Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 3

Eps 3 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

Kiranya engkau seorang berkepandaian yang berpura-pura bodoh, ya?

Agaknya engkau memang utusan mereka untuk merampas tawanan kami?"

"Tidak sama sekali!!"

Jawab tosu itu.

"Pinto hanya kebetulan saja lewat dan tanpa sebab ditawan oleh orang-orangmu. Pangcu, engkau keliru sekali kalau menculik anak ini dan berarti engkau memancing datangnya bahaya yang akan menghancurkan Ui-hong-pang. Apakah gurumu, Kwi-eng Niocu masih belum bertobat dan berani menentang The-taiciangkun? Kuharap saja engkau dapat sadar dan membiarkan pinto membawa pergi nona kecil ini sehingga urusan akan habis sampai di sini saja."

"Tua bangka keparat! Siapa takut kepadamu? Hayo katakan, siapa engkau sebelum mati di depan kakiku!"

"Sudah pinto katakan, orang menyebut pinto Bu Beng Tosu (Tosu Tanpa Nama)."

"Keparat! Dengan menggunakan nama Laksamana The Hoo, apa kau kira aku Kian Ti akan takut kepadamu? Engkau tidak mau mengaku nama, baiklah, engkau akan mati tanpa nama!"

Setelah berkata demikian, Kian Ti menggerakan kedua lengan tangannya.

Jari-jari tangannya dibentuk seperti cakar harimau, kedua tangan itu digerak-gerakkan perlahan saling menyilang dan berputaran dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah semua lengan kedua tangannya remuk, dan perlahan-lahan, kedua lengan yang telanjang karena lengan bajunya tersingkap itu berubah menjadi kemerahan, makin lama makin merah sampai akhirnya menghitam!

Melihat perubahan pada lengan ini diam-diam Kun Liong terkejut sekali.

Biarpun dia belum pernah mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, akan tetapi dia adalah putera suami isteri yang sakti sehingga pernah dia mendengar penuturan ayah bundanya tentang ilmu-ilmu pukulan yang mujijat, yang dilatih oleh tokoh-tokoh persilatan dengan cara yang aneh-aneh pula.

"Suhu, dia mempunyai tangan beracun!"

Kata Kun Liong ketika melihat kedua tangan yang kehitaman.

"Totiang, apakah itu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)?"

Li Hwa juga bertanya. Kakek itu tidak menjawab, bahkan berkata kepada Kiang Ti.

"Kiang-kongcu, sebelum terlambat kuperingatkan kepadamu agar sadar dan tidak menggunakan kekerasan terhadap pinto seorang tua."

Akan tetapi, sikap dan ucapan kakek itu seperti orang guru menasihati murid dianggap sebuah tantangan yang menghina oleh Kiang Ti.

Tiba-tiba dia menerjang ke depan, berlari sambil memekik nyaring.

"Yaaatttt!!"

Kedua tangannya yang berubah menjadi hitam itu menghantam ke dada dan perut kakek yang berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak untuk menangkis maupun mengelak itu.

"Plakk! Bukkk!!"

Tubuh kakek yang menggendong Li Hwa itu sama sekali tidak terguncang seperti sebuah pilar batu diterjang lalat, akan tetapi Kiang Ti terbelalak, tubuhnya seperti lumpuh dan ia roboh berlutut di depan kedua kaki orang tua itu dan mulutnya memuntahkan darah!

"Siancai"!"

Kakek itu berkata, menunduk dan melihat tanda dua telapak tangan di dada dan perutnya karena bajunya di bagian yang terpukul itu telah berlubang dengan pinggirnya seperti dibakar, akan tetapi kulit tubuhnya sama sekali tidak ada tanda apa-apa.

"Mengapa engkau keras kepala, Pangcu? Untung di dalam buntalan pinto yang kalian rampas itu terdapat akar obat yang bentuknya seperti ular belang. Masaklah dengan air dan minum airnya, tentu lukamu akan sembuh."

Dengan tenang, kakek itu lalu melangkah menuju ke pintu, diikuti oleh Kun Liong yang merasa makin takjub dan bangga kepada kakek yang menjadi gurunya itu.

"Tunggu"

Locicianpwe"

Nama apakah... yang akan kusebutkan... kepada... guruku kelak...?"

Kiang Ti berkata tanpa bangkit dari lantai di mana dia jatuh berlutut.

"Hemmm, katakan bahwa akar cendana sudah lama dikubur, dan kepala naga sudah lama lenyap dari sungai telaga""

Tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap bersama anak perempuan yang digendongnya dan bocah gundul yang digandengnya dari pandang mata Kiang Ti dan anak buahnya.

Kiang Ti terbelalak, bibirnya berkata dengan keluhan panjang "Aahhh"

Tongkat akar cendana berkepala naga...

mengapa kakek sakti itu masih hidup dan muncul di sini...?

Sungguh sialan..."

Dia terguling dan roboh pingsan!

Kun Liong dan Li Hwa memejamkan mata dan merasa ngeri.

Apalagi Kun Liong yang merasa betapa tubuhnya tergantung dengan tangan kanan dan meluncur seperti terbang cepatnya itu!

Setelah lama dan napas mereka terengah karena kencangnya angin menderu di depan hidung, secara tiba-tiba angin berhenti dan ketika mereka membuka mata, kakek itu telah berhenti menggunakan ilmu lari cepat yang tidak lumrah hebatnya itu!

Li Hwa melorot turun dari gendongan dan serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek aneh itu.

"Mohon Locianpwe sudi memaafkan teecu yang tidak tahu bahwa teecu telah tertolong oleh Locianpwe Bun Hwat Tosu yang sakti!"

Kun Liong terkejut sekali.

Tentu saja dia sudah mendengar nama ini, nama yang dipuji-puji oleh ayah bundanya sebagai nama seorang di antara manusia-manusia sakti seperti dewa di dunia ini!

Bahkan nama ini disejajarkan dengan nama Tiang Pek Hosiang, guru ayahnya yang menjadi orang paling sakti di Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum )!

Nama yang dimiliki oleh tokoh pertama dari Hoa-san-pai!

Maka dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu juga mohon maaf bahwa teecu tidak tahu telah diambil murid oleh Ketua Hoa-san-pai yang mulia!"

Kakek itu tertawa sambil mengelus jengotnya.

"Siancai"! Anak-anak sekarang benar-benar bermata tajam sekali. Eh, Nona Li Hwa, bagaimana engkau bisa menduga bahwa pinto adalah Bun Hwat Tosu?"

"Suhu pemah menyatakan bahwa di antara sahabat-sahabat beliau yang memiliki kesaktian tinggi adalah seorang tua yang bersenjata sebatang tongkat terbuat dari akar kayu cendana dan berukirkan kepala naga. Ketika tadi Locianpwe menyebut kayu cendana dan kepala naga, maka tahulah teecu."

"Ha-ha-ha, engkau memang cerdik, patut menjadi murid yang mulia The-tai ciangkun! Gurumu terlalu memuji pinto. Beliau sendiri adalah seorang ahli silat yang tinggi sekali ilmunya, seorang ahli sastra yang jarang tandingannya, seorang ahli perang yang jempolan dan seorang pemimpin besar armada yang luas pengetahuannya. Mana mungkin pinto yang bodoh sederhana dapat dibandingkan dengan dia? Nah, Nona kecil yang baik, apakah sekarang engkau dapat pulang sendiri ke Liok-ek-tung?"

Li Hwa mengangguk.

"Liok-ek-tung tidak jauh lagi dari sini, Locianpwe. Harap Locianpwe sudi singgah di rumahku, agar kedua orang tuaku dapat menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang sudah menolongku, dan apabila mungkin dapat bertemu dengan Suhu..."

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Tidak perlu, tidak perlu... dan tentang pertemuan dengan gurumu, kelak tentu akan tiba saatnya pinto menghadap yang mulia. Nah, pulanglah agar orang tuamu berlega hati."

Sekali lagi Li Hwa mengangguk-anggukkan kepalanya di depan kaki kakek itu.

"Teecu menghaturkan terima kasih dan bermohon diri."

Li Hwa bangkit berdiri, mengerling kepada Kun Liong.

"Selamat jalan, Adik Li Hwa! Jangan lupa kepadaku, ya!"

Li Hwa tersenyum, memandang kepala Kun Liong yang licin mengkilap.

"Mana bisa aku melupakan itu?"

Dia menuding. Kun Liong juga tertawa dan meraba kepalanya.

"Mengapa ragu-ragu? Katakan saja kepalaku, kepala gundul buruk!"

"Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu, hi-hik!"

Li Hwa tertawa, Kun Liong tertawa dan keduanya saling pandang seperti dua orang sahabat lama.

Setelah menjura sekali lagi kepada Bun Hwat Tosu, Li Hwa lalu meloncat dan berlarian menuju ke kota Liok-ek-tung di timur.

Setelah bayangan anak perempuan itu lenyap di balik pohon-pohon, Bun Hwat Tosu memandang Kun Liong dan bertanya.

"Kun Liong, bagaimana engkau bisa tahu bahwa Bun Hwat Tosu adalah Ketua Hoa-san-pai?"

"Nama Suhu dihormati dan dipuji-puji oleh Ayah Bunda teecu."

Kakek itu mengerutkan alisnya.

Mendengar namanya dihormati dan dipuji-puji hatinya merasa tidak enak.

Pujian sama bahayanya dengan musuh yang datang dari belakang, berbeda dengan kata-kata keras yang seperti musuh datang dari depan.

"Siapa nama ayahmu?"

"Ayah bernama Yap Cong San."

Akan tetapi Bun Hwat tidak mengenal nama ini.

"Ayah menjajarkan Suhu setingkat dengan Sukong Tiang Pek Hosiang."

Kini kakek itu mengangkat kedua alisnya.

"Ahhh! Tiang Pek Hosiang bekas ketua Siauw-lim-pai? Heran sekali! Dan dia itu sukongmu (kakek gurumu)?"

"Ayah adalah murid beliau."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Hemm, pantas kalau begitu"

Gerakanmu memiliki dasar Siauw-lim-pai sungguhpun sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang aneh..."

"Dari ibu teecu."

Kun Liong memotong.

"Hemmm, ibumu juga lihai sekali?"

"Hanya kalah sedikit oleh Ayah, akan tetapi Ibu menang dalam hal ilmu pengobatan. Ibu adalah sumoi (adik seperguruan) dari Supek Cia Keng Hong""

"Ahhhh! Benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa! Kalau begitu, pinto telah kesalahan besar mengambil engkau sebagai murid!"

Serta-merta Kun Liong menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki orang tua itu karena khawatir kalau-kalau gurunya membatalkan pengangkatan murid.

"Harap Suhu tidak membatalkan teecu menjadi murid."

"Kenapa? Engkau keturunan orang-orang pandai dan melihat dasarmu, sepatutnya engkau menjadi murid Siauw-lim-pai. Seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh belajar dari orang lain, dan kalau pinto menerimamu sebagai murid, tentu pinto kesalahan terhadap Siauw-lim-pai."

"Teecu bukan murid Siauw-lim-pai!"

"Akan tetapi ayahmu?"

"Ayah pun bukan murid Siauw-lim-pai, hanya bekas murid. Sudah tidak diakui lagi. Menurut penuturan Ayah, Ayah pernah membuat kesalahan besar terhadap Siauw-lim-pai, biarpun diampuni akan tetapi tidak lagi diakui murid, hanya sebagai sahabat baik para pimpinan Siauw-lim-pai saja. Harap Suhu percaya keterangan teecu karena teecu tidak membohong."

Kakek itu kembali mengelus jenggotnya.

Dia sudah mendengar tentang riwayat Tiang Pek Hosiang yang mengundurkan diri dari Siauw-lim-pai (baca cerita Pedang Kayu Harum), akan tetapi dia tidak pernah mendengar tentang murid-murid kakek sakti itu.

Dia mengira bahwa tentu ayah bocah ini tidak diakui sebagai murid Siauw-lim-pai karena tersangkut persoalan gurunya.

Padahal, duduknya pekara tidaklah demikian.

Yap Cong San kehilangan haknya sebagai anak murid Siauw-lim-pai karena dia menikah dengan Gui Yan Cu, dara yang dianggap terlibat dalam urusan gurunya, Tung Sun Nio dan Tiang Pek Hosiang sehingga dapat mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ).

"Akan tetapi, kalau ayah bundamu sendiri adalah orang-orang pandai, perlu apa engkau belajar dari pinto?"

Kun Liong mengerutkan alisnya, memutar otak untuk memberi jawaban yang tepat.

Kemudian dengan suara sungguh-sungguh dia menjawab.

"Belajar dari ayah dan ibu sendiri tidak akan maju, Suhu."

"Hemm, mengapa tidak akan maju? Ayahmu adalah murid Tiang Pek Hosiang yang berilmu tinggi, sedangkan ibumu adalah sumoi dari Cia-taihiap (Pendekar Besar Cia) yang sakti, tentu ayah bundamu memiliki kepandalan tinggi pula. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa belajar dari orang tuamu sendiri tidak akan maju?"

"Karena Ayah terlampau keras kepada teecu sehingga teecu selalu takut-takut, belajar dari Ayah tidak akan dapat maju, adapun ibu terlalu memanjakan teecu, belajar lelah sedikit sudah disuruh mengaso, juga tidak akan maju."

Kini kakek itu mengerutkan alisnya yang berwarna putih, memandang tajam kepada Kun Liong, kemudian berkata.

"Sungguh alasan yang tidak dapat diterima. Engkau agaknya seorang anak yang nakal dan bandel, Kun Liong, apakah kati kenakalanmu maka engkau meninggalkan rumah?"

"Wah, tidak"

Tidak, Suhu.

Dan bukan hanya itu alasan teecu.

Masih ada lagi alasan kuat mengapa teecu tidak ingin agar Suhu membatalkan teecu sebagai murid Suhu."

"Hemm, alasan tidak masuk akal apa lagi?"

"Pelajaran dari Ayah Bunda teecu dapat kapan saja, akan tetapi pertemuan dengan Suhu merupakan hal yang kebetulan sekali dan kiranya tidak akan ada kesempatan ke dua bagi teecu, maka tentu saja teecu ingin sekali menjadi murid Suhu yang namanya dipuji-puji oleh Ayah."

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Hemm"

Alasan ini pun tidak kuat dan hanya menonjolkan kemurkaanmu akan ilmu silat saja."

Kun Liong menjadi gugup.

"Ah, sama sekali tidak, Suhu! Teecu benci"

Benci"

Akan ilmu silat!"

"Heee?"

"Maksud teecu"

Teecu benci akan penggunaannya yang hanya ditujukan untuk memukul lain orang, melukai bahkan membunuh lain orang."

"kalau begitu, mengapa engkau bersikeras hendak belajar ilmu silat dari pinto (aku)?"

"Justru karena itu, teecu ingin memiliki ilmu kepandaian tinggi agar teecu dapat mempergunakannya untuk mencegah orang-orang yang pandai silat menganiaya dan memukul orang lain."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Bisa diterima alasanmu, akan tetapi untuk memperoleh ilmu silat tinggi, ayah bundamu cukup untuk mengajarmu, tidak perlu engkau belajar lagi dari pinto."

Kun Liong menjadi gelisah.

Dia masih berlutut dan kini dia mengangkat mukanya memandang kakek itu sambil berkata.

"Harap Suhu suka menerima teecu, dan sesungguhnya hal ini bukan semata untuk kepentingan teecu, melainkan demi kebersihan nama dan kehormatan Suhu sendiri."

Bun Hwat Tosu terkejut sekali, menyentuh pundak Kun Liong dan bertanya.

"Apa maksudmu?"

Kun Liong menundukkan mukanya, hatinya menjadi berdebar takut melihat betapa ucapannya tadi membuat kakek itu bersikap demikian sungguh-sungguh.

Namun sudah kepalang baginya, menggunakan siasat yang paling lihai.

Dia tahu bahwa orang-orang aneh seperti Bun Hwat Tosu ini tidak membutuhkan apa-apa lagi dan satu-satunya hal yang masih dipentingkan hanya satu, yaitu nama yang menyangkut kehormatan.

Maka dia sekarang menyinggung tentang nama dan kehormatan.

Ternyata kakek itu benar-benar tergugah dan menaruh perhatian besar sekali!

"Teecu tidak bermaksud buruk.

Suhu sendiri yang telah mengambil teecu sebagai murid dan Suhu sendiri yang telah mengucapkan kata-kata itu.

Teecu mendengar bahwa kata-kata seorang budiman, yang sudah keluar dari mulut, mewakili suara hati dan menjadi janji yang lebih berharga daripada nyawa.

Maka dari itu, kalau sekarang Suhu menarik kembali janji Suhu itu, bukankah hal ini akan menodai nama dan kehormatan Suhu?"

Bun Hwat Tosu mengelus-elus jenggotnya dan memandang kepada anak gundul itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata.

"Yap Kun Liong, sekecil ini engkau sudah dapat menggunakan kata-kata untuk mendesak dan menghimpit seorang tua seperti pinto, membuat pinto tidak berdaya. Benar-benar engkau berbakat cerdik, dan entah apa yang akan terjadi kalau engkau sudah dewasa kelak. Kecerdikan dapat mengangkat orang ke tingkat tinggi, akan tetapi juga dapat menyeret orang ke tempat yang paling rendah. Baiklah, pinto tidak mungkin dapat menarik kata-kata sendiri. Pinto akan menurunkan ilmu kepadamu selama lima tahun, akan tetapi tidak boleh menyebut guru kepada pinto karena kalau hal ini pinto lakukan, yaitu mengambilmu sebagai murid, berarti pinto kurang hormat kepada Siauw-lim-pai dan Cin-ling-pai. Bagaimana, maukah engkau?"

Kun Liong mengangguk-angguk memberi hormat.

"Teecu menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe."

Bun Hwat Tosu menarik napas panjang.

"Hemm, kemurahan hati apa? Pinto terpaksa dan entah akibat apa yang akan pinto tanggung kelak apabila engkau melakukan penyelewengan!"

Serta-merta Kun Liong berkata lantang.

"Teecu bersumpah bahwa apa pun yang akan terjadi dengan diri teecu, teecu tidak akan menyebutkan nama Locianpwe, tidak akan menyangkut nama Locianpwe!"

"Sudahlah, agaknya memang engkau sudah berjodoh dengan pinto. Ingat, bukan sekali-kali pinto takut engkau menyebut nama pinto, akan tetapi jangan dihubungkan dengan Hoa-san-pai. Pinto telah lama mengundurkan diri dari Hoa-san-pai, dan andaikata nama pinto rusak oleh sepak terjangmu, masih tidak terlalu hebat. Akan tetapi kalau sampai Hoa-san-pai tersangkut, pinto pasti kelak akan mencarimu untuk mencabut kembali semua ilmu yang kaupelajari dari pinto, biarpun dengan bahaya tercabutnya pula nyawamu atau nyawa pinto."

Kun Liong hanya mengangguk-angguk dan wajahnya agak pucat.

Hebat sekali ancaman yang keluar dari mulut kakek itu dan dia dapat merasakan kesungguhan hati kakek itu yang membuatnya mengkirik.

"Teecu akan selalu ingat kata-kata Locianpwe."

"Nah, mari kita pergi!"

Sebelum Kun Liong bangkit berdiri, tahu-tahu tubuhnya telah disambar dan kembali dia mengalami peristiwa yang mengerikan ketika tubuhnya meluncur dengan cepatnya menuju ke sebuah pegunungan yang kelihatan melintang panjang seperti seekor naga tidur di sebelah depan.

Sungainya laksana pita sutera biru gunungnya laksana tusuk sanggul permata!

Sajak dua baris itu adalah pujian pujangga besar Han Yi (768

" 824) pada waktu Dinasti Tang (618

" 907) ketika pujangga itu mengagumi keindahan pemandangan alam di sekitar Sungai Li daerah Kuilin, Propinsi Kuangsi. Memang luar biasa sekali keindahan tamasya alam di daerah ini, terutama sekali kalau orang memandang dari puncak sebuah di antara gunung-gunungm melihat air Sungai Li yang kelihatan seperti pita rambut sutera biru melambai dari rambut seorang perawan jelita. Pemandangan di sepanjang sungai itu selain indah menakjubkan juga berubah-ubah keadaannya, terutama sekali di bagian antara daerah Kuilin dan Yangsuo. Gunung Haiyang berdiri tegak sebagai sebuah di antara gunung-gunung di Pegunungan Taliang-san, di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Dari Gunung Haiyang ini mengalir turun dua batang sungai yang mengalir ke utara memasuki Propinsi Hunan adalah Sungai Siang, adapun yang mengalir ke selatan memasuki Propinsi Kuangsi adalah Sungai Li yang juga disebut Sungai Kui, Sungai Haiyang dan ada pula yang menyebutnya Sungai Kemala! Lambang keindahan di daerah Yangsuo di sepanjang Sungai Li, adalah sebuah puncak gunung yang bernama Gunung Teratai Biru. Gunung ini berbentuk sekuntum bunga teratai yang sedang menguncup, segar kebiruan. Di lereng Gunung Teratai Biru ini mendapat sebuah kuil kuno, yaitu Kuil Cien yang ternama, kuil peninggalan dari Dinasti Tang. Kun Liong kagum bukan main ketika dia dibawa oleh Bun Hwat Tosu ke kuil kuno ini. Dia berdiri di situ, kemudian mendaki puncak Gunung Teratai Biru menikmati keindahan alam yang seperti sorga indahnya. Dari puncak ini tampak kota Yangsuo di sekitar gunung berlapis-lapis dan berwama hijau, seolah-olah kota itu dipeluk oleh sekumpulan daun-daun bunga. Tak jauh dari situ tampak Gunung Pelayan Pelajar. Bentuknya seperti seorang kacung pelajar yang duduk tegak lurus, membuka mulut mendeklamasikan sajak! Dan di sebelah kiri tampak pula dua buah puncak yang berdiri sejajar seperti kembar. Itulah Gunung Besi dengan dua puncaknya Sepasang Singa yang tersohor, yang berdiri berhadapan dengan Gunung Pelayan Pelajar. Memang bentuk kedua buah puncak itu mirip dengan singa betina dan singa jantan, sepasang singa yang duduk dengan tenang, gagah perkasa, akan tetapi jinak dan tidak ganas. Tebing-tebing gunung yang menjadi dinding di kanan kiri sungai yang melalui pegunungan, menimbulkan pemandangan yang aneh. Ada yang tebingnya berwarna putih berderet-deret sehingga penduduk di sekitar Sungai Li memberinya nama Pegunungan Tebing Putih. Tak jauh dari situ, tebingnya berderet dengan warna merah, dan diberi nama Pegunungan Tebing Merah. Betapa luar biasa pemandangan di situ dapat kita bayangkan. Di antara warna kehijauan pegunungan tampak tebing berwarna merah dan putih itu! Semua keindahan ini makin menawan hati kalau kita terus ke selatan, memasuki daerah Simping. Di sini terdapat Pegunungan Panca Puncak dan Gunung Lukisan. Masih banyak lagi pegunungan dengan puncak-puncaknya yang berbentuk aneh-aneh sehingga diberi nama yang aneh-aneh pula. Patutlah kalau para pujangga, para penyair terkemuka dari berbagai dinasti di sepanjang sejarah Tiongkok berdatangan ke daerah ini untuk menikmati tamasya alam yang luar biasa, menulis sajak-sajak abadi untuk memujinya. Para pujangga terkenal dari Dinasti Tang, misalnya Han Yi, Liu Cung Yuan, Huang Ting Cian, Mi Fu, Fan Ceng Ta, pernah berdarmawisata ke daerah ini. Tentu saja lebih banyak lagi para pujangga dari dinasti lebih muda yang mengagumi tempat itu. Semenjak kecilnya, Kun Liong tinggal di kota. Tentu saja dia merasa girang dan betah sekali tinggal di tempat yang indah itu. Tubuhnya menjadi segar, kulit mukanya putih kemerahan, sepasang matanya bercahaya dan bibir mulutnya merah seperti bibir seorang dara remaja. Akan tetapi kepalanya tetap saja gundul pelontos tidak ada rambutnya! Sampai lima tahun lamanya Kun Liong belajar dengan amat tekunnya, digembleng oleh Bun Hwat Tosu yang tidak sembarangan menurunkan ilmunya. Memang amat untung bagi Kun Liong. Karena kakek itu maklum bahwa Kun Liong adalah cucu murid Tiong Pek Hosiang dan murid keponakan Cia Keng Hong, maka Bun Hwat Tosu tidak berani sembarangan menurunkan ilmu yang remeh kepada anak itu! Tentu saja dia merasa sungkan kalau tidak mewariskan ilmu-ilmu pilihan yang akan dihargai oleh kedua orang tokoh besar dunia persilatan itu. Maka dalam waktu lima tahun itu dia melatih Kun Liong yang sudah memiliki dasar yang baik berkat gemblengan ayah bundanya dengan dua ilmu baru yang diciptakan sendiri setelah dia mengundurkan diri dari Hoa-san-pai. Yang pertama adalah ilmu tangan kosong yang bemama Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) dan yang ke dua adalah ilmu tongkat kerena memang kakek ini terkenal sekali dengan kepandaiannya bermain tongkat ketika dia masih memegang tongkat kayu cendana berukir kepala naga. Ilmu tongkat yang diajarkan kepada Kun Liong disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga), disebut demikian karena gerakan kedua ujung tongkat kalau dimainkan seolah-olah merupakan dua ekor naga mengeroyok lawan! Biarpun selama lima tahun hanya disuruh berlatih dengan dua macam ilmu silat ini, namun Kun Liong tidak pernah mengomel, melainkan berlatih dengan amat tekunnya sehingga Bun Hwat Tosu merasa kagum dan juga lega hatinya. Apa pun yang akan terjadi dengan keputusannya menurunkan ilmunya kepada Kun Liong, yang jelas, pemuda ini tidak akan mengecewakan sebagai muridnya, biarpun murid yang tidak sah atau tidak diakuinya! Rasa girang dan puas ini membuat Bun Hwat Tosu lupa diri dan timbul keinginan hatinya untuk menurunkan ilmu kepada Kun Liong, ilmu simpanannya yang khusus diciptakannya untuk menandingi Ilmu Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong yang kabarnya tiada yang dapat menandinginya! Pendekar besar Cia Keng Hong memang memiliki ilmu yang amat aneh, juga amat hebat, yaitu yang disebut Thi-ki-i-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa). Ilmu ini adalah semacam daya tenaga sakti sinkang yang kalau digunakan begitu tangan menampel ke tubuh lawan, maka otomatis tenaga sinkang lawan akan tersedot sampai habis masuk ke dalam tubuh sendiri. Karena memiliki Ilmu Thi-ki-i-beng inilah maka Cia Keng Hong dianggap sebagai tokoh yang paling hebat kepandaiannya. Dan karena ilmu aneh yang dahulu dipakai perebutan di antara orang-orang sakti di seluruh dunia kang-ouw (baca ceritaPedang Kayu Harum) diam-diam Bun Hwat Tosu merasa penasaran dan mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menciptakan sebuah ilmu yang khusus untuk menghadapi Thi-ki-i-beng! Dan kini, ilmu itu dia ajarkan kepada Kun Liong agar ini yang akan menandingi sehingga kalau berhasil, ilmu nomor satu di dunia persilatan itu telah ditaklukkan olehnya! "Kun Liong, pemahkah engkau mendengar akan ilmu yang disebut Thi-ki-i-beng?"

Setelah pemuda (Lanjut ke

Jilid 08) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 itu belajar selama empat tahun, suatu pagi Bun Hwat Tosu bertanya.

Kun Liong menggeleng kepala.

"Teecu belum pernah dengar, Locianpwe. Ilmu apakah itu?"

"Thi-ki-i-beng pernah menggegerkan dunia persilatan dan kiranya di dunia ini hanya seorang saja yang memilikinya, yaitu Cia Keng Hong."

"Ahhh, Supek (Uwa Guru)? Memang, menurut penuturan Ibu, Cia-supek adalah seorang sakti yang jarang ada tandingannya."

"Ibumu benar. Dan kesaktiannya itu terutama sekali karena dia memiliki Thi-ki-i-beng. Akan tetapi, pinto telah menciptakan sebuah daya sin-kang yang hendak pinto ajarkan kepadamu. Ilmu ini adalah kebalikan dari Thi-ki-i-beng. Kalau Thi-ki-i-beng mempunyai daya menyedot sin-kang lawan, maka ilmu ini mempunyai daya membetot sehingga kalau engkau sudah berlatih dengan sempurna, pukulan-pukulan beracun lawan dapat kauhindarkan dengan ilmu ini, juga mungkin, dalam hal ini pinto sendiri belum yakin benar, mungkin saja ilmu ini akan dapat menahan daya sedot Thi-ki-i-beng."

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul.

"Maukah engkau berjanji kepadaku?"

"Tentu saja, Locianpwe."

"Kelak, kalau ada kesempatan, engkau cobakanlah sin-kang ini untuk menahan Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong. Maukah engkau?"

Kun Liong terkejut dan maklum betapa akan sulitnya mencoba ilmu sakti dari supeknya itu.

Akan tetapi melihat betapa sikap kakek itu penuh gairah, diam-diam otaknya yang cerdik dapat menangkap bahwa agaknya bekas Ketua Hoa-san-pai ini sengaja menciptakan ilmu sin-kang ini untuk menghadapi Thi-ki-i-beng, bukan menghadapi sebagai musuh, melainkan hanya memuaskan hati sudah dapat memecahkan Thi-ki-i-beng yang tersohor di seluruh dunia persilatan.

Maka dia tidak tega untuk menolak, benar-benar tidak tega, bukan karena inginnya mempelajari ilmu sin-kang itu.

"Teecu berjanji, Locianpwe."

"Bagus! Nah mulai sekarang, kalau siang kau pergunakan untuk melatih kedua ilmu silat yang sudah mendekati kesempurnaan itu, kalau malam engkau pergunakan untuk melatih sin-kang ini."

Mulai hari itu, Bun Hwat Tosu melatih sin-kangnya yang memiliki daya membetot itu kepada Kun Liong, yang menerimanya dan berlatih dengan amat tekun, kadang-kadang sampai tidak tidur semalam suntuk!

Demikianlah, lima tahun lewat dengan cepatnya, Kun Liong telah berusia lima belas tahun, menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh sedang dengan pinggang kecil dan dada lebar.

Wajahnya tampan sekali, kadang-kadang kalau dia tersenyum dan menggerakkan alis malah kelihatan cantik karena mulut, mata dan gerakan dagunya mirip dengan ibunya.

Gui Yan Cu seorang wanita yang amat cantik jelita.

Dagunya yang amat meruncing itu kadang-kadang tampak lembut seperti wanita, Akan tetapi kadang-kadang mengeras dengan sedikit lekuk membayangkan kekuatan kemauan yang tak tertundukkan.

Sinar matanya yang kadang-kadang lembut seolah-olah wataknya lemah dan cengeng, akan tetapi kadang-kadang sinar matanya membayangkan cahaya kilat yang menyeramkan, keras dan tajam menembus jantung.

Matanya lebar, kepalanya yang masih tetap gundul itu bundar dan dahinya lebar.

Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya agak kecil.

Mungkin karena selama lima tahun hidup di samping seorang kakek tua renta, seorang tosu yang mengutamakan kesederhanaan dan kewajaran, maka pakaian Kun Liong juga sederhana sekali, demikian pula dalam gerak-geriknya tampak kesederhanaan dan kewajaran, sungguhpun kadang-kadang bersinar dan mulutnya tersenyum penuh kenakalan.

"Kun Liong, sudah saatnya pinto mengakhiri hubungan di antara kita. Lima tahun telah lewat seperti yang pinto janjikan dan pinto telah berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi yang pinto miliki kepadamu. Mulai saat ini, kita berpisah dan engkau boleh mengambil jalan hidupmu sendiri. Pinto tidak menganjurkan atau memaksamu, akan tetapi sebaiknya kalau engkau kembali kepada orang tuamu agar mereka tidak gelisah memikirkan kepergianmu. Nah, selamat berpisah!"

Tanpa menanti jawaban Kun Liong yang sudah menjatuhkan diri berlutut, kakek itu melangkah pergi meninggalkan lereng Gunung Teratai Biru.

Sampai beberapa lama Kun Liong tetap berlutut, menekan keharuan hatinya.

Betapapun juga, selama lima tahun dia tinggal di kuil bersama gurunya, berlatih silat di samping melayani gurunya, mencari kebutuhan mereka sehari-hari.

Selama lima tahun itu hubungannya dengan guru yang tidak mau diakui sebagai guru itu, berjalan baik sehingga ada pula ikatan batin antara dia dan gurunya dan begitu gurunya pergi, Kun Liong merasa terharu dan merasa betapa sunyi dan tidak menyenangkan tempat yang indah itu!

Dia bangkit berdiri, memandang ke sekelilingnya dan menghela napas panjang.

Terngiang di telinganya ucapan Bun Hwat Tosu ketika bicara dengannya mengenai keindahan, ketika dia memuji keindahan tamasya alam di situ.

"Memang indah sekali tamasya alam di sini, Kun Liong. Akan tetapi apakah engkau kira hanya di sini saja yang indah pemandangan alamnya? Di manapun juga, di dalam kota yang ramai dan sibuk, di dusun-dusun yang kotor dan miskin, di mana saja adalah indah kalau orang yang melihatnya berada dalam keadaan bebas pikirannya. Keindahan terasa dan tampak oleh orang yang tidak terganggu pikirannya. Akan tetapi sekali pikiran manusia kemasukan hal-hal yang menimbulkan suka atau duka sehingga pikiran itu menjadi penuh sesak, mata tidak akan dapat melihat lagi keindahan di sekelilingnya. Yang bersenang-senang akan buta oleh kesenangannya, yang berduka akan buta oleh kedukaannya!"

Sebagai seorang pemuda tanggung lebih mudah bagi Kun Liong untuk memenuhi kebutuhan perutnya dengan jalan bekerja di sepanjang perjalanannya.

Dia membantu para pelancong membawakan barang-barangnya, adakalanya membantu penebang kayu dan akhirnya dia membantu tukang perahu muatan di sepanjang Sungai Huang-ho.

Dengan cara ini, akhirnya dia sampai juga ke Leng-kok.

Tidak ada seorang pun yang mengenal pemuda tanggung yang berkepala gundul ini, karena lima tahun yang lalu, Kun Liong masih merupakan seorang anak kecil yang berpakaian indah dan berambut panjang hitam mengkilap!

Sekarang dia merupakan seorang pemuda tanggung berkepala gundul, berpakaian sederhana dan agak butut, mukanya agak kurus dan gerak-geriknya sederhana.

Bahkan Liok Siu Hok, kakek yang sudah tua itu sama sekali tidak mengenal cucu keponakannya ini ketika Kun Liong berdiri di depan toko citanya.

Disangkanya hanya seorang tamu yang hendak berbelanja, sungguhpun dia memandang heran melihat seorang pemuda aneh, disebut hwesio akan tetapi biarpun gundul pakaiannya bukan seperti pendeta, kalau bukan hwesio mengapa kepalanya gundul?

Barulah dia kaget ketika Kun Liong memberi hormat dan berkata.

"Kukong (Paman kakek), apakah Kukong tidak mengenal padaku? Aku adalah Kun Liong."

Mata tua yang terbelalak itu makin melebar, kemudian mata itu mengenal wajah di bawah kepala gundul.

"Aihhhh... Kun Liong... engkau...?"

Tergopoh-gopoh dan membongkok-bongkok Kakek Liok Siu Hok keluar dari tokonya memegang tangan Kun Liong dan menarik pemuda gundul itu masuk ke dalam rumah setelah memerintahkan seorang pegawai untuk menjaga toko.

"Engkau ke mana saja? Dan mengapa kepalamu...?"

"Kukong, aku tadi pulang ke rumah. Kenapa rumahku ditutup? Dan ke mana perginya Ayah dan Ibuku?"

Kun Liong balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan paman kakeknya.

"Aihhh... mengapa baru sekarang engkau pulang? Telah begitu lama... bertahun-tahun... aku sendiri tidak tahu ke mana perginya mereka setelah terjadi peristiwa hebat itu..."

"Kukong, apa yang telah terjadi?"

Kun Liong bertanya.

Liok Siu Hok menyuruh cucu keponakannya minum teh yang disuguhkan pelayan, kemudian dia menceritakan semua yang terjadi semenjak Kun Liong pergi.

Dia menceritakannya semua, tentang pengobatan gagal, tentang ditangkapnya Yap Cong San dan kemudian dibebaskan dengan paksa oleh Gui Yan Cu, dan betapa rumah keluarga Yap disita oleh pemerintah, toko obatnya ditutup.

Ceritanya diselingi dengan tarikan napas panjang penuh penyesalan.

"Sayang ibumu terlampau keras hati, kalau menurut nasihatku, kita dapat menggunakan uang untuk membebaskan ayahmu dengan jalan halus sehingga tidak perlu mereka melarikan diri dan rumah mereka disita."

Akan tetapi Kun Liong sudah tidak mendengarkan lagi karena dia telah menangis!

Bukan main menyesal hatinya dan tampaklah dengan jelas sekarang betapa perbuatannya yang nakal dahulu itu telah menimbulkan malapetaka yang menimpa ayah bundanya!

Ayah bundanya celaka karena dia!

Kegagalan mengobati itu tentu karena tertumpahnya obat, ditumpahkan oleh Pek-pek, anjing peliharaan yang lari dikejar dan ditakut-takuti dengan mengikatkan kaleng-kaleng pada ekornya.

Tentu ayahnya ditahan karena gagal mengobati, dan ibunya telah membebaskan ayahnya.

Karena itu, ayah bundanya terpaksa lari.

Mereka menjadi orang-orang buruan, menjadi pelarian dan rumah serta toko disita pemerintah.

Semua gara-gara dia!

"Sudahlah, Kun Liong, jangan menangis.

Masih untung bahwa mereka itu dapat menyelamatkan diri dan bahwa engkau ternyata juga selamat.

Ke mana saja engkau pergi dari mengapa kepalamu gundul?

Apakah engkau masuk menjadi hwesio?"

Kun Liong menggeleng kepalanya.

"Aku pergi belajar ilmu, Kukong, dan tentang kepalaku... aku baru senang gundul, begitulah. Sekarang aku hendak pergi menyusul ayah ibuku. Ke mana kiranya mereka pergi, Kukong?"

"Mana aku tahu? Mereka pergi tanpa memberi tahu dan semenjak itu, tak pernah memberi kabar. Aihhh, semenjak kecil ayahmu memang berdarah perantau dan petualang!"

Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya, kelihatan berduka sekali.

"Dan engkau jangan pergi, biarlah menunggu saja di sini."

"Tidak, Kukong. Sekarang juga aku akan pergi mencari ayah ibuku."

Kun Liong bangkit dari duduknya.

"Eh-eeehhh"

Nanti dulu, baru saja datang masa mau pergi lagi?"

"Biarlah, Kukong. Aku harus cepat dapat menemukan ayah bundaku."

Memang di dalam hatinya Kun Liong ingin segera menghadap ayah bundanya untuk menyatakan penyesalannya dan untuk minta ampun atas segala kesalahannya.

"Hemm, kau keras hati seperti ayahmu. Setidaknya engkau harus menerima bekal dariku, dan biar kusuruh carikan seekor kuda untukmu""

"Tidak usah, Kukong. Aku dapat berjalan kaki, pula, tidak biasa menunggang kuda""

"Aihhh, kalau begitu, kau harus membawa bekal uang, untuk keperluan di jalan."

Tanpa menanti jawaban, tergopoh-gopoh kakek itu lari ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian dia sudah keluar membawa sebuah buntalan yang agak besar.

"Terimalah ini, pakaian dan uang. Pakaian baru, mungkin agak kebesaran bagimu, akan tetapi ergkau sih, terburu-buru, kalau tidak tentu dapat kusuruh buatkan beberapa stel."

Kun Liong tidak berani menolaknya, takut menyinggung perasaan paman kakeknya yang sudah tua itu.

Dia menerima bungkusan dan mengangkat kedua tangan memberi hormat, mengucapkan terima kasih, kemudian meninggalkan rumah kakek itu yang mengantar sampai di depan toko sambil menarik napas berulang-ulang dan menggelengkan kepala dengan muka muram.

Setelah keluar dari kota Leng-kok, Kun Liong sejenak berdiri bingung.

Ke mana dia hendak menuju?

Ke mana harus mencari ayah bundanya yang menjadi orang pelarian?

Ke Cin-ling-san, bisik hatinya.

Tidak salah lagi dalam menghadapi kesukaran itu, tentu ayah bundanya pergi kepada supeknya, Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai di Gunung Cin-ling-san!

Dengan langkah tegap dan hati mantap Kun Liong mulai melakukan perjalanan menuju ke Cin-ling-san.

Dia belum pernah pergi ke tempat itu, akan tetapi ayahnya pernah menceritakan kepadanya di mana arah dan letaknya Cin-ling-san, tempat kediaman supeknya yarig dipuji-puji oleh ayahnya dan terutama ibunya itu.

Kun Liong dapat melakukan perjalanan cepat karena sekarang dia tidak perlu lagi menunda-nunda perjalanan untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan perutnya.

Bekal uang yang diterima dari kukongnya cukup banyak, bahkan lima stel pakaian dalam buntalannya itu cukup untuk dipakai ganti pakaiannya yang kotor dan sudah butut.

Beberapa pekan kemudian, karena hari sudah mulai gelap, dia berhenti di kota Taibun di sebelah selatan kota Tai-goan, di tepi Sungai Fen-ho.

Pegunungan Cin-ling-san sudah tidak terlalu jauh lagi.

Dia sudah tiba di sebelah utara kota Sian dan Pegunungan Cin-ling-san terletak di sebelah selatan kota Sian, memanjang ke barat.

Ketika dia mengikuti pelayan menuju ke sebuah kamar di losmen kecil kota Taibun, dia menjadi perhatian para tamu lain.

Dengan acuh tak acuh Kun Liong melangkah terus biarpun dia maklum bahwa seperti biasa, kepala gundulnya yang menarik perhatian orang.

Dia sudah terlalu biasa dengan hal ini sehingga tidak merasa mendongkol lagi seperti dahulu ketika mula-mula kepalanya menjadi gundul.

Betapapun juga, dia melirik dengan muka terasa panas sekali ketika melihat bahwa di antara mereka yang memandangnya dengan senyum ditahan, Tampak juga seorang dara remaja yang cantik manis.

Biarpun dara itu cepat menutupi mulutnya dengan saputangan sutera ketika dia lewat, namun Kun Liong maklum bahwa seperti yang lain, tentu dara itu pun merasa lucu melihat seorang pemuda bukan pendeta berkepala gundul pelontos!

Dia merasa malu dan juga jengkel.

Kalau orang lain yang mentertawakannya masih tidak mengapa.

Akan tetapi seorang dara remaja!

Buruk benarkah kepalanya?

Dia menghampiri meja di mana terdapat tempat air yang disediakan pelayan tadi, untuk mencuci muka.

Melihat bayangan kepala gundulnya di dalam air, Kun Liong menyeringai dengan hati kesal.

Celakanya, ketika dia menyeringai ini mukanya kelihatan makin tidak menyenangkan baginya, seolah-olah wajah berkepala gundul di dalam baskom air itu pun ikut-ikutan mengejek!

"Sialan kamu!"

Dia memaki dan mencelupkan kepalanya ke dalam air baskom, sengaja membenamkannya lama-lama untuk menghukum muka yang mengejeknya itu sampai akhirnya terpaksa diangkatnya kembali mukanya dari dalam air dengan napas terengah-engah!

Digosoknya muka dan kepala gundulnya kuat-kuat dengan saputangan.

Air baskom sudah diam lagi sehingga dapat menampung bayangannya.

Akan tetapi bayangan muka dan kepala yang kemerahan karena digosok kuat-kuat itu makin menyebaikan hatinya.

"Biarlah dia tertawa sampai mulas! Kepala dan mukaku sudah begini, siapa peduli?"

Pikiran ini agak mendinginkan hatinya, akan tetapi dia masih merasa sebal dan melempar tubuhnya ke atas pembaringan.

Terbayanglah wajah yang ayu, lesung pipit yang manis kalau wajah itu tertawa, dan terdengarlah seperti bisik-bisik di telinganya.

"Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu. Hi-hik!"

Ahhh, Li Hwa memang seorang dara yang ayu manis!

Mungkin satu-satunya anak perempuan yang tidak membenci gundulnya, yang tidak mentertawakan gundulnya!

Di manakah anak itu sekarang?

Tentu sudah menjadi seorang dara remaja yang cantik!

Dan tentu lihai bukan kepalang, karena dara itu adalah murid dari The Hoo, panglima yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa itu!

Kun Liong menarik napas panjang, agak kecewa.

Dia sadar dan kaget.

Aihh, mengapa dia kecewa?

Mengapa dia seperti menyesal dan berduka begitu teringat bahwa Li Hwa adalah murid The Hoo?

Dia bangkit duduk dan termenung, meneliti diri sendiri.

Ada apa dengan dia?

Tadi, bayangan wajah Li Hwa, gema suara dara itu membuatnya gembira dan senang karena anak perempuan itu tidak mencela kepala gundulnya.

Akan tetapi mengapa tanpa disadarinya, tiba-tiba dia menarik napas panjang dengan penuh sesal dan kecewa?

"Wah, apakah aku tiba-tiba merasa iri hati?"

Demikian celanya.

Tidak, bukan iri hati karena anak itu menjadi murid seorang sakti, karena dia sendiri juga telah diajar ilmu silat oleh Bun Hwat Tosu yang juga bukan manusia sembarangan.

Habis mengapa?

Karena putus harapan, melihat kedudukan Li Hwa terlalu tinggi untuk dia?

Terlalu tinggi untuk apa?

Pertanyaan ini seperti mengejek dan kembali Kun Liong merasa bimbang dan jengkel.

"Plakk!"

Kepala gundulnya ditamparnya sendiri.

"Uhhh! Tolol benar! Tentu saja terlalu tinggi untuk menjadi temanmu. Habis apa lagi? Dan masih belum tentu lagi! Yang berteman bukan gurunya melainkan dia. Kalau memang dia mau berteman dengan aku, siapa berhak melarang? Dan kalau dia"

Wah celaka, aku sudah gila!"

Kun Liong terbelalak.

"Plakk!"

Gundulnya menjadi sasaran tangannya lagi.

"Apa-apaan ini mengenang dan bicara sendiri tentang Li Hwa sedangkan gadis itu tidak berada di sini? Tolol!"

Setelah menempiling gundulnya sekali lagi, Kun Liong tidur pulas!

Dua jam kemudian dia terbangun oleh rasa laparnya.

Cepat dia mencuci muka lagi, membawa bekal uang dan keluar dari losmen untuk mencari makanan.

Melihat sebuah restoran cukup besar tak jauh dari losmen, dia segera melangkah masuk.

Seorang pelayan menyambutnya.

"Apakah Siauw suhu (pendeta cilik) hendak makan? Maaf, di sini tidak disediakan makanan ciak-jai (sayur tanpa daging), harap Siauw suhu mencari di warung lain saja."

Kun Liong menelan ludah berikut kata-kata makian yang sudah berada di ujung lidah.

Setelah kemarahannya tertelan, dia berkata.

"Aku bukan hwesio!"

"Ahh, maaf"

Tuan.

Apakah Tuan hanya sendiri?

Sayang meja telah penuh semua, kecuali kalau Tuan suka makan dengan membonceng di meja tamu lain""

Kun Liong mendengar suara ketawa ditahan dan cepat dia nenoleh.

Benar saja!

Gadis remaja di losmen tadi yang kini lagi-lagi mendekap mulut dengan saputangan suteranya, menahan suara ketawa biarpun pundaknya bergoyang-goyang!

Dan dua orang laki-laki yang duduk semeja dengan nona muda itu juga tersenyum.

Seorang di antara mereka, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, segera mengangkat tangan berkata kepada pelayan yang sedang longak-longok mencarikan tempat duduk untuk Kun Liong.

"He, bung pelayan! Biarlah Tuan muda itu duduk makan bersama kami, meja kami masih kosong!"

Pelayan itu tertawa lebar, mengajak Kun Liong menghampiri meja itu dan membungkuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang menawarkan tempat duduk untuk Kun Liong itu, kemudian Si Pelayan menoleh kepada Kun Liong, bertanya.

"Tuan hendak memesan makanan apa?"

"Ahh, tambah saja makanan yang kami pesan untuk seorang lagi. Dia menjadi tamu kami!"

Kata seorang laki-laki yang ke dua dengan suara ramah.

Si Pelayan mengangguk-angguk kemudian pergi.

Kun Liong masih berdiri di dekat meja mereka.

Dua orang laki-laki itu kelihatan peramah.

Yang tua berusia empat puluh tahun, orang ke dua kurang lebih tiga puluh tahun, sedangkan dara remaja yang ternyata bermuka segar dengan sepasang pipi kemerahan, sepasang mata yang membayangkan kelincahan dan kejenakaan itu tentu tidak akan lebih dari dia sendiri.

Mungkin baru empat belas tahun.

Akan tetapi seperti dua orang laki-laki itu, dara remaja itu pun membawa sebatang pedang di punggungnya!

Melihat dari sinar mata dan sikap dua orang laki-laki itu ramah dan bersungguh menawarkan tempat untuknya, dan betapa dara remaja itu sudah tidak tertawa dan geli lagi, dia pun mengangguk dan berkata sederhana.

"Terima kasih!"

Kemudian duduk di atas bangku dekat meja, berhadapan dengan dara remaja itu.

Sepasang pipi Kun Liong masih tampak kemerahan karena tadi menahan kemarahan terhadap pelayan yang menyebutnya pendeta cilik.

Melihat ini, laki-laki yang berusia tiga puluh tahun, berkata.

"Pelayan itu mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan, akan tetapi dia tidak sengaja, harap saja tidak dipusingkan lagi."

Kun Liong mengangguk tanpa menjawab.

Matanya mengerling kepada dara remaja di depannya dan ternyata gadis kecil itu memandang kepadanya penuh perhatian secara terbuka, tidak seperti dara-dara lain yang dijumpainya di dalam perjalanan yang selalu memandang kepada pria dengan cara sembunyi-sembunyi, bahkan memandangi gundulnya pun mereka lakukan dengan sembunyi.

Kini dara ini tidak saja menatap wajahnya dengan sepasang mata yang jeli dan terang-terangan, bahkan agaknya mengagumi kepalanya yang gundul.

Terlalu sekali!

Dia menjadi malu dan terpaksa menundukkan muka seperti seorang kanak-kanak yang melakukan sesuatu yang terlarang.

Melihat ini laki-laki yang tertua berkata dengan suara menghibur.

"Harap saja Siauw suhu tidak usah malu karena sekarang banyak saja hwesio yang melepaskan pantangan makan daging dan minum arak, dan""

"Saya bukan hwesio!"

Tiba-tiba Kun Liong memotong dan suaranya agak kaku karena dapat dibayangkan betapa sebal hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa orang yang disangkanya ramah ini pun ternyata menduga dia seorang pendeta cilik!

Mengertilah ia sekarang mengapa dia menjadi bahan tertawaan.

Tentu dia disangka seorang hwesio yang sengaja menyamar dengan pakaian biasa agar dapat leluasa makan daging, minum arak, lupa kepada kepalanya yang gundul!

"Saya bukan hwesio, apalagi hwesio yang pura-pura suci tapi diam-diam menyamar untuk dapat makan daging dan minum arak!"

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbuka lebar, dan tiba-tiba dara itu pun tak dapat menahan ketawanya.

Biarpun dia cepat menutupi mulutnya dengan saputangan sutera hijaunya, namun masih tampak oleh Kun Liong betapa sepasang bibir yang merah itu terbuka, memperlihatkan rongga mulut yang lebih merah lagi dengan deretan gigi putih mengkilap.

"Brakkk!"

Kun Liong menggebrak meja di depannya dengan kedua telapak tangannya, tidak terlalu keras akan tetapi cukup menyatakan kemendongkolan hatinya.

"Mengapa engkau mentertawakan aku?"

Berbeda dengan sikapnya kepada laki-laki itu, dengan kata-kata cukup sopan biarpun penasaran, terhadap dara ini yang dianggapnya tidak lebih tua dari dia.

Kun Liong bersikap kasar dan biasa saja, apalagi karena dia marah mengira nona muda itu mentertawakannya.

Dara itu memandang Kun Liong, makin geli melihat pemuda remaja gundul itu marah-marah sehingga dari dekapan saputangannya masih terdengar kekehnya.

"Aihh, harap suka maafkan sumoi yang masih muda dan suka bergurau,"

Laki-laki tertua berkata, kemudian dia menoleh kepada dara remaja itu sambil berkata.

"Sumoi, sudahlah jangan tertawa dan menimbulkan salah paham."

Laki-laki ke dua juga berkata.

"Maafkanlah kami yang salah menduga karena sesungguhnya kami mengira bahwa engkau adalah seorang hwesio muda."

Dara remaja itu menurunkan saputangannya dan biarpun mulutnya tidak tersenyum lagi, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar nakal, mulutnya cemberut karena dia ditegur suhengnya, lalu dia berkata sambil mengerling ke arah Kun Liong.

"Salahnya sendiri! Orang semuda dia memakai potongan gundul, mana pantas? Sepatutnya dia memelihara rambut seperti orang muda pada umumnya."

"Ada hak apakah engkau hendak mengurus kepala dan rambut orang? Ini adalah kepalaku sendiri, hendak kugundul, atau kupelihara rambut sampai ke kaki, peduli apa engkau? Kalau kau hendak mengatur kepalaku, aku pun bisa saja bilang bahwa kau tidak pantas mengatur rambutmu seperti itu, pantasnya engkau gundul seperti aku!"

"Ihhh...!"

Dara remaja itu melompat berdiri dari bangkunya dan meraba gagang pedangnya.

"Engkau"

Engkau menghina, ya?"

Bentaknya.

"Nah, itu! Kepala orang untuk main-main sesukanya, dibalas satu kali saja sudah mau mengamuk!"

"Gundul plontos! Kapan aku main-main dengan kepalamu?"

"Sumoi! Jangan lancang, simpan pedangmu!"

Laki-laki tertua membentak sumoinya dan anak perempuan itu sudah menyarungkan kembali pedangnya, duduk di atas bangku dan cemberut, akan tetapi memandang kepada Kun Liong dengan mendelik.

Kun Liong bingung juga.

Memang kalau dipikir, dara remaja ini tidak pernah main-main dengan kepalanya!

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia menjadi nekat dan berkata.

"Sudah dua kali engkau mentertawakan kepalaku, di losmen tadi dan di sini""

"Hemm, apakah kalau aku tertawa itu berarti mempermainkan gun"

Eh, anumu? Apakah kalau aku hendak tertawa harus minta ijin lebih dulu darimu? Begitukah?"

Kun Liong termangu, tak dapat menjawab lagi.

Dara ini ternyata pandai berdebat dan dia sudah didesak ke sudut.

"Sudahlah, Laote (Adik), harap maafkan kami. Nah, makanan sudah datang, mari kita makan. Silakan!"

Akan tetapi Kun Liong sudah bangkit berdiri, menjura kepada dua orang laki-laki itu sambil berkata.

"Harap Ji-wi twako (Kedua Kakak) sudi memaafkan saya. Setelah saya diundang makan oleh Ji-wi yang ramah, saya malah marah-marah, hal ini amatlah kurang ajar, bagaimana siauwte (adik) berani menerimanya? Maafkanlah!"

Kun Liong mundur, mengangguk dan melangkah keluar dari restoran itu.

"Sian-sumoi, jangan!"

Kun Liong yang mendengar suara laki-laki tertua mencegah sumoinya ini, tidak menoleh.

Jadi namanya pakai huruf Sian, ya?

Hemm, anak perempuan yang sombong!

Awas kau, ya?

Eh, mengapa awas?

Dia mau apa?

Ingin Kun Liong menampar kepalanya sendiri, untung dia teringat bahwa banyak mata mengikutinya ke luar dari restoran itu.

Tak lama kemudian dia memasuki restoran lain tak jauh dari situ, restoran yang lebih besar.

Seorang pelayan menyambutnya dan cepat Kun Liong mendahuluinya berkata.

"Aku bukan hwesio. Aku mau pesan makanan dan minuman yang terbaik!"

Pelayan itu tercengang, menatap gundulnya, kemudian tersenyum lebar dan dengan ramah mempersilakannya duduk.

Di restoran ini masih banyak meja kosong dan Kun Liong duduk sendiri menghadap meja, tidak peduli akan pandang mata para tamu yang sedang makan minum di ruangan itu.

Karena tidak mengenal nama-nama masakan, apalagi yang mahal-mahal dan yang tidak pemah dimakannya, dia memesan yang mudah saja, yaitu nasi, bakmi, daging panggang dan arak!

Mulailah dia makan dengan lahapnya karena memang perutnya sudah lapar sekali.

Tidak ingat lagi dia kepada tiga orang di restoran tadi, sungguhpun suara dara remaja yang bernama Sian itu masih mengiang di telinganya.

"Yakinkah engkau bahwa mereka adalah kaki tangan pemerintah?"

Suara ini halus dan kata-katanya teratur baik, bukan suara orang-orang kasar.

"Tentu saja yakin, Ouw-twako. Mereka bertiga sebetulnya adalah murid-murid Pendekar Gak Liong di Secuan, dan Pendekar Gak adalah murid keponakan orang she The itu. Bahkan yang termuda, Nona Hwi Sian, biarpun usianya baru belasan tahun pernah menewaskan seorang anggauta kami. Inilah saatnya Twako membuat jasa untuk Kwi-eng-pai."

"Hemm, mudah saja. Cantikkah nona itu?"

"Aih, Twako hanya memikirkan wanita cantik saja. Nona itu cantik jelita, hanya usianya baru empat belas tahun."

"Ha, lebih muda lebih menyenangkan. Benar mereka berada di restoran itu?"

"Benar, aku melihat mereka masuk tadi."

"Hayo, tunggu apa lagi? Kita datangi mereka."

"Jangan, Twako. Kota ini cukup besar dan karena mereka masih kaki tangan orang she The, tentu pembesar setempat akan membela mereka dan kalau dikerahkan pasukan rencana kita bisa gagal. Sebaiknya kita membayangi mereka dan kalau mereka berada di tempat sunyi..."

"Sssttt... cukup. Mari minum!"

Diam-diam Kun Liong terkejut bukan main.

Tadinya dia tidak tertarik akan percakapan dua orang yang duduk di meja sebelah belakangnya itu, akan tetapi ketika mereka menyebut-nyebut nama Hwi Sian, nona yang berusia empat belas tahun, segera dia teringat kepada dara remaja bernama Sian yang tadi cekcok dengan dia.

Apalagi mendengar disebutnya Kwi-eng-pai, dia teringat akan anak buah Si Bayangan Hantu yang menculik Li Hwa.

Bukankah Kwi-eng-pai berarti Perkumpulan Bayangan Hantu dan besar kemungkinannya adalah orang-orang yang dahulu menculik Li Hwa?

Dan isi percakapan tadi sungguh mencurigakan sekali.

"Traakkk..."

Sebuah di antara sumpit Kun Liong terjatuh, menggelinding di bawah mejanya.

Tentu saja hal ini dia sengaja dan dia sudah merangkak ke kolong meja mengambil sumpitnya.

Kesempatan ini dia pergunakan untuk berpaling dan memandang kepada dua orang yang duduk di sebelah belakangnya.

Betapa kagetnya ketika dia mengenal dua orang itu.

Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan.

Berpakaian seperti seorang sastrawan kaya, yang dikenalnya sebagal Ouw Ciang Houw sastrawan yang dahulu pemah ikut di perahunya, Kemudian memperkosa isteri guru silat Gui Tong yang kemudian mengakibatkan kematian suami isteri itu!

Adapun orang ke dua adalah seorang laki-laki yang usianya lebih tua beberapa tahun, berpakaian serba kuning yang dikenalnya sebagai pemimpin gerombolan atau Ketua Ui-hong-pang di lembah Sungai Huang-ho, yang menculik Li Hwa!

Tidak salah dugaannya.

Teringat dia betapa orang ini, kalau tidak salah bernama Kiang Ti dan menurut Bun Hwat Tosu adalah murid kepala Si Bayangan Hantu, dengan Ilmu Pukulan Hek-tok-ciang telah menghantam Bun Hwat Tosu akan tetapi yang akibatnya payah bagi orang ini sendiri.

Kini, dua orang jahat itu telah bersekutu agaknya dan mempunyai niat yang tidak baik terhadap nona bernama Sian yang agaknya lengkapnya bernama Hwi Sian itu dan dua orang suhengnya (kakak seperguruannya)!

Menghadapi hal ini, berdebar jantung Kun Liong dan lupa lagi dia akan percekcokannya dengan dara remaja itu.

Dia menekan perasaannya dan dengan tenang dia lalu membayar makanannya, keluar dari rumah makan dan diam-diam dia membayangi nona muda dan dua orang suhengnya itu untuk melindungi mereka!

Semalam suntuk Kun Liong tidak tidur!

Dia melakukan penjagaan dengan diam-diam, siap untuk melindugi tiga orang yang menurut pendengarannya tadi adalah masih cucu keponakan murid dari "orang she The"

Yang diduganya tentulah Panglima Besar The Hoo, mengingat bahwa panglima itu dimusuhi oleh Si Bayangan Hantu seperti yang diceritakan oleh Bun Hwat Tosu kepadanya.

Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu di malam hari itu kecuali dia sendiri yang dikeroyok nyamuk karena melakukan penjagaan di luar kamar.

Akan tetapi Kun Liong tidak menyesal, bahkan merasa lega bahwa pagi-pagi sekali tiga orang itu sudah berangkat pergi meninggalkan losmen.

Dia pun segera membayar uang sewa kamar, kemudian dengan diam-diam dia terus membayangi tiga orang itu yang keluar dari kota Taibun menuju ke timur!

Biarpun Kun Liong mempunyai tujuan perjalanan ke selatan, akan tetapi pada saat itu dia sama sekali tidak ingat akan hal ini dan terus membayangi tiga orang itu keluar dari kota dan tak lama kemudian mereka melalui sebuah hutan yang sunyi di kaki Pegunungan Thai-hang-san.

Tiga orang itu melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa dan di sepanjang jalan mereka bersenda-gurau, atau lebih tepat lagi, dara remaja itu yang selalu mengajak kedua orang suhengnya untuk bersenda gurau.

Dilihat dari jauh, jelas bahwa dara itu memang berwatak lincah gembira, dan diam-diam ada juga dugaan di dalam hati Kun Liong bahwa dara remaja itu bergurau tentang kepala gundulnya!

Tiba-tiba terjadilah seperti yang diduganya.

Lima orang meloncat keluar dari balik batang pohon!

Mengapa lima orang?

Kun Liong cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan bersembunyi, mengambil keputusan untuk tidak turun tangan membela sebelum tenaganya dibutuhkan.

Dia maklum bahwa tiga orang yang "dilindungi"

Itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat dan pandai pula menjaga diri.

Yang membuat dia heran adalah lima orang yang muncul itu.

Mengapa di antara mereka tidak ada Kiang Ti dan Ouw-siucai (Sastrawan Ouw) yang cabul?

Atau barangkali lima orang ini adalah anak buah Ui-hong-pang yang disuruh turun tangan lebih dulu?

"Siapakah kalian?

Apakah perampok-perampok buta yang tidak melihat orang?"

Dara remaja itu sudah membentak dan berdiri dengan sikap gagah, sedikitpun tidak kelihatan takut sehingga mengagumkan hati Kun Liong.

Pemuda gundul ini pun memandang dengan penuh perhatian kepada lima orang itu.

Mereka ini semua berpakaian serba putih seperti orang-orang berkabung.

Mendengar pertanyaan dara itu, lima orang tadi menggerakkan kedua tangan.

"Singgg"!"

Lima batang golok besar tercabut mengeluarkan suara berdesing dan tangan kiri mereka masing-masing telah mengeluarkan sebuah benda berwarna biru sebesar telapak tangan yang mereka pasangkan di baju mereka sebelah kiri depan dada.

Kini tampaklah oleh Kun Liong bahwa benda itu adalah sebuah ukiran bunga teratai putih pada dasar biru.

Perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih)!

"Aihh, kiranya Ngo-wi (Tuan Berlima) dari Pek-lian-kauw?

Ada maksud apakah Ngo-wi menghadang perjalanan kami tiga saudara?"

"Hemm, perlukah kalian masih bertanya lagi?"

Seorang di antara lima orang itu, yang berjenggot panjang dan bermata sipit sekali berkata.

"Bukankah kalian bertiga adalah tiga pendekar dari Secuan, murid-murid Gak Liong dan kalian membantu pemerintah memusuhi kami?"

Laki-laki tinggi kurus itu kini berdiri tegak di dekat sumoinya dan berkata dengan suara lantang.

"Benar! Aku bernama Poa Su It, ini suteku Tan Swi Bu, dan sumoiku Lim Hwi Sian. Kami bertiga adalah murid-murid Pendekar Gak di Secuan. Akan tetapi kami bukanlah orangnya pemerintah sungguh pun kami akui bahwa Suhu menugaskan kami untuk membantu Susiok-couw (Paman Kakek Guru) The Hoo untuk membersihkan negara dari para pengacau yang membuat negara kacau dan rakyat menderita!"

"Bagus! Karena itulah maka kami menghadang dan minta nyawa kalian!"

Teriak orang Pek-lian-kauw yang berjenggot panjang dan ucapannya itu agaknya menjadi komando karena tiba-tiba lima orang Pek-lian-kauw itu sudah menyambit dengan tangan kiri, disusul gerakan mereka menerjang ke depan.

Tiga orang pendekar Secuan itu menggerakkan tubuh, dengan ringan sekali meloncat ke kanan kiri menghindarkan diri dari sambaran senjata rahasia yang berbentuk kuncup teratai itu, kemudian mereka pun sudah mencabut pedang masing-masing menghadapi para pengeroyok.

Kun Liong memandang kagum.

Terutama sekali dia amat kagum menyaksikan dara remaja yang kini dia ketahui namanya, Lim Hwi Sian, menggerakkan pedangnya menghadapi seorang anggauta Pek-lian-kauw, sedangkan kedua orang suhengnya masing-masing dikeroyok dua oleh lawan.

Dara remaja itu ternyata lihai limu pedangnya.

Ketika dia melirik ke arah dua orang laki-laki yang dikeroyok empat orang Pek-lian-kauw, mengertilah ia mengapa dara remaja itu jauh lebih muda daripada kedua orang itu, menjadi adik seperguruan mereka, hal yang tadinya amat mengherankan hatinya.

Kiranya ilmu pedang dara itu tidak kalah lihai oleh kedua orang suhengnya, dan bahkan dalam hal keringanan tubuh melebihi mereka.

Mungkin dara itu kalah dalam hal tenaga saja.

Pertandingan itu tidak berlangsung lama, karena lima orang itu segera terdesak hebat.

Terdengar seorang di antara mereka, mungkin Si Jenggot, mengeluarkan bunyi bersuit nyaring.

Lima orang yang sudah menderita luka-luka goresan pedang itu membanting senjata di atas tanah dan terdengar ledakan-ledakan disusul asap putih tebal.

Tiga orang pendekar Secuan cepat melompat ke belakang karena khawatir kalau-kalau terkena senjata rahasia atau asap beracun.

Ketika mereka mengejar dengan jalan menghindari asap, ternyata lima orang itu telah lenyap.

Kun Liong bernapas lega.

Tidak perlu dia turut campur.

Untung dia tadi masih bertahan dan tidak muncul.

Kalau dia muncul, melihat betapa dara remaja itu dan dua orang suhengnya dengan mudah dapat menghalau lawan, tentu dia akan mendapat malu dan bukan tidak mungkin dia akan menjadi bahan ejekan dara manis itu!

Selain itu, dia sendiri belum tahu apakah dia akan mampu melawan seorang saja dari kelima anggauta Pek-lian-kauw tadi!

Biarpun dia telah mendapat gemblengan dasar ilmu silat tinggi dari ayah bundanya, kemudian dilatih oleh Bun Hwat Tosu yang amat sakti, namun dia sendiri tidak dapat mengukur sampai di mana keampuhan ilmu yang dimilikinya dan tanpa bertanding menghadapi lawan, bagaimana dia mampu mengukur diri sendiri?

Akan tetapi, dia amat benci akan perkelahian.

Dia mempelajari ilmu bukan untuk berkelahi, melainkan untuk mencegah terjadinya kejahatan yang mengandalkan ilmu silat.

"Orang-orang Pek-lian-kauw sungguh menjemukan!"

Lim Hwi Sian berkata sambil menyarungkan pedang dan mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena debu.

"Mereka yang memusuhi orang-orang yang tidak berdosa, akan tetapi mereka selalu mengatakan bahwa pemerintah memusuhi mereka. Kalau mereka tidak memberontak, kiranya Susiok-cow tidak akan memerintahkan para pembantu untuk menentangnya dan Suhu tentu tidak menugaskan kita."

Tan Swi Bu juga berkata.

"Kata-kata yang baik!"

Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu di situ telah muncul dua orang laki-laki yang tersenyum-senyum.

Jantung Kun Liong berdebar tegang melihat dua orang yang memang dinanti-nantikan kemunculannya itu.

Ouw Ciang Houw Si Sastrawan cabul dan Kiang Ti, Ketua Ui-hong-pang!

Melihat dua orang yang tidak terkenal akan tetapi yang muncul secara tiba-tiba membuktikan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, tiga orang pendekar Secuan menjadi kaget.

Lim Hwi Sian telah mencabut pedangnya dan membentak dengan suara nyaring.

"Apakah kalian juga orang-orang Pek-lian-kauw?"

Ouw-siucai tersenyum lebar dan memandang Hwi Sian dengan sinar mata kagum penuh gairah.

"Nona kecil yang manis dan pandai ilmu pedang, sungguh mengagumkan sekali!"

"Cih! Keparat bermulut lancang!"

Hwi Sian sudah menyerang dengan tusukan pedangnya, akan tetapi dengan gerakan ringan Ouw-siucai miringkan tubuhnya dan mendorong pundak dara itu sehingga terhuyung ke depan.

"Ihhhh"

Iblis keparat!"

"Sumoi, tunggu dulu!"

Poa Sut It yang menyaksikan ketangkasan sastrawan itu, cepat mencegah sumoinya dan dia berkata kepada mereka.

"Melihat pakaian dan sikap Ji-wi, agaknya Ji-wi bukan dari Pek-lian-kauw. Siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dengan kami?"

"Ha-ha-ha-ha!"

Kiang Ti tertawa bergelak.

"Kalian adalah kaki tangan The Hoo seperti yang kami dengar dalam percakapan kalian dengan orang-orang Pek-lian-kauw tadi, dan karena itulah maka kalian harus kami bunuh, kecuali nona ini yang sudah lancang membunuh seorang anggota kami, maka dia harus menebus dosa di dalam tangan Ouw-siucai, ha-ha-ha!"

Kun Liong merasa sebal mendengar ini dan kini dia mengerti mengapa Ketua Ui-hong-pang itu yang usianya lebih tua menyebut twako (kakak) kepada Ouw-siucai, agaknya untuk menghormat karena dia membutuhkan tenaga bantuan siucai cabul itu.

Diam-diam dia ingin sekali keluar dan membuka kejahatan mereka, akan tetapi dia takut menjadi bahan ejekan Hwi Sian, juga dia ingin melihat apakah tiga orang itu sanggup menghadapi dua orang ini yang agaknya lebih lihai daripada kelima orang Pek-lian-kauw tadi, maka dia tetap bersembunyi sambil menonton penuh perhatian.

Poa Sut It dan kedua orang adik seperguruannya memandang kepada Kiang Ti dengan tajam, kemudian terdengar Hwi Sian membentak.

"Kiranya engkau orang Ui-hong-pang, kaki tangan iblis betina Si Bayangan Hantu!"

"Bocah lancang mulut!"

Kiang Ti membentak.

"Engkau berani memaki guruku? Aku adalah Ketua Ui-hong-pang!"

Berkata demikian, dia sudah menubruk maju untuk menyerang Hwi Sian.

"Eiiit, ingat, dia untukku, Kiang-pangcu (Ketua Kiang)!"

Ouw-siucai berkata dan menghadang sehingga Ketua Ui-hong-pang itu kini menggunakan kedua tangannya untuk menyerang Poa Sut It dan Tan Swi Bu.

Dua orang ini melihat pukulan yang hebat dari tangan yang berubah menghitam, maklum bahwa pukulan yang ini tidak boleh dipandang ringan, mereka cepat mengelak kemudian memutar tubuh membalas dengan serangan pedang mereka dari kanan kiri.

Kiang Ti terkejut sekali melihat berkelebatnya dua sinar pedang yang amat cepat itu, dari kiri menyambar ke arah lehernya sedangkan sinar pedang dari kanan menyambar ke arah kaki.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali meloncat ke belakang dengan cepat, menjatuhkan diri bergulingan sampai beberapa meter jauhnya.

Ketika dia meloncat lagi, tangan kanannya telah memegang senjatanya yang tadinya dililitkan di pinggang, yaitu sebatang rantai baja lemas yang ujungnya dipasangi bola baja.

Mukanya agak pucat karena serangan kedua orang lawannya tadi benar-benar amat dahsyat.

"Hiaaaattt!"

Ketua Ui-hong-pang ini mengeluarkan pekikan panjang dan dia sudah menerjang maju sambil memutar senjata rantai bajanya.

"Cring! Tranggg!!"

Dua orang lawannya menangkis dengan pedang sehingga tampak bunga api berpijar ketika senjata rantai itu bertemu dengan pedang-pedang itu.

Selanjutnya terjadilah pertandingan yang seru antara mereka, namun segera rantai baja terhimpit dan terdesak oleh kedua sinar pedang, membuat Kiang Ti terpaksa harus mengeluarkan seluruh tenaganya dan sebentar saja dia sudah mandi keringat.

Hati Kun Liong merasa lega ketika dia melihat keadaan kedua orang suheng dari Hwi Sian itu karena dia maklum bahwa keadaan mereka tidak perlu dikhawatirkan.

Akan tetapi ketika dia melihat keadaan Hwi Sian sendiri, dia terkejut dan diam-diam dia mencari tempat pengintaian yang lebih dekat.

Biarpun ilmu pedang dara itu amat tangkas, namun ternyata dia bukanlah tandingan Ouw-siucai atau Ouw Ciang Houw yang amat lihai.

Sambil tersenyum-senyum sastrawan cabul itu mempermainkan Hwi Sian, dengan tangan kosong menghadapi pedang dara remaja itu, mengelak ke sana ke mari sambil mengejek dan menggoda.

"Aih, luput lagi, Nona manis! Kalau marah begini engkau bertambah cantik saja. Aihhh, tidak kena! Wah, kedua pipimu menjadi merah jambon, ingin aku menciumnya!"

Ketika pedang menyambar ke dada, siucai itu membuat sedikit gerakan dan pedang itu telah dijepitnya di bawah lengan, kemudian ia mendekatkan mukanya hendak mencium pipi Hwi Sian sambil memperdengarkan suara menyedot.

"Biadab"!"

Hwi Sian memaki dan menarik tubuh atasnya ke belakang sambil menendangkan kakinya ke arah perut lawan dan menarik pedangnya dengan sepenuh tenaganya.

"Wahhh, galaknya! Makin galak makin menyala!"

Ouw-siucai melepaskan pedang yang dijepit lengan, kemudian menyambar kaki yang menendang.

Nyaris kaki itu tertangkap, akan tetapi ternyata Hwi Sian cukup cerdik dan sebelum kakinya tertangkap pedangnya sudah membabat dari samping ke arah tangan yang hendak menangkap kakinya.

Ketika lawan menarik tangannya, dia pun meloncat ke belakang dengan muka merah sekali, siap untuk bertanding mati-matian karena dia maklum bahwa lawannya benar-benar amat lihai.

"Ouw-twako"

Lekas robohkan dia dan bantulah aku""

Terdengar Kiang Ti berseru minta bantuan kepada temannya.

"Ha-ha-ha, baiklah, Kiang-pangcu. Nah, kau tidurlah dulu, Nona manis, nanti aku menemanimu!"

Sambil berkata demikian, Ouw Ciang Houw menerjang dengan hebat sekali, menggunakan jari-jari tangannya untuk menotok dengan sasaran jalan-jalan darah di tubuh nona itu.

Repot sekali Hwi Sian mengelak dan melindungi tubuh dengan pedang, namun dia terdesak hebat dan agaknya tidak lama lagi benar-benar dia harus tidur dulu oleh totokan!

"Ouw-siucai sastrawan keparat!"

Tiba-tiba Kun Liong melompat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia mengulur tangan hendak menangkap dan mendorong pundak Ouw Ciang Houw.

Gerakannya bukanlah serangan ilmu silat, hanya sekedar untuk menyuruh siucai itu mundur dan tidak mendesak Hwi Sian.

Melihat munculnya seorang pemuda tanggung berkepala gundul, Ouw Ciang Houw mengira seorang hwesio muda, maka dia cepat mengelak.

Akan tetapi tanpa disadari sendiri oleh Kun Liong, pemuda itu telah memiliki gerakan yang amat luar biasa, karena hatinya ingin memegang pundak dan mendorong, otomatis gerakannya pun mengandung unsur Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun yang dapat memotong jalan delapan penjuru, maka pengelakan itu sia-sia, tahu-tahu pundak siucai itu dapat didorongnya sehingga tubuh Ouw-siucai terhuyung ke belakang!

"Ehhh"!"

Ouw-siucai berseru kaget bukan main karena dia sendiri tidak tahu bagaimana elakannya sampai gagal, hanya dia merasa lega bahwa tenaga dorongan "hwesio"

Muda itu ternyata tidaklah begitu hebat.

"Hwesio busuk dari mana berani berlancang tangan mencampuri urusanku?"

Bentaknya sambil memandang dengan mata mendelik kepada Kun Liong.

Kalau saja tidak disebut hwesio, masih mending akan tetapi kini bahkan disebut hwesio busuk, tentu saja perut Kun Liong terasa panas dan sepasang matanya memandang dengan sinar mata bercahaya aneh dan tajam menusuk sehingga Ouw-siucai sekali lagi terkejut setengah mati.

Mata itu tiba-tiba menjadi mata setan, pikirnya serem.

"Engkau ini orang sastrawan, akan tetapi berwatak cabul, genit, dan tersesat. Apakah engkau hendak mengulangi perbuatanmu yang biadab di perahu itu, lima tahun yang lalu?"

Kun Liong menegur.

"Bukankah banyak kitab kuno yang kau baca, yang mengajar bagaimana orang harus hidup benar? Sudah lima tahun belum bertobat, belum sadar malah makin gila!"

Untuk ke tiga kalinya siucai itu terkejut dan heran.

"Siauw suhu dari kuil dan golongan mana? Harap tidak mencampuri urusan ini karena urusan ini adalah persoalan pribadi dan permusuhan dari kedua golongan!"

Makin mendalam kerut alis Kun Liong, apalagi ketika mendengar suara ketawa tertahan di belakangnya.

Dia sudah hafal benar suara ketawa tertahan dari Hwi Sian itu!

"Aku bukan dari kuil dan golongan manapun juga!"

Dia membentak.

"Bahkan aku sama sekali bukan hwesio. Engkau Ouw Ciang Houw sastrawan sesat yang dahulu memperkosa isteri guru silat Gui Tiong di perahuku, kemudian mengakibatkan matinya suami isteri itu. Ingat?"

Untuk ke empat kalinya Ouw Ciang Houw terbelalak heran.

"Wah-wah"!"

Dia menggaruk-garuk kepalanya.

"Jadi kau"

Si Gundul bocah tukang perahu itu"?"

"Wuuuuttt, plakkk!"

Kembali Ouw Ciang Houw terhuyung karena Kun Liong telah menampar pipinya dan biarpun tadi dia mengelak, tetap saja pipinya kena tampar!

Hal ini amat mengherankan bagi Ouw Ciang Houw yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sama sekali tidak mengherankan bagi Kun Liong.

Pemuda gundul ini hanya mengira bahwa sastrawan itu tidak sungguh-sungguh mengelak, maka dorongannya tadi dan tamparannya mengenai sasaran!

Dia tidak sadar bahwa setelah memiliki Ilmu Silat Tinggi Pat-hong-sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin), setiap gerakannya memang mengandung gaya yang luar biasa sehingga sukar diduga lawan ke mana hendak meluncur!

"Bocah setan, kau bosan hidup!"

Ouw Ciang Houw menjadi marah sekali dan dengan pengerahan tenaganya dia memukul ke arah kepala dan dada Kun Liong secara cepat sekali dengan kedua tangannya.

Kun Liong paling anti kalau kepalanya dibuat permainan, apalagi dipukul.

Setelah dia gundul, sesuatu yang menyinggung kepalanya menyakitkan hatinya benar, maka kini dia mengangkat tangan menangkis pukulan yang mengancam kepalanya, akan tetapi pukulan ke arah dadanya tak sempat dia menangkisnya, maka otomatis bergeraklah tenaga sin-kang yang dilatih selama lima tahun.

"Bukkk! Auuuuwww"

Duhhh"!"

Ouw Ciang Houw memegangi tangan kirinya yang seolah-olah remuk rasanya ketika membentur dada Kun Liong tadi.

"Engkau malah berani memukul kepalaku, ya? Benar-benar engkau orang jahat, perlu dihajar!"

Kun Liong sudah maju dan tangan kirinya bergerak dari depan memukul dada lawan.

Biarpun kesakitan, Ouw Ciang Houw yang dapat menduga bahwa Si Gundul ini memiliki kepandaian aneh, cepat menangkis, akan tetapi sungguh di luar dugaannya ketika tiba-tiba kepalanya ditempiling oleh tangan kanan Kun Liong dari belakang.

"Plenggg!"

Dan dia terguling!

Inilah keistimewaan gerak Pat-hong-sin-kun, serangan pertama dari depan untuk memancing perhatian sedangkan serangan susulan datang dari arah berlawanan.

Banyak serangan macam ini yang datang dari delapan penjuru dalam ilmu silat sakti ini!

Ouw Ciang Houw hanya merasa kepalanya pening saja, maka begitu terguling dia dapat meloncat berdiri lagi.

Kemarahannya membuat mukanya berubah pucat, tangannya meraba punggung dan tampaklah sinar berkilat ketika dia mencabut pedangnya menerjang Kun Liong.

"Trangggg!!"

Hwi Sian telah menangkis pedang itu, padahal tentu saja Kun Liong sudah siap untuk menghindarkan serangan tadi.

Terjadilah pertandingan pedang yang seru antara Hwi Sian dan sastrawan itu.

Melihat betapa dara itu terdesak hebat dalam belasan jurus saja, Kun Liong menjadi khawatir sekali.

Untuk maju dengan tangan kosong saja dia merasa ngeri, maka dia lalu meloncat ke atas pohon, mematahkan sebuah dahan pohon dan meloncat turun terus langsung menerjang Ouw-siucai dengan senjata dahan di tangan.

Begitu menerjang tentu saja dia menggunakan gerakan dari Ilmu Siang-liong-pang dan hebat bukan main akibatnya!

Bukan hanya Ouw-siucai yang berloncatan mundur, bahkan Hwi Sian juga bingung melihat tiba-tiba banyak sekali tongkat melayang ke sana-sini dengan ganasnya sehingga dara itu pun meloncat mundur!

Akan tetapi, tongkat dahan itu terus menyerang Ouw-siucai yang berusaha menangkis dengan pedangnya.

Celaka baginya, tongkat yang ditangkis itu seperti dapat mengelak dan tahu-tahu lengan kanannya yang memegang pedang terpukul tongkat, Bukan main nyeri rasanya sehingga kalau saja dia tidak mempertahahkan pedangnya dengan tenaga sin-kang, tentu pedang itu akan terlepas.

Akan tetapi, gebukan ke dua menyusul tanpa dapat diduganya terdengar suara "buk!"

Dan tubuhnya kembali terguling karena pantatnya sudah terpukul sehingga rasanya daging pinggul remuk-remuk!

Kini maklumlah Ouw-siucai bahwa kalau dia melanjutkan pertandingan, dia dan temannya akan mati konyol.

Maka dia bersuit keras, tubuhnya mencelat ke dekat temannya yang sedang didesak hebat, pedangnya bergerak menangkis memberi kesempatan kepada Kiang Ti untuk melepaskan diri dari kepungan sinar pedang lawan, kemudian keduanya melompat jauh dan melarikan diri tanpa berani menoleh sama sekali!

Tiga orang itu hendak mengejar, akan tetapi Kun Liong berkata.

"Mereka sudah mendapatkan pelajaran, tentu sudah bertobat. Perlu apa dikejar lagi?"

Poa Su It menyuruh kedua adiknya berhenti, kemudian mereka menghampiri Kun Liong dan orang tertua di antara mereka itu menjura.

"Ah, kiranya Laote adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi!"

"Sungguh kami telah bersikap kurang hormat!"

Kata pula Tan Swi Bu.

"Ji-wi Suheng (Kakak Seperguruan Berdua), kalau tidak ada dia, tentu sumoimu ini celaka di tangan siucai busuk tadi!"

Kata Lim Hwi Sian yang kini memandang kepada Kun Liong dengan sinar mata penuh kagum.

Kun Liong mengerutkan alisnya dan membuang tongkatnya dengan hati mengkal.

Masih berdengung di telinganya suara ketawa Hwi Sian tadi ketika dia disebut hwesio busuk oleh Ouw-siucai.

Kini mereka memuji-mujinya.

Siapa tahu di balik pujian bibir manis dari dara itu tersembunyi ejekan terhadap kepala gundulnya!

Dengan suara dingin dia berkata.

"Aku hanyalah seorang gundul yang tiada artinya. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, dia lalu melangkah perlu tanpa menengok lagi.

"Eh, sungguh aneh!"

Kata Tan Swi Bu.

"Hemm, dia marah, agaknya masih marah karena engkau pernah mentertawai kepalanya, Sumoi!"

Kata Poa Sut It menyesal.

Dia tahu bahwa pemuda tanggung yang gundul itu adalah seorang yang luar biasa, dan sebetulnya dia ingin sekali tahu siapakah pemuda itu dan murid siapa.

Lim Hwi Sian juga merasa menyesal, apalagi ketika dia teringat betapa tadi belum lama ini dia terpaksa tertawa lagi melihat Ouw-siucai yang jahat juga salah kira, menganggap pemuda itu seorang hwesio!

"Biarlah aku minta maaf kepadanya!"

Katanya lalu berlari mengejar Kun Liong yang sudah lenyap di balik sebuah tikungan.

Kedua orang suhengnya hanya saling pandang dan membiarkannya saja, bahkan tetap menunggu di situ dengan harapan mudah-mudahan sumoi mereka dapat menyabarkan hati pemuda gundul yang luar biasa itu sehingga mereka dapat saling berkenalan.

"Taihiap, tunggu dulu"!"

Kun Liong terkejut dan heran mendengar suara wanita ini.

Sebelum dia menengok, tampak bayangan berkelebat dari belakangnya dan kiranya Hwi Sian kini telah berdiri di depannya dengan wajah sungguh-sungguh.

Dia menyebut aku "taihiap"!

Jantung Kun Liong berdebar.

Sebuah ejekan barukah ini?

Dia disebut pendekar besar!

Kalau dara itu kembali mengejeknya, akan dimakinya!

Diejek orang lain tidak apa-apa, akan tetapi diejek dara ini!

Sakit hatinya!

Kini dia sadar bahwa sikap pemarahnya akhir-akhir ini mengenai kepala gundulnya adalah karena orang melakukannya di depan dara ini.

"Kau"

Kau mau apakah menyusul aku?"

Tanyanya, gagap karena pandangan mata dara itu benar-benar membuat dia canggung, malu dan bingung.

"Kami tahu bahwa Taihiap marah, dan memang sepantasnyalah kalau Taihiap""

"Ah, sebutanmu ini ejekan ataukah pujian kosong? Kalau ejekan, tidak perlu kita bicara lagi, kalau pujian kosong, kuharap jangan lakukan itu. Aku tidak suka disebut Taihiap, baik ejekan maupun pujian."

Sepasang mata yang jeli dan indah itu terbuka lebar, memandang bingung.

"Habis disuruh menyebut apakah aku ini?"

"Namaku Kun Liong, Yap Kun Liong, bukan pendekar besar, bahkan bukan pula pendekar kecil. Sebut saja namaku, beres!"

"Wah, mana aku berani? Bia aku menyebut Yap-enghiong (Orang Gagah Yap) saja."

"Aku bukan enghiong, bukan pula bu-hiap (pendekar silat), aku hanya seorang gundul yang""

"Stop! Kau benar-benar marah besar dan semua adalah karena kesalahanku! Kami berhutang budi kepadamu, bahkan mungkin aku berhutang nyawa, dan aku telah membuat engkau marah besar dan sakit hati. Tidak"

Tidak adakah maaf bagiku?"

Melihat sinar mata itu sayu penuh penyesalan dan suara itu demikian minta dikasihani, kekerasan hati Kun Liong akibat kemarahannya tadi hancur luluh, mencair seperti salju digodok!

Cepat dia mengangguk dan menjawab.

"Tentu saja aku memaafkanmu, bahkan tidak perlu kau minta maaf karena sebetulnya aku tidak marah kepadamu, hanya"

Eh, malu karena kepalaku""

"Mengapa dengan kepalamu? Kepalamu tidak apa-apa, bahkan"

Hem"

Baik sekali bentuknya!"

"Sesungguhnyakah?"

"Aku berani bersumpah tidak membohongimu. Yap-enghiong, eh""

"Jangan sebut enghiong segala, namaku Kun Liong, tanpa embel-embel."

"Kun"

Kun Liong, aku telah berhutang nyawa kepadamu, bagaimana aku akan dapat membalasmu?"

"Hemm, berkali-kali kau menyatakan hutang nyawa, nama pun belum kau perkenalkan kepadaku, Lim Hwi Sian!"

"Eh, engkau tahu"?"

Kun Liong tersenyum dan sinar matanya kini sudah berseri penuh kenakalan.

"Setan gundul tentu saja tahu segala!"

Mata yang jernih itu terbelalak.

"Engkau aneh, orang sudah berhati-hati untuk tidak menyinggungmu, engkau malah memaki-maki diri sendiri setan gun""

"Teruskan saja! Ha-ha, memang aku gundul. Nih, halus bersih, kan?"

Kun Liong menundukkan kepalanya dan mengelus-elusnya.

"Kau boleh menyebut aku gundul seribu kali asal jangan mentertawakan. Asal engkau tidak jijik melihatnya."

"Siapa yang jijik? Aku senang melihatnya. Memang, lucu, akan tetapi lucu bukan berarti buruk. Contohnya, seorang bayi selalu lucu, dan tak pemah buruk! Semua orang ingin memeluk dan menciumnya." (Lanjut ke

Jilid 09) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Wah, apakah kepalaku juga menimbulkan hasrat orang untuk menciumnya?"

Kun Liong memandang nakal dan senyumnya melebar ketika dia melihat dara itu tersipu-sipu malu dan kedua pipinya berubah kemerahan, apalagi bibirnya yang menjadi merah sekali.

Tiba-tiba saja Kun Liong ingin kepalanya dicium oleh bibir seperti itu!

"Engkau memang orang yang lucu dan gagah, Kun Liong.

Aku telah kau tolong, entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu."

"Benarkah engkau ingin membalasnya? Dan engkau tidak akan marah kalau aku minta kau melakukan sesuatu untuk membalasnya?"

"Tidak, Kun Liong. Bagaimana aku bisa marah kepadamu?"

"Sumpah?"

"Sumpah apa?"

"Bahwa engkau tidak akan marah kepadaku?"

"Aku bersumpah!"

"Wah, engkau mudah sekali bersumpah, Hwi Sian."

"Tentu saja, karena memang aku sungguh-sungguh. Sudahlah, katakan, apa permintaanmu itu?"

"Aku... aku... ehhh... aku ingin kau... hemmm..."

"Mau apa sih engkau ini? Ah-ah eh-eh, ham-ham hem-hem seperti orang gagu."

"Hwi Sian, aku ingin kau... eh, mencium gundulku satu kali saja!"

Hwi Sian terbelalak, hidungnya kembang kempis, kedua pipinya merah akan tetapi matanya mengeluarkan sinar aneh, tersipu dan berseri.

"Dekatkan kepalamu,"

Katanya lirih.

Kun Liong hampir tidak percaya.

Dia sudah khawatir kalau dara remaja itu marah dan kalau marah, dia pun tidak akan menyalahkan Hwi Sian.

Siapa kira, dara itu menerima permintaannya!

Dengan kulit muka merah sampai ke kepalanya, dia menundukkan kepala dan agak membungkuk di depan Hwi Sian.

Dara itu tanpa ragu-ragu memegang pinggiran kepalanya dengan kedua tangan, lalu menunduk dan mencium kepala gundul itu, mencium lagi, mencium lagi.

Tiga kali, bukan hanya satu kali seperti yang dimintanya!

Berdebar tidak karuan rasa jantung Kun Liong.

Kepalanya yang disentuh hidung dan bibir hangat basah itu terasa geli seperti digelitik, rasa geli yang menembus seluruh tubuhnya, membakar darahnya dan membuat mukanya merah, napasnya agak terburu.

Dengan mendadak dia mengangkat mukanya menengadah dengan tubuh masih agak membungkuk sambil berkata.

"Kau baik sekali... uppphh..."

Karena dia membuat gerakan menengadah sedangkan Hwi Sian masih menunduk di atas kepalanya, tanpa disengaja mulut mereka bersentuhan, membuat keduanya meloncat ke belakang dengan muka merah padam!

"Ehhh...

ohhh...

maafkan, aku, Hwi Sian, aku tidak sengaja...!

Terima kasih, engkau...

engkau sungguh baik sekali, selama hidup takkan kulupakan saat ini..."

"Ihhh... hu-hukk..."

Dara itu tiba-tiba terisak, membalikkan tubuh lalu meloncat dan lari pergi meninggalkan Kun Liong!

"Hwi Sian...!"

Kun Liong memanggil, akan tetapi dara itu terus lari dan lenyap di tikungan.

Kun Liong tidak berani mengejar, merasa malu sekali kalau sampai peristiwa tadi diketahui kedua orang suheng dara itu.

Dia pun lalu melanjutkan perjalanannya sambil mengangkat kedua pundak beberapa kali, kemudian tersenyum-senyum kalau teringat betapa Hwi Sian telah mencium kepalanya sampai tiga kali, bahkan ada tambahannya dengan pertemuan bibir mereka tanpa sengaja.

Dia memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

Diusapnya kepala yang dicium tadi dan dibawanya jari tangan yang mengusap itu ke depan hidung dan mulut, menyedot penuh kegembiraan karena seolah-olah tercium olehnya bau harum seperti yang diciumnya ketika Hwi Sian berada di dekatnya tadi.

Semua ini dilakukan dengan mata terpejam dan kaki masih melangkah berjalan.

"Bruuuusss!!"

Kun Liong jatuh menelungkup karena kakinya tertumbuk pada akar pohon.

Dahinya benjol sedikit, dia bangkit berdiri dan diusapnya benjolan itu, akan tetapi mulutnya masih tersenyum ketika dia melanjutkan perjalanan.

Ternyata kegembiraan hati Kun Liong tidak berlangsung lama karena kurang lebih dua jam kemudian setelah dia berpisah dari Hwi Sian dan memasuki hutan ke dua, tiba-tiba dia bertemu dengan serombongan orang yang membuat dia terkejut bukan main.

Rombongan ini terdiri dari delapan orang dan semua orang ini telah dikenalnya.

Dua orang sudah jelas adalah Ouw Ciang Houw dan Kiang Ti yang tadi melarikan diri, dan lima orang lagi adalah anggauta Pek-lian-kauw yang tadi pun melarikan diri dihajar oleh Hwi Sian dan dua orang suhengnya.

Akan tetapi yang seorang lagi adalah seorang berpakaian seperti tosu, usianya tentu enam puluh tahun lebih, memegang tongkat yang panjangnya hanya tiga kaki.

Yang mengejutkan hati Kun Liong dan yang membuat dia mengenal tosu ini adalah karena mata tosu itu seperti mata orang buta, hanya tampak putih saja tanpa ada manik mata yang hitam.

Tidak salah lagi, tosu ini tentulah Loan Khi Tosu, tokoh Pek-lian-kauw yang pernah diusir ayahnya ketika hendak membunuh tiga orang perwira pengawal di Leng-kok!

"Nah, itulah dia setan cilik gundul!"

Kiang Ti dan Ouw Ciang Houw membentak ketika mereka melihat Kun Liong berjalan seenaknya.

"Dialah yang terlihai di antara mereka!"

Kun Liong berdiri dan menenangkan hatinya yang sebenarnya tidak tenang karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang kejam.

Akan tetapi karena dia tidak merasa bersalah, seujung rambut pun dia tidak merasa takut.

Dengan tegak dia berdiri, membiarkan delapan orang itu mengurungnya, kemudian dia bertanya kepada Ouw Ciang Houw, Kiang Ti, dan Loan Khi Tosu yang berdiri di depannya.

"Cu-wi (Anda Sekalian) ini mau apakah mengurung aku yang tidak bersalah apa-apa?"

Mendengar suara ini, Loan Khi Tosu menggerak-gerakkan biji matanya dan berusaha memandang lebih jelas.

Biarpun matanya yang lamur hanya dapat melihat bentuk seorang pemuda tanggung berkepala gundul, namun telinganya dapat menangkap lebih jelas lagi, membuat dia yakin bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang anak laki-laki berusia paling banyak enam belas tahun.

Yang membuat dia heran adalah karena dalam suara itu terkandung keberanian dan ketenangan yang tidak dibuat-buat dan sikap tenang seperti ini dalam keadaan dikurung lawan hanyalah sikap seorang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah percaya penuh akan kemampuannya.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa Kun Liong bersikap tenang bukan karena mengandalkan kemampuannya, melainkan tidak merasa bersalah.

"Ah, dia hanya seorang anak laki-laki yang belum dewasa benar."

Loan Khi Tosu berkata dengan nada mencela.

Menghadapi seorang anak-anak saja, teman-temannya ini kewalahan dan kelihatan jerih benar?

"Biarpun dia masih kecil, dialah yang melindungi tiga pendekar Secuan itu dan karena dia maka mereka dapat lolos!"

Kata Kiang Ti.

"Hemm, bocah. Engkau siapakah dan mengapa engkau mencampuri urusan kami?"

Tosu itu kini bertanya.

"Loan Khi Tosu, aku tidak pernah suka mencampuri urusan orang lain, hanya tidak ingin melihat orang menggunakan ilmu silat untuk menyerang, melukai atau membunuh orang seperti yang kau lakukan di kuil di luar kota Leng-kok dahulu itu!"

"Siancai...!"

Loan Khi Tosu mengerutkan alisnya.

"Engkaulah setan cilik itu? Saudara-saudara tangkap dia ini! Dia putera Yap Cong San di Leng-kok!"

"Ehhh...?"

Kiang Ti yang banyak mengenal tokoh persilatan karena dia adalah ketua perkumpulan Ui-hong-pang, berseru kaget.

"Akan tetapi bukankah Yap-sinshe (Tabib Yap) itu murid Siauw-lim-pai?"

"Bukan murid Siauw-lim-pai lagi,"

Kata Loan Khi Tosu.

"Dia sudah tidak diakui lagi dan hal ini tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan Siauw-lim-pai."

"Tapi... ayahnya menjadi pelarian, dimusuhi pemerintah!"

Kembali ada bantahan dan sekali ini dari mulut Ouw Ciang Houw datangnya.

"Benar, dan karena itulah maka kita tidak akan membunuhnya, hanya menangkapnya sebagai sandera. Kita perlu bantuan orang pandai, dan dengan dia sebagai umpan, kita dapat memancing tenaga bantuan ayah bundanya, dan siapa tahu, kelak Siauw-lim-pai juga..."

Mengertilah para teman tosu itu dan serentak mereka lalu menubruk maju hendak menangkap Kun Liong.

Kun Liong sendiri tidak mengerti akan maksud percakapan mereka, maka dia sibuk mengelak dan menangkis.

"Eh, eh, kalian ini mau apa? Aku tidak ingin berkelahi! Antara kita tidak ada urusan apa-apa!"

Namun, percuma saja dia berteriak teriak dan karena ada tujuh orang yang mengeroyoknya, semua mempunyai kepandaian tinggi, repot juga dia dan beberapa kali tubuhnya kena hantaman.

Biarpun semua pukulan itu meleset karena otomatis sin-kangnya yang istimewa itu membuat setiap pukulan meleset, Namun kulit tubuhnya terasa panas dan nyeri-nyeri juga, apalagi setelah beberapa kali ada pukulan mengenai kepala dan mukanya, mulai terasa panas perut Kun Liong.

Dia sendiri tidak tahu mengapa semenjak belajar pada Bun Hwat Tosu, terutama semenjak dia mempelajari sin-kang yang aneh itu, setiap kali datang kemarahan, perutnya menjadi panas.

Dia tidak tahu bahwa ini adalah akibat latihan sin-kang istimewa dari bekas Ketua Hoa san pai itu!

Tadinya para pengeroyok itu tidak ingin memukul karena sesuai dengan perintah Loan Khi Tosu yang memimpin rombongan itu, mereka hanya ingin menangkap.

Akan tetapi setelah beberapa kali tangan mereka yang hendak mencengkeram dan menangkap selalu meleset, mereka menjadi penasaran dan mulai mempergunakan kepalan!

"Hiiittt!!"

Tiba-tiba Kun Liong berseru, tubuhnya digoyangkan seperti seekor anjing menggoyang tubuhnya yang basah, dan tujuh orang yang mengeroyoknya seperti semut itu terdorong mundur semua.

Marahlah pemuda gundul itu setelah mukanya biru-biru dan kepalanya benjol-benjol, tubuhnya nyeri semua.

Mulailah dia mainkan Ilmu Silat Pat hong sin kun dengan teratur dan dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika dia mainkan ilmu ini, dalam beberapa gebrakan saja serangannya membuat tiga orang pengeroyok jatuh tersungkur dan terdengar teriakan kaget dari mulut para pengeroyoknya!

Akan tetapi karena dia tidak mempunyai niat melukai lawan, apalagi membunuh, dorongan-dorongan sebagai pengganti pukulan itu hanya membuat lawan roboh saja tanpa terluka sehingga mereka bangkit kembali.

Kalau saja setiap pukulannya disertai tenaga sin-kangnya yang istimewa, agaknya sekali terkena pukulannya, tiap lawan itu tentu takkan mudah untuk bangkit kembali!

Melihat sepak terjang pemuda gundul itu, Loan Khi Tosu terheran-heran.

Dia tahu bahwa ayah anak ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripadanya, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan anak ini, luar biasa anehnya dan sama sekali bukan ilmu silat Siauw-lim-pai biarpun ada terasa olehnya dasar-dasar gerakan ilmu silat Siauw-lim-pai.

Demikian tajam pendengaran tosu setengah buta ini sehingga pendengarannya lebih tajam menangkap setiap gerakan daripada pandang mata seorang yang awas!

Cepat dia menggerakkan tongkatnya pada saat yang tepat dan robohlah Kun Liong, tertotok jalan darah di pundaknya.

Beberapa orang segera menindih tubuhnya dan kaki tangannya dibelenggu dengan tali terbuat dari kulit kerbau yang kuat!

"Wah, kalian ini orang-orang sesat yang jahat sekali!

Apakah kalian tidak mempedulikan hukum lagi?

Di mana perikemanusiaan kalian?

Tidak tahukah kalian akan hukum dunia dan akhirat?"

Akan tetapi delapan orang itu hanya tertawa seolah-olah mendengar kelakar yang lucu.

Perut Kun Liong makin terasa panas.

Kalau saja tubuhnya dapat digerakkan, tidak lumpuh oleh totokan Loan Khi Tosu yang lihai, kiranya dia masih mampu meloloskan diri dari belenggu itu.

Kini tidak ada lain jalan untuk melampiaskan kemarahannya selain dengan suara mulutnya.

"Loan Khi Tosu, engkau berpakaian pendeta akan tetapi hatimu kejam melebihi iblis. Engkau seorang munafik tak tahu malu. Pakaian pendeta yang kaupakai hanya untuk menutupi kekotoran batinmu. Engkau membunuhi manusia tanpa berkejap mata, bukan karena matamu lamur, melainkan karena mata batinmu sudah buta sama sekali!"

"Bukkkk!!"

Untung Loan Khi Tosu masih ingat bahwa pemuda gundul itu amat penting bagi Pek-lian-kauw, kalau tidak tentu dia sudah membunuhnya dengan tongkatnya, bukan hanya menggebuk punggung pemuda itu.

Akan tetapi karena Kun Liong tak dapat mengerahkan sin-kangnya, gebukan itu cukup membuat punggungnya seperti patah, nyeri bukan main rasanya sampai menembus ke tulang sumsum.

Biarpun demikian, dia tidak mengeluh, hanya memejamkan mata sebentar menahan rasa nyeri, kemudian membuka mata setelah rasa nyerinya berkurang dan memaki lagi.

"Ouw Ciang Houw manusia cabul! Engkau pun munafik besar, aksinya saja berpakaian indah mewah seperti sastrawan, berlagak seperti orang terpelajar dan sudah kenyang membaca kitab, akan tetapi agaknya engkau menghafal semua ayat kitab suci hanya untuk pamer, padahal sebetulnya, di balik semua keindahan itu terdapat kebusukan yang menjijikkan! Engkau tukang memperkosa wanita, perampas isteri orang dan tidak segan membunuh mereka. Agaknya, isteri semua temanmu ini pun sudah kau incar""

"Desss!!"

Ouw Ciang Houw mengirim pukulan keras ke arah dada.

Karena tidak ingin membunuh, biarpun amat marah, sastrawan itu hanya menggunakan tenaga kasar sehingga Kun Liong menjadi pingsan!

Pukulan itu seperti mengusir semua hawa dari dadanya, menghentikan napasnya.

"Siancai"

Kau terlalu sembrono, Ouw-sicu! Dia bisa mati kalau tidak kubebaskan totokannya!"

Dengan tongkatnya, tosu itu menotok pundak Kun Liong sehingga terbebas dari totokan.

Biarpun masih pingsan, pemuda gundul itu dapat bernapas lagi dan bebas dari cengkeraman maut.

Setelah Kun Liong siuman, dia mendapatkan dirinya dipanggul oleh seorang di antara para anggauta Pek-lian-kauw.

Rombongan itu telah melanjutkan perjalanan dan hari sudah mulai gelap sehingga mereka berjalan dengan tergesa-gesa untuk dapat keluar dari hutan itu sebelum gelap.

Kun Liong mendongkol bukan main.

Dia dipanggul seperti seekor babi yang dibelenggu kuat-kuat, kepalanya tergantung di belakang punggung orang tinggi besar itu, Di dekat ketiak sehingga terpaksa hidungnya tersiksa oleh bau yang keluar dari ketiak penuh bulu dan keringat itu!

Dia tahu bahwa ketiak berkeringat mengeluarkan bau tak sedap, akan tetapi belum pernah hidungnya tersiksa seperti ini, begitu dekat terus-menerus dengan ketiak yang bukan tak sedap lagi baunya, melainkan keras menyengat membuat dia ingin muntah!

Apalagi kepalanya tergantung terus mendatangkan pusing!

Betapa girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa totokannya telah terbebas!

Dengan hati-hati dia menggerakkan sin-kang dari pusarnya, dan dengan bantuan sin-kang ini dia mengerahkan ilmu melemaskan diri Sia-kut-hoat dan berhasillah dia meloloskan tangannya yang dapat dilemaskan itu dari belenggu.

Karena sudah tidak tahan lagi, pertama-tama yang dilakukan adalah menampar pundak orang yang memanggulnya.

"Krekkk!"

Tamparan itu membuat sambungan tulang pundak orang itu terlepas.

Orang itu memekik dan tubuh Kun Liong terlepas.

Tentu saja dia terbanting karena kedua kakinya masih terbelenggu.

Sebelum dia sempat melepaskan belenggu kakinya, Loan Khi Tosu sudah menotoknya kembali dan kedua tangannya sudah dibelenggu lagi dengan lebih erat daripada tadi!

Sekali lagi dia dipanggul oleh orang lain dan kini oleh Kiang Ti sendiri, dengan tubuh bagian atas di depan agar kedua tangannya dapat selalu diawasi oleh pemanggulnya.

Kembali kepalanya tergantung, akan tetapi hidungnya tidak tersiksa lagi biarpun hidung itu kini sering terbentur pada perut Kiang Ti!

Rombongan itu bermalam di sebuah kuil di luar hutan.

Mereka membagi-bagi makanan, akan tetapi Kun Liong tidak mau makan.

Dia tidak memaki lagi, hanya diam saja dan diam-diam dia mencari akal bagaimana dapat lolos dari orang-orang lihai itu.

Dia maklum bahwa yang amat lihai hanyalah tiga orang, Loan Khi Tosu, Ouw Ciang Houw, dan Kiang Ti.

Kalau bisa lolos dari tiga orang ini, mudah saja mengalahkan lima orang anggauta Pek-lian-kauw.

Dia mendengarkan percakapan mereka dan tahulah dia bahwa ternyata ada kontak hubungan antara Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pai yang dipimpin oleh Si Bayangan Hantu.

Sedangkan Kiang Ti sebagai murid Si Bayangan Hantu yang sudah berdiri sendiri dan mengetuai Ui-hong-pang, menjadi perantara.

Inilah sebabnya mereka dapat bekerja sama, sedangkan Ouw Ciang Houw berniat untuk membantu atau menghambakan diri kepada Si Bayangan Hantu yang terkenal sebagai seorang di antara Lima Datuk Kaum Sesat yang sakti dan berpengaruh.

Karena dia juga menggunakan Kiang Ti sebagai perantara, maka tentu saja dengan senang hati dia bergabung dengan Pek-lian-kauw.

"Dengan bantuan yang amat berharga dari Ketua Kwi-eng-pai, pinto yakin bahwa perjuangan rakyat akan berhasil dalam waktu singkat!"

Kata Loan Khi Tosu dengan suara penuh semangat.

Ingin sekali Kun Liong berteriak membantah, akan tetapi tubuhnya terlampau lemah dan lemas sehingga dia hanya membantah dalam hati saja.

Huh, betapa banyaknya di dunia ini orang-orang seperti Loan Khi Tosu.

Dunia penuh dengan manusia-manusia yang mencuri dan membonceng nama rakyat demi kepentingan diri pribadi.

Sungguh tak tahu malu manusia-manusia seperti itu.

Sejarah telah menunjukkan betapa kekuasaan-kekuasaan jatuh bangun di dunia ini, dan semua kekuasaan itu, pada saat bangkit, pada saat berusaha merenggut kekuasaan, selalu mempergunakan nama rakyat jelata!

Demi rakyat!

Pencinta rakyat!

Dan masih banyak lagi nama-nama yang dipakai untuk tercapainya cita-cita mereka.

Pemerintah yang sekararang ini, di bawah kekuasaan Kaisar Yung Lo, pada waktu memperebutkan tahta kerajaan dengan keponakannya sendiri, pada waktu perang saudara, juga mempergunakan nama rakyat untuk memperoleh dukungan.

Sebaliknya, pemerintah lama sebelumnya juga selalu membonceng kepada nama rakyat.

Dengan sendirinya rakyat menjadi pecah belah, karena yang mendukung dianggap rakyat sedangkan yang tidak mendukung tentu saja dianggap musuh!

Dan musuh ini tentu saja dianggap rakyat oleh pihak lawan.

Dengan sendirinya rakyat yang menjadi korban, menjadi bingung dijadikan permainan orang-orang seperti Loan Khi Tosu dan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Setelah kini Yung Lo menang dan menjadi kaisar, timbul penentangnya, yang paling hebat adalah Pek lian kauw yang kembali menggunakan nama rakyat sebagai dasar perjuangannya!

Hendak dibawa ke manakah rakyat ini?

Apakah selama dunia berkembang rakyat hanya akan menjadi permainan belaka demi pemuasan nafsu ambisi beberapa gelintir manusia yang menamakan diri sebagai pemimpin-pemimpin rakyat?

Pernahkah ditemui mereka yang tadinya menggunakan nama rakyat dalam perjuangan, setelah berhasil dalam perjuangannya, benar-benar ingat kepada rakyat jelata?

Ataukah mereka itu lalu lupa karena mabok akan kemenangan, mabok akan kedudukan dan kemuliaan, seperti pemetik buah lupa akan bangku yang diinjaknya untuk mengambil buah setelah buah itu terdapat olehnya?

Rakyat hanya dianggap sebagai bangku tempat berpijak, atau sebagai batu loncatan, atau sebagai boneka-boneka!

"Harap Totiang jangan khawatir!

Saya berani pastikan bahwa Subo (Ibu Guru) tentu akan suka bekerja sama dengan Pek lian kauw, karena cita-cita Subo hanya untuk menghancurkan manusia she The itu, dan juga pemerintah yang banyak merugikan golongan kami.

Kalau Subo sendiri turun tangan, siapa yang berani menentang?

Kwi eng pai terkenal di seluruh dunia, dan nama besar Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, siapa yang tidak gentar mendengarnya?"

Kata Kiang Ti dengan bangga, menyombongkan nama besar gurunya.

"Sayang saya sendiri belum beruntung berhadapan dengan gurumu itu, Saudara Kiang. Akan tetapi saya yakin dengan perantaraanmu, saya akan dapat menghadap Kwi eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang namanya sudah lama kudengar itu sebagai seorang di antara para datuk dunia persilatan. Kabarnya, di antara para datuk, ada dua orang wanita, pertama adalah Kwi eng Niocu, dan ke dua adalah Siang tok Mo li. Benarkah?"

Tanya Ouw Ciang Houw. Kiang Ti, Ketua Ui hong pang mengangguk-angguk.

"Benar demikian, akan tetapi aku sendiri pun belum pernah bertemu dengan Siang tok Mo li (Iblis Betina Racun Wangi). Kabarnya dia masih belum tua benar dan amat lihai, sungguhpun aku tidak percaya akan lebih lihai dari Subo."

"Dan siapakah datuk-datuk yang lain, Kiang pangcu?"

"Yang saya ketahui hanya tiga orang. Pertama adalah Subo, ke dua Siang tok Mo li, dan ke tiga Ban-tok Coa-ong. Yang dua orang lagi entah siapa. Akan tetapi, saya sendiri belum pernah bertemu dengan mereka dan hanya mendengar dari Subo saja. Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan mereka, bahkan Subo sendiri pernah melarang saya menyebut-nyebut nama mereka. Menurut desas-desus, menyebut nama mereka saja sudah cukup untuk mengundang mereka"

"Ihhh...!"

Ouw Ciang Houw yang berwatak kejam itu merasa ngeri!

"Siancai...

ketua kami ingin sekali dapat mengadakan kontak dengan para datuk.

Mudah-mudahan melalui hubungan dengan Kwi eng pai, kami akan dapat menghubungi pula para datuk yang lain,"

Kata Loan Khi Tosu.

Percakapan dihentikan.

Mereka mengaso dan Kun Liong yang amat tertarik akan percakapan tadi pun mencoba untuk tidur.

Akan tetapi dia tidak dapat tidur.

Percakapan tadi membuat dia teringat kepada Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok kakek yang mengerikan seperti ular itu.

Si Raja Ular (Coa ong) itu patut menjadi datuk kaum sesat, kekejamannya luar biasa, lebih-lebih puteranya yang bernama Ouwyang Bouw itu.

Meremang bulu tengkuk Kun Liong kalau dia teringat akan ayah dan anak raja ular itu.

Kepalanya menjadi gundul gara-gara ayah dan anak itulah.

Setelah dia digigit ular beracun dan terkena jarum beracun Ouwyang Bouw, rambutnya rontok semua!

Kelak dia harus memberi hajaran kepada Ouwyang Bouw agar tidak ada orang yang dibikin gundul seperti dia lagi, memberi hajaran sampai bertobat betul-betul baru dia mau sudah!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu sudah siap untuk meninggalkan kuil tua melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan kaget seorang di antara para anggauta Pek lian kauw di luar!

Semua orang kecuali Kun Liong yang masih terbelenggu dan rebah meringkuk di atas lantai dingin, lari ke luar.

Kun Liong mendengar suara orang berbantahan di luar kuil, akan tetapi dia tidak dapat mendengar jelas dan tidak dapat melihat karena tak dapat bergerak dari tempat itu.

Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat masuk.

Cuaca masih suram karena hari masih amat pagi dan sinar matahari baru sedikit menyinari ruangan dalam kuil itu di mana dia berada.

"Engkau Kun Liong, bukan?"

Terdengar suara bayangan itu yang tidak begitu jelas bentuk wajahnya, namun bentuk tubuhnya jelas menunjukkan seorang dara remaja.

Tentu Hwi Sian, siapa lagi?

Berdebar jantung Kun Liong dan mukanya terasa panas karena jengah teringat akan ciuman di kepalanya.

Sebelum dia sempat menjawab pertanyaan aneh itu, karena kalau Hwi Sian perlu apa bertanya lagi apakah dia Kun Liong, dara remaja itu menggerakkan sebatang pedang panjang yang mengeluarkan sinar berkeredepan dan...

sekali tebas saja belenggu kaki di tangan Kun Liong putus semua!

Bukan main hebatnya gerakan pedang ini!

Kun Liong yang telah terbebas dari totokan dengan sendirinya malam tadi, menggosok gosok pergelangan kedua tangannya yang terasa nyeri dan hampir mati rasa.

Kini dia memandang terbelalak.

Dara ini bukan Hwi Sian!

Sama sekali bukan, biarpun dara remaja yang agak lebih muda ini juga cantik sekali, cantik dan sikapnya tenang, bahkan agak dingin.

Sikap dingin itu terasa sekali pada bentuk mulut dan dagunya yang mengeras, dan matanya yang keras seperti baja, memandang seperti tanpa perasaan.

"Kau... kau siapakah?"

"Engkau tentu lupa lagi kepadaku, setelah berpisah lima tahun. Aku Yo Bi Kiok."

"Aihh! Tentu saja aku lupa! Engkau sudah... eh, besar sekarang, sudah menjadi seorang dara yang... ah, cantik jelita!"

Kun Liong berhenti ketika melihat sinar mata itu tiba-tiba menjadi tajam sekali ditujukan kepadanya.

Cepat dia menyambungnya.

"Dan engkau menjadi lihai sekali dengan pedangmu. Bi Kiok, bagaimana engkau bisa mengenalku?"

Bi Kiok menggerakkan pandang matanya dan tahulah Kun Liong.

Kepalanya!

Tentu saja di dunia ini, mana ada kepala gundul lain kecuali dia?

Kalau ada pemuda gundul, tentu para hwesio!

Tak terasa lagi ia menggerakkan tangan mengelus kepalanya, memandang Bi Kiok sambil tersenyum.

"Terima kasih, Bi Kiok. Engkau telah dua kali menyelamatkan nyawaku. Yang pertama di sungai dahulu dan kini..."

"Sudahlah. Harap engkau cepat-cepat pergi dari sini. Kalau terlambat, aku benar-benar takkan dapat menyelamatkan nyawamu lagi. Cepat pergi, Kun Liong dan jangan banyak bertanya!"

"Ah, mengapa begitu? Apakah aku tidak boleh bicara denganmu setelah pertemuan yang tak tersangka-sangka ini?"

"Tidak, jangan! Pergilah!"

"Hanya untuk mengucapkan terima kasih juga tidak boleh?"

Dara itu menghela napas.

"Engkau bandel. Mereka semua akan mati, dan engkau juga kalau tidak lekas pergi!"

Melihat dara itu gelisah sekali Kun Liong menjadi tidak tega.

Dia tidak takut akan ancaman maut, akan tetapi dia tidak mau menyusahkan hati dara yang telah dua kali menolongnya ini.

"Baiklah, Bi Kiok. Aku pergi, akan tetapi terimalah ucapan terima kasihku kepadamu!"

Rasa terima kasih membuat Kun Liong memegang tangan kanan dara itu, membawa tangan itu kepada...

kepalanya yang gundul sehingga terasa olehnya betapa telapak targan yang halus hangat itu menyentuh gundulnya!

Heran sekali dia di dalam hatinya, mengapa dia ingin sekali gundulnya disentuh oleh tangan dara ini?

Akan tetapi Bi Kiok merasa geli dan menarik tangannya biarpun dengan halus.

"Pergilah, Kun Liong."

"Kapan kita bertemu lagi, Bi Kiok?"

"Tidak mungkin bertemu lagi. Selamat berpisah!"

Setelah berkata demikian, dara itu melangkah ke luar, di pintu membalik dan berkata.

"Kau ambil jalan dari pintu belakang. Cepat!"

Barulah dara itu meloncat ke depan dan tak nampak lagi.

Kun Liong segera menyelinap melalui belakang kuil, akan tetapi dia tidak pergi seperti telah dipesan oleh Bi Kiok, melainkan berindap-indap menyelinap di antara pohon-pohon menuju ke luar kuil dan tak lama kemudian dia telah bersembunyi di belakang semak-semak dan mengintai ke halaman kuil.

Matanya terbelalak penuh kengerian ketika dia menyaksikan apa yang terjadi di halaman kuil tua itu.

Seorang wanita yang bertubuh pendek, sama tingginya dengan Bi Kiok yang baru berusia tiga belas tahun, akan tetapi wajah wanita itu menunjukkan bahwa dia telah berusia dua kali lebih, berdiri di tengah halaman.

Wajah wanita itu cantik dengan muka bulat, di punggungnya tampak sebatang pedang panjang agak melengkung, rambutnya panjang digelung secara aneh.

Yang mengerikan adalah tangannya yang berlepotan darah itu menggenggam sepotong benda berdarah yang dimakannya dengan gigitan-gigitan kecil!

Di depan kakinya menggeletak sesosok mayat anak buah Pek lian kauw dengan dada robek sedangkan empat orang anggauta Pek lian kauw lainnya masih mengurungnya dengan senjata di tangan, bersama Loan Khi Tosu, Ouw Ciang Houw dan Kiang Ti yang semua telah memegang senjata menghadapi wanita cantik itu.

Bi Kiok berdiri di pinggir, bersedakap dan menonton dengan wajah dingin!

Tiba-tiba Loan Khi Tosu mengeluarkan suara pekik dahsyat, itulah Sai cu-ho kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan.

Namun wanita itu tidak bergoyang sedikit pun, bahkan menghadapi terjangan Loan Khi Tosu yang disusul teman-temannya, dan dia bersikap seenaknya, menghabiskan benda berdarah yang dimakannya.

Setelah senjata tujuh orang itu berkelebatan dekat hampir mengenai tubuhnya, barulah wanita itu menyambutnya.

Sisa benda berdarah itu digigitnya, kedua tangannya bergerak-gerak dan tiba-tiba sanggul rambutnya terlepas, rambut itu berubah menjadi bayangan hitam menyambar ke sekelilingnya, jari-jari tangannya menyambar dan tampaklah darah muncrat-muncrat disusul pekik mengerikan berkali-kali.

Sebentar saja semua gerakan berhenti dan Kun Liong yang bersembunyi, memandang dengan muka pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya terasa kering!

Penglihatan di depan itu terlalu menyeramkan!

Hanya Loan Khi Tosu dan Kiang Ti dua orang saja yang masih hidup, bangkit duduk dan cepat mengatur pernapasan.

Lima orang yang lain, yaitu Ouw Ciang Houw Si Sastrawan Cabul dan empat orang anggauta Pek lian kauw yang tadi mengeroyok, telah menggeletak malang-melintang dengan dada terobek dan jantung mereka kini telah berada di tangan wanita itu!

"Tahukah engkau mengapa aku tidak membunuh kalian berdua?"

Terdengar suara wanita itu setelah menyemburkan sisa jantung pertama yang tadi digigitnya ke atas tanah, mulutnya yang berlepotan darah itu amat mengerikan.

"Loan Khi Tosu, karena aku ingin engkau pergi menghadap Ketua Pek lian kauw dan mengatakan bahwa kalau dia menghendaki bantuan Siang tok Mo li, dia harus bersikap lebih hormat dan mengundangku sendiri, dan kematian lima orang anak buahnya ini untuk peringatan bahwa biarpun aku suka bekerja sama, namun sama sekali aku bukanlah anak buah atau kaki tangan Pek lian kauw!"

Dengan susah payah Loan Khi Tosu bangkit, tongkatnya telah patah-patah dan tulang pundaknya patah pula.

"Pinto mengerti dan pesan Locianpwe akan pinto sampaikan kepada ketua kami."

"Tolol kau tosu busuk! Setua engkau menyebut aku Locianpwe? Aku adalah Nona Bu, mengerti?"

Tosu itu mengangguk-angguk dan menyeringai.

"Dan engkau orang she Kiang, aku tidak membunuhmu bukan karena aku takut terhadap Kwi eng Niocu Ang Hwi Nio, melainkan aku ingin engkau menyampaikan pesan kepada gurumu itu bahwa kalau aku mau, mudah saja aku membunuh murid kepalanya. Nah, kalian minggatlah!"

Dua orang itu melangkah pergi dengan terhuyung-huyung dan wanita itu terkekeh genit, kemudian dia memandang kepada Bi Kiok yang sejak tadi berdiri dengan kedua lengan bersedakap tanpa bergerak seperti arca sambil menegur.

"Bi Kiok, mengapa engkau?"

Bukan main kagetnya hati Kun Liong.

Juga Bi Kiok diam-diam kaget sekali biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu.

"Dia bukan segolongan dengan orang-orang ini, Subo,"

Jawab Bi Kiok, suaranya dingin dan sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

"Hemmm, kaukira aku tidak tahu akan hal itu? Semalam kulihat dia seorang pemuda yang bertulang baik dan berdarah bersih, tentu lebih bermanfaat bagiku jantungnya. Akan tetapi engkau telah menolongnya dan membebaskannya. Eh, Bi Kiok jangan main-main kau. Apakah engkau jatuh cinta kepada pemuda gundul yang tampan itu?"

Kembali Kun Liong terkejut sampai tubuhnya terguncang.

Bukan main perempuan itu.

Mengerikan dan ganas, juga cerdik luar biasa.

Entah mengapa dan bagaimana Bi Kiok sampai bisa menjadi murid Iblis betina yang menyeramkan itu.

"Tidak, Subo. Jangan Subo menyangka yang bukan-bukan. Karena melihat dia menjadi tawanan orang-orang ini, maka teecu menganggap bahwa Subo tidak menghendakinya dan teecu melepaskan belenggunya."

"Untung bahwa kau tidak mencintanya. Kalau kau mencintanya, sekarang juga dia kubunuh dari tempat ini!"

Untuk ke tiga kalinya Kun Liong kaget setengah mati.

Celaka, agaknya wanita mengerikan itu tahu bahwa dia bersembunyi di situ.

Kalau tidak, mana mungkin wanita itu mengatakan dapat membunuh Kun Liong dari tempat dia berdiri?

"Mengapa begitu, Subo?

Teecu tidak mencinta siapa-siapa, akan tetapi kalau teecu mencintanya mengapa Subo hendak membunuhnya?"

"Pertanyaan yang tolol, jatuh cinta kepada seorang pria berarti membunuh diri sekerat demi sekerat, tahukah engkau? Mencinta pria tidak ada gunanya sama sekali, karena di dunia ini tidak ada pria yang setia! Sebelum mendapatkan dirimu, pria bersumpah setinggi langit sedalam lautan, kalau sudah mendapatkan, matanya liar mencari perempuan lain. Tahu? Karena itu, jangan sekali-kali engkau jatuh cinta kepada pria, dan kalau kelak engkau jatuh cinta jalan satu-satunya yang baik adalah membunuhnya, merubah cintamu menjadi benci. Mengerti?"

Bi Kiok tidak menjawab dan agaknya iblis betina itu pun tidak membutuhkan jawaban karena dia sudah mulai mengganyang lima buah jantung yang masih basah oleh darah itu, masing-masing digigit sepotong lalu dibuang sambil mengomel.

"Ihhh, jantung manusia-manusia celaka ini sama sekali tidak enak, terutama jantung dia yang berpakaian sastrawan ini!"

Dia menggerakkan kakinya menendang.

"Prokkk!!"

Kepala mayat Ouw siucai remuk dan otaknya berantakan! "Uweeekk!"

Tak dapat ditahan lagi Kun Liong muntah-muntah di tempat persembunyiannya!

Dia muak bukan main, tak dapat ditahannya lagi, bukan hanya muak melihat iblis betina itu makan jantung mentah, juga amat muak mendengar ucapannya.

"Ihhhh...!"

Bi Kiok tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya karena dia sungguh tidak menyangka bahwa Kun Liong masih bersembunyi di tempat itu!

"Nah, kau lihat betapa menjemukan laki-laki!"

Gurunya berkata lagi.

"Untung engkau tidak mencintanya, kalau kau mencintanya, engkau kuharuskan membunuhnya sekarang juga. Karena kau sudah membebaskannya, kita harus menjaga gengsi! Biarlah dia bebas, akan tetapi sekali kita berjumpa dengan bocah gundul itu, engkau ketuk kepala gundulnya sampai pecah!"

Kun Liong tak dapat menahan rasa panas yang membakar di dalam perutnya.

Dia boleh mati dibunuh akan tetapi tidak mungkin dia diam saja menelan penghinaan orang, biarpun orang itu sekejam iblis betina ini!

Dia tidak bersalah apa-apa, mengapa dihina?

"Eh, eh, nanti dulu!

Aku tidak melakukan suatu kesalahan, mengapa tiada hujan tiada angin, tiada api tiada air, Bibi datang-datang memaki-maki aku?"

Kun Liong sudah meloncat keluar dari balik semak-semak sambil mengusap mulutnya yang tadi muntah, memandang kepada iblis betina itu tanpa berkedip dan sedikit pun tidak merasa takut.

"Gundul buruk! Siapa bibimu?"

Siang tok Mo li Bu Leng Ci membentak, terheran juga menyaksikan keberanian bocah gundul ini.

"Siapa lagi kalau bukan Siang tok Mo-li, seorang di antara para datuk kaum sesat? Kalau tidak boleh disebut bibi, habis aku disuruh menyebut apa?"

"Swinggg... siuuuuttt...!!"

Kun Liong sudah memejamkan mata melihat sinar hitam dari rambut wanita itu menyambar dengan kecepatan yang mengerikan.

Benar saja, dia merasa ada rambut-rambut halus panjang dan harum membelit seluruh tubuhnya dan tubuhnya terangkat ke atas lalu berputar-putar seperti kitiran angin.

Celaka, pikirnya.

Dia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangan karena keempat anggauta tubuhnya itu ikut terbelit.

Sekali saja dibanting, akan remuk dia!

"Aku adalah Nona Bu, tahu?"

"Aku tahu, Nona Bu yang bisanya hanya membunuh orang yang tidak bisa melawan! Bisanya hanya menjilat ludah sendiri yang sudah dikeluarkan di atas tanah!"

"Apa kau bilang? Bedebah busuk, kusiksa engkau sampai minta-minta ampun!"

"Siksalah. Siapa takut? Hal itu hanya akan menambah bukti bahwa Siang tok Mo li yang terkenal sebagai seorang di antara datuk-datuk hanyalah bernama kosong, yang melanggar janji sendiri!"

"Brukkk!"

Tubuh Kun Liong dibanting ke atas tanah, akan tetapi tidak terlalu keras karena kata-kata pemuda itu sudah menikam ke dalam dada iblis betina itu.

"Bocah setan! Siapa bilang aku melanggar janji? Engkau takkan kubunuh sekarang, hal itu tidak akan kulanggar, akan tetapi aku tidak berjanji untuk tidak membuntungi kedua kakimu! Aku akan membiarkan kau hidup, akan tetapi kedua buah kakimu akan kubikin remuk tulang-tulangnya sehingga engkau akan menjadi seorang buntung yang tidak ada gunanya!"

"Aku hanya bisa mengatakan sayang, karena hal itu menunjukkan bahwa engkau tidak berani menghadapi kenyataan!"

Jawab Kun Liong dengan sikap tenang, seolah-olah ancaman dibuntungi kedua kakinya hanya seperti mendengar dibuntungi rambut atau kuku jarinya saja!

"Kenyataan apa yang kau maksudkan?"

Kun Liong yang cerdik sudah mendapatkan akal dan dia menjawab tenang.

"Aku sudah pernah bertemu dengan seorang di antara datuk-datuk yang tersohor itu selain engkau."

"Ihh! Benarkah? Siapa yang kau jumpai?"

"Yang amat sakti Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok sendiri, bersama puteranya, Ouwyang Bouw!"

Iblis betina itu benar benar tertarik sekali.

Dia tahu akan kelihaian raja ular itu, dan merasa heran bahwa pemuda itu masih hidup setelah bertemu dengan ayah dan anak itu.

"Bohong kau! Hanya mendengar nama mereka dari orang lain saja! Hemm, untuk kebohonganmu itu, bukan hanya kedua kaki, juga sebuah lenganmu akan kubikin buntung!"

Kalau Kun Liong mengenal wanita iblis ini, tentu dia akan menjadi pucat seperti Bi Kiok, karena iblis betina ini tidak pernah mengancam dan selalu akan melaksanakan kata-katanya.

Akan tetapi Kun Liong tetap tenang dan menjawab.

"Siapa bohong? Ban-tok Coa-ong orangnya tinggi kurus seperti ular, dia mempunyai terompet aneh dan pedang ular, matanya sipit, lehernya paniang dapat berputar-putar."

Dia lalu menceritakan dengan jelas keadaan kakek raja ular itu dan puteranya.

Karena dia memang pernah bertemu dengan mereka, tentu saja dia dapat bercerita dengan tepat sehingga wanita iblis itu percaya.

"Akan tetapi dibandingkan dengan Siang tok Mo li, Si Raja Ular itu masih kalah jauh, kalah kejam, kalah menyeramkan, dan agaknya melihat gerakan-gerakan tadi, dia masih kalah sakti. Hanya aku ingin sekali bertemu dengan para datuk yang lain, Kukira engkau tidak akan sehebat mereka itu terutama Si Bayangan Hantu..."

"Boleh! Aku membiarkan engkau pergi dan boleh kau saksikan sendiri. Kelak masih belum terlambat bagiku untuk mencari bocah gundul macam engkau untuk kuganyang otak dan jantungmu! Bi Kiok, hayo pergi, bocah ini menjemukan sekali!"

Iblis betina itu lalu menggandeng tangan muridnya dan sekali berkelebat dia lenyap.

Agaknya dia ingin memamerkan ginkangnya yang luar biasa kepada Kun Liong!

Kun Liong tersenyum seorang diri.

Akalnya berhasil.

Untung bahwa dia tadi mengintai dan mendengarkan ucapan iblis betina itu terhadap Kiang Ti dan Loan Khi Tosu.

Kalau tidak tentu dia tidak akan dapat menggunakan akal itu, karena dia tentu tidak mengenal watak iblis itu.

Dari ucapan iblis tadi dia dapat mengerti di samping kelihaian dan kekejamannya, iblis betina itu memiliki watak angkuh dan tinggi hati, tidak mau dikalahkan.

Karena itulah maka dia sengaja membakar hati iblis betina itu yang tentu saja menjadi penasaran dan membebaskan pemuda itu hanya untuk memberinya kesempatan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Siang tok Mo li tidak kalah dibandingkan dengan datuk lainnya!

Akan tetapi Kun Liong juga merasa menyesal sekali mengapa dara seperti Bi Kiok sampai menjadi murid iblis itu.

"Aihh, kasihan engkau, Bi Kiok."

Kun Liong mengeluh dan memandang ke arah tempat dara itu tadi berdiri seperti arca.

Tampak olehnya sesuatu di atas lantai batu depan kuil di mana tadi dara itu berdiri.

Cepat dia menghampiri dan ternyata di atas lantai di mana Bi Kiok tadi berdiri terdapat guratan-guratan huruf yang agaknya dibuat dengan kaki dara itu.

Menggurat lantai dengan kaki mengukir huruf itu saja sudah membuktikan betapa lihai dara itu, agaknya jauh lebih lihai daripada Lim Hwi Sian, dara remaja pendekar Secuan itu!

Kun Liong cepat membaca guratan huruf-huruf itu.

"Jangan bicara tentang bokor kepada siapapun juga agar nyawamu selamat!"

Kun Liong menggaruk kepalanya yang gundul.

Dia sudah cukup cerdik untuk mengerti betapa bokor yang dia temukan di dasar Sungai Huang-ho itu dijadikan perebutan orang, dan tentu saja dia tidak mau sembarangan membicarakannya.

Bokor itu telah disimpannya dengan aman.

Akan tetapi dia merasa heran sekali mengapa Bi Kiok yang tadinya terancam oleh gurunya yang seperti iblis, masih mempedulikan dia bahkan meninggalkan pesan yang berbahaya ini?

Tentu saja akan menjadi berbahaya sekali kalau iblis betina itu tahu akan perbuatan muridnya itu.

Mengapa Bi Kiok selalu menolongnya?

Teringat dia akan pertanyaan Si Iblis Betina kepada muridnya apakah dara remaja itu mencinta dia!

Dan teringat akan ini, Kun Liong melebarkan matanya dan tersenyum kecut.

Mana mungkin seorang dara secantik Bi Biok jatuh cinta kepada seorang gundul plontos seperti dia!

Akan tetapi mengapa pula Bi Kiok selalu menolongnya, bahkan berani mati meninggalkan pesan itu?

Benarkah dia mencinta?

Atau setidak-tidaknya kasihan atau suka kepadanya.

"Plakk!"

Gundul yang bersih itu kembali dicium tamparan telapak tangannya sendiri.

"Wah, gundul! Untungmu besar memang!"

Kun Liong berkata demikian dengan wajah berseri karena dia teringat akan Souw Li Hwa yang bersikap manis dan memuji gundulnya, teringat akan Lim Hwi Sian yang bahkan suka mencium gundulnya, kini teringat akan Bi Kiok yang juga suka kepadanya.

Aihhhh, mengapa gadis-gadis cantik melulu yang bersikap manis kepadanya?

Dengan langkah-langkah ringan, seringan hatinya yang mengenangkan wajah tiga orang dara remaja yang cantik-cantik itu, Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju Cin ling san yang tak berapa jauh lagi.

Cin ling san merupakan pegunungan yang tidak berapa tinggi, tidak setinggi Pegunungan Kun lun san, Tang la san, Heng tuan san atau bahkan Ci lian san yang puncak-puncaknya menjulang tinggi memasuki langit, kata orang!

Namun justeru karena tinggi puncaknya tidak menembus awan itulah yang membuat Pegunungan Cin ling san merupakan daerah yang selain indah juga amat subur tanahnya, amat sejuk nyaman hawanya.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum Cin-ling-pai (Perkumpulan Cin ling) terbentuk oleh Pendekar Besar Cia Keng Hong dan isterinya, pegunungan ini merupakan daerah angker dan tidak ada orang berani mendaki pegunungan ini yang selain penuh dengan hutan yang dihuni binatang liar itu, juga menjadi sarang kawanan perampok.

Apalagi ketika mendiang Nenek Tung Sin Nio tinggal di lereng sebelah timur Cin ling san, tidak ada seorang pun, baik orang berilmu golongan bersih maupun sesat, yang berani mendekati daerah itu.

Nenek Tung Sun Nio adalah guru ke dua dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

Memang di seluruh daerah Pegunungan Cin ling san ini, lereng timur merupakan bagian yang paling indah pemandangannya dan paling subur tanahnya.

Karena itu, di tempat ini pula, bekas tempat pertapaan Nenek Tung Sun Nio, Cia Keng Hong mendirikan perkumpulan Cin-ling-pai yang tadinya hanya merupakan kelompok petani yang berlindung di bawah wibawa suami isteri pendekar itu.

Kemudian jumlah mereka membesar sehingga terkenalah Perkumpulan Cin-ling-pai karena Cia Keng Hong menurunkan ilmu silat kepada pemuda-pemuda yang tinggal di situ.

Pemandangan dari lereng timur Cin-ling san mentakjubkan sekali.

Memandang ke utara tampak samar-samar seekor ular biru yang panjang, yang bukan lain adalah Sungai Wei ho yang mengalir ke timur.

Memandang ke timur tampak pula kaki Pegunungan Ta pa san di mana mengalir Sungai Han shui.

Di selatan tampak puncak Pegunungan Ta pa san dan Sungai Cia ling yang airnya agak kuning.

Di barat tampak menjulang tinggi puncak Pegunungan Min-san yang terkenal itu.

Yang disebut Cin-ling-pai adalab sebuah dusun di lereng timur Cin ling san, sedangkan Pendekar Sakti Cia Keng Hong bersama isterinya yang diangkat menjadi Ketua Cin-ling-pai, merupakan juga semacam kepala dusun yang disegani dan dihormati, akan tetapi juga dicinta oleh semua penduduk dusun di situ.

Penduduk dusun ini juga menyebut diri mereka anggauta Cin-ling-pai, dari kanak kanak yang baru belajar bicara sampai kakek-kakek yang sudah pikun!

Cia Keng Hong adalah seorang pendekar yang usianya pada waktu itu sudah mendekati empat puluh tahun.

Wajahnya masih tampak gagah dan tampan, dengan tubuh sedang dan biarpun sudah mendekati empat puluh tahun, Tidak seperti sebagian besar kaum pria setengah tua, pinggangnya masih ramping dan dadanya bidang.

Baik pakaiannya, sikap maupun tutur sapanya sederhana sekali sehingga dipandang sepintas lalu, tidaklah pantas kalau dia itu Cia Keng Hong yang terkenal oleh setiap orang di dunia persilatan, lebih patut kalau dia itu seorang sastrawan dusun, atau seorang terpelajar yang mengundurkan diri dan hidup sebagai petani sederhana.

Hanya kalau orang memperhatikan sinar matanya dan mendengarkan ucapannya, barulah orang tahu bahwa dia bukanlah orang biasa dan dari pribadinya mencuat keluar wibawa yang berpengaruh.

Isteri pendekar itu pun bukan orang biasa.

Bahkan mungkin sekali namanya lebih banyak dikenal, terutama di kalangan kaum sesat dan namanya pernah membuat setiap orang yang mendengar menjadi ketakutan.

Isteri pendekar itu bernama Sie Biauw Eng dan dahulu di waktu masih gadis berjuluk Song bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) karena pakaiannya selalu serba putih.

Namanya terkenal sekali karena dia adalah murid datuk golongan sesat, mendiang Lam hai Sin ni (Wanita Sakti Laut Selatan)!

Di dalam ceritaSiang Bhok Kiam atauPedang Kayu Harum diceritakan riwayat Song bun Siu li Sie Bun Eng ini sebelum menjadi isteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong!

Kini usia Sie Biauw Eng sudah kurang lebih tiga puluh lima tahun.

Namun dia masih kelihatan muda dan cantik, seperti seorang wanita muda berusia kurang dari tiga puluh tahun saja, tubuhnya masih tetap ramping, tegap berisi dengan kulit halus tanpa noda keriput.

Sikapnya kadang-kadang masih agak dingin dan kadang-kadang amat galak, akan tetapi kalau sudah timbul ramahnya, dia halus budi dan lemah gemulai seperti seorang dewi.

Biarpun tingkat ilmu silatnya tidak setinggi suaminya, namun di dunia kang-ouw namanya terkenal sekali dan agaknya tidak banyak tokoh dunia persilatan yang akan mampu menandinginya.

Cantik dan halus gerak-geriknya, wanita cantik yang lemah tampaknya, akan tetapi sekali dia mengamuk, jarang ada pendekar yang berani mendekatinya!

Suami isteri yang gagah perkasa dan bagaikan yang hidup rukun saling mencinta ini mempunyai seorang anak perempuan yang mereka namakan Cia Giok Keng yang pada waktu itu telah berusia empat belas tahun lebih.

Dara remaja ini cantik seperti ibunya, juga berani mati, tidak mengenal takut dan galaknya seperti harimau, presis ibunya di waktu muda.

Namun berbeda dengan ibunya yang pendiam dan kelihatan dingin, Giok Keng ini lincah gembira dan pandai sekali bicara, pandai berdebat seperti ayahnya.

Pada pagi hari itu, Giok Keng berada di rumah dan duduk melamun.

Seperti biasanya pagi-pagi sekali dia telah bangun mandi dan mengenakan pakaian bersih.

Dia tidak pesolek, akan tetapi seperti ibunya, dia suka akan pakaian yang bersih dan rapi.

Rambutnya dibelah menjadi dua dikuncir di sebelah belakang, anak rambutnya berjuntai di depan, menutupi dahi dengan rapi sekali.

Telinganya dihias anting-anting bermata kemala hijau, sepatunya tinggi, terbuat dari kulit.

Cantik mungil dara remaja ini, segar bagaikan sekuntum bunga mawar hutan yang menguncup dan mulai mekar.

Akan tetapi pagi itu, tidak seperti biasanya, dia duduk melamun, mulutnya agak cemberut dan alisnya berkerut.

Hatinya memag kesal sekali.

Ayah dan ibunya pergi dan dia tidak diperbolehkan ikut.

Sudah tiga hari mereka pergi, katanya hendak pergi ke Leng-kok, mengunjungi Yap Cong San.

"Mengapa saya tidak boleh ikut mengunjungi Paman Yap Cong San, Ayah?"

Dia menuntut manja.

"Bukankah kata Ayah dan Ibu, Paman Yap adalah keluarga terdekat, dan sampai sekarang pun saya belum pernah bertemu dengan mereka?"

"Lain kali saja, manis,"

Jawab ayahnya penuh kasih sayang.

"Kalau kau ikut pergi, siapa yang akan menjaga rumah dan bertanggung jawab di sini? Sekali ini, engkau harus mewakili Ayah Ibumu, menjaga Cin-ling-pai. Engkau sudah cukup dewasa!"

Jawaban yang cerdik ini menyudutkan Giok Keng.

Dia ditinggalkan, akan tetapi sekaligus diangkat menjadi wakil!

Tentu saja dia tidak sanggup membantah lagi dan pada pagi hari itu, setelah tiga hari lamanya dia merasakan kesunyian yang membuat hatinya mengkal, pagi-pagi dia setelah mandi duduk di ruangan depan rumahnya sambil bertopang dagu dan termenung.

Sementara itu, tak jauh dari situ, di luar dusun Kun Liong bertemu dengan beberapa orang penduduk yang sedang menuju ke sawah dengan wajah gembira karena pagi hari itu udara cerah dan hawanya sangat sejuk.

Dengan susah payah, bertanya-tanya, akhirnya pagi hari itu Kun Liong sudah sampai di luar dusun itu setelah malam tadi dia melewatkan malam dingin di dalam hutan di lereng bukit.

Empat orang petani itu menghentikan langkah mereka dan memandang Kun Liong dengan heran.

Jarang ada orang luar daerah datang berkunjung, kecuali para pedagang yang hendak membeli daun-daun dan akar-akar obat, ditukar dengan segala macam benda dari kota yang mereka butuhkan.

Karena mereka tidak tahu apakah pemuda itu seorang hwesio yang berpakaian biasa ataukah seorang pemuda biasa yang berkepala gundul, empat orang itu hanya memandang dan bersikap waspada.

Semua penduduk atau anggauta Cin-ling-pai sudah biasa bersikap waspada dan hati-hati sesuai dengan petunjuk ketua mereka.

Kun Liong segera mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan dan dibalas oleh empat orang itu dengan gerakan yang sama.

"Sudikah Cuwi (Anda Sekalian) menunjukkan kepada saya di mana adanya Cin-ling-pai?"

Mendengar tutur sapa Kun Liong empat orang dusun itu saling pandang.

Mereka tidak pernah mengenal huruf dan kesopan santunan kota, dan ketua mereka pun tidak berniat mengubah kewajaran orang-orang dusun itu.

Akan tetapi mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang baik, maka seorang di antara mereka menjawab sederhana.

"Dusun kami itulah Cin-ling-pai dan kami adalah anggauta-anggauta Cin-ling-pai. Ada keperluan apakah engkau mencari Cin-ling-pai?"

Kun Liong menyembunyikan rasa herannya.

Cin-ling-pai adalah nama perkumpulan, bagaimana mungkin sebuah dusun disebut perkumpulan?

Dia hanya tersenyum dan berkata pula.

"Tidak ada keperluan dengan Cin-ling-pai, hanya saja ingin menghadap Ketua Cin-ling-pai. Bukankah ketuanya bernama Cia Keng Hong?"

Kini empat orang itu memandang penuh kecurigaan, dan orang yang tertua tadi bertanya lagi dengan hati-hati.

"Kalau boleh aku bertanya, ada hubungan apakah antara Anda dengan ketua kami?"

"Dengan Pendekar Sakti Cia Keng Hong? Ahh, saya hanyalah murid keponakannya, ibu saya adalah sumoi dari Cia susiok."

Empat orang itu kelihatan kaget sekali dan cepat mereka memberi hormat dengan membungkuk.

"Aihh, harap Sicu (Tuan Yang Gagah) sudi memaafkan kami. Rumah Cia taihiap berada di dalam dusun kami, rumah besar yang bercat kuning di tengah dusun. Maaf, kami tidak dapat mengantar karena kami hendak melaksanakan tugas pekerjaan kami di sawah."

"Tidak mengapa, Paman. Terima kasih atas kebaikan Paman, saya akan mencarinya sendiri,"

Kata Kun Liong.

Empat orang dusun itu bergegas pergi menuju ke sawah.

Mereka khawatir kalau-kalau oleh pemuda itu dilaporkan bahwa mereka kurang pagi berangkat atau bermalas-malasan.

Nona muda amat galak, dan biarpun hidup mereka di situ tidak ditekan, namun nona muda paling tidak suka melihat orang malas karena dia sendiri amat rajin dan suka bekerja!

Kun Liong memasuki dusun dan mudah saja dia menemukan rumah besar bercat kuning karena dusun itu ternyata hanya merupakan sebuah dusun kecil dengan sedikit rumah-rumah, paling banyak ada lima puluh buah rumah.

Dia memasuki pekarangan rumah yang lebar dan penuh dengan tanaman bunga yang amat indah.

Bunga-bunga di sini segar dan sehat seperti di tempat-tempat dingin, dan dia harus mengagumi kepandaian orang yang mengatur taman depan rumah itu.

Tidak kalah oleh taman-taman milik orang bangsawan di kota agaknya!

"Heee!

Mau apa kau longak-longok di tamanku?

Apakah engkau mau mencuri bunga?

Mau malas-malasan tidak bekerja, ya?"

Kun Liong terkejut sekali.

Tadi dia berjongkok mencium setangkai bunga mawar yang amat indahnya, warna merah muda dan berbau harum.

Dia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya.

"Ehhh...! Siapa kau...?"

Dara remaja yang berdiri di ruangan depan rumah itu bertolak pinggang dan mengerutkan alisnya.

Kun Liong cepat melangkah maju dan naik anak tangga ke ruangan depan, menghadapi dara remaja itu dengan sinar mata kagum.

Dara remaja ini bukan main cantiknya!

Seperti bunga mawar tadi, segar kemerahan dan harum!

Dan seperti mawar yang berduri, dara ini pun agak galak!

Entah mengapa, pribadi dara ini mengeluarkan daya tarik yang membetot semangatnya, membuat Kun Liong hanya berdiri terlongong di depannya.

"Mau apa engkau? Kalau engkau hwesio minta derma, sebutkan di mana kuilmu dan siapa ketua kuil yang mengutusmu!"

Merah muka Kun Liong, merah juga kepalanya yang gundul dan perutnya terasa panas!

Datang-datang dia disambut penghinaan oleh dara cantik ini!

Sombongnya!

Hem, apakah karena cantik jelita dan agaknya menjadi orang penting di rumah Pendekar Sakti Cia Keng Hong, bocah ini boleh menghinanya sembarangan saja?

Dia seorang laki-laki yang tidak takut apa-apa, masa datang-datang dihina oleh seorang bocah perempuan, betapapun cantiknya dia?

"Eh, eh, jangan sembarangan menyangka orang.

Aku bukan hwesio dan aku sama sekali bukan datang mau minta derma!"

Kata-kata ini diucapkan dengan marah karena Kun Liong merasa terhina sekali disangka minta derma!

Sepasang mata yang seperti mata burung hong itu mengeluarkan sinar berapi, dan alis yang melengkung indah itu berkerut makin dalam, bibir yang merah dan berbentuk gendewa terpentang itu mencibir runcing, kemudian membentak.

"Kalau bukan hwesio mengapa kepalamu gundul? Tentu engkau hwesio yang menyamar dan kalau ada pendeta menyamar berarti hatinya mengandung niat buruk. Berbahaya!"

"Sialan! Aku bukan hwesio!"

Kun Liong juga membentak marah, matanya yang lebar terbelalak.

Giok Keng tersenyum.

Manis sekali senyumnya, akan tetapi juga menusuk jantung karena di balik senyum manis ini tampak jelas maksud mengejek.

"Bukan hwesio ya sudah, tak perlu menggonggong! Kalau bukan hwesio, tentu engkau seorang pemuda yang mempunyai banyak kutu rambut, atau mungkin kepalamu penuh kudis maka kaubuang semua rambutmu!"

"Bocah perempuan sombong! Engkau menghina, ya?"

Kun Liong melangkah maju setindak.

Senyum ejekan itu melebar dan tampak jelas dara itu mengangkat dada ke depan, membusungkan dada yang sudah mulai membusung itu, sambil berkata.

"Kalau benar aku menghina, habis engkau mau apa?"

Makin panas rasa perut Kun Liong. Bocah ini benar-benar kurang ajar, pikirnya.

"Kalau engkau menghina, aku pun bisa menghinamu!"

"Coba saja kalau berani!"

"Wah, sombongnya! Masa aku tidak berani membalas seorang bocah perempuan sombong seperti engkau? Engkau memang cantik seperti... bunga mawar, akan tetapi banyak sekali durinya. Engkau cantik akan tetapi galak seperti... hemmm..."

Kun Liong memutar otak untuk mencari perbandingan agar dapat balas menghina.

Muka Giok Keng sudah mulai merah dan dia membanting kaki kanannya.

"Seperti apa? Hayo katakan kalau berani!"

Kedua tangan yang bertolak pinggang sudah turun dan dikepal menjadi dua tinju kecil.

Senang hati kun Liong melihat dara itu mulai marah.

Makin manis kalau marah, pikirnya, kedua pipi itu menjadi kemerahan, presis bunga mawar.

Biar dia bertambah marah, pikirya dan dia berkata.

"Seperti... kucing betina kehilangan tanduk!"

"Keparat kau!"

Giok Keng sudah menerjang dengan pukulan kilat ke arah kepala gundul Kun Liong.

Pemuda ini mengelak, namun kalah cepat karena gerakan gadis ini benar-henar amat cepat luar biasa.

"Takkk!"

Kepala Kun Liong yang gundul kena diketak (dipukul dengan buku jari) tangan kanan Giok Keng.

Berkat sin-kang yang dipelajarinya dari Bun Hoat Tosu, kepala itu terlindung dan tidak terluka, (Lanjut ke

Jilid 10) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 akan tetapi kulit kepalanya terasa nyeri sehingga Kun Liong meringis.

Akan tetapi Giok Keng juga menyeringai kesakitan ketika buku jari tangannya bertemu dengan batok kepala yang amat keras!

"Aihhh, kepala gundulmu keras juga, ya?"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan bukan untuk mengejek, melainkan karena terheran dan dengan sungguh-sungguh, akan tetapi membuat Kun Liong makin marah.

Tidak saja kepalanya diketak, akan tetapi juga diejek!

"Pukulanmu seperti tahu saja!"

Dia balas mengejek dan balas pula menyerang, akan tetapi karena dia tidak ingin memukul, dia hanya menggunakan tangannya untuk mendorong pundak dara itu dengan tangan terbuka.

"Cih, kiranya engkau manusia cabul!"

Giok Keng mengelak.

"Cabul hidungmu!"

Kun Liong makin marah.

"Siapa yang cabul?"

Dia menjadi makin marah dan mukanya makin merah.

Dorongan ke pundak dikatakan cabul, apakah dia disangka akan menggunakan tangannya untuk memegang apa?

"Gundul cabul tak tahu malu!

Rasakan hajaran Nona Cia!"

Giok Keng kini menyerang dengan gerakan yang amat cepatnya sehingga Kun Liong sibuk mengelak ke sana sini.

Juga dia kaget setengah mati mendengar bahwa dara di depannya ini adalah Nona Cia.

Berarti puteri susioknya!

Dia sudah mendengar sepintas lalu dari ayah ibunya bahwa Cia Keng Hong mempunyai seorang puteri kalau tidak salah ingat namanya pakai Keng keng begitu.

"Eh, tahan dulu...! Plak!"

Karena lengah, pundaknya kena dipukul membuat dia terhuyung, akan tetapi tidak apa apa.

Hal ini membuat Giok Keng heran dan penasaran, maka dia menerjang lagi.

"Nanti dulu! Desss!"

Kun Liong menangkis dengan keras, kini Giok Keng yang terhuyung karena Kun Liong menggunakan sinkang.

"Apakah engkau Keng?"

Giok Keng menghentikan serangannya, dahinya berkeringat sehingga anak rambut di dahi kacau balau dan melekat seperti dilukis, matanya berkilat dan pipinya bertambah merah.

"Apa Keng?"

Dia membentak.

"Bukankah namamu memakai Keng-keng begitu? Kau puteri Ketua Cin ling-pai?"

"Banyak cerewet! Rasakan tanganku!"

Giok Keng sudah menyerang lagi dan karena dia dapat menduga bahwa pemuda gundul ini lihai juga serta memiliki kekebalan sehingga dapat menahan pukulannya, maka kini dia menggunakan dua jari tangan kanan kiri, melakukan serangan dengan totokan-totokan yang cepat sekali.

Biarpun kebal, jalan darahnya tentu tidak kebal, pikirnya.

"Cusss!"

Serangan bertubi tubi itu akhirnya berhasil dan dada kanan Kun Liong kena ditotok.

Akan tetapi karena jalan darah yang ditotoknya itu tidak kena dengan tepat, tubuh Kun Liong tidak menjadi kaku seperti kalau terkena tepat melainkan bergoyang dan menggigil sedikit, kemudian pemuda itu sudah meloncat mundur dan berkata.

"Hemm, engkau mengajak berkelahi, ya? Aku seorang laki laki sejati, tidak mau memukul perempuan, akan tetapi aku harus membela diri."

"Kau laki laki apa? Cerewetnya melebihi seorang nenek bawel. Mampuslah!"

"Wuussss...!!"

Kedua tangan Giok Keng sudah menerjang lagi dengan totokan totokan lihai sekali dan hal ini tidaklah mengherankan karena dara itu mainkan jurus jurus San in Kun hoat (Ilmu Silat Awan Gunung), semacam ilmu silat tinggi sekali yang dipelajari dari Cia Keng Hong.

Ilmu silat San in Kun hoat ini hanya terdiri dari delapan jurus, akan tetapi setiap jurusnya merupakan gerakan gerakan yang luar biasa lihainya.

Kalau saja Giok Keng sudah memiliki sin-kang yang kuat, tentu dia dapat merobohkan Kun Liong dengan ilmu silat tinggi ini.

Akan tetapi karena dara itu menyangka bahwa pemuda gundul itu memiliki kekebalan luar biasa, dia mengganti kepalan dengan totokan.

Namun kecepatan dan keanehan gerakannya membuat Kun Liong sibuk sekali.

Terpaksa pemuda ini lalu mainkan jurus dari Pat hong sin kun untuk menjaga diri dan memang daya tahan dari ilmu silat ini luar biasa.

Jangankan hanya dua buah tangan Giok Keng yang datang dari dua jurusan, andaikata dia diserang dari delapan jurusan sekalipun, dia akan dapat melindungi dirinya sesuai dengan sifat Ilmu Silat Pat hong sin kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin).

Setelah beberapa lama Giok Keng tak dapat mengenai sasaran tubuh lawannya, dara itu menjadi makin marah dan timbullah kenakalan Kun Liong untuk mengejeknya.

"Hayo, keluarkan Thi khi-i-beng, hendak kulihat bagaimana lihainya."

"Eihhh...!!"

Giok Keng tak dapat menahan kemarahannya.

Thi-khi-i-beng adalah ilmu sakti yang hanya dimiliki ayahnya.

Tentu saja dia belum diajar ilmu itu, atau belum tentu selamanya akan diajar ilmu itu yang menurut ayahnya tidak boleh sembarangan dimiliki orang yang dasarnya belum kuat benar lahir batin.

Kini pemuda gundul ini menantang Ilmu Thi-khi-i-beng.

Hati siapa tidak menjadi gemas?

"Jahanam gundul keparat sombong!

Tak perlu dengan Thi-khi-i-beng untuk melawan manusia macam engkau!"

Kini dara itu merobah ilmu silatnya dan gerakannya menjadi aneh sekali.

Baru beberapa jurus saja, dengan gerakan memutar setelah mendesak Kun Liong dengan totokan totokan maut, dara itu berhasil menendang pinggul Kun Liong sehingga pemuda itu terlempar dan terbanting.

"Wah, curang! Kusangka hanya menotok terus, tahu tahu menendang pinggul!"

"Mampuslah!"

Giok Keng sudah menubruk maju.

"Ciaaattt!"

Dua buah jari tangan kirinya menusuk ke arah mata Kun Liong yang masih telentang dan baru hendak bangkit duduk.

"Aihhhh...!"

Kun Liong meloncat ke atas, menghindarkan totokan dan tangan sudah dikepal untuk balas menghantam kepala dara itu dari atas.

Akan tetapi entah mengapa, dia tidak tega memukul dan kepalannya dibuka, berubah menjadi cengkeraman dan dia berhasil menjambak sebuah di antara dua kuncir rambut dan menariknya.

"Aduhhhh... curang kau, setan!"

Giok Keng yang dijambak rambutnya menjerit, akan tetapi berbareng dia pun menggunakan jari tangannya menotok pundak sambil mengerahkan tenaga.

"Dukkk!!"

Tubuh Kun Liong menjadi lemas dan dia roboh terguling!

Sambil bertolak pinggang berdiri di dekat tubuh Kun Liong yang rebah telentang, Giok Keng tersenyum mengejek, menggerakkan kepalanya untuk memindahkan rambutnya yang agak awut-awutan dijambak Kun Liong tadi ke belakang punggung, napasnya agak terengah, muka dan lehernya berkeringat, pipinya merah segar.

"Hemmm, kalau hendak membunuhmu, betapa mudahnya!"

Dia mengejek.

Biarpun tubuhnya masih lemas dan tak dapat digerakkan, namun Kun Liong masih dapat menggerakkan mulut bicara, dan pandang matanya sama sekali tidak takut atau menyerah, bahkan mengejek!

"Kalau begitu, mengapa tidak kau bunuh?

Hemmm, kau tidak berani membunuhku, ya?

Karena kalau kau membunuh orang yang kau curangi sehingga tanpa tersangka-sangka kena totokan, berarti engkau seorang dara pengecut paling besar!"

"Setan gundul! Kau masih berani membuka mulut besar?"

"Mengapa tidak? Engkau seorang dara yang cantik tapi galak, berhati baik akan tetapi pura-pura keras. Engkau puteri seorang pendekar besar yang tentu berjiwa pendekar pula, akan tetapi kau memperlakukan seorang tamu dengan kurang ajar dan menghina. Tunggu saja kau, akan kulihat bagaimana sikapmu kalau kuceritakan kepada ayah bundamu kelak!"

Sepasang mata yang indah itu terbelalak.

"Ehh...? Kau... kau siapa?"

"Ayahmu adalah Supekku (Uwa Guru) karena ibuku adalah sumoinya."

"Apa? Engkau... engkau she Yap?"

"Tidak ada keduanya!"

"Engkau yang bernama Yap Kun Liong putera Paman Yap Cong San?"

"Hanya inilah orangnya!"

"Celaka! Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?"

Tergopoh-gopoh Giok Keng menotok kembali pundak Kun Liong sehingga pemuda itu terbebas dan dapat bangkit berdiri lagi.

Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang.

Akhirnya Giok Keng yang membuka mulut berkata dengan nada suara penuh permintaan.

"Eh, kau jangan..."

"Namaku bukan eh!"

"Orang she Yap..."

"Mengapa kau sombong amat, sih? Memangnya aku penjahat sampai kau tidak sudi menyebut namaku?"

Giok Keng membanting-banting kakinya dengan jengkel, gerakan yang ia warisi dari ibunya.

Biasanya dia amat pandai berbantah, dan dimanja oleh siapa pun, sekarang dia selalu dibantah dan dicela habis-habisan oleh Si Gundul ini!

Akan tetapi dia takut kalau-kalau Si Gundul ini mengadu kepada ayah ibunya, terutama sekali kepada ibunya.

Mereka memanjakannya, akan tetapi ibunya keras dan kalau ibunya sudah marah, dia amat takut kepada ibunya.

"Kun Liong..."

"Eh, eh, engkau memang kurang ajar, tidak tahu aturan, ya?"

"Kenapa lagi? Cerewet benar kau!"

"Bukan cerewet, akan tetapi ayahmu adalah suheng ibuku, berarti di antara kita masih ada hubungannya."

"Hubungan apa? Keluarga bukan, kenal pun baru sekarang!"

"Eeehh, orang tua kita adalah saudara seperguruan, berarti kita masih ada bau-bau..."

"Bau apa? Kurang ajar kau!"

"Maksudku, masih bau-bau... eh, hubungan sanak. Engkau keponakan ibuku dan aku keponakan ayahmu, berarti kita masih saudara misan seperguruan. Bukan begitukah? Jadi, karena engkau masih kecil..."

"Sombong! Apa kau kira engkau ini sudah kakek-kakek? Aku bukan anak kecil!"

"Kalau begitu engkau nenek-nenek!"

"Aku bukan anak kecil, usiaku sudah empat belas tahun lebih, hampir lima belas tahun!"

"Dan aku sudah lima belas tahun. Nah, berarti aku lebih tua. Engkau adalah piauw sumoi, dan aku adalah piauw-suhengmu (kakak misan seperguruan). Engkau jangan kurang aturan menyebut namaku begitu saja, ya?"

Kembali Giok Keng membanting kaki dengan gemas.

Dia merasa kalah bicara.

Dengan susah payah dia menekan perasaannya dan berulang kali menghela napas, menahan tangannya agar jangan menampar kepala gundul itu.

Entah kenapa, tangannya gatal gatal untuk menampar kepada gundul licin itu!

"Baiklah, Piauw suheng!"

Dia mengejek sambil membungkuk dibuat buat.

"Aku minta engkau jangan mengadu kepada ayah bundaku, ya?"

Kun Liong menggerakkan hidung.

Rasakan engkau sekarang, pikirnya!

Bocah galak harus dihajar!

Dengan angkuh dia menegakkan tubuh mengangkat muka.

"Salah siapa! Engkau telah menyambutku dengan cara yang kurang ajar sekali, bahkan berani memukul aku. Biar kuberitahukan kepada Supek dan Supek bo, aku ingin melihat bagaimana kalau kau dimarahi, mungkin dipukul!"

"Aihhh... janganlah, Piauw suheng... ibuku keras sekali. Apa kau tidak kasihan kepada piauw sumoimu?"

"Huh, enak dan gampangnya. Sudah menghina, sudah memukul, malah minta tolong segala. Kiranya aku ini orang apa, hah?"

"Piauw suheng yang baik, kau maafkan aku, ya? Aku tidak marah lagi kepadamu, aku tidak menghinamu lagi. Habis engkau sendiri juga salah. Siapa yang menyangka bahwa engkau putera Paman Yap Cong San kalau melihat... eh..."

"Bilang saja kepala gundulku! Kenapa sih ragu ragu?"

Kun Liong menghardik sampai Giok Keng kaget.

"Ya, ya... karena kepalamu yang gundul itu mendatangkan keraguan dan kecurigaan padaku sehingga aku bersikap keras. Ketahuilah, ayah dan ibuku sedang pergi, malah pergi ke tempat ayahmu dan aku diberi tugas untuk mewakili mereka menjaga di sini, memimpin Cin-ling pai. Bayangkan saja betapa beratnya! Maka begitu melihat engkau yang kucurigai akan mengacau Cin-ling-san, aku terus turun tangan. Maafkan aku, ya?"

Kun Liong merasa seperti dielus elus.

Enak sekali rasanya, akan tetapi mulutnya tetap diruncingkan agar kelihatan cemberut dan marah.

"Kalau aku membiarkan semua orang menampar kepalaku kemudian cukup dengan permintaan maaf saja, agaknya kepalaku akan remuk dalam waktu singkat. Tidak cukup hanya dengan permintaan maaf."

"Habis, harus bagaimana?"

Tanya Giok Keng penasaran.

"Apakah aku harus berlutut di depan kakimu?"

Kun Liong ingin sekali menuntut hukuman seperti yang dia lakukan kepada Hwi Sian, yaitu agar dara ini pun mencium kepalanya.

Akan tetapi dia berpikir panjang.

Kalau sampai dara ini marah, karena wataknya begini keras, bisa berabe.

Dan lebih hebat lagi kalau dara ini mengadu kepada ayah bundanya, lebih celaka sekali kalau sampai ayahnya mendengar akan hal itu!

Dara ini takut kepada ibunya yang keras, tentu tidak tahu betapa dia pun amat takut kepada ayahnya yang keras pula!

Tidak, dia tidak boleh menyuruh Giok Keng mencium kepalanya.

Tiba-tiba dia mendapat akal dan menjawab sambil tersenyum.

"Engkau amat menghinaku karena kepalaku yang gundul, bahkan tadi engkau telah menampar kepalaku. Nah, sekarang aku baru mau menghabiskan urusan ini sampai di sini saja kalau engkau suka menampar kepalaku sampai tiga kali lagi!"

Mata Giok Keng terbelalak lebar.

"Apa...? Sudah gilakah engkau? Kalau kupukul dengan sungguh-sungguh, tentu akan pecah kepalamu. Jangankan sampai tiga kali, satu kali saja cukup..."

"Sudahlah, menyombong lagi! Biar pecah, lebih baik agar ayah bundamu tahu bahwa puteri mereka telah menyambut kedatangan piauw suhengnya dengan pukulan maut sampai kepalanya pecah!"

"Aihhh... habis bagaimana?"

"Terserah kepadamu. Pendeknya, aku ingin kau menggunakan tanganmu menampar kepalaku sampai tiga kali!"

Giok Keng memandang kepala itu dengan muka menunjukkan kebingungan hatinya.

Tangannya memang gatal gatal rasanya, ingin sekali dia menampari kepala itu, akan tetapi kalau dia menampar sampai Kun Liong terluka atau mampus, tentu dia tidak akan mendapat ampun dari ibunya.

Ia memutar otak dan akhirnya dengan wajah berseri dia berkata.

"Baik, akan kutampar kepalamu tiga kali, akan tetapi luput!"

"Eeh, mana bisa? Aku tidak menangkis tidak mengelak mana bisa luput? Padahal engkau puteri Ketua Cin ling-pai! Siapa mau percaya?"

"Habis bagaimana?"

"Terserah, asal menampar kepala."

Kun Liong diam diam girang sekali dan merasa sudah dapat membalas dendam mempermainkan dara galak itu.

"Kalau pelan pelan boleh, kan?"

"Pokoknya asal menggunakan tangan menampar kepala."

Jantung Kun Liong berdebar karena dia sudah membayangkan betapa kepalanya akan dielus elus oleh telapak tangan yang halus itu!

"Baiklah.

Nah, awas, aku akan mulai!"

Giok Keng menggerakkan tangan kanannya dan tepat seperti yang diduga dan dikehendaki Kun Liong, telapak tangan yang halus dan hangat itu menjamah kepala gundul itu tiga kali.

"Sudah cukup tiga kali!"

Kata Giok Keng sambil melangkah mundur, geli juga meraba kepala yang gundul kelimis itu.

"Terima kasih, enak sekali!"

Kata Kun Liong sambil membungkuk dan tersenyum lebar.

"Pringas-pringis (menyeringai), bilang saja ingin diusap kepalanya, pura pura minta ditampar!"

"Sudah pantas saja, Piauw sumoi, untuk obat kepalaku yang masih terasa nyeri oleh tamparanmu tadi. Jadi Cia-supek dan Supek bo tidak berada di rumah?"

"Tidak, karena itu, lain kali saja kau datang menjumpai mereka. Akan tetapi awas, kau sudah berjanji tidak akan mengadu kepada mereka!"

"Wah, kau tidak percaya kepadaku? Eh, sumoi, namamu Cia Giok Keng, ya? Sekarang aku ingat. Indah sekali namamu, seindah... orangnya... eh, maksudku... eh, kau cantik sekali, Piauw moi, dan ilmu silatmu lihai bukan main. Aku kagum sekali kepadamu."

"Dan aku benci kepadamu!"

"Oh, ya? Sebaliknya, aku sangat cinta kepada diriku ini!"

"Aku benci, terutama kepalamu."

"Dan aku terutama sekali sayang kepada kepalaku ini."

Kun Liong mengelus kepalanya. Betapa dia tidak sayang? Kepalanya mendatangkan banyak "untung"

Jika dia bertemu dengan dara-dara jelita! Sambil tersenyum lebar dia lalu menjura dan berkata lagi.

"Nah, aku pergi, Piauw-sumoi yang cantik dan galak. Sampai bertemu lagi, ya?"

"Tidak sudi! Sekalipun cukuplah."

"Uihh, jangan begitu! Bagaimana kalau kelak orang tuarnu minta kau berjumpa dengan aku?"

"Tidak usah, ya!"

Kun Liong tertawa bergelak lalu meninggalkan nona itu yang masih membanting-banting kaki saking jengkelnya.

Biarpun mulutnya tertawa-tawa dan hatinya lega karena sudah berhasil membalas dara galak itu, menggodanya dan berhasil pula dielus-elus kepalanya oleh tangan halus itu, namun diam-diam Kun Liong merasa penasaran sekali.

Harus dia akui bahwa ilmu kepandaian Giok Keng amat hebat dan agaknya kalau bertempur sungguh sungguh, Dia tidak akan mampu menandingi dara itu yang sejak kecil tentu digembleng ayah bundanya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, jauh lebih tinggi daripada kepandaian ayah bundanya sendiri.

Dia harus mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi!

Kalau tidak, apa dayanya untuk mencegah perbuatan jahat kalau dia bertemu dengan orang-orang seperti Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan Siang tok Mo li Bu Leng Ci?

Akan tetapi, ke mana dia harus belajar ilmu?

Kalau saja dia dapat menjadi murid supeknya, Cia Keng Hong, tentu dia akan memperoleh kemajuan hebat.

Akan tetapi dia bergidik kalau mengingat akan kegalakan Giok Keng.

Baru bertemu saja sudah cekcok dan berkelahi, apalagi kalau tinggal serumah.

Tentu seperti kucing dengan anjing!

Teringat ini, Kun Liong tertawa.

Dara itu dimakinya seperti kucing, dan memang pantas!

Dan dia anjingnya.

"Ha ha! Mana ada anjing gundul?"

Kembali dia mengelus kepalanya dan teringatlah dia akan Pek pek, anjingnya yang berbulu putih seperti kapas, yang dahulu menumpahkan obat ayahnya.

Ke manakah anjing itu pergi?

Sudah matikah?

Kata ayahnya, Pek pek dahulu ditemukan di dekat Kuil Siauw lim si.

Ahhh...!

Benar!

Kuil Siauw-lim-si!

Siauw-lim pai adalah sebuah perkumpulan besar yang memiliki banyak orang sakti.

Ayahnya sendiri pun bekas murid Siauw-lim-pai.

Dia harus pergi ke Kuil Siauw-lim-si, belajar kepada tokoh tokoh Siauw-lim-pai!

Bukan niat ini saja yang mendorong Kun Liong pergi mengunjungi Kuil Siauw-lim si, akan tetapi juga ada dugaan bahwa ayah dan ibunya tentu mengunjungi kuil itu pula.

Kalau tidak ada di rumah Cia Keng Hong, ke mana lagi ayah dan ibunya akan pergi?

Setidaknya tentu akan singgah di Siauw lim si, Karena ketika ayahnya mencarikan obat untuk para perwira yang terluka, bukankah ayahnya juga pergi ke Siauw-lim si?

Bekal pemberian kakek pamannya tinggal tak berapa lagi, akan tetapi dengan berhemat, kadang kadang hanya makan buah buah dan binatang hutan cukup juga sisa bekal itu mengantarnya sampai ke Kuil Siauw lim si.

Kuil besar yang berada di lereng bukit itu kelihatan megah, membesarkan hati Kun Liong akan tetapi juga menimbulkan ketegangan karena menduga duga apakah dia akan berhasil mendapatkan keterangan tentang ayah bundanya di kuil itu, dan apakah dia akan dapat menjadi murid Siauw-lim si.

Menjadi murid Siauw lim pai?

Tak mungkin, pikirnya ketika dia tiba-tiba teringat bahwa ayahnya sendiri sudah keluar dari Siauw-lim si dan tidak diakui sebagai murid.

Biarpun ayahnya tidak pernah menceritakan sebabnya, Namun dia tahu bahwa dengan menyebut dirinya "bekas murid Siauw lim pai"

Berarti ayahnya tidak lagi diakui sebagai murid.

Kalau para hwesio tokoh Saiuw-lim pai tahu bahwa dia adalah anak Yap Cong San yang telah tak diakui lagi sebagai murid, mana mungkin Siauw-lim pai mau menerimanya.

Pikiran ini membuat dia berkeputusan untuk menyelidiki ayah ibunya di kuil itu tanpa mengaku bahwa dia adalah putera mereka.

Demikianlah, pada suatu hari menjelang senja, dia telah berdiri di depan pintu gerhang Kuil Siauw-lim si yang menjadi pusat dari Siauw-lim pai yang terkenal.

Berbeda dengan kuil kuil Siauw-lim si yang menjadi cabang Siauw lim-pai, kuil pusat ini selain besar, juga amat luas dan dikelilingi pagar tembok yang tinggi dengan pintu pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang hwesio siang malam, seperti sebuah benteng saja!

"Apa?

Engkau hendak mengabdi kepada kuil kami, orang muda?

Dan untuk keperluan itu engkau telah mendahului membuang rambutmu?"

Tanya kepala penjaga yang diberi laporan oleh penjaga pintu gerbang akan datangnya seorang pemuda tanggung berkepala gundul yang datang untuk mengabdi dan menjadi kacung kuil itu.

Karena tidak ingin banyak rewel, Kun Liong menjawab.

"Demikianlah, Losuhu, sungguhpun teecu tidak sengaja. Harap saja Suhu sudi menerima teecu."

"Hemm, urusan menerima seorang kacung harus diputuskan oleh ketua sendiri, karena kami tidak berani bertanggung jawab kalau kalau ada pihak musuh yang menyelundup."

Di dalam hatinya, Kun Liong mencela hwesio ini.

Orang yang sudah menjadi hwesio, berarti menyerahkan jiwa raganya kepada agama, dan orang beragama berarti orang yang melakukan hidup suci, mengapa masih mengaku punya musuh?

Akan tetapi karena niatnya hanya ingin menyelidiki kalau kalau ayah bundanya berada di situ dan untuk mencari kesempatan belajar ilmu silat tinggi, Kun Liong tidak banyak rewel dan mengikuti kepala penjaga yang membawanya menghadap Ketua Siauw lim pai.

Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa Ketua Siauw lim pai adalah hekas suheng ayahnya sendiri yang berilmu tinggi dan bernama Thian Kek Hwesio, maka dengan jantung berdebar dia menghadap ketua ini.

Memang benar demikian.

Thian Kek Hwesio sendiri yang menerima pelaporan kepala penjaga dan Kun Liong menjadi kecut hatinya ketika melihat bahwa ketua kuil itu adalah seorang hwesio yang amat menakutkan, berusia delapan puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan berkulit hitam, matanya seperti kelereng besar, dan sikapnya keren, kelihatan galak bukan main!

Memang demikianlah keadaan Thian Kek Hwesio, wataknya sesuai dengan tubuhnya, kasar dan jujur namun memiliki hati emas!

"Saudara muda, kepalamu kenapakah?"

Suara Thian Kek Hwesio besar dan kasar, namun nada suaranya tidak menyinggung hati Kun Liong yang berlutut di depan hwesio itu di samping hwesio kepala penjaga.

"Teecu makan jamur di hutan dan rambut teecu lalu rontok semua, Losuhu."

Kun Liong membohong.

Dia terpaksa membohong karena kalau dia bicara terus terang, tentu akan berkepanjangan dan dia tidak akan dapat menyembunyikan keadaannya lagi sehingga sia-sialah usahanya.

"Omitohud...! Engkau keracunan, orang muda. Racun yang hebat sekali yang dapat membuat rambut rontok seperti itu! Dan biasanya, racun yang tidak merenggut nyawa, hanya merontokkan rambut berarti bahwa racun itu bertemu dengan racun lain sehingga daya mautnya punah. Engkau masih beruntung!"

Diam-diam Kun Liong kagum sekali.

Kini dia mengerti mengapa rambut kepalanya habis.

Tentu racun ular dan racun jarum Ouwyang Bouw saling bertanding dalam tubuhnya, urung mencabut nyawanya akan tetapi berhasil menghabiskan rambutnya!

Kalau dia dapat berguru kepada kakek ini, akan tetapi ah, tidak banyak selisihnya tentu dengan kepandaian ayahnya.

Mereka hanya sute dan suheng.

Bukan, bukan kepada Ketua Siauw-lim-pai ini dia ingin berguru, akan tetapi kepada Tiang Pek Hosiang, guru ayahnya atau sukongnya (kakek gurunya)!

Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa kakek sakti itu telah mengasingkan diri di dalam Kuil Siauw-lim-si ini, di dalam sebuah kamar yang disebut Ruang Kesadaran!

Dan menurut ayahnya, sampai sekarang kakek sakti itu masih hidup.

Tentu sudah amat tua, sedikitnya seratus tahun usianya.

Kepada sukongnya itulah dia ingin berguru!

"Sebetuinya di sini sudah tidak membutuhkan lagi bantuan seorang kacung, karena banyak sudah anak murid yang melakukan semua pekerjaannya, akan tetapi karena secara mujijat sekali rambut kepalamu menjadi habis tanpa dicukur, seolah-olah Tuhan sendiri yang menakdirkan engkau menjadi calon hwesio, maka biarlah pinceng (aku) menerima pengabdianmu.

Kau bekerjalah di sini membantu para hwesio kecil, kelak kalau memenuhi syarat, engkau boleh menjadi anak murid dan masuk menjadi hwesio.

Siapakah namamu?"

"Teecu she Liong, bernama Kun."

Kun Liong membohong.

"Baiklah, kami sebut engkau Liong-ji (Anak Liong). Kau ikutlah kepada kepala penjaga ini. Berikan sebuah kamar untuk dia bersama para hwesio kecil dan serahkan beberapa pekerjaan harian suruh dia bantu,"

Kata ketua itu yang sudah duduk bersila kembali sambil memejamkan mata.

Kepala penjaga itu memberi hormat, kemudian menyentuh lengan Kun Liong diajak keluar dari kamar ketua itu.

Demikianlah, Kun Liong yang di situ terkenal dengan sebutan Liong-ji, bekerja di dalam Kuil Siauw-lim-si, membantu tukang kebun.

Pekerjaan ini menyenangkan hatinya karena dia lebih bebas.

Dari percakapannya dengan para hwesio kecil yang dipancing pancingnya secara lihai, Kun Liong mendengar, bahwa ayahnya dan ibunya tidak pernah datang ke kuil ini semenjak yang terakhir ayahnya datang minta obat.

Juga dia mendengar bahwa Tiang Pek Hosiang masih bertapa di dalam Ruang Kesadaran tanpa ada yang berani mengusiknya.

Dia telah tahu pula di mana letak kamar itu, di dekat kamar gudang penyimpanan pusaka Siauw-lim-pai yang siang malam dijaga oleh empat orang hwesio secara bergilir.

Kecewa juga hati Kun Liong mendengar bahwa ayah bundanya tidak pernah datang ke kuil itu, apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa siapapun juga, baik dia anggauta Siauw-lim-pai atau orang luar, dilarang keras memasuki dua tempat tanpa ijin ketua sendiri, pertama adalah kamar Ruang Kesadaran yang pintunya selalu tertutup dan kabarnya ketua sendiri tidak berani mengusiknya, ke dua adalah gudang pusaka yang hanya jarang dibuka oleh ketua sendiri untuk mengambil atau menyimpan sesuatu.

Hilanglah harapannya untuk dapat berguru kepada Tiang Pek Hosiang yang telah belasan tahun lamanya bertapa di dalam kamar itu!

Sebulan telah lewat.

Malam itu gelap dan sunyi.

Agaknya semua hwesio telah tidur pulas, kecuali tentu saja mereka yang bertugas jaga.

Akan tetapi Kun Liong tak dapat tidur.

Dia telah membuang waktu sia-sia selama sebulan dan dia sudah mengambil keputusan tetap untuk mencoba menghadap Tiang Pek Hosiang, apapun juga yang menjadi risikonya.

Dia mendengar bahwa siapa berani melanggar dua larangan itu akan dihukum mati.

Biarlah kalau dia ketahuan dan dihukum mati.

Biarlah kalau orang-orang yang sudah menjadi hwesio, berarti memasuki penghidupan suci masih mau menghukum mati orang!

Kalau dalam hal ini dia gagal, besok pagi dia akan minggat dari tempat ini.

Hal ini mudah dilakukan karena tugasnya sebagai pembantu tukang kebun memungkinkan dia untuk keluar dari pintu gerbang, Membersihkan halaman di luar pintu gerbang.

Menjelang tengah malam, setelah keadaan sunyi benar, Kun Liong keluar dengan Hati-hati dari kamarnya.

Dua orang hwesio kecil yang menjadi temannya sekamar sudah tidur meringkuk di bawah selimut karena malam itu dingin sekali, di luar penuh kabut sehingga malam bertambah gelap.

Karena sudah hafal akan tempat-tempat penjagaan, Kun Liong dapat menyelinap ke dekat dua kamar terlarang yang letaknya berdekatan itu.

Kamar pusaka dan kamar pertapaan Tiang Pek Hosiang.

Dia tahu bahwa seperti biasa, tentu ada empat orang hwesio penjaga di depan dan belakang kamar pusaka itu, maka dia sudah mempunyai rencana untuk menyelinap dan menghampiri Ruang Kesadaran dari samping sehingga tidak tampak oleh ke empat orang hwesio penjaga.

Dia hendak memasuki kamar itu melalui jendela yang selalu tertutup pula.

Akan tetapi ketika dia menyelinap di balik tembok dan mengintai untuk melihat dua orang penjaga di depan kamar pusaka, dia terbelalak kaget melihat dua orang hwesio penjaga itu menggeletak tak bergerak!

Tidurkah mereka?

Tidak mungkin!

Tertidur di waktu menjaga kamar pusaka bisa mendapat hukuman yang amat berat!

Andaikata tertidur, masa dua-duanya?

Tentu ada apa-apa yang tidak beres, pikirnya.

Dia lalu menyelinap dengan Hati-hati sekali, memutari dua kamar itu dan mengintai untuk melihat dua penjaga yang biasanya duduk di sebelah belakang kamar pusaka.

Hampir dia berseru heran dan kaget ketika melihat bahwa kedua orang hwesio ini pun sama keadaannya dengan para penjaga di depan.

Tertidur!

Atau lebih tepat lagi, menggeletak di lantai seperti orang tidur!

Musuh!

Dia teringat akan ucapan kepala penjaga akan kekhawatiran mereka ada musuh menyelundup.

Apakah malam ini ada musuh Siauw-lim-pai yang menyelundup masuk ke Siauw-lim-pai?

Kun Liong lalu menghampiri kamar pusaka.

Terdengar suara perlahan dan dia melihat jendela kamar pusaka terbuka, dan ada sinar penerangan menyorot dari dalam.

Cepat namun Hati-hati sekali Kun Liong menghampiri jendela itu dan mengintai.

Tak salah apa yang dikhawatirkannya!

Ada tiga orang laki-laki berada di dalam kamar pusaka!

Tiga orang laki-laki membongkar lemari dan sedang mengumpulkan benda-benda pusaka, dibuntal kain dan muka mereka memakai kain penutup.

"Maling...!"

Kun Liong berteriak dan meloncat ke dalam kamar pusaka melalui jendela yang terbuka.

Tiga orang itu terkejut, melepaskan buntalan, bahkan pemimpin mereka yang biarpun mukanya ditutup sebagian dengan saputangan tampak sebagai seorang pemuda tampan, melepaskan pula buntalannya.

"Robohkan dia, hwesio cilik itu!"

Katanya kepada seorang di antara mereka.

Orang ini menerjang ke depan dengan totokan yang lihai sekali.

Akan tetapi kini Kun Liong telah siap karena dia berhadapan dengan maling-maling yang dianggapnya berbahaya.

Melihat totokan, dia memasang tubuhnya dan mengerahkan sinkangnya, menggoyang sedikit tubuh itu sehingga totokan meleset mengenai tubuh yang kebal, sedangkan dia sendiri membarengi dengan pukulan dari jurus Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, mendorong perut orang itu.

Maksudnya hanya mendorong, akan tetapi karena sinkangnya masih tersalur, orang yang didorong perutnya itu mengeluarkan suara "hekkkhh!"

Dan roboh pingsan.

"Crattt! Augghh...!"

Kun Liong terhuyung-huyung ketika ada sebuah benda merah menancap di leher kirinya.

Pandang matanya gelap dan dia terjungkal keluar dari jendela kamar.

Sebelum pingsang dia melihat banyak bayangan hwesio-hwesio berkelebatan masuk ke dalam kamar itu.

Dan memang teriakannya tadi telah menggegerkan Siauw-lim-si.

Thian Lee Hwesio, sute atau wakil Ketua Siauw-lim-si, memimpin sendiri murid-muridnya menuju ke kamar pusaka.

Akan tetapi, pemuda yang memimpin pencurian itu lihai bukan main.

Dia menyebar jarum merahnya, mencelat ke atas genteng membobol langit-langit kamar itu dan biarpun dikejar, Dia sempat menghilang keluar dari Siauw-lim-si.

Anak buahnya yang seorang lagi dapat dirobohkan dan ditangkap, bersama seorang yang telah dibikin pingsan oleh Kun Liong dengan dorongan pada perutnya.

Thian Lee Hwesio merasa cemas melihat buntalan-buntalan yang berserakan.

Kalau saja tidak ketahuan, tentu banyak pusaka penting Siauw-lim-pai tercuri.

Dia cepat melakukan pemeriksaan dan ternyata ada dua buah benda pusaka yang hilang, agaknya terbawa oleh pencuri yang lihai tadi.

Kedua benda itu adalah sebuah pedang dan sebuah hio-louw (tempat abu hio) yang amat berharga karena merupakan pusaka kuno dari Siauw-lim-si!

Namun masih untung bahwa bukan semua yang berada di buntalan terbawa.

Hal ini berkat kewaspadaan Liong-ji, karena empat orang hwesio telah tewas!

"Liong-ji, ke mana dia?

Suruh dia ke sini!"

Thian Lee Hwesio berkata.

Para hwesio mencari-cari, namun mereka tidak dapat menemukan Kun Liong.

Thian Lee Hwesio sendiri pergi mencari, namun hasilnya kosong sehingga dia termangu dan terheran-heran penuh kekhawatiran.

Apakah memergoki maling, lalu pimpinan maling itu menaruh dendam dan membawa lari anak itu?

Dengan hati cemas dia lalu menghadap suhengnya, Thian Kek Hwesio Ketua Siauw-lim-pai untuk membuat laporan.

Ke manakah sebetulnya Kun Liong pergi?

Tentu saja pemuda itu tidak dapat pergi kemana-mana kalau tidak ada yang membawanya karena dia tadi terguling pingsan terkena jarum merah pemuda berkedok saputangan yang lihai tadi.

Dia terhuyung ke belakang dan terjungkal keluar dari jendela kamar pusaka.

Ketika siuman kembali, Kun Liong mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang luas dan kamar ini kosong tidak ada perabotnya, hanya lantainya bersih sekali, ditilami permadani kuning dan di atas permadani itu duduk bersila seorang kakek yang amat tua, dengan rambut putih dan jenggot panjang.

Lehernya masih terasa sakit dan ketika dia meraba lehernya, luka di lehernya telah tertutup obat.

Mengertilah dia bahwa dia telah tertolong oleh kakek ini, dan otaknya yang cerdik cepat bekerja.

Kakek ini tua sekali, dan bukan hwesio karena rambutnya panjang.

Siapa lagi yang dapat menolongnya seperti itu selagi dia berada dalam kuil Siauw-lim-si tanpa diketahui orang?

Cepat dia bangkit dan berlutut di depan kakek itu sambil berkata.

"Sukong (Kakek Guru), teecu (murid) Yap Kun Liong menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sukong dan membawa teecu ke dalam Ruang Kesadaran ini."

Kakek itu tercengang dan mengelus jenggotnya.

"Aihhh, bagaimana engkau bisa tahu bahwa kau berada di Ruang Kesadaran? Tahukah kau siapa aku?"

"Sukong adalah Tiang Pek Hosiang..."

"Hemm, anak cerdik. Agaknya engkau bukan kacung biasa di kuil. Aku melihat engkau berindap seperti maling, akan tetapi malah memergoki maling-maling itu. Kelakuanmu aneh, aku menolongmu selagi kau pingsan akan tetapi kau dapat mengenalku. Siapakah engkau dan mengapa kau menyebut aku kakek guru?"

"Harap Sukong sudi mengampunkan teecu. Sesungguhnya karena ingin menghadap Sukong sematalah maka teecu berani melakukan kelancangan dan membohong kepada para Losuhu. Teecu bernama Yap Kun Liong, ayah teecu Yap Cong San murid Sukong..."

"Aha! Kiranya engkau anak Cong San? Engkau menyamar sebagai kacung karena hendak bertemu denganku? Apakah kau disuruh oleh ayahmu?"

"Tidak, Sukong. Teecu menghadap Sukong untuk berguru kepada Sukong."

Kakek itu tersenyum lebar.

"Wah, agaknya engkau nakal sekali, sampai-sampai rambut kepalamu habis karena racun. Mengapa engkau ingin berguru kepadaku? Bukankah ayah dan ibumu memiliki kepandaian juga, apalagi engkau dapat minta petunjuk supekmu Cia Keng Hong?"

"Teecu tidak berani minta petunjuk Supek! Teecu telah dibimbing selama lima tahun..."

Tiba-tiba dia teringat akan janjinya kepada Bun Hoat Tosu, maka cepat dia menyambung.

"Maaf, teecu tidak dapat menyebutkan namanya karena sudah berjanji."

"Ha-ha, Bun Hoat Tosu sungguh tua bangka yang aneh. Mengapa justeru kepadamu dia menurunkan ilmunya?"

"Aihhh...! Teecu tidak pernah menyebut nama beliau...!"

"Jangan khawatir, engkau tidak melanggar janji. Dari gerakanmu ketika kau merobohkan seorang maling, ada dasar gerakan rahasia dari Hoa-san-pai. Dahulu dia pernah mengatakan kepadaku untuk menciptakan sebuah ilmu silat yang mempunyai dasar delapan penjuru. Benarkah?"

"Sukong sungguh waspada. Memang demikianlah. Teecu selama lima tahun diajar oleh beliau dan diberi ilmu silat tongkat Siang-liong-pang dan ilmu silat tangan kosong Pat-hong Sin-kun, juga latihan tenaga sin-kang yang mempunyai daya membetot."

"Ha-ha-ha! Tentu untuk melawan Thi-khi-i-beng, bukan?"

"Ehh...! Sukong tahu juga?"

"Kakek tua Hoa-san-pai itu terlalu jujur sehingga segalanya dapat dilihat dari perubahan mukanya. Dahulu dia merasa penasaran sekali mengapa tidak ada ilmu yang dapat menandingi Thi-khi-i-beng, maka kalau dia menurunkan sinkang kepadamu dengan daya membetot, tentu dia tujukan untuk melawan Thi-khi-i-beng."

Kun Liong mengangguk-angguk sampai dahinya membentur lantai.

"Mohon petunjuk dari Sukong."

"Baiklah. Bun Hoat Tosu yang tidak mempunyai hubungan apa-apa denganmu telah rela melatihmu selama lima tahun. Engkau yang masih putera muridku yang paling baik, tentu saja berhak mewarisi ilmu-ilmuku, terutama ilmu yang selama ini kuciptakan di sini. Apa artinya ilmu itu kalau aku mati? Tak dapat kubawa, maka biar engkau yang mewarisinya."

Bukan main girangnya hati Kun Liong.

Mulai hari itu, di luar pengetahuan para penghuni kuil, dia mendapat gemblengan ilmu silat tinggi dari kakek sakti itu.

Mengapa hal ini sampai tidak ketahuan oleh para penghuni kuil?

Karena memang tidak ada seorang pun hwesio yang berani memasuki ruangan itu, dan setiap hari seorang hwesio pelayan kecil mengantar makanan dan minuman serta semua keperluan Tiang Pek Hosiang, meletakkannya dengan penuh hormat di depan pintu ruangan yang tertutup lalu pergi lagi.

Ransum makanan dan minuman ini cukup untuk makan minum mereka berdua, apalagi karena kakek itu jarang sekali makan.

Sementara itu, dua orang tawanan diseret ke depan kaki Ketua Siauw-lim-pai dan dengan suara halus Thian Kek Hwesio, Ketua Siauw-lim-pai, berkata.

"Ji-wi (Kalian Berdua) siapakah dan siapa pula pemimpin kalian yang sudah mencuri pedang dan bokor? Kalian dari golongan mana?"

Biarpun Thian Kek Hwesio bicara dengan suara halus, namun karena sikapnya memang angker sekali dengan tubuhnya yang tinggi besar bermuka hitam matanya lebar, mendatangkan rasa takut dan ngeri di dalam hati dua orang maling itu.

Mereka mencoba menggerakkan kaki tangan, namun sia-sia saja karena tubuh mereka sudah lemas dan lumpuh oleh totokan lihai.

"Bebaskan totokan mereka,"

Kata pula Ketua Siauw-lim-pai itu kepada sutenya, Thian Lee Hwesio yang menggerakkan tangan dan ujung lengannya yang panjang menyambar dua kali ke arah punggung dua orang tawanan.

Mereka mengeluh dan dapat bergerak kembali.

"Nah, sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian. Kalau kalian suka berterus terang, tentu pinceng akan memaafkan kalian dan membolehkan kalian pergi dengan aman."

Dua orang itu kembali mengeluh, kemudian saling pandang dan tangan mereka merogoh saku dalam baju.

Semua tokoh Siauw-lim-pai yang hadir di situ sudah siap untuk menjaga diri kalau-kalau kedua orang tawanan itu hendak menyerang mereka, atau siap untuk menangkapnya kembali kalau mereka mencoba untuk melarikan diri.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu mencabut lagi tangan mereka, meraba leher dan keduanya terguling, berkelojotan dan mati.

Thian Lee Hwesio meloncat dekat, memeriksa leher mereka yang menjadi bengkak menghijau.

Dengan ails berkerut hwesio tua ini mengeluarkan saputangan dan mencabut benda kecil dari leher kedua orang itu, lalu berkata.

"Omitohud... kalau tidak salah ini duri kembang hijau...!"

Dia melangkah maju memperlihatkan dua batang duri itu kepada suhengnya, Ketua Siauw-lim-pai.

Thian Kek Hwesio memeriksanya sebentar, lalu mengangguk-angguk dan berkata.

"Engkau benar, Sute. Ini tentu duri kembang hijau dan kembang itu hanya tumbuh di tepi Kwi-ouw (Telaga Setan)."

"Kalau begitu mereka adalah orang-orang Kwi-eng-pai (Perkumpulan Bayangan Hantu)!"

Thian Lee Hwesio berseru kaget.

"Kita harus segera mengejarnya ke sana dan menuntut kepada ketuanya!"

Pada saat itu, Thian Kek Hwesio duduk memejamkan matanya dan sikapnya penuh perhatian sehingga sutenya, Thian Lee Hwesio memandang heran dan tidak mendesak.

Memang pada saat itu Thian Kek Hwesio sedang mencurahkan perhatian terhadap suara bisikan halus yang memasuki telinganya seperti hembusan angin lalu, suara yang amat dikenalnya karena suara itu adalah suara gurunya, suara Tiang Pek Hosiang!

"Kacung itu kini menjadi sute kalian yang termuda, dan biarlah urusan pusaka hilang kelak dia yang akan mencarinya."

Thian Kek Hwesio membuka matanya dan berkata.

"Sute, tidak usah kita menyusul ke sana. Kelak akan ada orang yang bertugas mengambilnya kembali. Sekarang harap Sute menyuruh para murid memakamkan dua jenazah ini sebagaimana mestinya."

Thian Lee Hwesio memandang penasaran, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah kehendak ketuanya, mengangguk dan mengundurkan diri untuk memimpin para anak buah Siauw-lim-pai untuk mengubur dua jenazah maling itu.

Diam-diam hwesio tua ini merasa tidak puas dan penasaran sekali.

Boleh jadi Kwi-eng-pai merupakan perkumpulan kaum sesat yang amat terkenal dan ditakuti, apalagi ketuanya yang berjuluk Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang kabarnya menjadi seorang di antara datuk-datuk kaum hitam di waktu itu.

Akan tetapi Siauw-lim-pai juga sebuah perkumpulan bersih yang amat besar.

Kalau sampai terdengar dunia kang-ouw betapa Siauw-lim-pai dihina, pusakanya dicuri oleh orang Kwi-eng-pai tanpa berani membalas atau mencari, bukankah Siauw-lim-pai akan ditertawakan orang dan para tokoh Siauw-lim-pai dianggap penakut?

Betapapun juga, Thian Lee Hwesio masih tidak berani membantah kehendak suhengnya yang menjadi ketua, dan hanya menanti kesempatan baik untuk merebut kembali pedang dan hio-louw pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang itu.

Adapun Thian Kek Hwesio yang maklum bahwa kini di dunia kang-ouw timbul pertentangan dan persaingan antara mereka yang pro dan anti pemerintah, bersikap bijaksana.

Tidak saja dia ingin mentaati pesan gurunya yang berdiam di Ruangan Kesadaran, dan yang kini menggembleng sutenya yang termuda, Si Bekas Kacung itu, akan tetapi juga Ketua Siauw-lim-pai yang bijaksana ini tidak mau melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam gelanggang pertentangan hanya karena dua buah pusaka saja.

Kalau dia atau Thian Lee Hwesio atau para tokoh Siauw-lim-pai yang lain maju menyerbu Kwi-eng-pai, tentu berarti melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam pertentangan.

Sebaliknya kalau kacung yang kini digembleng suhunya itu yang kelak menyerbu, karena bocah itu bukan jadi anggauta Siauw-lim-pai resmi, tidak ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai, tentu Siauw-lim-pai akan bebas dari libatan permusuhan.

Lima tahun lewat dengan amat cepatnya.

Di dalam Ruang Kesadaran yang terletak di bagian belakang kompleks bangunan Kuil Siauw-lim-si terasing dari dunia luar, Kun Liong digembleng setiap hari oleh Tiang Pek Hosiang yang sudah menjadi makin tua.

Selama lima tahun itu Kun Liong hanya menerima dua macam ilmu yang amat tinggi, yaitu Ilmu Silat Im-yang Sin-kun yang dapat dipergunakan untuk main silat tangan kosong maupun dengan sepasang senjata apa saja, dan ilmu sin-kang yang disebut Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih), sin-kang yang amat lembut namun memiliki kekuatan yang amat dahsyat.

Siang malam Kun Liong berlatih.

Tubuhnya menjadi kurus karena kurang makan, mukanya agak pucat karena tak pernah kenyang menerima sinar matahari, namun matanya kini mengeluarkan cahaya yang aneh dan tajam menusuk seolah-olah menembus jantung orang yang dipandangnya.

Yang tidak pernah berubah adalah kepalanya.

Tetap gundul, tidak ada sehelai pun rambutnya tumbuh!

Dia telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun, tampan wajahnya, amat sederhana gerak-geriknya, dan yang paling menarik adalah kepala gundulnya.

Melihat kepalanya, semua orang tentu menganggap dia sebagai orang hwesio, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian hwesio.

Pada suatu pagi, Tiang Pek Hosiang berkata kepada Kun Liong yang sudah menghadap dan berlutut di depannya.

"Kun Liong, tibalah saatnya engkau keluar dari ruangan ini dan beritahukan kepada Ketua Siauw-lim-pai agar menyediakan sebuah peti mati sederhana untukku, dan kelak membakar jenazahku di puncak bukit belakang kuil tanpa upacara, tak perlu mengundang Orang-orang kang-ouw."

"Sukong...!"

Kun Liong terkejut bukan main mendengar pesan kakek itu, memandang terbelalak dan mukanya pucat.

Kakek itu tersenyum lebar.

"Mengapa, Kun Liong? Mengapa mendengar aku akan mati engkau menjadi terkejut dan pucat mukamu seperti orang takut?"

"Sukong, siapakah yang tidak ngeri dan takut menghadapi kematian?"

"Mengapa timbul takut, Kun Liong?"

"Karena kita tidak tahu apa dan bagaimana kematian itu, Sukong. Kita menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan kita."

"Ha-ha, benarkah demikian? Kalau kematian itu sesuatu yang tidak kita kenal, mana mungkin kita menjadi takut akan sesuatu yang tidak kita ketahui? Barulah timbul takut kalau kita mengetahui sesuatu akan kematian yang kita ketahui dari dongeng nenek moyang kita, dari tahyul, mengenal siksaan-siksaan sesudah mati, semua itulah yang menimbulkan rasa takut, bayangan kita sendiri yang timbul dari dongeng-dongeng itu."

"Tidak hanya itu, Sukong. Teecu sendiri tidak percaya akan adanya dongeng tentang neraka, akan tetapi teceu merasa ngeri kalau membayangkan kematian."

"Hemm, kalau begitu, yang kau takutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan kau takut untuk berpisah dari hidup yang kau kenal ini, takut untuk meninggalkan segala yang kau kenal di dunia kehidupan ini. Andaikata orang-orang yang kau sayang, benda-benda yang kau sukai di dunia ini, dapat bersamamu pergi ke kematian, agaknya takut itu pun akan lenyap. Bukankah begitu?"

Kun Liong berpikir dan mengangguk.

"Agaknya teecu tidak akan takut lagi, Sukong."

"Jelas bahwa orang takut akan kematian karena sesungguhnya dia takut akan berpisah dari isi dunia kehidupan yang disukainya. Bagi seseorang yang sudah dapat mematikan akunya sewaktu hidup, tiada perubahan keadaan antara hidup dan mati. Yang berbeda hanya sebutannya saja karena bagi dia yang tiada lagi ber-aku, setiap saat adalah sama, apa pun yang akan terjadi dengan dia. Mengertikah engkau, Kun Liong?"

Kun Liong mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul, akan tetapi mulutnya berkata terus terang.

"Teecu mengerti akan tetapi masih sukar untuk menyelami wejangan ini, Sukong. Akan tetapi, kalau benar Sukong hendak pergi meninggalkan penghidupan ini, perkenankanlah teecu merawat Sukong sampai saat terakhir."

"Jangan, Kun Liong. Sudah tiba waktunya engkau keluar dari sini, biarlah aku melewatkan beberapa hari lagi ini seorang diri saja di sini. Nah, keluarlah dan sampaikan pesanku kepada Thian Kek Hwesio. Pergilah!"

Kakek itu sudah memejamkan matanya kembali sambil duduk bersila.

Kun Liong merasa terharu juga.

Selama lima tahun dia tidak pernah berpisah dari kakek itu dan menerima gemblengan-gemblengan yang hebat.

Dia berlutut dan membentur-benturkan dahinya di atas lantai depan kaki sukongnya itu, menitikkan air mata, kemudian sambil menarik napas panjang keluarlah dia dari ruangan itu membuka daun pintu, menutupkan lagi dari luar dan melangkah ke ruangan dalam.

Dua orang hwesio penjaga terkejut sekali melihat seorang pemuda gundul keluar dari Ruangan Kesadaran.

Cepat mereka meloncat menghampiri dan siap untuk menerjang, akan tetapi mereka melongo ketika mengenal Kun Liong, apalagi karena Kun Liong cepat menjura kepada mereka dan berkata.

"Ji-wi Suhu apakah lupa kepada Liong-ji? Aku mendapat pesan dari Sukong untuk disampaikan kepada Thian Kek Losuhu."

"Kau... kau kacung Liong-ji...? Bagaimana bisa keluar dari Ruangan Kesadaran?"

Seorang di antara dua hwesio itu bertanya, membelalakkan matanya dan hampir tidak percaya.

"Panjang ceritanya, akan tetapi Thian Kek Losuhu tentu mengerti, harap bawa aku menghadap beliau."

Baca Juga: Istana Pulau Es 6

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert