harus menanggung kegelisahan memikirkan betapa puterinya itu pergi untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam atas kematian ayah gadis itu.
Ia harus mencegah bentrokan antara mereka itu!
Ia harus dapat menemukan Sie Liong dan minta penjelasan akan sikapnya, minta adiknya itu mengakui secara jujur apakah ia membunuh Yauw Sun Kok ataukah tidak.
Akan tetapi sebelum ia pergi mencari puterinya dan adiknya, ada satu pekerjaan yang teramat penting baginya, yaitu ia akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu.
Dan satu-satunya tempat di mana ia boleh jadi akan menemukan sesuatu adalah tempat pelesir di mana suaminya pernah menjadi langganan mereka, untuk bermain perempuan dan mabok-mabokan!
Tanpa memperdulikan anggapan orang melihat ibu rumah tangga memasuki tempat pelesir itu, Sie Lan Hong memasuki rumah pelacuran di mana suaminya pernah menjadi seorang langganan yang baik.
Ia membawa cukup bekal uang dan dengan pengaruh uang ini mulailah ia menyogok para pelacur untuk memberi keterangan tentang suaminya pada kunjungan terakhir.
Dua orang pelacur muda yang manis-manis terpikat oleh janji hadiah uang itu dan mereka mengaku bahwa merekalah yang melayani mendiang Yauw Sun Kok pada kunjungannya yang terakhir kalinya itu.
"Dia tidak bermalam di sini,"
Kata mereka.
"melainkan bersenang-senang dengan kami dan minum arak sampai mabok dan pulang menjelang tengah malam."
Lan Hong mengangguk dan dengan sabar ia bertanya.
"Selain itu, apa lagi yang terjadi di sini? Apakah dia bertemu dengan seseorang di sini? Apakah dia membicarakan sesuatu yang masih kalian ingat? Katakan saja terus terang segala hal yang terjadi, kalian akan kuberi hadiah yang indah. Lihat, gelang ini ada dua buah, harganya mahal dan akan kuberikan kepada kalian seorang satu kalau kalian mau menceritakan semua hal dengan terus terang...."
Dua pasang mata pelacur-pelacur itu berkilauan ketika melihat dua buah gelang emas yang tebal dan terukir indah itu.
"Setelah dia minum agak banyak dia memang mengomel, mengatakan bahwa dia mengenal pemuda yang sedang pelesir dengan kawan-kawan kami, dan bahwa dia tidak suka melihat pemuda itu pelesir di situ, juga tentang kebenciannya kepada seorang bongkok...."
Lan Hong tertarik sekali.
"Seorang pemuda? Apakah dia berjumpa dengan seorang pemuda di sini?"
"Ketika dia masuk, dia bertemu dengan seorang kong-cu (tuan muda) yang sedang makan minum ditemani beberapa orang kawan kami. Akan tetapi mereka tidak saling menegur, seperti yang tidak saling mengenal."
"Siapakah pemuda itu? Apakah dia.... bongkok?"
Dua orang pelacur itu tertawa.
"Bongkok? Apanya yang bongkok? Sama sekali tidak! Bahkan dia tampan sekali dan kami berdua menyesal mengapa dia tidak memilih kami. Dia tampan, muda dan royal."
"Apakah dia langganan lama di sini?"
"Tidak! Baru sekali itu dia datang dan sampai kini tidak pernah muncul lagi. Akan tetapi dia masih muda, tampan sekali, dan royal...."
"Siapa namanya?"
Tanya Lan Hong dengan jantung berdebar tegang.
"Nanti dulu, akan kami panggil mereka yang dulu melayaninya,"
Kata dua orang pelacur itu dan tak lama kemudian dua orang pelacur lain ikut duduk di situ.
Mereka inilah dua di antara empat orang pelacur yang pada malam itu melayani pemuda yang mereka bicarakan.
"Dia tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa dia putera Coa-wangwe (Hartawan Coa) di kota Ye-ceng maka kami menyebutnya Coa-kongcu (tuan muda Coa). Dia seorang langganan yang.... menyenangkan sekali, sayang hanya satu kali itu dia datang."
Para pelacur itu tertawa-tawa dan mereka tidak melihat perubahan yang nampak pada wajah Lan Hong.
Coa Kong-cu?
Sute dari Bi Sian itu bernama Coa Bong Gan!
"Tolong gambarkan, bagaimana bentuk wajah, tubuh dan pakaian Coa-kongcu itu!"
Tanya Lan Hong, menyembunyikan suaranya yang agak gemetar dengan pertanyaan yang lirih.
"Aku masih ingat benar! Dia memang hebat segala-galanya!"
Kata seorang pelacur berbaju hijau yang genit.
"Wajahnya tampan, bentuknya bulat dan kulitnya putih, alisnya tebal dan hitam sekali, hidungnya mancung dan dia suka.... suka mencium, hi-hik. Dia nakal dan matanya tajam, tubuhnya sedang dan kekuatannya seperti.... kuda jantan! Pakaiannya pesolek...."
Lan Hong sudah bangkit berdiri dan dia memberikan gelang kepada dua orang pelacur pertama, dan memberikan uang yang cukup banyak kepada yang lain.
Kemudian, tanpa mengeluarkan kata apapun ia meninggalkan tempat itu.
Pagi hari esoknya, pergilah Sie Lan Hong, nyonya muda yang baru berusia tiga puluh tiga tahun itu, meninggalkan rumahnya, membawa buntalan pakaian dan tidak lupa membawa pedangnyanya.
Ia pernah bercakap-cakap dengan Sie Liong dan adiknya itu pernah membuat pengakuan bahwa dia akan pergi ke Tibet untuk menyelidiki keadaan para pendeta Lama di Tibet, mengapa para pendeta itu memusuhi para pertapa di Himalaya.
Menurut adiknya, tugas itu harus dia laksanakan sebagai pesan dari para gurunya.
Maka, kalau hendak mencari Sie Liong, ia harus pergi ke Tibet.
Kota tempat tinggalnya adalah kota Sung-jan yang berada di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang, maka untuk mencari adiknya ia harus melakukan perjalanan ke selatan, memasuki daerah Tibet yang masih asing baginya.
Pada suatu hari Sie Lan Hong tiba di kaki sebuah bukit.
Ia merasa lelah sekali.
Perjalanan itu sungguh tidak mudah.
Bagaimanapun juga, ia seorang wanita yang tergolong masih muda, bahkan dalam usianya yang tiga puluh tiga tahun itu ia nampak sebagai seorang wanita yang matang dan penuh daya tarik.
Banyak godaan dihadapinya dalam perjalanan itu.
Hal itulah yang membuat ia merasa kesal, disamping tubuhnya juga merasa lelah.
Untung bahwa ketika kecil, ia sudah digembleng oleh ayahnya, seorang guru silat sehingga tubuhnya menjadi kuat dan ketika menjadi isteri Yaw Sun Kok, iapun menerima latihan ilmu silat dari suaminya sehingga ia memiliki bekal ilmu silat yang lumayan, cukup untuk sekedar menjaga diri.
Dengan sikapnya yang pendiam dan anggun, dengan pedangnya, kaum pria yang tadinya hendak berkurang ajar meniadi jerih dan sampai hampir sebulan dalam perjalanan, ia masih dapat menyelamatkan diri dari ganguan para pria iseng.
Ketika tiba di kaki bukit itu, ia menjadi bingung.
Menurut keterangan yang diperoleh di dusun terakhir tadi, di depan tidak ada lagi dusun sebelum ia melewati bukit itu.
Dan bukit itu cukup besar, dilihat dari bawah penuh dengan hutan!
Dan matahari sudah mulai condong ke barat.
Agaknya, ia akan kemalaman di bukit itu dan terpaksa harus melewatkan malam di bukit.
Baru pada hari esok ia boleh mengharapkan dapat bertemu dusun lagi.
Hatinya agak kecut.
Tempat itu sunyi sekali dan menyeramkan.
Ia sudah memasuki daerah Tibet, dan ia tidak tahu ke mana harus mencari adiknya atau puterinya.
Akan tetapi, ia akan pergi ke Lasha dan di sana ia mengharapkan akan mendapat keterangan tentang dua orang yang dicintanya dan dicarinya itu.
Menurut kete-rangan terakhir yang ia dapatkan, perjalanan ke Lasha masih membutuhkan waktu sedikitnya satu bulan lagi!
Mengapa aku tidak membeli saja seekor kuda di dusun terakhir itu, pikirnya.
Kalau dengan menunggang kuda, tentu perjalanan akan dapat dilakukan lebih cepat dan tidak begitu melelahkan seperti sekarang ini.
Dengan hati kecut iapun mulai mendaki bukit itu.
Ia mendaki dengan cepat, memaksa kedua kakinya yang sudah lelah karena sedapat mungkin ia harus tiba di puncak bukit dan mencari tempat yang baik dan aman untuk bermalam sebelum hari menjadi gelap.
Baru saja ia tiba di lereng bukit itu, di tepi hutan pertama, tiba-tiba dari dalam hutan bermunculan sepuluh orang laki-laki yang kelihatan kasar dan buas.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan di dada mereka ada lukisan seekor kala putih yang menyeramkan.
"Heiii, ada seorang wanita berjalan seorang diri!"
"Amboi manisnya!"
"Lihat pinggangnya, seperti kumbang!"
"Pinggulnya....waw seksi banget!"
Sepuluh orang itu sudah mengepungnya dan Lan Hong memandang dengan muka pucat.
Selama melakukan perjalanan, sudah banyak dia digoda pria, akan tetapi belum pernah bertemu gerombolan laki-laki yang begini kasar dan kelihatan buas.
Juga di punggung mereka nampak golok besar yang mengerikan.
Biarpun ia puteri seorang guru silat, bahkan bekas isteri seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun menghadapi gerombolan yang kasar dan ceriwis ini, jantung dalam dadanya berdebar penuh rasa tegang dan gelisah.
Namun, Lan Hong menenangkan dirinya lalu berkata dengan lembut.
"Harap cu-wi suka mengasihani aku seorang wanita yang mencari anaknya dan tidak menggangguku. Biarkan aku pergi dari sini!"
"Tentu saja kami kasihan kepadamu, manis. Karena kasihan dan sayang maka kami tidak akan membiarkan engkau berjalan sendiri. Mari kami antar, ha-ha-ha!"
Kata seorang di antara mereka.
"Kawan-kawan, mari kita bersenang-senang, selagi toako (kakak tertua) tidak ada. Kalau ada dia, celaka, tentu akan dia habiskan sendiri dan kita tidak akan kebagian!"
Kata yang lain.
Semua orang tertawa mendengar ini dan menyatakan setuju.
Segera mereka berlumba untuk menangkap Lan Hong.
Wanita ini sudah siap dan ia mencabut pedang dari buntalan pakaiannya.
"Harap kalian mundur atau terpaksa aku mempergunakan pedangku!"
Bentaknya.
Melihat betapa wanita yang manis itu memegang pedang, sepuluh orang itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar saja.
Mereka memandang rendah kepada wanita itu dan kembali sambil tertawa-tawa mereka mengepung.
"Wah, pandai juga bermain pedang, ya? Bagus, kalau melawan lebih mengasyikkan!"
Dan kembali mereka hendak menangkap dari berbagai jurusan.
Melihat ancaman mengerikan itu, Sie Lan Hong menggerakkan pedangnya ke belakang sambil membalikknu tubuhnya.
Orang yang berada di belakangnya, terkejut ketika ada sinar menyambar.
Dia menarik tangannya, akan tetapi pedang itu tetap saja menggores lengannya, merobek baju dan kulit lengan.
Dia berteriak kesakitan dan juga marah.
"Hemm, galak juga, ya? Kawan-kawan, mari kita tundukkan dulu wanita manis dan galak ini. Akan tetapi jangan dilukai, sayang kalau sampai ia terluka!"
Dan mereka mencabut golok mereka, golok besar yang kelihatan berat dan tajam berkilauan.
Lan Hong memutar pedangnya dan beberapa batang golok menangkis.
Ketika mereka mengerahkan tenaga.
"Trangggg....!"
Pedang itu terlepas dari tangan Lang Hong yang menjadi terkejut bukan main.
Sepuluh orang itu tertawa bergelak dan kesempatan ini dipergunakan oleh Lan Hong untuk menyelinap di antara mereka dan melarikan diri secepatnya ke arah kiri.
Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam itu tertawa gembira lalu lari mengejar sambil berteriak-teriak.
Mereka seperti segerombolan srigala yang mengejar dan mempermainkan seekor kelinci, yakin bahwa akhirnya kelinci itu takkan terlepas dari terkaman mereka.
Mereka mengejar sambil tertawa-tawa dan Lan Hong melarikan diri sekuat tenaga.
Ia dapat membayangkan kengerian yang melebihi maut kalau sampai ia tertangkap oleh orang-orang biadab itu.
Lebih baik mati dari pada membiarkan dirinya diperkosa dan dihina.
Akan tetapi, sebelum putus asa, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri atau melawan sampai napas terakhir.
Para pengejar itu memang sengaja hendak mempermainkan Lan Hong, maka mereka hanya berlari di belakangnya, tidak segera menangkapnya.
Lan Hong berlari terus, menurut jalan setapak dan ia melihat sebuah kuil tua di depan.
Karena tidak tahu lagi harus lari ke mana, dan kedua kakinya sudah menjadi semakin lelah, Lan Hong lalu lari menuju ke kuil itu.
Siapa tahu penghuni kuil dapat menolongnya, pikirnya penuh harapan.
Sepuluh orang pria itu mengejar sambil tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, engkau mengajak kami ke kuil itu, manis? Tempat yang enak untuk bersenang-senang!"
Lan Hong tidak memperdulikan ucapan mereka dan berlari terus.
Hatinya semakin kecut ketika melihat bahwa kuil itu adalah sebuah kuil tua yang agaknya sudah tidak dipakai lagi.
Tentu kosong tidak ada orangnya, pikirnya dengan gelisah.
Akan tetapi, ketika ia memandang ragu dan berdiri di ruangan depan, terdengar suara dari dalam.
"Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!"
Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam.
Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun.
Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka persegi dan sikapnya gagah.
Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula.
Di tangan mereka nampak sebatang pedang.
Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat.
"Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,...."
"Nona, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!"
Kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok.
"Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!"
Mereka lalu berloncatan keluar.
Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya.
Ia hanya dapat berharap agar kedua orang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu.
Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di depan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.
"Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat menggelinding pergi!"
Bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu.
Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mereka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang.
"Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan hanya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan untuk mengganggu wanita. Sudah sepantasnya kalau kami membasmi gerombolan macam kalian!"
Sepuluh orang itu terbelalak penuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu.
Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, melangkah maju.
Agaknya ia mewakili kawan-kawannya dan dengan suara melengking tinggi diapun membentak.
"Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenalkan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!"
Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab.
"Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan menentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!"
Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu.
Mereka berdua diutus oleh ketua Kun-lun-pai, yaitu Thian Hwat Tosu, untuk pergi ke daerah Tibet mencari susiok (paman guru) mereka yang bernama Lie Bouw Tek.
Lie Bouw Tek adalah murid kepala Kun-lun-pai, murid langsung dari ketua Thian Hwat Tosu dan karena Ciang Sun dan Kok Han adalah murid kelas tiga, maka Lie Bouw Tek terhitung susiok mereka.
Mereka berdua mencari-cari Lie Bouw Tek dan membawa sepucuk surat dari ketua Kun-lun-pai untuk murid kepala itu.
Seperti telah kita ketahui, dalam perjalanan, mereka pernah berjumpa dengan Pendekar Bongkok Sie Liong ketika Sie Liong mempertemukan dua orang kekasih yang dipisahkan karena watak ayah si gadis yang mata duitan.
Mendengar bahwa dua orang pemuda itu adalah murid-murid Kun-lun-pai sepuluh orang berpakaian hitam itu menja di semakin marah.
"Aha, kiranya orang-orang Kun-lun-pai yang usil dan gatal tangan, hendak mencampuri urusan kami orang Kala Putih! Kami tidak pernah bertentangan dengan Kun-lun-pai, selalu bersimpang jalan, kenapa hari ini ada orang Kun-lun-pai yang sengaja hendak menentang kami?"
Ciang Sun tersenydm mengejek.
"Selama Kala Putih tidak melakukan kejahatan, kami dari Kun-lun-pai tidak perduli. Akan tetapi, kami selalu akan menentang kejahatan yang dilakukan oleh siapapun juga. Kalian mengejar-ngejar seorang wanita dengan niat yang kotor dan jahat, tentu saja kami menentang kalian!"
"Keparat, sekali lagi, pergilah kalian dan biarkan kami menawan perempuan itu! Kami masih memandang perkumpulan Kun-lun-pai dan tidak akan menuntut atas sikap kalian yang lancang ini!"
"Persetan dengan Kala Putih yang jahat!"
Bentak Ciang Sun.
Sepuluh orang itu tak dapat lagi menahan kemarahan mereka.
Kalau tadi mereka masih meragu dan mencoba untuk membujuk adalah karena mereka tahu bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar, dan mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan perkumpulan itu.
Akan tetapi, para anggauta Kala Putih selalu mengandalkan kepandaian dan keberanian mereka untuk melakukan kekerasan memaksakan kehendak mereka, maka melihat sikap kedua orang murid Kun-lun-pai yang menentang itu, merekapun segera mulai menyerang!
Ciang Sun dan sutenya, Kok Han, menggerakkan pedang mereka menyambut serangan golok dan terjadilah perkelahian yang seru.
Sepuluh batang golok berkelebatan dan sinarnya, ketika tertimpa matahari sore menyilaukan mata.
Namun, gerakan kedua orang murid Kun-lun-pai memang indah dan dua orang ini merupakan murid yang cukup pandai sehingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar yang amat kuat, yang mampu menahan semua serangan golok, bahkan sinar pedang itu mencuat ke sana-sini melakukan serangan balasan yang membuat sepuluh orang anggauta Kala Putih itu menjadi kacau balau dan terdesak mundur!
Lan Hong yang mengintai dari dalam bingung melihat betapa dua orang penolongnya dikeroyok oleh sepuluh orang buas itu.
Ia ingin sekali membantu mereka, akan tetapi pedangnya telah hilang ketika ia dikeroyok tadi.
Ia mencari-cari dengan matanya di dalam ruangan kuil itu dan melihat beberapa potong kayu yang agaknya dipergunakan orang membuat api unggun.
Lalu dipilihnya sebatang kayu sebesar lengannya, panjangnya satu meter lebih.
Kayu itu cukup kuat dan lumayan untuk dipergunakan sebagai senjata.
Lan Hong sudah menjadi nekat.
Kalau kedua orang penolongnya itu kalah, tentu ia akan terjatuh ke tangan sepuluh orang jahat itu.
Melarikan diripun tidak ada gunanya, karena hari akan menjadi gelap dan ia tidak mengenal jalan.
Lebih baik membantu kedua orang penolongnya itu, menang atau kalah bersama mereka!
Ia lalu meloncat keluar dan menyerbu ke dalam pertempuran itu, menggunakan tongkatnya memukul seorang pengeroyok dari belakang.
"Bukk!"
Orang itu terjungkal pingsan karena pukulan Lan Hong tepat mengenai tengkuknya!
Kemudian Lan Hong mengamuk dengan tongkatnya, membantu dua orang murid Kun-lun-pai itu.
Melihat ini, dua orang pemuda itu merasa kagum, akan tetapi juga khawatir.
Dari gerakannya, mereka dapat menduga bahwa wanita yang mereka tolong itu pandai juga ilmu silat, akan tetapi ia hanya bersenjata sebatang kayu sedangkan para pengeroyok adalah orang-orang kejam yang semua memegang golok.
"Nona, masuklah ke dalam, biar kami yang menghajar mereka!"
Teriak Kok Han dengan khawatir.
"Tidak, aku harus membantu kalian membasmi iblis-iblis jahat ini!"
Jawab Lan Hong yang terus mengamuk dengan tongkatnya.
Akan tetapi, dua orang mengeroyoknya dengan golok dan Lan Hong terhimpit, lalu sebuah tendangan yang cukup keras mengenai pahanya, membuat wanita itu terguling roboh!
"Hati-hati....!"
Teriak Ciang Sun yang cepat menerjang dan melindungi tubuh wanita itu dari para pengeroyoknya, dengan pedangnya berkelebat ke kiri merobek pangkal lengan seorang pengeroyok, dan melindungi tubuh Lan Hong dengan putaran pedangnya.
Akan tetapi Lan Hong bangkit lagi dan mengamuk lagi, tidak memperdulikan pahanya yang terasa nyeri.
Kini, dua orang murid Kun-lun-pai menjadi semakin sibuk karena mereka harus pula melindungi Lan Hong yang mengamuk seperti seekor harimau betina itu.
Namun, diam-diam mereka merasa kagum dan tidak menyesal menolong wanita yang ternyata gagah berani ini.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, dengan suara pria yang besar dan parau.
"Tahan semua senjata!"
Mendengar suara ini, sembilan orang berpakaian hitam itu segera berloncatan ke belakang.
Ada yang menolong kawan yang pingsan oleh pukulan tongkat di tangan Lan Hong, dan ada yang dengan girang berseru.
"Toako datang....!"
Melihat para pengeroyok berloncatan mundur, Ciang Sun dan Kok Han memandang orang yang baru datang itu dengan penuh perhatian.
Lan Hong juga meloncat ke belakang dan wanita ini menahan rasa nyeri di pahanya, wajahnya merah sekali, napasnya agak terengah, dahi dan lehernya basah keringat, rambutnya kusut, akan tetapi ia nampak semakin manis menarik dan gagah ketika ia berdiri tak jauh dari dua orang pemuda Kun-lun-pai itu dengan tongkat di tangan, tongkat yang sudah tidak karuan bentuknya karena berulang kali bertemu dengan golok para pengeroyok yang tajam.
Orang yang baru datang itu adalah seorang laki-laki yang usianya antara empat puluh lima sampai lima puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, kepalanya besar dan botak sedangkan kulit muka dan tangannya putih sekali, putih yang tidak wajar sehingga mudah diketahui bahwa dia adalah seorang bule.
Rambut di kepalanya agak kekuningan yang hanya tumbuh di bagian bawah saja, dan bulu-bulu di muka, leher dan lengannya juga kekuningan.
Dia pun mengenakan pakaian serba hitam, akan tetapi terbuat dari sutera, dan lukisan seekor kala putih di bajunya lebih besar daripada yang berada di baju anak buahnya.
Mudah diduga bahwa tentu dialah kepala dari gerombolan Kala Putih itu.
Dengan suara yang aneh dan asing logatnya, raksasa bule itu berteriak marah.
"Heh, siapa yang berani membikin ribut di sini dan bahkan melukai seorang anak buahku? Siapa kalian bertiga dan mengapa berkelahi melawan anak buahku?"
Sebelum dua orang pemuda itu menjawab, seorang anak buah gerombolan itu sudah cepat melaporkan.
"Toako, mereka berdua itu adalah murid-murid Kun-lun-pai yang sombong. Kami sedang mengejar wanita itu yang berani lewat seorang diri di sini, untuk kami tangkap dan kami serahkan kepada toako untuk diambil keputusan. Eh, dua orang ini muncul dan melindunginya, hendak merampasnya dari tangan kami!"
Raksasa bule itu memandang kepada Lan Hong dan wanita itu merasa bulu tengkuknva meremang saking ngerinya.
Mata itu sungguh menyeramkan dan begitu penuh gairah!
Kemudian raksasa itu, setelah menjelajahi seluruh tubuh Lan Hong dengan sinar matanya, tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kiranya memperebutkan wanita? Aha, baru kuketahui sekarang bahwa orang-orang Kun-lun-pai juga suka kepada wanita. Tidak aneh, tidak aneh!"
"Kami tidak memperebutkan wanita!"
Bentak Ciang Sun marah.
"Kami melindungi wanita ini karena dikejar-kejar oleh anak buahmu. Kami murid Kun-lun-pai akan menentang semua kejahatan dan melindungi siapa saja yang terancam!"
"Ha-ha-ha-ha, tidak perlu malu-malu, sobat muda! Laki-laki mana yang tidak akan suka kepada seorang wanita yang manis dan denok seperti ini? Kalau memang kalian tidak suka, serahkan saja kepadaku, mengingat hubungan baik antara Kala Putih dan Kun-lun-pai. Ketahuilah bahwa aku adalah Konga Sang, ketua dan pemimpin Kala Putih yang selama ini tidak pernah mengganggu Kun-lun-pai."
"Kami tidak akan membiarkan siapa saja mengganggu manita ini!"
Bentak pula Ciang Sun.
"Ho-ho-ha-ha, kiranya kalian mengajak bertanding? Baik, memang wanita ini cukup berharga untuk dijadikan taruhan dalam pertandingan. Kalau kalian dapat mengalahkan aku, Konga Sang, kalian boleh pergi membawanya dan kami takkan mengganggu. Akan tetapi kalau kalian kalah, wanita ini harus diserahkan kepadaku. Sudah adil, bukan?"
Lan Hong yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba membentak dengan suara nyaring.
"Iblis jahat, engkau terlalu menghinaku. Dengarlah baik-baik, aku lebih baik mati dari pada menyerah kepadamu!"
"Konga Sang,"
Kata Kok Han yang brewok gagah.
"kalau engkau memang laki-laki sejati, biarkan wanita ini pergi melanjutkan perjalanannya dan jangan diganggu. Sedangkan kalau engkau menghendaki kita untuk bertanding, kami akan menyambut tantanganmu itu. Taruhannya bukan wanita melainkan nyawa kita!"
"Kalian orang-orang muda sombong!"
Konga Sang berseru dan sekali tangan kanannya bergerak, dia telah melepaskan sebatang rantai yang tadi melibat pinggangnya.
Rantai itu sebesar ibu jari, panjangnya ada dua meter dan di ujung rantai terdapat kaitan baja yang menyeramkan.
Inilah senjata raksasa bule itu.
Dia memutar rantainya di atas kepala lalu membentak.
"Kalau kalian berani, majulah!"
Ciang Sun dan Kok Han maklum bahwa kepala gerombolan Kala Putih ini tentu lihai, maka merekapun maju dengan sikap yang waspada.
Ciang Sun berkata kepada Lan Hong.
"Enci, engkau mundurlah!"
Lan Hong tahu diri. Iapun maklum bahwa kepala gerombolan ini tidak (Lanjut ke
Jilid 17) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 boleh disamakan dengan anak buahnya tentu lihai bukan main dan ia tahu bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk dapat dipergunakan membantu dua orang pendekar Kun-lun-pai itu.
Kalau ia memaksa diri maju, tentu hanya akan menjadi penghalang bagi dua orang penolongnya.
Maka iapun melangkah mundur dan siap dengan tongkatnya untuk membela diri.
Ia mengeraskan hatinya, mencoba untuk bersikap tetap tenang dan siap menghadapi apapun juga.
Hanya satu pegangannya.
Ia tidak akan menyerah dan kalau terpaksa, ia akan mempertahankan diri sampai mati!
"Haiiiiiitt....!"
Kakek raksasa itu berteriak dan rantai di tangannya menyambar-nyambar ganas ke arah dua orang lawannya.
Ciang Sun dan Kok Han mempergunakan kelincahan tubuh mereka untuk mengelak dan merekapun balas menyerang dengan pedang mereka.
Namun, semua serangan pedang dapat ditangkis oleh sinar rantai yang bergulung-gulung.
Setiap kali pedang bertemu rantai, terdengar bunyi nyaring dan nampak bunga api berpijar.
Terjadilah perkelahian yang hebat, lebih seru daripada tadi ketika dua orang itu dikeroyok sepuluh orang anak buah gerombolan Kala Putih.
Akan tetapi, lewat tiga puluh jurus lebih, kedua orang murid Kun-lun-pai itu diam-diam mengeluh karena mereka mendapat kenyataan bahwa lawan mereka sungguh amat lihai.
Permainan rantai itu sungguh dahsyat, selain amat cepat datangnya, juga mengandung tenaga yang lebih kuat dari pada tenaga mereka berdua sehingga setiap kali pedang mereka bertemu rantai, mereka merasa betapa telapak tangan mereka menjadi nyeri dan panas.
Bahkan beberapa kali, hampir saja mereka melepaskan pedang karena tidak tahan getaran hebat yang menyerang telapak tangan mereka.
"Ha-ha-ha, mampuslah!"
Tiba-tiba raksasa bule itu membentak dan rantainya menyambar dengan tenaga sepenuhnya ke arah Ciang Sun.
Pendekar ini melompat ke samping, akan tetapi tetap saja kaitan rantai itu mengenai leher bajunya.
"Bretttt....!"
Baju itupun terobek sampai ke bawah, dari tengkuk ke pinggang.
Masih untung bahwa kulit tubuh Ciang Sun tidak terluka!
Pada saat itu, Kok Han sudah menusukkan pedangnya untuk melindungi kakak seperguruannya.
Konga Sang menangkis dengan ujung rantai, dan tiba-tiba dia melepaskan rantai dari tangan kiri, hanya memegangi dengan tangan kanan dan tangan kirinya yang berjari besar-besar itu telah menangkap pergelangan tangan Kok Han.
Dan dengan sentakan aneh sambil memutar tubuhnya, tak dapat dipertahankan lagi oleh Kok Han, tubuhnya ikut terputar dan diapun terpelanting dan terbanting keras!
Kiranya kepala gerombolan Kala Putih itu lihai pula dalam ilmu gulat!
Ciang Sun cepat memutar pedangnva menyerang untuk melindungi su-tenya yang cepat menggulingkan tubuhnya dan melompat bangun kembali.
Kembali, kedua orang murid Kun-lun-pai itu menghadapi sambaran rantai dan kini mereka hanya mampu mempertahankan diri saja, tidak mampu lagi balas menyerang.
"Ha-ha, kalian jaga baik-baik agar pengantinku itu tidak melarikan diri! Dua ekor domba ini sebentar lagi akan kusembelih, ha-ha-ha!"
Konga Sang berkata kepada anak buahnya karena dia sudah merasa yakin bahwa tak lama lagi dia akan dapat merobohkan dua orang lawannya dan memondong wanita manis itu.
Sambil menyeringai, anak buahnya mendekati Lan Hong.
Wanita ini memandang dengan wajah pucat.
Iapun tahu bahwa dua orang penolongnya sudah terdesak dan berada dalam bahaya.
Ia tahu bahwa mereka kini tidak mampu melindunginya lagi dan untuk melawan para anak buah gerombolan itupun ia tidak akan menang.
Oleh karena itu, iapun sudah mengambil keputusan nekat, untuk melawan mati-matian dan kalau tertawan, ia akan membunuh diri!
Ia mengangkat tongkatnya sambil berseru.
"Majulah, akan kuhancurkan kepalamu!"
Akan tetapi, dua orang di antara para anak buah gerombolan itu, dua orang yang bertubuh tinggi besar, melangkah maju sambil menyeringai.
"Manis, jangan banyak tingkah. Engkau akan menjadi pengantin pemimpin kami malam ini, ha-ha-ha! Lebih baik menyerah saja!"
Akan tetapi Lan Hong menyambut mereka dengan hantaman tongkatnya!
Ia sudah lelah sekali, sudah hampir kehabisan tenaga, akan tetapi ia masih bersemangat dan pukulannya masih kuat.
Akan tetapi, dua orang anak buah gerombolan itu adalah dua orang yang terkuat di antara mereka.
Yang dihantam tongkat itu miringkan tubuhnya dan ketika tongkat itu lewat, orang ke dua sudah menangkap lengan kanan Lan Hong yang memegang tongkat, sedangkan orang pertama sudah merangkulkan kedua lengannya yang panjang dan besar melingkari pinggang ramping Lan Hong.
"Lepaskan! Keparat busuk, lepaskan aku....!"
Lan Hong meronta untuk melepaskan diri, namun dua orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali. Pada saat itu, terdengar bentakan.
"Kalian srigala-srigala yang jahat!"
Bentakan ini disusul berkelebatnya bayangan orang dan dua orang raksasa yang sedang menangkap Lan Hong yang meronta-ronta itu tiba-tiba saja terlempar dan terpelanting, roboh dan tidak mampu bangkit kembali.
Seorang pecah kepalanya dan seorang lagi mengerang kesakitan dengan beberapa buah tulang iga patah-patah.
Kiranya yang muncul adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, berpakaian biru, dan tadi begitu muncul, dia menendang roboh dan menampar tewas dua orang anak buah gerombolan yang sedang menangkap Lan Hong.
Lan Hong terbelalak dan memandang kepada penolongnya.
Seorang pria yang tinggi besar dan gagah perkasa, usianya hampir empat puluh tahun, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi, pakaiannya berwarna biru dan di punggungnya nampak gagang sebatang pedang dengan ronce merah.
Ketika Ciang Sun dan Kok Han melihat pria gagah perkasa itu, mereka menjadi girang sekali.
"Lie susiok (paman guru Lie)!"
Seru mereka dengan gembira dan hampir berbareng.
"Mundurlah kalian dan hajar saja anak buah Kala Putih, biar aku yang menghadapi Konga Sang!"
Kata pria gagah perkasa itu.
Dia bernama Lie Bouw Tek, murid kepala Kun-lun-pai yang memang sedang dicari-cari oleh dua orang murid Kun-lun-pai itu.
Begitu meloncat dan menggantikan dua orang murid kepo-nakannya, Lie Bouw Tek telah mencabut sebatang pedangnya yang mengeluarkan sinar kemerahan.
Itulah pedang pusaka Ang-seng-kiam (Pedang Bintang Merah) yang menurut dongeng dibuat dari logam yang berasal dari bintang dan logam itu berwarna merah!
"Hemm, siapakah engkau?"
Konga Sang membentak ketika melihat bahwa yang menghadapinya adalah seorang laki-laki yang tingginya tidak kalah olehnya, berdada bidang dan kokoh, dengan sinar mata yang tajam dan mencorong.
"Konga Sang, sudah lama aku mendengar akan sepak terjang Kala Putih yang semakin jahat. Sekarang kebetulan sekali kita bertemu di sini, aku tidak akan membiarkan engkau merajalela mengumbar nafsu kejahatanmu. Aku bernama Lie Bouw Tek, murid Kun-lun-pai!"
"Aha, lagi-lagi murid Kun-lun-pai. Sungguh mati, tak kusangka bahwa Kun-lun-pai terdiri dari orang-orang usil dan lancang, suka mencampuri urusan orang lain!"
"Tak perlu banyak cakap, Konga Sang! Bukan hanya murid Kun-lun-pai, akan tetapi seluruh pendekar di dunia ini pasti akan menentang perbuatan ja-hat!"
"Manusia sombong!"
Bentak Konga Sang dan rantainya sudah menyambar dahsyat ke arah kepala Lie Bouw Tek.
Pendekar ini merendahkan tubuhnya dan ketika rantai melewati atas kepalanya dia melangkah maju dan pedangnya menusuk ke bawah lengan kanan lawan!
Gerakannya mantap, cepat dan kuat sekali sehingga pedang itu meluncur bagaikan sinar merah yang didahului angin dan suara mendesing!
Terkejutlah Konga Sang dan dia terpaksa melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri.
Rantainya membuat gerakan memutar dan kembali menyambar ke arah pinggang lawan.
Sekali ini Lie Bouw Tek menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga.
Melihat lawan menangkis, Konga Sang girang dan dia menarik sedikit rantainya agar ujung yang ada kaitannya dapat melibat pedang lawan.
"Tranggg....!"
Terdengar suara nyaring dan bukan main kagetnya hati Konga Sang ketika melihat betapa ujung rantainya berikut kaitannya telah putus!
Kiranya pedang merah itu merupakan pedang pusaka yang ampuh!
Untung baginya bahwa yang buntung hanya ujung sepanjang satu dua jengkal saja sehingga rantainya masih merupakan senjata yang berbahaya walaupun tanpa kaitan.
Dengan marah dia mengeluarkan suara gerengan dan rantainya menyambar-nyambar ketika dia memutarnya dan melancarkan serangan bertubi-tubi.
Namun Lie Bouw Tek dapat mengelak dengan langkah-langkah yang teratur, kadang meloncat tinggi dan diapun membalas dengan tusukan dan bacokan pedang.
Terjadi pertempuran yang amat seru di antara kedua orang ini.
Ternyata tenaga mereka seimbang, juga kini mereka bertanding dengan hati-hati.
Konga Sang jerih terhadap pedang pusaka itu, sebaliknya Lie Bouw Tek juga tidak berani sembarangan menangkis.
Sekali pedangnya terlibat rantai, dia akan menghadapi bahaya karena diapun tahu bahwa kepala gerombolan ini adalah seorang ahli gulat.
Dalam ilmu silat, dia dapat menandingi kepala gerombolan itu, akan tetapi kalau dalam ilmu gulat, sekali tubuhnya tertangkap, bahaya maut mengancam dirinya!
Sementara itu, Ciang Sun dan Kok Han mengamuk, menghajar anak buah gerombolan yang kini tinggal tujuh orang itu.
Yang dua tewas oleh Lie Bouw Tek dan yang tadi terkena hantaman tongkat Lan Hong pada tengkuknya, biarpun sudah siuman akan tetapi masih pening dan tidak mampu berkelahi, agaknya gegar otak!
Lan Hong juga tidak tinggal diam, ia sudah mengambil golok seorang di antara penjahat yang tewas, lalu ia membantu dua orang murid Kun-lun-pai yang mengamuk, dengan memutar golok itu sekuat tenaga!
Lie Bouw Tek yang sudah lama berkelana di daerah ini dan sudah banyak mendengar tentang gerombolan Kala Putih, maklum bahwa gerombolan itu masih mempunyai banyak sekali anak buah dan hanya kebetulan saja sekali ini mereka hanya menghadapi kepala gerombolan dengan sepuluh orang anak buah saja.
Dia khawatir kalau-kalau akan datang lebih banyak lagi anak buah gerombolan Kala Putih, maka sambil memutar pedangnya sehingga membentuk gulungan sinar merah yang merupakan benteng kokoh kuat yang melindungi dirinya, dia berseru keras.
"Ciang Sun! Kok Han! Kalian ajak pergi nona itu, biar aku yang menahan mereka. Cepat!"
Ciang Sun dan Kok Han mengerutkan alisnya.
Kenapa susiok mereka menyuruh mereka melarikan diri?
Padahal, jelas bahwa susioknya tidak kalah oleh Konga Sang, juga mereka bahkan mendesak tujuh orang anak buah gerombolan itu, malah di antara pihak musuh sudah ada yang tergores pedang.
Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu, mereka tidak sempat membantah dan juga tidak berani membantah.
Mereka mengenal susiok mereka sebagai seorang gagah perkasa dan kalau susioknya menyuruh mereka pergi lebih dahulu, tentu dia memiliki alasan yang kuat.
"Mari, enci!"
Kata Ciang Sun sambil menarik tangan Lan Hong, diajak meloncat pergi sedangkan Kok Han melindungi mereka.
Ketika tiga orang ini melarikan diri, para anak buah gerombolan tidak berani mengejar.
Mereka tidak bodoh.
Tadi mereka sudah terdesak dan kalau dilanjutkan, mereka tentu akan roboh semua.
Maka, sebaliknya daripada mengejar tiga orang itu, mereka kini membantu pemimpin mereka mengeroyok Lie Bouw Tek!
Lie Bouw Tek mengamuk bagaikan seekor rajawali merah!
Pedangnya tidak nampak lagi, berubah menjadi sinar merah bergulung-gulung dan bermain di antara sinar golok dan rantai.
Kadang-kadang, dari gulungan sinar merah itu mencuat sinar kilat disusul robohnya seorang pengeroyok karena disambar pedang Ang-seng-kiam.
Lie Bou Tek sebetulnya memiliki ilmu yang seimbang dengan kepandaian Konga Sang, akan tetapi pedang pusakanya membuat lawan itu merasa jerih.
Diapun tahu akan hal ini, dan dia tahu pula bahwa kalau Konga Sang menyerang dengan sungguh-sungguh, dibantu beberapa orang anak buahnya, dia akan menghadapi bahaya.
Maka, dia memberi waktu bagi dua orang murid keponakannya untuk melarikan diri bersama wanita itu, kemudian setelah memutar pedangnya, diapun moloncat jauh dan menghilang di balik semak belukar dan pohon-pohon yang mulal diselimuti kegelapan karena malam telah menjelang tiba.
Konga Sang merasa penasaran dan marah sekali.
"Kejar!"
Teriaknya, dan merekapun melakukan pengejaran.
Namun, karena di dalam hati mereka timbul rasa jerih menghadapi tiga orang murid Kun-lun-pai itu, maka mereka tidak berani berpencar ketika mengejar dan mencari sehingga gerakan mereka tidak dapat cepat.
Apalagi mereka terhalang oleh kegelapan malam sehingga akhirnya mereka terpaksa menghentikan pengejaran dan menolong kawan yang terluka atau tewas.
Konga Sang mengapal tinju dan berkata dengan geram.
"Orang-orang Kun-lun-pai telah menghinaku! Awas, sekali waktu aku akan mengambil tindakan!"
Walaupun ucapan ini lebih banyak hanya untuk mengumbar rasa penasaran dan marahnya karena diapun tahu betapa kuatnya Kun-lun-pai yang mempunyai banyak murid yang pandai dan pimpinan yang berilmu tinggi itu.
Kalau tidak yakin akan kekuatan pasukannya sendiri, penyerbuan ke Kun-lun-pai hanya akan mengakibatkan pasukannya hancur.
Mereka duduk mengitari api unggun.
Mereka berempat kini berada di puncak bukit, dari mana mereka dapat melihat ke empat penjuru dan tempat itu aman dan baik untuk melewatkan malam.
Kalau ada musuh datang, maka dari jauhpun sudah akan dapat mereka lihat atau dengar karena sekeliling mereka datar dan merupakan padang rumput.
Tadi Lie Bouw Tek dapat menyusul Ciang Sun dan Kok Han yang mengajak Sie Lan Hong melarikan diri dan dua orang pendekar Kun-lun-pai itu segera memberi hormat dan berlutut di depan kaki Lie Bouw Tek.
"Terimakasih atas bantuan Lie susiok,"
Kata mereka. Lan Hong juga ikut berlutut dan berkata.
"Atas pertolongan taihiap, akupun mengucapkan Terimakasih."
"Bangkitlah kalian berdua, juga engkau, nona. Bangkitlah, tidak perlu dengan segala macam kesungkanan ini. Musuh berada jauh di bawah dan mungkin tidak akan mengejar ke sini. Andaikata mereka datang, kita dapat melihat mereka sebelum mereka dekat. Tempat ini baik sekali untuk melewatkan malam. Ciang Sun dan Kok Han, kumpulkan kayu kering dan kita bikin api unggun di sini."
Demikianlah, mereka kini duduk saling berhadapan, mengelilingi api unggun yang bernyala indah, terang dan hangat.
Lan Hong memandang kepada pria yang duduk tepat di depannya, terhalang api unggun itu.
Sinar api unggun yang kemerahan menerangi wajah pria itu dengan jelas.
Dan iapun merasa kagum.
Seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh enam tahun, tubuhnya tinggi besar akan tetapi perutnya tidak gendut, seperti tubuh seekor kuda balap yang pilihan.
Dan wajahnya demikian tenang, penuh wibawa dan gagah perkasa.
Wajah yang jantan sekali, bukan tampan kewanitaan, melainkan jantan perkasa.
Sikapnya seperti seekor burung garuda, atau seperti seekor harimau.
Ya, seperti seekor harimau karena tadi ketika mencari kayu bakar, lenggang dan langkahnya mengingatkan Lan Hong akan seekor harimau.
Tanpa ia ketahui, pria di depannya itupun sejak tadi memperhatikannya, walaupun tidak kentara.
Dan Lie Bouw Tek juga kagum.
Wanita itu sungguh jelita dan tidak mengherankan kalau Konga Sang, kepala gerombolan Kala Putih itu, tertarik dan bertekad untuk menawannya.
Seorang wanita yang sudah matang, usianya sukar ditaksir, nampaknya masih amat muda akan tetapi sikap dan gerak geriknya, bentuk tubuhnya, wajahnya yang manis, sudah matang seperti seorang wanita yang sudah dewasa benar.
Tubuhnya tinggi semampai, dengan pinggangnya yang amat ramping dan pinggul yang besar membulat.
Wajahnya amat manis, dengan kulit yang mulus dan mulut yang membayangkan kealiman, akan tetapi sepasang mata itulah yang amat menarik perhatiannya.
Sepasang mata yang indah jeli, namun penuh bayangan duka dan derita.
"Ciang Sun dan Kok Han, sekarang ceritakanlah bagaimana kalian dapat berada di sini dan sampai berkelahi dengan orang-orang gerombolan Kala Putih itu,"
Kata Lie Bouw Tek, suaranya tenang sekali dan mendatangkan perasaan damai dan aman dalam hati Lan Hong.
Ketika pandang mata mereka saling bertemu, Lan Hong cepat menundukkan mukanya dan pada wajah pria yang gagah itu terbayang suatu keheranan.
Memang dia merasa heran sekali mengapa dia demikian tertarik kepada wanita ini.
Padahal sejak dikecewakan oleh seorang wanita, ketika dia berusia dua puluh tahun, sampai sekarang berusia tiga puluh enam tahun, belum pernah dia merasa tertarik kepada seorang wanita.
Bukan berarti bahwa tidak ada wanita yang jatuh cinta kepadanya.
Banyak sudah wanita yang suka kepadanya, bahkan banyak pula ayah dari gadis-gadis cantik menginginkan dia sebagai mantu mereka, namun dia selalu menolak.
Dan sekarang dia merasa tertarik kepada seorang wanita yang baru saja dijumpainya, bahkan belum dikenal namanya dan belum diketahui pula riwayatnya.
"Kami berdua memang sengaja datang ke daerah ini untuk mencarimu, susiok. Kami diutus oleh supek (uwa guru) Thian Hwat Tosu untuk mencarimu dan menyerahkan surat ini kepadamu."
"Hemm, toa-suheng (kakak seperguruan tertua) Thian Kwat Tosu yang mengutus kalian? Sudah pasti ada urusan penting sekali,"
Kata Lie Bouw Tek dan dia menerima sampul surat itu, lalu merobek ujung sampul dan mengeluarkan surat dari dalamnya.
Di bawah penerangan api unggun, dibacanya surat itu.
Dalam surat, kedua orang suhengnya, yaitu ketua Kun-lun-pai Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu, menyerahkan tugas kepadanya untuk menyelidiki keadaan lima orang tokoh di Tibet yang dikenal dengan julukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu Thay Ku Lama, Thay Si Lama, Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama.
Para pimpinan Kun-lun-pai itu merasa penasaran sekali melihat sikap lima orang tokoh Tibet itu yang pernah mengambil sikap bermusuhan dengan Kun-lun-pai dan hampir terjadi bentrokan hebat antara Kun-lun-pai dengan mereka.
Padahal, sejak dahulu, Dalai Lama sendiri dan para pendeta Lama di Tibet bersikap baik dan bersahabat dengan Kun-lun-pai.
Oleh karena itu, mengingat bahwa yang dapat diandalkan di Kun-lun-pai hanyalah Lie Bouw Tek, satu-satunya tokoh Kun-lun-pai yang bebas, yaitu tidak menjadi tosu dan tidak bertugas di Kun-lun-pai melainkan menjadi seorang kelana yang bebas, maka para pimpinan Kun-lun-pai mengutus Lie Bouw Tek untuk melakukan penyelidikan itu.
Membaca surat itu, Lie Bouw Tek mengangguk-angguk.
"Sampaikan hormatku kepada kedua suheng, dan aku menerima baik tugas yang diberikan kepadaku."
Hanya itulah pesannya kepada dua orang keponakannya itu.
"Akan tetapi bagaimana kalian sampi bentrok dengan gerombolan Kala Putih?"
Dia mengulang pertanyaannya.
"Hal itu terjadi hanya karena kebetulan saja, susiok. Kami sedang beristirahat di kuil tua di lereng bukit itu ketika tiba-tiba kami melihat enci ini berlari-lari dan dikejar oleh gerombolan Kala Putih menuju ke kuil. Kami sudah mendengar akan kejahatan Kala Putih, maka kami lalu membela enci ini, sampai susiok muncul dan menyelematkan kami semua."
Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya mendengar Ciang Sun menyebut "enci" (kakak perempuan) kepada wanita itu.
Mungkin Ciang Sun salah lihat, ataukah dia yang keliru?
Wanita itu nampaknya tidak lebih tua dari murid keponakannya itu.
Ataukah sebutan itu hanya sebutan akrab saja?
"Hemm, kalau boleh aku mengetahuinya, bagaimana sampai engkau dikejar-kejar oleh mereka, nona?
Dan siapakah nona, mengapa pula melakukan perjalanan seorang diri di tempat ini?"
Lalu dia menyambung cepat ketika teringat bahwa dia bertanya nama kepada seorang wanita tanpa lebih dahulu memperkenalkan diri.
"Mungkin nona sudah tahu bahwa kami bertiga adalah murid-murid Kun-lun-pai. Namaku Lie Bouw Tek, sedangkan dua orang murid keponakanku ini bernama Ciang Sun dan Kok Han."
Lan Hong memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu berkata dengan suara lirih namun cukup jelas bagi tiga orang itu.
"Namaku Sie Lan Hong dan aku datang dari kota Sung-jan di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang. Akan tetapi, harap Lie Taihiap jangan menyebut nona kepadaku. Aku bukan seorang gadis yang belum menikah. Aku pergi untuk mencari seorang adikku, dan juga mencari puteriku...."
Lie Bouw Tek membelalakkan kedua matanya.
Wanita ini sudah menikah, bahkan sudah mempunyai seorang puteri!
Kalau begitu, agaknya penglihatan kedua orang murid keponakannya itu yang benar.
Dia merasa betapa mukanya menjadi panas dan untunglah bahwa sinar api unggun memang sudah kemerahan dan membuat wajahnya merah sehingga perubahan wajahnya tidak akan nampak oleh orang lain.
"Ah, maafkan aku, toanio (nyonya). Kiranya toanio mencari adiknya dan puterinya? Akan tetapi, kenapa engkau mencari mereka seorang diri saja? Mengapa tidak dengan suamimu.... maaf...."
Lan Hong menundukkan mukanya, bukan karena sedih melainkan karena malu dan ucapannya lirih sekali.
"Dia sudah meninggal...."
"Ah, maafkan aku, toanio!"
Seru Lie Bouw Tek dan ingin dia memukul kepalanya sendiri mengapa ada perasaan lega dan girang di dalam hatinya.
Lega dan girang mendengar bahwa suami orang sudah meninggal.
Sungguh kejam dan tak tahu malu, makinya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, diam-diam Ciang Sun dan Kok Han merasa heran dan geli melihat betapa susiok mereka yang biasanya berwibawa, tenang dan tegas itu kini telah beberapa kali minta maaf dan menjadi seperti gugup.
Akan tetapi mereka pun tentu akan menjadi gugup kalau menanyakan suami seorang wanita lalu mendapat jawaban bahwa orang yang mereka tanyakan itu sudah meninggal dunia!
"Tidak mengapa, taihiap.
Kedukaan itu telah lewat,"
Kata Lan Hong.
Kalau saja wanita itu tidak mengeluarkan ucapan ini, agaknya Lie Bouw Tek akan sukar mengeluarkan ucapan lagi, apalagi untuk bertanya.
Kini, setelah Lan Hong berkata demikian, keinginan tahunya mendorongnya untuk bertanya lagi.
"Kalau boleh aku bertanya lagi toanio. Ke manakah perginya adikmu dan puterimu itu?"
"Aku tidak tahu benar, akan tetapi aku hendak mencari mereka di Lasha."
Lie Bouw Tek mengangguk-angguk, lalu berkata kepada kedua orang murid keponakannya.
"Kalian ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada kedua suheng tentang pesanku tadi, sesuai dengan tugas yang mereka berikan kepadaku, aku akan pergi ke Lasha dan karena toanio ini hendak mencari keluarganya di Lasha, maka biar aku menemaninya. Kasihan kalau ia harus melakukan perjalanan seorang diri ke Lasha, hal itu amat berbahaya karena Lasha masih jauh dari sini."
Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu mengangguk.
"Baik, susiok. Kami besok pagi akan berangkat, kembali ke Kun-lun-pai. Dan memang sebaiknya kalau anci ini ada temannya ke Lasha. Siapa tahu gerombolan Kala Putih itu akan melakukan pengejaran. Harap susiok berhati-hati karena mereka itu jahat sekali."
"Aku mengerti. Bagaimana, toanio, setujukah engkau apabila aku menemanimu melakukan perjalanan ke Lasha? Kebetulan sekali akupun hendak pergi ke sana."
"Tentu saja, ahh, tentu aku merasa senang sekali, taihiap. Tadinya aku hampir putus asa melihat betapa sukarnya mencari adikku, dan betapa barbahayanya perjalanan ini. Aku berterimakasih sekali kepadamu, taihiap."
"Sungguh engkau tahan uji dan juga bersemangat besar, toanio. Bagaimana mungkin dapat menemukan seseorang dalam jarak yang begini jauh, dan akupun belum dapat memastikan apakah engkau akan dapat menemukan adikmu di Lasha. Di sana banyak terdapat orang dan mencari seseorang di antara orang banyak di tempat yang besar...."
"Adikku mudah dicari. Dia.... dia mempunyai cacat, yaitu punggungnya berpunuk dan dia bongkok...."
Tiba-tiba Ciang Sun dan Kok Han saling pandang dan Kok Han segera berseru.
"Nanti dulu, enci. Apakah adikmu itu bernama Sie Liong?"
Kini Lan Hong yang terkejut dan memandang heran.
"Benar sekali! Bagaimana engkau bisa tahu?"
"Ah, kiranya Pendekar Bongkok itulah adikmu, enci! Tidak sukar menduga setelah engkau tadi mengatakan bahwa adikmu itu bongkok. Engkau she Sie dan Pendekar Bongkok juga she Sie. Kami pernah bertemu dengan dia!"
Hampir Lan Hong bersorak. Ia merasa gembira sekali.
"Di mana dia? Bagaimana keadaannya?"
Juga Lie Bouw Tek menjadi tertarik mendengar bahwa adik wanita ini yang dicari-cari itu disebut Pendekar Bongkok oleh dua orang murid keponakannya.
"Kok Han, ceritakan tentang Pendekar Bongkok itu. Aku ingin sekali tahu karena belum pernah aku mendengar namanya."
Kini Ciang Sun yang menjawab.
"Aih, susiok. Dia memang baru saja muncul di dunia kang-ouw, masih amat muda akan tetapi namanya cepat sekali menjadi terkenal. Tentang ilmu kepandaiannya, ah, susiok, kami berani mengatakan bahwa selama hidup belum pernah kami bertemu dengan seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sehebat yang dimiliki Pendekar Bongkok! Dia lihai bukan main, susiok sehingga kami berdua merasa seperti kanak-kanak tidak berdaya saja kalau dibandingkan dengan dia! Sayang sekali, enci, kami tidak tahu ke mana sekarang dia pergi, karena kami berjumpa dengan dia baru-baru ini di sebuah dusun di mana dia melakukan hal yang menggemparkan dan mengagumkan. Bahkan dulu, ketika dia masih kecil, tujuh tahun yang lalu, kamipun pernah bertemu dengan dia. Akan tetapi, baiklah kami ceritakan saja pengalaman dua kali bertemu dengan adikmu yang aneh dan yang gagah perkasa itu, enci, agar susiok juga mengetahui siapa adanya Pendekar Bongkok yang kami kagumi itu."
Ciang Sun dan Kok Han lalu menceritakan pengalaman mereka.
Mula-mula pengalaman mereka tujuh tahun yang lalu ketika mereka menolong seorang tosu yang diseret-seret oleh dua orang pendeta Lama Jubah Merah.
Mereka baru pulang berbelanja untuk Kun-lun-pai dan waktu itu usia mereka baru dua puluh tahun.
Akan tetapi, dua orang pendeta Lama itu ternyata lihai bukan main sehingga mereka berdua tidak berdaya dan roboh tertotok.
Mereka hampir dibunuh oleh dua orang pendeta Lama itu, akan tetapi tosu itu, yang tadi diseret-seret dan yang ternyata adalah seorang sakti yang bernama Pek-in Tosu, berbalik menyelamatkan mereka.
Terjadi perkelahian antara Pek In Tosu dan dua orang pendeta Lama itu.
"Nanti dulu, bukankah Pek-in Tosu itu seorang di antara Himalaya Sam Lojin?"
Tanya Lie Bouw Tek yang banyak mengenal tokoh Himalaya dan daerah barat.
"Benar, susiok. Perkelahian itu hebat sekali, akan tetapi ketika dua orang pendeta Lama itu mengeluarkan ilmu sihir melalui suara nyanyian mereka, Pek-in Tosu kewalahan dan hampir roboh. Untunglah, pada saat itu muncul Pendekar Bongkok, pada waktu itu hanya seorang anak laki-laki berusia dua belas atau tiga belas tabun yang bongkok, dan Pek-in Tosu tortolonglah."
"Apa? Dalam usia dua belas tahun sudah begitu lihainya?"
Lie Bouw Tek berseru heran dan kagum.
"Tidak, susiok. Pada waktu itu, dia belum pernah mempelajari silat, ataupun kalau pernah, masih dangkal sekali. Akan tetapi dia memang aneh dan cerdik. Mendengar dua orang pendeta Lama itu bernyanyi-nyanyi yang mengandung sihir sehingga Pek-in Tosu kewalahan, anak itu lalu menggunakan bambu memukuli batu-batu sehingga suaranya bising sekali. Suara ini yang agaknya mengacaukan ilmu sihir dua orang pendeta Lama itu dan mereka kalah oleh Pek-in Tosu dan melarikan diri. Itulah pertemuan kami yang pertama dengan Pendekar Bongkok."
"Sungguh menarik sekali!"
Kata Lie Bouw Tek kagum.
"Ah, kasihan adikku. Taihiap, apakah dua orang pendeta Lama itu tidak marah karena mereka diganggu oleh Sie Liong?"
Kata Lan Hong.
"Dua orang pandeta Lama itu marah sekali dan mereka menyerang Pendekar Bongkok, akan tetapi Pek-in Tosu yang sudah sadar kembali dari pengaruh sihir lalu membelanya dan berhasil mengusir dua orang pendeta Lama itu."
"Dan bagaimana perjumpaan kalian untuk yang kedua kalinya dengan Pendekar Bongkok?"
"Pertemuan kami dengan dia baru saja terjadi beberapa pekan yang lalu, di sebuah dusun di perbatanan Tibet. Ketika itu kami menjadi tamu kepala dusun yang sedang merayakan pesta perni-kahan puteranya. Akan tetapi pernikahan itu gagal karena Pendekar Bongkok turun tangan mancampuri. Kiranya dia yang benar karena pernikahan dengan putera kepala dusun itu dipaksakan. Setelah mengetahui duduknya perkara, kami setuju akan tindakan Pandekar Bongkok yang menggagalkan pernikahan itu dan di dalam perjumpaan itulah dia mengenal kami berdua. Ternyata dia telah menjadi seorang pendekar yang sakti!"
Lan Hong menarik napas panjang mendengar cerita dua orang murid Kun-lun-pai itu.
"Ya, memang setelah pulang dari perantauannya, adikku telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Menurut pengakuannya, dia telah menjadi murid Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su."
"Ahhh....!"
Lie Bouw Tek berseru dengan mata terbelalak panuh kasum.
"Pantas saja adikmu itu menjadi seorang pendekar yang sakti, toanio! Kiranya dia murid orang-orang yang sakti. Menjadi murid Himalaya Sam Lojin sudah hebat apalagi menjadi murid Pek-sim Sian-su! Ah, sungguh hebat sekali adikmu itu, toanio!"
Mendengar pujian-pujian itu, Lan Hong sama sekali tidak menjadi gembira, bahkan diam-diam ia merasa sedih sekali, mengingat akan nasib adiknya.
Sejak kecil, adiknya sudah mengalani kesengsaraan, bahkan dibandingkan dengan dirinya sendiri, adiknya itu lebih tersiksa.
Tersiksa lahir batin, bahkan kini sedang dicari oleh Bi Sian untuk dibunuh!
Karena melihat Lan Hong kelelahan, Lie Bouw Tek menghentikan percakapan mereka dan mempersilakan wanita itu untuk mengaso.
Dia memberikan selimutnya dan Lan Hong rebah miring dekat api unggun.
Sebentar saja ia sudah tertidur karena memang ia sudah lelah sekali.
Lie Bouw Tek masih bercakap-cakap lirih dengan dua orang murid koponakannya, akan tetapi tak lama kemudian merekapun mengaso dengan duduk bersila.
Mereka berduA menunggang kuda berdampingan dan membiarkan kuda mereka berjalan perlahan menuruni bukit.
Lie Bouw Tek membeli dua ekor kuda di dusun yang baru mereka tinggalkan, di lereng bukit.
Lan Hong berterimakasih dan ketika ia hendak membayar harga kuda untuknya, pendekar itu mencegahnya.
Diam-diam Lan Hong semakin kagum kepada pendekar yang bertubuh tinggi besar itu.
Lie Bouw Tek bukan saja gagah perkasa, pendiam, berwibawa dan tenang sekali, akan tetapi ternyata juga bersikap lembut dan sopan terhadap dirinya.
Belum pernah pendekar itu menunjukkan sikap kasar ataupun melanggar kesopanan terhadap dirinya sepanjang melakukan perjalanan bersamanya, bahkan di waktu memandangnya, pendekar itu selalu membatasi diri.
Karena senja telah tiba dan malam menjelang datang menggelapknn bumi, mereka terpaksa menghentikan perjalanan di kaki bukit itu.
Mereka memilih sebuah guha di daerah yang penuh batu gunung itu sebagai tempat melewatkan malam.
Mereka membuat api unggun di mulut guha dan setelah makan roti dan daging kering, minum anggur yang tidak begitu keras, mereka lalu duduk bercakap-cakap di dalam guha.
Api unggun menghangatkan tubuh dan mengusir nyamuk.
Mereka duduk berhadapan, terhalang api unggun.
Melihat usia mereka, sepantasnyalah kalau ada orang melihat mereka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami isteri.
Keduanya termenung, seolah tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Padahal, diam-diam mereka itu saling memikirkan.
Bagi Lan Hong, perasaannya yang amat kagum dan tertarik kepada pendekar itu merupakan pengalaman yang baru pertama kali ia rasakan.
Semenjak masih remaja, hati dan badannya telah direnggut secara paksa oleh mendiang Yauw Sun Kok.
Kalaupun akhirnya timbul perasaan cinta kepada Yauw Sun Kok, hal itu adalah karena keadaan.
Ia telah menjadi isterinya, bahkan telah melahirkan anak keturunannya, maka ia anggap sudah semestinya dan sewajarnyalah kalau ia bersikap setia dan mencinta suaminya.
Akan tetapi betapa seringnya hatinya menderita nyeri yang amat hebat melihat sikap suaminya, pertama sikap Suaminya terhadap adiknya, dan kedua kalinya ketika mereka kehilangan anak mereka sikap suaminya menjadi teramat buruk, bahkan mulai memaki dan memukulnya.
Dan selama itu, sama sekali ia tidak pernah bergaul dengan pria lain, bahkan mengangkat muka memandangpun tak pernah.
Dan kini, setelah ia menjadi janda, setelah ia bebas, tiba-tiba saja, tanpa disangkanya, ia kini melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pendekar yang dalam segala-galanya jauh berbeda dengan mendiang suaminya!
Seorang pendekar yang berkepandaian tinggi, berjiwa satria, yang sopan santun dan lembut, namun keras dan jantan bagaikan seekor rajawali atau seekor naga jantan.
Di lain pihak, Lie Bouw Tek juga tiada habis herannya melihat kenyataan yang terjadi pada hatinya.
Semenjak kegagalan cinta pertama, dia tak pernah mau bergaul dengan wanita, bahkan ada kecondongan menganggap bahwa wanita tidak dapat dipercaya, bahwa di balik kehangatan dan kelembutan itu tersembunyi kepalsuan.
Di balik keindahan itu tersembunyi racun yang jahat.
Akan tetapi mengapa kini dia demikian tertarik kepada wanita yang sudah menjadi janda ini, yang biarpun tergolong cantik namun tidaklah luar biasa, bahkan kecantikannya sederhana?
Mengapa timbul perasaan iba yang mendalam, juga perasaan kagum terhadap wanita ini yang mendorongnya untuk membela dan melindunginya, kalau mungkin selama hidupnya?
"Toanio, engkau mengasolah, biar aku yang berjaga di sini,"
Akhirnya Lie Bouw Tek berkata kepada wanita itu.
"Aku belum mangantuk, taihiap. Engkau mengasolah biar aku yang berjaga. Masa satiap kali kita bermalam di tempat terbuka, engkau saja yang melakukan penjagaan dan aku yang disuruh tidur."
Lie Bouw Tek tersenyum.
"Sudah sepantasnya begitu. Sudah menjadi kewajiban pria sebagai yang lebih kuat untuk selalu menjaga dan melindungl wanita yang lemah."
"Akan tetapi aku tidaklah sedemiklan lemahnya, taihiap."
Lie Bouw Tek mengangkat muka menatap wajah itu.
Mata itu!
Mata yang indah akan tetapi sinaraya seperti matahari tertutup awan hitam.
Dia menarik napas panjang.
"Toanio, ada sedikit permintaan dariku, harap engkau tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaanku itu.
"Lan Hong balas memandang, sinar matanya tajam menyelidik. Bagaimanapun percayanya kepada pendekar ini, pengalaman-pengalaman pahit selama dalam perjalanan karena ulah pria membuat ia berprasangka buruk dan berhati-hati.
"Taihiap, permintaan apakah itu? Apa yang dapat kulakukan untukmu? Tentu saja aku bersedia memenuhi kalau permin-taanmu itu wajar dan baik."
"Setiap kali engkau menyebut taihiap kepadaku, aku merasa amat tidak enak. Kita melakukan perjalanan bersama, berarti kita senasib seperjalanan, menghadapi segala bahaya dan segala kemungkinan berdua. Akan tetapi sebutan yang kaupakai itu membuat aku merasa seperti kita ini saling berjauhan dan asing."
"Ah, sungguh aneh. Aku sendiripun merasa tidak enak setiap kali engkau menyebut toanio kepadaku. Sebutan itu demikian menghormati aku dan merendahkan dirimu."
Mereka saling pandang, lalu keduanya tersenyum.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling sebut seperti dua orang sahabat baik, atau seperti anggauta keluarga? Kita seperti kakak dan adik, bagaimana kalau engkau menyebut aku toako (kakak) dan aku menyebutmu siauw-moi (adik perempuan)?"
Biarpun wajahnya berubah merah dan jantungnya bardebar agak keras, namun Lan Hong tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, toako. Sejak saat ini aku akan menyebutmu Lie Toako."
"Dan aku akan menyebutmu siawmoi Sie Lan Hong, atau cukup dengan Hong-moi (adik Hong) saja, bagaimana?"
Kembali mereka saling pandang dan Lan Hong mengangguk.
Lalu keduanya diam, seolah-olah mereka merasa sungkan dan rikuh setdah ada sedikit keakraban tadi.
Akhirnya, merasa tersiksa oleh kediaman mereka itu, Lie Bouw Tek bertanya.
"Hong-moi, aku masih merasa heran sekali mengingat ceritamu bahwa puterimu telah pergi. Apakah ia pergi bersama adikmu, Pendekar Bongkok itu?"
Lan Hong menggeleng kepalanya dan kedua matanya kelihatan semakin sedih.