Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 2

Eps 2 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

Ular itu mendesis dan tubuhnya yang melingkar mulai bergerak-gerak, lingkarannya terlepas dan tampaklah tubuh yang panjang sekali, tidak kurang dari empat meter panjangnya, dan besar perutnya melebihi paha Kun Liong!

Setelah berada di depan ular yang mendesis-desis dan lidah merahnya keluar masuk mulut dengan cepat sekali itu, Kun Liong berhenti.

Terlalu berbahaya kalau mendekat lagi.

Dia mengukur jarak antara dia dan ular, dan mengingat apa yang telah dipelajarinya dari ibunya.

Ibunya pernah menundukkan seekor ular besar, sungguhpun tidak sebesar ular di depannya ini.

Menurut pelajaran yang diberikan ibunya, seekor ular besar berbeda bahayanya dengan ular kecil yang beracun.

Ular kecil gigitannya mematikan karena mengandung bisa.

Akan tetapi seekor ular besar yang tidak berbisa seperti ini, bahayanya terletak pada mulut yang dapat menjadi lebar sekali, yang gigitannya tak mungkin dapat dilepaskan oleh Si Korban, dan juga terletak pada belitan tubuhnya yang amat kuat.

Untuk membuat mulut lebar itu tidak berdaya, harus dipergunakan umpan, karena sekali ular itu menggigit korbannya, gigi-giginya yang melengkong ke dalam itu akan merupakan kaitan yang sukar melepaskan si korban dan dalam keadaan menggigit korbannya, ular itu tidak dapat menyerang lawan dengan mulutnya.

Mudah untuk membuat mulut itu tidak berdaya, pikir Kun Liong yang berbahaya adalah belitan tubuh itu.

Harus cepat dapat menotok tengkuk di belakang kepala sehingga tubuh itu menjadi setengah lumpuh.

Ular itu kini mengeluarkan desis keras ketika Kun Liong melepaskan ayamnya.

Ayam betina gemuk itu mengenal bahaya.

Dia meronta-ronta dan mengerakkan sayap hendak lari dan terbang, akan tetapi tali yang mengikat kaki itu menahannya.

Dengan mata yang memandang tanpa berkedip, Kun Liong menggerakkan talinya sehingga tubuh ayam itu terlempar ke depan, ke dekat ular.

Menakjubkan melihat ular sebesar itu, membayangkan kelambanan, dapat menggerakkan kepala dengan kecepatan luar biasa dan tahu-tahu ayam itu memekik-mekik dan meronta-ronta, namun tak mungkin dapat melepaskan diri dari gigi-gigi runcing yang telah menancap di tubuhnya dan mengait daging dan tulang.

Kun Liong menanti sebentar, melihat ayam yang meronta-ronta dan memekik-mekik itu mulai lemas, dan beberapa kali moncong ular itu bergerak ke depan secara tiba-tiba memaksa tubuh korbannya masuk makin dalam, kemudian dengan gerakan ringan Kun Liong sudah meloncat ke dekat kepala ular, menubruk dan merangkul leher ular yang menegakkan kepalanya, menggunakan jari tangannya, mengerahkan semua tenaga untuk memijat dan memukul tengkuk ular.

Bau yang amis dan wengur membuatnya muak, dan melihat moncong ular yang besar itu dia merasa ngeri juga.

Kalau moncong ular itu tidak penuh ayam yang mulai ditelan berikut bulu-bulunya, tentu dia yang menjadi korban dan kiranya ular itu tidak akan menghadapi kesukaran untuk menelan tubuhnya bulat-bulat.

Ular itu marah sekali, akan tetapi karena dia tidak dapat menyerang dengan mulutnya yang penuh ayam, dia hanya menggunakan tubuhnya untuk membelit.

Pukulan pada tengkuknya mendatangkan rasa nyeri dan ketika Kun Liong akhirnya berhasil menotok urat kelemahan binatang itu di tengkuk, tubuh ular itu telah berhasil pula membelit tubuh Kun Liong, menggunakan tenaga dari ekornya!

Kun Liong menggunakan lengannya melindungi leher karena dia maklum bahwa kalau sampai lehernya terbelit dan tercekik, dia tidak akan dapat melepaskan diri lagi dan tentu akan mati.

Dia berhasil melindungi leher, akan tetapi pinggang, kedua kaki, dada dan lengannya terhimpit dan terbelit, membuat dia sukar bernapas dan tidak dapat bergerak!

Ketika melihat betapa kepala dusun dan anak buahnya yang menyaksikan keadaannya itu datang mendekat dengan senjata di tangan, siap membantunya, Kun Liong menggeleng kepala dan berkata.

"Jangan...!"

Dia merasa khawatir sekali karena kalau orang-orang itu menyerbu dan melukai ular besar ini, tentu ular itu makin marah dan memperkuat libatannya dan hal ini berarti ancaman maut baginya.

Untung bahwa kepala dusun itu seorang yang cukup cerdik untuk dapat mengerti bahwa kalau keadaan anak itu terancam bahaya, tidak mungkin anak itu menolak untuk dibantu.

Maka dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk diam, dan mereka itu kini hanya memandang dengan mata terbelalak penuh kekhawatiran melihat Kun Liong bergulat dalam usahanya membebaskan diri dari belitan tubuh ular yang licin dan amat kuat itu.

Biarpun tubuh bagian leher setengah lumpuh, namun tenaga dari ekomya masih amat kuat dan agaknya ular itu hendak membuat tubuh Kun Liong remuk dengan himpitannya.

Kun Liong maklum bahwa keadaannya berbahaya.

Biarpun dia telah berhasil memukul tengkuk ular itu sehingga untuk sementara ular itu tidak dapat menelan tubuh ayam dan mulutnya tidak akan menggigitnya akan tetapi tenaga pukulannya tidak cukup kuat sehingga ular itu hanya akan lumpuh untuk beberapa saat lamanya saja.

Kalau ular itu dapat memulihkan kembali tenaganya, menelan tubuh ayam tadi dan mulutnya sudah kosong, tentu dia tidak akan tertolong lagi.

Sekali gigit dia akan mati dan tubuhnya akan ditelan perlahan-lahan ke dalam perut yang besar itu .

Kembali Ilmu Sia-kut-hoat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, dia pergunakan untuk menolong dirinya.

Dengan menggunakan ilmu ini, biarpun perlahan-lahan karena belitan ular itu benar-benar amat kuat, akhirnya Kun Liong dapat membebaskan kedua lengannya.

Ekor ular itu ikut membelit ke pinggangnya, maka mudah baginya untuk menangkap ekor ular itu dan dengan sekuat tenaga dia menarik dan membetot bagian ekor ular itu sampai terdengar bunyi suara tulang berkerotok, tanda bahwa sambungan tulang di ekor itu terlepas!

Karena kedua ujung tubuhnya yang menjadi serupa pegangan dan pusat tenaganya telah menjadi lumpuh, ular itu kebingungan.

Tubuhnya bergerak-gerak lemah dan otomatis libatannya menjadi kendur sehingga dengan mudah Kun Liong melepaskan diri dan meloncat keluar dari lilitan tubuh ular yang melingkar-lingkar.

"Dia sudah dapat kujinakkan!"

Katanya kepada orang-orang yang menonton dengan heran dan kagum.

Akan tetapi karena tubuh ular besar itu masih bergerak-gerak, orang-orang itu masih merasa takut dan tidak berani datang mendekati.

"Dia tidak akan dapat menggigit atau melilit lagi. Kita ikat leher dan ekornya, bawa pulang ke dusun. Dagingnya enak sekali! Juga kulitnya amat berharga"

Kata Kun Liong.

Kakek yang menjadi orang pertama melompat ke depan mendekati ular.

Dan mengulur tangan menepuk-nepuk kepala ular itu dan ketika melihat betapa ular itu sama sekali tidak menyerangnya, dia tertawa terkekeh-kekeh dan semua orang menjadi berani.

Beramai-ramai mereka mengikat ular itu dengan tali yang memang mereka bawa dari dusun.

Kun Liong lalu menangkap-nangkapi ular-ular beracun kecil sampai belasan ekor lebih.

Kini sambil memanggul ular yang sudah diikat dan membawa ular-ular berbisa kecil yang sudah lumpuh, penduduk dusun yang dipimpin kepala kampung itu tertawa-tawa gembira dan penuh kebanggaan, berjalan beriring hendak keluar dari dalam hutan.

"Mudah saja untuk mengusir ular-ular dari hutan ini"

Kun Liong sibuk memberi penjelasan kepada kepala dusun.

"Cuwi dapat mempergunakan bubukan garam untuk mengusir ular. Ular-ular itu paling takut karena garam dapat mencelakakan mereka, menjadi racun yang merusak kulit mereka. Pertama-tama Cuwi sebarkan garam di bagian hutan yang dekat dusun, atau dapat juga dipergunakan api untuk membakar semak-semak. Pasti binatang-binatang itu akan lari ketakutan dan tidak akan berani datang kembali, mereka akan mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman."

Tiba-tiba rombongan itu berhenti berjalan ketika terdengar suara yang mirip suara suling, akan tetapi aneh sekali, tidak seperti suling biasa.

Jelas bahwa suara itu keluar dari sebuah alat tiup macam suling, hanya suaranya melengking terus tanpa pernah berhenti sedikit pun, nadanya naik turun, kalau naik menjadi tinggi sekali sampai hampir tidak terdengar lagi dan seperti menusuk-nusuk telinga, kalau turun menjadi amat rendah seperti gerengan seekor harimau yang menggetarkan jantung.

"Suara apa itu...?"

Kun Liong bertanya, akan tetapi dia tidak memerlukan jawaban lagi ketika menoleh dan melihat betapa orang-orang itu saling pandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat, kemudian mereka menahan seruan kaget ketika mendengar suara mendesis-desis dari sekeliling mereka, disusul munculnya puluhan, bahkan ratusan ekor ular besar kecil yang mengurung mereka!

Tadinya ular-ular itu bergerak dan mendesis-desis akan tetapi tiba-tiba suara melengking itu berubah pendek-pendek seperti memberi aba-aba dan...

ular-ular itu lalu berhenti, tidak bergerak seperti mati!

"Apa...

apa ini...?"

Kun Liong kembali bertanya, memandang ke sekeliling dan bergidik melihat betapa ular-ular itu memang telah mengurung mereka, agaknya datang dari empat penjuru hutan itu dan seolah-olah binatang-binatang itu terlatih sehinggia dapat melakukan pengurungan yang rapat dan rapi!

Tentu suara suling aneh itu yang mengatur "barisan"

Ular ini.

Diam-diam dia kagum bukan main.

Suara melengking menghilang dan dapat dibayangkan betapa kaget hati penduduk dusun itu ketika tiba-tiba, entah dari mana dan bagaimana datangnya, tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki yang luar biasa, seorang kakek berusia lima puluh tahun, pakaiannya lorek-lorek seperti kulit ular, tubuhnya kurus tinggi dan lehernya amat panjang, kepalanya lonjong.

Benar-benar seorang manusia yang bentuk tubuhnya "mendekati"

Bentuk ular!

Tangan orang ini memegang sebuah benda yang bentuknya seperti suling akan tetapi ujung bagian depan besar dan terbuka seperti corong, agaknya sebuah alat tiup terompet yang aneh.

Di punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

"Hahhhh! Siapa kalian ini berani mati sekali mengganggu anak buahku, mengganggu binatang peliharaanku! Lepaskan mereka!"

Tiba-tiba dia menggetarkan tangah kanannya ke depan.

Ujung lengan bajunya menyambar ke depan dan...

semua ular yang dipegang rombongan itu terlepas karena tiba-tiba mereka, termasuk Kun Liong merasa ada angin menyambar dan membuat lengan mereka seperti kehilangan tenaga dan lumpuh untuk beberapa detik lamanya!

Kepala dusun dan anak buahnya sudah berdiri menggigil, bahkan ada yang saking takutnya sudah menjatuhkan diri berlutut.

Kun Liong teringat akan cerita Kakek Lo dan Akian yang pada saat itu sudah berlutut pula, yaitu cerita tentang ular-ular hutan itu yang katanya ada yang memelihara.

Kiranya cerita itu bukan cerita bohong belaka karena kini benar-benar ada seorang manusia aneh yang mengaku ular-ular itu sebagai anak buah dan peliharaannya!

Dia teringat pula akan penuturan ibunya bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat manusia-manusia aneh yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki kesaktian.

Maka kini melihat orang aneh yang sekali menggerakkan tangan mampu membuat mereka semua terpaksa melepaskan ular-ular yang ditangkapnya tadi, Kun Liong dapat menduga bahwa tentu orang ini adalah seorang di antara manusia-manusia sakti di dunia kang-ouw.

Cepat dia melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada sambil berkata.

"Locianpwe (Orang Tua Perkasa), harap Locianpwe tidak menyalahkan para penduduk dusun ini, mereka tidak berdosa karena akulah yang telah menangkap ular-ular ini."

Manusia aneh itu sejenak memandang ke arah ular-ular yang hanya dapat bergerak lambat, termasuk ular besar yang telah setengah lumpuh, kemudian menoleh kepada Kun Liong dan memandang dengan heran.

"Ular-ularku ditotok dan dilumpuhkan! Engkau yang melakukan ini? Dari mana engkau memperoleh ilmu menangkap ular?"

"Pemah kupelajari dari orang tuaku sendiri."

"Hemmm, kalian manusia-manusia jahat dan lancang, berani melumpuhkan dan menangkapi ular-ularku! Kalian tidak berhak hidup lagi karena kalian telah berani menghina Ban-tok Coa-ong!"

Mendengar ini, kepala dusun menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh semua anak buahnya.

"Harap Locianpwe sudi mengampunkan kami..."

"Hemmm, aku barangkali bisa mengampuni, akan tetapi ular-ularku ini pasti tidak!"

Kata kakek itu sambil terkekeh, sikapnya kejam sekali.

Kun Liong menjadi marah.

Dia melangkah maju lagi dan berkata.

"Locianpwe yang telah memiliki nama julukan demikian menyeramkan tentu bukanlah seorang manusia biasa, melainkan tokoh besar di dunia kang-ouw. Apakah Locianpwe tidak malu dan tidak ditertawakan orang-orang gagah sedunia kalau Locianpwe membunuh orang-orang dusun yang tidak mampu melawan?"

Kembali kakek itu tercengang memandang Kun Liong.

Sikap dan ucapan bocah ini benar-benar membuat dia kaget, heran, dan kagum.

"Kalian telah mengganggu ular-ularku, sudah pantas dihukum. Siapa yang akan mentertawakan aku?"

"Locianpwe adalah seorang mariusia, aku tidak percaya bahwa Locianpwe lebih sayang.kepada ular daripada kepada manusia, membela ular dan memusuhi manusia!"

Kun Liong membantah lagi penuh penasaran.

"Ho-ho-ha-ha-ha! Aku disebut Coa-ong (Raja Ular), siapa lagi kalau bukan aku yang membela ular-ular ini? Aku tidak sudi dimasukkan kelompok manusia! Ular-ular ini jauh lebih baik daripada manusia!"

"Locianpwe agaknya lupa bahwa ular-ular berbisa telah membunuh banyak manusia, dan merupakan binatang ganas yang berbahaya bagi manusia!"

Kun Liong membantah, suaranya sama sekali tidak membayangkan rasa takut, bahkan terdengar nyaring penuh penasaran.

"Apa kau bilang?"

Kakek itu.

mencoba untuk melebarkan matanya, akan tetapi hasilnya, sepasang matanya itu bertambah sipit hampir terpejam sama sekali.

Leherya yang panjang bergerak-gerak makin memanjang, dan kelihatannya lucu sekali.

Lengannya yang panjang dan dapat bergerak seperti ular merayap itu menudingkan telunjuk tangan ke arah Kun Liong.

"Jangan memutarbalikkan kenyataan, ya? Kau hanya mengingat manusia yang terbunuh oleh ular-ular, sama sekali tidak ingat akan ular-ular yang terbunuh oleh manusia! Mungkin perbandingannya tidak ada seratus lawan satu, seratus ekor ular telah dibunuh manusia dan baru seorang manusia yang terbunuh oleh ular! Itu pun terjadi karena si manusia mengganggu ular, kalau tidak, tak mungkin ada ular menyerang manusia, kecuali ular besar yang menyerang apa saja kalau sudah lapar karena membutuhkan penyambung hidup. Sedangkan manusia-manusia macam engkau ini, menangkap dan membunuh ular untuk apa? Tanpa makan ular kalian masih dapat hidup. Kau bilang ular-ular itu berbahaya bagi kehidupan manusia, bukankah itu terbalik dan sebetulnya, manusia-manusia macam kalian inilah yang amat berbahaya bagi kehidupan ular?"

Kun Liong menjadi merah sekali mukanya.

Di dalam hati anak yang masih belum rusak benar oleh kepalsuan-kepalsuan seperti manusia dewasa dia dapat menerima pendapat kakek aneh itu dan dalam kewajarannya, dia mau tidak mau harus membenarkan pendapat itu.

Akan tetapi maklum bahwa nyawa kepala dusun dan anak buahnya terancam bahaya maut, dia membantah.

"Biarpun pendapat Locianpwe tak dapat kusangkal kebenarannya, akan tetapi Locianpwe adalah seorang manusia, tidak mungkin hendak mengorbankan nyawa manusia untuk membela ular!"

"Memang aku raja ular! Bergaul dengan ular jauh lebih menyenangkan daripada bergaul dengan manusia-manusia yang palsu!"

Kakek itu segera mendekatkan ujung terompetnya ke bibir dan terdengarlah suara melengking yang dahsyat sekali, yang membuat Kun Liong dan semua penduduk dusun itu menggigil kedua kakinya dan tidak dapat melangkah dari tempat mereka berdiri seolah-olah kaki mereka menjadi lumpuh!

Temyata bahwa suara terompet itu bukanlah suara biasa, melainkan suara yang mengandung getaran dahsyat sekali dari tenaga khikang dan diam-diam Kun Liong terkejut bukan main.

Pemah dia mendengar dari ayah bundanya akan kesaktian ini.

Hanya orang yang sudah memiliki sin-kang amat kuat saja dapat mengerahkan tenaga dalam suara sehingga melumpuhkan lawan!

Pemah dia merasakan getaran khi-kang dari suara nyanyian tosu Pek-lia-kauw, yaitu Loan Khi Tosu, akan tetapi getaran yang terkandung dalam suara tosu itu tidaklah sedahsyat suara terompet ini sehingga dia bahkan dapat mengacau nyanyian tosu itu dengan nyanyiannya.

Pernah ayahnya mendemonstrasikan suara melengkingnya yang mengandung khi-kang, akan tetapi agaknya kekuatan ayahnya juga tidak sehebat dan sedahsyat suara yang terkandung dalam tiupan suling aneh ini!

Empat belas orang itu, Kun Liong, Kakek Lo, Akian, kepala dusun dan sepuluh orang anak buahya, hanya berdiri seperti arca dengan mata terbelalak lebar memandang ke arah ular-ular yang kini maju merayap menghampiri mereka!

Dapat dibayangkan betapa ngeri dan takut rasa hati mereka, Akan tetapi mereka tak dapat menggerakkan kaki untuk melarikan diri, bahkan bibir mereka yang bergerak-gerak tidak dapat mengeluarkan suara, hanya terdengar ah-ah-uh-uh dan ada di antara mereka yang mengeluarkan air mata saking takutnya.

Hanya Kun Liong seorang yang berdiri tenang karena dia sama sekali lupa akan keadaan diri sendiri lupa akan bahaya yang mengancam nyawanya sendiri, dan yang menjadi perhatiannya hanyalah keadaan orang-orang yang terancam bahaya maut itu.

Di dalam hatinya dia merasa menyesal bukan main.

Semua ini terjadi gara-gara dia!

Kalau dia tidak menangkap ular-ular itu agaknya kakek iblis Ban-tok Coa-ong tidak akan membunuh mereka!

Rasa penasaran dan penyesalan yang besar ini membuat dia sejenak lupa sama sekali akan suara melengking dari terompet sehingga dia terbebas dari pengaruh khi-kang dan berteriak keras.

"Kakek iblis! Jangan bunuh mereka! Kalau mau bunuh, bunuhlah aku karena akulah yang menangkap ular-ularmu. Mereka tidak berdosa!"

Kembali kakek itu tercengang.

Dalam perantauannya di dalam dunia kang-ouw, sebagai seorang di antara lima datuk persilatan yang terkenal, Sudah banyak dia bertemu dengan orang gagah, bukan hanya gagah karena tinggi ilmu kepandaiannya, akan tetapi gagah karena berjiwa satria, seorang yang tidak gentar menghadapi maut dan yang siap mengorbankan nyawa untuk orang lain.

Akan tetapi, selama hidupnya belum pemah dia bertemu dengan seorang kanak-kanak yang usianya baru sepuluh tahun sudah memiliki jiwa satria seperti ini!

Dia benar-benar tercengang, terheran, dan kagum bukan main.

Aihhh, kalau saja puteranya bersikap seperti anak ini, pikirnya.

Dia menarik napas panjang dan menjadi marah karena iri hati kepada ayah anak yang gagah perkasa itu.

Melihat betapa ular-ular itu telah tiba dekat sekali di depan kaki para penduduk dusun, Kun Liong yang sudah terbebas dari suara terompet, melompat ke depan kakek itu sambil membentak.

"Kakek iblis, tidak malukah engkau? Sungguh engkau pengecut hina!"

"Plakkk!"

Secara tiba-tiba sekali tangan kiri kakek itu bergerak dan tubuh Kun Liong terguling dalam keadaan lumpuh karena dia telah tertotok secara aneh sekali.

Dan kakek itu masih terus meniup terompetnya yang membuat ular-ular itu seperti mabok dan marah.

Mulailah ular-ular itu menyerang dan menggigit empat belas orang itu dan pada saat itu, Ban-tok Coa-ong menghentikan tiupan terompetnya sehingga orang-orang itu kini dapat bergerak dan dapat berteriak-teriak.

Mereka berusaha melawan, akan tetapi mana mungkin melawan ular yang demikian banyaknya?

Sedikitnya ada sepuluh ekor ular besar kecil menggigit tubuh setiap orang dan setiap gigitan saja sudah mengandung racun yang cukup untuk mencabut nyawa!

Hanya Kun Liong seorang di antara empat belas orang itu yang tetap tidak bergerak biarpun tubuhnya juga digigit beberapa ekor ular.

Tiga belas orang yang lain, selain menjerit-jerit dan makin lama suaranya menjadi rintih memilukan, juga mereka berkelojotan dan bergulingan ke sana-sini sampai akhirnya mereka diam tak bergerak, tubuh mereka bengkak-bengkak dan berwama biru kehitaman!

Hal ini adalah karena di dalam tubuh Kun Liong sudah terdapat racun inti bisa ular.

Ibunya yang amat sayang kepada puteranya ini telah memberi minum obat yang mengandung racun anti bisa ular itu kepadanya, semenjak kecil, sedikit demi sedikit sehingga kini Kun Liong telah menjadi kebal terhadap racun ular.

Gigitan-gigitan itu memang membuat bagian tubuh yang tergigit menjadi bengkak dan merah, akan tetapi racun ular itu tidak dapat menjalar ke dalam tubuhnya, Tertolak oleh darahnya yang mengandung racun penolak dan racun ular itu hanya terkumpul di tempat gigitan.

Hal ini tidak diketahui oleh Ban-tok Coa-ong yang tertawa-tawa dan bergembira menyaksikan orang-orang yang disiksanya itu.

Kalau saja tidak ada sedemikian banyaknya orang yang dikeroyok ular-ulamya, andaikata hanya Kun Liong seorang sebagai seorang ahli racun ular tentu saja Ban-tok Coa-ong akan dapat mengetahui keanehan ini.

Sekarang tidak terdengar suara lagi.

Tubuh empat belas orang itu diam, tidak bergerak lagi dan ular-ular itu sudah merayap pergi setelah para korbannya tidak bergerak lagi.

Mereka itu bukanlah ular-ular pemakan bangkai dan mereka hanya menyerang untuk membunuh, didorong dan dirangsang oleh suara terompet.

"Ayahhh... jangan bunuh dulu mereka...!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan gema suara teriakan itu belum lenyap ketika tahu-tahu di situ telah berdiri seorang anak laki-laki berambut panjang sampai ke punggung dan dibiarkan terurai begitu saja.

Anak ini paling banyak tiga belas tahun usianya, wajahnya tampan akan tetapi gerak matanya mengerikan, seperti gerak bola mata seorang yang tidak waras otaknya!

"Bouw-ji (Anak Bouw), mau apa kau?"

Kakek itu bertanya, suaranya penuh dengan kasih sayang.

Akan tetapi anak laki-laki ini tidak menjawab hanya tertawa ha-ha-hi-hi, berjalan melihat-lihat tubuh empat belas orang yang menggeletak tak bergerak dengan muka biru menghitam itu.

Hanya muka Kun Liong seorang yang tidak menjadi biru menghitam, cuma bengkak dan merah sedikit di pipi kanan bekas gigitan ular.

Akan tetapi seperti juga tiga belas orang yang lain, dia roboh pingsan setelah tujuh kali digigit ular berbisa.

Kalau di dalam tubuh tiga belas orang itu, bisa ular mengamuk dan mulai menjalar ke arah jantung, di dalam tubuh Kun Liong terjadi hal lain lagi.

Bisa ular bertemu dengan racun di dalam tubuhnya yang menolak sehingga terjadi pertempuran, namun bisa ular kalah kuat dan hanya berhenti di tempat gigitan.

"He-he-hi-hi, Ayah. Jarum-jarumku dengan racun baru belum pemah dicoba kehebatannya. Mereka ini hendak kujadikan kelinci percobaan, Ayah!"

Anak berambut panjang itu sudah mengeluarkan sekepal jarum-jarum kecil yang berwama merah.

"Bodoh! Mereka sudah hampir mati, tidak ada gunanya. Untuk percobaan, harus memilih korban yang masih sehat,"

Ayahnya mencela.

"Hi-hi-hi, mereka belum mati dan dalam keadaan keracunan bisa ular mereka merupakan kelinci-kelinci percobaan yang amat menarik. Racun di jarumku ini lebih hebat daripada racun ular, dan sekarang dapat dibuktikan, Ayah!"

Tanpa menanti jawaban lagi, anak itu menggerak-gerakkan tangan kanannya dan tampaklah sinar-sinar kecil menyambar ke arah tengkuk empat belas orang yang roboh pingsan itu.

Agaknya ia sengaja melempar dengan tenaga kecil terukur sehingga jarum-larum itu hanya menancap setengahnya di tengkuk empat belas arang itu.

Kemudian sambil tertawa-tawa anak itu meloncat ke dekat ayahnya dan mereka berpelukan sambil memandang ke arah korban mereka, menanti apa yang akan terjadi.

Kun Liong siuman ketika merasa nyeri.

Akan tetapi dia segera teringat akan keadaannya, maka dia diam saja tidak bergerak, apalagi karena tiba-tiba dari tengkuknya menjalar hawa panas ke arah kepalanya, kemudian seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit-sakit semua, membuat dia tidak dapat bergerak dan hanya dapat memandang dengan mata setengah terpejam, mengintai dari balik bulu matanya, melihat betapa kakek mengerikan itu kini berpelukan sambil tertawa-tawa dengan seorang anak laki-laki kecil yang tampan akan tetapi menyeramkan, ketika ia mengerling ke arah tiga belas orang dusun, Dia terkejut setengah mati dan bulu tengkuknya meremang, berdiri satu-satu saking ngerinya.

Apa yang terjadi dengan tiga belas orang itu.

Benar-benar amat mengherankan dan mengerikan.

Seperti mayat-mayat hidup, tiga belas orang itu satu demi satu bangkit berdiri dengan gerakan kaku!

Mereka itu benar-benar seperti mayat-mayat hidup dalam dongeng penakut kanak-kanak, muka mereka kehitaman, mata mereka melotot tak pemah berkedip, mulut mereka penuh busa, berlepotan di sekeliling bibir, napas mereka terengah-engah mengeluarkan suara "ngaak-ngiik"

Seperti napas orang menderita penyakit mengi.

Kemudian, seperti ada sesuatu yang mendorong mereka dari belakang, tiga belas orang itu berlari kaku ke depan seperti orang berlumba, akan tetapi agaknya mereka lari secara ngawur, gerakan mereka kaku sekali dan arahnya tidak sama!

"He-he-hi-hi-hi...!

Racunku menang, Ayah!

Mengalahkan racun ular!

Mari kita mengikuti mereka dan melihat!"

Anak berambut panjang itu bersorak dan meloncat, mengikuti "mayat-mayat hidup"

Yang lari berpencar tidak karuan itu.

Ban-tok Coa-ong menggeleng-geleng kepala dan terpaksa mengikuti puteranya.

Untung bagi Kun Liong karena ayah dan anak yang agaknya berotak miring itu tidak memperhatikannya sehingga tidak melihat keanehan bahwa di antara empat belas orang itu, Hanya Kun Liong seoranglah yang tidak terpengaruh oleh racun merah.

Melihat ayah dan anak itu pergi mengikuti para korban yang berubah mengerikan itu, Kun Liong menggunakan sisa tenaganya untuk merangkak pergi dari situ, memasuki semak-semak dan terus merangkak-rangkak karena dia tidak kuat bangkit.

Jauh juga dia merangkak, dan akhimya dia roboh terguling, pingsan di dalam semak-semak yang gelap.

Ban-tok Coa-ong adalah nama julukan yang diberikan oleh orang-orang kang-ouw kepada kakek itu.

Namanya adalah Ouwyang Kok, seorang pendatang baru di dunia kang-ouw, akan tetapi biarpun baru kurang lebih sepuluh tahun dia terjun ke dunia kang-ouw, namanya telah dikenal sebagai seorang di antara para datuk persilatan yang ditakuti orang di waktu itu.

Tidak ada orang lain yang mengetahui asal-usulnya, Akan tetapi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, manusia aneh ahli ular ini turun dari pegunungan yang asing dan tak pemah dikunjungi orang, di perbatasan Nepal, masuk ke Tiongkok menggendong seorang anak laki-laki yang berusia tiga tahun, kemudian membuat nama besar di dunia kang-ouw karena kepandaiannya yang amat tinggi dan sepak terjangnya yang aneh.

Namun, keganasannya terhadap mereka yang menantangnya, dan keahliannya bermain dengan ular, menghasilkan nama julukan Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun)!

Anak yang dibawanya itu adalah putera tunggalnya, bemama Ouwyang Bouw yang semenjak kecil digemblengnya, namun karena cara hidup Ouwyang Kok tidak lumrah manusia dan penggemblengan terhadap anaknya pun terlalu hebat, maka anak itu memiliki watak yang aneh pula, seperti seorang yang agak miring otaknya!

Ibu anak itu, isteri tercinta dari Ouwyang Kok, telah meninggal dunia di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Nepal, tewas digigit ular beracun yang amat luar biasa sehingga tidak tertolong.

Agaknya peristiwa inilah yang membuat Ouwyang Kok kini menjadi seorang "Raja Ular"!

Kini anak dan ayahnya itu berlari-lari sambil tertawa-tawa menyaksikan ulah para korban yang lari seperti mayat hidup.

Suara tertawa mereka makin menjadi ketika mereka melihat beberapa orang di antara para korban yang lari kaku itu terjerumus ke dalam jurang, dan ada pula yang menabrak pohon terus memeluk pohon itu dan mati kaku dalam keadaan memeluk batang pohon, kedua kakinya melingkari batang pohon, sepuluh jari tangan mencengkeram pohon dan mulutnya menggigit kulit pohon.

Mengerikan!

Ada pula dua orang di antara tiga belas orang dusun yang belum roboh ke dalam jurang dan belum menabrak pohon, setelah beberapa orang lagi raboh karena kakinya tersangkut akar kayu, roboh terus mencengkeram rumput-rumput dan mati dalam keadaan seperti itu.

Dua orang ini adalah Akian dan kepala dusun.

Agaknya mereka berdua memiliki tubuh yang lebih kuat maka dapat berlari kaku dan belum roboh.

Kebetulan sekali mereka lari sejurusan, yaitu ke jurusan dusun mereka!

Mungkin juga masih ada sedikit sisa ingatan mereka untuk lari pulang ke dusun mereka.

Ketika mereka tiba di luar dusun, beberapa orang penduduk dusun yang merasa khawatir dan siap menyusul ke hutan, dapat berlari menyambut dua orang itu.

Setelah dekat mereka itu berdiri bengong dan penuh rasa heran dan ngeri melihat betapa kepala dusun dan Akian berlari kaku seperti itu, muka mereka biru kehitaman mata terbelalak tanpa berkedip dan kemerahan, mulut menyeringai penuh busa putih!

Keadaan menjadi geger dan terdengar jerit-jerit mengerikan ketika dua orang mayat hidup ini menubruk dan memeluk dua orang yang terdekat.

Karena kaget dan heran, dua orang itu tidak sempat mengelak ketika mereka dipeluk oleh dua orang mayat hidup itu.

Mereka hendak meronta, akan tetapi seluruh tubuh merasa panas, dan ketika jari-jari tangan mencengkeram mereka, ketika gigi yang kini mengandung racun itu menggigit leher, mereka berdua menjerit-jerit, jerit yang makin melemah dan akhimya meroka berdua roboh terguling bersama mayat hidup yang menyerang mereka, tewas dalam keadaan masih dalam berpelukan.

"Ha-ha-ha-ho-ho, lucu sekali...!"

"Hi-hi-hi, hebat bukan jarum-jarumku, Ayah?"

Para penduduk dusun terbelalak memandang ayah dan anak yang tahu-tahu telah berada di situ sambil tertawa-tawa.

Melihat keadaan mereka, dan melihat peristiwa mengerikan yang menimpa diri kepala dusun, Akian, dan dua orang teman mereka yang menjadi korban, mereka menjadi ketakutan dan serta merta mereka melarikan diri masuk ke dalam dusun, menyeret keluarga mereka yang berada di luar rumah, memasuki rumah masing-masing, menutup pintu dan saling berpelukan dengan anak isteri dalam keadaan ketakutan sekali, kedua kaki mereka menggigil dan mata mereka terbelalak lebar seperti mata kelinci-kelinci yang mencium bau harimau, mata mereka memandang ke arah pintu dan muka mereka pucat sekali.

Akan tetapi, agaknya Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan puteranya sudah merasa puas, mereka bergandengan tangan dan pergi meninggalkan dusun itu.

Tadinya mereka hanya berjalan dengan langkah perlahan, akan tetapi lambat laun gerakan mereka makin cepat dan akhimya mereka itu bergerak seperti terbang saja!

Setelah lama menanti dan mengintai sampai berjam-jam dan merasa yakin bahwa siluman-siluman itu sudah tidak berada di luar dusun, barulah penduduk berani keluar dan berindap-indap berbondong-bondong karena mereka membutuhkan semua teman untuk memberanikan diri, mereka keluar dari dusun, Biarpun hati mereka merasa ngeri sekali, terpaksa mereka mengurus jenazah Akian dan kepala dusun bersama dua orang penduduk yang menjadi korban mereka, Bahkan mereka memberanikan diri untuk mencari ke dalam hutan.

Hanya tujuh orang mereka temukan, dalam keadaan mengerikan.

Ada yang mati dalam keadaan masih memeluk batang pohon, ada yang mencengkeram rumput!

Penuh rasa takut dan ngeri hati penduduk, namun mereka terpaksa mengangkut mayat-mayat itu ke dusun untuk diurus sebagaimana mestinya.

Mayat empat orang lain tidak mereka temukan dan mereka tidak tahu ke mana perginya empat orang itu.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa empat orang itu pun sudah menjadi mayat dengan tubuh remuk-remuk ketika mereka terjungkal ke dalam jurang.

Karena mereka tidak dapat menemukan Kun Liong, mereka menjadi curiga dan menghubung-hubungkan anak itu dengan siluman besar kecil yang mereka lihat di luar dusun.

Timbul dugaan mereka bahwa anak yang tadinya datang sebagai penolong itu tentulah sebangsa siluman dan kedatangannya itu hanya pancingan belaka sehingga teman-temannya mendapatkan korban banyak orang!

Teringat akan ini, mereka menjadi penasaran sekali mengapa tidak mereka keroyok dan bunuh saja anak kecil yang datang secara aneh itu sehingga mereka dapat terbujuk, belasan orang ikut memasuki hutan menjadi korban.

Kun Liong merintih dan membuka matanya.

Melihat daun semak-semak belukar menyelimuti dirinya, ia teringat dan seketika ia menghentikan rintihannya, menahan derita yang amat hebat, yaitu rasa gatal-gatal pada kepalanya.

Ia bangkit duduk dan mengintai dari dalam semak-semak, melalui celah-celah antara daun-daun.

Tidak tampak sesuatu.

Hari sudah menjelang senja dan suasana di hutan itu sunyi sekali.

Kun Liong melupakan rasa gatal di kepalanya, lalu dengan hati-hati dia bangkit berdiri, keluar dari semak-semak, dan berindap-indap dia menuju ke tempat yang ditinggalkannya tadi.

Sunyi di situ, dan tidak ada seorangpun, baik yang hidup maupun yang mati.

Semua penduduk dusun yang menjadi korban tadi tidak tampak lagi, dan kakek berjuluk Ban-tok Coa-ong yang mengerikan tadi pun tidak tampak lagi, demikian pula anak laki-laki berambut panjang yang melepas jarum.

Jarum!

Teringat ini, Kun Liong meraba tengkuknya dan benar saja, di situ masih menancap sebatang jarum kecil, masuk ke dalam daging tengkuk sampai setengahnya.

Cepat Kun Liong mencabut jarum itu, melihat jarum merah itu maklumlah dia bahwa jarum itu mengandung racun berbahaya.

Dengan jijik dibuangnya jarum itu ke dalam semak-semak.

Ke mana perginya mereka?

Rasa heran ini menambah gatal-gatal pada kepalanya dan Kun Lion tidak dapat nenahan lagi.

Dengan kedua tangannya, digaruknya kepala yang amat gatal itu dan...

dia terbelalak setelah mengeluarkan teriakan kaget, memandang rambut kepalanya yang kini berada di antara sepuluh jari tangannya!

Begitu digaruk kepalanya, semua rambutnya tontok!

Dirabanya kepalanya, dan bagian yang ada rambutnya, begitu dipegang, rambut-rambutnya rontok semua seperti tanaman layu yang sudah membusuk akamya.

Dengan mata masih terbelalak lebar dia mengelus-elus kepala dengan kedua tangannya.

Kepalanya menjadi licin bersih, tidak ada selembar pun rambut yang masih tumbuh, semua rontok.

Dirabanya alisnya.

Masih lengkap.

Hanya rambut di kepala saja yang rontok semua.

"Ahhh... tidaaaakkk...!"

Kun Liong berseru dan berlari-lari mencari air jernih.

Setelah ia melihat air tergenang di bawah sebatang pohon, sisa air hujan kemarin, cepat dia berlutut dan melihat bayangannya sendiri.

Matanya terpentang lebar dan dua titik air mata meloncat ke atas pipinya.

Kepalanya sudah gundul pelontos!

Lebih bersih daripada kepala seorang hwesio!

"Ahhhh...

mengapa...?"

Dia meraba-raba kepala dengan tangan kanan, dan mengusap air mata dengan tangan kiri.

Tentu, saja Kun Liong takkan mengerti karena peristiwa itu terjadi ketika dia masih pingsan, terjadi di dalam tubuhnya dan yang biarpun membawa akibat lenyapnya semua rambut kepala, akan tetapi sesungguhnya telah menyelamatkan nyawanya!

Di dalam tubuhnya terdapat semacam racun anti racun ular yang dicampur obat dan semenjak dia kecil, oleh ibunya seringkali diminumkannya.

Ketika dia digigit ular sampai di tujuh tempat, racun ular tidak mampu melawan racun di tubuhnya, dan ular racun ular itu berkumpul saja di tempat gigitan.

Ketika Ouwyang Bouw, putera Ban-tok Coa-ong, menyambit tengkuknya dengan jarum merah sehingga racun jarum merah itu memasuki tubuhnya bertemulah tiga macam racun dan terjadi perang tanding antara tiga macam racun yang amat hebat.

Sudah menjadi kenyataan bahwa betapa pun jahatnya, racun bertemu racun cepat berubah sifatnya, dapat menjadi obat, Dan ketika tiga macam racun itu bertemu di dalam tubuh Kun Liong berubah menjadi ramuan yang dahsyat, menjadi semacam obat kuat tiada taranya dan tiada seorang pun manusia yang tahu karena bertemu secara kebetulan, dengan ukuran yang tepat, atau terlalu keras sedikit sehingga akibatnya, rambut kepala Kun Liong rontok semua, akan tetapi tubuhnya terbebas sama sekali dari pengaruh racun, bahkan di luar tahunya, tercipta semacam kekuatan dahsyat di dalam tubuh anak ini!

Hanya sebentar saja Kun Liong dilanda kekagetan dan penyesalan akan kehilangan rambut kepalanya.

Dia sudah bangkit lagi dan teringat betapa dia telah menimbulkan malapetaka kepada penduduk dusun, Kun Liong tidak berani kembali ke dusun.

Apalagi rambut kepalanya sudah menjadi habis seperti itu.

Dia lalu melarikan diri, meninggalkan hutan itu dan mengambil jurusan timur, tidak berani ke utara di mana terletak dusun itu.

Dia melarikan diri berlawanan dengan matahari yang sudah condong ke barat.

Sambil berjalan secepat mungkin, pikirannya penuh dengan peristiwa yang.

telah dialaminya.

Dia maklum bahwa Ban-tok Coa-ong adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali, jauh lebih lihai daripada kepandaian Loan Khi Tosu, memiliki watak yang lebih aneh lagi, aneh menyeramkan seperti orang gila!

Akan tetapi, kalau dia teringat akan ucapan kakek itu ketika membandingkan watak ular dan watak manusia, diam-diam dia menjadi bingung karena mau tidak mau dia harus membenarkan bahwa watak ular atau binatang apapun juga jauh lebih wajar dan bersih daripada watak manusia.

Bahkan ketika barisan ular itu menyerang penduduk, Mereka bergerak bukan karena memang memusuhi manusia, melainkan karena terpaksa oleh pengaruh bunyi terompet yang ditiup oleh seorang manusia pula!

Bukan ular-ular itulah yang berniat membunuh manusia, melainkan manusia yang berjuluk Ban-tok Coa-ong itulah.

Betapa kejamnya manusia!

Betapa kejinya!

Dan betapa anehnya pengalaman berturut-turut yang menimpa dirinya.

Mula-mula bertemu dengan tosu Pek-lian-kauw, itu sudah hebat.

Disusul dengan pengalamannya dikeroyok penduduk yang hampir merenggut nyawanya ketika dia tanpa sengaja menimbulkan kebakaran, pengalaman yang lebih hebat lagi di mana hampir dia mati.

Kemudian, dia bertemu dengan Ban-tok Coa-ong dan pengalaman ini benar-benar amat luar biasa dan dia sendiri tidak tahu mengapa dia masih dapat hidup sampai detik ini, dan hanya rambut-rambutnya yang rontok.

"Hemm, masih untung!"

Kun Liong berkata dan hatinya yang tadi terasa berat karena memikirkan rambutnya habis, kini menjadi ringan.

"Rambut bukan nyawa dan tanpa rambut aku masih hidup!"

Pengalaman-pengalaman itu mempertebal keyakinannya bahwa manusia menjadi kejam karena kekuatannya.

Makin kuat manusia, makin kejamlah dia, makin sewenang-wenang karena merasa berkuasa.

Kalau begitu, apakah lebih baik menjadi orang lemah dan tidak memiliki kepandaian?

Orang yang lemah hanya akan menjadi injakan yang kuat.

Orang lemah mengalah karena tidak dapat melawan, dan yang demikian itu bukan mengalah namanya, melainkan pengecut.

Yang kuat kejam, yang lemah pengecut!

Pengecut demikian, kalau diberi kekuatan, diberi kekuasaan, tentu akan berubah menjadi orang kejam juga.

Si kuat kejam dan si lemah pengecut tiada bedanya, keduanya adalah orang-orang yang belum mengenal dirinya, belum mengenal keadaan sebenarnya.

Biarpun masih kecil, Kun Liong sudah banyak dijejali pelajaran tentang hidup, banyak sudah membaca filsafat.

Akan tetapi, karena dia masih kecil, maka dia belumlah terpengaruh benar oleh segala macam pelajaran kebatinan itu sehingga dia masih memiliki kebebasan, sehingga dia tidak menjiplak begitu saja melainkan membuka mata dan telinganya menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang dialaminya.

Pikiran-pikiran itu tidak membuat dia menjadi bingung dan berat sebelah.

Dia melihat kenyataan bahwa tidak semua orang berkepandaian dan kuat mempunyai watak kejam.

Ayahnya dan ibunya adalah orang-orang gagah perkasa yang berkepandaian tinggi, akan tetapi mereka tidaklah kejam, apalagi jahat!

Dan penduduk dusun itu, terutama Kakek Lo dan Akian, Biarpun mereka itu orang-orang biasa yang tidak memiliki ilmu kepandaian, tidak memiliki kekuatan, mereka itu tak boleh dikatakan pengecut karena mereka berani mengikutinya untuk menentang ular besar yang sebenarnya amat mereka takuti karena sudah banyak menjatuhkan korban.

Ternyata bukan kekuatan atau kelemahan yang menentukan baik buruknya seseorang!

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, Kun Liong tiba di sebuah kampung nelayan, di tepi Sungai Huang-ho.

Semalam dia kurang tidur, biarpun dia tidak melakukan perjalanan semalam suntuk, namun dia sukar dapat tidur pula karena gangguan kepalanya yang masih terasa gatal-gatal.

Dengan tubuh lelah, mata mengantuk, dan perut lapar sekali dia memasuki perkampungan nelayan.

Dia harus mencari pengisi perutnya, kalau tidak, dia tidak akan dapat melanjutkan perjalanan.

Ke mana dia akan pergi kelak bukan menjadi persoalan baginya.

Ke mana saja, pokoknya tidak pulang ke Leng-kok.

Apalagi setalah kini kepalanya menjadi gundul pelontos macam ini.

Tentu ayahnya akan marah sekali, dan dia merasa malu.

Dia ingin melanjutkan perjalanan, ke mana saja dan dia mulai merasa suka dengan cara hidup baru ini, sungguhpun dalam perantauan yang belum lama ini dia telah mengalami hal-hal yang membuat dia nyaris tewas.

Kun Liong mendekati sebuah perahu yang agak besar, melihat tiga orang nelayan sedang mempersiapkan jala dan alat-alat menangkap ikan lainnya.

Melihat seorang anak laki-laki berkepala gundul pelontos yang sama sekali asing dan tak mereka kenal, tiga orang itu memandang penuh perhatian, kemudian seorang di antara mereka, yang kumisnya panjang, berkata dengan nada suara halus, (Lanjut ke

Jilid 05) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Apakah Siauw suhu (Guru Kecil) membutuhkan sedekah? Kami akan berangkat mencari ikan. Kalau Siauw suhu suka mendoakan kami agar hari ini mendapatkan ikan banyak, aku akan mencarikan makanan untuk sedekah bagi Siauw suhu."

Kun Liong mengerutkan kedua alisnya.

Hatinya terasa panas sekali.

Dia disangka seorang hwesio kecil yang minta sedekah tunjangan makanan!

Akan tetapi karena dia menganggap orang itu tidak berniat jahat, dan hanya berbuat karena kebodohannya, dia menjawab, suaranya tenang.

"Lopek (Paman Tua) telah membuat dua kesalahan dengan ucapan Lopek tadi."

Melihat sikap yang tenang, kalimat yang teratur tidak seperti cara berbicara anak dusun, tiga orang nelayan itu makin tertarik dan makin keras dugaan mereka bahwa anak ini tentulah seorang pendeta kecil yang merantau.

Akan tetapi, laki-laki setengah tua yang panjang kumis tadi, menjadi terheran dan bertanya.

"Dua kesalahan? Apa yang telah kulakukan?"

"Pertama, Lopek salah duga. Aku bukan seorang pendeta kecil dan tidak minta sedekah, tidak minta-minta walaupun saat ini perutku lapar sekali. Kesalahan Lopek yang ke dua lebih hebat lagi. Lopek suka memberi sedekah akan tetapi ditukar dengan doa agar mendapatkan banyak ikan, itu bukan sedekah namanya, melainkan jual beli mengharapkan keuntungan!"

Tiga orang nelayan itu terbelalak dan saling pandang dengan heran.

Biarpun anak berkepala gundul polontos itu menyangkal dirinya seorang pendeta kecil, akan tetapi cara dia bercakap sungguh tidak seperti anak-anak dusun biasa!

Si Kumis Panjang merasa terpukul dan malu karena dia seolah-olah mendapat teguran dari seorang anak kecil, maka dia berkata agak kasar.

"Kalau kau bukan hwesio kecil, engkau mau apa mendekati kami, bocah asing?"

"Aku ingin menawarkan tenagaku untuk bekerja membantu kalian."

"Apa? Engkau minta pekerjaan kepada kami?"

Tiga orang itu kembali saling pandang dan tersenyum lebar.

"Mengapa tidak?"

Kun Liong berkata ketika melihat tiga orang itu agaknya mentertawakannya.

"Aku lapar, sejak kemarin belum makan. Aku perlu mendapatkan makan, maka aku mau bekerja, sekedar mendapatkan makan."

"Soal makanan adalah urusan kecil, akan tetapi pekerjaan kami bukanlah pekerjaan ringan, dan seorang bocah halus macam engkau ini..."

"Aku tidak takut akan pekerjaan berat. Harap Lopek suka menerimaku, Lopek takkan menyesal karena aku tidak mau menerima makanan cuma-cuma, ingin kutukar dengan bantuan tenagaku!"

Memang biasanya para nelayan itu membutuhkan bantuan kanak-kanak, pembantu yang tenaganya murah dan pekerjaannya hanya untuk membantu dan melayani mereka di waktu mereka sibuk menjala atau mengail ikan.

Pekerjaan yang sebetulnya tidak berat benar, memasak air, menanak nasi untuk mereka, membantu dengan pembetulan jala jika ada yang robek, memasang umpan kail, mengumpulkan ikan dan di waktu mereka sibuk bekerja, menguasai perahu agar jangan terbawa ombak sungai.

Biarpun pekerjaan itu tidak berat bagi anak-anak nelayan, akan tetapi seorang anak yang belum pernah mengerjakannya akan merasa berat sekali, apalagi kalau dibuat mabok oleh air sungai yang kadang-kadang besar juga ombaknya.

"Bagaimana, akan kita ajakkah dia?"

Seorang di antara mereka bertanya kepada dua orang temannya.

"Hemmm, boleh kita coba saja,"

Kata Si Kumis Panjang yang kemudian menoleh dan berkata kepada Kun Liong sambil tertawa.

"Akan tetapi, kalau engkau nanti mabok dan tidak bisa bekerja, kami tidak akan memberi apa-apa kepadamu."

"Tentu saja!"

Kun Liong menjawab gagah.

"Aku pun akan merasa malu untuk menerima makanan kalau aku tidak mampu bekerja!"

"Kalau begitu mari bantu kami!"

Kun Liong cepat naik ke atas perahu dan mulai melakukan pekerjaan seperti yang diperintahkan oleh tiga orang itu.

Tubuhnya lemas, perutnya lapar sekali, akan tetapi dia merasa betapa tenaganya menjadi besar dan semua pekerjaan dapat dia lakukan dengan amat mudah.

Tiga orang itu kembali saling pandang dan menjadi girang.

Temyata bocah gundul itu tidak membual dan benar-benar suka dan rajin bekerja!

Setelah mereka siap, perahu didayung ke tengah, kemudian layar dikembangkan.

Perahu nelayan itu meluncur ke tengah sungai yang amat lebar, meluncur cepat karena didorong oleh angin, mendahului air sungai yang mengalir.

Si Kumis Panjang sambil tersenyum memberi roti kering dan air kepada Kun Liong.

Anak yang kadang-kadang timbul keangkuhan dari kekerasan hatinya itu, menolak.

"Biarpun pekerajaanmu belum selesai karena kita belum kembali ke pantai, akan tetapi engkau tadi sudah membantu kami. Makanlah, anggap saja roti dan air ini upah bantuanmu tadi. Engkau kelihatan pucat, dan karena kita menghadapi pekerjaan berat sampai malam nanti, perutmu harus diisi lebih dulu."

Ucapan ini membuat hati Kun Liong terasa ringan dan makanlah dia.

Bukan main sedapnya roti itu.

Bukan main segarnya air jernih dingin itu.

Rasanya belum pernah dia makan roti seenak itu, atau air sesegar itu dan dia tahu bahwa bukan roti atau airnya yang mendatangkan rasa sedap, melainkan lapar dan hausnya!

Pendapat Kun Liong memang ada betulnya, akan tetapi tidak mutlak.

Hidup akan selalu terasa bahagia dan nikmat apabila kita dapat menerima dan menghadapi segala sesuatu sebagaimana adanya, hidup dalam tiap detik yang dilaluinya, tidak terapung dalam keriangan masa lalu atau tenggelam dalam harapan masa datang.

Hidup adalah saat ini, sekarang ini, bukan kemarin dan bukan esok.

Pikiran selalu mempermainkan kita, membentuk kenangan-kenangan masa lalu dengan segala suka-dukanya, membuat kita selalu mengejar kenangan, suka dan menjauhi kenangan duka, menciptakan corak dan bentuk hidup sekarang dan yang akan datang sehingga kita dibuatnya hidup seperti dalam kurungan yang dibuat oleh pikiran kita sendiri.

Hidup seperti itu membuat segala langkah kita tidak wajar lagi, melainkan langkah-langkah kita sudah ditentukan dan diatur berdasarkan pengalaman lalu, berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan yang sudah terbentuk dalam pikiran kita.

Keadaan seperti itu tidak memungkinkan kita bebas, tidak memungkinkan kita mempergunakan mata dan telinga seperti sewajarnya.

Apa yang terpandang, apa yang terdengar, ditutup oleh pendapat dan prasangka, oleh penilaian yang kesemuanya adalah pekerjaan pikiran, Sehingga mata dan telinga kita tidak dapat melihat atau mendengar keadaan sebenamya dari yang dipandang dan didengar!

Kalau kita memandang sesuatu, yang kita pandang sesungguhnya bukanlah itu atau dia, melainkan itu atau dia seperti yang terbayang dalam ingatan kita!

Demikian pula dengan makanan.

Kalau kita menghadapi sesuatu, dalam hal makanan seperti pada saat itu, tanpa campur tangan si pikiran yang selalu dapat saja menciptakan kenang-kenangan akan makanan yang lezat-lezat, maka tidak ada lagi penilaian apakah makanan yang kita hadapi itu mahal atau murah, berharga atau tidak, dan tanpa adanya gangguan pikiran ini, semua makanan, apapun juga macamnya, asal itu memenuhi syarat sebagai makanan pengusir lapar dan penguat tubuh, akan terasa enak!

Karena itulah, pendapat Kun Liong bahwa yang membuat makanan terasa enak adalah lapar, hanya benar sebagian saja, karena betapapun laparnya, kalau dia makan dengan pikiran mengenangkan hal-hal lain, seperti mengenangkan masakan lezat, memikirkan dan mengenangkan kedukaan dan lain-lain, belum tentu roti sederhana dan air biasa itu akan terasa enak seperti yang dirasakannya pada saat itu!

Ternyata kemudian oleh Kun Liong betapa pekerjaan di atas perahu yang kelihatan ringan itu terasa amat berat olehnya, karena tidak biasa!

Agak pening juga kepalanya ketika perahu itu dipermainkan ombak sungai yang cukup besar sehingga teroleng ke kanan kiri.

Akan tetapi, dengan tekad teguh Kun Liong bekerja dengan penuh semangat, sedikitpun tidak pernah mengeluh sehingga memuaskan hati tiga orang nelayan itu.

Yang lebih menggirangkan hati para nelayan itu adalah baru hari itu mereka mengalami nasib yang demikian baiknya sehingga sebelum tengah malam, perahu mereka telah penuh dengan hasil pekerjaan mereka, ikan-ikan yang besar dan dari mutu terbaik!

Tentu saja sebagai orang orang yang sudah menebal kepercayaannya akan tahyul, kemujuran ini mereka hubungkan dengan kehadiran Kun Liong, yang biarpun temyata bukan pendeta, namun memiliki "hok-gi" (kemujuran) besar dan di samping itu, juga amat rajin bekerja, terlalu rajin dan terlalu aneh bagi seorang pendatang baru!

Biasanya, sampai semalam suntuk mereka mencari ikan, dan kalau selama sehari semalam itu mereka mendapatkan ikan sebanyak setengah perahu saja mereka sudah merasa beruntung.

Sekarang, belum lewat tengah malam, mereka telah kembali ke pantai dengan perahu penuh ikan terbaik!

Dengan sikap manis mereka lalu mengajak Kun Liong bermalam di rumah mereka, memberinya makan sekenyangnya, bahkan Si Kumis Panjang membelikan setelan pakaian baru untuknya.

Di samping ini, pada keesokan harinya ketika mereka menjual hasil mereka semalam ke pasar, mereka menceritakan dengan panambahan bumbu-bumbu tahyul, bahwa mereka telah kedatangan seorang bintang penolong, seorang pembawa rezeki, seorang "anak ajaib"!

Cerita ini cepat tersiar dan sebentar saja nama Kun Liong sebagai "anak ajaib"

Dikenal orang sedusun!

Segala bentuk penonjolan yang biasa disebut hasil atau kemajuan pribadi seseorang, selalu menimbulkan persoalan-persoalan yang lebih meyusahkan daripada menyenangkan.

Orang yang berhasil memperoleh sesuatu yang dicita-citakan, Biasanya hasil itu tidaklah senikmat ketika dibayangkannya dan ketika belum tercapai tangan, sedangkan hasil atau kemajuan itu yang sudah jelas menimbulkan iri kepada orang lain sehingga terciptalah pertentangan dan permusuhan!

Karena itu, segala bentuk cita-cita, sesungguhnya hanyalah lamunan orang yang tidak mau menghadapi keadaan sekarang, orang yang ingin lari dari kenyataan saat ini dan bersembunyi di balik lamunan yang dibentuk oleh pikiran, membangun istana awang-awang yang disebutnya cita-cita!

Karena cita-cita ini hanya merupakan istana asap di awang-awang, maka apabila sudah tercapai, akan membuyar dan mengecewakan sehingga memaksa si orang yang selalu merasa enggan melihat dan menghadapi kenyataan "saat ini"

Untuk melamun lagi, dipermainkan pikiran yang pandai sekali mengkhayalkan bayangan-bayangan indah masa depan.

Karena itu, berbahagialah orang yang selalu sadar dan dengan penuh kewaspadaan menghadapi "saat ini"

Dengan pikiran bebas dari segala ingatan masa lalu harapan masa depan dan menghadapi segala apa yang ada saat ini sebagaimana adanya, dengan kewajaran yang tidak dibuat-buat atau dipaksakan, tanpa rencana dan tanpa pendapat, tanpa penilaian, sehingga apa pun yang dihadapinya merupakan sebuah pengalaman yang baru!

Sudah tentu saja yang dimaksudkan adalah hal-hal mengenai urusan batin, bukan hal-hal lahir seperti pekerjaan dan lain-lain yang sudah semestinya dipergunakan akal budi dan pikiran supaya dapat dikerjakan dengan baik dan lancar.

Akan tetapi mengenai hubungan antara manusia yang menyangkut rasa dan batin, jika tidak kosong bebas, maka hubungan itu sudah tentu menimbulkan pertentangan karena di sebelah dalam kita sudah terjadi pertentangan yang ditimbulkan oleh pikiran.

Melihat dan mendengar sesuatu dengan pikiran bebas dari segala ikatan, penilaian, pendapat, mengawasi dengan penuh kewaspadaan terhadap sesuatu di saat ini dan terhadap tanggapan kita sendiri akan sesuatu itu, dengan demikian kita belajar mengenal diri sendiri.

Mengenal diri sendiri adalah langkah pertama ke arah kebijaksanaan.

Kun Liong seolah-olah dijadikan rebutan di antara para nelayan, setelah tersiar dongeng tentang dirinya yang penuh keanehan, dibujuk dan ditawari upah tinggi dan hadiah-hadiah berharga.

Namun, semua itu ditolak oleh Kun Liong yang sebetulnya sama sekali tidak berniat menjadi nelayan dan tidak ingin bekerja di tempat itu untuk selamanya.

Kalau dia membantu tiga orang nelayan yang dipimpin oleh Si Kumis Panjang itu karena pada waktu itu dia membutuhkan makan dan ingin menukar makanan dengan tenaga bantuannya.

Bahkan setelah membantu selama tiga hari, dia sudah mulai merasa bosan dan ingin pergi melanjutkan perjalanan dan perantauannya yang tidak bertujuan dan tidak mempunyai arah tertentu.

Pada pagi hari ke empat, selagi Kun Liong duduk di dekat sebuah perahu kecil di tepi pantai dan melamun, berpikir hari itu hendak pergi dan berpamit dari tiga nelayan, tiba-tiba tujuh orang yang berusia belasan tahun menghampirinya dan mengurungnya.

Sikap mereka mengancam, dan di antara mereka ada yang membawa kayu dan bambu.

Mereka dipimpin oleh seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahun yang dahinya codet bekas luka terjatuh ketika masih kecil.

Anak codet ini pun membawa sebatang kayu dan sambil bertolak pinggang dia berdiri di depan Kun Liong yang masih tenang duduk di atas pasir dekat perahu.

"Heii, bocah gundul!"

Seorang anak berteriak mengejek.

"Aahh, dia bukah bocah, dia anak siluman! Kalau manusia tidak mungkin kepalanya gundul pelontos padahal bukan hwesio!"

"Lihat, kepalanya licin sekali, lalat-lalat pun terpeleset kalau hinggap di atasnya!"

"Kalau bukan anak siluman, tentu dia anak ikan! Lihat, kepalanya tidak berambut sedikitpun juga, seperti kepala ikan!"

"Heiii, gundul pacul buruk menjijikkan!"

"Gundul sombong..."

Mula-mula Kun Liong hanya memandang heran dan menganggap bahwa mereka hanyalah anak nakal yang hendak menggodanya karena dia asing dan bukan teman mereka.

Maka dia diam saja, bahkan tersenyum dan berkata.

"Aihhh, kenapa kalian begini? Aku seorang anak biasa seperti kalian, rambut kepalaku habis karena keracunan."

Si Codet melangkah maju.

"Gundul menyebaikan! Sekarang juga engkau harus minggat dari dusun kami, engkau hanya mendatangkan kesialan bagi kami!"

"Ahhh, apa maksudmu?"

Kun Liong memang sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi kalau disuruh pergi, dengan diusir macam ini, kehormatannya tersinggung dan menjadi marah.

"Maksudku, gundul buruk. Kalau engkau tidak lekas pergi dari sini, kami akan menghajarmu sampai engkau melolong-lolong minta ampun, baru kami lepaskan!"

Kata pula Si Codet dan teman-temannya sudah siap, mengepal tinju dan kayu dan bambu erat-erat.

Kun Liong bangkit berdiri.

Dengan marah dia membusungkan dada, mengangkat kaki kanan ke atas dayung perahu yang disandarkan di situ, kemudian menudingkan telunjuknya kepada mereka.

"Hemmm, kalian ini anak-anak malas tak tahu diri! Aku mengerti mengapa kalian bersikap seperti ini kepadaku. Aku sudah mendengar bahwa kalian merasa iri hati kepadaku. Kalian melihat para nelayan suka akan tenaga bantuanku, dan kalian merasa dikesampingkan. Kalian iri melihat keunggulanku, dan itu menandakan bahwa kalian adalah anak-anak bodoh dan malas!"

"Gundul sombong!"

Si Codet sudah menerjang maju dan menghantamkan kayu pemukulnya ke arah kepala Kun Liong.

Akan tetapi dengan gerakan cepat Kun Liong dapat mengelak dan berusaha merampas alat pemukul itu.

Akan tetapi, anak-anak yang lain bergerak maju menyerang dan mengeroyoknya.

Tentu saja anak-anak itu bukanlah lawan Kun Liong yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat dan kalau dia menghendaki, dengan melakukan pemukulan-pemukulan pada bagian tubuh yang berbahaya, tentu dia akan dapat merobohkan mereka.

Akan tetapi justru dia tidak menghendaki demikian karena sekecil itu, Kun Liong sudah mempunyai pengertian yang mendalam dan dia tahu bahwa keadaan anak-anak yang iri hati ini dapat dimengerti dan dimaafkan, maka dia hanya mengelak ke sana-sini sambil menangkis dan berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti.

Melihat betapa dikeroyok tujuh orang, Kun Liong dapat mengelakkan semua pukulan dan setiap kali menangkis, anak yang memukul merasa lengannya nyeri ketika beradu dengan lengan Kun Liong yang menangkisnya, tujuh orang anak yang mengeroyok itu menjadi makin penasaran dan mereka menyerang lebih ganas lagi, terdorong oleh kemarahan mereka.

Karena Kun Liong hanya mengelak dan menangkis, pula biarpun dia telah bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh ayah bundanya akan tetapi sama sekali belum ada pengalaman bertempur, pengeroyokan ini merupakan yang ke dua setelah yang pertama kalinya dia dikeroyok penduduk, Kun Liong terkena juga dan terdengar suara "bak-bik-buk"

Ketika kepalan dan kayu pemukul jatuh ke atas tubuhnya!

Hal ini membuat dia marah sekali, terutama kepada anak codet yang pukulan kayunya paling keras dan ketika mengenai kepalanya yang gundul, terasa nyeri.

Dia hanya merasa heran mengapa tubuhnya yang dihujani pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit.

Dia tidak tahu bahwa kekuatan mujijat yang ditimbulkan oleh bercampumya tiga macam racun telah melindunginya dan membuat tubuhnya kebal, kecuali kepalanya yang gundul!

Ketika Si Codet menerjang lagi, mengayun kayu pemukul dengan kuat-kuat ke arah kepalanya, Kun Liong miringkan tubuh sehingga kayu itu melayang lewat.

Cepat dia menghantam leher anak codet itu dengan tangan miring.

"Kekkk!"

Anak codet itu melepaskan kayu pemukulnya dan terguling roboh tanpa bersuara.

"Dia membunuhnya!!"

"Pembunuh"!!"

Enam orang anak yang melihat Codet rebah dengan mata terpejam dan muka pucat, mengira bahwa anak itu mati.

Kun Liong terkejut bukan main karena dia pun terpengaruh oleh teriakan-teriakan mereka, mengira bahwa anak yang dipukulnya tadi tewas.

Padahal dia hanya mempergunakan sedikit tenaga saja dan sebetulnya anak itu hanya pingsan.

Karena mengira anak itu tewas rasa takut menyelinap di hati Kun Liong.

Dia harus melarikan diri!

Kalau para nelayan tahu bahwa dia membunuh tentu dia akan ditangkap, mungkin mereka pun akan membunuhnya.

Dan ia melihat beberapa orang nelayan telah lari mendatangi melihat perkelahian itu.

Tanpa pikir paniang lagi karena takut dikeroyok nelayan sekampung, Kun Liong lalu melompat ke dalam sebuah perahu kecil, mendayung perahu ke tengah sungai.

"Heiii! Dia melarikan perahu...!"

"Kejar...!!"

Kun Liong tidak berani menoleh, terus mendayung perahunya sekuat tenaga.

Dalam keadaan panik itu tidak merasa betapa tenaga dayungannya luar biara sekali.

Perahu meluncur cepat seperti didayung oleh belasan orang dewasa sehingga mengherankan hati pengejarnya.

Juga Kun Liong tidak sadar betapa mereka itu berteriak-teriak menyuruhnya berhenti dan dia diteriaki melarikan perahu, sama sekali bukan diteriaki sebagai pembunuh!

Memang para nelayan itu mengejarnya karena dia melarikan perahu, dan Si Codet itu sudah tadi-tadi sadar kembali.

Karena tenaga mujijat di tubuhnya bekerja, perahu yang didayung oleh Kun Liong cepat bukan main, membuat para pengejar, nelayan-nelayan yang sudah kawakan dam berpengalaman itu, tertinggal dan mereka berteriak-teriak saking herannya.

Ketika tiba di sebuah simpangan, di mana air sungai itu terpecah ke dua Kun Liong terus meluncurkan perahunya ke bagian sungai yang meyimpang ke utara, bukan ke bagian yang terus mengalir lurus ke timur.

"Haiii... jangan masuk ke sana"!"

Dia mendengar teriakan pengejar-pengejarnya, akan tetapi tentu saja dia tidak peduli, bahkan mendayung makin cepat.

Sungai yang menyimpang ke utara itu merupakan daerah berbahaya dan tidak ada nelayan yang berani memasukinya.

Bukan hanya berbahaya karena dalam musim hujan seperti itu, sungai liar ini dapat secara tiba-tiba membanjir, yaitu kemasukan air berlebihan dari sungai-sungai kecil, akan tetapi juga banyak bagian yang agak dangkal sedangkan di bawah permukaan airnya banyak terdapat batu karang.

Selain ini, di dalam hutan di kanan kiri sungai ini terkenal sebagai sarang orang-orang jahat!

Bukan hanya karena sungai yang berbahaya itu saja, akan tetapi melihat betapa Kun Liong dapat mendayung perahu dengan kecepatan yang tidak lumrah, dan betapa anak itu berani memasuki daerah berbahaya ini, timbul pula kepercayaan tahyul di dalam hati para nelayan.

Tentu anak itu bukan anak biasa, pikir mereka dan mereka pun merelakan perahu yang dilarikan, sambil ramai mempercakapkan anak yang menghilang itu mereka kembali ke dusun, membawa bahan dongeng yang lebih aneh dan menyeramkan lagi tentang si "bocah ajaib"

Gundul itu!

Sungai yang dilalui Kun Liong itu merupakan cabang Sungai Huang-ho.

Sungai Huang-ho bercabang dua di bagian itu, akan tetapi cabangnya ini, Setelah menampung banyak air yang dimuntahkan oleh sungai-sungai kecil dari kanan kiri, akhimya dari utara membelok ke timur dan ke selatan untuk kemudian kembali ke induknya, yaitu Sungai Huang-ho, sungai yang paling besar di Tiongkok.

Sebelum kembali ke induknya, sungai ini merupakan sungai yang amat berbahaya dan karena merupakan sungai liar yang tercipta ketika Huang-ho banjir dahulu, maka seringkali sungai ini meluap ketika menerima air dari sungai-sungai kecil itu.

Hampir setiap musim hujan, sungai ini pasti meluap dan di bagian-bagian tertentu, air mengalir deras bukan main, merupakan daerah yang amat berbahaya bagi perahu-perahu sehingga sungai ini boleh dikata dijauhi para nelayan dan tidak pernah dilewati.

Lebih aman melalui sungai induk terus ke timur daripada melalui sungai cabang yang keluar masuk hutan liar ini.

Akan tetapi Kun Liong yang tidak mengenal sungai itu, merasa lega ketika melihat bahwa dia-tidak dikejar lagi.

Dia merasa bersalah karena telah melarikan perahu.

Dia telah mencuri!

Akan tetapi bukan mencuri karena dia menginginkan perahu itu, melainkan karena terpaksa untuk melarikan diri!

Alasan ini sudah membuat dia dapat memaafkan perbuatannya mencuri perahu!

Demikianlah yang dilakukan oleh kita, manusia!

Kita selalu mencari sebab dan alasan untuk menghibur diri di waktu kita merasa telah melakukan sesuatu yang kita anggap salah.

Mencari sebab-sebab yang kalau perlu dipaksakan, untuk menutupi kesalahan kita, bahkan untuk menyulap kesalahan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak salah lagi!

Ada saja alasannya untuk menutupi sesuatu yang hitam pada diri kita, dengan warna putih.

Hal ini terjadi karena kita tidak mau menghadapi kenyataan, tidak mau mengenal diri pribadi, tidak mau mengakui betapa segala kotoran berada dalam diri kita sehingga kita dapat membuang semua kotoran itu.

Tidak, kita bukan melakukan hal itu, sebaliknya kita menutupi kotoran itu dengan segala akal kita.

Tentu saja, dengan demikian, segala macam kotoran masih tertimbun dalam diri kita, biarpun kotoran itu tidak tampak, ditutupi oleh segala macam akal yang membuat kita kelihatan bersih!

Kebersihan tidak tercapai dengan menutupi kekotoran, dan kotoran diri sendiri hanya dapat dilenyapkan setelah kita melihatnya dengan mata terbuka dan dengan bebas, karena tanpa kebebasan tak mungkin kita dapat melihat kenyataan dalam diri kita sendiri, tak mungkin kita dapat mengenal diri sendiri.

Mula-mula senang juga hati Kun Liong ketika mendayung perahu kecil itu yang meluncur cepat.

Dengan wajah berseri-seri dan mata bersinar-sinar, dia memandang ke kanan kiri, melihat pohon-pohon hutan di kedua tepi sungai.

Memang kalau mata memandang dengan penuh kewaspadaan tanpa gangguan pikiran, semua tampak sempurna!

Air yang bergelombang, di depan perahu diterjang ujung perahu, di dekat tepi beriak menghantam batu-batu, tebing di kedua pinggir kelihatan coklat, kadang-kadang tampak akar-akar pohon seperti ular di antara rumput-rumput dan semak-semak yang tumbuh dengan liar di tebing.

Seekor bangkai ayam hutan hanyut perlahan di pinggir, dirubung lalat yang mengeluarkan suara mengiang, Kadang-kadang lalat-lalat itu beterbangan panik kalau bangkai itu bergerak tiba-tiba ke bawah karena digigit dan ditarik ikan dari bawah.

Bau bangkai ayam yang membusuk itu tidak berapa keras di tempat terbuka seperti ini, menipis dan buyar tertiup angin.

Pohon besar yang banyak tumbuh di hutan sealah-olah menjadi penjaga-penjaga hutan, melindungi pohon-pohon dan kembang-kembang kecil di bawahnya, memberi tempat berteduh kepada burung-burung dan tupai-tupai yang berloncatan dari dahan ke dahan.

Kalau ada angin yang agak besar lewat, daun-daun kuning yang rontok melayang-layang turun, menari-nari ke kanan kiri dan bermalas-malasan, agaknya segan meninggalkan tempatnya yang tinggi, akan tetapi akhimya tiba juga ke atas tanah, diam, mati dan kaku, akhimya mengering dan hancur menjadi pupuk yang mendatangkan kesuburan bagi pohon itu sendiri.

Terapung di atas perahunya seorang diri, di tempat sunyi dan indah itu, merasa bebas lepas seperti burung-burung yang terbang di permukaan sungai, menyambar ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan air, ingin Kun Liong bemyanyi!

Akan tetapi, gelombang air mulai membesar dan air mengalir makin cepat dan kuat ke depan.

Karena perahunya oleng ke kanan kiri Kun Liong tidak lagi menggunakan dayung untuk melajukan perahunya, melainkan menggunakannya untuk menahan agar perahu tidak terguling, dengan menekan ke kanan kiri.

Ketika Kun Liong melihat ke depan, Matanya terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat.

Dia melihat betapa sungai memuntahkan aimya dari arah kiri, membanjir dan air yang masuk ke sungai itu berwama coklat kemerahan, amat keruh.

Dia harus membawa perahunya ke pinggir.

Namun terlambat.

Arus sudah demikian kuatnya sehingga betapa pun dia mendayung perahunya agar minggir, perahu itu masih terseret ke delam dan akhirnya disambar oleh air bah ketika tiba di tempat pertemuan antara anak sungai dan sungai itu.

Kun Liong berusaha mengatur keseimbangan perahunya, namun tenaga air yang menyeret perahunya terlalu besar, gelombang terlalu hebat dan dia berteriak keras ketika perahunya terguling dan dia sendiri terlempar ke dalam air!

Kun Liong gelagapan, cepat dia menahan napas dan menggerakkan kakinya.

Tubuhnya timbul ke permukaan air, melihat perahunya tadi telah pecah, agaknya terbanting pada batu karang.

Melihat sepotong papan pecahan perahu di dekatnya, Kun Liong segera menyambarnya dan berpegang erat-erat pada papan itu.

Arus air bukan main derasnya, dan gelombang amat besar sehingga dia tidak dapat berdaya apa-apa kecuali bergantung pada papan yang membawanya hanyut cepat sekali.

Entah berapa lamanya dia hanyut itu, dia sendiri tidak ingat lagi.

Akan tetapi setelah hari hampir senja, air sungai tidak sehebat tadi gelombangnya, sungguhpun arusnya masih kuat.

Sudah hampir sehari dia hanyut!

Kun Liong berusaha untuk berenang ke pinggir sambil berpegang pada papan itu.

Namun usahanya gagal.

Arus masih terlalu kuat, apalagi dibebani papan itu, tak mungkin dia dapat melawan arus berenang ke pinggir.

Untung sedikit banyak dia dapat berenang, kalau tidak, tentu dia akan celaka!

Setelah tiba di bagian yang airnya tidak bergelombang lagi, hanya arusnya masih agak kuat, Kun Liong mencari akal.

Dia melepaskan papan yang dianggapnya telah menyelamatkan nyawanya tadi, kemudian menyelam.

Niatnya hendak berenang ke pinggir sambil menyelam, tentu di bawah arus tidak sekuat di permukaan.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia sudah menyelam sampai ke dasar sungai, arus di bawah makin kuat!

Dia terseret dan melihat benda putih di dekat kakinya, disangkanya batu karang maka cepat dia menangkap benda yang putih itu dan berpegang kuat-kuat.

Akan tetapi.

"batu karang"

Itu jebol dan dia terbawa hanyut.

Dalam kepanikannya, dia masih merangkul batu itu sambil menendang-nendangkan kedua kakinya sehingga tubuhnya mumbul lagi dan timbul di permukaan air.

Dia gelagapan dan menyemburkan air dari mulut.

Banyak juga air terminum olehnya tadi.

Kalau tidak tertolong, dia tentu tewas sekarang, pikirnya.

"Tolooonggg...!"

Tanpa disadarinya lagi, dia berteriak dengan sekuat tenaga, kemudian menggerakkan kaki tangan agar tidak tenggelam, terpaksa membiarkan tubuhnya terseret dan hanyut.

Masih tak disadarinya bahwa lengan kirinya tetap saja memeluk "batu karang"

Putih tadi!

Dia hanyut memperhatikan ke sekeliling dan alangkah girangnya ketika tiba-tiba tampak sebuah perahu tak jauh dari situ.

"Pegang tali ini...!!"

Dia mendengar orang berteriak dan melihat seorang laki-laki tua melempar tali sambil berdiri membungkuk di pinggir perahu.

Seorang anak perempuan dengan mata terbelalak memandang dan agaknya anak itu khawatir sekali, dia berpegang pada ujung baju di belakang tubuh kakek tua, telunjuknya menuding ke arah Kun Liong yang sudah berhasil menyambar dan memegang tali dengan tangan kanannya.

Kakek itu memandang Kun Liong yang berpegang pada tali dengan muka penuh keheranan, apalagi ketika dia melihat benda yang berada dalam pelukan lengan kiri anak itu.

"Heiiii! Engkau ini bocah luar biasa sekali! Bagaimana engkau bisa berada di tengah sungai dan apa yang kau bawa itu?"

Hati Kun Liong mendongkol.

Kakek yang luar biasa masih mengatakan dia yang luar biasa.

Masa menolong orang, belum juga orangnya naik sudah menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Dan dia baru teringat bahwa batu dari dasar sungai tadi masih dipeluknya!

"Naikkan aku dulu, baru kita bicara!"

Katanya marah.

"Dan batu ini..."

Tiba-tiba dia terbelalak dan tidak melanjutkan kata-katanya karena ketika dia melirik ke arah batu yang sudah hampir dilemparkannya itu, dia mendapat kenyataan bahwa batu itu sama sekali bukan batu, melainkan sebuah benda yang aneh, agaknya sebuah bokor atau tempat abu, terbuat dari benda mengkilap kuning dan dihias batu-batu putih yang berkilauan!

"Kakek yang baik, tolong naikkan aku dulu!"

Kembali dia berkata dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan sebuah tangan yang kuat menyambutnya dari udara dan dia diturunkan dengan tenang oleh kakek itu.

Kiranya kakek itu bukan orang sembarangan!

Dia tidak ditarik naik seperti biasa, melainkan dilontarkan ke atas dengan renggutan kuat sekali sehingga tubuhnya terlempar ke atas.

Mereka saling pandang penuh perhatian.

Bagi Kun Liong, tidak ada apa-apa yang aneh pada diri kakek itu dan anak perempuan yang berdiri dengan matanya yang terbelalak itu.

Seorang kakek yang usianya tentu ada enam puluh tahun, tubuhnya tinggi tegap dan nampaknya kuat.

Pakaiannya sederhana sekali, bahkan membayangkan kemiskinan, seperti pakaian nelayan-nelayan miskin, tidak bersepatu pula!

Rambutnya sudah banyak putihnya, disatukan menjadi gelung kecil di atas kepala, jenggot dan kumisnya juga kelabu dan pendek, tidak terpelihara.

Akan tetapi gerak-gerik kakek ini, dan caranya menaikkan Kun Liong ke perahu, jelas membuktikan bahwa kakek ini bukan seorang nelayan biasa.

Adapun anak perempuan itu manis sekali, rambutnya hitam dan gemuk panjang, dikepang dua, akan tetapi angin membuat rambutnya awut-awutan menambah manis.

Pakaiannya juga sederhana dan kakinya tidak bersepatu.

Kakek itu menggeleng-geleng kepala, seolah-olah masih tidak mau percaya dengan pandang matanya sendiri.

"Heran... ajaib... engkau siapakah, Nak?"

"Namaku Yap Kun Liong, tadinya aku berperahu, perahuku pecah dan aku terguling ke dalam air, hanyut sampai hampir satu hari lamanya. Untung di sini engkau dapat menyelamatkan aku, Kek. Siapakah engkau dan mengapa tidak takut berperahu di tempat berbahaya ini?"

"Aku Kakek Yo, orang menyebutku Yo-lokui (Setan Tua Yo) dan ini cucuku bernama Yo Bi Kiok."

"Kun Liong, Kong-kong (Kakek) memang tinggal di daerah ini dan sudah biasa berperahu, tidak aneh kalau kami berperahu di sini. Akan tetapi engkau, seorang diri berperahu di tempat ini yang ditakuti orang, kau hanyut sehari masih hidup dan membawa benda itu, benar-benar engkau seorang yang aneh sekali!"

"Bokor itu... dari mana engkau mendapatkannya?"

Kakek itu bertanya sambil memandang kagum.

Sekilas pandang saja ia tahu bahwa benda itu terbuat dari emas murni dan hiasannya adalah batu-batu kemala putih yang amat berharga!

"Ah, ini?

Aku menyelam untuk membebaskan diri dari gelombang dan arus, malah terseret arus di bawah yang amat kuat.

Aku berpegang pada batu karang dan temyata batu itu adalah benda inilah.

Aku sendiri tidak tahu benda apa ini, akan tetapi sungguh indah..."

"Coba aku melihat sebentar,"

Kakek itu berkata.

Kun Liong menyerahkan benda itu dan selagi Yo-lokui memeriksa bokor itu, Kun Liong duduk di atas papan berhadapan dengan Bi Kiok, menatap wajah anak perempuan itu yang memandangnya dengan mata lebar dan jeli bersinar-sinar dan bibir anak itu tersenyum.

"Bi Kiok, engkau manis sekali!"

Kun Liong berkata dengan tulus.

Sepasang mata itu makin melebar, senyumnya makin manis dan Bi Kiok menjawab.

"Kun Liong engkau... lucu sekali!"

Agak tersinggung hati Kun Liong.

Dia dianggap apakah?

Masa dikatakan lucu?

Akan tetapi dia melanjutkan.

"Engkau memang manis, terutama sekali rambutmu dan matamu."

"Dan engkau memang amat lucu, terutama sekali kepalamu."

Kedua pipi Kun Liong menjadi merah dan ingin dia menampar anak itu kalau tidak ingat bahwa anak itu adalah cucu Yo-lokui yang telah menyelamatkannya dan bahwa anak itu adalah seorang perempuan.

Akan tetapi, disinggung kepalanya, dia lalu membuang muka dan cemberut, tidak lagi mempedulikan Bi Kiok dan memandang kakek yang agaknya menjadi arca memandang kepada bokor di kedua tangannya.

"Bagaimana, Kek? Berhargakah benda yang kutemukan itu?"

Kakek itu membalikkan tubuh memandang Kun Liong, mukanya berubah sungguh-sungguh, dan dia berkata dengan suara gemetar.

"Berharga? Aihhh, anak baik. Engkau telah menemukan pusaka yang tak ternilai harganya!"

"Hemm... pusaka? Apa sih harganya benda kuno seperti itu? Hanya mengkilap dan bagus dipandang, akan tetapi tidak dapat mengenyangkan perutku."

"Ah, laparkah engkau, Kun Liong?"

Tiba-tiba Bi Kiok bertanya.

Kemarahannya terhadap anak itu masih mengganjal di dalam perutnya, maka cepat-cepat Kun Liong menggeleng kepalanya dan menjawab dingin.

"Tidak!"

"Tadi kau bilang..."

"Bi Kiok, perlukah bertanya lagi? Dia hanyut di sungai sehari lamanya dan kau masih bertanya apakah dia lapar?"

Kakek itu mencela cucunya dan diam-diam dia memandang Kun Liong penuh perhatian.

Maklumlah dia bahwa anak laki-laki ini bukan bocah sembarangan, bukan anak dusun yang bermain-main dengan perahu dan hanyut.

Sikapnya jauh berbeda, dan kata-katanya menunjukkan bekas pendidikan orang pandai.

"Yap-kongcu, pakaianmu basah semua, engkau tentu lelah dan lapar. Marilah ikut bersama kami. Ketua kami tentu akan girang sekali melibat bokor ini, dan akan memberimu apa saja sebagai penukarannya. Engkau telah menemukan harta yang tak ternilai harganya dan yang sudah bertahun-tahun dicari oleh ketua kami."

Kun Liong mengerutkan alisnya.

"Apakah sesungguhnya bokor ini, Kek? Apanya yang berharga?"

"Kalau hanya dinilai dari emas dan batu kemalanya saja, sudah cukup membuat orang kaya. Akan tetapi bukan itulah sebabnya. Lihat, Kongcu, lihat melalui celah tutupnya ini."

Kun Liong menerima bokor itu dan mengintai melalui celah penutup bokor yang terbuka sedikit.

Dia melihat coret-coret seperti huruf-huruf dan goresan-goresan di sebelah dalam.

Karena dari celah itu tidak mungkin melihat jelas, apalagi membaca huruf-hurufnya, Kun Liong hendak membuka penutup bokor, ternyata tutup itu melekat kuat sekali seolah-olah menjadi satu dengan bokornya!

Kakek itu mencegah.

"Tak mungkin dibuka oleh yang tidak mengetahui rahasianya, Yap-kongcu. Ketua kami tentu mengetahui rahasia untuk membukanya. Ketahuilah, kalau aku tidak salah menduga, bokor inilah yang oleh ketua kami dicari-cari selama bertahun-tahun. Entah sudah berapa ratus kali kami bergantian menyelam dan mencari namun selalu tanpa hasil. Siapa kira, engkau yang tidak sengaja mencari, malah berhasil menemukannya. Benar-benar yang dinamakan jodoh tak dapat ditolak oleh manusia!"

Kakek itu mendayung perahunya dan Kun Liong tidak berkeberatan diajak oleh kakek penolongnya itu.

Akan tetapi ucapan kakek itu membuat dia duduk bengong memandangi bokor yang dipangkunya.

Ah, tentu sebuah pusaka kuno yang amat langka, pikirnya.

"Kakek yang baik, apakah engkau tahu akan asal-usul bokor ini?"

Kakek itu menghela napas panjang sebelum menjawab, kemudian sambil tetap mendayung perahunya, dia berkata perlahan.

"Yap-kongcu, keadaan ini sungguh luar biasa anehnya. Selama bertahun-tahun, kami semua menutup mulut dan bokor ini tidak pernah disebut-sebut, sungguhpun kami tak pemah berhenti mencarinya. Orang luar sama sekali tidak tahu akan bokor ini dan kami dilarang untuk menceritakannya kepada siapa saja dengan ancaman hukuman mati! Akan tetapi, karena engkaulah orang yang kebetulan menemukan bokor ini, agaknya engkau berhak untuk mengetahui riwayatnya. Tentu saja kalau dugaanku betul bahwa bokor inilah yang kami cari selama ini. Yang dapat memastikan aseli dan tidaknya hanyalah ketua kami, satu-satunya orang yang pernah melihat bokor ini."

Kun Liong melupakan rasa dingin dan laparnya.

Hatinya tertarik sekali karena dari kata-kata dan sikap kakek ini, dia dapat menduga bahwa tentu bokor ini mempunyai riwayat yang amat menarik.

Pula, sikap dan kata-kata kakek itu mendatangkan rasa suka di hatinya terhadap kakek itu yang dia duga tentulah seorang ang berwatak jujur dan baik.

"Bokor ini mula-mula dikenal orang ketika Panglima Besar The Hoo yang diangkat oleh Kaisar menjadi laksamana memimpin armada yang berlayar ke barat dan selatan belasan tahun yang lalu. Karena mengandung rahasia yang amat berharga, bokor dijadikan rebutan orang-orang dunia persilatan yang memiliki kesaktian tinggi dan akhirnya lenyap. Laksamana The Hoo sendiri mengutus para pembantunya mencari, namun hasilnya kosong belaka. Menurut penuturan kepala kami, akhirnya bokor itu berhasil didapatkan oleh kepala kami yang menjadi seorang di antara anggauta pengawal Laksamana The Hoo yang bertugas mencari bokor. Akan tetapi malang baginya, ketika dia membawa bokor itu dengan perahu melalui sungai ini, perahunya diserang banjir seperti yang kau alami, perahunya pecah dan bokor itu terjatuh ke dalam sungai. Demikianlah, ketua kami tidak berani melapor, takut menerima hukuman. Dia mengajak kami dan anak buah untuk mencari bokor, sampai sekarang sudah berjalan lima enam tahun tanpa hasil, dan tahu-tahu hari ini, engkau muncul dengan bokor di tangan, muncul dari dalam air! Bukankan hal itu amat ajaib dan mengejutkan sekali?"

Kun Liong memandang bokor di tangannya.

"Rahasia apakah yang dikandung benda ini?"

Dia mengintai lagi dari celah di bawah tutup, akan tetapi setelah air yang membasahi sebelah dalam bokor mengering, huruf-huruf itu lenyap dan tidak tampak lagi.

Kakek itu menggeleng kepala.

"Aku sendiri pun tidak tahu apa rahasianya, hanya yang pasti, rahasia itu amat berharga sehingga orang-orang seluruh kang-ouw saling berlumba mendapatkan bokor ini."

Tak lama kemudian mereka mendarat di sebelah kiri sungai, dalam sebuah hutan.

Tampak beberapa orang laki-laki menyambut dan begitu mereka mendengar penuturan singkat dari Yo-lokui, mereka berlari-lari dengan air muka berubah tegang.

Sambil memondong bokornya dan tahu bahwa benda itu amat dihargai sehingga dia merasa dirinya penting, Kun Liong mendarat dan mengikuti kakek Yo bersama cucunya.

Dengan wajah berseri-seri Kun Liong melihat betapa ada belasan orang muncul dan mengiringkan mereka sambil berbisik-bisik dan mata semua orang itu memandang ke arah bokor di tangannya dengan penuh takjub.

Mereka memasuki sebuah rumah papan yang amat besar dan agaknya itulah satu-satunya bangunan di tempat sunyi itu sehingga diam-diam Kun Liong menjadi heran sekali.

Tempat itu amat sunyi, hanya ada sebuah rumah besar dan tampak tiga buah perahu lain di tepi sungai.

Tidak mungkin perkampungan nelayan hanya dihuni oleh belasan orang ini dengan sebuah rumah!

Juga dia tidak melihat wanita atau anak-anak di tempat itu kecuali Bi Kiok, cucu kakek Yo!

Tempat apakah ini?

Seorang laki-laki setengah tua yang gemuk menyambut mereka.

Yo-lokui cepat memberi hormat kepada laki-laki gendut ini sambil berkata.

"Saya membawa berita baik sekali untuk Phoa-sicu!"

"Ah, aku sudah mendengar pelaporan orang-orang kita, Yo-twako. Inikah anak itu? Dan bokor itu... hemmm, harus diperiksa dulu asli atau tidaknya."

Si Gendut itu tertawa-tawa ramah dan wajahnya berseri, akan tetapi ketika sepasang matanya memandang ke arah bokor, Kun Liong menangkap sinar berkilat yang aneh dan kejam sehingga dia terkejut bukan main dan mengambil keputusan untuk bersikap waspada terhadap Si Gemuk yang mencurigakan ini.

Pula, dia benar-benar tidak mengerti apa hubungan Kakek Yo dengan Si Gendut, yang disebut Phoa-sicu (tuan yang gagah she Phoa) ini.

"Kakek Yo, siapakah dia ini?"

Tanyanya dan kelihatan meragu untuk memasuki rumah besar itu.

"Yap-kongcu, inilah ketua kami, Phoa Sek It Si Golok Maut yang amat terkenal di dunia kang-ouw,"

Jawab Yo-lokui, kelihatan tidak enak menyaksikan sikap Kun Liong demikian kurang hormat terhadap ketuanya.

Akan tetapi Phoa Sek It tersenyum lebar dan membungkuk ke arah Kun Liong, berkata ramah.

"Silakan, Yap-kongcu. Silakan masuk dan harap jangan khawatir. Kita berada di antara sahabat sendiri dan kedatanganmu seperti kedatangan seorang malaikat pembawa berkah terhadap kami. Heii! Carikan pakaian pengganti Yap-kongcu yang basah dan persiapkan hidangan panas untuk kita sekalian, juga bersihkan kamar untuk tempat tidur tamu kita!"

Teriakan itu ditujukan kepada anak buahnya yang segera pergi melaksanakan perintah itu.

"Biarlah aku tidur bersama Kakek Yo saja, harap tidak perlu repot-repot, Paman Phoa,"

Kata Kun Liong kepada Si Gendut itu. Si Gendut mengangguk-angguk.

"Terserah kepadamu, Yap-kongcu, sesuka hatimulah. Bolehkah aku melihat bokor itu?"

Kun Liong yang masih curiga, menoleh ke arah kakek itu dan kakek itu mengangguk kepadanya.

Kun Liong menyerahkan bokor yang dipegangnya kepada Si Gendut yang menerimanya dengan mulut tersenyum lebar, akan tetapi kembali tampak oleh Kun Liong sinar mata aneh yang menyeramkan menyorot keluar dari sepasang mata Si Gendut ketika dia menerima bokor.

"Yo-twako, harap suka melayani dan menjamu makan Yap-kongcu. Aku harus meneliti bokor ini dengan tenang di dalam kamar, untuk menentukan apakah benda ini aseli ataukah bukan. Engkau tahu, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya sehingga aku hampir lupa lagi."

Tanpa menanti jawaban, Si Gendut membawa bokor masuk ke dalam dan lenyap di ruangan dalam.

Yo-lokui, ditemani oleh cucunya dan para anggauta rombongan itu, mengajak Kun Liong makan minum setelah memberinya serangkai pakaian yang dipakai oleh Kun Liong sebagai pengganti pakaiannya yang basah kuyup.

Mereka makan minum dan ngobrol gembira dan kembali Kun Liong merasa heran karena masakan yang dihidangkan cukup mewah seperti masakan kota.

Padahal tempat itu amat sunyi.

Dari mana mereka mendapatkan bumbu-bumbu yang lengkap?

Mungkin membeli dari kota, pikirnya.

Betapapun juga, dia merasa makin terheran benar ternyata bahwa di tempat itu benar-benar hanya terdapat sebuah rumah ini yang dihuni bersama-sama sebanyak lima belas orang termasuk Kakek Yo dan cucunya, sedangkan Si Gendut itu menjadi pimpinan mereka.

Semua ini dia ketahui dari percakapan antara mereka.

"Mengapa Cuwi (Kalian) tinggal di tempat yang amat sunyi ini, tinggal serumah dan tidak mempunyai keluarga?"

Dia mengajukan pertanyaan sambil memandang sekeliling.

Orang-orang itu berdiam, tidak dapat menjawab.

Yo-lokui yang duduk di sebelah kanannya segera menjawab.

"Kami memang tidak mempunyai keluarga, dan tanpa keluarga, perlu apa membuat rumah sendiri-sendiri? Satu-satunya keluarga hanyalah cucuku ini yang sudah yatim piatu pula."

"Akan tetapi pekerjaan Cuwi sebenarnya apakah?"

"Aihh, perlukah kau bertanya lagi, Kongcu? Kami adalah nelayan-nelayan dan... seperti telah kau ketahui, di samping mencari ikan, kami pun berusaha mencari bokor itu..."

Tiba-tiba kakek Yo menghentikan kata-katanya, karena tanpa mereka ketahui, Phoa Sek It yang gemuk itu telah berdiri di pintu dan memandang ke arah Kakek Yo dengan mata mengandung sinar menakutkan!

Dalam pandangan itu sudah tercurah semua teguran ketua ini, maka Kakek Yo cepat berkata dengan suara gugup.

"Phoa-sicu, saya rasa sebagai penemu benda itu, dia berhak untuk..."

"Cukup! Kalau sudah selesai makan, kalian tidurlah. Aku sedang sibuk mengadakan penelitian, tidak suka diganggu suara-suara ribut!"

Kata Si Gendut yang kembali menghilang ke dalam.

Suasana menjadi hening seketika, dan agaknya semua orang merasa takut sekali terhadap Sang Ketua itu.

Kembali Kun Liong merasa heran dan tidak senang.

Dia melihat betapa semua orang mulai menyingkirkan sisa-sisa makanan tanpa banyak cakap lagi dan mulai mengundurkan diri.

"Yap-kongcu, marilah kita mengaso ke kamarku,"

Kata Kakek Yo sambil menyentuh tangan Kun Liong.

Anak itu mengerutkan alisnya dan membantah perlahan.

"Kakek Yo, aku minta supaya bokor dikembalikan dulu kepadaku."

Kakek itu kelihatan terkejut dan khawatir, memegang tangan anak itu sambil berkata lirih.

"Benda itu sedang diteliti oleh ketua kami, Kongcu. Percayalah besok tentu akan ditukar dengan benda-benda berharga lain. Jangan khawatir, aku yang menanggung bahwa benda itu tidak akan hilang."

Mendengar ini, terpaksa Kun Liong menurut.

Dia memandang kepada Bi Kiok dan timbul rasa kasihan di hatinya.

Anak ini tinggal tanpa kawan di antara orang-orang ini!

Bi Kiok juga memandang kepadanya dengan matanya yang lebar dan jernih.

Seketika lenyaplah kemarahan Kun Liong terhadap anak perempuan itu dan digandengnya tangan Bi Kiok.

Gadis cilik itu tersenyum dan kelihatan girang sekali ketika mereka berdua mengikuti Yo-lokui masuk ke dalam sebuah kamar di bagian belakang rumah itu.

Kamar itu cukup bersih, akan tetapi amat sederhana dan baunya tidak enak, amis karena di sudut-sudut kamar itu terdapat keranjang-keranjang, jala, peti-peti, dayung dan lain-lain perlengkapan mencari ikan.

Agaknya keranjang-keranjang kosong bekas ikan itulah yang bau amis.

Akan tetapi karena sudah biasa, Bi Kiok dan Yo-lokui tidak terganggu oleh bau ini, berbeda dengan Kun Liong yang begitu masuk kamar, cuping hidungnya berkembang-kempis diserang bau amis.

Di sudut kamar itu terdapat sebuah pembaringan yang dikerudung tirai tua, dan di situlah Bi Kiok tidur.

Sedangkan Kakek Yo sendiri tidur di sebuah pembaringan dari bambu, beralaskan tikar, berbeda dengan pembaringan Bi Kiok yang diberi kasur tipis dari daun kering.

"Pakailah pembaringan Bi Kiok, biar dia sementara tidur bersamaku, Yap-kongcu,"

Kata kakek itu.

"Ah, tidak, Kek. Aku tidak mau mengganggu Adik Bi Kiok."

"Tidak apa Kun Liong..."

"Ihh, jangan kurang ajar engkau, Bi Kiok. Sebut dia Yap-kongcu!"

Kakeknya menghardik.

"Aaahhh, biarlah, Kakek Yo. Aku pun tak ingin disebut kongcu."

"Setidaknya dia lebih tua daripada kau, Bi Kiok."

"Kalau begitu biarlah aku menyebutnya twako (kakak), bolehkah Kong-kong?"

"Aaahh, tentang sebutan, mengapa repot-repot benar? Tentu saja kau boleh menyebutku apa saja, Bi Kiok."

"Kalau begitu, aku seperti adikmu sendiri, Liong-twako (Kakak Liong). Maka, jangan kau sungkan-sungkan, pakailah pembaringanku. Aku tidur bersama Kong-kong, dan memang kadang-kadang aku mengungsi ke pembaringan Kong-kong kalau aku takut."

"Takut? Takut apa?"

Kun Liong bertanya.

"Hi-hik, kadang-kadang aku takut setan... setan. Apalagi sehabis diceritakan oleh Kong-kong tentang siluman dan iblis."

Kakek dan cucunya itu tertawa sehingga Kun Liong juga ikut tertawa.

Berada di antara kakek dan cucunya ini, mendengarkan kata-kata Bi Kiok yang lucu dan suaranya yang merdu, lenyaplah segala ketegangan dan kekhawatiran yang timbul di ruangan tengah ketika Sang Ketua muncul tadi.

"Biarlah aku tidur bersama kakekmu, Bi Kiok. Kau tidurlah di pembaringanmu sendiri. Aku tidak malu atau sungkan, melainkan aku masih ingin bercakap-cakap dengan Kakek Yo."

Akhirnya Kun Liong berbaring di dekat kakek itu dan tak lama kemudian sudah terdengar pernapasan yang panjang halus dari Bi Kiok, anak itu telah tidur pulas.

"Kasihan sekali cucumu itu, Kek. Mengapa kauajak dia hidup di tempat seperti ini?"

Kun Liong berbisik, menegur Kakek di sebelahnya itu. Yo-lokui menghela napas paniang.

"Ya, kasihan sekali dia. Akan tetapi, aku tidak dapat berbuat lain, Kongcu. Karena terpaksalah maka aku membawanya hidup tempat ini. Akan tetapi tidak lama lagi. Benda itu telah ditemukan, selain kau akan menerima hadiah besar, juga kami akan mendapat bagian sehingga aku dapat mengajak Bi Kiok pindah ke kota besar, hidup cukup dan seperti manusia lumrah, tidak seperti sekarang ini."

Kembali kakek itu menarik napas panjang penuh harapan.

"Mengapa engkau terpaksa mengajaknya hidup di tempat ini Kek? Dan siapakah sebetulnya Phoa Sek It itu? Kulihat dia bukan manusia baik-baik""

"Ssstt... perlahan bicara dan hati-hatilah. Dengarkan baik-baik, saya akan menuturkan segalanya kepadamu, akan tetapi hanya dengan bisik-bisik. Saya melihat engkau bukan anak biasa, Kongcu. Biarpun aku telah menyelamatkanmu tanpa sengaja dan hal itu tak perlu kuingat lagi, akan tetapi besar harapanku kelak engkau akan dapat membantuku mengawasi cucuku, kalau aku sudah tidak ada lagi..."

Kun Liong mengangguk dan kakek itu mulai bercerita dengan berbisik-bisik.

Ternyata bahwa kakek itu bersama putera dan mantunya adalah bekas bajak-bajak sungai yang telah dibasmi oleh pasukan pemerintah setelah perang saudara berakhir dan Kaisar Yung Lo memegang tampuk pemerintah Kerajaan Beng-tiauw.

Putera dan mantunya tewas dalam perlawanan dan dia sendiri dalam keadaan luka-luka berhasil melarikan diri sambil membawa cucunya, Yo Bi Kiok yang waktu itu baru berusia tiga tahun.

Sebagai seorang pelarian, dia terpaksa mengajak cucunya sembunyi-sembunyi dan keadaannya yang miskin itu tentu akan menimbulkan kecurigaan orang, tidak demikian kiranya kalau kakek ini mempunyai banyak uang, tentu dia akan berani mengajak cucunya ke kota dan tinggal di kota seperti keluarga baik-baik.

Dalam perantauannya inilah dia bertemu dengan Phoa Sek It!

Orang gendut ini memiliki kepandaian lihai sekali dan perkenalan mereka pun amat luar biasa, karena Kakek Yo berusaha merampok Si Gemuk ini dan dia bahkan dikalahkan, ditaklukkan dan dijadikan pembantu oleh Phoa Sek It yang berjuluk Golok Maut.

Si Gemuk ini adalah seorang bekas angguta pasukan pengawal yang mengiringkan Laksamana The Hoo.

Ketika mendapat kesempatan, Phoa Sek It yang menyeleweng karena ingin menjadi seorang kaya ini, mencuri dan membawa lari bokor emas yang mengandung rahasia penyimpanan harta pusaka terpendam yang tak ternilai harganya!

Tidak ada orang yang tahu, juga Laksamana The Hoo sendiri tidak mengira, bahwa dialah orangnya yang mencuri dan membawa lari bokor.

Dunia persilatan geger karena memang bokor itu sudah terkenal sekali, bahkan ada tokoh-tokoh penjahat sakti yang berani mencoba untuk mencari bokor, akan tetapi yang kesemuanya gagal, bahkan ada yang tewas di tangan pengawal-pengawal dan para pembantu Laksamana The Hoo yang berilmu tinggi.

Phoa Sek It melarikan diri dan karena takut dikejar, dia menggunakan perahu memasuki sungai yang berbahaya itu, mengandalkan kepandaiannya mengemudikan perahu.

Akan tetapi, banjir menyerang perahunya sehingga terguling, bokornya hilang dan Phoa Sek It menjadi bingung.

Setelah berbulan-bulan mencari dan menyelam di sekitar tempat itu tanpa hasil, dia mengambil keputusan untuk mencari anak buah dan pada saat itulah dia dirampok oleh Yo-lokui yang kemudian dijadikan pembantunya.

Mereka berdua berhasil mengumpulkan bekas bajak-bajak sungai, tiga belas orang jumlahnya dan semenjak itulah, lima belas orang itu tinggal di tempat tersembunyi, menyambung hidupnya dengan menangkap ikan atau kadang-kadang juga membajak ke Sungai Huang-ho.

"Selama bertahun-tahun kami mencari bokor. Karena janji-janji yang muluk dari Phoa-sicu, kami terus bertahan dan sekarang bokor telah ditemukan, berarti akan berakhirlah penderitaan kami. Aku telah dijanjikan pembagian yang cukup untuk kumakan selama hidup bersama cucuku. Kami akan pindah ke kota!"

Kakek itu menutup ceritanya dengan wajah yang keriput itu berseri penuh harapan dan kebahagiaan untuk cucunya.

"Mudah-mudahan saja engkau dan Bi Kiok akan berhasil dan bahagia, Kek."

Kata Kun Liong.

Akan tetapi kakek itu sudah mulai mendengkur, agaknya lelah bercerita dan harapan yang amat baik membuat hatinya lega dan puas sehingga mudah dia jatuh pulas.

Kun Liong sebaliknya tak dapat tidur gelisah bergulingan di atas pembaringan.

Dengkur kakek itu amat mengganggunya apalagi hawanya panas di dalam kamar itu, ditambah bau amis keranjang bekas ikan, membuatnya makin gelisah.

Akhirnya dengan perlahan agar jangan mengagetkan kakek dan cucunya itu, dia turun dari atas pembaringan, dengan maksud untuk keluar dari rumah itu mencari hawa segar di pinggir sungai.

Akan tetapi baru saja dia sampai di pintu kamar, lapat-lapat dia mendengar suara orang mengeluh dari kamar di depan, kemudian tampak berkelebat bayangan keluar dari kamar itu, bayangan seorang yang mukanya ditutup kain hitam mulai dari bawah mata, terus ke bawah dan tangannya membawa sebatang golok yang berlepotan darah!

Melihat betapa bayangan itu berkelebat lari ke arah kamar Kakek Yo, Kun Liong cepat meloncat ke dalam dan keadaan yang tiba-tiba itu membuat dia tidak sempat berpikir lagi, terus saja dia tutup peti bundar, memasukinya dan menutup kembali dari dalam!

Setelah ia mendekam di dalam peti teringat olehnya bahwa seharusnya dia membangunkan Kakek Yo lebih dulu.

Akan tetapi baru saja dia mau membuka tutup peti, pintu kamar terbuka, bayangan hitam berkelebat masuk dan dari tubuh yang gendut itu Kun Liong dapat menduga bahwa itu tentulah Phoa Sek It.

Dia hendak berteriak mengagetkan dan membangunkan Yo-lokui, namun terlambat!

Orang berkedok itu telah melompat ke dekat pembaringan Kakek Yo, menggerakkan golok besar dengan kedua tangan dan...

Kun Liong merasa kepalanya pening dan hampir pingsan ketika melihat darah muncrat dari perut Kakek Yo yang dihunjam golok.

Kakek itu kelihatan terkejut kaku, terbelalak dan seperti hendak bangkit, tetapi kembali golok terayun dan kali ini membacok leher sehingga hampir putus.

Cepat seperti ketika masuk, bayangan hitam itu sudah melompat, menyingkap tirai, melihat Bi Kiok yang menjadi kaget dan bingung lalu menoleh ke kanan kiri mencari-cari, agaknya mencari Kun Liong, lalu mendengus marah dan menyambar lengan tangan Bi Kiok.

"Aihhh", lepaskan aku...! Kong-kong"!"

Bi Kiok menjerit-jerit akan tetapi orang gendut berkedok itu telah membawanya lari keluar.

Kun Liong cepat keluar dari peti.

Melihat kakek itu sudah tewas dalam keadaan mengerikan sekali dia menyelinap keluar.

Terdengar suara gaduh dan teriakan-teriakan di kamar-kamar lain seperti suara orang berkelahi.

Kun Liong cepat lari keluar menuju ke sungai.

Tanpa banyak pikir lagi karena maklum bahwa kalau Phoa Sek It melihatnya tentu dia akan dibunuh, dia meloncat ke atas sebuah perahu, melepas tali ikatan dan mendayung perahu ke tengah, mendayung sekuat tenaga mengikuti aliran sungai.

Untung baginya bahwa bagian berbahaya dari sungai ini sudah lewat, yaitu yang dilewatinya ketika sehari lamanya dia hanyut kemarin.

Air di bagian ini cukup dalam dan tidak begitu deras arusnya sehingga dia dapat menguasai perahunya.

Ketika hatinya sudah merasa lega dan aman kaena tidak melihat adanya orang mengejarnya, Kun Liong yang merasa betapa kedua lengannya kaku dan lelah karena tadi mendayung sekuat tenaga, Mengatur tempat duduk yang lebih enak dan mendayung perahunya agak di pinggir agar aman.

Ketika dia pindah tempat duduk inilah kakinya menyentuh sesuatu.

Karena gelap, dia tidak dapat melihat benda apa itu, maka dia mengambil dan mengangkatnya.

Hampir dia tertawa bergelak dan membayangkan betapa lucu wajah Si Gendut nanti.

Kiranya benda itu adalah bokor emas!

Dia mulai dapat menduga apa yang terjadi.

Karena ingin memiliki bokor itu sendiri tanpa membagi-bagi kepada anak buahnya, timbul pikiran jahat di dalam hati Si Gemuk itu.

Karena dia memang lihai, maka dia melakukan pembunuhan-pembunuhan dan bokor itu sudah disembunyikannya ke dalam perahu ini.

Agaknya, kalau sudah selesai membunuh semua bekas anak buahnya, Si Gendut itu akan melarikan diri dengan perahu ini.

Siapa kira, dia mendahuluinya dan tanpa disengaja, kembali bokor terjatuh ke dalam tangannya!

Ingin dia mentertawakan Si Gendut, akan tetapi teringat akan nasib Kakek Yo, dan akan nasib Bi Kiok, berkerut alis Kun Liong dan dia merasa kasihan sekali.

Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan?

Memang tepat dugaan Kun liong, orang gemuk bertopeng itu bukan lain adalah Phoa Sek It.

Begitu melihat bokor emas itu, Phoa Sek It segera mengenalnya sebagai bokor pusaka milik bekas atasannya, Laksamana The Hoo, benda berharga yang menjadi rebutan, yang dahulu berhasil dia curi dan larikan kemudian lenyap di sungai ketika perahunya terguling diterjang air bah.

Begitu ia melihat benda itu, timbullah sudah kemurkaannya, timbul niat jahat untuk membunuh semua pembantunya termasuk anak yang datang membawa bokor itu.

Mereka harus dibunuhnya, dan karena dia tidak ingin kehilangan sebagian harta benda untuk menghadiahi mereka, akan tetapi terutama karena mereka sudah tahu akan rahasia bokor itu dan kalau mereka tidak dibunuh dan sampai rahasia itu tersiar, tentu dia akan menjadi buruan orang-orang sakti sedunia kang-ouw dan yang lebih mengerikan lagi, tentu Laksamana The Hoo yang banyak dibantu orang-orang sakti itu akan mencari, menemukan, dan menghukumnya.

Phoa Sek It sudah berhasil membunuh Kakek Yo-lokui selagi kakek ini tidur sehingga satu-satunya orang yang (Lanjut ke

Jilid 06) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 dapat melakukan perlawanan itu dibunuhnya secara mudah, dan tiga belas orang pembantu lain dengan mudah saja menjadi korban goloknya tanpa mereka dapat memberi perlawanan yang berarti.

Akan tetapi ketika melihat Bi Kiok, dia tidak membunuhnya.

Bukan karena dia tidak tega atau menaruh iba hatinya melihat anak perempuan itu, melainkan karena timbul birahinya kalau dia membayangkan betapa Bi Kiok beberapa tahun lagi akan menjadi seorang dara yang amat cantik jelita.

Karena inilah dia tidak membunuh Bi Kiok!

Dapat dibayangkan betapa takut, duka dan ngeri rasa hati anak perempuan itu ketika dia melihat kong-kongnya telah tewas dalam keadaan mengerikan, dan betapa orang bertopeng yang dia tahu adalah Phoa Sek It, orang yang selama dia tinggal di situ paling dia takuti, sambil menggandengnya membunuh paman-paman yang lain sehingga bajunya sendiri terkena percikan darah yang muncrat dari tubuh setiap orang korban.

"Lepaskan aku...! Lepaskan...! Kongkong...!"

Dia menjerit-jerit sampai suaranya menjadi parau.

"Diam! Anak bodoh! Engkau sudah untung sekali tidak kubunuh, tahu? Apakah minta kubunuh?"

Dia mendekatkan golok yang berlepotan darah ke depan muka Bi Kiok sehingga anak itu terbelalak dengan muka pucat, hampir pingsan ketika hidungnya mencium bau darah yang memuakkan.

"Katakan di mana adanya bocah iblis gundul itu?"

Bi Kiok menggeleng kepala dan menelan ludah karena sukar sekali dia mengeluarkan suara, lehernya seperti tercekik dan mulutnya tiba-tiba menjadi kering saking takutnya.

"Ti... tidak tahu..."

Akhirnya dapat juga dia bersuara.

"Bukankah dia tidur di kamar kakekmu?"

Kembali Si Gemuk menghardik dan kini dia merenggut penutup mukanya.

Semua pembantunya telah dibunuhnya, tidak perlu lagi menyembunyikan muka.

"Aku tidak tahu... tadi dia masih bercakap-cakap dengan Kong-kong... uhu-hu-huuu...!"

Bi Kiok menangis lagi, teringat akan kakeknya yang telah tewas.

"Diam! Kalau menangis terus dan kesabaranku habis, golok ini akan minum darahmu! Hayo kita pergi!"

"Tidak mau... hu-hu-huhhh... tidak mau...!"

"Plakkk!"

Pipi anak perempuan itu ditampar dan tubuhnya terguling ke atas lantai.

"Engkau membandel, ya? Baik, lebih baik begitu, kau mampus sekalian agar kelak tidak merepotkan. Akan tetapi sebelum mati, sayang kalau dibunuh begitu saja. Engkau masih kecil, akan tetapi sudah manis sekali!"

Seperti seekor harimau yang buas menubruk seekor anak domba yang ketakutan, Phoa Sek It menubruk Bi Kiok, tangannya merenggut, terdengar kain terkoyak ketika dengan penuh nafsu binatang buas dia merenggut pakaian gadis cilik itu.

"Breetttt...!! Aihhhh... tolong...!!"

Bi Kiok menjerit, tidak mengerti bahaya apa yang mengancam dirinya, hanya mengira bahwa Phoa Sek it tentu hendak membunuhnya.

"Babi gendut memuakkan!! Plakkk!!"

Phoa Sek It terkejut bukan main.

Pundaknya seperti akan remuk menerima sebuah tamparan yang datangnya tiba-tiba dan tak mungkin dapat dielakkannya tadi, apalagi karena dia sedang diamuk nafsu.

Ketika dia menyambar golok yang, tadi diletakkan di atas tanah ketika dia hendak memperkosa gadis cilik itu, melompat sambil membacokkan golok dengan tubuh diputar, dia melihat seorang wanita berdiri dengan sikap tenang.

Wanita itu pakaiannya indah dan bersih, rambutnya yang panjang tersisir rapi dan digelung seperti model puteri bangsawan, di punggungnya tampak sebatang pedang yang panjang melengkung dan aneh, tubuhnya kecil pendek dan biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, namun masih cantik menarik, dan kerling matanya serta senyumnya kelihatan genit sekali.

Dia berdiri memandang Phoa Sek It sambil mengerling dan tersenyum-senyum!

"Iblis betina!"

Phoa Sek It membentak marah.

"Siapa engkau berani main gila dengan Golok Maut?"

"Babi kotor, anjing hina yang hendak memperkosa anak kecil! Aku tahu engkau Phoa Sek It bekas pengawal Laksamana The Hoo! Sudah lama kuawasi engkau dan setelah malam ini kau membunuhi anak buahmu, tentu engkau telah menemukan bokor itu! Hayo keluarkan bokor itu dan serahkan kepada Nona Bu!"

Seketika pucat wajah Phoa Sek It mendengar ucapan itu.

Bukan hanya rahasianya telah bocor, bahkan wanita ini adalah seorang yang tak disangka-sangkanya akan pemah berhadapan dengan dia.

"... kau... kau... Siang-tok Mo-li...?"

Wanita itu menjebikan bibirnya yang merah segar dengan lagak genit sekali, dan mengulur tangan kiri minta bokor tanpa bicara lagi.

Tentu saja Phoa Sek It kaget dan merasa ngeri karena wanita cantik yang biasanya menyebut dirinya sendiri "Nona Bu"

Ini bukan lain adalah Bu Leng Ci yang berjuluk Siang-tok Mo-li (Iblis Betina Racun Wangi), yang pada waktu itu merupakan datuk ke lima di dunia persilatan, amat terkenal bukan hanya karena kesaktiannya akan tetapi juga karena sepak terjangnya yang menggegerkan dan kekejamannya terhadap lawan-lawannya!

"Aku...

eh siauwte...

tidak tahu tentang bokor"

Harap Nona yang sakti mengampuni""

Phoa Sek It berkata dengan suara gemetar, akan tetapi sepasang matanya bergerak-gerak mencari akal.

Biarpun nama perempuan ini menggegerkan dunia kang-ouw, akan tetapi dia belum begitu percaya apakah seorang wanita yang cantik dan kelihatan lemah ini tidak dapat dilawannya.

"Bohong! Lekas serahkan!"

Wanita itu melangkah maju, kini dekat sekali dan lengan kirinya masih terulur ke depan, untuk menerima bokor yang agaknya dia merasa yakin pasti akan diserahkan oleh Phoa Sek It kepadanya.

Karena dia sudah mendengar akan keganasan dan kekejaman wanita iblis ini, Phoa Sek It yang sejak tadi sudah siap, begitu tangan wanita itu berada dekat sekali sehingga tidak mungkin menghindar lagi, secepat kilat dia menyabetkan golok besarnya ke arah lengan yang terulur itu!

"Siuuuuttt...!"

Golok lenyap berubah menjadi sinar saking cepat gerakannya.

"Capppp!!"

Mata Phoa Sek It terbelalak.

Dia merasa seperti dalam mimpi dan tak percaya dia memandang, biarpun dia sudah melotot dan melihat jelas betapa jari tangan yang halus kecil dengan kuku meruncing terpelihara bagus itu "menjemput"

Goloknya tadi dan kini jari-jari tangan itu menangkap mata goloknya seperti lagak seorang dara jelita menangkap seekor kupu-kupu pada sayapnya!

Dengan hati penuh rasa tidak percaya sehingga perasaan ini mengalahkan kegentarannya, Phoa Sek It mengerahkan tenaganya menarik untuk membetot lepas goloknya dari jepitan jari-jari tangan yang kecil mungil itu.

"Hemmm"!"

Suara ini keluar sebagai ejekan dari tenggorokan wanita itu dan tiba-tiba terdengar suara "krekkkk!!"

Dan golok itu telah diremasnya patah-patah menjadi tiga potong!

Phoa Sek It menjadi bengong, kemudian dia bergidik, bulu tengkuknya berdiri dan dia mengeluarkan suara ""ihhhh""

Penuh rasa gentar dan ngeri, kemudian membalikkan tubuhnya dan melarikan diri seperti seorang anak kecil takut melihat bayangan setan.

"Wuuuuttt"! Krekkk".!!"

Tubuh Phoa Sek It yang gendut dan sedang melarikan diri itu tiba-tiba terhenti gerakannya, matanya mendelik karena tiba-tiba dia tidak dapat bernapas lagi lehernya tercekik.

Ketika dia meraba lehernya, temyata lehernya telah terlibat benda yang lemas sekali.

Tiba-tiba ada tenaga raksasa yang menarik tubuhnya ke belakang, tidak dapat dilawannya dan akhirnya dia terbanting ke belakang, terjengkang ke depan kaki wanita itu.

Ketika dia melihat, ternyata rambut wanita ini telah terurai lepas, panjang halus dan harum, dan rambut itulah yang tadi menangkapnya dengan membelit lehemya.

Tanpa menggunakan kaki tangan, hanya menggunakan rambutnya yang halus panjang itu saja, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci telah berhasil merobohkannya!

Seketika lenyap nyali Phoa Sek It dan dia merangkak, berlutut di depan kedua kaki yang kecil dan bersepatu baru itu.

"Ampunkan nyawa hamba..."

Suaranya seperti orang merengek dan menangis.

"Crottt! Augghhh...!!"

Phoa Sek It mendekam dan tubuhnya menggigil saking nyerinya.

Pundaknya telah berlubang dan tulang pundaknya remuk ketika wanita ltu menggunakan jari telunjuknya menusuk pundak itu.

Jari yang tadi meremas patah golok itu dengan mudah sekali menembus kulit daging, bahkan meremukkan tulang pundaknya!

"Katakan di mana bokor itu dan serahkan kepadaku!"

Kembali Bu Leng Ci berkata, suaranya masih merdu dan kerling mata serta senyumnya masih genit, justeru itulah yang membuat dia amat menyeramkan.

Biarpun diancam maut akan tetapi tentu saja tidak mudah buat Phoa Sek It untuk melepaskan bokornya.

Bertahun-tahun dia dengan susah payah mencari benda pusaka itu dan bahkan sampai saat ini pun kiranya belum dapat ia temukan kalau tidak kebetulan bocah gundul itu datang membawa pusaka itu.

Mana mungkin sekarang diberikan begitu saja kepada wanita iblis ini?

"Ham...

hamba...

tidak tahu..."

"Adduuuhhh... am"

Ampuuuunnnn"!"

Jerit yang keluar dari mulut Phoa Sek It mengerikan sekali, melengking atau melolong seperti serigala menangis dan rasa nyeri yang dideritanya membuat dia hampir tidak kuat bertahan.

Wanita iblis itu dengan masih tersenyum sudah menggerakkan jari tangannya yang amat kuat dan sebelum Si Gendut tahu apa yang terjadi, tahu-tahu jari tangan itu dengan kukunya yang runcing telah mencubit dan merobek kulit kepalanya bagian pelipis, terus merobek ke atas sehingga kulit kepalanya dari pelipis ke atas, sepanjang sepuluh senti, terkupas dari kepala.

Bukan main hebat kenyerian yang dideritanya, sulit dilukiskan, perih dan panas, kiut-miut rasanya sampai ke jantung yang seperti ditusuk-tusuk, isi kepala seperti diremas-remas, seluruh tubuhnya menggigil.

Dengan sepasang mata terbelalak dan muka pucat sekali penuh kengerian Bi Kiok melihat siksaan ini.

Sambil memegangi bajunya yang koyak-koyak menutupi tubuh bagian depan yang terbuka, gadis cilik itu melihat Phoa Sek It dan lenyaplah segala kebenciannya terhadap orang gendut itu.

Lupa lagi dia betapa Si Gendut itu telah membunuh kakeknya secara keji dan biadab, betapa semua pembantunya telah dibunuh pula, dan betapa tadi Phoa Sek It akan membunuhnya juga.

Dia lupa akan semua itu, kebenciannya berubah menjadi perasaan tidak tega dan kasihan menyaksikan Si Gendut itu mengalami penyiksaan yang mengerikan itu.

"Paman Phoa Sek It, mengapa kau tidak mengaku? Engkau telah membunuh Kakek dan semua pembantumu, engkau telah menyembunyikan bokor itu. Katakan saja di mana!"

Bi Kiok berkata.

Mendengar ini, Phoa Sek It terkejut dan dia masih sempat memandang ke arah Bi Kiok dengan mata mendelik penuh kemarahan, dan saking marahnya dia sampai lupa diri dan keadaan, memaki.

"Anjing kecil, tutup mulutmu...!"

Akan tetapi kembali dia meraung karena jari-jari tangan yang seperti ujung-ujung pisau runcing itu telah mencengkeram dadanya, menghunjam ke dalam kulit daging, akan tetapi gerakan itu tidak dilanjutkan dan terdengar suara wanita itu.

"Di mana bokor itu?"

"Di... dalam perahu... di tepi sungai""

Kata-katanya disusul suaranya melengking, berkelojotan.

Bi Kiok menutupi muka dengan kedua tangannya.

Terlampau hebat dan mengerikan apa yang dia lihat dan saksikan itu.

Wanita itu menggerakkan tangannya yang mencengkeram dan lima jari tangan berikut lengannya telah memasuki rongga dada Phoa Sek It, kemudian setelah tangan dicabut kembali, jari-jari tangan itu telah menggenggam sebuah benda merah yang berlepotan darah dan terus benda itu dimakannya!

Itulah jantung yang masih hangat dan agak bergerak menggelepar yang dicabutnya dari dalam rongga dada Phoa Sek It.

Dan beginilah satu di antara cara-cara Bu Leng Ci membunuh lawan.

Tidak mengherankan apabila dia menjadi tokoh atau datuk ke lima dari dunia persilatan, dan dijuluki Mo-li (Iblis Betina) karena memang dia berhati keras dan ganas seperti iblis!

"Mari kita cari bokor itu."

Bi Kiok yang merasa betapa pundaknya disentuh tangan halus dan mendengar suara yang merdu ramah, menurunkan kedua tangan dan memandang.

Wanita itu kelihatan ramah dan cantik sekali, tersenyum kepadanya dan kedua tangan wanita itu bersih putih, entah ke mana perginya darah yang tadi membasahi tangannya.

Seperti dalam mimpi, Bi Kiok melangkah dan menurut saja diajak oleh wanita itu, digandeng tangannya.

Wanita itu melangkahi mayat Phoa Sek It dan Bi Kiok terpaksa meloncatinya juga tanpa memandangnya.

"Di sini hanya ada empat buah perahu... eh, mengapa hanya ada tiga? Mana yang sebuah lagi?"

Bi Kiok berkata ketika mereka tiba di tepi sungai.

"Mari kita mencari bokor itu,"

Kata Bu Leng Ci.

Mereka memeriksa tiga buah perahu, akan tetapi tentu saja mereka tidak dapat menemukan bokor yang telah terbawa ke dalam perahu yang dilarikan Kun Liong!

"Hemm, tentu berada di dalam perahu ke empat yang tidak ada lagi di sini.

Anak yang baik, siapakah di antara kalian yang tidak mati terbunuh oleh Phoa Sek It, kecuali engkau sendiri?"

Bi Kiok menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.

"Semua sudah mati, termasuk kakekku. Aku melihat sendiri semua berjumlah empat belas orang dengan kakekku, dibunuh Paman Phoa... eh, agaknya dia yang membawa perahu! Aihhh! Benar, aku sampai lupa! Tentu Liong-twako dan dia sudah selamat. Syukurlah! Dia berhasil menyelamatkan diri, membawa perahu dan""

Tiba-tiba Bi Kiok berhenti bicara dan memandang wanita itu dengan kaget.

"Dan bokor itu dibawanya pula?"

Wanita itu mendesak.

"Aku tidak tahu""

"Siapa itu Liong-twako?"

"Liong-twako adalah anak laki-laki yang telah menemukan bokor..."

"Ehh? Coba ceritakan yang jelas!"

Bi Kiok lalu menuturkan bagaimana dia dan kakeknya secara kebetulan menolong Yap Kun Liong yang hanyut di sungai dan betapa tanpa disengaja Kun Liong telah menemukan bokor itu di dasar sungai.

Semua dia tuturkan dengan jelas dan didengarkan oleh Bu Leng Ci dengan penuh perhatian.

"Demikianlah. Malam tadi dia masih bercakap-cakap dengan Kakek, kemudian aku tertidur dan entah ke mana perginya Liong-twako. Ketika aku terbangun tahu-tahu dia telah lenyap, Kakek terbunuh oleh Paman Phoa dan aku ditariknya keluar dari kamar."

Iblis betina itu mengangguk-angguk.

"Aku yakin sekarang. Tentu Yap Kun Liong itu yang membawa bokor. Entah bagaimana dia dapat mengambilnya dari tangan Phoa Sek It, akan tetapi seorang bocah seaneh dia, yang telah menemukan bokor dan selama sehari hanyut di sungai yang banjir dalam keadaan selamat, bukan tidak mungkin dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Mari kita cari dia!"

"Aku... apakah aku... harus ikut?"

"Anak baik. Siapa namamu?"

"Namaku Yo Bi Kiok."

"Hemmm, nama yang manis seperti orangnya. Engkau hanya berdua dengan kakekmu, bukan? Sudah lama kulihat engkau bersama rombongan itu."

Bi Kiok mengangguk.

"Aku yatim, piatu."

"Bagus!"

"Mengapa bagus?"

Bi Kiok memandang dengan penasaran.

Yatim piatu, tak berayah tak beribu sekarang kehilangaan kakek pula, dikatakan bagus!

"Jadi engkau sebatangkara, tiada sanak kadang, hidup seorang diri di dunia?"

Bi Kiok masih memandang penasaran, akan tetapi dia mengangguk juga.

"Bagus!"

Bi Kiok merenggut lepas tangannya yang digandeng wanita itu, kepalanya ditegakkan dan suaranya nyaring penuh keberanian ketika dia berkata.

"Bibi, engkau sungguh kejam sekali, mengejek dan mempermainkan seorang anak-anak seperti aku! Aku memang yatim piatu, tiada sanak kadang, hidup seorang diri di dunia, akan tetapi tidak ada sangkut pautnya dengan Bibi. Tidak perlu Bibi mengejek dan mengatakan bagus!"

Sepasang mata wanita cantik itu bersinar-sinar, kemudian dia mengangkat kedua tangan ke atas, dibentuk seperti sepasang cakar garuda, agaknya siap untuk mencengkeram kepala Bi Kiok.

Gadis cilik itu menatap tajam, sedikit pun tidak takut!

"Hi-hik, engkau tidak takut?

Kalau tanganku ini turun, kepalamu akan pecah-pecah!"

"Aku tidak takut! Aku tidak takut mati, tidak takut padamu!"

Bi Kiok berkata lantang.

"Heh-heh-heh, bagus!"

Wanita itu kembali memuji dan menurunkan kedua tangannya lagi.

"Lagi-lagi bagus! Apanya yang bagus!"

Bi Kiok membentak, kini marah sekali, kedua tangannya dikepal seolah-olah dia hendak menyerang iblis betina itu!

"Tentu saja bagus, anak baik.

Engkau hidup seorang diri di dunia, seperti aku!

Tadinya kukira engkau penakut, tidak tahunya tadi engkau kelihatan takut karena dilanda duka dan ngeri, sebenarnya engkau seorang pemberani yang bernyali besar.

Orang seperti engkau ini sungguh sudah pantas sekali menjadi muridku."

"Muridmu?"

"Ya, muridku, murid Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci, hal yang belum tentu terjadi di antara selaksa orang anak perempuan!"

Bi Kiok seorang yang cerdik sekali.

Biarpun usianya baru delapan tahun, akan tetapi dia maklum bahwa keadaannya yang sebatang kara itu akan sukar sekali, dari mana-mana akan muncul bahaya yang mengancamnya.

Kini muncul wanita cantik ini, yang biarpun kejam seperti iblis akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang menakjubkan, sehingga orang seperti Phoa Sek It dibuat permainan, dan wanita ini mengambilnya sebagai murid.

Serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Teecu (murid) senang sekali menjadi murid Subo (Ibu Guru)!"

Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci tertawa gembira, menarik bangun muridnya, menggandeng tangan muridnya sambil meloncat ke atas sebuah di antara tiga perahu itu sambil berkata.

"Mari kita kejar bocah she Yap itu!"

Perahu Kun Liong sudah memasuki sungai Huang-ho.

Hatinya merasa tenteram karena telah lama dia berlayar, tidak ada yang tampak mengejarnya.

Hari telah siang dan sinar matahari yang terik membuat seluruh tubuhnya berpeluh.

Akan tetapi dia tidak berhenti dan terus melayarkan perahunya.

Pagi tadi ada empat orang ikut dengan perahunya dan untuk itu dia telah menerima sedikit uang dan makanan.

Perutnya tidak lapar lagi dan sewaktu-waktu dia dapat berhenti untuk membeli makanan.

Menjelang sore, tampak dua orang di tepi sungai yang memanggilnya.

"Harap minggir! Kami hendak menumpang!"

Demikian teriakan laki-laki itu.

Yang seorang lagi, wanita masih muda, berdiri di dekat laki-laki itu.

Kun Liong meminggirkan perahunya.

Lumayan, pikirnya.

Makin banyak penghasilannya makin baik karena melakukan perjalanan tanpa bekal sungguh berbahaya, kadang-kadang dia menderita kelaparan.

Pula, melihat bahwa yang ingin menumpang perahunya adalah sepasang suami isteri, dia merasa kasihan.

Hari amat panas dan membiarkan seorang wanita kepanasan menanti perahu, amat tidak patut.

"Bisakah engkau mengantar kami ke kota Liok-ek-tung? Perahumu hendak ke sana, bukan?"

Tanya laki-laki itu dengan ramah.

Kun Liong hanya mengangguk.

Dia tidak tahu di mana itu Liok-ek-tung, akan tetapi karena laki-laki itu menudingkan telunjuknya ke depan, berarti arah yang mereka tuju sama karena dia pun tidak mempunyai tujuan tertentu, asal menurutkan ke mana air Sungai Huang-ho mengalir!

"Silakan, Ji-wi naik,"

Kata Kun Liong tanpa banyak komentar.

Laki-laki itu kelihatan galak, wajahnya biasa saja, mungkin pedang yang tergantung di punggung itulah yang membuat dia kelihatan galak.

Akan tetapi isterinya, yang paling banyak berusia dua puluh tahun, sepuluh tahun lebih muda daripada suaminya, amat cantik dengan pakaian sederhana namun tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya yang bagus.

Si suami dengan sikap penuh kasih sayang membantu isterinya melangkah naik ke dalam perahu.

Setelah isterinya naik dan duduk di bangku perahu, barulah dia sendiri naik sambil membawa buntalan besar yang agaknya bekal pakaian mereka.

Setelah mereka duduk, Kun Liong menggerakkan dayungnya, hendak mendayung perahu ke tengah.

Kini dia sudah mulai biasa mengemudikan perahu, setelah beberapa kali dia terpaksa menjadi tukang perahu, semenjak membantu para nelayan, sampai terpaksa melarikan perahu dua kali!

"Heeei, bung cilik gundul tukang perahu!

Tunggu dulu aku mau ikut!"

Tiba-tiba terdengar teriakan dan Kun Liong menghentikan dayungnya, menoleh dan melihat seorang laki-laki berpakaian sastrawan naik ke atas perahunya.

Sekali pandang saja, dia merasa tidak suka kepada sastrawan muda itu, dan mungkin sekali rasa tidak suka ini timbul ketika mendengar sebutan "gundul".

Pula, seorang sastrawan semestinya tahu aturan, tidak sekasar itu, apalagi kalau melihat bahwa di dalam perahu itu sudah ada seorang wanita yang menumpang.

Dia melihat bahwa sastrawan itu lebih muda daripada orang yang membawa pedang.

Usianya antara dua puluh lima dan tiga puluh tahun.

Pakaiannya indah, dari kain halus, wajahnya tampan dengan kulit muka putih, sepasang matanya selalu bersinar-sinar.

Akan tetapi mulut yang agak terlalu lebar dan selalu tersenyum itu menimbulkan rasa tidak suka di hati Kun Liong.

Gerak senyum pada mulut lebar itu mengandung ejekan, bahkan kekejaman!

Akan tetapi dia tidak peduli dan bertanya.

"Tuan hendak ke mana?"

"Ke mana saja perahumu menuju, heh-heh!"

Kun Liong tidak bertanya lagi, terus mendayung perahunya ke tengah dan memasang layar.

Setelah perahunya meluncur, dia segera duduk memegang kemudi, mengambil sikap seolah-olah tidak memperhatikan tiga orang penumpangnya itu.

Si Sastrawan itu sudah menghadapi suami isteri yang duduk di atas papan, membungkuk dan mengangkat kedua tangan depan dada, akan tetapi matanya mengerling tajam ke arah dada membusung yang tertutup pakaian sederhana wanita itu.

"Harap Ji-wi (Kalian Berdua) sudi memaafkan saya kalau kehadiran saya mengganggu Ji-wi."

Wanita itu dengan muka merah dan malu-malu hanya menunduk membiarkan suaminya yang menjawab.

Tidak biasa dia berhadapan dengan laki-laki asing, apalagi seorang laki-laki muda dan tampan menarik seperti sastrawan ini!

"Ahh, harap Kongcu jangan bersikap sungkan.

Kita sama-sama hanya penumpang perahu ini.

Kami suami isteri hendak pergi ke Liok-ek-tung, tidak tahu Kongcu hendak pergi ke manakah?"

Laki-laki berpedang itu membalas penghormatan dan menjawab dengan suara ramah pula.

"Ah, saya hanya seorang pelancong, ke mana pun baik saja. Dan kalau perahu ini pergi ke Liok-ek-tung, ke sanalah saya pergi. Sungguh merupakan keuntungan dan kehormatan besar sekali bagi saya dapat bersama Ji-wi naik perahu. Sungguh menyenangkan sekali!"

Isteri itu mencuri pandang, mengangkat mata yang tadinya menunduk dan kebetulan siucai (sastrawan) itu pun mengerling ke arahnya sehingga dalam waktu satu dua detik, dua pasang mata itu bertemu pandang.

Wanita itu makin merah mukanya dan cepat melempar pandang ke bawah lagi, memandangi lantai perahu kemudian ke luar perahu, seolah-olah dia dia tertarik oleh bayangan ikan-ikan yang berenang di pinggir perahu, bibirnya yang tipis merah itu tersenyum-senyum dikulum.

"Kami yang merasa terhormat sekali dapat melakukan perjalanan bersama Kongcu,"

Si Suami berkata lagi.

"Silakan duduk, Kongcu."

"Terima kasih."

Sastrawan itu mengambil tempat duduk di atas papan, berhadapan dengan suami isteri itu.

"Congsu (Tuan) sungguh baik hati. Perkenalkan, saya Ouw Ciang Houw, tinggal di Nam-cu di selatan dan sekarang setelah selesai menempuh ujian dengan hasil baik, sebelum pulang, saya melancong dulu."

"Ahh, kiranya seorang siucai (sastrawan lulus ujian), harap maafkan kalau kami berlaku kurang hormat, Ouw-siucai. Nama saya Gui Tiong, dan ini isteri saya. Kami tinggal di Liok-ek-tung dan di sana saya membuka perguruan silat."

Ouw-siucai membelalakkan matanya, kelihatan terkejut.

"Wah, kiranya saya berhadapan dengan seorang ahli silat yang lihai dan menjadi guru! Maaf, maafkan saya, Gui-kauwsu (Guru Silat Hui)."

"Aah, Ouw-siucai terlalu merendah. Saya hanya membuka perguruan silat kecil-kecilan saja karena kebisaanku pun tidak seberapa. Pula, kata orang, sekarang ini kepandalan bun (sastra) lebih berharga daripada bu (silat), dan gerakan sebatang pit (alat tulis) jauh lebih berbahaya daripada gerakan sebatang pedang!"

Yang dimaksudkan dengan kata-kata ini adalah bahwa kepandaian menulis lebih berbahaya daripada pedang, karena dengan kepandaian menulis seorang dapat menjatuhkan fitnah yang lebih berbahaya daripada serangan pedang, pula kepandaian menulis dapat membawa orang kepada kedudukan yang lebih tinggi.

Ouw-siucai tertawa, sengaja dibuat-buat agar terdengar enak dan gagah, dan tentu saja ini dimaksudkan untuk mendatangkan kesan di hati wanita cantik yang duduk menunduk di depannya.

"Ha-ha-ha, Gui-kauwsu bisa saja! Akan tetapi, mungkin benar juga kata-kata itu. Saya sih tidak mempunyai kepandaian apa-apa kecuali sedikit coret-coret dan kesenanganku yang lain adalah bermain dadu dan minum arak"

"Wah, kesenangan itu cocok dengan kesenanganku. Sayang tidak ada dadu dan kalau ada tentu kita berdua dapat melewatkan waktu dengan gembira sambil menanti sampainya perahu ini ke Liok-ek-tung""

"Jangan khawatir, Gui-kauwsu. Saya selalu membawa bekal!"

Seperti orang main sulap saja, siucai itu mengeluarkan seguci besar arak dan sebuah dadu dengan mangkoknya dari dalam saku jubahnya yang lebar.

Melihat ini, guru silat itu tertawa bergelak dan dengan gembira mereka lalu bermain dadu.

Mula-mula mereka bermain dengan taruhan minum arak, dan dalam hal ini, peruntungan mereka agaknya seimbang karena mereka yang menang menerima secawan arak hampir bergantian.

Karena kemasukan arak, mereka berdua menjadi makin gembira dan seringkali terdengar suara mereka tertawa bergelak.

Isteri guru silat itu hanya menonton dan kadang-kadang dia pun ikut tersenyum sehingga tampak deretan giginya yang putih dan kadang-kadang juga tampak ujung lidah kecil merah.

Beberapa kali dia bertemu pandang dengan Si Siucai, tadinya secara tidak sengaja, akan tetapi lambat laun terjadi permainan mata di antara keduanya, sungguhpun nyonya muda itu bersikap malu-malu dan hal ini baru pertama kali dia lakukan selama hidupnya.

Kesempatan memang merupakan penggoda yang amat kuat dan berbahaya.

Kalau tidak ada kesempatan seperti ini, agaknya sampai mati pun nyonya muda itu tidak ada pikiran untuk bermain mata dan bertukar senyum dengan seorang laki-laki muda!

Arak telah habis, kegembiraan mereka berdua memuncak sehingga akhirnya, atas persetujuan berdua, mereka melanjutkan permainan dadu dengan taruhan uang!

Kun Liong yang mengemudikan perahu hanya menonton dari jauh, dari ujung perahu dan dia pun terbawa oleh kegembiraan mereka berdua itu.

Akan tetapi setelah mereka berdua mempertaruhkan uang, dia mengerutkan alisnya dan diam-diam merasa tidak senang.

Wajah kedua orang itu kini sungguh-sungguh dan tegang, tidak segembira tadi, dan bagaimana kalau seorang di antara mereka kalah dan kehabisan uang?

Tentu tidak akan mampu membayar upah kepadanya!

Setelah kini permainan dadu disertai taruhan uang, agaknya bintang peruntungan siucai itu lebih terang dan dia lebih sering menarik uang guru silat itu sampai-sampai Si Guru Silat kehabisan uang dari saku bajunya dan mengambil bekal dari buntalan pakaian.

Sementara itu, sore telah mendatang dan sungai mulai sunyi karena perahu-perahu telah kembali ke pelabuhan masing-masing.

Hanya ada tampak beberapa buah perahu nelayan agak jauh.

Permainan dadu itu dilakukan dengan sederhana saja.

Biji dadu yang hanya sebuah, yang mempunyai enam permukaan, diisi tulisan yang berarti jumlah satu sampai enam.

Mereka mengocok biji dadu itu ke dalam mangkok, menutupi mangkok dengan telapak tangan, kemudian meletakkannya di atas lantai perahu dan membuka tangan yang menutup.

Siapa yang mendapatkan angka sebanyak ketika mangkok dibuka, dialah yang menang.

"Wah, sudah cukup, Ouw-siucai. Uangku telah habis sama sekali. Engkau benar-benar sedang mujur!"

Akhirnya guru silat itu berkata sambil menarik napas panjang.

Ouw Ciang Houw tersenyum lebar sambil melirik ke arah isteri guru silat itu yang kini tampak menunduk sambil mengerutkan alis.

Biarpun mulutnya tidak mengatakan sesuatu, tentu saja isteri ini marah sekali melihat betapa bekal uang mereka dihabiskan ludas oleh suaminya untuk berjudi!

"Ah, Gui-kauwsu.

Bermain dadu tidak hanya menggunakan uang saja sebagai taruhan.

Masih banyak yang kaumiliki."

"Hemm, aku sudah kehabisan uang, tidak mempunyai apa-apa lagi."

"Mari kita bertaruh satu kali lagi."

Siucai itu berkata sambil mengeluarkan semua uang kemenangannya yang ia taruh ke dalam kantung uang itu ke atas lantai perahu.

"Kalau menang, biarlah semua uangku ini untukmu."

"Ihhh! Mana mungkin aku bertaruh sebanyak itu, Ouw-siucai? Harap jangan engkau main-main!"

"Aku tidak main-main dan aku berjanji, kalau aku kalah satu kali ini, semua uang ini untukmu."

"Bagaimana kalau aku yang kalah?"

Guru silat itu bertanya.

"Aku akan mengambil satu di antara milikmu."

"Wah, engkau aneh sekali. Milikku hanya pakaian dan"

Dan pedang ini, biarpun pedang baik namun harganya tidak sebanyak itu."

"Pendeknya, engkau berani atau tidak Gui-kauwsu? Engkau sudah kalah banyak dan aku hanya memberi kesempatan kepadamu untuk mendapatkan kembali uangmu."

Merah wajah guru silat itu.

Biarlah, biar dia kehabisan semua barangnya, sudah kepalang tanggung.

Benar kata-kata siucai ini, dia sudah kalah terlalu banyak dan andaikata dia dalam pertaruhan terakhir ini sampai habis pakaian dan pedangnya, selisihnya tidak banyak dengan kekalahannya sekarang dan sampai di rumah tentu isterinya akan marah-marah.

Akan tetapi sebaliknya kalau dia menang, dia akan mendapatkan kembali semua uang kekalahannya!

Biarlah kalau kalah tidak kepalang, dan siapa tahu kalau menang!

"Baiklah!

Akan tetapi bukan aku yang mendesakmu, Ouw-siucai!"

Katanya sambil menyambar mangkuk dadu, memasukkan dadunya dan mengocok dengan keras.

"Plakk!"

Mangkuk itu dia letakkan di atas papan dengan tangan masih menutupi mulut mangkok.

"Diteruskankah pertaruhan terakhir ini, Ouw-siucai?"

Tanyanya lagi sebelum membuka tangannya. Ouw Ciang Houw tersenyum dan mengangguk.

"Tentu saja diteruskan."

"Dan ini merupakan permainan terakhir, kalau aku menang uang di kantung itu menjadi milikku dan""

"Dan kalau aku yang menang, aku boleh mengambil satu di antara milikmu."

"Baik! Nah, kubuka, Ouw-siucai!"

Tangan guru silat itu diangkat dan dadu di dalam mangkuk memperlihatkan angka lima!

"Ha-ha, engkau yang memaksaku, Ouw-siucai dan sekali ini agaknya engkau terpaksa harus mengembalikan semua uangku!"

Angka lima merupakan angka kedua terbesar, dan dalam permainan dadu, angka ini merupakan angka yang amat baik dan harapan besar untuk menang.

Satu-satunya lawan hanya angka terakhir, angka enam, sedangkan angka lima lawan hanya akan berarti sama kuat dan diulang.

Angka satu sampai angka empat dari lawan berati dia menang, dengan demikian, harapannya untuk menang dengan kemungkinan kalah adalah empat lawan satu!

Ouw-siucai masih tersenyum tenang dan ketika melirik ke arah wanita itu, Si Wanita kelihatan berseri wajahnya, tanda girang hatinya melihat suaminya mendapatkan angka lima.

Melihat ini, senyum Ouw-siucai melebar dan dengan tenang dia mengambil mangkuk, mengocok mangkuk itu sambil berkata.

"Memang angkamu itu baik sekali, Gui-kauwsu,"

Dan meletakkan mangkuk di atas papan sambil menutup mulut mangkuk dengan tangan "Akan tetapi, yang menentukan adalah peruntungan, dan siapa tahu, bintangku masih terang.

Lihat, kubuka, Gui-kauwsu!"

Siucai itu mengangkat tangannya dan Si Guru Silat mengeluh ketika melihat dadu itu memperlihatkan angka enam!

Dia kalah lagi!

Dengan lemas guru silat itu menjatuhkan diri duduk di atas papan melirik kepada isterinya yang menunduk dengan muka merah.

Dia menghela napas panjang lalu berkata.

"Ouw-siucai, ternyata engkau mujur sekali. Nah, ambillah barangku, kau boleh pilih."

"Ha-ha-ha-ha, benar-benar hari mujur bagiku, Gui-kauwsu, aku memilih milikmu yang ini, bukan kuambil, hanya kupinjam untuk semalam saja!"

Dengan berkata demikian, tangan Ouw-siucai memegang pundak isteri guru silat itu!

Mata guru silat itu terbelalak, mukanya menjadi pucat sekali, sedangkan wanita itu pun terkejut dan mukanya berubah merah padam.

Tak dapat disangkalnya bahwa diam-diam dan menjadi rahasia pribadinya, dia tertarik kepada siucai yang tampan ini, dan agaknya dia akan mengenang wajah tampan itu dalam alam mimpi, menyambut senyum dan pandang mata itu sebagai cumbuan di alam mimpi.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa siucai itu akan secara terang-terangan dan kurang ajar sekali minta dia sebagai taruhan untuk dipinjam semalam!

"Apa"??

Srattt!"

Guru silat itu telah mencabut pedangnya.

Tangannya bergemetar ketika ia memalangkan pedang di depan dada.

"Hemmm"

Kau"

Kau"!

Jahanam keparat!

Manusia rendah!

Kalau tidak ingat engkau seorang kutu buku yang lemah, sudah kupenggal kepalamu!

Hayo cepat engkau berlutut minta ampun kepada isteriku, kemudian meloncat keluar dari perahu!"

Kun Liong merasa tegang sekali.

Tidak disangkanya urusan menjadi begini dan dia pun merasa marah kepada siucai yang kurang ajar itu.

Akan tetapi di samping kemarahannya, dia pun heran sekali dan mulai curiga melihat betapa siucai itu sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman itu.

Bahkan dia tersenyum, lalu benar-benar dia telah berlutut di depan wanita yang masih duduk itu akan tetapi bukan untuk minta ampun, melainkan tangannya memeluk dan dia terus menciumi!

Wanita itu terpekik dan berusaha melepaskan diri.

"Hemm, manis... jangan berpura-pura""

Bisik siucai itu.

"Jahanam!"

Gui Tiong menggerakkan pedangnya menusuk ke arah punggung siucai itu.

Gerakannya cukup cepat dan mengandung tenaga dan agaknya menurut penglihatan Kun Liong, tentu punggung siucai itu akan tertembus pedang.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tanpa menoleh, masih merangkul leher dan dengan paksa menciumi pipi dan bibir wanita itu, Si Siucai menggunakan sebelah tangan ke belakang, memukul pedang itu dengan telapak tangan dimiringkan dan"

Pedang itu terlempar, terlepas dari tangan Gui-kauwsu dan lenyap ke dalam air sungai!

Guru silat itu terkejut bukan main, akan tetapi hal ini menambah kemarahannya.

Kini dia menggunakan kepalan tangan menghantam ke arah kepala Ouw-siucai.

Tiba-tiba siucai itu melompat bangun, membalikkan tubuh dan dia mendahului dengan sodokan jari-jari tangannya ke arah pusar Gui-kauwsu.

"Hukkk"!!"

Tubuh kauwsu itu terjengkang dan dia terengah-engah, sukar bernapas dan dalam keadaan setengah pingsan!

"Kau berani menyerangku, ya?

Dasar sudah bosan hidup!"

Siucai itu menyambar tali layar perahu dan menggunakan ujung tali mengikat leher guru silat itu dan menggantung tubuhnya ke atas!

Guru silat itu siuman dan meronta, akan tetapi dua kali siucai menotok pundak membuat kedua lengan guru silat itu kaku dan tak dapat bergerak dan tentu saja tali yang mengikat lehernya menjadi makin mencekik erat karena berat tubuhnya.

Sebentar saja, mata orang yang digantung ini mendelik dan lidahnya keluar!

"Aughhh...

jangan bunuh...

jangan bunuh dia...

lepaskan suamiku...!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali dia, bukan? Seperti penakut burung di tengah sawah!"

Si Siucai tertawa dan suara ketawanya seperti suara ketawa orang yang miring otaknya.

"Aihhh... ampunkan suamiku"

Jangan bunuh dia"!"

Wanita itu meloncat dan hendak lari menghampiri bambu tiang layar, untuk menolong suaminya.

Akan tetapi siucai itu mendorongnya sehingga dia jatuh telentang di atas papan.

"Jangan bunuh dia...! Tolonggg...! Ahhh... engkau menginginkan aku, bukan? Nah, ambillah..."

Seperti orang gila wanita menanggalkan pakaiannya dengan cepat namun dengan jari-jari tangan gemetar.

"Kau boleh memiliki tubuhku, akan tetapi... bebaskan dia... jangan bunuh suamiku... uhu-hu-huuk...!"

Wanita itu menjadi lemas dan menangis, tubuhnya setengah telanjang, rebah di atas papan.

"Ha-ha-ha, bagus! Engkau bertanggung jawab kalau begitu! Ha-ha-ha! Orang laknat! Engkau telah berani menyerangku, untuk itu sebetulnya kau harus mampus. Akan tetapi, isterimu cantik manis, dan biarlah engkau menyaksikan betapa isterimu melayaniku, ha-ha-ha!"

Siucai gila itu lalu meloncat dan sekali renggut putuslah tali yang menggantung Gui-kauwsu.

Tubuh guru silat itu jatuh ke atas lantai perahu.

Ketika ikatan lehernya dilepas, lehernya tampak ada guratan merah membiru, akan tetapi dia dapat bernapas lagi, terengah-engah dan kedua lengannya masih kaku tak dapat bergerak, tertotok.

Dengan mata terbelalak, dalam keadaan setengah sadar, Gui-kauwsu melihat betapa siucai itu menubruk isterinya di atas papan perahu.

Ia melihat isteriya menggeliat dan mengeluh menangis perlahan seperti merintih.

"Manusia jahat yang gila! Lepaskan dia...!!"

Kun Liong tak dapat menahan diri melihat perbuatan siucai itu dan dia sudah menubruk ke depan sambil menghantamkan tangannya ke arah kepala siucai itu.

"Desss...! Aduhhh...!!"

Siucai itu yang tadinya tanpa menoleh menangkis pukulan Kun Liong, terkejut bukan main karena tangkisannya itu mengenai lengan yang mengandung kekuatan dahsyat dan yang mendatangkan nyeri bukan main pada lengannya, sampai terasa ke dalam dadanya.

Hampir dia tidak percaya akan keanehan ini dan dia sudah melompat bangun, menghadapi Kun Liong.

"Eh, engkau bocah gundul, berani engkau menyerangku?"

"Manusia hina! Aku mempertaruhkan nyawa untuk membasmi manusia macam engkau yang jahat dan gila ini!"

Kun Liong berteriak lalu menyerang dengan kenekatan bulat.

Melihat gerakan Kun Liong, tahulah siucai itu bahwa anak gundul ini memang pandai ilmu silat, akan tetapi karena masih kanak-kanak, tentu saja dia memandang rendah gerakan Kun Liong.

Hanya dia tahu bahwa secara luar biasa sekali, bocah ini telah memiliki tenaga sin-kang yang mujijat, maka dia tidak berani menangkis, melainkan miringkan tubuhnya dan secepat kilat dia memukul dari samping.

"Desss!!"

Lambung Kun Liong terpukul dan tubuhnya terlempar keluar dari perahu.

"Byuuurrr!!"

Air muncrat tinggi dan tubuhnya tenggelam, lenyap dari permukaan air.

Siucai itu tertawa bergelak, sejenak memandang ke permukaan air.

Setelah yakin bocah gundul itu tidak muncul lagi, Ouw Ciang Houw Si Siucai gila yang lihai itu sambil terkekeh-kekeh kembali kepada isteri guru silat yang masih menangis lirih.

Kebiadaban yang terjadi di perahu itu dilihat dan didengar oleh Gui Tiong, dan karena tubuhnya masih kaku tertotok, dia hanya dapat memejamkan mata, Dan hanya pendengaran telinganya saja yang menyiksa hatinya karena dia diharuskan mendengar rintihan isterinya.

Senja mendatang, cuaca menjadi gelap seolah-olah hendak menyelubungi peristiwa terkutuk itu agar tidak tampak oleh orang lain.

Kun Liong yang terlempar ke dalam air, cepat dapat menguasai dirinya.

Dia berenang ke arah perahu, lalu berpegang pada dasar perahu di mana dia menyembunyikan bokor emas.

Sebelum perahunya memasuki Huang-ho, dia sudah menyembunyikan bokor itu pada bawah perahu sehingga tidak tampak dari luar.

Karena dia maklum bahwa bokor itu akan mendatangkan banyak malapetaka kalau terlihat orang, maka dia melakukan hal itu dan sekarang dia dapat berpegang pada tali pengikat bokor itu, tubuhnya tenggelam akan tetapi kepalanya timbul di atas permukaan air, di bawah tubuh perahu.

Napasnya agak sesak dan dadanya terasa nyeri sekali oleh pukulan tadi.

Kalau tidak ada tali untuk berpegang, tentu dia akan tewas dan tenggelam karena dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk naik ke perahu, apalagi berenang ke tepi sungai yang masih jauh dari situ.

Dari bawah perahu, dia tidak tahu apa yang terjadi di atas perahu dan untung bahwa dia terluka sehingga tidak dapat naik ke perahu, karena kalau hal ini terjadi dan dia menyaksikan apa yang terjadi di perahu, tentu dia akan mempertaruhkan nyawanya dan tentu dia akan tewas di tangan Ouw-siucai yang gila namun amat lihai itu.

Setelah malam tiba, perahu bergerak ke pinggir, di bawah perahu berombak tanda banyak ada yang mengemudikan perahu.

Setelah dekat dengan tepi, perahu bergoyang dan terdengar suara dari tepi sungai.

"Engkau hebat dan manis sekali, sayang! Selamat tinggal. Eh, terima kasih, Gui-kauwsu ha-ha-ha!"

Tahulah Kun Liong bahwa siucai gila itu tadi meloncat ke darat dan telah pergi, jadi di atas perahu tinggal guru silat Gui dan isterinya.

Kun Liong mengerahkan tenaganya, dengan susah payah berusaha naik ke perahu.

Jari-jari tangannya berhasil menjangkau pinggiran perahu dan perlahan-lahan, payah sekali, Dia menarik tubuhnya ke atas dan akhirnya dengan napas hampir putus dia berhasil naik ke perahu, tiba di ujung perahu dekat kemudi.

Bulan purnama bersinar terang sehingga dia dapat melihat permukaan perahu itu dengan jelas.

Isteri guru silat itu dengan pakaian awut-awutan, hanya dipakai untuk menutupi tubuh belaka, kelihatan berlutut dan menangis dekat tubuh suaminya, memeluk tubuh itu dan menangis tanpa dapat mengeluarkan kata-kata yang bisa dimengerti.

Agaknya sudah tiba saatnya Gui-kauwsu terbebas dari totokan.

Jalan darahnya dapat mengalir kemball pulih seperti biasa dan sambil mengeluh dia bangkit duduk.

Dipandangnya sejenak isterinya yang berlutut dan menangis itu.

Ketika tampak olehnya tubuh isterinya setengah telanjang, teringatlah dia dan tiba-tiba dia mendorong tubuh isterinya sehingga terjengkang dan pakaian isterinya terbuka lagi.

"Tidak perlu lagi kau pura-pura menangis! Apa pula yang ditangisi?"

Bentak Gui-kauwsu. Wanita itu merangkak bangun, terbelalak dan terisak.

"Mengapa... mengapa"

Kau marah-marah kepadaku? Mengapa"

Kau marah kepadaku? Apa salahku...??"

Dia menangis tersedu-sedu.

"Huh! Palsu! Air mata palsu! Perempuan rendah tak tahu malu! Kau menikmatinya, ya? Kalau engkau lebih suka tidur dengan bajingan itu, kenapa kau tadi tidak ikut saja dengan dia?"

Wanita itu menjerit.

"Apaaa...?!! Kau... kau"

Kau tega berkata demikian? Suamiku, aku"

Aku terpaksa melakukannya untuk menolong nyawamu!"

Wanita itu kini menghentikan tangisnya dan memandang suaminya penuh rasa penasaran.

"Hemm, alasan kosong! Memang kau sudah tergila-gila kepadanya! Kaukira aku tuli? Kaukira aku tak tahu betapa engkau menikmatinya? Betapa engkau merasa puas dengan dia? Perempuan rendah pelacur dan hina...!!"

"Suamiku...!!"

Wanita itu menubruk dan merangkul suaminya, akan tetapi kembali suaminya mendorong, bahkan menampar pipi isterinya dengen keras.

"Plakkk!! Jangan dekat aku! Jangan sentuh aku dengan tubuhmu yang ternoda, yang kotor dan hina! Kau pergi sana ikut dengan siucai gila yang menjadi kekasihmu itu!!"

Wanita itu bangkit perlahan, tampak perubahan dalam sikapnya dan pandang matanya.

Dia bangkit berdiri, tidak mempedulikan pakaiannya yang lebih banyak terbuka daripada tertutup itu, kemudian terdengar suaranya, masih bercampur isak tetapi bernada dingin.

"Cihhh! Laki-laki tak tahu diri! Baik, dengarkan sekarang, buka telingamu lebar-lebar seperti tadi, buka matamu lebar-lebar seperti ketika engkau menonton tadi! Aku menikmatinya, memang! Nah, habislah! Aku lebih puas dengan dia daripada dengan engkau! Sudah cukupkah? Masih kurang puas? Aku lebih suka ikut dengan dia kalau saja dia mau, daripada ikut dengan engkau manusia tak tahu diri, tak kenal budi. Cihhh! Aku muak melihatmu, dan aku tidak sudi lagi berdekatan denganmu!"

Tiba-tiba wanita itu meloncat keluar dari perahu.

"Byuuurrr...!"

Air muncrat tinggi dan dengan mata terbelalak Kun Liong melihat betapa tubuh itu disambar air yang mengalir agak kuat di tempat itu, lalu tenggelam.

Tubuhnya terlalu lelah, dadanya sesak dan sakit-sakit sehingga dia merasa tidak kuasa menolong wanita itu.

Dia mengharapkan Si Suami akan menolong isterinya maka dia menoleh kepada laki-laki yang berdiri bengong di pinggir perahu.

"Isteriku"! Di mana engkau"? Apa yang telah kau lakukan ini? Isteriku, maafkanlah aku"

Aku berdosa padamu, aku... aku cinta padamu...! Jangan tinggalkan aku"!"

Dan Gui-kauwsu itu pun moloncat keluar dari perahu.

"Byuuur"!"

Untuk kedua kalinya air sungai muncrat ke atas dan dengan mata terbelalak lebar Kun Liong melihat betapa guru silat itu gelagapan dan tenggelam.

Ternyata guru silat itu, seperti juga isterinya, sama sekali tidak pandai renang!

Lupa akan keadaan dirinya sendiri, Kun Liong meloncat keluar dari perahu.

Akan tetapi dia pun gelagapan karena arus air amat deras, dan tenaganya amat lemah.

Pula, ketika dia mencari-cari dengan matanya, dia tidak dapat melihat lagi tubuh kedua orang itu.

Terpaksa dia berenang kembali ke perahunya dan dengan amat susah payah, akhirnya dapat juga dia naik ke perahunya.

Dia masih menggunakan sisa tenaganya untuk mendayung perahu, mencari-cari tubuh suami isteri itu, akan tetapi sama sekali tidak tampak.

Dalam keadaan setengah pingsan karena peristiwa hebat itu dan karena kehabisan tenaga ditambah luka oleh pukulan di lambungnya tadi, Kun Liong rebah di perahu, membiarkan perahu hanyut perlahan-lahan, akhimya dia tidak bergerak-gerak lagi, setengah tidur setengah pingsan!

Anak ini mengalami ketegangan hati hebat ketika menyaksikan peristiwa di perahu tadi.

Dia benar-benar tidak mengerti akan sikap orang-orang dewasa itu.

Mengapa siucai itu melakukan perbuatan yang begitu hina?

Dan mengapa isteri guru silat itu membiarkan dirinya diperkosa, bahkan menawarkan dirinya!

Benarkah untuk menyelamatkan suaminya?

Dan yang paling aneh baginya yang membuat dia bingung sekali, adalah sikap Gui-kauwsu sendiri.

Tadi Gui-kauwsu membela isterinya mati-matian terhadap penghinaan Ouw-siucai, kemudian melihat isterinya diperkosa siucai itu, timbul kebenciannya sehingga dia menampar dan mengusir, memaki dan menghina isterinya.

Setelah isterinya nekat membunuh diri dengan terjun ke sungai, dia yang tidak pandai berenang nekat pula terjun dan mengaku cinta!

Mengapa orang-orang dewasa itu bersikap seperti itu?

Dan isteri kauwsu itu benarkah lebih suka kepada Si Siucai?

Ataukah hanya untuk membalas perlakuan suaminya?

Apakah isteri itu pun mencinta suaminya?

Dia benar-benar tidak mengerti dan dalam tidur setengah pingsan itu, wajah suami isteri dan siucai itu ganti berganti menganggunya, menjadi muka yang amat besar, tanpa tubuh, menakutkan sekali.

Cinta terlalu halus untuk dapat dimengerti pikiran manusia yang kasar, terlalu tinggi untuk dicapai pikiran yang rendah dan terlalu dalam untuk dijajaki pikiran yang dangkal.

Pikiran yang berputar sekitar sayang diri, demi aku, untuk aku, tak mungkin dapat mengerti cinta yang bersih daripada kepentingan diri tanpa pamrih itu.

Gui-kauwsu ingin menguasai isterinya lahir batin, memonopoli isterinya lahir batin dan menganggap hal ini sebagai perasaan cintanya terhadap isterinya.

Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin ini tentu saja menimbulkan iri jika melihat isterinya menoleh kepada orang lain dan menimbulkan cemburu, bahkan menimbulkan benci!

Adakah iri itu cinta?

Adakah cemburu itu cinta?

Adakah benci itu cinta?

Adakah cinta mendatangkan derita?

Hanya pengejaran dan pemuasan nafsulah yang akan mendatangkan derita.

Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin terhadap sesuatu, benda maupun manusia, berarti mengundang datangnya derita sengsara, pertentangan dan penyesalan.

Memang, berhasil menguasai dan memiliki sesuatu atau seseorang, dapat mendatangkan rasa puas, Akan tetapi kepuasan nafsu keinginan ini hanya seperti angin lalu karena keinginan itu selalu didorong oleh pengejaran akan sesuatu yang lebih indah.

Kalau sudah didapat, tentu akan lepas dari pengejaran dan perhatian, karena keinginan sudah mencari lagi ke depan untuk mendapatkan yang lebih indah lagi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari telah naik tinggi, Kun Liong bangun dari tidurnya.

Dadanya masih terasa sakit sedikit, akan tetapi tenaganya sudah agak pulih.

Melihat betapa perahunya berhenti, dia cepat melihat ke depan dan ternyata dia telah tiba di daerah yang berbatu-batu.

Sungai menjadi lebar sekali, akan tetapi batu-batu itu menonjol ke permukaan air.

Perahunya tertahan oleh sebaris batu dan untung saja terdampar di situ, tidak terbentur keras dan pecah.

Ketika dia berdiri di pinggir perahu, tiba-tiba dia membelalakkan mata melihat sesuatu tersangkut pada batu tak jauh dari situ.

Tadinya dia mengira seekor ikan besar yang mati, akan tetapi setelah matanya terbiasa, dia hampir berteriak saking kagetnya.

Yang dilihatnya itu adalah mayat isteri Gui-kauwsu!

Hanya sebagian muka, rambutnya, dan perutnya yang tampak, perut yang mengembung besar sehingga kelihatan seperti perut ikan, putih bersih.

Mayat yang telanjang bulat!

Kun Liong mengejap-ngejapkan matanya, ingin mengusir penglihatan itu.

Ketika dia memandang ke kanan kiri, hampir dia terpekik lagi melihat sesosok mayat lain, juga terdampar dan tersangkut batu.

Mayat Gui-kauwsu sendiri, mukanya tidak tampak akan tetapi dia dapat mengenal celana hitam baju putih dan sarung pedang di punggung mayat yang tertelungkup itu!

Kun Liong menghela napas panjang penuh kengerian.

Sudah dia duga bahwa tentu suami isteri itu akan tewas melihat betapa mereka tidak pandai renang dan arus sungai yang dalam itu amat derasnya.

Perahunya tersangkut dan agaknya bocor.

Seorang diri saja tak mungkin dia dapat mengambil dua jenazah itu untuk dikuburkan ke darat.

Dia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan harus meninggalkan perahu yang tersangkut dan terjepit ini.

Dia teringat akan bokor di bawah perahu.

Sayang kalau dibiarkan begitu saja.

Bokor itu amat penting dan menjadi rebutan orang-orang di dunia kang-ouw.

Kalau kelak dia bawa pulang dan dia serahkan ayahnya, siapa tahu bokor itu akan agak meredakan kemarahan ayahnya.

Dengan hati-hati dia lalu turun ke air, mengumpulkan napas, menyelam dan meraba-raba.

Bokor itu masih ada, terikat di bawah perahu.

Dilepaskannya ikatan itu dan dibawanya bokor meninggalkan perahu, berenang dari batu ke batu, sampai akhimya dia tiba di darat yang berbatu-batu.

Pandang matanya tertarik kepada sebuah batu besar di tepi sungai dan tak terasa dia meraba kepalanya.

Batu itu besar dan halus, bentuknya seperti kepalanya!

Dihampirinya batu itu dan diraba-rabanya.

Benar-benar batu yang halus dan besar sekali, dikelilingi batu-batu yang tidak sebesar batu kepala itu.

Ketika dia meraba-raba ini, dia menemukan sebuah lubang terhimpit di antara batu-batu dan segera dia memasuki bokor ke dalam lubang ini.

Lubang itu dalam sekali dan begitu bokor dimasukkan, benda itu meluncur dan hilang!

Sama sekali tidak tampak dari luar dan betapapun Kun Liong merogoh ke dalam lubang, jari tangannya tidak dapat mencapainya.

Hatinya menjadi girang.

Benda itu tersimpan dengan aman dan hanya kalau batu berbentuk kepalanya itu didorong roboh, bokor itu dapat ditemukan.

Akan tetapi siapakah orangnya yang akan mendorong batu besar itu?

Pula, siapakah yang akan kuat mendorong batu sebesar itu?

Agaknya akan membutuhkan tenaga sedikitnya belasan orang kuat!

Hatinya menjadi ringan.

Benda itulah yang selama ini membuat hatinya berat dan setelah benda itu disimpan di tempat aman, dia dapat melanjutkan perjalanannya tanpa khawatir terlibat dalam perebutan bokor emas.

Sejenak dia memandang ke sekeliling sampai dia yakin benar kelak akan dapat mengenali tempat ini.

Mudah mengenalinya.

Bentuk pegunungan di utara itu, pemandangan di seberang yang penuh pohon-pohon raksasa, sungai yang penuh batu batu menonjol dan belokan sungai di depan itu.

Apalagi dengan adanya batu yang berbentuk kepala gundulnya ini, dia tidak akan dapat melupakan tempat ini, dan dia pasti kelak akan mengingat tempat persembunyian bokor emas!

Mulailah Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke timur, menyusuri sepanjang pantai sungai.

Di dalam kantungnya masih terdapat sisa-sisa uang upah perahu.

Sayang bahwa tiga orang penumpangnya itu tidak membayarnya sepeser pun, bahkan yang dua orang sudah mati dan yang seorang lagi?

Teringat akan siucai gila itu, meremang bulu tengkuknya.

Sungguh banyak berkeliaran orang berilmu tinggi dunia ini, Namun mengapa setiap orang berilmu tinggi yang dijumpainya demikian jahat dan kejam?

Pertama-tama Loan Khi Tosu, tosu Pek-lian-kauw yang membunuh orang tanpa berkedip mata.

Kemudlan Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dengan puteranya, Ouwyang Bouw yang mengerikan dan yang ilmunya jauh lebih tinggi daripada tosu Pek-lian-kauw itu.

Setelah itu Si Siucai gila yang menyeramkan!

Dia harus berhati-hati.

Ternyata perantauannya membawanya kepada bahaya yang beberapa kali nyaris merenggut nyawanya.

Kun Liong tersenyum seorang diri.

Betapa ibunya akan terbelalak dan ayahnya akan menggeleng-geleng kepala kalau melihat dia seperti sekarang ini.

Dia dapat membayangkan keheranan hati ayah bundanya itu.

Kun Liong tertawa dan meraba kepalanya.

Dapatkah ibunya menyembuhkan kepalanya sehingga dapat tumbuh rambut kembali?

Aha!

Tentu ayah dan ibunya akan mengira dia sudah menjadi hwesio!

Kenangan akan ayah bundanya dan akan lucunya kalau mereka melihat dia membuat Kun Liong merasa gembira dan dia berloncatan di atas batu-batu besar yang berserakan di tepi sungai.

Tiba-tiba dia menyelinap dan bertiarap, bersembunyi di balik batu-batu besar ketika dia melihat tiga orang laki-laki muncul dari balik pohon-pohon di tepi sungai.

Yang seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya licin tidak berambut dan sebatang pedang tergantung di punggungnya.

Orang ke dua brewok dan kelihatan galak sekali, pakaiannya kasar seperti orang pertama, bahkan tidak berlengan, dan di pinggangnya tergantung ruyung berduri yang menyeramkan.

Orang ke tiga masih muda, juga bajunya tidak berlengan dan punggungnya tergantung sebuah golok.

"Benarkah dia lewat di sini?"

Tanya Si Brewok kepada yang termuda.

"Benar, aku sudah mengikutinya sejak kemarin. Dia tertukar keledai dan membawa buntalan yang berat."

Kata yang muda.

"Seorang tosu mempunyai apa sih?"

Tanya Si Tinggi Besar.

"Aihhh, lupakan dulu urusan merampok!"

Si Brewok menegur.

"Kita sedang menanti datangnya utusan yang akan membawa uang tebusan."

"Masa seorang tosu?"

"Mungkin saja! Kalau bukan utusan, masa seorang tosu menunggang keledai siang malam, bertukar keledai, menginap di hotel, dan membawa bungkusan besar?"

Kata yang muda.

"Nah, itu dia...!"

Sambungnya sambil menuding ketika dia menoleh ke belakang.

Tiga orang itu dengan gerakan cepat sekali berlompatan sudah menyelinap dan sembunyi di belakang pohon-pohon.

Kun Liong juga mengintai dari balik batu-batu dan melihat seorang kakek tua menunggang seekor keledai perlahan-lahan menuju ke tempat itu.

Di depan kakek itu, di punggung keledai, tampak buntalan besar dan berat, sedangkan di punggung kakek itu pun tergendong sebuah buntalan kain.

Jantung Kun Liong berdebar penuh ketegangan.

Dia merasa kasihan kepada kakek itu, yang pakaiannya longgar seperti pakaian seorang tosu.

Ingin dia berteriak memperingatkan, akan tetapi tiga orang tadi berada di antara dia dan tosu itu.

Untuk lari menyambut juga tidak mungkin, tentu didahului mereka.

Akan tetapi kakek yang dikhawatirkan itu mulai bemyanyi dengan suara lantang!

"Mengerti akan orang lain adalah bijaksana (Lanjut ke

Jilid 07) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 mengerti akan diri sendiri adalah waspada mengalahkan orang lain adalah kuat mengalahkan diri sendiri lebih gagah perkasa!

Kata-kata yang benar tidaklah manis kata-kata yang manis belum tentu benar yang baik tidak akan berbantah yang berbantah belum tentu baik!"

Kun Liong mengenal sajak yang dinyanyikan itu.

Yang pertama adalah ayat ke tiga puluh tiga dan yang ke dua ayat ke delapan puluh satu dari kitab To-tik-keng, diambil bagian depannya saja.

Pada saat itu, tosu tua ini sudah tiba dekat dan tiba-tiba muncullah tiga orang tadi!

Mereka langsung mengurung dan Si Brewok sudah mendekat dan memegang tali di hidung keledai.

"Siancai", Sam-wi-sicu (Tiga Orang Gagah) siapakah dan mengapa menghentikan pinto (saya)?"

Tosu itu bertanya setelah mengangkat sepasang alisnya tanda keheranan dan kekagetan.

"Tak perlu banyak cakap lagi, turunlah dan ikut dengan kami!"

Si Brewok membentak.

"Siancai...! Pinto adalah seorang tua yang tidak mempunyai urusan apa-apa, yang hidup dengan tenang dan damai, tak pernah berbuat kesalahan kepada siapapun juga, apalagi kepada Sam-wi yang tidak pinto kenal..."

"Ha-ha-ha, kakek ini selain pandai menyanyi juga pandai berceloteh!"

Si Tinggi Besar berkata sambil tertawa-tawa.

"Aihhhh..."

Tosu itu menggeleng kepala.

"Yang dicari belum ketemu, sekarang timbul kesulitan baru lagi!"

Mendengar ini, Si Brewok girang dan cepat berkata.

"Totiang tentu akan dapat bertemu dengan yang dicari asal membawa tebusan cukup. Dan marilah ikut dengan kami."

"Apa? Pinto tidak mengerti..."

Si Brewok agaknya kehilangan kesabarannya.

Dipegangnya lengan kanan kakek itu dan ditariknya, hendak dipaksa turun.

"Eh-eh-eh, mengapa ditarik-tarik? Engkau sungguh tidak menghormati orang yang sudah tua!"

Kemarahan dan rasa penasaran di dalam hati Kun Liong tak dapat ditahan lagi dan dia sudah meloncat keluar dari balik batu, lari menghampiri dan berkata marah kepada tiga orang yang memandang kepadanya dengan terheran-heran itu.

"Sam-wi bertiga kelihatannya adalah orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi! Akan tetapi siapa kira, ternyata sekarang Sam-wi mengganggu seorang kakek yang lemah dan tidak bersalah apa-apa. Apakah Sam-wi (Tuan Bertiga) tidak merasa malu?"

"Bocah gundul, kau muncul seperti setan. Siapa engkau?"

Bentak Si Brewok heran.

"Dia tentu mata-mata yang sejak tadi bersembunyi!"

Kata temannya yang muda.

"Ah, siapa lagi kalau bukan kaki tangan kakek ini?"

Kata yang tinggi besar.

"Tangkap saja mereka berdua!"

Si Brewok membentak.

"Hayo kalian ikut bersama kami! Ataukah kami harus rnenggunakan senjata?"

Dia sudah melepas ruyungnya dan mengancam kepada kakek itu.

Juga Si Tinggi Besar telah melolos pedangnya ditodongkan ke dada Kun Liong, sedangkan orang yang termuda memegang kendali keledai dan menuntunnya.

Kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan memandang Kun Liong sambil tersenyum.

"Anak yang baik, mari kita ikut saja agar dapat melihat bagaimana kesudahan urusan aneh ini. Naiklah ke sini, anak baik, di belakangku."

Kun Liong menggeleng kepala.

"Keledai itu sudah terlalu tersiksa oleh muatan yang berat, aku berjalan kaki saja, Totiang."

"Hayo jalan, jangan banyak mengobrol"

Si Tinggi Besar mendorong pundak Kun Liong dan pedangnya tetap ditodongkan di lambung anak itu.

Hal ini membuat Kun Liong mendongkol sekali dan dia mendorong pedang itu ke samping sambil berkata.

"Aku tidak bersalah apa-apa. Aku mau ikut sudah baik. Perlu apa ditodong-todong?"

Pedang itu terdorong miring dan Si Tinggi Besar kelihatan terkejut dan marah, sudah membuat gerakan hendak menyerang.

Akan tetapi Si Brewok membentak dan melarangnya.

Bergeraklah rombongan aneh ini menuju ke sebuah bukit yang tampak dari situ.

Kakek itu tertawa dan melorot turun dari atas punggung keledai, berjalan dekat Kun Liong.

"Anak baik, engkau membuat pinto malu. Memang keledai itu sudah cukup menderita. Biarlah pinto jalan kaki saja."

Kun Liong hanya tersenyum dan melangkah perlahan dengan kepala menunduk.

Sungguh sial, pikirnya.

Di mana-mana bertemu dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan dan kekuasaan menekan orang lain!

Di mana-mana dia bertemu dengan halangan, dan karena membela kakek tua yang lemah ini, dia ikut pula menjadi tawanan.

Entah golongan apa tiga orang yang menangkap dia dan kakek itu, dan entah urusan apa yang membuat kakek itu ditangkap.

Dia selalu terlibat dengan urusan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia sendiri.

Apakah selama ini dia terlalu lancang dan usil?

Apakah selanjutnya dia harus diam saja melihat segala sesuatu yang terjadi pada lain orang dan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya?

Ah, tak mungkin.

Mana bisa dia diam saja menyaksikan hal yang menimbulkan rasa penasaran?

Melihat seorang kakek tua renta yang lemah ini diganggu tiga orang yang kelihatan gagah itu, bagaimana dia harus diam saja di tempat persembunyiannya!

"Tidak mungkin!"

Kun Liong lupa diri dan kata-kata ini terlompat keluar dari mulutnya.

"Apa yang tidak mungkin?"

Si Tinggi Besar membentak.

Orang termuda itu berjalan di depan menuntun kendali keledai, Kun Liong di sebelah kakek itu berjalan di tengah dan Si Brewok bersama Si Tinggi Besar paling belakang.

Ternyata perjalanan itu cukup jauh, keluar masuk hutan dan mendaki bukit yang bentuknya seperti sebuah mangkuk menelungkup.

Ada tiga jam mereka berjalan dan akhimya, ketika mendaki sampai di lereng dan membelok melalui sebuah tebing, tampaklah tembok-tembok bangunan di dekat puncak.

Bangunan-bangunan itu dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan di luar pagar tembok sudah tampak para penjaga dengan pakaian seragam kuning, bukan seragam tentara melainkan seragam perkumpulan silat.

Setelah rombongan ini tiba dekat pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong bahwa para penjaga itu merupakan pasukan-pasukan panah, tombak, dan golok.

Mereka berlari berjajar dengan rapi dan hanya mata mereka yang bergerak memandang penuh perhatian ke arah kakek dan Kun Liong, tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, tetap berdiri dalam keadaan siaga!

Ketika dua orang tawanan ini dibawa masuk melalui pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong pasukan-pasukan lain berderet-deret.

Ada pasukan ruyung, pasukan pedang, dan kesemuanya berbaris rapi.

Kini dia dapat menduga bahwa tiga orang yang menangkapnya itu tentulah merupakan tokoh-tokoh dari pasukan ruyung, yaitu Si Brewok, Si Tinggi Besar tentu dari pasukan pedang, dan yang termuda itu dari pasukan golok.

Kakek itu melangkah sambil menoleh ke kanan kiri, agaknya terheran-heran, dan akhirnya dia berkata perlahan.

"Siancai"

Tempat apakah ini?

Seperti benteng dan dijaga pasukan-pasukan.

Apakah pinto menjadi tangkapan pasukan asing?"

"Jangan bicara ngawur, Totiang!"

Si Brewok membentak.

"Engkau menjadi tamu dari Ui-hong-pang!"

"Heh? Ui-hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Kuning)? Apa itu?"

Kakek itu membuka matanya lebar-lebar, juga Kun Liong tidak mengenal nama perkumpulan ini.

Akan tetapi dia makin curiga dan khawatir.

Kalau dia dan kakek lemah itu terancam bahaya di tempat yang terjaga kuat ini, harapan untuk lolos sungguh tidak ada sama sekali!

"Kita ini mau diapakan, Totiang?"

Kun Liong berbisik, akan tetapi suaranya sama sekali tidak mengandung ketakutan, hanya keheranan.

Kakek itu menunduk dan memandang, kemudian bertanya.

"Engkau takut, Nak?"

Kun Liong menggeleng kepala kuat-kuat dan menjawab.

"Aku tidak bersalah apa-apa terhadap siapa juga, mengapa takut?"

Diam sejenak dan mereka melangkah terus memasuki sebuah bangunan yang terbesar.

"Kau"

Dari kuil mana?"

Tiba-tiba tosu tua itu bertanya.

Kun Liong mengerutkan alisnya dan memandang kakek itu dengan hati penasaran.

Dengan suara yang agak dingin dia menjawab.

"Aku bukan seorang hwesio!"

"Sssstt, tidak boleh bicara lagi. Kita menghadap Pangcu!"

Bentak Si Brewok ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang luas di tengah bangunan itu.

Juga di dalam bangunan itu terjaga oleh pasukan pengawal seragam.

Setiap lorong dan pintu terjaga kuat dan setelah mereka menghampiri seorang laki-laki gagah yang duduk di atas sebuah kursi kuning, di situ terdapat beberapa orang yang tidak seragam pakaiannya, dan agaknya mereka ini adalah pembantu-pembantu dan pengawal-pengawal pribadi Si Ketua Perkumpulan itu.

Kun Liong memandang ke arah ketua penuh perhatian.

Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, berwajah gagah, usianya tiga puluh tahun lebih dan pakaiannya serba kuning akan tetapi warna kuningnya lebih tua daripada warna kuning seragam anak buah pasukannya.

Berbeda dengan sikap tiga orang anak buahnya yang menangkap kakek dan Kun Liong, ketua ini tersenyum ramah ketika menerima mereka.

"Duduklah, Totiang, dan engkau juga, saudara kecil!"

Katanya dengan suara lantang sambil menuding ke arah beberapa buah kursi kosong di depannya.

"Terima kasih,"

Kakek itu menjura dan duduk, sedangkan Kun Liong tanpa berkata apa-apa juga mengambil tempat duduk di dekat kakek itu.

"Siapakah nama Totiang?"

Ketua itu kembali bertanya dengan suara ramah.

"Eh, nama pinto...? Pinto tidak bernama, hanya disebut orang Bu Beng Tosu,"

Jawab kakek itu.

"Sungguh tidak kami sangka mereka akan mengirim seorang tosu untuk menjadi utusan menyambut anak itu. Apakah Totiang sudah membawa tebusannya?"

"Menyambut anak? Utusan? Tebusan? Apakah artinya ini? Sungguh pinto tidak mengerti."

"Agaknya Cuwi telah salah menangkap orang!"

Kun Liong berkata, suaranya nyaring dan dia memandang ketua itu dengan sinar mata penuh ketabahan.

Ketua itu mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Si Brewok, membentak.

"Apa artinya ini? Siapa kakek dan bocah ini?"

Si Brewok menjadi pucat.

"Maaf, Pangcu. Sikapnya mencurigakan, dia ber uang dan melakukan perjalanan seorang diri lewat di tempat yang telah ditentukan, membawa buntalan-buntalan besar. Kami mengira dialah utusan itu."

"Bodoh! Lekas periksa buntalannya!"

"Sudah diperiksa, Pangcu!"

Tiba-tiba Si Tinggi Besar yang baru saja masuk menjawab dan berdiri tegak seperti sikap seorang perajurit menghadap komandannya.

"Apa isi bungkusannya? Emas dan perak?"

"Bu... bukan... Pangcu..."

"Habis, apa isinya?"

"Batu-batu karang dan akar-akaran!"

"Plakkk!"

Ketua itu menepuk ujung kursinya dengan marah.

"Sialan! Apa yang kalian lakukan?"

"Harap Pangcu maafkan. Kami telah salah menangkap, dan kami akan melakukan penjagaan lagi di sana. Akan tetapi... mereka... mereka itu"?"

"Pergi menjaga! Sekali lagi kalian keliru menangkap orang akan kuhajar! Biarkan mereka di sini. Pergi kalian bertiga!!"

Si Brewok dan dua orang temannya pergi seperti anjing-anjing dibentak.

Ketua ini kini menoleh ke arah kakek itu dan bertanya.

"Mengapa kebetulan sekali Totiang lewat di tempat ini dan untuk apa semua batu dan akar itu?"

"Aihhh, pinto adalah seorang yang hidup dari menjual bahan-bahan obat. Batu-batu itu dapat dipergunakan sebagai bubuk obat, dan itu adalah bahan campuran obat pembersih darah. Pinto sedang mencari telur kura-kura hitam yang kabarnya banyak terdapat di pantai Sungai Huang-ho, telur belum dapat malah pinto ditangkap."

"Hemmm... dan kau, bocah gundul? Apakah engkau murid tukang obat ini?"

Kun Liong sudah mengerutkan alisnya, kelihatan marah sekali disebut gundul!

Setelah kepalanya gundul pelontos, temyata sebutan gundul merupakan sebutan yang amat menyakitkan hatinya, karena mengingatkan dia akan keadaannya yang tidak menyenangkan itu.

Akan tetapi sebelum dia melontarkan jawaban yang keras, tosu itu sudah mendahuluinya menjawab.

"Benar, Pangcu. Dia adalah murid pinto yang keras hati dan bandel."

Kun Liong menoleh dan memandang kakek itu, dan tiba-tiba dia sadar akan keadaan dirinya.

Memang dia keras hati.

Kalau dia menuruti kemarahannya dan mengeluarkan kata-kata keras dan tidak enak terhadap ketua ini, bukan hanya dia seorang yang akan menderita hukuman, juga kakek yang tidak berdosa itu akan terbawa-bawa.

Maka dia menahan kemarahannya dan menggigit bibir, tidak mengeluarkan suara.

"Kalian memang tidak bersalah dan anak buah kami kesalahan menangkap orang. Akan tetapi karena kalian sudah terlanjur masuk ke sini, sebelum urusan ini beres kalian akan kami tahan."

"Akan tetapi..."

Tosu itu membantah.

"Tidak ada tapi! Haii, pengawal! Antarkan mereka ini masuk ke kamar tahanan biar mereka berdua menemani anak perempuan itu!"

Empat orang pengawal sudah maju dan menggunakan tombak mereka untuk mengiring tosu dan Kun Liong pergi dari situ, ke sebuah bangunan lain yang kokoh dan kuat dan akhirnya mereka didorong masuk ke dalam sebuah kamar empat meter persegi, kosong dan hanya ada beberapa helai tikar dan di dalamnya terdapat seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih delapan tahun, bersikap tenang dan cantik, berpakaian indah seperti puteri bangsawan, akan tetapi yang amat mencolok adalah sikapnya yang penuh ketenangan itu.

Dengan sepasang matanya yang lebar ia memandang Kun Liong dan tosu yang didorong masuk ke dalam kamar tahanannya, kemudian pintu kamar tahanan yang terbuat dari baja dan di atasnya terdapat ruji baja itu ditutup kembali dan dikunci dari luar.

Dari lubang-lubang ruji tampak kepala para penjaga yang tertutup kain kuning, dan ujung-ujung tombak mereka.

Anak perempuan itu tetap di atas lantai, matanya memandang Kun Liong dan kakek itu bergantian, penuh perhatian.

"Engkau siapakah?"

Kun Liong bertanya dan diam-diam dia mendapat kenyataan bahwa anak perempuan ini pandai duduk seperti cara orang bersamadhi, bersila dan punggungnya lurus tegak.

Anak perempuan itu menggerakkan kepala menoleh kepadanya, gerakan kepalanya begitu tiba-tiba sehingga rambutnya yang panjang dan dikuncir dua buah itu seperti dua ekor ular hiam bergerak.

"Engkau siapa? Dan kakek ini siapa? Mengapa kalian dijebloskan di sini?"

Anak perempuan itu balas bertanya, suaranya mengandung keangkuhan dan kekerasan.

Seketika berkerut sepasang alis tebal Kun Liong.

"Sombong engkau, ya?"

Katanya tak senang.

Akan tetapi gadis cilik itu sama sekali tidak mempedulikannya dan kini membuang muka, memandang kepada Si Kakek Tua yang telah duduk di depannya dengan sikap tenang.

"Anak baik kulihat tulang pahamu yang kanan patah, akan tetapi sudah disambung, apakah sudah baik?"

Anak perempuan itu melirik ke arah kaki kanannya yang sama sekali tidak kelihatan karena tertutup pakaiannya, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita sakit.

"Totiang, engkau awas sekali!"

Serunya kagum.

"Pinto adalah seorang yang biasa mengobati tulang patah, tentu saja tahu. Coba kuperiksa sebentar!"

Anak perempuan itu mengangguk dan kakek itu lalu meraba paha kanan anak itu, kemudian mengangguk-angguk.

"Sambungannya sudah benar, hanya obat penguatnya kurang manjur. Tulang kakimu sudah tersambung, akan tetapi engkau tidak boleh banyak bergerak dulu sedikitnya dua pekan engkau tidak boleh menggunakan kakimu secara kuat."

Kemarahan Kun Liong atas kekasaran dan kesombongan anak perempuan itu lenyap sama sekali, terganti oleh rasa iba ketika mendapat kenyataan bahwa anak ltu menderita tulang paha patah.

Sudah ditawan, menderita luka pula!

"Aihhh, siapakah yang begitu kejam mematahkan tulang kakimu?"

Tanyanya dan sekarang anak perempuan itu menjawab.

"Aku berusaha melawan. Aku sanggup menghajar tikus-tikus penculik itu seorang demi seorang kalau saja mereka tidak mengeroyok secara curang dan Si Brewok itu memukul patah pahaku dengan ruyungnya."

Kun Liong mengepal tinju.

"Sudah kusangka, Si Brewok, Si Tinggi Besar dan temannya itu bukan manusia baik-baik!"

"Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa engkau diculik?"

Tosu itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh.

Mereka bertiga duduk di atas tikar yang tergelar di lantai.

"Aku Souw Li Hwa dan ayahku bernama Souw Bun Hok, tinggal di Lok-ek-tung. Ketika aku sedang bermain-main seorang diri dengan perahu di Sungai Huang-Ho, mereka menyergap dan menculik aku. Menurut keterangan mereka, aku ditahan sampai orang tuaku datang menebusku dengan seribu tail perak. Sudah dua pekan aku ditahan di sini."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Sungguh mengherankan sekali. Sepanjang pengetahuanku, Ui-hong-pang bukanlah kaum penculik anak-anak!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan lirih, akan tetapi Kun Liong yang mendengarnya menjadi heran karena kata-kata itu membuktikan bahwa tosu tua ini telah mengenal Ui-hong-pang!

Mengapa ketika ditangkap pura-pura tidak mengenal perkumpulan itu?

"Apakah ayahmu dapat menebusmu dengan uang sebanyak itu?"

Kun Liong bertanya dengan hati penasaran.

Kembali dia menghadapi perbuatan manusia yang jahat!

Gadis cilik yang bernama Souw Li Hwa itu menggeleng kepalanya.

"Mana mungkin ayahku menebus dengan uang sebanyak itu? Ayah hanya bekas juru mudi saja yang sekarang sudah mengundurkan diri karena tua, dan selama bekerja, Ayah tidak pemah mengumpulkan uang haram!"

Kun Liong kaget sekali dan kini mengertilah dia mengapa anak itu demikian angkuh, kiranya keturunan orang yang hebat.

"Wah, ayahmu hebat!"

Dia memuji.

"Memang, akan tetapi ayahku tidak akan dapat menolongku. Biarpun begitu, aku tidak khawatir. Aku percaya bahwa Suhu tentu akan membebaskan aku, dan kalau Suhu sampai turun tangan sendiri, tikus-tikus itu tentu akan dibasmi habis sampai ke akarnya!"

"Siapa sih gurumu?"

Tanya Kun Liong.

"Nama guruku tidak boleh disebut-sebut. Tikus-tikus itu yang melihat aku melakukan perlawanan, juga menanyakan nama Suhu, akan tetapi sampai mati aku tidak akan menyebut namanya. Ketua tikus-tikus Ui-hong-pang itu mengatakan sudah tahu siapa guruku, akan tetapi aku tidak percaya!"

Tosu tua yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu memegang tangan anak perempuan itu dan bertanya halus.

"Nona kecil, apakah suhumu she The?"

Anak itu berteriak heran.

"Bagaimana Totiang bisa menduga?"

"Benarkah?"

Anak itu mengangguk. Tosu itu menarik napas panjang.

"Aihhh, pantas saja kalau begitu, engkau diculik bukan karena ayahmu melainkan karena suhumu."

"Bagaimana Totiang tahu? Apakah Totiang mengenal suhuku?"

Kun Liong juga memandang kakek itu dengan penuh keheranan.

Kakek itu kembali menarik napas panjang dan mengangguk perlahan.

"Sungguh kebetulan sekali kejadian ini... siapa, kira aku akan bertemu dengan engkau. Tentu saja aku mengenal suhumu, Nona. Dan karena engkau murid The-taiciangkun (Panglima Besar The), maka Ui-hong-pang menculikmu. Kalau pinto tidak salah dengar, pangcu dari perkumpulan ini adalah murid Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) Ang Hwi Nio, Majikan Telaga Siluman. Tentu pangcu itu membela gurunya yang menaruh dendam terhadap gurumu."

"Mengapa Totiang?"

"Ketika suhumu dahulu sebagai panglima besar mengadakan pembersihan, membasmi golongan sesat dan jahat, ayah Si Bayangan Hantu roboh dan tewas di tangan gurumu yang sakti. Tentu saja wanita iblis itu menaruh dendam, dan untuk membalas secara langsung kepada The-taiciangkun adalah tidak mungkin, maka dia melalui muridnya membalas dendam dengan jalan menculikmu. Mungkin hal ini dilakukan untuk memancing agar gurumu datang ke sini."

"Tikus-tikus tak tahu diri!"

Li Hwa berseru.

"Kalau Suhu datang, mereka tentu akan mampus semua!"

Tosu itu menarik napas panjaang dan menggeleng kepala.

"Mungkin begitu, akan tetapi juga belum tentu gurumu mengotorkan tangan menghadapi mereka ini. Setelah pinto secara kebetulan lewat di sini, biarlah pinto yang mewakilinya. Marilah, Nona, dan kau juga muridku, mari kita keluar dari sini."

"Ehhh...?"

Kun Liong berseru heran.

Tosu itu mengira bahwa Kun Liong tidak suka menjadi muridnya, maka dia bertanya.

"Apakah kau tidak mau menjadi muridku? Aku sudah terlanjur mengakuimu."

"Teecu suka, akan tetapi"

Bagaimana kita dapat keluar dari sini, Suhu?"

Tosu itu tertawa, kemudian mengelus kepala yang gundul itu.

"Muridku yang baik sekali, siapa namamu?"

"Teecu bernama Yap Kun Liong""

"Aihh, namanya serem, orangnya hanya bocah gundul!"

Li Hwa mencela.

"Sombong kau, ya?"

Kun Liong membentak.

"Husshhh, bukan saat ribut-ribut urusan tak berarti. Anak-anak, mari kita keluar dari sini."

Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke pintu baja, tangan kanannya yang tertutup lengan baju yang lebar itu mendorong ke depan.

"Braaakkkk...!!"

Pintu baja itu terdorong roboh ke luar dan terbukalah lubang besar di dinding bekas pintu itu.

Seorang penjaga berseru kaget, menerjang masuk dengan goloknya.

Akan tetapi, dengan gerakan seperti seekor burung walet, Li Hwa mencelat ke depan, tangan kirinya menahan lengan yang bergolok, tangan kanan meninju perut.

Penjaga itu berteriak dan roboh terguling.

Melihat ini, Kun Liong kagum bukan main.

Anak perempuan itu benar-benar tidak membual ketika bercerita tadi, ternyata biarpun kaki kanannya masih sakit, dalam segebrakan saja mampu merobohkan seorang penjaga!

"Eh, jangan banyak bergerak, nanti kakimu patah lagi, Nona!"

Tosu tua itu berkata dan tahu-tahu Li Hwa sudah melayang naik ketika tangan gadis itu dipegang dan ditarik oleh Si Tosu dan Li Hwa kini sudah duduk di atas punggung kakek itu!

Kun Liong tidak mau kalah melihat ada penjaga ke dua datang menyerbu, dia meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur ke depah.

"Haaaiiittt! Dessss...!!"

Kedua kaki yang kecil itu dengan tepat mengenai muka dan dada penjaga tadi yang terjengkang ke belakang dan roboh bergulingan tak dapat bangkit kembali karena kedua matanya tak dapat dibuka, kena hantam sepatu Kun Liong dan napasnya juga sesak!

Kun Liong sendiri yang melakukan gerakan meloncat lalu menendang, terpental dan menumbuk dinding, akan tetapi dia dapat berjungkir balik dan berdiri dengan terhuyung.

Dilihatnya seorang penjaga datang lagi dengan pedang diangkat tinggi-tinggi handak menyerang tosu yang menggendong Li Hwa dan yang bersikap tenang sambil memandang kepada Kun Liong dengan senyum geli, Kun Liong cepat berlari ke depan menyambut penjaga itu dengan serudukan kepalanya.

"Hyaaahhhh! Ngekkkk!!"

Penjaga itu terjengkang, terbatuk-batuk, dadanya sesak perutnya mulas, dan Kun Liong melompat ke belakang, terhuyung karena kepalanya berdenyut dan pandang matanya berkunang!

"Kun Liong, mari ikut pinto keluar dan jangan sembarangan bergerak.

Biar pinto yang membuka jalan."

Kun Liong menurut karena gerakan-gerakan tadi membuat badannya terasa sakit lagi.

Kiranya luka akibat pukulan Ouw-Siucai di perahu itu masih belum sembuh benar.

Dia telah memperlihatkan kepada Li Hwa bahwa dia pun bukah bocah gundul sembarangan yang tidak patut bernama Yap Kung Liong, karena dia telah merobohkan dua orang lawan!

Dengan dada dibusungkan, kedua tangan dikepal siap bertanding, Kun Liong mengikuti tosu itu yang melangkah perlahan keluar dari tempat itu, menggendong Li Hwa.

Dari kanan kiri muncul belasan orang penjaga yang berpakaian seragam, tujuh orang bergolok dari kiri dan sembilan orang berpedang dari kanan.

Dengan iringan teriakan, mereka menyerbu dari kanan kiri, Kun Liong yang mentaati perintah gurunya, hanya berdiri tenang, namun siap-siap untuk membela diri.

Tosu itu kini menggerakkan kedua lengan bajunya ke kanan kiri membiarkan Li Hwa merangkul pundaknya dan mengempit pinggangnya dengan kaki.

Dari lengan baju itu menyambar angin pukulan yang dahsyat ke kanan kiri dan...

belasan orang itu roboh malang melintang seperti rumput-rumput kering dilanda angin taufan!

Kini dari depan datang belasan orang pasukan panah dan terdengarlah suara bersuitan ketika anak-anak panah datang meluncur ke arah Kun Liong dan kakek itu.

Kembali kakek itu menggunakan pukulan lengan bajunya dan semua anak panah dipukul runtuh, berserakan ke lantai sebelah depan mereka.

Sebelum ada anak panah menyerang lagi, kakek itu mendorongkan kedua lengannya bergantian ke depan dan seperti juga tadi, pasukan panah itu roboh terguling-guling!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan mereka yang roboh dan bangun kembali, tidak berani sembarangan menyerang, hanya berdiri dan siap menanti perintah atasan.

Kun Liong gembira dan kagum bukan main.

Ingin ia bertepuk tangan saking kagumnya, akan tetapi melihat Li Hwa bersikap tenang, dia pun tenang-tenang saja dan kini melangkah tegap di samping gurunya, dengan kedua tinju bergerak-gerak memasang kuda-kuda!

Pasukan-pasukan penjaga mengurung dari belakang, depan, kiri dan kanan.

Akan tetapi mereka tidak menyerang, hanya bergerak mengikuti kakek yang melangkah perlahan menuju ke ruangan dalam rumah tahanan itu.

"Pinto tidak ingin berkelahi. Pinto ingin bicara dengan pangcu kalian!"

Kata kakek itu dengan suara tenang dan penuh kesabaran.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dan lima orang yang memegang tombak, yaitu para pengawal pribadi Kian Ti, demikian nama pangcu itu, muncul dan meloncat masuk dengan sikap galak.

Serta-merta mereka memekik dan menerjang maju, lima orang maju sekaligus dan lima batang tombak bergerak-gerak, ujung tombak tergetar menjadi banyak, tanda bahwa Si Pemegang memiliki tenaga lwee-kang yang kuat.

Kemudian dibarengi teriakan nyaring, mereka menyerang tosu itu.

"Pergilah...!"

Tosu itu berseru, hanya tampak kedua kakinya bergerak-gerak diikuti ujung kedua tali ikat pinggang yang tergantung panjang ke bawah, dan...

lima orang itu jungkir-balik dan terbanting roboh di atas lantai!

Mereka dapat meloncat lagi dengan sigap dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan kepada kakek luar biasa itu.

"Suruh pangcu kalian maju, pinto ingin bicara dengamya."

Kembali kakek itu berkata tenang.

Lima orang itu melompat ke samping dan berdiri berjajar, tombak di tangan didirikan di sebelah kiri mereka.

"Pangcu tiba"!"

Terdengar seruan dari pintu depan.

"Kau mau bertemu Pangcu? Silakan!"

Kata seorang di antara pengawal-pengawal bertombak itu sambil mengembangkan lengan kirinya.

Tosu itu melangkah ke depan, memandang ke arah pintu depan.

Li Hwa di belakang punggungnya menoleh ke kanan kiri dalam keadaan siap kalau-kalau mereka diserang dari belakang.

Di belakang mereka pasukan-pasukan bergerak mengikuti, anak panah, tombak, golok dan pedang siap di tangan.

Kun Liong melangkah perlahan di sebelah kanan gurunya, kedua tinju disiapkan, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang!

Tampak bayangan kuning berkelebat dan Si Ketua telah berdiri di situ!

Dia tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya menyinarkan hawa marah kepada tosu itu.

"Hemm"

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 15

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert