Eps 5 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.
"Benar, kita masing-masing membunuh sepuluh ekor. Akan tetapi aku dapat membawa ikan-ikan itu ke darat. Apakah kau tadi sanggup untuk membawa korban-korbanmu ke darat? Bukankah hal itu berarti bahwa aku masih menang cepat sedikit dibandingkan denganmu, Moi-moi?"
Bu Leng Ci tak dapat membantah kebenaran ucapan itu, maka dia lalu menjura dan berkata.
"Engkau benar, Ang-cici (Kakak Perempuan Ang). Aku mengaku kalah dan aku senang sekali menjadi adik angkatmu. Bi Kiok, ayo kau memberi hormat kepada bibi gurumu!"
Yo Bi Kiok yang semenjak tadi menyaksikan itu semua, lalu melangkah maju menghadapi Ketua Kwi-eng-pang itu, memberi hormat dengan berlutut dan berkata.
"Su-i!"
Ang Hwi Nio tertawa girang.
"Berdirilah, Nak. Muridmu ini manis sekali, Bi-moi. Siapa namamu?"
"Nama teecu (murid) Yo Bi Kiok, Su-i"
"Bagus, engkau akan menjadi teman baik puteraku. Kauterimalah hadiahku ini, Bi Kiok."
Wanita itu meloloskan hiasan rambutnya yang terbuat dari batu kemala berbentuk burung Hong dan memberikannya kepada Bi Kiok.
Tentu saja Bi Kiok girang sekali, menerima benda berharga itu dengan kedua tangan dan menghaturkan terima kasih.
Melihat betapa Bi Kiok hanya memegangi benda itu dan memandang dengan mata bersinar-sinar, Ang Hwi Nio tertawa.
"Giok-hong-cu (Burung Hong Kemala) itu bukan untuk dipegang, melainkan untuk hiasan rambut atau baju di dada. Sini, kupakaikan di rambutmu!"
Bi Kiok maju berlutut dan Ang Hwi Nio memasangkan benda itu di atas kepala Bi Kiok.
Kemudian dara itu disuruhnya berdiri.
"Lihat, muridmu menjadi makin cantik saja, Bu-moi!"
Bu Leng Ci tersenyum bangga dan kedua orang wanita sakti itu merasa girang karena kini mereka berdua dapat menjagoi di dunia kaum sesat, tidak takut lagi menghadapi seorang di antara datuk, yang manapun juga!
Sebuah rumah yang cukup indah dibangun di pulau kecil di sebelah timur untuk tempat tinggal Bu Leng Ci dan muridnya, dan Bu Leng Ci yang merasa berterima kasih lalu menceritakan semua pengalamannya kepada kakak angkatnya, juga menceritakan tentang bokor emas dan tentang suami isteri lihai yang dijumpainya di tepi sungai Huang-ho di lereng pegunungan Lu-liang-san.
Ketika Liong Bu Kong yang pergi memburu binatang bersama beberapa orang anggauta Kwi-eng-pang pulang dan bertemu dengan Bu Leng Ci dan Bi Kiok, dia terheran dan menjadi girang mendengar bahwa Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang namanya sudah dikenalnya sebagai seorang di antara lima datuk itu kini telah menjadi adik angkat ibunya!
Lebih girang lagi hatinya melihat Yo Bi Kiok yang cantik manis.
Dara remaja ltu telah menjadi saudara misannya, biarpun hanya saudara angkat!
Akan tetapi sikap Bi Kiok yang selalu berwajah dingin dan pendiam itu mengecewakan hati Bu Kong sehingga pemuda ini pun membuang niatnya untuk mengajak dara remaja itu main-main dengannya.
Beberapa hari kemudian, Kian Ti dan empat temannya yang mentaati permintaan Bu Leng Ci pergi mencari suami isteri yang bernama Yap Cong San dan Gui Yan Cu, kembali ke pulau dengan tangan hampa.
Mereka tidak berhasil menemukan suami isteri yang dicarinya itu.
Mereka juga girang sekali ketika mendengar bahwa Siang-tok Mo-li yang terkenal itu kini menjadi adik angkat ketua mereka.
Hal ini berarti bahwa kedudukan mereka lebih kuat lagi biarpun adik angkat ketua mereka itu tidak menjadi anggauta Kwi-eng-pang.
Namun, beberapa bulan kemudian, pulau kecil yang dijadikan tempat tinggal Bu Leng Ci itu menjadi tempat yang menyeramkan dan menakutkan bagi para anggauta Kwi-eng-pai karena wanita itu terkenal sebagai pembenci pria sehingga tidak ada yang berani mendekati pulau!
Bahkan Liong Bu Kong sendiri pun tidak berani mendekat.
Hanya Kwi-eng-pangcu saja yang berani mengunjungi adik angkatnya.
Dan kalau ada keperluan mengantarkan sesuatu, Kwi-eng-pangcu selalu mengutus pelayan atau anggauta Kwi-eng-pang wanita.
Dia sendiri pun tidak suka kepada pria, akan tetapi tidaklah membenci mati-matian seperti Bu Leng Ci.
Dia sudah merasa puas melihat para pria menjadi muridnya, menjadi anak buahnya, dan menjadi kaki tangannya yang setia dan taat kepadanya.
Yang tidak disukainya adalah kalau pria itu menguasainya atau lebih tinggi tingkatnya daripada dia.
Karena ini pula maka dia sengaja menarik Bu Leng Ci sebagai adik angkat sehingga merasa kuat untuk menghadapi tiga orang di antara kelima datuk.
Kurang lebih dua tahun lamanya Bu Leng Ci bersama muridnya menjadi penghuni pulau kecil itu.
Bi Kiok telah menjadi seorang dara yang cantik manis, berusia enam belas tahun, akan tetapi makin tampak sikapnya yang dingin dan wataknya yang pendiam.
Hadiah dari Kwi-eng Niocu berupa hiasan rambut burung hong kemala menjadi benda kesayangannya yang tak pernah terpisah dari rambutnya atau bajunya.
Bu Leng Ci yang menyayang dara itu bukan hanya sebagai murid tunggal, bahkan seperti anak sendiri, menurunkan semua ilmunya kepada Yo Bi Kiok sehingga dara itu setelah selama tujuh tahun lebih menjadi muridnya, kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Pada suatu pagi, seorang pelayan wanita dari Kwi-eng Niocu menyampaikan undangan ketua ini kepada Bu Leng Ci.
Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci segera datang menumpang perahu kecil pelayan itu bersama Bi Kiok, menghadap kakak angkatnya.
"Seorang anggauta kita telah menemukan suami isteri yang pernah kausebut dahulu itu!"
Ang Hwi Nio menyambut kedatangan adik angkatnya dengan pemberitahuan ini, suaranya penuh ketegangan.
"Dan isterinya yang menurut katamu dahulu terkena Siang-tok-soa, ternyata tidak mati"
"Ah, kalau begitu kita harus dapat menawan mereka. Mereka adalah ayah bunda dari Yap Kun Liong yang tahu di mana adanya bokor emas!"
"Perlukah itu? Menurut ceritamu, yang tahu mungkin sekali hanyalah bocah itu, dan perlu apa menawan orang tuanya?"
"Kalau kita tawan orang tuanya, tentu kelak anak itu muncul. Sukar sekali mencari bocah setan itu. Sudah bertahun-tahun aku mencari tanpa hasil, Ang-ci."
"Mungkin karena kau belum pernah bertemu dengan anak itu, bagaimana bisa mencarinya?"
"Memang aku belum pernah bertemu dengannya, akan tetapi Bi Kiok tentu akan mengenal mukanya."
Diam-diam jantung Bi Kiok berdebar tegang.
Tentu saja dia akan mengenal Kun Liong si gundul itu, dan gurunya pun pernah bertemu dengan Kun Liong, akan tetapi gurunya tidak tahu bahwa anak itulah yang mereka kini cari-cari.
Entah bagaimana, dia tidak tega untuk mencelakakan anak itu, bahkan kini mendengar bahwa ayah bunda Kun Liong hendak ditawan, dia merasa tidak enak sekali.
Akan tetapi dia diam saja, hanya menjawab karena kedua orang wanita sakti itu memandangnya penuh pertanyaan.
"Tentu saja teecu akan mengenalnya kalau bertemu dengan Kun Liong."
"Biarlah aku mengutus enam orang murid kepala untuk menangkap mereka. Kita harus menjaga nama. Tidak perlu aku turun tangan sendiri menghadapi Orang-orang yang tidak terkenal seperti mereka. Aku akan mengundang mereka, kalau mereka tidak mau, barulah Orang-orangku akan menawan mereka. Menurut keterangan penyelidik mereka kini tinggal di Puncak Cemara di Lu-liang-san."
Bu Leng Ci hendak mencegah, mengingat bahwa suami isteri itu lihai sekali.
Akan tetapi dia tidak membuka mulutnya karena tentu saja dia tidak mau menceritakan betapa dia sendiri tidak dapat mengalahkan mereka.
Biarlah kakak angkatnya ini membuktikan sendiri setelah mengirim murid-muridnya.
Demikianlah, enam orang laki-laki setengah tua yang merupakan murid-murid kepala dari Kwi-eng Niocu dan tokoh-tokoh Kwi-eng-pang, berangkat ke Lu-liang-san yang tidak jauh dari Kwiouw, hanya makan waktu satu hari perjalanan.
Seperti kita ketahui, Yap Cong San dan isterinya berada di Puncak Cemara di Pegunungan Lu-liang-san.
Gui Yan Cu telah sembuh sama sekali dari luka akibat pasir beracun, dan tak lama kemudian telah sembuh sama sekali, dia mengandung sehingga terpaksa mereka memperpanjang waktu untuk tinggal dulu di tempat yang indah menyenangkan itu.
Pada waktu itu, kandungan Yan Cu berusia dua bulan.
Suami isteri yang berbahagia itu sedang duduk berdua di atas rumput, tak jauh dari pondok mereka, memandang ke bawah di mana tampak pemandangan yang mempesonakan.
"Ah, betapa rinduku kepada dunia di bawah sana,"
Yan Cu menarik napas panjang.
"Betapa rinduku kepada Kun Liong, kepada Cia Keng Hong-suheng dan Enci Biauw Eng. Betapa rinduku kepada masakan-masakan kota yang lezat... aaihh..."
Cong San meraih pundak isterinya dan memeluknya, hatinya terharu dan dia merasa kasihan sekali kepada isterinya.
"Jangan khawatir, isteriku. Kita tinggal di sini sampai engkau melahirkan. Keadaan seperti sekarang ini tentu saja amat tidak baik kalau melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan adanya banyak bahaya di tengah jalan. Setelah nanti anak kita cukup kuat, kira-kira setahun, kita berangkat meninggalkan tempat sunyi ini, langsung ke Cin-ling-san."
"Ke tempat Suheng?"
"Ya. Engkau dan anak kita yang masih kecil biar tinggal bersama isterinya, sedangkan aku akan minta bantuan Keng Hong untuk bersamaku mencari Kun Liong. Dengan bantuannya, mustahil kalau aku tidak akan dapat menemukan anak itu."
Yan Cu menarik napas lega.
"Aahhh, anak nakal itu! Tentu akan dapat ditemukan kalau Suheng membantumu. Ingin aku mendengar apa yang akan dikatakan Kun Liong kalau berada di depanku setelah dia pergi selama tujuh tahun ini..."
Tiba-tiba tangan Cong San yang merangkul pundak isterinya itu menegang.
Yan Cu merasakan ini dan keduanya menoleh.
"Ada orang..."
Bisik Cong San. Mereka telah berdiri ketika enam orang laki-laki setengah tua itu tiba di situ.
"Apakah kalian yang bernama Yap Cong San dan Gui Yan Cu?"
Seorang di antara mereka bertanya, suaranya kasar dan nyaring.
Cong San dan Yan Cu bersikap tenang, mengira bahwa tentu orang-orang ini petugas pemerintah yang hendak menangkap mereka berhubung dengan urusan Ma-taijin di Leng-kok tujuh tahun yang lalu.
"Saya bernama Yap Cong San dan ini isteri saya Gui Yan Cu. Siapakah Cuwi (Tuan Sekalian) dan ada perlu apakah mencari kami?"
Jawab Cong San dengan sikap masih tenang sekali karena dia tidak menyangka akan terjadi hal yang tidak baik.
Kalau benar mereka itu orang-orang pemerintah, urusannya dengan Ma-taijin bukanlah urusan besar.
Dan mustahil kalau untuk urusan begitu saja setelah lewat tujuh tahun masih akan dibesar-besarkan.
"Kami melaksanakan tugas yang diperintahkan pangcu kami untuk mengundang Ji-wi menghadap pangcu."
Berkerut alis Cong San dan Yan Cu. Kalau bukan orang pemerintah, tentu akan terjadi hal yang gawat.
"Siapa pangcu (ketua) kalian?"
Cong San bertanya, hatinya mulai tegang dan dia bersikap waspada menghadapi segala kemungkinan buruk.
"Kami dari Kwi-eng-pang di Telaga Kwi-ouw. Harap Ji-wi ikut bersama kami menghadap Pangcu sekarang juga!"
"Kami berdua tidak pernah mengenal pangcu dari Kwi-eng-pang. Ada keperluan apakah ketua kalian dengan kami?"
"Hal ini bukan urusan kami! Tentu ada urusan penting maka Pangcu memanggil kalian,"
Jawab pemimpin rombongan itu dengan suara tak sabar.
Cong San dapat menduga bahwa tentu keselamatan mereka berdua takkan terjamin kalau dia bersama isterinya pergi mengunjungi ketua kaum sesat yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu.
Pula, dia tidaklah demikian bodoh untuk datang memasuki guha harimau.
"Maaf, Cuwi. Karena kami tidak mengenal Kwi-eng-pangcu dan tidak mempunyai urusan dengannya, kalau memang pangcu kalian ada urusan dengan kami, harap dia datang saja ke sini untuk bicara."
Tiba-tiba enam orang itu merobah sikap, tidak seramah tadi.
Pandangan mata mereka mengandung kemarahan dan seorang di antara mereka berseru.
"Manusia sombong! Berani membantah perintah Pangcu?"
"Kawan-kawan, maju!"
"Kalian mau apa?"
Yan Cu membentak marah dan tangannya meraba gagang pedang.
"Perintah Pangcu, kalau kalian mau menghadap, baik. Kalau tidak mau, terpaksa kami pergunakan kekerasan menawan kalian!"
"Singggg! Keparat, kalian mengira begitu mudah?"
Yan Cu sudah mencabut senjata pedangnya dan hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba suaminya menyentuh lengannya.
"Tidak perlu menyerang. Biarkan mereka bergerak, kita lihat saja sampai di mana kepandaian manusia-manusia sesat ini."
Suami isteri itu berdiri beradu punggung, sikap mereka tetap tenang walaupun mereka marah sekali.
Yan Cu berdiri dengan siap dengan pedang di tangan sedangkan Cong San sudah mengeluarkan sepasang Im-yang-pit dan memegangnya dengan kedua tangan.
Dia tadi melarang isterinya bergerak, karena amat tidak baik bagi kandungan isterinya kalau banyak mengerahkan sin-kang.
Enam orang anggauta Kwi-eng-pang itu sudah mulai mengurung.
Terdengar suara menyeramkan ketika mereka itu menggerak-gerakkan senjata mereka yang beraneka macam itu.
Melihat betapa kedua orang suami isteri itu mengeluarkan senjata dan hendak melawan, mereka gembira sekali dan juga tidak menyangka-nyangka.
Ketua mereka hanya memberi perintah untuk menangkap, tidak memberi tahu bahwa suami isteri itu akan melawan.
Kalau mereka tidak melawan, tentu mereka hanya akan menawan mereka dan tidak akan mengganggu mereka.
Sekarang mereka mendapat kesempatan untuk memperlihatkan kepandaian dan menawan suami isteri yang melawan itu setelah melukai mereka.
Betapapun juga, enam orang itu bukanlah orang sembarangan, melainkan murid-murid pilihan dari Kwi-eng Niocu dan mereka sudah berpengalaman dalam banyak pertandingan.
Melihat sikap dan cara suami isteri itu menghadapi mereka, mereka dapat menduga bahwa suami isteri itu "berisi", maka tanpa sungkan-sungkan lagi karena di tempat sunyi itu tidak ada orang lain, mereka serentak maju berenam, mengeroyok!
Terdengar suara nyaring hiruk-pikuk ketika mereka menerjang maju, suara beradunya senjata mereka yang terpental ke sana-sini, ditambah suara teriakan mereka penuh kekagetan karena dalam beberapa gebrakan saja, selain senjata mereka terlempar ke sana-sini, juga mereka roboh malang-melintang, empat orang roboh terluka oleh sepasang pit di tangan Cong-Sai, sedangkan dua orang lagi roboh dan terluka paha dan pundak mereka oleh kilatan pedang di tangan Yan Cu!
Semua ini terjadi tanpa suami isteri itu pindah dari tempat mereka!
Dapat dibayangkan betapa kaget hati enam orang itu.
Muka mereka pucat dan mereka memandang dengan mata terbelalak, maklum bahwa kalau kedua orang suami isteri itu menghendaki, di lain saat mereka semua tentu akan dapat terbunuh dengan mudah.
Mengertilah sekarang mereka, bahwa jangankan menghadapi suami isteri itu, biar menghadapi seorang di antara mereka saja, mereka berenam takkan mampu menang!
"Pergilah kalian dari sini!"
Cong San membentak dengan sikap keren.
"Dan katakan kepada pangcu kalian bahwa karena kami tidak mempunyai urusan dengan dia, maka kami tidak membunuh kalian dan kami tidak dapat pergi menemuinya. Nah, pergilah cepat!"
Enam orang itu merangkak bangun dan dengan penuh rasa sukur karena tidak dibunuh, mereka itu saling membantu dan pergi secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
Cong San dan Yan Cu saling pandang masih merasa penasaran dan juga terheran-heran mengapa secara tiba-tiba mereka itu dimusuhi oleh Kwi-eng-pang.
Padahal belum pernah mereka berurusan dengan Kwi-eng-pang, bahkan bertemu pun belum dengan ketua Kwi-eng-pang yang tersohor itu.
Mereka tahu bahwa Ketua Kwi-eng-pang adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio yang kabarnya adalah seorang di antara lima datuk kaum sesat yang terkenal sebagai manusia-manusia iblis.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga,"
Kata Cong San.
"Mereka itu berbahaya. Kalau tadi mereka tidak memandang rendah kepada kita, agaknya belum tentu kita dapat mengusir mereka dalam waktu singkat. Kepandaian mereka rata-rata cukup tangguh."
"Aku tidak takut!"
Kata Yan Cu.
"Masa kita harus melarikan diri dari mereka? Biarpun Kwi-eng Niocu si iblis betina sendiri yang datang, akan kuhadapi dia!"
Cong San merangkul isterinya.
"Aku percaya, isteriku. Memang kita tidak usah takut menghadapi kaum sesat. Akan tetapi, kau harus ingat bahwa selagi kau mengandung, tidak semestinya kita melibatkan diri dalam pertandingan-pertandingan berat. Hal itu berbahaya bagi kandunganmu. Ingat, ketika dahulu kita bertemu dengan Siang-tok Mo-li seorang di antara lima datuk itu, kau terluka. Apalagi kebarnya Kwi-eng Niocu lebih jahat dan lihai. Bukan aku takut, akan tetapi karena mengingat akan kandunganmu dan keadaanmu, sebaiknya kita mengalah kali ini. Mudah saja kalau kelak kita mencari Kwi-eng Niocu dan menghajarnya atas kelakuannya hari ini! Marilah, sayang."
Untuk kesekian kalinya, Yan Cu tidak dapat membantah.
Biarpun hatinya penuh dengan rasa penasaran dan kemarahan, terpaksa dia menurut, pergi meninggalkan tempat itu, menuju ke utara.
Setelah melakukan perjalanan hampir sebulan dengan lambat dan hati-hati mengingat kandungan Yan Cu, akhirnya mereka tiba di kota Tai-goan dan di sini Cong San mengajak Yan Cu singgah di rumah seorang kenalannya.
Seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
Kakek yang usianya hampir tujuh puluh tahun ini tinggi kurus dan rambutnya sudah putih semua, namun masih kelihatan gesit dan kuat.
Dia ditemani oleh seorang nyonya berusia empat puluhan tahun, dan seorang laki-laki suami nyonya itu yang usianya hampir lima puluh tahun.
Tiga orang ini menyambut mereka dan Si Kakek Rambut Putih segera berseru girang.
"Ah, kiranya Yap-enghiong yang datang! Biarpun hampir dua puluh tahun tidak jumpa, saya tidak akan pangling (lupa) kepadamu!"
Yap Cong San cepat memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih atas kebaikan Theng-ciangkun (Perwira Theng) dan maaf atas kedatangan kami yang tiba-tiba tanpa memberi tahu lebih dahulu ini. Ini adalah isteri saya."
Kakek itu cepat membalas penghormatan Yan Cu dan berkata.
"Ahh, Nyonya Muda, kau kelihatan lelah sekali. Silakan masuk saja beristirahat! Ceng-ji (Anak Ceng), kau ajaklah Nyonya Yap beristirahat di dalam."
Kakek itu memperkenalkan nyonya itu sebagai puterinya, dan laki-laki itu sebagai mantunya yang bernama Tan Hoat.
Dengan ramah-tamah nyonya yang bernama Ceng itu menggandeng tangan Yan Cu dan diajak masuk ke dalam.
Kemudian Kakek Theng bersama mantunya mempersilakan Cong San duduk di ruangan dalam menyuruh pelayan menghidangkan minuman.
Setelah hidangan disuguhkan dan mereka sudah minum teh, Cong San menghela napas panjang lalu berkata.
"Saya harap Theng-ciangkun suka maafkan. Sekali ini terpaksa saya hendak minta bantuan Ciangkun, yaitu agar memperbolehkan saya bersama isteri saya tinggal di sini sampai isteri saya melahirkan. Tentu saja kalau Ciangkun tidak keberatan."
Kakek itu kelihatan terkejut dan heran.
Dia maklum bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat menimpa keluarga pendekar bekas murid Siauw-lim-pai yang hanya dikenalnya sepintas lalu akan tetapi yang telah diketahui kegagahannya itu.
Dia tahu pula bahwa pendekar ini adalah sahabat baik sekali dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang dikaguminya.
Maka tanpa ragu-ragu dia menjawab.
"Tentu saja boleh dan sama sekali tidak keberatan! Kami hanya tinggal berempat di rumah besar ini, yaitu saya sendiri, anak perempuan dan mantu saya ini, dan seorang cucu perempuan. Selain itu, hanya ada dua orang pelayan. Masih ada kamar untuk engkau dan isterimu, Yap-enghiong dan kami menyambut kedatanganmu dengan gembira. Saya bukan seorang perwira pengawal lagi, sudah beberapa tahun mengundurkan diri karena sudah tua. Akan tetapi... kalau boleh saya bertanya, bagaimanakah engkau dan isterimu sampai tiba di sini dan... dan... selama ini tinggal di mana? Sudah lama saya tidak pernah bertemu pula dengan Cia Keng Hong-taihiap yang kabarnya berada di Cin-ling-san sehingga tidak dapat bertanya pula tentang keadaanmu."
Cong San menarik napas panjang, kemudian dengan singkat dan menceritakan riwayatnya yang malu.
Betapa dia terkena urusan dengan Ma-taijin dan puteranya hilang, dan betapa dalam mencari puteranya mereka mengalami banyak hal berbahaya, sedangkan puteranya masih belum dapat ditemukan.
"Tadinya kami akan tinggal terus di puncak Pegunungan Lu-liang-san, akan tetapi siapa kira, muncul malapetaka lain, yaitu orang-orang Kwi-eng-pang."
Dia menceritakan tentang kedatangan enam orang Kwi-eng-pang, kemudian menambahkan.
"Kalau tidak pergi cepat-cepat, tentu mereka itu akan datang lagi bersama lebih banyak teman dan ketua mereka. Bukannya kami takut, akan tetapi... isteri saya sedang mengandung, maka lebih baik kami mengalah dan pergi. Ketika kami tiba di kota ini, saya teringat kepada Theng-ciangkun dan timbul pikiran saya untuk minta pertolongan Ciangkun."
Kakek itu bengong mendengarkan penuturan itu, kadang-kadang mengangguk-angguk adakalanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata.
"Harap engkau menenangkan hatimu, Yap-enghiong. Biarlah isterimu beristirahat di sini sampai melahirkan. Dan kalau kawanan penjahat Kwi-eng-pang berani mengganggu ke sini, hemmm... ruyungku belum berkarat dan aku ingin sekali merasai kelihaian Kwi-eng Niocu yang kabarnya seperti iblis betina itu!"
Cong San menghaturkan terima kasih dan tersenyum kagum mendengar ucapan bersemangat itu.
Kakek she Theng itu bernama Theng Kiu, bekas pengawal yang setia sekali dari Kaisar Yung Lo semenjak kaisar itu belum menjadi kaisar seperti sekarang dan masih menjadi raja muda di utara.
Dahulu, Theng Kiu ini terkenal dengan senjata ruyungnya sehingga dia dijuluki Kim-pian (Si Ruyung Emas), dan ilmu kepandaiannya, biarpun tidak terlampau tinggi, namun sudah menempatkan dia di golongan orang-orang gagah.
Menurut penafsiran Cong San kalau dia tidak salah ingat, Kakek Theng ini mungkin tidak akan kalah oleh seorang di antara enam orang Kwi-eng-pang yang menyerangnya di Lu-liang-san.
Demikianlah, mulai hari itu, Cong San dan isterinya tinggal menumpang di rumah bekas perwira pengawal Theng Kiu.
Suami isteri itu merasa bersukur dan berterima kasih sekali.
Kakek Theng amat ramah, akan tetapi juga puterinya dan mantunya, suami isteri Tan Hoat, amat baik terhadap mereka.
Bahkan puteri suami isteri ini yang bernama Tan Cui Lin, seorang dara berusia lima belas tahun yang manis, juga bersikap menyenangkan.
Untuk membalas kebaikan tuan rumah, Cong San berkenan melatih ilmu silat kepada Tan Cui Lin yang tentu saja sebagai cucu tunggal kakek Theng, sudah mempelajari dasar-dasarnya sejak kecil.
Karena ini, Tan Cui Lin menyebut "suhu"
Kepada Cong San, dan "subo"
Kepada Yan Cu.
Sambil menanti isterinya melahirkan, selain melatih ilmu silat kepada muridnya, juga Cong San mulai "membuka praktek"
Pengobatan di Tai-goan, yang mula-mula diperkenalkan kepada sahabat-sahabat Kakek Theng sehingga dalam waktu beberapa bulan saja namanya telah terkenal dan setiap hari ada saja yang datang minta resep obat kepadanya.
Dengan adanya sedikit penghasilan ini, agak lega hati Cong San karena dia menyerahkan semua hasil ini kepada keluarga Kakek Theng yang telah menampung mereka.
Waktu berjalan dengan cepatnya dan beberapa bulan kemudian Yan Cu telah melahirkan seorang anak perempuan dengan selamat di rumah keluarga Theng Kiu.
Mereka memberi nama Yap In Hong kepada anak itu.
Atas bujukan dan nasihat Kakek Theng, karena pekerjaan Cong San mulai maju dan banyak sudah penduduk yang menjadi langganannya, dengan menjual semua perhiasan yang masih dimiliki Yan Cu, ditambah simpanan sedikit-sedikit selama ini, dan dibantu pula oleh Kakek Theng, Cong San membeli sebidang tanah di Tai-goan.
Di atas tanah itu telah ada bangunannya, akan tetapi bangunan kuno yang sudah hampir ambruk.
Oleh karena itu, mulailah dia membangun kembali rumah itu dan tiap hari dia pergi memimpin para tukang untuk memperbaiki rumah yang dibelinya.
Dia dan isterinya sudah mengambil keputusan untuk tinggal di Tai-goan!
Yang membantunya adalah Tan Hoat, dan kadang-kadang muridnya, Cui Lin, datang pula membantu, mengatur ini itu, membersihkan dan mengatur kebun di belakang rumah, menanami bunga-bunga.
Membangun kembali rumah yang rusak itu memakan waktu berbulan-bulan, dan In Hong telah menjadi seorang anak yang mungil dan hebat berusia setengah tahun lebih ketika akhirnya rumah itu siap untuk ditempati.
Pada hari terakhir itu, Cui Lin membantu suhunya membersihkan rumah baru dan mengatur perabot rumah sederhana dengan penuh kegembiraan.
Dara ini sayang sekali kepada suhu dan subonya, dan merasa beruntung menjadi murid seorang yang berilmu tinggi seperti mereka.
Baru belajar setahun lebih saja, dia telah memperoleh kemajuan hebat, dan hal ini dikatakan secara jujur oleh kakeknya sendiri.
"Ketahuilah, cucuku. Gurumu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yeg berilmu tinggi, murid dari manusia sakti Tiang Pek Hosiang. Dan subomu juga bukan orang sembarangan karena dia itu masih sumoi dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang kini menjadi Ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san. Kau belajarlah baik-baik dan dalam beberapa tahun lagi, kakekmu ini sudah tidak akan kuat melawanmu."
Maka gembira sekali hati Cui Lin setelah suhu dan subonya mengambil keputusan untuk tinggal di Tai-goan.
Dengan demikian berarti dia akan dapat belajar terus.
Dia membantu suhunya memberes-bereskan rumah baru itu dari pagi sampai lewat tengah hari.
Besok pagi keluarga suhunya sudah aku pindah ke rumah baru ini.
"Cui Lin, kau lanjutkanlah membereskan kamar ini bersama Phoa-ma (nama pelayan wanita), aku akan kembali dulu ke rumah kakekmu."
"Baiklah, Suhu. Serahkan saja kepada teecu dan Phoa-ma, tentu sore nanti sudah selesai,"
Jawab dara itu gembira.
Akan tetapi hati Cong San tidak segembira biasanya ketika dia meninggalkan rumah baru itu.
Entah mengapa, hatinya terasa tidak enak, padahal dia tidak terganggu sesuatu.
Ada dorongan di hatinya agar dia cepat pulang ke rumah Kakek Theng.
Menurutkan dorongan hatinya ini, tergesa-gesa Cong San kembali ke rumah keluarga Theng yang berada di sebelah selatan kota, agak jauh dari rumah baru itu.
Tidaklah mengherankan kalau hati Yap Cong San merasa tidak enak sekali karena pada saat dia membersihkan rumah baru bersama muridnya dan seorang pelayan dan pengasuh anaknya, di rumah keluarga Kakek Theng terjadi malapetaka yang hebat sekali!
Pada waktu itu, Yan Cu dengan hati gembira sekali sedang berkemas karena besok pagi mereka akan pindah ke rumah baru.
Hatinya gembira sekali dan sudah banyak rencana di dalam hatinya.
Dia akan berusaha membuka toko obat lagi di Tai-gon dan di kota besar ini tentu dia dan suaminya akan mendapat kemajuan jauh lebih besar daripada di Leng-kok.
Setelah In Hong agak besar dan keadaannya di rumah baru menjadi baik, dia akan mengajak suaminya pergi ke Cing-ling-san untuk minta bantuan suhengnya, Cia Keng Hong agar bersama suaminya mencari Kun Liong.
Betapa akan bahagianya kalau Kun Liong masih hidup dan dapat berkumpul lagi dengan ayah bundanya.
Tentu puteranya itu telah besar, telah dewasa!
Sudah tujuh belas tahun tentu usianya!
Dan betapa wajah puteranya itu akan penuh keheranan melihat adiknya!
Tiba-tiba dia mendengar teriakan Kakek Theng.
"Nyonya mantu! Lari..."
Dia terkejut sekali.
Yang disebut nyonya mantu adalah dia, karena suaminya telah diaku sebagai anak angkat Kakek Theng.
Mendengar teriakan yang penuh kegelisahan dari kakek itu, kemudian mendengar betapa suara teriakan itu tiba-tiba terhenti, hatinya khawatir sekali.
Tentu saja dia tidak mau lari seperti diminta oleh kakek itu, dan dia menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat.
Cepat dia menyambar pedangnya dan dengan pedang terhunus Gui Yan Cu meloncat keluar dari kamarnya dan berlari ke ruangan dalam.
Hampir saja dia berseru kaget, matanya terbelalak dan mukanya menjadi pucat ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan!
Mayat Tan Hoat dan isterinya dengan leher hampir putus, mayat dua orang pelayan di luar pintu, dan mayat kakek Theng sendiri di ruangan tengah, kepala kakek itu pecah dan senjata ruyungnya masih tergenggam di tangannya.
Agaknya kakek ini melakukan perlawanan sampai saat terakhir sambil tadi berteriak menyuruhnya lari.
Dapat dibayangkan betapa marahnya Gui Yan Cu.
Dengan air mata memenuhi pelupuk matanya dia melompat dan menerobos ke ruangan dalam yang lebar dan dia terhenti tegak di pintu ketika melihat lima orang enak-enakan duduk di dalam ruangan itu sambil tersenyum-senyum menyeringai.
Seorang di antara mereka adalah Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci!
Yang empat orang lainnya dia tidak kenal, yaitu seorang wanita setengah tua yang masih cantik dan berpakaian mewah bersama tiga orang laki-laki tua yang keadaannya menyeramkan.
"Apa... apa yang telah kalian lakukan?"
Dia membentak, sedikit pun tidak merasa takut biar di situ terdapat Bu Leng Ci yang lihai, karena kemarahan telah membuat nyonya ini tidak lagi mengenal takut dan sama sekali tidak ingat akan bahaya lagi.
"Inilah dia yang bernama Gui Yan Cu, ibu bocah setan itu,"
Kata Bu Leng Ci. Wanita berpakaian mewah itu mengangkat muka.
"Eh, Gui Yan Cu. Aku memanggil kau dan suamimu ke Kwi-ouw, mengapa kau dan suamimu malah menghina anak buahku?"
Yan Cu makin marah setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio.
"Hem, jadi engkau inikah yang disebut Kwi-eng Niocu, ketua perkumpulan sesat Kwi-eng-pang?"
"Huh! Huhh!"
Kakek yang matanya sipit lehernya panjang seperti leher ular itu menahan ketawanya.
"He-he-he!"
Kakek yang mukanya hitam seperti pantat kuali terkekeh.
"Kalau dia tidak takut terhadap dua orang datuk betina, tentu tidak gentar pula terhadap kami tiga orang datuk jantan, dan tentu kepandaiannya setinggi langit!"
Gui Yan Cu memandang kakek bermuka hitam itu dan mendengar ucapan ini, dia terkesiap juga.
Jantungnya berdebar tegang dan dia membentak.
"Jadi kalian berlima inikah yang disebut lima Datuk kaum sesat?"
Kakek tua renta berambut putih panjang yang matanya juling akan tetapi mengeluarkan sinar aneh dan mengerikan itu terbatuk-batuk, menggumam.
"Dan engkau kabarnya sumoi dari Cia Keng Hong. Benarkah?"
"Benar! Aku dan suamiku selamanya tidak pernah berurusan dengan kalian, mengapa kalian mengganggu kami dan membunuh Orang-orang yang tidak berdosa ini? Beginikah sepak terjang tokoh-tokoh besar yang mengaku sebagai para datuk? Seperti kelakuan bajingan-bajingan kecil saja!"
Yan Cu maklum bahwa dia berhadapan dengan Orang-orang yang tak mungkin dapat dilawannya, akan tetapi dia sama sekali tidak takut karena kemarahannya melihat kakek Theng, anaknya, mantunya, dan pelayan?pelayan terbunuh seperti itu.
"Gui Yan Cu! Tidak perlu banyak cakap. Katakan di mana adanya bokor emas yang dicuri oleh anakmu yang bernama Kun Liong itu kalau menghendaki agar nyawamu kami perpanjang beberapa lamanya."
Mendengar ini, wajah yang tadinya pucat itu kelihatan berseri.
Pertanyaan itu membuktikan bahwa Kun Liong masih hidup!
"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan.
Selamanya aku belum pernah mendengar tentang bokor emas dan andaikata aku mengetahuinya juga, apakah kau kira aku akan memberitahukan kepada kalian?"
"Perempuan sombong! Kalau begitu mampuslah!"
Kwi-eng Niocu sudah hendak menggerakkan tangan menyerang, akan tetapi kakek tua renta berambut putih itu terbatuk-batuk, dan melangkah maju menghalangi Kwi-eng Niocu sambil berkata.
"Nanti dulu, Pangcu. Kalau dia benar sumoi dari Cia Keng Hong, biarkan aku mencoba Thi-khi-i-beng."
Kakek berambut putih itu bergerak ke depan.
Yan Cu yang maklum bahwa tak mungkin dia menghindarkan diri dari pertandingan mati-matian, segera mengelebatkan pedangnya dan menyerang dengan tusukan ke dada dilanjutkan dengan bacokan menyamping ketika kakek itu mengelak.
Tiba-tiba pedang itu tertahan oleh jubah kakek itu yang dipegang di tangan kiri, kemudian secara cepat dan aneh sekali, tangan kanannya sudah menyambar dan menampar ke arah kepala Yan Cu.
Gerakan ini cepat sekali maka terpaksa Yan Cu menganglcat tangan kiri menangkis.
"Plakkk!"
Yan Cu terhuyung ke belakang, lengannya terasa sakit sekali.
Kakek it kelihatan kecewa, tidak melanjutkan gerakannya dan mengomel.
"Mana itu Thi-khi-i-beng yang disohorkan orang? Kalau hanya sedemikian saja kepandaian perempuan ini, tidak cukup pantas melayani aku!"
Diam-diam Yan Cu terkejut bukan main.
Kakek berambut putih itu benar hebat sekali dan kalau dilanjutkan pertandingan itu, biarpun dia memegang pedang, agaknya sukar sekali baginya untuk menang.
Dia menduga bahwa tentu kakek berambut putih itu yang berjuluk Toat-beng Hoat-su, datuk yang penuh rahasia dan yang mungkin sekali paling lihai di antara lima orahg itu.
"Aku pun ingin mencoba!"
Kata kakek muka hitam yang bukan lain adalah Hek-bin Thian-sin Louw-Ek Bu.
Belum habis ucapannya, tubuhnya sudah bergerak dan sinar kilat sebatang golok besar di tangannya sudah menyambar dahsyat.
Yan Cu cepat memutar pedangnya menangkis.
"Tranggg...!"
Kembali Yan Cu terkejut karena pedangnya terpental dan lengannya gemetar saking kuatnya tenaga yang terkandung di golok itu.
Namun dia tidak menjadi jerih dan sudah membalas serangan lawan baru ini dengan gerakan pedangnya yang lincah.
Sambil tertawa-tawa mengejek Si Kakek Muka Hitam itu menyambut dengan golok besarnya dan terjadilah pertandingan yang seru, namun dalam belasan jurus saja pedang Yan Cu sudah tertindih dan beberapa kali pertemuan kedua senjata itu secara kuat membuat pedangnya hampir terlepas dari tangannya.
Mulailah Yan Cu merasa khawatir.
Bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan puterinya yang kini ia dengar menangis di dalam kamarnya!
Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi bagaimana nasib puterinya yang belum ada satu tahun usianya itu kalau terjatuh ke dalam tangan iblis-iblis ini?
Mengapa suaminya belum juga pulang?
"Hek-bin Thian-sin, aku ikut berpesta, ha-ha-ha!"
Suara ini keluar dari mulut Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan pedangnya yang berbentuk ular itu telah meluncur ke depan.
Pada saat itu, Yan Cu baru saja menangkis golok besar Hek-bin Thian-sin yang membuat tangannya gemetar.
Maka begitu pedang itu kini bertemu dengan pedang ular yang didorong oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, dia tidak dapat mempertahankan lagi dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Suara terkekeh di belakangnya adalah suara Bu Leng Ci yang wdah menyambar pedang itu dan pada saat itu Yan Cu merasa betapa pundaknya nyeri bukan main, panas dan membuat tubuhnya menggigil saking nyerinya.
Maklum bahwa nyawanya terancam, dan teringat akan nasib puterinya, Yan Cu mengeluarkan pekik melengking yang dimaksudkan untuk memanggil suaminya.
Guratan kuku jari tangan Kwi-eng Niocu yang mengenai pundak Yan Cu itu membuat wanita perkasa ini terhuyung dan pening kepalanya.
Namun ia masih nekat dan sambil membalik dia membarengi memukul sebelum Kwi-eng Niocu menarik tangannya.
"Dukkk!!"
Biarpun Kwi-eng Niocu tidak roboh oleh pukulan yang menyambar dan mengenai pangkal lengannya ini, namun cukup membuat dia merasa kesakitan dan lengan kirinya seperti lumpuh sejenak.
Dia marah sekali, sambil mengeluarkan suara menggereng seperti harimau terluka, dia menubruk maju, tangannya menampar.
Yan Cu yang sudah pening itu hanya mampu menangkis sebuah tamparan tangan kiri yang kurang cepat gerakannya itu, akan tetapi tamparan tangan kanan Si Bayangan Hantu mengenai lehernya.
Dia terpekik dan terjengkang.
Sebelum tubuhnya mengenai tanah, sinar pedang berkelebat dan pedangnya sendiri yang dipergunakan oleh Bu Leng Ci telah menembus dada wanita perkasa ini!
Gui Yan Cu tidak mengeluh lagi, roboh telentang dengan dada tertembus pedangnya sendiri, tewas seketika.
Darah muncrat membasahi bajunya.
Pada saat Yan Cu mengeluarkan suara melengking tadi, Yap Cong San telah tiba dekat rumah itu.
Dia terkejut mengenal lengking isterinya dan cepat sekali dia lari ke dalam rumah.
Ketika dia mendengar suara tangis puterinya, dia langsung memasuki kamar dan lega hatinya melihat puterinya itu menangis di atas ranjang dalam keadaan selamat.
Disambarnya puterinya itu dan dibawanya lari keluar.
Ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan, mayat Kakek Theng, puterinya, mantunya dan dua orang pelayan, Cong San terkejut setengah mati.
Dengan jantung berdebar tegang dia terus lari ke arah suara pertempuran di ruangan dalam dan pada saat dia muncul di ambang pintu ruangan itu dilihatnya isterinya sudah rebah terlentang dengan dada tertembus pedang!
"Yan Cu...!"
Dia memekik dan meloncat ke dalam.
Sejenak dia seperti terpesona memandang jenazah isterinya, kemudian dia menyapu dengan pandang matanya kepada lima orang yang berdiri di situ sambil tersenyum-senyum.
Air mata mengalir di sepanjang kedua pipi pendekar itu akan tetapi sepasang matanya tidak pernah berkedip ketika dia memandang ke arah mereka satu demi satu, kemudian kembali dia menoleh kepada jenazah isterinya.
"Yan Cu... ohh... ohhh... Yan Cu...!"
Dia merintih, rintihan yang diselingi oleh tangis Yap In Hong, anak kecil dalam pondongannya.
Tiba-tiba Cong San membalikkan tubuh menghadapi lima orang itu.
Begitu melihat Bu Leng Ci, mudah saja baginya untuk menduga siapa adanya empat orang yang lain itu.
Biarpun dia belum pernah bertemu muka dengan mereka, akan tetapi dia sudah mendengar berita tentang lima orang datuk kaum sesat.
Biarpun kemarahan dan kedukaan menyesak dadanya, namun sebagai seorang pendekar besar Cong San dapat menekan perasaannya dan dia harus lebih dahulu tahu siapa sebenarnya mereka dan mengapa mereka membunuh keluarga Kakek Theng dan isterinya.
"Bukankah kalian ini Lima Datuk kaum sesat?"
Tanyanya dengan suara terdengar aneh sekali, agak parau dan nadanya bercampur tangis dan kemarahan.
"Hi-hi-hik, sudah tahu mengapa tidak lekas berlutut minta ampun?"
Bu Leng Ci tertawa mengejek.
"Mengapa kalian memusuhi kami?"
"Yap Cong San, anakmu yang bernama Kun Liong telah mencuri bokor emas. Lekas kau katakan di mana dia dan di mana bokor emas itu, kalau tidak, terpaksa engkau akan menyusul isterimu!"
Bu Leng Ci berkata dengan wajah gembira.
Memang wanita iblis ini paling suka melihat orang berduka dan sengsara.
Bukan hanya dia, bahkan empat orang kawannya pun demikian juga, pandang mata mereka seperti mata kanak-kanak melihat seekor cacing menggeliat-geliat kepanasan dalam sekarat.
Sedikit pun tidak ada rasa kasihan, bahkan gembira dan puas!
Akan tetapi Cong San tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan pertanyaan ini, bahkan bertanya lagi.
"Siapa yang membunuh isteriku?"
"Aku yang membunuhnya, kau mau apa?"
Belum habis ucapan ini keluar dari mulut Bu Leng Ci, Cong San sudah menggerakkan senjata pit hitam di tangan kanannya.
"Siuuuuttt... wesss!"
Cepat bukan main serangan itu, dilakukan dengan hati sakit dan penuh dendam, menusuk ke arah dada orang termuda dari Lima Datuk kaum sesat itu.
Bu Leng Ci tidak sempat mencabut samurainya dan hanya dapat mengelak dengan kaget sekali untuk menyelamatkan dirinya.
"Brettt!"
Baju yang menutup dada terobek sedikit berikut sedikit kulit di bagian kanan.
"Keparat!"
Bu Leng Ci marah bukan main, juga malu karena hampir saja dia celaka oleh serangan itu tadi.
"Srattt!"
Samurai panjang telah dicabutnya, dan dia menyerang kalang kabut.
"Tring-tring-tranggg!"
Bunga api berpijar ketika senjata pit itu menangkis samurai.
Kwi-eng Nio-cu membantu adik angkatnya dengan cengkeraman dari samping ke arah pundah Cong San, akan tetapi pendekar ini cepat mengelak dan pitnya berkelebat menyambut untuk menotok sambungan siku Si Bayangan Hantu.
Gerakannya cepat dan kuat sekali.
Sakit hati, kemarahan dan kedukaan melihat isterinya yang terkasih tergeletak tak bernyawa dengan dada tertembus pedang, agaknya melipatgandakan tenaga dan kecepatannya.
Si Bayangan Hantu terpaksa menarik kembali lengannya dan di lain saat, Yap Cong San telah dikeroyok oleh empat orang diantara Lima Datuk itu.
Hanya Toat-beng Hoat-su seorang yang berdiri menonton saja, tidak ikut turun tangan.
Biarpun demikian, Cong San sudah repot sekali.
Jangankan dikeroyok oleh empat orang yang lihai itu, baru seorang diantara mereka saja sudah merupakan lawan berat yang belum tentu dapat dikalahkannya.
Betapapun juga, Cong San tidak gentar dan melawan mati-matian, biarpun gerakannya tidak leluasa karena lengan kirinya memondong puterinya yang menangis nyaring.
Pertandingan yang berat sebelah, Yap Cong San adalah murid Tiang Pek Ho-siang.
Dia telah menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai yang tangguh dan murni.
Akan tetapi, dengan seorang anak kecil dalam pondongannya, Menghadapi empat di antara datuk-datuk kaum sesat itu, tentu saja dia terdesak hebat sekali dan beberapa belas jurus kemudian dia hanya mampu mempertahankan diri dan melindungi puterinya saja.
Apalagi karena empat orang lawannya adalah Orang-orang sakti golongan hitam yang tidak pantang melakukan pengeroyokan dan menggunakan siasat licik.
Kini mereka yang mengeroyok sambil tertawa-tawa seperti hendak mempermainkan lawan, bukan hanya menyerang Cong San, akan tetapi juga menujukan serangannya kepada anak kecil dalam podongan pendekar itu.
Hal ini membuat Cong San selain marah dan duka, juga khawatir sekali.
Baru sekarang dia yang tadi dilanda kedukaan teringat bahwa puterinya yang masih kecil dan terus menangis ini terancam bahaya maut!
Maka dia kini mencurahkan seluruh daya pertahanannya untuk melindungi puterinya.
"Huh! Memalukan!"
Toat-beng Hoat-su mengeluarkan seruan keras ketika menyaksikan betapa sampai tiga puluh jurus lebih empat orang kawannya belum juga mampu merobohkan seorang lawan yang mereka keroyok.
Baru pengeroyokan itu saja sudah menjengkelkan hati kakek ini.
Disebut datuk-datuk akan tetapi masih melakukan pengeroyokan!
Merendahkan martabat ini namanya!
Untuk mengakhiri pengeroyokan yang memalukan ini, tiba-tiba dia menggerakkan jubahnya dari belakang, mengarah kepala anak kecil dalam pondongan Cong San!
Terkejut bukan main hati Cong San ketika merasa angin dahsyat sekali menyambar ke arah kepala anaknya.
Jangankan sampai mengenai langsung, baru sambaran angin yang dahsyat itu saja sudah cukup untuk membunuh puterinya!
Tidak ada jalan lain baginya kecuali mengorbankan diri untuk melindungi anaknya.
Cepat Cong San membalik sehingga tubuh anaknya terlindung dan dia memutar pit?nya untuk menyambut datangnya jubah lebar yang amat dahsyat sambarannya itu.
"Bretttt...! Desss...!"
"Suhu...! Subo...!"
Terdengar jerit melengking di pintu ruangan.
Cong San cepat memutar tubuh dan melemparkan Yap In Hong ke arah muridnya sambil berteriak.
"Cui Lin, bawa lari In Hong...!"
Hantaman jubah di tangan Toat-beng Hoat-su tadi hebat sekali.
Memang pitnya mampu merobek jubah itu, akan tetapi pit itu sendiri hancur dan lengan kanannya lumpuh dengan tulang patah-patah.
Kini dia sudah mencabut pit putih dengan tangan kirinya dan siap menghadapi lawan-lawan yang amat lihai itu!
Akan tetapi Cui Lin tidak dapat lari karena kedua kakinya menggigil ketika dia melihat subonya mati, apalagi ketika dia melihat mayat ayahnya, ibunya, kakeknya berserakan, hampir dia roboh pingsan dan berlutut sambil memeluk In Hong dan menangis!
Biarpun lengan kanannya sudah lumpuh dan dia hanya mampu melawan dengan pit di tangan kirinya, namun Cong San masih mengamuk hebat sehingga pitnya berhasil melukai pundak Hek-bin Thian-sin, sungguhpun dia sendiri telah menerima pukulan?pukulan dengan senjata lawan yang membuat pakaiannya robek?robek dan penuh darah.
"Jahanam Yap Cong San, mampuslah!"
Bu Leng Ci yang marah sekali karena tadi dia hampir celaka oleh pit di tangan Cong San, menggerakkan tangan kirinya dan sinar hijau menyambar.
Pada saat itu, Cong San sedang terhimpit karena Toat-beng Hoat-su yang marah karena jubahnya robek sudah mendesaknya, maka pendekar ini tidak dapat menghindarkan diri lagi dari sambaran Siang-tok-soa (Pasir Beracun Wangi) yang disambitkan oleh Bu Leng Ci dari jarak dekat.
"Aduhhh...!"
Dia berseru ketika pasir itu memasuki dadanya.
Hidungnya mencium bau yang wangi sekali dan tahulah dia bahwa nyawanya takkan tertolong lagi.
Dengan sekuat tenaga dia menyambitkan pitnya ke arah lawan yang terdekat, yaitu Ban-tok Coa-ong.
Begitu hebat sambitan ini sehingga biarpun Ban-tok Coa-ong meloncat ke atas, tetap saja pit yang tadinya dimaksudkan oleh penyambitnya untuk menembus dadanya itu masih menembus betisnya!
"Auuuww...
setan kau!"
Ban-tok Coa-ong menubruk dan pedang ularnya membacok.
Cong San mengelak, akan tetapi kurang cepat dan pinggangnya robek.
Dengan luka parah ini Cong San masih belum roboh, melainkan menubruk ke arah jenazah isterinya dan memeluk isterinya.
"Yan Cu... tunggu... Yan Cu...!"
Dengan tubuh isterinya dalam pelukan ketat, pendekar ini menghembuskan napas terakhir!
Suami isteri pendekar gagah perkasa yang saling mencinta dan yang sepanjang hidupnya banyak mengalami kemalangan itu tewas dalam keadaan menyedihkan sekali bagi yang melihatnya.
"Huh, menjemukan!"
Bu Leng Ci yang masih marah itu menendang mayat Cong San.
Mayat itu terlempar, akan tetapi mayat Yan Cu juga ikut terbawa, ternyata bahwa pelukan Cong San itu ketat sekali, seolah-olah sampai mati pun dia tidak mau melepaskan isterinya dan lengannya telah menjadi kaku.
"Ha-ha-ha, mesra-mesra... auggghh..."
Ban-tok Coa-ong mencabut pit dari betisnya dan mengobati lukanya.
"Suhu...! Subo...! Uhuhuhuhhh...!"
Cui Lin yang masih memondong tubuh In Hong menangis mengguguk sambil berlutut di atas lantai.
Di luar pintu tampak Phoa-ma berlutut, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya mewek-mewek menahan tangis saking ngeri dan takutnya.
Dia tadi bersama Cui Lin berlari-lari pulang ketika mendengar laporan seorang tetangga bahwa di rumah keluarga Theng terdengar ribut-ribut seperti orang berkelahi.
"Hemm, bocah ini murid mereka, tidak boleh hidup!"
Bu Leng Ci berkata dan samurainya sudah menggetar di tangannya.
"Mo-li, jangan! Sayang kalau dibunuh begitu saja. Hemm, berikan kepadaku sebelum dibunuh!"
Yang berkata demikian adalah Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu. Bu Leng Ci membuang ludah.
"Cuhh! Laki-laki kotor!"
"Aahhh, masa kau tidak mau mengalah kepadaku? Kalau mau bunuh bayi itu, bunuhlah, akan tetapi sayang kalau dara ini dibunuh begitu saja. Aku bukan seorang mata keranjang, akan tetapi melihat kemulusan seperti ini disia-siakan dan dibunuh tanpa dimanfaatkan, sungguh amat sayang."
Bu Leng Ci membuang muka dengan sebal, sedangkan Kwi-eng Nio-cu cemberut.
Kedua orang wanita yang sudah banyak melihat kepalsuan laki-laki terhadap wanita ini meresa muak dan kebenciannya terhadap pria bertambah dengan sikap Si Muka Hitam itu.
Cui Lin yang mendengar percakapan itu mengangkat mukanya yang pucat, memandang kelima orang pembunuh keluarganya dan gurunya itu.
Dia maklum bahwa melawan akan percuma.
Yang penting sekarang adalah menyelamatkan In Hong.
Perintah gurunya terakhir adalah menyelamatkan atau melarikan In Hong.
Akan tetapi dia tidak dapat lari dan sekarang dia harus menggunakan segala usaha untuk menyelamatkan putera gurunya.
Dia tidak takut lagi, yang ada hanya benci.
Dendam sedalam lautan yang sukar untuk ditebusnya, mengingat betapa lihainya kelima orang itu.
Akan tetapi, yang terpenting adalah menyelamatkan In Hong.
Dia bangkit berdiri dengan In Hong di pelukannya.
Suaranya tidak gemetar takut ketika dia berkata.
"Ampuni anak kecil yang tak berdosa ini. Aku bersedia mentaati perintah kalian, biar disuruh mati sekalipun, asal adikku ini diampuni dan dibiarkan pergi bersama Phoa-ma."
"Ha-ha-ha, Nona manis, engkau tabah sekali. Benarkah engkau bersedia menurut kehendakku?"
Si Muka Hitam yang buruk rupa itu terkekeh dan bertanya.
"Asal adikku dibebaskan."
Cui Lin mengangguk. (Lanjut ke
Jilid 15) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15
"Anak itu tentu anak mereka. Orangku dahulu mengatakan bahwa ketika mereka menyerbu, Gui Yan Cu sedang mengandung. Anak ini harus dibunuh, kalau tidak, kelak hanya akan mendatangkan kerepotan saja,"
Kata Kwi-eng Nio-cu.
Cui Lin terkejut.
Cepat dia memutar otaknya dan berkata nyaring dengan nada mengejek.
"Aih, orang-orang lihai macam kalian takut kepada seorang anak bayi, takut kalau kelak membalas dendam? Tak kusangka kalian penakut seperti itu!"
"Budak hina!"
Kwi-eng Nio-cu menggerakkan tangan menampar, akan tetapi Hek-bin Thian-sin sudah meloncat ke depan menghalangi.
"Nio-cu, tidak boleh dia dibunuh dulu sebelum aku selesai dengannya."
"Kau... hendak membelanya? Kau kira aku takut kepadamu, Hek-hin Thian-sin?"
Kwi-eng Nio-cu membentak.
"Takut atau tidak bukan urusanku, akan tetapi tadi sudah kunyatakan bahwa aku tidak ingin melihat gadis ini dibunuh begitu saja."
"Kalau begitu, majulah!"
Si Bayangan Hantu menantang.
"Uh-uhh!"
Toat-beng Hoat-su terbatuk-batuk.
"Apakah kalian ini anak?anak kecil yang karena urusan sepele saja hendak saling hantam?"
Ditegur demikian oleh orang tertua di antera mereka, keduanya mundur lagi, dan Hek-bin Thian-sin bekata kepada Cui Lin.
"Dara manis, siapa takut kepada bocah itu? Biarkan dia hidup dan belajar seratus tahun, kami tidak akan takut! Siapa bilang Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu takut akan pembalasan seorang anak bayi? Entah kalau yang lain takut!"
"Sombong! Aku pun tidak takut!"
Si Bayangan Hantu membentak.
"Hi-hik, biarkan bayi itu besar, kelak masih belum terlambat kita membunuhnya. Ingin aku melihat bagaimana dia hendak membalas dendam!"
Kata pula Bu Leng Ci. Hek-bin Thian-sin tertawa bergelak.
"Nah, begitulah sikap orang gagah! Tak takut dan pantang mundur menghadapi tantangan pendendam! Eh, Nona, benarkah kau akan menurut segala perintahku kalau kami membebaskan bocah itu?"
"Aku Tan Cui Lin adalah keturunan orang gagah dan murid pendekar perkasa, sekali bicara tidak akan ditarik kembali!"
Cui Lin yang sudah mengambil keputusan tetap untuk menyelamatkan In Hong sebagai perbuatan terakhir itu menjawab dengan sikap gagah.
"Ha-ha-ha, bagus! Kalau begitu, hayo kau tanggalkan semua pakaianmu, bertelanjang bulat di depan kami!"
Hek-bin Thian-sin memerintah.
Dapat dibayangkan betapa perasaan seorang dara berusia enam belas tahun seperti Cui Lin mendengar perintah biadab seperti itu.
Hampir pingsan membayangkan betapa dia harus menanggalkan semua pakaian di depan mereka.
Penghinaan yang tiada taranya bagi seorang dara.
Akan tetapi ketekadan bulat didorong putus asa dan kedukaan melihat semua orang yang dikasihinya tewas, dia menjawab dengan suara tenang.
"Bebaskan dulu adikku. Biarkan dia dibawa pergi Phoa-ma. Eh, Phoa-ma, bawa pergi In Hong, jaga baik-baik dan hati-hatilah memelihara dia."
Dengan tubuh menggigil Phoa-ma menerima In Hong dari tangan Cui Lin, memondongnya lalu bergegas pergi keluar dart rumah itu dengan tubuh gemetar.
Setelah melihat Phoa-ma pergi tak tampak lagi, Cui Lin melangkah maju dan perlahan-lahan, jari-jari tangannya mulai menanggalkan pakaiannya, satu demi satu.
Dia sengaja melakukan ini dengan lambat sekali karena dia hendak menarik perhatian mereka dan memberi kesempatan kepada Phoa-ma untuk lari jauh di tempat yang aman.
Tidak akan sukar bagi Phoa-ma untuk bersembunyi dan andaikata iblis-iblis ini melanggar janji, belum tentu mereka akan dapat mencari Phoa-ma di kota sebesar Tai-goan.
Andaikata keadaan tidak seperti itu, dan hatinya tidak seduka itu, agaknya sampai mati pun dia tidak akan sudi menanggalkan pakaian, lebih baik dia mati.
Akan tetapi, perasaan duka membuat perasaan lain membeku, lupa akan rasa malu dan lain-lain, yang ada hanyalah keinginannya untuk menyelamatkan In Hong didorong perasaan duka dan sengsara.
Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li membuang muka.
"Menyebaikan, perempuan hina!"
Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci berkata.
"Perempuan tak tahu malu seperti pelacur!"
Kwi-eng Nio-cu juga memaki.
Akan tetapi Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu mononton pertunjukan itu dengan mata melotot.
Makin lambat dara muda itu menanggalkan pakaian, makin menarik dan menggairahkan, menimbulkan nafsu birahi yang berkobar-kobar.
Toat-beng Hoat-su hanya terbatuk-batuk sama sekali tidak tertarik, juga tak membenci pertunjukan yang baginya sudah tidak ada daya penariknya sama sekali itu.
Akan tetapi Ban-tok Coa-ong juga tertarik dan tersenyum kagum.
Betapa hati pria tidak akan terpesona menyaksikan tubuh dara muda yang ranum itu tampak sedikit demi sedikit seperti itu?
Akhirnya Cui Lin telah menanggalkan seluruh pakaiannya dan berdiri dengan telanjang bulat.
Seperti seorang wanita berpengalaman yang biasa menggoda pria, dara remaja yang masih mentah ini dan yang menjadi matang karena himpitan duka itu mencabut tusuk konde, membiarkan rambut yang hitam panjang itu terurai lepas di atas kedua pundaknya, sebagian menutupi dadanya yang padat, akan tetapi makin menggairahkan.
"Aduh, nona manis, engkau hebat sekali!"
Hek-bin Thian-sin meraih pinggang dara itu dan menarik lalu memeluknya.
Tanpa malu-malu lagi dia menciumi bibir Cui Lin.
Dara itu hampir pingsan.
Selama hidupnya belum pernah dia melakukan semua itu dan belum pernah dicium pria, dalam mimpi pun belum.
Kini, muka yang hitam kasar itu menciumnya, membuat dia hampir muntah.
Akan tetapi dia mengeraskan hati, memejamkan mata agar tidak melihat muka hitam berkilat itu, tangannya bergerak.
"Manis, cantik jelita... ahhh... hemm... aughhh!!"
Hek-bin Thian-sin berteriak dan cepat mengerahkan sin-kang ke ulu hatinya, tangannya dengan jari tangan miring menghantam kepala Cui Lin.
"Trakkk!"
Tanpa dapat mengeluh lagi, tubuh Cui Lin yang telanjang bulat itu terpelanting dan roboh dengan kepala retak dan tewas seketika.
Hek-bin Thian-sin menyumpah-nyumpah ketika dia mencabut tusuk konde yang hampir saja membunuhnya itu dari ulu hatinya.
Untung dia cepat mengerahkan sin-kang sehingga tusuk konde itu hanya masuk sedalam tiga senti saja.
Sambil mengobati lukanya dia memaki-maki.
"Perempuan jahat! Curang! Ahhh, mana anak kecil itu? Harus dibunuh sekali!!"
Teriaknya sambil mencak-mencak.
Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati girang sekali.
"Rasakan kau sekarang, laki-laki kotor!"
Bu Leng Ci bersorak.
"Wah, sayang. Kalau tidak mati, mau rasanya aku mngambil dara ini sebagai murid!"
Kata Si Bayangan Hantu.
Orang-orang berkerumun di depan rumah keluarga Kakek Theng ketika lima orang aneh ini meninggalkan rumah itu.
Tadi Phoa-ma yang membawa lari In Hong, setelah tiba di luar dan bertemu dengan orang-orang, tidak dapat berkata apa-apa kecuali suara lirih.
"Pembunuhan...! Pembunuhan...!"
Tanpa berhenti menoleh dan tidak peduli pertanyaan orang, melainkan terus melarikan diri, memeluk anak itu erat-erat.
Karena inilah, mika orang-orang berkumpul di depan rumah itu.
Ketika mereka melihat lima orang aneh itu keluar dengan sikap angkuh dan seenaknya, tidak ada yang berani bertanya.
Setelah lima orang itu pergi, barulah berbondong-bondong mereka memasuki rumah.
Dapat dibayangkan betapa gegernya ketika mereka melihat bahwa rumah itu penuh dengan darah dan mayat berserakan!
Mayat-mayat dalam keadaan mengerikan sekali, terutama Cui Lin yang mati dalam keadaan telanjang bulat dan kepala pecah!
Banyak yang tidak kuat menyaksikan dan ada yang jatuh pingsan, ada pula yang jatuh berlutut karena kedua kaki terasa lemas dan lumpuh.
Akan telapi ada beberapa orang yang cepat lari keluar untuk mengejar lima orang aneh itu.
Setibanya di luar, tidak ada nampak bayangan seorang pun di antara dua orang wanita dan tiga orang kakek yang menyeramkan tadi.
Tentu saja mereka segera lari melapor kepada yang berwajib dan gegerlah kota Taigoan, apalagi karena Kakek Theng terkenal sebagai orang terhormat, bekas pengawal kaisar!
"Kejam sekali!"
"Bukan manusia!"
"Lebih kejam daripada iblis!"
Demikian komentar para penduduk Taigoan.
Dan agaknya ada pula para pembaca yang memberi komentar seperti itu.
Kejamkah Lima Datuk kaum sesat itu?
Tentu saja kejam sekali.
Akan tetapi marilah kita menyelidiki keadaan kita manusia hidup ini.
Bukankah kita ini dengan cara masing-masing, menurutkan pendapat masing-masing, juga merupakan orang-orang yang kejam?
Mari kita tengok di sekeliling kita.
Bukankah hidup manusia ini penuh dengan segala macam kejahatan?
Pembunuhan terjadi di mana-mana.
Ada pembunuhan karena perkelahian, karena perampokan, karena kebencian, karena permusuhan, karena iri dan sebagainya.
Banyak pula pembunuhan masal karena perang.
Perang antar bangsa yang pada hakekatnya mencerminkan perang dan pertentangan antar kelompok, antar perorangan, dan akhirnya bersumber pada pertentangan dalam diri kita masing-masing!
Tidak kejamkah kita kalau kita mengiri kepada atasan dan menghina kepada bawahan?
Kalau kita suka kepada yang baik dan jijik terhadap yang buruk, termasuk manusia?
Tidak kejamkah kita kalau milik kita berlimpah dan berlebihan dan hati kita tidak terusik sama sekali melihat sesama manusia kurang makan kurang pakaian dan tiada tempat tinggal seperti kaum jembel dan gelandangan?
Tidak kejamkah kita kalau untuk sebuah kedudukan saja kita sampai hati untuk saling jegal, saling fitnah, saling benci, dan saling bunuh?
Kalau kita mau belajar mengalihkan pandangan kita ke dalam diri sendiri, mau mengenal keadaan hati dan pikiran sendiri secara jujur, akan tampaklah bahwa selain kejam, kita pun munafik-munafik besar.
Mulut bicara tentang saling kasih antar manusia, namun mata memandang penuh iri dan benci, tangan dikepal siap saling hantam, hanya untuk memperebutkan uang, kedudukannya, nama dan juga memperebutkan...
kebenaran bukan lain hanyalah kebenaran diri sendiri masing-masing dan karenanya menjadi kebenaran palsu.
Mari kita ingat betapa kejamnya kita ini!
Digigit seekor nyamuk ingin membunuh semua nyamuk, berdasarkan dendam dan kebencian.
Berdasarkan jijik dan takut terkena penyakit, kalau bisa semua lalat dibasmi!
Berdasarkan nafsu makan enak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan, kita membunuh segala binatang untuk kita makan bangkainya.
Tidak kejamkah kita?
Apakah alasan bahwa "semua itu sudah umum"
Dapat dipakai untuk menghapus kekejaman ini?
Dapatkah kita berusaha menghapus kekejaman?
Dengan ilmu apa pun tidak dapat!
Karena keadaan bebas dari kekejaman bukanlah keadaan yang dibuat dan diusahakan.
Orang tidak akan mungkin dapat berhasil kalau dia berusaha menjadi orang baik!
Usaha menjadi baik hanya menjadikan orang munafik yang merasa diri baik, dan segala usaha dan keinginan selalu mengandung pamrih atau tujuan yang kesemuanya bersumber kepada keuntungan lahir maupun batin bagi diri pribadi.
Kekejaman akan terhapus apabila kita mengerti sampai ke akarnya mengapa kita kejam, apabila kita mengenal keadaan diri kita pribadi, mengenal gerak pikiran dan hati kita pribadi.
Marilah kita bersama mulai dari detik ini juga.
Karena hidup adalah dari detik ke detik.
Hidup adalah sekarang ini.
Perubahan adalah saat ini, bukan ingin mengubah namun perubahan yang terjadi dengan sendirinya setelah kita membuka mata, waspada penuh kesadaran mengenai keadaan kita lahir batin, keadaan sekeliling kita.
Apa kemarin?
Sudah lalu!
Hanya menimbulkan kenangan yang mengeruhkan pikiran.
Apa besok?
Bukan urusan kita!
Hanya menimbulkan bayangan khayal yang melahirkan kekhawatiran dan ketakutan.
Yang panting sekarang, saat ini!
Mari kita kembali ke Siauw-lim-si.
Di kuil itu telah dipersiapkan untuk menerima tamu yang diduga tentu akan membanjiri kuil itu untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio.
Yap Kun Liong masih berada di kuil itu karena dia mau membantu sampai upacara pembakaran jenazah dan penguburan selesai.
Selain ini, dia pun hendak menanti ayah bundanya karena menduga bahwa sekali ini ayah bundanya pasti akan datang ke Siauw-lim-si.
Tiang Pek Hosiang adalah guru ayahnya, mustahil kalau ayahnya tidak datang mendengar gurunya meninggal dunia.
Dan ayahnya pasti akan mendengarnya karena berita ini tentu tersiar luas di dunia kang-ouw.
Juga dia ingin bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang diduga akan membanjiri kuil itu.
Kasihan sekali pemuda ini.
Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ayah bundanya yang dirindukannya itu telah tewas kurang lebih tiga tahun yang lalu!
Kun Liong merasa gembira sekali melihat tokoh-tokoh kang-ouw mulai berdatangan.
Dia telah menjadi seorang pemuda ber-usia dua puluh tahun yang bertubuh tegap dengan dada bidang penuh kesehatan dan kekuatan.
Wajahnya tampan dan ke-pala gundulnya sama sekali tidak me-nyuramkan ketampanan wajahnya bahkan memberi ciri ketampanan yang khas!
Sinar matanya berubah-ubah, kadang-kadang lembut seperti mata kanak-kanak, kadang-kadang bersinar tajam dan keras.
Mata itu lebar, sesuai dengan dahinya yang lebar dan kepalanya yang bulat.
Alisnya hitam tebal berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulut serta dagunya membayangkan watak kuat dan kemauan membaja.
Perangainya juga aneh dan berubah-ubah.
Kadang-kadang dia pelamun, pendiam seperti orang pemurung, akan tetapi ada kalanya dia lincah jenaka penuh kegembiraan dan kalau sudah begini, Muncul pula kenakalannya seperti ketika masih kanak-kanak.
Karena dia berdiri seperti orang berjaga di ruangan tamu di mana Ketua Siauw-lim-pai sendiri menerima tamu, maka dengan jelas dia dapat melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang disebutkan namanya setiap kali menghadap Ketua Siauw-lim-pai kemudian bersembahyang di depan kedua peti jenazah.
Yang datang adalah tokoh-tokoh besar, utusan partai-partai Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan yang terkenal.
Juga banyak dari perkumpulan-perkumpulan silat, dari perorangan yang sudah mengenal pribadi kedua orang tokoh Siauw-lim-pai yang meninggal dunia atau yang datang untuk menghormati Siauw-lim-pai.
Akan tetapi hatinya kecewa sekali karena dia tidak melihat ayah bundanya.
"Locianpwe, mengapa ayah bunda teecu belum juga tiba?"
Akhimya dia tidak sabar lagi, bertanya lirih kepada Thian Kek Hwesio.
Hwesio ketua Siauw-lim-pai ini menarik napas panjang.
"Ayahmu bukan lagi murid Siauw-lim-pai, andaikata berhalangan datang pun tidak mengapa. Lihat, Cia-taihiap datang!"
Hwesio tua itu bangkit berdiri menyambut dengan wajah berseri.
Mendengar disebutnya Cia-taihiap, jantung Kun Liong berdebar keras dan cepat dia mengangkat muka memandang.
Sinar matanya berseri dan dia menahan senyumnya ketika dia mengenal dara cantik jelita dan gagah perkasa yang berjalan di belakang suami isteri setengah tua itu.
Mana mungkin dia pangling?
Wajah itu masih sama cantik jelita dan berseri-seri penuh kenakalan seperti dahulu, bahkan makin cantik dan matang!
Cia Giok Keng, siapa lagi?
Dan dara itu pun memandang kepadanya, kelihatan terkejut dan terheran yang dapat dilihat dari diangkatnya sepasang alis yang seperti bulan muda itu, sepasang mata yang jernih itu berkilat, akan tetapi dara itu segera membuang muka mengalihkan pandang dengan alis berkerut!
Hampir saja Kun Liong tertawa karena dia teringat akan pertemuannya yang pertama dahulu dengan gadis itu.
Mengertilah dia bahwa gadis itu tentu merasa khawatir melihat Kun Liong di situ, Khawatir kalau-kalau pemuda ini akan membuka rahasianya dahulu akan wataknya yang buruk menyambut tamu dengan kurang ajar!
Teringat ini, Kun Liong tersenyum penuh kemenangan.
Sedikitnya, ada sesuatu yang dia kuasai, yang membuat dara itu tidak akan berani lagi berkurang ajar seperti dahulu, memandang rendah kepadanya!
Bagaimana Giok Keng dapat muncul di Siauw-lim-si?
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara ini disuruh menjaga adiknya di Cin-ling-pai.
Akan tetapi, dasar anak manja, sehari kemudian setelah ayah bundanya pergi, dia tak dapat menahan keinginannya untuk pergi.
Karena gadis ini melakukan perjalanan mengejar ayah bundanya dengan cepat, maka tiga hari kemudian dia dapat menyusul mereka.
Cia Keng Hong akan menegur, akan tetapi kembali isterinya yang membela anaknya.
"Dia sudah menyusul, biarlah dia ikut dengan kita."
"Hmm... disuruh menjaga rumah malah nekat menyusul! Seperti anak kecil saja engkau, Keng-ji!"
Giok Keng memegang lengan ayahnya dan berkata halus manja.
"Maaf, Ayah. Saya ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw untuk menambah penga-laman."
"Hemm...!"
Terpaksa Keng Hong tidak melarang lagi dan berangkatlah mereka ke Siauw-lim-si bertiga.
Setelah melalui basa-basi upacara penyambutan di mana Ketua Siauw-lim-pai mengucapkan selamat datang dan pendekar sakti itu menyatakan duka cita atas kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio, Suami isteri dan puterinya itu lalu memberi hormat dengan memasang hio (dupa wangi) dan bersembahyang di depan peti mati.
Kemudian mereka dipersilakan duduk di tempat kehormatan sejajar dengan beberapa orang ketua partai yang berkenan hadir dan tidak mewakilkan kepada murid-muridnya.
Kun Liong memperhatikan dengan pandang matanya.
Pendekar sakti yang amat dikagumi dan dijunjung tinggi oleh ayah dan ibunya itu kelihatan seorang laki-laki sebaya dengan ayahnya sekarang, setengah tua dan pakaiannya sederhana sekali.
Sama sekali tidak seperti para ketua partai yang datang diiringkan anak buahnya yang membawa-bawa bendera tanda partai segala.
Ketua Cin-ling-pai ini datang seperti orang biasa bersama isteri dan puterinya, pakaiannya seperti sastrawan sederhana atau lebih tepat seperti seorang petani terpelajar, tidak membawa senjata dan kelihatannya biasa saja.
Tubuhnya memang tegap berisi, wajahnya tampan dan kumis serta jenggot-nya pendek, masih hitam semua.
Wajah itu membayangkan kesabaran, dan hanya sepasang alisnya yang membayangkan kegagahan, alis yang tebal dan bentuknya keren.
Rambutnya masih hitam, digelung ke atas dan diikat dengan saputangan sutera berwama kuning tua.
Bajunya yang longgar berwarna kuning muda dan celananya hitam, ikat pinggangnya juga kuning tua.
Sungguh di luar persangkaan Kun Liong yang membayangkan supeknya itu sebagai seorang tokoh yang hebat dan luar biasa!
Kiranya seorang yang seder-hana sekali, baik pakaian, gerak-gerik maupun sikapnya.
Isterinya lebih istimewa.
Cantik dan penuh semangat, pakaiannya serba putih dengan hiasan warna merah dan biru di sana-sini, sikapnya agak dingin namun menambah kekerenannya.
Pribadi nyonya ini jelas membayangkan kegagahan penuh, yang membuat orang merasa sungkan dan jerih untuk berurusan dengannya.
Sam-baran sinar matanya penuh wibawa.
Melihat wajah nyonya ini, Kun Liong mendapat kenyataan betapa Giok Keng mirip ibunya, cahtik, gagah, dan jelas menonjol sifat terbuka dan penuh keberanian.
Dengan jantung berdebar Kun Liong melangkah perlahan menghampiri Cia Keng Hong yang duduk dengan tenang memandang para tamu yang baru datang dan bersembahyang.
Pemuda ini melihat betapa Giok Keng menengok kepadanya dan kembali alis dara itu berkerut, sinar matanya menyambar penuh peringatan!
Hal ini terasa sekali oleh Kun Liong sehingga tanpa disadarinya, kepalanya yang gundul itu mengangguk!
Dan dia tersenyum ketika melihat dara itu sekilas tersenyum, kelihatan lega!
"Maafkan kalau teecu mengganggu, Supek.
Teecu adalah Yap Kun Liong, dan merasa berbahagia sekali mendapat kesempatan berjumpa dengan Supek berdua Supek-bo."
Dia berlutut di depan Keng Hong dan Biauw Eng.
Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak memandang kepala yang gundul itu karena ketika pemuda itu berlutut dan menundukkan muka, yang tampak hanya kepalanya yang gundul licin saja!
"Apa...?
Siauw suhu (Bapak Pendeta Muda)...?"
Telinga Kun Liong menjadi merah ketika menangkap suara ketawa ditahan dari sebelah kiri, Cia Giok Keng yang menahan ketawa itu, tak salah lagi!
"Supek, teecu bukan hwesio biarpun kepala teecu gundul.
Teecu Yap Kun Liong..."
Keng Hong memegang pundak pemuda itu.
Kun Liong mengangkat muka dan melihat betapa wajah yang tampan dan gagah itu diliputi keharuan.
"Engkau putera Yan Cu...?"
Biauw Eng juga berseru lirih.
Keng Hong memberi isyarat kepada isterinya dan puterinya, kemudian bangkit berdiri.
"Bawa kami ke tempat sunyi agar leluasa bicara."
Kun Liong mengangguk dan mendahului pergi ke ruangan samping yang sunyi.
Ketua Siauw-lim-pai melihat ini, akan tetapi hanya tersenyum saja karena dia maklum betapa pentingnya pertemuan antara paman guru dan murid keponakan itu.
Setelah tiba di tempat sunyi itu, Keng Hong memegang lengan Kun Liong dan memandang dengan sinar mata tajam.
"Benarkah engkau Yap Kun Liong? Di mana ayah bundamu?"
Kun Liong menunduk dan menarik napas panjang kemudian menggelengkan kepalanya yang gundul.
"Teecu tidak tahu, Supek. Sudah sepuluh tahun teecu tidak berjumpa dengan mereka."
Biauw Eng melangkah ke depan, kedua tangannya yang halus kulitnya itu meraba dagu Kun Liong, mengangkat muka pemuda yang menjadi kaget dan terheran itu.
"Dia memang putera mereka. Lihat!"
Biauw Eng menggunakan telapak tangan kanan menutupi bagian atas dari muka Kun Liong, memperlihatkan hidung dan mulutnya saja.
"Persis Yan Cu sumoi!"
Keng Hong berseru kagum.
"Dan lihat ini!"
Kini tangan Biauw Eng menurun dan menutupi bagian bawah muka pemuda itu.
"Benar! Mata dan dahi itu persis Cong San, hanya bedanya dia gundul. Eh, Kun Liong, ke mana saja engkau pergi? Kenapa kepalamu gundul? Hemmm... agaknya engkau menjadi korban hawa beracun! Dan bagaimana pula sampai sepuluh tahun engkau tidak berjumpa dengan ayah bundamu?"
"Panjang sekali ceritanya, Supek."
Kun Liong menarik napas panjang dan melirik ke arah Giok Keng.
Kalau dia menceritakan pengalaman-pengalamannya, apakah dia tidak harus bercerita tentang kunjungannya ke Cin-ling-san?
Gerakan ini dianggap oleh Keng Hong bahwa pemuda itu sungkan bercerita karena di situ ada Giok Keng yang tentu disangka orang lain karena belum diperkenalkan.
"Kun Liong, dia ini bukan orang lain, dia adalah puteri kami, bernama Giok Keng. Keng-ji (Anak Keng), ini adalah Yap Kun Liong, putera pamanmu Yap Cong San seperti yang telah kami ceritakan kepadamu. Dia lebih tua darimu."
"Glok Keng, beri salam kepada kakakmu!"
Biauw Eng berkata.
Biarpun hatinya tidak suka karena dia masih curiga kalau-kalau pemuda gundul itu akan membuka rahasia kesalahannya lima tahun yahg lalu, terpaksa Giok Keng mengangkat kedua tangan dengan kaku dan berkata lirih.
"Liong-ko (Kakak Liong)!"
Kun Liong cepat membalas penghormatan itu dan tersenyum.
"Keng-moi (Adik Keng), maafkan tadi aku diam saja karena tidak mengenal engkau siapa."
Ucapan pemuda ini seketika membuat wajah Giok Keng berseri gembira karena hatinya lega.
Setelah mengatakan tidak mengenal berarti pemuda itu akan merahasiakan pertemuan mereka lima tahun yang lalu.
Maka dengan ramah dan juga tersenyum dia menjawab.
"Tidak mengapa, Liong-ko. Akulah yang seharusnya menyapa lebih dulu."
Atas desakan Keng Hong dan Biauw Eng yang ingin sekali mendengar apa yang telah dialami pemuda itu, Kun Liong lalu menuturkan dengan singkat pengalaman-pengalamannya semenjak anjing peliharaannya menumpahkan obat dan karena takut dia melarikan diri sampai berturut-turut terjadi hal-hal hebat menimpa dirinya sehingga dia makin tidak berani pulang.
Dia menceritakan betapa dia diambil murid oleh Bun Hwat Tosu dan dipesan agar jangan mempergunakan nama kakek itu sebagai gurunya.
"Hanya kepada Supek, dan Supek-bo, juga Adik Giok Keng, saya berani menceritakan,"
Sambungnya.
Dia tidak menceritakan tentang bokor emas, dan juga banyak hal yang dianggapnya kurang perlu, diantaranya kenakalannya yang menyebabkan kebakaran dan lain-lain, tidak diceritakannya!
"Kau beruntung sekali dapat menjadi muridnya sampai lima tahun!"
Keng Hong berseru girang.
Kun Liong melanjutkan penuturannya, betapa dia kembali ke Leng-kok akan tetapi tak dapat bertemu dengan ayah bundanya yang telah melarikan diri menjadi orang buruan karena telah berani menentang Ma-taijin.
"Hemm, kurasa sekarang manusia busuk she Ma itu tidak akan berani banyak tingkah lagi setelah kuhancurkan sebelah telinganya!"
Biauw Eng berkata sehingga Kun Liong terkejut.
"Supek-bo melakukan hajaran itu karena ayah ibu?"
Tanyanya. Biauw Eng mengangguk.
"Mestinya engkau yang melakukannya, karena lima tahun yang lalu mungkin engkau masih terlalu muda, aku mewakilimu."
"Ahh, Supek-bo, Terima kasih atas pembelaan Supek-bo, akan tetapi teecu rasanya tidak akan mau melakukan hal itu."
"Kenapa? Kau takut??"
Biauw Eng bertanya dengan kening berkerut penuh kecewa.
"Teecu tidak takut apa-apa, hanya... teccu tidak akan menggunakan kekerasan ilmu silat untuk memukul orang..."
Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak dan saling pandang, sedang Giok Keng tersenyum mengejek.
Ketika Biauw Eng yang penasaran hendak membantah, dia didahului Keng Hong.
"Lanjutkan ceritamu, Kun Liong. Setelah tidak bertemu dengan orang tuamu, apakah kau tidak mencari mereka? Mengapa? Kalau ada ibumu, agaknya kepala gundulmu dapat disembuhkan dan dapat tumbuh rambut. Kenapa pula kau bisa berada di sini?"
"Teecu telah berusaha mencari mereka, akan tetapi sia-sia. Akhirnya teecu pergi ke Siauw-lim-si dan secara kebetulan sekali teecu diambil murid oleh mendiang sukong Tiang Pek Hosiang selama lima tahun."
"Apa?"
Kembali Keng Hong dan Biauw Eng terkejut.
"Bukankah beliau selama itu mengurung diri dalam Ruang Kesadaran?"
Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya sampai dia menjadi murid sukongnya sendiri.
Keng Hong mendengarkan penuh kagum dan diam-diam dia memuji nasib baik bocah ini yang secara kebetulan saja digembleng oleh dua orang paling sakti di dunia ini pada jaman itu!
"Hemm, jadi yang membuatmu keracunan sampai gundul begini adalah Ban-tok Coa-ong dan puteranya?
Dia seorang di antara Lima Datuk kaum sesat!
Lalu, setelah selesai upacara penyempurnaan jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio, apa yang hendak kau lakukan, Kun Liong?
Engkau hendak pergi ke ma-na?"
"Teecu belum tahu harus pergi ke mana. Yang jelas teecu akan mencari ayah dan ibu, juga berusaha mencari dua buah pusaka Siauw-lim-si yang hilang seperti dipesankan oleh mendiang Sukong."
"Tapi, kalau betul dugaan Ketua Siauw-lim-pai bahwa yang mencuri adalah orang-orang dari Kwi-eng-pang, berbahaya sekali kalau kau pergi ke sana. Si Bayangan Hantu, ketua Kwi-eng-pang adalah seorang lihai, seorang di antara Lima Datuk kaum sesat."
"Teecu tidak takut, Supek. Teecu harus mencarinya dan dapat membawanya kembali ke sini untuk membalas budi kebaikan mendiang Sukong."
"Bagus! Begitulah baru pantas menjadi putera Yap Cong San dan Gui Yan Cu sumoi. Akan tetapi, sebelum berangkat biarlah kulihat dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, kalau perlu biar kutambah untuk bekal."
Kun Liong menghaturkan terimakasihnya.
Keng Hong lalu mengajak mereka kembali ke ruangan tamu.
Akan tetapi Giok Keng berkata.
"Ayah, karena Liong-ko adalah orang dalam kuil ini, saya ingin sekali melihat-lihat kuil yang disohorkan amat besar dan indah ini. Juga saya ingin melihat Ruang Kesadaran di mana mendiang Tiang Pek Hosiang bertapa dan di mana Liong-ko digembleng selama lima tahun."
Keng Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi Biauw Eng mendahuluinya.
"Pergilah, dan kau yang ceritakan kepada kakakmu tentang keadaan kita selama ini agar dia mengetahui bahwa aku dan ayahmu sudah berusaha pula mencari orang tuanya."
Setelah berkata demikian, Biauw Eng mengajak suaminya kembali ke tempat tadi, sedangkan Giok Keng dan Kun Liong berjalan keluar memasuki kebun di samping kuil.
"Dia cukup tampan dan gagah, bukan? Kalau saja Keng-ji dan dia dapat saling cocok..."
Biauw Eng berkata lirih setelah mereka duduk berdampingan di tempat tamu tadi.
Hatinya sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu, mengingat bahwa usia puterinya itu sudah sembilan belas tahun.
Sudah perawan tua menurut ukuran waktu itu!
"Tapi...
tapi..."
"Tapi apa?"
Biauw Eng mendesak dan melirik ke arah suaminya.
"Dia... eh, kepalanya gundul. Bagaimana kalau sampai selamanya tetap gundul seperti hwesio?"
"Hemm, heran sekali aku, masa engkau meributkan soal kepala gundul atau berambut gondrong! Tidak biasanya engkau seperti ini. Pula, bukankah engkau masih menyimpan kitab pengobatan peninggalan gurumu yang kautemukan di Cin-ling-san ketika membangun pondok itu? Kalau kauberikan kitab itu kepadanya, tentu dia akan dapat mencari obatnya sendiri. Suamiku, apa sebetulnya yang membuat kau kecewa? Aku yakin bukan soal kepala gundul!"
Biauw Eng yang sudah mengenal benar watak suaminya, mendesak. Keng Hong menarik napas panjang.
"Betapa mungkin bagiku menyembunyikan sesuatu darimu? Sebetulnya, aku agak kecewa mendengar pernyataannya tadi bahwa dia tidak suka menggunakan ilmu silat untuk memukuli orang. Kurasa ucapan itu timbul dari hati penakut dan watak yang lemah. Benar-benar aku tidak suka!"
"Hemmm, suka atau tidak, yang kita pentingkan bukankah perjodohan Giok Keng? Biarkan dia yang menentukan, bukan kita karena dialah yang akan melaksanakan, untuk selamanya, yang akan mengalami baik buruknya, suka dukanya."
Keng Hong menarik napas panjang.
"Mudah-mudahan dugaanku itu keliru."
Mereka tidak melanjutkan percakapan itu karena merasa kurang leluasa setelah kini tamu berdatangan dan banyak yang duduk dekat mereka.
Setelah mereka berdua memasuki kebun, Giok Keng berkata.
"Kun Liong, kau baik sekali tidak..."
Kun Liong memandang dengan mata melotot dibesarkan, mulut cemberut dan menegur.
"Eh, berani kau menyebut namaku begitu saja? Kalau aku mengutukmu, kau bisa menjadi kelelawar!"
"Habis, bukankah namamu Kun Liong?"
"Siapa menyangkal? Akan tetapi kau juga tidak bisa menyangkal bahwa aku lebih tua daripada engkau dan tadi kau sudah menyebutku koko. Kau bilang aku baik karena tidak membuka rahasiamu di depan ayah bundamu, akan tetapi beginikah balasnya? Kau menyebutku begitu saja seolah-olah kau lebih tua!"
Kun Liong tidak marah sungguh-sungguh, hanya untuk menggoda saja karena dilihatnya, bahwa dara ini masih lincah dan nakal!
"Ataukah barangkali aku tidak perlu membohong kepada Supek?
Untuk mengaku tentang pertemuan kita dahulu itu sekarang pun masih belum terlambat!"
Kun Liong membalikkan tubuh seolah-olah hendak pergi menemui supeknya.
"Eh, eh... nanti dulu, Kun... eh, Liong-koko! Maafkan aku, aku terima salah. Biarlah aku menyebutmu koko! Nah, kaudengar? Koko! Koko! Koko!"
Kun Liong tertawa dan kembali ke depan dara itu yang sudah cemberut.
"Kau ceriwis dan manja sekali, ah! Benci aku melihatmu! Urusan dahulu itu hendak kaupakai untuk memeras aku selamanya ya? Awas kau, kalau keterlaluan sampai aku kehabisan kesabaran, sekali ini aku tidak hanya merobohkan engkau, melainkan akan kuketuk kepala gundulmu sampai retak!"
"Wah, jangan marah, dong, Moi-moi yang baik. Kau manis sekali, tahukah kau? Cantik seperti bidadari, seperti dalam dongeng yang pernah kubaca, tentang dewi yang turun dari kahyangan melalui tangga pelangi!"
"Kau mengejek ya?"
"Sungguh mati disumpah tujuh kali pun mau! Kau memang cantik sekali, Moi-moi. Bukan mengejek bukan apa, akan tetapi secara jujur. Biar aku tersumpah demi langit dan bumi bahwa kau memang cantik jelita. Hemmm..."
"Hemm apa?"
Giok Keng membentak, akan tetapi sebenarnya hatinya berdebar girang bukan main.
Kalau lain orang yang memujinya seperti itu, apalagi kalau orang itu laki-laki, tentu akan dianggapnya kurang ajar dan bisa dibunuhnya!
Akan tetapi sikap Kun Liong yang jujur dan sama sekali tidak menjilat itu mendatangkan kesan lain!
"Eh, aku hanya mau bilang bahwa...
selama ini aku tidak pernah dapat melupakanmu, maka begitu tadi kau muncul, aku terus saja mengenalmu.
Yang selalu terbayang olehku adalah..."
"Apa? Mengapa bicara putus-putus begitu? Jangan main gila, ya?"
Giok Keng pura-pura marah untuk menutupi kegirangan dan kebanggaan hatinya.
"Yang tak pernah kulupakan adalah ketika kau dahulu... menempiling kepalaku tiga kali! Ha-ha!"
Merah kedua pipi dara itu.
Dia sama sekali bukan menempiling setelah dahulu ia ketakutan setengah mati, hanya menyentuh saja.
"Aku pun tidak dapat lupa kepadamu, terutama... kepalamu."
"Gundul ini? Ha-ha, memang di dunia tidak ada keduanya, ya?"
Giok Keng cemberut lalu menjebikan bibirnya yang merah.
"Kau memang manja dan ceriwis sekali. Kau tadi bilang kalau mengutuk aku maka aku bisa menjadi kelelawar. Apa maksudmu?"
Kun Liong tertawa, tertawa bebas dan inilah yang menambah daya tarik pribadinya, tidak ada pura-pura, tidak ada penahanan diri, bebas dan wajar.
"Kau tahu bagaimana kalau kelelawar tidur? Kakinya tergantung, kepala di bawah, bukan? Nah, kalau kau berani kepada aku yang lebih tua, yang kau panggil kakak, maka kau bisa kualat, seperti kelelawar tidur, kaki di atas kepala di bawah!"
"Huhh!"
Giok Keng menampar pundak Kun Liong, tamparan main-main, akan tetapi Kun Liong yang kena ditampar pundaknya mengaduh-aduh.
"Aduhhh... aduhhh...!"
"Ehhh?"
Giok Keng khawatir dan terbelalak.
"Aku tidak menggunakan sin-kang, masa sakit?"
Kun Liong menghentikan aksinya kesakitan.
"Untung kau tidak mengerahkan tenaga, kalau demikian, bukankah aku akan menderita nyeri sekali?"
Giok Keng merasa dipermainkan dan mendongkol.
"Dasar sinting!"
Kun Liong tertawa.
"Entah mengapa, biasanya aku tidak begini, Moi-moi. Berada di dekatmu aku merasa gembira sekali dan ingin bersendau-gurau saja. Rasanya aku seperti mau bernyanyi-nyanyi, mau menari-nari!"
"Engkau bisa gila kalau terus begini. Eh, Kun Liong... Koko! Mengapa sih kau suka sekali disebut Koko olehku?"
"Tentu saja. Engkau anak tunggal, aku pun juga. Engkau tidak punya kakak, aku tidak punya adik, sudah sepatutnya..."
"Ngawur! Aku bukan anak tunggal! Aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Cia Bun Houw, sekarang sudah empat tahun usianya."
"Benarkah? Mana dia?"
"Di rumah. Di Cin-ling-san. Hemm, aku sampai lupa menceritakan kepadamu keadaan kami seperti dipesan ibu tadi."
Gadis itu bersama Kun Liong duduk di atas bangku dan mulailah dia menceritakan keadaan keluarga Cia itu dengan singkat.
Mendengar penuturan ini, teringatlah Kun Liong akan keadaan keluarganya sendiri.
Seketika lenyaplah kegembiraannya seperti awan tipis ditiup angin.
Wajahnya menjadi muram, matanya sayu dan dia mendadak menjadi pendiam.
Perubahan sembilan puluh derajat (bumi langit) ini mengherankan Giok Keng yang telah selesai bercerita.
"Ihh, kau kenapa? Kok suram muram seperti lampu kehabisan minyak?"
Kelakar Giok Keng yang juga memiliki watak lincah gembira itu tidak membuyarkan kedukaan hati Kun Liong.
"Aku teringat akan ayah bundaku. Sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Harapan terakhir di sini, akan tetapi mereka tidak juga muncul. Aku khawatir sekali, jangan-jangan ada malapetaka menimpa mereka."
Giok Keng mengerutkan alisnya, seketika dia pun tidak nafsu main-main lagi karena merasa ikut khawatir dan berduka.
Entah mengapa, menghadapi sikap Kun Liong yang tidak pura-pura, wajar dan seadanya itu dia mudah terseret.
Kini dia merasa kasihan sekali dan tanpa disadarinya, tangannya memegang lengan Kun Liong sambil berkata.
"Ayah bundamu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, malapetaka apa yang dapat menimpa mereka? Tidak perlu khawatir, Liong-ko."
"Aihhh, kau tidak tabu, Moi-moi. Baru berurusan dengan pembesar rendah Ma-taijin saja mereka sudah terpaksa harus menjadi pelarian. Dunia sudah kotor dengan polah tingkah manusia-manusia yang menyalahgunakan kedudukan atau kekuatannya."
Sampai lama mereka terdiam dan sama sekali tidak sadar bahwa tangan kiri Giok Keng memegang lengan kanan Kun Liong dan ketika menjawab tadi Kun Liong menumpangkan tangan kirinya di atas punggung tangan kiri dara itu!
"Ihhh...!"
Tiba-tiba Giok Keng merenggutkan tangannya dan meloncat berdiri, memandang Kun Liong dengan muka kemerahan.
"Lho, kenapa?"
Kun Liong juga kaget, seketika kedukaannya buyar.
"Kenapa kau memegang tanganku?"
"Hehh...?"
Kun Liong bengong, lalu teringat dan setelah kedukaannya membuyar, dia tertawa geli dan kembali sifatnya suka menggoda timbul.
"Kau juga memegang lenganku sejak tadi tidak apa-apa, kalau aku memegang tanganmu sebentar saja, kau sudah mencak-mencak. Apakah tanganku kotor? Apakah bau?"
Kun Liong mencium telapak tangannya sendiri, lalu mengangguk-angguk dan berkata.
"Memang bau...!"
"Huh! Pantas! Menjijikkan, tangannya bau...!"
"Wangi! Bau wangi kataku! Tentu saja pantas, dan sama sekali tidak menjijikkan."
"Bohong! Masa tanganmu bau wangi?"
"Eh, tidak percaya? Boleh cium sesukamu!"
Dia mengulur tangannya.
"Tidak sudi! Eh, kenapa kau kaya orang sinting menggoda aku? Bukankah kau mau memperlihatkan kuil ini dan Ruang Kesadaran kepadaku?"
"Wah, sampai lupa kita! Bukan aku saja yang lupa, kau juga, jadi sama-sama. Mari...!"
Mereka berjalan menuju ke bagian belakang kuil.
Sunyi di situ karena semua hwesio berkumpul di tempat upacara sembahyang, dan siap-siap untuk melakukan upacara memperabukan jenazah di tempat yang sudah khusus disediakan di sebuah puncak bukit.
Mereka berjalan perlahan dan Kun Liong membawa gadis itu melihat-lihat ruangan perpustakaan, ruangan sembahyang dan lain-lain bagian di dalam kuil besar itu yang memang amat megah dan indah, juga aneh bagi Giok Keng yang belum pernah melihatnya.
Setelah mereka meninjau Ruang Kesadaran yang kini terbuka dan bukan menjadi tempat larangan lagi, hati Kun Liong terharu.
Melihat kamar di mana dia hidup selama lima tahun bersama Tiang Pek Hosiang menimbulkan kenangan yang menggores kalbu.
Giok Keng merasa ngeri mengenangkan betapa Kun Liong harus tinggal di dalam kamar itu selama lima tahun, apalagi Tiang Pek Hosiang yang telah bertapa di kamar itu selama dua puluh tahun!
Seperti orang hukuman saja!
Dia bergidik dan mengajak Kun Liong meninjau tempat lain.
Asap tampak mengebul di atas bukit di belakang kuil.
"Pembakaran jenazah telah dimulai,"
Kata Kun Liong.
"Apakah kau tidak ingin menonton? Ayah bundamu dan semua tamu tentu ikut pergi ke tempat pembakaran."
Giok Keng menggelengkan kepalanya.
"Apakah itu tontonan? Aku tidak suka melihat hal yang mengerikan itu. Lebih baik kita menunggu saja di sini."
Kun Liong tidak berani memaksa biarpun hatinya ingin sekali ikut menonton jenazah sukongnya diperabukan, takut kalau-kalau gadis ini marah.
Dia merasa senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan dara ini.
Hatinya terasa tenang dan sejuk nyaman.
Mengapa ma-nusia tidak bisa saling mengasihi seperti dia dan gadis itu dalam saat ini?
Meng-apa di mana-mana timbul permusuhan dan kebencian, menyebabkan maut seperti yang dialami oleh Thian Lee Hwesio?
"Baiklah kalau begitu.
Memang benar pendapatmu bahwa pembakaran jenazah bukan tontonan, akan tetapi soalnya manusia selalu ingin melihat dan menonton hal-hal yang tidak bisa mereka lihat.
Mari kita ke kebun belakang itu, di sanalah para hwesio menanam sayur dan bercocok tanam."
Ladang itu luas sekali dan dengan kagum Giok Keng melihat segala macam sayur yang hidup subur gemuk berkat rawatan yang teliti.
Mereka duduk di atas sebuah batu besar sambil menyegarkan mata dengan memandang sayur-sayuran yang kehijau-hijauan sedap dipandang mata.
"Keng-moi, berapakah usiamu sekarang?"
"Hemm, menanyakan usia orang mau apa sih?"
"Aih, jangan terlalu galak, Moi-moi. Kita adalah kakak adik misan seperguruan, aku adalah piauw-suhengmu (kakak misan seperguruan) dan engkau adalah piauw-sumoiku (adik misan seperguruan), malah oleh ibumu lebih didekatkan lagi sehingga aku menyebutmu adik dan engkau menyebutku kakak. Ape salahnya bagi seorang kakak mengetahui usia adiknya? Aku berusia hampir dua puluh tahun, dan engkau tentu tidak lebih tua dari aku, biarpun dahulu aku ingat ibuku mengatakan bahwa puteri Cia-supek lebih muda beberapa bulan dariku."
"Kalau sudah tahu begitu, mengapa bertanya lagi? Usiaku hanya lebih muda beberapa bulan, nah, berarti sembilan belas tahun."
"Wah, sudah sembilan belas tahun! Keng-moi, mengapa engkau belum menikah? Tentu sudah mempunyai tunangan, ya?"
"Wuuuttt... plakkk!"
Kun Liong tidak mau mengelak dan pipinya kena ditampar sampai terasa panas dan ada tanda merah-merah bekas tamparan itu di pipi kirinya.
Ia mengelus pipinya dan berkata sambil tersenyum.
"Wah, engkau marah benar agaknya. Tamparanmu tidak seperti lima tahun yang lalu."
Agaknya Giok Keng menyesal juga setelah menampar pemuda yang same sekali tidak melawan atau mengelak itu, padahal sebagai seorang ahli silat, dia mengerti bahwa tamparannya yang biasa tadi tentu akan dapat mudah dielakkan kalau Kun Liong mau.
Dia cemberut, memandang tajam penuh selidik lalu bertanya.
"Agaknya engkau disuruh Ayah dan Ibu untuk membujukku, ya?"
"Eh, Keng-moi, apa artinya ini? Kau melihat sendiri bahwa mereka tidak berkata apa-apa kepadaku, dan apa yang harus dibujuk? Pertanyaanku adalah wajar, keluar dari hatiku sendiri, apa sih salahnya bertanya begitu?"
Dan tiba-tiba Giok Keng menutupi muka dengan kedua tangan, menangis!
Bingunglah Kun Liong.
Sejenak dipandangnya muka yang bersembunyi di balik kedua tangan itu, kemudian tanpa disadarinya dia menggaruk-garuk kepala gundulnya karena tidak dapat menemukan jawaban atas keanehan ini di dalam kepalanya.
"Adik Cia Giok Keng, mari kau tampar lagi aku, malah kau boleh pukul kepalaku akan tetapi jangan menangis! Maafkanlah kalau aku bermulut lancang. Memang aku seorang yang tolol dan kasar dan kurang ajar! Nah, ini, pukullah!"
Kun Liong sudah mengulur leher mendekatkan kepalanya yang gundul.
Giok Keng bukan seorang dara cengeng.
Sama sekali bukan.
Dia memiliki kekerasan hati luar biasa, berani dan galak seperti ibunya di waktu muda, akan tetapi dia pun lincah gembira dan pandai bicara seperti ayahnya di waktu muda.
Sebentar saja dia sudah dapat menguasai dirinya menghapus air matanya dan ketika memandang kepala gundul yang dijulurkan seperti seekor kura-kura menjulurkan kepala itu, dan sikap Kun Liong yang minta maaf dan menyerahkan kepala untuk dipukul, kejengkelannya lenyap dan dia tersenyum, menggunakan telapak tangan dengan halus mendorong kepala Kun Liong.
"Tidak! Satu kali saja menampar kepalamu aku sudah kapok (jera)!"
Mendengar suara yang bening dan hangat itu Kun Liong mengangkat muka dan betapa girangnya melihat wajah itu sudah tersenyum lagi biarpun kedua pipinya masih basah air mata.
Benar-benar dia bingung dan tidak mengerti kini.
Giok Keng tersenyum lebar sebagai jawaban, kemudian berkata setelah menghela napas panjang.
"Tadi aku memang menangis. Habis pertanyaanmu membuat aku jengkel sekali sih! Ayah dan Ibu selalu membujuk-bujukku untuk menikah. Betapa menjengkelkan! Mereka marah karena pinangan yang puluhan kali datangnya selama beberapa tahun ini, semua kutolak mentah-mentah!"
Kun Liong mengerutkan alisnya.
"Hemm... kalau boleh aku bertanya, mengapa kau lakukan itu, Keng-moi? Tentu saja menolak pinangan adelah hakmu, akan tetapi kalau berlarut-latut, bukankah engkau menyakitkan hati ayah-bundamu?"
"Yang mau kawin itu aku ataukah mereka?"
Tiba-tiba Giok Keng bertanya dengan nada keras dan pandang mata penuh tantangan, membuat Kun Liong terkesiap dan khawatir kalau-kalau membikin marah lagi.
"Eh, tentu saja engkau!"
"Kalau sudah jelas begitu, berarti ini urusanku dan aku sendiri yang akan menentukan."
"Engkau benar, Moi-moi. Akan tetapi sampai kapan?"
"Sampai aku mau dan... dan cocok."
"Apakah belum juga ada yang cocok?"
Giok Keng menunduk dengan muka merah, kemudian mengangkat muka tiba-tiba dan cemberut.
"Sudahlah, perlu apa bicara hal yang bukan-bukan? Kalau kau bisa menyerangku dengan pertanyaan tentang itu, agaknya engkau sendiri sudah kawin atau setidaknya tentu sudah bertunangan."
"Aku?"
Kun Liong terbelalak dan menggaruk kepalanya di belakang telinga kanan, sebuah kebiasaan yang tak disadarinya.
"Siapa orangnya yang sudi kepada seorang gundul macam aku?"
"Hemmm... sssttt, Koko, lihat sana itu...!"
Kun Liong mengangkat muka memandang ke arah kuil yang ditunjuk oleh Giok Keng.
Tampak olehnya berkelebatnya bayangan beberapa orang di atas atap kuil!
"Ah, tentu bukan orang baik-baik kalau datang melalui atap.
Aku harus menyelidik ke sana!"
Setelah berkata demikian, Kun Liong meloncat dan berlari cepat sekali.
Giok Keng terkejut, bukan terkejut karena adanya orang-orang yang disangka buruk itu, melainkan kaget menyaksikan gerakan Kun Liong yang demikian cepatnya!
"Liong-ko, tunggu!"
Akan tetapi Kun Liong tidak memperlambat larinya karena dia teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu ketika maling-maling menyerbu Siauw-lim-si dan berhasil melarikan dua buah benda pusaka.
Saat itu, para tokoh Siauw-lim-pai sedang sibuk menghadiri upacara pembakaran jenazah, demikian pula para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar.
Kuil menjadi kosong, hanya tinggal beberapa orang hwesio pelayan dan kacung-kacung yang hanya mempunyai kepandaian rendah.
Agaknya, kekosongan kuil yang sudah diperhitungkan oleh orang-orang jahat itu kini dijadikan kesempatan oleh mereka untuk melaksanakan niat buruk mereka.
Dugaan Kun Liong tidak meleset sama sekali.
Memang demikianlah, di antara para tamu itu terdapat serombongan orang-orang dari golongan hitam yang menyelundup, dan mereka ini terdiri dari sepuluh orang yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi yang tergabung dalam persekutuan Pek-lian-kauw dan para anggauta Kwi-eng-pang.
Karena telah diperhitungkan oleh para pimpinan persekutuan gelap itu bahwa amat sukar untuk menyerbu Siauw-lim-si yang kuat, apalagi pada saat sekarang setelah Siauw-lim-si pernah diseribu oleh orang-orang Kwi-eng-pang lima tahun yang lalu.
Maka kaum sesat yang cerdik itu menggunakan siasat yang amat berani ini.
Mereka bahkan mengutus orang-orang yang dipercaya, mereka yang berkepandaian tinggi akan tetapi yang belum dikenal oleh tokoh-tokoh kang-ouw, untuk menggunakan kesempatan selagi banyak tamu datang ke Siauw-lim-si untuk melakukan aksi mereka.
Tentu saja mereka tidak berani berterang.
Menghadapi para hwesio Siauw-lim-pai secara terang-terangan saja mereka merasa jerih, apalagi yang di kuil itu berkumpul banyak sekali tokoh--tokoh besar dunia persilatan!
Akan tetapi mereka ini cerdik sekali, menggunakan selagi semua hwesio dan para tamu me-lakukan upacara pembakaran jenazah di bukit sebelah belakang kuil yang makan waktu sedikitnya dua jam, mereka me-ninggalkan rombongan tamu dan berpencar lalu menyelundup ke dalam kuil.
Jumlah mereka sepuluh orang, dan yang menjadi pemimpin penyerbuan ini adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, tampan dan bermata liar, sikapnya seperti orang yang tidak waras otaknya.
Akan tetapi, dia ini bukanlah orang sembarangan, karena dia bukan lain adalah Ouwyang Bou, putera tung-gal dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, seorang di antara Lima Datuk!
Yang menjadi sasaran mereka adalah kamar pusaka.
Bukan semata-mata untuk mencuri pusaka-pusaka Siauw-lim-si, melainkan terutama sekali untuk mencari bokor emas milik Panglima The Hoo yang dijadikan perebutan.
Menurut perhitungan para datuk, setelah mereka berunding, kemungkinan besar sekali bahwa bokor emas itu berada di gedung pusaka Siauw-lim-si, karena yang diketahui terakhir oleh Bu Leng Ci adalah bahwa bokor emas itu dibawa oleh seorang bocah yang ternyata adalah putera Yap Cong San, sedangkan Yap Cong San yang mereka bunuh tiga tahun yang lalu itu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai.
Besar kemungkinarmya bokor emas itu terjatuh ke tangan Yap Cong San, dan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai mungkin saja bokor itu diserahkan kepada Siauw-lim-pai untuk disimpan di Siauw-lim-si.
Inilah yang membuat rombongan kaum sesat yang dipimpin Ouwyang Bouw itu menggunakan kesempatan pelayatan itu untuk turun tangan!
Ketika Kun Liong yang berlari cepat tiba di dalam kuil, dia sudah melihat apa yang dikhawatirkannya.
Empat orang hwesio pelayan rebah di sudut dalam keadaan lemas tak mampu bergerak karena telah tertotok!
Kun Liong tidak membuang waktu lagi, cepat meloncat ke dalam lorong yang menuju ke bagian belakang dan langsung dia lari ke gudang pusaka.
Akan tetapi baru saja dia tiba di ruangan tengah, tiba-tiba sinar merah menyambar dari kiri.
Kun Liong cepat merendahkan diri berjongkok dan jarum-jarum merah yang kecil halus itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Ada sesuatu yang mengingatkannya ketika melihat sambaran-sambaran jarum merah itu.
Cepat dia meloncat lagi, membalik ke kiri dan berhadapan dengan seorang pemuda menyeringai kepadanya.
"Kau...!"
Kun Liong teringat ketika melihat wajah tampan dengan mata liar berputaran itu.
"Kau Ouwyang Bouw anak Ban-tok Coa-ong!"
Akan tetapi tentu saja Ouwyang Bouw tidak mengenal Kun Liong.
Dahulu ketika dia dan ayahnya bertemu dengan Kun Liong, pemuda gundul ini baru berusia sepuluh tahun dan pada waktu itu belum gundul.
Adapun Kun Liong dapat mengenal Ouwyang Bouw karena peristiwa itu menyebabkan kepalanya menjadi gundul, maka tentu saja wajah Ouwyang Bouw dan ayahnya selalu teringat olehnya.
Jarum-jarum merah tadi menambah keyakinannya, karena justeru jarum-jarum merah itulah yang menjadi sebagian sebab mengapa kepalanya tidak mau tumbuh rambut.
"Mau apa kau datang ke dalam kuil?"
Kun Liong membentak Akan tetapi pemuda bermata liar itu berteriak.
"Bunuh dia!"
Dan dari belakangnya muncullah enam orang laki-laki yang serta-merta maju menerjang, mengepung dan mengeroyok Kun Liong dengan senjata pedang dan golok.
"Eh-eh, kalian orang-orang jahat!"
Kun Liong menggunakan kegesitan gerak tubuhnya mengelak ke kanan kiri.
Dia tidak merasa khawatir menghadapi pe-ngeroyokan enam orang itu yang biarpun semua mempergunakan senjata, namun dia dapat melihat bahwa gerakan mereka itu masih terlalu lambat baginya dan dia akan dapat mengatasi mereka.
Akan tetapi dia terkejut melihat bayangan Ouwyang Bouw melesat dan lenyap dari situ melalui lorong yang menuju ke gudang pusaka!
Dia hendak mengejar, namun enam orang itu mengurungnya ketat dan menghujankan serangan ke tubuhnya.
Semenjak mempelajari ilmu dari Bun Hoat Tosu dan Tiang Pek Hosiang, Kun Liong belum pernah mempergunakan ilmu-ilmunya itu dalam perkelahian sungguh-sungguh.
Ketika dahulu sebelum digembleng sukongnya di Ruang Kesadaran, dia pernah menggunakan ilmu yang dipelajarinya dari Bun Hoat Tosu melawan Cia Giok Keng, akan tetapi dalam pertandingan yang dianggapnya main-main saja karena dia tidak menganggap Giok Keng sebagai orang jahat.
Ketika beberapa hari yang lalu dia mengadu tenaga dengan utusan Panglima The Hoo, juga pertandingan itu bukan sungguh-sungguh, Apalagi ketika melawan Tio Hok Gwan, hanya sekedar mengadu tenaga saja dan keburu dilerai oleh Thian Kek Hwesio.
Sekarang dia merasa ragu-ragu.
Kalau dia mau, banyak sudah dia melihat lowongan untuk merobohkan enam orang itu.
Akan tetapi, dia sebetulnya paling tidak suka memukul orang, bahkan agak benci akan permusuhan dan perkelahian yang dianggapnya tidak menyenangkan dan hanya dilakukan oleh orang-orang kejam.
Akan tetapi kini dia diserang oleh empat batang pedang dan dua buah golok yang semuanya menyerang untuk mencabut nyawanya.
Tentu saja harus mempertahankan dan melindungi tubuhnya dari bahaya terkena bacokan atau tusukan.
Dia masih ragu-ragu bagaimana dapat menghentikan enam orang pengeroyoknya itu tanpa membuat mereka menderita luka berat.
"Kalian orang-orang tolol, kalau ketahuan para suhu, kalian akan celaka. Lebih baik lekas pergi melarikan diri sebelum terlambat!"
Dia mencoba mengusir mereka dengan kata-kata nasihat!
Tentu saja dia malah ditertawakan karena enam orang itu memandang ringan kepadanya.
Pemuda gundul itu hanya mengelak ke sana-sini, biarpun gerakannya cepat sekali sukar diserang, namun hal itu hanya menandakan bahwa pemuda gundul atau yang mereka sangka hwesio muda ini ketakutan.
Serangan mereka makin gencar dan menghebat sehingga enam batang senjata tajam itu menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah bayangan Kun Liong yang berloncatan ke sana-sini.
"Aihhh! Liong-ko...!"
Jeritan Giok Keng!
Pucat wajah Kun Liong mendengar jeritan itu karena dia tahu bahwa dara itu tentu terancam bahaya.
(Lanjut ke
Jilid 16) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 Jeritan itu terdengar dari arah belakang, dan teringatlah dia bahwa ketika tadi mengajak gadis itu berkeliling, dia tidak memberitahu bahwa di dalam kuil itu banyak dipasangi jebakan-jebakan rahasia untuk menjaga keamanan kamanan kuil kalau-kalau dimasuki orang jahat!
Karena mengkhawatirkan Giok Keng, Kun Liong tidak peduli lagi.
Kaki tangannya bergerak dan enam batang senjata itu terlempar beterbangan disusul robohnya enam orang itu yang mengaduh-aduh karena sedikitnya mereka menderita tulang patah terkena ketukan jari tangan Kun Liong dan perut mulas oleh ujung kaki pemuda gundul itu!
Kun Liong tidak mempedulikan mereka, langsung meloncat dan lari melalui lorong ke arah Giok Keng tadi.
Suara Giok Keng terdengar lagi, kini dari dalam kamar perpustakaan.
"Maling keparat!"
Akan tetapi disusul suara terbatuk-batuk dara itu.
Ketika Kun Liong tiba di dalam kamar perpustakaan, dia melihat bayangan Ouwyang Bouw berlari ke luar.
Bukan main kagetnya hati Kun Liong ketika dia meloncat ke dalam karena hidungnya segera bertemu dengan bau yang harum aneh menyesakkan napas!
Tanulah dia bahwa di situ ada hawa beracun dan tampak olehnya asap hitam mengepul dari lubang di tengah ruang perpustakaan itu.
Lubang jebakan!
Sudah terbuka dan dari dalam lubang mengepul asap beracun.
Celaka, tentu Giok Keng yang terjebak oleh alat rahasia di situ dan...
dia tidak mau berpikir lagi, lang-sung dia meloncat turun ke dalam lubang yang gelap itu dari mana keluar asap hitam.
Dengan memahan napas seperti yang diajarkan oleh mendiang Tiang Pek Hosiang, Kun Liong menggunakan gin-kang sehingga dengan ringan dia melayang turun ke dalam jebakan yang berupa sumur sedalam empat meter tertutup oleh lantai yang dipasangi jebakan.
Samar-samar dia melihat bayangan tubuh rebah miring.
Melihat rambut yang panjang terurai itu, dia tidak ragu-ragu lagi.
Diangkatnya tubuh Giok Keng yang tak dapat bergerak itu, dipondongnya kemudian dia meloncat ke atas sambil mengerahkan sin-kangnya.
Tanpa pengerahan sin-kang yang kuat, sukarlah meloncati sumur sedalam empat meter, sempit dan masih memondong tubuh scorang gadis lagi!
Pada saat dia melayang naik, terdengar di atas sumur.
"Bakar saja! Dan semua berkumpul di gudang pusaka!"
Ketika tubuh Kun Liong sudah tiba di dalam kamar perpustakaan, dengan marah dia melihat api membakar meja dan pintu.
Ditendangnya meja itu, dan dua orang yang sedang membakar-bakar kertas dia robohkan dengan tendangan-tendangan kakinya sehingga mereka terlempar dan apinya padam.
Melihat scorang penjahat lain lari melalui pintu belakang, dia tidak mengejar melainkan meloncat ke depan di mana seorang penjahat lain sedang berusaha membakar pintu.
Daun pintu itu sudah terbakar dan didorong menutup dari luar.
"Brakkk! Augghh...!"
Kun Liong sambil memondong tubuh Giok Keng menerjang daun pintu itu.
Daun pintu bobol dan terlepas, menimpa penjahat yang berdiri di luar sehingga penjahat itu herteriak-teriak karena rambut dan sebagian pakaiannya terbakar!
Kun Liong berlari terus.
Tubuh Giok Keng masih dipondongnya, hatinya gelisah melihat gadis itu seperti orang mati, akan tetapi dia juga gelisah memikirkan betapa penjahat-penjahat itu tentu merampok gudang pusaka.
Maka sambil memondong Glok Keng, larilah dia ke arah gedung pusaka!
Hatinya lega karana dia mendengar teriakan-teriakan dari atas bukit di belakang kuil, tanda bahwa peristiwa itu telah ketahuan dan sebentar lagi tentu bala bantuan datang.
Agaknya hal ini diketahui pula oleh kawanan penjahat.
Buktinya ketika Kun Liong tiba di gudang pusaka yang daun pintunya sudah terbuka besar, Dia melihat bayangan-bayangan para penjahat itu berkelebatan melarikan diri sambil menggendong teman-teman mereka yang terluka.
Dia tidak mempedulikan mereka lagi karena dia sibuk memeriksa Giok Keng yang dibawanya ke dalam taman.
Direbahkannya tubuh Giok Keng ke atas bangku taman.
Wajah dara itu pucat dan matanya terpejam napasnya terhenti!
Kun Liong cepat memeriksa nadi pergelangan tangan.
Ketukan nadi lemah sekali, seolah-olah sebentar lagi terhenti.
Ditempatkannya telinga di dada gadis itu, disentuhnya bibir dan cuping hidung.
Tidak ada pernapasan.
Celaka, kalau gadis itu tidak cepat-cepat dapat bernapas kembali, tentu takkan tertolong lagi.
Soal keracunan, mudah dapat diobati kelak, yang terpenting sekarang haruslah diusahakan agar Giok Keng dapat bernapas lagi.
Tidak ada cara lain kecuali yang diketahuinya dari pelajaran yang diterima darl ibunya dahulu.
Tanpa ragu-ragu lagi Kun Liong menggunakan jari tangannya, memaksa mulut Giok Keng terbuka, kemudian menjilat dan menutupi kedua lubang hidung yang kecil itu dan dia menunduk.
Ditutupnya mulut yang sudah dibukanya itu dengan mulutnya sendiri lalu ditiupnya, mengerahkan hawa murni sehingga tiupannya kuat.
Terasa olehnya betapa dada dara itu membusung.
Dilepasnya mulutnya dan dilepaskannya pula hidung dara itu untuk memberi jalan agar hawa yang sudah ditiupkannya itu mengalir keluar.
Kemudian diulanginya lagi sampai berkali-kali.
Kun Liong sama sekali tidak tahu saking gelisahnya dan karena seluruh perhatiannya dicurahkan kepada Giok Keng, bahwa pada saat itu, dua sosok bayangan berkelebat dan ayah bunda dara itu telah berdiri tak jauh di sebelah belakangnya!
Biauw Eng terbelalak, tubuhnya sudah bergerak hendak mendorong pergi Kun Liong akan tetapi Keng Hong memegang lengannya dan menaruh telunjuk di bibir.
Biauw Eng yang mengira bahwa pemuda gundul itu melakukan penghinaan dan perbuatan kotor atas diri puterinya, menjadi heran dan dengan mata terbelalak memandang.
Sekali lagi Kun Liong menempelkan mulutnya pada mulut Giok Keng, penuh harapan karena biarpun tersengal-sengal, dara itu sudah mulai bernapas.
Ditiupkannya hawa murni ke dalam dada Giok Keng, lalu dilepaskannya mulutnya.
Giok Keng bernapas terengah-engah, kemudian mengeluh dan tubuhnya bergerak.
Bukan main girangnya hati Kun Liong!
"Keng-moi...
Keng-moi...
sadarlah...!
Ahhh, kau...
kau tentu keracunan.
Bedebah-bedebah itu...!"
Giok Keng membuka matanya merasa pening dan menutupkannya kembali.
"Liong-ko, mana maling-maling itu...?"
"Mereka sudah melarikan diri. Sayang aku tidak..."
Dia membalikkan tubuh dan terkejut melihat Keng Hong dan Biauw Eng telah berdiri di situ!
Otak di dalam kepala gundul yang dapat bekerja cepat itu segera teringat cara dia menolong gadis itu dan seketika mukanya berubah merah, jantungnya berdebar tegang karena tentu orang tua gadis itu akan marah sekali.
Akan tetapi Biauw Eng segera menghampiri puterinya dan membangunkannya.
"Kau telah menyedot banyak hawa beracun."
"Aku tadi mengejar Liong-koko ketika kami melihat berkelebatnya orang-orang jahat. Aku masuk ke kamar perpustakaan, akan tetapi begitu meloncat ke tengah kamar itu, lantainya terjeblos dan aku terguling ke dalam sumur. Sebelum sempat meloncat ke luar, ada yang melempar sesuatu ke dalam sumur, baunya wangi dan aku tidak ingat apa-apa lagi."
"Untung Kun Liong menolongmu. Sudahlah, mari kubantu engkau membersihkan paru-parumu,"
Biauw Eng berkata.
Ibu dan anak itu lalu duduk bersila.
Biauw Eng di belakang anaknya, menempelkan kedua telapak tangan di punggung gadis itu yang mengatur napasnya, menyedot hawa murni untuk mengusir sisa-sisa hawa beracun dari dalam dadanya.
Keng Hong dan Kun Liong segera menghampiri para hwesio yang mengadakan pemeriksaan.
Thian Kek Hwesio menarik napas panjang.
"Untung kebakaran di ruang perpustakaan tidak melenyapkan kitab-kitab penting, dan heran sekali. Tidak ada pusaka yang lenyap biarpun keadaannya kacau-balau. Agaknya mereka mencari sesuatu, dan tidak mereka temukan yang mereka cari. Betapapun juga, untuk kedua kalinya,sahabat muda Yap Kun Liong telah menyelamatkan Siauw-lim-si."
"Ah, Locianpwe harap jangan bersikap sungkan. Bukankah teecu adalah orang sendiri? Bahkan dua buah benda pusaka yang dahulu tercuri belum dapat teecu cari. Teecu sendiri tidak mengerti mengapa mereka tadi datang membikin ribut dan tidak tahu apa yang dicari, akan tetapi teecu mengenal yang memimpin para perampok tadi."
Semua orang memandang kepada Kun Liong.
"Benarkah itu, Liong-ji (Anak Liong)? Kau mengenal pemimpin mereka?"
Keng Hong bertanya, kagum, bangga dan heran melihat putera sahabat baiknya ini yang selain ujudnya aneh karena kepala gundulnya, ternyata banyak mengalami hal aneh-aneh.
Pertama diambil murid Bun Hoat Tosu, ke dua digembleng sukongnya sendiri, dan kini mengenal pimpinan para perusuh itu, pada saat tidak ada orang lain yang dapat mengenalnya.
"Teecu pernah berjumpa dengan dia sepuluh tahun yang lalu, Supek. Dia itulah yang dahulu menyerang teecu dengan jarum merah sehingga kepala teecu tidak mau tumbuh rambut lagi. Dia adalah Ouwyang Bouw, putera dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok."
Tentu saja semua orang terkejut mendengar ini.
"Omitohud...! Kaum sesat sudah berani memusuhi Siauw-lim-pai!"
Thian Kek Hwesio berkata nyaring.
"Sute Thian Lee Hwesio terbunuh, dan kini kuil Siauw-lim-si diserbu perampok. Kita harus memperslarpkan diri!"
Kalimat terakhir ini ditujukan kepada para anak murid Siauw-lim-pai.
Kun Liong segera melangkah maju dan berkata.
"Locianpwe, teecu sudah menyanggupi tugas untuk mencari dan mengembalikan dua buah pusaka yang dahulu tercuri. Juga teecu sudah menyanggupi untuk menyelidiki tentang kematian Thian Lee Losuhu. Biarlah sekarang teecu berjanji akan mencari Ouwyang Bouw dan menyelidiki apa yang dicarinya di kuil itu sehingga dia dan kaki tangannya menimbulkan kekacauan."
"Omitohud... tidak percuma mendiang Suhu mengangkatmu menjadi ahli waris tunggal, Yap-sicu. Siauw-lim-pai telah banyak menerima budi dan tidak akan melupakan budi itu."
"Teecu tidak mau menganggapnya sebagai budi, karena bukankah teecu juga menerima kebaikan dari mendiang sukong? Pula, teecu tidak mempunyai pekerjaan tertentu dan akan berkelana mencari Ayah dan Ibu, maka sekalian teecu dapat melakukan semua tugas itu."
Para hwesio Siauw-lim-si sibuk membereskan dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh kebakaran itu, para tamu sudah mengundurkan diri dan berpamit.
Kun Liong juga berangkat menunaikan tugasnya, ditemani oleh Cia Keng Hong!
"Engkau pulanglah bersama Giok Keng."
Pendekar sakti ini berkata kepada isterinya.
"Aku akan membantu Kun Liong mencari orang tuanya."
Demikianlah, Kun Liong dan Keng Hong meninggalkan kuil Siauw-lim-si, sedangkan Biauw Eng mengajak Giok Keng pulang ke Cin-ling-san karena dara itu masih perlu beristirahat dan minum obat.
Cia Giok Keng masih penasaran sekali karena dia tidak diberi kesempatan memperlihatkan kepandaiannya di kuil Siauw-lim-si itu, karena sebelum dia dapat menyerang para penjahat, dia telah terjeblos ke dalam perangkap rahasia dan dipaksa pingsan oleh lemparan benda meledak yang mengandung hawa beracun oleh seorang di antara penjahat.
"Liong-ko, kalau kau bertemu dengan Ouwyang... siapa tadi namanya?"
"Ouwyang Bouw,"
Jawab Kun Liong.
"Kalau kau, bertemu dengan dia, jangan kau bunuh dia."
"Mengapa?"
Kun Liong bertanya heran.
"Aku tidak berniat membunuh siapa-siapa, hanya ingin bertanya mengapa dia mengacau Siauw-lim-si dan apa yang dicarinya."
"Bagiankulah untuk membunuhnya!"
Kata dara itu.
"Sebaiknya kita pergi ke Ceng-to untuk melakukan penyelidikan,"
Di tengah jalan Keng Hong berkata kepada Kun Liong.
Kun Liong menoleh dan memandang wajah tampan dan berwibawa itu.
Maka bertanyalah dia, pertanyaan yang sudah ditahannya sejak mereka meninggalkan Siauw-lim-si.
"Supek, kalau boleh teecu bertanya, dalam menemani teecu dalam perjalanan ini, apakah yang Supek kehendaki?"
Cia Keng Hong menoleh, memandang dan mengangkat alisnya yang tebal.
"Maaf, Supek. Teecu merasa yakin bahwa ada sesuatu yang hendak Supek sampaikan kepada teecu."
Kini pandang mata pendekar sakti itu menjadi terheran-heran dan bertanyalah dia dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.
"Kun Liong, bagaimana engkau bisa menduga demikian?"
"Supek dan Supek-bo pernah mencari Ayah dan Ibu tanpa hasil, demikian pula teecu. Sekarang pun, teecu mencari dengan mengawur karena memang tidak ada yang mengetahui di mana adanya mereka. Kalau memang Supek hendak mencari mereka, karena kita sama-sama tidak tahu, tentu lebih baik kalau berpencar. Akan tetapi Supek menemani teecu, berarti bahwa Supek menyembunyikan niat lain. Dugaan ini akan selalu membayangi teecu kalau belum Supek jelaskan."
Keng Hong tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Engkau cerdik, dan jujur. Memang sesungguhnyalah. Mendengar betapa mungkin pencuri pusaka Siauw-lim-si adalah orang-orang Kwi-eng-pang, dan kini mendengar pula bahwa penyerbu kuil itu adalah putera Ban-tok Coa-ong, maka engkau yang bertugas mencarinya berarti akan berhadapan dengan datuk-datuk kaum sesat yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Sedangkan ayah bundamu pun belum diketahui ke mana perginya, kalau engkau sebagai putera tunggalnya terancam bahaya, bagaimana aku dapat mendiamkannya saja? Aku akan menghadapi mereka dan membantumu, itulah tujuanku menemanimu sekarang. Dan kalau kau beruntung bertemu dengan orang tuamu, aku pun ingin sekali bicara dengan mereka."
Tentu saja Keng Hong tidak mengaku bahwa dia akan bicara tentang perjodohan puterinya!
Kun Liong segera membungkuk dengan hormat.
"Terima kasih banyak atas perhatian dan pembelaan Supek kepada teecu. Akan tetapi, Supek. Tugas ini sudah teecu sanggupi, bagaimana teecu berani membawa-bawa Supek dan melibatkan diri Supek? Supek adalah seorang ketua yang terhormat dan terkenal, kalau sampai pusaka-pusaka Siauw-lim-pai itu didapatkan kembali mengandalkan tenaga bantuan Supek. bukankah hal itu akan membuat Siauw-lim-pai menjadi tertawaan orang? Tentu Siauw-lim-pai dianggap lemah dan hanya berani minta bantuan seorang sakti seperti Supek. Berbeda lagi dengan teecu. Teecu sama sekali tidak terkenal, dan teecu juga murid dari Sukong, apalagi ayah teecu pun murid Siauw-lim-pai. Sudah sepatutnya kalau teecu mewakili Siauw-lim-pai menghadapi para pencuri."
Keng Hong memandang dengan mata bersinar dan wajah berseri.
Dia kagum kepada pemuda gundul itu.
Biarpun belum dia saksikan, namun agaknya kepandaian Kun Liong tentu tinggi.
Wajahnya tampan biarpun kepalanya gundul, dan pandangannya jauh dan luas, wataknya pemberani, cerdik dan jujur sehingga terhadap dia berani bicara terang-terangan seperti itu tanpa takut menyinggung perasaan.
Soal kepandaian, dapat dia selidiki kelak, biarpun agaknya tak mungkin kalau murid Bun Hoat Tosu dan Tiang Pek Hosiang tidak lihai.
Hanya ada dua hal yang masih meragukan hati pendekar sakti ini apakah pemuda ini sudah patut menjadi jodoh puterinya, yaitu pertama sikap lunak Kun Liong yang tidak hanya dinyatakan dengan mulut bahwa dia tidak suka melukai orang, juga dinyatakan dalam peristiwa keributan di Siauw-lim-si, Kun Liong berhasil menolong Giok Keng dari dalam sumur, mengapa dia tidak dapat menangkap seorang pun dari para perampok itu?
Hal ke dua adalah cara pengobatan yang dilakukan Kun Liong terhadap Giok Keng.
Biarpun meniupkan hawa dari mulut ke mulut merupakan pertolongan darurat, akan tetapi mengapa berani lancang melakukannya dan tidak memberi tahu kepada dia atau isterinya lebih dulu?
"Pandanganmu memang tepat, Kun Liong.
Aku hanya bertindak karena kekhawatiranku terhadap tugasmu yang berat.
Akan tetapi sedikitnya aku harus melihat dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, apakah kiranya sudah cukup kuat untuk menghadapi datuk-datuk kaum sesat seperti mereka?
Kalau perlu, aku dapat melatihmu beberapa macam ilmu sebagai bekal."
"Terima kasih atas kebaikan Supek. Teecu bukan bermaksud untuk menghadapi para datuk itu dalam pertandingan atau permusuhan. Teecu hanya akan minta kembali pusaka dan mereka tentu akan melihat muka para pimpinan Siauw-lim-pai untuk membalikkan pusaka-pusaka dengan baik. Adapun Ouwyang Bouw akan teccu tanya, apa yang dicari di Siauw-lim-si."
Berkerut alis pendekar sakti itu.
Kembali pemuda yang mengagumkan hatinya itu mengemukakan pendapatnya yang mengecewakan, yang dianggapnya sebagai pencerminan watak penakut.
"Hemm, Kun Liong. Engkau bersusah payah mempelajari ilmu silat, terutama sekali lima tahun di Ruang Kesadaran bersama mendiang sukongmu, sebetulnya hendak kaupergunakan untuk apakah ilmu-ilmu itu?"
"Tentu saja untuk... untuk kesehatan, dan untuk menjaga diri, Supek."
"Menjaga diri dari apa?"
"Dari kesukaran-kesukaran yang menimpa tubuh teecu ini. Dari serangan binatang buas, manusia-manusia yang suka menggunakan ilmu untuk menindas dan lain-lain."
"Dan kau tidak akan memukul orang, biarpun orang itu jahat terhadapmu?"
"Kalau bisa... sedapat mungkin teecu tidak akan menggunakan ilmu silat untuk menyerang orang lain, hanya untuk mempertahankan diri."
"Bukan karena kau takut?"
"Tidak, Supek."
"Nah, kalau begitu aku hendak menyerangmu. Hendak kulihat sampai di mana engkau dapat mempertahankan dirimu!"
Bukan main kagetnya Kun Liong mendengar ini.
"Tapi... Supek..."
"Awas!"
Keng Hong sudah berseru nyaring dan menyerang dengan tamparan ke arah kepala yang gundul ini.
Kun Liong merasa betapa ada angin dahsyat menyambar, biarpun tangan itu masih jauh, sudah terasa angin pukulannya, membuat kulit kepala yang kena sambar terasa dingin.
Cepat dia secara otomatis menundukkan kepalanya dan menyelinap ke kiri.
Keng Hong sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan-pukulan dahsyat yang datangnya bertubi-tubi dan setiap pukulan mengeluarkan angin dahsyat.
Bukan main kagum dan kagetnya hati Kun Liong.
Belum pernah selamanya dia melihat gerakan serangan yang demikian dahsyatnya.
Namun dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena serangan itu terus datang bertubi-tubi.
Kun Liong mengerahkan gin-kangnya dan mengelak ke sana ke mari dengan kecepatan laksana seekor burung walet.
Tubuhnya mencuat ke sana-sini untuk menghindarkan diri.
Akan tetapi ternyata kecepatan gerakannya dapat diimbangi oleh Keng Hong sehingga akhirnya, mau tidak mau Kun Liong dipaksa untuk menangkis, karena kalau hanya mengandalkan kecepatan mengelak saja tidak cukup dan tentu dia akan kena dipukul.
"Duk! Plak! Dukkk!"
Tiga kali berturut-turut Kun Liong menangkis dan karena dia maklum bahwa pukulan-pukulan yang membawa angin dahsyat itu tentu mengandung sin-kang yang amat kuat, maka dia pun mengerahkan sin-kangnya dan menggunakan ilmu Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang.
Ketika kedua tangan bertemu, dari tangan Kun Liong mengepul uap putih dan benturan tangan itu hanya membuat Kun Liong tergoyang-goyang tubuhnya, akan tetapi Keng Hong juga merasa betapa tangannya tergetar.
"Bagus!"
Dia memuji dengan kagum dan kini ilmu silatnya berubah.
Tadi pendekar sakti itu telah mainkan San-in-kun-hoat yang ampuh, akan tetapi karena ilmu silat ini hanya delapan jurus, biarpun merupakan ilmu silat tinggi namun masih kurang dapat untuk dipakai mendesak agar pemuda itu balas menyerang!
Inilah yang dikehendaki Keng Hong.
Dia masih tidak percaya apakah Kun Liong akan sanggup mempertahankan pen-diriannya, tidak akan menyerang orang!
Maka dia berusaha memaksa pemuda itu untuk mengeluarkan kepandaian, selain bertahan, juga balas menyerang.
Dan ternyata San-in-kun-hoat tidak berhasil memaksa pemuda itu membalas.
"Aihhh...!"
Kun Liong terkesiap ketika melihat perubahan gerakan supeknya.
Ilmu silat yang dimainkan supeknya ini aneh sekali, gerakannya sederhana, akan tetapi daya serangnya ampuh dan dahsyat sekali.
Kadang-kadang gerakan supeknya lambat saja, namun angin pukulan yang datang lebih dahsyat daripada tadi.
Itulah Thai -kek-sin-kun!
Namun Keng Hong benar-benar dibuat kaget.
Pemuda itu masih mampu mem-pertahankan diri dan dia mengenal dasar-dasar Pat-hong-sin-kun dari Bun Hoat Tosu, kemudian Im-yang Sin-kun yang hanya dia kenal dasarnya saja karena kedua ilmu itu agaknya telah diubah dan diperbaiki oleh kedua orang kakek sakti itu sehingga menjadi ilmu yang amat hebat.
Hawa yang kuat sekali berputaran di sekitar diri Kun Liong ketika pemuda itu mainkan ilmu-ilmu itu dengan kedua tangan selalu diisi dengan sin-kang Pek--in-ciang.
Selama seratus jurus Keng Hong menyerang, dan uap putih yang tadi hanya mengepul dari kedua tangan Kun Liong, kini mengepul dari tubuh dan kepalanya yang gundul, mendatangkan kekuatan yang makin dahsyat.
Hebatnya, sampai seratus jurus lebih, belum pernah satu kali pun Kun Liong membalas!
Keng Hong maklum bahwa kalau dia menggunakan gerakan maut, tentu pemuda itu terpaksa akan membalas untuk mempertahankan diri, akan tetapi percobaan ini terlalu berbahaya bagi pemuda itu.
Maka dia menggunakan akal terakhir, yaitu Ilmu Thi-khi-i-beng!
Sebagai seorang ahli yang memiliki kesaktian, tentu saja tidak ada bahayanya lagi bagi pendekar ini menggunakan Thi-khi-i-beng.
Dahulu, sebelum dia menjadi ahli, ilmu ini amat mengerikan.
Siapa saja yang terkena betotan ilmu Thi-khi-i-beng, sin-kangnya akan tersedot dan Keng Hong sendiri tidak mampu menghentikannya sampai lawan tersedot habis tenaganya dan tewas!
Kini tentu saja dia dapat menggunakan sesuka hatinya dan mengaturnya sehingga sewaktu-waktu dapat menghentikan daya sedot ilmu itu.
"Awassss...!"
Serunya lagi sambil memukul dengan kecepatan yang tidak memungkinkan Kun Liong mengelak, kecuali menangkis.
"Plakkk! Hyaaaat!"
Kun Liong mengeluarkan teriakan melengking ketika merasa betapa lengannya menempel pada lengan lawan dan tenaga sin-kanghya molos keluar.
Sambil melengking itu dia menggunakan sin-kang yang dipelajarinya dari Bun Hoat Tosu dahulu, yaitu yang mempunyai tenaga membotot dan yang oleh kakek sakti itu sengaja diciptakan untuk menghadapi Thi-khi-i-beng yang kabarnya tidak ada lawannya di dunia ini.
"Eiiihhhh...!!"
Kini Keng Hong yang berteriak saking kaget dan herannya.
Pemuda itu mampu membebaskan lengannya dari sedotan Thi-khi-i-beng!
Bukan main!
Sukar untuk dapat dipercaya!
Saking kaget dan herannya, dia menghentikan serangannya dan meloncat mundur.
Kun Liong merasa lega sekali.
Napasnya sudah senin kemis, dan dia harus mengakui bahwa kalau saja yang menyerangnya seperti itu bukan supeknya, sudah sejak tadi dia terpaksa balas menyerang untuk menyelamatkan diri.
Dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan supeknya dan berkata.
"Terima kasih atas kemurahan Supek dan maafkan teecu."
Dengan sinar mata penuh selidik Keng Hong bertanya.
"Siapakah yang mengajarkan kepadamu cara membetot seperti tadi? Apakah mendiang Tiang Pek Ho-siang?"
Kun Liong menggeleng kepala.
"Bun Hwat Totiang-locianpwe yang mengajar teecu."
Keng Hong mengangguk-angguk dan hatinya lega.
Kakek sakti bekas Ketua Hoa-san-pai itu memang seorang yang berilmu tinggi sekali, dan agaknya kakek itu dalam usia tuanya masih merasa penasaran akan keampuhan Thi-khi-i-beng yang tidak ada lawannya maka diam-diam telah menciptakan sin-kang untuk menghadapi Thi-khi-i-beng dan menurun-kan ilmu mujijat itu kepada Kun Liong!
Untung kepada Kun Liong!
"Pernahkah dia menyebut tentang Ilmu Thi-khi-i-beng kepadamu?"
Kun Liong tidak berani membohong.
"Pernah, Supek, dan memang sin-kang tadi dimaksudkan oleh beliau untuk menghadapi Thi-khi-i-beng."
Keng Hong tertawa.
"Orang tua itu benar-benar tidak mau mengalah! Kun Liong, ilmu yang kaumiliki itu memang hebat, akan tetapi tenagamu masih belum cukup untuk melawan aku jika aku benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dalam ilmu Thi-khi-i-beng. Akan tetapi engkau telah berhasil memiliki dasar ilmu itu, berarti engkau memang berbakat baik sekali dan sekarang aku mengerti siapa yang dapat kuberi ilmu Thi-khi-i-beng, yaitu engkau sendiri!"
Kun Liong serkejut.
Dia mendengar bahwa ilmu Thi-khi-i-beng adalah ilmu mujijat yang hanya dikuasai oleh supeknya ini dan tiada taranya di seluruh dunia persilatan.
Dan kini supeknya hendak menurunkannya kepadanya!
"Terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan Supek.
Akan tetapi...
bukankah semestinya ilmu ini supek berikan kepada Adik Giok Keng?"
Kembali di dalam hatinya, Keng Hong kagum.
Ucapan itu saja sudah membuktikan behwa pemuda gundul itu benar-benar berani dan jujur.
Berani karena ucapan itu dapat diartikan menolak!
Dan jujur karena penolakan itu berdasarkan perasaaan tidak adil terhadap Giok Keng.
"Tidak, dia masih kurang berbakat dan tidak akan kuat menerimanya. Ilmu Thi-khi-i-beng bukan sembarangan ilmu. Akan membahayakan dunia, dan membahayakan orang itu sendiri kalau pemiliknya tidak memiliki dasar yang amat kuat, dan tidak memiliki watak pendekar sejati!"
Kun Liong merasa makin jerih.
"Supek... bukan teecu menolak, hanya teecu... teecu takut kalau-kalau teecu bukan pendekar sejati seperti yang Supek maksudkan... dan teecu tidak berani kelak menyia-nyiakan ilmu itu. Harap Supek pertimbangkan baik-baik."
Keng Hong tertawa.
Bocah ini memiliki bakat dan watak yang baik sekali, sayang sekali kurang kepercayaan kepada diri sendiri.
Sikap ini memang baik, membuat orang tidak menyombongkan diri dan selalu rendah hati, akan tetapi juga menjadikannya seorang yang kurang tegas dan berani.
Betapapun juga, dia tidak mempunyai pandangan orang lain dan agaknya memang tepat kalau dia menurunkan ilmunya kepada putera sumoinya dan sahabat baiknya ini.
"Bersiaplah engkau menerima ilmu Thi-khi-i-beng. Engkaulah pewaris satu-satunya karena ilmu ini tidak boleh dimiliki orang lain kecuali engkau dan kelak pun kalau engkau menurunkan ilmu ini tidak boleh kepada lebih dari satu orang saja."
Kun Liong bertutut dan tidak membantah ketika disuruh duduk bersila di depannya.
Di dalam hutan yang sunyi itu, Keng Hong memberikan ilmu yang mujijat itu kepada Kun Liong.
Selain cara untuk mengemudikan hawa mujijat di dalam tubuh ini, Keng Hong harus mengoperkan sebagian dari hawa mujijat itu ke dalam tubuh Kun Liong, seperti yang dahulu dilakukan oleh gurunya kepadanya (baca ceritaPedang Kayu Harum ).
Dia menyuruh pemuda itu "membuka"
Tubuh-nya, yaitu siap menerima dan sedikit pun tidak boleh melawan, kemudian dia meletakkan kedua tangan di atas ubun-ubun kepala yang gundul dan mengerahkan sin-kang dan bagaikan air bah membanjir memasuki tubuh Kun Liong.
Pemuda gundul ini sampai roboh pingsan ketika pertama kali Keng Hong mengoperkan sin-kangnya.
Kemudian sedikit demi sedikit dia dilatih mengemudikan hawa mujijat yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya sampai dia dapat menguasainya dan mengurung hawa ini ke dalam pusarnya, membangkitkannya sewaktu-waktu.
Juga dia dilatih cara bersamadhi untuk mengumpulkan hawa murni sebagai penambah kekuatan tenaga mujijat Thi--khi-i-beng di tubuhnya.
Sampai dua pekan lamanya dia berlatih di dalam hutan, sedangkan Keng Hong juga bersamadhi terus menerus untuk mengisi kembali tenaga mujijat yang sebagian dia "operkan"
Kepada Kun Liong.
Dua pekan kemudian, dua orang itu melanjutkan perjalanannya.
Kun Liong masih agak pening oleh pengaruh kekuatan mujijat yang dimilikinya, mukanya agak kemerahan, sedangkan Keng Hong kelihatan agak pucat.
"Supek, mengapa kita pergi ke kota Ceng-to? Ada apakah di sana?"
Di tengah perjalanan Kun Liong bertanya.
"Kota Ceng-to berada di tepi Laut Timur, dan tempat itu kabarnya adalah menjadi tempat tinggal seorang di antara datuk-datuk kaum sesat vang menguasai bagian timur, yaitu Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu. Mengingat betapa Siauw--lim-si diganggu dua kali, pertama oleh orang Kwi-eng-pang dan kedua kalinya oleh putera Ban-tok Coa-ong, sangat boleh jadi kalau Lima Datuk kaum sesat yang tersohor itu sekarang mengadakan persekutuan. Hek-bin Thian-sin seorang di antara mereka, maka kiranya dia akan dapat memberi keterangan, karena tempatnya yang terdekat dari sini. Kedua kalinya, di Ceng-to terdapat banyak tokoh persilatan golongan putih maupun hitam, dan menjadi cabang besar dari Pek-lian-kauw, maka tepatlah kalau kita menyelidiki orang tuamu di sana. Di antara mereka agaknya tentu ada yang mendengar tentang ayah bundamu."
Mendengar ucapan ini, giranglah hati Kun Liong dan ia makin kagum dan suka kepada supeknya.
Tahulah dia bahwa supeknya adalah seorang yang budiman, gagah perkasa dan mulia.
Pantas kalau ayah dan ibunya menjunjung tinggi supeknya ini!
Di dalam perjalanan, berkali-kaii Keng Hong mengajak Kun Liong berlatih dan dia girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu telah dapat menguasai Thi-khi-i-beng, sungguhpun tenaga menyedot itu belum sekuat dia.
Melihat bakat pemuda itu, banyak harapan kelak pemuda ini akan lebih kuat daripada dia sendiri!
Apalagi pemuda itu telah memiliki ilmu-ilmu tinggi dan pilihan dari dua orang kakek sakti.
"Kun Liong, apakah dahulu ayah bundamu tidak pernah bicara denganmu tentang perjodohan?"
"Perjodohan siapa, Supek?"
"Perjodohanmu, siapa lagi."
"Ah, belum pernah, Supek."
Muka Kun Liong menjadi merah sampai ke kulit kepalanya.
"Jadi jelas bahwa engkau belum ditunangkan?"
"Belum."
"Dan engkau sendiri, apakah telah mempunyai pilihan seorang dara untuk kelak menjadi jodohmu?"
Diberondong oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus terang ini, Kun Liong menjadi gugup dan malu sekali.
"Be... belum, Supek. Teecu sama sekali tidak memikirkan tentang jodoh."
"Hemm, usiamu sudah dua puluh tahun, sudah waktunya memikirkan soal jodoh,"
Kata Keng Hong dan pendekar ini tidak melanjutkan percakapan tentang jodoh itu sehingga membikin lega hati Kun Liong.
Diam-diam pemuda yang cerdik ini menduga-duga.
Mengapa supeknya bicara tentang jodoh?
Dan menurut Giok Keng, dara itu pun belum ada jodohnya dan orang tuanya selalu mendesak dan membujuknya.
Ah, agaknya ada udang di balik batu, pikirnya, ada maksud di balik pertanyaan-pertanyaan supeknya itu.
Dia membayangkan wajah Giok Keng.
Cantik jelita, manis dan menggairahkan.
Teringat dia akan mulut yang berkali-kali bertemu dengan mulutnya ketika dia menolong Giok Keng.
Betapa bibir yang lunak dan halus itu bertemu dengan bibirnya.
Baru sekarang dia dapat membayangkan kenikmatan yang luar biasa mengingat pengalaman dahulu itu, padahal ketika dia melakukan hal itu, sama sekali dia tidak ingat apa-apa!
Kini ter-bayanglah kesemuanya itu.
Bahkan teringat akan hal-hal yang sekecil-kecilnya.
Akan lidah kecil meruncing, ingat akan betapa giginya beradu dengan gigi Giok Keng dalam usahanya yang tergesa-gesa dan gugup waktu itu.
Jantungnya berdebar, tubuhnya seperti kemasukan getaran panas.
Nafsu birahinya terusik oleh kenangan dan bayangan ini.
"Hemmm..."
"Ada apa, Liong-ji?"
Keng Hong menoleh.
Kun Liong kaget sekali.
Tak disadarinya, mulutnya mengeluarkan suara mengeram tadi!
"Ohh...
ah, tidak apa-apa, Supek."
Tolol kau, dia memaki diri sendiri.
Pikiranmu busuk, kotor!
Akan tetapi kotorkah mengenangkan seorang dara jelita bagi seorang pemuda?
Mengenangkan seorang dara memang tidak kotor, bantahnya sendiri, akan tetapi kalau sudah berlarut-larut memikirkan hal yang bukan-bukan, bisa berbahaya!
Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di jalan besar yang menuju ke kota Ceng-to di tepi lautan timur.
Dari jauh sudah tampak perahu-perahu di tepi pantai, bukan hanya perahu nelayan, akan tetapi juga perahu-perahu besar yang aneh dan asing tampaknya.
Kun Liong terpesona melihat laut.
Belum pernah dia pergi ke pantai laut.
Melihat dari tempat yang agak tinggi ke arah lautan bebas yang tiada bertepi itu, melihat gelombang ombak yang bergerak-gerak tiada hentinya, dia menahan napas saking kagumnya.
Akan tetapi telah mereka tiba di pintu gerbang, Kun Liong merasa penasaran dan tidak senang.
Pintu gerbang itu dijaga oleh perajurit-perajurit yang bersenjata tombak.
Baru sekarang dia melihat keadaan seperti ini.
Dan setiap orang yang memasuki kota itu diperiksa, ditanyai dan dicatatkan namanya di atas sehelai kertas!
Ketika Keng Hong dan Kun Liong tiba di pintu gerbang, di situ sedang ada rombongan penari silat yang diperiksa, dan terjadi perselisihan kecil.
"Kami sudah merantau dan mengadakan pertunjukan silat hampir di seluruh daerah, akan tetapi baru sekarang ini kami diperiksa dan dicurigai!"
Pemimpin rombongan itu, seorang kakek berusia lima puluh tahun memprotes.
"Tak perlu banyak cerewet! Di sini berkeliaran banyak mata-mata pemberontak dan orang jahat. Kalau kau tidak diperiksa, apakah kalian ini termasuk orang jahat atau pemberontak?"
Bentak kepala penjaga.
Biarpun sambil mengomel, rombongan penari silat yang terdiri dari tujuh orang itu diperiksa, dicatat nama-nama mereka, bahkan alat-alat permainan mereka diperiksa dan digeledah.
Yang membuat Kun Liong penasaran adalah ketika dia melihat dua orang asing yang aneh pakaiannya, aneh pula keadaannya karena matanya biru, kulitnya pucat seperti mayat, rambutnya dipotong sampai di pundak dan ada yang kuning warna rambutnya, memasuki pintu gerbang tanpa diperiksa sama sekali!
Keng Hong juga melihat hal ini, akan tetapi dia diam saja.
Hanya diam-diam dia memperhatikan dua orang itu dan mendapat kenyataan bahwa dua orang itu sebangsa dengan orang asing lihai yang ditemuinya di Leng-kok, di rumah Ma-taijin, hanya mereka ini lebih muda.
Benarlah dongeng orang bahwa kini banyak terdapat bangsa asing yang aneh itu, terutama di sepanjang pantai selatan dan timur.
Tentu mereka datang dengan perahu-perahu besar itu.
Karena mereka memasuki kota berbareng dengan rombongan penari silat, agaknya para penjaga mengira bahwa mereka berdua juga anggauta rombongan, maka setelah pihak penjaga dan pemimpin rombongan selesai berdebat, Keng Hong dan Kun Liong diperkenankan masuk tanpa banyak pemeriksaan.
Juga karena sikap dan pakaian Keng Hong tidak mencolok seperti orang biasa, Sedangkan Kun Liong yang menarik perhatian karena kepala gundulnya mudah saja lolos, karena dia dianggap seorang badut di antara rombongan penari silat itu!
Ternyata di dalam kota pelabuhan Ceng-to itu terdapat banyak orang asing bermata biru!
Di sana-sini terdapat rombongan mereka tertawa-tawa dan bicara dalam bahasa yang bagi pendengaran Kun Liong aneh luar biasa.
Agaknya iblis-iblis dan setan seperti itulah bicaranya!
Mendesis-desis dan mengeluarkan suara tajam-tajam menusuk telinga, kadang-kadang nadanya naik turun seperti orang bernyanyi!
Dia merasa geli dan ingin tertawa mendengar mereka itu bercakap-cakap riuh rendah sambil berjalan di tengah jalan, bersikap seolah-olah jalan itu jalan mereka sendiri dan semua orang yang berjalan di kanan kiri jalan itu mereka anggap seperti patung saja!
Hemm, mereka ini orang-orang yang tinggi hati, yang memandang rendah orang lain dan merasa diri pandai sendiri, demikian Kun Liong mengambil kesimpulan setelah melihat sikap dan gerak-gerik mereka.
Akan tetapi harus dia akui bahwa orang-orang itu rata-rata memiliki bentuk tubuh yang baik, tinggi besar dan kelihatannya kuat.
Usia mereka rata-rata antara tiga puluh tahun.
Yang aneh adalah potongan rambut mereka.
Semua dipotong sepanjang pundak dan rambut itu berombak, dibelah bagian tengah-tengah.
Selain rambut mereka yang potongannya lucu dan warnanya bermacam-macam itu, ada kuning, coklat, putih, dan ada yang kehitaman, juga warna mata mereka membuat bulu tengkuk meremang.
Hanya iblis-iblis saja yang matanya tidak hitam, melainkan berwarna-warni seperti itu.
Kun Liong tidak dapat menghitung, berapa banyaknya orang-orang asing ini, kesemuanya pria.
Akan tetapi yang dijumpainya di jalan tentu tidak kurang dari lima belas orang banyaknya.
Keng Hong mengajak pemuda itu memasuki scbuah warung nasi, lalu memesan makanan dan minuman.
Warung atau restoran kecil ini cukup ramai dan yang menarik perhatian Kun Liong adalah tiga orang laki-laki asing yang sedang ramai bercakap-cakap dalam bahasa mereka sambil minum arak.
Muka ketiga orang ini sudah merah sekali, tanda bahwa mereka sudah agak mabok.
Kun Liong tertegun melihat dari dekat kini jelas tampak betapa orang-orang ini memang aneh.
Tubuh mereka yang berkulit putih itu tertutup bulu-bulu halus yang putih kekuningan, tidak kentara dari jauh, dan kulit yang putih itu dihias totol-totol merah.
Harus diakui bahwa wajah mereka itu seperti wajah orang-orang ramah, hampir selalu tersenyum dan tertawa, Mata mereka yang berwarna aneh itu selalu berseri.
Akan tetapi tetap saja di balik sinar mata ini ada kesombongan dan pandangan yang merendahkan orang lain, terutama terhadap penduduk pribumi.
Tiba-tiba seorang di antara tiga orang asing itu, yang kepalanya agak botak, bangkit berdiri dan berteriak memanggil dengan bahasa asing ke bagian dalam, di mana tampak seorang wanita muda, agaknya keluarga dari pemilik restoran.
Melihat dirinya dituding dan dipanggil, tentu saja wanita itu menjadi ketakutan dan berlari masuk, melepaskan baki yang dibawanya sehingga terdengar suara nyaring ketika dua buah mangkuk kosong pecah-pecah.
Pemilik restoran segera berlari datang menghampiri laki-laki asing yang kini berteriak-teriak dan memukuli meja, kelihatannya marah itu.
Pemilik restoran menjura dan berkata.
"Harap Tuan tidak marah, apakah yang Tuan kehendaki dan pesan?"
Akan tetapi laki-laki asing itu, kini dibantu dua orang kawannya, berteriak-teriak dalam bahasa asing sambil menuding-nuding ke dalam dan mengepal tinju, dan ada terdengar terselip dalam rangkaian bahasa asingnya itu kata-kata "perempuan".
Tentu saja pemilik restoran tidak mengerti, dan seorang tamu yang duduknya di belakang Kun Liong, di meja yang berdekatan, berkata kepada pemilik restoran itu.
"Dia minta supaya dilayani wanita yang kelihatan tadi."
Mendengar ini, pemilik restoran menjadi merah mukanya.
Dengan bahasa gerak tangan, dia menggoyang-goyang tangannya di depan hidung laki-laki asing itu sambil berkata.
"Tidak bisa! Tuan jangan kurang ajar! Dia itu bukan pelayan akan tetapi anakku dan dia tidak boleh diganggu!"
"Desss!"
Kepalan tangan laki-laki itu menghantam, mengenai dada pemilik restoran sehingga pemilik restoran itu terjengkang dan roboh menimpa meja kursi kosong!
Keadaan menjadi kalut.
Kun Liong bangkit berdiri, akan tetapi tangannya dipegang Keng Hong yang memberi isyarat agar pemuda itu duduk kembali.
Kun Liong merasa penasaran sekali, akan tetapi pada saat itu dia melihat tiga orang asing itu sudah bangkit dari tempat duduk masing-masing, berdiri dengan muka ketakutan dan ditundukkan menghadap seorang asing lain yang telah berada di pintu restoran.
Orang yang baru datang ini juga seorang asing, akan tetapi Kun Liong memandang kagum.
Orang itu masih muda, belum ada tiga puluh tahun, tubuhnya tegap jangkung, pinggangnya kecil tidak seperti yang lain yang rata-rata berperut besar.
rambutnya kuning emas terpelihara bersih dan disisir rapi, dibelah tengah dan panjangnya sampai ke bawah telinga sedangkan yang belakang agak panjang diikat dengan pita!
Wajah pemuda asing ini tampan dan gagah, pandang matanya yang biru itu tenang dan tidak memandang rendah orang lain sungguhpun di balik itu tersembunyi keangkuhan yang membayangka tinggi hati!
Pakaiannya aneh dan indah, jubahnya yang lebar berwarna kuning, kemejanya putih dan celananya abu-abu.
Sepatunya yang aneh bentuknya dan tinggi sampai ke lutut itu terbuat dari kulit yang mengkilap, di pinggangnya tergantung sarung sebatang pedang yang kecil panjang.
Dengan suara lantang orang muda asing itu berkata-kata kepada tiga orang tadi yang menjawab dengan kata-kata pendek dan mengangguk-angguk.
Setelah pemuda itu mengangkat telunjuk kanannya ke atas dengan gaya memperingatkan, dia memutar tubuh dan pergi dari situ.
Tiga orang laki-laki tadi lalu duduk kembali dan orang yang memukul pemilik restoran menghampiri orang yang dipukulnya, menjabat tangannya dan digoncang-goncangkan dengan gaya minta maaf.
"Twako, dia minta maaf atas kekasarannya tadi,"
Kata pula orang di belakang Kun Liong yang agaknya mengerti bahasa mereka.
Si Pemilik Restoran tersenyum dan mengangguk-angguk.
Dia menganggap bahwa peristiwa itu timbul karena salah pengertian akibat perbedaan bahasa mereka.
Keng Hong berkata kepada laki-laki muda yang duduk di belakang Kun Liong.
"Agaknya Hiante mengerti bahasa mereka."
Orang itu mengangguk dan tersenyum.
"Mereka itu bangsa Portugis. Kerena sudah lama kota ini kedatangan orang-orang bangsa itu, dan pernah ada yang bersahabat dengan saya, maka sedikit-sedikit saya mempelajari dan mengerti bahasa mereka. Mereka itu adalah pelaut-pelaut yang biasanya bersikap kasar, apalagi kalau melihat wanita. Maklumlah, berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun mereka berada di atas kapal mengarung samudera, haus akan wanita."
"Mengertikah Hiante apa yang diucapkan oleh orang asing muda tadi, dan siapakah dia?"
"Dia adalah Tuan Muda Yuan, putera pemilik kapal Kuda Terbang. Seringkali dia datang bersama kapalnya, dan dia ditakuti semua orang asing itu. Agaknya dia mempunyai pengaruh besar diantara mereka. Dia tadi memarahi mereka dan memperingatkan bahwa kebutuhan mereka akan perempuan telah disediakan tempat khusus untuk itu maka mereka dilarang keras mengganggu wanita baik-baik."
Keng Hong mengangguk-angguk dan hatinya merasa tidak enak.
Mau apakah orang-orang asing ini berkeliaran di sini?
Karena penasaran dia bertanya lagi.
"Tahukah Saudara, mereka itu berada di Ceng-to mau apa?"
"Biasanya mereka adalah pedagang-pedagang, membawa barang-barang aneh dari dunia mereka dan di sini mereka membeli rempah-rempah, obat-obatan dan juga barang-barang buatan pribumi. Mereka, tentu saja para pemimpin mereka, mempunyai hubungan baik dengan pembesar-pembesar di sini."
Keng Hong tidak bertanya-tanya lagi.
Sehabis makan dia dan Kun Liong keluar dari rumah makan, dan menyewa sebuah kamar di hotel sederhana.
"Biarlah malam nanti saja kita melakukan penyelidikan. Aku sendiri mungkin akan dikenal orang kalau aku keluar siang ini. Lebih baik engkau saja yang siang ini berjalan-jalan, memasang mata dan telinga. Engkau tentu tidak akan ada yang mengenal dan tidak akan menimbulkan curiga."
Kun Liong mengangguk, kemudian dia keluar seorang diri meninggalkan supeknya yang tinggal di dalam kamar.
Keng Hong bersamadhi di dalam kamar hotel itu untuk memulihkan tenaganya karena semenjak dia mengoperkan sebagian sinkangnya untuk melatih Thi-khi-i-beng kepada Kun Liong, tenaganya belum pulih seluruhnya.
Kun Liong yang tertarik sekali melihat laut, begitu mendapat kesempatan ini, tentu saja langsung dia berjalan-jalan ke tepi laut!
Ketika dia tiba di bagian pantai yang sunyi, agaknya pantai ini adalah tempat para nelayan minggirkan perahu dan menjemur jala, ikan dan sebagainya, dia melihat scorang laki-laki tua sedang menambal jaring yang bocor seorang diri.
Dia mendekati, orang itu mengangkat muka, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Agaknya sudah biasa dia ditonton orang, karena kota pelabuhan itu memang banyak kedatangan tamu, baik pribumi dari luar kota maupun orang asing.
"Lopek, ramaikah penangkapan ikan musim ini?"
Kakek itu mengangkat muka, agaknya tercengang, lalu menjawab.
"Yaah, lumayan saja. Penghasilan ikan berkurang, akan tetapi harga ikan naik, berarti sama saja. Semua gara-gara kapal-kapal asing yang datang itu!"
Kakek itu kedua tangannya memegang jala, maka dia menunjuk ke arah kapal-kapal asing dengan hidungnya ketika mukanya digerakkan ke arah laut.
"Mengapa gara-gara mereka?"
"Kapal-kapal besar itu mengacaukan lautan, menakutkan ikan-ikan. Agaknya dewa penjaga lautan juga ketakutan melihat rambut kuning mata biru kulit putih itu. Hasil penangkapan ikan akhir-akhir ini menurun. Akan tetapi, orang-orang asing itu doyan sekali makan ikan dan mereka berani membeli mahal sehingga harga ikan naik keras."
Kakek itu dengan penuh gairah lalu bercerita tentang kehidupan nelayan di kota itu yang didengarkan penuh perhatian oleh Kun Liong yang memang memancing percakapan.
Kemudian pemuda itu bertanya sambil lalu.
"Eh, Lopek. Engkau yang sudah puluhan tahun tinggal di Ceng-to, tentu telah mengenal semua orang sini, bukan?"
"Tidak semua! Hanya yang lama tinggal di sini saja. Sekarang banyak pendatang baru, terutama orang-orang dari daerah selatan yang datang bersama kapal-kapal asing itu. Siapa mengenal mereka?"
Kakek itu mengomel, agaknya di dalam hatinya dia tidak senang dengan kedatangan kapal-kapal itu.
"Akan tetapi saya kira Lopek tentu mengenal seorang yang bemama Louw Ek Bu."
Kun Liong melihat betapa wajah kakek itu berubah seketika.
"Tahukah Lopek di mana tempat tinggalnya?"
Sejenak kakek itu tidak menjawab, bahkan kedua tangannya yang sejak tadi bekerja ketika dia bicara, kini terhenti.
Jelas tampak betapa tangan itu agak gemetar!
"Kau...
kau...
sahabatnya, orang muda?"
Kun Liong menggeleng kepalanya.
"Bukan, aku hanya ingin tahu di mana tinggalnya orang yang tersohor itu."
"Rumah dia itu, siapa yang tidak tahu? Di tepi kota sebelah utara, rumah gedung besar yang di atas atapnya ada ukiran naga, seperti rumah kuil. Sudahlah, aku masih banyak pekerjaan, maafkan orang muda."
Bergegas kakek itu meninggalkan Kun Liong menghampiri perahunya dan memeriksa perahu itu.
Kun Liong maklum bahwa kakek itu menjadi takut untuk bercakap-cakap dengan orang yang mengenal atau mencari datuk kaum sesat itu, akan tetapi yang dikehendakinya, alamat datuk itu, telah terpegang, maka dia pun pergi dari situ, menuju ke utara.
Belum lama dia berjalan, sebelum sampai di tepi kota sebelah utara, dia melihat ribut-ribut di pinggir sebuah pasar dekat pantai.
Cepat dia menghampiri dan melihat betapa rombongan penari silat yang pagi tadi bersama dia memasuki kota dan agaknya membuka pertunjukan di tempat itu, sedang berhantam melawan tiga orang asing yang tadi dia lihat dalam restoran!
Agaknya tiga orang asing itu sudah mabok, muka mereka merah sekali dan mereka berhantam melawan tiga orang dari rombongan penari silat.
Kun Liong menonton penuh perhatian dan melihat betapa tiga orang asing itu gerakannya tidaklah selincah tiga orang lawannya, akan tetapi mereka itu rata-rata memiliki tubuh yang kuat dan kebal.
Beberapa pukulan yang mereka terima tidak merobohkan mereka dan kini mereka mengamuk dengan pukulan-pukulan yang keras sekali.
Dua orang anggauta rombongan penari silat kena dipukul dan roboh untuk tak dapat bangun kembali, pingsan!
Keras benar pukulan orang-orang itu!
Melihat ini Kun Liong sudah meloncat ke depan.
Karena tadi dia melihat betapa tiga orang asing itu bersikap kasar dan mengacau, maka kini dia berpendapat babwa tentu tiga orang asing itu yang menimbulkan perkelahian.
"Hee, berhenti! Kalian ini orang-orang asing yang kasar dan kurang ajar! Mengapa mengganggu orang yang sedang mengadakan pertunjukan?"
Teriak Kun Liong sambil meloncat ke depan dan menangkis pukulan orang asing ke tiga yang sudah hampir merobohkan lawannya.
Sambil menangkis, Kun Liong mengerahkan sin-kangnya.
"Dukkk...!"
Orang asing itu mencak-mencak, berjingkrak sambil memegangi lengan tangannya yang terkena tangkisan Kun Liong.
Ternyata tulang lengannya telah patah!
Dua orang temannya menjadi marah sekali.
Sambil memaki-maki dalam bahasa mereka, dua orang asing itu menerjang maju.
Pukulan kedua tangan mereka yang keras itu menyambar-nyambar.
Sikap mereka seperti dua ekor kerbau mengamuk.
Kun Liong tidak menjadi gentar.
Dengan mudah saja dia mengelak dengan loncatan ke atas.
Tubuhnya mencelat seperti dilontarkan ke atas kepala kedua orang lawannya, kedua kakinya menginjak punggung dan mendorong.
Dia tetap tidak hendak menyerang orang maka dorongan kakinya hanya membuat dua orang itu terhuyung.
Dua orang asing itu makin marah.
Mereka membalik dan menyeruduk kembali dengan ganas.
Kun Liong mengelak ke samping, kakinya dilonjorkan ketika dia berjongkok dan kedua orang itu terjungkal, roboh menelungkup mencium tanah.
Terdengar sorak-sorai orang-orang yang menonton.
Baru sekali ini mereka melihat ada orang asing "biadab"
Itu dihajar.
Biasanya, tidak ada yang berani melawan orang-orang asing ini karena pembesar setempat sudah mengeluarkan pengumuman agar tidak mengganggu mereka yang disebut "tamu-tamu agung"
Itu.
Memang benar bahwa orang-orang asing itu royal mengeluarkan uang dalam membeli sesuatu, akan tetapi sikap mereka angkuh dan memandang rendah kepada penduduk pribumi.
Begitu angkuhnya sehingga kadang-kadang mereka itu melakukan hal-hal yang amat menghina, misalnya, orang asing itu berani secara main-main menowel pipi atau menjamah dada seorang dara yang bertemu di tengah jalan!
Kun Liong mengambil keputusan bahwa kalau dua orang itu masih nekat, begitu memukul lagi dia akan menangkis dengan pengerahan tenaga.
Akan tetapi begitu kedua orang itu bangkit, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan betapa kaget hati Kun Liong ketika tiba-tiba di depan kedua orang itu telah berdiri pemuda asing yang tadi!
Dia terheran-heran menyaksikan gerakan pemuda itu yang jelas menunjukkan gerakan seorang ahli gin-kang!
Pemuda itu kembali bicara nyaring, agaknya memarahi ketiga orang asing itu dan telunjuknya menuding ke luar.
Tiga orang asing itu dengan kepala tunduk, muka kemerahan, lalu berjalan pergi yang patah lengannya tadi masih mengerang kesakitan.
Setelah ketiga orang itu pergi, pemuda itu membalikkan tubuhnya, membungkuk kepada Kun Liong dan berkata dalam bahasa pribumi yang cukup lancar biarpun nada suaranya terdengar lucu dan asing.
"Harap Saudara maafkan kalau tiga orang kasar tadi mengganggu pertunjukan saudara-saudara di sini. Maklumlah, mereka belum pernah melihat orang-orang mengadakan pertunjukan di tempat terbuka."
Kun Liong juga membungkuk.
Diam-diam dia tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda asing ini pandai bicara dalam bahasa pribumi dan sikapnya sama sekali tidak sombong, bahkan ramah dan merendah.
"Saya bukan dari rombongan penari silat, harap Tuan minta maaf kepada mereka itu."
Mendengar ucapan Kun Liong ini, pemuda asing itu mengangkat dada dan memandang tajam, mengerutkan alisnya yang berwarna agak kuning, tidak sekuning rambutnya.
"Tuan bukan anggauta mereka?"
Dia mengulang.
"Kalau begitu, mengapa Tuan menyerang orang kami?"
"Saya tidak menyerang, merekalah yang menyerang saya. Saya melihat mereka memukul para penari silat, maka saya berusaha mencegahnya dan mereka menyerang saya."
Sikap pemuda asing itu berubah, agaknya dia penasaran, dan juga tertarik sekali.
"Hem, kau bilang tidak menyerang akan tetapi seorang di antara mereka sampai patah tulang lengannya. Agaknya Tuan seorang pendekar, ya?"
"Sama sekali bukan!"
Jawab Kun Liong.
"Saya bukan pendekar, akan tetapi tiga orang sahabat Tuan tadi adalah orang-orang jahat yang tidak semestinya dibiarkan berkeliaran seperti binatang buas yang suka mengganggu orang."
Akan tetapi pemuda asing itu tidak memperhatikan kata-kata ini, hanya memandang penuh perhatian, kemudian berkata.
"Saya ingin sekali melihat kepandaian Tuan. Marilah kita menguji kepandaian masing-masing secara bersahabat."
"Apa? Tuan menantang saya untuk bertanding? Orang saling pukul, mana bisa secara bersahabat?"
"Saya tidak menantang untuk bermusuhan, akan tetapi untuk... eh, apa namanya itu, untuk pibu! Ya, untuk pibu! Marilah Tuan sambut serangan saya!"
Dan pemuda asing itu dengan penuh semangat lalu menerjang maju, menyerang dengan pukulan tangan terkepal, akan tetapi gerakannya lincah sekali dan pukulannya membawa angin pukulan yang mengandung tenaga dalam!
"Aihh!"
Kun Liong mengelak cepat, makin terheran-heran karena jelas dari pukulan itu bahwa Si Pemuda Asing yang tadi dia lihat pandai menggunakan ginkang, kini ternyata memiliki tenaga sin-kang yang hebat pula!
"Wut-wutt...
siuuuttt!"
Pemuda asing itu telah melanjutkan serangannya, kedua tangannya secara bertubi memukul dan ketika Kun Liong mengelak dua kali dengan cepat, kaki kanan pemuda asing itu menyusul dengan sebuah tendangan yang amat berbahaya, karena seluruh tubuhnya ikut "terbang"
Dan kaki kiri menyusul tendangan kaki kanan.
Itulah ilmu tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Badai) yang amat lihai!
Kun Liong tidak dapat mengelak lalu bergerak menangkis sambil mendorong.
"Dessss! Aughhhh!"
Pemuda asing itu terlempar, akan tetapi dapat berjungkir-balik dan turun sambil berdiri.
Dia tadi berteriak karena kakinya yang tertangkis terasa nyeri, sungguhpun tidak sampai patah seperti lengan temannya tadi.
"Bagus, kau hebat! Sambutlah!"
Dia menyerang lagi, kini benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan kepandaian silatnya yang aneh namun cukup hebat.
Gerakannya seperti seekor burung garuda menyambar-nyambar, kedua tangan dikembangkan, kadang-kadang dikepal kadang-kadang dibuka seperti cengkeraman.
Kun Liong makin kagum dan dia pun cepat mengimbangi kelincahan lawan, mengelak ke sana-sini dan berusaha menghentikan serangan-serangan itu dengan menjatuhkan lawan tanpa melukai sampai parah.
Ketika untuk kesekian kalinya pemuda asing itu menubruk dengan kedua tangan terpentang, Kun Liong menyambut kedua tangan itu sambil mengerahkan sin-kang untuk menempel, akan tetapi dia tidak mau menggunakan Thi-khi-i-beng, hanya sekedar membuat kedua tangan lawan melekat pada tangannya.
"Ahhhh...!"
Pemuda asing itu terkejut berusaha menarik kembali kedua tangannya, namun sia-sia belaka, kedua telapak tangannya seperti melekat pada tangan pemuda itu.
Kembali dia membetot dan saat itu dipergunakan oleh Kun Liong untuk mengerahkan tenaga mendorong dan...
tubuh pemuda asing itu terlempar ke belakang sampai empat meter dan jatuh terbanting!
Akan tetapi dia dapat cepat meloncat bangun kembali, tersenyum kagum sambil mengebut-ngebutkan jubahnya yang kotor.
Dari tempat dia terjatuh, dia membungkuk ke arah Kun Liong dan berkata.
"Saudara hebat sekali! Saya Yuan de Gama mengaku kalah. Siapakah nama Saudara?"
Menyaksikan sikap pemuda asing yang dengan jujur dan wajah berseri mengakui kekalahannya, Kun Liong menjadi tertarik dan senang hatinya.
Dia pun membungkuk berkata.
"Tuan juga hebat. Nama saya Yap Kun Liong."
"Terima kasih, sampai jumpa lagi!"
Pemuda asing itu membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepatnya menuju ke utara!
Kun Liong tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang mendekatinya untuk memuji dan bertanya-tanya, dia pun cepat melangkah dan menuju utara, bukan sekali-kali membayangi Si Pemuda Asing, melainkan karena dia hendak melanjutkan penyelidikannya di rumah Hek-bin Thian-sin seperti yang telah ditunjukkan oleh nelayan tua tadi.
Agar tidak disangka membayangi pemuda bekas lawannya, dia sengaja memperlambat langkahnya sampai pemuda di depan itu lenyap di sebelah tikungan.
Kun Liong hanya melihat-lihat dari luar.
Rumah Hek-bin Thian-sin memang besar dan megah.
Agak aneh juga karena di bagian atapnya terdapat ukiran seekor naga seperti yang biasanya terdapat pada bangunan kuil.
Agaknya datuk kaum sesat itu hendak menyesuaikan rumahnya dengan julukannya.
Dia berjuluk Hek-bin Thian-sin (Malaikat Muka Hitam) maka sudah sepatutnya kalau rumah seorang "malaikat"
Mempunyai penjaga seekor naga!
Setelah mempelajari keadaan rumah gedung itu dari luar, Kun Liong lalu kembali ke rumah penginapan.
Hari telah mulai senja ketika ia tiba kembali di kamar penginapan di mana Keng Hong telah menantinya.
Kun Liong segera menceritakan tentang rumah datuk kaum sesat itu dan sama sekali tidak mau menceritakan tentang peristiwa yang terjadi dengan pemuda asing, karena hal itu dianggapnya tidak ada sangkut-pautnya dengan supeknya dan dengan maksud ke-datangan mereka berdua di kota itu.
"Setelah kau pergi, aku tadi pun pergi diam-diam mengunjungi beberapa orang tokoh kang-ouw yang berada di sini. Mereka itu sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar di mana adanya orang tuamu. Jalan satu-satunya untuk mencari keterangan agaknya harus dari golongan hitam. Dan menurut cerita mereka, ada hal-hal aneh di kota ini. Sikap para orang asing itu mencurigakan sekali karena menurut keterangan yang kuperoleh, selain mereka itu berhubungan dengan para pembesar, juga kelihatan ada orang asing yang mengunjungi Hek--bin Thian-sin!"
"Hemmm, katanya mereka itu hanya pedagang biasa. Jangan-jangan mereka terlibat pula dalam urusan kejahatan,"
Kun Liong berkata dan teringatlah dia kepada pemuda asing bernama Yuan de Gama tadi.
Melihat sikap pemuda itu, agaknya bukan dari golongan penjahat, dan ilmu kepandaiannya benar-benar tak boleh dipandang ringan!
Malam hari itu, Keng Hong dan Kun Liong keluar dari rumah penginapan.
Hari telah jauh malam dan kota Ceng-to sudah mulai sepi, rumah-(Lanjut ke
Jilid 17) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 rumah sudah menutupkan daun pintu.
"Jangan sembarangan turun tangan. Kita menyelidiki saja dulu, dan andaikata di sana tidak ada apa-apa, biarkan aku yang langsung menjumpai Hek-bin Thian-sin dan secara berterang menanyakan kepadanya tentang ayah bundamu, juga tentang penyerbuan ke Siauw-lim-si. Mengingat akan kedudukan dia sebagai datuk dan aku sebagai Ketua Cin-ling-pai, kiranya dia akan suka bicara berterus terang."
Kun Liong mengangguk dan memang dia pun tidak ingin melakukan sesuatu, kecuali kalau terjadi apa-apa yang memaksanya melakukan sesuatu.
Dengan mudah saja kedua orang ini meloncati pagar ruji besi yang melingkari rumah besar itu, Kemudian dengan gerakan ringan tanpa menimbulkan suara, mempergunakan gin-kang untuk menyelinap mendekati rumah, mengitari rumah itu kemudian menghampiri bagian belakang.
Atas isyarat Keng Hong, mereka melompat ke atas genteng di baglan belakang tanpa menimbulkan suara, kemudian merayap ke bagian di mana tampak penerangan dan di bawah itu terdengar suara orang bercakap-cakap.
Dengan hati-hati Keng Hong menggeser genteng dan dari celah-celah atap mereka mengintai ke bawah.
Ruangan itu lebar dan perabot-perabotnya mewah.
Di sepanjang dinding terdapat tempat lilin dari kayu berukir, sedangkan lilin yang menyala tertutup kaca bulat yang membuat cahaya lilin menjadi terang.
Karena banyaknya lilin dan lampu minyak dari perak yang tergantung di ruangan itu, maka ruangan itu terang sekali seperti siang hari.
Banyak lukisan-lukisan indah tergantung di dinding dan di sana-sini terhias tirai sutera berwarna-warni, membuat suasana kamar itu kelihatan indah dan menyenangkan.
Ada dua jendela di kamar besar itu yang berada di kanan kiri, keduanya menembus ke udara terbuka sebuah taman sehingga hawa di kamar itu cukup sejuk.
Meja kursi yang terdapat di ruangan itu semua mengkilap, dan buatannya halus, sedangkan kedua jendela itu pun langkannya terhias kayu ukir-ukiran yang dicat indah.
Ada tujuh orang yang berada di ruangan itu, duduk seenaknya di atas kursi-kursi dan bangku-bangku yang agak berjauhan letaknya, mereka duduk berhadapan merupakan setengah lingkaran, masing-masing menghadapi meja kecil di mana terdapat tempat bunga yang berisi bunga-bunga segar dan cawan-cawan terisi arak.
Ketika Kun Liong memperhatikan orang-orang itu, dia terkejut melihat bahwa di antara mereka terdapat dua orang asing bermata biru berkulit putih.
Yang seorang sudah tua, kepalanya bagian atas botak pelontos seperti kepalanya sendiri, bahkan lebih licin seperti kaca yang menutupi lilin-lilin itu, mengkilap, rambutnya hanya tumbuh di sekeliling kepalanya saja, akan tetapi anehnya rambut yang tumbuh ini cukup lebat, demikian pula jenggotnya dan kumisnya.
Kun Liong bergidik membayangkan bagaimana jadinya kalau kelak kepalanya yang gundul itu mau tumbuh rambut, yang tumbuh hanya sekeliling kepala seperti kakek asing ini!
Lebih baik gundul kalau begitu!
Orang asing ke dua tadinya dia kira Yuan de Gama, akan tetapi setelah dipandang dengan teliti, ternyata bukan.
Orang-orang asing ini begitu sama mukanya!
Orang ini pun masih muda, paling banyak tiga puluh tahun, juga tampan seperti yang lain, akan tetapi jauh bedanya dengan Yuan de Gama.
Lekukan dagu dan tarikan mulut orang ini membayangkan kekejaman dan kesombongan, sedangkan sinar matanya yang biru kehijauan itu galak sekali.
Bentuk hidungnya yang seperti burung kakaktua itu serupa benar dengan bentuk hidung kakek botak.
Pakaian mereka berdua sama anehnya, sama pula dengan pakaian yang dipakai Yuan de Gama tadi, hanya bedanya, jubah kakek botak itu lebih besar dan panjang, dengan kantung-kantung besar sekali.
Keng Hong juga terkejut karena dia mengenal kakek asing botak itu sebagai kakek yang pernah dijumpainya ketika dia bersama isterinya menghajar Ma-taijin di Leng-kok kurang lebih lima tahun yang lalu!
Yang lain-lain dia tidak mengenalnya, hanya dapat menduga bahwa laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang duduk di atas kursi tuan rumah, membelakangi pintu dalam, tentulah Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu, selain diketahui dari kedudukannya, juga dapat diduga dari mukanya yang berkulit hitam.
Seorang lain yang berpakaian seperti pembesar kiranya adalah Pembesar yang berkuasa di Ceng-to, dan di sebelahnya yang berpakaian seperti seorang panglima tentulah komandan pasukan yang memimpin penjagaan di pantai sebelah timur, yang markasnya berada tidak jauh dari kota Ceng-to.
Dua orang lagi adalah tosu-tosu yang kalau dia tidak salah menduga, adalah orang-orang Pek-lian-kauw!
Dugaan Keng Hong memang tidak keliru dan ketika dia mendengar perca-kapan mereka itu, berubah wajah pendekar ini.
Kiranya mereka itu merupakan persekutuan yang hendak melakukan pemberontakan!
"Kami hanya bermaksud membantu, karena Kaisar telah menolak untuk mengadakan perdagangan dengan kami, menolak kami untuk membuat pangkalan dagang di sini.
Kalian tahu bahwa kami hanyalah pedagang, tidak berniat menjajah.
Kami membutuhkan sutera, teh, dan barang-barang kerajinan untuk kami beli, sedangkan kami datang membawa dagangan hasil bumi.
Juga kami membutuh-kan rempah-rempah dan bahan-bahan obat.
Jangan khawatir, untuk perjuangan saudara-saudara, kami akan membantu mengeluarkan biayanya, dan kelak kalau berhasil, kami hanya minta agar diijinkan membuka pangkalan perdagangan di sini."
Kata kakek asing botak dengan suara lancar.
"Kami percaya akan kerja sama dan bantuan Tuan Legaspi Selado,"
Jawab orang yang berpakaian sebagai pembesar sipit.
"Akan tetapi kedudukan kerajaan kuat sekali, dan kami kekurangan pasukan. Pasukan-pasukan penjaga yang ada di pantai timur ini tidak terlalu besar ditambah dengan para anggauta Pek-lian-kauw, jumlahnya masih belum ada sepersepuluh tentara kerajaan. Melakukan pemberontakan secara berterang merupakan hal yang berbahaya sekali, karena menjadi perang terbuka."
"Apa yang dikatakan Tung-taijin, benar,"
Kata panglima yang berpakaian komandan pasukan.
"Selain pasukan pemerintah besar sekali, juga di sana terdapat banyak pemimpin yang lihai ilmu kepandaiannya."
Jelas bahwa panglima ini merasa jerih.
"Hemm, tentang itu, mengapa Ciang-kun (Panglima) merasa khawatir? Kami dari Pek-lian-pai mempunyai banyak orang sakti untuk menghadapi mereka dan kami berhubungan juga dengan tokoh-tokoh perbatasan di Nepal."
"Ha-ha-ha-ha!"
Kakek asing yang disebut namanya Legaspi Selado itu tertawa bergelak sambil memandang ke atas sehingga perutnya yang gendut tergun-cang-guncang.
"Memang Taijin dan Ciangkun terlalu kecil hati. Orang-orang petualang seperti kita, mengapa mesti takut? Kalau tidak berani menempuh risiko, mana mungkin akan dapat berha-sil? Bagaimana katamu, eh, sahabatku Hek-bin Thian-sin?"
Si Muka Hitam menyeringai.
"Memang tak dapat disangkal kebenaran pendapat kalian semua. Tung-taijin dan Bhong-ciangkun keduanya benar karena kita harus berhati-hati, pihak lawan terlalu kuat. Dan Saudara Legaspi Selado juga benar bahwa kita harus berani. Akan tetapi, kalau orang-orang kang-ouw yang sakti membantu pomerintah, dan para datuk tidak mau bersatu, agaknya memang berat bagi kita. Sayangnya, empat orang datuk yang tadinya sudah bersemangat, kini kendur lagi semangatnya, menganggap perjuangan ini terlalu berbahaya, tidak sesuai dengan hasilnya untuk mereka nanti."
"Ha-ha-ha, kalau memang kalah kuat, mengapa takut? Kami sanggup menyediakan senjata-senjata api dan melatih pasukan kalian. Dengan senjata api, kiranya kita akan jauh lebih kuat. Kami membawa meriam-meriam di kapal, kalau perlu dapat kami datangkan lagi dari barat."
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Pemberontak-pemberontak hina!"
Dan tampak sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali melayang masuk ke dalam kamar itu.
Kun Liong dan Keng Hong terkejut sekali melihat bahwa yang meloncat masuk itu adalah seorang gadis muda yang cantik.
Begitu masuk, gadis itu sudah mencabut pedangnya dan menyerang Tung-taijin sambil memaki.
"Pembesar terkutuk! Pengkhianat bangsa! Orang macam engkau harus mati!"
"Trang-trang...!"
Bhong-ciangkun yang duduk dekat Tung-taijin sudah mencabut goloknya dan menangkis tusukan pedang ini.
Seorang tosu dari Pek-lian-kauw yang duduknya dekat, cepat menubruk maju untuk menangkap gadis itu.
Agaknya dia terlalu memandang rendah kepada dara yang muda usia itu, maka dia hendak menangkapnya begitu saja.
"Tosu pemberontak, robohlah!"
Gadis itu tiba-tiba membalikkan tubuh, tangan kirinya memukul dengan kecepatan yang luar biasa.
"Dukkk!"
Tosu Pek-lian-kauw yang sama sekali tidak menduga akan serangan ini, kena dihantam dadanya dan dia roboh terjengkang, meringis menahan nyeri, akan tetapi tetap saja dia muntahkan darah segar tanda bahwa pukulan itu telah mendatangkan luka di dalam dadanya.
"Cringgg...! Aihhh...!"
Dara itu menjerit kaget ketika sebuah golok besar menghantam pedangnya dan...
pedang itu terlepas dari pegangannya.
Kiranya Hek--bin Thian-sin sudah turun tangan dan sekali pukul saja pedang di tangan dara itu telah terlepas.
Si Muka Hitam ini tertawa bergelak melihat hasil golok besarnya yang lihai.
Maklum bahwa pihak lawan amat lihai, dara itu sudah meloncat secepat burung walet terbang ke arah jendela yang terbuka dari mana tadi dia meloncat masuk, dengan niat untuk melarikan diri setelah pedangnya terlempar.
"Uiii..., hendak lari ke manakah, Nona?"
Kakek asing berkepala botak bertanya, suaranya nyaring disusul suara "tar-tar-tar!"
Dan tampaklah sinar putih seperti ular menyambar ke arah jendela.
Ujung pecut yang berwarna putih itu telah melibat kedua kaki dara itu yang menierit kaget dan sekali tarik, tubuh dara itu terbanting ke atas lantai di depan kakek asing itu!
Si Kakek memberi aba-aba dalam bahasa asing kepada pemuda asing yang terdiri yang berdiri memandang.
Pemuda itu menubruk ke depan, sambil tersenyum tangannya bergerak menyambar.
"Plakkkk!"
Tengkuk belakang telinga kiri dara itu ditampar dan dara itu pingsan, tak dapat bergerak lagi!
"Ha-ha-ha, beginikah yang kau maksudkan orang-orang lihai yang membantu pemerintah, Tong-taijin?"
Legaspi Selado berkata sambil tertawa.
"Kalau hanya begini saja, biar ada sepuluh orang masih dapat dihadapi oleh anakku Hendrik ini!"
Hendrik, atau lengkapnya Hendrik Selado, tertawa dan menatap tubuh dara yang telentang di atas lantai itu dengan penuh gairah.
Dara itu memang cantik dan bentuk tubuhnya padat langsing menarik hati.
Sementara itu, Keng Hong berbisik.
"Tunggu aku kacaukan mereka. Kalau mereka mengejarku, kau tolong dara itu, bawa lari lebih dulu ke luar kota. Tunggu aku di luar kota sebelah barat."
Kun Liong mengangguk dan sekali berkelebat, supeknya itu sudah lenyap.
Kun Liong memandang ke dalam ruangan itu dengan jantung berdebar tegang, tidak tahu apa yang akan dilakukan supeknya, namun dia sudah siap untuk menolong dara cantik itu.
Tak lama kemudian, tampak sinar berkelebat ke beberapa penjuru di dalam ruangan itu dan disusul suara nyaring.
Ruangan itu menjadi remang-remang karena kaca lilin telah pecah, lilinnya padam!
Semua ini terjadi amat cepatnya dan mereka yang berada di dalam ruangan menjadi panik ketika tampak bayangan dua orang melayang ke dalam ruangan itu.
"Tar-tar-tar!"
"Wuuuutttt...!"
Pecut di tangan Legaspi dan golok besar di tangan Hek-bin Thian-sin bergerak menyambut bayangan dua orang itu.
Dua orang itu memekik ngeri dan roboh, tewas seketika!
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa marahnya kedua orang sakti ini ketika melihat bahwa yang menjadi korban senjata mereka itu adalah dua orang penjaga yang menjadi pengawal Tung-taijin!
Kembali ada dua orang melayang masuk.
Sekali ini dua orang sakti itu tidak mau sembrono turun tangan, akan tetapi dua orang itu terbanting ke atas lantai dalam keadaan sudah pingsan.
"Keparat, siapa berani main gila di rumahku?"
Hek-bin Thian-sin sudah melayang ke luar melalui jendela kiri dari mana tadi para penjaga itu melayang masuk, disusul oleh Legaspi dan puteranya yang bernama Hendrik itu.
Bhong-ciangkun sudah mengawal Tung-taijin untuk mundur dan masuk ke dalam melalui pintu, sedangkan dua orang tosu Pek-lian-pai menjaga di situ agar dara yang tertawan itu tidak melarikan diri.
Di luar terdengar suara melengking tinggi yang menggetarkan seluruh tempat itu bahkan rumah itu seperti ikut tergetar!
Mendengar ini Kun Liong menduga bahwa inilah suara supeknya yang menantang dan memancing keluar orang-orang yang lihai dari dalam ruangan.
Maka dia lalu melayang masuk melalui jendela.
Dua orang tosu terkejut.
Keadaan remang-remang maka mereka tidak berani lancang turun tangan, khawatir kalau-kalau salah tangan seperti yang terjadi tadi.
Akan tetapi betapa kaget dan marahnya ketika bayangan yang melayang masuk itu langsung menyambar tubuh dara yang menjadi tawanan.
Mereka hendak mengejar, akan tetapi dua kali tangan kiri Kun Liong mendorong disertai sin-kangnya sedangkan tangan kanan dipakai memanggul tubuh dara itu, dan...
dua orang tosu itu terpental dan terjengkang.
Mereka tidak terluka karena Kun Liong memang tidak mau melukai mereka, akan tetapi mereka terkejut setengah mati karena dorongan hawa mujijat yang dapat merobohkan mereka tadi saja sudah membuktikan bahwa "hwesio"
Yang menyelamatkan dara itu adalah lawan yang terlalu tangguh untuk mereka.
Betapapun juga, merasa bahwa hal itu menjadi kewajiban mereka, mereka meloncat lalu mengejar sambil berteriak.
"Tahan penjahat yang melarikan tawanan!"
Mereka semua berkumpul di atas genteng, bingung karena mereka kehilangan "penjahat"
Yang mengacau tadi! "Eh, ke mana perginya setan itu tadi?"
Legaspi bertanya penuh penasaran.
Dia mendengar juga lengking yang luar biasa itu dan tahulah dia bahwa yang mengeluarkan suara itu memiliki khi-kang yang amat hebat, yang membuat dia merasa seram juga.
Akan tetapi karena dia bukan seorang penakut, maka dia telah mengejar ke tempat itu, dibayangi oleh Hek-bin Thian-sin yang memiliki gerakan tidak kalah cepatnya.
Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan orang berkelebat dan lenyap!
"Celaka, tawanan dilarikan orang...!"
Teriakan dua orang tosu Pek-lian-pai ini makin mengejutkan mereka.
"Siapa yang melarikan?"
Bentak Hek-bin Thian-sin penasaran.
"Kami tidak mengenal karena cuaca agak gelap, akan tetapi dia seorang hwesio gundul. Dia lihai sekali, merobohkan kami hanya dengan hawa dorongan tangannya."
Dengan marah sekali Bhong-ciangkun lalu mengumpulkan pengawalnya dan pengawal Tung-taijin, memaki-maki mereka kemudian memerintahkan untuk melakukan pengejaran dan pencarian di seluruh kota!
Dengan wajah murung mereka kembali ke ruangan tadi dan menyuruh orang menyingkirkan dua orang pengawal yang tewas dan dua orang lagi yang pingsan.
"Apa yang kukatakan tadi!"
Bhong-ciangkun berkata, suaranya gemetar karena dia merasa tidak enak sekali.
"Gadis itu memang tidak seberapa, akan tetapi baru muncul dua orang itu saja sudah kacau kita!"
Legaspi Selado juga masih terkejut sekali.
"Hemmm... kepandaian orang yang mengeluarkan suara melengking itu memang hebat, kurasa belum tentu ada keduanya di negeri ini..."
"Harap Saudara Legaspi jangan berpendapat demikian,"
Hek-bin Thian-sin membantah.
"Memang kepandaiannya tadi hebat, akan tetapi di negeri ini banyak sekali terdapat orang sakti yang melebihi dia tadi! Kalau mau disebut nama Pendekar Sakti Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai, sudah hebat bukan main. Dia memiliki Ilmu Thi-khi-i-beng yang tidak dapat dilawan oleh ilmu yang manapun juga. Masih ada lagi yang hebat-hebat, seperti para pengawal Panglima Besar The Hoo, yang bernama Tio Hok Gwan berjuluk Ban-kin-kwi dan yang lain-lain. Itu semua masih belum seberapa hebat kalau dibandingkan dengan kesaktian Panglima Besar The Hoo sendiri, dan pembantunya yang bernama Ma Huan..."
"Hemmm... kalau tadi aku membawa senjata api, agaknya dia tidak akan mudah saja melarikan diri!"
Kata Hendrik dengan nada suara gemas dan kecewa.
Tadi dia sudah membayangkan betapa kalau gadis tawanan itu diserahkan dia, hemmm...
tentu akan asyik dan menyenangkan sekali malam ini baginya.
Peristiwa malam itu di rumah Hek-bin Thian-sin membikin kecut hati kedua orang pembesar itu dan mereka segera berpamit pulang.
Agak berkurang gairah semangat mereka untuk menjadikan persekutuan pemberontak yang dipelopori oleh Pek-lian-pai dan orang-orang asing itu.
Kun Liong kagum bukan main karena baru saja dia tiba di luar kota sebelah barat, baru saja dia meloncat turun dari atas tembok kota karena dia tidak mau melewati penjagaan di pintu gerbang, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri supeknya!
Baru sekarang dia mendapat bukti akan kesaktian supeknya yang berhasil mengacaukan rumah Hek-bin Thian-sin Si Datuk Kaum Sesat, padahal di situ terdapat orang lihai seperti kakek asing bemama Legaspi Selado, orang-orang Pek-lian-pai dan lain-lain itu.
"Supek!"
Katanya kagum. Melihat dara itu masih pingsan, Keng Hong menjamah lehernya.
"Tidak terluka, hanya terkena guncangan oleh tamparan yang lihai tadi. Agaknya itulah cara mereka membikin pingsan lawan. Kun Liong, kita harus berpisah di sini. Ada perkara hebat timbul seperti yang kau telah dengar tadi. Kau larikan dara ini, sebaiknya ke barat memasuki hutan agar jangan sampai dapat dikejar mereka. Kemudian kalau dia siuman, tanya siapa dia dan di mana tinggalnya. Kalau perlu antarkan dia pulang sampai selamat dan pesan padanya agar jangan lancang lagi menyerbu gua harimau. Aku sendiri harus pergi ke kota raja, menghadap Panglima Besar The Hoo untuk melaporkan bahwa ada bahaya pemberontakan di Ceng-to agar jangan sampai berlarut-larut. Kemudian, kalau ada waktu pergilah ke Cin-ling-san di mana kita dapat bicara lebih lanjut."
Kun Liong tak dapat membantah biarpun dia masih ingin melakukan perja-lanan bersama supeknya yang sakti itu.
"Baiklah, Supek."
Dia tidak mau bilang bahwa dia akan melanjutkan penyelidikan-penyelidikannya sendirian saja, karena takut kalau supeknya tidak setuju dan melarangnya.
Mereka berpisah dari tempat itu.
Kun Liong masih memanggul tubuh dara itu lari ke barat sedangkan Keng Hong se-gera menuju ke utara, ke kota raja.
Karena maklum bahwa besar kemungkinan pihak Hek-bin Thian-sin akan melaku-kan pengejaran, maka Kun Liong berjalan terus tidak mau berhenti sampai dia me-masuki hutan yang besar.
Dia memilih tempat yang baik, lalu merebahkan tubuh dara itu di bawah sebatang pohon besar.
Dara itu masih pingsan dan dia lalu membuat api unggun.
Karena hawa dingin sekali, biarpun di situ ada api unggun, Dia tetap membuka jubahnya dan menyelimutkan jubahnya itu ke atas tubuh Si Dara.
Kemudian dia duduk termenung, memandang wajah yang telentang itu.
Wajah yang cantik.
Kulit muka itu halus sekali, dan kedua pipinya kemerahan, apalagi bibirnya yang setengah terbuka itu!
Cahaya api unggun bermain-main di atas wajah cantik, menimbulkan penglihatan yang luar biasa indahnya.
Setelah puas menjelajahi wajah itu dengan pandang matanya, akhirnya pandang mata itu terhenti pada mulut yang setengah terbuka itu, terpesona!
Teringat dia akan Giok Keng, teringat dia akan mulut Giok Keng ketika diadu dengan mulutnya sendiri untuk ditiup dan jantungnya berdebar aneh.
Mulut ini tidak kalah manisnya dengan mulut Giok Keng!
Bibirnya begitu segar nampaknya, bagaikan buah angco merah yang masak, men-datangkan gairah kepadanya untuk menggigitnya!
"Plakk!"
Kepala gundul itu ditamparnya sendiri.
"Gila kau!"
Dia memaki ketika mengenal pikirannya sendiri tadi.
Beginikah yang dikatakan orang timbulnya nafsu seorang yang mata keranjang?
Mata keranjangkah dia?
Salahkah dia kalau dia terpesona dan tertarik, kalau dia suka sekali melihat wajah seorang gadis ayu, terutama melihat mulutnya?
Dia bukan tertarik karena dibuat-buat atau disengaja!
Dia memang benar-benar tertarik, seperti orang tertarik melihat setangkai bunga yang indah!
Dia ingin menciumnya, seperti orang ingin mencium setangkai mawar yang harum.
Salahkah itu?
Bibir setengah terbuka itu seolah-olah memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga tanpa terasa lagi olehnya sendiri, kepala Kun Liong menunduk mendekati muka gadis yang pingsan itu.
Ingin dia menciumnya.
Dia tidak tahu dan tidak pernah ada yang memberi tahu bagaimana harus mencium seorang gadis.
Akan tetapi pengalamannya ketika dia mengadu mulut dengan Giok Keng ketika dia menolong gadis itu, mendatangkan kenangan yang mesra dan nikmat luar biasa.
Ketika bibirnya hampir menyentuh bibir dara itu, tiba-tiba dia tersadar dan menarik kembali kepalanya.
"Plakkk!"
Kembali kepala gundulnya menjadi korban tamparannya, agak keras sampai muncul bintang-bintang menari di depan matanya.
Tidak boleh!
Demikian teriak pikirannya.
Ini namanya mencuri!
Aku memang ingin menciumnya, akan tetapi hal itu harus terjadi secara terang-terangan.
Jika yang punya bibir memperbolehkan dicium, baru dia mau mencium.
Memaksa, dia tidak sudi, karena itu merupakan perkosaan yang kotor.
Mencuri juga kotor!
Dahulu dengan Giok Keng lain lagi.
Bukan mencium namanya karena dia menolong dan pada saat itu pun dia tidak merasa apa-apa.
Baru setelah menjadi kenangan menimbulkan kemesraan nikmat.
Akan tetapi, kalau terang-terangan mungkinkah Giok Keng mau?
Mungkinkah dara ini mau?
Mengadu mulut, mengadu bibir merupakan hal yang aneh, tentu dara-dara itu juga merasa aneh.
Dia hanya tahu bahwa mencium adalah penyentuhan pipi yang dicium dengan hidung!
Demikianlah kalau ibunya dahulu menciumnya.
Pikiran ini mengingatkan dia akan ibunya dan ayah-nya, dan dia menjadi berduka, lalu merebahkan diri di dekat api unggun dan tertidur!
Malam telah terganti pagi.
Kun Liong menggeliat dan menelungkup.
Tiba-tiba dia terbangun, akan tetapi tidak berani bergerak karena jalan darahnya di tengkuk telah diancam oleh orang.
Jalan darah di tengkuk adalah jalan darah kematian, dan kini ada dua buah jari tangan yang sudah menempel di tengkuknya dan terdengar bentakan.
"Jangan bergerak kalau masih ingin hidup!"
Mengendur kembali urat syaraf Kun Liong mendengar bentakan yang halus merdu ini.
Kiranya dara itu yang menodongnya!
Tadinya dia hendak bergerak menangkap tangan lawan yang berbahaya itu sambil menggunakan sin-kangnya menutup jalan darah di tengkuk.
Akan tetapi begitu mendengar suara dara itu, dia membatalkan niatnya.
"Eh, eh, kau mau apa?"
Tanyanya tanpa menoleh, mukanya masih tersembunyi di antara kedua lengannya.
Baca Juga: Istana Pulau Es 11
Baca Juga: Suling Emas 13