Ceritasilat Novel Online

Jodoh Rajawali 14

Eps 14 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.

Ucapan itu halus, akan tetapi mengandung wibawa yang hebat dan gagah, dan dua orang tokoh Im-kan Ngo-ok itu terbelalak memandang ketika melihat betapa tubuh Suma Han perlahan-lahan berubah menjadi besar seperti raksasa!

Akan tetapi mereka segera sadar bahwa Pendekar Siluman itu mempergunakan kekuatan batinnya, Maka cepat mereka menunduk, berkemak-kemik dan menguatkan batin, sehingga ketika mereka memandang lagi, tubuh pendekar itu sudah biasa lagi, hanya kelihatan berwibawa dan menimbulkan rasa jerih di dalam hati mereka.

Twa-ok bukan seorang bodoh.

Dia tadi bersama Ji-ok telah mengadu tenaga dan kalau terjadi pertandingan, belum tentu dia dan Ji-ok akan mampu menandingi Pendekar Super Sakti yang benar-benar amat lihai ini.

Kalau saja tiga orang saudaranya yang lain berada di situ, tentu dia akan nekat menggunakan kekuatan untuk menyerang dan mengeroyok.

Akan tetapi, tugasnya masih banyak dan dia menganggap belum tiba saatnya untuk mempertaruhkan keselamatannya mengadu nyawa dengan seorang tokoh besar seperti Majikan Pulau Es ini.

Maka dia lalu tersenyum dan menjura lagi, pemberian hormat yang wajar.

"Maaf, maaf, kalau belum mengadu tenaga belum saling mengenal kata orang!"

Dia mengangguk-angguk.

"Pendekar Super Sakti memang lihai sekali, kami berdua amat kagum. Akan tetapi kalau Taihiap bermaksud mencari puteramu Siluman Kecil, kurasa belum tentu dia akan mau pulang ke Pulau Es."

Mendengar disebutnya nama Siluman Kecil, Suma Han tertarik.

"Siluman Kecil? Siapa yang kau maksudkan?"

"Ha-ha-ha, apakah Taihiap juga hendak merahasiakan keadaan puteramu yang penuh rahasia itu? Bukankah puteramu itu bernama Suma Kian Bu, biarpun usianya masih muda namun rambutnya sudah putih semua, di dunia kang-ouw dijuluki Siluman Kecil?"

Suma Han hanya mengangguk-angguk.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa di dunia kang-ouw Suma Kian Bu dijuluki orang Siluman Kecil, dan tidak tahu pula bahwa rambut puteranya itu telah menjadi putih semua!

"Dia tidak mungkin mau pulang setelah dia hidup penuh kesenangan bersama seorang dara cantik jelita...."

Twa-ok sengaja menghentikan kata-katanya yang merupakan pancingan dan dia memperhatikan wajah pendekar itu.

Akan tetapi dia belum mengenal baik siapa adanya Suma Han, seorang pendekar yang amat hebat kekuatan batinnya sehingga kalau dia hendak "membaca"

Keadaan hati pendekar itu, dia kecelik.

Tidak ada tanda apa-apa pada wajah yang berwibawa itu, kecuali sepasang matanya saja yang menyambar dan membuat seorang manusia iblis seperti Twa-ok Su Lo Ti sendiri sampai bergidik.

Bukan mata manusia, pikirnya.

"Kalau kau hendak memberi tahu, lanjutkanlah. Kalau tidak, aku pun tidak akan memaksakan keterangan apa pun darimu, Twa-ok."

Wajah kakek bermuka gorilla itu menjadi merah karena malu.

"Dia ke manapun berdua dengan Nona Hwee Li, puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka. Agaknya mereka itu saling mencinta.... ha-ha-ha, begitulah orang muda."

Mendengar ini, sesungguhnya hati Suma Han terkejut bukan main, terkejut, penasaran dan tidak senang, akan tetapi wajahnya tidak memperlihatkan sesuatu sehingga Twa-ok tidak tahu apakah bidikannya itu mengenai sasaran ataukah tidak.

"Twa-ok, mari kita coba lagi, aku masih penasaran. Tidak mungkin kita berdua kalah oleh kakek buntung!"

Ji-ok berkata, akan tetapi Twa-ok meng-geleng kepalanya.

"Ji-moi, engkau seperti seorang gadis bodoh saja. Kalau kau mau main-main dengan dia, nah, lakukanlah, akan tetapi aku tidak ikut campur. Dan engkau sudah membunuh delapan ekor lembu milik orang dusun. Sungguh lancang, Ji-moi, sungguh kasihan sekali orang-orang dusun itu."

Kakek bermuka gorilla itu lalu menoleh kepada orang-orang kampung yang dikepalai oleh kepala dusun itu, lalu menjura sambil berkata.

"Kami mohon maaf atas kelancangan kami dan bukan maksud kami hendak merugikan kalian yang sudah hidup serba kekurangan.

"Oleh karena itu, biarlah kami mengganti harga delapan ekor lembu ini...."

Kakek itu merogoh saku jubahnya yang lebar, lalu mengeluarkan beberapa potongan uang perak, dikepalnya uang itu lalu diletakkannya di atas batu dekat bangkai-bangkai lembu.

"Dan daging-daging tembu ini kami berikan kepada kalian untuk dipakai berpesta."

Dia lalu menghampiri bangkai-bangkai lembu itu dan menepuk-nepuk perut-perut lembu yang gemuk.

"Lembu gemuk, daging lezat...."

Katanya berkali-kali sampai semua lembu ditepuk-tepuknya. Kemudian dia berkata kepada Ji-ok.

"Ji-moi, hayo kita pergi!"

Tanpa pamit lagi kedua orang datuk kaum sesat itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Suma Han sejak tadi mengikuti gerak-gerik kakek muka gorilla itu, dan hatinya lega ketika dia tidak melihat kakek itu menyerang orang-orang dusun seperti yang telah dikhawatirkannya.

Dia tadi sudah siap sedia untuk turun tangan melindungi orang-orang dusun itu apabila kakek muka gorilla dan nenek muka tengkorak itu menyerang mereka.

Melihat kesudahan dari peristiwa itu, kepala dusun menjadi girang bukan main.

Bukan saja lembu-lembunya diganti dengan uang perak yang dari jauh saja sudah nampak cukup banyak untuk pengganti harga lembu-lembunya, akan tetapi juga kakek dan nenek aneh yang semula disangka siluman jahat itu malah mengembalikan bangkai-bangkai lembu agar dagingnya dapat mereka makan!

Dan daging delapan ekor lembu yang gemuk-gemuk itu merupakan bahan makanan yang amat lezat dan banyak bagi orang-orang dusun yang mungkin hanya setahun sekali pernah menikmati daging lembu!

Maka dia lalu berseru.

"Saudara-saudara, kita telah kejatuhan rejeki, tak usah sungkan-sungkan, mari kita bagi-bagi daging lembu-lembu itu!"

Para penduduk dusun itu bersorak girang dan kepala dusun itu pun sudah lari ke arah batu di mana Twa-ok tadi menaruh beberapa potong uang perak.

"Jangan sentuh perak itu dan jangan dekati lembu-lembu itu!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan semua orang terkejut ketika melihat bahwa kakek berkaki buntung sebelah tadi kini sudah berdiri menghadang antara mereka denngan bangkai-bangkai lembu dan uang di atas batu itu.

Tentu saja kepala dusun dan anak buahnya menjadi terkejut dan marah.

Kiranya kakek buntung ini malah yang jahat!

Nenek bermuka tengkorak yang mereka sangka siluman itu bersama temannya yang bermuka monyet, ternyata malah orang-orang yang amat baik, karena biarpun telah membunuh delapan ekor lembu, akan tetapi selain lembu-lembu itu dibayarnya dengan cukup, juga daging lembu-lembu itu diberikan kepada orang dusun.

Sebaliknya kakek berkaki buntung sebelah ini malah agaknya yang akan merampas atau merampok uang dan daging lembu itu!

"Orang tua, apa maksudmu?

Apakah kau hendak merampok semua itu?"

Kepala dusun bertanya dan dia sudah memegang tombaknya erat-erat, sedangkan para penduduk dusun itu pun sudah mempersiapkan senjata mereka.

Kalau tadi saja menghadapi siluman yang berwajah mengerikan mereka tidak takut, apalagi menghadapi kakek berkaki buntung sebelah ini!

Tentu saja semua pertandingan adu tenaga sakti antara kakek buntung ini dan kedua orang kakek dan nenek yang menyeramkan tadi tidak ada seorang pun yang mengetahui, dan mereka hanya mengira bahwa kakek tua ini adalah seorang biasa saja.

Ditegur seperti itu, Suma Han menarik napas panjang.

"Ah, kalian tidak tahu akan bahaya yang mengancam nyawa kalian. Ketahuilah bahwa pada permukaan uang perak itu telah dilumuri racun dan sekali saja kalian menyentuhnya, kalian akan tewas. Dan bangkai-bangkai lembu itu pun telah mengandung racun."

Semua orang terkejut akan tetapi tidak percaya.

"Bohong.... bohong....! Dia ingin memiliki sendiri semua itu!"

Terdengar mereka berteriak-teriak.

Suma Han melihat ada beberapa ekor burung gagak terbang datang dan hinggap di atas cabang pohon yang berdekatan.

Dia tahu bahwa burung-burung itu tertarik oleh bangkai-bangkai lembu, maka dia lalu berkata.

"Kalian lihatlah sendiri!"

Dia menggunakan tongkatnya mencokel daging di punggung seekor lembu, lalu melontarkan gumpalan daging itu ke arah gagak-gagak yang bertengger di cabang pohon.

Tiga ekor burung gagak cepat menyambut daging itu dan memperebutkannya.

Akan tetapi, begitu mereka menelan sedikit potongan daging, tiga ekor burung itu tiba-tiba berkaok nyaring lalu tubuh mereka terbanting ke atas tanah, berkelojotan dan mati!

Semua orang terkejut bukan main!

Ternyata tiga ekor burung gagak itu telah mati keracunan!

Tubuh mereka kini menggigil ketakutan dan mereka memandang kepada Suma Han dengan muka pucat.

"Daging lembu-lembu ini sudah tidak dapat dibersihkan lagi. Maka harap kalian cepat mengubur mereka di sini juga agar racun itu tidak menjalar ke mana-mana. Tentang uang perak itu, jangan khawatir, aku setua ini tidak lagi membutuhkan perak dan emas, dan aku akan mencoba untuk membersihkan racun yang berada di situ."

Kini kepala dusun percaya penuh dan dia lalu mengerahkan orang-orangnya untuk menggali lubang besar, kemudian mereka menyeret kaki mayat lembu-lembu itu dan menguburnya di dalam lubang besar dan menutupnya dengan tanah.

Sementara itu, Suma Han mengerahkan sinkang ke telapak kedua tangannya, lalu mengambil uang perak itu dan mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang.

Kepala dusun itu melihat dengan mata terbelalak betapa dari uang perak itu mengepul uap hijau!

Setelah "membakar"

Racun yang melumuri perak itu sampai habis, barulah Suma Han meletakkan uang perak itu ke atas batu sambil berkata.

"Sekarang kau boleh mengambil perak ini tanpa bahaya. Dan kuperingatkan kalian, kalau kalian melihat dua orang itu atau seorang di antara mereka, lebih baik kalian menyingkir dan sama sekali jangan mendekati mereka. Nah, aku pergi!"

Melihat kakek itu melangkah pergi dibantu tongkatnya, kepala dusun dan anak buahnya segera berlutut dan kepala dusun itu berseru.

"Harap Locianpwe sudi meninggalkan nama besar Locianpwe untuk kami ingat."

Suma Han menoleh, menarik napas panjang ketika melihat mereka berlutut, dan berkata.

"Aku hanya seorang tua bangka yang sebelah kakinya buntung."

Setelah berkata demikian, dia melangkah terus, diikuti pandang mata para penduduk dusun itu dengan terbelalak sampai akhirnya kakek yang berjalan dengan agak terpincang itu lenyap dari pandang mata mereka.

Seperti kita ketahui, Twa-ok dan Ji-ok itu sedang menjalankan tugas dan diperintahkan oleh Pangeran Nepal melalui koksu, yaitu untuk mencari Siluman Kecil dan Hwee Li, juga Puteri Syanti Dewi dari Bhutan.

Mereka itu mencari-cari jejak tiga orang itu tanpa hasil sampai akhirnya tiba di dusun itu.

Saking jengkelnya karena tidak juga berhasil menemukan tiga orang buronan itu, Ji-ok yang berwatak aneh dan keji itu mencari perkara dan hendak melampiaskan kemendongkolan hatinya dengan membunuhi semua orang dusun di tempat itu!

Dan andaikata tidak secara kebetul-an Suma Han lewat di situ, Sudah tentu seluruh penghuni dusun itu akan menjadi korban kekejaman wanita yang merupakan Si Jahat Nomor Dua dari Im-kan Ngo-ok itu.

Suma Han telah memanggil burung rajawalinya dan kini dia melanjutkan penerbangannya untuk mencari putera-puteranya.

Dia sudah tidak ingat lagi kepada dua orang jahat itu, akan tetapi ucapan Twa-ok tentang Pendekar Siluman Kecil benar-benar menggores di hatinya.

Siluman Kecil!

Kian Bu kini berjuluk Siluman Kecil?

Hampir dia tertawa.

Mengapa puteranya itu memakai julukan seperti itu?

Dia sendiri, di luar kehendaknya, dijuluki orang-orang dari dunia sesat sebagai Pendekar Siluman, julukan yang sesungguhnya amat tidak disukainya.

Akan tetapi kini puteranya malah berjuluk Siluman Kecil!

Dan rambutnya sudah putih semua?

Benarkah itu?

Diam-diam hati pendekar sakti ini merasa tegang.

Apa yapg telah menimpa diri puteranya yang nakal itu sehingga rambutnya menjadi putih semua dan berjuluk Siluman Kecil?

Benar-benar pendekar yang sakti luar biasa ini merasa amat heran dan dia tertawa seorang diri mengingat kemungkinan akan kebenaran berita itu.

Kalau benar, mengapa Kian Bu menuruni rambutnya yang putih?

Dan lebih aneh pula, dia sendiri dijuluki orang Pendekar Siluman, kenapa justeru puteranya itu pun mempunyai julukan Siluman Kecil?

Benar-benar luar biasa dan sama sekali tidak diduga-duganya.

Akan tetapi ketika dia teringat berita yang mengatakan bahwa puteranya gulang-gulung dengan puteri Hek-tiauw Lo-mo, alisnya yang sudah putih itu berkerut.

Puteranya bermain gila dengan puteri Hek-tiauw Lo-mo, ketua Pulau Neraka yang dia tahu bukan merupakan manusia baik itu?

Hal ini sungguh tidak menyenangkan dan harus dicegah!

Ketika Pendekar Super Sakti ini teringat akan berita tentang puteranya, maka dia pun membayangkan pula dua orang tokoh golongan sesat yang baru saja dijumpainya itu.

Biarpun Suma Han adalah seorang pendekar yang sudah berpuluh-puluh tahun dan entah sudah berapa ribu kali berkecimpung di dunia kang-ouw dan bertemu dengan para datuk kaum sesat, namun teringat akan kekejaman Twa-ok dan Ji-ok, dia bergidik juga.

Ji-ok si nenek iblis itu jelas adalah amat jahat dan kejam, akan tetapi Twa-ok yang licik itu ternyata lebih berbahaya dan lebih kejam pula.

Biarpun jahat dan keji, Ji-ok tidak menyembunyikan kekejamannya, sebaliknya Twa-ok bersikap baik, lemah lembut dan ramah, akan tetapi diam-diam dia merencanakan untuk membunuh semua orang dusun itu secara amat mengerikan.

Pada lahirnya, dia bersikap baik, memberikan daging semua lembu, Bahkan memberi uang pengganti, akan tetapi ternyata semua itu dijadikan jebakan untuk membunuh para penduduk dusun.

Akan tetapi segera dia melupakan lagi wajah kedua orang datuk sesat itu dan kembali dia memikirkan putera-puteranya.

Ke mana dia harus mencari Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee?

Mencari mereka ke kota raja pun percuma, pikirnya.

Kalau dulu, sudah pasti dua orang puteranya itu pergi ke kota raja atau kalau tidak berada di kota raja, agaknya dia akan dapat mencarinya dengan bertanya kepada puterinya, yaitu Puteri Milana yang dulu berada di kota raja.

Akan tetapi, sekarang Milana tidak lagi berada di kota raja, dan sudah pergi meninggalkan kota raja bersama suaminya yang baru, Gak Bun Beng, dan dia sendiri tidak pernah tahu di mana adanya mereka itu.

Tidak, dia tidak akan mencari ke kota raja.

Dan sekarang dia sudah mempunyai pegangan, yaitu hendak mencari Pendekar Siluman Kecil yang tentu akan lebih mudah dicari daripada mencari Suma Kian Bu, karena tentu orang-orang kang-ouw lebih mengenal julukan itu daripada nama aselinya.

Andaikata Pendekar Super Sakti tidak berpendapat demikian dan langsung pergi ke kota raja, tentu dia akan dapat berjumpa dengan puteranya itu karena ketika itu Milana telah memenuhi undangan dari Pangeran Mahkota Yung Cheng.

Akan tetapi tentu saja pendekar itu tidak mengetahuinya.

Kita tinggalkan dulu Pendekar Super Sakti yang melayang-layang di atas punggung burung rajawali itu, pertanda bahwa dunia persilatan tentu akan mengalami geger dengan munculnya kakek yang sakti ini dan kita tengok apa yang terjadi di kota raja pada waktu itu.

Seorang pemuda tampan dan gagah memasuki kota raja dengan tergesa-gesa.

Pakaian pemuda ini kelihatan kusut dan agak kotor berdebu, wajahnya juga muram dan penuh kekhawatiran, agak pucat dan dia nampak lelah sekali seperti orang yang melakukan perjalanan jauh dengan tergesa-gesa dan jarang berhenti mengaso.

Ketika dia memasuki kota raja, dia kelihatan lega, akan tetapi kekhawatiran tidak pernah menghilang dari pandang matanya ketika dia memasuki sebuah rumah makan karena semenjak kemarin dia belum makan.

Memang selama beberapa hari ini dia seperti lupa makan dan minum dan lupa tidur saking tegang dan khawatir hatinya.

Masuknya pemuda ini ke rumah makan, tidak menarik perhatian banyak orang.

Di kota raja memang banyak terdapat seorang muda seperti dia ini, usianya kurang lebih sembilan belas tahun, gagah dan tampan, kelihatan terpelajar dengan gerak-gerik yang halus, Namun pakaiannya yang kusut dan kotor itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang di antara pemuda-pemuda terpelajar kota yang miskin.

Akan tetapi, orang akan keliru kalau menyangka demikian.

Tidak, pemuda ini sama sekali bukanlah pemuda miskin, bahkan dia seorang pemuda yang tadinya menjadi putera seorang yang berkedudukan tinggi sekali.

Dan kenyataan ini agaknya tidak lepas dari pandang mata seorang tua berusia lima puluh tahun yang duduk di sudut rumah makan itu dan makan mi goreng dengan lahapnya.

Ketika kakek ini melihat munculnya pemuda tampan itu, tiba-tiba saja dia menghentikan sepasang sumpitnya yang tadi dengan cekatan mengantar bakmi ke mulutnya, bahkan dia hampir tersedak dan cepat mendorong makanan yang menyesak di tenggorokannya itu dengan minuman.

Semua ini dikerjakan dengan mata yang tidak pernah berkedip memandang kepada pemuda itu yang duduk menghadapi meja kosong dengan muka pucat dan memesan makanan kepada pelayan.

Kemudian, kakek ini cepat membayar makanannya dan pergi meninggalkan rumah makan dengan tergesa-gesa.

Pemuda itu sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi, dan setelah makanan yang dipesannya dihidangkan, dia makan dengan tenang dan lambat-lambat, cara makan seorang yang terpelajar dan yang selalu mengendalikan perasaannya.

Akan tetapi, rasa lapar membuat dia makan dengan lahapnya, dan pada saat itu, yang menjadi perhatiannya hanyalah makanan di depannya, dan untuk sejenak itulah dia melupakan segala hal yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya.

Dia sama sekali tidak tahu betapa ketika dia sudah selesai makan, di luar rumah makan itu terdapat enam orang, yaitu kakek yang tadi makan bakmi bersama lima orang lain, berdiri di luar rumah makan dengan sikap mencurigakan dan jelas bahwa mereka itu sedang memperhatikan gerak-gerik pemuda itu.

Agaknya enam orang itu memang menanti sampai pemuda itu selesai membayar harga makanan dan minuman, kemudian menarik napas lega karena perutnya tidak lapar lagi dan tenaganya agak pulih, pemuda itu lalu melangkah keluar rumah makan.

Pada saat dia berada di luar rumah makan itulah dia terkejut ketika tiba-tiba enam orang yang tidak dikenalnya menghampirinya, membuat gerakan mengurung dan seorang di antara mereka, seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berkata lirih dengan nada suara mengancam.

"Kao Kok Han, menyerahlah engkau dan ikut bersama kami!"

Pemuda itu bukan lain adalah Kao Kok Han, putera bungsu dari Jenderal Kao Liang.

Seperti telah kita ketahui, pemuda ini bersama ayahnya dan kakaknya, Kao Kok Tiong, pergi menyelidiki ke sepanjang lembah Sungai Huang-ho untuk mencari jejak keluarga mereka yang diculik orang.

Ketika Jenderal Kao Liang dihadang oleh utusan-utusan dari Pangeran Liong Bian Cu, yang dikepalai oleh Hoa-gu-ji tokoh Kui-Tiong-pang, untuk memaksa Jenderal Kao menyerahkan diri dengan memperlihatkan cincin Nyonya Kao Liang dan tusuk konde Nyonya Kao Kok Tiong, Jenderal Kao menyuruh putera bungsunya ini untuk cepat pergi ke kota raja dan mencari putera sulungnya, yaitu Si Naga Sakti Kao Kok Cu dan menyampaikan berita penangkapan atas dirinya itu.

Jenderal Kao Liang bersama Kao Kok Tiong lalu dibawa pergi dan Kok Han sendiri dengan cepat lalu melarikan diri dan melakukan perjalanan jauh itu dengan hati risau.

Saking khawatirnya karena melihat betapa, keluarganya yang terculik secara aneh masih belum diketahuinya nasibnya dan kini bahkan ayahnya dan kakaknya juga ditawan orang sedangkan dia belum dapat bertemu dengan kakak sulungnya, Pemuda ini sama sekali tidak teringat bahwa kembalinya ke kota raja sama artinya dengan kembali ke gua singa.

Dia sekeluarga telah diusir dengan halus dari kota raja di mana diam-diam banyak terdapat musuh-musuh ayahnya, maka kini dia kembali ke kota raja, tentu saja banyak orang akan mengenalnya.

Baru setelah enam orang itu menghadang dan hendak menangkapnya, Kok Han terkejut dan insyaf bahwa dia berada di tempat yang berbahaya!

Teringatlah dia akan musuh-musuh ayahnya, maka dia dapat menduga bahwa enam orang ini tentulah utusan seorang di antara musuh-musuh ayahnya itu.

Kok Han mewarisi ketabahan ayahnya, maka biarpun dia sudah dikepung, dia tidak menjadi gentar dan dengan sinar mata tajam dan suara tenang dia menghampiri mereka dan berkata.

"Siapakah kalian? Apa sebabnya kalian hendak menangkapku?"

"Tidak perlu banyak cakap, lebih baik engkau ikut bersama kami dengan tenang dan kau boleh bicara, dengan majikan kami,"

Kata seorang di antara mereka yang mukanya hitam dan sikapnya bengis sekali. Kok Han mengerutkan alisnya, sikapnya masih tenang.

"Siapakah majikan kalian? Dan bagaimana kalau aku tidak sudi menyerah?"

"Bocah sombong, kami akan menggunakan kekerasan dan engkau akan menyesal!"

Bentak si muka hitam sambil meraba gagang goloknya, sikapnya keren sekali.

Kini Kok Han menjadi marah.

Hatinya sedang tertekan kekhawatiran teringat akan keadaan keluarganya, dan juga sedang bingung karena dia tidak tahu ke mana harus mencari kakak sulungnya di dalam kota raja yang besar itu, dan kini dia diganggu orang.

Apalagi karena dia tahu bahwa orang-orang ini adalah kaki tangan musuh-musuh ayahnya yang mungkin juga menjadi biang keladi malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya, maka pemuda ini menjadi marah bukan main.

Mukanya yang pucat itu berubah merah dan dia menatap wajah enam orang itu dengan mata terbelalak.

"Penjahat-penjahat hina! Kami keluarga dari bekas Panglima Kao Liang tidak mengenal takut, apalagi terhadap kaki tangan segala macam pembesar durna yang memusuhi kami!"

Dia berseru dengan keras dan nyaring sehingga terdengar sampai jauh dan dengan gerakan cepat Kok Han sudah menerjang ke depan.

Enam orang itu terkejut, lebih terkejut mendengar bentakan itu daripada menghadapi serangan pemuda itu, sehingga dua orang di antara mereka kena dipukul oleh Kok Han dan mereka terpelanting ke atas tanah.

Empat orang yang lain sudah menubruk dan menyerang Kok Han yang melawan dengan nekat.

Terjadilah perkelahian di depan rumah makan itu, mengejutkan semua orang dan biasa seperti setiap kali ada perkelahian, orang-orang hanya menjauhkan diri atau menonton saja.

Tempat itu segera terkurung oleh banyak orang yang menonton.

Biarpun dua orang yang dipukulnya tadi kini sudah bangkit kembali dan dia dikeroyok oleh enam orang, namun Kok Han adalah seorang pemuda yang sejak kecil digembleng oleh ayahnya dan memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan baik.

Maka kini dia mengamuk dan enam orang itulah yang sering menerima pukulan dan tendangan oleh pemuda ini sehingga jatuh bangun.

Enam orang itu menerima perintah untuk menangkap Kok Han, maka mereka tadi tidak mempergunakan senjata.

Akan tetapi ketika mereka mendapat kenyataan betapa lihainya pemuda itu, kini mereka mulai mencabut senjata masing-masing dan para penonton menjadi gempar dan cepat menjauhkan diri.

Namun Kao Kok Han tidak menjadi gentar.

Dia berdiri tegak di tengah-tengah, memandang kepada enam orang yang telah mengelilinginya dengan senjata pedang dan golok di tangan itu.

Kok Han diam-diam meraba gagang pedangnya dan mengambil keputusan untuk membela diri sekuatnya.

"Tahan....!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan enam orang itu berhenti bergerak, lalu menjura ke arah kakek berusia enam puluh tahun yang muncul di antara para penonton itu.

Ketika Kok Han menoleh, wajahnya berubah pucat.

Kakek itu adalah seorang panglima yang berpakaian preman dan dia mengenal benar Panglima Chang ini, seorang panglima tua yang menjadi musuh besar ayahnya karena ayahnya pernah membongkar praktek kecurangan dan korupsi dari Panglima Chang ini sehingga panglima ini pernah mengalami hukuman turun pangkat sampai beberapa tingkat!

Dia maklum bahwa pencampurtanganan panglima yang tentu diam-diam amat membenci ayahnya itu merupakan hal yang tidak menguntungkan baginya.

Dugaannya memang benar karena panglima itu lalu melangkah maju dan tertawa mengejek.

"Hemmm, kiranya bocah anak dari bekas jenderal pengkhianat! Eh, bocah she Kao, di mana adanya ayahmu yang khianat itu? Apakah engkau diutus untuk memata-matai kerajaan?"

Tentu saja Kok Han tidak dapat lagi menahan kemarahannya.

Saking marahnya dia sampai melupakan sopan santun lagi dan terhadap panglima tua ini dia mendamprat.

"Kakek tua bermulut busuk! Ayahku adalah seorang gagah sejati, bukan pengkhianat macammu!"

Memang inilah yang dikehendaki oleh Panglima Chang ini.

Agar semua orang mendengar bahwa dia dimaki dan dihina oleh pemuda ini sehingga dia dapat turun tangan dengan ada alasannya.

Maka dia lalu berkata keras.

"Ah, bocah sombong! Engkau berani menghina dan memaki aku, Panglima Chang? Biarpun aku berpakaian preman, akan tetapi aku masih mampu untuk menangkapmu. Ayahmu adalah seorang pengkhianat, kalau tidak mana mungkin dia sampai dihentikan dan diusir? Dan kau hendak memberontak pula dengan menghina seorang panglima?"

"Manusia she Chang yang hina! Siapa tidak mengenal kepalsuanmu?"

Kok Han kembali membentak, makin marah.

"Cu-wi sekalian mendengar betapa bocah ini menghinaku. Terpaksa aku harus menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, kakek ini lalu bergerak maju, tangannya menyambar dan ujung lengan bajunya yang lebar itu telah menyerang ke depan dan menotok ke arah pundak Kok Han!

Kao Kok Han maklum bahwa kakek ini tidak boleh disamakan dengan enam orang pengeroyoknya tadi.

Kalau enam orang tadi hanya kaki tangan pembesar yang hanya mengandalkan kekasaran dan kekerasan belaka seperti tukang-tukang pukul bayaran, kakek ini adalah seorang panglima yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka begitu melihat tangan kakek itu bergerak dan ujung lengan bajunya menyerang ke arah pundaknya, dia cepat melangkah mundur mengelak.

Akan tetapi, lengan baju yang luput sambarannya itu disusul oleh cengkeraman jari-jari tangan ke arah leher pemuda itu.

"Ehhh!"

Kok Han berseru kaget dan cepat dia membuang tubuh ke atas ke belakang dan pada saat itu, sambil tertawa kakek itu sudah menendang.

Kok Han yang sedang membuang tubuh atas ke belakang itu tentu saja menjadi makin kaget, dia terpaksa menjatuhkan diri, akan tetapi gerakannya kurang cepat sehingga betisnya masih tersentuh ujung sepatu.

Dia bergulingan dan meloncat bangun, betis kakinya terasa nyeri, akan tetapi Kok Han tidak peduli dan dia sudah mencabut pedangnya.

Kakek itu memandang sambil tersenyum lebar.

"Bagus, kau malah membawa senjata untuk membunuh orang? Nah, majulah!"

Hati yang diliputi kedukaan dan ke-khawatiran mudah menjadi marah dan nekat.

Melihat kakek yang menjadi musuh besar ayahnya, yang mengeluarkan kata-kata menghina ayahnya, dan kini menantangnya, biarpun dia maklum bahwa kakek ini lihai sekali, membuat Kok Han lupa diri dan dia menjadi marah bukan main.

Orang yang marah lupa segala, lupa akan kesadaran dan yang ada hanyalah kebencian di dalam hatinya yang perlu dilampiaskan dengan ucapan atau tindakan kasar dan keras untuk menyakiti orang yang dibencinya.

Sambil berseru keras, Kok Han menerjang dengan pedangnya.

Akan tetapi, Chang-ciangkun sudah siap dengan sebatang cambuk kulit berwarna hitam yang tadi dipakainya sebagai ikat pinggang.

"Tar-tar-tarrr....!"

Tiga kali ikat pinggang cambuk itu meledak dan pedang itu bukan saja sudah ditangkisnya, malah dua kali cambuk itu sudah mematuk dan Kok Han meloncat ke belakang sambil mengusap pangkal lengan kanannya yang berdarah dan juga pundaknya yang ber-darah.

Bajunya di dua bagian itu telah robek berikut kulitnya!

Bukan main lihainya permainan cambuk kakek itu!

Panglima Chang tertawa bergelak.

Girang bukan main hatinya.

Sudah belasan tahun lamanya semenjak rahasianya dibongkar oleh Jenderal Kao sehingga dia tidak hanya mengalami penurunan pangkat, akan tetapi juga merasa dibikin malu dan terhina, telah menahan-nahan hatinya yang penuh dendam terhadap Jenderal Kao.

Akan tetapi karena jenderal itu amat lihai dan juga amat kuat kedudukannya, dia tidak dapat berbuat apa pun juga.

Kini, dia memperoleh kesempatan, berhadapan dengan putera jenderal musuh besarnya itu, dan dia boleh menghajar anak ini sebagai pengganti Jenderal Kao seenaknya karena bukankah banyak saksinya betapa pemuda itu menghinanya?

Mereka kini berhadapan sebagai dua orang yang bertanding karena mempertahankan kehormatan masing-masing!

Dan dia tidak akan cepat-cepat membunuh putera Jenderal Kao ini, hendak dihajarnya sampai habis-habis kulitnya dengan cambuknya, barulah dia akan menangkapnya sebagai tuduhan mata-mata yang hendak memberontak!

Kalau sudah begitu, puaslah dia dapat membalas dendam sakit hatinya terhadap Jenderal Kao Liang!

"Ha-ha-ha, bocah pelarian sombong!

Bocah macam engkau ini berani melawan Chang-ciangkun?

Ha-ha-ha, hayo kau berlutut minta-minta ampun dan bersumpah tujuh turunan tidak akan berani melawanku lagi, baru aku akan mengampunimu!

Tar-tar-tarrr!"

Kok Han cepat memutar pedangnya, akan tetapi cambuk-an ke tiga mengenai lengan kanannya yang memegang pedang sehingga lengan itu berdarah.

Akan tetapi dia tidak melepaskan pedangnya, apalagi harus berlutut minta ampun!

"Manusia hina, lebih baik seribu kali mampus daripada menyerah kepada seorang pembesar durna macam engkau!"

Dia memutar pedangnya dengan cepat dan menerjang lagi seperti seekor harimau terluka dan yang tidak mengenal bahaya lagi.

"Tar-tar-tar-suuuuuttttt....!"

Karena jari-jari tangannya yang memegang pedang kena dihajar cambuk, maka ketika ujung cambuk itu membelit pedang dan ditarik, Kok Han tidak dapat mempertahankan pedangnya lagi yang sudah terampas oleh kakek Chang.

Kakek itu tertawa bergerak dan mengambil pedang itu, sekali dia menggerakkan kedua tangan terdengar bunyi nyaring dan pedang itu telah dapat dipatahkannya lalu dilempar ke atas tanah!

Kok Han terkejut bukan main akan tetapi dia menjadi bertambah marah.

Dengan nekat dia, menerjang maju lagi dengan tangan kosong, hanya untuk disambut oleh ujung cambuk yang melibat kedua kakinya dan ketika cambuk ditarik, pemuda itu tentu saja terguling ke atas tanah!

"Tar-tar-tarrr!"

Cambuk itu kini meledak-ledak di atas kepala Kok Han, mematuk-matuk dan menyengat-nyengat.

Kok Han hanya dapat menutupi dan melindungi kepala dan mukanya, akan tetapi tentu saja tidak lagi mampu mengelak dari sambaran cambuk yang bertubi-tubi itu sehingga pakaiannya menjadi robek-robek berikut kulit tubuhnya sehingga pakaiannya mulai berlepotan darah.

Akan tetapi pemuda itu meloncat bangun lagi dan hendak menyerbu ke depan.

Melihat kenekatan pemuda ini, diam-diam Panglima Chang terkejut juga.

Akan tetapi hatinya sudah puas, sudah dapat mencambuki putera musuh besarnya itu di tengah jalan.

Kini dia memutar cambuknya dan bermaksud untuk merobohkan pemuda itu dengan totokan ujung cambuknya, untuk diserahkan kepada enam orang tadi yang dia tahu adalah anak buah seorang jaksa yang juga menjadi musuh besar Jenderal Kao, dan tentu saja jaksa itu akan menuntut pemuda ini sebagai seorang pengkhianat atau pemberontak.

Akan tetapi, begitu dia meluncurkan ujung cambuknya ke arah jalan darah di leher pemuda itu untuk menotoknya, tiba-tiba cambuk itu terhenti di tengah udara.

Dia membetot-betot, akan tetapi sia-sia belaka dan ketika dia melihat, ternyata ujung cambuknya itu telah dipegang oleh seorang wanita cantik yang tahu-tahu telah berdiri di sebelah belakangnya.

Wanita itu paling banyak berusia dua puluh empat tahun, cantik jelita dengan sepasang mata yang amat tajam, akan tetapi rambutnya kusut dan wajahnya membayangkan kemuraman seolah-olah wanita muda secantik itu telah menderita tekanan batin yang hebat dan pada saat itu wanita ini kelihatan marah sekali sehingga sinar matanya seperti mengeluarkan api.

"Siapa kau? Perempuan lancang, hayo lepaskan cambukku, berani kau mencampuri urusan Panglima Chang?"

Bentaknya dan sekali lagi dia mencoba membetot cambuknya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tangan kiri wanita itu bergerak ke depan, ke arah mukanya dan dua jari tangan yang kecil mungil menusuk ke arah kedua mata panglima itu dengan gerakan yang amat cepat dan sedemikian kuatnya sehingga sebelum jari tangan datang, lebih dulu ada angin menyambar ke muka panglima itu!

Chang-ciangkun terkejut bukan main melihat serangan yang amat hebat ini karena kalau dia kurang cepat, tentu sepasang matanya akan menjadi buta!

Maka dia lalu menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis dan sekalian menangkap lengan tangan wanita itu.

"Plakkk!"

"Ahhh!"

Chang-ciangkun berseru kaget ketika tiba-tiba tangan yang menusuk matanya itu mengubah gerakan dan menampar ke arah tangan kanannya dan yang memegang gagang cambuk.

Tangannya menjadi lumpuh rasanya dan ketika ujung cambuk ditarik oleh wanita itu, dia tidak mampu mempertahankan lagi.

Cambuk itu telah dirampas!

"Jahanam busuk, berani kau mencambuki adik iparku?

Mestinya engkau kubunuh untuk itu, akan tetapi biarlah kuambil dulu kedua telingamu!"

"Tar-tar-tarrr!"

Cambuk itu meledak-ledak di udara ketika diputar oleh wanita itu. Chang-ciangkun marah bukan main.

"Bangsat perempuan, engkau harus dihajar!"

Bentaknya dan dia sudah mencabut pedangnya.

Akan tetapi, wanita cantik itu menggerakkan tangannya dan cambuk itu menyambar ke bawah seperti kilat cepatnya.

Chang-ciangkun terkejut dan mencoba untuk menangkis dengan pedangnya, akan tetapi tangkisannya itu luput dan ujung dari cambuk itu masih terus meluncur ke bawah, ke arah telinga kirinya.

"Prattt! Aduhhhhh....!"

Chang-ciangkun menjerit dan menggunakan tangan kiri untuk mendekap telinganya.

Daun telinganya yang kiri telah putus dan terlempar ke atas tanah, seperti dikerat dengan pisau tajam saja ketika disambar oleh ujung cambuk tadi!

"Dan sekarang telinga kananmu!"

Wanita itu membentak dan kembali cambuknya menyambar.

Chang-ciangkun sudah terkejut dan ketakutan setengah mati.

Tahulah dia bahwa wanita ini lihai bukan main, dan kini dia pun memutar pedangnya melindungi tubuhnya.

Namun, seperti sinar kilat saja, ujung cambuk itu sudah mendesing-desing dan menyambar-nyambar, kemudian mencari jalan masuk melalui sinar pedang, menyambar ke arah telinga kanan.

"Prattt! Aughhhhh....!"

Chang-ciangkun menjerit dan melempar pedangnya untuk menggunakan tangan kanan mendekap pinggir kepala kanan yang sudah tidak berdaun telinga lagi itu.

Darah bercucuran dari kedua tempat bekas sepasang daun telinga yang telah putus.

Cambuk itu masih meledak-ledak di udara.

"Sekarang engkau mampus! Ataukah lebih dulu kusayat hidungmu?"

Wanita cantik itu mengancam dengan suara bengis.

Mendengar ini Chang-ciangkun terisak dan kedua kakinya menggigil, lalu dia jatuh berlutut dan dengan suara setengah menangis dia minta-minta ampun!

Takutnya bukan main karena dia maklum bahwa nyawanya berada di tangan wanita itu.

"Sudah, isteriku, jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba terdengar suara halus dan Ceng Ceng, wanita itu, lalu (Lanjut ke

Jilid 44) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 44 menoleh. Ketika dia melihat Kao Kok Cu si Naga Sakti sudah berada di sebelahnya, dia menarik napas panjang dan membuang cambuknya.

"Twako....! Twaso....!"

Kok Han berseru dengan girang bukan main.

Tadi ketika dia melihat twasonya (kakak ipar terbesar) datang menolongnya dan menghajar Chang-ciangkun, dia sudah merasa girang bukan main.

Kini melihat munculnya kakaknya, tentu saja dia amat girang, melupakan penderitaannya dan dia lalu menghampiri sambil berseru girang memanggil mereka.

"Mari kita pergi dari tempat ini,"

Kata Kao Kok Cu dengan tenang dan tanpa mempedulikan lagi kepada Panglima Chang yang masih berlutut sambil menangis, dan para penonton yang memandang kepada mereka dengan mata terbelalak, tiga orang itu lalu meninggalkan tempat itu menuju ke rumah penginapan di mana Kao Kok Cu dan isterinya bermalam.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Si Naga Sakti Gurun Pasir ini bersama isterinya telah berhasil melapor kepada Pangeran Yung Hwa sehingga pangeran itu memanggil kakaknya, yaitu Pangeran Mahkota Yung Cheng yang berada di Kuil Siauw-lim-si.

Akhirnya pangeran mahkota pulang ke kota raja dan berhasil mengundang datang Puteri Milana yang segera tiba di kota raja.

Mendengar perkembangan ini, Kao Kok Cu dan isterinya merasa lega karena mereka merasa yakin bahwa dengan pimpinan Puteri Milana, tentu usaha kaum pemberontak akan dapat dihancurkan.

Mereka mulai melakukan penyelidikan sendiri untuk mencari jejak hilangnya keluarga ayah mereka.

Akan tetapi mereka belum juga berhasil dan pada hari itu, secara kebetulan sekali Ceng Ceng melihat Kok Han sedang dihajar oleh Panglima Chang.

Tentu saja Nyonya muda ini menjadi marah sekali dan hampir saja dibunuhnya panglima itu kalau saja suaminya tidak cepat datang mencegahnya.

Akan tetapi hatinya sudah puas karena dia telah memberi hajaran keras, membuntungi kedua daun telinga pembesar yang sewenang-wenang itu.

Setelah mereka tiba di rumah penginapan, Kok Cu lalu memeriksa luka-luka adiknya dan merasa lega bahwa luka-luka itu tidak berbahaya, hanya merupakan pecah-pecah pada kulit belaka dan dia cepat memberi obat kepada adiknya dan Kok Han lalu berganti pakaian.

Semua ini dikerjakan sambil bercakap-cakap dan Kok Han menceritakan semua yang telah terjadi, betapa ayahnya dan kakaknya, Kok Tiong, ditawan oleh tokoh Kui-liong-pang di lembah Huang-ho, juga bahwa keluarga Kao tentu juga ditawan di lembah.

"Hoa-gu-ji, tokoh Kui-liong-pang itu memperlihatkan cincin ibu dan hiasan rambut ji-soso (kakak ipar ke dua), maka ayah dan ji-ko tidak berani melawan dan bukti itu jelas menyatakan bahwa semua keluarga tentu ditawan di lembah."

Kao Kok Cu mengepal tinjunya.

"Mari kita serbu ke sana!"

Teriak Ceng Ceng tidak sabar lagi.

Anak mereka diculik orang belum juga berhasil mereka temukan, sekarang keluarga suaminya semua ditawan orang!

Nyonya muda ini benar-benar merasa berduka dan marah bukan main.

Memang di waktu belum menikah dahulu, Ceng Ceng adalah seorang gadis yang berhati baja, keras dan ganas, apalagi dia pernah menjadi murid dari Ban-tok Mo-li (baca Kisah Sepasang Rajawali), maka begitu kini dilanda duka yang bertubi-tubi, kekerasan hatinya pun muncul kembali sehingga dia memberi hajaran yang ganas sekali kepada Chang-ciangkun tadi.

Akan tetapi Kao Kok Cu yang biasa bersikap tenang dalam segala macam keadaan itu, biarpun hatinya juga terasa panas mendengar betapa ayahnya juga ditawan musuh, lalu berkata dengan nada suara halus dan tegas.

"Kita pergi menghadap Puteri Milana lebih dulu untuk melaporkan keadaan lembah yang mencurigakan itu. Aku mempunyai perasaan bahwa ditangkapnya ayah dan semua keluarga ini tentu ada hubungannya dengan usaha para pemberontak itu, entah apa kehendak mereka."

Maka pada hari itu juga, Kao Kok Cu, Kao Kok Han, dan Ceng Ceng pergi menghadap Panglima Puteri Milana yang ketika itu sedang membuat persiapan dengan bala tentaranya yang hendak di-pimpinnya untuk menghancurkan usaha para pemberontak.

Girang sekali hati Puteri Milana ketika dia melihat siapa orangnya yang minta menghadap dia itu.

Segera dia mengenal Ceng Ceng.

"Kau.. Ceng Ceng...?"

Seru puteri itu sambil melangkah maju dan memegang tangan wanita itu.

"Akan tetapi kenapa kau nampak muram seperti ini? Apa yang telah terjadi?"

Berjumpa dengan wanita agung yang masih menjadi bibi tirinya itu, dan melihat sikap yang ramah, hampir saja Ceng Ceng menitikkan air matanya.

Akan tetapi dia segera teringat dengan siapa dia berhadapan.

Puteri Milana adalah seorang wanita perkasa, puteri Pendekar Super Sakti, yang selain memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi sekali, juga memiliki kepandaian ilmu perang yang hebat.

Maka tidak patutlah kalau sampai dia menangis di depan wanita perkasa itu.

"Ah, dan engkau adalah Kao-taihiap yang dulu berjuluk Si Topeng Setan itu, bukan? Hebat, aku sudah lama mendengar julukanmu yang baru, yaitu Naga Sakti Gurun Pasir, Taihiap!"

Kata pula Milana sambil memandang wajah pria yang menimbulkan rasa kagum di hatinya itu.

"Paduka terlalu memuji,"

Kata Kao Kok Cu.

"Dia ini adalah adik saya, Kao Kok Han, dan dia datang membawa berita tentang keadaan lembah Huang-ho yang mencurigakan, maka kami mengambil keputusan untuk menghadap Paduka Puteri Milana untuk...."

"Ahhh, Kao Kok Cu! Bukankah engkau ini suami Ceng Ceng? Isterimu adalah keponakanku, maka engkau harus menyebut bibi kepadaku, jangan begitu merendah, membikin aku merasa tidak enak saja. Pula, aku sekarang bukan lagi puteri istana, melainkan tenaga bantuan dari luar yang diminta oleh Pangeran Mahkota Yung Ceng."

Melihat sikap yang terbuka dan ramah ini, diam-diam Kok Cu merasa kagum sekali dan dia bersama isterinya lalu bercerita tentang keadaan keluarga Jenderal Kao yang hilang diculik orang, juga tentang putera mereka yang juga lenyap diculik orang.

Puteri Milana menarik napas panjang dan memotong.

"Aihhh, demikianlah memang kehidupan orang-orang gagah dan orang-orang ternama, di mana-mana mempunyai banyak musuh dan sewaktu-waktu tentu ada saja perbuatan musuh curang untuk mencelakai kita. Sungguh aneh sekali, siapa orangnya yang begitu berani menculik keluarga yang demikian banyaknya dari Jenderal Kao Liang? Dan menculik putera kalian dari Gurun Pasir! Sungguh berani mati sekali!"

"Bukan itu saja, Bibi,"

Kata Ceng Ceng.

"Bahkan adik Kok Han baru saja datang dan menceritakan bahwa ayah mertuaku dan adik Kok Tiong juga terpaksa pergi mengikuti musuh karena mereka membawa bukti bahwa keluarga Kao telah mereka tawan."

Lalu Kok Han menceritakan kembali pengalamannya kepada Milana yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Setelah Kok Han selesai bercerita, Kok Cu berkata kepada Milana, suaranya sungguh-sungguh.

"Sebetulnya, urusan keluarga kami ini adalah urusan kami sendiri dan kami tidak akan berani mengganggu Bibi yang sudah cukup repot untuk menanggulangi para pemberontak dengan tugas Bibi yang mulia itu. Bahkan kami sendiri, mendengar akan adanya usaha pemberontakan, tanpa diminta tentu akan membantu Bibi sekuat tenaga, kalau saja tidak ada urusan pribadi yang cukup hebat ini. Akan tetapi, kami merasa bahwa ada pertalian antara diculiknya keluarga ayah dengan usaha pemberontak. Kalau memang para penculik itu hanya memusuhi ayah secara pribadi, mengapa mereka menawan semua keluarga, tidak membunuhnya? Juga mereka kini menawan ayah, tentu ada kehendak mereka yang tersembunyi, dan keadaan lembah itu sungguh mencurigakan. Karena itulah maka kami sengaja melapor kepada Bibi."

Milana mengangguk-angguk.

"Memang aku pun mempunyai kecurigaan demikian, Kok Cu. Setelah aku memimpin pasukan menggempur Ho-nan, tentu aku memimpin pasukan menyelidiki ke lembah itu."

"Terserah kepada kebijaksanaan Bibi Milana, akan tetapi kami tidak dapat membantu usaha mulia Bibi itu karena kami hendak lebih dulu menyelidiki ke lembah. Hanya adik saya Kok Han ini kiranya akan dapat menyumbangkan tenaganya, mewakili ayah untuk membantu Bibi menghadapi para pemberontak."

Kok Han yang memang sebetulnya telah diberi tahu oleh kakaknya, segera berkata dengan gagah.

"Semenjak muda ayah telah menghabiskan waktu dan te-naganya untuk membela negara, maka karena kini ayah tidak dapat membantu, biarlah saya mewakili ayah untuk membela negara, Bibi Milana. Harap bantuan saya yang tidak berharga ini dapat diterima."

Milana memandang kagum dan mengangguk-angguk.

"Keluarga Kao memang terkenal keluarga gagah perkasa dan setia kepada negara sampai turun-temurun, sayang sekali istana tidak sadar akan hal ini dan tenaga sehebat itu kini dihentikan dan dikeluarkan dari istana. Baiklah, Kao Kok Han, kau membantu kami."

Setelah meninggalkan Kok Han bersama Milana agar pemuda itu dapat membantu Milana menghadapi pemberontak, Kok Cu dan Ceng Ceng lalu meninggalkan kota raja, menuju ke lembah untuk melakukan penyelidikan lebih dulu.

Mereka sengaja meninggalkan Kok Han di kota raja bersama Milana, bukan hanya agar memberi kesempatan kepada adik itu untuk ikut membela negara menghancurkan pemberontak, akan tetapi juga karena mereka berdua akan lebih leluasa untuk melakukan penyelidikan berdua saja, mengingat bahwa tingkat kepandaian Kok Han belum dapat diandalkan untuk menghadapi lawan-lawan yang tangguh.

Kok Han lalu ikut bersama Milana untuk menyusun dan menggembleng pasukan-pasukan yang akan dipimpin untuk menggempur para pemberontak dan putera bungsu dari Jenderal Kao ini oleh Milana diserahi pimpinan atas sebuah pasukan istimewa.

Milana sengaja melaporkan tentang putera Jenderal Kao yang membantu ini dan pangeran mahkota menerima laporan dengan girang.

"Memang ayahanda kaisar lemah sekali, mendengarkan omongan dan bujukan pembesar-pembesar khianat sehingga Jenderal Kao yang gagah perkasa menjadi korban. Kalau saja tidak terjadi hal itu, kalau saja Jenderal Kao masih bertugas di sini, kiranya pemberontakan itu tidak akan sampai berlarut-larut dan sudah dihancurkannya sebelum menjadi kuat. Sekarang puteranya ikut mewakili ayahnya membantu, sungguh menggirangkan hatiku!"

Kata pangeran itu.

Beberapa hari kemudian, Milana sudah siap dengan pasukannya dan ketika dia sudah bersiap-siap untuk memimpin pasukannya, secara tidak terduga-duga muncullah Suma Kian Bu dan Kim Hwee Li!

"Enci Milana....!"

Begitu menghadap panglima wanita itu, Suma Kian Bu berseru dengan suara girang sekali karena dia memang sudah merasa amat rindu kepada kakaknya itu.

Sejenak Milana tertegun, memandang kepada pemuda berambut putih panjang yang berdiri di depannya itu.

Rambut itulah yang membuatnya tertegun dan ragu-ragu akan tetapi tiba-tiba dia meloncat turun dari kursinya, berlari menghampiri pemuda itu.

"Bu-te....! Kian Bu.... benar-benar engkaukah ini....?"

"Enci Milana....!"

Milana merangkul adiknya, mereka saling berangkulan menumpahkan rasa rindu masing-masing.

Enci dan adik sekandung ini saling pandang dan di kedua mata Milana nampak air mata membasahi matanya.

"Kian Bu.... kau.... kenapakah kau? Rambutmu ini...."

Kian Bu tersenyum dan melangkah mundur setelah kakaknya melepaskan rangkulan.

"Enci, lupakah Enci bahwa rambut ayah juga putih semua!"

"Tapi.... tapi ayah...."

Milana sudah mendengar dari ibunya bahwa putihnya rambut ayahnya adalah karena penderitaan hati yang amat hebat selagi ayahnya masih muda, maka teringatlah dia akan keadaan adik kandungnya ini, tentang kegagalan cinta kasih adiknya itu dengan Puteri Syanti Dewi!

Hatinya seperti ditusuk rasanya dan kembali dia melangkah maju dan merangkul leher adiknya sambil memejamkan mata agar jangan sampai air matanya keluar.

"Enci yang baik, apakah buruknya rambut putih?"

Kian Bu berkata untuk menghibur hati encinya, akan tetapi kata-kata itu bahkan dirasakan seperti menikam hati wanita perkasa itu.

"Aihhh, sungguh mengharukan sekali, Kian Bu. Pertemuan mengharukan antara enci yang mencinta dan adiknya...."

Mendengar suara wanita yang nyaring dan seperti mengejek ini, Milana cepat melepaskan rangkulannya dan memandang.

Dia tadi memang melihat bahwa adiknya datang bersama seorang dara berpakaian hitam yang amat cantik, Akan tetapi pertemuannya dengan adiknya itu membuat dia lupa kepada dara itu dan kini setelah dara itu mengeluarkan suara yang demikian mengejek, dia cepat memandang dengan alis berkerut, sinar matanya tajam menyambar dengan penuh selidik kepada dara yang berdiri dengan sikap tenang dan lagak yang angkuh itu.

Memang Hwee Li, dara itu, marah sekali menyaksikan pertemuan antara enci dan adik yang demikian mengharukan dan mereka berdua itu seolah-olah sudah melupakan dia, seolah-olah dia tidak ada di situ!

Maka dia sengaja mengeluarkan kata-kata mengejek tadi.

Bagi Hwee Li, dia memang tidak mengenal apa artinya takut, apa artinya sopan santun.

Biar di dalam istana sekalipun, di depan kaisar sekalipun, dia akan mengeluarkan apa pun yang berada dalam pikirannya melalui mulut tanpa sungkan-sungkan dan ragu-ragu lagi.

"Siapakah dia ini?"

Milana bertanya, Kian Bu yang juga mendengar ucapan Hwee Li tadi cepat-cepat memperkenalkan gadis itu kepada encinya.

"Enci, dia ini adalah Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo...."

"Ehhh....? Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka? Pantas! Dia puteri dari iblis jahat itu! Kenapa kau ajak dia ke sini, Bu-te?"

Milana menjadi merah mukanya dan matanya melotot memandang kepada Hwee Li, siap untuk menerjang dan menyerang gadis itu.

"Dia.... dia bukan musuh, Enci, bahkan dia telah beberapa kali menolongku, menolong Lee-ko. Dia adalah sahabat baikku, Enci, dan dia bukan puteri Hek-tiauw Lo-mo, maksudku bukan anak kandungnya, hanya anak angkat...."

"Anak angkat pun bukan, bahkan tua bangka iblis itu adalah musuh besarku, pembunuh dari ibu kandungku!"

Hwee Li melanjutkan.

Agar jangan menimbulkan salah sangka karena sikap Hwee Li yang kasar itu, Kian Bu cepat-cepat menceritakan semua hal mengenai Hwee Li kepada encinya, betapa dia pernah tertawan di dalam benteng dan diselamatkan oleh Hwee Li, kemudian dia menceritakan tentang keadaan di dalam benteng lembah.

Dalam penuturan ini, Hwee Li yang mengetahui lebih banyak tentang lembah, juga menambah cerita Kian Bu dan setelah bercakap-cakap, Milana mendapat kenyataan betapa Hwee Li adalah seorang dara yang polos, jujur dan terbuka, juga pemberani dan tidak suka untuk berpalsu-palsu dengan sopan santun buatan.

Ketika mendengar keadaan di dalam benteng lembah, terkejutlah Milana.

Betapa benteng itu dibangun oleh Jenderal Kao yang dipaksa karena seluruh keluarganya tertawan di situ, betapa putera Kao Kok Cu dan Ceng Ceng juga berada di situ.

Malah Puteri Syanti Dewi juga tertawan di lembah dan mereka telah gagal dalam usaha mereka untuk menyelamatkan Syanti Dewi.

Akan tetapi yang paling mengejutkan hati Milana adalah keadaan di lembah yang telah menjadi benteng amat kuat itu.

Apalagi ketika dia mendengar bahwa Pangeran Liong Bian Cu, keturunan dari Pangeran Liong Khi Ong yang memberontak, kini mengumpulkan orang-orang sakti dan memaksa Jenderal Kao membentuk barisan amat kuat di benteng yang kuat pula itu, maklumlah dia bahwa keadaannya benar-benar amat gawat.

"Ah, sungguh celaka! Kiranya keturunan dua orang Pangeran Liong yang memberontak itu telah menimbulkan pemberontakan pula yong lebih berbahaya, Karena benteng itu didirikan di antara Propinsi Ho-nan dan Ho-pei, maka keadaannya menjadi lebih berbahaya daripada pemberontakan kedua pangeran beberapa tahun yang lalu. Kao Kok Cu dan Ceng Ceng juga baru saja datang melapor, maka sebaiknya kalian berdua juga cepat pergi menyusul mereka, membantu mereka yang menyelidiki lembah. Aku akan mengerahkan pasukan, lebih dulu menyerbu Ho-nan untuk menaklukkan Gubernur Ho-nan karena dari sanalah sumbernya tenaga bantuan kepada para pemberontak."

Kian Bu dan Hwee Li tidak lama tinggal di kota raja.

Mereka lalu berangkat lagi untuk kembali ke lembah, untuk membantu Kok Cu dan Ceng Ceng karena mereka pun maklum bahwa tempat itu amat berbahaya, membutuhkan bantuan orang-orang sakti dan juga membutuhkan serbuan pasukan yang kuat untuk dapat menghancurkan pemberontakan-pemberontakan dan juga menyelamatkan semua orang yang tertawan di situ.

Setelah dua orang muda itu pergi, Milana lalu mengirim utusan cepat-cepat memberitahukan kepada suaminya tentang keadaan yang berbahaya itu.

Dia menulis surat kepada suaminya, menceritakan semuanya dan mengharapkan suaminya untuk turun tangan pula membantu, agar suaminya langsung menuju ke lembah karena dia hendak memimpin pasukan menyerbu Propinsi Ho-nan lebih dulu.

Pagi yang amat sunyi di tepi Sungai Huang-ho.

Kao Kok Cu dan Ceng Ceng, isterinya, duduk di atas batu-batu besar yang memenuhi sepanjang tepi sungai itu.

Batu-batu sebesar kerbau yang halus dan keputihan.

Bagian tepi sungai ini sunyi sekali, karena jalan menuju ke situ tertutup oleh semak-semak belukar dan hutan-hutan yang lebat.

Sudah lama juga, tidak kurang dari satu pekan lamanya, suami isteri itu berada di tepi Sungai Huang-ho.

Dari tempat yang mereka pergunakan sebagai tempat meiewatkan malam ini dapat nampak tembok benteng lembah yang kokoh kuat.

Mereka berdua bercakap-cakap.

Semenjak terjadinya peristiwa penyerbuan, Kini tembok benteng itu oleh Pangeran Liong Bian Cu diperkuat penjagaannya, tidak hanya penjagaan di setiap pintu gerbang dan perondaan di sepanjang tembok benteng, akan tetapi juga di atas tembok dipasangi alat-alat rahasia, jebakan-jebakan dan juga banyak disembunyikan pasukan-pasukan panah dan orang-orang pandai untuk mencegah masuknya mata-mata musuh.

Suami isteri ini telah menyelidiki selama beberapa hari dan mendapat kenyataan bahwa tempat itu memang kokoh kuat, dan juga penuh dengan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ceng Ceng sudah tidak sabar menanti lebih lama lagi.

Suaminya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, dan dia sendiri pun tidak akan mudah dikalahkan orang.

Mengapa suaminya belum juga mau menyerbu masuk, padahal keluarga suaminya semua berada di dalam benteng itu?

"Kalau menyelinap secara diam-diam tidak mungkin, marilah kita serbu saja dari pintu gerbang.

Apa sih sukarnya merobohkan puluhan orang penjaga di sana?

Kalau kita sudah berada di dalam, kita akan bertindak melihat suasana dan keadaan.

Kalau mereka mau diajak bicara baik-baik, kita tuntut dibebaskannya seluruh keluarga, kalau mereka berkeras, kita turun tangan saja mengamuk!"

Ceng Ceng berkata sambil duduk di atas batu dan matanya yang tadi melamun memandang ke arah tembok benteng, kini memandang suaminya dengan alis berkerut.

Dia sudah tidak sabar lagi untuk lebih lama menanti.

Kok Cu menggeleng kepalanya.

"Isteriku, dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana keselamatan semua keluarga terancam, amatlah tidak bijaksana kalau kita menggunakan kekerasan begitu saja. Memang tentu mudah bagi kita untuk menyerbu masuk, akan tetapi kalau tempat itu penuh dengan pasukan musuh, dan banyak pula terjaga oleh orang-orang pandai, bagaimana kita akan dapat membebaskan semua keluarga ayah itu? Sebelum kita bergerak, kalau mereka itu mengancam keselamatan keluarga ayah, apa yang dapat kita lakukan? Harap kau bersabar. Kita menanti kesempatan baik, kalau ada di antara anggauta pasukan yang keluar dan dapat kita tangkap, kita akan dapat memaksanya menceritakan semua keadaan sehingga kita dapat me-lakukan tindakan tepat."

Ceng Ceng hendak membantah, akan tetapi suaminya memberi isyarat dengan matanya dan ketika Ceng Ceng mencurahkan perhatian, dia pun mendengar suara yang mencurigakan di sebelah belakang, dari dalam hutan kecil yang lebat itu.

Suami isteri ini masih duduk dengan tenang, akan tetapi waspada dan semua syaraf di tubuh mereka menegang.

Ke-duanya makin yakin bahwa penjagaan di sekitar tembok benteng itu memang amat kuat dan cermat sehingga agaknya kehadiran mereka telah diketahui oleh fihak musuh!

Dugaan mereka ini ternyata benar segera terdengar suara sebelum orangnya nampak.

"Ha-ha-ha, Ngo-te, sungguh akhir-akhir ini Sam-ko menjadi penakut sekali. Hanya dua orang laki-laki dan wanita muda di sini. Sepasukan orang saja cukup untuk menangkap mereka, mengapa mesti menyuruh kami? Ha-ha-ha, ini namanya menangkap dua ekor ikan teri menggunakan jala yang besar! Ha-ha-ha!"

Lalu terdengar suara ke dua, suara orang yang agaknya malas bicara.

"Su-ko, kuku ibu jari perempuan itu untukku!"

"Ha-ha-ha, dia cantik juga, Ngo-te. Engkau memang beruntung hari ini!"

Ceng Ceng dan Kok Cu masih duduk ketika nampak dua bayangan berkelebat.

Mereka berdua terkejut.

Melihat cara bayangan itu berkelebat sedemikian cepatnya, suami isteri ini maklum bahwa yang datang bukanlah orang-orang biasa, melainkan dua orang yang termasuk orang-orang yang berilmu tinggi sekali, bukan tokoh-tokoh kang-ouw umum saja yang mampu bergerak seperti itu.

Maka suami isteri ini cepat bangkit berdiri dan memandang kepada dua orang itu dengan mata terheran-heran karena yang berdiri di depan mereka adalah dua orang yang amat aneh bentuk tubuhnya.

Yang seorang amat jangkung sehingga Kao Kok Cu sendiri yang sudah termasuk seorang pria yang tinggi, agaknya hanya sampai di bawah pundak kakek jangkung itu!

Dan yang seorang lagi, yang kepalanya gundul, berpakaian hwesio, adalah seorang yang amat gendut akan tetapi juga amat pendek, Begitu pendeknya sehingga paling-paling sampai di dada Ceng Ceng tingginya.

Benar-benar seorang tosu jangkung dan seorang hwesio pendek yang aneh, karena keadaan tubuh keduanya amat berlawanan, yang seorang tinggi kurus dan yang ke dua gendut pendek.

Sebaliknya, Su-ok Siauw-siang-cu dan Ngo-ok Toat-beng Sian-su sama sekali tidak mengenal suami isteri itu, karena biarpun namanya terkenal di seluruh dunia persilatan sebagai seorang tokoh sakti seperti dalam dongeng, namun Kok Cu dan isterinya jarang sekali meninggalkan Istana Gurun Pasir.

Ketika melihat betapa cantiknya Ceng Ceng, seketika kumatlah penyakit Ngo-ok Toat-beng Sian-su dan dia sudah memandang kepada Ceng Ceng dengan penuh nafsu, terutama memandang kepada ibu jari tangan Ceng Ceng dengan kukunya yang mengkilap dan terpelihara baik-baik itu.

"Su-ko, aku tidak tahan lagi. Kau lihatlah pertunjukan yang menarik!"

Kata si jangkung dengan suara serak.

Yang dimaksudkan dengan pertunjukan menarik adalah betapa dia dengan cara sadis memperkosa wanita di depan Su-ok, kemudian mencabut kuku ibu jari wanita yang telah diperkosanya lalu dibunuhnya.

"Heh-heh-heh, senang sekali, aku suka menonton. Kau juga, lengan buntung?"

Tanya si gendut pendek kepada Kok Cu.

Senang karena dia melihat si lengan buntung ini akan dipaksa menyaksikan isterinya diperkosa sampai mati secara kejam sekali oleh si jangkung.

Akan tetapi Kok Cu diam saja, wajahnya yang tampan sama sekali tidak memperlihatkan apa-apa, juga Ceng Ceng hanya berdiri memandang si jangkung hanya sepasang matanya yang mengeluarkan sinar kilat dan diam-diam Ceng Ceng sudah mengerahkan tenaganya yang mujijat dan kedua tangannya yang berkulit putih halus itu tanpa diketahui orang kini telah berubah menjadi dua tangan maut yang mengandung Ilmu Ban-tok Sin-ciang (Tangan Sakti Selaksa Racun)!

Tiba-tiba si jangkung melangkah maju dan Kok Cu berbisik kepada isterinya.

"Berhati-hatilah."

Lalu suami ini malah menyingkir dari samping isterinya.

Ceng Ceng berdiri dengan kedua kaki terpentang, sepasang matanya tidak pernah meninggalkan si jangkung yang memandang kepadanya dengan mata seperti terpejam.

Setelah jarak di antara mereka tinggal kurang dari dua meter, si jangkung berhenti dan kedua mata sipit itu bergerak-gerak mengamati tubuh Ceng Ceng dari atas ke bawah, Lalu dia mengangguk-angguk puas, dan begitu kakinya yang panjang melangkah dan tubuhnya bergerak, tahu-tahu ada dua lengan panjang sekali menyambar dari kanan kiri, menubruk ke arah kedua pundak Ceng Ceng!

Ngo-ok yang jangkung itu tentu saja memandang rendah kepada Ceng Ceng dan mengira bahwa wanita cantik yang menjadi calon korbannya ini sekali tubruk saja tentu akan menyerah dan dapat dipeluknya.

Akan tetapi sekali ini, Si Jahat Nomor Lima ini benar-benar kecelik sekali.

Karena wanita cantik yang ditubruknya dengan menggunakan kedua lengan panjangnya itu sama sekali tidak mengelak atau meloncat mundur, bahkan Ceng Ceng melangkah maju dan kedua tangannya dihantamkan ke arah dada dan lambung Ngo-ok!

"Wuuuttttt....!"

Melihat pukulan yang mengeluarkan suara aneh dan nampak sinar menghitam dari tangan itu, Ngo-ok terkejut bukan main.

Maklumlah dia bahwa pukulan itu adalah pukulan yang mengandung racun amat hebatnya.

Tidak percuma dia menjadi datuk kaum sesat, maka tentu saja dia segera mengenal pukulan ini.

Dia mengeluarkan suara teriakan serak dan tubuhnya ditarik ke belakang, terpaksa kedua tangannya ditarik pula untuk melindungi tubuhnya.

"Duk! Dukkk!"

Kedua lengan Ceng Ceng dapat ditangkisnya, akan tetapi akibatnya, tubuh si jangkung terlempar ke belakang dan kedua lengannya terasa panas sekali!

Dan pada saat itu, Ceng Ceng sudah melangkah maju pula dan melancarkan pukulan-pukulan saktinya.

"Aaahhhhh....!"

Si jangkung kaget setengah mati dan cepat dia sudah berjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, tangan dan kakinya sibuk menangkisi pukulan-pukulan Ceng Ceng yang menjadi agak bingung juga melihat tubuh yang tiba-tiba membalik itu.

Melihat ini, maklumlah Su-ok bahwa orang-orang muda yang disangka-nya lemah ini ternyata adalah orang-orang pandai.

Mengertilah dia kini mengapa koksu telah memerintahkan dia dan Ngo-ok untuk menangkap dua orang ini.

Maka tanpa banyak cakap lagi, dia pun sudah meloncat ke depan Kok Cu, tubuhnya berjongkok dan karena tidak ingin mem-buang waktu untuk segera merobohkan laki-laki berlengan buntung kemudian membantu Ngo-ok, si pendek gendut ini begitu menyerang telah mempergunakan Ilmu Pukulan Katak Buduk yang amat lihai itu.

Angin pukulan dahsyat disertai bau amis menyambar ke arah Kok Cu.

Akan tetapi pendekar sakti ini bersikap tenang saja.

Ketika pukulan itu sudah datang dekat, tiba-tiba lengan kiri yang buntung, yang hanya tinggal lengan bajunya saja itu bergerak menyambar ke depan lalu bergoyang-goyang dan pukulan Katak Buduk itu membuyar!

Dan tiba-tiba tangan kanan pendekar itu sudah menyelonong ke atas kepala Su-ok, mengancam hendak mencengkeram kepala yang botak itu!

Su-ok terkejut, cepat melempar dirinya ke atas batu dan menggelundung, lalu meloncat dan menyerang lagi dengan pukulan Katak Buduk.

Akan tetapi sekali ini, Kok Cu menerima pukulan itu dengan dorongan tangan kanannya.

Pertemuan dua tenaga dahsyat itu hebat bukan main dan akibatnya, Su-ok terpental ke belakang dan dadanya terasa sesak!

"Tahan....!"

Katanya terengah.

"Apakah.... apakah Sicu ini SI Naga Sakti Gurun Pasir?"

Mendengar pertanyaan ini, Ngo-ok mengeluarkan seruan aneh dan dia pun cepat meloncat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya lagi, memandang dengan kaget kepada laki-laki buntung lengan kirinya itu.

Kok Cu mengangguk.

"Bukankah kalian ini Su-ok dan Ngo-ok dari Im-kan Ngo-ok? Hemmm.... jadi kalian inikah yang telah menculik keluarga ayahku?"

Di dalam suara itu terkandung ancaman hebat dan sepasang mata itu kini mencorong, membuat dua orang datuk kaum sesat itu diam-diam menjadi jerih sekali.

Su-ok lalu berkemak-kemik, mengerahkan tenaga khikang untuk menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit, yaitu mengirim suara dari jauh untuk memberi tahu kepada koksu.

Juga Ngo-ok membantunya sehingga dua orang aneh itu hanya berdiri seperti patung, dan hanya bibir mereka yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara.

Tentu saja Kok Cu tahu artinya ini dan dia hanya tersenyum mengejek karena dia tahu bahwa dua orang itu belum mahir benar dalam ilmu ini.

Dugaan pendekar ini memang benar.

Su-ok dan Ngo-ok demikian kaget dan gentar mendengar bahwa si lengan buntung ini adalah Naga Sakti Gurun Pasir, maka mereka tidak berani menyerang lagi dan segera mengirim berita kepada koksu melalui ilmu mengirim suara dari jauh.

Tak lama kemudian, terdengarlah lapat-lapat suara koksu yang ditujukan kepada pendekar itu dan isterinya.

"Koksu Negara Nepal mengundang Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya untuk memasuki benteng lembah!"

Mendengar ini, Kao Kok Cu lalu mengangkat mukanya menghadap ke arah benteng, dadanya yang bidang itu mekar dan tiba-tiba terdengar suaranya, tidak keras akah tetapi suara itu mengandung getaran hebat dan suara itu dapat mencapai tempat jauh sekali.

"Kami datang memenuhi undangan Koksu Nepal!"

Su-ok dan Ngo-ok saling pandang dengan muka pucat.

Cara Naga Sakti itu mengeluarkan suaranya saja sudah menunjukkan bahwa pendekar ini memiliki tenaga sinkang yang jauh lebih kuat daripada mereka.

Orang yang sudah dapat berteriak seperti itu, menunjukkan kekuatan sinkang yang sukar diukur lagi berapa dalamnya!

Untung bahwa mereka tadi tidak lancang terus menyerang karena keduanya maklum bahwa mereka bukanlah tandingan Si Naga Sakti dan isterinya ini.

"Heh-heh-heh, maafkan kami....heh-heh, kami tidak tahu bahwa Sicu adalah Si Naga Sakti dari Gurun Pasir. Heh-heh, koksu sudah mengundang Ji-wi, mari kita antarkan...."

Kata Su-ok yang pandai bicara dengan sikap ramah, sedangkan Ngo-ok hanya cemberut saja karena untuk ke sekian kalinya kembali dia gagal memperoleh seorang wanita yang telah membangkitkan birahinya!

"Kalian jalanlah lebih dulu"

Kata Kok Cu dengan sikap dingin.

Dua orang kakek itu lalu berkelebat cepat.

Mereka sengaja menggunakan ginkang mereka untuk bergerak cepat agar suami isteri itu tertinggal di belakang dan agar suami isteri itu minta kepada mereka jangan terlalu cepat.

Akan tetapi ketika mereka menoleh, mereka melihat betapa suami isteri itu sudah berada dekat sekali di belakang mereka tanpa kelihatan mengerahkan tenaga sedikit pun juga, padahal mereka berdua sudah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan mereka.

Karena mereka berjalan dengan pengerahan tenaga ginkang, sebentar saja mereka telah tiba di pintu gerbang.

Di sini, dua orang kakek itu berjalan dengan langkah biasa dan ketika melewati pintu gerbang yang terjaga oleh pasukan yang kuat, Su-ok dan Ngo-ok mengangkat dada dan berjalan dengan lagak dua orang panglima yang menang perang atau dua orang yang telah berhasil "menawan"

Seorang pendekar sakti seperti Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya!

Mereka lalu mempersilakan Kok Cu dan isterinya untuk berjalan di depan.

Kok Cu dan Ceng Ceng juga tidak takut.

Mereka melihat betapa tembok benteng itu tebal dan terjaga kuat dan diam-diam mereka terkejut menyaksikan betapa benteng itu berlapis-lapis dan luar biasa kuatnya.

Memang tidak mudahlah bagi pasukan untuk menyerbu tempat ini, apalagi kalau penjagaan dilakukan sedemikian ketatnya.

Juga nampak pasukan yang berjaga-jaga secara teratur sekali, ada pasukan tombak, pasukan golok, pasukan pedang dan pasukan panah.

Di atas tembok juga berjajar pasukan-pasukan yang siap menangkis setiap penyerbuan dan diam-diam Kok Cu menahan napas.

Hebat memang penjagaan di benteng ini dan dia merasa lega bahwa pasukan pemerintah dipimpin oleh seorang ahli seperti Puteri Milana.

Biarpun demikian, dia masih menyangsikan apakah pasukan pemerintah akan dapat membobol benteng yang sedemikian kuatnya ini.

Lalu dia terkejut dan mulai mengerti!

Agaknya ayahnya yang berdiri di belakang semua ini!

Siapa lagi kalau bukan ayahnya yang mampu menciptakan benteng sekuat dan sehebat ini?

Ah, tentu ayahnya dipaksa, dan karena keluarga ayahnya menjadi tawanan, maka ayahnya lalu menurut saja untuk menyelamatkan keluarganya!

Benarkah dugaannya ini?

Dia masih ragu-ragu.

Tak mungkin ayahnya mau membantu musuh, lebih baik mati, demikian tentu pendirian ayahnya.

Suami isteri pendekar itu makin terkejut ketika mengenal orang-orang pandai di dalam benteng, di antaranya mereka melihat Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lokwi, tiga orang tua yang mereka duga tentulah Twa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok karena mereka pernah mendengar bagaimana rupanya Im-kan Ngo-ok.

Masih banyak pula orang-orang yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi akan tetapi yang tidak mereka kenal.

Mereka semua itu dipimpin oleh Sam-ok yang berpakaian sebagai seorang pembesar, yang bertubuh raksasa berkepala botak, mengenakan mantel merah dan pakaiannya mewah.

Inilah tentu Koksu Nepal, pikir Kok Cu sambil memandang penuh perhatian.

Ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam bentuknya itu menyambut, Kok Cu lalu bertanya.

"Apakah kami berhadapan dengan Koksu Nepal yang mengundang kami?"

Ban Hwa Sengjin, yaitu Sam-ok dari Im-kan Ngo-ok, atau Koksu Negara Nepal, menjura dengan sikap hormat.

Diam-diam dia merasa kagum bukan main kepada pendekar lengan buntung ini.

Sejak tadi dia sudah memperhati-kan dan memang pria berlengan buntung sebelah ini patut menjadi seorang pendekar sakti.

Dia masuk bersama isterinya dengan tangan kosong dan suami isteri itu melangkah dengan gagahnya, tenang dan sedikit pun tidak kelihatan gentar.

Sikap ini bukan hanya mengagumkan hati Sam-ok, akan tetapi juga mencengangkan semua tokoh yang sebelumnya memang sudah gentar mendengar nama Naga Sakti Gurun Pasir itu.

"Selamat datang di benteng kami, Sicu,"

Kata koksu.

"Tidak salah perkiraan Sicu, saya adalah Koksu Nepal...."

"Hemmm, kalau begitu Sam-ok dan Im-kan Ngo-ok?"

Tiba-tiba Ceng Ceng bertanya karena dia melihat betapa Im-kan Ngo-ok berdiri berjajar, di sebelah kanan koksu itu nampak nenek Ji-ok dan kakek Twa-ok, sedangkan Su-ok dan Ngo-ok berdiri di sebelah kiri koksu.

"Li-enghiong berpemandangan awas benar!"

Kata koksu memuji.

"Tidak salah, selain sebagai Koksu Nepal, saya juga menjadi Sam-ok dari Im-kan Ngo-ok. Ji-wi melihat sendiri betapa kuatnya keadaan kami, dengan bantuan semua tokoh yang pandai dari dunia kang-ouw."

"Apa maksudmu mengundang kami?"

Kok Cu bertanya singkat dan tegas.

"Sicu, kami atas nama Pangeran Bharuhendra dari Nepal menyampaikan undangan kepada Sicu berdua, mengajak Sicu berdua untuk bekerja sama...."

"Hemmm, apa hubungannya Pangeran Nepal dengan kami? Mengapa pula pangeran dari Nepal membuat benteng di sini? Apakah Pangeran Nepal berhubungan dengan mereka yang hendak memberontak terhadap kaisar?"

Semua orang saling pandang. Pendekar ini bicaranya tegas dan terus terang, penuh keberanian dan keangkuhan. Akan tetapi koksu tersenyum.

"Sicu, hendaknya Sicu rnenyadari keadaan. Pangeran Bharuhendra adalah juga Pangeran Liong Bian Cu, putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong, yang hanya melanjutkan cita-cita besar ayahnya, yaitu menumbangkan kekuasaan sekarang yang lemah dan lalim untuk membentuk suatu pemerintahan yang kokoh kuat dan bijaksana. Banyak orang yang sudah membantu perjuangan ini...."

"Hanya pengkhianat-pengkhianat yang mau membantu pemberontakan!"

Cela Ceng Ceng.

"Kami tidak sudi bekerja sama dengan pemberontak!"

Sambung Kok Cu.

"Sicu, ingatlah. Apakah Sicu masih hendak bersetia kepada kaisar yang begitu sewenang-wenang, memecat dan mengusir seorang yang berjasa besar seperti ayah-mu, Jenderal Kao itu? Ingat, bahkan ayahmu pun kini sudah bekerja sama dengan kami. Lihat benteng ini, ayahmulah yang membangun! Lihat pasukan-pasukan itu. Ayahmulah yang membentuk dan melatih sehingga keadaan kami begini kuat."

"Tidak! Ayahku kalian paksa maka sudi melakukan semua ini!"

Bentak Kok Cu marah dan kini matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti sehingga semua orang menjadi gentar sekali.

"Dan pula, siapa percaya bahwa ayahku berada di sini membantu kalian?"

Dengan ucapan ini Kok Cu memang hendak melihat bukti bahwa ayahnya masih dalam keadaan selamat.

"Sicu agaknya belum percaya kepada kami? Lo-mo, harap kau panggil Jenderal Kao ke sini!"

Mendengar perintah ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk dan pergi.

Jantung Kok Cu berdebar tegang.

Tak lama kemudian Hek-tiauw Lo-mo datang kembali, dan bersama dia datang pula Jenderal Kao Liang.

Kok Cu membalikkan tubuh dan memandang kepada ayahnya, sukar dibayangkan bagaimana perasaan hati pendekar sakti ini karena pada wajahnya yang tampan dan keras itu tidak terbayang sesuatu.

Ceng Ceng juga memandang kepada ayah mertuanya dengan muka berubah agak pucat, akan tetapi juga wanita ini yang sudah pandai menguasai perasaannya, tidak berkata apa-apa.

Agaknya Jenderal Kao itu tidak diberi tahu oleh Hek-tiauw Lo-mo mengapa dia dipanggil.

Tadinya dia berjalan dengan langkah tenang saja di samping Hek-tiauw Lo-mo menuju ke tempat itu.

Akan tetapi begitu dia melihat puteranya itu, tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya terbelalak memandang ke arah wajah Kok Cu, wajahnya berubah pucat sekali dan tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, membelakangi puteranya itu untuk menyembunyikan air mata yang keluar dari sepasang matanya.

Dia tidak mau dilihat puteranya mengeluarkan air mata, akan tetapi kakek ini tidak dapat menahan tangisnya ketika melihat puteranya karena berbagai perasaan mencengkeram hatinya.

Ada rasa haru, duka, dan juga malu bahwa puteranya tentu telah melihat, mendengar betapa dia kini telah menghambakan diri kepada pemberontak!

Lalu dengan langkah perlahan dan kepala menunduk, Jenderal Kao pergi lagi meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi.

Kok Cu mengerti dan merasa terharu sekali.

Dia tahu betapa hancur hati ayahnya, dan dia tahu pula bahwa ayahnya melakukan hal itu karena terpaksa, karena tidak ingin melihat keluarganya ter-siksa atau terbunuh!

Dia tahu bahwa tentu koksu itu, Orang Jahat Nomor Tiga dari Im-kan Ngo-ok yang dia tahu tentu tidak segan-segan melakukan apa saja yang paling keji sifatnya, untuk memaksa ayahnya dengan jalan mengancam para keluarga yang sudah tertawan di tempat itu.

Maka setelah ayahnya pergi dan lenyap di tikungan, dia lalu membalik dan menghadapi lagi koksu dan para pembantunya dengan sinar mata penuh tantangan.

"Koksu, engkau telah berhasil mem-perdayai ayahku, memaksa ayahku untuk bekerja untukmu dengan ancaman keluarga ayah. Akan tetapi jangan harap engkau akan dapat membujuk aku untuk membantu pekerjaanmu yang terkutuk ini!"

Katanya dengan suara tenang dan tegas dan di dalam suara itu saja koksu ini telah mengerti benar bahwa memang tidak mungkin dapat membujuk seorang yang berhati keras dan teguh seperti Naga Sakti Gurun Pasir itu.

"Apa pun yang kau tuduhkan, kenyataan adalah bahwa ayahmu, Jenderal Kao Liang, telah bekerja sama dengan kami,"

Kata Koksu Nepal.

"Oleh karena itu sekali lagi, kami harap agar engkau dan isterimu suka bekerja sama dengan kami, Sicu. Andaikata tidak secara suka rela, tentu engkau akan melakukannya dengan bijaksana, melihat keadaan yang tak mungkin dapat diubah lagi. Sicu dan Li-enghiong, kalian lihat siapakah yang di sana itu!"

Koksu Nepal itu menuding ke belakang dua orang suami isteri itu yang segera membalikkan tubuhnya memandang.

Hampir saja Ceng Ceng mengeluarkan teriakan ketika dia melihat siapa yang berada di sana, berdiri dengan sepasang mata terbelalak, dijaga oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang tentu akan turun tangan dengan keji kalau sampai suami isteri ini bergerak.

Juga Kok Cu memandang dengan sepasang mata terbelalak ketika dia melihat puteranya di situ.

Sungguh sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa putera mereka yang terculik itu ternyata juga berada di situ pula!

Sekarang mengertilah Kok Cu betapa makin berat penanggungan ayahnya.

Dengan seluruh keluarga, termasuk puteranya pula di tangannya, tentu saja koksu memiliki senjata yang amat ampuh dan kuat untuk memaksa ayahnya melakukan apa pun juga.

Betapapun, dia menganggap ayahnya terlalu lemah!

Apa artinya pengorbanan ayahnya itu kalau dia harus melakukan sesuatu yang demikian hina?

Bukankah noda dan aib yang dilakukannya itu akan mencemarkan nama seluruh keluarganya.

Mengapa ayahnya tidak melihat hal ini?

"Ayah....!

Ibu....!"

Cin Liong berseru dan air matanya lalu bercucuran dari kedua mata anak itu.

Akan tetapi dia telah diancam tidak boleh mendekati orang tuanya.

Seperti diremas-remas rasa jantung Ceng Ceng.

Seperti hendak terbang dia mendekati puteranya, mengamuk dan kalau perlu mengadu nyawa.

Akan tetapi ketika dia merasa betapa lengannya dipegang oleh suaminya, datang pula kekuatan di hatinya dan dia menelan ludah lalu memandang kepada puteranya dengan batin yang lebih tenang.

"Cin Liong, kau tenanglah dan jangan menangis. Pada suatu hari, ayah ibumu pasti akan dapat membawamu pulang!"

Kata Kok Cu, suaranya tenang sekali dan sama sekali tidak mengandung kekhawatiran sehingga semua orang yang menyaksikannya menjadi kagum bukan main.

Koksu memberi isyarat kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang mengajak Cin Liong pergi lagi, akan tetapi tiba-tiba anak itu membalikkan tubuhnya dan berkata lantang.

"Ayah, yang menculikku adalah laki-laki berambut keemasan dan wanita baju hijau itu!"

Anak itu menudingkan telunjuknya kepada laki-laki dan wanita yang berdiri tidak jauh dari Koksu Nepal, akan tetapi dua orang kakek iblis itu sudah memondong dan menariknya pergi dari situ.

Namun teriakan Cin Liong itu cukup bagi Ceng Ceng untuk memutar tubuh dan memandang kepada Liong Tek Hwi dan Kim Cui Yan, dengan sinar mata seperti hendak menelan bulat-bulat kedua orang itu sehingga dua orang itu merasa agak ngeri juga.

"Kenapa kalian menculik puteraku? Kenapa?"

Bentak Ceng Ceng, sinar matanya berapi-api.

Baik Liong Tek Hwi maupun Kim Cui Yan tidak menjawab, hanya memandang kepada koksu karena mereka tahu bahwa yang dapat menanggulangi dua suami isteri yang sakti ini hanyalah koksu.

"Sicu dan Li-enghiong, Ji-wi hendak mengetahui sebabnya? Nah, dengarlah baik-baik. Kongcu ini adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Bin Ong, sedangkan sumoinya ini adalah puteri dari mendiang Panglima Kim Bouw Sin! Nah, tentu Ji-wi tahu betapa keluarga Kim Bouw Sin dihukum dan dibasmi karena Jenderal Kao, dan juga betapa Pangeran Liong Bin Ong gagal dan tewas, satu antara lain juga karena Jenderal Kao. Semua orang menaruh dendam kepada Jenderal Kao Liang, oleh karena itulah maka terjadi penculikan-penculikan terhadap keluarga Kao dan juga terhadap puteramu, Sicu. Akan tetapi, kami bukanlah orang-orang yang buta oleh dendam dan sakit hati. Tidak, kami adalah orang-orang yang mementingkan perjuangan. Oleh karena itu, Sicu, maka sampai sekarang pun keluarga Kao dan puteramu masih dalam keadaan selamat semua, tidak ada seorang pun yang mengalami luka atau tewas."

"Koksu, engkau dan semua orang yang bersangkutan tentu tahu belaka bahwa tidak ada permusuhan pribadi antara ayahku dan ayah mereka. Kematian Kim Bouw Sin atau Pangeran Liong bukan karena bermusuhan dengan ayahku. Ayahku adalah seorang panglima yang bertugas membasmi pemberontakan dan mereka itu adalah pemberontak-pemberontak. Kalau sampai mereka kalah dan tewas, hal itu tentu saja tidak boleh disalahkan kepada ayahku. Andaikata ayahku tewas dalam melaksanakan tugas, tentu aku pun tidak menaruh dendam pribadi kepada lawannya di medan perang! Oleh karena itu, sekarang aku datang bersama isteriku dan aku menuntut agar ayahku dan semua keluarga dibebaskan sekarang juga, untuk mana kami tentu akan berterima kasih sekali."

"Hemmm, Kao-sicu, permintaanmu itu tentu saja tak mungkin kami laksanakan,"

Kata koksu.

"Perjuangan kami belum selesai. Kami terpaksa saja menahan keluarga Kao agar Jenderal Kao suka membantu kami sampai kami berhasil. Dan setelah berhasil, tentu kami akan membebaskan semua, bahkan akan memberi ganjaran dan penghargaan atas jasa-jasa keluarga Kao kepada kami."

"Koksu keparat! Hayo kau maju lawan aku. Kita bertanding dengan taruhan keluarga Kao!"

Tiba-tiba Ceng Ceng membentak nyaring dan melangkah maju dengan kedua tangan terkepal.

Akan tetapi Sam-ok atau Koksu Nepal adalah seorang datuk sesat yang sudah banyak pengalaman.

Dia tentu saja tidak jerih menghadapi Ceng Ceng, akan tetapi melihat kehadiran Si Naga Sakti Gurun Pasir di situ, dia tidak mau dipancing untuk bertanding satu lawan satu.

Dia tahu bahwa di situ tidak ada seorang pun yang akan sanggup menandingi Si Naga Sakti.

Bahkan Twa-ok sendiri pun agaknya tidak akan menang.

"Li-enghiong, kami menghargai sekali kegagahanmu. Akan tetapi ketahuilah bahwa urusan tawanan bukan urusan pribadiku, melainkan urusan seluruh isi benteng. Kalau engkau dan suamimu hendak menggunakan kekerasan, tentu kalian akan berhadapan dengan kami semua berikut seluruh pasukan kami!"

Kembali Ceng Ceng merasa tangannya dipegang oleh suaminya dan ia teringat bahwa menggunakan kekerasan tidak akan ada gunanya, maka dia mundur, biarpun matanya masih berapi-api ditujukan kepada koksu.

"Baiklah, kami akan mundur dan kami akan berusaha menggunakan kepandaian kami untuk dapat membebaskan keluarga kami dari tempat ini. Akan tetapi kalau sampai ada seorang saja di antara keluarga Kao yang celaka selagi mereka menjadi tawanan di tempat ini, maka Im-kan Ngo-ok yang bertanggung jawab dan kelak tentu akan berhadapan dengan kami! Camkanlah ini!"

Setelah berkata demikian, Kok Cu mengajak isterinya meninggalkan tempat itu.

Koksu dan semua orang memandang dengan hati ngeri, dan dua orang suami isteri itu melangkah pergi diikuti oleh pandang mata mereka semua.

Melihat ini, Hek-hwa Lo-kwi yang sejak tadi sudah memandang dengan marah dan yang sudah mengumpulkan anak buah Kui-liong-pang yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang, cepat memberi aba-aba dan majulah dua puluh lima orang Kui-liong-pang, yaitu mereka yang termasuk tokoh-tokohnya yang berkepandaian, dipimpin oleh Khiu Sek, bekas pangcu dari Kui-liong-pang dan Hoa-gu-ji, tokoh ke dua dari Kui-liong-pang yang kemudian keduanya menjadi pembantu-pembantu Hek-hwa Lo-kwi.

Hek-hwa Lo-kwi penasaran sekali karena dia sudah mengenal Ceng Ceng dan tahu bahwa biarpun wanita itu lihai, namun dia sanggup melawannya, apalagi kalau dibantu oleh anak buahnya, biarpun di situ ada Si Naga Sakti!

Melihat Hek-hwa Lo-kwi dan anak buahnya menghadang, Si Naga Sakti te-nang saja, akan tetapi Ceng Ceng sudah mendamprat.

"Hek-hwa Lo-kwi iblis tua bangka bosan hidup! Mau apa kau menghadang kami?"

"Ha-ha-ha!"

Hek-hwa Lo-kwi tertawa.

"Kalian dua orang manusia sombong sudah memasuki lembah kami, tidak akan mudah keluar begitu saja!"

Lalu kakek ini melambaikan tangan kepada para anak buahnya dan berkata.

"Tangkap mereka!"

Kok Cu masih sempat berbisik kepada isterinya.

"Jangan membunuh!"

Dan isterinya yang sedang marah itu terpaksa mengangguk karena Ceng Ceng juga teringat betapa nyawa anak mereka dan keluarga Kao berada di tangan musuh.

Ketika dua puluh lima orang itu menyerbu dengan senjata mereka, suami isteri itu bergerak maju dan terjadilah pertempuran yang amat luar biasa.

Yang mula-mula menubruk maju adalah Khiu Sek dan Hoa-gu-ji.

Dua orang tokoh pertama dan kedua dari Kui-liong-pang sesudah Hek-hwa Lo-kwi ini sesungguhnya cukup lihai.

Khiu Sek adalah seorang bertubuh kecil yang lihai sekali permainan cambuknya.

Cambuk hitam bercabang di tangannya itu adalah senjatanya yang istimewa.

Adapun Hoa-gu-ji, sesuai dengan julukannya, yaitu Kerbau Belang, memiliki tenaga besar, tubuhnya tinggi kurus dan dia memegang senjata yang istimewa pula, yaitu sebatang dayung panjang yang amat berat.

Dua orang tokoh Kui-liong-pang ini adalah penjahat-penjahat yang biasa menghina wanita.

Mereka memang sudah mendengar nama besar Si Naga Sakti, maka mereka hendak menyerahkan lawan berat itu kepada ketua baru mereka, sedangkan mereka sendiri memilih yang lunak dan menyenangkan, yaitu Ceng Ceng.

Maka dengan ganas dan sangat dahsyat, keduanya sudah menerjang Ceng Ceng.

Akan tetapi, apa yang terjadi benar-benar membuat semua orang terkejut setengah mati.

Mereka melihat dua orang tokoh Kui-liong-pang itu menyerang dari kanan kiri, dan ternyata wanita itu sama sekali tidak mengelak, Bahkan dia menggunakan lengannya yang berkulit putih halus dan kecil itu untuk menangkis dayung, sedangkan sambaran cambuk itu didiamkannya saja.

Akan tetapi setelah cambuk menyambar dekat kepalanya, dia tiba-tiba saja merendahkan tubuhnya, tangannya yang tadi menangkis sudah bertemu dengan dayung dan terus tangan itu menangkap dayung, menariknya sehingga dayung bertemu cambuk dan dilibat oleh ujung cambuk.

Tentu saja dua orang tokoh Kui-liong-pang yang sudah berpengalaman itu cepat menarik senjata masing-masing, akan tetapi pada saat yang hanya beberapa detik saja ketika kedua senjata mereka bertemu itu telah dipergunakan oleh Ceng Ceng untuk melepaskan dayung, menggerakkan kedua tangan ke bawah dan tubuhnya meluncur ke bawah seperti hendak menelungkup.

"Plak! Plak!"

Kedua tangannya berhasil menghantam paha dua orang lawan itu secara bergantian dengan jari-jari tangan terbuka, kemudian dia sudah berjungkir balik dan meloncat bangun lagi, tidak mempedulikan dua orang yang mengaduh-aduh dan memegang paha yang terpukul tadi karena Ceng Ceng bukan menggunakan pukulan sembarangan saja, melainkan menggunakan pukulan yang disertai dengan sinkang yang amat kuat dan panas!

Memang berkat darah anak naga, yaitu ular luar biasa yang pernah dimakannya (baca Kisah Sepasang Rajawali), hawa beracun di tubuhnya telah hilang.

Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa kepandaiannya tentang pukulan beracun hilang pula.

Maka dua orang tokoh Kui-liong-pang yang terkena pukulannya di paha itu merasa betapa bagian yang terpukul itu selain panas juga gatal-gatal dan mereka berloncatan seperti dua ekor monyet menari-nari.

Tentu saja semua orang menjadi terkejut.

Kepandaian dua orang itu, biarpun bagi para tokoh sakti di situ, tidaklah terlalu tinggi, akan tetapi bagi orang-orang kang-ouw, mereka telah termasuk orang-orang yang tangguh.

Kini, dalam segebrakan saja mereka telah dibuat tidak berdaya oleh nyonya muda yang cantik itu.

Pada saat itu, Hek-hwa Lo-kwi telah menyerang Kok Cu.

Seperti telah diketahui, Hek-hwa Lo-kwi belum lama ini telah menyempurnakan semacam ilmu yang dikuasainya, yaitu ilmu pukulan beracun yang bernama Pek-hiat-hoatlek.

Memang bekas pelayan dari Dewa Bongkok ini adalah seorang yang ahli tentang racun, dan ilmu pukulannya yang baru itu amatlah jahat dan kejinya.

Dan melihat bahwa pemuda lengan buntung itu adalah murid dari bekas majikannya, maka begitu menyerang dia telah menggunakan ilmu barunya itu!

Namun, dia sama sekali tidak tahu bahwa tingkat kepandaian Kok Cu sudah amat tinggi, bahkan tidak lagi berselisih jauh dibandingkan dengan kepandaian gurunya sendiri!

Maka, menghadapi serangan yang luar biasa itu, yang mendatangkan angin dahsyat dan yang mengepulkan uap putih, Kok Cu bersikap tenang-tenang saja dan beberapa kali dia mengelak karena dia sedang memperhatikan isterinya.

Ceng Ceng kini mengamuk seperti seekor singa betina.

Dia menerjang ke kanan kiri, menghantam atau menendang siapa saja yang berdekatan sehingga gegerlah dua puluh lebih anggauta Kui-liong-pang itu.

Terdengar teriakan susul-menyusul dibarengi robohnya beberapa orang yang tidak dapat bangkit lagi setelah terkena tamparan atau tendangan dari nyonya yang sedang marah itu.

An-daikata Ceng Ceng tidak ingat akan pesan suaminya, tentu mereka yang dirobohkannya itu akan tewas semua, termasuk dua orang tokoh Kui-liong-pang tadi.

Akan tetapi dia tahu akan maksud suaminya.

Dia tidak boleh membunuh agar semua orang tahu akan kelihaian mereka berdua dan juga akan iktikad baik mereka sehingga keluarga yang ditawan tidak akan mengalami gangguan.

Setelah melihat betapa isterinya baik-baik saja dan tidak melanggar pesannya, Kok Cu lalu mencurahkan perhatiannya terhadap lawannya.

Dia harus memperlihatkan kelihaiannya karena dia maklum bahwa serangan Hek-hwa Lo-kwi ini selain dimaksudkan untuk mencegahnya keluar, juga untuk mengujinya dan semua mata dari Im-kan Ngo-ok tentu sedang mengikuti gerakan-gerakannya dengan teliti.

Oleh karena itu, tiba-tiba pendekar sakti ini mengeluarkan suara melengking yang amat dahsyat, yang menggetarkan semua orang, bahkan beberapa orang yang kurang kuat segera terguling roboh dan mereka yang kuat pun tergetar hebat sampai terguncang jantung mereka, kemudian tiba-tiba tubuh dari pendekar itu meluncur ke depan seperti seekor naga ke arah Hek-hwa Lo-kwi.

Kakek iblis ini terkejut dan cepat dia menyambut dengan pukulan Pek-hiat hoat-lek, yang dahsyat.

Pendekar itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kanannya mendorong.

"Desssss....!"

Tubuh Hek-hwa Lo-kwi terpental sampai jauh, terbanting roboh pingsan!

Kemudian, Kok Cu membantu isterinya mengamuk dan dalam waktu yang singkat sekali, semua orang Kui-liong-pang sudah roboh dan kedua orang suami isteri itu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke pintu gerbang pertama dari dalam, di mana terdapat banyak penjaga, akan tetapi karena tidak ada komando dari atas, para penjaga itu pun diam saja dan tidak ada yang berani mengganggu ketika Kok Cu dan Ceng Ceng lewat.

Setelah melalui beberapa lapis tembok benteng yang berpintu gerbang, akhirnya suami isteri itu dapat keluar dari pintu gerbang paling luar dan mereka melangkah cepat meninggalkan benteng itu.

Setelah mereka jauh meninggalkan benteng dan memasuki sebuah hutan yang sunyi, mereka berhenti dan Ceng Ceng lalu menjatuh diri di atas rumput di bawah pohon sambil menangis!

Kok Cu berdiri memandang isterinya dan untuk beberapa saat lamanya dia membiarkan isterinya menumpahkan semua kedukaannya melalui tangis.

Dia tahu betapa isterinya itu sudah berbulan-bulan ditekan oleh penderitaan batin yang hebat, yang amat mengkhawatirkan keadaan putera mereka.

Dan kini isterinya menangis karena guncangan batin, karena perasaan marah, khawatir dan juga girang melihat bahwa puteranya itu ternyata masih hidup dalam keadaan sehat, akan tetapi berada di tangan musuh dan mereka tidak berdaya untuk membebaskan putera mereka itu!

Tiba-tiba Ceng Ceng menghantamkan tangannya ke batang pohon di sampingnya.

"Braaakkkkk!"

Pohon itu tumbang! "Kubunuh mereka semua! Kubunuh seorang demi seorang kalau sampai Liong ji mereka ganggu....!"

Teriaknya dengan kalap. Kini Kok Cu merangkul isterinya dan berkata tenang.

"Mereka takkan berani, isteriku. Mereka justeru akan menjaga baik-baik semua keluarga kita sebagai sandera, mereka takkan berani mengganggu anak kita...."

Ceng Ceng memandang wajah suaminya, kemudian mengeluh dan ibu muda ini menjadi terkulai lemas dan pingsan di dalam pelukan suaminya!

Terlampau hebat kemarahan, ketegangan dan kekhawatiran selama ini menekan hatinya.

Kok Cu dengan tenang merawat isterinya sehingga guncangan perasaan itu tidak sampai mengakibatkan hal yang buruk atas diri wanita itu.

Setelah Ceng Ceng siuman kembali dan sudah agak tenang, Kok Cu lalu berkata.

"Kita tentu saja dapat menyerbu ke sana dan mengamuk, akan tetapi apa artinya kalau akhirnya mereka bahkan membunuh keluarga kita? Kita harus sabar, menanti kesempatan baik dan kesempatan itu baru akan tiba apabila Bibi Milana telah menyerbu benteng itu. Selagi keadaan kacau dan semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi serbuan pasukan Bibi Milana kita menyelinap ke dalam dan kita bebaskan keluarga kita."

"Akan tetapi, benteng itu sedemikian kuatnya. Kiranya tidak akan mudah saja bagi Bibi Milana untuk membobolkannya. Apalagi.... yang mengatur dan menjaga adalah.... adalah...."

Tak sampai hatinya untuk menyebut nama mertuanya. Kok Cu mengangguk-angguk.

"Memang ayah adalah seorang ahli siasat perang yang takkan mudah dilawan begitu saja oleh Bibi Milana. Akan tetapi, aku tidak percaya kalau ayah benar-benar hendak berkhianat. Hanya karena tidak tega melihat keluarga celaka maka ayah sengaja pura-pura menyerah, akan tetapi tentu ayah mempunyai suatu rencana lain yang menjadi rahasianya. Kita harus bersabar dan menunggu, kiranya tidak akan lama Bibi Milana datang bersama pasukannya."

Demikianlah, suami isteri pendekar itu menunggu di tempat persembunyian di sekitar tembok benteng, dan Ceng Ceng terpaksa menurut karena dia maklum bahwa pendapat suaminya itu memang tepat.

Akan tetapi, suaminya harus setiap hari menghiburnya dan di dalam keadaan menderita batin ini, sepasang suami isteri menjadi makin rapat, makin dekat dan makin mesra hubungannya karena dalam hati mereka timbul rasa iba satu kepada yang lain.

Juga di dalam diri masing-masing mereka menemukan hiburan yang setidaknya meringankan penderitaan batin masing-masing itu.

Barisan yang besar di bawah panji Puteri Milana itu bergerak dengan teratur dan tertib sekali memasuki wilayah Propinsi Ho-nan.

Tidak seperti biasanya kalau ada pasukan besar lewat dengan tujuan perang, sekali ini pasukan-pasukan berjalan tertib dan tidak pernah terjadi pelanggaran-pelanggaran.

Biasanya, dusun-dusun yang dilalui oleh pasukan tentu akan menderita karena ada saja ulah anggauta pasukan yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dan kekerasan-kerasan.

Hal ini adalah karena adanya disiplin yang kuat, ketertiban yang tidak perlu ditekankan lagi oleh para pimpinannya, karena semua dewan pimpinan sendiri juga amat tertib.

Ketertiban di dalam kelompok atau golongan haruslah dimulai dari atas.

Biasanya, yang di atas selalu menekankan dan menghenda-ki agar kaum bawahan berdisiplin dan tertib, Sedangkan mereka sendiri yang merasa berkuasa tidak memperhatikan disiplin dan ketertiban diri mereka sendiri.

Hal ini adalah tak mung-kin karena manusia itu condong untuk mencontoh dan yang dicontoh selalu tentulah yang berada di atas.

Kalau sang pemimpin korup, mana mungkin anak buahnya tidak korup?

Dan untuk me-lenyapkan sifat buruk dari bawahan, yang di atas haruslah melenyapkan lebih dulu sifat buruknya sendiri.

Kalau atasan bersih, barulah dia berhak dan dapat menunjukkan kekotoran bawahannya dan membersih-kanya.

Sebaliknya, kalau dia sendiri kotor, mana mungkin dia membersihkan bawahannya?

Tentu dia sendiri juga merasa sungkan dan malu karena si bawahan tentu hanya akan mentertawakannya saja dan melawan dengan menunjuk kekotorannya pula.

Pasukan dari kota raja ini hanya mengalami sedikit perlawanan saja dari pasukan yang dipimpin oleh Gubernur Ho-nan, ketika para komandan di Ho-nan mendengar bahwa pasukan itu selain amat besar dan kuat juga dipimpin oleh Puteri Milana, sebelum bertempur nyali mereka sudah menjadi kecil dan semangat mereka menjadi lemah.

Hal ini tentu saja juga menjalar kepada anak buah mereka sehingga ketika Milana menggerakkan pasukannya dan mulai terjadi pertempuran, anak buah pasukan Ho-nan hanya bertempur dengan setengah hati saja, kemudian mereka melarikan diri mundur, terus digiring dan ditekan oleh pasukan kota raja.

Akhirnya pasukan kerajaan memasuki Ibu Kota Propinsi Ho-nan.

Juga di sini perlawanan amat tidak berarti karena belum apa-apa gubernurnya sudah ketakutan.

Kesombongan-kesombongan yang diperlihatkan oleh para komandan ternyata tidak ada kenyataannya ketika musuh sudah berada di depan pintu.

Yang nekat melakukan perlawanan, segera roboh dan disapu bersih dalam waktu singkat sehingga akhirnya sebagian besar pasukan yang sebetulnya merupakan pasukan kerajaan pula yang dibawa menyeleweng dan memberontak oleh gubernur, menakluk dan menyerah.

Sebagian lagi mengawal Gubernur Kui Cu Kam melarikan diri meninggalkan Lok-yang menuju ke lembah Huang-ho di mana terdapat sekutunya dalam benteng yang kuat.

Setelah menduduki Lok-yang, Milana memberi kesempatan kepada pasukan-pasukannya untuk beristirahat.

Dia memerintahkan untuk membiarkan anak buah pasukan berpesta makan minum sepuasnya, akan tetapi melarang siapapun mengganggu penduduk sehingga para penduduk Lok-yang yang sudah ketakutan karena membayangkan bahwa tentu mereka akan dirampok habis-habisan oleh tentara kerajaan, menjadi lega dan berterima kasih.

Dengan suka rela para penduduk, terutama yang kaya, lalu mengeluarkan kekayaan mereka untuk menjamu dan menyenangkan hati pasukan kerajaan yang menang perang.

Mereka tahu bahwa semua ini berkat pimpinan Puteri Milana yang terkenal itu.

Dan anehnya, begitu sadar bahwa kebersihan mereka dikagumi penduduk, para anggauta pasukan itu sendiri merasa sungkan dan enggan melakukan pelanggaran, karena kebersihan mereka itu merupakan kebanggaan mereka!

Dan kebanggaan ini pun mendatangkan suatu perasaan senang yang luar biasa.

Milana sendiri (Lanjut ke

Jilid 45) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 45 beristirahat di dalam kamarnya, di bekas rumah gedung gubernur.

Ketika seorang pengawal memberi laporan bahwa suaminya, pendekar Gak Bun Beng datang menyusul, Milana cepat menyambut suaminya dengan hati girang.

Mereka lalu bercakap-cakap di dalam kamar.

Kiranya begitu menerima berita isterinya, Gak Bun Beng menitipkan kedua putera kembarnya, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, kepada kepala dusun di lereng bukit, dan dia sendiri cepat menyusul isterinya ke kota raja.

Ketika mendengar berita bahwa pasukan isterinya sudah menyerbu ke Ho-nan, dia pun cepat menyusul dan malam itu dia dapat bertemu dengan isterinya di rumah Gubernur Ho-nan yang telah ditinggalkan oleh penghuninya yang lari mengungsi ke lembah.

Ketika Milana menceritakan kepada suaminya tentang penuturan Suma Kian Bu dan Kim Hwee Li tentang kekuatan di lembah Huang-ho yang ternyata dipimpin oleh pangeran dari Nepal yang dibantu oleh banyak orang pandai, bahkan bentengnya dibangun dan dipimpin oleh Jenderal Kao Liang yang terpaksa menyerah karena semua keluarganya ditawan, Bun Beng menjadi terkejut bukan main.

"Aihhh, kalau begitu berbahaya sekali! Jadi pangeran dari Nepal itu adalah pu-tera dari pangeran tua Liong yang memberontak dahulu itu? Ah, dia melanjutkan pemberontakan ayahnya?"

"Dan agaknya dia tidak kalah licik dan cerdiknya dibandingkan ayahnya. Buktinya dia telah dapat memaksa Jenderal Kao untuk membantunya, dan menurut Kian Bu, dia dibantu oleh orang-orang pandai yang berilmu tinggi, sedangkan Koksu Nepal yang memimpin benteng itu sendiri juga memiliki kepandaian hebat. Oleh karena itulah maka aku sengaja mengundangmu, karena untuk menyerbu benteng yang dipimpin oleh Jenderal Kao, dan mendengar betapa banyaknya orang pandai di dalam benteng itu, terus terang saja, tanpa engkau di sampingku, aku merasa agak jerih juga."

Ketika Bun Beng mendengar bahwa juga Kao Kok Cu si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, Ceng Ceng, sudah lebih dulu pergi menyelidik ke benteng, dan bahwa putera mereka pun menjadi tawanan, mendengar pula betapa Kian Bu juga sudah menyelidik ke sana, dia lalu mengambil keputusan untuk mendahului pasukan.

"Sebaiknya aku pun pergi dulu menyelidik ke sana, karena sesungguhnya aku belum percaya benar bahwa orang seperti Jenderal Kao Liang itu dapat berkhianat dan sudi membantu musuh yang memberontak, betapapun dia tertekan dan betapa terancam pun keselamatan keluarganya. Dia bukanlah seorang lemah."

Milana juga setuju dengan usul suaminya itu dan semalam itu Bun Beng bermalam di kamar isterinya dan suami isteri ini saling melepaskan rindu mereka dan saling menasihati agar berhati-hati karena keduanya akan menghadapi bahaya dalam penyerbuan ke lembah itu.

Pada keesokan harinya, Bun Beng bertemu dengan Kao Kok Han dan dari pemuda ini dia mendengar lagi penuturan yang lebih jelas tentang Jenderal Kao.

Setelah berpamit dari isterinya, Bun Beng lalu berangkat, melakukan perjalanan secepatnya menuju ke lembah Huang-ho, mendahului pasukan yang pada hari itu juga diatur oleh Milana untuk berangkat ke benteng di lembah itu.

Malam terang bulan yang indah sekali, apalagi di tempat sunyi di tebing Sungai Huang-ho yang penuh dengan batu-batu besar dan bersih itu, tempat persembunyian Kok Cu dan Ceng Ceng.

Biarpun musuh pernah menemukan mereka di situ, namun suami isteri ini tidak takut dan mereka tetap menanti di situ, tempat yang paling menyenangkan bagi mereka di sepanjang tepi sungai, karena dari situ mereka dapat melihat tembok benteng, dan tempat ini selain indah, juga amat sunyi dan bersih.

Hanya kini mereka selalu berjaga dengan bergilir, tidak pernah lengah karena maklum akan kelihaian musuh-musuh yang berada di dalam benteng.

Malam itu terang bulan, karena bulan sedang purnama.

Di permukaan bumi tidak ada angin, akan tetapi di angkasa awan-awan berarak dengan cepat, tanda bahwa di atas sana terdapat angin yang menggerakkan awan-awan sehingga kadang-kadang awan putih tipis menyembunyikan bulan yang menjadi agak suram cahayanya.

Akan tetapi karena awan itu bergerak cepat, hanya sebentar saja bulan muncul lagi dengan lebih berseri.

Kao Kok Cu nampak duduk bersila di atas sebuah batu besar, sedang teng-gelam dalam siulian (samadhi) yang hening.

Samadhi akan kehilangan artinya kalau di dalamnya tersembunyi pamrih untuk mencapai atau memperoleh sesuatu.

Samadhi adalah keadaan hening dan bersih, bersih dari segala macam pamrih, hening karena berhentinya segala pikiran.

Keheningan barulah benar-benar hening kalau datang tanpa diundang, kalau ada tanpa diadakan, kalau tidak dibuat agar supaya hening.

Di waktu segala keinginan dan pamrih berhenti, maka keheningan akan ada dan itulah samadhi yang sesungguhnya.

Bukan acuh tak acuh, bukan tidur duduk, melainkan sadar dan waspada akan segala sesuatu, di luar dan di dalam diri, mengamati apa adanya tanpa keinginan, untuk mengubah, menerima atau pun menolak, tanpa menilai, tanpa membenarkan atau menyalahkan.

Tanpa "aku"

Yang bersamadhi, itulah samadhi yang sebenarnya.

Ceng Ceng juga duduk tidak jauh dari suaminya, akan tetapi dia tidak dapat duduk diam karena pikirannya selalu teringat akan puteranya, akan keluarga suaminya.

Dia merasa gelisah karena sudah hampir sepekan dia dan suaminya duduk menanti di tempat itu.

Sampai berapa lama dia harus menanti, membiarkan puteranya terancam bahaya di dalam tangan musuh-musuh yang dia tahu adalah orang-orang yang amat kejam dan jahat itu?

Dia tidak dapat beristirahat seperti suaminya, makin lama makin merasa gelisah sehingga akhirnya dia turun dari atas batu dan berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai.

Malam itu memang indah sekali, namun sayang, bagi seorang yang sedang kacau batinnya oleh kegelisahan seperti Ceng Ceng, tidak ada apa pun yang kelihatan indah di dunia ini.

Tiba-tiba sepasang mata Ceng Ceng mengeluarkan sinar dan tubuhnya yang tadinya kelihatan lemas itu tiba-tiba saja menjadi cekatan.

Dia melihat sesuatu yang tentu saja menimbulkan kecurigaannya.

Melihat bayangan manusia berkelebat tak jauh dari situ.

Tentu musuh yang datang!

Atau mata-mata musuh yang mengintai!

Kemarahannya bangkit dan dengan gerakan ringan dan cepat sekali Ceng Ceng sudah bergerak melakukan pengejaran, menyelinap di antara pohon-pohon dan batu-batu.

Akan tetapi bayangan itu dapat bergerak cepat sekali dan sekali berkelebat, bayangan itu menyusup dan lenyap di balik semak-semak belukar.

Ceng Ceng makin curiga, akan tetapi karena dia maklum akan kelihaian orang-orang di dalam benteng dan dia yakin bahwa yang nampak bayangannya tentulah orang dari dalam benteng, dia bersikap hati-hati sekali dan menyelidik dengan jalan memutar.

Bulan kadang-kadang tertutup awan sehingga cahayanya menjadi remang-remang saja.

Dengan langkah satu-satu dan amat waspada, Ceng Ceng memutari semak-semak di mana dia melihat bayangan tadi lenyap.

Seluruh perhatian dicurahkannya melalui pendengaran dan penglihatannya.

Tiba-tiba ada sambaran angin dari belakang dan ketika secepat kilat dia membalik, dari sudut matanya Ceng Geng melihat bayangan orang menyerangnya dengan totokan yang cepat dan hebat.

Akan tetapi Ceng Ceng memang sejak tadi sudah siap sedia, maka diserang seperti itu dia tidak menjadi gugup.

Dia miringkan tubuh mengelak dan tangannya membalas dengan tamparan kilat ke dada penyerangnya itu.

Orang itu terkejut bukan main, agaknya tidak mengira bahwa yang diserangnya itu selain dapat mengelak, juga dapat membalas dengan tamparan yang demikian hebatnya, terbukti dari sambaran angin yang menandakan sinkang yang dahsyat.

Maka dia pun menggerakkan lengannya menangkis.

"Dukkk....!"

Keduanya terhuyung ke belakang dan mereka kaget bukan main mengetahui betapa kuatnya lawan.

Ceng Ceng cepat memandang akan tetapi karena bulan masih tertutup awan, cuaca remang-remang dan dia hanya melihat seorang pria yang berdiri di depannya, seorang pria yang memiliki sepasang mata yang tajam bersinar.

"Manusia curang, siapakah engkau? Mengakulah sebelum engkau mati tanpa nama!"

Bentak Ceng Ceng dengan marah sekali. Orang itu kelihatannya terkejut mendengar suara ini.

"Ehhh....? Kau...."

Pada saat itu awan telah meninggalkan bulan dan cahaya bulan yang terang menyinari wajah kedua orang yang saling pandang itu.

Keduanya kini kelihatan makin kaget.

"Kau Ceng Ceng....!"

"Tek Hoat....!"

Memang orang itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

Seperti telah kita ketahui, pemuda ini terus-menerus mengikuti jejak Puteri Syanti Dewi setelah dia gagal merampas Syanti Dewi dari puncak Naga Api sarang dari perkumpulan Liong-simpang yang diketuai oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun.

Dia dibantu oleh Siluman Kucing Mauw Siauw Mo-li yang katanya tahu di mana harus mencari Syanti Dewi.

Akan tetapi sebetulnya Siluman Kucing itu pun tidak tahu, hanya menduga-duga saja dan sebenarnya wanita cabul itu bermaksud untuk mendekati pemuda ini dan kalau mungkin mencengkeram pemuda lihai ini untuk menjadi korban nafsu berahinya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tek Hoat yang mulai sadar akan kesesatannya itu, apalagi setelah dia berjumpa dengan seorang pelacur yang membuka matanya, dia malah mempermainkan Siluman Kucing dan meninggalkannya pergi untuk mencari sendiri jejak Syanti Dewi.

Akhirnya dia mendengar tentang keadaan di lembah Huang-ho dan dia menaruh hati curiga.

Dia pernah menyerang lembah itu sebagai sarang dari perkumpulan Kui-liong-pang untuk memenuhi permintaan ketua Hek-eng-pang, bersama dengan Siluman Kucing yang menjadi guru dari ketua Hek-eng-pang, sehingga mereka akhirnya dapat membobolkan bendungan air dan membuat lembah itu tenggelam dalam genangan air bah setelah tanggul atau bendungannya itu dijebolkan oleh alat-alat peledak dari Mauw Siauw Mo-li.

Kini dia mendengar berita angin bahwa lembah itu telan berubah menjadi benteng yang kuat.

Dia merasa curiga sekali dan ingin tahu, maka dia lalu menyelidiki ke lembah.

Siapa tahu kalau-kalau Syanti Dewi yang seperti lenyap ditelan bumi itu berada di tempat itu, pikirnya.

Hal ini memasuki pikirannya ketika dia mendengar bahwa banyak tokoh kaum sesat kabarnya juga berada di dalam benteng itu.

Andaikata Syanti Dewi tidak berada di situ, setidaknya dia akan dapat bertanya kepada para tokoh sesat itu dan tentu ada di antara mereka yang tahu di mana adanya Syanti Dewi dan siapa yang telah menculiknya.

Malam itu dia tiba di dekat benteng lembah dan selagi dia berjalan dan hendak mulai dengan penyelidikannya, dia melihat bayangan orang yang gerakannya cepat sekali dan mengejarnya.

Maka dia lalu menyelinap dan menyerang bayangan itu untuk menotoknya, karena dia menduga bahwa bayangan itu tentulah mata-mata dari dalam benteng.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika bayangan itu sedemikian lihainya, dan makin kagetlah dia ketika cahaya bulan menyinari wajah yang cantik itu, wajah dari Ceng Ceng, saudara tirinya seayah berlainan ibu!

Ibu dari Ceng Ceng adalah Lu Kim Bwee, sedangkan ibu dari Tek Hoat bernama Ang Siok Bi.

Ketika kedua orang wanita itu masih gadis, mereka telah tertimpa malapetaka dan aib.

Mereka itu dicemarkan oleh seorang laki-laki yang berilmu tinggi sehingga mereka keduanya mengandung.

Dari kandungan itulah terlahir Ceng Ceng dan Tek Hoat.

Karena mereka terlahir sebagai akibat perkosaan, maka mereka berdua menggunakan she ibu masing-masing.

Ceng Ceng menggunakan she Lu sedangkan Tek Hoat menggunakan she Ang.

Ayah kandung mereka yaitu pria yang mencemarkan ibu masing-masing itu bukanlah orang sembarangan, karena dia adalah putera tiri dari Pendekar Super Sakti yang bernama Wan Keng In (baca cerita Sepasang Pedang Iblis dan Kisah Sepasang Rajawali).

Ketika masih kecil, baik Ceng Ceng maupun Tek Hoat tidak tahu akan rahasia itu karena ibu masing-masing tidak mau menceritakan aib itu kepada anak masing-masing.

Baru setelah kedua orang anak ini menjadi dewasa, di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, mereka bertemu dan bahkan mereka hampir saling jatuh cinta.

Kemudian terbukalah rahasia itu dan keduanya baru tahu bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah saudara tiri, seayah berlainan ibu!

Dan keduanya sesungguhnya adalah she Wan.

"Ah, kusangka engkau seorang mata-mata dari benteng!"

Seru Tek Hoat. Ceng Ceng cemberut.

"Engkaulah yang kukira mata-mata dari dalam benteng!"

Keduanya lalu tersenyum dan saling pandang.

Memang keduanya mempunyai perasaan suka satu sama lain, apalagi setelah mereka tahu bahwa mereka adalah saudara seayah.

Dalam pandang mata mereka itu terdapat keharuan karena memang keduanya tidak mempunyai saudara lain, bahkan tidak bersanak kadang lagl.

"Bagaimana keadaanmu....?"

Keduanya bicara berbareng dan dengan pertanyaan yang sama.

Kemudian keduanya tersenyum dan pada saat itu muncullah Kao Kok Cu.

Di dalam siulian tadi, Kok Cu mendengar suara isterinya, maka dia pun cepat meloncat turun dan mencari.

Dia merasa heran sekali melihat isterinya berhadapan dengan seorang pria dan ketika dia tiba di situ, segera dia mengenal Tek Hoat.

"Ah, kiranya engkau, Tek Hoat!"

Katanya.

Tek Hoat memandang wajah Kok Cu penuh perhatian.

Di dalam Kisah Sepasang Rajawali diceritakan bahwa antara Tek Hoat dan Kok Cu sesungguhnya terdapat hubungan yang tidak asing lagi, akan tetapi sesungguhnya baru sekarang inilah Tek Hoat sempat mengenal dan memandang wajah Kok Cu, karena dahulu Kok Cu selalu memakai topeng yang amat buruk sehingga dia pun hanya dikenal sebagai Si Topeng Setan.

Setelah memandang wajah suami Ceng Ceng itu dia menarik napas panjang.

"Ah, kiranya engkau adalah seorang yang gagah dan tampan, Topeng Setan!"

Katanya.

"Aku girang sekali bahwa saudaraku ini memperoleh seorang suami hebat seperti engkau."

Akan tetapi hanya sebentar saja Tek Hoat kelihatan gembira dengan pertemuan ini.

Segera wajahnya murah kembali, apalagi karena dia teringat betapa keadaannya jauh dibandingkan dengan Ceng Ceng yang berbahagia dengan suaminya, sedangkan dia, sampai sekarang pun belum juga dapat mengetahui di mana adanya Syanti Dewi.

"Bagaimana engkau sampai tiba di sini?"

Tanya Ceng Ceng.

"Aku memang perantau yang bisa berada di mana saja. Akan tetapi kalian? Mau apa di sini?"

Tek Hoat balas bertanya karena dia tidak suka menceritakan keadaan dirinya.

"Ah, engkau tidak tahu, Tek Hoat. Malapetaka besar menimpa keluarga kami,"

Kata Ceng Ceng dan dia lalu bercerita tentang keluarga Kao dan juga puteranya yang diculik orang dan ditawan di dalam benteng itu.

Kok Cu tidak sempat mencegah isterinya bercerita, apalagi dia merasa kurang enak karena dia maklum bahwa isterinya sangat suka kepada saudara tirinya itu.

Dia melihat betapa Tek Hoat mendengarkan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang mengeluarkan seruan kaget mendengar betapa orang-orang pandai seperti Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, bahkan Im-kan Ngo-ok yang terkenal itu semua berkumpul di dalam benteng!

Bukan tidak mungkin Syanti Dewi berada di situ pula sebagai tawanan, pikirnya.

Dia tidak dapat memikirkan lain kecuali Syanti Dewi.

Setelah Ceng Ceng selesai bercerita, Tek Hoat menegur.

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak segera masuk dan menolong mereka yang tertawan?"

"Ah, kami sudah masuk, akan tetapi kami melihat betapa keluarga kami terancam, maka kami hendak menanti saat baik untuk menolong mereka,"

Jawab Ceng Ceng, akan tetapi jawaban ini seolah-olah tidak didengar oleh Tek Hoat. Dia lalu bangkit berdiri, dan berkata kepada suami isteri itu.

"Aku pergi dulu....!"

"Engkau hendak ke mana?"

Kok Cu menegur.

"Aku akan mencoba masuk ke dalam benteng itu!"

"Tek Hoat, jangan....!"

Ceng Ceng berkata.

"Keadaannya amat berbahaya, engkau akan celaka di sana sebelum berhasil...."

"Aku tidak takut!"

Jawab Tek Hoat dengan sikapnya yang keras kepala.

Ceng Ceng merasa terharu sekali.

Dia mengira bahwa Tek Hoat kini telah berubah menjadi seorang yang berwatak pendekar gagah, dan yang merasa penasaran mendengar tentang ditawannya Cin Liong dan keluarga Kao lainnya, dan bermaksud untuk nekat memasuki benteng dan menolong keluarga yang tertawan itu.

"Tek Hoat, tidak perlu engkau mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Keluarga kami terlalu banyak untuk dapat kauselamatkan seorang diri saja. Sebaiknya tunggu kesempatan dan kelak bersama kami bergerak."

Sebetulnya, niat dari Tek Hoat itu amat cocok dengan niat di hati Ceng Ceng yang juga sudah tidak sabar lagi menanti kesempatan, dan ingin dia mengajak suaminya untuk bersama dengan Tek Hoat malam itu juga menyerbu benteng.

Akan tetapi ucapan Tek Hoat sungguh tidak diduganya sama sekali.

"Aku harus mencari Syanti Dewi, sekarang juga!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Tek Hoat sudah lenyap dari situ.

Ceng Ceng termangu-mangu, kemudian mengepal tinjunya dan merasa mendongkol sekali.

"Ah, kiranya dia hendak mencari Enci Syanti Dewi? Hemmm, tidak sempat kutanya dia mengapa dia meninggalkan Enci Syanti Dewi di Bhutan dan sekarang pura-pura ribut mencarinya, hemmm...."

Ceng Ceng marah dan mendongkol karena kecewa.

Tadinya dia kira Tek Hoat mau membela keluarga suaminya, tidak tahunya pemuda itu sama sekali tidak memikirkan tentang keluarga Kao, dan keinginannya memasuki benteng itu tidak lain hanya untuk mencari Syanti Dewi.

Kok Cu maklum akan kejengkelan hati isterinya, dia merangkul isterinya dan berkata.

"Kasihan dia. Dia menderita tekanan batin yang hebat sekali, hal itu dapat kulihat dari wajahnya."

"Hemmm, mungkin dia menjadi jahat lagi...."

Ceng Ceng berkata, membayangkan kembali cerita tentang ayah kandungnya, seorang manusia yang amat jahat!

Dia merasa beruntung bahwa dia menjadi isteri seorang bijaksana seperti Kok Cu, karena kalau dia teringat akan pengalamannya dahulu, setelah dia menjadi murid Ban-tok Mo-li, mungkin saja dia pun menjadi seorang tersesat yang jahat, seperti mendiang ayah kandungnya.

Dan tiba-tiba dia bergidik dan menyembunyikan mukanya dalam rangkulan lengan kanan suaminya.

Malam telah larut, lewat tengah malam.

Bulan purnama telah condong ke barat dan malam itu dingin dan sunyi sekali.

Akan tetapi, sesosok bayangan seperti setan berkelebatan di bawah tembok benteng.

Bayangan orang itu bukan lain adalah Tek Hoat yang telah meninggalkan Ceng Ceng dan suaminya.

Ceng Ceng tidak melihat Syanti Dewi di dalam benteng, akan tetapi siapa tahu?

Dan seandainya dia tidak menemukan Syanti Dewi di situ, tidak pula bisa memperoleh kabar tentang puteri itu, setidaknya dia akan dapat menuntut agar putera Ceng Ceng dibebaskan.

Dia tidak perlu banyak berjanji kepada suami isteri itu, akan tetapi kalau di sana tidak ada Syanti Dewi, dia tentu akan membebaskan putera Ceng Ceng!

Saudara tirinya itu kelihatan demikian gelisah, dan diam-diam dia merasa amat kasihan kepada Ceng Ceng.

Dia tidak takut biarpun di sana ada Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan yang disebut Im-kan Ngo-ok yang tidak dikenalnya itu.

Biar semua iblis dan setan berkumpul di sana, dia tidak takut!

Ketika dia mulai mendekati tembok benteng, Tek Hoat yang berpenglihatan tajam itu mengerti bahwa ada bayangan yang mengikutinya.

Orang yang membayanginya itu juga amat cepat gerakannya.

Mula-mula dia menduga bahwa bayangan itu tentulah Ceng Ceng atau Kok Cu, akan tetapi setelah dia melihat sekelebatan, dia tahu bahwa bayangan itu bukan Ceng Ceng, karena orang itu tinggi besar tidak seperti bentuk tubuh Ceng Ceng dan lengannya lengkap tidak seperti lengan Kok Cu.

Akan tetapi karena bayangan itu hanya mengikutinya, maka dia pun tidak mempedulikan dan melanjutkan gerakannya meloncat naik ke atas tembok benteng seperti seekor burung garuda terbang saja.

Loncatannya tidak mungkin dapat mencapai di atas tembok yang demikian tingginya, akan tetapi seperti seekor cecak terbang, dia hinggap di tembok dan mengguna-kan kaki tangannya menempel tembok dan terus merangkak ke atas menggunakan sinkangnya yang membuat telapak tangannya menyedot dan menempel dinding, menahan tubuhnya.

Dengan cepat dia merayap seperti seekor cecak dan akhirnya dia dapat mencapai pinggiran tembok dan meloncat naik ke atas tembok benteng yang tinggi itu.

Akan tetapi baru saja dia berdiri, kakinya telah menginjak alat jebakan dan dari bawah menyambar belasan batang anak panah ke arah tubuhnya!

Namun, Tek Hoat telah siap waspada dan begitu mendengar bunyi berdesir dari bawah, dia telah meloncat ke atas dan mengelak, lalu turun lagi di atas dinding tembok di depan.

Kiranya semenjak benteng itu kebobolan, Im-kan Ngo-ok telah memasang jebakan-jebakan di atas tembok benteng dan satu di antara alat jebakan itu tadi terinjak oleh Tek Hoat.

Tek Hoat terus berloncatan di atas tembok benteng yang berlapis-lapis itu, dari tembok pertama ke atas tembok ke dua.

Dia melihat bayangan di belakangnya tetap mengikutinya akan tetapi dia tidak peduli dan terus meloncat ke tembok sebelah dalam.

Tiba-tiba dia terkejut sekali ketika tembok yang diinjaknya bergoyang dan melesak ke bawah!

Karena secara tiba-tiba tubuhnya terjeblos ke bawah, tentu saja dia tidak dapat meloncat lagi ke atas dan ketika dia memandang ke bawah, ternyata di bawahnya telah menanti ujung-ujung tombak yang meruncing.

Dari atas, ujung-ujung tombak itu kelihatan menyeramkan dan orang yang terjatuh ke tempat itu tentu akan tembus-tembus tubuhnya oleh puluhan batang tombak itu.

Untuk meloncat ke lain tempat sudah tidak mungkin lagi, maka mau tidak mau Tek Hoat harus terus meluncur ke bawah!

Dia cepat mengerahkan ginkangnya dan ketika ujung-ujung tombak itu telah dekat sekali, dia menggunakan ujung kakinya menotol ujung tombak dan mengenjot ke atas untuk mematahkan tenaga luncuran tubuhnya, Kemudian dia turun lagi dan hinggap dengan kedua kakinya ke atas ujung dua batang tombak.

Akan tetapi tombak itu terpasang kuat sekali, terpaksa dia mengerahkan tenaganya dan mematahkan tenaga luncuran tubuhnya, kemudian dia turun lagi dan hinggap dengan kedua ka-kinya ke atas ujung dua batang tombak seperti seekor burung saja!

Dengan berjongkok tangannya mencabut sebatang tombak.

Akan tetapi tombak itu terpasang kuat sekali, terpaksa dia mengerahkan tenaganya dan mematahkan gagang tombak itu, lalu dia mengenjot tubuhnya meloncat ke atas.

Ketika dia tidak mencapai atas tembok, dia menggunakan tombak patahan tadi untuk menyodok dinding dan dengan tenaga sodokan ini dia dapat berpoksai lagi ke atas.

sehingga akhirnya dapat juga dia hinggap di atas tembok kembali.

"Bagus sekali....!"

Pujian ini terdengar dari bayangan yang masih mengikutinya dari jauh.

Akan tetapi Tek Hoat tidak peduli lagi dan melanjutkan penyelidikannya, meloncat terus ke tembok sebelah dalam lagi.

Kini Tek Hoat telah tiba di lapisan tembok benteng yang paling dalam.

Tiba-tiba terdengar suara berdering-dering ketika kakinya menyangkut tali rahasia dan Tek Hoat melihat pasukan berbondong-bondong datang ke sebelah dalam tembok.

Bahkan ada pasukan dua puluh orang lebih yang menghujankan anak panah ke arah dia berdiri di atas tembok.

Akan tetapi, Tek Hoat sama sekali tidak menjadi gentar, dia malah terus meloncat ke dalam sambil memutar tombak yang dicabutnya dari tempat jebakan tadi dan semua anak panah dapat ditangkisnya dan runtuh ke bawah.

Dengan ringan kakinya menginjak tanah di tengah-tengah lapangan di sebelah dalam benteng itu dan sebentar saja dia sudah terkurung oleh pasukan penjaga yang banyak sekali.

Akan tetapi, pemuda ini berdiri tenang dan sepasang matanya bersinar-sinar menyeramkan.

Tidak ada anggauta pasukan yang berani menyerang karena selain tidak ada perintah dari atasan, juga mereka maklum bahwa yang datang ini adalah seorang pemuda yang lihai sekali, seperti Si Naga Sakti dan isterinya yang juga datang ke benteng ini beberapa hari yang lalu.

Menghadapi orang-orang sakti seperti ini bukanlah tugas mereka dan memang benar saja, tak lama kemudian terdengar aba-aba dari komandan mereka untuk membuka jalan dan nampaklah Koksu Nepal dan para pembantunya menghampiri tempat itu dan berhadapan dengan Tek Hoat yang memandang kepada rombongan ini dengan sikap tenang dan sinar mata tajam penuh selidik.

"Ha-ha-ha, dia adalah Si Jari Maut! Dari tadi aku sudah mengenalnya!"

Tiba-tiba terdengar suara dan muncullah Hek-hwa Lo-kwi. Juga Hek-tiauw Lo-mo yang ikut datang bersama Koksu Nepal segera mengenal pemuda itu.

"Ang Tek Hoat si Jari Maut, mau apa kau berkeliaran ke sini?"

Bentaknya. Tek Hoat memandang kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, kemudian terdengar dia berkata dengan sikap angkuh dan tenang.

"Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, apakah kalian menjadi pimpinan di sini ataukah hanya sebagai pembantu-pembantu belaka? Kalau begitu, siapakah pemimpinnya? Aku mau bicara dengan pemimpin benteng ini."

Begitu mendengar julukan Si Jari Maut, biarpun dia belum pernah mendengar julukan yang memang belum lama terkenal di dunia kang-ouw ini, namun koksu sudah merasa kagum.

Orang yang mendapat pujian dari dua orang kakek iblis itu tentulah bukan orang biasa, dan pemuda ini masih begini muda, dan cekatan pula, buktinya dapat melalui jebakan-jebakan dengan begitu mudah.

Maka dia lalu melangkah maju dan tersenyum lebar.

"Kami, koksu dari Nepal, adalah yang mewakili Pangeran Bharuhendra memimpin benteng ini. Ang-sicu sudah memerlukan malam-malam datang ke tempat ini, ada keperluan apakah?"

Tanyanya dengan sikap ramah.

Sinar bulan tenggelam, akan tetapi sebagai gantinya, banyak obor dinyalakan untuk membantu penerangan lampu yang banyak tergantung di tempat itu sehingga Tek Hoat dapat mengamati wajah banyak orang itu.

Kini dia berhadapan dengan Ban Hwa Sengjin dan setelah sejenak memandang wajah kakek ini dengan penuh selidik, dia lalu berkata dengan lantang.

"Kiranya yang memimpin adalah koksu dari Nepal! Sungguh hebat benteng ini, dan kulihat banyak orang-orang pandai membantu di sini. Koksu, aku sama sekali tidak mau mencampuri urusan pemberontakan. Aku datang untuk urusan pribadi, yaitu aku mencari Puteri Bhutan...."

"Ah, Puteri Syanti Dewi?"

Koksu Nepal itu memotong sambil tersenyum lebar.

"Benar!"

Jantung Tek Hoat berdebar keras.

"Bukankah dia berada di sini? Aku datang untuk mencari dia!"

"Ah, tentu saja sang puteri berada di sini, Ang-sicu. Beliau berada di sini sebagai tamu agung!"

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

"Hem, siapakah yang tidak tahu bahwa Nepal selamanya tidak pernah bersahabat dengan Bhutan?"

Mendengar ini, Koksu Nepal terkejut dan tiba-tiba Gitananda berbisik dalam bahasa Nepal kepada koksu itu. Wajah koksu itu menjadi berseri.

"Aha, kiranya engkau adalah panglima muda yang amat terkenal di Bhutan, yang pernah akan menjadi mantu Raja Bhutan itu? Ah, sungguh kebetulan sekali! Agaknya engkau telah meninggalkan Bhutan dan tidak tahu bahwa antara Bhutan dan Nepal telah terjadi persahabatan. Buktinya, Puteri Syanti Dewi kini menjadi tamu kami, diantar oleh panglimanya."

Dia lalu bicara kepada Gitananda untuk memanggil Mohinta.

Tek Hoat terkejut melihat munculnya panglima muda Bhutan itu di situ.

Sebaliknya, ketika Mohinta melihat Tek Hoat, dia menjadi marah sekali dan bersama para pengikutnya, dia sudah melolos senjata dan hendak menyerang.

Akan tetapi koksu mengangkat tangannya dan memberi isyarat kepada Mohinta untuk mundur.

"Ang-sicu, kau lihat sendiri, Panglima Mohinta dari Bhutan sendirilah yang mengawal Sang Puteri Syanti Dewi dan menjadi tamuku. Kita semua adalah merupakan satu keluarga, mengingat bahwa Sicu juga sudah berjasa untuk Bhutan. Nah, sekarang katakanlah, apa maksud kedatanganmu? Sebagai kawan ataukah sebagai lawan?"

Semua orang terkejut dan merasa heran mendengar ucapan koksu yang mengaku bahwa Puteri Bhutan itu berada di situ sebagai tamu.

Padahal, bukankah puteri itu telah terculik orang dan sampai kini beium diketahui di mana adanya?

Akan tetapi tidak ada orang yang tahu akan kelicikan koksu ini.

Dia memang sengaja mengatakan bahwa Syanti Dewi masih berada di situ, karena dia mempunyai rencana yang dianggapnya baik sekali untuk dapat menahan pemuda yang lihai ini agar dapat membantunya.

"Terserah kepada koksu akan menganggap aku sebagai kawan atau lawan. Maksud kedatanganku sudah jelas, yaitu aku ingin melihat Puteri Syanti Dewi dalam keadaan selamat.

"Ha-ha-ha, permintaan yang amat mudah, Ang-sicu. Tentu engkau maklum bahwa keselamatan sang puteri sepenuhnya berada di tangan kami. Kalau Sicu mau membantu kami, sudah pasti sang puteri akan selamat...."

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak hendak mencampuri urusan pemberontakanmu!"

Tek Hoat memotong cepat.

"Baiklah, setidaknya asal engkau suka berjanji bahwa engkau tidak akan membantu fihak musuh kami dan bahwa engkau suka melindungi Puteri Syanti Dewi di sini."

"Tentu saja aku akan suka melindunginya dari siapapun juga!"

Jawab Tek Hoat.

"Akan tetapi biarkan aku lebih dulu bertemu dengan dia."

"Ang-sicu, hendaknya Sicu maklum bahwa setelah Sicu berada di dalam benteng, maka kamilah yang menentukan segala sesuatu, karena betapapun lihainya Sicu, seorang diri saja tidak berdaya terhadap kami. Sicu baru saja datang, tentu tidak baik kalau bertemu dengan sang puteri. Akan tetapi tunggulah satu dua hari, kalau memang Sicu benar-benar mau tinggal di sini melindunginya dan memperlihatkan iktikad baik bahwa Sicu bukan mata-mata musuh kami, barulah Sicu akan dapat bertemu dengan Puteri Syanti Dewi."

Tek Hoat memandang ke sekeliling.

Dia melihat bahwa selain Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, juga terdapat banyak orang yang kelihatan berilmu tinggi.

Semua tokoh ini sudah berbahaya, apalagi ditambah dengan banyak pasukan dan keadaan benteng yang kokoh kuat, memang kalau dia menggunakan kekeras-an hal itu adalah bodoh sekali.

Apalagi setelah ada kepastian bahwa Syanti Dewi berada di situ dan dalam keadaan selamat, apalagi yang dikehendakinya?

Dia harus bersabar sampai dia benar-benar bertemu dengan Syanti Dewi, setelah bertemu barulah dia akan mencari akal bagaimana untuk dapat membawa keluar puteri itu dari benteng ini.

Kalau hal ini tidak mungkin, setidaknya dia berdekatan dengan wanita yang dicintanya itu dan dapat melindunginya dari gangguan siapapun juga dengan taruhan nyawanya.

"Baiklah, asal benar-benar dia berada di sini, aku akan melindunginya di sini dan tidak akan mencampuri urusan kalian dengan mnusuh-musuh kalian,"

Katanya.

Tek Hoat lalu diberi sebuah kamar dan diam-diam gerak-geriknya selalu diikuti.

Pemuda ini pun tidak memperlihatkan sikap mencurigakan karena dia hanya menanti sampai dia dapat dipertemukan dengan kekasihnya.

Satu dua hari, kata koksu.

Baik, dia akan bersikap baik selama dua hari sampai dia benar-benar melihat sang puteri dalam keadaan selamat.

Sementara itu, kalau semua orang merasa heran, koksu dengan tenang lalu memanggil pembantunya yang ahli dalam hal itu, yaitu Ang-siocia dan gurunya, yaitu Hek-sin Touw-ong.

Adanya dua orang yang pandai melakukan penyamaran inilah yang membuat koksu tanpa ragu-ragu mengatakan kepada Tek Hoat bahwa Syanti Dewi memang berada di situ sebagai tamu!

"Pemuda selihai itu sebaiknya kalau berfihak kepada kita,"

Kata koksu kepada para pembantunya setelah Ang-siocia dan gurunya hadir.

"atau setidaknya, dalam menghadapi masa gawat ini, sebaiknya kalau dia di sini dan tidak membantu musuh. Karena itulah aku menggunakan dalih adanya Puteri Syanti Dewi untuk menahan dia di sini, dan untuk melaksanakan akal ini, aku mengharapkan bantuan Kang-siocia, dan Hek-sin Touw-ong."

Dara itu saling pandang dengan guru-nya.

Mereka itu semenjak berada di dalam benteng, tidak pernah melihat kesempatan untuk melarikan diri karena biarpun mereka itu dianggap pembantu-pembantu, akan tetapi seperti juga Jenderal Kao, mereka adalah pembantu-pembantu yang dicurigai sehingga selalu terjaga dan tidak pernah diperkenankan keluar dari benteng.

"Memang hal itu mudah dilakukan karena kami melihat di sini banyak wanita Nepal yang potongan wajahnya agak mirip sang puteri sehingga mudahlah untuk meriasnya sehingga tidak akan ada bedanya dengan wajah sang puteri sendiri, kata Touw-ong."

"Menghias mukanya memang mudah sekali, juga pakaian dan gerak-geriknya, akan tetapi meniru suaranya harus dipimpin oleh seorang yang mengenal betul cara sang puteri bicara,"

Kata Kang-siocia.

"Kalau benar Ang Tek Hoat itu dahulu adalah tunangan sang puteri, tentu dia akan dapat mengenal cara wanita itu bicara."

"Bagus!"

Kata Ban Hwa Sengjin berseru girang.

"Soal cara bicara dan lagaknya, di sini terdapat Mohinta yang akan mampu melatihnya karena dia tentu hafal akan kebiasaan sang puteri bicara dan bersikap."

Mohinta mengangguk-angguk, sungguhpun di dalam hatinya dia tidak setuju kalau Tek Hoat diterima sebagai sekutu di tempat itu.

Menurut keinginannya, pemuda itu sebaiknya dibunuh saja!

Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani membantah kehendak Koksu Nepal yang bertindak demi kepentingan benteng.

Mudah saja bagi Kang-siocia dan gurunya untuk menyulap seorang dayang Nepal yang menjadi pelayan Pangeran Bharuhendra, menjadi Puteri Syanti Dewi.

Biarpun baru satu kali guru dan murid ini melihat Syanti Dewi, namun ingatan mereka kuat sekali, dan pula di situ terdapat Mohinta dan para bekas dayang yang melayani sang puteri sehingga mereka ini dapat memberi petunjuk.

Dalam waktu satu dua jam saja berubahlah seorang dayang menjadi Puteri Syanti Dewi dari Bhutan!

Dari rambut sampai ke kakinya, persis sekali!

Kini tinggal melatih dayang itu untuk bersikap dan bicara seperti Syanti Dewi dan hal inilah yang lebih sukar sehingga membutuhkan waktu dua hari di bawah pimpinan Mohinta, baru dayang itu dapat meniru dan agak mirip dengan gerak-gerik dan cara bicara Puteri Bhutan itu.

Oleh karena itu, Koksu Nepal memesan kepada dayang itu untuk bicara seperlunya saja dan wanita ini sudah dilatih sampai hafal betul apa yang harus diucapkannya kalau dia sebagai Puteri Syanti Dewi bertemu dengan Ang Tek Hoat!

Demikianlah, setelah dua hari lamanya menanti di situ, akhirnya Ang Tek Hoat ditemui oleh koksu dan kakek ini tertawa lebar.

"Ha-ha-ha, girang hati kami melihat bahwa engkau ternyata tidak memperlihatkan sikap buruk, Sicu. Maka, sekarang kami memenuhi janji untuk mempertemukan engkau dengan Puteri Bhutan. Tentu saja hanya terbatas, pokoknya Sicu dapat membuktikan bahwa dia selamat di sini dan dapat bicara sepatah dua patah kata."

Tek Hoat tidak memperhatikan syarat itu karena hatinya sudah berdebar penuh ketegangan dan juga kegirangan.

Semenjak dia meninggalkan Bhutan, hatinya menderita hebat oleh rasa rindunya kepada Syanti Dewi dan dia sudah merasa putus asa karena tidak mungkin dia akan dapat bertemu lagi dengan kekasihnya itu.

Maka ketika dia mendengar bahwa Syanti Dewi meninggalkan Bhutan dan berada di timur, dia mencari-cari sampai akhirnya sekarang tiba saatnya dia akan bertemu muka, berhadapan dan bicara dengan kekasihnya itu!

Jantungnya berdebar-debar dan dia hanya dapat mengangguk kepada Ban Hwa Sengjin dengan perasaan berterima kasih.

Mereka menuju ke satu bagian di dalarn benteng itu dan dari dalam sebuah pintu di pondok besar, muncullah Syanti Dewi dengan gerak-geriknya yang lemah lembut dan harus diiringkan oleh beberapa orang dayang.

Ketika Syanti Dewi melihat Tek Hoat, dia mengeluarkan seruan tertahan dan berhenti melangkah, lalu memandang dengan mata terbelalak kemudian menundukkan mukanya, lalu jari-jari tangannya mempermainkan ujung bajunya.

Kebiasaan sang puteri kalau sedang tegang, kebiasaan yang amat dikenal oleh Tek Hoat!

"Dewi....!"

Tek Hoat berseru lirih dan melangkah maju, lehernya seperti dicekik rasanya karena terharu dan juga girang.

Ternyata kekasihnya itu benar-benar dalam keadaan selamat dan hal ini amat menggirangkan hatinya!

"Terima kasih kepada Thian bahwa engkau masih dalam keadaan sehat dan selamat!"

Hanya demikianlah Tek Hoat dapat berseru dengan girang sekali.

"Ang Tek Hoat"

Terdengar sang puteri berkata dengan suara agak gemetar, tanpa mengangkat mukanya.

"Mau apakah engkau minta bertemu dengan aku....?"

Dalam suara itu terkandung kedukaan dan kemarahan.

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

Biasanya, Puteri Syanti Dewi menyebut koko atau kanda, kini menyebut namanya begitu saja.

Dia dapat mengerti bahwa tentu sang puteri ini marah kepadanya, dan dia dapat mengerti mengapa puteri ini marah kepadanya.

"Dinda Syanti Dewi, engkau tahu.... betapa berat hatiku berpisah.... dan betapa kaget hatiku mendengar engkau berada di sini, meninggalkan Bhutan. Aku hanya ingin melihat engkau selamat dan bahagia...."

Tek Hoat mengeluarkan isi hatinya tanpa malu dan sungkan lagi sungguhpun di situ terdapat empat orang dayang dan juga terdapat Ban Hwa Sengjin.

Bahkan dia melihat bayangan beberapa orang berkelebatan tak jauh dari situ.

Dan memang diam-diam empat orang Im-kan Ngo-ok lainnya bersiap-siap tidak jauh dari tempat itu, menjaga kalau-kalau Tek Hoat melihat penyamaran itu.

Puteri palsu itu sengaja menyebut Tek Hoat dengan namanya saja karena hal ini sudah diperhitungkan baik-balk oleh Mohinta yang mengatur percakapan itu!

Maka berkatalah puteri itu sesuai dengan hafalannya.

"Ang Tek Hoat, engkau telah pergi tanpa pamit, bahkan telah menimbulkan kemarahan di hati ayahku, oleh karena itu sesungguhnya sudah tidak ada apa-apa lagi antara kita. Akan tetapi kalau engkau memperlihatkan bantuan untuk menghadapi musuh dari Pangeran Nepal, baru aku mau mengenalmu lagi. Nah, sampai jumpa pula.... dan semoga kau berhasil!"

Setelah berkata demikian, puteri palsu itu membalikkan tubuhnya dan diiringkan oleh para dayang dia masuk, kembali ke dalam pondok.

"Syanti....! Syanti Dewi....!"

Tek Hoat berseru akan tetapi sesuai dengan petunjuk yang telah diterimanya, puteri itu tidak mau berhenti atau menoleh.

Daun pintu ditutupkan oleh para dayang dan ketika Tek Hoat melangkah ke depan, Ban Hwa Sengjin sudah mendekatinya dan menegurnya.

"Sicu, pondok ini khusus untuk sang puteri, tidak ada pria yang boleh masuk. Marilah kita bicara. Saya kira sang puteri sudah cukup jelas bicara."

Seperti orang yang kehilangan semangat Tek Hoat mengikuti Koksu Nepal dan dengan ucapan Syanti Dewi masih terngiang di telinganya, apalagi kata-kata terakhir "semoga kau berhasil!"

Berkesan di dalam hatinya, dia mendengarkan bujukan-bujukan Koksu Nepal dan akhirnya dia menyetujui untuk melindungi sang puteri di dalam benteng itu dan akan membantu menghalau musuh yang membahayakan keselamatan Syanti Dewi sedapat mungkin!

Selagi koksu membujuk Tek Hoat, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan datanglah penjaga melapor bahwa pasukan Gubernur Ho-nan datang berlari-larian, nampaknya ketakutan dan mengalami kekalahan!

Mendengar ini, Ban Hwa Sengjin cepat pergi melapor kepada Pangeran Bharuhendra yang cepat keluar dan pintu gerbang dibuka lebar untuk menyambut datangnya sang gubernur bersama pasu-kannya yang melarikan diri dari Lok-yang itu.

Sang Gubernur Kui Cu Kam dengan muka pucat dan napas terengah-engah menceritakan betapa pasukan besar yang dipimpin oleh Puteri Milana telah menggempur Lok-yang dan telah menduduki semua kota, dan tentu akan segera menyerbu ke lembah.

Dalam pertemuan ini, dengan singkat Tek Hoat diperkenalkan kepada sang pangeran oleh Koksu Nepal.

Pangeran Liong Bian Cu sudah mendengar laporan lengkap tentang Tek Hoat, maka dia pun menyatakan kegirangannya bahwa pemuda itu suka membantunya.

Kemudian, pangeran memerintahkan agar semua pembantunya dikumpulkan dan diadakanlah persidangan kilat untuk mengatur rencana dan siasat menghadapi musuh yang sudah mengancam.

Kepada Jenderal Kao Liang yang juga diharuskan hadir, sang pangeran berkata.

"Sekaranglah tiba saatnya engkau memperlihatkan kepandaianmu dan memenuhi janjimu, Jenderal Kao!"

Jenderal yang tua itu dengan wajah muram mengangguk.

"Saya akan memperlihatkan bahwa janji saya akan tetap saya penuhi, dan tidak akan ada pasukan manapun yang mampu membobolkan benteng ini!"

Jenderal Kao Liang lalu berpamit mundur untuk mulai mengatur penjagaan dan membagi-bagi tugas kepada para komandan bawahannya.

Pangeran Liong Bian Cu mengajak Gubernur Kui Cu Kam untuk bicara di dalam sedangkan persida-ngan itu dilanjutkan oleh Koksu Nepal yang membagi-bagi tugas kepada para tokoh pembantunya untuk memperkuat kedudukan benteng di sebelah dalam, karena kedudukan di sebelah luar seluruhnya menjadi tanggung jawab Jenderal Kao Liang.

Sibuklah semua orang yang menanti dengan jantung berdebar tegang karena para pasukan gubernur yang melarikan diri ke benteng itu bercerita betapa kuatnya pasukan kota raja yang dipimpin oleh Puteri Milana yang memang terkenal pandai sekali dalam hal memimpin pasukan itu.

Puteri Milana ini memang mengingatkan kaum tua kepada Puteri Nirahai, ibunya, yang dahulu juga merupakan seorang panglima besar yang amat pandai.

Tek Hoat juga memperoleh bagian dalam pembagian kerja itu, yaitu dia harus melindungi bagian bangunan di mana juga tinggal Puteri Syanti Dewi.

Tentu saja pemuda ini menerima tugas itu dengan girang dan dia pun bersungguh-sungguh, karena dia akan melindungi sang puteri dengan taruhan nyawanya.

Pada keesokan harinya, muncullah pasukan kerajaan yang telah dinanti-nanti dengan hati penuh ketegangan oleh semua orang di benteng itu!

Pasukan yang besar dan berbaris rapi, dipimpin oleh Puteri Milana.

Dari atas menara di tembok benteng, sudah nampak debu mengepul tinggi ketika pasukan itu datang dari jauh, kemudian makin lama nampak-lah barisan itu seperti serombongan semut yang bergerak dengan teratur.

Jantung mereka yang memandang dari atas menara berdebar tegang karena gerakan pasukan besar itu memang amat menyeramkan.

Di atas tebing bukit yang tinggi dari mana orang dapat melihat tembok benteng di kejauhan, Milana memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti.

Pembawa bendera menggerak-gerakkan bendera sebagai isyarat dan barisan itu pun berhenti.

Puteri Milana menunggang seekor kuda besar berbulu hitam, diiringkan oleh beberapa orang panglima dari kota raja.

Gagah dan cantik sekali puteri ini, seorang wanita berusia empat puluh tahun namun kelihatan masih muda, dengan wajah yang cantik dan matang, kelihatan angker dan mendatangkan rasa hormat ketika dia duduk dengan tenang di atas kuda yang besar itu, memegang kendali dengan tangan kiri.

Pakaiannya tertutup oleh baju perang bersisik baja berwarna kuning emas, sehelai mantel merah menutupi pundak dan punggungnya.

Rambutnya disanggul ke atas dan ekor rambut berjuntai ke belakang diikat dengan pita kuning.

Sebatang pedang dengan sarung pedang terukir indah tanda bahwa pedang itu adalah pedang kebesaran dari kota raja, dari istana, tergantung dipinggang kirinya.

Hati setiap orang perajurit tentu akan penuh semangat kalau memandang kepada pemimpinnya seperti itu!

Milana membagi-bagi barisannya dalam pasukan-pasukan yang diberi nama Pasukan Srigala, Pasukan Harimau, Pasukan Naga, dan lain nama binatang yang perkasa pula.

Para komandan masing-masing pasukan memakai lukisan binatang yang menjadi tanda pasukannya, demikian pun setiap pasukan membawa bendera lambang pasukan berupa gambar binatang itu.

Hal ini untuk memudahkan mereka saling mengenal dan sifat setiap pasukan disesuaikan pula dengan lambang binatang yang menjadi nama mereka.

Setelah semua pasukan berhenti, Milana mengamati keadaan benteng yang nampak dari jauh dan kelihatan sunyi itu.

Dia sudah mempelajari keadaan tempat di sekitar benteng itu dari gambar yang dibuat oleh para penyelidik, Maka kini dia memandang untuk mempelajari keadaan itu sesuai dengan gambar yang pernah dipelajarinya.

Memang sebuah benteng yang amat kuat, pikirnya.

Dan hatinya terasa perih kalau dia teringat bahwa benteng itu dibuat atas petunjuk Jenderal Kao Liang!

Keadaan benteng yang angker, sunyi dan kelihatan kokoh kuat itu benar-benar menggiriskan hati, berbeda dengan benteng-benteng lain di mana kelihatan anggauta pasukan penjaga hilir-mudik dan kelihatan sibuk.

Tidak, benteng ini seperti kosong saja, dari luar tidak nampak seorang pun penjaga.

Milana masih duduk di atas pelana kudanya dan memandang ke arah benteng dengan alis berkerut dan sinar mata melamun.

Dari sebelah kanannya datang seorang Panglima Pasukan Srigala yang melapor dengan suara tegas.

"Laporan, Panglima! Para penyelidik melaporkan bahwa benteng itu tak dapat diserang dari belakang karena membelakangi tebing sungai yang penuh rawa-rawa liar dan berbahaya. Kanan dan kirinya tertutup jurang yang dalam. Laporan selesai!"

Milana mengangguk-angguk.

"Hemmm, jadi cocok dengan keterangan dalam gambar. Kalau begitu, siapkan pasukan, jalan satu-satunya hanyalah menyerang dari depan untuk mencoba sampai di mana ketangguhan lawan. Akan tetapi, kalau ternyata fihak lawan kuat sekali, jangan memaksakan diri, tunggu tanda untuk mundur agar jangan sampai kehilangan banyak anak buah menjadi korban!"

Komandan itu lalu mundur dan Milana memberi perintah kepada pemegang bendera isyarat untuk menyampaikan perintahnya.

Pemegang bendera itu berdiri di atas batu besar dan menggerakkan benderannya dengan gerakan-gerakan tertentu agar terbaca oleh semua komandan.

Perintah dari Panglima Puteri Milana adalah agar Pasukan Srigala maju menyerang pintu gerbang depan benteng itu sedangkan pasukan-pasukan lain hanya bersiap di kanan kiri sesuai dengan kedudukan mereka tanpa ikut menyerang, hanya melindungi kalau-kalau Pasukan Srigala terdesak agar membantu mereka mundur dengan selamat.

Pasukan Srigala yang terdiri dari sepuluh ribu orang itu lalu dikerahkan dan mulailah pasukan ini menyerang dan menyerbu benteng dari pintu gerbang depan.

Setelah jarak mereka mulai dekat dan sejauh sasaran anak panah, tiba-tiba dari atas tembok benteng itu berhamburan datang anak panah dan batu-batu bagaikan hujan menyambut mereka!

Hal seperti ini tidak mengejutkan pasukan yang sudah berpengalaman itu dan memang sudah mereka duga lebih dulu.

Maka mereka pun cepat mengangkat perisai masing-masing untuk melindungi diri dan mereka terus menyerbu sambil bersorak-sorak, dan pasukan-pasukan bagian panah lalu membalas dengan melepaskan anak panah mereka ke tembok benteng, tubuh mereka dilindungi oleh teman yang mengangkat perisai besar.

Hiruk-pikuk bunyi anak panah dan batu menimpa perisai-perisai itu.

Puteri Milana menyaksikan penyerbuan Pasukan Srigala itu dengan seksama sambil memandang ke arah atas tembok benteng.

Dari menara tembok itu dia melihat bendera merah dikibarkan dan tiba-tiba anak panah dan batu yang meluncur bagaikan hujan dari atas tembok itu berhenti.

Pasukan Srigala masih menyerbu terus, kini sudah mulai menaiki lereng menuju ke pintu gerbang.

"Perintahkan mereka mundur!"

Tiba-tiba Milana berseru dan pemegang bendera lalu memberi isyarat, disusul bunyi tambur sebagai perintah kepada pasukan itu.

Namun terlambat, karena tiba-tiba saja pintu gerbang terbuka dan dari dalam pintu gerbang itu keluar batu-batu besar bergulingan ke bawah lereng, juga dari atas tembok dilempar-lemparkan batu-batu sebesar kepala orang ke bawah sehingga batu-batu ini pun bergulingan ke bawah menyambut pasukan musuh!

Diserang secara bertubi-tubi dan mendadak ini, Pasukan Srigala menjadi terkejut.

Mereka berusaha menyingkir dan berloncatan ke sana-sini, Akan tetapi banyak pula di antara mereka yang tertimpa dan tertumbuk batu-batu besar sehingga ramailah suara mereka yang diserang oleh batu-batu ini.

Terpaksa mereka mundur secara tidak teratur dan dalam penyerbuan pertama ini Pasukan Srigala kehilangan dua ratus orang lebih.

Milana melihat dari atas dan nampak olehnya betapa pintu gerbang tertutup kembali dan bendera merah di atas menara itu bergerak-gerak memberi tanda.

Tembok benteng musuh kembali menjadi sunyi dan tidak nampak seorang pun perajuritnya!

Milana menarik napas panjang.

Hebat, pikirnya.

Benar-benar Jenderal Kao Liang telah bekerja untuk musuh!

Baik, dia pun harus melawan dengan kekerasan!

Dia memberi kesempatan agar Pasukan Srigala memulihkan tenaga dan mengatur kembali keberesan pasukan itu.

Kemudian terdengar aba-abanya nyaring.

"Lepaskan panah berapi!"

Pasukan anak panah lalu berindap-indap memencar dari depan, kanan dan kiri, dan tak lama kemudian berluncuranlah anak panah yang membawa api menuju ke benteng itu.

Akan tetapi, karena benteng itu berlapis-lapis, maka anak-anak panah berapi itu hanya mengenai tembok benteng di sebelah dalam, tidak mengenai bangunan-bangunan di dalam benteng.

Betapapun juga, hujan anak panah berapi itu membuat para perajurit di dalam benteng terpaksa berlindung dan memadamkan api begitu anak panah itu menimpa tembok sebelah dalam.

Sementara itu, diam-diam Milana lalu memberi perintah kepada pasukan untuk menggali lubang-lubang naik ke lereng itu.

Kemudian, tiba-tiba Puteri Milana memerintahkan tiga pasukan, yaitu Pasukan Harimau, Pasukan Naga, dan Pasukan Singa untuk menyerbu dari kanan kiri dan tengah, didahului oleh pasukan yang mengerjakan penggalian-penggalian itu.

Kembali hujan anak panah dan batu, yang dibalas oleh serangan anak panah dari pasukan kerajaan.

Seperti juga tadi, ketika pasukan penyerbu sudah mulai naik ke lereng, batu-batu besar berjatuhan dari atas dan keluar dari pintu gerbang.

Akan tetapi kini pasukan-pasukan itu sudah siap.

Cepat mereka bertiarap ke dalam lubang-lubang itu sehingga batu-batu yang menggelundung itu melewati tubuh mereka.

Ada pula yang terkena, akan tetapi tidak begitu banyak dan sebagian besar pasukan selamat dan setelah hujan batu mereda, mereka terus mendaki naik sambil menggali lubang-lubang berikutnya.

Siasat Milana ini berhasil dan akhirnya tiga pasukan itu dapat bergabung dan sambil bersorak-sorak mereka lari menuju ke depan.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka disambut oleh teriakan yang mengejutkan dan dari dalam tanah di depan tembok benteng itu terbuka lubang-lubang dan ternyata di situ terdapat pasukan-pasukan pendam yang sudah lama menanti.

Begitu keluar dari tempat persembunyian mereka, pasukan pendam ini melepaskan anak panah dari kanan kiri, sedangkan pasukan inti menyerbu dari tengah, dan kini pintu gerbang terbuka dan bersama dengan bunyi tambur dan teriakan-teriakan menggegap-gempita, keluarlah pasukan besar menyerbu dari tengah, menghimpit pasukan kerajaan dari kanan kiri dan tengah.

Terjadilah pertempuran yang hebat, akan tetapi pasukan kerajaan sama sekali tidak mampu untuk mendesak musuh.

Bahkan mereka yang mencoba untuk mendekati tembok, menerima siraman-siraman air panas dari atas tembok sehingga mereka terpaksa mundur kembali!

Melihat ini, kembali Milana memerintahkan mundur semua pasukan.

Serangan yang ke dua itu pun gagal dan ternyata lebih dari seribu orang anak buah pasukan tewas!

Setelah dua kali kegagalan ini dan melihat betapa, tembok benteng itu kembali sunyi, Milana lalu menarik mundur pasukannya dan membiarkan mereka mengaso.

Dia sendiri lalu mengadakan perundingan dengan para panglima kerajaan menghadapi benteng musuh yang demikian kuatnya.

Dia tahu atau dapat menduga bahwa yang menggerakkan bendera merah di menara itu tentulah Jenderal Kao, atau setidaknya tentulah pembantu jenderal yang pandai itu.

Untuk menyerbu secara nekat dan membobolkan benteng dengan kekerasan, Agaknya lebih dulu akan mengorbankan banyak sekali perajurit dan hasilnya pun belum dapat menyakinkan, mengingat betapa kuatnya penjagaan di benteng itu.

Malam tiba dan Milana masih melakukan perundingan dan mencari siasat bersama para panglima pembantunya, mencari-cari kemungkinan untuk menyerbu dengan lain cara.

Sementara itu, pendekar Gak Bun Beng yang mendahului pasukan isterinya, menyusup-nyusup melalui hutan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho dan dia melihat Kok Cu dan Ceng Ceng yang bersembunyi di tepi sungai.

Dia lalu muncul di depan suami isteri pendekar itu.

Kok Cu dan isterinya terkejut sekali ketika tiba-tiba melihat bayangan berkelebat.

Orang yang datang ini sama sekali tidak mereka ketahui, tanda bahwa orang ini hebat sekali ilmunya.

Akan tetapi ketika Ceng Ceng melihat siapa adanya orang itu, dia girang bukan main.

"Paman Gak Bun Beng....!"

Serunya ketika melihat pria yang berdiri sambil tersenyum di depannya itu.

Juga Kok Cu menjadi girang dan cepat dia memberi hormat.

Melihat pendekar ini, hati Ceng Ceng menjadi besar dan cepat dia bertanya.

"Paman, kapankah pasukan Bibi Milana akan menyerbu ke sini?"

"Dalam satu dua hari ini, kini telah berangkat setelah menduduki Lok-yang."

"Ah, Paman. Benteng itu kuat bukan main, dipimpin oleh...."

Ceng Ceng tidak melanjutkan karena merasa tidak enak kepada suaminya.

"Aku sudah tahu. Jenderal Kao Liang, ayah mertuamu itu terpaksa karena semua keluarganya ditawan, bukan? Tentu ada apa-apanya ini. Aku akan menyelidiki lebih dulu ke dalam, dan sebaiknya kalian menanti sampai pasukan kerajaan menyerbu. Eh, apakah kalian tidak bertemu dengan Suma Kian Bu? Dia sudah lebih dulu meninggalkan kota raja menuju ke sini!"

Kok Cu dan Ceng Ceng saling pandang dengan heran lalu menggeleng kepala.

"Kami bertemu dengan Ang Tek Hoat yang mencari Puteri Syanti Dewi dan dia memasuki lembah, entah apa jadinya dengan dia."

Ceng Ceng lalu menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Tek Hoat. Mendengar ini, Gak Bun Beng mengerutkan alisnya.

"Sungguh aneh sekali, mengapa Syanti Dewi kembali terbawa-bawa dalam pemberontakan ini dan dia berada di lembah? Ah, benteng di lembah itu mengandung banyak rahasia, dan hal ini makin mendorongku untuk lebih dulu masuk menyelidiki ke sana."

"Keadaan mereka kuat sekali.... Paman Gak,"

Kata Kok Cu yang merasa agak kaku menyebut paman kepada pendekar itu, akan tetapi karena memang pendekar itu adalah suami dari Puteri Milana, bibi dari isterinya, maka dia pun menyebut paman.

"Di sana terdapat Im-kan Ngo-ok, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, dan banyak lagi tokoh-tokoh kaum sesat. Karena putera kami juga tertawan di sana, maka kami terpaksa menahan diri dan mencari kesempatan untuk dapat menyelundup masuk dan menolong semua keluarga ayah."

Lalu Si Naga Sakti ini bercerita tentang puteranya yang juga terculik dan tahu-tahu sudah dibawa oleh penculik itu ke dalam benteng dan menjadi tawanan bersama keluarga ayahnya pula.

Mendengar ini, Gak Bun Beng menggeleng kepalanya dengan kagum dan juga penasaran sekali.

"Ah, agaknya Pangeran Liong Bian Cu putera Pangeran Liong Khi Ong yang ternyata juga menjadi Pangeran Nepal ini ternyata lebih cerdik dan berbahaya daripada ayahnya dahulu. Untuk mencapai cita-citanya, dia tidak segan-segan menggunakan segala macam kecurangan untuk memaksa Jenderal Kao memban-tunya dan membuatmu tidak berdaya pula dengan menguasai puteramu."

"Kalau hanya seorang anggauta keluarga saja yang ditawan, kami berdua tentu sanggup untuk menyelamatkannya, akan tetapi anggauta keluarga sedemikian banyaknya, tidak mungkin menggunakan kekerasan menolong mereka semua,"

Kata Kok Cu dengan penasaran.

"Paman Gak, kalau Paman sudah berhasil memasuki benteng, harap Paman sudi mengamat-amati keadaan putera kami, Kao Cin Liong."

Gak Bun Beng mengangguk.

Dia maklum bahwa bagi Kok Cu tidak mungkin mengajukan permintaan seperti itu karena selain puteranya, juga ayah bundanya, dan keluarga ayahnya semua tertawan di sana, akan tetapi bagi Ceng Ceng sebagai seorang ibu, tentu saja yang diingat hanyalah keselamatan puteranya.

"Jangan khawatir, tentu saja aku akan berusaha sedapat mungkin agar mereka itu tidak sampai terancam."

Bun Beng lalu bangkit berdiri.

"Nah, sebaiknya memang kalau kalian menanti sampai pasukan kerajaan menyerbu sehingga dalam kekacauan itu mereka tidak begitu memperhatikan kalian. Sebelum itu, kehadiran kalian di sana hanya membahayakan keselamatan keluarga kalian yang ditawan. Sampai jumpa,"

Setelah berkata demikian, Gak Bun Beng lalu meloncat pergi.

Diam-diam Ceng Ceng merasa berbesar hati setelah bertemu dengan pendekar itu karena dengan adanya bantuan pendekar sakti itu, keselamatan puteranya lebih terjamin.

Ke manakah perginya Kian Bu dan Hwee Li?

Mereka itu beberapa hari lebih dulu dari Gak Bun Beng meninggalkan kota raja menuju ke benteng di lembah.

Huang-ho, mengapa setelah Bun Beng sudah tiba di situ, dua orang muda ini belum kelihatan bayangannya?

Ternyata mereka berdua itu mengambil jalan memutar.

Mereka berdua sudah mengerti benar akan kekuatan di dalam benteng, dan sedikit banyak Hwee Li sudah mengenal keadaan di sekeliling benteng itu.

Maka mereka lalu mencari akal, yaitu hendak menyelidiki benteng itu dari samping, melalui jurang yang amat curam dan sukar, oleh karena itu mereka menggunakan waktu berhari-hari untuk mencari jalan melalui tempat yang amat sukar dan tak mungkin dilalui oleh pasukan atau manusia biasa itu.

Sampai beberapa hari lamanya Kian Bu dan Hwee Li mencari-cari jalan rahasia yang menurut Hwee Li terdapat di sekitar jurang itu, namun tanpa hasil.

Kian Bu mencela Hwee Li, mengatakan bahwa mungkin tidak ada jalan rahasia itu dan Hwee Li menjadi uring-uringan.

"Aku belum gila,"

Jawabnya marah.

"Kalau tidak ada, perlu apa aku bersusah payah mengambil jalan ini? Memang pintu rahasia itu belum kulihat di sebelah sini, akan tetapi aku sudah tahu di sebelah dalamnya menembus di taman, di belakang rumpun bambu kuning."

Mereka duduk di atas batu, menyeka peluh karena hari amat panas dan mereka sudah lelah sekali. Tiba-tiba Kian Bu meloncat berdiri.

"Aku pergi dulu...."

Bisiknya, matanya terus mengincar ke kiri, di mana terdapat semak-semak belukar.

"Mau apa? Ada apa?"

Hwee Li bertanya.

"Sssttt, kulihat berkelebatnya bayangan kelinci gemuk di sana tadi. Perutku lapar, aku akan menangkapnya untuk makan."

Kian Bu lalu berjingkat-jingkatan bergerak cepat tanpa suara mencari kelinci yang baru saja dilihatnya.

Sebentar saja bayangan pemuda itu sudah lenyap di balik semak-semak.

Hwee Li merasa panas hatinya karena agaknya keterangannya tentang jalan atau pintu rahasia itu tidak dipercaya oleh Kian Bu.

Dia bangkit berdiri, membanting-banting kakinya dan mulailah dia mencari lagi, mencari sendiri karena hatinya merasa penasaran sekali.

Ditelitinya setiap batu, setiap rumpun alang-alang atau semak-semak.

Sampailah dia di tepi jurang dan tiba-tiba dia tertegun memandang ke kanan dan cepat tubuhnya bergerak memutar, matanya terbelalak dan mukanya perlahan-lahan berubah merah, tanda bahwa dia mulai marah sekali melihat apa yang sedang terjadi di seberan jurang itu!

Apakah yang sedang dilihatnya?

Yang menimbulkan kemarahan hati Hwee Li ternyata adalah Suma Kian Lee dan Teng Siang In!

Seperti telah kita ketahui, dua orang muda ini pun setelah lolos dari tangan Im-kan Ngo-ok lalu pergi menyelidiki benteng.

Akan tetapi karena mereka maklum bahwa menyelidiki dari depan amatlah berbahaya, mereka lalu mengambil jalan memutar dan menyelidiki dari samping, melalui jurang-jurang seperti yang dilakukan oleh Kian Bu dan Hwee Li.

Ketika mereka harus menyeberangi sebuah jurang yang amat berbahaya, keduanya menggunakan akal.

Untuk meloncati jurang itu tidaklah mungkin karena di seberang sana terdapat semak-semak berduri sehingga tidak diketahui bagaimana keadaan tanah di tepi jurang di seberang.

Oleh karena itu, Kian Lee lalu mengumpulkan akar-akar yang panjang dan kuat, disambung-sambungnya, (Lanjut ke

Jilid 46) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 46 Kemudian dia mengikatkan ujungnya pada sebuah batu sebesar kepala orang dan melontarkan batu itu ke seberang sampai akar yang merupakan tambang itu melibat pada sebatang pohon dan ditariknya sehingga menegang dan cukup kuat untuk dipakai sebagai jembatan menyeberang.

Dan keduanya sedang menyeberangi tali dari akar yang kuat itu ketika Hwee Li melihat mereka.

Biarpun Siang In memiliki ginkang yang amat tinggi dan baginya merupakan pekerjaan amat mudah untuk menyeberang dan berjalan di atas tali seperti itu, jangankan hanya sepanjang itu, biarpun lima kali lebih panjang pun dia sanggup melakukannya.

Akan tetapi, dara ini ternyata merupakan seorang yang mudah merasa ngeri kalau berada di tempat yang curam, maka begitu dia mulai melangkah dan melihat ke bawah, dia menjerit tertahan.

"Aihhh.... aku.... aku ngeri....!"

Dan dia lalu menggerakkan payungnya, dibukanya payung itu dan dipergunakannya untuk membantu keseimbangan tubuhnya!

Padahal kalau dia tidak merasa ngeri, sambil berlari biasa pun dia sanggup melintasi jurang itu melalui tambang.

Melihat wajah dara itu mendadak menjadi pucat, Kian Lee menjadi tidak tega dan juga khawatir kalau-kalau saking ngerinya dara itu menjadi pingsan dan hal itu tentu saja amat berbahaya.

Karena itulah, dia pun lalu berjalan di belakang dara itu dan memegang tangan kiri Siang In sehingga Siang In menyeberangi tali akar itu dengan tangan kanan memegang payung dan tangan kiri digandeng Kian Lee.

Dan pemandangan inilah yang membuat wajah Hwee Li menjadi merah saking marahnya.

Cemburu menyesakkan dadanya.

Dia melihat Kian Lee bergandeng tangan demikian mesranya dengan seorang dara cantik yang memegang payung, seorang dara yang genit!

Tanpa disadarinya, tangan kanannya sudah menyambar sebuah batu sebesar kepala orang!

Menurut hatinya yang panas karena cemburu, ingin dia melontarkan batu itu untuk menyambit tali itu agar putus, akan tetapi dia teringat bahwa kalau tali itu putus, bukan hanya dara itu yang akan terjatuh ke dalam jurang, akan tetapi juga Kian Lee!

Maka ketika dia melihat betapa di ujung jurang itu terdapat tempat dangkal penuh lumpur, yaitu setelah hampir tiba di tepi jurang, dia menanti sampai dua orang itu berada di atas genangan lumpur itu, lalu dia menyambitkan batu di tangannya.

"Crottt....!"

Batu itu menimpa air lumpur dan tentu saja air lumpur itu muncrat ke atas dan Siang In yang berada di depan itu paling banyak terkena lumpur pakaiannya.

Tentu saja kedua orang itu terkejut bukan main.

Ketika Siang In menoleh dan melihat bahwa yang menyambitkan batu sehingga air lumpur memercik ke pakaiannya itu adalah seorang gadis pakaian hitam yang cantik manis dan yang berdiri sambil bertolak pinggang dan sengaja mentertawakannya dengan mengejek, menjadi panas perutnya.

Dia lupa akan kengeriannya, melepaskan tangan Kian Lee dan dengan sekali lompat dia telah tiba di tepi jurang melampaui semak-semak berduri, lalu langsung dia berlari menghampiri Hwee Li!

"Bocah setan, engkaukah yang melempari lumpur itu tadi?"

Bentak Siang In marah sekali. Payungnya masih terbuka dan kini ujungnya yang runcing itu ditodongkan ke depan.

"Kalau kutusukkan payungku ini, mampus kau karena kelancanganmu itu!"

"Eh, eh, engkau mau membunuh aku? Bocah iblis, mudah saja kau bicara! Sebelum payung bututmu itu bergerak, lehermu sudah putus oleh pedangku ini!"

Setelah berkata demikian, sekali tangan kanannya bergerak Hwee Li telah mencabut pedangnya!

"Bocah siluman gunung!

Kau sudah berbuat kurang ajar, melempar lumpur sampai pakaianku kotor semua, masih berani membuka mulut lancang dan kotor?

Sungguh selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan anak kurang ajar macam engkau!"

Siang In menjadi makin marah.

"Engkau siluman jurang! Memang pantas berlepotan lumpur! Memang aku melempar batu ke lumpur, habis kau mau apa? Apakah tempat ini milikmu? Aku mau melempar ke manapun aku suka, kau peduli apa?"

Hwee Li menantang.

"Bocah ingusan kau harus dihajar!"

Siang In marah sekali, tangan kirinya bergerak menampar ke arah pipi Hwee Li.

Tamparannya itu cepat bukan main, seperti kilat menyambar, akan tetapi Hwee Li adalah seorang ahli silat tinggi, maka dengan miringkan tubuh saja dia dapat menghindarkan diri dan kontan keras tangan kirinya juga bergerak menampar ke arah pipi Siang In.

"Syuuuuuttt....!"

Siang In cepat melangkah mundur untuk mengelak.

"Eh, tahan dulu....! Jangan berkelahi, tahan dulu....!"

Kian Lee datang dan pemuda ini tentu saja segera mengenal Hwee Li dan dia berteriak melerai ketika melihat betapa dua orang dara itu sudah saling tampar dan kini bahkan menggerakkan senjata mereka!

Melihat munculnya Kian Lee yang melerai, hati Hwee Li menjadi makin panas dan dalam nada suara Kian Lee itu dia menangkap sikap Kian Lee yang membela dan berfihak kepada wanita yang cantik itu.

Cemburunya naik ke kepala.

Dia membelalakkan matanya, memandang kepada dara itu.

Benar cantik sekali, dan pakaiannya juga indah.

Seorang gadis pesolek yang sinar matanya genit!

Melototlah dia kepada Kian Lee, seperti hendak ditelannya bulat bulat pemuda itu.

"Kau....! Kau boleh sekalian maju membelanya, boleh dikeroyok dua aku tidak akan surut selangkah pun!"

Bentaknya dan pedangnya sudah digerakkan menyerang Siang In.

"Bocah bermulut lancang dan kurang ajar!"

Siang In juga marah sekali dan dia menganggap dara berpakaian hitam itu benar-benar tidak tahu sopan santun dan sombong sekali, maka dia cepat menggerakkan payungnya dan menangkis.

"Cringgg.... Tranggg....!"

Bunga api berpijar ketika ujung payung bertemu dengan ujung pedang dan berkali-kali mereka sudah mengadu senjata dan saling serang dengan hebatnya!

"Eh-eh, apa yang terjadi ini....?

Tiba-tiba Kian Bu telah datang dengan loncatan kilat, di tangan kirinya dia memegang seekor kelinci gemuk.

"Bu-te....!"

"Ohhh, Lee-ko....!"

Kian Bu girang bukan main melihat kakaknya, akan tetapi matanya terbelalak memandang kepada dua orang dara yang sedang bertanding hebat itu.

Dia kagum juga melihat Siang In yang dapat mengimbangi gerakan pedang Hwee Li yang ganas, dan melihat gadis itu memainkan payungnya dengan gaya yang demikian indah seperti orang menari, teringatlah dia.

Gadis berpayung!

Tentu saja!

Mana mungkin dia dapat melupakan seorang gadis seperti Siang In?

Apalagi seorang gadis yang pernah diciumnya?

Gadis itu kini makin dewasa dan makin cantik jelita!

Karena bingung dan khawatir melihat pertandingan dengan senjata itu, Kian Bu tanpa disadarinya sendiri melepaskan kelinci yang tadi dengan susah payah ditangkapnya dan dia mendekati tempat pertempuran itu sambil berseru.

"Nanti dulu! Tahan senjata! Aihhh, berbahaya sekali....!"

Siang In meloncat ke belakang dan tentu saja dia segera mengenal Siluman Kecil!

Dan setelah kini dia melihat wajah Siluman Kecil, hampir dia menjerit!

Itulah dia orang yang dicarinya selama ini!

Suma Kian Bu!

Tapi dia itu Siluman Kecil.

Lihat rambutnya yang putih semua!

"Kau....

Siluman Kecil ataukah Suma Kian Bu....?"

Tanyanya dengan suara tertahan-tahan dan mukanya berubah agak pucat. Kian Bu tersenyum dan menjura.

"Kedua-duanya, boleh pilih yang manapun...."

Kini tahulah Siang In bahwa orang yang selama ini dicari-carinya bukan lain adalah Siluman Kecil!

Dan Siluman Kecil kini agaknya bersama dara cantik berpakaian hitam ini, buktinya kini Siluman Kecil berdiri di dekat dara berpakaian hitam itu, kelihatan memihaknya.

Sungguh aneh sekali, dia merasa betapa hatinya panas bukan main, panas dan marah.

"Bagus! Kau boleh maju sekalian mengeroyokku!"

Katanya dan dengan hebat dia sudah menerjang maju dengan payungnya, menyerang Hwee Li.

"Siluman jahat!"

Hwee Li juga memaki dan pedangnya bergerak menangkis, lalu dia balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh Siang In.

Terjadilah pertandingan yang amat seru, sengit, namun sedemikian indah gerakan kedua orang dara yang sama cantiknya ini sehingga dua orang kakak beradik dari Pulau Es itu sampai melongo dan amat tertarik.

Terdapat persamaan gerakan dari kedua orang dara itu, keduanya seperti sedang menari-nari, bukan sedang berkelahi, apalagi karena senjata Siang In adalah sebatang payung yang dapat terbuka dan tertutup.

Dan gerakan Hwee Li juga indah sekali.

Hal ini tidaklah aneh karena selama dia tinggal bersama Puteri Syanti Dewi, Hwee Li diajari menari oleh Puteri Bhutan itu dan memang Hwee Li suka sekali menari sehingga gerakan silatnya tanpa disadarinya sendiri telah kemasukan gerak tari yang indah, namun tidak kehilangan keganasannya!

Kakak beradik itu saling pandang dari jauh dan keduanya mengangguk, seolah-olah dengan pandang mata mereka itu keduanya sudah sepakat untuk membiarkan dua orang dara yang sama cantik jelita dan sama pandainya menari dan bersilat itu melanjutkan pertandingan mereka dan mereka berdua diam-diam menjaga untuk melindungi dan mencegah kalau sampai ada bahaya mengancam keduanya dari perkelahian itu!

Siang In yang sudah menjadi marah dan kini juga penuh dengan hati panas melihat betapa Kian Bu yang dicari-carinya selama ini ternyata berduaan dengan dara cantik ini, Membuat kemarahannya bertumpuk-tumpuk, kini mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa, permainan payungnya yang didapatnya dari gurunya, yaitu See-thian Hoat-su kakek yang bertapa di Gua Tengkorak.

Memang senjata payung adalah senjata yang istimewa dan karena keanehannya ini maka membingungkan lawan.

Apalagi ketika payung itu terbuka tertutup seperti permainan pedang yang dilindungi tameng, bahkan batangnya yang bengkok itu dipergunakan oleh Siang In untuk mengait leher lawan, sejenak Hwee Li menjadi terdesak dan dibikin kacau permainan pedangnya.

Akan tetapi tentu saja Siang In tidak dapat merobohkannya, apalagi menerobos lingkaran sinar pedang yang hebat itu, hanya mampu mendesak dara pakaian hitam itu.

"Serang gagang payungnya, serang bagian tengah tubuhnya!"

Tiba-tiba Kian Bu berkata lirih namun terdengar jelas oleh Hwee Li dan juga tentu saja oleh Siang In.

Mendengar ini, Hwee Li melihat lowongan itu dan begitu gagang pedangnya menyambar ke arah gagang payung, Siang In menjadi sibuk dan cepat dia menarik payungnya ke belakang.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Hwee Li dengan baik.

"Haiiittttt....!"

Bentaknya dan dia menekuk lengan kirinya, menyikut perut Siang In! "Ihhhhh....!"

Siang In terkejut dan mengangkat kakinya mengelak.

Nyaris perutnya kena disikut!

Hwee Li menang angin dan terus mendesak dengan pedangnya sehingga Siang In terpaksa mundur-mundur sambil memutar payungnya yang terbuka seperti perisai.

Kini berbalik terdesaklah Siang In dan hatinya makin panas, makin sakit melihat kenyataan betapa Kian Bu, pemuda yang selama ini dicari-carinya sampai dia jauh-jauh pergi ke Bhutan, pemuda yang seringkali membuatnya bangun dari tidur karena mimpi, pemuda yang pernah menciumnya, selain gulang-gulung dengan dara pakaian hitam yang cantik jelita ini, juga membantu dara ini dan memberi petunjuk sehingga hampir saja dia mati!

Betapa kejam hati pemuda itu!

Siang In merasa kedua matanya panas dan dia menahan air matanya ketika dia terus memutar payungnya melindungi tubuhnya dari serangan pedang yang amat ganas dari lawannya.

Tiba-tiba terdengar Kian Lee berkata.

"Pertahanan bawahnya lemah, pergunakan tendangan untuk menghalau desakan!"

Juga suara Kian Lee ini jelas terdengar oleh kedua orang dara itu.

Siang In menjadi girang dan cepat dia menggunakan kedua kakinya menendang secara bertubi-tubi dengan Ilmu Tendangan Soan-hong-twi.

Kedua kakinya bergerak dengan cepat sekali dan payungnya tetap menahan pedang Hwee Li di bagian atas.

Terkejutlah Hwee Li.

Terkejut dan juga marah bukan main.

Kian Lee telah membantu perempuan ini!

Hampir dia menjerit dan menangis!

Jelas bahwa Kian Lee mencinta perempuan cantik ini, tentu Kian Lee telah terpikat oleh kegenitan wanita ini!

Dia terpaksa mundur lagi agar jangan sampai terkena tendangan.

Pertandingan itu menjadi makin seru dan makin indah, juga lucu.

Kadang-kadang Kian Bu memberi petunjuk kepada Hwee Li, dan sebaliknya Kian Lee memberi petunjuk kepada Siang In.

Sebetulnya, kedua orang kakak beradik ini memberi petunjuk tanpa maksud untuk mencelakakan seorang di antara kedua dara itu, melainkan merasa sudah sepatutnya memberi petunjuk teman seperjalanan yang terdesak.

Biarpun mereka memberi petunjuk, namun di dalam hati mereka tidak berfihak, bahkan selalu menjaga untuk segera turun tangan mencegah kalau sampai ada yang terancam bahaya terluka.

Akan tetapi, tanpa mereka sadari, sikap mereka ini makin menghancurkan hati dua orang dara itu yang terus bertanding mati-matian dengan hati dibakar cemburu dan kebencian!

Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian silat antara dua orang dara itu, harus diakui bahwa tingkat kepandaian Hwee Li sedikit lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Siang In.

Hwee Li semenjak kecil sudah digembleng oleh seorang yang amat tinggi kepandaiannya seperti Hek-tiauw Lo-mo.

Sebagai anak angkat yang dicintanya, tentu saja kakek iblis itu menurunkan semua ilmunya kepada Hwee Li.

Kemudian, Hwee Li menjadi murid dari Ceng Ceng, isteri dari Si Naga Sakti Gurun Pasir.

Sungguhpun menurut janjinya dahulu (baca Kisah Sepasang Rajawali) Hwee Li hanya akan berguru tentang racun dan pukulan beracun, akan tetapi karena Ceng Ceng kini tidak lagi menyukai ilmu itu, Guru ini telah menurunkan ilmu-ilmu silat, bahkan telah "membersihkan"

Ilmu silat dari kaum hitam yang dipelajari oleh dara itu dari ayah angkatnya.

Maka tidaklah mengherankan apabila dalam pertempuran ini, akhirnya Hwee Li yang dapat mendesak Siang In dengan sinar pedangnya yang memang hebat sekali itu.

Sifat dari ilmu pedang yang dimainkan oleh Hwee Li masih amat ganas dan dahsyat sungguhpun Ceng Ceng sudah banyak menyuruhnya membuang bagian-bagian yang terlalu ganas dan keji.

Karena memang kalah dalam hal mainkan senjata, akhirnya Siang In yang sudah marah dan tidak mau kalah, itu, menggunakan kekuatan sihirnya.

Dia berkemak-kemik, mengerahkan kekuatan batinnya dan memandang dengan sepasang mata yang bersinar-sinar, lalu terdengar dia bersuara seperti orang bersenandung.

"Nona pakaian hitam yang galak engkau sudah lelah dan menyerahlah kepada nonamu, berlututlah...."

Aneh sekali, mendengar senandung ini, tiba-tiba saja Hwee Li merasa tubuhnya lemas dan kehilangan tenaga.

Pada saat itu, hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut kalau saja tidak terdengar suara Kian Bu yang mengeluarkan bunyi melengking panjang.

Suara lengking yang aneh dan perlahan, akan tetapi penuh getaran dan seketika Hwe Li merasa biasa kembali dan pedangnya kembali menjadi ganas.

Kembali Siang In merasa hatinya tertusuk, karena untuk ke sekian kalinya Kian Bu membantu Hwee Li.

Tadinya, kedua kakak beradik ini hanya ingin menonton permainan silat yang indah itu dan saling membantu agar tidak sampai ada yang celaka, akan tetapi lambat-laun mereka berdua terseret pula dan masing-masing merasa heran.

Kian Lee mulai memandang dengan terheran-heran dan dengan hati penuh pertanyaan.

Adiknya itu membela Hwee Li mati-matian, dan mereka berdua juga melakukan perjalanan bersama, kelihatan begitu mesra!

Dan memang adiknya itu mempunyai watak yang cocok sekali dengan Hwee Li.

Ah, mengapa dia begitu bodoh?

Tidak salah lagi, adiknya itu, Kian Bu, tentu jatuh cinta kepada puteri Hek-tiauw Lo-mo ini!

Dia tidak tahu bahwa diam-diam Kian Bu juga menduga demikian.

Kakaknya melakukan perjalanan bersama dengan Siang In dan kakaknya membantu Siang In mati-matian.

Siang In memang cantik jelita dan demikian menarik, maka sudah sepatutnyalah kalau kakaknya itu jatuh cinta kepada dara itu.

Diam-diam dia merasa bersyukur sungguh pun ada perasaan aneh menyelinap di dalam hatinya.

Mengapa tidak kepada Hwee Li kakaknya mencinta?

Dia tahu benar bahwa Hwee Li cinta kepada kakaknya!

Hwee Li telah begitu berterus terang kepadanya bahwa dara ini amat mencinta Kian Lee, kakaknya.

Dan kini melihat gejala-gejalanya, agaknya Kian Lee jatuh hati kepada dara berpayung yang memang sejak dulu pandai bergaya itu, cantik jelita, manis dan memikat sehingga sukar mencari keduanya dara seperti Siang In!

"Cukuplah, In-moi, cukuplah....

kita adalah orang-orang sendiri, tidak perlu berkelahi....!"

Akhirnya Kian Lee meloncat di antara kedua orang dara itu dan melerai.

Juga Kian Bu meloncat di depan Hwee Li.

Melihat betapa Kian Lee menyebut "ln-moi"

Demikian mesranya kepada dara itu, Hwee Li tak dapat menahan lagi kemarahannya dan dia lalu membalikkan diri dan lari dari situ sambil terisak menangis!

Melihat ini, Kian Bu menjadi khawatir sekali dan juga mengejar dengan cepat.

Akan tetapi Hwee Li tidak mau berhenti dan terus berlari, biarpun dihibur dan dibujuk oleh Kian Bu untuk berhenti.

"In-moi, mereka itu bukanlah orang lain...."

Akan tetapi baru berkata sampai di sini, Siang In yang hatinya makin panas melihat Kian Bu mengejar Hwee Li, juga membalikkan tubuhnya dan lari sambil menangis pula.

Kian Lee terkejut dan cepat mengejar.

Demikianlah, dua orang gadls itu melarikan diri ke jurusan yang berlawanan, dikejar oleh kedua orang pemuda itu yang tidak sempat untuk bicara lagi.

Dua orang pemuda yang menjadi bingung sekali.

Setelah napasnya hampir putus karena berlari terus sambil menangis, akhirnya Siang In berhenti dan menjatuhkan dirinya di atas rumput.

Muka dan lehernya penuh peluh dan mukanya agak pucat.

Kian Lee juga duduk di atas rumput, hatinya menyesal sekali mengapa pertandingan itu berakibat sedemikian berlarut-larut.

"Jadi.... jadi Siluman Kecil itu adalah adikmu, Suma Kian Bu itu?"

Akhirnya Siang In berkata dengan terengah-engah.

"Benar, sudahkah engkau mengenalnya?"

Kian Lee balas bertanya.

"Dan dara itu...., siapakah dia?"

"Ah, dia itu bernama Kim Hwee Li, dia.... puteri dari Hek-tiauw Lo-mo."

"Hemmm, pantas! Dan adikmu itu.... Siluman Kecil itu agaknya jatuh cinta kepadanya, ya?"

Kian Lee merasa sukar untuk menjawab.

Dia tidak tahu dengan pasti, akan tetapi melihat betapa tadi Kian Bu membantu dara pakaian hitam itu....!

"Yah, agaknya begitulah,"

Jawabnya tanpa dipikir panjang karena apa salahnya menjawab demikian, pikirnya.

"Mari kita jumpai mereka."

"Tidak sudi! Kalau aku bertemu dengan perempuan itu, akan kubunuh dia!"

Tiba-tiba Siang In berkata, suaranya penuh kebencian.

Kian Lee terkejut bukan main dan mengangkat muka memandang wajah yang cantik itu dengan penuh selidik.

Tidak biasa Siang In marah-marah seperti ini!

Maka dia pun mengambil keputusan untuk tidak mempertemukan dua orang dara yang sedang diamuk kemarahan itu.

Memang Hwee Li telah berlaku keterlaluan, pikirnya, melemparkan batu itu sehingga pakaian Siang In menjadi kotor.

Dia tidak mengerti mengapa dara itu berbuat seperti itu.

Dia menarik napas panjang karena menduga bahwa Hwee Li masih berwatak kekanak-kanakan dan mungkin ketularan watak Hek-tiauw Lo-mo!

Sayang, pikirnya.

Dara itu tidak jahat seperti ayahnya, mudah-mudahan saja Kian Bu akan dapat mendidik dan menuntunnya ke jalan benar.

Sementara itu, Hwee Li akhirnya juga berhenti karena kehabisan napas.

Dia duduk menangis.

Kian Bu duduk di depannya, tidak dapat membuka mulut karena dia tahu bahwa Hwee Li marah bukan main.

"Dia.... dia telah jatuh cinta kepada gadis siluman itu!"

Teriaknya dan kembali dia menangis.

Kian Bu menarik napas panjang.

Dia sendiri juga meragukan kakaknya, mungkin saja kakaknya jatuh cinta kepada Siang In.

Memang dara itu amat cantik jelita!

"Belum tentu, hanya dugaan saja...."

Katanya menghibur Hwee Li. Dia tahu kini bahwa Hwee Li marah-marah karena cemburu.

"Lebih baik kita jumpai mereka dan kita bicara dengan baik-baik. Gadis itu bukan musuh...."

"Hemmm, agaknya engkau sudah kenal dia? Siapakah dia?"

"Namanya Teng Siang In, dia murid dari See-thian Hoat-su...."

"Hemmm, kakek tukang sihir itu? Pantas dia menjadi siluman! Kalau aku bertemu dengan dia, harus kubunuh siluman itu!"

Melihat kemarahan dan kebencian Hwee Li, Kian Bu beranggapan bahwa memang belum waktunya menemui kakaknya dan Siang In, karena kalau hal itu terjadi, sukarlah untuk menahan gadis ini mengamuk!

"Kalau begitu, mari kita melanjutkan perjalanan.

Kalau engkau tidak dapat menemukan jalan rahasia itu, sebaiknya kita langsung saja naik ke atas tembok benteng."

Dan pada saat Kian Bu bicara dengan Hwee Li, Kian Lee bicara dengan Siang In itulah, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dari jauh.

itulah suara pasukan dari kerajaan yang mulai menyerbu benteng dan seperti kita ketahui, penyerbuan dua kali dalam sehari yang diatur oleh Puteri Milana itu mengalami kegagalan.

Sekali ini Puteri Milana merasa pusing bukan main.

Benar-benar dia dibuat tidak berdaya oleh Jenderal Kao karena segala usahanya untuk menggempur benteng itu selalu gagal dan anak buahnya selalu dipukul mundur.

Agaknya siasat apa pun yang dipergunakannya, telah diketahui belaka oleh Jenderal Kao sehingga tidak ada hasilnya sama sekali.

Ketika beberapa hari kemudian kembali dia mengusahakan penyerbuan besar-besaran, di antara hujan anah panah, ada sebatang anak panah yang diikat sehelai surat.

Seorang perajurit memungut anak panah ini dan cepat menyerahkan surat yang dibawa oleh anak panah itu.

Puteri Milana cepat membacanya dan ternyata surat itu adalah tulisan dari Jenderal Kao Liang sendiri!

Panglima Puteri Milana!

Jangan menyerang.

Kepung saja rapat-rapat.

Kami akan bakar gudang ransum.

Tunggu gerbang dan menara meledak, baru serbu.

Kalau tidak menurut ini, takkan berhasil.

Jenderal Kao Liang Puteri Milana merasa girang membaca surat ini, akan tetapi juga meragu.

Apa maksud jenderal itu?

Bagaimana kalau berita yang dikirim ini palsu?

Akan tetapi, Jenderal Kao menyebut "kami", siapa tahu jenderal itu telah berhubungan dengan suaminya yang dia percaya tentu telah berhasil menyelundup ke dalam benteng.

Memang tidak salah dugaan panglima wanita ini.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tentu tidak begitu sukar bagi Bun Beng untuk menyelundup masuk dengan cara merayap tembok dan menghindarkan diri dari jebakan-jebakan yang dipasang di atas tembok.

Dia tidak begitu sembrono sehingga dia dapat menyelinap masuk ke dalam benteng itu tanpa diketahui oleh seorang pun.

Benarkah tidak diketahui oleh seorang pun?

Kiranya tidak demikian, karena betapapun lihainya Bun Beng, Tetap saja dia tidak tahu bahwa tanpa disadarinya sendiri kakinya menginjak alat rahasia yang akibatnya hanya Jenderal Kao seorang yang mengetahui akan kedatangannya!

Jenderal ini ketika membangun benteng dan membuat alat-alat jebakan dan alat-alat rahasia, diam-diam memasang semacam alat rahasia yang kalau dilanggar oleh pendatang yang menyelundup, hanya dia seorang yang mengetahuinya.

Dan begitu dia mengetahui, dia sudah cepat berhubungan dengan Hek-sin Touw-ong dan Kang-siocia secara rahasia pula!

Bagaimana pula ini?

Ternyata Ang-siocia dan suhunya yang amat cerdik itu, dengan kepandaian mereka menyamar dan mendandani orang, telah dapat menarik hati koksu dan mereka berdua selamat dan diampuni dari dosa-dosa mereka ketika mereka menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi dahulu itu, Bahkan mereka lalu diangkat sebagai pambantu-pambantu yang diawasi gerak-geriknya.

Mereka, seperti Jenderal Kao, tidak boleh keluar, akan tetapi kecerdikan Ang-siocia tidak memungkinkan koksu dan kaki tangannya mengetahui betapa guru dan murid ini secara diam-diam mengadakan hubungan rahasia dengan Jenderal Kao Liang!

Touw-ong dan Ang-siocia segera tahu akan duduknya semua perkara, dan tahu pula bahwa jenderal itu membantu fihak pemberontak hanya karena terpaksa oleh keadaan, yaitu karena semua keluarganya tertawan.

Maka, dengan cerdik Ang-siocia lalu menghubungi jenderal ini yang segera menaruh kepercayaan besar kepada mereka dan diam-diam dua orang ini menjadi pembantu-pembantu Jenderal Kao Liang yang seperti telah diduga oleh puteranya sendiri dan oleh Gak Bun Beng dan para orang gagah lainnya, Diam-diam mempunyai rencana yang hebat terhadap para pemberontak yang telah memaksanya berkhianat itu!

Maka, ketika Jenderal Kao tahu akan kedatangan orang pandai, karena hanya orang pandai sekali sajalah yang tidak sampai melanggar jebakan-jebakan, hanya tanda rahasia untuk dirinya sendiri, cepat dia memberi tanda rahasia kepada Kang-siocia dan gurunya untuk "menyambut"

Kedatangan orang pandai itu dan dia menunjukkan di mana tempat orang pandai itu datang yang diketahuinya dari alat rahasia yang oleh Bun Beng itu.

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa kagetnya Bun Beng ketika baru saja dia melayang turun di tempat yang amat sunyi, di taman yang indah dalam benteng itu, suara wanita yang halus menegurnya.

"Selamat datang, sahabat!"

Baru saja berhenti bicara mulut Ang-siocia, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena orang itu dengan kecepatan kilat telah menotoknya tanpa ia mampu bergerak sama sekali.

Ang-siocia terkejut bukan main dan dengan tidak berdaya sama sekali dia merasa betapa tubuhnya dipondong dan dibawa ke belakang sebuah gudang, di mana terdapat lampu penerangan.

Orang itu memeriksanya di bawah lampu dan ketika melihat bahwa dia benar-benar seorang wanita muda yang cantik, orang itu kembali membawanya menyelinap ke dalam gelap lalu membuka totokannya, akan tetapi jari-jari tangan yang kuat menempel di tengkuknya dan orang itu berkata.

"Jawablah baik-baik. Kalau berteriak, sekali tekan kau akan mati!"

"Sialan dangkalan....!"

Ang-siocia atau Kang Swi Hwa mengomel dan merengut, mengerling kepada laki-laki setengah tua yang lihainya bukan alang kepalang itu.

Laki-laki itu adalah Bun Beng dan dia merasa sungkan juga harus menggunakan kekerasan terhadap seorang wanita yang ternyata adalah seorang gadis muda yang cantik.

Akan tetapi dia berada di sarang musuh, di dalam benteng yang berbahaya dan kedatangannya yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati itu ternyata telah ketahuan oleh gadis ini!

"Hayo kau cepat bawa aku kepada Jenderal Kao, dan jangan sampai ketahuan oleh penghuni lain dari benteng ini.

Awas, nyawamu berada di tanganku!"

Akan tetapi jawaban gadis itu benar-benar mencengangkan Bun Beng.

"Justeru aku menyambutmu adalah atas perintah Jenderal Kao Liang yang sudah mengetahui akan kedatanganmu. Akan tetapi ternyata kau bukan manusia baik-baik, melainkan seorang yang kasar dan kejam. Tidak, aku tidak mau membawamu kepada Jenderal Kao, karena agaknya engkau berniat buruk. Biar kau seribu kali membunuh aku, aku Ang-siocia sudah berani memasuki sarang naga dan harimau ini tentu tidak takut mampus!"

Marah sekali Ang-siocia, bukan hanya karena dia diancam dan diperlakukan dengan kasar, akan tetapi melihat kenyataan betapa dia sama sekali tidak berdaya, tidak berkutik ketika ditangkap dan di bawa ke tempat terang lalu diseret lagi ketempat gelap, dibebaskan totokannya dan kini tengkuknya diancam.

Seperti ayam yang sama sekali tidak berdaya!

Padahal biasanya dia amat mengandalkan kepandaiannya!

"Ah, maafkan aku....

siapakah engkau?"

Bun Beng bertanya.

"Hemmm, orang kasar. Engkaulah yang harus lebih dulu memperkenalkan diri, baru aku akan mempertimbangkan apakah engkau pantas untuk kubawa kepada Jenderal Kao ataukah tidak."

Menghadapi gadis yang ternyata berani mati ini, Bun Beng merasa tidak berdaya.

Akan tetapi dia sudah amat tertarik, karena kalau gadis ini adalah pembantu Jenderal Kao, bahkan tadi menyatakan bahwa gadis ini sudah berani memasuki gua harimau dan naga, maka berarti bahwa gadis ini bukanlah kaki tangan dari musuh!

"Namaku adalah Gak Bun Beng, Jenderal Kao tentu mengenalku."

Sepasang mata yang jeli itu terbelalak.

"Gak.... Gak-taihiap....?"

Ang-siocia berseru dengan kaget sekali.

"Ah, maafkan aku yang tidak mengenal Taihiap, mari kita cepat pergi dari sini, menemui suhu. Taihiap harus cepat me-nyamar, sesuai dengan rencana kami atas perintah Jenderal Kao,"

Bisiknya dan tanpa ragu-ragu lagi Ang-siocia menggandeng tangan pendekar itu dan dibawanya pergi menyelinap melalui semak-semak dan memasuki pintu belakang sebuah pondok.

Mereka tiba di dalam sebuah kamar dan di situ telah menanti seorang kakek yang mukanya hitam.

Kakek itu segera menjura dan berkata.

"Selamat datang, Gak-taihiap, kami sungguh lega dan girang sekali melihat Taihiap datang."

Bun Beng memandang penuh perhatian akan tetapi dia tidak mengenal kakek dan gadis ini, walaupun kini dia dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 8

Baca Juga: Suling Emas 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert