Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pedang Iblis 4

Eps 4 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.

"Aku bukan adikmu Han-koko!"

"Ohhh...."

Suma Han mengeluh, mereka saling pandang kemudian saling memeluk, berdekapan seolah-olah hendak menumpahkan semua rasa rindu yang selama ini menyesak dada.

Akan tetapi Suma Han segera dapat menguasai hatinya dan melepaskan pelukan, memegang kedua pundak Lulu dan memandang wajah itu.

"Lulu moi moi.... jadi engkaukah To-cu Pulau Neraka? Ahhh.... Moi moi, mengapa begini....?"

"Karena engkau, Koko! Karena engkau kejam, engkau tega kepadaku!"

"Lulu, jangan berkata demikian. Engkau satu-satunya orang yang kusayang di dunia ini, sejak dahulu sampai sekarang. Mengapa engkau melarikan diri meninggalkan suamimu? Tahukah engkau bahwa dia menjadi sengsara dan membunuh diri dengan berjuang sampai mati? Ahhh, Lulu....!"

"Aku tahu! Dan semua itu terjadi karena engkau, Koko. Engkau kejam dan tega kepadaku, meninggalkan aku! Kita sama dibesarkan di Pulau Es, akan tetapi engkau tinggal di sana melupakan aku, padahal seharusnya kita berdua yang tinggal di sana. Engkau memaksa aku menikah dengan orang yang tidak kucinta, engkau meninggalkan aku dengan hati remuk, juga membuat hatiku hancur, kebahagiaanku musnah. Butakah engkau, atau pura pura tidak tahu bahwa semenjak dahulu, hanya engkau satu-satunya pria yang kucinta?"

"Ahh.... Lulu....!"

"Dan perasaanku meyakinkan bahwa engkau pun cinta kepadaku.... Tidak! Jangan katakan bahwa cintamu adalah cinta saudara! Engkau menipu hati sendiri dan sebaliknya daripada menyambung cinta kasih antara kita menjadi perjodohan engkau malah memaksa aku berjodoh dengan orang lain, sedangkan engkau sendiri rela pergi dengan hati hancur! Engkau menghancurkan kebahagiaan hati kita berdua! Pura pura tidak tahukah engkau bahwa semenjak dahulu, sampai sekarang, ya, sampai saat ini, aku hanya akan bahagia kalau menjadi isterimu! Koko Han Han, jawablah, engkau tentu ingin menerima aku sebagai isterimu, bukan?"

Suma Han, Pendekar Super Sakti yang telah memiliki kekuatan batin luar biasa itu, kini hampir pingsan.

Cinta merupakan kekuatan yang maha hebat, yang mengalahkan segala kekuatan di dunia ini.

Jantungnya seperti diremas remas, seluruh tubuhnya menggigil dan kedua matanya basah.

"Lulu.... aku.... aku telah dijodohkan oleh Subo dengan Nirahai.... dan dia.... diapun meninggalkan aku...."

Lulu meloncat berdiri dan melangkah mundur, sejenak dadanya berombak menahan kemarahan yang timbul karena cemburu.

"Hemmm.... dan engkau lebih mencinta Suci Nirahai daripada aku?"

Suma Han juga bangkit berdiri dengan kaki lemas. Dia memandang wajah Lulu kemudian menghela napas dan menunduk.

"Lulu.... aku.... aku...., ahh, bagaimana aku harus menjawab? Semenjak dahulu aku cinta padamu, cinta lahir batin, dengan seluruh jiwa ragaku. Akan tetapi engkau adikku, maka aku mengalah. Kemudian, Subo menjodohkan aku dengan Nirahai, dan dia.... dia mirip denganmu. Karena sudah menjadi isteriku, bagaimana aku tidak mencinta dia? Akan tetapi engkau.... ahhhh, aku mencinta kalian berdua, Lulu.... sungguhpun cintaku terhadapmu tiada bandingnya di dunia ini.... akan tetapi engkau.... ah, engkau adalah isteri Sin Kiat dan...."

"Han koko! Engkau masih lemah seperti dulu! Ahhhh, pria mulia yang bodoh! Pria gagah perkasa yang lemah! Selalu mengalah, membiarkan diri sendiri merana, berniat membahagiakan orang dengan pengorbanan diri akan tetapi malah menimbulkan kesengsaraan kepada semua orang! Aku mencintamu, Koko, akan tetapi aku adalah seorang wanita! Aku tidak sudi lagi bertekuk lutut dan meminta minta! Tidak, lebih baik mati! Aku sudah bersumpah untuk memilih dua kenyataan dalam hidupku. Menjadi isterimu atau menjadi musuhmu! Tidak ada pilihan lain!"

"Lulu.... Lulu....!"

Suma Han mengeluh, hatinya bingung bukan main.

"Ibu....!"

"Paman....!"

Keng In dan Kwi Hong berlari lari keluar dari istana hitam.

Keng In menghampiri ibunya dan Kwi Hong menghampiri pamannya.

Kehadiran kedua orang anak ini mengembalikan kesadaran dan ketenangan Suma Han dan Lulu.

Suma Han memandang keponakan atau muridnya itu, menegur.

"Bagus sekali perbuatanmu, ya!"

Kwi Hong berlutut di depan pamannya dan berkata penuh rasa takut.

"Paman.... aku tadinya sudah akan pulang, akan tetapi ditangkap Bibi ini. Harap Paman maafkan aku dan memberi hajaran kepadanya!"

"Ibu, apakah dia ini To cu Pulau Es, Pendekar Siluman? Mengapa Ibu tidak menghajarnya?"

Keng In bertanya kepada ibunya.

Lulu tidak menjawab, hanya meraba kepala anaknya dan pandang matanya tidak pernah lepas dari wajah Suma Han.

Suma Han menghela napas dan berkata kepada Kwi Hong.

"Berdirilah, mari kita pulang."

Dia lalu mengeluarkan suara melengking tinggi memanggil burung garuda.

Tak lama kemudian, tampaklah dua ekor burung itu terbang dengan cepat ke tempat itu lalu meluncur turun di depan Suma Han.

"Lulu, aku pergi...."

Lulu tidak menjawab, hanya mengangguk, sinar matanya membuat Suma Han tidak kuat memandang lebih lama lagi.

Ia menghela napas lagi, meloncat ke punggung garuda jantan sedangkan Kwi Hong meloncat ke punggung garuda betina, kemudian dua ekor burung itu terbang cepat meninggalkan pulau, diikuti pandang mata Lulu dan Keng In.

"Ibu, mengapa membiarkan mereka pergi?"

Lulu menunduk, tidak menjawab, hatinya tertusuk oleh pertanyaan itu.

Mengapa dia membiarkan Suma Han pergi?

Membiarkan harapan dan kebahagiaannya terbawa pergi bersama orang yang dicintanya itu?

"Toanio, mengapa Pendekar Siluman dibiarkan pergi?"

Tiba-tiba seorang di antara empat kakek bermuka kuning bertanya.

Kiranya empat orang itu kini telah siuman dari pingsannya dan melihat Suma Han bersama Kwi Hong naik dua ekor burung garuda yang terbang pergi dari tempat itu.

Lulu memandang mereka.

"Dia datang seorang diri, apa baiknya kalau kita me-ngalahkan dia dengan pengeroyokan di tempat kita sendiri? Alangkah rendah dan memalukan. Lain kali masih banyak waktu untuk kuhancurkan dia. Dia itu musuhku! Musuhku....!"

Akan tetapi Lulu cepat membalikkan tubuh, menggandeng tangan Keng In dan berjalan memasuki istananya.

Setelah ia berada seorang diri kamarnya, Ketua Pulau Neraka ini melempar diri di atas pembaringan, mene-lungkup dan menyembunyikan mukanya yang menangis itu di atas bantal.

"Koko.... ahhhh, Han koko.... engkau masih lemah seperti dulu....! Kalau engkau tidak mau berkeras memperisteri aku, biarlah aku mati di tanganmu.... kau tunggu saja....!"

Mengapa Lulu tiba-tiba menjadi majikan Pulau Neraka?

Agar tidak membingungkan, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya semenjak dia lari pergi meninggalkan suaminya, Wan Sin Kiat atau yang terkenal dengan julukan Hoa-san Gi hiap (Pendekar Budiman dari Hoasan).

Semenjak Lulu melangsungkan pernikahannya dengan Hoa san Gi hiap Wan Sin Kiat, kemudian ditinggal pergi oleh Suma Han, dia mengantar kepergian Suma Han dengan ratap tangis dan merasa betapa semangatnya dan seluruh kebahagiaan hatinya terbawa pergi oleh kakak angkatnya itu (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).

Semenjak itu, dia hidup menderita kesengsaraan batin dan barulah ia sadar bahwa sesungguhnya hanya kakak angkatnya itu pria yang dicintanya dan betapa dia telah melakukan kesalahan yang besar dalam hidupnya dengan menerima dijodohkan dengan Wan Sin Kiat.

Dia suka kepada Sin Kiat dan kagum akan kegagahan pemuda yang menjadi suaminya ini, akan tetapi dia tidak dapat mencintanya sebagai seorang isteri mencinta suami karena kini dia merasa yakin bahwa dia hanya dapat mencinta Suma Han seorang yang tak mungkin diganti dengan pria lain.

Akan tetapi, karena dia sudah dinikahkan dengan Sin Kiat, sudah bersumpah di depan meja sembahyang, Lulu memaksa hatinya mempergunakan kebijaksanaan dan berusaha untuk mencinta suaminya, melayaninya sebagaimana kewajiban seorang isteri yang baik.

Namun, sampai dia melahirkan seorang anak, tetap saja dia tidak dapat mencinta Sin Kiat, tidak dapat melupakan Suma Han, bahkan makin berat penderitaan batinnya yang menjerit-jerit ingin dekat dengan pria yang dicintanya itu.

Suaminya juga maklum dan merasa akan keadaan isterinya itu, dan akhirnya, karena tidak kuat lagi, Lulu membawa anaknya pergi meninggalkan suaminya.

Dengan niat hati hendak mencari Suma Han yang dia duga tentu kembali ke Pulau Es, dia melakukan perjalanan yang jauh dan sukar ke utara.

Akan tetapi Lulu sekarang tidak seperti dahulu ketika masih kanak-kanak bersama Han Han (Suma Han) melakukan perjalanan, kini setelah menjadi murid Maya, ilmu kepandaiannya hebat dan dia dapat melakukan perjalanan cepat.

Betapapun juga, tidak ada orang lain yang tahu di mana letaknya Pulau Es.

Maka Lulu yang tidak bertanya kepada orang lain, hanya melanjutkan perjalanannya dengan mengira ngira saja, sambil mengingat ingat perjalanannya dahulu ketika meninggalkan Pulau Es bersama Suma Han.

Banyak daerah yang sudah ia lupakan, maka di luar tahunya, dia tersesat sampai memasuki daerah Khitan!

Pada suatu pagi, dia melihat sebuah tanah kuburan yang luas, tanah kuburan yang megah dan terawat baik.

Dia tidak tahu bahwa tanah kuburan itu adalah tanah kuburan keluarga Suling Emas!

Baru dia tahu ketika melihat seorang kakek bongkok yang lihai bertanding melawan seorang tinggi besar kurus berkulit hitam memakai sorban.

Ia teringat akan penuturan sucinya, Puteri Nirahai, tentang penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang lihai dan bongkok benama Gu Toan.

Kini melihat kakek bongkok itu dan keadaan tanah kuburan, ia segera menduga bahwa tentu inilah kuburan keluarga Suling Emas yang terkenal.

Ia segera merasa berpihak kepada kakek bongkok.

Setelah menggendong Keng In erat erat di punggungnya, Lulu mencabut pedangnya dan meloncat ke gelanggang pertempuran sambil berseru.

"Apakah Locianpwe yang bernama Gu Toan?"

Kakek bongkok itu sedang didesak hebat oleh orang India tinggi kurus yang amat lihai, namun dia masih sempat bertanya tanpa menoleh.

"Bagaimana engkau bisa tahu?"

"Suci Nirahai yang menceritakan. Aku adalah sumoinya, murid Subo Maya."

"Ahhh.... kebetulan sekali! Cepat kau pergi menyelamatkan pusaka-pusaka dan pergi dari sini. Bawa pusaka-pusaka itu."

Lulu tertegun dan bingung.

"Pusaka apa....?"

"Dessss!"

Tubuh Gu Toan terguling--guling karena dia terkena pukulan di pundaknya oleh tangan kakek India yang lihai.

Akan tetapi ia meloncat bangun lagi dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Melihat ini, Lulu menerjang dengan pedangnya.

Akan tetapi orang India itu mendorongkan tangan kiri ke depan dan Lulu terhuyung huyung!

"Jangan bantu aku!

Lekas kau buka batu di belakang kuburan Suling Emas, ambil semua pusaka dan bawa pergi.

Cepat....!"

Kakek Gu Toan kembali berkata dan menerjang orang India itu dengan nekat.

Kakek itu mempergunakan bahasa selatan yang dimengerti oleh Lulu, akan tetapi agaknya tidak dimengerti oleh kakek India itu yang menjadi marah dan mengamuk dengan kaki tangannya yang panjang panjang.

Maklum bahwa menyelamatkan pusaka agaknya lebih penting daripada nyawa kakek bongkok itu, apalagi teringat bahwa pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas adalah pusaka yang diperebutkan semua orang kang ouw, Lulu cepat meloncat dan meneliti batu nisan kuburan satu demi satu.

Akan tetapi tidak sukar dan tidak lama dia mencari karena batu nisan kuburan Suling Emas adalah yang terbesar dan berada di tengah tengah.

Cepat dia menyelinap di belakang nisan atau gundukan tanah kuburan dan dengan tenaga sin-kang dia mendorong batu besar yang berada di situ.

Batu tergeser dan di bawahnya terdapat sebuah lubang.

Cepat diraihnya sebuah peti kuning yang berada di situ dan dikempitnya.

Ketika ia meloncat bangun, ia melihat Si Bongkok kembali terhuyung huyung terkena pukulan lawannya yang lihai.

Dia ingin membantu akan tetapi Si Bongkok berseru.

"Lekas pergi! Lekas lari.... pusaka itu menjadi milikmu....!"

Mendengar ini dan karena kalau dia melawan dia mengkhawatirkan keselamatan anak di gendongannya, Lulu lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Beberapa hari kemudian ketika ia membuka peti kuning, ia mendapatkan kitab kitab pelajaran ilmu silat tinggi, yaitu ilmu-ilmu yang dipelajari Suling Emas dari Bu Kek Siansu dan telah ditulis sebagai kitab oleh Suling Emas.

Ilmu silat Kim kong sin hoat, Hong-in-bun-hoat, Pat-sian-kiam-hoat dan Lo-hai-san-hoat.

Selain empat buah kitab ilmu silat tinggi ini, terdapat pula sebuah kipas, kipas pusaka milik mendiang Suling Emas!

Lulu teringat bahwa pusaka Suling Emas dahulu dipinjam oleh Nirahai.

Dia menjadi girang sekali dan sambil melanjutkan perjalanannya mencari Pulau Es yang ternyata tersesat ke Khitan, mulailah ia mempelajari ilmu-ilmu itu.

Karena dia telah menerima gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi dan pada dasarnya dia memiliki sin-kang luar biasa dari latihan-latihan di Pulau Es, maka ilmu-ilmu itu cepat dapat dikuasainya.

Akhirnya, setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan menempuh segala macam kesukaran, tibalah dia di tepi laut yang ia ingat menjadi tempat dia dan Suma Han mendarat dahulu ketika mereka meninggalkan Pulau Es (Baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).

Tempat itu sunyi sekali, tidak ada manusia dan tentu saja tidak tampak nelayan, maka dengan tekun dan sabar Lulu membuat sebuah perahu dari batang pohon.

Biarpun dia memiliki tenaga yang hebat, namun sebagai seorang wanita yang tidak pernah melakukan pekerjaan berat, tentu saja pembuatan perahu ini memakan waktu berbulan-bulan.

Dengan nekat ia lalu meluncurkan perahunya ke tengah lautan dan hanya mengandalkan dayung dan kedua tangannya untuk mendayung perahu, pergi mencari Pulau Es, atau lebih tepat lagi, pergi mencari Suma Han, laki-laki yang dicintanya.

Tekadnya, kalau tidak dapat mencari Suma Han dan hidup di samping pria ini, lebih baik mati saja!

Dalam pelayaran dengan perahu yang tidak memenuhi syarat ini, ditambah ketidak mampuan mengemudikan perahu, Pelayaran ini merupakan penderitaan hebat bagi Lulu dan anaknya, jauh lebih hebat daripada ketika dia melakukan perjalanan darat.

Beberapa kali badai dan taufan mengancam nyawa, mengombang-ambingkan perahu hampir tenggelam.

Dalam keadaan seperti itu, Lulu hanya dapat menangis, mendekap puteranya dan menyebut-nyebut nama Suma Han, seolah-olah dia minta pertolongan dari orang yang dicintanya itu.

Sungguh ajaib sekali, kalau Tuhan belum menghendaki dia mati, biarpun badai seperti itu, Lulu dan puteranya tetap selamat!

Karena serangan badai dan ombak Lulu menjadi bingung, tidak tahu di mana arah tujuannya, dan tidak tahu di mana adanya Pulau Es!

Jangankan itu, bahkan dia tidak tahu lagi di mana letaknya daratan yang sudah tidak tampak lagi dari tengah lautan.

Dia tidak takut kelaparan karena dengan kepandaiannya, mudah saja baginya untuk menangkap ikan dan memanggang dagingnya, minuman pun tidak kurang karena kini selain air hujan, ia dapat pula minum dari gumpalan es yang kadang-kadang terdapat di atas permukaan air laut.

Hanya menghadapi amukan badai, dia benar-benar tidak berdaya dan hanya mampu menangis, menyebut-nyebut nama Suma Han.

Pada suatu pagi, tiba-tiba dia mendengar suara melengking di atas perahu dan betapa kagetnya ketika ia melihat seekor burung rajawali yang besar sekali beterbangan di atas perahu sambil mengeluarkan suara melengking-lengking panjang.

Tiba-tiba burung itu menyambar ke bawah, agaknya hendak menerkam Keng In yang berada di atas papan perahu.

"Prakkk!"

Dayung di tangan Lulu hancur, akan tetapi burung itu pun terpental dan terbang ke atas sambil memekik marah.

"Keparat jahanam! Burung sialan! Kupatahkan batang lehermu. Hayo turun kalau kau berani!"

Lulu marah sekali dan menantang-nantang sambil memaki-maki.

Dia menyambar Keng In, teringat akan peti terisi pusaka-pusaka, maka anak dan peti itu dia ikat kuat-kuat di punggungnya, tangannya mencabut pedang, siap menghadapi burung rajawali yang agaknya masih penasaran dan beterbangan mengelilingi atas perahu kecil.

Burung rajawali itu kembali menyambar, kini menyerang Lulu yang telah menyakitinya.

Lulu mengayun pedangnya membabat ke arah kaki burung itu.

Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya bahwa burung itu ternyata kuat dan juga pandai sekali bertempur, karena kuku-kuku jari kakinya diulur seperti pisau-pisau runcing menangkis sambil mencengkeram.

"Crakkkk.... aihhh!"

Lulu menjerit dan meloncat ke belakang.

Kuku jari kaki kiri burung itu patah terbabat pedang, akan tetapi cengkeraman kaki kanannya berhasil merampas pedang dan melukai sedikit lengan tangan Lulu!

Sambil terbang berputaran, burung itu memekik-mekik kesakitan dan juga saking marahnya pedang rampasan dilepaskan dan jatuh ke dalam laut, kemudian ia siap untuk menyerang lagi.

Biarpun marah sekali, Lulu tidak kehilangan ketenangannya dan ia berlaku cerdik.

Dilolosnya sabuk sutera dari pinggang dan begitu burung itu menyambar turun, Lulu menggerakkan sabuknya yang meluncur ke atas merupakan sinar putih, ujung sabuk dengan tepat melibat leher burung dan ia meloncat ke atas mengayun dirinya dengan sabuk itu.

Di lain saat, Lulu telah duduk di atas punggung rajawali, menarik sabuknya kuat-kuat sehingga leher burung itu tercekik!

"Menyerahlah!

Kalau tidak, biar kita mati bersama.

Kucekik lehermu sampai patah!"

Lulu membentak keras, tangan kirinya mencengkeram bulu leher, sedangkan tangan kanannya menarik ujung sabuk yang telah melibat leher burung.

Burung itu meronta-ronta, berusaha memutar kepala untuk mematuk orang yang menduduki punggungnya, namun Lulu lebih cepat lagi menghantam kepala burung itu dengan telapak tangan kiri.

Setelah burung itu megap-megap hampir kehabisan napas, Lulu mengendurkan cekikannya dan kembali membentak.

"Hayo terbang baik-baik kalau tidak ingin mampus!"

Setelah beberapa kali dicekik dan dipukul kepalanya, binatang itu agaknya merasa bahwa dia telah bertemu mahluk yang lebih kuat, maka sambil mengeluh panjang ia tidak meronta lagi, melainkan terbang dengan lurus dan cepat menuju ke utara.

Lulu girang bukan main.

Kalau burung ini sudah menyerah, tentu saja lebih mudah mencari Pulau Es dengan menunggang burung raksasa ini daripada naik perahu kecil yang selalu dilanda ombak!

"Eh, Tiauw-ko (Kakak Rajawali) yang baik!

Kita sekarang bersahabat.

Tolonglah terbangkan aku ke Pulau Es.

Pulau Es, kau tahu?"

Akan tetapi burung bukan manusia, mana dapat diajak bicara?

Kalau dia mengalami kesukaran dan kekagetan, tempat pertama yang akan didatangi adalah sarangnya, maka biarpun kini dia tidak berani lagi membantah atau melawan penunggangnya, otomatis dia terbang secepatnya menuju ke sarangnya, yaitu di Pulau Neraka!

Pada waktu itu, Pulau Neraka merupakan tempat yang asing dan tidak dikenal orang.

Para penghuninya, biarpun memiliki ilmu kepandaian yang lihai namun merupakan keturunan orang-orang buangan yang selamanya mengasingkan diri di tempat ini.

Pemimpin mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian paling tinggi, dan pada waktu itu, yang menjadi pimpinan adalah enam orang bermuka kuning yang ilmunya tinggi sekali.

Seorang di antara mereka yang paling tua menjadi pemimpin pertama sedangkan lima orang lain menjadi pem-bantu pembantunya.

Karena hidup terasing, keadaan mereka lebih menyerupai kehidupan orang-orang yang masih biadab, pakaian yang menutupi tubuh hanya terbuat daripada kulit kulit binatang atau kulit pohon.

Namun mereka rata rata memiliki ilmu silat tinggi, bahkan banyak di antara mereka yang turun temurun mempelajari huruf huruf sehingga pada waktu itu mereka mengenal huruf huruf yang kuno yang dipergunakan ratusan tahun yang lalu dan yang sekarang mengalami banyak perubahan.

Ketika Lulu melihat burung yang ditungganginya itu terbang di atas sebuah pulau hitam yang kelihatan dari atas mengerikan, dia berkata.

"Tiauw ko, itu bukan Pulau Es! Pulau Es kelihatan putih bersih, tidak seperti ini. Kau keliru memilih tempat!"

Akan tetapi rajawali yang tidak mengerti kata kata ini, tetap saja terbang merendah dan tiba-tiba Lulu melihat gerakan orang-orang di atas pulau, juga dia melihat bangunan bangunan aneh.

Melihat di bawah ada orang, dia girang sekali.

Mungkin sekali penghuni pulau di bawah ini akan dapat memberi keterangan tentang Pulau Es, dan siapa tahu kalau kalau Pulau Es sudah dekat dan dia dapat minta mereka mengantar dengan perahu.

Menunggang rajawali yang tidak mengerti perintahnya ini pun amat berbahaya!

"Turunlah!

Turun ke tempat orang-orang itu!"

Lulu menepuk nepuk leher rajawali dan burung itu menukik turun dengan amat cepatnya sehingga Lulu cepat merangkul lehernya. Anaknya mulai menangis.

"Diamlah, Nak. Diamlah, kita turun dan bertemu dengan orang-orang...."

Lulu menghibur dan menepuk-nepuk paha anaknya yang ia gendong di punggung.

Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika burung rajawali sudah terbang rendah, ia melihat betapa kulit tubuh dan muka orang-orang di bawah itu bermacam-macam warnanya, tidak lumrah manusia karena ada yang hitam, merah, hijau, biru dan kuning!

Akan tetapi karena burung itu sudah hinggap di atas tanah, ia lalu melompat turun dengan gerakan ringan dan dalam keadaan siap waspada.

Burung rajawali yang merasa punggungnya tidak ditunggangi lagi, memekik girang lalu terbang ke atas membubung tinggi, masih memekik-mekik.

Orang-orang yang aneh itu menghadapi Lulu dan memandang penuh perhatian.

Enam orang kakek yang bermuka kuning melangkah maju dan seorang di antara mereka yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih berkata, suaranya kaku dan aneh, akan tetapi Lulu masih dapat menangkap artinya.

"Toanio siapakah? Apakah seorang buangan baru dari Pulau Es?"

Kini Lulu yang terbelalak keheranan.

"Orang buangan dari Pulau Es? Apa maksudmu? Aku justeru mencari Pulau Es. Tahukah kalian di mana pulau itu?"

"Kami tidak tahu dan mau apa engkau mencari Pulau Es?"

"Aku mau mencari sahabatku di sana!"

"Sahabatnya di Pulau Es!"

Orang-orang itu berteriak dan sikap mereka berubah, kini memandang Lulu dengan geram.

Hal ini mengejutkan hati Lulu.

Celaka, agaknya mereka ini adalah orang-orang yang membenci Pulau Es, entah apa sebabnya.

Melihat mereka sudah siap-siap dengan mencabut bermacam senjata, Lulu cepat bertanya.

"Kalian siapakah? Dan pulau apakah ini?"

Kakek itu menjawab.

"Kami adalah keturunan orang-orang buangan dari Pulau Es. Pulau ini adalah Pulau Neraka. Kami mendendam kepada Pulau Es, dan sekali waktu, pasti kami akan menyerbu dan membasmi musuh-musuh kami di Pulau Es!"

Hati Lulu makin terkejut, akan tetapi dia mempunyai pikiran yang baik.

Han Han (Suma Han) telah bersikap kejam dan tega kepadanya.

Biarpun dia merasa yakin bahwa kakak angkatnya itu pun mencintainya, namun telah tega mengawinkan dia dengan orang lain!

Sekarang setelah ia melarikan diri dari suaminya, mengingat akan watak kakak angkatnya itu, tentu dia akan dimarahi dan belum tentu kakak angkat itu mau menerimanya.

Akan tetapi kalau dia dapat menguasai orang-orang ini!

Dia kelak akan dapat memperlihatkan bahwa dia pun bukan orang sembarangan, dan dia akan menginsafkan kakak angkatnya itu!

Apalagi karena sekarang dia telah menjadi pewaris pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas.

"Bagus!"

Tiba-tiba Lulu berkata kepada kakek itu.

"Kalau begitu, biarlah aku akan memimpin kalian untuk menyerbu Pulau Es!"

Terdengar suara ketawa di sana-sini, dan kakek itu berkata.

"Engkau katakan tadi bahwa engkau hendak mencari sahabatmu di Pulau Es?"

"Benar, akan tetapi dia telah menyakiti hatiku. Bagaimana pendapat kalian? Aku akan memimpin kalian, mengajari ilmu dan mengatur agar kalian menjadi orang pandai dan beradab, tidak seperti sekarang ini!"

"Perempuan muda, bicaramu tekebur sekali! Engkau anggap kami ini orang apa mudah saja mengangkat seorang pemimpin seperti engkau? Biarpun engkau datang secara aneh menunggang rajawali liar, akan tetapi tentang kepandaian, hemm.... agaknya melawan orang tingkat terendah dari kami saja belum tentu engkau menang!"

Semenjak gadis muda, Lulu memiliki watak keras, berani dan tinggi hati. Kini mendengar kata-kata itu, naik darahnya.

"Siapa yang paling tinggi tingkatnya di sini?"

Kakek bermuka kuning itu tertawa.

"Aku!"

"Baik. Kalau begitu aku akan mengalahkan engkau, dan kalau kau kalah, apa-kah aku cukup berharga menjadi ketua di sini?"

Kembali terdengar suara ketawa di sana sini yang memanaskan perut Lulu. Kakek itu mengelus jenggotnya dan berkata.

"Perempuan muda, engkau sungguh lancang. Akan tetapi begitulah, siapa yang paling pandai di sini dia diangkat menjadi pemimpin. Aku orang pertama di sini, kalau engkau bisa mengalahkan aku, tentu saja engkau patut menjadi pemimpin."

"Bagus! Kalau begitu, kau tunggu sebentar!"

Lulu lalu menurunkan peti dan anaknya.

Keng In, anaknya yang baru berusia setahun lebih itu menangis karena lapar, maka dia lalu menyusui anaknya, ditonton oleh semua orang yang berada di situ dengan heran.

Kebiasaan di situ, tidak ada anak yang disusui karena Sang Ibu yang sudah berubah warna kulitnya berarti telah mempunyai darah yang beracun sehingga anak-anak diberi makanan buah-buahan sejak kecil, dan diberi bahan makanan lain.

Setelah menyusui anaknya yang lantas tertidur saking lelahnya, Lulu meloncat bangun dan menggulung lengan bajunya, menghadapi kakek itu.

Dia teringat pedangnya yang sudah jatuh ke laut, maka dia bertanya.

"Engkau hendak bertanding dengan senjata apa?"

"Perempuan muda, senjataku adalah ranting ini, akan tetapi karena engkau tidak bersenjata, biarlah kuhadapi engkau dengan tangan kosong pula. Bahkan kalau engkau bersenjata pun, aku sanggup menghadapimu dengan tangan kosong!"

Setelah berkata demikian, kakek muka kuning itu lalu menancapkan rantingnya di atas tanah, kemudian kakinya yang telanjang itu melangkah maju menghampiri Lulu.

"Bagus, kiranya engkau masih memiliki sikap gagah. Nah, maju dan seranglah!"

Biarpun Lulu mempergunakan kata-kata dan sikap sombong, namun sebenarnya dia cerdik dan diam-diam dia waspada karena dia dapat menduga bahwa orang-orang aneh ini tentu memiliki kepandaian yang aneh pula.

"Perempuan muda, jaga seranganku!"

Kakek itu lalu melangkah maju, tangan kirinya menyambar.

"Wuuuuttt!"

Angin keras menyambar ke arah kepala Lulu sehingga dia kaget karena tepat seperti telah diduganya, orang ini memiliki tenaga sin-kang yang hebat.

Namun dia tidak gentar dan dengan mudah ia mengelak dengan loncatan ringan kemudian dari samping kakinya menendang ke arah lambung lawan.

"Plakk!"

Kakek itu menangkis dan dia berseru kaget.

Sama sekali tidak di-sangkanya bahwa perempuan muda itu memiliki tendangan yang demikian hebat sehingga tangkisannya yang dapat mematahkan balok itu ketika mengenai kaki, terasa nyeri sedangkan wanita itu terhuyung pun tidak!

Tahulah dia bahwa wanita itu tidak bersombong kosong, maka mulai dia menerjang bagaikan angin ribut, cepat dan kuat setiap pukulannya.

Lulu merasa girang.

Tangkisan tadi sengaja dia terima dengan kaki untuk mengukur tenaga dan biarpun kakinya juga terasa nyeri, namun dia tahu bahwa sin-kangnya yang dilatih di Pulau Es dahulu tidak takut menandingi tenaga kakek ini.

Maka dia pun kini melawan dengan pengerahan tenaga, bahkan dia mulai mainkan ilmu-ilmu silat baru yang ia pelajari dari kitab peninggalan Suling Emas.

Berkali-kali kakek itu berseru kaget dan heran ketika mengenal ilmu silat yang dasarnya sama dengan ilmunya sendiri, hanya dia tidak mengenal perubahan-perubahannya yang jauh lebih hebat daripada kepandaiannya.

Ketika Lulu mencoba untuk mainkan Kim-kong Sin-kun, dia masih mampu menahan, akan tetapi ketika Lulu merobah ilmunya dan mencoba mainkan Hong-in-bun-hoat, kakek itu berseru kaget dan terdesak hebat.

Dia hanya melihat wanita muda itu menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang menulis huruf-huruf indah di udara, akan tetapi daya serangan kedua tangan itu luar biasa sekali, dan kuatnya bukan main sehingga angin pukulannya saja membuat dia tergetar.

Memang demikianlah sifat Hong-in-bun-hoat (Silat Sastera Angin dan Awan), yang dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang.

Ilmu ini mendasarkan pergerakan dengan menulis huruf-huruf dan seperti menjadi sifat huruf-huruf itu, coretannya sesuai dengan makna hurufnya seperti lukisan, akan tetapi kalau coretan-coretan itu dilakukan sebagai gerakan menyerang, hebatnya bukan main!

Setelah mempertahankan diri sampai seratus jurus, sebuah "coretan"

Tak tersangka-sangka dengan jari tangan kiri Lulu berhasil memasuki pertahanan Si Kakek dan jari-jari yang lembut itu mengenai pangkal lengan.

"Cusss!"

"Aduhhh....!"

Kakek itu terhuyung-huyung ke belakang dan dari pangkal lengannya keluar darah.

Baju kulit harimau beserta kulit dan daging pangkal lengan itu terkuak oleh jari tangan Lulu!

"Toanio, tidak kusangka ilmu kepandaianmu hebat bukan main!

Akan tetapi aku belum kalah!

Hadapi rantingku ini!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan gesit sekali kakek yang sudah terluka itu menyambar rantingnya lalu menerjang maju.

"Cuittt.... tar-tar-tar....!"

Senjata yang hanya merupakan ranting kayu itu ternyata lemas sekali seperti ujung pecut yang dapat meledak-ledak dan mengancam kepala Lulu dari empat penjuru!

Kalau saja Lulu tahu bahwa sekali terkena ujung ranting itu dia akan menderita luka berbisa yang berbahaya, tentu dia akan menjadi gugup dan mendatangkan bahaya.

Untung dia tidak tahu sehingga dia dapat bersikap tenang, mengelak ke sana sini sambil berusaha merampas ranting!

Akan tetapi tiba-tiba ranting itu menjadi kaku seperti baja dan langsung dipergunakan untuk menusuk perutnya.

Lulu mengelak dengan loncatan ke kiri, dan ranting itu sudah meledak lagi berubah lemas menyambarnya seperti lecutan cambuk.

Diserang secara aneh oleh senjata yang dapat lemas dan berubah kaku ini, Lulu menjadi sibuk sekali.

Untung bahwa dia pernah digembleng oleh Maya dalam hal ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sehingga kini tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar senjata istimewa lawan itu.

Para penghuni Pulau Neraka yang tadinya memandang rendah kepada Lulu, kini menjadi bengong dan terbelalak kagum.

Biarpun wanita itu terdesak, namun jelas tampak oleh mereka betapa wanita itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan lebih tinggi tingkatnya daripada kakek yang menjadi ketua mereka!

Payah juga Lulu menghindarkan diri dari desakan kakek itu.

Ia menjadi penasaran dan marah karena sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Tubuhnya terus dikejar ujung ranting yang menghalangi dia melakukan serangan.

Sayang dia tidak mempunyai senjata.

Tiba-tiba ia teringat.

Di dalam peti kuning terdapat sebuah senjata kipas peninggalan Suling Emas!

Dan dia pun sudah mempelajari ilmu Silat Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) dari sebuah di antara kitab-kitab dan sudah pula berlatih mainkan kipas itu, Teringat akan ini, dia berseru.

"Tahan senjata!"

Kakek itu berhenti, napasnya empas-empis.

Dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, namun belum pernah ujung rantingnya menyentuh tubuh lawan!

Karena dia menyerang terus menerus dan belum pernah ia melakukan pertandingan selama itu, napasnya memburu dan hampir putus, mukanya sebentar merah sebentar pucat, membuat muka yang berwarna kuning itu sebentar tua sebentar muda warnanya.

"Apakah engkau menyerah kalah?"

Kakek itu menegur. Lulu meloncat mendekati petinya, membuka dan mengambil kipas, lalu berdiri lagi menghadapi lawannya.

"Belum ada setitik darahku keluar, bagaimana aku menyerah kalah? Tidak, engkaulah yang sebaiknya menyerah dan menjadi pembantuku, karena kalau aku menggunakan senjataku ini, engkau pasti akan kalah."

"Senjata.... kipas....?"

Kakek itu mengerti kipas dari dongeng nenek moyang dan sebagian besar penghuni di pulau itu belum pernah melihat kipas selamanya, juga mendengar pun belum, maka mereka memandang terheran-heran.

"Benar, inilah senjataku saat ini!"

"Toanio, engkau lihai, akan tetapi jangan main-main. Menurut dongeng nenek moyang, kipas hanyalah dipergunakan oleh para siucai (mahasiswa) dan wanita cantik untuk menyilirkan badan dan menuliskan sajak serta gambar. Bagaimana kini akan kau pergunakan sebagai senjata?"

"Lopek, engkau lupa bahwa engkau sendiri mempergunakan senjata yang tidak semestinya, hanya sebatang ranting. Karena itu tentu engkau mengerti bahwa makin sederhana senjatanya, makin berbahaya. Awaslah terhadap kipas pusakaku ini. Ingat, Kwan Im Pouwsat dengan kipasnya sanggup menundukkan seribu satu macam siluman!"

Kakek itu melotot marah dan sambil mengeluarkan suara melengking-lengking dia menerjang maju.

Jantung Lulu tergetar hebat oleh suara lengkingan itu, maka tahulah dia bahwa kakek itu mempergunakan khi-kang untuk mempengaruhinya.

Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja yang mampu mengeluarkan suara seperti itu, suara yang dimiliki binatang-binatang besar tanpa latihan, seperti yang dimiliki singa atau harimau sehingga sekali menggereng, jantung calon korbannya tergetar dan kakinya lemas tak mampu lari lagi.

(Lanjut ke

Jilid 11) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Lulu juga mengeluarkan suara teriakan melengking yang tinggi mengatasi suara kakek itu dan dia cepat menggerakkan kipasnya ketika ranting itu menerjangnya.

Dan ternyatalah bahwa senjata kipas ini amat tepat untuk menghadapi senjata ranting yang kadang-kadang menjadi pecut kadang-kadang menjadi tombak baja itu!

Dengan ilmu sakti Lo-hai-san-hoat, kipasnya dapat dikembangkan dan dikebutkan menghalau ujung ranting, kemudian disusul dengan totokan-totokan mengunakan ujung gagang kipas.

Kakek yang sudah hampir kehabisan napas itu menjadi makin repot.

Kini dialah yang terdesak karena rantingnya kalau dibuat lemas, selalu terdorong angin kebutan kipas sehingga gerakannya kacau bahkan tak dapat ia kuasai lagi, sedangkan kalau dibikin kaku, tangkisan gagang kipas membuat kedua telapak tangannya panas dan perih.

Dengan gerengan marah kakek itu menusukkan rantingnya yang menjadi kaku.

Lulu sudah mendengar anaknya menangis lagi, agaknya sadar dari tidurnya, maka dia ingin mempercepat kemenangannya.

Melihat ujung ranting datang, dia cepat menggerakkan kipasnya dengan kedua gagang menggunting dengan jurus ilmu kipas yang disebut Siang-in-toan-san (Sepasang Awan Memotong Gunung).

Ujung ranting itu terjepit dan tidak dapat dicabut kembali!

Kakek itu terkejut, menggereng dan hanya menggunakan tangan kiri memegang ranting sedangkan tangan kanannya melayang ke depan dibarengi langkah kakinya, langsung mengirim pukulan ke arah dada Lulu.

Pukulan yang antep sekali karena kakek itu mengerahkan sin-kangnya!

"Hemmm!"

Lulu mendengus, tangan kirinya didorongkan ke depan, telapak tangannya menerima kepalan lawan sambil mengerahkan sin-kang yang dilatih di Pulau Es dan yang ini telah mencapai tingkat tinggi.

"Desss!"

Kepalan tangan kakek itu menempel di telapak tangan Lulu.

Lulu mengerahkan napas memperkuat Im-kang.

Tiba-tiba kakek itu menggigil tubuhnya, menarik tangannya, terhuyung ke belakang dan "uaaakkk!"

Dia muntah darah dan roboh terguling dalam keadaan pingsan!

Keadaan menjadi sunyi sekali.

Tak seorang pun bergerak, hanya memandang penuh takjub seolah-olah belum dapat percaya bahwa pemimpin mereka dikalahkan wanita muda itu!

Yang terdengar hanya tangis Keng In.

Lulu berdiri tegak.

Kipas terkembang di depan dada, tangan kiri terbuka jarinya di atas kepala, sikapnya gagah dan menyeramkan.

"Masih adakah yang tidak mau menerima aku menjadi Ketua Pulau Neraka?"

Suaranya dikeluarkan dengan pengerahan khi-kang sehingga menggetarkan jantung semua orang.

Para penghuni Pulau Neraka itu tidak ada yang bergerak, semua memandang kepada lima orang kakek bermuka kuning yang menjadi pemimpin mereka.

Akan tetapi lima orang kakek ini juga tidak bergerak melainkan memandang kepada yang roboh pingsan.

Perlahan-lahan kakek tua itu siuman, membuka mata, bangkit duduk dan memandang kepada Lulu, kemudian ia berlutut dan berkata.

"Mulai saat ini, Toanio adalah pemimpin kami!"

Mendengar ini, lima orang kakek muka kuning lalu menjatuhkan diri berlutut diikuti semua penghuni Pulau Neraka dan terdengarlah seruan-seruan mereka.

"Toanio....!"

"To-cu....!"

Lulu tersenyum.

"Baiklah, aku girang sekali bahwa kalian suka mengangkat aku menjadi ketua. Aku berjanji akan memimpin kalian dan menurunkan ilmu sehingga tidak saja kalian akan memperoleh kemajuan, juga akan menjadi penghuni Pulau Neraka yang akan menggemparkan dunia! Sekarang, lebih dulu aku minta makanan untuk aku dan anakku."

Demikianlah, mulai saat itu Lulu menjadi ketua mereka.

Dia menjalankan peraturan baru, menghapuskan pantangan keluar pulau, bahkan dia menyebarkan pembantu-pembantunya yang pandai untuk keluar pulau dan mencari bahan pakaian untuk mereka semua, mencari kebutuhan-kebutuhan hidup sebagaimana layaknya manusia-manusia beradab.

Dia menurunkan ilmu silat tinggi, akan tetapi ilmu-ilmu dari keempat kitab dia simpan sebagai kepandaian pribadinya.

Bahkan dia melatih diri dan mempelajari ilmu keturunan penghuni Pulau Neraka sehingga dia melatih sin-kang dengan minum racun-racun tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang di pulau itu sehingga setelah mencapai tingkat tertinggi, dalam beberapa tahun saja wajahnya berwarna putih kapur!

Juga dia mendidik Keng In dengan penuh kasih sayang sehingga bocah ini menjadi manja.

Burung-burung rajawali juga ia taklukkan sehingga dapat dipergunakan untuk binatang tunggangannya.

Kemajuan yang dicapai oleh Pulau Neraka amat hebat.

Karena Lulu mengutus pasukan-pasukannya keluar pulau, sebentar saja mereka terlibat dengan orang-orang kang-ouw dan mulailah nama Pulau Neraka terkenal sebagai kekuatan yang menakutkan.

Ketika puteranya yang bertugas mengumpulkan akar dan daun obat untuk keperluan penghuni menolak bahaya dari keracunan datang melapor akan munculnya seorang anak perempuan murid Majikan Pulau Es, Lulu cepat berangkat sendiri dan menangkap Kwi Hong.

Sudah lama ia berkeinginan mengunjungi Pulau Es, akan tetapi karena merasa belum cukup kuat, ia selalu menunda.

Dari penyelidikan orang-orangnya, ia mendengar bahwa Suma Han telah menjadi majikan Pulau Es dan bahwa di sana terdapat banyak anak buahnya, Banyak pula terdapat wanita-wanita cantik yang gagah perkasa dan betapa Pulau Es seolah-olah merupakan sebuah kerajaan kecil.

Mendengar ini, makin sakit rasa hati Lulu karena dia menganggap bahwa Han Han (Suma Han) kejam dan lupa kepadanya.

Bukankah sepantasnya kalau Suma Han mencari dan mengajak dia hidup bahagia di Pulau Es?

Dialah yang berhak tinggal di Pulau Es, di samping Suma Han!

Ketika ia memancing Suma Han sehingga Pendekar Super Sakti itu datang berkunjung ke Pulau Neraka, mengalahkan semua orangnya, dia melihat betapa Suma Han masih selemah dahulu.

Jelas bahwa pria itu mencintanya, akan tetapi pria itu tidak memperlihatkan kejantanan, tidak memperlihatkan kekuasaannya untuk menundukkannya, bahkan seperti juga dulu, rela pergi dengan hati menderita!

Herankah kita apabila Lulu menangis terisak-isak semalam itu dan di dalam hatinya berjanji untuk memusuhi Suma Han yang telah merampas hatinya, kemudian mengecewakan hatinya dan menghancurkan harapan serta kebahagiaannya?

Apalagi ketika dia mendengar bahwa pria idaman hatinya itu telah dijodohkan dengan Nirahai, sucinya.

Dia akan memusuhi Suma Han, dan akan mencari Nirahai.

Dia tidak takut sekarang terhadap sucinya yang lihai itu, bahkan dia pun tidak takut terhadap Suma Han yang belum sempat diujinya itu.

Setelah dia mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, dia tidak takut terhadap siapapun juga!

Rasa kemarahan yang bangkit karena cemburu ini akhirnya mengalahkan kesedihannya dan membuat majikan Pulau Neraka yang digambarkan seperti iblis itu dapat tidur pulas dengan bantal masih basah air mata!

"Siuuuutttt....

byurrrr!"

"Lihat, Paman Pangeran, apa yang jatuh dari langit itu?"

Seorang gadis cilik yang berpakaian serba merah, berusia kurang lebih sembilan tahun, berseru sambil menunjuk ke arah benda yang jatuh dari langit dan tampak mengapung di atas lautan.

"Hemmm, manakah? Ahhh, kau benar. Benda apakah itu? Hiiii, Ciangkun, suruh dekatkan perahu dan coba kau ambil benda itu!"

Kata laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang berpakaian mewah dan berwajah tampan itu.

Mereka berada di atas sebuah perahu yang mewah dan indah, dengan hiasan bendera sebagai tanda bahwa penumpangnya adalah seorang bangsawan.

Memang demikianlah kenyataannya.

Laki-laki tampan berpakaian mewah itu adalah seorang pangeran Mongol yang bernama Pangeran Jenghan yang pada waktu itu sedang berpesiar di lautan utara di atas perahunya, dikawal oleh pasukan Mongol yang menumpangi tiga buah perahu lain.

Adapun gadis cilik berpakaian merah yang berwajah cantik jelita berusia sembilan tahun itu adalah keponakannya yang bernama Milana.

Atas perintah kepala pengawal, seorang kakek yang memakai topi caping lebar seperti para pengawal lain yang berada di perahu besar, perahu yang ditumpangi pangeran itu didayung mendekati benda yang terapung di laut.

Setelah agak dekat, Milana berseru.

"Sebuah keranjang! Dan ada orangnya di dalam!"

"Hemmm, agaknya dia sudah mati....!"

Pangeran Jenghan berseru melihat seorang anak laki-laki rebah meringkuk di keranjang tak bergerak-gerak seperti tak bernyawa lagi.

Memang itulah keranjang berisi Bun Beng yang jatuh dari angkasa ketika ke ranjangnya dilepas oleh cengkeraman burung rajawali.

Ketika keranjang meluncur dengan cepatnya, Bun Beng pingsan.

Keranjang itu jatuh ke laut dan mengapung sehingga menyelamatkan nyawa Bun Beng.

Namun kalau saja ada kebetulan kedua, yang pertama jatuhnya keranjang ke laut, yaitu kalau tidak kebetulan lagi dia jatuh tidak di dekat perahu itu, tentu keranjangnya sebentar lagi akan tenggelam dan dia tidak akan tertolong.

Kepala pengawal segera menggerakkan tangan kanannya dan tampaklah sehelai tali meluncur seperti seekor ular panjang, menuju ke arah keranjang.

Dengan tepat sekali ujung tali itu membelit keranjang pada saat Bun Beng siuman dari pingsannya.

Anak ini terkejut ketika membuka matanya melihat bahwa dia berada di tengah laut.

Lebih lagi kagetnya ketika tiba-tiba keranjang yang didudukinya itu terangkat ke atas seperti ada yang menerbangkan.

Celaka, pikirnya, agaknya dia telah disambar lagi oleh burung rajawali!

"Brukkkk!"

Keranjang yang diterbangkan oleh tali yang dilepas secara lihai oleh kepala pengawal Mongol itu terbanting ke atas papan dan tubuh Bun Beng terlempar keluar, bergulingan di atas papan.

Ia merangkak bangun dengan kepala pening, bangkit berdiri terhuyung-huyung.

Karena pandang matanya berkunang, dia cepat berlutut dan memegangi kepala dengan kedua tangan, menutupi mukanya dan memejamkan matanya.

"Sungguh ajaib! Eh, anak, engkau siapakah dan mengapa bisa jatuh dari langit dalam sebuah keranjang?"

Suara yang terdengar asing dan kaku mempergunakan bahasa pedalaman ini membuat Bun Beng menurunkan kedua tangannya, mengangkat muka dan membuka mata memandang.

Dilihatnya seorang laki-laki berpakaian indah berdiri di depannya, dan di samping laki-laki itu berdiri seorang anak perempuan yang cantik jelita berpakaian merah.

Ia memandang ke sekeliling.

Kiranya dia berada di atas sebuah perahu besar dan tak jauh dari situ kelihatan tiga buah perahu lain.

Mengertilah dia bahwa keranjangnya jatuh ke laut dan bahwa dia telah ditolong oleh orang-orang ini.

Maka perlahan dia bangkit berdiri, kemudian membungkuk dan menjawab.

"Namaku Gak Bun Beng. Tadinya aku digondol burung rajawali dan dilepaskan dari atas. Aku pingsan dan tidak tahu apa-apa, baru siuman ketika keranjang dinaikkan ke sini. Aku telah menerima budi pertolongan kalian, sudilah menerima ucapan terima kasihku."

Sejenak semua orang yang berada di situ tertegun dan keadaan menjadi sunyi.

Cerita anak ini terlalu aneh, apalagi melihat anak yang berwajah tampan, bersikap sederhana dan halus akan tetapi menggunakan bahasa yang sederhana pula, sama sekali tidak bersikap hormat kepada Pangeran Jenghan!

Para pengawal sudah mengerutkan alis hendak marah karena dianggapnya sikap anak ini kurang ajar dan tidak menghormat kepada junjungannya.

Akan tetapi Pangeran itu tersenyum dan mengangkat kedua lengan ke atas.

"Ajaib....! Ajaib....! Seolah-olah engkau dijatuhkan dari langit oleh para dewa untuk bertemu dengan aku! Eh, Gak Bun Beng, bagaimana engkau sampai bisa terbawa terbang dalam keranjang oleh seekor burung raksasa? Amat aneh ceritamu, sukar dipercaya!"

Bun Beng berpikir.

Memang pengalamannya amat aneh dan sukar dipercaya.

Orang ini telah menyelamatkan nyawanya.

Kalau dia menceritakan semua pengalamannya, semenjak terlempar ke air berpusing sampai hidup di antara kawanan kera kemudian bertemu dengan para pemuja Sun Go Kong dan bertemu dengan murid Pendekar Siluman yang bertanding sambil menunggang garuda melawan anak iblis dari Pulau Neraka, agaknya ceritanya akan lebih tidak dipercaya lagi.

Dia tidak suka bercerita banyak tentang dirinya karena hal itu hanya akan menimbulkan kesulitan saja, maka ia lalu mengarang cerita yang lebih masuk akal.

"Saya sedang mencari rumput untuk makanan kuda dan di dalam hutan saya tertidur dalam keranjang ini. Tiba-tiba saya terkejut dan ternyata bahwa keranjang yang saya tiduri telah berada di angkasa, dicengkeram oleh seekor burung besar. Karena ketakutan, saya meronta-ronta dan akhirnya keranjang itu dilepaskan dan saya jatuh ke sini."

Pangeran Jenghan mengangguk angguk, akan tetapi melihat pandang matanya yang penuh selidik dan kerutan alisnya, ternyata bahwa di dalam hatinya Pangeran ini masih kurang percaya.

Akan tetapi dia berkata.

"Hemm, engkau tentu kaget dan lelah, juga lapar. Pakaianmu robek robek. Ciangkun, beri dia makan dan suruh istirahat di bagian belakang kapal."

Bun Beng lalu mengikuti pengawal itu.

Dia disuruh makan hidangan yang amat lengkap dan serba mahal.

Kemudian dia diperbolehkan mengaso.

Karena memang merasa lelah sekali, tak lama kemudian Bun Beng tertidur di atas papan perahu di bagian belakang.

Bun Beng terbangun oleh suara nyanyian merdu.

Ia membuka mata dan menoleh.

Kiranya yang sedang bernyanyi adalah anak perempuan berpakaian merah yang dilihatnya tadi.

Anak itu berdiri di atas papan, di pinggir perahu, memandang ke angkasa yang biru indah, dan suaranya amat merdu ketika bernyanyi.

Akan tetapi, bagi Bun Beng, yang amat mengherankan adalah nyanyian itu.

Kata kata dalam nyanyian itu bukanlah nyanyian kanak-kanak bahkan mengandung makna dalam seperti sajak dalam kitab kitab kuno.

Ia mendengarkan penuh perhatian tanpa menggerakkan tubuhnya yang masih terlentang.

"Betapa ajaib alam dunia segala sesuatu bergerak sewajarnya menuju ke arah titik sempurna. Matahari memindahkan air samudra memenuhi segala kebutuhan di darat dibantu hembusan angin yang kuat setelah melaksanakan tugas mulia air kembali ke asalnya semua itu digerakkan oleh cinta. Apa akan jadinya dengan alam semesta tanpa cinta?"

Bun Beng mengerutkan alisnya.

Anak ini masih terlalu kecil untuk menyanyikan kata kata seperti itu!

Mungkin hanya seperti burung saja yang meniru kata-kata tanpa tahu artinya.

"Gak Bun Beng, engkau sudah sadar dari tadi, mengapa pura pura masih tidur?"

Bun Beng terkejut dan bangkit duduk, matanya terbelalak.

Bagaimana anak perempuan itu bisa tahu bahwa dia sudah terbangun?

Padahal dia tidak mengeluarkan suara dan anak itu tidak pernah menengok bahkan ketika menegurnya pun tidak membalikkan tubuh.

"Eh, apa engkau mempunyai mata di belakang kepalamu?"

Bun Beng melompat berdiri dan bertanya.

Anak perempuan itu kini membalikkan tubuhnya, memandang dengan sepasang mata yang mengingatkan Bun Beng akan sepasang mata burung garuda tunggangan murid Pendekar Siluman.

Anak itu tersenyum dan Bun Beng terseret dalam senyum itu, tanpa disadari ia pun meringis tersenyum.

"Apa kau kira aku ini siluman yang mempunyai mata di belakang kepala?"

"Kalau tidak mempunyai mata di belakang, bagaimana engkau bisa tahu bahwa aku telah bangun dari tidur?"

"Bunyi pernapasan orang tidur dan orang sadar jauh bedanya, dan biarpun sedikit, gerakan tubuhmu terdengar olehku."

Bun Beng bengong.

Wah, kiranya anak perempuan yang kelihatan lemah lembut dan pandai bernyanyi dengan suara merdu ini memiliki pendengaran yang tajam luar biasa.

Ah, ini hanya menandakan bahwa anak ini telah berlatih sin kang!

Teringatlah ia akan cara pengawal menaikkan keranjangnya.

Tak salah lagi, tentu penumpang perahu ini merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan anak ini bukan anak sembarangan, dapat dibandingkan dengan murid Pendekar Siluman, atau anak laki laki Pulau Neraka itu!

Akan tetapi, karena dia sendiri pun sejak kecil telah digembleng orang-orang pandai, Bun Beng memandang rendah dan tidak memperlihatkan kekagumannya, bahkan pura pura tidak tahu bahwa anak perempuan ini memiliki kepandaian.

"Nyanyianmu tadi sungguh ngawur!"

Karena tidak tahan melihat betapa sinar mata anak perempuan itu memandangnya seperti orang mentertawakan, Bun Beng lalu mengambil sikap menyerang dengan mencela untuk memancing perdebatan agar dia dapat dikenal sebagai seorang yang lebih pandai daripada anak itu!

Bun Beng merasa kecelik kalau dia memancing kemarahan anak itu, karena anak itu sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum manis sekali dan bertanya.

"Bagian manakah yang kau katakan ngawur?"

"Semuanya! Maksudku, engkau bernyanyi seperti burung, tanpa mengerti artinya! Misalnya kalimat yang mengatakan bahwa semua itu digerakkan oleh cinta, aku tanggung engkau tidak mengerti apa artinya. Bocah sebesar engkau ini mana tahu tentang cinta?"

Mata itu bersinar lembut ketika men-jawab.

"Gak Bun Beng, ketika aku diajar menyanyikan kata kata itu, aku telah diberi penjelasan. Tentu saja aku tahu dan aku heran sekali kalau engkau tidak tahu arti cinta. Cinta adalah kasih sayang murni yang menguasai seluruh alam. Tanpa cinta atau kasih sayang ini, kehidupan akan tiada! Segala macam benda dan mahluk, baik yang bergerak maupun yang tidak, seluruhnya dapat hidup oleh kasih sayang ini. Cinta adalah sifat daripada Tuhan yang menguasai seluruh alam!"

Kembali Bun Beng menjadi bengong.

Tidak salahkah pendengarannya?

Ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak perempuan yang masih....

ingusan!

Ia penasaran dan menyerang lagi.

"Engkau hanya meniru-niru, belum tentu engkau mengerti betul tentang cinta. Kalau benar mengerti, coba kau beri penjelasan dan contoh-contoh!"

Kini anak itu memandang wajah Bun Beng dan kelihatan sinar mata membayangkan perasaan kasihan!

"Bun Beng, benarkah engkau tidak mengenal arti cinta itu?

Aih, sungguh patut dikasihani!

Sinar matahari yang memberi kehidupan itu adalah kuasa cinta!

Air laut yang mengandung garam, yang menjadi awan dan hujan mengaliri segala yang membutuhkan air di darat, angin yang bertiup, hawa udara yang kita hisap, tanah yang kita injak dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan, semua itu adalah kuasa cinta!

Darahmu yang mengalir di seluruh tubuhmu tanpa kau sengaja, pernapasanmu yang terus bekerja tanpa kau sadari dalam tidurpun, semua itu digerakkan oleh apa kalau tidak oleh kekuasaan yang penuh kasih sayang?

Bibit bertunas menjadi pohon tanpa bergerak, tanah dan air menghidupkannya, angin dan hawa menyegar-kannya, sampai berdaun dan berbunga.

Bunga tanpa bergerak menciptakan buah, dan buahpun akan jatuh sendiri dan bersemi menjadi bibit, demikian seterusnya.

Benda benda itu tanpa bergerak telah teratur sendiri, bukankah itu bukti nyata betapa maha besarnya cinta kasih yang dimiliki Tuhan?

Dan engkau masih bertanya akan bukti?"

Kini Bun Beng terbelalak memandang wajah yang semringah kemerahan itu.

Bukan main!

"Eh....

oh....

maafkan, kiranya engkau benar benar hebat!

Siapakah yang mengajarkan kepadamu akan semua pengetahuan itu?"

Ia berhenti sebentar lalu menengok ke arah bilik perahu besar.

"Tentu.... laki laki yang berpakaian mewah tadi, ya?"

Akan tetapi anak perempuan itu menggeleng kepala.

"Bukan dia. Yang mengajarkan semua itu adalah Ibuku sendiri. Banyak hal lain yang diajarkan Ibu kepadaku, akan tetapi tentang cinta ini, ada sebuah nyanyian yang kudengar seringkali dinyanyikan Ibu, yang aku tidak mengerti artinya. Kalau kutanyakan, Ibu selalu menggeleng kepala tanpa menjawab. Dan kau tahu.... Ibu selalu mengucurkan air matanya kalau menyanyikan itu."

Bun Beng tertarik sekali. Anak ini mempunyai sikap yang amat menarik dan watak yang begitu halus! Tentu ibunya orang luar biasa pula.

"Benarkah? Bagaimana nyanyian itu?"

"Sebetulnya tidak boleh aku beritahukan orang lain. Akan tetapi engkau seorang anak yang aneh, yang datang tiba-tiba saja dari langit, dikirim oleh Tuhan sendiri melalui kekuasaan cinta kasihnya."

"Aihh, mengapa begitu? Sudah kuceritakan bahwa aku diterkam...."

"Burung rajawali yang menerbangkanmu ke atas, bukan? Engkau lupa! Kekuasaan apa yang membuat burung itu mampu terbang? Kemudian, kekuasaan apa yang membuat engkau kebetulan dijatuhkan di atas laut, dekat dengan perahu Paman sehingga engkau tertolong? Tanpa kekuasaan cinta kasih itu, kita dapat berbuat apakah?"

Bun Beng terdesak.

"Baiklah.... baiklah...., engkau benar. Akan tetapi, orang sepandai engkau masih tidak mengerti arti nyanyian yang dinyanyikan Ibumu sambil menangis. Coba perdengarkan nyanyian itu, kalau engkau tidak mengerti artinya, tentu aku mengerti,"

Bun Beng membusungkan dadanya karena kini timbul kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia lebih pandai.

Kalau gadis cilik yang aneh ini tidak tahu artinya kemudian dia bisa mengartikannya, berarti dia menang!

Anak perempuan itu ragu ragu sejenak, memandang wajah Bun Beng penuh selidik.

Kemudian dia menghela napas dan berkata.

"Sudah kukatakan bahwa engkau seorang anak luar biasa dan aku percaya kepadamu. Akan tetapi, berjanjilah bahwa engkau takkan menceritakan kepada siapapun juga tentang nyanyian Ibu ini, karena kalau Ibu mengetahui, tentu Ibu akan menyesal sekali kepadaku."

"Engkau takut dimarahi?"

"Tidak. Kalau Ibuku memarahiku, hal itu biasa saja. Akan tetapi kalau sampai Ibu menyesal dan berduka karena perbuatanku, hal ini amat menyedihkan hatiku."

Keharuan meliputi hati Bun Beng.

Ah, kalau saja dia mempunyai ibu, dia akan mencontoh anak ini!

Rasa takut dalam hati seorang anak melihat ibunya marah, bukanlah cinta kasih.

Namun rasa sedih dalam hati seorang anak melihat ibunya berduka dan menyesal, barulah timbul dari cinta kasih yang murni!

Dia menelan ludah.

"Engkau.... engkau seorang anak yang baik sekali! Aku berjanji, aku bersumpah tidak akan mence-ritakan kepada lain orang."

Anak perempuan itu tersenyum.

"Aku percaya kepadamu dan kepercayaanku tidak akan sia sia. Nah, dengarlah nyanyian istimewa Ibuku!"

"Cinta kasih menguasai alam semesta suci murni dan penuh mesra namun mengapa.... hatiku merana.... jiwaku dahaga akan cinta....? aihhh.... haruskah aku menjadi ikan dalam air mati kehausan? cinta.... cintaku.... mengapa engkau begitu tega....?"

Bun Beng berdiri bengong dan dua titik air mata turun membasahi pipinya ketika ia melihat betapa air mata bercucuran dari sepasang mata anak perempuan itu yang kini terisak isak.

"Engkau.... engkau menangis....?"

Tanyanya, suaranya serak. Anak perempuan itu menoleh, mengusap air matanya dan mengangguk.

"Aku.... aku teringat kepada Ibu. Aku kasihan mengingat dia berduka dan aku sedih karena tidak mengerti mengapa dia menangis dan apa artinya nyanyiannya itu."

Bun Beng mengerutkan alisnya, berpikir. Kemudian ia berkata.

"Ahh, aku mengerti! Ibumu tentu mencinta seseorang! Tentu saja seorang pria! Ehhh.... maaf, tentu mencinta Ayahmu. Di mana Ayahmu?"

Anak perempuan itu bengong dan mengangguk angguk.

"Aihhh.... agaknya engkau benar, Bun Beng. Terima kasih! Kalau aku menanyakan Ayahku. Ibu selalu kelihatan berduka dan hanya mengatakan bahwa Ayah pergi amat jauh, bahwa Ayah adalah seorang pendekar besar. Akan tetapi Ibu tidak pernah mau mengatakan di mana adanya Ayah dan siapa namanya, hanya menyuruh aku bersabar karena kelak tentu akan bertemu dengan Ayah."

"Nah, benar kalau begitu! Ibumu mencinta Ayahmu, merindukan Ayahmu yang lama pergi! Eh, siapakah namamu?"

"Namaku Milana."

"Bagus sekali!"

"Apakah yang bagus?"

"Namamu itu. Tentu engkau puteri bangsawan, bukan?"

Milana menggeleng kepala.

"Ibu melarang aku menganggap diriku keturunan bangsawan, biarpun Paman Jenghan adalah seorang pangeran Mongol. Aku disuruh ikut di Kerajaan Mongol untuk mempelajari ilmu. Ibu sendiri entah pergi ke mana akan tetapi sering kali, sedikitnya sebulan sekali, Ibu tentu datang menjengukku dan menurunkan pelajaran pelajaran kepadaku. Kini, Paman Pangeran Jenghan berpesiar ke laut ini dan mengajakku, tidak kusangka akan bertemu dengan engkau, Bun Beng."

"Ibumu tentu seorang yang hebat! Dan engkau di samping pandai bernyanyi dan mempelajari kesusasteraan, tentu engkau belajar ilmu silat pula."

"Benar, keluarga istana Mongol penuh dengan orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi menurut Paman Pangeran, tidak ada yang melebihi ilmu kepandaian Ibu yang amat tinggi. Hanya aku belum pernah menyaksikan sendiri kepandaian Ibu, kecuali kalau dia datang dan pergi lagi dari kamarku dengan kecepatan seperti menghilang. Kadang-kadang aku bahkan menduga apakah Ibu itu sebangsa dewi, bukan manusia biasa...."

"Milana....!"

Mereka terkejut dan menengok.

"Paman memanggilku."

Anak perempuan itu berlari menuju ke bilik perahu besar, diikuti oleh Bun Beng.

Mereka melihat kesibukan di perahu itu dan semua pengawal memegang senjata.

Juga para pengawal di tiga buah perahu kecil siap dengan senjata mereka.

Pangeran Jenghan menyongsong keponakannya.

"Lekas kau sembunyi di bilik kapal. Engkau juga, Bun Beng. Jangan sekali-kali keluar dari bilik kalau belum aman."

"Apakah yang terjadi, Paman?"

Milana bertanya.

"Kita akan diserang sekawanan bajak! Perahu perahu mereka sudah tampak datang. Cepat sembunyi!"

Pangeran itu memegang lengan Milana dan ditariknya keponakan itu memasuki bilik kapal, diikuti oleh Bun Beng.

Kemudian pintu bilik ditutup dan Pangeran itu meloncat keluar.

"Mau apakah bajak bajak laut itu?"

Di dalam bilik, Milana bertanya kepada Bun Beng.

"Hemm, namanya juga bajak, tentu mau membajak, merampas kapal atau membakarnya, dan membunuh kita."

Mata yang bening itu terbelalak, muka yang manis itu menjadi agak pucat.

"Mengapa? Bukankah mereka itu juga manusia?"

Bun Beng tersenyum pahit.

"Pujianmu tentang cinta kasih itu akan hancur kalau jatuh ke tangan manusia, Milana. Tidak ada mahluk di dunia ini yang sejahat, sekejam, dan seganas manusia."

"Ohhh....! Akan tetapi.... aku tidak pernah menyaksikan kekejaman manusia."

"Kalau begitu engkau belum berpengalaman, Milana. Berhati-hatilah kalau engkau berhadapan dengan sesama manusia dan simpan saja kepercayaanmu tentang cinta kasih itu di dalam hati. Tuhan memang bersifat Maha Kasih, kasih sayangnya melimpah, akan tetapi manusia hanya menghancurkan kasih sayang murni itu. Mengapa Pamanmu menyembunyikan kita? Kalau memang ada serbuan bajak, aku lebih suka berada di luar dan membantu menghadapi mereka. Seribu kali lebih baik mati sebagai seekor harimau yang melakukan perlawanan mati matian di luar sana daripada mati sebagai tikus tikus terjepit di tempat ini!"

"Aku.... aku tidak pernah bertempur!"

"Kulihat kepandaianmu sudah baik, dan kau belum pernah bertempur?"

Milana menggeleng kepala.

"Aku.... aku tidak mau bertempur, tidak mau menggunakan ilmu silat yang kupelajari untuk melukai dan membunuh manusia lain!"

"Dan kalau mereka menerjang ke sini dan membunuhmu?"

"Lebih baik dibunuh daripada membunuh."

Bun Beng membelalakkan mata dan menggeleng geleng kepalanya.

"Wah wah-wah, bagaimana ini? Habis, untuk apa Ibumu mengajar ilmu silat tinggi kepadamu?"

"Kata Ibu untuk menjaga diri dari marabahaya."

"Nah, sekarang marabahaya tiba. Mari kita pergunakan untuk menjaga diri!"

"Tapi dengan membunuh bajak? Aku tidak mau!"

"Mari kita keluar, Milana. Akulah yang akan menjaga dan melindungimu. Biarlah aku yang akan membunuh mereka kalau mereka berani mengganggu kita."

"Kau.... kau berani membunuh orang?"

"Tentu saja kalau orang itu juga mau membunuhku. Membela diri, bukan?"

"Bun Beng, pernahkah ada orang yang hendak membunuhmu?"

Bun Beng tertawa.

"Tak terhitung banyaknya! Engkau belum mengenal kekejaman manusia. Mari kita keluar. Dengar, sudah ada suara pertempuran!"

Dan memang pada saat itu sudah terdengar teriakan teriakan di antara berdencingnya senjata senjata yang beradu.

Ketika kedua orang anak itu tiba di luar, Milana mengeluarkan jerit tertahan melihat betapa empat buah perahu mereka telah dikurung dan tampak banyak sekali anak buah bajak menyerang.

Pamannya dan para pengawal melakukan perlawanan dengan gigih dan karena kepandaian Pangeran Jenghan dan para pengawalnya memang tinggi, banyak anak buah bajak yang menyerbu itu roboh dan jatuh ke laut dalam keadaan terluka atau tewas.

Akan tetapi, jumlah anak buah bajak itu banyak sekali dan mereka mulai menggunakan api untuk membakar empat buah perahu itu!

Keadaan menjadi kacau balau dan para pengawal kewalahan karena selain menghadapi serbuan bajak yang amat banyak, juga mereka harus memadamkan api yang mulai membakar di sana sini sambil merobohkan para bajak yang membakari perahu.

"Paman Pangeran....!"

Milana menjerit melihat pamannya dikeroyok enam orang bajak laut.

Melihat seorang bajak laut dengan tombak di tangan lari menyerbu dari belakang Pangeran itu, Bun Beng meloncat dan tanpa disadarinya dia menghantam dengan jurus dari ilmu silat yang dipelajari dari tiga buah kitab rahasia Sam po cin keng.

Kebetulan sekali jurusnya ini adalah jurus pukulan yang menggunakan tenaga sin kang yang dipusatkan pada telapak tangan.

"Bukkk!"

Tangannya yang kecil itu tepat sekali menghantam punggung bajak selagi tubuh Bun Beng masih meloncat.

Bajak itu memekik, tombaknya terlepas dan mulutnya muntahkan darah segar, lalu tubuhnya terguling roboh berkelojotan!

Melihat ini, Pangeran Jenghan terkejut dan kagum, lalu berteriak.

"Lekas kau selamatkan Milana dengan perahu darurat di pinggir kiri itu!"

Sambil berteriak begini, Pangeran itu memutar pedangnya menangkis hujan senjata para bajak.

Bun Beng mengerti bahwa melihat keadaannya, perahu itu akan terbakar dan akan celakalah mereka semua.

Memang sebaiknya menyelamatkan Milana lebih dulu.

Cepat ia menyambar lengan Milana, diajaknya lari ke pinggir kiri.

Di situ memang terdapat sebuah perahu kecil yang biasanya dipergunakan untuk para pengawal mencari ikan, atau memang disediakan kalau sewaktu waktu keadaan membutuhkan.

Bun Beng melepaskan ikatan perahu itu, menyeretnya ke pinggir, lalu ia melempar perahu ke bawah.

Tanpa menghiraukan jeritan Milana yang merasa ngeri, ia menyambar tangan anak perempuan itu dan dibawanya meloncat ke bawah menyusul perahu kecil.

Untung bahwa Bun Beng bersikap tenang sehingga loncatannya tepat jatuh di tengah perahu kecil.

Dilepaskannya dua batang dayung yang terikat di pinggir perahu dan ia mulai mendayung perahu itu melawan ombak menjauhi perahu besar yang mulai terbakar.

"Paman....! Paman Pangeran....!"

Milana berteriak dan menangis.

"Milana, dalam keadaan seperti ini kita harus masing-masing mencari keselamatan sendiri."

"Tapi.... tapi Paman Pengeran...."

"Dia seorang berilmu tinggi, tentu akan dapat menyelamatkan diri. Andaikata kita menolong pun tiada gunanya. Duduklah yang tenang, akan kucoba melarikan perahu sebelum terlihat oleh bajak bajak itu."

Dengan sepenuh tenaganya Bun Beng mendayung perahu, sedangkan Milana memandang ke arah asap asap mengepul hitam yang menutupi perahu perahu besar pamannya sambil menangis.

Mereka sudah berada agak jauh dari perahu-perahu yang kebakaran ketika tiba-tiba Milana menjerit.

Bun Beng memandang dan ia pun terkejut melihat dua buah tangan manusia muncul dan air dan memegang pinggiran perahu kecil.

Ketika kepala orang itu muncul, tahulah dia bahwa orang itu adalah seorang di antara para anak buah bajak laut yang jatuh ke laut.

Orang itu tidak terluka dan pandang matanya beringas menyeramkan.

"Lepas!"

Bun Beng membentak, menggunakan dayungnya menghantam ke arah tangan terdekat! "Aughhh....!"

Orang itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangan kirinya yang kena pukul dan dari bibir perahu Bun Beng mengayun dayungnya lagi, memukul ke arah tangan kanan yang masih memegangi pinggiran perahu.

Gerakan-gerakan ini membuat perahu kecil menjadi oleng.

Akan tetapi sekali ini, bukan tangan itu yang terkena hantaman dayung bahkan dayungnya tertangkap oleh tangan kanan bajak itu, terus ditarik kuat kuat sehingga tubuh Bun Beng terseret dan jatuh ke air!

"Bun Beng....!"

Milana menjerit.

Bun Beng marah sekali.

Biarpun bukan ahli, namun dia pandai berenang, maka ia menggerakkan kedua kakinya dan mengayun dayung yang masih dipegangnya.

"Plakkk!"

Dayungnya menghantam muka orang itu sehingga kembali bajak itu memekik dan terdorong mundur.

Matanya melotot marah penuh dengan sinar kebencian dan kalau anak itu dapat diterkamnya, tentu akan dibunuhnya.

Bun Beng sudah dapat menangkap pinggiran perahu lagi.

Karena gugup dan hendak cepat-cepat naik ke perahu, dayungnya terlepas dan hanyut, sedangkan bajak itu sambil memaki maki berenang cepat sekali mengejarnya.

Dalam hal ilmu renang tentu saja Bun Beng tidak dapat melawan kepandaian seorang bajak laut!

Maka ia bergegas hendak naik ke perahu agar dari dalam perahu dia dapat melawan orang yang masih berada di air itu.

"Heh heh heh!"

Tiba-tiba, entah darimana datangnya, seorang kakek yang tertawa-tawa meloncat ke ujung perahu.

Begitu tubuhnya tiba di ujung perahu, ujung yang lain di mana Bun Beng dan Milana berada, terangkat tinggi ke atas seolah-olah kakek itu beratnya melebihi berat seekor gajah bengkak!

Bun Beng cepat memegang lengan Milana yang hampir terlempar ke luar, sambil dengan sebelah tangan memegangi pinggiran perahu erat erat dan matanya memandang kakek aneh itu dengan terbelalak.

"Heh heh heh!"

Tiba-tiba ujung di mana Bun Beng dan Milana duduk, meluncur lagi ke bawah dengan cepat sekali.

"Prakkk!"

Ujung perahu ini turun tepat menghantam kepala anak buah bajak sehingga pecah berantakan dan mayatnya terapung, kepalanya sudah tidak merupakan kepala lagi melainkan berubah seonggok benda putih berlepotan darah.

"Ihhhh....!"

Milana yang melihat mayat itu menutupi muka dengan kedua tangan sambil menangis.

"He he he, takut? He he he!"

Kakek itu tertawa-tawa seolah-olah merasa senang sekali melihat Milana ketakutan.

"Aku akan membikin kalian lebih takut lagi, ha ha ha!"

Dan dengan sebatang ranting yang berada di tangan kirinya, kakek itu mendayung perahu dan....

perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa!

Bun Beng memandang penuh perhatian.

Kakek itu pakaiannya sederhana dan longgar, kedua kakinya telanjang.

Usianya tentu sudah tujuh puluh lebih, dengan rambut dan jenggot putih riap riapan, matanya melotot lebar dan selalu tertawa-tawa.

Akan tetapi yang amat luar biasa adalah kulit tubuhnya!

Dari muka, tangan dan kakinya, semua berkulit kuning sekali!

Bukan kuning seperti kulit orang biasa, melainkan kuning yang aneh, seperti dicat, kuning sampai ke kukunya dan warna matanya!

Maka teringatlah Bun Beng akan keanehan warna kulit orang-orang Pulau Neraka dan ia menduga bahwa kakek ini tentulah seorang tokoh Pulau Neraka.

Dugaan Bun Beng memang tepat.

Kakek ini adalah seorang di antara lima orang kakek kulit kuning yang merupakan tokoh-tokoh tingkat tertinggi di Pulau Neraka, di bawah ketuanya.

Dan memang dia adalah seorang tokoh sakti yang diutus oleh Majikan Pulau Neraka untuk mengadakan penyelidikan di luar pulau.

Kakek ini selain sakti, juga memiliki watak yang amat aneh, mendekati gila sehingga sering kali melakukan hal-hal yang menggegerkan dunia kang ouw.

Kini melihat dua orang anak dalam perahu, timbul keanehan wataknya dan dia seolah-olah hendak menakut nakuti kedua orang bocah itu.

Perahu itu meluncur cepat mendekati tempat pertempuran!

Bukan hanya cepat, malah sengaja dibikin oleng ke kanan-kiri, ada kalanya ujungnya seperti akan tenggelam, ada kalanya ujung yang diduduki dua orang anak anak itu terangkat tinggi kemudian dihempaskan ke bawah seperti akan tenggelam!

Milana menjerit-jerit dan memeluk Bun Beng yang berpegang kuat kuat pada pinggiran perahu.

"Heh heh heh, pemandangan indah....! Indah....!"

Kakek itu terkekeh kekeh ketika perahunya meluncur cepat mengelilingi tempat pertempuran.

Biarpun keadaannya sendiri berbahaya dan perahu itu sewaktu waktu dapat membuat mereka terlempar ke luar, Bun Beng masih sempat memperhatikan keadaan pertempuran dan melihat betapa pangeran dan para pengawal masih melakukan perlawanan mati matian namun perahu mereka telah terbakar sebagian.

"Kakek, apakah engkau tidak kenal takut?"

Bun Beng tiba-tiba bertanya.

"Aku? Takut? Ha ha ha ha! Heh heh-heh!"

Sambil berkata demikian, perahu meluncur cepat sekali menuju ke sebuah yang terbakar!

Milana menjerit melihat betapa perahu kecil itu akan menubruk perahu yang bernyala nyala, bahkan Bun Beng sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang, menjadi pucat dan memandang terbelalak ke depan, melihat betapa perahu terbakar itu seolah-olah mulut seekor naga mengeluarkan api hendak menelan perahu mereka.

"Celaka....!"

Teriak Bun Beng.

"Ha ha ha heh heh heh!"

Kakek itu tertawa dan tiba-tiba perahu itu membelok dengan kecepatan luar biasa sehingga miring dan hampir terguling, akan tetapi dapat menghindari tabrakan dengan perahu terbakar.

"Ha ha ha! Aku takut?"

"Memang beranimu hanya menakut-nakuti anak kecil, Kakek yang nakal! Aku tidak percaya bahwa engkau tidak kenal takut. Misalnya terhadap bajak-bajak laut yang demikian ganas, kejam dan jumlahnya amat banyak. Aku be-rani memastikan bahwa engkau tentu takut mengganggu mereka dan kalau engkau yang melawan mereka di atas perahu yang terbakar itu, tentu engkau akan terkencing kencing di celanamu, kencing kuning pula!"

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri dan mencak mencak.

"Memang kencingku kuning! Kau bilang aku takut kepada segala bajak cacing tanah itu? Kau tunggu dan lihat saja betapa mudah aku membasmi mereka!"

Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah melesat ke arah perahu besar yang terbakar, di mana Pangeran Jenghan bersama pengawalnya masih mati matian melawan serbuan para bajak.

Tentu saja hati Bun Beng menjadi girang bukan main.

Cepat ia menyambar sepotong dayung dari banyak kayu kayu pecahan perahu yang terapung di dekat perahunya, kemudian secepat mungkin dia mendayung perahu kecil menjauhi pertempuran.

Tanpa menghiraukan kedua tangannya yang menjadi lelah sekali, Bun Beng mendayung terus dan tiba-tiba datang ombak-ombak besar yang menghanyutkan perahunya.

Mendayung lagi tidak mungkin dan apa yang ia lakukan hanya menggunakan dayung untuk mencegah perahunya terguling.

Milana tidak menangis lagi, bahkan anak ini pun sudah menyambar sebatang dayung dan ia membantu Bun Beng mendayung.

Kini melihat perahu diombang-ambingkan ombak, dia membantu Bun Beng menahan agar perahu tidak terguling.

Akan tetapi dia tidak kelihatan takut, padahal keadaan mereka waktu itu tidaklah kalah berbahaya daripada tadi.

Hal ini mengherankan hati Bun Beng dan ia bertanya dengan suara keras untuk mengatasi suara angin ribut.

"Milana, engkau tidak takut?"

Milana memandangnya, tersenyum dan menggeleng kepala. Bun Beng menjadi heran.

"Kalau tadi, kenapa ketakutan dan menangis?"

Milana membuka mulut menjawab, akan tetapi suaranya lenyap ditelan angin sehingga Bun Beng berteriak.

"Bicara yang keras, aku tidak dengar!"

Milana tertawa.

"Ribut ribut begini kau mengajak orang mengobrol!"

Bun Beng mendongkol akan tetapi juga geli hatinya. Anak ini benar benar amat luar biasa.

"Katakanlah mengapa sekarang engkau menjadi begini tabah?"

"Tadi bukan penakut sekarang pun bukan tabah. Aku ngeri menyaksikan kekejaman manusia saling bunuh. Aku percaya kepada alam yang maha kasih, andaikata ombak ombak ini menelan kita pun sama sekali tidak mengandung hati benci atau marah!"

Bun Beng bengong sehingga lupa mengerjakan dayungnya.

Perahu terputar, hampir terguling dan mendengar Milana malah tertawa-tawa.

Cepat ia menggerakkan dayung dan mengomel.

"Bocah ajaib dia ini!"

Setelah ombak mereda, perahu itu tiba di dekat daratan.

Bun Beng menjadi girang dan bersama Milana dia lalu mendayung perahu ke darat.

Mereka berdua melompat turun dan lari ke darat, meninggalkan perahu kecil itu dan keduanya duduk di atas pasir.

"Di mana kita ini?"

Bun Beng bertanya.

"Aku pun tidak tahu. Akan tetapi mari kita berjalan. Kalau bertemu orang tentu akan dapat menceritakan di mana letaknya Kerajaan Mongol. Ahhh, semoga Paman Pangeran dan para pengawal selamat."

"Jangan khawatir. Mereka itu lihai dan dengan bantuan kakek gila itu, tentu para bajak akan terbasmi dan mereka selamat."

Tiba-tiba Milana tertawa geli.

"Eh, kenapa tertawa?"

"Kakek itu tidak gila, akan tetapi lucu sekali dan kepandaiannya hebat. Ibu tentu akan tertarik sekali kalau kelak kuceritakan."

"Tentu saja dia lihai karena dia adalah seorang tokoh Pulau Neraka."

"Ihhh....! Pulau Neraka? Aku sudah mendengar itu, penghuninya adalah manusia-manusia aneh seperti iblis. Bagaimana kau bisa tahu dia dari Pulau Neraka?"

"Kulit tubuhnya yang berwarna itu! Aku sudah bertemu dengan orang-orang Pulau Neraka."

"Eh, betulkah? Engkau benar luar biasa, Bun Beng."

"Tidak, biasa saja. Mari kita pergi."

"Engkau hendak ke mana?"

"Eh, bagaimana lagi? Mengantar engkau sampai engkau dapat pulang, kemudian.... kemudian.... hem.... aku tidak tahu ke mana nanti."

"Eh, bagaimana ini? Apakah engkau tidak hendak pulang?"

"Pulang ke mana?"

"Ke mana lagi? Ke rumahmu tentu!"

"Aku tidak punya rumah."

Milana menghentikan langkahnya dan memandang wajah Bun Beng.

"Tidak punya rumah? Dan Ayah Bundamu....?"

"Aku tidak punya, Ayah Bundaku sudah mati semua."

"Aihhh....!"

Milana memegang kedua tangan Bun Beng, wajahnya membayangkan perasaan iba yang mendalam.

"Kasihan engkau, Bun Beng. Dan tidak mempunyai saudara?"

Bun Beng merasa panas dadanya.

Dia tidak ingin dikasihani orang, bahkan dia tidak merasa kasihan kepada dirinya sendiri!

"Aku tidak punya siapa siapa, apa salahnya dengan itu?"

Dia menunjuk ke arah seekor burung camar yang terbang.

"Dia itu pun tidak punya siapa siapa, toh dapat hidup. Dan pohon itu tidak punya siapa siapa, tetap tumbuh segar."

"Ahhhh, burung itu tentu punya sarang dan pohon itu banyak saudara-saudaranya di sekelilingnya. Engkau menjadi pahit karena tidak mempunyai siapa-siapa. Bun Beng, aku mau menjadi saudaramu, dan biarlah Ibuku juga menjadi Ibumu, Pamanku menjadi Pamanmu...."

"Sudahlah, Milana. Aku tidak ingin apa-apa. Engkau anak yang amat baik hati. Mari kita lanjutkan perjalanan. Di sebelah kanan itu ada pegunungan, tentu di sana ada penghuninya yang dapat memberi keterangan kepada kita dan menunjukkan jalan."

Mereka berjalan lagi dan Milana menggandeng tangannya.

Bun Beng tidak menolak dan diam diam dia merasa suka sekali kepada anak yang amat baik hati ini.

Akan tetapi setelah mereka mendaki pegunungan itu, ternyata gunung itu penuh dengan batu batu besar dan tidak nampak dusun di situ.

"Begini sunyi.... tidak ada tampak rumah orang...."

Kata Milana, kecewa.

"Nanti dulu! Lihat di sana itu. Ada orang.... eh, malah ada orang menunggang binatang yang besar luar biasa!"

Milana menengok dan ia pun berseru girang.

"Benar! Ada orang dan dia menunggang seekor gajah! Sungguh luar biasa!"

"Gajah? Aku sudah pernah mendengar namanya. Gajahkah binatang itu?"

"Benar. Raja Mongol memelihara dua ekor, akan tetapi tidak sebesar yang ditunggangi orang itu."

"Hebat! Binatang raksasa itu memiliki tenaga melebihi seratus ekor kuda. Mari kita lihat!"

Mereka berlari menuruni puncak pegunungan batu kapur itu.

Ketika merea sudah tiba dekat, tiba-tiba Bun Beng berhenti dan Milana juga berhenti.

Keduanya terkejut bukan main menyaksikan pemandangan di depan itu sehingga sampai lama mereka tidak mampu mengeluarkan suara.

Akhirnya Milana berbisik dengan napas tertahan.

"Lihat...., dia.... kakek Pulau Neraka itu...."

"Sssttt....!"

Bun Beng berbisik pula menyentuh pinggang Milana dari belakang.

"Jangan ribut..... orang berkaki tunggal itu.... dia Pendekar Siluman To-cu Pulau Es.... dan itu muridnya....."

Memang amat mengherankan kedua orang anak itu apa yang tampak oleh mereka.

Kakek bermuka kuning yang mereka temui di tengah lautan itu kini berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang bersorban dan berjenggot panjang, tangan kiri memegang sebuah senjata yang aneh, Gagangnya berduri dan ujungnya merupakan bulan sabit, menunggang seekor gajah yang amat besar.

Akan tetapi kakek muka kuning tidak kalah anehnya.

Agaknya untuk mengimbangi kedudukan kakek bersorban yang tinggi di atas punggung gajah, dia kini menggunakan jangkungan atau egrang.

Yaitu dua batang bambu panjang yang di tengahnya diberi cabang untuk injakan kaki.

Dengan berdiri di cabang itu dan menggunakan dua batang bambu sebagai pengganti kedua kaki, dia kini sama tingginya dengan Si Kakek Bersorban!

Mereka agaknya sedang bertengkar sedangkan di atas sebuah batu berdiri Pendekar Siluman dengan sikap tenang sebagai penonton, menggandeng tangan seorang anak perempuan yang dikenal Bun Beng sebagai anak perempuan penunggang garuda yang berkelahi dengan anak Pulau Neraka dahulu!

Kwi Hong, murid Suma Han menoleh dan melihat kedatangan Bun Beng dan Milana, akan tetapi karena kini kedua orang kakek aneh yang berhadapan itu sudah saling serang, dia tertarik dan menengok lagi menonton pertandingan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Han menyusul ke Pulau Neraka dan berhasil membawa muridnya itu.

Mereka meninggalkan Pulau Neraka menunggang dua ekor burung garuda dan ketika dari atas Suma Han melihat orang menunggang gajah, hatinya tertarik maka dia lalu turun di pegunungan itu, dan bersama Kwi Hong diam diam menghampiri dan menonton pertandingan yang amat menarik hatinya antara kakek penunggang gajah dan kakek muka kuning yang gerak geriknya lucu dan lihai!

"Heh heh heh!"

Kakek muka kuning tertawa sambil menggerak gerakkan kedua bambu yang telah menyambung kakinya.

"Kita sudah sama tinggi sekarang. Hayo, kau mau apa? Lekas turun dan berikan gajah itu kepadaku, baru kau benar benar seorang sahabat dan aku akan mengampunimu!"

"Sadhu sadhu sadhu!"

Kakek bersorban itu berkata lirih.

"Berbulan bulan dari negara barat sejauh itu, belum pernah bertemu orang yang begini nekad. Sahabat, gajah tunggangan ini adalah sahabatku yang telah berjasa besar, mati hidup dia bersamaku, tidak mungkin kuberikan kepadamu. Pergilah, sahabat, dan jangan pergunakan kepandaian yang kau pelajari puluhan tahun itu untuk melakukan hal yang tidak baik."

"Heh heh heh! Apa tidak baik? Apa baik? Yang menguntungkan dan menyenangkan, itu baik! Yang merugikan dan menyusahkan itu tidak baik! Kalau engkau berikan gajah itu kepadaku, engkau baik. Kalau tidak kau berikan, engkau tidak baik dan terpaksa kurampas, heh-heh heh heh!"

"Aahh, betapa dangkal dan sesat pandangan itu, sahabat. Pandanganmu terbalik sama sekali. Justeru yang menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi itulah sumber segala ketidakbaikan."

"Waaaah, cerewet! Aku tidak butuh engkau kuliahi dengan wejangan wejanganmu. Hayo turun!"

Kakek muka kuning menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba bambu panjang yang kanan menyambar ke arah kepala kakek bersorban itu.

Akan tetapi, kakek itu menekuk tubuh ke depan sehingga sambaran bambu itu luput dan lewat di atas kepalanya.

"Sadhu sadhu sadhu, terpaksa aku membela diri!"

Kakek bersorban menggerakkan tangan kanan, dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan.

Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan biarpun kakek muka kuning sudah menggerakkan bambu memutar tubuh ke kanan, tetap saja terdorong dan terhuyung-huyung, kedua bambunya bergoyang-goyang.

Karena ia memutar tubuh ke kanan inilah maka tiba-tiba dia melihat Suma Han yang berdiri menonton dengan tenang.

Setelah mendapat kanyataan bahwa orang Pulau Neraka itu hendak merampas binatang tunggangan orang, Suma Han merasa tidak senang.

Apalagi kalau mengingat bahwa orang itu adalah pembantu Lulu, dia makin penasaran.

Masa Lulu dibantu oleh orang yang berwatak perampok hina, mau merampas binatang tunggangan seorang kakek yang datang dari jauh?

Tongkatnya bergerak mencongkel batu dua kali.

"Trak! Trak!"

Kakek muka kuning berseru kaget ketika tiba-tiba bambu yang menyambung kedua kakinya itu patah disambar dua buah kerikil, dan seruannya ini pun sebagian karena dia mengenal Pendekar Siluman yang biarpun belum pernah dijumpainya, Akan tetapi sudah banyak didengarnya.

Ia cepat meloncat turun sebelum terbanting jatuh karena kedua bambunya patah, kemudian dia meloncat-loncat jauh melarikan diri tanpa menengok lagi.

Melihat itu, Kwi Hong tertawa dan bersorak.

Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti bersorak ketika melihat gajah besar itu terhuyung dan roboh ke depan, membawa tubuh kakek bersorban ikut roboh!

Tubuh Suma Han melesat ke depan bagaikan seekor burung garuda dan dia sudah berhasil menyambar tubuh kakek bersorban itu dari bahaya terbanting dan tertindih tubuh gajah yang kini berkelojotan lalu diam, tak bernyawa lagi.

Dan dengan kaget Suma Han mendapat kenyataan bahwa kakek bersorban itu ternyata lumpuh kedua kakinya!

"Ah, gajahku yang baik, engkau mendahuluiku?"

Kakek itu mengeluh, kemudian berkata kepada Suma Han.

"Orang muda yang gagah perkasa, turunkanlah aku."

Suma Han menurunkan kakek itu yang kedua kakinya amat kecil dan selalu bersilang. Kakek itu duduk di atas tanah, wajahnya pucat dan napasnya terengah.

"Gajah itu.... dia memang sudah sakit.... dia menderita karena lelah.... melakukan tugasnya sampai mati. Akan tetapi aku.... ah, aku pun hampir mati akan tetapi tugasku jauh daripada selesai....! Aku hampir kehabisan tenaga saking lelah, perjalanan ini terlalu jauh untuk orang setua aku, dan tadi.... terpaksa aku mengerahkan tenaga dalam yang amat kuperlukan untuk kesehatanku. Aihhh, orang muda perkasa, sinar matamu membuktikan bahwa engkau bukan manusia biasa. Siapakah engkau yang begini lihai?"

"Kakek yang baik, aku adalah penghuni Pulau Es...."

"Hah? Pendekar Super Sakti? Pendekar Siluman To cu dari Pulau Es? Ya Tuhan, kalau engkau mempertemukan hamba dengan dia ini untuk melanjutkan tugas hamba, hamba akan mati tenteram!"

Suma Han mengerutkan alisnya.

"Kakek, siapakah engkau dan urusan apa yang membuatmu susah payah melakukan perjalanan begitu jauh?"

"Aku Nayakavhira.... aku keturunan dari Mahendra pembuat Sepasang Pedang Iblis.... adikku, Maharya telah mendahuluiku untuk mencari sepasang pedang itu. Kalau terjatuh ke tangannya, akan gegerlah dunia dan terancamlah banyak nyawa manusia! Aku.... aku berkewajiban untuk merampas dan memusnahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi.... aku tidak sanggup lagi.... ahh, Pendekar Super Sakti, engkau tolonglah aku...."

Kembali Suma Han mengerutkan alisnya.

"Bagaimana aku harus menolongmu, Nayakayhira?"

"Senjataku ini.... terbuat dari logam yang akan menandingi dan mengalahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi karena bentuknya seperti ini, tidak akan ada orang di sini yang dapat memainkannya. Akan kubuat menjadi pedang.... biarlah kelak kau berikan kepada siapa yang berjodoh untuk menindih dan menaklukkan Sepasang Pedang Iblis.... kau bantulah aku.... buatkan pondok, perapian.... aku tidak kuat lagi, engkau tolonglah aku, buatlah sebatang pedang dari senjataku ini...."

Suma Han mengangguk angguk.

Tidak disangkanya bahwa sepasang pedang yang dahulu dia tanam bersama jenazah kakek dan nenek yang saling bunuh, akan mendatangkan urusan begini hebat!

(Lanjut ke

Jilid 12) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Aku suka menolongmu, akan tetapi aku tidak bisa membuat pedang."

"Aku adalah ahli membuat pedang.... seperti nenek moyangku.... aku yang akan memberi petunjuk, engkau yang membuat. Tolonglah.... Taihiap.... demi.... demi perikemanusian!"

"Kakek yang baik, biarlah aku membantumu!"

Tiba-tiba Bun Beng meloncat maju mendekati kakek itu.

Kakek bersorban itu membelalakkan mata memandang Bun Beng dengan heran, Suma Han menengok.

Dia sudah tahu akan kehadiran kedua orang anak itu akan tetapi karena terjadi perkara besar, dia lebih mementingkan kakek itu dan belum menanya dua orang anak yang datang di tempat itu secara aneh.

Kini melihat sikap anak laki laki itu, diam diam ia memperhatikan dan menjadi kagum.

Di lain pihak, ketika melihat sinar mata Pendekar Siluman itu ditujukan kepadanya dan mereka bertemu pandang, kuncuplah hati Bun Beng dan otomatis dia menjatuhkan diri berlutut.

"Siapakah engkau?"

"Paman, dia adalah anak laki laki yang telah menolongku ketika aku dikeroyok rajawali. Bocah dalam keranjang!"

Suma Han makin tertarik.

Kwi Hong sudah menceritakan betapa ketika Kwi Hong diserang putera Lulu dengan rajawali dan dikeroyok muncul seekor burung rajawali yang mencengkeram keranjang berisi seorang anak laki laki yang membantunya dengan memukul rajawali itu sehingga cengkeraman rajawali terlepas dan keranjang bersama anak itu jatuh ke laut!

Kini tiba-tiba anak itu muncul dan dengan suara yang mengandung kesungguhan menawarkan jasa baiknya hendak membantu Si Kakek India membuat pedang.

Bukan main!

"Siapa namamu?"

Tanyanya, dalam suaranya terkandung rasa sayang karena dia melihat suatu yang luar biasa pada diri anak laki laki ini.

"Saya adalah anak yang dahulu ditolong oleh Taihiap dari dalam kuil tua tepi Sungai Fen ho di lembah Pegunungan Tai hang san dan Lu liang san...."

Suma Han benar benar terkejut sehingga ia bangkit berdiri.

"Kau....?"

"Benar, Taihiap. Saya adalah Gak Bun Beng."

Suma Han menarik napas panjang dan menengadah ke langit. Benar benar amat luar biasa pertemuan ini! "Di mana suhumu Siauw Lam Hwesio?"

"Suhu.... telah meninggal dunia, terbunuh oleh Im kan Seng jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan Bhe Ti Kong panglima Mancu!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sengit oleh Bun Beng.

"Sadhu sadhu sadhu...."

Tiba-tiba kakek itu berkata.

"Bhong Ji Kun adalah Koksu Pemerintah Mancu.... dia.... dia itu adalah muridku...."

"Kau....!"

Bun Beng meloncat bangun, kedua tangannya dikepal.

"Bun Beng, jangan lancang!"

Tiba-tiba Suma Han membentak dan Bun Beng menjatuhkan diri berlutut lagi.

"Taihiap.... teecu harus membalas kematian Suhu!"

"Hemmm, sungguh tidak baik masih kanak-kanak sudah mendendam. Dendam menimbulkan watak kejam sehingga sembarangan saja engkau akan mencelakakan orang tanpa pertimbangan lagi."

Sementara itu, kakek tua itu menarik napas panjang.

Sungguh ajaib, dapat bertemu dengan anak ini!

"Muridku itu memang telah menyeleweng dan perjalananku ini di samping hendak mencari Sepasang Pedang Iblis juga tadinya akan kupergunakan untuk mengingatkan dia, kalau perlu menghukumnya.

Bagaimana, Taihiap, sukakah engkau menolongku?"

Suma Han tidak menjawab, melainkan bertanya kepada Bun Beng.

"Bagaimana dengan engkau, Bun Beng? Apakah engkau masih suka menolong Kakek ini sekarang?"

"Teecu sudah berjanji, tentu teecu penuhi!"

Suma Han tersenyum.

"Baiklah. Nayakavhira, kami akan membantumu. Siapakah anak perempuan itu, Bun Beng?"

Milana yang sejak tadi mendengarkan menjadi tertarik sekali akan kata kata Suma Han.

Dia sudah menghampiri dan memandang Suma Han penuh perhatian.

Tadi dia mendengar dari Bun Beng bahwa laki laki gagah perkasa berkaki satu yang rambutnya putih semua dan wajahnya muram menimbulkan iba itu adalah Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es yang amat terkenal!

"Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Siluman yang hebat itu?"

Tanyanya, suaranya halus dan wajahnya berseri. Suma Han tersenyum, sekaligus tertarik rasa sukanya kepada bocah yang cantik jelita itu.

"Benar, anak manis. Engkau siapakah?"

"Namaku Milana, aku keponakan Pangeran Jenghan dari Kerajaan Mongol. Kami sedang berpesiar di kapal, diserbu bajak laut dan aku diselamatkan oleh Bun Beng."

Hati Suma makin kagum kepada Bun Beng.

Hemm, biarpun putera seorang datuk kaum sesat seperti Kang thouw-kwi Gak Liat dan dilahirkan karena datuk itu memperkosa Bhok Kim, namun ternyata bocah ini mempunyai bakat lahir batin yang baik.

Tentu menuruni watak ibunya, seorang di antara Kang-lam Sam eng tokoh Siauw lim pai yang perkasa itu (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).

"Marilah kalian ikut bersamaku membantu Nayakavhira. Kwi Hong, kau ajaklah dua orang anak ini."

Suma Han memondong tubuh kakek bersorban dan mencari tempat yang ada pohonnya.

Di situ dia lalu membangun sebuah pondok, mempersiapkan landasan dan keperluan pembuatan pedang.

Bun Beng yang sudah berjanji membantu itu ditugaskan mengumpulkan kayu bakar karena menurut Nayakavhira pembuatan pedang itu membutuhkan banyak sekali kayu bakar untuk membuat api yang sepanas panasnya.

Berhari-hari lamanya Suma Han sibuk di dalam pondok membuat pedang di bawah petunjuk kakek Nayakavhira yang lumpuh.

Tiga orang anak itu sama sekali tidak boleh memasuki pondok yang panasnya luar biasa karena api besar dinyalakan siang malam tak pernah berhenti.

Bun Beng juga bekerja setiap hari mencari kayu bakar, sedangkan Kwi Hong bermain main dengan Milana yang berwatak halus dan sebentar saja sudah dapat menarik rasa sayang di hati Kwi Hong yang wataknya kasar.

Kedua orang anak perempuan ini jauh berbeda wataknya.

Kwi Hong yang lebih tua beberapa tahun, berwatak jenaka, riang gembira, galak dan pandai bicara.

Sebaliknya Milana berwatak halus, lemah lembut dan pendiam, hati-hati dalam bicara agar jangan sampai menyingung perasaan orang lain.

Namun, berkat kehalusan budi Milana yang pandai mengalah, mereka berdua dapat bersahabat dengan rukun.

Di dalam pondok itu terjadi hal yang tentu akan amat mengherankan tiga orang anak itu kalau saja mereka dapat melihatnya.

Kakek Nakavhira duduk bersila di atas tanah, seperti arca tidak bergerak dan hawa panas di dalam pondok itu tak mungkin akan dapat tertahan oleh manusia biasa.

Suma Han menanggalkan baju atasnya dan sibuk membakar senjata yang bentuknya seperti bulan sabit itu di dalam api.

Sudah tiga hari tiga malam logam itu dibakar, tetap saja masih utuh, tidak dapat membara.

Kakek itu berkali kali minta ditambah api karena kurang besar sehingga setiap tumpukan kayu bakar yang dikumpulkan Bun Beng, selalu habis sehingga tidak ada cadangan sama sekali, membuat anak itu tidak berani berhenti karena khawatir kehabisan kayu bakar!

Kakek Nayakavhira mengeluarkan be-berapa macam obat yang dioleskan pada logam putih itu, namun setelah lewat lima hari tetap juga logam itu belum membara.

Kakek itu menjadi bingung dan prihatin sekali.

"Ya Tuhan, akan gagalkah usaha hamba?"

Keluhnya berkali kali sehingga Suma Han menjadi kasihan.

Juga pendekar ini merasa penasaran sekali.

Sedangkan batu bintang saja dapat dibakar sampai mencair, yaitu ketika dia masih kecil dan menjadi pelayan Kang thouw kwi Gak Liat (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI), masa logam ini dibakar dalam api sampai lima hari lima malam belum juga membara?

Teringat akan masa kecilnya, ia teringat kepada Bun Beng yang sibuk mengumpulkan kayu di luar pondok.

Dahulu dia menjadi pelayan Gak Liat, dan sekarang, secara kebetulan, putera Gak Liat itu bekerja keras melayaninya!

Demikianlah nasib mempermainkan manusia!

Ia teringat akan batu bintang, teringat akan latihan Hwi yang Sin ciang.

Hwi yang Sin ciang!

Bukankah sin kang yang mujijat dan yang sudah dikuasainya dengan sempurna itu mengandung hawa panas yang mujijat?

Mengapa tidak ia pergunakan untuk coba coba?

Dia memegang gagang senjata kakek yang aneh itu.

Senjata itu terbuat daripada baja yang aneh sebagai gagang berduri, adapun ujungnya yang berbentuk bulan sabit berwarna putih itulah yang akan diolah menjadi pedang.

Suma Han mengerahkan Hwi yang Sin ciang sehingga wajahnya yang selama lima hari lima malam berdekatan dengan api tidak berubah apa-apa, kini setelah mengerahkan Hwi yang Sin ciang sekuatnya, muka itu berubah merah.

Dan perlahan lahan, logam putih berbentuk bulan sabit itu menjadi merah membara!

"Kakek Nayakavhira, aku berhasil!"

Teriaknya girang.

Kakek yang sudah kehabisan semangat itu membuka matanya dan seketika wajahnya berseri!

"Hebat....!

Biarkan sampai merah tua seluruhnya, baru digembleng!"

Teriaknya dan semangatnya kembali.

Matanya bersinar-sinar.

Suma Han tidak mau bicara tentang penggunaan Hwi yang Sin ciang dan kini setelah logam itu dapat membara, panasnya api sudah cukup untuk membikin bara menjadi tua.

Tak lama kemudian logam itu sudah menjadi merah sekali.

"Cepat letakkan di landasan dan gembleng sampai bentuknya menjadi panjang membungkus gagang senjataku."

"Membungkus gagang?"

Suma Han bertanya.

"Benar. Logam putih itu hanya merupakan lapisan luar saja. Gembleng sampai lebar dan tipis sepanjang setengah kaki. Cepat!"

Suara kakek itu gemetar penuh gairah.

Otomatis Suma Han mematuhi perintah ini karena dia sendiri sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang pembuatan pedang.

Biarpun dia bukan seorang pandai besi, bahkan memegang martil dan menggembleng logam membara pun baru sekali itu selama hidupnya, namun pendekar ini memiliki tenaga yang melebihi tenaga seratus orang dengan sin kangnya yang hebat, maka tentu saja gemblengannya juga amat kuat sehingga tak lama kemudian logam yang membara itu sudah menjadi lebar tipis sepanjang tiga setengah kaki.

"Bagus! Hebat....! Untuk menggembleng itu biarpun dalam keadaan sehat, tentu baru dapat kuselesaikan dalam waktu tiga hari. Akan tetapi engkau hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Benar benar sukar dicari pendekar sakti seperti engkau, Suma Taihiap. Logam itu telah mendingin, bakar lagi sampai membara dan akulah yang akan menggemblengnya membungkus gagang."

Kembali Suma Han menurut dan sekali ini, karena logam itu sudah pernah membara, panasnya api cukup membuat logam itu menjadi merah lagi.

Akan tetapi kakek itu mengatakan belum cukup.

"Dia harus dibakar selama satu malam sampai melunak agar mudah digembleng membungkus gagang, apalagi tenagaku sekarang banyak berkurang."

Pada keesokan harinya, ketika terdengar bunyi martil menghimpit logam di atas besi landasan sampai berdentang-dentang, dikerjakan sendiri oleh Kakek Nayakavhira yang dibuatkan tempat duduk tinggi oleh Suma Han dan ditonton oleh pendekar sakti itu.

Selama menyaksikan kakek itu bekerja, diam diam Suma Han merasa kagum dan barulah dia tahu betapa sulitnya membuat sebatang pedang pusaka!

Dalam menempa dan menggembleng ini, kakek itu bekerja seperti dalam samadhi sehingga setiap tempaan merupakan gerakan suci seperti seorang bersembahyang.

Maka Suma Han menonton penuh perhatian dan penuh hormat.

"Bun Beng, mengasolah. Lihat, tumpukan kayu di belakang pondok sudah cukup banyak. Dan mendengar suara berdentang itu, agaknya mereka tidak mem-butuhkan terlalu banyak kayu lagi. Lihat sepagi ini tubuhmu sudah berkeringat!"

Kwi Hong menegur Bun Beng yang bertelanjang baju dan sejak pagi buta telah menebangi kayu.

"Benarkah? Ah, kalau begitu aku mau beristirahat sebentar!"

Bun Beng lalu duduk di atas batu dan menyusuti peluhnya.

"Aku akan masak air, tunggu saja. Aku akan membuatkan minuman untukmu!"

Kwi Hong lalu berlari lari kecil meninggalkan Bun Beng.

Setelah bekerja keras sejak pagi, tubuhnya lelah dan kini duduk bersandar batu disiliri angin pagi, Bun Beng merasa nyaman sekali sehingga tak terasa lagi ia memejamkan matanya.

Sudah hampir setengah bulan dia berada di situ sejak pertemuannya dengan Pendekar Siluman dan Kakek Nayakavhira, dan selama itu setiap hari dia bekerja keras dalam usahanya membantu kakek itu membuat pedang pusaka.

Kini ia merasa lelah sekali dan mengantuk.

Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia merasa pundaknya diguncang tangan halus dan terdengar suara Kwi Hong.

"Ihhh, pemalas. Berhenti sebentar saja sudah tertidur pulas! Bun Beng, minumlah ini. Bukan air teh akan tetapi daun ini lebih sedap dan kata Paman dapat memulihkan tenaga. Minumlah!"

Bun Beng merasa malas untuk bangun, akan tetapi pundaknya ditarik sehingga ia terduduk dan ketika ia membuka sedikit matanya, ia melihat Kwi Hong yang membangunkannya bahkan kini anak perempuan itu menempelkan secawan minuman ke bibirnya!

"Bun Beng, lihat betapa indahnya bunga ini....

indah harum kupetik untukmu...."

Tiba-tiba Milana menghentikan kata kata dan langkah kakinya ketika melihat Kwi Hong sedang memberi minum Bun Beng dengan sikap mesra.

Milana memandang sejenak, kemudian memejamkan mata, membuang muka, melempar kembang di tangannya kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa berkata-kata.

Sambil melangkah pergi dia cepat-cepat menghapus dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya.

Anak perempuan ini sama sekali tidak mengerti mengapa dia menjadi berduka, dan dia tidak tahu sama sekali bahwa setan cemburu yang selalu siap menggoda hati manusia, terutama sekali hati wanita, telah mulai menyentuh hatinya.

Dia hanya merasa kecewa karena pagi itu dia sengaja mencari bunga yang paling indah di dalam hutan untuk dipetiknya dan diberikan kepada Bun Beng yang ia tahu tentu sedang bekerja keras.

Dengan hati penuh kegembiraan dia membawa bunga itu dan berlari lari mencari Bun Beng, membayangkan betapa girangnya Bun Beng menerima pemberiannya, betapa anak laki laki itu akan tersenyum kepadanya, memandang dengan matanya yang tajam dan tentu akan terpancing kata kata pujian dari Bun Beng kepadanya.

Dia tidak pernah merasa bosan mendengar pujian pujian dari mulut Bun Beng.

"Milana, engkau baik sekali! Milana engkau manis sekali!"

Dan sebagainya.

Akan tetapi kegembiraannya membuyar seperti awan tipis ditiup angin ketika tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Hong dengan sikap mesra memberi minum Bun Beng!

Milana sendiri tidak mengerti mengapa dia harus kecewa.

Dia bersahabat baik dengan Kwi Hong yang dianggapnya seperti encinya sendiri, yang dianggapnya sebagai seorang saudara yang lebih tua darinya, lebih pandai dan dia pun tahu bahwa sebagai murid Pendekar Siluman, Kwi Hong memiliki kepandaian silat jauh lebih tinggi dari padanya, bahkan menurut pengakuan Bun Beng, jauh lebih tinggi daripada kepandaian Bun Beng!

Mengapa kini hatinya menjadi kecewa dan demikian tidak enak menyaksikan sikap mesra Kwi Hong kepada Bun Beng?

Bun Beng yang masih setengah mengantuk dan tadi menurut saja diberi minum, dengan mata setengah terpejam, dapat melihat bayangan Milana yang pergi lagi sambil membuang bunga setangkai di atas tanah.

Matanya terbuka lebar memandang bunga itu dan dia lalu sadar akan keadaan dirinya yang seperti anak kecil diberi minum.

"Terima kasih, Kwi Hong, biar kuminum sendiri,"

Katanya sambil menerima cawan minuman itu.

Kwi Hong memberikan cawannya dan memandang dengan wajah berseri ketika Bun Beng minum dan kelihatan nikmat.

Tentu saja nikmat minum minuman sedap hangat itu di pagi hari.

"Eh, mana dia tadi?"

Kwi Hong bertanya sambil menengok.

"Siapa?"

Bun Beng pura pura bertanya.

"Milana! Aku mendengar dia datang tadi. Mana dia?"

"Ah, aku tidak melihat dia,"

Kata Bun Beng sambil menutupi muka dengan cawan, meneguk habis minumannya sedangkan matanya melirik ke arah setangkai bunga yang terletak sunyi di atas tanah.

"Terima kasih, Kwi Hong. Engkau baik sekali."

Bun Beng mengembalikan cawan kosong yang diterima Kwi Hong dengan wajah girang.

Memang itulah yang dinanti nantinya.

Untuk menerima pujian Bun Beng itu, dia mau melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada membuatkan secawan minuman!

"Bun Beng, mulai sekarang, engkau tidak perlu mencari kayu bakar lagi."

"Ahh, mengapa?"

"Pedang pusaka itu sudah selesai! Paman tadi berpesan agar engkau tidak perlu mengumpulkan kayu bakar lagi, akan tetapi pedang itu akan ditapai oleh Kakek Nayakavhira beberapa hari lamanya. Paman telah pergi karena Kakek itu tidak mau diganggu, dan Paman pergi mencari sepasang garuda kami karena dipanggil-panggil tak kunjung datang."

"Dan kita....?"

"Kita harus menunggu di sini sampai Paman kembali. Eh, Bun Beng, setelah pedang selesai, engkau tentu akan ikut Paman ke Pulau Es, bukan?"

Bun Beng berpikir sejenak.

Alangkah akan senang hatinya kalau dapat pergi ke tempat Pendekar Siluman dan menjadi muridnya.

Akan tetapi ia teringat kepada Milana.

Mana mungkin dia meninggalkan Milana di tempat itu begitu saja?

Dia ingin sekali pergi bersama Pendekar Siluman, akan tetapi dia tidak boleh meninggalkan anak perempuan itu.

Lebih dulu dia harus mengantarkan Milana sampai dapat pulang ke tempat tinggalnya, yaitu di Kerajaan Mongol.

"Aku harus mengantar Milana lebih dulu pulang ke Mongol,"

Katanya. Kwi Hong tertawa.

"Apa sukarnya? Dengan adanya Paman dan dengan menunggang garuda, sebentar saja kita akan dapat mengantar Milana. Eh, di mana anak, itu? Milana....! Milana....!"

"Aku di sini....! Aku datang....!"

Terdengar jawaban Milana dan tampaklah anak itu datang berlari menghampiri mereka.

Wajahnya sudah cerah kembali karena panggilan suara Kwi Hong sudah mengusir rasa kecewa hatinya.

"Milana, pedang telah selesai dibuat dan sekarang Bun Beng tidak perlu mencari kayu bakar lagi. Kita dapat bermain main sambil menanti sampai Kakek itu selesai menapai pedang pusaka. Biar kusimpan dulu cawan ini!"

Kwi Hong berlari pergi membawa cawan kosong.

Bun Beng memakai bajunya, lalu mengambil setangkai bunga dari atas tanah, mencium bunga yang indah itu sambil berkata.

"Milana, terima kasih atas pemberian bunga ini. Engkau sungguh seorang anak yang baik hati...."

Wajah Milana berseri kemudian berubah merah ketika Bun Beng mendekatinya.

"Kalau sudah selesai, tentu engkau akan diajak pergi oleh Suma Taihiap."

Kata Milana perlahan.

"Engkau akan sekaligus mendapatkan seorang sahabat yang manis seperti Kwi Hong."

"Ah, mana mungkin! Aku harus mengantarmu lebih dulu pulang ke Mongol,"

Jawab Bun Beng tiba-tiba merasa kasihan kepada anak itu dan mendekati.

"Biarkanlah, aku dapat mencari jalan pulang sendiri."

"Tidak Milana. Sebelum mengantar engkau pulang, aku tidak mau pergi meninggalkanmu di sini. Pula, kurasa Suma-Taihiap akan suka mengantarmu pulang dengan naik burung garudanya. Setelah kau tiba dengan selamat di sana, barulah aku akan suka ikut dan belajar ilmu kepadanya."

"Bun Beng, mengapa engkau begini baik kepadaku?"

Milana bertanya, mengangkat muka memandang dengan hati terharu. Bun Beng tersenyum.

"Apa kaukira engkau kalah baik? Engkaulah yang bersikap amat baik terhadap aku. Engkau keluarga istana raja, dan aku hanya seorang anak sebatangkara yang miskin, namun sikapmu baik sekali. Bagaimana aku tidak akan bersikap baik kepadamu? Lupakah kau akan pelajaran tentang cinta kasih? Kalau engkau menganjurkan cinta kasih antara manusia, agaknya manusia seperti inilah yang paling pantas dicinta."

Percakapan mereka adalah percakapan kanak-kanak yang meniru niru pelajaran filsafat, maka tentu saja "cinta"

Yang mereka sebut sebut tidak ada hu-bungannya dengan cinta antara laki laki dan perempuan dewasa.

Betapapun juga, ada sesuatu yang aneh terasa di hati mereka.

"Mengapa begitu, Bun Beng? Apa bedanya aku dengan orang lain?"

"Hemm, entahlah. Mungkin karena engkau.... manis sekali."

Milana makin girang dan ia tersenyum tidak tahu betapa Kwi Hong telah datang dan melihat mereka berdiri berhadapan demikian akrab dan melihat Bun Beng memegangi setangkai bunga indah dan mereka tidak tahu betapa Kwi Hong yang keras hati itu memandang dengan mata bersinar sinar penuh iri dan cemburu!

Kwi Hong sendiri belum tahu tentang arti cinta antara pria dan wanita, namun tanpa disengaja dia merasa amat tidak senang menyaksikan keakraban antara Bun Beng dan Milana!

Akan tetapi Kwi Hong menyembunyikan rasa tidak senangnya ketika ia berlari menghampiri mereka dan berkata.

"Nah, sekarang tiba waktunya kita bermain main dan marilah kita memperlihatkan ilmu yang kita pelajari. Aku ingin sekali melihat ilmu silatmu, Milana. Agaknya engkau tentu telah mempela-jari ilmu silat yang tinggi. Gerakan kakimu amat ringan dan tanganmu cekatan. Marilah kita main main dan mengukur kepandaian masing-masing untuk menambah pengalaman dan pengetahuan."

"Ah, mana mungkin aku dapat menandingimu, Kwi Hong? Engkau adalah murid To cu dari Pulau Es yang terkenal, Pendekar Super sakti, sedangkan aku hanya seorang yang sebulan sekali saja menerima latihan dari Ibu. Dalam satu dua jurus saja aku tentu akan roboh!"

"Aihhh, mengapa kau merendahkan diri, Milana? Aku yakin kepandaianmu tentu sudah cukup tinggi. Pula, kita hanya main main dan hitung hitung berlatih, tidak bertanding sungguh-sungguh, mana perlu saling merobohkan?"

"Kwi Hong, ilmu silat adalah ilmu untuk menjaga diri, ada unsur bertahan akan tetapi juga selalu mengandung unsur menyerang. Kalau dipergunakan dalam pertandingan, mana bisa main main lagi? Kepalan tangan dan tendangan kaki tidak mempunyai mata. Pula, selama hidupku, belum pernah aku menggunakan ilmu yang kupelajari untuk bertanding. Tidak, aku mengaku kalah!"

Kwi Hong menjadi kecewa sekali.

Tidak ada seujung rambut dalam hatinya ingin merobohkan atau melukai Milana, hanya memang dia ingin mengalahkan anak itu di depan Bun Beng untuk mendapat pujian!

"Milana, untuk apa engkau mempelajari ilmu kalau kau takut memperguna-kan?"

Ia mendesak.

Bun Beng yang sudah mengenal watak halus Milana, merasa kasihan.

Dia tidak menyalahkan Kwi Hong, karena ia maklum bahwa orang yang mempelajari ilmu silat tentu senang bertanding silat dan ia pun tahu bahwa bukan niat Kwi Hong untuk melukai Milana.

Tentu saja Kwi Hong belum mengenal watak Milana yang sama sekali berlawanan dengan ilmu silat itu maka ia melangkah maju dan berkata.

"Kwi Hong, Milana tidak mau bertanding mengadu ilmu. Wataknya terlalu halus untuk bertanding. Kalau engkau ingin berlatih, marilah kulayani, biar terbuka mataku dan bertambah pengetahuanku menerima pelajaran dari murid Suma-Taihiap yang sakti."

Dalam ucapan ini, Bun Beng sama sekali tidak menyalahkan Kwi Hong, hanya ingin menolong Milana yang kelihatan terpojok.

Akan tetapi, hati Kwi Hong tersinggung dengan kata kata bahwa watak Milana terlalu halus, sama dengan mengatakan bahwa wataknya adalah kasar!

Dengan kedua pipi merah ia lalu menjawab singkat.

"Baiklah. Mari!"

Setelah berkata demikian ia lalu menerjang maju dengan serangan ke arah dada Bun Beng!

Bun Beng cepat mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi gerakan Kwi Hong amat cepatnya dan anak ini sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan lain yang amat cepat.

Bun Beng terkejut, tak sempat mengelak lagi maka ia lalu menggerakkan tangan menangkis.

"Dukk!"

Kwi Hong merasa lengannya agak nyeri, akan tetapi Bun Beng terhuyung ke belakang.

Dalam hal tenaga sin-kang dia kalah kuat oleh Kwi Hong yang menerima latihan sin kang istimewa dari Suma Han di Pulau Es!

Dan Kwi Hong yang merasa lengannya nyeri itu menjadi penasaran mengira bahwa Bun Beng agaknya memiliki kepandaian tinggi maka dia lalu menyerang terus dengan gencar.

Bun Beng menggerakkan kaki tangan, mempertahankan diri dengan ilmu silat dari Siauw lim pai yang ia pelajari dari mendiang suhunya, Siauw Lam Hwesio.

Akan tetapi lewat belasan jurus, dia terdesak hebat dan setiap kali terpaksa menangkis, dia terpental atau terhuyung.

"Wah, Kwi Hong.... aku menyerah kalah!"

Bun Beng berseru sambil menangkis lagi.

"Dukk!"

Kembali Kwi Hong merasa lengannya nyeri.

Biarpun sin kangnya lebih kuat, namun kulit lengannya tidak sekeras dan sekuat Bun Beng yang selama setengah tahun hidup seperti kera liar dalam keadaan telanjang bulat.

Ia makin penasaran.

"Mengadu ilmu tidak perlu mengalah. Bun Beng, keluarkan kepandaianmu, balaslah menyerang, jangan mempertahankan saja!"

Kwi Hong melanjutkan serangannya lebih cepat lagi sehingga Bun Beng menjadi repot sekali.

Karena serangan bertubi tubi itu amat cepat dan dahsyat, terpaksa ia dalam keadaan setengah sadar, telah menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu dalam tiga kitab Sam-po cin keng.

Dia menangkis dengan gerakan membentuk lingkaran dengan kaki tangannya dan dari samping ia mengirim pukulan balasan, hanya mendorong ke arah pundak Kwi Hong dan dia berhasil!

Pundak Kwi Hong terkena dorongannya sehingga anak perempuan itu terhuyung.

"Kau hebat juga!"

Biarpun mulutnya memuji, namun hati Kwi Hong menjadi panas.

Dia menerjang lagi lebih hebat.

Memang watak Kwi Hong keras dan tidak mau kalah.

Dia merasa bahwa sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti dia tidak akan terkalahkan oleh anak anak lain!

Bun Beng menjadi sibuk sekali.

Biarpun dia mainkan ilmu silat yang dipelajari dari kitab orang sakti yang ia temukan di dalam sumber air panas di guha rahasia, namun isi kitab itu lebih ia kuasai teorinya saja, sedangkan isinya belum ia mengerti benar.

Apalagi kini Kwi Hong benar benar mengeluarkan kepan-daiannya.

Ilmu silat yang dia pelajari dari Suma Han adalah ilmu silat tingkat tinggi dan anak ini setiap hari berlatih dengan para penghuni Pulau Es maka tentu saja serangan serangannya amat hebat!

"Plakkk!"

Punggung Bun Beng kena ditampar.

Dia terhuyung akan tetapi berkat semua penderitaan tubuhnya yang membuat tubuhnya kuat, dia tidak roboh dan dapat menangkis pukulan susulan.

Kembali dia didesak hebat sampai mundur-mundur dan hanya mampu mengelak menangkis, sedangkan Kwi Hong seperti seekor harimau betina mempunyai keinginan untuk merobohkan Bun Beng.

Kalau sudah kalah, tentu Bun Beng tidak berani merendahkannya dan akan menghargainya seperti yang ia inginkan!

"Kwi Hong, sudahlah....!"

Berkali kali Milana menjerit ketika melihat betapa Bun Beng mulai terkena pukulan beberapa kali.

Biarpun bukan pukulan yang membahayakan, namun cukup membuat Bun Beng beberapa kali terhuyung dan mengaduh.

Tiba-tiba Bun Beng menerjang dengan nekat!

Sudah menjadi watak Bun Beng sebagai seorang anak yang tidak mengenal takut dan pantang menyerah!

Apa lagi baru menerima pukulan-pukulan seperti itu, biarpun diancam maut sekalipun dia pantang menyerah dan akan melakukan perlawanan.

Dia sudah mengalah, akan tetapi karena Kwi Hong agaknya bersikeras untuk merobohkannya, dia menjadi naik darah dan kini Bun Beng menerjang hebat dengan ilmu barunya secara sedapat dapatnya.

Biarpun gerakannya seperti ngawur, namun kakinya berhasil mengenai lutut Kwi Hong sehingga gadis cilik yang merasa kaki kirinya tiba-tiba lemas itu hampir jatuh!

Dia meloncat tinggi kemudian menukik turun dan menyerang Bun Beng dari atas dengan kedua tangan.

Bun Beng terkejut, berusaha menangkis, namun hanya berhasil menangkis serangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya dapat menotok pundak Bun Beng, membuat pemuda cilik itu terguling.

"Kwi Hong, jangan lukai Bun Beng!"

Tiba-tiba Milana yang sejak tadi berteriak teriak mencegah pertandingan, sudah menerjang maju.

"Wuuuut....! Plakkk!"

Terjangan Milana cepat sekali, akan tetapi Kwi Hong masih sempat menangkis sehingga keduanya terhuyung mundur.

"Hemm, kiranya engkau boleh juga!"

Kwi Hong yang sudah menjadi marah karena menyesal bahwa dia telah merobohkan Bun Beng dan tentu Bun Beng akan marah kepadanya, sebaliknya suka kepada Milana yang membelanya, kini menyerang Milana yang cepat mengelak dan balas menyerang!

Kiranya anak yang berwatak halus ini memiliki gerakan yang indah dan ringan sekali sehingga pukulan pukulan Kwi Hong dapat ia elakkan semua.

Betapapun juga, dia segera terdesak hebat karena agaknya dalam keringanan tubuh saja dia dapat menandingi, sedangkan dalam ilmu silat dan tenaga, dia kalah banyak.

Biarpun Milana bergerak dengan gesit, tidak urung dia terkena dorongan tangan Kwi Hong yang mengenai pinggangnya sehingga ia terpelanting jatuh.

"Kwi Hong, kau terlalu!"

Bun Beng menubruk Kwi Hong, akan tetapi cepat Kwi Hong mengelak menjatuhkan diri sambil menendang.

"Bukk!"

Paha Bun Beng terkena tendangan dan untuk kedua kalinya dia jatuh tersungkur.

"Kwi Hong! Apa yang kau lakukan ini?"

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Suma Han telah berada di situ.

Melihat pamannya, seketika lenyap kemarahan dari hati Kwi Hong, terganti rasa takut.

"Paman, kami hanya main-main...."

"Main main?"

Suma Han memandang Bun Beng yang telah bangun dan mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor.

Juga Milana telah bangun dan memandang dengan wajah tenang.

"Karena menganggur, kami berlatih silat."

Kata pula Kwi Hong.

"Hemm...."

Suma Han tetap memandang Bun Beng dan Milana penuh selidik.

Melihat sikap pendekar itu dan melihat betapa Kwi Hong ketakutan, Bun Beng lalu cepat berkata.

"Kami hanya berlatih."

Milana juga berkata.

"Kwi Hong hanya melatih saya, Suma Taihiap."

Suma Han mengerutkan keningnya, wajahnya yang biasanya sudah muram itu kini tampak seolah-olah ada sesuatu yang mengesalkan hatinya.

Tanpa menjawab ia lalu meloncat dan tubuhnya berkelebat memasuki pondok.

Kwi Hong memandang kepada Bun Beng dan Milana, kemudian dengan suara penuh penyesalan berkata.

"Maafkan aku, kalian baik sekali."

Tiba-tiba terdengar bunyi lengking keras dari dalam pondok dan tubuh Suma Han meloncat keluar, tahu tahu sudah tiba di dekat mereka bertiga, matanya mengeluarkan sinar marah ketika ia menegur.

"Kalian tidak melihat orang datang ke pondok?"

Tiga orang anak itu memandang Suma Han dengan heran, kemudian menggeleng kepala, Suma Han menghela napas panjung.

"Kalian hanya bermain main saja, sedangkan sepasang garuda dibunuh orang dan pedang pusaka lenyap dari pondok."

Tiga orang anak itu terkejut bukan main.

"Pek eng dibunuh....?"

Kwi Hong bertanya dan suaranya terdengar bahwa dia menahan tangisnya.

"Mati terpanah. Tidak mudah kedua burung itu dipanah, tentu pemanahnya seorang yang berilmu tinggi. Dan selagi kalian main main, pedang pusaka dicuri orang."

"Kakek Nayakavhira....?"

Tanya Milana.

"Dia telah meninggal dunia."

"Ohh! Dia dibunuh?"

Bun Beng berteriak kaget. Suma Han menggeleng kepala.

"Dia mati selagi bersamadhi. Sungguh celaka, ada orang berani mempermainkan aku secara keterlaluan. Kalian di sini saja, jangan main main, bantu aku pasang mata, lihat lihat kalau ada orang. Aku akan memperabukan jenazah Nayakavhira."

Suma Han lalu membakar pondok itu setelah menumpuk sisa kayu bakar ke dalam pondok dan meletakkan jenazah kakek yang masih bersila itu di atasnya.

Pondok terbakar oleh api yang bernyala nyala besar.

Suma Han berdiri tegak memandang, dan tiga orang itu juga memandang dengan hati kecut.

Sungguh tidak mereka sangka terjadi Hal-hal yang demikian hebat.

Selain dua ekor burung garuda terbunuh orang, juga pedang pusaka yang dibuat sedemikian susah payah itu dicuri orang dari pondok tanpa mereka ketahui sama sekali.

Timbul pe-nyesalan besar di dalam hati Kwi Hong karena andaikata dia tidak memaksa Bun Beng dan Milana bertempur, tentu mereka lebih waspada dan dapat melihat orang yang memasuki pondok dan mencuri pedang pusaka.

Andaikata mereka bertiga tidak dapat mencegah pencuri itu melarikan pedang, sedikitnya mereka akan dapat menceritakan pamannya bagaimana macamnya orang yang mencuri pedang.

Sekarang pedang tercuri tanpa diketahui siapa pencurinya!

Keadaan di situ menjadi sunyi sekali karena Suma Han dan tiga orang anak itu tidak bergerak, memandang pondok yang dibakar.

Hanya suara api membakar kayu terdengar jelas mengantar asap yang membubung tinggi ke atas.

Tiba-tiba tiga orang anak terkejut ketika mendengar suara ketawa melengking yang menggetarkan isi dada mereka.

Pantasnya iblis sendiri yang mengeluarkan suara seperti itu, yang datang dari timur seperti terbawa angin, bergema di sekitar daerah itu.

Lebih kaget lagi hati mereka bertiga ketika melihat tubuh Suma Han berkelebat cepat dan lenyap dari situ, meninggalkan suara perlahan namun jelas terdengar oleh mereka.

"Kalian tinggal di sini, jangan pergi!"

Selagi tiga orang itu bengong saling pandang dengan muka khawatir, tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dan berkelebat bayangan orang.

Tahu tahu di situ muncul seorang laki laki yang berwajah tampan, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian seperti siucai dan di punggungnya tampak sebatang pedang.

Melihat munculnya orang yang tertawa-tawa ini, Bun Beng memandang penuh perhatian dan dia melihat sebatang pedang bersinar putih tanpa gagang terselip di ikat pinggang orang itu.

Anak yang cerdik ini segera dapat menduga bahwa tentu orang ini mencuri pedang, dan pedang bersinar putih yang terselip dan ditutupi jubah namun masih tampak sedikit itu adalah pedang pusaka yang dicurinya.

"Engkau pencuri pedang!"

Bentaknya marah dan tanpa mempedulikan sesuatu, Bun Beng sudah menubruk ke depan.

Akan tetapi sebuah tendangan tepat mendorong dadanya dan ia roboh terjengkang.

"Ha ha ha! Memang aku yang mengambil pedang pusaka. Dan siapa di antara kalian berdua yang menjadi murid perempuan Pendekar Siluman?"

Kwi Hong yang mendengar pengakuan itu sudah menjadi marah sekali.

Inilah orangnya yang membikin kacau dan membikin marah gurunya atau pamannya, pikirnya.

Ia bergerak maju sambil membentak.

"Aku adalah murid Pendekar Super Sakti! Maling hina, kembalikan pedang!"

Akan tetapi sambil tertawa-tawa, laki laki tampan itu membiarkan Kwi Hong memukulnya dan ketika kepalan tangan gadis cilik itu mengenai perutnya, Kwi Hong merasa seperti memukul kapas saja.

Ia terkejut, akan tetapi tiba-tiba lengannya sudah ditangkap, tubuhnya dikempit dan sambil tertawa laki laki itu sudah meloncat dan lari pergi.

"Tahan....!"

Milana berseru dan meloncat ke depan, akan tetapi sekali orang itu mengibaskan lengan kirinya, tubuk Milana terpelanting dan roboh terguling.

Bun Beng sudah bangkit lagi, tidak peduli akan kepeningan kepalanya dan dia mengejar secepat mungkin.

Namun, laki-laki itu berloncatan cepat sekali dan sudah menghilang.

Bun Beng teringat akan suara ketawa dari arah timur tadi, maka dia lalu mengejar ke timur.

Milana merangkak bangun, menggoyang goyang kepalanya yang pening.

Ia mengangkat muka memandang, akan tetapi tidak tampak lagi laki laki yang menculik Kwi Hong, juga tidak tampak bayangan Bun Beng.

Dia menduga tentu Bun Beng melakukan pengejaran, maka dia pun meloncat bangun dan mengejar ke timur karena seperti Bun Beng, dia tadi mendengar suara ketawa dari timur.

Tentu saja baik Bun Beng maupun Milana tertinggal jauh sekali oleh laki-laki yang menculik Kwi Hong karena orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga kedua orang anak itu selain tertinggal juga masing-masing melakukan pengejaran secara ngawur tanpa mengetahui ke mana larinya si penculik dan pencuri pedang itu.

Penculik berpakaian sasterawan itu bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang sudah miring otaknya!

Setelah berhasil membunuh Im yang Seng cu yang dipersalahkan karena Im yang Seng-cu tidak membalas dendam dan membunuh Pendekar Siluman, Tan siucai bersama gurunya yang aneh dan amat lihai itu lalu melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Siluman yang kabarnya menjadi To cu Pulau Es.

Secara kebetulan sekali, ketika mereka berjalan di sepanjang pesisir lautan utara untuk menyelidiki di mana adanya Pulau Es, pada suatu hari mereka melihat dua ekor burung garuda putih beterbangan.

"Guru, bukankah burung-burung itu adalah garuda putih yang amat besar-besar. Seperti kita dengar, tunggangan Suma Han juga burung garuda putih. Siapa tahu burung-burung itu adalah tunggangannya?"

Kata Tan siucai.

"Hemm, burung yang indah dan hebat. Sebaiknya ditangkap!"

Kata Maharya memandang kagum, kemudian ia mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangan dan melontarkan batu itu ke arah seekor daripada dua burung garuda putih yang terbang rendah.

Dua ekor burung itu memang benar burung-burung peliharaan Suma Han yang ditinggalkan di tempat itu ketika Kwi Hong hendak menonton kakek menunggang gajah.

Karena lama majikan mereka tidak memanggil, kedua burung garuda itu menjadi kesal dan beterbangan sambil menyambari ikan yang berani mengambang di permukaan laut, juga mencari binatang-binatang kecil yang dapat mereka jadikan mangsa.

Lontaran batu dari tangan Maharya amat kuatnya sehingga batu itu meluncur seperti peluru ke arah burung garuda betina.

Burung ini sudah terlatih, melihat ada sinar menyambar ke arahnya, ia lalu menangkis dengan cakarnya.

Akan tetapi, biarpun batu itu hancur oleh cakarnya, burung itu memekik kesakitan karena tenaga lontaran yang kuat itu membuat kakinya terluka.

Dia menjadi marah sekali, mengeluarkan lengking panjang sebagai tanda marah dan menyambar turun ke bawah dengan kecepatan kilat, mencengkeram kepala Maharya yang berani mengganggunya!

"Eh, burung jahanam!"

Maharya menyumpah ketika terjangan itu membuat ia terkejut dan hampir jatuh, sungguhpun dia dapat mengelak dengan loncatan ke kiri.

"Tidak salah lagi, tentu tunggangan Pendekar Siluman!"

Kata Tan siucai.

"Kalau burung liar mana mungkin begitu lihai? Guru, kita bunuh saja burung-burung ini!"

Setelah berkata demikian, Tan Ki mengeluarkan sebatang panah, memasang pada sebuah gendewa kecil.

Menjepretlah tali gendewa dan sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan kilat menyambar burung garuda betina yang masih terbang rendah.

Burung itu berusaha mengelak dan menangkis dengan sayapnya, namun anak panah itu dilepas oleh tangan yang kuat sekali, menembus sayap dan menancap dada!

Burung itu memekik dan melayang jatuh, terbanting di atas tanah, berkelojotan dan mati!

Burung garuda jantan menjadi marah sekali, mengeluarkan pekik nyaring dan menyambar ke bawah hendak menyerang Tan siucai.

Namun sambil tertawa, Tan Ki sudah melepas sebatang anak panah lagi.

Garuda ini pun mencengkeram, namun anak panah itu tetap saja menembus dadanya dan burung ini pun roboh tewas!

Dua ekor burung garuda yang terjatuh kini tewas di tangan seorang berotak miring yang lihai sekali.

Tan siucai dan gurunya kini merasa yakin bahwa tentu kedua ekor burung garuda itu adalah binatang tunggangan Pendekar Siluman seperti yang mereka dengar diceritakan orang-orang kang ouw.

Maka mereka berlaku hati-hati, menyelidiki daerah itu dan akhirnya dari jauh mereka melihat pondok di mana mengepul asap dan terdengar bunyi martil berdencing.

Mereka tidak berlaku sembrono, hanya mengintip dengan sabar dan dapat menduga bahwa Pendekar Siluman tentu berada di pondok itu, sedangkan seorang di antara dua orang anak perempuan yang bermain main di luar dengan seorang anak laki-laki tentulah muridnya seperti yang dikabarkan orang.

Tadinya Tan siucai hendak mengajak gurunya menyerbu dan membunuh musuh yang dibencinya itu, yang dianggap telah merampas tunangannya.

Akan tetapi ketika Maharya mendapatkan bangkai gajah besar tak jauh dari tempat itu, dia menahan niat ini.

"Kalau tidak salah, gajah ini adalah binatang tunggangan kakakku Nayakavhira! Jangan jangan tua bangka itu pun berada di dalam pondok bersama Pendekar Siluman. Aahhh, tidak salah lagi, tentu dia. Dan suara berdencing itu. Tentu Si Tua Bangka membuatkan pedang pusaka untuk Pendekar Siluman! Huh, dia selalu menentangku! Kalau aku tidak bisa membunuhnya, tentu dia akan mendahului aku merampas Sepasang Pedang Iblis! Kita harus berhati-hati. Aku tidak takut menghadapi Pendekar Siluman kaki buntung yang disohorkan orang itu. Akan tetapi tua bangka Nayakavhira itu lihai sekali dan terhadap dia kita tidak dapat menggunakan ilmu sihir. Kita menanti saja dan kalau ada kesempatan baik, baru kita menyerbu."

Ketika melihat Suma Han keluar dari pondok dan meninggalkan tiga orang anak, Maharya lalu mengajak muridnya diam diam, menggunakan kesempatan selagi tiga orang anak itu bertempur untuk menyelundup ke dalam pondok.

"Dia tentu sedang samadhi menapai pedang, inilah kesempatan baik karena Pendekar Siluman sedang keluar. Kau ambil pedangnya, biar aku yang menghadapi Nayakavhira!"

Akan tetapi, ketika mereka memasuki pondok, mereka melihat bahwa Nayakavhira telah mati dalam keadaan masih duduk bersila di pondok, di depannya menggeletak sebatang pedang bersinar putih yang belum ada gagangnya.

Tentu saja Maharya menjadi girang sekali dan Tan siucai mengambil pedang pusaka itu.

Diam diam mereka keluar dari pondok dan mengintai dari tempat persembunyian mereka.

Mereka melihat Suma Han datang lagi kemudian melihat Suma Han membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira.

"Bagus! Sekarang biar aku memancing dia pergi, hendak kucoba sampai di mana kepandaiannya. Kau menjaga di sini, kalau dia sudah pergi, kau culik muridnya. Dengan demikian, akan lebih mudah engkau membalas dendam."

Demikianlah, dari tempat jauh di sebelah timur Maharya mengeluarkan suara ketawa sehingga memancing da-tangnya Suma Han, sedangkan Tan siucai berhasil menculik Kwi Hong!

Pada hakekatnya, Tan siucai bukanlah seorang yang jahat atau kejam.

Akan tetapi pada waktu itu, otaknya sudah miring karena dendamnya dan karena dia memaksa diri mempelajari ilmu sihir dari Maharya.

Maka dia pun tidak membunuh Bun Beng dan Milana, hal yang akan mudah dan dapat ia lakukan kalau dia berhati kejam.

Dia mengempit tubuh Kwi Hong sambil lari menyusul gurunya dan terkekeh mengerikan.

"Lepaskan aku! Keparat, lepaskan aku! Kalau tidak, Pamanku akan menghancurkan kepalamu!"

"Heh heh heh, Pamanmu? Gurumu sekalipun, Si Pendekar Buntung kakinya itu, tidak akan mampu membunuhku, bahkan dia yang kini akan mampus di tangan Guruku. Siapa Pamanmu, heh?"

"Tolol! Pamanku ialah guruku Suma Han Pendekar Super Sakti, To cu dari Pulau Es! Lepaskan aku!"

Saking herannya bahwa anak perempuan itu bukan hanya murid, akan tetapi juga keponakan musuh besarnya, Tan siucai melepaskan Kwi Hong dan memandang dengan mata terbelalak.

"Engkau keponakannya? Keponakan dari mana, heh?"

Kwi Hong mengira bahwa orang gila ini takut mendengar bahwa dia keponakan gurunya, maka dia berkata.

"Guruku adalah adik kandung mendiang Ibuku."

Tan siucai tertawa.

"Ha ha ha ha! Kebetulan sekali! Dia telah membunuh kekasihku, tunanganku, calon isteriku. Biar dia lihat bagaimana rasanya melihat keponakannya kubunuh di depan matanya. Heh heh heh!"

Kwi Hong memandang marah.

"Setan keparat! Engkau gila! Diriku tidak membunuh siapa siapa dan jangan kira engkau akan dapat terlepas dari tangannya kalau kau berani menggangguku!"

"Engkau mau lari? Heh heh heh, larilah kalau mampu. Lihat, api dari tanganku sudah mengurungmu, bagaimana kau bisa lari?"

Kwi Hong memandang dan ia terpekik kaget melihat betapa kedua tangan yang dikembangkan itu benar benar mengeluarkan api yang menyala nyala dan mengurung di sekelilingnya!

"Setan....

engkau setan....!"

Ia memaki akan tetapi hatinya merasa takut dan ngeri.

"Ha ha ha, hayo ikut bersamaku. Aku tidak mau terlambat melihat musuh besarku mati di tangan Guruku!"

Tan siucai menubruk hendak menangkap Kwi Hong.

Anak ini menjerit dan tanpa mempedulikan api yang bernyala-nyala di sekelilingnya, ia meloncat menerjang api.

Dan terjadilah hal yang mengherankan hatinya.

Ketika menerjang, api itu tidak membakarnya, bahkan tidak ada lagi!

Seolah-olah melihat api tadi hanya terjadi dalam mimpi!

Maka ia berbesar hati lari terus.

"Hei hei.... mau lari ke mana, heh?"

Tan siucai mengejar dan agaknya dalam kegilaannya ia merasa senang mempermainkan Kwi Hong, mengejar sambil menggertak menakut nakuti, tidak segera menangkapnya, padahal kalau dia mau, tentu saja dia dapat menangkap dengan mudah dan cepat.

Lagaknya seperti seekor kucing yang hendak mempermainkan seekor tikus.

Membiarkannya lari dulu untuk kemudian ditangkap dan diganyangnya.

Tan-siucai hanya hendak menakut-nakuti saja karena anak itu adalah keponakan dan murid musuh besarnya, tidak mempunyai maksud sedikit pun juga di hatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.

Mungkin dia akan benar-benar membunuh Kwi Hong di depan Suma Han, namun hal itu pun akan dilakukan semata-mata untuk menyakiti hati musuh besar yang telah merampas dan dianggap membunuh kekasihnya!

"Heh-heh-heh, mau lari ke mana kau?"

Sekali meloncat, tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan dan sambil tertawa-tawa ia telah tiba menghadang di depan Kwi Hong! "Ihhhhh!"

Kwi Hong menjerit kaget penuh kengerian, akan tetapi dia tidak takut dan menghantam perut orang itu.

"Cessss!"

Tangannya mengenai perut yang lunak seolah-olah tenaganya amblas ke dalam air, maka Kwi Hong lalu membalikkan tubuh dan melarikan diri ke lain jurusan.

"Heh-heh-heh, larilah yang cepat, larilah kuda cilik, lari! Ha-ha-ha!"

Tan-siucai tertawa-tawa dan mengejar lagi dari belakang.

Berkali-kali ia mempermainkan Kwi Hong dengan loncat menghadang di depan anak itu.

Ketika ia sudah merasa puas mempermainkan sehingga Kwi Hong mulai terengah-engah kelelahan, tiba-tiba Tan-siucai tersentak kaget karena tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang wanita yang mukanya berkerudung menyeramkan!

Biarpun Tan-siucai kini telah menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, namun kemiringan otaknya membuat dia kadang-kadang seperti kanak-kanak.

Begitu melihat munculnya seorang wanita berkerudung, agaknya ia teringat akan cerita-cerita yang dibacanya tentang setan-setan dan iblis, maka mukanya berubah pucat dan ia membalikkan tubuhnya melarikan diri sambil menjerit.

"Ada setan....!"

"Aduhhh....!"

Ia menjerit dan tubuhnya terpental karena pinggulnya telah ditendang dari belakang.

Kini wanita berkerudung itulah yang keheranan.

Tendangannya tadi disertai sin-kang yang kuat, yang akan meremukkan batu karang dan orang di dunia kang-ouw jarang ada yang sanggup menerima tendangannya itu tanpa menderita luka berat atau bahkan mati.

Akan tetapi orang gila itu hanya menjerit tanpa menderita luka sedikit pun.

Bahkan kakinya merasakan pinggul yang lunak seperti karet busa!

"Eh, kau....

kau bukan setan?

Kakimu menginjak tanah, terang bukan setan!

Keparat, kau berani menendang aku?

Tunggu ya, aku akan menangkap dulu anak itu!"

Tan-siucai melangkah hendak me-nangkap lengan Kwi Hong yang masih berdiri terengah-engah dan juga memandang wanita berkerudung itu dengan mata terbelalak.

"Jangan ganggu dia!"

Tiba-tiba wanita itu membentak, suaranya merdu namun dingin dan mengandung getaran kuat.

Tan-siucai sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak menentangnya maka ia membusungkan dada dan menudingkan telunjuknya.

"Aihh, kiranya engkau hendak menentangku, ya? Sungguh berani mati. Engkau tidak tahu aku siapa? Awas, kalau aku sudah marah, tidak peduli lagi apakah engkau wanita atau pria, berkerudung atau tidak, sekali bergerak aku akan mencabut nyawamu!"

Wanita berkerudung itu mendengus penuh hinaan.

"Siapa takut padamu? Tentu saja aku tahu engkau siapa. Engkau adalah seorang yang tidak waras, berotak miring yang menakut-nakuti seorang anak perempuan. Kalau aku tidak ingat bahwa engkau adalah seorang gila, apakah kau kira tidak sudah tadi-tadi kupukul kau sampai mampus? Nah, pergilah. Aku memaafkanmu karena engkau gila dan tinggalkan anak ini."

Tan-siucai sudah lenyap kegilaannya dan ia marah sekali.

"Engkau yang gila! Engkau perempuan lancang, hendak mencampuri urusan orang lain dan engkau memakai kerudung penutup muka. Hayo buka kerudungmu dan lekas minta ampun kepadaku!"

"Agaknya selain gila, engkau pun sudah bosan hidup. Nah, mampuslah!"

Tiba-tiba wanita berkerudung itu menerjang maju dengan cepat sekali, tahu-tahu tangannya sudah mengirim totokan maut ke arah ulu hati Tan-siucai.

Tan-siucai telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia terkejut sekali karena maklum bahwa totokan itu dapat membunuhnya dan bahwa gerakan wanita itu selain cepat seperti kilat juga mengandung sin-kang yang luar biasa!

Dia tidak berani main-main lagi, tahu bahwa lawannya adalah seorang pandai, maka cepat ia menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga.

"Desss!"

Tubuh Tan-siucai terguling saking hebatnya benturan tenaga itu dan ia cepat meloncat bangun sambil mengirim serangan balasan penuh marah.

"Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian!"

Wanita berkerudung itu berseru dan menyambut pukulan Tan-siucai dengan sambaran tangan ke arah pergelangan lawan.

Tan-siucai tidak mau lengannya ditangkap maka ia menghentikan pukulannya dan tiba-tiba kakinya menendang, sebuah tendangan yang mendatangkan angin keras mengarah pusar lawan.

"Wuuuttt!"

Wanita itu miringkan tubuh membiarkan tendangan lewat dan secepat kilat kakinya mendorong belakang kaki yang sedang menendang itu.

Gerakan ini amat aneh dan Tan-siucai tak dapat mengelak lagi.

Kakinya yang luput menendang itu terdorong ke atas, membawa tubuhnya sehingga ia terlempar ke atas seperti dilontarkan.

"Aiiihhh....!"

Tan-siucai berteriak akan tetapi wanita itu kagum juga menyaksikan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki gin-kang yang tinggi sehingga mampu berjungkir balik di udara dan turun ke tanah dengan keadaan kakinya tegak berdiri.

Adapun Tan-siucai yang makin kaget dan heran menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu, teringat akan sesuatu dan membentak.

"Aku mendengar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah...."

"Akulah Ketua Thian-liong-pang!"

Wanita itu memotong dan menerjang lagi, gerakannya cepat sekali sehingga sukar diikuti pandang mata dan Tan-siucai terpaksa meloncat mundur dengan kaget.

"Singggg....!"

Tampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu tangan Tan-siucai telah mencabut pedang hitamnya, tampak sinar hitam bergulung-gulung dengan dahsyatnya.

Diam-diam Ketua Thian-liong-pang itu kaget dan heran.

Bagaimana tiba-tiba muncul seorang siucai gila seperti ini padahal di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar namanya.

Namun dia tidak gentar sedikitpun juga.

Dia maklum bahwa tingkat kepandaian siucai tampan yang gila ini amat tinggi, akan tetapi tidak terlampau tinggi.

Maka ia pun menghadapinya dengan kedua tangan kosong saja.

Tubuhnya berkelebatan menyelinap di antara sinar pedang hitam dan mengirim pukulan sin-kang bertubi-tubi sehingga hawa pukulan itu saja cukup membuat Tan-siucai terhuyung mundur dan kacau permainan pedangnya!

Ketika dengan rasa penasaran ia membabat kedua kaki wanita itu, Ketua Thian-liong-pang mencelat ke atas, ujung kakinya menendang tenggorokan lawan, Tan-siucai miringkan kepala dengan kaget sekali.

"Aduhhh....!"

Ia menjerit dan roboh terguling-guling, tulang pundaknya yang tersentuh ujung sepatu wanita terasa hendak copot, nyeri sampai menusuk ke jantung rasanya.

"Pangcu dari Thian-liong-pang, lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!"

Tiba-tiba Tan-siucai menuding dengan pedangnya, melakukan ilmu hitamnya, untuk menguasai semangat dan pikiran lawannya melalui gerakan, suara dan pandang matanya.

Namun, Ketua Thian-liodg-pang itu memakai kerudung di depan mukanya sehingga tidak dapat dikuasai oleh pandang matanya, adapun suaranya yang mengandung getaran khi-kang hebat itu masih kalah kuat oleh sin-kang lawan.

Kini wanita itu tertawa merdu, ketawa yang bukan sembarang ketawa karena suara ketawanya digerakkan dengan sin-kang dari pusar sehingga membawa getaran yang amat kuat.

Gelombang getaran ini menyentuh hati Tan-siucai sehingga dia ikut pula tertawa bergelak di luar kemauannya.

Mendengar suara ketawanya sendiri, Tan-siucai terkejut dan cepat ia menindas rasa ingin ketawa itu, pedangnya membacok dari atas!

"Manusia berbahaya perlu dibasmi!"

Tiba-tiba Ketua Thian-liorg-pang itu berkata dan tangan kirinya bergerak dari atas, ketika pedang itu tiba ia menjepit pedang dari atas dengan jari tangannya yang ditekuk!

Bukan main hebatnya ilmu ini yang tentu saja hanya mampu dilakukan oleh orang yang kepandaiannya sudah tinggi sekali dan sin-kangnya sudah amat kuat.

Tan-siucai terkejut, berusaha menarik pedang namun pedang itu seperti dijepit oleh tang baja dan sama sekali tidak mampu ia gerakkan.

Saat itu Ketua Thian-liong-pang sudah menyodokkan jari-jari tangan kanannya ke arah perut Tan-siucai yang kalau mengenai sasaran tentu akan mengoyak kulit perut!

"Aiihhhh....!"

Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu memekik, pekik seorang wanita yang terkejut dan ngeri, kemudian tubuhnya meloncat jauh ke belakang, sepasang mata di balik kerudung itu terbelalak.

Tan-siucai yang tadinya sudah hilang harapan dan maklum bahwa dia terancam bahaya maut, menjadi kaget dan girang sekali melihat wanita sakti itu meloncat mundur, tidak jadi membunuhnya.

Saking girangnya, gilanya kumat dan ia meloncat pergi sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha, engkau tidak tega membunuhku, ha-ha-ha!"

Ketua itu masih bengong dan membiarkan Si Gila pergi.

Tentu saja dia tadi meloncat ke belakang bukan karena tidak tega membunuh Tan-siucai, melainkan ketika tangannya hampir mengenai perut lawan, tiba-tiba ada sinar putih yang luar biasa keluar dari balik jubah bagian perut.

Sinar putih ini mengandung hawa mujijat sehingga mengagetkan Ketua Thian-liong-pang yang maklum bahwa sinar yang mengandung hawa seperti itu hanyalah dimiliki sebuah pusaka yang maha ampuh!

"Sayang engkau melepaskan Si Gila itu,"

Kwi Hong berkata ketika melihat Tan-siucai menghilang.

Ketua Thian-liong-pang itu agaknya baru sadar akan kehadiran Kwi Hong.

Dia menoleh dan memandang anak itu, di dalam hatinya merasa suka dan kagum.

Anak yang bertulang baik, berhati keras dan penuh keberanian.

"Sudah cukup kalau engkau terbebas darinya,"

Ia berkata.

"Anak, engkau siapakah dan mengapa engkau ditangkap Si Gila?"

"Aku tidak tahu dengan orang apa aku bicara. Apakah engkau tidak mau membuka kerudungmu sehingga aku dapat memanggilmu dengan tepat?"

Kwi Hong bertanya, memandang muka berkerudung itu dan diam-diam ia kagum karena dia sudah mendengar akan nama besar Thian-liong-pang dan tadi pun sudah menyaksikan sendiri kelihatan wanita ini sehingga timbul keinginan untuk melihat bagaimana kalau wanita ini bertanding melawan pamannya!

Wanita itu menggeleng kepala.

"Tidak seorang pun boleh melihat mukaku, kecuali.... kecuali.... yah, tak perlu kau tahu. Sebut saja aku Bibi. Engkau siapakah?" (Lanjut ke

Jilid 13) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Bibi yang perkasa, aku adalah Giam Kwi Hong, murid dan juga keponakan dari To-cu Pulau Es."

"Pendekar Siluman....!"

Wanita berkerudung itu bertanya, jelas kelihatan terkejut bukan main.

Besar rasa hati Kwi Hong.

Semua orang mengenal pamannya, mengenal dan takut.

Agaknya wanita perkasa ini tidak terkecuali, maka ia menjadi bangga, tersenyum dan mengangguk.

"Benar, dan Si Gila itu tadi sengaja menculikku karena dia memusuhi Paman Suma Han. Katanya Pamanku membunuh kekasihnya, tunangannya. Kurasa dia bohong karena dia gila. Kalau saja Paman tidak dipancing pergi, mana dia mampu menculikku?"

"Di mana Pamanmu sekarang? Apa yang terjadi?"

"Paman sedang membuat pedang pusaka bersama kakek yang bernama Nayakavhira. Pedang sudah jadi dan karena Kakek itu hendak menapai pedang, Paman pergi untuk mencari garuda kami. Paman datang dan mengatakan bahwa sepasang garuda dibunuh orang, kemudian ternyata bahwa pedang pusaka itu lenyap. Baru tadi kuketahui bahwa pedang yang baru jadi diambil oleh Si Gila. Maka sayang tadi kau lepaskan dia, seharusnya pedang itu dirampas dulu, Bibi."

"Ahhhh....!"

Ketua Thian-liong-pang itu kagum bukan main.

Kiranya benar dugaannya.

Si Gila itu menyelipkan sebatang pedang pusaka yang amat ampuh di pinggangnya.

Dia menyesal mengapa tadi tidak mengejar dan merampas pedang itu.

"Ketika Paman membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira yang kedapatan sudah mati tua di pondok, ada suara ketawa. Paman cepat pergi mencari dan tiba-tiba muncul Si Gila itu, dan aku diculik....."

"Hemm.... kalau begitu Pamanmu tidak jauh dari sini. Mari kuantar engkau menyusulnya."

Tanpa menanti jawaban, wanita itu memegang lengan Kwi Hong dan anak ini kagum bukan main.

Kembali dia membandingkan wanita ini dengan pamannya, karena digandeng dan dibawa lari seperti terbang seperti sekarang ini hanya pernah ia alami ketika dia dibawa lari pamannya.

Tiba-tiba wanita itu berhenti dan menuding ke depan.

Kwi Hong memandang dan terbelalak heran menyaksikan pamannya itu sedang duduk bersila di atas tanah, tongkatnya melintang di atas kaki tunggal, kedua tangannya dengan tangan terbuka dilonjorkan, matanya terpejam dan dari kepalanya keluar uap putih yang tebal!

Adapun kira-kira sepuluh meter di depannya tampak seorang kakek bersorban seperti Nayakavhira, hanya bedanya kalau Kakek Nayakavhira berkulit putih, orang ini berkulit hitam arang, memakai anting-anting di telinga, hidungnya seperti paruh kakatua, jenggotnya panjang dan dia pun bersila seperti Suma Han dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada dan matanya melotot lebar, juga dari kepalanya keluar uap tebal.

Baik Suma Han maupun kakek hitam itu sama sekali tidak bergerak seolah-olah mereka telah menjadi dua buah arca batu!

"Paman....!"

Tiba-tiba mulut Kwi Hong didekap tangan Ketua Thian-liong-pang yang berbisik.

"Anak bodoh, tidak tahukah engkau bahwa Pamanmu sedang bertempur mati-matian melawan kakek sakti itu? Mereka mengadu sihir dan kalau engkau mengganggu Pamanmu, dia bisa celaka. Kau tunggu saja di sini sampai pertempuran selesai, baru boleh mendekati Pamanmu. Aku mau pergi!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, Ketua Thian-liong-pang itu lenyap dari belakang Kwi Hong yang tidak mempedulikannya lagi karena perhatiannya tertumpah kepada pamannya.

Kwi Hong sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di tempat itu, Bun Beng telah lebih dulu melihat pertandingan yang amat luar biasa itu, bersembunyi di tempat lain dan memandang dengan napas tertahan dan mata terbelalak.

Dibandingkan dengan Kwi Hong, dia jauh lebih terheran karena apa yang dilihatnya tidaklah sama dengan apa yang dilihat Kwi Hong!

Kalau Kwi Hong hanya melihat pamannya duduk bersila melonjorkan kedua lengan ke depan menghadapi kakek hitam yang bersila dan merangkapkan tangan depan dada, Bun Beng melihat betapa di antara kedua orang sakti yang duduk bersila tak bergerak seperti arca itu terdapat seorang Suma Han ke dua yang sedang bertanding dengan hebatnya melawan seorang kakek hitam ke dua pula, seolah-olah bayangan mereka yang sedang bertanding!

Mengapa bisa begitu?

Mengapa kalau Kwi Hong tidak melihat ada yang bertanding?

Karena dia baru saja tiba sehingga dia tidak dikuasai pengaruh mujijat seperti yang dialami Bun Beng.

Ketika Bun Beng berlari secepatnya mengejar Tan-siucai yang menculik Kwi Hong secara ngawur ke timur karena dia sudah tertinggal jauh sehingga penculik itu tidak tampak bayangannya lagi dan napasnya mulai memburu, dia melihat Suma Han sedang bertanding melawan seorang kakek hitam.

Pertandingan yang amat hebat dan cepat sekali sehingga pandang mata Bun Beng menjadi kabur dan kepalanya pening.

Dia melihat betapa tubuh Pendekar Siluman itu mencelat ke sana ke mari sedangkan tubuh kakek hitam itu berputaran seperti sebuah gasing.

Begitu cepat pertandingan itu se-hingga dia tidak dapat mengikuti dengan pandang matanya.

Dia tidak berani memperlihatkan diri biarpun ketika melihat Suma Han dia menjadi girang sekali dan ingin menceritakan tentang Kwi Hong yang diculik orang.

Menyaksikan pertandingan yang hebat itu dia lupa segala, lupa akan Kwi Hong yang diculik orang dan ia menonton sambil bersembunyi dengan mata terbelalak.

Tiba-tiba kakek itu terlempar sampai sepuluh meter jauhnya dan terdengar kakek itu berkata.

"Pendekar Siluman, engkau hebat sekali. Tetapi aku masih belum kalah. Lihat ini!"

Kakek itu lalu duduk bersila, merangkapkan kedua tangan depan dada sambil mengeluarkan bunyi menggereng hebat sekali dan....

hampir Bun Beng berseru kaget ketika melihat betapa dari kepala kakek itu mengepul uap kehitaman tebal dan muncul seorang kakek ke dua, persis seperti seorang kakek itu sendiri!

"Maharya, engkau hendak mengadu kekuatan batin?

Baik, aku sanggup melayanimu!"

Kata Suma Han yang segera duduk bersila dan juga dari kepalanya mengepul uap putih yang tebal dan dari uap ini terbentuklah seorang Suma Han kedua yang bergerak maju menghadapi "bayangan"

Kakek hitam, kemudian kedua bayangan itu bertanding dengan hebat!

Suma Han melonjorkan kedua tangan ke depan dan gerakan bayangannya menjadi makin cepat dan kuat!

Bun Beng yang terkena getaran pengaruh mujijat, dapat melihat kedua bayangan yang bertanding itu, yang tidak dapat tampak oleh Kwi Hong yang baru tiba.

Bun Beng yang dapat menyaksikan pertandingan aneh itu, dengan mata terbelalak dan muka pucat menonton.

Ia melihat gerakan bayangan kakek itu aneh, berloncatan menyerang bayangan Suma Han dengan jari-jari tangannya.

Kedua tangan hanya menggunakan dua buah jari, telunjuk dan tengah, untuk menusuk-nusuk dengan cepat sekali, sedangkan kedua kakinya berloncatan seperti gerakan kaki katak.

Terdengar bunyi angin bercuitan ketika kedua tangannya menusuk-nusuk.

Namun gerakan bayangan Suma Han yang tidak bertongkat itu tetap tenang biarpun cepatnya membuat mata Bun Beng sukar mengikutinya.

Bayangan Pendekar Super Sakti ini mencelat ke sana-sini menghindarkan semua tusukan jari tangan lawan, bahkan membalas dengan pukulan kedua tangan yang mendatangkan angin sehingga kain panjang lebar yang menjadi pakaian kakek hitam, hanya dibelitkan, berkibar oleh angin pukulan itu.

Tubuh kedua bayangan itu seolah-olah tidak menginjak tanah, kadang-kadang keduanya membubung tinggi dan bertanding di udara, kemudian turun lagi ke atas tanah.

Bun Beng yang menonton pertandingan itu menjadi bingung, sukar mengikuti gerakan kedua bayangan itu sehingga dia tidak tahu siapa yang mendesak dan siapa yang terdesak.

Hanya dia melihat Suma Han yang bersila itu masih duduk tenang tak bergerak sedikit juga, kedua mata dipejamkan.

Sedangkan kakek hitam yang bersila itu matanya makin melotot mukanya mulai berpeluh dan kedua tangan yang dirangkapkan di depan dada itu bergoyang menggigil sedikit.

Dan biarpun ada pertempuran yang demikian hebatnya, tidak terdengar suara sedikit pun juga.

Keadaan sunyi sekali, sama sunyinya seperti yang dirasakan Kwi Hong yang hanya melihat dua orang sakti itu duduk bersila berhadapan tanpa bergerak.

Baik Kwi Hong maupun Bun Beng yang masing-masing bersembunyi di tempat terpisah dan tidak saling melihat, merasa khawatir karena saking sunyinya, mereka itu hanya mendengar suara pernapasan mereka sendiri yang tertahan-tahan!

Sementara itu, mereka yang saling bertanding mengadu kesaktian mengerahkan seluruh kekuatan batin untuk menghimpit lawan.

Diam-diam Maharya terkejut bukan main.

Kalau tadi, ketika ia memancing Pendekar Siluman ke tempat itu kemudian ia tantang dan serang, dalam pertandingan silat dia terdesak bahkan sampai terdorong dan terlempar jauh, dia tidak menjadi penasaran karena memang dia sudah mendengar berita bahwa Pendekar Siluman memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tenaga sin-kang yang dahsyat.

Maka dia lalu mengambil cara lain, yaitu menghadapi lawannya dengan ilmu sihir dan ia merasa yakin pasti akan dapat menang.

Dia terkenal di negaranya sebagai seorang ahli sihir yang tangguh.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia melihat Pendekar Siluman menandinginya dengan ilmu yang sama, bahkan kini ia merasa betapa kekuatan batinnya terdesak hebat!

Kakek ini merasa penasaran sekali.

Dalam hal mengadu kekuatan raga, dia tidak pernah menemui tanding, apalagi dalam mengadu kekuatan batin.

Kini, berhadapan dengan seorang lawan muda yang patut menjadi cucunya, dia selalu tertindih kalah lahir batin!

Hampir dia tidak mau percaya akan kenyataan itu dan dengan geram ia menggerakkan mu-lut yang tertutup kumis itu berkemak-kemik, mengerahkan segala kekuatannya dan pandang mata yang melotot itu seolah-olah mengeluarkan api!

Bun Beng yang kebetulan memandang kakek yang duduk bersila itu hampir berteriak kaget melihat betapa sepasang mata kakek itu seperti mengeluarkan api!

Dia cepat menengok ke arah Suma Han dan melihat betapa pendekar itu kelihatan mengerutkan alis, tidak tenang seperti tadi, dan kedua lengannya yang dilonjorkan itu tergetar seolah-olah hendak menambah tenaga yang keluar dari sepasang telapak tangannya.

Memang Suma Han juga terkejut sekali ketika tiba-tiba ia merasa betapa kekuatan kakek lawannya itu menjadi berlipat!

Hawa panas menyerangnya sehingga ia cepat mengerahkan inti sari dari Swat-im Sin-kang.

Setelah kedua te-naga panas dan dingin itu saling dorong-mendorong, akhirnya dia merasa betapa hawa panas berkurang.

Keningnya tidak berkerut lagi, akan tetapi tampak beberapa tetes keringat membasahi dahi Suma Han.

Benar-benar hebat lawannya itu, pikirnya.

Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan seorang lawan sehebat Kakek Maharya ini!

Kalau dalam hal ilmu silat dia hanya memang sedikit saja, dalam hal ilmu yang didasari kekuatan batin, dia tidak berani mengatakan lebih kuat!

Hanya yang menguntungkan dirinya, kekuatan batin yang di-milikinya adalah pembawaan dirinya, dibentuk oleh kekuatan alam dan dimatangkan dengan ilmu sin-kang dan pelajaran yang ia terima menurut petunjuk Koai-lojin.

Sedangkan kekuatan batin kakek lawannya itu dikuasainya oleh latihan-latihan yang puluhan tahun lamanya.

Betapapun hebat usaha manusia, mana mampu menandingi kekuatan dan kekuasaan alam?

Maka dalam pertandingan ini, Suma Han yang mengandalkan tenaga batin dari kekuasaan alam, sukar untuk dikalahkan oleh kakek yang telah menjadi datuk dalam ilmu sihir itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tampak tiga sinar putih yang menyilaukan mata menyambar ke arah tubuh kakek hitam itu, menyambar muka di antara mata, ulu hati dan pusar!

"Eigghhhh....!"

Kakek itu mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tangannya yang tadinya dirangkap di depan dada bergerak dan mulutnya terbuka.

Bun Beng terbelalak menyaksikan betapa kakek itu telah menangkap tiga sinar itu yang ternyata adalah tiga batang pisau, ditangkap dengan kedua tangan, sedangkan yang menyambar muka telah digigitnya!

Bayangan kakek yang bertanding melawan bayangan Suma Han telah lenyap masuk kembali ke kepala kakek itu, demikian pula bayangan Suma Han telah lenyap.

Sekali menggerakkan tubuh, kakek itu sudah meloncat berdiri dan tampak tiga sinar menyambar ke arah kirinya ketika ia melontarkan tiga ba-tang pisau itu ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi.

Kemudian ia meloncat jauh dan lenyap, hanya terdengar suaranya.

"Pendekar Siluman! Lain kali kita lanjutkan!"

Sunyi keadaan di situ setelah kakek itu menghilang.

Suma Han bangkit berdiri bersandar kepada tongkatnya, menoleh ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi dan berkata, suaranya dingin dan penuh wibawa seperti orang marah.

"Siapa yang telah berani lancang turun tangan tanpa diminta?"

Daun bunga bergerak dan muncullah seorang wanita amat cantik jelita dari balik rumpun, berdiri di depan Suma Han tanpa berkata-kata.

Keduanya saling pandang dan berseru, suaranya menggetar penuh perasaan.

"Nirahai....!"

"Han Han....!"

Keduanya berdiri saling pandang dan sungguhpun dalam suara mereka terkandung kerinduan yang mendalam, namun keduanya hanya saling pandang dan dari kedua mata wanita cantik itu menetes air mata berlinang-linang.

"Han Han, bertahun-tahun aku menanti akan tetapi engkau tidak kunjung datang menyusulku. Sampai kapankah aku harus menanti? Sampai dunia kiamat? Han Han, aku isterimu!"

"Nirahai, engkau.... telah pergi meninggalkan aku, membuat hatiku merana...."

"Memang aku pergi, akan tetapi engkau tidak melarang!"

"Aku.... ah, aku tidak ingin memaksamu.... aku.... ahh...."

"Han Han, engkau laki-laki lemah! Engkau suami yang hanya tunduk dan mengekor kepada isteri, engkau pria yang tidak tahu isi hati wanita. Engkau.... ahh, sakit hatiku melihatmu....!"

"Nirahai....!"

Suma Han melangkah maju dan merangkul wanita itu. Nirahai tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, membiarkan Suma Han mengelus rambutnya.

"Nirahai, aku cinta padamu. Demi Tuhan, aku cinta padamu.... akan tetapi karena engkau mempunyai cita-cita, aku merelakan engkau pergi...."

"Ibuuuu....!"

Terdengar teriakan girang dan muncullah Milana berlarian.

Mendengar teriakan ini, Nirahai melepaskan pelukan Suma Han dan menyambut Milana dengan tangan terbuka, lalu memon-dong anak itu dan menciuminya penuh kegirangan.

"Milana....! Anakku....! Ahhh, sukur engkau selamat. Betapa gelisah hatiku mendengar laporan Pamanmu tentang malapetaka di laut itu!"

Suma Han memandang dengan wajah pucat sekali.

"Milana!"

Dia membentak, suaranya mengguntur, mengagetkan Kwi Hong dan Bun Beng di tempat persembunyian masing-masing di mana kedua orang anak ini tertegun menyaksikan adegan pertemuan antara Suma Han dan isterinya yang tidak mereka sangka-sangka itu.

"Engkau perempuan rendah, isteri tidak setia! Engkau meninggalkan aku dan tahu-tahu telah mempunyai seorang anak! Ahhh, betapa menyesal hatiku telah mentaati perintah mendiang Subo....!"

Setelah berkata demikian dengan pandang mata penuh jijik dan kebencian, Suma Han membalikkan tubuhnya dan pergi berjalan terpincang-pincang meninggalkan Nirahai.

Nirahai menjadi pucat, terbelalak dan menurunkan Milana yang berdiri memeluk pinggang ibunya dan bertanya.

"Ibu....! Dia siapa....? Mengapa To-cu Pulau Es itu marah-marah kepadamu?"

Nirahai menangis mengguguk.

"Dia.... dia Ayahmu...."

Suaranya gemetar dan ia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.

Milana cepat menoleh, kemudian lari meninggalkan ibunya, mengejar Suma Han sambil menjerit.

"Ayaaahhh....! Ayah....!"

Mendengar jeritan anak itu, cepat Suma Han membalik, mengira bahwa dia tentu akan melihat munculnya laki-laki yang menjadi ayah dari anak Nirahai itu.

Akan tetapi, ia menjadi bingung dan terheran-heran ketika melihat anak itu mengejarnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan memeluk kakinya sambil menangis dan memanggil-manggil.

"Ayaahh.... ayaahku....!"

Suma Han terbelalak memandang bocah yang menangis memeluki kaki tunggalnya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai yang masih menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangan sambil berlutut di atas tanah.

"Heh....! Apa....! Bagaimana....? Engkau.... anak siapa....?"

"Ayah.... engkau Ayahku.... aku anak Ayah dan Ibu....."

Milana mengangkat muka. Tubuh Suma Han menggigil dan ia menyambar tubuh Milana, diangkat dan dipondongnya.

"Anakku? Engkau.... anakku....?"

Ia menciumi muka bocah itu.

Milana tertawa dengan air mata bercucuran, merangkul leher pendekar yang dikagumi dan yang dirindukan itu.

Suma Han berpincang melangkah ke depan Nirahai.

"Nirahai.... benarkah ini? Dia.... dia ini.... anakku....?"

Nirahai mengangguk, mengusap air matanya.

"Ketika kita saling berpisah.... aku mengandung dan.... terlahirlah Milana.... anak kita...."

"Nirahai, engkau kejam, engkau tidak adil. Diam-diam saja engkau memelihara anak kita sampai begini besar. Tidak memberitahukan kepadaku, tidak menyusulku. Betapa kejam engkau."

Nirahai meloncat bangun, pandang matanya penuh penasaran.

"Siapa yang kejam? Engkaulah yang kejam, lemah dan canggung! Engkau tidak pernah mencariku, tidak pernah menyusulku ke Mongol!"

Melihat ayah bundanya cekcok, Milana yang berada di pondongan ayahnya itu berkata.

"Ayah, marilah engkau ikut bersama kami...."

"Dan menjadi seorang Pangeran Mongol? Ha-ha, nanti dulu! Aku tidak sudi! Semestinya ibumu yang ikut bersamaku ke Pulau Es. Nirahai, maukah engkau?"

Akan tetapi Nirahai memandang dengan muka merah dan berapi.

"Tidak sudi! Kini aku tidak mau menyembah-nyembah minta kau bawa. Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke sana. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah! Milana, mari kita pergi!"

"Tidak boleh, Nirahai. Milana ini anakku. Sudah terlalu lama dia kau pelihara sendiri, terlalu lama kau pisahkan dari Ayahnya. Aku akan membawa dia, tak peduli engkau suka ikut atau tidak!"

"Ayah....! Aku tidak mau meninggalkan Ibu!"

Milana merosot turun dari pondongan dan hendak lari kepada ibunya.

Akan tetapi Suma Han mendengus marah, lengan kanannya menyambar tubuh Milana, dikempitnya dan dia lalu pergi dengan cepat meninggalkan Nirahai.

"Han Han....!"

Nirahai menjerit dan mengejar. Namun Suma Han tidak peduli, wajahnya keruh, matanya hampir terpejam, kaki tunggalnya melangkah terus ke depan.

"Lepaskan aku! Ayahhhh.... aku tidak mau meninggalkan Ibu....!"

Milana menjerit-jerit.

Akan tetapi Suma Han terus saja melangkah tanpa mempedulikan jerit anaknya.

Tiba-tiba Bun Beng meloncat dan menghadang di depan Suma Han, berdiri tegak dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran.

"Suma-Taihiap! Seorang pendekar seperti Taihiap tidak boleh berlaku begini! Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan jahat! Kalau Taihiap berkepandaian, mengapa tidak membawa Ibunya sekalian?"

Suma Han terbelalak, mukanya berubah merah saking marahnya.

"Gak Bun Beng! Engkau anak tidak syah dari datuk kaum sesat Kang-touw-kwi Gak Liat, berani engkau bersikap seperti ini kepadaku! Sebelum menutup mata, Ibumu berpesan kepadaku untuk menyelamatkanmu, dan sekarang engkau mengatakan aku jahat?"

Jantung Bun Beng seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan ini.

Ayahnya seorang datuk kaum sesat?

Dia anak tidak syah?

Tidak ada ucapan yang lebih menyakiti hatinya dari pada ini dan tidak ada kenyataan yang akan lebih menghancurkan hatinya.

Namun kekerasan hati Bun Beng membuat ia tetap berdiri tegak dan berkata.

"Keturunan orang macam apa adanya aku, Suma-Taihiap, tetap saja aku melarang engkau memisahkan Milana dari Ibunya! Biar akan kau bunuh aku siap!"

Sikap Bun Beng gagah sekali biarpun kedua matanya kini mengalirkan butiran-butiran air mata.

"Han Han....! Kau bunuh aku dulu sebelum melarikan anakku!"

Nirahai telah meloncat menghadang pula di depan Suma Han, mencabut sebatang pedang siap untuk mengadu nyawa!

Juga kedua mata wanita cantik ini bercucuran air mata.

"Paman....!"

Kwi Hong yang sejak tadi memandang dengan tubuh gemetar saking tegang hatinya, kini berani meloncat keluar dan menghampiri Suma Han, berlutut sambil menangis.

"Ayah.... aku tidak mau berpisah dari Ibu....!"

Milana yang masih dikempit oleh lengan ayahnya itu pun meratap sambil menangis.

Suma Han berdiri seperti berubah menjadi arca.

Suara isak tangis menusuk-nusuk telinganya terus ke hati, linangan air mata seperti butiran-butiran mutiara itu mempesonanya.

Kekuatan batin dan kekerasan hatinya mencair, seperti salju tertimpa sinar matahari.

Tidak ada suara bagi manusia di dunia ini melebihi kekuasaan suara tangis!

Tangis adalah suara jeritan hati dan jiwa.

Tangis adalah suara pertama yang dikenal dan suara pertama yang keluar dari mulut manusia.

Tangis merupakan suara pertama dari manusia tanpa dipelajarinya.

Begitu terlahir, suara pertama dari manusia adalah tangis.

Tangis merupakan suara langsung dari dalam sehingga setiap orang anak yang terlahir di segenap penjuru dunia mempunyai suara tangis yang sama.

Tangis adalah satu-satunya suara yang mampu menembus jantung dan menyentuh batin manusia, juga dengan ratap tangis orang berusaha menghubungkan diri dengan Tuhan!

Lemas seluruh urat syaraf di tubuh Suma Han mendengar isak tangis empat orang manusia itu.

Tubuh Milana dilepaskan dan anak ini berlari kepada ibunya, merangkul dan menangis.

Nirahai lalu memondong puterinya, memandang kepada Suma Han dan berkata.

"Selama engkau masih menjadi seorang laki-laki yang berwatak lemah, aku tidak akan sudi turut bersamamu bahkan aku akan mengimbangi kerajaanmu di Pulau Es!"

Setelah berkata demikian, Nirahai meloncat dan berlari cepat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.

Suma Han menundukkan mukanya.

Untuk ke dua kalinya dia terpukul.

Pertama kali ketika bertemu dengan Lulu yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka.

Dia dicela dan dimarahi.

Kini, bertemu dengan isterinya, Nirahai, kembali dia dicela dan dimusuhi.

Benar-benar dia tidak mengerti isi hati wanita!

"Kwi Hong, kita pulang!"

Dia berkata, menggandeng tangan Kwi Hong dan berlari pergi cepat.

Bun Beng menjadi bengong.

Dia tidak menyesal ditinggal seorang diri, akan tetapi dia masih merasa sakit hatinya mendengar ucapan Suma Han tadi.

Masih terngiang di telinga kata-kata pendekar yang tadinya amat dikaguminya itu.

"Engkau anak tidak syah dari datuk kaum sesat Kang-thouw-kwi Gak Liat!"

Bun Beng menunduk, mencari-cari jawaban ke bawah akan tetapi rumput dan tanah yang diinjaknya tidak dapat memberi jawaban.

Ayahnya seorang datuk kaum sesat?

Dan dia anak tidak syah?

Apa artinya ini?

Ah, mengapa aku menjadi lemah begini?

Apa peduliku tentang asal-usulku?

Aku adalah seorang manusia, dan aku menjadi manusia bukan atas kehendakku!

Aku sudah ada dan aku harus bangga dengan keadaanku, harus berjuang mempertahankan keadaanku dan menyempurnakan keadaanku!

Mereka itu pun hanya manusia-manusia yang ternyata bukan terbebas daripada derita, bukan bersih daripada cacad!

Kekalahanku dari orang-orang sakti seperti Pendekar Siluman, isterinya, pencuri pedang, dan kakek-kakek sakti seperti mendiang Nayakavhira dan Maharya tadi hanyalah kalah pandai dalam penguasaan ilmu!

Akan tetapi ilmu dapat dipelajari!

Mereka semua itu, dahulu sebelum mempelajari ilmu pun tidak bisa apa-apa seperti dia!

Dan dia masih muda, apalagi sedikit-sedikit per-nah mempelajari ilmu, dan ada kitab yang telah dihafal namun belum dilatihnya dengan sempurna, ada sepasang pedang yang disembunyikan di puncak tebing.

Sepasang pedang pusaka!

Pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan, seperti pedang yang dibuat oleh Suma Han.

Jangan-jangan itu adalah Sepasang Pedang Iblis yang mereka cari-cari bahkan yang khusus dibuatkan pedang lawannya oleh Nayakavhira.

Biarlah.

Biar, andaikata sepasang pedang itu adalah Sepasang Pedang Iblis, kelak dia akan memperlihatkan kepada dunia bahwa di tangannya, sepasang pedang itu tidak akan menjadi senjata yang dipakai melakukan perbuatan jahat!

Bangkit semangat Bun Beng dan mulailah dia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Siauw-lim-pai.

Dia harus melapor akan kematian suhunya kepada pimpinan Siauw-lim-si dan mempelajari ilmu dengan tekun karena menurut penuturan mendiang suhunya, Kalau mempelajari benar-benar secara sempurna dan memang ada jodoh ilmu silat dari Siauw-lim-pai tidak kalah oleh ilmu silat lain di dunia ini.

Pernah gurunya bercerita tentang tokoh Siauw-lim-pai bernama Kian Ti Hosiang yang memiliki tingkat kepandaian luar biasa tingginya sehingga saking tinggi ilmu kepandaiannya, sampai tidak mau lagi melayani orang bertanding, bahkan tidak mau membalas andaikata dia dilukai atau dibunuh sekalipun!

Pernah pula gurunya bercerita tentang manusia dewa Bu Kek Siansu yang selain tidak mau bertempur melukai apalagi membunuh orang lain, bahkan sering kali menurunkan ilmunya kepada siapa saja yang kebetulan bertemu dengannya, yang dianggap sudah jodoh, tanpa memandang apakah orang itu termasuk golongan baik ataupun jahat, bersih ataupun kotor!

Sikap manusia dewa ini seperti sikap kasih sayang alam, di mana sinar matahari tidak menyembunyikan sinarnya dari atas kepada orang jahat maupun orang baik, di mana pohon-pohon tidak menyembunyikan bunga dan buahnya dari uluran tangan orang jahat maupun orang baik!

Kemudian gurunya bercerita pula tentang manusia aneh Koai-lojin yang kabarnya malah masih suka muncul biarpun belum tentu ada seorang di antara sepuluh ribu tokoh kang-ouw yang dijumpai manusia aneh ini, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang seperti dewa pula namun tidak mau bertempur, melukai, apalagi membunuh orang.

Dia masih muda.

Dunia masih lebar.

Masa depannya masih terbentang luas.

Mengapa langkah hidupnya harus terhalang oleh masa lalu mengenai diri orang tuanya!

Baik maupun jahat orang tuanya, biarlah.

Hal itu sudah lalu dan yang ia hadapi adalah masa depan.

Masa lalu penuh kejahatan akan tetapi masa depan penuh kebaikan, bukankah hal itu jauh lebih menang daripada masa lalu penuh kebaikan namun masa depan penuh kejahatan?

Apa arti bersih masa lalu akan tetapi amat kotor di masa depan, dan biarlah dia menganggap masa lalu sebagai alam mimpi, sungguhpun dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi dengan ayah bundanya.

Makin dijalankan pikirannya, makin lapanglah dadanya dan langkahnya pun tegap, wajahnya berseri dan sepasang matanya bersinar.

Setelah dia berhasil tiba di kuil Siauw-lim-si dan menceritakan tentang kematian suhunya, berita ini diterima dingin oleh para hwesio pimpinan Siauw-lim-pai yang menganggap bahwa kakek itu sudah bukan seorang anggauta Siauw-lim-pai lagi.

Akan tetapi mengingat bahwa Gak Bun Beng adalah putera seorang tokoh wanita Siauw-lim-pai, dan betapapun juga Siauw Lam Hwesio adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi, para pim-pinan Siauw-lim-pai tidak berkeberatan menerima Bun Beng.

Pemuda cilik itu mulai berlatih dengan giat disamping bekerja keras seperti yang pernah dilakukan gurunya, yaitu menjadi pelayan, tukang kebun, dan pekerjaan apa saja untuk melayani keperluan kuil dan membantu para hwesio.

Nirahai, bekas puteri Raja Mancu yang berwatak keras dan berilmu tinggi itu kini sudah berhenti menangis.

Kekerasan hatinya dapat menindih kedukaan dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk menghadapi orang yang dicintanya namun yang selalu mengalah dan berwatak lemah itu dengan kekerasan.

Di tengah jalan, dia menurunkan puterinya untuk memakai sebuah kerudung menutupi kepalanya.

Melihat ini, Milana terkejut dan heran.

"Ibu, mengapa Ibu memakai itu?"

Dari dalam kerudung itu terdengar jawaban suara dingin seolah-olah ibunya telah berubah tiba-tiba setelah berkerudung.

"Milana, mulai saat ini engkau akan turut bersamaku, tidak akan kembali ke Mongol lagi. Ketahuilah, ibumu adalah Ketua Thian-liong-pang dan tidak seorang pun boleh melihat mukaku kecuali engkau."

Milana memandang kepala berkerudung itu dengan mata terbelalak.

"Ibu....! Engkau Ketua Thian-liong-pang yang terkenal itu....? Akan tetapi mengapa....?"

Hati anak ini ngeri karena Thian-liong-pang disohorkan sebagai perkumpulan yang tidak segan-segan melakukan segala macam kekejaman sehingga ditakuti dunia kang-ouw.

"Diamlah. Kalau kita tidak kuat, orang tidak akan memandang kepada kita! Engkau ikut bersamaku dan belajar ilmu sampai melebihi Ibumu. Hayo!"

Dia menggandeng tangan Milana dan lari cepat sekali.

Adapun Suma Han yang membawa lari murid atau keponakannya, di sepanjang jalan tidak pernah bicara.

Wajahnya muram dan dalam beberapa pekan saja bertambah garis-garis derita pada wajahnya.

Karena sepasang burung garuda sudah tewas, mereka melakukan perjalanan darat dan setelah tiba di pantai, Suma Han mencari sebuah perahu yag dibelinya dari nelayan, kemudian memperkuat perahu dan mulailah dia berlayar bersama Kwi Hong menuju ke pulau tempat tinggalnya, yaitu Pulau Es.

Dalam pelayaran ini, barulah Suma Han mengajak bicara keponakannya.

Dia mendengarkan cerita Kwi Hong tentang peristiwa yang terjadi di hutan, betapa pencuri pedang pusaka adalah seorang siucai gila yang lihai sekali, bahkan siucai itu tadinya menculiknya yang kemudian dikalahkan oleh Nirahai dan melari-kan diri membawa pedang pusaka.

"Aihhhh.... kiranya dia....!"

Suma Han menghela napas penuh penyesalan karena segala yang dialaminya di masa dahulu agaknya hanya menimbulkan bencana saja bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Apakah dia yang harus menebus dosa yang dilakukan nenek moyangnya, keluarga Suma yang luar biasa jahatnya?

"Apakah Paman mengenal Siucai gila itu?"

"Banyak yang sudah kau ketahui, Kwi Hong. Engkau tentu mengenal siapa Pamanmu sekarang, seorang yang penuh noda dalam hidupnya. Orang gila itu agaknya tidak salah lagi tentu yang disebut Tan-siucai dan menjadi murid Maharya. Aku belum pernah melihat orangnya, akan tetapi namanya sudah kudengar."

"Paman, dia bilang bahwa Paman telah membunuh kekasihnya, tunangan atau calon isterinya. Tentu Si Gila itu bohong!"

Suma Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

Terbayang di depan matanya seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa, yang dalam keadaan hampir tewas karena tubuhnya penuh dengan anak panah yang menancap di seluruh tubuh, berbisik dalam pelukannya bahwa gadis itu rela mati untuknya karena gadis itu mencintanya.

Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li, murid Im-yang Seng-cu yang perkasa, yang telah berkorban untuk dia, dan sebelum menghembuskan napas terakhir mengaku cinta.

Gadis itu adalah tunangan Tan-siucai!

Dia sudah diberi tahu oleh Im-yang Seng-cu, akan tetapi tadinya dia tidak peduli.

Siapa mengira, begitu muncul Tan-siucai telah mencuri pedang pusaka, hampir berhasil menculik Kwi Hong, dan gurunya demikian saktinya sehingga kalau dia tidak memiliki kekuatan batin yang kuat, agaknya dia akan tewas di tangan Maharya!

"Dia tidak membohong, Kwi Hong.

Biarpun aku tidak membunuh tunangannya, akan tetapi dapat dikatakan bahwa tunangannya itu tewas karena membela aku.

Ahh, sungguh aku menyesal sekali.

Akan tetapi, kalau Tan-siucai sudah menjadi gila, dia telah merampas pedang pusaka, dia berbahaya sekali.

Pedang itu sengaja dibuat untuk menundukkan Sepasang Pedang Iblis."

"Kenapa Paman hendak pulang? Bukankah lebih baik mengejar dia sampai berhasil merampas kembali pedang itu?"

Kembali Suma Han menggeleng kepala.

"Semangatku lemah, aku tidak mempunyai nafsu untuk berbuat apa-apa, kecuali pulang dan beristirahat. Kwi Hong, mulai sekarang engkau harus berlatih diri dengan tekun dan rajin. Tugasmu di masa mendatang amat berat dengan munculnya banyak orang pandai. Jangan sekali-kali kau melarikan diri dari pulau lagi karena aku tidak akan mengampunkanmu lagi."

Demikianlah, dengan semangat lemah dan hati remuk akibat pertemuan-pertemuannya dengan Lulu dan Nirahai, dua orang wanita yang dicintanya, yang pertama karena dicintanya semenjak kecil, yang ke dua karena telah menjadi isterinya, bahkan menjadi ibu dari anaknya, Suma Han mengajak keponakannya pulang ke Pulau Es.

Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk tidak mencampuri urusan luar, hanya melatih diri dan memperkuat penjagaan di pulau sendiri.

Kemudian, mulai hari itu dia melatih ilmu kepada Kwi Hong dengan penuh ketekunan sehingga anak perempuan ini memperolah kemajuan yang pesat sekali.

Semenjak jatuhnya pertahanan terakhir dari Bu Sam Kwi di Se-cuan sebagai sisa kekuatan dari Kerajaan Beng-tiauw yang jatuh beberapa tahun setelah Bu Sam Kwi tewas, yaitu pada tahun 1681, terjadilah perubahan besar di daratan Tiongkok yang kini dikuasai seluruhnya oleh Kerajaan Ceng, yaitu pemerintah yang dipimpin oleh Bangsa Mancu.

Sebentar saja kekuatan bangsa Mancu makin berakar dan lambat laun makin berkuranglah rasa kebencian dan permusuhan dari rakyat terhadap pemerintah penjajah ini.

Hal ini adalah terutama sekali disebabkan bangsa Mancu amat pandai menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebudayaan di Tiongkok.

Mereka itu biarpun menjadi penjajah menyaksikan kenyataan betapa besar dan hebat kebudayaan daratan yang dijajahnya, menerima kebudayaan itu bahkan melebur diri mereka seperti kedaan para pribumi.

Mereka mempelajari bahasa pribumi, bahkan anak isterinya mempergunakan bahasa ini sehingga dalam satu keturunan saja anak-anak mereka sudah tidak pandai lagi berbahasa Mancu dan menganggap bahasa Han sebagai bahasa me-reka sendiri!

Kerajaan Ceng-tiauw yang dipimpin oleh bangsa Mancu ini makin berkembang dan mencapai puncak kecemerlangannya di bawah pimpinan Kaisar Kang Hsi yang memerintah dari tahun 1663 sampai 1722.

Kaisar ini adalah seorang ahli negara yang cakap, pandai dan bijaksana.

Di samping ini dia pun seorang ahli perang yang mengagumkan sehingga semua operasinya berhasil dengan baik, juga tidak terdapat rasa tidak puas di antara petugas-petugas bawahannya.

Di samping ini, dia pun penggemar kebuda-yaan sehingga berhasil menarik pula hati para sasterawan pribumi yang mendapat penghargaan dalam bidangnya.

Di bawah pimpinan Kaisar ini, Tiongkok mencapai kekuasaan yang amat besar, jauh lebih besar daripada kerajaan-kerajaan sebelumnya dan kiranya malah lebih besar daripada keadaan Tiongkok di waktu Kerajaan Tang.

Pertama-tama Kaisar Kang Hsi mengerahkan perhatian untuk membasmi gerombolan-gerombolan dan pemberontak-pemberotak, menghabiskan semua perlawanan sehingga perang dihentikan dan keamanan dapat dikembalikan.

Dalam keadaan aman, rakyat dapat bekerja dengan tenang dan pembangunan dapat dilaksanakan sebaiknya.

Namun, setelah gerombolan-gerombolan di dalam negeri dapat ditumpas semua, Kaisar Kang Hsi harus menghadapi perlawanan dari negara-negara tetangga yang tidak mengakui kedaulatan kerajaan baru ini.

Maka dikirimnyalah tentara besar sampai jauh ke selatan dan barat daya sehingga banyak negara di selatan dan barat daya ditundukkan dan terpaksa mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng, Bahkan mengaku takluk dan setiap tahun membayar atau mengirim upeti sebagai tanda takluk.

Di antara negara-negara ini termasuk Afganistan, Kasmir, Birma, Muangthai, Vietnam, Kamboja, bahkan termasuk pula Malaysia!

Akan tetapi, selagi Kaisar Kang Hsi sibuk mengatur kesejahteraan dalam negeri untuk memakmurkan kehidupan rakyat yang baru saja dilanda perang itu, meningkatkan dan memperkembangkan kesenian melukis, sastera, dan lain-lain di samping mempergiat pembangunan, datang lagi gangguan yang memaksa Kaisar ini menggerakkan bala tentara dan mencurahkan sebagian perhatiannya ke utara, di mana bangsa Mongol mulai bergerak dan memberontak terhadap pemerintah Mancu.

Seperti telah diceritakan dan menjadi catatan sejarah, ketika bangsa Mancu mulai bergerak ke selatan, Mereka dibantu dengan gigih oleh bangsa Mongol sebagai bangsa yang pernah lama menjajah Tiongkok dan masih ingin menguasai kembali bekas tanah jajahan itu.

Karena kekuatannya sendiri sudah hancur, bangsa Mongol tahu diri dan membonceng bangsa Mancu, namun harus diakui bahwa kekuatan bala tentara menjadi amat besar dan hebat berkat bantuan pasukan-pasukan Mongol ini.

Akan tetapi, setelah bangsa Mancu berkuasa dan membangun Kerajaan Ceng, dengan tidak melupakan dan memberi kedudukan istimewa kepada bangsa Mongol sebagai bangsa serumpun dan setingkat, mulailah bangsa Mongol merasa kecewa.

Bangsa Mongol melihat kecenderungan bangsa Mancu yang melebur diri dengan kebiasaan orang-orang Han sehingga makin lama mereka itu menjadi makin erat hubungannya dengan rakyat, Sedangkan rakyat masih tidak dapat melupakan penjajahan bangsa Mongol yang banyak menyengsarakan rakyat dahulu.

Maka bangsa Mongol merasa makin lama makin tersudut, maka mulailah pemberontakan bangsa ini terhadap bangsa Mancu.

Pemberontakan meletus pada tahun 1680 pada saat Se-cuan sudah tiba di ambang kekalahannya.

Sehingga begitu Se-cuan sudah dijatuhkan, kembali pemerintah Mancu yang dipimpin oleh Kaisar Kang Hsi itu harus menghadapi pemberontakan yang besar dan gigih yang dipimpin oleh seorang pangeran Mongol yang bernama Galdan.

Sepuluh tahun lewat dengan cepatnya semenjak peristiwa pertemuan antara Pendekar Super Sakti Suma Han dan Nirahai isterinya, pertemuan yang amat menyedihkan dan mengharukan.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek, namun juga tak dapat dikatakan waktu yang lama, tergantung dari pendapat masing-masing bertalian dengan keadaan dan pengalaman.

Dalam waktu selama itu, banyak memang yang telah terjadi di dunia, khususnya di dunia kang-ouw yang kembali menjadi kacau dan geger berhubung dengan adanya perang antara pemerintah melawan bangsa Mongol.

Kembali dunia kang-ouw terpecah belah, ada yang membela Pemerintah Ceng, ada pula yang membantu pemberontak, bukan karena suka kepada bangsa Mongol, melainkan kesempatan itu mereka pergunakan untuk melawan penjajah.

Akan tetapi karena tidak ada peristiwa penting terjadi atas diri para tokoh penting cerita ini yang berdiam di tempat masing-masing menggembleng murid atau anak masing-masing, maka biarlah waktu sepuluh tahun itu kita lewati saja.

Pemberontakan bangsa Mongol sudah berjalan belasan tahun.

Perang menjadi berlarut-larut karena selain bangsa Mongol memang memiliki bala tentara yang terlatih dan kuat, mereka dibantu banyak orang pandai dari dunia kang-ouw.

Bahkan banyak pula orang sakti dari negara-negara tetangga yang dipaksa mengirim upeti kepada Pemerintah Ceng, diam-diam membantu bangsa Mongol dalam usaha mereka membalas dendam atas kekalahan negaranya.

Di dunia persilatan memang terjadi perubahan akan kekacauan seperti telah diceritakan tadi.

Diam-diam di antara mereka pun mengadakan "perang"

Sendiri, menggunakan kesempatan selagi pemerintah kurang memperhatikan keadaan mereka karena pemerintah sendiri sedang sibuk menghadapi musuh kuatnya, yaitu pasukan-pasukan Mongol.

Pula, pemerintah juga mempunyai banyak kaki tangan di antara golongan kang-ouw ini sehingga mereka menyerahkan penguasaan keadaan kepada kaki tangan mereka yang dalam hal ini diwakili dan dipimpin oleh Koksu sendiri dengan para pembantunya yang lain!

Namun yang lebih menonjol dan yang menggegerkan dunia persilatan adalah nama besar Thian-liong-pang yang kabarnya makin kuat saja sehingga tidak ada pihak yang berani main-main kalau bertemu dengan orang Thian-liong-pang.

Bahkan banyak yang sudah menjadi jerih kalau mendengar nama Thian-liong-pang yang diketuai seorang wanita aneh berkerudung yang memiliki ilmu silat dahsyat.

Banyak sudah ketua-ketua partai persilatan merasai kelihaian Thian-liong-pang.

Banyak yang dikalahkan oleh tokoh-tokoh Thian-liong-pang, padahal ketuanya sendiri belum pernah maju, juga wakilnya dan para pelayan wanita yang kabarnya memiliki ilmu yang sukar dicari bandingnya!

Terdengar berita bahwa Thian-liong-pang mempunyai niat menggabungkan partai-partai persilatan di bawah naungan Thian-liong-pang, seolah-olah perkumpulan ini hendak menyaingi gerakan Pemerintah Ceng yang menaklukkan negara-negara tetangga yang takluk dan mengakui kedaulatannya serta berlindung di bawah naungannya dengan membayar upeti setiap tahun!

Tentu saja niat ini menemukan banyak tentangan.Terutama partai-partai besar yang sudah berdiri ratusan tahun seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar, tentu saja mereka ini tidak sudi menjadi "anak buah"

Thian-liong-pang!

Selagi dunia kang-ouw geger karena sepak terjang Thian-liong-pang, tersiar lagi berita yang menimbulkan heboh dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah muncul lagi.

Orang-orang Pulau Neraka dengan warna-warni muka mereka yang aneh menimbulkan kegoncangan di mana-mana karena mereka itu memang sengaja mendarat untuk menguji ilmu-ilmu mereka dengan tokoh-tokoh kang-ouw!

Yang tetap tidak terdengar hanya Pulau Es.

Tidak ada lagi orang kang-ouw melihat munculnya orang dari Pulau Es bahkan mendengar berita pun tidak, karena Pulau Es agaknya sudah memutuskan hubungan mereka dengan dunia luar pulau mereka bertahun-tahun.

Di antara partai-partai persilatan besar yang heboh oleh berita-berita itu, Siauw-lim-pai sendiri tetap tenang-tenang saja.

Memang Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, paling banyak cabang-cabangnya, paling banyak kuil-kuilnya, tersebar di mana-mana dan memiliki jumlah anak murid yang amat banyak pula.

Belum pernah ada partai lain berani mengganggu Siauw-lim-pai.

Bahkan orang-orang Thianliong-pang agaknya juga tidak berani sembarangan main gila terhadap Siauw-lim-pai!

Kalau toh terjadi bentrokan, hal itu hanya terjadi antara anak murid saja dan pihak Siauw-lim-pai yang memegang keras disiplin di antara anak muridnya, dengan biiaksana dapat memadamkan bentrokan-bentrokan kecil itu dengan menghukum anak murid sendiri yang melakukan pelanggaran.

Pada waktu itu, yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai adalah seorang hwesio tinggi besar berusia lima puluh lima tahun lebih berjuluk Ceng Jin Hosiang.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert