Eps 6 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.
"Hayo katakan, engkau hwesio dari mana dan bagaimana aku bisa berada di sini? Engkau tentu kawan pemberontak-pemberontak itu, ya?"
"Hi-hi-hik!"
Kun Liong tertawa geli.
"Eh, pendeta ceriwis! Mengapa engkau malah tertawa? Hayo jawab, atau engkau lebih ingin mampus?"
"Mampus ya mampus, mau bunuh ya boleh saja, tapi dengar dulu kata-kataku, Nona galak! Aku tertawa karena engkau telah tiga kali keliru!"
Gadis itu marah sekali, jari tangannya yang menempel di tengkuk itu gemetar sedikit sehingga diam-diam Kun Liong sudah siap dengan sin-kangnya.
Kalau perlu, untuk menyelamatkan nyawanya, dia akan menggunakan Thi-khi-i-beng!
Akan tetapi agaknya dara itu curiga mendengar ucapan orang yang dianggapnya hwesio itu maka dia mendesak.
"Jangan kurang ajar! Kekeliruan apa yang kulakukan?"
"Pertama, aku bukan anggauta atau kawan para pemberontak itu, ke dua, akulah yang melarikanmu ketika engkau pingsan di dalam ruangan rumah Hek-bin Thian-sin dan bahwa ancamanmu di tengkuk ini pun sia-sia belaka, kemudian yang terakhir, kekeliruan mutlak yang tak boleh diampunkan lagi, aku bukan seorang hwesio!"
"Tapi kau gundul... aihhh... engkaukah ini?"
Dara itu membalikkan tubuh Kun Liong sehingga pemuda itu telentang dan...
kini dia pun teringat ketika melihat sepasang mata itu.
"Engkau...? Aku... aku seperti pernah mengenalmu, tapi siapa... ya?"
Dia merasa yakin sudah mengenal dara ini, akan tetapi benar-benar tidak ingat lagi siapa dia.
Dara itu tertawa.
Bukan main manisnya.
Bibir merah itu merekah dan tampak giginya yang kecil dan putih teratur, dan ujung lidah yang merah meruncing tampak sekilas.
"Hik-hik, kau... kau... pemuda gundul itu. Mana aku bisa melupakan kepalamu? Aku Lim Hwi Sian."
Kun Liong meloncat berdiri dan bertolak pinggang, pura-pura marah.
"Jadi engkau ini, ya? Kesalahanmu makin bertumpuk-tumpuk! Dahulu engkau menghinaku karena kepalaku, sekarang kau ulangi lagi! Benar-benar tidak mau bertobat kau ini!"
Dara itu menahan ketawanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Maafkan aku. Aku tadi salah sangka... ah, sungguh aku tidak mengenal budi. Engkau malah yang kembali menolongku dari bahaya maut. Sudah dua kali kau menyelamatkan aku, dan dua kali aku menghinamu tanpa kusengaja. Maafkan aku, Taihiap (Pendekar Besar)...!"
Kun Liong sengaja hendak menggoda, akan tetapi juga karena dia gemas mendengar sebutan itu, dia membanting kakinya dan melotot sehingga matanya yang memang lebar itu membulat.
"Kau ini mengangkat atau membanting! Minta maaf malah menambah penghinaan!"
"Eihhh? Apa salahku?"
"Kau menyebut aku taihiap segala macam. Kau mengejek, ya?"
Dara itu menggeleng-geleng kepalanya, alisnya berkerut.
Manis sekali!
"Tidak!
Tidak!
Aku tahu bahwa engkau adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi biarpun kau pura-pura...
eh, bodoh dan kepalamu kaucukur gundul.
Dahulu pun aku sudah menduga.
Kalau kau tidak berilmu tinggi, mana bisa menolongku kali ini dari rumah seorang datuk sesat seperti Hek-bin Thian-sin?"
Kun Liong merasa terdesak.
"Ya sudahlah, tapi jangan menyebut aku taihiap. Sekali lagi, aku benar-benar akan marah!"
Dara itu tersenyum dikulum, tahulah dia bahwa pemuda gundul ini hanya pura-pura marah tadi.
Maka timbul juga kenakalannya.
"Habis, aku harus menyebut situ apa?"
"Kok situ? Situ mana?"
Hwi Sian menggigit bibir bawahnya.
Manis sekali!
"Jangan main-main lagi!
Tentu saja yang kumaksudkan situ adalah engkau."
"Hemm, omongan model mana ini? Namaku Yap Kun Liong. Aku menyebutmu Hwi Sian begitu saja, kaupun menyebut namaku, tak usah pakai pendekar-pendekar, ya?"
"Hi-hik. Kau lucu!"
Hwi Sian merasa geli dan tertawa, akan tetapi menggunakan tubuh telunjuknya untuk menutupi bibir.
Manis sekali!
"Hwi Sian, ingatkah engkau lima tahun yang lalu kita mula-mula bertemu?
Kau masih seorang perempuan yang manis, sekarang..."
"Sekarang apa?"
"Sekarang kau telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita."
Dara itu mengerutkan alisnya.
"Yap Kun Liong, kalau aku tidak yakin bahwa engkau memang seorang pemuda yang lucu dan aneh tapi baik budi, tentu kau kuanggap ceriwis dengan ucapanmu itu."
"Terserah penilaianmu. Mungkin aku memang ceriwis. Akan tetapi aku tidak akan pernah melupakan betapa engkau telah mencium kepala gundulku yang kau benci ini sampai tiga kali!"
Seketika wajah Hwi Sian menjadi merah sekali.
"Kun Liong, mengapa engkau berkata begitu? Aku tidak benci kepala-mu dan soal itu... ah, itu soal lalu, karena aku merasa menyesal telah menyakitkan hatimu padahal engkau dahulu itu telah menyelamatkan aku."
"Hemm, kalau sekarang? Aku pun telah mati-matian menolongmu, akan tetapi apa upahnya? Engkau menodongku, hampir membunuhku, dan masih menghina lagi!"
"Kun Liong, maafkan aku... sungguh mati aku tidak tahu... eh, mengapa kau memandangku seperti itu?"
"Tidak cukup dengan maaf! Kalau dulu kau menyatakan penyesalan dengan mencium kepalaku, sekarang aku akan menghukummu dengan ciuman pula. Akan tetapi aku yang akan menciummu, bukan kau yang menciumku."
Sepasang mata yang bening itu terbelalak, kedua pipinya bertambah merah.
"Apa... apa maksudmu...? Kau...? Kau... kau mau kurang ajar kepadaku?"
"Terserah kau mau menganggap bagaimana. Pokoknya, kau tadi minta maafkan? Dan aku hanya mau memberi maaf kalau kau suka kucium. Dengar baik-baik, aku sudah sejak semalam ingin menciummu, akan tetapi hal itu tidak kulakukan biarpun kau sedang pingsan karena aku tidak sudi melakukan hal kepada orang yang tidak tahu atau tidak suka. Nah, aku hanya akan memaafkanmu dengan menciummu, akan tetapi kalau kau suka, bukan paksaan!"
Muka yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah, agaknya bingung bukan main.
"Kalau... kalau aku tidak mau?"
"Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Akan tetapi terus terang saja, aku pun tidak mau memaafkanmu dan akan selalu mengaggap kau seorang gadis tak tahu membalas budi!"
"Kun Liong..."
Suara itu seperti memohon agar pemuda itu tidak menganggapnya demikian.
"Kau tahu betapa besar rasa syukur dan terima kasihku kepadamu. Akan tetapi permintaanmu... sungguh aneh... bagaimana aku dapat melakukannya?"
"Bukan kau yang melakukan, melainkan aku."
"Maksudku... eh, kau membikin bingung aku. Aku... aku..."
"Dengar, Nona yang baik! Kalau kau merasa jijik kepadaku, kalau kau merasa benci kepadaku karena kepalaku gundul, kalau kau merasa jijik kucium, katakan saja kau tidak mau. Habis perkara."
"Kau mendesak, seperti memaksa."
"Sama sekali tidak. Kau harus jujur. Kalau kau tidak suka, katakan tidak mau dan kita berpisah takkan bertemu lagi. Habis perkara, kan?"
"Kun Liong, aku... aku tidak benci kepadamu, akan tetapi... soal itu... eihhh, aku malu, ah!"
"Malu kepada siapa? Di sini tidak ada orang!"
"Kalau di sini tidak ada orang, maka aku adalah siluman hutan dan kau setan..."
"... gundul!"
Kun Liong menyambung.
Keduanya tertawa gembira dan sejenak lenyaplah ketegangan di antara mereka karena permintaan Kun Liong yang luar biasa itu.
"Nah, bagaimana?"
Kun Liong teringat lagi dan bertanya.
"Bagaimana, ya? Dahulu aku mencium kepalamu tiga kali..."
"Sekarang pun aku akan menciummu tiga kali!"
Kun Liong memotong cepat.
"Tiga kali?"
Sepasang mata itu terbelalak, tangannya meraba-raba rambutnya.
"Bagaimana kalau rambutku bau tidak enak? Sudah beberapa hari aku tidak keramas."
"Siapa mau mencium rambutmu?"
Sepasang mata itu terbelalak, mulutnya ternganga.
Kun Liong terpaksa memejamkan matanya.
Manis sekali wajah itu!
"Tidak mencium...
kepalaku?
Habis...
ihhh, Kun Liong, jangan main gila kau, ya?"
Kun Liong membuka matanya, tersenyum.
"Siapa main gila. Aku main sungguhan! Tidak perlu banyak berbantahan, Hwi Sian. Hanya tinggal menjawab, mau atau tidak kau kucium?"
"Mau sih... mau, akan tetapi..."
"Kalau sudah mau masih ada tetapinya, namanya bukan mau..."
"Kau sih aneh! Dahulu aku mencium kepalamu, sekarang engkau hendak men-cium... apa?"
"Hwi Sian, memang agak sukar memberi pengakuan. Pendeknya aku baru suka memaafkan engkau kalau engkau suka kucium tiga kali, kucium di mana saja, terserah aku! Kalau engkau mau, aku akan menciumnya dan tak perlu kukatakan mana yang akan kucium. Pokoknya engkau mau dan kalau mau berarti tidak pilih-pilih di bagian mana... ahh, aku jadi bingung sendiri. Mau atau tidak?"
Sepasang mata itu masih terbelalak menatap wajah yang tampan dan lucu karena gundul itu.
Sepasang pipi dara itu menjadi merah sekali, dan sejenak sepasang mata itu menyipit, hampir terpejam dan bibir yang merah membasah itu tersenyum aneh!
Lalu Hwi Sian menganggukkan kepala dan menunduk, matanya mengerling tajam, sikapnya menanti dengan takut-takut dan malu-malu, agaknya ingin sekali dara itu melihat bagian tubuh yang mana yang akan dicium pemuda aneh ini!
Kun Liong menjadi girang sekali.
"Kau benar-benar mau?"
Hwi Sian mengangguk.
"Dengan suka rela? Dengan senang hati? Tidak terpaksa?"
Kembali Hwi Sian mengangguk dan jantung dara ini berdebar tidak karuan, mukanya terasa panas.
Dia tidak tahu betapa seluruh mukanya menjadi merah jambon, luar biasa manisnya!
Kun Liong mendekatkan mukanya, kedua tangannya memegang pundak dara itu, mendekatkan mulut.
Sepasang mata gadis itu terbelalak seperti kelinci ketakutan akan diterkam harimau.
Kun Liong menjadi malu sendiri!
"Hwi Sian, kau benar-benar mau?"
Hwi Sian tidak berani menjawav karena jantungnya yang berdebar itu tentu akan membuat suaranya tidak karuan.
Suara Kun Liong ketika bertanya terakhir ini pun sudah tidak karuan, gemetar dan nadanya sumbang!
Maka dia hanya meng-angguk, kini dia benar-benar ingin dicium, ingin melihat bagaimana kalau dicium dan apanya yang akan dicium!
"Kalau mau..."
Suara Kun Liong makin gemetar seperti orang sakit demam.
"Kalau mau, kau pejamkan matamu..."
Mata itu malah terbelalak, ageknya heran, kemudian sepasang mata yang indah itu tertutup rapat.
Hilang rasa malu di hati Kun Liong, bahkan dia menjadi lega dan kembali dia mendekatkan mulutnya sampai bibirnya menyentuh bibir yang setengah terbuka itu.
Sentuhan ini mendatangkan getaran hebat sehingga tanpa dapat ditahannya lagi, mulutnya mencium dan mengecup.
Hwi Sian kaget setengah mati, hendak berteriak akan tetapi mulutnya yang baru terbuka sedikit sudah tertutup dan diterkam bibir Kun Liong.
Kun Liong melepaskan bibirnya dan napasnya terengah, kedua lengannya kini tanpa disadarinya telah memeluk pinggang Hwi Sian.
"Satu kali..."
Bisiknya dan kembali dia merapatkan mulut.
Hwi Sian tidak memejamkan mata lagi, sudah terbelalak lebar saking heran dan kagetnya.
Ketika, melihat muka Kun Liong mendekat lagi, ia menjadi ngeri dan cepat memejamkan matanya.
Kembali teriakannya gagal karena mulut yang baru terbuka sedikit sudah disumbat oleh sepasang bibir Kun Liong.
Sekali ini, setelah melepaskan bibirnya, Kun Liong tak mau menghitung lagi dan ketika dia mencium untuk ketiga kalinya, Kun Liong memejamkan matanya, tidak merasa lagi betapa kedua lengan Hwi Sian sudah merangkul lehernya!
Ciuman yang ketiga kalinya ini amat lama, seolah-olah keduanya tidak mau melepaskannya lagi.
Ketika Kun Liong melepaskannya karena tidak kuat menahan napas, mereka terengah-engah dan baru Kun Liong tahu betapa kedua lengan yang halus itu seperti dua ekor ular membelit lehernya.
Dia terheran, dan lebih-lebih lagi herannya ketika Hwi Sian terisak menangis dengan muka merapat di dadanya.
"Eh... eh... kok menangis? Ada apa ini...?"
Pertanyaan itu membuat Hwi Slan makin sesenggukan.
"Wah, jangan begitu, Hwi Sian! Kau membikin aku merasa bersalah besar saja. Bukankah kau tadi sudah menyatakan mau dan tidak terpaksa? Kenapa sekarang menangis dan... ehhh..."
Kun Liong menghentikan kata-katanya dan terbelalak memandang wajah yang kini diangkat itu.
Gadis itu sesenggukan akan tetapi matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum!
Mulut yang setengah terbuka, begitu segar seolah-olah setangkai bunga yang baru saja mendapat siraman air!
"Eh...
apa pula ini?
Kau ini menangis atau tertawa?
Kau marah atau tidak.
Senang atau susah?"
"Kun Liong... hemmm... Kun Liong, aku, aku juga cinta kepadamu!"
Kun Liong terkejut seperti mendengar guntur di tengah hari.
"Apa ini? Mengapa kau mengatakan begitu?"
"Artinya, aku juga cinta kepadamu seperti kau cinta kepadaku..."
Kun Liong melepaskan pelukannya dan melangkah mundur setelah melompat berdiri.
Dia memandang dengan alis berkerut dan sikap sungguh-sungguh.
"Hwi Sian, siapa bilang... eh, bagaimana eng-kau tahu bahwa aku cinta kepadamu?"
Kini gadis ini pun meloncat berdiri, matanya memandang tajam dan alisnya berkerut.
"Tentu saja! Setelah apa yang kau lakukan tadi... tentu engkau cinta padaku... ahhh, tidakkah begitu?"
Kun Liong menunduk, berpikir, kemudian menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu apakah aku cinta padamu, Hwi Sian."
"Kun Liong! Apa artinya ucapanmu itu? Setelah kau... kau menciumku seperti itu..."
"Hemmm... tidak kusangkal, aku senang sekali menciummu, Hwi Sian, dan kalau engkau mau, agaknya aku tidak akan bosan-bosan menciummu. Akan tetapi, hal itu bukan sudah berarti bahwa aku cinta kepadamu atau kau cinta kepadaku!"
Pucat wajah gadis itu dan matanya memandang dengan sinar penuh kemarahan.
"Yap Kun Liong! Jadi kau... kau hanya mau mempermainkan aku?"
Kun Liong menarik napas panjang, memandang dara itu dan menggelengkan kepalanya yang gundul.
"Kau tahu benar bahwa aku tidak mempermainkan siapapun juga. Sebelum aku menciummu, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku mau melakukannya kalau memang kau mau dan rela? Apa hubungannya itu dengan cinta? Kalau kita berdua saling pandang, saling menyentuh tangan, saling bicara, apakah itu sudah menjadi bukti bahwa kita saling mencinta?"
"Tapi... tapi... itu beda lagi! Semua itu biasa saja, akan tetapi ciuman... dan seperti yang kau lakukan tadi..."
"Apa bedanya kalau kita melakukan-nya dengan dasar sama suka dan rela?"
"Kun Liong, jangan kau main gila! Ciuman, apalagi seperti yang kau lakukan tadi, hanya patut dilakukan oleh sepasang suami isteri!"
"Ehh! Siapa bilang begitu? Kita tadi pun telah melakukannya walaupun kita bukan suami isteri, dan tidak ada yang memaksa kau atau aku, bukan? Hwi Sian, apa sih bedanya bersentuhan tangan dengan bersentuhan bibir dan mulut? Apa benar bedanya? Asal saja hal itu dilakukan dengan kerelaan kedua pihak..."
"Tapi aku cinta kepadamu! Kalau kau tidak cinta kepadaku, aku tidak akan sudi melakukannya, dengan siapapun juga. Lebih baik aku mati!"
Kun Liong terkejut, memandang dan menggaruk kepalanya yang gundul.
"Kau aneh sekali..."
"Kau yang aneh, kau yang gila! Kau telah menciumku seperti itu, kalau kau tidak mencintaku, berarti kau menghinaku!"
"Mungkin aku gila, akan tetapi aku tidak menghinamu, dan aku juga tidak mencintamu biarpun aku suka sekali kepadamu dan suka sekali menciummu. Ehhh..."
Kun Liong cepat mengelak karena Hwi Sian sudah menyerangnya kalang-kabut!
Dia berusaha menyabarkan, akan tetapi gadis itu sambil menangis terus menerjangnya dengan pukulan-pukulan maut, membuat Kun Liong repot mengelak dan menangkis.
"Nanti dulu... ehhh... heiiittt... luput! Wah, nanti dulu, Hwi Sian. Apakah engkau sudah gila?"
"Aku memang gila karena sakit hati, dan aku akan membunuhmu, Yap Kun Liong!"
Hwi Sian terus menyerang dengan air mata bercucuran.
"Waaahhh... celaka! Nah, kau lihat. Cinta hanya membikin orang menjadi gila! Mengapa kau mau mengorbankan dirimu kepada cinta? Heiiittt...!"
Kun Liong terpaksa melempar diri ke belakang dan bergulingan, kemudian melompat bangun dan melihat Hwi Sian benar-benar menyerangnya mati-matian, dia lalu melompat jauh dan melarikan diri!
"Yap Kun Liong laki-laki keparat!
Kau hendak lari ke mana?"
Hwi Sian mengejar.
"Waah, aku hanya suka berciuman denganmu, Hwi Sian, akan tetapi tidak suka kalau harus berkelahi denganmu. Sampai jumpa pula dalam suasana yang lebih aman!"
Dia mengerahkan gin-kangnya dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah lenyap meninggalkan Hwi Sian yang masih menangis sambil mengepal tinjunya.
Setelah berlari ke sana-sini mengejar tanpa hasil, akhirnya gadis itu menjatuhkan diri ke atas tanah dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan.
Gadis itu tidak tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang.
Tahu-tahu sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya dan suara yang sama halusnya berkata.
"Hwi Sian, jangan menangis. Kau maafkan aku kalau memang kau anggap aku bersalah."
Mendengar suara ini, tanpa menengok tahulah Hwi Sian bahwa pemuda gundul itu sudah datang lagi!
Dia menjadi makin berduka oleh perasaan girang yang aneh sekali menyelinap di hatinya melihat orang yang akan dibunuhnya tadi datang kembali, dan tangisnya makin menjadi-jadi!
Kun Liong duduk di atas rumput di dekat gadis itu.
Berulang-ulang dia menarik napas panjang, lalu berkata.
"Hwi Sian, aku bersumpah bahwa aku tidak berniat menggodamu, tidak berniat menghinamu. Semua yang kulakukan kuanggap begitu wajar, sama sekali tidak kusangka bahwa kau akan merasa terhina. Akan tetapi, kalau aku harus mengaku cinta begitu saja, berarti aku membohong, dan kurasa engkau tentu tidak ingin kubohongi, bukan?"
Hwi Sian menghapus air matanya.
Dia memandang pemuda itu dengan mata merah dan pipi basah.
Kun Liong mengeluarkan saputangannya dan menggunakan saputangan itu menghapus pipi yang basah.
Tanpa disengajanya sama sekali, maksud baik Kun Liong ini seperti meremas hati Hwi Sian sehingga kembali gadis itu menangis dan merebahkan kepalanya di atas pundak Kun Liong!
"Sudahlah Hwi Sian,"
Kun Liong mengelus kepala gadis itu.
"Mengapa engkau bersedih sampai begini macam?"
"Kun Liong... kau yang begini baik kepadaku... kau yang suka menciumku seperti tadi... mengapa kau tidak bisa mencintaku? Mengapa?"
"Hwi Sian, duduklah baik-baik, mari kita bicara tentang itu."
Gadis itu kembali mengusap air matanya dan duduk di atas tanah berhadapan dengan pemuda itu.
Kini kemarahannya agak mereda karena dia tahu bahwa sebetulnya pemuda ini tidak berniat buruk dan sama sekali tidak menghinanya sungguhpun apa yang dilakukannya amat aneh.
Kalau memang pemuda ini berniat menghinanya, tentu tidak akan datang kembali!
"Nah, sekarang kita bicara sungguh-sungguh, Hwi Sian.
Aku tidak suka berbohong apalagi kepadamu, biarpun aku suka bergurau denganmu.
Yang mengganggu hatimu adalah soal cinta.
Coba katakan, cinta itu apakah?"
Hwi Sian memandang bingung.
"Aku sendiri juga tidak pernah mendengar tentang itu, dan tidak pernah memikirkannya. Hanya ketika aku... tadi... aku merasa bahwa kau mencintaku dan aku..."
"Hemm, jadi menurut perasaanmu, cinta adalah kecondongan hati seseorang yang merasa suka kepada orang lain. Begitukah?"
"Ya, ya, begitulah. Memang sejak dahulu aku suka kepadamu, karena kau... lucu dan... eh, baik hati. Aku suka kepadamu dan tadi aku merasa sesuatu yang aneh, aku akan merasa bahagia kalau kau selalu dapat berdekatan dengan aku. Agaknya, itulah cinta!"
"Hemmm, jadi menurut pendapatmu, cinta adalah perasaan suka kepada seseorang dan mendapat balasan dari orang itu? Buktinya, ketika aku menyatakan tidak cinta kepadamu, kau marah-marah dan cintamu berubah benci, malah kau hendak membunuhku..."
"Maafkan aku, Kun Liong. Aku tahu bahwa aku takkan menang bertanding denganmu dan tadi aku menyerang dan memakimu hanya untuk melampiaskan kekecewaan dan kemarahanku saja."
"Jadi kalau begitu cinta bukanlah benci, cinta tidak akan mendatangkan benci! Cinta bukan pula suka akan sesuatu, karena biasanya suka akan sesuatu itu akan berakhir dengan kebosanan. Cin-ta bukan benci, bukan marah, bukan suka atau gairah nafsu. Cinta tentu pantasnya lebih luhur lagi, lebih bersih, tiada awal tiada akhir."
"Ihhh! Kalau begitu, apa cinta itu?"
"Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu. Agaknya hatiku dan pikiranku masih terlalu kotor sehingga belum mengenal cinta itu, Hwi Sian."
"Tapi, engkau suka kepadaku, bukan?"
"Aku suka kepadamu, aku suka menciummu, seperti aku suka melihat setangkai bunga yang cantik jelita, seperti aku suka mencium bunga yang harum. Akan tetapi itu bukan cinta, dan kalau kita menganggapnya cinta, kita akan menyesal dan kecewa. Nah, mau-kah kau melupakan semua itu dan tinggal bersahabat denganku? Percayalah, aku masih suka memandangmu, suka bergurau denganmu, bahkan aku masih suka sekali untuk... menciummu, tentu saja kalau kau juga rela dan mau!"
Hwi Sian menunduk dan terjadi perang di dalam hatinya.
Semenjak kecil dia telah mendengar banyak tentang kesopanan, tentang kesusilaan, tentang hukum-hukum kesopanan yang sama sekali tidak boleh dilanggar, terutama oleh wanita!
Banyak dia mendengar nasihat tentang bahayanya menurutkan nafsu, terutama nafsu birahi.
Adakah tadi nafsu birahi yang mendorong sehingga dia merasakan nikmat dalam pelukan dan menerima ciuman Kun Liong?
Tiba-tiba Kun Liong memegang tangannya.
"Eh, ada banyak orang datang berkuda!"
Mereka bangkit berdiri dan menoleh ke belakang.
Benar saja, tak lama kemudian muncullah serombongan orang berkuda.
Kun Liong terkejut ketika melihat bahwa rombongan itu adalah sepasukan tentara yang berjumlah tidak kurang dari lima puluh orang, dipimpin oleh panglima yang dilihatnya semalam di rumah Hek--bin Thian-sin dan di samping panglima itu terdapat pula seorang pemuda asing yang juga dilihatnya di rumah Hek-bin Thian-sin!
Pemuda asing yang tampan dan gagah, yang bernama Hendrik Selado, putera dari Legaspi Selado si kakek asing botak yang amat lihai.
"Aihhh... pemberontak-pemberontak itu...!"
Hwi Sian berseru marah dan juga kaget.
"Hwi Sian, mari kita lari!"
Kun Liong berbisik.
"Tidak sudi! Aku harus membasmi mereka! Aku dan kedua orang suhengku memang bertugas menyelidiki mereka, dan karena kami berpencar, maka aku yang kebetulan dapat membongkar rahasia mereka. Aku harus lawan mereka!"
Tanpa menanti jawaban Kun Liong, dara yang gagah perkasa itu sudah lari menyambut rombongan itu, dan langsung dia meloncat dan menyerang panglima yang menunggang kuda terdepan bersama Hen-drik pemuda asing.
"Pemberontak hina!"
Hwi Sian membentak marah.
Diserang secara tiba-tiba dengan dahsyat, panglima yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dara itu tidak boleh dipandang ringan.
Maka dia lalu menjatuhkan diri dari atas kuda, bergulingan lalu meloncat bangun.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang kami sedang mencarimu, Nona!"
Katanya sambil mencabut sebatang pedang.
"Tangkap dia!"
Panglima itu membentak dan dua orang perajurit lalu menggunakan pedang mereka menubruk.
Hwi Sian menghadapi dua orang ini dengan tenang.
Biarpun dia bertangan kosong dia sama sekali tidak merasa gentar.
Ketika dua orang itu menubruk, secepat kilat dia mendahului, menggeser ke kanan, kakinya menyambar dan tangannya meraih.
Seorang perajurit berteriak, tubuhnya terjengkang dan pedangnya terampas dan di lain saat, disusul teriakan keras oleh temannya yang juga tersungkur jatuh dengan pundak terluka oleh pedang rampasan di tangan Hwi Sian!
Segera dara itu dikeroyok oleh para tentara!
Namun dara itu mengamuk dengan pedang rampasannya dan dalam beberapa gebrakan saja dia telah berhasil merobohkan empat orang lawan lagi.
"Mundurlah kalian, biarlah aku menangkap kuda betina liar ini!"
Hendrik Selado berteriak dengan suaranya yang nyaring dan kaku.
Tubuhnya sudah melangkah maju dengan langkah seperti seekor harimau kelaparan.
"Tak tahu malu! Mengeroyok seorang gadis!"
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Kun Liong sudah berdiri di depan pemuda asing itu.
Kun Liong sejak tadi sudah melihat dan siap untuk membantu Hwi Sian.
Melihat betapa Hwi Sian dapat merampas pedang dan dapat melayani pengeroyokan para perajurit, dia berdiam diri saja.
Akan tetapi melihat gerakan pemuda asing yang maju, tahulah dia bahwa pemuda ini adalah sebangsa Yuan de Gama yang cukup tangguh, maka dia sudah mendahului pemuda itu, menghadangnya dan mencelanya.
Kini mereka saling berhadapan.
Seorang pemuda tampan, gundul dan seorang pemuda tampan bermata biru berkulit putih.
Hendrik memandang tajam karena dia tidak mengenal pemuda gundul ini, akan tetapi dia sudah dapat menduga bahwa tentu "pendeta"
Muda inilah yang semalam telah menolong gadis tawanan itu.
Maka dia lalu membungkuk dan sambil tersenyum berkata.
"Bapak Pendeta, datang dari kuil manakah, dan apakah hubungan Bapak Pendeta dengan gadis pemberontak itu?"
Kun Liong tersenyum masam.
Bangsanya sendiri saja, juga seorang gadis seperti Hwi Sian bisa salah menduga bahwa dia seorang hwesio, apalagi seorang asing seperti yang dihadapinya ini!
Dia tidak mau berbantah tentang kepala gundulnya yang menimbulkan salah kira, maka dia menjawab.
"Aku tidak datang dari kuil manapun juga, akan tetapi yang jelas, aku adalah seorang yang mengetahui betul siapa pemberontak siapa bukan! Nona ini bukan pemberontak, maka tidak perlu kau orang asing ini menjadi maling berteriak maling!"
Tentu saja Hendrik menjadi kaget sekali mendengar ini, karena ucapan itu berarti bahwa pemuda gundul ini tahu akan rahasia pemberontakan di Ceng-to dan berarti pula bahwa tentu pendeta muda inilah yang semalam telah menolong gadis tawanan.
"Pendeta muda sombong, engkaulah pemberontak!"
Hendrik sudah meneriang maju dengan gerakan yang dahsyat.
Pemuda asing itu ternyata menguasai ilmu silat yang aneh dan memiliki tenaga yang dahsyat, kedua tangannya bergerak bergantian dan bertubi-tubi mengirim serangan-serangan berbahaya diseling tendangan kedua kakinya bergantian pula.
"Hemm... kau ganas...!"
Kun Liong mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan menangkis dan untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya, dia segera mainkan ilmu silat Pat-hong--sin-kun yang ia pelajari dari Bun Hwat Tosu.
Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini memang mengandalkan kecepatan dan bayangan Kun Liong seolah-olah berubah menjadi delapan dan bayangan ini mengeroyok Hendrik dari delapan penjuru!
"Kau pendeta sombong hebat juga!"
Hendrik berkata kemudian memaki dalam bahasa asing dan tangannya telah mencabut keluar sebatang pedang tipis yang kecil dan lemas sekali.
Pedang itu amat runcing dan tajam ringan dan begitu digerakkan, tampak sinar bergulung dan suaranya bercuitan mengerikan hati!
Kun Liong cepat menghindarken diri, meloncat ke sana-sini dan dia mulai marah.
Tadinya dia tidak ingin memukul lawan, hanya membela diri saja.
Akan tetapi dengan pedang kecil panjang itu di tangan lawannya merupakan bahaya baginya.
Pada saat itu, dia mendengar teriakan Hwi Slan.
Dia menoleh dan melihat betapa gadis itu dikeroyok oleh banyak orang, di antaranya yang paling hebat adalah panglima yang menggunakan pedang.
Agaknya dara itu terancam bahaya maut dan teriakan tadi menandakan bahwa Hwi Sian telah terkena senjata lawan.
"Cuit-cuit-cuit-singg...!"
Kun Liong cepat melompat ke belakang, hampir saja dia menjadi korban pedang lawan ketika dia menoleh ke arah Hwi Sian tadi karena saat itu telah dipergunakan oleh Hendrik untuk mengirim serangan kilat secara bertubi-tubi.
Karena khawatir akan keadaan Hwi Sian, Kun Liong mengeluarkan teriakan nyaring, kedua tangannya mendorong dan tampak uap putih keluar dari kedua telapak tangannya, menyambar ke arah Hendrik.
"Ougghh...!"
Pemuda asing itu terjengkang dan cepat membanting diri ke belakang terus bergulingan, cara yang tepat untuk menghindarkan diri.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong untuk melompat ke arah Hwi Sian.
Ternyata Hwi Sian telah terluka di paha dan pundak, dan dara itu telah roboh miring, agaknya pingsan, akan tetapi di dekatnya tampak seorang laki-laki yang mengamuk dengan pedangnya melindungi tubuh dara yang sudah pingsan itu.
Kun Liong mengenal orang itu yang bukan lain adalah Tan Swi Bu, laki--laki tinggi besar yang menjadi ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) dari Hwi Sian.
Maka cepat dia meloncat mendekat dan kedua kakinya merobohkan dua orang pengeroyok.
Tendangannya tepat mengenai tulang kering kaki kedua orang itu yang berteriak-teriak dan mengaduh-aduh sambil berloncatan dan memegangi kaki yang tulang keringnya rusak!
Tan Swi Bu menoleh dan berkata.
"Harap Siauw suhu (Pendeta Muda) sudi menolong sumoiku dan menyelamatkannya pergi dari sini lebih dulu!"
Kun Liong kembali tersenyum pahit.
Kepalanya yang sial kembali memperoleh korban!
Tan Swi Bu tidak mengenalnya dan menyangkanya seorang hwesio.
Akan tetapi dia tidak peduli menghampiri Hwi Sian yang pingsan, memondongnya dan dia meloncat ke kiri, mendorong roboh seorang perajurit yang menunggang kuda, kemudian dia meloncat ke atas kuda sambil memondong tubuh Hwi Sian.
"Tan-enghiong, lekas lari!"
Dia berseru. Melihat betapa "hwesio"
Itu telah berhasil melarikan sumoinya, Tan Swi Bu lalu memutar pedangnya, kemudian menyerang seorang penunggang kuda lain yang berada di luar lingkungan para pengeroyok, merobohkannya dan ia pun meloncat ke atas kuda itu lalu membalapkan kudanya menyusul Kun Liong.
"Kejar...! Siapkan kuda...!"
Terdengar panglima itu berteriak.
Pasukan itu segera melakukan pengejaran dan tidak kurang dari tiga puluh orang perajurit dipimpin oleh Bhong-ciangkun Si Panglima dan Hendrik Si Pemuda Asing, melakukan pengejaran.
Setelah membalapkan kudanya keluar dari hutan dan pegunungan itu, dan melihat betapa Hwi Sian masih belum sadar dari pingsannya dan para pengejar tidak jauh, Kun Liong merasa khawatir sekali.
Dia memberi isyarat kepada Tan Swi Bu yang membalapkan kuda sehingga sejajar dengan Kun Liong, dan berkata.
"Tan-enghiong harap bawa Nona Hwi Sian pergi lebih dulu. Biarlah saya yang mencegah mereka melakukan pengejaran!" (Lanjut ke
Jilid 18) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18
"Akan tetapi..."
Tan Swi Bu membantah ragu-ragu.
"Harap jangan ragu lagi, cepat terimalah dia!"
Dengan tangan kirinya Kun Liong melemparkan tubuh Hwi Sian yang pingsan ke kiri, ke arah Tan Swi Bu yang tentu saja menjadi terkejut dan cepat menerima tubuh sumoinya.
Dari lontaran itu saja tahulah dia bahwa pemuda gundul itu amat lihai, dan kini setelah melibat wajahnya, dia pun teringat kembali kepada pemuda gundul yang dulu pernah dilihatnya.
"Jadi engkau... Siauw-hiap..."
"Pergilah cepat!"
Kun Liong meraih ke depan dan menepuk pinggul kuda yang ditunggangi Tan Swi Bu.
Kuda itu terkejut, membalap dan sebentar saja pemuda dan sumoinya itu sudah jauh mendahului Kun Liong.
Ketika melihat suheng Hwi Sian itu memasuki sebuah hutan di depan, Kun Liong lalu menahan kudanya, membalikkan kuda, meloncat turun dan menggunakan kedua lengannya mendorong roboh dua batang pohon besar.
Dua batang pohon itu malang melintang di tengah jalan sehingga ketika para pengejar tiba di situ, mereka menahan kuda.
Melihat bahwa pemuda gundul lihai itu yang menghadang mereka, Hendrik dan Bhong-ciangkun berteriak keras dan meloncat turun dari kuda, memimpin anak buah mereka untuk mengurung dan mengeroyok Kun Liong!
"Tuan Muda Hendrik, jangan biarkan dia lolos.
Aku akan mengejar gadis itu!"
Bhong-ciangkun berseru setelah Kun Liong terkurung dan dia lalu mengajak belasan orang anak buah untuk mengejar ke depan.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh Kun Liong yang terkurung tadi berkelebat, dua orang pengeroyok roboh dan hanya Hendrik seorang yang dapat melihat betapa pemuda gundul yang lihai itu sudah melompat melampaui kepala pengeroyok di belakangnya sambil mendorong roboh dua orang, dan langsung menerjang Bhong-ciangkun yang baru saja meloncat ke atas kuda.
Serangannya dahsyat sekali, karena Kun Liong menggunakan Im-yang-sin-kun dari Tiang Pek Hosiang.
Biarpun panglima itu menggunakan pedangnya membabat ketika tubuh pemuda itu menerjang dari atas namun ujung kaki Kun Liong dengan tepat menendang pergelangan tangan yang memegang pedang dan jari tangannya menghantam leher!
Bhong-ciangkun berteriak, pedangnya terlempar dan dia cepat secara terpaksa melempar diri dari atas kuda untuk menghindarkan totokan pada lehernya.
Biarpun dia berhasil menyelamatkan diri, akan tetapi dia pun gagal melakukan pengejaran dan memang inilah yang dikehendaki oleh Kun Liong ketika menyerangnya.
Kemudian Kun Liong dikurung dan pemuda ini sengaja berlompatan ke sana ke mari sehingga pasukan itu tidak dapat memusatkan pengeroyokan dan keadaan menjadi kacau-balau dan tidak ada kesempatan bagi Bhong-ciangkun dan Hendrik untuk melakukan pengejaran.
Hal ini membuat mereka marah sekali dan dua orang itu kini memusatkan semua kekuatan untuk mengeroyok dan membunuh Kun Liong!
Kun Liong melayani mereka hanya untuk memberi kesempatan kepada Tan Swi Bu untuk dapat lari jauh membawa sumoinya.
Sebetulnya tidak ada gairah sedikit pun di dalam hatinya untuk berkelahi, maka dia hanya mengelak dan menangkis, dan kalau terpaksa sekali baru dia merobohkan dua tiga orang pengeroyok tanpa melukai berat.
Biarpun dia dikeroyok puluhan orang, tetap saja Kun Liong masih memegang pendiriannya bahwa dia tidak akan menggunakan ilmu silat untuk memukul orang, kecuali hanya untuk membela dan mempertahankan diri!
Kini mulailah Kun Liong melarikan diri, akan tetapi bukan lari untuk meninggalkan pertandingan, melainkan lari untuk memancing mereka menjauhi tempat itu dan membawa mereka ke arah yang berlawanan dengan larinya Tan Swi Bu.
Dia lari beberapa ratus meter jauhnya, lalu sengaja membiarkan mereka menyusulnya dan dia dikeroyok lagi.
Kurang lebih satu jam dia main kucing-kucingan seperti ini kemudian dia meloncat ke belakang dan berkata.
"Aku sudah lelah, lain kali saja kita main--main lagi!"
Kun Liong lalu melarikan diri.
Hendrik dan Bhong-ciangkon marah sekali, berusaha mengejar, akan tetapi sebentar saja bayangan pemuda gundul itu sudah lenyap.
Mereka merasa marah sekali dan merasa dipermainkan.
Pemuda gundul itu memang lihai, akan tetapi mereka berdua, terutama Hendrik, belum mendapat kesempatan untuk mengadu kepandaian sampai mati-matian karena pemuda gundul selalu lari ke sana ke mari, seperti seekor kucing yang mempermainkan pengeroyokan segerombolan tikus!
Hutan di dekat telaga itu amat lebat dan liar, tidak nampak seorang pun manusia kecuali dia sendiri.
Celakanya, malam tiba dan sebelum dia memperoleh tempat untuk melewatkan malam itu, hujan turun dari langit seperti dituangkan.
Bukan hanya hujan yang mengamuk, akan tetapi juga angin yang membuat air hujan menampar muka seperti jarum-jarum runcing dan membuat pohon-pohon bergerak menggila sambil mengeluarkan suara yang menyeramkan.
Kun Liong memicingkan mata untuk melindungi mata dari hantaman air hujan dan untuk menembus kegelapan malam.
Dia telah terjebak ke dalam hutan yang tidak dikenalnya.
Ketika sore tadi dia memasuki hutan ini, dari seorang petani dia mendapat keterangan babwa telaga yang dicarinya itu berada di seberang hutan ini.
Maka dia berani memasuki hutan karena petani itu mengatakan bahwa hutan ini tidak terlalu besar.
Akan tetapi agaknya dia salah jalan, Tersesat dan tidak menyeberangi hutan, melainkan memasuki hutan dan berjalan sepanjang hutan itu yang agaknya tiada habisnya sampai malam tiba dan sampai hujan badai datang menyerang hutan itu.
Dia tersaruk-saruk terhuyung dan mencari jalan dengan kedua tangan, kaki dan pandang matanya yang tidak dapat melihat jelas karena diserang terus-menerus oleh air hujan.
Pohon-pohon kecil bergerak menggila, ranting-ranting seperti berubah menjadi tangan-tangan setan yang menjangkau, menyergap dan mencekik!
Pohon-pohon besar yang kadang-kadang hanya tampak kalau ada kilat menyambar, seolah-olah iblis-iblis raksasa yang berlumba untuk menerkamnya.
Suara air hujan bercampur desis angin melanda daun-daun pohon menimbulkan pendengaran yang mengerikan, seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit memasuki hutan itu.
"Desss!!"
Sebuah ranting yang agak besar melecut tengkuknya.
"Aduhhh...!"
Kun Liong meraba tengkuknya.
Sungguh celaka.
Dalam keadaan seperti itu, semua ilmu kepandaian yang dilatihnya selama ini tiada gunanya sama sekali.
Betapapun pandainya manusia menghadapi kekuatan dan kebesaran alam benar-benar tak ada artinya.
Mana mungkin ketajaman pendengarannya dapat dipergunakan kalau suara air hujan dan angin mengamuk seperti itu?
Mana mungkin dia dapat menangkap angin pukulan ranting tadi yang melecut tengkuknya kalau badai mengamuk dan menghembuskan angin yang bergulung-gulung menenggelamkan dirinya seperti itu?
Akhirnya dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon besar.
Setidaknya di tempat ini, air hujan tidak begitu buas menyerangnya, terlindung oleh daun-daun yang amat lebat dari pohon itu, juga tetumbuhan di bawah pohon raksasa itu tidak begitu lebat, biarpun tanahnya tertutup rumpul tipis yang basah semua sehingga tanah basah itu berlumpur mengotori semua pakaiannya.
Kun Liong menggunakan kedua tangan mengusap air yang membasahi kepala dan mukanya.
Bajunya basah kuyup dan hawa dingin membuatnya menggigil.
Cepat dia duduk bersila dan menggunakan tenaga dalam untuk melawan dingin.
Tenaga yang dia terima dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong benar-benar telah membuat sin-kang yang dikumpulkannya berkat latihan dari Bun Hwat Tosu dan Tiang Pek Hosiang menjadi amat kuat dan sebentar saja tubuhnya terasa hangat.
Hujan tidak selebat tadi turunnya, akan tetapi angin badai masih mengamuk biarpun kini tempatnya bermain agak di atas, membuat pohon-pohon besar masih menari-nari seperti gila.
Hanya pohon-pohon kecil yang rendah sudah tidak terlalu keras bergoyang lagi, berdiri miring dan kelelahan, cabang, ranting dan daunnya layu dan kehabisan tenaga.
Suara angin yang mempermainkan daun-daun pohon di atas benar-benar amat berisik dan menyeramkan.
Kun Liong merasa seram dan bulu tengkuknya bangun satu-satu karena dia teringat akan dongeng-dongeng tentang hantu.
Kalau dia memandang ke atas, di antara sinar kilat seperti tampak olehnya iblis-iblis yang menakutkan, wajah-wajah yang seperti dalam dongeng berada di atasnya dan menyeringai kepadanya dengan bermacam-macam lagak, seolah-olah iblis-iblis itu hanya menanti saatnya saja untuk menerkam dan memperebutkannya.
Kun Liong tersenyum sendiri.
Mengapa dia harus takut, pikirnya?
Benar-benar adakah hantu seperti yang didengarnya dan dibacanya dari dongeng?
Selama hidupnya dia belum pernah melihat hantu dengan matanya sendiri.
Dan andaikata malam ini dia melihatnya, apakah yang ditihatnya itu benar-benar hantu dan iblis?
Bukankah yang dilihatnya itu, kalau benar dia dapat melihatnya tak lain hanya bayangan pikirannya sendiri yang telah membentuk wajah iblis dari dongeng-dongeng yang didengar dan dibacanya?
Andaikata sejak kecil dia tidak pernah mendengar cerita orang, tidak pernah membaca kitab tentang setan dan hantu sehingga dia sama sekali tidak mengenal sebutan iblis dan hantu, apakah dia akan dapat melihat bayangan hantu dan mungkinkah dia akan takut kepada hantu?
Tak mungkin!
Karena dia tidak akan dapat mengenal dan mengetahui apakah yang dilihatnya itu bahkan mungkin sekali dalam keadaan tidak pernah mengenal sebutan iblis sama sekali seperti itu, Kalau dia kebetulan bertemu sungguh-sungguh dengan iblis, dia akan tertarik sekali seperti orang-orang tertarik melihat sebuah tanaman atau seekor mahluk yang selama hidupnya belum pernah didengar dan dilihat sebelumnya!
Hanya karena dia pernah mendengar dongeng tentang iblis, mendengar bahwa iblis itu jahat pengganggu manusia, dan lain-lain dongeng menyeramkan tentang iblis lagi, maka timbullah rasa takut dan timbul pula bayangan-bayangan iblis di antara kegelapan yang samar-samar!
Tolol kalau aku takut!
Takut timbul karena tidak mengerti!
Takut timbul karena ikatan masa lalu tentang sesuatu yang ditakutkan, atau ikatan pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga pikiran merenungkan semua itu dan membayangkan kalau-kalau akan timbul lagi hal-hal itu di masa datang!
"Tidak!
Aku tidak takut iblis dan setan!
Hai...
semua hantu dan iblis yang berada di hutan.
Keluarlah bertemu dengan Yap Kun Liong.
Mari kita beramah-tamah dan mengobrol!"
Pemuda itu berteriak-teriak, akan tetapi suaranya hanyut dalam desau angin dan desau daun-daun pohon.
Badai mereda.
Air yang menitik turun bukan air hujan lagi, melainkan air yang jatuh dari daun-daun yang basah kuyup.
Setiap ada angin halus menghembus, butiran-butiran air di ujung daun-daun itu rontok semua ke bawah.
Kun Liong berjalan perlahan, kedua tangannya meraba-raba di antara pohon-pohon menuju ke arah suara yang didengarnya tadi.
Suara yang mendorongnya untuk meninggalkan tempat berteduh itu biarpun malam masih gelap pekat.
Suara itu, arah suara itu, yang menjadi petunjuk jalannya, maka dia melangkah dengan hati-hati, menggunakan tangan untuk meraba ke depan agar dia tidak sampai terjatuh, presis seperti laku seorang buta melangkah melalui jalan yang tidak dikenalnya.
Ketika dia duduk tadi, dia mendengar suara orang bernyanyi!
Kalau saja dia belum menyadari sepenuhnya tentang hantu dan rasa takut akan hantu, tentu suara itu akan menimbulkan rasa seram dan takut.
Bayangkan saja!
Di dalam hutan, sehabis hujan badai seperti itu, ada suara orang bernyanyi!
Suara itu tadinya hanya lapat-lapat, sayup sampai kadang-kadang timbul dan seringkali tenggelam dan lenyap kembali.
Akan tetapi kini mulai terdengar jelas, dan Kun Liong menghentikan langkahnya untuk dapat menangkap kata-kata yang dinyanyikan dengan suara parau itu.
"Berani hidup mengapa takut mati? siapa bilang hidup senang dan mati sengsara? Lihat mereka semua hidup dan mati! si bangsawan, si hartawan si rakyat, si miskin yang kuat, yang lemah, yang mulia, yang hina. Mereka semua telah mati, sedang mati dan akan mati, dalam kematian tiada bedanya menjadi bangkai kotor membusuk! Yang hidup, yang mati, yang lahir silih berganti, tetapi "aku"
Tetap berkuasa! di antara mati dan hidup aku tetap mempermainkan manusia, ha-ha-ha-ha!"
Kun Liong melangkah mendekat.
Kalau dia belum mengerti akan timbulnya rasa takut terhadap hantu, mungkin dia saat itu akan ketakutan dan menduga bahwa itulah hantu yang dia hadapi sekarang.
Bukankah ada dongeng mengatakan bahwa hantu dapat mengambil bentuk seorang kakek-kakek, atau bahkan seorang dara cantik sekalipun?
Dia itu seorang kakek tua, usianya sukar ditaksir berapa, akan tetapi tentu lebih dari enam puluh tahun, pakaiannya bersahaja seperti pakaian orang terlantar rambutnya yang berwama dua itu tidak terpelihara, demikian pula dengan kumis dan jenggotnya yang masih basah dan berjuntai ke bawah.
Akan tetapi gambaran kakek ini berkurang kelayuannya karena di depannya bernyala api unggun.
Hal ini mengherankan hati Kun Liong.
Betapa mungkin orang membuat api unggun di hutan yang baru saja diamuk hujan dan badai?
Kakek itu menengok.
Mereka berpandangan sebentar, kakek tua yang duduk dan pemuda gundul yang berdiri.
"Maaf, Kek, kalau aku mengganggumu."
Kun Liong berkata sambil tersenyum ramah.
"Kau mau apa?"
"Aku dingin, api unggunmu dan nyanyianmu menarik hatiku sehingga aku datang ke sini."
"Kau hwesio?"
"Bukan, Kek, sungguhpun kepalaku gundul. Aku bukan pendeta."
"Hem, kalau begitu duduklah. Kalau engkau pendeta, tentu engkau sudah mati begitu engkau mengucapkan pengakuanmu. Aku benci hwesio!"
Kun Liong duduk dekat api unggun dan baru dia tahu bahwa kakek itu menyalakan api unggun dengan bantuan minyak.
Hal ini dapat dia cium baunya.
Hangat dan nyaman sekali duduk di dekat api unggun pada waktu malam sedingin itu.
Kun Liong menghela napas penuh nikmat sambil memeras ujung bajunya yang basah.
"Mengapa kau membenci hwesio, Kek?"
"Mereka itu munafik."
"Mengapa kau mengatakan begitu, Kek?"
"Mereka itu pura-pura menjadi orang baik, akan tetapi semua itu hanya untuk menutupi kebobrokan watak mereka!"
"Ah, tidak semua begitu, Kek! Memang dunia ini penuh dengan keganjilan dan kekecualian. Ada orang berkedudukan tinggi yang batinnya rendah, ada pula orang berkedudukan rendah yang batinnya tinggi. Ada orang kaya yang hatinya miskin, dan ada orang miskin yang hatinya kaya. Ada pendeta yang batinnya kotor, dan ada penjahat yang batinnya bersih. Apa anehnya itu?"
"Akan tetapi pendeta yang paling kotor karena dia berpura-pura! Orang bertubuh kotor berpakaian kotor, apa anehnya? Akan tetapi pendeta adalah seorang bertubuh kotor berpakaian bersih!"
"Tidak semua, Kek. Dan mereka telah berusaha menjadi orang baik."
"Phuah! Berusaha menjadi orang baik adalah usaha yang buruk!"
"Aku tidak mengerti, Kek."
"Tidak mengerti ya sudah. Kau tadi bilang api unggunku menarik perhatianmu, hal itu lumrah karena kau membutuhkannya. Akan tetapi benarkah nyanyianku menarik perhatianmu?"
"Benar, karena nyanyianmu amat indah!"
"Kau suka mendengarnya?"
"Sama sekali tidak!"
Kakek itu mendengus, matanya yang sipit itu melirik ke arah wajah Kun Liong, lalu dia mendengus lagi.
"Mengapa tidak suka?"
"Karena dalam nyanyianmu terdapat tertalu banyak soal kematian!"
Tiba-tiba kakek itu tertawa dan Kun Liong terkejut bukan main.
Suara ketawa itu melengking dan membuat dia tergetar, tanda bahwa suara itu mengandung khi-kang yang amat kuat!
Tiba-tiba kakek itu menghentikan suara ketawanya dan dia kini menoleh ke arah Kun Liong, menatap wajah itu dengan penuh perhatian.
Agaknya kakek itu pun walau tidak kentara, melihat pemuda gundul itu tidak terjungkal oleh suara ketawanya.
Padahal ketawanya itu disertai pengerahan khi-kang dan menjadi semacam ilmu untuk menyerang lawan.
Ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang mampu merobohkan orang yang memiliki sin-kang lumayan sekalipun!
"Orang muda,memang nyanyianku itu dibuat oleh orang yang hampir mati, bercerita tentang kematian, dan dibuat untuk orang mati seperti engkau, karena engkau pun akan mati!"
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala Kun Liong.
Tamparan yang amat hebat, cepat sekali dan mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat!
Kun Liong terkejut bukan main karena dia tidak menyangka akan diserang oleh kakek aneh itu.
Maka terpaksa dia lalu mengangkat lengan kirinya, menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya.
"Dessss...! Haiiiih!!"
Kedua orang itu terlempar sampai beberapa meter ke belakang.
Kakek itu terkejut bukan main.
Tangkisan pemuda gundul itu sedemikian kuatnya sehingga dia sampai terlempar!
Hal ini tidaklah aneh karena memang Kun Liong telah mengerahkan sin-kang gabungan yang dia latih dari kedua orang gurunya yang sakti ditambah gemblengan Pendekar Sakti Cia Keng Hong!
Sebetuinya, ketika mengadu tenaga sin-kang tadi, dapat saja kalau dia hendak menggunakan Thi-khi--i-beng, akan tetapi hal ini tidak dilakukannya karena memang dia tidak bermusuh dengan kakek itu.
Akibatnya, karena dia kalah latihan, pertemuan dua tenaga sin-kang itu membuat tubuhnya juga terlempar sampai jauh.
Kun Liong mengerti bahwa kakek itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi, maka dia tidak ingin terlibat dalam permusuhan dengan kakek yang agaknya miring otaknya itu, maka dia segera mcloncat dan cepat sekali dia menyelinap ke dalam hutan yang gelap yang tak dapat dijangkau oleh sinar api unggun.
"He, pemuda gundul aneh! Ke mana kau...??"
Kakek itu melompat pula dan melakukan pengejaran.
Kun Liong menyelinap di balik sebatang pohon besar.
Karena tempat itu gelap sekali kakek itu tidak mampu mencarinya.
Setelah berputar-putar tanpa hasil, kakek itu kembali ke tempat tadi dan mengomel panjang pendek.
Barulah Kun Liong berani keluar dari tempat sembunyinya dan berindap-indap menjauhi tempat itu sampai akhirnya secara kebetulan sekali dia berada di luar hutan!
Dia lalu duduk di bawah pohon, tidak berani tertidur karena kakek gila itu masih berada di hutan, dan menanti datangnya fajar.
Setelah sinar matahari pagi menerangi tempat itu, tampak oleh Kun Liong bekas amukan badai semalam.
Baru sekarang tampak olehnya betapa banyak pohon tumbang dan roboh malang melintang dilanda badai, terutarna pohon-pohon yang tumbuh di pinggir hutan.
Karena di luar hutan tidak ada pohon besar dan tidak tampak bekas amukan badai, Maka melihat ke arah hutan itu tampak seolah-olah ada iblis-ibils mengamuk semalam, mengamuk di dalam hutan itu.
Atau seperti telah terjadi perkelahian antara raksasa di dalam hutan menggunakan batang pohon-pohon besar untuk saling menghantam.
Kun Liong bangkit berdiri dan memandang ke arah telaga yang sudah tampak dari tempat yang agak tinggi itu.
Di sanalah telaga yang dicarinya.
Telaga Kwi-ouw, Telaga Setan.
Dan tampak pula pulau-pulau kecil kehijauan, di tengah telaga.
Sebuah di antara pulau-pulau itu adalah tempat perkumpulan Kwi-eng--pang yang dicarinya.
Ya, dia harus menemui Ketua Kwi-eng-pang dan secara jujur menanyakan tentang perbuatan anak buah Kwi-eng-pang yang telah menyerbu kuil Siauw-lim-si.
Dia masih menaruh harapan besar bahwa Kwi-eng-pang, sebagai sebuah perkumpulan besar yang terkenal, Akan memandang Siauw-lim-pai dan akan suka mengembalikan dua buah pusaka yang dahulu dicuri oleh anak buah Kwi-eng-pang.
Dia akan mengemukakan kebenaran dan akan membujuk Kwi-eng-pangcu agar tidak menanam permusuhan dengan sebuah perkumpulan besar seperti Siauw-lim-pai hanya karena urusan dua buah pusaka saja!
Biarpun dia mendengar dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong bahwa amat berbahaya menjumpai seorang di antara datuk-datuk kaum sesat seperti Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio Ketua Kwi-eng-pang itu, akan tetapi dia tidak takut.
Dia datang bukan untuk mencari permusuhan!
Dia datang untuk menuntut hak Siauw-lim-pai mendapatkan kembali pusaka-pusakanya yang tercuri.
Dan dia melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh mendiang gurunya, Tiang Pek Hosiang!
Setelah tiba di tepi telaga, tempat itu sunyi sekali.
Diam-diam dia merasa heran, mengapa tempat itu demikian sunyi?
Mengapa tidak tampak nelayan-nelayan dan pelancong seperti pada telaga-telaga besar yang lain?
Dari tepi telaga kini tampak olehnya pulau besar di tengah telaga dan kelihatan pula dari situ tembok dan genteng bangunan tertutup oleh batu-batu karang dan pohon-pohon.
Agak jauh di belakang pulau besar itu tampak pula sebuah pulau lain di tengah telaga, pulau yang agak kecil.
Tiada angin di pagi itu.
Air telaga tenang tak bergoyang sedikit pun, seperti permadani beludru biru yang amat lebar dibentang dari darat ke pulau itu.
Cahaya matahari pagi mulai menyapu permukaan telaga dan agaknya cahaya ini menggugah air telaga yang sedang tidur.
Mulai tampak perubahan pada air telaga.
Mulai ada kehidupan pada warna biru yang kini sebagian kejatuhan warna kuning emas kemerahan dari sinar matahari.
Agaknya bukan hanya mahluk darat dan mahluk udara saja yang memulai kesibukan hidup pada saat matahari muncul, akan tetapi juga mahluk air penghuni telaga.
Ikan-ikan mulai tampak bergurau, menjenguk dari permukaan air, dan yang nakal malah meloncat ke atas permukaan air, seperti tingkah anak-anak yang meloncat ke air untuk mandi!
Tiap kali ada moncong ikan menjenguk ke permukaan air, apalagi jika ada yang meloncat ke atas, air bergerak dan terbentuklah lingkaran-lingkaran yang makin melebar, lengkungan bundar yang amat sempuma, tak mungkin dibuat oleh tangan manusia.
Kun Liong terpesona menyaksikan semua ini.
Dia lupa diri, bahkan dirinya sudah tidak ada lagi.
Yang ada hanya penglihatan yang serba indah itu dan dia yang melihat sudah tidak ada lagi, tenggelam dalam keasyikan yang amat dalam.
Kalau saja dia tidak membutuhkan penyeberangan, agaknya perahu kecil yang tampak bergerak didayung oleh seseorang itu akan menjadi penambah keindahan pemandangan di pagi hari yang cerah itu.
Akan tetapi kebutuhannya mengingatkan dia dan menyeretnya kepada dunia yang penuh dengan kebutuhan si aku.
Lenyaplah semua keindahan karena perhatiannya tercurah penuh kepada perahu itu, dan harapannya timbul untuk dapat segera pergi ke pulau, ke pusat Kwi-eng-pang!
Dan perahu itu, tepat seperti yang dikehendakinya, didayung ke arah daratan.
Akan tetapi setelah dekat, dia merasa heran dan juga ragu-ragu.
Pendayungnya ternyata adalah seorang wanita!
Dan bukan wanita nelayan atau wanita dusun yang sederhana.
Sama sekali bukan!
Jelas tampak dari dandanan rambut dan pakaiannya, dari gayanya, bahwa yang mendayung perahu itu, wanita berusia tiga puluhan tahun yang berwajah cantik dan bertubuh ramping itu, tentulah wanita kota, atau setidaknya, paling sedikit tentu pelayan orang bangsawan!
Hanya anehnya, wanita yang segalanya kelihatan halus itu mengapa sampai mendayung perahu sendiri?
Betapapun juga, kesempatan ini tidak boleh dia sia-siakan.
Tidak ada perahu lain tampak di daratan yang begitu sunyi, maka ia cepat menghampiri wanita dalam perahu yang sudah mendekati pantai.
"Kouwnio, bolehkah saya menumpang perahumu?"
Dia bertanya sambil tersenyum ramah, senyum orang yang minta tolong!
Wanita itu mengangkat mukanya memandang sejenak memandang kepada pemuda itu, kemudian pakaiannya.
Agaknya wanita itu teliti juga maka melihat pakaian Kun Liong, dia dapat menduga bahwa pemuda tampan itu bukan hwesio, melainkan seorang yang entah mengapa sengaja menggunduli kepalanya.
Akan tetapi kepala gundul itu tidak buruk.
Memang lucu, akan tetapi tidak buruk.
Sebaiknya malah, mempunyai daya tarik yang aneh dan kepala itu begitu bersih, begitu telanjang sehingga wanita itu memandang dengan kedua pipi menjadi merah!
"Siapakah engkau dan mengapa kau minta menumpang di perahuku?"
Dengan kerling genit wanita itu membalas bertanya.
Kun Liong yang merasa bahwa dia menghadapi urusan besar dengan Ketua Kwi-eng-pang, merasa tidak baik kalau dia memperkenalkan diri kepada semua orang, maka dia menjawab.
"Saya datang dari jauh sekali dan hendak pergi menghadap Kwi-eng-pangcu. Maka, saya harap Kouwnio (Nona) yang baik suka menolong saya. Saya mau ikut dengan perahu Kouwnio pergi ke pulau itu."
Senyum dan kerling genit itu tiba-tiba lenyap dari wajah yang cukup cantik itu, dan pandang matanya penuh curiga ketika dia bertanya.
"Apakah engkau sahabat dari Kwi-eng-pangcu?"
Kun Liong tidak biasa membohong, maka dia menggeleng kepala.
"Bukan!"
"Habis, apa maksudmu hendak bertemu dengan pangcu?"
"Aku mempunyai sedikit urusan yang hendak kubicarakan dengan Kwi-eng-pangcu. Urusan penting yang akan kusampaikan kepadanya sendiri. Kouwnio, harap suka membawaku, Kouwnio yang baik. Biarlah aku yang akan mendayung perahunya."
Melihat pemuda gundul itu menyebutnya "kouwnio yang baik"
Beberapa kali dan tersenyum-senyum, wanita itu berkata.
"Sebetulnya aku mempunyai kepentingan berbelanja, akan tetapi karena engkau seorang tamu, biarlah kau kuantar ke pulau. Aku adalah pelayan dari Ang-pangcu."
Kun Liong terkejut, akan tetapi juga girang.
Kiranya Kwi-eng-pang tidak seperti yang disohorkan orang.
Kata orang, Kwi-eng-pang adalah perkumpulan iblis yang berbahaya, sarang dari golongan hitam.
Buktinya sekarang sama sekali tidak demikian.
Baru pelayannya saja begini cantik dan halus budi, peramah dan manis!
Kun Liong menjura dan berkata girang.
"Banyak terima kasih, Kouwnio yang baik."
Perahu menepi dan Kun Liong lalu melangkah memasuki perahu.
Perahu kecil agak bergoyang-goyang, akan tetapi wanita itu dapat berdiri dengan tegak, tanda bahwa wanita itu biarpun kelihatan lemah dan hanya seorang pelayan, akan tetapi tentu "berisi"!
"Biarlah saya yang mendayungnya, Kouwnio."
Wanita itu menyerahkan dayung kepada Kun Liong dan duduk berhadapan dengan pemuda itu yang mulai mendayung perahu.
Kun Liong bersikap sabar, biarpun hatinya tegang dan ingin dia cepat-cepat tiba di pulau.
Dia mendayung biasa saja, tidak mengerahkan sin-kangnya, padahal kalau dia menggunakan tenaga saktinya, tentu perahu akan dapat meluncur jauh lebih cepat.
Wanita itu menatap wajah Kun Liong dan terang-terangan kelihatan rasa kagumnya terhadap ketampanan wajah Kun Liong.
Beberapa kali Kun Liong memandangnya dan pandang mata mereka bertemu.
Kun Liong merasa malu sendiri sampai mukanya menjadi merah!
"Itu teman-temanku sudah menanti dan melihat kita."
Wanita itu menuding. Kun Liong melihat beberapa orang wanita berdiri di pantai pulau.
"Mereka tentu terheran-heran mengapa aku tidak pulang membawa barang belanjaan, tetapi membawa seorang tamu."
Wanita itu terkekeh genit.
"Kita sudah dekat, biar aku yang mendayung karena daerah dekat pulau terdapat banyak rahasia yang dapat membuat perahu terbalik."
Kun Liong terkejut mendengar ini dan cepat menyerahkan dayung.
Ketika menerima dayung, tiba-tiba jari tangan wanita itu bergerak menotok jalan darah di bawah pangkal lengan Kun Liong.
Pemuda ini kaget akan tetapi pura-pura tidak tahu.
Wanita itu hampir menjerit ketika ujung jari tangannya bertemu dengan ketiak yang berbulu dan totokannya tepat sekali, tetapi pemuda gundul itu tidak apa-apa!
Dayung sudah diambil dan tiba-tiba dia membalikkan dayung, gagangnya dipergunakan untuk menghantam kepala yang gundul itu.
Kun Liong mengangkat lengan ke atas, menangkis.
"Krakkk!"
Ujung dayung itu patah! "Ihhhh...!!"
Wanita itu berseru kaget lalu tiba-tiba dia meloncat ke air membawa dayungnya.
"Eihhh. Toanio, kau mengapa...?"
Kun Liong berseru kaget.
Akan tetapi tiba-tiba perahu itu terbalik dan tentu saja tubuhnya juga ikut terlempar ke dalam air.
Dia masih dapat melihat betapa tiga orang wanita di pantai itu mendayung sebuah perahu yang meluncur cepat sekali.
"Byuurrr...!"
Kun Liong gelagapan, menahan napas dan cepat menggerakkan kaki tangan untuk berenang.
Dia bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang sekedar mencegah tubuhnya tenggelam saja, dia bisa.
Akan tetapi tiba-tiba kakinya dipegang orang, dan tubuhnya diseret ke bawah.
"Ahhhauuupppp!"
Dia lupa dan hendak berteriak, tentu saja air telaga membanjiri mulutnya dan terus mengalir ke perutnya!
Dia menggerakkan kakinya dan berhasil membebaskan kakinya yang terpegang dari bawah.
Tubuhnya meluncur ke atas setelah dia menjejak dasar telaga.
Baru saja kepalanya yang gundul tersembul di atas permukaan air dan dia mengambil napas, tiba-tiba kedua kakinya terlibat sesuatu dan dia ditarik lagi ke bawah!
Biarpun dia meronta-ronta, tetap saja kedua kakinya tidak dapat terlepas dari libatan sehelai tali yang kuat.
Kun Liong menjadi panik.
Dia menahan napas, akan tetapi lama-lama dia terpaksa harus minum air juga dan ketika tubuhnya terasa lemas, dadanya seperti hendak meledak dan kepalanya pening, dia merasa betapa ada banyak tangan memeganginya, dan betapa kedua tangannya juga diikat kuat-kuat, kemudian tubuhnya diseret.
Dengan perut kembung penuh air dan setengah pingsan, napas terengah-engah hampir putus, Kun Liong masih dapat melihat dirinya diseret keluar dari telaga dan ke daratan pulau.
Yang mesiyeretnya adalah seorang wanita yang cantik juga, dan di belakangnya masih ada tiga orang wanita lagi, yang seorang adalah wanita yang membawanya tadi, kini berdiri di atas perahu memegang dayung yang sudah patah gagangnya, sedang yang dua orang wanita lagi tadinya berenang dan kini sudah mendarat sambil tertawa-tawa dan bersendau-gurau.
"Hi-hi-hik, sekali ini pancinganmu berhasil, Adik Biauw! Kau mendapat seekor ikan yang gemuk!"
Seorang di antara mereka berkata kepada wanita yang menyeret Kun Liong.
"Bukan dapat mengail, akan tetapi Enci Kun yang mendapat dari pasar!"
"Wah, ikan apa ini kepalanya gundul dan bersih sekali tidak ada rambutnya selembar pun!"
"Malah enak, tinggal mengupas kulitnya saja, tentu gurih. Hi-hi-hik!"
"Sayang Pangcu benci laki-laki, tentu dia dibunuh."
Wanita yang menyeret berkata.
"Aku akan mohon kepada Pangcu, sebelum dibunuh biar dia tidur bersamaku satu malam!"
"Enaknya! Apa kau lupa kepadaku, Adik Biauw? Aku yang menemukannya, tahu?"
"Sudah jangan ribut, itu Enci Siu datang, biar kita minta Pangcu agar dia diberikan kepada kita berlima sampai dia mati kehabisan."
"Kehabisan apa?"
"Ih, tanya-tanya. Seperti tidak tahu saja. Hi-hi-hik!"
Mereka berlima tertawa-tawa.
Kun Liong yang setengah pingsan masih dapat mendengar percakapan mereka tadi dan dia benar-benar merasa kecelik dan tertipu oleh sikap wanita tadi!
Kiranya mereka ini tiada ubahnya seperti serombongan siluman seperti yang terdapat dalam dongeng.
Cantik-cantik, genit-genit, cabul dan kejam!
Ketika tubuhnya diseret tiba di bawah sebatang pohon, Wanita cantik yang bernama Biauw tadi tiba-tiba menggerakkan tangannya dan tubuh Kun Liong terlempar naik melalui sebatang dahan pohon dan tentu saja tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah!
Wanita pelayan pertama yang namanya disebut Kun tadi meloncat, menggerakkan tangan memukul perut Kun Liong.
Tak dapat ditahan lagi Kun Liong muntahkan air yang membanjir keluar dari dalam perutnya melalui mulut dan hidung.
Kemudian dia ditotok pingsan dan sama sekali tidak dapat melawan karena tubuhnya terasa lemas semua dan oleh lima orang pelayan itu dia dilemparkan ke dalam kamar tahanan!
Lima orang wanita itu memang pelayan-pelayan dari Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio sendiri!
Pada waktu itu, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tidak berada di pulau dan lima orang pelayan ini memiliki kekuasaan yang besar juga sehingga para anggauta dan para murid Kwi-eng pang tidak ada yang berani turut campur ketika melihat mereka itu menangkap Kun Liong.
Murid-murid kepala dari Si Bayangan Hantu Ang Hwi Nio ada belasan orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Tentu saja kedudukan mereka lebih tinggi daripada lima orang pelayan itu, akan tetapi karena lima orang itu adalah kepercayaan subo mereka, apalagi mereka berlima itu adalah orang-orang dalam, mereka pun hanya bertanya.
Ketika mendengar bahwa Si Gundul itu katanya hendak bertemu dan sikapnya mencurigakan, mereka membenarkan tindakan lima orang pelayan itu dan memutuskan bahwa pemuda itu ditahan sampai ketua mereka pulang.
Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa peristiwa itu menarik perhatian seorang gadis yang mereka segani, yaitu Yo Bi Kiok, murid Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang tinggal di pulau kecil!
Yo Bi Kiok kini telah menjadi seorang dara yang cantik sekali akan tetapi sikapnya pendiam dan dingin, dan ilmu kepandaiannya tinggi.
Memang dara ini memiliki bakat yang amat baik sehingga Bu Leng Ci yang merasa sayang kepadanya telah menggemblengnya sampai tingkat kepandaian gadis itu tidak berselisih banyak dari tingkat gurunya, dan tentu saja jauh lebih lihai daripada murid-murid kepala Si Bayangan Hantu.
Bagi penghuni Pulau Telaga Setan itu, dara ini lebih dikenal dengan julukannya, yaitu Giok-hong-cu (Burung Hong Kemala) yang diambil dari mainan burung hong dari kemala yang dahulu dia terima sebagai hadiah dari Si Bayangan Hantu dan yang selalu dipakai di rambutnya.
Ketika Yo Bi Kiok atau Giok-hong-cu mendengar bahwa para pelayan Si Bayangan Hantu berhasil menawan seorang laki-laki gundul yang bukan hwesio, yang didengarnya dari para anak murid Kwi-eng-pang perempuan, dia merasa tertarik sekali.
Maka dia lalu menemui lima pelayan itu dan menyatakan keinginannya untuk melihat Si Tawanan dari lubang rahasia.
"Hi-hi-hik, mau apa kau melihatnya, Nona? Dia tampan sekali, akan tetapi sayang kepalanya telanjang!"
"Telanjang...?"
Giok-hong-cu Yo Bi Kiok berseru heran.
"Hi-hik, maksudku tidak ada selembar rambut pun menutupi kepalanya. Bersih dan bagus sekali kepalanya!"
Bi Kiok mengerutkan alisnya.
Para pelayan ini adalah wanita-wanita yang genit dan tak tahu malu.
Akan tetapi karena dia ingin membuktikan apakah tawanan ini benar orang yang disangkanya, dia mendesak dan akhirnya dia diperbolehkan mengintai dari lubang rahasia.
"Kun Liong...!"
Hati Bi Kiok berseru kaget ketika dia mengintai dan mengenal pemuda gundul yang rebah telentang kelihatannya lemas dan lemah itu.
Bi Kiok maklum bahwa di pulau itu, biarpun bibi gurunya, Si Bayangan Hantu tidak ada, amatlah sukar dan berbahaya untuk menolong Kun Liong seperti yang pernah dia lakukan dahulu.
Kalau ketahuan tentu terjadi ribut dan kalau sampai gurunya mendengar tentu dia akan dimarahi dan tentu Kun Liong takkan tertolong lagi.
Sebaiknya menggunakan akal.
Setelah memutar otak, Bi Kiok bergegas mendayung perahunya kembali ke pulaunya sendiri di mana dia tinggal bersama Bu Leng Ci dan hanya ditemani oleh beberapa orang pelayan waniia.
"Subo, ada kabar penting sekali dan kalau Subo tidak cepat-cepat turun tangan selagi Ang-su-i (Bibi Guru Ang) tidak ada, tentu kita didahului orang."
"Hemm, ceritakanlah."
"Akah tetapi, sebelumnya teecu minta supaya Subo suka mengampunkan kesalahan teecu yang pernah teecu lakukan kepada Subo."
"Bi Kiok, engkau tidak pernah berbuat salah kepadaku, muridku."
"Memang sesudah itu teecu menyesal sekali, apalagi mengingat akan segala kebaikan Subo. Hal itu lalu menjadi ganjalan hati teecu dan sekarang tiba saatnya teecu menebus kesalahan itu. Sesungguhnya, dahulu ketika Subo membunuh orang-orang Pek-lian-kauw dan mengalahkan Kiang-pangcu murid Ang-su-i, Subo bertemu dengan seorang anak laki-laki yang berkepala gundul. Ingatkah Subo?"
Bu Leng Ci mengerutkan alisnya.
Sudah terlalu banyak orang dibunuhnya, dan peristiwa itu baginya biasa saja, maka dia tidak dapat mengingat lagi.
Dia menggeleng kepalanya.
"Aku sudah tidak ingat lagi, muridku."
"Biarpun begitu, teecu mengakui kesalahan teecu yang amat besar kepada Subo. Ketahuilah bahwa bocah gundul dahulu itu adalah Yap Kun Liong yang dahulu menemukan bokor emas."
Bu Leng Ci meloncat bangun.
"Mengapa baru kauceritakan sekarang? Di mana dia?"
Siluman betina itu membentak.
"Teecu memang merasa bersalah, karena dahulu teecu diam-diam menginginkan bokor itu sendiri. Setelah melihat betapa Subo amat sayang kepada teecu, amat baik kepada teecu, maka teecu tahu bahwa tiada bedanya kalau bokor itu terjatuh ke tangan Subo atau teecu sendiri. Maka teecu merasa menyesal bukan main. Dan sekarang... sekarang Yap Kun Liong itu telah berada di Pulau Telaga Setan, menjadi tawanan para pelayan Bibi Guru Ang!"
"Apa?"
"Subo, teecu merasa bersyukur sekali bahwa Subo tidak marah kepada teecu. Sekarang sebaiknya kalau Subo pergi ke sana dan minta tawanan itu dengan alasan bahwa tawanan itu amat penting dan khawatir kalau-kalau dirampas orang karena Ang-su-i tidak berada di pulau. Kalau sudah berada di tangan kita, akan kubujuk agar dia suka memberi tahu di mana adanya bokor emas itu."
"Bagus! Dan kalau dia tidak bisa dibujuk, dapat saja kupaksa dia! Mari kita pergi sekarang juga, Bi Kiok!"
Kegirangan hati Bu Leng Ci dengan timbulnya harapan akan mendapatkan bokor emas membuat hatinya ringan dan dia tidak marah kepada muridnya yang pernah menyembunyikan adanya pemuda penemu bokor itu.
Ketika Bu Leng Ci dan muridnya tiba di Pulau Telaga Setan itu, mereka terkejut melihat keadaan yang ribut di situ, bahkan ada pertempuran terjadi di depan rumah Kwi-eng-pangcu.
Kelihatan tiga orang laki-laki tua sedang dikeroyok oleh anak buah Kwi-eng-pang dan mereka itu lihai sekali, terutama orang tua yang tubuhnya tinggi kurus.
Anak buah Kwi-eng-pang laki perempuan seperti puluhan ekor semut mengeroyok tiga ekor jangkerik saja, kadang-kadang tampak tubuh beberapa orang pengeroyok terlempar atau terbanting roboh.
"Mundur semua!"
Bu Leng Ci berteriak.
Karena kakak angkatnya tidak ada, maka boleh dibilang dialah yang mewakilinya.
Melihat ada orang-orang luar datang mengacau Kwi-eng-pang, tentu saja dia marah.
Para anak buah Kwi-eng-pang segera mundur ketika melihat munculnya Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci dan Giok-hong-cu dan timbul kembali harapan mereka karena tadi mereka benar-benar dibikin repot oleh tiga orang tamu yang lihai itu.
Sekali menggerakkan kakinya, Bu Leng Ci sudah berkelebat dan berdiri di depan tiga orang itu.
Si Kakek tinggi kurus dan yang mukanya seperti orang mengantuk saking sipitnya kedua matanya, sejenak memandang wanita itu penuh selidik dan melihat pedang panjang melengkung yang tergantung di pinggang Bu Leng Ci, dia menjura sambil bertanya.
"Apakah aku berhadapan dengan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?"
"Kalau sudah tahu mengapa kalian berani main gila dan mengacau di sini? Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Bu Leng Ci tidak segera turun tangan karena dia tadi telah melihat gerakan mereka, terutama Si Tinggi Kurus ini dan maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai.
"Maaf, aku tidak mempunyai urusan denganmu, Siang-tok Mo-li. Aku bernama Tio Hok Gwan dan ini kedua orang temanku Song Kin dan Kwi Siang Han, kami hanya melaksanaken tugas mencari sesuatu, maka kami datang untuk menemui Kwi-eng-pangcu dan menanyakan tentang benda yang kami cari itu. Sayang bahwa Kwi-eng-pangcu tidak berada di sini dan anak buahnya agaknya ingin mencoba-coba kami!"
"Kalian utusan siapa?"
"Utusan Panglima Besar The Hoo..."
"Hemm, kalau begitu engkaukah yang berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati)?"
"Benar."
"Dan yang kaucari itu, bukankah bokor emas milik The-ciangkun yang hilang?"
Tio Hok Gwan kelihatan kaget dan curiga.
"Kau tahu...?"
"Siapa yang tidak mendengar tentang itu? Engkau percuma saja mencari di sini, dan kedatanganmu ini menunjukkan bahwa engkau tidak memandang kepada kami, mengira kami mencuri bokor itu. Hemm, orang she Tio, apa kaukira kami takut kepadamu? Majulah, aku ingin melihat sampai di mana kebenaran julukanmu itu!"
Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan mengerutkan alisnya.
Dia tidak ingin bermusuhan dengan para datuk sesat dan dia tahu bahwa wanita yang masih cantik ini adalah seorang di antara lima datuk kaum sesat.
Akan tetapi, sebagai seorang tokoh besar dunia kang-ouw, terutama sekali sebagai seorang pengawal Panglima Besar The Hoo yang tentu saja mempertahankan nama dan kehormatannya, dia pun tidak mungkin menolak tantangan orang karena hal itu akan merendahkan namanya sendiri.
"Dukk!"
Dia menangkis dan keduanya terkejut.
Bu Leng Ci merasa betapa lengan yang menangkisnya itu kokoh kuat seperti baja sedangkan Tio Hok Gwan merasa betapa lengan wanita itu berubah lunak ketika ditangkis, tanda bahwa wanita itu telah memiliki tenaga sakti yang kuat, dan tadi menghadapi kckuatannya dengan tenaga lemas sehingga lengan itu tidak terasa nyeri atau terluka.
"Siang-tok Mo-li, aku hanya menjadi utusan mencari keterangan tentang bokor. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Akan tetapi kalau kau menantang, silakan, mau satu lawan satu atau mau mengeroyok!"
Tio Hok Gwan adalah seorang tokoh besar yang sudah mempunyai banyak sekali pengalaman, maka biarpun dia tidak pandai bicara dan wataknya pendiam, sekali mengeluarkan suara tentu ada hasilnya!
Dia tadi sengaja menantang untuk dikeroyok dan tentu saja hal ini menyinggung perasaan Bu Leng Ci sebagai seorang datuk!
Maka dengan muka merah wanita itu membentak.
"Manusia sombong! Perlu apa mengeroyokmu? Kedua tanganku sudah cukup untuk membunuhmu!"
Bentakan ini ditutup dengan serangannya yang dahsyat, kedua lengannya meluncur seperti dua ekor ular, yang kiri menusuk mata lawan, yang kanan mencengkeram ke arah pusar, sedangkan kepalanya digerakkan dan rambutnya yang panjang itu menyambar pula ke arah leher!
"Hemm...
perempuan ganas!"
Tio Hok Gwan berseru, memangkis kedua tangan lawan dan sambil mengelak ke samping dia cepat menggunakan tangan yang baru saja menangkis untuk menyambar rambut hitam itu.
Akan tetapi Bu Leng Ci sudah cepat menarik kembali rambutnya.
Terjadilah pertandingan yang amat hebat antara kedua orang tokoh itu.
Semua pukulan dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang, gerakannya cepat bukan main dan pukulan itu mengeluarkan angin mendesir, akan tetapi selalu dapat dielakkan atau ditangkis dengan kecepatan kilat pula.
Mereka saling serang dan sukar dikatakan siapa yang lebih unggul karena Bu Leng Ci juga membalas setiap serangan lawan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
Diam-diam Yo Bi Kiok menonton dengan hati kagum terhadap ilmu kepandaian Si Pengantuk itu.
Gerakannya demikian mantap dan dari setiap pertemuan lengan, dia dapat melihat dengan hati kaget bahwa subonya masih kalah setingkat dalam hal kekuatan sin-kang melawan kakek itu!
Para anak buah Kwi-eng-pang tidak ada yang berani bergerak dan mereka memandang dengan mata kabur dan kepala pening karena gerakan kedua orang itu bagi mereka terlalu cepat untuk dapat diikuti oleh pandang mata.
Juga kedua orang pembantu Tio Hok Gwan tidak berani bergerak, hanya menonton dengan hati tegang.
Pertandingan itu benar-benar amat menegangkan dan kedua pihak maklum bahwa tingkat mereka tidak banyak selisihnya, sungguhpun gaya limu silat mereka jauh sekali bedanya, seperti bumi dan langit.
Hanya bedanya, kalau Tio Hok Gwan sebagai seorang gagah menganggap pertandingan itu semata-mata untuk mengukur kepandaian, sebaliknya Bu Leng Ci setiap kali menyerang didasari niat membunuh sehingga hanya jurus-jurus maut saja yang dia keluarkan.
"Plak-plak-desss... aihhh...!"
Pertemuan dua pasang tangan yang bertubi-tubi itu akhirnya membuktikan bahwa tenaga sin-kang Tio Hok Gwan memang lebih kuat.
Bu Leng Ci menjerit ketika tubuhnya terlempar ke belakang.
Dari mulut wanita ini keluar darah yang mengalir dari ujung bibir.
"Singgg...!"
Tampak sinar berkilat ketika pedang samurai telah dicabutnya dan kini dengan kedua tangan memegang gagang pedang panjang itu, Bu Leng Ci menerjang sambil memekik nyaring mengerikan.
"Haaiiittt...!"
Terpaksa Tio Hok Gwan meloncat amat cepatnya menggunakan gin-kang untuk menyelamatkan diri dari pedang samurai yang menyambar-nyambar ganas itu.
Ketika melihat betapa lawannya yang galak dan marah sekali itu mengejarnya dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, Tio Hok Gwan cepat melolos sabuknya.
Kelihatannya seperti sabuk, akan tetapi sebetuinya bukan sembarang sabuk, karena itu adalah sebuah senjata joan-pian (ruyung lemas atau semacam pecut) yang terbuat dari baja biru yang amat kuat!
Pengawal Panglima Besar The Hoo ini mengikuti panglima sakti itu berlayar mengelilingi dunia menjelajah ke negeri-negeri asing di selatan dan barat dan dia pandai memainkan segala macam senjata.
Joan-pian itu didapatkannya ketika dia mengikuti rombongan pahglima besar menjelajah ke negeri Sailan dan menjadi sebuah di antara senjata yang disenanginya karena selain dapat dipergunakan dengan baiknya, juga dapat dibawa dengan mudah dan tidak kentara karena dililitkan di pinggang seperti sebuah sabuk!
"Trang-trang-cring...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika berkali-kali samurai itu tertangkis oleh joan-pian di tangan Tio Hok Gwan.
Biarpun pendekar pengantuk itu selalu dapat menangkis, namun dia membarengi dengan elakan karena joan-piannya masih kurang kuat menangkis samurai yang gerakannya amat kuat itu.
Dan Bu Leng Ci memang seorang ahli bermain samurai.
Kepandaian dari bekas suaminya yang tua, seorang pendekar samurai kenamaan di Jepang telah diwarisinya dan samurai di tangannya berkelebat ke sana-sini amat mengerikan, seperti halilintar menyambar-nyambar di angkasa.
Namun Tio Hok Gwan yang sudah pernah beberapa kali bertanding melawan jagoan samurai Jepang, sudah mengenal sifat ilmu pedang dari Jepang itu, maka dia dapat mengimbanginya dengan permainan joan-piannya yang lihai.
Bahkan kalau senjatanya itu kalah kuat dan kalah berat, dia dapat menutup kerugiannya ini dengan kemenangan dalam kecepatan.
"Tringgg... tringg...!"
Cepat sekali pertemuan senjata yang disusul berkelebatnya samurai dan joan-pian itu sehingga sukar diikuti pandang mata.
Tubuh Tio Hok Gwan terhuyung ke belakang sedangkan tubuh Bu Leng Ci terlempar dan terbanting miring, akan tetapi wanita ini dapat memcelat bangun kembali, Mukanya agak pucat dan darah yang mengalir dari mulutnya lebih banyak lagi.
Adapun Tio Hak Gwah yang terluka pundaknya oleh ujung samurai, cepat merobek ujung baju dan membalutnya dibantu oleh Song Kin.
Lukanya hanya luka kulit yang ringan saja, akan tetapi Bu Leng Ci mengalami luka yang lebih berat, karena selain tadi sebelum menggunakan senjata dia telah terkena hantaman angin pukulan lawan, baru saja pinggangnya kena disambar joan-pian sehingga di dalam dadanya terasa sakit, tanda bahwa sin-kang yang ia pergunakan untuk melindungi tubuh masih kalah kuat sehingga membalik dan melukai dirinya sendiri.
Maklumlah Bu Leng Ci bahwa kalau dilanjutkan, dia tidak akan menang.
Adapun Tio Hok Gwan yang memang tidak ingin menanam permusuhan, sudah menjura dan berkata.
"Kepandaian Siang-tok Mo-li memang hebat dan namamu bukan kosong belaka. Aku orang she Tio merasa kagum. Harap kau suka berbaik hati untuk memberi tahu tentang bokor agar aku mempunyai bahan untuk dilaporkan kepada The-tai-ciangkun."
"Ban-kin-kwi, apakah kau masih tidak percaya omonganku? Aku sudah mengatakan bahwa kami tidak tahu-menahu tentang bokor emas yang hilang, apalagi melihatnya! Kalau kau tidak percaya, mari kita lanjutkan pertempuran sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!"
Tio Hok Gwan menjura.
"Kalau begitu, terima kasih dan selamat berpisah."
Ia inemberi isyarat kepada dua orang pembantunya, lalu dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu, menuiu ke perahu kecil mereka di pantai pulau.
Kemudian mereka mendayung perahu meninggalkan pulau itu menuju ke darat.
Bu Leng Ci sambil menahan rasa nyeri di dadanya lalu memanggil para murid kepala dan lima orang pelayan Kwi-eng Niocu dan berkata.
"Pemuda yang kalian tawan itu adalah seorang yang amat penting sekali bagi Pangcu dan aku. Karena itu, untuk menjaga agar dia tidak sampai lolos dan ditolong orang, selagi Enci Ang Hwi Nio tidak berada di rumah, aku yang akan menjaganya dan membawanya ke pulau. Hayo bawa aku kepadanya!"
Tentu saja para murid dan anak buah Kwi-eng-pang tidak ada yang berani membantah.
Mereka percaya penuh kepada wanita iblis ini, apalagi baru saja mereka melihat sendiri betapa wanita ini mati-matian membela Kwi-eng-pang ketika datang lawan yang amat lihai tadi.
Segera guru dan murid ini dibawa ke kamar tahanan di mana Kun Liong masih rebah telentang dalam keadaan lemah dan setengah pingsan.
Bu Leng Ci cepat menotok beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, kemudian mengempit tubuh yang selain tertotok juga sudah dibelenggu kaki tangannya itu dan bersama muridnya dia membawa Kun Liong ke atas perahu dan mendayung perahu kembali ke pulaunya sendiri.
Ketika Kun Liong siuman, ia mengeluh dan membuka matanya.
Dia masih ingat betapa tadi dia ditawan oleh lima orang wanita pelayan Kwi-eng-pangcu yang cantik.
Kemudian dia setengah ingat dengan samar-samar betapa dia dibawa orang naik perahu.
Kini tahu-tahu dia telah rebah di atas sebuah dipan kayu dan di dalam kamar itu duduk dua orang wanita memandangnya penuh perhatian.
Kun Liong mengangkat muka memandang wajah dua orang itu dan diam-diam dia mengeluh ketika mengenal wajah wanita pendek yang tersenyum mengejek kepadanya itu.
Wajah Siang-tok Mo-li!
Dan di sebelah iblis betina itu duduk seorang dara cantik yang bersikap dingin.
"Mengapa aku dibawa ke sini...?"
Dia berkata dan menahan ingin memanggil nama Yo Bi Kiok.
Tentu saja dia mengenal Bi Kiok dan hampir dia memanggilnya kalau saja dia tidak ingat bahwa dara itu bersikap tidak mengenalnya di depan gurunya yang kejam.
Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika dia mendengar suara Bi Kiok berkata kepadanya.
"Yap Kun Liong, Subo telah mengenalmu sebagai anak yang menemukan bokor emas. Lebih baik engkau segera mengatakan di mana kau simpan bokor itu agar Subo dapat mempertimbangkan keampunan bagi nyawamu!"
Berkerut alis Kun Liong.
Hemmm, dara ini telah berubah banyak sekali, pikirnya.
Wajahnya memang makin cantik menarik, tubuhnya makin padat dan matang setelah dewasa, akan tetapi wataknya sudah berubah.
Dia tidak mengharapkan dara ini membantunya atau menolongnya.
Satu kali Bi Kiok menolongnya sudah cukup baginya dan tidak mengharapkan terus-menerus ditolong.
Akan tetapi, bukan karena dara itu tidak menolongnya yang membuat hatinya kecewa, melainkan melihat perubahan itu.
Agaknya Bi Kiok bukan hanya mewarisi kepandaian gurunya, akan tetapi juga wataknya.
Siapa lagi kalau bukan dara ini yang membuka rahasianya tentang bokor emas itu kepade Bu Leng Ci?
Hanya Bi Kiok seoranglah yang tahu bahwa dia yang menemukan bokor emas dan yang mungkin melarikan bokor itu ketika Phoa Sek It, bekas Pengawal Panglima The Hoo, dibunuh oleh Bu Leng Ci.
Kun Liong tersenyum lebar.
"Bi Kiok, engkau makin cantik dan manis saja."
"Ihhh...!!"
Bu Leng Ci membentak dan memandang penuh kebencian.
Wajah Yo Bi Kiok menjadi merah sekali dan sekilas tampak oleh Kun Liong sepasang hibir itu tergetar.
"Kun Liong, harap kau jangan main-main. Harap kau mengingat akan persahabatan kita dan mengingat pula bahwa kau telah menjadi tawanan Subo. Katakan saja di mana adanya bokor itu atau bawa kami ke sana..."
"Katakan saja, kalau tidak kuhancurkan kepalamu!"
Bu Leng Ci cepat memotong usul Bi Kiok agar Kun Liong mengantar mereka ke tempat di mana bokor disembunyikan.
Sedikit sinar mata Kun Liong bertemu dengan pandang mata Bi Kiok, dan ini cukup bagi Kun Liong.
Hampir dia bersorak girang!
Kiranya Bi Kiok sama sekali tidak berubah.
Masih Bi Kiok yang dulu, biarpun kini lebih cantik manis, lebih dewasa dan kelihatan dingin pendiam, namun hatinya masih seperti dulu.
Mengertilah dia sekarang mengapa dara itu membujuknya.
Kiranya dara itu melihat bahwa dia berada di dalam cengkeraman Bu Leng Ci, dan dia tentu akan dibunuh, maka dara itu mengemukakan persoalan bokor untuk mencegah Bu Leng Ci membunuhnya, dan untuk memberi kesempatan kepadanya untuk dapat membebaskan diri, maka dara itu mengusulkan agar dia membawa mereka ke tempat bokor disembunyikan.
Jelas semuanya!
Dalam keadaan tertotok dan terbelenggu seperti itu, memang tak mungkin dia melepaskan diri.
Akan tetapi kalau sudah dikeluarkan dari pulau, agaknya akan muncul kesempatan!
Ingin dia, kalau bisa, bangkit merangkul dan mencium gadis itu!
Kun Liong tertawa makin keras dan dengan suara sengaja dibuat bernada mengejek dia berkata.
"Bi Kiok, biarpun kau cantik manis dan bujukanmu halus merayu, biarpun gurumu bengis dan kejam, jangan kira bahwa bujukanmu dan ancaman Siang-tok Mo-li akan dapat membujukku atau menakutkan aku!"
"Kun Liong...!"
Bi Kiok berseru, benar-benar kaget.
"Bedebah, apa kau minta kusiksa dulu?"
Bu Leng Ci sudah bangkit menghampiri.
"Ha-ha-ha-ha! Kiranya bokor berada di tangan bocah gundul ini, pantas saja kau bergegas memindahkannya dari tangan para pelayan Kwi-eng Niocu!"
Tiba-tiba terdengar suara halus dan tahu-tahu, seperti hantu saja layaknya, Di situ telah muncul seorang kakek tinggi kurus dan kakek itu lalu terbatuk-batuk.
Melihat kakek ini, Kun Liong terkejut sekali.
Itulah kakek yang dia jumpai dalam badai di hutan semalam!
Kakek di dekat api unggun yang bernyanyi tentang kematian dan yang kemudian hendak membunuhnya.
Kakek yang aneh dan amat lihai, yang dianggapnya orang gila!
Kiranya kakek itu terus mengikutinya dan agaknya tahu akan semua pengalamannya, betapa dia ditawan pelayan-pelayan Kwi-eng Niocu dan betapa dibawa ke pulau ini oleh Bu Leng Ci, semua telah diketahuinya karena agaknya kakek itu memang terus mengikutinya!
Sementara itu, ketika Bu Leng Ci menoleh dan melihat kakek di ambang pintu kamar itu, seketika wajahnya berubah pucat.
"Toat Beng Hoatsu...!"
Teriaknya dan tangannya meraba gagang samurai.
Mendengar disebutnya nama ini, Kun Liong makin terkejut.
Dia sudah mendengar nama ini, nama datuk nomor satu dari sekalian datuk kaum sesat!
Kiranya kakek yang dianggapnya orang gila itu adalah datuk nomor satu!
Maka dia memandang penuh kekhawatiran karena dia maklum bahwa sebagai datuk nomor satu, tentu kakek itu memiliki keanehan dan kekejaman nomor satu pula!
"Bagaimana kau bisa masuk ke sini...?"
Bu Leng Ci bertanya dan matanya mengerling ke luar pintu.
Ke mana perginya para pelayannya?
"Ha-ha-ha, kau mencari ini?"
Tangan kakek itu merogoh jubahnya dan melemparkan benda hitam ke atas lantai.
Benda itu berserakan dan Kun Liong menelan ludahnya saking ngeri dan tegang ketika melihat bahwa benda-benda itu adalah rambut kepala manusia, agaknya rambut wanita dan rambut itu masih melekat pada kulit kepala yang berdarah.
Agaknya rambut-rambut itu dijebol berikut kulit kepalanya dari kepala tujuh orang wanita!
(Lanjut ke
Jilid 19) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19
"Ihhh...!"
Bi Kiok sendiri yang sudah memiliki ketabahan luar biasa menjadi pucat dan ngeri membayangkan betapa tujuh orang pelayan wanita itu telah mengalami kematian yang amat mengerikan, dijebol rambutnya berikut kulit kepala sampai terkupas dari kepalanya.
"Singggg...!"
Bu Leng Ci mencabut samurainya.
"Toat-beng Hoat-su, mengapa kau melakukan ini? Apakah antara kita sekarang ada pertentangan dan menjadi musuh?"
"Ha-ha-ha, sama sekali tidak, Siang--tok Mo-li. Terserah kepadamu... heh-heh, terserah kepadamu mau berkawan atau berlawan dengan aku. Aku hanya menghendaki agar bocah gundul ini bersama bokornya diserahkan kepadaku, barulah kau pantas kusebut kawan."
"Keparat! Singggg...!"
Samurai itu menyambar, akan tetapi dengan amat mudahnya Toat-beng Hoat-su mengelak.
"Hemm, sabar dan tenanglah, Tio Hok Gwan tadi terlalu berat dan lihai bagimu, engkau sudah terluka parah, perlu apa melawanku?"
"Aku masih cukup kuat untuk melawan seribu orang macam engkau!"
Bu Leng Ci menyerang lagi dengan samurainya, akan tetapi karena dia memang sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya, ketika dia menggerakkan samurai dengan pengerahan sin-kang dan serangannya itu dielakkan, hampir saja dia terhuyung roboh.
"Toat-beng Hoat-su, akulah lawanmu!"
Tiba-tiba Bi Kiok menerjang dengan pedangnya.
"Subo, mengasolah!"
Serangan pedang di tangan Bi Kiok ini hebat sekali berdesing menyambar ke arah leher kakek itu.
Toat-beng Hoat-su terkejut dan maklum bahwa gadis itu ternyata lebih lihai daripada Bu Leng Ci yang sudah terluka parah.
"Hemm, siapa kau?"
"Orang menyebutku Giok-hong-cu!"
Jawab Bi Kiok sambil menerjang lagi.
"Ha-ha-ha, kiranya murid Bu Leng Ci? Gurumu saja tidak mampu menandingiku, apalagi engkau? Ha-ha, bocah kurang ajar macam engkau harus dihajar!"
Ketika pedang Bi Kiok menusuk dada, gadis itu girang sekali melihat betapa gerakan mengelak dari kakek itu kurang cepat sehingga pedangnya masih mengenai pinggir dada.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba jubah itu terlepas dari tubuh Toat-beng Hoat-su dan sekali kakek itu menggerakkan jubah, pedangnya yang tadi menusuk jubah itu dipaksa terlepas dari tangannya!
Inilah kelihaian Toat-beng Hoat-su yang memang tidak pernah menggunakan senjata kecuali jubahnya.
Jubahnya merupakan senjata yang amat ampuh, bahkan selagi jubahnya dipakai, dia dapat menipu Bi Kiok yang kalah pengalaman itu.
Pedang gadis itu tadi memang sengaja "diterimanya"
Dengan jubahnya yang tertusuk dan sekaligus jubahnya itu dipergunakan untuk merampas pedang!
"Aihhh...!"
Bi Kiok berseru kaget.
Pada saat itu, Bu Leng Ci sudah menyerang lagi dengan samurainya.
Akan tetapi, jubah itu menyambar, menyambut samurai dan dari balik jubah, tangan Toat-beng Hoat-su memukul.
"Dukkk!"
Bu Leng Ci yang sudah terluka dan gerakannya menjadi lambat itu terpukul lehernya dan dia roboh tak dapat bangkit kembali, hanya memandang kepada kakek itu dengan mata mendelik penuh kebencian.
Melihat gurunya roboh, Bi Kiok marah dan berlaku nekat, menyerang dengan tangan kosong.
Akan tetapi serangannya disambut oleh sambaran jubah yang mendatangkan angin keras dan gadis itu terlempar dan terbanting ke kanan.
"Ha-ha-ha, kau bocah nakal, mukamu terlalu cantik untuk menjadi murid seorang datuk, harus dibikin buruk!"
Dengan tangan kirinya Toat-beng Hoat-su memegang pedang rampasan tadi dan melangkah maju untuk mcrusak muka Bi Mok.
Gadis itu sudah tidak berdaya, hanya mengangkat kedua tangan melindungi mukanya.
"Tahan, Toat-beng Hoat-su!"
Kun Liong berteriak dari tempat dia berbaring.
"Engkau menghendaki bokor emas pusaka Panglima The Hoo, bukan?"
Pedang itu berhenti bergerak dan Si Kakek menoleh ke arahnya.
"Kalau kau membunuh atau melukai nona itu, biar aku kaupukul mampus, aku tidak akan sudi memberitabukan tentang bokor. Bokor itu kusimpan dan kau akan kuantar ke tempat itu kalau kau membebaskan nona itu!"
Kakek itu tertawa bergelak.
"Huah-ha-ha-ha! Pemuda gundul! Kau jatuh cinta kepada dara ini, ya?"
Muka Kun Liong menjadi merah.
"Tak usah banyak cakap. Bebaskan dia dan kau akan kuantar ke tempat penyimpanan bokor. Bagaimana?"
Kakek itu menggerakkan tangan kirinya, pedang rampasan meluncur dan menancap di atas lantai, hanya setengah jengkal selisihnya dari pipi Bi Kiok!
"Huh, kau masih beruntung, bocah kurang ajar.
Lain kali, akan kubuntungi hidungmu dan dua daun telingamu, dan hendak kulihat, apa yang akan dapat dilakukan oleh gurumu, biarpun dia dalam keadaan tidak terluka."
Kakek itu lalu menyambar tubuh Kun Liong, dikempitnya dan dia hendak pergi dari situ.
"Toat-beng Hoat-su, manusia pengecut!"`Bu Leng Ci berteriak marah.
"Kau datang pada saat aku terluka! Coba kau datang lagi kelak kalau aku sudah sembuh!"
Kakek itu menoleh dan tertawa.
"Heh-heh-heh, boleh saja!"
"Kau telah mengkhianati kerja sama lima datuk!"
Bu Leng Ci yang merasa marah dan kecewa sekali melihat Kun Liong dirampas, menyerang lagi dengan kata-kata penuh kebencian.
"Huh! Siapa sudi melanjutkan persekutuan busuk itu? Pek-lian-kauw membiarkan dirinya diperalat oleh anjing-anjing asing bermata biru. Siapa sudi? Boleh saja aku melawan pemerintah, akan tetapi aku tidak sudi menjadi pengkhianat bangsa dan mengekor kepada orang-orang asing!"
Setelah berkata demikian, kakek itu meloncat dan lenyap dari situ.
"Subo...!"
Bi Kiok menghampiri gurunya dan membantu gurunya bangun.
"Hemm... sayang aku terluka dan harus menyembuhkan lukaku lebih dulu, Si Keparat Thio Hok Gwan yang menjadi gara-gara! Kalau aku tidak luka, andaikata tikus tua itu berhasil miarikan Kun Liong, aku masih dapat membayanginya."
"Teecu rasa tempat itu tentulah di sekitar daerah Sungai Huang-ho. Teecu akan mencoba untuk menyelidiki dan membayanginya."
"Hemmm, kau bukan lawannya. Biarlah kita pergi bersama dan sambil melakukan perjalanah aku mengobati lukaku. Perjalanan ke Sungai Huang-ho jauh dan memakan waktu lama, masih banyak waktu bagiku untuk menyembuhkan diri dan turun tangan kalau tikus tua itu benar-benar dapat menemukan tempat persembunyian bokor itu."
Dengan dibimbing oleh muridnya, Siang-tok Mo-li meninggalkan pulau itu dan mereka lalu menggunakan perahu untuk mendarat.
Tentu saja kakek itu sudah tidak nampak lagi dan sebelum meninggalkan Telaga Kwi-ouw, Bu Leng Ci singgah di pulau besar dan menyuruh murid-murid kepala Kwi-eng-pang untuk mengurus mayat-mayat tujuh orang pelayannya yang semua tewas dengan kepala terkupas bersih, juga minta agar mereka menyampaikan kepada Ketua Kwi-eng-pang kalau Kwi-eng Niocu pulang bahwa tawanan itu telah dirampas dan dibawa pergi oleh Toat-beng Hoat-su.
Mereka berjalan menuruni bukit itu, berdampingan.
Kelihatan seperti dua orang sahabat baik, atau lebih pantas lagi seorang kakek dengan cucunya yang bergegas pulang ke kampungnya, kalau saja orang tidak melihat kedua tangan pemuda gundul itu terbelenggu!
Melakukan perjalanan berhari-hari di samping Toat-beng Hoat-su amat melelahkan tubuh dan hati Kun Liong.
Dia tidak kekurangan makan karena setiap kakek itu berhenti makan atau minum, dia selalu mendapat bagiannya.
Akan tetapi kakek itu berwatak aneh bukan main, kadang-kadang sampai sehari penuh tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata dan dia sama sekali tidak dipedulikan.
Hal ini amat mengesalkan hatinya.
Dia tahu bahwa kalau kakek ini kumat gilanya, kemungkinan besar dia akan dibunuh begitu saia tanpa sebab!
Bukan sekali-kali karena dia merasa takut akan hal ini, hanya dia tahu bahwa masih banyak hal yang harus dia lakukan dalam hidupnya sebelum mati konyol begitu saja.
Ayah bundanya belum diketahuinya berada di mana.
Tugas yang diberikan oleh mendiang gurunya, Tiang Pek Ho-siang, untuk mendapatkan kembali dua buah kitab Siauw-lim-pai yang hilang belum dia penuhi.
Karena itu, dia harus berpikir seratus kali sebelum memancing bahaya kematian di tangan kakek aneh, datuk nomor satu kaum sesat itu!
"Toat-beng Hoat-su, engkau adalah datuk nomor satu yang terkenal, bahkan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang memiliki ilmu kepandaian dahsyat itu pun sama sekali bukan tandinganmu.
Akan tetapi, mengapa kau sekarang membawaku dengan kedua tanganku terbelenggu?"
Akhirnya Kun Liong tidak mampu menahan diri untuk berdiam lagi karena melakukan perjalanan ada kawannya akan tetapi bersunyi seperti ini amat melelahkan tubuh dan mengesalkan hati.
Kakek itu melirik kepadanya, akan tetapi tidak menjawab, dan mempercepat langkahnya.
Terpaksa Kun Liong juga mempercepat langkahnya, karena dia tidak mau ditampar lagi kepalanya seperti kemarin dulu ketika dia mogok berjalan, kepalanya ditampar dua kali.
Tamparan itu tidak terlalu menyakitkan, akan tetapi batinnya yang sakit.
Apalagi kalau dia mengingat betapa kepalanya itu pernah diciumi oleh seorang gadis!
Kepalanya amat berharga, tentu dia tidak rela kalau sekarang dijadikan sasaran tamparan!
"Toat-beng Hoat-su,"
Katanya lagi degan nekat.
"Engkau mengingatkan aku akan Kongkongku (Kakekku)."
Kembali kakek itu melirik tanpa menjawab.
"Aku tidak pernah mengenal kakekku, baik kakek dalam (ayah dari ayah) atau kakek luar (ayah dari ibu), akan tetapi kalau mereka itu masih hidup, tentu setua engkau. Berjalan denganmu, aku merasa seperti berjalan dengan seorang kakekku."
Karena Toat-beng Hoat-su sama sekali tidak menjawab, akan tetapi kelihatannya memperhatikan, Kun Liong bertanya lagi.
"Apakah engkau tidak mempunyai cucu? Anak? Atau keluarga seorang pun? Apakah engkau hidup-seorang diri, sebatang kara di dunia yang ramai penuh manusia ini?"
Tiba-tiba kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh memandang Kun Liong.
Pemuda itu siap untuk mengelak dan akan melawan kalau dia ditampar lagi.
Biarpun kedua pergelangannya dibelenggu menjadi satu, akan tetapi kalau hanya untuk membela diri saja dia masih sanggup.
Adanya dia tidak lari dan tidak menyerang kakek itu karena memang dia sudah berjanji membawa kakek itu ke tempat dia menyimpan bokor!
"Duduk!"
Kakek itu berkata dengan nada memerintah.
Kun Liong mengangkat kedua alisnya, menggerakkan pundak dan duduk di atas sebuah batu besar.
Kakek itu pun duduk di depannya, menghapus peluh karena hari amat panas, kemudian berkata.
"Kau ingin sekali mendengar riwayatku? Nah, dengarlah baik-baik."
Dengan suara lambat dan parau berceritalah kakek itu.
"Dahulu aku pun seorang yang mempunyai nama, mempunyai tiga orang anak, seorang isteri yang tercinta, hidup terhormat sebagai seorang pedagang ikan di sebuah kota nelayan di tepi Sungai Huang-ho. Kepandaian silatku, biarpun tidak amat tinggi, membuat aku sekeluarga hidup aman tenteram. Akan tetapi, banjir besar melanda kotaku, dan aku kehilangan semua keluargaku! Aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa tiga orang anak-anakku dan isteriku dihanyutkan air, dihempaskan, aku mendengar mereka menjerit-jerit minta tolong, melihat mereka mengangkat tangan hendak meraihku. Akan tetapi aku sendiri tidak berdaya sama sekali menghadapi kekuatan air bah yang dahsyat. Aku kehilangan segala-galanya. Kehilangan kebahagiaanku, yang lenyap bersama hilangnya keluarga dan seluruh milikku. Aku kehilangan pula kepercayaan kepada Thian, kepada keadilan, dan aku dalam usia tiga puluh tahun menjadi gila. Aku merantau sampai ke luar negeri, mempelajari berbagai ilmu, dan aku membenci semua manusia."
Kun Liong mendengarkan dengan mata terbelalak.
Timbul rasa iba di dalam hatinya terhadap kakek tua renta ini.
"Akan tetapi, Locianpwe, mengapa membenci semua manusia? Tidak ada secrang pun manusia bersalah dalam malapetaka yang menghancurkan kebahagiaanmu itu. Yang bersalah adalah air banjir, mengapa kau membenci manusia?"
"Habis, apakah aku harus membenci dan membasmi air banjir? Mana aku bisa melawan alam? Aku benci setiap manusia, membenci kebabagiaan meraka, membenci keadaan mereka. Aku membenci mereka tanpa pilih bulu, seperti bencinya air banjir kepada manusia, siapa pun diterjangnya. Maka siapa pun yang menghalang di depanku, kuterjang dan kubunuh!"
Kun Liong bergidik.
Jelas bahwa malapetaka itu telah merusak jiwa orang ini, membuatnya menjadi gila dan sampai sekarang pun masih gila, biarpun ilmu kepandaiannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
"Jadi kau juga benci kepadaku, Locianpwe?"
"Kau juga manusia!"
"Karena bencimu itukah maka kedua tanganku kaubelenggu?"
"Hemmm, ketika malam itu kau menangkisku, kau memiliki kepandaian lumayan. Kalau kulepaskan belenggu, tentu kau membikin repot aku, tentu kau hendak melarikan diri sehingga aku harus lebih memperhatikanmu. Aku tidak mau repot!"
Kun Liong bangkit berdiri dan memandang kakek itu dengen mata terbelalak penuh kemarahan.
"Locianpwe, kau menganggap aku ini orang macam apa? Aku sudah berjanji membawamu ke tempat bokor yang kusembunyikan, dan kau sudah membebaskan Bi Kiok. Lebih baik mati bagiku daripada melanggar janjiku. Mengerti? Sekarang tak peduli kau saja membelenggu aku atau tidak, mau membunuh aku atau tidak, bagiku sama saja kerena ternyata engkau seorang yang tidak mengenal artinya kemurnian sebuah janji!"
Kakek itu memandang penuh heran, lalu menggeleng-geleng kepalanya.
"Kau memang aneh, orang muda yang aneh sekali, aneh dan berbahaya. Kalau sudah selesai urusan bokor ini, aku harus membunuhmu!"
Kun Liong menggerakkan hidungnya.
"Huh, kau kira begitu mudah, Toat-beng Hoat-su? Biarpun kedua tanganku terbelenggu, belum tentu kau akan dapat membunuhku dengan mudah saja!"
Kembali kakek itu terbelalak dan tangan kanannya sudah bergerak hendak menampar.
Akan tetapi melihat pemuda itu berdiri tegak memandangnya dengan sepasang mata tak berkedip, dengan sikap menantang, dia menurunkan kembali tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aneh...! Luar biasa...! Biar disambar geledek aku kalau pernah bertemu dengan orang muda seperti engkau!"
"Dan aku pun belum pernah melihat seorang kakek yang amat patut dikasihani seperti engkau! Kedukaan membuat kau menjadi gila dan jahat, masih engkau murka akan harta benda ingin memperebutkan bokor. Hemm, kau lupa diri, lupa usia, untuk apakah semua kepandaianmu, nama besarmu, dan segala macam pusaka? Tentu takkan dapat mencegah kematian karena usia tua!"
"Cerewet, hayo jalan lagi!"
Mereka berjalan lagi tanpa berkata-kata dan Kun Liong terbenam dalam lamunan.
Percakapan tadi amat berguna baginya, membuka matanya melihat sesuatu yang ganjil dalam hidup manusia.
Mengapa manusia menderita begitu hebat setelah ditinggal oleh semua miliknya, keluarganya, dan semua yang dicintanya di dunia ini?
Demikian hebat deritanya sampai gila seperti kakek ini, dan lebih celaka lagi, kegilaan karena duka kehilangan itu membuatnya menjadi jahat, pembenci manusia dan menjadikannya datuk nomor satu di dunia?
Dia juga sebatang kara.
Andaikata dia benar-benar kehilangan ayah bundanya, kehilangan segala-galanya, apakah dia pun akan merasa demikian berduka dan menderita seperti kakek ini?
Mengapa mesti demikian?
Jelas sekarang tampak olehnya bahwa ketergantungan akan sesuatu, menimbulkan derita kalau sesuatu itu direnggutkan darinya.
Dalam hidup, tidak boleh mengikatkan diri kepada sesuatu, baik itu orang lain berupa orang tua, keluarga, kekasih dan lain-lain maupun kepada benda, nama, kedudukan dan lain-lain.
Karena mengikatkan diri berarti membiarkan sesuatu itu, keluarga, benda, dan lain-lain, berakar di dalam dirinya.
Dan apabila tiba saatnya setuatu yang berakar itu tercabut, akar itu akan menimbulkan kerusakan dan penderitaan!
Jelas!
Bu Leng Ci sudah menyerangnya lagi dengan hebat, memaksa Toat-beng Hoat-su melayaninya sedangkan Bi Kiok sudah menggandeng tangan Kun Liong dan mereka berdua lari dari situ ke arah yang ditunjukkan oleh gadis itu.
Kun Liong hanya menurut saja.
Mereka lari ke pantai Huang-ho, daerah yang berbatu karang, kemudian Bi Kiok membawanya masuk ke sebuah guha di antara batu-batu karang.
"Kita menanti di sini..."
Gadis itu berbisik sambil terengah-engah.
Hatinya masih tegang karena tadi hampir saja dia celaka oleh jubah Toat-beng Hoat-su, kalau Kun Liong tidak menangkis jubah itu.
Kun Liong memandang kepadanya dan tersenyum.
"Bi Kiok yang manis, entah sudah berapa kali kau menolong nyawaku. Pertama, ketika kau menolongku di kuil dahulu itu pada waktu aku ditawan orang-orang Pek-lian-kauw. Kemudian, ketika aku ditawan oleh orang-orang Kwi-eng-pang, kau pun membawa gurumu untuk menolongku..."
"Hemm, bagaimana kau tahu?"
"Mudah saja, dengan menggunakan otak di dalam kepalaku ini. Dan sekarang, kau lagi-lagi menolongku. Eh, anak baik, mengapa kau begini baik kepadaku?"
Gadis itu mengerutkan alisnya, menunduk dan tiba-tiba dia meloncat bangkit dari duduknya di atas batu ketika melihat kedua tangan pemuda itu telah terbebas dari belenggu.
"Aihhh...! Kau sudah dapat mematahkan belenggu itu!"
Kun Liong mengangkat kedua tangannya ke atas dan tersenyum.
"Wah, aku lupa ketika menangkis jubah kakek siluman tadi sehingga aku mematahkan belenggu."
"Kun Liong...! Kau... kau ternyata lihai... kau memiliki kepandaian hebat. Aku sendiri takkan dapat mematahkan belenggu tali sutera hitam dari Subo itu, dan... dan tadi kau mampu menangkis hantaman jubah Toat-beng Hoat-su!"
Kun Liong memandang dan tersenyum.
Hebat dara ini, pikirnya.
Wajah Cia Giok Keng yang cantik jelita menonjol daya tariknya karena hidungnya, wajah Lim Hwi Sian membuatnya tergila-gila karena keindahan mulutnya, sedangkan wajah Yo Bi Kiok ini...
hemmm, sepasang matanya itulah yang membuat dia tak mampu mengalihkan pandangannya.
Mata itu...
demikian indah, bening, hidup!
Ataukah karena tarikan muka itu dingin sekali maka hanya matanya yang tampak hidup dan indah?
Entahlah, akan tetapi dia benar-benar senang sekali memandangi mata itu!
"Begitukah...?"
Komentarnya atas dugaan Bi Kiok.
"Akan tetapi, kenapa engkau tidak membebaskan diri dari tawanan kakek itu? Kenapa kau mandah saja dibawa pergi?"
"Karena, Nona yang baik, karena aku sudah berjanji kepadanya bahwa kalau kau dibebaskan, aku suka membawanya ke tempat bokor. Dan dia telah membebaskanmu!"
"Eh, kau aneh sekali...! Dan terutama sekali kepalamu, mengapa sampai sekarang gundul terus?"
"Dan kau cantik manis sekali! Terutama matamu, Bi Kiok!"
"Ceriwis!"
Bi Kiok berkata dan membungkam, alisnya berkerut dan matanya menyorotkan kemarahan.
Akan tetapi malah menambah manis dalam pandangan Kun Liong.
Kun Liong terus menatap mata yang indah itu, membuat Bi Kiok menjadi gelisah dan jengah, juga marah.
Dia sendiri merasa heran mengapa dia selalu ingin menolong pemuda gundul ini!
Apakah karena pengalaman mereka bersama ketika kakeknya terbunuh itu merupakan hal yang tak pernah dapat dilupakannya?
Ataukah karena pemuda ini menjadi kunci rahasia bokor emas yang diperebutkan?
"Ehh!
Kau...
kau Giok-hong-cu...?"
Tiba-tiba Kun Liong berseru ketika tanpa disengaja dia melihat hiasan rambut yang indah di kepala dara itu.
Dara itu mengerling kepadanya dan di balik kekagetannya, masih saja keindahan kerling itu berkesan di hati Kun Liong!
"Kalau benar mengapa?"
Kun Liong bangkit berdiri, alisnya berkerut matanya memandang tak senang, telunjuknya menuding ke arah hidung Bi Kiok ketika dia berkata.
"Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, mengapa engkau membunuh Thian Lee Hwesio?"
Bi Kiok menarik napas panjang.
"Hemm, engkau sudah tahu pula? Bukan aku pembunuhnya, Kun Liong. Aku hanya mengantar jenazahnya kepada Perusahaan Sam-to-piauw-kok di Lam-san-bun untuk membawa jenazah dalam peti itu ke Siauw-lim-si."
"Siapa menyuruhmu?"
"Siapa lagi kalau bukan Subo."
"Subomu Siang-tok Mo-li yang membunuhnya?"
Gadis itu menggeleng kepalanya.
"Bukan. Eh, Kun Liong. Mengapa engkau melibatkan diri dengan segala macam urusan yang tiada sangkut pautnya denganmu?"
"Urusan Siauw-lim-pai sama dengan urusanku sendiri!"
"Hemmm..."
Dara itu makin terheran.
"Kalau begitu, gundulmu itu ada hubungannya dengan engkau menjadi hwesio Siauw-lim-si?"
Kun Liong meringis dan meraba kepalanya.
"Sama sekali tidak, Bi Kiok, siapa yang membunuhnya dan mengapa?"
"Kaucari sendiri!"
Tiba-tiba terdengar seruan panjang dan nyaring, dari jauh.
"Bi Kiok...!"
Seruan itu disusul teriakan lain yang parau akan tetapi tidak kalah nyaringnya.
"Kun Liong...!"
Yang pertama adalah teriakan Siang-tok Mo-li, yang ke dua teriakan Toat-beng Hoat-su.
Mendengar namanya dipanggil, Kun Liong bangkit berdiri, akan tetapi tangannya dipegang dan ditarik oleh Bi Kiok.
Dia menoleh, kaget melihat tubuh dara itu menggigil, wajahnya pucat.
"Kau kenapa...?"
"Sssttt...!"
Bi Kiok berbisik dan menarik lengan Kun Liong masuk makin dalam di guha itu, sampai tidak kelihatan dari luar, kemudian dia berbisik.
"Kalau sampai Subo atau Toat-beng Hoat-su menemukan engkau, engkau akan celaka, Kun Liong."
"Aku...? Celaka...? Mengapa? Paling hebat mereka akan memaksaku menunjukkan tempat aku manyembunyikan bokor tua itu. Biar aku menjumpai mereka."
"Bodoh kau! Kau kira begitu mudah kau akan menyelamatkan diri? Sesudah seorang di antara mereka menemukan bokor, engkau akan dibunuh!"
"Heh? Mengapa? Tak mungkin!"
"Hemm, kau tidak tahu watak mereka. Kalau mereka menemukan bokor, engkau merupakan orang berbahaya karena engkau dapat memberitakan hal itu di luaran. Apakah kau kira percuma saja aku membujuk dan menipu Subo sendiri, kemudian dengan berani mati aku melarikan engkau ke sini selagi mereka saling bertempur?"
Kun Liong memandang dan sambil memegang kedua tangan dara itu, dia berseru dengan hati terharu.
"Aihhh... mengapa, Bi Kiok? Mengapa engkau selalu menolongku, sekali ini bahkan membahayakan dirimu sehdiri?"
"Bukan diriku sendiri, juga engkau. Kaukira kita akan selamat kalau seorang di antara mereka menemukan kita di sini?"
"Tapi..."
"Ssstttt...!"
Tangan Bi Kiok mendekap mulut Kun Liong dan sejenak mereka berdua tidak mengeluarkan suara.
"Bi Kiok...!"
Suara itu jelas suara Bu Leng Ci, kemudian terdengar wanita itu mengomel di depan guha.
"Ke mana bocah itu? Mungkinkah ia yang melarikan Kun Liong? Hemm..., mungkinkah dia terserang penyakit cinta? Celaka...!"
Kemudian terdengar langkah wanita itu yang amat ringan dari depan guha.
Dari jauh terdengar gema suara Toat-beng Hoat-su.
"Kun Liong...! Hayo lekas ke sini memenuhi janjimu! Tempat ini sudah terkepung tentara pemerintah, kalau kita tidak lekas pergi bisa celaka!"
Bi Kiok memegang lengan Kun Liong erat-erat, seolah-olah dia tidak menghendaki pemuda itu pergi.
Kemudian setelah menanti beberapa lama, keadaan menjadi sunyi di sekitar situ, akan tetapi dari jauh terdengar bunyi terompet dan ringkik banyak sekali kuda.
Kun Liong yang masih saling berpegang lengan dengan Bi Kiok, menunduk dan dengen perlahan dia memegang dagu dara itu, mengangkat muka yang menunduk, memandang wajah itu kemudian bertanya.
"Bi Kiok, mengapa kau melakukan semua ini untukku?"
"Aku... aku..."
Gadis itu merenggutkan kepalanya dan menunduk kembali.
Akan tetapi Kun Liong kini menggunakan kedua tangannya, memegang kepala gadis itu dan memaksanya menengadah, memandang sepasang mata itu penuh selidik.
"Apakah benar dugaan gurumu di luar tadi bahwa kau... terserang penyakit cinta? Bi Kiok, mungkinkah engkau... jatuh cinta kepadaku?"
"Aku... aku tidak tahu... aku hanya selalu merasa... kasihan kepadamu dan suka kepadamu. Aku... tak pernah dapat melupakanmu, Kun Liong... dan hidup dengan orang-orang yang tidak disukai di Telaga Kwi-ouw itu... membuat aku selalu teringat kepadamu. Tak mungkin aku diam saja melihat kau terancam bahaya..."
Makin terharu hati Kun Liong. Ditatapnya wajah yang manis itu, mata yang indah mempesona itu.
"Bi Kiok, betapa indahnya matamu..."
Bi Kiok memejamkan matanya dan terpengaruh oleh rasa haru dan berterima kasih yang meluap-luap di dalam perasaannya, Kun Liong tidak dapat menahan kemesraan terhadap gadis itu, dia menunduk dan mencium kedua mata yang terpejam itu!
Naik sedu-sedan dari dada Bi Kiok.
Sejenak dia menggigil seolah-olah perasaan kewanitaannya akan meronta, akan tetapi kemudian dia menjadi lemas, merangkul dan menyembunyikan muka di dada Kun Liong sambil terisak.
"Kun Liong..."
Ketika dia mendekap tubuh dara itu, merasa betapa kepala dengan rambut halus itu menempel ketat di dadanya, berulah Kun Liong sadar akan perbuatannya.
Dia tidak menyesal, akan tetapi timbul rasa heran mengapa dia sekarang menjadi suka sekali mencium sesuatu yang disenanginya!
Dia tadi mencium sepasang mata indah yang terpejam itu di luar kesadarannya, seperti otomatis tanpa dikehendakinya, terdorong oleh rasa tertarik yang luar biasa, kemesraan yang memenuhi hatinya sehingga sekarang pun kedua lengannya tanpa disadarinya mendekap tubuh itu dengan kuat.
Hal ini baru disadarinya pula ketika Bi Kiok terengah-engah dan merintih lirih.
"Kun Liong..."
Kun Liong mengendurkan dekapannya dan berbisik.
"Bi Kiok, betapa baiknya hatimu... betapa buruknya nasibmu, setelah kehilangan segalanya engkau menjadi murid seorang datuk kaum sesat..."
"Aku menerima nasib, Kun Liong... dan kuanggap nasibku amat baik, karena bukankah masih ada engkau yang mencintaku?"
Perasaan hati Kun Liong tersentuh oleh pertanyaan ini. Dia balas bertanya.
"Bi Kiok, apakah engkau cinta kepadaku?"
Gadis itu menarik napas panjang.
"Entahlah, aku belum tahu apa itu cinta. Akan telapi semestinya aku cinta kepadamu karena aku senang sekali berada di dekatmu, aku ingin selamanya tidak akan terpisah dari sampingmu, aku kasihan kepadamu, aku suka kepadamu. Ya, kukira aku cinta kepadamu, Kun Liong."
"Hemm... sayang sekali. Sebaiknya kalau kau tidak cinta kepadaku."
"Heh? Mengapa?"
"Karena... aku tidak bisa membohongimu dengan pengakuan cinta. Tidak! Aku memang suka dan kasihan kepadamu, Bi Kiok. Akan tetapi, cintakah ini? Kurasa bukan..."
"Tapi... tapi... kau telah menciumku!"
Kun Liong tersenyum pahit.
Presis seperti Hwi Sian!
Seperti inikah anggapan semua wanita yang menentukan bahwa ciuman adalah tanda cinta?
Apakah orang yang hanya suka, tanpa cinta yang dimaksudkan itu, tidak boleh mencium?
Biarpun yang mencium dan yeng dicium sama-sama rela dan suka?
"Bi Kiok, aku suka padamu, dan aku suka menciummu, terutama sekali kedua matamu yang amat indah.
Matamu luar biasa sekali, Bi Kiok, seolah-olah aku melihat telaga bening yang amat dalam di situ, seolah-olah aku melihat angkasa biru cerah yang amat tinggi...
dan aku melihat keindahan terkandung di dalamnya.
Aku suka menciummu, apakah hal ini harus kujadikan alasan membohong bahwa aku cinta kepadamu?"
"Kun Liong...!"
Bi Kiok merintih dan dua titik air mata mengalir turun dari matanya.
"Bi Kiok, jangan menangis...!"
Kun Liong meraih kepala itu, didekapnya dan kembali dia mencium kedua mata itu, mengisap dua butir air mata yang menetes di pipi.
"Aku tidak bisa melihat kau menangis. Maafkan aku kalau aku menyakiti hatimu. Aku lebih suka berterus terang daripada membohongimu."
Bi Kiok merenggutkan kepalanya, menggeser duduknya agak menjauh, kemudian menarik napas panjang sambil menatap wajah Kun Liong.
"Aku mengerti... dan aku menerima nasib. Mungkin aku cinta kepadamu, mungkin juga tidak. Kau lebih tegas dan jujur. Adapun tentang cium tadi... kau tidak bersalah karena aku pun senang menerimanya, dan..."
"Ssssttt...!"
Kini Kun Liong yang menaruh telunjuk di depan mulutnya.
Kini dia yang merasa khawatir kalau-kalau Bi Kiok akan celaka karena dia.
Tidak boleh hal ini terjadi.
Seribu kali tidak boleh!
Kalau seorang di antara dua datuk itu, atau keduanya, menemukan mereka, dia akan melindungi Bi Kiok.
Kalau perlu dia akan melawan mereka untuk menyelamatkan Bi Kiok.
Akan tetapi yang terdengar adalah suara derap kaki kuda dan ringkik banyak kuda.
Suara kaki kuda itu berhenti di depan guha dan terdengarlah bentakan nyaring seorang wanita, jelas bukan suara Bu Leng Ci.
"Pemberontak yang berada di dalam guha! Keluarlah!"
"Ssst...!"
Kembali Kun Liong memberi isyarat kepada Bi Kiok untuk tidak bergerak.
"Hayo keluar, kalau tidak kami akan membakar dan mengasapi kamu! Kami sudah tahu bahwa kau berada di dalam guha, ada tapak kakimu di luar!"
Kembali suara wanita yang nyaring itu membentak dari luar guha.
"Bi Kiok, biarkan aku keluar. Kau bersembunyi di sini saja, setelah aman kau keluar dan kalau bertemu subomu, bilang saja bahwa kau tidak melihatku atau kau karang cerita lain."
Bi Kiok menggeleng kepala dan kembali dua titik air matanya menetes.
Kun Liong cepat mencium kembali kedua mata itu, lalu berseru keras sambil melangkah keluar.
"Jangan bakar! Aku keluar dan tidak akan melawan!"
Ketika dia tiba di depan guha, Kun Liong melihat banyak sekali tentara pemerintah, memenuhi tempat itu kelihatan gagah, menunggang kuda pilihan dan di belakang masih tampak pasukan berjalan kaki.
Yang berada di depan guha agaknya adalah perwira-per-wiranya, akan tetapi semua itu tidak menarik perhatiannya karena segera matanya melekat pada tubuh seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa yang duduk di atas seekor kuda besar, berpakaian indah dan gagah sekali.
Gadis itu takkan lebih dari sembilan belas tahun usianya, tubuhnya ramping dan padat dan jelas mengandung isi tenaga yang kuat.
Pakaiannya adalah pakaian seorang pendekar wanita, seorang perantau dan petualang wanita yang membumbui kejelitaannya dengan kegagahan yang membuat orang menjadi segan.
Kedua pergelangan tangannya dilindungi oleh pelindung dari kulit dengan tombol-tombol besi.
Mantel berwarna merah jingga membuat bajunya yang kuning tampak gemilang.
Rambutnya digelung ke atas, tinggi, dengan hiasan untaian mutiara.
Wajah dara ini amat jelita, dan bagi Kun Liong, begitu memandang segera saja dia terpesona oleh kecantikan itu, terutama sekali oleh bentuk dagu yang meruncing dan agak menjulur ke depan seperti menantang, dan leher yang panjang berkulit putih kuning itu.
Ketika dara itu melihat munculnya Kun Liong, dia segera memerintah para perwira yang berada di dekatnya.
"Tangkap dan belenggu dia!"
"Wah, wah, nanti dulu Nona yang cantik jelita! Apa salahku...?"
Sepasang mata dara yang gagah itu terbelalak, terheran-heran mendengar suara dan ucapan Kun Liong yang penuh keberanian itu, kemudian pandang matanya berhenti pada kepalanya yang gundul.
"Jadi engkaukah ini...?"
Dia menegur, alisnya berkerut dan dagunya makin ke depan.
Manis bukan main bagi Kun Liong!
"Engkau Kun Liong!"
Kun Liong melebarkan matanya yang sudah besar, alisnya yang tebal berbentuk golok itu bergerak-gerak, otak di dalam kepala gundulnya mengingat-ingat, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat mengenal nona yang dagu dan lehernya membuat dia terpesona itu.
"Nona... siapakah...?"
Dara itu merengut.
"Huhh! Sungguh memalukan! Yang tidak berubah hanya kepala gundulmu akan tetapi watakmu sudah berubah seperti bumi dengan langit. Betapa akan malu dan menyesalnya hati Bun Hoat Tosu kalau melihat bahwa pemuda yang diaku murid itu ternyata sekarang telah gulung-gulung dengan segala macam pemberontak dan orang jahat!"
"Eh-eh-eh, nanti dulu, Nona! Enak saja memaki-maki orang!"
"Kau terlihat sebagai sahabat seorang seperti Toat-beng Hoat-su, melakukan perjalanan bersama. Masih hendak kau sangkalkah itu?"
"Memang benar, akan tetapi bukan sahabat. Aku hanya hendak mengantarkannya ke tempat bokor... ehh..."
Kun Liong terkejut.
Sikap gadis itu membuat dia penasaran dan marah sehingga dalam memberikan keterangan untuk membela diri, dia sampai lupa dan menyebut-nyebut tentang bokor.
Gadis itu dan para perwira jelas kelihatan terkejut mendengar ini.
"Tangkap dia!"
Gadis itu membentak.
Para perwira segera melompat turun dari kuda dan ada lima perwira mengulur tangan mencengkeram pundak dan lengan Kun Liong, seorang yang membawa tali kuat segera mengikat kedua lengan pemuda itu.
Akan tetapi Kun Liong membentak.
"Mundurlah kalian!"
Sekali dia menggerakkan kedua lengan, tali itu putus dan lima orang itu terjengkang ke belakang!
"Hemmm, Yap Kun Liong!
Kau hendak melawan pasukan pemerintah?
Pemberontak rendah!"
"Aku bukan pemberontak dan aku tidak melawan siapa-siapa. Kalau kau betul-betul hendak menawan aku, katakan sebab-sebabnya dan apa kesalahku!"
"Pertama, kau bergaul dengan datuk kaum sesat, berarti kau tentu anak buahnya dan karena kaum sesat menjadi pemberontak, kaupun kucurigai menjadi pemberontak. Kedua, kau mengaku sendiri bahwa kau hendak menunjukkan tempat penyimpanan bokor emas milik Suhu, maka kau harus kutangkap, selain untuk menunjukkan tempat bokor, juga untuk diadili sebagai seorang pembantu pemberontak!"
"Apa...? Bokor emas milik... suhumu...? Aihhh, sekarang aku ingat! Kau adalah anak perempuan yang berani dahulu itu, murid Panglima Besar The Hoo! Kau... kau Souw Li Hwa!"
Gadis itu mencibirkan bibir yang kecil mungil dan di dagunya timbul lesung pipit.
Manis sekali!
"Kalau sudah tahu, apakah engkau masih juga hendak melawan?"
"Wah, untungku...! Aku tidak akan melawan, akan tetapi karena engkau yang hendak menangkap aku, harus engkau sendiri pula yang membelengguku. Kalau orang lain, aku tidak mau!"
"Kurang ajar! Hayo, tangkap dia!"
Dia itu memang benar adalah Souw Li Hwa, murid Panglima Besar The Hoo yang kini telah menjadi seorang dara dewasa yang amat lihai.
Dia mendapat tugas dari suhunya untuk membantu pemerintah, mengawal sepasukan tentara ikut mengepung para pemberontak yang menurut suhunya berpangkal di Ceng-to dan di sepanjang Sungai Huang-ho dekat muara.
Mendengar perintah nona itu, sepuluh orang tentara dan perwira meloncat turun dari atas kuda masing-masing dan menubruk maju.
Akan tetapi berturut-turut sepuluh orang ini terlempar dan Kun Liong masih berdiri tegak di depan guha sambil tersenyum memandang kepada Souw Li Hwa!
Para perwira marah sekali.
Seorang perwira tinggi besar yang brewok, sudah menggerakkan goloknya membacok kepala pemuda itu.
"Heii, jangan...!"
Li Hwa terkejut dan membentak ketika melihat betapa pemuda berkepala gundul itu tidak mengelak dan dia melihat betapa golok besar yang tajam berkilau itu menyambar ke arah kepala itu.
Namun terlambat seruannya, karena golok itu sudah menyambar, tepat mengenai kepala Kun Liong yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Krookk!"
Perwira brewok tinggi besar itu melongo memandang goloknya yang telah rompal seolah-olah tadi telah dipakai membacok sebuah bola baja!
Tangan Kun Liong mendekap mukanya yang melongo itu dan sekali Kun Liong mendorong, perwira itu terjengkang ke belakang!
"Mundur semua!"
Li Hwa membentak marah bukan main akan tetapi diam-diam dia terkejut juga menyaksikan kelihaian kepala gundul itu.
Semua perwira sudah marah dan mencabut senjatanya terpaksa mundur lagi mendengar bentakan Li Hwa dan mereka hanya mengurung dan memandang dengan marah.
Li Hwa meloncat turun dari udara, tangan kanan meraba gagang pedang dan dia menghampiri Kun Liong.
Sambil tersenyum Kun Liong merangkap kedua tangannya dan menjulurkan kedua lengan itu ke depan, ke arah Li Hwa!
"Kenapa kalau kepadaku kau tidak melawan, dan kepada orang lain melawan?"
Li Hwa tidak dapat menahan keinginan tahunya, bertanya.
"Banyak sebabnya,"
Kata Kun Liong dan diam-diam merasa bersyukur bahwa Bi Kiok yang berada di dalam guha tidak mengeluarkan suara.
"Pertama, karena kita sudah saling mengenal, ke dua karena agaknya aku tidak tega menolak permintaan seorang gadis cantik, dan ke tiga, aku hendak membuktikan bahwa semua tuduhanmu itu kosong."
"Bawa tali ke sini!"
Li Hwa memerintah.
Seorang perwira datang berlari membawa sehelai tali panjang yang kuat!
Dengan gerakan cepat Li Hwa membelenggu kedua pergelangan tangan Kun Liong.
"Bawa seekor kuda ke sini!"
Kembali dia memerintah. Setelah seekor kuda dituntut dekat dia berkata kepada Kun Liong.
"Sekarang kaunaiklah ke kuda ini."
"Wah, terima kasih. Seperti tamu agung saja, disediakan kuda untukku!"
Kun Liong tersenyum sambil memandang dagu yang manis itu.
"Cerewet kau! Sekarang engkau menjadi tawananku, tahu?"
Li Hwa menggunakan sisa tali untuk mengikat kedua kaki Kun Liong yang berada di kanan kiri perut kuda, kemudian sisanya dia ikatkan di leher pemuda itu, agak kendur lalu melempar ujung tali ke arah perwira brewok yang tadi membacok kepala Kun Liong.
"Kwan-ciangkun, kautuntun dia!"
Katanya.
Gadis itu lalu melompat ke atas kudanya dan memberi isyarat dengan tangan kepada pasukannya untuk meninggalkan tempat itu.
"Aihh!"
Perwira brewok itu berseru kaget dan tali yang dipegang ujungnya tadi terlepas dari tangannya.
Dia meloncat turun lagi dari kuda, menyambar tali dan begitu dia naik ke atas kudanya, Kun Liong menggerakkan kepalanya dan...
tali itu kembali terlepas dari tangan Si Perwira Brewok.
Tentu saja dia marah sekali dan setelah dia meloncat turun dan menyambar tali, dia melibatkan ujung tali itu di tangan kanannya sebelum dia melompat naik ke atas kuda.
Kembali Kun Liong menggerakkan kepalanya, Si Perwira mempertahankan sehingga terjadi tarik-menarik dan akhirnya tubuh perwira itu terpelanting dari atas kuda, jatuh berdebuk.
Sial baginya, dia jatuh dengan pinggul menimpa sebutir batu sebesar kepalan tangan, maka dia mengaduh dan meringis kesakitan.
Beberapa orang perwira lainnya yang tadinya ikut marah, kini hampir tak dapat menahan ketawa menyaksikan perwira yang aneh akan tetapi juga lucu itu.
"Yap Kun Liong, apakah kau benar-benar hendak memberontak dan melawan?"
Li Hwa membentak marah.
"Terserah penilaianmu, akan tetapi karena kau yang mencurigai aku, kau yang menawan dan membelengguku, maka harus kau pula yang menuntunku."
"Manusia aneh dan gila!"
Li Hwa mengomel, akan tetapi karena dia tahu bahwa para perwira bawahannya tidak ada yang mampu menandingi Si Gundul ini, agar tidak menghambat perjalanan dia lalu menyambar ujung tali, meloncat naik ke atas kuda dan dengan demikian menuntun Kun Liong yang duduk sambil tersenyum di atas kudanya dan pandang matanya tak pernah terlepas dari wajah dara yang menawannya itu.
"Tunjukkan aku di mana tempat bokor itu,"
Kata Li Hwa.
"Memang aku hendak mengembalikan bokor itu kepada gurumu..."
"Bohong! Siapa percaya omonganmu?"
"Percaya atau tidak terserah."
"Kau tadi bilang hendak menyerahkannya kepada Toat-beng Hoat-su."
"Siapa bilang aku hendak menyerahkan? Aku hanya bilang bahwa aku hendak menunjukkan dia tempat di mana aku menyembunyikan bokor itu."
"Hemmm... omongan plintat-plintut! Bukankah itu sama saja?"
"Sama sekali tidak sama. Kalau sudah kutunjukkan tempatnya, belum tentu aku membiarkan dia mengambilnya."
"Hemm, kalau begitu mengapa kau hendak menunjukkan tempatnya kepada iblis tua itu?"
"Karena... perjanjian!"
Li Hwa menoleh dan memandang Kun Liong dengan penuh selidik.
Akan tetapi pemuda itu tetap tenang dan kini dia memperoleh kesempatan banyak untuk menikmati keindahan dagu dan leher itu.
"Kau cantik, Li Hwa..."
Li Hwa mendengus.
"Huh! Lagakmu tiada ubahnya seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat golongan hitam yang cabul dan hina!"
"Wah-wah-wah, mengatakan kau cantik apakah merupakan perbuatan jahat, Li Hwa? Kau memang cantik, habis bagaimana? Apakah kau lebih senang kalau aku membohong dan mengatakan bahwa kau buruk?"
"Jangan mengatakan apa-apa!"
Li Hwa membentak dan Kun Liong hanya mengangkat pundak dan alis, menggelengkan kepalanya yang gundul, di dalam hatinya makin heran terhadap sikap wanita.
Mahluk yang aneh memang, pikirnya.
Setiap berjumpa dengan seorang wanita, lain lagi wataknya dan makin lama makin aneh!
"Hayo jawab!"
Setelah agak lama berdiam, Li Hwa membentak.
Dengan tangan kirinya dia membetot tali sehingga kuda yang ditunggangi pemuda itu tersentak maju ke depan.
Hal ini adalah karena Kun Liong menggunakan tenaga sin-kang untuk menjepit perut kuda sehingga biarpun dia yang dibetot ke depan, yang merasakan adalah kuda yang ditungganginya!
Dia diam saja.
"Kun Liong, hayo jawab pertanyaanku tadi, di mana tempat bokor itu. Tunjukkan kepadaku!"
Tiada jawaban.
Li Hwa menengok marah dan matanya mendelik ketika dia melihat pemuda gundul itu duduk tenang di atas kudanya dan tersenyum kepadanya.
"Mesam-mesem jual lagak kau! Ditanya tidak menjawab malah tersenyum-senyum. Memangnya kau gagu?"
"Hayaaa... sudah nasibku, jatuh dari tangan dara manis yang satu kepada tangan dara cantik yang lain, makin lama makin aneh dan makin menarik! Souw Li Hwa, baru saja kau bilang kepadaku bahwa aku jangan mengatakan apa-apa, setelah aku diam tidak berkata apa-apa, kau marah-marah dan memaki aku gagu. Sebetulnya bagaimana sih kehendakmu, Nona cantik?"
Li Hwa menggigit bibirnya.
Ingin dia memaki-maki akan tetapi takut kalau didengar oleh para perwira yang berada di belakang.
Dia memang mendahului mereka dengan jarak antara sepuluh meter.
"Kun Liong, jangan main-main kaul! Memang kau kira aku ini siapa?"
"Engkau adalah Souw Li Hwa, seorang dara remaja yang cantik jelita seperti bidadari dan gagah perkasa seperti Hoan Lee Hwa (tokoh dalam dongeng Sie Jin Kwi), murid panglima besar yang sakti The Hoo."
"Kalau sudah tahu, mengapa kau berani kurang ajar?"
"Aihhh... benar-benar aku menjadi bingung menghadapimu, Li Hwa, ataukah aku harus menyebutmu Li-hiap, atau Li-ciangkun? Apa sih kekurangajaranku?"
"Beberapa kali kau menyebut aku nona cantik!"
"Lagi-lagi itu! Habis kalau memangnya engkau cantik jelita..."
"Sudahlah... sudahlah!"
Li Hwa berkata kewalahan.
"Katakan saja di mana adanya bokor emas milik Suhu itu."
"Kau pimpin pasukanmu melalui sepanjang pantai Sungai Huang-ho sampai... eh, ingatkah kau ketika kau ditawan? Nah, di dekat sanalah, di pantai Huangho yang airnya tidak begitu dalam, banyak batu-batu besar."
Li Hwa mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu, tidak jauh lagi dari sini"
Dia lalu memberi aba-aba kepada pasukannya dan pasukan itu bergerak menuju ke tepi Sungai Huang-ho, kemudian melanjutkan perjalanan di sepanjang sungai.
Dalam perjalanan ini, Kun Liong diminta menceritakan bagaimana dia dapat menemukan bokor itu.
Pemuda itu menceritakannya dengan singkat tanpa menyebut nama Bi Kiok dan yang lain-lain.
Hanya diceritakan bahwa bokor itu tadinya tercuri oleh Phoa Sek It kemudian hilang di sungai dan secara kebetulan ia menemukannya, betapa kemudian hampir terjatuh ke tangan Phoa Sek It kembali, akan tetapi dia berhasil melarikannya dan menyembunyikannya di tempat itu.
Li Hwa merasa terheran-heran mendengar cerita itu.
Semua orang di dunia kang-ouw mencari bokor itu.
Dan suhunya juga menyebar orang untuk mencarinya karena suhunya khawatir bahwa kalau bokor terjatuh ke tangan orang jahat, tentu akan membahayakan.
Siapa kira, bokor yang menimbulkan heboh itu ditemukan oleh bocah gundul aneh yang lalu menyimpannya begitu saja di pinggir sungai membiarkannya sampai sepuluh tahun!
"Engkau telah salah menangkap orang, Li Hwa.
Bukan aku tidak suka menjadi tawananmu, akan tetapi engkau sungguh keliru kalau menyangka aku pemberontak.
Apakah Paman Cia Keng Hong tidak melaporkan ke kota raja?"
Mendengar disebutnya nama pendekar ini, Li Hwa terkejut.
"Kami mendengar tentang pemberontakan dari beliau."
"Ha-ha! Dan tahukah engkau dengan siapa Paman Cia Keng Hong tiba di Ceng-to dan menyaksikan para pemberontak mengadakan perundingan? Dengan aku! Cia-supek (Paman Guru Cia) berpisah dariku setelah kami berhasil menyelamatkan seorang gadis yang tentu kau kenal karena dia mengaku masih cucu murid gurumu, orangnya cantik manis seperti engkau, terutama bibirnya."
Li Hwa membelalakkan matanya.
"Siapa percaya omonganmu? Yang jelas menurut penyelidikan orangku, engkau melakukan perjalanan bersama Toat-beng Hoat-su, dan kau bermaksud menyerahkan bokor kepadanya."
"Hanya untuk menyelamatkan seorang gadis."
"Hemm... gadis lagi!"
"Ya, seorang gadis lain, juga cantik jelita, dibandingkan dengan engkau... hemmm, sukar juga mengatakan siapa lebih manis, seperti bunga mawar dengan bunga seruni!"
Tentu saja yang dimaksudkan bunga seruni adalah Bi Kiok (seruni cantik) sesuai dengan namanya.
"Engkau memang mata keranjang!"
Kun Liong tertawa.
"Semua laki-laki mata keranjang kalau dimaksudkan suka melihat wanita cantik! Mana ada laki-laki yang tidak suka melihat wanita cantik?"
"Yang kaukatakan cucu murid guruku itu, siapakah namanya?"
"Gadis dengan bibir manis sekali itu? Liem Hwi Sian..."
"Wah, murid Gak-suheng (Kakak Seperguruan Gak) di Secuan?"
"Mungkin masih ada lagi dua orang suhengnya, kalau tidak salah namanya Poa Su It dan Tan Swi Bu. Dan Liem Hwi Sian itu, selain manis sekali bibirnya, juga dia suka kepada... kepalaku yang gundul. Mungkin kau benci kepada kepalaku, ya?"
"Di mana dia sekarang?"
Li Hwa tidak mempedulikan pertanyaan yang dianggapnya kurang ajar itu.
"Sudah diselamatkan Tan Swi Bu. Nah, apakah engkau masih menuduh aku seorang pemberontak?"
"Kita lihat saja nanti keputusan pengadilan di kota raja."
"Wah-wah, setelah kutunjukkan kepadamu tempat bokor emas, engkau masih hendak menawanku dan membawaku ke kota raja?"
"Tentu saja!"
"Biarpun sudah kuceritakan semua kepadamu?"
"Aku tidak percaya ceritamu."
"Biarpun aku sudah menunjukkan tempat aku menyimpan bokor kepadamu?"
"Tadinya kau pun menunjukkan kepada datuk kaum sesat."
"Ha-ha, Nona manis! Mengapa engkau masih menggunakan segala macam alasan kosong? Bilang saja bahwa engkau senang sekali dengan kehadiranku dan tidak ingin segera berpisah dari sampingku. Bukan demikiankah sesungguhnya? Aku pun suka sekali berdampingan denganmu, Li Hwa."
Li Hwa marah sekali, menahan kudanya sehingga kuda Kun Liong menyusul dekat, lalu tangannya menampar kepala Kun Liong.
Pemuda ini dapat mengukur dari tamparan itu bahwa Li Hwa bukan menyerangnya, hanya sekedar melepas kemarahan dengan menamparnya dan hanya menggunakan tenaga biasa, maka dia pun sama sekali tidak mengelak, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan sin-kang.
Akan tetapi, kalau tadi dia menggunakan Pek-in-sin-kang yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang sehingga kepalanya mampu menahan bacokan golok, sekarang dia menggunakan sin-kang yang dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu, yang diciptakan oleh kakek sakti itu untuk melawan Thi-khi-i-beng, yaltu yang mengandung tenaga membetot berdasarkan Im-kang lemas.
"Plakkk!"
Dan telapak tangan kiri dara itu melekat pada kulit kepala Kun Liong!
Li Hwa berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi benar-benar telapak tangannya telah melekat ketat sehingga waiahnya berubah pucat karena baru sekarang dia mengalami hal seaneh ini!
"Heh-heh, engkau pun agaknya amat suka dengan kepala gundulku, seperti Hwi Sian, maka kau mengelusnya tiada hentinya."
Li Hwa menjadi merah sekali mukanya dan dia mengerling ke belakang.
Kalau para perwire melihat hal ini, tentu mengira bahwa dia benar-benar membelai Si Kepala Gundul!
Maka dia cepat menggunakan jari tangan kirinya untuk menotok ke arah pundak Kun Liong.
"Wahhh... begini kejamkah engkau, Li Hwa?"
Kun Liong berkata dan melepaskan pengerahan sin-kangnya sehingga telapak tangan kanan gadis itu terlepas kembali dan mendengar ucapan ini, Li Hwa mengurungkan niatnya menotok.
Dia tadi menggunakan Ilmu Menotok It-ci-sian yang amat hebat dari gurunya, yaitu ilmu menotok dengan sebuah jari yang dilakukan dengen pengerahan sin-kang khas sehingga totokan itu mengeluarkan angin dingin yang luar biasa!
Li Hwa memandang wajah Kun Liong dan diam-diam dia merasa kagum dan juga kaget sekali di dalam hatinya.
Demonstrasi tenaga sin-kang yang diperlihatkan Kun Liong tadi ketika kepalanya menerima bacokan golok tidaklah terlalu mengherankan karena kepala pemuda itu gundul gundul sehingga tentu saja tidak takut rambutnya rusak.
Akan tetapi apa yang diperlihatkannya tadi ketika kepala itu dapat "menangkap"
Dan menempel telapak tangannya, benar-benar membuktikan bahwa pemuda gundul yang ugal-ugalan ini sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!
Beberapa hari kemudian, pasukan yang (Lanjut ke
Jilid 20) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 dipimpin Souw Li Hwa dan berkekuatan seratus lima puluh orang itu tiba di tepi sungai seperti yang ditunjukkan oleh Kun Liong.
Akan tetapi betapa kaget dan heran hati pemuda itu melihat perubahan besar yang terjadi di tempat itu.
Tepi sungai yang dahulunya penuh dengan batu-batu besar itu, kini telah menjadi sebuah perkampungan yang dikelilingi pagar tembok!
Dan agaknya batu bulat yang berbentuk kepala manusia itu, dimana dia menyimpan bokor emas dahulu, berada tepat di tengah-tengah dusun itu.
"Wah, kenapa sekarang menjadi perkampungan? Agaknya perkampungan nelayan dan benda itu kusimpan di situ..."
Li hwa mengerutkan alisnya.
"Sunguh ceroboh sekali! Hayo kita cepat monyelidiki ke dalam dusun itu."
Dia menyuruh para perwiranya dan berbondong-bondong pasukan itu memasuki perkampungan pinggir sungai itu.
Li Hwa dan Kun Liong yang menjalankan kudanya paling depan, Makin terheran melihat betapa kampung itu sunyi sekali dan agaknya kosong.
Akan tetapi, setelah semua memasuki dusun, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari segenap penjuru, dari semua pintu gerbang, datang menyerbu banyak sekali orang, ada yang berpakaian biasa, ada yang berseragam, dan bahkan ada juga sedikitnya tiga puluh orang asing berkulit putih yang ikut menyerbu dengan pedang panjang melengkung di tangan kanan dan senjata api di tangan kiri!
Tentu saja pasukan yang dipimpin Li Hwa menjadi kaget dan kacau-balau mengalami serangan tiba-tiba yang sama sekali tidak disangkanya itu.
Barulah Li Hwa tahu bahwa tempat itu ternyata telah dijadikan sarang oleh gerombolan pemberontak!
Maka sambil berseru keras dia bergerak ke depan sambil mencabut pedang, merobohkan dua orang musuh sekaligus.
"Basmi para pemberontak!"
Perang yang kacau-balau terjadi di perkampungan nelayan yang telah menjadi sarang para pemberontak yang bersekutu dengan orang-orang kulit putih itu.
Ledakan-ledakan senjata api terdengar, akan tetapi karena pertempuran itu terjadi dalam jarak dekat, senjata-senjata api yang memerlukan waktu untuk mengisi mesiu itu kurang praktis, maka suara ledakan makin mengurang, diganti teriakan yang diseling suara senjata tajam bertemu!
Li Hwa sudah meloncat turun dari kudanya dan dara perkasa ini mengamuk dengan pedangnya.
Sepak terjangnya hebat bukan main, menggetarkan hati para pemberontak karena ke mana pun pedangnya berkelebat, sinar pedang itu menyambar dan seorang lawan tentu roboh.
"Dar! Dar!"
Dua orang asing yang menyaksikan sepak terjang Li Hwa sudah menyerangnya dengan senjata api.
Namun dara itu sudah mendengar dari gurunya tentang bahayanya senjata rahasia orang kulit putih ini, maka begitu tadi dia melihat dua orang itu mengacungkan senjata api ke arahnya, dia sudah melempar diri ke bawah, dan langsung dari bawah tubuhnya meluncur ke depan didahului sinar pedangnya.
Sebelum dua orang kulit putih itu sempat mengisi pistol mereka dan masih terheran-heran melihat betapa dara cantik yang luar biasa itu tiba-tiba lenyap, sinar pedang menyambar mereka.
Mereka berteriak dan roboh dengan perut mengucurkan darah, karena ujung pedang Li Hwa telah menembus perut mereka yang gendut!
"Singggg...
trang-trang...!"
Li Hwa terkejut juga ketika pedangnya bertemu dengan pedang seorang lawan yang memiliki tenaga kuat juga sehingga pedangnya terpental.
Cepat dia memandang dan ternyata yang memegang pedang menyerangnya dengan hebat tadi adalah seorang pemuda kulit putih yang bertubuh tinggi dan tampan, berpakaian mewah dan pemuda itu memandangnya dengan mulut tersenyum dan mata jalang.
"Sungguh hebat...!"
Pemuda kulit putih itu berkata dengan lancar biarpun suaranya agak kaku.
"Pasukan pemerintah dipimpin oleh seorang dara yang cantik jelita!"
"Anjing putih biadab, engkaukah yang membujuk para pemberontak mengkhianati negaranya?"
Li Hwa membentak marah.
"Ha-ha-ha, urusan pemberontakan adalah urusan mereka sendiri. Kami hanya sahabat mereka. Nona, sayang sekali kalau kau yang begini muda belia dan cantik jelita menjadi korban dalam perang ini. Mari kau ikut saja bersamaku, jangan khawatir, aku adalah Hendrik Selado, dan engkau akan senang sekali menjadi sahabat baikku!"
"Mampuslah!"
Li Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi, pedangnya bergerak menyambar ke depan.
Hendrik Selado terkejut, silau matanya melihat sinar pedang yang bergulung-gulung itu.
Akan tetapi, dia dapat menangkisnya dan balas menyerang karena dia maklum bahwa betapapun muda dan cantiknya, dara itu adalah seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi.
Terjadilah pertandingan antara kedua orang ini dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Hendrik ketika dia mendapat kenyataan bahwa pedang dara itu amat sukar dilawan.
Biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya yang dia pelajari dari ayahnya, namun tetap saja dia terus terdesak sehingga dia mempertahankan diri sambil mundur-mundur.
Kemudian Hendrik membalikkan tubuh dan melarikan diri!
"Keparat, hendak lari ke mana kau?"
Karena Li Hwa menduga bahwa tentu pemuda asing yang lihai itu yang memimpin rombongan orang asing yang membantu pemberontakan, maka dia cepat melakukan pengejaran.
Sementara itu, ketika tadi Kun Liong melihat perang kecil terjadi dan melihat betapa sepak terjang Li Hwa hebat sekali dan biarpun berhadapan dengan pemuda asing bernama Hendrik itu dara perkasa ini sama sekali tidak terdesak, diam-diam Kun Liong telah mematahkan belenggu kaki tangannya, meloncat turun dari kudanya dan pergi mencari tempat di mana dia dahulu menyembunyikan bokor emas.
Dia tertegun dan bingung ketika melihat betapa tempat di mana dahulu terdapat sebongkah batu bulat berbentuk kepala, kini telah dibangun sebuah rumah papan yang besar!
Agaknya batu bulat itu selama bertahun-tahun ini telah teruruk tanah sehingga hanya kelihatan menonjol sedikit dan kelihatan di luar dinding rumah itu.
Kun Liong meneliti tempat itu dan dia merasa yakin bahwa memang batu yang menonjol sedikit itulah batu yang dahulu dijadikan tanda.
Di bawah batu itulah disimpannya bokor emas.
Akan tetapi batu itu telah teruruk, sedikitnya teruruk sampai hampir dua meter dalamnya, dan di situ didirikan rumah.
Bagaimana dia dapat mencari benda pusaka itu yang tersembunyi di bawah batu tanpa membongkar rumah itu dan menggali tanah yang menguruk batu?
Sedangkan di tempat itu pun terjadi perang campuh antara para perajurit anak buah Li Hwa melawan tentara pemberontak yang dibantu orang-orang asing.
Selagi Kun Liong berdiri bingung bagaimana dia akan bisa mendapatkan kembali benda pusaka yang terpendam di bawah bangunan itu, tiba-tiba dia melihat Hendrik lari memasuki pondok itu, dikejar oleh Li Hwa yang berteriak nyaring.
"Manusia biadab, hendak lari ke mana kau?"
Kun Liong melihat betapa Hendrik sudah keluar lagi dari pintu samping, membidikkan senjata apinya ke dalam rumah yang dimasuki Li Hwa.
Pemuda itu terkejut, dapat menduga bahwa pemuda asing itu menjebak Li Hwa, maka dia berteriak.
"Li Hwa, hati-hati...!"
"Darrr... blungggg...!"
Kun Liong cepat membuang diri ke atas tanah ketika terjadi ledakan hebat itu.
Kiranya Hendrik telah meledakkan mesiu yang berada di dalam rumah itu dan agaknya rumah itu merupakan gudang mesiu!
Rumah besar itu hancur, batu bulat juga terbongkar dan terlempar sehingga tanah di mana batu dan rumah tadi berdiri, kini menjadi semacam kubangan besar.
Air sungai segera membanjir masuk ke dalam lubang ini.
"Bokor...! Di situ...!!"
Terdengar teriakan-teriakan dan tempat yang kini penuh dengan air sedalam pinggang itu kini diserbu oleh para perajurit kedua pihak, bukan hanya untuk melanjutkan perang, melainkan terutama sekali untuk memperebutkan bokor emas yang tadi tampak di dalam kubangan sebelum air membanjirinya.
Orang-orang asing yang membantu pemberontak juga berlompatan memasuki kubangan penuh air dan ikut pula berebutan, memperebutkan benda yang telah mereka kenal akan tetapi yang kini tidak tampak lagi karena tertutup air.
Mereka memperebutkan bokor emas yang hanya tampak sekelebatan sebelum terendam air dan yang hanya terlihat oleh beberapa orang yang berteriak tadi.
Akan tetapi pertempuran itu tidak berlangsung lama.
Senja telah mendatang dan para perajurit anak buah Li Hwa terpaksa diperintahkan mundur oleh para perwiranya karena mereka merasa berat menghadapi serbuan para pemberontak yang Lebih banyak jumlahnya, apalagi karena mereka tidak melihat lagi Souw Li Hwa, dara perkasa yang mereka andalkan dan yang menjadi pemimpin mereka.
Dengan meninggalkan teman-teman yang menjadi korban, menolong mereka yang terluka, sisa pasukan yang kurang lebih tinggal seratus orang lagi itu melarikan diri keluar dari perkampungan yang menjadi sarang pemberontak itu, dikejar oleh para pemberontak yang akhirnya membiarkan mereka lagi setelah mereka jauh dari perkampungan.
Di tempat bekas pondok yang kini menjadi kubangan air masih tampak orang-orang asing dan para perajurit pemberontak mencari-cari, akan tetapi akhirnya mereka terheran-heran mengapa tidak ada yang berhasil menemukan pusaka itu.
Yuan de Gama pemuda tampan, putera pemilik Kapal Kuda Terbang yang juga ikut bertempur dalam perang kecil tadi, memimpin sendiri pencarian di dalam kubangan, akan tetapi segera melepaskan harapan, meloncat keluar dari kubangan dan mengomel.
"Heran sekali ke mana perginya Hendrik? Hentikan semua pencarian yang sia-sia ini, akan tetapi lakukan penjagaan di sekitar kubangan, jangan biarkan orang mendekatinya."
Setelah mengatur penjagaan beberapa orang perajurit secara bergantian di sekeliling kubangan, Yuan de Gama lalu memasuki pondok dan berganti pakaian karena pakaiannya kotor penuh lumpur, juga pundaknya terluka sedikit.
Kemudian dia keluar dari pondok untuk mencari Hendrik.
Dia dan Hendrik kebetulan sekali berada di situ memimpin rombongan orang-orangnya mewakili gurunya, Legaspi Selado ketika tadi datang pasukan pemerintah sehingga terjadi perang kecil di situ dan mereka berhasil mengusir pasukan musuh itu.
Kini dia harus cepat mengadakan perundingan dengan Hendrik, putera gurunya itu, karena tempat itu merupakan tempat yang berbahaya.
Setelah pihak pemerintah mengetahui bahwa tempat itu mereka jadikan sarang, tentu akan datang pasukan yang lebih besar untuk menghancurkan mereka.
Akan tetapi, Hendrik tidak tampak batang hidungnya.
Ketika ada seorang anak buahnya yang disebar untuk mencari Hendrik datang kepadanya dan berbisik-bisik sambil tersenyum menyeringai, Yuan de Gama memukul telapak tangan kirinya sendiri dan memaki gemas.
"Terkutuk! Dia selalu merusak tugas dengan kesenangan pribadi yang kotor!"
Setelah berkata demikian Yuan de Gama lalu berjalan cepat pergi ke ujung perkampungan itu, bekas hutan yang telah dibabat, akan tetapi masih menjadi tempat sunyi di mana terdapat sebuah pondok kecil yang di depannya terpasang sebuah lampu.
Sunyi bukan main di situ.
Yuan de Gama menghampiri pondok dari belakang dan ketika dia menyelinap dari balik pohon dan memandang ke samping pondok, dia menahan makiannya.
Dia melihat seorang gadis cantik yang tadi dikenalnya sebagai pemimpin pasukan pemerintah, terbelenggu dengan rantai besi di tihang pondok, Dan di dekat gadis itu bernyala api unggun yang makin lama makin mendekati sebungkus mesiu yang ditaruh di dekat kaki Si Gadis!
Gadis itu bukan lain adalah Souw Li Hwa!
Bagaimana dia dapat terbelenggu di situ?
Ketika dia meloncat ke dalam pondok mengejar Hendrik, pemuda asing yang cerdik itu telah meledakkan mesiu dengan pistolnya.
Ledakan dahsyat itu secara aneh sekali tidak menewaskan Li Hwa, karena dia telah terlempar oleh hawa ledakan dan terbanting jatuh pingsan.
Dalam keadaan pingsan ini, Hendrik yang kagum dan tergila-gila melihat kecantikannya, lalu menyambarnya dan memondongnya pergi ke dalam pondok sunyi itu.
Ketika dia siuman, Li Hwa mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu dan dia melihat bekas lawannya, pemuda asing tadi, duduk di pinggir pembaringan sambil tersenyum-senyum.
"He, kau sudah sadar, manis?"
Sejenak Li Hwa bingung, kemudian dia teringat akan semua pengalamannya dan membentak.
"Anjing biadab! Hayo bunuh aku, atau lepaskan aku dan melanjutkan pertandingan kalau kau memang jantan!"
"Aihhh... mengapa begitu keras hati, manis? Aku cinta padamu, Nona. Kau begini cantik... rambutmu begini indah..."
Hendrik membelai rambut yang halus dan panjang itu.
Li Hwa mengggerakkan kepalanya merenggutkan rambut.
"Dan matamu seperti sepasang bintang... kau cantik jelita... daripada bermusuh, bukankah lebih baik kalau kita bersahabat? Kau akan kubawa ke negeriku, sayang..."
"Phuhhh! Manusia biadab, lebih baik aku mati!"
Li Hwa berteriak lagi.
"Wah, sayang kalau kau mati. Aku sungguh cinta padamu! Jangan kau berpura-pura, benarkah kau tidak suka kepadaku? Sudah banyak sekali wanita yang menyatakan cinta kepadaku, yang ingin menjadi kekasihku, akan tetapi engkau yang benar-benar menjatuhkan hatiku... eh, sayang, siapakah namamu?"
"Persetan dengan kamu!"
Li Hwa memalingkan mukanya.
"Heran! Engkau bertambah manis kalau marah, tak tahan aku untuk tidak menciummu!"
Hendrik segera memeluk tubuh yang terbelenggu kaki tangannya itu dan bibirnya yang rakus itu mengecup bibir Li Hwa.
Li Hwa terbelalak, sejenak seperti akan pingsan mengalami hal yang sama sekali tidak diduganya dan yang belum pernah dialaminya biarpun dalam mimpi.
Karena dia hendak memaki, mulutnya terbuka dan hal ini oleh Hendrik dianggap bahwa wanita itu membalas ciumannya, maka dia mencium makin ganas.
"Auuuughhh... aduuuhhh..."
Hendrik meloncat ke belakang dan mengaduh-aduh, bibir bawahnya pecah oleh gigitan Li Hwa tadi.
Gadis yang saking ngeri dan muaknya tak dapat berbuat apa-apa untuk menyerang itu, telah menggigit bibir yang mengecup-ngecup mulutnya secara mengerikan!
Hendrik mengangkat tinjunya hendak memukul muka yang menantangnya dengan penuh keberanian itu.
Biarpun maklum bahwa dia akan dipukul, mungkin dibunuh, Li Hwa memandang dengan mata tidak berkedip.
Melihat sikap ini, memandang wajah yang cantik manis itu, Hendrik menjadi lemas dan menurunkan lagi kepalan tangannya.
"Bedebah! Setan betina! Hendak kulihat apakah engkau masih berkeras tidak mau melayani cintaku!"
Hendrik sudah benar-benar tergila-gila kepada Li Hwa.
Kalau menghadapi wanita lain yang menolak cintanya, seperti biasanya, tentu dia akan menggunakan kekerasan, memperkosa gadis yang sudah terbelenggu itu.
Akan tetapi aneh sekali, dia merasa berat untuk melakukan hal ini terhadap Li Hwa.
Dia tahu bahwa gadis perkasa ini merupakan seorang dara pilihan, dan alangkah akan senang hatinya kalau dia dapat memperolehnya dengan cara yang baik, dengan sukarela.
Betapa akan bahagianya kalau gadis ini membalas cintanya, bukan menyerahkan diri karena terpaksa dan karena diperkosa.
Dipondongnya tubuh gadis itu keluar pondok, diletakkan dan dirantai pada tihang sebelah rumah.
Kemudian dia membuat api unggun dan meletakkan sebungkus mesiu di dekat kaki Li Hwa yang terbelenggu.
"Kau lihat ini? Mesiu yang akan meledak begitu api itu menjalar sampai ke dekatnya. Kau lihat tadi. Rumah dan batu itu hancur oleh ledakan, dan kalau kau tidak menurut, bungkusan mesiu ini cukup untuk menghancurkan tubuhmu menjadi berkeping-keping. Kalau berubah pikiranmu, sebelum terlambat, kau terimalah pinanganku, Nona."
"Huh, biarkan aku mati!"
"Baik, aku akan menanti di dalam. Kau berteriak saja panggil aku kalau pikiranmu berubah, kalau kau memilih bersenang-senang denganku dan hidup bahagia daripada mati dengan tubuh hancur oleh ledakan obat mesiu ini."
"Jahanam kotor! Seribu kali lebih baik mati daripada menyerah kepadamu!"
Li Hwa membentak.
Hendrik tersenyum akan tetapi menyeringai karena bibirnya yang digerakkan terasa perih.
Diusapnya bibir yang pecah oleh gigitan dara tawanannya itu, kemudian dia bangkit dan membalikkan tubuh, Melangkah lebar menuju ke pondok, menaiki anak tangga depan pondok dan lenyap ke dalam pondok itu.
Li Hwa ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tidak berdaya.
Rantai besi yang membelenggu kaki tangannya amat kuat, tidak dapat dipatahkannya dan dia pun tidak dapat mencegah api unggun yang bernyala makin besar, dan lidah api makin mendekati bungkusan mesiu di dekat kakinya.
Dalam keadaan seperti itulah gadis itu ketika Yuan de Gama menghampiri pondok dan melihatnya.
Dengan hati-hati Yuan lalu menghampiri gadis itu.
Li Hwa yang berpendengaran tajam tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang.
Dia menoleh dan melihat Yuan, dia mengira pemuda asing itu adalah Hendrik yang menawannya.
Dalam pandangannya, orang-orang asing itu seperti sama semua!
Maka dia lalu menghardik.
"Jangan harap aku mau menyerah, manusia hina! Bunuhlah kalau kau mau membunuhku..."
"Sssttt...!"
Melihat pemuda itu menaruh telunjuk di depan bibir dan mengeluarkan seruan tanda agar dia tidak mengeluarkan suara, Li Hwa terheran dan memandang lebih teliti kepada pemuda itu.
Sekarang setelah sinar api unggun menerangi wajah itu, barulah dia sadar bahwa bukanlah pemuda asing yang tadi menawannya.
Tubuh pemuda itu lebih jangkung, perutnya tidak gendut dan pada wajah yang tampan ini tidak terdapat sinar mata yang penuh nafsu.
Tidak, bahkan sinar mata yang berwarna biru itu amat lembutnya, kini memandangnya dengan penuh iba.
"Nona, aku datang untuk menolongmu..."
Pemuda itu berbisik dan berjongkok di belakangnya.
Namun, di dalam hati Li Hwa sudah terdapat bibit kebencian terhadap orang-orang asing.
Pertama karena kenyataan bahwa orang-orang itu bersekutu dengan para pemberontak.
Kedua kalinya, dia mengalami penghinaan dari Hendrik yang menawannya.
Maka terhadap pemuda yang hendak menolongnya ini pun dia bersikap angkuh dan tidak bersahabat.
"Aku tidak minta pertolonganmu!"
Pemuda itu menghela napas panjang.
"Aku tahu, dan engkau memang seorang dara perkasa yang hebat, Nona. Seorang berjiwa panglima yang patut dihormati. Dan karena itulah maka aku harus menolongmu."
Sambil berkata demikian, Yuan de Gama mulai berusaha membuka belenggu itu dari kedua tangan Li Hwa.
Karena gembok yang dipakai mematikan mata rantai belenggu itu cukup kuat, maka tidaklah mudah bagi Yuan untuk membukanya sehingga dia harus mengerahkan seluruh tenaganya.
"Mengapa kau menolongku?"
Melihat usaha pemuda itu, Li Hwa tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya karena bukankah di antara mereka terdapat permusuhan?
"Aku kagum akan kegagahanmu, Nona.
Dan aku muak melihat perbuatan Hendrik yang menyimpang dari tugasnya, hanya mementingkan kesenangan pribadi."
Akhirnya, setelah lebih dahulu menjauhkan bungkusan mesiu dari api, Yuan de Gama berhasil melepaskan belenggu pada kaki dan tangan Li Hwa.
Gadis itu melompat berdiri, akan tetapi karena kepalanya masih nanar oleh hantaman ledakan tadi, dan kakinya juga kaku karena lama dibelenggu, dia terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat-cepat dia dipeluk oleh Yuan de Gama.
"Lepaskan aku!"
Li Hwa meronta.
"Apa kau kira setelah menolongku, kau boleh memangku sesuka hatimu?"
Yuan cepat melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, alisnya berkerut dan pandang matanya tajam menusuk.
"Nona, harap jangan menyamaratakan orang begitu saja. Kalau tidak melihat engkau hendak jatuh, tentu aku tidak berani menyentuhmu."
Sejenak mereka berpandangan dan Li Hwa menunduk, kedua pipinya menjadi merah.
Dia tahu bahwa betapa sikapnya tadi memang amat buruk.
Akan tetapi, bukankah pemuda asing ini juga musuhnya?
Musuh negaranya?
Ingatan itu mengeraskan hatinya dan dia mendengus, melempar muka ke samping, membalikkan tubuh lalu melangkah hendak pergi.
"Tahan dulu, Nona...!"
Yuan de Gama cepat mengejar.
"Nona, kau masih amat lelah dan pasukanmu telah melarikan diri keluar dari tempat ini. Kalau kau pergi begitu saja, tentu kau akan tertangkap kembali. Di mana-mana terdapat penjaga..."
"Haiii... Nona yang manis, apakah engkau belum merobah pikiranmu?"
Tiba-tiba terdengar teriakan Hendrik dari dalam pondok.
Yuan de Gama terkejut, cepat ia menyambar tangan Li Hwa dan berkata.
"Mari ikut dengan aku. Cepat...!"
Kini mengertilah Li Hwa bahwa pemuda ini benar-benar hendak menolongnya dan agaknya tidak mempunyai niat buruk di balik itu, maka dia membiarkan dirinya ditarik dan dibawa pergi menyelinap di antara pohon-pohon dan kegelapan malam sampai mereka berada jauh dari pondok terpencil itu.
Akan tetapi kembali mereka terpaksa harus berhenti dan bersembunyi di balik pohon-pohon ketika mereka melihat belasan orang perajurit meronda tak jauh dari situ.
Setelah para peronda itu lewat, Yuan berbisik.
"Nona sungguh berbahaya untukmu keluar dari perkampungan ini. Ketahuilah, setelah terjadi perang siang tadi, seluruh perkampungan diadakan perondaan dan sekitar perkampungan dijaga ketat. Dan malam ini juga engkau harus dapat lolos dari sini, karena kalau sampai besok engkau tak dapat keluar, tentu tidak mungkin lagi menyembunyikan diri."
"Aku tidak takut! Aku akan melawan sampai titik darah terakhir!"
Yuan memandang kagum sekali sungguhpun wajah dara itu tidak kelihatan jelas di dalam gelap.
"Selama aku hidup, baru sekarang aku bertemu dengan seorang wanita gagah seperti engkau, Nona. Banyak sudah kubaca dalam kitab tentang pendekar-pendekar wanita yang gagah perkasa di negerimu yang aneh ini, akan tetapi aku masih belum percaya. Sekarang baru aku percaya, dan aku kagum sekah kepadamu, aku harus menolongmu keluar dari tempat ini, malam ini juga."
Kata-kata pemuda itu juga amat mengherankan hati Li Hwa.
Betapapun kagumnya, mana mungkin ada musuh menolong musuhnya?
Apalagi pemuda itu tahu bahwa dia adalah pemimpin pasukan pemerintah yang akan membasmi kaum pemberontak!
"Engkau siapakah?"
Yuan de Gama membungkuk dengan lengan kanan melintang di depan perutnya.
"Aku bemama Yuan de Gama. Ayahku adalah Richardo de Gama, pemilik Kapal Kuda Terbang dan..."
"Dan kalian orang-orang asing membantu para pemberontak!"
Yuan de Gama menggeleng kepala dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak berniat demikian, Nona. Juga kawan-kawanku tidak berniat membantu pemberontak. Akan tetapi kami hanya ingin mengadakan kontak dagang dengan penduduk pribumi. Karena penjabat pemerintahmu melarang, dan karena para pembesar yang kami bantu ini menyanggupi untuk membolehkan kami berdagang..."
"Sudahlah, apa pun alasannya, yang jelas kalian adalah orang-orang asing yang membantu pihak pemberontak!"
"Memang tiada gunanya kita berdebat tentang itu, Nona. Kita hanyalah pelaksana-pelaksana belaka, yang mengatur semua itu adalah orang-orang atasan. Yang penting sekarang, aku harus menolongmu keluar dari sini dan pada saat seperti ini, kuharap kau tidak menganggapku sebagai musuh, Nona."
Li Hwa mengerutkan alisnya.
Kalau keadaan tidak seperti itu, tentu sudah sejak tadi dia menyerang dan membunuh pemuda musuh negara ini!
"Kalau sampai kau ketahuan menolongku lolos?"
Yuan tersenyum dan menggerakkan pundaknya yang bidang.
"Yaahh, apa boleh buat! Sudah nasibku mati diberondong senapan oleh bekas anak buahku sendiri sebagai seorang pengkhianat."
Li Hwa bergidik.
Dia sudah pernah melihat seorang anak buahnya terluka oleh peluru senapan, senjata rahasia yang mengerikan dari pihak orang-orang asing itu.
Dan akibatnya benar-benar mengerikan.
Anak buahnya itu meraung-raung karena nyeri dan lukanya itu seperti dibakar rasanya.
"Dan kau rela terancam bahaya untuk menolong aku, seorang musuh?"
"Hiisshh, Nona. Sudah kukatakan, pada saat ini kau bukan musuhku, dan mudah-mudahan aku bukan musuhmu. Engkau bagiku adalah seorang pendekar wanita yang amat hebat dan amat kukagumi. Marilah..."
Kembali Yuan menggandeng tangan Li Hwa dan dara ini menurut saja ketika dia dibawa menyelinap ke sana-sini, kadang-kadang mendekam di balik rumah-rumah atau pohon-pohon.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di sekitar pagar tembok yang mengelilingi pekarangan itu.
Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa asing.
Mendengar ini, Yuan cepat menarik Li Hwa dan keduanya bertiarap, menelungkup di balik rumpun alang-alang.
Suara itu adalah suara Hendrik yang berteriak-teriak kepada para penjaga.
"Jangan sampai dia lolos! Tawananku itu adalah pemimpin pasukan musuh yang menyerbu siang tadi. Awas, siapa yang dapat menangkapnya, hidup atau mati, akan kuberi hadiah besar, akan tetapi yang membiarkannya lolos, akan kuhukum!"
Yuan dan Li Hwa bersembunyi sampai suara Hendrik itu lenyap dan orangnya pergi dan dengan lirih Yuan berbisik.
"Tadi adalah Hendrik yang menawanmu. Sekarang semua penjaga di sekeliling perkampungan ini telah tahu bahwa engkau lolos dari tahanan Hendrik dan mereka tentu mengerahkan seluruh perhatian untuk menemukanmu. Hal ini membuat usaha kita makin sulit. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan usahaku meloloskanmu, aku ingin mengetahui apakah engkau benar-benar telah percaya kepadaku, Nona?"
"Hemmm... percaya dalam hal apa?"
"Bahwa aku hanya ingin menolongmu, karena kekagumanku terhadap dirimu, tidak ada lain hal yang tersembunyi di balik itu."
Sampai lama mereka berpandangan dalam gelap, muka mereka tidak begitu jauh jaraknya karena mereka berdua bertiarap di dalam semak-semak.
Akhirnya Li Hwa mengangguk.
"Aku percaya kepadamu, sungguhpun aku sendiri heran mengapa aku harus percaya kepada seorang asing, seorang musuh."
Yuan tersenyum.
"Bagus, Nona. Bolehkah aku mengetahui namamu?"
Kembali Li Hwa meragu. Sampai lama, setelah dia menimbang-nimbang, barulah dia menjawab.
"Namaku Souw Li Hwa, dan guruku adalah Panglima Besar The Hoo."
"Ya Tuhan...!"
Yuan de Gama berseru lirih dan pandang matanya makin kagum lagi.
"Nama besar gurumu itu siapa yang tidak tahu? Pantas saja kalau begitu! Kiranya Nona adalah murid orang luar biasa itu?"
"Sekarang bagaimana engkau akan meloloskan aku dari sini? Kurasa jalan satu-satunya hanya menerjang ke luar. Aku tidak takut, biar aku menerjang ke luar dan tidak perlu kau mengkhianati teman-temanmu sendiri."
"Tidak...! Jangan lakukan itu, Nona...! Penjagaan amat ketat dan mereka telah mempersiapkan senjata api, kau tentu akan tertawan kembali atau tertembak mati. Kalau hal itu terjadi, aku akan menyesal dan hidup menderita selamanya! Marilah, aku mempunyai akal asal engkau benar-henar percaya kepadaku. Mari!"
Yuan lalu menggandeng tangan dara itu menyelinap melalui tempat gelap menuju ke sebuah pintu gerbang yang dijaga belasan orang penjaga terdiri dari perajurit-perajurit pemberontak dan beberapa orang asing.
Li Hwa melihat betapa orang-orang asing itu memegang senjata api mereka dalam keadaan siap.
Andaikata dia tidak gentar menghadapi senjata rahasia itu, kalau hanya belasan orang yang menjaga di situ, tentu dia akan sanggup untuk merobohkan mereka, atau setidaknya meloloskan diri dari pintu gerbang itu.
Akan tetapi dia bersama Yuan, kalau sampai mereka mengenalnya bersama-sama pemuda asing yang menolongnya ini tentu Yuan akan dianggap pengkhianat dan pemuda itu akan celaka.
Maka dia diam dan menurut saja ketika Yuan menggandengnya mendekati pintu gerbang, tidak tahu bagaimana pemuda itu akan menyelamatkannya.
Ketika Yuan dan Li Hwa sudah tiba dekat sekali dengan pintu gerbang, di bagian yang akan gelap, tidak tertimpa langsung oleh lampu yang tergantung di pintu gerbang, terdengar seorang di antara para penjaga menghardik.
"Heiii! Berhenti! Siapa di situ?"
Semua urat syaraf di tubuh Li Hwa sudah menegang dan dara ini sudah siap untuk menerjang maju.
Akan tetapi Yuan merangkulnya dan berbisik.
"Nona, jangan bergerak. Ingat, kau sudah percaya kepadaku, kau menurut saja..."
Empat orang penjaga berlari mendekati dan pada saat itu, Yuan merangkul leher Li Hwa dan mencium bibir dara ini, mendekap muka itu dengan ketat sehingga muka Li Hwa tidak tampak, tertutup oleh mukanya sendiri.
Kemudian, dia mendekap kepala Li Hwa, wajah dara itu disembunyikan di dadanya, dan dia membentak.
"Kurang ajar! Berani kalian mengganggu kesenanganku?"
"Ohhh... ahhh... Tuan Yuan de Ga-ma... maafkan kami! Kami telah menerima perintah agar melakukan penjagaan keras...!"
"Aku tahu!"
Yuan membentak.
"Dan kalian harus menjaga baik-baik agar panglima wanita musuh itu jangan sampai lolos. Dia pandai sekali, mungkin akan melompati pagar tembok. Tak mungkin dia melalui pintu gerbang. Hemm, sungguh menjemukan, tidak ada tempat yang aman untuk bermain cinta. Aku mau keluar saja, mencari tempat sunyi. Hayo, manis..."
Yuan de Gama menggunakan mantelnya untuk menyelimuti Li Hwa dan dia membawa Li Hwa yang masih dirangkulnya itu keluar melalui pintu gerbang, ditonton oleh belasan orang itu yang saling lirik dan menyeringai.
Li Hwa sendiri sudah hampir pingsan sejak dia diciumi oleh Yuan de Gama tadi.
Tubuhnya menggigil, kaki tangannya menjadi dingin dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Dalam waktu satu malam, dia telah diciumi oleh dua orang laki-laki, dua orang asing dan dicium dengan cara yang sama sekali belum pernah didengarnya, apalagi dialaminya!
Ketika Hendrik mencium dan mengecup bibirnya, dia merasa amat marah, benci, dan muak sehingga dia menggigit bibir pemuda asing itu untuk menyerangnya, membuat bibir Hendrik terluka berdarah dan hampir terobek putus!
Akan tetapi, ketika Yuan de Gama menciumnya, biarpun dia merasa terkejut sekali namun dia maklum bahwa pemuda ini menciumnya bukan karena dorongan nafsu dan bukan untuk berkurang ajar, melainkan untuk menyelamatkannya.
Pula, dia merasa bedanya ciuman antara kedua orang pria itu.
Ketika Yuan menciumnya, dia merasa seolah-olah tubuhnya melayang naik ke angkasa, tubuhnya lemas dan ia seperti di alam mimpi!
"Ha-ha-ha...!"
Terdengar empat orang asing yang berjaga di situ tertawa-tawa dan bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Li Hwa.
"Heran sekali,"
Kata seorang di antara para penjaga bersenjata tombak.
"Tuan Yuan de Gama lebih senang bercinta di tempat terbuka, padahal sudah disediakan kamar-kamar dan tempat tidur yang lunak. Aneh...!"
"Mengapa aneh?"
Bantah yang lain.
"Mereka itu memang mempunyai kebiasaan dan kesukaan yang berbeda dengan kita. Yang untung adalah wanita itu. Hemmm... Tuan Yuan de Gama adalah seorang pemuda yang biasanya pantang bercinta dengan wanita-wanita yang disediakan untuk mereka, dan selain paling tampan, juga paling baik budi dan paling kaya!"
Mendengar kata-kata antara kedua orang penjaga itu, bermacam perasaan mengaduk hati Li Hwa.
Akan tetapi semua perasaan ini ditahannya sampai mereka tiba jauh dari pintu gerbang dan tiba-tiba Yuan melepaskan rangkulannya.
"Nah, sekarang sudah aman, Nona Li Hwa."
Mereka berdiri berhadapan.
Bintang-bintang memenuhi angkasa, mencurahkan sinar redup dingin sehingga mereka dapat saling memandang dalam keadaan remang-remang.
"Yuan de Gama..."
Li Hwa akhirnya dapat mengeluarkan suaranya. Lirih namun penuh perasaan.
"Aku akan menganggapmu sebagai..."
"Yaaa...?"
"Seorang yang baik hati dan..."
"Hemmm...?"
"... sebagai seorang yang kurang ajar!"
"Begitukah, Nona Li Hwa?"
"Untuk kebaikan hatimu, aku berterima kasih kepadamu."
"Tidak usah berterima kasih!"
"Dan untuk kekurangajaranmu..."
"Kekurangajaran yang mana?"
"... ketika kau... kau menciumku tadi..."
"Aahhh, aku tidak berniat kurang ajar..."
"Betapapun juga, Yuan de Gama, kau telah berlaku tidak sopan, dan untuk itu... aku akan..."
"Yaaa...?"
"Plakkkk!"
Pipi kiri Yuan de Gama ditampar oleh telapak tangan Li Hwa.
Dara itu tidak mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi tetap saja tamparan itu membuat pipi Yuan kemerahan dan tampak bekas jari-jari tangan kecil di atas kulit pipi itu.
"Nona, terima kasih atas kebaikanmu..."
"Jangan kau mengejek. Aku menamparmu karena mengingat akan kekurangajaranmu tadi."
"Untuk ciuman-ciuman itu Nona, walaupun kulakukan bukan karena hendak kurang ajar kepadamu atau hendak menghinamu, aku rela menerima tamparanmu, bahkan kalau kau masih penasaran, boleh kau tampar lagi sesukamu..."
"Ehhh..."
Li Hwa berseru heran, tidak menyangka pemuda itu akan berkata demikian.
"Benar Nona. Karena... semenjak aku melihatmu, apalagi setelah menyaksikan kegagahanmu, tahulah aku bahwa aku jatuh cinta kepadamu, Nona."
"Ihhh...!"
"Terserah kepadamu kalau kauanggap aku kurang ajar. Biar kau hendak membunuhku sekalipun, takkan dapat kau memaksaku untuk menarik kembali kata-kataku. Aku cinta kepadamu, Souw Li Hwa..."
"Aihhh...!"
Li Hwa mundur-mundur dengan muka pucat, jantungnya berdebar tidak karuan, kemudian terdengar isak naik dari dadanya, tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat pergi dari tempat itu.
"Souw Li Hwa, aku cinta kepadamu..."
Yuan de Gama berteriak.
Sejenak Li Hwa memandang pemuda itu dengan hati tidak karuan rasanya.
Selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan orang seperti pemuda gundul ini yang begini berani, kurang ajar, akan tetapi juga tak dapat disangkal kebenaran ucapannya.
Teringat akan bokor emas dan bahwa pemuda ini murid Bun Hoat Tosu, dia bersabar kembali dan bertanya.
"Kun Liong, jangan engkau main-main. Aku sungguh tidak mengerti sikapmu. Engkau ini kawan ataukah lawan, engkau membela pemerintah ataukah memihak pemberontak. Sesungguhnya, di manakah adanya bokor itu?"
Kun Liong menarik napas panjang.
"Nah, kalau begitu lebih baik. Kalau sikapmu ramah dan halus, pada wajahmu terbayang kecantikan aseli dan engkau bertambah manis. Sungguh, Li Hwa. Seorang dara jelita seperti engkau ini tidak patut kalau mudah marah dan bersikap kejam. Aku akan memberi penjelasan, akan tetapi sebelumnya aku minta supaya diberi sebuah baju lebih dulu. Aku tidak mau bicara denganmu dalam keadaan setengah telanjang begini!"
Li Hwa merapatkan giginya, akan tetapi dia kehabisan akal, tidak mau marah lagi karena memang kalau dipikir, dia telah bertindak keterlaluan dengan menghancurkan semua baju dari tubuh atas pemuda itu.
Dengan nyaring dia lalu memanggil seorang perwira dan memerintahkan perwira ini mengambilkan sepotong baju untuk "tawanan"
Ini.
Perwira itu memandang Kun Liong, tersenyum lalu mengambil sepotong baju, menyerahkannya kepada Kun Liong, kemudian pergi lagi untuk melanjutkan pertempuran yang masih terjadi di luar perkampungan.
"Li Hwa, kaulepaskan dulu belenggu ini. Tanpa dilepaskan, bagaimana aku dapat memakai baju ini?"
Karena apa yang diucapkan pemuda itu memang benar, biarpun hatinya gemas bukan main, Li Hwa terpaksa membuka belenggu dengan kunci belenggu, akan tetapi begitu belenggu terputus, tampak sinar berkilat dan pedangnya sudah menodong lagi ke lambung pemuda itu.
Kun Liong melirik pedang, memandang wajah dara itu dan tersenyum lebar, menggerakkan kedua pundak dan mengenakan pakaian itu seenaknya seperti mengulur waktu.
"Hayo, cepat!"
Li Hwa menghardik.
Setelah Kun Liong selesai mengenakan baju, kembali belenggu itu dipasangkan kepada kedua pergelangan tangannya.
Kun Liong tidak membantah, bahkan memandang dengan tersenyum, seolah-olah menghadapi seorang anak yang bengal.
"Nah, sekarang katakan di mana bokor itu."
"Kalau sudah kukatakan, kau akan membebaskan aku?"
"Enak saja! Kalau aku sudah mendapatkan bokor itu, baru kau akan kubebaskan."
"Wah-wah, kalau begitu akan lama kita berkumpul. Hemm, aku senang berkumpul dengan seorang dara yang cantik menyenangkan seperti engkau, Li Hwa, heh-heh..."
"Lekas katakan di mana!"
Li Hwa menghardik lagi dan kembali pedangnya sudah dicabut.
"Aduhh, galak benar, kau. Bokor itu telah terampas oleh Ketua dari Kwi-eng-pang..."
"Apa? Kwi-eng Niocu?"
"Benar. Tadi ada lima orang datuk kaum sesat, lengkap dan ditambah empat orang kakek yang tak kukenal, mengurungku dan karena aku merasa tidak sanggup menghadapi mereka, terpaksa aku tidak dapat mempertahankan bokor itu dan terampas oleh Kwi-eng Niocu. Dan memang sengaja kulemparkan kepadanya."
"Kau sengaja?"
Mata yang indah itu terbelalak, penuh keheranan dan kemarahan.
"Mengapa kau berikan dia?"
"Karena aku menggunakan ini!"
Dengan kedua tangannya yang dibelenggu, Kun Liong mengusap kepalanya.
"Hemm, gundul seperti itu mana ada otaknya!"
Li Hwa mengomel.
"Hayo katakan, kenapa kau berikan wanita iblis itu?"
"Karena di antara lima orang datuk kaum sesat itu, hanya dialah yang sudah kuketahui dengan betul sarangnya, dan selain itu, juga aku masih mempunyai perhitungan dengan dia yang telah mencuri dua buah benda pusaka Siauw-lim--pai. Karena itu, biar sementara kutitipkan bokor itu kepadanya."
"Kau titipkan? Tolol! Bodoh sekali! Kalau dia ketahui rahasia bokor, celaka sekali. Aku harus cepat merampasnya kembali. Dasar kau tolol!"
"Memang aku tolol, habis mengapa?"
"Huh!"
Li Hwa mendengus, kemudian dia memanggil seorang perwira, memerintahkan perwira itu untuk mengumpulkan sepasukan kecil untuk menjaga Kun Liong.
"Jangan biarkan dia lari, kalau perlu bunuh saja!"
Dia memerintah.
"Wah, galaknya, Li Hwa, jangan khawatir, aku tidak akan lari darimu, apalagi karena aku belum membalas perbuatanmu tadi."
Kun Liong tertawa ketika melihat belasan orang perajurit pemerintah mengepungnya dan menjaganya dengan senjata terhunus.
Wajah Li Hwa menjadi merah sekali karena dia tahu apa yang dimaksudkan oleh Kun Liong dengan pembalasan itu, maka tanpa bicara lagi dengan pedang terhunus di tangan dia sudah berlari cepat ke arah pertempuran untuk membantu pengawal Tio Hok Gwan bersama pasukannya membasmi pemberontak, dan hal ini tidaklah sukar karena pemberontak telah mulai terdesak dan sudah ada yang melarikan diri.
Ketika Li Hwa meninggalkan pasukannya yang tadinya mengalami kekalahan, di tengah jalan dia bertemu dengan pengawal tua pengantuk yang lihai itu bersama pasukannya, maka dia lalu mendapat bantuan dan bersama-sama pasukannya yang menanti, mereka lalu menyerbu perkampungan pemberontak dan sekali ini, karena jumlah pasukan pemerintah lebih besar, mereka berhasil mendesak kaum pemberontak yang dibantu oleh orang-orang asing itu.
Karena kini jumlah pasukan pemerintah lebih banyak, terutama sekali karena amukan Tio Hok Gwan dan Souw Li Hwa perang itu tidak berlangsung terlalu lama dan pasukan pemberontak dipukul hancur, banyak jatuh korban, banyak para pimpinan pemberontak ditawan dan banyak pula yang melarikan diri, termasuk Hendrik.
Perkampungan nelayan yang dijadikan sarang pemberontak itu dapat direbut dan Li Hwa segera bersama Tio Hok Gwan mengerahkan pasukan mengadakan pembersihan dan mengumpulkan tawanan di sebuah pondok besar dan dijaga ketat.
Setelah perang selesai dan anak buahnya sibuk mengurus korban, karena pakaiannya kotor ternoda darah musuh dan tubuhnya terasa lelah, Li Hwa lalu pergi ke sebuah tempat sunyi yang terlindung oleh tebing-tebing batu dan pepohonan, Menanggalkan semua pakaiannya yang kotor dan menaruh pakaian bersih pengganti di tepi sungai, kemudian dia terjun ke air sungai yang amat tenang dan cukup jernih di bagian itu.
Sambil merendam di air yang sejuk sedalam pinggang, Li Hwa mencuci seluruh tubuhnya, merasa segar dan gembira.
Akan tetapi sambil menggosok-gosok tubuhnya, dia termenung dan alisnya berkerut ketika dia teringat akan semua yang terjadi selama beberapa hari ini.
Terbayang di depan matanya wajah tiga orang pemuda yang amat mengesankan hatinya dan yang menimbulkan bermacam perasaan.
Wajah Hendrik yang telah menawannya, menciumnya dengan paksa, mendatangkan perasaan benci yang besar dan diam-diam mengharapkan agar pemuda asing yang dibencinya itu tewas dalam perang atau setidaknya berada di antara para tawanan!
Wajah ke dua adalah wajah Yuan de Gama, pemuda asing yang telah menolongnya dan teringat akan Yuan, kedua pipi Li Hwa menjadi merah, Yuan juga menciumnya, mencium mulutnya dengan amat mesra, akan tetapi bukan mencium dengan paksa atau sengaja untuk berbuat kurang sopan, melainkan ciuman untuk menghindarkan kecurigaan para penjaga, ciuman untuk menolongnya dan membebaskannya.
Dan entah mengapa, teringat akan ini Li Hwa merasa malu sekali, jantungnya berdebar aneh dan ada keinginan mendesak di hatinya, keinginan untuk bertemu lagi dengan Yuan de Gama!
Wajah ke tiga adalah wajah pemuda berkepala gundul, Yap Kun Liong, dan wajah ini menimbulkan kegemasan di hatinya, geram kecewa, akan tetapi juga kagum.
Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan dua orang pemuda seperti Yuan de Gama dan Yap Kun Liong.
Kalau teringat akan bokor emas, hatinya menjadi makin gemas kepada Kun Liong.
Celaka benar pemuda itu.
Bokor sudah terdapat, diserahkan kepada Kwi-eng Niocu!
Dia ingin sekali mendapatkan bokor emas itu.
Dia tahu betapa akan gembiranya hati gurunya, Panglima Besar The Hoo kalau dia dapat menyerahkan bokor itu kepada gurunya.
Gurunya merupakan orang satu-satunya di dunia ini, pengganti orang tuanya yang telah tiada.
Li Hwa telah menjadi seorang yatim piatu karena ayah bundanya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Ayahnya, Souw Bun Hok, bekas juru mudi suhunya, telah meninggal lebih dahulu tujuh tahun yang lalu.
Kemudian ibunya terserang penyakit menular, meninggal dua tahun yang lalu.
Karena dia tidak mempunyai keluarga lain, maka hanya Panglima The Hoo, Gurunya itulah yang menjadi pengganti orang tuanya.
Bahkan kini dia meninggalkan rumah orang tuanya di Liok-ek-tung, diminta oleh suhunya untuk tinggal di istana panglima itu, sebagai murid, juga seperti anak sendiri karena suhunya tidak mempunyai anak.
Tentu saja dia ingin menggembirakan hati gurunya yang sudah dianggap seperti orang tua sendiri itu.
Celakanya, semua menjadi gagal karena ketololan Kun Liong!
Memang The Hoo yang tidak mempunyai anak merasa amat suka kepada muridnya ini.
Semenjak kecil, Li Hwa yang mempunyai bakat dan tulang baik itu telah diambil murid oleh The Hoo.
Biarpun orang sakti ini tidak sempat menurunkan seluruh kepandaiannya yang tinggi dan hanya di waktu dia datang ke rumah juru mudinya saja dia mengajar Li Hwa, namun dara ini telah memiliki ilmu kepandaian hebat sekali, Terutama sekali Ilmu Silat Jit-goat-sin-ciang-hoat yang mempergunakan tenaga Im-yang-sin-kang dan yang lebih menakutkan lawannya adalah ilmunya It-ci-san, yaitu ilmu menotok yang lihai.
Ketika melihat betapa dara itu ditinggal mati ayah bundanya, The Hoo merasa makin kasihan dan memanggil muridnya untuk tinggal di kota raja, di dalam istananya.
Di tempat ini, selain menjadi pengurus rumah tangga gurunya, mengepalai semua pelayan dalam, juga kadang-kadang Li Hwa mewakili gurunya dalam urusan besar seperti menumpas kaum penjahat dan pemberontak.
Ketika The Hoo menerima laporan Pendekar Sakti Cia Keng Hong tentang pemberontakan yang timbul di Ceng-to, dia lalu mengerahkan tenaga para pembantunya, bahkan Li Hwa sendiri disuruh mengepalai pasukan untuk mengadakan pembersihan di sepanjang Sungai Huang-ho!
Tio Hok Gwan pengawal kepala yang lihai itu pun mengepalai pasukan sedangkan pasukan besar yang menyerbu ke Ceng-to selain dipimpin panglima-panglima perang yang berpengalaman, juga dibantu oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong sendiri atas permintaan Panglima Besar The Hoo!
Sambil mandi membersihkan tubuhnya, Li Hwa mengenangkan ini semua, dan dia menjadi kecewa karena gagal mendapatkan bokor emas.
Dia bermaksud untuk memimpin pasukannya untuk menyerbu ke Telaga Kwi-ouw, menyerang Kwi-eng-pang untuk merampas kembali bokor emas, sedangkan para tawanan pemberontak akan dia serahkan kepada Tio Hok Gwan agar digiring ke kota raja sebagai tawanan perang.
Suara orang berdehem membuat Li Hwa terkejut sekali.
Dia menoleh dan...
"Ihhh...!"
Dara itu menjerit ketika melihat Kun Liong si kepala gundul telah duduk metongkrong di atas sebuah batu di pinggir sungai, dekat tumpukan pakaian Li Hwa!
"Heh-heh-heh, indah dan sedap sekali pemandangan di sini!"
Kun Liong berkata ke arah punggung Li Hwa yang putih mulus itu.
"Bedebah! Setan iblis siluman keparat kau, Kun Liong!"
Li Hwa menjerit-jerit sambil merendam tubuhnya makin dalam.
Dia berjongkok ke dalam air sehingga air sampai ke lehernya, baru dia berani memutar tubuh dan memandang pemuda itu dengan mata terbelalak penuh kemarahan.
Yang dimarahi tersenyum-senyum lebar, menggerak-gerakkan alis dan matanya seperti orang tidak mengerti.
"Lho, kenapa marah-marah tidak karuan? Apa salahku sekali ini, Nona manis?"
"Yap Kun Liong manusia cabul! Hayo lekas pergi kau, kalau tidak... hemm... aku bersumpah untuk membunuhmu sekarang juga!"
"Heh-heh-heh..."
Kun Liong terkekeh dan menjadi makin gembira.
Kini dia merasa dapat membalas dendam kepada dara yang telah beberapa kali menghinanya itu.
"Engkau memang seorang dara yang jelita, manis dan galak, dan engkau memang menjadi pemimpin pasukan. Akan tetapi aku belum mendengar bahwa kau telah menjadi siluman penunggu Sungai Huang-ho."
"Apa... apa maksudmu?"
Li Hwa membentak dengan kedua tangan menutupi dada, seolah-olah air yang menutupi dadanya masih belum cukup untuk menyembunyikan bagian tubuh ini dari pandang mata Kun Liong yang tajam.
"Kau mengusir aku pergi seolah-olah tempat ini menjadi hakmu, maka agaknya engkau telah menjadi siluman penunggu sungai maka kau menghaki tempat ini dan mengusir aku pergi!"
"Jahanam kau! Sengaja mengintai orang mandi, ya? Tak tahu malu! Cihhh, laki-laki mata keranjang, cabul, muka tembok!"
"Ha, hendak kulihat siapa yang lebih kuat bertahan. Kau yang memaki-maki di situ atau aku yang duduk di sini. Aku akan duduk di sini selama engkau masih memaki-maki aku."
Kun Liong duduk seenaknya dan kini dia mengembil baju Li Hwa, mempermainkan baju itu sambil mengomel.
"Bagaimana ya rasanya baju dirobek-robek, orang?"
Dan dia membuat gerakan seperti hendak merobek-robek baju itu.
"Kun Liong keparat kau! Jangan robek-robek bajuku!"
Saking marahnya, Li Hwa sampai lupa diri, bangkit berdiri sehingga tubuh bagian atasnya tampak.
Lengan kirinya dilingkarkan sedapatnya menutupi dadanya yang membusung, tangan kanannya menuding ke arah Kun Liong di sebelah belakangnya dengan marah.
Kun Liong bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan terbelenggu yang kini memegang baju Li Hwa.
Kun Liong bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan terbelenggu yang kini memegang baju Li Hwa.
"Sabar Nona manis, aku tidak merobek bajumu. Aku hanya ingin melihat tubuhmu seperti kau telah melihat tubuh. Duhaiii... indahnya, halusnya... hemm..."
"Celuppp...!"
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 2
Baca Juga: Mutiara Hitam 5