Eps 6 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.
Dan diapun mengangguk-angguk. Melihat ini, Gumo Cali cepat memberi hormat dan bertanya.
"Sian-jin, apakah yang engkau ketahui? Katakan kepada kami!"
"Aih, penuh hawa siluman di sini! Harus disingkirkan dulu hawa siluman ini, kalau tidak, akan meracuni semua penghuni rumah!"
Diapun mengeluarkan sebungkus hioswa (dupa biting) dari kantung jubahnya yang lebar, mengeluarkan beberapa batang dupa dan menyalakannya.
Asap yang mengeluarkan bau harum segera memenuhi ruangan depan itu.
Mulut si dukun berkemak-kemik membaca mantram, kemudian terdengar dia berkata sambil mengacung-acungkan hio itu ke empat penjuru.
"Yang datang dari utara, kembalilah ke utara, yang datang dari timur, kembalilah ke timur, yang datang dari selatan kembalilah ke selatan dan yang datang dari barat kembalilah ke barat. Jangan ganggu rumah ini, melainkan kumpulkan semua kawanmu untuk membantu aku mengusir siluman merah!"
Dia lalu mengeluarkan gerengan-gerengan aneh yang pantasnya hanya keluar dari leher binatang buas.
Tentu saja sikap dan perbuatannya yang aneh ini mengesankan sekali dan hati Gumo Cali dan isterinya sudah mulai merasa lega.
Tentu dukun sakti ini akan mampu mengusir siluman merah dan menyelamatkan puteri-puteri mereka.
Bagaikan orang yang sedang kemasukan dan bukan kehendaknya sendiri, tanpa permisi lagi Bong Sian-jin memasuki rumah, mengacung-acungkan hio yang masih berasap itu, mengelilingi seluruh ruangan di rumah itu.
Kemudian dia bertanya.
"Di mana kamar dua orang gadis itu?"
Diam-diam Gumo Cali menjadi semakin gembira.
Kiranya dukun ini sudah tahu bahwa dua orang gadisnya itulah yang diancam oleh siluman merah!
"Di sana, Sian-jin, di sudut itu...."
Jawabnya cepat.
"Bawa aku ke sana, dan suruh dua orang gadismu itu menemuiku, akan kulihat apakah mereka sudah terkena hawa siluman ataukah belum!"
Dengan senang hati ayah dan ibu itu lalu mengajak Bong Sian-jin memasuki sebuah kamar yang cukup besar.
Di situ terdapat sebuah pembaringan yang lebar, yaitu pembaringan dari kakak beradik itu.
Mereka yang tadinya bersembunyi di tempat lain, segera dipanggil dan dua orang gadis yang cantik manis itu kini berdiri dengan muka pucat di depan Bong Sian-jin yang memandang kepada mereka dengan mata seperti terpejam!
Namun, di balik pelupuk mata yang tertutup itu mengintai sepasang mata yang tajam, sinar mata yang menjelajahi seluruh tubuh kedua orang gadis itu dari kepala sampai ke kaki dan mata itu bersinar gairah!
Tiba-tiba Bong Sian-jin mengeluarkan seruan.
"Uhhhh....!"
Dan diapun terhuyung ke belakang.
"Sungguh celaka....!"
"Ada apakah, Sian-jin....?"
Tanya Gumo Cali cepat dan wajahnya gelisah sekali.
"Celaka, mereka ini sudah diselubungi hawa siluman yang amat kuat!"
Ibu kedua orang anak itu menjerit ketakutan dan dua orang anak perempuan itupun menangis dan tubuh mereka menggigil.
"Aduh.... lalu bagaimana baiknya, Sian-jin? Tolonglah anak-anakku, tolonglah kami.... apapun yang kau minta akan kami laksanakan untuk membalas budi kebaikanmu.... tolonglah...."
Kata kepala dusun itu cemas dan kelihatan ketakutan, sungguh tidak sesuai dengan kegagahannya sebagai seorang jagoan nomor satu di dusun Ngomaima itu.
Ketahyulan dapat membuat orang yang bagaimana perkasapun menjadi seorang pengecut dan penakut.
"Jangan khawatir heh-heh, jangan khawatir. Selama masih ada Bong Sian-jin, jangan khawatir....! Akan tetapi, dua orang nona ini perlu dibersihkan dari hawa siluman. Aku akan membersihkan mereka dan semua orang tidak boleh mendekati kamar ini, karena kalau sampai ada yang terkena hawa siluman, aku akan menjadi repot saja. Biarkan mereka di kamar ini, aku akan membersihkan dan menjaga, kalau siluman datang, akan kuusir dia.... heh-heh, jangan khawatir, ada Bong Sian-jin, heh-heh-heh!"
"Baik, baik.... ah, Terimakasih sebelumnya, Sian-jin. Dan apa.... apa syaratnya, apa yang perlu kami persiapkan?"
"Mudah saja. Seember besar air yang diberi air kembang yang harum, dan dupa harum harus dibakar di sudut kamar. Sediakan saja seember air itu, aku sendiri yang akan mempersiapkan segalanya, angkat ember ke dalam kamar ini, lalu tinggalkan kamar ini, jangan ada yang berada di luar kamar. Kalau aku belum memanggil, jangan ada yang berani mendekat kalau ingin selamat dan bebas dari hawa siluman!"
Mendengar ini, seluruh penghuni rumah menjadi ngeri dan ketakutan.
Segera seember air harum itu diangkat masuk ke dalam kamar.
Ibu kedua orang gadis itu merangkul mereka dan berkata.
"Jangan kalian takut, ada Bong Sian-jin yang sakti di sini. Kalian akan dibersihkan dan dibebaskan dari.... siluman...."
Dua orang gadis yang ketakutan itu merasa tidak berdaya dan hanya mengangguk.
Bagi mereka, sikap dukun itu saja sudah sama mengerikan seperti berita tentang siluman, terutama sekali sepasang mata yang selalu terpejam akan tetapi ada sinar mata di balik garis mata sipit itu yang memandang kepada mereka secara mengerikan!
Juga mulut kecil yang tersenyum-senyum itu, hidung besar yang cupingnya kembang kempis, sungguh membuat dua orang gadis itu menjadi semakin ketakutan.
Akan tetapi, karena dukun ini katanya hendak menyelamatkan mereka dari cengkeraman siluman merah, maka merekapun pasrah!
Setelah melihat betapa dengan penuh semangat kepala dusun Gumo Cali mengusiri semua orang agar menjauhi kamar dan sama sekali tidak boleh mendekat, dan semua orang kini telah pergi, Dukun itu lalu menutupkan daun pintu kamar itu, memalangnya dari dalam dan sambil menyeringai diapun menghadapi kedua orang gadis remaja yang masih gemetar ketakutan itu.
Ketahyulan adalah suatu kebodohan.
Suatu kepercayaan akan adanya roh jahat atau setan iblis yang suka muncul dan mengganggu manusia secara jasmaniah.
Ketahyulan merupakan kebodohan yang amat berbahaya dan muncul karena kekurang-kuatan iman terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.
Manusia yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya kepada Tuhan, tentu tidak akan mudah termakan tahyul, atau dengan lain kata, tentu tidak akan takut terhadap gangguan iblis karena yakin bahwa Tuhan akan melindungi setiap orang manusia yang pasrah kepada Tuhan terhadap segala macam iblis.
Orang yang tahyul bukanlah berarti orang yang tidak percaya akan adanya roh jahat dan iblis.
Melainkan orang yang tidak takut terhadap iblis, tidak memuja saking takutnya.
Orang yang tahyul condong untuk memuja iblis, setidaknya menghor-matinya dan tunduk.
Inilah bedanya.
Yang tidak tahyul menghadapi godaan iblis dengan penyerahan dan iman kepada Tuhan, sebaliknya yang tahyul menghadapi godaan iblis dengan usaha menyenangkan hati iblis agar tidak mengganggunya, dengan (Lanjut ke
Jilid 13) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 memberi persembahan dan sebagainya.
Rasa takut timbul dari pikiran yang membayangkan hal-hal yang belum nyata dan belum ada.
Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk akan menimpa dirinya, maka timbullah rasa takut.
takut timbul dari pikiran yang mengingat pengalaman lampau, masa lalu, dan membayangkan kemungkinan buruk masa depan.
Orang yang hidup di saat ini, dengan penuh kewaspadaan, dilandasi iman dan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak pernah merasa takut.
Pikiran kita merupakan alat hidup yang teramat penting, yaitu untuk mempergunakan akal budi demi keselamatan dan kesejahteraan kehidupan lahiriah.
Sebaliknya akan menjadi suatu kekuasaan yang amat berbahaya kalau kita membiarkan pikiran yang bergelimang nafsu itu menguasai jiwa.
Setelah berada bertiga saja dengan dua orang gadis remaja yang cantik, segar dan ranum itu, semakin bergeloralah gairah berahi dalam hati dukun Bong yang sejak tadi telah bangkit begitu dia melihat dua orang gadis remaja yang diserahkan ke dalam kekuasaannya itu.
Dia melihat kesempatan yang amat baik terbuka baginya.
Dia memang sudah mendengar akan adanya siluman merah yang suka menculik gadis-gadis cantik.
Dan dia tidak takut menghadapi siluman.
Sudah dipersiapkannya senjata ampuh untuk melawan setan, yang dibawanya dan disimpannya dalam saku jubahnya, yaitu darah anjing yang sudah dikeringkan dan dijadikan bubuk hitam, dan pedang pusakanya yang sudah diberi mantram, sebatang pedang terbuat dari pada akar kayu pengusir setan.
Dia tidak takut, bahkan dia akan mempergunakan nama iblis itu untuk melaksanakan hasratnya yang berkobar-kobar.
Dia akan memetik dua tangkai bunga yang sedang mulai mekar itu, menikmati mereka, dan pertanggungan-jawabnya akan dia timpakan kepada siluman merah!
Ya, semua orang akan percaya kepadanya!
"Heh-heh-hah, anak-anak manis, kalian sudah dikotori hawa siluman, tanpa dibersihkan, kalian akan jatuh sakit dan akhirnya mati dalam keadaan tersiksa.
Maukah kalian kubersihkan dari hawa siluman?"
"Mau, Sian-jin, tentu saja kami mau...."
Kata gadis tertua dengan suara gemetar.
"Kalau kalian mau, ingat. Apa yang terjadi di sini, jangan sekali-kali kalian ceritakan kepada orang lain, kepada orang tuamupun tidak boleh. Kalau kalian ceritakan, maka hawa siluman itu akan datang menguasai diri kalian kembali. Turut saja apa yang kulakukan terhadap kalian, karena itulah cara pengobatannya. Nah, sekarang, tanggalkan semua pakaian dan kalian akan kumandikan dalam ember ini. Lakukan sekarang!"
Dukun lepus yang menjadi hamba nafsunya sendiri itu kini tersenyum-senyum dan sepasang mata yang tersembunyi di balik pelupuk mata yang sipit itu semakin mencorong penuh nafsu ketika dia melihat dua orang gadis remaja itu, dengan malu-malu dan takut-takut, menanggalkan pakaian mereka satu demi satu di hadapannya sampai mereka telanjang bulat sama sekali.
Kemudian, sambil menyeringai penuh nafsu, dukun itu lalu menuntun mereka berdua masuk ke dalam ember terisi air kembang yang harum, dan dengan nafsu semakin berkobar, kedua tangannya memandikan dua orang gadis remaja itu, jari-jari tangannya dengan penuh nafsu menggerayangi dan meraba-raba, membelai-belai, pura-pura membersihkan tubuh mereka.
Biarpun nafsu berahinya sudah memuncak, namun dukun yang cerdik ini tidak bodoh.
Dia cerdik sekali dan dia menahan dirinya agar tidak tergesa-gesa melakukan niatnya yang terakhir terhadap dua orang gadis remaja itu.
Setelah merasa puas membelai tubuh mereka dengan dalih memandikan mereka, diapun menyuruh mereka keluar dari ember mandi, mengeringkan tubuh yang basah itu dengan kain, kemudian memerintahkan mereka berbaring di atas tempat tidur dan menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut.
Dia melarang mereka mengenakan pakaian kembali, dengan alasan bahwa semua pakaian mereka sudah ternoda oleh hawa siluman.
Setelah kedua orang gadis itu merebahkan diri bersembunyi ke dalam selimut, Bong Sian-jin lalu duduk bersila dengan santainya di tepi pembaringan, pura-pura bersamadhi sambil menanti datangnya malam.
Hari telah mulai senja dan sebentar lagi malam tiba.
Dukun itu hendak menanti datangnya malam agar apa yang akan dilakukannya itu dapat kelak dia timpakan kepada siluman merah!
Diapun sudah siap dengan pedang kayu yang sudah diletakkannya di atas pangkuannya, dan mempersiapkan pula bubuk darah anjing di dalam sebuah botol.
Malampun tiba.
Dukun Bong menyalakan dua batang lilin di atas meja sehingga dalam kamar itu remang-remang namun cukup terang.
Sampai jauh malam, tidak terjadi sesuatu di dalam kamar itu.
Dua orang gadis yang tadinya bicara berbisik-bisik, kini berdiam diri, menanti dengan ketakutan.
Setiap ada suara sedikit saja di luar kamar, membuat mereka saling rangkul dengan tubuh gemetar.
Namun, hati mereka merasa lega melihat dukun itu masih duduk bersila seperti arca dan mereka yakin bahwa dukun itu tentu akan mampu menolong mereka.
Apa yang dilakukan dukun itu tadi, ketika memandikan mereka membuat mereka merasa kikuk dan malu, akan tetapi mereka tidak menyangka buruk dan menganggap bahwa dukun itu memang sungguh-sungguh "membersihkan"
Mereka.
Mereka masih terlalu hijau untuk berprasangka yang bukan-bukan.
Sementara itu, dukun Bong menjadi tidak sabar lagi.
Siluman yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, sedangkan dia hampir hangus terbakar nafsu berahinya.
Kalau siluman itu muncul dan dia sudah mengusirnya, baru dia akan menikmati "imbalan jasanya".
Dia menoleh, memandang kepada dua orang gadis itu.
Selimut itu agak tersingkap dan memperlihatkan sebagian dada mereka.
Bong Ciat tidak dapat lagi menahan dirinya.
Dia menyeringai kepada mereka.
"Kalian takut?"
Ditanya demikian, tentu saja dua orang gadis itu mengangguk membenarkan. Mereka memang merasa takut sekali, bahkan merasa ngeri.
"Heh-heh, jangan takut, ada aku di sini. Biar kutemani kalian tidur agar kalian merasa aman dan tidak takut lagi."
Berkata demikian, dukun yang tak tahu malu itu lalu mulai mencopoti pakaiannya satu demi satu.
Melihat ini, dua orang gadis remaja itu tersipu-sipu.
Mereka merasa lega karena dukun itu hendak menemani mereka tidur sehingga mereka akan merasa aman sekali, akan tetapi juga mereka merasa malu bukan main melihat betapa Bong Sian-jin menanggalkan pakaiannya.
Melihat mereka tersipu-sipu, Bong Sian-jin tersenyum.
"Heh-heh, kalian tidak usah malu-malu...."
Dan diapun membungkuk, mencium pipi mereka bergantian, membuat kedua orang gadis remaja itu menggeliat dan semakin tersipu.
Nafsu berahi sudah memuncak dan Bong Sian-jin sudah tidak kuasa menahan diri lagi.
Akan tetapi baru saja dia menyingkap selimut yang menutup tubuh kedua orang gadis remaja untuk menyelinap rebah di antara mereka, Tiba-tiba api lilin bergoyang dan dua orang gadis itu menahan jerit mereka.
Bong Sian-jin cepat menoleh, dan sepasang mata yang biasanya sipit itu terbelalak agak lebar.
Entah dari mana datangnya, di dalam kamar itu telah berdiri seorang "iblis"
Yang aneh.
Pakaiannya serba merah, dan mukanya mengenakan topeng merah pula.
Akan tetapi, dia berdiri di situ, diam seperti patung, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan sepatahpun kata atau suara apapun.
Hanya sebentar dukun Bong tertegun.
Dia segera ingat akan senjata-senjatanya.
Lupa bahwa tubuhnya hampir telanjang bulat, hanya mengenakan cawat saja, dia lalu menyambar pedangnya dan botol atau guci kecil, lalu melompat turun.
Pedang kayu itu diangkatnya ke atas, dan dia membuka tutup guci kecil, lalu mulutnya berkemak-kemik membaca mantram, lalu dia berseru.
"Iblis siluman jadi-jadian, pergilah engkau dari sini sebelum aku membinasakanmu!"
Melihat betapa "iblis"
Itu tidak bergerak dari tempatnya, dan hanya mata di balik kedok itu yang mencorong menyeramkan, Bong Sian-jin lalu menggerakkan tangan kirinya dan debu hitam keluar dari dalam guci, melayang ke arah siluman merah itu.
Namun, siluman merah itu tetap tidak bergerak.
Melihat ini, dukun Bong lalu menggerakkan pedang kayunya, dipukulkan ke arah kepala siluman merah itu.
Dia penuh keberanian dan keyakinan akan mampu mengalahkan siluman, karena biasanya, bubuk darah anjing dan pedang kayunya, ditambah mantram-matramnya, manjur sekali untuk menakut-nakuti segala macam setan dan siluman.
Akan tetapi, siluman merah itu agaknya lain lagi.
Begitu dukun Bong menyerang, diapun sama sekali tidak mengelak sehingga pedang kayu itu tepat mengenai kepalanya.
"Takkk!"
Pedang itu seperti mengenai kepala dari besi saja, dan hampir terlepas dari tangan dukun Bong yang merasa telapak tangannya panas dan nyeri.
Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, siluman itu telah menggerakkan tangan kanannya dan pedang kayu itu telah dirampasnya!
Dukun Bong terbelalak.
Tidak percaya dia bahwa ada siluman yang dapat menahan serangan pedang kayunya itu tanpa terluka sedikitpun!
"Kau....
kau....
bukan siluman....!"
Serunya, akan tetapi pada saat itu, siluman merah telah menusukkan pedang kayu yang dirampasnya, mengenai leher dukun Bong dan leher itupun tembus!
Tubuh dukun itu terjengkang dan roboh di atas lantai, berkelojotan dan dari lehernya terdengar suara mengorok.
Siluman merah tidak memperdulikannya lagi, menghampiri pembaringan dan memandang ke arah dua orang gadis yang sudah saling berangkulan dengan tubuh menggigil ketakutan itu.
Dia mengangguk-angguk, tangan kirinya bergerak dua kali menotok ke arah tubuh kakak beradik itu yang seketika menjadi lemas dan tidak mampu bergerak lagi.
Digulungnya dua tubuh gadis remaja itu ke dalam selimut dan siluman merah itu memanggul gulungan selimut, melompat keluar dari dalam kamar melalui jendela yang dibukanya dan sebentar saja lenyap.
Gerakannya gesit bukan main dan ketika dia melompat keluar kamar, dia seperti seekor burung garuda terbang saja.
Dukun Bong yang ditinggal di kamar itu, berusaha menjerit, akan tetapi yang keluar dari mulutnya hanya suara mengorok yang cukup keras.
Suara inilah yang memaksa Gumo Cali dan isterinya datang, diikuti para jagoan.
Dia memanggil-manggil dari luar pintu, akan tetapi tidak ada jawaban, baik dari kedua orang anaknya maupun dari dukun Bong, dan yang terdengar dari luar hanyalah suara mengorok aneh itu.
Dengan memberanikan hatinya, Gumo Cali lalu mendobrak pintu.
Daun pintu roboh dan mereka berhamburan masuk, hanya untuk menemukan dukun Bong berkelojotan sekarat dalan keadaan hampir telanjang bulat dan lehernya tertembus pedang kayunya sendiri, sedangkan dua orang gadis remaja itu lenyap bersama selimut, dan pakaian mereka masih lengkap nampak tertumpuk di atas tempat tidur.
Jadi mereka itu telah lenyap dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali, mungkin terbungkus selimut yang lenyap.
Gegerlah seisi rumah.
Biarpun merasa ketakutan karena siluman merah telah menggondol kedua orang anaknya sedangkan dukun Bong sendiri sekarat hampir tewas, Gumo Cali mengerahkan seluruh pembantunya untuk mencari kedua orang anaknya.
Namun, jejak merekapun tidak dapat ditemukan sehingga keluarga kepala dusun itu menjadi panik, bingung dan berduka.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong memasuki dusun Ngomaima.
Dia merasa heran sekali melihat betapa dusun yang nampaknya maju itu, dengan banyak rumah-rumah yang bangunannya sudah kokoh dan ditembok bahkan jalan rayanya juga sudah baik sekali, di kanan kiri jalan raya, terdapat toko-toko, kedai dan bahkan rumah penginapan, pada pagi hari itu nampak sunyi bukan main.
Hampir tidak nampak ada orang di jalan raya, bahkan rumah-rumah masih ditutup pintu dan jendelanya, dan hanya ada satu dua orang laki-laki yang menjengukkan kepalanya keluar jendela atau pintu, akan tetapi cepat lenyap pula begitu melihat dia.
Apakah yang telah terjadi, pikirnya.
Apakah orang-orang dusun ini demikian malasnya sehingga pagi hari itu masih enak-enak tidur?
Padahal, sinar matahari telah mengusir kegelapan malam.
Dia tidak tahu bahwa seluruh penghuni dusun sudah mendengar belaka akan keributan yang terjadi di rumah kepala dusun Gumo Cali, mendengar betapa dukun Bong terbunuh dan dua orang gadis puteri kepala dusun itu diculik siluman merah!
Tentu saja semua orang menjadi ngeri dan pagi itu, dusun Ngomaima seperti dusun mati.
Bahkan ada beberapa kelompok keluarga kaya yang malam tadi sudah mempersiapkan segalanya untuk melarikan diri mengungsi jauh dari dusun yang sedang diamuk siluman merah itu.
Melihat betapa orang-orang yang tadinya memandang kepadanya lalu cepat bersembunyi, Si Pendekar Bongkok tersenyum pahit.
Semua pengalaman yang telah dirasakannya membuat dia merasa rendah diri dan sikap penghuni dusun itu dianggapnya bahwa mereka takut melihat keadaan dirinya, melihat tubuhnya yang bongkok.
Namun, hanya sebentar saja perasaan pahit itu, karena dia kini sudah mulai terbiasa dan dia menelan kenyataan itu sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dia merobahnya.
Biarlah, dia termenung, aku sadar akan keburukanku.
Jauh lebih baik menyadari kekurangan dan keburukan diri sendiri tanpa keluhan dan sakit hati daripada menganggap diri sendiri yang terbaik dan tanpa cacat.
Keadaan dirinya adalah suatu kenyataan, dan menerima kenyataan hidup, betapapun pahitnya si-aku menilai, merupakan suatu kebijaksanaan kalau dia menyerahkan kembali kepada Tuhan karena, bukankah segala kenyataan itu baru dapat terjadi kalau dikehendaki oleh Tuhan?
Dan mengapa Tuhan berkehendak demikian, merupakan rahasia yang takkan terjangkau oleh akal pikiran manusia yang selalu mendasarkan penilaian atas untung-rugi yang diperhitungkannya.
Tanpa dia sengaja, ketika Sie Liong melangkah, kakinya membawanya lewat depan rumah kepala dusun Gumo Cali.
Maksud hatinya memang hanya ingin melihat-lihat dusun itu sebelum menentukan apakah dia bermalam di situ ataukah melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju ke pegunungan Nyaingentangla sebelah utara Tibet karena menurut pesan Himalaya Sam Lojin dan juga Pek-sim Sian-su, di pegunungan itu dia akan dapat memulai dengan penyelidikannya tentang para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa yang telah melarikan diri dari pegunungan Himalaya dan masih terus dikejar-kejar.
Menurut penuturan para gurunya itu, Lima Harimau Tibet berasal dari pegunungan Nyaingentangla di mana mereka mempunyai sebuah kuil dan di situ mereka dahulu bertapa.
Ketika dia tiba di depan rumah kepala dusun Gumo Cali, tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan orang dan bermunculanlah sedikitnya dua puluh orang yang mengepungnya dan dengan senjata di tangan.
"Siluman! Siluman!"
"Hajar dia!"
"Siluman, kembalikan dua orang nona kami!"
"Kepung dia, jangan sampai lolos!"
Dan dua puluh orang lebih itu serentak menyerangnya dengan senjata me-reka!
Tentu saja Sie Liong terkejut bukan main.
Apalagi setelah dia melihat betapa teriakan-teriakan itu sambung menyambung dan sebantar saja pengepungnya mendekati jumlah seratus orang!
"Heii, tahan dulu!"
Teriaknya dan dia menggunakan kedua lengannya untuk menangkisi semua serangan yang menimpa dirinya.
Karena di antara mereka itu banyak yang mempergunakan senjata tajam, maka biarpun tubuhnya dilindungi kekebalan sehingga kulitnya tidak sampai terobek, namun tentu saja pakaiannya tidak kebal dan mulailah pakaiannya robek-robek.
"Hei, tahan dulu dan mari kita bicara!"
Bentaknya lagi.
Akan tetapi ketika semua orang melihat betapa senjata mereka tidak dapat melukai orang bongkok itu, dan hanya pakaiannya saja yang robek-robek mereka menjadi semakin yakin bahwa yang mereka keroyok adalah seorang siluman atau iblis, maka semakin ramailah mereka mengeroyok dengan nekat walaupun senjata mereka membalik dan tangan mereka terasa panas dan nyeri.
Melihat kenyataan bahwa semua orang menjadi semakin marah dan semakin nekat menyerangnya, Sie Liong merasa kewalahan.
Kalau dilanjutkan, tentu dia akan telanjang bulat karena pakaiannya tentu akan hancur.
Dia tidak mau membalas, karena sekali pandang saja dia maklum bahwa mereka yang mengeroyoknya itu bukanlah penjahat, melainkan penduduk dusun yang sedang marah, dan tentu dia disangka orang yang menyebabkan kemarahan mereka itu.
Tadi dia mendengar mereka memakinya sebagai siluman.
Tentu para penghuni dusun ini sedang memusuhi siluman dan dialah yang dikira siluman itu!
Sungguh sial, sekali ini dia disangka siluman!
Melihat serangan bertubi-tubi, dia lalu melompat dan tubuhnya melayang ke atas genteng rumah kepala dusun Gumo Cali.
Melihat ini, semua orang menahan napas dan memandang dengan wajah membayangkan bermacam perasaan.
Ada ngeri, ada takut, akap tetapi ada pula kemarahan yang membuat mereka nekat, apalagi karena yang maju ada ratusan orang sehingga mendatangkan keberanian yang besar.
Gumo Cali mendapat hati ketika melihat siluman itu tidak merobohkan seorang di antara mereka, bahkan seperti hendak melarikan diri.
Maka diapun menuding ke atas dan membentak dengas suara garang.
"Siluman jahat, hayo kembalikan dua orang anak gadis kami, kalau tidak, sampai ke manapun kami orang sedusun akan mengejarmu dan membinanakanmu!"
"Nanti dulu!"
Sie Liong berseru dan nada suaranya marah karena hati siapa tidak menjadi dongkol kalau tanpa hujan tanpa angin tiba-tiba saja dia dituduh sebagai siluman yang menculik dua orang gadis orang!
"Kalian ini enak saja menuduh orang yang bukan-bukan!
Siapa bilang aku siluman?
Apa buktinya bahwa aku ini siluman yang suka nyolong gadis orang?"
Mendengar ini, Gumo Cali tertegun.
Sikap orang di atas itu memang bukan seperti siluman!
Dia meragu, akan tetapi orang-orang yang berada di bawah itu masih yakin bahwa mereka berhadapan dengan siluman.
"Engkau tidak seperti manusia biasa! Punggungmu berpunuk!"
"Engkau kebal dan tidak tidak terluka oleh hujan senjata kami!"
"Siluman memang bisa pian-hoa (salin rupa)!"
"Dia berpunuk, tentu siluman onta!"
Wajah Sie Liong menjadi merah karena hatinya dongkol bukan main.
Dia disangka siluman onta karena berpunuk.
Sialan!
"Heii, kalian ini memang orang-orang tolol dan kejam!
Andaikata aku siluman sungguh, tentu akan kuhajar kalian yang bermulut lancang ini!
Aku ini manusia biasa, dan memang aku cacat berpunuk.
Tidak bolehkah orang memiliki cacat berpunuk?
Andaikata di antara kalian tidak ada yang cacat berpunuk, tentu ada yang memiliki cacat lain, apakah yang pincang, yang buntung, yang buta, yang tuli, mereka itu juga dianggap siluman?
Aku manusia biasa dan kalau aku tidak terluka oleh senjata kalian, sungguh untung bahwa aku memiliki sedikit kepandaian, kalau tidak, tentu tubuhku ini sudah menjadi bakso dan yang lebih hebat lagi, kalian menjadi manusia-manusia binatang yang kejam, mengeroyok dan membunuh orang yang tidak bersalah, dan kalian akan dikutuk sampai tujuh turunan!"
Sie Liong bukan orang yang pandai bicara, sekarang ini karena terdorong rasa dongkol, maka dapat juga dia bicara agak panjang.
Melihat sikap dan mendengar ucapan ini, terkejutlah Gumo Cali.
Dia sendiri sedikit banyak sudah tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak orang yang sakti dan berilmu tinggi, yang memiliki bentuk badan aneh-aneh, dan watak yang aneh-aneh pula.
Timbullah harapannya bahwa mungkin orang muda berpunuk ini adalah seorang pendekar yang melakukan perantauan dan siapa tahu pendekar ini akan dapat menolongnya dan menyelamatkan dua orang anaknya.
Oleh karena itu, diapun segera berteriak memberi isarat kepada semua orang untuk tenang.
Setelah semua orang tidak mengeluarkan suara, diapun menghadap ke arah pemuda berpunuk yang masih berdiri di atas genteng itu, lalu memberi hormat dan berkata, suaranya nyaring.
"Kalau memang engkau seorang manusia dan seorang pendekar, harap suka maafkan kami yang sedang panik oleh adanya siluman yang mengacau dusun kami. Akan tetapi, bagaimana kami akan dapat percaya bahwa taihiap bukan siluman? Hanya kalau taihiap sudi membantu kami menangkap siluman atau setidaknya menyelamatkan dua orang gadis kami yang diculik olehnya, kami percaya bahwa taihiap seorang pendekar, bukan siluman!"
"Semua sudah ada enam orang gadis yang diculik!"
Teriak seseorang yang juga merasa kehilangan seorang anak gadisnya yang lebih dulu diculik siluman.
Biarpun kemarahannya mereda, namun hati Sie Liong masih mendongkol.
"Hemm, kalian tidak berhak untuk menekan aku agar suka menolong kalian. Kalau memang ada kejahatan terjadi di sini, tanpa dimintapun aku akan turun tangan menentang kejahatan! Sepatutnya kalian menerima aku sebagai seorang tamu atau sahabat dan kita dapat berunding tentang kejahatan yang terjadi, bukan membabi-buta mengeroyok seorang pendatang yang sama sekali tidak berdosa!"
Mendengar ini, Gumo Cali merasa menyesal sekali, akan tetapi juga girang dan menemukan harapan baru.
Maka, demi kedua orang anaknya, tanpa ragu-ragu lagi diapun berlutut menghadap ke arah pemuda berpunuk itu.
"Taihiap, maafkan kami. Aku Gumo Cali sebagai kepala dusun mewakili seluruh penghuni mohon maaf kepadamu."
Lenyaplah sama sekali kemarahan dari hati Sie Liong.
Memang dia bukan seorang pemarah.
Dia melayang turun bagaikan seekor naga, dipandang oleh semua orang yang menjadi kagum sekali.
Dia turun ke depan kepala dusun itu dan sedikitpun kakinya tidak mengeluarkan suara ketika tiba di atas tanah, dan dengan ramah Sie Liong lalu mengangkat bangun kepala dusun itu.
"Namaku Sie Liong dan aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini. Tadi aku sudah merasa heran sekali ketika memasuki dusun ini yang cukup besar, akan tetapi mengapa begini sepi. Tidak tahunya ada penjahat yang membikin kacau di dusun ini?"
"Bukan penjahat, taihiap, melainkan.... siluman.... siluman merah!"
Kata kepala dusun itu dan ketika dia bicara, dia memandang ke kanan kiri kelihatan takut sekali.
"Eh? Siluman?"
Sie Liong mengerutkan alisnya.
"Dan tentang gadis-gadis tadi? Apakah siluman itu menculik gadis?"
"Taihiap, marilah bicara di dalam. Dan kami perlu mengganti pakaian taihiap yang robek-robek itu."
Gumo Cali mempersilakan Sie Liong masuk ke dalam rumahnya.
Sie Liong mengangguk dan kepala dusun menyuruh semua orang bubaran dan pulang ke rumah masing-masing.
Ketika tiba di ruangan depan, Sie Liong merasa heran melihat sebuah peti mati yang depannya masih dipasangi lilin dan alat sembahyang.
"Siapa yang mati?"
Tanyanya, tidak lupa untuk memberi hormat ke arah peti mati sebagaimana patutnya.
"Itu adalah Bong Sian-jin yang tewas semalam...."
Kata Gumo Cali dengan suara berbisik, kelihatan ketakutan. Mendengar nama "Sian-jin", Sie Liong menjadi agak terkejut juga.
"Siapakah dia dan mengapa tewas di sini? Apakah keluargamu?"
"Bukan, dia adalah dukun yang kami undang untuk mengusir siluman dan melindungi dua orang gadis kami, akan tetapi, dia malah terbunuh oleh siluman dan dua orang gadis kami tetap saja diculik...."
Tuan rumah lalu mengajak Sie Liong duduk di ruangan dalam.
Setelah berganti pakaian, bukan pemberian tuan tumah, melainkan pakaiannya sendiri yang diambilnya dari buntalan yang dibawa dan diikat di pungungungnya, Sie Liong lalu mendengarkan keterangan Gumo Cali tentang segala hal yang telah terjadi semalam.
Isteri tuan rumah ikut mendengarkan sambil menangis.
Setelah selesai menceritakan hilangnya dua orang puteri mereka dan tewasnya Bong Sian-jin, suami isteri itu lalu berlutut di depan Sie Liong.
"Taihiap, kasihanilah kami, kasihanilah dua orang puteri kami. Mereka itu masih kanak-kanak, baru berusia empat belas dan enam belas tahun, dapatkanlah kembali mereka, taihiap...."
Suami isteri itu tidak malu-malu menangngis di depan Sie Liong. Pemuda ini mengangkat bangun mereka.
"Harap paman dan bibi suka bersikap tenang. Aku yakin bahwa kejahatan ini bukan perbuatan siluman, melainkan manusia biasa yang menyamar sebagai siluman. Aku mendengar tadi bahwa penjahat itu telah menculik banyak gadis, bukan puteri-puteri paman saja. Benarkah?"
"Memang demikianlah. Sudah kurang lebih dua tiga pekan ini.... siluman.... eh, penjahat itu menculik gadis-gadis cantik. Kabarnya malah dari dusun lain juga ada yang hilang, dan dari dusun sini saja ada enam orang gadis yang sudah diculik."
"Dan semua juga terjadi seperti yang terjadi di sini semalam? Sebelum menculik pada malam hari, pada siang harinya dia memberi tanda dengan olesan darah kepada daun pintu rumah yang ada gadis calon korban?"
Gumo Cali mengangguk.
"Begitulah. Karena siangnya sudah diberi tanda, malamnya kami selalu mengadakan persiapan dan penjagaan. Bahkan beberapa orang jagoan dari para pasukan pengawal barang yang membantu kami, jatuh menjadi korban, terluka dan ada pula yang tewas. Iblis itu amat jahat dan lihai, bukan tandingan manusia. Karena itulah kami mengundang Bong Sian-jin untuk melawannya dengan ilmu sihir. Akan tetapi, ternyata Bong Sian-jin malah tewas dan kedua orang anak kami diculiknya."
"Hemm, kurasa dia itu bukan iblis bukan siluman, melainkan seorang manusia jahat yang sombong. Aku akan melakukan penyelidikan dan mudah-mudahan saja kesombongannya terulang kembali dan dia akan memberi tanda kepada sebuah rumah yang akan didatanginya, sehingga aku akan siap menghadapinya."
Sie Liong lalu melakukan penyelidikan ke dalam kamar dua orang gadis puteri kepala dusun.
Melihat ember air kembang dan pakaian dua orang gadis itu, dia mengerutkan alisnya dan diam-diam dia merasa curiga kepada dukun Bong.
Apalagi ketika mendengar dari Gumo Cali bahwa dukun Bong hendak "membersihkan"
Hawa siluman dengan memandikan dua orang gadis itu, dalam kamar tanpa disaksikan siapapun, kecurigaannya bertambah.
Dia menduga bahwa dukun Bong tentulah seorang dukun cabul yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencabuli dua orang gadis remaja yang cantik.
Akan tetapi karena dukun itu sudah berada dalam peti mati tanpa nyawa lagi, diapun tidak dapat menyelidikinya, hanya menduga-duga bagaimana macamnya penjahat tukang menculik gadis yang membunuh dukun cabul itu.
Menurut keterangan kepala dusun, dukun itu dibunuh dengan pedang kayunya sendiri.
Kalau penjahat itu mampu menusuk leher dukun Bong dengan pedang kayu sehingga tembus, dapat diketahui bahwa tentu penjahat itu memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat.
Dari dalam kamar, dia membuka jendela dan melompat ke luar, terus melompat ke atas.
Gumo Cali memandang dengan penuh kagum dan dia makin girang, makin besar harapannya bahwa pemuda bongkok inilah yang agaknya akan mampu menolong dua orang anaknya.
Sie Liong melakukan penyelidikan ke atas genteng.
Ada beberapa buah genteng pecah terinjak.
Agaknya ketika penjahat itu memanggul dua orang gadis, maka berat tubuhnya bertambah dan karenanya maka genteng itu pecah terinjak.
Dan dari pecahan genteng-genteng itu dia dapat menduga bahwa si penjahat tentu lari menuju ke selatan.
Dari atas genteng itu, dia memandang ke selatan dan nampaklah sebuah bukit kehitaman menjulang tinggi, sebagian tersinar cahaya matahari, namun tetap nampak menghitam tanda bahwa di situ terdapat hutan yang lebat.
"Bukit di selatan itu, bukit apakah?"
Tanyanya sambil lalu setelah dia melompat turun kembali.
"Bukit yang mana? Ada banyak bukit di selatan...."
"Yang nampak hitam, penuh hutan."
"Ah, itu bukit Onta namanya. Di bagian tengah ada...."
Kepala dusun tidak melanjutkan kata-katanya dan memandang ke arah punuk di punggung Sie Liong.
"Ada punuknya maksudmu? Hemm, bukit Onta...."
"Ada apakah di sana, taihiap?"
Gumo Cali tidak berani menyebut onta, takut menyinggung hati pendekar bongkok itu yang tadi dimaki siluman onta oleh seorang penduduk dusun.
"Tidak ada apa-apa. Kita tunggu saja sampai ada tanda dari penjahat itu. Sekarang aku akan mencari kamar di rumah penginapan."
"Taihiap, bermalamlah saja di sini. Kamar anak-anak.... bekas kamar merekapun kosong, boleh untuk sementara taihiap tempati...."
Sie Liong maklum bahwa tuan rumah masih panik dan ketakutan, dan dia hendak ditahan untuk meredakan rasa takut mereka.
Dia merasa tidak leluasa kalau bermalam di situ, maka dia menggeleng kepala.
"Tidak, sebaiknya kehadiranku tidak terlalu monyolok. Biar aku di rumah penginapan saja,"
"Tunggulah, taihiap. Biar aku menyuruh seseorang untuk memesan kamar terbaik untuk taihiap, sementara itu, mari terimalah hidangan yang kami berikan untuk taihiap, sebagai sarapan pagi."
Sie Liong merana tidak enak untuk menolak.
Mereka lalu bersama-sama makan pagi, dan setelah selesai makan pagi, Sie Liong diantar oleh kepala dusun sendiri pergi ke rumah penginapan di mana telah disediakan kamar terbaik untuknya.
Belum juga tengah hari, kepala dusun sudah torgopoh-gopoh datang dan mengetuk daun pintu kamarnya.
Sie Liong sedang beristirahat dan dibukanya daun pintu.
Dia heran melihat kepala dusun nampak gugup dan mukanya pucat.
"Taihiap.... taihiap.... dia.... dia datang...."
"Datang? Ke mana maksudmu, paman?"
"Dia.... memberi tanda darah pada pintu rumah Gulamar, saudagar kaya yang memiliki seorang gadis yang cantik. Sebentar malam...."
"Bagus dan tenanglah, paman. Penjahat itu memang sombong bukan main. Mari kautunjukkan kepadaku di mana rumah yang mendapat tanda ancaman itu."
Keluarga Gulamar menyambut kedatangan kepala dusun itu dengan hati cemas dan putus asa.
Tidak ada jagoan yang berani menjaga keselamatan puterinya, biar dia berani membayar berapa banyakpun dan biar dia sudah mendengar akan pendekar muda yang bongkok, yang katanya amat lihai dan sanggup melawan siluman merah, namun dia masih ragu-ragu dan bahkan sudah mempersiapkan rombongan onta dan kuda untuk melarikan anaknya mengungsi ke tempat lain.
Ketika mendengar keterangan bahwa hartawan itu hendak membawa puterinya pergi mengungsi, Sie Liong menyatakan ketidak-setujuannya.
"Cara itu tidak menjamin keselamatan bahkan berbahaya sekali, paman,"
Katanya.
"Penjahat itu akan lebih mudah menculik puterimu dalam perjalanan mengungsi itu."
"Tapi dia.... dia siluman, hanya keluar di waktu malam.... kami akan melarikan puteri kami siang ini juga."
Sie Liong menggeleng kepalanya.
"Bukan, dia bukan siluman, melainkan manusia biasa yang amat jahat. Kalau malam ini dia datang untuk menculik puterimu, aku yang akan menghadapinya."
Gulamar nampak ragu-ragu dan bingung. Dia memandang kepada kepala dusun Gumo Cali.
"Bagaimana baiknya.... kami khawatir sekali, kalau tidak dilarikan, nanti anakku...."
"Tenangkan hatimu, saudagar Gulamar. Taihiap ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sudah berjanji sanggup menalukkan siluman itu. Sebaiknya kalau engkau menurut nasihatnya. Taihiap, bagaimana sebaiknya diatur untuk menghadapi penjahat siluman itu kalau malam nanti dia datang?"
Sie Liong lalu mengadakan perun-dingan dengan tuan rumah, disaksikan oleh kepala dusun.
"Sembunyikan gadis itu di dalam kamar lain yang dekat dengan kamarnya sendiri agar aku dapat selalu mengamatinya, dan aku sendiri akan tinggal di dalam kamar puterimu menanti munculnya penjahat itu."
"Taihiap, apakah engkau membutuhkan bantuan?"
Sie Liong mengangguk.
"Mereka yang pagi tadi mengepungku, mereka adalah penduduk yang marah kepada siluman dan mereka penuh keberanian walaupun mungkin tidak memiliki kepandaian. Biarlah mereka itu yang membantuku, mengadakan pengepungan pada rumah ini, akan tetapi bersembunyi dan jangan ada yang keluar sebelum penjahat itu datang dan aku berusaha menangkapnya. Kalau sudah terdengar ribut-ribut atau melihat aku berkelahi melawan penjahat itu, baru mereka boleh keluar dan masing-masing membawa obor untuk menerangi tempat ini."
Kepala dusun Gumo Cali menyanggupi dan diapun segera pergi melakukan persiapan dan memberitahu kepada penduduk bahwa malam itu, Pendekar Bongkok akan menangkap siluman merah, dan diharap agar penduduk suka membantunya.
Para penduduk yang berhati tabah dan sudah lama merasa penasaran dan marah kepada siluman merah yang mengganggu keamanan di dusun mereka, segera menyambut ajakan ini dengan penuh semangat.
Mereka tadi sudah melihat sendiri kelihaian Pendekar Bongkok yang kebal dan dapat "terbang"
Ke atas genteng.
Malam yang menyeramkan.
Sejak matahari tenggelam, tidak ada penduduk berani keluar dari rumah mereka, apalagi yang wanita.
Semua penduduk sudah mendengar bahwa malam itu siluman merah akan muncul, akan menculik gadis cantik puteri saudagar Gulamar!
Mereka yang siap membantu Pendekar Bongkok, sejak sore sudah siap di tempat persembunyian mereka mengepung rumah saudagar itu, siap dengan obor yang tinggal dinyalakan dan segala macam senjata yang mereka miliki.
Malam itu sungguh menakutkan.
Padahal, malam itu juga malam yang biasa saja seperti pada malam-malam yang lain.
Kalau pikiran mulai berceloteh, membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin menimpa diri, maka rasa takutpun timbul dan kalau orang sudah ketakutan, maka malam yang gelap dapat nampak menyeramkan.
Orang takut akan setan karena dia pernah mendencar tentang setan.
Pikirannya sudah kemasukan bayangan setan yang didengarnya dari orang lain, dan pikiran itulah yang mengada-ada, mereka-reka, membayangkan hal-hal mengerikan.
Andaikata dia tidak pernah mendengar tentang setan, tidak mungkin dia dapat merasa takut.
Seorang anak kecil yang belum pernah mendengar tentang setan, dia tidak akan takut berada di tempat yang bagaimanapun juga, karena pikirannya tidak pernah dapat membayangkan hal yang belum diketahuinya.
Akan tetapi, sekali dia sudah mendengar cerita tentang setan, maka pikirannya mereka-reka, membayangkan dan diapun menjadi takut.
Pikiran merupakan sebuah gudang dimana kita menyimpan hal-hal yang kita ketahui melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain, melalui bacaan, penuturan dan sebagainya.
Tentu saja kita tidak mungkin dapat menemukan sesuatu yang berada di luar gudang, yang kita temukan hanyalah barang-barang timbunan dalam gudang itu.
Pikiran hanya merupakan alat pelengkap hidup, bagaikan amat perekam.
Kita hanya mampu memutar kembali sagala yang pernah kita rekam melalui alat itu, tidak mungkin kita dapat menemukan hal-hal yang tidak pernah direkam.
Oleh karena itu, betapapun cerdik pandainya pikiran, betapapun lincah dan liciknya, gerakannya hanyalah berputar-putar di dalam lingkaran gudang itu saja.
Sia-sialah mengharapkan untuk menemukan sesuatu melalui pikiran, sesuatu yang baru, yang belum terekam, belum pernah tertimbun di dalam gudang ingatan.
Malam itu amat sunyi, namun, sesuai dengan perintah kepala dusun Gumo Cali, semua penghuni rumah yang berdekatan di sekitar rumah saudagar Gulamar memasang lampu penerangan di luar rumah mereka sehingga daerah sekitar itu tidaklah begitu gelap.
Gadis yang diincar oleh siluman itu berada di dalam kamar ibunya, dijaga oleh ayah ibunya.
Mereka bertiga sejak sore tadi sudah dicekam ketakutan hebat, terutama gadis itu sendiri yang wajahnya menjadi pucat, matanya yang indah itu seperti mata kelinci melihat harimau, dan setiap suara sedikit saja cukup untuk membuat ia melonjak kaget.
Mereka bertiga berdekapan di atas pembaringan ketika malam semakin larut, tak mungkin dapat memejamkan mata, makin lama semakin gelisah walaupun mereka semua yakin bahwa Pendekar Bongkok berada seorang diri di dalam kamar sebelah dan baliwa di sekeliling rumah tidak kurang dari seratus orang laki-laki penduduk dusun Ngomaima yang siap untuk membantu Pendekar Bongkok menangkap siluman yang hendak menculik puteri saudagar itu.
Sie Liong sendiri tenang-tenang saja berada di dalam kamar gadis itu.
Sebuah kamar yang cukup besar, dengan perabot-perabot kamar yang indah, kamar yang bersih dan berbau harum.
Dia tidak mau duduk atau rebah di atas tempat tidur gadis itu, dan karena lantai kamar itu ditilami permadani tebal yang bersih dan lunak, diapun duduk bersila di atas lantai, memusatkan perhatian sehingga pendengarannya dapat mengetahui keadaan di luar kamar sekalipun.
Dalam persiapannya menghadapi siluman yang diduganya tentu hanya seorang penjahat yang sombong dan lihai itu, dia tidak bersenjata.
Akan tetapi, melihat sebuah payung di dalam kamar itu, tergantung di sudut, dia tahu bahwa kalau perlu, payung itu dapat menjadi sebuah senjata yang amat baik baginya.
Menjelang tengah malam suasana semakin sunyi.
Yang terdengar dari dalam kamar itu hanyalah suara jengkerik dan belalang dan serangga malam lainnya yang mengeluarkan bunyi beraneka ragam, halus dan amat merdu, bunyi kehidupan malam yang penuh rahasia karena gelap.
Tiba-tiba ada suara tak wajar tertangkap oleh pendengaran Sie Liong.
Suara jejak kaki di atas genteng.
Dia datang, pikirnya dan tak dapat dihindarkan lagi, jantung dalam dadanya berdetak lebih kencang daripada biasanya.
Tanpa mengeluarkan suara, Sie Liong bangkit dan menghampiri sudut kamar, menyambar payung yang gagangnya panjang melengkung itu, lalu menanti, menempelkan tubuhnya di sudut dinding, matanya menatap ke arah jendela, pintu, dan langit-langit berganti-ganti karena dia tahu bahwa dari tiga jurusan itulah si penjahat dapat memasuki kamar.
Dengan pendengarannya Sie Liong mencoba untuk mengikuti gerakan penjahat yang berada di atas rumah itu.
Tidak mudah baginya karena penjahat itu memiliki gerakan yang ringan sekali.
Kedua kakinya hampir tidak menimbulkan suara, seperti kaki kucing saja.
Namun dia tahu bahwa penjahat itu kini telah turun dan mendekati kamar itu.
Dia harus menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang karena tegang.
"Krekk....!"
Terdengar sedikit suara dan daun jendela itupun terbuka, palangnya patah karena dorongan yang amat kuat dari luar.
Dan begitu daun jendela terbuka, nampak bayangan merah berkelebat dari luar.
Demikian ringan dan cepat gerakan bayangan itu sehingga Sie Liong diam-diam merasa terkejut dan kagum.
Kiranya memang bukan lawan biasa, pikirnya dan diapun waspada.
Orang yang mampu bergerak seperti ini tidak boleh dipandang ringan, pikirnya.
Dengan penuh perhatian Sie Liong yang berdiri di sudut kamar mengamati sosok tubuh itu.
Tubuh yang ramping kecil sehingga nampak kurus, dengan pakaian serba merah dan dari samping nampak wajahnya juga tertutup topeng merah.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Bukan siluman, melainkan manusia bertopeng seperti yang sudah diduganya.
Akan tetapi, manusia yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat.
Si topeng merah itu menghampiri pembaringan, menyingkap kelambu dan melepaskan kembali ketika melihat bahwa pembaringan itu kosong.
Dikepalnya tangan itu sebagai tanda bahwa ia marah, dan pada saat itu, Sie Liong membentak.
"Penjahat sombong dan keji! Menyerahlah engkau!"
Sambil membentak demikian, Sie Liong sudah menerjang maju dan tangan kirinya mencengkeram ke arah lengan orang untuk menangkapnya.
Bukan sembarang cengkeraman belaka karena ini merupakan satu jurus dari Pek-in Sin-ciang, dan biarpun pada saat itu tangannya belum mengeluarkan uap putih, namun sudah mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat dan cengkeraman itu cepat sekali, sukar untuk dihindarkan lawan.
Akan tetapi, si topeng merah itu ternyata cekatan sekali.
Melihat lengannya akan dicengkeram, dia membuat gerakan memutar lengan itu dan sekaligus dihantamkan ke atas untuk menangkis dan dengan kuatnya lengannya yang kecil menangkis dengan pengerahan tenaga sin-kang.
"Dukk!"
Dua lengan bertemu dan si topeng merah itu mendengus marah.
"Ihhh!"
Dan kini tangan kirinya bergerak mengadakan serangan tusukan dengan dua jari tangan ke arah mata Sie Liong.
Demikian cepatnya gerakan itu dan tangan kirinya itu seperti sebatang pedang menusuk saja!
Sie Liong maklum bahwa lawannya memang tangguh, maka diapun cepat mengerahkan tenaga, melepaskan payungnya aan menangkis tangan kiri lawan yang menusuk itu dari samping.
"Plakkk!"
"Ehhh....!"
Kini si topeng merah itu agak terhuyung dan agaknya baru dia menyadari bahwa orang bongkok ini amat lihai, maka tanpa banyak cakap lagi tubuhnya lalu meluncur keluar kamar melalui jendela dengan kecepatan luar biasa.
"Penjahat keji, hendak lari ke mana kau?"
Sie Liong membentak dan sengaja dia mengeluarkan suara nyaring agar terdengar oleh semua orang yang mengepung rumah itu sambil bersembunyi.
Teriakannya ini nyaring sekali dan maksudnya berhasil, karena terdengar oleh semua pengepung yang langsung menyalakan obor dan mengangkat obor itu tinggi-tinggi dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang senjata mereka.
Sie Liong melihat bayangan merah berkelebat ke atas genteng.
Maka diapun cepat mengejar sambil memegang payungnya.
Ketika tiba di atas wuwungan yang agak lebar den datar, lebarnya tidak kurang dari setengah meter, si bayangan merah itu yang tahu bahwa ia dikejar, lalu membalik dan pedangnya suaah menyambut Sie Liong dengan tusukan kilat.
Sie Liong melihat sinar pedang meluncur cepat, maka diapun segera menangkis dengan payungnya.
Sepasang mata di balik topeng itu berkilat seperti mentertawakan karena jangankan hanya payung, biar senjata terbuat dari baja yang kuatpun akan patah bertemu dengan pedangnya.
Maka diapun sudah siap untuk melanjutkan serangan kalau payung itu terbabat patah.
"Trangg!"
Bunga api berpijar dan si bayangan merah itu mengeluarkan seruang kaget. Payung itu tidak patah, bahkan ia merasa telapak tangannya panas.
"Hei, setan bongkok! Siapakah engkau dan mengapa mencampuri urusanku?"
Bentaknya.
Sie Liong tertegun.
Kiranya siluman ini seorang wanita yang suaranya nyaring merdu!
Pantas saja mata yang berada di balik topeng itu demikian jeli, dan tubuh itu demikian langsing dan padat, juga nampak kurus.
Kiranya wanita!
Mengapa ada wanita menculiki gadis-gadis cantik?
Sungguh aneh sekali!
"Kiranya siluman merah adalah seorang wanita!
Sungguh engkau jahat sekali!
Untuk apa engkau menculiki gadis-gadis itu?
Hayo kembalikan atau aku tidak akan mengampunimu!"
"Setan bongkok sombong! Engkau sudah bosan hidup!"
Bentak siluman itu dan kini ia menyerang dengan tangan kirinya.
Semacam uap hitam menyambar ke arah Sie Liong dan uap hitam ini mengandung tenaga dorongan yang amat kuat.
Sie Liong menyambut dengan dorongan tangan kiri pula, sambil mengerahkan tenaga Pek-in Sin-ciang.
Uap putih keluar dari telapak tangan kirinya bertemu dengan uap hitam dan kembali wanita bertopeng itu mengeluh dan terdorong dua langkah ke belakang.
"Mampuslah!"
Tangan kirinya bargerak dan sinar-sinar hitam lembut menyambar ke arah tubuh Sie Liong, mengarah leher, dada dan pusar!
Itulah jarum-jarum hitam beracun yang menyambar dari jarak dekat!
Sie Liong menggerakkan payungnya yang terbuka dan sekali diputar, payung itu menangkis semua jarum yang bertebaran jatuh menimpa genteng, mengeluarkan suara nyaring lembut yang hanya dapat terdengar oleh Sie Liong.
Akan tetapi ketika dia memandang dari balik payungnya, bayangan merah itu telah meloncat turun.
Ributlah para penduduk menyambutnya dengan pengeroyokan, akan tetapi mereka segera cerai berai ketika dua orang di antara mereka roboh mandi darah terbabat pedang dan beberapa kali loncatan saja, si bayangan merah telah lenyap dari situ.
Ketika semua orang memandang, ternyata Pendekar Bongkok yang tadi berada di atas genteng rumah juga sudah lenyap.
Ke mana perginya Sie Liong?
Dia tadi melihat berkelebatnya bayangan merah itu ke arah selatan, maka diam-diam diapun lalu meloncat dan melakukan pengejaran.
Akan tetapi, malam gelap menjadi penghalang dan wanita berpakaian merah itu lenyap ditelan kegelapan malam dan arah yang diambilnya adalah selatan, ke arah bukit yang menjulang tinggi itu, Bukit Onta!
Karena tidak mungkin mengejar seorang lawan yang demikian lihai dan berbahaynya di malam gelap, Sie Liong lalu berlari kembali ke dalam dusun Ngomaima, kembali ke rumah saudagar Gulamar di mana penduduk masih berkumpul dan mereka itu ramai membicarakan apa yang mereka lihat di atas rumah tadi, perkelahian antara Pendekar Bongkok dan Siluman Merah.
Ketika melihat munculnya pemuda bongkok itu, para penduduk yang dipimpin oleh kepala dusun Gumo Cali menyambutnya dengan sorak sorai penuh kegembiraan.
"Hidup Sie Taihiap....!"
Bahkan ada yang berteriak.
"Hidup Pendekar Bongkok!"
Namun sebutan bongkok itu kini nadanya bukan menghina atau mengejek, melainkan memuji.
Sie Liong merasa kecewa bahwa dia tidak berhasil menangkap penjahat itu, maka dia mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata.
"Harap saudara sekalian pulang ke rumah masing-masing. Ketahuilah bahwa siluman merah itu bukan setan, melainkan seorang manusia yang amat lihai dan ia seorang penjahat wanita. Sayang bahwa aku tidak berhasil menangkapnya dan selama belum tertangkap, bahaya masih selalu ada. Maka harap saudara sekalian suka bekerja sama dan bersatu seperti sekarang ini. Kalau saudara sedusun bersatu melawannya, tentu ia tidak akan dapat mengacau lagi."
Orang-orang bubaran.
Walaupun pendekar itu tidak berhasil menangkap siluman merah, akan tetapi jelas bahwa siluman itu takut kepadanya.
Buktinya siluman itu melarikan diri dan sekali ini ia tidak berhasil menculik gadis puteri saudagar Gulamar.
Ada sebuah hal yang sukar dapat mereka percaya.
Kalau berita bahwa siluman itu adalah seorang manusia lihai dan jahat, dapat mereka terima.
Akan tetapi seorang wanita?
Sukar membayangkan seorang wanita selihai itu dan pula apa urusannya wanita menculik gadis-gadis cantik?
Tentu saja Gulamar, isterinya dan puterinya merasa berterimakasih sekali kepada Pendekar Bongkok Sie Liong.
Walaupun siluman itu tidak tertangkap, namun gadis itu capat diselamatkan.
Namun, Sie Liong sama sekali tidak merasa puas.
Dia bahkan semakin penasaran.
Dia harus dapat membongkar rahasia wanita bertopeng merah itu.
Mengapa menculiki gadis-gadis cantik, dan ke mana ia membawa gadis-gadis itu?
Ia harus dapat menemukan sarangnya, menolong para gadis yang sudah diculik, karena kalau penjahat aneh itu belum dapat dikalahkan, tentu dusun itu masih selalu terancam bahaya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah keluar dari dusun dan melakukan perjalanan seorang diri menuju ke selatan.
Bukit Onta nampak masih menghitam karena sinar matahari pagi itu masih lemah.
Dia tahu bahwa ia mencari-cari dalam gelap, hanya menduga bahwa bukit itulah yang sepatutnya menjadi sarang penjahat yang menyamar siluman.
Bukit Onta itu tidak begitu jauh dari dusun Ngomaima, merupakan bukit yang penuh dengan hutan lebat dan menurut keterangan yang diperolehnya, jarang ada pemburu berani memasuki hutan itu yang menurut kabar tahyul merupakan sarang iblis!
Cocok dengan penjahat yang menyamar sebagai siluman.
Maka, begitu melihat bukit itu dan mendengar keterangan tentang tempat itu, dia sudah menduga bahwa di situlah tempat siluman itu bersembunyi di waktu siang dan bergerak memasuki dusun di waktu malam.
Dugaan Sie Liong memang tepat sekali.
Tidak begitu jauh di lerang bukit itu, dalam sebuah hutan, terdapat bangunan kayu yang masih nampak baru, cukup besar dan bangunan itu tersembunyi di antara pohon-pohon raksasa sehingga tidak akan nampak dari luar hutan.
Bangunan itu belum lama didirikan orang-orang secara diam-diam, baru kurang lebih sebulan.
Dan semenjak tiga pekan, kadang-kadang terdengar suara isak tangis tertahan disusul hardikan yang menghentikan isak tangis wanita itu dari dalam rumah.
Kiranya hampir setiap malam, siluman merah atau wanita yang memakai pakaian dan topeng merah membawa seorang gadis culikan ke rumah itu dan kini, Di rumah itu telah terkumpul sembilan orang gadis-gadis muda dan cantik, di antara mereka terdapat pula dua orang kakak beradik puteri dari Gumo Cali, kepala dusun Ngomaima.
Mereka dikumpulkan dalam sebuah ruangan besar di tengah bangunan itu.
Karena mereka selalu dihardik dan diancam kalau menangis maka mereka yang dilanda duka dan ketakutan, hanya terisak kecil saja.
Yang lain sudah pasrah, agak besar pula hati mereka melihat banyaknya teman senasib, dan selama mereka ditawan itu, mereka tidak pernah menerima perlakuan buruk, tidak pernah diganggu dan diberi hidangan yang cukup baik.
Hanya mereka tidak pernah tahu mengapa mereka diculik dan ditawan di dalam hutan itu.
Pada malam hari tadi, ketika siluman merah gagal menculik puteri saudagar Gulamar karena adanya Pendekar Bongkok, Ia langsung saja berlari karena tidak ingin dikejar pendekar yang lihai itu dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali karena ia belum merasa kalah dan belum benar-benar mengadu ilmu dengan pemuda bongkok, namun ia tidak berani mengambil resiko melawan pendekar Bongkok yang selain amat lihai, juga dibantu oleh ratusan orang penduduk Ngomaima itu.
Malam itu, ketika ia kembali ke rumah dalam hutan di lereng Bukit Onta dengan tangan kosong, ia disambut teguran tak puas di dalam ruangan di rumah itu.
Mereka semua ada lima orang yang duduk mengelilingi sebuah meja.
Seorang kakek yang usianya kurang lebih enam puluh tahun, kepalanya gundul dan wajahnya nampak masih muda, pada jubahnya di bagian dada terdapat sebuah lukisan teratai putih pada dasar hitam.
Biarpun dia mengenakan jubah pendeta dan kepalanya dicukur licin, namun sikapnya berbeda dengan para hwesio (pendeta Budha).
Para hwesio bersikap alim dan tenang, sebaliknya kakek ini memiliki sinar mata yang tajam dan liar, wajahnya penuh dengan kelicikan dan mulutnya membayangkan kerakusan dan kekejaman.
Namun harus diakui bahwa dia memiliki wajah yang nampak muda dan tampan, tubuhnya tinggi besar dan sikapnya berwibawa.
Di sampingnya duduk pula tiga orang laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, semua memakai pakaian ringkas dan di punggung mereka terselip siang-to (sepasang golok) yang mengkilap tajam, sikap mereka juga angkuh dan jagoan.
Orang ke lima adalah siluman merah sendiri dan kini ia sudah menanggalkan topengnya.
Kalau Sie Liong meli atnya, dan juga para penduduk dusun Ngomaima melihatnya, mereka semua tentu akan terkejut dan terheran-heran.
Kiranya yang mereka namakan siluman merah itu adalah seorang wanita muda yang cantik jelita dan manis sekali!
Usianya tidak akan lebih dari dua puluh tahun, wajahnya bulat telur dan manis sekali, kulit muka dan lehernya putih mulus.
Wanita cantik manis yang amat lihai ini bukan lain adalah Pek Lan!
Seperti kita ketahui, Pek Lan telah berhasil membalas dendamnya terhadap para selir dari Hartawan Coa di kota Ye-ceng dan membawa pula banyak harta milik hartawan Coa.
Dengan hati amat puas ia meninggalkan kota Ye-ceng dan bermaksud untuk pulang ke tempat tinggal gurunya, yaitu Hek-in Kui-bo yang kini tinggal di tepi telaga Gose sebagai seorang yang kaya raya.
Akan tetapi setibanya di rumah subonya (ibu gurunya), ternyata Hek-in Kui-bo sedang kedatangan seorang tamu yang oleh subonya diperkenalkan kepadanya sebagai Thai-yang Suhu, seorang tokoh Pek-lian-kauw (Perkumpulan Agama Teratai Putih).
"Pek Lan, Thai-yang Suhu ini adalah seorang sahabat baikku dan dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga ilmu sihir yang hebat. Thai-yang Suhu, inilah muridku yang kuceritakan kepadamu tadi, namanya Pek Lan."
Sepasang mata pria berjubah pendeta dan berkepala gundul yang ditutup sebuah topi hwesio itu menjelajahi wajah dan tubuh Pek Lan dengan penuh perhatian, lalu dia mengangguk-angguk.
"Kui-bo, muridmu ini sungguh hebat, cantik manis dan juga lincah. Tidak tahu entah sampai di mana engkau menggemblengnya."
"Hemm, ia sudah hampir mewarisi seluruh kepandaianku. Engkau cobalah ia, Thai-yang. Pek Lan, jangan sungkan-sungkan, perlihatkan kepandaianmu kepada pamanmu Thai-yang Suhu!"
Wajah dan sikap pria berjubah pendeta itu sudah menarik perhatian Pek Lan, maka mendengar kata-kata subonya, iapun lalu meloncat ke tengah ruangan dan memberi hormat ke arah Thai-yang Suhu.
"Paman, silakan!"
Thai-yang Suhu tertawa bergelak dan ternyata giginya masih berderet rapi.
"Bagus, engkau seorang keponakanku yang mengagumkan."
Katanya sambil bangkit pula berdiri, lalu menghampiri Pek Lan.
"Pek Lan, aku ingin menguji kepandaianmu, ingin pinceng (aku) melihat apakah benar engkau cukup berharga untuk mewakili subo-mu membantu pekerjaan kami yang besar. Awas serangan!"
Pendeta Pek-lian-kauw itu sudah menyerang, pukulannya mengandung tenaga sin-kang besar dan juga gerakannya cepat sekali.
Namun, tidak terlalu cepat bagi Pek Lan yang dengan mudah sudah mengelak ke samping sehingga pukulan itu mengenai tempat kosong.
Thai-yang Suhu menyusulkan serangan yang lebih hebat, dengan tamparan tangan kiri ke arah pelipis kanan gadis itu.
Tamparannya mendatangkan angin pukulan yang dahsyat dan serangan ini diikuti pula oleh cengkeraman tangan kanan ke arah dada Pek Lan.
Sungguh merupakan serangan yang berbahaya.
Namun, dengan tenang saja Pek Lan meloncat ke belakang, kemudian iapun membalas dengan serangan bertubi.
Ia mengerahkan tenaga sin-kang yang dipelajarinya dari Hek-in Kui-bo dan dari kedua telapak tangannya mengepul uap hitam!
"Bagus, ia sudah pandai Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam), ha-ha!"
Kata Thai-yang Suhu, akan tetapi biarpun mulutnya tertawa, dia sibuk sekali menghadapi rangkaian serangan yang hebat dari gadis itu sehingga dia harus melindungi dirinya dengan elakan dan tangkisan karena biarpun yang menyerangnya hanya seorang wanita muda, namun serangan dahsyat itu dapat membahayakan dirinya.
Gadis itupun tidak mau memberi hati dan ia menyerang semakin gencar sehingga pendeta itu harus mengakui akan kelihaian Pek Lan.
Dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba saja pendeta itu lenyap dari pandang mata Pek Lan, berubah menjadi asap hitam!
Selagi ia kebingungan, pinggulnya ada yang mencolek dari belakang.
"Pek Lan, pinceng di sini!"
Pek Lan terkejut dan juga mendongkol atas kegenitan sahabat subonya itu, ia membalik dan kakinya mencuat dalam tendangan kilat.
Hampir saja Thai-yang Suhu terkena tendangan itu.
Untung dia cepat menarik tangannya dan mengelak dan sebelum Pek Lan melanjutkan serangannya, kembali dia berubah menjadi asap hitam dan lenyap.
"Wah, kalau paman menggunakan ilmu siluman begini, aku mengaku kalah!"
Teriak Pek Lan yang tidak ingin lagi tangan paman yang nakal itu mencolak-colek tubuhnya. Asap hitam menghilang dan Thai-yang Suhu kelihatan kembali.
"Ha-ha-ha engkau sungguh hebat, Pek Lan, mampu mendesak pinceng. Akan tetapi, lihat baik-baik, pinceng telah menjadi raksasa, apakah engkau masih berani melawan?"
Pek Lan memandang dan ia terbelalak karena melihat pendeta itu kini benar saja telah berubah menjadi tinggi sekali, sehingga ia sendiri hanya setinggi lututnya!
Tentu saja ia menjadi gentar dan ia memberi hormat sambil berkata.
"Aku tidak berani...."
That Yang Suhu tertawa dan dia kembali menjadi normal. Terdengar Hek-in Kui-bo terkekeh.
"Thai-yang, engkau seperti anak kecil saja, menakut-nakuti muridku. Nah, Pek Lan, kau lihat, dia pandai sekali ilmu sihir! Dia datang untuk mohon bantuanku, akan tetapi karena aku sudah tua, aku wakilkan padamu."
Pek Lan mangerutkan alisnya, menyesal mengapa subonya menyanggupi untuk membantu pendeta ini, bahkan sudah mengambil keputusan untuk menyuruh ia mewakilinya.
Kalau subonya yang memerintahkan, tentu saja ia tidak dapat menolak lagi.
"Bantuan yang bagaimana, Subo? Apakah yang harus kulakukan?"
"Ha-ha-ha, tidak berat dan tidak sukar, Pek Lan, apa lagi untukmu yang memiliki tenaga hebat, kecepatan kilat dan kepandaian setinggi langit! Bahkan pinceng lihat hanya engkaulah yang akan mampu melaksanakan tugas ini sebaiknya. Tugas yang mudah sekali. Kami dari Pek-lian-kauw membutuhkan penambahan pelayan, yaitu gadis-gadis remaja dari dusun-dusun sebanyak lima belas orang. Kita akan memilih dari dusun-dusun dimana ada gadis remaja yang bersih dan cantik, dan engkau bertugas untuk menculik mereka itu seorang demi seorang."
Pek Lan mengerutkan alisnya. Memang bukan tugas yang sukar, akan tetapi hatinya merasa tidak puas mengapa ia yang ditunjuk untuk membantu pendeta ini.
"Akan tetapi, mengapa mesti aku....?"
Bantahnya.
"Pek Lan, aku pernah berhutang budi kepada Thai-yang Suhu ini, dan sekarang ada kesempatan bagiku untuk membalasnya. Aku sudah menyanggupinya dan aku sudah menunjuk engkau untuk mewakili aku. Apakah engkau akan mengatakan bahwa engkau tidak sanggup mewakiliku?"
Guru itu mendesak sedemikian rupa, sehingga tidak ada kesempatan bagi Pek Lan untuk mengelak lagi.
Akan tetapi, ia teringat akan ilmu aneh dari pendeta itu tadi.
Menghadapi ilmu aneh seperti itu, apa artinya ilmu silatnya?
Tiba-tiba ia mendapatkan akal.
"Paman Thai-yang Suhu, aku sanggup untuk membantumu sampai berhasil baik, akan tetapi untuk itu ada syaratnya yang kuharap paman akan dapat memenuhinya."
"Ha-ha-ha, anak manis, apakah syaratmu itu? Hadiah apa yang kau minta?"
"Aku mau mewakill subo membantu paman sampai berhasil mengumpulkan lima belas orang gadis dusun yang dibutuhkan Pek-lian-kauw, akan tetapi dengan imbalan bahwa paman akan mengajarkan ilmu sihir yang aneh kepadaku."
Mendengar permintaan ini, sepasang mata Thai-yang Suhu terbelalak, akan tetapi sepasang mata itu lalu menjelajahi wajah dan tubuh Pek Lan, dan diapun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Kui-bo. Muridmu ini memang cerdik dan menyenangkan sekali. Permintaanmu itu memang sudah pantas! Dan pinceng bukanlah seorang yang pelit, apalagi terhadap seorang gadis cantik manis yang cerdik seperti engkau, masih keponakanku sendiri pula dan yang akan membantu pinceng. Ha-ha-ha, memang hidup ini harus meminta dan memberi, pinceng akan mengajarkan beberapa macam ilmu sihir kepadamu, Pek Lan, asalkan engkau suka mentaati segala perintahku, memenuhi segala permintaanku. Bagaimana, sanggupkah engkau?"
Pek Lan yang merasa girang sekali mendengar bahwa ia akan menerima pelajaran ilmu sihir, tanpa ragu lagi menjawab, (Lanjut ke
Jilid 14) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Tentu saja aku sanggup, Paman Thai-yang Suhu!"
"Ho-ho-ho, sekali ini engkau terjebak oleh pamanmu yang selain lihai juga amat cerdik, Pek Lan! Engkau berjanji akan memenuhi semua permintaannya! Engkau lupa bahwa engkau seorang wanita muda yang amat cantik jelita dan menarik, sedangkan Thai-yang Suhu ini adalah seorang laki-laki yang hatinya masih muda dan dulu dia amat tampan, digilai banyak wanita. Ha-ha-hi-hik!"
Mendengar ucapan subonya, Pek Lan memandang kepada pria gundul yang memang tampan itu, dan wajahnya berubah kemerahan.
Tentu saja ia mengerti apa maksud subonya, akan tetapi kalau benar tokoh Pek-lian-kauw itu menghendaki apa yang dimaksudkan subonya, iapun tidak berkeberatan!
Kalau burung berkelompok karena persamaan bulunya, manusia berkelompok karena persamaan selera dan cara hidupnya.
Kalau sekelompok orang sama-sama menjadi hamba nafsu, tentu mereka dapat menjadi akrab dan bersahabat.
Kegemaran mereka sejalan dan sama, yaitu pemuasan nafsu dan pengejar kesenangan.
Celakah orang yang hidup sebagai hamba nafsunya sendiri, tanpa menyadari bahwa nafsu yang menyuguhkan segala macam kesenangan itu sesungguhnya merupakan musuh yang paling jahat, yang akan dapat menyeret para hambanya ke dalam lembah duka dan kesengsaraan.
Kenyataan ini bukan berarti bahwa nafsu adalah sesuatu yang amat buruk dan harus dilenyapkan dari diri kita.
Sama sekali tidak!
Nafsu sudah ada semenjak kita lahir.
Nafsu, karena itu, juga merupakan anugerah Tuhan.
Tuhan telah mengikutkan nafsu kepada kita sejak lahir, seperti juga mengikutkan hati, perasaan, pikiran dan semua anggauta badan kita.
Seperti juga yang lain itu, nafsu hanya merupakan pelengkap, merupakan alat, bahkan alat hidup yang penting sekali.
Tanpa adanya nafsu, kita tidak mungkin dapat hidup.
Nafsulah yang membuat kita bergairah, untuk bekerja, untuk makan, untuk minum, bahkan dalam setiap panca indera kita, nafsu mendatangkan kenikmatan dalam mendengar, melihat, mencium dan sebagainya.
Nafsu pula yang mendorong manusia untuk saling menghubungi lawan jenisnya sehingga manusia dapat berkembang biak.
Sesungguhnyalah, nafsu merupakan alat yang teramat penting dan baik, nafsu merupakan hamba yang amat setia dan berguna.
Akan tetapi, daya-daya rendah kebendaan, yaitu ikatan kita dengan segala macam benda ciptaan manusia sendiri, daya rendah tumbuh-tumbuhan dan hewam yang memasuki tubuh kita melalui makanan, daya rendah jasmani yang menimbulkan ikatan antar manusia dalam hubungannya, semua itu saling berlomba melalui nafsu untuk menjadi majikan atas diri manusia.
Dan nafsu yang dapat menjadi hamba paling baik itu, sekali dibiarkan menjadi majikan, akan memperbudak kita.
Jiwa yang merupakan unsur paling murni di dalam diri, tertutup dan tidak berdaya sehingga diri sepenuhnya dikuasai oleh nafsu.
Setiap pikiran, kata-kata dan perbuatan kita bergelimang nafsu!
Dan betapapun manusia berusaha untuk membersihkan diri dari nafsu, untuk membebaskan diri dari cengkeraman nafsu yang memperbudak kita, semua usaha itu akan sia-sia dan gagal.
Karena usaha itu adalah hasil dari pikiran yang sudah bergelimang nafsu pula.
Tidak mungkin pikiran yang bergelimang nafsu ini membersihkan pikiran sendiri dari nafsu.
Usaha itu masih berputar di dalam lingkaran yang dikuasai nafsu.
Hanya kekuasaan yang berada di luar lingkaran itu sajalah yang akan mampu membebaskan kita.
Dan kekuasaan itu adalah kekuasaan mutlak, yaitu kekuasaan Tuhan!
Karena nafsu merupakan ciptaan Tuhan, maka kekuasaan-Nya sajalah yang akan mampu mengatur, akan mampu membersihkan jiwa dari gelimangan nafsu, dan akan mampu membuat nafsu menduduki tempat yang semestinya, yaitu sebagai alat hidup manusia, bagaikan kuda penarik yang jinak dan penurut, bukan liar dan binal!
Dan kekuasaan Tuhan pasti akan bekerja selama kita tidak mengagungkan diri sendiri yang sesungguhnya rendah, menyombongkan kekuatan sendiri yang sesungguhnya lemah.
Kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau kita mawas diri, melihat kenyataan betapa kecil kita ini di hadapan kekuasaan Tuhan, kalau kita rendah hati lahir batin dan menyerah kepada Tuhan dengan ikhlas, tawakal dan sabar.
Demikianlah, semenjak saat itu, Pek Lan membantu Thai-yang Suhu, tokoh Pek-lian-kauw itu dan dengan ilmunya yang tinggi, Pek Lan membantu pendeta palsu itu menculiki gadis-gadis cantik dari dusun-dusun.
Di samping itu, Pek Lan menerima pula petunjuk dan pelajaran dari Thai-yang Suhu yang memenuhi janjinya, mengajarkan ilmu sihir kepada wanita cantik itu.
Sebaliknya, Pek Lan juga tidak melanggar janjinya dan dengan penuh kemesraan dan kepasrahan iapun menyerahkan dirinya melayani semua gairah nafsu tokoh Pek-lian-kauw itu.
Bahkan iapun merasa puas dan senang karena ternyata pria yang sudah berusia enam puluh tahun itu perkasa, bahkan tidak kalah oleh yang muda-muda.
"Sungguh aku merasa heran sekali, Pek Lan. Engkau gagal karena dihalangi oleh seorang pemuda yang bertubuh cacat, yang bongkok? Sungguh penasaran dan memalukan sekali!"
Demikian berkali-kali Thai-yang Suhu menegur pembantunya, juga kekasihnya itu.
Pek Lan mengerutkan alisnya dan mulutnya yang berbibir merah basah tanpa gincu itu cemberut.
"Hemm, mencela memang mudah! Aku bukan mengatakan bahwa aku kalah oleh setan bongkok itu, akan tetapi aku hanya mengatakan bahwa dia memang lihai sekali. Aku terpaksa melarikan diri bukan karena takut melawannya. Kami belum berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi, bagaimana aku akan bertindak nekat kalau ratusan orang penduduk berada di belakangnya?"
Thai-yang Suhu mengerutkan alisnya pula.
"Hemm, tentu si bongkok itu pula yang mengerahkan penduduk. Dan selama dia berada di sana dan menghasut penduduk untuk melawan kita, maka tentu akan sukar bagi kita untuk memenuhi jumlah gadis yang kita butuhkan. Sudah ada sembilan orang dan tinggal enam lagi saja, eh, tiba-tiba muncul setan bongkok itu. Kita harus melenyapkan perintang itu."
"Benar sekali, kalau si bongkok itu kita bunuh, tentu hati para penduduk menjadi gentar lagi dan mereka tidak akan berani lagi menentang kita,"
Kata seorang di antara Tibet Sam Sinto (Tiga Golok Sakti Tibet) itu.
Dua orang saudaranya mengangguk-angguk.
Pek Lan yang merasa panas hatinya karena ditegur Thai-yang Suhu tadi, mendengar ucapan Tibet Sam Sinto segera bangkit dan bertolak pinggang, lalu berkata dengan suara lantang.
"Sam Sinto, biar kalian bertiga yang menghadapi penduduk yang banyak akan tetapi lemah itu, dan biar aku yang akan menan-dingi si bongkok sampai dia mampus di tanganku!"
Tibet Sam Sinto tidak berani memandang rendah kepada wanita muda yang cantik manis itu karena mereka maklum betapa lihainya Pek Lan, mereka hanya mengangguk dan seorang di antara mere-ka berkata singkat.
"Jangan khawatir, nona. Kami akan membasmi penduduk yang berani menentang kita!"
"Hemm, kalian tidak boleh menuruti hati marah saja. Semua harus diatur dengan cermat agar jangan sampai gagal. Aku tidak biasa bekerja secara serampangan saja, harus menggunakan siasat yang matang,"
Kata Thai-yang Suhu.
Pada saat itu, seorang anak buah mereka muncul.
Anak buah ini tadi telah menerima tugas untuk menyelidiki keadaan dalam dusun Ngomaima, terutama sekali menyelidiki tentang si bongkok.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
Tanya Thai-yang Suhu.
Anak buah ini juga seorang anggauta Pek-lian-kauw yang terkenal cerdik dan juga memiliki gin-kang yang membuat dia mampu berlari cepat dan bergerak dengan gesit.
Setelah memberi hormat, anak buah itu lalu bercerita.
"TIdak ada yang mengetahui siapa nama si bongkok itu, Lo suhu. Orang menyebut dia Pendekar Bongkok, dan tak seorangpun mau mengaku ketika saya mencoba bertanya siapa namanya dan bagaimana riwayatnya. Yang jelas, dia bukan penduduk daerah ini, melainkan datang dari timur."
"Di mana dia sekarang dan bagaimana keadaan para penduduk dusun Ngomaima?"
Tanya pula Thai-yang Suhu tak sabar.
"Dia masih bermalam di rumah penginapan, akan tetapi penduduk kini melakukan penjagaan ketat dan puluhan orang melakukan penjagaan secara bergiliran."
"Hemm, aku tidak takut! Mari kita sekarang juga mencari si bongkok itu di rumah penginapan!"
Kata Pek Lan gemas.
"Tidak,"
Bantah Thai-yang Suhu.
"Sudah kukatakan, semua harus menggunakan rencana siasat. Jangan sampai kita memperlihatkan kelemahan seolah-olah takut kepada si bongkok dan para penduduk. Pek Lan, besok siang kita usahakan untuk memberi tanda merah lagi pada pintu rumah Gulamar, dan malam harinya, engkau culik puterinya!"
"Tapi, kalau mereka tahu, tentu mereka mengatur jebakan,"
Bantah Pek Lan.
"Ha-ha-ha, justeru itu yang kuhendaki. Biarlah mereka mengatur jebakan untukmu, akan tetapi mereka tidak tahu bahwa di belakangmu ada kami! Tibet Sam Sinto yang akan menghadapi orang-orang dusun bodoh itu, dan engkau menculik gadis itu. Kalau si bongkok muncul, kita hadapi berdua, dan jangan khawatir, aku melindungimu, Pek Lan."
Wanita muda itu mengangguk-angguk dan hatinyapun merasa tenang.
Kalau Thai-yang Suhu membantunya menghadapi si bongkok, ia hampir yakin bahwa mereka tentu akan mampu merobohkan Pendekar Bongkok itu.
Malam itu, Pek Lan berusaha keras untuk menyenangkan hati Thai-yang Suhu, sebagian untuk menebus kekurangannya karena kegagalan menculik puteri Gulamar, ke dua karena pendeta Pek-lian-kauw itu besok akan mem-bantunya.
Untuk memberi tanda darah kepada pintu keluarga hartawan itu, diserahkan kepada anak buah yang cekatan dan pandai menyamar.
Sie Liong berjalan dengan tenang mendaki bukit Onta yang penuh dengan hutan itu.
Biarpun belum yakin karena belum mendapatkan bukti, namun dia menduga keras bahwa tentu siluman yang suka menculik gadis itu bersembunyi di tempat yang ditakuti orang ini.
Sebuah tempat persembunyian yang baik.
Akan tetapi, siluman itu seorang wanita, dan mengapa ada wanita menculiki gadis-gadis cantik?
Tentu wanita siluman itu tidak sendiri dan mungkin terdapat banyak kawannya yang tentu saja berbahaya.
Maka, biarpun dia melangkah tenang, dia tak pernah lengah sedetikpun.
Mata dan telinganya menyelidiki keadaan di sekelilingnya.
Sikapnya yang amat hati-hati itu tidak menolongnya.
Semenjak dia mendaki Bukit Onta, setiap gerakannya sudah diikuti oleh banyak pasang mata.
Dia tidak tahu bahwa pendakiannya tadi kelihatan oleh anak buah Thai-yang Suhu yang segera melapor kepada perdeta Pek-lian-kauw itu.
Mendengar bahwa Pendekar Bongkok sudah datang berkunjung dan mendaki bukit, tentu saja hal ini tidak pernah disangka oleh Thai-yang Suhu yang cepat mempersiapkan diri.
Dia berunding dengan Pek Lan dan Tibet Sam Sinto, mengatur siasat.
Thai-yang Suhu, biarpun nampaknya seperti seorang pendeta, namun dia adalah pendeta dari aliran kebatinan yang sesat, oleh karena itu, dia tidak segan atau malu selalu bersikap curang.
Kalau dia gagah, tentu dijumpainya Pendekar Bongkok agar mereka dapat bertanding secara gagah pula.
Tidak, dia tidak ingin mengalami kerugian dan segalanya diperhitungkan demi keuntungan pihaknya.
Dia belum mengenal siapa Pendekar Bongkok, dari aliran mana dan bagaimana tingkat ilmu kepandaiannya.
Kalau memang Pendekar Bongkok pandai, mengapa tidak diusahakan dulu agar suka membantu dan bekerja sama dengan Pek-lian-kauw?
Kalau semua usaha itu gagal, baru terpaksa dibunuh!
Sie Liong menurutkan jalan setapak yang ditemukannya dalam hutan itu.
Ketika membelok di bagian tengah hutan, pada jalan menurun, tiba-tiba saja dia dihadapkan dengan sebuah telaga kecil yang amat indah dan amat jernih airnya.
Ada air terjun tak jauh dari situ, dan airnya membuat sungai kecil memasuki telaga.
Dari tempat dia berdiri, dia melihat pemandangan yang amat indah.
Tak disangkanya bahwa di bukit yang sunyi dan penuh hutan, yang ditakuti orang itu, terdapat tempat yang demikian indahnya.
Dia lalu menuruni jalan setapak itu, menghampiri telaga.
Terpesona dia berdiri di tepi telaga.
Air telaga demikian jernih, bagaikan kaca yang berada di depan kakinya demikian jernihnya sehingga dia dapat melihat batu-batu di dasarnya, juga melihat beberapa ekor ikan hilir mudik.
Di sebelah sana, di mana permukaan air digelapi bayang-bayang pohon, air itu seperti menelan semua pemandangan di atasnya.
Pohon, daun-daun, awan dan sinar matahari, semua tenggelam dan nampak sedemiktan jelasnya sehingga setiap helai daun pohon itupun nampak.
Tidak ada angin menggerakkan daun pohon, agaknya angin sudah ditangkis oleh pohon-pohon besar di sekeliling telaga itu.
Suara air membuat dia menoleh ke kiri dan untuk kedua kalinya dia terpesona!
Kalau tadi dia terpesona oleh keindahan telaga itu, kini dia terpesona oleh suatu keindahan yang lain lagi, keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!
Wanita itu masih muda, tidak lebih dari dua puluh empat tahun usianya.
Wajahnya cantik manis dengan bentuk bulat telur, dan gadis itu bertelanjang bulat sama sekali, Tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya yang masak dan padat.
Kulitnya demikian putih mulus dan karena dia tidak berdiri terlalu jauh, dan kebetulan sinar matahari menimpa tubuh telanjang itu, Sie Liong dapat melihat bulu-bulu halus lembut pada lengan dan kaki gadis itu, yang membuat ia menjadi semakin menarik.
Gadis itu duduk di atas batu dan dia melihatnya dari samping.
Dengan kedua kakinya, gadis itu menendang-nendang air dan itulah bunyi air yang tadi menarik perhatiannya.
Agaknya gadis itu tidak melihatnya, dan sedang asyik sendiri.
Dari keadaan terpesona, Sie Liong kini menjadi tersipu, merasa betapa dia telah bersikap tidak sepatutnya, melihat seorang gadis bertelanjang bulat seperti itu.
Wajahnya berubah merah dan diapun cepat membuang muka, bahkan lalu berdiri membelakangi gadis itu, kemudian melangkah pergi.
"Heiii....!"
Tiba-tiba Sie Liong mendengar suara gadis itu, disusul suara tubuh jatuh ke air.
Karena ingin tahu apa yang terjadi, Sie Liong menahan kakinya dan membalik, memamdang.
Gadis itu agaknya tadi melihat dia dan terkejut lalu terjun ke air di dekat batu yang tadi didudukinya.
Kini gadis itu berdiri sepinggang dalam air, dan nampak dadanya yang berbentuk indah.
"Heii, siapakah engkau? Apakah engkau hendak mandi? Marilah, kita boleh mandi bersama. Di sini tidak ada orang lain!"
Kedua pipi Sie Liong menjadi semakin merah dan dia mengerutkan alisnya, lalu cepat membalikkan tubuh lagi, tidak mau memandang dada indah dan wajah manis itu terlalu lama, bahkan dia lalu pergi tanpa banyak bicara lagi.
Gadis itu sungguh tidak tahu malu, pikirnya.
Tidak bersusila, sudah tidak malu dilihat pria dalam keadaan bertelanjang, bahkan mengajak mandi bersama!
Seperti bukan seorang wanita biasa!
Pantasnya wanita itu siluman!
Siluman Merah!
Sie Liong merasa betapa jantungnya berdebar dan dia memperlambat langkahnya.
Kini terdengar gadis itu kembali bicara, dan nada suaranya amat menyesal penuh teguran.
"Engkau ini orang macam apakah? Disapa baik-baik tidak mau menjawab! Selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang manusia sesombong engkau! Aku ingin sekali bicara denganmu, dan siapa tahu, aku dapat memberi keterangan padamu! Bukankah engkau mencari seseorang di sini?"
Mendengar ucapan ini, kembali untuk ke dua kalinya Sie Liong menahan langkahnya, akan tetapi dia tidak mau menoleh atau membalikkan tubuhnya.
Mungkin saja gadis ini siluman merah yang juga seorang wanita, pikirnya, walaupun dugaan ini dia bantah sendiri.
Tak mungkin!
Siluman merah itu orang berilmu tinggi, dan yang di belakangnya ini hanya seorang gadis muda yang cantik manis, sukar dipercaya kalau memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dan andaikata bukan siluman aerah, siapa tahu gadis ini dapat memberi keterangan di mana tempat persembunyian siluman merah.
"Aku bukan orang sombong. Kalau engkau berpakaian dengan sopan, tentu aku akan suka bicara dengan nona. Engkau berpakaianlah lebih dulu!"
"Hi-hi-hik!"
Gadis itu tertawa, suara ketawanya merdu, tidak dibuat-buat dan bebas lepas.
"Kiranya engkau seorang yang sopan santun, ya? Bersusila tinggi, ya? Apa sih salahnya bertelanjang bulat? Bukankah ketika engkau dan aku terlahir, kita juga bertelanjang bulat? Bukankah manusia baru kelihatan keasliannya dan keindahan tubuhnya kalau bertelanjang bulat? Baiklah, aku akan berpakaian dulu. Awas, jangan mengintai kau, seperti kebanyakan laki-laki, mulutnya bersopan-sopan, akan tetapi matanya mencuri-curi, hi-hi-hi!"
Sie Liong merasa mendongkol juga.
Gadis ini aneh sekali, akan tetapi ejekannya tadi memang mengena!
Dia mendengar suara berkeresekan, dan biarpun matanya tidak melihat, namun pendengarannya yang tajam terlatih dapat membuat dia tahu bahwa gadis itu memang benar kini sedang mengenakan pakaian.
"Nah, aku sudah selesai berpakaian. Kaulihat, apakah aku lebih baik kalau berpakaian dari pada kalau bertelanjang? Lihat baik-baik!"
Karena dari pendengarannya tadi dia sudah yakin bahga gadis itu kini sudah berpakaian, Sie Liong lalu membalikkan tubuhnya.
Gadis itu memang cantik menarik bukan main.
Sayang pandang matanya dan senyumnya, walaupun manis dan amat memikat, mengandung kegenitan dan kecabulan!
GadiS itu tersenyum.
"Engkau orang aneh, tubuhmu juga aneh, akan tetapi wajahmu tampan dan engkau nampak begitu kuat! Hemm, aku ingin sekali bicara denganmu!"
Berkata demikian, gadis itu lalu melangkah dari batu ke batu untuk menuju ke tepi di mana Sie Liong berdiri.
Gadis itu melangkah dengan agak sukar dan hal ini saja membuktikan bahwa ia tidak pandai silat, atau andaikata bisapun kepandaiannya tentu masih rendah sekali.
Ketika dari batu terakhir ia melompat ke tanah yang jaraknya hanya satu meter dan agaknya lebih tinggi dari batu itu, ia meloncat dengan kaku dan tak dapat dicegah lagi, kakinya terpeleset dan iapun jatuh miring di atas tanah.
"Aduhhhh.... aduh, kakiku.... sakit....!"
Gadis itu mengeluh dan berusaha untuk bangkit duduk, akan tetapi tidak dapat dan ia mencoba untuk menyentuk kakinya di tumit, juga tidak dapat.
Sie Liong mengerutkan alisnya.
Sejak tadi dia waspada.
Gadis ini demikian muda dan cantik, dan berada seorang diri saja di tempat yang sunyi dan liar ini.
Padahal, para penduduk, biar pemburu yang gagah berani sekalipun, tidak berani mendaki Bukit Onta ini.
Hal ini saja membuktikan bahwa gadis ini tentu memiliki sesuatu yang membuat ia berani berada seorang diri di tempat berbahaya ini.
Dan tadi, dia menduga bahwa gadis itu agaknya hendak merayunya lewat tubuhnya yang menggairahkan, dan lewat kegenitannya yang mengajak mandi bersama.
Ketika rayuan itu tidak mendapat tanggapon, gadis ini mungkin saja sengaja membuat dirinya jatuh agar dia mau menolongnya.
Dalam keadaan seperti itu, tentu saja dia dapat lengah.
"Aduh, tolong....! Apakah selain sombong, engkau juga begitu kejam sehingga tidak mau menolong seorang wanita yang terjatuh dan terkilir kakinya? Aduhh....!"
Gadis itu kini menjulurkan lengan kirinya ke arah Sie Liong, minta bantuan agar pemuda itu suka menolongnya bangkit.
Sie Liong tersenyum, lalu menghampiri dan menggunakan tangan kanan untuk memegang tangan kiri yang dijulurkan itu.
Dia kelihatan sama sekali tidak menaruh curiga dan seperti orang yang benar hendak membantu gadis itu bangkit duduk.
Lunak dan hangat terasa olehnya ketika tangannya bersentuhan dengan telapak tangan yang putih mulus itu.
Gadis itu lalu bangkit duduk, bahkan sambil masih berpegang kepada tangan Sie Liong, ia berdiri, agak terhuyung dan di lain saat ia sudah merangkul leher Sie Liong dan merapatkan pipinya di dada Pendekar Bongkok!
Sie Liong mencium bau yang harum keluar dari rambut dan leher gadis itu.
Jantungnya berdebar dan tubuhnya tergetar karena betapapun juga, darah mudanya bergolak ketika tubuh yang hangat itu merapat pada tubuhnya.
Akan tetapi, dia segera teringat bahwa hal itu tidak selayaknya, maka diapun melangkah mundur merenggangkan diri sambil melepaskan tangan gadis itu, juga melepaskan lengan yang merangkul lehernya.
Dan pada saat itu, tiba-tiba sekali, dari jarak yang amat dekat, gadis itu menggerakkan tangannya, dengan jari-jari terbuka, tangan itu menotok ke arah perut Sie Liong!
Dahsyat bukan main serangan ini dan jari-jari tangan itu sudah terisi tenaga dalam yang amat jahat, karena telapak tangan itu berubah menghitam.
Gadis itu telah mempergunakan pukulan maut!
"Huhh....!"
Sie Liong dapat mengelak sambil menangkis dari samping.
"Hyaatt....!"
Pek Lan, gadis cantik itu, menyusulkan cengkeraman ke arah leher, namun kembali Sie Liong dapat mengelak dengan melangkah mundur dan menangkis lengan yang bergerak ke arah lehernya.
Pek Lan merasa penasaran sekali, kakinya bergerak menendang ke arah bawah pusar lawan!
"Hemm, keji sekali....!"
Pendekar Bongkok berseru dan tubuhnya melayang ke belakang.
Tendangan itupun luput!
Sie Liong berdiri dan bertolak pinggang, tersenyum pahit, lalu berkata dengan nada suara mengejek.
"Bagus sekali, kiranya selain kejam dan melakukan kejahatan aneh menculiki gadis-gadis, engkau juga masih pandai melakukan perbuatan curang!"
Pek Lan memandang dengan mata terbelalak.
Tak disangkanya bahwa Pendekar Bongkok sedemiktan lihainya.
Bukan hanya tidak dapat dirayunya, juga tidak mudah ditipu dengan pura-pura jatuh tadi.
Dan dia hanya seorang pemuda yang tubuhnya cacat, bongkok dan nampaknya lemah!
"Bagaimana....
kau bisa tahu?"
Tanyanya, menahan rasa penasaran dan kemarahan saking herannya.
"Engkau seorang gadis muda berada seorang diri di tempat seperti ini membuktikan bahwa engkau tentulah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian. Pakaianmu demikian mewah, hal ini membuktikan bahwa engkau tentu bukan pendatang dari luar hutan, melainkan mempunyai tempat tinggal di dalam hutan. Dan siluman merah yang bertemu dengan aku semalam seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi. Ketika engkau gagal menggunakan siasat menjatuhkan kelemahanku sebagai pria, engkau lalu berpura-pura jatuh. Aku sudah curiga dan siap siaga, maka beberapa seranganmu yang masih mentah itu tentu saja dapat kuhindarkan."
"Jahanam sombong, sekarang juga engkau akan mampus di tanganku!"
Berteriak demikian, Pek Lan lalu menerjang dengan gerakan cepat, kedua tangannya melakukan serangan bertubi-tubi.
Melihat betapa kedua telapak tangan gadis itu berubah menghitam, maklumlah Sie Liong bahwa dia menghadapi seorang gadis golongan sesat yang menguasai ilmu sesat pula.
Diam-diam dia menyayangkan sekali bahwa seorang gadis muda yang begini cantik ternyata menjadi seorang wanita sesat yang genit, cabul dan juga amat jahat.
Maka, diapun cepat mengerahkan sin-kangnya dan sambil mengelak atau kadang-kadang menangkis, diapun membalas dengan tamparan-tamparan tangan yang amat mantap dan dahsyat.
Setelah mereka saling serang selama belasan jurus, terkejutlah Pek Lan.
Bukan saja semua serangannya yang dahsyat itu tak pernah berhasil, bahkan kalau pemuda bongkok itu menangkis, dia merasa betapa lengannya nyeri, tulangnya serasa retak dan tubuhnya tergetar hebat!
Dan kalau pemuda itu membalas, angin pukulannya menyambar seperti angin badai yang membuat ia semakin gentar saja.
Tidak berani ia menangkis, tidak berani mengadu tenaga karena ia tahu bahwa tenaga sin-kangnya kalah kuat.
Juga penggunaan hawa beracun agaknya tidak ada gunanya karena kedua tangan pemuda itu dilindungi semacam uap putih yang membuat uap hitam dari telapak tangannya membuyar bahkan membalik!
Ia tidak tahu bahwa pemuda lawannya itu memiliki ilmu Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih) yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada ilmunya yang disebut Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam).
Teringatlah Pek Lan akan ilmu sihir yang diajarkan oleh Thai-yang Suhu kepadanya, maka diam-diam, sambil sibuk mengelak berloncatan untuk menghindarkan hujan tamparan dari Sie Liong, ia berkemak-kemik membaca mantera, pandang matanya bagaikan dua ujung pedang yang disatukan seperti menembus dahi Pendekar Bongkok di antara alisnya, kemudian tiba-tiba ia membentak nyaring.
"Pendekar Bongkok, menyerah dan berlututlah engkau!"
Sie Liong terkejut sekali, ketika merasa betapa ada tenaga luar biasa yang seolah-olah memaksanya untuk menyerah dan berlutut.
Akan tetapi dia adalah seorang pemuda gemblengan yang sudah menerima banyak petunjuk dari Pek-sim Sian-su, bagaimana menghadapi ilmu-ilmu sihir dari kaum sesat.
Diapun cepat menahan napas mengerahkan khi-kang dan pengaruh yang memaksanya itu buyar.
Akan tetapi dia menahan senyum dan pura-pura menjatuhkan diri berlutut seolah-olah dia terpengaruh oleh sihir yang dilakukan gadis itu!
Melihat lawannya benar-benar berlutut, Pek Lan girang bukan main akan hasil ilmu sihirnya itu.
Ia tahu bahwa lawannya ini amat berbahaya, dan tidak mudah ditundukkan dengan pengaruh ke-cantikan wajah dan keindahan tubuhnya, maka baginya tidak ada gunanya, bahkan membahayakan saja.
Maka iapun lalu menubruk ke depan dan kedua tangannya, dengan jari-jari membentuk cakar harimau, menyambar ke arah ubun-ubun kepala Pendekar Bongkok.
"Haiiiittt....!"
Pendekar Bongkok tiba-tiba membentak, kedua tangannya mendorong ke depan dan bagaikan sebuah layang-layang yang putus talinya, tubuh Pek Lan melayang ke belakang lalu terbanting jatuh!
Untung bahwa Pendekar Bongkok tidak bermaksud membunuhnya, maka Pek Lan tidak tewas, bahkan tidak terluka parah, hanya terbanting keras, membuat pinggulnya yang montok itu terasa nyeri bukan main.
Ia meloncat bangun, menggosok-gosok pinggul yang tadi terbanting sambil meringis kesakitan.
Akan tetapi, kemarahannya memuncak dan tanpa banyak cakap lagi, iapun sudah mencabut pedangnya dan sambil mengeluarkan lengkingan panjang, Ia menyerang Pendekar Bongkok dengan pedangnya.
Kalau saja Sie Liong menghendaki, pukulan dahsyat Pay-san-ciang (Tangan Menolak Gunung) tadi sudah cukup untuk membunuh Pek Lan.
Akan tetapi, dia tidak bermaksud membunuh orang.
Bagaimanapun juga, siluman merah itu belum diketahui apa sebenarnya yang menjadi latar belakang perbuatannya menculik gadis-gadis itu.
Kini, melihat betapa wanita itu menjadi semakin nekat dan menyerangnya dengan pedang, dengan permainan pedang yang cukup berbahaya, dia-pun mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, mengelak sambil berloncatan dan berkali-kali tubuhnya berkelebatan di sekeliling lawannya, membuat gadis itu menjadi bingung dan pening.
Ia merasa seolah melawan bayangan saja, demikian cepatnya gerakan Pendekar Bongkok.
"Hentikan seranganmu, atau terpaksa aku akan merobohkanmu. Kembalikan semua gadis yang telah kauculik, dan aku akan memaafkanmu!"
Pendekar Bongkok berseru beberapa kali, namun sebagai jawabannya, Pek Lan menyerang semakin ganas saja.
Sie Liong menjadi marah.
Gadis ini terlalu ganas dan berhati kejam, kalau tidak diberi hajaran keras tentu tidak akan mau tunduk.
Ketika pedang itu untuk ke sekian kalinya meluncur ke arah dadanya, Pendekar Bongkok mengelak dengan miringkan tubuh dan menarik tubuh atas ke belakang, lalu tangannya dengan cepat sekali menotok ke atas pundak kanan Pek Lan.
"Tukkk!"
Pek Lan merasa lengannya lumpuh dan pedang itu terlepas dari pegangannya, akan tetapi dengan gerakan memutar, ia menubruk ke arah Pendekar Bongkok dan tanpa malu-malu lagi tangannya yang membentuk cakar itu mencengkeram ke arah bawah pusar pemuda bongkok itu!
"Ihh....!"
Sie Liong meloncat ke belakang dan mukanya berubah merah.
Wanita ini sungguh tidak tahu malu sama sekali!
Dia melompat ke belakang bukan karena takut melainkan karena malu.
Namun baru dia tahu bahwa serangan mencengkeram ke arah bawah pusarnya tadi hanya merupakan gertakan saja karena kini Pek Lan sudah menyambar kembali pedangnya yang tadi terlepas.
Serangan itu dipergunakan hanya untuk dapat merampas kembali pedang yang sudah lepas dari tangan.
Wanita itu kini maklum benar bahwa Pendekar Bongkok sungguh amat lihai.
Namun, ia masih merasa penasaran, apalagi mengingat bahwa ada teman-temannya yang tentu akan membantunya.
Benar saja, ketika ia menerjang lagi, tiba-tiba bermunculan tiga orang Tibet Sam Sinto yang sejak tadi hanya mengintai sambil menonton saja dan baru mereka muncul dan membantu Pek Lan setelah menerima perintah dari Thai-yang Suhu.
Tokoh Pek-lian-kauw ini tidak segera memberi perintah membantu Pek Lan karena dia ingin memperhatikan gerakan ilmu silat Pendekar Bongkok dan untuk mengujinya sampai di mana kelihaian pemuda bongkok itu.
Diam-diam dia terkejut juga menyaksikan kelihaian Pendekar Bongkok yang membuat Pek Lan tidak berdaya.
Setelah gadis itu terdesak hebat dan terancam bahaya, barulah dia memberi isarat kepada Tibet Sam Sinto untuk maju membantu.
Melihat munculnya tiga orang laki-laki tinggi besar yang masing-masing memegang sebatang golok melengkung dan gerakan mereka aneh, Sie Liong dapat menduga bahwa mereka tentulah jagoan-jagoan dari Tibet.
Hal ini dapat diketahuinya dari gaya gerakan tubuh mereka.
Dia sudah banyak mendengar dari para gurunya, yaitu Himalaya Saw Lojin dan juga Pek-sim Sian-su tentang ilmu silat Tibet yang bercampur dengan gaya silat gulat, semacam ilmu silat yang mengandalkan cengkeraman, tangkapan, dan bantingan.
Akan tetapi, perhatian Sie Liong bukan sepenuhnya kepada tiga orang ini.
Dia menduga bahwa tentu masih ada musuh lain yang bersembunyi seperti tiga orang tinggi besar tadi yang bersembunyi di balik semak-semak.
Dia tadi tidak mendengar kedatangan mereka, hal itu hanya berarti bahwa sejak tadi mereka memang berada di situ, bersembunyi.
Dia telah terjebak!
Semua siasat yang dilakukan wanita cantik itu merupakan siasat mereka.
Mungkin sejak dia mendaki Bukit Onta, gerak-geriknya tentu telah diikuti pihak musuh.
Ketika mendengar bunyi berkeresek di atas pohon besar, tiba-tiba Sie Liong mengeluarkan lengkingan panjang dan sebelum Pek Lan dan Tibet Sam Sinto sempat menyerangnya, tubuhnya sudah melayang naik ke arah pohon di mana dia tadi mendengar daun berkeresekan.
Melihat bayangan manusia di dalam pohon itu, Sie Liong meloncat sambil menyerang dengan dorongan telapak tangannya.
Orang itu ternyata seorang kakek tinggi besar pula yang berkepala gundul dan berpakaian pendeta.
Melihat Sie Liong meloncat ke atas pohon dan menyerangnya, kakek itu yang bukan lain adalah Thai-yang Suhu, menjadi terkejut dan cepat menangkis.
"Dukk!"
Keduanya terdorong keras dan terpaksa keduanya melompat turun dari atas dahan pohon.
Ketika tubuhnya terdorong dan terpaksa meloncat turun, tangannya menyambar sebatang ranting sebesar lengannya dan ranting itu patah dan terbawa turun.
Lega rasa hati Sie Liong setelah dia memperoleh senjata itu, sebatang ranting yang panjangnya satu setengah meter, cukup kuat dan lentur.
Di lain pihak, Thai-yang Suhu terkejut setengah mati.
Tadi ketika dia menangkis, ia mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya.
Biarpun pemuda bongkok itu terpaksa meloncat turun, dia sendiripun harus meloncat turun karena tubuhnya terpental dan seluruh lengannya yang menangkis tadi terasa dingin sekali!
Dia tidak tahu bahwa pemuda itu tadi mengerahkan ilmu Swat-liong-ciang (Ikmu Silat Naga Salju) yang membuat kedua lengannya dipenuhi sin-kang yang dingin sekali.
Kini Sie Liong berdiri di tengah, dikepung oleh lima orang itu.
Melihat keadaan kakek pendeta itu, Sie Liong segera mengenal gambar teratai putih, Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang tokoh Pek-lian-kauw, dan mengertilah dia kini mengapa gadis cantik itu menculiki gadis-gadis dusun yang cantik.
Dia sudah sering mendengar tentang sepak terjang aliran agama sesat Pek-lian-kauw yang bersembunyi di balik kedok perjuangan membela rakyat!
Sebuah perkumpulan di mana orang-orangnya mempelajari ilmu silat dan ilmu sihir, dan di mana seringkali terjadi kecabulan karena orang-orang Pek-lian-kauw merupakan hamba nafsu, terutama sekali nufsu berahi.
Dia sering kali mendengar bahwa Pek-lian-kauw mempunyai banyak murid atau anak buah wanita-wanita muda yang cantik.
Tentu perawan-perawan dusun itu akan dijadikan anak buah, bukan saja membantu kekuatan Pek-lian-kauw, akan tetapi mereka dijadikan tenaga hiburan bagi para pimpinan Pek-lian-kauw!
"Hemm, kiranya Pek-lian-kauw yang berdiri di belakang penculikan para gadis itu!"
Kata Sie Liong sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, tongkat ranting pohon itu berada di tangannya dan berdiri di depannya, dengan daun-daun yang masih memenuhi ranting kecil yang mencuat ke kanan kiri.
Thai-yang Suhu yang kini tidak berani memandang rendah lawannya, segera melangkah maju, sepasang pedang sudah dicabutnya dari balik jubah.
Dia menudingkan pedang kiri ke arah muka Sie Liong dan terdengar suaranya yang berwibawa.
"Orang muda, siapakah engkau se-sungguhnya? Selamanya belum pernah kami mendengar tentang seorang yang disebut Pendekar Bongkok, dan mengapa pula memusuhi kami dan menghalangi pekerjaan kami! Bicaralah, orang muda. Pinceng adalah Thai-yang Suhu, mereka ini adalah Tibet Sam Sinto, dan nona itu adalah nona Pek Lan, murid terkasih dari Hek-in Kui-bo. Nah, engkau lihat, engkau berhadapan dengan lima orang yang memiliki nama besar di dunia kang-ouw, oleh karena itu, sungguh tidak bijaksana bagimu kalau engkau memusuhi kami. Bukankah lebih baik kalau kita bekerja sama?"
Mendengar ucapan itu, Sie Liong mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mencorong penuh kemarahan.
Tokoh sesat ini menawarkan kerja sama dengan dia, berarti mengajak dia menjadi seorang penjahat!
"Thai-yang Suhu, engkau seorang yang berpakaian pendeta, akan tetapi ternyata kependetaanmu itu hanya kedok saja, seperti srigala berkedok domba.
Aku bernama Sie Liong, tentang nama julukan itu, terserah yang menyebutku.
Memang aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, akan tetapi aku adalah musuh besar dari semua perbuatan jahat!
Kalian telah menculik sembilan orang gadis-gadis dusun.
Nah, kalau kalian tidak menghendaki pertentangan dengan aku, kalau menghendaki kerjasama, bebaskanlah sembilan orang gadis itu, dan akupun tidak akan mengganggu kalian lagi, kecuali kalau lain kali aku melihat kalian melakukan kejahatan lagi!"
"Bocah bongkok keparat sombong! Toasuhu, kenapa banyak bicara dengan bocah sombong ini? Biar kami habiskan dia!"
Bentak seorang di antara Tibet Sam Sinto dan mereka bertiga sudah marah sekali, sudah siap dengan golok mereka.
Akan tetapi Thai-yang Suhu memberi isarat agar para pembantunya itu jangan bergerak dulu.
Lalu dia merogoh sesuatu dari dalam saku jubahnya, melontarkan benda sebesar kepalan tangan ke atas, ke arah Pendekar Bongkok sambil membentak lebih dulu dengan suara parau.
"Orang she Sie, lihat apakah engkau mampu menandingi seekor naga berapi!"
Sungguh hebat!
Benda yang dilontarkan tadi seketika berubah menjadi asap hitam dan dari dalam asap hitam itu muncullah seekor naga menyemburkan api, bahkan tubuhnya juga bernyala.
Naga itu terbang ke atas lalu dari atas menyambar turun ke arah tubuh Sie Liong!
Namun, Pendekar Bongkok ini yang tadinya juga terkejut, cepat menahan napas den mengerahkan tenaga khi-kang, lalu mengangkat tangan kirinya ke atas.
"Kekuasaan iblis takkan pernah mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan lewat manusia!"
Dan tangan kirinya itupun dengan pengerahan sin-kang Pek-in Sin-ciang yang membuat tangan kiri mengeluarkan uap putih, mendorong ke arah naga api.
Terdengar suara keras dan naga itupun lenyap, dan nampak benda sekepal tadi runtuh ke depan kaki Thai-yang Suhu.
Ternyata benda itu adalah sebuah tengkorak manusia yang amat kecil, seperti tengkorak bayi saja!
Thai-yang Suhu terbelalak, menyambar benda itu dan mengantunginya lagi, akan tetapi pada saat dia mengambil benda itu, tengkorak kecil itu hancur berkeping-keping.
Ternyata benda yang tadi berubah menjadi naga itu tidak kuat menahan pukulan jarak jauh Pendekar Bongkok dan sudah retak-retak maka ketika dipungut oleh pemiliknya, hancur berantakan.
Thai-yang Suhu mengeluarkan teriakan marah dan diapun menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang ke arah Pendekar Bongkok.
Pada saat itu, Pek Lan juga menggerakkan pedangnya, berbareng dengan Tibet Sam Sinto yang sudah pula menggerakkan golok mereka.
Sie Liong mengeluarkan teriakan melengking dan menggerakkan ranting di tangannya.
Sekali memutar ranting itu, nampak banyak sekali sinar hijau beterbangan menyerang ke arah lima orang pengeroyoknya!
Lima orang itu yang sudah siap menyerang, bahkan sudah menggerakkan senjata, terkejut ketika tiba-tiba melihat sinar-sinar hijau menyambar ke arah mereka.
Cepat mereka menggerakkan senjata yang diputar di depan tubuh untuk menangkis karena mereka mengira bahwa Pendekar Bongkok mempergunakan senjata rahasia.
Ketika sinar-sinar hijau itu runtuh, ternyata "senjata rahasia"
Itu adalah daun-daun yang tadi menempel pada ranting.
Kini di tangan Pendekar Bongkok hanya tinggal sebatang tongkat.
Melihat betapa pemuda bongkok itu dapat mempergunakan daun-daun sebagai senjata rahasia yang mereka rasakan amat kuat dan berbahaya, lima orang itu terkejut dan makin maklum bahwa Pendekar Bongkok ini, biar masih muda dan cacat tubuhnya, ternyata benar-benar memiliki kesaktian.
Maka, tanpa banyak cakap lagi merekapun segera mengepung dan mengeroyok!
Menghadapi pengeroyokan lima orang yang semua memiliki kepandaian tinggi, Sie Liong lalu memutar tongkatnya dan dia sudah memainkan Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi).
Ilmu ini adalah ilmu tongkat yang dipelajari dari Pek-sim Sian-su.
Suatu ilmu yang dahsyat bukan main.
Ketika senjata yang hanya merupakan sebatang ranting yang menjadi tongkat itu diputar oleh Sie Liong, maka anginpun menyambar-nyambar dahsyat bagaikan badai, dan nampak gulungan sinar hijau yang amat panjang.
Dari gulungan sinar hijau itu mencuat ujung-ujung tongkat yang bagaikan kilat cepatnya menyambar-nyambar ke arah lima orang pengeroyoknya.
Sekarang tahulah Thai-yang Suhu mengapa Pek Lan kewalahan menghadapi pemuda bongkok ini.
Kiranya Pendekar Bongkok ini memang memiliki kepandaian yang amat hebat!
Biarpun dia sendiri maju dibantu Pek Lan dan tiga orang Tibet Sam Sinto, tetap saja mereka berlima sama sekali tidak mampu mendesak, bahkan mereka yang kewalahan menghadapi tongkat sederhana yang dimainkan secara luar biasa itu.
Tongkat di tangan Pendekar Bongkok itu selain luar biasa cepatnya, juga mengandung tenaga kasar dan halus secara bergantian, dan setiap gerakan ujung tongkat itu mengeluarkan suara bersiutan di antara angin yang kuat sekali.
Thai-yang suhu adalah seorang to-koh Pek-lian-kauw yang kedudukannya sudah tinggi.
Dia memiliki ilmu pedang yang amat lihai di samping ilmu sihirnya, dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmu sepasang pedangnya.
Kini, karena mengeroyok, tentu saja dia tidak dapat memainkan sepasang pedangnya dengan leluasa.
Maka, diapun membentak agar para pembantunya minggir.
"Minggir semua, biar pinceng sendiri menghadapi Pendekar Bongkok!"
Bentaknya.
Mendengar ini, Pek Lan den Tibet Sam Sinto berloncatan keluar dari gelanggang pertempuran sehingga pendeta gundul tinggi besar itu kini berhadapan sendirian saja dengan Sie Liong.
Sie Liong juga menghentikan gerakan tongkatnya dan berdiri menghadapi pendeta itu sambil memandang tajam.
"Thai-yang Suhu, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga. Yang kutentang adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Oleh karena itu, kalau kalian membebaskan gadis-gadis yang telah kalian tawan dan mereka dalam keadaan selamat dan tidak terganggu, maka akupun akan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing dan tidak akan memusuhi kalian, asal saja kalian tidak mengulang perbuatan jahat itu."
"Pendekar Bongkok, kaukira pinceng takut padamu? Pinceng sengaja menyuruh kawan-kawan pinceng minggir agar pinceng dapat menghadapimu dengan leluasa. Akan tetapi, katakanlah dulu siapa guru-gurumu agar pinceng tahu siapa yang pinceng lawan!"
"Hemm, Thai-yang Suhu, ketahuilah bahwa guru-guruku adalah Hinalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su,"
Jawab Sie Liong sejujurnya.
"Wah! Kiranya murid para tosu pelarian dari Himalaya!"
Seorang di antara Tibet Sam Sinto berseru.
Sebagai tokoh-tokoh Tibet, tentu saja mereka mendengar akan hal itu.
Juga Thai-yang Suhu sudah pernah mendengar nama-nama yang disebutkan Pendekar Bongkok.
Nama Himalaya Sam Lojin tidak mengejutkan hatinya karena kepandaian tiga orang kakek dari Himalaya itu tidak lebih dari tingkatnya sendiri.
Akan tetapi disebutnya Pek-sim Sian-su membuat dia terkejut.
Pantas saja pemuda bongkok ini tidak saja lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga mampu menangkis ilmu sihirnya, bahkan telah menghancurkan jimatnya, yaitu tengkorak kecil tadi.
Betapapun juga, Thai-yang Suhu yang terlalu mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri, tidak merasa jerih.
"Bagus, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!"
Berkata demikian, tokoh Pek-lian-kauw itu menodongkan pedang di tangan kirinya ke arah Sie Liong.
Pendekar Bongkok bersikap waspada karena dia sudah mendengar akan kecurangan para tokoh Pek-lian-kauw.
Begitu dari gagang pedang itu menyambar sinar-sinar hitam yang lembut, dia sudah cepat memutar tongkatnya dan semua jarum hitam yang meluncur keluar dari gagang pedang itu runtuh.
"Pendeta palsu yang licik dan curang!"
Bentak Sie Liong dan diapun membalas dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan dahsyatnya dari kanan ke kiri, mengarah pinggang lawan.
Thai-yang Suhu meloncat ke belakang, pedang kanan menyambar dari atas ke arah kepala Sie Liong sedangkan pedang kiri menangkis ujung tongkat.
Sie Liong mengelak dan memutar tongkat, membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian.
Sepasang pedang yang dimainkan oleh Thai-yang Suhu berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.
Akan tetapi dua gulungan sinar itu seringkali goyah dan patah oleh sinar tongkat yang kehijauan, yang bergulung panjang seperti seekor naga hijau yang bermain di angkasa.
Ilmu tongkat Thian-te sin-tung yang dimainkan Pendekar Bongkok merupakan ilmu tingkat tinggi dan tak dapat dilawan oleh ilmu pedang pasangan yang dimainkan pendeta Pek-lian-kauw itu.
Pula, pendeta itu kalah cepat gerakannya dibandingkan Sie Liong, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, pendeta itu juga kalah kuat.
Kelebihan Thai-yang Suhu hanyalah dalam pengalaman bertanding saja, dan di samping itu, Sie Liong bersikap hati-hati sekali, karena dia tahu bahwa lengah sedikit saja dia dapat celaka di tangan lawan yang licik dan curang ini.
Kehati-hatian inilah yang membuat Sie Liong tidak berani terlalu mendesak dan hal ini membuat lawannya mampu mengadakan perlawanan yang cukup seru dan perkelahian itu nampaknya seru dan ramai.
Betapapun juga, Pek Lan dan Tibet Sam Sinto yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, mampu mengikuti jalannya pertandingan dan mereka tahu bahwa kalau tidak dibantu, akan sukar sekali bagi Thai-yang Suhu untuk dapat mengalahkan Pendekar Bongkok.
Oleh karena itu Pek Lan memberi isyarat kepada tiga orang jagoan Tibet itu dan mereka berempat lalu berloncatan memasuki gelangang perkelahian dan mengeroyok lagi.
Sekali ini, Thai-yang Suhu diam saja karena diapun mengerti bahwa kalau dia nekat melawan sendiri, jelas bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pendekar Bongkok.
Di lain pihak, Sie Liong sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengeroyokan lima orang itu.
Bahkan dia dapat mainkan tongkatnya lebih leluasa lagi.
Dia tahu bahwa di antara para pengeroyoknya, yang amat lihai adalah Thai-yang Suhu dan Pek Lan.
Akan tetapi karena di situ terdapat tiga orang Tibet Sam Sinto, maka permainan kedua orang lawan lihai ini bahkan menjadi terhalang dan mereka berdua itu tidak dapat menyerang sepenuhnya, terhalang oleh gerakan tiga orang jagoan Tibet itu.
Hal ini membuat Sie Liong semakin hebat gerakannya dan diapun tidak takut lagi bahwa dua orang lawan yang curang itu akan dapat mempergunakan senjata rahasia, Mengingat bahwa di situ terdapat pula Tibet Sam Sinto yang ikut mengeroyok sehingga kalau ada yang mempergunakan senjata rahasia, hal itu dapat membahayakan kawan sendiri.
Hal ini, sama sekali tak disangkanya, memang benar telah terjadi.
Ketika itu, dia merasakan betapa yang sungguh berbahaya di antara serangan lima orang itu adalah serangan Pek Lan, wanita cantik yang pernah dilawannya sebagai siluman merah itu.
Pedang wanita itu menyambar-nyambar ganas, dibantu pula oleh dorongan tangan kirinya yang melakukan pukulan atau tamparan Hek-in Tok-ciang, dan dari telapak tangan kirinya itu keluar uap hitam.
Karena itu, dia berpikir untuk lebih dulu melumpuhkan perlawanan wanita ini.
Dia memutar tongkatnya secara aneh dan segera mengerahkan daya serangan tongkatnya kepada Pek Lan.
"Trang....! Trangggg....!"
Bunga api berpijar ketika dua kali pedang di tangan Pek Lan bertemu dengan ujung tongkat yang mendesaknya.
"Ihhh....!"
Pek Lan mengeluarkan seruan kaget dan marah karena tenaga yang keluar dari tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga ia terdorong ke belakang dan tangan yang memegang pedang tergetar hebat, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan.
Untung bahwa Thai-yang Suhu segera menghujani Pendekar Bongkok dengan serangan sehingga dalam keadaan terhuyung itu Pek Lan tidak didesak terus.
Hal ini membuat Pek Lan marah sekali dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tangan kirinya bergerak, belasan jarum-jarum hitam beracun telah menyambar ke arah tubuh Pendekar Bongkok!
Jarum-jarum itu dilepas dari jarak dekat, juga disambitkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena Pek Lan sedang marah, maka tentu saja amat berbahaya bagi Pendekar Bongkok!
Akan tetapi, dia memang selalu waspada dan melihat sinar lembut yang banyak itu, diapun maklum bahwa Pek Lan mempergunakan senjata rahasia.
Maka dia cepat memutar tongkatnya sehingga tongkat itu membentuk bayangan seperti payung yang melindungi tubuhnya.
Ketika jarum-jarum itu bertemu dengan sinar tongkat, runtuhlah jarum-jarum itu, akan tetapi ada beberapa batang yang terpental ke kanan kiri.
Terdengar teriakan-terjakan mengaduh dan dua orang di antara tiga Tibet Sam Sinto roboh!
Tentu saja hal ini amat mengejutkan para pengeroyok.
Kiranya, di antara jarum hitam beracun yang terpental, ada beberapa batang yang mengenai dua orang itu!
Racun yang dikandung jarum-jarum itu memang jahat sekali.
Dua orang itu sudah berkelojotan sekarat!
Tentu saja Pek Lan tidak mungkin dapat melakukan pemeriksaan untuk memberi pengobatannya, bahkan iapun sama sekali tidak memusingkan keadaan dua orang rekan ini karena hal itu bahkan membuat ia menjadi semakin marah kepada Pendekar Bongkok dan kini ia menyerang lagi mati-matian dengan pedangnya.
Namun, mengeroyok lima saja tidak dapat mendesak Pendekar Bongkok apa lagi kini berkurang dua.
Tongkat di tangan Pendekar Bongkok menjadi semakin dahsyat gerakannya dan ketika seorang di antara Tibet Sam Sinto yang masih hidup dan merasa berduka dan marah karena kematian dua orang saudaranya itu menyerangkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, Pendekar Bongkok sengaja memapaki golok itu dengan tongkatnya sambil mengerahkan tenaganya.
"Trakkk....!"
Golok itu patah dan terlepas, dan sebuah tendangan kaki Pendekar Bongkok masih sempat dielakkan oleh orang itu, namun sambaran ujung tongkat tidak dapat dia hindarkan.
"Bukkk!"
Orang itu terjungkal dan pingsan karena punggungnya terkena gebukan tongkat dari samping.
Kini Pek Lan dan Thai-yang Suhu terkejut bukan main, juga mulai merasa jerih.
Pada saat itu terdengarlah sorak sorai gemuruh.
Ketika tiga orang yang sedang berkelahi itu mendengar suara ini, mereka semua berloncatan ke belakang dan memandang ke arah bawah.
Dan nampaklah puluhan orang, bahkan ada kurang lebih seratus orang penduduk yang memegang segala macam senjata, berlarian mendaki Bukit Onta dengan sikap mengancam!
Melihat ini, tentu saja Pendekar Bongkok menjadi girang.
Dia telah berhasil membangkitkan semangat para penduduk itu yang kini agaknya berbondong-bondong naik ke bukit itu untuk mencari siluman!
Sebaliknya, Thai-yang Suhu dan Pek Lan makin gelisah.
"Pek Lan, mari kita pergi!"
Kata Thai-yang Suhu. Tanpa diperintah dua kali, Pek Lan meloncat bersama Thai-yang Suhu.
"Hemm, kalian hendak lari ke mana?"
Pendekar Bangkok membentak dan diapun meloncat untuk melakukan pengejaran.
Akan tetapi, tiba-tiba Thai-yang Suhu melontarkan sesuatu ke atas tanah dan terdengar ledakan keras disusul mengepulnya asap hitam yang tebal.
Khawatir kalau-kalau asap itu beracun, tentu saja Sie Liong menjauhkan diri, bermaksud mengejar dengan mengambil jalan memutar.
Akan tetapi setelah dia tiba di belakang asap hitam, dua orang itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Dia lalu kembali ke tempat tadi, melihat betapa orang ke tiga dari Tibet Sam Sinto sudah siuman dan kini bangkit sambil mengeluh.
Melihat Pendekar Bangkok datang kembali, dia terkejut, meloncat akan tetapi roboh lagi sambil mengerang kesakitan.
Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri, berlutut menghadap Pendekar Bongkok.
"Taihiap (pendekar besar), ampunilah aku...."
Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bangkok.
Pendekar Bongkok adalah orang yang berhati lembut.
Dia tidak pernah membenci orang, betapapun jahatnya orang itu.
Yang ditentangnya adalah perbuatan jahat, bukan orangnya.
Dia tahu, dari gemblengan yang didapatnya dari Pek-sim Sian-su, bahwa orang yang melakukan perbuatan jahat adalah orang yang sedang sakit batinnya.
Yang mendorongnya melakukan perbuatan jahat adalah batinnya yang sakit itu.
Kalau batinnya sembuh tentu dia tidak akan melakukan perbuatan jahat.
Maka, melihat betapa seorang di antara Tibet Sam Sinto itu minta ampun, dia mengangguk.
"Siapa namamu?"
"Namaku Coa Kiu, taihiap. Mereka ini adalah kakakku dan adikku, dan ijinkanlah aku membawa mayat mereka agar dapat kukuburkan dengan pantas."
"Nanti dulu, aku ingin bertanya. Di mana adanya gadis-gadis yang diculik itu dan mengapa mereka diculik?"
"Itu adalah kehendak Thai-yang Suhu yang sedang mengumpulkan lima belas orang gadis untuk dijadikan pelayan di Pek-lian-kauw. Kami hanya membantunya. Gadis-gadis itu dalam keadaan selamat, berada di rumah itu. Mereka tidak diganggu karena memang hendak diangkut dan diserahkan kepada ketua Pek-lian-kauw."
Pendekar Bongkok mengangguk, hatinya merasa lega. Orang ini jelas tidak berani berbohong.
"Satu pertanyaan lagi. Engkau memakai julukan Tibet Sam Sinto, tentu merupakan tokoh Tibet. Aku ingin sekali tahu tentang mereka yang disebut Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu lima orang pendeta Lama dari Tibet. Di manakah mereka se-karang dan apa kedudukan mereka?"
Mendengar disebutnya Lima Harimau Tibet, Coa Kiu terkejut dan kelihatan ketakutan.
"Tidak, taihiap.... aku tidak mempunyai hubungan dengan mereka. Sama sekali tidak mempunyai hubungan....!"
Pendekar Bongkok mengerutkan alisnya. Sikap itu sungguh menarik sekali.
"Aku tidak menuduhmu memiliki hubungan, hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang diri mereka."
Barulah Coa Kiu kelihatan lega.
"Mereka adalah tokoh-tokoh paling ditakuti di Tibet, dan kini mereka menjadi pendukung-pendukung utama dari Kim Sim Lama, pendeta tingkat tinggi yang memberontak karena hendak merampas kedudukan Dalai Lama."
"Pemberontak? Ah, di mana kini mereka itu?"
"Di sekitar telaga Yam-so di sebelah selatan Lasha. Lima Harimau Tibet menjadi pendukung dan bahkan lima orang tokoh itulah yang sebenarnya menjadi pelopor karena tanpa adanya mereka, tentu Kim Sim Lama tidak mampu berbuat sesuatu."
Pendekar Bongkok mengangguk-angguk.
Pada saat itu, para penduduk dusun sudah semakin dekat dan Coa Kiu nampak gelisah.
Maka dia lalu menyuruh orang itu membawa jenazah dua orang saudaranya dan melarikan diri ke jurusan lain.
Coa Kiu mengucapkan Terimakasih dan memanggul jenazah kakaknya dan adiknya, pergi dari situ sambil terhuyung.
Pendekar Bongkok tidak menanti datangnya orang-orang dusun, melainkan cepat dia lari ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal Thai-yang Suhu dan teman-temannya.
Sembilan orang gadis yang berada dalam ruangan di rumah itu, terkejut ketika daun pintu dirobohkan orang dari luar.
Mereka bergerombol saling peluk dengan ketakutan, semua mata memandang ke arah pemuda bongkok yang berdiri di ambang pintu.
"Ampunkan kami.... jangan.... jangan ganggu kami....!"
Kata seorang di antara mereka.
Melihat betapa semua gadis yang berada di ruangan itu masih amat muda dan cantik-cantik, kini wajah yang manis-manis itu nampak pucat, mata mereka terbelalak seperti sekelompok kelinci yang ketakutan melihat seekor harimau, Pendekar Bongkok tersenyum pahit, teringat akan bongkoknya dan dia maklum bahwa tentu mereka mengira bahwa dia seorang jahat!
"Tenanglah, nona-nona.
Aku tidak berniat jahat.
Aku datang untuk membebaskan kalian.
Para penjahat itu telah kuusir pergi dan keluarga kalian kini sedang menuju ke sini."
Namun, para gadis remaja itu masih belum percaya dan mereka masih memandang kepada pemuda berpunuk itu dengan curiga.
Pada saat itu, orang-orang dusun sudah tiba di situ.
Mereka menyerbu ke dalam rumah dan dipimpin oleh Gumo Cali, mereka tiba di ruangan yang daun pintunya audah dijebol Sie Liong dan mereka melihat Sie Liong masih berdiri di ambang pintu dan para gadis itu memandang ketakutan.
"Ayah....!"
Teriakan ini bukan hanya keluar dari mulut dua orang gadis puteri Gumo Cali, akan tetapi juga dari para gadis lain.
Ternyata para ayah gadis-gadis yang diculik itu ikut pula dalam rombongan para penyerbu.
Terjadilah pertemuan yang mengharukan dan para gadis itu dihujani pertanyaan oleh ayah mereka.
Diam-diam Pendekar Bongkok merasa lega dan gembira mendengar keterangan mereka bahwa benar seperti yang diceritakan Coa Kiu, mereka itu sama sekali tidak diganggu, bah-kan diperlakukan dengan baik.
"Semua ini karena jasa Pendekar Bongkok! Taihiap, terimalah Terimakasih kami!"
Gumo Cali menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bongkok, diturut oleh semua orang.
Para gadis yang tadinya merasa ketakutan itu kini baru sadar bahwa pemuda bongkok itu memang benar menjadi penolong mereka.
Maka merekapun ikut berlutut di samping ayah masing-masing.
Seorang diantara para gadis itu, menjatuhkan diri berlutut paling dekat di depan Pendekar Bongkok dan ia menangis sesenggukan.
Tadipun Sie Liong melihat bahwa berbeda dengan para gadis lain, tidak ada seorangpun yang memeluk gadis ini.
Tadinya dia mengira bahwa tentu ayah gadis yang satu ini tidak ikut.
Ia seorang gadis yang bertubuh sedang, berkulit agak gelap namun wajahnya manis sekali, dengan mata yang lebar dan bening.
Pakaiannya sederhana, bahkan ia tidak memakai perhiasan seperti para gadis lainnya.
Usianya kurang lebih delapan belas tahun dan tubuhnya sudah mulai padat ramping, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.
"Nona, engkau kenapakah?"
Tanya Sie Liong, dan kepada semua orang dia berkata.
"Harap kalian suka berdiri, tidak perlu memberi hormat berlebihan seperti itu!"
Gumo Cali bangkit dan yang lain ikut berdiri. Gadis itu masih tetap berlutut di depan Sie Liong. Dia segera meayentuh pundaknya dengan lembut.
"Nona, bangkitlah, tidak perlu berlutut dan mengapa engkau menangis? Bukankah seharuanya engkau bergembira karena sudah terbebas dari cengkeraman penjahat?"
Lalu dia merasa curiga kalau-kalau gadis ini mengalami nasib yang buruk di tangan para penjahat.
"Nona, apakah para penjahat itu mengganggumu?"
Gadis itu menggeleng kepalanya, akan tetapi masih terisak. Akhirnya, dengan suara bercampur tangis, ia berkata.
"Aku.... aku tidak mau pulang.... ke rumah mereka...."
"Kenapa, nona? Di mana rumahmu?"
Tanya Sie Liong. Seorang di antara para penduduk dusun itu, seorang laki-laki setengah tua, lalu mendekat dan berkata.
"Ling Ling, kenapa engkau tidak mau pulang?"
Gadis itu tidak menjawab, hanya menggeleng kepala sambil menangis.
"Siapakah nona ini, paman, dan di mana rumahnya?"
Tanya Sie Liong.
Orang itu lalu memberi keterangan bahwa gadis itu bernama Sam Ling, biasa dipanggil Ling Ling.
Ia seorang gadis yatim piatu.
Ketika ia berusia sepuluh tahun, ayah dan ibunya meninggal dunia karena wabah, dan ia lalu dipungut anak oleh keluarga di dusunnya.
Dijadikan anak angkat dan bekerja seperti pelayan.
"Sepanjang pengetahuan kami, keluarga yang memungutnya itu bersikap baik kepadanya. Mereka tidak mempunyai anak, maka mau mengambil Ling Ling menjadi anak mereka. Ling Ling, katakanlah, kenapa engkau tidak mau pulang! Ayah dan ibu angkatmu tentu mengharapkan kedatanganmu!"
Kata orang itu. Gadis itu mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada orang itu dan menggeleng kepala keras-keras sambil berkata.
"Tidak...., tidak.... aku tidak mau pulang ke sana.... Lebih baik aku mati saja dari pada harus kembali lagi ke sana....!"
Dan iapun menangis lagi.
Sie Liong mengerutkan alisnya.
Dia menduga bahwa tentu ada alasan kuat sekali mengapa gadis ini tidak mau pulang ke rumah ayah dan ibu angkatnya.
"Marilah, nona. Kita bicara di luar,"
Katanya, lalu dia berkata kepada semua orang.
"Kalau kalian setuju, rumah ini sebaiknya dibakar saja agar jangan menjadi sarang penjahat lainnya! Dan semua orang boleh pulang, akan tetapi kerukunan seperti sekarang ini harus dipelihara terus. Kalau kalian dapat bersatu seperti ini, tidak akan ada penjahat yang berani mengganggu kalian."
Berkata demikian, Sie Liong lalu mengajak gadis bernama Sam Ling atau Ling Ling itu untuk keluar.
Dia mengajak gadis itu agak menjauhi rumah, lalu duduk di atas batu besar.
"Nah, Ling Ling, duduklah kau dan ceritakan mengapa engkau memilih mati daripada pulang ke rumah orang tua angkatmu."
Setelah mereka berada di tempat sepi, berdua saja, tiba-tiba gadis itu kembali mpnjatuhkan diri berlutut.
"Taihiap, engkau telah menyelamatkan aku dan teman-teman, harap taihiap jangan kepalang tanggung untuk menolong aku. Berjanjilah bahwa taihiap akan suka menolongku, dan aku akan menceritakan keadaanku."
"Baiklah, dan duduklah agar engkau dapat bicara dengan enak. Ceritakan apa yang terjadi. Tentu saja aku suka membantumu kalau memang engkau perlu dibantu."
"Sejak berusia sepuluh tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena penyakit."
Ling Ling mulai bercerita sambil duduk di atas batu, di depan Sie Liong.
Suaranya lirih dan memelas, dan matanya yang lebar itu kini agak kemerahan dan masih basah walaupun ia sudah tidak menangis lagi.
"Aku diangkat anak oleh ayah ibu angkatku yang sekarang karena mereka tidak mempunyai anak. Kini mereka berusia kurang lebih empat puluh tahun. Dahulu memang sikap mereka itu baik sekali walaupun aku tidak menguntungkan mereka karena aku seorang anak perempuan. Akupun bekerja keras di rumah mereka, seperti seorang budak untuk membalas budi kebaikan ha-ti mereka. Akan tetapi akhir-akhir ini...."
Ling Ling menutupi mukanya, merasa sedih dan berat hatinya untuk menceritakan peristiwa yang membuatnya merasa sengsara itu.
Sie Liong membiarkan gadis itu dan setelah kelihatan ajak tenang, dia berkata.
"Bagaimana lanjutannya? Aku baru akan dapat menolongau kalau aku mengetahui persoalannya."
Gadis itu menatap wajah Sie Liong dengan sepasang mata yang penuh permohonan, sepasang mata yang tentu akan nampak indah kalau tidak tertutup awan kedukaan.
(Lanjut ke
Jilid 15) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15
"Taihiap, aku akan kelihatan sebagai orang yang tidak mengenal budi kalau sekarang aku seolah menceritakan keburukan orang tua angkatku. Akan tetapi, kepadamu aku harus berterus terang dan harap taihiap mengerti bahwa bukan maksudku untuk memburukkan mereka. Aku masih berterimakasih kepada mereka. Begini taihiap. Akhir-akhir ini, semenjak beberapa bulan yang lalu ini, ayah angkatku berusaha untuk.... untuk menodaiku...."
Sie Liong mengerutkan alisnya dan mengamati wajah itu dengan sinar mata tajam menyelidik. Dia sudah menduga, akan tetapi ingin mendapat keyakinan.
"Apa maksudmu dengan menodai itu?"
"Dia.... dia mula-mula merayuku.... agar aku suka melayaninya, suka tidur dengan dia. Aku menolak dan beberapa kali dia nyaris berhasil memperkosa aku....! Karena aku selalu menghindar dan menolak, dia kini seperti benci kepadaku. Dan ibu angkatku agaknya melihat pula gejala itu dan iapun menjadi cemburu dan membenci aku...."
"Hemmm....!"
Sie Liong mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi rambut.
Mengertilah dia kini mengapa gadis ini tidak ada yang menjemput, dan mengapa pula Ling Ling tidak mau pulang ke rumah orang tua angkatnya.
"Ling Ling, engkau tadi menceritakan bahwa tadinya, sebelum timbul perubahan sikap ayah angkatmu itu, mereka amat baik kepadamu. Bagaimana kalau sekarang engkau kuantar ke sana, ayah angkatmu itu kuancam agar dia tidak lagi melakukan hal yang tidak pantas itu, dan aku membujuk ibu angkatmu agar ia mau mengerti bahwa engkau tidak bersalah dalam peristiwa itu? Kalau mereka mau mendengarnya dan mentaati permintaanku, maukah engkau kembali kepada mereka?"
Ling Ling mengerutkan alisnya dan ia menatap wajah pemuda itu sampai beberapa lamanya.
Sinar matanya penuh kegelisahan dan keraguan, kemudian iapun menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin, taihiap. Ayah angkatku itu akan tetap membenciku selama aku tidak mau memenuhi permintaannya. Aku melihat nafsu yang amat mengerikan dari pandang matanya. Dan ibu angkatku.... ia amat membenciku karena cemburu. Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke sana. Bahkan, terus terang saja, taihiap. Ketika wanita cantik yang menyamar siluman merah itu menculikku, membawaku ke sini, melihat betapa gerombolan itu tidak menggangguku, memperlakukan dengan baik, aku merasa gembira untuk menjadi pelayan. Asalkan aku tidak harus kembali ke rumah orang tua angkatku."
"Tapi.... kalau engkau tidak mau kembali ke sana, lalu ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai keluarga lain, sanak keluarga dari orang tua kandungmu sendiri?"
Diam-diam Sie Liong merasa kasihan sekali dan dia dapat menerima alasan gadis itu.
Tentu saja dia tidak mungkin dapat menanggung dan memastikan bahwa ayah angkat Ling Ling kelak tidak akan mengulang perbuatannya terhadap gadis yang seperti setangkai bunga baru mulai mekar ini.
Mungkin karena segan dan takut kepadanya, ayah angkat itu mau berjanji, bahkan mau bersumpah.
Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat berada di dusun itu terus!
Dan gadis ini makin hari menjadi semakin cantik manis dan semakin menarik.
Kalau nafsu sudah menguasai hati ayah angkat itu, siapa berani tanggung dia tidak akan menjadi buta akan kebenaran?
Dan dia dapat menduga bahwa seorang gadis yang demikian kukuh mempertahankan kehormatannya seperti Ling Ling ini, kalau sampai diperkosa ayah angkatnya, tentu akan membunuh diri!
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mempunyai siapapun juga di dunia ini, sebatangkara...."
Jawabnya lirih dengan air mata kembali mengalir di pipi.
"Kalau begitu, lalu ke mana engkau hendak pergi, Ling Ling? Kalau engkau tidak mempunyai keluarga lain, dan engkau tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatmu, lalu bagaimana?"
Mendengar pertanyaan ini, Ling Ling turun dari atas batu dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Liong sambil berkata dengan suara mengandung isak.
"Aku ingin turut denganmu, taihiap...."
"Ehhh?"
Sie Liong terkejut dan heran bukan main.
Tadinya timbul dugaan di hatinya bahwa tentu gadis manis ini telah mempunyai seorang kekasih dan ia akan pergi bersama kekasihnya itu.
Sungguh seujung rambutpun dia tidak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.
"Apa maksudmu, Ling Ling? Bangkitlah, dan mari kita bicara dengan baik."
"Tidak, aku tidak akan bangkit sebelum engkau sudi menerimaku. Taihiap, tolonglah aku. Aku.... aku ingin membalas budimu, aku ingin ikut denganmu, biar kau jadikan pelayan.... aku akan mencucikan pakaianmu, memasakkan makananmu, melayani keperluanmu...."
Tiba-tiba Sie Liong tertawa dan dia memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya bangun, mendudukkannya di atas batu kembali.
Ling Ling tidak mampu menolak karena ia bagaikan sebuah boneka saja di kedua tangan yang memiliki tenaga dahsyat itu.
Iapun kini yang memandang bengong.
Pendekar itu tertawa bergelak dan betapa gagah dan tampannya wajah itu sekarang nampak olehnya.
Wajah yang tadinya selalu nampak dilanda duka itu, wajah yang menimbulkan perasaan iba kepada siapapun yang memandang, kini nampak cerah den berseri!
"Aih, Ling Ling....
engkau ini sungguh lucu sekali!"
Kata Sie Liong setelah dia menghentikan ketawanya.
"Taihiap, apanya yang lucu?"
Ling Ling bertanya khawatir.
"Bagaimana mungkin engkau ikut denganku? Kau tahu siapa aku ini?"
"Taihiap seorang pria yang sakti dan berbudi mulia, yang telah menyelamatkan aku dan banyak gadis di sini, yang pantas kupuja den kubalas budinya...."
"Cukup semua itu. Aku hanyalah seorang laki-laki yang hidup sebatangkara, tidak mempunyai tempat tinggal, miskin dan papa. Dan engkau hendak ikut dengan aku. Bukankah itu sama sekali tidak mungkin, dan lucu sekali?"
"Kenapa tidak mungkin dan kenapa lucu, taihiap? Aku ingin ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Aku tidak perduli apakah engkau kaya atau miskin taihiap. Bahkan kebetulan sekali kalau engkaupun sebatangkara seperti aku, karena tidak akan ada keluargamu yang mungkin tidak suka kepadaku. Aku akan melayanimu, membantumu dalam segala hal, taihiap. Kasihanilah aku...."
"Tapi, Ling Ling, engkau tidak mengerti! Kau tahu, aku seorang pengembara, hidupku penuh bahaya! Aku seorang yang selalu menentang kejahatan, se-hingga aku dimusuhi para penjahat yang kejam. Engkau akan ikut terancam bahaya kalau engkau bersamaku."
"Aku tidak takut! Kalau aku berada di sampingmu, bahaya mautpun tidak akan membuat aku gentar, taihiap. Akupun siap mati kalau perlu!"
Diam-diam Sie Liong menjadi kagum dan juga heran.
Mengapa gadis ini mati-matian hendak ikut dengan dia?
"Ling Ling, aku kadang-kadang tidur di hutan....
di atas rumput...."
"Hemm, menyenangkan sekali, taihiap. Apalagi di waktu terang bulan, dengan api unggun menghangatkan badan. Rumput tentu lunak dan awat nyaman untuk tidur...."
"Kadang-kadang harus di atas pohon besar...."
"Ah, aku belum pernah tidur di atas pohon, taihiap. Aku ingin sekali merasakan. Tentu aman dari gangguan binatang buas...."
"Ling Ling...."
Sie Liong kewalahan.
"Kadang-kadang aku tidur di dalam kuil tua yang kuno dan kotor, yang pantas menjadi tempat tinggal para iblis dan setan!"
Wajah itu menjadi pucat seketika, matanya terbelalak den tubuhnya jelas nampak menggigil, pandang matanya ketakutan dan penuh kengerian.
Bagi orang-orang dusun di daerah itu, iblis dan setan amat menakutkan karena mereka itu pada umumnya masih amat tebal rasa ketahyulan mereka.
Melihat ini, Sie Liong menjadi tidak tega dan tanpa disadarinya dia menyambung.
"Akan tetapi selama ini belum pernah aku bertemu setan dan iblis, semua itu hanya dongeng kosong belaka untuk menakut-nakuti anak-anak dan orang-orang penakut."
Ling Ling menarik napas lega.
"Aku juga.... ti.... tidak takut, taihiap."
Akan tetapi, membayangkan betapa gadis ini ikut dengannya, Sie Liong menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Ling Ling, maafkan aku. Bagaimanapun juga, rasanya tidak mungkin engkau ikut denganku. Ingatlah, aku seorang pria, dan engkau seorang wanita, seorang gadis muda yang cantik. Apa akan kata orang? Tentu mereka menyangka yang bukan-bukan terhadap kita."
"Taihiap, apakah kita harus menggantungkan hidup kita kepada kata dan pendapat orang lain? Yang terpenting adalah kita sendiri, bukan? Kalau kita tidak melakukan sesuatu yang tidak benar, mengapa takut disangka orang! Taihiap, aku akan menjaga diri agar tidak sampai membikin kecewa dan malu kepadamu. Aku akan menjadi pelayan yang baik...."
"Sekali lagi maaf, Ling Ling. Terpaksa aku menolak. Tidak mungkin aku dapat mengajakmu berkelana menempuh banyak bahaya."
Tiba-tiba wajah gadis itu nampak layu dan muram.
Ia menundukkan mukanya, sampai lama tidak bergerak.
Tidak lagi ia menangis, akan tetapi ketika ia bicara, suaranya lirih dan mengandung rintihan.
"Baiklah, taihiap. Maafkan gangguanku tadi. Aku akan pergi sekarang juga, selamat.... tinggal...."
Dan gadis itupun membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah satu-satu dengan tubuh lemas dan agak terhuyung.
"Nanti dulu, Ling Ling! Engkau hendak pergi ke mana?"
Tanya Sie Liong dengan hati penuh rasa iba.
Gadis itu berhenti melangkah, menoleh dan wajahnya nampak demikian pucat, matanya tidak ada sinarnya lagi dan sebelum menjawab ia tersenyum, senyum yang menyayat perasaan Sie Liong karena senyum itu demikian pahitnya.
"Ke mana saja kakiku membawaku, taihiap. Habis, ke mana lagi? Akupun tidak tahu...."
Dan iapun melanjutkan langkahnya.
Langkah satu-satu dan dari belakang Sie Liong melihat betapa kedua pundak itu menurun, lalu bergoyang-goyang, tanda bahwa gadis itu menangis lagi.
Tiba-tiba gadis itu terhuyung, lalu jatuh berlutut dan menangis!
Sie Liong marasa semakin iba dan sekali meloncat, dia telah berada di samping gadis yang berlutut sambil menangis itu.
"Ling Ling...."
Katanya lirih.
"Biarkan aku mati saja.... ah, biarkan aku mati saja...."
Gadis itu berbisik-bisik dan tangisnya mengguguk. Dengan kedua tangannya, Sie Liong memegang pundak gadis itu dan menariknya bangun berdiri.
"Ling Ling, jangan berkata demikian! Kalau engkau memang nekat dan berani menghadapi kesengsaraan, baiklah, aku suka menerimamu."
Kedua tangan itu menurun dari depan mata, mata itu terbelalak, air matanya masih menetes-netes, muka itu masih pucat, akan tetapi mulut itu mengembangkan senyum.
"Benarkan, taihiap? Ah, Terimakasih....! Aku tidak akan sengsara. Aku akan menjaga agar taihiap tidak sengsara! Aku siap menghadapi segala kesukaran tanpa mengeluh. Dan aku dapat bekerja, taihiap. Aku memiliki keahlian menyulam indah, dan dengan itu aku akan dapat mencari uang untuk dipakai keperluan kita sehari-hari! Ah, aku berbahagia sekali, Terimakasih, taihiap.... Terimakasih...."
Pada saat itu terdengar suara sorak sorai dan ketika mereka menengok, nampak rumah itu telah dibakar.
Api bernyala besar dan orang-orang dusun itu bersorak gembira.
Kernudian mereka berbondong menghampiri Sie Liong, dipimpin oleh Gumo Cali, dan mereka kembali menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu, menghaturkan Terimakasih.
"Saudara sekalian tidak perlu berterimakasih kepadaku. Kuharap saja mulai sekarang saudara sekalian dapat mempersatukan tenaga untuk menjaga keamanan dusun sendiri. Sekarang, perkenankan aku pergi."
Pendekar Bongkok meninggalkan tempat itu dan Ling Ling mengikutinya.
Semua orang memandang dengan heran melihat gadis itu ikut pergi bersama Pendekar Bongkok, namun tidak ada seorangpun yang berani bertanya.
Mereka hanya mengira bahwa pendekar itu tentu hendak mengantarkan gadis yang tidak dijemput orang tuanya itu ke dusunnya sendiri.
Merekapun bubaran dengap hati gembira karena gadis-gadis itu ternyata dalam keadaan selamat.
Nama Pendekar Bongkok lebih dikenal daripada nama Sie Liong di dusun itu dan mereka takkan pernah melupakan pertolongan yang diberikan pendekar itu dalam mengusir para penjahat yang menyamar sebagai setan merah penculik gadis-gadis remaja yang cantik.