Eps 9 Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo.
Biarpun dia sudah membersihkan jalan masuk dengan menundukkan para penjaga di tiga parit, dan dia percaya bahwa penjaga di parit yang lain jauh untuk dapat melihatnya, dia masih maju dengan sangat hati-hati.
Pondok yang paling ujung itu, pondok tempat tinggal Tok-ciang Sian-jin sudah nampak.
Akan tetapi Thian Sin menahan kegembiraan hati yang dapat membuat orang menjadi lengah itu.
Dia tetap berhati-hati dan memeriksa keadaan sekelilingnya dengan teliti.
Dan sikapnya ini berhasil baik ketika tiba-tiba dari jauh dia melihat gerakan di atas pohon.
Cepat dia menyelinap di balik semak-semak belukar dan mengintai.
Ternyata di atas pohon itu terdapat seorang penjaganya!
Ah, tentu di lain-lain pohon yang agaknya sengaja ditanam di sekeliling daerah itu tentu ada penjaganya yang bersembunyi.
Untuk melumpuhkan penjaga di atas pohon itu seperti yang dilakukannya terhadap para penjaga di parit tidaklah mudah, pikirnya.
Tentu gerakannya itu akan nampak oleh para penjaga lain di pohon lain, atau bahkan nampak dari jendela pondok itu.
Siapa tahu Tok-ciang Sian-jin sedang melihat dari sana.
Thian Sin memutar otak mencari akal.
Kemudian dia mengambil keputusan untuk mempergunakan kepandaiannya yang lain, yaitu ilmu sihirnya.
Dengan langkah tetap dia lalu bangkit dan berjalan menghampiri pohon itu!
Dia telah berada di dalam wilayah Pek-lian-kauw setelah dapat melampaui para penjaga di parit tadi, maka biarlah dia berlagak seperti bukan orang asing di daerah itu!
Setelah tiba di dekat pohon dia lalu memandang ke atas, ke arah penjaga yang sejak tadi tentu saja telah melihatnya dan sudah mempersiapkan anak panah di busurnya untuk menyerang ke bawah itu.
Akan tetapi penjaga itu menjadi ragu-ragu ketika pemuda yang berada di bawah itu menggapai dengan tangan, tersenyum ramah dan berkata.
"Hai, kawan, aku ada pesan penting sekali dari ketua. Turunlah, akan kuberitahukan padamu!"
Penjaga itu meragu, akan tetapi melihat sikap pemuda ini dan melihat bahwa pemuda itu telah berada di daerah mereka sendiri, berarti bukan orang asing karena orang asing takkan mungkin mampu melewati para penjaga parit, dan mendengar bahwa pemuda itu membawa pesan penting dari ketua, dia menjadi ingin tahu dan cepat memanjat turun dari pohon.
Pemuda itu tidak membawa senjata dan sikapnya tidak seperti seorang musuh, maka diapun tidak khawatir.
Akan tetapi ketika dia sudah berdiri berhadapan dengan pemuda itu, dia melihat sepasang mata yang mencorong seperti mata harimau.
Penjaga itu terkejut sekali, namun terlambat karena dia sudah tunduk di bawah pengaruh pandang mata Thian Sin yang kini berkata dengan suara lirih namun mengandung penuh wibawa, terutama sekaii terasa oleh orang itu sebagai perintah yang tak mungkin dibantah.
"Antarkan aku menghadap Tok-ciang Sian-jin ke pondoknya!"
"Baik, kuantarkan, marilah,"
Jawab penjaga itu seakan-akan dia bicara dengan seorang rekannya sendiri.
Tentu saja hal ini adalah hasil dari kekuatan sihir Thian Sin yang memaksa orang itu percaya bahwa dia adalah seorang temannya.
Para penjaga lain di atas pohon yang berada di kanan kiri tentu saja melihat hal ini, akan tetapi karena penjaga itu menerima Si Pemuda dengan baik, bahkan mengajaknya berjalan menuju ke pondok tempat tinggal Tok-ciang Sian-jin, tentu saja para penjaga lain itu tidak menaruh curiga dan mengira bahwa pemuda itu adalah penduduk dusun atau juga orang yang sudah dikenal oleh penjaga itu maka dapat diterima.
Apalagi melihat orang itu dibawa oleh si penjaga menuju ke pondok Tok-ciang Sian-jin, para penjaga lain itu tersenyum.
Mereka sudah mengenal watak Tok-ciang Sian-jin, yang lebih suka berdekatan dengan seorang pemuda tampan daripada dengan wanita.
Dan pemuda itu, biarpun kelihatan dari jarak agak jauh, memang nampak tampan!
Berdebar tegang juga rasa hati Thian Sin setelah mereka berdua mendekati pondok itu.
Di sinilah orang yang selama ini dicari-carinya!
Hatinya berdebar karena tegang dan girang, juga khawatir kalau-kalau dia gagal.
"Panggil dia keluar, katakan ada tamu yang membawa berita penting untuknya!"
Bisiknya dengan pengerahan tenaga sihirnya.
Orang itu mengangguk dan mengetuk pintu pondok yang tertutup dengan hati-hati.
"Sian-jin harap suka buka pintu, ada tamu yang membawa berita penting sekali untuk Sian-jin!"
Sunyi saja di dalam.
Tidak ada jawaban.
Penjaga itu, atas desakan Thian Sin, mengetuk lagi dan mengulang kata-ketanya sampai beberapa kali.
Akan tetapi tetap saja sunyi, tidak ada jawaban dari dalam.
Tentu saja Thian Sin menjadi curiga dan khawatir kalau-kalau gagal.
Dia lalu menerjang ke depan, mendorong pintu dengan kedua tangannya.
"Brakkk...!"
Pintu itu jebol dan terbuka.
Thian Sin dengan berani meloncat ke dalam pondok, membiarkan penjaga itu bengong terlongong, seperti baru bangun dari tidur dan merasa terheran-heran mengapa dia berada di depan pondok itu melihat orang menjebol pintu pondok, padahal seharusnya dia berjaga di atas pohon!
Thian Sin bergerak cepat di dalam pondok, memeriksa seluruh isi pondok.
Ternyata pondok itu kosong!
Burung itu telah terbang!
Dia telah ditipu, atau bahkan dijebak!
Dengan marah dia lalu menedangi semua barang di dalam pondok itu sehingga terdengar suara hiruk-pikuk dan barang-barang di situ rusak semua.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa di luar pondok!
"Ha-ha-ha, Pendekar Sadis!
Engkau telah masuk perangkap!"
Thian Sin menjadi marah sekali, tidak tahu marah kepada siapa.
Dia tidak tahu apakah Kim Lan mengkhianatinya?
Agaknya tidak demikian.
Lebih besar kemungkinan bahwa memang Pek-lian-kauw ini lihai sekali sehingga mereka sudah tahu akan kunjungannya sehingga sebelum dia tiba di pondok, Tok-ciang Sian-jin telah pergi dulu dan membiarkan dia memasuki pondok kosong.
Dia lalu menerjang keluar dan ternyata orang yang dicarinya itu, Tok-ciang Sian-jin, memang sudah berada di luar, berdiri dengan tegak di samping tujuh orang berjubah pendeta yang dia duga tentulah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw, dan di belakang orang-orang itu nampak puluhan orang anggauta Pek-lian-kauw.
Tempat itu telah dikurung oleh para anggauta Pek-lian-kauw.
Thian Sin tersenyum mengejek.
Sikapnya tenang sekali walaupun dia maklum bahwa dia telah dikurung oleh sedikitnya seratus orang, dan dia berhadapan dengan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Bahkan dia masih mampu mengeluarkan kata-kata yang dinyanyikannya untuk mengejek lawannya.
"Seekor buaya selalu memilih pecomberan di mana dia akan merasa senang. Seorang Ciu Hek Lam, biarpun sudah berjuluk Tok-ciang Sian-jin, merasa perlu untuk menyembunyikan dirinya di antara orang-orang Pek-lian-kauw yang tidak segan-segan untuk melakukan pengeroyokan. Betapa menjemukan!"
Mendengar ini, para pimpinan cabang Pek-lian-kauw menjadi merah mukanya, sedangkan Tok-ciang Sian-jin diam saja, hanya memandang dengan tajam, wajahnya yang dingin sama sekali tidak membayangkan sesuatu.
Senjatanya pecut baja masih terlibat di pinggangnya, dan dia selalu mengikuti gerak-gerik Thian Sin dengan penuh perhatian.
Diam-diam dia merasa heran sekali bagaimana seorang yang masih begini muda telah memiliki kepandaian yang demikian menggiriskan, bahkan telah dikenal sebagai Pendekar Sadis yang sepak terjangnya mendirikan bulu roma.
Untunglah dia bersikap waspada dan dia sudah curiga kepada wanita pembawa dua gulung kulit harimau itu, maka diam-diam setelah wanita itu pergi, dia mengadakan perundingan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw, menyatakan kecurigaannya dan diam-diam diapun sudah bersiap-siap schingga ketika pemuda itu muncul, Dia telah mengetahuinya terlebih dulu dan mengatur jebakan.
Kini pemuda itu telah terkurung dan menurut kehendaknya, dia ingin lekas-lekas melihat pemuda yang merupakan ancaman baginya itu dienyahkan dari muka bumi.
Akan tetapi, di depan para orang Pek-lian-kauw, tentu saja dia merasa malu untuk memperlihatkan rasa takutnya, apalagi di situ terdapat Giok-lian-cu yang kabarnya amat lihai itu.
Sementara itu, mendengar ucapan Thian Sin yang dilagukan seperti nyanyian ejekan ini, pendeta bermuka tikus itu lalu tertawa dan diapun lalu memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata yang amat tajam, seolah-olah ada getaran keluar dari sinar matanya, lalu mulutnya mengeluarkan suara yang juga mengandung getaran amat berwibawa, sehingga terasa oleh semua orang yang berada di situ.
"Orang muda, engkau berhadapan dengan Giok-lian-cu. Engkau telah terkurung, melawanpun tidak ada gunanya. Orang muda, lihatlah baik-baik padaku dan kuperingatkan engkau untuk lekas berlutut dan menyerah!"
Thian Sin merasa bahwa ada kekuatan yang cukup hebat seperti hendak memaksanya berlutut.
Namun dia dapat menangkis dan melawan kekuatan sihir ini, akan tetapi dia lalu mempunyai akal.
Mengapa dia tidak pura-pura menurut?
Kalau dia sudah berlutut, tentu Tok-ciang Sian-jin akan turun tangan menyerangnya dan saat itu, selagi semua orang lengah, dia akan dapat menyerang musuh besarnya itu dan merobohkannya!
Kalau sekarang dia menyerang, tentu akan terdapat banyak orang yang melindungi Tok-ciang Sian-jin sehingga dia khawatir kalau-kalau serangannya akan gagal dan dia keburu dikepung ketat sehingga musuh besarnya itu akan mampu melarikan diri lagi.
Maka, setelah memperhitungkan dengan cepat, diapun lalu menjatuhkan diri berlutut!
Melihat ini, Giok-lian-cu tertawa bergelak dengan hati penuh kebanggaan.
Dia telah berhasil memperlihatkan kepandaiannya, disaksikan oleh semua anak buah Pek-lian-kauw.
Dan memang semua orang mengeluarkan seruan kagum melihat betapa dengan sekali perintah saja, pemuda yang didesas-desuskan sebagai Pendekar Sadis itu telah menjatuhkan diri berlutut di depan tamu dari Pek-lian-kauw pusat itu!
Sementara itu, melihat pemuda itu menjatuhkan diri berlutut Tok-ciang Sian-jin merasa girang sekali dan menurutkan kata hatinya, ingin dia segera menubruk, menyerang dan membunuh pemuda itu.
Sudah dilolosnya cambuk atau pecut bajanya dari pinggangnya, akan tetapi kecerdikannya menahan tangannya untuk bergerak, sebaliknya dia lalu, berkata kepada dua orang sute dari Thian-hwa Lo-su yang juga dapat disebut muridnya karena lima orang itu sering kali menerima petunjuk-petunjuknya dalam ilmu silat.
"Lekas ringkus dia, tapi patahkah dulu kedua tulang pundaknya!"
Dua orang sute dari Thian-hwa Lo-su cepat menubruk maju dari kanan kiri.
Merekapun ingin berjasa dan memperlihatkan kepandaian, dan tentu saja mereka berani melakukan ini bukan hanya karena tingkat kepandaian merekapun sudah tinggi akan tetapi terutama melihat keadaan pemuda itu yang sudah dikuasai oleh sihir dari Giok-lian-cu.
Jangankan pemuda itu sudah tak berdaya, biarpun pemuda itu masih sehat sekalipun kalau mereka maju berdua, mereka tidak merasa takut.
Nama besar Pendekar Sadis itu mungkin omong kosong belaka, pikir mereka, melihat keadaan usia pemuda ini yang masih begitu muda.
Maka, sekali menubruk, keduanya sudah menghantamkan tangan terbuka dengan pengerahan sin-kang untuk menghancurkan tulang pundak kanan kiri Thian Sin.
Diam-diam Thian Sin kecewa bukan main.
Siasatnya memang sudah berhasil dan orang menyangka dia benar-benar telah dikuasai ilmu sihir dari tosu muka tikus itu.
Akan tetapi sialnya, bukan Tok-ciang Sian-jin yang maju sendiri walaupun orang itu telah melolos senjata, melainkan menyuruh dua orang tosu Pek-lian-kauw yang lain.
Akan tetapi, tentu saja dia tidak sudi tulang pundaknya diremukkan orang dan melihat angin pukulan yang cukup dahsyat itu berbahayalah tulang pundaknya kalau dia tidak melawan.
"Dess! Desss!"
Thian Sin bangkit menangkis dan tubuh dua orang pimpinan Pek-lian-kauw itu terlempar ke kanan kiri dan terbanting keras.
Thian Sin tidak berhenti sampai sekian saja, sambil membentak.
"Tok-ciang Sian-jin pengecut hina!"
Dia sudah menerjang dan mengirim pukulan dahsyat ke arah Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam.
"Desss...! Desss...!"
Tok-ciang Sian-jin dan juga Thian-hwa Lo-su yang ikut menangkis serangan itu untuk melindungi sahabatnya, terjengkang dan keduanya tentu akan terbanting pula kalau mereka tidak cepat berjungkir balik.
"Tar-tar-tarrr!"
Cambuk baja di tangan Tok-ciang Sian-jin sudah meledak-ledak ke atas kepala Thian Sin.
Akan tetapi setiap serangan cambuk itu membalik ketika bertemu dengan jari-jari tangan pemuda itu.
Dari samping menyambar angin pukulan dahsyat sekali.
Thian Sin terkejut, maklum akan datangnya serangan yang kuat.
Cepat ia membalik dan menangkis sambil menggunakan tenaga Thi-khi-i-beng.
"Plakk! Ahhhhh... ahhhhh, lepaskan...!"
Giok-lian-cu terkejut bukan main ketika melihat betapa lengannya melekat dengan lengan pemuda itu dan betapa tenaga sin-kangnya membanjir keluar dari tubuhnya melalui lengan yang merapat dengan lengan pemuda itu.
Melihat ini, Thian-hwa Lo-su juga menampar ke arah kepala Thian Sin.
Pemuda itu miringkan kepalanya, dan menerima tamparan itu dengan pangkal lengannya.
"Plakk! Aihhhhh... lepaskan tanganku...!"
Thian-hwa Lo-su juga berseru dan kedua orang ini sudah mengerahkan tenaga untuk menarik tangan mereka akan tetapi sungguh celaka, makin besar mengerahkan tenaga, makin hebat pula tenaga mereka membanjir keluar.
"Itu Thi-khi-i-beng, jangan kerahkan sin-kang!"
Tiba-tiba Tok-ciang Sian-jin berseru keras dan cambuknya menyambar-nyambar lagi, kini cambuknya itu seperti burung mematuk-matuk mengarah ubun-ubun kepala, kedua mata dan bagian-bagian yang lemah lainnya.
Menghadapi ini, Thian Sin terpaksa berlompatan dan melepaskan dua orang yang melekat pada lengannya tadi.
Akan tetapi, sebelum ia mampu mendesak Tok-ciang Sian-jin, para tosu lain telah mengurung dan mengeroyoknya.
Juga Thian-hwa Lo-su dan Giok-lian-cu yang marah sekali karena dipermainkan pemuda ini, telah maju mengeroyok sambil mengeluarkan senjata masing-masing.
Bukan hanya mereka, bahkan kini banyak anggauta Pek-lian-kauw yang mengepung dan mendesaknya.
Para anggauta ini dikerahkan oleh Tok-ciang Sian-jin yang tiba-tiba saja menghilang di antara banyak anggauta Pek-lian-kauw itu.
"Tok-ciang Sian-jin manusia pengecut, jangan lari kau !"
Thian Sin membentak marah, akan tetapi orang itu sudah menghilang dan dia dikeroyok oleh banyak sekali orang.
Thian Sin mengamuk, akan tetapi dia tidak mau membunuh orang karena dia tidak merasa bermusuhan dengan perkumpulan itu walaupun perkumpulan itu telah melindungi musuh besarnya.
Dia tidak begitu bodoh untuk menanam permusuhan dengan perkumpulan besar itu, sama saja dengan mencari penyakit.
Setelah musuhnya benar-benar lenyap, diapun merobohkan beberapa orang pengeroyok dengan angin dorongan kedua tangan, kemudian tubuhnya mencelat ke atas genteng.
"Pek-lian-kauw bukan musuhku!"
Teriaknya dan diapun berloncatan cepat sekali dan menghilang di balik pohon-pohon di luar dusun itu.
Giok-lian-cu melarang anak buahnya mengejar, dan Thian-hwa Lo-su memberi perintah agar penjagaan lebih diperketat.
Kemudian mereka dengan hati kecil dan gentar membicarakan kehebatan ilmu kepandaian pemuda itu yang terkenal dengan sebutan Pendekar Sadis, dan mereka bergidik.
Untung pemuda itu tidak menganggap Pek-lian-kauw sebagai musuh, kalau demikian halnya, tentu telah jatuh banyak korban tadi.
Dan merekapun merasa tidak perlu bermusuhan dengan pemuda yang demikian lihainya, maka para pimpinan Pek-lian-kauw itu menganjurkan kepada Tok-ciang Sian-jin untuk bersembunyi di kamar rahasia dan jangan keluar dulu sebelum pemuda itu benar-benar meninggalkan daerah itu.
Juga Giok-lian-cu terpaksa dengan terus terang mengatakan kepada Tok-ciang Sian-jin untuk mencari tempat perlindungan lain saja karena Pek-lian-kauw tidak mau terbawa-bawa ke dalam permusuhan dengan Pendekar Sadis.
"Sungguh mati, Taihiap, apakah aku telah menjadi gila, berani mengkhianatimu? Aku sampai harus menahan diri dari kemuakan ketika aku terpaksa melayani mereka, dan... ah, sudah kukatakan bahwa aku mau mati untuk membantumu, Taihiap. Apakah engkau masih tidak percaya bahwa aku telah menyerahkan seluruh jiwa ragaku kepadamu?"
"Tidak perlu semua janji dan sumpah itu, kalau memang benar perasaanmu itu, nah, engkau sekarang harus dapat memancing keluar Tok-ciang Sian-jin dari tempat sembunyinya."
"Baik, saya akan melakukan segala perintahmu,"
Kata Kim Lan dengan sikap menantang, untuk membuktikan bahwa ia memang tidak mengkhianati pemuda itu.
"Asalkan... asalkan engkau tidak melupakan semua pembelaanku, Taihiap..."
Katanya dengan sikap manja.
Thian Sin tersenyum dan karena dia membutuhkan bantuan wanita ini, maka diapun mengulurkan kedua tangannya dan menerima wanita itu yang menubruknya dan merangkulnya dengan isak tertahan saking gembiranya.
Thian Sin sengaja tidak pernah memperlihatkan diri sampai dua minggu lamanya.
Dan setelah dia menduga bahwa fihak Pek-lian-kauw tentu mengira dia telah pergi dan mencari jejak Tok-ciang Sian-jin di lain tempat, Apalagi ketika Thian Sin sengaja melakukan kegemparan dengan membasmi beberapa orang penjahat di kota-kota yang berjauhan dari kota raja dan dari dusun Tiong-king, barulah Thian Sin menyuruh Kim Lan berjalan seorang diri di lereng Pegunungan Tai-hang-san, pura-pura hendak berburu binatang.
Tentu saja diam-diam dia membayangi wanita ini dari jarak tidak terlampau jauh, akan tetapi dengan hati-hati sekali sehingga tidak akan ada orang yang dapat melihatnya.
Selama dua hari tidak terjadi sesuatu, tidak ada yang menegur atau menemui Kim Lan.
Akan tetapi pada hari ke tiga, pagi-pagi sekali, ketika Kim Lan mengejar-ngejar seekor kelinci gemuk untuk ditangkapnya, tiba-tiba saja kelinci putih gemuk itu roboh berlumuran darah.
Kim Lan terkejut sekali dan menghampiri kelinci itu.
Ketika diperiksanya, ternyata kepala kelinci itu pecah!
Dia mengambil kelinci itu dan menoleh ke kanan kiri, dengan wajah membayangkan keheranan.
"Kepalamupun akan kupecahkan seperti kepala kelinci itu!"
Tiba-tiba terdengar suara halus dan dari atas melayanglah turun seorang berpakaian jubah kuning.
Tok-ciang Sian-jin!
Seketika tubuh Kim Lan menggigil, bukan dibuat-buat biarpun dia tahu dilindungi oleh Pendekar Sadis.
Memang wanita ini semenjak pertemuan pertama sudah merasa takut sekali kepada tosu ini, maka munculnya tosu itu secara tiba-tiba benar-benar membuat dia menggigil dan merasa ngeri.
"Pelacur hina! Tentu engkau yang telah mengkhianatiku dan menyelidiki keadaanku untuk kau laporkan kepada Pendekar Sadis! Hayo mengaku sebelum kuhancurkan kepalamu seperti kepala kelinci ini!"
Bentak Tok-ciang Sian-jin dengan suara yang menyeramkan dan wajahnya yang dingin itu sungguh nampak menakutkan sekali bagi Kim Lan.
Wanita ini merasakan kedua lututnya menggigil.
"Tidak... ti... tidak...!"
Suara Kim Lan juga menggigil dan diam-diam wanita ini merasa gelisah sekali mengapa Pendekat Sadis belum juga muncul, padahal ia seperti merasa betapa maut telah mengelus-elus kepalanya.
"Hemm, tidak ada gunanya kau membohong. Engkau kaki tangan Pendekar Sadis, atau setidaknya, ketika engkau datang menjual kulit harimau itu, engkau menyelidiki aku kemudian melaporkan kepada Pendekar Sadis. Hayo katakan di mana dia sekarang berada?"
"Tok-ciang Sian-jin, aku berada di sini!"
Tiba-tiba terdengar suara ini yang seketika membuat mata kakek itu yang biasanya sipit seperti terpejam kini terbelalak dan mukanya yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat seperti mayat.
"Bagus! Kalau begitu kita akan mengadu nyawa di sini! Mampuslah kau , perempuan laknat!"
Cambuk baja di tangannya bergerak dan suara meledak-ledak ketika ujung cambuk itu menyambar ke arah ubun-ubun kepala Kim Lan.
Akan tetapi, secepat kilat Thian Sin sudah meloncat dan menangkis cambuk, membarenginya dengan tendangan kakinya ke arah Kim Lan.
Tubuh Kim Lan terlempar, sampai bergulingan akan tetapi ia selamat dari cengkeraman maut di ujung cambuk baja tadi.
Tok-ciang Sian-jin yang sama sekali tidak menyangka bahwa musuh besarnya akan berada di situ, kini maklum bahwa dia telah masuk perangkap.
Bahwa adanya wanita yang berkeliaran di tempat ini dan kelihatan berburu kelinci, sebetulnya merupakan umpan untuk memancingnya keluar, sedangkan musuh besarnya itu memang selalu membayangi wanita itu.
Tahulah dia bahwa tidak ada jalan lari lagi baginya, dia menyerang dengan dahsyat.
Cambuknya meledak-ledak mengeluarkan asap dan tangan kirinya juga melakukan serangan pukulan beracun.
Tokoh ini terkenal dengan kelihaiannya yang mengerikan, yaitu tangan beracun dan pukulan tangan kirinya itu tidak kalah lihainya dibandingkan dengan sambaran pecut bajanya.
Namun, sekali ini dia menghadapi Thian Sin yang telah memiliki tingkat kepandaian yang jauh melampauinya.
Pukulan-pukulan tangan kiri itu disambut Thian Sin dengan berani, dan bukan pemuda itu yang menderita oleh tangan beracun lawan, melainkan Tok-ciang Sian-jin sendiri yang tergetar hebat dan dari pertemuan tangan itu menjalar hawa yang panas dan amat kuat.
Itulah tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat hebat, yang sekaligus mengembalikan semua hawa beracun yang keluar dari tangannya.
Dan cambuk bajanya juga dapat dihadapi dengan amat mudah oleh Thian Sin!
Pemuda itu seolah-olah mempermainkannya seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus.
Kalau pemuda itu menghendaki, tentu dengan mudah dia merobohkan lawannya.
Akan tetapi Thian Sin tidak mau begitu saja.
Dia mempermainkan lawan, mengelak ke sana-sini, kadang-kadang mengirim tamparan yang hanya membuat tubuh lawan terhuyung dan tiada hentinya dia mengejek.
"Hemmm, pengecut yang hanya berani main keroyok. Kalau tidak mengeroyok, dalam beberapa jurus saja ayahku atau ibuku tentu telah mampu membunuhmu. Pengecut! Hayo keluarkan semua ilmumu untuk melawanku! Plak!"
Kembali sebuah tamparan yang cukup keras membuat kakek ini mulai menjadi ketakutan.
Dia tahu benar bahwa dia tidak akan mampu menandingi putera Pangeran Ceng Han Houw ini, Dan kalau dia teringat akan kekejamannya sebagai Pendekar Sadis, keringat dingin keluar dari leher dan mukanya.
Dia tidak takut mati, akan tetapi membayangkan kekejaman pemuda itu, benar-benar dia merasa ngeri sendiri.
Maka, setelah cambuknya menyambar dan pemuda itu mengelak sambil tertawa, diapun lalu membalikkan tubuhnya dan menggunakan gin-kangnya untuk mencoba lari dari tempat itu menuju ke sarang Pek-lian-kauw di balik puncak.
Akan tetapi, tiba-tiba ada angin berkesiur dan bayangan berkelebat, tahu-tahu pemuda itu telah berdiri di depannya!
Dia membalik dan lari lagi, namun lagi-lagi pemuda itu telah mendahuluinya dan menghadang sambil tertawa.
Akhirnya, Tok-ciang Sian-jin putus asa dan untuk yang terakhir kali, dia mengerahkan seluruh tenaganya, Menyalurkan tenaga itu pada cambuknya dan menyerang sekuat tenaga.
Cambuknya meledak dahsyat dan menyambar dengan totokan, ujung cambuk meluncur dan menjadi kaku menusuk ke arah leher Thian Sin.
Sungguh serangannya ini amat hebat dan berbahaya sekali sehingga Thian Sin sendiri sampai terkejut dan cepat pemuda ini miringkan tubuhnya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, sebelum ujung cambuk lewat atau ditarik kembali, jari-jari tangannya telah menjepit ujung cambuk itu dan saat itu juga dia telah mempergunakan Thi-khi-i-beng.
Daya sedot yang amat kuat menjalar melalui cambuk itu sehingga ketika Tok-ciang Sian-jin mengerahkan tenaga hendak membetot cambuknya, tenaga sin-kangnya membanjir keluar.
Terkejutlah kakek itu dan cepat dia melepaskan tenaga sin-kangnya, akan tetapi pada saat itu, Thian Sin telah menarik cambuk itu sehingga terlepas dan terampas olehnya.
Tangan kiri Thian Sin bergerak memukul dan tubuh Tok-ciang Sian-jin terpelanting keras.
Habislah harapan kakek itu dan karena dia tidak ingin disiksa, dia sudah menggerakkan tangan kirinya ke arah ubun-ubun kepalanya sendiri, akan tetapi...
tiba-tiba dia terbelalak karena tangan kiri itu tidak dapat digerakkannya lagi.
Dia mencoba tangan kanan, akan tetapi juga tangan kanannya tidak dapat digerakkan.
Kiranya, dengan kecepatan yang luar biasa Thian Sin yang maklum bahwa lawannya hendak membunuh diri, telah mendahuluinya dan menggerakkan cambuk baja rampasan, menotok ke arah kedua pundak kakek itu sehingga membuat kakek itu lumpuh kedua lengannya dan tidak mampu digerakkan.
"Hemm, jangan mengira akan enak saja engkau menghabisi nyawamu sendiri, Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam. Terlalu enak bagimu!"
Kata Thian Sin sambil tertawa dan dari jauh, Kim Lan yang nonton pertempuran itu bergidik.
Wanita ini sendiri bukan orang lemah dan sudah banyak ia melihat kekejaman dilakukan orang, namun menyaksikan sikap Pendekar Sadis, ia benar-benar bergidik dan hampir ia tidak berani melihat apa yang hendak dilakukan oleh pendekar itu terhadap diri Tok-ciang Sian-jin.
Betapapun juga, ia semakin kagum melihat betapa dengan mudahnya pemuda itu dapat merobohkan lawan, bahkan mampu pula mencegah lawan yang hendak membunuh diri.
"Ceng Thian Sin, aku sudah kalah olehmu, bunuhlah, siapa yang takut mati?"
Bentak Tok-ciang Sian-jin, bersikap galak dan berani, padahal dia menggigil kalau teringat bahwa dia terjatuh ke tangan Pendekar Sadis yang sepak terjangnya sudah banyak didengarnya itu.
"Ayah bundaku tewas dikeroyok ratusan orang lawan yang tidak seimbang, maka engkaupun harus mati dikeroyok!"
"Apa... apa maksudmu...?"
Tok-ciang Sian-jin kini tidak lagi menyembunyikan rasa ngeri dan takutnya, suaranya gemetar.
"Kau lihat saja nanti...!"
Thian Sin lalu menggerakkan cambuknya dan ujung cambuk panjang itu melibat tubuh kakek itu, lalu diseretnya kakek itu menuju ke sebuah pohon besar yang agaknya memang sudah dipersiapkan oleh Thian Sin untuk keperluan ini.
Sebuah pohon besar dan di atas pohon itu penuh dengan semut-semut besar, semacam semut yang suka makan bangkai, semut yang ganas sekali, berwarna merah darah!
Melihat semut-semut itu, mengertilah Tok-ciang Sian-jin dan diapun berteriak-teriak.
"Jangan...! Jangan... bunuh saja aku...!"
Akan tetapi Thian Sin hanya tersenyum dan cambuk rampasan di tangannya itu menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat saja semua pakaian tosu itu telah direnggut lepas dan tosu itu sudah telanjang bulat.
Lalu cambuk itu beberapa kali menyambar, melecuti tubuh itu dan pecah-pecahlah kulit tubuh itu, membuat guratan-guratan berdarah yang panjang.
Kemudian, dengan sabuk tosu itu sendiri, Thian Sin mengikat pinggang tubuh yang berdarah-darah itu lalu menggantung tubuh itu di cabang pohon.
Kemudian, dengan cambuknya, dia melecuti sarang-sarang semut merah di cabang-cabang.
Mengamuklah semut-semut itu dan akhirnya menemukan korban, yaitu tubuh Tok-ciang Sian-jin.
Mulailah mereka mengeroyok, menggigit dan tosu itu tanpa malu-malu lagi menjerit-jerit, meronta-ronta, menangis dan minta-minta ampun.
Akan tetapi Thian Sin hanya tertawa saja dan semut-semut itu makin banyak berdatangan, menggigiti seluruh tubuhnya, bahkan mulai merayap sampai ke muka tosu itu.
Mula-mula tosu itu mengusirnya dengan tiupan-tiupannya, akan tetapi akhirnya dia kehabisan napas dan mulailah semut-semut itu menggigiti dan menggerogoti kulit mukanya sedikit demi sedikit, hidungnya, bibirnya, pipi, mata, telinga!
Tok-ciang Sian-jin meronta-ronta dan tangisnya merupakan lolong yang mengerikan sampai Kim Lan sendiri menutupi telinganya dan membuang muka tidak berani memandang lebih lama lagi.
Berjam-jam Tok-ciang Sian-jin mengalami siksaan yang amat hebat, mati tidak hiduppun tidak.
Menjelang senja, setelah mengalami siksaan yang lebih dari setengah hari lamanya, akhirnya diapun terkulai dan pingsan, mendekati mati.
Thian Sin lalu menggunakan cambuk baja itu, diayun ke atas dan dengan pengerahan sin-kangnya, cambuk itu menyambar seperti pedang, tepat mengenai leher tubuh itu dan putuslah leher Tok-ciang Sian-jin.
Dengan pakaian tosu itu yang tadi dilucutinya dengan cambuk, dia membungkus kepala itu, lalu dengan cambuknya dia membelit tubuh tanpa kepala itu, menyeretnya secara kasar sambil berjalan pergi menuju ke sarang Pek-lian-kauw!
"Taihiap...!"
Kim Lan berseru, mukanya pucat sekali.
"Kau kembalilah dan tunggu aku di kuil tua."
Kata Thian Sin dan wanita itu mengangguk, lalu pergi cepat-cepat dari situ dengan hati penuh kengerian.
Pada keesokan harinya, gegerlah orang-orang Pek-lian-kauw ketika menemukan tubuh tanpa kepala, tubuh yang telanjang bulat dan rusak oleh gigitan semut-semut, tergantung oleh cambuk baja di pintu gerbang Pek-lian-kauw!
Biarpun kepalanya sudah tidak ada dan tubuh itu sukar dikenal lagi, namun melihat cambuk baja itu, para tosu Pek-lian-kauw dapat menduga siapakah pula orangnya yang membunuh Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam secara demikian sadisnya.
Siapa lagi kalau bukan Pendekar Sadis!
Akan tetapi karena Tok-ciang Sian-jin bukan orang Pek-lian-kauw, dan melihat kenyataannya pendekar itu tidak membunuh seorangpun anggauta Pek-lian-kauw, maka merekapun diam saja.
Sementara itu, di kota raja juga gempar ketika pagi hari itu orang-orang melihat sebuah kepala terpancang di atas menara istana!
Orang hanya dapat menduga-duga siapa yang melakukan itu, akan tetapi ada beberapa orang kang-ouw mengenal bahwa kepala itu adalah kepala Tok-ciang Sian-jin, maka orang-orangpun dapat menduga bahwa pembunuhnya agaknya adalah Pendekar Sadis.
Sementara itu setelah menggantung mayat di depan pintu gerbang Pek-lian-kauw dan kepalanya di menara istana, Thian Sin lalu kembali ke kuil kuno di mana Kim Lan telah menantinya.
Kim Lan terisak ketika menyambut pemuda itu dengan pelukannya, kadang-kadang dia masih bergidik ngeri sungguhpun dia merasa girang sekali telah dapat mendekap lagi pemuda yang dikaguminya, dicinta, dipuja dan juga amat ditakutinya itu.
Akan tetapi pada keesokan harinya, mereka berdua yang masih tidur dikejutkan oleh suara halus dari luar kuil.
Suara itu halus, akan tetapi juga berwibawa.
"Pendekar Sadis, keluarlah, kami hendak bicara denganmu!"
Thian Sin juga mendengar suara itu.
Dia mengulet dan mengucek matanya.
Tubuhnya terasa segar karena hatinya puas telah berhasil menewaskan musuh besarnya.
Dia terkejut juga mendengar suara itu, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkannya.
Bahkan ketika Kim Lan mengintai keluar, kemudian kembali dengan mata terbelalak dan sikap takut, dia tersenyum.
"Tenanglah, kenapa takut?"
"Taihiap, yang datang adalah hwesio tua, tosu dan tiga orang tua lain. Mereka kelihatan begitu berwibawa dan marah. Aku...aku khawatir, Taihiap."
"Tenanglah dan berpakaianlah yang pantas untuk menemui tamu."
Thian Sin bangkit dan membereskan pakaiannya.
"Pendekar Sadis, kami menanti, keluarlah!"
Setelah agak lama, terdengar lagi suara tadi.
Thian Sin mengajak Kim Lan keluar dan dia melangkah dengan tenang sekali.
Ketika tiba di luar, dia melihat ada lima orang kakek yang berdiri di pckarangan kuil kuno.
Seorang hwesio tua yang wajahnya keren, memegang sebatang tongkat hwesio, jubahnya lebar dan berwarna kuning.
Orang ke dua adalah seorang tosu tinggi kurus, selalu tersenyum namun sepasang matanya tajam, dan tosu ini seperti juga si hwesio, tentu sudah berusia enam puluh tahun lebih dan dia memegang tasbih.
Tiga orang kakek yang usianya juga enam puluhan tahun, ternyata mengenakan pakaian biasa, seperti sastrawan, namun sikap mereka dan keadaan mereka, Thian Sin dapat menduga bahwa mereka berlima itu tentu bukan orang-orang sembarangan, apalagi melihat sikap hwesio dan tosu yang alim dan berwibawa itu, sungguh jauh bedanya dengan sikap para pendeta Pek-lian-kauw.
Maka diapun lalu menjura dengan sikap hormat dan berkata.
"Ngo-wi locianpwe datang mencari saya, entah membawa keperluan apakah?"
Thian Sin memang pandai bersikap halus dan sopan tidak ubahnya seorang sastrawan muda yang tahu akan sopan santun.
"Omitohud...! Benarkah sicu ini yang dijuluki Pendekar Sadis?"
Tanya Si Hwesio tua sambil merangkap kedua tangan di atas dada sedangkan tongkatnya bersandar di pundaknya.
"Kiranya tidak salah dugaan lo-suhu, sungguhpun saya sendiri sama sekali tidak menghendaki menerima julukan seperti itu,"
Jawab Thian Sin dengan sikap merendah dan masih manis budi.
"Siancai... siapa dapat percaya pemuda yang gagah dan ramah ini yang dijuluki Pendekar Sadis,"
Kata pula Si Tosu sambil memperlebar senyumnya.
"Siapa ngo-wi locianpwe kalau saya boleh bertanya dan apakah maksud kunjungan ngo-wi ini?"
"Pinceng adalah Hwa Siong Hwesio dari Siauw-lim-pai,"
Kata hwesio itu dengan sederhana, akan tetapi Thian Sin terkejut sekali karena nama Hwa Siong Hwesio ini adalah nama seorang tokoh yang amat tinggi kedudukannya di Siauw-lim-pai!
"Pinto adalah Kui Yang Tosu dari Kun-lun-pai,"
Kata Si Tosu yang ramah.
Kembali Thian Sin terkejut karena kalau dia tidak salah ingat, yang bernama Kui Yang Tosu adalah wakil ketua partai persilatan Kun-lun-pai yang amat terkenal itu!
"Kami bertiga adalah Shan-tung Sam-lo-heng, sahabat baik dari mendiang Toan-ong-ya."
Kata seorang di antara tiga orang tua gagah itu.
Biarpun Thian Sin belum pernah mendengar nama ini namun dia dapat menduga bahwa agaknya tiga orang ini adalah pendekar-pendekar yang kenamaan di Propinsi Shan-tung dan memang dugaannya itu tepat sekali.
"Pinceng juga mengenal baik Toan-ong-ya,"
Kata pula hwesio Siauw-lim-pai itu.
"Pinto banyak berhutang budi kepada mendiang Toan-ong-ya,"
Sambung tosu Kun-lun-pai.
Diam-diam Thian Sin merasa tidak enak hati.
Kiranya mereka ini adalah sahabat-sahabat Toan-ong-ya, maka jelaslah dapat diduga bahwa kunjungan mereka tentu hendak menegurnya, bahkan mungkin saja untuk membalaskan kematian pangeran itu.
Akan tetapi, karena dia yakin akan kebenarannya, bahwa pembunuhannya terhadap Toan-ong-ya itu adalah karena kesalahan pangeran itu sendiri, dia bersikap tenang dan tidak merasa takut sedikitpun juga.
Hal ini nampak oleh lima orang kakek itu dan merekapun diam-diam amat kagum.
Pendekar Sadis ini selain masih muda, tampan, gagah dan halus budi, sopan santun, juga ternyata memiliki nyali yang amat luar biasa.
"Ah, kiranya ngo-wi locianpwe adalah sahabat-sahabat baik mendiang Toan-ong-ya. Kalau begitu, agaknya kedatangan ngo-wi adalah karena saya telah membunuh pangeran itu, bukan?"
Tanyanya dengan jujur, tanpa membuang waktu lagi.
"Bukan hanya itu, orang muda,"
Kata tosu Kun-lun-pai.
"Pinto datang untuk menegur caramu membasmi orang-orang dari dunia hitam!"
"Omitohud, dosamu bertumpuk-tumpuk, orang muda. Siapakah kau kira engkau ini? Giam-lo-ong sendiri? Ataukah ibils berwajah manusia? Pinceng sudah mendengar akan caramu menghakimi orang-orang, dengan penyiksaan dan pembunuhan yang amat mengerikan. Omitohud... Siauw-lim-pai akan ikut bersalah kalau tidak turun tangan terhadap keganasanmu ini!"
Thian Sin mengerutkan alisnya, akan tetapi, sambil tersenyum suaranya masih halus ketika dia berkata.
"Ji-wi locianpwe dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, maafkan kalau saya tidak dapat menyenangkan hati ji-wi, akan tetapi hendaknya diingat bahwa semua urusan saya tidak ada sangkut-pautnya dengan ji-wi locianpwe. Dan karena saya bukanlah anggauta kedua partai terbesar di dunia persilatan, maka kiranya saya tidak perlu mempedulikan larangan dan peraturan yang terdapat dalam perguruan ji-wi."
Jawaban itu singkat, padat, dan juga tegas.
Kedua orang pendeta itu saling pandang dan nampaknya kehabisan akal, karena bagaimanapun juga, memang ucapan pemuda itu benar.
Selain pemuda itu tidak ada urusan dengan Kun-lun-pai maupun Siauw-lim-pai, juga pemuda ini sama sekali tidak melakukan kejahatan dalam membasmi mereka yang tergolong jahat.
Oleh karena itu, mereka kini menoleh kepada tiga orang gagah dari Shan-tung itu dan menggantungkan harapan kepada mereka untuk menyudutkan pemuda yang ganas ini.
Seorang di antara tiga pendekar tua dari Shan-tung itu lalu berkata, suaranya garang.
"Pendekar Sadis, kedua orang pendeta yang budiman ini datang untuk menyadarkanmu dari kesesatan, akan tetapi engkau malah menjawab dengan kata-kata sombong. Akan tetapi ketahuilah, bahwa kami tidak mungkin dapat mendiamkan saja engkau membunuh Toan-ong-ya. Kalau kami diamkan, berarti kami membiarkan orang berbuat sewenang-wenang dan jahat."
Thian Sin tersenyum lebar.
"Hemm, apakah sekarang orang-orang gagah di dunia ini telah berbalik hati dan hendak membela orang jahat? Kalau benar ngo-wi yang saya hormati sudah berbalik hati, membela orang jahat, biarlah saya akan menghadapi ngo-wi karena dengan demikian berarti pula bahwa ngo-wi adalah orang-orang jahat juga!"
"Omitohud...!"
"Siancai...!"
"Pendekar Sadis, berani kau berkata demikian? Siapakah yang mengatakan bahwa Toan-ong-ya adalah orang jahat? Agaknya wanita itu yang memberitahukanmu, bukan?"
Seorang di antara tiga pendekar tua Shan-tung itu membentak.
"Kalau pangeran itu tidak jahat, mengapa sampai mati di tangan Pendekar Sadis?"
Thian Sin balas bertanya.
"Coba katakan, kejahatan apakah yang telah dilakukan oleh Toan-ong-ya, maka engkau turun tangan membunuhnya secara keji!"
"Saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya merasa tidak perlu berdebat. Akan tetapi, kalau ngo-wi hendak membela orang jahat yang telah saya bunuh, silakan maju, saya tidak akan undur selangkahpun!"
"Keparat...!"
Tiga orang gagah dari Shan-tung itu meloncat ke depan, wajah mereka menjadi merah karena marah.
Pemuda itu mereka anggap sombong bukan main.
Terdengar suara berdesing dan nampak sinar berkilat ketika mereka bertiga sudah mencabut pedang masing-masing, dan gerakan mereka sungguh cepat dan indah.
"Orang muda sombong, keluarkanlah senjatamu!"
Thian Sin tersenyum dan biarpun dia tahu bahwa mereka bertiga itu lihai sekali ilmu pedangnya, namun dia tidak merasa takut.
"Sam-wi hendak membela orang jahat? Majulah, saya belum merasa perlu untuk memakai senjata untuk menghadapi sam-wi."
Betapa sombongnya jawaban ini.
Tiga orang gagah dari Shan-tung itu menjadi semakin marah, dan mereka sudah hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba tokoh Siauw-lim-pai itu memalangkan tongkatnya dan berkata.
"Omitohud... harap sam-wi tenang dulu. Tidak baik turun tangan sebelum diperoleh penjelasan."
Karena menghormati tokoh Siauw-lim-pai ini, Shan-tung Sam-lo-eng mundur dengan muka merah padam.
Hwa Siong Hwesio lalu melangkah maju menghadapi Thian Sin.
"Orang muda, harap engkau suka menghadapi urusan dengan kepala dingin. Sungguh kami bukanlah orang-orang yang usil atau membela orang jahat, akan tetapi agaknya ada kesalahfahaman antara kita tentang diri mendiang Toan-ong-ya. Oleh karena itu, pinceng harap engkau suka memandang muka orang-orang tua ini untuk menjelaskan, kejahatan apakah yang telah dilakukan oleh Toan-ong-ya sehingga engkau mengambil keputusan untuk membunuhnya?"
Menghadapi sikap yang begini halus, Thian Sin merasa kewalahan juga.
Kalau dia terus berkeras, berarti dia yang tidak tahu aturan.
Maka diapun menjawab tenang.
"Locianpwe, kalau saya tidak melihat dia jahat, mengapa harus saya bunuh dia? Toan-ong-ya itu telah memperkosa wanita, membunuh ayah dan suami wanita itu. Coba ngo-wi bayangkan, apakah kejahatan itu tidak melewati batas dan sudah sewajarnya kalau saya membunuhnya?"
"Hemm, engkau tentu mendengar semua itu dari wanita ini, bukan?"
Seorang di antara tiga orang Shan-tung itu berkata. Thian Sin mengangguk.
"Benar, dan dia di sini karena harus kulindungi dari ancaman kaki tangan Toan-ong-ya yang tentu akan membunuhnya."
Dia sengaja menggunakan kata-kata kaki tangan Toan-ong-ya untuk menyindir kepada mereka.
"Omitohud... Sicu, engkau orang muda, biarpun telah memiliki ilmu silat yang tinggi, namun kurang pengalaman. Tahukah engkau mengapa Toan-ong-ya membunuh dua orang laki-laki yang menjadi ayah dan suami wanita ini?"
Mendengar pertanyaan ini, Thian Sin terperanjat.
Baru dia sadar bahwa memang dia tidak mengenal dengan baik siapa sebenarnya diri Kim Lan sebelumnya, dan dia hanya percaya saja kepada cerita wanita ini!
"Mereka adalah pemburu-pemburu binatang liar yang menjadi langganan Toan-ong-ya dan ketika wanita ini mengantar kulit harimau, ia telah ditahan dan diperkosa oleh pangeran itu.
Ketika suami dan ayahnya datang untuk menyelidik, mereka dibunuh oleh pangeran itu..."
"Siancai...!"
Tosu itu berseru dengan suara panjang.
"Pemutarbalikan fakta yang sungguh memalukan. Pendekar Sadis, ketahuilah bahwa wanita ini adalah bekas seorang maling tunggal yang terkenal di kota raja. Ia pernah berusaha untuk mencuri di istana Toan-ong-ya, lalu tertangkap, akan tetapi ia diampuni oleh Toan-ong-ya bahkan diberi pekerjaan menjaga keamanan asalkan ia berjanji akan merubah jalan hidupnya. Baru satu bulan dipekerjakan di istana Toan-ong-ya, ia bersekutu dengan dua orang perampok yang memang adalah suaminya dan ayahnya, dan ketika mereka datang malam itu, mereka ini masih tetap diampuni oleh Toan-ong-ya karena selama itu ia telah diambil selir oleh Toan-ong-ya, suatu kesalahan kecil dari mendiang Toan-ong-ya yang mudah dirayu wanita. Akan tetapi, bukan berterima kasih, ia malah hendak meracuni Toan-ong-ya. Bayangkan betapa jahatnya. Akan tetapi Toan-ong-ya tidak menuntut atau membunuhnya, hanya mengusirnya."
"Omitohud, sekarang jelaslah. Agaknya, mendengar akan namamu, Pendekar Sadis, ia telah berhasil membujukmu dan memutarbalikkan fakta sehingga engkau tertipu dan mau membunuh orang yang demikian berbudi seperti Toan-ong-ya..."
Thian Sin sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Kim Lan...!"
Dia memanggil dan menengok, akan tetapi wanita yang tadi berhenti di belakangnya itu tiba-tiba melarikan diri.
"Berhenti kau ...!"
Tosu Kun-lun-pai itu menggerakkan tangan memukul dari jarak jauh.
"Plakk!"
Thian Sin menangkisnya dan tosu itu terhuyung ke belakang.
"Harap locianpwe jangan mencampuri urusanku!"
Thian Sin berkata dan sekali loncat, tubuhnya sudah melesat ke depan seperti seekor burung saja, dan sekali tangannya meraih, rambut Kim Lan telah dijambaknya dan ditariknya dengan kuat sehingga tubuh wanita itu jatuh tergungkur.
Kim Lan meloncat bangun, mencabut sebuah pisau belati dan menusukkan pisau ke perutnya sendiri, akan tetapi sekali renggut saja, pisau itu telah pindah ke tangan Thian Sin dan sebuah tendangan membuat wanita itu terjungkal.
Tiga orang kakek itu telah maju mendekat dan hanya menonton.
Thian Sin seperti tidak menganggap ada orang lain di tempat itu.
"Kim Lan, hayo katakan, benarkah semua itu? Benarkah bahwa engkau datang pura-pura menggantung diri untuk membujuk dan membohongi aku? Benarkah mereka itu perampok dan engkau pencuri, dan bahwa Toan-ong-ya adalah seorang yang budiman? Hayo jawab sebenarnya!"
Tiba-tiba wanita yang menangis itu menjadi nekat.
Dipandangnya Thian Sin melalui air matanya, dan ia berkata.
"Benar, memang benar! Akan tetapi ayahku dan suamiku dibunuh, aku harus membalas dendam, dan engkau Taihiap... engkau... aku tergila-gila kepadamu... ahhh!"
"Perempuan iblis, jadi engkau telah menipuku, mataku masih melek seperti hendak kau bikin buta, dan mulutmu pandai sekali membujuk, merayu, berbohong! Rasakan ini!"
Beberapa kali pisau berkelebat.
Lima orang kakek itu hendak mencegah akan tetapi menahan tangan mereka karena maklum bahwa selain tidak keburu, juga pemuda itu agaknya tidak mau dicampuri orang lain.
Terdengar wanita itu menjerit-jerit mengerikan dan darah muncrat-muncrat dari mukanya.
Kedua matanya telah dicokel keluar oleh pisau di tangan Thian Sin, dan ada dua guratan pisau membentuk palang merobek mulutnya dari pipi di kanan kiri sampai ke dagu.
Tentu saja Kim Lan berkelojotan di atas tanah dan karena bibirnya dan pipinya sudah robek-robek, suara yang terdengar dari mulutnya menjadi aneh, seperti suara binatang!
"Inilah biang-keladi semua peristiwa itu, ngo-wi locianpwe.
Selamat berpisah!"
Thian Sin melompat dengan cepat tanpa memberi kesempatan lima orang itu menjawab.
Lima orang kakek itu masih terlampau kaget dan ngeri menyaksikan hukuman kejam yang dijatuhkan oleh Pendekar Sadis kepada Kim Lan sehingga mereka tercengang dan tidak sempat menghalangi perginya pemuda itu.
Dan pula, apa perlunya menghalanginya.
Mereka datang selain untuk menuntut pembunuhan atas diri Toan-ong-ya, juga untuk memberi nasihat kepada pendekar yang hatinya kejam seperti iblis itu.
Dan ternyata, dalam urusan pangeran itu, Pendekar Sadis bukannya sengaja membunuh orang baik-baik, melainkan tertipu oleh wanita ini yang telah dihukumnya pula, sedangkan tentang nasihat, agaknya pemuda itu agaknya tidak dapat dinasihati.
Buktinya, baru saja mereka menegur si pendekar itu kembali telah melakukan kekejaman dalam menghukum orang jahat, yaitu terhadap wanita itu, dan di depan mata mereka sendiri malah!
Thian Sin cepat meninggalkan daerah itu.
Dia (Lanjut ke
Jilid 31) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 agak merasa gelisah juga setelah pertemuannya dengan lima orang kakek itu.
Mengapa dia begitu ceroboh sehingga mudah saja tertipu oleh seorang wanita seperti Kim Lan?
Kini dia dihadapkan dalam keadaan yang tidak enak sekali dengan para tokoh pendekar di dunia.
Akan tetapi, dia tidak peduli dan hatinya merasa puas setelah dia berhasil membunuh semua musuh orang tuanya.
Dan sekarang tinggal musuh-musuh keluarga Lian Hong!
Dan musuh-musuh keluarga Ciu Khai Sun itupun hanya tinggal See-thian-ong, Lam-sin dan Pak-san-kui.
Musuh-musuh yang amat berat.
Akan tetapi, dia harus dapat mengalahkan mereka, membunuh mereka.
Biarpun bukan tokoh-tokoh besar itu sendiri yang bergerak, namun jelas bahwa orang-orang mereka ikut menyerbu dan menyebabkan terbasminya keluarga Ciu itu.
Dan selain keinginannya hendak membalaskan kematian keluarga Ciu itu, ada satu keinginan lain yang pada akhir-akhir ini menyelinap di dalam hati sanubarinya.
Mendiang ayahnya telah gagal menjadi jagoan nomor satu di dunia!
Dia, sebagai keturunannya, putera tunggalnya, harus menebus kegagalan itu.
Dia harus dapat mengalahkan semua jagoan di dunia, terutama sekali datuk-datuk kaum sesat.
Memang, dia pernah mengalahkan See-thian-ong dan Pak-san-kwi, akan tetapi kemenangannya itu belum mutlak.
Barulah kemenangannya akan diakui oleh dunia kalau dia sudah dapat membunuh mereka, yaitu ketiga datuk itu, See-thian-ong, Lam-sin dan Pak-san-kwi!
Dan dia akan mencari, akan membunuh mereka selain untuk membalas sakit hati Ciu Lian Hong, juga untuk membikin puas hati mendiang ayahnya bahwa puteranya telah dapat mengalahkan semua detuk di dunia sesat!
Setelah membunuh mereka bertiga, barulah dia akan menghadapi Tung-hai-sian, datuk di timur itu.
Biarpun dengan datuk ini dia tidak mempunyai urusan sesuatu, namun untuk dapat mengangkat nama ayahnya dia harus dapat mengalahkan semua datuk, termasuk Tung-hai-sian.
Dan puterinya itu, siapa namanya?
Ah, ya, Bin Biauw, sungguh cantik jelita, kecantikan yang khas wanita keturunan Korea!
Dia pernah mengalahkan See-thian-ong dan Pak-san-kwi, juga dia pernah bertemu dengan Tung-hai-sian.
Hanya Lam-sin saja, datuk kaum sesat dari selatan itulah yang belum pernah dijumpainya, walaupun dia pernah bertemu dengan anak buahnya, yaitu anggauta-anggauta Bu-tek Kai-pang yang rata-rata amat lihai itu.
Juga berita tentang Lam-sin ini amat menarik hatinya, karena tokoh datuk kaum sesat yang satu ini keadaannya diliputi penuh rahasia dan kabarnya lihai bukan main, lebih lihai daripada tiga datuk lainnya.
Pula, untuk sementara waktu, memang ada baiknya untuk meninggalkan kota raja sejauh mungkin, apalagi setelah para pendekar merasa tidak senang kepadanya.
Dan tempat tinggal datuk selatan itu tempatnya paling jauh dari kota raja.
Dia mendengar bahwa Bu-tek Kai-pang berpusat di Heng-yang, di Propinsi Hu-nan, maka ke sanalah dia pergi.
Adapun tentang Lam-sin sendiri, tidak ada yang tahu berada di mana atau di mana tempat tinggalnya.
Akan tetapi dia merasa yakin bahwa di sarang Bu-tek Kai-pang, tentu dia akan dapat menemukan ketuanya, yaitu Lam-sin, atau setidaknya, dari para pengemis itu tentu dia akan dapat menemukan alamat Lam-sin.
Sama sekali Thian Sin tidak pernah menduga bahwa dia menuju ke sebuah kota di mana dara yang dicintanya itu, Ciu Lian Hong, pernah tinggal, bahkan tinggal bersama dengan Lam-sin, juga bahwa kakak angkatnya, Cia Han Tiong, bersama ayah dan ibu angkatnya, yaitu Pendekar Lembah Naga, pernah datang ke kota itu dan bertemu dengan Lam-sin!
Bu-tek Kai-pang memang merupakan perkumpulan pengemis yang amat berpengaruh di Propinsi Hu-nan bahkan di seluruh daerah selatan.
Bukan hanya karena para pengemis yang bajunya tambal-tambalan dan bersih itu rata-rata berkepandaian tinggi yang membuat para pengemis ini ditakuti orang, akan tetapi terutama sekali karena perkumpulan ini adalah anak buah dari Lam-sin, datuk selatan yang dianggap sebagai datuk semua kaum sesat di daerah selatan.
Yang disebut daerah selatan adalah yang berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce-kiang.
Lam-sin sendiri merupakan seorang tokoh yang penuh rahasia, jarang ada yang tahu bahwa datuk kaum sesat selatan yang hanya terkenal dengan sebutan Lam-sin (Malaikat Selatan) itu adalah seorang nenek.
Bahkan orang-orang di dalam kota Heng-yang di Propinsi Hu-nan itu sendiri, kalau bertemu dengan nenek ini, tidak tahu bahwa ia adalah Lam-sin yang tersohor itu.
Lam-sin tidak pernah keluar turun tangan sendiri menghadapi segala macam urusan.
Cukup dengan perkumpulan Bu-tek Kai-pang saja yang membereskan semua persoalan.
Memang dalam urusan yang besar, yang tidak mampu dibereskan oleh Bu-tek Kai-pang, seperti ketika ada lima jagoan dari Jepang yang membuat kacau di pantai lautan timur selatan dan yang amat lihai sehingga para pimpinan Bu-tek Kai-pang tidak mampu menundukkannya, Lam-sin sendiri yang turun tangan.
Namun, ia turun tangan di waktu malam dan lima orang jagoan dari Jepang itu tidak tahu, orang macam apakah yang menghajar mereka sehingga mereka lari tunggang langgang naik ke dalam perahunya dan tidak pernah berani kembali lagi.
Pendeknya, tokoh Lam-sin ini penuh rahasia dan di manapun ia berada, tidak pernah ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain.
Bu-tek Kai-pang merupakan nama perkumpulan yang membayangkan ketinggian hati ketuanya.
Bu-tek Kai-pang berarti Perkumpulan Pengemis Tanpa Tanding!
Dan untuk urusan sehari-hari, perkumpulan ini dipimpin oleh ketua-ketua yang disebut pangcu-pangcu karena Lam-sin sendiri tidak mau disebut ketua pengemis!
Tiga orang pangcu dari Bu-tek Kai-pang adalah orang-orang yang menerima pelajaran ilmu silat langsung dari Lam-sin, dan mereka itupun hanya dikenal julukan mereka saja yang sesuai dengan warna pakaian mereka.
Ketua pertama adalah Ang-i Kai-ong (Raja Pengemis Berbaju Merah), ketua ke dua adalah Jeng-i Kai-ong karena pakaiannya yang berwarna hijau dan yang ke tiga adalah Pek-i Kai-ong yang selalu berbaju putih.
Tiga orang inilah yang langsung menangani semua urusan kai-pang itu.
Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi dan amat tunduk dan setia kepada Lam-sin yang merupakan guru mereka.
Tentu saja Bu-tek Kai-pang dianggap sebagai perkumpulan kaum sesat dan Lam-sin sendiri juga sebagai datuk sesat karena sepak terjang perkumpulan itu sendiri memang jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan hitam.
Perkumpulan ini merupakan pemerintah gelap yang menuntut pajak dari tempat-tempat perjudian, pelacuran dan semua penjahat dari golongan apapun di selatan selalu membayar semacam "pajak"
Atas penghasilan mereka kepada Bu-tek Kai-pang.
Kalau hal ini tidak dipenuhi, jangan harap mereka itu akan dapat melanjutkan "pekerjaan"
Mereka.
Oleh karena itu, tentu saja penghasilan Bu-tek Kai-pang yang masuk amat banyak dan perkumpulan itu memperoleh dana yang lebih dari cukup.
Bahkan Lam-sin yang memang tadinya sudah memiliki harta yang besar itu kini hidup serba kecukupan dalam sebuah istana yang indah dan penuh dengan barang berharga.
Ketika pada pagi itu Thian Sin memasuki kota Heng-yang, tanpa bertanya-tanya saja dia sudah dapat melihat ada beberapa orang anggauta pengemis Bu-tek Kai-pang berkeliaran di dalam kota.
Pakaian mereka yang tambal-tambalan akan tetapi bersih dan baru itu sudah menunjukkan siapa adanya mereka.
Dan mereka itu tidak ada yang mengemis!
Mereka berjalan-jalan seperti penjaga-penjaga keamanan saja, dengan sikap yang angkuh dan pendiam, tidak mempedulikan keadaan kanan kiri agaknya.
Ada yang memegangnya dengan tangan, ada pula yang menaruhnya di punggung, akan tetapi setiap orang pengemis Bu-tek Kai-pang selalu mempunyai sebatang tongkat akar bahar yang berwarna hitam dan berlekak-lekuk seperti ular.
Thian Sin memasuki sebuah rumah makan dan sengaja memilih meja yang berdekatan dengan pintu.
Dengan penuh perhatian dia melihat pengemis yang mendekati rumah makan itu.
Pengemis itu masih muda, belum empat puluh tahun usianya.
Pakaiannya yang tambal-tambalan dan masih baru, nampak jelas sekali bahwa itu bukan baju robek yang ditambal-tambal, melainkan sengaja dibuat baju baru dari kain baru yang disambung-sambung.
Pengemis inipun mempunyai sebatang tongkat akar bahar yang tergantung di punggungnya.
Dari gerak kedua kaki itu ketika si pengemis menghampiri rumah makan, mudah dilihat bahwa dia memiliki kepandaian silat yang cukup kuat.
Gerakan kakinya tegap dan teguh, dengan punggung tegak lurus dan sikap waspada.
Thian Sin memang sengaja mau mencari gara-gara...
Dia tadi sudah makan panggang ayam dan melihat pengemis itu lewat di dekat mejanya, dia lalu mengambil tulang-tulang ayam di dalam mangkoknya, dan memberikan itu kepada si pengemis sambil berkata dengan suara lantang.
"Heii, jembel! Nih kuberi tulang ayam sebagai hadiahku kepada rajamu. Berikan ini kepada rajamu, ya?"
Semua orang menoleh dan banyak mata terbelalak, muka orang-orang itu menjadi pucat ketika melihat siapa yang dihina oleh pemuda itu.
Ada orang berani menghina seperti itu kepada seorang pengemis Bu-tek Kai-pang, sungguh itu berarti mengantar nyawa untuk mati konyol!
Semua orang memandang dan menduga bahwa di lain saat mereka akan melihat pemuda itu menggeletak tanpa nyawa di tempat itu.
Akan tetapi, pengemis muda yang sudah berhenti melangkah dan berdiri di depan Thian Sin, sejenak memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Jelas bahwa dia marah sekali.
Agaknya memang dia tidak mau membikin ribut di dalam restoran.
Dia menerima tulang-tulang ayam itu, kemudian sekali banting, tulang-tulang ayam itu menancap di atas papan meja di depan Thian Sin!
Itulah demontrasi kekuatan sin-kang yang lumayan!
Akan tetapi Thian Sin tertawa melihat kemarahan ini.
"Ha-ha-ha, rajamu tidak doyan tulang? Aneh sekali! Bukankah biasanya pengemis berebut tulang dengan anjing-anjing? Kalau rajamu menghendaki daging, suruh dia datang ke sini!"
Semua orang yang mendengar ini merasa ngeri.
Sudah gilakah pemuda itu, pikir mereka.
Tidak ada seorangpun di kota itu akan berani bersikap menghina seperti ini, apalagi ditujukan kepada raja pengemis.
Sungguh mencari mati seratus kali!
Akan tetapi pengemis itu mampu menahan kemarahannya.
Dia mengerti benar bahwa pemuda ini tentu bukan penduduk Heng-yang dan dapat menduga pula bahwa pemuda ini memang sengaja mencari gara-gara.
Maka setelah memandang dengan sinar mata penuh ancaman, dia melangkah keluar dari rumah makan itu, tidak jadi masuk.
Biasanya, seorang anggauta Bu-tek Kai-pang yang memasuki rumah makan akan dilayani seperti tamu-tamu biasa, walaupun mereka itu tidak perlu membayar.
Dan fihak pemilik rumah makan juga tidak merasa menyesal karena para anggauta Bu-tek Kai-pang itu selalu tertib, tidak memperlihatkan sikap sewenang-wenang dan hanya masuk dan makan kalau memang mereka lapar dan membutuhkan makanan.
Pendeknya, sikap mereka itu rata-rata berwibawa dan tidak rendah seperti penjahat-penjahat kecil.
Melihat pengemis itu pergi keluar, Thian Sin hanya tersenyum dan melanjutkan makan minum seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Dia tidak peduli akan pandang mata para tamu lain yang ditujukan kepadanya, bahkan di antara mereka ada yang memberi tanda-tanda dengan kedipan mata agar dia itu cepat-cepat pergi saja.
Sebaliknya, Thian Sin malah minta ditambah araknya dan pelayan yang melayaninya juga memandang dengan wajah pucat, lalu berbisik ketika membawa arak yang dipesannya.
"Kongcu sebaiknya cepat meninggalkan tempat ini...!"
"Jangan campuri urusanku!"
Bentak Thian Sin dan pelayan itu pergi ketakutan.
Semua orang merasa tegang dan ngeri, apalagi ketika mereka melihat bahwa pengemis yang tadi kini telah nampak di luar rumah makan, bersama pengemis kedua yang bermuka hitam, bertubuh tinggi besar dan nampak kuat sekali.
Mereka berdua itu kini telah memegang tongkat mereka, tanda bahwa mereka telah bersiap-siap menghajar pemuda kurang ajar yang masih enak-enak minum arak di dalam rumah makan itu.
Thian Sin juga melihat dua orang pengemis itu dan dia tersenyum, hatinya gembira bahwa pancingannya mulai berhasil.
Tidak mudahlah baginya untuk mencari Lam-sin tanpa memancing keributan dengan Bu-tek Kai-pang.
Setelah selesai makan minum yang dilakukan dengan sabar dan tidak tergesa-gesa, membuat dua orang pengemis itu makin marah, dia lalu membayar kepada pelayan yang kelihatan lega melihat pemuda itu akhirnya mau meninggalkan rumah makan itu.
Akan tetapi dia terbelalak melihat pemuda itu mengumpulkan tulang-tulang ayam dan membawanya keluar dari restoran.
Thian Sin melangkah keluar sambil tersenyum-senyum tenang melihat lagak dua orang pengemis yang menghadangnya di luar itu.
Thian Sin bersikap seolah-olah tidak melihat bahwa dua orang pengemis itu marah sekali, dan tidak melihat bahwa tangan mereka yang memegang tongkat akar bahar itu tergetar karena marah dan ingin memukul.
Malah dia tersenyum.
"Aih, kiranya engkau masih berada di sini dan membawa teman? Apakah kalian diutus oleh raja kalian untuk menerima hadiah tulang ayam dariku?"
"Keparat bermulut busuk!"
"Bocah sudah bosan hidup!"
Dua orang pengemis itu sudah bergerak cepat, yang seorang menusukkan tongkatnya ke arah dada Thian Sin, yang ke dua menghantamkan tongkat itu ke arah lehernya.
Namun Thian Sin dengan dua kali langkah ke kiri dan belakang saja sudah dapat menghindarkan diri dan dia berkata sambil tertawa.
"Nah, ini hadiahku, sampaikan kepada Lam-sin!"
Dan tangannya bergerak, ada sinar menyambar dan dua orang pengemis itu berteriak kesakitan, tongkat-tongkat mereka terlepas dan mereka mundur dengan mata terbelalak.
Kedua tangan mereka lumpuh dan tulang-tulang ayam itu telah menancap pada lengan mereka, mengenai urat-urat besar yang membuat lengan mereka menjadi lumpuh dan terasa nyeri bukan main.
Maklum bahwa pemuda itu adalah seorang ahli dan bukan lawan mereka, kedua orang pengemis itu lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ dengan langkah lebar, kedua lengan masih bergantung lumpuh.
"Hei, jangan lupakan tongkat jimat kalian!"
Thian Sin berseru dan dia menyambar dua tongkat itu, lalu melemparkannya sembarangan ke depan.
Tongkat-tongkat itu melayang dan dengan tepat sekali tiba di punggung kedua orang pengemis itu, mengait dan bergantung seperti kalau mereka sendiri yang menggantungnya!
Semua orang yang berada di rumah makan itu tadi telah melongok keluar pintu dan jendela, karena mereka merasa yakin bahwa pemuda itu akan dibunuh oleh dua orang Bu-tek Kai-pang, kini terbelalak dan melongo penuh keheranan.
Hampir mereka itu tidak dapat mempercayai pandang mata mereka sendiri menyaksikan dua keanehan yang selama bertahun-tahun tak pernah terjadi itu.
Pertama, adanya seorang pemuda yang berani mati melawan dua orang Bu-tek Kai-pang, bahkan berani menyebut-nyebut dan menantang Lam-sin.
Dan ke dua, adanya seorang pemuda yang mampu mengalahkan dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang dalam segebrakan saja, tidak mempergunakan senjata melainkan menggunakan tulang-tulang ayam!
Dan kini mereka melihat pemuda itu dengan lenggang kangkung meninggalkan tempat itu seenaknya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa.
Maka mulailah orang-orang bertanya-tanya.
Siapakah gerangan pemuda yang luar biasa itu?
Luar biasa beraninya dan juga luar biasa lihainya?
Pertanyaan ini bergema di seluruh Bu-tek Kai-pang.
Tiga orang Kai-pangcu yang mendengar laporan dua orang anak buahnya, melihat betapa tulang-tulang ayam itu menusuk lengan-lengan murid atau anak buah mereka bagaikan senjata-senjata rahasia yang ampuh, menggebrak meja.
"Siapakah pemuda keparat itu?"
"Kami... kami tidak tahu namanya."
"Bodoh! Kenapa tidak kalian tanya dan di mana dia sekarang?"
Seorang pengemis yang baru datang berkata.
"Harap pangcu ketahui bahwa pemuda itu kini mondok di rumah penginapan Lok-nam."
"Bagus,"
Kata Ang-i Kai-ong, ketua pertama.
"Lima Ular Hitam, malam nanti kutugaskan menangkapnya dan menyeretnya ke sini!"
Lima orang pengemis berusia empat puluhan tahun yang bertubuh tinggi kurus dan terkenal dengan julukan Hek-coa Ngo-kai (Lima Pengemis Ular Hitam) cepat memberi hormat dan menyatakan kesanggupan mereka.
Hek-coa Ngo-kai ini tadinya adalah lima orang perantau yang menjual obat-obat dan racun-racun ular dengan memainkan pertunjukkan dengan ular-ular hitam.
Oleh karena itulah, setelah mereka ditundukkan oleh Bu-tek Kai-pang dan menakluk, mereka diterima sebagai anggauta-anggauta kai-pang dan merupakan lima di antara pembantu-pembantu para ketua kai-pang itu, dengan julukan Lima Pengemis Ular Hitam.
Mereka adalah ahli-ahli racun yang lihai, di samping ilmu silat mereka yang tinggi, apalagi setelah mereka menerima Ilmu Hok-mo-pang (Tongkat Penakluk Iblis).
Malam itu sunyi sekali di penginapan Lok-nam.
Hal ini bukan sekali-kali karena penginapan itu sepi tamu, sama sekali tidak, melainkan karena pemilik penginapan dan para tamu, penjaga dan pelayan telah mendengar dari Bu-tek Kai-pang bahwa seorang di antara para tamu mereka, yaitu pemuda tampan berpakaian sasterawan yang bersikap halus itu, adalah musuh Bu-tek Kai-pang yang malam itu hendak ditangkap oleh Bu-tek Kai-pang!
Tentu saja hal ini menimbulkan ketegangan, apalagi ketika para pelayan membocorkan rahasia itu kepada tamu-tamu lainnya.
Para tamu ada yang pindah tempat, dan yang tidak pindah penginapan, sore-sore telah menutup pintu kamar dan tidur atau berdiam di dalam kamar saja dengan hati gelisah, takut kalau-kalau mereka terbawa-bawa.
Thian Sin tentu saja tahu atau menduga bahwa malam itu tentu akan terjadi sesuatu.
Setelah pancingannya yang berhasil pagi tadi, setelah dia melukai dua orang pengemis itu, luka-luka ringan saja untuk sekedar memancing keluarnya "kakap", yaitu Lam-sin yang dicarinya, dia menanti dengan sabar.
Sejak pagi tidak terjadi sesuatu, akan tetapi dia tahu bahwa tidak mungkinlah kalau Bu-tek Kai-pang diam-diam saja dan merasa takut kepadanya.
Demontrasi kepandaian yang diperlihatkannya ketika dia mengalahkan dua orang pengemis itu tidak berapa hebat, tidak mungkin membuat jerih tokoh-tokoh Bu-tek Kai-pang yang tentu jauh lebih lihai daripada tingkat yang telah diperlihatkannya pagi tadi.
Dia menduga kalau hari itu tidak ada sesuatu, tentu fihak perigemis itu menanti sampai malam ini.
Maka diapun sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, akan tetapi pada lahirnya, Dia nampak tenang-tenang saja, bahkan para pengurus dan pelayan rumah penginapan itu mendengar dia bernyanyi-nyanyi dan membaca sajak dengan suara merdu di dalam kamarnya!
Menjelang tengah malam, keadaan di rumah penginapan itu sudah sunyi benar-benar.
Pemuda yang menjadi pusat perhatian yang tadi masih membaca sajak dengan suara merdu, kinipun tidak ada suaranya lagi.
Kamarnya sudah sunyi, lilin sudah dipadamkan dan agaknya pemuda ini sudah tidur.
Ada bayangan-bayangan orang berkelebat dengan cepatnya.
Mereka memasuki rumah penginapan itu dengan mudah karena memang mereka bekerja sama dengan pengurus hotel, lalu mereka itu menyelinap mendekati kamar nomor lima, kamar di mana Thian Sin bermalam.
Tak lama kemudian, ada asap putih memasuki kamar itu melalui lubang jendela.
Asap dari dupa harum sekali.
Setelah membiarkan kamar itu penuh asap dupa wangi yang mengandung obat bius sampai beberapa lamanya, lima orang Pengemis Ular Hitam itu lalu mencokel jendela dan membiarkan asap-asap itu keluar lagi melalui jendela-jendela yang terbuka.
Betapapun juga, mereka masih mempergunakan saputangan yang telah diberi obat penawar untuk ditutupkan di muka mereka dan mereka lalu berloncatan masuk melalui jendela yang telah terbuka.
Mereka berlima melihat tubuh berselimut di atas pembaringan, sedikitpun tidak bergerak.
Dengan girang karena ternyata lawan yang dikatakan lihai ini begitu mudah ditundukkan, lima orang itu menubruk ke depan dengan penerangan yang menyorot ke dalam dari luar jendela yang sudah terbuka, biarpun remang-remang mereka dapat melihat bahwa lawan mereka itu rebah berselimut dalam keadaan tak berdaya.
"Hayaaa...!"
Mereka berteriak, dengan kaget.
"Kita tertipu...!"
Kiranya yang mereka tubruk bersama itu bukan lain hanyalah sebuah guling yang diselimuti dan diletakkan di atas bantal, seperti orang tidur.
Dan orangnya sendiri entah berada di mana!
"Cepat keluar, angin buruk!"
Kata yang menjadi pimpinan.
Angin buruk ini berarti bahwa keadaan tidak baik bagi mereka dan mereka hendak cepat-cepat pulang melaporkan kegagalan mereka itu.
Akan tetapi, ketika mereka berlompatan keluar, di ruangan depan telah menanti seorang pemuda yang berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum memandang kepada mereka.
Dan pemuda ini bukan lain adalah Thian Sin!
"Ha-ha-ha, pengemis-pengemis tolol bisanya hanya menangkap bantal guling!"
Pemuda itu mengejek sambil tersenyum lebar.
Lima orang pengemis yang sudah menerima perintah ketua mereka untuk menangkap pemuda itu.
"hidup atau mati"
Demikian kata ketua mereka, cepat maju mengurung.
"Orang muda, menyerahlah agar kami dapat membawamu kepada ketua kami dan tidak perlu untuk melukaimu,"
Kata seorang di antara mereka.
Sebenarnya ucapan ini sama sekali bukan timbul karena sayang kepada pemuda ini melainkan karena gentar dan mereka ingin agar pemuda itu menyerah saja agar mereka tidak perlu menghadapi bahaya perlawanan pemuda yang cerdik sekali ini.
"Jembel busuk, ucapanmu seolah-olah kalian akan mampu melukaiku, apa lagi menangkapku! Suruh ketua kalian ke sini, itu si Lam-sin ke mana dia? Kenapa tidak berani muncul? Sampaikan tantanganku kepadanya!"
"Manusia sombong!"
Lima orang pengemis itu marah bukan main karena nama Lam-sin bagi mereka seperti nama dewa junjungan yang tidak boleh dibicarakan begitu saja tanpa dipuja.
Mereka sudah menerjang dengan tongkat akar bahar mereka, langsung mereka mainkan Ilmu Tongkat Hok-mo-pang yang lihai.
Tingkat kepandaian Lima Ular Hitam ini sebetulnya masih jauh terlalu rendah kalau dibandingkan dengan tingkat yang dimiliki Thian Sin pada waktu itu sehingga kalau dia menghendaki dalam satu dua jurus saja Thian Sin akan dapat dengan mudah merobohkan, Bahkan menewaskan mereka.
Akan tetapi, pemuda ini melanjutkan siasatnya memancing "kakap"
Dan dia tidak mau membikin gentar kakap yang hendak dipancingnya itu.
Maka diapun melayani lima orang itu dengan hati-hati agar nampak agak seimbang.
Dengan Ilmu San-in-kun-hoat dia mempermainkan mereka seperti seorang dewasa mempermainkan lima orang anak-anak yang nakal saja.
Ke manapun tongkat mereka menyambar, selalu mengenai tempat kosong atau dapat ditangkis oleh tangan Thian Sin.
Beberapa kali dia membiarkan tubuhnya terpukul, bahkan sempat dia pura-pura terhuyung.
Dengan demikian, lima orang itu akan menganggap bahwa sebetulnya tingkat kepandalannya tidak jauh lebih tinggi daripada mereka.
Dengan lagak seperti orang kewalahan, akhirnya Thian Sin mencabut pedangnya dan nampaklah sinar perak.
Itulah Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak) yang diterimanya sebagai hadiah dari neneknya, yaitu Nenek Cia Giok Keng suami pendekar sakti Yap Kun Liong di Bwee-hoa-san.
Dan kini perkelahian menjadi semakin seru.
Dengan pedang di tangan, Thian Sin memainkan pedang itu dengan indahnya, dan mereka nampak setanding.
Setelah membiarkan lawannya mengeroyok selama tiga puluh jurus lebih barulah pedang Gin-hwa-kiam menyambar ganas dan robohlah empat orang pengeroyok dengan leher berlubang dan mereka tewas seketika, sedangkan yang seorang lagi kehilangan lengan kanan sebatas siku yang dibuntungi oleh Thian Sin!
Orang ini merintih-rintih dan menggunakan tangan kiri memegangi sisa lengan yang buntung itu.
"Hemm, pulanglah dan katakan kepada Lam-sin bahwa aku menanti kedatangannya di dalam kamarku!"
Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan apa-apa lagi, Thian Sin berjalan kembali ke dalam kamarnya dan memasuki kamar, menutup jendela dan pintu, lalu tidur berselimut dan sebentar saja diapun sudah pulas!
Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan pada kalangan pengemis di Bu-tek Kai-pang.
Pemuda yang pagi tadi melukai dua orang pengemiss malam ini malah membasmi Lima Ular Hitam, membunuh empat di antara mereka dan membuntungi lengan yang seorang lagi!
Inilah hebat bukan main!
Lima Ular Hitam adalah pembantu-pembantu utama dari tiga orang ketua, bahkan dalam hal ilmu kepandaian, mereka itu hanya berada di bawah tingkat tiga orang ketua itu!
Biarpun menurut laporan orang terakhir yang buntung lengannya itu bahwa kepandaian pemuda itu hanya setingkat dengan mereka, namun pemuda itu telah dapat membunuh Lima Ular Hitam, maka hal ini saja sudah amat hebat.
Berarti bahwa para ketua itu sendiri harus turun tangan.
Dan mereka semua bertanya-tanya, siapa gerangan pemuda yang berani mati menentang Bu-tek Kai-pang, dan bukan hanya menghina, kini malah berani membunuh itu.
Dan merekapun teringat akan nama yang baru-baru ini menghebohkan dunia persilatan, bahkan sempat menggegerkan kota raja, yaitu Pendekar Sadis!
Benarkah Pendekar Sadis pemuda ini dan kalau benar demikian, mengapa dia mengacau di Heng-yang dan sengaja memusuhi Bu-tek Kai-pang?
Kalau benar pemuda itu Pendekar Sadis, maka fihak Bu-tek Kai-pang harus bersikap hati-hati.
Tiga orang ketua Bu-tek Kai-pang itu bersikap hati-hati dan mereka bertiga lalu pergi menghadap Lam-sin di dalam gedungnya yang indah itu.
Lam-sin, nenek itu, sedang duduk menghadapi makan pagi ketika tiga orang ketua itu datang menghadap, dan sebelum ia menerimanya, ia telah lebih dulu mendengar dari pelayan wanita tentang permohonan tiga orang itu untuk menghadap.
"Hemm, pagi-pagi begini sudah berani mengganggu, tentu ada hal penting. Suruh mereka langsung saja datang ke sini dan sediakan sarapan untuk mereka,"
Perintahnya yang cepat ditaati oleh para pelayannya, yaitu wanita-wanita yang cantik-cantik.
Begitu masuk dan bertemu dengan nenek itu, tiga orang ketua Bu-tek Kai-pang yang juga dapat disebut murid-murid Lam-sin, menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi nenek itu cepat menggerakkan tangannya menyuruh mereka bangkit dengan sikap muak.
"Sudah, jangan banyak memakai peraturan kuno. Lebih baik duduklah dan temani aku sarapan, dan jangan bicara sebelum kita selesai makan."
Ucapannya ini diikuti sikap wajah ramah dari muka yang berkeriputan itu, akan tetapi sepasang mata itu, yang selalu ditakuti dan dikagumi oleh tiga orang ketua kai-pang ini, nampak bersinar-sinar dan mencorong penuh wibawa menyeramkan.
Tiga orang ketua itu tidak berani menolak, biarpun agak canggung namun mereka makan sarapan pagi bersama guru dan ketua mereka yang mereka hormati dan takuti itu.
Akhirnya, selesai jugalah nenek itu sarapan pagi, pekerjaan yang dilakukan dengan seenaknya seolah-olah tidak ada apa-apa yang menyusahkan di dunia ini, sama sekali tidak peduli akan sikap tiga orang bawahannya yang canggung dan kelihatan gugup itu.
Setelah para pelayan wanita yang cantik-cantik dan muda-muda itu membersihkan meja, barulah Lam-sin menghadapi tiga orang ketua itu dan berkata.
"Sepagi ini kalian datang menggangguku, tentu ada urusan penting yang kalian merasa tidak sanggup menanggulangi sendiri. Nah, apakah itu?"
"Harap locianpwe sudi memaafkan kami,"
Kata mereka.
Mereka memang hanya berani menyebut locianpwe kepada nenek itu, karena nenek itu tidak menganggap mereka sebagai murid.
Dan memang kenyataannya, nenek itu hanya menurunkan beberapa macam ilmu pukulan, terutama Hok-mo-pang kepada mereka itu.
"Sesungguhnya kami tidak berani mengganggu locianpwe dan rasanya kami masih sanggup untuk menanggulangi sendiri. Akan tetapi, karena kami menduga bahwa pengacau yang menentang Bu-tek Kai-pang sekali ini adalah seorang yang baru-baru ini namanya menonjol di dunia kang-ouw, bahkan telah menggegerkan kota raja, maka kami memberanikan diri melaporkan kepada locianpwe dan mohon petunjuk dan keputusan. Kalau locianpwe menghendaki kami turun tangan sendiri, tentu kami tidak lagi mengganggu locianpwe."
"Menggegerkan kota raja? Siapakah yang menggegerkan kota raja akhir-akhir ini selain Pendekar Sadis itu?"
"Itulah dia orangnya yang akan kami laporkan kepada locianpwe."
Nenek itu nampak tertarik.
"Ah, benarkah? Benarkah Pendekar Sadis itu yang kini datang ke sini menentang Bu-tek Kai-pang? Ceritakan semua!"
Ang-i Kai-ong lalu mewakili para sutenya menceritakan semua peristiwa yang terjadi dengan sejelasnya, dimulai peristiwa di rumah makan di mana ada seorang pemuda yang telah menghina seorang pengemis, kemudian dua orang pengemis dilukainya dengan tulang ayam dan disertai penghinaan agar tulang-tulang ayam itu disampaikan kepada raja pengemis.
"Bahkan dia berani menyebut-nyebut dan menantang nama locianpwe. Inilah yang membuat kami berpikir lebih baik melaporkan kepada locianpwe."
Nenek itu tidak marah.
Nenek itu tidak pernah memperlihatkan kemarahan.
Bahkan ada kalanya dia membunuh orang sambil tersenyum saja!
"Menarik sekali!"
Katanya dan sepasang matanya itu bersinar-sinar, nampak tertarik benar.
"Lalu bagaimana? Teruskan dan ceritakan bagaimana kepandaiannya!"
"Menurut laporan para anggauta, kepandaiannya tidaklah seberapa hebat. Memang dia telah merobohkan dua orang pengemis tingkat rendahan. Kemudian kami mengutus Lima Ular Hitam untuk menangkapnya di rumah penginapan."
"Hemm, kalau mereka juga gagal, maka menarik sekali,"
Kata Si Nenek yang sudah mengenal kelihaian serta kelicikan Lima Ular Hitam itu.
"Memang mereka telah gagal, locianpwe. Akan tetapi menurut seorang di antara mereka yang hanya buntung lengannya, tingkat kepandaian pemuda itu seimbang saja dengan mereka berlima, jadi menurut pikiran kami, bukan merupakan bahaya besar."
Dia lalu menceritakan semua peristiwa di rumah penginapan itu, tentang matinya empat di antara Lima Ular Hitam dan seorang lagi dibuntungi lengannya dan kembali dalam kesempatan itu, Si Pemuda tanpa menyebutkan namanya menantang Lam-sin.
Lam-sin mengangguk-angguk.
"Hemm, agaknya lancang juga pemuda itu, dan sombong sekali."
"Memang dia sombong sekali, locianpwe, akan tetapi kami masih cukup kuat untuk menundukkannya dan menyeret ke hadapan kaki locianpwe, kalau locianpwe menghendaki,"
Kata Ang-i Kai-ong dengan penasaran sekali. Akan tetapi nenek itu tersenyum.
"Dia sudah berulang kali menantangku, kalau aku diam saja bisa disangka bahwa aku tidak berani kepadanya. Akan tetapi, sebelum kau menyerahkan surat tantanganku kepadanya, selidiki lebih dulu apakah benar dia adalah Pendekar Sadis yang disohorkan itu atau bukan. Kalau bukan, jangan berikan suratku dan bunuh saja dia, aku tidak mau mencampurinya lagi. Kalau benar dia Pendekar Sadis, serahkan surat tantanganku dan aku akan melihat dulu bagaimana kelihaiannya menghadapi kalian. Kalau kuanggap dia patut untuk melawanku, baru aku akan menemuinya."
Lam-sin memanggil pelayan dan membuat coretan-coretan di atas kertas merah muda, lalu memasukkan surat itu ke dalam amplop yang ditulis dengan huruf-huruf halus .
PENDEKAR SADIS!
Sehari lewat tanpa ada apa-apa.
Thian Sin masih menanti di rumah penginapan itu.
Dia tidak merasa heran bahwa semua orang di dalam rumah penginapan itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal malam tadi ada empat orang tewas di ruangan depan, dan seorang lagi buntung lengannya.
Dia tahu bahwa semua bekas telah dibersihkan dan para pengurus rumah penginapan itu tidak berani membuka mulut, tentu telah dipesan oleh pihak Bu-tek Kai-pang.
Dia tidak tahu bahwa sehari itu dipergunakan oleh para anggauta kai-pang untuk melakukan penyelidikan, mendengar tentang Pendekar Sadis.
Setelah mereka memperoleh berbagai keterangan, tentang pendekar itu yang dikabarkan masih muda, berpakaian sasterawan, pandai bersajak dan suka bernyanyi, bersikap lemah lembut, murah senyum, mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda yang bermalam di rumah penginapan Lok-nam itu sudah pasti adalah Pendekar Sadis!
Maka pada hari berikutnya, pagi-pagi sekali seorang pelayan mengetuk pintu kamar Thian Sin.
"Masuk saja, pintuku tidak dikunci!"
Kata Thian Sin yang sedang duduk termenung di dalam kamarnya.
Pintu terbuka dan pelayan itu menyerahkan sebuah amplop.
"Ada orang menyerahkan surat ini, kongcu, akan tetapi biarpun nomor kamarnya nomor lima, kami tidak tahu apakah benar surat ini untuk kongcu ataukah bukan."
Thian Sin menerima surat beramplop merah muda itu, membaca tulisannya di luar KEPADA PENDEKAR SADIS.
Dia tersenyum dan mengangguk.
"Benar, surat ini untukku. Terima kasih!"
Itulah tindakan terakhir dari pihak kai-pang untuk meyakinkan bahwa memang pemuda itu Pendekar Sadis, yaitu melalui pelayan itu.
Pelayan itu membungkuk, agak terlalu dalam karena dia terkejut dan ketakutan, lalu mengundurkan diri keluar dari kamar itu.
Thian Sin tersenyum dan merobek amplop, mengeluarkan kertas merah muda.
Dia bersikap hati-hati, tidak ceroboh ketika membuka surat karena dia maklum bahwa seorang penjahat yang lihai dapat saja membunuh lawan melalui surat.
Akan tetapi, tidak ada jarum rahasia atau asap beracun yang menyambar keluar dari amplop, juga tidak tercium sesuatu kecuali sedikit keharuman minyak wangi, maka dia membuka kertas tertulis itu dengan senyum geli.
Namanya juga datuk kaum sesat, pikirnya.
Menulis surat dengan amplop dan kertas berwarna merah muda dan berbau harum pula!
Dengan tenang namun tertarik dibacanya tulisan yang goresannya halus dan rapi itu.
Lam-sin menantang kepada Pendekar Sadis untuk mengadu kepandaian melawan murid-muridnya di Lembah Gunting Cemara sebelah timur kota Heng-yang, kalau memang Pendekar Sadis berani!
Lewat tengah hari menjelang sore hari ini Tertanda .
Lam-sin Thian Sin tertawa dan merasa girang sekali.
Akhirnya sang kakap mulai memperlihatkan dirinya, walaupun masih bersembunyi di balik murid-muridnya.
"Ha-ha-ha, menghadapi engkau sendiri aku tidak takut, apalagi murid-muridmu, Lam-sin!"
Katanya sambil tersenyum dan tak lama kemudian, sudah terdengar pemuda ini bernyanyi-nyanyi di dalam kamarnya, sikapnya tenang-tenang saja sehingga anak buah kai-pang yang dipasang di situ untuk menyelidiki, cepat melaporkan kepada tiga orang ketua kai-pang yang menjadi semakin terheran-heran, akan tetapi juga mendongkol dan penasaran sekali.
Pemuda itu sudah menerima tantangan Lam-sin, tentu sudah membacanya, akan tetapi malah bernyanyi-nyanyi.
Manusia ataukah setan orang itu?
Siang hari itu Thian Sin memesan makanan yang cukup mewah seperti orang berpesta-pora seorang diri.
Tadinya timbul pikiran para ketua kai-pang untuk meracuni pemuda ini, akan tetapi mereka takut kepada Lam-sin, karena satu di antara hal-hal yang dibenci oleh datuk itu, kecuali perkosaan yang merupakan hal terutama, adalah kecurangan dalam menghadapi lawan.
Lam-sin kini sudah mengirim surat sendiri, menantang, maka kalau sampai mereka melakukan penyerangan melalui makanan dengan racun, kalau sampai gagal, tentu Lam-sin akan mendapat malu dan akan menjadi marah kepada mereka.
Dan mereka bergidik kalau membayangkan datuk itu marah kepada mereka.
Sehabis makan, setelah beristirahat beberapa jam lamanya, pada saat matahari mulai condong ke arah barat, Thian Sin keluar dari kamarnya, langsung menghampiri meja pengurus rumah penginapan itu dan bertanya dengan ramah.
"Tolong kalian beritahukan di mana aku dapat menemukan lembah Gunung Cemara di sebelah timur kota ini."
Para pengurus itu gemetar ketakutan.
Alangkah beraninya pemuda ini, pikir mereka.
Tentu pemuda ini sudah menduga bahwa para pengurus di rumah penginapan ini juga tunduk kepada kai-pang akan tetapi sikapnya demikian tenang seperti berada di antara sahabat-sahabat sendiri saja.
Tergopoh-gopoh pengurus rumah penginapan yang memang sudah menerima pesan itu memberitahukan jalan dan arah tempat yang hendak dikunjungi oleh pemuda yang kini diam-diam mereka kenal sebagai Pendekar Sadis sehingga pandang mata mereka berbedap penuh kengerian dan ketakutan.
Lembah itu merupakan padang rumput yang rata dan lembut, nampak kehijauan seperti permadani dihamparkan.
Tempat itu dikelilingi hutan-hutan kecil, akan tetapi di padang rumput itu sendiri tidak ada pohonnya.
Ketika Thian Sin sedang berjalan seorang diri menuju ke lembah ini, melalui hutan cemara seperti yang diberitahukan oleh pengurus rumah penginapan, tempat yang sunyi dan tidak nampak ada seorangpun manusia, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara ketawa dan berkelebatnya orang tak jauh di sampingnya.
Yang amat mengejutkan hatinya adalah karena orang itu bergerak sedemikian cepatnya seperti menghilang saja.
Thian Sin seakan tenang-tenang saja dan tidak akan mengambil peduli kalau saja yang bergerak itu orang biasa, atau dengan gin-kang biasa saja.
Akan tetapi gerakan orang ini mengejutkan hatinya.
Demikian cepatnya seperti terbang.
Maka ia merasa penasaran dan diapun lalu mengerahkan gin-kang dan melakukan pengejaran.
Bayangan itu masih nampak di depan, akan tetapi bayangan itu sungguh luar biasa cepatnya.
Lenyap di balik pohon di depan, tahu-tahu muncul di sebelah kirinya.
Dia mengejar, lenyap lagi dan muncul di sebelah kanan.
Thian Sin semakin penasaran, jelas bahwa bayangan itu mempermainkannya, atau setidaknya, tentu hendak menguji kecepatan gerakannya.
Dia lalu meloncat dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar, akan tetapi bayangan itu lenyap ketika dia tiba di padang rumput dan di situ ternyata telah berkumpul tiga orang ketua berikut sedikitnya tiga puluh orang anak buah Bu-tek Kai-pang yang tinggi tingkatnya.
Thian Sin teringat bahwa dahulu, menurut penuturan Cia Kong Liang, Bu-tek Kai-pang dipimpin oleh seorang pengemis sakti bernama Lam-thian Kai-ong.
Dia tidak tahu bahwa kini telah terjadi perubahan besar, Lam-thian Kai-ong telah meninggal dunia dan kini Bu-tek Kai-pang telah berganti pimpinan, yaitu ketiga orang pengemis setengah tua yang berdiri dengan gagahnya di depannya itu.
Maka, melihat tiga orang pengemis yang berdiri dengan kedua kaki tegak agak dipentang dengan sikap gagah, dia lalu melangkah maju, menghampiri mereka dan setelah memandang ke kanan kiri, dia lalu berkata, suaranya halus, wajahnya berseri, seolah-olah dia tidak sedang menghadapi calon lawan melainkan berada di antara para sahabat!
"Manakah ketua Bu-tek Kai-pang yang bernama Lam-thian Kai-ong?
Dan mana pula datuk Lam-sin yang telah mengirim surat tantangan kepadaku?
Aku telah datang, harap mereka berdua suka memperkenalkan diri."
"Pendekar Sadis, kalau engkau mencari ketua Bu-tek Kai-pang, kamilah ketuanya!"
Thian Sin memandang kepada tiga orang itu dengan penuh perhatian.
Yang bicara tadi adalah seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh tahun, berjubah merah tambal-tambalan, di sampingnya berdiri kakek berjubah hijau dan seorang lagi berjubah putih.
Usia mereka sebaya dan ketiganya memegang sebuah tongkat yang ujungnya runcing.
"Yang manakah di antara sam-wi yang bernama Lam-thian Kai-ong?"
Ang-i Kai-ong menjawab.
"Pendekar Sadis, orang yang kau cari itu, Lam-thian Kai-ong telah meninggal dunia dan kini yang menjadi ketua Bu-tek Kai-pang adalah kami bertiga."
"Ah, begitukah? Dan di mana adanya locianpwe yang berjuluk Lam-sin? Aku datang untuk memenuhi panggilan dan tantangannya."
"Bocah sombong!"
Bentak Jeng-i Kai-ong dengan marah.
"Tidak sembarangan orang boleh berhadapan dengan Locianpwe Lam-sin! Engkau telah mengacau dan menghina Bu-tek Kai-pang, nah, kini engkau sudah berhadapan dengan kami, ketuanya. Kalau engkau mampu mengalahkan kami, barulah boleh bicara tentang bertemu dengan Lam-sin!"
Thian Sin mengangguk-angguk dan tersenyum.
Dia sudah menduga akan hal ini, maka diapun tertawa bergelak dan berkata lantang, dengan harapan agar suara ketawanya dan kata-katanya dapat terdengar oleh Lam-sin yang dia kira tentu bersembunyi tidak jauh dari situ.
Dia keliru karena Lam-sin sama sekali tidak mendekati tempat itu kecuali ketika mencoba gin-kangnya tadi, lalu terus pulang dan hanya mengutus seorang pelayannya untuk menyaksikan jalannya pertempuran sambil bersembunyi.
"Ha-ha-ha-ha! Kiranya yang bernama Lam-sin hanyalah seorang licik yang bersembunyi dan berlindung di belakang sekumpulan pengemis tukang pukul!"
Ucapan Thian Sin ini merupakan penghinaan yang luar biasa.
Para pengemis Bu-tek Kai-pang memandang Lam-sin sebagai seorang junjungan yang ditakuti, dikagumi dan dihormati.
Sekarang pemuda ini memaki nenek itu, tentu saja mereka menjadi marah sekali.
Akan tetapi, tiga orang ketua Bu-tek Kai-pang itu sudah mendengar tentang Pendekar Sadis yang telah menggegerkan kota raja, telah mengacau Hwa-i Kai-pang di kota raja, membunuh dua orang ketua Hwa-i Kai-pang, bahkan telah membunuh Toan-ong-ya, kemudian terdengar desas-desus bahwa pemuda ini telah mengacau Pek-lian-kauw dan membunuh Tok-ciang Sian-jin yang amat lihai itu.
Maka, mereka bertiga tidak berani ceroboh dan Ang-i Kai-ong lalu berteriak kepada para anak buahnya, yaitu para tokoh Bu-tek Kai-pang yang sudah mempunyai tingkat tinggi, untuk maju mengepung dan mengeroyok!
Kurang lebih tiga puluh orang tenaga Bu-tek Kai-pang segera maju mengepung dan mereka bergerak mengitari pemuda itu sambil mengeluarkan senjata masing-masing.
Sebagian besar di antara mereka, memegang tongkat pendek dari baja, akan tetapi ada pula yang membawa tombak, golok atau pedang.
Thian Sin yang datang memang dengan maksud membasmi Bu-tek Kai-pang yang pernah membantu ketika keluarga Ciu Khai Sun diserbu, berdiri tegak dengan sikap tenang sekali.
Sepasang matanya mengerling ke depan kanan dan kiri, sedangkan telinganya mengikuti gerak-gerik para pengurung yang tidak dapat dilihat oleh sepasang matanya, yaitu mereka yang berada di belakangnya.
Setiap urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap.
Dia berdiri tegak dan diam bukan karena menanti mereka menyerang lebih dulu, melainkan terutama sekali membuat perhitungan, mempelajari kedudukan mereka.
Dia melihat bahwa para pengemis itu bergerak dengan teratur, dengan barisan yang terlatih bukan sekedar mengeroyok secara awut-awutan belaka.
Oleh karena itu diapun bersikap waspada.
Dia melihat betapa ketua baju merah berdiri di belakang barisan yang berada di depannya, ketua baju hijau memimpin barisan yang berdiri di belakang barisan yang berada di depannya, ketua baju hijau memimpin barisan di sebelah kanannya sedangkan ketua baju putih memimpin barisan yang berdiri di sebelah kirinya.
Sisa pasukan pengemis itu berada di belakangnya.
Tiba-tiba mereka yang berada di belakangnya itu bersorak dan dia mendengar mereka itu sudah menggerakkan senjata dan menyerbu ke arahnya.
Menurut pendengarannya, kiranya tidak kurang dari sepuluh orang yang menerjangnya dari belakang.
Akan tetapi dia masih sempat memperhatikan ke depan, kanan dan kirinya dan tahulah dia bahwa bahaya datangnya dari tiga orang ketua itu.
Dia melihat betapa mereka, tiga golongan ini telah siap untuk menyerbu dan menanti kesempatan.
Diapun dapat menduga bahwa barisan belakang yang agaknya tidak dipimpin langsung oleh para ketua itu hanya dipergunakan untuk menggertak atau mengacau saja, untuk memecah perhatiannya, padahal yang menjadi inti pasukan penyerang adalah dari depan, kanan dan kiri itu.
Karena itu, Thian Sin seperti tidak mempedulikan serangan dari belakang, melainkan tetap memperhatikan musuh-musuh di depan.
Baru setelah dia merasa adanya sambaran senjata sudah dekat sekali dengan tubuh belakangnya, dia membalik dan menggerakkan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti Thian-te Sin-ciang.
Terdengar teriakan-teriakan, dan nampak senjata-senjata terlempar lalu disusul robohnya lima orang penyerang terdepan yang terjengkang dan tidak berkutik lagi karena mereka telah tewas oleh sambaran hawa pukulan Thian-te Sin-ciang yang meretakkan kepala dan memecahkan dada mereka itu!
Memang Thian Sin tidak mau berlaku kepalang tanggung, begitu memapaki serangan dia telah mengerahkan tenaga sin-kang yang kuat sekali.
Melihat ini, sisa penyerang dari belakang itu terbelalak dan muka mereka pucat, hati mereka gentar sekali.
Belum pernah mereka melihat ada lawan yang diserbu, sekali membalikkan tubuh mendorong dengan kedua tangan membunuh lima orang teman mereka!
Ketika Ang-i Kai-ong menggerakkan pasukannya menyerbu, Thian Sin sudah membalikkan tubuhnya lagi.
Dia melihat bahwa Jeng-i Kai-ong dan Pek-i Kai-ong telah menggerakkan barisan masing-masing maka senjata dari depan, kiri dan kanan datang bagaikan hujan saja.
Thian Sin menyambut semua serangan itu dengan tangkisan, elakan, dan juga tidak tinggal diam melainkan membagi-bagi tamparan dan tendangan.
Hebatnya, setiap serangan balasan dari kaki dan tangannya tentu membuat roboh seorang pengeroyok untuk tidak bangun lagi karena tewas seketika!
Terjadi pengeroyokan dan perkelahian yang seru dan mengerikan.
Karena datangnya senjata seperti hujan, dan penyerangan itu amat teratur, maka biarpun Thian Sin dapat melindungi dirinya dengan pengerahan sin-kang yang membuat tubuhnya kebal dan tidak dapat terluka oleh senjata, namun dia tidak dapat melindungi bajunya yang menjadi robek-robek di sana-sini!
Dia menjadi marah.
Memang penyerangan itu teratur sekali, kalau dia menghadapi barisan kiri, maka barisan kanan menyerbu, kalau dia membalik ke kanan, maka yang dari depan menyerbu dan demikian sebaliknya.
Dia mengamuk terus dan kini sudah ada kurang lebih dua belas orang roboh dan tewas oleh amukannya.
Dan ketika dia memperoleh kesempatan, melihat Ang-i Kai-ong yang terdekat, dia meloncat, membiarkan senjata para pengemis menghantaminya dan melindungi dirinya dengan kekebalan, dia langsung menyerang Ang-i Kai-ong!
Kakek ini terkejut dan menggerakkan tongkatnya, menyambut tubuh Thian Sin dengan tusukan tongkat dengan ujung tongkat yang runcing itu meluncur ke arah ulu hati Thian Sin.
Pemuda ini cepat miringkan tubuhnya sehingga tusukan itu luput.
Akan tetapi dengan gerakan kilat, tongkat berujung runcing itu sudah membalik dan dari samping menusuk ke arah lambung.
Melihat kecepatan gerakan tongkat ini, maklumlah Thian Sin bahwa ilmu kepandaian si jubah merah ini hebat juga.
"Dukkk!"
Dia menangkis dengan lengannya dan mengerahkan tenaga.
Kini giliran Ang-i Kai-ong terkejut.
Tangkisan pemuda itu mengandung tenaga yang sedemikian besarnya sehingga dia terdorong mundur dan terhuyung.
Cepat dia memberi isyarat dan kedua orang adiknya, yaitu Jeng-i Kai-ong dan Pek-i Kai-ong sudah cepat meloncat datang dan tongkat mereka menyambar ganas.
Tongkat Jeng-i Kai-ong meluncur ke arah pusarnya dan tongkat Pek-i Kai-ong menghantam ke arah kepalanya.
"Plak! Plak!"
Dua tangan Thian Sin berhasil menangkis dua batang tongkat itu dan seperti juga Ang-i Kai-ong, dua orang ketua pengemis ini terkejut karena tangkisan itu membuat mereka terpelanting dan hampir terbanting roboh.
Mereka lalu bergerak cepat dan mengeroyok dengan permainan tongkat mereka yang lihai.
Karena mereka telah menerima latihan dari Lam-sin, maka permainan tongkat mereka dengan Ilmu Hok-mo-pang (Tongkat Penakluk Iblis) sungguh hebat dan tingkat kepandaian mereka itu tidak di sebelah bawah mendiang Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, kedua orang ketua Hwa-i Kai-pang di kota raja itu!
Para anggauta Bu-tek Kai-pang terlalu kaget dan gentar menyaksikan betapa pemuda yang terkenal dengan julukan Pendekar Sadis itu telah membunuh dua belas orang teman mereka!
Oleh karena itu, melihat betapa kini tiga orang ketua mereka telah maju bertiga dan mengeroyok Pendekar Sadis, mereka hanya mengurung tempat itu dan membiarkan tiga orang ketua mereka membereskan pemuda yang lihai itu dengan senjata siap di tangan.
Masih ada dua puluh orang yang mengepung tempat itu.
Sementara itu, Thian Sin mengamuk dengan hebat.
Biarpun tiga orang itu memiliki Hok-mo-pang yang tangguh dan senjata mereka yang terbuat dari baja tulen itu juga ampuh sekali, apalagi gerakan mereka bertiga demikian teratur, saling mengisi dan saling melengkapi, namun berhadapan dengan Thian Sin mereka seolah-olah bertemu dengan gurunya.
Pemuda ini menghadapi tiga tongkat mereka dengan tangan kosong saja dan sama sekali tidak pernah terdesak!
Bahkan sebaliknya malah, dengan mainkan Thai-kek Sin-kun, dan mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, pemuda itu membuat mereka repot sekali dan sering kali mereka terhuyung-huyung dan terpaksa memutar tongkat melindungi diri dan cepat-cepat dibantu oleh temannya.
Thian Sin memang sengaja hendak memamerkan kepandaian dan juga hendak mengenal Ilmu Tongkat Hok-mo-pang, karena dia harus mempersiapkan diri menghadapi Lam-sin yang tentu lebih lihai lagi daripada tiga orang ini.
Setelah dia mengenal liku-liku Ilmu Tongkat Hok-mo-pang yang harus diakuinya memang hebat itu, dia mengambil keputusan untuk mengakhiri perkelahian itu.
"Plakkk!"
Tongkat Ang-i Kai-ong yang menghantam punggungnya, dia terima dengan punggungnya tanpa mengelak atau menangkis.
Tongkat itu tetap melekat.
Sepasang mata Ang-i Kai-ong terbelalak dan wajahnya pucat sekali.
Dia meronta, akan tetapi semakin hebat tenaga sin-kang mengalir keluar dari kedua tangannya yang memegang tongkat.
Hal ini terasa olehnya, membuat dia panik.
"Tolong... tolong...!"
Teriaknya dan terus berusaha menarik-narik tongkatnya.
Melihat ini, Jeng-i Kai-ong dan Pek-i Kai-ong cepat membantu.
Si jubah hijau cepat memasukkan tongkatnya ke arah lambung Thian Sin.
Dan Pek-i Kai-ong menghantamkan tongkatnya ke punggung pemuda itu untuk membantu kakaknya melepaskan diri.
"Plakk! Bukk!"
Thian Sin menangkap tongkat yang menusuk lambungnya dan membiarkan tongkat Pek-i Kai-ong menghantam punggungnya pula.
Tenaga Thi-khi-i-beng yang dia kerahkan kini bekerja sepenuhnya dan tiga batang tongkat itu melekat di tangan dan punggungnya.
Tiga orang pengemis tua itu terkejut, akan tetapi makin hebat mereka mengerahkan tenaga, makin keras pula tenaga sin-kang mereka membanjir keluar tersedot oleh tubuh pemuda itu!
Para pengemis yang melihat tiga orang ketua mereka itu memegangi tongkat dan meronta-ronta seperti hendak menarik kembali tongkat mereka, dengen muka pucat mata terbelalak dan terengah-engah, menjadi terheran-heran.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Karena mengira bahwa para ketua mereka itu hendak menarik kembali tongkat itu yang agaknya secara aneh dipertahankan oleh si pemuda, maka beberapa orang lalu meloncat maju dan membantu ketua mereka, memegang tongkat dan bantu menarik.
Namun mereka inipun berteriak kaget ketika tenaga merekapun tersedot.
Lebih banyak lagi yang datang ikut membantu dan kini ada belasan orang menarik-narik tongkat-tongkat itu, dan lebih banyak orang lagi tenaga sin-kangnya tersedot oleh Thian Sin!
Sisa para pengemis memandang bengong.
Pada saat itu, nampak ada bayangan berkelebat di atas kepalanya.
Thian Sin terkejut melihat bayangan orang yang gerakannya cepat sekali dan ketika bayangan itu melayang lewat, ada dua buah benda kecil hitam menyambar ke arah kedua pundak Thian Sin!
"Tuk!
Tuk!"
Dua buah batu hitam sebesar ujung jari tangan menyambar dengan lembut ke arah kedua pundak pemuda itu.
Akan tetapi ternyata dua buah batu kecil itu tepat mengenai jalan darah yang membuat Thian Sin seketika merasa tubuhnya tergetar hebat.
Dia terkejut bukan main, maklum bahwa orang itu merupakan lawan yang amat tangguh dan kini keadaannya menjadi terancam.
Maka dia menarik kembali tenaga sedotan Thi-khi-i-beng dan menggunakan tenaga yang telah disedotnya itu untuk dihempaskan keluar melalui kedua tangan dan seluruh badannya, membuat gerakan seperti seekor anjing berkirik mengusir air dari tubuhnya.
Akibatnya, terdengar teriakan-teriakan dan belasan orang itu terlempar sampai jauh.
Banyak di antara mereka yang tidak begitu kuat, roboh dan tewas, sedangkan tiga orang ketua Bu-tek Kai-pang itu hanya merasa dada mereka sesak dan mereka muntah darah.
Akan tetapi mereka masih mempunyai sisa tenaga untuk bangkit dan melarikan diri secepatnya!
Thian Sin berloncatan mengejar bayangan tadi.
Akan tetapi dia melihat bayangan itu telah berada jauh sekali di depan, melintasi sebuah lereng bukit.
Dia terus mengejar, akan tetapi akhirnya bayangan itu lenyap dan kemanapun dia mencari, hasilnya sia-sia.
Akhirnya dia kembali ke tempat pertempuran tadi dan di situ telah sunyi, tidak nampak seorangpun pengemis, juga mayat-mayat para anggauta pengemis telah lenyap.
Hanya darah-darah yang berceceran di situ saja yang membuktikan bahwa di tempat itu baru saja terjadi perkelahian yang hebat.
Tiba-tiba Thian Sin tertarik oleh bentuk ceceran darah di atas rumput.
Ceceran darah itu membentuk huruf-huruf!
LAM-SIN MENANTANG PENDEKAR SADIS DI RUMAHNYA.
Membaca huruf-huruf itu, Thian Sin tertawa.
"Ha-ha-ha, Lam-sin, biarpun engkau main curang, jangan mengira aku takut padamu!"
Thian Sin lalu berlari cepat memasuki kota dan segera mencari sarang Bu-tek Kai-pang.
Sarang itu megah dan menyeramkan, akan tetapi dengan langkah tenang pemuda itu memasuki pintu gerbang yang terjaga oleh beberapa orang pengemis Bu-tek Kai-pang.
Para penjaga itu berdiri berbaris di kanan kiri pintu gerbang, sama sekali tidak melarang atau bertanya kepada Thian Sin, bahkan rata-rata mereka memperlihatkan sikap tegang dan gentar terhadap pemuda ini.
Thian Sin berlenggang kangkung, masuk menuju ke gedung di belakang perumahan Bu-tek Kai-pang itu sambil tersenyum.
Akan tetapi tentu saja dia tidak pernah melepaskan kewaspadaannya karena dia maklum bahwa dia telah memasuki tempat tinggal Lam-sin, datuk dari selatan yang amat terkenal itu.
Dia telah memasuki gua naga dan harimau!
Kelengahan di tempat seperti ini berarti ancaman maut.
Keadaan di tempat itu sunyi saja.
Hanya nampak beberapa orang anggauta Bu-tek Kai-pang yang berdiri seperti patung.
Seolah-olah tempat itu diselubungi suasana berkabung dan memanglah, selain gentar, Juga para anggauta Bu-tek Kai-pang berkabung karena kematian para anggauta yang dua belas orang itu, ditambah lagi enam orang yang tewas ketika Thian Sin mempergunakan Thi-khi-i-beng.
Di dalam gedung Bu-tek Kai-pang, tiga orang ketuanya sedang rebah dengan muka pucat, karena mereka telah menderita luka dalam yang cukup parah.
Ketika Thian Sin tiba di depan gedung yang menjadi tempat tinggal Lam-sin, dia memandang kagum.
Gedung itu mungil dan nyeni, dengan tanaman-tanaman yang amat terawat rapi dan indah.
Halaman depan dihias petak rumput yang hijau segar dan rata, dan di sana-sini tumbuh pohon kembang mawar dan bermacam-macam bunga.
Jalan menuju ke pintu depan ditutup dengan kerikil yang merupakan kerikil yang putih kebiruan.
Ketika menginjak jalan berkerikil itu, terdengar suara berisik dan Thian Sin lalu mengerahkan gin-kangnya.
Kini dia berjalan melalui kerikil itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun seolah-olah tubuhnya hanya seringan bulu saja!
Dua orang wanita muda yang menyambutnya di pintu depan, memandang dengan wajah tak berhasil menyembunyikan keheranan dan kekaguman mereka melihat betapa pemuda itu dapat berjalan di atas jalan kerikil tanpa menimbulkan suara.
Ini saja merupakan demontrasi gin-kang yang hebat, dan yang mereka ketahui hanya dapat dilakukan oleh majikan mereka, Lam-sin.
Ketika Thian Sin berdiri di depan pintu, dua orang wanita yang berpakaian rapi dan memiliki wajah yang manis itu cepat memberi hormat.
Seorang di antara mereka, yang mempunyai tahi lalat kecil di dagu sehingga ia nampak manis sekali, berkata dengan suara halus dan merdu.
"Kongcu, silakan masuk. Pangcu sedang menghadapi meja makan dan mempersilakan kongcu untuk masuk saja."
"Pangcu juga mengundang kongcu untuk makan malam bersamanya,"
Kata wanita ke dua.
Thian Sin tersenyum.
Dua orang gadis muda ini sungguh cantik dan berpakaian mewah, sama sekali tidak nampak seperti pelayan.
Maka diapun mengangguk.
"Pangcu kalian sungguh baik hati."
Maka diapun melangkah ke dalam gedung itu, diiringkan oleh dua orang, satu di depan dan satu lagi di belakangnya.
Ketika memasuki gedung kecil itu, Thian Sin merasa semakin kagum.
Lantainya begitu bersih dan licin mengkilat, langit-langitnya agak tinggi dan banyak terpasang lubang angin berukir sehingga ruangan di dalam gedung terasa sejuk sekali.
Dan di dinding tergantung lukisan-lukisan indah dan tulisan-tulisan huruf indah yang tentu terbuat oleh ahli-ahli yang pandai dan berharga mahal sekali.
Kain-kain sutera dan beludru menghias ruangan, dan perabot-perabot yang mungil.
Sebuah rumah gedung kecil mungil yang dalamnya indah seperti istana saja!
Ketika mereka berdua membawanya masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas, dia melihat seorang nenek duduk menghadapi meja makan yang panjang, dilayani oleh tiga orang gadis muda lain yang pakaiannya juga mewah dan wajahnya manis-manis seperti dua orang gadis pertama.
Kini lima orang gadis itu berkumpul dan berdiri seperti hiasan ruangan, berjajar di latar belakang, membiarkan nenek itu menghadapi Thian Sin.
Akan tetapi nenek itu masih duduk sambil menyumpit sepotong daging kecil, lalu dimasukkan ke mulutnya, mengunyah daging itu dengan cara sopan tanpa membuka mulutnya, dan dengan sikap tenang seolah-olah tidak tahu bahwa ada tamu datang.
Thian Sin sendiri hanya berdiri dan memandang dengan sikap tenang pula, memandang penuh perhatian.
Diam-diam hati pemuda ini kecewa.
Kalau yang berjuluk Lam-sin hanya seorang nenek tua renta yang sudah mendekati lubang kubur ini, maka sia-sialah agaknya perjalanannya yang jauh ini.
Dia sudah melihat tiga orang di antara empat datuk empat penjuru, Tung-hai-sian Bin Mo To adalah seorang tokoh yang nampak kebesaran dan keangkerannya sebagai datuk wilayah timur, dan memang kakek itu memiliki kepandaian yang hebat.
Pak-san-kui Siangkoan Tiang juga pantas dinamakan datuk wilayah utara karena memang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, juga mempunyai pengaruh dan wibawa yang tak dapat dibantah lagi kekuatannya.
Demikian pula See-thian-ong amat gagah perkasa dan menyeramkan, pantas menjadi datuk wilayah barat.
Akan tetapi mengapa datuk wilayah selatan hanya seorang nenek tua renta seperti ini.
Nampaknya lemah dan sudah pikun.
Melawan seorang nenek seperti ini saja sudah merupakan hal yang memalukan.
Akan tetapi, melihat sikap nenek ini yang agaknya sama sekali tidak mempedulikannya, diam-diam Thian Sin merasa penasaran sekali.
Dia terbatuk beberapa kali untuk menarik perhatian nenek pikun itu, akan tetapi nenek itu agaknya tidak mendengarnya.
Ketika Thian Sin mengulangi batuknya, nenek itu mengerutkan alisnya, tanpa menengok ia berkata kepada seorang di antara lima orang gadis cantik itu.
"A-bwee, suara apakah itu? Tikus? Anjing?"
Thian Sin mendongkol sekali.
Dia dianggap tikus atau anjjng!
Dan lima orang gadis cantik itu tidak menjawab, melainkan menutupi mulut mereka dengan saputangan sutera untuk menyembunyikan senyum dan tawa mereka.
Hal ini saja sudah membuat Thian Sin mengerti bahwa Si Nenek memang sengaja hendak menghina, mempermainkan dan memandang rendah kepadanya.
Tentu saja dia menjadi semakin gemas.
(Lanjut ke
Jilid 32) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32
"Nenek tua bangka! Apakah engkau yang berjuluk Lam-sin?"
Akhirnya dia bertanya dengan suara nyaring.
Dia melihat betapa wajah lima orang gadis itu menjadi pucat dan mereka memandang kepada nenek itu dengan sinar mata mengandung kengerian.
Dari sikap ini saja Thian Sin maklum bahwa kata-katanya itu tentu luar biasa sekali, dan agaknya nenek ini amat ditakuti, maka gembiralah dia dapat membalas dengan cara demikian.
Thian Sin, dan tangan yang menjepit sumpit itu nampak gemetar.
Akan tetapi sebentar saja lalu sumpit itu melanjutkan pekerjaannya menjepit makanan.
Tanpa menoleh, nenek itu berkata dengan suaranya yang lirih namun halus.
"Bocah ingusan, apakah engkau yang berjuluk Pendekar Sadis?"
Kembali Thian Sin merasa mendongkol sekali.
Nenek ini sungguh memandang rendah kepadanya, menyebutnya bocah ingusan!
Sekaligus, rasa gembira karena perasaan menang dengan pertanyaannya yang menghina itu lenyap, dan hatinya merasa semakin panas.
Akan tetapi dia menjawab juga.
"Benar, akulah yang dijuluki Pendekar Sadis!"
"Dan akulah yang dijuluki Lam-sin!"
"Huh, tidak pantas seorang nenek tua bangka yang lemah dijuluki Malaikat Selatan, datuk kaum sesat di dunia selatan!"
"Heh, engkau lebih tidak patut lagi dijuluki Pendekar Sadis, karena engkau hanya seorang kanak-kanak hijau yang pantasnya hanya menjadi kacung di sekolah yang berusaha meniru lagak seorang siucai!"
Hampir meledak rasanya dada Thian Sin saking mendongkolnya.
Nenek ini ternyata seorang yang pandai berdebat dan pandai menghina.
Teringatlah Thian Sin bahwa semakin tua wanita, semakin cerewet, maka dia pikir kalau harus berdebat adu mulut, dia akan kalah.
Lebih baik menghentikan adu sindir-menyindir agar dia tidak menjadi semakin mendongkol.
"Lam-sin, engkau telah mengundangku dan aku sudah datang! Nah, engkau mengundangku mau apakah?"
Nenek itu menengok ke kiri, ke arah pemuda itu.
Thian Sin kini melihat dari samping sebuah wajah yang berkeriputan kedua pipinya, dengan hidung kecil dan bibir kering mengejek.
"Aku sedang makan, apa engkau tidak melihatnya? Aku tidak bisa bicara sambil makan, dan karena kau datang pada saat aku makan maka aku mengundangmu untuk makan bersamaku. Tidak tahu apakah engkau berani makan bersamaku dan apakah engkau masih ada selera makan menghadapi kematianmu."
Thian Sin merasa dipandang rendah sekali dan ditantang.
Seolah-olah nenek ini sudah merasa begitu yakin bahwa sebentar lagi nenek itu akan mampu membunuhnya.
Dia melangkah maju dan berkata dengan nada tidak kalah mengejeknya.
"Memang sebaiknya orang yang akan mati makan dulu sekenyangnya. Dan aku memang senang menemani calon pecundangku makan bersama. Hendak kulihat racun apa yang hendak kau serahkan dan gunakan untuk bertindak curang."
Dan Thian Sinpun lalu duduk menghadapi meja makan, mengambil bangku yang berhadapan dengan nenek itu sehingga mereka kini dapat saling pandang, terhalang meja makan yang penuh dengan bermacam-macam masakan yang masih mengepulkan uap dengan bau yang sedap.
Tidak kurang dari dua puluh macam masakan sedap yang masih panas-panas terhidang di atas meja itu, disamping arak dan anggur wangi.
Akan tetapi, setelah kini mereka duduk saling berhadapan dan melihat sinar mata nenek itu, diam-diam Thian Sin terkejut bukan main dan merasa serem sehingga bulu kuduknya meremang.
Nenek ini dilihat dari jauh nampak seperti seorang nenek tua renta yang lemah dan biasa saja, sama sekali tidak menimbulkan segan.
Akan tetapi begitu dia saling pandang dengan nenek itu, dia melihat sinar mata yang luar biasa, sepasang mata yang begitu tajam dan mencorong penuh wibawa, sepasang mata yang terang dan jernih, tidak pantas dimiliki seorang nenek tua renta, sepantasnya menjadi mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya!
Kontras antara wajah tua keriputan dan sinar mata inilah yang membuat nenek itu amat berwibawa dan juga amat menyeramkan, juga menakutkan.
Kini Thian Sin tidak merasa heran lagi mengapa lima orang gadis pelayan itu kelihatan begitu ketakutan tadi melihat betapa dia berani mengeluarkan kata-kata menghina kepada nenek luar biasa ini.
Setelah sejenak saling pandang dan nenek itupun agaknya nampak tercengang setelah menatap wajah pemuda itu karena agaknya baru pertama kali inilah dia melihat wajah pemuda itu dengan jelas, saling berhadapan dalam jarak yang tidak jauh, nenek itu sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata.
Sinar matanya seperti menjelajahi seluruh bagian muka Thian Sin.
Setelah pemuda itu tersenyum seperti mengejek, barulah nenek itu nampak gugup dan sambil menoleh kepada para pelayannya ia berkata.
"Nyalakan lampu, tak enak makan agak gelap begini!"
Memang saat itu sudah menjelang senja dan cuaca di dalam ruangan makan itu yang jendela-jendelanya menghadap ke timur sudah tidak kebagian sinar matahari lagi dan menjadi agak remang-remang.
Dua orang pelayan sibuk menyalakan beberapa buah lampu yang digantung di sudut-sudut ruangan itu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang.
Karena lampu-lampu itu ditutup kain warna-warni, ada yang merah, ada yang kuning, ada yang biru dan hijau, maka suasana berubah menjadi romantis dan indah sekali, sungguhpun wajah nenek yang keriputan itu menjadi semakin jelas setelah tertimpa sinar yang berwarna-warni itu.
Sebaliknya wajah lima orang gadis pelayan menjadi semakin manis dan bercahaya, dan demikian pula Thian Sin nampak semakin ganteng.
"Tuangkan arak untuk Pendekar Sadis!"
Kata pula nenek itu yang cepat ditaati oleh seorang pelayan.
Ketika pelayan yang berbaju ungu ini mendekat dan menuangkan arak ke dalam cawan di depan Thian Sin, pemuda ini mencium bau harum semerbak keluar dari lengan baju gadis, itu.
Akan tetapi dia bersikap tenang dan tidak memandang wajah halus cantik yang dekat dengannya itu, melainkan dia tetap mengamati gerak-gerik nenek di depannya karena dia maklum bahwa orang seperti nenek itu yang menjadi datuk kaum sesat, mempunyai watak aneh yang tidak terduga-duga.
Dia tidak akan merasa heran kalau pada saat dia mencurahkan perhatiannya kepada lain hal, misalnya kepada gadis pelayan cantik itu, Si Nenek akan tiba-tiba melakukan serangan gelap yang amat berbahaya.
Maka, dia tetap memandang wajah nenek itu.
Baru setelah gadis itu memenuhi cawan araknya dan mundur, Thian Sin melirik ke cawan araknya yang sudah penuh dengan arak wangi.
Nenek itu tersenyum dan mulutnya menjadi miring, bibirnya tinggi dan sepasang mata itu berkilat-kilat.
"Pendekar Sadis, beranikah engkau minum arak dalam cawanmu itu?"
Berkata demikian, nenek itu mengisi cawannya sendiri dengan arak sampai penuh, dari guci arak yang sama.
Thian Sin adalah seorang pemuda yang selain berkepandaian tinggi, juga amat cerdik.
Dia maklum bahwa seorang datuk besar seperti nenek ini yang sudah berani mengangkat diri sebagai datuk wilayah selatan, yang merajai seluruh wilayah selatan, biasanya, seperti para datuk lain, memiliki ketinggian hati yang luar biasa.
Seorang datuk sudah terlalu percaya kepada dirinya sendiri dan selalu menjaga kehormatan namanya sebagai seorang yang berada di tingkatan atas.
Maka, kiranya tidak mungkinlah kalau seorang datuk seperti Lam-sin ini akan sudi menggunakan racun, suatu perbuatan yang amat rendah dan hanya dilakukan golongan penjahat rendahan saja.
Perbuatan seperti ini akan menghancurkan nama besarnya sendiri dan Lam-sin tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk menjatuhkannya, bukan dengan menggunakan racun.
Apalagi Lam-sin belum pernah mencoba sendiri kepandaiannya sehingga datuk ini tidak mungkin merasa gentar kepadanya sehingga sampai begitu merendahkan diri menggunakan bantuan racun.
Dengan pikiran ini, Thian Sin tersenyum memandang kepadanya.
"Andaikata engkau menggunakan racun, Lam-sin, maka aku akan mati sebagai pendekar gagah perkasa yang tidak takut akan kecuranganmu, akan tetapi sebaliknya engkau akan hidup sebagai seorang datuk yang paling rendah di dunia ini, akan dikutuk sebagai seorang datuk yang wataknya tidak lebih tinggi daripada seorang penjahat yang paling hina sekalipun! Nah, takut apa minum arak suguhanmu?"
Berkata demikian, Thian Sin mengangkat cawan araknya dan minum arak itu sampai habis.
"Heh-heh-heh, bagus sekali. Engkau memang cukup bernyali!"
Nenek itupun lalu minum araknya, akan tetapi bukan seperti lagak seorang jago minum yang kawakan, melainkan seperti seorang nenek lemah yang tidak begitu suka minum arak.
Arak di cawan itu hanya diteguk seperempat saja, lalu ia letakkan kembali cawannya di atas meja.
"Nah, silakan, Pendekar Sadis. Makanlah seadanya dan jangan malu-malu, setelah kita makan baru kita bicara nanti!"
Dan mereka berdua makanlah.
Sungguh luar biasa sekali suasana di saat itu.
Dua orang tokoh silat yang pada masa itu mendatangkan rasa serem di hati siapapun jugap bahkan para pendekar menjadi kecil nyalinya apabila mendengar nama mereka, duduk berhadapan sambil makan bersama!
Padahal, keduanya sudah saling tantang-menantang dan dapat dibayangkan bahwa tak lama lagi mereka itu akan saling serang dan saling berusaha untuk membunuh lawan.
Namun, melihat betapa mereka itu duduk semeja menghadapi hidangan yang banyak macamnya, makan dengan selera yang balk dan kelihatan enak, Seolah-olah mereka berdua itu bukan dua orang lawan yang sebentar lagi akan mengadu nyawa melainkan seperti dua orang sahabat lama yang saling jumpa dan kini merayakan perjumpaan mereka dengan gembira!
Dan anehnya, mereka itu makan tanpa saling pandang, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata.
Keduanya makan dengan enak, menyumpit sayur ini dan daging itu, tanpa saling menawarkan, seolah-olah mereka itu berlumba makan.
Biarpun keduanya nampak makan bersama, namun terasa suatu tegangan luar biasa diantara mereka, bahkan lima orang pelayan yang berada di pinggiran itu dapat merasakan ketegangan luar biasa yang memenuhi kamar itu.
Ketegangan yang panas dan yang sebentar lagi akan meledak menjadi suatu perkelahian seru dan mati-matian antara kedua orang yang kini makan minum bersama itu.
Thian Sin makan lebih banyak, juga minum arak lebih banyak.
Nenek itu biarpun kelihatan makan dengan sama gembiranya, akan tetapi sepasang sumpitnya hanya mendorong nasi sedikit demi sedikit saja, juga mengambil sayur atau daging yang kecil-kecil potongannya.
Malah araknyapun dilanjutkan dengan anggur yang tidak begitu keras.
Akhirnya, keduanya meletakkan sumpit dan mangkok kosong di atas meja, merasa puas dan kenyang.
Setelah membersihkan mulut dengan minum teh yang dihidangkan oleh para pelayan, keduanya duduk diam seperti orang bersamadhi sementara lima orang pelayan yang tahu akan kewajiban mereka itu, maklum bahwa makan minum telah selesai dan mereka tanpa diperintah lagi membersihkan meja, membawa pergi sisa-sisa makanan sehingga sebentar saja meja makan itupun bersih dan tidak ada sedikitpun sisa makanan.
Bersih mengkilap setelah digosok kain.
"Keluarlah kalian, tinggalkan kami sendiri,"
Tiba-tiba nenek itu berkata kepada lima orang pelayannya dan sungguh aneh, nada suaranya seperti orang yang merasa tak senang.
Lima orang pelayan itu saling pandang, nampak ragu-ragu.
"Dan para pengawal...?"
Tanya Si Baju Ungu.
"Tinggalkan! Pergilah kalian semua dan jangan perbolehkan siapapun juga memasuki rumahku. Dan kalian jangan keluar dari kamar kalau tidak kupanggil!"
"Baik, pangcu..."
Jawab mereka berlima dengan sikap takut-takut karena nenek itu kelihatan marah.
Setelah menjura ke arah Thian Sin merekapun segera pergi dari situ, dengan langkah ringan dan cepat tanda bahwa mereka berlima itu bukanlah wanita-wanita cantik lemah.
Hal inipun dimengerti oleh Thian Sin semenjak dua di antara mereka tadi menyambutnya.
Nenek ini sungguh tinggi hati, pikirnya.
Begitu pasti akan dapat memenangkan sehingga ia tak mau dibantu oleh siapapun juga!
Pantaslah menjadi datuk kaum sesat.
Dan agaknya memang tentu memiliki ilmu yang hebat maka berani bersikap sesombong ini.
Setelah lima orang pelayannya itu pergi dan meninggalkan mereka berdua saja, nenek itu lalu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin.
Pemuda itupun balas memandang dan menanti dengan sikap waspada.
Karena nyonya rumah belum bangkit, diapun masih enak-enak saja duduk, berhadapan dengan nenek itu, terhalang meja.
"Nah, sekarang kita hanya berdua saja di sini. Gedung ini kosong sama sekali, hanya ada kita berdua. Percayakah engkau bahwa Lam-sin bukanlah penjahat kecil yang curang?"
Thian Sin tersenyum dan mengangguk.
"Sampai detik ini memang benar demikian, akan tetapi untuk menentukannya harus ditunggu sampai saat terakhir."
Lam-sin mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya.
"Huh, aku tidak pernah membunuh orang tanpa alasan, juga tidak sudi mengotorkan tangan pada orang yang tidak ada nama dan tidak kuketahui riwayatnya. Walaupun jangan dikira bahwa aku tidak dapat menebak siapa adanya engkau ini, Pendekar Sadis!"
Thian Sin tersenyum mengejek.
Dia tidak percaya bahwa nenek yang belum pernah dijumpai selamanya ini dapat tahu siapa dia sesungguhnya.
Karena tidak ada yang tahu siapakah sebenarnya Pendekar Sadis.
Paling-paling nenek ini hanya tahu bahwa dia adalah Pendekar Sadis.
"Benarkah engkau tahu siapa diriku sebenarnya?"
Thian Sin memancing dengan suara menantang.
"Kalau aku dapat mengetahui siapa dirimu, tahu pula mengapa engkau mencariku dan mengapa engkau memusuhi Bu-tek Kai-pang, kalau aku tahu pula semua riwayatmu sejak kau kecil, siapa orang tuamu. Nah, kalau aku tahu semua itu, maukah engkau mendengarkan semua kata-kataku dan menemaniku bercakap-cakap, sebelum kita sampai pada akhir tujuan pertemuan ini, yaitu bertanding mati-matian untuk menentukan siapa yang menang siapa kalah di antara kita?"
Cerewetnya nenek ini, pikir Thian Sin sebal.
Akan tetapi dia tertarik juga.
Tidak mungkin nenek ini mengetahui semua itu tentang dirinya.
"Baik, nah coba kau katakan sekarang siapa aku."
"Namamu adalah Ceng Thian Sin. Benarkah?"
Thian Sin memandang dengan sepasang mata terbelalak.
Nenek ini menyebut namanya seolah-olah nama itu tidak asing baginya.
"Dan engkau adalah putra tunggal dari Pangeran Ceng Hen Houw. Ibumu adalah keturunan Cin-ling-pai. Benarkah?"
Thian Sin memandang dan menatap sepasang mata yang bersinar-sinar itu. Luar biasa sekali nenek ini.
"Hemmm, kiranya engkau memiliki jaringan mata-mata yang amat luas, Lam-sin. Aku tidak perlu menyangkal, memang benarlah semua yang kau katakan itu. Nah, selanjutnya bagaimana?"
"Ayah bundamu meninggal karena dikeroyok oleh pasukan dan setelah engkau mempelajari banyak ilmu, engkau lalu membalas kematian ayah bundamu dan engkau membasmi musuh-musuh mereka, termasuk ketua-ketua Hwa-i Kai-pang dan Tok-ciang Sian-jin, dan karena hatimu sakit maka engkau menjadi kejam terhadap musuh-musuhmu dan engkau menjadi Pendekar Sadis. Benarkah?"
Thian Sin bangkit berdiri, akan tetapi lalu duduk kembali.
Ini sudah keterlaluan!
Bagaimana nenek ini sampai dapat mengetahui segala hal itu tentang dirinya?
"Aku tidak dapat menyangkalnya pula dan hanya iblis yang tahu bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu.
Dan ingin kudengar apakah engkau juga tahu mengapa aku mencarimu?
Mengapa aku menantangmu?"
Nenek itu menyeringai yang tentu saja dimaksudkan tersenyum.
Thian Sin membuang pandang matanya agar tidak usah melihat keburukan muka itu terlalu lama ketika Si Nenek menyeringai.
Lalu nenek itu berkata.
"Aha, itu mudah saja. Engkau sengaja memancing dan sengaja mengacau dan menghina Bu-tek Kai-pang untuk memancing aku keluar, bukan? Dan engkau mempergunakan Thi-khi-i-beng untuk mengalahkan tiga orang ketua pembantuku."
"Hemm, jadi engkaukah kiranya bayangan itu yang menyerangku dengan dua kerikil kecil?"
"Hanya untuk memperingatkan padamu bahwa aku tahu tentang Thi-khi-i-beng dan aku tidak takut menghadapinya! Heh-heh, dan kau kira engkau akan dapat lolos sekiranya aku mempergunakan Bu-tek Kai-pang mengeroyokmu dan aku sendiri keluar?"
"Hemm, kenapa tidak kau lakukan kecurangan itu! Sekarangpun masih belum terlambat. Kalau kau hendak mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyokku, akupun tidak takut, Lam-sin. Karena agaknya engkau tahu semua tentang diriku, tentu engkau tahu pula mengapa aku menantangmu dan tahu bahwa aku tidak akan undur selangkahpun andaikata engkau mengeroyokku."
"Tentu saja aku tahu. Engkau datang untuk membalaskan kematian keluarga Ciu Khai Sun, bukan? Engkau datang untuk mencari pula Ciu Lian Hong, bukan? Heh-heh-heh!"
Thian Sin bangkit berdiri dan memandang tajam.
"Lam-sin! Kalau engkau menyembunyikan Hong-moi atau mengganggunya, aku akan..."
Lam-sin masih menyeringai ketika ia mengeluarkan selipat surat.
"Aku sudah cukup bicara, lebih baik engkau membaca sendiri surat dari Lian Hong yang sengaja ditulisnya untukmu ini!"
Thian Sin terlalu kaget dan heran mendengar ucapan ini sampai dia tidak mampu mengetuarkan sebuah katapun melainkan menerima lipatan kertas itu, lalu dibuka dan dibacanya.
Surat itu singkat saja, ditulis dan ditandatangani oleh Lian Hong, dan memang ditujukan kepadanya.
Sin-ko, Lam-sin adalah suboku dan juga subo Lam-sin yang menyelamatkan aku ketika terjadi penyerbuan keluargaku.
Ciu Lian Hong.
Sambil membaca surat itu sekali lagi, Thian Sin merasa jantungnya berdebar keras.
Kemudian, setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak salah baca, dia mengepal kertas itu dan memandang Lam-sin.
"Bagaimana aku dapat merasa yakin bahwa ini tulisan Hong-moi? Aku tidak pernah mengenal tulisannya."
"Terserah kepadamu. Itu juga bukan aku yang minta, melainkan ia sendiri yang meninggalkan surat, katanya untuk mencegah kesalahfahaman seperti yang terjadi ketika pemuda bernama Cia Han Tiong, putera Pendekar Lembah Naga itu datang ke sini."
"Apa? Tiong-ko sudah datang ke sini?"
"Ya, malah juga Pendekar Lembah Naga dan isterinya. Mereka bertiga membawa pergi muridku begitu saja. Keluarga sombong dan tinggi hati! Huh, mual aku mengingat kesombongan mereka!"
Dan memang nenek itu masih merasa sakit hatinya kalau mengingat betapa keluarga itu memandang rendah kepadanya, bahkan menolak untuk diajak berkenalan dan bersahabat!
Thian Sin termenung.
Hatinya kecewa bukan main.
Lagi-lagi Han Tiong yang menang, kalau pencarian mereka terhadap diri Lian Hong dapat dikatakan suatu perlumbaan.
Kakak angkatnya itu yang lebih dulu menolong Lian Hong walaupun Lian Hohg agaknya tidak terancam bahaya, malah ditolong dan menjadi murid Lam-sin!
Saking kecewanya, Thian Sin menjatuhkan dirinya duduk di atas bangku lagi, tak dapat berkata apa-apa dan berulang kali menarik hapas panjang dengan wajah muram tanpa disadarinya sendiri.
Akan tetapi sepasang mata nenek itu sejak tadi mengikuti semua gerak-gerik dan sikapnya, dan tiba-tiba nenek itu terkekeh.
Suara ketawa ini seperti menarik Thian Sin kembali ke alam sadar dan dia memandang kepada nenek itu, kini dengan pandangan lain karena ternyata nenek ini adalah penolong, malah menjadi guru Lian Hong.
Tentu saja kedudukan ini membuat nenek ini menjadi seorang yang lain lagi, sukar dianggap sebagai musuh!
Apalagi dia tadinya menganggap nenek ini sebagai musuh untuk membalaskan sakit hati Lian Hong, siapa kira dara itu malah diselamatkan olehnya dan malah diambil sebagai murid!
"Heh-heh-heh, tak usah menjadi patah hati, orang muda.
Dunia tidak hanya sesempit telapak tangan, melainkan luas sekali dan di dunia ini, selain Lian Hong, masih banyak terdapat wanita lain!"
Thian Sin terkejut sekali mendengar ini.
"Apa...? Apa maksudmu...?"
"Maksudku sudah jelas, engkau mencinta Lian Hong dan merasa kecewa karena kedahuluan Cia Han Tiong."
Kata-kata itu cepat sekali menghantam perasaan Thian Sin karena memang demikianlah keadaan hatinya.
Dia memandang tajam.
Setankah nenek ini sehingga tahu akan segala hal mengenai dirinya, bahkan tahu juga apa yang terasa oleh hatinya pada saat itu?
Akan tetapi dia cepat menggeleng kepala dan membantah.
"Tidak, engkau salah. Hong-moi itu adalah tunangan Tiong-ko, calon isterinya. Sudah sepatutnya kalau ia pergi bersama Tiong-ko dan keluarga Cia."
"Hemm, tak perlu kau berbohong. Engkau nampak muram dan kecewa, juga berduka. Apalagi kalau bukan karena patah hati? Seorang wanita tua seperti aku dapat dengan mudah melihat kenyataan itu!"
"Engkau keliru. Aku memang berduka karena aku merasa betapa hidupku sebatangkara di dunia ini."
Thian Sin menarik napas panjang dan benar-benar dia merasa betapa dia kesepian, tiada seorangpun yang mencintanya!
Sejenak mereka diam.
Kalau Thian Sin tenggelam ke dalam kekecewaan dan kesedihan, nenek itupun tenggelam ke dalam lamunan.
Tiba-tiba nenek itu berkata, suaranya halus dan ramah.
"Ceng Thian Sin, kita ini sama!"
Thian Sin memandang heran.
"Sama? Sama bagaimana?"
"Sama sebatangkara, sama kesepian."
"Ah, tidak mungkin! Engkau adalah Lam-sin, datuk wilayah selatan, ketua dari Bu-tek Kai-pang. Engkau dilayani dan dihormati oleh banyak anak buahmu, bagaimana engkau bisa sebatangkara dan kesepian?"
"Huh, apa itu Bu-tek Kai-pang? Sebelum aku tiba di sini, perkumpulan itu sudah ada. Aku hanya menundukkannya saja, dan aku tidak peduli dengan mereka. Bu-tek Kai-pang bukan apa-apa bagiku, melainkan bekas lawan yang sudah menyerah. Aku sungguh sebatangkara dan kesepian, tiada bedanya dengan dirimu, Ceng Thian Sin."
Pemuda itu memandang kepada nenek yang luar biasa itu penuh perhatian.
Sukar untuk dapat diterimanya betapa seorang datuk seperti nenek ini, yang kaya raya dan juga berpengaruh, memiliki kedudukan tinggi dan kekuasaan tak terbatas di selatan, dapat hidup kesepian dan berduka!
"Apakah engkau tidak mempunyai keluarga?
Suami, anak atau cucu?"
Nenek itu menggeleng kepala.
"Aku hanya sebatangkara, seperti engkau. Aku... aku tidak pernah tidak mempunyai keluarga..."
Thian Sin terkejut.
Kalau seorang nenek setua ini tidak pernah menikah, tentu saja tidak memiliki anggota keluarga seorangpun.
Lalu ia menggeleng kepala dan menarik napas.
"Sukar dapat dipercaya bahwa seorang datuk seperti engkau dapat hidup menderita duka."
Nenek itu terkekeh.
"Sudah cukup segala cerita sedih ini. Nah, aku sudah dapat mengenal semua keadaanmu, bukan? Sekarang engkau harus memenuhi permintaanku, menemaniku bercakap-cakap sebelum kita bertanding. Nah, mari kuperlihatkan engkau keadaan istana kecilku ini. Engkau adalah seorang tamuku sebelum kita nanti berhadapan sebagai lawan."
Thian Sin yang memang sudah merasa kalah, ikut bangkit dan mengangguk.
Nenek itu lalu mengajaknya berkeliling memasuki ruangan-ruangan istananya yang penuh dengan perabot halus dan mahal, penuh dengan hiasan-hiasan yang amat indah.
Di sebuah ruangan besar sebelah kiri terdapat kumpulan lukisan kuno dari pelukis-pelukis kenamaan yang tentu harganya amat mahal.
Kumpulan lukisan di ruangan itu saja sudah merupakan sejumlah modal yang amat besar!
Dan diapun dikagumkan oleh pengetahuan nenek itu tentang lukisan karena nenek itu mengenal lukisan-lukisan ini dan dapat menceritakan pula tentang pelukis-pelukisnya, segi-segi keindahan yang khas dari masing-masing lukisan.
Ketika nenek itu membawanya ke dalam ruangan musik, kembali Thian Sin kagum.
Di situ terdapat alat-alat musik serba indah, bahkan ada sekumpulan alat-alat musik kuno.
"Apakah engkau suka pula dengan musik dan nyanyian, Pendekar Sadis?"
Thian Sin mengangguk, merasa janggal bahwa mereka berdua yang bergaul seperti dua orang sahabat ini sebenarnya adalah calon lawan yang berbahaya, dan juga mendengar nenek itu menyebutnya Pendekar Sadis sungguh tidak sesuai dengan keakraban mereka ketika bersama mengagumi alat-alat musik itu.
"Dan pandai bermain musik pula?"
"Ah, tidak, aku hanya bisa sedikit meniup suling, kesukaanku sejak anak-anak."
"Meniup suling? Bagus sekali! Dan akupun suka meniup suling dan bermain yang-kim. Kalau begitu, mari kita main barang satu dua lagu, Pendekar Sadis!"
Berkata demikian Nenek Lam-sin lalu mengambil sebuah alat musik yang-kim dan mulailah ia mainkan kawat-kawat yang-kim itu sehingga terdengar suara merdu.
Melihat cara jari-jemari itu menari-nari di atas kawat-kawat yang-kim dengan lincahnya dan terdengar serangkaian suara merdu, tahulah Thian Sin bahwa nenek ini memang pandai bermain yang-kim.
Kini yang-kim itu mulai memainkan sebuah lagu yang dikenal, maka hati pemuda inipun tertarik sekali dan dia lalu mengambil sebuah suling dan meniup suling itu mengikuti lagu yang dimainkan oleh yang-kim.
Maka terdengarlah paduan suling dan yang-kim, saling susul, saling belit dan saling bergandengan, amat cocok dan sedap didengar.
Setelah mainkan dua tiga macam lagu, nenek itu menghentikan permainannya dan bangkit berdiri, sejenak memandang kepada Thian Sin lalu terkekeh.
"Heh-heh-heh, sungguh aneh dan lucu! Julukannya Pendekar Sadis, kabarnya kejamnya melebihi iblis, akan tetapi tiupan sulingnya begitu indah dan penuh perasaan!"
"Dan siapakah yang percaya kalau Nenek Lam-sin, datuk sesat yang ditakuti oleh penjahat betapapun ganasnya, ternyata pandai bermain yang-kim seperti puteri istana kaisar saja?"
Kata Thian Sin dan nenek itu tertawa, tiba-tiba suara ketawanya nyaring dan merdu sehingga mengejutkan hati Thian Sin.
Nenek itu sungguh merupakan orang yang amat aneh luar biasa.
Kembali Thian Sin menjadi semakin kagum saja ketika nenek itu membawanya ke kamar perpustakaan.
Di situ terkumpul kitab-kitab kuno, segala macam kitab sastra dan sajak terdapat di situ!
Satu di antara kesukaan Thian Sin adalah membaca kitab-kitab kuno, terutama sajak-sajak kuno.
Maka, melihat demikian banyaknya kitab-kitab sajak di dalam rak-rak buku di kamar perpustakaan itu, tentu saja dia memandang dengan kagum dan sepasang matanya bersinar-sinar, jari-jari tangannya meraba dan memilih-milih kitab-kitab itu dengan lembut.
"Aku mendengar bahwa Pendekar Sadis adalah seorang pelajar yang suka membaca sajak. Kiranya memang benar. Sungguh seorang teman yang amat menyenangkan! Akupun suka membaca dan menulis sajak, Pendekar Sadis!"
Ah, kiranya banyak sifat-sifat nenek ini yang amat berlawanan dengan nama besarnya sebagai datuk kaum sesat.
Dia telah bertemu dengan Tung-hai-sian, Pak-san-kui dan See-thian-ong, tiga di antara datuk-datuk kaum sesat dan mereka semua itu memang hebat dan juga penuh kekuatan dan kekerasan.
Akan tetapi Lam-sin hanyalah seorang nenek lembut yang pandai bermain yang-kim, pandai pula mengumpulkan lukisan-lukisan yang bernilai dan bahkan kini suka membaca dan menulis sajak!
Bukan main.
Dia mulai menyangsikan apakah nenek inipun memiliki kelihaian seperti ketiga orang datuk lainnya itu.
"Pendekar Sadis, setelah kita saling bertemu dalam kesempatan ini maukah engkau menulis sajak untukku, sebagai kenang-kenangan?"
Tiba-tiba nenek tua itu bertanya. Thian Sin mengerutkan alisnya.
"Lam-sin, bukankah sebentar lagi kita akan saling serang dan mungkin saja aku atau engkau roboh dan tewas? Apa perlunya sajak dalam saat seperti ini?"
"Heh-heh, mati adalah soal nanti, sekarang kita hidup maka harus menikmati hidup yang sekarang ini. Andaikata engkau mati dalam pertandingan nanti, sajakmu akan merupakan kenang-kenangan yang cukup baik."
Thian Sin mengerutkan alisnya.
Betapapun juga, nenek ini sungguh tinggi hati dan merasa yakin bahwa ia akan menang nanti, hal ini sudah berkali-kali disindirkan.
Maka diapun lalu berkata.
"Lam-sin, memang kau benar, akan tetapi kematian bisa menimpa siapa saja, juga engkau dalam pertandingan nanti. Karena kita belum tahu siapa yang akan roboh dan tewas, maka sebaiknya kalau kita masing-masing menuliskan sajak, agar kalau yang seorang tewas, yang lain masih mempunyai kenang-kenangannya berupa sajak."
"Ha-ha-ha, bagus! Bagus sekali usulmu dan memang cukup adil. Mari kita menulis sajak masing-masing!"
Lam-sin lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis yang tersedia di dalam kamar perpustakaan itu.
Merekapun lalu menulis sajak.
Thian Sin menulis di atas meja di sudut kiri sedangkan nenek itu menuliskan sajak di atas meja yang berada di sudut kanan kamar.
Mereka selesai hampir berbareng.
Lam-sin selesai lebih dulu, hanya beberapa menit kemudian Thian Sinpun menyelesaikan sajaknya.
Sambil ketawa dan penuh keinginan tahu memancar dari sepasang matanya yang tajam itu, Lam-sin mengajak bertukar kertas yang penuh dengan tulisan.
Lalu, dengan suara lantang, nenek itupun membacakan sajak tulisan Thian Sin.
"Lam-sin datuk dunia selatan mendatangkan kagum dan heran aku melihat perpaduan antara ketuaan dan kesegaran keganasan dan kelembutan!"
Sementara itu, Thian Sin juga membacakan tulisan tangan yang halus indah, yang sudah dikenalnya dari surat tantangan yang diterimanya.
"Pendekar Sadis yang tersohor kiranya hanya seorang pemuda hijau yang lemah lembut dan halus pandai bersuling dan bersajak betapa amat mengagumkan!"
Mereka saling pandang dan keduanya tertawa.
Tanpa mereka sengaja, bunyi sajak mereka itu serupa benar.
Keduanya menyatakan keheranan masing-masing dan juga kekaguman hati masing-masing terhadap satu sama lain!
"Lam-sin, sungguh tulisanmu amat indah dan sajakmu juga amat indah,"
Thian Sin memuji.
"Hem, kepandaianmu menulis sajak juga amat mengejutkan hatiku, Pendekar Sadis,"
Nenek itu berkata.
Dan pada saat itu, sama sekali tidak terasa adanya permusuhan di dalam hati Thian Sin!
Maka, sebagai penyesalan bahwa ia terpaksa harus bertanding melawan datuk ini, kalau bukan karena keluarga Ciu juga untuk membuktikan bahwa dia mampu mengalahkan semua datuk sesat sehingga dengan demikian dia akan mengangkat nama besar ayahnya dan melanjutkan cita-cita ayahnya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, dia berkata.
"Lam-sin seorang tokoh seperti engkau ini, yang sudah tua dan memiliki banyak macam ilmu kepandaian yang hebat, dan yang sama sekali tidak patut menjadi seorang golongan sesat, mengapa engkau sampai menjadi datuk kaum sesat?"
"Hemm, kau kira aku menjadi datuk kaum sesat di selatan karena memang aku suka menjadi orang yang dianggap jahat? Huh, aku muak dengan sikap para pendekar sakti seperti keluarga Cia itu, yang merasa dirinya sendiri saja yang pandai, gagah dan bersih, memandang rendah kepada golongan lain. Aku tidak peduli dianggap jahat dan engkaupun boleh saja memandang aku sebagai seorang datuk yang jahat. Akan tetapi ketahuilah, Pendekar Sadis yang tidak menyeramkan, bahwa golongan hitam atau kaum sesat perlu ada yang ditakuti, agar mereka itu dapat terkendali. Kalau mereka itu tidak dapat dikendalikan, kalau tidak ada yang mereka takuti, maka mereka itu akan menjadi liar dan hal ini amatlah berbahaya bagi seluruh rakyat. Biarlah aku disebut datuk kaum sesat, rajanya penjahat, akan tetapi aku paling benci melihat penindasan, apalagi melihat perkosaan terhadap wanita. kau tahu mengapa aku menolong Lian Hong dan menganggapnya sebagai murid? Karena ia hendak diperkosa orang dan tahukah engkau siapa orang itu? Seorang anggota Bu-tek Kai-pang sendiri, dan aku telah membunuhnya sendiri!"
"Hemm, memang ada kumelihat kejanggalan pada dirimu, Lam-sin. Berhadapan denganmu, sungguh sama sekali aku tidak merasa berhadapan dengan seorang datuk sesat, berbeda dengan kalau aku berhadapan dengan tiga orang datuk yang lain di utara, timur dan barat. Maka sungguh luar biasa kalau orang seperti engkau ini sejak dahulu tidak pernah berkeluarga. Kalau kau lakukan hal itu, tentu sekarang engkau telah menjadi seorang nenek yang dikelilingi cucu-cucunya yang tercinta."
Mendengar kata-kata itu, Lam-sin menundukkan mukanya dan Thian Sin hanya memandang, mengira bahwa nenek itu tentu menjadi sedih mendengar ucapannya.
Tiba-tiba nenek itu mengangkat mukanya dan Thian Sin terkejut sekali.
Sepasang mata itu demikian tajamnya, mencorong seperti hendak menembus jantungnya dan mulut yang keriputan itu bertanya.
"Ceng Thian Sin, pernahkah engkau jatuh cinta?"
Thian Sin terkejut, bukah hanya karena sinar mata yang tajam itu, akan tetapi juga mendengar nenek itu secara tiba-tiba saja menyebut namanya selengkapnya, tidak lagi sebutan yang nadanya mengejek memanggil nama julukannya.
Juga dia terkejut dan bingung menerima pertanyaan yang sama sekali tak pernah disangkanya itu "Cinta?
Jatuh cinta?
Ah, aku sendiri tidak tahu.
Memang banyak wanita cantik yang menarik perhatianku, akan tetapi jatuh cinta...?
Ah, aku tidak mengerti..."
"Hemm, bukankah engkau mencinta Lian Hong?"
Thian Sin menunduk dan menarik napas panjang.
Sukar menyangkal di depan nenek yang matanya tajam ini.
"Entahlah, memang pernah aku jatuh cinta kepada gadis-gadis lain sebelumnya. Akan tetapi setelah Hong-moi menjadi tunangan Tiong-ko, seperti juga dengan gadis-gadis sebelumnya yang gagal menjadi milikku, aku meragu lagi apakah aku benar-benar mencinta mereka itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang cinta, mungkin hanya mengira saja pernah jatuh cinta kepada setiap gadis yang menarik hatiku."
Thian Sin berhenti sebentar, lalu menyambung sambil menatap wajah keriputan itu.
"Engkau sendiri bagaimana, Lam-sin. Engkau belum pernah menikah, apakah itu berarti bahwa engkau juga belum pernah jatuh cinta sampai setua ini?"
Nenek itu menggeleng kepalanya.
"Tidak pernah ada yang pantas menerima cintaku!"
Setelah menjawab demikian, iapun menyambung cepat.
"Mari kita ke lian-bu-thia!"
Thian Sin tidak menjawab dan mengikuti nenek itu, hatinya meragu.
Setelah nenek itu mengajaknya ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) maka tentu maksudnya untuk mengajaknya bertanding.
Dan kini dia ragu-ragu!
Bukan dia takut menghadapi datuk ini.
Akan tetapi untuk apa dia bertanding melawan nenek ini?
Seorang nenek tua yang pandai bersajak, pandai bermain musik, yang begitu lemah lembut nampaknya.
Dia tahu bahwa kalau dalam pertandingan ini dia berhasil merobohkan dan membunuh nenek ini, dia akan merasa menyesal selama hidupnya.
Mungkinkah dia dapat berbangga mengalahkan seorang nenek tua renta seperti ini?
Dan kalau dia kalahpun akan membuat namanya menjadi bahan tertawaan orang-orang di seluruh dunia!
Akan tetapi, dia tidak dapat mundur lagi.
Seperti pada ruangan-ruangan lainnya, juga di ruangan ini Thian Sin melihat keadaan yang amat mewah dan indah.
Ruangan lian-bu-thia ini selain amat luas dan bersih, juga mempunyai banyak jendela di atas sehingga udaranya segar, sungguh amat baik dipakai berlatih silat atau berlatih samadhi.
Di sudut terdapat rak senjata yang penuh dengan segala macam senjata yang serba indah dan juga amat baik buatannya, dari bahan baja yang baik pula.
"Nah, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mengadu ilmu silat. Bukankah itu yang kau kehendaki ketika engkau datang ke kota Heng-yang dan mencari gara-gara dengan orang-orang Bu-tek Kai-pang?"
Thian Sin mengangguk.
"Tadinya memang demikianlah, demi membalaskan kematian keluarga Ciu, akan tetapi sekarang..."
"Sekarang bagaimana? Engkau takut? Heh-heh-heh!"
Merah muka Thian Sin.
"Siapa takut kepadamu? Tapi, sekarang tidak ada alasannya lagi mengapa aku harus membunuhmu."
"Engkau membunuhku? Hemm, jangan mimpi, orang muda. Dan tentang alasan apakah kematian banyak anak buah Bu-tek Kai-pang itu tidak cukup untuk membuat aku membunuhmu?"
Lega rasa hati Thian Sin.
Memang hal itu merupakan alasan yang cukup kuat baginya untuk menghadapi Lam-sin sebagai musuh.
"Bagus! Engkau tentu saja boleh membalaskan kematian para anak buahmu itu. Mari, Lam-sin, kita bereskan perhitungan antara kita!"
Dan pemuda itu, lalu meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia dan berdiri tegak dengan sikap tenang.
Lam-sin juga meloncat ke depannya dengan gerakan ringan seperti seekor burung pipit terbang saja.
Thian Sin waspada, dia maklum bahwa biarpun dia belum dapat mengetahui sampai di mana kepandaian nenek ini, akan tetapi satu hal sudah jelas bahwa nenek ini memiliki ilmu gin-kang yang hebat, yang tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri.
"Menurut penuturan Lian Hong, engkau mewarisi ilmu-ilmu dari Pendekar Lembah Naga, juga ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai, bahkan telah menguasai Thi-khi-i-beng, padahal Cia Han Tiong sendiri tidak pandai ilmu mujijat itu. Agaknya, dalam hal ilmu silat, engkau malah lebih lihai daripada putera Pendekar Lembah Naga. Nah, keluarkanlah semua ilmumu itu, orang muda!"
Lam-sin menantang.
Thian Sin melihat bahwa di balik jubah nenek itu ada tersembunyi sepasang pedang tipis dengan gagang emas, berukir kepala ular, maka dia dapat menduga bahwa nenek ini tentu ahli bermain pedang pasangan.
Akan tetapi pada saat itu, Lam-sin tidak mencabut keluar sepasang pedangnya, maka diapun bertanya.
"Lam-sin, kita bertanding dengan tangan kosong ataukah engkau hendak mempergunakan sepasang pedangmu itu?"
Nenek itu tersenyum menyeringai, mengejek.
"Apa sih bedanya dengan pedang atau tidak? Kedua tanganku ini dapat membunuh lebih cepat daripada pedang kalau memang diperlukan. Kita berhadapan sebagai lawan, perlu apa tanya pakai senjata atau tidak? Kalau engkau sendiri memiliki seribu macam senjata, keluarkanlah itu semua, aku tak undur selangkahpun!"
"Nenek sombong, tak perlu banyak cakap lagi, sambutlah ini!"
Thian Sin lalu menampar dengan gerakan sembarangan, akan tetapi dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tangannya didahului sambaran angin pukulan yang dahsyat.
Akan tetapi, dengan gerakan yang lincah sekali sehingga tidak patut dengan orangnya yang sudah demikian tua, Lam-sin mengelak dan dengan sama cepatnya dari samping iapun sudah membalas serangan Thian Sin dengan pukulan tangan kiri ke arah dada.
Pukulan itu ringan bukan main, seperti kapas saja!
Akan tetapi Thian Sin cepat mengelak karena dia mengenal pukulan ampuh.
Pukulan yang amat ringan ini adalah pukulan Ilmu Silat Bian-kun (Silat Tangan Kapas) yang nampaknya saja lembut dan tidak mengandung tenaga kasar sedikitpun.
Akan tetapi jangan kira pukulan itu tidak berbahaya karena di balik keringanan dan kelembutan itu mengandung tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga orang yang terkena pukulan, biarpun kulitnya tidak lecet, akan tetapi di sebelah dalam tubuhnya bisa rusak dan terluka parah.
Mulailah mereka saling pukul.
Karena Lam-sin mengandalkan gin-kangnya, maka terpaksa Thian Sin mengimbanginya.
Gerakan mereka cepat sekali dan setiap pukulan, setelah dielakkan, disambut dengan pukulan juga sehingga dalam waktu singkat, gerakan mereka yang cepat itu telah melewati tiga puluh jurus di mana mereka saling pukul namun selalu mengenai tempat kosong karena keduanya menghindarkan diri dengan elakan-elakan yang tepat dan cepat.
Setelah lewat tiga puluh jurus mengandalkan kecepatan gerakan, tahulah Thian Sin bahwa kalau dia terus mengandalkan gin-kang, dia akan menderita rugi karena harus diakuinya bahwa dalam ilmu ini, dia masih kalah setingkat oleh lawan!
Maka diapun lalu mengerahkan sin-kangnya, menghentikan gerakan bersicepat itu dan kini dia memasang kuda-kuda dengan teguhnya, lalu mengubah ilmu silatnya.
Tadi, ketika dia berusaha mengimbangi kecepatan lawan, Dia telah mainkan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) yang diterimanya dari pendekar sakti Yap Kun Liong.
Dengan ilmu ini dia dapat bergerak cepat, atau setidaknya dapat membendung banjir serangan dari lawan yang memiliki kecepatan luar biasa itu.
Kini, dia menghentikan gerakan cepatnya dan mengubah ilmu silatnya dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kokoh kuat dan indah itu.
Melihat lawan mengubah ilmu silatnya, kalau tadi amat cepat dan seolah-olah lawannya itu berubah menjadi delapan orang sehingga diam-diam Lam-sin kagum sekali maka kini berubah lambat dan kokoh kuat, Lam-sin menyerang dengan sama cepatnya, hanya bedanya, kini diarahkannya sebuah pukulan ke arah kepala lawan dengan tenaga yang dahsyat, bukan dengan tenaga halus seperti tadi.
"Haiiittt...!"
Ia membentak dan terdengar desir angin ketika pukulannya meluncur ke depan.
"Hemmm...!"
Thian Sin cepat menangkis gerakan tangkas dan kuat sekali karena memang dia sengaja mengerahkan tenaga untuk menangkis dan mengadu kekuatan sin-kang.
Tentu saja untuk ini dia mengandalkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang hebat itu.
"Dukkk...!"
Benturan dua lengan yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat itu hebat bukan main dan akibatnya, Thian Sin terdorong mundur dua langkah akan tetapi Lam-sin sendiri terhuyung ke belakang sampai tiga langkah!
Nenek itu terkejut bukan main.
Selama ini, belum pernah ia menemukan lawan yang dapat menandinginya dalam hal gin-kang dan sin-kang.
Sekarang, biarpun dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) pemuda itu masih kalah sedikit olehnya, akan tetapi sebaliknya dalam hal sin-kang agaknya ia kalah kuat!
Hal ini membuatnya penasaran bukan main dan sambil menjerit, ia sudah menerjang lagi dan sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya, menghantamkan lagi tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala Thian Sin.
Pemuda ini maklum bahwa lawannya penasaran, maka sambil tersenyum diapun menangkis lagi, dan karena dia tahu bahwa lawannya mengerahkan seluruh tenaga, maka diapun mempergunakan tenaga Thian-te Sin-ciang yang ditambahnya dengan khi-kang yang diperolehnya dalam latihan ilmu peninggalan ayahnya.
"Desss...!"
Tubuh Thian Sin terhuyung sampai tiga meter ke belakang, akan tetapi sebaliknya, tubuh nenek itu terbanting roboh!
Nenek itu terkejut, dan cepat ia menggulingkan tubuhnya dan meloncat bangkit lagi, memandang dengan mata terbelalak.
Bukan main marahnya dan ia sudah meloncat ke depan lagi.
Thian Sin menyambutnya dengan tamparan dan menggunakan satu jurus dari San-in-kun-hoat sambil mengeluarkan pukulan Pek-in-ciang sehingga dari tangannya mengepul uap putih.
Melihat ini, nenek itu kagum sekali, akan tetapi cepat mengelak karena kini ia tahu bahwa mengadu tenaga akan merugikan dirinya.
Maka ia sudah mengubah lagi gerakannya, kini mengandalkan gin-kangnya untuk memperoleh kemenangan.
Setelah ia mengelak tiba-tiba saja mulutnya berseru nyaring dan tiba-tiba ada sinar hitam menyambar dari samping ke arah pelipis kepala Thian Sin.
Sinar hitam itu menyambar seperti ular hidup, Thian Sin cepat menundukkan kepalanya menghindarkan diri dan ternyata sinar hitam seperti ular itu adalah kuncir rambut!
Nenek itu mempunyai rambut panjang, sepanjang pinggangnya setelah kuncir itu terlepas dari sanggulnya, dan anehnya, kalau rambut yang menutupi kepala itu tadi nampak putih penuh uban, setelah kini rambut yang panjang itu terlepas dari sanggul dan tergantung sebagai kuncir tebal, rambut itu masih nampak hitam dan subur sekali.
Juga ketika menyambar lewat, Thian Sin mencium keharuman kembang.
Kembali rambut itu menyambar-nyambar dengan ganasnya, disusul dengan pukulan-pukulan kedua tangan dan bahkan kini nenek itu mulai menggunakan kaki untuk menendang sehingga serangannya benar-benar amat dahsyat.
Kedua kaki, kedua tangan dibantu oleh kuncir yang berbahaya itu, menyerang bertubi-tubi dan diam-diam Thian Sin kagum bukan main.
Pantaslah kalau nenek ini menjadi datuk karena memang ilmu silatnya hebat, kecepatannya menggiriskan dan rambutnya itu pun merupakan senjata yang lebih berbahaya dibandingkan kaki atau tangan wanita tua itu.
Terpaksa diapun harus cepat mengelak dan menangkis pukulan dan tendangan, akan tetapi tidak berani menangkis rambut karena dia maklum bahwa rambut yang lemas itu kalau ditangkis, dapat melibat dan membelit seperti ular sehingga dia akan terancam bahaya.
Thian Sin mulai terdesak oleh serangan-serangan yang amat dahsyat itu.
Tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan kipasnya dan juga melolos sebuah sabuk kuning dari pinggangnya.
Menghadapi rambut itu, dia teringat akan ilmu permainan sabuk yang dia pelajari dari neneknya, yaitu Cia Giok Keng.
Dia tahu bahwa satu-satunya senjata yang dapat melawan senjata rambut itu hanyalah sabuknya ini.
Sabuk ini mempunyai sifat yang sama dengan rambut, lemas dan kalau perlu dapat juga dibuat kaku dengan penyaluran sin-kang.
Adapun kipasnya dapat dipergunakan untuk menotok, atau kadang-kadang tangan yang memegang kipas tetap saja dapat mengirim pukulan.
Kembali lewat lima puluh jurus benar saja, setelah Thian Sin mempergunakan sabuknya yang dimainkan secara hebat dan indah sehingga sabuk itu seperti seekor naga kuning yang melayang-layang, ujung sabuk dapat menotok jalan darah, dan dapat pula dipergunakan untuk mematikan gerakan rambut lawan, maka nenek itu kembali terdesak.
"Lihat jarumku!"
Tiba-tiba nenek itu membentak dan ada sinar merah menyambar seperti kilat.
Thian Sin terkejut sekali, mengebut dengan kipasnya dan melempar tubuhnya ke belakang dan dia bergulingan.
Kipasnya telah berlubang oleh jarum-jarum merah yang beracun!
Keringat dingin membasahi lehernya karena pemuda ini maklum bahwa baru saja ia terlepas dari bahaya maut yang nyaris merenggut nyawanya!
Nenek itu tertawa dan melanjutkan serangannya, kini dengan sepasang pedang di kedua tangannya.
Ia sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan segera bergerak ke depan, menyerang Thian Sin bertubi-tubi.
Nampak dua gulungan sinar hitam menyambar-nyambar dan membuat gulungan yang lebar.
Kiranya dua batang pedang itu adalah pedang yang berwarna hitam!
Dan begitu kedua pedang itu bergerak maka Thian Sin harus cepat-cepat berloncatan ke belakang.
Gerakan sepasang pedang itu amat hebatnya, juga amat aneh.
Tahulah dia bahwa nenek itu benar-benar amat lihai dengan siang-kiamnya.
Dia tidak tahu bahwa ilmu pedang nenek itu disebut Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang mempunyai dasar yang sama dengan Hok-mo-pang yang diajarkan oleh nenek ini kepada para pimpinan Bu-tek Kai-pang.
Memang hebat permainan pedang nenek itu dan biarpun Thian Sin sudah berusaha untuk memutar kipas dan sabuknya, namun dia tetap terdesak, bahkan lewat belasan jurus kemudian, ujung sabuk kuningnya terbabat putus oleh sinar hitam!
Nenek itu terkekeh senang dan serangannya menjadi semakin hebat.
Thian Sin terpaksa menyimpan sabuknya dan mencabut keluar Gin-hwa-kiam.
Nampak sinar perak berkelebat.
"Trang! Cringgg...!"
Nampak bunga api berpijar ketika dua kali pedang di tangan Thian Sin menangkis sepasang pedang hitam.
Nenek itu merasa tangannya tergetar hebat.
Memang ia tahu akan kekuatan dahsyat pemuda itu, maka iapun cepat menyerang lagi, tidak mau mengadu senjata lagi.
Thian Sin juga memutar pedangnya, menangkis, mengelak dan balas menyerang dengan pedangnya yang dibantu oleh kipasnya!
Akan tetapi, nenek itu memang luar biasa sekali.
Sepasang pedang hitam itu masih dibantu oleh gerakan kepalanya yang membuat kuncirnya seperti menjadi pedang ketiga.
Sama hitamnya, tidak kalah cepatnya dan juga berbahayanya.
Thian Sin tidak berani main-main lagi.
Kini dia tahu benar bahwa di antara empat orang datuk itu, nenek inilah yang paling berbahaya dan lihai!
Maka, setelah sejak tadi mereka bertanding lebih dari seratus jurus tanpa ada yang menang atau kalah dan mereka itu saling desak, Thian Sin lalu mengeluarkan suara melengking panjang dan setelah menyimpan kipasnya, tiba-tiba tangan kirinya membuat gerakan menyerong, miring dan dari tangan ini menyambar angin pukulan dabsyat, dan dia membarengi dengan tusukan pedangnya.
Dahsyat bukan main serangan tangan kiri itu karena dia sudah mengeluarkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Hok-liong Sin-ciang, ilmu yang disempurnakannya di dalam gua, di bawah bimbingan bayangan Bu-beng Hud-couw sendiri berdasarkan ilmu dari kitab peninggalan mendiang ayah kandungnya.
Nenek itu mengeluarkan teriakan kaget dan sebatang pedangnya, yang kiri terlepas dari pegangan tangan.
Ia masih dapat menangkis, lalu menahan desakan Thian Sin dengan sambitan jarum merahnya.
Thian Sin mengelak dan memutar pedangnya, lalu menyerang lagi, kini malah menggunakan ilmu Hok-liong Sin-ciang.
Menghadapi serangan-serangan ini, nenek itu bingung.
Pedangnya tidak ada artinya lagi karena sebelum pedangnya dapat menyentuh lawan, sudah ada sambaran hawa pukulan dahsyat yang membuat ia selalu terdorong mundur.
Maka nenek itupun menjadi nekat.
Ia mengerahkan seluruh khi-kangnya dan melawan keras sama keras!
Beberapa kali jurus-jurus yang dikeluarkan Thian Sin disambut oleh wanita tua itu dan akibatnya Nenek Lam-sin terlempar dan terbanting.
Akan tetapi, ia memang nekat dan kuat sekali.
Agaknya tubuh yang tua renta itu mengandung kekuatan yang luar biasa dan kekebalan sehingga beberapa kali terbanting, ia masih terus melawan dengan nekat dan lebih ganas lagi.
Thian Sin sendiri sampai merasa penasaran, tidak enak dan kasihan.
Mengapa nenek ini masih belum juga mengaku kalah?
Ketika nenek itu menubruk, Thian Sin menyambut dan menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang, lalu ia menggerahkan Thi-khi-i-beng!
Nenek itu menjerit, akan tetapi lalu tiba-tiba saja seluruh tubuhnya mengendur sehingga sin-kang tidak lagi membanjir keluar.
Agaknya nenek ini yang amat lihai memiliki kecerdikan sehingga ia tahu bagaimana menghadapi Thi-khi-i-beng dan kepalanya bergerak, rambutnya yang panjang menyambar dan dua kali, seperti ular hidup, ujung kuncir itu menotok ke arah kedua mata Thian Sin.
Diserang seperti ini, tentu saja Thian Sin harus melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang.
Kedua matanya tentu saja tidak dapat dilindungi dengan kekebalan.
Karena kehabisan akal bagaimana untuk dapat mengalahkan nenek ini tanpa membunuhnya, tiba-tiba Thian Sin berjungkir balik dan dia telah menggunakan Hok-te Sin-kun, tahu-tahu tubuhnya yang berjungkir balik itu mencelat ke depan dan terdengar nenek itu berteriak kaget lalu roboh terguling, kedua kakinya terasa lumpuh karena telah kena ditotok oleh jari tangan Thian Sin yang tubuhnya berjungkir balik itu.
Sebelum pedang itu menyambar, yaitu pedang hitam kanan yang masih dipegang oleh Lam-sin, Thian Sin sudah meloncat ke belakang.
Sambil memandang kepada nenek yang tidak mampu berdiri lagi itu, dia berkata.
"Lam-sin apakah engkau belum juga mengaku kalah?"
Sejenak mereka mengadu pandang mata.
Dan Thian Sin terkejut, juga kasihan melihat nenek itu tiba-tiba menangis!
Thian Sin tidak dapat berkata apa-apa, terheran-heran melihat hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini.
Lam-sin, datuk kaum sesat dari selatan ini, menangis seperti anak kecil!
Menangis terisak-isak!
"Kau...
kau kenapakah, nek?"
Thian Sin bertanya sambil mendekati.
"Aku sudah kalah... lebih baik mati...!"
Berkata demikian, Lam-sin menggerakkan pedang hitamnya ke arah leher sendiri.
"Jangan...!"
Secepat kilat Thian Sin menubruk dan menangkap pergelangan tangan nenek itu.
Lam-sin meronta, akan tetapi Thian Sin merangkul dan memeluknya, memegangi pula pergelangan tangan kirinya.
Karena kedua kaki Lam-sin tak dapat digerakkan, masih dalam pengaruh totokan, maka tenaga rontaannya tentu saja sangat berkurang, bahkan menjadi lemah dan ia tidak meronta lagi, melainkan menangis.
Sementara itu, ketika mencegah nenek itu membunuh diri dan memeluknya, secara tidak sengaja tangan dan tubuh Thian Sin berhimpitan dengan tubuh nenek itu dan dia merasakan sesuatu yang amat aneh.
Tubuh nenek itu padat, mengkal dan penuh, sama sekali bukan seperti tubuh seorang nenek tua renta, melainkan lebih pantas menjadi tubuh seorang dara!
"Kenapa kau hendak bunuh diri hanya karena kalah olehku, Lam-sin?"
Thian Sin bertanya, masih merangkul dan memegangi tangan Lam-sin walaupun pedang hitam itu sudah terlepas dari pegangan nenek itu.
"Engkau tahu... mengapa sampai... saat ini aku belum menikah?"
Akhirnya Lam-sin berkata dan ketika Thian Sin menggeleng kepala menyatakan tidak tahu, nenek itu melanjutkan.
"Aku telah bersumpah bahwa aku hanya akan menyerahkan diriku kepada seorang pria yang dapat mengalahkan aku... dan sampai detik ini... sebelum ini tidak ada seorangpun pria yang mampu menandingiku... karena itu aku belum pernah... sampai sekarang aku masih perawan... dan setelah akhirnya ada yang mengalahkan aku... hu-hu-huhh... engkau... engkau tentu tidak akan sudi menerimaku... maka daripada aku terhina, lebih baik aku mati...!"
Thian Sin tersenyum dan mendekap kepala wanita yang menangis itu ke dadanya.
Bukan hanya tubuh itu yang hangat dan padat seperti tubuh orang muda, juga setelah dia merangkul dan berada dekat dengan nenek ini, dia melihat suatu hal yang tidak mungkin.
Sepasang mata itu, demikian jeli dan beningnya, sama sekali bukan mata nenek-nenek biarpun di pinggir mata itu keriputan.
Dan sekarang, setelah dekat sekali, baru Thian Sin melihat betapa ketika nenek ini bicara tadi, keriput di pipinya, di tepi hidung dan mulut, di tepi matanya, sama sekali tidak berubah, sama sekali tidak bergerak.
Mana ada keriput begitu kaku dan tidak bergerak ketika mulut bicara?
Juga suara nenek ini, demikian halus dan bening, juga tidak seperti nenek tua, melainkan suara yang penuh dan suara orang muda.
Dan gigi itu!
Gigi yang berderet dan putih bersih, biarpun nenek itu berusaha untuk tidak membuka mulut terlalu lebar agar giginya jangan nampak.
"Engkau keliru, nenek tua renta yang baik!"
Thian Sin berkata.
"Biarpun engkau seorang nenek, namun engkau masih perawan, tubuhmu belum terjamah pria lain. Kalau memang demikian sumpahmu, akupun bersedia menerimamu, aku bersedia membantumu memenuhi sumpahmu."
"Kau... kau mau...?"
Lam-sin berkata dengan mata terbelalak dan Thian Sin melihat betapa indahnya mata itu.
Dia tersenyum dan mengangguk, lalu dia memondong tubuh nenek itu dengan mudah dan ringannya.
"Benarkah kau ... kau mau...?"
Nenek itu seolah-olah tidak percaya.
Thian Sin mengangguk dan menundukkan mukanya, mencium ke arah leher di balik baju leher yang agak tersingkap itu.
Leher yang kulitnya putih kuning dan halus, sedikitpun tidak ada keriputnya seperti yang sudah diduganya, dan dia mencium bau harum minyak wangi.
"Di antara semua kamar di dalam istana ini, hanya kamar tidur saja yang tadi belum kulihat, maka coba tunjukkan di mana kamar tidurmu, dan aku akan buktikan bahwa aku akan membantumu memenuhi sumpahmu, Lam-sin."
Ketika dicium lehernya tadi, seketika tubuh Lam-sin menjadi lemas dan kedua lengannya sudah merangkul leher pemuda yang memondongnya dan hanya terdengar bisikan dari muka yang disembunyian di dada Thian Sin.
"Ke kiri... melalui pintu kiri itu..."
Thian Sin melangkah sambil memondong tubuh Lam-sin, memasuki pintu kiri dan selanjutnya, tanpa mengangkat muka dari tempat persembunyiannya, Lam-sin menunjukkan di mana adanya kamarnya.
Karena tadi sudah diperintah oleh Lam-sin, lima orang pelayannya sama sekali tidak nampak karena mereka itu berdiam di dalam kamar masing-masing tanpa berani keluar!
Ketika Thian Sin sudah mendorong daun pintu kamar itu terbuka, dia tercengang dan kagum.
Sebuah kamar tidur yang luar biasa mewahnya!
Begitu dibuka, bau semerbak harum menyambut hidungnya.
Kamar itu lengkap dengan perabot yang serba indah dan mahal, dan nampak begitu bersihnya, tidak (Lanjut ke
Jilid 33) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 pantas menjadi kamar nenek-nenek peyot, pantasnya menjadi kamar seorang puteri istana!
Thian Sin melangkah masuk dan mempergunakan jari tangan yang memondong untuk menutupkan daun pintu lagi, kemudian dengan perlahan dia merebahkan tubuh nenek itu ke atas pembaringan yang berkasur tebal lunak dan bertilam sutera warna merah muda.
Sebuah lampu yang berada di atas meja, agaknya tadi dinyalakan oleh pelayan, tertutup kap berwarna hijau sehingga membuat suasana di kamar itu nampak romantis dan indah sejuk.
"Kau... kau tidak mau membebaskan aku dari totokan?"
Tanya nenek itu.
"Ah, tentu saja! Aku sampai lupa, maafkan."
Dengan halus Thian Sin meraba pinggang nenek itu dan bukannya menotok dengan kasar, melainkan mengurut dan menekan lembut dan totokan itupun punah.
Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan tangannya meraba kaki nenek itu.
Otomatis Lam-sin menarik kakinya yang diraba.
"Apa... apa yang hendak kau lakukan...?"
Tanyanya, suaranya lirih dan gemetar.
Thian Sin tersenyum.
Sikap nenek ini sungguh tidak lebih seperti seorang dara remaja yang pemalu.
"Hanya ingin melepaskan sepatumu, Lam-sin. Aku sendiri harus melepaskan sepatu, bukan? Pembaringan akan kotor..."
"Nanti..."
Kembali Lam-sin menarik kakinya.
"Kau... kau padamkan dulu lampu itu... aku... aku tidak bisa, aku malu... padamkan lekas, Thian Sin..."
Thian Sin meraih lampu di atas meja dan memadamkannya.
Lenyaplah semua keindahan dalam kamar yang menjadi gelap gulita.
Thian Sin meraba-raba, melepaskan sepatu Lam-sin dan sepatunya sendiri, lalu memeluk nenek itu.
Dan malam itu Thian Sin mengalami sesuatu yang amat luar biasa.
Dia tidak ragu-ragu lagi bahwa wanita yang berwajah nenek ini sebenarnya adalah seorang dara yang muda dan memiliki tubuh yang indah, montok dan yang benar-benar selamanya belum pernah berdekatan dengan seorang pria!
Dan wanita ini menyerahkan diri dengan sepenuh hati, dan rela bahkan menangis, saking bahagianya ketika berada dalam pelukannya.
Mereka itu seperti pengantin baru saja.
Hanya yang agak mengecewakan hati Thian sin adalah bahwa mereka berada di tempat yang gelap gulita.
Lam-sin selalu menolak kalau dia hendak menyalakan lampu.
"Thian Sin, kasihanilah aku... jangan nyalakan lampu... kau tunggu saja sampai besok pagi... ah, bertahun-tahun aku menyembunyikan diri dan kini... setelah aku menemukan engkau... engkaulah orang pertama yang akan tahu segala-galanya... maafkan aku."
Tentu saja Thian Sin mau memaafkannya dan ketika dia menciumnya, Lam-sin balas mencium dengan kemesraan dan kehangatan yang membuat Thian Sin tercengang.
Biarpun wanita ini mengubah mukanya sebagai nenek-nenek, entah dengan topeng apa maka demikian persisnya sehingga dia sendiripun sebelum berdekatan muka tidak akan pernah menyangkanya, namun dia dapat menduga bahwa wanita ini tentulah seorang gadis cantik.
Tentu saja hal itu baru dapat dibuktikan besok dan malam ini, di dalam gelap, biarpun tidak dapat melihatnya, namun dia dapat merabanya dan memperoleh kenyataan bahwa memang Lam-sin seorang wanita yang masih muda, masih gadis.
Bermain cinta dengan wanita yang menyerahkan diri dengan penuh kerelaan, dan wanita yang sama sekali belum pernah diketahui bagaimana wajahnya, merupakan pengalaman baru bagi Thian Sin dan mendatangkan ketegangan luar biasa.
Betapapun juga, harus diakuinya bahwa mereka bermain cinta dengan penuh kesadaran, penuh kerelaan dan kemesraan.
Setelah malam lewat, pada keesokan harinya, setelah sinar matahari mulai menerobos masuk dan kamar itu diterangi oleh cahaya keemasan matahari pagi, Lam-sin menyembunyikan dirinya dalam selimut!
Bahkan mukanyapun disembunyikannya, seluruh tubuhnya tertutup selimut!
Thian Sin bangkit duduk dan tertawa.
"Kekasihku yang manis, bukalah selimut itu dan mari kau memperkenalkan dirimu!"
Dari dalam selimut terdengar suara yang gemetar.
"Aku... aku malu..."
"Ih, bukankah kita sudah menjadi kekasih, bahkan telah menjadi suami isteri, walaupun tidak sah? Bukalah, aku ingin melihat bagaimana cantiknya wajah dewi pujaanku..."
"Thian Sin, jangan merayu engkau!"
"Sungguh, aku telah jatuh cinta padamu, dewiku..."
"Kepada Lam-sin nenek tua renta?"
"Bukan, kepada seorang gadis yang cantik jelita dan bertubuh mulus dan indah."
Thian Sin memeluk dan dengan perlahan membuka selimut itu dan...
dia terpesona!
Memang sudah diduganya bahwa gadis itu tentu seorang wanita muda yang cantik, akan tetapi tak pernah disangkanya sejelita ini!
Seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali, yang kini memandang kepadanya dengan sepasang mata yang berseri-seri tajam akan tetapi juga malu-malu, yang kedua pipinya merah sekali dan bibirnya yang merah membasah itu tersenyum malu-malu.
"Ya Tuhan... engkau cantik jelita sekali!"
Katanya lirih dan Thian Sin lalu merangkulnya, mendekatkan muka itu lalu menciumnya dengan sepenuh kemesraan hatinya.
Sampai terengah-engah wanita itu melepaskan diri, mendorong dada Thian Sin dengan lembut.
"Thian Sin, benarkah bahwa engkau cinta padaku?"
"Sungguh mati, sekarang cintaku padamu menjadi berlipat ganda!"
"Engkau tahu Thian Sin, bahwa aku telah menyerahkan diri kepadamu sebagai seorang perawan, untuk memenuhi sumpahku."
Thian Sin mengangguk dan mengelus rambut yang hitam panjang itu.
"Dan aku merasa terharu, merasa berterima kasih sekali bahwa engkau percaya kepadaku."
"Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak dapat menikah denganmu, tidak dapat menjadi isterimu."
Terkejut juga Thian Sin mendengar ini.
Sungguh aneh sekali, dia melepaskan rangkulannya dan menatap wajah yang cantik itu.
Sungguh manis sekali wanita ini, dan memiliki bentuk tubuh yang indah menggairahkan.
Dia merasa beruntung sekali dapat menjadi pria pilihan gadis seperti ini dan diapun agaknya tidak keberatan untuk mendampingi gadis ini selamanya!
Akan tetapi mendengar betapa gadis ini menyatakan tidak dapat menikah dan tidak dapat menjadi isterinya, sungguh merupakan hal yang aneh dan sama sekali berlainan bahkan menjadi kebalikan dari apa yang disangkanya.
Menurut patut, setelah semalam menyerahkan dirinya yang masih perawan, tentu gadis itu akan menuntut atau minta kepadanya agar mereka dapat menikah dan menjadi suami isteri.
Akan tetapi mengapa gadis ini malah menyatakan tidak dapat menjadi isterinya?
"Sayang, bukankah kita telah menjadi suami isteri?"
Kata Thian Sin sambil merangkul dan mencium.
Wanita itu membalasnya dengan mesra dan beberapa lamanya mereka berdua kembali tenggelam ke dalam kemesraannya dan kini, biarpun orang dapat melihatnya, wanita itu agaknya sudah mulai berani dan menumpahkan rasa cintanya tanpa malu-malu.
Akhirnya wanita itu lalu melepaskan dirinya dengan lembut.
"Kalau begini terus, kita tidak mungkin dapat bicara, Thian Sin. Apakah engkau tidak ingin mendengar riwayatku dan tidak ingin mengenal siapa namaku?"
"Tentu saja, karena tidak mungkin aku terus menyebutmu Nenek Lam-sin!"
Kata Thian Sin sambil meraih lagi hendak merangkul. Akan tetapi wanita itu turun dari pembaringan.
"Cukuplah, kita mempunyai banyak hal yang perlu diselesaikan. Mari, berpakaianlah dan kita bereskan urusan Bu-tek Kai-pang juga kita harus bicara dari hati ke hati, barulah kita akan memutuskan apakah kita akan melanjutkan hubungan antara kita atau tidak. Ingat, Thian Sin, apa yang terjadi semalam adalah pemenuhan daripada sumpahku. Kita belum saling terikat, kecuali kalau memang kita nanti menghendaki demikian."
Sikap wanita yang semalam penuh kelembutan, kehangatan dan pemasrahan diri, juga panas dengan api berahi yang bernyala-nyala, kini berubah.
Dingin, berwibawa dan membayangkan bahwa kehendaknya tidak boleh dibantah!
Thian Sin tersenyum.
"Memang bijaksana sekali keputusan itu. Kita tidak sembarangan mengikatkan diri dan menjadi tidak bebas lagi. Nah, terserah kepadamu, aku hanya akan melihat, mendengarkan, kemudian menjawab."
Setelah berkata demikian, Thian Sin juga turun dari pembaringan.
Mereka mandi di kamar mandi yang berada di bagian kamar itu, kemudian Thian Sin yang sudah selesai berpakaian melihat bagaimana wanita itu mengubah dirinya menjadi Nenek Lam-sin.
Kiranya nenek itu memakai sebuah topeng yang luar biasa, topeng kulit tipis sekali dan ada rambut putih di bagian kepala.
Topeng itu begitu tipisnya sehingga tidak nampak, kecuali dari dekat sekali kalau meneliti gerakan mukanya.
Lenyaplah si gadis manis, berubah menjadi nenek tua renta yang menyeramkan.
"Ah, kenapa puteri yang cantik jelita suka bersembunyi di balik topeng nenek tua buruk rupa?"
Kata Thian Sin.
"Engkau akan mendengar dan mengerti nanti. Sekarang, aku harus membereskan urusan Bu-tek Kai-pang lebih dulu."
Setelah berkata demikian, Lam-sin menarik sebuah tali hijau yang tergantung di dekat pembaringan.
Tiga kali dia menarik tali itu dan lapat-lapat terdengar suara berkeliling di luar kamar.
Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka dari luar dan muncullah lima orang pelayan cantik yang kemarin itu.
Thian Sin memandang kepada mereka dan melihat bahwa betapapun cantik-cantiknya mereka, kalau dibandingkan dengan kecantikan dara yang menjadi miliknya semalam, maka mereka itu kalah jauh dan pantaslah kalau menjadi pelayannya.
Sebaliknya, lima orang wanita pelayan itu memandang heran melihat Nenek Lam-sin sudah mandi dan bertukar pakaian, lebih heran lagi melihat Pendekar Sadis masih berada di situ!
Akan tetapi mereka tidak berani berkata sesuatu, hanya berdiri dengan muka tunduk menghadap Lam-sin, menekuk lutut sebagai penghormatan, kemudian mengatur sarapan yang dibawa oleh tiga orang di antara mereka itu di atas meja dalam kamar.
"Cepat, ambilkan tambahan sarapan untuk Pendekar Sadis!"
Perintah Nenek Lam-sin.
"Kemudian umumkan kepada para pimpinan kai-pang bahwa aku menghendaki diadakan rapat yang lengkap dengan semua anggota."
Setelah sarapan tambahan yang diminta datang, lima orang pelayan itu segera disuruh keluar dan menyampaikan pengumuman itu.
Mereka meninggalkan kamar dengan wajah mengandung keheranan, akan tetapi tidak berani mengeluarkan sebuahpun kata.
Setelah mereka pergi, Lam-sin lalu mengajak Thian Sin makan pagi.
Setelah selesai makan pagi, mereka keluar dari kamar dan Thian Sin mengikuti Lam-sin menuju ke sebelah belakang rumah perkumpulan Bu-tek Kai-pang di mana terdapat sebuah lapangan rumput yang cukup luas dan di sinilah para anggauta Bu-tek Kai-pang berkumpul.
Melihat Pendekar Sadis datang bersama Lam-sin, semua anggota Bu-tek Kai-pang menjadi terheran-heran akan tetapi juga merasa penasaran sekali.
Mengapa pemuda itu masih hidup dan tidak dibunuh oleh Lam-sin?
Padahal pemuda itu telah menewaskan belasan orang anggota kai-pang.
Thian Sin melihat banyak sekali anggota Bu-tek Kai-pang, agaknya sedikitnya ada lima puluh orang yang hadir.
Dan tentu ada pula yang tidak sempat hadir, yaitu pada waktu itu tidak berada di situ, karena pengumuman dari Lam-sin dilakukan secara tiba-tiba.
Dan diapun melihat tiga orang ketua kai-pang itu dengan rebah di atas usungan, hadir pula.
Wajah mereka masih pucat dan mereka memandang kepada Thian Sin dengan mata mendelik dan muka marah.
Merekapun merasa yang paling penasaran melihat pemuda itu masih hidup, bahkan berada di samping Lam-sin, seolah-olah di antara mereka tidak ada permusuhan apa-apa.
"Para anggota kai-pang sekalian."
Terdengar "nenek"
Itu berkata, suaranya lantang berwibawa dan semua orang yang hadir di situ mendengarkan dengan penuh perhatian dan dengan sikap yang jelas memperlihatkan rasa takut yang mendalam.
"dengarkan baik-baik segala perintahku pagi hari ini yang merupakan perintah terakhir dariku untuk kalian!"
Tentu saja semua orang menjadi terkejut, juga terheran mendengar kata-kata ini.
Perintah terakhir?
Apa maksud datuk itu?
"Aku perintahkan semua anggauta, baik yang kini hadir maupun yang tidak hadir, untuk bekerja sama membantu ketiga ketua kalian yang masih menderita luka, untuk mentaati dan melaksanakan perintah-perintahku ini dengan sebaiknya.
Mulai saat ini aku tidak memimpin kalian lagi, dan kalian boleh berdiri sendiri, terserah hendak membentuk kai-pang atau tidak.
Akan tetapi aku melarang kalian menggunakan nama Bu-tek (Tanpa Tanding), karena hal itu hanya akan memancing datangnya penentangan tanpa adanya aku di sini, kalian akan dihancurkan golongan lain.
Kalian boleh memilih nama kai-pang yang baru dan terserah.
Kalian boleh memilih ketua sendiri, apakah akan dilanjutkan oleh ketiga ketua kalian, terserah kalian semua.
Hari ini aku akan pergi dan semua barang-barangku yang berada di sini, gedung dengan seluruh isinya, boleh kalian jual dan hasilnya harus dibagi rata dan adil, tidak boleh ada yang main curang dan hal itu kuserahkan kepada lima orang pelayanku ini untuk mengurusnya.
Setelah aku pergi, tidak ada seorangpun yang boleh menggunakan namaku lagi, dan semua urusan kalian tidak ada sangkut-pautnya lagi denganku.
Akan tetapi awas, ada satu saja di antara perintah terakhirku ini tidak dipenuhi dan dilanggar orang, maka di manapun aku berada, aku tentu akan mendengarnya dan aku akan datang untuk menghukum sendiri si pelanggar!"
"Pangcu...!"
Terdengar lima orang pelayan cantik itu berseru dan merekapun menangis!
Dan hal ini menular kepada beberapa orang anggota kai-pang dan sebentar saja kebanyakan dari mereka telah menangis!
Lam-sin membiarkan mereka menangis sejenak.
Ia sendiri menarik napas panjang beberapa kali dan nampaknya juga berduka, akan tetapi ia lalu mengangkat tangan kirinya ke atas dan berteriak "Cukup...!
Bukan sikap orang-orang gagah kalau membiarkan kedukaan menyeretnya.
Ada pertemuan tentu ada perpisahan.
Kuulangi lagi, lima orang pelayanku inilah yang berhak membagi-bagi semua harta peninggalanku dengan adil dan merata.
Kemudian, tiga orang ketua kuserahi untuk mengurus apakah para anggota masih ingin melanjutkan kai-pang ini dengan lain nama.
Yang hendak mengundurkan diri dan membawa bagian harta mereka ke kampung, harus diperbolehkan.
Nah, hanya itulah pesanku, tak lama lagi aku akan lewat dan singgah untuk melihat apakah ada yang berani melanggar perintahku hari ini."
"Tapi... tapi, locianpwe..."
Kata Ang-i Kai-ong.
"Bukan saya hendak membantah, hanya saya ingin bertanya bagaimana dengan permusuhan dengan Pendekar Sadis yang telah membunuh begitu banyak anggauta kami?"
Lam-sin menoleh dan memandang kepada Thian Sin yang bersikap tenang, lalu berkata lantang.
"Dia datang untuk membalas kematian keluarga Ciu di Lok-yang. Ingat, kalian bertiga yang bertanggung jawab mengirim anak buah untuk membantu penumpasan keluarga Ciu di Lok-yang itu. Sekarang kalian menanggung akibatnya dan telah lunas. Pendekar Sadis sudah memaafkan kalian. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Ceng Thian Sin, putera tunggal dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu di dunia itu!"
"Ahhh...!"
Seruan ini terdengar dari mulut ketiga orang ketua itu dan juga dari banyak anggota kai-pang yang pernah mendengar nama sang pangeran.
Pantas lihainya bukan main, pikir mereka dengan hati gentar.
"Nah, pertemuan ini sudah berakhir. Kalian boleh kembali ke tempat masing-masing dan memanggil pulang semua saudara yang masih berada di luar, dan kalian menanti sampai lima orang pelayanku ini menyelesaikan semua urusan harta. Awas, jangan sampai peristiwa ini bocor dan ketahuan pihak lain. Setelah kalian membentuk perkumpulan baru dengan lain nama, baru boleh diumumkan bahwa perkumpulan baru itu tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan Lam-sin. Mengertikah kalian?"
Tiga orang ketua itu berkata.
"Kami mengerti!"
Dan disusul oleh para anggota yang menyatakan telah mengerti.
Lam-sin mengangguk dan mengajak Thian Sin dan lima orang pelayannya untuk masuk lagi ke dalam gedung, di mana Lam-sin minta disediakan beberapa stel pakaian untuk bekal dan beberapa potong perhiasan yang diambilnya sendiri dari almari.
Lima orang pelayan itu melakukan perintah terakhir ini sambil menangis sesenggukan.
Setelah beres, Lam-sin lalu berkata kepada mereka.
"Kalian laksanakan pembagian harta ini baik-baik, dan setelah itu, sebaiknya kalian pulang kampung dan menikah. Dengan bagian harta itu kalian akan dapat membangun rumah tangga. Nah, selamat tinggal."
Lima orang itu hanya terisak dan menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi Lam-sin lalu menggandeng tangan Thian Sin, memanggul buntalan pakaiannya dan bersama pemuda itu iapun meninggalkan istananya melalui pintu samping yang kecil dan sunyi, melewati taman bunga yang indah.
Akan tetapi Lam-sin tidak mau menengok lagi semua miliknya itu dan setelah keluar dari pintu pekarangan, ia mengajak Thian Sin untuk cepat meninggalkan kota Heng-yang, pemuda itu mengikuti tanpa membantah, akan tetapi ketika Lam-sin mengajaknya pergi ke tepi sungai di mana terdapat sebuah perahu hitam disembunyikan dalam rumpun alang-alang di tepi sungai, dan mengajaknya naik perahu itu, dia menjadi ingin tahu dan bertanya.
"Ke manakah kita pergi?"
"Kau ikut sajalah, aku mempunyai sebuah tempat yang indah dan di sanalah kita bicara tanpa ada seorangpun yang akan mengganggu kita,"
Jawab Lam-sin sambil mengemudikan perahu dengan sebatang dayung.
Karena perahu itu mengalir mengikuti arus Sungai Siang-kiang (Sungai Harum), maka perahu meluncur tanpa didayung lagi, menuju ke utara.
Menjelang tengah hari, perahu kecil itu memasuki daerah hutan yang lebat dan Lam-sin lalu menggerakkan dayung, membuat perahu itu minggir dan akhirnya berhenti di bagian tengah hutan yang sangat liar, penuh dengan pohon-pohon raksasa.
Tempat itu kelihatan menyeramkan sekali, dan agaknya tidak pernah didatangi manusia.
Dengan sehelai tali, Lam-sin mengikat perahu itu ke batang pohon yang doyong ke sungai, lalu meloncat ke darat yang penuh dengan rumpun alang-alang.
Thian Sin mengikutinya dan harus meloncat jauh karena berbahaya kalau harus mendarat di tengah rumpun alang-alang yang tidak nampak tanahnya itu.
Tanpa banyak bicara Lam-sin menggandeng tangan pemuda itu, berjalan di antara pohon-pohon raksasa dan sepuluh menit kemudian mereka tiba di tempat terbuka.
Thian Sin mengeluarkan seruan tertahan, dan memandang kagum ke depan.
Di depan di antara pohon-pohon besar, nampak padang rumput terbuka dan tempat itu merupakan taman yang penuh dengan bunga-bunga.
Mereka disambut suara kicau ratusan macam burung-burung hutan dan sinar matahari yang menerobos masuk di antara pohon-pohon yang jarang, membuat tempat itu nampak keemasan dan indah bukan main.
Seperti sorga di antara pohon-pohon raksasa yang tumbuh liar.
Dan di sudut lapangan rumput itu terdapat sebuah pondok mungil.
Kecil namun kokoh kuat, terbuat dari kayu secara nyeni sekali.
Lam-sin mendorong daun pintu, memasuki pondok yang hanya mempunyai sebuah kamar itu dan membuka semua jendela.
Hawa yang sejuk memasuki pondok dan Thian Sin melihat bahwa pondok itu biarpun kecil namun isinya lengkap.
Sebuah pembaringan yang biarpun tidak semewah pembaringan di istana Lam-sin, namun cukup baik dan bersih, dan perlengkapan-perlengkapan lain yang cukup untuk keperluan beberapa hari.
Dan biarpun agaknya sudah lama tempat itu tidak ditempati orang, namun tidak nampak debu.
Di antara pohon-pohon raksasa itu memang tidak ada debu maka tempat itu tinggal bersih dan menyenangkan sekali.
Lam-sin melempar buntalan pakaiannya ke atas meja, lalu melempar dirinya di atas pembaringan, nampaknya gembira sekali.
"Nah, inilah tempat persembunyianku di mana aku berada jika hatiku sedang risau. Kini aku bebas...! Bebas...!"
Dan iapun mengembangkan kedua lengannya nampaknya berbahagia sekali.
"Tempat yang indah, seperti sorga, pantas menjadi tempat peristirahatan seorang dewi kahyangan seperti engkau!"
Thian Sin juga melempar buntalan pakaiannya ke atas meja lalu duduk di pembaringan, merangkul nenek itu.
Lam-sin mengelak.
"Nanti dulu,"
Katanya.
"Lam-sin telah membayar sumpahnya, telah melunasi sumpahnya, oleh karena itu, siapa yang menyentuh Lam-sin berarti akan mati!"
"Eh... kenapa begini? Bukankah... bukankah..."
"Mari kita keluar dan engkau saksikan betapa aku akan membunuh Lam-sin, si nenek buruk yang mengerikan ini!"
"Apa... apa maksudmu...?"
Thian Sin semakin kaget.
Akan tetapi Lam-sin sudah meloncat dan berlari keluar.
Thian Sin mengikutinya dan mereka tiba di lapangan rumput.
Rumput di situ hijau segar dan tumbuh rata, semacam rumput yang tumbuhnya tidak meliar dan tidak bisa tinggi.
Lam-sin sudah duduk di atas rumput dan ketika Thian Sin yang mengejarnya tiba, ia berkata.
"Maukah engkau membantuku mencari kayu kering untuk membuat api unggun?"
"Membuat api unggun? Untuk apa...? Tapi baiklah..."
Thian Sin tentu saja merasa heran.
Saat itu matahari sedang berada di atas, cuaca cukup cerah dan biarpun tempat itu amat sejuk, akan tetapi segar dan tidak terlalu dingin.
Perlu apa api unggun?
Tapi melihat sikap Lam-sin begitu sungguh-sungguh, diapun cepat pergi mencari kayu kering yang dibutuhkan wanita tua.
Setelah memperoleh kayu kering cukup, Lam-sin menumpuknya di atas batu-batu yang sudah diatur di tempat itu, dan iapun lalu membakar tumpukan kayu itu.
Api bernyala cukup besar dan nenek itu lalu meraba ke arah mukanya.
"Ceng Thian Sin, engkaulah orangnya yang telah membantuku, melunasi sumpahku dan engkau pula satu-satunya orang yang menyaksikan musnahnya nenek buruk rupa yang bernama Lam-sin!"
Sekali ia merenggut ke mukanya, maka terlepaslah topeng nenek itu dan nampak wajahnya yang berkulit putih halus dan bentuknya cantik jelita itu.
Topeng tipis itu dilemparnya ke dalam api yang bernyala-nyala dan tentu saja segera dimakan api.
Wanita itu lalu menanggalkan pakaian luarnya, baju dan celana nenek yang kedodoran itu sehingga kini gadis itu hanya memakai pakaian dalam yang tipis itu.
Pakaian nenek itupun melayang ke arah api, dimakan api menyusul topeng yang sudah menjadi abu.
Gadis itu mengembangkan kedua lengannya dan wajahnya yang cantik manis itu tersenyum gembira.
"Nah, mampuslah sudah Lam-sin si nenek buruk!"
"Dan terciptalah si dara cantik jelita seperti bidadari...!"
Kata Thian Sin yang menghampiri dan memeluknya.
Gadis itu tersenyum, nampak deretan giginya yang rapi dan putih.
Kini Thian Sin dapat menikmati semua itu dengan bebasnya, menatap wajah itu, menyelusuri seluruh tubuh yang menggairahkan itu dengan pandang matanya, sampai akhirnya gadis itu menundukkan muka karena malu, lalu mendorong dada Thian Sin dengan halus ketika pemuda itu hendak menciumnya.
"Nanti dulu, engkau belum mengenalku!"
Bisiknya.
"Siapa bilang? Aku sudah mengenalmu baik-baik semalam..."
Thian Sin tersenyum.
"Tidak, engkau belum mengenal siapa aku, siapa namaku dan bagaimana riwayatku."
"Perlukah itu? Engkau adalah seorang gadis yang cantik seperti bidadari, yang kucinta, menjadi dewi pujaanku..."
Thian Sin hendak meraih lagi akan tetapi gadis itu mengelak.
"Kalau memang memaksaku, aku akan membunuhmu, Thian Sin!"
Tiba-tiba ia membentak dan sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar mencorong, mengingatkan Thian Sin akan sinar mata Nenek Lam-sin dan diam-diam dia bergidik.
Sukarlah menerima kenyataan bahwa gadis cantik ini adalah Nenek Lam-sin yang memiliki ilmu silat demikian hebatnya sehingga hanya dengan susah payah dia dapat mengalahkannya.
"Baiklah, maafkan aku. Nah, aku siap mendengarkan ceritamu,"
Kata Thian Sin yang lalu duduk di atas rumput tebal.
Gadis itu sejenak memandang ke arah pakaian nenek yang terbakar sampai berkobar, dan sebentar saja pakaian itupun lenyap menjadi abu, seperti halnya topeng tadi.
Dan tiba-tiba gadis itu menangis di depan api unggun, terdengar suaranya lirih.
"Ibu... ibu... anakmu tidak pernah melanggar janji dan sumpah..."
Akan tetapi sebentar saja ia menangis karena ia sudah mampu mengendalikan dirinya dan menyusut kering air mata itu dengan saputangan yang tadinya tersisip di antara bukit dadanya.
Matanya dan hidungnya menjadi agak merah akan tetapi dalam pandangan mata Thian Sin, hal itu bahkan menambah manisnya!
Gadis itu lalu menghampiri Thian Sin dan duduk pula di dekatnya, di atas rumput.
Thian Sin memandang dengan kagum, terpesona oleh kecantikan dan keindahan bentuk tubuh itu.
Semalam dia sama sekali tidak dapat menikmati pemandangan ini, dan pagi tadi hanya sebentar saja.
Sekarang dia dapat melihat semua itu dengan bebas dan diam-diam dia membanding-bandingkan dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa belum pernah dia melihat seorang gadis yang lebih hebat daripada gadis ini, baik kecantikannya, keindahan tubuhnya, apalagi kepandaian silatnya, juga kepandaiannya dalam membuat sajak, memainkan alat musik dan menulis.
Gadis yang luar biasa sekali!
"Thian Sin, namaku sesungguhnya adalah Kim Hong..."
"Nama yang sangat indah dan cocok untukmu!"
"Aku she Toan..."
"Ehh...?"
Thian Sin teringat kepada pangeran she Toan yang dibunuhnya karena kebodohannya tertipu perempuan jahat bernama Kim Lan.
Toan Kim Hong, gadis cantik itu mengangguk, agaknya mengerti apa yang menyebabkan kekagetan pemuda itu.
"Memang, Toan-ong-ya, pangeran yang telah kau bunuh itu adalah terhitung pamanku. Mendiang ayahku adalah pangeran Toan Su Ong."
Tentu saja Thian Sin terkejut bukan main.
Dia tidak pernah mendengar nama Pangeran Toan Su Ong, akan tetapi kalau Toan-ong-ya adalah paman dari gadis ini, maka keadaannya tentu gawat!
"Aku telah kesalahan membunuh Toan-ong-ya, hanya karena fitnahan seorang perempuan jahat.
Aku sudah ditegur oleh banyak pendekar dan aku merasa menyesal sekali."
"Aku tidak peduli akan hal itu!"
Gadis itu berkata dengan suara kesal.
"Ayahku adalah seorang pangeran pemberontak!"
"Ahhh...!"
"Ya, ayahku tidak seperti Toan-ong-ya dan para pangeran yang taat dan setia kepada kaisar. Tidak, ayahku berjiwa pemberontak dan selalu menentang kebijaksanaan-kebijaksanaan kaisar yang dianggapnya menekan dan menindas rakyat. Ayahku lebih dekat dengan rakyat jelata daripada dengan kaisar."
"Ah, kalau begitu... engkau masih keluarga kaisar..."
"Seperti juga engkau sendiri, Thian Sin. Akan tetapi kita adalah keluarga-keluarga jauh yang sudah terlempar ke luar. Engkau anak pemberontak, akupun anak pemberontak. Ayahku minggat dari kota raja, bahkan kaisar pernah begitu marah kepadanya dan kaisar mengutus pasukan untuk menangkapnya. Ayahku melarikan diri, menjadi buronan. Sejak kecil ayah mempelajari ilmu silat, sesuai dengan jiwanya yang selalu memberontak, sehingga dia memperoleh tingkat ilmu yang cukup tinggi. Kemudian, dalam keadaan buron ini, ayah bertemu dengan ibuku, yaitu seorang wanita kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi pula, bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian ayah. Ibuku mewarisi ilmu keluarga Ouw-yang dari selatan yang amat terkenal. Mereka saling jatuh cinta dah hidup sebagai suami isteri tanpa menikah, karena keadaan ayah sebagai seorang buronan pemerintah tidak memungkinkannya untuk menikah dengan terang-terangan."
"Yang penting saling mencinta itu, bukan upacara pernikahannya,"
Thian Sin memotong sebagai pembelaan dan hiburan. Kim Hong mengangguk.
"Akupun berpendapat demikian."
Gadis itu lalu melanjutkan ceritanya yang didengarkan oleh Thian Sin dengan penuh perhatian karena hati pemuda ini menjadi semakin tertarik ketika mendapat kenyataan bahwa Kim Hong adalah puteri seorang pangeran, jadi masih ada hubungan misan dengan dia!
Toan Su Ong, pangeran yang menjadi buronan itu, bersama isterinya, atau lebih tepat lagi kekasihnya yang menjadi isterinya tanpa pernikahan yang bernama Ouwyang Ci, bersama-sama melarikan diri di daerah selatan, jauh dari kota raja.
Secara kebetulan mereka berdua menemukan sebuah kitab kuno, kitab pelajaran ilmu silat yang kabarnya adalah milik Panglima Besar The Hoo ketika utusan kaisar ini menjelajah ke selatan dan kitab pusakanya itu tercecer.
Untuk dapat mempelajari kitab itu, juga untuk menyembunyikan dirinya sehingga mereka tidak perlu terus berlari-lari menyelamatkan diri dari pengejaran kaki tangan kaisar, Toan Su Ong dan Ouwyang Ci lalu tinggal di sebuah pulau kosong di sebelah selatan, di Lam-hai (Laut Selatan).
Pulau ini bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah), sebuah pulau kecil yang tanahnya cukup subur, akan tetapi yang terlampau kecil sehingga tinggal kosong.
Namun kalau untuk tempat tinggal sekeluarga saja, pulau itu cukuplah.
Toan Su Ong dan Ouwyang Ci tinggal di pulau ini, menanam sayur-sayuran dan pohon buah-buahan.
Hanya beberapa pekan sekali Toan Su ong atau isterinya naik perahu menuju ke daratan besar untuk berbelanja keperluan hidup mereka.
Mereka hidup dengan tenang di Pulau Teratai Merah itu sampai akhirnya terlahir seorang anak perempuan mereka yang diberi nama Toan Kim Hong.
Dan mereka terus bertapa dan memperdalam ilmu-ilmu mereka, bahkan dari kitab kuno peninggalan orang sakti The Hoo itu mereka menciptakan semacam ilmu yang hebat, yaitu ilmu silat yang mereka namakan Hok-mo-sin-kun (Ilmu Silat Penakluk Iblis).
Kim Hong tumbuh besar di pulau itu dan dengan penuh kasih sayang, ayah bundanya menggemblengnya dengan semua ilmu silat yang mereka miliki.
Bahkan setelah anak itu berusia belasan tahun, ayah bundanya mengajarkan Hok-mo Sin-kun yang merupakan ilmu inti mereka.
Dari latihan ini Kim Hong maklum, bahwa betapapun juga, tetap saja ibunya memiliki tingkat yang lebih lihai daripada ayahnya.
Kim Hong hanya mengenal orang-orang lain kalau diajak oleh ibunya berbelanja ke pantai laut di daratan besar.
Akan tetapi, anak itu tidak menjadi canggeng, bahkan karena ayahnya adalah seorang pangeran, maka iapun mempelajari semua ilmu yang lain di samping ilmu silat, yaitu ilmu kesusasteraan dari ayahnya, juga pengetahuan umum tentang sejarah dan sebagainya sedangkan dari ibunya iapun mempelajari seni musik yang menjadi keahlian ibunya pula.
Demikianlah Kim Hong menjadi seorang dara terpelajar yang hidup terasing di pulau kosong itu.
Malapetaka itu terjadi ketika Kim Hong berusia empat belas tahun.
Ketika Ouwyang Ci pergi berbelanja di daratan besar, secara kebetulan ia mendengar bahwa kaisar telah mengumumkan pengampunan bagi Pangeran Toan Su Ong.
Berita itu secara kebetulan didengarnya dari para petugas di selatan yang tadinya bertugas menyelidiki dan mencari di mana menghilangnya pangeran buronan itu.
Mendengar ini, dengan girang wanita itu cepat kembali ke pulaunya dan dengan terengah-engah saking tegang dan girang hati yang selama bertahun-tahun menderita tekanan ini ia menceritakan kepada suaminya.
"Suamiku! Engkau telah bebas! Engkau telah diampuni dan tidak menjadi buronan lagi! Ah, kita tidak menjadi orang-orang pelarian lagi!"
Kata isteri itu dengan girang sekali.
Akan tetapi, suaminya menyambut berita ini dengan alis berkerut dan sikap dingin saja, sama sekali tidak kelihatan girang, bahkan agaknya dia terheran menyaksikan kegirangan isterinya.
"Habis, mengapa? Apa bedanya bagiku?"
Katanya dingin.
"Eh? Apa bedanya? Suamiku, besar sekali bedanya. Kita dapat segera pergi mengunjungi kota raja. Engkau kan seorang pangeran? Dan puteri kita akan dapat hidup selayaknya sebagai puteri seorang pangeran..."
"Tidak...!"
Tiba-tiba Pangeran Toan Su Ong menggebrak meja sampai ujung meja itu pecah.
"Keluarga kaisar adalah keluarga bangsawan yang busuk! Pemeras rakyat! Sombong dan congkak! Aku tidak sudi menjadi anggauta keluarga yang gila itu. Aku lebih senang tinggal menyepi di sini!"
"Tidak mungkin!"
Ouwyang Ci juga membantah dengan suara berteriak marah.
"Engkau terlalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan hati sendiri, tidak ingat anak isteri! Sudah belasan tahun aku menderita tekanan batin, menjadi isteri orang tanpa menikah, menjadi isteri seorang yang katanya pangeran akan tetapi hidup seperti pertapa di tempat terasing! Aku tidak tahan lagi! Harus kutunjukkan kepada dunia bahwa aku adalah isteri seorang pangeran, bukan isteri seorang penjahat buronan. Harus kubuktikan bahwa Kim Hong adalah puteri pangeran terhormat, bukan gadis terlantar yang tidak sah! Engkau harus menuntut hak dan kedudukan di kota raja, mengangkat derajat anak sendiri dan isterimu."
"Minta hak dan kedudukan? Tidak sudi! Aku tidak sudi menjadi pangeran."
"Kalau begitu engkau seorang suami yang jahat, seorang ayah yang keparat!"
Percekcokan menjadi-jadi.
Setiap hari mereka bercekcok.
Ouwyang Ci menuntut agar mereka ke kota raja, agar mereka hidup sebagai keluarga terhormat dan mulia.
Akan tetapi Pangeran Toan Su Ong yang sudah membenci keluarga kaisar itu tidak mau menurut.
Percekcokan makin memanas, membuat mereka menjadi mata gelap dan akhirnya suami isteri yang hidup selama belasan tahun dengan saling mencinta, setia dan bahu-membahu dalam menghadapi segala kesukaran inipun berkelahi!
Kim Hong yang menyaksikan perkelahian itu hanya dapat menangis.
Segala jeritannya untuk melerai sia-sia belaka.
Suami isteri itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tentu saja perkelahian itu amat seru dan dahsyat.
Karena nafsu kemarahan dan kebencian sudah memenuhi batin, maka mereka lupa bahwa mereka adalah suami isteri yang saling mencinta.
Mereka saling serang seolah-olah menghadapi musuh besar yang harus dibinasakan!
Sampai tidak kurang dari lima ratus jurus mereka berkelahi, saling serang, sampai kedua lengan mereka bengkak-bengkak dan biru-biru semua.
Semua jurus ilmu silat mereka telah mereka pergunakan, dan akhirnya mereka berdua sama-sama mainkan Hok-mo Sin-kun yang mereka ciptakan bersama.
Bukan main hebatnya perkelahian ini dan akhirnya Kim Hong menjadi kesima.
Diamatinya semua gerakan ayah bundanya dan gadis ini seolah-olah melihat contoh-contoh gerakan yang sempurna dan ia melihat kekurangan-kekurangan dalam latihannya sendiri.
Terutama sekali ketika ayah ibunya berkelahi melihat Hok-mo Sin-kun, ia dapat meneliti setiap jurus yang dikeluarkan dan otomatis kaki tangannya bergerak mengikuti mereka.
Dara ini sampai lupa bahwa ayah bundanya itu sedang berkelahi mati-matian, bukan sedang memberi contoh kepadanya dalam latihan!
Akhirnya, terdengar keluhan dan tubuh Pangeran Toan Su Ong terpelanting.
Ouwyang Ci yang terengah-engah seperti kehabisan napas berdiri memandang dengan muka pucat dan basah oleh keringat.
Matanya terbelalak dan ketika ia melihat suaminya rebah dengan mulut mengucurkan darah segar, ia menjerit lalu menubruk suaminya yang sudah pingsan itu, menangis sesenggukan!
Suaminya itu telah kalah dalam perkelahian ini dan menerima pukulan maut yang amat hebat dari isterinya sendiri!
Kalau kita membaca keadaan suami isteri ini, mungkin kita akan ikut menghela napas panjang dan merasa kasihan, bahkan mungkin ada yang mengatakan tidak mungkin dapat terjadi hal seperti itu!
Akan tetapi, cobalah kita membuka mata dan memandang keadaan kita sendiri dan melihat kenyataan tentang "cinta"
Yang begitu mudah keluar dari mulut kita, begitu mudah kita ucapkan terhadap seseorang, baik dia seorang pacar, seorang suami atau isteri, seorang sahabat, seorang anak atau orang tua.
Betapa banyaknya peristiwa yang terjadi antara Toan Su Ong dan Ouwyang Ci itu terjadi setiap hari di antara kita, di sekitar kita!
Tentu saja bukan dalam bentuk adu silat sehingga seorang di antara mereka menggeletak dengan terluka parah, namun sedikit saja selisihnya.
Betapa banyak suami isteri yang hari kemarin, bahkan malam tadi, masih saling bercumbu menumpahkan rasa kasih sayang masing-masing, dengan ringan kata-kata "aku cinta padamu"
Meluncur keluar dari mulut mereka, Pada hari ini saling cekcok dan saling serang dengan kata-kata penuh dengan pelototan mata yang mengandung sinar marah dan benci, penuh dengan kata-kata kasar dan keji, penuh dengan serangan-serangan kata-kata yang dapat menimbulkan luka yang amat parah di dalam batin masing-masing!
Dalam keadaan marah dan saling serang dengan kata-kata, bahkan ada kalanya beberapa pasangan juga menggunakan tindakan untuk membanting dan merusak benda-benda, ada pula yang saling tampar, maka mereka semua lupa bahwa baru semalam mereka itu saling belai dan saling mencurahkan kasih sayang!
Begitukah cinta kasih?
Ataukah semalam itu yang terjadi hanyalah gelora nafsu berahi belaka?
Dan setelah nafsu terpuaskan maka dalam keadaan tersinggung lalu timbul kemarahan dan kebencian sebagai penggantinya?
Kemudian setelah kemarahan dilontarkan dan terlampiaskan, lalu timbul pula penyesalan dan baru ingat bahwa mereka itu saling mencinta?
Ataukah hanya saling menguasai dan merasa sayang bahwa mereka telah saling merusak sesuatu yang menimbulkan kesenangan dan kemesraan satu sama lain?
Betapa banyaknya persahabatan yang telah dibina selama puluhan tahun dapat menjadi retak bahkan rusak, dan bahkan berbalik menjadi permusuhan dalam waktu sedetik saja?
Cinta kasih antara sahabat.
Apakah ini?
Bukankah yang kita lihat seperti kenyataan sekarang, aku mencintaimu sebagai sahabat karena engkau baik kepadaku?
Dan dengan demikian, pada saat lain aku dapat saja membencimu karena engkau tidak baik kepadaku?
Apakah cinta itu demikian murahnya, berdasarkan baik buruknya seseorang kepada kita, Apakah dia itu menguntungkan atau menyenangkan hatiku, apakah dia itu merugikan atau tidak menyenangkan hatiku?
Apakah cinta hanya seperti ini, seperti jual beli di pasar belaka di mana aku membeli dengan cintaku untuk memperoleh kesenangan lahir batin darimu dan sebaliknya?
Kalau sudah tidak memporoleh kesenangan lagi, maka tentu saja tidak ada cinta lagi.
Begitukah cinta kasih?
Betapa kita semua lupa akan hal ini.
Jelaslah, bahwa cinta kasih tidak akan menyinarkan cahaya selama di situ terdapat kebencian, iri hari, rase takut, pamrih untuk senang sendiri, maka pada saat itupun cinta kasih tidak ada dan mereka berhadapan sebagai musuh yang saling membenci.
Sambil menangis, Ouwyang Ci yang sekarang menyesal oleh perbuatannya sendiri itu lalu memondong suaminya, dibawa masuk ke dalam rumah mereka.
Ia merawat suaminya, akan tetapi pukulannya terlampau hebat dan suaminya tidak sadar lagi dan tewas dua hari kemudian!
Isteri ini menangisi kematian suaminya, menangisi dan menyesali perbuatannya sendiri, menyesali pula sikap suaminya yang keras kepala.
Sedangkan Kim Hong yang baru berusia empat belas tahun itu hanya ikut menangis dan kematian ayahnya di tangan ibunya sendiri itu membuat luka goresan mendalam di batinnya.
Semenjak matinya Pangeran Toan Su Ong, Ouwyang Ci hidup terbenam dalam duka.
Ia menjadi sakit-sakitan dan ia melanjutkan penggemblengan puterinya seorang diri saja.
Ia menurunkan semua ilmunya dengan tekun dan ketika Kim Hong telah berusia delapan belas tahun, dara ini telah mewarisi semua kepandaian ayah bundanya!
Bahkan ia lebih lihai dari ibunya sekarang!
Akan tetapi, ibunya yang merasa bahwa malapetaka itu terjadi karena ia lebih lihai dari suaminya, lalu menyuruh puterinya bersumpah bahwa puterinya tidak akan melayani pria sebelum ada pria yang mengalahkannya!
Jadi, dengan sumpah ini sang ibu menghendaki agar jangan sampai terulang seperti keadaan dirinya.
Ia menghendaki agar puterinya menjadi isteri seorang pria yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Kim Hong, sehingga dengan demikian Kim Hong takkan dapat melakukannya dan akan menurut apa yang dikehendaki suaminya.
Hal ini timbul dari penyesalan hatinya karena ia akhirnya sadar bahwa suaminya benar.
Selama hidup di pulau itu, mereka cukup bahagia dan saling mencinta dan kalau ia dahulu menurut kata-kata suaminya, tentu mereka bertiga masih dapat hidup rukun dan berbahagia di pulau itu.
"Demikianlah riwayatku, Thian Sin. Tak lama kemudian, ibu meninggal dunia karena suatu penyakit yang menyerang jantungnya, tentu karena kedukaannya, dan akupun hidup sebatangkara di dunia ini. Sebelum meninggal, ibu berpesan kepadaku agar aku tidak melupakan sumpahku, dan ibu memperingatkan aku bahwa wajahku cukup cantik sehingga tentu akan menarik banyak pria, dan karena jarang ada pria yang akan dapat mengalahkan aku, maka ibu menganjurkan agar aku memakai topeng menyamar sebagai nenek-nenek untuk mengurangi gangguan dan godaan. Aku menurut saja, dan demikianlah, aku lalu memakai topeng dan meninggalkan Pulau Teratai Merah."
Thian Sin mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia merasa kagum sekali.
"Dan muncullah Lam-sin yang merajai dunia kang-ouw di selatan, dan akhirnya engkau menjadi ketua dari Bu-tek Kai-pang."
"Tidak begitu mudah,"
Jawab Kim Hong.
"Aku muncul sebagai seorang nenek tanpa nama. Karena melihat kepincangan-kepincangan dan kesewenang-wenangan para penjahat, aku latu turun tangan, membasmi mereka. Namaku mulai terkenal sebagai nenek tanpa nama atau mereka tadinya menyebutku Bu-beng Kui-bo (Biang Iblis Tanpa Nama) karena aku tidak pernah mau mengakui namaku. Makin banyak golongan sesat yang menentangku dan aku basmi mereka semua dari wilayah selatan ini. Akhirnya, setelah tidak ada lagi yang berani menentangku, barulah aku mendapat julukan baru, yaitu Lam-sin."
"Dan engkau tundukkan Bu-tek Kai-pang yang tadinya dipimpin oleh Lam-thian Kai-ong?"
"Benar. Aku melihat kedudukan perkumpulan itu yang besar dan kuat. Maka kukalahkan para pimpinannya dan Lam-thian Kai-ong takluk kepadaku, mengangkatku sebagai kepala mereka. Akan tetapit Lam-thian Kai-ong meninggal tak lama kemudian karena luka-lukanya ketika melawanku. Aku lalu mengangkat tiga orang ketua baru itu yang kulatih sedikit ilmu. Dan akupun lebih banyak bersembunyi, membiarkan mereka itu yang bekerja untukku."
"Dan sekarang?"
"Sekarang? Aku telah bebas... aaahhh, betapa senangnya. Aku telah bebas dari topeng itu, bebas dari ikatanku sebagai Lam-sin. kau lihat tadi, Lam-sin sudah mampus, yang ada sekarang hanya Toan Kim Hong, seorang gadis yang bebas..."
"Dan mencinta seorang pemuda yang bernama Ceng Thian Sin..."
Kata Thian Sin sambil meraih. Kini Kim Hong membiarkan dirinya dirangkul.
"Kalau saja Ceng Thian Sin juga mencintanya."
"Dengan sepenuh hatiku,"
Kata Thian Sin yang menciumnya.
Gadis itu tidak menolak dan mereka lalu berpelukan dan bergumul di atas permadani rumput yang tebal itu.
Demikiantah, dua orang muda itu tenggelam dalam lautan madu asmara yang memabukkan.
Thian Sin berusia dua puluh tahun dan Kim Hong berusia dua puluh dua tahun.
Akan tetapi mereka berdua sama sekali tidak mempersoalkan perbedaan usia ini.
Yang mempersoalkan perbedaan usia hanyalah mereka yang mengikatkan diri dengan pernikahan.
Dalam pernikahan ini selalu terdapat banyak kaitan-kaitan, syarat-syaratnya.
Harus si calon suami lebih tua beberapa tahun daripada si calon isteri, harus tidak ada hubungan keluarga, harus memenuhi syarat begini dan begitu.
Akan tetapi, dua orang muda ini tidak terikat oleh apapun juga.
Mereka melakukan hubungan karena dasarnya suka sama suka.
Bahkan mereka itupun hampir tidak mempedulikan soal cinta atau tidak cinta.
Mereka suka untuk saling bercumbu, saling berdekatan, saling bermain cinta dan menumpahkan seluruh kemesraan hati masing-masing, dan habis perkara!
Mereka itu seperti binatang dalam hutan yang bebas melakukan apapun juga yang mereka kehendaki, tidak mengganggu orang lain, juga tidak ingin diganggu orang lain, tidak ingin diikat oleh peraturan-peraturan.
Sampai satu bulan lamanya mereka berdua hidup di dalam tempat yang sunyi itu, penuh madu asmara, penuh kemanisan yang membuat mereka lupa segala-galanya, seperti sepasang pengantin yang berbulan madu.
Sebulan kemudian, ketika mereka berdua mandi di sumber air tak jauh dari pondok itu, mandi bertelanjang bulat seperti dua ekor ikan, tanpa malu-malu karena di situ tidak ada orang lain kecuali mereka, Thian Sin duduk di atas batu.
Kim Hong berenang menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.
Sinar matahari pagi menyentuh hangat di atas badan mereka yang basah.
"Kim Hong, apakah kita akan begini terus selamanya?"
Tanya Thian Sin, memandang termenung ke air di bawah mereka yang jernih dan sejuk sekali itu.
Kim Hong memandang pemuda itu dan tersenyum manis.
Giginya berkilau tertimpa sinar matahari pagi.
"Tentu saja! Mengapa tidak? Bukankah kita berbahagia di sini? Apakah engkau tidak berbahagia bersamaku, Thian Sin?"
Thian Sin merangkul.
"Tentu saja, Kim Hong. Aku merasa berbahagia sekali bersamamu di tempat ini. Akan tetapi, segala kesenangan itu tentu akam menimbulkan kebosanan, bukan?"
Tiba-tiba Kim Hong mengibaskan lengan pemuda itu yang merangkulnya dan ia mendorong dada Thian Sin dengan kuat.
"Eh-eh...!"
Thian Sin mengelak dan tentu saja tubuhnya terjatuh ke dalam air karena batu yang mereka duduki itu sempit saja.
"Byuuuuurrr...!"
Thian Sin berenang menghampiri lagi.
"Kim Hong, mengapa engkau?"
Tanyanya sambil memegangi batu.
"Kau bilang sudah bosan denganku? Ah, pergilah, jangan mendekat!"
Kakinya menendang ke arah kepala Thian Sin.
Tentu saja pemuda itu tidak membiarkan kepalanya ditendang dan diapun cepat menyelam dan menjauh.
"Nanti dulu, engkau pemarah benar. Siapa bilang aku bosan kepadamu? Nah, ke sinilah, akan kuperlihatkan padamu bahwa aku tak pernah bosan!"
Thian Sin meraih dan dapat menangkap kaki gadis itu, menariknya dan Kim Hong juga terjatuh ke dalam air.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 20
Baca Juga: Petualang Asmara 6