Ceritasilat Novel Online

Jodoh Rajawali 13

Eps 13 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.

Mereka berdua merasa lega bahwa para kakek sakti itu tidak melakukan pengejaran, dan Kian Lee seperti masih belum dapat mempercayai bahwa mereka dapat lolos dari bahaya sedemikian mudahnya.

Kian Lee berhenti dan berkata kepada Siang In sambil memandang penuh kagum.

"Adik Siang In yang hebat! Sungguh masih sukar aku untuk dapat percaya betapa dengan mudahnya kita dapat terlepas dari bahaya maut! Dan hampir aku tidak percaya bahwa, engkau yang begini muda dapat mengakali orang-orang sakti seperti mereka itu. Dalam waktu sedemikian singkatnya engkau telah memperoleh akal yang demikian mengagumkan!"

Siang In tersenyum, senang hatinya dipuji seperti itu tentu saja! Akan tetapi dia seorang dara yang jujur, maka dia menahan ketawanya dan berkata.

"Ah, Lee-koko, siapa sih yang pintar? Aku sama sekali tidak pintar, hanya koksu itu yang tolol!"

"In-moi, akalmu itu benar-benar hebat dan menandakan bahwa engkau memang pintar sekali, mengapa merendahkan diri? Dengan akalmu itu, memang koksu menjadi tak berdaya dan mati kutu sama sekali, karena menjatuhkan hukuman kepada kita dengan cara apa pun, tetap saja berarti dia melanggar janji. Bukan main!"

"Hi-hik, memang demikianlah, Koko. Akan tetapi itu sama sekali bukanlah akalku, karena aku hanya menirunya dari dongeng kuno yang pernah kubaca! Jadi bukan akalku, melainkan akal kuno yang pernah dipergunakan orang untuk menyelamatkan diri dari hukuman seorang raja lalim yang menjatuhkan peraturan hukuman yang seperti itu."

"Ah, begitukah?"

Kian Lee terheran. Siang In tertawa.

"Itulah hasilnya orang suka membaca, asalkan bukan sembarangan membaca, melainkan memperhatikan isinya dengan seksama. Dari bacaan itu kita dapat memperoleh banyak manfaatnya, Koko. Koksu itu saja yang tolol tidak mengenal akal kuno yang kupergunakan, hi-hik!"

Suma Kian Lee tertawa juga, mentertawakan kebodohan koksu, akan tetapi diam-diam makin kagum kepada dara ini yang sudah memperlihatkan ketabahan dan kecerdikan luar biasa, yang telah berhasil menyelamatkan nyawa mereka, akan tetapi tidak menjadi sombong, sebaliknya malah membuka rahasia kecerdikannya dengan jujur bahkan kecerdikannya itu hanyalah meniru dari akal dalam dongeng kuno belaka!

Akan tetapi kegembiraan segera mereda ketika dia teringat akan peristiwa tadi dan melihat betapa gawatnya keadaan.

Agaknya Koksu Nepal itu telah mengumpulkan orang-orang pandai di lembah itu!

"In-moi, aku harus menyelidiki keadaan di lembah!

Aku harus tahu apa yang sedang diiakukan oleh koksu itu...."

"Ah, hal itu berbahaya sekali, Lee-ko! Baru empat orang teman koksu tadi saja sudah memiliki kepandaian yang amat mengerikan, dan di sana terdapat banyak pula pasukan anak buah koksu. Mana mungkin engkau seorang diri akan dapat menghadapi mereka semua!"

Siang In memandang khawatir, tidak lagi bersendau-gurau mendengar niat pemuda itu yang hendak menyelidiki sarang dari koksu yang lihai dan dibantu oleh banyak orang pandai itu.

"Aku bukan bermaksud melawan mereka, In-moi, melainkan hendak menyelidiki keadaan mereka, kemudian aku harus segera melaporkan ke kota raja. Sudah menjadi kewajibanku untuk mencegah bahaya yang mengancam kota raja. Agaknya ada apa-apa di lembah itu, agaknya koksu sedang merencanakan gerakan besar yang berbahaya bagi kota raja.

"Kalau begitu memang baik sekali, Lee-ko, akan tetapi aku ikut!"

"Baru saja kau terlepas dari ancaman bahaya dahsyat, Siang In, moi-moi, lebih baik kau jangan ikut, terlalu berbahaya bagimu."

Siang In mengerutkan alisnya.

"Biarpun aku bodoh, kiranya sedikit banyak aku akan dapat membantumu, Lee-ko, dan dengan pergi dua orang, kalau ada bahaya kita dapat saling membantu, bukan?"

Kian Lee tidak dapat membantah atau melarang lagi, apa pula kalau diingat bahwa andaikata tidak ada Siang In di waktu dia menghadapi para kakek sakti tadi, tentu dia telah tewas.

"Baiklah, In-moi. Kita pergi berdua, karena memang aku pun hanya hendak menyelidiki keadaan luarnya saja. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali karena sekali lagi kita bertemu dengan mereka, kiranya mereka tidak akan mau membiarkan kita lolos lagi."

Siang In menjadi gembira, sekali. Timbul kembali kenakalan dan kejenakaannya.

"Wah, kalau cuma menghadapi tua bangka-tua bangka tolol macam itu saja, aku menyimpan banyak macam akal untuk mengelabui mereka, Lee-ko!"

"Akal dari dongeng kuno?"

Siang In terkekeh dan menutupi mulutnya sehingga terpaksa Kian Lee juga tersenyum.

Dekat dengan seorang dara seperti Siang In ini, tidak mungkin orang dapat berdiam diri saja tanpa ketularan kegembiraannya.

Maka berangkatlah dua orang itu dengan hati-hati, menyelinap dan bersembunyi-sembunyi, menuju ke benteng lembah untuk menyelidiki keadaan benteng itu.

Pangeran Liong Bian Cu girang bukan main ketika melihat munculnya Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi membawa dua orang tawanan, yaitu Kian Bu dan Hwee Li!

Akan tetapi dia tidak melihat adanya burung garuda, maka pangeran ini merasa khawatir dan bertanya.

"Bagus, Ji-wi telah berhasil menangkap merekea kembali. Akan tetapi di mana adanya burung garuda itu?"

Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya dan berkata dengan suaranya yang parau.

"Celaka, anak durhaka ini telah melukainya dan sekararg saya membiarkan burung itu mengobati lukanya sendiri dan beristirahat di hutan, di luar benteng."

Keterangan itu melegakan hati Pangeran Liong Bian Cu dan dia menghampiri Hwee Li dengan wajah berseri.

"Sayang, beruntung sekali engkau dapat bebas dari mata-mata ini!"

Akan tetapi Hwee Li cemberut dan Hek-tiauw Lo-mo lalu berkata.

"Bocah ini kalau dibiarkan terlalu bebas bisa berbahaya, Pangeran. Maka sebaiknya kuatur penjagaan di sekitar kamar dia dan sang puteri sekarang juga."

"Dan saya mohon ijin untuk membunuh pemuda yang telah melukai saya ini! Saya terluka oleh pukulannya dan setelah dia sekarang tertawan, hati saya tidak akan pernah puas sebelum membalas dendam ini dengan nyawanya!"

Kata Hek-hwa Lo-kwi yang memegang lengan Kian Bu atau Siluman Kecil yang terbelenggu.

Pangeran Liong Bian Cu memang merasa agak jerih kepada Siluman Kecil, apalagi mendengar bahwa pemuda rambut putih ini adalah putera Pendekar Super Sakti, maka dia tidak berani sembarangan.

Sekarang, mendengar bahwa Hek-hwa Lo-kwi hendak membunuhnya karena dendam pribadi, berarti dia bebas dari pemuda yang ditakutinya itu.

"Kalau engkau mau membunuhnya karena urusan pribadimu, terserah, Lo-kwi. Akan tetapi harus kau bereskan juga agar tidak ada bekas-bekasnya!"

Hek-hwa Lo-kwi tertawa.

"Ha-haha, jangan khawatir, Pangeran!"

Pada saat itu, sang pangeran sedang menjamu saudara misannya, yaitu Liong Tek Hwi dan Kim Cui Yan.

Ketika dua orang ini melihat betapa Siluman Kecil menjadi tawanan, mereka terkejut bukan main.

Mereka pernah diselamatkan oleh pemuda rambut putih itu, maka kini melihat betapa pemuda itu tertawan dan akan dibunuh, tentu saja mereka terkejut.

"Kanda Pangeran, jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba Liong Tek Hwi berseru dan bangkit dari tempat duduknya.

"Dia adalah Siluman Kecil, pendekar ternama...."

Liong Bian Cu tersenyum.

"Benar, adikku, dia adalah Siluman Kecil, akan tetapi dia adalah juga putera Pendekar Siluman, dan dia adalah cucu kaisar, dan dia adalah mata-mata yang menyelidiki ke benteng kita! Sekarang, dia telah membikin sakit hati kepada Locianpwe Hek-hwa Lo-kwi ini, maka terserah kepada Lo-kwi kalau hendak membunuhnya!"

Bukan main herannya hati kedua orang murid Kim-mouw Nio-nio mendengar bahwa Siluman Kecil adalah cucu kaisar dan putera Pendekar Siluman dari Pulau Es.

Akan tetapi selagi mereka tercengang, Kian Bu sudah berkata kepada mereka dengan nada tidak senang.

"Hemmm, melihat bahwa kalian adalah sekutu dari pangeran pemberontak ini, aku tidak sudi kalian bela!"

Dan Hek-hwa Lo-kwi sudah cepat mendorongnya pergi dari situ bersama Hek-tiauw Lo-mo yang juga memegang lengan tangan Hwee Li dan setengah menyeret dara itu meninggalkan ruangan.

Pangeran Liong Bian Cu tertawa dan minum araknya kemudian memperkenalkan dua orang kakek yang baru saja pergi itu kepada saudara misannya.

Kemudian dia menambahkan.

"Kau lihat gadis itu tadi, adikku? Aku.... aku mengambil keputusan untuk menikah dengan dia."

Sementara itu, Kim Cui Yan sejak tadi bengong saja memandang ke arah perginya Hwee Li.

Melihat wajah Hwee Li, Kim Cui Yan merasa seperti pernah mengenal dara cantik berpakaian hitam itu, akan tetapi biarpun dia mengingat-ingatnya, tetap saja dia tidak dapat mengingat kapan dia pernah mengenal dara itu.

Hal ini tidak mengherankan karena wajah Hwee Li memang mirip benar dengan wajah mendiang ibu kan-dungnya, dan di waktu dia berusia kurang lebih lima enam tahun, Kim Cu Yan tentu saja sering melihat ibu tirinya, yaitu Ibu kandung Hwee Li yang menjadi selir ayahnya!

Jadi, bukan Hwee Li yang pernah dikenalnya, melainkan ibu kandung dari dara baju hitam itu.

Seperti dapat kita duga, Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang baru datang menghadap Pangeran Liong Bian Cu di sore hari itu dan membawa Kian Bu dan Hwee Li sebagai tawanan, se-betulnya bukan lain adalah Hek-sin Touw-ong si Raja Maling bersama muridnya, Ang-siocia atau Kang Swi Hwa!

Dengan penyamaran mereka yang tepat sekali, bahkan Pangeran Liong Bian Cu yang cerdik itu pun sama sekali tidak mengenal mereka.

Saking girangnya melihat Hwee Li dapat kembali, pangeran itu tidak menaruh curiga akan sikap tergesa-gesa dari dua orang kakek iblis itu yang tidak mau lama-lama berhadapan dengan dia.

"Kakanda Pangeran!"

Liong Tek Hwi berkata lagi.

"Kuharap engkau tidak membiarkan Siluman Kecil dibunuh karena ketahuilah bahwa dia pernah menyelamatkan nyawaku dan Sumoi. Tidak mungkin aku berdiam lebih lama lagi di sini kalau dia dibunuh sepengetahuanku. Harap kau memaklumi perasaan kami ini!"

Pemuda berkulit putih itu sudah bangkit berdiri, diturut oleh sumoinya. Pangeran Liong Bian Cu mengangguk-angguk.

"Baiklah, biar kusuruh pengawal memberi tahu kepada Lo-kwi agar pemuda itu ditahan saja dulu dan jangan dibunuh sekarang."

Pangeran Liong Bian Cu bertepuk tangan dan muncullah seorang Panglima Nepal dan pangeran itu lalu memberi perintah dengan cepat dalam bahasa Nepal.

Orang yang berkulit coklat kehitaman itu berlutut dengan kaki kanan, lalu membalikkan tubuh dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu untuk menyusul Hek-hwa Lo-kwi dan menyampaikan perintah majikannya.

Sementara itu, setelah berhasil menipu Pangeran Liong Bian Cu, empat orang itu, ialah Ang-siocia yang menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo, si Raja Maling yang menyamar sebagai Hek-hwa Lo-kwi, dan kedua orang "tawanan"

Mereka, yaitu Kian Bu dan Hwee Li, cepat meninggalkan ruangan itu dan dengan Hwee Li bertindak sebagai penunjuk jalan, pergilah mereka ke ruangan belakang!

Sementara itu, cuaca di luar sudah mulai gelap dan tergesa-gesa empat orang itu menuju ke ruangan di mana keluarga Kao ditahan.

Karena di tempat ini terdapat banyak penjaga, maka kembali Hwee Li dan Kian Bu pura-pura menjadi tawanan yang dikawal oleh dua orang kakek itu sehingga para penjaga tidak menaruh curiga apa-apa.

Ketika melihat betapa banyaknya keluarga Kao yang berada di dalam tahanan itu, Kian Bu terkejut bukan main, demikian pula Ang-siocia dan gurunya.

Mana mungkin menyelamatkan begitu banyak orang dari tempat sekuat benteng itu?

Akan tetapi mereka telah berhasil menyelundup masuk, maka harus mencari jalan untuk menyelamatkan mereka, dan Siluman Kecil sudah mencari-cari dengan pandang matanya ke dalam ruangan tahanan di balik pintu jeruji besi itu.

"Mana puteri....?"

Bisiknya tanpa menggerakkan bibir kepada Hwee Li sehingga yang dapat mendengar hanya Hwee Li seorang.

Hwee Li lalu memberi isyarat kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi palsu yang segera membawa mereka pergi dari situ.

Para penjaga tidak ada yang menaruh curiga.

Mereka sudah mengenal watak aneh dari dua orang kakek iblis itu, apalagi Hektiauw Lo-kwi adalah ketua dari Kui-liong-pang, pemilik tempat itu.

Mereka hanya menduga bahwa tawanan baru yang berambut putih itu tentu sengaja disuruh melihat keluarga Kao yang ditawan.

Dan ketika di antara mereka ada yang mengenal pemuda rambut putih itu sebagai Siluman Kecil, mereka hanya dapat memandang heran dan setelah empat orang itu pergi, bisinglah tempat itu karena mereka berbisik-bisik bahwa Siluman Kecil yang selama ini menggemparkan daerah lembah Huang-ho, kini telah menjadi tawanan pula!

"Lekas bawa kami kepada sang puteri...."

Bisik Kian Bu setelah menjauhi tempat itu.

"Kita harus tolong sang puteri, sedangkan keluarga Kao sedemikian banyaknya."

"Kalau bisa menolong mereka seorang satu saja sudah baik,"

Kata Ang-siocia.

"Tunggu aku mencoba untuk mengeluarkan seorang di antara mereka, agaknya putera Jenderal Kao itu lebih baik diselamatkan dulu agar dia dapat membantu kita, kata Hek-sin Touw-ong.

"Nanti dulu,"

Cegah Hwee Li.

"Bisa menimbulkan kecurigaan kalau membebaskan mereka, apalagi kurasa tidak akan ada di antara mereka yang mau dibebaskan kalau tidak semua. Lebih baik kita membebaskan Puteri Syanti Dewi lebih dulu, lalu kita membikin kacau agar penjagaan itu bubar....! "Aku sudah siap dengan bahan bakar!"

Tiba-tiba Hek-sin Touw-ong berkata sambil mengeluarkan bungkusan dari dalam saku bajunya.

Memang kakek ini selalu mempersiapkan segala sesuatu, seperti seorang tukang sulap.

Dengan hati-hati Hwee Li lalu mengajak mereka menuju ke kamar sang puteri yang berada di sebelah dalam, di samping kiri bangunan induk yang menjadi tempat tinggal pangeran.

Akan tetapi, dari jauh saja sudah nampak bahwa tempat itu terjaga oleh Mohinta dan anak buahnya, dibantu pula oleh belasan orang perajurit Nepal karena puteri itu merupakan seorang tawanan penting bagi negara Nepal!

Adapun Mohinta sendiri tidak pernah mau meninggalkan wanita yang dicintanya ini.

"Harap kalian tinggal di sini, biar aku dan ayahku ini saja yang masuk,"

Kata Hwee Li berbisik kepada Kian Bu dan Hek-hwa Lo-kwi.

Melihat kedatangan empat orang itu, para penjaga sudah memandang dengan penuh perhatian, Terutama sekali kepada Kian Bu karena tentu saja mereka tidak menaruh curiga apa-apa terhadap Hwee Li dan dua orang kakek iblis itu.

Biarpun demikian, andaikata tidak bersama Hwee Li, dan seorang di antara dua orang kakek iblis itu yang masuk sendiri, tentu para penjaga itu akan melarangnya.

Akan tetapi tidak ada yang berani melarang Hwee Li karena dara ini adalah calon isteri sang pangeran!

Maka dengan tenang saja Hwee Li masuk ke dalam rumah itu bersama "ayahnya"

Yang berjalan dengan gagah.

Tidak ada yang tahu betapa di sebelah dalam Hek-tiauw Lo-mo ini Kang Swi Hwa mengeluarkan keringat dingin dan panas karena selain tegang, dia juga merasa gerah sekali dalam penyamarannya itu, dan mukanya yang ditambal penyamaran itu terasa gatal, kakinya yang memakai ganjal terasa kaku dan sakit-sakit!

"Hwee Li....!"

Puteri Syanti Dewi berseru girang dan lari menyambut lalu merangkul Hwee Li ketika dara ini memasuki kamarnya.

"Ah, betapa girangku melihatmu.... akan tetapi...."

Puteri itu mundur kembali ketika melihat Hek-tiauw Lo-mo muncul di belakang dara baju hitam itu.

Dia merasa takut sekali kalau melihat Hek-tiauw Lo-mo yang sudah lama dikenalnya itu, semenjak perantauannya yang pertama beberapa tahun yang lalu dan dia sudah tahu benar betapa jahatnya iblis tua yang menjadi ayah dari Hwee Li ini.

Melihat ini, Hwee Li tersenyum dan memegang tangan puteri itu.

"Jangan takut, Bibi Syanti Dewi, dia ini adalah seorang sahabat baik, seorang gadis cantik yang menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo untuk menolongmu."

"Maafkan kalau saya mengejutkan anda, Puteri. Sudah lama mendengar akan kecantikan anda, dan ternyata anda seperti bidadari...."

Kata Ang-siocia atau Kang Swi Hwa dengan suara biasa yang merdu dan halus.

Syanti Dewi terkejut dan juga girang, di samping rasa herannya bagaimana seorang gadis dapat menyamar sebagai seorang kakek raksasa seperti Hek-tiauw Lo-mo.

"Akan tetapi, bagaimana kita dapat...."

Tanyanya ragu.

"Jangan khawatir, di luar ada Siluman Kecil atau Suma Kian Bu dan juga Hek-sin Touw-ong yang akan membantu kita."

"Suma Kian Bu....?"

Wajah puteri itu agak berubah ketika mendengar nama ini, nama seorang pemuda yang takkan pernah dilupakannya selama hidupnya, pemuda yang selalu menimbulkan rasa iba di hatinya kalau dia teringat, karena dia tahu betapa pemuda perkasa itu amat mencintanya dan cintanya itu terpaksa ditolaknya sehingga dia menghancurkan hati pemuda itu.

Seorang pemuda perkasa yang sudah berkali-kali menolongnya, putera dari Pulau Es, dan amat mencintainya, namun terpaksa ditolaknya karena cintanya hanya untuk Tek-Hoat seorang!

Hwee Li tidak tahu akan rahasia antara sang puteri dan Siluman Kecil, maka dia hanya mengira bahwa Syanti Dewi girang mendengar nama itu karena tentu saja puteri ini sudah mengenalnya.

"Marilah, Bibi, sekarang juga kita pergi. Kita tidak banyak waktu...."

Hwee Li memegang tangan puteri itu dan menariknya bersama Hek-tiauw Lo-mo lalu keluar dari dalam kamar itu.

Para penjaga dan juga para pengawal Bhutan yang berada di situ tidak menaruh curiga melihat sang puteri keluar bersama Hwee Li, karena memang antara dua orang wanlta cantik ini terdapat persahabatan yang amat akrab.

Akan tetapi, baru saja tiga orang ini keluar dari kamar dan Kian Bu berdiri seperti terpesona ketika melihat sang puteri, sebaliknya Syanti Dewi juga memandang pemuda itu dengan mata terbelalak saking kagetnya menyaksikan perubahan pada diri Kian Bu, terutama rambutnya, selagi mereka saling pandang dengan penuh perasaan terharu, tiba-tiba datang seorang pengawal bangsa Nepal yang menghampiri Hek-hwa Lo-kwi palsu.

"Pangcu, atas perintah dari pangeran, tawanan ini agar dibawa kembali ke sana, tidak boleh dibunuh dulu."

Hek-sin Touw-ong yang menyamar sebagai Hek-hwa Lo-kwi terkejut.

"Eh, ada urusan apakah?"

Tanyanya cemas.

"Entahlah, akan tetapi pangeran mengutus saya untuk memberi tahu kepada Pangcu agar tawanan ini dibawa kembali ke sana."

Hek-sin Touw-ong menjadi bingung dan hatinya merasa tidak enak sekali.

Orang macam Pangeran Nepal itu bukanlah orang sembarangan dan tentu memiliki kecerdikan luar biasa.

Hal ini dapat dilihatnya ketika dia tahu melihat sepasang mata Pangeran Nepal itu.

Mengelabuhi orang seperti itu dengan penyamarannya memang mungkin dapat, akan tetapi hanya sekelebatan saja.

Kalau dia harus menghadap dan banyak bicara dengan pangeran itu, tentu penyamarannya akan dikenal.

Apalagi kalau Siluman Kecil diserahkan kepada pangeran itu, tentu akan berbahaya malah.

Dalam keadaan bingung dia menengok ke arah Hek-tiauw Lo-mo palsu.

Dia mengandalkan kecerdikan muridnya ini.

Akan tetapi, berada di tempat asing itu dan menghadapi banyak orang pandai, bahkan Ang-siocia yang biasanya cerdik itu menjadi bingung dan khawatir.

Dalam keadaan seperti itu Hwee Li yang cepat berkata.

"Dia ini musuh besar kami, harus dibunuh! Dan kami akan mengajak sang puteri untuk menyaksikan pelaksanaan pembunuhan terhadap musuh besar ini! Mari, Bibi Syanti!"

Dia menggandeng tangan puteri itu dan memberi isyarat kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi untuk cepat pergi dari situ.

Hek-hwa Lo-kwi lalu mendorong tubuh Siluman Kecil yang dibelenggunya itu ke depan dengan kasar.

Para penjaga menjadi bingung, juga utusan orang Nepal ltu menjadi bingung.

Dia merasa ragu-ragu untuk memaksa Hek-hwa Lo-kwi yang menjadi pangcu (ketua) dari Kui-liong-pang dan sebenarnya adalah tuan rumah di lembah itu.

Juga dia tahu baik bahwa Hek-tiauw Lo-mo adalah seorang tokoh pembantu dari majikannya, sedangkan Hwee Li adalah tunangan sang pangeran dan puteri itu adalah Puteri Bhutan, seorang tamu agung,!

Akan tetapi baru saja lima orang itu bergerak, Mohinta yang sejak tadi memandang dan mendengar-kan saja sudah berteriak.

"Tahan!"

Dia meloncat maju menghadang.

"Mohinta, manusia pengkhianat!"

Bentak Syanti Dewi penuh kebencian.

Dia sudah tahu akan kehadiran Mohinta di tempat itu dan dia amat benci kepada Panglima Bhutan ini yang menurut Hwee Li telah berniat memberontak dan bersekutu dengan orang Nepal.

"Engkau mau apa? Minggir!"

Akan tetapi Mohinta tersenyum dan menggeleng kepala.

"Lekas kau melapor kepada Sang Pangeran Bharuhendra!"

Teriak Mohinta kepada pengawal Nepal tadi, lalu dia menghadapi lima orang itu.

"Sebelum ada keputusan dari sang pangeran, kalian berlima tidak boleh meninggalkan tempat ini!"

Mohinta memang cerdik sekali.

Tentu saja dia tahu bahwa Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi adalah dua orang tokoh besar yang sakti dan yang menjadi pembantu-pembantu Pangeran Bharuhendra atau Liong Bian Cu.

Akan tetapi melihat betapa mereka hendak membawa pergi Syanti Dewi, dia merasa curiga dan tidak mau memperkenankan mereka membawa pergi sang puteri begitu saja.

Dia sampai berada di situ adalah demi sang puteri ini, maka tidak boleh orang membawanya pergi di luar pengawasannya.

Melihat orang Nepal tadi kini membalik dan berlari cepat menuju ke tempat tinggal Pangeran Liong Bian Cu yang seperti istana di tengah-tengah lembah itu, terkejutlah Hwee Li.

"Cepat!"

Serunya dan dia sudah menerjang Mohinta.

Panglima Bhutan ini terkejut dan berusaha mengelak, akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo palsu telah menendang sehingga dia roboh terguling!

Hwee Li cepat menyambar tangan Syanti Dewi dan diajaknya berlari menuju ke pintu belakang lembah.

Gegerlah keadaan di situ, apalagi setelah Mohinta meloncat bangun kembali dan berteriak-teriak dengan suara keras.

"Tangkap pemberontak! Kepung! Tahan, mereka hendak melarikan Sang Puteri Bhutan dan tawanan!"

Para pengawal maju mengepung dan menghadang.

Melihat ini, Siluman Kecil menggerakkan kedua tangannya dan patahlah belenggu tangannya.

Para pengawal mengeroyok dan terjadilah pertempuran.

Terdengar pengawal memukul tanda bahaya dan keadaan menjadi makin geger!

Dengan mudah saja Siluman Kecil, Hwee Li, Ang-siocia, Hek-sin Touw-ong dan juga Puteri Syanti Dewi sendiri yang membantu merobohkan para pengawal itu.

Akan tetapi kini nampak puluhan orang pengawal dan perajurit datang berlarian, juga anak buah Kui-liong-pang dan muncul orang-orang pandai seperti Hwai-kongcu Tang Hun dan tiga orang pembantunya yang lihai, yaitu Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok, Hai-liong-ong Ciok Gu To dan masih banyak lagi para pembantu Pangeran Nepal yang datang berlarian ke tempat itu.

"Cepat kita lari!"

Hwee Li berseru sambil menyambar tangan Syanti Dewi dan mereka semua sudah melarikan diri dikejar oleh puluhan orang pengawal.

Akan tetapi suara tanda bahaya itu telah menggerakkan para penjaga di sebelah belakang dan kini ke manapun mereka melarikan diri, selalu mereka dihadang oleh puluhan orang, bahkan mulai nampak pasukan dengan teratur sekali menjaga dan menghadang semua jalan.

"Celaka! Suhu, lekas lepas api!"

Teriak Ang-siocia sambil mengamuk ketika kembali mereka sudah dikeroyok.

Hek-hwa Lo-kwi palsu, yaitu penyamaran Hek-sin Touw-ong, cepat meloncat ke atas genteng dan dari situ dia melemparkan empat buah benda ke empat penjuru.

Terdengar ledakan-ledakan disusul oleh berkobarnya api yang membakar rumah-rumah yang dilempari bahan peledak itu.

Suasana menjadi makin kacau-balau dan lima orang itu kembali dikepung dan dikeroyok.

Akan tetapi, para anggauta Kui-liong-pang tidak ada yang berani mengeroyok ketua mereka!

Dan juga banyak orang tidak berani menghadapi Hek-tiauw Lo-mo, apalagi menyerang Hwee Li yang menjadi tunangan sang pangeran.

Maka pengepungan itu hanya untuk mencegah mereka melarikan diri saja, dan hanya Siluman Kecil saja yang dikeroyok oleh banyak orang.

Akan tetapi justeru ini yang mencelakakan para pengeroyok karena setiap gerakan pemuda ini pasti merobohkan beberapa orang sekaligus.

Hwee Li juga dikepung dan dara ini mengamuk dengan hebat.

Karena gugup maka dara ini tidak tahu bahwa sebetulnya, kalau dia tidak bergerak, tidak akan ada orang yang berani menyerangnya!

Akan tetapi karena dia mengamuk, maka para pengepung itu bergerak hanya untuk membela diri saja.

Dara ini lupa bahwa sebetulnya tidak mungkin ada seorang pun di antara mereka yang berani melukai kekasih dan tunangan Pangeran Nepal!

Syanti Dewi yang tadinya mendapatkan harapan untuk lolos dari tempat itu, kini begitu melihat bahaya, tidak mau tinggal diam.

Selama dia berkumpul dengan Hwee Li di tempat itu, dia telah mempelajari ilmu silat dari dara ini sehingga dia telah memperoleh kemajuan.

Maka ketika melihat beberapa orang anak buah Mohinta berusaha menangkapnya, dia pun mengamuk dan kaki tangannya telah merobohkan beberapa orang.

Pengeroyokan menjadi makin rapat, sungguhpun keadaan amat kacau oleh kebakaran-kebakaran itu.

Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit dan ketika Hwee Li menoleh, ternyata puteri itu telah dipeluk oleh Mohinta.

Kiranya Mohinta yang cerdik ini telah menyelinap dengan diamdiam, dan ketika melihat kesempatan selagi Syanti Dewi mengamuk, dia sudah menubruk dari belakang dan merangkul puteri itu.

"Keparat, lepaskan Bibi Syanti!"

Hwee Li membentak dan menerjang maju, akan tetapi dia cepat menahan gerakannya dan meloncat mundur dengan muka pucat ketika melihat betapa Mohinta menodongkan pisau runcing ke leher Syanti Dewi.

"Mundur kau! Atau kubunuh dia!"

Bentak Mohinta yang cerdik.

Melihat ini, tentu saja Hwee Li menjadi pucat dan dia menjadi marah, lalu mengamuk dan sekaligus merobohkan empat orang pengepung.

"Kita gagal! Lari....!"

Hwee Li berteriak karena maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menolong Syanti Dewi dan kini paling perlu adalah menyelamatkan diri lebih dulu.

Akan tetapi hampir saja Hwee Li celaka ketika Hwa-i-kongcu Tang Hun yang sudah tiba di situ menubruk dari samping.

Pemuda yang menjadi ketua Liong-sim-pang ini memang lihai bukan main.

Biarpun Hwee Li dapat mengelak, akan tetapi karena dara ini baru saja mengamuk dan mencurahkan perhatian kepada empat orang yang dirobohkan itu, elakannya kurang cepat dan tangannya yang kiri dapat dicengkeram oleh Hwai-kongcu!

Hwee Li mengerahkan tenaga meronta, akan tetapi cengkeraman itu seperti jepitan baja yang amat kuat dan Hwa-i-kongcu tersenyum menyeringai sambil berkata.

"Nona, sang pangeran akan berterima kasih kalau aku dapat menahanmu sehingga tidak sampai melarikan diri...."

"Wuuuttttt, desss....!"

Tubuh Hwai-kongcu terlempar dan bergulingan.

Dia dapat meloncat bangun lagi, kepalanya nanar.

Untung dia tadi masih menangkis ketika mendengar sambaran angin dahsyat dari kiri.

Ternyata Siluman Kecil sudah menerjangnya tadi untuk menolong Hwee Li dan akibat dari tangkisannya itu, dia sampai terlempar dan pandang matanya berkunang, kepalanya menjadi pening.

Tang Hun terkejut setengah mati, tidak mengira bahwa sedemikian ampuh dan dahsyatnya serangan dari Siluman Kecil maka dia hanya memandang dengan mata terbelalak dan hati gentar, tidak berani bergerak lagi!

Melihat keadaan yang gawat ini, Hek-si Touw-ong lalu berseru.

"Lari ke atas....!"

Dan dia sudah mendahului meloncat ke atas genteng.

Tiga orang temannya cepat berloncatan ke atas dan pada saat itu, Hek-sin Touw-ong melemparkan dua buah benda yang meledak di bawah sehingga para pengeroyok dan pengejar menjadi mawut dan kacau-balau.

Mereka terus berloncatan dan Hek-sin Touw-ong mengobral bahan peledaknya, melempar-lemparkannya di seluruh tempat sehingga terdengar ledakan-ledakan bertubi-tubi dan nampak rumah-rumah di seluruh lembah dalam benteng itu kebakaran!

Untung bahwa para penjaga di pintu gerbang masih bingung dan ragu-ragu melihat Hek-tiauw Lo-mo dan terutama Hek-hwa Lo-kwi palsu itu.

Mereka masih belum tahu bahwa kedua orang kakek itu adalah palsu, bahkan yang tadi mengeroyok pun tidak ada yang tahu bahwa mereka itu palsu, Dan mereka hanya mengira bahwa dua orang kakek itu hendak berkhianat dan memberontak saja.

Inilah yang membuat para penjaga menjadi ragu-ragu dan mereka tidak meng-hadang dengan sepenuh hati karena mereka memang jerih terhadap dua orang kakek itu, dan tidak ada pula yang berani menyerang Hwee Li yang mereka kenal sebagai tunangan sang pangeran.

Dan karena ini, maka empat orang itu berhasil keluar dari dalam benteng itu tanpa banyak kesukaran, sungguhpun mereka merasa kecewa sekali karena tidak berhasil melarikan Syanti Dewi, apalagi keluarga Jenderal Kao Liang.

Benteng itu terlalu kuat dan penjagaan terlalu ketat.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di waktu api berkobar-kobar di dalam benteng itu, nampak bayangan berkelebatan yang sukar diikuti pandang mata.

Bayangan ini cepatnya bukan main sehingga tidak ada orang melihatnya.

Apalagi setelah api berkobar-kobar, asap membubung tinggi di mana-mana, bayangan itu seperti setan saja berkelebatan di antara genteng-genteng dan api-api berkobar, dari atas dia merupakan seorang wanita cantik sekali yang berpakaian mewah.

Kini wanita itu mengintai ke bawah dan melihat Mohinta yang masih merangkul Syanti Dewi yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

Wanita ini bukan lain adalah Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui!

Wanita cantik jelita ini pernah bertemu dengan Siluman Kecil dan dia amat tertarik kepada pendekar yang namanya sudah menggemparkan dunia kang-ouw itu.

Akan tetapi ketika dia mengadu ilmu silat dengan pendekar itu, dia terkejut sekali dan diam-diam dia maklum bahwa dia sendiri pun tidak akan mampu menandingi pendekar itu.

Akan dicobanya lagi kalau dia mempunyai kesempatan berjumpa dengan pendekar itu.

Betapapun juga, pendekar itu hanyalah seorang sutenya!

Dia sudah mendengar bahwa Pendekar Siluman Kecil berguru, bahkan dianggap putera oleh gurunya, yaitu Kim Sim Nikouw di lereng Bukit Tai-hang-san, maka pendekar itu masih terhitung sutenya juga.

Dia tidak pernah membayangkan bahwa Pendekar Siluman Kecil itu adalah putera Pulau Es!

Andaikata dia tahu akan hal ini, tentu Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui tidak akan merasa penasaran dikalahkan oleh pemuda itu.

Betapapun juga, dia merasa senang juga mendapatkan kenyataan bahwa dalam hal ginkang, dia masih menang dibandingkan dengan pendekar perkasa itu.

Dalam perjalanannya itu, Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui juga mendengar akan berkumpulnya tokoh-tokoh besar di dalam lembah Huang-ho.

Hal ini menarik perhatiannya dan dia lalu menuju ke ben-teng itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat Siluman Kecil menjadi tawanan dua orang kakek bersama seorang dara yang cantik berpakaian hitam!

Dia sendiri tidak tahu bahwa dua orang kakek itu adalah palsu, karena dia melihat empat orang itu ketika mereka sedang memasuki pintu gerbang.

Karena amat tertarik melihat "sutenya"

Itu menjadi tawanan, diam-diam Bu-eng-kwi lalu membayangi.

Mudah saja bagi ahli ginkang seperti dia untuk berloncatan naik melalui tembok benteng tanpa diketahui orang.

Akan tetapi begitu menyaksikan keadaan benteng itu, Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui menjadi terkejut bukan main dan dia kagum.

Benteng ini amat hebat, pikirnya!

Amat kuatnya sehingga merupakan benteng perang yang kokoh dan sukar diserbu pasukan dari luar!

Penjagaannya demikian ketat sehingga kalau dia tidak memiliki ginkang yang luar biasa, tentu amat sukar untuk dapat memasuki-nya, apalagi pasukan yang hendak masuk lewat pintu gerbang yang berlapis-lapis itu!

Dia sendiri menjadi bingung setelah naik ke atas tembok dan terpaksa menyelinap dan bersembunyi agar jangan ketahuan penjaga.

Dia tidak tahu ke mana dibawanya Siluman Kecil dan gadis berbaju hitam tadi oleh dua orang kakek yang kelihatan seperti iblis itu.

Selagi dia bingung dan tidak tahu harus mencari ke mana, dan dia hanya mempergunakan ginkangnya yang luar biasa, yaitu semacam ilmu yang dikuasai oleh Siluman Kecil, yang disebut Jouw-san-hui-teng (Ilmu Terbang di Atas Rumput), dia berkelebatan di atas genteng-genteng bangunan itu dengan amat hati-hati sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, Tiba-tiba dia melihat Siluman Kecil, gadis cantik dan dua orang kakek yang menawan mereka tadi keluar dari bangunan induk!

Dia menjadi girang sekali dan diam-diam dia membayangi dari atas.

Kemudian dia menyaksikan keributan yang terjadi, disusul pertempuran dan kebakaran-kebakaran yang dilakukan oleh kakek bermuka tengkorak itu dengan senjata-senjata bahan peledaknya.

Kini tahulah dia bahwa Siluman Kecil bukan ditawan, melainkan pura-pura ditawan dan betapa dua orang kakek itu malah menjadi kawan-kawan dari Siluman Kecil dan gadis cantik itu!

Ketika dia melihat Puteri Syanti Dewi, Ouw Yan Hui terpesona dan kagum sekali.

Belum pernah dia melihat seorang wanita secantik itu dan begitu melihatnya, seketika dia tertarik dan merasa suka seketika!

Akan tetapi, agaknya wanita aneh ini tidak akan bertindak sesuatu dan tidak sudi mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya, kalau saja dia tidak melihat Puteri Syanti Dewi dipeluk dan diseret oleh Panglima Bhutan itu secara paksa memasuki sebuah rumah.

Melihat puteri jelita itu dipaksa orang, mendadak timbul kemarahan wanita ini.

Dan memang menjadi pantangan bagi Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui melihat seorang wanita diperlakukan secara kasar oleh seorang pria.

Ketika dia melihat lima orang penjahat Ngo-giam-lo-ong dari selatan melarikan seorang gadis, Ouw Yan Hui juga mengejarnya dan akhirnya membunuh mereka di dalam hutan karena lima orang penjahat itu telah memperkosa gadis itu sampai mati, seperti yang telah dilihat oleh Siluman Kecil.

Kini melihat, puteri cantik jelita yang amat menarik hatinya itu diseret dan dirangkul secara paksa oleh seorang Panglima Bhutan, dia marah sekali dan bagaikan seekor burung garuda yang marah, dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah menyambar dari atas ke bawah, menukik turun menerjang Mohinta yang sedang berkutetan dengan Syanti Dewi.

Mohinta hendak memaksa puteri itu masuk kembali agar jangan sampai terancam bahaya dilarikan orang, sedangkan Syanti Dewi yang ingin melarikan diri bersama Hwee Li, meronta-ronta.

Ketika Mohinta mendengar berdesirnya angin dari atas, dia memandang dan alangkah kagetnya ketika dia melihat seorang wanita seperti seekor burung saja menyerangnya.

Dia mengira bahwa yang menyerangnya itu tentu Hwee Li karena dia pun tahu bahwa tunangan sang pangeran itu lihai sekali.

"Mundur!"

Bentaknya dan seperti tadi dia mengancamkan pisaunya ke leher Puteri Syanti Dewi.

Kalau saja yang menyerangnya itu adalah Hwee Li, tentu Hwe Li tidak akan berani melanjutkan serangannya, karena khawatir kalau-kalau nyawa Syanti Dewi terancam.

Akan tetapi Ouw Yan Hui sama sekali tidak peduli akan hal ini.

Dia marah kepada orang Bhutan itu dan dia tidak peduli akan keselamatan Syanti Dewi yang tidak dikenalnya.

Maka dia tidak menghentikan serangannya dan tubuhnya terus meluncur dan menyerang Mohinta dengan hebatnya!

Mohita terkejut bukan main.

Tentu saja dia pun mengancam Syanti Dewi bukan untuk membunuhnya sungguh-sungguh.

Maka kini melihat wanita itu masih nekat dan menyerang terus, dia terpaksa melepaskan Syanti Dewi dan menggunakan pisaunya untuk memapaki wanita yang menyerangnya itu, karena kini dia melihat bahwa wanita itu sama sekali bukan Hwee Li tunangan Pangeran Bharuhendra!

"Plakkk....

tringgg....!"

Untuk kedua kalinya malam itu, tubuh Mohinta yang sial itu terlempar dan terhuyung.

Ketika dia meloncat bangun, ternyata bagaikan seekor burung garuda saja, wanita cantik berpakaian mewah itu telah berkelebat pergi sambil memanggul tubuh Syanti Dewi!

"Hei, berhenti....!"

Mohinta berseru dan cepat mengambil pisaunya yang tadi terlepas karena tangkisan wanita itu.

Dia ingin menyambit, akan tetapi khawatir kalau mengenai tubuh Syanti Dewi, maka dia lalu berteriak-teriak minta bantuan dan dia sendiri lalu mengejar.

Akan tetapi kemanakah dia hendak mengejar.

Wanita itu hanya dengan beberapa kali lompatan saja telah lenyap di antara api dan asap yang memenuhi tempat itu.

Mula-mula Syanti Dewi meronta karena terkejut sekali melihat dirinya dibawa loncat secepat itu ke atas.

Akan tetapi ketika dia melihat betapa dia di panggul seorang wanita cantik dan dibawa "terbang"

Melalui api yan bernyala-nyala dan asap tebal, sehingga nampaknya setiap saat dia dapat terbakar dijilat lidah api merah, dia merasa ngeri sekali.

Melihat bahwa wanita itu adalah seorang yang sama sekali tidak dikenalnya, dia berkata.

"Lepaskan aku....!"

"Huh, lepaskan? Benarkah?"

Wanita itu lalu melepaskan tubuh Syanti Dewi yang berdiri di atas tembok benteng, dikelilingi api dan asap! Syanti Dewi terbelalak ngeri.

"Eh, ohhh.... tolong....!"

Teriaknya.

"Hemmm!"

Ouw Yan Hui mengejek dan dia menyambar lagi, memanggul tubuh Syanti Dewi yang saking ngerinya menjadi hampir pingsan itu, dipanggul di atas pundak kanannya lalu dia berloncatan lagi amat cepatnya seperti terbang saja!

Beberapa kali Syanti Dewi membuka mata akan tetapi terpaksa memejamkannya kembali matanya ketika melihat betapa dia dibawa lari terus di atas rumah yang terbakar dan terus ke tembok-tembok benteng yang berlapis-lapis itu untuk kemudian berloncatan keluar dari benteng seperti seekor burung terbang saja!

Hampir Syanti Dewi menjerit ngeri ketika Ouw Yan Hui meloncat dari atas wuwungan tempat penjagaan di atas tembok benteng yang tebalnya hanya satu meter itu, padahal di kanan kiri tembok itu api masih berkobar!

Akan tetapi sebenarnya puteri ini tidak perlu khawatir.

Dengan mudah Ouw Yan Hui meloncat dan hinggap di atas tembok dengan kaki kanan, gerakannya seperti orang menari saja.

Kemudian, dari atas tembok ini Ouw Yan Hui meloncat ke luar kemudian terus berlari di dalam kegelapan malam, menyusup di antara pohon-pohon di dalam hutan di luar benteng itu.

Malam telah larut dan mereka telah berada jauh sekali dari benteng di lembah Huang-ho ketika Ouw Yan Hui berhenti berlari, menurunkan tubuh Syanti Dewi.

Mereka berada di lereng sebuah bukit, di dalam hutan kecil yang amat sunyi.

Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui membuat api unggun dan mereka berdua duduk di dekat api unggun, saling berhadapan dan sejak tadi mereka tidak saling bicara.

Kini, mereka berdua duduk saling berpandangan, dihalangi oleh api unggun yang menyinari wajah dua orang wanita itu dengan cahaya yang kemerahan.

Keduanya terkejut dan kagum.

Setelah kini berada di tempat yang diterangi oleh api unggun, duduk berhadapan dan berdekatan, mereka dapat melihat wajah masing-masing dengan jelas dan keduanya merasa kagum bukan main oleh kecantikan masing-masing.

Syanti Dewi memandang wanita yang duduk di depannya itu dengan penuh perhatian.

Sukar menaksir berapa usia wanita ini, akan tetapi dia merasa pasti bahwa wanita ini jauh lebih tua daripada dia, sungguhpun melihat wajahnya, tentu orang akan menaksir bahwa usia wanita ini tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun.

Seraut wajah yang bulat seperti bulan, dengan dagu runcing, kedua pipinya halus penuh kemerahan amat mulusnya, sepasang mata yang jernih dan lembut, sungguhpun di balik kelembutan itu mengandung sifat dingin yang menyeramkan.

Rambutnya digelung seperti model gelung puteri istana, dihias, dengan hiasan rambut dari emas permata yang indah dan tentu mahal sekali harganya, berbentuk burung hong.

Telinganya juga memakai perhiasan yang bermata besar dan berkilauan.

Hidungnya kecil mancung, cuping hidungnya mudah kembang kempis, mulutnya kecil akan tetapi selalu terbuka secara menantang, mulut yang membayangkan berahi yang besar, sungguhpun kalau dikatupkan lalu nampak betapa wanita ini dapat berwatak kejam.

Alisnya seperti dilukis saja, demikian pula sinom rambut dan anak rambut di pelipisnya.

Wajah yang cantik jelita dan manis bukan main, tidak kalah oleh wanita puteri-puteri istana!

Dan tubuh itu padat dan penuh lekuk lengkung menggairahkan, tubuh seorang wanita yang sudah matang.

Sung-guh sukar membayangkan betapa di dalam tubuh yang penuh daya tarik kewanitaan ini dapat tersembunyi tenaga dahsyat dan ilmu yang demikian tinggi.

Perhiasan wanita itu, pakaiannya yang mewah dan rapi, gelang-gelang di tangannya, sepatunya, semua menunjukkan bahwa wanita ini pantasnya seorang puteri istana atau seorang puteri yang kaya raya.

Bahkan Puteri Milana yang pernah dikenalnya, puteri istana sakti itu, tidak pernah bersolek semewah wanita ini!

Syanti Dewi memandang penuh keheranan dan menduga-duga gerangan wanita yang telah menyelamatkan dirinya dari dalam benteng itu, menyelamatkannya ataukah menculiknya?

Di lain fihak, Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui juga terkejut, kagum dan terpesona sehingga sejenak dia tidak dapat berkata-kata, hanya menatap wajah Syanti Dewi penuh kekaguman dan perhatian.

Selama hidupnya, belum pernah dia melihat wajah yang demikian sempurna kecantikannya!

Tadinya dia, seperti yang dibanggakan oleh gurunya, yaitu Maya Dewi, adalah seorang wanita yang memiliki kecantikan wanita Tiongkok yang sempurna!

Dan gurunya itu, Maya Dewi, adalah seorang wanita yang memiliki kecantikan wanita India yang paling sempurna!

Akan tetapi kini, berhadapan dengan Syanti Dewi, Ouw Yan Hui melihat kecantikan yang membuat dia terpesona!

Kecantikan dara ini begitu wajar, bahkan pakaiannya yang sederhana, rambutnya yang awut-awutan, matanya yang terbelalak lebar penuh kekhawatiran, bibirnya yang agak pucat dan agak gemetar karena cemas, tidak mengurangi kecantikannya!

Diam-diam Ouw Yan Hui merasa penasaran sekali!

Setiap kali bertemu dengan wanita cantik di manapun juga, dia selalu merasa besar hati karena ya-kin akan kecantikannya sendiri yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi kini, duduk berhadapan dengan dara yang ditolongnya ini di antara api unggun, dia tiba-tiba merasa bimbang!

"Siapa engkau?

Siapa namamu?"

Tiba-tiba Ouw Yan Hui bertanya dan suaranya juga halus merdu, seperti suara seorang dara muda, suara halus yang "basah".

"Namaku Syanti Dewi."

"Eh?? Engkau bangsa apakah?"

"Aku datang dari Bhutan"

"Hemmm, engkau tentu bukan gadis kampungan biasa. Hayo ceritakan, siapa sebenarnya engkau yang mengaku dari Bhutan ini?"

Syanti Dewi mengerutkan alisnya.

Tidak senang dia melihat sikap orang yang angkuh dan kaku ini, juga sinar mata yang tiba-tiba menjadi dingin sekali dan menyeramkan itu.

Syanti Dewi menegakkan kepalanya dan dengan sikap yang agung dia lalu berkata.

"Aku adalah Puteri Bhutan!"

Kini Ouw Yan Hui yang mengerutkan alisnya.

Kiranya seorang puteri istana!

Dia makin tertarik.

Sudah terlalu lama dia menyembunyikan diri tidak mencampuri urusan dunia kang-ouw sehingga dia tidak pernah mendengar tentang Puteri Bhutan yang sudah banyak menggegerkan dunia kang-ouw ini.

"Kau puteri Raja Bhutan, kenapa meninggalkan istanamu dan jauh-jauh berkeliaran sampai di sini?"

Syanti Dewi tidak mau menjawab, hanya memandang ke dalam api unggun.

Sejenak Ouw Yan Hui menatap wajah itu, lalu dia tersenyum seorang diri.

Dara ini benar-benar seorang puteri yang agung dan angkuh, pikirnya.

Cocok benar dengan dia!

Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan Syanti Dewi mengangkat muka me-mandang, mengikuti gerakannya.

"Kau bisa silat?"

Kembali Ouw Yan Hui bertanya.

Syanti Dewi menggeleng kepala.

Ouw Yan Hui tersenyum mengejek, karena dia tadi melihat pula betapa puteri ini melawan dan sempat pula merobohkan beberapa orang perajurit sebelum dia ditangkap oleh Panglima Bhutan itu.

"Aku hendak membunuhmu, hendak kulihat apakah kau demikian pengecut untuk menerima kematian tanpa membela diri!"

Setelah berkata demikian, Ouw Yan Hui meloncat dan menendang ke arah tubuh Syanti Dewi untuk membuat puteri itu terlempar ke dalam api unggun.

"Ihhh!"

Syanti Dewi meloncat dan mengelak, gerakannya cepat juga karena selama ini dia telah memperoleh banyak kemajuan.

Semenjak dia dahulu diberi petunjuk oleh Ceng Ceng, kemudian oleh pendekar sakti Gak Bun Beng (baca Kisah Sepasang Rajawali), kemudian baru-baru ini oleh Hwee Li, sang puteri ini telah memperoleh kemajuan pesat dan kalau hanya beberapa orang laki-laki biasa saja jangan harap dapat menandinginya.

"Bagus!"

Ouw Yan Hui berseru dan mulailah wanita ini melancarkan serangan bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan maut!

Tentu saja Syanti Dewi marah sekali.

Tadinya memang dia tidak tahu apa maksudnya wanita cantik ini membawanya lari keluar dari benteng, dan dia tidak tahu apakah wanita ini kawan atau lawan.

Siapa kira, kini wanita itu hendak membunuhnya, setelah bersusah-payah membawanya ke luar dari benteng.

Gila!

Jangan-jangan memang gila wanita cantik ini, pikir Syanti Dewi dan bulu tengkuknya meremang ngeri.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dibunuh begitu saja tanpa melawan dan sambil mengelak atau menangkis, dia pun menyerang pula dengan dahsyat untuk merobohkan wanita ini agar dia dapat melarikan diri.

Diam-diam Ouw Yan Hui terkejut juga menyaksikan beberapa gerakan pukulan yang menunjukkan bahwa dara ini pernah mempelajari ilmu silat tinggi!

Hanya latihannya belum matang dan memang jiwa puteri ini adalah lemah lembut sesuai dengan kedudukannya, maka serangan balasannya juga tidak mengandung kedahsyatan.

Mula-mula, Ouw Yan Hui yang hanya ingin menguji sampai di mana kepandaian Syanti Dewi, (Lanjut ke

Jilid 41) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41 bergerak dengan lambat untuk mengimbangi lawan.

Setelah dia puas menguji dan memperoleh kenyataan bahwa puteri ini tidak mengecewakan dan mulailah dia mempercepat gerakannya dan mulailah Syanti Dewi menjadi bingung.

Tiba-tiba saja wanita cantik itu lenyap dan tahu-tahu selagi dia bingung, wanita itu menowel pinggulnya dari belakangnya.

Dia membalik dan cepat menyerang, akan tetapi kembali wanita itu lenyap untuk muncul secara aneh di belakangnya, di kanan atau kirinya.

Syanti Dewi berpusing-pusing dan akhirnya dia roboh karena pening dan duduk terengah-engah di dekat api unggun.

"Bunuhlah kalau mau bunuh, aku tidak takut mati dan aku tidak dapat melawanmu!"

Katanya dengan kepala ditegakkan penuh keagungan.

Ouw Yan Hui makin kagum.

Puteri ini selain memiliki ilmu silat yang boleh juga, ternyata tidak cengeng seperti puteri-puteri lain, tidak menangis, bahkan tabah sekali menghadapi ancaman kematian seperti sikap seorang pendekar wanita tulen!

Dia pun duduk kembali seperti tadi.

"Tadi kulihat Siluman Kecil berusaha menyelamatkanmu dari benteng. Apakah hubunganmu dengan dia?"

Syanti Dewi terkejut dan tanpa dapat dicegahnya lagi, kedua pipinya yang tadi sudah merah karena marah dan lelah itu menjadi makin merah.

Teringat dia akan cinta kasih Suma Kian Bu kepadanya.

Sukar baginya untuk menjawab, maka dia hanya menggeleng kepala, lalu akhirnya dapat juga berkata.

"Hanya teman baik, aku pun baru tahu ketika dia muncul, setelah lima tahun lebih tidak saling jumpa."

Syanti Dewi lalu menatap wajah yang cantik itu, lalu dia pun bertanya dengan suara mengandung penasaran.

"Dan engkau siapakah? Aku tidak minta pertolonganmu akan tetapi engkau meloloskan aku keluar dari benteng, hanya untuk kau hina. Apa maksudnya ini semua?"

Ouw Yan Hui tersenyum.

"Aku paling benci melihat pria, apalagi yang mengganggu wanita. Ketika kau diganggu Panglima Bhutan tadi, aku segera ingin menolongmu. Dan kau cantik sekali. Aku tidak bermaksud menghinamu."

"Dan tadi engkau menyerangku, mempermainkan aku...."

"Hemmm, kau tidak tahu, Syanti Dewi. Aku hanya ingin menguji sampai di mana kepandaianmu."

"Siapakah engkau sebenarnya?"

Syanti Dewi tertarik sekali.

Wanita ini aneh, cantik jelita, dan berilmu tinggi.

Seketika lenyap rasa penasaran dan marahnya karena dipermainkan tadi.

Biarpun dia sendiri bukan terhitung seorang wanita kang-ouw, akan tetapi selama beberapa tahun ini kehidupan Syanti Dewi penuh dengan pengalaman, dan sudah banyak sekali dia bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang lihai-lihai dan yang aneh-aneh, maka dia dapat memaklumi keanehan wanita ini.

"Orang menyebutku Bu-eng-kwi (Iblis Tanpa Bayangan), akan tetapi namaku adalah Ouw Yan Hui. Aku juga bukan orang sembarangan, Syanti Dewi. Kalau engkau seorang Puteri Bhutan, maka aku adalah seorang ratu, ratu dari pulauku sendiri!"

Ouw Yan Hui tersenyum dan kalau dia tersenyum, memang dia cantik sekali, sedikit pun tidak membayangkan bahwa dia adalah seorang wanita iblis yang amat lihai.

Syanti Dewi menjadi heran.

"Dan apa yang hendak kau lakukan kepadaku?"

"Apa yang kau harapkan?"

"Agar engkau membebaskan aku, membiarkan aku pergi setelah kau berhasil meloloskan aku dari benteng itu. Dan aku, Syanti Dewi, selamanya tidak akan melupakan budi kebaikan Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui."

"Dan ke mana kau hendak pergi?"

"Ke mana saja kakiku membawaku. Aku...., aku mencari dua orang."

"Siapa mereka?"

"Yang pertama adalah Teng Siang In, gadis sahabatku yang membawaku pergi dari Bhutan, dan ke dua adalah.... Ang Tek Hoat, dia.... dia tunanganku!"

"Hemmm!"

Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya.

Dia merasa sayang bahwa seorang dara secantik Puteri Bhutan ini mau saja menyerahkan hatinya kepada seorang pria!

Pria di dunia ini tidak ada yang baik, tidak ada yang bisa dipercaya!

"Dengan kepandaian silatmu yang biasa saja ini, dan dengan adanya demikian banyaknya orang pandai di dunia, apalagi mereka yang berada di dalam benteng tentu akan mengejar dan mencarimu, mana mungkin kau melakukan perjalanan seorang diri saja?

Baru satu dua hari saja engkau tentu akan terjatuh ke tangan orang jahat lagi.

"Aku tidak takut."

"Akan tetapi aku tidak mau melepasmu ke dalam bahaya."

"Lalu apa yang akan kau lakukan terhadap diriku, Bu-eng-kwi?"

Ouw Yan Hui memandang penuh perhatian dan Syanti Dewi menambah kayu dalam api unggun sehingga apinya berkobar lagi.

Dia tidak takut kepada wanita cantik ini karena dia dapat menduga bahwa wanita ini hanya lihai dan aneh, akan tetapi agaknya tidak jahat dan pasti tidak akan mengganggunya.

"Apa yang akan kulakukan? Hemmm, tergantung keadaanmu, Syanti Dewi. Aku akan mengambil keputusan kalau aku sudah mendengar riwayatmu mengapa engkau seorang puteri dari Bhutan sampai bisa berada di sini dan menjadi tawanan di dalam benteng itu."

Syanti Dewi menarik napas panjang.

Wanita ini aneh, lihai sekali, dan betapapun juga wanita ini telah menolongnya melepaskan dia dari dalam benteng yang amat kokoh kuat itu.

Maka sebaiknya dia mengaku terus terang agar jangan membikin marah hati wanita aneh ini.

Dengan singkat Syanti Dewi lalu menceritakan semua pengalamannya, semenjak dia lolos dari istana ayahnya di Bhutan, dibantu oleh Teng Siang In, untuk menyusul dan mencari tunangannya, yaitu Ang Tek Hoat.

Betapa dia jatuh ke tangan Hwai-kongcu Tang Hun ketua dari Liongsiam-pang dan akan dipaksa menjadi isterinya, kemudian betapa dia diperebutkan dan akhirnya dia terjatuh ke tangan Gitananda, kakek pembantu dari Koksu Nepal itu dan akhirnya terjatuh ke tangan Pangeran Nepal dan ditawan di dalam benteng itu.

Betapa kemudian Hwee Li, yang tadinya juga menjadi tawanan di benteng itu dan dijadikan tu-nangan oleh Pangeran Nepal secara paksa, mencoba untuk menolongnya, dibantu oleh Suma Kian Bu dan dua orang lain yang menyamar sebagai dua orang kakek iblis.

"Suma Kian Bu? Siapa dia?"

Ouw Yan bertanya. Kini Syanti Dewi yang memandang heran.

"Bukankah kau tadi sudah menyebutnya, dengan sebutan aneh, kalau tidak salah, Siluman Kecil?"

"Ah, jadi Siluman Kecil itu bernama Suma Kian Bu? Suma....? Seperti pernah kudengar nama keturunan ini...."

"Tentu saja. Suma Kian Bu adalah putera dari Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman dari...."

"Pulau Es....?"

Sepasang mata yang masih indah itu terbelalak dan wajah Ouw Yan Hui agak berubah saking kagetnya mendengar bahwa Siluman Kecil adalah putera dari Pulau Es!

Kini Syanti Dewi mengangguk bangga.

"Benar, dia adalah putera dari pendekar sakti Suma Han, majikan dari Pulau Es. Sungguh kasihan sekali Suma-taihiap...."

Tiba-tiba Syanti Dewi menghentikan kata-katanya, terkejut bahwa begitu menyebut nama ini, tanpa disadarinya dia teringat lagi akan hubungannya dengan pemuda itu dan begitu saja menyatakan perasaan hatinya yang selalu merasa iba kepada putera Pulau Es itu.

Apalagi begitu dia teringat betapa hebat perubahan terjadi atas diri pemuda itu.

Semua rambutnya telah menjadi putih!

Dia merasa bahwa dialah yang berdosa, dialah yang menjadi biang keladi dan bertanggung jawab atas kedukaan yang diderita pemuda itu sampai rambutnya putih semua!

Ucapan dan sikap Syanti Dewi ini membangkitkan keinginan tahu dari Ouw Yan Hui.

"Apa maksudmu? Mengapa kasihan?"

Dia mendesak, maklum bahwa ada sesuatu dirahasiakan oleh Puteri Bhutan itu.

Ada dua macam kebanggaan yang menyelinap di lubuk hati hampir setiap orang wanita normal.

Pertama adalah pernyataan bahwa dia muda dan cantik, dan ke dua adalah bahwa dia dicinta oleh pria!

Apalagi kalau pria yang mencintanya itu adalah seorang pria pilihan, bukan pria sembarangan!

Makin banyak pria tergila-gila dan jatuh cinta kepadanya, akan makin bangga dan besarlah hatinya.

Betapapun pandainya seorang wanita, betapapun majunya, betapapun dia hendak menutupinya dan merahasiakannya, namun di lubuk hatinya tentu akan terasa suatu kebanggaan besar kalau dia mengetahui bahwa dirinya dicinta oleh pria, dikagumi oleh pria.

Andaikata dia tidak membalas cinta kasih pria itu, dan dengan sikapnya menyatakan ketidaksenangan hatinya, namun di sebelah dalam hatinya ada perasaan bangga itu, bahkan penonjolan sikap penolakannya itu adalah usaha yang tidak disadarinya untuk lebih meninggikan harga dirinya lagi, bahwa dia masih terlalu "tinggi"

Untuk pria yang tidak dibalas cintanya itu.

Syanti Dewi, biarpun dia seorang puteri, tidak terlepas dari sifat yang menjadi naluri kewanitaan ini.

Kebanggaanlah yang mendorongnya untuk mengaku kepada Ouw Yan Hui.

Melihat betapa wanita cantik yang lihai itu terkejut mendengar bahwa Siluman Kecil adalah putera Pulau Es, kebanggaan hati karena kenyataannya bahwa pemuda luar biasa itu jatuh cinta kepadanya membuat dia lupa dan seperti dengan sendirinya dia menjawab.

"Aku kasihan kepadanya karena dia mencintaku tanpa aku dapat membalasnya...."

Kembali Syanti Dewi terkejut dan menghentikan kata-katanya yang sudah terlambat.

Dia merasa menyesal juga telah membuka rahasia itu, akan tetapi di samping penyesalannya ini, dia mengerling untuk melihat sikap wanita itu sewaktu mendengar pengakuannya ini.

Dan memang wanita cantik itu tertarik sekali, pandang matanya penuh kagum dan heran, juga alisnya bergerak-gerak, bibirnya komat-kamit tanpa bersuara.

Akhirnya, Ouw Yan Hui berkata.

"Dan kau menolak cinta putera Pulau Es itu karena engkau telah jatuh cinta kepada.... siapa pula nama tunanganmu tadi?"

"Ang Tek Hoat. Benar, aku telah saling jatuh cinta dengan Ang Tek Hoat!"

Jawab Syanti Dewi dengan tegas dan memang suara ini adalah suara hatinya.

"Akan tetapi Ang Tek Hoat itu meninggalkanmu dan kau, perempuan bodoh ini, mengejar dan mencari-carinya dari Bhutan sampai ke sini?"

Pandang mata Ouw Yan Hui berkilat karena dia merasa marah dan penasaran sekali!

Dan sebelum Syanti Dewi menjawab, dia melanjutkan dengan suara yang kedengaran marah.

"Dan kau percaya saja kepada laki-laki itu? Laki-laki yang sudah meninggalkanmu begitu saja? Kau, seorang puteri yang begini muda, begini cantik jelita, yang akan disembah oleh laksaan Laki-laki, kau begini merendahkan diri, begini menjual murah, merantau dan bersengsara hanya oleh seorang laki-laki yang tak dapat dipercaya mulutnya?"

Syanti Dewi terkejut melihat kema-rahan ini. Dia menggeleng kepala.

"Tidak, dia..... dia amat gagah dan baik.... dia terpaksa meninggalkan Bhutan, karena ayah marah kepadanya...."

"Huh! Laki-laki di dunia ini, di manapun sama saja. Mahluk yang palsu, tak dapat dipercaya sama sekali. Apa kau kira Ang Tek Hoat itu pun Laki-laki yang dapat dipercaya? Semua Laki-laki di dunia ini adalah jahat dan palsu!"

"Tetapi.... tapi dia baik sekali...."

"Itulah kalau wanita sudah jatuh cinta! Dan kau akan kecelik kelak, akan kecewa dan merana seperti aku...."

Syanti Dewi terkejut sekali, melihat kepada wanita yang tiba-tiba kelihatan berduka itu.

"Apakah yang telah terjadi denganmu.... Enci Ouw Yan Hui?"

Pertanyaan dari Puteri Bhutan ini terdengar begitu wajar, begitu halus karena memang merupakan suara dari hatinya yang mengandung penuh rasa iba sehingga Ouw Yan Hui merasa tersentuh perasaannya.

Dia menunduk, lalu berkatalah dia dengan suara gemetar.

"Aku mencinta dia, suamiku itu.... apalagi aku dalam keadaan mengandung untuk yang pertama kalinya.... akan tetapi.... malam itu.... aku melihat suamiku bermain cinta, berjina di dalam kamar seorang wanita tetangga...."

"Ahhh....!"

Syanti Dewi mengeluh penuh rasa iba dan penasaran.

"Kubunuh dia! Kubunuh mereka! Aku menjadi buronan! Hemmm, anak yang kukandung terlahir mati, kebetulan malah. Huh, sekarang, jangan harap ada pria akan mampu mempermainkan aku, kalau perlu akulah yang mempermainkan mereka! Syanti Dewi, jangan kau menjual dirimu demikian murah. Kau harus yakin dulu akan hati orang bernama Ang Tek Hoat itu! Uji dia sampai habis-habisan, dan engkau dapat melakukan hal itu jika engkau memiliki kepandaian."

"Akan tetapi dia lihai sekali...."

"Apa artinya kelihaiannya kalau engkau dapat bergerak seperti aku? Pria mana yang akan mampu menangkapku? Aku bebas, aku tidak dapat ditundukkan siapapun, dan aku dapat memperlakukan pria sesuka hatiku! Syanti Dewi, kalau kulepaskan engkau sekarang, akhirnya engkau hanya akan menjadi permainan pria. Lupakah engkau betapa sudah berkali-kali engkau terjatuh ke tangan pria-pria jahat? Kalau engkau berkepandaian, tak mungkin mereka itu dapat memandang rendah kepadamu."

"Maksudmu....?"

"Kau ikutlah bersamaku. Aku akan mengajarkan ginkang yang akan membuat engkau dapat bergerak seperti aku, sehingga tidak akan ada seorang pun pria di dunia ini yang dapat berbuat sesuka hatinya kepadamu, tanpa kau kehendaki. Engkau akan menjadi bagaikan seekor burung di angkasa yang dapat dipandang, dikagumi, akan tetapi tidak dapat ditangkap tangan!"

Syanti Dewi termenung.

Dia masih belum tahu di mana adanya Tek Hoat.

Dan kalau dia mengingat bahwa orang-orang di dalam lembah itu, Pangeran Nepal, Mohinta, dan semua anak buah Pangeran Nepal yang amat banyak dan amat lihai, tentu akan mengejar dan mencarinya, dia menjadi ngeri juga.

Apalagi janji yang diberikan Ouw Yan Hui ini amat menarik hatinya.

Kalau dia pandai "terbang"

Seperti itu, tentu selain tidak akan mudah ditangkap orang jahat, juga akan lebih mudah baginya untuk mencari Tek Hoat.

Untuk sementara ini lebih banyak selamatnya daripada ruginya kalau dia ikut bersama dengan wanita cantik itu, Maka dia mengangguk.

"Baiklah, aku mau ikut bersamamu, Enci."

"Sialan! Pangeran Nepal bedebah! Kalau dapat dia oleh tanganku, hemmm, akah kupatahkan batang hidungnya yang panjang bengkok itu!"

Ang-siocia atau Kang Swi Hwa mengomel panjang pendek sambil melempar-lemparkan penyamarannya sebagai Hek-tiauw Lo-mo "Sudah payah-payah aku setengah mati menyamar seperti setan dan hampir berhasil, eh, tahu-tahu si hidung kakatua itu membikin gagal saja."

Tiba-tiba dia menoleh kepada Hwee Li seperti orang teringat akan sesuatu dan cepat berkata.

"Ah, maafkan aku, Adik Hwee Li, bukan maksudku menyinggung engkau."

Hwee Li tadinya tersenyum mendengar omelan Swi Hwa, akan tetapi mendengar ucapan ini dia mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Mengapa kau minta maaf kepadaku, Enci Hwa?"

"Aku telah memaki dan mengancam mematahkan batang hidung.... eh, tunanganmu."

Sepasang mata Hwee Li memancarkan sinar marah.

"Hemmm, sekali lagi kau menyebut dia tunanganku, hidungmu sendiri yang akan kupatahkan!"

Katanya.

Ang-siocia tertawa.

Dia kecewa dan penasaran oleh kegagalan itu, akan tetapi tadi dia melihat Hwee Li masih dapat tersenyum-senyum, maka dia sengaja menggoda dara itu yang kini juga menjadi marah, maka legalah hatinya.

"Tidak ada yang harus dipersalahkan,"

Terdengar Hek-sin Touw-ong berkata sambil menggeleng kepala. Dia pun sudah melemparkan semua penyamarannya.

"Benteng itu kokoh kuat bukan main. Masih untung kita dapat menyelamatkan diri keluar dari sana. Hemmm, hebat sekali benteng itu dan penjagaannya amat kuat. Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, dan orang seperti Koksu Nepal itu berada di lembah, mana mungkin kita dapat menyelamatkan diri?"

"Ucapan Touw-ong memang tepat. Benteng itu tidak mungkin dapat ditembus tanpa bantuan pasukan yang kuat. Dan tanpa penyerbuan oleh pasukan, tidak mungkin menyelamatkan keluarga Jenderal Kao dan Puteri Syanti Dewi."

Dia diam sejenak, teringat akan puteri itu, hatinya menjadi gelisah sekali.

"Sekarang juga aku akan pergi ke kota raja untuk minta bantuan dan melaporkan keadaan di dalam benteng yang siap untuk memberontak itu."

"Aku ikut!"

Hwee Li sudah memotong cepat.

"Sayang kami tidak dapat membantu,"

Kata Hek-sin Touw-ong.

"Kami mempunyai urusan kami sendiri. Taihiap, kami ingin mohon pertolonganmu sedikit, yaitu, dapatkah Taihiap memberi tahu kepada kami, di mana adanya orang muda yang bernama Siauw Hong itu?"

"Siauw Hong?"

Kian Bu memandang kepada guru dan murid itu, dan melihat betapa Ang-siocia menundukkan mukanya.

Dia tidak tahu akan peristiwa yang terjadi antara Siauw Hong dan Ang-siocia.

"Maksudmu pemuda murid Sai-cu Kai-ong itu? Tentu saja dia berada di Bukit Nelayan di lereng Pegungungan Tai-hang-san itu."

Kian Bu tidak mau banyak ber-cerita tentang Siauw Hong, pemuda yang ternyata adalah keturunan dari keluarga Suling Emas yang hebat itu.

Karena hal itu amat dirahasiakan tadinya oleh kedua fihak yang bersangkutan, yaitu Sai-cu Kai-ong dan Sin-siauw Seng-jin, maka dia pun tidak mau membuka rahasia itu dan hanya mengatakan bahwa Siauw Hong yang telah diketahuinya bernama Kam Hong, keturunan langsung dari keluarga Suling Emas, kini berada bersama gurunya, Sai-cu Kai-ong di Tai-hang-san.

"Terima kasih, Suma-taihiap. Kami akan pergi ke Tai-hang-san,"

Kata Hek-sin Touw-ong dengan singkat pula. Mereka lalu mengucapkan selamat berpisah. Hwee Li memegang tangan Swi Hwa.

"Enci Hwa, jangan kau lupa padaku, ya? Aku kagum sekali akan ilmu penyamaranmu dan kalau ada waktu kelak aku ingin belajar menyamar seperti engkau."

"Mana mungkin aku dapat melupakan orang seperti engkau, Adik Hwee Li? Engkau mempunyai seorang ayah yang jelek sekali...."

"Hanya ayah paksaan!"

"Dan engkau mempunyai tunangan yang lebih jahat lagi...."

"Juga tunangan paksaan!"

"Akan tetapi engkau sendiri amat cantik jelita, lihai dan manis, adikku. Sebetulnya, kalau tidak bersama Suhu.... aku, aku akan suka sekali melakukan perjalanan bersamamu!"

Sambil berkata demikian, mata dara ini mengerling kepada Suma Kian Bu, karena sesungguhnya yang membuat hatinya merasa berat adalah berpisah dari Siluman Kecil yang amat dikaguminya itu.

Maka berpisahlah empat orang itu.

Ang-siocia yang merasa berat berpisahan dengan Hwee Li dan terutama Kian Bu, terpaksa ikut bersama suhunya untuk mencari Siauw Hong!

Sedangkan Hwee Li pergi bersama Suma Kian Bu menuju ke kota raja karena Kian Bu melihat bahaya besar mengancam keamanan kerajaan dengan adanya bencana di lembah Huang-ho itu.

Sementara itu, kebakaran di dalam benteng itu akhirnya dapat dipadamkan juga.

Pangeran Bharuhendra atau Liong Bian Cu marah bukan main karena mendengar berita bahwa Puteri Syanti Dewi hilang diculik orang dan terutama sekali bahwa Hwee Li, dara yang dicintanya itu pun telah melarikan diri.

Mendengar betapa Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi secara aneh telah berkhianat, membantu Siluman Kecil dan bahkan telah menculik Puteri Syanti Dewi, dan juga membakar benteng, kemarahannya memuncak akan tetapi karena kedua orang kakek iblis yang dianggapnya berkhianat itu telah tidak ada lagi, maka kemarahannya dia timpakan kepada Jenderal Kao Liang!

"Ternyata engkau seorang yang tidak dapat memegang janji!"

Bentaknya ketika jenderal tua ini dihadapkan kepadanya.

"Engkau telah menipu kami! Engkau tidak sungguh-sungguh dalam pembuatan benteng ini sehingga mudah saja dikacau orang! Padahal yang mengacau hanya empat orang, yaitu Hek-tiauw Lo-mo si keparat dan anaknya, Hek-hwa Lo-kwi si pengkhianat, dan Siluman Kecil. Benteng macam apa yang kau buat ini?"

Jenderal Kao Liang memandang kepada Pangeran Nepal itu dengan sikap tenang.

"Pangeran, sama sekali bukan salahku! Coba ada datang pasukan besar menyerbu, sudah pasti aku akan dapat menahan mereka dengan bentengku dan dengan pasukan penjaga benteng. Jangan harap pasukan musuh akan dapat dengan mudah membobolkan bentengku ini! Akan tetapi, yang menimbulkan kekacauan adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, orang-orang sakti dari dunia kang-ouw. Benteng ini bukan dibuat untuk menghadapi orang kang-ouw, melainkan untuk menghadapi pasukan musuh. Tentu saja pasukan yang terdiri dari orang-orang biasa tidak mampu menghadapi ahli-ahli silat yang memiliki kepandaian luar biasa itu. Adalah kesalahan Pangeran sendiri yang memusuhi orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Mengapa menyalahkan aku?"

Melihat sikap Jenderal Kao Liang itu, Pangeran Liong Bian Cu menjadi semakin marah.

Dengan geram dia lalu memberi aba-aba dan beberapa orang pengawal pribadinya cepat maju dan menangkap Jenderal Kao!

Jenderal itu hanya memandang dengan tersenyum pahit, sikapnya tenang sekali dan memandang rendah.

Sudah lama dia kehilangan perhatiannya terhadap keselamatan dirinya sendiri sehingga baginya tidak ada lagi rasa takut.

Melihat sikap ini, Pangeran Liong Bian Cu menjadi semakin marah.

Dia lalu memerin-tahkan para pengawalnya untuk menyeret jenderal itu ke pintu gerbang dan mencambukinya sebagai hukuman atas kelalaiannya sehingga benteng itu sampai dapat diserbu dan dimasuki oleh musuh!

Dengan penerangan obor dan lampu karena malam mulai tiba, Jenderal Kao, yang dibelenggu kedua tangannya itu diseret menuju ke lapangan terbuka di dekat pintu gerbang.

Para pengawal Nepal itu telah mengikatnya pada balok kayu yang berbentuk salib, mengikat kaki dan tangannya pada balok itu.

Seorang pengawal lain telah membuka baju atasnya dan pengawal algojo sudah mempersiapkan cambuknya, menanti tanda dari Pangeran Nepal itu yang juga mengikuti sampai di tempat itu.

Tanda itu diberikan dengan mengangkat tangan kiri dan menganggukkan kepala ke arah algojo itu.

Dan menyeringai puas algojo itu menghampiri Jenderal Kao.

Tidak ada kesenangan yang lebih memuaskan bagi algojo ini daripada kalau dia melaksanakan tugasnya menghajar atau membunuh seorang hukuman.

Di dalam pelaksanaan hukuman ini, tanpa mempedulikan siapa korbannya, dia menemukan kenikmatan dan kesenangan yang luar biasa yang mendatangkan perasaan puas dan lega, penyaluran dari rasa dendamnya terhadap manusia lain!

Setelah menerima tanda dari sang pangeran, algojo ini tidak segera mau menjatuhkan pukulan cambuk pertama, melainkan mengayun-ayunkan cambuknya di udara, di atas kepalanya dan matanya berkilat memilih bagian punggung yang paling lunak untuk dijadikan sasaran lecutan pertama.

Biasanya dia paling senang menikmati lecutan pertama ini, melihat betapa korbannya menegang dan menjerit, melihat darah pertama nampak memanjang di kulit punggung korbannya.

Seperti seorang yang ingin menikmati makanan lezat, sebelum memakannya dia hendak memuaskan hatinya dulu dengan memandanginya, menghemat gerakannya agar kenikmatan itu dapat dikunyahnya lebih lama lagi.

"Wirrr.... siuuuuuttttt....!"

Akhirnya cambuk itu yang berputar makin cepat, kini turun meluncur dan menyambar ke arah punggung Jenderal Kao yang sudah siap untuk menghadapi segala macam siksaan, bahkan kematian sekalipun, dengan tenang dan dia tidak akan menyenangkan hati para musuh dan penyiksanya dengan keluhan sedikit pun juga.

Akan tetapi, algojo yang sudah meringis seperti seekor harimau yang sedang menubruk mangsanya itu, tiba-tiba mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Cambuknya tertahan di udara!

Dia mengerahkan tenaga, akan tetapi tetap saja cambuknya tidak dapat meluncur terus, dan ketika dia menengok, bukan main kagetnya melihat betapa ujung cambuknya itu telah ditangkap oleh tangan seorang kakek botak yang bukan lain ada-lah Ban Hwa Sengjin atau juga yang dikenalnya sebagai Pendeta Lakshapadma, koksu dari Nepal!

"Mundur kau!"

Koksu itu berkata dan sang algojo tentu saja tidak berani membantah.

Walaupun dia akan melakukan tugas menurut perintah Pangeran Bharuhendra, akan tetapi kakek botak ini adalah guru negara, dan juga merupakan guru dari sang pangeran itu.

Dia membungkuk dengan hormat, menggulung cambuknya dan setelah melepaskan kerling kecewa ke arah Jenderal Kao, dia lalu mengundurkan diri.

Pangeran Liong Bian Cu memandang kepada Ban Hwa Sengjin yang datang bersama dengan Hek-hwa Lo-kwi, Hektiauw Lo-mo, kakek seperti gorilla, nenek bermuka tengkorak, hwesio gundul katai, dan kakek yang tingginya luar biasa itu.

Pangeran ini belum pernah bertemu dengan empat orang dari Im-kan Ngo-ok itu, akan tetapi dia sudah pernah mendengar nama mereka.

Dalam keadaan lain tentu dia akan merasa girang dan menyambut mereka dengan keramahan, akan tetapi pada saat itu, Pangeran Liong Bian Cu sedang marah bukan main.

Dia marah melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, maka dia tidak mempedulikan lagi betapa perintahnya menghajar Jenderal Kao tadi dihentikan oleh koksu, dan kini dia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya secara bergantian kepada dua orang kakek raksasa itu.

"Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi dua orang pengkhianat besar! Kalian masih berani muncul di hadapanku? Koksu, kenapa dua orang manusia pengkhianat ini tidak ditangkap dan diberi hukuman yang berat?"

Pangeran itu menoleh kepada gurunya dengan pandang mata penuh penasaran.

Tentu saja Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi saling pandang dengan penuh keheranan, dan koksu itu lalu berkata.

"Harap Paduka tenang, Pangeran. Mengapa Paduka marah-marah, hendak menghukum cambuk kepada Jenderal Kao, dan mengapa pula Paduka marah kepada mereka berdua ini? Dan kami melihat tadi di dalam benteng terjadi kebakaran-kebakaran. Apakah yang telah terjadi?"

"Musuh telah memasuki benteng dengan bantuan dua orang pengkhianat ini! Dan selain melakukan pembakaran-pembakaran, juga musuh yang dibantu dua orang pengkhianat ini telah melarikan Puteri Syanti Dewi!"

Pangeran Liong Bian Cu berkata marah.

"Ini dia orangnya!"

Teriak seorang pengawal yang tadi kena dirobohkan oleh Hek-tiauw Lo-mo palsu sehingga sampai sekarang pun dia masih terpincang-pincang, kini jari tangannya menuding ke arah kakek raksasa dari Pulau Neraka itu dengan penuh kebencian.

"Mereka inilah yang tadi membantu melarikan Puteri Syanti Dewi!"

Tiba-tiba terdengar Mohinta berseru.

"Dengan bantuan para pengawal saya telah dapat menyingkirkan Sang Puteri dan dua orang pengkhianat ini bersama pemuda berambut putih itu dan.... puteri Hek-tiauw Lo-mo mengamuk, dikeroyok oleh para pengawal. Akan tetapi tiba-tiba saya diserang secara menggelap, tentu oleh seorang di antara mereka ini dan Sang Puteri dilarikan!"

"Koksu, cepat tangkap mereka!"

Bentak Liong Bian Cu dengan marah.

Dia sudah kehilangan kekasihnya, dan kehilangan Puteri Bhutan yang amat penting baginya, ditambah lagi kenyataan betapa dua orang pembantunya ini melakukan pengkhianatan!

Akan tetapi, Ban Hwa Sengjin bersikap tenang saja.

"Pangeran, tidak baik membiarkan diri terseret oleh kemarahan. Marilah kita bicarakan hal ini dengan tenang, karena di sini terjadi keanehan dan kesalahfahaman besar. Kerugian kita yang paling besar adalah kalau musuh sampai berhasil membuat kita semua saling mencurigai dan terjadi perpecahan sehingga melemahkan kedudukan kita sendiri."

Koksu lalu melepaskan belenggu kaki tangan Jenderal Kao dan mengajaknya untuk melakukan perundingan pula di sebelah dalam.

Liong Bian Cu terheran-heran mendengar ucapan gurunya itu, akan tetapi dia dapat melihat kebenaran kata-kata gurunya bahwa perpecahan antara dia dan para pembantunya sungguh amat merugikan dan melemahkan kedudukannya sendiri.

Maka dengan menahan kemarahan dan penasaran, dia pun lalu tidak bicara apa-apa lagi melainkan melangkah menuju ke dalam gedungnya, langsung menuju ke ruangan tamu yang luas, diikuti oleh Ban Hwa Sengjin, empat orang dari Im-kan Ngo-ok, Jenderal Kao Liang, Mohinta, Hwa-i-kongcu dan beberapa orang pembantu utama lagi.

Mereka semua duduk mengelilingi meja besar dan karena Pangeran Liong Bian Cu dan para pembantunya sedang berada dalam keadaan tegang, maka Ban Hwa Sengjin juga tidak memakai banyak peraturan dan dia tidak memperkenalkan empat orang rekannya itu, melainkan segera minta penjelasan dari Liong Bian Cu tentang peristiwa yang terjadi di dalam benteng.

Liong Bian Cu lalu menceritakan semua yang telah disaksikannya sendiri dan yang dilengkapi oleh pelaporan semua pembantunya, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Ban Hwa Sengjin dan dengan penuh keheranan oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi.

Dua orang kakek raksasa lni marah bukan main dan mereka dapat menduga siapa adanya kedua orang yang telah menyamar sebagai mereka itu!

Maka, setelah Pangeran Liong Bian Cu selesai mencerita-kan semua peristiwa yang terjadi dalam benteng, Hek-tiauw Lo-mo berseru.

"Si keparat itu! Siapa lagi kalau bukan Hek-sin Touw-ong dan muridnya!"

"Benar, guru dan murid itulah yang telah menyamar sebagai kita dan membikin kacau di dalam benteng!"

Hek-hwa Lo-kwi juga berseru marah.

Liong Bian Cu terkejut sekali dan memandang kepada mereka bergantian dengan alis berkerut, karena masih belum hilang rasa penasaran dan marahnya kepada dua orang tokoh yang tadinya dianggap sebagai pengkhianat-pengkhianat ini.

"Apa maksud kalian?"

"Pangeran, mereka berdua ini sama sekali tidak pernah kembali ke dalam benteng, karena mereka telah dirobohkan musuh dan baru kembali ke sini bersama kami tadi. Yang memasuki benteng bukanlah mereka, melainkan dua orang yang telah menyamar sebagai mereka. Dan menurut cerita Paduka, dua orang palsu yang pandai itu bukan hanya dapat mengelabuhi para penjaga dan para pengawal, bahkan mereka telah berani menghadap Paduka dalam penyamaran mereka dan Paduka sendiri sampai tidak dapat melihat bahwa mereka adalah dua orang musuh yang menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi. Dan mengapa Paduka tadi hendak menjatuhkan hukuman kepada Jenderal Kao?"

Liong Bian Cu masih terheran-heram mendengar bahwa dua orang kakek yang menghadapnya sambil membawa tawanan Siluman Kecil dan membawa kembali tunangannya itu bukanlah Hek-tiauw Lomo dan Hek-hwa Lo-kwi, menjadi bingung dan ketika dia ditanya tentang hukuman terhadap Jenderal Kao, dia menjawab.

"Koksu, kuanggap bahwa dialah yang bertanggung jawab sehingga benteng ini dengan mudah dapat diserbu musuh yang mengacau dan mendatangkan kebakaran di banyak rumah dalam benteng ini. Akan tetapi dia tidak mau mengakui kesalahannya bahkan mengatakan bahwa benteng ini dibangun untuk menghadapi serbuan pasukan besar, bukan penyelundupan beberapa orang sakti, dan dia menyalahkan kami yang dianggap memusuhi orang-orang kang-ouw."

Koksu Nepal itu mengangguk-angguk dan dia memandang kepada Jenderal Kao yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil menundukkan muka saja.

Kemudian kakek botak ini berkata.

"Pangeran, alasan Jenderal Kao memang benar. Untuk menghadapi penerobosan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, haruslah dipergunakan kesaktian untuk melawannya pula. Dan dengan girang saya beritahukan kepada Pangeran bahwa sekarang sahabat-sahabat saya ini telah datang untuk membantu kita. Andaikata tadi sewaktu musuh menyelundup ke sini ada seorang di antara kami berlima, sudah pasti mereka itu tidak akan dapat bergerak seenaknya. Pangeran, dan juga para rekan dan sahabat, perkenalkanlah empat orang sahabat saya ini."

Dengan bangga Ban Hwa Sengjin memperkenalkan empat orang itu dan para tokoh yang baru pertama kali ini bertemu dengan mereka, memandang dengan hati terkejut dan penuh kekaguman, juga kengerian karena sesungguhnya mereka sudah pernah mendengar nama Im-kan Ngo-ok!

Melihat mereka, para tokoh ini seolah-olah melihat iblis-iblis yang keluar dari dalam neraka, iblis-iblis yang tadinya hanya mereka dengar seperti dalam cerita dongeng saja!

"Pangeran, seperti saya katakan tadi, kalau musuh mempergunakan pasukan, maka saya percaya bahwa Jenderal Kao dengan bentengnya akan mampu menghalau setiap pasukan musuh yang bagaimana besar pun juga.

Akan tetapi karena musuh yang datang adalah orang-orang yang menggunakan ilmu kepandaian, maka biarlah saya minta bantuan Su-ok dan Ngo-ok untuk melakukan pengejaran."

Pangeran Liong Bian Cu hanya mengangguk.

"Su-te dan Ngo-te, harap kalian suka sedikit melelahkan diri dan melakukan pengejaran terhadap para pengacau yang telah membikin pusing kepala Sang Pangeran. Kalian sudah mendengar bahwa dua orang yang menyamar itu adalah Hek-sin Touw-ong dan muridnya, dan tentu kalian tahu di mana adanya mereka itu."

Kakek cebol dan kakek tinggi itu bangkit berdiri, dan mengangguk kepada Liong Bian Cu.

Kalau kakek tinggi itu hanya cemberut saja, adalah kakek gundul pendek yang tertawa dan berkata kepada Ban Hwa Sengjin.

"Ahhh, Koksu, kalau saja tidak mengingat betapa Pangeran telah dibikin pusing oleh penjahat-penjahat itu, tentu kami malas untuk pergi karena kami baru saja datang be-lum disambut dengan makanan lezat dan arak wangi!"

Pangeran Liong Bian Cu merasa tidak enak sekali dan dia sudah hendak menyuruh pengawal memerintahkan pelayan mengeluarkan hidangan, akan tetapi Ban Hwa Sengjin sambil tertawa menjawab.

"Su-te, jangan khawatir. Mengejar orang-orang macam raja maling itu saja bersama muridnya, apa sih sukarnya bagi kalian? Sebelum masakan-masakan itu dingin, tentu kalian sudah datang kembali membawa mereka sebagai tawanan dan masih belum terlambat bagi kalian untuk makan minum sepuasnya nanti!"

Si pendek dan si tinggi itu lalu menggerakkan tubuh dan dalam sekelebatan saja mereka telah lenyap dari tempat itu!

Semua orang merasa kagum sekali, bahkan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi diam-diam harus mengakui bahwa kini mereka mendapatkan saingan yang amat berat!

Pangeran Liong Bian Cu menjadi girang dan terhibur melihat datangnya orang-orang pandai yang membantunya, maka dia cepat memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan untuk menyambut Twa-ok Su Lo Ti dan Ji-ok Kui-bin Nio-nio.

"Harap Pangeran mengijinkan saya untuk kembali ke kamar saya,"

Kata Jenderal Kao Liang.

Pangeran Liong Bian Cu mengangguk dengan sikap tidak begitu mempedulikan.

Jenderal tua ini lalu meninggalkan ruangan di mana pangeran itu mulai berpesta dengan gembira bersama para pembantunya.

Dengan hati berat Jenderal Kao Liang kembali ke dalam kamarnya lalu dia merebahkan diri terlentang di atas pembaringannya.

Kedua matanya yang sejak tadi terbelalak memandang ke langit-langit dalam kamarnya tak pernah berkedip itu, perlahan-lahan menjadi basah!

Setelah berkumpul, akhirnya dua butir air mata bergerak keluar dari sepasang matanya dan jatuh menimpa bantal.

Hanya dua butir air mata akan tetapi hal ini sudah merupakan suatu hal yang amat luar biasa.

Jenderal Kao adalah seorang laki-laki sejati yang pantang menitikkan air mata, lebih baik mengucurkan peluh dan darah daripada air mata bagi jenderal yang gagah perkasa ini.

Akan tetapi, pada saat ini hatinya tersiksa bukan main rasanya.

Pangeran Nepal itu mendatangkan kelima Im-kan Ngo-ok!

Negara berada dalam bahaya.

Dan dia malah menjadi kaki tangan pangeran pemberontak itu!

Ah, kalau saja keluarganya dapat lolos dari tempat itu, berada dalam keadaan selamat, tentu dia tidak akan merasa begini tersiksa.

Dia tentu akan dapat melaksanakan segala rencananya yang telah dipersiapkannya semenjak dia membangun benteng itu secara terpaksa sekali untuk menyelamatkan nyawa semua keluarganya!

Akan tetapi, agaknya tidak ada jalan bagi keluarganya untuk dapat lolos dari tempat itu.

Bahkan Si-luman Kecil, atau Suma Kian Bu, putera dari Pendekar Super Sakti itu sendiri tidak berdaya!

"Suhu, aku tidak mau!"

Seperti seorang anak kecil yang ngambek, Kang Swi Hwa berhenti di tepi jalan dan duduk di atas batu besar, sepasang alisnya bertemu, mulutnya cemberut dan matanya hampir menangis.

Hek-sin Touw-ong memandang kepada muridnya itu dan tersenyum melihat murid yang dicintanya itu mogok berjalan!

Biarpun mukanya berwarna hitam, namun muka raja maling ini membayangkan kelembutan apalagi kalau dia berhadapan dengan muridnya itu.

"Hayaaa...."

Dia menarik napas panjang dan duduk pula di atas batu tak jauh dari tempat duduk muridnya.

"Swi Hwa, berkali-kali kau mengatakan tidak mau. Eh, muridku yang baik, tahukah engkau apa yang paling berharga bagi seorang wanita?"

"Aku tahu, aku tahu, berapa kali Suhu menanyakan itu? Yang paling berharga adalah kehormatan."

"Nah, engkau sudah tahu! Dan engkau tahu apa yang telah terjadi antara engkau dan pemuda bernama Siauw Hong itu."

"Akan tetapi, tidak terjadi apa-apa antara dia dengan aku, hanya dia melihat bahwa aku seorang wanita."

"Hemmm, muridku yang baik. Tidak ada wanita yang membiarkan tubuhnya dilihat, apalagi disentuh oleh seorang pria yang bukan suaminya. Dan Siauw Hong itu telah menyentuhmu. Hal itu dilakukannya tanpa sengaja, bahkan dia bermaksud menyelamatkanmu dari bahaya maut. Mengingat bahwa dia murid Sai-cu Kai-ong, maka kuanggap bahwa hal itu memang telah diatur oleh Thian, dan agaknya Tuhan sendiri yang menjodohkan engkau dengan dia, muridku. Bagi se-orang wanita terhormat, tubuhnya hanya boleh disentuh oleh suaminya, dan kalau ada pria lain yang melakukan hal itu, pria itu harus dibunuhnya!"

"Kalau begitu, aku akan membunuhnya!"

Kang Swi Hwa masih mengambek.

"Dan engkau menjadi seorang yang paling tidak kenal budi, bahkan seorang yang membalas kebaikan dengan kejahatan? Dia telah menolongmu, menyelamatkannu, dan kau hendak membunuhnya?"

"Habis, bagaimana? Hanya ada dua pilihan kata Suhu, kawin dengan dia atau membunuhnya. Aku tidak mau kawin dengan dia, maka aku akan membunuhnya."

"Swi Hwa, muridku yang baik. Mengapa engkau berkeras tidak mau menikah dengan dia? Apakah dia seorang pemuda yang berwajah buruk? Ataukah tubuhnya cacat?"

"Tidak, tidak sama sekali, Suhu. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah...."

"Nah, kalau begitu, mengapa menolak?"

"Dia hanya seorang pengemis, Suhu! Aku tidak mungkin menikah dengan seorang pengemis!"

Kakek itu tertawa bergelak.

Melihat ini, Ang-siocia yang tadinya menundukkan mukanya, kini dia mengangkat muka memandang gurunya, mukanya merah dan sinar matanya marah.

"Suhu, hatiku sedang mengkal, Suhu malah tertawa-tawa, mentertawakan aku! Apanya yang lucu?"

"Ha-ha-ha, Swi Hwa, memang aku mentertawakan engkau. Engkau sungguh tidak mau bercermin!"

"Bercermin?"

Tangan kiri Swi Hwa dengan jari-jarinya yang lentik halus itu otomatis meraba-raba rambut kepala dan mukanya.

Setiap hari aku bercermin.

Apakah mukaku coreng-moreng, rambutku awut-awutan?"

Kakek itu makin geli tertawa, lalu dia memandang kepada muridnya yang dianggapnya seperti anaknya sendiri itu.

"Swi Hwa, maksudku bukan bercermin untuk melihat wajahmu, melainkan bercermin untuk mengenal dirimu sendiri. Engkau memandang rendah pengemis, agaknya lupa siapakah kita ini! Engkau hanyalah murid seorang maling, apakah maling lebih tinggi derajatnya daripada seorang pengemis?"

Makin merah wajah Swi Hwa, merah karena penasaran dan marah.

"Akan tetapi kita adalah maling bukan sembarang maling! Suhu adalah Raja Maling! Mana bisa disamakan dengan pengemis....?"

"Hemmm, Swi Hwa, apakah kau lupa bahwa pemuda itu juga bukan sembarang pengemis, melainkan murid dari Raja Pengemis Sai-cu Kai-ong? Dan tahukah engkau? Sai-cu Kai-ong itu adalah seorang.... sahabat baikku, setidaknya adalah seorang bekas sahabat baikku. Maka, muridnya tentu saja bukan merupakan seorang yang asing sama sekali."

Swi Hwa masih cemberut.

Dia membayangkan wajah Siauw Hong.

Seorang pemuda yang tampan memang.

Akan tetapi, ketika dia mengenal Siauw Hong dan Siluman Kecil, bahkan lalu melakukan perjalanan bersama, dia menganggap Siaw Hong sebagai seorang pemuda remaja yang belum dewasa benar, bahkan sering kali dia menyuruh Siauw Hong, sebagai pelayan!

Betapa jauhnya kalau dibandingkan dengan Siluman Kecil, pendekar yang sakti itu, pria yang sudah matang dan amat mengagumkan hatinya.

"Tidak, Suhu, aku tidak mau! Aku tidak suka!"

"Agaknya engkau masih kukuh bahwa engkau jatuh cinta kepada pendekar Siluman Kecil. Benarkah itu, Swi Hwa?"

Wajah itu menjadi makin merah dan dia menunduk.

"Swi Hwa, aku adalah seorang tua yang sudah dapat melihat tanda-tanda orang yang jatuh cinta. Dan dalam pertemuan kita dengan Siluman Kecil, aku tidak yakin bahwa engkau mencinta dia. Engkau hanya kagum saja kepadanya dan memang sudah sepatutnya orang kagum kepada pendekar yang berkepandaian tinggi itu. Akan tetapi, dia bukan jodohmu, muridku."

"Tapi, Suhu, bagaimana mungkin perjodohan dilangsungkan tanpa cinta kasih?"

"Mengapa tidak mungkin? Perjodohan antara dua orang muda yang tidak saling mencinta bisa saja kelak mendatangkan rasa cinta kasih yang amat mendalam, dan sebaliknya mungkin saja apa yang dinamakan cinta kasih antara dua orang muda sebelum perjodohan akan menjadi luntur setelah mereka memasuki pintu gerbang pernikahan. Pula, aku tidak melihat tanda-tanda, baik dari sikapnya, kata-katanya maupun pandang matanya bahwa pendekar itu mencintamu, Swi Hwa. Dan bagaimana mungkin engkau mengikat perjodohan dengan seorang pendekar besar dan aneh seperti dia? Apalagi mengingat dia adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Ah, tempat dia berpijak lebih tinggi daripada bintang di langit, muridku, agaknya lebih sukar berjodoh dengan dia daripada dengan seorang pangeran sekalipun untukmu."

Mendengar ini, Swi Hwa makin menunduk dan wajahnya membayangkan kecewa dan duka sekali.

Kini teringatlah dia akan hubungan antara Siluman Kecil dengan Hwee Li.

Ah, gurunya benar!

Agaknya Siluman Kecil terlalu tinggi untuknya.

Dia, hanya seorang maling, pantasnya hanya berjodoh dengan seorang pengemis!

Tak terasa lagi air matanya bercucuran didorong oleh rasa iba diri.

Kakek itu menyentuh tangan murid-nya.

"Hidup memang penuh dengan kepahitan-kepahitan yang ditimbulkan oleh kekecewaan-kekecewaan, muridku. Kekecewaan timbul karena harapan-harapan kita tidak tercapai, dan harapan-harapan selalu memang lebih indah daripada kenyataan...."

Tiba-tiba ucapan Hek-sin Touw-ong itu terhenti karena guru dan murid ini mendengar suara aneh, suara ketawa yang terdengar amat kerasnya seolah-olah orang yang tertawa itu berada di dekat mereka, padahal mereka tidak melihat seorang pun manusia di situ.

Pagi hari itu sunyi saja.

Mereka berdua telah melarikan diri semalam, dan baru pagi ini mereka berhenti di tempat itu setelah semalam suntuk mereka tidak melihat ada orang mengejar mereka.

"Ha-ha-ha, sekali ini aku mengaku kalah kepadamu, Ngo-te! Matamu memang awas sekali dan benar saja, mereka berada di sini!"

Hek-sin Touw-ong dan Swi Hwa meloncat berdiri dan siap menghadapi bahaya.

Swi Hwa sudah mencabut pedangnya, dan gurunya yang tidak pernah berpedang lagi, berdiri dengan penuh kewaspadaan.

Maklumlah kakek pandai ini bahwa ada orang bicara mempergunakan ilmu mengirim suara dari jarak jauh, orangnya masih jauh akan tetapi suaranya sudah tiba di situ, tanda bahwa ada orang pandai agaknya mengejar mereka.

Tak lama kemudian, nampaklah dua orang yang bentuk tubuhnya amat aneh datang dengan kecepatan yang mengejutkan hati guru dan murid itu.

Gurunya menggeleng kepala.

"Mereka sudah mengetahui kita di sini, dan percuma saja melarikan diri. Kau berhati-hatilah, Swi Hwa,"

Bisik gurunya sambil memandang dengan penuh perhatian ke depan.

Bayangan dua orang itu cepat sekali gerakannya dan sebentar saja mereka sudah tiba di depan guru dan murid itu.

Setelah dua orang kakek yang bentuk tubuhnya amat luar biasa dan berlawanan itu tiba di depan mereka, Swi Hwa memandang penuh perhatian.

Biarpun masih muda, dara ini sudah banyak pengetahuannya di dunia kang-ouw dan sudah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh besar, akan tetapi betapapun dia mengingat-ingat, belum pernah dia bertemu dengan dua orang kakek aneh ini, yang seorang tingginya hanya sampai di pundaknya, akan tetapi kakek ke dua tingginya bukan main sehingga dia harus menengadah kalau hendak memandang wajahnya.

Kakek yang pendek gundul itu tersenyum-senyum lebar, akan tetapi yang membuat Swi Hwa merasa ngeri adalah kakek tinggi itu, karena biarpun kakek tinggi itu hanya cemberut saja, namun matanya yang sipit itu seolah-olah hendak menelanjanginya dengan pandang matanya!

"Su-ko, yang tua untukmu, aku perlu dengan yang muda!"

Tiba-tiba si tinggi kurus bermata sipit itu berkata, dan sebelum suaranya yang menyeramkan itu habis, tangannya yang berlengan panjang sekali itu tahu-tahu sudah menjangkau ke arah pundak Swi Hwa!

Gerakannya itu mengerikan sekali karena jarak antara dia dan Swi Hwa cukup jauh, terlalu jauh bagi orang yang berlengan bagaimana panjang pun untuk dapat menjangkaunya.

Akan tetapi kakek tinggi itu tidak melangkahkan kakinya, dan lengannya seperti dapat diulur lebih panjang daripada semestinya.

Gerakan yang mengerikan sekali!

"Ihhh....!"

Swi Hwa berseru kaget dan juga jijik melihat lengan itu seperti se-ekor ular panjang hidup meluncur ke arah pundaknya.

Dia cepat menarik kaki melangkah mundur, akan tetapi hebatnya, tangan itu terus mengejarnya, sebuah tangan yang lebar dengan jari-jari yang panjang dan besar, kotor dan kukunya panjang hitam!

Swi Hwa kaget setengah mati dan agaknya sukar baginya untuk dapat mengelak.

Pada saat itu, Hek-sin Touw-ong yang mengenal ilmu luar biasa dari si jangkung itu, yaitu ilmu mengulur lengan yang tidak mudah dipelajari, kecuali oleh mereka yang telah menguasai ilmu melepas tulang, maklum bahwa muridnya terancam ba-haya.

Dia cepat menggerak-kan tangan kirinya.

"Cusssss....!"

Tangan kiri dari Hek-sin Touw-ong yang digerakkan ini bukan sembarang tangan, melainkan tangan yang mengandung Ilmu Kiam-to Sin-ciang sehingga tangan itu seperti berubah tajam bagaikan pedang atau golok, bahkan hawa pukulannya saja dapat membabat putus benda keras!

"Wusss....

aha....!"

Si jangkung terkejut sekali dan biarpun lengannya tidak terluka karena dia sudah menarik kembali lengannya sambil mengerahkan sinkang untuk melindungi lengan itu, namun tetap saja Lengan bajunya terobek oleh hawa yang menyambar dari Kiam-to Sin-ciang tadi.

Si pendek gundul tertawa.

"Ha-haha, engkau mendapat malu, Ngo-te! Jangan terlalu memandang rendah kepada Hek-sin Touw-ong yang kabarnya memiliki Kiam-to Sin-ciang. Dan engkau sama sekali tidak boleh main hakim sendiri, ingat bahwa tugas kita hanya untuk menawan mereka ini!"

Si jangkung hanya cemberut, akan tetapi matanya terus mengincar Swi Hwa dan gadis ini diam-diam bergidik.

Dia tadi melihat betapa gurunya menggunakan ilmu ini.

Lengan si jangkung tadi jelas terkena sambaran hawa sakti itu, akan tetapi Lengan itu sama sekali tidak terluka dan hanya Lengan bajunya saja yang terobek!

Tahulah dia bahwa si jangkung yang luar biasa itu memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Biarpun wajahnya tidak menunjukkan perasaan, namun di dalam hatinya, Si Raja Maling juga menjadi terkejut bukan main.

Tadi dia sudah menduga-duga, akan tetapi kini melihat kelihaian si jangkung, melihat bentuk tubuh mereka dan cara kedua orang itu saling memanggil, Yaitu Ngo-te dan Su-ko (adik ke lima dan kakak ke empat), dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu kedua orang inilah tokoh-tokoh dari Im-kan Ngo-ok yang telah puluhan tahun lamanya tidak pernah terdengar lagi turun ke dunia ramai.

Hampir dia tidak percaya karena memang selama dia menjelajahi dunia kang-ouw, Raja Maling ini tidak pernah berjumpa dengan mereka dan menganggap bahwa nama mereka itu hanya merupakan dongeng di antara orang-orang kang-ouw saja.

Kini, melihat keadaan dua orang ini yang ternyata bukan hanya mengenalnya, bahkan mengenal pula Ilmu Kiam-to Sin-ciang, dia yakin bahwa tentu mereka ini adalah orang ke empat dan ke lima dari Im-kan Ngo-ok.

Maka cepat dia menjura dengan hormat kepada datuk-datuk kaum sesat itu sambil berkata dengan suara halus merendah.

"Siauwte yang bodoh pernah mendengar nama besar dari Su-ok Siauw-siang-cu dan Ngo-ok Toat-beng Sian-su, tidak tahu apakah dua nama besar itu adalah nama Ji-wi?"

Tosu jangkung bermata sipit itu hanya cemberut, akan tetapi hwesio cebol gendut itu tertawa.

"Ha-ha-ha, kiranya Si Raja Maling juga dapat mengenal kami, itu menunjukkan bahwa engkau memang bukan orang sembarangan!"

Kembali Hek-sin Touw-ong menjura.

"Maaf kalau siauwte yang bodoh kurang menghormat, karena sungguh mati kami berdua tidak pernah mimpi akan dapat jumpa dengan tokoh-tokoh besar seperti Ji-wi (Anda berdua). Setelah kami mendapat kehormatan bertemu dengan Ji-wi, siauwte mohon bertanya ada keperluan apakah gerangan maka Ji-wi memberi kehormatan kepada kami dengan kunjungan ini?"

"Su-ko, mulutnya terlalu manis!"

Tiba-tiba tosu tinggi kurus itu mencela.

Akan tetapi hwesio cebol itu hanya tersenyum lebar.

Girang sekali hatinya.

Memang sudah menjadi watak Si Jahat Ke Empat dari Im-kan Ngo-ok ini untuk beramah-tamah dengan orang untuk kemudian mencelakai orang yang diajaknya beramah-tamah itu!

"Hek-sin Touw-ong, sudah lama kami mendengar nama besarmu dan ternyata engkau memang seorang yang lihai sekali.

Kiam-to Sin-ciang tadi amat hebat, dan engkau mempunyai seorang murid yang cantik jelita dan pandai.

Sungguh beruntung sekali hidupmu.

Aku Su-ok Siauw-siang-cu ikut merasa girang melihat keberuntunganmu dan sayang di sini tidak ada arak untuk menghaturkan selamat kepadamu.

Ha-ha-ha!"

Si Raja Maling.

mengerutkan alisnya.

Dia hanya pernah mendengar nama Im-kan Ngo-ok akan tetapi tidak mengenal watak mereka seorang demi seorang, maka dia pun tidak tahu akan watak Su-ok ini.

Dia sendiri adalah seorang tokoh besar di dalam dunia kang-ouw, maka teritu saja dia tidak mudah tertipu oleh sikap ramah-tamah yang luar biasa itu.

Maka dia hanya menjura sambil berkata.

"Terima kasih atas kebaikan Su-ok Siauw-siang-cu Lo-enghiong."

"Akan tetapi, Ngo-ok Toat-beng Sian-cu tidak sabar menyaksikan sikap ramah-tamah dari kawannya itu, maka dia berkata singkat.

"Hek-sin Touw-ong, hayo lekas menyerah untuk kami tangkap dan bawa kembali ke benteng lembah, di mana engkau dan muridmu mengacau malam tadi!"

Hek-sin Touw-ong tidak terkejut mendengar ini, karena memang dia sudah menduga bahwa dua orang sakti dari kaum sesat ini tentu muncul sehubungan dengan perbuatan mereka di benteng lembah semalam.

Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa Koksu Nepal adalah orang ke tiga dari, Im-kan Ngo-ok!

"Kami tidak akan menyerah kepada siapapun juga!"

Tiba-tiba Kang Swi Hwa berkata dengan nada suara keras dan dia sudah melintangkan pedangnya di depan dada.

Tidak seperti gurunya, dara ini belum pernah mendengar nama Im-kan Ngo-ok, maka dia pun tidak merasa gentar sama sekali sungguhpun dia tahu bahwa dua orang kakek itu tentu merupakan orang-orang lihai dan lawanlawan tangguh.

"Ha-ha-ha, Hek-sin Touw-ong dan muridnya memang amat hebat!"

Kembali hwesio cebol itu tertawa dan memuji.

"Siapa dapat mengira bahwa kalian berdua dapat menyamar sebagai dua orang iblis Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lokwi! Ha-ha-ha! Melihat Hek-sin Touw-ong menyamar sebagai seorang di antara mereka masih tidak mengherankan, akan tetapi bagaimana engkau bisa menyamar sebagai seorang iblis seperti mereka itu, Nona? Mengagumkan, sukar untuk dapat dipercaya! Eh, Nona Cilik, aku berani bertaruh bahwa engkau tidak akan mampu menyamar sebagai aku atau sebagai Ngo-te ini!"

Di dalam hatinya, Kang Swi Hwa mengejek.

Kalau ada alat-alatnya, tentu saja dia akan mampu menyamar sebagai mereka, sungguhpun untuk menyamar sebagai Su-ok dia harus menekuk lututnya dan untuk menyamar sebagai Ngo-ok dia harus menggunakan jangkungan, yaitu dua potong kayu untuk menyambung kakinya agar dia dapat menjadi jangkung seperti tosu itu.

Akan tetapi dia tidak mau melayani kelakar ini dan hanya memandang dengan sinar mata marah.

"Ha-ha-ha, Hek-sin Touw-ong, kepandaian kalian amat hebat dan mengagumkan hati Pangeran Nepal. Oleh karena itu, beliau mengutus kami berdua untuk mengundang kalian sebagai tamu terhormat ke dalam benteng, mungkin akan memberi hadiah atas permainan sandiwara kalian yang amat berhasil itu. Marilah, Touw-ong, mari kami iringkan ke benteng di lembah sana."

Sikap hwesio cebol itu masih manis sekali, terlalu manis malah.

Akan tetapi Hek-sin Touw-ong kini sudah maklum bahwa keramahan hwesio cebol ini adalah wataknya dan cirinya yang khas, sama sekali bukan keramahan yang timbul dari hati yang beriktikad baik.

Maka dia pun tidak mau melayani, melainkan memandang dengan tajam.

"Ji-wi tidak perlu pura-pura. Memang sesungguhnya kami berdua yang semalam mengunjungi benteng. Kami telah gagal, nah, sekarang Ji-wi datang menyusul kami dan betapapun juga kami tidak akan mau kembali ke sana, baik itu merupakan undangan maupun paksaan."

Ucapan ini halus akan tetapi juga merupakan tantangan.

"Su-ko, kenapa cerewet? Tangkap mereka!"

Bentak Ngo-ok Toat-beng Sian-su sambil menubruk ke arah Swi Hwa.

"Ngo-te, awas, jangan lukai dia, kita harus menangkap mereka hidup-hidup. Jangan sampai membuat Sam-ko dan pangeran menjadi marah!"

Si cebol berseru, kemudian secepat kilat dia pun sudah menerjang kepada Hek-sin Touw-ong!

Swi Hwa menggerakkan pedangnya, memutar pedang itu untuk membabat kedua tangan panjang yang mengancamnya dari kanan kiri itu.

Sinar pedangnya bergulung-gulung dan membentuk lingkaran yang berhawa tajam sekali karena dara ini memainkan pedang dengan pengerahan Ilmu Kiam-to Sin-siang yang dipelajarinya dari gurunya.

Biarpun dia lihai bukan main, Ngo-ok tidak mau sembarangan mempertaruhkan kedua lengannya, atau sedikitnya tentu lengan bajunya akan hancur kalau terkena sambaran sinar pedang itu, maka dia menggunakan kegesitannya untuk menarik kembali tangan yang hendak terbacok, kemudian membalas dengan kedua tangan itu meluncur dari sana-sini seperti dua ekor ular terbang yang berusaha menangkap atau menotok dara itu.

Bulu tengkuk dara itu meremang saking ngerinya ketika beberapa kali tangan telanjang si jangkung itu menyampok pedangnya dan terdengar bunyi berdencing nyaring ketika pedangnya bertemu dengan jari tangan itu, seolah-olah tangan itu terbuat daripada baja yang amat kuat!

Sementara itu, Hek-sin Touw-ong sudah bertanding dengan hebat melawan Su-ok Siauw-siang-cu.

Hek-sin Touw-ong yang maklum bahwa dia menghadapi lawan pandai dan bahwa dia dan muridnya terancam bahaya maut, telah mengeluarkan ilmunya yang amat hebat, yaitu Kiam-to Sin-ciang dan mengerahkan ginkangnya untuk berkelebatan dengan cepatnya.

Dia harus dapat merobohkan lawannya yang gemuk pendek ini sebelum dia dapat membantu muridnya.

Dia tahu bahwa muridnya bukanlah tandingan si jangkung itu, dan maklum bahwa kalau dia dan muridnya sampai tertangkap dan dibawa kembali ke lembah, tentu mereka berdua akan celaka dan menerima hukuman berat atas perbuatan mereka semalam yang mengacau dan membakar benteng di lembah Huang-ho itu.

Bunyi angin bersuitan dan mendesis-desis ketika kedua tangan Raja Maling ini bergerak melancarkan serangan Kiam-to Sin-ciang.

Demikian hebatnya ilmu itu sehingga orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok sendiri tidak berani secara lancang menerima pukulan itu dengan tu-(Lanjut ke

Jilid 42) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 42 buhnya.

Su-ok bergulingan menghindarkan diri, kemudian dia meloncat dan tubuhnya yang pendek itu menjadi makin pendek ketika dia berjongkok dan perutnya yang gendut itu makin menggembung terisi penuh hawa mujijat!

Kemudian, dari tenggorokan dan perutnya berbunyi suara "kok-kok-kok!"

Dan itulah ilmunya yang amat luar biasa, ilmu pukulan Katak Buduk!

Ketika Hek-sin Touw-ong kembali menggerakkan kedua tangan dan dari kedua telapak tangannya itu me-nyambar hawa pukulan Kiam-to Sin-ciang yang mengandung angin tajam sekali, Su-ok lalu mendorong dengan kedua tangannya yang pendek ke depan.

Angin pukulan dahsyat menyambar dari kedua tangannya dan begitu angin pukulan ini bertemu dengan hawa pukulan Kiam-to Sin-ciang, tubuh Hek-sin Touw-ong terjengkang dan dia tentu sudah roboh terbanting kalau saja dia tidak cepat meloncat ke kiri dan terhindar dari dorongan hawa dahsyat yang mendorong pukulannya tadi membalik itu!

Bukan main kagetnya hati Si Raja Maling!

Dan kini kakek pendek itu tertawa-tawa, kemudian bergulingan dan mengejarnya seperti seekor binatang trenggiling dan melakukan serangan dari atas tanah secara tidak terduga-duga!

Dan setiap kali Touwong menggunakan Kiam-to Sin-ciang, selalu kakek pendek itu menggunakan pukulan sakti Katak Buduk membuat Kiamto Sin-ciang kehilangan kehebatannya dan selalu terdorong kembali!

Perkelahian antara Ang-siocia atau Kang Swi Hwa dan kakek tosu jangkung Ngo-ok tidak berlangsung terlalu lama.

Agaknya Ngo-ok juga merasa jengkel menyaksikan kenekatan dara itu, maka dia lalu mengerahkan tenaganya dan begitu pedang di tangan nona itu menusuknya, dia menggunakan jari-jari tangannya menangkis dan terus mencengkeram dan pedang itu sudah kena dicengkeramnya!

"Krek-krekkk!"

Pedang itu dicengkeram patah-patah dan dilemparkan ke samping, kemudian sebelum Swi Hwa sempat mengelak, tengkuknya sudah dicengkeram dan tubuhnya diangkat ke atas!

Swi Hwa hampir pingsan ketika merasa betapa jari-jari tangan yang panjang dan besar sudah mencengkeram baju di dadanya dan hendak mencabik dan merenggutnya.

Tak terasa lagi dia menjerit.

Jeritan itu menolongnya karena Su-ok sudah menggelinding dekat dan menendang lutut Ngo-ok.

Hampir saja Ngo-ok tertendang roboh kalau dia tidak cepat meloncat tinggi sekali sambil mem-bawa tubuh Swi Hwa yang seperti hampir pingsan rasanya dibawa melambung tinggi itu.

"Ngo-te, kuperingatkan kau, jangan ganggu dia!"

Bentak Su-ok.

"Eh, kau mengiri? Apa pedulimu?"

Bantah Ngo-ok.

"Tolol kau, Ngo-te. Kalau kau mengganggunya dan Sam-ko marah, juga Pangeran, tentu Twa-ko dan Ji-ci juga marah dan kalau mereka semua marah, apa kau kira hanya engkau saja yang akan dihajar? Aku pun ikut bertanggung jawab, mengerti? Jangan ganggu dia sebelum kita menyerahkan kedua orang guru dan murid ini kepada Pangeran. Kalau kau nekat, aku akan menggempurmu sendiri!"

"Huh, menyebalkan!"

Ngo-ok berseru marah dan kecewa, jari tangannya menotok dan seketika tubuh Swi Hwa menjadi lumpuh dan ketika dia dilemparkan ke atas tanah, dara itu tak dapat bergerak lagi.

Hek-sin Touw-ong tadi sudah merasa khawatir menyaksikan betapa muridnya tertawan, akan tetapi legalah hatinya ketika dia melihat Su-ok menyelamatkannya dari ancaman malapetaka yang amat mengerikan.

Melihat muridnya sudah ter-bebas dari malapetaka, Raja Maling itu lalu menyerang lagi, kini tidak menyerang kepada Su-ok, melainkan kepada Ngo-ok saking marahnya melihat betapa si jangkung itu tadi hampir saja meng hina muridnya.

"Cusss-cusssss.... wuuut-wuuuttt.... brettt....!"

Ujung baju Ngo-ok terobek oleh hawa pukulan Kiam-to Sin-ciang dan tubuh si jangkung sampai terhuyung ke belakang.

Hal ini adalah karena dia sama sekali tidak menyangka akan kehebatan serangan dari Si Raja Maling itu, Maka dia tadi terdesak dan lupa untuk mengelak, melainkan menangkis sehingga biarpun dia tidak terluka, namun bajunya robek dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

Si jangkung mengeluarkan suara aneh dan tiba-tiba tubuhnya berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki di atas lalu secara aneh sekali tubuh yang membalik ini sudah menyerang kalang-kabut kepada Hek-sin Touw-ong!

Raja Maling ini sudah banyak menghadapi lawan lihai dan aneh-aneh, akan tetapi belum pernah dia diserang orang yang berjungkir balik seperti ini.

Dia agak bingung karena kedua tangan yang panjang itu menyerangnya dari bawah dan begitu dia menggunakan kedua tangan untuk menangkis, tiba-tiba dari angkasa meluncur turun dua batang kaki yang menyerangnya secara hebat, mengancam ubun-ubun kepala dan tengkuknya!

"Jangan bunuh dia, Ngo-ok, manusia bandel!"

Bentak Su-ok dan bentakan ini menyelamatkan nyawa Hek-sin Touw-ong karena Ngo-ok teringat bahwa dia sama sekali tidak boleh membunuh kalau dia ingin selamat kembali ke benteng, maka kakinya yang menotok ke arah ubun-ubun itu mengubah gerakan menotok ke leher dan ketika Hek-sin Touw-ong mengangkat tangan menangkis, kaki kirinya sudah menotok tengkuk.

"Dukkk! Tubuh Hek-sin Touw-ong roboh dalam keadaan pingsan oleh totokan ujung kaki yang amat tepat dan amat kuat itu.

"Bagus! Engkau telah maju pesat, Ngo-te. Engkau telah dapat merobohkan guru dan murid itu tanpa membunuh mereka. Hebat, aku kagum sekali!"

Kata Su-ok sambil tertawa. Tosu jangkung itu memandang kepada Su-ok, lalu menyeringai dan meludah ke samping kiri.

"Cuhhh!"

Dan dia hanya memandang kepada tubuh Swi Hwa yang terlentang di atas tanah dengan sinar mata penuh gairah dan kekecewaan karena kembali dia terhalang untuk melampiaskan gelora nafsunya, terutama sekali untuk memenuhi koleksi kuku-kuku ibu jari wanita yang sudah berjumlah empat ratus kurang satu itu!

"Mari kita cepat kembali, Ngo-te.

Jangan sampai masakan-masakan untuk kita itu menjadi dingin.

Nah, kau panggul si tua itu, biar aku yang membawa nona ini!"

Kata Su-ok yang tahu bahwa dia tidak boleh mempercayakan tubuh wanita muda itu kepada Ngo-ok, maka cepat dia menyambar tubuh Swi Hwa dan mengempitnya sambil berkelebat cepat pergi dari tempat itu.

Ngo-ok meludah kembali dengan hati mengkal, kemudian menggunakan ujung kakinya untuk mencokel tubuh Hek-sin Touw-ong ke atas, menyambarnya dengan tangan kiri, memanggulnya dan dia pun berlari cepat menyusul Su-ok menuju ke benteng di lembah Huang-ho.

Pangeran Liong Bian Cu merasa girang dan kagum bukan main ketika melihat Su-ok dan Ngo-ok telah kembali membawa Hek-sin Touw-ong dan Kang Swi Hwa.

Akan tetapi tentu saja hati pangeran ini masih kecewa, marah dan juga berduka karena Hwee Li, dara yang dicintanya itu, dan Puteri Syanti Dewi, tawanan yang amat penting baginya, belum ditemukan kembali.

Sejenak dia memandang kepada tubuh Hek-sin Touw-ong dan Swi Hwa yang dilemparkan ke atas lantai, lalu sang pangeran itu menarik napas panjang dan berkata.

"Aih, sayang sekali bahwa yang ditemukan hanya dua orang pengacau ini. Apa gunanya kecuali hanya menghukum mereka? Kami akan lebih gembira kalau yang dapat dibawa kembali adalah Hwee Li dan Puteri Bhutan....."

Ban Hwa Sengjin maklum bahwa diam-diam sang pangeran kecewa sekali atas hasil pengejaran Su-ok dan Ngo-ok.

Dia pun maklum betapa pentingnya Syanti Dewi bagi Nepal, dan betapa pangeran itu amat mencinta Hwee Li.

Maka dia lalu berkata.

"Harap Paduka tenangkan hati. Sudah saya katakan tadi bahwa menghadapi orang pandai harus pula mempergunakan kesaktian dan setelah kini saudara-saudaraku berada di sini, kita tidak perlu khawatir. Kiranya bukan merupakan tugas yang terlalu berat untuk menemukan dan membawa kembali dua orang dara itu, Pangeran. Twa-ko dan Ji-ci, sekarang aku mengharap bantuan kalian untuk mencari dua orang dara itu. Yang seorang bernama Hwee Li, seorang dara berusia delapan belas tahun, berpakaian serba hitam, suka bermain dengan ular-ular beracun, anak angkat dari Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka, wajahnya cantik jelita dan wataknya periang, jenaka dan agak.... agak liar. Dan dara yang ke dua adalah seorang Puteri Bhutan, usianya dua puluh satu tahun, cantik sekali, lemah lembut dan halus, bernama Syanti Dewi. Kalau tidak keliru, dua orang dara itu tentu bersama dengan seorang pemuda yang terkenal dengan julukan Siluman Kecil, bernama Suma Kian Bu, putera dari Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es."

"Ahhh....!"

Hampir berbareng kakek gorilla dan nenek tengkorak itu berseru kaget mendengar ucapan terakhir itu.

"Ya, benar, Twa-ko dan Ji-ci. Pemuda itu adalah putera dari Pulau Es, maka kalian kini memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan kepandaian. Harap kalian dapat mencari dan membawa kembali dua orang puteri itu ke sini dan untuk jasa itu, Pangeran Nepal pasti tidak akan melupakannya."

"Tentu saja!"

Pangeran Liong Bian Cu bangkit berdiri dan menjura.

"Pertolongan Ji-wi Locianpwe amat berharga dan saya pasti tidak akan melupakan budi Ji-wi itu."

Kakek gorilla itu saling pandang dengan nenek bertopeng tengkorak, lalu terdengar kakek itu berkata dengan suaranya yang tenang dan lembut.

"Ji-moi, mari kita pergi!"

Baru saja dia berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan orangnya sudah lenyap! Nenek muka tengkorak memandang kepada koksu dan berkata.

"Sam-te, tugas kami berat namun menegangkan dan menggembirakan. Mungkin saja kami gagal, akan tetapi kami percaya bahwa kau, Su-te dan Ngo-te tidak akan mem-biarkan kami penasaran."

"Jangan khawatir, Ji-ci!"

Kata Koksu Nepal dan percakapan sekali ini terjadi seperti dua orang saudara dan memang koksu itu bicara sebagai Sam-ok, bukan sebagai koksu.

Akan tetapi jawabannya belum selesai ketika tubuh Ji-ok Kui-bin Nio-nio sudah lenyap pula dari tempat itu!

Hek-sin Touw-ong yang tadinya pingsan, sudah sejak tadi siuman, akan tetapi kakek ini pura-pura masih pingsan, dan diam-diam dia memperhatikan keadaan di situ dan mendengarkan semua percakapan.

Dia terkejut bukan main melihat betapa Im-kan Ngo-ok telah berkumpul semua di dalam benteng itu!

Dan mendengarkan mereka bicara, tahulah kakek ini bahwa Koksu Nepal yang lihai itu bukan lain adalah Sam-ok, orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok!

Tahulah dia bahwa dia dan muridnya tak mungkin dapat lolos dari tempat yang dihuni demikian banyaknya orang-orang pandai itu!

Hanya dengan akal saja dia akan dapat menyelamatkan muridnya.

Dia sendiri adalah seorang yang sudah tua, hidup bukan lagi merupakan suatu hal yang terlalu berharga baginya, dan kematian bukan merupakan suatu hal yang menakutkan.

Akan tetapi Swi Hwa!

Dia tidak boleh mati dalam usia semuda itu!

Dan terbayanglah di depan mata kakek ini semua yang telah terjadi atas diri anak itu dan dia merasa berdosa sekali!

Dia telah menculik anak itu, memisahkan anak itu dari semua keluarganya!

Semua itu dilakukan hanya untuk melampiaskan dendam dan kemarahannya, dan setelah dipeliharanya, maka dia mencinta anak itu seperti anaknya sendiri.

Dan sekarang, anak itu akan mati!

Semua adalah gara-gara dia, dan anak itu tidak boleh mati karena menjadi muridnya!

"Ahhh....!"

Dia mengeluh dan pura-pura baru siuman dari pingsannya, bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri.

"Ahhh.... Ji-wi Lo-enghiong Su-ok dan Ngo-ok sungguh tak boleh dibuat permainan, dan sekarang aku yang dijadikan permainan! Mengapa orang segolongan sendiri menyusahkan kami guru dan murid?"

Tiba-tiba Hek-sin Touw-ong pura-pura kaget melihat sang pangeran dan Koksu Nepal.

"Celaka! Kenapa kami dibawa ke sini?"

Ban Hwa Sengjin memandang dengan muka keren.

"Hek-sin Touw-ong, apa yang telah kau lakukan bersama muridmu ketika menyamar sebagai Hek-tiauw Lomo dan Hek-hwa Lo-kwi, mengacau di dalam benteng?"

Bentaknya. Pada saat itu, Swi Hwa sudah bergerak pula dan dara ini meloncat berdiri, akan tetapi gurunya cepat menarik tangannya, diajak berlutut.

"Lekas berlutut, kita berada di depan Pangeran dan Koksu Nepal yang mulia!"

Swi Hwa heran menyaksikan sikap gurunya, akan tetapi ketika dia melihat bahwa dia telah berada di dalam benteng, terkurung oleh orang-orang pandai yang sekian banyaknya, dia tidak mem-bantah dan cepat dia berlutut sambil menundukkan mukanya.

"Koksu yang mulia, Locianpwe Sam-ok Ban Hwa Sengjin yang sakti tentu sudah maklum mengapa orang-orang seperti kita melakukan suatu tindakan. Sesuai dengan kebijaksanaan golongan kita kaum hitam, tentu saja kami berdua guru dan murid juga melakukan hal itu demi kepentingan kami sendiri, yaitu menerima hadiah dan juga atas tekanan dari Pendekar Siluman Kecil. Tadinya kami kira bahwa benteng ini hanya menjadi tempat orang-orang yang dimusuhi oleh Pendekar Siluman Kecil yang minta bantuan kami, sama sekali kami tidak tahu bahwa banyak tokoh dan datuk dari golongan kita sendiri berkumpul di sini. Kami berdua tidak mati pun sudah sangat untung, hanya mengalami kegagalan saja. Harap Locianpwe memaklumi keadaan kami."

Dengan ucapan itu Hek-sin Touw-ong hendak menyatakan bahwa dia dan muridnya sama sekali tidak berniat memusuhi Im-kan Ngo-ok yang dianggap orang-orang dari satu golongan, yaitu golongan hitam atau kaum sesat, dan bahwa penyerbuannya semalam di dalam benteng adalah karena penekanan Siluman Kecil dan juga hadiah yang diberi-kannya, jadi dasarnya hanya "pekerjaan"

Saja, bukan permusuhan pribadi.

Ban Hwa Sengjin sudah mengenal kakek muka hitam ini sebagai raja maling, tentu saja merupakan tokoh hitam pula di dunia kang-ouw, maka dia pun tidak merasa benci.

Hanya karena kedudukannya sebagai koksu dan karena guru dan murid ini telah mengacau benteng maka dia harus bertindak.

"Tak perlu banyak cakap. Kalian telah mengacaukan tempat ini, baik sebagai musuh atau bukan tidak ada bedanya. Sekarang katakan, di mana adanya Siluman Kecil dan Nona Hwee Li? Di mana pula adanya Puteri Syanti Dewi?"

Pertanyaan terakhir itu mengejutkan hati guru dan murid itu.

Jelas bahwa mereka berempat gagal untuk melarikan Syanti Dewi, juga gagal untuk melarikan seorang pun dari keluarga Jenderal Kao, bagaimana sekarang Koksu Nepal ini menanyakan tentang Puteri Bhutan itu?

Apakah puteri itu berhasil melarikan diri di waktu ribut-ribut semalam?

Karena maklum bahwa mereka berdua tidak berdaya dan bahwa agaknya gurunya yang biasanya tidak banyak cakap itu kini hendak menggunakan "kepandaiannya"

Bicara, maka Swi Hwa diam saja dan menyerahkan semua jawaban kepada suhunya.

"Kami telah gagal melarikan Syanti Dewi seperti yang dikehendaki oleh Siluman Kecil,"

Jawab Touw-ong dengan tenang.

"Setelah kegagalan itu, maka kami berpencar, saya melarikan diri bersama murid saya, hal yang agak mudah karena kami berdua menyamar sebagai..."

Dia menoleh ke arah Hek-tiauw Lo-mo, dan Hek-hwa Lo-kwi.

".... kedua orang gagah itu, sedangkan Siluman Kecil melarikan diri bersama Nona Hwee Li. Setelah itu, kami berdua tidak lagi bertemu dengan mereka. Tentang Puteri Bhutan, sungguh kami tidak tahu karena telah gagal membawanya, bahkan kalau tidak salah, ketika itu sang puteri sudah dibawa masuk kembali oleh seorang Panglima Bhutan...."

Penuturan ini memang cocok dengan laporan para pengawal yang melakukan pengeroyokan, maka Ban Hwa Sengjin berpendapat bahwa tentu Siluman Kecil yang telah berhasil melarikan sang puteri.

Hanya Siluman Kecil yang memiliki kepandaian tinggi sekali, bahkan dia sendiri karena kurang hati-hati, pernah roboh pingsan oleh Siluman Kecil itu.

Sedangkan Touw-ong bersama muridnya ini tentu hanya memiliki kepandaian biasa saja, buktinya mudah tertawan oleh Su-ok dan Ngo-ok.

"Pangeran, saya kira Raja Maling ini tidak membohong dan memang mereka ini tidak tahu di mana adanya Sang Puteri dan juga Nona Hwee Li. Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?"

Pangeran itu mengerutkan alisnya.

"Dia telah mengacau benteng, melakukan pembakaran, dan bersama muridnya telah menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi. Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?"

Ucapan pangeran itu seperti bertanya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.

Hatinya memang mengkal sekali kalau mengingat bahwa perbuatan kedua orang ini telah menyebabkan hilangnya Syanti Dewi, sungguhpun Hwee Li memang sudah lolos sebelum mereka berdua ini datang mengacau dengan penyamaran mereka.

"Serahkan saja mereka kepada kami berdua!"

Tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo berkata dengan marah.

"Bunuh saja mereka!"

Kata pula Hek-hwa Lo-kwi.

"Siksa mereka agar mengaku di mana adanya Sang Puteri Syanti Dewi!"

Kata Mohinta.

"Saya yakin bahwa dia yang menyerang saya dan melarikan sang pu-teri, tentu seorang kawan dari mereka ini!"

"Koksu, harap serahkan gadis ini kepadaku sebagai pengganti yang tempo hari!"

Tiba-tiba Ngo-ok berkata dan menoleh kepada Swi Hwa. Tiba-tiba Hek-sin Touw-ong tertawa.

"Sungguh mengherankan. Di dalam rimba sekalipun, tidak ada harimau makan harimau dan srigala makan srigala! Kalau golongan hitam tidak saling membantu, mana mungkin menghadapi golongan putih yang kuat? Kami guru dan murid memang telah melakukan kesalahan, akan tetapi kesalahan itu hanya karena kami tidak tahu bahwa di sini terdapat banyak orang-orang segolongan, dan kami tertipu dan tertekan oleh Siluman Kecil! Kalau kami dianggap sebagai golongan putih hendak dihukum, silakan. Siapa takut mati? Akan tetapi, sungguh menggelikan sekali kalau terdengar di dunia kang-ouw betapa ada kawan makan kawan sendiri! Pangeran, kami guru dan murid adalah orang-orang yang mencari rejeki menggunakan kemampuan kami. Kalau Paduka memaafkan kami dan memberi kami pekerjaan, kiranya kami dapat mempergunakan kepandaian kami untuk keuntungan Paduka!"

Pangeran Liong Bian Cu yang sedang marah itu memang tertarik oleh kepandaian guru dan murid ini.

Masih belum dapat dia melenyapkan keheranannya betapa Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang menghadapnya kemarin sore itu adalah penyamaran dari guru dan murid ini!

Kini, mendengar omongan kakek bermuka hitam itu, dia berkata.

"Orang berdosa, apalagi yang hendak kau sampaikan kepada kami? Pekerjaan apa yang dapat kami berikan kepada kalian yang telah melakukan dosa besar itu?"

"Pangeran, harap jangan percaya kepada omongannya!"

Lo-mo berkata marah.

"Lo-mo, jangan ganggu pembicaraan Pangeran dengan pesakitan!"

Ban Hwa Sengin menegur dan Hek-tiauw Lo-mo melotot marah, akan tetapi tidak berani berkata apa-apa lagi.

"Pangeran, saya masih heran mendengar akan lenyapnya sang puteri. Sedangkan saya bersama murid saya, juga pendekar Siluman Kecil yang demikian sakti bersama Nona Hwee Li, tidak mampu melarikan sang puteri, bagaimana dalam keadaan ribut-ribut kebakaran itu ada orang yang mampu melarikannya? Hal itu hanya berarti bahwa ada orang lain yang melarikan sang puteri, dan menurut pendapat saya, orang itu tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada kepandaian Siluman Kecil."

Semua orang tertegun dan bengong mendengar ini.

Juga Ban Hwa Sengjin menjadi terkejut dan diam-diam dia memperhatikan karena dugaan yang diajukan oleh Raja Maling itu memang masuk di akal.

Akan tetapi, siapakah orang yang lebih tinggi dari Siluman Kecil?

Padahal Siluman Kecil itu sudah demikian lihainya!

"Jangan ngawur!"

Bentaknya.

"Siapakah orangnya yang dapat lebih lihai dari Siluman Kecil dan mengapa pula dia melarikan sang puteri?"

Hek-sin Touw-ong memang cerdik dan dia tidak kekurangan akal untuk mengemukakan dugaan-dugaan yang dapat diterima, semua itu dilakukannya untuk menyelamatkan muridnya dari ancaman hukuman mati.

"Ketika kami dimintai bantuan oleh Siluman Kecil, rencana kami adalah melarikan Puteri Bhutan dan juga keluarga Jenderal Kao Liang. Akan tetapi melihat keluarga jenderal itu demikian banyaknya, Siluman Kecil lalu hendak melarikan sang puteri saja. Akan tetapi hal itu pun gagal dilakukan karena kami ketahuan. Dalam keributan itu, ternyata sang puteri benar-benar lenyap. Hal ini tentu dilakukan oleh seorang yang amat lihai dan mengingat bahwa keluarga Jenderal Kao berada di sini sebagai tahanan, maka siapa lagi orang yang lebih lihai daripada Siluman Kecil itu selain putera sulung Jenderal Kao yang terkenal dengan julukan Si Naga Sakti Gurun Pasir?"

"Ahhh....! Benar juga dugaannya!"

Tiba-tiba terdengar suara wanita berseru dan wanita yang bangkit dari tempat duduknya itu bukan lain adalah Cheng-yan-cu Kim Cui Yan!

Liok Tek Hwi juga berkata kepada Pangeran Liong Bian Cu.

"Kiranya dugaannya itu tidak salah. Tadi pun aku sudah menduga bahwa tentu dia yang datang melarikan sang puteri."

Ban Hwa Sengjin berubah wajahnya dan alisnya berkerut.

"Si Naga Sakti Gurun Pasir?"

Dia sudah mendengar nama ini, nama yang amat terkenal bukan karena pendekar itu sendiri melainkan karena tempat tinggalnya, yaitu Istana Gurun Pasir yang menjadi tempat tinggal Si Dewa Bongkok, guru dari Naga Sakti itu!

Benarkah pendekar yang sama tenarnya dengan nama pendekar Pulau Es itu telah datang?

"Ah, kalau benar dia yang datang, kenapa dia tidak melarikan puteranya, melainkan puteri itu?"

Terdengar Kim Cui Yan membantah.

"Benar juga pendapatmu itu, Sumoi."

"Kita harus menyelidiki hal ini,"

Kata Pangeran Liong Bian Cu.

"Kita harus dapat menyelidiki tentang putera sulung Jenderal Kao itu, mencari keterangan dari keluarganya."

"Akan tetapi mereka semua itu keras hati dan tidak takut mati, mana mereka mau membocorkan rahasia Si Naga Sakti?"

Ban Hwa Sengjin meragu.

"Kalau Paduka suka memaafkan kami berdua guru dan murid, maka saya dapat menyelidikinya dengan menyamar sebagai Jenderal Kao dan bicara dengan mereka!"

Tiba-tiba Hek-sin Tow-ong yang melihat kesempatan baik terbuka itu segera berkata.

"Tentu mereka akan membuka semua rahasia tentang putera sulung dari jenderal itu. Akan tetapi tentu saja lebih dulu saya harus mengenal mereka, satu-satu, dan apa hubungan mereka dengan jenderal itu."

Pangeran dan koksu saling pandang dan diam-diam koksu memberi persetujuan dengan anggukan kepalanya.

Memang tidak ada untungnya kalau hanya membunuh kedua orang guru dan murid ini, dan kalau dapat mempergunakan mereka sebagai pembantu, memanfaatkan kepandaian mereka menyamar, agaknya akan banyak berguna dan menguntungkan.

Pula, mereka itu bukanlah musuh-musuh golongan, bahkan orang-orang segolongan dan perbuatan mereka semalam di benteng itu hanya terdorong oleh pekerjaan mereka sebagai maling yang menghendaki keuntungan dalam setiap perbuatan mereka!

Demikianlah, setelah mempelajari gerak-gerik Jenderal Kao dan mengenal semua keluarga jenderal itu, Si Raja Maling lalu menyuruh muridnya yang melakukan penyamaran.

Dia sudah percaya benar akan kepandaian Swi Hwa dalam hal menyamar, bahkan kelincahan dara itu membuat Swi Hwa tidak kalah pandai daripada sang guru dalam meniru gerak-gerik orang lain.

Selain ini, juga Raja Maling ini hendak menonjolkan jasa muridnya karena sesungguhnya semua ini dilakukannya untuk menyelamatkan sang murid dari hukuman berat.

Dan usaha yang dilakukan oleh Swi Hwa memang berhasil baik sekali!

Semua keluarga jenderal itu tidak ada yang tahu bahwa yang bercakap-cakap dengan mereka di luar pintu jeruji besi itu bukanlah Jenderal Kao Liang!

Bahkan isteri sang jenderal sendiri tidak mengenal kepalsuan ini.

Mereka saling bercakap tentang lolosnya Puteri Bhutan, Dan Swi Hwa sebagai Jenderal Kao menyatakan dugaannya kepada keluarganya bahwa mungkin yang melarikan sang puteri adalah Kao Kok Cu, putera sulungnya atau Si Naga Sakti itu.

Akan tetapi keluarganya membantah.

Tidak mungkin, kata mereka, karena kalau benar Naga Sakti yang datang, tentu puteranya, Kao Cin Liong, yang akan diselamatkannya lebih dulu, atau juga ayah ibunya, bukan puteri dari Bhutan itu!

Dari percakapan ini, Swi Hwa mendengar tentang semua riwayat Jenderal Kao Liang, dan juga betapa jenderal itu telah menyuruh puteranya yang ke tiga, yaitu Kao Kok Han, untuk mencari Naga Sakti dan memberi tahu tentang segala malapetaka yang menimpa keluarga Kao.

Semua yang diketahuinya dari hasil percakapan ini, oleh Swi Hwa dan gurunya dilaporkan kepada Pangeran Liong Bian Cu dan akhirnya, Melihat betapa dara itu dalam melakukan penyamaran sungguh amat mengagumkan, pangeran ini dan koksu menerima mereka berdua sebagai pembantu-pembantu mereka karena Pangeran Liong Bian Cu memang ingin mengumpulkan sebanyak mungkin orang pandai, terutama dari golongan hitam untuk membantunya.

Dan sesungguhnya Hek-sin Touw-ong juga termasuk seorang di antara tokoh-tokoh yang memang sudah diincarnya untuk membantunya, bahkan ketika terjadi pertemuan di lembah ini antara para tokoh hitam, Hek-sin Touw-ong juga diwakili oleh Ang-siocia, muridnya itu.

Mengingat akan semua inilah, maka pangeran dan koksu memaafkan pengacauan mereka berdua di dalam benteng semalam, dan menarik mereka sebagai pembantu dan sekutu!

"Bagaimana kita menyeberang lautan yang lebar tanpa tepi itu, Enci?"

Syanti Dewi bertanya ketika dia bersama Ouw Yan Hui berdiri di pantai yang sunyi pada siang hari itu, melihat air laut yang bergelombang, luas dan sampai ke kaki langit tidak nampak ada tepi atau pulau itu.

"Dengan kapal tentu saja. Kapalku sudah menantiku di sini,"

Jawab wanita cantik itu sambil tersenyum.

Kemudian Ouw Yan Hui mengeluarkan sebatang anak panah kecil dari dalam buntalan pakaiannya, memukulkan ujung anak panah itu ke atas batu dan anak panah itu pun terbakarlah, mengeluarkan asap berwarna biru!

Kemudian, tanpa gendewa, hanya menggunakan jari-jari tangannya yang kecil meruncing itu saja, dia melontarkan anak panah itu ke udara.

Nampak sinar biru meluncur ke atas, dan asap biru nampak nyata.

Itulah tanda rahasia, pikir Syanti Dewi kagum.

Dan sesaat kemudian, nampak sinar asap biru meluncur di sebelah barat.

"Nah, itulah mereka!"

Kata Ouw Yan Hui dengan wajah girang sambil memandang ke barat.

Syanti Dewi juga ikut memandang dan tidak lama kemudian, muncullah sebuah kapal yang amat indah.

Kapal layar itu besar sekali dan indah, dan nampak beberapa orang anak buah menurunkan sebuah perahu kecil yang didayung oleh empat orang dengan cepat menuju ke pantai.

Setelah perahu itu tiba di pantai, barulah nampak oleh Syanti Dewi bahwa empat orang anak buah kapal yang mendayung perahu itu adalah wanita-wanita cantik dan muda yang memakai pakaian ringkas sehingga dari jauh tidak kelihatan bahwa mereka itu wanita.

"Tocu telah pulang!"

Mereka berseru dengan girang dan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Ouw Yan Hui yang mereka sebut tocu (majikan pulau).

Ouw Yan Hui hanya tersenyum, kemudian menggandeng tangan Syanti Dewi dan diajak naik ke dalam perahu kecil yang segera didayung dengan cepat oleh empat orang wanita itu menuju ke kapal besar.

Setelah tiba di kapal dan naik, Syanti Dewi melihat bahwa semua anak buah kapal itu adalah wanita, muda-muda dan rata-rata memiliki wajah yang cantik, atau setidaknya bersih.

Dan begitu sang tocu naik ke atas kapal, mereka semua menjatuhkan diri berlutut dengan wajah gembira dan penuh hormat kepada Ouw Yan Hui!

Mereka bersikap seolah-olah Ouw Yan Hui adalah ratu mereka!

Dan kapal itu ternyata amat mewah.

"Hei, kalian semua lihatlah baik-baik. Nona ini adalah adikku, juga muridku dan kalian harus bersikap hormat dan ramah kepadanya, dan menyebutnya siocia."

Semua orang yang masih berlutut itu memberi hormat kepada Syanti Dewi dan menyebut "Siocia!"

Dengan suara nyaring sehingga Syanti Dewi merasa canggung sekali.

Dia memang sudah biasa dihormati orang, sebagai puteri istana Bhutan, akan tetapi di tempat ini dia merasa amat canggung menerima penghormatan seperti itu.

Dan secara otomatis, keagungannya sebagai seorang puteri seketika timbul dan dia mengangkat sedikit tangannya sambil menganggukkan kepala sebagai tanda menerima penghormatan itu.

Terdengar suara bisik-bisik memuji kecantikan puteri ini ketika Ouw Yan Hui memberi isyarat agar kapal segera dilayarkan.

Sibuklah semua anak buah kapal itu dan Syanti Dewi mengagumi ruangan-ruangan yang mewah dari kapal itu ketika Ouw Yan Hui mengajaknya masuk ke dalam bilik kapal yang cukup luas.

Di situpun mereka disambut oleh para pelayan wanita yang cantik-cantik.

Mereka sibuk melayani sang tocu, menyediakan air hangat untuk mandi, pakaian yang indah dan bersih, dan ada pula yang sibuk mempersiapkan hidangan.

Ouw Yan Hui mandi dan bertukar pakaian, pakaian yang bahkan lebih indah daripada yang dipakainya tadi, dan sehabis mandi, wanita itu nampak makin cantik saja.

Syanti Dewi dipersilakan mandi pula dan puteri ini kembali mengagumi kamar mandi tocu itu di dalam kapal yang indah dan lengkap.

Air hangat dalam kolam air yang berbau harum membuat tubuhnya terasa segar dan dua orang pelayan melayaninya dengan pakaian yang serba baru!

Pakaian itu adalah, pakaian Ouw Yan Hui yang memerintah pelayan untuk memberikan kepada Syanti Dewi, dan karena bentuk tubuh kedua orang wanita cantik ini memang tidak berbeda jauh, maka pakaian Ouw Yan Hui dapat pula dipakai oleh Syanti Dewi dengan pantas.

Kemudian Sang Puteri Bhutan dipersilakan makan bersama nyonya rumah yang juga menjadi gurunya itu.

Hidangannya juga serba mewah, tidak kalah oleh masakan di restoran-restoran besar.

Tahulah Syanti Dewi bahwa Ouw Yan Hui selain gagah perkasa dan lihai sekali, jua amat kaya raya!

Syanti Dewi tidak tahu arah mana yang ditempuh oleh kapal itu.

Akan tetapi, cuaca telah berubah gelap dan para awak kapal menyalakan lampu-lampu kapal, dan kapal itu masih terus berlayar.

Ouw Yan Hui mempersilakan Syanti Dewi untuk tidur.

Mereka tidur sekamar, di mana terdapat dua buah tempat tidur.

Syanti Dewi merasa demikian aman dan senang setelah untuk beberapa pekan lamanya hidup dengan penuh ketegangan dan kekhawatiran sehingga dia dapat tidur dengan nyenyak sekali, tanpa mimpi dan tanpa bangun sampai suara musik dan nyanyian membangunkannya.

Cepat dia menengok dan ternyata bahwa Ouw Yan Hui telah pergi, karena tempat tidurnya kosong dan dari jendela bilik kapal yang ditutup tirai biru tipis itu menyorot cahaya matahari pagi!

Hari telah pagi!

Betapa nyenyaknya dia tidur!

Seperti telah mengikuti semua gerak geriknya begitu dia duduk, datanglah seorang pelayan yang berkata dengan sikap hormat dan suara halus.

"Siocia, air untuk mandi telah siap. Siocia menghendaki air hangat atau air dingin?"

"Dingin saja,"

Jawab Syanti Dewi dan pelayan itu lalu membungkuk.

"Sudah siap di kamar mandi, Siocia."

"Ke manakah perginya.... Tocu?"

"Tocu sudah menanti di geladak kapal, sedang menonton tari-tarian yang menyambut kedatangan beliau."

Ah, jadi suara musik dan nyanyian itu adalah tari-tarian yang khusus diadakan untuk menyambut kedatangan Ouw Yan Hui?

Bukan main!

Syanti Dewi tergesa-gesa pergi ke kamar mandi, diikuti oleh pelayan yang menanti di luar kamar mandi dengan pakaian baru yang sudah dipersiapkan.

Setelah selesai mandi dan melihat betapa pakaian yang diperuntukkan dia amat bagusnya, dia berseru.

"Ah, untuk apa pakaian begini indah dan mewah?"

"Atas perintah Tocu, Siocia. Untuk menghadiri penyambutan ini!"

Jawab pelayan dengan tegas dan singkat, agaknya memang sudah dipersiapkan jawaban ini.

Syanti Dewi cepat mengenakan pakaian indah itu, dibantu oleh pelayan.

Setelah selesai, seorang pelayan lain datang menghadap dan memberl hormat.

"Tocu minta kepada Siocia untuk makan pagi di geladak sambil menikmati pesta sambutan."

Hampir Syanti Dewi tertawa.

Bukan main penolongnya ini!

Agaknya mempunyai kehidupan yang amat mulia dan mewah dan menyenangkan, tiada ubahnya seorang puteri atau seorang ratu saja!

Dia pun lalu berjalan keluar dari kamar, didahului oleh pelayan tadi dan ketika dia tiba di geladak kapal itu, Syanti Dewi kembali merasa kagum bukan main.

Kiranya kapal itu telah berlabuh di pantai sebuah pulau yang subur sekali, penuh dengan pohon-pohon dan bunga-bunga yang agaknya teratur rapi, seperti sebuah taman yang amat besar, luas dan indah.

Sejauh mata memandang, tidak nampak rumah melainkan pohon-pohon dan bunga-bunga belaka!

Seperti pulau sorga dalam dongeng saja!

Dan di pantai nampak belasan orang wanita cantik sedang menari-nari amat indahnya, lemah gemulai, dengan melambaikan selendang-selendang yang beraneka warna, dengan gerakan berirama sehingga selendang-selendang yang beraneka warna itu seperti bunga-bunga yang berkembang dan mekar.

Mereka menari sambil menyanyi, diiringi musik yang dimainkan oleh wanita-wanita pula.

Tidak ada seorang pun pria di situ, semua wanita belaka, dari yang berpakaian pelayan, berpakaian penjaga atau perajurit, sampai para penari dan pemain musik, semua perempuan dan jumlah mereka amat banyak, tak terhitung oleh Syanti Dewi yang berdiri bengong.

"Ah, engkau sudah bangun, Syanti? Mari, duduklah di sini, enak makan di sini mandi cahaya matahari pagi sebelum panas sambil menikmati tarian dan nyanyian!"

Syanti Dewi menengok dan dia melihat Ouw Yan Hui duduk menghadapi meja yang penuh dengan hidangan yang sudah lengkap dan masih mengepul panas.

Beberapa orang pelayan berdiri di dekat situ dengan sikap hormat dan seorang di antara mereka menarik bangku yang memang sudah dipersiapkan untuk Syanti Dewi.

"Terima kasih, Enci"

Kata Syanti Dewi yang lalu duduk dan pelayan sibuk mengambilkan hidangan dan minuman untuk puteri itu.

Mereka berdua lalu makan pagi sambil menikmati tontonan yang sengaja diadakan untuk menyambut pulangnya Ouw Yan Hui.

"Enci, apakah setiap kali kau bepergian, pulangnya disambut seperti ini?"

Syanti Dewi bertanya. Wanita cantik itu tersenyum.

"Ah, engkau tidak tahu, Syanti. Dalam beberapa tahun ini aku tidak pernah meninggalkan pulau ini. Karena itulah maka anak buahku merasa girang melihat aku pulang, agaknya mereka itu khawatir karena sudah beberapa pekan lamanya aku tidak pulang. Mereka itu menganggap aku sebagai ratu mereka, Syanti."

"Enci, engkau memang pantas menjadi ratu! Pulau ini milikmu?"

Wanita itu mengangguk.

"Begitulah. Pulau ini kosong, tidak ada orangnya, dan punghuninya hanyalah ular-ular beracun, bahkan di sini terdapat ular beracun paling hebat yang kulitnya seperti emas, dan dinamakan Kim-coa. Tidak ada nelayan berani mendarat di sini, maka aku lalu tinggal di sini, membersihkan pulau ini yang kuberi nama Kim-coa-to (Pulau Ular Emas). Ternyata tanah di pulau ini subur sekali, maka setelah lewat belasan tahun, kau lihat pulau ini telah berubah menjadi tempat yang menyenangkan sekali, dan aku hidup bersama lima puluh orang anak buahku di tempat ini dengan bahagia."

"Belasan tahun? Engkau telah tinggal di sini selama belasan tahun? Tentu engkau datang ke tempat ini ketika masih amat kecil, Enci. Bagaimana dalam usia kanak-kanak engkau dapat menaklukkan ular-ular beracun dan dapat berlayar sampai di tempat terpencil ini? Dan.... menurut ceritamu, kau pernah bersuami.... eh, apakah kalian dahulu juga tinggal di sini? Kalau begitu kurasa di sini tidak ada tetangga.... ataukah kau maksudkan wanita pengganggu itu seorang di antara pelayan-pelayanmu ini?"

Ouw Yan Hui tersenyum geli.

"Ah, dugaanmu meleset jauh sekali, Syanti. Tentu saja dahulu aku tidak tinggal di sini. Justeru karena peristiwa terkutuk itu, setelah membunuh mereka, aku menjadi buronan dan aku melarikan diri dengan perahu, sampai akhirnya tiba di sini!"

"Tapi.... tapi kau tadi bilang bahwa engkau telah tinggal di sini selama belasan tahun...."

Ouw Yan Hui mengangguk.

"Sudah tujuh belas tahun."

Syanti Dewi terbelalak.

"Mana mungkin? Tentu ketika itu engkau baru berusia paling banyak delapan tahun, Enci...."

"Ketika pertama kali aku mendarat di, pulau ini, usiaku sudah sebaya denganmu, Syanti, sekitar dua puluh dua tahun."

"Ahhh....! Tapi.... tapi...."

Syanti Dewi benar-benar terkejut dan heran, menatap wajah wanita itu penuh selidik, wajah yang membayangkan usia yang tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun.

"Kau kira berapakah usiaku, Syanti? Sudah empat puluh tahun."

"Tidak mungkin!"

Puteri Bhutan itu berseru. Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui tersenyum lebar, hampir tertawa.

"Baru melihat aku saja engkau sudah terheran-heran, apalagi kalau engkau bertemu dengan Bibi Maya."

"Siapakah Bibi Maya?"

"Dia adalah guruku, guru dalam ilmu awet muda. Kelak engkau akan dapat bertemu dengan dia kalau kebetulan dia berkunjung ke sini. Sekarang, marilah kita mendarat. Kasihan para pelayan di istanaku yang sudah lama menanti-nanti."

Keheranan demi keheranan, kekaguman demi kekaguman memenuhi hati Syanti Dewi semenjak dia dilarikan oleh Ouw Yan Hui dari dalam benteng di mana dia menjadi tawanan sampai dia mendarat di Kim-coa-to.

Pulau itu tidak berapa besar, akan tetapi tentu saja sudah cukup besar untuk ditinggali oleh Ouw Yan Hui bersama lima puluh orang anak buahnya itu.

Merupakan sebuah perkampungan berikut ladang yang ditanami tumbuh-tumbuhan obat, sayur dan pohon-pohon buah.

Terdapat belasan pondok-pondok yang menjadi tempat tinggal para anak buah majikan Pulau Ular Emas itu.

Di tengah-tengah pulau, dari pantai tidak nampak karena tertutup oleh pohon-pohon besar, berdiri sebuah bangunan yang tidak terlatu besar, akan tetapi amat megah dan mewah.

Pantas saja kalau Ouw Yan Hui menyebut rumahnya itu istana karena memang indah seperti istana raja saja!

Dan di belakang istana itu terdapat sebuah taman yang indah sekali, merupakan inti dari pulau yang sudah merupakan taman besar itu.

Benar saja seperti yang telah diduganya ketika dia makan pagi bersama Ouw Yan Hui di atas geladak kapal dan tidak melihat adanya seorang pun pria, ternyata di atas pulau itu memang sama sekali tidak ada prianya.

Semua adalah wanita-wanita, dan tidak ada wanita yang sudah tua, paling tua berusia tiga puluh tahun dan rata-rata memiliki wajah bersih dan tubuh yang ramping dan padat?

Seperti dunia wanita saja!

Akan tetapi, setelah segala pengalamannya yang mengerikan terjatuh ke tangan orang-orang jahat, kini berada di antara wanita-wanita itu saja Syanti Dewi merasa aman.

Hanya satu hal yang membuat Syanti Dewi tidak pernah berhenti terheran-heran, yaitu melihat kecantikan wajah Ouw Yan Hui dan kepadatan tubuh wanita itu.

Usia sudah empat puluh tahun.

Sungguh sukar untuk dapat dipercaya.

Di negerinya, di Bhutan, memang terdapat ilmu untuk membuat wanita awet muda, akan tetapi tidak seperti ini, sudah berusia empat puluh tahun namun wajahnya tidak lebih tua dari dua puluh lima tahun dan tubuhnya malah seperti seorang dara remaja saja!

Padahal wanita berusia empat puluh tahun ini sudah pernah bersuami, pernah pula mengandung dan melahirkan!

Setelah tinggal di Pulau Kim-coa-to, mulailah Ouw Yan Hui melatih ginkang kepada Syanti Dewi.

Mula-mula Syanti Dewi disuruh mengejar-ngejar kupu-kupu dalam taman!

Seperti permainan kanak-kanak saja.

Mula-mula hanya disuruh mengejar seekor kupu-kupu terbang dan menangkapnya, akan tetapi dari seekor kupu-kupu dia lalu disuruh menangkap dua ekor kupu-kupu sekaligus, lalu tiga ekor dan seterusnya.

Dia dilatih untuk bersamadhi, mengatur pernapasan, dan bagaimana dia harus mengerahkan sinkang di waktu berloncatan mengejar kupu-kupu.

Jangan dikira mudah mengejar kupu-kupu, terutama kupu-kupu yang bersayap kuning, yang amat lincah dan pandai mengelak.

Pertama kali mengejarnya, seekor kupu-kupu saja baru dapat ditangkapnya setelah Syanti Dewi bermandi keringat dan mengejar-ngejarnya sampai berjam-jam lamanya.

Akan tetapi, setelah Syanti Dewi memperoleh kemajuan dan mulai memiliki gerakan yang lincah dan gesit sekali, dia dapat menang-kapnya dengan sekali lompat, dan setelah lewat dua bulan, dia dapat menangkap lima ekor kupu-kupu hanya dengan beberapa kali loncatan saja!

Setelah itu, Ouw Yan Hui lalu mengajarnya untuk menangkap burung terbang!

"Aih, Enci Hui, mana mungkin aku dapat menangkap burung terbang?

Aku tidak bersayap seperti burung!"

Syanti Dewi berkata penuh keraguan.

"Kau lihatlah aku!"

Kata wanita itu sambil memandang ke atas, ke arah pohon-pohon di mana terdapat beberapa ekor burung berwarna coklat dengan dada putih.

"Akan kutangkap burung-burung itu!"

Tiba-tiba tubuhnya lenyap, berkelebat ke atas dan dengan mata terbelalak Syanti Dewi melihat, bayangan wanita itu berkelebatan di antara cabang-cabang pohon lalu disusul suara burung-burung mencicit ketakutan.

Sesosok bayangan berkelebat turun dan tahu-tahu wanita luar biasa itu telah melompat turun, di masing-masing tangannya terdapat dua ekor burung yang tadi beterbangan di antara daun-daun pohon itu!

"Hebat, Enci!

Kau hebat bukan main!"

Syanti Dewi berseru.

"Kalau kau tekun berlatih, engkau pun akan dapat menangkap burung-burung seperti itu. Mari kita latihan di lian-bu-thia dengan burung-burung ini!"

Syanti Dewi diajak ke ruangan latihan silat yang tertutup rapat dan di situ Ouw Yan Hui melepaskan empat ekor burung kecil tadi.

Burung itu beterbangan di dalam ruangan itu, akan tetapi tidak dapat keluar karena jendela dan pintunya sudah ditutup rapat.

Atas petunjuk Ouw Yan Hui, mulailah Syanti Dewi mengejar-ngejar empat ekor burung itu.

Dia menggunakan kegesitannya dan kelincahannya yang diperoleh selama berlatih menangkap kupu-kupu, akan tetapi sampai sehari itu, belum juga dia berhasil menangkap seekor pun di antara burung-burung itu!

Ternyata jauh sekali bedanya antara gerakan kupu-kupu dengan gerakan burung yang jauh lebih gesit dan cepat itu!

Kembali Syanti Dewi harus dengan tekun melatih samadhi dan pernapasan, dan tiada bosan-bosannya dia berlatih mengejar dan menangkap burung-burung.

Ouw Yan Hui selalu menggantikan burung-burung itu dengan burung-burung baru yang segar dan lebih gesit, akan tetapi dengan ketekunannya yang luar biasa, bahkan kadang-kadang di waktu malam Syanti Dewi berlatih seorang diri di dalam lian-bu-thia, akhirnya Puteri Bhutan itu berhasil juga menangkap burung terbang, mula-mula hanya seekor, akan tetapi beberapa bulan kemudian dia dapat menangkap empat lima ekor burung yang dilepas oleh Ouw Yan Hui di dalam ruangan silat itu!

"Bagus, engkau memang berbakat dan untungnya engkau pernah mempelajari dasir-dasar ilmu silat tinggi dari pendekar-pendekar sakti, sehingga engkau dapat dengan mudah menguasai dasar-dasar ginkang.

Setelah engkau menguasai kecepatan gerak, kita boleh mulai berlatih di luar untuk memperoleh keringanan tubuh sehingga engkau dapat mulai belajar Ilmu Jouw-sang-hui-teng yang akan membuat engkau dapat berlari seperti terbang cepatnya dan belajar meloncat tinggi seperti melayang.

Akan tetapi ilmu ini tidak mudah, Syanti, engkau harus belajar dengan tekun sekali."

Mulailah Syanti Dewi berlatih di bawah petunjuk Ouw Yan Hui.

Latihan ini dilakukan di tempat-tempat sunyi, tidak boleh dilihat oleh para anak buah.

Dan kadang-kadang Ouw Yan Hui mengajak Syanti Dewi untuk naik perahu kecil berdua saja di tengah lautan, kemudian mengajak Puteri Bhutan itu untuk mandi di laut, bertelanjang bulat karena memang di tengah laut itu sunyi sekali, seperti dua orang peri laut kedua orang wanita cantik jelita itu berkecimpung di antara ombak-ombak dan di sini Ouw Yan Hui mengajarkan ginkang yang amat tinggi tingkatnya kepada Syanti Dewi!

Tanpa disadarinya sendiri, Syanti Dewi telah mempelajari ilmu yang amat hebat, ilmu yang mengubah dirinya sama sekali, dari seorang puteri yang biarpun mengenal ilmu silat namun tergolong lemah di antara tokoh-tokoh kang-ouw, menjadi seorang wanita yang memiliki gerakan seperti kilat, memiliki ginkang yang sukar dicari tandingannya.

Akan tetapi bukan hanya perubahan ini saja yang terjadi pada dirinya, akan tetapi tanpa disadarinya pula, karena setiap hari bergaul dengan Ouw Yan Hui dan selalu meniru contoh-contoh yang diberikan wanita itu dalam berlatih ilmu, maka secara otomatis watak aneh dari Ouw Yan Hui juga menular kepada Syanti Dewi!

Puteri Bhutan itu kini makin cantik, atau makin pesolek, makin angkuh dan tinggi hati, juga keramahan pada wajahnya lenyap, berubah menjadi dingin!

Akan tetapi karena dinginnya ini bukan terpengaruh batinnya, melainkan pengaruh dari luar, maka gadis yang sudah dewasa ini, yang rindu akan belaian kasih sayang pria pujaannya, sebetulnya menyimpan gairah yang berapi-api, sehingga karena dibungkus oleh sifat dingin yang ditularkan Ouw Yan Hui maka Syanti Dewi kini seperti gunung berapi yang tertutup salju!

Di sebelah timur daratan Tiongkok terdapat banyak sekali pulau-pulau besar dan kecil.

Terutama agak ke utara, terdapat pulau-pulau kecil yang tak terhitung banyaknya, pulau-pulau yang masih terasing dan masih banyak yang kosong.

Di ujung utara, di ternpat terpencil dan jauh sekali dari kehidupan ramai, terdapat sebuah pulau di antara pulaa-pulau lain, yaitu pulau yang terkenal di dalam dongeng para tokoh kang-ouw, yang dinamakan Pulau Es!

Jarang ada tokoh kang-ouw yang pernah melihat pulau ini, karena selain sukar sekali didatangi, juga kebanyakan orang kang-ouw takut untuk mendekati pulau ini, takut kepada penghuninya yang lebih terkenal daripada pulau itu sendiri.

Penghuni Pulau Es atau majikan dari Pulau Es terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman.

Baru menyebut namanya saja, semua orang dari golongan hitam atau kaum sesat sudah menggigil ketakutan.

Para pembaca cerita Pendekar Super Sakti dan cerita-cerita lanjutannya tentu sudah mengenal siapa adanya Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman ini.

Namanya adalah Suma Han, dan kini Suma Han atau Pendekar Super Sakti telah berusia lanjut, sudah lebih dari enam puluh tahun.

Pendekar sakti ini tinggal dengan tenang dan tenteramnya di Pulau Es, bersama dua orang isterinya yang tercinta, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang wanita yang amat mencinta suami mereka, amat setia dan juga merasa amat berbahagia hidup bertiga di atas pulau itu bersama suami dan madu mereka.

Akan tetapi, sungguh merupakan kenyataan bahwa ketentera-man, ketenangan atau kedamaian hidup sama sekali bukan tergantung daripada tempat atau keadaan di luar diri kita, melainkan sepenuhnya tergantung dari keadaan batin kita sendiri!

Betapapun sunyi tempat di mana kita tinggal, namun kalau batin kita tidak hening, kalau batin kita sibuk dan bising, maka kesunyian tempat itu tidak ada artinya!

Oleh karena itu, bukan hanya teori belaka kalau dikatakan bahwa seorang yang bertapa di puncak gunung yang sunyi akan menderita karena kebisingan batinnya, sebaliknya orang yang berada di tengah kebisingan akan dapat menikmati keheningan batinnya.

Sungguhpun tak dapat disangkal bahwa keadaan di luar itu ada pengaruhnya juga terhadap batin, akan tetapi segala sesuatu berpusat pada batin kita sendiri.

Masalah timbul dari dalam batin, timbul dari penanggapan pikiran terhadap peristiwa yang terjadi.

Segala macam hal yang terjadi dalam hidup ini merupakan suatu fakta, dan apakah kejadian itu menjadi masalah ataukah tidak, sepenuhnya tergantung dari pikiran yang menanggapinya.

Kalau pikiran menanggapi, tentu saja timbul masalah karena pikiran selalu memperhitungkan rugi untung, dan setelah masalah timbul, tentu saja terdapat penderitaan dan kekhawatiran.

Demikian pula halnya dengan Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya.

Bukan hanya Pendekar Super Sakti saja yang merupakan seorang manusia sakti, dengan ilmunya yang tinggi sukar dicari bandingnya, bahkan kedua orang isterinya juga merupakan wanita-wanita yang amat lihai.

Kedua orang wanita itu, baik Puteri Nirahai maupun Lulu, pernah menggegerkan dunia persilatan pada pu-luhan tahun yang lalu.

Akan tetapi, kesaktian mereka dan kehidupan mereka di Pulau Es amat sunyi itu, tetap saja bukan merupakan jaminan akan kedamaian hidup mereka di waktu usia mereka su-dah mulai tua itu.

Selama beberapa bulan ini terasa sekali oleh Pendekar Super Sakti betapa hatinya tertindih oleh kegelisahan dan kemarahan.

Dia marah kepada dua orang puteranya, yaitu Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu.

Terutama sekali kepada Suma Kian Bu, putera dari Nirahai, yang sudah meninggalkan Pulau Es selama enam tahun dan belum pernah pulang!

Puteranya yang lain, yaitu Suma Kian Lee, putera Lulu, enam tahun yang lalu juga pergi meningalkan Pulau Es bersama adiknya itu (baca cerita Sepasang Rajawali), akan tetapi Kian Lee sudah pulang, bahkan memperdalam ilmunya di Pulau Es selama beberapa tahun.

Kini, Kian Lee telah diutusnya untuk pergi mencari adiknya, dan sudah hampir setahun lamanya Kian Lee belum pulang sehingga tidak ada berita tentang kedua orang puteranya itu.

Tentu saja hal ini membuat hati pendekar sakti itu menjadi gelisah dan marah.

Apalagi kegelisahannya itu bertambah dengan adanya sikap dari dua orang isterinya.

Mereka berdua itu selalu kelihatan berwajah muram, kadang-kadang marah-marah dan berduka karena mereka merasa rindu dan khawatir sekali.

Terutama Puteri Nirahai yang sudah enam tahun tidak melihat puteranya.

Sebagai wanita-wanita gagah, mereka pantang untuk memperlihatkan kedukaan mereka, akan tetapi mereka menjadi marah-marah karena melihat suami mereka seperti tidak mempedulikan kepergian dua orang anak mereka itu.

Mereka memperlihatkan rasa tidak suka hati mereka kepada suami mereka dengan wajah muram.

Ketika pada suatu malam, kedua isterinya yang melayani makan itu hanya duduk diam saja menghadapi dia makan, dan tidak ikut makan, Pendekar Super Sakti menghela napas panjang dan mendorong mangkok nasinya ke samping.

"Nah, katakanlah, apa yang kalian kehendaki? Tidak baik menyimpan dendam di dalam hati,"

Katanya dengan halus dan penuh kasih sayang karena memang sesungguhnya pendekar ini masih menaruh hati cinta yang mendalam ter-hadap kedua orang isterinya itu.

Setelah melihat sikap halus dari suami mereka itu, dua orang isteri yang juga amat kagum dan mencinta suami mereka, berbalik merasa kasihan.

"Kami besok hendak pergi meninggalkan pulau,"

Tiba-tiba Lulu, yang kini telah menjadi seorang nenek berusia hampir enam puluh tahun itu, namun masih memiliki raut wajah yang cantik, berkata penuh semangat.

Memang wanita ini tidak pernah kehilangan semangatnya sejak dahulu sampai sekarang.

"Kami harus pergi menyusul dan mencari anak-anak kita,"

Puteri Nirahai menerangkan dengan tenang.

"Kau harus ingat, suamiku, mereka berdua itu telah cukup umur, telah berusia dua puluh satu dan dua puluh tahun. Kami ingin melihat mereka itu menjadi suami dari isteri yang baik. Sudah tiba waktunya bagi kita untuk mempunyai mantu."

"Hemmm...., bagaimana mungkin wanita-wanita yang sudah mulai lanjut usianya seperti kalian berdua ini hendak melakukan perjalanan yang demikian jauh dan berbahaya?"

Pendekar Super Sakti berkata halus, penuh kekhawatiran.

"Habis, kalau engkau yang menjadi ayahnya diam saja, terpaksa kami yang menjadi ibu mereka turun tangan. Mendiamkannya saja mereka pergi tanpa berita lebih lama lagi, kami bisa mati karena gelisah!"

Lulu berkata. Suma Han menghela napas panjang, lalu meraih kembali mangkok nasinya.

"Baiklah, nanti kita bicarakan hal itu, kalian tidak perlu mogok makan untuk itu, membahayakan kesehatan sendiri."

Dua orang isterinya itu saling pandang, timbul harapan mereka bahwa sekali ini suami mereka akan menaruh perhatian, maka mereka pun lalu mengisi mangkok dengan nasi dan makan bersama suaminya.

Mereka makan tanpa berkata-kata, seperti biasa kalau mereka makan, dengan mencurahkan seluruh perhatian mereka kepada apa yang mereka lakukan saat itu.

Setelah selesai makan dan dua orang isterinya menyingkirkan mangkok piring, Pendekar Super Sakti duduk termenung.

Sudah lama dia tinggal bertiga saja bersama dua orang isterinya sejak dua orang puteranya pergi, enam tahun yang lalu.

Semua anak buah atau pelayan dan pembantu di Pulau Es, telah dia suruh pulang ke tempat asal masing-masing meninggalkan Pulau Es, sehingga dia tinggal bertiga saja dengan dua orang isterinya.

Dia telah membagi-bagikan sebagian harta kepada para anak buah itu yang dengan hati berat meninggalkan Pulau Es karena mereka maklum bahwa pendekar sakti itu dalam usia tuanya ingin hidup mengasingkan diri di tempat sunyi itu, tidak ingin mencampuri urusan dunia ramai lagi, Maka tidak membutuhkan bantuan para anak buah itu lagi.

Akan tetapi kini, timbul urusan kedua orang puteranya sehingga mau tidak mau dia harus pula memikirkan.

Beberapa kali pendekar itu menarik napas panjang.

Betapa hidup ini selalu menjadi permainan keinginan.

Sejak kecil sampai sudah setua dia masih juga belum dapat bebas dari keinginan-keinginan.

Kalau pun sekarang, dalam usia tua dia sudah tidak menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri yang sudah tua, keinginan itu bukannya mati, melainkan meluas menjadi keinginan untuk melihat anak-anaknya berbahagia!

Dan untuk memperjuangkan kebahagiaan anak-anaknya, maka dia maupun kedua orang isterinya mau melakukan apa saja!

Hidup penuh dengan ikatan, sehingga tidak mungkin dapat bebas selama dirinya masih terikat, Terikat kepada keluarga, kepada harta benda, kepada kedudukan, kepada nama!

Ah, dia tidak boleh membiarkan kedua orang isterinya itu pergi ke daratan besar.

Kalau mereka pergi, tentu mereka akan menimbulkan onar, terutama sekali Lulu, dan tentu akan terjadi geger di dunia kang-ouw, dan belum tentu mereka berdua akan kembali ke Pulau Es!

Tidak, dia tidak harus membiarkan mereka pergi, dia yang harus pergi sendiri!

Betapa kebanyakan dari kita masih belum melihat betapa cinta kasih kita terhadap anak-anak kita adalah palsu belaka!

Betapa sesungguhnya kita, secara halus dan tentu saja tidak akan ada yang mau mengakuinya, hanya ingin mempergunakan anak-anak kita sebagai jembatan atau perabot untuk memperoleh kesenangan bagi diri kita sendiri, yaitu melihat anak-anak kita taat, berbakti kepada kita, Kemudian kelak menjadi seorang yang terpandang di masyarakat, pendeknya menjadi seorang anak kita yang mengangkat tinggi nama kita!

Menjadi seorang anak kita yang dapat kita banggakan, dapat kita sandari, dan dapat kita andalkan!

Mulut kita mengatakan bahwa kita ingin membahagiakan anak, akan tetapi mata kita tidak ada yang melihat dengan waspada betapa kita telah membentuk anak-anak kita menjadi boneka sesuai dengan selera kita, membentuk kebahagiaan-kebahagiaan mereka yang sesuai dengan perumusan kita tentang kebahagiaan.

Karena itu, karena kebodohan kita, karena ketamakan kita, maka kita sama sekali bukan membahagiakan mereka, melainkan sebaliknya kita melempar anak-anak kita ke dalam kehidupan yang penuh dengan konflik dan ke-sengsaraan tiada hentinya.

Karena perumusan kita tentang bahagia adalah kaya raya, mulia, terhormat, terpandang, padahal semua ini tiada lain hanya mendatangkan iri hati dan konflik antara sesama manusia, dan konflik ini tak dapat tiada mendatangkan penderitaan batin.

Kita hendak mengikat anak-anak kita dengan apa yang kita namakan cinta, padahal sesungguhnya hanyalah pamrih untuk memuaskan hati sendiri belaka.

Kalau kita benar mencinta anak-anak kita, kiranya kita tidak akan membiarkan anak-anak kita bersaingan, bermusuhan, berebutan, dan terutama sekali tidak akan membiarkan anak-anak kita berperang!

Saling bersaing, dalam sekolah, saling berebutan dalam mencari nafkah, saling bermusuhan dalam mencari kedudukan dan kemuliaan, kemudian saling membunuh dalam perang.

Kita mengajarkan semua itu dan toh kita mengaku cinta kepada anak-anak kita!

Kita lupa bahwa kalau kita mencinta anak-anak kita, selayaknya kalau kita memberi kebebasan kepada mereka, dengan pengamatan yang penuh perhatian, menunjukkan bahaya-bahaya agar mereka mengerti, menunjukkan kesesatan-kesesatan agar mereka tidak sampai memasukinya, dan menuntun mereka, bukan memaksa mereka melalui jalan tertentu, dengan penuh kasih sayang, bukan dengan cinta yang berpamrih memuaskan diri sendiri melalui anak-anak!

Semalam suntuk Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya bercakap-cakap tentang kedua orang anak mereka.

"Kian Lee dan Kian Bu bukan kanak-kanak lagi, mereka sudah dewasa, kata Pendekar Super Sakti antara lain kepada dua orang isterinya.

"Dan mereka pun telah memiliki kepandaian cukup sehingga mereka tentu mampu menjaga diri sendiri. Tentang jodoh, kalian tentu mengerti bahwa mereka berhak untuk memilih calon jodoh mereka masing-masing sendiri, dan tidak baik kalau kita yang mencarikan jodoh untuk mereka."

"Akan tetapi, lupakah kau bahwa Kian Bu sudah meninggalkan pulau ini selama enam tahun? Kalau tidak ada apa-apa dengan dia, tidak mungkin dia seolah-olah lupa kepada orang tuanya! Dan menurut penuturan Kian Lee ketika pulang, agaknya Kian Bu juga menderita kekecewaan dalam percintaannya. Ah, aku khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa dengan dia."

"Aku pun tidak akan memaksa dia berjodoh dengan orang yang tidak dicintanya,"

Lulu juga membantah.

"Akan tetapi, dia dan Kian Bu harus pulang dulu ke sini, baru kita bicara tentang perjodohan mereka. Kian Lee berjanji akan mencari dan mengajak pulang Kian Bu, akan tetapi mengapa sampai sekarang tidak ada kabar beritanya? Dan menurut penuturannya, di dunia ramai banyak bermuncullan tokoh-tokoh kaum sesat. Biarpun kedua orang anak kita itu sudah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi mereka itu belum banyak pengalaman, tentu berbahaya kalau berhadapan dengan datuk-datuk sesat."

"Baiklah, kalian jangan khawatir. Aku sendiri memang sudah mengambil keputusan untuk pergi menyusul mereka. Karena kita sekarang sudah tidak mempunyai pembantu lagi, maka aku akan pergi sendiri sambil melihat-lihat keadaan di dunia ramai. Aku akan membawa Tiauw-ko (Rajawali) yang sudah tua itu. Mudah-mudahan saja dia masih kuat menyeberangkan aku ke daratan besar."

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi sekali Pendekar Super Sakti telah memanggil burung rajawali yang sudah tua pula.

Burung ini hanya satu-satunya burung rajawali yang masih berada di pulau itu, dan ketika burung tua itu meluncur turun dan hinggap di depan pendekar itu bersama kedua orang isterinya, Suma Han memandang kepada burung itu dengan terharu.

"Tiauw-ko, maafkan aku. Sudah setua ini engkau masih harus membantuku menyeberang lautan. Membikin lelah engkau saja, Tiuaw-ko!"

Katanya sambil menepuk-nepuk punggung burung itu yang mengeluarkan suara menguk-nguk seperti seekor anjing setia.

"Hati-hati dalam perjalanan!"

Kata Nirahai. (Lanjut ke

Jilid 43) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 43

"Dan jangan lama-lama, cepat ajak pulang Kian Lee dan Kian Bu,"

Kata pula Lulu.

Suma Han tersenyum, memandang kepada dua orang isterinya dengan penuh kasih sayang, diam-diam merasa kasihan meninggalkan dua orang isterinya itu berdua saja di atas pulau yang sunyi itu.

Dia membiarkan dua orang isterinya memegang kedua tangannya, kemudian setelah meremas tangan mereka dengan jari-jari tangan yang masih menggetarkan kasih yang mendalam, Suma Han lalu melepaskan pegangan tangannya dan sekali dia menggerakkan kaki tunggalnya, tubuhnya sudah mencelat ke atas punggung burung rajawali.

"Selamat tinggal, aku pergi takkan lama!"

Katanya.

"Tiauw-ko, mari kita berangkat."

Burung itu lalu menggerakkan sepasang sayapnya dan terbanglah dia ke atas.

Suma Han membalas lambaian tangan kedua orang isterinya itu dengan gerakan tongkatnya, dan sebentar saja dia sudah tidak lagi dapat melihat isterinya, hanya melihat pulau itu yang nampak kecil dari atas, keputih-putihan.

Dari bawah, Lulu dan Nirahai hanya melihat titik hitam dari rajawali itu untuk kemudian lenyap ditelan awan.

Setelah dibawa terbang di antara awan-awan di udara, Pendekar Super Sakti merasakan kegembiraan yang luar biasa dan bangkitlah semangatnya seperti pada puluhan tahun yang lalu!

Teringatlah dia akan semua pengalamannya yang lalu dan terbayanglah di depan matanya wajah-wajah para tokoh dunia persilatan.

Apakah mereka itu masih hidup?

Dan apakah mereka itu pun seperti dia, mengasingkan diri dari dunia ramai?

Ah, kalau para tokoh kaum sesat bermunculan, tentu kepergiannya sekali ini tidaklah begitu mudah untuk menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan.

Dia sudah tidak bergairah untuk mempergunakan kepandaian melawan seorang dalam perkelahian, dia sudah bosan harus bertanding melawan orang lain.

Akan tetapi, apakah dia mungkin dapat membiarkan kejahatan merajalela dan membiarkan kesewenang-wenangan terjadi di depan matanya?

Biarlah, dia tidak akan bergerak kalau tidak terpaksa.

Biarkan pendekar-pendekar muda menggantikan tempatnya untuk menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan, pendekar-pendekar muda seperti dua orang puteranya itu.

Pendekar Super Sakti tidak memaksa rajawalinya untuk terbang terus.

Dia tahu bahwa rajawalinya itu telah tua, setua dia dan sudah banyak berkurang tenaganya.

Di sendiri tidak tahu apakah tenaganya juga banyak berkurang karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengukur tenaganya.

Melihat rajawali itu terengah-engah, dia lalu menyuruh burung itu menukik turun dan beberapa kali dia dan burungnya beristirahat di sebuah pulau kosong.

Akhirnya, sampai juga dia di pantai daratan besar.

Setelah beristirahat lagi dan melewatkan malam itu di pantai yang sunyi, pada keesokan harinya Pendekar Super Sakti melanjutkan perjalanannya menunggang rajawali yang terbang tinggi menuju ke selatan.

Pada suatu hari, ketika burung itu terbang rendah di atas sebuah hutan di luar pedusunan, Pendekar Super Sakti merasa tertarik sekali ketika dia melihat serombongan orang berbondong-bondong memasuki hutan itu.

Melihat pakaian orang-orang itu, dia mengenal mereka sebagai penghuni dusun, petani-petani miskin.

Akan tetapi para petani itu kelihatan marah-marah, membawa benda-benda tajam dan pisau, kapak, cangkul dan sebagainya, seperti sepasukan orang yang tak teratur sedang melakukan penyerbuan.

Dia menepuk punggung rajawali yang menukik ke bawah, lalu dia meloncat jauh ke depan sehingga dia menghadang rombongan penduduk dusun itu.

Ketika orang-orang dusun yang jumlahnya belasan orang itu melihat seorang kakek berkaki buntung memegang tongkat berdiri tegak dengan sikap tenang, mereka tertegun dan berhenti, akan tetapi mereka semua bersikap siap dengan senjata dipegang erat-erat.

"Sahabat-sahabat sekalian hendak ke manakah? Apa yang terjadi maka kalian kelihatan begitu marah?"

Tanya Suma Han dengan suara halus dan agak gemetar karena terharu.

Baru sekarang semenjak bertahun-tahun lamanya dia bertemu dengan manusia lain kecuali dua orang isterinya, dan melihat betapa begitu bertemu dia sudah melihat manusia yang hendak bertempur agaknya, maka dia merasa kasihan dan terharu sekali.

Betapa kehidupan manusia penuh dengan kekerasan, penuh permusuhan.

"Siapakah engkau? Apakah engkau sahabat dari nenek siluman itu?"

Tanya seorang di antara mereka, seorang laki-laki yang memegang tombak dan agaknya memimpin rombongan orang itu.

"Nenek siluman yang mana? Aku tidak melihatnya dan tidak mengenalnya,"

Kata Suma Han dengan heran.

"Kalau begitu, Paman, jangan ikut-ikut. Kami akan mengeroyok dan membunuh nenek siluman bermuka tengkorak itu!"

Kata pula si pemegang tombak.

"Kami adalah penduduk dusun di sana, dan aku adalah kepala dusun. Kami hendak membunuh nenek siluman!"

"Nanti dulu, sabarlah. Mana ada siluman di dunia ini, dan andaikata ada setan, masa dia keluar di siang hari? Sesungguh-nya, apakah yang telah terjadi?"

Tanya Suma Han yang merasa bahwa tentu terjadi kesalahpahaman di sini sehingga dia khawatir kalau orang-orang dusun ini akan kesalahan membunuh orang.

Melihat keadaan Pendekar Super Sakti yang aneh itu, kepala dusun dan orang-orangnya agaknya jerih juga.

Kakek berkaki sebelah ini tidak mereka kenal, rambutnya putih panjang dan halus, wajahnya begitu berwibawa dan dari mana kakek ini datang?

Karena jerih, kepala dusun lalu bercerita.

"Seorang anak dusun kami sedang menggembala delapan ekor lembu di dalam hutan, lalu muncul nenek iblis itu yang menggunakan tangannya memukul pecah kepala seekor lembu. Penggembala itu marah-marah, akan tetapi apa yang dilakukan oleh nenek itu? Dia malah memukuli semua lembu sampai delapan ekor lembu itu tewas semua! Anak itu lalu lari ketakutan dan melapor kepada kami, maka kini kami hendak menyerbu ke dalam hutan dan menangkap atau membunuh nenek siluman itu."

Diam-diam Pendekar Super Sakti terkejut.

Seorang nenek dapat memukul pecah kepala lembu begitu saja?

Mukanya seperti tengkorak?

Tentu bukan orang sembarangan, dan kalau memang benar nenek itu demikian jahatnya, maka amatlah berbahaya bagi orang-orang dusun ini untuk menyerbunya.

"Di manakah nenek itu?"

Tanyanya.

"Di tengah hutan ini!"

Kepala dusun menuding ke depan.

"Kalau begitu, harap kalian jangan tergesa-gesa, biarkan aku menemuinya lebih dulu. Kalau kalian tergesa-gesa, jangan-jangan kalian juga akan dibunuhnya seperti lembu-lembu itu!"

Ucapan Suma Han ini membuat wajah mereka menjadi pucat, karena sebenarnya mereka memang sudah merasa ngeri dan jerih mendengar penuturan anak penggembala itu akan wajah si nenek yang amat mengerikan.

Mereka tadi hanya berani karena semangat mereka dibakar oleh kepala dusun yang merasa marah.

karena kehilangan lembu-lembunya.

Dialah pemilik lembu-lembu itu.

Kini melihat kakek berkaki sebelah itu membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan bantuan tongkatnya, mereka mengikuti dari belakang, akan tetapi agak jauh karena mereka juga curiga kepada kakek aneh ini di samping rasa takutnya terhadap nenek itu.

Dan tak lama kemudian, Suma Han melihat seorang wanita yang duduk di atas sebuah batu sambil makan benda putih lunak yang masih berdarah.

Tiba-tiba saja dia menjadi muak, karena dia dapat menduga bahwa yang dimakan oleh nenek itu tentulah otak lembu yang mentah!

Otak yang mentah dan masih berdarah, diambil dari kepala seekor lembu.

Dan muka nenek itu sungguh mengerikan!

Bukan muka, melainkan kedok, kedok tengkorak aseli!

Dan nenek itu kelihatan tenang-tenang saja, padahal nenek itu tentu tahu akan kedatangan banyak orang itu yang kini berhenti di tempat agak jauh, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak penuh kengerian.

Dengan sikap tenang, Suma Han melangkah dan menghampir tempat itu dan dari jauh dia sudah melihat bangkai delapan ekor lembu yang gemuk-gemuk dan yang malang melintang di tempat itu, Satu di antaranya telah hancur kepalanya sehingga tidak kelihatan lagi, agaknya itulah yang diambil otaknya oleh nenek itu, sedangkan tujuh ekor yang lain juga mati dengan kepala pecah, sungguhpun belum hancur seperti yang seekor itu.

Masih baik nenek ini tidak membunuh orang, pikir Suma Han.

Tentu ada yang menyebabkan nenek ini marah-marah dan membunuh semua lembu itu, padahal andaikata dia membutuhkan otak lembu, tentu hanya seekor saja yang dibunuh, tidak semua.

Kini Suma Han telah berdiri di depan nenek yang masih makan otak berdarah itu, hanya dalam jarak lima meter.

Sudah tentu nenek itu dapat melihatnya, akan tetapi agaknya nenek itu tidak mempedulikannya dan sengaja pura-pura tidak melihat, masih enak-enak makan otak itu dengan mulut tengkoraknya yang amat lebar, di balik mana terdapat mulutnya sendiri yang kecil.

Gigi-gigi di depan tengkorak itu kelihatan berlepotan darah dan otak, dan kem-bali Suma Han menjadi muak.

Sudah terlalu lama dia tidak melihat kebuasan dan kejahatan manusia, hidup dengan tenang dan tenteram di Pulau Es, kini menyaksikan tingkah seorang aneh di dunia kang-ouw yang begini mengerikan dia menjadi muak.

Suma Han menanti sampai nenek itu menghabiskan sisa otak yang dimakannya.

Dia berdiri tanpa bergerak, bersandar kepada tongkatnya dan memandang dengan sinar lembut, diam-diam dia merasa kasihan mengapa ada seorang wanita yang mau hidup seperti itu, mukanya ditutup tengkorak aseli, seolah-olah hendak bersembunyi dari dunia, ataukah hendak memperingatkan dunia bahwa di balik wajah setiap orang manusia, apa pun kedudukannya, tiada lain hanyalah sebuah tengkorak yang mengerikan seperti itu?

Apakah nenek ini hendak menyindirkan bahwa di akhir semua kehidupan yang beraneka ragam, yang mendatangkan segala macam peristiwa itu, tiada lain hanyalah ada maut yang menanti?

Suma Han tidak dapat menafsirkan apa yang dimaksudkan oleh nenek itu dengan mengenakan kedok tengkorak aseli di depan mukanya.

Dan tentang otak mentah yang dimakannya, dia tahu bahwa memang di dalam otak berdarah itu terkandung obat penguat bagi nenek tua ini.

Kini wanita tua itu sudah selesai makan dan agaknya dia pun mulai memperhatikan Suma Han, buktinya mata di balik tengkorak itu berkilauan dan bergerak dari atas ke bawah, terutama sekali memperhatikan kaki yang buntung sebelah itu.

Akan tetapi karena nenek itu tidak bicara atau bergerak, Suma Han lalu bertanya dengan suara halus.

"Sobat, maafkan kalau aku mengganggumu. Akan tetapi mengapakah engkau membunuh delapan ekor lembu yang tidak bersalah apa-apa ini?"

Terdengar suara mendengus di balik kedok itu, dan mata di balik kedok itu berputar liar seperti mata setan, kemudian terdengar suaranya nyaring melengking dengan mulut tengkorak bergerak-gerak aneh.

"Kubunuh mereka agar anak itu melapor ke dusun, agar semua orang dusun datang ke sini!"

Suma Han mengerutkan alisnya yang putih. Jawaban yang aneh! "Kalau mereka sudah datang ke sini?"

Dia mendesak dengan suara masih halus.

"Sialan! Mereka tidak datang ke sini, yang datang malah engkau ini kakek buntung menyebalkan! Kalau mereka datang, tentu dengan enak aku akan membunuh mereka semua, akan tetapi yang datang hanya engkau kakek buntung, dibunuh pun tidak ada harganya!"

Diam-diam Suma Han terkejut juga.

Kiranya nenek ini adalah seorang yang amat jahat!

Demikian jahatnya sehingga bukan hanya membunuh delapan ekor lembu, akan tetapi tidak membunuh si penggembala hanyalah dengan maksud untuk memancing datangnya semua orang dusun untuk dibunuhnya!

"Sobat yang baik, apakah kesalahan semua orang dusun itu maka engkau hendak membunuh mereka?"

"Huh, semua orang kalau bisa akan kubunuh! Peduli apa mereka bersalah atau tidak? Kau pun seharusnya dibunuh, akan tetapi terlalu enak bagimu kalau kau dibunuh. Engkau sudah tua bangka, kakimu buntung pula, dan wajahmu membayangkan penderitaan. Heh-heh, engkau tentu menderita sekali dan sisa hidupmu yang tinggal tidak berapa lama itu, biarlah kau lewatkan dalam siksaan dan penderitaan. Kalau dibunuh sekarang, sungguh terlalu enak bagimu!"

Suma Han tercengang.

Belum pernah dia bertemu dengan orang sejahat ini!

Dia teringat bahwa di dunianya kaum sesat terdapat Im-kan Ngo-ok, Si Lima Jahat dari Akhirat yang kabarnya mempunyai watak yang luar biasa jahatnya.

"Hemmm, sobat baik, apa gunanya engkau sengaja melakukan kejahatan seperti itu? Apakah manfaatnya bagimu kalau kau membunuhi orang-orang yang tidak berdosa?"

"Gunanya? Manfaatnya? Ha, tentu saja untuk mengisi kenyataan pada sebutan Ji-ok Kui-bin Nio-nio, ha-ha-ha!"

Suma Han mengangguk-angguk.

Kiranya nenek ini adalah orang ke dua dari Im-kan Ngo-ok.

Ah, hebat juga kalau Im-kan Ngo-ok yang kabarnya sudah tidak pernah meninggalkan dunia mereka sendiri itu kini turun ke dunia ramai!

"Hai, kau siapakah?"

Tiba-tiba nenek itu berseru, seolah-olah baru terkejut melihat betapa kakek buntung itu sedikit pun tidak kelihatan jerih kepadanya.

"Aku? Aku hanya seorang tua bangka buntung seperti katamu tadi, tidak ada apa-apanya yang patut diperhatikan!"

Jawab Suma Han yang tidak ingin memperkenalkan diri, juga tidak ingin mencari perkara karena maksudnya pun bukan hendak memusuhi nenek ini melainkan hendak melindungi agar orang-orang dusun itu tidak sampai celaka.

Kalau tadi dia tidak curiga dan para penghuni dusun itu sudah mendahuluinya tiba di sini, tentu mereka itu sudah menggeletak mati seperti bangkai-bangkai lembu itu!

"Kalau buntung keduanya mungkin akan patut diperhatikan orang!"

Tiba-tiba nenek itu berkata dan telunjuk kanannya menuding ke depan, ke arah kaki kanan Suma Han yang tidak buntung.

Suma Han terkejut.

Wanita ini benar-benar amat jahat sekali, begitu kejam dan ganas melebihi semua tokoh hitam yang pernah ditemuinya di waktu dia masih berkecimpung di dunia kang-ouw dahulu.

"Cusss....!"

Hawa yang dingin sekali menyambar ke arah kakinya dan tahulah pendekar ini bahwa wanita berkedok tengkorak itu telah menguasai ilmu pukulan luar biasa yang digerakkan dengan Im-kang, yang amat berbahaya karena hawa yang menyambar dari gerakan telunjuk itu bukan main dahsyatnya, seperti tusukan pedang saja.

Dan memang Ji-ok telah mengeluarkan ilmunya yang hebat, yaitu Kiam-ci (Jari Pedang) untuk membikin buntung kaki yang tinggal satu itu!

Tentu saja setelah dia sendiri diserang, Suma Han tidak dapat lagi menyembunyikan kepandaiannya, karena dia harus membela diri.

Tangan kirinya yang memegang tongkatnya itu bergerak cepat dan dia telah menudingkan tongkatnya ke depan, ke arah telunjuk Ji-ok yang menuding ke arah kakinya itu.

"Wirrrrr....!"

Ji-ok mengeluarkan jerit tertahan ketika sambaran hawa dari telunjuknya itu kembali dan membuat tangannya terasa tergetar hebat.

Cepat dia menyimpan tenaganya, mengerahkan telunjuknya lagi dan kini menunjuk ke arah dada kakek buntung kakinya itu!

Kembali Suma Han memapakinya dengan tongkat yang ditudingkan dan untuk kedua kalinya Ji-ok tergetar hebat, bahkan kini sampai mundur selangkah.

Mata di balik kedok itu mengeluarkan sinar berapi.

Baru dia percaya bahwa kakek buntung itu benar-benar telah mampu menangkis serangan Kiam-ci sampai dua kali, bahkan yang kedua kalinya membuat dia terdorong ke belakang!

"Siapakah engkau?"

Bentaknya. Suma Han menarik napas panjang.

"Seorang tua bangka yang sebelah kakinya buntung,"

Jawabnya tenang.

"Kau.... rambutmu putih, kaki kirimu buntung kau.... kau Pendekar Super Sakti dari Pulau Es....?"

Ji-ok berseru kaget bukan main.

"Ha-ha-ha, Ji-moi, apakah kau tidak mengenalnya? Lihat rajawali di atas itu! Siapa lagi kalau bukan Pendekar Siluman yang datang bersama rajawalinya?"

Suma Han kagum mendengar suara yang datang dibawa angin ini.

Seorang yang amat lihai, pikirnya, akan tetapi dia tidak menoleh ke kanan, ke arah datangnya suara, melainkan tetap memandang nenek berkedok itu karena dia tahu betapa bahayanya orang-orang seperti nenek ini yang suka bertindak curang.

Dia tetap tenang dan waspada, tidak ingin mencari permusuhan, akan tetapi tentu saja dia pun harus menjaga diri terhadap datuk-datuk jahat seperti Im-kan Ngo-ok.

Nama lima orang manusia iblis itu sudah amat terkenal dan agaknya kalau ada yang satu, tentu ada pula yang lain.

Buktinya, suara tadi tentulah suara Twa-ok, yaitu Si Jahat Pertama, dapat dikenal dari cara dia memanggil nenek itu dengan Ji-moi (adik ke Dua).

Siapa lagi yang menyebut nenek itu adik ke dua kalau bukan Twa-ok, orang pertama dari Im-kan Ngo-ok?

Tegang juga rasa hati Suma Han.

Orang ke dua saja sudah memiliki pukulan sakti yang dahsyat dari jari telunjuknya tadi, apalagi orang yang pertama!

Dugaannya memang benar, dan ketika ada angin berkesiur, muncullah kakek yang seperti gorilla atau monyet besar itu, dengan langkahnya yang kaku dan kedua lengannya tergantung di bawah lutut!

Suma Han memandang dengan penuh perhatian, akan tetapi juga penuh kewaspadaan.

"Ji-moi, sudah lama aku ingin sekali melihat rajawali dari Pulau Es. Biar kupanggil dia ke sini!"

Kata kakek bermuka orang utan itu dengan sikapnya yang lemah lembut dan suaranya yang halus.

Kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke atas, ke arah rajawali yang terbang berputaran di atas, pohon-pohon sambil mengeluarkan suara yang menggetar tinggi.

Burung rajawali itu seperti kaget dan tiba-tiba terbangnya menjadi kacau.

Melihat ini, Suma Han merasa khawatir akan keselamatan burungnya yang sudah tua itu, maka dia lalu mengeluarkan suara melengking halus, suara yang menjadi tanda bagi rajawalinya untuk terbang tinggi menjauhi tempat itu, kemudian dengan suara yang tenang dia berkata.

"Sobat, apakah engkau hendak bermain-main dengan rajawali? Nah, dia sudah datang menyambarmu!"

Twa-ok Su Lo Ti adalah seorang Jahat Nomor Satu, biarpun dia bersikap lembut dan bersuara halus, namun di dalam hatinya selalu terkandung keinginan untuk mencelakakan orang lain secara halus namun keji!

Tadi begitu melihat Ji-ok berhadapan dengan Majikan Pulau Es, dia tidak langsung menghadapi pendekar yang amat terkenal itu, melainkan lebih dulu hendak meruntuhkan tunggangannya, yaitu burung rajawali.

Biarpun dia tidak langsung memusuhi Pendekar Siluman, melainkan secara halus hendak mencelakai burungnya, namun jelas bahwa perbuatannya ini selain amat kejam, juga menunjukkan bahwa dia lebih dulu ingin mengganggu dan menyusahkan lawan sebelum berhadapan secara langsung!

Ketika dia mendengar pendekar itu mengeluarkan suara melengking halus, dia merasa betapa jantungnya berdebar dan suaranya yang menggetar dan yang ditujukan ke arah burung rajawali di atas itu membuyar.

Maka dia terkejut dan cepat menengok, memandang ke arah pendekar itu ketika mendengar pendekar itu bicara kepadanya.

Dan pada saat itu, sehabis ucapan pendekar dari Pulau Es itu, dia mendengar suara sayap burung dan ketika dia memandang kembali ke depan, dia melihat seekor rajawali sudah terbang meluncur hendak menyambarnya!

"Ha-ha-ha, burung yang baik, hendak terbang ke manakah engkau?"

Katanya dan dia cepat menggerakkan kedua tangannya, di goyang-goyang di depan mukanya, dengan tubuh agak membongkok.

Burung rajawali yang sedang terbang itu, tertahan terbangnya dan biarpun dia menggerak-gerakkan kedua sayapnya, mencakar-cakar dan memekik-mekik, namun burung itu tetap saja tidak mampu terbang pergi, seolah-olah kakinya terikat oleh tali yang tidak nampak!

"Ha-ha-ha, burung yang baik, aku butuh beberapa lembar bulumu untuk kujadikan sapu.

Hayo lepaskan beberapa ekor bulumu, burung rajawali yang baik!"

Kakek bermuka gorilla itu menggerak-gerakkannya jari tangannya ke arah burung yang tidak mampu terbang pergi dan benar saja, beberapa lembar bulu panjang dari ekor dan sayapnya jatuh berguguran ke bawah.

Pada saat itu, kepala dusun dan para penghuni dusun itu sudah maju dekat.

Mereka tertarik sekali melihat betapa kakek tua yang buntung itu berhadapan dengan nenek iblis dan betapa kini muncul pula seorang kakek seperti gorilla.

Saking tertariknya, mereka tidak ingat lagi bahwa nenek itu telah melakukan hal yang keji, dan mereka lupa akan takutnya.

Tiba-tiba Ji-ok berseru.

"Eh, Twako, apa yang kau lakukan itu? Lihat baik-baik, itu bukan rajawali! Engkau telah dipermainkan orang!"

Mendengar ucapan Ji-ok ini, Twa-ok cepat menahan napas, mengerahkan sinkangnya dan mengeluarkan suara gerengan seperti monyet.

Dia adalah seorang yang telah mempelajari ilmu sihir dan kebatinan, maka begitu dia mengerahkan kekuatan batinnya, kini matanya dapat melihat jelas dan ternyata burung rajawali yang dipermainkannya tadi bukan lain hanyalah sepotong ranting pohon dengan daun-daunnya, dan yang berguguran tadi adalah daun-daun dari ranting itu!

Kiranya tadi Suma Han telah melemparkan sepotong ranting, dan menyulapnya menjadi rajawalinya yang kini telah terbang tinggi menurut perintah majikannya!

"Hemmm....!"

Kakek yang menjadi orang pertama dari Im-kan Ngo-ok mendengus dan begitu dia menghentikan kedua tangannya, ranting itu pun meluncur jatuh ke atas tanah.

Tadi ranting itu ditahan oleh tenaga kedua tangannya yang mempermainkannya, dan andaikata burung rajawali yang tadi dipermainkan dengan hawa sakti kedua tangannya, tentu rajawali itu sudah tewas!

Pada saat Twa-ok dan Ji-ok menoleh ke arah kakek buntung itu, mereka hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu lenyap dari depan mereka Keduanya terkejut bukan main.

Bagaimana mungkin seorang berkaki buntung sebelah dapat bergerak secepat itu?

Seperti kilat menyambar saja!

Dan memang hal ini tidak mengherankan kalau mereka mengetahui bahwa Pendekar Super Sakti memang telah mempergunakan kesaktiannya untuk menghadapi mereka.

Ketika mereka berdua menoleh, ternyata kakek buntung itu telah berdiri di depan rombongan penghuni dusun, membelakangi orang-orang itu seperti hendak melindungi mereka.

Melihat ini, Twa-ok cepat menjura dengan hormat ke arah Suma Han.

Pendekar Super Sakti sudah siap dan waspada, karena dia harus melindungi semua orang ini.

Akan tetapi ternyata kakek bermuka gorilla itu tidak melakukan penyerangan, dan hanya menjura dan mengangkat kedua tangan ke depan dada secara wajar.

"Aih, sudah puluhan tahun kami mendengar nama besar Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es, dan ternyata nama besar itu bukanlah kosong belaka. Akan tetapi, setelah puluhan tahun tidak muncul di dunia kang-ouw, sekarang begitu muncul telah memamerkan permainan sulapnya yang sungguh mengagumkan, apakah kiranya tidak dipertunjukkan ke tempat yang keliru?"

Dengan kata-kata yang halus ini, Twa-ok hendak mengejek permainan sihir tadi, sungguhpun dia telah terpedaya.

Suma Han hanya memandang dengan sikap tenang dan sungguh-sungguh.

"Aku pun telah mendengar nama besar Im-kan Ngo-ok dan sungguh beruntung sekali sekarang dapat berjumpa dengan Twa-ok dan Ji-ok, dua orang tertua dari Im-kan Ngo-ok yang memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi, sungguh mengherankan mengapa Twa-ok dan Ji-ok yang tersohor itu hanya seperti anak-anak kecil yang mempermainkan binatang-binatang yang tidak bersalah, membunuhi delapan ekor lembu dan hendak mencelakai burung rajawali?"

"Wah, bukankah orang-orang tua itu hanyalah anak-anak kecil yang besar badannya?"

Twa-ok menjura lagi.

Akan tetapi sekali ini, tiba-tiba ketika dia mengangkat kedua tangannya, ada hawa pukulan yang dahsyat bukan main menyambar ke arah Suma Han!

Sejak tadi memang Suma Han sudah bersiap sedia dan waspada selalu, maka kini dia telah mendahului, menggerakkan tangan kanannya mendorong ke depan, menyambut pukulan jarak jauh dari Twa-ok itu dengan iimu pukulan Hwi-yang Sin-ciang.

Pada saat itu, Ji-ok yang curang juga sudah cepat menudingkan telunjuknya, menggerakkan Ilmu Kiam-ci untuk menyerang ke arah kakek buntung itu.

Tongkat di tangan kiri Suma Han diangkat dan menyambut serangan Ji-ok ini dan sekaligus Suma Han telah menyambut serangan kedua orang itu, telapak tangan kanannya menggunakan Hwi-yang Sin-ciang yang mendatangkan hawa panas sedangkan tongkat di tangan kirinya menyambar hawa Swat-im Sin-ciang yang amat dingin!

Perlu diketahui bahwa dalam usia enam puluh tahun lebih itu, Suma Han telah memiliki tenaga sinkang yang sukar diukur lagi dalamnya, maka kedua ilmunya itu sudah mencapai tingkat yang hampir sempurna dan luar biasa kuatnya.

Maka, sekaligus dia dapat membagi dirinya, menyam-but serangan Twa-ok dengan hawa sakti panas dan serangan Ji-ok dengan hawa sakti dingin.

Orang pertama dan ke dua dari Im-kan Ngo-ok itu terkejut bukan main ketika mereka merasa betapa ada hawa yang panas sekali dan dingin sekali menyambut mereka.

Dan ketika mereka berdua mengerahkan tenaga dan mendesak, secara tiba-tiba saja terdengar Suma Han mengeluarkan suara menggetar dari dalam dada dan mendadak Twa-ok agak menggigil dan Ji-ok berseru kaget.

Kiranya, begitu mengeluarkan suara menggetar tadi, Pendekar Super Sakti telah mengubah hawa saktinya, kalau tadi yang kanan panas dan yang kiri dingin, kini berubah sama sekali, yang menghadapi Twa-ok berubah dingin dan yang melawan Ji-ok berubah panas.

Kedua orang datuk kaum sesat itu terkejut dan cepat-cepat mereka melangkah mundur sambil menghentikan serangan mereka!

Suma Han juga tidak mendesak dan menghentikan pula tenaga saktinya.

Kemudian, Suma Han mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

Batu yang terkena ketukan itu mengeluarkan bunyi keras dan nampak api berpijar saking kerasnya ujung tongkatnya menumbuk batu.

"Twa-ok dan Ji-ok, dengarlah baik-baik. Aku sengaja meninggalkan pulau bukan sekali-kali untuk bermusuhan dengan siapapun juga, melainkan untuk mencari putera-puteraku dan mengajak mereka pulang. Akan tetapi jangan mengira bahwa aku akan membiarkan orang-orang menghinaku atau mengganggu orang lain di depan mataku!"

Baca Juga: Suling Emas 4

Baca Juga: Mutiara Hitam 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert