Eps 3 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.
Senjata tombak cabang tiga yang runcing itu meluncur ke arah punggung Suma Han.
Akan tetapi, pada waktu itu, ilmu kesaktian yang dimiliki Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es ini, sudah "mendarah daging"
Sehingga boleh dibilang setiap bagian kulit tubuhnya memiliki kepekaan yang tidak lumrah.
Perasaan di bawah sadarnya seolah-olah telah bangkit bekerja setiap detik sehingga jangankan baru sedang melamun, bahkan biarpun dia sedang tidur nyenyak sekalipun, perasaan ini bekerja melindungi seluruh tubuhnya dari bahaya yang mengancam dari luar.
Pada saat itu, pikirannya sedang melayang layang, seluruh panca inderanya sedang ikut melayang-layang pula bersama pikirannya sehingga dia seperti tidak tahu sama sekali akan segala yang terjadi di sekelilingnya, tidak tahu betapa garuda tunggangannya dan Im yang Seng cu didesak hebat oleh Thian Tok Lama den Thai Li Lama.
Akan tetapi, ketika ada senjata menyambar punggung mengancam keselamatannya, perasaan di bawah sadar itu mengguncang kesadarannya dengan kecepatan melebihi cahaya!
"Suuuuutttt!"
Bhe Ti Kong berseru kaget dan bulu tengkuknya berdiri karena tiba-tiba orang yang diserangnya itu lenyap.
Ketika ia menoleh, yang tampak olehnya hanyalah bayangan berkelebat cepat menyambar ke arah Thian Tok Lama yang mendesak Im yang Seng cu, Kemudian bayangan itu mencelat ke arah Thai Li Lama yang bertanding dan tahu-tahu tubuh kedua orang pendeta Lama itu terhuyung huyung ke belakang dan mereka berdiri dengan wajah pucat memandang Suma Han yang sudah berdiri bersandar tongkat dan memandang mereka berdua dengan sinar mata tajam ber-pengaruh.
Keduanya telah kena didorong oleh hawa yang dinginnya sampai menusuk tulang dan biarpun kedua orang pendeta ini sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja mereka itu menggigil dan wajah mereka yang pucat menjadi agak biru, gigi mereka saling beradu mengeluarkan bunyi!
Setelah mengerahkan sin-kang beberapa lamanya, barulah mereka itu dapat mengusir rasa dingin dan tahulah mereka bahwa kalau Si Pendekar Super Sakti menghendaki, serangan tadi tentu akan membuat nyawa mereka melayang!
"Katakan kepada koksu kerajaan Im kan Seng jin Bhong Ji Kun bahwa To cu Pulau Es tidak tahu menahu tentang Sepasang Pedang Iblis!
Nah, pergilah dan jangan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah!"
Thian Tok Lama menghela napas panjang.
Pemuda buntung itu hebat luar biasa dan ucapan seorang yang sakti seperti itu tentu saja tidak membohong.
Ia menjura dan berkata.
"Baiklah dan harap To cu sudi memaafkan kelancangan kami,"
Ia memberi isyarat kepada Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong, kemudian mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
Keadaan menjadi sunyi.
Garuda putih kini hinggap di atas cabang pohon, menyisiri bulu bulunya dengan paruh sambil kadang-kadang memandang ke arah majikannya.
Im yang Seng cu yang masih mengatur pernapasannya yang agak terengah karena tadi ia terlampau banyak mempergunakan tenaga untuk melindungi dirinya dari desakan hebat Thian Tok Lama, kini melangkah maju mendekati Suma Han memandang penuh perhatian ke arah wajah yang sudah menunduk kembali itu lalu berkata.
"Suma Han, mari kita lanjutkan urusan di antara kita. Sudah kuceritakan semua tentang sebabnya mengapa hari ini aku harus membunuhmu atau terbunuh olehmu. Karena engkau, kedua orang muridku tewas dan orang-orang yang kucinta di dunia ini habis. Jangan berkepalang tanggung, hayo kau tewaskan aku pula atau engkaulah yang akan mati di tanganku!"
Tanpa mengangkat mukanya yang tunduk, Suma Han membuka pelupuk matanya yang menunduk.
Sinar matanya bagaikan kilat menyambar wajah kakek itu, membuat hati Im yang Seng cu tergetar.
Diam diam kakek ini kagum bukan main.
Manusia berkaki satu yang berdiri di depannya adalah seorang manusia yang amat luar biasa!
"Benarkah Locianpwe begitu bodoh ataukah hanya pura pura bodoh?
Ada kemenangan dalam diri manusia yang melebihi segala makhluk, yaitu perbuatan dengan pamrih demi kebahagiaan orang lain.
Bahkan rela berkoban demi kebahagiaan orang lain.
Sudah tentu saja akibatnya bermacam macam sesuai dengan kehendak Tuhan, namun menilai perbuatan bukanlah dilihat akibatnya, melainkan ditinjau pamrihnya."
Im yang Seng cu tersenyum dan menyembunyikan kegembiraannya di balik kata kata mengejek.
"Suma Han, semua perbuatan memang berakibat dan hanya seorang gagah sajalah yang berani mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya! Kepandaianmu amat tinggi dan aku sudah kehilangan tongkatku, namun jangan mengira bahwa aku akan gentar melawanmu. Jangan bersembunyi di balik kata kata yang muluk muluk. Mari kita selesaikan!"
Suma Han menghela napas panjang.
"Kalau sekeras itu kehendak Locianpwe, demi penyesalan hatiku telah mengakibatkan kesengsaraan orang-orang yang kucinta, silakan Locianpwe!"
"Bagus! Nah, sambutlah ini!"
Dengan wajah yang tiba-tiba berubah girang bukan main, Im yang Seng cu meloncat maju, tangan kanannya dengan pengerahan sin-kang sekuatnya menghantam dada Suma Han.
"Dessss!"
Tubuh Suma Han terlempar sampai lima meter, tongkat yang dipegangnya terlepas dan ia roboh terguling, mulutnya muntahkan darah segar.
Seketika wajah Im yang Seng cu menjadi pucat sekali.
Kegirangan lenyap dari wajahnya dan ia meloncat mendekati.
"Celaka! Keparat engkau, Suma Han! Engkau telah menipuku....! Ahhhh.... engkau akan membuat aku mati menjadi setan penasaran.... selamanya aku.... belum pernah memukul orang yang tidak melawan. Kenapa engkau tidak melawan? Celaka.... aiiiihhh.... celaka....!"
Tiba-tiba terdengar pekik keras dan bayangan putih menyambar dari atas.
Garuda putih telah menyambar dan cakarnya mencengkeram pundak Im yang Seng-cu, tubuh kakek itu dibawa ke atas lalu dibanting lagi ke bawah.
"Brukkk!"
Im yang Seng cu tertawa, pundaknya luka berdarah.
"Bagus....! Bagus sekali, garuda sakti! Hayo lekas serang lagi. Hayo bunuh aku.... ha ha ha! Majikanmu yang gila tidak mau membunuhku, mati di tanganmu cukup terhor-mat. Marilah!"
Ia menantang-nantang sambil tertawa dan bangkit berdiri terhuyung huyung. Garuda putih menyambar lagi ke bawah dengan penuh kemarahan.
"Pek eng, berhenti!"
Tiba-tiba Suma Han membentak, suaranya mengandung getaran dahsyat dan burung itu tidak jadi menyerang Im yang Seng cu, melainkan hinggap di atas tanah dekat Suma Han dan mendekam, mengeluarkan suara mencicit sedih dan takut.
Im yang Seng cu membanting-banting kakinya ke atas tanah.
"Suma Han, engkau benar benar kejam! Engkau berkali-kali mengecewakan hatiku! Engkau menerima pukulanku tanpa melawan, membuat aku menjadi seorang manusia yang rendah dan hina! Dan sekarang engkau melarang burungmu menyerangku. He, Pendekar Super Sakti! Apakah setelah engkau berjuluk Pendekar Siluman hatimu pun menjadi kejam seperti hati siluman? Apakah engkau akan puas menyaksikan aku hidup merana menanti datangnya maut menjemput nyawaku yang sudah tidak betah tinggal di tubuh sialan ini?"
"Locianpwe,"
Suma Han berkata lirih sambil mengusap darah dari bibirnya dengan ujung lengan baju.
"Locianpwe datang dengan niat membunuhku. Pukulanmu tadi cukup keras akan tetapi belum cukup untuk melukai aku, apalagi membunuh. Kalau masih belum puas, mari, pukul lagi, Locianpwe."
"Engkau tidak melawan?"
Suma Han menggeleng kepala.
"Bagaimana harus melawan? Locianpwe hendak membunuhku karena kesalahanku terhadap Lulu dan Sin Kiat, dan biarpun tidak kusengaja, memang aku telah bersalah terhadap mereka. Kalau Locianpwe mau membunuhku, lakukanlah!"
Im yang Seng cu membanting-banting kakinya lagi.
"Kau.... kau....!"
Dan kakek ini mengusap-usap kedua matanya kerena kedua mata itu menitikkan air mata!
"Locianpwe, ketika garuda menyerangmu, Locianpwe tidak melawan pula, menyambut maut dengan tertawa-tawa.
Locianpwe rela mati karena merasa bersalah memukul orang yang tidak melawan.
Locianpwe rela mati demi membalas kesengsaraan orang-orang yang Locianpwe cinta.
Kalau semulia itu hatimu, apakah aku yang muda tidak boleh menirunya?"
"Kau.... kau siluman!"
"Locianpwe, aku mengerti bahwa sesungguhnya Locianpwe tidak ingin membunuhku, melainkan mengharapkan kematian di tanganku. Tak mungkin aku melakukan hal itu, Locianpwe. Sekarang, hanya ada dua pilihan bagi Locianpwe. Membunuhku tanpa kulawan, atau kita sudahi saja urusan ini, biarlah kita berdua melanjutkan hidup dengan kesengsaraan batin menjadi derita. Bukankah hidup ini menderita? Bukankah penderitaan batin merupakan pengalaman hidup yang paling berharga? Bagaimana, Locianpwe? Kalau belum puas memukulku, silakan ulangi kembali!"
Suma Han terpincang pincang maju mendekati sambil memasang dadanya, Im yang Seng cu mundur-mundur seperti ngeri didekati sesuatu yang akan dapat membuat ia menyesal selamanya.
"Tidak.... tidak.... jangan dekati aku....!"
Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Kalau begitu, selamat tinggal, Locianpwe. Locianpwe agaknya lebih suka menghukum batinku, karena sesungguhnya kalau Locianpwe membunuhku, berarti membebaskan aku daripada penyesalan dan kesengsaraan batin. Selamat tinggal!"
Suma Han mengambil tongkatnya, meloncat ke atas punggung garuda dan terdengarlah kelepak sayap dibarengi angin bertitip dan Majikan Pulau Es itu sudah membubung tinggi dibawa terbang garuda putih.
Im yang Seng cu menurunkan kedua tangannya.
Mukanya pucat, alisnya berkerut dan sampai lama ia memutar pikirannya.
Tiba-tiba ia tertawa.
"Ha ha ha! Untuk ke sekian kalinya aku kalah! Ahhh, bagaimana bocah setan itu tahu bahwa aku akan merasa girang mati di tangannya? Aihh, celaka memang nasibku. Keinginan terakhir mati di tangan Pendekar Super Sakti gagal, bahkan aku yang hampir saja membunuhnya sehingga penderitaanku akan bertambah makin berat. Buka main....! Dia itu.... seorang manusia yang luar biasa.... Ahh, kalau saja Tuhan dapat mengabulkan setiap permintaan manusia, biarlah sekali ini si manusia Im yang Seng cu mohon agar Tuhan sudi mengobati penderitaan batin Suma Han dan melimpahkan kebahagiaan kepadanya. Dia manusia sejati, manusia berbudi luhur.... pendekar di antara segala pendekar....!"
"Ha ha ha! Kalau dia pendekar di antara segala pendekar, engkau adalah pengecut di antara segala pengecut hina, Im yang Seng cu!"
Im yang Seng cu terkejut, menoleh dan memandang terbelalak kepada seorang laki laki muda yang berdiri di depannya.
Laki laki ini usianya masih muda, belum lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan gerak geriknya halus, pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang terpelajar, pakaian pelajar yang bersih dan rapi.
Akan tetapi yang mengejutkan hati Im yang Seng cu adalah sepasang mata di wajah tampan itu.
Mata itu mempunyai sinar yang mengerikan, seperti mata orang gila, namun juga mempunyai wibawa yang tajam berpengaruh dan aneh.
Bukan mata manusia, seperti itulah patutnya mata setan!
Biarpun pakaiannya seperti seorang pelajar, namun di punggung orang muda itu tampak gagang sebatang pedang, gagang pedang hitam dengan ronce benang hitam pula.
Biarpun hati Im yang Seng cu terkejut dan heran, namun dia marah mendengar orang yang tak dikenalnya ini memakinya sebagai pengecut di antara segala pengecut hina.
Bagi seorang kang ouw, seorang yang menjunjung kegagahan, makian pengecut merupakan makian yang paling rendah menghina.
"Orang muda, kulihat pakaianmu sebagai seorang terpelajar, patutnya engkau tahu akan tata susila dan sopan santun. Kulihat pedangmu di punggung, patutnya engkau tahu akan sikap kegagahan di dunia kang ouw. Akan tetapi engkau datang datang memaki orang tua, patutnya engkau seorang biadab yang sombong. Siapakah engkau?"
Pemuda itu tersenyum lebar.
Senyum yang manis dan membuat wajahnya makin tampan, akan tetapi seperti yang tersembunyi di balik keindahan matanya, juga di balik senyumnya ini bersembunyi sifat aneh yang mendirikan bulu roma, sifat kejam dan penuh kebencian terhadap sekelilingnya!
"Im yang Seng cu, belasan tahun yang lalu seringkali engkau memondong dan menimangku, bahkan yang terakhir engkau mengajarkan Ilmu Pukulan Hoa san Kun hoat kepadaku sebagai pembayaran taruhan karena engkau kalah bermain catur melawan Ayahku."
Terbelalak kedua mata Im yang Seng cu dan ia memandang penuh perhatian, kemudian berseru.
"Siancai....! Kiranya engkau Tan siucai (Sastrawan Tan) dari Nan-king....!"
Pemuda tampan itu mengangguk angguk dan senyumnya makin kejam.
"Betul, aku adalah Tan Ki atau Tan siucai dari Nan-king."
"Tapi.... tapi.... ah, bagaimana Ayahmu?"
"Ayah telah meninggal dunia."
"Ahhh! Sahabatku yang baik, kiranya engkau lebih bahagia daripada aku, betapa rinduku bermain catur sampai lima hari lima malam melawanmu....!"
"Tak usah khawatir, Im yang Seng cu, sebentar lagi pun engkau akan menyusul Ayah akan tetapi tempatmu di neraka, tidak di sorga seperti Ayah!"
Keharuan Im yang Seng cu mendengar akan kematian sahabatnya, dan kegirangannya bertemu dengan pemuda itu, lenyap berganti penasaran dan keheranan melihat sikap Tan siucai.
"Apakah maksudmu dengan ucapan dan sikapmu ini? Engkau dehulu menganggap aku sebagai paman dan bersikap hormat. Sekarang engkau bersikap kurang ajar, bahkan berani memaki maki aku. Apa artinya ini?"
"Artinya, orang tua pengecut! Aku datang untuk membunuhmu!"
Im yang Seng cu memandang terbelalak, kemudian tertawa bergelak, merasa betapa lucunya peristiwa ini.
Baru saja dia menemui Suma Han dengan niat untuk membunuhnya dan kini pemuda yang dianggap keponakannya sendiri, yang dijodohkan dengan muridnya, mendiang Lu Soan Li, kini datang datang berniat membunuhnya!
"Tertawalah selagi engkau masih dapat tertawa, Im yang Seng cu,"
Tan siucai mengejek.
"Orang muda, aku tidak takut mati. Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau tiba-tiba bersikap seperti ini?"
"Dengarlah agar engkau tidak mati penasaran. Engkau seorang pengecut besar karena engkau tidak dapat membunuh Pendekar Siluman. Akulah yang kelak akan membunuhnya sayang aku datang terlambat, kalau tidak tentu dia sudah kubunuh sekarang. Engkau telah menyia-nyiakan kewajibanmu menjaga tunanganku, membiarkan tunanganku melakukan penyelewengan dari ikatan jodoh dengan-ku. Membiarkan tunanganku yang tercinta itu mengorbankan diri untuk pemuda lain, membiarkannya mencinta pemuda lain. Kemudian, setelah bertemu dengan Pendekar Siluman, engkau tidak berhasil membunuhnya. Engkau pengecut besar dan harus mampus!"
Im yang Seng cu menjadi marah sekali.
"Kau sudah gila! Betapa manusia dapat menjaga perasaan hati manusia lain? Kalau muridku, Soan Li yang malang, mencinta Suma Han, itu adalah haknya. Dan sekarang aku tahu bahwa memang seribu kali lebih baik mencinta Suma Han daripada mencinta seorang gila macam engkau. Aku sudah mendengar bahwa kau mendendam atas kematian Soan Li, dan sudah kuperingatkan Suma Han tentang ini. Akan tetapi kalau alasanmu seperti itu, engkau gila dan bagaimana kau akan dapat membunuh aku? Ha ha ha, betapa tolol dan sombongnya engkau Tan Ki!"
"Engkau tadi hendak menyerahkan nyawa di tangan burung garuda bahkan engkau sengaja ingin mati di tangan Suma Han. Apakah engkau tidak ingin mati di tanganku?"
"Ha ha ha! Gila! Gila engkau! Tentu saja aku tidak sudi mati di tanganmu!"
Kakek itu tertawa-tawa, lupa betapa anehnya sikap ini.
Tadi ia ingin mati, sekarang ada orang akan membunuhnya, dia marah marah!
"Mau atau tidak, tetap saja engkau akan mati di tanganku, Im yang Seng-cu!"
Sambil berkata demikian, Tan-siucai sudah menerjang maju dengan tangan kirinya.
Tangan ini menampar, kelihatan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan tamparan itu membuat Im-yang Seng-cu terkejut dan cepat mengelak.
Dia terheran bukan main karena tamparan itu adalah tamparan yang mengandung tenaga dalam amat kuat!
Akan tetapi Tan siucai tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berheran karena kini sudah mendesak lagi dengen dua pukulan beruntun, tangan kiri mencengkeram ubun ubun disusul tangan kanan yang menyodok ke ulu hati.
Serangan yang dahsyat, serangan maut yang berbau ilmu silat tinggi dan lihai sekali.
"Aihhh!"
Im yang Seng cu meloncat ke belakang, timbul rasa penasaran karena dia tidak mengenal jurus yang dilakukan bekas pelajar yang dahulu lemah itu.
Maka ia pun balas menerjang dengan pukulan pukulan dahsyat yang dapat dielakkan secara mudah oleh Tan siucai.
Pertandingan seru terjadi dan biarpun agaknya Tan siucai telah digembleng orang sakti dengan ilmu silat aneh dan telah memiliki tenaga sin-kang yang kuat, namun menghadapi seorang kakek seperti Im yang Seng cu, pemuda itu kewalahan juga.
"Ha ha ha, bagaimana engkau akan dapat membunuhku, pemuda gila?"
Im-yang Seng cu mengejek.
Biarpun diam-diam ia terkejut den terheran heran karena mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda ini benar benar tinggi dan aneh, namun dia merasa yakin bahwa untuk dapat membunuhnya, tidaklah begitu mudah.
"Begini, Im yang Seng cu!"
Tan siucai menjawab dan tiba-tiba tangan kirinya dibuka dan didorongkan ke arah muka kakek itu sambil mulutnya membentak.
"Diam!"
Hebat bukan main bentakan dan gerakan tangan itu karena secara aneh sekali, tiba-tiba Im yang Seng cu tak dapat menggerakkan kaki tangannya seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi batu.
Dan pada saat itu, tangan kanan Tan-siucai telah bergerak ke belakang, tampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitam di tangannya telah meluncur dan ambles ke dalam perut Im yang Seng cu, tepat di bawah ulu hati.
Ketika pemuda itu mencabut pedangnya, darah menyembur keluar dari perut dan karena ketika mencabut pedangnya digerakkan ke bawah, perut itu robek den isi perutnya keluar.
Barulah Im yang Seng cu dapat bergerak, kedua tangannya otomatis bergerak ke depan, yang kiri mendekap luka, yang kanan memukul ke depan.
Angin pukulan kuat membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.
Baju depannya merah terkena percikan darah yang menyembur dari perut kakek itu.
Im-yang Seng cu terhuyung huyung, matanya terbelalak, mulutnya berkata.
"Celaka.... ingin mati di tangan pendekar.... kini mampus di tangan setan.... benar benar tubuh sial....!"
Ia berusaha menubruk maju dengan loncatan cepat ke arah Tan shicai, untuk memberi serangan terakhir.
Akan tetapi Tan siucai mengelak den tubuh kakek itu terjerembab ke atas tanah tanpa nyawa lagi.
"Heh heh heh!"
Dari balik sebatang pohon muncul dengan cara seperti setan seorang yang berkulit hitam.
Orang ini bertubuh tinggi sekali, tinggi dan kurus.
Kulitnya hitam mengkilap, kedua kakinya telanjang.
Usianya sukar ditaksir, akan tetapi tentu tidak kurang dari enam puluh tahun.
Dahinya lebar, hidungnya panjang melengkung, sepasang matanya lebar dan bersinar sinar aneh, mulutnya hampir tak tampak tertutup jenggot dan kumis yang putih.
Kedua telinganya memakai anting anting perak berbentuk cincin.
Rambutnya yang sudah lebih banyak putihnya itu tertutup sorban berwarna kuning.
Tubuhnya hanya dibalut kain kuning pula yang menutup tubuh seperti cawat dan setengah dada.
"Cukup baik gerak tangan kirimu dan bentakanmu cukup berhasil. Sayang gerakan pedangmu tidak tepat. Lihat, pakaianmu terkena darah. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurumu, heh-heh!"
Kata orang itu yang dapat diduga tentu datang dari barat karena bentuk muka, warna kulit, dan gaya bicaranya.
"Mohon petunjuk Guru,"
Kata Tan-siucai, alisnya berkerut tanda tidak senang hati dicela gurunya.
"Membunuh lawan terkena percikan darahnya, amatlah tidak baik dan engkau tadi membuka kesempatan lawan untuk menyerang sehingga kau terhuyung. Untung kepandaian orang ini tidak amat hebat. Kalau lebih hebat, apakah kau tidak akan celaka karena pukulan terakhir orang yang sudah menghadapi maut? Serahkan pedangmu, dan lihat baik baik!"
Tan-siucai menyerahkan pedangnya.
Pedang hitam itu oleh kakek ini lalu diselipkan di bawah kain yang membelit pundaknya.
Kemudian ia mengampiri mayat Im yang Seng cu, dipandangnya sejenak kemudian tiba-tiba tangan kirinya dengan telapak menghadap ke arah mayat digerakkan, mulutnya mengeluarkan pekik aneh dan....
mayat itu tiba-tiba berdiri di depannya.
Darah masih mengucur dari perut mayat Im yang Seng cu yang terbuka dan ususnya terurai keluar.
"Diam....!"
Kakek itu membentak seperti yang dilakukan oleh muridnya tadi, tampak sinar hitam berkelebat menjadi gulungan sinar yang mengitari tubuh mayat itu.
Kakek itu sudah meloncat ke belakang mayat dan....
tubuh Im yang Seng cu yang sudah tak bernyawa lagi itu kini roboh menjadi enam potong!
Kedua lengan dan kedua kakinya terpisah, dan lehernya juga telah terbabat putus!
"Nah, dengan begini, engkau tidak memberi kesempatan lawan untuk mengirim serangan.
Mula mula kedua lengan lalu kaki dan leher yang harus kau babat putus, bukan menusuk perut seperti tadi.
Dan jangan lupa untuk bergerak meloncat ke belakang, berlawanan dengan menyemburnya darah dari tubuhnya!
Ah, sampai lupa.
Hayo cepat, kita tampung racun kuning!"
Mendengar ini, Tan siucai lalu menggunakan kakinya, mengungkit bagian-bagian tubuh mayat itu sehingga terlempar ke atas cabang pohon, ditumpuk di situ.
Kemudian kakek berkulit hitam itu menuangkan cairan obat dari sebuah botol ke atas tumpukan potongan tubuh mayat yang segera mencair.
Mula mula seperti terbakar mendidih, kemudian dari tumpukan daging dan tulang itu menetes netes cairan kuning yang segera ditampung oleh Tan siucai ke dalam sebuah botol melengkung berwarna merah.
Hebat sekali obat itu.
Dalam waktu bebeberapa menit saja semua daging, tulang dan pakaian bekas tubuh Im yang Seng cu mencair dan hanya menjadi seperempat botol cairan kuning yang kental!
Setelah tubuh itu habis sama sekali dan menutup botol dengan sumbat dan menyimpannya, guru dan murid yang aneh itu pergi dari situ.
Tan siucai atau Tan Ki ini adalah bekas tunangan Hoa san Kiam li (Pendekar Pedang Wanita dari Hoa san) Lu Soan Li murid Im yang Seng cu.
Dia tinggal di Nan-king.
Setelah dia mendengar akan kematian tunangannya yang dicinta dan dibanggakan, pemuda yang sudah tidak berayah ibu ini lalu pergi merantau.
Dendam dan sakit hati membuat dia seperti gila dan akhirnya secara kebetulan dia berjumpa dengan kakek dari Nepal yang bernama Maharya itu yang kemudian mengambilnya sebagai murid.
Kakek Maharya, seorang sakti dari Nepal, tidak hanya tertarik kepada Tan siucai karena melihat bakat pada diri pemuda itu, juga tertarik mendengar kisah pemuda itu yang menaruh dendam kepada Pendekar Siluman.
Di samping ini, sebagai seorang asing yang baru datang ke Tiong goan, dia membutuhkan seorang pembantu dan pengajar bahasa.
Sebagai seorang sastrawan, tentu saja pemuda itu merupakan seorang guru bahasa yang baik.
Demikianlah selama bertahun tahun Tan Ki atau Tan siucai merantau bersama gurunya, menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang aneh, juga menerima pelajaran ilmu sihir yang merupakan keistimewaan gurunya.
Tujuan mereka hanya dua.
Pertama memenuhi kebutuhan Maharya, yaitu mencari Sepasang Pedang Iblis, dan kedua memenuhi kebutuhan Tan siucai, mencari Im yang Seng cu dan Pendekar Siluman untuk membalas dendam kematian tunangannya!
Secara tak tersangka-sangka mereka tiba di hutan itu dan hampir saja sekaligus Tan siucai dapat bertemu dengan dua orang yang dimusuhinya, akan tetapi dia terlambat karena Pendekar Siluman telah meninggalkan tempat itu.
Betapapun juga, dia berhasil membunuh seorang musuhnya, yaitu Im yang Seng cu yang dahulunya adalah sahabat ayahnya, bahkan orang yang telah mengikatkan jodoh antara dia dan Lu Soan Li.
Akan tetapi, karena jalan pikirannya yang telah gila, Im yang Seng cu dianggap biang keladi kematian tunangannya sehingga berhasil dia bunuh secara mengerikan.
Siapa yang mengatakan bahwa keselamatan diri seseorang, mati hidupnya tergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri, menandakan bahwa dia belum sadar akan kekuasaan tertinggi yang tak dapat ditambah maupun dikurangi, kekuasaan tertinggi yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang bintang sampai debu-debu terkecil dalam cahaya matahari, kekuasaan yang menumbuhkan pohon pohon raksasa sampai setiap jenggot di dagu pada kekuasaan tertinggi yang menguasai atas mati dan hidup.
Kalau yang Maha Kuasa menghendaki seseorang mati, kekuasaan apa pun di dunia tidak akan dapat menawar nawar.
Sebaliknya kalau dikehendaki-Nya seseorang hidup, tidak ada pula kekuasaan di dunia yang akan dapat menghentikan hidup orang itu.
Hal-hal yang kelihatan tidak mungkin bagi akal manusia, sama sekali bukan merupakan hal tidak mungkin bagi kekuasaan itu.
Kekuasaan tertinggi dan ajaib ini memperlihatkan kekuasaannya pula ketika Bun Beng terlempar ke dalam pusaran air.
Sebelum dia, tokoh Pulau Neraka yang ahli dalam air dan bertenaga besar juga terjatuh ke dalam pusaran air itu.
Dengan segala kemahiran dan kekuatannya, anggauta Pulau Neraka itu berusaha melawan pusaran air yang menghayutkan dan menyeretnya ke dalam pusaran yang amat kuat, namun usahanya menyelamatkan diri itu sia sia belaka dan tubuhnya hancur dihempaskan pada batu batu karang.
Akan tetapi sebaliknya dengan Bun Beng.
Ketika anak ini jatuh ke tengah pusaran air dan merasa ada kekuatan dahsyat dari pusaran itu menyedot tubuhnya ke bawah, sedikit pun dia tidak melawan akan tetapi bahkan inilah yang membuat dia selamat!
Air pusing yang mempunyai daya sedot amat dahsyat itu seketika "menelan"
Tubuh Bun Beng, disedot ke bawah lalu dihayutkan dengan kecepatan yang luar biasa di bawah permukaan air.
Biarpun Bun Beng yang cerdik sebelum terbanting ke air telah menyedot napas sebanyaknya, namun tak lama kemudian ia pingsan selagi tubuhnya masih dihanyutkan dengan cepat sekali melalui terowongan di dalam gunung batu karang.
Ketika anak itu siuman kembali, ia telah menggeletak di antara batu batu besar yang halus permukaannya, Sebagian tubuhnya yang bawah terbenam air di antara batu dan untung bahwa dia terhempas ke tempat itu dengan muka di atas air.
Ia membuka mata, tubuhnya terasa nyeri semua dan dinginnya luar biasa sehingga ia menggigil.
Sudah matikah aku, pikirnya ngeri.
Ia bangkit duduk, memandang ke sekeliling.
Tidak, dia belum mati dan berada di lambung sebuah gunung yang tertutup kabut tebal.
Dia duduk dan memandang terheran heran.
Bagaimana ia dapat sampai di lambung gunung?
Kekuasaan alam memang penuh mujijat.
Kiranya ada terowongan yang meng-hubungkan tempat itu dengan pusaran air di mana ia terjatuh, sebuah terowongan di dalam tubuh gunung.
Pusaran air itu tercipta oleh permainan angin yang memasuki terowongan, menimbulkan daya berpusing yang amat kuat sehingga menyedot air dan menciptakan air berpusing yang amat menakutkan.
"Nguk nguk nguk! Huk! Huk! Hukkk!"
Bun Beng terkejut dan menoleh ke kanan-kiri.
Di tempat seperti ini, bagaimana bisa terdengar suara anjing?
Biasanya anjing hanya berkeliaran di tempat datar, bukan di pegunungan di batu batu karang seperti ini, dekat air sungai.
Akan tetapi hatinya juga girang karena biasanya anjing anjing itu dipelihara orang yang dapat ia mintai tolong.
"Huk huk huk! Ggrrrrr.... nguk nguk!"
Bun Beng menoleh ke kanan dan seketika ia terloncat bangun.
Dari atas batu besar turun beberapa ekor binatang aneh yang kepalanya seperti kera!
Kiranya yang menyalak nyalak dan menggereng-gereng itu adalah binatang yang aneh ini, setengah kera setengah anjing (kera baboon).
Ketika melihat binatang aneh itu merayap turun dengan gerak gerik seperti manusia, moncong anjing mereka mengeluarkan suara anjing dan kera campur aduk, melihat pinggul mereka berlenggang lenggok, pinggul yang tidak berekor akan tetapi ada dagingnya menonjol merah, mau tidak mau Bun Beng tertawa geli.
Lucu memang tampaknya binatang binatang itu.
Akan tetapi kegelian hatinya segera berubah menjadi kemarahan ketika binatang binatang itu mengelilinginya kemudian meraba raba dan merenggutkan pakaiannya yang basah sambil mengeluarkan bunyi "ngak-ngik-nguk"
Tidak karuan.
Bun Beng melepaskan tangan seekor kera yang menjambak jambak rambutnya.
Kera itu mengeluarkan teriakan marah dan Bun Beng dikeroyok!
Lengan lengan yang panjang berbulu lebat itu mengeroyoknya, merenggut pakaian dan menjambak rambut.
Bun Beng jatuh terduduk, seekor kera hendak menggigitnya dari depan.
Ia mengayun tangan menampar.
"Plakk! Nguuuuk nguk!"
Kera itu terpelanting dan memekik marah sekali, sedangkan kera kera lain sudah menubruk Bun Beng dari belakang.
Terdengar bunyi kain robek dan setelah meronta-ronta dan membagi bagi pukulan ke kanan-kiri, akhirnya Bun Beng berdiri dalam keadaan telanjang bulat!
Pakaiannya robek robek tidak karuan diperebutkan oleh sekumpulan kera itu.
Marahlah Bun Beng dan ia lalu mengamuk, kaki tangannya bergerak dan beberapa ekor kera terpelanting terkena tendangan dan pukulannya.
Akan tetapi tubuh binatang-binatang ini kuat sekali dan mereka kini juga marah, meloncat bangun dan mengeroyok Bun Beng.
Tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dan kera kera baboon itu seketika menghentikan pengeroyokan dan mundur.
Bun Beng menengok dan seekor kera yang lebih besar daripada sekumpulan kera yang mengeroyok dan menelanjanginya.
Kera itu dengan kedua lengan panjangnya, melangkah maju menghampirinya, moncongnya mengeluarkan suara menggereng den mendesis, matanya yang kecil memandangnya penuh amarah.
Gerak-geriknya seperti orang menantang.
Kera kera lain melonjak lonjak dan bertepuk tangan, seperti sekumpulan anak-anak yang menjagoi kera besar ini.
Tahulah Bun Beng bahwa dia ditantang oleh kera besar, maka dia pun lalu memasang kuda kuda dan membentak.
"Kera anjing keparat! Majulah! Siapa takut padamu?"
Kera besar itu agaknya juga tahu bahwa Bun Beng marah kepadanya, karena ia segera meringis dan mengeluarkan bunyi marah.
"Ngukk....! Kerr....!"
"Monyet buruk! Majulah! Siapa takut padamu?"
Bun Beng menantang dan dia telah melompat ke kiri, mencari tempat yang lebih rata karena dia maklum bahwa binatang kera amat lincah dan kalau harus bertanding di tempat berbatu sambil berloncatan, mana dia mampu menang?
Kera itu menggereng lagi dan meloncat, sekaligus ia menyerang Bun Beng dengan ganas, menubruk sambil mencengkeram dan moncongnya dibuka lebar siap menggigit.
Bun Beng sudah bersiap, cepat ia mengelak dengan meloncat ke kanan, sambil tidak lupa mengayun kaki kirinya menendang ke arah perut kera.
"Bukkk!"
Tendangan Bun Beng adalah tendangan seorang anak laki-laki yang sejak kecil terlatih, maka tidak dapat disebut lemah, namun ketika kakinya mengenai perut binatang itu, kakinya yang menendang terpental seperti menendang bola karet!
"Monyet lutung!
Kau kuat sekali!"
Ia berseru marah dan kera itu seolah-olah tertawa, terkekeh sedangkan kera-kera lain tetap bertepuk tangan dan berjingkrak tidak teratur.
Kera besar itu kembali sudah menubruk, bahkan kedua lengannya yang panjang tidak hanya membuat gerakan mencengkeram ngawur seperti lajimnya dila-kukan oleh binatang kera yang tidak tahu akan seni bersilat, melainkan kedua tangan berjari panjang penuh bulu itu melakukan pukulan dengan telapak tangan terbuka.
"Wuuut! Wuuuutt!"
Kedua tangan itu menyambar berturut-turut dan hanya dengan kegesitannya mengelak saja Bun Beng dapat menghindarkan diri dari tamparan yang amat kuat itu.
Dia mulai marah dan agaknya Bun Beng tidak akan patut mengaku sebagai murid mendiang Siauw Lam Hwesio kalau dia harus mengakui keunggulan seekor binatang kera.
Akan percuma sajalah gemblengan yang dilakukan Kakek Siauw-lim-pai itu kepadanya beberapa tahun.
Di samping latihan ilmu silat dan menghimpun tenaga serta rahasia penggunaan tenaga, juga Bun Beng menerima petunjuk-petunjuk yang mempertajam otaknya sehingga dalam menghadapi bahaya dan lawan tangguh dia dapat mempergunakan siasat.
Dia mengerti bahwa dalam hal tenaga kasar dia tidak akan dapat mengimbangi kera yang lebih kuat daripada seorang manusia dewasa itu.
Juga dari pengalamannya ketika menendang perut tadi dia maklum bahwa kera itu memiliki kulit yang tebal dan kuat serta otot-otot yang membuat tubuhnya kebal.
Dia tidak boleh sembarangan menyerang melainkan harus menggunakan siasat mencari bagian yang lemah.
Namun, kini dia terdesak terus.
Kera besar itu agaknya merasa penasaran.
Dia dapat mengalahkan seekor harimau dengan mudah, masa kini tidak mampu merobohkan seorang manusia kecil yang lemah ini dalam waktu singkat?
Akan percuma saja dia menjadi kera bangkotan, jagoan yang paling kuat dan paling ditakuti di antara rombongan kera baboon di situ!
Maka sambil mendengus-dengus marah dia memperhebat serangannya, setiap kali tubrukannya luput disambung dengan terkaman lain yang cepat dan kuat, sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk membalas.
Tak dapat dibantah bahwa memang Bun Beng terlatih ilmu silat namun dia sama sekali belum memiliki pengalaman bertempur tanpa aturan dan secara nekat itu.
Dia terdesak hebat dan hanya mampu mengelak ke sana-sini, menangkis sedapatnya dan sudah dua kali ia terkena tamparan yang membuat pipinya merah membengkak dan matanya berkunang kepalanya pening!
Melihat ini kera-kera yang lain mengeluarkan suara seperti sekumpulan bocah bersorak-sorak, dan kera jagoan itu menjadi makin buas.
"Blekkkk!"
Sebuah tamparan dengan lengan kanan berbulu yang amat keras dapat ditangkis oleh Bun Beng, akan tetapi karena dia kalah tenaga, tamparan itu masih menembus tangkisannya dan mengenai pundak kirinya.
Bun Beng mengaduh, tulang pundaknya seperti remuk rasanya, kiut-miut nyeri bukan main dan dia roboh terjengkang tanpa dapat ditahan pula.
"Gerrrr....!"
Kera besar menggereng dan menubruk tubuh lawan yang sudah telentang tidak berdaya itu.
Dalam keadaan penuh bahaya ini, keadaan Bun Beng sebagai manusia membuktikan ke-unggulannya.
Dia memiliki akal dan dalam detik-detik berbahaya itu ia menggunakan akalnya.
Ketika melihat kera besar menubruk, dia menggulingkan tubuhnya sampai tiga kali dan tidak lupa tangannya mencengkeram tanah dan berhasil menggenggam tanah.
Pada saat kera menubruk lagi, tangannya bergerak dan tanah yang digenggamnya itu meluncur, menyambut muka si Kera yang tentu saja tidak memiliki akal untuk menduga serangan ini.
Matanya tetap melotot penuh geram kemenangan sehingga kedua matanya merupakan sasaran tepat, kemasukan butiran-butiran pasir tanah.
"Auurrghh....!"
Kera itu memekik-mekik dan menggunakan kedua tangan menggosok matanya.
Tentu saja karena cara menggosoknya kaku, pasir tanah itu makin dalam masuk ke mata dan makin nyeri rasanya.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bun Beng.
Dia sudah meloncat bangun dan menghujan-kan pukulan tendangan ke tubuh si Kera.
Namun dia tidak memukul sembarangan, melainkan memilih tempat yang lemah, memukul ke arah hidung, mata, dan telinga sedangkan tendangannya mengarah sambungan lutut dan pusar.
Tentu saja kera besar yang masih setengah mati menggosoki matanya, menjadi sasaran serangan dan tubuhnya terguling-guling.
Ia mengeluarkan suara seperti menangis dan akhirnya ia berlutut di atas tanah, menutupi kepalanya dengan kedua matanya bercucuran air mata!
Dari gerak-gerik ini Bun Beng dapat menduga bahwa lawannya sudah menyerah kalah, maka ia memandang dengan muka berseri, berdiri tegak dan bertolak pinggang, merasa gagah menjadi jagoan sampai dia lupa bahwa tubuhnya sama sekali tidak tertutup pakaian, telanjang bulat karena semua pakaiannya sudah habis terkoyak tangan-tangan jahil rombongan kera tadi!
Kera-kera yang tadinya menonton pertandingan, kini berlarian datang dan Bun Beng sudah siap untuk "mengamuk"
Kalau dia dikeroyok.
Akan tetapi, kera-kera itu kini tidak menyerangnya, hanya memegang-megang lengannya, kakinya, rambutnya dan bahkan ada yang mencium-ciumnya dari kaki sampai kepala tanpa melewatkan sedikitpun bagian tubuhnya sehingga dia merasa girang akan tetapi geli dan jijik!
Agaknya air mata yang banyak keluar dari sepasang mata kera besar telah mencuci bersih mata itu, kini kera besar dapat membuka matanya yang berubah merah dan dia pun merangkul dan menciumi Bun Beng!
Mengertilah anak ini bahwa semenjak saat ia berhasil "mengalahkan"
Jagoan kera baboon, dia telah diaku sebagai "seekor"
Di antara mereka!
Dia telah diterima menjadi anggauta kera baboon.
Semenjak saat itu, mulailah penghidupan baru yang sama sekali asing bagi Bun Beng!
Dia hidup di antara sekumpulan kera baboon, bertelanjang, bulat, mencari makan, bermain-main dan berayun-ayun di dahan-dahan pohon dan di batu-batu gunung persis seekor kera.
Hanya bedanya, dan kadang-kadang timbul penyesalan di hatinya akan perbedaan ini bahwa dia tidak berbulu seperti "kawan-kawannya"
Sehingga sering kali dia menderita kedinginan.
Namun, lambat laun ia dapat membiasakan diri dan tubuhnya menjadi kebal akan hawa dingin.
Sebagai seorang mahluk yang berakal, dalam mencari makanan dan lain-lain tentu saja dia paling menang, sehingga tidak lama kemudian dia dicontoh oleh kera kera itu dan seolah-olah menjadi pemimpin mereka.
Apalagi semenjak dia mengalahkan jagoan kera, dia dianggap paling kuat dan teman-temannya tidak ada yang berani mencoba-coba dengan dia!Selama beberapa bulan hidup di antara sekumpulan kera, Bun Beng mendapatkan sebuah kenyataan yang amat berkesan di hatinya.
Semenjak dia dijadikan rebutan para tokoh kang-ouw sehingga terdapat pertentangan dan terjadi pembunuhan, kemudian disusul pengalaman-pengalaman di mana dia menyaksikan permusuhan antar manusia yang mengakibatkan pembunuhan-pembunuhan mengerikan, Ia mendapat kenyataan betapa manusia merupakan sekumpulan makhluk yang amat kejam dan sama sekali tidak mempuyai rasa setia kawan terhadap se-sama manusia.
Kini, hidup di antara sekumpulan kera yang dianggap sebagai binatang bodoh dan tidak berakal, dia menemukan perbedaan yang amat menyolok.
Sekumpulan kera ini hidup amat rukun dan penuh setia kawan.
Memang benar bahwa di antara mereka kadang-kadang terjadi perkelahian, namun perkelahian ini hanya terbatas dalam mengadu kekuatan sampai seekor di antara mereka mengaku kalah.
Yang menang tidak akan menindas, yang kalah tidak akan menaruh dendam dan tidak ada rasa mengganjal di antara mereka!
Akan tetapi seekor saja terganggu, sekelompok akan maju bertanding dan membela!
Seekor saja celaka, yang lain akan turun tangan tanpa pamrih.
Tidak ada di antara mereka yang memonopoli sesuatu.
Buah-buah yang bergantungan, air yang mengalir, tidak ada yang menuntut sebagai hak pribadinya.
Memang, mereka ini tidak pandai berbasa-basi, tidak pandai bermanis muka, tidak pandai bersopan-santun dan tidak pandai melakukan segala kepalsuan-kepalsuan lain yang sudah menjadi "pakaian"
Manusia.
Betapa liar mereka itu, betapa bebas dan bahagia karena mereka tidak mengejar kesenangan, tidak mengejar kebahagiaan seperti manusia sehingga kesenangan dan kebahagiaan dengan sendirinya datang kepada mereka!
Mereka tidak mengenal kecewa karena tidak mengharap, tidak bertemu duka, karena tidak mencari suka.
Betapa wajar dan betapa dekat dengan alam, betapa dekat dengan kekuasaan alam!
Di samping menemukan hal-hal yang mendatangkan kesan di hatinya yang timbul dari pengetahuannya ketika dahulu membaca kitab-kitab filsafat, juga Bun Beng menemukan dan mempelajari kepandaian-kepandaian aneh yang mereka miliki sebagai anugerah langsung dari alam (Lanjut ke
Jilid 08) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 tanpa mereka pelajari, yaitu kecekatan, ketrampilan yang belum tentu dapat dimiliki manusia yang sengaja mempelajarinya bertahun-tahun!
Dengan menyatukan diri di tengah-tengah mereka, dalam beberapa bulan saja Bun Beng dapat berloncatan di atas karang di tebing-tebing yang curam, memanjat pohon-pohon besar dan loncat berayun dari dahan ke dahan.
Juga ia dapat mengenal pengetahuan anugerah alam tentang daun-daun dan akar-akar obat yang dipergunakan kera-kera itu untuk mengobati luka-luka, keracunan dan lain-lain.
Selama enam bulan Bun Beng hidup di tengah-tengah kera itu, mengalami hal-hal yang amat luar biasa.
Setelah setengah tahun hidup bertelanjang bulat seperti itu, dia menjadi terbiasa dan kadang-kadang kalau ia teringat akan peradaban manusia, ia menjadi geli sendiri.
Betapa dia akan dianggap kurang susila, kurang ajar, tidak tahu malu dan seba-gainya oleh manusia-manusia beradab!
Dari manakah timbulnya rasa malu kalau telanjang dan terlihat orang lain?
Mengapa pula harus malu?
Perasaan malu ini adalah buatan manusia sendiri!
Buktinya, tidak ada seorang pun anak-anak yang merasa malu dilihat bertelanjang.
Setelah kepada anak itu ditanamkan pengertian bahwa bertelanjang dilihat orang adalah memalukan, barulah timbul perasaan malu ini!
Andaikata tidak ada penanaman pengertian ini, kiranya tidak akan timbul pula perasaan malu.
Musim dingin tiba, akan tetapi Bun Beng yang bertelanjang bulat itu tidak menderita kedinginan.
Kulit tubuhnya sudah terlatih sedikit demi sedikit sehingga kebal.
Akan tetapi, perasaan dan kesadarannya sebagai manusia tidak pernah hilang dan hanya karena terpaksa tidak ada pakaian saja maka dia berte-lanjang bulat di antara sekumpulan kera baboon.
Ketika pada suatu hari dia bersama sekawanan kera itu menyerang dan membunuh beberapa ekor harimau, Bun Beng menguliti harimau yang dibunuhnya dan kulit harimau itu ia pakai untuk menutupi tubuhnya bagian bawah.
Bukan terdorong oleh rasa malu atau penahan dingin, melainkan dengan penutup bawah itu dia terhindar dari gangguan semut dan nyamuk yang tidak dapat mengganggu kera-kera itu karena kulit mereka tertutup bulu.
Dan setelah ia memakai cawat kulit harimau, kawanan kera itu kelihatan lebih segan dan takut kepadanya!
Kulit-kulit harimau yang lain ia simpan untuk cadangan cawat atau persediaan kalau sewaktu-waktu ia me-merlukannya.
Pada suatu hari, para kera itu mengeluarkan bunyi cecowetan seperti biasa kalau mengajak pergi ke suatu tempat.
Sudah banyak macam suara kera itu yang merupakan isyarat-isyarat dan dapat dimengerti oleh Bun Beng, maka sekali ini, menyaksikan sikap mereka seolah-olah mereka hendak melakukan sesuatu yang besar dan aneh, Bun Beng segera mengikuti mereka.
Kera-kera itu memasuki guha di antara batu karang dan memasuki terowongan di dalam gunung yang cukup lebar.
Mula-mula terowongan itu gelap, akan tetapi makin jauh makin terang dan anehnya, mulailah Bun Beng merasa betapa ada hawa panas keluar dari dalam.
Hatinya mulai tegang dan ia mengikuti terus.
Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan yang merupakan ruangan yang luas di dalam gunung.
Sinar matahari masuk melalui celah-celah batu gunung yang merupakan dinding tinggi sekali.
Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sumber air panas!
Air keluar dari sumber di dalam gunung ini, mengucur keluar dari celah-celah dua batu besar, mengeluarkan uap saking panasnya.
Akan tetapi, Bun Beng tidak memperhatikan itu semua karena ia terbelalak memandang ke sebelah kanan, tak jauh dari sumber air panas itu dan merasa seolah-olah ia sedang dalam mimpi.
Apakah yang ia lihat?
Pemandangan yang amat luar biasa!
Di situ, menempel pada dinding batu, terdapat sebuah kursi batu yang jelas bukan buatan alam, melainkan berbekas tangan manusia.
Kursi itu besar sekali, terbuat daripada batu persegi yang ditumpuk-tumpuk, dan di atas kursi itu duduk seekor kera tua besar sekali yang memakai pakaian.
Kalau melihat pemandangan ini di kota, tentu Bun Beng akan tertawa geli dan menganggap kera itu sebagai peliharaan pemain komidi binatang.
Seekor kera tua duduk di kursi memakai jubah yang sepatutnya dipakai seorang pendeta, jubah berwarna kuning yang sudah koyak-koyak, terutama di ujung kedua lengannya.
Dan kera tua berbaju itu memandangnya dengan muka berseri, tanda senang hati, sikap yang sudah dikenal Bun Beng.
Kera tua itu agaknya senang melihatnya, dan moncongnya yang lebar itu berkemak-kemik, telunjuknya menuding-nuding!
Kawanan kera melewati kursi itu sambil membungkuk-bungkuk, mata melirik-lirik penuh sikap takut terhadap kera tua yang berpakaian.
Akan tetapi mereka tidak mempedulikan "kakek"
Kera itu dan sambil cecowetan riuh rendah dan penuh kegembiraan mereka masuk ke dalam air panas yang mengalir seperti sebatang sungai kecil.
Bun Beng masih tertarik dan terpesona oleh karena kera tua yang aneh itu, akan tetapi ketika berapa ekor kera mulai menarik-nariknya diajak mandi, timbul pula kegembiraannya.
Cepat ditanggalkannya cawat kulit harimau dan ia pun masuk ke dalam anak sungai yang airnya panas.
Betapa nikmatnya mandi dan merendam tubuh di air yang panas itu!
Merupakan penawar yang nyaman setelah diserang musim dingin di luar.
Dan air panas itu benar-benar mendatangkan rasa nyaman sekali di tubuhnya, seolah-olah mengandung sesuatu yang memiliki daya mujijat menguatkan tubuh.
Mengertilah ia kini bahwa sumber air panas itu merupakan semacam "air obat"
Yang dimanfaatkan oleh kera-kera itu agaknya setahun sekali, yaitu di waktu musim dingin tiba.
Yang amat mengherankan hatinya dan tidak dimengerti adalah munculnya kera tua berpakaian pendeta itu!
Setelah puas mandi air panas, Bun Beng mengenakan cawat kulit harimaunya lagi dan mulailah ia mendekati kera tua untuk menyelidiki keadaannya yang aneh.
Ketika ia mendapat kenyataan bahwa kera itu ternyata sudah amat tua dan lumpuh, ia merasa kasihan dan terharu.
Wajah kera itu begitu penuh pengertian dan sekiranya kera tua itu dapat bicara, tentu dia akan dapat mendengar dongeng yang menarik dari mulut kera itu.
Dan kembali ia menyaksikan kesetiakawanan yang hebat.
Agaknya kera tua iku menjadi semacam "juru kunci"
Atau penunggu sumber air panas dan selamanya tinggal di situ.
Adapun untuk keperluan setiap harinya, dia tidak perlu bingung karena kera-kera baboon setiap beberapa hari sekali ternyata mengirim buah-buah dan makanan untuk si Tua ini.
Melihat betapa kera tua itu pandai berpakaian dan sikapnya jauh lebih "jinak"
Dibandingkan dengan kera-kera lain, Bun Beng percaya bahwa tentu kera tua ini tidak asing dengan manusia.
Maka dia menjadi lebih berani dan ketika ia melihat sebuah ruangan dari batu karang di belakang kursi besar itu, tanpa ragu-ragu lagi dia memasuki ruangan itu.
Hal pertama yang menarik hatinya ukir-ukiran huruf dinding batu.
Goresannya dalam dan biarpun sudah banyak lumutnya, masih mudah dibaca karena ukiran itu selain dalam juga besar.
"Di musim dingin, perut gunung mengeluarkan air panas. Di musim panas, perut gunung mengeluarkan air dingin. Dingin menciptakan panas, Panas menimbulkan dingin. Keajaiban apa lagi yang dikehendaki manusia untuk membuktikan kekuasaan alam?"
Bun Beng belum dapat menangkap keindahan kata-kata itu namun ia dapat mengagumi coretan yang indah dan kuat.
Tidak salah lagi, tentu di sini pernah tinggal seorang pertapa yang pandai dan mungkin sekali kera tua itu adalah binatang peliharaannya!
Ia memeriksa lagi dan di dalam sebuah peti batu ia menemukan beberapa stel pakaian kasar.
Di atas meja batu tampak sepasang pedang dan sebuah kitab yang tua sekali.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Teringat ia akan pertentangan di muara Sungai Huang-ho.
Bukankah di antara pusaka yang dicari dan diperebutkan itu disebut-sebut pula "Sepasang Pedang Iblis"?
Dan kitab itu, mungkin sebuah di antara kitab-kitab pusaka yang dicari oleh tokoh-tokoh kang-ouw?
Ia mendekati meja dan memandang penuh perhatian dengan hati tegang.
Ia merasa seperti ada yang memandangnya dan ketika ia menengok, benar saja kera tua itu sedang menoleh dan memandangnya penuh perhatian, sungguhpun pada wajah yang tua itu tidak tampak kemarahan.
Maka ia makin berani dan tak dapat menahan keinginan tahunya.
Dirabanya gagang kedua pedang yang bersarung indah itu, kemudian diangkatnya perlahan-lahan pedang yang lebih panjang, lalu mencabut gagang pedang dari sarungnya.
Baru tercabut sebagian saja, ia sudah cepat-cepat memasukkannya kembali dengan kaget karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang membuat bulu tengkuknya meremang.
Dengan hati-hati ia meletakkan pedang itu kembali, lalu mencoba untuk melihat pedang ke dua yang lebih pendek.
Kembali ia terkejut karena pedang ini pun mengeluarkan sinar kilat yang menyilaukan mata.
"Aihhhh....!"
Ia menahan napas memandang dua batang pedang yang berada di atas meja, hatinya ngeri dan kagum.
Tidak salah lagi, pedang itu tentulah pedang pusaka yang amat ampuh!
Inikah yang disebut Sepasang Pedang Iblis?
Ahh, kelihatannya indah sekali, sama sekali tidak pantas disebut pedang iblis karena yang memakai nama "Iblis"
Tentulah buruk menakutkan!
Kini ia memperhatikan kitab tua itu, mengambilnya dan membuka sampulnya.
Sam-po-cin-keng, demikianlah huruf-huruf indah yang tertulis di halaman pertama.
Ia membuka-buka lembarannya dan ternyata itu adalah sebuah kitab pelajaran ilmu silat yang amat luar biasa, semua ada tiga macam.
Anak ini tidak tahu bahwa di tangannya itu adalah sebuah kitab rahasia yang amat hebat.
Tiga ilmu silat pusaka yang tergabung dalam kitab itu bukanlah pelajaran ilmu silat biasa karena Sam-po-cin-keng adalah tiga macam ilmu dahsyat yang di jaman dahulu dicipta oleh ketua dan pendiri Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Tangan Delapan)!
Ilmu ini kemudian menurun kepada puterinya yang bernama Liu Lu Sian berjuluk Tok-siauw-kui (Iblis Cantik Beracun) yang bukan lain adalah ibu kandung pendekar sakti Suling Emas!
Ketika kawanan kera meninggalkan tempat sumber air panas itu, Bun Beng ikut pula keluar, akan tetapi tidak lupa ia membawa sepasang pedang, kitab dan satu stel pakaian!
Ketika ia lewat di depan kursi besar, ia menjura ke arah kera tua sambil berkata.
"Kakek kera, terima kasih atas pemberian benda-benda pusaka ini."
Kera itu menyeringai dan mengangguk!
Agaknya kera ini seperti mendapat firasat bahwa memang bocah itu berjodoh dengan benda-benda itu, ataukah memang dia telah menerima pesan dari orang yang meninggalkan benda-benda itu agar kalau ada orang datang dan mengambil benda-benda itu berarti telah berjodoh!
Tidak ada yang tahu karena kera itu hanya pandai meniru berpakaian, tidak pandai bicara!
Bun Beng mulai tekun membaca kitab kuno dan mempelajari isinya.
Namun amat sukar baginya untuk mengerti isinya karena memang ilmu silat yang diajarkan di dalam kitab itu adalah ilmu silat yang amat tinggi tingkatnya dan tak mungkin dapat dimengerti begitu saja oleh Bun Beng yang masih belum ada pengalaman.
Namun, karena pada dasarnya dia memang rajin dan berhati keras, biarpun tidak mengerti, dia tetap membaca bahkan menghafalkan huruf-huruf yang tertulis dalam kitab itu sampai hafal di luar kepala!
Memang demikianlah cara orang jaman dahulu mempelajari kitab.
Anak-anak semenjak mengenal huruf diharuskan membaca kitab-kitab pelajaran Nabi Khong-hu-cu yang amat sukar dimengerti anak kecil.
Namun, anak-anak itu dengan rajin menghafal sehingga ada yang sampai hafal di luar kepala akan semua ujar-ujar dalam kitab suci tanpa mengerti makna yang sesungguhnya!
Hal ini sama sekali bukan tidak ada faedahnya, karena di samping memperkaya perbendaharaan kata-kata dan huruf-huruf yang banyak jumlahnya, juga hafalan ayat-ayat itu kalau si anak sudah dewasa, perlahan-lahan akan dapat dimengertinya dan yang terpenting diujudkan dalam praktek hidupnya.
Dua bulan kemudian, ketika Bun Beng sedang menyambung-nyambung kulit harimau dan ujungnya ia ikat dengan tali pohon yang kuat, ia mendengar kawanan kera berteriak-teriak di tepi tebing yang curam.
Dia tidak tertarik dan melanjutkan pekerjaannya.
Bun Beng kini sudah memakai pakaian, yaitu pakaian yang dibawanya dari ruangan dekat sumber air panas.
Dia sedang mencoba untuk membuat sayap tiruan.
Sudah lama ia bercita-cita menuruni tebing yang amat curam itu, akan tetapi jangankan dia, bahkan kawanan kera itu saja tidak ada yang berani menuruni tebing yang demikian terjalnya.
Jalan satu-satunya hanyalah "terbang"
Turun dan timbullah akalnya ketika ia menyaksikan burung-burung dengan enaknya naik turun melayang-layang di dekat tebing yang curam.
Kalau saja dia dapat terbang melayang seperti burung-burung itu!
Keinginan inilah yang membuatnya pada saat itu bekerja keras.
Dia sudah mencoba dengan memegangi keempat ujung kulit harimau meloncat dari atas pohon dan kulit harimau yang terbuka itu menahan peluncuran tubuhnya sehingga ia dapat hinggap di atas tanah dengan lunak!
Kini ia hendak membuat "sayap"
Yang besar dengan menyambung-nyambung kulit harimau dan mengikat keempat ujungnya dengan tali yang kuat. Dengan "sayap"
Ini dia hendak memerikaa keadaan di bawah tebing karena sering ia melihat bayangan-bayangan bergerak di bawah jauh sekali, seperti bayangan manusia!
Juga beberapa kali dia melihat burung besar sekali terbang ke bawah tebing itu.
Mungkin sekali dia akan dapat kembali ke dunia ramai kalau bisa menuruni tebing itu.
Adapun tebing-tebing yang lain semua buntu, merupakan jurang-jurang yang tiada habisnya.
Setelah sayap tiruan itu jadi dan mendengar kawanan kera itu makin ribut, ia tertarik juga den cepat ia meng-hampiri.
Kera-kera itu melihat ke bawah sambil menunjuk-nunjuk.
Bun Beng juga memandang dan tampak olehnya jauh di bawah sana, banyak bayangan-bayangan atau titik-titik yang bergerak-gerak.
Terjadi perang di bawah sana!
Dia tidak dapat memandang tegas dan ia menduga-duga apakah mata kawanan kera itu dapat memandang lebih jelas?
Inilah saat untuk "terbang melayang"
Turun, pikirnya.
Bergegas ia lalu mengambil kitab kuno yang ia masukkan di balik bajunya, menyimpan pula sepasang pedang di balik baju di punggung, kemudian ia mengikatkan tali tiga ujung ke pinggang dan memegangi tali ke empat dengan tangan kiri.
Melihat Bun Beng mendekati tepi tebing membawa "sayap"
Aneh itu, kera-kera menjadi bingung.
Mereka itu lalu memekik-mekik katika Bun Beng tiba-tiba meloncat dari pinggir tebing yang amat curamnya.
Ada yang menutupi muka, ada yang menjerit-jerit akan tetapi ada pula yang menari-nari!
Bun Beng yang sudah nekat itu merasa betapa tubuhnya meluncur ke bawah lalu tertahan, pinggangnya sakit karena tali-tali yang mengikat pinggang menegang, akan tetapi dia girang sekali karena mendapat kenyataan betapa "sayap"
Di atasnya mengembang! "Selamat tinggal, kawan-kawanku yang baik!"
Ia melambai ke atas dan melihat betapa kera-kera baboon itu makin lama makin kecil sedangkan tubuhnya terus meluncur perlahan ke bawah.
Tiba-tiba "sayapnya"
Terguncang oleh angin. Celaka, pikirnya. Mudah-mudahan tidak ada angin kencang yang akan menghancurkan "sayapnya"
Dan menghempaskan ke batu karang yang menjadi dinding tebing curam itu.
Untung baginya, angin tidak kencang dan tak lama kemudian ia sudah dapat melihat orang-orang yang berada di bawah.
Dan dugaannya ketika berada di atas tebing tadi ternyata tidak meleset.
Dia melihat orang-orang sedang bertempur di bawah itu.
Dari atas ia melihat belasan orang laki-laki yang tampan dan gagah, semua berpedang sedang sibuk menahan amukan tiga orang yang rambutnya riap-riapan dan bersen-jata kebutan.
Ilmu silat tiga orang ini hebat bukan main sehingga biarpun orang-orang gagah berpedang itu lebih besar jumlahnya, namun mereka terdesak hebat, bahkan banyak yang sudah terluka.
Namun, dengan semangat gagah mereka itu terus mempertahankan diri.
Seorang di antara belasan orang gagah itu yang bertubuh tinggi, dan yang tampaknya paling lihai memutar pedang mena-han amukan seorang di antara tiga lawan bersenjata kebutan yang lihai itu.
Kebutan di tangan Si Brewok yang rambutnya panjang itu kecil saja, namun kakek yang usianya kurang lebih lima puluh tahun ini menggerakkan kebutan secara istimewa sehingga senjata kecil ini berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung yang mengancam tubuh orang gagah itu dari delapan penjuru!
Tiba-tiba orang tinggi itu berseru kaget ketika pedangnya kena digulung kebutan dan terampas.
Pedang terlepas dari tangannya dan agaknya dia tidak dapat menghindarkan diri lagi dari cengkeraman maut melalui kebutan.
Pada saat itu, dia melihat tubuh Bun Beng yang melayang-layang turun, maka terdengarlah seruannya dengan wajah girang.
"Thai-song.... tolonglah kami....!"
Seruan ini disusul oleh pekik-pekik kegirangan dari orang-orang gagah yang sedang terdesak dan Bun Beng mendengar teriakan-teriakan mereka.
"Cee-thian Thai-seng datang menolong kita....!"
"Dewa kita Kauw Cee Thian datang!"
"Benar! Dia tentu penjelmaan Sun Go Kong....!"
Bun Beng terbelalak keheranan.
Benarkah mereka itu menganggap dia Kauw Cee Thian atau Sun Go Kong, juga disebut Cee-thian Thai-seng tokoh dongeng raja kera yang maha sakti dalam dongeng See-yu-ki?
Hampir ia tertawa bergelak, akan tetapi melihat wajah mereka yang berseri penuh harapan dan melihat mereka dalam keadaan terancam itu tidak mungkin main-main, timbul kenakalannya.
Bun Beng yang mengerti bahwa tentu dia disangka seorang "manusia bersayap"
Lalu mengeluarkan pekik melengking yang agaknya terdengar amat nyaring oleh orang-orang di bawah itu.
Tiga orang berambut panjang yang riap-riapan itu memandang dan wajah mereka berubah pucat.
"Ihhh....! Siluman di siang hari....!"
Mereka berseru kemudian mereka berkelebat pergi melarikan diri terbirit-birit karena ngeri dan takut melihat siluman terbang itu!
Setelah melihat tiga orang itu melarikan diri, baru sekarang Bun Beng melihat dengan hati penuh kengerian betapa tubuhnya meluncur turun dan tanah di bawah seolah-olah mulut raksasa besar yang akan mencaploknya.
Saking ngerinya, dia meneruskan jeritannya melengking, akan tetapi sekali ini bukan jerit pura-pura untuk menakuti orang, melainkan jerit sungguh-sungguh.
Untung ia masih ingat untuk mengembangkan tangannya yang memegang tali sehingga "sayap"
Itu terbuka lebih lebar, menampung hawa menahan peluncuran tubuhnya.
Biarpun demikian, masih saja dia terbanting dan tentu dia akan terluka kalau saja dia tidak cepat menggulingkan tubuhnya sampai terguling-guling dan baru dapat meloncat berdiri dengan kepala pening dan mata berkunang.
Akan tetapi, ia tertegun menyaksikan belasan orang gagah itu telah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepadanya, tidak berani mengangkat muka memandang!
Bun Beng mengerutkan alisnya.
Gilakah orang-orang ini?
Ataukah dia yang sudah gila?
"Hamba sekalian menghaturkan banyak terima kasih, bukan saja karena pertolongan Thai-seng, terutama sekali karena Paduka sudah sudi memperlihatkan diri kepada hamba sekalian."
Hampir saja Bun Beng tertawa kalau tidak melihat sikap mereka yang penuh kesungguhan.
Ia sukar untuk mempercaya apa yang dilihatnya dan didengarnya.
Mereka berjumlah sembilan belas orang, tua muda, laki-laki semua dan rata-rata bersikap gagah.
Mengapa orang-orang gagah ini bersikap begini aneh dan menganggap dia sebagai penjelmaan Sun Go Kong Si Raja Kera dalam dongeng See-yu?
"Cuwi sekalian telah salah sangka.
Aku sungguh mati bukan Sun Go Kong, metainkan aecrcang anak bfasa she Gak bernama Bun Beng.
Harap Cu-wi suka berdiri dan jangan berlutut membuat aku merasa canggung dan malu saja."
Orang bertubuh tinggi yang bicara tadi, yang ternyata adalah pemimpin rombongan orang itu mengangkat muka, demikian pula kawan-kawannya, memandang kepada Bun Beng dengan sinar mata penuh keraguan dan agaknya tidak percaya akan kata-kata Bun Beng sehingga mereka masih tetap berlutut.
Bun Beng menunduk dan memandang tubuhnya sendiri, lalu tertawa.
Memang pakaiannya amat aneh, dart kaln kuning yang tidak berlengan berkaki, hanya membungkus dari leher ke paha, apalagi dia bersayap"!
Sambil tertawa ia menanggalkan sayap tiruan itu dan berkata.
"Lihatlah baik-baik, Cu-wi. Aku adalah seorang anak biasa yang meloncat dari atas sana menggunakan sayap tiruan dari kulit harimau. Aku bernama Gak Bun Beng dan siapakah Cu-wi? Berdirilah agar kita dapat bicara dengan-enak.
"Kini sembilan belas orang itu bangkit berdiri dan memandang Bun Beng dengan penuh keheranan, kekaguman dan tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka dapat percaya bahwa anak itu adalah seorang anak biasa saja padahal mereka tadi menyaksikan sendiri betapa anak itu muncul seperti seorang dewa dan telah berhasil membuat tiga orang lawan mereka lari tunggang langgang tanpa melakukan gerakan apa-apa? Akan tetapi setelah mereka memandang penuh perhatian, mereka mau juga percaya akan keterangan Bun Beng dan mereka kini memandang. kagum sekali. Biarpun, bukan Sun' Go Kong, anak ini adalah seorang anak luer biasa"
Dan telah "menyelamatkan"
Nyawa mereka yang tadl terancam maut. Orang ttnggi besar ltu menjura dan berkata.
"Harap Siauw-enghiong (Pendekar Cllik) suka memaafkan kami yang salah menduga. Betapapun juga karena engkau datang dari atas sana, kami yakin bahwa engkau tentu bukanlah seorang anak sembarangan, apalagi engkau telah menyelamatkan kami sembilan belas orang saudara. Terimalah rasa syukur dan terima kasih kami. Gak-enghiong, dan mudah-mudahan kami akan berkesempatan membalasnya."
Bun Beng menjadi malu melihat sikap orang-orang itu yang amat sopan dan sungkan. Ia balas menjura dan berkata.
"Harap Cu-wi jangan bersikap sungkan. Aku sama sekali tidak merasa telah menolong kalian. Menghadapi tiga orang liar yang lihai itu, aku seorang bocah bisa berbuat apakah? Hanya kebetulan saja kehadiranku mengejutkan dan menakutkan mereka. Siapakah mereka itu dan menga-pa menyerang Cu-wi? Siapa pula Cu-wi yang tinggal di tempat sunyi ini?"
"Panjang ceritanya, Gak-inkong (Tuan Penolong Gak). Karena engkau adalah seorarng penolong, bagimu tidak ada yang dirahasiakan lagi. Akan tetapi marilah kita bersama kami ke tempat tinggal kami agar kita dapet bicara dengan leluasa."
Bun Beng lalu neengikuti mereka menuju ke tempat tinggal mereka yang ternyata terdiri dari guha-guha besar yang banyak terdapat di kaki gunung itu.
Guha-guha itu mereka jadikan tempat tinggal, juga sekaligus merupakan tempat perlindungan yang kuat karena jalan masuk gua itu tertutup oleh pintu besi yang kokoh kuat.
Bun Beng mendapat penghormatan yang sungguh-sungguh dari sembilan belas orang itu agaknya menganggap hutang budi sebagai hal yang amat penting.
Anak ini sampai merasa canggung dan tidak enak hati, akan tetapi dia terpaksa menerima keramahan mereka, menerima dan memakai pakaian yang mereka beri kemudian bersama mereka makan minum sambil mendengarkan penuturan Si Jangkung yang bernama Ciu Toan dan menjadi pemimpin mereka itu.
Ciu Toan yang menganggap Bun Beng sebagai tuan penolong dan penyelamat nyawa mereka, menceritakan semua keadaan mereka, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik akan tetapi juga terheran-heran karena di dalam penuturan Ciu Toan banyak terdapat hal yang aneh-aneh.
Sembilan belas orang gagah itu, bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan orang-orang yang pernah menggemparkan dalam perang terakhir melawan pemerintah Ceng yang dikuasai oleh bangsa Mancu.
Nama mereka amat terkenal sebagai pejuang-pejuang yang gigih dan gagah perkasa, dan pada waktu itu, mereka masih bergabung dalam sebuah pasukan kecil yang terkenal dengan nama Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang.
Mereka dahulu berjumlah tiga puluh orang yang di antaranya adalah saudara-saudara kandung, saudara-saudara misan yang semua mengangkat saudara dan bersumpah untuk bersama-sama sekuat tenaga menentang penjajah Mancu.
Akan tetapi, ketika pertahanan terakhir terhadap bala tentara Mancu di Se-cuan hancur dan daerah ini jatuh pula ke tangan Pemerintah Ceng, pasukan kecil yang terkenal gagah perkasa ini pun mengalami kehancuran.
Dari jumlah tiga puluh orang hanya tinggal sembilan belas orang saja.
Karena tak dapat bertahan lagi menghadapi bala tentara Mancu yang amat besar dan kuat, mereka terpaksa melarikan diri.
Sepak terjang mereka selama perlawanan menghadapi bala tentara Ceng sedemikian hebat dan terkenalnya sehingga setelah daerah itu ditundukkan, Pemerintah Ceng lalu mencari sisa-sisa Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang ini.
Tentu saja untuk menangkap dan menghukum mereka yang telah mendatangkan kerugian banyak terhadap pasukan-pasukan Mancu.
Sembilan belas orang ini menjadi orang-orang buruan yang terpaksa menyembunyikan diri.
Karena pengejaran dan pencaharian dilakukan oleh orang-orang pandai yang diutus oleh Kerajaan Mancu, maka sembilan belas orang yang dipimpin Ciu Toan itu akhirnya bersembunyi di kaki gunung itu dan sudah hampir dua tahun mereka tinggal di tempat itu.
"Cu-wi adalah orang-orang gagah perkasa, mengapa tadi bersikap begitu aneh dan menganggap aku sebagai Sun Go Kong?"
Tanya Bun Beng yang merasa kagum sekali terhadap orang-orang itu yang biarpun kalah perang tetap tidak mau tunduk kepada pemerintah penjajah.
Ciu Toan menjadi merah mukanya, akan tetapi ia menjawab juga.
"Kami.... kami menjadi pemuja-pemuja Dewa Sun Go Kong setelah berada di sini, dan.... tadinya kami mengira bahwa kembali beliaulah yang telah menyelamatkan kami seperti yang terjadi dua tahun yang lalu."
Bun Beng membelalakkan matanya.
"Apa? Benarkah Cu-wi pernah diselamatkan oleh.... oleh.... Raja Kera Sun Go Kong?"
Dengan alis berkerut dan wajah sungguh-sungguh Ciu Toan berkata.
"Memang sukar dipercaya bagi yang tidak mengalaminya sendiri. Dewa Sun Go Kong dianggap sebagai tokoh dongeng, akan tetapi kami percaya bahwa beliau memang ada dan di puncak tebing penuh rahasia itulah tempat pertapaannya. Kami sudah mengalaminya sendiri,"
Kemudian Ciu Toan menceritakan pengalaman mereka dua tahun yang lalu, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik sekali.
Ketika sembilan belas orang buruan itu baru beberapa hari tinggal di situ dan sedang sibuk membuat tempat tinggal di guha-guha, pada suatu pagi mereka diserbu dan dikepung oleh segerombolan perampok yang memang sebelum mereka datang menguasai daerah kaki pegunungan itu.
Jumlah para perampok ada lima puluh orang lebih dan terjadilah pertempuran hebat yang mengancam keselamatan sembilan belas orang ini.
Mereka melakukan perlawanan gigih, karena keahlian mereka adalah berperang, sedangkan dalam pertandingan perorangan ilmu kepandaian mereka tidak terlalu luar biasa, maka mereka terdesak hebat oleh para perampok yang bertekad membunuh semua orang yang mereka anggap hendak merebut wilayah kekuasaan para perampok itu.
Dalam keadaan terdesak dan banyak di antara mereka telah terluka, tiba-tiba dari atas tebing menyambar batu-batu kecil yang merobohkan para perampok itu.
Anehnya, batu-batu kecil ini tidak mengenai para bekas pejuang, dan yang mengenai tubuh para perampok tidak sampai membunuh mereka, hanya tepat mengenai jalan darah yang membuat para perampok terguling dan lumpuh untuk sementara.
Para perampok menjadi panik karena mereka diserang secara aneh oleh lawan yang tidak dapat mereka lihat.
Apalagi kalau mereka ingat bahwa dari tempat setinggi itu sampai penyerangnya tidak tampak, orang dapat merobohkan mereka yang sedang bergerak dan bertempur dengan kerikil-kerikil kecil yang mengenai jalan darah, dapat dibayangkan betapa saktinya si penyambit batu-batu kecil!
Karena jerih, para perampok melarikan diri dan semenjak itu tidak berani lagi datang mengganggu para bekas pejuang.
Ciu Toan dan teman-temannya mengobati luka yang mereka derita dan mereka pun merasa heran sekali.
Mereka mencoba untuk mendaki tebing karena merasa yakin bahwa di puncak tebing tentu tinggal seorang sakti yang telah menolong mereka.
Akan tetapi terpaksa mereka mengurungkan niat ini karena tebing itu tidak mungkin didaki, terlalu terjal, tinggi dan licin sekali.
Mereka hanya berhasil mendaki sampai seperempat saja dan terpaksa menghentikan usaha mereka.
Akan tetapi, selagi mereka beristirahat dengan peluh bercucuran, mereka melihat bayangan seperti bayangan manusia berloncatan mendaki tebing itu dengan kecepatan luar biasa sekali.
"In-kong (Tuan Penolong).... harap sudi menemui kami....!"
Mereka berteriak-teriak, namun bayangan itu sebentar saja lenyap di puncak tebing.
Kemudian terdengar suara dari atas, lirih saja namun amat jelas terdengar oleh mereka.
"Turunlah kalian, tidak boleh naik ke sini!"
Karena memang mereka merasa tidak mungkin dapat mendaki tebing tanpa dilarang sekalipun akan turun juga.
Akan tetapi mereka makin penasaran karena terheran-heran menyaksikan bayangan tadi.
Seorang manusia, betapa pun pandainya, mana mungkin mendaki tebing seperti itu secara cepat seperti terbang saja?
Dan suara dari atas itu, seolah-olah orangnya berbisik di dekat telinga mereka.
Bukan manusia!
Dewa agaknya, dewa penjaga gunung yang telah menolong mereka.
Dan selagi mereka menduga-duga sambil bersiap-siap untuk menuruni lereng tebing yang sukar dan berbahaya itu, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru kaget sambil menuding ke puncak tebing.
Mereka semua memandang dan melihat seekor kera besar memakai pakaian pendeta duduk di pinggir puncak tebing, di atas batu dan kera itu menggerak-gerakkan kedua tangan seolah-olah menyuruh mereka cepat turun!
Ciu Toan dan saudara-saudaranya menjatuhkan diri berlutut karena mereka tidak meragukan lagi bahwa kera besar itulah yang menolongnya.
Dan siapa lagi kalau bukan Sun Go Kong yang memiliki kesaktian sehebat itu?
Di dunia ini mana ada kera yang berpakaian pendeta yang sakti luar biasa dan yang dapat mengeluarkan kata-kata seperti manusia?
Kecuali Sun Go Kong!
Demikianlah, sejak saat itu, mereka memuja Sun Go Kong yang bertapa di puncak tebing tinggi itu.
Kepercayaan mereka makin menebal ketika tiga kali berturut-turut kawanan perampok lain dan sekali pasukan pemerintah menyerbu, mereka semua itu lari ketakutan karena mereka roboh sebelum sempat menyerang, roboh oleh batu-batu kecil dan bahkan pasukan Pemerintah Mancu roboh oleh suara melengking yang melumpuhkan mereka!
Kemudian, dari atas puncak tebing melayang sebuah benda yang ternyata adalah kitab-kitab kecil berisi Ilmu Silat Sin-kauw-kun-hoat (Ilmu Silat Kera Sakti) dan yang kini telah mereka pelajari dan menjadi andalan mereka untuk menjaga diri!
"Demikianlah Gak-inkong, maka ketika engkau melayang turun secara aneh itu kami tidak ragu-ragu lagi bahwa engkau tentu penjelmaan Dewa Sun Go Kong yang kembali menolong kami.
Sungguhpun kini ternyata bahwa engkau bukan dewa itu, namun kami tetap percaya bahwa Sun Go Kong berada di puncak tebing itu."
Ciu Toan mengakhiri ceritanya yang amat luar biasa itu.
"Bolehkah aku melihat kitab kecil itu?"
Bun Beng bertanya.
"Tentu saja."
Jawab Ciu Toan yang lalu mengambil kitab itu. Bun Beng hanya melihat tulisan pada halaman pertama yang berbunyi "Sin-kauw-kun-hoat"
Dan kini dia merasa yakin bahwa tulisan itu sama dengan penulis kitab "Sam-po-cin-keng"
Yang dimilikinya.
Dia sekarang mengerti bahwa yang menolong para bekas pejuang ini adalah manusia sakti yang tinggal di sumber air panas, dan agaknya yang tampak oleh mereka adalah kera tua yang berpakaian pendeta dan yang sekarang, entah mengapa mungkin karena tuanya, telah lumpuh!
Akan tetapi, melihat kesungguhan mereka memuja Sun Go Kong, dia tidak mau membuka rahasia itu dan diam saja.
"Dan tiga orang berambut riap-riapan yang menyerang kalian itu siapakah?"
"Kami sendiri juga heran mengapa orang-orang itu dapat mencari kami,"
Jawab Ciu Toan.
"Mereka adalah tiga orang dari Thian-liong-pang yang amat terkenal memiliki tokoh-tokoh berilmu tinggi."
"Thian-liong-pang?"
Bun Beng terkejut dan teringat akan pengalamannya di muara Huang-ho. Dia pun tahu betapa hebat orang-orang Thian-liong-pang.
"Mengapa mereka datang menyerbu? Apakah kalian bermusuhan dengan Thian-liong-pang?"
Ciu Toan menggeleng kepala.
"Kami hanya memusuhi kaum penjajah. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami suka dipaksa mengabdi perkumpulan apapun juga. Mereka datang seperti biasa mereka lakukan di dunia kang-ouw, yaitu hendak menarik secara paksa agar kami suka masuk menjadi anggauta Thian-liong-pang."
"Aneh sekali!"
Bun Beng berkata.
"Memang Thian-liong-pang kini terkenal sebagai perkumpulan yang kuat, memiliki tokoh-tokoh berilmu tinggi dan mempunyai kebiasaan aneh, yaitu suka memaksa orang-orang kang-ouw menjadi anggauta mereka, bahkan kadang-kadang menculik ketua-ketua perkumpulan lain yang dijadikan tamu secara terpaksa!"
"Sungguh luar biasa!"
Kembali Bun Beng berkata, teringat akan wanita cantik tokoh Thian-liong-pang yang dijumpainya di muara Huang-ho itu.
"Betapapun aneh dan luar biasa, namun engkau lebih aneh lagi, Gak-inhong. Seorang anak kecil bersikap seperti engkau, muncul secara luar biasa dari puncak tebing! Engkau.... engkau tentu.... ada hubungannya dengan Dewa Sun Go Kong, bukan?"
Bun Beng merasa serba salah.
Kalau dia berterus terang bahwa di atas sana tidak ada dewa tidak ada iblis yang ada hanyalah kera-kera tak berekor, kera baboon biasa saja, hanya ada seekor kera yang biasa memakai pakaian, tentu cerita ini akan merupakan cemohan bagi kepercayaan mereka.
Untuk membohong, dia pun tidak biasa karena orang-orang ini demikian jujur dan gagah, bagaimana ia mampu membohong terhadap mereka dan mengatakan dia benar-benar bertemu dengan tokoh khayal Sun Go Kong?
Berterus terang tidak tega, membohong pun tidak mau, habis bagaimana?
"Cu-wi-enghiong dan Cu-wi sekalian.
Aku Gak Bun Beng adalah seorang anak yatim piatu yang merantau tanpa tujuan dan secara kebetulan saja berada di puncak tebing.
Karena aku tersesat jalan tidak tahu bagaimana harus turun, akhirnya aku mendapatkan akal, meniru burung membuat sayap tiruan dan dengan nekat melayang ke bawah sini."
Orang-orang itu memandangnya tak percaya.
"Akan tetapi engkau membuat sayap tiruan dari kulit harimau!"
Bun Beng tersenyum dan menjawab.
"Aku mempunyai sedikit kepandaian untuk merobohkan dan membunuh beberapa ekor harimau."
"Hebat...., hebat....! Inkong tentu murid seorang sakti!"
Mereka memandang kagum.
"Memang guruku sakti sayang beliau telah meninggal dunia."
Bun Beng menarik napas panjang, hatinya memang berduka kalau mengingat akan gurunya, juga merasa sakit hati atas kematian suhunya yang amat mengerikan.
"Bolehkah kami mengetahui siapa Suhu Inkong yang mulia?"
"Mendiang Guruku adalah Siauw Lam Hwesio dari Siauw-lim-pai."
"Ajhhh....! Kiranya Inkong murid kakek yang sakti itu?"
Orang-orang itu menjadi makin kagum dan gembira sekali dan sikap mereka terhadap Bun Beng makin menghormat.
"Kami mempersilakan Inkong tinggal di sini bersama kami. Dengan adanya Inkong di sini kami merasa senang dan aman. Kami dua puluh lima orang....."
Tiba-tiba Ciu Toan berhenti bicara dan mukanya berubah.
"Dua puluh lima orang?"
Bun Beng mencela.
"Kulihat hanya ada sembilan belas orang. Mana yang enam orang lagi?"
Ciu Toan kelihatan bingung dan jelas bahwa dia telah terlanjur bicara tanpa disengaja.
"Kami.... kami tadinya.... bersisa dua puluh lima orang, akan tetapi sayang.... enam orang telah meninggal dunia di sini...."
Ia pun terdiam dan wajah mereka semua kelihatan muram.
Biarpun masih kecil Bun Beng dapat menduga bahwa pasti ada rahasia di balik kematian enam orang saudara mereka itu yang agaknya tidak akan mereka ceritakan kepada orang lain.
Maka dia pun tidak mau mendesak lebih lanjut.
Bun Beng yang tidak tahu harus pergi ke mana, menerima penawaran mereka dan dia tinggal bersama mereka.
Lebih senang tinggal dengan orang-orang ini daripada tinggal di atas dan menjadi "seekor"
Di antara sekumpulan kera itu, pikirnya.
Dia mendapatkan sebuah kamar di guha dan di situ dia menyimpan sepasang pedang dan kitabnya.
Setiap hari dia membantu mereka mengerjakan sawah atau berburu binatang di sekitar hutan di kaki gunung.
Akan tetapi beberaga hari kemudian, sembilan belas orang itu berpamit kepada Bun Beng untuk mencari "akar obat-obatan".
Ketika Bun Beng menyatakan hendak membantu, mereka menolak.
"Ini adalah tugas pekerjaan kami yang amat penting dan tidak boleh kami minta bantuan siapapun juga."
Kata Ciu Toan.
"Mengapa tidak boleh? Siapa yang tidak membolehkan? Dan akar obat-obatan apakah yang kalian cari?"
Mereka saling pandang dan kembali Bun Beng terheran melihat wajah mereka muram dan seperti orang ketakutan.
"Maaf, Gak-inkong. Kami tidak dapat bercerita tentang ini. Harap suka menunggu di sini, kami hanya akan pergi selama tiga hari."
Tanpa memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk membantah lagi, pergilah kesembilan belas orang itu, membawa sepuluh buah keranjang kosong.
Dia terheran dan merasa penasaran sekali, akan tetapi dengan sabar ia menanti.
Setelah pada hari ke tiga dia tidak melihat mereka kembali, Bun Beng kehabisan kesabarannya dan dia pun meninggalkan tempat itu, pergi menyusul ke arah hutan di mana dia melihat mereka pergi tiga hari yang lalu.
Hari masih pagi ketika Bun Beng berangkat dan tiba-tiba ia melihat seekor burung yang besar sekali beterbangan di atas hutan di depan.
Ia terbelalak memandang dan tadinya ia mengira bahwa yang terbang itu tentulah burung garuda tunggangan Pendekar Siluman.
Jantungnya berdebar tegang, juga girang karena berjumpa dengan Pendekar Siluman merupakan idam-idaman hatinya.
Ia kagum dan tertarik sekali kepada pendekar kaki buntung itu.
Jantungnya makin berdebar keras ketika ia melihat burung besar itu menukik turun dan benar saja, di atas punggung burung besar duduk seorang manusia!
Karena jaraknya jauh, dia tidak dapat mengenal orang yang menunggang burung itu, akan tetapi siapa lagi di dunia ini yang memiliki binatang tunggangan seekor burung besar kecuali Pendekar Siluman?
Saking girangnya, lupalah Bun Beng akan niat hatinya semula menyusul sembilan belas orang bekas pejuang dan kini ia berlari-larian menuju ke arah hutan di mana burung itu beterbangan di atas-nya, hutan yang agak gundul karena di situ banyak terdapat batu gunung yang tinggi-tinggi.
Akan tetapi, setelah memasuki hutan dan tiba di dekat dinding gunung batu ia terkejut dan merasa heran sekali.
Kiranya sembilan belas orang itu berada di situ, kesemuanya berlutut dan di depan mereka berjajar sepuluh buah keranjang yang kini sudah terisi akar-akar dan daun-daunan.
Apa yang mereka lakukan itu?
Ciu Toan berlutut di deretan paling depan dengan wajah ketakutan.
Ketika ia mendengar bunyi kelepak sayap burung, ia memandang ke atas dan melihat burung besar itu terbang rendah di atas pohon-pohon dan batu-batu.
Kini tampak jelas oleh Bun Beng bahwa burung itu bukanlah garuda putih tunggangan Pendekar Siluman, bahkan tampak pula olehnya bahwa yang duduk di atas punggung burung besar itu adalah seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, berwajah tampan dan angkuh.
Burung itu terbang rendah di atas sepuluh buah kerajang seolah-olah memberi kesempatan kepada penunggangnya untuk menjenguk ke bawah karena ia terbang miring, kemudian membubung lagi sambil menyambar dua buah keranjang dengan kedua cakarnya, lalu terbang menghilang.
Namun sembilan belas orang itu masih tetap berlutut dan Bun Beng masih bersembunyi memandang dengan jantung berdebar tegang.
Rahasia apa pula ini?
Tak lama kemudian, kembali bocah yang menunggang burung rajawali besar itu datang di atas punggung burungnya, diikuti oleh tiga ekor burung rajawali besar lain.
Empat ekor burung itu menukik turun dan menyambar keranjang-keranjang terisi akar dan daun-daunan, akan tetapi kini hanya tujuh buah keranjang yang diterbangkan sedangkan sebuah keranjang lagi yang isinya hanya sedikit, hampir kosong, tidak diangkat pergi.
"Kenapa hanya sembilan keranjang yang sebuah kosong?"
Tiba-tiba terdengar bentakan dari atas, suara yang angkuh dan galak dari anak laki-laki yang duduk di atas punggung rajawali.
Sembilan belas orang itu menjadi pucat mukanya dan jelas tampak tubuh mereka gemetar.
"Maaf.... kami.... telah berusaha tiga hari tanpa henti mengumpulkan, akan tetapi karena setiap tiga bulan diambil terus, hasilnya makin kurang dan hanya mendapatkan sembilan keranjang...."
"Bohong! Malas!"
Anak di atas burung itu membentak, suaranya nyaring galak sehingga Bun Beng yang mendengarnya menjadi gemas dan marah.
"Kalian berani menentang dan membantah perintah kami? Tidak cukup murahkah nyawa kalian semua ditebus dengan akar-akar dan daun-daun obat tiga bulan sekali? Siapa yang bertanggung jawab akan kekurangan ini?"
Sembilan belas orang itu berlutut dengan tubuh gemetar dan mereka itu tak dapat menjawab hanya menggumamkan kata-kata mohon maaf.
"Diam semua!"
Anak itu membentak dan mereka semua terdiam.
"Siapa yang bertanggung jawab? Ataukah semua bertanggung jawab dan siap menerima hukuman dari kami?"
Tiba-tiba Ciu Toan meloncat berdiri dan dengan sikap yang gagah ia menengadah memandang anak laki-laki di punggung burung rajawali sambil berkata nyaring.
"Aku, Ciu Toan, yang bertanggung jawab atas kekurangan ini, saudara-saudaraku tidak ada yang bersalah, akulah yang siap menerima hukuman!"
Anak itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Nah, kalau begitu, menunggu apalagi? Apakah harus kami yang turun tangan menyuruh burung rajawali merobek-robek perutmu?"
"Tidak! Aku Ciu Toan bukan orang yang takut mati. Demi keselamatan saudara-saudaraku, biarlah saat ini aku menerima hukuman!"
Tiba-tiba Ciu Toan mencabut pedangnya dan langsung menggorok leher sendiri! "Ciu-twako....!"
Bun Beng meloncat maju dan lari menghampiri dengan niat mencegah, sedangkan para bekas pejuang hanya berlutut sambil menangis.
Namun terlambat.
Tubuh Ciu Toan terhuyung dan roboh dengan leher hampir putus, tewas seketika!
"Keparat!
Setan....!"
Bun Beng mengepal tinju dan memandang ke atas, akan tetapi bocah di atas punggung rajawali itu tertawa, burungnya terbang tinggi dan dari jauh masih terdengar gema suara ketawanya.
Barulah orang-orang itu bergerak, menubruk dan menangisi jenazah Ciu Toan.
"Kalian ini orang-orang gagah macam apa? Mengapa tidak bangkit melawan bocah setan yang menunggang bu-rung itu? Mengapa membiarkan Ciu-twako membunuh diri? Apa artinya ini semua?"
Bun Beng membanting-banting kakinya dengatn marah.
"Sssttt.... In-kong, harap jangan bicara di sini. Marilah kita pulang membawa jenazah Ciu-twako dan nanti kami akan ceritakan semua."
Jawab seorang di antara mereka dengan sikap takut-takut.
Biarpun Bun Beng marah dan hampir tak dapat menahan kesabarannya, namun terpaksa dia menurut karena mereka itu tidak ada yang mau menjawab perta-nyaannya.
Jenazah Ciu Toan diangkut dan setelah dikebumikan dengan upacara sekedarnya, Bun Beng mendengar penuturan delapan belas orang itu.
"Agaknya Dewa Sun Go Kong hanya menolong kami dari ancaman lain, akan tetapi tekanan dari Majikan Pulau Neraka ini membuat kami tidak berdaya dan tidak ada yang mampu menolong....."
Kata mereka sambil menarik napas dengan muka berduka sekali.
"Pulau Neraka? Bocah itu dari Pulau Neraka?"
Orang tertua dari para pejuang itu mengangguk.
"Sudah amat lama terjadinya. Ketika kami mencari daun-daun obat di hutan, kami bertemu dengan seorang anggauta Pulau Neraka yang membutuhkan akar jin-som dan daun pencuci darah yang banyak terdapat di hutan itu. Kami dan dia berebutan dan bertanding. Karena dia hanya seorang dan kami keroyok, pada waktu itu jumlah kami masih dua puluh lima orang, dia terluka dan melarikan diri. Akan tetapi, beberapa hari kemudian datang seorang tokoh Pulau Neraka yang bermuka kuning, kami dikalahkan dan dipaksa menukar nyawa dengan penyerahan sepuluh keranjang akar dan daun obat setiap tiga bulan. Burung-burung rajawali itu yang datang mengambil dan sudah dua kali ini yang mewakili Pulau Neraka adalah anak laki-laki itu. Amat sukar mengumpulkan akar dan daun obat sekian banyaknya. Tiga orang saudara kami tewas tergigit ular beracun di waktu mencari obat siang malam, dan yang dua orang terpaksa membunuh diri seperti yang dilakukan Ciu-twako karena penyetoran obat kurang. Sekarang Ciu-twako yang mengorbankan diri."
Bun Beng mengepal tinjunya, penasaran sekali.
"Mengapa kalian tidak melawan?"
Orang itu menggeleng kepala.
"Melawan tiada gunanya. Kepandaian mereka hebat bukan main. Melawan satu orang yang bermuka kuning itu saja kami tidak berdaya sama sekali. Pula, kami sudah berjanji ketika kami dikalahkan. Ciu-twako membunuh diri untuk menolong saudara-saudaranya. Siapa pun di antara kita yang menjadi pemimpin, tentu akan berbuat seperti dia. Kami tidak berdaya....."
Bun Beng menggeleng-geleng kepalanya.
"Sungguh menjemukan kalau begitu, kenapa Cu-wi tidak pergi saja meninggalkan tempat ini?"
"Pergi ke mana? Kami adalah orang-orang buruan. Di tempat ramai sudah siap orang-orang pemerintah penjajah untuk menangkap kami,"
Jawab orang itu penuh duka.
Bun Beng bangkit berdiri dan memandang orang-orang itu dengan hati penasaran.
Dia masih kecil, akan tetapi dia sudah tahu apa artinya kegagahan, maka melihat sikap orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa ini, hilang kesabarannya.
"Cu-wi sekalian tadinya kuanggap sebagai orang-orang yang gagah perkasa dan patut dikagumi, akan tetapi sekarang mengapa begini..... pengecut? Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan daripada nyawa! Lebih baik melawan penindas sampai mati daripada membiarkan diri dihina dan ditindas seperti yang dilakukan orang-orang Pulau Neraka kepada Cu-wi! Bukankah orang dahulu mengatakan bahwa lebih baik mati sebagai seekor harimau daripada hi-dup sebagai seekor babi?"
Delapan belas orang itu memandang kepada Bun Beng dengan wajah muram, pemimpin baru mereka, yang tertua, berkata.
"Kami telah menyerahkan jiwa raga untuk negara dan bangsa, kami akan melawan sampai mati terhadap penjajah. Kami tahu kapan dan terhadap siapa dapat melawan. Menghadapi Pulau Neraka, kami tidak berdaya, melawan berarti mati semua. Kalau kami menakluk, berarti hanya beberapa orang terancam bahaya mati, masih ada sisanya untuk menanti kesempatan melakukan perlawanan terhadap penjajah Mancu. Kami tidak akan menyia-nyiakan nyawa kami hanya untuk urusan pribadi."
Jawaban ini membuat Bun Beng tertegun keheranan dan ia tidak mengerti apakah orang-orang ini tergolong orang gagah ataukah orang bodoh.
Kalau pengecut terang bukan karena mereka itu takut melawan bukan karena takut mati, melainkan takut kalau mereka mati dengan sia-sia, bukan mati menghadapi penjajah yang agaknya sudah menjadi cita-cita hidup mereka.
Maka dia tidak membantah lagi dan diam-diam ia mengatur persiapan untuk menghadapi bocah penunggang rajawali dari Pulau Neraka yang dibencinya itu.
Diam-diam Bun Beng menyembunyikan sepasang pedangnya ke dalam sebuah guha kecil yang tidak dipakai, menutup guha dengan batu dan menanam rumput alang-alang di depannya.
Kitab Sam-po-cin-keng yang sudah ia hafal di luar kepala isinya itu dibakarnya.
Semua ini ia lakukan tanpa sepengetahuan delapan belas orang itu yang kini sibuk mengumpulkan lagi sepuluh keranjang akar dan daun obat yang sebelum waktu penyetoran tiba agar tidak jatuh korban lagi di antara mereka.
Tiga bulan kemudian ketika sepuluh buah keranjang itu disiapkan di tempat biasa dan delapan belas orang itu berlutut menanti datangnya burung-burung rajawali yang hendak mengambil keranjang-keranjang itu, Bun Beng telah berada di dalam sebuah di antara keranjang obat yang tertutup.
Diam-diam dia telah memasuki keranjang yang telah ia keluarkan isinya dan hal ini dapat ia lakukan karena ia memaksa mereka untuk diperbolehkan membantu mereka ketika ia menyusul mereka ke hutan.
Bun Beng memiliki jiwa petualang yang besar, yang tumbuh dengan cepat semenjak dia diajak oleh mendiang Siauw Lam Hwesio ke muara Sungai Huang-ho dan mengalami hal-hal yang aneh dan melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang luar biasa.
Dia telah melihat tokoh-tokoh Pulau Neraka, bahkan dia tahu bahwa ketika kecil, orang-orang Pulau Neraka ikut pula memperebutkan dirinya.
Hal ini hanya berarti bahwa di antara ayahnya yang disebut Kang-thouw-kwi Gak Liat, dengan pimpinan Pulau Neraka tentu ada hubungannya, karena ibunya seorang tokoh Siauw-lim-pai, tentu tidak mempunyai hubungan dengan Pulau Neraka.
Kini, mendengar bahwa bocah yang angkuh dengan burung-burung rajawali besar itu datang dari Pulau Neraka timbul niat di hatinya untuk ikut ke Pulau Neraka, di mana dia akan menegur cara mereka mengumpulkan obat-obatan dengan memeras dan menekan bekas-bekas patriot atau pejuang itu!
Tentu saja Bun Beng tahu bahwa perbuatannya amat berbahaya bagi keselamatannya, namun dia sama sekali tidak merasa takut.
Kalau bocah sombong dan angkuh itu berani menunggang di punggung rajawali, mengapa dia tidak berani diterbangkan dengan bersembunyi di dalam keranjang akar obat?
Ketika menanti di dalam keranjang jantung Bun Beng berdebar keras, khawatir kalau-kalau ada di antara delapan belas orang itu yang mencarinya dan ada yang memeriksa keranjang.
Akan tetapi hatinya lega melihat dari celah-celah keranjang bahwa ke delapan belas orang itu berlutut dengan menundukkan kepala, sama sekali tidak memperhatikan sepuluh buah keranjang yang kini terisi penuh semua.
Tiba-tiba terdengar suara lengkingan nyaring yang tersusul suara kelepak sayap di atas pohon-pohon.
Burung-burung itu telah terbang datang!
Bun Beng cepat merendahkan tubuhnya dan menu-tupi kepalanya dengan daun-daun obat, jantungnya berdebar tegang.
Burung rajawali yang ditunggangi anak laki-laki itu seperti biasa terbang rendah di atas keranjang-keranjang itu dan anak laki-laki itu memeriksa isi keranjang dari tutup yang berlubang-lubang.
Kemudian kelepak sayap terdengar makin keras, burung rajawali mulai menyambar dan membawa terbang keranjang-keranjang itu!
Keranjang di mana Bun Beng bersembunyi mendapat giliran terakhir.
Hatinya lega bercampur tegang ketika ia merasa tubuhnya terangkat dan terayun-ayun, merasa betapa tubuhnya membubung tinggi!
Agak pening juga rasa kepala Bun Beng dan perutnya terasa mual hendak muntah, akan tetapi kalau teringat kepada anak yang menunggang rajawali terbang, ia menguatkan hatinya dan menggigit bibir.
Entah berapa lama dia diterbangkan dan kini dia tidak merasa pening atau mual lagi, agaknya dia sudah mulai biasa!
Kalau dahulu ia "terbang"
Sendiri di atas tebing, tidaklah begini mengerikan karena dia dapat melihat sekelilingnya, tidak seperti sekarang mendekam di dalam keranjang.
Tiba-tiba ia mendengar suara keras sekali dan baru ia tahu bahwa rajawali yang menggondol keranjang itulah yang mengeluarkan suara keras.
Dia mendengar pula pekik rajawali-rajawali lain dan lapat-lapat mendengar suara dua orang saling memaki!
Bun Beng terheran-heran.
Bagaimana mungkin di angkasa ada dua orang bercekcok?
Saking herannya, ia membuka tutup keranjeng dan betapa kagetnya ketika me-nyaksikan pemandangan yang amat hebat.
Di angkasa itu, anak laki-laki yang angkuh dari Pulau Neraka sedang bertanding melawan seorang anak perempuan sebaya yang menunggang seekor burung garuda putih yang besar.
Mereka berdua sama-sama memegang pedang dan bertanding mati-matian sambil saling memaki!
Juga burung garuda itu membantu penunggang masing-masing, saling bertempur mempergunakan cakar dan paruh!
Tiba-tiba Bun Beng teringat!
Burung garuda putih itu!
Serupa benar dengan burung tunggangan Pendekar Siluman!
Ahhh!
Bukankah dahulu Pendekar Siluman mencari muridnya?
Murid perempuan?
Agaknya perempuan inilah murid Pendekar Siluman!
Perasaan kagum dan sukanya terhadap Pendekar Siluman otomatis tertumpah kepada murid perempuan pendekar itu, apalagi lawan anak perempuan itu adalah anak laki-laki yang angkuh dan yang dibencinya.
Dia sampai lupa menutupkan kembali tutup keranjang, lupa bahwa keranjang yang didudukinya itu dicengkeram oleh kaki rajawali yang besar dan kuat, dan dia asyik menonton pertandingan sambil mendengarkan percekcokan mulut.
Agaknya kedua anak itu sama-sama galak dan pandai memaki!
"Iblis cilik!
Rajawalimu akan mampus oleh garudaku seperti juga engkau akan mampus di tanganku!"
Bentak anak perempuan itu.
"Ha-ha-ha, kau perempuan kuntilanak! Hanya galak dan main gertak saja. Pedangku akan membuat kau terguling, dan tubuhmu akan hancur gepeng terbanting ke bawah!"
Anak laki-laki itu balas memaki.
"Mampuslah!"
Anak perempuan itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya, tangan kiri mencengkeram bulu leher garudanya, pedangnya menusuk dengan dahsyat.
Karena tubuhnya condong ke depan, maka serangannya itu amat hebat, mengarah tenggorokan lawan.
"Tranggg!"
Anak laki-laki itu menangkis, akan tetapi pedang di tangan anak perempuan itu secara aneh dan cepat sekali menyeleweng dari atas membesut melalui pedang lawan dan langsung menikam dada!
"Celaka....!"
Anak laki-laki itu berteriak, lalu menggerakkan tubuhnya meloncat ke kanan.
Dalam kegugupannya menghadapi serangan maut itu, dia lupa bahwa dia duduk di atas punggung rajawalinya yang sedang terbang, maka ketika ia meloncat ke kanan, otomatis tubuhnya melayang jatuh dari punggung rajawali!
Betapapun bencinya terhadap anak laki-laki yang angkuh itu, hati Bun Beng merasa ngeri juga menyaksikan tubuh anak itu terguling jatuh dari atas punggung rajawali, padahal tanah di bawah sedemikian jauhnya sampai hampir tidak tampak teraling awan!
Akan tetapi, anak laki-laki itu ternyata hebat, tenang dan cekatan.
Juga rajawali tunggangannya sudah terlatih.
Cepat ia menggerakkan tangan dan berhasil memegang kaki rajawali dengan tangan kirinya.
Melihat ini, anak perempuan itu marah dan kembali mendoyongkan tubuh ke depan untuk menusukkan pedangnya.
Sambil bergantungan kepada kaki rajawalinya, anak laki-laki itu menangkis.
"Cringgg!"
Sepasang pedang bertemu dengan kerasnya sehingga bunga api berpijar.
Melihat kemenangan majikannya, garuda putih itu kelihatan bersemangat.
Paruhnya menghunjam ke arah kepala rajawali.
Rajawali cepat mengelak, akan tetapi paruh garuda itu masih mengenai pinggir sayapnya sehingga banyak bulu burung rajawali membodol dan berhamburan melayang.
Rajawali memekik dan terbang menjauh, dikejar oleh burung garuda.
Agaknya melihat kawannya bertempur, rajawali yang mencengkeram keranjang Bun Beng hendak membantu.
Ketika garuda putih itu kembali menerjang rajawali yang kini sudah diduduki lagi punggungnya oleh anak laki-laki yang kelihatan marah sekali, rajawali yang membawa Bun Beng menerkam dari belakang, menggunakan kaki kiri dan paruhnya karena kaki kanannya mencengkeram keranjang terisi Bun Beng.
Garuda putih tak sempat menghadapi lawan dari belakang ini karena pada saat itu dia harus menghadapi serangan balasan la-wannya yang marah.
Melihat ini, anak perempuan itu memutar pedangnya menusuk ke arah rajawali ke dua.
Burung rajawali ini menggerakkan paruhnya menangkis.
"Trangg....! Aihhhh.... pedangku!"
Anak perempuan itu berteriak marah dan kaget karena pedangnya terpental, terlepas dari tangannya dan melayang turun lenyap ditelan awan.
Kini burung garuda itu memekik-mekik siap menghadapi penggeroyokan dua ekor burung rajawali.
Setiap ada lawan mendekati, kedua kakinya menerjang secepat kilat dan tentu berhasil merontokkan beberapa helai bulu lawan.
Menyaksikan kegarangan garuda ini, kedua ekor burung rajawali hanya terbang mengeli-lingi dan mengancam.
Kini anak laki-laki itu tertawa-tawa mengejek kepada anak perempuan yang sudah tak bersenjata lagi.
"Ha-ha-ha-ha, kuntilanak kecil! Engkau telah terkurung sekarang. Mana ke-garanganmu tadi? Hayo bersumbarlah sekarang, ha-ha-ha! Engkau tahu rasa sekarang. Apa kau kira semua orang takut kepada penghuni Pulau Es? Ha, ha, mukamu sudah pucat! Betapapun juga, wajahmu manis sekali. Kalau kau menyerah dan ikut bersamaku ke tempatku, aku akan menjamin bahwa engkau akan diampuni, akan tetapi untuk itu aku minta upah dan balas jasa. Tidak sukar, asal engkau kelak suka berlutut dan mengangguk-angguk delapan kali di depan kakiku, menyebut aku Koko yang baik kemudian membiarkan aku mencium kedua pipimu, engkau bahkan akan kujadikan sahabatku dan....."
"Tutup mulutmu yang busuk! Berani engkau memandang rendah Pulau Es? Biar aku mati, Suhu tentu akan mencarimu dan merobek mulutmu serta membunuhi semua nenek moyangmu, kalau engkau begitu pengecut untuk menyebutkan nama dan tempatmu?"
Gadis cilik itu terpaksa harus miringkan tubuh dan mencengkeram bulu leher burungnya ketika burungnya terserang dari atas bawah dan menukik miring untuk menghindarkan diri dan balas menyerang.
Sebuah tusukan dari anak laki-laki itu berhasil dia tangkis dengan tendangan mengarah pergelangan tangan, namun anak laki-laki itu sudah cepat menarik kembali tangannya sambil menyeringai.
"Ha-ha-ha! Kematian sudah di depan mata, engkau masih menyombongkan Pulau Es! Dan engkau menyombongkan Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Tentu dia Gurumu, bukan? Ha-ha-ha, tunggu saja. Kelak pimpinan kami akan membasmi seluruh penghuni Pulau Es, termasuk Pendekar Siluman."
"Keparat sombong! Aku tahu sekarang! Engkau tentu seorang di antara anggauta Thian-liong-pang yang sombong!"
"Heh-heh-heh, boleh kau terka, bocah manis! Engkau tidak akan tahu!"
"Dia dari Pulau Neraka!"
Tiba-tiba Bun Beng tak dapat menahan kemarahannya lagi sehingga ia l"pa diri dan berteriak.
"Hahh....?"
Kini anak laki-laki itu memandang dan baru tahu bahwa keranjang terakhir itu bukan berisi akar dan daun obat, melainkan terisi seorang anak laki-laki!
"Kau....
siapa....?"
Sementara itu anak perempuan itu tersenyum mengejek.
"Aha, kiranya engkau keturunan orang-orang buangan itu? Pantas seperti iblis!"
Bun Beng yang kini tidak meragukan lagi bahwa gadis cilik itu tentulah murid Pendekar Siluman yang dikaguminya, ketika melihat betapa pengeroyokan dua ekor rajawali membahayakan garuda dan gadis cilik itu, segera menggerakkan tangan menghantam ke arah perut rajawali yang membawa keranjangnya.
"Bukkk!"
Pukulan Bun Beng di luar tahunya kini berbeda dengan pukulannya sebelum ia mempelajari Sam po-cin-keng.
Tenaga sin-kangnya bertambah kuat sekali berkat bertelanjang selama setengah tahun dan mempelajari ilmu silat yang mujijat.
Begitu terkena hantaman ini, rajawali memekik dan otomatis cengkeramannya pada keranjang itu terlepas dan tubuh Bun Beng ikut meluncur ke bawah dengan kecepatan yang membuat ia sukar bernapas!
Akan tetapi rajawali itu sendiri yang sudah terluka dan terkejut oleh pukulan Bun Beng, segera kabur terbang secepatnya.
Ditinggalkan kawannya, burung rajawali pertama menjadi jerih, (Lanjut ke
Jilid 09) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 juga anak laki-laki itu agaknya menjadi jerih setelah rahasianya terbuka, maka ia menyuruh burungnya terbang pergi meninggalkan garuda dan anak perempuan yang menungganginya.
Anak perempuan itu terbelalak penuh kengerian dan berusaha mengikuti keranjang terisi anak laki-laki yang jatuh dengan pandangan matanya.
Akan tetapi jatuhnya keranjang itu terlampau cepat dan sudah lenyap ditelan awan, maka ia menggerakkan pundaknya dan menyuruh garudanya terbang pergi juga dengan cepat sekali.
"Bibi Pek-eng (Garuda Putih), bawa aku pulang ke Pulau Es. Sudah terlalu lama kita pergi, aku khawatir Suhu akan marah sekali kepadaku!"
Bisik anak perempuan itu kepada garudanya.
Anak itu, tepat seperti dugaan Bun Beng, adalah Giam Kwi Hong, keponakan dan juga murid dari Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, To-cu (Majikan Pulau) Pulau Es.
Anak ini telah dibawa olah Suma Han ke Pulau Es di mana dia digembleng oleh pendekar sakti itu sebagai muridnya.
Karena dia amat disayang oleh gurunya yang juga menjadi pamannya, dan karena semua penghuni Pulau Es juga sayang dan takut kepadanya, maka Kwi Hong memiliki watak yang agak manja sehingga dia berani meninggalkan Pulau Es di luar tahu gurunya.
Hal ini adalah karena dia selalu dilarang untuk meninggalkan pulau dan memang anak yang ditekan dan dilarang, biasanya setelah agak besar akan berontak karena larangan itu justru menimbulkan daya tarik dan gairah untuk mengetahui bagaimana macamnya dunia di luar Pulau Es!
Kwi Hong menunggang garuda betina putih meninggalkan pulau untuk "melihat-lihat".
Garuda itu terbang menuju ke timur laut, akan tetapi karena dia merasa lelah setelah bertempur, tanpa diperintah setelah terbang setengah hari lamanya, dia menukik turun dan hinggap di atas gunung karang dekat laut untuk beristirahat.
Burung ini biarpun terlatih dan kuat sekali, namun dia tetap seekor binatang yang bergerak menurutkan kebutuhan tubuhnya.
Dia lelah dan harus ber-istirahat sebelum melanjutkan penerbangan ke Pulau Es yang jauh.
Karena lelah kedua-duanya, baik garuda itu maupun Kwi Hong tidak tahu bahwa dari depan tampak dua titik hitam yang terbang cepat sekali.
Ketika Kwi Hong melompat turun dari punggung garudanya, dua titik hitam itu telah berada di atas dan ternyata itu adalah dua ekor burung rajawali, ditunggagi oleh anak laki-laki bekas lawannya tadi sedangkan yang seekor lagi ditunggangi oleh seorang wanita yang cantik sekali.
Dua ekor rajawali itu meluncur turun dan tak lama kemudian hinggap tak jauh dari situ.
Melihat bekas lawannya, garuda putih memekik dan menerjang maju, akan tetapi wanita itu menggerakkan tangan dan tampak berkelebat bayangan hitam kecil panjang yang menyambut tubuh garuda.
Di lain saat, garuda itu telah terbelenggu kedua kaki dan paruhnya sehingga tidak mampu bergerak, hanya kedua sayapnya saja bergerak-gerak dan tubuhnya meronta-ronta.
"Diam engkau!"
Wanita cantik itu tiba-tiba mencelat ke dekat garuda, sekali tangannya menotok burung itu rebah miring tak mampu menggerakkan kedua sayapnya lagi.
"Setan! Kau apakan burungku....?"
Kwi Hong marah sekali dan melangkah maju dengan kedua tangan terkepal.
"Inikah anak perempuan itu?"
Wanita cantik itu bertanya kepada anak laki-laki yang cepat mengangguk.
"Dialah kuntilanak kecil itu. Biar aku membunuhnya!"
Berkata demikian, anak laki-laki itu sudah menerjang maju dengan pedangnya, menusuk dada Kwi Hong yang cepat mengelak dan mengirim tendangan yang juga dapat dielakkan oleh anak laki-laki itu.
"Engkau setan iblis cilik kurang ajar! Kau kira aku takut padamu? Biar kau bawa semua penghuni Pulau Neraka ke sini, aku tidak takut!"
Kwi Hong balas memaki dan kini biarpun bertangan kosong, dia menerjang maju dengan ganas dan dahsyat.
Setelah turun dari punggung burung, barulah ia tahu bahwa anak laki-laki itu lebih muda darinya, maka keberaniannya makin membesar.
Masa dia takut terhadap anak kecil?
Ilmu silat Kwi Hong saat itu sudah mencapai tingkat hebat juga berkat gemblengan paman atau gurunya.
Selain mewarisi ilmu silat tinggi, juga dia memiliki sin-kang yang jauh lebih kuat daripada lawannya, di samping gerakan gin-kangnya yang membuat tubuhnya ringan dan gesit bukan main.
Biarpun lawannya memegang pedang, namun setelah bertanding tiga puluh jurus yang ditonton wanita cantik penuh perhatian, kini dia mulai mendesak terus sedangkan anak laki-laki itu sibuk memutar-mutar pedangnya menjaga diri dari serangan yang datang bertubi-tubi dari segala pihak itu.
"Mundur kau!"
Tiba-tiba wanita cantik itu mendorongkan tangannya dan tubuh Kwi Hong terpental ke belakang. Dia marah sekali.
"Engkau siluman!"
Dan ia maju lagi, akan tetapi tubuhnya tidak dapat maju, seolah-olah ada dinding tak tampak yang menghadang di depannya.
Ia mencoba melompat mundur, juga tidak berhasil.
Tubuhnya telah dikurung hawa yang amat kuat yang tidak memungkinkan dia lari ke manapun juga!
"Bocah liar, apakah engkau murid Suma Han, Pendekar Siluman itu?"
Wanita itu bertanya, suaranya dingin sekali.
Kwi Hong mengangkat muka memandang.
Dia maklum bahwa wanita itu memiliki kesaktian hebat, akan tetapi sebagai murid Pendekar Super Sakti, dia tidak takut dan memandang wanita itu penuh perhatian.
Wanita itu belum tua, belum ada tiga puluh tahun, memiliki kecantikan luar biasa sekali, dengan sepasang matanya yang lebar, bening dan bersinar tajam akan tetapi juga mengerikan.
Tubuhnya ramping dan padat, ditutup pakaian yang serba hitam sehingga wajahnya yang sudah putih menjadi makin jelas warna putihnya.
Diam-diam Kwi Hong bergidik.
Warna putih wajah wanita itu tidak wajar!
Bukan putih susu, bukan pula putih karena pucat, melainkan putih sama sekali, seperti putihnya kapur!
"Benar, aku adalah murid Pendekar Super Sakti, To-cu dari Pulau Es.
Sebaiknya engkau yang memiliki ilmu siluman jangan mengganggu aku kalau sudah mengenal betapa lihainya Guruku agar kelak tidak menyesal."
"Heh-heh, kuntilanak cilik! Engkau masih berani menggertak Ibuku?"
Anak laki-laki itu mengejek.
"Keng In! Diam engkau!"
Wanita itu membentak dan Kwi Hong memandang heran.
"Ah, jadi bocah nakal ini anakmu? Kalau begitu apakah engkau ini Majikan Pulau Neraka?"
Wanita cantik bermuka putih itu mengangguk.
"Tidak salah, akulah Majikan Pulau Neraka dan engkau harus ikut bersamaku ke Pulau Neraka"
"Aku tidak sudi!"
Kwi Hong melotot dengan berani.
Wanita itu tersenyum dan makin heranlah Kwi Hong.
Kalau wanita itu diam, wajahnya yang putih tampak dingin menakutkan, akan tetapi kalau tersenyum bukan hanya mulutnya yang tersenyum, melainkan juga matanya, hidungnya dan seluruh wajahnya.
Cantik dan manis bukan main!
"Mau tidak mau harus ikut."
"Ahh, tidak malukah engkau sebagai Majikan Pulau Neraka hanya pandai memaksa seorang anak kecil? Kalau engkau memang sakti seperti dikabarkan orang, coba kau lawan Guruku, tentu dalam sepuluh jurus engkau mati!"
"Anak, engkau menarik! Engkau penuh keberanian. Hemm, agaknya Suma Han masih belum dapat mengatasi kegalakan anak perempuan, hanya pandai melatih silat tidak pandai mengekang keliaranmu. Siapa namamu?"
"Aku Giam Kwi Hong!"
Wanita itu mengerutkan kening.
"Engkau masih mempunyai hubungan keluarga dengan Gurumu?"
Kwi Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng dan berkata bangga.
"Benar! Nah, engkau tidak boleh main-main dengan aku, karena Pamanku tentu akan marah kepadamu."
Kembali wanita itu tersenyum.
"Memang aku ingin membuat dia marah, aku ingin dia mencoba-coba merampasmu dari tanganku, ingin Pendekar Siluman berani datang ke Pulau Neraka dan menghadapi kami. Hayo!"
Kwi Hong hendak meronta dan menolak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan disambut lengan wanita itu dan tahu-tahu ia telah dibawa mendekati garuda putihnya.
Sekali wanita itu menggerakkan tangan, tali hitam dari sutera yang mengikat kaki dan paruh burung itu terlepas dan totokannya pun bebas pula.
"Pulanglah engkau lapor majikanmu!"
Wanita itu menepuk punggung garuda putih yang agaknya maklum akan kelihaian wanita itu karena dia memekik kesakitan lalu terbang ke arah timur.
Wanita itu lalu meloncat ke punggung rajawali bersama Kwi Hong yang dikempitnya, lalu burung itu terbang cepat ke atas, disusul oleh anak laki-laki bernama Keng In yang juga sudah meloncat ke punggung rajawalinya.
Dari atas punggung rajawali itu, Kwi Hong melihat betapa mereka menuju ke sebuah pulau di tengah laut.
Pulau itu dari atas kelihatan hitam sekali, menjadi lawan Pulau Es yang kelihatan putih dari atas.
Di sekelilingnya terdapat pulau-pulau mati yang tidak ada tumbuh-tumbuhannya.
Setelah burung itu berada di atas pulau hitam, tampak olehnya bahwa tumbuh-tumbuhan di situ berwarna hijau gelap mendekati biru sehingga dari atas tampak hitam, apalagi karena di atas pulau itu terdapat awan hitam yang seolah-olah selalu menyelimuti pulau.
Kedua burung rajawali itu meluncur turun dan setelah tidak begitu tinggi tampak oleh Kwi Hong betapa pulau itu dikelilingi tepi laut yang merupakan tebing-tebing batu karang, sedangkan secara aneh sekali ombak besar menghantam tepi pantai dengan dahsyat dari segala penjuru.
Dia bergidik.
Pulau yang buruk dan menyeramkan.
Bagaimana mungkin ada perahu dapat mendarat di pulau ini kalau ombaknya demikian besar?
Tentu perahu itu akan dihempaskan ke batu karang dan hancur lebur!
Kini tampak rumah-rumah di pulau itu.
Gentengnya terbuat dari kayu yang hitam pula, atau dicat hitam?
Dan begitu burung itu menukik turun dan hinggap di pekarangan sebuah rumah besar seperti istana, tampak banyak orang berlarian datang menyambut.
Tiba-tiba Kwi Hong tertawa saking geli hatinya.
Dia melihat wajah anak yang bernama Keng In itu biasa saja seperti orang lain, hanya ibunya yang mengaku Majikan Pulau Neraka itu wajahnya berwarna putih seperti kapur, seperti dicat putih.
Kini, orang-orang yang lari berdatangan itu memiliki wajah yang beraneka warna.
Ada yang mukanya berwarna hitam seperti arang, ada yang biru, ada yang merah, ungu, hijau, kuning.
Akan tetapi terbanyak adalah warna-warna yang gelap, sedangkan muka yang berwarna terang, terutama yang kuning, tidak banyak.
Tidak ada seorang pun yang berwarna putih mukanya seperti wanita ibu Keng In itu.
"Hi-hi-hik! Alangkah lucunya. Mengapa kalian penghuni-penghuni Pulau Neraka mencat muka kalian? Apakah hari ini akan diadakan pesta dan panggung sandiwara dan kalian semua ikut bermain?"
Semua orang yang datang menyambut To-cu mereka itu melotot mendengar ucapan ini.
Seorang wanita cantik, yang mukanya berwarna merah muda sehingga warna ini amat menguntungkan karena menambah kecantikannya, bertanya.
"Twanio, siapakah bocah kurang ajar ini?"
Dari pandang mata semua orang, jelas bahwa pertanyaan yang diajukan kepada ketua ini mewakili suara hati semua orang.
"Dia? Dia ini adalah murid dan juga keponakan dari Pendekar Siluman...."
Mendengar wanita itu menyebut julukan gurunya yang amat tidak disukanya, Kwi Hong memotong cepat.
"Beliau adalah Pendekar Super Sakti tanpa tading, To-cu dari Pulau Es yang terkenal di seluruh pelosok dunia!"
Akan tetapi ucapannya itu seolah-olah tidak terdengar oleh mereka karena mendengar disebutnya nama Pendekar Siluman itu saja para penghuni Pulau Neraka sudah menjadi amat terkejut dan saling pandang.
Dari sinar mata mereka jelas tampak betapa mereka itu terkejut dan jerih.
Melihat ini, Kwi Hong melanjutkan kata-katanya.
"Awas kalian kalau mengganggu aku! Guruku akan datang dan membasmi Pulau Neraka ini beserta seluruh penghuninya!"
Akan tetapi Ketua Pulau Neraka itu dengan tenang berkata.
"Kwi Hong, engkau anak kecil tahu apa? Tidak perlu membuka mulut besar karena aku sengaja membawamu ke sini agar Gurumu datang. Hendak kulihat apakah dia akan mampu merampasmu kembali. Dan engkau bebas di sini, mau ke mana pun boleh."
Kwi Hong cepat memutar tubuhnya menghadapi wanita muka putih itu.
"Aku boleh pergi?"
Wanita itu tersenyum.
"Silakan!"
"Terima kasih!"
Kwi Hong lalu meloncat dan lari pergi meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Biarkan dia pergi ke mana dia suka, akan tetapi awasi baik-baik agar dia tidak sampai celaka. Persiapkan anak panah dan semua senjata rahasia. Begitu ada burung garuda muncul di atas pulau, sambut dengan anak panah dan senjata-senjata rahasia, terutama anak panah berapi. Kalau Pendekar Siluman mampu menerobos masuk ke Pulau Neraka, aku sendiri yang akan menandinginya!"
Para penghuni pulau itu bubar dan sibuk melaksanakan perintah Ketua mereka.
Mereka kelihatan panik karena nama besar Pendekar Super Sakti sudah lama mereka dengar dan mereka rata-rata merasa jerih terhadap pendekar itu.
Yang kelihatan tenang hanyalah Si Ketua dan beberapa orang yang tingkatnya sudah tinggi, yaitu mereka yang mukanya berwarna kuning, hijau pupus atau merah muda.
Penjagaan ketat dilakukan siang malam, dan persiapan menyambut lawan istimewa itu dilakukan dengan rapi.
Dengan hati girang Kwi Hong berlari keluar dari kelompok bangunan itu, memasuki sebuah hutan.
Tidak disangkanya bahwa Ketua Pulau Neraka itu demikian baik hati sehingga dia diperbolehkan pergi begitu saja!
Tiba-tiba ia berhenti berlari dan memandang terbelalak ke depan karena di depannya menghadang barisan ular yang berwarna merah dan hitam, bukan main banyaknya!
Ada ribuan ekor dan mereka mengeluarkan suara mendesis-desis dan tampak uap hitam keluar dari moncong mereka!
Kwi Hong menggigil dan cepat membelok ke kanan, akan tetapi di mana pun penuh ular, demikian pula di kiri.
Terpaksa ia memutar tubuhnya dan lari ke lain jurusan.
Melihat sebuah hutan lain yang berdekatan, dia masuk dan hatinya lega karena tidak melihat ular seekor pun.
Akan tetapi, hutan ini amat gelap dan tidak ada lorong bekas kaki manusia, maka ia masuk secara ngawur saja.
Tiba-tiba terdengar suara mengaung yang makin lama makin keras.
Suara itu seolah-olah datang dari segenap penjuru, membuat telinganya serasa akan pecah dan kepalanya pening.
Selagi ia kebingungan, tiba-tiba ia melihat ribuan ekor lebah berwarna hitam beterbangan mengejarnya!
Celaka, pikirnya.
Lebah tidak seperti ular yang dapat ditinggal lari begitu saja.
Tentu akan mengejarnya dengan kecepatan terbang dan kalau dia dikeroyok, celaka!
Ia membalikkan tubuhnya dan lari hendak keluar dari hutan.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia tidak tahu lagi mana jalan keluar.
Lama ia berlari cepat dengan ribuan lebah terbang mengejarnya, dan dia masih belum keluar dari hutan, bahkan mungkin tersesat makin dalam!
Ketika lebah-lebah itu sudah dekat sekali, ia mencium bau amis dan wangi.
Makin takutlah dia karena maklum bahwa lebah-lebah itu adalah binatang berbisa, jangankan dikeroyok begitu banyak.
Disengat oleh seekor pun bisa berbahaya.
Saking bingung dan gugupnya, ia tersandung dan jatuh menelungkup.
Lebah-lebah sudah mengiang di atas kepalanya sehingga dengan hati ngeri Kwi Hong menggunakan kedua tangan menutupi kepalanya.
Kedua matanya dipejamkan dan hatinya mengeluh.
"Mati aku sekarang!"
Akan tetapi, tiba-tiba suara itu menghilang berbareng dengan timbulnya suara melengking tinggi seperti suara suling.
Ia membuka mata dan bangkit duduk.
Ribuan ekor lebah berbisa itu benar-benar telah pergi dan tampak olehnya sesosok bayangan seorang laki-laki tua bermuka hijau pupus berkelebat pergi ke arah kiri.
Dia mengerti bahwa tentu orang itu mengusir lebah dengan tiupan suling, maka ia pun mengikuti bayangan orang Pulau Neraka yang menolongnya itu.
Benar dugaannya, orang itu memegang suling dan agaknya sengaja menanti dia karena beberapa kali berhenti agar Kwi Hong tidak sampai tertinggal.
Kiranya jalan keluar dari hutan itu tidaklah semudah ketika masuk.
Laki-laki tua itu membelok ke kiri, ke kanan, sampai berulang kali, ada kalanya seperti memutar dan bahkan mengambil arah yang bertentangan dengan arah tadi.
Kwi Hong mengikuti terus dan betapa girang serta heran hatinya ketika dalam waktu sebentar saja dia sudah keluar dari hutan!
Akan tetapi kakek muka hijau itu pun sudah lenyap.
Kwi Hong dapat mengerti bahwa tentu kakek itu diperintah oleh ketuanya untuk menolong dia, maka kembali ia merasa berterima kasih dan tidak me-ngerti mengapa Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu mula-mula menculiknya kemudian kini membolehkan dia pergi malah menyuruh orang menolongnya dari bahaya maut.
Dia berjalan terus, mengambil jurusan yang berlawanan dengan hutan-hutan yang dimasukinya tadi.
Ia melihat daerah yang berbatu dan ke sanalah ia menuju.
Biarpun batu-batu itu kelihatan hitam menyeramkan, namun dia tidak takut.
Dia harus keluar dan pergi dari pulau ini.
Kakinya mulai terasa lelah, namun Kwi Hong tidak mau berhenti dan mendaki pegunungan kecil dari batu-batu karang hitam itu.
Ketika ia tiba di bagian yang paling tinggi, tampaklah air laut membentang luas jauh di depan bawah.
Dari tempat itu kelihatan air laut tenang dan hanya di pantai tampak membuas putih.
Hatinya menjadi girang, akan tetapi begitu ia mulai menuruni batu-batu itu, tiba-tiba ia tersentak kaget mendengar suara menggereng yang menggetarkan batu karang yang diinjaknya.
Ketika ia memandang ke bawah, ia ter-pekik dan mukanya menjadi pucat.
Di depannya, di antara batu-batu karang itu, terdapat binatang-biatang yang bentuknya seperti cecak, akan tetapi besar sekali, panjangnya dari dua meter sampai tiga meter.
Ada ratusan ekor banyaknya, baris memenuhi jalan di depannya, dengan mulut terbuka, lidahnya keluar masuk dan tampak gigi yang runcing mengerikan.
"Ohhhh....!"
Kwi Hong cepat membalikkan tubuhnya dan lari pergi dengan maksud mengambil jalan lain yang tidak melalui tempat berbahaya itu.
Dilihatnya daerah yang penuh dengan tanaman menjalar dan kelihatannya bersih, tidak terdapat binatang-binatang buas.
Ke sinilah ia berlari.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit karena ketika kakinya menyentuh tanaman menjalar itu, tiba-tiba kedua kakinya terlibat dan tanaman itu seperti hidup!
Ujung ranting-ranting tanaman yang lemas dan panjang itu seperti tangan-tangan setan menyergapnya dan melibat seluruh tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah memiliki daya menempel dan menyedot.
Kwi Hong meronta-ronta, menggunakan kekuatan kaki tangannya untuk melepaskan diri, namun sia-sia karena lilitan "tangan-tangan"
Tanaman itu makin erat saja.
Dan dilihatnya tanaman yang tumbuh di sekitarnya sudah bergerak-gerak seolah-olah tanaman-tanaman itu hidup dan kini berusaha untuk melepaskan diri dari tanah dan mengeroyoknya!
"Iiiihhh....!"
Ia menjerit ketika sehelai di antara "tangan-tangan"
Itu merayap dan akan melilit lehernya.
Pada saat itu tampak berkelebat sinar hitam, terdengar suara keras dan tanaman yang melilitnya itu jebol dari tanah berikut akar-akarnya.
Begitu jebol, tannaman itu seolah-olah kehilangan tenaganya dan dengan mudah Kwi Hong melepaskan diri lalu meloncat menjauhi tanaman-tanaman berbahaya itu.
Dia merasa betapa kulit bagian tubuh yang terlilit tadi terasa gatal-gatal panas, tanda bahwa tanaman itu pun mengandung racun jahat!
Dia tidak peduli lagi ketika melihat sesosok bayangan berkelebat pergi, hanya dapat menduga bahwa tentu bayangan itu yang tadi menolongnya.
Dia lari cepat, ingin menjauhi tempat berbahaya itu secepat mungkin.
Kini hanya tinggal satu jurusan lagi yang dapat ia ambil.
Kembali ke belakang berarti kembali ke perkampungan penghuni.
Ke kiri berarti memasuki hutan-hutan yang penuh binatang-binatang berbisa, di antaranya ular-ular dan lebah yang telah dijumpainya.
Entah binatang-binatang berbisa mengerikan apa lagi yang berada di situ, dia tidak mampu membayangkan.
Kalau ke kanan berarti dia harus melalui tanaman-tanaman hidup itu atau binatang-binatang cecak raksasa!
Kini dia berlari ke depan, satu-satunya daerah yang belum dilaluinya.
Tampak dari atas daerah ini seperti daerah aman karena tidak tampak tanaman, tidak ada binatang hidup, melainkan pasir bersih yang terus membentang sampai ke laut.
Itulah agaknya jalan keluar!
Betapa girang hatinya ketika ia sudah menuruni pegunungan dan tiba di daerah pasir itu.
Bersih tidak ada bahaya.
Biarpun dia sudah lelah sekali dan napasnya masih terengah karena merasa ngeri oleh pengalamannya tadi, namun dalam girangnya Kwi Hong tidak merasakan kelelahannya dan ia berlari terus, hendak mencapai tepi laut secepatnya.
Pasir yang terbentang luas dan selalu tertimpa sinar matahari itu terasa hangat dan lunak.
"Aihhhh....!"
Tiba-tiba Kwi Hong menjerit karena kakinya amblas ke dalam pasir sampai selutut tingginya.
Cepat ia berusaha menarik kaki kirinya yang terjeblos ini ke atas, akan tetapi begitu ia mempergunakan tenaga pada kaki kanan untuk menekan pasir dan menarik kaki kirinya, kini kaki kanannya juga ambles ke bawah, malah melewati lututnya!
Ia terkejut sekali, mengerahkan tenaga untuk keluar.
Akan tetapi, makin banyak ia mengeluarkan tenaga, makin dalam kedua kakinya amblas ke dalam pasir sehingga setelah tubuhnya masuk ke pasir sampai pinggang, Kwi Hong diam tak berani bergerak lagi dan hanya memandang ke sekeliling dengan mata terbelalak seperti kelinci masuk perangkap!
Keadaan sekelilingnya sunyi, yang ada hanya pasir dan terdengar lapat-lapat mendeburnya ombak di pantai depan.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras.
Ia memutar tubuh atas dan terbelalak memandang dengan hati penuh kengerian.
Seekor binatang seperti anjing hutan datang berlari, matanya merah, mon-congnya menggereng-gereng dan binatang itu lari ke arah dia terbenam di pasir!
Tak dapat diragukan lagi niat yang terbayang di mata binatang itu, tentu akan menerkamnya!
Binatang itu meloncat, Kwi Hong menjerit dan dengan mata terbelalak ia melihat betapa kaki binatang itu amblas pula ke dalam pasir, hanya dalam jarak dua meter di sebelah kirinya!
Kini binatang itu melolong-lolong, meronta-ronta namun tubuhnya makin amblas ke bawah.
Makin dalam sehingga yang tampak hanya lehernya saja.
Binatang itu memandang kepadanya dengan marah dan gerengannya makin hebat.
Seolah-olah terasa oleh Kwi Hong hawa panas yang menyembur dari mulut yang terbuka lebar itu.
Kwi Hong hampir pingsan, matanya tak pernah berkedip memandang binatang itu yang ternyata adalah seekor anjing srigala yang berbulu hitam.
Tubuh binatang itu makin amblas, lolongannya makin dahsyat dan akhirnya gerengannya berhenti karena kepalanya mulai terbenam, mulutnya kemasukan pasir, hidungnya, ma tanya dan akhirnya yang tampak hanya ujung kedua telinganya yang masih bergerak-gerak dalam sekarat.
Akhirnya kedua ujung telinganya itu pun lenyap.
Binatang itu telah ditelan pasir, tanpa meninggalkan bekas!
"Tolong....!"
Kwi Hong menjerit dengan hati penuh kengerian ketika ia merasa betapa tubuhnya makin amblas, agaknya kakinya disedot dan ditarik sesuatu.
Berdiri bulu kuduknya karena timbul dugaannya bahwa srigala itu telah menjadi setan dan kini setan penasaran itu menarik kedua kakinya ke bawah!
Dia tidak tahu bahwa tempat itu memang amat berbahaya daripada daerah lain di pulau itu.
Ancaman bahaya lain tampak di depan mata, sedikitnya orang dapat menjaga diri.
Akan tetapi bahaya pasir ini tidak tampak, kelihatan tenang dan aman, akan tetapi, sekali orang terperosok ke dalamnya, pasir di bawah yang bergerak itu akan menyedot tubuh sampai terbenam di dalamnya dan tentu saja akan mati!
Karena panik dan tubuhnya menegang, Kwi Hong terhisap makin dalam, kini dia terbenam sampai ke dada!
Tiba-tiba terdengar suara "wirrrr!"
Dan sinar hitam menyambar, tahu-tahu dada dan kedua lengannya telah terbelit sehelai tali sutera hitam dan tubuhnya ditarik keluar dari pasir!
Dia menengok dan melihat wanita cantik bermuka putih.
Majikan Pulau Neraka, telah berdiri kurang lebih sepuluh meter di sebelah kanannya dan menggunakan tali sutera hitam untuk membetotnya.
Sebentar saja tubuhnya sudah tertarik keluar dan diseret sampai ke depan kaki wanita itu yang melepaskan libatan tali suteranya.
"Ohhhh.... ahhhh...."
Kwi Hong merangkak bangun sambil terengah-engah, kemudian ia berdiri di depan wanita itu yang menggulung talinya dan melibatkan di pinggangnya yang ramping sambil me-mandang kepadanya.
"Aku mengerti sekarang....."
Kwi Hong berkata marah.
"Kiranya engkau tidak sebaik yang kuduga! Engkau sengaja membebaskan aku karena yakin bahwa aku tidak akan dapat pergi dari pulau setan ini! Engkau sengaja mempermainkan aku!"
"Sudah puaskah engkau sekarang? Jangankan engkau, biar Gurumu sekali pun belum tentu dapat memasuki dan keluar dari pulau ini. Aku membebaskan engkau karena tahu bahwa lari dari sini tidak mungkin. Masih banyak lagi bahaya-bahaya yang lebih hebat daripada yang kau lihat tadi. Ada rawa-rawa yang mengeluarkan uap beracun, binatang-binatang sebesar harimau sampai sekecil semut yang gigitannya mengandung bisa maut, tanah-tanah yang dapat merekah dan mengubur manusia hidup-hidup. Ini adalah Pulau Neraka, tahu? Kau kutahan di sini untuk melihat apakah Gurumu akan mampu merampasmu kembali."
Kwi Hong bergidik, kemudian berkurang kemarahannya terhadap wanita itu.
Dalam dunia kang-ouw, tidaklah aneh kalau seorang tokoh menggunakan siasat memancing datangnya lawan dengan pen-culikan seperti yang dilakukan atas dirinya.
Betapapun juga, ia harus mengaku bahwa dia tidak menerima perlakuan yang tidak baik.
"Sungguh mengherankan. Kalau Pulau Neraka ini begini berbahaya, melebihi gambaran neraka sendiri, mengapa kalian suka menjadi penghuni di sini?"
Tanyanya sambil memandang wajah jelita yang berwarna putih itu, diam-diam menduga-duga apakah warna pada muka mereka itu disebabkan oleh keadaan pulau yang amat mengerikan ini.
"Engkau takkan mengerti. Marilah kita pulang. Engkau tentu lelah dan amat lapar bukan?"
Kwi Hong mengerutkan keningnya.
"Lelah dan lapar tidak penting. Yang penting, kapan engkau hendak membebaskan aku dari pulau jahanam ini?"
"Engkau anak baik, berani dan patut menjadi murid Pendekar Siluman...."
"Pendekar Super Sakti!"
Kwi Hong memotong. Wanita aneh itu tersenyum.
"Baiklah Pendekar Super Sakti. Kapan engkau bebas, tergantung dari Gurumu. Kalau dia tidak berhasil merampasmu kembali, aku akan senang sekali kalau engkau menjadi muridku, menjadi teman puteraku."
"Aku tidak sudi! Terutama sekali tidak sudi menjadi teman anakmu yang kurang ajar itu!"
Sejenak wanita itu mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang lebar itu mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi tidak lama ia dapat menguasai kemarahannya dan berkata.
"Dia nakal dan manja, akan tetapi tidak kurang ajar. Marilah!"
Kwi Hong merasa kecewa bahwa dia tidak berhasil membikin marah wanita aneh ini dan tanpa menjawab ia lalu mengikuti wanita itu pergi dari situ.
Sungguh amat mengherankan.
Wanita itu mengambil jalan membelak-belok tidak karuan, akan tetapi sebentar saja mereka sudah tiba di depan gedung besar seperti istana yang temboknya bercat hitam itu!
Anak laki-laki bernama Keng In itu datang berlari-lari menyambut mereka dan begitu melihat Kwi Hong, ia tertawa dan mengejek.
"Aha, engkau datang lagi? Tadinya kusangka engkau akan dapat keluar dari pulau ini!"
"Keng In, mulai sekarang engkau tidak boleh bersikap kurang ajar dan mengganggu Kwi Hong. Dia tawanan kita, akan tetapi juga tamu terhormat. Kau ajak dia bermain-main dengan baik, akan tetapi tidak boleh kau ganggu. Kalau sampai engkau mengganggunya dan dia menghajarmu, aku tidak akan membelamu!"
Wanita itu berkata dan Keng In membelalakkan mata memandang ibunya seperti orang kaget dan heran karena selamanya ibunya tidak pernah menegurnya dengan kata-kata keras, kemudian wajahnya menjadi muram dan kecewa, mulutnya merengut, akan tetapi dia mengangguk dan bibirnya menjawab lirih.
"Baik, Ibu."
Di dalam hatinya, diam-diam Kwi Hong merasa puas.
Rasakan kau sekarang, pikirnya!
Akan tetapi karena dia merasa tidak enak hati terhadap wanita itu, dia diam saja dan tidak membantah ketika diajak makan.
Melihat keadaan di pulau yang menyeramkan itu, Kwi Hong tadinya tidak mengharapkan makanan yang baik.
Akan tetapi betapa heran dia dan juga girang hatinya ketika menghadapi meja, dia melihat hidangan yang serba lezat dan mahal!
Baru masakan ikan udang dan kepiting serta penghuni laut lainnya saja sudah ada belasan macam, belum daging binatang darat dan sayur mayur yang serba lengkap.
Benar-benar seperti hidangan dalam istana raja!
Karena perutnya lapar, dan wataknya bebas tidak malu-malu, Kwi Hong tanpa sungkan makan hidangan yang disukainya, diam-diam memuji karena selain serba lengkap, juga masakannya amat enak, tidak kalah oleh masakan di Pulau Es!
Sudah satu minggu Kwi Hong tinggal di Pulau Neraka.
Dia mendapat perlakuan yang baik, mendapat kamar di sebelah kiri, kamar ketuanya sendiri dengan pintu tembusan.
Keng In tinggal di kamar sebelah kanan.
Agaknya Ketua Pulau Neraka itu hendak mengawasi sendiri kepada Kwi Hong, siap untuk mem-pertahankan apabila Suma Han datang!
Namun Kwi Hong mendapat kebebasan penuh, hanya ke mana dia pergi, perlu ada yang diam-diam mengawasinya, terutama tokoh-tokoh muka kuning yang kedudukannya sudah tinggi.
Mentaati perintah ibunya, kini Keng In tidak lagi suka mengganggunya, bahkan setelah kenal, anak laki-laki ini merupakan teman yang cukup menyenangkan.
Otaknya cerdas sekali dan Kwi Hong mendapat banyak keterangan mengenai pulau mengerikan itu dari Keng In.
Di pulau itu terdapat sekawanan burung rajawali yang dijinakkan, jumlahnya ada sembilan ekor.
Burung-burung itu dilatih sedemikian rupa sehingga hanya mentaati perintah wanita majikan pulau, puteranya, dan empat orang tokoh muka kuning saja.
Terhadap perintah lain orang, burung-burung ini tidak peduli, apalagi terhadap perintah Kwi Hong yang mereka anggap sebagai musuh!
Maka lenyaplah harapan Kwi Hong untuk dapat melarikan dari dengan bantuan seekor di antara burung-burung itu.
Demikian terlatih burung-burung itu sehingga mereka tidak mau menerima makanan yang dlberikan Kwi Hong.
Pulau itu berpenghuni kurang lebih lima puluh orang.
Selain Keng In, ada pula belasan orang anak-anak laki perempuan, akan tetapi karena mereka itu adalah anak-anak dari para anak buah pulau, tentu saja mereka takut mendekati Keng In yang di situ seolah-olah menjadi semacam "pangeran".
Betapapun juga, ada beberapa orang di antara mereka yang menjadi teman Keng In dan kini sudah berkenalan pula dengan Kwi Hong.
"Semua orang di sini mengecat mukanya, mengapa engkau dan anak-anak itu tidak?"
Pada suatu hari Kwi Hong bertanya kepada Keng In.
"Mengecat muka? Ah, betapa bodoh anggapan itu. Warna-warna pada muka penghuni Pulau Neraka menjadi tanda akan kedudukan mereka, karena warna itu timbul setelah sin-kang mereka meningkat tinggi. Makin terang warnanya, makin tinggi ilmu kepandaian dan kedudukan mereka."
"Ahh, kalau begitu, Ibumu yang mempunyai warna putih merupakan orang yang paling pandai?"
"Tentu saja! Tidak ada yang dapat menandingi Ibu. Kemudian menyusul para tokoh bermuka kuning dan merah muda, hijau pupus dan selanjutnya, makin gelap warna mukanya, makin rendah kedudukannya. Yang tinggal di pulau ini adalah anggauta yang sudah memiliki kepandaian, sudah melatih ilmu sin-kang yang khas sehingga ada warna timbul di mukanya. Masih ada puluhan anggauta paling rendah yang belum berhasil memiliki sin-kang sehingga mukanya berwarna, dan mereka itu belum boleh tinggal di pulau, melainkan di sekitar Pulau Neraka, yaitu di pulau-pulau kecil dan sewaktu-waktu kalau tenaga mereka dibutuhkan, baru mereka dipanggil. Yang berhasil, mula-mula mukanya hitam, lalu merah dan selanjutnya, jangan kau memandang rendah. Warna-warna itu menandakan bahwa kami telah memiliki sin-kang khas Pulau Neraka yang amat lihai!"
"Hemmm..... dan engkau sendiri mengapa belum memiliki warna pada mukamu?"
Keng In mengerutkan alisnya.
"Sebelum berusia lima belas tahun, anak-anak tidak boleh mempelajari sin-kang itu, bisa membahayakan nyawanya. Sin-kang itu dilatih dengan minum racun-racun dahsyat setiap hari! Tentu saja anak-anak dari mereka yang sudah berwarna mukanya boleh tinggal di sini."
Kwi Hong teringat akan segala macam binatang dan tetumbuhan beracun di pulau ini dan dia bergidik.
Ia maklum bahwa memang penghuni Pulau Neraka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mendengar cara berlatih sin-kang sambil minum racun itu, dia dapat membayangkan betapa hebat ilmu mereka.
Akan tetapi dia masih merasa yakin bahwa gurunya akan mampu menandingi mereka semua, bahkan Si Wanita Muka Putih ibu Keng In.
"Kenapa begitu jahat, memaksa orang-orang di gunung mengumpulkan obat-obat setiap bulan?"
"Eh, kau tahu juga?"
"Tentu saja, kalau tidak masa aku menyerangmu. Aku telah menyelidiki secara diam-diam di punggung garudaku dan menyaksikan kesibukan mereka, melihat pula betapa di antara mereka ada yang membunuh diri karena tidak dapat mengumpulkan akar dan daun obat secukupnya. Mengapa kau begitu jahat?"
"Itu adalah perintah Ibuku. Mereka itu terlalu sombong, tidak mau mengalah bahkan melukai anggauta kami yang mencari obat. Kami amat membutuhkan akar-akar dan daun-daun obat itu. Engkau melihat sendiri keadaan di pulau ini. Banyak racun yang berbahaya meng-ancam kami, bahkan hawa yang kami hisap setiap saat telah keracunan. Tanpa obat-obat yang tepat untuk memusnahkan racun, bagaimana kami bisa hidup?"
Kwi Hong mengangguk-angguk.
Kini dia mengerti dan tidak bisa menyalahkan mereka.
Gadis cilik yang hidup di Pulau Es ini pun mengerti akan kebenaran yang dipergunakan sebagai hak yang lebih kuat untuk hidup kalau perlu dengan menekan atau membunuh yang lemah.
Hukum rimba berlaku di tempat-tempat yang berbahaya di mana mahluk harus menjaga diri sendiri dari bahaya-bahaya yang mengancam dan di mana satu-satunya yang dibutuhkan hanya kekuatan dan kemenangan!
Keadaan seperti itu memaksa manusia mengandalkan kekuatan untuk hidup dan hal ini menjadi kebiasaan membentuk watak orang-orang kang-ouw yang tidak suka akan segala macam aturan!
Ketika Suma Han meloncat turun dari burung garudanya di depan Istana Pulau Es, tiga orang pembantu utamanya yang menyambutnya memandang dengan penuh perhatian.
Terutama sekali Phoa Ciok Lin yang menjadi kepala pengurus bagian dalam, seorang wanita muda yang cantik jelita, memandang wajah Suma Han dengan mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang.
Dia melihat sesuatu pada wajah yang menjadi pujaan hatinya.
Dia tahu bahwa pendekar yang dikaguminya itu menderita tekanan batin yang hebat sekali.
Biarpun pendekar itu dapat menutupinya dengan hati sehingga tidak tampak sedikitpun ketegangan urat syarafnya, namun wajah yang tampan itu terselubung kemurungan yang amat mendalam.
Yap Sun, wakil bagian luar Pulau Es yang bertubuh gemuk berusia lima puluh tahun itu pun mengerti bahwa majikannya sedang berduka, demikian pula Thung Sik Lun, sutenya yang kurus.
Namun pandangan mereka tidak setajam Phoa Ciok Lin yang lebih menggunakan perasaan hatinya.
"Kami mohon maaf kepada To-cu bahwa kami tidak berhasil mencari Siocia. Apakah To-cu juga tidak berhasil?"
Yap Sun melapor dan sekaligus bertanya sungguhpun dia sudah menduga bahwa kemurungan wajah majikannya itu tentu karena Kwi Hong tak berhasil ditemukan.
Suma Han menggelengkan kepalanya dan diam-diam ia terkejut melihat pandang mata Phoa Ciok Lin yang tajam menyelidik.
Tentu wajahnya telah membayangkan perasaan hatinya yang terhimpit, pikirnya.
"Bocah itu benar-benar membikin repot banyak orang. Aku tidak berhasil menemukannya, Paman Yap. Sampai jauh aku menjelajah tanpa hasil. Biarlah kita menunggu saja di pulau, kalau dia sudah bosan merantau tentu akan pulang juga."
Sambil berkata demikian, Suma Han lalu melangkah masuk ke dalam Istana Pulau Es yang kuno namun kini bersih itu, diikuti oleh Phoa Ciok Lin yang sejak tadi hanya menyambut kedatangan Suma Han dengan pandang matanya yang bening.
"Kusediakan makan, Taihiap?"
Suma Han menggeleng.
"Aku tidak lapar."
"Ingin beristirahat? Kamar Taihiap sudah kusuruh bersihkan setiap hari. Atau perlu disediakan minum? Minum apakah?"
"Tidak usah repot Ciok Lin dan terima kasih atas kebaikanmu. Aku hanya ingin.... menyendiri."
Suma Han menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan menyandarkan tongkatnya di meja.
Ciok Lin tetap berdiri memandang, kedua tangan tergantung seperti orang lemas, wajahnya penuh kekhawatiran.
Karena sampai lama wanita itu masih berdiri tanpa bergerak, Suma Han mengangkat muka memandang.
Dua pasang mata bertemu dan Suma Han menunduk kembali.
"Ciok Lin, maaf. Kau tinggalkan aku, aku ingin menyendiri."
Katanya. Gadis yang usianya sebaya, hanya lebih muda setahun dari Majikan Pulau Es itu, menahan napas menekan hati yang perih.
"Baiklah, Taihiap....."
Ia membalik-kan tubuh dan melangkah pergi dengan muka menunduk.
"Ciok Lin...."
Suma Han menyadari akan sikapnya.
Dia tahu betapa pembantunya ini selain amat setia, juga memujanya seperti dewa, bahkan kadang-kadang ada sinar mata memancar keluar dari sepasang mata yang membuat dia khawatir karena sinar mata itu jelas membayangkan sinar kasih sayang amat mendalam!
Ia menyesal telah bersikap sedingin itu setelah orang menyambutnya demikian ramah dan penuh perhatian.
Dengan gerakan cepat, gadis itu memutar tubuh.
"Ada apakah, Taihiap?"
Suma Han tersenyum minta maaf, dan mulutnya terkata.
"Aku memang tidak lapar, akan tetapi akan segarlah kalau kau suka mengambilkan secawan air dingin dari sumber."
Wajah yang manis itu berseri gembira.
"Baik, Taihiap, segera kuambilkan!"
Dan kini tubuh gadis itu tidak melangkah perlahan dengan muka menunduk lagi, melainkan berkelebat dan lenyap laksana menghilang saja.
Suma Han tersenyum seorang diri.
Perempuan!
Sungguh lebih mudah mengukur dalamnya lautan daripada mengukur dalamnya hati perempuan.
Semenjak kecil ia hidup bersama Lulu adiknya, mengira bahwa dia sudah mengenal adik angkatnya itu lahir batin.
Siapa kira kenyataan menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak mengenal isi hatinya sehingga segala jerih payah yang ia lakukan untuk adik angkatnya itu malah berakibat sebaliknya seperti yang ia harapkan.
Dia berhasil mengawinkan adiknya dengan Wan Sin Kiat, seorang pemuda pilihan, tampan dan gagah perkasa, berbudi mulia dan berjiwa pendekar.
Akan tetapi, siapa kira, pernikahan itu malah merupakan kesengsaraan bagi Lulu yang kemudian nekat meninggalkan suaminya bersama anaknya sehingga Wan Sin Kiat membunuh diri dengan cara berjuang sampai mati!
Semua itu karena Lulu mencinta dia?
Benarkah seperti yang dikatakan Im-yang Seng-cu?
Dan dia....
sudah lama namun dianggapnya terlambat ketika ia merasa yakin bahwa satu-satunya cinta kasih murni yang berada di hatinya adalah untuk Lulu seorang!
Semenjak pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu dan mendengar berita tentang Lulu, Suma Han mengalami pukulan batin yang amat hebat, lebih hebat daripada kekhawatirannya tentang kepergian Kwi Hong.
Semenjak itu, dia tidak pernah makan, minum atau tidur sehingga ketika ia tiba di istana Pulau Es, tubuhnya menjadi kurus, mukanya sayu dan agak pucat.
Kini menghadapi sikap Phoa Ciok Lin, pembantunya yang setia, hatinya terasa makin perih.
Kalau mungkin, dia minta dijauhkan daripada kaitan kasih sayang dengan wanita!
Betapa banyaknya penderitaan batin yang ia alami karena hubungan kasih sayang ini yang hanya tampaknya saja manis, namun sesungguhnya mengandung kepahitan yang sampai lama terasa di hati.
Berkelebatnya bayangan menyadarkannya dari lamunan dan Ciok Lin telah berdiri di depannya, membawa sebuah cawan kosong dan seguci air segar yang baru diambilnya dari sumber air di atas pegunungan pulau itu.
Diam-diam Suma Han memuji.
Ilmu kepandaian Ciok Lin telah meningkat dengan hebat dan kini dapat dipercaya menjadi orang kedua di Pulau Es jauh melampaui kepandaian Yap Sun sendiri!
Ia memandang wajah itu dan diam-diam tersenyum di hatinya.
Gadis itu telah mengambil air dari gunung yang cukup jauh, bahkan telah men-cuci muka, bersisir, dalam waktu yang amat cepat!
Suma Han menerima air di cawan yang dituangkan oleh Ciok Lin, lalu meminumnya.
Segar dingin terasa sampai ke perutnya.
"Terima kasih, Ciok Lin."
"Tambah lagi, Taihiap?"
"Cukup, letakkan saja di meja, nanti kuambil sendiri."
Sejenak Ciok Lin meragu, kemudian ia memberanikan diri, mengangkat muka memandang wajah yang bayangannya sudah terukir di hatinya itu.
"Taihiap, dalam kepergian Taihiap mencari Kwi Hong, apakah Taihiap berjumpa dengan kenalan lama?"
Suma Han membalas pandangan itu dengan sinar mata penuh selidik.
"Ciok Lin, mengapa kau menduga demikian?"
Ciok Lin menarik napas panjang lalu berkata.
"Semenjak saya berada di sini, saya melihat Taihiap hidup tenang dan tenteram seperti permukaan laut yang tidak tersentuh angin. Akan tetapi sekarang laut itu bergelombang dan digelapkan awan. Apa lagi yang menimbulkan kecuali pertemuan dengan kenalan lama dan dipaksa mengenang peristiwa-peristiwa lalu?"
Suma Han menghela napas.
"Aihhh, dugaanmu memang benar, Ciok Lin. Sekali berkunjung ke dunia ramai, banyak persoalan tidak menyenangkan hati terdengar. Akan tetapi sudahlah, aku akan beristirahat dan akan mencoba melupakan semua itu. Yang terpenting adalah soal perginya Kwi Hong. Harap engkau suka meninggalkan aku sendiri."
"Baiklah, Taihiap."
Sekali ini Ciok Lin pergi dan Suma Han duduk termenung mengenangkan kata-katanya sendiri.
Melupakan?
Urusan dengan Im-yang Seng-cu, urusan dendam Tan-siucai bekas tunangan Lu Soan Li yang katanya mendendam kepadanya, urusan perebutan pusaka-pusaka yang lenyap.
Semua itu dapat dengan mudah ia lupakan karena memang tidak dipikirkannya lagi.
Akan tetapi Lulu....!
Dapatkah ia melupakan Lulu?
Kalau adik angkatnya itu hidup bahagia di samping suami dan anaknya, tentu dia akan dapat melupakannya, atau bahkan ikut merasa berbahagia karena adik yang dicintanya itu hidup bahagia.
Akan tetapi sekarang?
Kebahagiaan itu berantakan dan betapa mungkin ia dapat melupakannya?
Apalagi karena perginya Lulu meninggalkan suaminya itu menimbulkan dugaan di hatinya bahwa tentu Lulu yang telah melakukan hal yang menghebohkan dan menggegerkan dunia kang-ouw.
Siapa lagi yang dapat membongkar kuburan dan membawa pergi Sepasang Pedang Iblis?
Hanya dia dan Lulu yang mengetahui di mana adanya sepasang pedang itu dikubur.
Di mana sekarang adanya Lulu dan anaknya?
Jangan-jangan...., ah, dia teringat akan ketua Thian-liong-pang, wanita yang mukanya diselubungi kain itu.
Bentuk tubuhnya, suaranya, dan sinar mata dari balik selubung itu!
Mengapa dia begitu bodoh?
Tentu Lulu orangnya!
Akan tetapi kalau benar Lulu, mengapa menantangnya?
Dan ilmu kepandaiannya pun hebat sekali.
Orang seperti Lulu memungkinkan terjadinya segala hal aneh.
Dia tidak akan merasa heran kalau tiba-tiba Lulu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripadanya sendiri!
Yang amat mengherankan hatinya, kalau benar ketua Thian-liong-pang itu Lulu adanya, mengapa menantang dia?
Mengapa seperti hendak memusuhinya?
Sampai tiga hari lamanya pertanyaan ini mengganggu hati Suma Han.
Ketika pada pagi hari itu ia mengambil keputusan untuk pergi lagi meninggalkan Pulau Es, pertama untuk mencari Kwi Hong lagi dan kedua untuk menyelidiki Thian-liong-pang karena ia merasa penasaran kalau belum membuka selubung muka Ketua itu untuk melihat apakah dugaannya tidak salah, tiba-tiba terdengar seruan-seruan di luar istana.
"Garuda betina datang....!"
"Nona Kwi Hong tidak bersama dia....!"
Seruan seruan itu cukup menyatakan bahwa garuda betina pulang tanpa Kwi Hong, berarti bahwa telah terjadi sesuatu dengan diri murid atau keponakannya itu!
Akan tetapi Suma Han tidak menjadi gugup.
Dengan tenang ia berloncatan keluar dan garuda betina sudah berada di pekarangan bersama garuda jantan yang agaknya sudah lebih dulu menyambut.
Melihat Suma Han, garuda betina itu lalu mendekam dan mengeluarkan suara seperti rintihan, kemudian meloncat ke atas terbang dan turun lagi mendekam, terbang lagi dan mendekam lagi.
Suma Han menghampiri.
"Apakah Nona ditawan orang?"
Garuda itu mengeluarkan suara dan mengangguk-angguk, lalu terbang dan mendekam lagi. Suma Han menoleh kepada pembantu-pembantunya dan berkata.
"Agaknya Kwi Hong ditawan orang, biar aku sendiri yang menyusul dan menolongnya. Jaga pulau baik-baik, aku pergi takkan lama."
Setelah berkata demikian ia menggapai dengan tangan kirinya.
Garuda jantan meloncat datang dan sekali menggerakkan tubuhnya, Suma Han telah mencelat ke atas punggung garuda jantan yang terbang tinggi mengejar garuda betina yang telah mendahuluinya.
Garuda betina yang menjadi penunjuk jalan terbang tinggi di atas lautan kemudian mengelilingi sekumpulan pulau-pulau kecil.
Di tengah kumpulan pulau itu tampak sebuah pulau hitam.
"Hemm, agaknya penghuni Pulau Neraka yang menawan Kwi Hong. Betapa lancang dan beraninya mereka!"
Suma Han menjadi gemas dan menyuruh garudanya menukik ke bawah.
Adapun garuda betina yang kelihatannya jerih, hanya mengikuti dari belakang.
Suma Han adalah seorang pendekar yang selain sakti, juga amat cerdik.
Kalau penghuni Pulau Neraka sudah berani menculik muridnya, tentu mereka itu kini telah siap untuk menyambut kedatangannya, karena sudah tentu mereka ini tahu bahwa dia akan menolong muridnya.
Kenyataan bahwa garuda betina pulang tanpa menderita luka merupakan bukti bahwa penghuni Pulau Neraka sengaja memancingnya datang dan harus berlaku hati-hati sekali.
Dari atas dia melihat pulau yang belum pernah dikunjungi, hanya didengarnya saja dongengnya itu.
Pendaratan ke pulau itu hanya mungkin dilakukan dari angkasa, karena pulau itu dikurung lautan yang bergelombang dahsyat, yang akan menghempaskan setiap perahu yang mencoba untuk mendarat.
Tentu kini penjagaan ketat dilakukan untuk menyambut kedatangannya lewat angkasa menunggang burung, pikirnya.
Justru tempat yang berbahaya, yang tidak mungkin didarati, yaitu melalui lautan, merupakan tempat yang terbebas daripada penjagaan.
Karena pikiran ini, dia lalu menyuruh garudanya terbang rendah di atas laut dekat tebing karang yang airnya berombak besar.
Setelah burung itu terbang rendah, Suma Han meloncat dari atas punggung burung, melemparkan tongkatnya ke bawah.
Tongkat kayu itu disambar ombak dan mengambang.
Bagaikan seekor burung, tubuh Suma Han menyusul tongkatnya dan kaki tunggalnya sudah hinggap di atas tongkat yang terombang ambing ombak.
Dengan menekuk lutut ia menggunakan kedua tangannya sebagai dayung sehingga tongkatnya meluncur ke pinggir mendekat karang.
Pada saat itu, ombak dari belakangnya mendorong pula sehingga tubuhnya meluncur ke depan, ke arah tebing batu karang yang agaknya akan menerima dan menghancurkan tubuh Pendekar Super Sakti ini.
Namun Suma Han telah memperhitungkan dan ia sudah mendahului meloncat dengan ilmunya Soan-hong-lui-kun sambil menyambar tongkatnya.
Ketika tubuhnya meluncur dekat tebing karang, tongkatnya menotok ke depan, ke arah batu karang dan menggunakan tenaganya untuk mencelat ke atas, menotok lagi dan meloncat lagi sehingga dengan lima kali loncatan ia telah dapat sampai di puncak tebing dengan selamat.
Ia menoleh dan melihat bahwa dua ekor burung garuda peliharaannya itu telah hinggap dengan selamat di sebuah batu karang yang menonjol, tidak tampak dari darat.
Ia girang akan kecerdikan dua ekor burung itu yang mengerti akan siasatnya yang menyuruh mereka bersembunyi dan menanti isyaratnya.
Dari atas tebing yang tinggi ini, Pendekar Super Sakti memeriksa keadaan pulau.
Hemm, benar-benar tempat yang berbahaya, pikirnya.
Berbahaya dan teratur oleh tangan ahli karena keadaannya mencurigakan sekali.
Dari tempat dia mendarat, kalau hendak memasuki pulau harus melalui hutan-hutan yang gelap dan pohon-pohonnya diatur mencurigakan, Seperti lorong menyesatkan dan banyak bagian yang serupa sehingga memasuki hutan itu tentu akan membingungkan orang dan akan menyesatkan.
Pula, mungkin di dalam hutan itu bersembunyi binatang-binatang jahat yang berbisa.
Dari sebelah kiri melewati daerah yang seperti rawa, amat luas dan penuh alang-alang tinggi.
Daerah itu amat berbahaya karena melalui rawa yang tertutup oleh alang alang orang tak mampu menjaga diri sebaiknya, apalagi kalau sampai terjeblos ke dalam lumpur dan diserang banyak binatang buas.
Dari se-belah kanan melalui pegunungan karang yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang aneh bentuknya, kelihatan sunyi namun malah mencurigakan sekali karena biasanya, di tempat-tempat yang diatur orang-orang pandai seperti pulau itu, tempat yang kelihatan paling aman biasanya justru merupakan tempat yang paling berbahaya.
Adapun pendaratan dari seberang sana, berlawanan dengan tempat ia mendarat, orang harus melalui daerah yang penuh pasir, kelihatan bersih sunyi dan aman, namun ia merasa yakin bahwa tempat itu pun amat berbahaya karena selain pendatang tidak akan dapat bersembunyi dan nampak dari jauh, juga dia sudah mendengar tentang pasir bergerak yang dapat menyedot benda bergerak ke dalamnya.
Dia mendarat tanpa perhitungan karena memang belum mengenal keadaan.
Nasib saja yang menentukan dan setelah ia mendarat di situ, biarlah ia memasuki pulau itu dari situ pula, melalui hutan-hutan gelap yang kelihatan paling berbahaya itu.
Sampai beberapa lama dia memeriksa seluruh hutan itu dari atas, menghafal letak-letak kelompok pohon yang beraneka macam dan memperhatikan mata angin dengan melihat letak matahari.
Melihat arah matahari, dia tahu bahwa dia telah mendarat di bagian se-latan dan untuk menuju ke tengah hutan yang ia yakin tentu menjadi markas atau sarang penghuni Pulau Neraka, dia harus menuju ke utara.
Tiba-tiba Suma Han menggerakkan tubuh menyelinap ke balik batu karang menonjol, menyembunyikan diri dan mengintai.
Tidak salah lagi, yang terbang di atas itu adalah seekor burung rajawali yang besarnya menandingi garudanya dan di punggung rajawali itu duduk seorang manusia.
Burung itu terbang berputaran di atas pulau, maka tahulah dia bahwa orang yang menunggang rajawali itu, yang terlalu jauh untuk dapat dilihat besar kecilnya atau laki-laki perempuannya, tentu sedang melakukan pengintaian atau pemeriksaan.
Setelah burung itu menukik turun dan lenyap di balik pohon-pohon, ia lalu keluar dari tempat sembunyinya.
Sekali lagi ia memandang keadaan hutan yang akan dilaluinya, kemudian tubuhnya bergerak ke depan cepat sekali, dengan loncatan-loncatan jauh.
Akan tetapi, dalam kecepatannya yang luar biasa, Suma Han selalu tetap waspada dan hati-hati karena dia maklum betapa berbahaya daerah yang tak dikenalnya itu.
Dia kini sudah memasuki hutan yang gelap.
Bagian atas hutan itu tertutup rapat oleh daun-daun lebat sehingga sukar untuk melihat di mana adanya matahari.
Namun, dari sinar matahari yang menerobos ke bawah ia dapat memperhitungkan dan dia terus maju menuju ke arah utara.
Dia tidak mau membelok melainkan lurus bergerak ke depan.
Kalau keadaan sedemikian gelapnya dan ia merasa kehilangan arah, Suma Han mencelat ke atas pohon besar dan melihat letak matahari, lalu turun lagi dan melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba ia berhenti bergerak.
"Ular...."
Bisiknya dan ia sudah siap.
Penciumannya yang tajam dapat menangkap bau amis ular-ular itu, juga pendengarannya dapat menangkap suara mendesis-desis dari depan.
Namun dia tidak gentar dan melanjutkan perjalanan ke depan.
Hutan yang gelap dan mudah menyesatkan orang itu kini terganti dengan bagian yang terbuka, ada seratus meter luasnya dan di tempat inilah berkumpulnya ular-ular itu, kemudian di seberang sana disambung pula dengan hutan lain.
Suma Han berdiri dan memperhatikan ular-ular itu.
Diam-diam ia kagum sekali.
Dari mana saja penghuni pulau ini mengumpulkan ular-ular yang selain amat banyak jumlahnya, Ada ribuan ekor, juga amat banyak macamnya, semua terdiri dari ular-ular berbisa!
Dia mengenal beberapa ekor ular yang gigitannya amat berbahaya, sekali gigit tentu merenggut nyawa.
Dan melihat ular-ular yang beraneka macam itu, dengan warna yang bermacam-macam pula, timbul rasa sayang di hati Suma Han.
Sayang kalau kumpulan ular berbisa yang begitu lengkap di bumi!
Pula, dia tidak mempunyai niat sedikitpun juga untuk melakukan pembunuhan dan pengrusakan di pulau ini.
Pertama, dia belum melihat bukti bahwa Kwi Hong di tahan di Pulau ini.
Ke dua, andaikata benar demikian, penghuni Pulau Neraka hanya melakukan hal itu untuk memancing dia datang, tentu Kwi Hong tidak diganggu karena buktinya, burung garuda betina pun tidak dilukai.
Kalau orang tidak berniat buruk, mengapa dia harus melakukan pembunuhan dan pengrusakan.
Kini ular-ular itu telah mengetahui kedatangannya, binatang-binatang ini mendesis-desis dan bergerak maju seperti barisan, siap untuk mengeroyok manusia yang berani datang ke tempat itu.
Suma Han mengukur dengan pandang matanya.
Kalau bukan dia yang datang ke tempat itu, agaknya sukar untuk melewati ular-ular yang memenuhi daerah sepanjang seratus meter itu, kecuali dengan membunuh mereka semua.
Untuk meloncati jarak yang sekian jauhnya, biar dia seorang ahli ilmu Soan-hong-lui-kun sekalipun, tentu tidak mungkin.
Akan tetapi dengan tongkatnya, ditambah ilmunya dia tidak merasa menghadapi kesukaran.
Dia tersenyum, dapat menduga bahwa tentu ada mata manusia yang mengintai gerak-geriknya dan ingin melihat bagaimana dia akan melalui barisan ular itu.
Maka dia lalu meloncat ke depan beberapa meter jauhnya dan kalau dia tidak bertongkat, tentu terpaksa kakinya akan menyentuh tanah dan ada bahaya di sambar ular-ular itu.
Akan tetapi dengan cekatan dan mudah ia menotolkan tongkatnya ke atas tanah diantara ular-ular yang menjadi kalang kabut berusaha menyerang tongkatnya.
Dengan kekuatan tangannya yang memegang tongkat, begitu tongkat menotol tanah, tubuhnya sudah mencelat lagi ke depan.
Beberapa ekor ular yang mati-matian menggigit ujung tongkat itu terpelanting dan kembali Suma Han menggunakan tongkatnya menotol tanah dan tubuhnya mencelat lagi.
Demikianlah, dengan akal ini, dalam beberapa loncatan saja Suma Han telah tiba di seberang daerah ular dengan selamat tanpa membunuh seekor ular pun!
Ia berdiri dan membalikkan tubuh sambil tersenyum memandangi ular-ular yang menjadi kacau dan membalik, mencari lawan.
"Begini sajakah halangan memasuki pulau?"
Kata Suma Han sambil melanjutkan perjalanan, ke utara menuju ke tengah pulau dan melalui hutan di depan yang tidak begitu gelap seperti hutan pertama.
Tiba-tiba seperti jawaban ucapannya tadi terdengar suara gerengan keras dan dari dalam semak semak meloncat keluar puluhan anjing serigala yang mengeluarkan bau harum dan amis!
Suma Han mengelak dengan loncatan cepat sambil memperhatikan.
Kembali ia merasa kagum.
Srigala srigala hitam ini benar-benar merupakan sekumpulan binatang yang aneh.
Bulunya hitam mengkilap dan indah, moncongnva panjang dan mengingat akan bau yang keluar dari moncong mereka, menandakan bahwa binatang buas ini pun berbisa.
"Bukan main! Benar benar segala macam binatang berbisa bersarang di pulau ini."
Pikir Suma Han.
Melihat betapa kawanan srigala itu banyak sekali, gerakan mereka gesit, maka agaknya akan melelahkan kalau harus berlari lari dan mengelak menghindari mereka yang tentu akan terus mengejar ngejarnya.
Dengan demikian maka perjalanannya akan kacau dan banyak bahayanya dia akan tersesat.
Maka cepat ia mencelat ke atas pohon, berjongkok dengan kaki tunggalnya di atas dahan pohon, sejenak memandang srigala srigala yang berusaha meloncat-loncat untuk mencapainya.
Pemandangan ini lucu bagi Suma Han, maka tanpa terasa lagi ia tertawa, kemudian melanjutkan perjalanannya melalui pohon pohon.
Karena pohon pohon itu tumbuh berdekatan, amat mudah bagi seorang yang berilmu tinggi seperti dia untuk berloncatan dari dahan ke dahan dan dari pohon ke pohon, selalu mengambil arah ke utara atau menganankan matahari pagi.
Akan tetapi baru saja terbebas dari serangan gerombolan srigala hitam, datanglah serombongan lebah hitam yang terbang berbondong-bondong dan mengeroyoknya!
Suma Han terkejut, dapat menduga bahwa sengatan lebah ini pun tentu berbisa.
Dia memutar lengan kiri, sehingga timbul angin yang digerakkan hawa sin-kangnya sehingga lebah lebah yang mendekatinya terbawa hanyut oleh angin itu.
Akan tetapi karena dahan-dahan, ranting ranting dan daun daun menghalanginya, dia tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Melawan gerombolan lebah di pohon amatlah berbahaya, kalau meloncat turun, gerombolan srigaia hitam tentu akan menerkamnya.
Maka Suma Han cepat meloncat dengan pengerahan ilmu Soan hong lui kun.
Karena dia meloncat loncat dengan selalu dikejar lebah lebah yang terbang cepat, tentu saja dia tidak dapat memperhatikan arah lagi dan dia hanya berloncatan cepat dengan niat keluar dari hutan dan mencari tempat terbuka di mana dia akan dapat menghalau lebah lebah itu dengan mudah.
Sambil berloncatan dan kadang-kadang memutar lengan kiri untuk meruntuhkan lebah lebah itu, diam-diam ia memuji dan mulailah dia tidak berani memandang rendah para penghuni Pulau Neraka!
Akhirnya dia berhasil juga keluar dari hutan itu, di tempat terbuka dan dengan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa gerombolan anjing srigala sudah tak tampak lagi, tentu tidak sanggup mengejar dia yang berloncatan dari pohon ke pohon sedemikian cepatnya dan kehilangan jejak penciuman.
Akan tetapi, kawanan lebah itu masih terus mengejarnya.
Suma Han meloncat turun dari pohon terakhir dan sudah siap.
Ketika lebah lebah itu terbang datang, dia lalu menanggalkan jubahnya dan memutar jubah dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri tetap memegangi tongkatnya.
Kalau dengan tangan saja gerakan Suma Han sudah mampu mendatangkan angin yang menyambar dahsyat apalagi kini menggunakan jubah.
Angin bertiup keras dan lebah lebah itu terbawa angin yang digerakkan oleh jubah di tangan Suma Han, sama sekali tidak mampu mendekati pendekar itu, bahkan ketika Suma Han membuat gerakan memutar dengan tangannya, jubahnya menimbulkan angin berpusing yang membuat lebah lebah itu terseret angin yang berputaran ke atas sampai tinggi!
Tiba-tiba terdengar bunyi lengking tinggi nyaring dan halus, bunyi suling ditiup secara istimewa dan menyusul suara ini, datanglah berbondong-bondong lebah lebah hitam dari segenap penjuru mengeroyok dan mengurung Suma Han!
"Setan....!"
Suma Han mengomel, maklum bahwa suara suling itu dapat mengemudi perasaan lebah lebah ini dan hal itu amat berbahaya karena kalau lebah-lebah itu datang makin banyak, mana mungkin dia dapat menghindarkan diri tanpa membasmi mereka, hal yang tak diinginkannya.
(Lanjut ke
Jilid 10) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Dengan hati mengkal Suma Han lalu mengerahkan khi-kangnya dan keluarlah lengkingan yang tinggi dan lebih nyaring daripada suara suling itu sambil jubah di tangannya masih terus diputarnya.
Usahanya berhasil baik sekali karena lebah lebah itu menjadi kacau balau.
Makin nyaring lengking yang keluar dari dalam dada Suma Han, makin kacaulah mereka tidak tentu lagi arah terbangnya.
Ada yang terbang ke atas, ada yang ke bawah, ke kanan-kiri depan-belakang, bahkan ada yang terbang membalik dari arah mereka datang!
Adapun lebah lebah yang terlalu dekat dengan Suma Han, membubung tinggi dan menjadi pening sehingga lebah lebah itu berjatuhan, bergerak-gerak dan merayap-rayap di atas tanah karena untuk sementara mereka tidak kuasa terbang, bahkan merayapun berputaran seperti anak-anak yang mabok setelah bermain putar-putaran!
Suara suling terhenti dan melihat bahwa lebah lebah itu kini sudah pergi dalam keadaan kacau, Suma Han menghentikan lengkingannya dan putaran jubahnya, lalu tubuhnya mencelat lagi ke depan.
Melihat hutan yang ditinggalkan dan letak matahari, hatinya mendongkol karena ternyata dalam melarikan diri tadi, dia tidak lari ke utara melainkan tersesat lari ke barat!
Karena tidak ingin tersesat lagi dan ingin melihat keadaan, ia melompat ke atas pohon di pinggir hutan yang baru ditinggalkan.
Ketika ia memandang ke utara, hatinya girang karena dari tempat itu dia sudah dapat melihat sekelom-pok bangunan berwarna hitam.
Akan tetapi, dari tempat itu menuju ke bangunan terdapat pasukan pasukan menghadang jalan.
"Hemm, kini kalian tidak mengandalkan binatang-binatang lagi, melainkan maju sendiri menyambutku. Bagus!"
Dia lalu melayang turun dan mempergunakan ilmunya berloncatan cepat menuju ke utara.
Ternyata di sepanjang jalan tidak ada lagi rintangan dan akhirnya ia tiba di lapangan luas dan berhadapan dengan dua puluh tujuh orang yang mukanya berwarna biru muda.
Mereka berpakaian seragam dan membentuk barisan sembilan kali tiga, bersenjatakan tombak panjang yang ada rantainya di ujung.
Suma Han sudah mendengar bahwa kedudukan dan tingkat kepandaian para anak buah Pulau Neraka ditentukan oleh warna muka mereka, makin terang warna mukanya, makin tinggi tingkatnya.
Kini menghadapi dua puluh tujuh orang bermuka biru muda, Suma Han mengomel di dalam hatinya.
"Orang-orang Pulau Neraka sungguh memandang rendah kepadaku!"
Sebagai To-cu dari Pulau Es, tentu saja dia merasa terhina kalau kedatangannya hanya disambut oleh pasukan bermuka biru muda, warna yang tentu hanya menduduki tingkat ke empat atau ke lima.
Maka diapun tidak mau bicara me-layani mereka, melainkan terus saja melangkah dengan kaki tunggalnya ke depan seolah-olah dua puluh tujuh orang itu hanya arca arca yang tidak bernyawa dan tidak ada artinya!
Melihat sikap pendatang yang ditakuti ini, terdengar seorang di antara mereka berseru aneh memberi aba aba dan tiga pasukan dari sembilan orang berjumlah dua puluh tujuh orang itu menggerakkan senjata, Ada yang menyerang dengan tombak, ada pula yang membalikkan tombak dan menyabet dengan rantai baja di ujung gagang tombak.
Serangan mereka amat cepat dan kuat sehingga terdengar angin bersuitan me-nyambar ke arah Suma Han yang menjadi sasaran dari tombak tombak runcing dan rantai rantai berat itu.
Namun, Suma Han masih berloncatan terus ke depan seolah-olah tidak peduli akan serangan mereka, akan tetapi setelah senjata senjata itu datang dekat, dia memutar tongkatnya.
Terdengarlah suara hiruk pikuk ketika semua senjata itu bertemu tongkat, bertemu dan terus melekat, rantai membelit belit tongkat dan ujung tombak tak dapat ditarik kembali, bahkan kini mereka berteriak kesakitan dan terpaksa melepaskan senjata karena telapak tangan mereka terasa dingin membeku.
Yang bersikeras mempertahankan senjatanya, menjerit dan memegangi tangan yang terpaksa melepaskan tombak karena kulit telapak tangan mereka berdarah!
Dengan tenang Suma Han melangkah terus, menggerakkan tongkatnya dan belasan batang tombak terpelanting ke kanan-kiri, terpelanting keras sekali, ada yang meluncur seperti anak panah dan hilang di antara pohon pohon, ada pula yang menancap di atas tanah sampai setengahnya lebih!
Mereka yang telah menyerang, belasan orang itu, merintih rintih, dan mereka yang belum menyerang berdiri bengong menyaksikan kejadian yang luar biasa itu.
Karena maklum bahwa menyerang seperti kawan kawannya tadi tidak akan berhasil sedangkan lawan telah melewati hadangan pasukan mereka, belasan orang sisa yang kehilangan tombak lalu menggerakkan tombak mereka, Melontarkan kuat kuat sehingga kini ada belasan yang meluncur ke depan, mengeluarkan suara berdesing menyerang ke arah tubuh belakang Suma Han!
Seperti tadi, Suma Han tenang tenang saja, tidak menengok sama sekali sehingga seolah-olah sekali ini dia akan celaka oleh belasan batang tombak yang meluncur secara kuat, cepat dan tepat ke arah punggungnya.
Akan tetapi setelah ujung tombak tombak itu tinggal beberapa senti lagi dari punggungnya, tubuhnya membalik, tangan kanannya mengibas ke depan dan....
belasan batang tombak itu runtuh dan semua menancap ke atas tanah di depan kakinya, berjajar jajar rapi seperti diatur.
Kemudian ia membalikkan tubuh lagi dan berjalan maju terpincang pincang dibantu tongkatnya, tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
"Pendekar Siluman.... kepandaiannya seperti iblis...."
Pasukan muka biru muda itu berbisik dan saling pandang dengan mata terbelalak.
Kini pada sebuah tikungan, Suma Han melihat sebuah pasukan lain lagi, pasukan yang terdiri dari dua kali sembilan orang bermuka hijau pupus.
Hemm, pikirnya, setingkat lebih tinggi, akan tetapi tetap saja dia tidak puas dan merasa dipandang rendah.
Dia dapat menduga bahwa tingkat tertinggi tentu berwarna putih, dan warna yang mendekati putih adalah warna kuning.
Kalau Si Ketua merasa terlalu tinggi untuk menghadang sendiri, sedikitnya dia harus mengutus tokoh-tokoh bermuka kuning untuk meng-hadapinya.
Akan tetapi muka hijau pupus?
Hemmm, kalian terlalu memandang rendah To cu Pulau Es, padahal orang-orang Pulau Neraka dahulunya hanyalah orang-orang buangan dari Pulau Es!
"Haiii!
Berhenti!
Apakah yang datang ini Pendekar Siluman dari Pulau Es?"
Seorang di antara mereka bertanya.
Akan tetapi, seperti juga tadi, Suma Han tidak mau melayani mereka bicara melainkan melangkah maju terpincang-pincang ke depan, tidak mempedulikan delapan belas orang yang bersenjata masing-masing sebatang golok besar itu, sedangkan tangan kiri mereka siap mendekati kantung di pinggang yang ia duga tentu berisi senjata rahasia berbisa!
Melihat sikap Suma Han, delapan belas orang itu lalu membuka barisan dan mengurung.
Akan tetapi sikap tidak peduli dari Pendekar Super Sakti itu membuat mereka hati-hati sekali sehingga kurungan itu mengikuti gerakan Suma Han yang melangkah maju.
Tiba-tiba seorang diantara mereka berseru keras dan terdengar goloknya berdesing menyambar, diikuti oleh golok golok lain yang menyambar secara berturut-turut.
Hemm, kepandaian mereka ini sedikitnya tiga kali lipat daripada tingkat pasukan pertama yang bermuka biru muda tadi, pikir Suma Han.
Ketika semua golok menyerangnya, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya sehingga delapan belas orang yang tiba-tiba kehilangan lawan itu mengira dia pandai menghilang!
Akan tetapi mereka segera melihat ke atas dan delapan belas buah tangan kiri bergerak.
"Ciat ciat ciatt!"
Belasan batang pisau hitam mencuat gemerlapan melayang ke arah seluruh bagian tubuh Suma Han.
"Trang-cring cring trang....!"
Semua pisau itu terpental dan melayang jauh ke segenap penjuru karena ditangkis oleh segulung sinar dari tongkat yang diputar sedangkan tubuh Suma Han sudah melayang turun lagi.
Delapan belas orang itu kembali menerjang, sinar golok mereka berkeredepan menyilaukan mata.
Suma Han memutar tongkatnya sambil mengerahkan tenaga.
Terdengar suara hiruk pikuk dan setelah suara itu lenyap, delapan belas orang itu berdiri bengong memandangi gagang golok di tangan yang sudah tidak ada goloknya lagi karena senjata mereka telah patah semua!
Ketika mereka memandang ke depan, mereka melihat pendekar kaki buntung itu sudah berloncatan ke depan.
Mereka tidak berani mengejar karena selain mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan pendekar itu, juga di depan terdapat pasukan penjaga lain yang lebih tinggi tingkatnya.
Kini Suma Han melihat pasukan terdiri dari sembilan orang yang bermuka merah muda, yaitu tiga wanita dan enam pria, masing-masing memegang senjata Siang kiam (Sepasang Pedang).
"To cu dari Pulau Es, perlahan dulu!"
Seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih dan berambut panjang riap riapan sampai ke pundak, menegurnya.
"Kalian ini anak buah Pulau Neraka tingkat berapakah?"
Suma Han bertanya, sikapnya tenang dan dingin dengan suara yang dikeluarkan sambil mengerahkan Im kang sehingga sembilan orang yang mendengar suara ini, tergetar jantungnya dan menggigil kedinginan.
Akan tetapi dengan pengerahan sin-kang, mereka dapat mengusir rasa dingin itu dan kini pasukan itu terpecah menjadi tiga, masing-masing tiga orang, seorang wanita dan dua orang pria, lalu tiga rombongan kecil ini mengurung Suma Han dari depan, kanan dan kiri.
"Kami adalah murid murid tingkat dua!"
Jawab kakek itu.
"Hemm, Ketua kalian membuang-buang waktu saja. Mengapa tidak dia sendiri saja yang maju untuk melawan aku agar lebih cepat dibuktikan siapa yang lebih kuat?"
"Orang muda yang sombong!"
Seorang wanita di rombongan sebelah kirinya menudingkan pedang.
Wanita itu usianya sekitar empat puluh tahun, cantik akan tetapi sinar matanya liar dan ganas.
"Biarpun engkau To cu Pulau Es, akan tetapi engkau masih muda, kakimu buntung, tidak selayaknya bersikap sombong seperti itu. Lihat pedang!"
Wanita itu sudah menyerang, disusul dua orang temannya.
Melihat gerakan mereka, Suma Han terheran.
Itulah jurus ilmu pedang dari kitab kitab peninggalan Koai-Lojin atau Kam Han Ki di Pulau Es!
Jurus yang ampuh akan tetapi sayang bahwa gerakan mereka kurang sempurna.
"Hemmm, mengapa begitu melakukan jurus Siang-liong-jio seng (Sepasang Naga Berebut Bintang)?"
Dengan tongkatnya ia menangkis enam batang pedang itu, tangan kanannya meraih dan secara aneh sekali sepasang pedang di tangan wanita galak itu telah pindah ke tangan Suma Han!
Pendekar ini menancapkan tongkatnya dan memutar sepasang pedang dengan kedua tangan.
"Beginilah mestinya! Dalam perebutan antara sepasang naga, yang kanan harus mengalah karena biasanya lawan memperhatikan tangan kanan sehingga yang kiri dapat melakukan serangan tiba-tiba yang mengacaukan lawan. Jangan menitik beratkan gerakan pedang kanan!"
Sementara itu, delapan orang yang melihat betapa senjata seorang kawan mereka terampas dan yang dua orang lagi terpental ketika ditangkis kini cepat menerjang dengan pedang mereka.
Suma Han masih terus menggerakkan sepasang pedang dengan jurus Siang liong jio seng yang amat dikenal oleh mereka itu dan anehnya, biarpun mereka mengenal baik jurus ini, berturut turut mereka berseru kaget karena terdengar kain robek dan tiba-tiba tubuh lawan yang dikepung itu berkelebat lenyap, yang tinggal hanya sepasang pedang rampasan itu menancap di tanah, Dan ketika mereka saling pandang, tampaklah betapa pakaian mereka telah robek dan berlubang di dua tempat, yaitu di ulu hati dan perut!
Sebagai ahli ahli pedang yang sudah tinggi tingkatnya, sembilan orang bermuka merah muda ini maklum bahwa kalau Pendekar Siluman menghendaki, mereka tentu telah roboh dengan jantung tertembus pedang dan sudah tewas semua!
Maka mereka hanya dapat menghela napas dan memandang pendekar kaki buntung yang kini telah berjalan terpincang pincang menuju ke penjagaan terakhir, yaitu empat orang kakek bermuka kuning.
Empat orang kakek itu usianya rata-rata sudah lima puluh tahun lebih, sikapnya gagah dan angker, pakaiannya sederhana, dengan jubah panjang dan rambut serta jenggot mereka panjang, Kaki mereka telanjang tak bersepatu den tangan mereka hanya bersenjatakan sebatang tongkat kecil yang panjangnya satu setengah meter, terbuat dari kayu hitam atau ranting yang lemas.
Melihat keadaan ini, Suma Han bersikap hati-hati karena dia dapat menduga bahwa tentu empat orang kakek ini adalah tokoh-tokoh tingkat satu, hanya di bawah Sang Ketua dan telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Hanya ia merasa heran mengapa jumlah mereka ada empat orang, tidak enam atau tiga karena semenjak pasukan pertama, penghuni Pulau Neraka itu menggunakan bentuk barisan tiga bintang yang dapat diluaskan menjadi masing-masing pasukan sembilan orang namun pada dasarnya masih mempergunakan bentuk barisan tiga bintang dengan gerakan segi tiga.
Dia tidak tahu bahwa sebetulnya jumlah tokoh tingkat satu bermuka kuning itu ada enam orang, yang seorang telah meninggal dunia sedangkan yang seorang lagi kini sedang merantau atas perintah Ketua mereka untuk menyelidiki keadaan kang ouw yang geger karena hilangnya pusaka-pusaka yang diperebutkan setelah pasukan Pulau Neraka mengalami kegagalan di muara Sungai Huang ho dahulu.
Oleh karena itu, kini hanya tinggal empat orang saja yang menghadapinya sebagai penjagaan terakhir dan mereka pun kini menjaga di depan bangunan besar yang menjadi istana dari majikan Pulau Neraka.
Setelah melayangkan pandang ke arah istana hitam yang angker itu, Suma Han lalu menghadapi empat orang itu dan berkata.
"Melalui garuda betina peliharaanku, Pulau Neraka telah mengundang aku datang, dan sekarang aku datang untuk menjemput muridku. Harap Su wi Lo-cianpwe suka menyampaikan kepada To-cu Pulau Neraka agar mengembalikan muridku kepadaku."
Empat orang kakek itu memandang dengan penuh perhatian, memandang pendekar buntung itu dari kaki sampai ke kepala dengan penuh takjub karena baru sekarang mereka melihat pendekar yang terkenal di seluruh dunia itu, yang ternyata tidak kelihatan luar biasa, bahkan hanya merupakan seorang pemuda yang cacad!
Betapapun juga, melihat sikap dan sinar matanya, mereka bergidik dan maklum bahwa pemuda di depan mereka ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian amat hebat.
Seorang di antara mereka yang rambutnya sudah hampir putih semua, segera mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata.
"To cu dari Pulau Es sudah dapat tiba di sini membuktikan bahwa nama besarnya bukan omong kosong belaka. Akan tetapi, sudah menjadi tugas kami untuk menjaga di sini dan kalau To cu hendak menjemput murid dan bertemu dengan To cu kami, harus melalui tongkat kecil kami."
Suma Han mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.
"Hemm.... agaknya To cu Pulau Neraka terlalu memandang rendah orang! Kalian hendak menguji kepandaianku? Nah, lihat baik baik, biarpun kalian berempat, apakah aku kalah banyak?"
Suara Suma Han mengandung getaran yang dahsyat dan berpengaruh.
Tiba-tiba empat orang kakek itu memandang terbelalak dan bingung karena di depan mereka kini bukan hanya ada seorang pemuda kaki buntung, melainkan pemuda itu telah berubah menjadi delapan orang kembar!
Tentu saja mereka terkejut sekali dan betapa pun mereka mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh mujijat itu, tetap saja pandangan mereka tidak berubah, lawan telah menjadi dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka!
Karena bingung, empat orang kakek itu lalu menggerakkan ranting di tangan mereka, menghantam Suma Han yang terdekat.
Akan tetapi, biarpun ranting mereka mengenai tepat tubuh lawan, mereka seolah-olah menghantam bayangan saja dan ranting itu "lewat"
Menembus tubuh orang yang diserang.
Hal ini memang tidak mengherankan karena yang mereka serang itu bukanlah tubuh Suma Han yang aseli, melainkan bayangan yang timbul karena pengaruh kekuatan ilmu merampas semangat dan pikiran orang yang dilakukan Suma Han.
Selagi mereka terheran-heran, Suma Han yang aseli telah menggerakkan tongkatnya, empat kali menotok dan empat orang kakek itu mengeluh dan jatuh terduduk di atas tanah dalam keadaan lumpuh!
"Sudah kalian lihat kepandaian To cu dari Pulau Es?"
Suma Han berkata dan kini empat orang kakek melihat bahwa lawannya hanya seorang saja, berdiri di depan mereka, bersandar pada tongkat dan tangan kanan bertolak pinggang!
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari dalam istana hitam yang daun pintunya tertutup itu.
"Kalau To cu Pulau Es memang gagah perkasa dan super sakti, jangan mengandalkan ilmu siluman!"
Suma Han memandang ke arah pintu istana hitam itu dengan mata terbelalak saking herannya.
Tadinya ia mengira bahwa melihat keadaan empat orang kakek tingkat satu ini, tentu To cu dari Pulau Neraka merupakan seorang kakek yang menyeramkan dan lebih mendekati iblis daripada manusia.
Akan tetapi suara yang keluar dari istana hitam itu, yang ia duga tentulah seorang To cu pulau itu, adalah suara seorang wanita, suara yang nyaring dan merdu!
Bukan suara seorang kakek kasar, juga pasti bukan suara seorang nenek nenek karena suara seperti itu tentu hanya dimiliki seorang wanita yang masih muda.
Mungkinkah ini?
Mungkinkah Ketua atau Majikan Pulau Neraka seorang wanita muda?
Suma Han tidak akan percaya kalau saja dia tidak teringat akan Ketua Thion liong pang.
Bukankah Ketua Thian liong pang yang berkerudung itu pun wanita muda dan yang dia kini yakin tentu Lulu, adik angkatnya?
Kalau benar demikian, maka dua perkumpulan yang paling terkenal dan kuat kini dipimpin oleh wanita wanita muda!
Benar benar merupakan hal yang sukar dipercaya.
Betapapun juga, mendengar ucapan itu wajahnya menjadi merah.
Dia tadi memang mempergunakan kekuatan batinnya yang menguasai empat orang lawan melalui sinar mata dan suaranya dan hal itu dia lakukan hanya karena dia enggan bertanding melawan mereka.
Menghadapi pasukan pasukan tingkat rendahan tadi, dia masih dapat melalui mereka tanpa melukai seorang pun.
Akan tetapi, dari gerakan empat orang kakek ini dia maklum bahwa dia menghadapi empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan untuk mengalahkan empat orang ini tanpa melukainya merupakan hal yang tidak mudah ia lakukan.
Maka ia mengambil cara paling mudah, yaitu mengalahkan mereka dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya yang mujijat, yang kini telah menca-pai tingkat amat tinggi setelah ia menerima gemblengan dan petunjuk terakhir dari manusia dewa Koai Lojin.
Sekarang To cu Pulau Neraka mencela dan mengejeknya, kalau dia tidak memperlihatkan kepandaiannya, tentu saja dia akan merasa malu sekali.
"Begitukah yang kalian kehendaki? Nah, Su wi Locianpwe, bangunlah!"
Tongkatnya bergerak dan empat orang kakek muka kuning itu dapat bergerak kembali dan mereka melompat bangun.
Kini mereka bersikap hati-hati sekali.
To cu Pulau Es ini benar benar hebat.
Sebagai To cu Pulau Es yang kenamaan, menyebut mereka "locianpwe"
Ini saja sudah membuktikan bahwa To cu Pulau Es ini adalah seorang yang rendah hati dan karenanya dapat dibayangkan betapa tinggi ilmunya.
"Maaf, kami hanya pelaksana tugas!"
Kakek beruban berkata sebagai pernyataan kesungkanan hati mereka, juga ucapan ini merupakan pembuka serangan karena secepat kilat empat orang itu sudah menyerang Suma Han dari empat penjuru!
Suma Han cepat menggerakkan tubuhnya, menggunakan Soan hong lui kun untuk mengelak, akan tetapi tiga orang di antara mereka mengayun tongkat ke atas dan menghujankan serangan ke atas tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk turun!
Sedangkan yang seorang tetap "menutup"
Bagian bawah dengan serangan cepat, rantingnya diputar seperti kitiran sehingga berubah menjadi gulungan sinar.
Suma Han terkejut bukan main.
Teringat ia akan gaya serangan bibi gurunya, Maya, ketika menghadapi ibu gurunya, Khu Siauw Bwee.
Mungkinkah tiga orang kakek ini telah mempelajari ilmu yang khusus dicipta oleh Maya untuk menghadapi Soan hong-lui kun?
Namun dia tidak diberi kesempatan untuk banyak berheran, terpaksa ia menggerakkan tongkatnya menotok ranting yang terdekat dan menggunakan tenaga pertemuan senjata itu untuk mencelat lagi ke samping, kemudian sambil memutar tongkat menangkis keempat senjata lawan ia turun lagi ke atas tanah.
Segera ia dikurung dan diserang lagi.
Suma Han memutar tongkat melindungi tubuh sambil memperhatikan gaya permainan para pengeroyoknya dan mengukur tingkat kepandaian mereka.
Dia kagum sekali.
Ranting di tangan mereka itu kadang-kadang berubah menegang keras seperti baja, kadang-kadang lemas seperti cambuk dan gerakan mereka amat ringan dan cepat, tenaga sin-kang mereka pun amat kuat.
Dibandingkan dengan pembantunya, Yap Sun, agaknya tingkat setiap orang kakek muka kuning ini lebih tinggi, akan tetapi dibandingkan dengan Phoa Chok Lin yang dia gembleng sendiri, pembantu utamanya itu lebih menang setingkat.
Betapapun juga, kalau Ciok Lin yang menghadapi pengeroyokan ini, tentu pembantunya itu akan kalah!
Yang amat membikin dia penasaran dan kewalahan adalah ilmu silat mereka yang istimewa digerakkan untuk menghadapi Soan hong lui kun.
Biasanya, dengan ilmu gerak kilatnya ini, dengan mudah dia akan dapat menguasai lawan lawan yang mengeroyoknya.
Akan tetapi sekarang, biarpun dia memiliki gerakan kilat yang jauh lebih cepat daripada gerakan mereka, namun keempat orang itu selalu mendahuluinya, menutup lubang-lubang ke mana dia dapat mencelat sehingga Soan hong lui kun tak dapat ia mainkan dengan leluasa, bahkan seringkali macet dan tertutup di tengah jalan.
Terpaksa Suma Han mengeluarkan kepandaiannya, memutar tongkatnya melindungi tubuh sehingga beberapa kali terdengar suara keras bertemunya tongkat dengan empat batang ranting itu.
Kalau begini keadaannya, aku hanya akan dapat menang dengan merobohkan mereka, dan hal ini berarti bahwa empat orang itu akan terluka.
Dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka sambil mengeluarkan lengking panjang, tiba-tiba tubuh Suma Han mencelat ke belakang, membiarkan empat orang itu mengejarnya dan dengan gerakan cepat ia menancapkan tongkat di tanah kemudian kedua lengannya ia lonjorkan dengan tangan terbuka dan telapak tangan menghadap ke depan lalu membuat gerakan mendorong.
"Aihhh....!"
Empat orang yang sedang menerjang maju itu terhenti gerakannya dan terpental mundur sampai dua langkah.
Tubuh mereka menggigil karena ada hawa dingin menyambar mereka.
Cepat mereka pun berdiri melonjorkan kedua lengan sambil mengerahkan sin-kang.
Dengan mempersatukan tenaga, mereka mampu mengusir hawa dingin yang menyerang, bahkan berusaha membalas dengan pukulan sin kang jarak jauh.
Akan tetapi, tiba-tiba mereka terkejut sekali karena dorongan hawa dingin yang menekan dan yang berhasil mereka lawan itu tiba-tiba berubah menjadi hawa yang amat panas seperti ada api menerjang mereka.
Cepat mereka menyesuaikan diri dengan pengerahan sin kang mencipta tenaga dingin.
Namun kembali serangan hawa sin-kang dari majikan Pulau Es itu berubah dingin, dan sebelum mereka berempat menyesuaikan diri kembali berubah dan terus berubah ubah sehingga keempat orang itu akhirnya menjadi kacau pengerahan sin kangnya, mempengaruhi jalan darah dan mereka terhuyung huyung lalu roboh pingsan!
Suma Han menghentikan pengerahan sin kangnya dan tiba-tiba dari dalam istana itu menyambar sesosok tubuh manusia berpakaian hitam dengan kecepatan yang luar biasa.
Menduga bahwa orang yang gerakannya secepat kilat ini tentu Ketua Pulau Neraka, maka melihat tubuh itu meluncur dan mengirim pukulan ke arah dadanya, Suma Han tidak berani memandang rendah dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis.
"Dukkk!"
Ia terkejut karena orang itu pun mempergunakan Im kang yang amat kuat sehingga terasa olehnya hawa dingin menyerangnya.
Pertemuan dua lengan yang sama sama mempergunakan Im kang itu hebat sekali, membuat Suma Han terpental selangkah ke belakang akan tetapi lawannya juga terpental tiga langkah!
Sebelum Suma Han dapat melihat jelas, orang itu telah menubruk lagi dengan pukulan kedua tangan terbuka.
Dia cepat mengangkat kedua tangannya menerima telapak tangan lawan.
"Plakkk!"
Dua pasang telapak tangan bertemu dan melekat, dua muka berhadapan dan dua pasang mata bertemu pandang.
Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Suma Han akan sekaget ketika ia melihat wajah yang putih itu.
Ia menarik kembali kedua tangannya, meloncat mundur dengan kaki tunggalnya, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan bibirnya bergerak me-manggil.
"Lulu....!"
Kaki tunggalnya menggigil sehingga ia jatuh berlutut memegang tongkatnya.
"Han koko....!"
Wanita bermuka putih yang bukan lain adalah Lulu itu menubruk maju dan berlutut pula.
"Lulu.... Moi moi....!"
Suma Han memandang wajah cantik yang kini menjadi putih warnanya, memandang sepasang mata bintang yang bercucuran air mata.
"Lulu Adikku...."