Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pedang Iblis 5

Eps 5 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.

Biarpun tubuhnya tinggi besar menyeramkan, namun wataknya halus dan hwesio tua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai banyak sekali, dan kitab-kitab kuno yang mengandung pelajaran ilmu-ilmu amat tinggi, sukar sekali dipelajari sehingga hanya sedikit saja yang mampu menguasai isinya.

Ketika Kian Ti Hosiang masih hidup, dialah satu-satunya hwesio di Siauw-lim-pai yang benar-benar telah menguasai sebagian besar ilmu yang tinggi-tinggi dan sukar dipelajari itu.

Kini, karena bakatnya dan menurut kepercayaan lingkungan Siauw-lim-pai, karena jodoh, ketua inilah yang dapat menguasai sebagian dari isi kitab-kitab suci dan rahasia itu.

Sungguhpun belum dapat dibandingkan dengan Kian Ti Hosiang, namun setidaknya tingkat kepandaian Ceng Jin Hosiang jauh melampaui saudara-saudaranya, bahkan dia memiliki tingkat lebih tinggi daripada mendiang Ceng San Hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang lalu.

Selain lihai ilmu silatnya dan tinggi ilmu batinnya, Ceng Jin Hosiang memiliki kewaspadaan.

Pada suatu hari dia datang ke kuil cabang Siauw-lim-pai di mana Bun Beng bekerja sebagai pelayan.

Melihat Bun Beng dia tertarik sekali, apalagi ketika mendengar bahwa anak itu adalah putera mendiang Siauw-lim Bi-kiam Bhok-Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng segera Ketua Siauw-lim-pai ini menyuruh Bun Beng untuk ikut bersamanya ke kuil pusat Siauw-lim-pai.

Ceng Jin Hosiang melihat bakat yang baik sekali, juga hati nuraninya membisikkan bahwa anak ini "berjodoh"

Dengannya, maka dia lalu mengam-bil Bun Beng sebagai murid.

Selama delapan tahun dia menggembleng Bun Beng yang sebelumnya sudah menerima gemblengan dasar dari Siauw Lam Hwesio, maka tentu saja anak ini memperoleh kemajuan yang luar biasa.

"Bun Beng, kini tiba saatnya yang telah lama kau nanti-nanti dan baru seka-rang pinceng ijinkan, yaitu engkau boleh keluar dari kuil untuk meluaskan pengetahuan dan mengambil jalanmu sendiri tanpa kekangan dari peraturan di sini yang pinceng adakan,"

Kata Ketua Siauw-lim-pai yang duduk bersila dihadap muridnya yang ia panggil menghadap.

Dapat dibayangkan betapa girang hati Bun Beng mendengar ini.

Sudah lama sekali ia ingin untuk diperbolehkan keluar dari kuil, namun gurunya selalu melarang dan mengatakan belum tiba saatnya.

Padahal semua ilmu yang diajarkan gurunya telah dipelajarinya semua.

"Terima kasih, Suhu. Sesungguhnya teecu merasa gembira sekali."

Hwesio tua itu mengangguk dan tertawa.

"Pinceng tahu dan tidak menyalahkan engkau. Usiamu sudah dua puluh dua tahun dan sebagai seorang pemuda, engkau yang tidak berbakat sebagai pendeta tentu bernafsu sekali untuk berkelana di dunia ramai. Kepandaianmu sudah mencapai tingkat lumayan, bahkan tidak ada ilmu yang kuketahui belum kuajar-kan kepadamu. Engkau hanya kurang pengalaman dan kurang matang latihan, akan tetapi kalau engkau rajin, dalam beberapa tahun lagi engkau sudah akan melampaui aku."

"Teecu berhutang budi kepada Suhu, semua kemajuan teecu adalah berkat bimbingan Suhu."

"Sudahlah, tidak perlu semua pujian itu. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting. Setelah engkau berhasil mempelajari ilmu dari pinceng, sudah menguasai ilmu-ilmu itu, lalu setelah engkau meninggalkan ini, semua ilmu yang kau kuasai itu hendak kau pergunakan apakah?"

Ditanya secara mendadak seperti itu, Bun Beng gelagapan!

Yah, untuk apakah dia mempelajari semua ilmu itu dengan susah payah selama bertahun-tahun?

Tiba-tiba teringat akan kematian Siauw Lam Hwesio, gurunya yang pertama, yang juga terhitung supek dari Ceng Jin Hosiang, maka dengan hati tetap ia menjawab.

"Ilmu yang teecu kuasai berkat bimbingan Suhu akan teecu pergunakan untuk mencari musuh-musuh mendiang Suhu Siauw Lam Hwesio dan membalas dendam kematiannya di tangan mereka!"

"Omitohud...., sudah kuduga engkau akan menjawab seperti itu. Akan tetapi engkau keliru kalau memiliki niat seperti itu, Bun Beng. Dan pinceng akan melarangmu meninggalkan kuil kalau seperti itu pendapat dan cita-citamu."

Bun Beng terkejut bukan main, cepat ia membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai sambil berkata.

"Mohon maaf sebanyaknya, Suhu. Teecu bodoh dan mohon petunjuk Suhu bagaimana baiknya."

Hwesio itu tertawa.

"Kalau pinceng tahu bahwa kepandaian yang pinceng ajarkan kepadamu itu hanya akan kau pergunakan untuk membunuh orang, hanya untuk membalas dendam, sudah pasti pinceng tidak akan suka mengajarkannya. Tidak, Bun Beng. Menaruh dendam menimbulkan kebencian, dan kebencian melahirkan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat! Orang gagah tidak boleh dipermainkan oleh perasaan pribadi, tidak boleh menjadi mata gelap karena dendam. Kalau kau bicara tentang dendam, mengapa kau tidak mendendam atas kematian Ayahmu dan Ibumu?"

Bun Beng tertegun.

Tak pernah terpikirkan hal ini olehnya, apalagi setelah ia mendengar kata-kata Pendekar Siluman bahwa ayahnya adalah seorang datuk kaum sesat!

"Karena teecu tidak tahu bagaimana Ayah Bunda teecu tewas dan mengapa."

"Kalau kau tahu bahwa ayahmu dan ibumu mati terbunuh orang, apakah engkau juga akan mendendam dan akan mencari pembunuh mereka untuk kau balas dan bunuh pula?"

Bun Beng terkejut dan karena kini menyangkut kematian orang tuanya, tanpa ragu-ragu ia menjawab.

"Agaknya begitulah!"

"Baik, sekarang kau balaslah. Pinceng beri tahu siapa pembunuhnya. Ayahmu telah tewas dibunuh Ibumu, dan Ibumu juga tewas di tangan Ayahmu. Nah, bagaimana?"

Biarpun Bun Beng sudah menerima gemblengan lahir batin dan hatinya sudah kuat sekali, tidak urung mukanya berubah sedikit mendengar keterangan ini.

Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk, penuh pemasrahan kepada suhunya.

"Omitohud....! Seorang gagah tidak boleh menurutkan nafsu hati, melainkan harus selalu tenang seperti air telaga yang dalam. Jika pikiran tenang, maka nafsu tidak akan mudah mengganggu dan segala tindakan kita dapat dilakukan dengan tepat, menurutkan hasil pertimbangan pikiran dan akal budi. Sekarang kau melihat contoh tidak baiknya orang mendendam karena kematian orang tua atau pun guru. Orang tua maupun guru hanyalah manusia-manusia biasa. Bagaimana kalau kematian mereka itu dikarenakan perbuatan mereka yang jahat? Andaikata orang tuamu menjadi penjahat besar yang terbunuh oleh pendekar budiman, apakah engkau juga lalu mencari untuk membalas dendam kepada pendekar itu? Kalau demikian, engkau sama sekali bukan anak berbakti, melainkan sebaliknya karena engkau makin mencemarkan nama orang tua yang sudah cemar. Dan engkau bukan orang gagah karena engkau telah menyimpang dari hukum tak tertulis dalam jiwa orang gagah yaitu membela kebenaran! Karena itu, hapuskan dendam dari hatimu, sedikitpun tidak boleh ada sisanya. Kalau kelak engkau terpaksa membunuh orang-orang yang dahulu membunuh Supek Siauw Lam Hwesio karena engkau membela kebenaran dan karena mereka orang-orang jahat, hal itu lain lagi, bukan membunuh karena balas dendam."

Bun Beng cepat memeluk kaki gurunya.

"Ah, ampunkan teecu. Teecu jadi seperti buta, tidak melihat kenyataan itu, Suhu. Teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah Suhu."

"Aahhh, pinceng sebetulnya merasa perih di hati kalau bicara tentang bunuh-membunuh. Akan tetapi, kehidupan seorang gagah di dunia kang-ouw di mana terdapat kekacauan yang disebabkan orang-orang sesat, agaknya hal itu tidak dapat dicegah lagi. Kalau mungkin, Bun Beng, jauhilah perbuatan membunuh. Engkau akan lebih berjasa mengingatkan seorang sesat kembali ke jalan benar daripada membunuhnya. Nah, kiranya cukup. Hanya satu lagi pesan pinceng. Jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam perang, karena Siauw-lim-pai menentang perang. Dan jangan sekali-kali engkau melibatkan nama Siauw-lim-pai dengan permusuhan dengan pihak lain. Mengerti?"

"Baik Suhu, teecu akan mentaati perintah Suhu."

"Hemm...., kalau sampai kau langgar, agaknya pinceng sendiri yang akan turun tangan menghukummu, Bun Beng. Nah, berangkatlah dan hati-hatilah."

Bun Beng minta diri kepada semua hwesio di kuil, kemudian dia berangkat membawa bungkusan pakaian dan bekal sedikit perak, tanpa membawa senjata.

Dengan memiliki kepandaian seperti tingkatnya sekarang, dia tidak membutuhkan senjata lagi.

Setelah jauh meninggalkan kuil, Bun Beng teringat akan sepasang pedang yang disimpannya di puncak tebing tempat tinggal para bekas pejuang penyembah Sun Go Kong.

Juga kitab-kitab pelajaran Sam-po-cin-keng yang sudah dihafalnya dan yang sekarang secara diam-diam telah dilatihnya sampai mahir.

Setelah dia menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dari Ceng Jin Hosiang, tidak sukar baginya untuk menyelami Sam-po-cin-keng dan dia tidak berani berterus terang kepada suhunya karena ilmu silat itu amat ganas dan pantasnya hanya dipelajari kaum sesat!

Akan tetapi, hebat bukan main ilmu itu sehingga di luar pengetahuannya sendiri, kalau dia mempergunakan ilmu itu, agaknya Ceng Jin Hosiang sendiri belum tentu akan dapat menandinginya!

Di dalam perantauannya ini, Bun Beng membuka telinga dan tiada bosannya dia bertanya-tanya tentang keadaan dunia kang-ouw.

Dia terkejut sekali ketika mendengar akan sepak terjang kaum Thian-liong-pang yang katanya mulai menculik tokoh-tokoh penting dari partai-partai persilatan!

Juga dia mendengar akan munculnya tokoh-tokoh aneh dari Pulau Neraka yang sudah beberapa kali dahulu ia jumpai, maka diam-diam ia mengambil keputusan bahwa kalau dia bertemu dengan kaum Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, dia akan menentang mereka!

Hatinya bersyukur ketika ia mendengar keterangan bahwa kini tidak ada terdengar pergerakan dari Pulau Es, tanda bahwa Pendekar Siluman benar-benar tidak mau mencampuri segala keributan itu.

Juga heboh tentang Pedang Iblis dan kitab-kitab peninggalan Bu Kek Siansu yang lenyap, yang dahulu diperebutkan, kini tidak terdengar lagi.

Yang amat menarik hatinya adalah perbuatan kaum Thian-liong-pang.

Mengapa mereka itu menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua partai untuk beberapa hari lamanya kemudian mereka itu dibebaskan kembali?

Apa yang tersembunyi di balik perbuatan aneh ini?

Untuk mengambil sepasang pedangnya terlampau jauh, maka dia akan lebih dulu menyelidiki keadaan Thian-liong-pang dan kalau memang mereka itu melakukan penculikan-penculikan, hal ini akan ditentangnya.

Inilah kewajiban pertama dalam perjalanannya sebagai seorang pendekar!

Dalam perjalanannya menuju ke Thian-liong-pang dia bermalam dalam sebuah rumah penginapan di kota kecil Teng-li-bun.

Dia telah melakukan perjalanan jauh dan perlu beristirahat.

Niatnya akan bermalam di situ semalam, baru besok pagi akan melanjutkan perjalanan karena malam itu hujan membuat dia segan untuk bermalam di luar seperti biasanya dia bermalam di hutan atau di gubuk-gubuk sawah.

Dia ingin makan kenyang dan minum sedikit arak, kemudian tidur nyenyak dalam sebuah bilik tanpa gangguan.

Akan tetapi menjelang tengah malam, telinganya yang amat terlatih mendengar suara isak tangis tertahan.

Dia terbangun, memasang telinga dan mendapat kenyataan bahwa tangis itu adalah tangis seorang wanita yang ditahan-tahan, suaranya seperti tertutup bantal.

Dia menjadi bingung.

Tentu telah terjadi sesuatu yang membutuhkan pertolongannya.

Akan tetapi yang perlu ditolong adalah seorang wanita, dan hari telah tengah malam, bagaimana mungkin dia boleh memasuki kamar seorang wanita?

Dia sudah memasang telinga baik-baik dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lain dalam kamar sebelah itu, hanya si wanita yang menangis.

Karena suara isak tertahan itu seperti menggelitik hatinya, Bun Beng tak dapat menahan lagi lalu membuka jendela kamar dan tubuhnya melesat keluar jendela terus melayang ke atas genteng.

Dia berniat untuk mengintai dari atas dan melihat apakah yang terjadi dan mengapa wanita itu menangis.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak ada suara terdengar ketika ia melayang ke atas genteng sehingga tidak mengganggu para tamu rumah penginapan.

Dia membuka genteng di atas kamar sebelah dengan hati-hati sekali.

Akan tetapi baru saja dia menjenguk ke dalam dan melihat seorang wanita muda rebah di atas pembaringan, tiba-tiba lilin di kamar itu padam dan dia mendengar bersiutnya angin senjata rahasia dengan cepat dan kuat serta tepat sekali menyambar ke arah lubang genteng!

"Ciut-ciut-ciuutt!"

Tiga batang piauw menyambar dan berturut-turut Bun Beng menangkap tiga batang piauw itu dengan tangan kirinya.

"Bangsat Thian-liong-pang, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Terdengar suara wanita memaki disusul menyambarnya sesosok tubuh ke atas dan lubang itu jebol ditabrak seorang gadis yang berpakaian serba kuning.

Gerakan gadis itu cepat dan ringan sekali, kini sudah berdiri di depan Bun Beng dengan pedang di tangan dan langsung mengirim tusukan ke arah dada Bun Beng.

"Wuuuttt.... plakkk!"

Dengan tangan kanannya Bun Beng menampar pedang itu dari samping dan telapak tangannya kini tepat mengenai pedang yang menempel pada telapak tangannya!

Gadis itu berseru kaget, berusaha menarik kembali pedangnya namun sia-sia.

Pedangnya melekat di telapak tangan pemuda tampan yang berdiri tenang memandangnya itu.

Juga di bawah sinar bulan yang muncul setelah hujan berhenti tadi, gadis itu melihat tiga batang piauwnya berada di tangan kiri pemuda itu.

Celaka, pikirnya!

Yang datang adalah seorang tokoh Thian-liong pang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Mau apa lagi? Bunuhlah aku!"

Tiba-tiba gadis itu berkata penuh kebencian.

"Tenang dan sabarlah, Nona. Aku bukan orang Thian-liong-pang, sama sekali bukan!"

Nona yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu memandang penuh perhatian lalu membentak.

"Siapa mau percaya?"

Bun Beng tersenyum dan menghela napas, melepaskan pedang dan menyerahkan tiga batang piauw yang diterima oleh gadis itu dengan sambaran cepat seolah-olah ia khawatir kalau-kalau itu hanya siasat.

Bun Beng menggulung lengan bajunya, dan berkata.

"Periksalah! Adakah gambar naga di lengan kananku? Bukankah kata orang, semua anggauta Thian-liong-pang dicacah lengan kanannya dengan gambar naga kecil?"

"Huh!"

Gadis itu mendengus setelah dia melirik juga ke arah kulit yang halus itu sehingga ia terheran mengapa pemuda halus itu dapat memiliki sin-kang yang demikian hebat.

"Kalau bukan anggauta Thian-liong-pang, agaknya engkau seorang yang lebih hina lagi, seorang jai-hwa-cat!"

Bun Beng mengangkat kedua alisnya dan dia memandangi pakaiannya.

"Aihhh! Jai-hwa-cat? Adakah tampangku seperti penjahat cabul? Dan pakaianku? Aih, engkau terlalu sekali, Nona. Ataukah engkau hanya main-main?"

"Kalau bukan jai-hwa-cat atau penjahat, mau apa tengah malam buta membuka genteng kamar orang dan mengintai ke dalam?"

Gadis itu menyerang dengan kata-kata sungguhpun dia gendiri mulai ragu-ragu apakah orang muda yang bersikap wajar dan halus ini seorang penjahat.

Bun Beng tertawa.

"Salahku...., salahku....! Puas kau sekarang!"

Dia menunjuk hidung sendiri.

"Inilah upahnya kalau terlalu ingin memperhatikan orang lain! Terus terang saja, Nona, aku tadi sedang tidur nyenyak ketika terganggu.... eh, maaf, memang telingaku terlalu perasa, terlalu peka sehingga aku terbangun oleh tangismu. Aku menjadi curiga dan ingin sekali tahu mengapa di tengah malam buta ada wanita menangis. Aku hendak mengintai untuk melihat apa yang terjadi, sama sekali bukan berniat jahat, bolehkah aku mengetahui, mengapa kau menangis? Ahh, tentu ada hubungannya dengan Thian-liong-pang. Buktinya, engkau menyangka aku orang Thian-liong-pang...."

Bun Bang menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba wanita itu menangis terisak-isak!

"Eh, eh, bagaimana ini....?

Salahkah omonganku sehlngga menyinggung perasaanmu?"

Gadis itu masih menangis lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bun Beng.

Tentu saja Bun Beng menjadi bingung sekali, hendak mengangkat ba-ngun, merasa tidak pantas menyentuh tubuh seorang gadis.

"Eh, eh...., Nona. Bangkitlah, jangan begitu....!" (Lanjut ke

Jilid 14) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Mohon maaf atas kesalahanku tadi.... dan mohon pertolongan Taihiap yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan Ayahku....."

"Aku bukan seorang Taihiap (pendekar besar), Nona. Akan tetapi aku berjanji akan menolong. Ayahmu mengapakah? Harap kau suka berdiri agar enak kita bicara."

Gadis itu bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.

"Nah, ceritakanlah apa yang terjadi,"

Kata pula Bun Beng.

Kini sinar bulan makin terang dan tampak oleh pemuda ini betapa gadis itu amat manis wajahnya, wajah manis yang membayangkan kegagahan yang agak pudar oleh tangis tadi.

"Namaku adalah Ang Siok Bi...."

"Nama yang bagus...."

Tiba-tiba Bun Beng melihat sinar mata nona itu memandangnya tajam penuh kecurigaan dan alis yang hitam itu berkerut, maka teringatlah ia betapa tidak tepatnya ucapan yang tiba-tiba saja meluncur dari mulutnya itu karena ia kagum memandang wajah yang manis.

"Eh, maksudku.... teruskan ceritamu, Nona Ang...."

Sambungnya cepat-cepat dan gugup.

"Ayahku adalah Ang Thian Pa yang lebih dikenal dengan sebutan Ang Lojin, Ketua Bu-tong-pai...."

"Aihh! Kiranya Nona adalah puteri ketua partai besar, maaf kalau aku berlaku kurang hormat...."

Bun Beng memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada sambil membungkuk.

Siok Bi, gadis itu biarpun baru berusia delapan belas tahun, namun dia sudah banyak merantau dan sebagai seorang pendekar wanita yang muda dan cantik, tentu dia banyak mengalami gangguan dan banyak mengenal sikap laki-laki.

Maka kini alisnya berkerut ketika ia menyaksikan sikap Bun Beng yang agaknya sama sekali tidak mempedulikan ceritanya, melainkan tertarik dan kagum kepadanya!

Tadi telah ia saksikan kelihaian pemuda itu dan timbul harapannya untuk minta pertolongannya, akan tetapi kini melihat sikap Bun Beng, dia mulai ragu-ragu jangan-jangan pemuda ini adalah seorang jai-hwa-cat yang bersikap halus dan yang sedang mempermainkannya!

"Taihiap, harap berterus terang saja.

Engkau ini seorang pendekar yang suka mengulur tangan menolong orang yang sedang tertimpa malapetaka ataukah seorang dari kaum sesat?"

Bun Beng yang tadinya tersenyum dengan hati tertarik memperhatikan gerak-gerik dan terutama sekali gerakan bibir yang membuat wajah itu kelihatan amat manis, menjadi gelagapan mendengar pertanyaan itu.

Dia tentu saja tidak sadar akan sikapnya sendiri karena memang tidak dibuat-buat.

Selama bertahun-tahun dia berada di dalam kuil mempelajari ilmu, tiap hari hanya bergaul dan bertemu dengan para hwesio.

Yang dilihatnya hanyalah muka para hwesio dengan kepala gundul, sama sekali tidak indah dalam pandangannya.

Kini, sekali keluar mengembara bertemu dengan wajah begini manis, hati siapa tidak akan terpikat?

"Ang-siocia, ada apakah?

Mengapa engkau kelihatan marah kepadaku?"

"Pandang matamu itulah!"

Mau tidak mau Siok Bi membuang muka dan kedua pipinya menjadi merah.

Betapapun gagah wataknya sebagai pendekar wanita, namun dia masih seorang gadis remaja sehingga dia pun tidak terbebas daripada sifat wanita yang ingin dipuji dan dikagumi, apalagi oleh seorang pemuda setampan dan segagah Bun Beng!

"Pandang mataku?

Aihhh....

apakah aku tidak boleh memandang?

Kenapakah?

Engkau aneh sekali, Nona.

Baiklah aku akan memejamkan mata.

Nah, teruskan ceritamu!"

Dan Bun Beng benar-benar memejamkan kedua matanya.

"Ketika ayahku dan aku melakukan perjalanan menuju ke Siang-tan, sampai di dalam hutan di luar kota ini kami berhenti dan beristirahat, yaitu pagi hari tadi."

Gadis itu berhenti bercerita. Bun Beng yang masih memejamkan matanya itu menanti sebentar, lalu sebagai komentar dia hanya bisa mengeluarkan suara.

"Hemmm....!"

Lalu menanti lagi, akan tetapi lanjutan ceritanya tak kunjung datang.

"Mengapa diam?"

"Agaknya Taihiap tidak menaruh perhatian, perlu apa kulanjutkan? Kalau Taihiap tidak sudi menolong, aku.... aku pun tidak mau memaksa."

Suara itu terdengar menjauh dan ketika Bun Beng membuka matanya, nona itu sudah ber-lari pergi!

Sekali menggerakkan tubuhnya, Bun Beng sudah menyusul dan menghadang di depan Siok Bi.

"Eh-eh, bagaimana ini? Kau aneh sekali, Nona! Aku cukup memperhatikan ceritamu dan ingin menolong Ayahmu."

Diam-diam Siok Bi terkejut dan kagum.

Dia hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di depannya!

Akan tetapi ia cemberut dan berkata.

"Aku bicara kepada orang yang memejamkan mata seolah-olah tidak peduli, mana.... enak hatiku?"

Tiba-tiba Bun Beng tertawa saking geli hatinya. Memang pemuda ini memiliki watak periang. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya dan berkata.

"Wah, benar-benar aku tidak mengerti, Nona! Kalau aku memperhatikan ceritamu dengan membuka mata, pandang mataku mengganggumu. Kalau aku memejamkan mata, kau anggap aku tidak peduli, habis bagaimana? Harap kau lanjutkan. Percayalah, aku tidak mempunyai niat hati yang tidak baik terhadapmu! Ayahmu dan engkau pagi tadi beristirahat dalam hutan di luar kota ini. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"

Kini sinar bulan sepenuhnya menimpa wajah Bun Beng sehingga Siok Bi dapat memandang jelas.

Wajah yang tampan dan mulutnya seperti selalu tersenyum.

Pada saat itu, Bun Beng bicara sungguh-sungguh, akan tetapi matanya bersinar-sinar gembira dan bibirnya seperti orang tersenyum.

Kini mengertilah Siok Bi bahwa memang pemuda ini memiliki mata dan bibir yang seolah-olah selalu gembira dan tersenyum, sehingga tadi ia mengira bahwa mata pemuda itu "nakal"

Dan bibirnya tersenyum kurang ajar. Maka hatinya pun lega dan ia melanjutkan.

"Selagi kami beristirahat dan makan di bawah pohon, datang rombongan Thian-liong-pang. Ketika mereka mengenal ayah sebagai Ketua Bu-tong-pai, mereka lalu memaksa Ayah ikut dengan mereka untuk menghadap Ketua Thian-liong-pang!"

"Hemm, sungguh kurang ajar!"

Bun Beng membentak dan gadis itu mendapat kenyataan betapa dalam keadaan marah pun pemuda itu seperti orang ter-senyum.

"Tentu engkau dan Ayahmu menghajar mereka!"

"Itulah yang menyusahkan hatiku, Taihiap. Mereka lihai sekali. Ayah dikeroyok dan dirobohkan, lalu ditangkap dan dimasukkan ke kerangkeng."

"Apa? Dikerangkeng dan kau diam saja?"

Kalau belum mulai mengenal cara bicara Bun Beng seperti orang main-main, tentu gadis itu sudah marah lagi.

"Tentu saja aku melawan mati-matian, akan tetapi mereka amat lihai. Aku roboh tertotok, tak mampu berkutik. Setelah mereka pergi lama sekali, baru aku dapat bergerak. Mengejar sampai sore namun tak berhasil dan akhirnya aku sampai di sini dengan maksud besok akan melanjutkan perjalanan, mengumpulkan semua anggota Bu-tong-pai untuk menyerbu ke Thian-liong-pang membebaskan Ayah. Akan tetapi.... ah, akan makan waktu lama, mungkin terlambat.... dan aku sangsi apakah aku dapat melawan Thian-liong-pang yang amat kuat itu?"

"Ke mana Ayahmu dibawa lari? Ke jurusan mana?"

"Di luar kota ini di sebelah utara terdapat hutan, dan mereka membawa Ayah terus ke utara...."

"Aku akan mengejar mereka!"

Bun Beng berkelebat dan pergi dari depan gadis itu. Siok Bi bingung dan terkejut, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang. Ia berteriak.

"Tunggu, Taihiap! Aku belum tahu namamu dan aku ikut....!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Bun Beng dari bawah karena pemuda ini memasuki kamar mengambil bungkusan pakaian dan bekalnya.

"Jangan ikut, kau tunggu saja di sini, Nona. Namaku Gak Bun Beng!"

Mendengar suara dari dalam kamar di sebelah kamarnya, Siok Bi meloncat ke bawah dan memasuki kamar Bun Beng, akan tetapi pemuda itu sudah tidak ada dan ketika ia melompat lagi ke atas genteng, dia tidak melihat bayangan pemuda itu!

Ia menarik napas panjang.

"Hebat dia....!"

Kemudian ia pun mengambil pakaian dari kamarnya dan malam itu juga ia meninggalkan penginapan untuk mengejar ke utara.

Benar juga pemuda itu, pikirnya.

Kalau aku ikut, tentu perjalanannya tidak dapat dilakukan secepat kalau pemuda itu mengejar sendiri.

Hatinya menjadi besar dan ia membayangkan wajah tampan yang selalu tersenyum bibirnya dan berseri wajah dan matanya itu.

Kekhawatirannya tentang diri ayahnya agak berkurang karena ia percaya bahwa pemuda itu amat lihai dan tentu akan dapat menolong ayahnya.

Gak Bun Beng!

Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak pernah merasa mendengar nama ini di dunia kang-ouw.

Benar kata ayahnya bahwa sekarang banyak bermunculan orang-orang aneh yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tentu termasuk pemuda itu.

Bun Beng merasa penasaran dan marah sekali.

Kiranya benar seperti berita yang didengarnya.

Thian-liong-pang mengacau dunia kang-ouw, secara kurang ajar berani menculik seorang Ketua Bu-tong-pai di siang hari.

Benar-benar keterlaluan, seolah-olah di dunia ini sudah tidak ada hukum dan seolah-olah hanya Thian-liong-pang yang paling kuat.

Dia harus menentangnya dan menolong Ketua Bu-tong-pai, ayah dari gadis yang amat manis wajahnya itu.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Bun Beng melakukan pengejaran.

Dia mempergunakan ilmu lari cepat Cio-siang-hui yang dipelajarinya dari Ceng Jin Hosiang sehingga tubuhnya seperti terbang di atas rumput seolah-olah tidak menginjak tanah dan tubuhnya lenyap, yang tampak hanya berkelebatnya bayangannya yang meluncur cepat menuju ke utara!

Akan tetapi karena ia ketinggalan waktu selama sehari, pada keesokan harinya menjelang senja, barulah ia dapat menyusul rombongan orang Thian-liong-pang yang menawan Ketua Bu-tong-pai.

Dari jauh ia sudah melihat serombongan orang, sebanyak empat orang mendorong sebuah kereta kecil berbentuk kerangkeng di mana yang tampak hanya sebuah kepala yang bertudung lebar dan kedua tangan yang terbelenggu.

Hanya kepala dan kedua tangan yang tampak keluar dari dalam kerangkeng yang terbuat daripada papan tebal dan beroda dua.

Bun Beng mempercepat larinya, sebentar saja dia telah melewati rombongan empat orang itu, membalikkan tubuh dan menghadang, berdiri dengan tegak dan bertolak pinggang.

Melihat sikap pemuda yang datang dengan cepat sekali itu, rombongan itu berhenti dan empat orang itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian.

Juga orang tua bermuka gagah yang berada dalam kerangkeng memandang kepada Bun Beng.

Ketika Bun Beng memperhatikan empat orang itu diam-diam terkejut.

Memang benarlah berita yang ia dengar.

Orang-orang Thian-liong-pang amat aneh dan sikapnya menyeramkan.

Empat orang ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka tentulah orang-orang yang berilmu tinggi, dan sikap mereka itu rata-rata angkuh.

Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang mukanya pucat seolah-olah tidak berdarah, seperti muka mayat yang amat kurus sehingga mukanya itu mirip tengkorak, namun sepasang mata yang sipit itu mengeluarkan sinar tajam, dan di punggungnya tampak tergantung sebatang pedang.

Orang ke dua masih muda, paling banyak tiga puluh lima tahun usianya, tampan dan gagah, rambutnya terurai di atas kedua pundak dan punggungnya, kepalanya diikat sehelai tali yang mengkilap seperti sutera, Alisnya selalu berkerut dan sinar matanya membayangkan keangkuhan dan kekejaman, juga di punggungnya tampak terselip sebatang pedang.

Biarpun kedua orang ini tidak banyak bergerak, namun dapat diduga bahwa tentu ilmunya tinggi, dan membuat hati mereka tinggi pula.

Akan tetapi dua orang yang lain benar-benar menimbulkan ngeri kepada Bun Beng.

Sukar membedakan kedua orang itu karena baik pakaian, bentuk tubuh dan muka mereka kembar!

Dan keduanya pun memegang sepasang senjata gelang yang dipasangi lima duri meruncing dan mengkilap.

Berbeda dengan sikap kedua orang yang pendiam dan angkuh itu, dua orang kembar yang tinggi besar ini sikapnya kasar, seperti binatang buas dan merekalah yang langsung meloncat maju menghadapi Bun Beng.

Seorang di antara mereka membentak.

"Bocah sinting, siapa kau berani bersikap kurang ajar?"

"Minggir kau sebelum kupatahkan kedua kakimu!"

Orang ke dua membentak pula. Bun Beng memperlebar senyumnya dan tetap bertolak pinggang. Sambil melirik ke arah kerangkeng, dia bertanya.

"Apakah kalian ini penculik-penculik dari Thian-liong-pang? Dan apakah Locianpwe yang tertawan itu Ang Lojin Ketua Bu-tong-pai?"

"Benar orang muda. Aku adalah Ang Lojin. Hati-hatilah, jangan mencampuri urusan ini. Lebih baik pergilah karena aku sudah merasa kalah dan ingin menghadap Ketua Thian-liong-pang!"

Kakek di kerangkeng itu berkata.

"Bocah tak tahu diri! Ketahuilah bahwa kami benar dari Thian-liong-pang. Nah, setelah mendengar nama perkumpulan kami, engkau tidak lekas menggelinding pergi?"

Bun Beng dengan sikap tenang menggerakkan pundaknya, memandang kepada kedua orang kakek kembar yang mukanya bengis mengerikan itu sambil berkata.

"Sebenarnya aku mau pergi, akan tetapi sayang, empat orang sahabatku yang berada di sini tidak membolehkan aku pergi sebelum kalian membebaskan Ang Lojin!"

Mendengar ini, empat orang Thian-liong-pang itu cepat memandang ke sekeliling mereka.

Mereka terkejut sekali mendengar bahwa pemuda kurang ajar ini mempunyai empat orang sahabat.

Kalau empat orang itu hadir di sekitar mereka tanpa mereka ketahui, dapat dibayangkan betapa lihai empat orang itu.

Apalagi setelah mereka memandang ke sekeliling tidak dapat melihat gerak-gerik orang di situ, mereka menjadi makin hati-hati karena hal itu hanya menandakan bahwa empat orang sahabat pemuda ini benar-benar lihai.

"Orang muda, lekas suruh empat orang sahabatmu keluar agar kami dapat bicara dengan mereka!"

Seorang di antara kakek kembar berkata, sedangkan tokoh Thian-liong-pang muda sudah menggeser kaki mendekati kerangkeng sedangkan kakek bermuka tengkorak, sekali menggerakkan kaki tubuhnya sudah melayang ke atas tempat yang agak tinggi, di atas batu-batu.

Agaknya seorang muda menjaga kerangkeng itu dan si kakek bermuka tengkorak menjadi penjaga di tempat tinggi.

Sikap mereka yang tenang dan muka yang angkuh itu menimbulkan dugaan di hati Bun Beng bahwa tingkat mereka berdua itulah yang sesungguhnya tinggi, lebih tinggi daripada tingkat sepasang kakek kembar yang menghadapinya.

Hal ini pun menjadi tanda bahwa mereka memandang rendah kepadanya sehingga untuk menghadapinya cukup oleh kedua kakek kembar yang rendah tingkatnya!

Bun Beng tertawa dan berkata.

"Mau berkenalan dengan empat orang sahabatku? Awas, mereka lihai sekali, kalau kalian berkenalan dengan mereka, tentu kalian akan mereka robohkan dengan mudah!"

"Tak perla banyak menggertak!"

Bentak kakek kembar ke dua, akan tetapi tidak urung dia dan saudara kembarnya diam-diam melirik ke kanan-kiri dengan sikap agak gentar.

"Lekas suruh mereka keluar!"

"Mereka sudah berada di sini, di depanmu, apakah kalian buta?"

Kini kedua kakek kembar itu terbela-lak, dan benar-benar menjadi jerih.

Kalau ada empat orang berada di depan mereka tanpa mereka dapat melihatnya, hal itu hanya berarti bahwa empat orang itu bukanlah manusia, melainkan iblis-iblis.

Teringatlah mereka akan orang-orang Pulau Neraka, musuh utama mereka yang mereka takuti, akan tetapi pemuda ini kulit mukanya biasa saja, tentu bukan anggauta Pulau Neraka.

Ah, tentu hanya gertakan saja, akal bulus, akal kanak-kanak untuk menakut-nakuti mereka!

"Bocah, jangan main-main engkau!"

Seorang di antara mereka membentak.

"Inilah mereka!"

Bun Beng melonjorkan kaki tangannya bergantian ke depan.

Muka kedua kakek kembar itu menjadi merah, mata mereka melotot dan karena kepala mereka botak, Bun Beng teringat akan kera-kera baboon yang pernah menjadi kawan-kawannya.

Muka kedua orang kakek kembar ini mirip kera-kera itu!

Akan tetapi sebagai anggauta-anggauta Thian-liong-pang yang banyak pengalaman, menyaksikan sikap pemuda yang berani mempermainkan mereka dan yang amat tenang itu, dua orang kakek kembar tidak mau sembrono.

Seorang di antara mereka melangkah maju dan menegur.

"Orang muda, engkau siapakah berani mati mempermainkan kami dari Thian-liong-pang? Apa yang kau perbuat ini hanya dapat dicuci dengan darahmu dan ditebus dengan nyawamu. Maka sebelum mampus, mengakulah siapa engkau!"

Bun Beng menggelengkan kepala.

"Terlalu enak untuk kalian! Sudah terang kalian yang akan kalah, dan andaikata aku sampai mati pun, biarlah namaku menjadi rahasia dan setan penasaran, rohku akan mengejar-ngejar Thian-liong-pang!"

"Keparat!"

Kakek yang berada di depannya sudah menerjang dengan senjatanya yang aneh dan kiranya senjata gelang berduri itu digenggam dengan duri-durinya di depan, digerakkan secara cepat dan kuat sekali menghantam ke arah muka Bun Beng yang masih bertolak pinggang.

"Heeitt! Memang orang-orang Thian-liong-pang berhati kejam,"

Kata Bun Beng, dengan mudah ia mengelak ke kanan dan biarpun matanya melirik ke arah orang di depannya sambil tersenyum mengejek, namun telinganya dicurahkan untuk mengikuti gerakan kakek ke dua yang telah melompat ke belakangnya.

Ketua Bu-tong-pai yang sudah merasai kelihaian orang-orang itu, menjadi gelisah sekali.

Ia berterima kasih dan kagum akan munculnya pemuda tak terkenal yang jelas hendak menolongnya itu, akan tetapi ia merasa yakin bahwa pemuda itu tentu akan celaka.

Pemuda itu akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia saja dan hal inilah yang menggelisahkan hatinya, sama sekali bukan dia tidak mempunyai harapan tertolong.

Sudah banyak tokoh kang-ouw yang ditawan secara paksa oleh orang-orang Thian-liong-pang untuk dihadapkan Ketua mereka.

Belum pernah ada tokoh yang dibunuh, maka dia tidak merasa khawatir akan keselamatan dirinya sungguhpun ada hal yang lebih hebat lagi dalam peristiwa ini, lebih hebat dan penting daripada keselamatan dirinya, yaitu keselamatan nama besar Bu-tong-pai yang terancam dan dihina!

Kini pemuda yang hendak menolong dirinya itu terlalu sembrono dan berani mati mempermainkan orang-orang Thian-liong-pang, maka dia tidak akan merasa heran kalau nanti melihat pemuda itu roboh dan tewas di depan matanya.

"Orang muda, awas senjata itu beracun dan berbahaya! Larilah!"

Teriaknya ketika melihat betapa pemuda itu diserang dari depan dan belakang dengan dahsyat.

"Jangan khawatir, Locianpwe. Dua ekor kera ini hanya pandai menakut-nakuti anak kecil saja!"

Jawab Bun Beng sambil menggunakan gin-kangnya untuk melesat ke sana ke mari mengelak sambil tersenyum.

Dia sudah melihat bahwa biarpun ilmu silat kedua kakek itu aneh sekali, gerakannya cepat dan bertenaga, namun tidak terlalu cepat dan kuat baginya dan dia yakin akan dapat mengatasi mereka dengan mudah walaupun dia bertangan kosong.

Ketua Bu-tong-pai menjadi bengong.

Sungguh kagum dia karena pemuda itu benar-benar bukan hanya pandai mempermainkan orang, melainkan juga memiliki gerakan yang amat kuat dan cepat, dua kakinya dapat melangkah dengan baik sekali sehingga semua serangan kedua orang itu selalu mengenai angin kosong.

"Wuuuttt! Wah, galak amat!"

Bun Beng miringkan kepala untuk menghin-darkan hantaman gelang berduri dari belakang, berbareng ia mengirim tendangan ke depan mengarah sambungan lutut lawan di depan jari tangannya menyentil senjata yang melayang di depan hidungnya, menggunakan jari telunjuk menyentil ke arah sebuah di antara lima dari duri-duri gelang sambil mengerahkan sin-kang sekuatnya.

"Cringgg!"

Dan kakek itu memekik kaget.

Ternyata duri yang disentil jari itu telah patah dan telapak tangannya terasa panas dan perih sekali.

Hampir saja ia melepaskan sebuah gelangnya dan ia melompat ke belakang.

Juga kakek di depan Bun Beng yang diserang tendangan tadi cepat melompat ke belakang.

Mereka menjadi marah dan penasaran.

Kakek yang di belakangnya lalu mengeluarkan gerengan marah, tangan kirinya bergerak dan gelang berduri yang kehilangan sebuah durinya itu tiba-tiba meluncur ke arah Bun Beng, berputaran dan mengeluarkan suara bercuitan.

"Bagus....!"

Bun Beng diam-diam kagum juga.

Kiranya, senjata ini bukan hanya dipergunakan untuk menyerang dengan dipegangi, melainkan juga dapat menjadi senjata rahasia yang dilontarkan.

Dia mengelak dan lebih kagum lagi hatinya melihat betapa gelang yang berputaran menyambar kepalanya itu setelah luput dari sasarannya, kini dapat membalik dan kembali ke tangan pemiliknya!

Dia cepat membalik dan pada saat kakek itu menerima kembali senjatanya, Bun Beng sudah memukul dengan telapak tangannya, pukulan jarak jauh dengan pengerahan sin-kangnya.

"Wuuuttt!"

Angin pukulan yang kuat membuat kakek itu terhuyung-huyung mundur.

Akan tetapi kakek ke dua yang kini berada di belakang Bun Beng sudah melontarkan gelang kanan ke arah punggung pemuda itu.

"Awasss....!"

Ketua Bu-tong-pai berteriak kaget.

Namun tanpa memutar tubuhnya, Bun Beng mengulur tangan dan berhasil menangkap senjata itu, seolah-olah di belakang tubuhnya terdapat mata ke tiga!

"Senjata yang buruk!"

Bun Beng kini memutar senjata itu dengan gerakan yang mahir seolah-olah sejak kecil dia memang sudah biasa menggunakan senjata itu!

Tentu saja bukan demikian kenya-taannya.

Hanya karena dia telah digembleng oleh Ketua Siauw-lim-pai dan telah mempelajari delapan belas macam senjata, dan pernah pula diajar cara mempergunakan senjata gelang yang jarang dipakai di dunia kang-ouw, maka dia tidak asing dengan senjata ini, pula karena memang bakat yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali.

"Trang-cring-tranggg....!"

Tiga kali gelang berduri di tangan kedua orang kakek itu bertemu dan gelang kiri kakek yang di belakangnya patah menjadi tiga bertemu dengan gelang di tangan Bun Beng.

"Heh-heh-heh, sekarang kita masing-masing mempunyai sebuah gelang, jadi adil namanya, seorang satu! Masih mau dilanjutkan?"

Dia menantang dan mengejek.

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba kakek tua yang bermuka tengkorak melayang datang dan gerakannya membuat Bun Beng bersikap hati-hati karena melihat cara meloncatnya saja tingkat kepandaian kakek muka tengkorak ini sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan sepasang kakek kembar yang kasar.

Akan tetapi dasar watak Bun Beng suka main-main, dia menyambut kakek itu dengan tertawa.

"Apakah engkau mau mengeroyok pula? Marilah, biar lebih ramai!"

Kakek muka tengkorak itu tidak marah, hanya tetap tenang dan dingin ketika berkata.

"Thian-liong-pang tidak pernah memusuhi Siauw-lim-pai, apakah kini Siauw-lim-pai mendahului langkah mengumumkan perang terhadap Thian-liong-pang?"

Mendengar ini Bun Beng terkejut.

Ah, kiranya kakek ini demikian tajam pandang matanya sehingga mengenal bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai.

Juga kakek Ketua Bu-tong-pai terkejut dan cepat berkata.

"Orang muda yang gagah. Kalau engkau seorang murid Siuw-lim-pai, harap menyingkir. Aku tidak mau membawa-bawa Siauw-lim-pai terlibat dalam urusan ini."

Bun Beng merasa penasaran.

Dia sendiri sudah dipesan oleh gurunya agar jangan melibatkan Siauw-lim-pai dengan permusuhan.

Akan tetapi haruskah ia mundur dan membiarkan Kakek Bu-tong-pai itu tertawan dan yang terutama sekali, haruskah dia mengecewakan Siok Bi yang berwajah manis itu?

Membayangkan betapa sinar mata yang indah itu menjadi kecewa, murung dan bahkan mungkin menangis lagi, dia tidak tahan dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, siapa membawa-bawa Siauw-lim-pai? Ilmu silat di dunia ini tidak terhitung banyaknya, akan tetapi sumbernya hanya satu, yaitu mendasar segala gerakan pada pembelaan diri dan penyerangan. Kalau ada gerakan yang mirip dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, apa anehnya?"

Akan tetapi kakek bermuka tengkorak itu tidak puas.

"Orang muda, apa-kah engkau hendak menyangkal bahwa engkau adalah murid Siauw-lim-pai?"

"Aku tidak menyangkal apa-apa."

"Kalau begitu mengakulah, engkau murid partai mana?"

"Aku pun tidak mengaku apa-apa. Guruku banyak sekali, tak terhitung banyaknya sehingga aku lupa satu-satunya. Akan tetapi lihat, apakah ini ilmu silat Siauw-lim-pai?"

Setelah berkata demikian, Bun Beng menggerakkan gelang berduri di tangannya, sekali memutar lengan dia telah menyerang dua orang kakek kembar sekaligus.

"Trang-cring....!"

Dua kakek kembar itu menangkis kaget dan.... kedua senjata mereka patah-patah.

"Ah.... ini adalah jurus ilmu silat kami....!"

Kakek kembar berseru dan cepat menerjang marah dengan gelang mereka yang tinggal sepotong di tangan.

Bun Beng tersenyum dan menghadapi mereka dengan gerakan-gerakan aneh seperti yang dilakukan dua orang kakek itu.

Benarkah bahwa Bun Beng pernah mempelajari ilmu silat gelang berduri dua orang kakek kembar itu?

Tentu saja tidak.

Melihat pun baru sekali itu.

Akan tetapi Bun Beng memiliki daya ingatan yang kuat sekali sehingga sekali melihat dia sudah mengerti dan dapat mengingat serta menirunya!

Dia tadi ketika menghadapi pengeroyokan kedua orang kakek yang tingkatnya masih jauh lebih rendah darinya, mendapat banyak kesempatan untuk memperhatikan gerakan mereka sehingga kini ia dapat menirunya dengan baik, sungguhpun tentu saja hanya kelihatannya saja sama, padahal dasar yang menjadi landasan jurus-jurus itu lain sama sekali!

Kalau dua orang kakek kembar menjadi terkejut dan marah karena pemuda itu selain merampas senjata mereka, juga memukul mereka dengan ilmu mereka sendiri, adalah kakek muka tengkorak menjadi heran sekali.

Kalau murid Siauw-lim-pai, yang rata-rata angkuh dan mengandalkan ilmu sendiri, tidak mungkin mau melakukan jurus-jurus ilmu silat dua orang kakek kembar itu.

Dia pun mendapat kenyataan bahwa kakek kembar bukan lawan pemuda ini, maka dia lalu memberi tanda dengan mata kepada kawan-kawannya.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tubuh tokoh Thian-liong-pang muda itu sudah menyambar, didahului sinar hijau pedangnya, bagaikan bintang jatuh, sinar ini menyerbu ke arah Bun Beng.

"Bagus!"

Bun Beng memuji, benar-benar memuji karena gerakan orang yang tampan itu tangkas sekali.

Namun dengan mudah ia dapat mengelak.

Kakek muka tengkorak juga menggerakkan pedangnya yang bersinar kuning sehingga dalam sekejap mata Bun Beng sudah harus melesat ke sana-sini menghindarkan dirinya ditembus dua sinar pedang yang amat dahsyat.

Dia masih sempat memperhatikan dengan hati cemas ketika melihat bahwa kakek kembar sudah meninggalkannya dan mendorong pergi kerangkeng di mana Ketua Bu-tong-pai tertawan.

"Berhenti!"

Bun Beng berteriak dan gelang berduri di tangannya meluncur cepat, berputaran mengeluarkan suara berdesing menyambar ke arah kerangkeng.

"Krakkkk!"

Roda itu patah sehingga kerangkeng tak dapat didorong lagi.

Akan tetapi, dua orang kakek kembar itu tidak kehilangan akal, mereka lalu mengangkat kerangkeng, menggotongnya dan berlari pergi secepatnya.

Bun Beng tak dapat mengejar karena dia didesak oleh dua sinar pedang yang amat cepat dan berbahaya sehingga dia harus mencurahkan perhatiannya untuk melawan dua orang pengeroyok baru yang lihai ini.

Dua orang itu menjadi heran dan kagum bukan main.

Mereka telah mengerahkan kepandaiannya, dengan pedangnya mengeroyok pemuda yang bertangan kosong ini, namun tetap saja pemuda itu tidak dapat didesak karena selalu dapat mengelak cepat, bahkan balas menyerang mereka dengan pukulan-pukulan ampuh.

Mereka makin memperketat pengepungan dan mempercepat serangan dengan niat agar pemuda itu mengeluarkan ilmu silat Siauw-lim-pai.

Namun Bun Beng tidak mau dipancing dan tiba-tiba ia berseru keras, tubuhnya berkelebatan di antara sinar-sinar itu dan ia menyerang dengan ilmu silat yang ganasnya seperti ilmu setan!

Dua orang itu terdesak mundur dan makin terheran.

Pemuda ini memiliki ilmu silat yang aneh, pikir mereka.

Biarpun agak "berbau"

Dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, namun jelas bukan ilmu silat Siauw-lim-pai karena melihat keganasannya lebih mirip ilmu silat golongan sesat!

Tentu dia seorang tokoh yang amat lihai dan tinggi kedudukannya, pikir mereka.

Memang Bun Beng telah mempergunakan jurus-jurus ilmu silat dari Sam-po-cin-keng yang bernama Kong-jiu-jib-tin (Dengan Tangan Kosong Menyerbu Barisan) sehingga kedua orang itu tentu saja tidak mengenal ilmu ciptaan pendiri Beng-kauw ini!

Dua orang itu memberi isyarat lalu Si Kakek berkata.

"Kami tidak ingin bermusuhan dengan Siauw-lim-pai!"

Setelah berkata demikian, mereka melesat jauh dan lari pergi.

Bun Beng penasaran.

Dia tidak bernafsu untuk mengalahkan dua orang itu, apalagi membunuhnya, akan tetapi dia harus menolong Ketua Bu-tong-pai.

Maka dia pun lalu melompat dan mengejar, akan tetapi sengaja tidak menyusul mereka, hanya membayangi dari jauh.

Agaknya kedua orang itu juga sengaja memancing Bun Beng karena mereka itu berlari tidak secepat yang mereka dapat lakukan.

Hal ini pertama untuk memberi kesempatan kepada kakek kembar untuk lebih dulu sampai ke sarang mereka, ke dua kalinya karena memancing pemuda lihai itu yang tentu akan menarik perhatian Ketua mereka!

Bun Beng bukan seorang bodoh.

Dia cerdik sekali dan dapat memperhitungkan keadaan, maka dia pun dapat menduga bahwa tentu dua orang itu sengaja memancingnya.

Namun dia tidak takut.

Malah kebetulan, pikirnya.

Aku tidak perlu susah payah mencari sarang mereka.

Akan kutemui Ketua mereka, kupaksa agar membebaskan Ang Lojin dan lain-lain tawanan, dan kalau ada, dan memaksanya berjanji agar menghentikan perbuatan-perbuatan menculik orang-orang penting itu!

Sebetulnya apakah yang terjadi dengan Thian-liong-pang sehingga kini perkumpulan besar itu melakukan perbuatan aneh itu, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw dan ketua partai persilatan?

Sesungguhnya, tidaklah terjadi perubahan di Thian-liong-pang.

Ketuanya masih tetap Si Wanita berkerudung yang makin lama makin hebat ilmu kepandaiannya itu.

Seperti kita ketahui, wanita berkerudung yang aneh dan penuh rahasia ini, yang mukanya tidak pernah kelihatan oleh siapa pun juga, Bahkan para pembantunya yang bertingkat paling tinggi pun tidak ada yang pernah melihatnya, bukan lain adalah Nirahai, puteri Kaisar Kang Hsi sendiri yang terlahir dari selir berdarah Khitan campuran Mongol!

Ketika ia dijodohkan oleh kedua orang nenek sakti yang menjadi gurunya dan bibi gurunya, yaitu Nenek Maya dan Khu Siauw Bwee, menjadi isteri Suma Han, hatinya girang bukan main.

Diam-diam ia telah jatuh cinta kepada Pendekar Super Sakti yang berkaki tunggal itu.

Namun betapa kecewanya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suami yang dicintainya itu tidak menyetujui cita-citanya pergi ke Mongol sehingga mereka berpisah dengan hati hancur (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).

Dengan rasa hati berat karena sesungguhnya wanita ini amat mencinta suaminya, Nirahai berangkat ke Mongol.

Terlambat ia mengetahui bahwa ia telah mengandung!

Ingin ia kembali ke selatan mencari suaminya untuk memberi tahu hal ini, namun keangkuhannya sebagai bekas puteri kaisar mencegahnya.

Dia amat mencinta Suma Han, bahkan telah berkorban dengan kehilangan haknya sebagai puteri kaisar.

Dia telah kecewa karena setelah berjuang untuk kerajaan ayahnya, akhirnya dia menjadi seorang buruan!

Pukulan batin ke dua yang lebih kecewa lagi bahwa suami yang dibelanya itu ternyata tidak ikut bersama dia!

Namun masih timbul harapan di hatinya bahwa cinta kasih dalam hati Suma Han akan membuat suaminya itu kelak menyusulnya ke Mongol.

Namun harapannya ini buyar.

Sampai dia melahirkan anak perempuan, sampai bertahun-tahun ia menanti dan tinggal di istana Kerajaan Mongol, tetap saja tidak ada kabar berita dari suaminya!

Betapapun juga, wanita yang keras hati ini tetap tidak mau pergi mencari suaminya.

Kalau memang suaminya tidak mencintainya, dengan bukti tidak pernah menyusulnya, biarlah dia akan memperlihatkan bahwa dia tidak kalah keras hati!

Maka dia lalu meninggalkan puterinya kepada Pangeran Jenghan yaitu keponakan yang berkekuasaan besar dari Pangeran Galdan, dan dia sendiri merantau ke selatan.

Karena dia mendengar bahwa suaminya telah menjadi Majikan Pulau Es, maka dia lalu membuat perkumpulan yang kelak dapat ia pergunakan untuk menandingi nama besar Pulau Es, dan dipilihlah Perkumpulan Thian-liong-pang.

Di dalam cerita PENDEKAR SUPER SAKTI telah diceritakan tentang watak dan sifat Puteri Nirahai yang gagah perkasa, angkuh dan tidak pernah mau kalah, di samping kecantikannya yang luar biasa dan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi.

Mati-matian ia membela Suma Han yang dicintainya, bahkan ia telah mengorbankan nama, kedudukan dan kehormatannya untuk pendekar kaki tunggal yang dikaguminya itu.

Sebesar itu cintanya, sebesar itu pula sakit hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suaminya itu tidak mempedulikannya, tidak menyusulnya, bahkan tak pernah mencarinya sampai dia melahirkan seorang puteri!

Rasa sakit hati membuat Nirahai ingin memperlihatkan bahwa dalam hal kepandaian dan kebesaran, dia tidak mau kalah oleh suaminya!

Pergilah wanita sakti ini meninggalkan Mongol, merantau ke selatan dan ia menjatuhkan pilihannya kepada Perkumpulan Thian-liong-pang!

Perkumpulan Thian-liong-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang pernah mengalami jatuh bangun seperti juga perkumpulan-perkumpulan lain dan merupakan sebuah perkumpulan yang cukup tua usianya.

Usianya sudah lebih dari seratus tahun dan pendirinya dahulu adalah seorang kakek yang berjuluk Sin Seng Losu (Kakek Bintang Sakti) yang berilmu tinggi karena dia adalah murid keponakan dari Siauw-bin Lo-mo, seorang di antara datuk kaum sesat yang amat sakti.

Ketika perkumpulan ini terjatuh ke tangan mantu Sin Seng Losu yang bernama Siangkoan Bu, perkumpulan itu kembali ke jalan lurus dan tergolong perkumpulan bersih yang mengutamakan kegagahan dan berjiwa pendekar.

Akan tetapi, setelah Siangkoan Bu tewas dan perkumpulan itu dipimpin oleh murid Sin Seng Losu yang bernama Ma Kiu berjuluk Thai-lek-kwi dan dibantu oleh sebelas orang sutenya maka kembali Thian-liong-pang menjadi sebuah partai persilatan yang amat ditakuti karena tidak segan melakukan kejahatan mengandalkan kekuasaan mereka.

Terutama sekali Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) amat terkenal.

Mereka adalah Ma Kiu dan sute-sutenya yang merajalela di dunia kang-ouw.

Dalam keadaan seperti itu muncullah Siangkoan Li, putera mendiang Siangkoan Bu atau cucu dari Sin Seng Losu yang dengan bantuan Mutiara Hitam menentang para paman gurunya (baca ceritaMUTIARA HITAM).

Siangkoan Li ini lihai bukan main karena dia telah diterima menjadi murid dua orang kakek sakti yang setengah gila, yang berjuluk Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong.

Hanya sayang sekali, Siangkoan Li yang tadinya merupakan seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, bahkan menjadi sahabat baik Mutiara Hitam dan jatuh cinta kepada pendekar wanita perkasa itu, tidak hanya mewarisi kesaktian kedua orang gurunya, akan tetapi juga mewarisi keganasan dan kegilaannya!

Siangkoan Li mengamuk dan berhasil merampas Thian-liong-pang di mana dia menjadi ketuanya dan semenjak itu Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang penuh rahasia.

Perkumpulan ini tidak pernah menonjol di dunia kang-ouw, akan tetapi tidak ada yang berani lancang tangan mencari perkara dengan orang-orang Thian-liong-pang yang hidupnya aneh dan penuh rahasia.

Ilmu silat para anggauta Thian-liong-pang rata-rata amat tinggi dan dasar ilmu kepandaian mereka bersumber ilmu-ilmu yang aneh dan luar biasa dari Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, atau lebih tepat dari Siangkoan Li yang menyebarkan kepandaian itu kepada para anak buah dan murid-muridnya.

Setelah Siangkoan Li meninggal dunia dalam keadaan menderita batin karena cintanya yang gagal terhadap Mutiara Hitam dan selamanya tidak mau menikah, Dalam puluhan tahun terjadilah pergantian ketua baru beberapa kali dan mulailah terjadi kekacauan di dalam perkumpulan ini karena perebutan kursi ketua!

Dan semenjak itu, selalu ada ketegangan di antara para murid-murid kepala atau dewan pimpinan mereka yang selalu berusaha memperkuat diri untuk merampas kedudukan ketua.

Keadaan ini menimbulkan peraturan baru yang dipegang teguh oleh mereka, yaitu setiap tahun diadakan pemilihan ketua baru dengan jalan berpibu, mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai di antara mereka, tidak peduli wanita atau pria, tidak peduli saudara tua atau saudara muda dalam perguruan, dia yang berhak menjadi ketua sampai lain tahun diadakan pibu lagi di mana dia harus mempertahankan kedudukannya dengan taruhan nyawa!

Ya, dalam pibu antara orang-orang liar ini sering kali terjadi pembunuhan.

Mereka tidak segan saling membunuh di antara saudara sendiri untuk memperebutkan kursi ketua yang amat mereka rindukan karena kursi itu berarti kemuliaan, kemewahan, kehormatan dan nama besar!

Ketika Nirahai mendatangi perkumpulan yang hendak dipilihnya sebagai syarat untuk menandingi kebesaran Pulau Es yang dipimpin oleh Suma Han, suaminya yang dianggapnya menyia-nyiakan dan menyakitkan hatinya itu tepat terjadi di waktu Thian-liong-pang sedang mengadakan pibu tahunan yang selalu terjadi di ruangan belakang gedung perkumpulan yang amat luas dan terkurung pagar tembok yang tinggi dan atasnya dipasangi tombak-tombak runcing sehingga orang yang berkepandaian tinggi sekalipun jarang ada yang dapat melompat pagar tembok itu.

Seperti biasa, pibu diadakan di pekarangan luas yang dikurung oleh anak buah Thian-liong-pang yang menonton dengan penuh perhatian, ketegangan dan juga kegembiraan karena mereka itu tentu saja mempunyai pilihan calon ketua masing-masing sehingga keadaan hampir sama dengan orang-orang yang menonton adu jago.

Bahkan di antara anak buah itu ada yang bertaruh, bukan hanya bertaruh uang dan barang berharga, bahkan ada yang mempertaruhkan isterinya!

Pada waktu itu, Thian-liong-pang yang tidak hanya berganti-ganti ketua akan tetapi juga berpindah-pindah tempat itu berpusat di kota kecil Cin-bun yang letaknya di lembah Sungai Huang-ho, di sebelah utara kota Cin-bun di Propinsi Shantung.

Para penduduk Cin-bun mendengar akan pemilihan ketua, akan tetapi tidak ada yang berani mencampuri, bahkan mendekati kelompok bangunan besar yang dilingkungi pagar tembok bertombak itu pun merupakan hal yang berbahaya bagi mereka.

Para pembesar pemerintah Mancu pun tidak ada yang berani mencampuri, dan mereka ini sudah menerima perintah dari atasan bahwa pemerintah tidak ingin menciptakan permusuhan dengan perkumpulan yang kuat ini, maka pemerintah daerah yang mengawasi gerak-gerik mereka dan selama perkumpulan itu tidak melakukan perbuatan yang menentang pemerintah, pemerintah pun lebih suka untuk berbaik dengan mereka.

Menentang pun berarti tentu akan menimbulkan pemberontakan baru dan pemerintah tidak menghendaki hal ini karena setiap pemberontakan merupakan bahaya besar, dapat merupakan api yang membakar semangat perlawanan rakyat yang dijajah.

Pada waktu itu, Thian-liong-pang mempunyai anak buah yang jumlahnya dua ratus orang lebih, sebagian besar tinggal di Cin-bun, akan tetapi ada pula yang tinggal di dusun-dusun sekitar Propinsi Shantung dan membuka cabang-cabang Thian-liong-pang.

Akan tetapi pada waktu itu, semua pimpinan cabang berkumpul pula di pusat untuk menyaksikan pemilihan ketua baru melalui pibu, bahkan di antara mereka ada yang ingin melihat-lihat barangkali tingkat kepandaian mereka sudah cukup untuk dicoba mengadu untung ikut dalam pibu.

Dua ratus orang lebih anggauta Thian-liong-pang sudah berkumpul dan suasana menjadi riang gembira karena para anggauta itu sibuk saling bertaruh memilih jago masing-masing.

Para pimpinan rendahan yang mendapat tempat di bangku rendah yang berjajar di depan anak buah itu hanya mendengarkan tingkah anak buah mereka sambil tersenyum-senyum.

Mereka ini tentu saja tidak berani bertaruh seperti yang dilakukan anak buah mereka, hanya diam-diam mereka pun mempunyai pilihan masing-masing karena mereka sendiri masih merasa terlalu rendah tingkat kepandaiannya untuk coba-coba berpibu yang berarti mempertaruhkan nyawa.

Adapun pimpinan yang tingkatnya tinggi sudah pula berkumpul di atas kursi-kursi di tingkat atas ruangan yang dipisahkan dari pekarangan tempat pibu itu oleh lima buah anak tangga di mana ditaruh kursi gading untuk Sang Ketua, diapit-apit beberapa buah kursi untuk para pimpinan yang tinggi tingkatnya dan mereka inilah yang menjadi calon-calon penantang ketua lama.

Pada waktu itu tampak lima orang pemimpin tinggi yang telah duduk dengan tubuh tegak dan sikap angkuh, sinar mata mereka berseri seolah-olah mereka itu masing-masing telah merasa yakin akan memperoleh kemenangan dalam pibu yang hendak diadakan.

Kursi gading untuk Ketua masih kosong karena Ketuanya belum keluar, sedangkan seperangkat alat tetabuhan yang dipukul perlahan menyemarakkan suasana seperti dalam pesta.

Orang pertama dari para pimpinan tinggi adalah seorang kakek yang menyeramkan.

Mukanya seperti muka singa karena rambut di kedua pelipisnya disambung dengan jenggot yang melingkari wajahnya, kumisnya juga tipis seperti kumis singa.

Tubuhnya kekar penuh membayangkan tenaga yang amat kuat biarpun kakek ini usianya sudah mendekati enam puluh tahun.

Rambut dan cambang bauknya sudah berwarna putih, namun warna ini menambah keangkerannya karena membuat mukanya lebih mirip muka singa.

Sepasang matenya yang lebar menyinarkan cahaya kilat menyeramkan, namun sikapnya pendiam, pakaiannya sederhana dan dia duduk seperti seekor si-nga kekenyangan yang mengantuk!

Kakek ini sebenarnya merupakan saudara seperguruan tertua dan bahkan menjadi suheng dari Ketua yang sekarang, namun karena dia seorang berjiwa perantau dan petualang, maka dia tidak mempunyai nafsu untuk merebut kedudukan ketua, sungguhpun dalam hal kepandaian, masih sukar ditentukan siapa yang lebih unggul antara dia dan Sang Ketua.

Kakek ini sudah tidak dikenal lagi nama aselinya, lebih dikenal julukannya yang menyeramkan, yaitu Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Singa)!

Orang ke dua juga seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, kepalanya gundul akan tetapi dia bukanlah seorang hwesio karena dia berjenggot dan berkumis dan berpakaian seperti seorang pelajar, bersikap halus namun matanya liar seperti mata orang yang tidak waras pikirannya.

Kelihatannya kakek gundul ini lemah, duduk memegangi lengan kursi dan kadang-kadang kedua tangannya bergerak menggigil seperti orang buyuten, kepalanya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari mengangguk-angguk dan mulutnya kadang-kadang tersenyum geli seolah-olah ada setan tak tampak membadut di depannya.

Namun jangan dianggap remeh kakek ini karena dia pun merupakan suheng dari Sang Ketua, dan sute dari Sai-cu Lo-mo.

Namanya Chie Kang dan julukannya tidak kalah menyeramkan dari suhengnya karena di dunia kang-ouw dia dikenal sebagai Lui-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin dan Kilat)!

Orang ke tiga adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tinggi besar tubuhnya, wajahnya merah seperti orang sakit darah tinggi, matanya melotot jarang berkedip, hidungnya besar merah tanda sifat gila perempuan, Pakaiannya seperti seorang jago silat dan di punggungnya tampak gagang sebatang golok besar.

Inilah Twa-to Sin-seng (Bintang Sakti Golok Besar) Ma Chun yang amat disegani dan ditakuti karena wataknya yang kasar, terbuka, dan kurang ajar terhadap wanita tanpa tedeng aling-aling lagi!

Orang ke empat adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, wajahya tampan sekali, bahkan begitu halus gerak-geriknya, begitu merah bibirnya dan begitu tajam memikat kerling matanya sehingga dia lebih mirip seorang wanita!

Sepasang pedang tergantung di pinggangnya, pakaiannya biru, dari bahan sutera halus dan laki-laki tampan ini termasuk seorang yang pesolek.

Sayangnya, sinar matanya yang bagus itu mengandung kekejaman dan juga kesombongan yang memandang rendah semua orang!

Dia ini pun bukan orang biasa dan merupakan di antara para pemimpin tinggi yang telah membuat nama Thian-liong-pang menjadi nama besar dan tenar.

Pedangnya amat ditakuti orang dan dia dijuluki Cui beng kiam (Pedang Pengejar Arwah), namanya Liauw It Ban.

Kalau suhengnya, Ma Chun, terkenal sebagai seorang laki laki gila perempuan dan suka mempermainkan wanita, Liauw It Ban ini lebih hebat lagi karena dia seorang mata keranjang yang berwatak sadis, senang sekali menyiksa wanita yang menjadi korbannya!

Betapapun juga, dia dan suhengnya tidak pernah mengumbar hawa nafsu iblis itu di daerah sendiri karena mereka tunduk akan perintah ketua mereka agar tidak mengotorkan nama Thian-liong pang di daerah sendiri sehingga tidak mendapat kesan buruk terhadap pemerintah.

Karena itu, namanya lebih tersohor di daerah lain di luar propinsi.

Orang ke lima akan mendatangkan rasa heran bagi orang luar Thian liong-pang karena dia paling tidak patut menjadi anggauta dewan pimpinan perkumpulan besar itu.

Dia adalah seorang wa-nita yang masih muda, kurang lebih dua puluh tujuh tahun usianya, cantik manis dengan pakaian sederhana namun tidak dapat menyembunyikan lekuk lengkung tubuhnya yang sudah matang.

Wanita ini merupakan saudara seperguruan termuda, namun dia memiliki ilmu kepandaian di luar ilmu keturunan ilmu para Pimpinan Thian liong pang karena dia telah menerima ilmu-ilmu dari mendiang suaminya, seorang murid dari Bu tong pai yang lihai.

Suaminya tewas setahun yang lalu ketika berusaha memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua sehingga wanita ini yang bernama Tang Wi Siang, adalah seorang janda kembang yang harum dan membuat banyak pria tertarik dan ingin sekali memetiknya.

Terutama sekali kedua orang suhengnya sendiri, Ma Chun dan Liauw It Ban yang pada waktu itu pun seringkali melayangkan sinar mata ke arahnya.

Bahkan beberapa kali Ma Chun menelan ludah kalau pandang matanya menyapu tubuh sumoinya yang penuh gairah.

Liauw It Ban juga memandang dengan sinar mata penuh gairah, akan tetapi ia tersenyum senyum dan memasang aksi setampan mungkin untuk menundukkan hati sumoinya yang sudah menjadi janda itu.

Namun, Tang Wi Siang duduk dengan tenang dan sikapnya dingin sekali, seperti sebongkah es membeku.

Namun, di luar tahu lain orang, diam diam ia menyapukan pandang matanya yang tajam itu ke arah Liauw It Ban, suhengnya yang tampan.

Dahulu sebelum suaminya tewas, dia tidak mempedulikan suhengnya yang tampan ini, bahkan sebelum ia menikah, ia tidak pernah melayani rayuan suhengnya.

Akan tetapi sekarang, setelah setahun lamanya dia menjanda, setelah merasa tersiksa hatinya karena kehilangan rayuan dan cinta kasih seorang pria yang pernah dinikmatinya hanya beberapa tahun lamanya, diam diam sering jantungnya berdebar kalau membayangkan suhengnya yang tampan itu menggantikan mendiang suaminya!

Lima orang inilah, bersama Sang Ketua sendiri, yang menjadi tokoh-tokoh utama dari Thian liong pang dan memang mereka berenam memiliki kepandaian yang tinggi, memiliki keistimewaan masing--masing sehingga sukar untuk dikatakan siapa di antara mereka yang paling lihai.

Dan kini, sudah dapat dibayangkan bahwa dalam pibu perebutan kedudukan ketua, lima orang inilah yang akan berani maju untuk berpibu melawan Sang Ketua, karena selain mereka, siapa lagi yang akan berani maju?

Tiba-tiba tetabuhan dipukul keras dan terdengar aba aba dari komandan upacara, yaitu seorang pemimpin rendahan yang memberi tahu akan munculnya Sang Ketua.

Semua anggauta Thian liong pang serentak bangkit memberi hormat, dan lima orang itulah yang berdiri dengan tenang dan biasa menyambut munculnya Si Ketua yang ditunggu tunggu sejak tadi.

Orang takkan merasa heran setelah melihat munculnya Ketua Thian liong-pang karena memang patutlah orang ini menjadi ketua.

Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa sehingga Ma Chun yang tinggi besar itu hanya setinggi pundaknya!

Ketua Thian liong pang ini tingginya seimbang dengan besar tubuhnya.

Langkahnya lebar dan berat seperti langkah seekor gajah, lantai sampai tergetar dibuatnya.

Pakaiannya mentereng akan tetapi ketat dan membayangkan tonjolan otot otot yang besar.

Kedua lengannya sampai ke jari tangannya penuh bulu hitam kasar, kepalanya yang besar juga berambut hitam kasar seperti kawat-kawat baja.

Alisnya tebal hampir persegi, matanya bulat dengan manik mata hitam amat kecil sehingga kelihatannnya mata itu putih semua, hidungnya kecil akan tetapi mulutnya besar seperti terobek kedua ujungnya.

Jenggot dan kumisnya dipotong pendek, kaku seperti sikat kawat!

Kulitnya yang kelihatannya tebal seperti kulit badak itu berkerut-kerut, agak hitam mengingatkan orang akan kulit buaya yang tebal, keras, dan lebat!

Inilah dia Phang Kok Sek, Ketua Thian liong pang yang telah mewarisi Hwi tok ciang (Tangan Racun Api) dari leluhur Thian liong pang, yaitu Lam kek Sian ong!

Tahun yang lalu, dalam pibu dia telah menewaskan ketua lama yang menjadi paman gurunya sendiri, menewaskan pula suami Tan Wi Siang dan beberapa orang lain lagi, bahkan melukai Ma Chun yang menjadi sutenya.

Dengan gerakan kedua tangannya yang kaku Ketua ini mempersilakan saudara saudara seperguruannya untuk duduk kembali.

Dia sendiri menduduki kursi gading, dan semua anak buah lalu duduk pula, para pemimpin rendah duduk di bangku dan para anggauta duduk di atas lantai yang terbuat dan batu persegi yang lebar, keras dan berwarna hitam.

Seperti biasa, mereka itu merupakan setengah lingkaran menghadap ke arah tempat para pimpinan duduk, yaitu di atas anak tangga dan di depan atau sebelah bawah anak tangga itu merupakan ruangan yang sengaja dikosongkan karena di situlah biasanya diadakan pibu antara pimpinan untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ketua baru karena memiliki ilmu kepandaian tertinggi.

Tempat pibu yang berbahaya karena lantai ubin batu itu amat keras sehingga sekali terbanting, tulang bisa patah, apalagi kalau kepala yang terbanting bisa pecah!

Seperti sudah menjadi kebiasaan setiap diadakan pibu pemilihan ketua baru, Thian liong pangcu yang bertubuh seperti raksasa memberi isyarat dengan kedua tangan ke atas, menyuruh semua orang tidak mengeluarkan suara berisik.

Setelah keadaan menjadi hening, dia bangkit berdiri dan mengucapkan kata kata yang sudah dikenal baik oleh semua anggauta.

"Saudara sekalian, hari ini kita berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru seperti yang tiap kali diadakan sesuai dengan kehendak dewan pimpinan. Aku sendiri sebagai ketua, kedua orang Suheng, dua orang Sute, dan Sumoiku sebagai anggauta dewan pimpinan telah bersepakat untuk mengadakan pemilihan ketua baru pada hari ini sesuai dengan kebiasaan dan peraturan perkumpulan kita. Seperti telah menjadi kebiasaan Thian liong pang pula, aku sebagai ketua harus mempertahankan kedudukanku sebagai ketua dan dia yang dapat mengalahkan aku dan kemudian keluar sebagai orang terkuat, dialah yang berhak menjadi ketua baru tanpa ada tantangan dari siapapun juga dan memiliki hak mutlak untuk menjadi Ketua Thian liong pang. Luka atau mati dalam pibu tidak boleh mengakibatkan dendam dan kebencian di antara saudara seperkumpulan, karena pibu ini diadakan bukan karena urusan pribadi, melainkan untuk pemilihan ketua dan demi kepentingan dan nama besar Thian liong pang. Aku sudah selesai bicara dan di antara para anggauta biasa dan pimpinan yang ingin memasuki pibu, harap berdiri dan menyatakan pendapatnya."

Setelah berkata demikian, Ketua yang bertubuh seperti raksasa itu duduk kembali, kedua lengannya yang besar ditaruh di atas lengan kursi gading, tubuhnya memenuhi kursi itu dan pandang matanya menyapu semua orang yang hadir penuh tantangan.

Namun diam diam ia melirik ke arah dua orang suhengnya, yaitu Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang.

Ketua ini tidak gentar menghadapi dua orang sutenya dan seorang sumoinya karena merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan mereka.

Namun dia mengerti bahwa kalau dua orang suhengnya itu memasuki pibu, dia harus berhati-hati karena akan bertemu lawan yang berat.

Sai cu Lo mo yang sudah berusia enam puluh tahun itu adalah seorang perantau dan sejak dahulu tidak pernah memasuki pibu perebutan kursi ketua karena baginya, menjadi ketua berarti harus selalu berada di Thian liong pang dan agaknya dia tidak mau mengorbankan kesukaannya merantau dengan menjadi ketua.

Adapun Lui hong Sin ciang Chie Kang adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai ambisi, belum pernah mengikuti pibu pemilihan ketua, lebih senang duduk termenung, atau bersamadhi atau diam diam melatih ilmu silatnya, kalau tidak tentu dia tenggelam dalam kitab kitab kuno karena dia adalah seorang kutu buku yang karena terlalu suka membaca tanpa mempedulikan waktu, Sampai kadang-kadang matanya basah dan merah, sedangkan kedua tangannya menggigil buyuten!

Betapapun juga, Phang Kok Sek maklum bahwa suhengnya yang ke dua ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia masih belum berani memastikan apakah dia akan menang melawan Ji suhengnya ini.

Karena ada kekhawatiran ini, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat twa suhengnya, Sai cu Lo mo sebagai orang pertama yang bangkit berdiri dari kursi di ujung sebelah kanannya.

Juga para anggauta menjadi heran dan tegang karena maklum bahwa kalau yang tua tua ini sudah ikut pibu, tentu akan ramai sekali pertandingan antara saudara saudara seperguruan itu.

Sai cu Lo mo mengelus brewoknya yang putih sambil tersenyum sebelum bicara, kemudian ia berkata.

"Harap semua saudara jangan salah menduga. Aku lebih suka merantau di alam bebas daripada harus terikat di atas kursi gading sebagai ketua! Sekarang pun aku masih belum mengubah kesenanganku dan aku tidak akan mengikuti pibu pemilihan ketua, hanya ada sedikit hal yang perlu kukemukakan. Siapa pun yang akan menjadi ketua baru, mulai sekarang harus dapat mengendalikan Thian liong pang dengan baik, mencegah penyelewengan para anggauta yang hanya akan merusak nama besar Thiang liong pang. Hentikan perbuatan perbuatan maksiat yang rendah dan yang menyeret Thian liong pang ke lembah kehinaan, karena kita bukanlah angauta anggauta perkumpulan rendah, bukan segerombolan penjahat penjahat kecil yang mengandalkan nama perkumpulan untuk melakukan perbuatan menjijikkan seperti yang sering kudengar yaitu berlaku sewenang wenang, memperkosa wanita, dan sebagainya. Kalau perbuatan-perbuatan ini tidak dihentikan, kalau Ketua baru tidak mampu mengendalikan, hemmm.... aku tidak mengancam, akan tetapi terpaksa aku akan turun tangan menantangnya dan mungkin akan timbul hasratku untuk menjadi ketua!"

Setelah berkata demikian, kakek muka singa itu duduk kembali dan melenggut seperti orang hendak tidur!

Keadaan menjadi sunyi, kemudian terdengar bisik bisik di antara para anggauta yang sebagian besar merasa tersinggung dan tidak senang dengan ucapan itu.

Adapun Phang Kok Sek, Sang Ketua, menjadi merah mukanya, terasa panas seperti baru saja menerima tamparan.

"Cocok sekali!"

Tiba-tiba Lui hong Sin ciang Chie Kang berseru dan bangkit dari kursinya, suaranya tinggi nyaring sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang tenang dan kelihatan lemah.

"Jangan membikin malu nenek moyang kita yang gagah perkasa, Siangkoan Li Su couw yang pernah menjadi sahabat baik pendekar wanita sakti Mutiara Hitam!"

Setelah berkata demikian, Lui hong Sinciang Chie Kang duduk kembali.

Biarpun ucapan kedua orang suhengnya itu merupakan tamparan dan teguran tersembunyi, yang ditujukan kepadanya, namun hati Phang Kok Sek menjadi lega karena jelas bahwa kedua orang suhengnya itu tidak mau memasuki pibu mem-perebutkan kursi ketua!

Kini tinggal dua orang sutenya dan seorang sumoinya, karena selain mereka bertiga, siapa lagi yang berani memasuki pibu?

Dia melirik ke arah kedua orang sutenya dan sumoinya.

Hampir berbareng, Twa to Sin seng Ma Chun dan Cui beng kiam Liauw It Ban bangkit berdiri memandang ketua mereka juga suheng mereka sambil berkata.

"Aku hendak memasuki pibu!"

Kata Ma Chun.

"Dan aku juga ingin mencoba-coba, memasuki pibu pemilihan ketua baru!"

Kata Liauw It Ban. Setelah kedua orang itu duduk kembali, Tang Wi Siang bangkit berdiri. Janda muda yang cantik jelita ini berkata tenang.

"Aku ingin memasuki pibu, akan tetapi hendaknya Pangcu dan sekalian Suheng dan saudara sekalian maklum bahwa aku merasa tidak cukup untuk menjadi ketua...."

"Sumoi, aku bersedia membantumu mengatur pekerjaan ketua!"

Tiba-tiba Liauw It Ban berseru dan matanya memandang dengan sinar penuh arti.

Kedua pipi wanita itu berubah merah, jantungnya berdebar karena maklum apa yang tersembunyi di balik ucapan itu, apalagi ketika ia melihat banyak mulut tersenyum senyum maklum, membuat dia merasa lebih jengah lagi.

"Terima kasih, Liauw suheng. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi ketua, juga jangan disalah artikan bahwa aku memasuki pibu karena mendendam atas kematian mendiang suamiku. Sama sekali tidak, aku memasuki pibu setelah selama ini aku melatih diri memperdalam ilmu silat dan semata-mata hanya untuk mempertebal keyakinan bahwa orang yang menjadi ketua perkumpulan kita memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku sehingga boleh dipercaya dan diandaikan utuk menjunjung nama dan kehormatan Thian liong pang!"

Girang sekali hati Phang Kok Sek mendengar ini dan diam diam ia mengambil keputusan untuk memaafkan sumoinya yang cantik itu dan tidak membunuhnya.

Akan tetapi kedua orang sutenya Ma Chun dan Liauw It Ban harus ia tewaskan dalam pibu itu karena kalau sekali ini mereka gagal, pada lain kesempatan tentu mereka itu akan mencoba lagi dan hal ini merupakan bahaya terus menerus bagi kedudukannya.

Ia segera bangkit berdiri dan berkata.

"Terima kasih atas wejangan kedua Suheng dan tentu saya akan berusaha memperbaiki keadaan perkumpulan kita. Seperti saudara sekalian telah mendengar, yang memasuki pibu untuk kedudukan ketua baru hanyalah Ma sute dan Liauw sute, sedangkan Sumoi hanya akan menguji kepandaian Ketua baru yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pibu ini. Kurasa tidak ada orang lain lagi yang akan memasuki pibu hari ini!"

"Ada!"

Tiba-tiba terdengar suara yang bening merdu, suara wanita! "Akulah yang akan memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua Thian liong pang!"

Semua orang menengok dan memandang dengan penuh keheranan kepada seorang wanita yang kepalanya berkerudung sutera putih dan tahu tahu telah berdiri di dalam ruangan itu.

Bagaimana mungkin orang ini masuk?

Semua pintu masih tertutup, dan tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi dan atasnva dipasangi tombak tombak runcing mengandung racun!

"Engkau siapa?"

Phang Kok Sek membentak dengan suara menggeledek karena marah.

Terdengar suara ketawa kecil di balik kerudung sutera itu dan dengan langkah tenang wanita berkerudung itu memasuki ruangan sampai di bagian tengah yang kosong, di bawah anak tangga kemudian berkata.

"Pangcu, siapa aku bukanlah hal penting. Akan tetapi kalau kalian semua ingin tahu juga, akulah calon Ketua baru dari Thian liong pang, calon Ketua kalian. Aku memasuki pibu untuk mendapatkan kedudukkan Ketua Thian liong-pang."

Phang Kok Sek bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah wanita berkerudung itu.

"Tidak mungkin! Engkau telah melakukan dua pelanggaran. Pertama, engkau sebagai orang luar berani memasuki tempat ini tanpa ijin, kesalahan ini saja sudah patut dihukum dengan kematian. Ke dua, pibu kedudukan Ketua Thian liong pang hanya dilakukan di antara anggauta sendiri, tidak boleh dicampuri orang dari luar! Hayo, buka kedokmu dan perkenalkan dirimu. Karena engkau seorang wanita, mungkin sekali kami dapat memberi ampun."

Kembali wanita itu tertawa, halus merdu dan penuh ejekan namun cukup membuat tulang punggung yang mendengarnya terasa dingin.

"Phang Kok Sek, biarpun engkau telah menjadi Ketua Thian liong pang, ternyata engkau agaknya tidak tahu atau lupa akan sejarah Thian liong pang dan riwayat tokoh-tokoh besarnya di waktu dahulu. Dahulu, pendekar besar Siongkoan Li telah diusir dari Thian liong pang, dan dianggap sebagai (Lanjut ke

Jilid 15) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 orang luar karena perbuatan perbuatannya yang menentang Thian liong pang dan karena menjadi murid dari kedua Sian ong Kutub Utara dan Selatan.

Akan tetapi kemudian dia kembali dan merampas Thian liong pang menjadi ketuanya!

Bukankah itu berarti seorang luar dapat menjadi Ketua Thian liong pang?

Dan lupakah engkau kepada Gurumu sendiri, Guru semua anggauta dewan pimpinan Thian liong pang ini?

Siapakah Guru kalian?

Bukankah guru kalian mendiang Kim-sin to Sai kong adalah seorang pertapa dari Kun lun san yang sama sekali bukan anggauta Thian liong pang tadinya?"

Keenam pimpinan Thian liong pang terkejut sekali.

Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua rahasia itu yang menjadi rahasia moyang para pimpinan Thian liong pang?

"Siapakah engkau?"

Kembali Phang Kok Sek bertanya.

"Aku adalah calon Thian liong pangcu,"

Wanita berkerudung menjawab. Tiba-tiba Sai cu Lo mo berkata setelah menatap sepasang mata di balik kerudung itu dengan tajam.

"Toanio, siapa pun adanya engkau, caramu masuk dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau seorang pemberani. Akan tetapi ketahuilah bahwa seorang yang ingin menjadi Ketua Thian liong pang bukanlah melalui pibu, melainkan merupakan perampas perkumpulan yang harus lebih dahulu mengalahkan seluruh pimpinan...."

"Memang aku datang untuk mengalahkan kalian semua atau siapa saja yang menentangku menjadi Ketua Thian liong-pang!"

Wanita itu menjawab seenaknya.

"Nah, aku menyatakan diriku sebagai Ketua Thian liong pang yang baru! Siapa yang akan menentang? Boleh maju!"

Para anggauta Thian liong pang memandang dengan hati tegang dan juga gembira karena mereka merasa yakin bahwa munculnya wanita aneh ini akan mengakibatkan pertandingan yang amat menarik.

Tadinya mereka sudah merasa kecewa ketika mendengar ucapan Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang karena maklum bahwa dua orang tua itu tidak memasuki pibu sehingga pertandingan yang akan terjadi di antara Ketua dan dua orang sutenya dan seorang sumoinya tidak akan menarik hati.

Sementara itu, melihat sikap wanita berkerudung, enam orang pimpinan Thian liong pang menjadi marah dan diam diam Phang Kok Sek memberi tanda dengan matanya kepada Cui beng-kiam Liauw It Ban.

Mereka berenam adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi pula, maka biarpun mereka ditantang, mereka merasa malu untuk maju mengeroyok.

Pula, Phang Kok Sek yang cerdik sengaja menyuruh sutenya maju, selain untuk menyaksikan dan mengukur kepandaian wanita berkerudung juga andaikata terjadi sesuatu dengan diri Liauw It Ban hanya berarti bahwa dia kehilangan seorang di antara saingan saingannya!

Akan tetapi betapa kaget hatinya, dan juga para pimpinan lain ketika wanita itu mendahului Liauw It Ban yang hendak bangun menghadapi Si Pedang Pengejar Roh itu sambil berkata.

"Nah, engkau sudah menerima perintah Suhengmu untuk melawan aku. Majulah!"

Bukan main tajamnya pandang mata di balik kerudung sutera itu sehingga isyarat Sang Ketua dengan matanya dapat ia tangkap!

Liauw It Ban meloncat bangun dan ketika tangan kanannya bergerak, tampak sinar berkelebat, pedangnya telah berada di tangan kanan.

Ia tersenyum mengejek, melintangkan pedang depan dada dan menggunakan telunjuk kirinya menuding ke arah muka berkerudung itu.

"Perempuan sombong! Agaknya engkau belum mengenal aku, maka engkau berani membuka mulut besar! Lebih selamat bagimu kalau engkau membuka kerudungmu agar dapat kulihat wajahmu. Kalau wajahmu sehebat tubuhmu, hemm.... agaknya aku masih dapat mengampunimu asal engkau tahu bagaimana harus membalas budi, ha ha!"

Betapa kagetnya ketika laki laki berusia tiga puluh tahun yang tampan dan pesolek ini mendengar suara dari balik kerudung, suara yang merdu namun mengandung ejekan.

"Cui beng kiam Liauw It Ban, siapa tidak mengenal orang rendah seperti engkau ini? Engkau orang ke lima dari enam Pimpinan Thian liong pang, dan sudah cukup engkau mengotorkan Thian liong-pang dengan perbuatan perbuatanmu yang kotor, memperkosa wanita wanita baik-baik, menyiksa orang. Engkau seorang penjahat cabul yang berhati keji dan se-sungguhnya engkau tidak patut menjadi tokoh Thian liong pang. Kedatanganku memang untuk menjadi Ketua Thian-liong pang dan sekaligus membersihkan Thian liong pang dari monyet monyet kotor macam engkau!"

"Singggg....!"

Tampak sinar kilat ketika pedang di tangan Liauw It Ban menyambar ke arah leher wanita berkerudung.

Namun, dengan gerakan mudah sekali wanita itu mengelak, bahkan terdengar tertawa mengejek.

Tidak percuma Liauw It Ban mendapat julukan Cui beng kiam (Pedang Pengejar Roh) karena begitu pedangnya luput, sudah membalik lagi dengan serangan ke dua yang merupakan sebuah tusukan ke arah dada wanita berkerudung itu.

Semua pimpinan Thian liong pang terbelalak kaget ketika menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu.

Wanita itu mengangkat tangan kirinya dan dua buah jari tangannya, telunjuk dan ibu jari, menjepit ujung pedang yang menusuknya dengan mudah sekali dan....

betapa pun Liauw It Ban menarik, pedangnya tidak dapat terlepas dari jepitan dua buah jari itu!

"Begini sajakah Pedang Pengejar Roh?

Tentu roh tikus saja yang dapat dikejarnya.

Hi hik!"

Wanita berkerudung itu mengejek.

"Perempuan siluman!"

Liauw It Ban membentak, tangan kanannya menyambar ke depan, menghantam ke arah muka wanita yang tertutup kerudung sutera itu.

"Plakk! Krekkk.... aduuuhhhh!"

Liauw It Ban menjerit kesakitan ketika tangan kanan wanita itu menyambut pukulannya dengan telapak tangan, terus mencengkeram sehingga tulang tulang jari tangan Liauw It Ban yang terkepal itu patah-patah dan remuk!

"Krak....

cepppp!

Auggghhh...."

Wanita itu tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya yang menjepit ujung pedang membuat gerakan, pedang patah ujungnya dan sekali mengibaskan tangan kiri, ujung pedang itu meluncur dan amblas memasuki dada Liauw It Ban sampai tembus ke punggung.

Liauw It Ban melepaskan pedang mendekap dadanya dan roboh terjengkang, tewas di saat itu juga.

Wanita berkerudung menendang dan mayat itu melayang ke atas anak tangga, ke arah Ketua Thian-liong pang!

Phang Kok Sek menyambut mayat itu, memeriksa sebentar dan mukanya menjadi merah saking marahnya.

Kalau saja Liauw It Ban tewas dalam sebuah pertandingan yang dapat membuka rahasia gerakan wanita itu dan yang kiranya dapat ia tandingi tentu ia akan merasa girang kehilangan seorang saingan.

Akan tetapi kematian sutenya itu demikian aneh, hanya dalam dua gebrakan saja sehingga dia sama sekali tidak dapat mengukur sampai di mana tingginya kepandaian wanita itu, dan hal ini merupakan penghinaan bagi Thian liong pang yang ditakuti oleh semua tokoh kang ouw.

Biarpun dia belum dapat mengukur dan mengenal ilmu wanita berkerudung, namun ia tahu bahwa wanita itu amat sakti, kalau tidak tak mungkin sutenya yang ilmu kepandaiannya tidak kalah jauh olehnya itu dapat tewas semudah itu.

Maka ia cepat memberi isyarat dan berseru.

"Serbu....!"

Dua ratus orang anak buah Thian liong pang dipimpin oleh komandan masing-masing, serentak bangkit.

Tiba-tiba terdengar suara lengking panjang yang menulikan telinga, disusul oleh berkelebatnya bayangan yang berputar ke arah mereka yang mengurungnya dan....

semua orang terbelalak memandang dua belas orang yang roboh di atas lantai tanpa nyawa lagi!

Kiranya wanita itu sudah bergerak cepat dan merobohkan setiap orang yang berada paling depan dari para pengurung, entah bagaimana caranya karena dua belas orang yang roboh dan tewas itu tidak terluka sama sekali.

"Para anggauta Thian liong pang, dengarlah! Aku datang bukan untuk membunuh kalian, melainkan untuk memimpin kalian. Kalau aku datang akan membasmi, betapa mudahnya! Aku akan menjadikan Thian liong pang sebuah perkumpulan terbesar dan terkuat di seluruh dunia, sekuat Pulau Es dengan penghuni penghuninya!"

Mendengar ini, terutama melihat cara wanita itu merobohkan dua belas orang teman mereka, para anggauta itu serentak mundur dan menjadi ragu ragu.

Hal ini menimbulkan kemarahan besar di hati para pimpinan.

"Perempuan rendah, berani engkau membunuh Suteku?"

Twa to Sin seng Ma Chun berteriak dan tangan kirinya bergerak.

"Cuit cuit cuit.... cap cap cappp!"

Tiga batang senjata rahasia berbentuk bintang menyambar ke arah tubuh wanita berkerudung, namun semua dapat ditangkap oleh wanita itu dengan jepitan jari jari tangannya.

Wanita itu terkekeh, mengumpulkan tiga buah senjata rahasia itu di tangan kirinya, mengepal dan terdengar suara keras.

Ketika ia membuka tangannya, tiga buah senjata rahasia bintang yang terbuat dari baja dan diberi racun itu telah hancur berkeping keping dan dibuang ke atas lantai!

Twa to Sin seng Ma Chun marah sekali, mencabut golok besarnya dan me-nerjang maju.

Tang Wi Siang yang melihat Liauw It Ban, suheng yang menggerakkan gairahnya itu terbunuh, menjadi marah dan ia pun sudah mencabut pedang dan membantu Ma Chun mengeroyok wanita itu.

Sinar golok dan pedang menyambar-nyambar seperti kilat, mengurung tubuh wanita berkerudung, akan tetapi anehnya, tak pernah kedua senjata ini menyentuh ujung baju Si Wanita yang bergerak dengan mudah dan ringan seolah-olah tubuhnya berubah menjadi uap.

Dikeroyok oleh dua orang yang lihai itu wanita ini malah terkekeh kekeh dan masih dapat berkata kata sambil mengelak ke sana ke mari.

"Twa to Sin ceng Ma Chun, engkau pun bukan manusia baik baik. Engkau mata keranjang, sombong, kasar dan mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa...."

"Perempuan rendah! Kalau aku dapat menangkapmu, aku bersumpah akan menelanjangimu dan memperkosamu di depan mata seluruh anggauta Thian-liong pang.... aughhh....!"

Tubuh yang tinggi besar itu terlempar, goloknya terpental dan ketika semua orang memandang, tampak tanda tiga buah jari membiru di dahi Ma Chun yang sudah tewas itu!

"Engkau....

manusia kejam....!"

Tang Wi Siang menjerit dan pedangnya menerjang dengan hebatnya.

Tingkat kepandaian Tang Wi Siang kalau dibandingkan tingkat Ma Chun dan Liauw It Ban, dapat dikatakan sama, akan tetapi setelah ia mempelajari ilmu pedang dari suaminya yang telah tiada, ia dapat memperhebat ilmu pedangnya dengan gerakan dasar dari Bu tong pai.

Maka sekali ini dalam keadaan marah, pedangnya mengeluarkan bunyi berdesing desing dan menyerang wanita berkerudung itu secara bertubi tubi.

"Tang Wi Siang, bagus sekali engkau telah mempelajari ilmu dasar dari Bu-tong pai. Aku tidak akan membunuhmu karena aku memilih engkau menjadi wakilku dalam memimpin Thian liong pang!"

"Tutup mulutmu! Aku baru mengakui orang kalau sudah dapat mengalahkan aku!"

"Wanita bodoh, tak tahukah engkau, betapa mudahnya itu? Kau tadi mengatakan bahwa engkau akan menguji kepandaian setiap Ketua Thian liong pang, nah, sekarang boleh menguji aku yang akan menjadi junjunganmu dan juga gurumu. Lihat baik baik, dalam tiga jurus aku akan mengalahkanmu!"

Biarpun pada saat itu juga dia sudah yakin betapa saktinya wanita berkerudung itu, namun di dalam hatinya Tang Wi Siang menjadi penasaran.

Wanita aneh itu telah mengenal baik baik keadaan Thian-liong-pang, mengenal riwayat perkumpulan ini, bahkan mengenal semua nama dan julukan para pimpinan Thian liong-pang berikut watak mereka.

Dan kini menantangnya akan mengalahkan dalam tiga jurus!

Apakah dia dianggap seorang anak kecil yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa?

Rasa penasaran membuat dia marah dan merasa dianggap rendah dan hina, maka ia berteriak keras.

"Manusia yang bersembunyi di belakang kerudung seperti siluman! Kalau kau dapat mengalahkan aku dalam tiga jurus, aku tidak patut menjadi wakilmu, lebih patut mampus atau menjadi pelayanmu!"

"Bagus! Engkau sendiri yang memilih menjadi pelayan!"

Wanita aneh itu tidak menjawab akan tetapi pada saat itu Tang Wi Siang sudah menerjang dengan pedangnya, menggunakan jurus Hui-po-liu hong (Air Terjun Terbang Bianglala Melengkung).

Jurus ini adalah jurus ilmu pedang Bu tong pai yang amat indah dan berbahaya, menjadi aneh dan lebih berbahaya lagi karena gerakannya telah dicampur dengan gerakan ilmu aseli dari Thian liong pang, yaitu ketika pedang menyambar membacok ke arah muka lawan dilanjutkan dengan gerakan membabat leher dari kanan ke kiri dengan gerakan melengkung, tangan kiri Tang Wi Siang menyusul dengan pukulan sakti yang disebut Touw sim ciang (Pukulan Menembus Jantung), semacam pukulan yang digerakkan dengan tenaga sin kang dan dapat menggetarkan isi dada menghancurkan jantung dan paru paru!

"Siuuuttt....

wirr wirrr wirrrr....!"

Wi Siang hanya melihat berkelebatnya bayangan wanita berkerudung itu ke kanan, kiri dan serangannya luput!

Dengan kaget dan penasaran ia melanjutkan serangannya secara beruntun, yaitu dengan jurus Sian li touw so (Sang Dewi Menenun) dan terakhir dengan jurus Sian li sia kwi (Sang Dewi Memanah Setan).

Mula mula pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar lingkar mengurung tubuh wanita berkerudung dan menyerangnya dari arah yang mengelilingi lawan itu.

Wi Siang maklum bahwa lawannya memiliki gin kang yang luar biasa, dapat bergerak cepat seperti terbang, maka ia berusaha mengurungnya dengan sinar pedang.

Seperti yang telah diduganya, wanita itu tiba-tiba mencelat ke atas untuk menghindarkan diri dari lingkaran sinar pedang.

Saat ini sudah dinanti nanti oleh Wi Siang maka ia lalu menyerang dengan jurus ke tiga, jurus terakhir jurus Sian li sia kwi ini hebat sekali, dilakukan dengan melontarkan pedang ke arah bayangan lawan yang mencelat ke atas, Wi Siang amat cerdik.

Dia dibatasi hanya sampai tiga jurus.

Kalau dalam tiga jurus wanita berkerudung itu tidak mampu mengalahkannya, berarti dia dianggap menang!

Inilah yang menyebabkan dia mengambil keputusan untuk menggunakan jurus Sian li sia kwi dalam jurus terakhir karena selagi mencelat di udara dan diserang oleh pedangnya yang meluncur seperti anak panah, bagaimana wanita itu dapat merobohkannya?

Betapa kaget, heran dan juga girangnya ketika ia melihat lawannya itu, agaknya berkeinginan keras untuk mengalahkannya dalam jurus ini malah meluncur turun dan menyambut pedang yang menyambar itu!

Makin girang lagi hati Wi Siang melihat pedangnya tepat mengenai dada Si Wanita berkerudung sehingga ia tertawa girang penuh kemenangan.

Tiba-tiba suara ketawanya terhenti dan tubuhnya terguling ke atas lantai tanpa dapat bangun lagi karena seluruh kaki tangannya lemas setelah jalan darah di pundak terkena totokan wanita itu!

Ketika pedangnya tadi mengenai dada Si Wanita berkerudung, terdengar bunyi keras dan pedangnya telah patah, kemudian sebelum ia dapat memulihkan kekagetan hatinya, tahu tahu tangan wanita berkerudung telah menotok pundaknya dengan tubuh masih meluncur dari atas.

Tang Wi Siang bukanlah seorang bodoh.

Kini dia merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar benar memiliki kesaktian yang luar biasa, bahkan ia dapat menduga bahwa biarpun seluruh anggauta dan pimpinan Thian liong pang maju mengeroyok sekali pun, mereka tidak akan dapat mengalahkan wanita ini.

"Bangkitlah, Wi Siang!"

Wanita berkerudung yang sudah mengenalnya itu menggerakkan tangan dan tiba-tiba Wi Siang merasa tenaganya sudah pulih kembali.

Dia tidak meloncat bangun, melainkan bangkit berlutut di depan wanita itu sambil berkata.

"Saya menyatakan takluk dan siap memenuhi semua perintah Pangcu!"

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan keras dibarengi menyambarnya benda-benda yang mengeluarkan sinar ke arah Si Wanita berkerudung.

Itulah senjata rahasia yang dilepas oleh kedua tangan Phang Kok Sek, Ketua Thian liong pang yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi.

Sekaligus dia telah menyerang dengan senjata rahasia berbentuk bintang, senjata rahasia yang khas dari Thian liong Pang dan tentu saja dalam mempergunakan senjata rahasia bintang ini, Phang Kok Sek merupakan seorang ahli yang pandai.

Tujuh belas buah senjata rahasia terbang menyambar seperti berlumba menuju ke sasaran masing-masing yaitu tujuh belas jalan darah terpenting di bagian tubuh depan dari Si Wanita berkerudung.

Namun wanita berkerudung itu memiliki kecepatan yang amat hebat.

Betapapun cepat datangnya senjata senjata rahasia yang menyerangnya, gerakannya mengelak lebih cepat lagi.

Hanya tampak tubuhnya berkelebat dan tahu tahu ia telah lenyap.

Ketika orang memandang ke atas, tubuhnya telah menempel di langit langit ruangan itu seperti kelelawar besar bergantungan pada pohon.

Phang Kok Sek yang selain marah sekali juga maklum bahwa kalau tidak dapat segera melenyapkan wanita berke-rudung ini kedudukannya terancam, sudah meloncat ke atas dan mengirim pukulan dahsyat dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke arah tubuh lawan yang masih menempel di langit langit.

"Braakkk!"

Hebat bukan main pukulan itu, pukulan Hwi tok ciang selain amat dahsyat juga mengandung hawa panas membakar dan berbisa pula.

Langit langit ruangan itu jebol dilanda hawa pukulan dahsyat ini.

Akan tetapi, bagaikan seekor capung ringannya, tubuh wanita berkerudung sudah mengelak dan melayang turun.

Ketika tubuhnya lewat dekat tubuh Phang Kok Sek, wanita itu mengirim sebuah tendangan ke arah dada Phang Kok Sek.

Tingkat kepandaian Pang Kok Sek jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian dua orang sutenya yang tewas dan seorang sumoinya yang telah dikalahkan lawan.

Tendangan itu cepat dan tidak terduga duga, dilepas selagi tubuh mereka berada di tengah udara, akan tetapi dengan jalan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik, Phang Kok Sek berhasil menyelamatkan nyawanya dan hanya ujung bajunya saja yang robek kena diserempet ujung kaki lawan.

Hal ini membuktikan betapa lihai wanita itu dan Phang Kok Sek sudah meloncat ke bawah dengan muka berubah.

"Ji wi Suheng! Siluman ini telah membunuh Ma sute dan Liauw-sute, dan beberapa orang anak buah, apakah kalian masih tinggal diam saja?"

Sambil menegur kedua orang suhengnya, Phang Kok Sek sudah menyambar senjatanya yang hebat, yaitu sebatang tombak cagak bergagang baja yang besar dan berat dari sudut belakang tempat duduknya.

Karena wanita berkerudung itu adalah orang luar dan yang terang terangan hendak merampas Thian liong pang, semenjak tadi memang Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang menganggapnya sebagai musuh.

Akan tetapi, mengingat akan kedudukan dan tingkat mereka yang sudah tinggi di dunia kang-ouw, mereka masih merasa ragu ragu dan malu untuk mengeroyok seorang wanita.

Kini menyaksikan kelihaian wanita itu yang benar benar amat luar biasa dan mendengar teguran Sang Ketua, kedua orang kakek ini sudah bangkit dan meloncat ke depan.

Mereka tidak memegang senjata dan memang kedua orang kakek ini lebih mengandalkan kepada kaki tangannya daripada senjata.

Biarpun bertangan kosong, namun kepandaian mereka hebat dan kaki tangan mereka ini jauh lebih berbahaya daripada segala macam senjata yang tajam runcing.

Sai cu Lo mo yang tertua di antara mereka bertiga dan juga sudah berpengalaman dan memiliki tingkat yang paling tinggi, kini berhadapan dengan wanita berkerudung, memandang tajam seperti hendak menembus kerudung itu dengan pandang matanya, lalu berkata.

"Nona, engkau masih begini muda telah memiliki kepandaian yang hebat dan sikap yang aneh sekali. Bukalah kerudungmu, perkenalkan dirimu dan jelaskan apa sebabnya engkau mengacau di Thian liong pang dan membunuh orang-orang yang sama sekali tidak ada permusuhan denganmu?"

Sepasang mata di belakang dua lubang di kerudung itu bersinar sinar dan biarpun mulutnya tidak tampak, jelas dapat diduga bahwa wanita itu tersenyum.

Mata itu memandang kepada Sai cu Lo mo dan Chie Kang bergantian, kemudian berkata.

"Sai cu Lo mo, dan Lui hong Sin-ciang Chie Kang, aku mengenal siapa kalian berdua dan tadi aku sudah mendengar kalian mengeluarkan isi hati kalian! Hanya kalian berdualah yang patut menjadi Ketua dan Pimpinan Thian liong-pang, akan tetapi mengapa kalian tidak pernah mau menjadi Ketua? Aku tahu, karena kalian merasa enggan menjadi Ketua dari perkumpulan yang makin rusak oleh sepak terjang anak buahnya! Thian-liong pang makin bobrok dan kalian tidak mau nama kalian kelak terseret ke dalam lumpur kehinaan karena menjadi Ketuanya! Betapa pengecut! Betapapun juga, aku suka kalian membantuku kelak, maka aku tidak akan membunuh kalian berdua. Tak perlu aku memperkenalkan diri, cukup kalau kalian ketahui bahwa akulah Ketua kalian yang baru, karena aku hendak memimpin Thian liong pang menjadi sebuah perkumpulan yang besar dan kuat, lebih besar dan lebih kuat daripada para penghuni Pulau Es. Adapun Phang Kok Sek Si Raksasa tolol yang tidak segan segan mengorbankan saudara-saudaranya untuk memperebutkan kursi ketua ini, dia tidak berguna dan akan kulenyapkan...."

"Siluman betina!"

Phang Kok Sek sudah menerjang maju, menusukkan tombak cagaknya yang panjang, besar dan berat ke arah perut wanita berkerudung itu.

"Takkk!"

Wanita itu tidak mengelak, tidak berkisar dari tempat dia berdiri hanya mengangkat kaki kirinya dan ujung kakinya itu menendang ke arah tombak, tepat mengenai belakang mata tombak sehingga tusukan itu menyeleweng dan Phang Kok Seng merasa tangannya bergetar hebat.

Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang yang menjadi merah mukanya mendengar ucapan wanita berkerudung itu sudah menerjang maju pula.

Mereka merasa berkewajiban untuk menentang wanita ini, bukan sekali-kali untuk membantu demi keselamatan pribadi Phang Kok Sek, namun demi menjaga nama Thian liong pang dan sebagai tokoh-tokoh Thian liong pang melihat orang luar mengacau perkumpulan itu.

"Wussss.... ciattt!"

Lui hong Sin ciang Chie Kang yang kepalanya gundul dan kelihatan lemah sekali seperti seorang sasterawan yang menjadi botak karena terlalu banyak berpikir dan menjadi buyuten tangannya karena terlalu banyak menulis, begitu menyerang telah memperlihatkan kedahsyatannya.

Kedua tangannya bergerak dengan mantep dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali sehingga serangannya itu membuat kedua tangannya seolah-olah berubah menjadi baja tajam yang membelah udara menge-luarkan suara mengerikan.

Melihat kelihaian kakek gundul ini, diam diam wanita berkerudung menjadi kagum karena ia maklum bahwa orang ini kalau menjadi pembantunya akan merupakan seorang pembantu yang boleh diandalkan!

Biarpun keadaan wanita berkerudung ini merupakan rahasia bagi semua orang Thian liong pang, namun kita tahu bahwa dia itu bukan lain adalah Nirahai.

Nirahai, puteri Kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, apalagi setelah digembleng oleh mendiang Nenek Maya (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI), tingkat kepandaiannya sudah hebat sekali.

Tentu saja serangan Chie Kang itu baginya bukan apa-apa dan dengan mudah ia dapat mengelak ke kiri di mana dia tahu Sai cu Lo mo sudah siap dengan serangannya yang ia duga tentu tidak kalah hebatnya dengan Si Kakek gundul.

"Wirrr wirrr wirrr.... plak plak plak!"

Nirahai makin girang hatinya.

Tiga serangan berantai yang diluncurkan Sai-cu Lo mo dengan ujung lengan bajunya itu hebat bukan main.

Ujung lengan bajunya itu mengandung tenaga yang lebih kuat daripada kedua tangan Chie Kang dan dia maklum bahwa ujung lengan baju itu cukup dahsyat untuk menghancurkan batu karang ydng keras!

Akan tetapi, Sai cu Lo mo lebih kaget lagi karena tiga kali ujung lengan bajunya ditangkis oleh ujung jari jari tangan wanita itu dengan kibasan yang membuat dia merasa seluruh lengannya tergetar.

Tahulah dia bahwa dia telah bertemu dengan lawan yang jauh lebih kuat daripada dia dan para sutenya!

"Syuuutt....

serrr serrr serrr!"

Tombak panjang menyambar dari belakang, menusuk lambung Nirahai disusul meluncurnya tiga buah senjata rahasia bintang.

Cara Phan Kok Sek menyerang ini saja sudah membuktikan akan kelicikan wataknya, menggunakan kesempatan selagi Nirahai menghadapi dua orang suhengnya yang lihai, menyerang dari belakang, bukan hanya dengan tombaknya yang dahsyat, juga dengan pelepasan am-gi (senjata rahasia).

Nirahai menjadi marah.

Kedua tangannya bergerak cepat dan tahu tahu tiga buah senjata rahasia itu telah ia tangkap dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyambar dan berhasil menangkap leher tombak ketika ia miring ke kiri dan tombak itu meluncur dekat lambungnya.

Tangan kirinya diayun dan tiga buah senjata rahasia itu menyambar ke arah pemiliknya!

Sebagai seorang ahli melepas senjata rahasia Sin seng ci tentu saja Phang Kok Sek dapat menghindarkan diri dan cepat meloncat ke atas dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangan masih memegangi gagang tombaknya.

Gerakannya ini cepat dan indah sekali sehingga tiga batang Sin seng ci menyambar lewat di bawah tubuhnya.

Akan tetapi dia tidak tahu akan kelihaian lawan.

Begitu tubuhnya meloncat, Nirahai mengerahkan tenaga pada tangan kanannya yang memegang gagang tombak itu ke atas.

Phang Kok Sek terkejut dan berusaha menahan dengan kedua tangan, namun dia kalah kuat dan terdengar teriakan mengerikan ketika gagang tombak itu menerobos dan menusuk perut Phang Kok Sek sampai tembus ke punggungnya.

Sekali menggerakkan tangan, Nirahai melemparkan tombak bersama tubuh Ketua Thian liong pang yang tak bernyawa lagi itu ke samping dan otomatis kedua tangannya sudah menangkis dua serangan dari kanan-kiri yang dilakukan Sai cu Lo mo dan Chie Kang.

Dalam melakukan tangkisan ini, Nirahai sudah mengerahkan tenaga pada te-lapak tangannya, maka begitu telapak tangannya bertemu dengan tangan kedua lawan, dua orang itu berseru kaget karena tangan mereka melekat pada telapak tangan yang berkulit halus itu, tak dapat ditarik kembali.

Mereka maklum bahwa wanita berkerudung ini sengaja menantang mereka mengadu sin kang maka kedua kakek itu dengan kedua kaki terpentang lebar cepat mengerahkan sin kang melalui tangan mereka untuk merobohkan lawan.

Terjadilah adu tenaga sin kang yang hebat.

Kedua kakek itu berdiri dengan kaki terpentang tubuh agak membungkuk, sedangkan Nirahai yang berdiri di tengah, kedua tangannya terkembang ke kanan-kiri menahan tangan kedua lawan, kakinya terpentang sedikit dan tubuhnya tegak.

Semua orang menonton dengan hati tegang, mengira bahwa wanita berkerudung itu tentu akan terhimpit di tengah tengah oleh dua kekuatan raksasa yang amat dahsyat!

Namun, Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi, bersikap tenang-tenang saja, dari kedua tangan lawan di kanan-kirinya, menerobos tenaga sin kang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang.

Wanita cerdik ini tidak melawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sin kang mereka, Sejenak kedua orang itu mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu kelihatannya enak enak saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali!

Kiranya lawan mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan-kiri sehingga Sai cu Lo mo dan Chie Kang ber-tanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sin kang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang seolah-olah hanya menyediakan dirinya menjadi arena pertandingan sambil menonton seenaknya!

Mereka sadar dan cepat hendak menarik tenaga sakti mereka, namun terlambat karena pada saat itu, Nirahai sudah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling dorong sehingga tenaga sin-kang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri.

Ketika kedua orang kakek itu menarik kembali tenaga sin kang, saat itulah Nirahai menyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat dahsyat.

"Cukup, rebahlah!"

Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai menarik kedua lengannya mereka roboh dan biarpun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan.

Tenaga sin kang mereka sendiri yang tadi mereka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong oleh tenaga wanita berkerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak.

Yang membuat mereka heran dan bingung adalah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolah-olah tulang pundak lengan dalam keadaan terkunci, sama sekali tidak dapat digerakkan!

"Wi Siang, bantulah kedua orang Suhengmu itu.

Kau totok jalan darah Hong-hu hiat di pundak kanan mereka masing-masing dua kali."

Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menonton pertandingan tadi penuh kagum.

Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suhengnya dan tanpa ragu-ragu menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berkerudung itu.

Begitu terkena totokan dua kali, jalan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan.

Kini, kedua orang kakek itu benar benar tunduk dan merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa.

Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk mengangkatnya menjadi ketua, karena dengan ketua sehebat ini, Thian--liong pang pasti akan menjadi sebuah perkumpulan yang kuat dan terpandang.

Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil berkata.

"Pangcu!"

Terdengar sorak sorai dari para anggauta yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung yang tersenyum di balik kerudungnya, Nirahai mengangkat, kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu terhenti.

Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan yang halus merdu namun berwibawa.

"Mulai saat ini Thian liong pang di bawah pimpinanku harus menjadi sebuah perkumpulan yang kuat, dihormati dan disegani di seluruh dunia kang ouw. Untuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan mempertinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk menjadi perkumpulan yang disegani, Thian-liong pang harus menunjukkan kegagahan dan kekuatannya menundukkan semua pihak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormat, Thian liong pang harus bersih daripada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh ada perampokan, penindasan dan lain perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh anggauta, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Setiap pelanggar akan menerima hukuman berat!"

Mendengar perintah pertama yang ke-luar dari mulut wanita berkerudung itu, diam diam Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang menjadi girang sekali.

Sai cu Lo mo demikian kagum dan gembiranya sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak.

"Hidup Pangcu kita!"

Semua anggauta juga tertegun mendengar perintah tadi, tentu saja yang biasanya mengumbar nafsu, diam diam menjadi gentar dan khawatir kalau kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihukum seperti para pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat.

Maka, mendengar seruan Sai cu Lo mo, serentak semua anggauta berteriak.

"Hidup pangcu....!"

Bahkan mereka yang tadinya suka mengandalkan nama besar Thian liong pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan perbuatan jahat, berteriak paling keras!

"Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik baik, kuburkan sebagaimana mestinya.

Sai cu Lo mo, Lui-hong Sin ciang Chie Kang, kalian berdua kuangkat menjadi pembantu-pembantuku, sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang paling kupercaya.

Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian liong pang.

Aku ingin mendengar, hal apa saja yang dihadapi Thian-liong-pang saat ini."

Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam.

Tak seorang pun pelayan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah Thian liong pang sibuk mengurus mayat mayat yang bergelimpangan di ruangan tadi.

Mereka, juga para pelayan, saling berbisik membicarakan Ketua partai yang penuh rahasia itu.

Nirahai dengan tenang mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya mengenai keadaan Thian liong pang.

Segala macam urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai cu Lo mo dan Lui-hong Sin ciang Chie Kang, sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Nirahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai seorang pelayan.

"Tiga buah perkumpulan yang menentang kita, mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan peraturan peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang mengherankan hatiku. Kau tadi menceritakan tentang usaha Thian liong pang yang gagal dalam memperebutkan seorang anak bernama Gak Bun Beng. Benarkah utusan kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?"

"Benar, Pangcu,"

Jawab Sai cu Lo mo. Nirahai mengerutkan keningnya.

"Anak ini.... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian liong pang sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?"

Sai cu Lo mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu.

"Maaf, Pangcu. Sesungguhnya, dengan perkumpulan kita tidak ada hubungan apa-apa dan mendiang Ketua kami hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri."

"Hemmm..... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak siapa dan bagaimana hubugannya denganmu, Lo mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkannya untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat menghadapinya!"

Bahkan Wi Siang sendiri diam diam menjadi kaget mendengarkan ini.

Berani menentang Pendekar Siluman?

Benarkah Ketuanya yang baru ini memiliki kesaktian yang demikian hebat sehingga berani menentang Pendekar Siluman?

Baru mendengar cerita para anggauta Thian-liong pang tentang Pendekar Siluman yang bisa pian-hoa (merobah diri) menjadi raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat semua orang gagah di Thian liong pang ngeri dan serem!

Sai cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai cu Lo mo menjawab.

"Dia adalah putera dari keponakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw lim pai."

"Hemmm.... Bhok Kim yang berjuluk Bi kiam, seorang di antara Kang lam Sam eng?"

"Betul, Pangcu,"

Jawab Sai cu Lo mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang.

Maka dia tidak menyembunyikan dirinya lagi dan menyambung.

"Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku...."

Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang melamun karena mengingat, berkata.

"Dan bocah itu she Gak? Hem.... tentu anak dari Kang thouw kwi Gak Liat Si Setan Botak...."

Tiga orang tokoh Thian liong pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai cu Lo mo berteriak.

"Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya....?"

Nirahai memandangnya.

"Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim sehingga wanita itu dihukum di Siauw-lim pai, kemudian melahirkan anak dan.... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm.... jadi engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai cu Lo mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan Gak Liat, datuk kaum sesat!"

Sai cu Lo mo menarik napas panjang.

"Betapapun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu."

Nirahai mengangguk.

"Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian liong pang hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Betapapun juga, kalau engkau mendengar di mana adanya bocah itu sekarang, dan ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah engkau di mana dia itu sekarang?"

"Dia menjadi murid di Siauw-lim-si."

Nirahai menggeleng kepala.

"Kalau Siauw lim si kita tidak dapat berbuat sesuatu, Lo-mo. Ibu anak itu adalah murid Siauw lim pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw lim pai pula. Jangan mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw lim pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan menjadi musuh Siauw lim pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan seorang anak, apalagi anak keturunan seorang seperti Gak Liat?"

Diam diam Sai cu Lo mo harus membenarkan pendapat pangcunya ini. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan berkata.

"Pangcu.... maaf.... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya sekarang. Kalau saya tidak keliru menduga.... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!"

Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya.

"Bagaimana dengan engkau, Lui hong Sin ciang Chie Kang? Apakah engkau pun dapat menduga siapa aku?"

Chie Kang terkejut.

Dia pun sedang berpikir pikir.

Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang ouw merupakan rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam diam dia terkejut dan tidak percaya bahwa pangcunya yang baru adalah orang itu!

Kini dia makin gugup mendengar pertanyaan itu dan menjawab.

"Saya.... saya hanya menduga duga akan tetapi tidak berani memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga...."

Nirahai tersenyum di balik kerudungnya.

"Sai cu Lo mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu agaknya tidak keliru. Engkau dan Chie Kang telah kuangkat menjadi pembantu-pembantuku yang setia dan boleh dipercaya, sedangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga sajalah yang boleh mengetahui siapa sebe-narnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani membocorkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu ragu lagi, kalian boleh mengenalku."

Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan tampaklah wajahnya yang cantik jelita, wajah puteri Kaisar Mancu.

Puteri Nirahai yang pernah menggemparkan seluruh dunia kang ouw sebagai pemimpin pasukan pasukan pemerintah yang membasmi para pemberontak!

Tiga orang tokoh Thian liong pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar.

Kini mendapat kenyataan bahwa yang menjadi Ketua mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata yang amat berwibawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu tersenyum halus, mereka serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Nirahai.

"Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia,"

Kata Sai cu Lo mo mewakili saudara saudaranya.

"Bangunlah kalian!"

Tiba-tiba Nirahai membentak dan ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang, Nirahai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di depan kerudung, matanya memandang marah.

"Mulai saat ini, kalian tidak boleh sekali-kali menyebutku Puteri, dan jangan membocorkan rahasia ini! Aku adalah Pangcu (Ketua) Thian liong pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari kita duduk dan melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita."

Demikianlah, semenjak hari itu, Nirahai menjadi Ketua Thian liong pang.

Kecuali tiga orang pembantunya itu, tak seorang pun di antara para anggauta Thian liong pang mengetahui bahwa Ketua mereka yang diliputi penuh rahasia, yang selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang memiliki ilmu kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu.

Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu dua tahun saja, Sai cu Lo-mo, Luihong Sin ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi daripada sebelumnya, akan tetapi watak mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka.

Para anak buah Thian liong pang juga dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian liong pang kini menjadi pasukan yang hebat, setiap orang anggautanya memiliki kepandaian tinggi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan tadinya Nirahai menitipkan puterinya, Milana, kepada Pangeran Jenghan di Kerajaan Mongol.

Selama membangun dan memperkuat Thian liong pang beberapa tahun, dia meninggalkan puterinya itu dan hanya kira kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puterinya.

Milana sama sekali tidak tahu bahwa ibunya adalah Ketua Thian liong-pang yang amat terkenal itu.

Baru setelah Nirahai mengajaknya ke Thian liong-pang anak perempuan ini tahu bahwa ibunya adalah wanita berkerudung, Ketua Thian liong pang yang menggemparkan dunia kang ouw.

Juga kini Milana tahu, dengan hati penuh kebanggaan namun juga kedukaan, bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu saling berpisah, bahkan timbul gejala saling bertentangan!

Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai.

Dia adalah seorang puteri kaisar, seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi sekali.

Betapapun besar cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka.

Dia tidak mau menyembah-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada.

Dia ingin memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak rangkak mengejar suaminya!

Keangkuhan ini membuat dia amat menderita, membuat cintanya kadang-kadang berubah menjadi kebencian, membuat dia ingin menandingi kebesaran suaminya, menandingi kepandaiannya.

Dalam pertemuannya dua kali dengan Suma Han, pertama ketika tokoh-tokoh kang ouw memperebutkan rahasia pusaka di Sungai Huang ho, ke dua baru baru ini, Nirahai maklum bahwa dalam ilmu kesaktian dia masih belum mampu menandingi Suma Han.

Biarpun Perkumpulan Thian liong pang kini menjadi amat kuat dan agaknya para pembantu dan anak buahnya tidak kalah hebat oleh anak buah Pulau Es, namun kalau dia sendiri tidak mampu menandingi Suma Han, semua akan sia-sia belaka.

Tidak ada seorang pun di Thian liong pang yang akan kuat bertanding dengan Suma Han.

Maka dia harus mempertinggi ilmu-ilmunya.

Terutama sekali Nirahai ingin melihat puterinya, Milana menjadi seorang yang lebih pandai daripadanya.

Keinginan untuk menjadi seorang yang lebih sakti dari Suma Han inilah yang membuat Nirahai melakukan hal-hal yang amat berani, di antaranya ialah menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua perkumpulan silat yang diundang atau kalau tidak mau dipaksa mengunjungi Thian-liong-pang!

Untuk apa?

Sebaiknya kita sekarang mengikuti perjalanan Gak Bun Beng yang sedang mengunjungi Thian-liong-pang dengan mengikuti bayangan dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan hati-hati karena dia maklum bahwa kedua orang itu sedang memancingnya untuk memasuki markas besar perkumpulan yang terkenal itu.

Markas Thian-liong-pang yang menjadi pusat perkumpulan itu merupakan sekumpulan bangunan besar, dikelilingi oleh dinding batu yang tingginya dua kali tinggi manusia.

Di tempat ujung dinding temboknya terdapat tempat di mana tampak penjaga yang melakukan penjaga-an siang malam sehingga sarang perkumpulan itu seperti benteng tentara saja.

Pintu gerbang yang lebar terbuat dari kayu tebal berlapis besi, dijaga pula oleh selosin orang.

Pintu gerbang terbuka ketika dua orang tokoh Thian-liong-pang tiba di situ, akan tetapi begitu kedua orang itu masuk melalui pintu gerbang, daun pintu tertutup kembali dari dalam.

Bun Beng memeriksa keadaan pintu gerbang yang amat kuat dan dinding tembok yang tinggi.

Ia tersenyum.

Agaknya, orang-orang Thian-liong-pang itu terlalu memandang rendah kepadanya.

Apa artinya dinding tembok setinggi itu baginya?

Lebih tinggi lagi pun dia akan mampu melompatinya.

Dia maklum bahwa mereka tentu sudah menantinya, akan tetapi dia tidak takut.

Dia harus memasuki sarang Thian-liong-pang, menolong Ketua Bu-tong-pai, mungkin menolong banyak orang lagi yang terculik dan menjadi tawanan di tempat itu.

Pula, dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menemui Ketua Thian-liong-pang dan menegurnya agar tidak melakukan penculikan-penculikan.

Dia maklum bahwa orang-orang Thian-liong-pang amat lihai, apalagi ketuanya yang pernah ia lihat di pulau Sungai Huang-ho beberapa tahun yang lalu.

Ia masih bergidik kalau teringat akan wanita berkerudung yang amat lihai itu.

Akan tetapi, kepandaiannya sekarang tidak seperti dahulu, kini dia telah dewasa dan berilmu tinggi, kalau dia tidak menentang perbuatan sewenang-wenang ini, untuk apa dia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun?

Pula, dia teringat betapa tokoh wanita Thian-liong-pang dahulu bersikap baik kepadanya, dan rata-rata orang Thian-liong-pang tidaklah seganas orang Pulau Neraka.

Selain kenyataan itu, juga dalam perjalanannya dia tidak pernah mendengar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan orang jahat, tidak pernah melakukan kejahatan.

Kalau sekarang mereka menculik ketua-ketua perkumpulan dan tokoh-tokoh kang-ouw tentu ada rahasia di balik perbuatan mereka itu dan dia harus membongkar rahasia itu dan berusaha menghentikan perbuatan mereka.

Akan tetapi Bun Beng bukan seorang yang sembrono.

Dia maklum bahwa meloncat begitu saja pada siang hari itu merupakan perbuatan yang amat berbahaya.

Tidak, dia tidak berani bersikap sembarangan.

Maka dia mundur kembali dan mengintai dari jauh, menanti sampai malam tiba karena dia mengambil kepu-tusan untuk memasuki sarang naga itu setelah hari menjadi gelap.

Setelah hari berganti malam, Bun Beng berindap-indap mendekati dinding yang mengurung sarang Thian-liong-pang.

Ia sudah memilih bagian kiri di ujung, sebelah kiri pintu gerbang, untuk meloncat masuk.

Tiba-tiba ia mendengar suara tambur dan gembreng di sebelah dalam.

Ia berhenti di bawah dinding dan mendengarkan penuh perhatian.

Apakah Thian-liong-pang mengadakan pesta?

Hemm, bukan, bantah hatinya.

Tambur dan gembreng itu dipukul seperti kalau dipergunakan untuk mengiringi orang bermain silat!

Agaknya mereka sedang berlatih silat.

Dia tidak akan merasa heran kalau mereka telah siap menantinya, bahkan dia menduga bahwa tentu gerak-geriknya sejak tadi telah diintai.

Namun dia tidak peduli.

Sekarang atau dia akan terlambat.

Dengan gerakan indah Bun Beng meloncat.

Tubuhnya melayang ke atas dan kedua kakinya hinggap di atas dua ujung tombak, gerakannya amat ringan seolah-olah seekor burung garuda yang besar.

Ia merasa heran sekali karena tidak ada anak panah atau senjata orang menyambutnya.

Di bawah tidak tampak orang menjaga, hanya tampak genteng bangunan-bangunan dan tampak sinar penerangan yang besar, terutama di depan sebuah bangunan terbesar di situ.

Tampak pula orang-orang hilir mudik, akan tetapi tidak ada yang menengok, seakan-akan mereka itu hanya orang-orang dusun yang tidak paham ilmu silat dan tidak tahu akan kedatangannya.

Bun Beng merasa penasaran.

Apakah pihak Thian-liong-pang menganggap dia begitu rendah sehingga tidak pantas untuk menjaga dan menghebohkan kedatangannya?

Ia melayang turun dari tembok, hinggap di atas genteng, kemudian melayang turun pula ke bagian samping bangunan besar yang agaknya saat itu menjadi pusat keramai-an.

Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang kakek yang berkata tenang.

"Selamat datang, Siauw-hiap dari Siauw-lim-pai. Biarpun caramu masuk tidak selayaknya, namun mengingat bahwa Siauw-hiap adalah seorang murid Siauw-lim-pai, Pangcu kami mempersilakan Siauw-hiap untuk duduk sebagai tamu menonton pertunjukan kami. Kami menerima Siauw-hiap sebagai se-orang tamu yang terhormat, ataukah.... Siauw-hiap lebih suka dianggap sebagai seorang pencuri yang rendah?"

Bun Beng memandang orang itu yang ternyata adalah seorang kakek berkepala gundul, berjenggot dan berkumis, pakaiannya seperti seorang sasterawan, usianya kurang lebih enam puluh tahun, suaranya tinggi nyaring akan tetapi sikapnya halus dan seperti orang lemah.

Mendengar ucapan itu, Bun Beng tersenyum.

"Terserah kepada Thian-liong-pang akan menganggap aku sebagai apa. Akan tetapi karena aku ingin bertemu dengan Pangcu kalian, dan melihat betapa aku disambut sebagai tamu, biarlah aku menerima sambutan ini."

"Kalau begitu, silakan Siauw-hiap!"

Kata kakek itu.

Bun Beng berjalan dengan sikap tenang menuju ke ruangan depan bangunan besar diiringkan oleh kakek gundul.

Kini mengertilah dia mengapa dia tidak disambut sebagai musuh dan tidak diserang.

Kiranya Thian-liong-pang agaknya merasa enggan bermusuhan dengan Siauw-lim-pai, dan hanya karena memandang Siauw-lim-pai maka dia disambut dengan manis budi.

Dia mengerti bahwa andaikata kedua orang tokoh yang menawan Ketua Bu-tong-pai tadi tidak mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang ia miliki dan tidak melaporkan bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, tentu penyambutan mereka akan lain sekali.

Ketika kakek gundul itu mengajaknya memasuki ruangan depan yang luas dan diterangi banyak lampu gantung besar, dia cepat melayangkan pandang matanya menyapu keadaan di situ.

Ruangan itu luas sekali dan terdapat anak tangga di sebelah dalam.

Di atas anak tangga itu terdapat ruangan lain dan tampaklah seorang wanita berkerudung duduk di atas sebuah kursi besar yang lantainya ditilami kulit seekor biruang.

Wanita berkerudung yang dikenalnya sebagai Ketua Thian-liong-pang yang dahulu pernah datang ke Sungai Huang-ho itu duduk dengan sikap tenang, kedua kakinya menginjak kepala biruang yang berada di bawah kursinya, di sebelah kanan wanita ini duduk seorang kakek yang mukanya seperti seekor singa, kursinya agak kecil dibandingkan dengan kursi Si Wanita berkerudung.

Di sebelah kanan agak belakang Ketua Thian-liong-pang ini berdiri seorang wanita cantik yang dikenal pula oleh Bun Beng sebagai wanita yang dahulu mewakili Thian-liong-pang di Sungai Huang-ho.

Sedangkan di belakang, agak mundur, berdiri seorang wanita lain yang juga cantik, pakaiannya seperti wanita lihai yang berdiri di sebelah kanan Ketua itu.

"Silakan duduk di sini, Siauw-hiap,"

Kata kakek gundul sambil mempersilakan Bun Beng duduk di atas kursi dekat anak tangga.

Akan tetapi Bun Beng tidak segera duduk, hanya berdiri dengan terheran-heran memandang ke arah para tamu yang duduk menghadap ke arah Ketua, dengan kursi-kursi yang diatur setengah lingkaran mengurung ruangan di bawah anak tangga, sedangkan para penabuh tambur dan gembreng berdiri paling ujung.

Dia tidak peduli dan tidak melihat betapa Ketua Thian-liong-pang sama sekali tidak mengacuhkannya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat Ang-lojin, Ketua Bu-tong-pai yang akan ditolongnya itu, duduk pula di antara para tamu dengan sikap tenang dan sama sekali tidak menoleh kepadanya!

Mengapa orang itu seperti tidak mengenalinya?

Mustahil kalau tidak mengenal atau tidak tahu bahwa kedatangannya untuk menolong ketua itu!

Atau pura-pura tidak kenal?

Ah, ini pun tidak mungkin.

Bukankah dua orang tokoh Thian-liong-pang sudah tahu betapa di tengah jalan dia berusaha menolong Ketua Bu-tong-pai itu?

Tentu hal ini sudah dilaporkannya pula kepada Ketua Thian-liong-pang.

Apa perlunya lagi Ketua Bu-tong-pai berpura-pura?

Dia pun tidak mau berpura-pura karena hal ini berarti bahwa dia takut, maka dia lalu menghampiri Ketua Bu-tong-pai dan menegur.

"Ang-locianpwe, engkau baik-baik sajakah?"

Kakek itu memandangnya akan tetapi sinar matanya seperti tidak mengenalnya sama sekali.

Dia hanya mengangguk tanpa menjawab!

Bun Beng menjadi penasaran sekali.

Mengapa Ketua Bu-tong-pai bersikap seperti ini?

Padahal susah payah ia berusaha menolongnya dan di jalan tadi sikapnya tidak sedingin ini!

"Locianpwe, apakah kau lupa kepadaku?"

Ia menegur lagi. Kakek itu kembali memandangnya dengan sikap tidak acuh, lalu menjawab dengan suara ragu-ragu.

"Siapakah? Maaf, aku tidak mengenalmu."

Setelah berkata demikian kakek ini kembali membuang muka menonton dua orang yang sedang bertanding di bawah anak tangga, memandang penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh semua orang yang duduk di situ.

Makin heran Bun Beng ketika melihat betapa para tamu yang sebagian besar terdiri dari kakek-kakek yang kelihatannya berilmu tinggi itu sama sekali tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia hanya seekor lalat saja!

Dengan hati mengkal Bun Beng lalu duduk di atas kursi yang ditunjuk oleh kakek gundul.

Kakek ini pun duduk di atas sebuah kursi di sebelah kanan Bun Beng.

Seorang pelayan datang menyuguhkan arak kepada Bun Beng, akan tetapi pemuda ini menolak dan menyuruh taruh arak dengan guci dan cawannya di atas meja.

Pelayan itu lalu memenuhi meja di depan kakek gundul dan Bun Beng dengan hidangan-hidangan seperti yang memenuhi meja-meja lain pula.

Kini Bun Beng memperhatikan para tamu yang duduk di situ.

Ada belasan orang, tepatnya empat belas orang tamu yang melihat sikapnya adalah orang-orang berkepandaian tinggi, akan tetapi sikap mereka dingin dan tak acuh seperti sikap Ketua Bu-tong-pai.

Di depan mereka ini pun terdapat meja penuh makanan dan mereka semua menonton pertandingan sambil makan minum.

Di belakang para tamu duduk pula banyak orang dan di antara mereka Bun Beng mengenal dua orang tokoh yang pernah dila-wannya siang tadi, yaitu mereka yang menculik Ketua Bu-tong-pai.

Sedangkan di belakang rombongan yang duduk ini, yang jumlahnya juga belasan orang, nampak puluhan orang berdiri menonton.

Sepasang kakek kembar yang lihai dan yang menggotong kerangkeng Ketua Bu-tong-pai tampak di antara mereka yang berdiri.

Diam-diam Bun Beng menduga-duga dan dia terkejut.

Agaknya sepasang kakek kembar itu adalah anggauta-anggauta rendahan saja, sedangkan kakek muka tengkorak dan pemuda tampan adalah anggauta yang lebih tinggi.

Kakek gundul yang duduk di sebelahnya yang tadi menyambutnya, tentu lebih tinggi kedudukannya, apalagi kakek muka singa dan wanita cantik yang duduk dan berdiri di dekat Ketua Thian-liong-pang.

Kalau sepasang kakek kembar yang demikian lihai itu saja menjadi anggauta rendahan, dapat dibayangkan betapa lihai kakek gundul di sebelahnya ini, apalagi kakek muka singa, dan lebih-lebih ketuanya!

Bun Beng bersikap hati-hati dan tidak mau bergerak, hendak melihat perkembangannya karena dia sungguh-sungguh bingung dan terheran-heran mengapa Ang-lojin yang tadinya diculik sekarang menjadi tamu dan bersikap tidak mengenalnya?

Kini Bun Beng mulai memperhatikan dua orang yang bertanding dan kembali dia tercengang.

Yang bertanding dengan golok dan pedang itu bukanlah orang-orang sembarangan!

Laki-laki berusia empat puluh tahun yang berkepala besar dan bersenjata golok itu memiliki ilmu golok yang amat hebat, sedangkan kakek kurus yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih itu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi pula.

Diam-diam ia menonton dan mencurahkan perhatiannya.

Bun Beng banyak mengenal ilmu silat, bahkan dahulu gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, telah membuka rahasia tentang dasar-dasar gerakan ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh partai-partai besar.

Maka setelah menonton belasan jurus, Bun Beng mengenal bahwa Si Pemain golok itu tentulah seorang tokoh Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang amat terkenal karena kehebatan ilmu golok mereka, Sedangkan Si Pemain pedang itu tidak salah lagi tentulah seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai karena ilmu pedang yang dimainkannya tidak salah lagi adalah Hoa-san Kiam-sut!

Dia menjadi heran buka main.

Mengapa dua orang tokoh dari Sin-to-pang dan Hoa-san-pai bertanding di tempat ini?

Dan selain ditonton oleh banyak tamu dan orang-orang Thian-liong-pang sambil maka minum, juga diiringi tambur dan gembreng!

Pertandingan itu berjalan dengan seru dan jelas tampak betapa tokoh Sin-to-pang mulai terdesak, bahkan pundaknya telah terluka goresan pedang.

Kalau semua tamu memandang dengan sikap dingin, demikian pula para tokoh Thian-liong-pang, hanya Bun Heng seoranglah yang menonton dengan hati tegang.

"Cukup....!"

Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, namun penuh wibawa keluar dari balik kerudung yang menyembunyikan kepala Ketua Thian-liong-pang.

Seketika tambur dan gembreng berhenti dan kedua orang yang bertanding itu pun meloncat mundur menghentikan gerakan masing-masing!

Bahkan kini seorang kakek yang agaknya merupakan ahli pengobatan Thian-liong-pang, menghampiri tokoh Sin-to-pang yang seperti bekas lawannya telah duduk kembali di kursi masing-masing, kemudian mengobati luka di pundak tokoh ini.

Bun Beng memandang bengong.

Hampir dia tidak dapat percaya akan dugaannya yang agaknya tidak dapat salah lagi.

Kedua orang tokoh itu diadu!

Seperti dua ekor jangkrik diadu!

Betapa mungkin ini?

Mengapa mereka sudi?

Dan agaknya mereka berdua tadi bukanlah pasangan pertama yang diadu.

Selagi ia menduga-duga dengan bingung, terdengar suara merdu dari balik kerudung.

"Ang-lojin dari Bu-tong-pai dan Tok-ciang Siucai dari Lam-hai-pang, harap suka maju dan memperlihatkan kepandaian!"

Jantung Bun Beng berdebar tegang.

"Siauw-hiap, silakan mencoba hidangan!"

Tiba-tiba kakek gundul berkata.

"Terima kasih, aku tidak lapar,"

Jawab Bun Beng tanpa mengalihkan pandang matanya dari Ketua Bu-tong-pai yang kini telah bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah maju ke tempat pertandingan dengan sikap tanpa ragu-ragu dan wajah tidak membayangkan sesuatu.

"Kalau begitu, silakan minum secawan arak sebagai penyambutan dari Pangcu kami,"

Kata pula kakek itu yang sudah bangkit dan menyodorkan secawan arak penuh kepada Bun Beng.

Mendengar ini, Bun Beng menoleh ke kiri, ke arah Ketua Thian-liong-pang dan ia melihat betapa sepasang mata di balik lubang kerudung itu tertuju kepadanya dengan sinar tajam.

Tanpa menjawab ia menerima cawan arak dan minum arak itu habis sekali teguk.

Hampir ia tersedak, tubuhnya terasa nyaman hangat setelah ia minum arak tadi.

Kepalanya menjadi agak pening sehingga diam-diam ia terkejut sekali.

Tak mungkin secawan arak membuat ia mabok!

"Harap Siauw-hiap minum secawan lagi sebagai penyuguhan dari Thian-liong-pang,"

Kata pula kakek gundul.

"Cukup, aku tidak ingin minum lagi, ingin menonton pertandingan!"

Kata Bun Beng dengan hati-hati, dan biarpun ia menjadi curiga sekali, pikirannya diputar untuk menduga apa yang terdapat di dalam arak yang diminumnya tadi, namun ia menujukan pandang matanya ke depan, ke arah Ketua Bu-tong-pai yang kini telah berhadapan dengan seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus tampan dengan pakaian seperti seorang siucai (gelar sasterawan).

"Harap Ji-wi suka mulai pertandingan tangan kosong! Awas, Ang-lojin, lawanmu adalah seorang yang memiliki Tok-ciang (Tangan Beracun), harus dilawan dengan jurus-jurus simpananmu!"

Terdengar pula suara halus dingin Ketua Thian-liong-pang.

Betapa heran hati Bun Beng ketika ia melihat dua orang itu, seperti dua ekor jangkerik atau ayam aduan, telah mulai saling serang tanpa banyak cakap lagi!

Pemuda yang dipanggil julukannya sebagai Tok-ciang Siucai (Sasterawan Tangan Beracun) telah membuka serangan setelah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tangan terbuka dan telapak tangannya berwarna kemerahan!

Serangan pertama ini merupakan tamparan dengan tangan kiri ke arah muka lawan disusul dorongan telapak tangan kanan ke arah dada!

Cepat sekali gerakannya dan kalau diingat bahwa kedua telapak tangannya mengandung hawa beracun, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini.

Namun Ang-lojin adalah Ketua Bu-tong-pai yang tentu saja memiliki tingkat ilmu silat yang sudah amat tinggi.

Dengan tenang namun tidak kalah cepatnya, ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri sambil mengibaskan tangan kanan ke kanan menangkis dan dari samping, tiba-tiba kaki kanannya melakukan tendangan menyerong ke arah (Lanjut ke

Jilid 16) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 perut siucai itu.

"Bagus sekali!"

Tiba-tiba kakek muka singa memuji tendangan itu dan memang Bun Beng juga dapat melihat betapa indah dan berbahayanya serangan balasan Ketua Bu-tong-pai yang dilakukan dengan cekatan.

Tok-siang Siucai ternyata juga lihai karena sambil merobah kaki melangkah mundur tangan kirinya dapat menangkis serangan itu dengan melemparkan ke kanan.

Namun, tiba-tiba tendangan kaki kanan dari Ketua Bu-tong-pai itu telah disusul dengan tendangan kaki kiri yang digerakkan dengan memutar dari belakang, kembali tendangan ini menyerong dan yang diarah adalah lutut kanan lawan!

Si Pemuda kaget, mundur selangkah menyelamatkan lututnya, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai terus melakukan tendangan kedua kakinya, cepat dan kuat sekali sehingga kedua kakinya yang kelihatan banyak saking cepatnya itu menimbulkan suara angin.

"Hemmmm.... Soan-hong-twi.... seperti itukah?"

Ucapan Ketua Thian-liong-pang ini lirih sekali dan agaknya tidak terdengar oleh orang lain, akan tetapi Bui Beng yang sejak tadi memperhatikannya, biarpun hanya dengan pendengaran karena matanya ditujukan untuk mengikuti pertandingan, dapat menangkap kata-katanya.

Jantung Bun Beng makin berdebar.

Para tokoh kang-ouw itu, termasuk Ketua Bu-tong-pai yang baru saja ditawan, semua menjadi begitu jinak dan penurut dan....

arak yang secawan saja sudah membuat dia mabok....

bukan tidak mungkin ada hubungannya!

Dia baru minum secawan saja sudah pening dan seolah-olah semangatnya mengendor, dan kakek gundul itu tadi berusaha membuat dia minum lebih banyak!

Kemudian, para tokoh yang saling bertanding mati-matian dan dengan bersungguh hati, Ketua Thian-liong-pang yang menonton dan memberi komentar!

Hemm, seolah-olah ada sinar terang memasuki kepala Bun Beng, namun pengaruh arak membuat keningnya berdenyut-denyut sehingga sukar bagi dia untuk memutar otaknya, tidak seperti biasa.

Betapapun juga, Bun Beng mengerahkan seluruh pikirannya untuk melakukan penyelidikan, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan mengumpulkan dugaan-dugaan.

Pertandingan antara Ketua Bu-tong-pai dan tokoh-tokoh Lam-hai-pang berlangsung makin seru.

Akan tetapi Bun Beng mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya.

Ternyata ayah Ang Siok Bi, yaitu Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, biarpun kini mau saja diadu seperti jangkerik, tetap memiliki watak yang baik, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ketua partai persilatan besar.

Pemuda bertangan ganas itu jelas melakukan serangan-serangan berbahaya dan mematikan, namun Ketua Bu-tong-pai itu banyak mengalah dan biarpun terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Bu-tong-pai untuk menyelamatkan diri, Namun serangan balasannya tidak bersungguh-sungguh seolah-olah dia enggan untuk mencelakai lawan, tidak mau melukai hebat, apalagi membunuh.

Hal ini tentu saja dapat ia lihat karena banyak lowongan baik tidak dipergunakan oleh kakek itu.

Kalau Ang-lojin menghendaki, tentu tidak sampai tiga puluh jurus lawannya dapat dirobohkan dengan pukulan-pukulan istimewanya.

Betapapun juga, tingkat pemuda itu kalah tinggi dan kini dia selalu terdesak mundur.

Ketika sebuah tendangan kilat menyerempat pinggang pemuda itu dan membuatnya terhuyung miring, kalau Ang-lojin mau tentu mudah baginya menyerang dengan pukulan maut.

Namun kakek ini hanya mendorong pundak pemuda itu dan membuatnya roboh terjengkang.

"Cukup!"

Teriak Ketua Thian-liong-pang.

"Tok-ciang Siucai, harap mundur dan Pek-eng Sai-kong harap maju untuk melayani Ang-lojin dengan senjata. Ang-lojin, ilmu silat tangan kosong Bu-tong-pai hebat, harap perlihatkan ilmu silatmu dengan senjata. Bukankah Siang-kiam (Sepasang Pedang) menjadi keistimewaan Bu-tong-pai? Silakan!"

Berkata demikian, Ketua Thian-liong-pang ini menggerakkan tangan kirinya dan sepasang pedang melayang ke arah Ang-lojin.

Ketua Bu-tong-pai ini tidak menjawab melainkan menerima sepasang pedang itu dengan gerakan indah.

Bun Beng melihat munculnya seorang pendeta berpakaian lebar dan bermuka penuh brewok telah menerima sebatang toya dari tangan kakek muka singa yang duduk di sebelah kanan Ketua Thian-liong-pang.

"Pek-eng Sai-kong, kami telah menyaksikan dan mengagumi ilmu toyamu. Harap jangan sungkan-sungkan, pergunakan jurus-jurus yang paling hebat, terutama jurus kedua puluh tujuh Pek-eng-coan-ci (Garuda Putih Menyabetkan Ekor). Hati-hati, ilmu siang-kiam Bu-tong-pai amat lihai!"

Dalam suara dari balik kerudung itu terkandung kegembiraan besar.

Bun Beng makin berdebar karena di dalam otaknya yang kacau oleh pengaruh arak memabokkan, ia kini mulai dapat menyingkap tabir yang merahasiakan semua peristiwa yang aneh yang dihadapinya.

Kembali terjadi pertandingan dan sekali ini lebih hebat menegangkan daripada tadi.

Sai-kong itu amat kuat, toyanya benar-benar berbahaya dan teringatlah Bun Beng akan sebuah aliran yang menamakan dirinya Pek-eng-pang (Toya Garuda Putih) yang merupakan sekelompok orang gagah yang sesungguhnya memiliki dasar ilmu toya Siauw-lim-pai namun telah dicampur-aduk dengan ilmu silat golongan hitam!

Jadi saikong ini adalah seorang tokoh Pek-eng-pang!

Ia memandang penuh perhatian karena diapun ingin sekali menyaksikan bagaimana ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah dirobah itu!

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika toya bertemu dengan pedang, dan tampaklah sinar toya yang kuning bergulung-gulung menjadi satu dengan sinar pedang yang putih.

Sekali ini, Ketua Bu-tong-pai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena yang menjadi lawannya adalah orang terpandai dari Pek-eng-pang!

Biarpun Ketua Bu-tong-pai ini tidak mempunyai hati yang kejam tidak ingin melukai apalagi membunuh lawan, namun sekali ini mau tidak mau dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, karena kalau tidak, dia sendiri yang akan menjadi korban toya yang ganas.

Bun Beng mengepal ujung lengan kursinya.

Diam-diam ia telah siap sedia untuk menolong kalau Ketua Bu-tong-pai terancam bahaya.

Biarpun dia kini dapat menduga bahwa saikong itu, seperti juga Ketua Bu-tong-pai, hanya berperan seperti dua ekor jangkerik aduan, namun tetap saja hatinya berpihak kepada Ang-lojin.

Bukan semata-mata karena kakek itu adalah ayah Ang Siok Bi yang cantik, biarpun hal ini sedikit banyak menjadi sebab juga, akan tetapi terutama sekali karena ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah berubah itu menurut keterangan suhunya dibawa lari oleh seorang murid Siauw-lim-pai yang murtad!

"Hyaaatttt....!"

Tiba-tiba saikong itu membentak keras dan Bun Beng diam-diam terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia telah meremas patah ujung lengan kursinya, siap untuk disambitkan kalau Ang-lojin terancam bahaya!

Dan memang hebat sekali jurus yang kini dipergunakan oleh Sai-kong itu dalam penyerangannya.

Itulah jurus dari ilmu toya Siauw-lim-pai, hal ini diketahui jelas oleh Bun Beng, akan tetapi jurus itu telah dirobah sedemikian rupa sehingga selain lihai juga menjadi ganas dan licik sekali.

Toya itu menyodok ke arah pusar lawan dengan cepatnya, dan begitu Ang-lojin menangkis dengan pedang kiri, Tiba-tiba tubuh saikong itu terguling ke depan, lalu tubuhnya menggelinding ke arah lawan, tongkat atau toya itu diputar menyerampang kaki lawan dilanjutkan dengan sodokan ke atas, mengarah mata dibarengi dengan tendangan ke arah anggauta tubuh di bawah pusar.

Serangan yang mematikan!

Namun Ang-lojin tidak menjadi gugup menghadapi jurus yang oleh Ketua Thian-liong-pang disebut Pek-eng-coan-ci tadi dan terpaksa dia pun mengeluarkan jurus simpanannya.

Kedua pedangnya melakukan gerakan menggunting dan begitu berhasil menjepit toya, tubuhnya terangkat ke atas dengan kaki ke atas, kemudian ia berjungkir balik, melepaskan je-pitan toya dan sambil menukik turun, sepasang pedangnya melakukan gerakan menyerang dari kanan-kiri, lagi-lagi menggunting bagian leher dan pinggang lawan dengan sepasang pedang!

"Heh, itukah Siang-in-toan-san (Sepasang Awan Memutuskan Gunung)?"

Terdengar Ketua Thian-liong-pang berseru lirih namun dapat terdengar cukup jelas oleh Bun Beng.

Saikong itu kaget sekali dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang sambil memutar toya membentuk lingkaran melindungi tubuh ia dapat menyelamatkan diri, akan tetapi ia terkejut dan sampai terhuyung-huyung.

Kini ia berteriak lagi dan tiba-tiba tubuhnya membalik, sikapnya seperti hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba sambil membalik ini toyanya meluncur terlepas dari tangan, merupakan anak panah raksasa yang menyambar ke arah tubuh Ang-lojin.

"Trakkk!"

Toya itu menyeleweng dan menancap di atas lantai di depan Ang-lojin yang tadi saking tak menyangka hampir saja menjadi korban toya.

"Cukup! Harap Ji-wi kembali ke kursi masing-masing!"

Terdengar Ketua Thian-liong-pang berkata sambil memandang ke arah Bun Beng yang sudah bangkit berdiri.

Semua orang Thian-liong-pang kini menoleh ke arah Bun Beng, maklum bahwa Ketua mereka marah sekali kepada tamu muda yang dengan lancang telah menimpuk toya dengan ujung lengan kursi yang dipatahkan.

"Chie Kang, berapa cawankah tamu Siauw-lim-pai itu minum arak?"

Terdengar wanita berkerudung bertanya kepada kakek gundul.

Bagi orang yang tidak tahu, tentu Ketua itu apakah tamu mudanya terlalu banyak minum arak sehingga mabok dan melakukan kelancangan itu.

Akan tetapi Bun Beng yang sudah dapat menduga, hanya tersenyum, apalagi ketika mendengar kakek gundul menjawab.

"Dia hanya minum secawan, menolak untuk minum lagi, Pangcu."

"Dan untung bahwa aku hanya minum secawan, kalau tidak tentu aku pun akan kau jadikan jangkerik aduan, bukan begitu, Thian-liong-pangcu?"

Bun Beng kini menghadapi Ketua itu dengan sikap tenang, sedikitpun tidak gentar, mulutnya tersenyum mengejek.

Biarpun wajah itu tidak tampak, namun sepasang mata yang tampak dari kedua lubang itu mengeluarkan sinar berapi, tanda bahwa Ketua ini marah sekali.

Sejenak hening di situ, hening yang penuh ketegangan, dirasakan benar oleh semua anggauta Thian-liong-pang.

Kalau Ketua mereka sudah marah, tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

"Orang muda, karena engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai dan kami tidak mempunyai permusuhan dengan Siauw-lim-pai, maka perbuatanmu menyerang dua pembantu kami, kami maafkan. Bahkan kami menerimamu sebagai seorang tamu terhormat, biarpun engkau masuk seperti seorang pencuri. Akan tetapi jangan mengira bahwa karena engkau seorang murid Siauw-lim-pai lalu boleh berbuat sesuka hatimu dan lancang!"

Bun Beng mengangkat dadanya dan memandang Ketua itu dengan sikap menantang.

"Thian-liong-pangcu! Aku datang bukan sebagai utusan Siauw-lim-pai, me-melainkan atas nama pribadi yang ingin mengingatkanmu bahwa perbuatanmu tidak baik dan kuminta engkau segera menghentikan perbuatanmu itu!"

"Eh, bocah sombong. Perbuatan apa yang kau maksudkan?"

Suara Ketua Thian-liong-pang mengandung keheranan karena dia benar-benar merasa bahwa di dunia ini terdapat seorang pemuda yang begini tidak tahu diri berani menentangnya secara terang-terangan, bahkan menegurnya seperti seorang dewasa menegur seorang kanak-kanak!

"Hemmm, perlukah dijelaskan lagi?

Baiklah agar jangan aku dikatakan bicara mengawur dan menuduh kosong, baik kukatakan bahwa aku sudah mengetahui rahasia semua penculikan yang dilakukan Thian-liong-pang terhadap para tokoh kang-ouw.

Engkau menculik mereka, termasuk Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, kemudian kau beri mereka minuman arak yang mengandung racun perampas ingatan, mungkin yang pengaruhnya hanya untuk sementara saja.

Kemudian, selagi para Locianpwe yang bernasib malang ini kehilangan ingatan mereka, kau jadikan mereka jangkerik-jangkerik aduan karena engkau ingin mengetahui rahasia ilmu silat simpanan mereka yang terpaksa harus mereka pergunakan dalam pertandingan untuk menyelamatkan diri.

Bukankah begitu?"

Keadaan makin tegang dan semua anggauta Thian-liong-pang menganggap pemuda lancang itu menjadi calon mayat, karena mana mungkin Ketua mereka membiarkan saja kekurangajaran seperti itu?

Akan tetapi, sikap dan ucapan Bun Beng menimbulkan kekaguman di hati Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu.

Memang wanita ini sebagai seorang sakti, akan selalu kagum terhadap orang yang gagah berani, yang menganggap nyawa sebagai hal yang ringan, menganggap kematian sebagai hal sepele, menganggap bahaya bukan apa-apa dalam membela kebenaran yang dipercayanya.

Hanya ada keraguan di hatinya apakah pemuda ini bersikap sedemikian berani terdorong sifat gagah yang aseli, ataukah hanya untuk bersombong saja terdorong oleh nama besar Siauw-lim-pai.

"Bocah sombong! Kalau benar begitu, mengapa? Apa kehendakmu?"

"Pangcu, aku hanya memperingatkan bahwa engkau main-main dengan api! Engkau menanam permusuhan dengan seluruh dunia kang-ouw dengan perbuatanmu ini. Aku minta agar engkau menghentikan perbuatan ini dan membebaskan semua tawanan."

"Hemm, tanpa kau minta, semua sahabat yang menjadi tamuku akan kubebaskan. Kau memperingatkan agar kami menghentikan perbuatan kami. Kalau aku menolak peringatanmu ini, habis kau mau apa?"

"Terpaksa aku akan menantangmu bertanding! Aku tahu bahwa engkau sakti, Thian-liong-pangcu, akan tetapi demi membela kebenaran, demi keselamatan seluruh tokoh kang-ouw, aku siap mengorbankan nyawa!"

"Keparat cilik! Engkau sombong sekali! Pangcu, ijinkan saya membasmi bocah sombong ini!"

Tan Wi Siang sudah meloncat maju dengan marah sekali.

"Wi Siang, mundurlah!"

Ketua Thian-liong-pang membentak.

"Bocah ini mempunyai ketabahan besar, atau memang hanya seorang bocah sombong yang mengandalkan nama Siauw-lim-pai. Biar Paman Chie Kang saja yang melayani-nya!"

"Baik, Pangcu!"

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang sudah meloncat maju. Kakek gudul ini sudah sejak tadi merasa marah menyaksikan sikap Bun Beng.

"Eh, orang muda yang tidak mengenal kebaikan orang! Majulah, ingin kulihat sampai di mana kepandaianmu!"

Katanya dengan suara yang tinggi nyaring.

"Chie Kang, jangan bunuh dia, kau tahu apa yang harus kau lakukan!"

"Hemmm,"

Bun Beng mengejek.

"Aku pun tahu, Pangcu! Tentu engkau hendak mempelajari pula jurus-jurus simpanan dari Siauw-lim-pai, bukan? Ha, sekali ini engkau akan kecelik!"

Kembali Nirahai tertegun.

Bocah ini selain memiliki keberanian yang luar biasa, juga amat cerdik seolah-olah mengetahui semua isi hatinya.

Terhadap bocah seperti ini, dia harus berlaku hati-hati.

Diam-diam ia menduga-duga siapakah gerangan bocah ini.

Apakah Ketua Siauw-lim-pai yang mendengar akan penculikan-penculikan yang dilakukannya, sengaja mengirim seorang muridnya yang dapat dipercaya untuk melakukan penyelidikan?

Dia maklum bahwa di Siauw-lim-pai terdapat banyak orang pandai, maka dia tidak pernah berurusan dengan Siauw-lim-pai, bahkan memesan kepada para anak buah untuk menjauhkan diri dari permusuhan dengan partai itu.

Akan tetapi Ketua Siauw-lim-pai yang mengambil langkah pertama memusuhi Thian-liong-pang, hemmm, dia pun tidak takut!

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang maklum akan maksud Ketuanya dan kata-kata Bun Beng yang dengan tepat membongkar niat Ketuanya membuat ia makin marah.

Sambil menggereng ia telah menerjang maju, sengaja mengeluarkan jurus berbahaya untuk memaksa lawan muda itu mengeluarkan jurus simpanan dari Siauw-lim-pai agar dapat dilihat oleh Ketuanya.

Memang apa yang dilontarkan oleh Bun Beng sebagai tuduhan tadi tepat sekali.

Nirahai sengaja menculik tokoh-tokow kang-ouw, kemudian membius mereka dengan arak beracun, mengadu mereka untuk dapat mempelajari gerakan yang aseli dari jurus-jurus terlihai semua partai yang hanya dikenalnya bagian teorinya saja.

Dia ingin memperdalam ilmu silatnya sedemikian rupa dalam persiapannya menghadapi suaminya, Suma Han atau Pendekar Siluman, juga Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!

Menghadapi terjangan kakek gundul, Bun Beng terkejut.

Hebat bukan main serangan lawannya yang menubruk dengan kedua tangan terbuka jarinya, mencengkeram dari atas dan bawah dengan getaran hawa yang membuktikan tenaga sin-kang kuat.

Untuk menggunakan ilmu silat Siauw-lim-pai dia tidak mau, karena dia tidak ingin kalau Ketua Thian-liong-pang yang amat lihai itu "mencuri"

Jurus-jurus pilihan dengan melihat dia mainkan jurus itu.

Akan tetapi terjangan kakek gundul yang menjadi lawannya benar-benar amat berbahaya.

Maka ia cepat mengerahkan gin-kangnya dan hanya mengelak ke sana ke mari tanpa mainkan jurus pilihan Siauw-lim-pai!

Untung bahwa dalam hal gin-kang, dia dapat mengatasi gerakan kakek itu sehingga sampai belasan jurus ia mampu menghindarkan semua terjangan kakek itu dengan hanya mengandalkan illmunya meringankan tubuh!

"Heh, kau masih keras kepala, ya?"

Chie Kang mendengus marah menyaksikan lawannya itu benar-benar tidak mengeluarkan jurus Siauw-lim-pai dan hanya mengelak ke sana-sini.

Ia merobah serangannya, kini dia mengerahkan sin-kang dan menyerang dengan gerakan lambat, namun kedua tangannya mendatangkan angin yang bergulung-gulung menghadang semua jalan keluar Bun Beng!

Pemuda itu terkejut, maklum bahwa menghadapi penyerangan seperti itu tidak mungkin baginya untuk hanya mengandalkan gin-kang saja.

Maka ia berseru keras, tubuhnya melakukan gerakan aneh sekali, tubuhnya menyeruduk ke depan, kedua tangannya membentuk lingkaran-lingkaran aneh sekaligus menghalau semua serangan lawan dan berbalik kedua tangannya yang seolah-olah berubah menjadi banyak sekali itu mengirim pukulan dari semua penjuru!

"Aihhhh....!"

Chie Kang berteriak, berusaha mengelak namun tetap saja pundaknya terkena tangan Bun Beng sehingga ia terhuyung ke belakang, Bun Beng mendesak ke depan untuk mengirim pukulan yang akan merobohkan lawan.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, kedua tangan Bun Beng tertolak ke samping, dan sebelum Bun Beng sempat menjaga diri, tahu-tahu ia telah terguling roboh.

Tubuhnya jatuh terlentang dan tahu-tahu kaki kiri Ketua Thian-liong-pang telah menginjak dadanya!

Bun Beng merasa betapa kaki yang kecil itu seperti gunung beratnya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi, dan maklumlah pemuda ini bahwa sekali wanita itu mengerahkan tenaga, dadanya akan pecah!

Namun dia tidak takut dan memandang dengan mata melotot.

"Bocah sombong! Dari mana engkau mempelajari ilmu tadi?"

Biarpun dia sudah tidak berdaya dan hanya menanti maut yang berada di telapak kaki wanita itu, namun Bun Beng merasakan kegirangan dan kepuasan besar karena ia mendapat kenyataan bahwa wanita sakti ini tidak mengerti jurusnya tadi!

"Ha-ha-ha-ha!

Thian-liong-pangcu, mau bunuh, lekas bunuhlah.

Siapa takut mati dan siapa takut padamu?

Engkau memang pandai seperti iblis, akan tetapi juga menyeleweng dan jahat seperti iblis.

Memang engkau iblis, kalau tidak, tentu engkau tidak akan menyembunyikan mukamu di belakang kerudung!

Akan tetapi, biarpun engkau iblis sendiri yang masih belum puas dan ingin mencuri ilmu silat seluruh orang kang-ouw, tetap saja engkau tidak menang melawan Pendekar Siluman dari Pulau Es!

Ha-ha-ha, engkau akan dipermainkan lagi seperti dulu di Sungai Fen-ho, seperti yang telah kusaksikan sendiri.

Ha-ha-ha!"

Bun Beng merasa betapa kaki itu makin berat menindih dadanya.

Ia memejamkan mata, menanti datangnya maut, akan tetapi kaki itu tidak menginjak terus, bahkan turun dari dadanya dan tiba-tiba rambutnya yang dikuncir itu terjambak, tubuhnya terangkat dan dipaksa bangkit.

Ia kini berdiri di depan wanita itu, melihat sepasang mata di balik kerudung yang seolah-olah hendak memba-karnya.

"Siapa engkau? Siapa....?"

Wanita itu membentak, kini suaranya tidak halus merdu lagi, melainkan melengking nyaring penuh kemarahan.

"Aku akan mati, perlu apa menyembuyikan nama? Aku Gak Bun Beng...."

"Ya Tuhan....!"

Bun Beng mendengar suara ini dari atas anak tangga, akan tetapi dia tidak tahu siapa yang berseru kaget itu karena Ketua Thian-liong-pang di depannya tiba-tiba tertawa menghina.

"Hi-hik, kiranya anak haram, keturunan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak datuk kaum sesat? Pantas.... pantas....! Engkau jahat, melebihi Ayahmu yang tidak sah. Manusia macammu ini tidak layak hidup!"

Nirahai mengangkat tangan kanannya, siap menghantam kepala Bun Beng.

Sekali ini, karena Bun Beng sudah berdiri dan tidak seperti tadi, diinjak tak mampu berkutik, tentu saja tidak sudi mam-pus begitu saja tanpa melawan.

"Plakkk!"

Hantaman dengan telapak wanita itu berhasil dia tangkis dengan jurus Sam-po-cin-keng dan biarpun tubuhnya terlempar sampai lima meter jauhnya, ia berhasil menangkis dan tidak terluka.

Dia sudah meloncat bangun lagi, siap melawan mati-matian.

"Pangcu....!"

Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan berkelebatlah tubuh kakek bermuka singa menghadang tubuh Nirahai yang sudah berjalan menghampiri Bun Beng dengan mata berkilat penuh penasaran.

"Sai-cu Lo-mo, minggirlah engkau! Bocah ini harus kubunuh!"

Bentak ketuanya.

"Pangcu, ampunkanlah.... dia cucu keponakan saya, satu-satunya keturunan saya, bagaimana Pangcu tega untuk membasmi keturunan saya? Ampunkanlah, atau Pangcu bunuh saya sekalian!"

Mendengar ini, tiba-tiba lemaslah tubuh Nirahai dan ia memandang wajah pembantunya yang berlutut di depan kakinya.

Bu Beng berdiri memandang dengan mata terbelalak!

Dia cucu keponakan kakek bermuka singa itu?

"Sudahlah!

Tidak dibunuh pun tidak mengapa, akan tetapi harus suka menjadi anggauta kita."

"Apa? Aku menjadi anggauta Thian-liong-pang, membantu kalian menculiki orang-orang gagah untuk dicuri kepandaiannya? Terima kasih, lebih baik mati!"

Bun Beng membentak sambil membanting kakinya penuh kemarahan. Sai-cu Lo-mo cepat meloncat ke depan Bun Beng sambil membentak penuh teguran.

"Gak Bun Beng, engkau tidak boleh berkata begitu! Engkau adalah cucu keponakanku sendiri, harus mentaati kata-kataku."

Bun Beng memandang kakek itu penuh perhatian.

"Locianpwe, sejak kapankah aku menjadi cucu keponakanmu dan siapakah Locianpwe?"

"Aku adalah Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, mendiang Ibumu Bhok Khim, adalah keponakanku."

Diam-diam Bun Beng merasa terharu.

Baru sekali ini dia bertemu dengan orang yang ada hubungan keluarga dengannya, akan tetapi dia bertanya penuh rasa penasaran.

"Kalau benar demikian mengapa baru sekarang Locianpwe mengaku sebagai Paman Kakekku?"

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang.

"Engkau tidak tahu, Bun Beng. Aku telah berusaha merampasmu dengan mengirim anak buah Thian-liong-pang dahulu ke kuil tua, dekat Sungai Fen-ho, akan tetapi usahaku gagal, engkau dirampas oleh Pendekar Siluman dan diberikan kepada orang Siauw-lim-pai. Sekarang kebetulan sekali kita dapat berkumpul, engkau menurutlah, tinggal di sini menjadi anggauta kami, mempelajari ilmu dari Pangcu dan membuat jasa."

"Maaf, Kakek, hal ini tidak dapat kulakukan. Bukan sekali-kali aku tidak memandang perhubungan keluarga antara kita. Aku tahu engkau seorang yang baik dan telah berusaha menyelamatkan aku, akan tetapi untuk menjadi anggauta Thian-liong-pang aku tidak sudi. Terserah kepada Thian-liong-pangcu, hendak membebaskan aku bersama para tokoh kang-ouw di sini atau hendak membunuhku!"

"Sai-cu Lo-mo, mengingat dia cucu keponakanmu, aku tidak membunuhnya. Akan tetapi dia harus menjadi anggauta kita atau mati!"

Terdengar Nirahai berkata, suaranya dingin dan mengandung keputusan yang tidak dapat dibantah lagi.

Sai-cu Lo-mo menjadi bingung sekali.

Dia ingin menyelamatkan keturunannya ini, akan tetapi maklum bahwa pemuda ini memiliki keberanian dan kenekatan yang sukar ditundukkan dan ia maklum pula bahwa kalau Pangcunya marah, tidak ada seorang pun berani membantahnya.

Lalu ia mendapatkan akal dan berkata.

"Pangcu, ampunkan saya dan ampunkan dia yang masih muda. Kalau dia tidak mau, biar dia kita tawan dan perlahan-lahan saya akan membujuknya."

Terdengar jawaban dengan suara kesal.

"Sesukamulah....."

Sai-cu Lo-mo menjadi girang sekali.

"Bun Beng, dengarlah betapa baiknya Ketua kita. Engkau menurutlah, Cucuku!"

"Maaf, aku tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang! Biarpun Ayahku yang tidak pernah kukenal itu disebut seorang datuk kaum sesat, namun aku bukanlah orang sesat!"

"Bocah bandel, kalau begitu aku akan menawanmu!"

Sai-cu Lo-mo membentak dan menubruk ke depan hendak menangkap Bun Beng.

Akan tetapi, Bun Beng sudah mengelak cepat dan ketika kakek itu menyusul dengan serangan totokan untuk merobohkannya, dia cepat menangkis.

"Plak-plak!"

Bun Beng terpental ke belakang dan Sai-cu Lo-mo terhuyung.

Diam-diam Bun Beng terkejut, maklum bahwa orang yang mengaku kakeknya ini memang memiliki kepandaian dan tenaga lebih hebat daripada kakek gundul yang berhasil ia kalahkan tadi.

Di lain pihak, Sai-cu Lo-mo juga kagum.

Kiranya cucu keponakannya ini benar tangguh, pantas saja sutenya kalah.

"Gak Bun Beng, berani engkau melawan kakekmu sendiri?"

"Aku tidak melawan seorang kakekku, melainkan melawan orang-orang Thian-liog-pang."

Jawab Bun Beng tegas.

"Engkau benar tak tahu diri dan sombong!"

Sai-cu Lo-mo kini menerjang dengan hebatnya.

Bun Beng terpaksa menggerakkan kaki tangan melawan dan kembali dia menggunakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng.

Begitu ia mainkan jurus-jurus aneh ilmu silat ini, Sai-cu Lo-mo mengeluarkan seruan kaget dan kakek ini terdesak hebat!

Melihat gerakan pemuda itu Nirahai menjadi kagum dan tertarik sekali.

Dia telah melihat dan mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, akan tetapi belum pernah ia me-nyaksikan ilmu silat tangan kosong seperti yang dimainkan pemuda itu.

Sungguhpun gerak kaki pemuda itu mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah matang, namun jurus itu bukanlah jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.

"Wi Siang kau bantulah Lo-mo menangkap bocah itu, pancing sedapatmu agar dia mengeluarkan seluruh ilmunya,"

Bisiknya dengan tertarik sekali sambil duduk kembali ke atas kursinya untuk menon-ton dan mempelajari jurus-jurus yang dimainkan Bun Beng.

Tang Wi Siang kini sudah mengenal Bun Beng sebagai anak yang dahulu pernah menolongnya ketika ia bertanding melawan Thai Li Lama di pulau Sungai Huang-ho dan hampir celaka oleh ilmu sihir Lama itu.

Dia meloncat dan menyerang Bun Beng dengan gerakan lincah sekali.

Bun Beng terkejut.

Dia maklum bahwa wanita ini memiliki gerakan yang cepat luar biasa dan mungkin lebih lihai daripada Sai-cu Lo-mo.

Dan memang dugaannya benar, Tang Wi Siang menjadi orang yang paling disayang dan dipercaya oleh Nirahai di antara para pembantunya, maka wanita itu dia beri pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi daripada pembantu-pembantu lain, bahkan Tang Wi Siang telah dia beri Ilmu Silat Yancu-sinkun (Ilmu Silat Burung Walet) yang mengandalkan gerakan gin-kang tinggi sekali.

Menghadapi Sai-cu Lo-mo saja dia sudah merasa berat, bukan hanya karena kakek itu lihai sekali, juga ia merasa enggan untuk melukai orang tua paman ibunya ini.

Sekarang ditambah lagi dengan Tang Wi Siang, dia benar-benar menjadi terancam hebat.

Gerakan penyerangan Wi Siang demikian cepatnya seolah-olah kedua lengan wanita itu berubah menjadi enam dan karena Bun Beng harus menjaga jangan sampai ia tertawan oleh kakek itu, sebuah totokan tangan kiri wanita itu ke arah lehernya tak dapat ia elakkan lagi.

Akan tetapi, ternyata tangan itu tidak dilanjutkan menotok, hanya mendorong pundaknya sehingga ia terpental dekat anak tangga.

Ia meloncat lagi dan sekilas pandang ia melihat muka berkerudung Ketua Thian-liong-pang yang sedang memandangnya penuh perhatian, ia menjadi terkejut sekali dan sadar bahwa Tang Wi Siang yang turun membantu Sai-cu Lo-mo tentu hanya mendesaknya agar dia mengeluarkan semua jurus ilmunya, yaitu Sam-po-cin-keng dan Si Ketua itu hendak menyaksikan dan mencuri ilmu itu dengan jalan melihat gerakan-gerakannya!

Bun Beng adalah seorang pemuda yang cerdik.

Dia tahu bahwa betapapun juga, dia takkan mampu menang karena kalau Si Ketua sendiri turun tangan, betapapun dia melawan akan percuma saja, maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan ilmunya agar tidak dicuri oleh Ketua itu.

Tak mungkin engkau akan dapat mencuri jurus-jurus simpanan Siauw-lim-pai dan Sam-po-cin-keng, pikirnya dan kini ia melawan dengan gerakan sederhana sehingga dalam belasan jurus saja ia telah roboh tertotok oleh Sai-cu Lo-mo.

Nirahai menjadi terkejut, penasaran, dan marah.

Dia pun mengerti bahwa pemuda bandel itu sengaja tidak memperlihatkan jurus-jurus aneh itu, dan sengaja membiarkan dirinya tertangkap!

"Lempar dia ke dalam penjara di bawah tanah!"

Bentak Ketua Thian-liong-pang.

"Jangan keluarkan sebelum dia mentaati perintah!"

Sai-cu Lo-mo terkejut dan memandang Ketuanya.

Akan tetapi sinar mata ketuanya jelas menyatakan tidak mau dibantah.

Terpaksa Sai-cu Lo-mo diam saja melihat tubuh pemuda itu diseret oleh dua orang petugas yang membawa ke tempat tahanan di bawah tanah yang letaknya di sebelah belakang kompleks bangunan-bangunan sarang Thian-liong-pang.

Biarpun tubuhnya sudah lemas tertotok, ketika ia diseret pergi, Bun Beng masih mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang.

"Lanjutkan pesta dan pertandingan!"

Dia merasa puas dapat menangkap kemarahan dan kejengkelan dalam suara itu.

Dia telah kalah, dia telah gagal menolong para tokoh kang-ouw, namun sedikitnya dia telah berhasil membuat Ketua Thian-liong-pang kecewa, terhina dan marah-marah!

Tahanan di bawah tanah itu amat menyeramkan.

Dua orang petugas yang kini menggotong tubuh Bun Beng, membawa pemuda itu memasuki lorong bawah tanah yang menurun melalui anak tanga batu.

Lorong yang gelap dan di tiap tikungan terdapat pintu besi yang terjaga oleh dua orang anggauta Thian-liong-pang.

Setelah melalui tujuh pintu, sampailah mereka di sebuah kamar tahanan dan tubuh Bun Beng dilempar ke dalam kamar ini.

Bun Beng tidak memperhatikan tempat itu, juga tidak peduli ketika pintu kamar itu ditutup dari luar.

Dia sibuk mengatur pernapasan, dan berusaha membebaskan totokan agar jalan darahnya mengalir normal kembali.

Dia maklum bahwa tanpa usaha ini pun, akhirnya totokan itu akan punah, akan tetapi, hal itu akan makan waktu beberapa jam lamanya.

Akhirnya dia berhasil memulihkan kembali jalan darahnya dan ia bangkit duduk, bersila dan menghimpun tenaga karena mulai saat itu dia harus berlaku hati-hati dan tenaganya harus pulih untuk meghadapi segala kemungkinan.

Kurang lebih sejam lamanya dia ber-siulian, tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya.

Setelah tenaganya pulih dan batinnya tenang kembali, barulah Bun Beng menghentikan samadhinya dan membuka mata.

Mula-mula yang ia dapati adalah bahwa kamar itu agak gelap, remang-remang dan lembab.

Kemudian setelah membiasakan matanya dalam cuaca yang remang-remang itu, ia bangkit berdiri dan mulai menyelidiki kamar tahanan.

Sebuah kamar berdinding batu yang lebarnya tiga meter persegi, langit-langitnya juga batu, tingginya dari lantai ada empat meter.

Tidak ada jendelanya, hanya terdapat sebuah pintu dari mana dia dilempar masuk.

Pintu ini kecil hanya cukup dimasuki satu orang, dan terbuat dari baja tebal yang masuk ke dalam dinding batu.

Kokoh kuat pintu itu, tak mungkin dibongkar.

Bun Beng menarik napas panjang karena sekali pandang saja dia maklum bahwa tidak mungkin lolos dari tempat ini menggunakan tenaga membongkar pintu atau menjebol dinding.

Harus mencari akal.

Namun, andaikata dia dapat keluar, bagaimana ia dapat lolos dari Thian-liong-pang?

Lorong itu saja mempunyai tujuh buah pintu yang terjaga, belum lagi diingat bahwa kalau dapat keluar dari lorong bawah tanah, di atas sana masih ada tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai, terutama sekali Ketuanya!

"Aku harus bersabar dan melihat perkembangan selanjutnya,"

Akhirnya ia menghibur diri sendiri.

Betapapun juga dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibunuh, karena selain Sai-cu Lo-mo mengaku sebagai kakeknya itu tidak suka melihat keturunannya terbunuh, juga Ketua Thian-liong-pang agaknya ingin sekali mendapatkan ilmu silatnya, terutama sekali Sam-po-cin-keng!

Betapapun, dia masih memiliki ilmu sebagai "modal"

Untuk hidup!

Dengan pikiran ini, hatinya menjadi lebih tenang dan Bun Beng lalu mencari tempat duduk di lantai yang enak.

Akan tetapi, mana ada tempat duduk yang enak?

Lantai itu terbuat dari batu pula, kasar dan agak basah karena selalu ada air menitik turun dan di atas lantai tampak rangka-rangka manusia berserakan!

Bun Beng mengerutkan keningnya.

Ada tujuh buah tengkorak manusia di dalam kamar mereka itu.

Siapa tahu mungkin lebih banyak lagi, tersembunyi di balik batu-batu berlumut.

Dia tidak peduli, akan tetapi, rangka-rangka manusia di situ memperingatkannya bahwa kalau dia tidak mentaati perintah Ketua Thian-liong-pang dan tidak mau menjadi anggautanya, tanpa dibunuh pun dia akan mati di tempat ini, seperti rangka-rangka itu!

Akan tetapi, mungkinkah kakek muka singa yang telah berani mati membelanya itu akan membiarkan dia mati?

Tidak!

Dia tidak boleh mati kelaparan di tempat ini.

Dia harus berusaha untuk keluar dari neraka ini.

Mulailah Bun Beng melakukan penyelidikan.

Mula-mula dia memeriksa pintu itu dan mencoba tenaganya.

Namun segera mendapat kenyataan bahwa tidak mungkin ia menjebol pintu yang amat kuat itu.

Dia lalu memeriksa dinding batu.

Dinding yang amat kokoh, batu bertumpuk dengan tanah yang keras.

Kokoh kuat tak mungkin dibongkar dengan tangan kosong.

Siapa tahu, akan ada penjaga datang menyerahkan makanan, pikirnya.

Kalau mereka, terutama kakek muka singa, tidak menghendaki dia mati, tentu mereka akan mengirim makanan dan minuman.

Dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibiarkan mati begitu saja sebelum dlbujuk.

Maka ia menghentikan pemeriksaannya dan kembali duduk di sudut kamar itu, bersila dan bersamadhi.

Teringat ia akan semua pengalamannya di waktu kecil.

Sudah berkali-kali, semenjak terseret oleh pusaran maut air Su-rgai Huang-ho, dia terancam bahaya maut, bahkan terpaksa harus hidup di antara sekumpulan monyet, dibawa terbang burung raksasa dan jatuh terlepas ke atas laut, namun selalu dia tertolong!

Kalau Thian menghendaki, sekali ini pun dia tentu akan selamat.

Teringat akan kekuasaan Tuhan, Bun Beng menjadi tenang.

Manusia hidup tergantung dari kekuasaan Tuhan, mutlak dan seluruhnya!

Tanpa kekuasaan Tuhan, manusia tak mungkin dapat hidup.

Detak jantung yang memompa darah ke seluruh bagian tubuh, pernapasan yang memberi makan darah, semua berjalan otomatis tanpa dikuasai manusia.

Dalam tidur sekalipun, detak jantung dan pompa paru-paru tetap bekerja, siapa yang mengerjakannya kalau bukan kekuasaan Tuhan?

Dalam keadaan sunyi gelap menghadapi ancaman maut ini, perasaan Bun Beng makin dekat dengan kekuasaan Tuhan.

Teringatlah ia akan wejangan-wejangan gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, akan kekuasaan Tuhan dan betapa lemahnya manusia, betapa tidak ada artinya.

Ingin ia tertawa karena geli hatinya kalau teringat akan wejangan suhunya dahulu.

Bagaimana pula yang dikatakan gurunya itu akan kelemahan manusia?

Orang yang merasa dirinya pandai dan berkuasa adalah sebodoh-bodoh orang, demikian antara lain gurunya pernah berkata.

Manusia memiliki puluhan ribu rambut dan bulu di tubuhhya, namun mengatur pertumbuhan sehelai rambut atau bulunya saja dia tidak mampu!

Jangankan mengatur pertumbuhan kuku, mengatur detak jantung, menentukan mati hidupnya!

Hanya oleh kehendak dan kekuasaan Tuhan sajalah manusia dapat hidup dan mati!

Pelajaran seperti ini memperkuat batin Bun Beng, memperbesar kepercayaannya kepada Tuhan sehingga dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya maut, karena ia sudah merasa yakin sepenuh-nya, bahkan sudah berkali-kali mengalaminya dalam hidup, bahwa apa pun yang terjadi, baru dapat terjadi apabila Tuhan menghendaki.

Kalau Tuhan menghendaki dia mati, tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat menghin-darkannya dari kematian.

Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki dia hidup, juga tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membuat dia mati!

Apalagi hanya kekuasaan manusia, biar dia sesakti Ketua Thian-liong-pang sekalipun.

Teringat akan semua ini Bun Beng tertawa.

Ingin dia bertanya kepada Ketua Thian-liong-pang yang sakti itu apakah dia mampu mengatur pertumbuhan rambut-rambutnya, tidak usah semua, sehelai saja!

Betapapun juga, Tuhan takkan menolong manusia yang tidak berusaha menolong dirinya sendiri.

Usaha atau iktiar merupakan kewajiban manusia yang sekali-kali tidak boleh dihentikan selama dia hidup.

Adapun akan jadinya, terserah kepada kekuasaan Tuhan, akan tetapi dia harus berusaha menyelamatkan diri.

Kalau Tuhan menghendaki dia mati akan matilah dia.

Mati dibunuh Ketua Thian-liong-pang, atau mati kelaparan di situ, atau mati dalam usahanya menyelamatkan diri, semua itu hanya dijadikan lantaran atau jalan, dipilih oleh Tuhan sebagai penyebab kematiannya.

Pikiran ini membuat Bun Beng menjadi tenang sekali, sedikit pun dia tidak merasa khawatir karena hatinya telah bebas daripada keinginan hidup atau mati, sudah ia serahkan seluruhnya kepada keputusan Thian.

Ia hanya memutar otaknya mencari jalan keluar, bagaimana harus menggunakan akal.

Setelah keadaan di dalam kamar tahanan itu gelap pekat, tanda tentu di luar ada api penerangan yang dipadamkan, Bun Beng merebahkan dirinya, terlentang di atas lantai batu yang lembab dan tertidurlah dia karena hatinya tenang.

Sinar yang membuat keadaan gelap pekat itu menjadi remang-remang membangunkannya.

Ia menduga bahwa tentu malam telah terganti pagi karena cahaya yang kini sedikit menerangi kamar itu berbeda dengan cahaya semalam, cahaya matahari yang putih dengan cahaya lampu kemerahan.

Sebuah kepala nampak di balik jeruji baja di bagian atas pintu.

Kepala Sai-cu Lo-mo!

Kemudian, tangan kakek itu diulurkan di antara jeruji, membawa dua potong roti kering yang panjang dan seguci air.

Bun Beng dapat menangkap getaran suara penuh haru dan harap dalam kata-kata kakek itu.

Ia menahan kilas pikiran untuk menangkap kedua lengan kakek yang diulur masuk melalui jeruji besi.

Apa gunanya?

Dia tidak akan dapat memaksa kakek ini, dan tidak dapat pula mencelakakannya.

Ia menerima roti dan guci air.

"Terima kasih."

Tanpa berkata-kata lagi pemuda ini makan roti kering.

Dua potong roti itu cukup baginya untuk mengenyangkan perutnya, kemudian ia minum air jernih yang menyegarkan tubuhnya.

Selesai makan dan minum, Bun Beng yang melihat kakek itu masih berdiri di luar pintu dan sejak tadi memandangnya bertanya.

"Sampai berapa lama aku akan ditahan di sini? Apakah makanan dan minuman diberi racun perampas ingatan agar aku suka membuka rahasia ilmu silat untuk dipelajari Pangcumu?"

Sai-cu Lo-mo menggeleng kepalanya.

"Tidak, Bun Beng. Engkau adalah cucuku, engkau dianggap sebagai orang sendiri, tidak perlu Pangcu mempelajari ilmumu yang kelak akan ditukar dengan ilmu yang lebih tinggi oleh Pangcu sendiri. Bun Beng, tidak tahukah engkau bahwa kami bermaksud baik kepadamu? Engkau cucuku, hanya satu-satunya, maka engkau tidak akan dibunuh. Kalau engkau suka menjadi anggauta Thian-liong-pang, engkau malah akan memperoleh kedudukan tinggi, sesuai dengan kepandaianmu."

Bun Beng menggeleng kepala.

Biarpun dia harus berusaha meloloskan diri, akan tetapi tak pernah terpikir olehnya menukar keselamatannya dengan merendahkan diri menjadi anggauta Thian-liong-pang yang ia anggap amat jahat dan keji!

"Percuma saja engkau membujuk.

Aku tidak akan suka menjadi angauta Thian-liong-pang, hanya untuk menyelamatkan nyawaku.

Kalau aku berhasil keluar dari sini, aku tetap akan menentang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw."

"Ahhh, engkau tidak tahu, Bun Beng. Pangcu adalah seorang yang bijaksana, sama sekali bukan orang jahat. Bahkan dia telah merobah Thian-liong-pang dari kesesatannya, kembali ke jalan benar. Kalau dia melakukan penculikan atas diri tokoh-tokoh kang-ouw itu sekali-kali bukan dengan niat mencelakakan mereka, melainkan hendak mempelajari dan menyaksikan jurus-jurus rahasia mereka yang telah diketahui Pangcu bagian teorinya saja. Kemudian mereka dibebaskan kembali. Pangcu adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat!"

"Hemmm, kalau memang sakti, mengapa masih ingin mencuri ilmu orang-orang lain?"

"Pangcu tidak akan menggunakan ilmu-ilmu itu, hanya ingin menghimpun, kemudian menciptakan ilmu baru untuk menandingi kehebatan To-cu Pulau Es."

Bun Beng mengerutkan keningnya.

"Justeru itulah yang aku tidak suka! Aku kagum dan suka kepada Pendekar Siluman yang aku yakin adalah seorang yang selain sakti, juga amat bijaksana. Kalau Pangcumu memusuhi Pendekar Siluman, sudah pasti sekali aku berpihak kepada Majikan Pulau Es itu!"

Sai-cu Lo-mo kelihatan berduka.

"Aihh, Bun Beng. Mengapa engkau menyusahkan hati seorang tua seperti aku? Apa perlunya engkau mencampuri segala urusan yang tiada sangkut-pautnya denganmu? Engkau menyerah dan taatlah, dan aku bersumpah bahwa kelak engkau tidak akan menyesal. Akan kau lihat sendiri kebaikan Thian-liong-pang!"

"Maaf, aku tetap tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang."

"Bun Beng, engkau tidak akan dapat keluar dari sini. Jalan satu-satunya adalah mentaati Pangcu dan aku hanya diperbolehkan membujukmu selama tiga hari. Kalau selama itu engkau belum menurut, engkau akan menjadi tahanan di sini selamanya! Dan engkau.... engkau akan mati dengan sia-sia...."

"Menyesal sekali. Aku lebih memilih bahaya mati daripada harus menuruti kehendak Pangcumu yang seperti iblis itu!"

Kakek itu menghela napas panjang, kemudian pergi dengan muka berduka.

Selama tiga hari terus-menerus datang dan membujuk, namun tetap saja Bun Beng tidak mau menuruti bujukannya.

Bahkan pemuda itu kini tekun dengan penyelidikannya.

Dibongkarnya batu-batu di lantai di antara tulang-tulang rangka manusia dan ia menemukan sebuah kapak bergagang panjang.

Tentu ini merupakan senjata dari seorang di antara mereka yang telah menjadi rangka itu.

Kemudian ia memeriksa dinding, dinding di sebelah kanan pintu lebih berlumut dan dingin sekali.

Kalau ia menempelkan telinganya di situ, mendengar bunyi air berkerosok.

Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tentu dinding ini yang paling tipis sehingga dia dapat mendengar bunyi air bergerak.

Akan tetapi mengapa ada air di balik dinding ini?

Setelah hari ke tiga dan kakek muka singa menghabiskan bujukannya dengan sia-sia, kakek itu tidak muncul lagi.

Setiap malam ada seorang penjaga melemparkan roti kering dan guci air ke dalam kamar tahanan.

Dan mulailah Bun Beng bekerja.

Dengan kapak gagang panjang itu dimulai membongkar batu dinding kanan sekuat tenaga.

Dia bekerja setelah penjaga melemparkan makanan.

Setelah menghabiskan roti dan air, mulailah dia menghantami dinding batu dengan kapaknya.

Dia mempunyai waktu sehari semalam lamanya.

Besok malam, barulah ada penjaga datang untuk memberi makanan dan minuman.

Dia harus berhasil selama sehari semalam ini, karena kalau tidak, tentu penjaga akan melihatnya dan dia akan ketahuan, yang berarti gagal!

Bun Beng bekerja dengan semangat menyala-nyala.

Tak pernah sedetikpun ia berhenti dan dia tidak mempedulikan kedua telapak tangannya yang sudah lecet-lecet dan otot-otot lengannya yang menggelepar-gelepar di dalam daging.

Ia terus menghantamkan kapaknya dan satu demi satu batu dinding dapat ia bongkar, batu itu keras sekali dan semalam suntuk dia hanya dapat membongkar sedalam satu meter.

Namun belum tampak tanda-tanda bahwa dinding itu telah menipis!

Pada keesokan harinya Bun Beng masih terus bekerja, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, seluruh pikiran, perhatian, dan tenaga dikerahkan untuk menghantami batu-batu dengan kapaknya.

Dia tidak tahu berapa lama dia bekerja, hanya bahwa dia harus berlomba dengan waktu.

Betapapun juga, hatinya mulai risau ketika dinding yang tadinya jelas itu mulai tampak suram tanda bahwa hari telah mulai sore dan sebentar lagi malam akan tiba dan berarti Si Penjaga akan datang mengantar roti dan air.

Dia akan ketahuan dan akan gagal!

Teringat akan ini, Bun Beng memperhebat ayunan kapaknya, menghantam dinding batu yang kini sudah ia gali sedalam dua meter lebih, tingginya seukur-an tubuhnya.

Batu-batu berserakan di dalam kamar itu, ia tendang-tendangi sehingga bertumpuk di kanan-kiri dan belakangnya.

Malam tiba.

Kegelapan cuaca kini diterangi seberkas cahaya kemerahan, sinar lampu penerangan seperti biasa.

Tak lama lagi penjaga tentu muncul.

Bun Beng menghentikan kapaknya yang menjadi panas karena terus menerus menghantam batu keras.

Dia terduduk, terengah-engah dan menghapus peluh sambil mengasah otak.

Bagaimana sekarang?

Dinding terkutuk itu tidak juga dapat ia tembus, agaknya setebal perut gunung!

Dan Si Penjaga sebentar lagi datang!

Akan terbuang sia-sialah usahanya yang mati-matian selama sehari semalam!

Tubuhnya penat sekali, perutnya lapar dan kerongkongannya kering, haus.

Lapar dan haus!

Teringat akan ini, Bun Beng meloncat bangun dan lari ke pintu, menempelkan tubuhnya ke pintu yang lebarnya hanya sebesar orang.

Kedua lengannya ia keluarkan dari celah-celah jeruji baja, mukanya ia tempelkan pada jeruji dan matanya mengerling ke arah datangnya penjaga.

Ketika ia melihat penjaga datang membawa roti dan guci air, Bun Beng berteriak-teriak memaki.

"Penjaga keparat! Mengapa begitu lama? Aku sudah kelaparan dan hampir mati kehausan! Hayo cepat bawa roti dan air itu ke sini! Keparat jahanam engkau!"

Penjaga itu berhenti dan tertawa.

"Ha-ha-ha, orang muda. Jangan kira aku tidak tahu akan akal bulusmu!"

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Bun Beng mendengar ini.

Ia makin merapat pada jeruji pintu, menutupi seluruh celah jeruji uengan kedua lengan di kanan-kiri mukanya.

"Apa.... apa maksudmu?"

Kembali penjaga itu tertawa dan berdiri agak jauh sehingga Bun Beng tidak akan mampu menjangkau dengan tangannya.

"Ha-ha-ha, apa kau kira aku bodoh? Engkau tentu ingin agar aku mendekat sehingga engkau dapat menangkapku dan membunuhku, bukan?"

Rasa lega menyelubungi hati Bun Beng. Ia membentak.

"Memang aku ingin sekali mencekik lehermu dan mematahkan tulang punggungmu!"

"Jangan mimpi, aku lebih cerdik dari-mu. Begitu melihat engkau di pintu, aku sudah curiga karena biasanya engkau tidak mengacuhkan roti dan air yang kubawa untukmu. Tentu engkau hendak menggunakan akal, pikirku, maka aku tidak mau mendekat. Nah, nih, kau tangkap roti dan airmu. Ha-ha-ha!"

Penjaga itu melemparkan roti dan guci air ke arah kedua tangan Bun Beng.

Dengan sengaja Bun Beng bergerak lambat.

Roti dapat ditangkapnya, akan tetapi guci air itu luput dan jatuh ke atas lantai di luar pintu, airnya tumpah.

"Jahanam, lekas ambilkan air untukku. Aku haus sekali!"

Bun Beng berteriak-teriak akan tetapi penjaga itu tertawa.

"Rasakan kau!"

Katanya sambil berjalan pergi!

Bun Beng cepat mengambil kapaknya dan lupa makan.

Dia mulai lagi bekerja, hatinya lega.

Dia telah dapat memperpanjang waktu usahanya sehari semalam lagi!

Batu-batu itu mulai mudah dibongkar karena tanahnya lembek dan basah, bahkan kini ada air menetes-netes memasuki kamar.

Dia menggali terus penuh semangat.

Pada keesokan harinya lewat pagi, air yang menetes makin banyak, bahkan kini jelas terdengar bunyi riak air.

Bun Beng mengapak terus, tampak ada batu bergerak, kapaknya terayun ke arah batu itu dan....

"krasak-krasak byuuuurrrr."

Bun Beng cepat meloncat ke samping, melempar kapaknya dan mepet pada dinding dekat lubang yang kini tiba-tiba pecah menjadi lebar terdorong oleh masuknya air seperti dituang.

Bun Beng berdiri mepet dinding dengan muka pucat.

Bahaya yang datang mengancamnya ini tidak kalah mengerikan.

Memang benar dia telah berhasil membobol dinding, akan tetapi ternyata di belakang dinding itu adalah air yang entah berapa banyaknya, yang kini membanjiri kamar tahanan.

Bun Beng tidak mau panik, dan otaknya bekerja cepat.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert