Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 4

Eps 4 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

Dua orang hwesio itu saling pandang, kemudian mereka mengiringkan Kun Liong pergi menghadap Thian Kek Hwesio yang tentu saja tidak kaget melihat munculnya Kun Liong.

Kakek tinggi besar ini memandang penuh kagum, juga diam-diam dia girang mempunyai seorang sute (adik seperguruan) begini muda dan gagah.

"Liong-ji, engkau baru keluar sekarang?"

Ketua Siauw-lim-pai itu menyambut dengan Kata-kata ini.

Kun Liong segera berlutut di depan kakek itu dan berkata.

"Pertama-tama teecu mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu telah membohong kepada Locianpwe. Teecu sebenarnya she Yap bernama Kun Liong, teecu adalah putera tunggal Ayah Yap Cong San di Leng-kok."

Para hwesio yang kebetulan berada di kamar itu terbelalak kaget, akan tetapi Thian Kek Hwesio tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Pengakuanmu ini makin menggirangkan hatiku, Yap-sicu karena berarti babwa Sicu adalah orang sendiri. Tentu saja pinceng (aku) memaafkan hal itu."

"Terima kasih atas kebijaksanaan Locianpwe. Hal ke dua yang perlu teecu laporkan adalah bahwa selama lima tahun ini, teecu berada di dalam Ruangan Kesadaran bersama Sukong."

"Hal itu pun pinceng sudah tahu, Yap-sicu dan pinceng merasa girang sekali mendengar bahwa Suhu berkenan menurunkan ilmunya kepada seorang pilihan seperti Sicu. Mudah-mudahan saja Sicu dapat mempergunakan pelajaran dari Suhu itu untuk membela kebenaran dan keadilan."

"Tentu saja teecu akan memperhatikan pesan Locianpwe. Dan laporan ke tiga dari teecu adalah pesan dari Sukong bahwa Sukong minta agar Locianpwe suka menyediakan sebuah peti mati sederhana untuk Sukong dan kelak Sukong minta agar jenazahnya diperabukan di puncak bukit di belakang kuil tanpa upacara dan tidak perlu memberi tahu Orang-orang kang-ouw."

"Omitohud...!"

Thian Kek Hwesio menangkap kedua tangan ke depan dada dan memejamkan kedua matanya.

"Pinceng akan melaksanakan semua perintah Suhu."

"Sekarang teecu mohon diri dari Locianpwe, akan meninggalkan Siauw-lim-si,"

Kata Kun Liong sambil memberi hormat.

"Nanti dulu, Sicu. Tidakkah Suhu memerintahkan sesuatu untuk Sicu kerjakan?"

"Tidak, Locianpwe."

"Kalau begitu, agaknya Subu menghendaki agar pinceng yang minta bantuan Sicu. Dahulu ketika Suhu memberi tahu kepada pinceng bahwa Sicu diambilnya sebagai murid, Suhu mengatakan bahwa Siculah yang akan ditugaskan untuk mencari kembali dua buah pusaka yang dahulu dicuri oleh maling-maling itu. Karena itu, sekarang pinceng mengharapkan bantuan Sicu untuk mendapatkan kembali dua buah pusaka yang dicuri itu."

"Ahh, jadi maling-maling itu berhasil membawa pergi dua buah pusaka,? Pusaka apakah yang dibawanya dan siapakah maling itu, Locianpwe?"

"Yang diambil adalah sebatang pedang Liong-bwe-kiam (Pedang Ekor Naga) dan sebuah hio-louw emas berukirkan burung hong bermata kemala. Adapun pencurinya, kalau tidak salah dugaan kami adalah tokoh-tokoh dari Kwi-eng-pai yang berpusat di pulau di tengah-tengah Telaga Kwi-Ouw (Telaga Hantu)."

Hwesio tua itu lalu menceritakan tentang dua orang anggauta maling yang tertangkap dan betapa mereka membunuh diri dengan duri kembang hijau sehingga tidak sempat mengaku.

"Yang mengkhawatirkan hati kami adalah Sute Thian Lee Hwesio. Suhu telah memesan bahwa Sicu yang akan mencari kembali pusaka-pusaka yang tercuri, akan tetapi Sute tidak sabar lagi dan dua bulan yang lalu Sute Thian Lee Hwesio sudah diam-diam meninggalkan kuil dan menurut para murid, katanya Sute menyatakan bahwa dia pergi untuk merampas kembali pusaka-pusaka itu. Karena itu, pinceng harap sukalah Sicu membantu dan menyusul Sute ke Kwi-Ouw untuk membantunya mengambil kembali pusaka yang tercuri."

"Baiklah, Locianpwe. Teecu akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan kembali dua pusaka itu."

Setelah Thian Kek Hwesio memberi petunjuk kepada Kun Liong di mana letaknya Telaga Hitam, berangkatlah Kun Liong meninggalkan kuil itu.

Setelah berada di luar dan melihat pandangan alam yang indah, Terlupalah olehnya akan hal-hal yang tidak menyenangkan, akan kematian sukongnya, akan tugas berat yang dipikulnya, dan yang terasa olehnya hanyalah kelegaan hati yang membuat dadanya seperti melembung dan ringan.

Betapa indahnya pemandangan alam yang telah dipisahkan dengan dia selama lima tahun!

Keluar dari Ruangan Kesadaran yang hanya berupa empat dinding tembok itu dan memasuki dunia luas ini, dia seolah-olah seperti hidup lagi, seperti memasuki dunia baru!

Hawa yang amat sejuk segar terasa, nikmat dan sedap sekali memasuki paru-parunya, membawa keharuman bau tanah, rumput, pohon dan kembang-kembang.

Ingin dia bernyanyi-nyanyi, demikian senang dan gembira hatinya.

Begini agaknya perasaan seekor burung yang dilepas dari kurungan selama bertahun-tahun!

Hati yang gembira, tubuh yang ringan karena tanpa disadarinya sendiri dia kini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat, membuat Kun Liong dapat bergerak cepat sekali menuruni bukit.

Pagi hari itu amat indah dan cerah dan suasana di pegunungan sunyi sekali.

Menjelang tengah hari, Kun Liong melihat enam orang laki-laki yang kelihatannya kuat dan gagah mengawal sebuah kereta naik ke puncak gunung dan di atas kereta itu tampak berkibar bendera yang menandakan bahwa para pengawal itu adalah para piauwsu dari Sam-to Piauwkiok (Perusahaan Expedisi Tiga Golok).

Enam orang itu memandang dengan sinar mata tajam menyelidiki ketika bertemu dengan Kun Liong, akan tetapi karena pemuda gundul itu tidak mempedulikan mereka, maka tidak terjadi sesuatu.

Kun Liong hanya menganggap bahwa ada barang kiriman untuk (Lanjut ke

Jilid 11) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Siauw-lim-pai, maka tentu saja dia tidak berani bertanya-tanya, Dan dia tidak tahu barang apa yang berada di dalam kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu.

Dia melanjutkan perjalanamya turun gunung sambil bersenandung dengan hati riang.

Sukongnya benar, pikirnya sambil menikmati hawa udara yang jernih sejuk.

Hidup adalah saat sekarang ini yang sesungguhnya nikmat kalau pikiran kita tidak kita biarkan untuk mengenang hal-hal lalu atau hal-hal mendatang, bahkan kematian bukan merupakan hal yang menakutkan atau mendukakan.

Apa sih kematian?

Kita tidak tahu bagaimana kematian itu, dan tidak mungkin kita takut akan sesuatu yang kita belum tahu.

Ketakutan timbul dari bayangan-bayangan, dari angan-angan tentang hal yang kita ketahui atau yang kita anggap telah kita ketahui dari kitab atau dari orang lain.

Kalau kematian hanya menjadi kelanjutan dari hidup, perlu apa takut?

Hidup sendiri pun sesungguhnya bukanlah suatu keadaan yang amat menyenangkan.

Lihat saja pengalamannya sejak dia meninggalkan rumah.

Betapa hidup manusia penuh dengan pertentangan, penuh persoalan yang agaknya sambung menyambung tiada kunjung henti.

Dan kalau dia pelajari persoalan-persoalan itu, Kesemuanya timbul dari nafsu keinginan manusia memperebutkan sesuatu, baik yang diperebutkan itu benda atau kebenaran!

Semua demi si akunya manusia, sampai-sampai kebenaran sekalipun ingin dimonopoli.

KebenaranKu!

Si aku inilah sumber dari segala persengketaan, sumber dari segala pertentangan dan permusuhan, membuat hidup menjadi semacam gelanggang pertempuran demi si aku masing-masing.

Memang benar sukongnya yang berkata bahwa bagi seseorang yang sudah dapat mematikan akunya sewaktu hidup, tiada perubahan keadaan antara hidup dan mati!

Setelah hari senja baru Kun Liong tiba di sebuah dusun di kaki bukit.

Dari jauh dia melihat sebuah warung makan di dekat sebuah rumah penginapan kecil sederhana.

Dirogohnya bajunya yang lebar sederhana.

Tadi dia diberi bekal uang sekedarnya oleh Thian Kek Hwesio.

Lima tahun lamanya dia tidak pernah makan masakan yang enak, hanya makan sayur-sayuran sederhana saja seperti yang dimakan sukongnya.

Minumnya pun selama lima tahun itu hanya air jernih.

Ada tercium bau arak dan daging panggang dari warung itu, membangkitkan seleranya.

Maka masuklah dia ke dalam warung itu, warung kecil yang hanya mempunyai beberapa bangku panjang, meja reyot dan diterangi oleh lampu minyak kecil tergantung di bawah genteng.

Tiga orang tamu yang sudah lebih dulu duduk di dalam warung, mengangkat muka memandang Kun Liong dengan penuh perhatian.

Melihat Orang-orang itu memandangnya penuh selidik, Kun Liong merasa tidak enak, akan tetapi dengan sikap tidak peduli dia menoleh kepada seorang pelayan yang sedang melayani mereka dan berkata sederhana.

"Bung pelayan, tolong sediakan arak dan bakmi semangkuk!"

Pelayan itu menoleh, kelihatan ragu-ragu dan mengulang.

"Arak? Dan bakmi dengan daging?"

Kun Liong mengangguk, lalu dia mengambil tempat duduk di ujung sebuah bangku panjang karena tidak ada tempat duduk lain yang kosong.

Bangku ini di ujung sana telah diduduki oleh seorang di antara tiga tamu itu, seorang setengah tua yang berjenggot pendek dan agaknya sudah terlalu banyak minum arak karena mukanya merah dan wajahnya berseri.

Dengan menggerakken kedua pundaknya dan bertukar pandang dengan tiga orang tamunya, pelayan itu lalu pergi ke belakang untuk mengambilkan arak dan bakmi yang dipesan Kun Liong.

"Aku mendengar bahwa Siauw-lim-pai merupakan partai persilatan yang paling besar dan telah terkenal sekali bahwa hwesio-hwesio Siauw-lim-pai adalah para hwesio yang tidak pernah menyeleweng."

Terdengar suara yang tinggi sekali seperti kaleng digurat menyakitkan anak telinga.

Kun Liong melirik dan melihat bahwa yang bicara ini adalah seorang di antara tiga tamu tadi, orang yang mukanya kecil, bertopi kain dan bermuka pucat.

"Ha-ha-ha-ha, apa yang kau dengar itu memang benar, Kui-suheng (Kakak Seperguruan Kui). Kalau ada seorang hwesio melakukan pelanggaran, sudah hampir dapat dipastikan dia itu bukan seorang anggauta Siauw-lim-pai!"

Kata orang yang duduk sebangku dengan Kun Liong.

Arak dan bakmi yang dipesan Kun Liong tiba, dan pemuda ini segera mulai makan tanpa mempedulikan tiga orang tamu itu.

Orang ke tiga di antara tamu itu sudah tua, kurus dan lucu sekali karena kelihatan selalu mengantuk.

Biarpun kadang-kadang dia mengangkat cawan araknya, akan tetapi matanya seperti terus tidur melenggut dan tidak pernah ikut bicara dengan kedua orang temannya, bahkan sama sekali tidak mempedulikan Kun Liong.

"Benarkah bahwa setiap ada anak murid yang melanggar, Siauw-lim-si bertindak keras sekali dengan hukumannya?"

Tanya pula Si Muka Pucat yang disebut Kui?suheng oleh Si Jenggot Pendek tadi.

"Kabarnya demikian. Bahkan seorang murid tidak akan diijinkan keluar sebelum lulus dari ujian yang diadakan. Apakah Suheng tidak mendengar betapa ketuanya yang lama, Tiang Pek Hosiang yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw itu, terpaksa harus mengundurkan diri karena pelanggaran?"

"Ya, kabarnya begitu. Bahkan murid Siauw-lim-pai yang paling lihai, Yap Cong San yang kabarnya mewarisi ilmu kepandaian kakek sakti itu, terpaksa pula harus meninggalkan keanggautaannya dari Siauw-lim-pai karena pelanggaran."

"Urusan apakah?"

"Entahlah, Sute. Aku sendiri pun tidak tahu jelas. Tentu Tio-taihiap (Pendekar Besar Tio) yang lebih tahu,"

Jawab Si Muka Pucat sambil memandang kepada teman yang sejak tadi seperti orang mengantuk itu.

Kedua orang itu kini memandang kepadanya dan diam-diam Kun Liong juga memperhatikan dengan kerling matanya kepada Si Pengantuk yang disebut Pendekar Besar Tio itu.

"Sudahlah, perlu apa bicara tentang urusan orang lain? Yang penting malam ini kita mengaso di losmen dan baru besok pagi kita naik ke Siauw-lim-si. Mudah-mudahan saja perjalanan jauh kita akan berhasil."

Mendengar ini, timbul kecurigaan di dalam hati Kun Liong.

Tiga orang ini sikapnya mencurigakan dan mereka ini besok mau naik ke Siauw-lim-si!

Mau apakah mereka?

Apakah ada hubungan mereka dengan Kwi-eng-pai yang telah mencuri pusaka Siauw-lim-si?

"Ucapan Tio-taihiap benar,"

Kata Si Jenggot Pendek.

"Kita harus menghormati para pendeta Siauw-lim-pai yang terhormat, akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat menghormat pendeta munafik yang terang-terangan melanggar pantangan di depan umum?"

Setelah berkata demikian, Si Muka Merah yang berjenggot pendek ini mengangkat cawan araknya melirik ke kiri ke arah Kun Liong sambil mengerahkan tenaga sinkang di tubuh bagian bawah.

Kun Liong terkejut bukan main ketika tiba-tiba bangku yang didudukinya itu bergetar dan bergerak terangkat naik!

Maklumlah dia bahwa Si Muka Merah ini sengaja main gila hendak mempermainkan dia yang tentu dianggap seorang hwesio yang melanggar pantangan makan daging dan minum arak.

Perutnya terasa panas, akan tetapi dia bersikap tenang saja seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi dia pun lalu mengerahkan sin-kang sehingga ujung bangku yang didudukinya itu, yang tadinya sudah terangkat sampai sejengkal lebih dari lantai, kini turun kembali!

Si Muka Merah terbelalak dan heran, lalu menjadi penasaran.

Sin-kangnya dikerahkan dengan sekuatnya, dan andaikata Kun Liong bukan seorang yang telah memiliki sin-kang kuat, tentu dia akan terlempar jauh oleh getaran ujung bangku yang didudukinya!

Akan tetapi, tubuh pemuda ini sama sekali tidak berguncang, bahkan ketika dia mengerahkan tenaganya, terdengar suara "krakkk!"

Bangku itu patah pada tengahnya dan tubuh Si Muka Merah itu terlempar ke atas seperti dilontarkan oleh tenaga raksasa yang tidak tampak!

Cawan araknya terlepas dari tangannya dan tentu akan terbanting tumpah di atas meja kalau saja Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu tidak mengulur tangan menyambar cawan itu dan aneh sekali...

arak yang tumpah itu seakan-akan tersedot dan melayang kembali ke dalam cawan itu!

Sedangkan Si Muka Merah sudah berjungkir?balik dan tidak sampai terbanting.

Dia sudah mengepal tinju dan memandang kepada Kun Liong dengan mata mendelik, melihat pemuda gundul itu tetap enak?enak duduk di ujung bangku yang sudah patah tengahnya, menghabiskan sisa arak dalam cawannya!

"Pendeta palsu hayo lawan aku orang she Song kalau kau ada kepandaian!"

Si Muka Merah itu membentak marah.

Kun Liong menghabiskan sisa arak dalam cawan, kemudian meletakkan cawan kosong di atas meja dan bangkit berdiri.

Tentu saja bangku yang sudah patah tengahnya itu terguling roboh ketika dia bangkit, mengeluarkan bunyi nyaring memecah kesunyian yang menegangkan itu.

Dia merogoh saku dan menggapai kepada pelayan yang datang membungkuk-bungkuk dengan ketakutan, kemudian membayar harga makanan dan minuman setelah menanyakan harganya.

Setelah pelayan bergegas pergi, dia berpaling kepada Si Muka Merah dan berkata.

"Semenjak tadi aku makan dan minum di sini dengan aman, tidak pernah mengganggu orang baik dengan ucapan atau dengan tingkah laku. Engkau hampir jatuh oleh tingkah sendiri, mengapa sekarang ribut-ribut hendak menantang orang?"

"Pendeta palsu, tak usah banyak cakap. Keluarlah kalau kau berani!"

"Saudara Song, duduklah!"

Tiba-tiba Si Pengantuk itu berseru nyaring dan Kun Liong melihat betapa Si Muka Merah itu, biarpun bersungut-sungut, mengangguk tak berani membantah, sudah duduk di sudut dengan muka merah.

Si Pengantuk itu lalu berdiri menghadapi Kun Liong, mengangkat tangan ke depan dada sambil berkata.

"Siauw suhu, harap suka memaafkan kekasaran kawanku. Akan tetapi aku pun tidak dapat terlalu menyalahkannya karena dia memang paling tidak suka menyaksikan sesuatu yang ganjil, misalnya seorang pendeta yang melanggar pantangan di depan umum, makan daging dan arak."

Kun Liong tersenyum lebar dan memandang Si Pengantuk itu dengan wajah berseri.

Dia tidak marah lagi, bahkan merasa betapa lucunya keadaan.

Sambil balas menjura dia menjawab.

"Sudahlah, tidak ada apa-apa yang harus diributkan kalau hanya karena kesalahpahaman diakibatkan oleh kepalaku yang gundul Taihiap, aku bukanlah seorang hwesio dan tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang berhak melarang aku berkepala gundul, minum arak dan makan daging!"

Si Muka Pucat tertawa dan sungguh aneh.

Biarpun dia kelihatan mengantuk, setelah tertawa wajahnya yang tua kurus itu berseri dan sepasang mata yang sipit itu mengeluarkan sinar mata yang menyambar amat tajamnya, membuat Kun Liong terkejut sekali dan diam-diam pemuda ini maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai.

"Ha-ha-ha, Song-laote, kau lihat betapa lucunya dan betapa merugikan kalau kau tidak teliti, menyangka orang yang bukan-bukan dan sudah tergesa-gesa turun tangan sebelum yakin akan kesalahan orang. Saudara muda ini sama sekali bukan hwesio, tentu saja bukan merupakan hal aneh kalau dia makan daging dan minum arak."

Orang she Ong itu kini berubah sikapnya.

Dia cepat bangkit dan menjura ke arah Kun Liong sambil berkata.

"Aihh, mataku seperti buta! Harap suka memaafkan kecurigaan saya tadi, Siauw enghiong. Semuda ini engkau telah memiliki kepandaian hebat, sungguh mengagumkan hatiku. Pertemuan ini harus dilanjutkan dengan persahabatan dan sudilah engkau menjadi tamu kami!"

Kun Liong cepat menjura.

"Maaf, saya tidak dapat menerima kehormatan itu. Saya adalah seorang petualang biasa yang tidak ada artinya, dan saya lelah sekali ingin mengaso. Maaf!"

Dia lalu melangkah keluar dari warung itu, Memasuki losmen sederhana, memesan kamar dan merebahkan dirinya di atas dipan di dalam kamar yang sempit itu, melupakan lagi urusan tadi, akan tetapi diam-diam dia masih menaruh hati curiga terhadap ketiga orang yang hendak naik ke Siauw-lim-si.

Kecurigaannya ini membuat Kun Liong gelisah dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia mendahului tiga orang itu naik ke puncak, kembali ke Siauw-lim-si.

Sedikitnya dia harus memberitahukan Thian Kek Hwesio akan tiga orang aneh yang hendak mengunjungi kuil dan yang keadaannya mencurigakan agar Siauw-lim-pai dapat berjaga-jaga.

Biarpun kini Kun Liong melalui jalan yang jauh lebih sukar daripada ketika dia meninggalkan puncak, yaitu jalannya terus mendaki, namun karena dia tergesa-gesa dan mempergunakan ilmu berlari cepat, Maka menjelang senja sampai juga dia ke puncak dan memasuki halaman kuil Siauw-lim-si yang amat luas.

Heran hati pemuda ini menyaksikan kesibukan anak murid Siauw-lim-pai, dan setelah dia berhadapan dengan ketua dan para tokoh Siauw-lim-pai di ruangan depan, dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar berita bahwa Thian Lee Hwesio telah tewas terbunuh orang dan baru saja kemarin jenazahnya tiba, dibawa oleh rombongan piauwsu yang kemarin dijumpai di tengah jalan.

Kiranya yang berada di dalam kereta adalah sebuah peti yang terisi jenazah Thian Lee Hwesio!

Di dalam ruangan itu terdapat dua buah peti mati dan Kun Liong segera berlutut memberi hormat di depan kedua peti mati itu setelah dia mengetahui bahwa dua peti mati itu berisi jenazah sukongnya, Tiang Pek Hosiang, dan jenazah Thian Lee Hwesio!

"Bukan pinceng tidak mentaati pesan terakhir dari Suhu,"

Kata Thian Kek Hwesio kepada Kun Liong setelah mempersilakan pemuda itu duduk.

"Akan tetapi sebelum kami dapat melaksanakan perintah Suhu dan memperabukan jenazahnya, telah datang jenazah Sute. Maka biarlah kita sekarang mengadakan upacara kepada dua jenazah, apalagi karena sudah sepatutnya kalau jenazah Suhu memperoleh kehormatan dan menerima penghormatan para tokoh kang-ouw yang tentu akan berdatangan mendengar berita kematian Suhu dan Sute. Pinceng harap Sicu akan suka menunggu di sini sampai kedua jenazah disempurnakan."

Kun Liong mengangguk.

"Tentu saja, teecu akan menanti di sini karena teecu juga ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw. Sudah menjadi kewajiban teecu pula untuk menunggu jenazah Sukong sampai diperabukan. Akan tetapi yang sangat mengherankan hati teccu, bagaimanakah Thian Lee Losuhu yang katanya mencari pusaka yang hilang, tahu-tahu kembali dalam keadaan telah tewas dan siapa pula yang mengantar dengan kereta piauwkiok itu?"

"Yap-sicu telah kami beri tugas untuk mencari kembali pusaka sesuai dengan pesan Suhu, sekarang dengan terjadinya kematian Sute, tugas Sicu menjadi lebih berat. Agar jelas, baiknya Sicu mendengar sendiri penuturan para piauwsu yang mengawal jenazah Sute,"

Kata Ketua Siauw-lim-pai yang segera memanggil enam orang piauwsu itu ke ruangan, sedangkan dia sendiri melanjutkan memimpin para anak murid melakukan upacara sembahyangan terhadap dua peti mati terisi jenazah.

Enam orang piauwsu itu tercengang juga ketika diperkenalkan kepada Kun Liong yang mereka kenal sebagai pemuda gundul yang kemarin berjumpa dengan mereka di tengah jalan.

Ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai, mereka segera memberi hormat, apalagi ketika Ketua Siauw-lim-pai minta agar mereka menceritakan semua kepada Kun Lion, pimpinan piauwsu yang bermuka hitam segera mulai dengan penuturannya.

Sam-to piauwkiok adalah sebuah perusahaan pengawalan dan pengiriman barang di kota Lam-san-bun yang sudah amat terkenal karena perusahaan ini dipimpin tiga orang kakak beradik yang tinggi ilmu silatnya, terutama sekali ilmu golok mereka yang sukar dicari tandingannya, sehingga terkenallah sebutan Sam-to-eng (Tiga Pendekar Golok).

Karena itu, perkumpulan yang juga memakai nama Tiga Golok ini amat dipercaya orang untuk mengawal pelancong atau barang-barang berharga.

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan datang berkereta dan membawa sebuah peti yang panjang besar, menyerahkan peti itu kepada Sam-to piauwkok dan minta agar peti itu dikirimkan secepatnya ke Siauw-lim-pai dengan biaya mahal dan dibayar kontan pula!

"Karena pada waktu peti itu datang tiga orang pimpinan kami sedang tidak ada di rumah, maka kami sebagai pembantu?-pembantunya menerima barang itu dan kami tidak mengutus anak buah, melainkan kami mengawalnya sendiri mengingat akan baiknya hubungan antara tiga orang pemimpin kami dengan Siauw-lim-pai.

Karena barang kiriman itu untuk Siauw-lim-si, maka harus kami jaga agar jangan sampai terjadi sesuatu di tengah jalan.

Sama sekali kami tidak pernah menyangka bahwa peti itu berisi...

berisi..."

"Jenazah Thian Lee Losuhu?"

Kun Liong melanjutkan karena pemimpin para piauwsu yang bermuka bitam itu kelihatan gagap.

"Benar, Yap-sicu. Kalau kami tahu apa isinya, hemmm... tentu kami akan menahan dia!"

"Siapakah dia yang mengirim peti itu?"

"Seorang pemuda tampan, dan sekarang, melihat bahwa peti itu berisi jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, timbul dugaan kami babwa agaknya pemuda itu adalah penyamaran dari dia..."

Si Muka Hitam yang biasanya bersikap gagah itu kelihatan ragu-ragu dan jerih, tampak dari matanya yang otomatis melirik ke kanan kiri, seolah-olah dia merasa takut kalau?kalau suaranya terdengar orang lain!

"Siapakah dia yang kaumaksudkan?"

"Giok... hong... cu..."

Kun Liong mengerutkan alisnya karena dia sama sekali tidak mengenal nama julukan Giok-hong-cu (Si Burung Hong Kemala) itu.

"Hemmm, dia itu orang apakah?"

Pemimpin rombongan piauwsu itu memandang dengan heran, kemudian dia dapat menduga bahwa pemuda gundul yang diakui sebagai sahabat oleh Ketua Siauw-lim-pai itu agaknya adalah seorang yang sama sekali belum mengenal keadaan dunia kang-ouw, maka dengan penuh gairah seorang yang suka bercerita dia berkata.

"Dia adalah seorang wanita muda yang namanya tersohor di seluruh dunia kang-ouw selama dua tahun ini. Ilmu kepandaiannya hebat dan mengerikan, sepak terjangnya ganas sekali dan melihat betapa banyaknya tokoh-tokoh golongan putih yang menjadi korban keganasan tangannya, agaknya dia adalah seorang tokoh baru golongan hitam, sungguhpun ada pula golongan hitam yang dibasminya. Dia seorang tokoh penuh rahasia dan melihat bahwa isi peti adalah jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, kami terus saja ingat kepadanya."

"Hemm, sungguh tidak baik kalau menuduh orang tanpa bukti, siapapun juga orang itu."

Kun Liong membantah, hatinya merasa tidak rela ada orang menuduh seorang wanita muda yang melakukan pembunuhan keji terhadap Thian Lee Hwesio.

"Kami tidak menuduh sembarangan!"

Si Muka Hitam membantah.

"Biarpun dia berpakaian seperti seorang pemuda, akan tetapi wajahnya demikian tampan dan suara serta gerak-geriknya demikian halus. Dia pasti seorang wanita muda yang menyamar."

"Tapi bagaimana kau dapat memastikan dia itu tokoh wanita yang berjuluk Giok-hong-cu?"

"Karena Giok-hong-cu juga seorang dara muda yang cantik jelita, dan... di baju pemuda itu, di bagian dada kiri, terdapat sebuah hiasan burung hong terbuat dari batu kemala. Kabarnya, kami sendiri belum pemah bertemu dengan Giok-hong-cu, tokoh itu pun selalu menghias rambutnya dengan burung hong batu kemala, maka benda itu dijadikan julukannya karena tidak ada seorang pun tahu siapa namanya."

Kun Liong mengerutkan alisnya makin dalam.

Blarpun dia tidak yakin benar akan tuduhan ini, namun dia mencatat semua itu di dalam hatinya untuk bahan penyelidikannya kelak.

Dia bertugas dan ini perintah mendiang sukongnya, untuk mendapatkan kembali dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang.

Dan karena Thian Lee Hwesio tewas dalam usahanya mencari pula pusaka itu, maka agaknya pembunuh hwesio tua itu tentulah orang yang mempunyai hubungan dengan pencurian pusaka itu.

Dahulu pun orang yang memimpin pencurian, yang telah melukainya, adalah seorang pemuda yang amat lihai sehingga tidak dapat tertangkap oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai.

Akan tetapi, pemuda itu dahulu berkedok saputangan, dan tubuhnya memang kecil namun tegap dan gagah.

Menurut penuturan Ketua Siauw-lim-pai, dua orang pencuri yang tertangkap kemudian membunuh diri, mungkin sekali adalah anggauta Kwi-eng-pai di Kwi-Ouw, melihat dari duri yang mereka pakai membunuh diri.

"Apakah Giok-hong-cu yang kau sebut itu seorang anggauta Kwi-eng-pai?"

Tanyanya. Kembali piauwsu itu kelihatan kaget dan jerih, menggeleng kepala dengan kuat.

"Ah, saya rasa tidak ada hubungannya dengan Kwi-eng-pai... akan tetapi entahlah, sepanjang pendengaran kami, Giok-hong-cu selalu bergerak sendiri. Kwi-eng-pai terlalu besar untuk hanya diwakili oleh satu orang saja yang tidak pernah menyebut nama perkumpulan itu."

Kun Liong mengangguk-angguk.

"Jadi orang yang mungkin sekali menyamar Giok-hong-cu itu mendatangi Sam-to piauwkiok di Lam-san-bun? Apakah memang dia tinggal di Lam-san-bun?"

"Yap-sicu, siapakah yang dapat mengetahui di mana tempat tinggalnya? Akan tetapi memang pada bulan-bulan terakhir ini sepak terjangnya berbekas di antara Lam-san-bun sampai ke kota raja."

Kun Liong merasa lega mendengar keterangan ini.

Biarpun dia belum yakin benar bahwa tokoh wanita terkenal itu yang membunub wakil Ketua Siauw-lim-pai, namun sedikitnya dia dapat menyelidikinya dan mencarinya antara Lam-san-bun dan kota raja.

Para piauwsu Sam-to piauwkiok itu tidak lama berada di Siauw-lim-si.

Mereka segera berpamit untuk kembali ke Lam-san-bun dan melaporkan peristiwa hebat itu kepada tiga orang pimpinan mereka.

Setelah para piauwsu itu pergi, teringatlah Kun Liong akan tiga orang yang ditemuinya di warung, dan kecurigaannya bertambah.

Dalam keadaan seperti pada waktu itu, setelah peristiwa hebat yang menimpa diri wakil Ketua Siauw-lim-pai, maka setiap orang yang datang ke Siauw-lim-si tentu mengandung niat yang meragukan.

Siapa tahu kalau-kalau tiga orang yang dijumpainya itu, yang jelas bukanlah Orang-orang biasa, adalah anak buah Kwi-eng-pai atau setidaknya mempunyai hubungan dengan pembunuh Thian Lee Hwesio.

Pikiran ini mendorong Kun Liong untuk meninggalkan kuil dan menghadang di depan kuil, menanti munculnya tiga orang yang dicurigai itu.

Dia tidak menanti lama, karena segera tampak olehnya tiga orang yang ditunggu-tunggu itu berlari mendaki puncak dengan gerakan cepat.

Diam-diam dia terkejut juga.

Dia memang tahu bahwa mereka itu adalah Orang-orang berkepandaian, terutama sekali Si Pengantuk yang telah ia saksikan kelihaiannya ketika Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu menyambar cawan arak yang terlempar dan menyedot arak yang tumpah keluar kembali ke dalam cawan, membuktikan tenaga sin-kang yang amat kuat.

Akan tetapi melihat tiga orang itu menaiki puncak sambil berlari sedemikian cepatnya, Dia benar-benar tercengang dan kecurigaannya bertambah.

Siauw-lim-pai telah kedatangan tiga orang lawan berat, pikirnya.

Lebih baik dia menghalangi mereka itu di luar agar tidak mengacaukan dalam kuil di mana sedang diadakan upacara sembahyang terhadep dua jenazah dalam peti-peti mati.

Hari masih pagi di waktu itu.

Kun Liong berdiri di tengah lorong kecil yang menuju ke kuil, membelakangi pintu kuil yang terbuka sebelah.

Keadaan di luar kuil sunyi karena semua hwesio sibuk di sebelah dalam, melayani ketua dan para pimpinan yang melakukan sembahyangan.

Dari luar terdengar bunyi liam-keng (doa) mereka dan suara ketukan?ketukan mengiringi doa sembahyang seperti nyanyian puji-puji yang penuh khidmat.

Tiga orang itu menghentikan gerakan kaki mereka dan berdiri berhadapan dengan Kun Liong.

Si Pengantuk berusaha melebarkan matanya yang sipit ketika melihat Kun Liong, sedangkan Si Muka Merah dan yang seorang lagi memandang dengan penuh keheranan dan juga mereka kelihatan marah ketika mengenal bahwa yang menghadang di tengah jalan itu bukanlah seorang hwesio yang menyambut kedatangan mereka, melainkan pemuda gundul yang pernah ribut dengan Si Muka Merah di dalam warung!

Kalau tadinya mereka itu sudah menghabiskan kecurigaan mereka setelah mendengar bahwa pemuda itu bukan seorang hwesio, kini mereka menjadi curiga lagi melihat pemuda itu menghadang mereka di depan pintu gerbang kuil Siauw-lim-si!

Orang she Tio yang tinggi kurus dan seperti mengantuk, sudah mendahului dua orang kawannya, maju dan menjura kepada Kun Liong sambil berkata.

"Kiranya sahabat muda yang menghadang kami di sini. Harap kau orang muda suka minggir dan membiarkan kami pergi memasuki kuil Siauw-lim-si, dan kalau ada urusan dengan kami, biarlah akan kita bicarakan kelak kalau urusan kami di Siauw-lim-si sudah selesal."

Kun Liong bersikap tenang akan tetapi dia menggeleng kepalanya.

"Pada saat ini Siauw-lim-si tidak menerima kunjungan Orang-orang asing. Harap Sam-wi kembali saja dari mana Sam-wi datang dan jangan memasuki kuil karena para suhu sedang sibuk."

"Eh, eh, omongan apa ini?"

Orang she Song yang bermuka merah menegur dengan suaranya yang galak.

Dia memang termasuk orang yang wataknya berangasan.

"Engkau bilang bahwa kau bukan seorang hwesio biarpun kepalamu gundul. Sekarang engkau menghalangi kami hendak memasuki Siauw-lim-si. Sebenarnya siapakah engkau dan apa kehendakmu terhadap kami?"

"Aku adalah seorang sahabat baik dari para pimpinan Siauw-lim-pai, karena itu aku harus mencegah kalian melakukan pengacauan di Siauw-lim-si."

"Manusia sombong! Apakah ehgkau menantang berkelahi?"

Si Muka Merah membentak. Kun Liong menggeleng kepalanya.

"Aku tidak menantang siapa pun, akan tetapi aku tidak ingin melihat orang-orang menggunakan kepandaian untuk melakukan kejahatan, apalagi terhadap Siauw-lim-pai. Karena itu, harap Sam-wi (Tuan Bertiga) suka pergi lagi dan jangan mengganggu para pimpinan Siauw-lim-pai yang sedang sibuk."

"Bocah lancang! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Manusia sombong seperti engkau layak dihajar!"

Si Muka Merah sudah mengepal tinju dan hendak menerjang maju, akan tetapi Si Pengantuk melarangnya.

"Saudara Song, jangan!"

Si Muka Merah itu mundur kembali, akan tetapi mukanya menjadi makin merah karena dia marah bukan main.

Kini Si Pengantuk melangkah maju menghadapi Kun Liong dan memandang penuh selidik, kemudian berkata.

"Sahabat muda, engkau dengan tegas melarang kami memasuki kuil Siauw-lim-si dan menuduh kami hendak mengadakan pengacauan. Agaknya engkau salah sangka. Kami bukan berniat melakukari kekacauan, karena itu harap engkau jangan menghalangi kami."

Kun Liong menggeleng kepalanya.

"Melihat sikap kalian, aku tidak dapat percaya dan aku menduga bahwa tentu engkau tidak mempunyai niat baik. Akan tetapi, kalau engkau suka memberi tahu kepadaku apa niat kedatangan kalian bertiga, aku akan melaporkan kepada Ketua Siauw-lim-pai dan kalian menanti dulu di sini."

Akan tetapi Si Pengantuk masih kelihatan tenang dan sabar.

"Orang muda, kami memang ada urusan penting dengan Ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi urusan ini tidak dapat kuberitahukan kepada siapapun juga."

"Kalau begitu menyesal sekali, harap kalian suka pergi lagi saja."

Kun Liong berkata tegas.

"Kalau kami tidak mau dan hendak terus memasuki kuil?"

"Terpaksa aku mencegah kalian."

"Orang muda, engkau menantang kami?"

"Nah, lagi-lagi aku dituduh menantang!"

Kun Liong tersenyum.

"Engkau ini orang tua disebut taihiap yang berarti pendekar besar dan dengan sendirinya tentu seorang pendekar maklum akan duduknya perkara. Sam-wi datang hendak memaksa memasuki kuil, aku sebagai seorang yang merasa pula bertanggung jawab akan keselamatan kuil Siauw-lim-si, menolak kedatangan Sam-wi dan minta agar Sam-wi pergi lagi saja, akan tetapi Sam-wi hendak memaksa. Tentu saja kalau Sam-wi memaksa aku akan mencegah. Eh, kini Sam-wi menuduh aku menantang! Benarkah pendapat seperti itu?"

Si Pengantuk she Tio berkata, kini suaranya dingin dan tegas.

"Orang muda, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian dan terlalu mengandalkan kepandaian itu sehingga berani bicara main-main dengan kami. Minggir dan jangan mencari perkara!"

"Kalian yang terlalu, aku tidak mau minggir."

"Kalau begitu bersiaplah kau, orang muda. Mari kita memutuskan urusan ini dengan mengadu kepandalan."

"Aku tidak mau berkelahi."

Si Pengantuk tercegang dan bingung juga bagaimana harus bersikap terhadap pemuda gundul yang aneh ini.

Si Muka Merah sudah membentak lagi.

"Dia pengecut!"

"Aku tidak takut kepada kalian bertiga, pasti bukan pengecut,"

Bantah Kun Liong yang tersinggung juga disebut pengecut.

"Kalau berani, majulah!"

Tantang Si Muka Merah.

"Tentu saja berani, akan tetapi aku tidak suka berkelahi!"

"Eh, orang muda! Engkau bersikap menantang kami akan tetapi menyatakan tidak suka berkelahi, sebenarnya apakah maksudmu!"

"Maksudku sudah jelas, Taihiap. Aku minta agar kalian bertiga tidak memasuki kuil dan suka pergi dengan aman dan damai. Nah, bukankah kita tidak saling mengganggu dan urusan dapat dihabiskan sampai di sini saja?"

"Bocah sombong! Tio-taihiap, biar aku menghajarnya!"

Orang she Song yang bermuka merah tak dapat menahan kemarahannya lagi karena merasa bahwa pemuda gundul itu sengaja mempermainkan mereka.

Teriakannya ini disusul dengan gerakan tubuhnya yang sudah menerjang maju dan mengirim pukulan tangan kanannya ke arah dada Kun Liong.

Pukulan kasar ini biarpun dilakukan dengan pengerahan sin-kang dan cepat serta keras sekali datangnya, bagi Kun Liong yang sudah dapat mengukurnya bukan merupakan serangan berbahaya.

Karena itu, pemuda ini sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis, melainkan dia menerima pukulan dengan dadanya sambil mengerahkan tenaga sin-kang yang dahulu dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu.

Dengan sin-kang yang sama, Bun Hwat Tosu dahulu pernah menerima pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Beracun Hitam) dari Ketua Ui-hong-pang tanpa terluka, bahkan Si Ketua itu sendiri yang terluka tangannya oleh pukulan sendiri yang membalik hawanya.

"Bukkkk!"

Keras sekali datangnya pukulan itu, mengenai dada Kun Liong dan membuat tubuh pemuda gundul itu terguncang, namun berkat tenaga sin-kang yang menolak dan membetot, tangan yang memukul itu meleset seolah-olah memukul karet yang amat keras dan Si Muka Merah itu meringis ketika tangannya menyeleweng dan tubuhnya terpental sampai terhuyung ke kiri!

Ketika dia melihat ke arah tangan kanannya, tangannya itu telah bengkak-bengkak!

Dan ketika dia melirik ke arah pemuda gundul itu, Si Pemuda masih berdiri tegak dengan sikap tenang dan mulut tersenyum.

"Hemm, tukang pukul orang! Masih ada lagikah pukulanmu yang lunak seperti tahu tadi?"

Kun Liong mempermainkan Si Muka Merah yang menjadi marah sekali.

Dengan tangan kirinya, Si Muka Merah sudah meraba punggung dan tampaklah sinar berkilauan ketika dia telah mencabut pedangnya.

"Saudara Song, jangan main senjata!"

Si Pengantuk menegur.

"Sute, mundurlah!"

Orang bermuka pucat she Kui yang menjadi suheng dari Si Muka Merah sudah meloncat ke depan.

Gerakannya lincah, ringan dan cepat bukan main.

Sekaii pandang saja, tahulah Kun Liong bahwa kepandaian Si Muka Pucat ini lebih lihai darlpada Si Muka Merah yang kasar.

Begitu menyerang, Si Muka Pucat she Kui itu telah mengirm totokan halus yang cepat sekali ke arah leher dan pundak Kun Liong.

Biarpun dia sama sekali belum berpengalaman, namun berkat bimbingan dua orang sakti yang berilmu tinggi, pandang mata Kun Liong menjadi awas sekali.

Dia maklum bahwa amat berbahayalah untuk melindungi tubuhnya dengan sin-kang seperti yang dilakukannya tadi karena kini yang menjadi sasaran serangan lawan adalah jalan darah yang lemah dan totokan lawan itu selain cepat juga mengandung hawa pukulan yang amat kuat.

Maka dia pun lalu menggerakkan tubuh mengelak dan begitu dia bergerak, Si Pengantuk menahan seruannya saking kagum.

Gerakan Kun Liong jauh lebih cepat daripada gerakan Si Muka Pucat dan serangan bertubi-tubi yang dilanjutkan oleh orang she Kui itu selalu tak dapat berhasil, kalau tidak dielakkan tentu kena ditangkis secara tepat sekali oleh Kun Liong.

Tidaklah mengherankan kalau semua serangan itu gagal karena Kun Liong sudah melindungi dirinya dengan gerakan Ilmu Silat Sakti Im?yang-sin-kun bagian pertahanan.

Si Pengantuk yang memperhatikan dengan teliti gerakan Kun Liong, terkejut menangkap dasar-dasar Ilmu Silat Siauw-lim-pai, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan pemuda itu hanya mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, sedangkan perkembangan dan gerakannya sama sekali tidak dia kenal!

Padahal, biasanya dia boleh berbangga bahwa jarang ada ilmu silat yang tidak dikenalnya, apalagi ilmu silat yang berdasar Siauw-lim-pai.

Ketika kakek pengantuk itu melihat betapa pemuda gundul itu sama sekali tidak membalas serangan temannya, namun semua serangan temannya itu sama sekali tidak pernah berhasil tahulah dia bahwa temannya she Kui itu pun bukan lawan pemuda gundul yang amat aneh ilmu silatnya itu.

Maka dengan gerakan ringan sekali seperti seekor burung terbang dia sudah meloncat ke depan, menyambar lengan temannya, menarik sambil berseru.

"Mundurlah, Saudara Kui!"

Tubuh orang she Kui yang bermuka pucat itu tertarik dan melayang meninggalkan lawan.

Kun Liong yang kehilangan lawan itu memandang kaget ketika melihat betapa tahu?-tahu lawannya telah berganti orang, yaitu Si Pengantuk yang ia tahu amat lihai.

"Sam-wi benar-benar keras kepala dan ingin mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendak sendiri!"

Kun Liong mencela, namun tetap siap siaga menghadapi lawan yang ia tahu tak boleh dipandang ringan itu.

"Orang muda, engkaulah yang keras kepala. Pergilah!"

Si Pengantuk sudah menyerang, akan tetapi gaya serangannya jauh berbeda dengan gerakan kedua orang temannya tadi, Si Pengantuk ini hanya menggerakkan tangan kirinya, dan ujung jari tangan kirinya melecut seperti ujung cambuk yang lemas, mengarah leher dan pundak Kun Liong.

Pemuda itu terkejut bukan main.

Biarpun serangan itu kelihatannya bersahaja dan tidak sungguh-sungguh, namun kepretan tangan itu mendatangkan hawa pukulan yang panas sekali!

Tentu saja dia tidak berani menerima serangan sehebat itu, maka cepat dia pun mengerahkan tenaganya ke arah tangan, menggerakkan tangan kanannya menangkis jari-jari tangan lawan itu dan dari tangannya mengepul uap putih.

"Plak! Plakkk!"

Kakek pengantuk itu mencelat mundur dengan terkejut sekali.

Ternyata bahwa lengan pemuda gundul itu mampu menangkis kepretan ujung jari tangannya, padahal dia tahu benar bahwa jarang ada orang kang-ouw yang sanggup menangkisnya tanpa terdorong mundur atau terluka tangannya.

Pemuda itu menangkis dengan kekuatan dahsyat dan sama sekali tidak kelihatan menderita!

Bahkan tangan pemuda itu mengeluarkan uap putih yang aneh!

Lagi-lagi dia tadi telah mempergunakan Pek-in-ciang yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang.

Kalau lawannya terkejut dan terheran, Kun Liong juga kagum sekali ketika merasa betapa hawa tamparan ujung jari itu membuat lengannya tergetar hebat.

Makin yakinlah hatinya bahwa lawannya ini benar-benar berilmu tinggi!

"Orang muda, terpaksa aku tidak boleh mengalah lagi kepadamu!"

Kakek pengantuk itu berkata, kedua lengannya bergerak dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah seluruh tulang-tulang lengannya patah-patah!

Kun Liong yang belum berpengalaman, memandang dengan mata terbelalak dan hati ngeri karena dia dapat menduga bahwa tentu kakek itu mengeluarkan ilmunya yang mujijat.

"Omitohud... harap tahan dulu, Tio-taihiap...!"

Si Pengantuk dan Kun Liong yang sudah siap untuk bertanding mati-matian karena maklum bahwa lawan tak boleh dibuat main?main, segera melangkah mundur dan menoleh.

Kiranya Thian Kek Hwesio sendiri, Ketua Siauw-lim-pai yang telah berada di situ.

Melihat kakek ini, Si Pengantuk cepat menjura dengan hormat diikuti dua orang temannya dan Si Pengantuk berkata.

"Harap Thian Kek-suhu suka memaafkan kami..."

Thian Kek Hwesio memandang Kun Liong dengan terheran-heran lalu bertanya.

"Yap-sicu, apakah yang telah terjadi?"

Kun Liong sudah merasa terkejut dan menyesal sekali karena ternyata bahwa tiga orang itu benar-benar mengenal Ketua Siauw-lim-pai!

Dengan terus terang dia menjawab.

"Karena teecu curiga kepada mereka dan mengira mereka datang untuk mengacau Siauw-lim-si, maka teecu melarang mereka memasuki kuil sehingga terjadi pertengkaran."

Hwesio tua itu tampak kaget sekali.

"Aihhh... engkau tidak tahu siapa yang kautentang ini, Sicu!"

Dia kembali menghadapi Si Pengantuk dan menjura sambil berkata.

"Harap Taihiap sudi memaafkan Yap-sicu yang masih amat muda. Sesungguhnya Yap-sicu berniat baik untuk membela Siauw-lim-pai. Dia adalah seorang sahabat kami yang baik... dan Yap-sicu, ketahuilah bahwa taihiap ini adalah Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan dan Tio-taihiap ini adalah pengawal kepala yang mulia Panglima Besar The Hoo!"

Si Pengantuk yang ternyata bukan orang sembarangan itu mengangkat tangan ke atas mencegah Ketua Siauw-lim-pai itu melanjutkan perkenalan itu sambil berkata.

"Losuhu, marilah kita bicara di dalam saja."

Hwesio itu mengangguk-angguk, kemudian mempersilakan mereka semua memasuki kuil.

Kun Liong juga ikut masuk sambil memandang dengan penuh perhatian, diam-diam dia terkejut mendengar disebutnya nama Panglima Besar The Hoo tadi.

Kiranya kakek pengantuk itu seorang yang berpangkat tinggi!

Dan mendengar julukannya, Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati) dapat diduga bahwa kakek pengantuk itu tentu memiliki sin-kang yang amat kuat.

Biarpun dia belum pernah mendengar nama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, namun melihat sikap Ketua Siauw-lim-pai itu terhadap Si Pengantuk ini, dia mengerti bahwa kakek pengantuk ini tentu seorang tokoh kang-ouw yang terkenal.

Memang demikianlah, kakek berusia lima puluh tahun yang ketihatan seperti seorang pengantuk itu bukanlah seorang biasa, melainkan seorang yang amat terkenal dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Nama besar Panglima The Hoo siapakah yang tidak mengenalnya?

Dan pengawal panglima itu adalah Si Pengantuk ini yang merupakan pengawal paling setia, paling dipercaya oleh Panglima The dan paling lihai.

Melihat orangnya memang sama sekall tidak pantas kalau dia seorang kepala pengawal yang berkedudukan tinggi, lebih patut seorang pemalas yang selalu kurang tidur!

Aken tetapi, pengawal itulah yang selalu mengawal Sang Panglima ketika Panglima Besar The Hoo melakukan pelayaran memimpin armada sampai jauh menyeberangi lautan dan menjelajah di negara-negara asing.

Adapun dua orang temannya itu adalah dua orang pengawal yang menjadi anak buahnya.

Mereka juga bukan orang-orang biasa, melainkan kakak beradik seperguruan yang tentu saja sudah memiliki kepandaian tinggi untuk dapat diterima menjadi pengawal-pengawal Panglima The Hoo.

Si Muka Pucat itu bernama Kui Siang Han, berusia empat puluh lima tahun sedangkan sutenya, Si Muka Merah bernama Song Kin berusia empat puluh tahun.

Ketika Tio Hok Gwan dan dua orang temannya memasuki kuil dan melihat dua buah peti jenazah, dia terkejut bukan main.

Apalagi ketika mendapat keterangan bahwa peti-peti itu terisi jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio!

"Ah...

maafkan kami yang sama sekali tidak tahu akan hal yang menyedihkan ini dan berani datang mengganggu!"

Katanya dan cepat dia bersama dua orang anak buahnya lalu menyalakan hio (dupa) dan bersembahyang di depan kedua peti mati dengan penuh khidmat.

Setelah selesai sembahyang, tiga orang pengawal itu segera bertanya apa yang menyebabkan kematian dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu.

Thian Kek Hwesio memejamkan mata dan menarik napas panjang sambil merangkap kedua tangan di depan dada.

"Omitohud... mati hidup manusia berada di tangan Tuhan, tidak ada yang harus disesalkan dalam menghadapi kematian seseorang. Akan tetapi, kalau Suhu meninggal dunia dengan wajar karena usia beliau sudah amat tua, adalah Sute Thian Lee Hwesio meninggal secara menyedihkan sekali."

Dia lalu menceritakan betapa rombongan piauwsu yang tidak tahu-menahu datang membawa peti yang terisi jenazah Thian Lee Hwesio yang terbunuh orang!

"Sungguh penasaran sekali!"

Tio Hok Gwan berseru.

"Ini merupakan tanda bahwa kaum sesat di dunia kang-ouw sudah mulai berani bergerak lagi!"

Tentu saja hati pengawal ini menjadi penasaran karena semenjak Panglima The Hoo melakukan pembersihan, kaum sesat di dunia persilatan banyak yang terbasmi dan tidak berani sembarangan bergerak.

Kini, wakil Ketua Siauw-lim-pai terbunuh, berarti bahwa kaum sesat agaknya sudah mulai berani unjuk gigi dan merupakan tantangan tak langsung kepada pemerintah!

Ketika diperkenalkan kepada tiga orang pengawal itu, Kun Liong lalu menjura dan berkata.

"Harap Tio-taihiap bertiga suka memaafkan saya yang karena tidak mengenal telah bersikap kurang hormat."

Orang she Tio itu memandang Kun Liong dengan mata hampir terpejam, kemudian mengangguk-angguk dan memuji.

"Yap-sicu tidak usah bersikap sungkan. Kami kagum sekali melihat kegagahan Sicu, dan tidak merasa heran setelah mendengar bahwa Sicu adalah putera tunggal Yap Cong San yang kami kenal. Siauw-lim-pai boleh merasa beruntung mempunyai seorang sahabat seperti Sicu yang setia dan menjaga Siauw-lim-pai dengan gagah."

Sebagai tamu-tamu yang dihormati, tiga orang itu dijamu makan oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan mereka pun tidak bersikap sungkan dan menerima undangan makan, sungguhpun hidangannya hanya terdiri dari masakan tak berdaging yang bersahaja dan minumnya hanya air dan teh tanpa setetespun arak!

Kun Liong yang dianggap "keluarga sendiri"

Juga hadir. Setelah selesai makan, barulah Ketua Siauw-lim-pai bertanya.

"Pinceng mengerti bahwa kedatangan Sam-wi tentulah membawa urusan yang amat penting. Pinceng harap Sam-wi tidak bersikap sungkan, dan biarpun di sini sedang tertimpa malapetaka, namun kami selalu siap untuk membantu Sam-wi. Maka harap Sam-wi suka menjelaskan urusan apa yang Sam-wi bawa dari kota raja."

Tio Hok Gwan menarik napas panjang, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut menceritakan keperluan kedatangannya.

Akhirnya dia berkata setelah beberapa kali meragu.

"Memang benar apa yang Losuhu katakan. Kalau kami tahu bahwa di Siauw-lim-pai terjadi hal yang amat menyedihkan ini, tentulah kedatangan kami hanya khusus untuk melayat dan berkabung. Akan tetapi karena kami tidak tahu, sebaiknya kami berterus terang saja. Kami memang sedang melaksanakan tugas, Losuhu, dan kami datang sebagai utusan pribadi dari Panglima The sendiri."

Thian Kek Hwesio cepat bangkit berdiri dan menjura penuh hormat kepada tiga orang itu.

"Pinceng dan para anak murid Siauw-lim-pai siap untuk melaksanakan perintah Yang Mulia Panglima The."

"Terima kasih atas kebaikan Losuhu. Sebetulnya tidak ada permintaan sesuatu kepada Losuhu dan Siauw-lim-pai, hanya kami diutus melakukan penyelidikan dan mengingat akan luasnya pengaruh dan hubungan Siauw-lim-pai dengan dunia kang-ouw, kami ingin mohon bantuan Siauw-lim-pai dalam hal ini."

Thian Kek Hwesio menarik napas lega.

Jelas, bahwa urusan itu tidak langsung menyangkut Siauw-lim-pai sehingga tidak akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan sikap ramah dia berkata.

"Harap Tio-taihiap tidak bersikap sungkan dan ceritakanlah, bantuan apa yang dapat kami berikan kepada Taihiap demi terlaksananya perintah yang mulia itu."

Tio Hok Gwan lalu bercerita dengan suara perlahan namun jelas.

"Panglima The telah kehilangan sebuah pusaka, belasan tahun yang lalu dan hal ini tadinya dirahasiakan saja dan tidak dibocorkan ke luar karena telah diketahui bahwa yang mencuri dan melarikan pusaka itu adalah seorang pengawal panglima sendiri. Diam-diam panglima mengutus orang-orang kepercayaannya untuk melakukan pengejaran dan mencari pengawal yang mencuri pusaka itu. Namun semua usaha sia-sia belaka, sampai terdengar kabar bahwa pengawal yang berkhianat itu ternyata telah kehilangan pusaka yang dicurinya, dan kabarnya pusaka itu hilang tenggelam di Sungai Huang-ho. Sepuluh tahun yang lalu, pengawal khianat itu terbunuh bersama anak buahnya yang telah menjadi bajak sungai, dan pusaka itu masih belum diketahui berada di mana. Hanya ada kabar angin yang mengatakan bahwa pusaka itu telah diangkat dari dasar sungai, akan tetapi tidak seorang pun tahu siapa yang membawanya. Kemudian kami mendengar berita pula bahwa pada saat pergawal khianat dan anak buahnya tewas, di sekitar daerah itu tampak bayangan Siang-tok Mo-li. Kami masih meragukan semua berita itu dan mengingat akan pengetahuan Losuhu yang amat luas, kami sengaja datang menghadap mohon petunjuk."

Jantung Kun Liong berdebar tegang mendengar penuturan itu.

Tidak salah lagi tentu bokor emas yang dimaksudkan oleh Tio Hok Gwan ini.

Dia mendengar disebutnya nama Siang-tok Mo-li, teringat dia kepada Bi Kiok yang manis!

Bi Kiok tentu sekarang telah menjadi seorang dara yang cantik manis!

Dan dara itu pernah monolongnya, dua kali malah telah menolongnya.

Pertama ketika bersama mendiang kakeknya, Bi Kiok menyelamatkannya dari gelombang air Sungai Huang-ho.

Kedua kalinya ketika Bi Kiok membebaskannya pada waktu dia menjadi tawanan para tokoh Pek-lian-kauw dan Ketua Ui-hong-pang.

Betapa manisnya anak itu!

Kun Liong tak sengaja tersenyum ketika membayangkan wajah Bi Kiok.

Melihat pemuda gundul itu tersenyum-senyum, diam-diam Tio Hok Gwan melirik dengan penuh perhatian dan selidik.

Sementara itu, Thian Kek Hwesio sudah berkata.

"Pinceng sendiri tidak pernah mendengar akan urusan itu, Taihiap. Akan tetapi pinceng akan mengumpulkan semua anak murid dan memperingatkan mereka agar memasang mata telinga, juga bertanya-tanya di dunia kang-ouw kepada para sahabat. Tentu saja kami akan segera melapor kalau ada berita bahkan pinceng akan memerintahkan kepada para anak murid untuk membantu Taihiap mendapatkan kembali pusaka itu."

"Terima kasih atas kebaikan hati Losuhu. Eh, Yap-sicu, agaknya Sicu mempunyai suatu pendapat yang ada hubungannya dengan urusan ini, bukan?"

Kun Liong yang sedang termenung membayangkan wajah Bi Kiok yang manis itu, terkejut mendengar teguran ini.

"Ahh, saya hanya merasa heran mengapa seperti yang sering kali saya dengar, di dunia kang-ouw banyak terjadi perebutan pusaka-pusaka. Pusaka apa pula yang Taihiap ceritakan tadi? Sebuah senjatakah ataukah sebuah kitab?"

"Benar sekali pertanyaan itu, pinceng sendiri pun perlu mengetahui apa macamnya Pusaka yang hilang itu."

Thian Kek Hwesio berkata.

"Pusaka dari The-ciangkun itu adalah sebuah bokor emas kuno yang amat berharga."

"Sebuah bokor emas...?"

Thian Kek Hwesio berkata sambil mengangguk-angguk.

"Kalau hanya emas yang merupakan harta, mengapa orang-orang gagah di dunia kang-ouw sampai berebutan? Sungguh tiada bedanya dengan para perampok saja sikap ini!"

Kun Liong berkata lagi, diam-diam jantungnya makin keras berdebar karena ternyata dugaannya tepat, pusaka yang dimaksudkan itu adalah bokor emas yang telah dia sembunyikan!

Tio Hok Gwan menghela napas panjang.

"Agaknya engkau tidak tahu, Yap-sicu. Kalau hanya emas belaka, kiranya Panglima The tidak akan menyimpannya dan menganggapnya sebagai sebuah pusaka yang berharga. Kami hanya mengharapkan bantuan Losuhu, juga bantuan Yap-sicu yang kami anggap sebagai orang sendiri sehingga kami ceritakan semua tentang pusaka."

"Jangan khawatir, Taihiap. Setelah kami selesai dengan perkabungan kami, tentu kami akan bekerja keras membantu melakukan penyelidikan tentang bokor emas itu,"

Kata Thian Kek Hwesio.

"Saya pun akan berusaha membantu, Tio-taihiap. Saya akan membantu menyelidiki dan kalau saya beruntung dapat menemukan benda pusaka itu, tentu akan saya persembahkan sendiri kepada Panglima The yang mulia."

Thio Hok Gwan menghaturkan terima kasih, kemudian bersama kedua orang pembantunya, dia segera berpamit dan meninggalkan kuil yang sedang berkabung itu.

Kun Liong tetap tinggal di dalam kuil, membantu persiapan yang diadakan oleh Siauw-lim-pai untuk menerima kedatangan para tamu yang tentu akan membanjiri Siauw-lim-si untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah dua orang tokoh besar itu.

Selain merasa berkewajiban untuk membantu, juga Kun Liong sengaja hendak menanti dengan penuh harapan ayah bundanya akan datang pula ke Siauw-lim-si.

Ayahnya adalah murid Tiang Pek Hosiang dan bekas tokoh Siauw-lim-pai, Dia merasa yakin ayahnya akan datang kalau mendengar akan kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio yang menjadi suhengnya.

Selain mengharapkan kedatangan ayah bundanya di kuil Siauw-lim-si, juga Kun Liong ingin sekali mellhat dan bertemu dengan para tokoh kang-ouw yang diduga tentu akan datang memberi penghormatan terakhir kepada jenazah seorang tokoh besar seperti Tiang Pek Hosiang.

Kita tinggalkan dulu kuil Siauw-lim-si yang sedang berkabung dan mari kita tengok keadaan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan keluarganya yang merupakan tokoh-tokoh penting dalam cerita ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, lima tahun yang lalu, ketika Kun Liong berusia lima belas tahun dan dia pergi ke Cin-ling-san mencari ayah bundanya, dan hanya bertemu dengan Cia Giok Keng, puteri tunggal keluarga pendekar itu, Karena pada waktu itu Cia Keng Hong dan isterinya sedang turun dan mereka justeru pergi ke kota Leng-kok, mengunjungi sahabat baik mereka, yaitu Yap Cong San suami isteri.

Dengan perasaan penuh harap dan gembira karena akan dapat berjumpa dengan sahabat-sahabat mereka, Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, memasuki kota Leng-kok.

Mereka berjalan kaki memasuki kota itu dengan wajah berseri gembira.

Kalau orang melihat mereka sepintas lalu, tentu akan mengira bahwa mereka itu hanyalah dua orang pelancong biasa saja karena tidak ada apa-apa yang menonjol pada diri mereka, kecuali bahwa mereka merupakan sepasang suami isteri setengah tua yang tampan dan cantik.

Cia Keng Hong sudah berusia empat puluh tahun, tampak gagah dan tampan, dengan kumis dan jenggotnya yang panjang, akan tetapi tidak terlalu panjang.

Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus sehelai kain kepala berwarna kuning.

Tubuhnya masih tegap dan langkahnya seperti seekor harimau.

Pakaiannya longgar dan sederhana, jubah yang panjang menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam yang terselip di pinggangnya.

Pedang Kayu Harum ini pernah menggegerkan dunia kang-ouw belasan tahun yang lalu (baca ceritaPedang Kayu Harum).

Kalau ada yang dapat menduga bahwa dia pandai ilmu silat, agakhya hanya karena sepatunya, sepatu kulit yang tinggi, kuat dan biasa dipergunakan merantau.

Isterinya, Sie Biauw Eng, masih tampak cantik jelita walaupun usianya sudah mendekati empat puluh tahun.

Tubuhnya masih ramping padat, kedua pipinya belum diserang keriputan, masih halus putih dan agak kemerahan karena sehari itu dia berjalan kaki sampai jauh.

Juga nyonya cantik ini tidak kelihatan membawa senjata.

Siapa yang akan menyangka bahwa sabuk sutera putih yang dengan indahnya membelit pinggang ramping itu merupakan senjata maut yang belasan tahun lalu menimbulkan kengerian di dalam hati setiap orang lawan?

Pakaiannya juga sederhana namun bersih dan tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya yang matang dan padat itu.

Seperti suaminya, dia pun memakai sepatu kulit yang tinggi.

Biarpun kenyataan bahwa suami isteri ini melakukan perjalanan jauh berdua saja sudah menimbulkan dugaan bahwa mereka bukanlah Orang-orang lemah, namun kiranya tidak akan ada orang yang pernah mimpi bahwa pria itu adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang lebih terkenal dengan julukan yang diberikan karena pedangnya, yaitu Siang-bhok-kiam.

Dan siapa yang akan mengira bahwa wanita cantik yang wajahnya berseri dan bibirnya selalu tersenyum itu adalah Sie Biauw Eng, yang di waktu masih gadis dahulu berjuluk Song-bun Siu-li (Dara Cantik Berkabung)?

Nama julukan yang amat terkenal di kalangan kaum sesat?

Pada waktu itu, kiranya tidak ada tokoh kang-ouw atau datuk kaum sesat yang lebih terkenal daripada Siang-bhok-kiam Cia Keng Hong dan isterinya, Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng.

Bahkan Cin-ling-pai yang sebetulnya hanya sekumpulan penduduk dusun pegunungan, karena diketuai dan dipimpin oleh Cia Keng Hong, menjadi amat terkenal dan disegani dunia kang-ouw.

Sambil menoleh ke kanan kiri memandangi bangunan-bangunan di dalam kota Leng-kok, Sie Biauw Eng berkata.

"Aihhh, sungguh banyak kemajuan terjadi di dalam kota ini. Hampir aku tidak mengenalnya lagi, padahal baru beberapa tahun kita tidak melihat Leng-kok."

Cia Keng Hong tersenyum.

"Kau kira baru berapa tahun? Jangan mimpi, sudah lima belas tahun kita tidak pernah ke sini dan lima belas tahun bukanlah waktu singkat, tentu saja banyak terjadi perubahan."

"Hemmm, waktu berlalu dengan cepat sekali, tanpa terasa belasan tahun telah lewat! Betapapun juga, kemajuan di Leng-kok mengagumkan dan aku yakin bahwa jasa Cong San dan Yan Cu dalam kota ini tidaklah kecil."

"Tentu saja! Mereka merupakan tabib-tabib yang terkenal di sini, agaknya tentu tidak ada seorang pun penduduk yang belum pernah mereka tolong. Kuharap saja putera mereka mewarisi kegagahan ayah bundanya sehingga tidak akan mengecewakan hati kita."

"Hem, mengapa kita akan kecewa andaikata anak mereka itu tidak seperti yang kita harapkan?"

Sie Biauw Eng bertanya.

"Anak itu bukanlah kita, dan harapan kita belum tentu sama dengan harapan orang tuanya. Apa yang kita anggap tidak baik, belum tentu dianggap buruk pula oleh orang lain."

"Wah, isteriku yang baik, lagi-lagi engkau berfilsafat!"

Keng Hong menggoda.

"Bukan filsafat. Kau tahu bahwa aku tidak suka akan filsafat muluk-muluk yang hanya menjadi permainan Kata-kata kosong belaka. Yang kukatakan tadi adalah kenyataan. Telah menjadi kesalahan kita pada umumnya bahwa kita selalu digoda harapan-harapan akan sesuatu, ingin melihat sesuatu sesuai dengan yang kita kehendaki. Inilah salahnya maka seringkali kita mengalami puas dan kecewa. Kita tidak dapat menerima apa adanya sehingga tidak pernah tenang. Anak Cong San itu... eh, siapa namanya...?"

"Yap Kun Liong, masa kau lupa lagi?"

"Oya, Kun Liong, seperti apa pun dia, kita harus dapat menerima dan melihat dia seperti keadaannya, bebas dari prasangka dan harapan kosong."

"Ah, mana mungkin begitu, isteriku? Dia bukan orang lain, dia calon mantu kita..."

"Hemm, belum juga melihat orangnya, bagaimana sudah hendak memastikan bahwa dia calon jodoh Giok Keng? Kita harus melihatnya dulu, apa sekiranya cocok kalau dijodohkan dengan anak kita. Selain itu, kita pun harus menanyakan pendapat dua orang anak yang bersangkutan itu pula."

"Hemmm... hemmm..."

"Hemm"

Hemm apa maksudmu?"

Biauw Eng memandang suaminya.

"Kalau kau terlalu memanjakan Keng-ji, bahkan dalam soal perjodohan, engkau hanya akan merusak hidupnya..."

"Ehh! Apakah yang kau katakan ini? Mari kita bicarakan hal ini dulu sebelum kita bertemu Cong San dan Yan Cu."

"Sudahlah, isteriku. Perlukah kita bertengkar setelah tiba di tempat ini? Kita bicarakan urusan jodoh perlahan-lahan..."

"Tidak bisa! Harus sekarang kita bicarakan lebih dulu. Aku mau ketegasan dalam hal ini, itu di sana ada warung, kita berhenti dulu di sana!"

"Tenanglah... ingat akan kandunganmu..."

Keng Hong memperingatkan.

"Engkau sih yang bicara tidak beres. Hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan ini... apalagi baru dua bulan... ah, semua gara-gara engkau!"

Mereka memasuki warung dan memilih tempat duduk di sudut, jauh dari tamu lainnya.

Setelah hidangan yang mereka pesan disediakan, mereka bicara bisik-bisik namun kelihatan serius sekali.

"Semua salahmu! Sampai bingung memikirkan bagaimana harus memberitahukan Giok Keng! Dia sudah lima belas tahun dan... akan mempunyai adik! Betapa terlambatnya! Dan aku sudah tua! Salahmu...!"

Suara Biauw Eng mengandung isak tertahan.

"Hishhh! Kenapa hanya aku saja yang salah? Bukankah hal ini akibat perbuatan kita berdua? Sudahlah, isteriku. Perlukah hal seperti ini dibuat cekcok? Engkau masih muda! Siapa bilang engkau (Lanjut ke

Jilid 12) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 sudah tua? Engkau masih patut mempunyai anak lima orang lagi!"

"Ngacau...!"

Blauw Eng membentak dan mendelik, akan tetapi melihat suaminya yang tercinta itu tersenyum-senyum, perlahan-lahan kemarahannya mereda dan kedua pipinya menjadi merah.

"Tidak perlu kau bingung, Keng-ji tentu akan menari kegirangan kalau mendengar akan mempunyai seorang adik yang sudah bertahun-tahun diinginkannya."

"Sebetulnya aku pun tidak hendak membicarakan hal kandungan. Aku sudah menerimanya sebagai anugerah Tuhan, akan tetapi engkau sih, membawa-bawa dalam persoalan perjodohan Giok Keng. Apakah engkau akan berkeras kepala mengambil keputusan tentang perjodohan anak kita tanpa mempedulikan perasaan hatinya sendiri?"

Keng Hong menarik napas panjang.

"Isteriku, Giok Keng masih kanak-kanak, mana mungkin dia mempunyai pendapat tentang jodoh? Kita adalah ayah bundanya, andaikata aku salah pilih, kiranya engkau tidak akan membiarkan saja. Pilihan kita tentu telah kita pikirkan masak-masak, dan kita tujukan semata demi kebahagiaan anak kita."

"Aku percaya, akan tetapi harus kita sadari bahwa pendapat kita belum tentu sama dengan pendapat Giok Keng. Pemuda yang kita anggap baik belum tentu menyenangkan hatinya. Suamiku, mengapa kau tidak bersikap bijaksana dalam hal ini? Ingatlah akan riwayat kita sendiri. Perjodohan tidak boleh dipaksakan. Perjodohan harus terjadi atas dasar dorongan hasrat kedua orang anak yang hendak berjodoh itu sendiri. Perjodohan bukan hal main-main, melainkan dilakukan satu kali untuk selama hidup. Sekali salah pilih, akan menderita selamanya."

"Nah, itulah! Karena tidak ingin anak kita salah pilih, sebaiknya kita yang memilihkan, dan kurasa anak suami isteri seperti Cong San dan Yan Cu tentulah baik!"

"Betapapun juga, biarkan dia memilih sendiri."

"Kalau dia yang masih hijau dan bodoh itu salah pilih?"

"Kewajiban kita untuk turun tangan menyadarkannya!"

"Hemm, aku tetap ingin berbesan dengan Cong San."

"Mungkin saja, kalau Keng-ji cocok dan suka kepada Kun Liong. Mengapa engkau bingung seperti kucing hendak bertelur? Kalau memang sudah jodoh, apa yang dikhawatirkan kelak tidak akan bertemu?"

Keng Hong merengut.

"Gila kau! Masa aku disamakan kucing hendak bertelur? Mana ada kucing bisa bertelur?"

Biauw Eng tertawa, girang dapat membalas dan membikin suaminya marah.

"Karena bingungnya, kau seperti kucing hendak bertelur! Soal jodoh kita bicarakan nanti kalau semua pihak sudah setuju. Mengapa tergesa-gesa? Bukankah kedatangan kita ini untuk mengunjungi mereka dan sekalian melihat bagaimana macamnya putera mereka itu?"

"Ya, sudahlah, asal engkau jangan berkokok ribut seperti ayam hendak beranak!"

"Hehh? Mana ada ayam beranak...? Wah, engkau membalas, ya?"

Biauw Eng mencubit lengan suaminya dan keduanya tertawa.

Dalam keadaan seperti itu, suami isteri itu masih seperti ketika mereka berbulan madu dahulu!

Dan memang demikianlah cinta kasih antara suami isteri yang benar-benar saling mencinta.

Tidak ada usia tua, tidak ada keriput, tidak ada uban, tidak ada dan tidak pernah ada istilah buruk bagi mereka yang saling mencinta!

"Husshhh!

Malu dilihat orang!

Dan kalau tiba-tiba Cong San dan Yan Cu muncul dan melihat kita bukan langsung ke rumah mereka melainkan bersendau-gurau di warung arak, bisa kita dicap sombong!"

Keng Hong segera membayar harga makanan, kemudian mereka bergegas keluar dari warung dan langsung menuju ke rumah Yap Cong San yang di kota itu terkenal sebagai Yap-sinshe (Tabib Yap).

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka mendengar bahwa suami isteri sahabat baik mereka itu telah kurang lebih lima tahun meninggalkan Leng-kok tanpa pamit dan tak seorang pun mengetahui ke mana mereka pergi.

"Ji-wi (Kalian Berdua) sudah lama sekali terlambat. Yap-sinshe dan isterinya, juga puteranya, telah bertahun-tahun pergi."

"Mengapa? Apa yang terjadi?"

Keng Hong bertanya, masih dicekam keheranan.

"Mereka... melarikan diri..."

Seorang kakek bekas tetangga Yap-sinshe menjelaskan.

"Tidak mungkin!"

Biauw Eng berseru.

"Mereka bukanlah Orang-orang pengecut yang melarikan diri begitu saja! Siapa yang mereka takutkan?"

"Mereka menjadi Orang-orang buruan pemerintah."

"Ehhh...?"

Keng Hong segera memegang tangan kakek itu dan berbisik.

"Harap Loheng sudi menceritakan kepada kami."

Kakek itu mengangguk.

"Marilah, mari singgah di rumahku dan nanti kuceritakan kepada Ji-wi."

Dengan hati berdebar penuh kekhawatiran, Keng Hong dan Biauw Eng mengikuti kakek itu memasuki rumahnya yang sederhana dan miskin.

Setelah mereka dipersilakan duduk dan disuguhi air teh, kakek itu lalu bercerita tentang kesalahan Yap-sinshe tidak berhasil mengobati para perwira yang terluka sehingga ditangkap dan kemudian bersama isterinya, Yap-sinshe melarikan diri dari tahanan dan menjadi orang buruan.

"Mengapa tidak berhasil mengobati sampai ditangkap?"

Keng Hong bertanya. Kakek itu menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya.

"Aku tidak tahu, akan tetapi agaknya sudah pasti sekali Yap-sinshe bentrok dengan Pembesar Ma, kepala daerah di Leng-kok ini. Apa sebabnya aku tidak tahu, dan agaknya tidak ada orang yang tahu kecuali mereka sendiri."

"Dan puteranya? Ke mana perginya putera mereka, Yap Kun Liong?"

"Ahhh, Yap-kongcu sudah lebih dulu pergi sebelum ayahnya ditangkap. Entah ke mana. Sampai sekarang mereka bertiga tidak pernah muncul. Bahkan ketika kakek Liok Siu Hok meninggal dunia dua minggu yang lalu, mereka tidak muncul."

Keng Hong dan isterinya teringat bahwa Kakek Liok Siu Hok adalah paman tua dari Cong San, satu?satunya keluarga sahabat mereka itu yang tinggal, karena itu, agak aneh kalau sampai Cong San seanak isteri tidak muncul ketika kakek itu meninggal dunia.

"Bagaimana matinya?"

"Mati tua... dan agaknya karena duka. Kasihan kakek itu tidak mempunyai keluarga lagi, mati dalam kesunyian."

Keng Hong dan isterinya menghaturkan terima kasih, lalu keluar dari rumah kakek itu.

"Ke mana kita harus mencari mereka?"

Katanya dengan suara kecewa.

"Tiada gunanya dicari kalau mereka itu melarikan diri. Kalau mereka ingin berjumpa dengan kita, tentu mereka yang akan datang mengunjungi Cin-ling-san."

"Benar kata-katamu. Kalau begitu kita pulang saja."

"Tidak, aku masih belum puas. Aku harus mengerti duduknya perkara ini dan memaksa dia mengaku!"

Kata Biauw Eng gemas.

"Dia? Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan pembesar jahat she Ma itu!"

"Wah"

Wah!

Isteriku, ingat, kita bukan orang muda petualang seperti dahulu lagi!

Kita adalah pemimpin Cin-ling-pai dan orang she Ma itu adalah orangnya pemerintah!

Apa kau ingin dicap pemberontak?"

"Serahkan saja kepadaku. Mari ikut!"

"Eh, ke mana?"

Keng Hong tak berdaya menghadapi isterinya yang ia tahu sedang marah dan penasaran itu!

"Ke gedung Kepala Daerah!"

Keng Hong tidak membantah dan diam-diam ia gembira melihat betapa isterinya sama sekali belum berubah, masih seperti Song-bun Siu-li dia dahulu, dara cantik jelita yang kadang-kadang disebut dewi akan tetapi adakalanya disebut iblis betina yang ganas!

Isterinya ini, biarpun usianya sudah tiga puluh tujuh lebih, ibarat gunung berapi belum kehilangan kawahnya, bagaikan merica belum kehilangan pedasnya, dan bagaikan bunga mawar harum belum kehilangan durinya!

Tanpa disadarinya, mulut Cia Keng Hong tersenyum-senyum dan dia tidak tahu betapa isterinya mengerling kepadanya dan mengerutkan alis penuh curiga ketika melihat senyumnya.

Tiba-tiba Biauw Eng berhenti melangkah.

"Mengapa kau mesam-mesem? Mentertawakan aku, ya?"

"Wah, tidak! Aku hanya..."

"Hanya apa...?"

"Kasihan kepada Ma-taijin!"

"Huh! Lihat saja nanti, si keparat itu!"

Waktu itu hari telah sore dan kantor pembesar kepala daerah sudah lama ditutup.

Pembesar Ma sedang beristirahat di dalam kamar seorang di antara selirnya, tidur nyenyak kelelahan.

Semalam pembesar ini kurang tidur, menjamu beberapa orang tamu rahasia yang kini masih berada di dalam gedungnya dan juga beristirahat di dalam kamar-kamar tamu yang disediakan untuk mereka.

Ketika Keng Hong dan isterinya tiba di halaman gedung pembesar Ma, tentu saja mereka dihadang oleh para penjaga.

Akan tetapi kepala penjaga bersikap hormat ketika melihat sikap suami isteri itu yang tenang dan gagah.

Dia menjura dan bertanya.

"Ada keperluan apakah Ji-wi (Anda Berdua) datang ke sini? Tanpa ijin, siapa pun dilarang memasuki halaman ini."

Pada waktu itu, Biauw Eng masih marah dan penasaran sekali mengingat akan nasib Yap Cong San dan isterinya, akan tetapi dia masih ingat akan kedudukannya sebagai isteri Ketua Cin?ling-pai maka dia menahan diri dan tidak terlalu ringan tangan seperti wataknya ketika masih gadis dahulu.

Akan tetapi suaranya ketus dan dingin ketika dia berkata.

"Laporkan kepada Ma-taijin bahwa kami ingin bertemu dan bicara dengannya!"

Kepala penjaga mengerutkan alisnya.

Hatinya tidak senang mendengar suara ketus dan melihat sikap yang amat tidak menghormat terhadap Ma-taijin itu, maka dia menjawab.

"Tidak mungkin begitu mudah. Siapa pun yang hendak menghadap, harus lebih dulu mengajukan permohonan disertai keterangan nama, tempat tinggal dan keperluannya. Pula, permintaan itu baru bisa diajukan besok pagi karena sekarang kantor sudah tutup dan Taijin sedang beristirahat, tidak boleh diganggu."

"Apa kau bilang?"

Biauw Eng menudingkan telunjuknya ke arah muka kepala penjaga itu.

"Apa kau kira tanpa laporanmu kami tidak bisa menemui orang she Ma itu?"

Para penjaga terkejut dan delapan orang penjaga sudah datang mendekat dan siap untuk menghadapi suami isteri itu.

Akan tetapi Keng Hong cepat menjura dan berkata halus.

"Harap kalian suka melaporkan kepada Ma-taijin bahwa Cia Keng Hong dan isterinya mohon bertemu dan bicara dengan Ma-taijin."

Akan tetapi para penjaga itu tidak mengenal nama ini.

Biarpun nama ini amat terkenal, akan tetapi tentu saja yang mengenalnya hanyalah tokoh-tokoh kang-ouw saja dan tidak sembarangan orang seperti para penjaga itu mengenalnya.

Karena itu, disebutnya nama ini sama sekali tidak ada artinya bagi mereka.

"Siapapun adanya Ji-wi, tanpa surat ijin khusus, tak berani kami mengganggu Taijin, dan sebaliknya Ji-wi segera pergi dan jangan membikin ribut di sini. Kami masih bersikap sabar, kalau sampai para pengawal tahu, tentu Ji-wi akan mendapat susah. Kalau Ji-wi ada urusan penting dengan Taijin, harap besok pagi saja mengajukan surat permobonan menghadap."

"Keparat! Kalau begini kami tidak perlu dengan kalian!"

Blauw Eng sudah tidak sabar lagi, langsung dia melangkah ke depan, sama sekali tidak mempedulikan para penjaga yang menghadang di depannya.

Delapan orang itu tentu saja agak segan untuk menyerang seorang wanita, maka mereka hanya berdiri menghadang dan menghalangi di depan Biauw Eng sambil melintangkan tombak dan golok di tangan.

"Pergi!"

Biauw Eng membentak dan terdengar suara senjata-senjata itu terlempar disusul tubuh delapan orang penjaga itu terpelanting ke kanan kiri.

Mereka berteriak kaget dan marah.

Ketika mereka cepat melompat bangun lagi dan siap menerjang, mereka terbelalak melihat Keng Hong sudah berdiri tegak di depan mereka.

Pendekar ini menyambar sebatang golok yang tadi terlempar, kemudian sambil memandang mereka dengan senyum di bibir, kedua tangannya mematah-matahkan golok itu sedemikian mudahnya seperti orang mematahkan sebatang lidi saja!

Melihat demonstrasi kehebatan kedua tangan ini delapan orang itu terbelalak dengan muka pucat, kedua kaki mereka mundur-mundur dan tak seorang pun di antara mereka berani menerjang ke depan.

"Anjing-anjing pengacau dari mana berani membikin ribut di sini?"

Bentakan ini disusul munculnya tiga orang pengawal yang bertubuh tinggi besar dan bersikap garang.

Melihat munculnya tiga orang pengawal yang terkenal jagoan ini, delapan orang penjaga itu berbesar hati.

Kepala penjaga segera berkata.

"Mereka memukul kami, mereka hendak membunuh Taijin,"

Mendengar ini, Keng Hong dan Biauw Eng marah sekali, sedangkan tiga orang pengawal itu terkejut bukan main.

Tampak sinar berkilat ketika mereka mencabut pedang dan meloncat ke depan menghadapi Keng Hong dan Biauw Eng.

Karena khawatir kalau-kalau isterinya tidak mampu mengendalikan diri dan membunuh alat pemerintah, Keng Hong sudah mendahului isterinya, melangkah ke depan, mendorongkan tangan kirinya ke arah tiga orang pengawal yang menerjang maju itu sambil membentak.

"Mundur kalian!"

Tentu saja tiga orang pengawal itu tidak mempedulikan bentakan ini dan sama sekali tidak peduli akan dorongan tangan Keng Hong, akan tetapi segera mereka itu berteriak kaget ketika merasa betapa tubuh mereka terdorong oleh angin yang amat dahsyat, yang membuat mereka tidak mampu mempertahankan diri dan terjengkang ke belakang!

Ketika mereka merangkak bangun dan memandang, ternyata kedua orang suami isteri itu telah lenyap.

"Heii, ke mana mereka...?"

Tanya mereka.

"Celaka... mereka memasuki gedung..."

Jawab para penjaga yang tadi hanya memandang dengan mata terbelalak.

"Hayo kejar...!"

Berbondong mereka mengejar ke dalam gedung dan seorang di antara para perigawal sudah membunyikan kentungan tanda bahaya, memanggil berkumpul semua pengawal dan penjaga.

Keng Hong dan Biauw Eng memang telah berlari memasuki gedung, tidak rnau membuang waktu melayani para penjaga dan pengawal.

Biauw Eng menangkap seorang pelayan wanita yang berlari ketakutan, menjambak rambutnya, dan menghardik.

"Lekas katakan di mana kamar Taijin!"

Jari-jari tangan Biauw Eng sengaja mencengkeram pundak pelayan itu yang merasa nyeri bukan main, sampai mukanya yang pucat mengeluarkan peluh dingin.

Akan tetapi saking takutnya dia tidak dapat mengeluarkan suara, hanya menudingkan telunjuknya ke arah kamar besar di dekat ruangan tengah.

Biauw Eng melepaskan tubuh pelayan itu yang mendeprok berlutut dan tidak mampu bergerak lagi saking takutnya, hanya menangis di atas lantai tak berani mengangkat muka.

Ketika Biauw Eng dan Keng Hong tiba di depan pintu kamar itu, Keng Hong berbisik.

"Isteriku, jangan membunuh orang..."

Biauw Eng mengangguk lalu menggunakan kakinya menendang daun pintu.

"Brakkk!"

Daun pintu jebol dan tampaklah seorang laki-laki tua, berusia hampir enam puluh tahun berdiri dengan mata terbelalak marah.

Seorang wanita muda dan cantik dengan pakaian tidak lengkap menjerit kecil dan cepat bersembunyi di atas pembaringan, di bawah selimut.

Kakek itu sudah berpakaian lengkap, agaknya tadi terkejut mendengar kentungan tanda bahaya.

Dia adalah Ma-taijin yang tentu saja menjadi marah sekali, terganggu dari istirahatnya yang asyik bersama selirnya.

"Apa ini? Siapa kalian berani kurang ajar? Pengawal! Tangkap mereka...!"

Mataijin berseru marah. Biauw Eng sudah melangkah masuk kamar.

"Apakah engkau Ma-taijin?"

Tanyanya. Pembesar itu mengangkat muka membusungkan dada.

"Sudah tahu aku Ma-taijin, hayo lekas berlutut minta ampun!"

"Manusia rendah!"

Biauw Eng telah menyambar sehelai sabuk merah, agaknya sabuk milik wanita muda selir pembesar itu yang tadi ditanggalkan dan mungkin dalam keadaan tergesa dilempar begitu saja di atas lantai!

Sekali tangan nyonya perkasa ini bergerak, tampak sinar merah berkelebat kemudian bergulung-gulung dan ujung sabuk telah menjerat leher Ma-taijin.

Begitu sabuk ditarik dengan sentakan mendadak, pembesar itu berteriak dan roboh menelungkup di atas lantai.

Karena sabuk yang menjerat lehernya itu ditarik terus oleh Biauw Eng, terpaksa pembesar itu merangkak dan terseret sampai ke depan kaki Biauw Eng.

"Hayo katakan, apa yang telah kau lakukan lima tahun yang lalu terhadap Yap-sinshe dan isterinya!"

Biauw Eng membentak.

Dia sengaja menarik ujung sabuk merah sehingga libatan yang mencekik leher makin ketat, membuat pembesar itu hampir mendelik dan napasnya terengah-engah.

"Yap-sinshe... dia... dia dan isterinya... pemberontak...!"

Katanya dengan kedua tangan sia-sia mencoba melepaskan libatan yang mencekik leher.

Biauw Eng menarik ujung sabuk.

"Uukhhh!"

Pembesar itu terengah, lidahnya terjulur ke luar.

"Tidak mungkin! Kalau engkau tidak berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu, mereka tentu tidak akan memberontak! Mereka tidak berhasil menyembuhkan para pengawalmu, mengapa hal itu kausalahkan? Mereka bukanlah dewa atau iblis yang berkuasa atas kesembuhan atau kematian seseorang!"

"Am... ampun, Li-hiap..."

Pembesar itu terpaksa mengeluh karena libatan pada lehernya makin mencekik erat.

"Orang macam engkau ini sepatutnya dikirim ke neraka! Akan tetapi mengingat bahwa engkau hanya seorang pejabat rendahan saja, biarlah kuberi peringatan!"

Setelah berkata demikian, Biauw Eng mengebutkan ujung sabuk merah itu ke arah telinga Ma-taijin.

"Prettt... aduuuuhhh...!"

Ma-taijin bergulingan mendekap pinggir kepalanya sebelah kanan yang bercucuran darah karena daun telinganya telah hancur dan lenyap terpukul ujung sabuk merah tadi.

Bukan main nyeri rasanya sampai menusuk jantung, pandang matanya berkunang dan ubun-ubun kepala rasanya berdenyut seperti hendak pecah.

Dia merintih-rintih sedangkan selirnya sudah roboh pingsan di bawah selimut.

"Sebagai peringatan, kuambil telingamu. Kalau aku mendengar lagi kau masih berlaku sewenang?wenang mengandalkan kedudukanmu, aku akan datang dan mengambil kepalamu!"

"Tar"

Tar"

Tarrr...!!"

Biauw Eng maklum bahwa ada orang menyerangnya dari belakang dengan senjata lemas.

Dia sendiri seorang ahli cambuk, maka tahulah dia bahwa penyerangnya menggunakan cambuk dan memiliki tenaga kuat, maka cepat dia menggerakkan tangannya dan gulungan sinar merah dari sabuk sutera melayang ke atas kepalanya, meluncur ke belakang dan menyambut datangnya sinar putih yang menyambar ke arah kepalanya dengan bunyi meledak?ledak tadi.

"Tarrr... bretttt!!"

Biauw Eng meloncat ke samping dan memandang dengan kaget.

Sabuk merah di tangannya telah hancur ujungnya bertemu dengan ujung cambuk penyerangnya dan kini dia melihat betapa ujung cambuk putih itu seperti seekor ular hidup melayang ke arah pinggang Ma-taijin dan di lain saat tubuh Ma-taijin telah melayang ke arah penyerangnya tadi dan diterima dengan tangan kiri yang amat besar dan kuat, disusul suaranya yang nyaring akan tetapi terdengar asing dan kaku.

"Ma-taijin harap mundur dan mengobati lukanya, biarlah saya menghadapi dua orang penjahat ini."

Keng Hong dan Biauw Eng memandang orang itu dengan mata terbelalak penuh kaget dan keheranan.

Kiranya telah datang tiga orang di dalam kamar itu.

Dua orang di kanan kiri adalah kakek?kakek berusia enam puluh tahun dan pakaian mereka sederhana, memandang tak acuh.

Akan tetapi orang yang berdiri di tengah dan yang memegang cambuk putih itu yang amat mengherankan kedua suami isteri itu.

Biarpun mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, bahkan Cia Keng Hong terkenal sebagai datuk muda yang belum dapat dicari tandingannya, namun dia sendiri belum pernah bertemu dengan seorang manusia yang seaneh pemegang cambuk itu sehingga dia sendiri pun sampai bengong terlongong!

Orangnya tinggi besar ukuran raksasa.

Keng Hong yang berawak sedang itu hanya setinggi pundaknya.

Tubuh orang itu besar dan perutnya berbentuk seperti gentong.

Punggung tangannya penuh bulu kuning yang panjang-panjang seperti tangan monyet.

Kepalanya botak kelimis di bagian atasnya, akan tetapi di bagian bawah sekeliling kepala tumbuh rambut yang warnanya amat luar biasa, seperti uban putih akan tetapi bercampur kuning emas berombak indah sekali, seolah-olah bukan rambut melainkan benang?benang perak dan emas ditempelkan di sekeliling kepala.

Demikian pula kumis dan jenggotnya, biarpun ada yang agak gelap warnanya, tetap saja bercampur dengan warna kuning emas dan putih, juga alis matanya.

Alisnya tebal, matanya lebar sekali dan mata itu bukan seperti mata biasa, karena maniknya bukan hitam melainkan biru!

Biru laut!

Selama hidupnya, baru satu kali itulah Keng Hong dan Biauw Eng melihat orang dengan mata yang berwarna biru laut!

Hidungnya amat panjang, bukan mancung lagi namanya, bibir yang sebagian tertutup kumis itu terbentuk manis seperti bibir wanita, benar-benar seorang laki-laki yang amat aneh dan sukar ditaksir usianya.

Akan tetapi pakaiannya lebih aneh lagi!

Sepatu kulitnya mengkilap dan tinggi sampai ke bawah lutut.

Celananya sempit dan membungkus ketat tubuh bawahnya sehingga memandangnya saja membuat wajah Biauw Eng menjadi merah.

Betapa tidak sopannya, pikir pendekar wanita itu.

Pakaian bagian atasnya yang aneh.

Di sebelah dalam merupakan baju pendek yang berkancing emas.

Di bagian luar tertutup oleh jubah lebar dan panjang sampai ke lutut, berlengan panjang pula, dengan saku?saku yang besar, akan tetapi lucunya, bagian depan jubah ini terbuka sama sekali dan lehernya diikat dengan sehelai kain seperti kapas.

Keng Hong dan Biauw Eng saling pandang.

Mereka pernah mendengar dongeng bahwa di beberapa tempat sebelah selatan Orang-orang geger mengabarkan adanya seorang manusia asing yang aneh, yang kabarnya datang dari tempat yang amat jauh dari seberang lautan, manusia "biadab"

Yang pakaiannya aneh-aneh, rambutnya ada yang putih, ada yang kuning dan ada pula yang coklat atau biru, matanya juga bermacam-macam warnanya, akan tetapi tadinya mereka menganggap kabar itu kosong dan seperti dongeng tentang iblis dan setan saja untuk menakuti anak-anak atau orang yang penakut.

Akan tetapi kini mereka berhadapan dongan seorang yang bahkan keanehannya jauh melampaui dongeng yang pernah mereka dengar.

Laki-laki asing itu memandang Keng Hong dan Biauw Eng dengan sinar mata penuh selidik kemudian terdengar dia bertanya.

"Siapakah Anda berdua yang berani mati mengganggu seorang pembesar pemerintah?"

Keng Hong mewakili isterinya, melangkah maju dan menjawab.

"Kami tidak mengganggu seorang pembesar, karena urusan kami tidak ada hubungannya dengan pemerintah, melainkan urusan pribadi. Orang she Ma itu telah berlaku sewenang?wenang terhadap saudara kami, karena itu kami perlu memberi hajaran agar dia lain kali tidak lagi berani mengandalkan kedudukannya dan bertindak sewenang?wenang. Kami tidak ada urusan dengan kalian."

Sepasang mata biru itu berkilat dan wajah yang kemerahan itu berseri.

"Hemm, sepasang pendekar, ya? Bagus sekali, ingin kami berkenalan dengan kalian!"

Karena ucapan itu dikeluarkan dengan lidah asing, maka Biauw Eng sudah salah menduga.

Dalam istilah kang-ouw, kalau dua orang berkepandaian tinggi berhadapan, maka Kata-kata "berkenalan"

Dapat juga diartikan tantangan mengadu kepandaian, karena yang akan dikenal bukan orangnya melainkan ilmunya.

Maka dia sudah membentak.

"Iblis bermata biru! Siapa takut menghadapi tantanganmu?"

Akan tetapi Keng Hong yang sudah melihat pembesar she Ma yang menjadi biangkeladi malapetaka yang menimpa keluarga Yap Cong San telah dihukum oleh isterinya, tidak menghendaki urusan berlarut-larut dan timbul permusuhan antara mereka berdua dengan pemerintah, telah menggandeng tangan isterinya dan berkata "Mari kita pergi dari sini!"

Biauw Eng sadar kembali ketika merasa tangan suaminya menggandengnya.

Dia menekan kemarahannya dan tidak membantah.

Sambil bergandeng tangan suami isteri ini melangkah ke luar dari dalam kamar itu, tidak mempedulikan tiga orang itu dan para pengawal yang berkerumun di luar kamar.

"Eh"

Eh, sahabat gagah... tunggu dulu!"

Suara asing itu berseru dan tangannya diulurkan ke depan seperti hendak mencegah suami isteri itu pergi.

Biarpun gerakan ini biasa saja, namun diam-diam Biauw Eng dan Keng Hong terkejut juga karena ada sambaran angin yang dahsyat dari tangan itu!

Namun angin pukulan ini bukan merupakan serangan, melainkan lebih merupakan "ujian"

Karena tangan itu tidak menampar atau memukul, melainkan mencengkeram untuk memegang lengan Keng Hong.

Karena itu, pendekar sakti ini pun tidak mau balas menyerang hanya menggoyang tangannya seperti menolak dan berkata.

"Kami tidak ada waktu untuk melayani Tuan!"

"Plak! Plakk!"

Biarpun kedua tangan itu tidak saling sentuh, namun pertemuan dua hawa pukulan di antara kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunyi nyaring dan orang asing botak itu terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya terpental dan terasa panas.

Ia berdiri bengong memandang suami isteri yang terus melangkah ke luar itu, terheran?heran dan akhirnya membentak teman-temannya yang sudah bergerak mengejar.

"Biarkan mereka pergi, jangan ganggu!"

Dua orang temannya menghentikan gerakan kaki mereka, kembali kepada orang asing botak dengan mata memandang penuh pertanyaan.

Si Botak ini menghela napas panjang, menggelenggeleng kepalanya dan mengomel.

"Hebat...! Semuda itu sudah demikian hebat tenaganya...! Aihhh, ternyata benar cerita guruku bahwa bagian dunia ini penuh dengan Orang-orang yang berkepandaian tinggi."

Kemudian dia menoleh kepada dua orang temannya tadi dan berkata.

"Amat keliru kalau kita mulai pekerjaan kita dengan menanam permusuhan dengan Orang-orang pandai seperti mereka. Tugas kita bahkan harus mendekati Orang-orang pandai, bukan memusuhi mereka."

"Akan tetapi, mereka telah melukai Taijin?"

Bantah seorang temannya.

"Hanya luka ringan. Ma-taijin tentu dapat menyudahi perkara ini, demi tugas yang lebih penting. Pula, kehilangan sebuah daun telinga untuk menebus kesalahan lalu, masih murah!"

Dua orang temannya mengangguk dan mereka bertiga segera menuju ke kamar Ma-taijin untuk bantu mengobati luka yang diderita pembesar itu.

Keng Hong dan isterinya terus meninggalkan Leng-kok pada malam hari itu juga, menuju pulang ke Cin-ling-san.

Di sepanjang perjalanan suami isteri ini dengan penuh keheranan membicarakan tentang orang asing yang lihai itu.

"Sungguh membuat orang penasaran sekali!"

Kata Keng Hong.

"Jelas dia adalah seorang asing biadab seperti yang kita dengar dari berita angin tentang munculnya Orang-orang seperti itu di sepanjang pantai selatan dan timur. Akan tetapi mengapa dia menguasai ilmu kita? Sambaran tangannya tadi selain mengandung sin-kang yang cukup kuat, juga merupakan gerakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Garuda) yang cepat dan baik sekali!"

"Hanya tokoh-tokoh golongan sesat saja yang sudi mengajarkan ilmu bangsa kita kepada orang asing!"

Kata Biauw Eng.

"Belum tentu!"

Kata pula suaminya.

"Kau lihat tadi selain gerakannya lihai, ilmu cambuknya juga hebat, sikapnya amat baik, tidak kejam dan tidak pula kasar. Kalau dia termasuk anggauta kaum sesat, tentu dia tidak akan demikian mudah saja membiarkan kita pergi. Agaknya sudah banyak terjadi perubahan di dunia kang-ouw. Sudah terlalu lama kita mengubur diri di dalam kesunyian di puncak Cin-ling-san. Sebaiknya kita menggunakan kesempatan ini, dalam perjalanan pulang singgah di tempat tokoh-tokoh kang-ouw yang kita kenal, selain mendenngar tentang keadaan kang-ouw, juga mencari keterangan tentang di mana adanya Yap Cong San, isterinya, dan puteranya."

"Memang sebaiknya begitu. Sekarang ini kesempatan terakhir bagiku karena beberapa bulan lagi, dengan seorang bayi mana aku mampu berpergian lagi sebelum dia berusia dua tiga tahun?"

Demikianlah, kedua suami isteri itu melakukan perjalanan ke Cin-ling-pai dengan beberapa kali berhenti dan singgah di rumah tokoh-tokoh kang-ouw yang mereka kenal.

Akan tetapi mereka kecewa sekali karena tidak ada seorang pun di antara para kenalan itu yang tahu di mana adanya Yap Cong San dan isterinya!

Betapapun juga, mereka berdua sudah mendengar jelas akan perubahan di dunia kang-ouw pada waktu itu.

Mereka mendengar bahwa kini muncul lima orang datuk kejam sesat yang sepak terjangnya mengerikan, tidak saja menjagoi dunia kaum sesat, bahkan seringkali mengacau dunia kang-ouw dan merobohkan banyak orang gagah.

Mereka itu adalah Ban-tok Coa-ong Ouw-yang Kok, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, Hek-bin Thian-sin (Malaikat Muka Hitam) Louw Ek Bu, dan seorang lagi yang hanya dikenal namanya akan tetapi belum pernah ada yang bertemu dengannya yang terkenal julukannya saja, yaitu Toat-beng Hoat-su (Kakek Ajaib Pencabut Nyawa)!

Mendengar penuturan para tokoh kang-ouw yang menceritakan kepada mereka akan kelihaian lima orang datuk kaum sesat ini, timbul keinginan di hati Keng Hong dan terutama Biauw Eng untuk bertemu dengan mereka dan mencoba kesaktian mereka.

Keinginan seperti ini memang wajar dimiliki oleh ahli?ahli seperti mereka, bukan keinginan menundukkan dan menjagoi, melainkan keinginan untuk mengukur kepandaian masing-masing.

Namun Keng Hong mencegah isterinya dengan menyabarkan diri dan berkata bahwa tidak semestinya mereka yang telah memimpin sebuah partai seperti Cin-ling-pai merendahkan diri berkenalan dengan tokoh-tokoh yang dianggap jahat seperti iblis itu.

"Pula, dalam keadaan dirimu sedang mengandung, amat berbahaya untuk bertanding menghadapi lawan yang sakti, selain itu tidak baik kalau kita terlalu lama meninggalkan Giok Keng seorang diri saja di Cin-ling-san. Sebaiknya kita lekas pulang dan mengingat akan munculnya banyak orang pandai di kalangan kaum sesat, kita harus lebih tekun menggembleng Giok Keng dan meningkatkan kepandaian para anggauta Cin-ling-pai."

Mendengar ucapan suaminya yang tak dapat dibantah kebenarannya, Biauw Eng tidak membantah, maka pulanglah suami isteri pendekar ini ke Cin-ling-san dengan hati kecewa karena mereka tidak berhasil bertemu dengan Yap Cong San dan Gui Yan Cu seperti yang mereka harap-harapkan.

Tentu saja mereka berdua sama sekali tidak pernah mimpi bahwa putera tunggal sahabat-sahabat mereka itu, Yap Kun Liong, baru beberapa pekan saja datang mengunjungi Cin-ling-san, bahkan telah bentrok dan bertanding dengan puteri mereka.

Ketika mereka tiba di Cin-ling-san, Giok Keng yang merasa takut kalau-kalau ayahnya mendengar akan penyambutannya terhadap Yap Kun Liong, tentu saja menutup mulutnya dan sama sekali tidak menceritakan tentang kedatangan pemuda gundul itu kepada ayah bundanya.

Ketika Cia Keng Hong mendengar penuturan ayah bundanya akan nasib yang menimpa diri keluarga Yap, diam-diam Giok Keng merasa kasihan sekali kepada Kun Liong.

Kemudian dia mendengar tentang lima orang datuk kaum sesat yang selain amat lihai juga kabarnya jahat seperti iblis, maka dia merasa ngeri dan dengan tekun dia memperdalam ilmu-ilmunya di bawah bimbingan ayahnya sendiri.

Selama hampir tiga tahun dara yang telah berangkat dewasa ini berlatih dengan rajin sehingga dia hampir dapat mewarisi seluruh ilmu kepandaian ibunya dan hanya beberapa macam ilmu yang terlalu tinggi dan sulit saja yang belum dapat dia warisi dari ayahnya.

Namun harus diakui bahwa untuk mencari tanding bagi Giok Keng di waktu itu, benar-benar bukan merupakan pekerjaan yang mudah!

Cia Giok Keng telah menjadi seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang amat cantik jelita dan gagah perkasa.

Adiknya lahir tak lama setelah ibunya pulang ke Cin-ling-san sehingga pada waktu itu Cia Bun Houw telah menjadi seorang anak laki-laki berusia hampir tiga tahun, bertubuh sehat berwajah tampan dan berwatak gembira seperti encinya (kakaknya) ketika masih kecil.

Dengan labirnya adik laki-laki ini, berkuranglah sifat kemanjaan Giok Keng, apalagi karena dia kini sudah dewasa, dan yang tinggal kepada dara ini hanya kekerasan hatinya yang diwarisi dari ibunya.

Ayahnya seringkali memandang kagum karena melihat puterinya ini seolah-olah melihat isterinya ketika masih gadis!

Begitu presis wataknya!

Maka diam-diam Keng Hong suka merasa khawatir sendiri.

Biarpun watak isterinya tidak jahat, namun andaikata isterinya itu tidak saling mencinta dengan dia dan kemudian menjadi isterinya yang cinta dan setia, andaikata isterinya itu tetap berkecimpung di dalam dunia kaum sesat, agaknya isterinya akan memiliki kekerasan yang mengerikan, dapat terjerumus ke dalam watak yang kejam!

Yang lebih menggelisahkan hati Cia Keng Hong, dan menambah kerut di wajahnya adalah sikap Giok Keng yang sama sekali tidak mengacuhkan tentang perjodohan!

Padahal usianya sudah tujuh belas tahun!

Sedikit pun dara itu tidak mau mendengar kalau orang tuanya bicara tentang perjodohan, dan berkelebat pergi dengan marah kalau mendengar usul dan bujukan orang tuanya agar dia segera menentukan pilihan untuk menjadi jodohnya.

"Aku tidak ingin kawin. Harap Ayah dan Ibu jangan bicara tentang itu-itu saja. Muak aku mendengar tentang kawin!"

Pernah dia berkata demikian kepada ayah bundanya yang hanya dapat saling pandang dengan melongo.

"Nah, lihat. Betapa dia manja dan membawa kehendak sendiri!"

Keng Hong mengomel.

"Sabarlah, suamiku. Kalau memang dia belum ingin, apakah kita harus memaksanya?"

Cia Keng Hong hanya dapat menarik napas panjang dan diam-diam dia makin merasa rindu kepada Cong San dan Yan Cu, Ingin sekali dia dapat bertemu dengan mereka yang hilang tak tentu rimbanya itu untuk membicarakan tentang jodoh anak mereka.

Pada suatu hari lewat tengah hari keadaan di Cin-ling-san sunyi dan nyaman.

Matahari yang bersinar terang tidak terhalang awan tebal seperti biasanya mendatangkan hawa yang hangat mengusir dingin yang biasanya membuat orang kedinginan.

Kenyamanan hawa di siang hari itu dimanfaatkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya.

Pada waktu itu, Cia Keng Hong telah berusia empat puluh tahun sedangkan isterinya sudah tiga puluh tujuh tahun.

Mereka berdua yang telah mendengar akan banyaknya tokoh kaum sesat yang lihai, biarpun makin tua mereka tidak pernah lalai untuk berlatih ilmu silat dan menjaga daya tahan tubuh dan kekuatan sin-kang dengan bersamadhi setiap hari.

Pada siang hari itu pun mereka memanfaatkan hawa yang hangat nyaman dengan duduk bersamadhi berdua di dalam kamar mereka.

Putera mereka, Bun Houw, sedang tidur di dalam kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar mereka, sedangkan Giok Keng, seperti biasa di saat seperti itu, sedang berlatih seorang diri di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang berada di samping rumah.

Pada waktu itu, para penduduk dusun di lereng Puncak Cin-ling-san yang juga dikenal sebagai anggauta-anggauta Cin-ling-pai, telah mendapat latihan keras sehingga tingkat kepandaian mereka memperoleh kemajuan pesat selama tiga tahun ini.

Pada siang hari itu, sebagian dari mereka bekerja di sawah ladang, dan sebagian pula ada yang berlatih di bawah pohon-pohon rindang.

Seperti yang diajarkan oleh pimpinan mereka, para anggauta ini berlatih berpasangan, baik laki-lakinya, wanitanya, maupun anak-anaknya.

Gerakan mereka cepat-cepat dan terutama kaum dewasanya, mereka memiliki sin-kang yang kuat yang merupakan ilmu khas dari para anggauta Cin-ling-pai.

Untuk para anggauta ini, Cia Keng Hong menurunkan ilmu silatnya yang ampuh dan lihai sekali, yaitu San-in kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) dan menggembleng mereka dengan cara-cara bersamadhi untuk menghimpun sin-kang yang kuat.

Isterinya, Sie Biauw Eng, menurunkan ilmu meringankan tubuh yang disebut Hui-niau coan-in (Burung Terbang Menerjang Awan) sehingga rata-rata para anggauta Cin-ling-pai memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan.

Gabungan ilmu dari suami isteri pendekar ini yang masing-masing merupakan ilmu-ilmu pilihan yang tinggi nilainya, dikombinasikan dan menjadi landasan ilmu silat para anggauta Cin-ling-pai.

Tentu saja di samping ilmu ini, Keng Hong masih mengajarkan ilmu silat yang lebih tinggi, Akan tetapi hanya kepada beberapa orang yang dianggapnya telah cukup matang ilmunya dan mereka ini berjumlah sebelas orang merupakan anggauta-anggauta pimpinan atau murid-murid tertua.

Betapapun juga, tidak ada seorang di antara mereka yang diwarisi dua macam ilmu yang jarang tandingannya di dunia persilatan, yaitu Thai-kek-Sin-kun dan Thi-khi-i-beng.

Yang pertama adalah karena ilmu itu merupakan ilmu rahasia dari Kun-lun-pai dan karena dia bukan murid Kun-lun-pai, tentu saja dia tidak berani mengajarkan ilmu rahasia itu kepada orang lain.

Yang ke dua, Thi-khi-i-beng, adalah ilmu mujijat yang pernah diperebutkan para jagoan di dunia kang-ouw (baca ceritaPedang Kayu Harum) dan di dunia ini hanya dia seorang yang memilikinya.

Ilmu ini amat ganas, merupakan sin-kang yang dapat menyedot habis tenaga sakti lawan, membuat lawan kehabisan tenaga, lumpuh bahkan bisa tewas.

Kalau belum memiliki dasar yang amat kuat, berbahayalah memiliki ilmu ini.

Karena itu, Keng Hong tidak berani menurunkan kepada orang lain bahkan belum berani mengajarkan kepada puterinya sendiri karena dia menganggap puterinya belum kuat menerima ilmu mujijat itu.

Pada siang hari itu, serombongan pemuda Cin-ling-san sedang berlatih silat berpasangan, dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang menjadi murid-murid kepala dari Cin-ling-pai.

Mereka berdua ini adalah Kwee Kin Ta, berusia tiga puluh lima tahun, dan Kwee Kin Ci, adiknya berusia tiga puluh tahun.

Keduanya adalah dua orang pemuda ketika Cin-ling-pai mula-mula berdiri, dan telah belajar ilmu silat cukup lama di bawah pimpinan Cia Keng Hong, maka boleh dibilang mereka adalah dua orang yang paling tinggi tingkat kepandaiannya di antara para anggauta Cin-ling-pai.

Kedua orang ini tidak pernah menikah dan hidup membujang di cin-ling-san, merupakan wakil-wakil dari Ketua Cin-ling-pai, bersama sembilan orang adik-adik seperguruannya, murid-murid kepala yang kesemuanya berjumlah sebelas orang itu.

Dengan penuh ketekunan kedua orang ini mewakili ketua mereka mengawasi para pemuda sebanyak lima belas orang yang sedang berlatih di siang hari itu.

Tiba-tiba kedua orang saudara Kwee ini terkejut ketika mendengar suara orang tertawa, juga para pemuda yang sedang berlatih berhenti bersilat dan menoleh ke arah dua orang kakek berjenggot panjang yang tertawa-tawa dan tahu-tahu telah berada di dekat mereka.

Yang mengejutkan kedua orang saudara Kwee itu adalah karena hadirnya dua orang kakek ini sama sekali tidak mereka ketahui dan hal ini saja sudah membuktikan bahwa dua orang tua itu bukan orang sembarangan!

"Ha-ha-ha, nama Cin-ling-pai dan ketuanya memang setinggi awan, akan tetapi mengapa para anggautanya hanya begini saja?"

Seorang di antara mereka, kakek yang mukanya merah berkata sambil menyeringai lebar.

"Ahh, Ang-kui (Setan Merah), tentu saja karena mereka ini tentu hanya Orang-orang rendahan dari Cin-ling-pai. Betapapun jugat kurasa orang Cin-ling-pai bukan dewa-dewa yang berkepala tiga berlengan enam dan pandai terbang, ha-ha!!"

Para anggauta Cin-ling-pai itu adalah pemuda-pemuda yang biarpun sudah banyak digembleng selain ilmu silat juga kesabaran, tetap saja naik darah mendengar ucapan-ucapan yang nadanya mengejek itu.

Dua orang di antara mereka tak dapat menahan kemarahan lagi, meloncat ke depan dua orang kakek itu sambil berteriak hampir berbareng.

"Orang tua sombong, berani engkau menghina Cin-ling-pai?"

"Kalau kau menantang, terimalah seranganku!"

Dua orang muda itu segera menerjang dengan pukulan keras ke arah kedua orang kakek itu dan dua orang bersaudara she Kwee tidak sempat lagi mencegah mereka.

Akan tetapi kakek-kakek asing yang diserang hanya tersenyum, sama sekali tidak gugup melainkan mengangkat kedua tangan mereka dengan gerakan lambat, satu tangan menangkis dan tangan ke dua menampar dari samping.

Biarpun gerakan mereka kelihatan lambat, namun aneh sekali, dua orang pemuda itu tidak mampu menghindar lagi.

Mereka mengaduh dan terpelanting tak dapat bangun kembali.

Melihat dua orang teman mereka roboh dengan muka di bagian pipi terdapat tanda telapak tangan hitam dan mereka itu pingsan, para pemuda menjadi marah sekali dan serta?merta dua orang kakek itu mereka terjang dan keroyok!

Sambil tertawa-tawa, kedua orang kakek itu bergerak dan terjadilah pertempuran yang seru, akan tetapi baru beberapa jurus saja, kembali empat orang pemuda terpelanting dengan tanda telapak tangan hitam di tubuh mereka dan mereka itu pingsan.

"Mundur kalian!"

Kwee Kin Ta dan Kwee Kin Ci berteriek nyaring, kemudian mereka berdua meloncat ke depan, tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang dengan pukulan?pukulan berat.

Kwee Kin Ta menyerang kakek muka merah dengan kedua lengan dilonjorkan ke depan, yaitu jurus dari Ilmu Silat San-in kun-hoat yang disebut Siang-in twi-san (Sepasang Awan Mendorong Gunung), jurus yang ke tiga.

Dua orang kakek itu ketika tertawa-tawa tadi bukan semata-mata sengaja hendak mengejek melainkan karena mereka memang kecewa dan terheran melihat pemuda-pemuda itu berlatih dengan gerakan yang mereka anggap terlampau rendah.

Akan tetapi, ketika kakek muka merah itu menghadapi serangan yang dilakukan oleh Kwee Kin Ta, dia terkejut bukan main.

Dari kedua tangan yang didorongkan itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat sekali!

Memang, Ilmu Silat San-in kun-hoat yang diajarkan oleh Cia Keng Hong kepada para anggauta Cin-ling-pai, dan yang telah dikuasai dengan baik oleh dua orang saudara Kwee, adalah ilmu tingkat tinggi yang hebat.

Ilmu silat ini hanya terdiri dari delapan jurus, namun jurus-jurus itu dahsyat sekali dan dapat dikembangkan dengan hebat sesuai dengan bakat masing-masing.

Kini, menghadapi jurus Siang-in-twi-san, kakek muka merah cepat-cepat membuang diri ke samping dan balas menyerang dari samping.

Namun, jurus Siang-in-twi-san telah dilanjutkan sebagai jurus bertahan, tangan yang tadinya mendorong itu membalik ke bawah, lengannya dipergunakan untuk menangkis pukulan tangan kakek yang selalu meninggalkan tanda telapak tangan hitam itu.

"Plakkk!"

Kakek Muka Merah kembali berseru kaget.

Tangkisan itu membuat dia terhuyung mundur, biarpun lawannya juga terpental ke belakang dengan kaget.

Mereka segera bertanding kembali dan kali ini mereka bergerak lebih Hati-hati, maklum bahwa lawan amat tangguh.

Demikian pula dengan Kin Ci yang bertanding melawan kakek muka putih, pertandingan di antara mereka juga seru dan ramai sekali.

Para anggauta Cin-ling-pai yang muda telah maklum bahwa dua orang kakek yang telah melukai enam orang teman mereka itu tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak sembrono membantu suheng-suheng mereka, melainkan menolong enam orang teman yang masih pingsan, ada pula yang segera memanggil suheng-suheng dan suci-suci mereka yang lebih pandai dan ada pula yang lari melapor kepada nona Cia Giok Keng.

"Siocia... Siocia (Nona)... lekas! Ada dua orang kakek jahat mengacau, melukai enam orang anggauta kita...!"

Cia Giok Keng yang berlatih seorang diri, kaget mendengar laporan ini.

Dia cepat meloncat dan lari ke luar setelah menyarungkan pedangnya yang tadi dipakai untuk berlatih.

Ketika tiba di tempat pertandingan, Giok Keng melihat betapa dua orang saudara Kwee yang sudah dibantu oleh tiga orang sute-sutenya, masih juga belum dapat mendesak dua orang kakek itu, apalagi merobohkan.

Merah wajah Giok Keng.

Sungguh memalukan sekali.

Murid-murid kepala Cin-ling-pai sampai harus mengeroyok dua orang kakek itu!

Dan ada enam orang murid yang terluka.

Dengan sudut matanya dia melihat betapa anggauta Cin-ling-pai yang terluka itu masih pingsan dan ada tanda telapak tangan hitam di tubuh mereka, di pipi, di leher, bahkan pukulan yang mengenai pundak atau dada membuat baju hangus terbakar dan kulitnya juga ternoda hitam berbentuk telapak tangan.

Diam-diam dia terkejut dan marah.

Tak salah lagi, tentulah itu pukulan beracun, kalau bukan Hek-tok-ciang (Tangan Beracun Hitam) tentu semacam itu.

"Paman Kwee berdua mundurlah!"

Teriakan Giok Keng ini membuat hati Kwe Kin Ta dan empat orang sutenya dan mereka segera meloncat ke belakang.

Dua orang kakek itu membalik dan memandang Giok Keng penuh perhatian.

Mereka itu lalu menjura dan kakek yang bermuka putih bertanya.

"Apakah Nona ini Cia-siocia (Nona Cia) yang terhormat? Kami berdua adalah Siang-lo-kui (Dua Setan Tua) dari..."

"Tidak peduli kalian ini sepasang setan, sepasang iblis atau siluman dari neraka, kalian sudah bosan hidup. Mampuslah!"

Tiba-tiba Giok Keng menggerakkan kedua tangannya dan segulung sinar merah muda menyambar ke depan, ke arah kedua orang kakek itu.

Dua orang kakek yang mengaku berjuluk Sepasang Setan Tua itu terkejut sekali.

Sinar merah muda itu adalah ujung sabuk sutera merah muda yang menyambar cepat bukan main, kedua ujung sabuk itu telah menyambar seperti ular-ular hidup mengarah jalan darah kematian di leher kedua orang kakek itu.

Dari angin sambaran ujung sabuk itu mengertilah mereka bahwa kalau totokan ujung sabuk itu mengenai sasaran, mereka benar-benar terancam bahaya maut!

Cepat keduanya meloncat dan mengelak, akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kedua siner merah muda itu seolah-olah hidup dan mengejar mereka, tetap menghujankan totokan-totokan maut bertubi-tubi!

Dengan kaget sekali terpaksa mereka membuang diri ke belakang dan bergulingan di atas tanah membuat totokan-totokan itu sukar untuk mengenai sasaran.

Melihat ini, dalam kegemasannya, Giok Keng merobah serangan, kini menggunakan kedua ujung sabuknya bukan untuk menotok jalan darah yang tidak mungkin berhasil lagi karena kedua orang kakek itu terus menggerakkan tubuh, melainkan untuk melecut!

Sabuk sutera merah muda itu dipegang di bagian tengah dan gerakan kedua tangannya membuat kedua ujung sabuk itu melecut-lecut dan mengeluarkan suara ledakan-ledakan keras.

"Tar! Tar! Tat! tar...!!"

Kedua orang kakek itu berusaha mengelak, namun tetap saja tubuh mereka terkena hujan cambukan, membuat pakaian mereka robek?robek dan kulit tubuh mereka luka-luka.

Walaupun hanya luka di bagian luar yang ringan, namun mengeluarkan darah dan rasanya cukup nyeri dan pedih!

"Tar"

Tar... wuuuuttt! Aihhh!"

Giok Keng berteriak kaget dan marah ketika tiba-tiba ujung sabuk suteranya terhenti di udara.

Ketika dia membalik, tahu-tahu kedua ujung sabuk itu telah dipegang oleh seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali!

Dia terkejut.

Sabuk sutera di tangannya adalah senjata yang hebat, dengan ilmu yang ia pelajari dari ibunya.

Ibunya terkenal sekali dengan Ilmu Pek-in sin-pian (Cambuk Lemas Awan Putih) yang dimainkan dengan sabuk sutera putih.

Dia tidak menyukai warna putih seperti ibunya, melainkan lebih suka menggunakan sabuk warna merah muda.

Biarpun ilmu cambuknya belum semahir dan sehebat ibunya, namun menurut ibunya, sudah cukup untuk menghadapi senjata lawan yang bersifat keras.

Kini tahu-tahu kedua ujung sabuknya dapat dipegang oleh seorang lawan, hal ini membuktikan bahwa lawan ini tentu amat lihai!

Pemuda itu sudah berkata kepada kedua orang kakek dengan nada suara memerintan.

"Kalian mundurlah! Sungguh tak tahu diri berani melawan Cia-siocia!"

Setelah kedua orang kakek itu mundur, pemuda itu menjura kepada Giok Keng dengan sikap menghormat sekali sambil berkata dengan wajah berseri, bibir tersenyum dan suara halus.

"Saya mohon dengan hormat sudilah Cia-siocia memaafkan kedua orang paman ini. Sesungguhnya kedatangan kami bukan dengan niat buruk. Saya Liong Bu Kong dan bersama kedua Paman Siang-lo-kui datang hendak menghadap Ketua Cin-ling-pai, Yang Mulia Cia Keng Hong Locianpwe..."

"Cukup!"

Giok Keng memotong ucapan pemuda itu dengan bentakan nyaring.

"Tidak membawa niat buruk akan tetapi melukai enam orang anggauta Cin-ling-pai. Ditebus nyawa pun masih belum impas!"

Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri dara itu menggulung sabuknya dan menyimpannya, tangan kanannya bergerak mencabut pedang.

"Singggg!"

Sinar putih menyilaukan mata berkelebat ketika pedang yang terbuat dari perak murni itu tercabut.

Itulah pedang Gin?hwa?kiam (Pedang Bunga Perak), terbuat dari perak yang diukir bunga-bunga, pedang pemberian ibunya.

Biarpun dia tidak suka akan warna puth seperti ibunya, namun pedang itu amat indah buatannya, pula merupakan sebuah pusaka yang ampuh, maka Giok Keng sayang sekali kepada pedangnya ini.

"Eiiitt, Nona, tunggu... saya bukan hendak bermusuh..."

"Wuuuuttt... singggg!!"

Sinar putih itu menyambar laksana kilat dan andaikata tidak dielakkan cepat-cepat oleh pemuda yang mengaku bernama Liong Bu Kong itu, tentulah leher itu akan terbabat putus dan kepala dengan wajah ganteng itu akan berpisah dari tubuhnya!

Liong Bu Kong terpaksa harus berloncatan ke kanan dan kiri, ke atas dan dua kali terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, terus dikejar sinar putih menyilaukan mata itu.

"Nanti dulu, Nona... brettt!"

Ujung lengan baju yang dipakai pemuda itu terbabat buntung. Nyaris tangannya yang buntung! "Srattt!"

Pemuda itu mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan dan terpaksa menggunakan pedangnya menangkis.

"Tringgg... cranggg... tranggg!"

Bunga api berpijar-pijar ketika berkali-kali dua batang pedang itu bertemu di udara.

Giok Keng merasa betapa telapak tangannya panas dan pedangnya tergetar, tanda bahwa selain lawan memiliki sin-kang yang kuat, juga pedangnya yang bersinar biru itu adalah sebatang pedang yang baik dan hebat pula.

"Nona... sabarlah, saya tidak ingin bertanding..."

"Singgg... trangggg!"

Kembali pemuda itu menangkis dan tangan Giok Keng gemetar dan terasa panas telapak tangannya.

"Tak usah banyak cakap!"

Bentak Giok Keng yang kembali telah menerjang dengan ganas.

Maklum bahwa lawannya lihai dan memiliki pedang pusaka pula, Giok Keng menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus-jurus pilihan.

Namun dia terkejut dan diam-diam kagum sekali karena pemuda itu selain memiliki tenaga sin-kang amat kuat, juga memiliki kecepatan gerak mengagumkan sehingga setiap serangannya dapat dihindarkan dengan tangkisan atau elakan.

Para anggauta Cin-ling-pai dan dua orang kakek tadi menonton dengan mata terbelalak penuh kagum menyaksikan betapa dua gulung sinar pedang putih dan biru saling belit, saling desak dan saling dorong.

Demikian terang sinar kedua pedang itu sehingga menyelimuti bayangan kedua orang yang memainkannya.

"Tahan senjata!"

Bentakan ini menggetarkan jantung kedua orang muda yang sedang bertanding, membuat tangan mereka menggigil beberapa detik dan gerakan mereka tertahan.

Detik-detik ini cukup bagi Keng Hong untuk menangkap kedua tangan yang memegang pedang dan mendorong Giok Keng dan pemuda itu sampai terhuyung ke belakang.

Selagi pemuda itu terhuyung, Keng Hong sudah menggerakkan tangannya, jari-jari tangannya menangkap ujung pedang bersinar kebiruan tenaga sin-kang mujijat dia keluarkan, jari-jari tangan membuat gerakan menekuk.

"Krakkk!"

Ujung pedang pusaka yang mengeluarkan sinar kebiruan itu patah!

Pemuda itu terbelalak dengan muka pucat sekali.

Matanya memandang pedang di tangannya yang telah menjadi pedang buntung.

Hampir dia tidak dapat percaya.

Begitu mudahnya Ketua Cin-ling-pai itu mematahkan pedang pusakanya, seolah-olah pedang itu sama dengan sebatang lidi kering saja!

Padahal pedangnya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh!

Diam-diam dia bergidik ngeri membayangkan betapa kuatnya jari-jari tangan orang setengah tua yang berdiri tenang di depannya itu, lebih ngeri lagi ketika mendengar suara Cia Keng Hong yang halus dan penuh kesabaran dan ketenangan, namun juga penuh wibawa.

"Orang muda, siapapun adanya engkau, seorang tamu yang datang dengan pedang terhunus tentu bukan seorang yang beriktikad baik!"

"Engkau masih beruntung bukan aku yang turun tangan, kalau demikian halnya jangan harap engkau masih dapat bernapas!"

Ucapan ini keluar dari mulut seorang wanita yang usianya sudah setengah tua akan tetapi masih tampak cantik jelita dan gagah perkasa.

Mudah saja bagi Liong Bu Kong untuk menduga bahwa tentu nyonya itulah isteri Ketua Cin-ling-pai yang bemama Sie Biauw Eng, yang dahulu berjuluk Song-bun Siu?li!

Dengan jantung berdebar dan keringat dingin membasahi lehernya, pemuda itu cepat menyarungkan pedang buntungnya dan menjura penuh hormat kepada Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng sambil berkata.

"Mohon Ji-wi locianpwe (Kedua Orang Tua Sakti) sudi mengampunkan saya yang lancang berani mendatangi Cin-ling-san. Saya bernama Liong Bu Kong dan sengaja dari tempat jauh sekali datang ke sini bersama kedua orang Paman Ang-kui Tung Sek dan Pek-kui Gak Song."

Cia Keng Hong melirik ke arah dua orang kakek itu yang juga sudah menjura dengan hormat.

Melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang usianya sudah enam puluh lebih, dia pun membalas penghormatan mereka dengan sikap dingin.

Dua orang itu berjuluk Ang-kui (Setan Merah) dan Pek-kui (Setan Putih), tentu termasuk golongan hitam atau kaum sesat, maka dia cepat bertanya.

"Setelah tahu bahwa engkau lancang, mengapa masih berani? Ada keperluan apakah?"

Pemuda itu dengan sikap hormat dan kedua tangan di depan dada melirik ke arah Giok Keng.

Dara itu juga sedang memandang kepadanya.

Dua pasang mata bertemu pandang dan jantung Giok Keng berdebar, mukanya berubah merah.

Pemuda itu benar-benar tampan dan gagah, juga sikapnya begitu halus dan penuh hormat!

"Harap Locianpwe sudi memaafkan, sebetulnya kedatangan kami...

yaitu kedua paman ini...

dengan maksud...

eh, Paman Gak, harap Totiang menjelaskan kepada Cia-locianpwe."

Agaknya sukar sekali bagi pemuda itu untuk melanjutkan kata-katanya, beberapa kali dia harus menelan ludah dan lehernya serasa tercekik.

Kini kedua orang kakek itu yang melangkah maju menghadap Keng Hong sambil menjura, kemudian Pek-kui Cak Song berkata.

"Tidak perlu kiranya kami membohong kepada Pai-cu (Ketua). Sesungguhnya telah lama sekali Liong-kong-cu (Tuan Muda Liong) mendengar akan nama besar Pai-cu dan akan kehebatan puteri Pai-cu, yaitu Nona Cia Giok Keng. Harap Pai-cu ketahui bahwa Liong-kongcu adalah putera tunggal dari pangcu kami di Kwi-ouw (Telaga Setan)."

"Hemmm... bukankah di Kwi-Ouw adalah serang Kwi-eng-pang dan ketuanya adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, datuk kaum sesat?"

Biauw Eng memotong. Dua orang kakek itu tersenyum.

"TIdak salah dugaan itu, pangcu kami adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio."

Tentu saja mereka merasa bangga menyebut nama yang sudah tersohor itu.

"Dan kami berdua adalah pembantu-pembantu utamanya, juga termasuk murid-murid pangcu kami yang setia."

"Coba kalian lanjutkan, apa keperluan kalian dan Liong Bu Kong ini datang ke sini?"

Keng Hong mendesak, hatinya tidak enak.

Melihat sikap tuan dan nyonya rumah, Pek-kui Gak Song juga kelihatan gugup dan jerih.

"Sesungguhnya kami ditugaskan Pangcu kami untuk mengiringkan kongcu kami untuk... untuk dapat bertemu muka dengan Cia-siocia... dan hal ini sudah terlaksana... tentu tidak lama lagi pangcu kami akan segera resmi mengajukan pinangan, melamar Nona Cia Giok Keng untuk menjadi jodoh kongcu kami..."

"Keparat!"

Tiba-tiba Biauw Eng membentak marah.

"Hendak melamar setelah mengacau di Cin-ling-san dan melukai enam orang anggauta Cin-ling-pai dengan pukulan Hek-tok-ciang?"

Dua orang kakek itu menjadi pucat wajahnya. (Lanjut ke

Jilid 13) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Ini... ini... hanya kesalahpahaman... hanya keinginan menguji kepandaian... bukan berniat buruk... kami mohon maaf dan biarlah kami mengobati mereka yang terluka..."

"Siapa butuh bantuan kalian? Tidak perlu memberi obat, pukulan Hek-tok-ciang macam itu saja apa sih artinya? Biarlah aku menukarnya dengan pukulanku. Terimalah!"

Biauw Eng memberi kesempatan kepada dua orang kakek itu untuk "menjaga diri"

Lebih dulu sebelum dia bergerak.

Biarpun dua orang kakek itu jauh lebih tua daripadanya, namun dia adalah isteri Ketua Cin-ling-pai sedangkan dua orang kakek itu hanya utussan dan murid Ketua Kwi-eng-pai, maka kedudukannya jauh lebih tinggi.

Karena ini, dia tidak mau menggunakan kecepatannya menyerang dua orang yang belum siap.

Setelah dua orang kakek itu yang maklum akan dipukul berjaga-jaga, barulah ia menggerakkan tubuhnya sambil berseru.

"Robohlah!"

Dua orang kakek yang di dunia kang-ouw sudah amat terkenal dengan julukan Siang-lo-kui (Sepasang Setan Tua) ini cepat menggerakkan tangan menangkis.

"Des! Dess! Plak! plak!"

Kedua tangan Biauw Eng yang menampar itu memang dapat tertangkis oleh mereka, namun lengan mereka yang menangkis terdorong dan terpental sedangkan kedua buah tangan halus itu tetap saja menyambar terus dan menampar dada mereka.

Tamparan yang tidak begitu kuat,akan tetapi akibatnya hebat karena kedua orang kakek itu roboh, muntah darah dan pingsan.

Kiranya mereka telah menderita luka dalam yang cukup hebat, dan juga pukulan Biauw Eng itu beracun, tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan Hek-tok-ciang.

Tidaklah aneh kalau Sie Biauw Eng mampu menggunakan ilmu pukulan beracun yang biasanya hanya dikuasai oleh kaum sesat karena dia adalah puteri mendiang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan).

Pukulannya tadi adalah Ngo-tok-ciang (Tangan Panca Racun) yang mengandung inti sari lima macam hawa beracun dan tentu saja jauh lebih berbahaya daripada Hek-tok-ciang, apalagi dilakukan oleh seorang yang tingkat kepandaiannya sudah setinggi nyonya itu!

Liong Bu Kong terkejut sakali.

Dia tadi sudah menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai yang dengan amat mudahnya mematahkan ujung pedang pusakanya.

Kini dia menyaksikan kelihaian nyonya ketua itu yang dalam segebrakan saja mampu merobohkan Siang-lo-kui, padahal dua orang kakek itu adalah murid-murid kelas satu dari ibunya!

Pemuda yang amat cerdik ini tidak memperlihatkan perasaan menyesal di mukanya, bahkan dia menjura kepada Sie Biauw Eng sambil berkata.

"Hukuman bagi kedua paman yang lancang ini memang sudah sepantasnya. Saya menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang telah menghajarnya dan mengampuni nyawa mereka."

Biarpun Bu Kong mengambil sikap sabar, sopan dan manis budi, namun dalam pandangan Cia Keng Hong, pemuda itu amat tidak menyenangkan, maka dia pun berkata.

"Sudahlah, bawa mereka pulang dan jangan sekali-kali berani menginjakkan kaki di daerah Cin-ling-san. Adapun soal jodoh, tidak perlu lagi dibicarakan dan tidak perlu datang meminang karena bagaimanapun juga, kami tidak suka berbesan dengan golongan hitam. Nah, pergilah!"

Bu Kong merasa betapa jantungnya seperti ditusuk oleh kekecewaan dan putus harapan.

Sudah lama dia mendengar akan kecantikan puteri Ketua Cin-ling-pai, dan setelah bertemu dengan orangnya, apalagi setelah menyaksikan kelihaian Giok Keng, sekaligus dia tergila-gila dan jatuh cinta.

Akan tetapi dia pun tahu bahwa kedua orang tua dara itu menentang keras.

Kembali pemuda itu menjura dan berkata.

"Maafkan saya, Ji-wi?locianpwe. Saya mengaku bahwa kami bertiga telah lancang, mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat menghadap Ji-wi dalam keadaan yang lebih baik dan menyenangkan. Selamat tinggal dan sekali lagi terima kasih atas semua pelajaran yang kami terima."

Dia menjura, membungkuk, mengempit tubuh kedua orang kakek yang masih pingsan, kemudian turun dari puncak sambil berlari cepat.

Semua orang, termasuk Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan Cia Giok Keng, memandang dengan hati kagum.

Pemuda itu benar-benar lihai!

Setelah mengobati luka keenam pemuda akibat pukulan Hek-tok-ciang, Keng Hong dan anak isterinya kembali ke dalam rumah.

Setelah berada di dalam, Keng Hong berkata kepada puterinya.

"Nah, kau lihat sendiri betapa tidak baiknya bagi seorang dara yang sudah dewasa kalau tidak segera menikah. Tentu banyak godaan dan penolakan-penolakan hanya akan mendatangkan permusuhan."

"Ayahmu benar, Anakku. Sebaiknya kalau engkau segera menentukan pilihan hatimu dan mendapatkan jodoh."

Giok Keng cemberut.

"Ayah dan Ibu tentu akan memaksaku, soal jodoh tak perlu dibicarakan lagi karena aku tidak mau! Dalam penolakan lamaran Ayah dan Ibu bertindak tanpa persetujuanku, tentu kelak Ayah dan Ibu pun akan menerima lamaran orang tanpa mengajukan persetujuanku pula! Karena itu, aku tidak mau menikah!"

Keng Hong dan isterinya saling pandang dan Keng Hong berkata agak keras.

"Tentu saja kita tolak lamaran seorang pemuda dari golongan hitam itu. Apalagi kalau dia putera Iblis Betina Kwi-eng Niocu yang tersohor!"

Giok Keng tetap cemberut.

Sedikit banyak hatinya telah tertarik oleh sikap pemuda tampan tadi, dan biarpun hal itu bukan berarti bahwa dia jatuh cinta dan menerima pinangan, akan tetapi dia tersinggung juga menyaksikan betapa ayah bundanya menolak mentah-mentah tanpa mempedulikan perasaannya sendiri!

"Menolak atau menerima lamaran bukan soal, yang menjadi soal adalah bahwa saya seorang manusia, yang berperasaan pula dan patut menentukan hidup dan masa depan saya sendiri.

Hal ini harap Ayah dan Bunda tidak lupa!

Sudahlah, siapa sih yang ingin menikah?"

Setelah berkata demikian Giok Keng meninggalkan ayah bundanya, memasuki kamarnya sendiri dan menangis!

Keng Hong menggeleng?geleng kepalanya.

Isterinya menghibur.

"Sabarlah. Dia baru berusia tujuh belas tahun, belum lenyap sama sekali sifat kekanak-kanakannya!"

"Kekanak-kanakan apa? Itulah kalau anak manja!"

Akan tetapi Keng Hong tidak melanjutkan kemarahannya ketika melihat pandang mata isterinya yang mengalah, bahkan dia lalu memeluk isterinya dan berkata.

"Biarlah kita serahkan jodoh anak kita kepada nasib."

"Perlu apa dipusingkan? Biarlah dia memilih sendiri dan kita hanya mengawasi dari belakang agar dia jangan salah pilih."

Semenjak terjadinya pengacauan yang dilakukan oleh Orang-orang Kwi-eng-pai itu dan mendapat kenyataan bahwa kepandaiannya masih jauh dari cukup sehingga ketika dia menyerang pemuda bernama Liong Bu Kong itu dia sama sekali tidak berhasil, Giok Keng makin tekun berlatih silat.

Hal ini menggirangkan hati Keng Hong dan pendekar ini pun melatih puterinya dengan sungguh-sungguh sehingga akhirnya dia menurunkan juga Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun kepada puterinya itu dengan janji agar dara itu tidak membocorkannya kepada orang lain!

Dua tahun lamanya Giok Keng berlatih dengan tekun siang malam sehingga setelah dia berusia sembilan belas tabun, ilmu kepandaiannya meningkat dengan hebatnya.

Bahkan dia berhasil pula mempelajari Ngo-tok-ciang dari ibunya yang memesan agar puterinya jangan sembarangan menggunakan ilmu ini, kecuali kalau menghadapi golongan hitam karena ilmu ini adalah ilmu keji dari kaum sesat.

Betapapun juga, Keng Hong masih belum berani mengajarkan Thi-ki-i-beng kepada puterinya.

Kalau puterinya mendesak agar ayahnya menurunkan ilmu itu, dia menjawab.

"Kau kira mudah saja menguasai Thi-khi-i-beng? Kalau belum kuat benar dasarnya, ilmu ini bisa mencelakakan diri sendiri. Ayahmu mendapatkan ilmu ini secara kebetulan saja, akan tetapi ketahuilah, dahulu seorang tokoh golongan hitam yang tinggi ilmu kepandaiannya bernama Kiu-bwe? toanio Lu Sian Cu, yang berhasil memaksaku memberikan Thi-khi-i-beng, telah mati karena ilmu itu sendiri. Mempelajari ilmu ini kalau belum memiliki kekuatan yang melebihi ukuran sin-kang biasa, berarti menghadapi bahaya maut. Ilmu-ilmu yang kau pelajari sudah cukup, Keng-ji, kalau semua itu kau kuasai dengan baik disertai latihan dan ketenangan, kiranya sukar sekali akan dapat dikalahkan lawan, biarpun engkau tidak menggunakan Thi-ki-i-beng."

Mendengar keterangan ini, Giok Keng menjadi ngeri sendiri dan merasa puas dengan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya.

Akan tetapi, Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng makin berduka karena belasan kali datang lamaran dari pemuda-pemuda yang bukan Orang-orang sembarangan, putera ketua-ketua partai besar, pemuda-pemuda sastrawan dan hartawan, Bahkan pernah seorang pemuda putera pangeran dari kota raja melamar, semua itu ditolak mentah-mentah oleh Giok Keng.

Padahal, usia dara itu kini telah meningkat, sudah sembilan belas tahun!

Ketika Keng Hong dan Biauw Eng mendengar akan kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio, mereka segera berangkat untuk melayat, sekalian untuk menghibur kekecewaan hati mereka dan mengharapkan pertemuan dengan Yap Cong San.

Siapa tahu kalau jodoh puteri mereka itu adalah putera sahabat ini yang sudah hampir dua puluh tahun, atau sedikitnya delapan belas tahun tak pernah mereka jumpai.

Giok Keng disuruh menjaga Cin-ling-pai dan mengawasi adiknya, Cia Bun Houw yang baru berusia lima tahun.

Hati Giok Keng agak kecewa karena setelah kini ilmunya maju pesat, dia ingin sekali ikut merantau dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar.

Akan tetapi dia tahu juga bahwa selain Cin-ling-pai perlu dijaga, juga tidak baik kalau adiknya ditinggalkan seorang diri bersama para pimpinan Cin-ling-pai dalam keadaan di mana bahaya selalu mengancam dari pihak kaum sesat.

Akan terpenuhikah harapan Keng Hong dan Biauw Eng bahwa mereka akan berjumpa dengan sahabat baik mereka Yap Cong San dan isterinya di kuil Siauw-lim-si?

Untuk mengetahui ini.

sebaiknya kita mencari Yap Cong San dan isterinya dan melihat keadaan mereka.

Sudah terlampau lama kita meninggalkan mereka dan marilah kita mengikuti perjalanan mereka semenjak mereka meninggalkan Leng-kok.

Seperti telah kita ketahui, Yap Cong San dan isterinya lari meninggalkan Leng-kok sebagai orang buruan setelah dengan kekerasan Yan Cu membebaskan suaminya dari tahanan Ma-taijin.

Mereka lalu mulai mencari putera mereka yang hilang.

Akan tetapi karena kepergian Kun Liong tidak meninggalkan bekas yang jelas, mereka tersesat dan sampai dua tahun mereka menjelajah ke selatan dan ke timur, belum juga mereka berhasil menemukan putera mereka itu!

Akhirnya mereka terpaksa kembali ke utara.

Tiga tahun telah lewat semenjak mereka meninggalkan Leng-kok tanpa hasil sama sekali dalam usaha mereka mencari Kun Liong.

Hampir mereka putus harapan dan timbul kekhawatiran bahwa putera mereka yang lenyap itu tewas, ketika pada suatu hari harapan itu timbul kembali secara kebetulan ketika mereka mendengar tentang putera mereka itu.

Hal itu terjadi ketika perjalanan mereka membawa mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho di lereng Pegunungan Luliang-san yang menjadi tapal batas antara Propinsi Shansi di timur dan Propinsi Sensi di barat.

Mereka bermalam di dalam sebuah kamar rumah penginapan kecil sederhana, di sebuah dusun nelayan di tepi Sungai Huang-ho.

Menjelang tengah malam, setelah suami isteri yang kelelahan ini tertidur, tiba-tiba Yan Cu terbangun oleh suara bisik?bisik.

Dia terbangun, memasang telinga mendengarkan percakapan lirih yang terjadi di kamar sebelah, percakapan yang dapat didengarnya jelas karena agaknya dua orang wanita yang bercakap?cakap itu tidak menyembunyikan suara mereka dan antara kamamya dan kamar sebelah itu hanya teraling oleh dinding papan yang sambungannya tidak begitu rapat.

Tentu saja Yan Cu tidak akan sudi mendengarkan percakapan orang lain kalau saja dia tidak tertarik karena mendengar disebutnya nama puteranya, nama Kun Liong!

"Sungguh heran sekali!

Ke mana perginya bocah setan itu?

Kalau dia melarikan diri dengan perahu, masa dia bisa naik perahu sampai ke langit?

Mengapa jejaknya lenyap sama sekali?"

Terdengar suara wanita yang mengandung penasaran dan kemarahan.

"Memang dia bukan bocah biasa, Subo (Ibu Guru),"

Terdengar jawaban suara seorang anak perempuan.

"Dahulu Kong-kong sudah bilang bahwa anak itu memang luar biasa, munculnya pun secara aneh sekali, dari dalam sungai!"

"Huh! Apakah dia anak iblis sungai? Siapa namanya?"

"Dia mengaku bernama Kun Liong, Subo. Akan tetapi teecu (murid) tidak yakin bahwa dia yang membawa pergi benda itu karena benda itu tadinya berada di tangan Phoa Sek It. Ketika Phoa Sek it membunuhi semua orang, Kun Liong melarikan diri. Mana mungkin dia merampasnya dari tangan Phoa Sek It?"

"Siapa tahu? Bocah itu setidaknya tentu mengetahui di mana adanya benda itu. Hemmm... kalau dia dapat tertangkap olehku, akan kupaksa dia mengaku, akan kupatah-patahkan semua tulang tubuhnya agar dia suka mengaku!"

Mendengar itu, Yan Cu sudah tidak dapat menahan hatinya lagi.

Biarpun dia merasa heran dan ragu-ragu mendengar percakapan itu, namun besar kemungkinan mereka itu bicara tentang puteranya yang hilang.

Cepat dia turun dari pembaringan, menghampiri dinding dan mengintai dari celah-celah dinding papan.

Dilihatnya dalam kamar sebelah itu seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh pendek, cantik manis akan tetapi matanya menyinarkan kekejaman dan bentuk mulutnya selalu menyeringai seperti orang mengejek, rambutnya panjang, sedang duduk di kursi berhadapan dengan seorang anak perempuan berusia kurang lebih sebelas tahun yang bersikap pendiam dan berwajah cantik dan dingin.

Di atas meja depan wanita rambut panjang itu terdapat sebatang pedang panjang yang bentuknya agak melengkung dan gagangnya panjang, sebatang pedang berbentuk asing bagi Yan Cu.

Yan Cu menduga bahwa tentu wanita itu bukan orang sembarangang maka dia pun bersikap Hati-hati sekali.

Melihat suaminya masih tidur pulas, dia berindap keluar dari dalam kamarnya, kemudian menyelinap ke luar rumah penginapan yang sunyi karena semua orang telah tidur, dengan ringan tubuhnya mencelat ke atas genteng dan dia membuka genting tepat di atas kamar sebelah tadi.

Sebagai penjagaan, sebelum keluar kamarnya Yan Cu sudah menyambar pedangnya.

Akan tetapi, pada saat dia membuka genting, tiba-tiba dari bawah menyambar sinar hijau dengan kecepatan kilat ke arahnya!

Yan Cu terkejut tetapi tidak menjadi gugup.

Dia sudah meloncat ke belakang dan berjungkir balik.

Ketika dia turun lagi dan berdiri di wuwungan genting rumah itu, terlihat bayangan berkelebat dan tahu?tahu wanita pendek berambut panjang tadi telah berada di depannya, berdiri dengan sebatang pedang panjang melengkung yang berkilauan di tangannya!

Yan Cu menjadi marah sekali, apalagi ketika teringat betapa wanita ini mengancam untuk mematahkan semua tulang di tubuh puteranya dan memaksanya mengaku!

Andaikata yang diancam itu bukan puteranya, melainkan seorang anak lain yang namanya juga Kun Liong, tetap saja ancaman itu menunjukkan bahwa wanita pendek ini adalah seorang yang kejam dan jahat sekali, patut untuk dibasmi.

Namun, pada saat itu, yang terpenting bagi Yan Cu adalah untuk mengetahui apakah benar puteranya yang dibicarakan mereka itu.

"Perempuan kejam! Apakah yang kaubicarakan dalam kamar tadi, yang kausebut namanya, anak yang bemama Kun Liong itu adalah seorang anak laki-laki yang berusia kira-kira tiga belas tahun sekarang ini dan she Yap?"

"Kalau benar dia kau mau apa?"

Wanita itu balas bertanya dan mulutnya makin mengejek.

"Tapi benarkah dia? Wajahnya tampan, matanya lebar, kepalanya bundar dan dahinya lebar, alisnya seperti golok, hidungnya mancung? Benarkah dia Yap Kun Liong?"

"Perempuan lancang, kau telah berani melakukan pengintaian. Hemmm, kau tidak mengenal Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?"

Yan Cu tentu saja sudah mendengar nama datuk kaum sesat ini selama perantauannya mencari Kun Liong, akan tetapi pada saat itu dia tidak mempedulikan semua hal kecuali persoalan di mana adanya puteranya.

"Tidak peduli kau siapa, akan tetapi benarkah Yap Kun Liong yang kaubicarakan tadi?"

Sinar mata wanita pendek itu mengeluarkan kilat kemarahan.

Namanya sudah tersohor di seluruh jagat sebagai seorang datuk dari daerah selatan.

Tidak ada orang kang-ouw yang tidak menjadi gentar mendengar namanya, apalagi bertemu dengan dia!

Dan perempuan ini sama sekali tidak peduli!

"Perempuan bosan hidup!

Kalau benar dia itu Yap Kun Liong kau mau apa?"

"Mau apa? Membunuh engkau yang mengancam dia! Di mana dia sekarang?"

"Hi-hi-hik, lagakmu seperti jagoan sendiri! Aku pun sedang mencari dia. Engkau siapakah?"

"Aku ibunya!"

Yan Cu sudah marah sekali, dicabutnya pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menubruk maju, mengirim serangan kilat dengan tusukan ke arah dada lawan.

"Hi-hik, ibunya?"

Bu Leng Ci, wanita itu terkekeh dan mengelak cepat sambil membabatkan pedang panjangnya dari samping.

"Singgg!"

Pedang samurai pedang model Jepang itu dipegang gagangnya dengan kedua tangan dan ketika dibabatkan cepatnya seperti kilat menyambar dan mengandung tenaga yang amat dahsyat.

Tentu saja Yan Cu terkejut bukan main, karena sama sekali tidak menyangka bahwa datuk wanita yang tersohor ini benar-benar amat berbahaya.

Dia sudah meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang panjang, lalu bersiap menghadapi lawan tangguh ini.

"Kau ibunya? Hi-hi-hik, kalau begitu kau harus mampus. Anakmu telah membikin jengkel hatiku!"

Bertandinglah dua orang wanita itu di atas genting, dan keduanya sama-sama terkejut sekali, lebih-lebih Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci.

Selama dia merantau ke utara dari pantai laut selatan, belum pernah dia bertemu tanding dan jarang pula dia mempergunakan pedang samurainya.

Tadi ketika dia menggunakan senjata rahasia Siang-tok-toa (Pasir Beracun Wangi) dari bawah, dia sudah terkejut karena orang yang tadi mengintai dari kamar sebelah kemudian mengintai dari atas genting dapat menghindarkan diri.

Karena itu maka dia menyusul ke atas sambil membawa pedang samurainya.

Kini, setelah mereka bergebrak selama belasan jurus, Bu Leng Ci benar-benar kaget sekali.

Wanita cantik jelita di depannya ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian hebat!

Bukan saja ilmu pedangnya luar biasa, juga lawannya ini memiliki keringanan tubuh dan kekuatan tenaga sakti yang mampu menandinginya!

Merasa kurang leluasa bertanding di atas genting, Bu Leng Ci melayang turun.

Tentu saja Yan Cu tidak mau melepaskannya, dan cepat menyusul dengan loncatan cepat.

Kini mereka berhadapan di atas tanah, di sebelah belakang rumah penginapan itu, dan saling memandang di bawah sinar bulan sepotong yang mendatangkan cahaya penerangan remang-remang.

"Siapakah engkau?"

Bu Leng Ci membentak, tertarik juga untuk mengenal siapa adanya lawan tangguh ini.

"Aku ibunya Yap Kun Liong! Ketahuilah, perempuan iblis, bahwa aku adalah Gui Yan Cu. Isteri dari Yap Cong San. Engkau tentu tidak mengenal kami, karena kami bukan golongan iblis kaum sesat yang suka malang-melintang berbuat kejam mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa seperti engkau!"

"Hi-hi-hik, sombong. Mampuslah engkau!"

Bu Leng Ci kembali menerjang, samurainya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, digerakkan dengan kedua tangannya.

"Trang! Cringgg!!"

Yan Cu merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar.

Diam-diam dia harus mengakui bahwa wanita iblis yang tersohor sebagai seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang bermunculan di waktu itu, yang bertubuh pendek dan berpedang panjang ini benar-benar amat tangguh.

Maka dia pun mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya dengan cepat.

Yan Cu adalah seorang wanita perkasa.

Biarpun dia tahu bahwa lawannya tangguh, namun untuk berteriak memanggil suami isterinya dia merasa malu karena berteriak minta bantuan bukanlah kelakuan seorang gagah!

Tiba-tiba pedang dan samurai kembali bertemu dan menempel untuk beberapa detik lamanya, karena Bu Leng Ci mempergunakan kekuatan kedua lengannya, pedang Yan Cu agak tertindih dan saat itu dipergunakan oleh Bu Leng Ci untuk menggerakkan kepalanya.

Rambutnya yang panjang menyambar ke arah Yan Cu seperti ribuan ekor ular menyerang!

Yan Cu terkesiap dan cepat dia menarik kembali pedangnya, melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik.

Sambil membalikkan tubuhnya yang berpoksai (bersalto) tiga kali di udara, pedangnya menyambar untuk melindungi dirinya.

"Cringgg...!"

Pedangnya bertemu dengan samurai yang kini dipegang dengan tangan kanan sedangkan pada detik itu, tangan kiri Bu Leng Ci yang jari-jarinya merupakan jari baja telah menusuk ke arah dada dengan maksud menembus dada itu dan merogoh jantung seperti yang biasa dia lakukan terhadap para korbannya!

"Ihhh...!"

Yan Cu cepat menggulingkan tubuhnya ke kanan, terus bergulingan di atas tanah untuk membebaskan diri dari serangan itu.

"Wut...!"

Yan Cu menahan jeritnya ketika merasa betapa dadanya sebelah kanan sakit sekali.

Kiranya dia telah disusul oleh serangan Pasir Beracun Wangi yang dilepas dari jarak dekat.

Biarpun Yan Cu telah bergulingan sambil memutar pedangnya, tetap saja ada sebagian dari Siang-tok-soa yang mengenai dadanya.

Seketika kepalanya pening, matanya berkunang dan ketika dia meloncat berdiri, tubuhnya terhuyung!

"Hi-hi-hik, sayang sekali kau harus mampus!"

Bu Leng Ci sudah meloncat maju, mengayun samurainya ke arah pinggang Yan Cu.

"Singg... tranggg...!!"

Yan Cu dalam keadaan pening itu masih dapat menangkis dengan tangan karena tubuhnya menggigil kedinginan akibat pasir beracun itu dan tenaganya berkurang, apalagi karena dia memang kalah tenaga, pedangnya terpental dan terlepas dari pegangannya.

Sementara itu, pedang samurai sudah menyambar lagi ke arah lehernya.

"Tranggg...! Eihhh...!"

Bu Leng Ci meloncat ke belakang ketika samurainya ditangkis oleh sebatang mouw-pit (pena bulu) yang membuat lengannya tergetar.

Kiranya Yap Cong San yang telah menyelamatkan isterinya, Cong San cepat memegang lengan isterinya, dan berbisik.

"Mundurlah... cepat telan obat penawar...!"

"Hi-hi-hi, agaknya ini suaminya, ya? Ha-ha, tidak ada obat penawar untuk melawan Siang-tok-soa dari Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Isterimu akan mampus, dan engkau juga!"

Mendengar nama ini, Yap Cong San terkejut.

Tadi dia terbangun oleh suara pertandingan yang lapat-lapat dan terkejut ketika tidak melihat isterinya rebah di sampingnya dan pedang isterinya tidak tampak.

Cepat ia berpakaian dan melompat keluar sambil membawa sebatang mouw-pit yang menjadi senjatanya yang ampuh.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat isterinya terhuyung, pedangnya terlempar dan pedang panjang lawan isterinya itu mengancam nyawa isterinya.

Untung dia tidak terlambat dan setelah dapat menangkis pedang samurai itu, dia melihat bahwa isterinya telah terluka dan melihat warna mukanya, tentu terluka senjata beracun.

Dengan marah dan khawatir sekali Yap Cong San segera menerjang ke depan menggunakan senjata Im-yang-pit hitam putih dengan gerakan cepat seperti kilat.

Kembali Bu Leng Ci terkejut.

Sungguh tak pernah disangka bahwa di dunia kang-ouw sebelah utara ini terdapat Orang-orang pandai seperti suami isteri ini yang sama sekali tidak terkenal namanya.

Bahkan sang suami ini lebih lihai daripada isterinya!

Bu Leng Ci berteriak keras dan samurainya kembali berkelebat membentuk gulungan sinar seperti seekor ular naga mengamuk.

Namun Yap Cong San yang bersikap Hati-hati selalu dapat membendung amukan sinar samurai, bahkan membalas dengan totokan-totokan maut yang bukan tidak berbahaya bagi Bu Leng Ci.

Betapapun juga, segera murid lihai dari Siauw-lim-pai ini mendapat kenyataan bahwa lawannya amat tangguh, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, dia masih belum mampu menandinginya, Terbukti dari getaran-getaran pada kedua tangannya setiap kali Im-yang-pit di tangannya terbentur oleh pedang samurai.

Pantas wanita ini menjadi seorang di antara datuk-datuk golongan hitam, kiranya memang amat lihai.

Biarpun demikian, tidak mudah bagi Bu Leng Ci untuk mengalahkan murid Siauw-lim-pai ini yang memiliki ilmu silat aseli dari Siauw-lim-pai dan dapat membentuk pertahanan yang bukan main kuatnya, laksana batu karang yang menahan gempuran badai!

Dan lebih celaka lagi bagi Bu Leng Ci ketuka Yan Cu sudah menyambar lagi pedangnya dan biarpun wajah wanita itu ada bayangan gelap, namun peningnya lenyap dan kini ia membantu suaminya menerjang Bu Leng Ci!

Menghadapi Yap Cong San saja sudah amat sukar baginya untuk merobohkan pendekar ini, apalagi dikeroyok dua dengan suaminya yang marah itu.

"Robohlah!"

Tiba-tiba Bu Leng Ci mengeluarkan suara teriakan nyaring, tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar, itulah Siang-tok-soa!

"Awas...!!"

Yap Cong San berteriak memperingatkan isterinya dan keduanya cepat melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi Bu Leng Ci telah mempergunakan kesempatan itu meloncat ke dalam rumah penginapan.

Suami isteri itu mengejar dengan cepat.

Karena merasa tidak kuat kalau harus menandingi suami isteri itu, Bu Leng Ci sudah memondong anak perempuan yang menjadi muridnya dan lari ke luar.

"Iblis betina, hendak lari ke mana kau?"

Cong San dan Yan Cu mengejar dan pendekar ini cepat menggunakan senjata rahasianya untuk menyambit bayangan di depan.

Senjata rahasia dari Yap Cong San ini berupa mata uang tembaga, uang biasa yang dapat dipergunakan untuk berbelanja, akan tetapi kalau dipergunakan sebagai senjata rahasia, amat hebat dan dapat menembus tulang!

Bu Leng Ci menjerit lirih ketika pundaknya disambar sebuah mata uang, mendatangkan rasa nyeri bukan main.

Akan tetapi hal ini malah membuat dia mempercepat larinya.

Dengan penasaran Yap Cong San mengejar terus.

"Aduhhh..."

Rintihan isterinya ini membuat Cong San terkejut dan membalik.

Ketika dia melihat isterinya terhuyung hampir jatuh, dia cepat menyambar tubuh isterinya.

Ternyata Yan Cu telah pingsan.

Melihat keadaan isterinya, terpaksa Cong San membatalkan pengejarannya dan cepat berusaha menolong isterinya.

Pasir beracun yang memasuki dada kanan bagian atas itu benar-benar amat hebat.

Kulit di bagian dada itu membengkak biru, dan warna kebiruan menjalar sampai ke muka!

Tubuh Yan Cu panas sekali, akan tetapi anehnya, wanita itu menggigil kedinginan!

Yap Cong San sudah banyak mempelajari pengobatan dari isterinya.

Dia memeriksa sebentar penuh ketelitian setelah merebahkan tubuh isterinya di atas pembaringan dalam kamar mereka.

Akhirnya dia menghela napas, menekan kekhawatiran hatinya.

Racun wangi itu benar-benar amat berbahaya dan dia sudah tahu akan sifat racun itu.

Dia harus menggunakan sin-kang dan obat?obat yang sukar dicari, dan biarpun demikian, agaknya bukan hal yang mudah untuk menyelamatkan nyawa isterinya dari renggutan maut!

Keadaan ini memaksa Yap Cong San menghentikan usahanya mencari puteranya, bahkan dia lalu membawa isterinya untuk beristirahat dan berobat di puncak Pegunungan Lu-liang-san yang sunyi, selain untuk menghindarkan diri dari pengejaran alat pemerintah, juga untuk bersembunyi dari pengejaran tokoh-tokoh hitam.

Dalam keadaan seperti itu, amatlah berbahaya bagi isterinya kalau ada lawan kuat datang menyerang.

Demikianiah, dengan penuh ketekunan dan kesabaran Cong San merawat isterinya di puncak Lu-liang-san.

Tepat seperti yang diduga dan dikhawatirkannya, pengobatan itu memakan waktu sampai hampir dua tahun!

Setelah menghabiskan banyak akar dan daun obat yang dengan susah payah dapat dia temukan di semak-semak belukar dalam hutan di Pegunungan Lu-liang-san, Dan banyak pula memeras tenaga sin-kangnya untuk membantu isterinya mengusir hawa beracun, dan memakan waktu dua tahun kurang sedikit, barulah semua racun itu dapat terusir bersih dari tubuh Gui Yan Cu!

Setelah isterinya sembuh, mereka telah meninggalkan rumah selama lima tahun lebih!

Nasib buruk yang menimpa sepasang suami isteri ini, cara hidup bersunyi dan segala macam kekhawatiran dan kedukaan berhubung dengah lenyapnya putera mereka, menjadi pupuk yang menambah dalam cinta kasih di antara mereka.

Setelah Yan Cu sembuh dan Cong San menganggap perlu bagi isterinya untuk selama beberapa bulan beristirahat memulihkan kesehatan di puncak yang indah pemandangannya dan sejuk hawanya itu, curahan cinta kasih mereka yang makin mendalam sebagai hiburan duka karena memikirkan Kun Liong membuat Yan Cu mengandung lagi!

Hal ini mendatangkan kegirangan besar di hati suami isteri itu dan terpaksa mereka memperpanjang kediaman mereka di puncak Pegunungan Lu-liang-san.

Dengan hati penasaran dan marah, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menurunkan muridnya, yang tadi dipondongnya setelah merasa yakin bahwa suami isteri yang lihai itu tidak mengejarnya.

Dia membuka bajunya, mengambil obat dan mengobati luka di pundaknya yang terkena sambitan Touw-kut-ci yang dilepas oleh Yap Cong San.

Hatinya merasa penasaran sekali, akan tetapi Bu Leng Ci bukanlah seorang bodoh yang nekat.

Dia maklum bahwa menghadapi kedua orang suami isteri itu amatlah berbahaya.

Kalau hanya melawan seorang di antara mereka, agaknya dia masih menang sedikit.

Akan tetapi kalau harus menghadapi mereka berdua, benar-benar berbahaya sekali.

"Subo, siapakah yang bertanding dengan Subo sampai membuat Subo terluka?"

Anak perempuan itu bertanya sambil memandang dengan heran dan penasaran.

Anak perempuan ini adalah Yo Bi Kiok.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, hampir enam tahun yang lalu Bi Kiok diambil murid oleh Siang-tok Mo-li setelah ditolong dari tangan Phoa Sek It bekas pengawal Panglima Besar The Hoo yang mencuri bokor emas.

Dengan sia-sia Bu Leng Ci mencari Kun Liong yang disangkanya melarikan bokor emas.

Tentu saja dia tidak dapat menemukan Kun Liong karena anak ini telah diambil murid oleh Bun Hoat Tosu di puncak Gunung Teratai Biru dan digembleng selama lima tahun oleh kakek sakti itu.

Selama itu, Bu Leng Ci melatih ilmu silat kepada muridnya dan dia girang sekali memperoleh kenyataan bahwa Bi Kiok memiliki bakat yang baik sekali.

Akan tetapi setiap kali teringat akan bokor emas yang dicurinya, Dia selalu merasa penasaran sehingga berkali-kali dia mengajak muridnya merantau di sepanjang Sungai Huang-ho untuk menyelidiki dan mencari bokor itu.

Pada waktu itu, dia berada di tepi Huang-ho di lereng Lu-liang-san juga untuk menyelidiki bokor emas dan secara tidak tersangka-sangka, di tempat ini dia sampai terluka oleh suami isteri yang sama sekali tidak terkenal!

Hatinya penasaran sekali.

Tentu saja dia tidak pernah mimpi bahwa baru beberapa bulan yang lalu dia telah berhadapan muka dengan orang yang menyimpan bokor emas yang diinginkannya itu.

Ketika dia membunuhi Orang-orang Pek-lian-kauw yang berani melawannya, kemudian bertemu dengan pemuda gundul yang memiliki keberanian luar biasa, dia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda gundul itulah yang dahulu dicari-carinya bersama Bi Kiok!

Kalau saja dia tahu!

Dan semua ini adalah karena Bi Kiok merahasiakan tentang diri Kun Liong, karena dara remaja ini tidak ingin melihat Kun Liong dibunuh oleh gurunya, hal yang sudah pasti terjadi kalau dia beritahukan bahwa bokor itu dilarikan Kun Liong.

Karena itu pula, sebelum pergi meninggalkan kuil tua, dengan ujung sepatunya Bi Kiok membuat coretan-coretan di atas tanah memperingatkan Kun Liong agar jangan membicarakan tentang bokor dengan siapapun juga!

Biarpun lukanya tidak hebat, namun hati Bu Leng Ci mendongkol bukan main.

Sudah bertahun-tahun dia merantau dan belum pernah dia dikalahkan lawan, jangankan sampai terluka!

Hanya sedikit hiburan hatinya bahwa dia telah melukai wanita bernama Gui Yan Cu itu dengan Pasir Beracun Wangi.

Mengingat ini, dia tersenyum sendiri dan kemarahannya lenyap.

"Hemm, aku terluka hanya sedikit, tidak ada artinya, akan tetapi perempuan itu akan mampus oleh Siang-tok-soa yang mengenai dadanya. Tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkan racun pasirku!"

Katanya dengan menjawab pertanyaan muridnya tadi.

"Subo, selama enam bulan ini Subo selalu mencari bokor emas tanpa mengenal lelah. Sebetulnya apa sih gunanya bokor itu?"

Mereka duduk di bawah pohon dan Bi Kiok memandang gurunya yang sudah selesai membalut luka di pundaknya.

Bi Kiok telah menjadi seorang dara remaja berusia empat belas tahun, wajahnya cantik namun sikapnya selalu serius dan dingin.

Hal ini agaknya, karena terlampau banyak kepahitan yang dideritanya selama hidupnya.

Bu Leng Ci memandang muridnya.

Dia amat sayang kepada muridnya ini yang selalu patuh, rajin berlatih, dan juga kelihatan berbakti dan sayang kepadanya.

Iblis betina ini tersenyum.

"Aihh, kau tidak tahu, muridku. Bokor itu merupakan benda pusaka yang amat berharga, mungkin pusaka yang paling berharga yang dimiliki The Hoo."

"Hemm, apakah Subo membutuhkan emas? Betapa mudahnya kalau Subo menghendaki emas."

Dengan Kata-kata ini Bi Kiok hendak menyatakan babwa kalau gurunya menghendaki, mereka dapat saja mengambil dan merampas emas milik siapapun juga, tidak perlu mencari-cari benda yang telah hilang itu.

"Emas? Hi-hi-hi, siapa butuh emas? Bokor itu kabarnya, dan ini hanya kabar angin yang membocor dari rahasia Panglima The Hoo, mengandung peta rahasia yang menunjukkan tempat persembunyian harta pusaka terpendam yang tak ternilai harganya."

"Apakah Subo membutuhkan harta?"

Kembali iblis betina itu tertawa sambil menggeleng kepalanya.

Kalau melihat dia sedang bercakap?cakap dengan muridnya sambil tersenyum manis seperti itu, orang tidak akan menyangka bahwa dialah Siang-tok Mo-li, iblis betina yang menggemparkan dunia kang-ouw karena kelihaian dan kekejamannya, mengerikan hati orang karena kebiasaannya yang menyeramkan dan menjijikkan, yaitu mengganyang jantung manusia mentah-mentah, diambil langsung dari rongga dada seorang lawan hidup-hidup!

Sepatutnya dia seorang wanita bertubuh pendek yang cantik manis dan sayang kepada muridnya.

"Aku tidak membutuhkan harta karena apa saja yang bisa didapatkan dengan harta, dapat pula kuperoleh asal aku menghendakinya. Akan tetapi harta yang amat besar itu perlu untuk mencapai suatu tingkat kedudukan tinggi, dan pula, yang amat menarik hati adalah kitab pusaka ilmu kesaktian simpanan yang dirahasiakan manusia sakti The Hoo!"

Memang demikianlah, seperti Siang-tok Mo-li itulah isi pikiran sebagian besar manusia di dunia ini.

Betapa menyedihkan!

Manusia diombang-ambingkan oleh keinginan, dan membagi-bagi keinginan itu sebagai keinginan baik, keinginan luhur, keinginan suci dan sebagainya.

Padahal, apakah perbedaan antara keinginan yang ini dengan keinginan yang itu?

Apakah perbedaan antara keinginan menjadi pandai, menjadi kaya, menjadi mulia dan lain-lain?

Bahkan, apakah bedanya antara keinginan duniawi dan keinginan batiniah?

Tetap sama, keduanya keinginan juga yang terdorong oleh hati tidak puas akan keadaan sekarang dan menginginkan keadaan lain yang belum terlaksana, atau terdorong oleh rasa takut akan masa depan, takut akan sesuatu yang tidak disukainya.

Kita lupa bahwa keinginan melahirkan kekecewaan apabila tidak tercapai.

Apakah akan mendatangkan kepuasan mutlak apabila tercapai?

Biasanya tidak!

Keinginan yang tercapai akan terasa hampa, tidaklah seindah dan senikmat kalau belum tercapai, kalau masih menjadi angan-angan, karena pikiran yang selalu terbetot untuk mencari sesuatu yang belum ada, selalu akan tertarik pula untuk menjangkau yang baru lagi.

Keadaan sekarang dianggap sudah lama dan membosankan, selalu ingin yang baru, lupa bahwa yang baru itu kalau sudah tercapai tangan, akan membosankan pula dan menjadi barang lama juga!

Demikianlah, kita akan terperosok ke dalam lingkaran setan, terus beringin, terus menjangkau dan hidup menjadi hamba keinginan!

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa adanya keinginan itulah yang membuat manusia hidup menjadi maju!

Apakah yang dimaksudkan dengan kemajuan?

Apakah adanya pertentangan antar manusia, perang, kelaparan di sana-sini, permusuhan, dendam, iri dan benci-membenci ini termasuk kemajuan?

Apakah setiap perbuatan, setiap pekerjaan yang dilakukan, harus didasari keinginan?

Apakah kalau orang menanam jagung tanpa mengharapkan apa-apa, melakukan demi cintanya kepada pekerjaan itu saja, maka hasilnya akan berkurang?

Apakah benar bahwa kemajuan lahir karena keinginan?

Keinginan membuat manusia menjadi hamba, terikat, dan hidupnya seperti boneka yang digerakkan oleh benang?benang nafsu keinginan.

Tidak ada kebebasan dalam arti kata yang selengkapnya.

Dan selama hidup kita dicengkeram sepenuhnya setiap saat oleh keinginan, maka pertentangan antar manusia tentu saja takkan pernah berhenti karena keinginan mutlak dikuasai oleh si aku, demi aku, punyaku dan selamanya kita bergerak demi aku masing-masing, Damai dan tenteram antara manusia takkan pernah terujud!

Pertentangan, persaingan, perebutan untuk aku masing-masing akan terus berlangsung, baik antara perorangan, antara kelompok, antara ras, antara bangsa!

Betapa menyedihkan.

Bilakah manusia sadar sepenuhnya akan hal ini?

Bukan hanya untuk mengetahui, karena pengetahuan hanyalah pengekoran belaka, mengekor yang sudah ada, yang sudah lalu.

Setiap orang pencuri TAHU bahwa mencuri adalah tidak baik.

Setiap orang penjudi TAHU bahwa berjudi adalah tidak baik.

Namun dia tetap mencuri, dia tetap berjudi.

Akan tetapi sekali dia MENGERTI, dalam arti kata mengerti sampai ke akarnya, mengenal diri dan keadaan dirinya sendiri, maka pengertian ini akan menghapus semua itu sehingga lenyap tanpa bekas!

"Subo,"

Bi Kiok berkata lagi.

"teecu (murid) kira akan percuma saja mencari sebuah benda yang tidak kita ketahui di mana adanya. Bagaimana mungkin mencari sebuah bokor emas dan sepanjang sungai Huang-ho yang begini luas dan panjang? Biar membuang waktu seratus tahun, mana mungkin dapat memeriksa daerah Huang-ho sampai habis? "Engkau benar, Bi Kiok. Agaknya bocah itu berada di tangan orang lain. Suami isteri yang lihai itu mencurigakan. Akan tetapi berat untuk melawan mereka seorang diri. Biarlah sekarang kita pergi mengunjungi Telaga Kwi-ouw yang tidak jauh dari sini."

Bi Kiok mengerutkan alisnya yang hitam panjang kecil.

"Telaga Kwi-ouw? Bukankah di sana sarang Kwi-eng-pang?"

"Benar. Aku hendak menemui Kwi-eng pangcu (Ketua Kwi-eng-pang), yaitu Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. Kedudukan kami berdua setingkat. Di dunia sekarang ini hanya ada lima orang yang diakui sebagai tokoh-tokoh yang mewakili kelima penjuru. Aku mewakili selatan, Kwi-eng Niocu mewakili barat, Ban-tok Coaong mewakili utara, Hek-bin Thian-sin mewakili timur, dan Toat-beng Hoatsu mewakili daerah di tengah daratan. Kabarnya mereka itu semua condong untuk bersekutu dengan Pek-lian-kauw dan bersama-sama menyusun kekuatan untuk menghadapi pemerintah. Dengan bergabung bersama mereka, tentu kelak akan terbuka jalan bagiku untuk memperoleh bokor itu."

"Akan tetapi... Subo telah membunuh Orang-orang Pek-lian-kauw di kuil itu, melukai tosu Pek-lian-kauw, membunuh teman murid Kwi-eng Niocu dan melukai murid kepala yang menjadi Ketua Ui-hong-pang itu! Tentu Subo akan dimusuhi mereka."

"Heh-heh, memang kusengaja! Itulah semacam kartu namaku untuk mereka, agar mereka membuka mata dan tahu siapa Siang-tok Mo-li dari selatan! Orang-orang itu berani menentangku, bukan? Sudah sepatutnya dibunuh. Hal ini tentu dimengerti oleh para pimpinan Pek-lian-kauw, maka kubiarkan tosu itu hidup. Dan kulukai murid Kwi-eng Niocu agar dia tidak memandang rendah kepadaku!"

"Akan tetapi, mungkinkah mereka mau mengerti setelah Subo melakukan kesukaan Subo atas diri para anggauta Pek-lian-kauw itu? Subo tidak hanya membunuh mereka, akan tetapi makan jantung mereka. Teecu tahu bahwa Subo mempunyai kebiasaan itu untuk memperkuat diri Subo, dan biarpun teecu sendiri tidak suka karena jijik untuk melakukannya, akan tetapi teecu tidak menentang. Hanya yang teecu sangsikan, apakah pihak Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pang akan dapat menerimanya?"

"Mereka sudah tahu akan kebiasaan dan kesukaanku, tentu mereka mengerti."

"Jadi mereka sudah mengerti? Akan tetapi teecu yang menjadi murid Subo malah belum mengerti mengapa Subo hanya suka makan jantung pria saja."

"Hal itu ada hubungannya dengan riwayatku, Bi Kiok."

"Mengapa tidak Subo ceritakan kepada teecu?"

Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menarik napas panjang, lalu berkata.

"Aku tidak suka menggali riwayat lama yang menyakitkan hati, akan tetapi tidak kuceritakan pun kelak engkau akan mengetahui. Daripada mendengar dari orang lain yang mungkin memutarbalikkan kenyataan, baiklah kaudengarkan riwayat singkatku yang menjadi pendorong mengapa aku hanya suka mengganyang jantung pria."

Iblis Betina Racun Wangi itu lalu bercerita dengan singkat.

Ketika dia masih muda sekali, dia telah mengalami bermacam penghinaan dan perlakuan buruk dari kaum pria.

Bu Leng Ci adalah seorang peranakan Jepang.

Ibunya diculik bajak laut Jepang, karena ibunya adalah seorang gadis nelayan di pantai laut selatan, kemudian ibunya dipaksa menjadi isteri muda kepala bajak itu sampai melahirkan dia.

Kemudian, dalam usia empat belas tahun dia dikawinkan dengan seorang laki-laki tua bangsa Jepang dan tinggal di Jepang.

Biarpun tua, laki-laki itu adalah seorang pendekar samurai yang kenamaan.

Hanya sayang, kakek itu hanya memperisterinya untuk melayaninya dalam keperluan sehari?hari belaka dan semenjak menjadi isterinya, jago samurai itu tidak pernah tidur dengannya!

Tentu saja hal ini menjadi siksaan dan barulah diketahui bahwa jago samurai yang dalam istilah dunia persilatan adalah seorang kiam-hiap (pendekar pedang) itu pantang untuk tidur dengan wanita.

Maka terjadilah hal yang wajar dalam keadaan seperti itu.

Seorang pemuda, tetangga mereka, seorang pemuda Jepang yang tampan, menarik hatinya.

Mereka saling jatuh cinta.

Hal ini diketahui oleh suaminya.

Namun pendekar Jepang itu, bersikap murah dan bijaksana, bahkan memberikan Leng Ci untuk menjadi lateri pemuda itu.

Namun, masa penuh madu itu hanya berlangsung tidak lebih dari beberapa bulan saja bagi Leng Ci.

Suaminya, pemuda yang tadinya bersumpah kerak-keruk mencintainya, segera berpaling muka dan bermain gila dengan wanita-wanita lain.

Dia menjadi seorang wanita yang disia-siakan oleh suami!

Pada waktu itu, Leng Ci pandai bermain pedang samurai, dilatih oleh suaminya yang pertama.

Setelah beberapa kali bercekcok, akhirnya Leng Ci membunuh suami ke dua ini bersama kekasih suaminya, dan melarikan diri, ikut ayahnya menjadi bajak laut.

Dalam beberapa tahun saja, karena dia memiliki wajah yang cantik manis, dia jatuh ke dalam pelukan berbagai pria yang tadinya bertekuk lutut bersumpah menyatakan cinta, akan tetapi kemudian meninggalkannya untuk wanita lain.

Belasan orang pria yang sudah dibunuhnya karena itu, dan akhirnya, ketika dia betul-betul jatuh cinta kepada seorang laki-laki gagah di pantai selatan, dia kembali menjadi isteri laki-laki ini dan hidup bahagia di pantai selatan.

Pada waktu itu dia baru berusia tujuh belas tahun!

Betapa menyedihkan hatinya ketika suami terakhir yang benar-benar dicintanya ini pun tidak setia kepadanya, dan mata duitan pula.

Suaminya adalah seorang tokoh dunia kaum sesat, dan pada suatu hari, suaminya itu membiusnya dengan obat sehingga dia tertidur dan dalam keadaan seperti itu, dia telah "dijual"

Oleh suaminya kepada lima laki-laki golongan hitam yang berani membayar mahal.

Selama dua hari dua malam, dalam keadaan pulas karena selalu dilolohi obat bius ini, dia dipermainkan dan ditiduri oleh lebih dari sepuluh orang laki-laki dan untuk itu suaminya telah mengantongi banyak uang!

Setelah sadar, Leng Ci mendapatkan dirinya telah terhina dan suaminya telah kabur membawa uang hasil penjualan dirinya dan semua barang berharga dalam rumah.

Bu Leng Ci lalu mencari suaminya itu dan beberapa bulan kemudian, dia dapat menemukan suaminya, membunuhnya dan mengganyang jantung pria itu hidup-hidup!

Itulah pertama kalinya makan jantung pria semenjak itu, setiap membunuh seorang pria, dia selalu makan jantungnya.

Makin lama Bu Leng Ci makin lihai, apalagi ketika kemudian dia berhasil menarik hati seorang datuk kaum sesat yang menjagoi daerah selatan, Yaitu Lam-hai Sin-ni (ibu Sie Biauw Eng) yang berkenan menurunkan beberapa ilmu silat tinggi, kepandaian Bu Leng Ci meningkat tinggi.

Bahkan dia memperdalam pula ilmu pedang samurai dari suami pertamanya yang masih sayang kepadanya dan dengan suka hati menggemblengnya.

Selama Lam-hai Sin-ni masih hidup, tentu saja Bu Leng Ci tidak berani menjagoi di daratan dan dia bahkan bersembunyi di Jepang untuk memperdalam ilmu samurainya.

Ketika jago samurai, suami pertamanya meninggal dunia, dia mewarisi semua milik bekas suami itu, termasuk pedang samurainya.

Dia telah mendengar akan kematian Lam-hai Sin-ni, barulah dia berani mendarat dan mulai melakukan petualangannya di daerah selatan sehingga belasan tahun kemudian dia menjadi datuk dari kaum sesat untuk daerah selatan.

"Demikianlah riwayat singkatku, muridku. Kaum pria hanya memandang wanita sebagai alat untuk memuaskan nafsu birahinya belaka! Cinta yang didengang-dengungkan, yang diucapkan dengan seribu satu macam sumpah, hanya dipergunakan sebagai umpan untuk memikat. Setelah kepuasan nafsu birahinya terpenuhi, maka mulailah matanya melirik ke kanan kiri mencari korban baru untuk memuaskan nafsu-nafsunya. Karena itu, aku muak dan aku benci kepada kaum pria umumnya!"

Biarpun dia sendiri telah banyak mengalami hal-hal yang mengerikan dan yang membuat hatinya mengeras, mendengar cerita gurunya ini, meremang juga bulu tengkuk Bi Kiok.

Maka berangkatlah guru dan murid itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan pantai Sungai Huang-ho menuju ke barat untuk mengunjungi Kwi-eng-pai di Telaga Setan di barat.

Akan tetapi, baru berjalan setengah hari lamanya, di luar sebuah hutan mereka bertemu dengan lima orang laki-laki yang keluhatannya gagah perkasa dan yang melakukan perjalanan dengan ilmu berlari cepat.

Setelah dekat, guru dan murid ini mengenal seorang di antara mereka yang bukan lain adalah Kiang Ti, Ketua Ui-hong-pang yang berpakaian serba kuning, murid kepala Kwi-eng Niocu Si Bayangan Hantu yang pernah dilukai oleh Bu Leng Ci.

Melihat orang ini, sambil terkekeh Bu Leng Ci menggerakkan kakinya melompat dan dia telah berdiri menghadang di tengah jalan!

Akan tetapi, ketika melihat wanita itu, Kiang Ti tidak menjadi takut atau kaget, bahkan tersenyum lebar dan cepat dia menjura sambil berkata.

"Aihh, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa dengan Locianpwe di sini! Kami memang sedang menanti Locianpwe."

Bibir yang tipis merah itu tersenyum mengejek.

"Apakah kau membawa teman untuk membalas pukulanku dahulu itu? Kalau hendak membalas, mengapa bukan gurumu sendiri saja yang datang?"

Biarpun ucapan itu terdengar mengandung ejekan dan penghinaan, namun ketua dari Ui-hong-pang itu sama sekali tidak menjadi marah, bahkan tersenyum makin lebar.

"Maaf, maaf... mana saya berani? Sama sekali bukan demikian, Locianpwe. Sesungguhnya kami diutus oleh Subo (Ibu Guru) untuk mencari Locianpwe dan mengundang Locianpwe untuk hadir dalam pertemuan puncak antara lima datuk yang akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan Pek-lian-kauw, berempat di Kwi-ouw."

Girang sekali hati Bu Leng Ci. Ternyata bahwa pengiriman "kartu nama"

Darinya itu berhasil.

Dia telah diakui dan mendapat kehormatan besar!

Betapapun juga, dia menekan kegirangan hatinya sehingga tidak tampak pada mukanya, dan dia berkata.

"Apakah kalian mengenal seorang bernama Yap Cong San dan isterinya bernama Gui Yan Cu?"

Kian Ti dan teman-temannya saling pandang.

Mereka berlima adalah tokoh-tokoh Kwi-eng-pang, murid-murid terkemuka dari Kwi-eng Niocu dan sudah mempunyai pengalaman luas.

Namun karena mereka itu bergerak di daerah barat, sedangkan Yap Cong San dan isterinya bertahun-tahun berada di Leng-kok dan tak pernah terjun ke dunia kang-ouw, maka mereka tidak mengenal suami isteri ini.

"Kami tidak pernah mendengar nama mereka, Locianpwe."

"Mereka adalah orang-orang penting, sebaiknya kalau kalian mencari mereka yang berada di daerah ini. Kalau berhasil menangkap mereka, bawa ke Kwi-ouw. Aku dan muridku akan langsung mendahului ke Kwi-ouw."

Kiang Ti dan teman-temannya menyanggupi dan kelima orang itu lalu melanjutkan perjalanan mencari suami isteri seperti yang diperintahkan Bu Leng Ci.

Sedangkan Bu Leng Ci sendiri melanjutkan perjalanan menuju ke Kwi-ouw dan diam-diam dia mentertawakan murid-murid Kwi-eng Niocu itu.

"Subo, dua orang yang telah berhasil dilukai Subo, mana mungkin dapat ditangkap oleh lima orang itu?"

Tiba-tiba Bi Kiok bertanya.

"Heh-heh, kau cerdik muridku. Memang kecil sekali kemungkinan mereka akan dapat menangkap suami isteri itu biarpun si isteri telah terluka oleh Siang-tok-soa di dadanya. Akan tetapi peduli apa? Kalau lima orang Kwi-eng-pai itu tewas, berarti suami isteri itu menjadi musuh Kwi-eng-pang, dan kalau sampai mereka berhasil menawan suami isteri itu, ada gunanya juga bagi kita. Mereka itu adalah ayah bunda bocah setan yang bernama Kun Liong itu."

Sebelum Bi Kiok menjadi murid iblis betina itu, tentu dia akan berseru kaget mendengar ini, atau setidaknya tentu akan berubah air mukanya.

Akan tetapi, semuda itu, Bi Kiok telah dapat menguasai perasaannya sehingga biarpun dia kaget bukan main, namun tidak ada perubahan pada wajahnya yang cantik dan dingin.

Namun pertemuan puncak antara lima orang datuk itu tidak lengkap.

Yang hadir dalam pertemuan itu hanyalah Bu Leng Ci, Kwi-eng Niocu, dan Hek-bin Thian-sin saja.

Sedangkan dua orang datuk yang lebih tua dan lebih terkenal, yang dianggap sebagai datuk nomor satu dan nomor dua, Yaitu Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, tidak muncul.

Hal ini mengecewakan para pimpinan Pek-lian-kauw, maka atas persetujuan bersama, pertemuan puncak diundur sampai kedua orang datuk itu dapat ditemukan dan diundang.

Melihat sarang yang menjadi pusat Kwi-eng-pang di mana Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio menjadi ketuanya, Bu Leng Ci merasa iri hati sekali.

Sebagai seorang perantau dan petualang, melihat keadaan "rekannya"

Yang makmur ini, hatinya ingin sekali seperti rekannya itu.

Keadaan Kwi-eng-pang memang kuat sekali.

Markas mereka berada di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah Kwi-ouw, sebuah telaga yang besar dikurung hutan-hutan pegunungan sehingga bayangan hutan-hutan yang gelap membuat air telaga yang tenang dan dalam itu kelihatan hitam menyeramkan.

Karena ini agaknya maka telaga ini disebut Telaga Setan.

Di atas pulau ini didirikan rumah-rumah, memenuhi pulau.

Rumah gedung yang mewah di tengah-tengah adalah tempat tinggal Sang Ketua, sedangkan rumah-rumah di sekitarnya ditinggali para pimpinan dan anggauta Kwi-eng-pang yang jumlahnya lebih dari dua ratus orang, laki-laki dan wanita.

Pekerjaan para anggauta Kwi-eng-pang, selain berlatih silat, juga sebagai nelayan di telaga, ada yang bercocok tanam di sekeliling telaga yang memiliki tanah subur, ada pula yang berburu binatang di dalam hutan-hutan.

Akan tetapi yang menjamin kehidupan mereka hidup mewah dan makmur adalah "sumbangan-sumbangan"

Dari para penduduk di daerah itu, sumbangan atau "pajak"

Yang diberikan baik secara sukarela karena takut atau dengan paksaan!

Telaga itu sendiri sebetulnya amat dalam dan mengandung banyak ikan.

Akan tetapi semenjak Kwi-eng Niocu bermarkas di tempat itu belasan tahun yang lalu, keadaan telaga berubah menjadi tempat yang berbahaya sekali, Di sekeliling pulau, di dalam air telaga dipasangi banyak alat rahasia yang membahayakan para pendatang, dan setelah banyak penduduk sekitar daerah itu yang biasanya mencari ikan di telaga tewas dalam kedaan mengerikan, kini tidak ada lagi orang berani mendekati telaga itu.

Hanya para anggauta Kwi-eng-pang saja yang berani mendayung perahunya di atas telaga karena mereka telah hafal akan rahasia di situ.

Dengan demikian, selain memonopoli semua ikan yang berada di dalam air telaga, juga keadaan markas di pulau itu terlindung kuat, tidak mudah diserbu musuh seperti keadaan sebuah benteng saja layaknya!

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih.

Selamanya belum pernah menikah sehingga orang-orang yang tidak suka kepadanya mengatakan bahwa saking jahatnya maka Ang Hwi Nio menjadi seorang perawan tua!

Tubuhnya masih ramping, agak tinggi, dan biarpun usianya sudah mendekati enam puluh tahun, rambutnya belum ada ubannya sama sekali, matanya masih terang dan giginya masih utuh tersusun rapi seperti keadaan seorang perawan muda saja!

Pakaiannya selalu bersih dan rapi, seperti pakaian seorang nyonya bangsawan, juga rambutnya diminyaki dan digelung rapi, dihias emas permata yang mahal-mahal.

Melihat orangnya, yang tidak mengenalnya tentu akan mengira dia seorang wanita yang mulai berangkat menjadi nenek-nenek lemah!

Akan tetapi sesungguhnya dia adalah seorang yang berilmu tinggi, seorang yang ditakuti dunia kang-ouw.

Bahkan mendengar namanya disebut saja sudah cukup membuat jantung orang berdebar tegang dan bulu tengkuk meremang karena sudah terkenal di mana-mana nama ini, sudah diketahui semua orang bahwa wanita yang tak pernah keluar dari pulau itu, sekali keluar tentu akan ada yang tewas di tangannya.

Hebatnya, setiap kali dia turun tangan membunuh orang yang dikehendakinya, tidak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat bayangannya saja dan mendengar suara ketawanya yang halus.

Karena sepak terjangnya inilah maka dia dijuluki Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu).

Disebut nona karena dia masih perawan dan disebut Bayangan Hantu karena yang tampak hanya bayangannya.

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tinggal di pulau telaga itu dan hidup sebagai seorang ratu!

Rumahnya merupakan gedung indah dan mewah seperti sebuah istana saja, setiap hari dikelilingi pelayan-pelayan cantik dan cara hidupnya royal dan mewah sekali.

Memang Ang Hwi Nio ini tidak pernah menikah.

Akan tetapi dia mempunyai seorang anak angkat, juga merupakan murid yang paling pandai.

Anak angkat ini bernama Liong Bu Kong, pada waktu itu berusia sembilan belas tahun.

Seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali sehingga patut tinggal di dalam istana itu, patut menjadi putera seorang bangsawan, dan mengherankan kalau pemuda setampan ini menjadi putera seorang iblis betina seperti Kwi-eng Niocu!

Wajah pemuda ini tampan dan bibirnya selalu menyungging senyum dikulum, Sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya selalu berseri.

Akan tetapi bagi yang memperhatikan, di balik sinar mata itu terdapat sesuatu yang membuat orang menjadi curiga dan ngeri.

Tidak ada seorang pun mengetahui dari mana datangnya pemuda ini.

Para anggauta Kwi-eng-pang sendiri hanya mengetahui bahwa ketua mereka itu datang-datang membentuk Kwi-eng-pang sudah membawa seorang anak laki-laki bernama Liong Bu Kong yang menurut pengakuannya adalah anak angkatnya.

Melihat keadaan ini semua, tidak mengherankan apabila timbul iri dan ingin di dalam hati Bu Leng Ci.

Dia merasa suka tinggal di tempat itu, dan melihat betapa rekannya itu, Ang Hwi Nio, hidup dalam kernewahan dan kemuliaan, dihormati sebagai ratu oleh dua ratus orang lebih, disegani dan ditakuti orang-orang di sekitar daerah itu.

"Tempatmu ini hebat sekali, membuat orang betah berada di sini,"

Kata Bu Leng Ci ketika pada suatu siang dia bersama muridnya duduk berhadapan dengan Ang Hwa Nio di tepi telaga, dalam sebuah taman buatan yang indah, di bawah pohon yangliu yang bergerak-gerak meliuk-liuk seperti tubuh seorang penari yang lemah gemulai!

"Engkau suka dengan tempat ini?"

Kwi-eng Niocu bertanya tanpa mengangkat muka karena dia sedang asik memeriksa kuku jari-jari tangannya.

Kukunya panjang-panjang dan terpelihara baik-baik, diberi warna merah muda, dan dipelihara meruncing.

Kelihatannya memang bagus dan cantik sekali, akan tetapi dalam pandangan orang kang-ouw tangan dengen kuku jari panjang-panjang menarik itu sama sekali tidak tampak indah menggairahkan, bahkan sebaliknya mendatangkan rasa ngeri karena satu di antara kehebatan ilmu wanita ini terletak pada kukunya yang beracun itu!

Jangankan sampai kena dicengkeram, baru tergurat sedikit saja sudah cukup mengirim nyawa lawan ke neraka!

"Kalau memang suka mengapa tidak tinggal di sini saja?"

Bu Leng Ci mengangkat muka, sinar matanya menyambar dan kedua alisnya berkerut.

"Apa maksudmu, Pangcu (Ketua)?"

Tanyanya, suaranya mengandung kemarahan.

"Engkau begitu berani memandang rendah kepadaku dan menyuruh aku menjadi kaki tanganmu atau anak buahmu?"

Kwi-eng Niocu Ang Hwa Nio melirik dan senyum yang menghias bibirnya amat menyeramkan.

"Siapa yang ingin engkau menjadi anak buahku, Mo-li? Kita adalah rekan dan kedudukan kita setingkat, sungguhpun aku menjadi seorang pangcu dan engkau hanya seorang petualang tanpa tempat tinggal. Engkau tadi mengatakan suka kepada tempat ini dan aku menawarkan kepadamu untuk tinggal di sini, bukan sebagai anak buah, bukan pula sebagai pembantuku karena engkau memang bukan anggauta Kwi-eng-pang."

"Habis, sebagai apa? Tamu? Mana ada tamu tinggal terus-menerus?"

"Juga bukan tamu, tetapi sebagai adik angkat. Maukah?"

Bu Leng Ci bangkit berdiri dan mukanya menjadi merah.

Bi Kiok yang sejak tadi duduk mendengarkan dan menonton, diam saja namun diam-diam dia merasa tegang juga karena kalau sampai gurunya dan Ketua Kwi-eng-pang itu bertanding, tentu hebat bukan main akibatnya.

"Kwi-eng-pangcu! Menjadi adik angkat berarti harus tunduk dan taat kepada kakak angkatnya, berarti sama saja! Apakah dengan memberi tempat tinggal kepadaku harus kubayar dengan tunduk dan taat kepadamu?"

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tertawa, suara ketawanya merdu dan halus, akan tetapi ada sesuatu yang dingin dan menyerannkan di balik suara ketawa ini, seperti suara ketawa seekor ibils betina yang merayu dan menjatuhkan hati orang-orang yang kurang kuat batinnya.

"Siang-tok Mo-li, tepat sekali apa yang kudengar tentang dirimu. Kau amat keras hati dan penuh prasangka. Cocok untuk menjadi adikku! Tentu saja sudah sepatutnya kalau kau menjadi adik angkatku, bukankah aku lebih tua darimu, sedikitnya sepuluh tahun lebih tua? Apa engkau merasa rendah dengan menjadi adik angkat Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, ketua dari Kwi-eng-pang?"

"Betapapun juga, seorang adik angkat tentu lebih rendah dari kakaknya, dan hal ini sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan usia."

"Hemmm, habis apa yang menentukannya kalau bukan usia? Kaumaksudkan kepandaian? Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci, apakah engkau tidak percaya bahwa kepandaianku lebih tinggi daripada kepandaianmu?"

"Ah, aku tidak percaya!"

Mereka berdua kini sudah berdiri saling berhadapan dan Kwi-eng Niocu Ang (Lanjut ke

Jilid 14) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 Hwi Nio sudah lupa akan kukunya, kini memandang kepada wanita pendek di depannya itu penuh perhatian.

"Kalau begitu, biarlah kepandaian yang menentukan!"

"Kwi-eng Niocu, aku tidak takut kepadamu! Akan tetapi, aku diundang ke sini untuk menghadiri pertemuan puncak yang sayangnya gagal. Setelah semua orang pergi, kau menahan aku untuk tinggal beberapa hari di sini. Sepantasnya aku berterima kasih kepadamu dan akan ditertawakan orang kalau aku sekarang bertanding melawanmu sebagai musuh! Pikirlah baik-baik! Benarkah kita harus saling bermusuh, bukan bersekutu seperti yang direncanakan semula?"

Kembali Kwi-eng-cu Ang Hwi Nio tertawa halus.

"Hi-hi-hih, Bu Leng Ci, engkau benar-benar keras seperti baja! Diajak menguji kepandaian kauanggap bertempur seperti musuh! Dikalahkan dengan usia kau tidak mau, maka jalan satu-satunya untuk menentukan siapa yang patut menjadi kakak dan siapa adik, hanyalah dengan mengukur kepandaian masing-masing!"

Bu Leng Ci mengerutkan alisnya.

Kini dia mengerti apa yang dikehendaki oleh Ketua Kwi-eng-pang yang aneh ini.

Akan tetapi, dia tetap ragu-ragu biarpun dia akan suka sekali tinggal di tempat yang indah itu.

"Tetap saja tidak baik, Pangcu"

Dia menggeleng kepala.

"Kalau aku kalah atau menang, tidak akan berubah, kita tidak mungkin tinggal terus bercampur menjadi satu di tempat ini. Kalau aku menang, aku tidak mau menjadi Ketua Kwi-eng-pang."

"Di sebelah timur pulau ini ada sebuah pulau lain yang lebih kecil, akan tetapi tidak kalah indahnya. Tempat itu sekarang masih kubiarkan kosong dan dapat dijadikan tempat tinggal seorang di antara kita."

Sinar mata Bu Leng Ci berseri dan dia menoleh ke kiri.

Benar saja, dari tempat yang agak tinggi di taman itu, dia melihat sebuah pulau lain yang penuh dengan pohon-pohon.

"Hemm, kalau begitu, lain persoalannya. Bagaimana kita akan mengukur kepandaian masing-masing? Dengan bertanding? Besar kemungkinan yang kalah akan tewas seketika!"

Ang Hwa Nio mengangguk.

"Kau benar, tidak perlu kita bertanding tanpa sebab dan menghadapi bahaya maut secara konyol. Aku mendengar kau memiliki banyak macam ilmu, akan tetapi yang paling terkenal adalah samuraimu itu. Nah, kita berlumba, siapa yang lebih unggul, samuraimu ataukah kuku jariku."

"Pangcu, jangan main-main! Ataukah kau benar-benar memandang rendah samuraiku? Kalau cuma kuku jarimu yang rusak, masih tidak apa, bagaimana kalau sampai jari tanganmu ikut putus?"

"Hi-hi-hik, kembali kau salah sangka. Jangan membesarkan prasangka, kataku tadi. Kita bukan bertanding, melainkan berlumba. Llhat di permukaan air telaga itu, banyak ikan-ikan kecil bukan? Nah, kita berlumba cepat, mana yang lebih cepat menangkap ikan-ikan itu, samuraimu ataukah kuku jariku. Tentu saja hal itu bukan menjadi tanda siapa yang lebih lihai kalau bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi setidaknya dapat dipakai untuk menentukan siapa patut menjadi kakak dan siapa adik."

Bu Leng Ci mengangguk-angguk.

Tentu saja dia berani berlumba seperti itu.

Betapapun juga, samurainya lebih paniang dan tentu dia lebih cepat.

"Kalau sudah ketahuan siapa yang menang bagaimana?"

"Yang menang akan menjadi kakak angkat dan tetap tinggal di pulau ini, yang kalah menjadi adik angkat dan tinggal di pulau yang lebih kecil. Kita tetap bersaudara."

Apa pun akibatnya, kalah atau menang, tetapi enak dan menyenangkan hati Bu Leng Ci.

Andaikata kalah sekalipun, bukan hal yang merendahkan untuk menjadi adik angkat Ketua Kwi-eng-pang, bukan berarti menjadi anak buahnya atau menjadi orang yang lebih rendah tingkat kedudukannya!

Betapapun juga, pengalaman hidupnya yang penuh kepahitan membuat wanita iblis ini selalu penuh prasangka dan amat Hati-hati menjaga diri.

Maka dia masih belum puas dan belum mau menerima begitu saja sebelum dia mengetahui apa yang menjadi sebabnya maka Ang Hwa Nio sebaik itu kepadanya, malah suka mengangkatnya sebagai saudara.

Dia sudah terbiasa dengan kehidupan kaum sesat, di antara bajak-bajak.

Tidak ada perbuatan yang tidak berdasarkan suatu kehendak atau keinginan demi keuntungan diri sendiri.

Perbuatan yang menyimpang dari dasar ini merupakan hal yang tidak mungkin, atau tidak lumrah!

"Aku dapat menerima usul itu, Pangcu.

Akan tetapi, apakah sebabnya engkau ingin menjadi saudara angkatku?"

"Tentu saja ada sebabnya, Mo-li. Akan tetapi jangan khawatir, bukan hanya untuk kepentinganku pribadi, melainkan juga keuntunganmu, keuntungan kita berdua sebagai wanita-wanita yang sama membenci pria."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Dengar baik-baik. Pada waktu sekarang ini, di dunia kita hanya ada lima orang datuk, bukan? Dua di antaranya adalah kita, dan yang tiga lagi semua pria. Menurut pendapatku, tingkat kepandaian kita berlima seimbang dan mungkin sekali tingkat kepandaian dua di antara mereka, Toat-beng Hoat-su dan Ban-tok Coa-ong, agak lebih tinggi. Sekali waktu tentu akan timbul perebutan untuk diakui sebagai nomor satu yang akan menjadi pemimpin, dan agaknya seorang di antara mereka itu tentu akan menang. Akan tetapi, kalau kita menjadi enci dan adik angkat, dengan maju berdua, siapakah di antara mereka bertiga yang akan mampu mengalahkan kami? Mengertikah kau?"

Bu Leng Ci mengangguk-angguk dan diam-diam memuji kecerdikan Ketua Kwi-eng-pang itu.

Memang akan sial sekali kalau sampai seorang pria menjadi pimpinan kelima orang datuk.

Harus tunduk kepada seorang pria.

Tidak sudi!

Melawan seorang diri akan berat sekali.

"Akan tetapi, bagaimana kalau mereka pun bersatu seperti kita?"

"Tidak mungkin! Mereka bertiga bersaing, mana mau bersatu! Nah, bagaimana? Maukah engkau menjadi saudara angkatku?"

"Baik, mari kita mulai berlumba!"

Kedua orang wanita sakti itu lalu berdiri di tepi pulau, memandang ke arah air telaga, menanti munculnya ikan-ikan kecil yang kadang-kadang tenggelam, bermain-main di permukaan air.

Bi Kiok juga berdiri dan menonton dengan wajah tak berubah, biarpun diam-diam dia merasa girang juga akan keputusan gurunya.

Dia pun sudah bosan diajak merantau terus, tidak tentu tempat tinggalnya.

kadang-kadang tidur di atas pohon, di kuil-kuil kotor.

Tempat tinggal itu memang indah dan dia suka sekali tinggal di situ.

Ketika ikan-ikan mulai muncul di permukaan air telaga, Ang Hwa Nio berkata lirih.

"Nah, kita mulai sebelum mereka menyelam kembali. Mari!"

Bu Leng Ci dan Ang Hwi Nio meloncat dengan berbareng.

Bu Leng Ci sudah mencabut samurainya dengan gerakan kilat, setelah tubuhnya tiba di atas tempat di mana ikan-ikan berenang, samurainya berkelebat seperti kilat menyambar ke permukaan air.

Ang Hwi Nio berjungkir balik, kepala di bawah dan kedua lengannya bergerak cepat sehingga sukar diikuti pandang mata, mencengkeram ke arah air.

Ikan-ikan itu tentu saja kaget dan segera menyelam kembali.

Dua orang wanita sakti itu dengan gerakan berputar di udara, dapat melayang kembali ke tepi pulau.

Gerakan mereka seperti burung walet beterbangan, indah dan cepat sekali membuat Bi Kiok terbelalak kagum.

"Hemm, lihat berapa ikan yang mampus oleh samuraiku!"

Bu Leng Ci berkata bangga dan sebelum kakinya menginjak tanah, samurainya telah bersarung kembali.

"Satu-dua-tiga... aihh, ada sepuluh ekor yang mati terbelah. Kepandaianmu hebat, Moi-moi. Aku akan berpikir panjang dulu sebelum melawan samuraimu dalam pertempuran!"

Kata Ang Hwi Nio setelah menghitung bangkai-bangkai ikan yang telah mengambang di permukaan air dengan tubuh terpotong menjadi dua!

"Apa?

Kau menyebutku moi-moi (adik perempuan)!"

Bu Leng Ci menegur penasaran.

Ang Hwi Nio tertawa halus dan memperlihatkan kedua tangannya yang tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Bu Leng Ci memandang terbelalak melihat betapa kesepuluh buah kuku jari itu masing-masing telah menusuk seekor ikan, dan ikan-ikan itu telah berubah mengering seperti dibakar!

"Bukan main!

Engkau hebat!

Akan tetapi, engkau pun hanya dapat membunuh sepuluh ekor, tidak lebih banyak dan aku!"

Bu Leng Ci menegur.

Ang Hwi Nio menggerakkan kedua tangannya dan kesepuluh ekor ikan itu terlempar kembali ke atas air telaga, mengambang dekat ikan-ikan yang menjadi korban samurai Bu Leng Ci.

Baca Juga: Mutiara Hitam 4

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert