Ceritasilat Novel Online

Kisah Sepasang Rajawali 15

Eps 15 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.

"Tidak....! Tidak...., jangan kau minta itu.... kau boleh memerintahkan apa saja padaku Ceng Ceng, kau boleh menyuruh dan minta apa saja, aku akan melaksanakan dan menuruti.... akan tetapi yang satu ini.... jangan kau memaksa aku menang-galkan topengku...."

"Kenapa, Paman? Antara kita.... mengapa engkau segan memperlihatkan mu-kamu? Kita sudah senasib sependeritaan, aku merasa kita bukan orang lain lagi, sudah berkali-kali aku hutang budi dan hutang nyawa kepadamu, yang sampai mati pun takkan mampu kubalas. Aku hanya ingin melihat manusia yang paling baik dan paling mulia terhadap diriku di dunia ini, mengapa kau menolak?"

"Aku tidak bisa membuka topeng ini, akan terlalu mengerikan...., wajahku sangat mengerikan, jauh lebih buruk dari topeng ini. Engkau akan menjadi ketakutan dan aku khawatir engkau akan menjadi jijik dan muak, bahkan benci melihatku. Jangan, Ceng Ceng, jangan kau memaksa aku membuka topeng ini. Kau boleh membukanya kalau kelak aku sudah mati...."

Ceng Ceng menundukkan mukanya, menarik napas panjang.

"Aku tidak akan memaksamu, Paman. Sungguhpun aku yakin bahwa betapapun buruk rupamu, aku tidak akan dapat merasa takut, apa-lagi jijik dan muak, apalagi membencimu. Bagaimana mungkin aku bisa membenci seorang yang telah berkorban sedemikian hebat untukku? Aku jadi heran sekali apa yang terjadi antara wanita yang.... kau bunuh itu dengan engkau. Kalau aku menjadi dia, agaknya.... aku mau melakukan apa saja untuk seorang semulia engkau ini, Paman. Apakah bibi itu melakukan hal yang amat menyakitkan hatimu?"

Topeng Setan menghela napas panjang, agaknya lega karena Ceng Ceng tidak memaksanya membuka topeng.

Dia duduk lagi bersandar batang pohon, lalu menjawab.

"Tidak, Ceng Ceng, dia seorang wanita yang amat hebat, tiada keduanya di dunia ini, akan tetapi aku.... aku telah membunuhnya...."

"Kasihan sekali engkau, Paman...."

Topeng Setan agaknya ingin mengalihkan percakapan karena dia lalu berkata.

"Ceng Ceng, engkau sekarang sudah sembuh, engkau tidak terancam lagi oleh racun, bahkan dengan latihan I-kin-keng yang telah kuajarkan, semua ilmu beracun yang kau pelajari dari Ban-tok Mo-li sehingga tubuhmu beracun akan lenyap, dan.... aku sendiri masih belum tahu akibat aneh apa yang akan didatangkan oleh khasiat anak naga yang telah memasuki tubuhmu. Sekarang, sebaiknya kalau kau kembali ke kota raja, kau.... kau temui Pangeran Yung Hwa itu...."

"Eh, mengapa, Paman?"

Ceng Ceng bertanya dengan kaget sekali.

"Engkau seorang gadis yang amat baik, seorang wanita berjiwa pahlawan, engkau sudah mengalami banyak kesukaran dan seorang wanita seperti engkau berhak untuk hidup mulia dan bahagia. Pangeran Yung Hwa itu, dia seorang bangsawan tinggi, putera Kaisar, dia terpelajar tinggi dan tampan dan baik dan yang terutama sekali, dia cinta kepadamu, Ceng Ceng. Kau pergilah kepadanya...."

Ceng Ceng menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak! Dia boleh cinta kepadaku, akan tetapi aku.... aku tidak berharga...."

"Hemmm, jangan kau berkata begitu, Ceng Ceng. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak cinta kepada pangeran itu? Aku teringat akan pemuda tampan yang berilmu tinggi, adik dari Puteri Milana, puteri dari Pendekar Super Sakti, yang bernama Suma Kian Lee itu. Dia pun cinta kepadamu, Ceng Ceng. Baik Pangeran Yung Hwa maupun Suma Kian Lee keduanya adalah pemuda-pemuda pilihan yang sukar dicari tandingannya di dunia ini. Kau kembalilah ke kota raja, kau berhak hidup bahagia. Apakah engkau mencinta Suma Kian Lee....?"

"Tidak, Paman. Sama sekali tidak mungkin! Dia adalah pamanku sendiri!"

"Ehhh....?"

Topeng Setan kelihatan terkejut sekali mendengar ini.

"Putera Pendekar Super Sakti itu.... pamanmu?"

Ceng Ceng mengangguk dan hatinya terasa perih ketika dia teringat kepada Kian Lee.

Pemuda itu pun amat baik kepadanya, bahkan dia tahu bahwa Kian Lee cinta kepadanya, sehingga dia dapat membayangkan betapa hancur hati Kian Lee ketika memperoleh kenyataan-kenyataan bahwa dia adalah keponakannya sendiri!

Pemuda itu pun demikian mencintanya sehingga rela mengorbankan dirinya sendiri ketika berusaha mengobatinya sampai kedua tangannya keracunan.

"Rahasia itu terbuka ketika aku bertemu dengan Paman Gak Bun Beng. Itulah sebabnya mengapa aku pernah mengatakan kepadamu, Paman, bahwa sheku bukanlah Lu, melainkan Wan. Ayahku adalah Wan Keng In, kakak tiri Paman Suma Kian Lee. Ayahku adalah putera tiri Pendekar Super Sakti, dia.... ayahku itu.... dia amat jahat, Paman."

Ceng Ceng lalu menceritakan riwayat dirinya, diceritakan semua tanpa ada yang disembunyikan bahwa dia hidup di Bhutan dengan kakeknya yang ternyata adalah kakek buyutnya, betapa tadinya dia mendengar dari kakeknya bahwa ayah kandungnya adalah Gak Bun Beng yang sudah mati seperti ibunya.

Betapa dia mengawal Puteri Syanti Dewi yang menjadi kakak angkatnya itu sehingga mengalami banyak kesengsaraan, betapa kemudian dia bertemu dengan Gak Bun Beng dan mendengar akan semua riwayat ibunya yang diperkosa oleh Wan Keng In yang memakai nama Gak Bun Beng.

Semua diceritakannya dengan panjang lebar, didengarkan dengan mata terbelalak dan penuh perhatian oleh Topeng Setan.

Setelah mendengar semua itu, Topeng Setan menarik napas panjang.

"Akan tetapi, riwayatmu itu bahkan mengangkat derajatmu, Ceng Ceng. Engkau adalah cucu tiri dari Pendekar Super Sakti, dan engkau adalah adik angkat dari Puteri Bhutan, bahkan kakek buyutmu adalah seorang bekas panglima pengawal yang setia. Engkau cukup berharga bahkan untuk seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa itu sekalipun, engkau sudah terlalu berharga. Dia amat mencintamu, Ceng Ceng, bahkan dia sampai menolak dikawinkan dengan Puteri Syanti Dewi karena dia cinta padamu. Mari kuantar engkau menjumpai-nya, Ceng Ceng...."

"Paman....! Jangan engkau berkata demikian, Paman....!"

Dan tiba-tiba Ceng Ceng menangis tersedu-sedu karena dia teringat akan keadaan dirinya.

"Eh, eh.... Ceng Ceng, kenapa....?"

Topeng Setan bertanya, suaranya gemetar.

Ceng Ceng mengusap air matanya dan memandang wajah bertopeng buruk itu, yang menjadi seperti wajah iblis ketika tertimpa cahaya api unggun yang merah.

"Baiklah, kau boleh mendengar semua, Paman. Engkau sudah kuanggap seperti pamanku sendiri seperti ayah sendiri, seperti sahabatku yang termulia di dunia ini, bahkan sebagai satu-satunya orang yang menjadi sahabatku. Aku.... aku sama sekali tidak berharga, Paman, apalagi bagi seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa. Aku hanya seorang yang menanti kematian...."

"Eh, apa maksudmu?"

"Paman.... aku.... aku telah tertimpa malapetaka yang lebih hebat daripada kematian. Aku telah ternoda, aku telah diperkosa orang...."

Dengan terengah-engah dan terputus-putus Ceng Ceng menceritakan melapetaka hebat di dalam guha itu ketika dia diperkosa oleh pemuda laknat itu.

"Dia kutolong, akan tetapi dia malah memperkosa aku, Paman.... dia, si laknat itu, dia bernama Kok Cu, murid Si Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir. Mendiang kakek Lauw Ki Sun yang tewas dan jenazahnya kau kubur di depan kuil itu, dialah yang menceritakan kepadaku siapa adanya manusia iblis itu. Kakek itu adalah pelayan dari Dewa Bongkok dan pemuda yang merusak hidupku itu adalah murid Si Dewa Bongkok, dialah orang yang kau gambar itu, Paman. Aku harus menemukannya, engkau harus membantu aku untuk membalas dendam setinggi langit dan sedalam lautan ini. Aku bersumpah tidak akan berhenti sebelum dapat membunuhnya, dan setelah aku berhasil membunuhnya, mudah-mudahan dengan bantuanmu karena dia lihai sekali, Paman. Sesudah itu, aku.... aku akan membunuh diri, untuk apa hidup menderita aib yang hebat ini....?"

Topeng Setan bangkit berdiri, mengepal tinjunya, matanya terbelalak, seluruh urat di dadanya yang telanjang karena bajunya dirobek untuk membalut pundak kirinya, tampak dan dari kedua mata yang terbelalak lebar itu jatuh air matanya satu demi satu, seperti butir-butir mutiara runtuh dari untaiannya.

Dadanya bergelombang dan terdengar rintihan aneh keluar dari mulutnya yang berbibir tebal sekali itu.

Ceng Ceng memandang dengan heran.

Melihat Topeng Setan berdiri seperti iblis berdiri, dengan air mata bercucuran seperti itu, hati Ceng Ceng seperti diremas-remas rasanya.

Dia tahu bahwa orang bertopeng ini juga amat mencintanya sehingga orang itu kini menderita pukulan batin yang hebat setelah mendengar ceritanya.

Melihat orang yang sudah buntung lengannya karena dia itu kini menangis, Ceng Ceng memandang dengan bibir gemetar, kemudian menggigil dan bibir itu mewek-mewek menahan tangis, akhirnya dia menubruk dan me-rangkul pinggang Si Buruk Rupa itu sambil menangis sesenggukan.

Sampai mengguguk Ceng Ceng menangis, melepaskan seluruh kedukaan dan penyesalan hatinya, menumpahkan semua rasa penasaran yang bertumpuk-tumpuk dan dia seolah-olah memeluk gunung yang kokoh kuat, yang akan dapat dipergunakan sebagai sandaran hidup ketika dia sendiri sudah hampir tidak kuat menahan penderitaan yang menimpanya.

Dengan lengan kanannya, Topeng Setan memeluk dan jari-jari tanngannya mengelus kepala gadis itu penuh keharuan dan kasih sayang.

"Paman.... Paman.... ahhh.... Paman.... hu-hu-huuuuhh...."

Ceng Ceng menangis seperti anak kecil, air matanya membasahi dada yang bidang, kuat, tegap dan berkulit putih halus, merupakan kontras yang aneh dengan kulit wajah yang buruk itu.

"Tenanglah, Ceng Ceng. Kuatkan hatimu.... dan hadapilah kenyataan hidup seperti ini.... jangan kau putus harapan, Ceng Ceng. Aku.... aku bersumpah akan melindungimu dan membantumu menemukan kebahagiaan...."

"Paman, kau bilang tadi.... kau akan meninggalkan aku.... kau menyuruh aku pergi ke kota raja...."

"Tidak lagi, Ceng Ceng. Aku baru akan pergi setelah melihat engkau menemui kebahagiaan hidup. Jangan khawatir, aku akan mempertaruhkan nyawaku demi kebahagiaanmu."

"Paman.... uhu-hu-huuuu, Paman...."

Ceng Ceng makin menjadi tangisnya karena hatinya terharu sekali mendengar ucapan yang keluar dengan suara gemetar itu.

"Paman, mengapa kau begini baik kepadaku. Mengapa....?"

Ceng Ceng mengguncang-guncang tubuh yang dipeluknya itu.

"Dan mengapa dia.... dia begitu jahat.... dia merusak hidupku.... mengapa....?"

Topeng Setan tidak menjawab, hanya mengelus-elus rambut itu dan membiarkan Ceng Ceng menumpahkan semua rasa penasaran hatinya.

Setelah gelora perasaan itu agak mereda di hati Ceng Ceng, Topeng Setan lalu mengajak gadis itu pergi dari situ.

"Kita harus pergi melanjutkan perjalanan. Mereka tentu akan mengejar terus dan sebelum luka di pundakku sembuh, amat berbahaya menghadapi lawan berat, Ceng Ceng."

"Baik, Paman. Aku hanya menurut dan ikut padamu."

Ceng Ceng menjawab dan dia tahu bahwa mulai saat itu, untuk segala urusan, sampai kepada urusan mencari musuh besarnya, dia harus mengandalkan pamannya yang buruk rupa dan penuh rahasia ini, yang kini dipercayanya setelah dia saksikan kehebatan sepak terjangnya.

Maka berangkatlah mereka meninggalkan hutan itu menuju ke selatan karena menurut rencana Topeng Setan, mereka akan pergi ke sebelah selatan kota raja, di markas kaum sesat yang dulu menjadi markas kaum Tiat-ciang-pang, di mana Ceng Ceng telah diangkat menjadi bengcu (ketua) oleh kaum sesat dan Topeng Setan bersama-sama Tek Hoat menjadi pembantu-pembantunya.

Di tempat itu mereka akan bersembunyi dan beristirahat sampai luka di pundak Topeng Setan sembuh sama sekali.

Hukum karma seperti yang dikenal oleh kita semua adalah lingkaran setan berupa roda-roda sebab akibat yang saling berkaitan dan tiada habisnya karena semua itu digerakkan oleh pikiran manusia yang membentuk nafsu-nafsu sebagai lanjutan dari setiap peristiwa yang terjadi atas diri manusia sendiri.

Dari suatu sebab timbullah akibat, dan akibat lain sehingga menjadi lagi si sebab juga si akibat dan sebaliknya.

Sebagai contohnya, terjadi suatu peristiwa di mana kita dirugikan orang lahir maupun batin.

Mungkin kejadian ini pun merupakan akibat dari sebab-sebab terdahulu, akan tetapi kita menganggapnya sebagai sebab dan peristiwa itu mendatangkan kemarahan dan dendam sehingga tentu saja menimbulkan akibat yang terjadi dari pihak kita, membalas dendam dan sebagainya sebagai reaksi.

Reaksi dari kita ini terhadap pihak luar yang kita anggap merugikan, kembali dapat menjadi suatu aksi yang memancing reaksi lain dari pihak luar itu sehingga dengan demikian, si reaksi menjadi aksi dan sebaliknya.

Dengan adanya kenyataan ini, maka yang membentuk lingkaran setan yang disebut hukum karma sesungguhnya adalah kita sendiri, pikiran kita sendiri yang selalu siap untuk melakukan reaksi.

Sebaliknya, kalau dengan kesadaran mendalam kita menghadapi peristiwa yang merugikan kita itu sebagai suatu peristiwa yang wajar, sebagai suatu kenyataan yang habis sampai di situ saja, tidaklah timbul dendam, kemarahan, kebencian, harapan atau lain macam perasaan lagi dan patahlah lingkaran setan itu!

Jelas bahwa mengingat-ingat masa lalu, baik itu setahun yang lalu, kemarin atau semenit yang lalu, disambung dengan membayangkan masa depan, baik itu nanti, besok atau kelak, merupakan pembentukan lingkaran setan atau hukum karma tadi.

Batin yang bebas dari masa lalu dan masa depan, akan bebas pula dari hukum karma.

Sekali kita membiarkan diri terseret oleh hukum karma, hidup akan terombang-ambing menjadi permainannya, yang sesungguhnya adalah permainan dari nafsu-nafsu keinginan dan hasil pikiran kita sendiri.

Setiap peristiwa yang ter jadi tidak bersifat senang atau susah, yang terjadi adalah suatu kenyataan sungguhpun kejadian itu sendiri tidak akan terlepas dari keadaan yang dibentuk oleh kita sendiri.

Suka atau duka akan terjadinya peristiwa itu terletak dalam penanggapan kita.

Siapa mengejar suka tak dapat tidak pasti berkenalan dengan duka karena suka atau duka hanya permainan dari pikiran sendiri yang menilai, membanding, memilih, membenarkan atau menya-lahkan.

Kita tidak berani meninggalkan semua ini, karena kita takut untuk menjadi "bukan apa-apa", dan kita menganggap bahwa melepaskan semua suka duka hidup, berarti kita akan menjadi kosong melompong, tidak berarti apa-apa dan kita menjadi ngeri untuk kehilangan arti kita!

Karena itu, dengan membuta kita melanjutkan semua ini, melanjutkan kehidupan seperti yang sudah-sudah, sungguhpun setiap hari kita ditimpa kesengsaraan dan menjadi permainan konflik-konflik, dari konflik batin sendiri sampai konflik antar manusia sampai ke perang-perang yang berkobar di seluruh pelosok dunia.

Dan dipermainkan oleh konflik dan kesengsaraan ini kita namakan hidup!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Puteri Syanti Dewi yang dilarikan ke luar dari istana oleh Puteri Milana, akhirnya bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan atas usul jenderal yang gagah perkasa dan bijaksana ini, Puteri Syanti Dewi lalu dikawal oleh dua losin pasukan pengawal jenderal itu.

Pasukan itu lalu mengawal Syanti Dewi yang menunggang kuda Jenderal Kao di tengah-tengah dan berangkatlah mereka membelokkan perjalanan ke barat untuk memulai perjalanan yang amat jauh itu ke Bhutan.

Kepala atau komandan pasukan ini bernama Can Siok, seorang gagah berusia empat puluh tahun yang telah lama menjadi seorang di antara pengawal kepercayaan Jenderal Kao Liang, memiliki kepandaian tinggi sebagai anak murid Hoa-san-pai dan dia mengantongi surat perintah Jenderal Kao yang akan dapat dipergunakan sebagai "jimat"

Di dalam perjalanannya menuju ke Bhutan mengantar puteri jelita itu.

Pengawal Can Siok ini maklum betapa berat tugasnya mengantar puteri itu, yang dia tahu diam-diam juga mungkin dianggap buronan oleh Kaisar, dan tentu akan menarik hati orang-orang jahat di tengah perjalanan.

Akan tetapi, mengandalkan ketangkasan dua losin tenaga dalam pasukannya dan mengandalkan nama Jenderal Kao Liang yang surat perintahnya dia kantongi, pengawal ini melakukan perjalanan dengan hati tenang sungguhpun dia selalu berhati-hati.

Dua hari kemudian, mereka berhenti di sebuah dusun karena kemalaman.

Dusun itu terletak di tepi Sungai Ta-cing yang mengalir di sebelah selatan dan barat kota raja Peking.

Setelah melapor kepada kepala dusun setempat, kepala dusun dengan penuh kehormatan lalu memerintahkan penginapan tunggal di dusun itu untuk mengosongkan semua kamar dan memberikannya kepada rombongan ini.

Dusun ini berada di dekat hutan yang menjadi markas para kaum sesat yang dipimpin oleh Ceng Ceng.

Ketika rombongan ini tiba di dusun, seorang di antara anggauta Tiat-ciang-pang yang kini telah menggabung menjadi anak buah perkumpulan kaum sesat itu, cepat lari ke markasnya dan memberi laporan bahwa ada sepasukan pengawal lewat dan bermalam di dusun tepi sungai Ta-cing itu, mengantarkan seorang puteri yang menurut kabar angin adalah Puteri Bhutan yang dikabarkan melarikan diri dari istana Kaisar.

Kabar seperti itu memang cepat sekali tersiar sehingga tidak mengherankan kalau berita itu telah terdengar di daerah itu.

Kalau saja Ceng Ceng berada di tempat itu, tentu dia akan girang sekali mendengar berita ini.

Akan tetapi pada waktu itu, Ceng Ceng belum kembali ke markas ini dan telah terjadi perubahan besar sekali di pusat kaum sesat daerah kota raja ini.

Baru beberapa hari yang lalu, markas kaum sesat itu telah diambil-alih dan dikuasai oleh rombongan Pulau Neraka!

Seperti kita ketahui, Hek-tiauw Lo-mo dan anak buahnya, orang-orang Pulau Neraka, juga berusaha menangkap anak ular naga di Telaga Sungari dan setelah melihat bahwa mereka gagal, naga yang terluka menyelam kembali ke dalam telaga dan anak ular itu lenyap setelah yang terakhir berada di tangan Ceng Ceng, Hek-tiauw Lo-mo membawa anak buahnya mendarat.

Mereka melakukan perjalanan cepat dengan kuda-kuda yang telah tersedia dan mereka langsung menuju ke sarang kaum sesat di selatan kota raja ini karena Hek-tiauw Lo-mo sudah tahu bahwa Ceng Ceng menjadi bengcu di sarang ini.

Karena menduga bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan yang terluka itu tentu akan bersembunyi di sarang ini, maka dia telah mengejar ke sana, akan tetapi ternyata dia dan rombongannya jauh lebih cepat tiba di tempat itu daripada Ceng Ceng dan Topeng Setan yang melakukan perjalanan lambat berhubung dengan lukanya Topeng Setan.

Setelah tiba di sarang itu, dengan mudah saja Ketua Pulau Neraka ini dapat menguasai para kaum sesat tanpa banyak menimbulkan korban.

Kaum sesat di tempat itu sudah terpengaruh dan tunduk begitu mendengar bahwa kakek raksasa mengerikan itu adalah Ketua Pulau Neraka, apalagi menyaksikan kelihaian anak buahnya.

Setelah mendengar bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan belum tiba di situ, Hek-tiauw Lo-mo lalu mengatur untuk menyambut kedatangan dua orang itu yang diharapkan masih menyimpan anak ular naga Telaga Sungari.

Akan tetapi, malam hari itu Hek-tiauw Lo-mo mendengar pelaporan bahwa rombongan pengawal sedang mengiringkan Puteri Bhutan bermalam di dalam dusun yang hanya dua puluh li jauhnya dari sarang itu.

Mendengar pelaporan ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk-angguk dan cepat dia memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk merampas dan menculik Puteri Bhutan itu.

Dia pernah mendengar bahwa gadis liar Ceng Ceng adalah saudara angkat Puteri Bhutan yang menimbulkan kegemparan itu, maka kini mendengar puteri itu lewat di dekat tempat itu, tentu saja dia tidak mau membuang kesempatan baik ini untuk menawan Sang Puteri, karena puteri ini dapat dia pergunakan sebagai sandera untuk memaksa Ceng Ceng menyerahkan anak naga kepadanya!

Dan selain anak naga yang amat diinginkannya itu, juga dia harus memaksa Topeng Setan mengembalikan kitab Istana Gurun Pasir.

Kitab itu yang kini telah lengkap karena tadinya bagiannya dan bagian yang dicuri oleh Ketua Lembah Bunga Hitam, baru-baru ini terjatuh ke tangan kakek Lauw Ki Sun, pelayan dari Dewa Bongkok di Istana Gurun Pasir dan kakek itu setelah terluka parah dilarikan oleh Topeng Setan, Maka menurut dugaannya, pasti kitab itu kini berada di tangan Topeng Setan!

Dengan adanya anak naga dan kitab Istana Gurun Pasir itu di tangan Ceng Ceng dan Topeng Setan, Hek-tiauw Lo-mo akan berusaha sekuat tenaga dan mau melakukan apapun juga untuk menangkap dan memaksa mereka menyerahkan dua buah benda keramat itu.

Baru saja anak buah Pulau Neraka yang diutus oleh Hek-tiauw Lo-mo berangkat untuk menangkap Puteri Bhutan yang hanya dikawal oleh dua losin perajurit itu, tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo mendengar suara kucing.

Lirih saja suara ini yang datangnya dari atas genteng dan yang bagi orang lain tentu akan dianggap suara kucing aseli, akan tetapi kakek raksasa ini sudah hafal akan suara su-moinya, maka sambil tersenyum lebar dia menggerakkan tangannya seperti orang tidak sabar dan berseru.

"Sudahlah, Sumoi, kalau sudah datang turun saja, kenapa mesti banyak lagak!"

"Suheng....!"

Dari atas genteng melayang sesosok tubuh yang gerakannya ringan sekali dan tahu-tahu di depan kakek raksasa mengerikan itu berdiri Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang cantik jelita dan kedua pipinya kemerahan, wajahnya cemerlang tertimpa sinar lampu yang terang.

Sejenak Hek-tiauw Lo-mo memandang wajah sumoinya itu dengan kagum, akan tetapi tiba-tiba dia meloncat bangun dari kursinya dan memandang wajah sumoinya lebih teliti lagi.

"Eh, engkau sudah sembuh....!"

Lauw Hong Kui mencibirkan bibirnya yang merah basah itu kepada suhengnya, sikapnya manja dan mengejek.

"Suheng, setelah engkau kejam meninggalkan aku terancam bahaya maut dan darahku keracunan, apa kau kira aku tidak mampu mencari obatnya sendiri?"

"Salahmu sendiri!"

Hek-tiauw Lo-mo mengomel.

"Engkau mencuri ilmu dari kitabku...."

"Huh, kitab itu pun kitab curian,"

Lauw Hong Kui mencela.

"Jangan kurang ajar kau! Setelah kau mencuri ilmu dari kitabku sampai darahmu keracunan, apa yang kau harapkan dariku? Hal itu kuanggap sebagai hukuman bagimu, akan tetapi racun itu pun tidak akan membunuhmu, maka aku diam saja."

Hek-tiauw Lo-mo memandang lebih teliti wajah sumoinya yang berseri-seri dan kemerahan, sehat sekali.

"Sudahlah, Sumoi, sekarang katakan bagaimana engkau bisa memperoleh obat yang mencuci bersih darahmu?"

Dengan sikap angkuh dan lagak bangga Lauw Hong Kui bertolak pinggang dan berkata.

"Suheng tidak berhasil di Telaga Sungari, bukan? Aku sudah melihat sendiri betapa Suheng gagal, bahkan hampir celaka oleh Nenek Durganini yang seperti iblis itu!"

"Eh, eh.... kau juga berada di sana?"

"Tentu saja! Dan berhasil!"

"Berhasil? Kau mau bilang bahwa anak naga itu...."

Tiba-tiba tangan Hek-tiauw Lo-mo itu menyambar dan sumoinya tidak mampu lagi mengelak karena pergelangan tangannya sudah dipegang oleh kakek raksasa itu.

Jari-jari tangan kakek itu lalu menotok sana-sini membuat sumoinya tak dapat bergerak, lalu tangannya meraba-raba dari ubun-ubun kepala sampai punggung dan ulu hati di antara dua tonjolan buah dada wanita itu.

"Hemm, kau sudah sembuh sama sekali akan tetapi kalau kau makan semua anak naga itu tentu hawanya terasa olehku. Kau bohong, kau tidak makan semua anak naga dan entah obat apa yang telah menyembuhkan keracunan darahmu,"

Kata kakek itu dan dia membebaskan kembali sumoinya.

Setelah dapat bergerak, Mauw Siauw Mo-li memandang suhengnya dan dengan mata berapi dia berkata penuh kemarahan.

"Suheng, kalau lain kali kau memperlakukan aku seperti tadi, aku akan membunuhmu!"

"Heh-heh, kau harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat melakukan itu, anak manis. Sekarang ceritakan saja obat apa yang telah menyembuhkanmu?"

"Apalagi kalau bukan anak naga itu? Akan tetapi kalau aku mendapatkan semua dan telah makan seluruhnya, apa kau kira aku demikian tolol untuk muncul di depanmu? Tentu engkau akan merampas khasiatnya dengan cara makan dagingku dan minum darahku."

"Ahhhh! Masa aku melakukan hal itu? Engkau adalah sumoiku."

"Huh, seperti aku tidak mengenalmu saja, Suheng. Akan tetapi karena aku hanya memperoleh ekor anak naga itu dan telah kumakan habis, andaikata engkau makan dagingku dan minum seluruh darahku pun tidak ada manfaatnya bagimu. Suheng, sisa anak naga itu, sebagian besarnya karena aku hanya memperoleh ekor sejengkal, telah dilarikan oleh dara liar bersama Si Topeng Setan yang lihai."

"Aku tahu.... hemmm....!"

Tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo menggerakkan tangan kirinya ke arah genteng.

"Suheng, jangan....!"

Lauw Hong Kui mencegah akan tetapi terlambat, tampak sinar berkelebat dan sebatang golok terbang yang panjangnya hanya satu kaki meluncur ke arah bayangan seorang pemuda yang berdiri di atas genteng.

Akan tetapi dengan mudah saja pemuda itu mengulur tangan kiri dan menangkap hui-to (golok terbang) itu pada gagangnya, lalu dia melayang turun dan melemparkan golok kecil itu kembali ke arah Hek-tiauw Lo-mo sambil berkata.

"Lo-mo, beginikah kau menyambut tamu?"

"Hehhh!"

Hek-tiauw Lo-mo mendengus dan tangannya bergerak, jari tangannya menampar hui-to yang menyambar ke arah dadanya.

"Krekkk!"

Hui-to itu patah-patah menjadi tiga potong dan semua potongannya, berikut gagangnya, menancap di atas lantai.

Hek-tiauw Lo-mo memandang wajah pemuda yang bukan lain adalah Suma Kian Bu itu.

Dia menjadi terkejut.

"Ah, kiranya engkau, keparat!"

Bentaknya dan dia sudah siap untuk menyerang.

"Suheng, jangan! Dia adalah sahabatku, sahabatku yang sangat baik!"

Lauw Hong Kui meloncat di depan suhengnya, menghadang dan melindungi Kian Bu.

"Lo-mo, kalau tidak melihat muka sumoimu dan tidak menerima undangannya, apakah kau kira aku sudi datang mengunjungimu sebagai tamu?"

Kian Bu juga berkata dengan nada suara mengejek.

"Sumoi, apa artinya ini? Tahukah kau siapa pemuda ini?"

"Dia adalah Suma Kian Bu yang telah membantuku mencari anak naga."

"Dia adalah putera dari Majikan Pulau Es, goblok! Dan kau berkawan dengan orang yang menjadi musuhku ini?"

"Kalau dia benar putera Pendekar Super Sakti, aku malah merasa bangga dapat menjadi.... eh, sahabat baik."

"Minggirlah, aku akan membunuhnya!"

Hek-tiauw Lo-mo berseru marah.

"Enak saja engkau bicara, Lo-mo. Dahulu di waktu aku masih kecil pun engkau tidak mampu membunuhku, apalagi sekarang,"

Jawab Kian Bu, sedikit pun tidak menjadi takut.

"Suheng, harap jangan kau mengumbar keganasanmu di mana-mana tanpa perhitungan!"

Lauw Hong Kui mencela suhengnya.

"Lupakah Suheng bahwa Suci telah tewas dan hanya tinggal kita dua saudara? Aku akan membantu dia kalau Suheng menyerangnya dan kita akan saling gempur mati-matian. Begitukah yang Suheng kehendaki? Ingat, Suheng melihat sendiri betapa banyak orang-orang berilmu telah bermunculan di Telaga Sungari, bukankah sebaiknya kalau kita bersatu sehingga kedudukan Suheng lebih kuat setelah Suci meninggal dunia?"

Hek-tiauw Lo-mo bukanlah seorang bodoh.

Dia meninggalkan Pulau Neraka karena tidak betah tinggal di tempat yang amat berbahaya itu.

Sumoinya yang pertama telah tewas dan sumoinya yang masih muda ini juga amat lihai, terutama sekali senjata-senjata rahasianya yang amat berbahaya, maka dapat dijadikan sekutu yang boleh diandalkan, apalagi mengingat betapa akhir-akhir ini, ketika menghadapi orang-orang Lembah Bunga Hitam, sumoinya ini juga langsung turun tangan membantunya.

Dia menarik napas panjang dan mengendurkan lagi kedua tangannya.

"Sudahlah, selama dia menjadi sahabatmu, aku tidak akan mengganggunya."

Dan Hek-tiauw Lo-mo dengan wajah bersungut-sungut lalu memasuki kamarnya. Kian Bu mengerutkan alisnya.

"Enci, aku tidak suka tinggal di tempat suhengmu ini."

"Eh, Kian Bu, kenapa engkau pun meniru watak Suheng yang pemarah?"

Dengan sikap manja Hong Kui menggandeng lengan pemuda itu.

"Ingat, kita ke sini untuk menanti munculnya Topeng Setan dan dara liar itu, siapa tahu nasib kita baik dan anak naga itu dapat terjatuh ke tangan kita. Jangan pedulikan dia, anggap saja engkau menjadi tamu di rumahku...."

Dengan bujuk rayu dan kegenitannya, Lauw Kui Hong akhirnya dapat mengajak Kian Bu memasuki sebuah kamar tamu yang lengkap dan mewah.

Kian Bu juga tidak membantah lagi, akan tetapi kalau saja Hong Kui tahu apa yang terkandung di dalam hati kekasihnya ini, tentu dia tidak akan segembira itu melayani dan menghibur hati kekasihnya dengan segala kepandaiannya bermain cinta.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan di dalam hati pemuda kekasihnya itu.

Kian Bu telah menyadari kepalsuan wanita cantik ini dan dia hanya menganggap Hong Kui sebagai seorang wanita yang amat pandai menyenangkan hati dan menghiburnya, seorang wanita yang sengaja merayunya dan sama sekali bukan berdasarkan cinta kasih seperti yang dahulu sering diimpikannya.

Dia tahu bahwa di antara mereka berdua yang ada hanyalah cinta jasmani belaka, dorongan nafsu berahi yang mengasyikkan.

Kalau dia mau mengikuti Hong Kui dan tinggal di rumah Hek-tiauw Lo-mo, sesungguhnya hanya karena diam-diam dia mengambil keputusan untuk melindungi Ceng Ceng yang masih terhitung keponakannya sendiri itu.

Ketika dia menyaksikan perebutan anak ular naga antara Ceng Ceng dan Hong Kui, dia sudah menganjurkan kepada kekasihnya itu untuk memberikan saja ular kecil itu kepada Ceng Ceng yang dia tahu amat membutuhkannya.

Kemudian melihat ular itu putus dan Hong Kui mendapat bagian sedikit sedangkan selebihnya terampas oleh Ceng Ceng, diam-diam dia merasa girang sekali akan tetapi tentu saja dia tidak menyatakannya di depan kekasihnya.

Kemudian Hong Kui menyatakan ketidakpuasan hatinya bahwa dia hanya dapat makan bagian ekor anak naga itu dan wanita ini menyatakan dugaannya bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan yang terluka parah itu tentu akan kembali ke sarang kaum sesat di selatan kota raja di mana gadis itu menjadi ketuanya.

Mendengar bahwa Hong Kui hendak mengejar Ceng Ceng ke sana, dia sengaja menyatakan persetujuannya, akan tetapi diam-diam tentu saja bersiap untuk melindungi Ceng Ceng dan mencegah kekasihnya ini mengganggu Ceng Ceng.

Siapa kira, di tempat itu dia malah bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo, maka tahulah dia bahwa Ceng Ceng akan terancam bahaya hebat kalau benar-benar datang ke tempat itu.

Hal ini membuat dia terpaksa menerima ajakan Hong Kui untuk bermalam dan tinggal di gedung yang ditinggali Hek-tiauw Lo-mo itu, menanti kalau Ceng Ceng benar datang di tempat berbahaya itu.

Sayang bahwa kedatangan mereka agak terlambat sehingga Kian Bu tidak mendengar akan perintah Hek-tiauw Lo-mo terhadap anak buahnya untuk menangkap Puteri Syanti Dewi yang bermalam di dusun tidak jauh dari tempat itu.

Kalau dia mendengarnya, tentu dia terkejut sekali dan akan turun tangan mencegahnya.

Akan tetapi di dusun di mana rombongan Puteri Syanti Dewi bermalam, terjadi hal yang sama sekali tidak diduga-duga oleh Hek-tiauw Lo-mo, bahkan oleh rombongan itu sendiri.

Siang tadi dusun itu kedatangan rombongan yang terdiri dari orang-orang aneh dan rombongan ini tentu akan mendatangkan geger kalau saja ada yang mengenalnya karena rombongan ini dipimpin oleh Raja Tambolon!

Seperti diketahui, Raja Tambolon yang dibantu oleh Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Sastrawan Maut Yu Ci Pok, membawa anak buahnya yang terdiri dari orang-orang liar di daerah utara, ikut memperebutkan anak naga di Telaga Sungari, akan tetapi rombongan Raja Tambolon ini pun tidak memperoleh hasil.

Ketika melihat bahwa anak naga itu terjatuh ke tangan Ceng Ceng dan Topeng Setan, Raja Tambolon yang sudah mengenal dua orang itu dan tahu bahwa nona Lu Ceng adalah bengcu dari kaum sesat di sebelah selatan kota raja, lalu melakukan pengejaran ke tempat itu.

Dia dan para pembantunya menyamar sebagai serombongan pelancong dan karena mereka royal mengeluarkan uang, mereka tidak menarik perhatian dan kecurigaan orang lain.

Di tengah perjalanan, rombongan ini bertemu dengan lima orang wanita yang sudah mengenal Yu Ci Pok, maka mereka dihadapkan kepada Tambolon dan diperkenalkan oleh Si Sastrawan Maut itu.

Lima orang wanita ini bukanlah sembarangan wanita, karena mereka itu adalah Loan-ngo Mo-li (Lima Iblis Betina Sungai Loan) yang namanya sudah terkenal sekali di sepanjang Sungai Loan-ho.

Mendengar bahwa Loan-ngo Mo-li hendak berkunjung ke Tiat-ciang-pang untuk mengambil-alih kekuasaan karena mendengar bahwa perkumpulan itu dan semua perkumpulan kaum sesat kini dipimpin oleh seorang wanita yang kabarnya menyamar sebagai Song Lan Ci, orang pertama dari Loan-ngo Mo-li, lima orang wanita yang pekerjaannya adalah cabang atas Sungai Loan-ho yang membawahi semua kaum bajak, Tambolon menjadi girang dan segera mengajak lima orang wanita lihai itu untuk bekerja sama.

Sungguhpun pihaknya sendiri sudah amat kuat, dengan bantuan dua orang pengawalnya yang setia dan terutama sekali bantuan nenek gurunya yang pikun, Durganini, namun dalam keadaan seperti itu, di mana banyak tokoh pandai bermunculan, Tambolon merasa lebih kuat kedudukannya kalau mempunyai banyak pembantu orang lihai.

Dia menawarkan bantuannya untuk merampas kedudukan bengcu bagi Loan-ngo Mo-li, akan tetapi dia pun minta bantuan lima orang wanita itu untuk menghadapi musuh-musuhnya dalam memperebutkan anak naga.

Demikianlah, rombongan yang kini bertambah dengan lima orang wanita itu memasuki dusun, beberapa jam lebih dulu daripada kedatangan rombongan Puteri Syanti Dewi.

Secara kebetulan sekali, satu-satunya rumah penginapan yang diminta atau diperintahkan agar dikosongkan oleh kepala dusun karena rumah penginapan itu harus diberikan kepada rombongan Puteri Bhutan, tadinya disewa oleh rombongan Tambolon ini!

Tentu saja raja liar Rambolon menjadi marah, akan tetapi begitu mendengar penjelasan bahwa rumah penginapan itu akan dipergunakan untuk tempat bermalam rombongan dari kota raja yang mengawal Puteri Bhutan, Dia cepat memberi isyarat kepada para pembantunya agar mengalah dan mereka segera pergi meninggalkan rumah penginapan itu, mengalah bermalam di dalam sebuah kuil di luar dusun!

Akan tetapi Tambolon segera mengatur siasat untuk menangkap Puteri Bhutan, puteri dari musuh besarnya karena dengan adanya puteri itu di tangannya, dia tentu akan dapat memaksakan tuntutannya kepada Raja Bhutan!

Apalagi karena memang puteri itu dahulunya telah dihadang dan hendak dirampasnya namun usahanya gagal karena Sang Puteri dapat melarikan diri.

Tambolon tidak akan dapat menjadi raja dari para suku bangsa liar kalau saja dia tidak pandai dan cerdik.

Dia bukanlah orang kasar yang hanya mengandalkan kekuatan badan dan ilmu kepandaian silatnya saja, akan tetapi seorang ahli siasat yang dapat bersikap cerdik dan hati-hati.

Dia maklum bahwa biarpun kekuatan rombongannya sudah lebih dari cukup untuk menyergap dan merampas Syanti Dewi dengan kekerasan, namun dia tidak mau melakukan hal itu, mengingat bahwa dusun ini tidak begitu jauh dari kota raja dan kalau dia menimbulkan keributan sampai ketahuan dan terdengar oleh kota raja, tentu pemerintah akan mengirim pasukan besar dan orang-orang pandai untuk menangkap atau membunuhnya.

Dia maklum akan kelemahannya sendiri kalau harus menghadapi bala tentara pemerintah dan orang-orang pandai yang dia tahu banyak membantu pemerintah.

Oleh karena itu, dia lalu minta bantuan gurunya, nenek ahli sihir yang seperti iblis itu untuk menawan Syanti Dewi secara halus.

Nenek itu terkekeh girang.

Durganini sudah terlalu tua dan sudah pikun, biarpun dia lihai sekali, baik ilmu silat maupun tenaga saktinya, terutama sekali ilmu sihirnya, akan tetapi karena sudah terlalu pikun, Tambolon tidak berani melepaskan gurunya ini untuk bekerja sendiri saja, karena kepikunannya akan dapat menggagalkan semua urusan.

Oleh karena itu, dia minta bantuan kepada sekutunya yang baru, yaitu Loan-ngo Mo-li yang dipimpin oleh Song Lan Ci.

Lima orang wanita jagoan dari Sungai Loan-ho ini berusia rata-rata empat puluh tahun, wajah mereka membayangkan kekejaman dan kekasaran sungguhpun mereka itu, terutama Song Lan Ci, dapat dikatakan agak cantik juga dan mereka semua masih gadis, dalam arti kata belum ada yang menikah.

Lima orang wanita itu tentu saja menyanggupi dan pergilah mereka mengantar Durganini yang harus digandeng itu menuju ke rumah penginapan yang telah mereka tinggalkan tadi.

Sementara itu, Puteri Syanti Dewi yang sudah di atas pembaringan di dalam kamar rumah penginapan itu merasa gelisah hatinya.

Biarpun ada dua puluh empat orang pengawal anak buah dan kepercayaan ayah angkatnya, Jenderal Kao Liang, pada saat itu menjaga dan mengawalnya, namun hatinya merasa tidak enak.

Dia mengingat akan semua pengalamannya sejak meninggalkan Bhutan dan merasa betapa lebih senang dan merasa lebih aman ketika dia melakukan perjalanan bersama adik angkatnya, Lu Ceng atau Candra Dewi.

Entah bagaimana, dia tidak merasa senang untuk kembali ke Bhutan.

Dia merasa kehilangan karena di dalam perantauannya selama ini dia bertemu dengan banyak orang jahat dan musuh, akan tetapi juga dengan banyak sekali orang-orang yang amat baik kepadanya, yang tak mungkin dapat dia lupakan selama hidupnya, Lu Ceng adik angkatnya, Jenderal Kao Liang ayah angkatnya, Gak Bun Beng yang pernah menjatuhkan hatinya, yang sampai saat itu pun dianggap sebagai seorang manusia yang paling mulia baginya, Suma Kian Bu yang ternyata mencintanya dan pemuda yang remaja ini amat baik kepadanya.

Kemudian Suma Kian Lee yang halus dan sopan gerak-geriknya.

Puteri Milana yang demikian gagah perkasa dan bernasib menyedihkan.

Kemudian Ang Tek Hoat, pemuda yang takkan dapat dia lupakan, pemuda yang aneh, pemuda yang telah mengorbankan diri sendiri untuk menolongnya, Pemuda yang oleh semua orang dianggap jahat dan menjadi pengkhianat, menjadi pemberontak ternyata malah berjasa membunuh pangeran pemimpin pemberontak.

Pemuda yang menurut cerita Puteri Milana ibu pemuda itu, ternyata masih terhitung keluarga Pulau Es!

Dia membayangkan sinar mata sayu dan penuh derita hidup membayang dari mata pemuda itu dan teringat akan ini, Syanti Dewi menarik napas panjang.

Betapa banyaknya kedukaan di dunia ini bagi manusia.

Gak Bun Beng pendekar sakti itu pun merana karena cinta kasihnya dengan Puteri Milana gagal.

Demikian pula puteri itu merana.

Dan Kian Bu patah hati karena dia tidak dapat membalas cintanya.

Dia suka kepada pemuda ini seperti suka kepada seorang saudara, kepada seorang adik karena pemuda perkasa itu masih amat muda.

Renungan-renungan ini membuat Puteri Syanti Dewi merasa gelisah.

Bagaimana mungkin dia dapat melupakan semua orang itu dan kembali ke Bhutan di mana penghidupan akan menjadi lain sama sekali dan dia harus mengubur semua wajah yang dikenalnya itu dan mulai hidup baru di Bhutan?

Kepada pria mana lagi dia akan dijodohkan oleh ayahnya demi negara?

Dia merasa ngeri memikirkan hal ini.

Setelah merasakan keindahan alam luas, kenikmatan kebebasan, kini dia menghadapi istana Bhutan seperti menghadapi sebuah penjara!

Dia akan kehilangan kebebasannya sebagai manusia, sebagai seorang wanita biasa dan akan berada di dalam kurungan emas berupa istana megah itu sebagai seorang puteri, sebagai alat untuk negara!

Syanti Dewi makin gelisah dan akhirnya dia turun dari pembaringan, membuka pintu samping dan berkata kepada pengawal yang berjaga di luar pintu bahwa dia ingin berjalan-jalan ke dalam taman bunga kecil di samping rumah penginapan itu.

Pengawal itu mengangguk dan menjaga serta mengawasi dari jauh.

Taman itu menembus ke samping rumah dan depan rumah penginapan itu telah terjaga oleh lima orang temannya.

Puteri itu selalu dalam pengawasan dan tidak akan ada sesuatu dapat menimpanya.Angin malam semilir lembut mengusap wajah Syanti Dewi, mengusir kegelisahannya yang tadi terselimut oleh kenangan yang mendatangkan rasa gelisah di hati.

Kewaspadaan membuat dara ini dapat melihat dan mendengar dengan jelas keadaan di sekelilingnya dan telinganya menangkap suara tidak wajar yang arahnya datang dari depan.

Dia lalu melangkah perlahan menuju ke depan sehingga akhirnya dia dapat menyelinap di belakang serumpun pohon kembang dan mengintai keluar.

Dia terheran-heran melihat lima orang pengawalnya itu semua berlutut di depan seorang nenek tua renta berpakaian hitam yang datang bersama lima orang wanita setengah tua yang sikapnya galak.

Lebih lagi heran dan kagetnya ketika dia melihat berturut-turut semua pengawalnya yang keseluruhannya berjumlah dua losin orang itu berdatangan dan terdengar nenek itu berkata, suaranya agak pelo karena mulutnya sudah tidak bergigi lagi, nadanya tinggi dan mendesis setengah berbisik, akan tetapi terdengar jelas memasuki telinga bahkan sampai menyusup ke dalam jantung.

"Aku adalah permaisuri, kalian para pengawal tidak cepat berlutut memberi hormat? Aku adalah Thaihouw yang sengaja datang untuk memeriksa apakah kalian benar-benar baik dalam pengawal-anmu terhadap Puteri Bhutan."

Nenek berkulit hitam berpakaian hitam itu berkata.

Syanti Dewi sendiri belum pernah bertemu atau melihat permaisuri Kaisar, karena ketika dia dihadapkan Kaisar, dia sama sekali sebagai seorang puteri bangsawan yang tahu akan tata susila tidak berani mengangkat muka dan meliarkan pandang mata, maka sekarang pun dia tidak akan mengenal permaisuri.

Akan tetapi, betapapun juga, sampai mati dia tidak akan mau percaya bahwa nenek tua renta yang berwajah bengis menyeramkan, yang berpakaian hitam berkulit hitam dan lebih menyerupai iblis betina daripada manusia ini adalah permaisuri Kaisar dengan lima orang pengawalnya!

Akan tetapi, yang membuat dia terheran-heran adalah ketika dia melihat Can Siok, komandan pasukan pengawalnya yang baru datang berlari keluar, menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu dan berseru hormat.

"Thaihouw....!"

Juga semua pengawal kini telah berlutut di depan nenek itu!

Syanti Dewi mengerutkan alisnya.

Dia adalah seorang puteri Bhutan.

Kerajaan Bhutan adalah sebuah kerajaan di antara Pegunungan Himalaya dan di sana banyak terdapat pertapa-pertapa dan ahli-ahli ilmu kebatinan termasuk ahli-ahli sihir.

Maka puteri ini tidak asing dengan segala peristiwa yang tidak wajar dan berbau ilmu sihir.

Begitu dia menyaksikan keadaan di depan rumah penginapan itu, di mana dua losin orang pengawalnya berlutut di depan seorang nenek hitam dan menganggap nenek itu permaisuri, dia sudah dapat menduga bahwa tentu ada permainan sihir di sini.

"Heh-heh-heh, bagus sekali para pengawal yang setia!"

Nenek hitam itu ter-dengar berkata, suaranya berbisik mendesis seperti suara ular.

"Sekarang lekas kau ambil Puteri Bhutan itu, Kaisar menghendaki agar dia ikut dengan aku sekarang juga."

Begitu mendengar kata-kata ini, Syanti Dewi terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa nenek iblis itu sengaja datang hendak menangkapnya secara halus, menggunakan ilmu sihir.

Maka dia cepat pergi meninggalkan tempat persembunyiannya itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan kembang di dalam taman, lalu dengan jantung berdebar dia menggunakan kepandaiannya untuk meloncati pagar taman yang tidak begitu tinggi, kemudian dia lari menyelinap di antara rumah-rumah penghuni dusun itu.

Karena tidak mengenal jalan, dia tidak berani lari di tempat terbuka, dan dia hanya bersembunyi di balik-balik rumah, dan berpindah ke tempat lain kalau mendengar suara orang-orang mencarinya di tempat yang berdekatan.

Di sudut dusun itu, Syanti Dewi melihat sebuah rumah rusak yang kosong, maka dimasukinya rumah kosong ini dan dia bersembunyi di situ, mengintai dari balik pintu rumah yang terbuka karena daun pintunya tinggal sebelah.

Jantung-nya berdebar dan kakinya menggigil.

Dia tidak lagi berani keluar dari rumah rusak itu karena takut terlihat orang dan tertangkap.

Pagi cepat datang dan sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam.

Syanti Dewi masih berdiri mengintai di balik daun pintu yang tinggal sebelah.

Dusun itu masih sunyi dan Syanti Dewi ingin minta tolong penduduk dusun kalau dia melihat mereka keluar.

Di antara orang banyak, tentu nenek iblis itu tidak berani berlagak, pikirnya.

Akan tetapi tiba-tiba dia menahan napas melihat munculnya seorang wanita, yaitu seorang di antara lima wanita pengawal nenek itu malam tadi, dan wanita ini datang menuju ke rumah rusak itu diikuti oleh lima orang pengawalnya sendiri yang kini agaknya sudah menjadi kaki tangan mereka!

Syanti Dewi maklum bahwa para perajurit pengawalnya itu berada di bawah pengaruh sihir nenek itu, maka dari mereka jelas dia tidak dapat mengharapkan perlindungan lagi.

Mereka datang makin dekat, hanya tinggal belasan meter saja dari rumah rusak itu.

Untuk melarikan diri tidak mungkin karena sekali keluar dari rumah itu tentu akan terlihat oleh mereka dan lari pun tentu percuma, akan dapat dikejar.

Maka Syanti Dewi hanya bersembunyi dan mengintai dengan menahan napas, diam-diam berdoa agar mereka itu tidak akan memasuki rumah rusak.

"Haaaaa, kau hendak lari ke mana....?"

Suara lirih dan parau di belakangnya ini membuat Sang Puteri terkejut setengah mati.

Dia menengok dan melihat seorang kakek tua berkepala botak, tersenyum dan matanya memandang seperti mata seorang anak nakal yang suka menggoda, kedua lengan dibentangkan dengan sikap hendak menangkap Syanti Dewi!

Syanti Dewi terkejut dan menjadi bingung, akan tetapi tiba-tiba kakek itu yang melihat kebingungannya, menurunkan kedua lengannya dan bertanya halus.

"Eh, Nona. Mengapa pagi-pagi sekali engkau berada di sini seorang diri dan kelihatan ketakutan? Apakah kau hendak minggat dari rumahmu bersama seorang pacar?"

Syanti Dewi maklum bahwa ternyata kakek ini tidak ada hubungannya dengan para pengejarnya, dan sepanjang perantauannya dia telah agak mengenal orang-orang pandai, maka dia pun menduga bahwa kakek ini tentu bukan orang sembarangan, maka cepat dia menjura dan berkata.

"Kakek yang baik, aku mohon padamu, tolonglah aku.... aku sedang dikejar dan hendak ditangkap oleh mereka itu...."

Dia menuding ke arah luar rumah rusak itu.

Akan tetapi terlambat sudah.

Wanita yang bukan lain adalah seorang di antara Loan-ngo Mo-li itu telah mendengar suara Si Kakek dan dengan langkah lebar diikuti oleh lima orang perajurit pengawal dia telah menghampiri rumah rusak itu dan tiba-tiba saja dia muncul di depan Syanti Dewi dan kakek itu.

Wanita yang memakai anting-anting emas besar di kedua telinganya dan lima orang perajurit pengawal itu kelihatan girang sekali melihat Syanti Dewi.

Akan tetapi tiba-tiba kakek itu tertawa dan mengandung getaran kuat sekali.

"Ha-ha-ha, kalian bengong memandang kami kakek dan nenek mau apa sih? Berani kalian mengganggu Nenek Durganini yang sedang indehoi dengan kekasihnya? Heh-heh!"

Betapa anehnya!

Wanita Loan-ngo Mo-li yang bertampang kejam itu dan lima orang perajurit pengawal yang telah terpengaruh sihir dari nenek hitam guru Tambolon itu kini memandang bengong, dan wanita itu lalu menjura kepada Syanti Dewi sambil berkata.

"Harap Locianpwe maafkan, saya kira tadi puteri yang sedang kita cari-cari...."

Syanti Dewi tentu saja juga bengong dan bingung, akan tetapi lengannya sudah digandeng oleh kakek itu pergi meninggalkan rumah rusak, jalan bergandengan tangan diikuti pandang mata wanita itu yang masih terkejut dan heran.

Akan tetapi, bukan main kaget dan heran hatinya ketika melihat mengapa "nenek hitam"

Itu tadi dari belakang kelihatan ramping dan muda, tidak terbongkok-bongkok melainkan jalan berlenggang dengan bukit pinggul seorang dara muda yang bulat dan penuh!

Dia menggoyang dan mengguncang kepalanya, memejamkan mata sebentar kemudian membuka mata memandang lagi.

Kiranya "nenek"

Itu adalah puteri yang dicari-carinya.

"Kejar....! Tangkap mereka!"

Dia berteriak dan lima orang perajurit pengawal yang kini berubah menjadi seperti manusia-manusia robot yang tidak mempunyai pendirian sendiri karena telah dipengaruhi sihir Nenek Durganini itu cepat mengejar Syanti Dewi dan kakek tua, tombak mereka ditodongkan ke depan siap untuk menyerang.

Mendengar teriakan ini yang disusul derap kaki mengejar mereka, Syanti Dewi menjadi khawatir sekali.

"Kek, mereka mengejar....!"

Bisiknya.

Kakek itu terkekeh, kemudian secara tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan tubuhnya, telunjuk kirinya menuding ke arah lima orang perajurit pengawal itu sambil mulutnya berkata.

"Heeeiii! Kalian mengapa main-main dengan ular? Lihat, kalian bisa digigit sendiri oleh ular di tangan kalian!"

Syanti Dewi tentu saja menjadi heran sekali, mengira bahwa kakek yang aneh ini mungkln sudah miring otaknya.

Dikejar musuh yang mengancam bukannya lari atau melawan malah berolok-olok seperti itu.

Akan tetapi Syanti Dewi terbelalak kaget bukan main ketika dia melihat betapa lima orang perajurit pengawal yang kini telah menjadi hamba atau kaki tangan nenek hitam mengerikan itu memekik ketakutan dan tombak di tangan mereka itu telah berubah menjadi ular-ular besar yang kini membalikkan kepala mendesis-desis hendak menyerang mereka sendiri.

Syanti Dewi mengejap-ngejapkan matanya karena tidak percaya, akan tetapi benar saja, tombak-tombak di tangan lima orang itu telah berubah menjadi ular-ular yang menyerang mereka sendiri.

Lima orang itu terbelalak dengan muka pucat, kemudian tentu saja mereka lalu membuang "ular-ular"

Itu dan lari ketakutan!

Mereka adalah perajurit-perajurit pengawal pilihan, anak buah Jenderal Kao dan merupakan perajurit yang pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimana kuat pun.

Akan tetapi melihat tombak sendiri berubah menjadi ular-ular besar panjang yang menyerang mereka sendiri, hal ini terlalu hebat bagi mereka dan mendatangkan rasa takut yang hebat.

"Ha-ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa dan Syanti Dewi terpukau di tempatnya melihat betapa "ular-ular"

Itu setelah dibuang ke atas tanah dan ditinggalkan para perajurit, telah kembali kepada bentuk semula, yaitu lima batang tombak.

Bukan main kagum dan girang rasa hatinya karena kini dia maklum bahwa dia telah ditolong oleh seorang kakek ahli sihir pula.

Sungguh mengherankan sekali, pikirnya.

Dia akan diculik oleh seorang nenek ahli sihir dan ditolong oleh seorang kakek ahli sihir!

"Kakek yang baik, aku akan kau bawa ke mana?"

Tanya Syanti Dewi setelah melihat betapa para pengejar itu tidak tampak lagi di belakang mereka dan kakek itu telah membawanya keluar dari dusun itu.

"Ke tempat yang aman, di hutan depan itu. Di sana menanti seorang muridku, mari kau kuperkenalkan dengan dia,"

Kata Si Kakek yang bukan lain adalah See-thian Hoat-su itu.

Kakek ini pernah mengacau di dalam pesta yang diadakan Tambolon ketika Tambolon memaksa Siang Hwa untuk menikah dengan dia.

Seperti telah diceritakan secara singkat, tokoh perantauan yang aneh ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi dan mahir pula dengan ilmu sihir dan dia adalah bekas suami dari Nenek Durganini.

Seperti telah kita ketahui, See-thian Hoat-su ini bersama Panglima Jayin perwira pengawal Bhutan itu bersama empat orang anak buahnya, Kian Bu, Siang Hwa dan Siang In melarikan diri dikejar oleh Pasukan Tambolon dan dikeroyok di atas rakit sampai rakit itu terbawa hanyut oleh sungai yang mengamuk dalam badai.

Jenazah Siang Hwa yang menjadi korban hujan anak panah tidak dapat diselamatkan dan dibawa hanyut oleh air, akan tetapi kakek ini berhasil menyelamatkan Siang In ke darat.

Karena kasihan melihat dara yang yatim piatu dan kini bahkan kehilangan enclnya itu, juga karena melihat Siang In memiliki tulang yang kuat dan darah yang bersih serta memiliki bakat, kakek itu lalu mengangkat Siang In menjadi muridnya.

Biarpun sudah bercerai dari isterinya, yaitu Nenek Durganini, namun sesungguhnya Kakek See-thian Hoat-su masih mencinta isterinya atau bekas isterinya itu.

Maka ketika dia mendengar bahwa isterinya datang dari barat untuk membantu dan dapat dikatakan diperalat oleh muridnya yang jahat, yaitu Tambolon, See-thian Hoat-su menjadi tak senang hati dan dia pun lalu membayangi bekas isterinya itu untuk mencegah isterinya terseret dalam kejahatan.

Inilah sebabnya mengapa kakek itu muncul di dalam perayaan pesta pernikahan Tambolon dan mengacau sehingga pernikahan paksaan itu gagal.

Kini, mendengar bahwa Tambolon dan bekas isterinya itu pergi ke kota raja, diam-diam dia pun mengajak murid barunya, Teng Siang In untuk membayangi.

Melihat betapa isterinya menggunakan ilmu sihir menculik Syanti Dewi, dia segera turun tangan menolong gadis itu dan hal ini dilakukannya bukan sekali-kali karena dia suka mencampuri urusan orang lain melainkan semata-mata karena dia hendak mencegah isterinya terseret oleh muridnya melakukan perbuatan jahat.

Demikian pula halnya ketika dia mengacau di dalam pesta Tambolon.

Hanya karena mengingat kepada isterinya sajalah maka kakek ini mau campur tangan karena biasanya dia sudah tidak sudi lagi mencampuri urusan dunia yang hanya mendatangkan pertentangan dan permusuhan.

See-thian Hoat-su yang melarikan Syanti Dewi itu telah tiba di dalam hutan kecil itu dan langsung dia menghampiri sebuah kuil rusak yang kosong dan sisa dindingnya sudah penuh dengan lumut hijau.

"Siang In...., muridku yang baik, kau lekas keluarlah....!"

Kakek itu berteriak dengan suara gembira.

Terdengar suara orang menjawab dari dalam kuil tua dan Syanti Dewi ingin sekali melihat macam apa orangnya yang menjadi murid kakek aneh ini.

Kemudian dari dalam kuil itu tampak sesosok bayangan orang melangkah keluar dan Syan-ti Dewi terbelalak melihat bahwa orang ini bukan lain adalah nenek hitam berpakaian hitam yang telah menyihir para pengawalnya malam tadi!

See-thian Hoat-su juga terkejut sekali, akan tetapi kakek ini terkekeh dan berkata.

"Isteriku yang baik, engkau sudah menyusulku ke sini? Mana muridku?" (Lanjut ke

Jilid 48) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 48

"Siapa isterimu? Siapa muridmu?"

"Engkau isteriku.... yang baik, yang tercinta, yang...."

"Cukup! Kita sudah bercerai dan aku sudah nenek-nenek, engkau sudah kakek-kakek, tidak ada gunanya merayuku lagi."

"Ahhhh, galak amat....! Durganini, di mana muridku?"

Kakek itu bertanya dengan alis berkerut, agak khawatir juga sungguhpun dia tahu bahwa isterinya ini tidak akan mengganggu orang begitu saja.

"Muridmu siapa?"

"Ah, jangan main-main. Tentu saja Teng Sian In...."

"Dia? Huh, engkau lancang mulut, enak saja mengaku murid. Dia muridku, tahu?"

"Hah....?"

Kakek itu melongo dan cepat dia menguasai keheranannya, ingat bahwa sekali dia terheran, akan mudah untuk jatuh di bawah pengaruh sihir isterinya yang dalam hal ini lebih kuat daripada dia itu.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku? Kau lihat dan dengar sendiri! Siang In....! Muridku yang baik, kau keluarlah!"

"Baik, Subo!"

Terdengar jawaban nyaring dan tak lama kemudian muncullah seorang dara remaja cantik manis yang memandang kepada kakek itu dengan senyum lebar dan kemudian memandang kepada Syanti Dewi dengan sinar mata penuh keheranan.

"Eh, Enci ini siapakah? Begini cantik jelita seperti bidadari....!"

Begitu melihat Siang In, Syanti Dewi sudah merasa senang sekali.

Akan tetapi hatinya terlampau gelisah melihat nenek itu sehingga dia diam saja memperhatikan kedua orang tua itu.

Tak disangkanya bahwa kakek yang menolongnya ini malah suami dari nenek itu, atau setidaknya bekas suami!

Sementara itu, See-thian Hoat-su yang tadinya menyangka bahwa tentu muridnya telah terjatuh ke dalam kekuasaan sihir isterinya, begitu melihat muridnya, menjadi makin terheran-heran karena ternyata benar olehnya bahwa muridnya itu sama sekali tidak di bawah pengaruh sihir!

"Siang In, apa maksudmu?

Mengapa engkau mengangkat guru kepadanya?"

"Kepada siapa, Suhu? Maksudmu kepada Subo ini?"

"Ya. Kenapa? Bukankah engkau sudah menjadi muridku?"

Kakek itu menuntut.

"Karena aku menjadi murid Suhu, maka aku adalah muridnya juga, bukan? Engkau adalah suhuku (Bapak Guru) dan dia adalah suboku (Ibu Guru). Aku sudah mendengar bahwa Suhu telah meninggalkan Subo. Jahat sekali itu!"

"Ihh, anak kecil kau tahu apa? Hayo kau ikut aku pergi."

"Tidak, Suhu. Aku mau ikut pergi dengan Suhu kalau bersama subo. Kalau tidak, biar aku ikut Subo saja, sama-sama perempuan."

"Wah, apa-apaan ini?"

Kakek itu menggaruk kepalanya.

"Celaka sial dangkalan! Kenapa aku mengambil murid seorang perempuan? Sekarang aku dikeroyok!"

"Bagaimana, Suhu? Kalau Suhu mau berbaik kembali dengan Subo, aku mau ikut Suhu, kalau tidak, biar aku ikut dengan Subo."

Kakek itu membanting-banting kakinya.

"Cari penyakit! Dahulu, hanya dengan seorang perempuan di sampingku, hidup sudah banyak repot, sekarang malah ada dua ekor! Cari penyakit!"

"See-thian Hoat-su, banyak lagak engkau!"

Durganini menudingkan tongkatnya.

"Kalau begitu, pergilah tinggalkan kami, jangan sampai bangkit marahku dan kukutuk engkau menjadi monyet nanti!"

"Sudahlah!"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Dasar nasibku, tua-tua cari perkara. Aku mau menurut, kita bersama lagi, akan tetapi hanya dengan satu syarat yaitu kalian harus meninggalkan Tambolon dan ikut dengan aku ke tempat sunyi. Jangan membikin dunia yang sudah kacau menjadi makin kacau lagi. Bagaimana?"

"Setuju!"

Siang In bersorak.

"Selamanya aku memang hidup di tempat sunyi, dahulu dengan enciku, sekarang dengan Suhu dan Subo, tentu lebih ramai."

"Bagaimana, Durganini?"

Kakek itu menuntut.

Aneh!

Nenek itu menundukkan muka seperti seorang gadis diajak kawin, kemalu-maluan dan hanya terkekeh dan mengangguk-angguk!

Kakek itu tertawa bergelak lalu menggandeng tangan Durganini di sebelah kanan dan tangan muridnya di sebelah kiri.

"Kalau begitu, hayo kita pergi, tunggu apa lagi?"

"Eh, nanti dulu.... Enci, mari kau ikut bersama kami saja....!"

Siang In berseru sambil menoleh kepada Syanti Dewi.

Akan tetapi Syanti Dewi yang merasa ngeri menyaksikan adegan aneh itu dan seolah-olah menghadapi orang-orang gila, tentu saja tidak mau dan menggeleng kepala.

Dan tiba-tiba dia melihat asap hitam mengepul yang menelan tiga orang itu lenyap dari pandangan matanya.

Dia tertegun dan kagum bukan main.

Kiranya banyak benar orang-orang pandai di dunia ini.

Akan tetapi setelah kakek itu pergi, dia teringat akan keadaan dirinya dan timbullah kekhawatirannya.

Biarpun nenek itu sudah tidak ada lagi, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana jadinya dengan dua losin orang pengawal itu, apakah masih di bawah pengaruh sihir nenek itu sehingga bahkan berbalik hendak menangkapnya.

Teringat ini, dia mengambil keputusan untuk pergi sendiri saja melanjutkan perjalanannya ke barat.

Dengan hati lega Ceng Ceng dan Topeng Setan tiba di sarang perkumpulan di mana Ceng Ceng menjadi ketuanya itu.

Mereka sudah melihat beberapa orang anak buah menyambut kedatangan mereka dengan muka gelisah.

Karena Topeng Setan masih menderita luka parah dan tubuh membutuhkan perawatan baik, maka dia tidak begitu memperhatikan keadaan di situ, dan Ceng Ceng yang merasa lega hatinya bahwa akhirnya mereka tiba di tempat persembuyian ini, segera bersama Topeng Setan memasuki rumah besar yang selama dia berada di situ menjadi tempat tinggalnya.

Heran juga dia melihat rumah itu demikian sunyi, padahal hari sudah agak siang.

Tidak nampak ada pelayan dan penjaga menyambutnya.

Mereka terus saja memasuki ruangan dalam dan tiba-tiba keduanya tertegun ketika melihat munculnya belasan orang yang warna mukanya aneh-aneh, mengurung ruangan itu sehingga mereka berdua terkurung di tengah-tengah oleh orang-orang yang bersenjata itu!

Kaget sekali hati Ceng Ceng karena dia mengenal orang-orang ini sebagai anak buah Hek-tiauw Lo-mo, yaitu orang-orang Pulau Neraka yang memiliki kepandaian tinggi.

Topeng Setan juga terkejut sekali dan tiba-tiba muncullah dari balik pintu dalam dua orang yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka berada di tempat itu.

Mereka adalah Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui!

Melihat wanita yang bersama dengan Kian Bu di Telaga Sungari dan yang telah memperebutkan ular naga dengan dia, Ceng Ceng menjadi marah, memandang dengan mata terbelalak dan dia menudingkan telunjuknya sambil membentak.

"Kalian iblis laki perempuan berada di sini mau apa?"

"Ha-ha-ha-ha, selamat bertemu, Nona Ceng! Selamat datang di tempat perkumpulan kami."

"Apa maksudmu, Hek-tiauw Lo-mo?"

Ceng Ceng membentak.

"Aku adalah Bengcu di tempat ini!"

Ceng Ceng memberi isyarat dengan tepuk tangannya untuk memanggil anak buahnya, akan tetapi tidak ada seorang pun yang berani muncul.

"Ha-ha-ha-ha! Tempat ini telah menjadi tempatku, Nona yang baik. Akan tetapi mengingat persahabatan antara kita, aku mau mengembalikannya kepadamu dan mengampunimu kalau engkau suka menyerahkan anak ular naga itu kepadaku."

"Jangan mimpi! Mustika itu telah berada di dalam perutku...."

"Tidak.... tidak...., kami tidak berhasil mendapatkan anak naga itu...."

Topeng Setan cepat berseru dengan wajah membayangkan kekhawatiran, akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo tertawa lagi.

"Kau hendak membohongiku? Ha-ha, kulihat cahaya racun sudah lenyap dari wajahnya, hal ini berarti darahnya sudah bersih. Akan tetapi.... darah dan dagingnya masih sepenuhnya mengandung khasiat mustika itu sebelum lewat empat puluh hari, dan kau datang menyerahkan diri padaku, ha-ha-ha....!"

"Hek-tiauw Lo-mo, kau tidak bisa berbuat sekeji itu!"

Tiba-tiba Topeng Setan membentak marah dan tangan kanannya dikepal keras-keras.

"Engkau tidak boleh mengganggu dia!"

"Ha-ha-ha, siapa yang tidak memperbolehkan? Engkau dengan lenganmu yang sudah buntung sebelah? Ha-ha-ha! Mari, Nona manis, kau ikutlah dengan aku, ha-ha!"

Hek-tiauw Lo-mo yang kegirangan melihat munculnya orang yang ditunggu-tunggu itu menggapai kepada Ceng Ceng.

Nona ini tenang-tenang saja dan dia masih belum mengenal bahaya.

Dengan sabar dia berkata.

"Hek-tiauw Lo-mo, apakah kau benar-benar tidak mempunyai perikemanusiaan lagi? Puterimu demikian cantik dan berbudi, akan tetapi apakah engkau begitu kejam untuk mengganggu kami? Kau lihat, dia terluka parah dan perlu beristirahat, perlu dirawat luka-lukanya. Dan percuma saja engkau mengganggu kami karena anak ular itu sudah kuhabiskan semua. Biar engkau akan membunuh aku pun engkau tidak akan bisa mendapatkan anak ular naga itu."

"Aihh, Ceng Ceng.... kau.... kau tidak tahu...."

Topeng Setan mengeluh.

"Dia memang bukan manusia, dia lebih jahat daripada iblis, lebih keji daripada seekor binatang yang paling buas. Dia menghendaki daging dan darahmu...."

Wajah Ceng Ceng menjadi pucat sekali dan sambil berteriak marah dia lalu menerjang ke depan, menghantam ke arah Hek-tiauw Lo-mo.

Akan tetapi dengan amat mudahnya Ketua Pulau Neraka itu mengelak dan tiba-tiba Ceng Ceng merasa betapa punggungnya sakit sekali dan dia roboh pingsan.

Ternyata bahwa ketika dia menyerang Hek-tiauw Lo-mo yang tentu saja menganggap ringan ilmu silatnya, dari belakang Hong Kui telah menotoknya.

"Kalian tidak boleh mengganggunya!"

Topeng Setan membentak dan tubuhnya mencelat ke depan dengan kecepatan kilat dan tangannya yang tinggal sebelah itu berkelebat.

Bukan main cepatnya gerakan tangannya dan tenaga yang terkandung di dalam tangan ini juga amat besar, mendatangkan angin pukulan yang dahsyat.

Hong Kui terkejut dan membalik sambil menangkis.

"Bresss....!"

Tubuh wanita cantik ini terlempar ke belakang menabrak tembok dan kalau saja dia tidak memiliki kepandaian tinggi, tentu tulang-tulangnya akan remuk.

Akan tetapi dia sudah mengerahkan sin-kangnya dan ketika tubuhnya menabrak dinding, dia sudah membulatkan tubuh dan menggelinding di atas lantai.

Wanita ini selamat, akan tetapi dia kaget dan marah bukan main, mukanya merah, matanya melotot dan jantungnya masih berdebar tegang karena hampir saja dia celaka dalam sekali gebrakan saja!

Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah menerjang maju, mengerahkan tenaganya dan menggunakan Ilmu Pukulan Hek-coa-tok-ciang yang ampuh.

Pada saat itu, Topeng Setan baru saja menderita kehilangan lengan kiri.

Ketika hal itu terjadi, dia sedang bergulat dengan maut dalam air, maka dia telah kehilangan banyak darah dan tubuhnya masih lemah.

Apalagi karena baru saja kehilangan lengan kiri, gerakannya menjadi kaku dan canggung.

Oleh karena itu, biarpun dia masih mampu menangkis beberapa pukulan Hek-tiauw Lo-mo dan mengelak cepat ketika Mauw Siauw Mo-li juga menerjangnya dengan penuh kemarahan, akan tetapi karena sebagian perhatiannya juga tercurah kepada Ceng Ceng dengan penuh kegelisahan melihat dara ini rebah terlentang dalam keadaan pingsan, maka lewat belasan jurus saja dia sudah roboh oleh hantaman tangan kanan Hek-tiauw Lo-mo yang mengenai punggungnya.

Sekali dia roboh terhuyung, Mauw Siauw Mo-li juga menotok pundak kanannya.

Seketika Topeng Setan merasa betapa lengan kanannya setengah lumpuh dan dia roboh terguling.

"Ceng Ceng....!"

Biarpun dia sudah roboh, Topeng Setan berusaha untuk bangkit sambil memandang ke arah Ceng Ceng dengan penuh kekhawatiran.

Dia maklum manusia macam apa adanya Hek-tiauw Lo-mo dan membayangkan betapa dara itu akan diganyang dagingnya dan diminum darahnya oleh Hek-tiauw Lo-mo yang sangat menginginkan khasiat dari anak ular naga, Dia merasa ngeri dan khawatir sekali.

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang merasa marah bukan main karena tadi dibuat terlempar menubruk tembok oleh Topeng Setan, menghampiri orang aneh itu.

Dia memang sudah merasa amat kagum dan heran ketika menyaksikan sepak terjang Topeng Setan ketika terjadi perebutan anak ular naga, kagum betapa laki-laki ini dalam keadaan terluka hebat, buntung lengan kirinya, masih mampu merampas anak ular naga itu, bahkan mampu membawa Ceng Ceng lari sehingga tidak dapat ditangkap oleh sekian banyaknya orang lihai di Telaga Sungari.

Kini, dia merasakan sendiri keampuhan tangan yang tinggal sebelah itu, maka timbul keinginannya untuk melihat bagaimana macam orangnya yang bersembunyi di balik kedok buruk itu.

"Suheng jangan bunuh dia dulu. Aku ingin melihat wajahnya!"

Dia berteriak ketika melihat Hek-tiauw Lo-mo hendak turun tangan membunuh Topeng Setan.

"Hemm, sesukamu. Aku pun ingin melihat siapa dia!"

Hek-tiauw Lo-mo berkata sambil terkekeh girang karena dia telah berhasil menangkap Ceng Ceng dan merobohkan Topeng Setan yang amat lihai itu.

Lauw Hong Kui membungkuk, tangan kanannya meraih ke arah wajah Topeng Setan yang sama sekali tidak berdaya lagi itu, jari-jari tangan yang panjang dan halus itu sudah menyentuh topeng.

"Tahan....! Enci Hong Kui, jangan kau buka topeng itu....!"

Tiba-tiba Kian Bu yang baru muncul keluar berseru keras mencegah perbuatan Hong Kui itu.

Mendengar suara Kian Bu, Hong Kui terkejut karena kekasihnya itu nada suaranya bersungguh-sungguh seperti orang marah.

Tentu saja dia tidak ingin membuat kekasihnya marah kepadanya.

Kalau hanya karena muka Topeng Setan dia harus menghadapi kemarahan kekasihnya yang mungkin akan mogok melayani nafsunya, dia akan rugi sekali!

Kian Bu terkejut bukan main ketika melihat Ceng Ceng menggeletak di atas lantai.

Kalau saja dia tidak terlambat muncul, tentu dia akan mencegah Ketua Pulau Neraka dan sumoinya itu menyerang Ceng Ceng dan pembantunya yang setia itu.

Kini dengan langkah lebar dia menghampiri, alisnya berkerut dan dia menghadapi Hek-tiauw Lo-mo sambil berkata.

"Lo-mo, aku melarang engkau mengganggu mereka! Ketahuilah, nona ini adalah keponakanku sendiri, dan Topeng Setan adalah pembantunya yang setia. Mereka berdua telah membuat jasa besar dalam membantu pemerintah. Aku terpaksa akan menentangmu kalau engkau mengganggu mereka. Enci Hong Kui, jangan engkau ikut-ikut suhengmu!"

"Ha-ha-ha, Sumoi, matamu buta! Engkau memilih kekasih yang menentang kita. Orang muda, engkau sombong sekali. Kau kira mudah saja menentang Hek-tiauw Lo-mo?"

Kakek itu sudah mengepal kedua tangannya dan terdengar suara berkerotokan.

Ini merupakan tanda bahwa dia sudah marah sekali dan ingin menurunkan tangan maut kepada Kian Bu.

Sebaliknya, pemuda dari Pulau Es itu pun memandang tajam, berdiri tegak dan siap untuk melakukan perlawanan terhadap musuh yang dia tahu amat lihai itu.

"Tahan....! Jangan berkelahi....!"

Mauw Siauw Mo-li berseru dan meloncat di tengah-tengah melerai mereka.

"Suheng! Kian Bu! Jangan kalian berkelahi sendiri. Segala urusan dapat dirundingkan baik-baik, mengapa harus menggunakan kekerasan saling merusak? Kalian berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, kalau sudah saling gempur tentu ada seorang di antara kalian yang celaka."

Hek-tiauw Lo-mo bukan seorang bodoh.

Ucapan sumoinya ini menyadarkannya bahwa memang amat merugikan kalau dia bermusuhan dengan kekasih su-moinya ini.

Dia tahu betapa lihainya putera Majikan Pulau Es ini dan dalam keadaan seperti sekarang ini, sebaiknya kalau dia tidak bermusuhan dengan pemuda yang telah dapat ditarik oleh sumoinya itu.

Dan tentang Ceng Ceng yang telah ditawannya, juga Topeng Setan, dapat saja dia kuasai dengan jalan halus.

"Ha-ha-ha, ucapan sumoi memang tepat juga. Orang muda, engkau mencinta dia, dan aku adalah suhengnya, sungguh tidak enak kalau antara kita bentrok sendiri. Aku akan menjadi malu hati terhadap sumoiku yang tinggal seorang ini!"

Kian Bu menahan senyum dan melirik ke arah Ceng Ceng yang masih rebah terlentang dalam keadaan pingsan dan Topeng Setan yang juga rebah tak berdaya karena tertotok.

"Lo-mo, aku pun tidak hendak memusuhimu, akan tetapi kalau kau mengganggu mereka, terpaksa aku harus turun tangan."

Hek-tiauw Lo-mo menarik napas panjang.

"Aih, kau tentu mengerti betapa aku amat membutuhkan khasiat naga itu untuk menyempurnakan ilmuku yang masih setengah matang kulatih. Dan aku harus merampas kembali kitabku dari tangan Topeng Setan ini. Akan tetapi biarlah hal itu kita lakukan dengan halus dan membujuknya untuk mengembalikan kitab. Adapun tentang nona ini dengan khasiat anak naga, biar sementara waktu kita tidak usah bicarakan dulu. Akan te-tapi aku pun tidak akan membebaskan mereka sebelum kitab itu dikembalikan kepadaku. Sumoi, kau yang bertanggung jawab kalau sampai nona ini melarikan diri. Nah, kau boleh membawa dia ke kamar dan menjaganya. Topeng Setan akan kumasukkan tahanan dan dijaga keras."

Tanpa menanti jawaban, Hek-tiauw Lo-mo menyambar tubuh Topeng Setan dan membawanya ke dalam tahanan di mana dia memerintah-kan anak buah Pulau Neraka untuk menjaganya.

Lengan yang tinggal sebelah itu dipasangi belenggu baja yang arnat kuat, demikian pula kedua pergelangan kakinya.

Akan tetapi, sebagai seorang tokoh besar, Hek-tiauw Lo-mo yang sudah berjanji itu tidak memperbolehkan anak buahnya membuka topeng buruk itu.

Sementara itu, Lauw Hong Kui mem-bujuk kekasihnya untuk bersabar dan dia memondong tubuh Ceng Ceng yang masih pingsan ke dalam sebuah kamar dan menjaganya.

Dapat dibayangkan betapa bingung rasa hati Kian Bu.

Dia ingin sekali menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan, akan tetapi dia maklum bahwa dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, dia tidak mungkin seorang diri saja membebaskan mereka karena dia harus menghadapi Hek-tiauw Lo-mo yang lihai dan banyak anak buahnya.

Selain itu, juga dia merasa sungkan untuk bermusuhan dengan kekasihnya yang dia tahu terpaksa tentu akan berpihak kepada suhengnya.

Maka dia mengandalkan cinta kasih wanita itu kepadanya untuk dapat membujuk agar Hek-tiauw Lo-mo tidak mengganggu kedua orang tawanan itu sebelum dia mampu menyelamatkan mereka.

Suma Kian Bu termenung di dalam kamarnya.

Hatinya gelisah sekali dan pikirannya ruwet.

Batinnya sadar bahwa dia telah tersesat, telah menuruti nafsu berahi dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam kenikmatan duniawi yang sebetulnya mengandung racun-racun berbahaya.

Akan tetapi, setiap kali dia membayangkan kesenangan dan kenikmatan yang dialaminya bersama Hong Kui, dia menjadi lumpuh dan tidak mampu meninggalkan wanita itu.

Dia merasakan dirinya seperti seekor semut yang terjatuh ke dalam secawan madu.

Manisnya madu itu memabokkan, akan tetapi telah menggulung dan membuat dia melekat tak mampu melepaskan diri, bergulung dalam kemanisan dan kenikmatan biarpun dia maklum bahwa keselamatannya terancam.

Hendak melepaskan diri, sayang akan kenikmatannya, hendak melanjutkan menikmati kesenangan, sadar bahwa dia tersesat!

Tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu di jendela kamarnya.

Daun jendela itu diketuk orang dari luar!

Dia terheran-heran mengapa dia tidak dapat mendengar ada orang mendekati jendelanya dan tahu-tahu jendela itu diketuk dari luar!

Dengan sikap waspada dan siap-siap Kian Bu mendekati jendelanya dan membuka palangnya lalu mendorong jendela terbuka.

Betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat seorang pemuda sudah berdiri di luar jendela dan pemuda itu tentu saja dikenalnya baik karena dia bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

Dengan pandang mata tajam penuh selidik Tek Hoat memberi tanda dengan telunjuk di depan bibir agar Kian Bu tidak membuat gaduh, kemudian dengan gerakan ringan sekali dia meloncat memasuki kamar Kian Bu.

Wajah pemuda ini masih pucat, agaknya luka-luka yang dideritanya ketika dia dikeroyok oleh Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo yang berhasil dia robohkan dan tewaskan itu masih belum memulihkan semua kesehatan tubuhnya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tek Hoat yang terluka hebat sekali telah diangkut ke kota raja oleh Puteri Milana dan di sana mengalami perawatan dan pengobatan.

Akan tetapi, ketika Tek Hoat mendengar bahwa musuh besarnya, Gak Bun Beng, masih hidup, semangatnya timbul dan biarpun kesehatannya masih belum pulih, badannya masih lemah, dia nekat meninggalkan istana Puteri Milana untuk pergi mencari musuh besarnya itu.

Juga dia pergi dengan jantung seperti ditusuk rasanya karena dia melihat bahwa Syanti Dewi, Puteri Bhutan yang telah merampas hatinya dan telah membuat dia tergila-gila itu, ternyata mencinta Suma Kian Bu, putera Pendekar Super Sakti.

Dia maklum bahwa dirinya memang tidak berharga sama sekali bagi puteri itu dan dia sudah merasa berbahagia bahwa dia telah berhasil menyelamatkan puteri yang dicintanya dengan diam-diam itu dari bahaya.

Karena kesehatannya belum pulih, Tek Hoat tidak pergi jauh meninggalkan kota raja dan kemudian dia teringat akan dusun Nam-lim di mana dia membantu Ceng Ceng yang menjadi bengcu kaum sesat di sana.

Mengingat bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan meninggalkan tempat itu, Tek Hoat lalu pergi ke sana dengan niat untuk mencari saputangannya yang membuat dia teringat akan sumpahnya kepada Ceng Ceng, dan juga untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya.

Akan tetapi, ketika pagi hari itu dia tiba di sebuah hutan tidak jauh dari Nam-lim, dia mendengar jerit seorang wanita.

Biarpun dia merasa enggan untuk mencampuri urusan orang lain, apalagi karena tubuhnya masih lemah, namun bangkit juga rasa penasaran di dalam hatinya dan dia cepat mengejar ke arah datangnya suara itu.

Jerit tertahan yang hanya satu kali seperti jerit wanita yang mengalami kekagetan.

Dengan bersembunyi di balik sebatang pohon besar, Tek Hoat memandang ke depan kuil rusak di mana terdapat belasan orang yang dikenalnya sebagai raja liar Tambolon dan dua orang pengawalnya yang terkenal itu bersama anak buahnya.

Dan hampir Tek Hoat mengeluarkan teriakan kaget dan marah ketika dia melihat seorang dara berdiri di tengah-tengah pengurungan mereka, dan dara yang matanya terbelalak lebar dan mukanya pucat karena kaget itu bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi!

Tek Hoat menggosok-gosok kedua matanya.

Tak salah lagi.

Puteri itu adalah Puteri Bhutan yang selama ini tak pernah dilupakannya sedetikpun juga!

Akan tetapi bagaimana puteri ini bisa berada di dalam hutan, seorang diri di depan kuil tua dan kini dikurung oleh Tambolon dan orang-orangnya?

Seperti kita ketahui, Puteri Bhutan ini berada di depan kuil tua seorang diri setelah dia ditinggalkan See-thian Hoat-su yang mengajak pergi isterinya, Durganini dan muridnya, Teng Siang In di tempat itu, tiba-tiba datang Tambolon dan anak buahnya sehingga Syanti Dewi terkejut sekali dan mengeluarkan suara menjerit tadi yang terdengar oleh Tek Hoat.

Setelah dia merasa yakin bahwa dara itu adalah Puteri Syanti Dewi, Tek Hoat merasa ada hawa panas naik dari pusarnya terus sampai membuat mukanya menjadi panas dan merah.

Ada orang-orang berani mengganggu Syanti Dewi di depan hidungnya!

Sekali meloncat, tubuhnya melayang dan tahu-tahu dia telah tiba di depan pengurungan itu, di dekat Syanti Dewi yang menjadi girang sekali melihat pemuda ini.

"Tek Hoat....!"

Dalam girangnya melihat betapa dalam keadaan terancam bahaya mengerikan itu tiba-tiba muncul pemuda yang pernah menolongnya dan yang tentu sekarang datang hendak menolongnya pula, Syanti Dewi segera menyambar lengan Tek Hoat.

Merasa betapa lengannya disentuh oleh tangan dara itu, jantung Tek Hoat berdebar keras akan tetapi dengan halus dia melepaskan pegangan gadis itu sambil berbisik halus.

"Harap paduka mundur dan berlindung di belakang saya...."

Syanti Dewi menggigit bibirnya mendengar betapa pemuda itu menyebut pa-duka dan bersikap amat menghormatinya.

Dia tidak berkata apa-apa lagi dan mundur di belakang pemuda itu, hatinya diliputi penuh kekhawatiran karena melihat sikap Tambolon dan anak buahnya yang mengancam.

Memang Tambolon marah sekali ketika dia melihat munculnya Tek Hoat yang seperti setan tiba-tiba saja muncul di situ.

"Ahh, bukankah engkau pemuda tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong?"

Bentaknya.

"Tidak perlu menggali urusan lama, yang penting adalah sekarang ini, Tambolon. Aku melarang engkau mengganggu puteri ini!"

Tek Hoat berkata dengan suara nyaring dan yang nadanya penuh tantangan.

"Pemuda sombong!"

Tiba-tiba Yu Ci Pok, Si Siucai Maut itu membentak dan sudah menerjang ke depan dengan totokan jari-jari tangannya yang dilakukan se-cara beruntun ke arah tujuh jalan darah terpenting di tubuh bagian depan dari Tek Hoat.

"Plak-plak-plak.... desss....!"

Tubuh Siucai itu terlempar ke belakang bahkan sampai terbanting sehingga pinggulnya menimpa tanah dan debu mengebul dari tempat yang tertimpa pantatnya.

Melihat betapa kawannya begitu mudah dirobohkan, Liauw Kui Si Petani Maut menjadi marah.

Dia berseru keras dan pikulannya sudah menyambar-nyambar.

Melihat serangan maut ini, Tek Hoat cepat mengelak dengan lincahnya dan balas menendang dari kiri yang juga dapat dielakkan oleh Si Petani Maut.

Adapun Yu Ci Pok yang mukanya menjadi merah sekali karena terbanting tadi, kini juga sudah meloncat bangun, mencabut senjatanya yang ampuh, yaitu sepasang poan-koan-pit dan bersama dengan Lauw Kui dia menyerang Tek Hoat Kalang kabut.

"Hemm...., kalian hendak bertempur? Boleh, lihat pedang!"

Tiba-tiba kelihatan sinar pedang bergulung-gulung mengerikan sekali.

Itulah pedang Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) yang amat ampuh, sebatang pedang yang dahulu menjadi milik iblis dari Pulau Neraka Cui-beng Koai-ong!

Terdengar suara nyaring berkali-kali dan dua orang pembantu Tambolon itu melompat ke belakang dengan muka pucat karena senjata pikulan dan dua batang poan-koan-pit itu telah patah-patah terbabat sinar pedang Cui-beng-kiam.

"Simpan pedangmu atau gadis ini akan kubunuh lebih dulu!"

Tiba-tiba Tambolon berkata tenang.

Tek Hoat terkejut, cepat dia memutar tubuhnya dan matanya terbelalak memandang Syanti Dewi yang sudah dipegang kedua lengannya ke belakang oleh Tambolon dan raja liar ini menempelkan pedangnya di leher Puteri Bhutan itu.

Melihat ini lemaslah seluruh tubuh Tek Hoat.

Tambolon memang seorang yang amat cerdik sekali.

Dia telah melihat betapa lihainya pemuda ini ketika Tek Hoat dengan mudah membuat dua orang pengawalnya itu tidak berdaya hanya dalam waktu singkat saja.

Dia tahu bahwa kalau dia sendiri maju dibantu dua orang pengawalnya dan para anak buahnya, belum tentu dia tidak akan dapat mengalahkan Tek Hoat, akan tetapi sebelum dia dapat merobohkan pemuda perkasa ini tentu pihaknya lebih dulu mengalami pukulan hebat, mungkin banyak pembantunya yang akan tewas.

Dia tidak menghendaki hal ini terjadi, apalagi dia memang mengharapkan bantuan pemuda ini.

Maka dia telah mengambil cara yang dianggapnya paling mudah dan paling aman, yaitu mengancam Syanti Dewi.

Muka Tek Hoat menjadi merah saking marahnya menyaksikan cara ini.

"Tambolon, engkau sungguh manusia pengecut! Bebaskan Sang Puteri dan mari kita bertanding secara jantan!"

Tambolon tersenyum mengejek.

"Di antara kita tidak ada permusuhan, perlu apa saling hantam? Pula, aku ingin bicara denganmu, kau simpan pedangmu itu!"

"Jangan mengira aku akan dapat kau gertak, hayo bebaskan atau aku akan mengamuk dan membunuh kalian semua!"

"Ha-ha-ha, apakah kau kira aku anak kecil, Ang Tek Hoat? Bergeraklah dan pedangku akan memenggal leher yang halus ini!"

Tambolon mengancam dan pedangnya yang menempel di kulit leher putih halus itu amat mengerikan.

Memang Tambolon bukan melakukan perbuatan ini karena takut, melainkan dengan perhitungan yang sudah masak.

Dia telah mendengar betapa pemuda ini, demi untuk menyelamatkan Syanti Dewi, telah berkhia-nat, membalik dan membunuh Pangeran Liong Khi Ong, Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo.

Hal ini membuat dia merasa yakin bahwa penodongannya terhadap Syanti Dewi sudah pasti akan berhasil baik dan membuat Tek Hoat tidak berani bergerak.

Dan memang perhitungannya ini tepat sekali.

Tek Hoat merasa seolah-olah dibelenggu kaki tangannya dan dia lalu menyimpan pedangnya.

"Tambolon, kalau engkau mengganggu selembar rambutnya saja, aku bersumpah akan menyiksamu dan akhirnya membunuhmu sampai engkau menyesal telah dilahirkan di dunia ini."

Ucapannya itu lirih akan tetapi mengandung ancaman yang mendirikan bulu roma.

Tambolon sendiri yang mempunyai watak kejam, bergidik mendengar sumpah itu karena dia maklum bahwa orang macam pemuda ini tentu akan memenuhi ancamannya yang hebat itu.

Pemuda seperti ini merupakan seorang musuh yang berbahaya dan mestinya, menurut watak dan kecerdikannya, dia harus membunuh pemuda ini sekarang juga.

Akan tetapi dia ingin memanfaat-kan pemuda ini lebih dulu, karena dia mendengar pelaporan anak buahnya tadi bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan telah tiba di dusun Nam-lim dan celakanya telah terjatuh ke tangan Hek-tiauw Lo-mo!

"Ang Tek Hoat, aku pun bersumpah tidak akan mengganggu Puteri Bhutan ini, akan tetapi engkau harus membantuku dengan sesuatu.

Kalau engkau tidak mau melakukan itu dan gagal, terpaksa aku akan membunuhnya dan kami sanggup menghadapi ancaman kosongmu itu!"

"Tambolon, tak perlu banyak cakap. Katakan apa yang kau kehendaki?"

"Aku ingin agar engkau pergi ke dusun Nam-lim dan menghadapkan Nona Lu Ceng ke sini. Atau pendeknya, aku ingin menukar puteri ini dengan Nona Lu Ceng."

"Tek Hoat.... jangan kau celakakan Lu Ceng....!"

Tiba-tiba Syanti Dewi yang berdiri dengan leher tertempel pedang dan mukanya pucat, berseru.

"Biar mati aku tidak akan mencelaka-kan adikku itu!"

Tek Hoat memandang Tambolon dengan sinar mata penuh selidik.

"Tambolon, mengapa engkau menyuruh aku untuk urusan itu? Engkau dengan begini banyak pembantumu, takut untuk melakukan penangkapan atas diri Nona Lu Ceng maka engkau menyuruh aku?"

"Ha-ha-ha, jangan menduga yang bukan-bukan, orang muda. Engkau adalah seorang di antara pembantu Lu-bengcu, bukan? Engkau lebih mengenal keadaan di sana dan engkau tentu akan lebih mudah untuk membawa dia ke sini. Sudahlah, kau lakukan itu atau terpaksa aku akan membunuh puteri ini."

"Mengapa engkau menghendaki dia?"

"Karena dia telah berhasil memperoleh anak naga Telaga Sungari."

Diam-diam Tek Hoat terkejut.

Dia pun mendengar tentang anak naga itu akan tetapi dia sendiri tidak mempedulikan binatang yang dianggap keramat dan merupakan obat yang amat luar biasa itu.

"Nona Lu Ceng dan Topeng Setan telah kembali ke Nam-lim dan mereka terjatuh ke tangan Hek-tiauw Lo-mo dan anak buahnya."

"Ahhh....?"

Tek Hoat terkejut.

"Karena itu, berhati-hatilah dan jangan sampai engkau gagal menyeret Nona Lu ke sini kalau kau ingin melihat puteri ini selamat."

"Baik, aku akan lakukan itu. Dan sekali lagi ingat, jangan engkau mengganggu selembar rambut pun dari nona ini."

Setelah berkata demikian, Tek Hoat membalikkan tubuhnya pergi dari situ.

"Tek Hoat...., jangan kau penuhi permintaan mereka. Jangan kau ganggu adikku Lu Ceng!"

Syanti Dewi masih berseru marah. Tek Hoat membalik dan menjura.

"Harap paduka tenang saja."

Kemudian sekali berkelebat, pemuda itu sudah lenyap di balik pohon-pohon di hutan itu.

Demikianlah, malam hari itu Tek Hoat berhasil menyelundup ke dusun Nam-lim yang tentu saja dikenalnya dengan baik dan dia berhasil memasuki kamar Suma Kian Bu yang gelisah tak dapat tidur memikirkan keadaan Ceng Ceng yang menjadi tawanan itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya hati Kian Bu melihat munculnya Tek Hoat di tempat itu.

Setelah mereka berdiri berhadapan di dalam kamar, Tek Hoat sejenak menatap wajah Kian Bu dengan tajam, kemudian dia berdiri.

"Apakah dunia telah terbalik? Tidak salahkah penglihatanku bahwa putera Pendekar Super Sakti kini menjadi sekutu Hek-tiauw Lo-mo?"

Wajah Kian Bu menjadi merah bukan main.

"Tek Hoat, jangan engkau mengeluarkan ucapan yang bukan-bukan! Aku di sini menjadi tamu, bukan sekutu!"

"Bagus! Akan tetapi mengapa engkau enak-enak saja melihat Nona Lu Ceng dijadikan tawanan olehnya?"

Jantung Kian Bu berdebar penuh rasa malu dan ketegangan.

Untung bahwa pemuda aneh ini agaknya belum tahu akan hubungannya dengan Hong Kui, kalau tahu, dia akan merasa makin canggung dan malu lagi.

"Enak saja kau bicara, apa kau kira aku diam-diam tidak memikirkan hal itu? Akan tetapi mereka itu kuat sekali, aku tidak berani bertindak sembrono dan mengalami kegagalan."

"Aku datang untuk menyelamatkan Nona Lu Ceng. Dapatkah kau membantuku?"

"Dengan adanya engkau, tentu keadaan kita lebih kuat. Mari kita serbu dan...."

"Tidak begitu maksudku, Kian Bu. Aku hanya minta bantuanmu. Di mana Ceng Ceng ditahan?"

"Di dalam kamar.... Mauw Siauw Mo-li, di ujung lorong belakang. Topeng Setan dimasukkan ke gudang belakang...."

"Aku tidak peduli dengan Topeng Setan,"

Kata Tek Hoat.

"Sekarang baiknya engkau mengacau dengan api. Bakarlah bagian depan bangunan untuk memancing mereka keluar, dan aku akan menyelinap ke belakang dan membebaskan Nona Lu Ceng."

Kian Bu mengangguk dan setelah menerima bahan pembuat api dari Tek Hoat yang memang telah mempersiapkannya sebelumnya, dia lalu mengikuti Tek Hoat keluar dari kamar itu.

Setelah memberi isyarat di mana letaknya kamar Mauw Siauw Mo-li, mereka lalu berpisah dan Kian Bu cepat menuju ke depan dan memilih tempat yang baik untuk dibakar.

Dia maklum bahwa perbuatannya ini tentu akan membuat dia dibenci oleh Mauw Siauw Mo-li, akan tetapi dia tidak peduli.

Dia tidak mencinta wanita cantik itu, hanya menikmati pergaulan mereka, memuaskan nafsu belaka.

Memang dia sudah gelisah dan mencari akal bagaimana dapat menyelamatkan Ceng Ceng dan kemunculan Tek Hoat memang amat kebetulan.

Tak lama kemudian, di malam yang sunyi itu, kegelapan di dusun yang menjadi sarang bekas perkumpulan Tiat-ciang-pang dipecahkan oleh sinar api yang bernyala tinggi dan kesunyian dipecahkan oleh teriakan-teriakan banyak orang.

"Api....! Api....! Kebakaran....!"

Seketika tempat itu menjadi geger.

Para anggauta Pulau Neraka memimpin orang-orang memadamkan api dan Hek-tiauw Lo-mo sendiri dengan kaget dan marah mendatangi tempat kebakaran.

Tak lama kemudian muncul Mauw Siauw Mo-li dan Suma Kian Bu.

Wanita ini tadi masih menjaga Ceng Ceng di dalam kamarnya.

Ketika Suma Kian Bu datang mengetuk pintunya dan mengajaknya keluar untuk melihat kebakaran, Lauw Hong Kui yang tadi menotok Ceng Ceng, lebih dulu mengikat kaki tangan dara itu, baru dia pergi bersama Kian Bu keluar.

Ketika mereka tiba di luar, Hek-tiauw Lo-mo memandang tajam kepada Kian Bu dan sumoinya, lalu membentak marah.

"Sumoi, kenapa kau tinggalkan dia? Celaka, ini tentu perbuatan musuh yang menggunakan siasat memancing harimau keluar sarang!"

Mendengar ini, Hong Kui terkejut dan bersama suhengnya dia berlari kembali menuju ke kamarnya.

Saking kaget dan khawatirnya dia sampai tidak melihat bahwa Kian Bu tidak ikut kembali ke dalam.

"Brakkk!"

Hek-tiauw Lo-mo menendang pecah daun pintu kamar itu dan keduanya berteriak marah dan kaget melihat pembaringan di mana tadi Ceng Ceng rebah terbelenggu telah kosong.

"Celaka....!"

Lauw Hong Kui berteriak.

"Dia sudah kubelenggu!"

"Kau tolol....!"

Hek-tiauw Lo-mo berseru dan meloncat keluar lagi, mendorong sumoinya yang menghalangi jalan.

Dia kembali ke tempat kebakaran dan mencari-cari, akan tetapi tidak melihat lagi bayangan Suma Kian Bu.

Sambil memaki-maki penuh kemarahan, Hek-tiauw Lo-mo cepat berlari menuju ke tempat tahanan Topeng Setan dan dia masih melihat para penjaganya lengkap di situ karena mereka tidak berani meninggalkan tawanan penting ini.

Dan Topeng Setan sendiri masih duduk bersila dalam keadaan terbelenggu di dalam kamar tahanan.

Kita tinggalkan dulu Hek-tiauw Lomo yang marah-marah melihat hilangnya Ceng Ceng dan mari kita ikuti pengalaman Ceng Ceng.

Tadi ketika dia melihat Kian Bu muncul di depan kamar kemudian dia yang sudah tertotok itu dibelenggu oleh Mauw Siauw Mo-li, melihat betapa mereka berdua bicara dengan sikap mesra sekali, hati Ceng Ceng mendongkol bukan main.

Tak disangkanya bahwa putera Pendekar Super Sakti atau masih terhitung "paman"

Tirinya itu, kini menjadi sahabat baik dari Hek-tiauw Lo-mo dan sumoinya.

Ketika dulu dia melihat Suma Kian Bu berdua dengan Lauw Hong Kui di Telaga Sungari, dia masih belum menduga jelek dan mengira bahwa mereka itu secara kebetulan saja bertemu di telaga karena keduanya sama memperebutkan anak naga.

Akan tetapi sekarang, dia menjadi tawanan Hek-tiauw Lo-mo dan Kian Bu berada di situ sebagai sahabat Mauw Siauw Mo-li!

Hampir saja Ceng Ceng tidak dapat mempercayai pandangan matanya sendiri.

Sungguh tidak mungkin kalau pemuda perkasa itu, yang dia tahu merupakan keturunan pahlawan dan pendekar besar, yang bersama dengan Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee telah ikut berjuang membasmi pemberontak, kini tiba-tiba menjadi sahabat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li, bekas kaki tangan pemberontak dan orang-orang yang pantas digolongkan dengan bangsa iblis jahat!

Teringat dia akan teriakan Suma Kian Bu ketika dia memperebutkan anak naga dengan Mauw Siauw Mo-li di atas tiang layar patah itu.

Pemuda itu berteriak.

"Enci, biarkan dia mendapatkan ular itu....!"

Teriakan ini ditujukan kepada Mauw Siauw Mo-li yang disebut "enci"

Oleh Kian Bu.

Dan teriakan itu saja sudah membuktikan bahwa Kian Bu berpihak kepadanya, minta kepada iblis betina itu agar menyerahkan anak naga kepadanya.

Akan tetapi Mauw Siauw Mo-li tidak mau sehingga akhirnya anak ular naga itu putus ekornya.

Akan tetapi mengapa sekarang Kian Bu seolah-olah diam saja melihat dia ditawan?

Dan mengapa kelihatannya antara Kian Bu dan iblis betina itu begitu mesra?

Iblis betina itu cantik sekali memang cantik, menarik dan genit penuh daya pikat.

Diam-diam Ceng Ceng mengeluh.

Mungkinkah "paman"

Tirinya itu yang masih muda belia terjebak dalam pikatan si cantik genit?

Ceng Ceng gelisah bukan main, gelisah memikirkan keselamatan Topeng Setan.

Pamannya yang bertopeng buruk itu, yang telah berkorban sedemikian rupa untuk dia, sekarang kembali berada dalam ancaman maut.

Ceng Ceng memejamkan matanya mengusir kengerian hatinya yang penuh rasa iba kepada Topeng Setan.

Luka di pundaknya karena lengannya buntung itu masih belum sembuh dan sekarang harus menjadi tawanan orang-orang sejahat iblis.

Sudah matikah Topeng Setan?

Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar membasahi pipinya.

Topeng Setan mati?

Dunia tak ada artinya lagi baginya.

Karena kalau orang itu mati dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi dan dia tidak akan dapat menahan derita hidup akan bosan dengan hidup ini.

Topeng Setan merupakan harapan satu-satunya, seolah-olah merupakan pegangan terakhir baginya dalam kehidupannya yang penuh derita itu.

Dia sejak dahulu hanyut dalam gelombang kesengsaraan dan baru sekarang dia mendapat pegangan yang dapat menahan kehanyutannya, pegangan seorang yang dapat dipercayanya sepenuhnya, yang dia yakin amat mencintanya, mungkin menganggapnya sebagai anak sendiri.

Kalau dia benar sudah mati, dia pun enggan menanggung derita hidup sendirian saja!

Tiba-tiba jendela kamar itu terbuka dari luar, dan sesosok bayangan yang cepat dan ringan sekali melayang masuk.

Ang Tek Hoat!

Ceng Ceng memandang dengan jantung berdebar ketika melihat betapa jari-jari tangan yang mengandung kekuatan sin-kang hebat itu mematah-matahkan belenggu kaki tangannya, kemudian dia ditotok bebas.

"Tek Hoat...."

"Sssssttt, mereka sedang sibuk dengan api, mari kita pergi!"

Tanpa menanti jawaban dia menyambar lengan Ceng Ceng dan mengajaknya melompat lari dan menyelinap di antara bayangan rumah-rumah di situ lalu langsung melarikan diri secepat mungkin keluar dari dusun Nam-lim.

"Tek Hoat, berhenti dulu!"

Tiba-tiba Ceng Ceng berkata dan memegang lengan pemuda itu.

Tek Hoat berdiri dan memandang wajah gadis itu di bawah sinar bulan yang bersinar terang di malam itu.

"Kita harus kembali!"

Kata Ceng Ceng dengan suara tetap.

"Ehh....?"

Tek Hoat menjadi terheran sekali.

"Susah payah aku membebaskan engkau dan melarikan diri, sekarang engkau hendak kembali ke sana? Apa artinya ini?"

"Aku tidak boleh melarikan diri sendiri saja sedangkan Topeng Setan masih tertawan di sana. Kita harus menolong dan membebaskannya."

Tek Hoat yang tidak tahu menahu akan segala pengalaman Ceng Ceng bersama Topeng Setan, tidak tahu betapa Topeng Setan telah kehilangan sebelah lengannya ketika membela Ceng Ceng, diam-diam menjadi kagum sekali, mengira bahwa gadis ini mempunyai rasa setia kawan yang amat besar.

"Ceng Ceng, kau kira mudah saja aku membebaskanmu tadi? Kalau tidak ada bantuan Suma Kian Bu yang membakar ruangan depan, kiranya belum tentu aku dapat membebaskanmu semudah itu dari tangan orang macam Hek-tiauw Lo-mo dan sumoinya serta kaki tangannya, orang-orang Pulau Neraka itu. Dan sekarang kalau kita kembali ke sana berarti kita akan memasuki guha naga yang amat berbahaya. Apalagi mereka tentu telah bersiap-siap...."

"Tidak peduli!"

Ceng Ceng membentak dan mencari-cari saputangan dari balik bajunya.

Saputangan milik Tek Hoat yang selama ini selalu dibawanya karena benda itu merupakan "jimat"

Baginya kalau berhadapan dengan pemuda ini.

"Ang Tek Hoat, kau berani membantah perintahku? Kau.... kau...."

Dia bingung karena saputangan itu tidak berada lagi di kantongnya dan mendengar pemuda itu tertawa, dia memandang dan....

ternyata saputangannya itu telah berada di tangan pemuda itu!

Agaknya ketika menolongnya tadi, Tek Hoat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merampas kembali saputangannya!

"Ceng Ceng, kau tidak lagi dapat memaksaku melakukan sesuatu."

"Keparat, kau jahat!"

Ceng Ceng membentak.

"Kalau begitu sudahlah, memang kau orang jahat dan tidak patut menjadi temanku. Biarlah aku akan menolongnya sendiri!"

Ceng Ceng hendak membalikkan tubuhnya, akan tetapi Tek Hoat cepat menahannya.

"Nanti dulu....! Ceng Ceng, apa kau sudah melupakan kakak angkatmu, Puteri Bhutan?"

"Syanti Dewi....? Apa maksudmu?"

Ceng Ceng terkejut dan memandang tajam.

"Dia ditawan oleh Raja Tambolon. Aku hendak menolongnya akan tetapi Tambolon menodong leher puteri itu dan mengatakan bahwa dia mau membebaskan Syanti Dewi asal engkau mau menyerahkan diri kepadanya sebagai tukarnya."

"Lalu.... lalu bagaimana maksudmu? Mengapa dia hendak menangkap aku?"

"Hemm.... aku telah mendengar bahwa engkau berhasil memperoleh anak naga, maka tentu dia hendak minta mustika itu darimu. Maka, untuk dapat menyelamatkan Syanti Dewi, kita harus menggunakan akal. Engkau pura-pura menjadi tawananku dan kutukarkan dengan Syanti Dewi, setelah puteri yang lemah itu berada padaku, maka aku dapat membantumu untuk meloloskan dia dari Tambolon."

Ceng Ceng menjadi girang sekali bahwa dia akan dapat menolong kakak angkatnya dan akan dapat bertemu dengan puteri yang telah lama sekali berpisah darinya itu, akan tetapi dia menjadi bimbang karena teringat kepada Topeng Setan yang masih menjadi tawanan Hek-tiauw Lo-mo.

"Akan tetapi.... bagaimana dengan Paman Topeng Setan....? Kita harus menyelamatkan dia lebih dulu...."

"Jangan khawatir, Ceng Ceng. Setelah membantuku membakar ruangan depan memancing perhatian musuh, dia tentu akan menolong Topeng Setan. Pula, aku yakin bahwa Hek-tiauw Lo-mo tidak akan membunuh Topeng Setan sebelum dapat menangkapmu kembali. Engkaulah yang dibutuhkan olehnya, bukan dia. Tentu dia dapat dipergunakan sebagai sandera. Marilah, aku khawatir kita akan terlambat menolong Syanti Dewi!"

Mendengar ini, terpaksa Ceng Ceng mengikuti pemuda itu menuju ke dusun di tepi Sungai Ta-cing di mana Syanti Dewi menjadi tawanan Raja Tambolon.

Untung bahwa puteri ini dianggap orang penting sekali setelah gerombolan ini bertemu dan berjanji dengan Tek Hoat yang akan ditukar dengan Ceng Ceng sehingga Syanti Dewi memperoleh perlakuan yang baik dan sopan, karena kalau tidak, sukar dibayangkan bagaimana nasib puteri jelita ini di tangan seorang biadab seperti Tambolon!

Hari masih pagi sekali dan penduduk dusun itu masih belum bangun ketika Tek Hoat dan Ceng Ceng tiba di dusun itu.

"Engkau harus pura-pura menjadi tawananku, biar kutotok jalan darahmu. Kalau hanya pura-pura biasa, tentu tidak akan dapat mengelabui Tambolon dan pemban-tu-pembantunya yang lihai,"

Kata Tek Hoat.

Ceng Ceng mengangguk dan Tek Hoat lalu menotok pundak dara itu sehingga menjadi lemas dan dipanggulnya tubuh Ceng Ceng, dibawa berloncatan ke atas genteng menuju ke tempat Tambolon dan gerombolannya bermalam.

"Tambolon, aku sudah berhasil menangkap Nona Lu Ceng. Hayo kau keluarkan Puteri Syanti Dewi!"

Tek Hoat ber-teriak ketika dia tiba di depan rumah yang ditinggali gerombolan itu.

Tambolon dan teman-temannya memang sudah siap menanti kedatangan pemuda ini sejak Tek Hoat pergi dengan janjinya untuk menangkap Ceng Ceng.

Tambolon sendiri yang keluar, diantar oleh dua orang pengawalnya, mendorong Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak ketika mendengar nama Lu Ceng disebut-sebut.

Ketika dia melihat Ang Tek Hoat memondong tubuh Ceng Ceng yang dikenalnya karena di depan rumah itu terdapat penerangan lampu yang cukup terang sehingga dia dapat melihat wajah Ceng Ceng, dia berteriak kaget dan girang.

"Adik Candra....!"

Akan tetapi Tambolon menangkap lengannya ketika puteri ini hendak lari menghampiri.

Ceng Ceng sendiri merasa girang bukan main dan tak terasa lagi dua butir air mata menetes turun ketika dia melihat puteri itu bercucuran air mata memandang kepadanya.

Dia mulai merasa curiga karena Tek Hoat belum juga membebaskan totokannya.

"Tambolon, kau lemparkan Sang Puteri kepadaku dan aku pun akan melemparkan Nona Lu Ceng kepadamu!"

Tek Hoat berseru karena dianggapnya bahwa cara inilah yang paling baik dan aman agar dia tidak dicurigai raja liar itu.

"Hemm, pemuda sombong. Kau kira aku ini orang macam apa? Seorang raja sekali mengeluarkan janji, tidak akan di-telannya kembali. Nah, terimalah!"

Tambolon yang tadi memegang lengan Syanti Dewi, kini mengangkat puteri itu dan melemparkannya ke arah Tek Hoat.

Pemuda ini pun melemparkan tubuh Ceng Ceng yang masih lemas tertotok itu ke arah Tambolon.

"Adik Candra....!"

"Enci Syanti....!"

Dua orang gadis itu hanya mampu memanggil nama masing-masing ketika mereka terlempar saling berpapasan.

Tek Hoat cepat menyambar tubuh Syanti Dewi dan didukungnya lalu dibawanya lari secepat mungkin dari tempat berbahaya itu.

"Ang Tek Hoat.... kau harus menolong Adik Candra...."

Syanti Dewi berkata ketika melihat betapa dia dilarikan secepat itu meninggalkan Ceng Ceng.

"Harus satu demi satu, Sang Puteri. Menyelamatkan kalian berdua sekaligus tidak mungkin,"

Kata Tek Hoat yang tentu saja membohong karena baginya, yang terpenting adalah menyelamatkan puteri yang dicintanya ini.

Dia juga suka sekali kepada Ceng Ceng dan tidak pernah dia mempunyai pikiran jahat terhadap gadis itu, akan tetapi sekali ini dia dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu Ceng Ceng atau Syanti Dewi dan tentu saja dia memberatkan Syanti Dewi yang dicintanya sepenuh hati itu.

"Habis, bagaimana dengan Candra Dewi....?"

Syanti Dewi membantah.

"Jangan khawatir, Sang Puteri. Setelah saya menyelamatkan paduka, tentu saya akan berusaha untuk menolongnya."

Agak lega rasa hati Syanti Dewi, sungguhpun dia masih mengkhawatirkan keselamatan adik angkatnya itu di tangan raja liar Tambolon yang dia tahu amat jahat dan kejam.

"Ke mana aku hendak kau bawa....?"

Kembali dia bertanya ketika melihat pemuda itu melakukan perjalanan cepat sekali, menuju ke utara.

"Ke kota raja,"

Jawab Tek Hoat pendek.

Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main.

Dia baru saja dilarikan oleh Puteri Milana dari istana kaisar.

Dia adalah seorang pelarian.

Bagaimana kini pemuda ini hendak membawanya kembali ke kota raja?

"Tek Hoat....!

Apa....

apa yang hendak kau lakukan ini....?"

Melihat puteri itu memandangnya dengan pandang mata penuh kecurigaan, ketakutan dan ketidakpercayaan, Tek Hoat yang menghentikan larinya itu lalu menurunkannya dan dia menarik napas panjang.

"Puteri Syanti Dewi, saya memang hanya seorang pemuda bodoh, kasar dan jahat akan tetapi.... harap paduka tenangkan hati karena saya.... saya yang sesungguhnya seorang jahat ini, pada saat ini sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap paduka. Saya ingin membawa paduka berlindung pada Perdana Menteri Su yang saya tahu adalah satu-satunya orang yang dapat dipercaya di kota raja, di samping Jenderal Kao Liang dan Puteri Milana. Akan tetapi, Jenderal Kao Liang sibuk dengan urusan di luar kota raja, Puteri Milana telah pergi meninggalkan kota raja, satu-satunya jalan hanyalah berlindung kepada Perdana Menteri Su. Engkau akan aman di sana, Puteri. Setelah itu, barulah saya akan pergi menolong Ceng Ceng...."

Melihat sikap pemuda itu, melihat pandang matanya yang penuh kedukaan, jelas terbayang pada wajah yang tampan itu betapa sakit rasa hati pemuda itu karena dia telah mencurigainya.

Syanti Dewi lalu menghela napas.

"Aku yakin bahwa engkau adalah seorang yang amat gagah perkasa dan dapat kupercaya sepenuhnya, Ang Tek Hoat. Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan ke kota raja, dan aku menyerahkan semua nasibku ke tanganmu, juga aku mengharapkan bantuanmu untuk keselamatan adik Candra Dewi."

Tek Hoat menjadi lega dan girang hatinya.

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hatinya daripada kehilangan kepercayaan puteri yang dicintanya ini.

Dia tahu bahwa dia sama sekali tidak berharga bagi puteri jelita ini, akan tetapi setidaknya kalau dia sudah dapat melakukan sesuatu bagi puteri ini, apalagi menyelamatkan puteri ini dari bencana, hatinya sudah akan merasa bahagia.

Akan tetapi kalau dia teringat betapa puteri ini mencinta Suma Kian Bu, dan hal itu memang sudah sewajarnya mengingat bahwa Suma Kian Bu adalah putera Pendekar Super Sakti, hatinya seperti ditusuk rasanya.

Dan dia akan menegur pemuda itu karena dia melihat pemuda itu bermain gila dengan seorang busuk seperti Mauw Siauw Mo-li, dan kalau perlu dia akan menggunakan kekerasan untuk memperingatkan pemuda ltu agar menjadi orang berharga untuk dicintai seorang seperti Syanti Dewi!

"Agar dapat cepat, terpaksa saya harus memondong paduka...."

"Terserah kepadamu, Tek Hoat. Aku percaya sepenuhnya kepadamu,"

Jawab Syanti Dewi dan Tek Hoat lalu memondong puteri itu dengan hati-hati dan kembali melanjutkan perjalanan sambil berlari cepat.

Bukan main rasa bangga dan bahagia hatinya.

Puteri yang dicintanya itu telah dipondongnya!

Gemetar rasa seluruh tubuhnya ketika dadanya dan tangannya merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh yang dipondongnya, hidungnya mencium keharuman yang membuat semangatnya melayang.

Dia merasa terharu sekali!

Keharuan pertama kali yang pernah dirasakan oleh pemuda yang digembleng oleh keadaan dan menjadi seorang yang keras ini.

Dengan mudah Tek Hoat dapat melompati pagar tembok di sekeliling istana Perdana Menteri Su setelah dia tiba di kota raja pada malam hari berikutnya.

Ketika dia tiba di ruangan dalam, dua orang pengawal membentaknya dan menghadangnya dengan pedang di tangan.

"Aku bukan orang jahat...., kalian tentu mengenal puteri ini, lekas kalian laporkan kepada Perdana Menteri bahwa aku dan puteri ingin menghadap sekarang juga....!"

Dua orang pengawal itu adalah pengawal-pengawal setia dari Perdana Menteri Su.

Mereka tentu saja mengenal keadaan dan tahu akan hal ihwal Puteri Syanti Dewi dari Bhutan ini.

Melihat puteri itu yang kini menjadi pelarian muncul bersama seorang pemuda di tengah ruangan istana seperti iblis saja, mereka terkejut dan seorang dari mereka cepat berlari dan mengetuk pintu kamar Perdana Menteri Su setelah dia memanggil lima orang pengawal lain untuk mengurung pemuda itu.

Perdana Menteri Su terkejut sekali mendengar laporan bahwa Puteri Syanti Dewi muncul bersama seorang pemuda lihai dan hendak menghadapnya.

Cepat dia berpakaian dan keluar dari kamarnya.

Ketika melihat perdana menteri itu datang, Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi yang tadinya beristirahat dan duduk di atas bangku, dijaga dari jauh oleh para pengawal, cepat berdiri dan Tek Hoat memberi hormat kepada perdana menteri tua itu.

Perdana Menteri Su mengangkat tangan kanannya, memandang Syanti Dewi lalu bertanya dengan suara serius dan pandang mata penuh selidik kepada Tek Hoat.

"Siapakah kau dan bagaimana kau dapat datang bersama Puteri Bhutan ini di waktu tengah malam di sini?"

"Saya adalah Ang Tek Hoat...."

"Hemm.... aku sudah pernah mendengar namamu dari Puteri Milana...."

Kakek bangsawan itu mengangguk-angguk dan memberi isyarat dengan tangannya agar para pengawal mundur dan menjaga dari jauh saja, jangan ikut mendengarkan percakapan mereka.

Perdana Menteri Su adalah seorang yang bijaksana dan cerdas sekali.

Begitu melihat Puteri Syanti Dewi dan sikap puteri ini, maka dia dapat yakin bahwa pemuda ini bukan orang berbahaya, apalagi setelah dia mendengar namanya, maka tidaklah perlu sekali para pengawal menjaga keselamatannya dan agaknya yang akan disampaikan oleh pemuda ini tentulah hal yang amat penting maka dia menyuruh para pengawal mundur.

"Ceritakan apa kepentingan kalian,"

Kemudian perdana menteri itu berkata setelah dia duduk di atas sebuah bangku di depan dua orang muda itu.

"Saya baru membebaskan Puteri Syanti Dewi dari tangan raja liar Tambolon...." (Lanjut ke

Jilid 49) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 49

"Ahh....? Si keparat itu berani berada di dekat kota raja?"

Tek Hoat lalu menceritakan di mana adanya Tambolon dan para pembantunya, yaitu di desa dekat Sungai Ta-cin di selatan kota raja.

Dia minta agar perdana menteri sudi melindungi Syanti Dewi, sedangkan dia sendiri hendak pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan pula yang masih berada di dalam tangan Hek-tiauw Lo-mo.

"Hemm, tentu saja aku akan membantu Sang Puteri ini. Kebetulan sekali siang tadi aku bertemu dengan rombongan utusan dari Kerajaan Bhutan. Aku akan menyerahkan Sang Puteri kepada mereka agar dapat dikawal kembali ke Bhutan, dan aku akan menghubungi Jenderal Kao agar raja liar Tambolon dan bekas para pembantu pemberontak itu dapat dibasmi!"

Tek Hoat menjadi girang sekali, juga Puteri Syanti Dewi girang bukan main mendengar bahwa rombongan utusan ayahnya yang dipimpin Panglima Pengawal Jayin sendiri sudah berada di kota raja!

Tek Hoat lalu memberi hormat kepada Perdana Menteri Su dan menghaturkan terima kasihnya, kemudian dia memberi hormat kepada Syanti Dewi yang cepat dibalas oleh puteri itu.

Sejenak mereka berpandangan, dan Tek Hoat berkata dengan suara gemetar.

"Selamat jalan, Sang Puteri. Semoga Thian selalu melindungi paduka dengan berkah yang berlimpah-limpah sehingga paduka akan hidup bahagia selalu."

Terharu rasa hati Syanti Dewi.

Dia sudah tertarik sekali kepada pemuda ini sejak pemuda ini menyelamatkan dirinya dari Pangeran Liong Khi Ong, apalagi setelah mendengar bahwa pemuda inilah yang dahulu menyamar sebagai tukang perahu.

Kini lagi-lagi pemuda itu menolongnya dari ancaman mengerikan di tangan Tambolon.

Pemuda ini dikabarkan jahat sekali, dikabarkan menjadi kaki tangan pemberontak, akan tetapi baginya, pemuda ini amat baik, amat gagah perkasa dan menimbulkan rasa iba di hatinya.

Ingin dia menceritakan kepada pemuda ini tentang hal ibu pemuda itu yang pernah dijumpainya ketika Ang Siok Bi bertemu dengan Milana, dan ingin dia menceritakan rahasia tentang diri pemuda ini.

Akan tetapi dia merasa tidak enak untuk bercerita di depan perdana menteri, juga dia masih sangsi apakah rahasia itu setelah dibukanya tidak akan menghancurkan hati pemuda itu.

Karena ini maka siang tadi dia selalu meragu dan belum menceritakan apa yang diketahuinya tentang pemuda ini kepada Tek Hoat.

Dan sekarang telah terlambat.

Kalau dia mengajak pemuda itu bicara empat mata, tentu amat tidak baik dan akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan terhadap perdana menteri.

"Terima kasih...., Tek Hoat. Aku akan selalu ingat bahwa sudah dua kali engkau menyelamatkan aku dari bahaya yang lebih mengerikan daripada maut. Terima kasih...."

Wajah Tek Hoat berseri sejenak mendengar ini, kemudian dia memandang dengan sinar mata penuh kasih sayang dan kemesraan, namun hanya sekejap saja karena dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi cepat sekali dari istana itu.

Sekali berkelebat tubuhnya sudah mencelat keluar dan naik ke atas genteng lalu lenyap.

Perdana Menteri Su menghela napas panjang.

"Seorang pemuda yang hebat sekali kepandaiannya...."

Dia lalu mengajak Sang Puteri Syanti Dewi untuk menemui isterinya dan memberinya sebuah kamar untuk mengaso dan memerintahkan sepasukan pengawal untuk menjaga di luar kamar puteri itu dengan ketat.

Malam itu juga dia mengabarkan kepada Panglima Jayin yang bermalam di sebuah rumah penginapan di kota raja.

Syanti Dewi tidak dapat tidur di dalam kamarnya.

Wajah Ang Tek Hoat selalu terbayang di depan matanya, terutama sekali wajah pemuda itu pada saat terakhir hendak meninggalkannya.

Pandang mata itu!

Tidak salahkah dia?

Benarkah pemuda itu menolongnya dengan pengorbanan dirinya, sampai hampir te-was ketika melawan para pengawal Liong Khi Ong, didasarkan rasa cinta kasih kepadanya?

Ah, tidak mungkin.

Tentu karena pemuda itu mulai insyaf akan kesesatannya, setelah dia membantu pemberontak lalu dia insyaf dan bahkan menentang pemberontak, membunuh dalang pemberontak Pangeran Liong Khi Ong!

Mengapa dia selalu terkenang kepada pemuda itu?

Sedangkan dia sama sekali tidak tersentuh hatinya ketika pemuda seperti Suma Kian Bu menyatakan cinta kasih kepadanya?

Dibandingkan dengan Ang Tek Hoat, tentu saja Suma Kian Bu menang jauh!

Pemuda itu putera Pendekar Super Sakti, adik kandung Puteri Milana, cucu Kaisar!

Akan tetapi entah bagaimana, dia tidak mempunyai perasaan cinta terhadap pemuda yang amat tampan dan gagah itu, yang dalam pandangannya masih seperti kanak-kanak saja, sungguhpun dia amat suka kepada Suma Kian Bu, rasa suka yang lebih mirip rasa suka seorang kakak kepada adiknya!

Rasa sayang persaudaraan.

Dan tentang cinta kasih terhadap seorang pria, agaknya baru satu kali pernah dia alami, yaitu terhadap Gak Bun Beng!

Sungguhpun kini dia insyaf bahwa tidak mungkin dia dapat berjodoh dengan pendekar setengah tua yang amat menarik hatinya, mengagumkan hatinya dan yang dianggapnya sebagai sebuah puncak di Pegunungan Himalaya, tenang dan mendalam seperti lautan, dan yang dapat dipercaya seratus prosen itu.

Keinsyafan itu membuat dia mengubur rasa cinta kasih itu karena dia pun maklum bahwa seorang laki-laki sehebat Gak Bun Beng, sekali menjatuhkan cinta kasihnya, yaitu kepada Puteri Milana, selama hidupnya tidak akan dapat mencinta seorang wanita lain, biarpun dia tahu bahwa pendekar besar itu pun amat tertarik kepadanya dan amat mencintanya.

Keinsyafan ini membuat cinta kasihnya terhadap Gak Bun Beng menjadi cinta kasih terhadap seorang paman, ayah atau guru yang amat dihormati dan dijunjung tinggi, dan dia hanya mengharapkan pendekar itu akan dapat berkumpul kembali dengan Puteri Milana karena dia akan ikut merasa gembira jika melihat pria perkasa itu berbahagia hidupnya.

Kini, melihat Tek Hoat yang pendiam dan kadang-kadang pandai bicara, kadang-kadang muram, kadang-kadang gembira, dia melihat pula adanya sifat-sifat yang mendekati sifat-sifat Gak Bun Beng.

Pemuda ini menimbulkan kepercayaan besar dalam hatinya, dan pemuda ini pun membayangkan sebagai sebongkah batu karang yang besar dan kokoh kuat, yang akan dapat merupakan seorang pelindung yang boleh diandalkan.

Juga seperti Gak Bun Beng, pemuda ini seolah-olah hidup di dalam alam penderitaan, alam kedukaan dan penyesalan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Perdana Menteri Su sudah memanggilnya.

Kemudian mengatakan bahwa perdana menteri itu telah melakukan kontak dengan para utusan Bhutan yang dipimpin oleh Panglima Jayin.

"Karena engkau masih merupakan seorang pelarian istana, maka untuk mencegah timbulnya keributan, terutama sekali untuk mencegah terjadinya pencegatan-pencegatan seperti yang terjadi ketika kau dikawal pasukan Jenderal Kao, maka sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai seorang wanita biasa, Sang Puteri."

Demikianlah, tak lama kemudian, dua orang pengawal tua mengantarkan seorang gadis yang cantik sekali akan tetapi berpakaian biasa seperti pakaian semua wanita sederhana, rambutnya juga dikuncir ke belakang dan dia berjalan keluar dari istana perdana menteri melalui pintu belakang.

Panglima Jayin yang menyambutnya di jalan, tidak memberi hormat melainkan memandang dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri-seri gembira hatinya dapat bertemu dengan puteri junjungannya itu.

Kemudian dia menggantikan dua orang pengawal itu, mengantarkan Sang Puteri menuju ke sebuah rumah penginapan kecil di mana anak buahnya sudah berkumpul.

Para anak buah panglima pengawal Bhutan ini pun berpakaian seperti orang-orang biasa dan mereka segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Syanti Dewi ketika puteri yang cantik ini dalam pakaian wanita biasa memasuki rumah penginapan itu diantar oleh Panglima Jayin yang kelihatan tinggi tegap dan gagah dalam pakaian penyamarannya seperti orang biasa.

Dengan sehelai surat dari Perdana Menteri Su di dalam sakunya, Panglima Jayin dan rombongannya dapat mengawal Sang Puteri mengendarai sebuah kereta keluar dari kota raja tanpa ada yang berani mengganggu dan mulailah Puteri Syanti Dewi yang kini dikawal oleh para pengawalnya sendiri dari Bhutan itu melakukan perjalanan pulang ke Bhutan.

Tanpa dapat dicegah lagi, teringat betapa dia akan pulang ke Bhutan dan mungkin tidak akan dapat bertemu dengan orang-orang di dunia timur ini kembali, air matanya menetes-netes di sepanjang kedua pipinya.

Dia tidak tahu jelas siapa yang ditangisinya, akan tetapi wajah orang-orang yang selama ini baik sekali kepadanya terbayang semua, terutama sekali wajah Gak Bun Beng, Jenderai Kao Liang, Puteri Milana, Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee, dan terutama sekali wajah Ang Tek Hoat.

"Ha-ha-ha, akhirnya engkau terjatuh pula ke dalam tanganku, nona manis. Ha-ha-ha!"

Raja Tambolon tertawa gembira ketika dia menrundong tubuh Ceng Ceng masuk ke ruangan dalam rumah yang dijadikan tempat tinggal sementara itu, diikuti oleh Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Yu Ci Pok, dan lima orang Loan-nga Mo-li.

Nenek ahli sihir Durganini tidak nampak sekali ini karena seperti telah diceritakan di bagian depan, nenek itu berjumpa dengan bekas suaminya, See-thian Hoat-su dan pergi bersama kakek ini dan Teng Sian In yang menjadi murid See-thian Hoat-su.

Ceng Ceng kini mengerti bahwa dia telah ditinggalkan oleh Tek Hoat begitu saja!

Dia telah ditipu oleh Tek Hoat dan dia dijadikan barang tukaran dengan Syanti Dewi.

Celaka pikirnya.

Pemuda itu benar-benar luar biasa jahat dan curangnya.

Untuk mendapatkan Syanti Dewi, pemuda itu telah menyelamatkannya dari tangan Hek-tiauw Lo-mo akan tetapi kiranya bukan ditolong untuk dibebaskan, melainkan untuk diserahkan kepada Tambolon sebagai penukar diri Syanti Dewi.

Terjatuh ke tangan pemuda berhati palsu seperti itu, tentu kakak angkatnya itu akan celaka, pikirnya penuh kekhawatiran.

Dan dia sendiri, dia baru saja terlepas dari tangan Hek-tiauw Lo-mo kini terjatuh ke tangan Tambolon, sama saja dengan terlepas dari mulut harimau terjatuh ke dalam cengkeraman seekor srigala!

"Tambolon, aku tahu bahwa engkau adalah seorang laki-laki yang berjiwa dan berwatak pengecut!

Kalau memang engkau yang suka mengangkat diri menjadi raja, benar-benar seorang yang jantan, hayo kau bebaskan aku dan kita bertanding sampai selaksa jurus sampai seorang di antara kita menggeletak mampus!"

Ceng Ceng memaki.

"Ha-ha-ha! Susah payah aku mendapatkan dirimu, sampai-sampai aku harus mengorbankan dan kehilangan Puteri Bhutan yang denok ayu, masa sekarang harus membebaskan kau dan bertanding lagi. Sayang kalau sampai aku harus membunuhmu begitu saja, nona manis,"

Tambolon tertawa-tawa, akan tetapi kemudian tiba-tiba sikapnya berubah, wajahnya bengis dan dengan kasar dia mendudukkan tubuh Ceng Ceng yang masih lemas tertotok itu ke atas kursi di sebelahnya, memegangi pundak dara itu dan membentak.

"Hayo katakan di mana adanya anak ular naga itu dan serahkan kepadaku!"

Hemm, kiranya untuk itu dia menangkapku dan rela membebaskan Syanti Dewi, pikirnya.

Tahulah kini Ceng Ceng bahwa dia tidak akan dapat hidup lagi.

Seperti juga Hek-tiauw Lo-mo, Tambolon ini agaknya berkeras ingin memiliki anak naga dan karena anak naga itu telah dimakannya habis, maka tentu seperti juga Hek-tiauw Lo-mo, raja liar ini akan membunuhnya dan minum semua darahnya yang telah mengandung khasiat dari anak naga itu.

Dia tidak bisa mengharapkan pertolongan lagi.

Kedua orang pembantunya yang boleh diandalkan, keduanya sudah tak dapat diharapkannya lagi.

Tek Hoat telah menipunya, tak mungkin pemuda ini dapat membantunya.

Dan Topeng Setan masih berada di dalam tahanan Hek-tiauw Lo-mo, entah masih hidup atau sudah mati.

Tidak ada lagi seorang manusia yang akan mampu menyelamatkannya, maka dia lalu menjawab.

"Aku tidak tahu!"

Dan menutup mulut dan matanya, seperti orang sedang bersamadhi.

"Keparat, apakah kau ingin kusiksa untuk mengaku?"

Tambolon berteriak marah.

"Ong-ya, saya mendengar bahwa gadis ini menderita luka parah dan kalau dia mencari anak naga itu tentu untuk mengobatinya. Setelah memperoleh anak naga itu dengan demikian susah payah, di mana lagi disimpannya kalau tidak di dalam perutnya? Lihat, wajahnya demikian merah dan sehat, tentu karena khasiat anak naga itu."

Tiba-tiba Si Siucai Maut Yu Ci Pok berkata.

"Kata-kata Yu-hiante ada benarnya dan untuk mernbuktikannya, tidak ada jalan lain kecuali memeriksa darahnya,"

Kata pula Liauw Kui Si Petani Maut.

"Aha, kalian benar! Tentu telah ditelannya anak naga itu, maka Hek-tiauw Lo-mo menangkapnya. Aku tahu kebiasaan manusia iblis itu, suka sekali makan daging dan minum darah manusia. Daging gadis manis ini tentu lunak dan darahnya tentu manis apalagi kalau mengandung khasiat anak naga. Belenggu dia dan bebaskan totokannya!"

Liauw Kui dan Yu Ci Pok cepat membelenggu kaki dan tangan Ceng Ceng pada kursi yang didudukinya dengan tali sutera yang amat kuat, kemudian Liauw Kui membebaskan totokan pada pundak dara itu.

Akan tetapi Ceng Ceng tetap menutup mulut dan matanya, seolah-olah tidak merasakan itu semua.

Gadis ini memang sedang memusatkan perhatiannya.

Sudah beberapa hari ini semenjak dia minum sari dari anak ular naga itu, dia merasa sesuatu bergerak-gerak aneh di dalam perutnya, gerakan yang disertai hawa amat panas akan tetapi kadang-kadang juga amat dingin.

Akan tetapi gerakan-gerakan itu segera menghilang maka dia melupakannya.

Sekarang, kembali perutnya bergerak-gerak dan diam-diam dia bergidik.

Jangan-jangan anak naga yang hanya diminum perasannya itu kini hidup kembali dan bergerak-gerak di dalam perutnya!

Makin lama gerakan-gerakan itu makin menghebat dan seolah-olah ada tenaga mujijat yang hidup di dalam rongga perutnya dan yang kini minta jalan keluar!

Ceng Ceng menjadi khawatir sekali karena perutnya seperti hendak pecah rasanya, ditekan oleh hawa mujijat yang berputar-putar di perutnya itu.

Maka dia lalu mengerahkan sin-kangnya, mengerahkan tenaga dari pusarnya untuk menekan dan menindih tenaga liar mujijat itu.

Akan tetapi betapa heran dan kagetnya ketika hawa liar itu malah menyerbu ke dalam pusarnya, tak terkendalikan lagi, demikian kuatnya bergerak-gerak di dalam pusar hendak menerobos ke atas!

Pada saat itu, Tambolon sudah mengeluarkan sebatang jarum, hendak menusuk pergelangan lengan Ceng Ceng untuk mengeluarkan darah gadis itu dan memeriksanya apakah benar darah gadis itu sudah lain dari biasa dan telah mengandung khasiat mujijat dari anak ular naga.

Dan Ceng Ceng tidak tahu akan itu semua karena dia sendiri sedang berjuang melawan hawa liar mujijat yang kini dari dalam rongga perut memasuki pusarnya dan akhirnya dia tidak dapat menahan lagi, membuka saluran dari pusarnya sehingga hawa mujijat itu kini menjalar di seluruh tubuhnya, membuat tubuhnya terasa panas seperti dibakar dan keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

"Cusss....!"

Tambolon menusukkan jarumnya ke pergelangan lengan Ceng Ceng.

"Krakkk....!"

Jarum itu mendadak patah seperti ditusukkan pada baja yang keras.

"Ahhhh....!"

Tambolon terkejut bukan main dan juga kagum karena dia mengira bahwa gadis itu telah menggunakan sin-kang yang sedemikian kuatnya sehingga kulit lengannya mampu mematahkan jarum baja.

"Keparat, dia melawan! Totok dia agar tidak mampu mengerahkan sin-kang!"

Katanya kepada Liauw Kui.

Si Petani Maut ini selain amat lihai ilmu silat dan senjata pikulannya, juga terkenal sebagai ahli menotok jalan darah yang lihai sekali.

Mendengar perintah rajanya, dia lalu menggerakkan tangan kanannya, dua jari yaitu telunjuk dan jari tengahnya menusuk ke arah pundak kiri Ceng Ceng, di bagian jalan darah Kin-ceng-hiat.

"Takkk! Aughhh....!"

Liauw Kui ter-huyung ke belakang sambil memegangi tangan kanannya.

Dua batang jari tangannya seperti akan patah-patah rasanya dan hawa panas yang amat hebat menyerangnya dari pundak gadis itu, membuat seluruh lengan kanannya seperti lumpuh dan kehilangan tenaga!

Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran melihat keanehan ini.

Gadis itu masih duduk di atas kursi dalam keadaan terbelenggu, dan memejamkan matanya, alisnya berkerut, semua tubuhnya mengeluarkan hawa panas.

Jelas bahwa gadis itu tidak seperti sedang mengerahkan tenaga, akan tetapi mengapa jarum menjadi patah dan totokan Si Petani Maut menjadi gagal?

Pada saat itu Ceng Ceng memang sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

Telinganya seperti penuh dengan bunyi mengaung-ngaung dan biarpun kedua matanya dipejamkan, namun dia masih melihat warna merah serta darah yang menyilaukan, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri semua.

Celaka, pikirnya, aku tentu keracunan hebat, akan tetapi pikiran ini hanya seperti kilatan halilintar saja karena segera pikirannya menjadi kosong lagi dan seluruh perhatiannya hanya tertuju pada pergerakan hebat di dalam perutnya, pusarnya, dadanya dan semua tubuhnya, bahkan pergerakan itu sampai terasa ke ubun-ubun kepalanya.

"Dia.... dia mempunyai ilmu yang mujijat.... ingat, dia gadis beracun!"

Liauw Kui berkata dan semua orang sudah mencabut senjatanya.

"Biar aku menotoknya dengan poan-koan-pit!"

Teriak Yu Ci Pok dan cepat dia telah menggerakkan senjata pensil baja itu ke arah punggung dan tengkuk Ceng Ceng "Cus-cuss....

krekk-krekkk!

Aihhh....!"

Yu Ci Pok meloncat ke belakang, tubuhnya tergetar dan kedua buah senjata pensil itu patah menjadi empat potong!

"Ilmu siluman....!

Biar kita keluarkan darahnya dan kita tampung!"

Berkata Tambolon.

"Cepat ambilkan panci!"

Song Lan Ci, orang pertama dari Loan-ngo Mo-li, sudah cepat lari dan minta sebuah panci kepada anak buah Tambolon, kemudian dia datang lagi dan bersama empat orang saudaranya dia pun sudah mencabut pedang-pedang samurai mereka.

Tambolon sudah mencabut pedangnya dan dengan gerakan tangkas dia sudah menerjang ke depan, menusukkan pedangnya ke arah leher Ceng Ceng karena leher itu tentu akan mengalirkan semua darah segar dari tubuh dara itu yang akan ditadahi dengan panci.

Dia akan "menyembelih"

Gadis itu di atas kursinya dalam keadaan terbelenggu!

Pada saat itu, Ceng Ceng sudah berada dalam keadaan puncak dari getaran hawa mujijat yang menguasai seluruh tubuhnya.

Dia sudah menahan-nahan diri agar tidak muntah karena keadaannya itu membuat dia merasa mual dan ingin muntah.

Akan tetapi pada saat pedang Tambolon bergerak, dia sudah tidak dapat bertahan lagi, merasa seolah-olah nyawanya dicabut melalui mulutnya, maka dara yang merasa bahwa dia tentu mati pada saat itu, padahal sakit hatinya belum terbalas, pemuda laknat itu belum terdapat olehnya, rasa penasaran membuat dia menjerit sekuatnya.

Lengking yang amat hebat keluar dari tenggorokannya, dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang seolah-olah hendak meronta dan melawan maut yang disangka hendak merenggut nyawanya.

"Aaaiiihhhh....!"

Lengking ini diikuti dengan keluarnya darah menghitam bergumpal-gumpal yang dimuntahkan oleh mulut Ceng Ceng, akan tetapi hebatnya, pada saat dia menggerakkan tubuhnya, kaki tangannya bergerak dan semua tali sutera kokoh kuat yang membelenggunya putus semua.

Bukan itu saja, dari kedua tangannya yang bergerak kalang-kabut itu keluar hawa mujijat yang luar biasa dahsyatnya sehingga Tambolon yang sedang menusukkan pedangnya, kena digempur hawa mujijat ini sehingga dia terlempar ke belakang.

Tidak terkecuali Si Petani Maut dan Si Siucai Maut, bersama Loan-ngo Mo-li yang memegang samurai, terdorong oleh hawa mujijat dari gerakan kedua lengan tangan Ceng Ceng sehingga mereka itu terlempar ke belakang dan terbanting ke atas lantai dengan keras!

Ceng Ceng membuka matanya, merasa betapa dada dan perutnya lega bukan main setelah dia memuntahkan darah bergumpal-gumpal itu.

Melihat betapa gerakan-gerakannya dapat mematahkan belenggu dan merobohkan delapan orang itu, dia sendiri terheran dan terkejut, akan tetapi kecerdasannya mengingatkan bahwa dia kini memperoleh kesempatan baik sekali.

Cepat dia meloncat keluar dan melarikan diri di dalam kegelapan malam!

Tak lama kemudian, setelah sadar dari kekejutan yang hebat, Tambolon dan para pembantunya meloncat bangun, kemudian mereka berteriak-teriak melakukan pengejaran, diikuti oleh anak buah mereka.

Akan tetapi Ceng Ceng telah lenyap dan selain Tambolon sendiri, juga para pembantunya masih terkejut dan jerih menyaksikan kehebatan gadis itu.

Ceng Ceng sendiri juga terheran-heran.

Dia tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu, akan tetapi karena dia seorang gadis yang memiliki kecerdasan, dia teringat dan menduga bahwa tentu semua itu adalah khasiat darah anak ular naga yang telah diminumnya.

Agaknya baru sekarang khasiat anak ular naga itu memperlihatkan diri, dan hasilnya memang hebat.

Hanya dia masih belum mengerti benar keadaannya dan sayang bahwa Topeng Setan tidak berada di situ, karena kalau ada, tentu pembantunya yang serba bisa itu akan dapat memberi keterangan.

Memang dugaan Ceng Ceng tidak keliru, semua itu adalah khasiat dari darah anak ular naga dan darah-darah hitam bergumpal-gumpal yang keluar dari mulutnya itu adalah dari racun-racun yang dahulu dilatih dan berada di tubuhnya.

Hawa mujijat itu adalah hawa yang dibangkitkan oleh darah anak ular itu.

Seluruh tubuh Ceng Ceng masih gemetar.

Ketika dia menyelinap di antara pohon-pohon, tiba-tiba dua orang anak buah Tambolon muncul dan hampir bertumbukan dengan dia di tempat gelap.

Mereka sama-sama kaget, akan tetapi dua orang anak buah Raja Tambolon itu telah mengenalnya dan cepat mereka mengangkat golok mereka untuk menyerang sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka.

Ceng Ceng yang masih merasa gemetar tubuhnya dan dikuasai oleh hawa yang bergerak-gerak, merasa lemas dan tidak bersemangat untuk melayani mereka.

Setelah mengelak, dia lalu teringat akan senjatanya yang ampuh, yaitu ludahnya.

"Cuh! Cuhh!"

Dua kali dia meludah dan tepat mengenai muka dua orang lawan itu.

Akan tetapi Ceng Ceng menjadi kaget dan bingung karena dua orang yang terkena ludah beracunnya itu sama sekali tidak roboh, bahkan menyumpah-nyumpah marah dan menyerangnya lebih ganas lagi!

Dan karena teriakan mereka tadi, kini muncul lagi dua orang lain yang segera mengepungnya.

Celaka, pikirnya.

Kalau sampai Tambolon dan para pembantunya datang, dia tentu celaka.

"Minggir....!"

Teriaknya dan kaki tangannya bergerak menyerang.

Gerakannya kacau karena Ceng Ceng merasa betapa tenaganya sendiri lenyap ditelan oleh hawa yang masih bergerak-gerak itu seolah-olah dia tidak mampu lagi menguasai kaki tangannya.

Akan tetapi, begitu kedua tangannya bergerak mendorong ke depan dan kanan kiri, empat orang itu memekik ngeri, terlempar dan senjata mereka terpental, terbanting dan tidak bangun lagi karena mereka tewas seketika!

Ceng Ceng mendengar datangnya banyak kaki orang, maka cepat dia membalikkan tubuhnya dan lari dari situ.

Begitu dia meloncat, hampir dia berteriak kaget karena loncatannya kini seperti terbang saja.

Sekali meloncat dia sudah melayang ke atas hampir menabrak pohon!

Tubuhnya begitu ringan dan lon-catannya begitu kuat sehingga dia tidak dapat menguasai lagi tubuhnya.

"Brukkk!"

Dia terbanting ke atas tanah seperti seekor burung sedang belajar terbang.

Akan tetapi Ceng Ceng merangkak bangun dan lari lagi, sekali ini dia berhati-hati karena dia mulai maklum bahwa di dalam tubuhnya terdapat tenaga mujijat yang liar dan tidak dapat dikendalikan sehingga kalau dia salah menggunakannya, dia tidak mampu lagi mengatur keseimbangan dirinya.

Akhirnya dia dapat meninggalkan tempat itu dan tidak mendengar lagi suara para pengejarnya.

Tadinya dia berniat untuk mengejar Tek Hoat dan menolong Syanti Dewi, akan tetapi dia tidak tahu ke mana perginya pemuda berhati palsu itu, maka dia lalu memutuskan untuk kembali saja mencari dan menolong Topeng Setan.

Akan tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pening bukan main dan tanpa dapat dicegahnya lagi tubuhnya terguling.

Karena gelap, dia tidak tahu bahwa dia terguling ke dalam sebuah jurang.

Untung baginya bahwa jurang itu tidak terlalu dalam, dan bahwa di luar kesadarannya, tubuhnya seperti balon karet terisi penuh hawa yang penuh, maka biarpun dia pingsan, ketika terguling-guling ke dalam jurang itu tubuhnya sama sekali tidak terluka, terlindung oleh hawa mujijat itu.

"Kalian pengecut-pengecut hina-dina, manusia-manusia busuk yang tak tahu malu!"

Maki-makian itu terdengar dari dalam sebuah kamar tahanan yang amat kuat, berdinding tebal dan berpintu besi.

"Kalau kalian berani mengganggu seujung rambut saja dari Ceng Ceng, aku bersumpah akan menghancurkan kepala kalian satu demi satu!"

Yang memaki-maki ini adalah Topeng Setan!

Dapat dibayangkan betapa risau hatinya kalau dia mengingat akan nasib Ceng Ceng yang telah terjatuh ke dalam tangan Hek-tiauw Lo-mo.

Kalau saja anak ular naga itu belum diminum darahnya oleh Ceng Ceng, masih ada harapan bagi dara itu untuk lolos dengan selamat.

Akan tetapi, darah anak ular itu telah diminum Ceng Ceng dan dia tahu bahwa Hek-tiauw Lo-mo manusia iblis itu amat membutuhkan darah itu.

Dia tahu bahwa Hek-tiauw Lo-mo tidak akan ragu-ragu lagi untuk makan daging dan minum darah Ceng Ceng untuk memperoleh khasiat darah anak ular naga itu.

Mem-bayangkan ini, hatinya merasa ngeri dan dia berteriak-teriak dan memaki-maki.

"Hek-tiauw Lo-mo, pencuri busuk, keparat keji dan curang. Hayo kau tandingi aku, satu lawan satu, jangan me-ngandalkan orang banyak selagi aku terluka dan jangan kau berani mengganggu Ceng Ceng!"

Karena Topeng Setan selalu meronta dan memaki, maka ketika dia roboh tadi, dia lalu dibelenggu di dalam kamar tahanan ini dan keadaannya mengerikan sekali.

Pundak kirinya yang buntung itu masih mengeluarkan darah, buktinya bajunya di bagian pundak itu masih basah dan merah.

Kedua kakinya dibelenggu, demikian pula tangan kanannya, dengan belenggu baja yang amat kuat dan di-ikatkan pada tiang-tiang di sudut kamar sehingga tubuhnya tergantung menelungkup, terapung kurang lebih dua kaki dari lantai.

Tentu saja dia berada dalam keadaan tersiksa.

Hanya satu hal yang tidak berani dilakukan oleh para anak buah Pulau Neraka atau anak buah Hek-tiauw Lo-mo, yaitu membuka topengnya.

Hal ini adalah karena pesan dari Mauw Siauw Mo-li sendiri yang memenuhi permintaan Suma Kian Bu.

Sampai kini, para anak buah itu tidak berani membuka topeng buruk itu, akan tetapi karena Topeng Setan selalu memaki-maki Hek-tiauw Lo-mo, menantang-nantang dan berteriak-teriak sepanjang malam, para anak buah yang terdiri dari orang berwatak keras dan berhati kejam itu menjadi marah dan benci sekali!

Mulailah mereka mencambuki tubuh yang sudah tergantung menelungkup itu.

Melihat Topeng Setan tidak mempedulikan siksaan ini, dan tidak menghentikan maki-makiannya seperti yang diperintahkan oleh para penjaga, para anak buah Hek-tiauw Lo-mo menjadi makin marah.

Mereka kini tidak hanya mencambuki, juga menyirami dengan air, menggunakan pentungan untuk menggebuki punggung dan pinggulnya sehingga terdengar suara bak-buk-bak-buk di samping meledaknya pecut.

Hebatnya, semua cambukan dan gebukan itu seolah-olah tidak terasa oleh Topeng Setan yang masih menantang-nantang.

Karena dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia sama sekali tidak berdaya, sedangkan Ceng Ceng terancam bacana hebat, maka Topeng Setan melampiaskan kekhawatiran dan kemarahannya dengan berteriak-teriak dan memaki-maki untuk memancing kemarahan Hek-tiauw Lo-mo dan agar perhatian mereka semua tidak hanya tercurah kepada Ceng Ceng yang tidak diketahuinya bagaimana nasibnya itu.

Topeng Setan tidak tahu pula akan apa yang terjadi malam tadi, hanya mendengar teriakan kebakaran.

Kini, setelah malam lewat, sikap para anak buah Hek-tiauw Lo-mo lebih kejam lagi.

Muncul di situ Hek-tiauw Lo-mo yang wajahnya muram dan keruh.

"Iblis laknat Hek-tiauw Lo-mo, kalau kau berani, hayo kau lawan aku, laki-laki sama laki-laki, jangan mengganggu wanita! Ataukah kau sudah demikian penge-cut tidak berani melawan seorang laki-laki yang sudah cacat dan terluka? Ha-ha-ha, betapa hina engkau!"

Topeng Setan memaki-maki dan meronta-ronta sehingga belenggu-belenggu tangan dan kedua kakinya mengeluarkan bunyi berkerontangan.

"Siksa dia, akan tetapi jangan bunuh dulu! Siksa dia sampai dia minta-minta ampun kepadaku!"

Bentak Hek-tiauw Lo-mo yang berwajah keruh itu lalu meninggalkan kamar tahanan Topeng Setan.

Dia datang hanya untuk memeriksa apakah Topeng Setan masih berada di situ dan sekali pandang saja tahulah dia bahwa Topeng Setan tidak ada sangkut pautnya dengan terbebasnya Ceng Ceng dan larinya Suma Kian Bu.

Akan tetapi dia sudah berpesan kepada semua anak buahnya agar Topeng Setan tidak tahu akan peristiwa lolosnya Ceng Ceng malam tadi.

Mendengar perintah dari kepala mereka, tentu saja para penjaga itu menjadi girang sekali.

Mereka memang ingin me-lampiaskan kemendongkolan dan kemarahan mereka.

Seorang di antara mereka yang mempunyai banyak akal mencari cara-cara penyiksaan yang paling sadis, segera mengusulkan untuk mencari batu besar dan menindihkan batu itu di atas punggung Topeng Setan agar orang ini remuk punggungnya kalau tidak cepat-cepat minta ampun.

Semua orang setuju dan enam orang di antara mereka lalu keluar dan menggotong sebongkah batu besar yang beratnya tentu lebih dari tiga ratus kati.

Batu besar itu mereka pergunakan untuk menindih punggung Topeng Setan sampai melengkung ke bawah ketika punggungnya ditindih batu seberat itu, akan tetapi dia mengerahkan tenaganya, pinggulnya digerakkan secara tiba-tiba dan batu besar itu terlempar mencelat dari atas punggungnya, hampir menimpa seorang di antara mereka yang cepat meloncat ke samping sehingga hanya sebuah bangku kayu saja yang hancur berkeping-keping tertimpa batu itu.

"Ambil yang lebih berat lagi!"

Teriak seorang di antara mereka.

Kini enam orang itu menggotong sebongkah batu yang lebih besar.

Mereka berenam adalah anggauta-anggauta Pulau Neraka yang lihai dan bertenaga besar dan batu yang mereka gotong itu tentu lebih dari lima ratus kati beratnya.

Dengan beramai-ramai mereka kini mengangkat batu besar itu dan menindihkannya ke atas punggung Topeng Setan.

Wajah belasan orang yang sudah biasa dengan segala macam kekejaman itu kelihatan puas ketika melihat betapa perut Topeng Setan hampir menyentuh lantai dan terdengar keluhan dari mulut di balik topeng itu ketika batu besar menghimpitnya dari atas.

Tangan yang tinggal sebelah itu menegang tertahan belenggunya, demikian pula kedua kakinya.

Akan tetapi sedikit pun tidak ada kata-kata rintihan atau permintaan ampun dari mulut Topeng Setan.

Dia kembali mengerahkan tenaga dari pusarnya.

Memang tidak mudah karena selain dia masih menderita karena luka di pundaknya yang buntung, juga dalam keadaan tergantung menelungkup itu, dia harus pula menggunakan tenaganya untuk menahan agar kaki tangannya tidak terluka atau patah tulangnya.

Dan dia sudah tergantung seperti itu selama satu malam suntuk!

"Haiiittt!"

Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil dan ditertawakan oleh para penjaga, tiba-tiba Topeng Setan mengeluarkan seruan ini dan kembali pinggulnya bergerak mengerahkan tenaga dan....

batu sebesar kerbau yang amat berat itu terlempar dari punggungnya.

"Awas.... minggir....!"

Mereka berteriak akan tetapi tetap saja seorang di antara mereka kena tertimpa sehingga terlempar dan terguling-guling dan mengalami luka-luka parah.

Hal ini tentu saja membuat para penjaga itu menjadi makin marah dan penasaran saja.

Kalau tidak ada larangan dari kepala mereka, tentu mereka sudah menghujankan senjata untuk membunuh orang yang keras hati dan keras kepala ini.

Kembali mereka menghujankan cambuknya dan gebukan sampai tangan mereka sendiri lecet-lecet.

Namun Topeng Setan yang juga mengalami rasa puas sudah dapat membikin marah Hek-tiauw Lo-mo dan kaki tangannya, makin mengejek dan menantang-nantang.

Karena dalam keadaan tidak berdaya dan tidak tahu apa yang terjadi dengan Ceng Ceng, maka sedikitnya dia sudah merasa puas dengan dapat membikin hati mereka tidak senang, dan tadi melihat kekeruhan wajah Hek-tiauw Lo-mo, timbul harapan di dalam hatinya.

Kalau wajah Ketua Pulau Neraka itu keruh, berarti telah terjadi hal yang tidak menyenangkan hatinya dan hal ini tentu ada hubungannya dengan Ceng Ceng!

Apakah gadis itu dapat menyelamatkan dirinya?

Atau setidaknya dapat mengakali Hek-tiauw Lo-mo sehingga untuk sementara dapat terbebas dari ancaman maut?

Dan dia melihat adanya Suma Kian Bu di tempat ini.

Akan janggal dan tidak masuk akallah kalau putera Pendekar Super Sakti itu membiarkan saja Ceng Ceng dibunuh!

Ah, dia masih dapat mengharapkan pemuda tampan itu!

Harapan-harapan ini membuat hatinya menjadi besar dan dia menantang-nantang lebih berani lagi.

"He, Hek-tiauw Lo-mo, jangan lari kau! Hayo kau keroyoklah aku dengan semua anak buahmu! Aku akan mematahkan batang leher kalian satu demi satu!"

Kini para penjaga sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Tidak peduli apakah akibatnya tawanan ini akan mampus, mereka segera mendorong sebongkah batu penggilingan tahu yang besar sekali, batu penggilingan tahu ini beratnya ada seribu kati!

Saking beratnya, mereka tidak mampu menggotongnya dan hanya dapat mendorong batu yang bentuknya bundar itu, kemudian dengan pengerahan tenaga belasan orang, mereka dapat mengangkat gilingan tahu itu dan menindihkannya ke atas panggung Topeng Setan!

Sekali ini Topeng Setan tak mampu berkutik lagi.

Kedua kakinya tergantung, demikian tangan kanannya, badannya terayun dan ditindih batu sebesar dan seberat itu.

Dia merasa seolah-olah kedua kaki dan sebelah tangannya akan copot pergelangannya.

Napasnya sesak dan keringatnya bertetesan satu-satu dan besar-besar.

Semua orang bersorak dan tertawa-tawa, ada yang menjambak rambutnya dan berkata.

"Hayo kau gebrakkan lagi pantatmu yang lihai itu agar batu ini terlempar!"

"Lihat, dia sudah empas-empis mau mampus!"

"Hati-hati, kawan, jangan sampai dia benar-benar mampus!"

"Tidak, kalau dia sudah sekarat mau mampus kita gulingkan batu ini dari punggungnya. Paling-paling tulang punggungnya remuk, ha-ha-ha!"

Dapat dibayangkan betapa hebat siksaan ini terasa oleh Topeng Setan.

Menahan agar tulang-tulang kaki dan tangannya tidak copot saja sudah amat sukarnya, apalagi melemparkan batu seberat itu dari punggung dengan hanya tenaga gerakan pinggul.

Peluh mengucur keluar dengan derasnya dan dia hampir putus asa.

Punggungnya terasa seperti akan patah.

Sendi-sendi tulangnya seperti mau copot semua.

Terutama sekali sendi pergelangan kedua kaki dan tangan kanannya, tak mungkin dapat bertahan lama.

Akan tetapi, dia tidak boleh putus asa.

Dia harus tetap hidup untuk dapat menyelamatkan dan melindungi Ceng Ceng!

Otot-otot di tubuhnya mengeras, dia ingin bertahan dengan tenaga dalamnya.

Dia harus membuat tubuhnya menegang dengan pengerahan sin-kang, menegang kaku seperti batu.

Karena kalau sedikit saja mengendur, tentu tulang kaki, tangan atau punggungnya akan patah.

Mengeluh dan minta ampun?

Pantangan besar bagi seorang gagah!

Lebih baik mati dengan tubuh gepeng dan tulang remuk daripada harus minta ampun!

Dia maklum bahwa nyawanya tergantung kepada selembar rambut.

Sedang nyawanya sendiri terancam, mana bisa menolong Ceng Ceng.

Kiranya tidak ada orang di dunia ini yang akan mau dan yang dapat menolongnya dalam keadaan seperti itu.

Akan tetapi ada!

Yaitu gurunya!

Akan tetapi gurunya itu tidak pernah mencampuri urusan dunia!

Dalam keadaan menghadapi maut itu, Topeng Setan teringat akan gurunya, manusia yang memiliki kepandaian tidak lumrah manusia itu.

Kalau saja dia sepandai gurunya, dalam keadaan seperti ini pun tentu akan dapat membebaskan diri, akan dengan mudah melemparkan batu seberat ini.

Mengapa dia tidak bisa sehebat gurunya?

Padahal gurunya itu pun hanya seorang manusia yang buntung sebelah lengannya!

Tiba-tiba Topeng Setan teringat akan sesuatu, teringat akan pesan gurunya dahulu.

Pelajaran yang diberikan kepadanya di waktu itu, pesan gurunya di waktu itu, sebelum ini memang tak pernah diperhatikannya.

Akan tetapi setelah sebelah lengannya buntung, setelah dia terhimpit dan terancam maut, tiba-tiba dia teringat akan semua itu.

Gurunya pernah berkata kepadanya bahwa kini gurunya menemukan seorang ahli waris yang tepat dan cocok sekali, yaitu dirinya sendiri, sehingga ilmu rahasia perguruan yang dirahasiakan itu tidak akan musnah.

"Ilmu rahasia ini tidak dikenal oleh seluruh tokoh persilatan di dunia, muridku,"

Demikian kata gurunya.

"Akan tetapi kiranya jarang ada ilmu silat dan ilmu menghimpun tenaga sin-kang yang akan mampu menandingi ilmu rahasia kita ini. Ilmu ini telah ribuan tahun terpendam dan baru setelah tiba di tanganku, kupelajari dan kusempurnakan. Bahkan aku belum pernah mempergunakan ilmu ini saking hebatnya, dan karena aku memang tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun. Ilmu ini kunamakan Ilmu Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam di Atas Tanah). Engkaulah yang menjadi ahli waris ilmu rahasia ini, muridku."

Setelah berkata demikian, gurunya mengajarkan teori ilmu yang sakti itu.

Dahulu, dia merasa heran dan tidak mengerti, biarpun dia tidak berani membantah gurunya, mengapa gurunya mengajarkan ilmu itu kepadanya.

Ilmu Sin-liong-hok-te itu adalah ilmu mujijat yang hanya tepat dipelajari oleh orang yang lengannya buntung sebelah, itu pun harus lengan kanan yang masih tinggal, seperti keadaan gurunya yang lengannya hanya sebelah kanan itu.

Akan tetapi gurunya tetap saja mengajarkannya kepadanya.

Hal ini sekarang membuat dia makin tunduk dan kagum kepada suhunya yang ternyata selain memiliki kesaktian hebat, juga agaknya telah dapat mengetahui bahwa dia akhirnya pun akan menjadi buntung lengan kirinya, seperti gurunya!

Dahulu, biarpun dia sudah hafal akan teorinya, dia mengalami kesukaran hebat ketika melatihnya.

Ilmu Sin-liong-hok-te itu, sesuai dengan namanya, harus dilatih dengan tubuh menelungkup di atas tanah, seperti naga mendekam.

Dan ketika berlatih, tubuh harus kejang dan kaku dari awal sampai akhirnya.

Latihan yang amat hebat, karena membuat tubuh seluruhnya kejang kaku itu bukan dalam waktu pendek, karena latihan itu memakan waktu sampai setengah hari!

Berbahayanya, ketika sedang melatih sin-kang berdasarkan ilmu itu, tubuh sedikit pun tidak boleh mengendur, karena selagi mengerahkan sin-kang seperti yang diajarkan dalam ilmu tadi, sedikit saja tubuh mengendur, orang yang melatihnya akan dapat menjadi lumpuh kaki tangannya untuk selama hidupnya!

Inilah yang amat sukar sehingga sampai dia meninggalkan gurunya, dia belum juga dapat menguasai ilmu itu.

Selalu yang menjadi penghalang dahulu adalah adanya lengan kirinya.

Gurunya sudah berkali-kali menganjurkan agar dalam latihan ilmu itu, dia "melupakan"

Lengan kirinya.

Akan tetapi mana mungkin?

Karena itu dia belum juga berhasil.

Topeng Setan melamun mengenangkan masa lalu itu sambil terus menegangkan tubuhnya untuk menahan gilingan tahu yang amat berat dan menindih tubuhnya itu.

Dan pada saat itu dia sadar!

Bukankah keadaannya pada saat itu sangat cocok untuk melatih dan menyempurnakan Ilmu Sin-liong-hok-te yang sampai saat ini belum dikuasai itu?

Kini tubuhnya juga menelungkup dalam keadaan kaku mengang seluruhnya, biarpun tidak menelungkup di atas lantai.

Yang penting, dia pun dalam keadaan tegang terus tubuhnya, karena kalau tidak, mengendur sedikit saja, tulang punggungnya bisa patah!

Bagus sekali, semua persyaratan terpenting dari cara melatih ilmu ini telah terpenuhi.

Lengannya tinggal yang kanan saja sehingga lengan kiri yang selalu mengganggu penyaluran tenaga itu tidak ada lagi, dan dia harus menelungkup dengan tubuh kaku menegang terus.

Akan tetapi, tadi para penyiksanya ini selalu mengganti penyiksaannya.

Bagaimana kalau sebelum dia dapat menguasai Sin-liong-hok-te lalu mereka menurunkan batu gilingan itu.

Bisa celaka dia karena latihannya jadi terganggu dan setengah matang!

Jangan-jangan dia bisa menjadi lumpuh kaki tangannya.

Terlalu berbahaya untuk menyempurnakan ilmu seperti itu dalam keadaan di tangan musuh seperti ini.

Akan tetapi dia tidak melihat jalan lain dan teringat ini, tanpa disadarinya Topeng Setan mengeluh.

"Ha-ha-ha, mulai terasa sekarang, ya? Hayo kau lekas minta ampun kepada kami, baru kami akan menurunkan batu ini agar kau tidak sampai mampus!"

Seorang di antara mereka mengejek. Bentakan yang disertai lecutan cambuk ke arah mukanya ini mendatangkan akal kepada Topeng Setan.

"Kalian anjing-anjing rendah! Siapa tidak kuat menahan.... uh-uhhh.... batu jahanam ini.... uhhh...."

Topeng Setan berpura-pura kepayahan.

"Mari kita bertaruh.... bahwa aku akan kuat menahannya sampai sebatang lilin putih bernyala habis."

"Ha-ha-ha! Sebatang lilin dapat bernyala sampai tiga empat jam. Mana kau akan kuat bertahan?"

Memang inilah yang dikehendaki oleh Topeng Setan.

Dia membutuhkan waktu berlatih kurang lebih tiga empat jam!

"Berani atau tidak bertaruh?

Kalau aku dapat bertahan sampai lilin itu padam, kalian menurunkan batu ini dan se-lanjutnya jangan kalian menggangguku, biarkan Hek-tiauw Lo-mo sendiri yang berhadapan dengan aku.

Kalau aku tidak kuat bertahan, kalian boleh....

boleh menanggalkan topengku!"

Tentu saja taruhan ini tidak usah dipikir panjang dua kali oleh mereka.

Taruhan itu sama sekali tidak merugikan mereka dan memang mereka ingin sekali melihat bagaimana macamnya orang yang mempunyai kekuatan dan daya tahan sedemikian hebatnya.

Seorang lalu berlari cepat mencari lilin dan menyalakan lilin itu di situ.

Topeng Setan sudah mulai dengan latihannya, hatinya lapang karena dia yakin bahwa latihannya tidak akan diganggu.

Dia berlaku nekat, dan memang tidak ada jalan lain baginya.

Dia harus berhasil dengan latihannya, atau jika dia gagal, biarlah dia mati terhimpit batu itu.

Peluhnya makin bertetesan dari seluruh tubuhnya.

Tubuhnya menjadi keras dan kejang seperti sebatang pohon kering atau lebih lagi, seperti tiang baja.

Dengan menurutkan teori yang sudah dihafalnya tentang latihan Sin-liong-hok-te, dia mulai mengerahkan sin-kang yang berputar di pusarnya, hawa sin-kang ini bergerak perlahan-lahan, mula-mula didorong ke bawah menembus semua jalan darah sampai ke ujung kedua kakinya, terasa sampai ke jari-jari kakinya.

Lalu perlahan-lahan naik ke atas, ke dada dan ketika tiba di pundak, tenaga itu bergabung dan tersalur ke samping kanan saja karena lengan kirinya sudah tidak ada.

Inilah sukarnya bagi dia ketika dahulu latihan ilmu mujijat ini, ketika kedua lengannya masih utuh.

Ketika lengannya masih lengkap, tenaga atau hawa sin-kang yang merayap ke atas itu selalu sebagian menyeleweng ke lengan kiri, sukar sekali untuk dipusatkan ke lengan kanan.

Padahal di dalam ilmu ini, kalau tenaga sakti Sin-liong-hok-te sudah sempurna, inti tenaga sakti ini dipergunakan dalam ilmu silat tangan kosong yang khusus diciptakan untuk seorang berlengan buntung sebelah, dengan tenaga sakti ini sebagai dasar, yaitu Ilmu Silat Tangan Kosong Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Naga Sakti), lengan tunggal ini bergerak sebagai kepala naga, sedangkan kaki bergerak sebagai cakar naga.

Biarpun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya hawa sakti itu dapat juga membelok dan berputar pada lengan kanannya.

Kini tinggal tingkat terakhir dari latihan itu, tingkat yang paling sukar dan berbahaya, yaitu menyalurkan hawa itu ke dalam kepala!

Amat sukar dan berbahaya sekali untuk menembus terbuka jalan darah di ubun-ubun kepala, harus dilakukan dengan amat teliti, hati-hati dan dengan pencurahan seluruh perhatian dan penyerahan lahir batin.

Para penjaga sudah mulai tertawa-tawa karena lilin itu sudah terbakar selama hampir tiga jam, tinggal sedikit lagi dan Topeng Setan sudah kelihatan amat lelah kehabisan tenaga, kehabisan keringat dan napasnya mulai terengah-engah.

Topeng Setan sadar akan hal ini.

Hampir dia tidak kuat bertahan lagi, hampir menyerah!

Tenaganya telah terkuras habis, berjam-jam terus-menerus mengerahkan tenaga agar tubuhnya meregang dan menegang kaku, sedangkan untuk dapat menerobos jalan darah di ubun-ubun bukanlah hal yang mudah, membutuhkan pengerahan tenaga sin-kang yang terpusat.

Mana dia kuat dan mampu?

Dia berbeda dengan gurunya, dan dia masih terluka hebat.

"Ha-ha-ha, lilinnya sudah hampir padam dan engkau pun sudah hampir padam!"

Seorang penjaga mengejeknya.

"Wah-wah, mampus kau sekali ini, Topeng Setan! Apakah lebih baik kau menyerah saja, biar kubuka topengmu dan kami turunkan batu ini?"

"Heh-heh, dia sudah tidak mampu menjawab. Dia sudah sekarat!"

Para penjaga yang wataknya kejam itu memperolok-oloknya dengan bermacam-macam kata-kata mengejek dan semua ini bahkan menimbulkan kembali semangat Topeng Setan yang tadinya sudah hampir tenggelam.

Bernyala kembali api perlawanannya yang tadi sudah hampir padam.

Dia menggeleng kepala tanda belum menyerah, kemudian dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Tidak, dia harus nekat sampai denyut darah terakhir.

Dia tidak akan menyerah sampai mati.

Dengan otak membayangkan keselamatan Ceng Ceng dia memusatkan tenaga yang menjadi besar kembali terdorong oleh kebulatan tekadnya, berusaha menjebol jalan darah ke ubun-ubun sebagai tingkat terakhir dari latihan dan penguasaan ilmu mujijat Sin-liong-hok-te.

Tinggal sedikit lagi.

Dia sudah merasa betapa hawa sakti membubung ke atas, kepalanya sudah tergetar dan terasa panas.

Tapi bukan main sukarnya dan kalau pada saat itu para penjaga menurunkan batu, hal ini bahkan akan mencelakakannya.

Tenaganya sudah habis!

Dia tidak kuat menembus bagian tipis yang sedikit lagi itu.

Seolah-olah terasa sudah olehnya tirai tipis yang sudah disentuhnya.

Kalau masih ada tenaganya, mendorong sedikit saja tentu sudah akan dapat menerobos tirai itu.

Akan tetapi tenaganya sudah habis!

"Wah, dia memang keras kepala!

Manusia ini menjemukan sekali!"

Teriak seorang penjaga.

"Biar kuhajar kepalanya agar merasa dia!"

Penjaga lain yang memegang cambuk berteriak.

"Tar-tar-tar....! Plongggg....!"

Jalan darah ke ubun-ubun itu tertembus secara tiba-tiba dan tidak disengaja.

Pada saat dia sedang bersitegang untuk menembus tirai tipis yang tinggal sedikit itu, secara tiba-tiba cambuk melecut mengenai ubun-ubunnya dan sentakan kaget ini membantunya sehingga merupakan bantuan yang tak tersangka-sangka pada saat yang kritis itu.

Dia berhasil!

Hampir Topeng Setan tidak dapat mempercayai sendiri apa yang dirasakannya pada saat tirai tipis itu tertembus oleh hawa saktinya dan semua jalan darah telah terbuka, Seluruh hawa sakti di tubuhnya telah meluncur dengan lancar dan cepatnya.

Tubuhnya kini terasa nyaman, kepalanya terasa ringan, otaknya menjadi terang dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mencorong menggiriskan, seperti mata naga sakti, seperti mata suhunya.

Beban berat yang menin-dih punggungnya tidak terasa lagi olehnya, yang terasa hanyalah hawa penuh yang berputar-putar cepat sekali di seluruh tubuhnya, seolah-olah seekor naga sakti melayang-layang berputaran di angkasa mencari korban.

Para penjaga yang tidak sadar akan perubahan ini masih mengejek, bahkan Si Pemegang Cambuk kini mengayun cambuknya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melecut kepala yang menelungkup itu.

"Tarrr.... brolll....! Aduhhh....!"

Bukan main hebatnya akibat dari lecutan ini, seolah-olah lecutan yang membuka bendungan besar tenaga sakti yang kini datang membanjir dengan hebatnya.

Naga sakti yang melayang-layang itu seperti memperoleh mangsa oleh lecutan itu.

Tenaga mujijat yang berputaran di tubuh Topeng Setan itu bergerak melawan ketika melecut, dan akibatnya, Si Pemegang Cambuk itu roboh dan mati seketika dengan tubuh membiru karena semua urat-uratnya tergetar pecah-pecah oleh tenaganya sendiri yang membalik dengan kuatnya.

Batu penggilingan tahu yang mendidih punggung itu mencelat seperti dilontarkan, menghantam dua orang penjaga yang menjadi remuk badannya dan masih terus menerjang dinding batu sehingga ambrol dan berlubang besar.

Belenggu tangan kanan dan kedua kaki yang terbuat dari baja tebal itu patah-patah semua dan jatuh berkerontangan di atas lantai!

Kini Topeng Setan berdiri di tengah kamar tahanan itu dan berteriak dengan suara menyeramkan.

"Mana Hek-tiauw Lo-mo? Bebaskan aku!"

Para penjaga lainnya memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, ada yang terkencing ketakutan melihat orang bertopeng yang berdiri tegak dengan mata mencorong seperti itu, ada yang kedua kakinya menggigil dan tidak mampu melangkah selangkah pun untuk mengikuti teman-temannya yang mundur melarikan diri.

"Hek-tiauw Lo-mo manusia iblis! Hayo kau bebaskan Ceng Ceng....!"

Kembali Topeng Setan berteriak. Mendadak terdengar suara Hek-tiauw Lo-mo dari sebelah kiri, dari dinding yang masih utuh.

"Topeng Setan, aku berada di sini!"

Mendengar suara musuhnya ini, dengan sekali gerakan saja, tubuh Topeng Setan melayang ke arah dinding, tangan kanannya mendorong dinding dan....

"Braaakkkk!"

Dinding itu jebol dengan amat mudahnya!

Begitu dia menerobos dinding ini dan tiba di sebuah ruangan lain, dari kanan kiri menyambar anak anak panah yang tak mungkin dielakkannya lagi.

Topeng Setan terpaksa menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga di seluruh tubuh untuk mengebalkan tubuh.

Hawa mujijat di tubuhnya itu berputar cepat sekali dan betapa girang hati Topeng Setan ketika menyaksikan betapa anak-anak panah itu begitu menyentuh tubuhnya, di bagian manapun, runtuh semua dan patah-patah!

Hek-tiauw Lo-mo, Ji Song kakek gendut pembantunya, dan Mauw Siauw Mo-li sumoinya, memandang dengan mata terbelalak.

Ketika anak panah itu habis, yang ternyata dilepas dari alat-alat rahasia, Topeng Setan memandang ke depan dan matanya yang mencorong itu berapi-api ketika dia melihat Hek-tiauw Lo-mo.

"Hek-tiauw Lo-mo, kalau kau tidak bebaskan Ceng Ceng, aku akan menghancurkan kepalamu!"

Hek-tiauw Lo-mo mengangkat tangan kanannya ke atas.

"Topeng Setan, jangan bergerak kau! Sekali bergerak, nona itu akan dibunuh oleh pembantu-pembantuku seperti yang sudah kuperintahkan. Aku akan membebaskan gadis itu dan juga engkau asal engkau suka membantuku sekali ini. Kalau engkau menolak, gadis itu akan kusuruh bunuh lebih dulu sebelum kami akan menghadapimu dalam pertempuran mati-matian."

Topeng Setan memandang tajam.

Betapa cerdiknya Ketua Pulau Neraka ini, pikirnya.

Kalau iblis tua ini membawa Ceng Ceng pada saat itu, dengan ilmunya yang mujijat telah dikuasainya kini, agaknya dia akan mampu merampas Ceng Ceng dari tangan orang-orang ini.

Akan tetapi iblis tua yang cerdik ini menyembunyikan Ceng Ceng, dan orang macam dia ini tentu benar-benar akan membunuh Ceng Ceng kalau dia tidak memenuhi permintaannya.

"Kalau kau menipuku, ke mana pun kau pergi akan kukejar sampai dapat, Hek-tiauw Lo-mo."

"Tidak! Aku bicara sebagai seorang tokoh kang-ouw terhadap seorang tokoh lain, dan namaku akan tercemar selama hidupku kalau aku menipumu. Aku akan membebaskan kalian kalau engkau mau dan berhasil membantuku."

"Katakan, apa yang harus kulakukan!"

"Kami sedang diserbu musuh-musuh yang lihai, dan kalau engkau bisa me-ngundurkan musuh-musuh itu, nah, aku Hek-tiauw Lo-mo berjanji akan membebaskan engkau dan gadis itu."

"Siapakah musuh-musuhmu itu?"

"Mereka adalah serombongan pengawal yang dipimpin oleh Gak Bun Beng, Puteri Milana, dan Suma Kian Bu."

Terkejut sekali hati Topeng Setan mendengar ini, alisnya berkerut.

Bagaimana dia berani melawan?

Andaikata dia mampu menghadapi mereka juga, bagaimana dia dapat melawan orang-orang yang dia tahu adalah pahlawan-pahlawan dan pendekar-pendekar besar itu?

Akan tetapi, keselamatan Ceng Ceng berada di tangan Hek-tiauw Lo-mo!

Topeng Setan menjadi bingung sekali.

Bagaimana Gak Bun Beng, Milana, dan Suma Kian Bu dapat berkumpul dan kini dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo bahwa mereka memimpin pasukan pengawal menyerbu dusun itu?

Untuk mengetahui hal ini, baiknya kita membiarkan dulu Topeng Setan yang sedang kebingungan itu dan mari kita mengikuti pengalaman Gak Bun Beng dan Milana.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, dengan hati seperti disayat-sayat Gak Bun Beng terpaksa meninggalkan istana Milana, bekas kekasihnya dan yang masih merupakan satu-satunya wanita yang dicintanya di dunia ini.

Perih sekali hatinya ketika dia melihat kenyataan bahwa Milana juga masih mencinta dia!

Bahwa wanita yang dicintanya itu ternyata hidup merana, hidup sengsara di samping suaminya itu, karena Milana tidak pernah dapat melupakan dia.

Betapa akan mudahnya untuk membiarkan diri terbenam dalam kebahagiaan bersama Milana, menuruti suara hati dan dorongan keinginan yang ditekan-tekannya selama belasan tahun ini.

Akan tetapi kalau dia menuruti hati dan menerima uluran kasih sayang Milana, akan menjadi orang macam apakah dia?

Tidak!

Ayahnya dahulu terkenal sebagai seorang datuk sesat, berjuluk Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kelahiran dirinya pun adalah akibat perbuatan terkutuk ayahnya itu atas pemerkosaannya terhadap ibunya.

Biar ayahnya seorang manusia iblis, dia harus menebus semua penyelewengan ayahnya itu dengan perbuatan benar!

Dan kalau dia kini menuruti nafsu hatinya, merebut seorang wanita seperti Milana yang masih bersuami, berarti dia sama tersesatnya dengan ayahnya.

Tidak, biar hancur hatinya, biar remuk hidupnya, dia tidak sudi melakukan hal ini dan dia telah melarikan diri dari Milana!

Akan tetapi, cintanya terhadap Milana demikian besarnya, mengalahkan segala-galanya.

Dahulu, selama belasan tahun dia telah mampu menekan perasaannya ini, menekan hasrat hatinya untuk bersanding dengan wanita kekasihnya.

Akan tetapi, setelah kini bertemu dengan Milana, duduk berdekatan, mendengar suaranya, bahkan mendengar pernyataan cinta kasih wanita itu yang masih sebesar dahulu terhadap dirinya, mana dia mampu berjauhan?

Dia tidak kuat untuk berjauhan lagi.

Maka seperti seorang yang sinting Gak Bun Beng tak pernah jauh meninggalkan kota raja, bahkan kadang-kadang dia mencuri masuk, menggunakan kepandaiannya hanya untuk menjenguk dan melihat wajah kekasihnya.

Dia cukup puas hanya dengan melihat sepintas wajah yang tak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu, lalu pergi lagi, akan tetapi tidak jauh, hanya dekat di luar kota raja, bersembunyi.

Gak Bun Beng adalah seorang laki-laki yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, hampir empat puluh tahun dan selama hidupnya baru dengan Milana saja dia berdekatan dengan wanita.

Dia adalah seorang perjaka, bahkan setelah dia berpisah dengan Milana belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah mau memandang wanita lainnya dan seolah-olah sudah menutupkan pintu hatinya terhadap cinta asmara antara pria dan wanita.

Segala macam bentuk nafsu keinginan lahir dari pikiran.

Daya tarik yang terkandung, dalam keindahan bentuk tubuh dan kecantikan serta kelembutan seorang wanita terhadap pandang mata seorang pria memang sudah sewajarnya, akan tetapi dalam daya tarik itu tidak terkandung nafsu berahi.

Kalau kita kaum pria melihat seorang wanita dan kita kagum akan kecantikannya, kelembutan dan keluwesannya, maka hal itu hanya habis pada tingkat kekaguman saja.

Akan tetapi begitu sang pikiran masuk mencampuri, pikiran membayangkan hal yang bukan-bukan, kenangan-kenangan yang pernah dirasakannya atau pernah didengarnya, pernah dilihatnya, maka sang pikiran ini lalu membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau kita dapat memiliki wanita itu menjadi kawan bermain cinta dan sebagainya, Maka lahirlah nafsu berahi yang pada dasarnya hanyalah keinginan untuk menyenangkan diri pribadi.

Pikiran adalah diri pribadi, maka segala yang direncana-kan dan diperbuat oleh pikiran selalu berpusat pada kesenangan untuk diri pribadi.

Dengan kekuatan batinnya yang memang amat kokoh kuat, Gak Bun Beng berhasil menjauhkan diri dari nafsu berahi dan tidak merasa terganggu.

Akan tetapi tiba-tiba muncul Syanti Dewi dalam kehidupannya, dan sifat-sifat dara yang amat baik ini dengan kekuatan mujijat membuka lagi pintu hatinya.

Kalau saja dia tidak mempunyai kesetiaan sampai mati kepada Milana, agaknya dengan amat mudahnya dia menerima uluran tangan Syanti Dewi yang jatuh cinta kepadanya karena terdorong oleh hutang budi dan kekaguman yang berlebihan.

Dia menolak Syanti Dewi dengan bijaksana, mengingat usia mereka, mengingat hubungan hatinya dengan Milana.

Akan tetapi penolakan ini membuka lebar-lebar kembali luka di dalam hatinya.

Semua ini ditambah lagi dengan perjumpaannya dengan Milana, lalu lebih-lebih lagi dengan pernyataan Milana betapa wanita itu masih selalu mencintanya, betapa wanita itu merana hidupnya karena dia!

Kini Gak Bun Beng tersiksa hebat, jauh lebih hebat daripada dahulu kerena kini setiap detik dia digerogoti perasaan dendam rindu kepada Milana!

Inilah yang membuat dia tidak mampu lagi terpisah jauh-jauh dari wanita yang dicintanya itu, dan penderitaan ini hendak diperingan dengan setiap kali menjenguk wajah orang yang dicintanya.

Dia tidak tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya bahkan memperhebat penderitaannya, seperti seorang yang kehausan diperlihatkan air yang tidak boleh diminumnya!

Betapa terkejutnya ketika dia mendengar akan geger yang terjadi di kota raja, yaitu tentang tewasnya Pangeran Liong Bin Ong yang kabarnya dibunuh oleh perwira Han Wi Kong dan tentang tewasnya perwira itu pula, kemudian tentang mengamuknya Puteri Milana dan lenyapnya Puteri Syanti Dewi dari istana Kaisar!

Tentu saja dia cepat memasuki kota raja dan melakukan penyelidikan.

Dengan muka pucat dia menghadap Perdana Menteri Su dan mendengar semua penuturan perdana menteri itu bahwa suami Milana tewas, kemudian betapa Milana menculik Puteri Syanti Dewi dan melarikan diri dari kota raja setelah membunuh para pengawal Liong Bin Ong yang menewaskan suaminya!

Gak Bun Beng terkejut dan juga berduka sekali.

Kekasihnya tertimpa malapetaka yang demikian hebat tanpa dia mampu menolongnya!

Dia merasa menyesal sekali.

Andaikata dia tidak meninggalkan istana puteri itu, kiranya belum tentu suami puteri ini akan tewas dan membawa akibat sedemikian hebatnya sehingga kini Puteri Milana menjadi seorang pelarian dari istana!

Setelah menghaturkan terima kasih kepada Perdana Menteri Su, dia lalu berpamit dan cepat mencari Milana yang dia duga tentu hendak mengantarkan Syanti Dewi kembali ke Bhutan.

Sementara itu, seperti telah diceritakan di bagian depan, Milana yang membawa lari Syanti Dewi bertemu dengan Ang Siok Bi, kemudian bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan menyerahkan Syanti Dewi kepada dua losin pengawal jenderal itu yang dipimpin oleh kepala pengawal Can Siok untuk dikawal sampai ke Bhutan.

Puteri Milana sendiri lalu berpisah dari Jenderal Kao Liang untuk kembali ke utara karena dia ingin pergi ke orang tuanya, yaitu di Pulau Es.

Lemas rasanya seluruh sendi tulangnya ketika Puteri Milana berjalan perlahan memasuki hutan itu.

Berkali-kali dia menghela napas panjang, menyesali dirinya sendiri karena dia merasa telah melakukan dosa yang amat besar.

Dia merasa seolah-olah dialah yang telah membunuh Han Wi Kong.

Dia tahu bahwa suaminya itu seperti membunuh diri, sungguh-pun pembunuhan diri yang amat terhormat dan berjasa besar bagi negara.

Dan yang menjadi sebab adalah dia.

Suaminya menderita hebat sejak menikah dengan dia karena suaminya itu benar-benar mencintanya dan dapat dibayangkan betapa perih hatinya dan sengsara hidupnya karena semenjak menikah, sampai belasan tahun lamanya, dia hanya menjadi isteri dalam nama saja, tidak pernah menjadi isteri dalam arti yang sesungguhnya.

"Salahkah aku? Berdosakah aku?"

Berkali-kali dia bertanya kepada diri sendiri.

Dia dahulu diharuskan menikah oleh Kaisar dan terpaksa dia harus memilih seorang di antara mereka.

Pilihannya jatuh ke-pada Han Wi Kong, akan tetapi bagaimana dia bisa mencinta orang lain kalau hatinya sudah diserah-kan sebulatnya kepada Gak Bun Beng?

Han Wi Kong "membunuh diri"

Karena ingin membahagiakannya, ingin membebaskannya agar dia dapat berkumpul dengan Gak Bun Beng.

Kalau sampai tujuan terakhir suaminya itu tidak terpenuhi, sama artinya dengan membiarkan suaminya itu mati konyol, mati dengan sia-sia.

Akan tetapi Gak Bun Beng....

Milana menarik napas panjang ketika teringat pria yang dicintanya itu, teringat akan pendiriannya, akan keangkuhannya.

Teringat betapa Gak Bun Beng berkeras meninggalkannya, kembali dia menarik napas panjang dan bibirnya terdengar mengeluh lirih seperti rintihan.

"Gak-suheng...."

"Sumoi....!"

Suara ini memasuki telinganya seperti halilintar dan membuat seluruh tubuhnya tergetar.

Wajah Milana menjadi pucat sekali dan cepat dia membalikkan tubuhnya.

Ketika melihat orang yang sedang dikenangnya itu kini berdiri di depannya, Gak Bun Beng yang berwajah pucat dan bermata sayu, Milana menggosok kedua matanya.

"Sumoi.... Milana, aku di sini...."

Gak Bun Beng berkata dengan suara terharu ketika melihat wanita (Lanjut ke

Jilid 50) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 50 itu seperti tak percaya akan kehadirannya, wanita yang dicintanya, yang berpakaian kusut dan berambut awut-awutan, berwajah pucat sekali akan tetapi yang kecantikannya baginya tak pernah berkurang semenjak mereka masih remaja dahulu.

"Suheng.... Gak-suheng...."

Milana tak dapat lagi menahan hatinya.

Wanita yang terkenal sebagai seorang pendekar besar, seorang pahlawan dan seorang panglima yang amat gagah perkasa, yang mampu menghadapi segala macam bahaya dengan mata tidak berkedip, yang tidak pernah meruntuhkan air mata dan yang terkenal sebagai seorang wanita gagah berhati baja, kini tidak lebih hanya seorang wanita yang lembut dan tangisnya mengguguk, air matanya jatuh berderai-derai.

Seperti seorang anak kecil dia berdiri sambil menangis, tubuhnya berguncang dan kedua punggung tangannya menggosok-gosok matanya.

"Sumoi.... tenangkan hatimu, Sumoi...."

Dengan suara gemetar Gak Bun Beng mencoba menghibur, melangkah maju dan dengan hati-hati menyentuh kedua pundak wanita itu dengan ujung-ujung jari tangannya.

Sentuhan ini sudah cukup untuk membuka bendungan itu.

"Gak-suheng.... aihhh, Gak-suheng....!"

Milana lalu memeluk dan mendekap dada pria itu dengan mukanya, menangis sejadi-jadinya.

"Sumoi...."

Suara Bun Beng juga mengandung isak dan dia menengadah, memejamkan kedua matanya mencegah keluarnya air mata, dan tangan kanannya mengusap-usap rambut yang awut-awutan dan halus lemas itu.

Sampai lama sekali mereka hanya berdiri saling peluk.

Milana menangis terisak-isak, makin lama makin mereda dan Gan Bun Beng memeluk pundaknya dan membelai rambutnya.

Setelah tangis wanita itu agak mereda, tinggal terisak-isak saja, Bun Beng lalu dengan halus melepaskan pelukannya, menjauhkan dirinya sambil berkata lembut.

"Sumoi, aku telah mendengar semua apa yang terjadi di kota raja. Aku menyesal sekali.... tidak dapat membantumu sama sekali...."

Milana masih belum mampu menjawab hanya terisak-isak dan menghapus sisa air mata dengan sehelai saputangan sutera.

"Mari kita duduk di bawah pohon itu dan bicara, Sumoi."

Bun Beng mengajaknya dan dia mengangguk, keduanya lalu duduk di atas akar-akar pohon yang menonjol di atas tanah.

Milana menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan, mungkin karena tangisnya, isaknya masih ada akan tetapi hanya kadang-kadang dan air matanya sudah berhenti mengucur.

Wanita perkasa ini sudah dapat menguasai dirinya lagi.

"Sumoi, aku sudah bertemu dengan Perdana Menteri Su dan mendengar dari beliau akan semua peristiwa. Suamimu telah membunuh Pangeran Liong Bin Ong dan dalam usaha itu dia berhasil akan tetapi dia juga terbunuh oleh para pengawal tokoh pemberontak itu. Dan kau telah melarikan Syanti Dewi.... eh, di mana sekarang?"

"Dia telah dikawal oleh para pengawal Jenderal Kao, kembali ke Bhutan."

Milana lalu menceritakan dengan singkat pertemuannya dengan Jenderal Kao.

Kemudian dia menceritakan juga tentang pertemuannya dengan Ang Siok Bi, dan menambahkan.

"Ternyata benar bahwa Ang Tek Hoat itu adalah puteranya, dan dia.... dia mencari-carimu sebagai seorang musuh besar, Suheng."

"Biarlah...."

Gak Bun Beng menarik napas panjang, sikapnya tidak peduli.

"Sekarang engkau hendak.... ke manakah, Sumoi?"

Suaranya penuh perasaan iba dan hal ini terasa sekali oleh Milana sehingga kembali wanita ini menggigit bibir menahan tangisnya.

"Tadinya aku hendak mencarimu, Suheng, akan tetapi karena tidak tahu engkau berada di mana, setelah Syanti Dewi diantar para pengawal, aku lalu hendak pergi ke Pulau Es saja. Syukur bahwa kita dapat bertemu di sini, Suheng."

"Kau.... kau mencariku, Sumoi?"

Gak Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang.

"Mengapa.... engkau mencariku?"

Wajah yang masih agak pucat itu menjadi merah dan jari-jari tangannya gemetar ketika Milana mencari-cari ke balik bajunya, kemudian mengeluarkan sebuah sampul surat.

"Aku mencarimu untuk menyampaikan ini, Suheng. Aku menemukan surat peninggalan suamiku ini di dalam kamarnya dan surat ini untukmu."

Gak Bun Beng menerima surat itu dan membaca tulisan pada sampulnya.

Memang ditujukan kepadanya, ditulis oleh tangan Han Wi Kong dengan gaya tulisan yang kuat dan indah.

Jantungnya berdebar tegang penuh kekhawatiran dan penyesalan.

Apakah yang akan dia baca dan temukan di dalam surat ini?

Apakah kata-kata kutukan dan penyesalan dari perwira gagah itu?

Karena dia dan isterinya mempunyai hubungan cinta kasih?

Apakah perwira itu menderita kesengsaraan batin karena dia?

Karena isterinya mencinta dia?

Hampir dia tidak berani membuka surat itu dan dia memandang kepada Milana.

Akan tetapi wanita itu pun merunduk saja, agaknya menanti dengan penuh ketegangan.

"Sumoi, katakanlah, mengapa suamimu melakukan perbuatan nekat itu? Seorang diri menyerbu istana dan membunuh Pangeran Liong Bin Ong, bukankah hal itu sama artinya dengan membunuh diri?"

Ucapan itu terasa oleh Milana seperti tusukan pada jantungnya dan tak dapat dicegahnya lagi beberapa butir air mata mengalir turun dan karena dia menunduk, air mata itu berkumpul di ujung hidungnya seperti sebutir mutiara besar.

Milana menggeleng kepala dan mutiara itu jatuh dari ujung hidungnya.

"Aku.... aku tidak tahu...."

Dia merasa lehernya seperti dicekik, tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.

Gak Bun Beng menarik napas, memandang sampul surat itu lalu membe-ranikan hatinya, membuka sampul itu dengan jari-jari tangan gemetar dan mengeluarkan suratnya.

Dia sudah siap untuk menerima berita yang paling buruk, siap untuk menerima celaan dan kutuk orang yang sudah mati itu.

Lalu dibacanya surat itu .

Gak Bun Beng Taihiap, Kalau taihiap membaca surat ini, saya tentu sudah mati.

Kematian yang tidak sia-sia karena saya tentu telah berhasil membunuh dalang pemberontak Liong Bin Ong.

Terutama sekali, dengan kematian saya, Puteri Milana menjadi bebas untuk hidup bersama satu-satunya pria yang dicintanya, yaitu Taihiap sendiri.

Percayalah, sejak dahulu sampai saat ini Puteri Milana hanya mencinta Taihiap seorang, dan dia menjadi isteri saya hanya namanya saja, bukan isteri dalam arti sesungguhnya.

Sampai saat ini Puteri Milana masih seorang gadis yang selalu menanti pinangan Taihiap!

Semoga bahagia, Han Wi Kong.

Surat itu terlepas dari jari-jari tangan Gak Bun Beng yang gemetar karena jantungnya berdebar dengan keras.

"Ohhh...."

Demikian keluhnya.

Mendengar keluhan ini, Milana mengangkat mukanya memandang.

Gak Bun Beng lalu menyambar kertas itu dan menyerahkan kepada Milana sambil berkata, suaranya gemetar.

"Benarkah ini....? Benarkah ini....?"

Milana menerima surat itu dan membacanya, dipandang dengan tajam oleh Gak Bun Beng.

Perlahan-lahan kedua pipi wanita itu berubah menjadi merah sekali dan surat itu pun terlepas dari tangannya yang menggigil.

"Benarkah, Milana....?"

Tanya Bun Beng, suaranya lirih seperti berbisik.

Milana mengangkat muka memandang.

Dua pasang mata saling bertemu dan akhirnya Milana hanya mengangguk penuh kepastian.

Bun Beng meloncat berdiri.

"Akan tetapi mengapa?"

Teriaknya.

"Milana? Engkau adalah isterinya! Mengapa engkau menyiksanya sedemikian rupa? Belasan tahun menjadi isterinya.... hanya dalam nama saja....? Betapa kejamnya engkau...."

Mendengar ucapan ini, Milana juga meloncat berdiri dan memandang Bun Beng dengan mata bersinar-sinar.

"Mangapa? Tentu saja aku tidak bisa menyerahkan diri kepada lain pria! Setelah aku menyerahkan cinta kasih dan hatiku kepadamu, suheng, bagaimana mungkin aku dapat menyerahkan tubuhku kepada pria lain?"

"Ahh.... tapi... kalau begitu, mengapa engkau menikah dengan dia?"

"Karena Kaisar memaksaku."

"Kau bisa saja pergi dari istana dan mencari aku, Milana...."

"Suheng, bukankah engkau yang telah meninggalkan aku, pergi dariku? Aku telah merasa berdosa kepadamu dahulu, telah tidak mempercayaimu (dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS)...., akan tetapi aku tidak mungkin bisa menyerahkan diri kepada pria lain...."

"Milana.... sumoi, begitu besar cintamu kepadaku...."

"Dan kau tadinya kuanggap telah melupakan aku, Suheng. Kiranya engkau pun rela hidup merana, tak pernah menikah, karena cintamu kepada-ku...."

"Milana.... aku cinta padamu, sejak dahulu sampai detik ini.... aku hanya merasa diriku tidak berharga untukmu. Dan ternyata engkau.... engkau begitu setia kepadaku.... ternyata aku yang telah menyiksa hidupmu, Milana...."

"Suheng....!"

Milana mengeluh dan mereka saling tubruk, saling rangkul karena sekarang keduanya yakin akan cinta kasih mereka masing-masing.

"Sumoi.... Milana.... ah, Milana.... betapa aku rindu padamu."

"Aku pun rindu padamu, Suheng...."

Sejenak kedua orang itu lupa diri.

Milana terlena dalam pelukan Bun Beng, air matanya mengalir turun dari kedua mata yang dipejamkan.

Bun Beng mendekapnya, menciumnya, mencium lehernya, dagunya, bibirnya, hidung dan matanya, menghisap air mata itu, air mata yang seolah-olah menjadi air embun yang menyiram kembang di dalam hatinya yang kehausan dan yang hampir melayu, sehingga kembang itu menjadi segar kembali.

Pada saat itu dicurahkanlah segala kerinduannya, segala cinta kasihnya sehingga setiap bulu di tubuhnya seolah-olah bangkit dan membelai wanita itu.

Milana memejamkan matanya, merasa terayun di angkasa dengan nikmatnya.

Wanita manakah yang tidak akan merasa berbahagia bahwa dia telah menundukkan hati pria yang dicintanya, merasa dibutuhkan, dicinta dan dipuja?

Bisikan halus yang keluar dari bibir Bun Beng di dekat telinga, bisikan yang berkali-kali menyatakan cinta kasih yang mendalam, membuat hati Milana bangga dan bisikan itu lebih merdu daripada nyanyian surga!

Akan tetapi tiba-tiba Milana melepaskan dirinya dengan halus, kini dia memandang kekasihnya dengan bibir tersenyum dan mata masih basah, dengan kedua pipi kemerahan seperti wajah seorang dara remaja yang baru pertama kali menerima ciuman seorang pria.

Bun Beng memandang dengan terpesona.

"Jangan.... Suheng, jangan dulu...., kita harus menghormati Han Wi Kong.... dialah yang sesungguhnya mempertemukan kita kembali. Kita.... kita harus sabar menanti.... biarkan aku berkabung selama setahun untuknya, Suheng."

Gak Bun Beng tersenyum, senyum penuh kecerahan yang baru pertama kali ini nampak di wajahnya, seolah-olah wajahnya bersinar kembali dengan cahaya kehidupan.

Dia mengangguk dan matanya memandang penuh kelembutan, penuh kemesraan dan penuh pengertian.

"Memang sebaiknya begitu, Sumoi. Sebaiknya begitu...., betapapun juga, secara lahiriah dia adalah suamimu dan sahabat kita yang amat baik. Setelah menanti belasan tahun lamanya, apa artinya setahun bagi kita?"

Milana melangkah maju lagi dan memegang kedua tangan kekasihnya.

"Aku tahu bahwa engkaulah satu-satunya manusia yang bijaksana dan mulia di dunia ini. Mulai saat ini aku merasa seolah-olah baru hidup, suheng...."

Gak Bun Beng balas menggenggam jari-jari tangan yang halus itu.

"Bukan baru hidup melainkan hidup baru, Sumoi. Sekarang, apakah engkau hendak melanjutkan perjalananmu ke Pulau Es?"

"Aku.... aku.... terserah kepadamu, Suheng. Sejak saat ini, aku hanya menurut apa yang kau katakan dan kau tentukan. Aku takut kalau-kalau keputusanku sendiri akan mengakibatkan kesalahan hebat seperti yang telah kita alami bersama dahulu. Aku menyerahkan segalanya kepadamu, Suheng."

Bukan main girangnya hati Gak Bun Beng.

"Kiranya lebih baik kalau kelak setahun kemudian kita bersama pergi menghadap ke Pulau Es untuk minta doa restu dari orang-orang tua. Sekarang, lebih baik kita mengejar perjalanan Syanti Dewi. Hatiku merasa tidak tenang kalau sampai anak itu hanya dikawal oleh pasukan biasa. Sebaiknya waktu yang satu tahun itu kita pergunakan untuk mengawalnya ke Bhutan."

Milana mengangguk, lalu berkata.

"Dia.... Syanti Dewi amat mencintamu, Gak-suheng...."

"Eh, bagaimana kau tahu?"

"Anak yang baik itu menceritakan segalanya kepadaku. Dan tahukah engkau betapa dia marah-marah kepadaku dan menuntut agar aku membahagiakan engkau. Tidakkah aneh sekali itu? Seorang anak belasan tahun mengajarkan aku tentang cinta kasih! Dia benar-benar cinta kepadamu sehingga aku merasa heran mengapa engkau tidak menyambut uluran hati seorang dara secantik dia?"

"Sumoi, perlukah kau tanyakan lagi hal itu? Dengan adanya engkau, betapa mungkin aku mencinta wanita lain? Aku tahu akan kebaikan hatinya, karena itu dia kuanggap sebagai keponakan atau anak sendiri, dan karena itu pula kita sudah sepatutnya mengantarkan dia kembali kepada orang tuanya di Bhutan."

Milana tersenyum manja.

"Terima kasih, Suheng. Pernyataanmu itu makin meyakinkan hatiku betapa besar cintamu kepadaku, dan amat membahagiakan hatiku."

"Hemm, tidak kalah besarnya dengan kebahagiaanku memperoleh kenyataan bahwa selama ini engkau tetap mencintaku, Sumoi. Mari kita berangkat, aku khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik terhadap diri Syanti Dewi."

Maka berangkatlah kedua orang kekasih yang baru saling menemukan kembali setelah cinta kasih mereka terpisah selama belasan tahun itu.

Patut dikagumi Gak Bun Beng dan Milana.

Keduanya masih perawan dan perjaka, biarpun usia mereka telah mendekati empat puluh tahun, dan mereka selama belasan tahun menekan kerinduan hati masing-masing.

Kini, setelah mereka berdua memperoleh kebebasan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk saling memiliki, Seolah-olah kenikmatan itu merupakan setangkai bunga di depan mata, tinggal mengulur tangan memetiknya saja, dan keduanya sudah saling mencinta dan sudah saling percaya, tidak ada ha-langannya untuk saling menyerahkan diri lahir batin, mereka masih mampu mengatasi dorongan nafsu mereka dan melihat kenyataan bahwa hal itu kurang baik dan bahwa sudah sepatutnya kalau mereka menanti saja sudah menjadi bukti betapa teguh dan kokoh kuat dasar batin kedua orang gagah ini, yang tidak mudah di mabok oleh nafsu berahi!

Sambil bergandeng tangan mereka pergi meninggalkan hutan itu dan dengan kecepatan luar biasa mereka menggunakan ilmu berlari cepat mereka menuju ke barat untuk menyusul rombongan Syanti Dewi yang dikawal oleh dua losin orang pasukan pengawal Jenderal Kao Liang.

Ketika mereka tiba di dekat dusun yang dijadikan markas sementara oleh Hek-tiauw Lo-mo, di tengah jalan mereka bertemu dengan Suma Kian Bu yang memimpin sepasukan yang terdiri dari belasan orang, yaitu pasukan yang didapatnya dari Perdana Menteri.

Pemuda ini setelah berhasil membantu Tek Hoat membakar ruangan dan membiarkan Tek Hoat menolong Ceng Ceng, lalu melarikan diri ke kota raja dan dia pun pergi menemui Perdana Menteri Su, menceritakan dan minta bantuan untuk menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan.

Perdana Menteri Su dengan singkat menceritakan bahwa Syanti Dewi telah ditolong Tek Hoat dan karena semua perbuatannya itu adalah di luar tahu istana, maka perdana menteri yang bijaksana ini hanya dapat menyuruh pengawal-pengawal pribadinya yang berjumlah lima belas orang untuk membantu Suma Kian Bu menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan.

Demikianlah, di tengah jalan mereka saling bertemu.

"Enci Milana! Gak-suheng!"

Kian Bu berseru dengan girang bukan main dan dia memegangi kedua tangan suheng dan encinya itu.

"Hemmm, ke mana saja engkau selama ini, Kian Bu?"

Milana bertanya.

Ditanya demikian, Kian Bu menundukkan muka menyembunyikan perasaan jengah dan malunya.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert