Eps 2 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.
"Saya sebagai ketua Hek-liong-pang bernama Huang-ho Sin-liong Ciok Khun (Naga Sakti Huang-ho), dan sebagai tuan rumah karena tempat ini termasuk wilayah kekuasaan Hek-liong-pang, menghaturkan selamat datang kepada Cu-wi Locianpwe sekalian. Maksud kunjungan kita semua di tempat ini tanpa ada yang mengundang mempunyai tujuan yang sama. Kini kita semua melihat pula hadirnya pasukan pemerintah maka biarlah pemerintah menjadi saksi diakannya pemilihan bengcu (ketua) persilatan di dunia kang-ouw. Kami hanya akan menyerahkan pulau ini kepada pihak yang patut menjadi bengcu, maka pihak yang sekiranya tidak mempunyai kepandaian dan tenaga untuk menangkan pibu, harap mundur saja."
Ucapan ini disambut suara gemuruh mereka yang hadir, ada yang pro dan ada pula yang kontra, namu semua setuju bahwa urusan "pusaka"
Tidak disinggung-singgung karena mereka tahu biar pun kini belum nampak pasukan pemerintah turun ke pulau, namun tentu ada para penyelidiknya yang turut menyaksikan dan mendengar.
"Kami pihak Hek-liong-pang yang mempunyai daerah sepanjang Sunga Huang-ho dari Terusan Besar sampai ke muara telah bersepakat dengan pihak Hek-i Kai-pang yang mempunyai daerah sepanjang lembah Huang-ho di utara, untuk bersama-sama menjadi tuan rumah dan kami mengambil kehormatan untuk membuka pibu ini. Karena kami maklum bahwa yang hadir adalah tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang memiliki ilmu-ilmu kepandaian tinggi sekali, maka kami mengambil keputusan untuk maju sendiri sebagai penguji pertama. Gu-loheng, marilah!"
Dari rombongan Hek-i Kai-pang meloncat keluar seorang laki-laki tinggi besar berusia lima puluhan tahun, memegang sebatang tongkat hitam, sama dengan pakaiannya yang terbuat dari pada sutera hitam.
Inilah Toat-bengt-tung Gu Ban Koai (Si Tongkat Maut), ketua Hek-i Kai-pang yang selama ini, seperti juga Hek-liong-pang, telah dapat memperkuat perkumpulannya.
Dahulu Hek-liong-pang tidaklah begitu kuat ketika diketuai oleh ayah dari Ciok Khun ini yang bernama Ciok Ceng.
Akan tetapi, Ciok Khun memiliki ilmu kepadaian yang jauh lebih tinggi dari ayahnya karena ia telah berguru kepada seorang pendeta perantauan yang datang dari seberang lautan timur.
Dia memiliki ilmu pedang yang dashyat dan aneh.
Demikian pula dengan Hek-i Kai-pang.
Ketika dulu diketuai oleh It-gan Hek-houw Song-pangcu, perkumpulan ini tidak memperoleh kemajuan.
Akan tetapi sekarang setelah dipimpin oleh ketuanya yang baru, hek-i Kai-pang menjadi maju dan makin kuat.
Hal ini adalah karena ketuanya sekarang adalah seorang yang amat lihai, terutama sekali ilmu tongkatnya sehingga dia mendapat julukan Tongkat Maut!
Karena pibu yang diadakan tanpa perjanjian lebih dulu ini sebenarnya bukanlah pibu biasa, dan biar pun tidak diucapkan telah dimengerti oleh semua yang hadir bahwa pibu ini lebih pantas dikatakan memperebutkan hak "siapa yang menang akan berhak mencari pusaka di tempat itu", maka yang maju adalah kedua orang ketua itu sendiri!
Huang-ho Sin-liong Ciok Khun sudah mencabut pedangnya dan bersiap menghadapi lawan yang berani memasuki kalangan pibu, di samping Toat-beng-tung Gu Ban Koai yag sudah melintangkan tongkat di depan dada.
Perlu diketahui bahwa kebiasaan memperebutkan bengcu atas pemimpin persilatan atau juga datuk persilatan yang merupakan jagoan terpandai, adalah kebiasaan golongan hitam dan perkumpulan-perkumpulan yang bergerak dalam bidang persilatan.
Kaum partai besar seperti Kun-lun-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain yang di samping mengembangkan ilmu silat juga terutama mengembangkan agama dan ilmu kebatinan, tidak bernafsu untuk disebut sebagai jago silat nomor satu.
Oleh karena itu partai-partai besar yang hadir di saat itu tidak diwakili oleh ketua-ketua mereka, dan kedatangan mereka itu semata-mata hanya tertarik oleh berita ditemukannya tempat penyimpanan pusaka-pusaka yang hilang, sama sekali tidak bermaksud mengikuti pibu memperebutkan kedudukan jago nomor satu.
Maka tantangan pibu yang dibuka oleh kedua ketua itu mereka sambut dengan sikap dingin dan tidak ada niat untuk turun tangan, kecuali hanya untuk menonton saja dan melihat perkembangan keadaan lebih lanjut.
Dua orang meloncat ke depan.
Yang seorang adalah ketua Hui-houw-pai bernama Sim Koa Bi, berjuluk Hui Houw (Macan Terbang) dan perkumpulannya menggunakan nama perkumpulan itulah.
Tubuhnya gemuk pendek dan ia memegang sebuah senjata rantai baja yang ujungnya dipasangi bola berduri di kanan kiri.
Orang kedua yang meloncat keluar dari golongan perorangan tanpa rombongan adalah seorang yang bertubuh kecil kurus, berpakaian mewah dan kedua tangannya memegang sepasang pedang.
Usianya sebaya dengan ketua Hui-houw-pai, yaitu sekitar tiga puluh lima tahun.
Akan tetapi sikapnya malu-malu seperti perempuan, dan dia berdiri di situ sambil tersenyum-senyum merendah.
"Aku Hui-houw Sim Koa Bi ketua Hui-houw-pai mohon pengajaran dari dua pangcu!"
Kata ketua Hui-houw-pai dengan suara mengguntur.
"Saya Kwa Ok Kian yang bodoh memberanikan diri memperluas pengetahuan. Untuk memperebutkan bengcu tentu saja saya tidak berani. Cukup kalau ikut meramaikan pertemuan ini agar menghangatkan hati para Locianpwe sebelum turun tangan!"
Kata orang kurus sambil tersenyum.
Biar pun sikapnya demikian merendah, namun orang ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali karena sejak kecil dia menggembleng ilmu di daerah Go-bi-san dan baru sekarang turun gunung.
Dua orang tuan rumah itu memandang penuh perhatian, kemudian Ciok Khun berkata.
"Kami berdua sebagai pihak tuan rumah mempersilahkan Ji-wi untuk memilih lawan di antara kami berdua."
Sim Koa Bi ketua Hui-houw-pai cepat berkata.
"Aku ingin sekali berkenalan dengan tongkat maut dari pangcu Hek-i Kai-pang!"
Dia memang sudah mendengar akan kelihaian ketua Hek-liong-pang, maka dengan cerdik ia memilih ketua perkumpulan Pengemis Baju Hitam itu yang belum ia kenal.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa tingkat kepandaian pengemis ini sebetulnya tidak berbeda jauh dengan tingkat kepandaian ketua Hek-liong-pang!
Kwa Ok Kian tersenyum dan menghampiri Ciok Khun sambil berkata.
"Kalau begitu biarlah saya menerima pengajaran dari Ciok-pangcu!"
"Silahkan!"
Kata Ciok Khun yang sudah melihat betapa ketua Hek-i Kai-pang telah mulai bertanding melawan ketua Hui-houw-pai.
"Pangcu, lihat siang-kiam!"
Dua sinar berkelebat ketika Si Kecil ini mengerahkan sepasang pedangnya, tahu-tahu pedang kanan membabat leher dan pedang kiri membabat kaki lawan dengan gerakan yang berlawanan.
Hebat bukan main serangan ini sehingga Ciok Khun berseru memuji, menangkis pedang yang mengancam leher sambil meloncat ke atas menghindari babatan pada kakinya.
Kemudian ketua Hek-liong-pang ini melanjutkan gerakannya dengan serangan balasan.
Mereka segera bertanding dengan seru dan yang tampak hanyalah sinar pedang bergulung-gulung menyilaukan mata.
Pertandingan antara ketua Hui-houw-pai melawan ketua Hek-i Kai-pang juga berjalan dengan amat hebat.
Sim Koa Bi yang pendek gemuk itu ternyata lihai sekali.
Gerakannya cepat dan rantai di tangannya menjadi sinar bergulung-gulung.
Yang mengagumkan sekali adalah gerakan loncatannya, seperti terbang saja dan dari atas rantainya menyambar.
Kedua kakinya juga melakukan tendangan-tendangan yang amat berbahaya.
Namun Gu Ban Koai dengan tongkatnya bergerak tenang.
Tongkatnya membentuk pertahan yang amat kuat dan kadang-kadang, biar pun hanya jarang saja, satu melawan tiga dibandingkan dengan gencarnya serangan rantai, tongkat itu secara tiba-tiba menyambar dan kalau mengenai lawan tentu mendatangkan bahaya maut.
Agaknya tidaklah mengecawakan kalau ketua partai pengemis ini mendapat julukan Tongkat Maut karena tongkatnya selalu mengirim serangan dashyat dan lebih banyak bertahan dari pada menyerang.
Pendeknya, setiap serangan tentu diperhitungkan masak-masak, bukan sembarang menyerang untuk mengacaukan lawan, melainkan serangan untuk merengut nyawa lawan!
Bun Beng berdiri dan menonton dengan bengong penuh kekaguman.
Dia sering kali melihat murid-murid Siauw-lim-pai berlatih silat, akan tetapi baru sekarang dia melihat pertandingan sehebat itu.
Gerakan-gerakan pedang itu bagaikan halilintar menyambar, lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi sinar terang bergulung-gulung.
Dan rantai bersama tongkat itu pun bergerak secara hebat sehingga si Tongkat nampak berubah menjadi puluhan banyaknya dan rantainya berubah menjadi gulungan sinar.
"Suhu, siapa yang akan menang dalam pertandingan dashyat itu?"
Tanyanya kepada gurunya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari medan pertandingan.
"Hemm, pertandingan ini belum berapa hebat, Bun Beng. Kalau orang yang sakti maju, tidak perlu menggunakan senjata keras! Kulihat orang she Kwa itu biar pun memiliki ilmu siang-kiam yang hebat dan memiliki gerakan yang cepat, namun ia masih kalah pengalaman dibandingkan dengan ketua Hek-liong-pang, dan tenaga sinkang-nya kalah kuat. Agaknya ketua Hek-liong-pang yang akan menang. Adapun pertandingan yang satu lagi, jelas bahwa ketua Hek-i Kai-pang yang menang karena ia lebih tenang dan tongkat mautnya itu benar-benar berbahaya sekali. Perhatikanlah, pihak tuan rumah itu kini mulai mendesak."
Bun Beng memadang penuh perhatian.
Telah lima tahun lamanya dia di gembleng oleh gurunya.
Pengetahuannya dalam ilmu silat sudah mendalam, bahkan sudah banyak ilmu silat tinggi yang dia pelajari sehingga dia hanya kurang matang dalam latihan saja dan tenaganya masih belum besar.
Akan tetapi dia sudah memiliki kewaspadaan dan dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas.
Dia melihat bahwa kini pihak tuan rumah, yaitu kedua pangcu itu, telah mendesak lawan masing-masing sehingga kedua lawannya lebih banyak menangkis dari pada menyerang.
Namun dia dapat melihat pula bahwa pihak tuan rumah tidak berniat membunuh lawan, maka kini desakan ditujukan pada lengan atau kaki lawan, buka di bagian yang berbahaya.
"Saya mengaku kalah! Hek-liong-pang mempunya pangcu yang hebat!"
Kwa Ok Kian berteriak sambil melompat mundur, kemudian dia melompat meninggalkan pulau itu dengan perahu kecil.
Berbeda dengan orang she Kwa ini, ketua Hui-houw-pai agaknya merasa malau kalau harus mengaku kalah begitu saja, apalagi dia datang bersama para pembantunya dan di situ terdapat banyak tokoh kang-ouw menjadi saksi.
Sebagai seorang ketua partai persilatan, ia merasa malu kalau mengaku kalah sebelum roboh.
Maka ia menggigit bibirnya dan secara mati-matian melakukan perlawanan memutar rantainya sambil melakukan gerakan meloncat tinggi sesuai dengan julukannya, yaitu Macan Terbang!
Namun dia sudah terdesak dan tertindih, gerakan-gerakannya sudah terkurung lingkaran sinar tongkat hitam, maka dalam belasan jurus berikutnya ia kewalahan dan terlambat menangkis.
"Kreekkk!"
Terdengar suara dan tubuh Sim Koa Bi terbanting tak dapat bangkit kembali karena tulang kering kaki kanannya remuk dihantam tongkat.
Para pembantunya cepat datang dan menggotongnya pergi dari pulau itu dengan perahu mereka.
Setelah ketua mereka kalah, mau apa lagi?
Bertahan di tempat itu tidak ada gunanya, pula hanya mendatangkan malu saja.
Setelah babak pertama dibuka oleh kedua orang pangcu sebagai pihak tuan rumah, muncullah dua orang jagoan perorangan, yang seprang dari selatan, yang kedua dari barat.
Kembali mereka disambut oleh kedua orang pangcu yang konsen itu.
Pertandingan kali ini lebih dahsyat lagi, lebih hebat dari pada tadi.
Biar pun pertandingan ini pun berakhir dengan kemenangan kedua orang pangcu, akan tetapi mereka berdua menjadi lelah sehinga setelah berhasil memperoleh kemenangan, pangcu dari Hek-liong-pang berkata ambil menjura ke empat penjuru.
"Karena kami berdua telah amat lelah, harap Cu-wi sekalian sudi mempertimbangkan dan memberi kesempatan kepada kami untuk beristirahat. Selanjutkan kami mohon agar para Enghiong yang ingin mengukur kepadaian satu kepada yang lain suka maju lebih dulu. Kalau kami sudah beristirahat, nanti kami akan maju untuk menghadapi para pemenangnya."
Tentu saja alasan ini diterima baik, maka kini majulah empat orang dari golongan partai lain dan kembali terjadi pertandingan antara keempat orang itu, terbagi menjadi dua rombongan.
Pertandingan ini berjalan tidak seimbang dan dalam waktu tiga puluh jurus saja, dua orang dari dua macam bu-koan (perguruan silat) sudah memperoleh kemenangan.
Kemudian dua orang pemenang ini berhadapan dengan kedua orang pangcu tuan rumah yang tadi keluar sebagai pemenang sampai dua kali.
Kembali terjadi pertandingan menggunakan senjata yang amat seru.
"Hemm, agaknya para Locianpwe yang sakti masih menanti kesempatan, hanya suka maju kalau melihat yang cukup berharga untuk dilawan,"
Kata kakek Siauw Lam perlahan.
"Aihhh, apakah yang bertanding masih kurang lihai, Suhu?"
Bun Beng bertanya heran, juga terkejut bahwa mereka yang telah bertanding sehebat itu ternyata masih belum dianggap lihai oleh gurunya.
"Ahh, mereka itu hanya termasuk tokoh pertengahan saja, Bun Beng. Tingkat mereka itu belum berapa tinggi, dan tiap orang dari suheng-suheng-mu Siauw-lim Ngo-kiam masih akan sanggup menandingi mereka. Kulihat kedua orang pangcu itu, hemmm"
Agaknya akan ramailah dengan tingkat para suheng-mu.
Biar pun tidak kalah, namun membutuhkan waktu lama, sedikitnya seratus jurus.
Kalau tokoh sakti sudah keluar, barulah hebat!"
Tepat seperti yang diduga oleh kakek itu, Ciok Khun dan Gu Ban Koai kembali keluar sebagai pemenang, kemenangan mereka untuk ketiga kalinya!
Karena melihat kelihaian dua pangcu itu, para tokoh pertengahan menjadi jeri untuk maju.
Bahkan banyak pula yang diam-diam pergi dari tempat itu karena merasa tidak ada harapan untuk memperoleh kemenangan.
Yang tinggal hanyalah rombongan Thian-liong-pang, Hek-liong-pang, Hek-I kai-pang, Pulau Neraka dan dua utusan Pulau Es serta beberapa orang lagi tokoh yang belum turun ke gelanggang.
Ada pun koksu Bhong Ji Kun bersama para pembantunya kelihatan berdiri di atas kapal dan menonton dari jauh.
Kedua orang pangcu itu merasa gembira sekali dengan kemenangan mereka yang berturut-turut dan kepercayaan mereka kepada diri sendiri makin besar.
Setidaknya mereka kini sudah termasuk golongan atas, karena bukankah yang tinggal di situ hanya rombongan yang terkenal di samping partai-partai bersih Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain.
Andai kata mereka dikalahkan sekali pun, mereka sudah mengangkat nama sendiri dan perkumpulan yang tidak dapat di sejajarkan dengan perkumpulan "kecil"
Seperti yang telah dikalahkan tadi.
Ciok Khun ketua Hek-liong-pang yang bertindak sebagai juru bicara dan sebagai tuan rumah segera menjura dan berkata.
"Harap para locianpwe tidak ragu-ragu untuk segera maju. Kami berdua siap mencari petunjuk!"
"Pangcu dari Hek-liong-pang, jangan sombong setelah memperoleh kemenangan! Pinto-lah lawan kalian!"
Ucapan ini disusul berkelebatnya bayangan orang dan di situ telah berdiri seorang tosu berpakaian kuning yang membawa pedang di punggungnya.
Gerakan tosu ini amat ringan seperti sehelai bulu ditiup angin.
Ternyata dia adalah seorang tosu yang usianya sudah enam puluh tahun lebih.
Tubuhnya kurus kering tanpa daging, hanya kulit membungkus tulang.
Wajahnya seperti tengkorak, sangat menyeramkan!
"Mohon tanya, siapakah nama dan julukan Totiang dan dari partai apa?"
Ciok Khun menjura dan memandang penuh perhatian karena dia tidak mengenal tosu ini.
"Pinto Hok Cin Cu, bukan dari partai mana pun juga, seorang pendeta perantau yang kebetulan mendengar akan pertemuan ini. Pinto ingin mencoba kepadaian jago-jago dari seluruh penjuru!"
Ciok Khun yang dapat menduga bahwa tosu ini tentu lihai sekali, segera berkata.
"Baik sekali, Totiang. Siapakah di antara kami berdua yang dapat mendapat kehormatan melayani Totiang?"
"Ha-ha-ha!"
Suara ketawa tosu itu melengking, mengejutkan semua orang.
"Kalian berdua pangcu-pangcu cilik ini majulah bersama. Akan pinto sekaligus juga agar tidak membuang banyak waktu!"
Mendengar ucapan ini, terkejutlah semua orang.
Kedua orang pangcu ini amat lihai dan sudah memperoleh kemenangan sampai tiga kali.
Akan tetapi kini mereka ditantang untuk mengeroyok tosu kurus kering ini.
Betapa takaburnya!
Kedua pangcu itu menjadi merah mukanya dan saling padang, kemudian Ciok Khun menjura kepada semua tokoh persilatan dan berkata dengan lantang.
"Pertandingan pibu antara orang-orang gagah tidak mengenal keroyokan dan harus berjalan dengan adil. Akan tetapi sekarang Hok Cin Cu Totiang menantang kami berdua untuk maju bersama. Hal itu disaksikan oleh semua Locianpwe yang hadir sehingga seandainya kami memperoleh kemenangan, harap jangan dikatakan kami curang dan mengandalakan pengeroyokan!"
"Ha-ha-ha ! Siapa bilang kalian akan menang? Majulah!"
Sambil berkata demikian, tosu kurus mencabut pedangnya.
Tampak sinar merah disusul suara dengung yang nyaring.
Kemudian tosu itu menggerakkan pedangnya beberapa kali dan terdengar lengking berdengung-dengung seperti suling ditiup!
"Hemm, agaknya dialah yang dulu terkenal dengan julukan Cui-siauw-kiam (Pedang peniup suling).
Wah, aku mendengar bahwa ilmu pedangnya adalah ilmu pedang campuran dari Go-bi Kiam-hoat dan Kun-lun Siam-sut.
Tentu dia lihai sekali,"
Kata kakek Siauw Lam.
"Suhu, teecu tidak suka kepada tosu itu. Dia sombong!"
Kata Bun Beng. Gurunya tersenyum.
"Tidak perlu suka atau tidak suka, yang penting menilai dan mencontoh. Kalau kau anggap dia sombong, maka jangan kau mencontoh sikapnya, habis perkara. Perasaan tidak suka itu pun bukan perasaan yang baik, mungkin tidak kalah buruknya dengan sikap sombong!"
Bun Beng membungkam merasa bersalah.
Dia lalu memandang penuh perhatian karena kini kedua orang pangcu itu sudah siap dengan senjata mereka, menghadapi tosu itu dari kanan dan kiri.
Agaknya keduanya merasa bahwa sekali ini mereka harus berhati-hati, maka mereka hanya bersiap saja, tidak berani langsung membuka serangan.
Tosu kurus itu agaknya mengerti akan hal ini, maka kembali ia tertawa, kemudian terdengar suara berdesing-desing disusul dengan suara mendengung nyaring.
Pedangnya berubah menjadi sinar perak yang menyambar kanan kiri.
"Trang-trangggg"!"
Bunga api berpijar dan kedua orang pangcu itu terhuyung mundur.
Mereka terkejut sekali karena tangkisan senjata mereka bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat, membuat mereka terhuyun-huyung.
Akan tetapi keduanya sudah meloncat maju dan terjadilah pertandingan yang hebat.
Bukan hanya saking cepatnya, demikian cepat gerak Si Tosu sehingga tubuhnya lenyap sama sekali terbungkus sinar pedang yang seperti perak itu, yang menyambar ke kanan kiri mengejar kedua lawannya, melainkan terutama sekali hebat karena terdengar suara tiupan suling merdu seolah-olah saling mengikuti tari-tarian indah, bukan pertandingan mati-matian!
Suara ini keluar dari sambaran pedang yang digerakkan dengan pengerahan sinkang kuat sekali, dan karena pedang itu dipasangi lubang-lubang kecil, maka menimbulkan suara seperti suling ditiup.
Tentu saja tanpa latihan puluhan tahun dan tanpa dorongan tenaga sinkang yang tepat dan kuat, tidak mungkin mainkan pedang sampai menimbulkan suara tiupan suling seperti itu!
"Kejam sekali dia"!"
Kakek Siauw Lam berseru perlahan.
Bun Beng agak sukar mengikuti pertandingan yang agak cepat itu dengan pandang matanya.
Dia hanya mendengar dua kali suara "crat-crat"
Disusul muncratnya darah dan robohnya dua orang pangcu itu.
Hek-liong-pangcu roboh dengan paha kanan terkuat lebar sampai tampak tulangnya, sedangkan Hek-I Kai-pangcu roboh dengan pundak kiri patah tulangnya.
Anak buah mereka segera menolong pangcu masing-masing yang roboh pingsan, kemudian mereka meninggalkan pulau dengan perahu masing-masing.
Suasana menjadi sunyi.
Tosu itu mengelus-elus pedangnya penuh kasih saying, lalu berkata.
"Pedangku yang baik hari ini engkau boleh berpesta pora!"
Bun Beng mengepal tinjunya.
"Suhu, dia itu selain sombong juga kejam. Kalau teecu berkepandaian tentu teecu maju dan melabraknya! Sayang kepandaiannya terlalu tinggi, dia lihai bukan main. Akan tetapi teecu yakin bahwa Suhu tentu akan dapat melabraknya sampai dia meratap minta ampun!"
"Hushh! Ingat bahwa kita adalah penonton. Dia memang lihai dan baru sekarang engkau akan menyaksikan kehebatan tokoh-tokoh kang-ouw,"
Jawab suhunya. Tosu kurus itu kini memandang ke sekeliling.
"Pinto paling suka main pedang. Adakah di sini ahli-ahli pedang untuk bermain-main dengan pinto? Telah lama pinto mendengar nama-nama besar seperti Siauw-lim Chit-kiam yang dulu kabarnya dikalahkan oleh Kang-thouw-kwi, malah dua di antaranya tewas oleh puteri jelita! apakah mereka yang lima orang masih hidup? Ataukah sudah tidak berani lagi mencabut pedang setelah hilang yang dua orang?"
"Hemm, tosu sesat!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan kelima orang Siauw-lim Ngo-kiam sudah meloncat ke depan tosu itu.
Bun Beng memandang penuh perhatian dan jantungnya berdebar.
Kini barulah mereka akan membuka mata menyaksikan kelihaian Siauw-lim-pai, pikirnya bangga.
Akan tetapi dengan heran ia mendengar gurunyaa mengeluh.
"Mengapa mereka itu masih berdarah panas? Mudah saja dipancing, sungguh celaka!"
Bun Beng tidak sempat bertanya karena ia tertarik sekali memandang ke lapangan itu.
Si Tosu kurus menggunakan matanya yang sipit, menyapu kelima orang itu dengan pandang matanya penuh perhatian.
Dia melihat dua hwesio dan tiga orang kakek yang usianya rata-rata lima enam puluh tahun, sikapnya gagah perkasa dan tenang sekali.
Dia menduga-duga, kemudian tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Agaknya kalian inilah yang terkenal dengan julukan Siauw-lim-kiam yang sudah tinggal lime orang?"
Memang mereka adalah lima orang sisa Chit-kiam, dua orang telah tewas, yaiut orang keenam dan ketujuh.
Yang pertama adalah Song Kai Sin, tinggi tetap, usianya hampir tujuh puluh tahun.
Kedua adalah Lui Kong Hwesio, juga tinggi besar dan bermata lebar, berusia enam puluh dua tahun.
Orang ketiga dan keempat adalah Oei Swan dan Oei Kong, kakak beradik yang berwajah sama, juga sudah enam puluh tahun lebih.
Adapun yang kelima adalah Lui Pek Hwesio yang bertubuh kecil bermata tajam, berusia enam puluh tahun.
"Hok Cin Cu, kami tahu bahwa engkau adalah yang dahulu mengganas di pantai selatan dan berjuluk Cui-siauw-kiam. Kini berlagak jadi tosu, akan tetapi kami tahu bahwa engkau hanyalah seorang sombong yang mengakuaku sebagai tosu sehingga mencemarkan agama To saja. Engkau tadi mencari kami, nah kami Siauw-lim Ngo-kiam berada di sini, engkau mau apa? Yang bicara adalah Song Kai Sin, orang tertua Siauw-lim Ngo-kiam.
"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali.! Kiranya Siauw-lim-pai mengutus jago-jago pedangnya untuk merebut kedududkan tertinggi di dunia persilatan!"
"Jangan asal membuka mulut!"
Bentak Lui Kong Hwesio marah.
Siauw-lim-pai tidak butuh akan segala macam adu kepandaian!
Kami hanya maju ke sini karena tadi kau mengeluarkan tantangan, pendeta palsu!"
"Ha-ha-ha-ha! Dengar ucapan hwesio ini! Dia memaki pinto pendeta palsu sedangkan dia yang berkepala gundul dan berjubah hwesio masih suka memaki orang!"
Wajah Lui Kong Hwesio menjadi merah dan dia tak dapat membantah.
Memang harus diakui bahwa dia menurut penghidupan suci, selalu bersikap halus welas asih terhadap sesama manusia.
Akan tetapi sebagai pendekar, dia tidak dapat bersikap halus terhadap orang jahat!
"Hok Cin Cu,"
Cepat Song Kai Sin berkata.
"Tak perlu banyak cakap. Kami tidak ingin mengadu kepadaian untuk memperebutkan kedudukan apa pun juga. Akan tetapi, kami sebagai murid-murid Siauw-lim-pai takkan pernah mundur kalau Siauw-lim-pai ditantang!"
"Benarkah? Kalau begitu untuk apa kalian hadir di sini? Apa untuk mencoba-coba untung barang kali saja bisa mendapatkan pusaka? Ha-ha!"
Ucapan itu mengejutkan semua orang yang hadir.
Mereka tanpa berjanji telah sepaham dalam hati bahwa tentu saja mereka semua tidak ada yang berterang hendak mencari pusaka yang kabarnya telah ditemukan petanya oleh pemerintah.
Apa lagi kini pihak pemerintah hadir juga.
Karena itu mereka menggunakan dalih pibu.
Siapa kira tosu ini bicara seenaknya saja!
"Kami tidak sudi berbantah dengan orang macam engkau, Hok Cin Cu.
Pendeknya jika engkau menantang Siauw-lim Ngo-kiam, tarik kembali tantanganmu!"
Tosu itu tertawa lagi.
"Ha-ha-ha! Siapa takut? Andai kata jumlah kalian masih lengkap tujuh orang, pinto tidak gentar menghadapi Siauw-lim Chit-kiam, apa lagi hanya Siauw-lim Ngo-kiam! Majulah kalian berlima!"
Ia sudah menggerakkan pedangnya sehingga berdengung-dengung.
Song Kai Sin maklum bahwa tosu ini amat lihai pedangnya, mungkin tidak di sebelah bawah datuk-datuk sesat jaman dahulu seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo dan yang lain-lain.
Maka ia cepat memberi isyarat kepada para sutenya untuk membentuk lingkaran dan mainkan Chit-seng Sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang).
Tosu ini berseru keras, lalu bergerak memutar pinggangnya sehingga terdengar bunyi mengaung seperti suling ditiup.
Lima orang gagah Siauw-lim-pai itu pun lalu menggerakkan pedang mereka dan gterdengarlah bunyi mencicit-cicit dan pedang mereka berubah menjadi sinar-sinar terang yang meluncur ke depan.
"Hebat para suheng itu!"
Bun Beng berseru girang.
"Hemm..., Chit-seng Sin-kiam seharusnya dimainkan oleh tujuh orang, kini dimainkan oleh hanya mereka berlima, sungguh banyak berkurang kelihaiannya. Kalau lengkap mungkin menang. Akan tetapi sekarang...!"
Kakek itu melangkahkan kaki, menuruni tebing dan mendekati lapangan pertandingan, diikuti oleh Bun Beng dengan jantung berdebar.
Demikian lihaikah tosu kurus itu sehingga suhunya merasa khawatir bahkan seperti sudah tahu bahwa lima orang suheng-nya akan kalah?
Pertempuran kali ini benar-benar hebat luar biasa.
Mata para penonton sampai menjadi silau dan telinga mereka sakit-sakit mendengar nyanyian pedang Si Tosu diseling suara mencicit nyaring lima batang pedang jago-jago Siauw-lim-pai itu.
Tubuh enam orang itu lenyap terbungkus sinar pedang yang bergulung-gulung menjadi satu.
Untuk membedakan mana pedang mereka hanya nampak pedang bersinar perak yang bergulung-gulung, Itulah pedang Hok Cin Cu, sedangkan pedang murid-murid Siauw-lim-pai merupakan sinar-sinar terang yang gerakannya lurus maju mundur hanya membentuk lingkaran kecil di luar lingkaran besar sinar pedang Hok Cin Cu.
Seratus jurus telah lewat dan pertandingan masih berjalan seru.
Akan tetapi lingkaran sinar pedang seperti perak itu makin membesar, suara suling makin nyaring melengking sedangkan lingkaran kecil yang jumlahnya lima itu makin mengecil, suara mencicit juga makin melemah.
Inilah tandanya bahwa kelima orang Siauw-lim Ngo-kiam mulai terdesak hebat!
Bun Beng tidak mengerti karena dia tidak dapat mengikuti pertandingan yang terlampau cepat baginya itu.
Dia menengok ke muka suhunya dan melihat alis gurunya berkerut, maka dia pun menjadi khawatir, lalu memandang lagi ke arah pertandingan.
"Trang-trang-trang-trang-trang!!"
Lingkaran-lingkaran pedang yang kecil-kecil itu bercerai berai dan tampaklah lima orang Siauw-lim-pai itu mencelat ke belakang dengan muka pucat.
Tosu itu tertawa dan sinar pedangnya menyambar ke arah mereka, agaknya dia belum merasa puas kalau pedangnya belum minum darah lawan!
"Tahan...!"
Terdengar bentakan halus dan tubuh kakek Siauw Lam telah melayang ke depan.
Ia menggerakkan tangan kanannya dan ujung lengan bajunya menggulung ujung pedang Hok Cin Cu, kemudian mendorongnya sambil melepaskan libatan.
Hok Cin Cu terkejut.
Hampir saja pedangnya terlepas dan ia cepat memandang.
Kiranya di depannya telah berdiri seorang kakek tua, sedangkan Siauw-lim Ngo-kiam sudah menyimpan pedang dan menjura dengan hormat kepada kakek itu.
"Mundurlah kalian, mengapa mengikuti hati panas?"
Kakek Siauw Lam menegur dengan suara halus akan tetapi kelima orang itu menjadi merah mukanya, kemudian mengundurkan diri.
Biar pun Hok Cin Cu maklum dari gerakan kakek itu bahwa ia menghadapi seorang lihai, namun karena ia berwatak sombong dan terlalu percaya kepada kepandaiannya sendiri, dia tidak takut dan kini menghadapi kakek Siauw Lam sambil berkata.
"Kakek tua renta! Kenapa engkau lancang dan curang membantu lima orang yang sudah mengeroyokku?"
Kakek Siauw Lam merangkap kedua tangan ke depan dada.
"Maaf, Totiang. Andai kata pertandingan tadi merupakan sebuah pibu, tentu aku orang tua tidak berani turut campur. Akan tetapi pertandingan tadi bukan pibu, melainkan Totiang telah menantang Siauw-lim-pai. Murid-murid Siauw-lim-pai itu tadi berdarah panas, maka biarlah aku orang tua yang mintakan maaf dan harap Totiang tidak mencari permusuhan dengan Siauw-lim-pai yang tidak ingin bermusuh dengan siapa pun juga."
"Heh, kakek tua. Apakah engkau tokoh Siauw-lim-pai?"
"Aku mendapat kehormatan sebagai orang Siauw-lim-pai, maka aku berani mintakan maaf atas nama Siauw-lim Ngo-kiam kepadamu, Totiang!"
"Siapa engkau? Dan apa kedudukanmu di Siauw-lim-pai?"
"Namaku Siauw Lam, dan aku hanya seorang pelayan di Siauw-lim-pai."
Wajah Hok Cin Cu berubah merah.
"Pelayan?"
Ia menoleh ke arah Siauw-lim Ngo-kiam dan bertanya lantang.
"Siauw-lim Ngo-kiam, benarkah kakek ini hanya seorang kakek di Siauw-lim-si?"
Song Kai Sin menjawab.
"Beliau adalah terhitung supek kami, akan tetapi benar bekerja sebagai pelayan di Siauw-lim-si."
Hok Cin Cu menjadi bingung.
Kalau dia melawan kakek yang lihai ini dan sampai kalah, bukankah namanya akan hancur lebur karena dia kalah oleh seorang pelayan saja dari Siauw-lim-pai?
"Kakek tua, apakah engkau menantangku?"
"Aku tidak menantang siapa-siapa. Aku orang lemah, mana ingin pibu segala?"
"Kalau begitu pergilah!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring.
"Hok Cin Cu manusia tinggi hati! Berani engkau menghina seorang Locianpwe?"
Yang muncul adalah Yap Sun dan Thung Sik Lun, dua orang utusan Pulau Es dan yang membentak adalah Yap Sun.
Kemudian Yap Sun menjura kepada kakek Siauw Lam sambil berkata.
"Harap Locianpwe sudi mengundurkan diri, tak pantas bagi Locianpwe untuk melayani orang gila ini lebih lama lagi."
Kakek Siauw Lam mengangguk dan mundur, akan tetapi ia bingung karena tidak melihat bayangan Bun Beng!
Anak itu diam-diam telah pergi dari tempat tadi.
Namun karena di situ terdapat banyak orang dan suasana menjadi tegang, kakek ini bersikap tenang.
Bun Beng adalah seorang bocah cerdik dan tidak ada alasan untuk khawatir bagi dirinya.
Agaknya bocah itu menggunakan kesempatan kunjungan itu untuk pergi menemui orang sakti!
Kini Yap Sun dan Thung Sik Lun menghadapi Hok Cin Cu yang memandang marah dan membentak.
"Kalian ini siapa lagi berani membuka mulut besar?"
"Kami adalah dua orang utusan dari Pulau Es!"
Mendengar ucapan ini, semua orang memandang dengan muka berubah, seperti halnya para pimpinan Hek-liong-pang tadi.
Namun Hok Cin Cu agaknya memandang rendah, apa lagi melihat bahwa kakek gemuk dan kakek kurus itu tidak menunjukkan keanehan apa-apa.
"Tidak perlu kami sembunyikan lagi. Kami menjadi utusan Pulau Es untuk meninjau dan kami tertarik memasuki pibu."
"Bagus!"
Hok Cin Cu kini mendapatkan kesempatan untuk "mencuci muka"
Setelah tadi ia mengalami hal yang merendahkan dirinya ketika berhadapan dengan kakek Siauw Lam yang telah ia rasakan kelihaiannya.Ia masih ragu-ragu apakah akan dapat menangkan kakek itu, akan tetapi terhadap dua orang ini ia memandang rendah sekali.
"Apakah kalian juga hendak maju berdua? Kalau memang ingin maju berdua, jangan malu-malu, katakan saja. Pinto berani menghadapi kalian berdua sekaligus.!"
Yap Sun menjadi merah mukanya, akan tetapi wajahnya tetap tenang dan dingin. Suaranya lebih dingin lagi ketika berkata.
"Majikan kami adalah seorang pendekar yang mengangkat kependekaran dan kegagahan di atas segala apa, tentu saja kami tidak akan menggunakan jumlah banyak untuk mencari kemenangan."
"Suheng, biarlah aku menghadapi tosu ini,"
Kata Thung Sik Lun yang bertubuh kurus.
"Baiklah, Sute."
Kemudian Yap Sun berkata kepada Hok Cin Cu.
"Sute-ku ini yang akan menandingimu Hok Cin Cu."
Yap Sun lalu meloncat ke pinggir dan berkata tenang kepada sutenya.
"Thung-sute, hati-hati, jangan sampai melakukan pembunuhan. Jangan membunuh dia."
Ucapan yang dikatakan dengan suara bersungguh-sungguh ini membuat dada Hok Cin Cu seperti akan meledak saking marahnya.
Ucapan itu sungguh dirasakan amat merendahkan dirinya.
Bukan dipesan hati-hati agar jangan kalah, melainkan dipesan berhati-hati agar jangan membunuh lawan!
"Kami dari Pulau Es tidak pernah menggunakan senjata, kecuali kalau amat perlu dan sangat terpaksa.
Untuk main-main denganmu, biarlah aku menggunakan tangan kosong saja.
Totiang, pakailah pedangmu!"
Baru sekarang Hok Cin Cu tak dapat menertawakan lawannya karena kemarahan telah menguasai hatinya.
Dia merasa dipandang rendah sekali dan hal ini dianggapnya sebagai penghinaan, sungguh pun kakek kurus dari Pulau Es itu sebetulnya sama sekali tidak mau memandang rendah atau menghina, melainkan bicara sesungguhnya.
"Siapakah namamu, orang yang sudah bosan hidup? Katakanlah namamu agar kalau pedangku memenggal lehermu, akan pinto ketahui siapa orang sombong yang sudah kubunuh dalam pibu ini!"
"Namaku Thung Sik Lun dan marilah kita mulai, Hok Cin Cu!"
Pedang di tangan Hok Cin Cu itu sudah mengaung dan menyambar dari atas ke bawah hendak membelah tubuh lawan, Akan tetapi gerakannya tidak lurus melainkan seperti ular berlenggak-lenggok hingga tampak sinar pedangnya seperti halilintar menyambar di angkasa.
Namun tubuh kakek kurus itu telah lenyap dan tahu-tahu telah berpindah tempat ke kiri.
Tosu itu terkejut melihat kecepatan gerak lawan yang tidak tampak menggoyang tubuh tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke kiri, maka cepat pedangnya menyusul dan dia mengirim serangkaian serangan dengan pedangnya sehebat gelombang lautan dan terdengar suara suling nyaring mengikuti berkelebatnya sinar pedang.
Thung Sik Lun memiliki bakat yang baik dalam ilmu meringankan tubuh, maka oleh majikan Pulau Es ia telah digembleng dengan ilmu gerak kilat sehingga tubuhnya dapat bergerak lebih cepat dari pada berkelebatnya sinar pedang Hok Cin Cu, Maka serangan-serangan itu selalu gagal karena tubuh kakek kurus ini telah mencelat ke sana-sini amat cepatnya.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan dahsyat ini melongo karena gerakan tubuh Si Kakek Kurus sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya tampak seolah-olah menjadi banyak.
Hok Cin Cu menjadi penasaran sekali.
Sudah belasan jurus pedangnya menyerang namun sama sekali tak pernah berhasil.
Ia berseru keras dan menyerang lebih cepat.
Thung Sik Lun maklum akan kelihaian lawan, maka ia pun mempercayai gerakan tubuhnya sehingga tubuhnya lenyap hanya merupakan bayangan yang kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak.
Sambil mengelak ini, Thung Sik Lun kini membalas, tangan kirinya mendorong ke arah lawan dengan jari terbuka.
"Wuuuttttt...!"
"Aihhh!"
Hok Cin Cu terhuyung dan berseru kaget karena dorongan tangan lawan itu mengandung tenaga yang hebat bukan main, mengandung hawa panas dan amat kuat sehingga tubuhnya bergetar dan ia terhuyung ke belakang.!
Hok Cin Cu cepat meloncat ke atas dan berjungkir balik ke belakang, kemudian turun dengan wajah pucat, memandang lawannya yang masih tetap berdiri tegak dan tenang.
Maklumlah tosu ini bahwa lawannya, tokoh Pulau Es ini, memiliki sinkang yang sangat luar biasa.
Dia seorang yang licin dan cerdik sekali, biar pun marah dan penasaran akan tetapi tidak nekat.
Kalau pertandingan itu dilanjutkan, tentu dia teancam bahaya mati.
Maka ia lalu berkata.
"Sobat dari Pulau Es, kepandaianmu hebat. Biarlah kali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi tunggulah saja, pada suatu hari aku akan datang mengunjungi Pulau Es untuk menantang pibu kepada majikan Pulau Es!"
Setelah berkata demikian, tanpa menanti lawan menjawab dan tidak memberi kesempatan orang lain mengejeknya, tosu cerdik ini sudah meloncat jauh dan berlari cepat sekali, kemudian menghilang di pantai yang berbatu-batu.
Kejadian ini membuat semua orang terkejut dan melongo.
Hok Cin Cu yang demikian lihai ilmu pedangnya, dalam waktu cepat sekali telah mengaku kalah kepada orang kedua dari Pulau Es, padahal belum dirobohkan!
Dan menurut pengintaian mereka, orang Pulau Es itu tidaklah sehebat Si Tosu, hanya memiliki gerakan cepat dan pandai mengelak saja.
Mengapa tosu yang ilmu pedangnya luar biasa itu mengalah begitu saja?
Hal ini membuat penasaran yang hadir, maka keluarlah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun berpakaian pendeta, berambut gondrong dengan cambang bauk mencongak ke sana-sini.
Lehernya digantungi kalung yang ada kelenengannya seperti yang biasa digantungkan di leher kerbau atau sapi.
Kiranya dia adalah seorang saikong yang mukanya seperti singa dan suaranya parau ketika ia berkata menggeledek.
"Aku telah mendengar bahwa Pulau Es dikuasai oleh seorang Pendekar Siluman. Kini menyaksikan pertandingan tadi, aku baru percaya orang-orang Pulau Es pandai menggunakan ilmu siluman! Kalau kalian menggunakan ilmu silat, kiraku tidak akan mampu mengalahkan Hok Cin Cu, biar pun ilmu pedangnya hanya bagus ditonton dan enak didengar saja. Heh, orang Pulau Es, marilah kalian melawan aku, Siangkoan Cinjin dari Goa Tengkorak!"
Setelah berkata demikian, saikong itu lalu menggoyang tubuhnya seperti tingkah seekor singa mengeringkan bulunya dan terdengarlah suara mengaum yang dahsyat dari mulutnya.
Suara ini mengandung getaran yang amat kuat sehingga semua orang yang mendengar menjadi terkejut sekali.
Untung bahwa yang kini tinggal di situ hanya orang-orang yang berilmu tinggi sehingga mereka cepat mengerahkan tenaga mereka untuk melawan pengaruh getaran suara itu, karena kalau orang tidak memiliki sinkang kuat, mendengar suara getaran ini pasti akan roboh!
Mengeluarkan suara mengaum seperti singa yang dapat merobohkan lawan dan mendatangkan rasa takut dan ngeri ini adalah ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dikerahkan dengan tenaga khikang amat kuatnya.
Dari teriakan dahsyat ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya saikong ini.
Kakek Siauw Lam yang semenjak tadi menyaksikan pertandingan dengan penuh perhatian, terkejut sekali mendengar digunakannya ilmu Sai-cu Ho-kang ini karena ia segera teringat akan muridnya.
Muridnya belum memiliki sinkang yang kuat maka ilmu itu dapat mencelakakan muridnya itu.
Ia tidak bernafsu lagi menonton dan mulailah ia mencari muridnya itu.
Ketika ia tidak dapat melihat muridnya di antara para tokoh yang hadir, kakek ini lalu pergi ke pantai dan mengelilingi pulau untuk mencari.
Kemana perginya bocah itu?
Ketika tadi Bun Beng menyaksikan pertandingan dan melihat para suheng-nya kalah lalu gurunya maju menolong, dari tempat ia berdiri ia melihat rombongan koksu di kapal itu tertawa-tawa, seolah-olah menertawakan para suheng-nya yang kalah.
Hatinya menjadi panas, apa lagi ketika melihat koksu itu bersama beberapa orang lain turun dari kapal dan memasuki sebuah perahu kecil yang didayung ke pulau.
Ia tidak dapat menahan kemarahan hatinya.
Ingin ia menantang koksu itu untuk melawan gurunya atau mengikuti pibu.
Dianggapnya amat tak tahu malu orang-orang pemerintah itu yang hanya menonton dan memblokir tempat itu seperti seekor serigala yang membiarkan anjing-anjing berebut tulang.
Biar pun masih kecil, dari cerita kakek Siauw Lam, Bun Beng dapat menduga bahwa kehadiran pasukan pemerintah itu pasti mengandung maksud tidak baik terhadap para tokoh.
Ingin ia melihat jago-jago kerajaan itu turun gelanggang mengadu kepandaian dengan orang gagah.
Maka ia lalu menuruni tebing, lupa akan gurunya, kemudian berlari menuju ke arah pantai untuk memapaki koksu negara dan pembantu-pembantunya.
Yang berada di perahu kecil itu adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun sendiri, koksu bersama lima orang pembantunya, yaitu Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan tiga orang jenderal pasukan pengawal.
Perahu di dayung oleh Bhe Ti Kong, panglima tinggi besar yang bertenaga kuat itu sehingga sebengtar saja perahu telah mendarat.
Setelah menyaksikan sepak terjang dua orang utusan Pulau Es, Im-kan Seng-jin menjadi tertarik sekali dan sudah "gatal-gatal tangan"
Untuk mendekati dan kalau perlu ikut main-main dengan para orang gagah.
Demikian pula dengan kedua orang hwesio Lama dari Tibet, ingin sekali mencoba kepandaian orang-orang sakti itu.
Akan tetapi, baru saja mereka mendarat, seorang anak laki-laki telah menghadang mereka sambil bertolak pinggang dan memandang dengan mata melotot!
Bocah ini bukan lain adalah Bun Beng!
Enam orang itu heran melihat ada seorang anak kecil berada di tempat seperti itu.
Sungguh tidak pernah mereka sangka!
Tempat itu pada saat ini pantasnya hanya dikunjungi oleh orang-orang sakti yang berilmu tinggi, bukan tempat bermain anak kecil.
Dan anak ini sengaja menghadang, berdiri menantang dan memandang dengan mata melotot marah!
"Eh, bocah kurang ajar!
Mau apa kau ke sini?
Hayo pergi!"
Bhe Ti Kong membentak. Akan tetapi Bun Beng tidak bergerak dari tempatnya, bahkan berkata nyaring.
"Siapa yang kurang ajar? Aku di sini tidak melakukan apa-apa, sebaliknya kalian yang sungguh tidak patut hanya menonton dan menertawakan orang! Kalau memang kalian ada kepandaian, mengapa tidak ikut pibu saja ke sana? Ataukah beraninya hanya menertawakan yang kalah?"
Sejenak enam orang itu terbelalak mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang bocah yang usianya kurang lebih sepuluh tahun.
Bhe Ti Kong menjadi marah sekali.
"Bocah setan!"
Bentaknya dan tangannya bergerak menangkap pundak Bun Beng dengan maksud untuk dilemparkan agar jangan menghadang dan mengganggu.
"Wuuuussss!"
Tangannya luput.
Hal ini makin mengherankan mereka, terutama sekali Bhe Ti Kong.
Seorang bocah masih begitu kecil sudah dapat mengelak dari tangkapannya.
Hal ini benar-benar mengejutkan, karena seorang dewasa sekali pun belum tentu dapat mengelak secepat itu.
Ia menjadi penasaran dan menubruk ke depan, cepat sekali.
Bun Beng mengerti bahwa untuk mengelak ia kalah cepat, maka ia menyambut tubrukan panglima itu dengan pukulan tangannya ke arah perut Bhe Ti Kong.
"Aihhh!"
Bhe Ti Kong kaget, akan tetapi ia berhasil menangkap tangan kecil yang memukul, kemudian tubuh Bun Beng diangkat hendak dibanting.
"Bhe-goanswe, jangan!"
Tiba-tiba terdengar suara Im-kan Seng-jin.
"Lemparkan dia kepadaku!"
Bhe Ti Kong menahan tangannya dan melontarkan bocah itu ke arah koksu, dan melayanglah tubuh Bun Beng.
Im-kan Seng-jin menyambut tubuhnya dengan mudah dan kakek botak tinggi kurus ini meraba-raba dan mengukur-ukur kepala Bun Beng dengan jari-jari tangannya, dikilani dengan ibu jari dan telunjuk, diukur dari depan ke belakang, dari kanan ke kiri dan dari bawah ke atas, kemudian dipijit-pijit bagian-bagian kepala Bun Beng.
Wajahnya menjadi girang sekali dan setelah selesai mengukur-ukur kepala anak itu, Im-kan Seng-jin lalu memeriksa mata Bun Beng dengan membuka kelopak matanya, kemudian menjepit rahang Bun Beng sehingga anak itu terpaksa membuka mulutnya, memeriksa dalam mulut, kemudian menaruh tangan kanan di dada dan jari-jari tangan kirinya memegang nadi tangan Bun Beng.
Ia mengangguk-angguk dan tersenyum lebar, wajahnya berseri.
"Aaaahhhh, Ji-wi Lama, lihat, apa yang kutemukan ini! Tulangnya bersih darahnya murni, dan kepalanya....! Hebat....! Rongga otaknya luas, daya tangkapnya kuat, semangatnya besar jalan darahnya lancar, isi dadanya sempurna semua! Benar-benar seorang sin-tong (anak ajaib) yang sukar ditemukan keduanya! Wah, kalau dia sudah kuberi makan obat kuat secukupnya, dia akan dapat memenuhi syarat aku melaksanakan ilmu peninggalan guruku, I-jwe-hoan-hiat (Ganti Sumsum Tukar Darah)!"
Tiga orang panglima itu tidak mengerti apa artinya I-jwe-hoan-hiat, akan tetapi Thian Tok Lama dan Thai Li Lama menjadi pucat wajahnya.
Thai Li Lama memandang Bun Beng dengan sinar mata kasihan lalu menundukkan muka, sedangkan Thian Tok Lama lalu berkata perlahan.
"Omitohud...., semoga Sang Buddha menunjukkan jalan terang bagi Koksu!"
"Heh-heh-heh! Ji-wi Lama, kalian orang-orang beragama hanya memikirkan tentang dosa saja! Bagi orang-orang seperti kami, dosa adalah soal ke dua, yang terpenting adalah memanfaatkan segala macam demi kepentingan dan kemajuan kita. Ha-ha-ha! Eh, Sin-tong, siapa namamu?"
"Aku bukan sin-tong, aku bernama Gak Bun Beng. Lepaskan, aku mau pergi!"
Bun Beng meronta dari pegangan kakek itu.
Anak ini pun tidak mengerti apa artinya I-jwe-hoan-hiat.
Kalau dia mengerti tentu akan merasa ngeri, betapa tabah pun hatinya, karena ilmu itu ada-lah ilmu hitam yang amat keji, yaitu Si Kakek ini hendak menyedot darah dan sumsum Bun Beng dalam keadaan hidup-hidup untuk menggantikan sumsum dan darahnya sendiri yang sudah lemah dan kotor!
"Engkau mau pergi?
Nah, pergilah kalau dapat!"
Koksu itu melepaskan pegangannya.
Bun Beng menggerakkan kaki hendak berlari pergi akan tetapi....
tubuhnya tak dapat bergerak maju, kedua ka-kinya tak dapat digerakkan seolah-olah tertahan oleh sesuatu yang tidak nampak!
"Ha-ha-ha!
Engkau tidak bisa pergi, Bun Beng, karena semenjak saat ini engkau harus selalu ikut bersamaku, tidak boleh berpisah sedikitpun.
Tidur pun harus di sampingku.
Hayo, ikut dengan kami menonton pibu, heh-heh-heh!"
Tubuh Bun Beng didorong dan....
kedua kakinya dapat dipakai berjalan mengikuti rombongan itu.
Akan tetapi setiap kali dia hendak melarikan diri, mendadak kedua kakinya tidak dapat digerakkan!
Dia mulai merasa ngeri.
Tentu kakek aneh ini menggunakan ilmu iblis, pikirnya.
"Bun Beng....!"
"Suhu....!"
Bun Beng berteriak girang sekali ketika ia melihat munculnya Kakek Siauw Lam di depan.
Rombongan koksu itu pun berhenti ketika mendengar Bun Beng menyebut kakek itu sebagai gurunya.
"Bun Beng, ke sinilah engkau!"
Kakek Siauw Lam berkata kepada muridnya, hatinya gelisah melihat muridnya itu bersama rombongan koksu.
"Teecu.... teecu tidak bisa, Suhu....!"
Kata Bun Beng sambil berusaha menggerakkan kedua kakinya.
"Siapa bilang tidak bisa? Majulah engkau ke sini!"
Kakek Siauw Lam yang sudah melihat bahwa Bun Beng sebenarnya tertahan oleh hawa sin-kang yang keluar dari tangan koksu itu, menggerakkan kedua tangannya ke depan sambil mengerahkan sin-kangnya.
Terdengar suara bercuitan dan....
tiba-tiba tubuh Bun Beng terdorong ke depan, ke arah gurunya.
"Heh-heh, boleh juga tua bangka ini."
Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tertawa untuk menyembunyikan kagetnya, kemudian ia pun menggerakkan kedua tangan ke depan.
Terjadilah tarik-menarik oleh dua kekuatan yang tidak tampak, dan Bun Beng merasa betapa tubuhnya ditarik ke depan dan ke belakang.
Akan tetapi akhirnya....
ia tertarik ke belakang dan tangan koksu itu sudah menangkap pundaknya sambil tertawa-tawa.
Bukan main kagetnya hati Kakek Siauw Lam.
Tak disangkanya bahwa koksu itu ternyata memiliki kekuatan sin-kang yang luar biasa sekali!
Maka ia cepat menjura dan berkata.
"Mohon Paduka suka melepaskan murid hamba yang tidak berdosa, dan maafkan hamba yang tidak tahu diri berani berlaku lancang."
"Heh-heh, engkau guru bocah ini?" (Lanjut ke
Jilid 05) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Benar, Taijin."
"Siapa namamu?"
"Nama hamba Siauw Lam, seorang anggauta Siauw-lim-pai."
Kakek itu sengaja menggunakan nama Siauw-lim-pai untuk mencari pengaruh, karena pada waktu itu, pemerintah tidak mau bermusuhan dengan partai-partai persilatan besar, terutama Siauw-lim-pai yang kuat.
Tiba-tiba Thian Tok Lama mengerutkan alis dan berkata.
"Seingat pinceng, yang bernama Siauw Lam adalah seorang hwesio terkenal di Siauw-lim-pai!"
Kakek Siauw Lam memandang kepada hwesio Lama itu dan memberi hormat sambil berkata.
"Saya yang berdosa dahulu adalah Siauw Lam Hwesio, akan tetapi sudah bertahun-tahun ini saya mengundurkan diri dan menjadi orang biasa, Kakek Siauw Lam pelayan Kuil Siauw-lim-pai."
Mendengar ini, pandang mata kedua orang Lama itu memandang rendah dan alis mereka berkerut.
Tak senang hati mereka mendengar betapa seorang hwesio telah mengundurkan diri dari kependetaannya, hal ini mendatangkan kesan di hati mereka bahwa kakek itu adalah seorang durhaka dan berkhianat terhadap agama!
"Kakek Siauw Lam, kalau engkau guru dari Bun Beng ini, kebetulan sekali.
Aku akan mengambil muridmu ini, aku sayang kepadanya!"
"Tidak, Suhu, dia tidak sayang kepada teecu! Dia hendak menggunakan teecu sebagai syarat ilmunya I-jwe-hoan-hiat!"
Im-kan Seng-jin hendak mencegah Bun Beng bicara, namun terlambat dan seketika wajah Kakek Siauw Lam menjadi pucat, matanya menyinarkan api kemarahan.
"Taijin, harap jangan menghina murid Siauw-lim-pai. Kembalikan muridku!"
Bentaknya. Im-kan Seng-jin pun berganti sikap, memandang marah.
"Apa? Engkau pelayan kuil berani menentang aku? Berani melawan koksu kerajaan?"
"Saya tidak melawan siapa-siapa, akan tetapi Bun Beng adalah muridku dan biar dewa sekalipun hanya bisa merampasnya melalui mayatku!"
Kakek itu sudah marah sekali karena ia tahu apa artinya nasib muridnya kalau hendak dijadikan syarat orang melaksanakan ilmu iblis itu.
"Ha-ha-ha, Ji-wi Lama, lenyapkan hwesio yang durhaka ini!"
Im-kan Seng-jin berkata.
Kedua orang Lama itu memang sudah membenci Kakek Siauw Lam, maka kini keduanya lalu menerjang maju dari kanan-kiri, mengirim pukulan-pukulan dahsyat sekali.
Dari kiri Thian Tok Lama memukul dengan Ilmu Hek-in-hui-hong-ciang sehingga angin keras menyambar disertai uap hitam, adapun dari kanan Thai Li Lama juga memukul dengan pukulan sakti Sin-kun-hoat-lek!
Melihat datangnya pukulan yang me-ngandung hawa sakti amat dahsyatnya itu Kakek Siauw Lam terkejut dan maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat kuat dan harus dilawan mati-matian, terutama untuk menolong muridnya.
Maka ia pun mengerahkan sin-kangnya, mengembangkan kedua lengannya ke kanan-kiri dengan jari tangan terbuka dan menerima pukulan kedua lawan itu dengan telapak tangannya.
"Plak! Plak!"
Telapak tangan mereka bertemu dan melekat.
Tiga orang itu berdiri tak bergerak, saling beradu telapak tangan yang mengeluarkan hawa sakti dan terjadilah adu tenaga sakti yang amat dahsyat!
Beberapa menit lamanya ketiga orang kakek ini berdiri tegak tak bergerak akan tetapi lambat-laun tubuh kedua orang Lama itu bergoyang-goyang, sedangkan tubuh Kakek Siauw Lam masih tegak, sama sekali tidak terguncang, hanya dari rambut kepalanya mengepul uap putih dan mukanya pucat.
"Orang Siauw-lim-pai memang hebat....!"
Terdengar Im-kan Seng-jin berkata perlahan.
Sebetulnya, dia tidak berniat memusuhi Siauw-lim-pai akan tetapi karena dia tidak mau kehilangan Bun Beng, dia mengambil keputusan pendek.
Tiba-tiba ia menggerakkan tangan kirinya, didorongkan ke arah dada Kakek Siauw Lam.
Angin yang keras dan panas menyambar ke depan, tenaga yang tidak nampak menghantam dada Kakek Siauw Lam yang tentu saja tidak dapat mengelak atau menangkis karena dia sedang terhimpit oleh tenaga kedua orang Lama yang sudah hampir ia kalahkan itu.
"Uahhh....!"
Kakek Siauw Lam tergetar tubuhnya dan dari mulutnya tersembur darah segar, akan tetapi matanya mendelik memandang Im-kan Seng-jin dan dia masih tetap mempertahankan himpitan kedua orang Lama, sedikit pun tidak berkurang tenaga sin-kangnya biarpun sudah menderita luka parah!
Tiba-tiba Bhe Ti Kong mengeluarkan gerengan keras dan tubuhnya meloncat maju, tampak sinar berkilat ketika ia menggerakkan senjatanya yang istimewa yaitu sebuah tombak gagang pendek.
"Cappp!"
Tombak itu menusuk lambung Kakek Siauw Lam sampai tembus! "Suhuuu....!"
Bun Beng menjerit, akan tetapi kedua kakinya tetap saja tak dapat digerakkan.
Dengan mata terbelalak dan muka pucat ia melihat betapa suhunya roboh, mengerang perlahan lalu terdiam, tak bergerak lagi.
Sejenak enam orang itu termangu-mangu, agaknya merasa tidak enak dengan adanya kejadian itu.
Betapapun juga, yang mereka bunuh adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai!
"Ambil racun penghancur, lenyapkan mayatnya!"
Im-kan Seng-jin berkata dan dua orang panglima cepat membuka bungkusan koksu itu, mengeluarkan sebuah guci, membuka tutupnya dan menu-angkan benda cair berwarna putih perak ke atas tubuh Kakek Siauw Lam yang menjadi mayat.
"Suhuuuu....!"
Bun Beng masih terbelalak sambil menjerit memanggil nama suhunya sampai jari tangan Im-kan Seng-jin menyentuh lehernya dan membuat ia tak mampu menjerit lagi.
Dia hanya da-pat memandang dengan mata terbelalak betapa mayat suhunya itu cepat sekali mencair.
"dimakan"
Benda cair putih itu dan terciumlah bau yang asam dan tajam menusuk hidung.
Sepasang mata anak itu tak pernah berkedip melihat betapa mayat suhunya itu habis dan mencair sampai ke tulang-tulangnya, tidak ada bekasnya sedikitpun juga karena cairannya diserap oleh tanah, dan yang tinggal hanyalah tanah basah yang berbau racun itu.
Dua titik air mata tanpa dirasakannya jatuh ke atas pipinya, akan tetapi Bun Beng tidak menangis.
Tidak, sedikit pun dia tidak terisak, biarpun kedukaan menyesak di dada, karena kedukaannya dikalahkan rasa kebenciannya terhadap empat orang itu.
Berganti-ganti sinar matanya seperti dua titik api hendak membakar tubuh Im-kan Seng-jin, Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong.
Terutama sekali Bhong Ji Kun dan lebih-lebih lagi Bhe Ti Kong.
Karena ia dapat menduga bahwa kedua orang itulah yang membunuh suhunya!
Akan tetapi, enam orang itu tidak mempedulikannya.
Setelah mayat Kakek Siauw Lam lenyap, bergegas mereka mengajak Bun Beng menuju ke arah lapangan yang dijadikan medan pertandingan.
Kedua orang kakek utusan Pulau Es ternyata amat lihai.
Berkali-kali maju orang-orang sakti yang memasuki medan laga untuk berpibu, namun kesemuanya dikalahkan oleh Kakek Yap Sun dan Kakek Thung Sik Lun!
Semua orang menjadi gentar dan kini pihak Thian-liong-pang dan rombongan Pulau Neraka sudah mulai berbisik-bisik, agaknya mereka ini yang tadi nampak tenang-tenang saja sudah mulai memperbincangkan siapa yang akan mereka ajukan untuk menandingi dua orang kakek Pulau Es yang sakti itu.
Agaknya pihak Thian-liong-pang yang merasa penasaran dan dua orang kakek dari pihak ini sudah melompat maju.
"Mundur!"
Suara ini melengking nyaring dan tiba-tiba tampak sinar yang sebetulnya adalah bayangan putih seorang manusia yang melayang turun dari atas tebing dan hinggap di depan kedua orang kakek Pulau Es tanpa mengeluarkan suara, seperti seekor burung saja.
Semua orang memandang dan terbelalak melihat seorang wanita berpakaian sutera putih dengan sabuk sutera biru, bentuk tubuh yang ramping padat dan menggairahkan.
Akan tetapi kepala wanita ini tertutup oleh kedok sutera putih seluruhnya, merupakan sebuah kantung yang ditutupkan di kepala sampai ke bawah leher, hanya mempunyai dua buah lubang dari mana berpancar sinar mata yang indah, bening, namun mengandung hawa dingin dan tajam seperti ujung pedang pusaka!
Kulit kedua tangan yang tersembul keluar dari lengan baju, amat putih dan tangan itu sendiri kecil halus seperti tangan seorang puteri yang kerjanya setiap hari hanya merenda dan berhias!
Akan tetapi, semua orang berhenti menduga-duga dan mengerti bahwa wanita berkedok itu tentulah ketua yang penuh rahasia dari Thian-liong-pang!
Hal ini terbukti dari sikap para rombongan Thian-liong-pang yang serta merta menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah wanita berkerudung itu.
Tanpa diketahui oleh para tokoh kang-ouw kini rombongan koksu telah menonton di situ, bahkan dari belakang mereka menyusul pasukan pengawal yang segera membentuk barisan yang siap menanti komando.
Akan tetapi wanita berkerudung itu tidak mempedulikan semua ini.
Dari balik kerudung keluar suara yang merdu dan halus, akan tetapi nyaring dan begitu dingin membuat semua orang menggigil.
"Apakah kalian berdua ini utusan Pulau Es?"
Yap Sun sudah mendengar akan Ketua Thian-liong-pang yang luar biasa, akan tetapi seorang seperti dia pun tertegun ketika mendapat kenyataan bahwa ketua yang disohorkan memiliki ilmu kepandaian seperti iblis itu ternyata hanyalah seorang wanita, bahkan melihat bentuk tubuh dan mendengar suaranya, dia hampir berani memastikan bahwa wanita ini tentu masih muda!
Akan tetapi, teringat akan majikannya sendiri yang juga hanya pemuda malah buntung kakinya, ia menyingkirkan keheranannya, kemudian menjura dan menjawab.
"Tidak keliru dugaan Pangcu yang terhormat. Saya Yap Sun dan Sute Thung Sik Lun ini adalah utusan dari Pulau Es."
"Bagus! Sudah cukup Pulau Es memperlihatkan kegarangannya. Sekarang robohlah!"
Ucapan ini disusul dengan serangan kilat yang luar biasa cepatnya.
Tahu-tahu tubuh wanita ini telah menerjang dua orang kakek itu dengan pukulan yang membawa angin halus.
Dua orang kakek itu kaget.
Makin halus angin pukulan, makin hebatlah karena itu menunjukkan kekuatan sin-kang yang sudah tinggi.
Akan tetapi dia dan sutenya merasa penasaran.
Sebagai tokoh-tokoh Pulau Es yang tadi telah membuktikan kelihaian mereka, tentu saja mereka merasa tersinggung sekali ketika Ketua Thian-liong-pang ini menyuruh mereka roboh begitu saja!
Maka cepat mereka mengelak dan karena maklum menghadapi pukulan kilat secepat itu mengelak saja masih kurang cukup, maka sambil mengelak mereka menangkis dari samping.
"Dukk! Dukk!"
Sukar sekali dipercaya oleh mereka yang menyaksikannya karena begitu lengan kedua orang kakek sakti itu bertemu dengan kedua tangan wanita berkerudung itu, tubuh mereka terlempar roboh bergulingan kemudian barulah mereka dapat meloncat bangun dengan muka berubah.
Akan tetapi Kakek Yap Sun dan sutenya bukan orang-orang sembarangan.
Mereka tidak terluka, hanya kaget saja dan kini keduanya sudah menerjang maju lagi dengan dahsyat.
"Bagus! Kalian boleh juga!"
Kata wanita berkerudung itu dan terjadilah pertandingan yang amat hebat.
Kedua orang kakek itu mengeroyok dari jarak dekat, pukulan-pukulan mereka ampuh bukan main, namun semua pukulan mereka dapat dielakkan oleh Si Wanita berkerudung.
Berkali-kali kedua orang kakek itu mengeluarkan seruan aneh dan terheran-heran karena melihat betapa wanita itu mengelak dan menangkis dengan jurus-jurus yang sama dengan serangan-serangan mereka!
Karena penasaran, Yap Sun lalu berseru keras dan mengirim pukulan dengan telapak tangannya, juga sutenya mengim-bangi serangan suhengnya itu, dari pihak yang berlawanan mengirim pukulan dengan telapak tangannya.
"Aiiihhhh!"
Dan tubuhnya mencelat ke atas sehingga himpitan dua tenaga sin-kang itu luput.
Ia melayang ke depan dan turun sambil mencabut sebatang pedang pendek dan kecil, semacam pisau belati.
Sambil bertolak pinggang ia bertanya.
"Bukankah itu tadi pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang dahulu milik Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, dan satu lagi Swat-im Sin-ciang, milik Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee Si Muka Kuda? Kiranya Ketua kalian mengajarkannya kepada kalian?"
Yap Sun merasa mendapat hati dan mengira bahwa wanita itu jerih terhadap pukulan tenaga inti api dan pukulan sutenya dengan tenaga inti es, maka ia berkata.
"Apakah Pangcu yang terhormat jerih menghadapinya?"
"Aihhh, sombong! Siapa takut? Majulah!"
Kedua orang tokoh Pulau Es itu me-nerjang lagi dengan pukulan-pukulan mereka yang amat berbahaya, akan tetapi wanita itu selalu dapat mengelak dengan cepat.
Adapun Bun Beng ketika mendengar nama Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, menjadi terkejut sekali.
"Gak Liat adalah Ayahku....!"
Teriaknya perlahan dan karena Im-kan Seng-jin amat tertarik menyaksikan pertandingan itu, dia lupa menjaga sehingga tiba-tiba Bun Beng dapat melarikan diri.
Akan tetapi tiba-tiba pundaknya dicengkeram tangan yang kuat sekali dan ketika ia menengok, kiranya tangan Panglima Bhe Ti Kong yang memegang.
"Pegang dia, jangan sampai dia lari!"
Kata Im-kan Seng-jin tidak mau terganggu karena dia sedang menonton dengan hati amat tertarik.
Memang hebat pertandingan itu, terutama sekali hebat bagi orang-orang saki berilmu tinggi seperti Im-kan Seng-jin, kedua Lama dan para tokoh partai persilatan besar.
Biarpun kedua orang tokoh Pulau Es itu hebat sekali, namun dalam waktu tiga puluh jurus saja, Kakek Yap Sun sudah roboh tertendang punggungnya, dan Kakek Thung Sik Lun dapat ditotok lumpuh dan kini dijiwir telinganya oleh wanita berkerudung yang menodongkan pisau belatinya sambil berkata.
"Sesungguhnya aku segan untuk keluar berurusan dengan orang-orang kosong yang mengaku jagoan-jagoan kang-ouw. Akan tetapi karena golongan Pulau Es datang, aku tidak suka menyerahkan tugas kepada wakil-wakilku dan terpaksa keluar sendiri. Hayo katakan, di mana majikanmu Pendekar Siluman Si Kaki Buntung itu? Kalau dia tidak keluar, kuambil daun telingamu!"
Tiba-tiba terdengar suara melengking tajam dari angkasa, disusul melayangnya seekor burung garuda yang hinggap di atas batu karang tak jauh dari arena pertandingan, diikuti suara yang bergema.
"Siapakah mencari aku?"
Semua orang terbelalak memandang ketika seorang pria muda berambut panjang berwarna putih, pakaiannya sederhana, kaki kirinya buntung dan tangan kiri memegang tongkat butut, meloncat turun dari punggung garuda raksasa yang berdiri gagah itu.
Pria muda ini bukan lain adalah Suma Han yang terkenal dengan julukan Pendekar Siluman.
Majikan Pulau Es!
Semua mata, termasuk mata Ketua Thian-liong-pang, memandang kepada pendekar berkaki tunggal ini, bahkan Yap Sun cepat menyeret kakinya yang pincang karena tendangan tadi, berlutut di depan Suma Han sambil berkata dengan nada melaporkan penuh penyesalan.
"Maaf, To-cu, kami berdua telah dikalahkan oleh Pangcu dari Thian-liong-pang. Mohon keputusan To-cu."
Akan tetapi Suma Han agaknya tidak mendengar laporan ini, atau tidak mempedulikan, juga tidak mempedulikan orang-orang lain yang hadir.
Matanya mencari-cari, dan mulutnya berkata penuh sesal.
"Aku mencari dia.... ah, di manakah kalau tidak di sini?"
Kemudian dia berteriak, suaranya nyaring melebihi lengking garuda tadi.
"Hong-ji (Anak Hong)! Di mana engkau? Hayo cepat ke sini....!"
Suaranya bergema di seluruh permukaan pulau, akan tetapi tidak ada yang menjawab.
Semua orang memandang terbelalak dengan hati tegang.
Mereka yang pernah bertemu dengan Suma Han (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI), memandang kagum karena mereka sudah mengenal kesaktian pria muda buntung ini.
Adapun mereka yang sudah lama mendengar nama Pendekar Siluman akan tetapi baru sekarang bertemu, memandang takjub dan terheran-heran.
Kelihatannya hanya seorang pria muda sederhana dan biasa saja, bagaimana bisa menjadi Majikan Pulau Es yang begitu terkenal dan dijuluki Pendekar Siluman?
Wajahnya sama sekali tidak seperti siluman, biarpun rambutnya putih dan panjang, malah membuat wajahnya tampak gagah dan tampan penuh wibawa.
Tentu kepandaiannya yang seperti siluman dan diam-diam mereka ini bergidik ngeri.
"Ke manakah perginya Siocia, To-cu?"
Kakek Yap Sun bertanya dengan suara penuh kekhawatiran.
"Dia pergi dari Pulau Es, membawa garuda betina. Kukira hendak menonton keramaian di sini anak nakal itu. Kiranya tidak ada di sini. Habis ke mana dia?"
"Pendekar Siluman! Pendekar Super Sakti! Pendekar Buntung! Hayo majulah melawan aku Ketua Thian-liong-pang agar mata dunia terbuka siapa di antara kita yang patut menjadi pemimpin dunia persilatan!"
Tiba-tiba wanita yang berkerudung yang masih menodong leher Kakek Thung Sik Lun itu berseru merdu dan nyaring.
Mendengar suara ini, Suma Han seperti tersentak kaget, seolah-olah baru sekarang dia mendengar suara itu dan melihat wanita berkerudung yang mengaku Ketua Thian-liong-pang itu.
Juga baru teringat ia akan pelaporan pembantunya bahwa dua orang utusannya yang disuruh meninjau keadaan di pulau itu telah di-kalahkan oleh Ketua Thian-liong-pang.
Seperti tidak disengaja, tangan kanan Pendekar Siluman ini menggenggam ujung segumpal rambutnya, kemudian tanpa menggerakkan kaki, tubuhnya berputar menghadapi wanita itu.
Ia melihat betapa Yap Sun masih belum dapat berdiri, masih berlutut dan melihat Thung Sik Lun berlutut pula, ditodong belati oleh wanita berkerudung.
Seperti orang tak acuh, Pendekar Siluman memandang wanita itu dan bertanya, suaranya perlahan namun jelas terdengar satu-satu oleh semua orang yang hadir dan semua orang menggigil karena suara ini terdengar datar dan dingin.
"Engkau siapa....?"
Pertanyaan yang datar dan dingin ini seolah-olah hendak membuka kerudung dan menjenguk wajah si wanita.
Tanpa disadarinya, wanita itu menundukkan muka sejenak, kemudian mengangkatnya kembali dan sinar mata dari balik lubang itu seperti memancarkan api.
"Akulah Pangcu dari Thian-liong-pang! Dan aku menantang Majikan Pulau Es untuk mengadu ilmu di sini!"
Akan tetapi Suma Han tidak mengacuhkan tantangan ini, bahkan tongkatnya bergerak dan tampak ujung tongkat itu menyentuh kedua pundak Kakek Yap Sun dengan perlahan.
"Paman Yap di sini tidak ada apa-apa, yang diperebutkan hanya bungkusan kosong. Kau ajaklah Paman Thung kembali dan bantu aku mencari ke mana perginya bocah berandalan itu!"
Wajah Yap Sun kelihatan girang sekali karena tiba-tiba saja, dua kali totokan pada pundaknya itu menyembuhkannya dan ia dapat bangkit berdiri dengan gerakan ringan.
Melihat ini wanita berkeru-dung itu menggerakkan sedikit pundaknya, tanda bahwa ia terkejut.
"Pendekar Siluman! Kalau engkau tidak mau melayani tantanganku, orangmu ini akan mati!"
Ia menggerakkan pisau belatinya.
"Paman Thung, tidak lekas pergi menunggu apa lagi?"
Suma Han berseru dan tangan kanannya bergerak.
Terdengar bunyi bercuitan dan sinar putih yang amat halus menyambar ke arah kedua lengan dan seluruh jalan darah bagian depan tubuh wanita berkerudung.
Wanita itu tidak menjadi gugup, bahkan tidak mengelak, melainkan memutar pisaunya di depan tubuh sedangkan tangan kirinya dengan jari terbuka menyambar ke depan.
Akan tetapi wanita itu tampak tercengang dan marah ketika melihat bahwa yang ditangkisnya itu hanyalah segumpal rambut yang membuyar dan ketika ia menoleh ke arah Kakek Thung Sik Lun, ternyata kakek itu telah lenyap!
Kiranya Suma Han tadi menggunakan segenggam rambutnya yang ia putus dengan tangan dipakai menyerang Ketua Thian-liong-pang, akan tetapi hanya serangan pancingan saja karena begitu wanita itu bergerak menangkis, ia mendorongkan tangan kanannya ke arah tubuh pembantunya, yang terlempar dan bergulingan, terus meloncat ke dekat ketuanya sambil berlutut!
Kini semua orang yang menyaksikan terbelalak dan kagum bukan main.
Segumpal rambut dapat dipergunakan seperti jarum-jarum rahasia, dan dorongan tangan dalam jarak begitu jauh sudah berhasil membebaskan kakek kurus dari penodongan Ketua Thian-liong-pang.
"Pulanglah kalian dan cari Si Bengal!"
Kata Pendekar Siluman kepada dua pembantunya.
Yap Sun dan Thung Sik Lun mengangguk dan keduanya meloncat lalu lari pergi dari tempat itu, sedangkan Suma Han dengan sikap acuh tak acuh meloncat naik ke punggung garuda putih!
"Haiii!
Pendekar Siluman!
Sudah lama aku mendengar nama besarmu, mengapa tidak minum arak dulu denganku untuk belajar kenal?"
Tiba-tiba Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun berseru.
"Kalau begitu, terimalah suguhan arak dari koksu kerajaan!"
Tangan kanan koksu ini yang sudah mengeluarkan guci arak, menggoyang tangan dan arak merah muncrat dari dalam guci, cepat sekali sehingga membentuk sinar merah yang melebar seperti payung menyiram ke arah Suma Han dan garudanya.
Jarak antara koksu itu dengan Pendekar Siluman cukup jauh, maka perbuatan ini cukup membuktikan betapa saktinya koksu itu dan betapa kuatnya tenaga sin-kang yang ia pergunakan!
Suma Han hanya menoleh, tanpa mengubah duduknya di punggung garuda, akan tetapi tangan kanannya dengan jari terbuka membuat gerakan dorongan me-mutar ke depan.
Hawa dingin menyambar dari tangan itu, terasa oleh mereka yang berdiri tidak begitu jauh dan....
terdengar suara berkelotokan ketika butir-butir arak itu runtuh semua ke bawah dan telah membeku!
Itulah pukulan dengan tenaga inti Swat-im Sin-ciang yang sudah mencapai puncaknya sehingga pukulan ini dapat membuat benda cair membeku menjadi butiran-butiran es!
"Pendekar Siluman, mau lari ke mana engkau?"
Pangcu dari Thian-liong-pang, wanita berkerudung itu, berseru marah dan kedua tangannya sudah bergerak cepat.
"Cet-cet-cet-cet....!"
Tiga belas batang pisau belati yang entah dikeluarkan sejak kapan dan dari mana, tahu-tahu beterbangan seperti kilat-kilat menyambar ke arah Suma Han.
Semua menuju ke tubuh Pendekar Siluman dan tidak sebatang pun yang mengancam tubuh garuda!
Hal ini membuktikan betapa wanita itu merupakan seorang ahli melempar senjata rahasia.
Suma Han menggerakkan tongkatnya dengan sembarangan dan....
ketiga belas batang pisau itu seolah-olah tertarik oleh besi magnit dan kesemuanya melayang menuju ke tongkat di tangan Suma Han dan menancap semua di tongkat itu, berjajar-jajar rapi.
"Aku tidak sempat main-main dengan kalian!"
Terdengar Suma Han berkata, tongkatnya digerakkan dan tiga belas batang pisau itu melayang ke arah pemiliknya secara berbareng dan menjadi satu seolah-olah terikat sehingga merupakan senjata berat yang besar, akan tetapi dengan pukulan sin-kang, Ketua Thian-liong-pang itu membuat sekumpulan pisaunya menancap di atas tanah depan kakinya, seolah-olah berlutut memberi hormat kepadanya!
Sepasang mata bening di balik lubang kerudung itu berapi-api ketika wanita itu melihat garuda putih sudah mulai terbang, kelepak sayapnya terdengar keras dan angin pukulan sayap membuat debu beterbangan!
Tiba-tiba terdengar pekik keras dari rombongan Pulau Neraka dan tampak seorang laki-laki tinggi besar yang matanya berwarna hijau pupus seperti tubuhnya, rambutnya kotor riap-riapan mukanya bengis, meloncat ke depan dan tangannya melontarkan sebuah benda panjang berwarna hitam ke atas, ke arah burung garuda yang belum terbang tinggi.
Benda panjang itu menyambar cepat dan tahu-tahu telah membelit kedua kaki burung garuda tadi.
Betapa kaget hati semua orang ketika melihat benda itu adalah seekor ular yang pajang, berwarna hitam dan berbisa, yaitu semacam ular sendok (khobra) yang mendesis-desis dan siap menggigit tubuh garuda!
Melihat Pendekar Siluman tetap diam saja seperti tidak tahu, semua orang berkhawatir.
Akan tetapi garuda itu mengeluarkan suara melengking tinggi, kepalanya bergerak cepat dan tahu-tahu leher ular itu telah dipatuknya!
Garuda itu tidak terus terbang ke atas, bahkan dengan kecepatan luar biasa menukik ke bawah, ke arah laki-laki muka hijau pupus tadi, kedua kakinya yang berbentuk cakar berkuku tajam dan runcing melengkung itu bergerak menyerang!
Laki-laki itu tidak takut, sudah mencabut sebatang pedang hitam dan membabat ke arah kedua kaki garuda.
Garuda itu ternyata hebat sekali, dia memapaki pedang dengan cakar kiri dan mencengkeram pedang itu.
"Krekkk!"
Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong dan dilempar ke bawah.
Sebelum laki-laki anggauta Pulau Neraka itu sempat mengelak tahu-tahu sehelai benda hitam telah melibat lehernya dan ketika garuda itu terbang ke atas, tubuh laki-laki itu tergantung dan ternyata lehernya telah dibelit tubuh ularnya sendiri yang masih hidup dan yang lehernya dijepit paruh garuda yang amat kuat.
Semua orang menjadi ngeri dan mengikuti sampai ke atas tebing.
Mereka melihat garuda itu melepas ular dan laki-laki tadi sehingga tubuhnya meluncur ke bawah, jatuh ke dalam air muara di mana air sungai bertemu dengan air laut.
"Celaka....! Air pusaran maut!"
Terdengar suara dari gerombolan anak buah Pulau Neraka.
Semua orang memandang dan terbelalak melihat betapa laki-laki bermuka hijau pupus itu meronta-ronta dan berusaha berenang mengatasi pusaran air.
Namun tenaga pusaran air yang disebut pusaran maut dan yang amat dikenal para nelayan karena merupakan tempat yang tidak mungkin dapat dilalui dan yang mendatangkan maut mengerikan, amatlah kuatnya sehingga usaha manusia ini sama sekali tidak ada artinya.
Tubuhnya dibawa berputar, makin lama makin cepat dan akhirnya tubuh itu hancur lebur dihempaskan pada batu-batu di bawah tebing, karena pusarannya makin lama makin melebar!
Semua orang menghela napas penuh kengerian dan burung garuda itu kini sudah terbang jauh, hanya tampak sebagai sebuah titik putih yang makin menghilang.
Wanita berkerudung mengeluarkan dengusan pendek, lalu bertepuk tangan.
Dari atas tebing, melayang seorang wanita yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, masih cantik jelita dan gerakannya tangkas.
"Tidak ada gunanya lagi aku di sini, kau wakili aku hadapi tikus-tikus ini."
Katanya dan sekali berkelebat tubuhnya sudah melayang naik ke tebing dari mana dia tadi melayang turun, kelihatannya marah dan penasaran sekali.
"Haiiii! Pangcu dari Thian-liong-pang! Mari kita main-main sebentar!"
Koksu berseru, suaranya mengguntur seolah-olah menyusul tubuh yang melayang naik itu.
Tubuh itu kini sudah lenyap di tebing tinggi, akan tetapi dari tempat tinggi itu terdengar suara merdu.
"Seperti juga Pendekar Siluman saya tidak ada waktu untuk main-main dengan Koksu!"
Kemudian sunyi senyap, hanya tinggal mereka yang berada di situ menahan napas, kemudian menarik napas panjang penuh kekaguman.
Majikan Pulau Es dan Ketua Thian-liong-pang sungguh merupakan manusia luar biasa, seperti iblis!
Mereka merasa menyesal mengapa tidak mendapat kesempatan menyaksikan dua orang itu bertanding silat!
Kalau keduanya saling mengadu kepandaian, atau menghadapi koksu yang sakti itu, tentulah mereka akan menyaksikan pertandingan-pertandingan yang amat luar biasa!
Ketika melihat semua orang termangu-mangu, tiba-tiba Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tertawa bergelak.
"Cu-wi sekalian adalah orang-orang gagah dari segala penjuru dunia! Setelah kini berkumpul di sini bukankah bermaksud untuk mengadu kepandaian menentukan siapa yang akan menjagoi? Nah, lanjutkanlah. Pemerintah tidak akan menghalangi, bahkan akan ikut meramaikan. Kami sendiri tidak akan maju karena lawan-lawan yang seimbang telah pergi, akan tetapi pembantu-pembantu kami cu-kup kuat untuk ikut meramaikan pibu ini! Aku mengajukan pembantuku Bhe Ti Kong. Hayo, siapa di antara Cu-wi yang berani menghadapinya boleh maju, jangan khawatir, pertandingan melawan pangli-ma kerajaan sekali ini tidak akan dianggap sebagai pemberontakan. Sekarang bukan jaman perang, dan ini adalah urusan pribadi di antara orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan. Bhe-goanswe, majulah!"
Dengan wajah berseri gembira Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun berkata kepada pembantunya.
Bhe Ti Kong adalah seorang jendral perang.
Biarpun ia memiliki ilmu silat yang tinggi, namun sesungguhnya dia bukan berjiwa kang-ouw.
Akan tetapi, sebagai seorang tentara, tentu saja dia selalu akan mentaati perintah atasan, maka setelah menyerahkan Bun Beng kepada seorang temannya, yaitu seorang di antara tiga panglima pengawal itu, ia lalu meloncat ke tengah lapangan dan mencabut senjatanya yang dahsyat, yaitu tombak gagang pendek yang bercabang, tajam dan runcing sekali.
Bun Beng yang tadi menyaksikan sepak terjang Pendekar Siluman, hatinya berdebar tegang.
Betapa ia mengenal pendekar itu!
Tiada bedanya dengan lima tahun yang lalu ketika pendekar itu menolong keluar kuil tua!
Hatinya gembira sekali dan ingin tadi ia berteriak memanggil.
Akan tetapi, Panglima Bhe Ti Kong yang menyebalkan dan amat dibencinya itu tadi selain mencengkeram pundaknya, juga membungkam mulutnya sehingga ia tidak mampu bergerak dan tidak mampu mengeluarkan suara pula.
Betapa bencinya!
Kini Pendekar Siluman itu telah pergi jauh, bahkan wanita berkerudung yang juga amat mengagumkan hatinya itu telah pergi pula!
Dan baru sekarang dia dilepaskan oleh Panglima Bhe yang hendak berlagak dalam pertandingan!
Hem, ia mencela dan diam-diam memaki.
Baru sekarang berlagak!
Coba tadi melawan Pendekar Siluman!
Atau Si Wanita berkerudung, kalau memang gagah!
Akan tetapi, hatinya lega juga setelah kini ia dioperkan kepada panglima lain yang berperut gendut itu.
Biarpun panglima ini masih memegangi lengannya, namun tidak dicengkeram seperti Pang-lima Bhe tadi.
Agaknya panglima yang gendut ini memandang rendah kepada Bun Beng maka pegangannya tidaklah erat benar karena dianggapnya bocah sekecil itu bisa apakah?
Pula, ia amat tertarik untuk menyaksikan rekannya memasuki pibu, hal yang belum pernah terjadi di antara para panglima pengawal!
Tiba-tiba dari rombongan Pulau Neraka meloncat keluar seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka biru muda!
Melihat warna mukanya yang agak terang menandakan bahwa seperti juga orang yang mukanya berwarna hijau pupus tadi, yang ini tentu tingkatnya juga sudah cukup tinggi.
Dan agaknya kini para tokoh Pulau Neraka yang semenjak tadi belum maju, menjadi penasaran.
Apalagi melihat seorang anggauta mereka tewas dalam keadaan begitu mengerikan.
Mereka marah sekali, akan tetapi yang membunuh teman mereka adalah burung garuda putih tunggangan Pendekar Siluman yang sekarang sudah terbang pergi sehingga mereka tidak dapat menumpahkan kemarahan hati mereka.
Agaknya kemarahan itu akan dilampiaskan dalam pibu ini.
Apalagi koksu tadi sudah mengatakan bahwa pibu ini merupakan pertandingan perorangan, andaikata tidak demikian pun, mana orang-orang Pulau Neraka akan menjadi takut.
Pulau Neraka tidak pernah takut terhadap pemerintah atau siapapun juga!
Laki-laki tinggi besar bermuka biru muda itu telah mencabut pedang dengan tangan kiri, mukanya yang buruk dengan kumis pendek tanpa jenggot kelihatan muram dan kejam.
Rambutnya yang riap-riapan itu diikat dengan sehelai tali putih.
Kulitnya, dari muka sampai ke tangannya, bahkan matanya berwarna biru muda, amat menyeramkan.
"Aku Pok Sit dari Pulau Neraka akan melawanmu, Ciangkun!"
Katanya dan tanpa menanti jawaban orang Pulau Neraka ini sudah menerjang dengan pedangnya yang amat panjang.
Gerakannya kuat dan cepat, juga aneh sekali berbeda dengan ilmu pedang biasa.
Panglima Bhe Ti Kong cepat menangkis dengan senjata tombak pendeknya.
"Cringggg....!"
Bunga api berhamburan ketika dua senjata itu bertemu dan keduanya merasa telapak tangan mereka panas.
Tahulah mereka bahwa tenaga mereka seimbang, maka ini keduanya serang-menyerang dengan hebatnya.
Bun Beng menonton, akan tetapi pikirannya melayang-layang teringat kepada Pendekar Siluman dan wanita berkerudung yang mengaku sebagai Ketua Thian-liong-pang.
Kemudian ia teringat betapa ketua aneh itu tadi menyebut nama ayahnya berjuluk Kang-thouw-kwi Si Setan Botak.
Botak seperti Koksu.
Dan pukulan hebat dari Pulau Es tadi dikatakan oleh wanita berkerudung sebagai ilmu ayahnya, diajarkan oleh Pendekar Siluman kepada utusannya.
Kalau begitu ada hubungan antara ayahnya dan Pendekar Siluman.
Dan setidaknya, tentu ayahnya bukan orang sembarangan, melainkan seorang sakti pula.
Itulah agaknya mengapa dulu ia dijadikan rebutan!
Agaknya ayahnya itu dikenal dan dihormati orang-orang Thian-liong-pang dan orang-orang Pulau Neraka yang hendak memeliharanya!
Ketika ia melihat ke arah pertandingan, ternyata bahwa orang yang dibencinya, Panglima Bhe Ti Kong, terdesak oleh ilmu pedang yang amat aneh dari lawannya.
Akan tetapi tiba-tiba koksu mengeluarkan ucapan-ucapan dan sungguh mengherankan, gerakan panglima itu berubah dan kini keadaannya berbalik.
Si Muka Biru Muda itu yang terdesak oleh senjata tombak pendek!
Mengertilah Bun Beng yang sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi bahwa koksu itu bermain curang, memberi nasihat kepada pembantunya dalam bahasa yang tidak dimengerti orang lain.
Perasaan marah membuat Bun Beng mencari akal untuk melepaskan diri.
Ia teringat akan ilmunya Sia-kun-hoat, maka ia segera menggerakkan ilmu ini secara diam-diam, kemudian menggunakan kesempatan selagi perwira gendut yang memegangnya bergembira dan tertarik menyaksikan rekannya mendesak lawan, ia cepat merenggutkan dirinya terlepas dari pegangan panglima gendut.
"Heiii....! Pergi ke mana....?"
Panglima gendut terkejut, akan tetapi Bun Beng sudah meloncat pergi dengan lincahnya.
Rasa bencinya yang mendalam terhadap Panglima Bhe Ti Kong yang telah ikut membunuh suhunya, membuat Bun Beng pada saat itu tidak memikirkan hal lain kecuali membantu lawan si panglima yang makin mendesak hebat dengan tombak pendeknya.
Para pembunuh suhunya adalah empat orang yang lihai bukan main.
Apalagi koksu dan dua orang pendeta Lama itu, mereka adalah tiga orang sakti.
Mana mungkin ia dapat membalaskan kematian Suhunya?
Akan tetapi, Bhe Ti Kong merupakan orang ke empat yang tidak sesakti tiga kakek itu, apalagi sekarang menghadapi lawan tangguh.
Kalau tidak sekarang dia turun tangan membalas kematian suhunya, menunggu sampai kapan?
Hanya inilah yang memenuhi pikiran Bun Beng, maka begitu ia berhasil membebaskan diri dari pegangan Si Panglima gendut dengan ilmu melepaskan dan melemaskan tulang dan otot, ia segera meloncat dan menyerang dari atas ke arah kepala Bhe Ti Kong yang sedang mendesak Si Muka Biru Muda dari Pulau Neraka!
"Manusia curang!
Rasakan pembalasanku!"
Bun Beng membentak sambil meloncat dan menubruk seperti seekor anak harimau yang tidak mengenal takut.
Memang hatinya marah sekali, bukan hanya karena kematian suhunya yang dikeroyok secara curang, juga menyaksikan betapa Panglima Bhe Ti Kong ini sekarang dapat mendesak lawan karena dibantu oleh koksu.
Dan memang sebenarnyalah dugaan Bun Beng ini.
Ketika tadi melihat anak buahnya itu terdesak, oleh tokoh Pulau Neraka yang bermuka biru muda, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun menjadi jengkel dan juga khawatir sekali.
Kekalahan panglima kerajaan berarti sebuah pukulan bagi kedudukannya dan akan membikin dia malu.
Dia tidak menyalahkan Bhe Ti Kong yang terdesak lawan karena memang orang Pulau Neraka itu memiliki ilmu pedang yang aneh sekali gerakannya.
Maka koksu yang sakti ini cepat memperhatikan gerakan orang itu, mempelajari dasar dan intinya, kemudian ia memberi nasihat kepada Bhe Ti Kong dengan bahasa daerah Mancu dan begitu Bhe Ti Kong mentaati nasihat ini, benar saja, ia dapat mendesak lawan dengan tombaknya.
Serangan seorang bocah berusia sepuluh tahun tentu saja tidak akan ada artinya bagi seorang lihai macam Bhe Ti Kong.
Akan tetapi karena Bun Beng melakukan penyerangan selagi dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh, hal itu amat berbahaya.
Apalagi karena bocah itu pun bukan sembarangan bocah, melainkan seorang anak yang telah bertahun digembleng oleh seorang tokoh sakti Siauw-lim-pai!
Sedikit saja dia mengalihkan perhatian kepada Bun Beng, tentu dia terancam maut di ujung pedang Si Muka Biru Muda.
Akan tetapi Bhe Ti Kong adalah seorang yang sudah banyak mengalami pertempuran dahsyat, maka dia tidak menjadi gugup.
Dengan gerakan cepat ia menyerang lawan dari bawah sambil merendahkan tubuh dan mengelak dari sambaran tangan-tangan kecil dari atas yang memukul ke arah kepalanya.
Serangan Bun Beng mengenai tempat kosong dan tubuh anak itu terpaksa melayang turun di belakang Bhe Ti Kong.
Panglima ini berhasil mendesak lawan dengan serangannya tadi, kini cepat memutar kaki menendang ke belakang.
Namun Bun Beng sudah siap menghadapi tendangan ini maka cepat anak itu dapat menghindarkan diri dengan lompatan ke kanan.
Biarpun hanya membagi perhatian sedikit saja, hal itu sudah merugikan Bhe Ti Kong karena tiba-tiba sinar terang menyambar bergulung-gulung dan pedang lawan sudah membuat dia kini terdesak hebat.
Bhe Ti Kong hanya dapat memutar tombak di depan dadanya untuk melindungi tubuh dan terpaksa ia membiarkan tubuh bagian belakangnya kosong tidak terjaga.
Bun Beng menggunakan kesempatan itu, cepat ia menubruk dari belakang dan mengerahkan seluruh tenaganya menghantam lambung Bhe Ti Kong.
"Bocah setan! Jangan mencampuri pertandinganku!"
Tiba-tiba orang Pulau Neraka bermuka biru muda itu membentak, pedangnya berkelebat dan tahu-tahu Bun Beng merasa tubuhnya terangkat ke atas!
Kiranya punggung bajunya telah di tusuk pedang Si Muka Biru dan kini ia diangkat ke atas.
"Lepaskan, aku tidak mencampuri, aku hanya ingin membalas kematian Suhu!"
Ia meronta-ronta dan pada saat itu, Bhe Ti Kong yang melihat kesempatan baik sekali telah mengirim tendangan ke arah perut Si Muka Biru.
Orang Pulau Neraka itu ternyata lihai sekali.
Biarpun pedangnya kini tak dapat ia pergunakan, ia masih sempat melangkahkan kaki kanannya ke belakang dan miringkan tubuh sehingga tendangan Bhe Ti Kong luput.
Dengan marah Bhe Ti Kong yang sudah siap dengan tombak pendeknya itu menyusul serangannya dengan tusukan bertubi-tubi.
Si Muka Biru terkejut dan mundur-mundur, kemudian sekali ia menggerakan pedang, tubuh Bun Beng terlempar jauh, melayang sampai sepuluh meter jauhnya.
Namun, gerakannya ini membuat ia kurang cepat mengelak dan sebuah tusukan tombak di tangan Bhe Ti Kong sempat menyerempet lambung kirinya.
"Crottt....!"
Tangan Bhe Ti Kong yang sudah biasa menggunakan tombak menusuki perut lawan dalam perang sehingga entah berapa ratus perut yang sudah menjadi korban tombak, kini secara otomatis mencokelkan tombaknya sehingga perut yang hanya diserempet itu robek kulitnya dan tampaklah usus panjang keputih-putihan mencuat keluar!
Si Muka Biru mengeluarkan gerengan keras, tangan kanannya cepat menyambar ususnya dan mengalungkan usus yang panjang itu ke lehernya, kemudian ia melanjutkan pertempuran melawan Bhe Ti Kong seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya!
Semua orang yang menyaksikan keadaan Si Muka Biru itu, terbelalak ngeri dan juga kagum, kecuali para anggauta Pulau Neraka sendiri tentunya.
Mereka ini sejak tadi diam tak bergerak menonton pertandingan, wajah yang beraneka warna itu tidak menunjukkan sesuatu, dingin-dingin saja.
Memang aneh sekali orang-orang Pulau Neraka ini.
Keadaan mereka merupakan rahasia, bahkan orang-orang kang-ouw yang terkenal dan banyak pengalaman sekali pun jarang ada yang tahu siapa gerangan orang-orang yang kulitnya berwarna aneh itu.
Thian Tok Lama dan Thai Li Lama adalah dua orang sakti yang amat terkenal, akan tetapi mereka berasal dari Tibet maka tentu saja tidak mengenal orang-orang Pulau Neraka.
Menyaksikan keadaan Si Muka Biru itu, tak tertahan lagi mereka bertanya kepada Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tentang orang-orang Pulau Neraka.
Koksu Kerajaan Mancu itu mengelus jenggotnya, menarik napas panjang lalu menjawab tanpa mengalihkan pandang matanya dari pertandingan yang masih berlangsung hebat.
"Keadaan mereka penuh rahasia, aku sendiri pun hanya mendengar-dengar saja dari kabar angin. Kabarnya, di jaman dahulu, entah berapa ratus tahun yang lalu, terdapat kerajaan-kerajaan kecil di atas pulau-pulau yang banyak tersebar di lautan timur. Di antara raja-raja kecil itu terdapat keluarga raja yang amat sakti, kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa-dewa, bahkan mereka menamakan dirinya keluarga dewa!"
"Aihhh, apa hubungannya dengan Bu Kek Siansu yang dikabarkan seperti manusia dewa dan katanya datang dari Pulau Es?"
Thai Li Lama bertanya, masih serem mengenangkan munculnya Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es yang aneh tadi.
"Entahlah, aku tidak pernah mendengar tentang dia. Menurut kabar, kerajaan dewa itu memegang peraturan yang amat keras sehingga apabila ada rakyat yang melakukan pelanggaran, mereka ini dihukum buang ke atas sebuah pulau yang dinamakan Pulau Neraka."
"Mengapa namanya begitu serem?"
Thian Tok Lama bertanya.
"Entahlah, hanya kabarnya yang mem-bocor ke dunia kang-ouw karena ada pelarian gila dari Pulau Neraka mengoceh, pulau itu lebih mengerikan dari neraka yang sering disebut dalam kitab-kitab. Pendeknya, tidak ada manusia yang dapat hidup di sana."
"Hemm, aneh. Kalau tidak ada manusia dapat hidup di sana, mengapa sekarang muncul banyak tokoh-tokoh Pulau Neraka?"
Thian Tok Lama mencela.
"Tidak ada seorang setan pun tahu apa yang terjadi,"
Kata koksu yang kini kembali mengalihkan perhatiannya ke arah pertandingan yang makin menghebat.
Si Muka Biru itu biarpun ususnya sudah keluar dan dikalungkan ke leher ternyata makin hebat saja gerakannya, seperti orang nekat sehingga kembali Bhe Ti Kong terdesak!
Pengetahuan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tentang Pulau Neraka seperti yang diceritakannya kepada dua orang Lama itu hanya tentang kulitnya saja.
Satu-satunya yang tepat dalam keterangannya adalah bahwa memang tidak ada seorang pun yang tahu akan Pulau Neraka yang hanya dikenal orang dalam dongeng, dan yang setelah ratusan tahun tiada buktinya, baru kini muncul tokoh-tokohnya yang memiliki kepandaian luar biasa dan keadaan yang amat aneh.
Memang benarlah bahwa Pulau Neraka itu dahulu merupakan sebuah pulau tempat pembuangan orang-orang jahat, dan yang membuang penjahat-penjahat ke tempat itu adalah keluarga raja muda yang berkuasa di Pulau Es, yaitu kerajaan yang menjadi nenek moyang Bu Kek Siansu!
Pulau itu amat mengerikan keadaannya, tiada ubahnya seperti neraka.
Air yang terdapat di pulau itu selain kotor juga mengandung racun begitu keluar dari sumbernya.
Dan banyak di situ tumbuh pohon-pohon yang aneh dan beracun, pohon-pohon yang ranting-rantingnya dapat membelit, menangkap dan menghisap darah hewan atau manusia, pohon-pohon yang mempunyai daun-daun beracun sehingga begitu daunnya menguning dan rontok, menyiarkan bau yang dapat membuat manusia mati seketika.
Kadang-kadang timbul kabut dingin yang mematikan, dan pada bergantian musim, keluar uap-uap beracun dari dalam tanah, merupakan gas beracun yang amat jahat, apalagi sampai terhisap, baru mengenai kulit saja membuat kulit membusuk.
Semua ini masih ditambah lagi dengan adanya binatang-binatang berbisa, ular-ular cobra dan ular belang, ular hijau, kalajengking, kelabang dan semua binatang merayap yang berbisa di samping binatang-binatang liar yang buas.
Betapapun tingginya kepandaian seorang hukuman yang dibuang dari Pulau Es, dia takkan dapat bertahan lama di tempat itu sehingga pulau itu dalam waktu puluhan tahun penuh dengan rangka-rangka manusia berserakan di mana-mana.
Akan tetapi pada jamannya raja muda yang menjadi Kakek Bu Kek Siansu, yaitu yang bergelar Raja Han Gi Ong, terjadi perubahan.
Raja Han Gi Ong ini masih memiliki sifat keras dan berdisiplin seperti nenek moyangnya, akan tetapi dia lebih lunak dan memiliki perasaan kasihan.
Dia maklum bahwa semua orang hukuman dari Pulau Es yang dibuang ke Pulau Neraka memiliki kepandaian tinggi namun tak dapat menahan kesengsaraan Pulau Neraka dan paling lama dapat hidup setahun.
Oleh karena itu, ketika pada suatu hari seorang pangeran melakukan dosa besar dan dibuang ke Pulau Neraka, Raja Han Gi Ong membekalinya kitab-kitab pusaka yang berisi pelajaran ilmu-ilmu yang amat tinggi.
Demikianlah, dengan bekal itu, Sang Pangeran akhirnya dapat bertahan karena telah mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi.
Bahkan dia dapat pula menyelamatkan para orang buangan yang lain, laki-laki dan wanita, sehingga setelah berlangsung puluhan tahun, di Pulau Neraka terdapat sekelompok keluarga yang hebat!
Ratusan tahun kemudian, sekeluarga besar menghuni pulau ini dan menjadi orang-orang pandai yang amat aneh akan tetapi tidak pernah turun ke dunia ramai.
Kepandaian mereka turun-temurun ke anak cucu mereka dan semua kesukaran di pulau itu dapat mereka atasi, bahkan hal-hal mengerikan yang tadinya merupakan ancaman bagi kehidupan, kini dapat mereka kuasai dan pergunakan demi keuntungan mereka!
Racun-racun dapat menjadi obat dan menjadi senjata, dan keadaan yang penuh tantangan itu membuat mereka makin ulet dan kuat.
Na-mun, perasaan kasihan yang timbul di hati Raja Han Gi Ong, yang terjadi ratusan tahun yang lalu, di jaman Kerajaan Tang menguasai Tiongkok (618-905) ternyata mendatangkan bencana karena setelah keluarga Pulau Neraka menjadi kuat, mulailah mereka merongrong kewibawaan kerajaan kecil Pulau Es!
Sering kali terjadi perang di antara mereka.
Demikianlah sekelumit riwayat Pulau Neraka yang penghuninya adalah orang-orang buangan dari Pulau Es yang ketika itu masih merupakan sebuah kerajaan kecil.
Tentu saja hal ini tidak diketahui oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun maka yang ia ceritakan kepada kedua orang Lama Tibet hanyalah kulitnya saja.
Kini perhatian mereka kembali teralih kepada jalannya pertandingan antara Bhe Ti Kong melawan seorang anak buah Pulau Neraka yang bermuka biru muda yang amat hebat kepandaiannya itu.
Sementara itu, Bun Beng yang tadi dilontarkan oleh pedang Si Muka Biru, terlempar dan terbanting jatuh ke atas tanah, namun karena tubuhnya terlatih, ia cepat menggelinding dan meloncat bangun.
Tiba-tiba pundaknya dicengkeram orang dan ketika ia mengangkat muka, kiranya panglima gemuk tadi telah menangkapnya kembali.
"Hemm, bocah kurang ajar, sekarang kau takkan kulepaskan lagi!"
Cengkeraman pada pundak Bun Beng kuat sekali membuat anak itu menyeringai kesakitan.
"Lepaskan aku!"
Bun Beng meronta, akan tetapi kini kedua lengannya malah dipegang oleh tangan kuat panglima gendut itu.
Dia mencoba untuk menendang dan menggigit, akan tetapi sia-sia, panglima itu terlampau kuat baginya.
"Kalau engkau tidak mau diam, kutampar kepalamu!"
Panglima itu menghardik.
"Lihat ada pertandingan begitu menarik, kenapa kau ribut saja?"
Bun Beng seorang anak yang berani, akan tetapi juga cerdik.
Dia maklum bahwa kalau dia menggunakan kekerasan memberontak, tidak mungkin ia dapat membebaskan diri.
Maka ia berhenti meronta dan matanya menyapu ke depan.
Semua orang memperhatikan jalannya pertandingan, hanya ada seorang wanita yang memandang ke arahnya.
Ia mengenal wanita itu sebagai wanita cantik yang tadi dipanggil Ketua Thian-liong-pang, Seorang wanita cantik jelita yang bersikap gagah namun berwajah dingin seolah-olah pertandingan antara Panglima Mancu dan tokoh Pulau Neraka itu merupakan hal yang menjemukan.
Ah, wanita itu betapapun juga tentu mempunyai perasaan yang lebih halus daripada orang-orang lain yang aneh ini, pikir Bun Beng.
Agaknya dia mau menolongku dari ancaman maut di tangan koksu.
Akan tetapi dia harus dapat membebaskan diri lebih dulu.
Berteriak-teriak minta tolong kepada wanita itu merupakan hal yang amat memalukan, juga mana mungkin wanita yang tak dikenalnya itu mau menolongnya?
Dan selain wanita Thian-liong-pang itu, siapa lagi mau menolongnya?
Mengharapkan pertolongan dari orang-orang Pulau Neraka sama dengan mengharapkan pertolongan sekumpulan setan.
Tadinya ketika ia menyerang Panglima Bhe, yang sedikit banyak membantu orang Pulau Neraka muka biru, Si Muka Biru itu malah melemparkannya.Pandang mata Bun Beng mencari-cari dan diam-diam dia mengeluh karena pulau kecil itu kini tidak seramai tadi.
Orang yang dicari-carinya tidak ada.
Dia mencari lima orang tokoh Siauw-lim-pai yang masih terhitung suheng-suhengnya, yaitu Siauw-lim Ngo-kiam yang tadi dikalahkan oleh Cui-siauw-kiam Hok Cin Cu kalau saja tidak dibantu oleh gurunya yang kini telah tewas.
Tadi dia masih melihat lima orang Siauw-lim-pai itu, akan tetapi kini mereka telah pergi, seperti yang lain-lain karena banyak tokoh kang-ouw menjadi segan untuk berdiam lebih lama di situ setelah Koksu Negara bersama rombongannya mendarat di pulau.
Dan memang, lima orang tokoh Siauw-lim-pai itu telah pergi sehingga mereka tidak tahu bahwa supek mereka, Siauw Lam Hwesio, telah tewas di tangan koksu dan kawan-kawannya secara mengerikan sehingga jenazahnya pun lenyap tak meninggalkan bekas!
Biarpun mereka tadi belum kalah, akan tetapi sebagai orang-orang gagah, Siauw-lim Ngo-kiam sudah mengakui keunggulan Cui-siauw-kiam Hok Cin Cu, maka begitu mereka ditegur supek mereka yang menyelamatkan mereka, mereka diam-diam lalu pergi dari tempat itu.
Juga banyak tokoh-tokoh yang mewakili partai-partai besar meninggalkan tempat itu, selain segan berurusan dengan orang-orang aneh berkepandaian seperti orang-orang Pulau Neraka dan orang-orang Thian-liong-pang, juga terutama sekali mereka enggan untuk bentrok dengan orang-orang pemerintah.
Ketika Bun Beng mencari-cari dengan pandang matanya, dia hanya melihat rombongan Thian-liong-pang yang hanya terdiri lima orang dipimpin oleh wanita tadi, sepuluh orang anggauta Pulau Neraka, serta rombongan Koksu yang diikuti pasukan pengawal.
Adapun beberapa orang tokoh yang mewakili partai-partai persilatan, hanya masih ada beberapa orang yang belum pergi, namun mereka itu bersikap hati-hati dan hanya ingin menonton dari tempat agak jauh, agaknya jerih dan sungkan terlibat.
Dengan demikian, kini yang masih kelihatan bersikap tidak mau kalah hanya tinggal tiga rombongan, yaitu rombongan Thian-liong-pang yang belum turun tangan, rombongan Pulau Neraka yang seorang di antara tokohnya masih bertanding mati-matian dengan seorang panglima dari rombongan orang pemerintah.
Tidak ada harapan, pikir Bun Beng.
Kecuali wanita Thian-liong-pang itu.
Kalau saja ia dapat membebaskan diri.
Ia mengangkat muka memandang.
Panglima gendut itu menonton pertandingan dengan sinar mata amat tertarik, akan tetapi tangan kanan yang mencengkeram kedua pergelangan tangan Bun Beng dan tangan kiri yang mencengkeram pundak amat kuatnya, sedetik pun tidak pernah mengendur.
Agaknya pertandingan antara kawannya melawan orang Pulau Neraka yang sudah keluar ususnya itu amat menegangkan hati panglima gendut ini sehingga Bun Beng melihat betapa perutnya yang gendut, bergerak-gerak seirama dengan dengusan napasnya.
Tiba-tiba Bun Beng menggerakkan kakinya menggajul tulang kering panglima itu.
"Tukkk!"
Biarpun yang menendang hanya seorang bocah, akan tetapi karena tendangan itu keras sekali dan tepat mengenai tulang kering kaki, sedangkan panglima itu sedang tertarik oleh pertandingan yang menegangkan, maka ia berteriak kesakitan dan menjadi kaget sekali.
Akan tetapi ia hanya mengaduh-aduh mengangkat kakinya tanpa melepaskan cengkeramannya, bahkan lucunya, matanya masih tidak rela melepaskan pemandangan di depannya, yaitu pertandingan yang makin menegangkan.
Pada saat itu memang pertandingan antara Bhe Ti Kong dan Si Muka Biru dari Pulau Neraka amat menegangkan hati dan mengerikan.
Baju Si Muka Biru sudah basah oleh darah, mukanya makin pucat, akan tetapi gerakannya makin hebat.
Ketika tombak Bhe Ti Kong menyambar, ia menangkis dengan pedangnya, disusul hantaman tangan kiri amat kerasnya yang tepat mengenai pergelangan tangan Bhe Ti Kong yang memegang tombak.
Bhe Ti Kong berteriak kaget, tombaknya terlepas dan saat itu, pedang Si Muka Biru menyambar lehernya!
Bhe Ti Kong berseru keras, membuang tubuhnya ke belakang, akan tetapi tetap saja ujung pedang menyerempet pundaknya sehingga baju di pundaknya berikut kulit dan daging terobek.
Panglima ini terus menggelundung, namun pedang itu sudah berkelebat lagi, karena Si Muka Biru sudah meloncat dan mengejar lalu menerjang tubuh lawan yang masih bergulingan.
"Aihhhh....!"
Si Muka Biru tiba-tiba menjerit dan robohlah dia dengan pedang masih di tangan, matanya mendelik dan ia melepaskan napas terakhir dalam keadaan tubuh menegang kaku dan mata melotot.
Kiranya ususnya telah putus oleh berkelebatnya pedangnya sendiri!
Ketika tadi ia mengejar, ia begitu bernapsu untuk membunuh lawan sehingga ketika memutar pedang, ia lupa akan usus yang ia kalungkan di lehernya.
Pedangnya menyerempet ususnya sendiri sehingga ia tewas dan Bhe Ti Kong tertolong nyawanya.
Si Panglima Gendut sedemikian girang dan tegangnya sehingga biarpun rasa tulang keringnya masih amat nyeri, ia lupa dan bersorak girang.
"Addd.... duhhhh....!"
Kini ia menjerit karena perutnya terasa perih.
Kiranya Bun Beng menjadi gemas dan marah, karena tidak dapat memukul, telah menggunakan giginya untuk menggigit kulit perut yang gendut itu sekuat tenaga.
Si Panglima Gendut kaget sekali, lupa sesaat melepaskan cengkeramannya, menggunakan tangan kiri menekan perut dan tangan kanan menampar Bun Beng.
"Plakkk....!"
Tamparan yang keras membuat tubuh Bun Beng terpelanting namun biar kepalanya terasa pening dan nyeri, Bun Beng yang merasa bahwa dia bebas, cepat meloncat dan lari sekuatnya dengan loncatan-loncatan jauh ke arah wanita Thian-liong-pang.
"Heee! Lari ke mana kau, bocah setan?"
Panglima gendut mengejar dengan langkah panjang.
Dengan pandang mata masih berkunang Bun Beng menjatuhkan diri berlutut di depan wanita Thian-liong-pang sambil berkata.
"Enci yang baik, Enci yang cantik jelita dan gagah perkasa, mohon lindungi aku dari Si Gendut jahat!"
Wanita itu memandang Bun Beng dengan sinar mata dingin akan tetapi bibirnya tersenyum sedikit.
Agaknya, betapapun aneh watak seseorang, dia tidak akan terhindar dari sifat dan watak aselinya.
Wanita ini pun, biar sudah menjadi tokoh Thian-liong-pang yang luar biasa, tetap saja seorang wanita yang paling senang mendengar pujian.
Biarpun yang menyebutnya sebagai enci yang cantik jelita, enci yang baik dan yang gagah perkasa hanya seorang bocah, namun bocah itu adalah seorang laki-laki dan di situ terdapat banyak orang yang mendengar pujian itu.
Hati siapa takkan merasa senang?
Wanita ini merupakan seorang kepercayaan Ketua Thian-liong-pang biarpun kedudukannya hanya sebagai kepala pelayan wanita.
Dia memang cantik jelita, dengan mata yang bening dan tajam sinarnya, hidung mancung dan mulut kecil mungil dengan bibir yang manis.
Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas, sisanya masih panjang dibiarkan berjuntai ke bawah.
Pakaiannya dari sutera halus berwarna merah muda dengan baju luar biru, bentuknya ringkas dan ketat membayangkan tonjolan-tonjolan tubuh yang padat menggairahkan, tubuh seorang wanita yang sudah masak.
Sepatunya dari kulit dan ujungnya dihias dengan logam putih.
Namun wanita itu pun agaknya tidak mau bermusuhan dengan seorang panglima kerajaan hanya karena seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali, maka ia menggerakkan alisnya, gerakan yang dimaksudkan untuk menambah kemanisan wajahnya dan memang maksud ini berhasil, sambil berkata dingin.
"Bocah, mengapa aku harus mencampuri urusanmu? Pergilah!"
Sambil berkata demikian, wanita itu menggerakkan tangan kirinya mengusir.
Pada saat itu, panglima gendut datang menubruk dan agaknya Bun Beng tentu akan tertangkap kembali.
Akan tetapi, gerakan tangan wanita itu mendatangkan angin dahsyat yang membuat tubuh Bun Beng terlempar seperti daun kering tertiup angin sehingga tubrukan panglima gendut itu luput dan ia menubruk tanah.
Karena dia tadi sudah memastikan bahwa anak itu pasti dapat ditangkapnya, maka ketika tiba-tiba tubuh Bun Beng lenyap, ia terbanting ke atas tanah dengan perut gendutnya lebih dulu.
"Ngekk!"
Panglima itu meringis dan napasnya menjadi sesak, akan tetapi kemarahannya meluap.
Dia tidak tahu bahwa wanita Thian-liong-pang itu yang menolong Bun Beng, mengira bahwa bocah itu telah mengelak maka ia meloncat bangun sambil memaki.
"Anak Setan! Kuberi tamparan sampai telingamu berdarah kalau sampai tertangkap nanti!"
Ia mengejar lagi dan kini Bun Beng sudah lari ke arah rombongan orang-orang Pulau Neraka untuk minta bantuan.
"Mohon bantuan para Taihiap dari Pulau Neraka agar aku tidak diganggu Si Gendut itu!"
Akan tetapi rombongan Pulau Neraka yang hanya tinggal sembilan orang dan yang merasa marah sekali karena kehilangan dua orang kawan, tidak mempedulikan Bun Beng sehingga bocah ini terpaksa lari lagi dikejar-kejar Si Panglima Gendut.
Panglima ini bukan orang sembarangan, memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi karena perutnya terlalu besar dan ia jarang latihan berlari, kini mengejar-ngejar seorang anak yang lincah seperti Bun Beng, besar-benar membuat kewalahan.
Mulailah ia melakukan serangan pukulan jarak jauh yang membuat Bun Beng beberapa kali roboh terguling, akan tetapi masih sempat mengelak dan meloncat terus lari lagi setiap kali ditubruk.
Kini Bun Beng yang menjadi sibuk sekali dan hampir ia tertangkap kalau saja anak ini tidak mempunyai kenekatan luar biasa sehingga biarpun kulit tubuhnya sudah babak belur, tetap saja ia dapat menghindarkan diri dari tangkapan panglima gendut.
Tiba-tiba sebuah akal menyelinap di otaknya.
Sebetulnya dia tidak ingin mempergunakan akal ini, tidak ingin memperkenalkan diri.
Akan tetapi baginya, lebih baik terjatuh ke tangan Thian-liong-pang atau Pulau Neraka daripada menjadi korban kekejian koksu yang dibencinya itu.
Meloncatlah Bun Beng ke dekat wanita Thian-liong-pang, menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu sambil berseru.
"Harap bantu aku! Aku adalah anak yang dahulu kalian perebutkan di kuil tua di lembah Sungai Fen-ho lima tahun yang lalu!"
Mendengar ini, semua anggauta Thian-liong-pang dan anak buah Pulau Neraka memandang penuh perhatian, bahkan wanita itu melangkah maju sambil mengeluarkan suara terheran.
"Kau.... kau she apa?"
"Aku she Gak, aku Gak Bun Beng, Ayahku Gak Liat dan ibuku Bhok Kim...."
Pada saat itu, panglima gendut meloncat datang dan menubruk, akan tetapi wanita itu mengibaskan tangannya membentak.
"Pergilah!"
Tubuh panglima gendut yang masih melayang datang ketika menubruk itu tiba-tiba tartahan dan terbanting ke bawah.
"Brukkk!"
Ia terengah-engah dan setengah kelengar (pingsan) karena napasnya sesak. Sambil mengeluh ia merangkak bangun, membusungkan dada dan membentak.
"Nyonya.... eh, Nona....."
Ia tergagap, tidak tahan menentang pandang mata yang tajam dan sikap yang dingin itu, bingung tidak tahu apakah wanita cantik ini sudah bersuami ataukah masih gadis.
"Kau tidak boleh membelanya, dia adalah tawanan Koksu!"
"Tidak peduli! Engkau tidak boleh menyentuhnya!"
Wanita itu berkata, suaranya dingin menantang.
"Apa? Kau berani menentang Koksu?"
Panglima gendut yang merasa malu karena terbanting tadi membentak, mengandalkan nama koksu.
"Aku tidak menentang siapa-siapa. Akan tetapi seorang yang telah berlindung kepada Thian-liong-pang, tidak boleh diganggu siapapun juga."
Wanita itu berkata dan jelas bahwa dia masih merasa segan untuk bermusuh dengan koksu maka mempergunakan alasan yang sudah menjadi peraturan (Lanjut ke
Jilid 06) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Thian-liong-pang, atau secara halus ia berlindung di balik nama perkumpulannya.
Pada saat itu terdengar pekik mengerikan sehingga semua orang menoleh dan sempat melihat dua orang pengawal roboh terguling dengan tubuh hangus begitu tangan mereka menyentuh mayat tokoh Pulau Neraka bermuka biru.
Pengawal lain melompat dekat dan terdengar bentakan koksu.
"Jangan sentuh!"
Kiranya dua orang pengawal tadi hendak menyingkirkan mayat itu atas perintah komandannya karena adanya mayat di tengah-tengah itu selain memberi pemandangan yang tidak sedap juga akan menghalangi gerakan mereka kalau tiba saatnya turun tangan.
Akan tetapi begitu kedua orang pengawal itu menyentuh tubuh mayat Si Muka Biru dari Pulau Neraka, seketika mereka roboh dan te-was dan tubuh mereka mereka menjadi hangus!
Bukan main tokoh Pulau Neraka ini, sudah menjadi mayat masih mampu membunuh dua orang lawan!
Hal ini adalah karena racun yang terkandung di tubuhnya dan membuktikan betapa hebat kepandaian orang-orang Pulau Neraka.
Muka Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun menjadi merah karena marah.
Dia melangkah lebar, menuangkan benda cair berwarna putih perak dari guci ke atas tiga buah mayat itu.
"Jangan ganggu jenazah Suheng kami!"
Teriak dua orang bermuka biru tua dari rombongan Pulau Neraka sambil bergerak maju, akan tetapi sekali me-ngibaskan ujung lengan bajunya, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun membuat dua orang Pulau Neraka itu jatuh terlentang seperti disambar petir dan pemimpin mereka yang bermuka hijau pupus membentak mereka mundur.
Sambil menyeringai dan mengatur napas kedua orang itu mundur.
Sementara itu, tiga buah mayat kini telah mulai mencair dimakan benda cair yang luar biasa itu, yaitu racun penghancur mayat.
"Taijin, bocah itu dilindungi oleh orang-orang Thian-liong-pang!"
Panglima gendut memberi hormat kepada koksu sambil sambil menuding ke arah wanita yang tadi menghalangi dia menangkap Bun Beng.
Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun mengerutkan alisnya dan perlahan memutar tubuh, dari kerongkongannya terdengar dengus marah.
"Huhhh....?"
Semua anak buah pasukan koksu kini ikut memandang ke arah rombongan Thian-liong-pang dan mereka semua melihat sebuah pemandangan yang aneh.
Kiranya kini sembilan orang anak buah Pulau Neraka juga sudah mengurung lima orang Thian-liong-pang itu dengan sikap mengancam.
Akan tetapi, wanita cantik yang memimpin empat orang temannya, sama sekali tidak peduli dan mereka berlima sedang mengurung Bun Beng sambil membujuk dan mendesak anak itu.
"Gak Bun Beng, engkau telah menjadi calon anggauta termuda Thian-liong-pang. Memang Pangcu (Ketua) menghendaki demikian, maka sekarang bersumpahlah engkau menurut peraturan Thian-liong-pang agar engkau syah menjadi anggauta kami! Engkau berikan lengan kananmu untuk kucacah dengan lukisan naga Thian-liong dan engkau harus mengucapkan sumpah mengikuti aku!"
Wanita cantik itu sudah mengeluarkan sebatang jarum sambil memegang lengan kanan Bun Beng. Seorang anggauta lain menyingsingkan lengan baju Bun Beng.
"Tidak....! Aku tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang!"
Bun Beng berteriak dan meronta, hendak menarik kembali lengannya, akan tetapi mana ia mampu bergerak dari pegangan wanita sakti itu?
Teriakannya mengejutkan lima orang Thian-liong-pang dan wanita itu menghardik.
"Kalau begitu mengapa engkau minta perlindungan kami?"
"Aku.... aku hanya minta bantuan agar tidak diganggu panglima gendut, sama sekali tidak ingin menjadi anggauta...."
"Engkau harus menjadi anggauta kami, mau atau tidak!"
Wanita itu membentak.
"Tidak.... tidak.... mana ada aturan memaksa seperti ini? Aku tidak mau!"
"Ha-ha-ha-ha. Thian-liong-pang kiranya hanyalah perkumpulan tukang menakuti anak kecil."
Tiba-tiba pemimpin rombongan Pulau Neraka yang hijau pupus warna kulitnya tertawa mengejek.
Dia seorang laki-laki berusia lima putuh tahun, menjadi pemimpin rombongannya dan melihat warna kulitnya yang paling muda di antara kawan-kawannya, dapat diduga bahwa dia mempunyai kepandaian yang paling lihai.
Sikapnya halus, suaranya halus dan pakaiannya seperti saste-rawan!
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa yang menggetarkan semua orang.
Yang tertawa adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, koksu dari Kerajaan Mancu yang sudah menghampiri tempat itu.
Diam-diam rombongan Pulau Neraka dan Thian-liong-pang terkajut karena mereka maklum bahwa kakek itu benar-benar memiliki tenaga sakti yang hebat sekali sehingga untuk melindungi jantung mereka tarpaksa harus mengerahkan tenaga sakti melawan pengaruh getaran yang ditimbulkan oleh suara ketawa itu.
"Ha-ha-ha-ha! Sungguh kebetulan sekali! Anak ini sudah menjadi tawananku sejak tadi, akan tetapi agaknya kini kalian dan Thian-liong-pang dan Pulau Neraka hendak memperebutkannya pula. Baiklah bukankah kita berkumpul sebagai orang-orang gagah? Kalau mengadu ilmu tanpa taruhan, sungguh kurang seru dan tidak menarik. Biarlah bocah ini dijadikan taruhan di antara kita tiga rombongan! Setiap rombongan mengajukan dua orang jago dan siapa di antara kita yang jago-jagonya keluar sebagai pemenang berhak memiliki bocah ini. Siapa yang tidak setuju?"
Ucapan kalimat terakhir ini mengandung ancaman dan seluruh urat syaraf di tubuh koksu ini sudah menegang karena sebuah kata-kata manentahg saja sudah cukup baginya untuk turun tangan membunuh orangnya!
Dalam keadaan seperti itu, rombongan Thian-liong-pang dan Pulau Neraka maklum bahwa menentang tidak menguntungkan pihaknya.
Mereka sedang berebut dan menghadapi pihak lawan ini saja sudah berat, apalagi kalau sampai rombongan karajaan itu membantu lawan!
Daripada menderita kekalahan yang sudah pasti, lebih baik menerima usul itu karena mereka percaya bahwa ucapan yang keluar dari mulut koksu kerajaan ini, yang didengar banyak telinga, tentu dapat diperaaya sepenuhnya.
"Baik, kami setuju!"
Wanita cantik Thian-liong-pang berkata.
"Kami setuju!"
Kata pula Si Muka Hijau dari Pulau Neraka.
"Kami mengajukan dua orang jago, aku sendiri dan Suteku ini!"
Seorang tinggi besar seperti raksasa yang mukanya juga hijau, akan tetapi sedikit lebih tua warnanya daripada pemimpin rombongan, meloncat keluar.
Wanita cantik Thian-liong-pang tersenyum dan ia melangkah ke depan.
"Aku adalah pemimpin rombongan Thian-liong-pang dan oleh Pangcu sendiri aku diberi kuasa untuk mewakili beliau. Karena itu, aku seoranglah yang bertanggungjawab dan biarlah kami dari pihak Thian-liong-pang hanya mengajukan seoreng jago saja, yaitu aku sendiri."
"Ahh, mana bisa begitu? Kalau hanya seorang jago, dia harus berani menghadapi dua orang lawan sekaligus!"
Si Muka Hijau mencela. Wanita itu tersenyum mengejek.
"Melihat warna kulit kalian, tentu kalian sudah memiliki kedudukan di Pulau Neraka dan dihitung dari tingkatan, kiranya aku masih tinggi beberapa tingkat dari kalian, maka tentu saja aku tidak keberatan untuk melawan kalian berdua sekaligus!"
Dua orang Pulau Neraka itu menjadi marah dan memandang dengan mata melotot karena ucapan wanita Thian-liong-pang itu sungguh merendahkan sekali, akan tetapi sebagai orang-orang berke-pandaian mereka pun menduga bahwa wanita itu tentu amat lihai, kalau tidak demikian, tentu tidak akan berani bersikap sesombong itu.
"Ha-ha-ha-ha, benar-benar Cu-wi para wakil Pulau Neraka dan Thian-liong-pang amat gagah dan mengagumkan. Biarlah aku mengajukan dua orang jago kami, yaitu Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, dengan demikian, dua orang jagoku sekaligus dapat menghadapi dan melayani wakil-wakil Pulau Neraka dan Thian-liong-pang. Thian Tok Lama melayani dua orang gagah dari Pulau Neraka, sedangkan Thai Li Lama berpibu melawan wanita gagah dari Thian-liong-pang. Tentu ramai sekali. Siapa yang nanti keluar sebagai pemenang, boleh membawa pergi dan memiliki bocah itu."
Ucapan ini merupakan perintah bagi kedua orang pendeta Lama dari Tibet, maka mereka sudah melangkah maju dan siap menghadapi lawan.
Thian Tok Lama yang gendut sudah menghampiri dua orang jago Pulau Neraka, sedangkan Thai Li Lama yang bertubuh kurus dan bermata tajam menghampiri wanita Thian-liong-pang.
Sementara itu Bun Beng yang dibiarkan bebas melangkah mundur-mundur tanpa ada yang mempedulikan karena semua orang tahu bahwa anak itu tidak akan dapat pergi dari pulau itu.
Bun Beng mendekati tebing dan memandang ke bawah.
Ia bergidik.
Sekeli-ling pulau kecil itu telah dikurung oleh perahu-perahu sehingga ke mana pun ia pergi, ia akan berhadapan dengan anak buah mereka.
Satu-satunya bagian yang tidak terjaga perahu hanyalah bagian di mana air sungai bertemu dengan air laut dan membentuk pusaran air yang amat mengerikan, yang tadi telah menghancurkan tubuh seorang anggauta Pulau Neraka dan disebut air pusaran maut.
Bun Beng berdiri dengan muka pucat dan membalikkan tubuh menonton pertempuran yang telah dimulai.
Pertempuran yang amat dahsyat.
Semua orang yang berada di pulau berdiri tegak dan menonton dengan hati tegang jarang berkedip agar tidak kehilangan sebagian kecil pun dari pertandingan yang menegangkan itu.
Yang bertanding adalah tokoh-tokoh sakti yang memiliki kepandaian aneh dan tinggi sekali.
Dua orang tokoh Pulau Neraka bermuka hijau itu telah bertanding melawan Thian Tok Lama, menghadapi pendeta gundul itu dari kanan-kiri.
Gerakan mereka aneh sekali dan kedua orang itu agaknya bersilat dengan membentuk tin (barisan) karena gerakan mereka teratur dan saling membantu dengan tepat sekali.
Kalau pimpinan rombongan Pulau Neraka menyerang dari atas, sutenya yang tinggi besar itu menerjang dari bawah dan kalau Thian Tok Lama menyerang yang satu, yang lain tentu cepat membantu kawan.
Biarpun maklum bahwa pendeta Tibet itu sakti sekali, ternyata dua orang tokoh Pulau Neraka ini memiliki keangkuhan sebagai jago-jago kelas tinggi.
Buktinya, ketika melihat bahwa Thian Tok Lama maju tanpa senjata, mereka berdua pun tidak menggunakan senjata, hanya menyerang dengan tangan kosong.
Namun, bukan tangan sembarangan, karena kini tangan mereka telah berubah menjadi senjata yang amat ampuh, mengandung hawa beracun dan mengeluarkan uap kehijauan!
Dengan dua pasang tangan beracun yang aneh itu, dua orang Pulau Neraka melancarkan serangan-serangan dahsyat dari kanan-kiri secara bertubi-tubi dan bergantian.
Thian Tok Lama bukanlah seorang tokoh biasa.
Sama sekali bukan.
Dia adalah seorang tokoh besar dari Tibet yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
Bersama Thai Li Lama yang menjadi sutenya, dia telah menjagoi selama puluhan tahun di dunia barat dan telah mempelajari bermacam-macam ilmu yang aneh-aneh.
Maka begitu melihat gerakan kedua orang lawannya, tahulah ia bahwa tangan mereka itu mengandung racun yang amat aneh, amat berbahaya dan yang ia duga hanya terdapat di Pulau Neraka, maka tidak boleh dipandang ringan karena kalau tidak mempunyai obat penawarnya, sekali terluka oleh tangan itu dapat mendatangkan maut.
Maka hwesio Tibet ini pun berlaku hati-hati, tidak mau mengadu tangan dengan kedua orang lawannya dan menghadapi penyerangan mereka dengan elakan-elakan atau dengan kibasan kedua lengan bajunya yang mengeluarkan angin kuat sekali menolak setiap serangan lawan.
Betapapun juga, karena terlalu hati-hati, tentu saja Thian Tok Lama menjadi terdesak, lebih banyak bertahan daripada menyerang.
Setelah bertanding lebih dari tiga puluh jurus, Thian Tok Lama maklum bahwa dalam ilmu silat maupun tenaga sin-kang, Dia tidak perlu khawatir karena tingkatnya masih lebih tinggi, akan tetapi karena dia jerih terhadap racun di tangan kedua lawannya, maka kelebihannya tertutup dan dia terdesak.
Tiba-tiba pendeta Lama yang gendut ini mengeluarkan suara gerengan yang keluar dari dalam perutnya, kemudian ia mengibaskan kedua lengan bajunya dengan keras sekali sambil memutar tubuhnya.
Dengan demikian, kedua lengan bajunya menyambar seperti kitiran, memaksa kedua lawannya untuk melangkah mundur karena biarpun hanya kain, diputar dengan tenaga sakti yang dimiliki Thian Tok Lama, mengenai batu karang pun dapat hancur!
Begitu kedua lawannya mundur, Thian Tok Lama lalu merendahkan tubuhnya, menggerakkan tangan kanannya ke atas dan ke bawah, perutnya mengeluarkan bunyi seperti kokok ayam bertelur.
"Kok-kok-kok-kok!"
Dan tangan kanannya kini berubah menjadi biru!
Ketika ia mendorongkan tangan kanannya itu ke depan, angin dahsyat menyambar disertai hawa panas dan uap hitam menerjang kedua orang lawannya.
"Aihhh!"
Dua orang tokoh Pulau Neraka terkejut sekali dan cepat meloncat tinggi ke atas untuk menghindarkan pukulan dahsyat itu sambil balas memukul.
Kini Thian Tok Lama dapat membalas sehingga mereka saling serang makin hebat dan kesudahannya ternyata membuat keadaan menjadi terbalik karena kini kedua orang Pulau Neraka itulah yanng terdesak hebat dan sibuk menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan dahsyat Thian Tok Lama.
Pendeta Lama yang gendut ini telah mempergunakan ilmu pukulannya yang amat ampuh, yaitu Hek-in-hui-hong-ciang, yaitu pukulan yang didasari tenaga sakti dan ilmu hitam sehingga pukulan itu mengeluarkan uap hitam dan angin berpusing mengandung getaran-getaran dahsyat yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.
Adapun pertandingan antara Thai Li Lama melawan wanita Thian-liong-pang merupakan pertandingan yang lebih seru dan menarik.
Wanita cantik itu bukan seorang sembarangan dalam Thian-liong-pang.
Memang benar bahwa dia kini menjadi kepala pelayan pribadi Pangcu yang mukanya berkerudung.
Akan tetapi dahulunya dia adalah seorang tokoh yang penting dari Thian-liong-pang.
Wanita ini masih merupakan keturunan pendiri Thian-liong-pang, biarpun hanya merupakan cucu buyut luar.
Dia bernama Tang Wi Siang dan semenjak usia dua puluh lima telah menjadi janda karena suaminya tewas dalam pertempuran melawan musuh-musuh Thian-liong-pang.
Sebagai bekas isteri dari seorang di antara pimpinan Thian-liong-pang, apalagi dia sendiri pun keturunan nenek moyang Thian-liong-pang, tentu saja Tang Wi Siang mendapat kedudukan penting di dalam perkumpulan itu dan juga dia mewarisi ilmu silat yang dimiliki turun-temurun oleh Thian-liong-pang.
Ketika pada suatu hari muncul Si Wanita berkerudung, wanita berkedok yang tak dikenal oleh siapapun juga muncul di perkumpulan itu, merobohkan pemimpinnya dengan mudah, kemudian mengangkat diri sendiri menjadi pangcu, Wi Siang terpilih menjadi kepala pelayan pribadi dan oleh pangcu baru yang mempunyai kesaktian seperti iblis itu Wi Siang digembleng ilmu silat baru yang hebat-hebat sehingga kepandaiannya meningkat tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada semua tokoh Thian-liong-pang yang dulu menjadi pimpinan!
Akan tetapi, sekarang keadaannya menjadi lain dan tentu saja bukan hanya Wi Siang yang menerima ilmu dari ketua baru ini, masih banyak tokoh lain yang menerima ilmu sehingga kini para pengurus Thian-liong-pang bukanlah orang-orang yang memiliki kepandaian rendah, melainkan orang-orang sakti yang luar biasa.
Pangcu baru yang tetap merupakan manusia rahasia itu menurunkan ilmu-ilmunya disesuaikan dengan bakat masing-masing.
Tang Wi Siang mempunyai bakat yang baik sekali dalam ilmu meringankan tubuh, maka oleh ketua baru yang aneh itu dia diberi ilmu silat yang mengandalkan gerakan cepat.
Ketua baru itu memang mengenal segala macam ilmu silat sehingga kadang-kadang membingungkan dan mengherankan hati para pembantunya.
Bahkan ilmu silat keturunan Thian-liong-pang pun dikenalnya baik!
Kini, menghadapi Thai Li Lama, Tang Wi Siang mendapatkan lawan yang amat tangguh.
Thai Li Lama di samping suhengnya juga merupakan tokoh besar di Tibet.
Ilmu kepandaiannya amat tinggi, hanya kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Thian Tok Lama.
Di samping ilmu yang aneh-aneh, Thai Li Lama ini adalah seorang ahli ilmu hitam yang kuat sekali.
Dia memiliki ilmu hitam I-hun-to-hoat, yaitu ilmu merampas semangat orang atau menundukkan kemauan orang dengan kekuatan gaib.
Tentu saja amat jarang ia mempergunakan ilmu hitamnya ini karena dengan ilmu silatnya saja, jarang ada lawan mampu menandinginya.
Tadinya Thai Li Lama memandang rendah lawannya.
Biarpun mengaku sebagai tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi wanita itu masih amat muda, paling banyak tiga puluh tahun lebih!
Dan pula seorang wanita, sampai di mana kehebatannya?
Karena memandang rendah dalam gebrakan-gebrakan pertama, Thai Li Lama hanya menggunakan kedua ujung jubahnya yang panjang untuk menyerang dan menangkis.
Akan tetapi, betapa kaget hati pendeta Tibet ini ketika tiba-tiba saja bayangan wanita cantik itu lenyap dan tahu-tahu telah memukul dari atas belakang mengarah pundak dan ubun-ubun kepalanya yang gundul.
"Omitohud....!"
Ia berseru dan cepat ia memutar kedua tangan melindungi kepala dan pundak.
Namun wanita itu sudah melejit pergi membatalkan serangan, tahu-tahu sudah mengirim pukulan ke punggung disusul tendangan ke belakang lututnya.
Sambil meloncat jauh ke depan dan memutar tubuh, sepasang mata Thai Li Lama mulai bersinar aneh.
Mengertilah kini bahwa lawannya bukanlah sembarang orang yang dapat dipandang rendah.
Kiranya wanita itu memiliki gin-kang yang amat mengagumkan dan yang dapat mendatangkan bahaya baginya karena ia dapat menduga bahwa dalam hal meringankan tubuh, dia masih kalah jauh!
Maka dia lalu mendengus pendek dan mulailah ia memasang kuda-kuda, dan mengerahkan sin-kang sehingga setiap kali kedua tangannya menyambar, angin dahsyat bertiup mendahului tangannya menyambar ke arah lawan.
Kakek ini yang maklum akan kelihaian lawan, tidak segan-segan mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Sin-kun-hoat-lek, ilmu pukulan sakti yang selain mengandung sinkang kuat sekali, juga mengandung hawa ilmu hitam yang mengakibatkan gelombang getaran aneh mempengaruhi lawan.
"Tas!"
Pukulan Thai Li Lama yang amat kuat dan aneh itu dapat dihindarkan oleh Wi Siang yang melesat cepat dan pukulan itu mengeluarkan suara seperti ujung pecut dipukulkan.
"Tass! Tass!"
Dua kali pukulan kedua tangan Thai Li Lama berbunyi mengenai tempat kosong karena tubuh Wi Siang sudah melesat ke kanan-kiri dan tiba-tiba wanita itu sudah membalas dengan terjangan hebat, Jari tangan kiri menusuk ke arah mata lawan sedangkan jari tangan kanan mencengkeram ke lambung.
Sebuah serangan yang amat dahsyat dan cepat sekali datangnye sehingga Thai Li Lama terkejut bukan main.
Untuk menghadapi serangan maut yang amat cepat ini, menangkis sudah tidak keburu lagi, maka hwesio ini terpaksa melempar tubuh ke belakang dan terus bergulingan!
Bagaikan seekor burung walet cepatnya, wanita itu mengejar dan menyambar-nyambarkan serangan dari atas ke arah tubuh yang bergulingan.
Memang kini Wi Siang mainkan ilmu silat, yang khusus diturunkan ketuanya kepadanya, yaitu ilmu silat Yan-cu-sin-kun (Ilmu Silat Sakti Burung Walet), ilmu yang seluruhnya digerakkan dengan gin-kang yang amat cepat sehingga membingungkan lawan.
Repot sekali keadaan Thai Li Lama yang sudah bergulingan.
Karena dia terus diserang dengan gencar tanpa dapat membalas dan tubuhnya sedang bergulingan, maka dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk meloncat bangun dan terpaksa harus terus bergulingan sambil melindungi tubuh dengan gerakan kedua lengannya.
Keadaan sungguh berbahaya dan biarpun tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari pada lawan, namun karena posisinya sudah rusak seperti itu, dengan bergulingan terus mana mungkin kakek ini mampu melindungi tubuhnya terus-menerus?
Gerakan Wi Siang amat cepatnya, ke mana pun ia menggulingkan diri pergi, tubuh wanita itu seperti seekor burung telah menyambarnya dan mengirim serangan maut.
Tiba-tiba Thai Li Lama mengeluarkan suara melengking tinggi dari dalam perutnya disusul bentakan keras.
"Mundurrrr....!"
Hebat bukan main pengaruh lengking dan bentakan itu, sampai terasa oleh semua orang yang menonton, bahkan banyak di antara penonton yang otomatis menggerakkan kaki melangkah mundur, seolah-olah perintah itu ditunjuk kepadanya dan ada tenaga rahasia yang mendorong mereka mundur.
Apalagi pengaruh terhadap Tang Wi Siang yang langsung menghadapi serangan ilmu hitam itu.
Wanita ini memekik aneh dan tubuhnya mencelat mundur seolah-olah ia kaget menghadapi semburan seekor ular berbisa.
Saat itu dipergunakan oleh Thai Li Lama untuk meloncat bangun dan setelah meloncat bangun, baru Wi Siang sadar bahwa dia kena diakali dengan pengaruh ilmu hitam.
Marahlah wanita itu dan ia menerjang maju lagi sambil membentak.
"Pendeta siluman!"
Akan tetapi Thai Li Lama juga marah sekali, marah yang timbul karena malu.
Tadi ia harus bergulingan sampai lama dan pakaiannya kotor semua, maka kini menghadapi terjangan lawan ia mendorongkan kedua tangannya bergantian dengan ilmu pukulan Sin-kun-hoat-lek sehingga timbul angin besar menyambar ke arah Wi Siang.
Wanita ini mengenal bahaya maka ia lalu melesat ke kiri, menghindarkan diri dan siap mengirim serangan susulan.
Akan tetapi tiba-tiba Thai Li Lama mengeluarkan suara aneh dan amat berpengaruh sambil menudingkan telunjuknya ke arah lawan.
"Engkau sudah lelah sekali....! Kedua kakimu sukar digerakkan....!"
Aneh!
Tiba-tiba Wi Siang berdiri terbelalak, tak mampu menggerakkan kedua kakinya dan tangannya memegang dahi seperti serasa pusing, tubuhnya lemas saking lelahnya.
"Pendeta curang.... kau menggunakan ilmu siluman....!"
Yang berteriak ini adalah Bun Beng.
Anak ini sejak tadi menonton pertandingan dengan hati tertarik dan ia amat kagum menyaksikan sepak terjang wanita Thian-liong-pang.
Ketika tadi Thai Li Lama membentak "mundur"
Dia sendiri sampai melangkah mundur.
Anak yang cerdik ini maklum bahwa pendeta Tibet itu menggunakan ilmu siluman yang aneh, maka ia menjadi penasaran dan mendekati pertempuran.
Kini, melihat betapa wanita yang dikaguminya itu terpengaruh oleh suara Thai Li Lama, ia memaki dan meloncat maju, menerjang ke depan Thai Li Lama!
Gerakannya ini membuat Tang Wi Siang sadar, sebaliknya Thai Li Lama menjadi marah.
Pendeta ini menggerakkan tangan kanan memukul ke arah Wi Siang yang cepat meloncat tinggi ke atas, akan tetapi Bun Beng yang sudah meloncat maju itu secara langsung disambar angin pukulan dahsyat sehingga tubuhnya terlempar seperti peluru dan....
melayang melalui tebing menuju ke air pusaran maut!
Semua orang tertegun, bahkan yang sedang bertanding berhenti dan memandang ke arah tubuh Bun Beng yang melayang ke bawah.
Dalam keadaan seperti itu, biar orang sepandai koksu sendiri tidak mungkin akan dapat menolong Bun Beng.
Semua mata terbelalak ngeri ketika melihat betapa tubuh anak itu terjun ke bawah dan terlempar tepat ke arah tengah-tengah air pusaran maut yang mengerikan itu dengan kepala lebih dulu!
Mereka menahan napas dan koksu membanting-banting kaki saking kecewa dan menyesal melihat anak yang amat ia butuhkan itu menuju ke jurang maut yang tak mungkin dapat dielakkan lagi.
Bun Beng menghadapi maut dengan mata terbuka lebar.
Ia maklum bahwa tubuhnya akan diterima oleh pusaran air yang merupakan moncong maut terbuka lebar dan ia tahu bahwa ia akan mati.
Akan tetapi apa bedanya?
Dia diperebutkan oleh tiga kekuasaan yang mengerikan.
Memang lebih baik kalau ia menyerahkan diri kepada kekuasaan yang paling besar, yaitu kekuasaan alam yang akan merenggut nyawanya.
Maka tanpa menjerit sedikit pun ia membiarkan tubuhnya terbanting di tengah-tengah pusaran air.
"Byurrr!"
Sebelum tubuhnya menyentuh air, Bun Beng yang cerdik masih ingat untuk menarik napas sebanyak-banyaknya memenuhi rongga dadanya.
Begitu tubuhnya menyentuh air, terus saja tubuhnya ditarik ke bawah oleh pusat air yang berpusing itu.
Bun Beng, berbeda dengan orang Pulau Neraka tadi, tidak melakukan perlawanan, bahkan menyerahkan dirinya ditarik dengan kekuatan maha dahsyat ke dalam air, menahan napasnya.
Semua orang yang memandang ke arah air menjadi pucat melihat betapa anak yang terjatuh tepat di tengah-tengah pusaran air itu langsung dihisap dan ditarik ke dalam, lenyap seketika!
Mereka masih memandang tanpa berkedip, menanti dengan dugaan bahwa tubuh anak itu tentu akan timbul kembali dalam keadaan tak bernyawa dan rusak-rusak.
Akan tetapi, ditunggu sampai lama, tubuh Bun Beng tak pernah timbul kembali, seolah-olah lenyap dan habis ditelan bulat-bulat oleh pusaran air itu.
"Celaka.... celaka....!"
Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun membanting-banting kakinya dengan muka merah saking marahnya, kemudian menyapu mereka yang masih berada di pulau dengan pandang matanya.
"Kalian semua orang-orang sial yang hanya mendatangkan kerugian bagi kerajaan! Kalian seperti anak-anak kecil nakal yang mengganggu aku! Kalian ini orang-orang kang-ouw suka mencari ribut yang membuat pekerjaanku menjadi tertunda-tunda dan terhalang!"
Semua orang menjadi terkejut dan heran memandang ke arah koksu yang marah-marah itu.
Alangkah bedanya sikap kakek botak itu dengan tadi sebelum Bun Beng terlempar ke dalam pusaran air.
Tadi sikap koksu itu ramah dan gembira, akan tetapi sekarang, mendadak saja marah-marah.
"Teruskan pibu! Aku masih belum ka-lah!"
Tang Wi Siang, tokoh Thian-liong-pang berkata dengan suara dingin.
"Kami pun belum kalah! Yang menang berhak tinggal di pulau ini, yang kalah harus pergi!"
Pimpinan rombongan Pulau Neraka juga berkata, sedikit pun tidak mempedulikan kemarahan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun.
Thian Tok Lama dan Thai Li Lama sudah siap lagi menandingi lawan mereka, akan tetapi koksu menggoyangkan tangan dengan sikap tidak sabar sambil berkata.
"Sudah, sudah! Tidak ada pibu-pibuan! Apa yang diperebutkan? Anak itu telah mampus ditelan pusaran air, dan pulau ini.... dibutuhkan kerajaan. Harap semua pergi dari sini sekarang juga kalau tidak ingin dianggap pemberontak dan kubasmi semua!"
Semua orang memandang tajam, ada yang terheran-heran, ada pula yang memandang marah.
Kini baru tampaklah oleh mereka siapa sebenarnya koksu ini, dan orang macam apa!
Keadaan menjadi sunyi dan tiba-tiba terdengar suara tertawa memecahkan kesunyian, disusul suara nyanyian orang yang tertawa itu .
Aku....!
Aku....!
Aku....!
Pujaanku!
Milikku!
Hakku!
Keluargaku, sahabatku, hartaku, namaku!
Kurangkul dia yang menguntungkan aku Kupukul dia yang merugikan aku Yang terpenting di dunia dan akhirat adalah Aku....!
Aku....!
Aku....!
Semua orang terkejut dan menengok, memandang ke arah orang yang menyanyikan kata-kata aneh itu.
Yang bernyanyi ini agaknya belum lama datang, dan tak seorang pun melihat kedatangannya, karena tadi mereka semua sedang tertarik menonton pertandingan yang seru disusul kejadian mengerikan yang menimpa diri Bun Beng.
Orang itu adalah seorang kakek tua yang pakaiannya bersih sederhana namun kedua kakinya telanjang tak bersepatu.
Wajahnya berseri pandang matanya tajam penuh kejujuran dan tangannya memegang sebatang tongkat berkepala naga.
"Im-yang Seng-cu....!"
Beberapa orang tokoh kang-ouw yang masih berada di situ berbisik ketika mengenal kakek itu.
Memang kakek itu adalah Im-yang Seng-cu, seorang tokoh aneh yang tadinya merupakan tokoh dari Hoa-san-pai, akan tetapi karena sikap dan wataknya yang aneh-aneh, dia malah dibenci oleh pimpinan Hoa-san-pai sendiri sehingga Im-yang Seng-cu ini tidak pernah berada di Hoa-san-pai, melainkan merantau mengelilingi dunia sehingga ilmu kepandaiannya makin meningkat hebat.
Karena ke-sukaannya mempelajari ilmu-ilmu silat dari lain aliran itulah yang membuat ia dianggap sebagai murid Hoa-san-pai yang murtad, sungguhpun para pimpinan Hoa-san-pai harus mengakui bahwa Im-yang Seng-cu selalu memiliki sepak terjang seorang tokoh kang-ouw yang aneh dan budiman, tidak mencemarkan nama Hoa-san-pai, dan bahwa kesukaannya akan mempelajari ilmu-ilmu silat itu membuat ia memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi daripada Ketua Hoa-san-pai sendiri!
"Ha-ha-ha-ha!
Dunia ini menjadi ramai, manuaia saling makan melebihi binatang paling buas, semua diciptakan oleh AKU ini!
Timbul dari AKU!
Ha-ha-ha, bukankah begitu, Koksu yang mulia?"
Karena sikapnya tetap menghormat bahkan ia menjura dengan hormat kepada Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun biarpun kata-katanya amat lucu dan aneh, koksu tidak menjadi marah.
Apalagi koksu pernah mendengar nama besar Im-yang Seng-cu, maka ia lalu miringkan kepala melirik dan bertanya.
"Apakah orang gagah yang datang ini yang berjuluk Im-yang Seng-cu?"
"Tidak salah, Koksu. Orang-orang me-nyebutku Im-yang Seng-cu. Sungguhpun sebenarnya aku pun hanyalah AKU, seperti setiap orang di antara kalian semua, dan kita memiliki penyakit yang sama, penyakit AKU!"
Karena ucapan itu dianggap berbelit-belit, koksu bertanya, suaranya mulai tidak senang.
"Im-yang Seng-cu, apa maksud semua kata-katamu itu? Apa pula maksud kedatanganmu?"
Im-yang Seng-cu membelalakkan matanya dan tersenyum lebar.
"Sudah begitu jelas masih belum mengerti dan perlu kuterangkan lagi? Segala peristiwa yang terjadi dalam penghidupan semua ma-nusia merupakan perputaran yang berporos pada ke AKU-an itulah. Apa yang menyebabkan kita pada saat ini berkumpul di sini? Memilih seorang bengcu (pemimpin rakyat)? Menggelikan! Tentu sebelum terjadi pemilihan sudah kau tangkap dan dianggap pemberontak! Tidak, mereka itu semua malu-malu untuk mengakui bahwa sasaran utama bukanlah perebutan bengcu, melainkan untuk memperebutkan pusaka-pusaka keramat yang kabarnya lenyap dan berada di pulau ini! Benar tidak? Dan semua datang memperebutkan karena terdorong oleh ke-AKU-annya itulah! Siapa yang dapat membantah?"
"Hemm, Im-yang Seng-cu, omonganmu terlalu besar dan main sikat sama rata saja. Engkau mengenal aku dan tahu bahwa aku adalah seorang petugas negara. Jelas bahwa kedatanganku ini bukan karena aku pribadi, melainkan sebagai utusan!"
Koksu itu membantah.
"Kami pun datang sebagai utusan!"
Teriak seorang tosu dari Kun-lun-pai. Ramailah semua orang membantah ucapan Im-yang Seng-cu. Kakek bertelanjang kaki ini tertawa bergelak.
"Melihat kesalahan orang lain mudah, melihat kesalahan sendiri bukan main sukarnya! Mengakui kelemahan dan kebodohan sendiri merupakan kekuatan yang jarang dimiliki manusia! Koksu yang baik, dan Cu-wi sekalian. Cu-wi semua mengaku sebagai utusan dan bukan karena diri pribadi datang ke sini. Akan tetapi utusan siapakah? Koksu, yang mengutusmu tentulah Kaisarmu, kerajaan dan negaramu, bukan?"
"Tentu saja!"
"Nah, apa bedanya itu? Manusia selalu mementingkan ke-AKU-annya. Diriku, negaraku, rajaku, dan lain sebagainya, yang berporos kepada AKU. Kini terjadi perebutan tdak mau saling mengalah, tak lain tak bukan karena masing-masing membela ke-AKU-annya itulah! Ha-ha-ha-ha! Hapuslah kata-kata AKU dan dunia akan aman, manusia akan hidup penuh damai, tidak akan terjadi perebutan karena lenyap pula istilah milikku, hakku dan aku-aku lain lagi."
"Wah-wah, Im-yang Seng-cu bicara seolah-olah dia sendirilah satu-satunya manusia yang suci di dunia ini!"
Seorang kakek Kong-thong-pai menyindir.
"Ha-ha-ha-ha! Sudah kukatakan tadi bahwa penyakitku juga sama dengan penyakit kalian, yaitu penyakit AKU. Penyakit yang sudah mendarah daging sehingga tidak terasa lagi oleh manusia yang sakit, mempengaruhi setiap gerak-gerik dan sepak terjang dalam hidupnya. Ini pula yang menimbulkan watak manusia yang amat licik dan rendah. Kalau senang, ingin senang sendiri. Kalau susah, ingin mencari kawan, bahkan kesusahan menjadi ringan seolah-olah terhibur oleh kesusahan lain orang. Betapa rendahnya!"
"Hemmm, apa maksudmu, Im-yang Seng-cu?"
Karena kakek aneh ini tidak menyerang seseorang, maka kemarahan koksu agak mereda, bahkan ia mulai tertarik.
Tidak mengadu ilmu silat, mengadu filsafat juga boleh karena dia pun bukan seorang yang buta tentang filsafat.
"Maksudku sudah menjadi watak manusia pada umumnya jika ia berada dalam keadaan menderita, maka penderitaannya terasa ringan terhibur kalau dia melihat penderitaan orang lain! Hiburan yang paling manjur bagi seorang yang sengsara adalah melihat bahwa di sampingnya banyak terdapat orang-orang yang lebih sengsara dari padanya. Mengapa begini? Inilah jahatnya sifat AKU yang menimbulkan rasa sayang diri, rasa iba diri, perasaan-perasaan yang selalu berputar pada poros ke-AKU-annya. Contohnya yang lebih jelas, orang yang mempunyai keluarga tercinta sakit parah akan menderita kesengsaran batin yang hebat. Akan tetapi bagaimana kalau melihat ribuan orang lain sakit? Tentu tidak ada penderitaan batin seperti yang dirasakannya kalau keluarga-Nya yang sakit. Timbul pertentangan-pertentangan dalam hidup antar manusia karena saling membela AKU-nya. Timbul perang di antara negara karena saling membela AKU-nya pula. Manusia menjadi tidak aman dan tidak tenteram hidupnya karena dikuasai oleh AKU-nya ini-lah, tidak sadar bahwa yang menguasainya itu bukanlah AKU SEJATI, melainkan aku darah daging yang bergelimang nafsu-nafsu badani. Dengarlah betapa AKU SEJATI mengeluh dalam tangisnya!"
Im-yang Seng-cu lalu berdongak dan bernyanyi.
Aku sudah bosan!
Aku sudah muak!
Terbelenggu dalam sangkar darah daging!
Setiap saat aku dipaksa Menyaksikan tingkah nafsu angkara Mempermainkan sangkar sampai gila Tawa-tangis, suka-duka, Marah-sesal, suka-duka....
ebaskan aku dari semua ini....!
"Omitohud!
Ucapanmu benar-benar merupakan dosa besar, Im-yang Seng-cu.
Bagi seorang beragama yang selalu berusaha untuk hidup bersih dan suci, ucapanmu itu merupakan penghinaan.
Ucapan kotor yang menjijikkan!"
Seorang hwesio berkata dengan alis berkerut.
Dia adalah seorang hwesio yang berada dalam rombongan Bu-tong-pai dan yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Agaknya ucapan Im-yang Seng-cu itu membuat hwesio ini tidak sabar lagi untuk berdiam diri.
"Engkau tidak boleh menyamaratakan semua manusia, Im-yang Sengcu. Manusia ada yang bodoh, ada yang pintar, ada yang kotor batinnya, ada yang bersih dan untuk mencapai kepintaran dan kebersihan batinnya. Jalan satu-satunya hanyalah mempelajari agama dan mematuhi hukum-hukum agamanya."
Im-yang Seng-cu tertawa dan memberi hormat kepada hwesio gendut itu.
"Maaf, tentu yang kaumaksudkan itu adalah agama-Mu, bukan?"
"Tentu saja Agama Buddha, karena pinceng beragama Buddha,"
Jawab hwesio itu.
"Hemm, pertanyaan itu pun terdorong oleh sifat ke-AKU-an pula! Orang selalu merasa baik sendiri, bersih sendiri dan benar sendiri. Karena ini maka para pemeluk agama menjadi saling mencurigai, saling memburukkan dan persatuan antar manusia makin parah. Semua agama adalah baik karena mengajarkan kebaikan, namun sayang sekali, orang-orangnya yang menyalahgunakan sehingga pelajaran kebaikan seringkali dipergunakan untuk saling menghina dan saling menyalahkan. Maaf, Lo-suhu, aku tidak akan menyinggung pelajaran agama karena aku yakin bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan, tidak ada kecualinya! Akan tetapi, orang yang merasa dirinya paling bersih adalah orang yang kotor karena perasaan diri paling bersih ini sudah merupakan kekotoran! Ada gambaran yang paling tepat untuk itu. Seseorang yang melihat tahi akan menutup hidungnya, merasa jijik dan muak, sama sekali dia lupa bahwa di dalam perutnya sendiri mengandung penuh tahi! Orang yang merasa dirinya paling pintar sesungguhnya adalah sebodoh-bodohnya orang, karena perasaan diri pintar ini sudah merupakan kebodohan! Orang yang merasa dirinya paling kuat sesungguhnya adalah orang yang lemah, karena kesombongannya akan membuatnya lengah. Karena sifat mementingkan AKU-nya, maka manusia berlumba mengejar kemenangan dalam apapun juga, saling serang saling bunuh. Dalam perkelahian, yang mati dianggap kalah, yang hidup dianggap menang. Yang hidup ini agaknya lupa bahwa dia pun kelak akan mati apabila sudah tiba saatnya! Dan siapa dapat memastikan bahwa yang menang akan lebih bahagia daripada yang kalah dan mati? Ha-ha-ha, kalau manusia ingat akan semua ini, aku tanggung manusia akan berpikir dulu sebelum memperebutkan kemenangan!"
Filsafat yang diucapkan oleh Im-yang Seng-cu ini membuat penasaran hati mereka yang mendengarkan.
"Im-yang Seng-cu, ucapanmu itu menunjukkan bahwa engkau seorang yang sombong sekali!"
Bentak Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun.
"Kabarnya engkau adalah seorang tokoh Hoa-san-pai. Beginikah pelajaran To-kouw yang dianut oleh para tosu Hoa-san-pai?"
Sambil berkata demikian, koksu ini melirik ke arah rombongan orang Hoa-san-pai.
Tentu saja koksu ini sudah mendengar bahwa Im-yang Seng-cu adalah orang yang dianggap murtad oleh Hoa-san-pai, dan Koksu yang cerdik ini sengaja menimbulkan perpecahan atau memanaskan keadaan!
"Dia bukan orang Hoa-san-pai!"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan dari rombongan Hoa-san-pai melangkah maju seorang tosu berusia enam puluh lima tahun, bertubuh pendek dan jenggotnya yang sudah putih itu pun dipotong pendek.
Tosu ini memandang tajam ke arah Im-yang Seng-cu dan sikapnya penuh wibawa.
Im-yang Seng-cu menghadapi tosu itu dan memberi hormat.
"Aihh, kiranya Suheng Lok Seng Cu hadir pula di sini. Terimalah hormat dari Sute...."
"Pinto mewakili Suhu dan memimpin rombongan Hoa-san-pai, sama sekali tidak ada hubungan lagi denganmu, Im-yang Seng-cu. Engkau tidak lagi diakui sebagai seorang murid Hoa-san-pai!"
Semua orang memandang dengan hati tegang, dan koksu memandang dengan mata bersinar.
Tahu rasa engkau sekarang, orang sombong, pikirnya.
Akan tetapi Im-yang Seng-cu tetap berseri wajahnya dan tenang sikapnya ketika menjawab.
"Lok Seng Cu, aku pun tidak pernah menonjolkan diri sebagai seorang tokoh Hoa-san-pai. Aku berusaha untuk menjadi manusia bebas, akan tetapi.... hemm.... betapa sukarnya dan betapa tidak mungkinnya usaha itu. Hidup sendiri sudah tidak bebas. Kita terbelenggu oleh kebudayaan, oleh agama, oleh hukum-hukum yang diciptakan manusia hanya untuk menyerimpung kaki manusia sendiri. Di mana kebebasan? Aihhhh, aku pun rindu kebebasan, seperti Aku sejati....!"
Jawaban itu membuat Lok Seng Cu membungkam, karena memang orang yang dianggap murtad ini tidak pernah menyeret-nyeret nama Hoa-san-pai dalam setiap sepak terjangnya, dan kalau tadi dianggap tokoh Hoa-san-pai, adalah koksu yang mengatakan, bukan pengakuan Im-yang Seng-cu sendiri.
Karena pembakarannya tidak berhasil, koksu menjadi penasaran dan ingin ia "menangkap"
Im-yang Seng-cu untuk memancing-mancing kalau-kalau kakek aneh ini akan mengeluarkan ucapan yang menyinggung, sehingga dapat dijadikan alasan untuk menyerangnya.
"Im-yang Sengcu, apa pula artinya perkataanmu bahwa manusia kehilangan kebebasan karena terbelenggu oleh hukum-hukum yang diadakan manusia sendiri?"
Im-yang Seng-cu menghela napas panjang.
"Inilah yang membuat hatiku selalu menjadi gelisah menyaksikan betapa makin lama manusia makin menjerat leher sendiri, membelenggu tangan kaki sendiri dengan hukum-hukum dan aturan-aturan sehingga beberapa ribu tahun lagi manusia tak dapat bergerak tanpa melanggar hukum! Betapa bayi takkan menangis begitu terlahir, menghadapi semua belenggu ini? Begitu terlahir, tubuhnya sudah dibelenggu kain-kain penutup tubuh, menyusul peraturan dan hukum-hukum yang tiada putusnya. Ada hukum ada pelanggaran, diperkenalkan yang buruk, mengerti tentang kesucian berarti mengerti tentang kedosaan. Aihhh, betapa repot hidup ini!"
"Seorang manusia yang tidak mentaati peraturan berarti melanggar kesusilaan, melanggar kesopanan dan hanya seorang Siauw-jin (orang rendah) yang akan berbuat seperti itu!"
Yang berkata demikian adalah Bhe Ti Kong, panglima tinggi besar yang kosen dan jujur itu.
Sebagian besar para pembesar dan panglima Kerajaan Ceng (Kerajaan Mancu) mempelajari Agama Khong Hu Cu dan karena orang-orang bicara tentang filsafat, Bhe Ti Kong tertarik lalu mengajukan bantahan atas pendirian Im-yang Seng-cu tadi.
Im-yang Seng-cu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Bagus sekali, Ciangkun. Memang tepatlah kalau orang mempelajari kebudayaan setempat! Sekali lagi aku katakan bahwa aku hanya menyesalkan keadaan hidup manusia, bukan sekali-sekali menganjurkan agar semua orang melanggar hukum dan peraturan-peraturan yang sudah ada. Aku sendiri sampai sekarang masih memakai pakaian dan peraturan-peraturan masih tetap kupegang karena seperti juga semua manusia, aku pun dihinggapi penyakit ke-AKU-an sehingga rela melakukan hidup dalam kepalsuan-kepalsuan dan tidak wajar. Seperti semua agama, telah kukatakan tadi, Agama Khong Hu Cu juga mengajarkan segala kebaikan, merupakan pelajaran-pelajaran yang benar-benar tepat. Akan tetapi sayang, betapa sedikit manusia yang mematuhinya secara lahir batin, menyesuaikan pelajaran-pelajaran itu dalam sepak terjang hidupnya sehari-hari! Bukankah Nabi Khong Hu Cu bersabda bahwa seorang Kuncu hanya mengejar kebenaran sedangkan seorang Siauw-jin hanya mengejar keuntungan! Nah, Nabi Khongcu sendiri telah maklum akan penyakit ke-AKU-an manusia sehingga perlu memperingatkan manusia yang selalu ingat akan keuntungan diri pribadi, keuntungan lahiriah! Kukatakan tadi bahwa begitu terlahir, bayi telah dibelenggu kain-kain penutup tubuh. Kalau pakaian dimaksudkan untuk melindungi tubuh, hal yang hanya timbul karena kebiasaan, karena sesungguhnya kalau tidak dibiasakan pun tidak apa-apa, maka apa hubungannya dengan kesusilaan dan kesopanan?"
"Wah, orang yang tidak mau berpakaian dan bertelanjang bulat adalah orang yang tak tahu malu dan tidak sopan!"
Seorang membantah dan karena semua orang berpendapat demikian, tidak ada yang peduli siapa yang mengeluarkan bantahan itu tadi.
Im-yang Seng-cu tertawa.
"Benarkah begitu? Kalau pun benar, maka anggapan itu muncul setelah orang menciptakan peraturan dan hukum dengan itu! Tidak wajar dan palsu seperti yang lain-lain! Apakah seorang bayi yang baru terlahir dan sama sekali tidak berpakaian itu dianggap tak tahu malu dan tidak sopan? Ha-ha-ha, kulihat Cu-wi kini mulai dapat mengerti apa yang kumaksudkan. Bayi, manusia cilik itu tadinya wajar dan tidak mengenal hukum kesusilaan, maka tidak bisa dianggap rendah atau tak tahu malu. Siapa tidak mengenal hukumnya, dapatkah dianggap melanggar? Setelah tahu akan hukumnya lalu melanggar, barulah dimaki-maki. Dengan demikian, bukankah hukum-hukum diadakan untuk membelenggu kaki tangan manusia sendiri, membatasi kebebasan dan kewajaran hidup? Timbulnya segala kesalahan adalah karena melanggar hukum, dan timbulnya segala pelanggaran hukum adalah karena mengenal hukum yang diciptakan. Berarti, tanpa hukum takkan ada pelanggaran! Pengertian akan baik dan buruk itulah yang membuat manusia terpecah dua, ada yang baik dan ada yang jahat. Pengertian akan kesucian dan kedosaan, hukum-hukum yang diadakan untuk mengerti kedua hal itulah yang menimbulkan kedosaan."
Tiba-tiba Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Im-yang Seng-cu, engkau benar-benar hebat, membuat kami semua bengong mendengarkan kata-katamu. Apakah engkau datang untuk berkhotbah? Ataukah hendak menyebarkan agama baru?"
"Tidak, Koksu. Aku hanya mencoba untuk membentangkan keadaan sebenarnya, mengajak semua orang berlaku wajar dan tidak berpura-pura, menyesuaikan diri dengan keadaan bukan semata-mata demi keuntungan diri pribadi. Seperti engkau sendiri, Koksu. Kehadiranmu dengan banyak pasukan pemerintah di tempat ini mengapa pakai berpura-pura? Kalau memang pemerintah melarang semua orang gagah mencari pusaka-pusaka yang dikabarkan berada di pulau ini, lebih baik terang-terangan saja. Akan tetapi hendaknya diingat bahwa mencari pusaka-pusaka lama dan memperebutkannya adalah urusan pribadi, sama sekali bukan urusan pemerintah sehingga amatlah menggelikan kalau pemerintah akan menggunakan dalih memberontak!"
Muka Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun berubah merah.
"Memang sesungguhnyalah! Kami telah menguasai pulau ini dan tak seorang pun boleh mencoba untuk mencari benda apa saja yang berada di pulau ini. Kalau ada yang tidak setuju, boleh menentangku!"
Sambil berkata demikian, kakek botak itu melangkah maju dengan sikap menantang. Im-yang Seng-cu tertawa lagi dengan sikap tenang.
"Im-kan Seng-jin, siapa yang dapat melawanmu? Aku sendiri sudah tua, bukan kanak-kanak yang suka mengadu kepalan memperebutkan permainan."
Dia lalu menghadapi semua orang yang masih berada di situ sambil berkata nyaring.
"Harap Cu-wi sekalian pulang ke tempat masing-masing. Biarpun belum mencari dan menyelidiki sendiri, namun aku yakin bahwa pusaka-pusaka yang lenyap itu tidak mungkin berada di pulau ini. Kakek bongkok Gu Toan penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang amat lihai itu mati terbunuh dan pusaka-pusaka Suling Emas lenyap, hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Setelah berhasil merampas pusaka masa orang sakti itu lalu meninggalkannya begitu saja di tempat ini? Mustahil! Marilah kita pergi dan biarlah Koksu yang mempunyai banyak pasukan ini kalau perlu membongkar pulau dan meratakan dengan laut untuk mencari pusaka-pusaka itu. Ha-ha-ha!"
Im-yang Seng-cu melangkah pergi dari situ dan semua orang lalu pergi tanpa pamit, dipandang oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan para pembantunya dengan alis berkerut karena merasa disindir, akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Koksu ini mengerti benar akan politik yang dijalankan Peme-rintah Ceng, yaitu ingin membaiki para tokoh-tokoh kang-ouw dan sedapat mungkin mempergunakan kepandaian mereka, bukannya memusuhi mereka sehingga memancing pemberontakan-pemberontakan karena Kerajaan Mancu mengerti benar bahwa rakyat masih belum mau tunduk kepada pemerintah penjajah dan di dalam hati amat membenci pemerintah Ceng.
Maka, untuk menghilangkan rasa penasaran karena tadi ia merasa "ditelanjangi"
Oleh Im-yang Seng-cu, juga karena alasan yang dikatakan oleh bekas tokoh Hoa-san-pai tentang pusaka-pusaka itu tepat, maka Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun lalu mengerahkan pasukannya untuk sekali lagi melakukan pencarian di pulau itu, Bukan mencari pusaka yang ia tahu memang tidak berada di pulau itu, melainkan mencari petunjuk-petunjuk selanjutnya karena jejak yang didapatkannya hanya sampai di pulau itu.
Akan tetapi, sampai beberapa hari mereka bekerja, hasilnya sia-sia sehingga akhirnya koksu terpaksa kembali ke kota raja dengan hati mengkal dan memerintahkan kepada dua orang pembantunya yang paling boleh diandalkan, yaitu Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, untuk merantau di dunia kang-ouw, memasang mata dan telinga, mencari kabar dan cepat-cepat memberi laporan kepadanya kalau ada berita bahwa ada tokoh kang-ouw yang mendapatkan pusaka-pusaka itu, terutama sekali Pusaka Sepasang Pedang Iblis.
Mengapakah koksu ini ingin benar mendapatkan Sepasang Pedang Iblis?
Sebenarnya, sebagai seorang ahli silat yang berilmu tinggi sekali, dia tidak hanya menginginkan sepasang pedang itu, juga ingin memiliki pusaka-pusaka peninggalan keluarga Suling Emas yang amat keramat dan ampuh.
Akan tetapi, lebih dari segala pusaka di dunia ini, ia ingin sekali mendapatkan Sepasang Pedang Iblis, hal ini bukan hanya karena dia mendengar akan keampuhan sepasang pedang yang pernah menggegerkan dunia pada puluhan tahun yang lalu, juga karena masih ada hubungan antara Bhong Ji Kun ini dengan Si Pembuat Pedang itu!
Sepasang Pedang Iblis adalah sepasang pedang milik Pendekar Wanitar Sakti Mutiara Hitam yang kemudian terjatuh ke tangan sepasang pendekar murid Mutiara Hitam.
Kedua pedang yang ampuh itu dibuat oleh dua orang ahli pedang dari India, laki-laki dan wanita yang sakti dan yang hanya setelah dikalahkan oleh Mutiara Hitam baru mau membuatkan sepasang pedang yang dikehendaki Mutiara Hitam, dibuat dari dua bongkah logam yang jatuh dari langit!
Kedua orang India ini bernama Mahendra dan Nila Dewi (baca cerita ISTANA PULAU ES).
Adapun koksu Kerajaan Mancu yang lihai ini pun adalah seorang peranakan India dan antara dia dengan kedua orang ahli pedang India itu masih ada hubungan keluarga!
Biarpun Mahendra dan Nila Dewi yang dianggap suami isteri itu hanya merupakan kakek dan nenek luar yang sudah jauh, akan tetapi sedikit banyak ada hubungan darah sehingga kini Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun menjadi penasaran kalau tidak dapat merampas Sepasang Pedang Iblis buatan kakek dan neneknya.
Demikianlah, kini dengan mati-matian Bhong Ji Kun berusaha mendapatkan Sepasang Pedang Iblis dan untuk menyelidiki gerak-gerik orang-orang kang-ouw yang dianggapnya menjadi sebab kehilangan pusaka-pusaka itu, koksu memberi tugas kepada Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, dua orang pendeta Tibet yang memiliki kepandaian tinggi itu, tingkat kepandaian yang hanya sedikit di bawah tingkat Si Koksu sendiri.
Sesosok bayangan putih menyambar turun dari angkasa dan bunyi kelepak sayap terdengar disusul bergeraknya daun-daun pohon ketika pohon itu tertiup angin yang keluar dari gerakan sayap dan burung garuda putih yang besar itu hinggap di atas tanah.
Laki-laki berkaki buntung sebelah itu meloncat turun dan terdengar keluhannya lirih ditujukan kepada si Burung Garuda.
"Pek-eng (Garuda Putih), kita tidak berhasil mencari Kwi Hong! Aihhh.... kenapa selama hidupku aku harus menderita kehilangan selalu....?"
Burung itu menggerak-gerakkan lehernya dan paruhnya yang kuat mengelus-elus kepala Suma Han yang berambut putih, seolah-olah burung itu hendak menghiburnya.
Laki-laki itu bukan lain adalah Suma Han.
Majikan Pulau Es yang terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti, juga Pendekar Siluman.
Usia pendekar sakti ini belum ada tiga puluh tahun, akan tetapi biarpun wajahnya masih tampan dan segar, rambutnya yang putih dan pandang matanya yang sayu membuat pendekar ini memiliki wibawa seperti seorang kakek-kakek tua renta!
"Pek-eng...."
Katanya lirih bisik bisik sambil mengelus leher burung itu.
"siapa yang mempunyai, dia yang akan kehilangan...."
"Nguk nguk...."
Garuda itu mengeluarkan suara lirih, seolah-olah ikut berduka.
"Engkau pun merasa kehilangan karena engkau mempunyai garuda betina yang kini pergi bersama Kwi Hong. Aku telah banyak menderita kehilangan karena aku banyak mempunyai orang-orang yang kucinta....! Ahhh, betapa bahagianya orang yang tidak mempunyai apa-apa karena dia tidak akan menderita kehilangan apa-apa! Siapa bilang yang punya lebih senang daripada yang tidak punya? Ah, dia tidak tahu! Mempunyai berarti menjaga karena selalu diintai bahaya kehilangan. Hanya orang yang tidak mempunyai apa-apa saja yang dapat enak tidur, tidak khawatir kehilangan apa-apa!"
Suma Han menjatuhkan diri di atas tanah, bersandar batang pohon dan dalam waktu beberapa menit saja dia sudah tidur pulas!
Memang To cu (Majikan Pulau) Pulau Es ini di samping kesaktiannya yang luar biasa, mempunyai kebiasaan aneh, yaitu dalam urusan makan dan tidur ia berbeda dengan manusia-manusia biasa.
Kadang-kadang sampai belasan malam dia tidak tidur sekejap mata pun, selama belasan hari tidak makan sesuap pun, akan tetapi dia dapat tidur sampai berhari-hari dan sekali makan menghabiskan beberapa kati gandum!
Garuda putih yang setia dan cerdik itu, begitu melihat majikannya pulas, lalu terbang ke atas pohon, hinggap di cabang pohon dan tidur juga.
Burung ini sudah melakukan penerbangan amat jauh dan lama sehingga tubuhnya terasa lelah.
Dua mahluk yang sama sama lelah itu kini mengaso dan keadaan di dalam hutan itu sunyi, yang terdengar hanya bersilirnya angin mampermainkan ujung-ujung daun pohon.
Dalam keadaan tertidur pulas itu, wajah Suma Han berubah sama sekali.
Biasanya di waktu ia sadar, wajah yang tampan itu selalu terselubung kemuraman yang mendalam, apalagi karena sinar matanya yang tajam dan dingin serta aneh itu selalu tampak sayu, membuat wajahnya seperti matahari tertutup awan hitam.
Kini setelah ia tidur pulas, lenyaplah garis-garis dan bayangan gelap, membuat wajahnya kelihatan tenang tenteram dan mulutnya tersenyum penuh pengertian bahwa segala yang telah, sedang dan akan terjadi adalah Hal-hal yang sudah wajar dan semestinya, hal-hal yang tidak perlu mendatangkan suka maupun duka!
Wajahnya seperti wajah seorang yang telah mati, tenang dan tidak membayangkan penderitaan batin karena seluruh urat syaraf mengendur dan tidak dirangsang nafsu perasaan lagi karena di dalam tidur atau mati, segala persoalan lenyap dari dalam hati dan pikiran.
"Suma Han, bangunlah!"
Tiba-tiba terdengar bentakan halus namun mengandung getaran kuat yang membuat Pendekar Super Sakti membuka mata.
Dengan malas ia bangkit dan memandang orang yang membangunkannya.
Kiranya di depannya telah berdiri seorang kakek yang dikenalnya baik karena kakek yang memegang tongkat berujung kepala naga itu bukan lain adalah Im yang Seng cu!
Namun ia bersikap tak acuh dan garis-garis bayangan suram kembali memenuhi wajahnya ketika ia bangkit berdiri, bersandar pada tongkatnya.
Ia hanya sekilas memandang wajah kakek itu, kemudian menunduk, seolah-olah enggan untuk berurusan dan memang sesungguhnya, dalam saat seperti itu Suma Han merasa malas untuk berurusan dengan siapapun juga.
Betapapun, mengingat bahwa kakek ini adalah seorang tokoh besar yang dikenalnya baik, bahkan Im yang Seng-cu adalah guru dari orang-orang yang amat dikenal dan disayangnya, maka ia berkata sambil tetap menundukkan muka.
"Locianpwe Im yang Seng cu, apakah yang Locianpwe kehendaki maka perlu membangunkan saya yang sedang mengaso?"
"Apa yang kukehendaki? Ha ha! Thian yang Maha Adil agaknya yang menuntun aku sehingga tanpa kusengaja dapat bertemu denganmu di sini, Suma Han. Aku hendak membunuhmu!"
Suma Han sama sekali tidak memperlihatkan kekagetan, bahkan seperti tidak peduli.
Dia hanya mengangkat muka dan memandang sejenak, membuat Im yang Seng cu terpaksa mengejapkan mata karena merasa seolah-olah ada sinar yang menusuk nusuk keluar dari sepasang mata Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman itu.
Akan tetapi sepasang mata itu menunduk kembali dan dada Suma Han mengembung besar ketika ia menarik napas panjang.
"Ada akibat tentu bersebab. Datang-datang Locianpwe hendak membunuh saya, pasti ada sebabnya. Kiranya tidak keterlaluan kalau saya yang hendak Locianpwe bunuh ini lebih dulu mendengar apa yang menyebabkan Locianpwe hendak membunuh saya."
Suaranya tetap tenang.
Im yang Seng cu juga menghela napas panjang.
Sebenarnya, tidak ada seujung rambut pun rasa senang di hatinya untuk menghadapi Pendekar Super Sakti dengan ancaman untuk membunuhnya!
Baik karena pengetahuannya bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pendekar muda ini maupun karena memang dia selalu merasa suka dan kagum kepada Suma Han.
"Tentu ada sebabnya! Dahulu engkau yang menjadi sebab kematian seorang muridku yang tersayang, yaitu Soan Li. Hal itu masih dapat kulupakan sungguhpun ada orang yang takkan dapat melupakannya, yaitu Tan-siucai...."
Suma Han memejamkan matanya dan bibirnya mengeluarkan keluhan disusul ucapannya yang menggetar.
"Mohon Locianpwe jangan menyebut nyebut namanya lagi...."
Di depan kedua matanya yang terpejam itu, pendekar muda yang berkaki buntung ini membayangkan semua peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Hoa san Kiam li (Pendekar Pedang Wanita dari Hoa san) Lu Soan Li adalah murid ke dua Im yang Seng-cu, seorang dara jelita yang lihai sekali dan berjiwa patriot, seorang gadis manis yang jatuh cinta kepadanya, bahkan kemudian telah mengorbankan nyawanya untuk dia!
Lu Soan Li tewas di dalam pelukannya dan menghembuskan napas terakhir setelah mengaku cinta kepadanya.
Dara perkasa itu tewas dalam usaha untuk menyelamatkannya.
"Suma Han, urusan Soan Li memang sudah kulupakan. Akan tetapi sekarang engkau kembali telah menghancurkan kebahagiaan hidup dua orang yang paling kusayang di dunia ini, kusayang seperti anak anakku sendiri. Engkaulah yang menjadi sebab kehancuran hidup mereka, karena itu tidak ada jalan lain bagiku kecuali membunuhmu atau mati di tanganmu!"
Suma Han merasa seolah-olah jantungnya ditembusi anak panah beracun, akan tetapi sikapnya tenang dan ia hanya memandang penuh pertanyaan sambil berkata.
"Locianpwe, apakah yang telah terjadi dengan Lulu dan Sin Kiat?"
Pendekar Siluman Majikan Pulau Es ini merasa gelisah karena ia dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan adik angkatnya, yaitu seorang gadis Mancu yang amat dicintanya, bahkan merupakan satu-satunya orang yang paling dicintanya di dunia ini.
Telah lima tahun ia meninggalkan adiknya itu ketika adiknya menikah dengan Wan Sin Kiat yang berjuluk Hoa san Gi Hiap (Pendekar Budiman dari Hoa san) yaitu murid pertama Im yang Seng cu!
Siapa lagi yang merupakan dua orang yang dicinta kakek ini kalau bukan muridnya itu?
Adapun tentang pertanyaan Im yang Seng cu tentang dendam yang dikandung di hati orang yang benama Tan-siucai (Pelajar Tan), dia tidak peduli.
Dia tahu bahwa Tan siucai adalah tunangan mendiang Lu Soan Li dan karena dia tidak merasa berdosa terhadap kematian Soan Li yang mengorbankan diri untuk menyelamatkannya, maka dia pun tidak peduli apakah ada orang yang mendendam kepadanya atau tidak.
Akan tetapi kalau adiknya, Lulu yang dicintainya itu tertimpa malapetaka....!
"Locianpwe, saya minta Locianpwe menceritakan kepada saya apa yang telah terjadi dengan Lulu!"
Kembali Suma Han berkata, sungguhpun sikap dan suaranya tenang, namun jelas ia mendesak dan pandang matanya penuh tuntutan.
"Kau mau tahu? Baiklah, sebaiknya engkau dengar sejelasnya agar kalau nanti kau tewas di tanganku tidak menjadi setan penasaran dan kalau sebaliknya aku yang mati di tanganmu agar lengkap noda darah di tanganmu!"
Kakek itu lalu menghampiri pohon yang menonjol.
Melihat sikap kakek itu, Suma Han juga duduk di depannya, siap mendengarkan penuturan kakek itu.
Im yang Seng cu lalu mulai dengan penuturannya tentang keadaan Lulu dan Sin Kiat.
Lima tahun lebih yang lalu, dengan disaksikan oleh Im yang Seng cu sebagai wali pengantin pria, yaitu muridnya Wan Sin Kiat, dilangsungkanlah pernikahan Wan Sin Kiat dengan Lulu yang dihadiri oleh Suma Han sebagai kakak angkat dan walinya (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).
Setelah menyaksikan pernikahan adiknya, Suma Han lalu pergi dan semenjak itu tidak pernah kembali atau bertemu dengan Lulu lagi.
Akan tetapi, semenjak ditinggal pergi kakak angkatnya, Lulu selalu kelihatan berduka.
Memang pada bulan bulan pertama dia agak terhibur oleh limpahan kasih sayang Wan Sin Kiat, suaminya.
Akan tetapi, bulan bulan berikutnya hiburan suaminya tidak dapat menyembuhkan kedukaan hatinya, seolah-olah semua kegembiraan hidupnya terbawa pergi oleh bayangan Suma Han, kakaknya.
Lebih--lebih setelah Lulu melahirkan seorang anak laki laki, hubungan suami isteri ini kelihatan makin merenggang.
Im yang Seng cu yang seringkali mengunjungi muridnya, dapat melihat kerenggangan ini, akan tetapi tentu saja dia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi antara suami isteri itu.
Kurang lebih setahun kemudian setelah Lulu melahirkan anak, pada suatu hari Im yang Seng cu didatangi muridnya, dan betapa kaget hatinya melihat Wan Sin Kiat menjatuhkan diri berlutut di depannya sambil menangis!
Hal ini benar benar mengejutkan hati kakek itu yang (Lanjut ke
Jilid 07) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 mengenal betul kegagahan muridnya.
"Sin Kiat, hentikan tangismu! Air mata seorang gagah jauh lebih berharga daripada darahnya, jangan dibuang buang!"
Bentak kakek itu yang tidak tahan melihat muridnya yang gagah perkasa itu menangis tersedu sedu.
Wan Sin Kiat menyusut air matanya dan menekan kedukaan hatinya.
"Ceritakan apa yang telah terjadi. Seorang jantan harus berani menerima segala peristiwa yang menimpanya, baik maupun buruk, secara gagah pula!"
"Maaf, Suhu. Teecu sanggup menghadapi derita apapun juga, akan tetapi ini.... ah, Suhu. Isteri teecu, Lulu, telah pergi meninggalkan teecu!"
"Apa....?"
Im yang Seng cu terkejut juga mendengar ini.
"Dan puteramu?"
"Dibawanya pergi."
"Kenapa tidak kau kejar dia? Mengapa datang ke sini dan tidak segera mengejar dan membujuknya pulang?"
Im-yang Seng cu menegur muridnya karena mengira bahwa tentu terjadi percekcokan antara suami isteri itu, hal yang amat lumrah.
Akan tetapi Sin Kiat menggeleng kepala dengan penuh duka.
"Percuma, Suhu. Hatinya keras sekali dan kepergiannya merupakan hal yang sudah ditahan-tahannya selama dua tahun, semenjak teecu menikah dengannya."
"Aihh, bagaimana pula ini? Bukankah kalian menikah atas dasar saling mencinta?"
"Teecu memang mencintanya dengan jiwa raga teecu bahkan sampai saat ini pun teecu tak pernah berkurang rasa cinta teecu terhadap Lulu. Akan tetapi.... dia.... ah, kasihan Lulu.... dia menderita karena cinta kasihnya bukan kepada teecu, melainkan kepada Han Han...."
"Suma Han? Dia kakaknya!"
"Itulah soalnya, Suhu. Sesungguhnya, Lulu amat mencinta kakak angkatnya, dan baru setelah melangsungkan pernikahan dan ditinggal pergi Han Han, dia sadar dan menyesal, Lulu sudah berusaha untuk melupakan kakak angkatnya, berusaha untuk membalas cinta kasih teecu, aduh kasihan dia.... semua gagal, cintanya terhadap kakak angkatnya makin mendalam dan membuatnya makin menderita...."
"Dan semua itu dia ceritakan kepadamu?"
Im yang Seng cu bertanya dengan mata terbelalak, terheran heran mendengar penuturan yang dianggapnya aneh tak masuk akal itu.
"Tidak pernah, sampai ketika ia pergi, Suhu. Dia meninggalkan surat, mengakui segala isi hatinya dan minta teecu agar mengampunkan dia, melupakan dia, akan tetapi dengan pesan agar teecu tidak mencarinya karena sampai mati pun dia tidak akan mau kembali kepada teecu."
"Mau ke mana dia?"
"Dia tidak menyatakan dalam surat, akan tetapi teecu rasa dia mau pergi mencari Han Han."
"Si Pemuda Keparat Suma Han!"
Im-yang Seng-cu mengetukkan tongkatnya di lantai.
"Jangan, Suhu. Han Han tidak bersalah dalam hal ini.... juga Lulu tidak bersalah. Sejak dahulu teecu sudah menduga bahwa cinta kasih di antara kakak beradik angkat itu melebihi cinta kasih kakak adik biasa. Hanya karena sudah tergila-gila kepada Lulu teecu tidak berpikir panjang lagi...."
"Tidak bersalah, katamu? Kalau memang mereka saling mencinta, kenapa dia membiarkan adiknya menikah dengan-mu? Akan kucari mereka, kalau sampai mereka berdua itu kudapatkan menjadi suami isteri, hemmm.... hanya mereka atau aku yang boleh hidup lebih lama di dunia ini!"
"Suhu!"
Wan Sin Kiat membujuk suhunya, akan tetapi Im yang Seng cu berkeras karena merasa betapa peristiwa itu merupakan penghinaan dan penghancuran kehidupan muridnya yang diang-gapnya sebagai anaknya sendiri.
Dapat dibayangkan betapa hancur hati guru ini ketika beberapa bulan kemudian ia mendengar bahwa Hoa san Gi-hiap Wan Sin Kiat, murid yang patah hati itu, gugur di dalam perang membela Raja Muda Bu Sam Kwi di Se-cuan, ketika bala tentara Mancu menyerbu Se-cuan dan dalam perang ini pulalah Bu Sam Kwi meninggal dunia.
Menurut berita yang didengar oleh Im yang Sengcu, muridnya itu berperang seperti orang gila tidak mengenal mundur lagi sehingga diam diam ia mengerti bahwa muridnya sengaja menyerahkan nyawa, mencari mati dalam perang.
Hatinya seperti ditusuk pedang dan biarpun dia merasa bangga bahwa di dalam kedukaannya muridnya itu memilih mati sebagai seorang patriot sejati, namun dia berduka sekali karena kematian muridnya adalah kematian akibat putusnya cinta kasih!
Mendengar penuturan Im yang Seng-cu, Suma Han memandang dengan mata terbelalak.
Wajahnya tidak berubah, akan tetapi pandang matanya makin sayu seperti orang mengantuk.
Im yang Seng cu bangkit berdiri.
"Nah, sekarang bersiaplah engkau untuk menebus dosamu. Kedua orang muridku mati karena engkau. Hidupku yang tidak berapa lama lagi ini akan tersiksa oleh dendam dan penasaran, maka aku harus membunuhmu atau engkau menghentikan siksa batinku dengan membunuhku!"
Akan tetapi Suma Han tetap bengong, sama sekali tidak memandang kepada Im yang Seng cu, melainkan memandang kosong ke depan dan mulutnya berkata lirih.
"Hemm.... kalau begitu.... dia agaknya...."
Ucapan ini diulang beberapa kali.
Pada saat itu, muncullah dua orang pendeta Lama yaitu Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, diikuti oleh Bhe Ti Kong panglima tinggi besar.
Begitu muncul, terdengar suara Thian Tok Lama.
"Suma Taihiap, pinceng bertiga datang menyampaikan permintaan koksu supaya Taihiap suka menyerahkan Sepasang Pedang Iblis kepada pinceng."
Akan tetapi Pendekar Super Sakti masih termenung seperti tadi, sama sekali tidak mempedulikan munculnya tiga orang ini, bahkan seolah-olah tidak mendengar kata-kata Thian Tok Lama.
Ia tetap berdiri termenung memandang jauh dan terdengar suaranya lirih berulang-ulang.
"Aihhh.... tentu dia....!"
Thian Lok Lama mengerutkan alisnya melihat sikap Suma Han yang dianggapnya memandang rendah kepadanya.
Dahulu, pendeta Lama ini pernah beberapa kali bentrok dengan Suma Han dan maklum akan kepandaian pendekar muda berkaki buntung ini, akan tetapi karena kini ia mengandalkan pengaruh koksu dia tidak menjadi takut.
Terdengar pendeta Tibet itu berkata lagi, suaranya lantang menggema di seluruh hutan.
"Suma Taihiap! Koksu menghormati Taihiap sebagai To cu terkenal dari Pulau Es, maka mengajukan permintaan secara baik dan hormat. Harap saja Taihiap suka menghargai penghormatan Koksu!"
Suma Han tetap tidak menjawab dan termenung. Terdengarlah suara ketawa Im yang Seng cu.
"Ha ha ha! Penghormatan yang menyembunyikan paksaan adalah penghormatan palsu. Menuduh orang menyimpan pusaka tanpa bukti lebih mendekati fitnah!"
Thian Tok Lama menoleh ke arah Im-yang Seng cu dengan sikap marah, akan tetapi pendeta Tibet yang cerdik ini tidak mau melayani karena dia tahu bahwa menghadapi Suma Han saja sudah merupakan lawan berat, apalagi kalau dibantu kakek aneh yang dia tahu bukan orang sembarangan pula itu.
Maka dia berkata lagi, tetap ditujukan kepada Suma Han.
"Koksu berpendapat bahwa karena Taihiap lah orangnya yang dahulu menguburkan jenazah Siang mo Kiam eng (Sepasang Pendekar Pedang Iblis) bersama sepasang pedang itu, maka kini tetap Taihiap pula yang membongkar kuburan dan mengambil sepasang pedang itu. Hendaknya diketahui bahwa yang berhak atas Sepasang Pedang Iblis adalah Koksu Im kan Seng jin Bhong Ji Kun, karena pembuat pedang itu adalah nenek moyangnya dari India. Maka pinceng percaya akan kebijaksanaan Suma Taihiap untuk mengembalikan pedang pedang itu kepada yang berhak."
Akan tetapi Suma Han mengangguk-angguk dan bicara seorang diri.
"Benar, tak salah lagi, tentu dia...."
"Orang ini terlalu sombong!"
Tiba-tiba Bhe Ti Kong membentak dan meloncat maju.
"Berani engkau menghina utusan Koksu negara, orang muda buntung yang sombong?"
Setelah membentak demikian, Bhe ciangkun sudah menerjang maju, mencengkeram ke arah pundak Suma Han dengan maksud menangkapnya dan memaksanya tunduk.
"Plakk! Auggghhh....!"
Tubuh tinggi besar Bhe ciangkun terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah.
Ia meloncat bangun dengan muka pucat dan tangan kirinya memijit mijit tangan kanan yang tadi ia pakai mencengkeram pundak Suma Han.
Pendekar Super Sakti itu masih berdiri tak bergerak, termenung seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Ketika Bhe Ti Kong mencengkeram tadi, Pendekar Siluman itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi begitu tangan panglima kerajaan mencengkeram pundak, Bhe ciangkun merasa tangannya seperti ia masukkan ke dalam tungku perapian yang luar biasa panasnya dan ada daya tolak yang amat kuat sehingga ia terjengkang dan terpelanting.
Melihat kawannya roboh, Thian Lok Lama dan Thai Li Lama terkejut dan marah, mengira bahwa pendekar berkaki buntung itu sengaja menyerang Bhe Ti Kong, maka dengan gerakan otomatis keduanya lalu menggerakkan tangan memukul dari jarak jauh.
Angin yang dahsyat menyambar dari tangan mereka, menyerang Suma Han yang masih berdiri termenung, seolah-olah tidak tahu bahwa dia sedang diserang dengan pukulan maut jarak jauh yang amat kuat.
Baju di tubuh Suma Han berkibar terlanda angin pukulan itu akan tetapi, tenaga pukulan dengan sin-kang itu seperti "menembus"
Tubuh Suma Han lewat begitu saja dan "kraaakkk!"
Sebatang pohon yang berada di belakang Suma Han tumbang dilanda angin pukulan itu, akan tetapi tubuh Pendekar Siluman itu sendiri sedikit pun tidak bergoyang!
Hal ini membuat Thian Tok Lama dan Thai Li Lama terheran--heran dan penasaran.
Kalau lawan itu menggunakan tenaga sin-kang melawan serangan mereka, bahkan andaikata mengalahkan sin-kang mereka sendiri, hal itu tidaklah mengherankan.
Akan tetapi Pendekar Siluman Majikan Pulau Es itu sama sekali tidak melawan dan angin pukulan mereka hanya lewat saja seolah-olah tubuh itu terbuat daripada uap hampa!
Rasa penasaran membuat keduanya menerjang maju den menggunakan dorongan telapak tangan mereka menghantam dada Suma Han dari kanan-kiri!
"Buk!
Bukk!"
Dua buah pukulan itu mengenai dada Suma Han, akan tetapi akibatnya kedua orang pendeta Lama itu terjengkang dan terbanting seperti halnya Bhe Ti Kong tadi!
"Ha ha ha ha!
Kiranya utusan utusan koksu kerajaan adalah pelawak pelawak yang pandai membadut, pandai menari jungkir balik!"
Im yang Seng cu bersorak dan bertepuk tangan seperti orang kagum dan gembira menyaksikan aksi para pelawak di panggung.
Dua orang pendeta Lama itu meloncat bangun dan memandang Im yang Seng cu dengan mata mendelik.
Keduanya tadi roboh karena biarpun Suma Han kelihatannya diam tidak bergerak, namun dengan kecepatan yang tak dapat diikuti mata, dua buah jari tangan kanan-kiri pemuda berkaki buntung itu telah menyambut pukulan telapak tangan kedua lawan dengan totokan sehingga begitu telapak tangan berhasil memukul dada, tenaganya sudah buyar sehingga merekalah yang "terpukul"
Oleh hawa sin-kang yang melindungi tubuh Suma Han.
Tentu saja keduanya terkejut setengah mati.
Mereka sudah mengenal Suma Han, sudah tahu akan kelihaian Pendekar Super Sakti itu.
Akan tetapi, yang mereka hadapi sekarang ini adalah pemuda buntung yang kepandaiannya beberapa kali lipat daripada dahulu, lima tahun yang lalu.
Hal ini mengejutkan hati mereka, juga mendatangkan rasa jerih.
Kemudian mereka menimpakan kemarahan, yang timbul karena malu kepada Im yang Seng cu yang mengejek mereka.
"Im yang Seng cu, engkau sungguh seorang yang tak tahu diri! Di muara Huang ho Koksu telah mengampuni nyawamu, sekarang engkau berani menghina kami. Coba kau terima pukulan pinceng!"
Thian Tok Lama menerjang Im-yang Seng cu yang cepat meloncat ke samping karena datangnya serangan itu amat hebat.
Pukulan yang dilancarkan Thian Tok Lama adalah pukulan Hek in-hui hong ciang, ketika memukul tubuhnya agak merendah, perutnya yang gendut makin menggembung dan dari dalam perutnya terdengar suara seperti seekor ayam biang bertelur, berkokokan dan tangan kanannya berubah biru.
Pukulannya bukan hanya mendatangkan angin dahsyat, akan tetapi juga membawa uap hitam!
Melihat betapa serangan Thian Tok Lama dapat dielakkan oleh Im yang Seng cu, Thai Li Lama yang juga marah sekali terhadap kakek bertelanjang kaki itu sudah menyambut dari kiri dengan pukulan Sin kun-hoat lek yang tidak kalah ampuh dan dahsyatnya dibanding dengan Hek in hui hong ciang.
"Ayaaa....!"
Biarpun diancam bahaya maut, Im yang Seng cu masih dapat mengejek sambil melompat tinggi ke atas kemudian ia berjungkir balik.
"Kedua pelawak ini selain lucu juga gagah sekali!"
Tentu saja Thian Tok Lama dan Thai Li Lama menjadi makin marah.
Api kemarahan di dalam hati mereka seperti dikipas, makin berkobar dan dengan nafsu mereka kembali menyerang.
Im yang Seng cu tentu saja repot bukan main.
Ia memutar tongkatnya melindungi tubuh.
Melawan seorang di antara kedua orang Lama ini saja tidak akan menang apalagi dikeroyok dua.
"Plak.... krekkkk!"
Ujung tongkat di tangan Im yang Seng cu patah dan ia terhuyung ke belakang.
Thai Li Lama mengejarnya dengan pukulan maut.
Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat, meluncur turun dari atas dan Thai Li Lama yang sedang menyerang Im yang Seng cu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar dari atas ke arah kepalanya.
Cepat ia mengelak dan mengibaskan tangan.
"Bresss!"
Dua helai bulu burung garuda putih membodol ketika cengkeraman burung itu dapat ditangkis Thai Li Lama.
Pendeta Tibet ini menjadi marah dan terjadilah pertandingan hebat antara burung garuda dengan pendeta ini, sedangkan Thian Tok Lama kembali sudah menerjang dan mendesak Im yang Seng-cu dengan Pukulan Hek in hui hong-ciang yang merupakan cengkeraman maut.
Im yang Seng cu adalah seorang bekas tokoh Hoa san pai yang sudah mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi sehingga jarang ada orang yang mampu menandinginya.
Hampir segala macam ilmu-ilmu silat tinggi dikenalnya dan inilah yang membuat kakek itu lihai sekali, bahkan pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaiannya malah telah melampaui tingkat Ketua Hoa san pai sendiri!
Akan tetapi sekali ini menghadapi Thian Tok Lama, dia benar benar bertemu tanding yang amat kuat.
Pendeta Lama itu adalah seorang tokoh Tibet yang memiliki kepandaian tinggi ditambah tenaga mujijat dari ilmu hoat sut (sihir) yang banyak dipelajari oleh tokoh-tokoh Tibet.
Biarpun hoat sut yang dikuasai Thian Tok Lama tidaklah sekuat ilmu Hoat sut Thai Li Lama, namun ilmu ini memperkuat sin-kangnya dan menambah kewibawaannya menghadapi lawan.
Dalam hal tenaga sin-kang, Im yang Seng cu kalah setingkat oleh lawannya.
Memang tubuh gendut Thian Tok Lama mengurangi kegesitannya dan Im yang Seng cu lebih gesit dan ringan, namun sekali ini Im-yang Seng cu bertemu dengan lawan yang menggunakan ilmu silat aneh dan asing, sama sekali tidak dikenalnya!
Setelah saling serang puluhan jurus lamanya, akhirnya Im yang Seng cu terdesak dan hanya mundur sambil mempertahankan diri sa-ja, tidak mampu balas menyerang.
Hanya ada sebuah keuntungan yang membuat dia tidak dapat cepat dirobohkan, yaitu bahwa dia bersikap tenang dan gembira, selalu mengejek, berbeda dengan sikap Thian Tok Lama yang dipengaruhi kemarahan dan penasaran.
Seperti juga Im yang Seng cu, garuda putih yang menyambar dan menyerang Thai Li Lama mau tidak mau harus mengakui kelihaian pendeta Tibet kurus itu.
Memang Thai Li Lama tidak akan mampu menyerang burung itu kalau Si Garuda terbang tinggi, akan tetapi biarpun kelihatannya Si Burung yang selalu meluncur turun dan menyerang kepala Thai Li Lama, selalu burung itu yang terpental oleh tangkisan dan pukulan Thai Li Lama!
Banyak sudah bulu putih burung itu bodol dan kini serangannya makin mengendur, bahkan mulailah garuda putih itu mencampuri pekik kemarahannya dengan bunyi tanda gentar.
Sementara itu, Suma Han masih berdiri bersandar tongkatnya.
Sinar matanya memandang kosong dan bibirnya bergerak-gerak.
"Tentu dia.... wahai.... Lulu.... untuk apakah engkau mengambil pusaka-pusaka itu....? Lulu.... satu-satunya sinar bahagia yang menembus semua awan hitam di hatiku hanya melihat engkau hidup bahagia di samping suami dan anakmu.... akan tetapi.... engkau menghancurkan kebabagiaanmu sendiri.... sekaligus memadamkan sinar bahagia di hatiku. Mengapa....? Mengapa....?"
Biarpun wajah yang tampan itu masih tidak membayangkan perasaan apa-apa, namun bulu matanya basah dan jari jari tangan yang memegang kepala tongkatnya gemetar, jantungnya seperti diremas remas, perasaan hatinya menangis dan mengeluh.
Bhe Ti Kong, panglima Mancu tinggi besar yang tadi terpelanting roboh sendiri ketika menyerang Suma Han, sejak tadi memandang pendekar kaki buntung super sakti itu.
Dengan hati khawatir panglima ini menyaksikan kedua orang temannya yang bertanding melawan Im-yang Seng cu dan burung garuda putih.
Biarpun kedua orang temannya selalu mendesak, akan tetapi Bhe Ti Kong mengerti bahwa kalau Si Kaki Buntung itu maju, tentu kedua orang pendeta Tibet itu akan kalah.
Dia adalah seorang panglima, sudah biasa mengatur siasat-siasat perang, siasat untuk mencari kemenangan dalam pertempuran.
Melihat keadaan pihaknya ini, tentu saja Bhe Ti Kong tidak menghendaki pihaknya kalah dan terancam bahaya ikutnya Pendekar Siluman itu dalam pertempuran.
Melihat Suma Han termenung seperti orang mimpi, ia menghampiri perlahan lahan dan mencabut senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang tombak gagang pendek yang bercabang tiga, runcing dan kuat.
Bhe Ti Kong bukanlah seorang yang berwatak curang atau pengecut, dan apa yang hendak dilakukan ini semata-mata dianggap sebagai siasat untuk kemenangan pihaknya.
Biasanya dalam pertempuran perang, tidak ada istilah curang atau pengecut, yang ada hanyalah mengadu siasat demi mencapai kemenangan.
Sekarang pun, ketika ia berindap indap menghampiri Suma Han dari belakang dengan senjata di tangan, satu-satunya yang memenuhi hatinya hanyalah ingin melihat pihaknya menang.
Setelah tiba di belakang Suma Han, Bhe Ti Kong mengangkat senjatanya dan menyerang.
Panglima tinggi besar ini memiliki tenaga yang amat kuat, senjatanya juga berat dan kuat sekali, maka serangan yang dilakukannya itu menusukkan tombak runcing ke punggung Suma Han, merupakan serangan maut yang mengerikan dan agaknya tidak mungkin dapat dihindarkan lagi!
"Wirrrr....!"