Eps 16 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
Tentu saja tidak mungkin dia menceritakan pengalamannya dengan Hong Kui.
"Aku hanya merantau saja, Enci, akan tetapi ada hal yang lebih penting untuk kalian ketahui dan kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian. Marilah kita pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan dan di perjalanan nanti kuceritakan semua kepada Ji-wi (Kalian Berdua)."
Tentu saja Gak Bun Beng dan Milana terkejut dan segera mengikuti adik itu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang dijadikan tempat tinggal Tambolon.
Kian Bu telah mendengar penuturan dari Perdana Menteri Su betapa Ceng Ceng masih ditawan oleh Tambolon menurut cerita Tek Hoat dan Syanti Dewi, dan bahwa Tek Hoat sedang pergi untuk menolongnya.
Sedangkan Topeng Setan ditawan Hek-tiauw Lo-mo di dusun Nam-lim.
Dengan singkat namun jelas Kian Bu menceritakan betapa dia bertemu dengan Tek Hoat dan dia membantu Tek Hoat untuk membebaskan Ceng Ceng, kemudian dia pergi ke kota raja untuk minta bantuan.
"Hek-tiauw Lo-mo kuat sekali kedudukannya, apalagi di dekat dusun Nam-lim itu terdapat pula rombongan Tambolon yang dibantu oleh banyak orang pandai, di antaranya seorang nenek yang amat lihai dan pandai ilmu sihir. Ternyata tadinya Puteri Syanti Dewi ditawan oleh Tambolon dan telah disela-matkan oleh Tek Hoat dengan jalan menukarnya dengan Ceng Ceng. Menurut Perdana Menteri Su, kini puteri itu telah dikawal oleh pasukan Bhutan sendiri, kembali ke Bhutan."
Kian Bu menghentikan ceritanya karena dia masih merasa terluka oleh penolakan cintanya terhadap puteri itu.
"Sungguh aneh sekali! Mengapa rombongan Hek-tiauw Lo-mo dan rombongan Tambolon masih saja berkeliaran di sini? Dan bagaimana pula Syanti Dewi yang dikawal oleh pasukan Jenderal Kao sampai tertawan oleh rombongan Tambolon? Bagaimana pula cara Tek Hoat menukar tawanan itu? Ah, pemuda itu ternyata hebat! Kembali dia telah menyelamatkan Syanti Dewi dan kini dia seorang diri hendak menolong Ceng Ceng, sungguh berbahaya baginya. Mari kita mempercepat perjalanan dan mendahului pasukan ini,"
Bun Beng berkata.
Setelah berpesan kepada pasukan itu, Kian Bu lalu bersama Milana dan Bun Beng menggunakan ilmu berlari cepat, meninggalkan pasukan dan mendahului pergi ke sarang Tambolon di mana kabarnya Ceng Ceng menjadi tawanan raja liar itu.
Akan tetapi ternyata rombongan itu tidak lagi berada di situ.
Seperti kita ketahui, akibat khasiat darah anak ular naga yang diminumnya, Ceng Ceng dapat membebaskan diri sendiri dari tangan Tambolon dan kawan-kawannya, dan rombongan raja liar ini pun lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran.
Karena dusun itu kosong, maka Bun Beng lalu mengajak Milana dan Kian Bu untuk melanjutkan perjalanan ke Nam-lim.
Kedatangan tiga orang ini dengan pasukan pengawal di belakang mereka, telah diketahui oleh anak buah Hek-tiauw Lo-mo yang cepat melapor kepada Ketua Pulau Neraka ini, tentu saja Hek-tiauw Lo-mo menjadi terkejut sekali dan pada saat itu dia melihat Topeng Setan sudah dapat membebaskan diri secara menggiriskan.
Maka timbullah akalnya untuk mengadu Topeng Setan dengan rombongan Puteri Milana.
Biarpun Ceng Ceng sudah tidak berada lagi di tahanan, akan tetapi kebebasan dara ini belum diketahui oleh Topeng Setan dan karenanya dia masih dapat menipu Topeng Setan dan memaksanya untuk membantunya dengan mengancam Ceng Ceng yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di situ.
Demikianlah mengapa Gak Bun Beng, Milana dan Suma Kian Bu dapat muncul di tempat itu dan kini kita kembali kepada Topeng Setan yang dihadapkan pada dua pilihan yang amat berat baginya.
Sungguh berat baginya untuk menghadapi rombongan Puteri Milana yang dihormati dan dipandang tinggi itu, akan tetapi apa pun akan dilakukannya demi untuk menolong keselamatan Ceng Ceng.
"Bagaimana, Topeng Setan? Apakah engkau lebih ingin melihat kami membunuh gadis itu kemudian engkau melawan kami mati-matian? Jangan mengira bahwa kami takut kepadamu. Kami hanya ingin menarikmu sebagai kawan untuk menghadapi musuh-musuh yang kuat itu, dan percayalah, aku pasti akan membebaskan engkau dan gadis itu kelak. Mereka telah tiba di luar dan pergilah kau mengundurkan mereka."
"Baik, akan tetapi awaslah engkau kalau menipuku, Lo-mo!"
Teriak Topeng Setan yang kini juga sudah mendengar gerakan orang di depan rumah itu.
Dia meloncat keluar dan terus ke ruangan depan dan tiba-tiba saja dia sudah berhadapan dengan Puteri Milana, Gak Bun Beng dan Suma Kian Bu!
"Pergilah kalian dari sini....!
Ah, pergilah segera....!"
Topeng Setan berkata sambil melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat agar supaya mereka itu pergi dari situ.
"Topeng Setan, kami datang justeru untuk menolong.... engkau dan Ceng Ceng...."
Suma Kian Bu berkata.
"Tidak...., tidak....! Lekas kalian pergi dari sini, lekas....!"
Kembali Topeng Setan berseru dengan kacau karena memang hatinya kacau-balau tidak karuan menghadapi keadaan gawat yang mengancam keselamatan Ceng Ceng itu.
Milana dan Gak Bun Beng hanya pernah mendengar nama Topeng Setan, akan tetapi mereka baru sekarang melihat orangnya.
Bagi kedua orang pendekar besar ini, orang yang menyembunyikan mukanya di balik topeng sudah menunjukkan ketidakjujuran orang itu, maka topeng itu saja sudah mendatangkan kesan yang kurang baik bagi mereka.
"Topeng Setan atau siapa pun adanya engkau. Mundurlah dan kami datang untuk membebaskan Ceng Ceng!"
"Tidak.... tidak.... Paduka saja mundurlah. Dan harap jangan mencampuri urusan kami berdua dengan Hek-tiauw Lo-mo!"
Milana menjadi marah.
Biarpun satu kali dia pernah melihat Topeng Setan ini dan biarpun dia sudah mendengar bahwa orang ini adalah pembantunya Ceng Ceng, namun sikapnya sekarang amat mencurigakan karena agaknya membela Hek-tiauw Lo-mo.
"Manusia sombong, agaknya engkau telah berkhianat dan memihak Hek-tiauw Lo-mo. Minggir....!"
Milana maju dan mendorong Topeng Setan agar ke pinggir akan tetapi Topeng Setan menggerakkan tangan kanannya menangkis.
"Desss....!"
Milana terlempar hampir jatuh oleh tangkisan itu, baiknya Bun Beng cepat menyambar lengannya.
Milana dan Bun Beng terkejut bukan main.
Apalagi Milana.
Wanita perkasa ini tadi su-dah mengerahkan seluruh tenaganya karena dia dapat menduga bahwa Topeng Setan ini memiliki kepandaian hebat, namun dia terlempar oleh tangkisan itu.
Sungguh hebat orang ini.
Hek-tiauw Lo-mo, pembantunya yang utama Ji Song, dan Mauw Siauw Moli juga kaget bukan main melihat betapa Topeng Setan dapat menangkis dan membuat puteri yang mereka segani dan ta-kuti itu terlempar!
Akan tetapi, Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang melihat Suma Kian Bu muncul bersama Milana dan Gak Bun Beng menjadi girang dan juga khawatir.
"Kian Bu....!"
Dia berseru memanggil akan tetapi pemuda itu sudah cepat melompat ke belakang dan menghilang karena dia merasa malu sekali kalau sampai wanita cantik yang membuat dia mabuk dan lupa daratan, membuat dia tenggelam dalam permainan cinta dan nafsu berahi, akan membuka rahasia yang memalukan di depan encinya dan suhengnya.
Pada saat itu, Milana sudah menjadi marah bukan main.
"Kau mundurlah, biar aku menghadapinya,"
Kata Bun Beng, akan tetapi Milana yang sudah penasaran itu membantah.
"Biar aku mencobanya sekali lagi!"
Puteri Milana sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu tenaga Swat-im Sin-kang.
Setelah mengerahkan tenaga mujijat ini, tangan puteri itu kelihatan mengkilap kebiruan dan di ruangan itu menyambar hawa yang amat dingin!
Topeng Setan maklum bahwa puteri ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, maka dia pun terpaksa mengerahkan ilmunya yang mujijat, yang baru saja dikuasainya, yaitu tenaga Sin-liong-hok-te.
Tubuhnya memasang kuda-kuda rendah sekali, hampir menelungkup, lengan kanannya lurus ke depan dengan jari-jari tangan membentuk kepala ular, tu-buhnya kaku kejang dan anehnya, lengan kiri yang hanya tinggal lengan bajunya yang kosong itu seolah-olah "hidup", dapat bergerak-gerak lurus ke belakang dan kopat-kapit seperti ekor naga!
"Pergi!"
Milana membentak dan wanita ini sudah mendorong dengan lengan tangannya.
Hawa yang amat dingin menyambar ke arah Topeng Setan.
Pukulan yang didasari tenaga Swat-im Sin-kang ini hebat dan dahsyat bukan main.
Dengan ilmu ini yang sudah sampai di puncaknya, air pun terkena hawa pukulan ini akan menjadi beku!
Topeng Setan memapaki dengan lengan kanannya dalam tangkisan yang dahsyat pula.
"Desss....!"
Kembali tubuh Milana terlempar ke belakang sedangkan Topeng Setan hanya melangkah mundur dua langkah saja.
Dan kembali Gak Bun Beng yang menyambar lengan Milana.
Sekali ini Milana tidak banyak membantah ketika Bun Beng yang maju menghadapi Topeng Setan.
Hek-tiauw Lo-mo dan para pembantunya memandang heran dan terkejut, akan tetapi juga girang bahwa "pembantu"
Mereka itu dapat menolong mereka menghadapi para lawan yang tangguh itu.
Diam-diam Hek-tiauw Lo-mo memberi isyarat kepada sumoinya dan kepada para pembantu dan anak buahnya dan diam-diam mereka itu mundur ke dalam.
Mereka hendak mempergunakan kesempatan selagi para musuh sibuk menghadapi To-peng Setan yang hebat itu untuk meloloskan diri karena mereka merasa tidak akan menguntungkan kalau melawan pasukan pemerintah yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana.
Gak Bun Beng memandang tajam dan dengan penuh keheranan.
Selama hidupnya yang penuh dengan pengalaman dan pertempuran melawan orang-orang pandai, tokoh-tokoh sesat dari seluruh dunia persilatan belum pernah dia bertemu dengan orang yang menggunakan ilmu pukulan semacam yang diperlihatkan Topeng Setan ini.
Penghimpunan sin-kang dengan tubuh merendah hampir menelungkup itu!
Dia sendiri pernah melatih diri di bawah pimpinan Bu-tek Siauw-jin tokoh besar di Pulau Neraka dengan sin-kang mujijat yang dinamakan Tenaga Sakti Inti Bumi, yang juga pengerahan tenaganya dilakukan dengan menelungkup di atas tanah, akan tetapi sungguh berbeda lagi dengan yang diperlihatkan Topeng Setan tadi.
Apalagi gerakan ilmu silat yang aneh itu, lengan kanan seperti kepala ular dan lengan buntung diwakili lengan baju seperti ekor naga, sungguh amat mengerikan dan hebat.
Kalau sin-kang Si Topeng Setan mampu menandingi Swat-im-sin-kang, sungguh amat luar biasa.
Biarpun dia tahu bahwa Milana belum mencapai kesempurnaan dalam latihan Swat-im Sin-kang, namun tingkat wanita ini amat tinggi dan sukar mencari tandingannya.
"Kau agaknya berkeras hendak membela Hek-tiauw Lo-mo!"
Kata Gak Bun Beng.
"Terpaksa aku pun harus menggunakan kekerasan."
"Harap.... harap Taihiap mundur saja...."
Topeng Setan berkata dengan cemas.
"Aku tidak tahu apa yang memaksamu, akan tetapi jelas engkau membela musuh, maka terpaksa aku akan berusaha menyingkirkanmu!"
Bun Beng kini mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang di tangan kanannya, tenaga ini sudah dia perkuat dengan tenaga sakti Inti Bumi sehingga lengan kanannya itu kelihatan merah membara seperti baja yang terbakar api dan mengeluarkan uap.
Hawa di sekitarnya menjadi panas sekali sehingga para pengawal yang sudah tiba di situ, tidak berani mendekat saking panasnya.
Topeng Setan terkejut bukan main, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang benar-benar sakti, akan tetapi karena dia harus melindungi keselamatan Ceng Ceng, dia tidak gentar dan kalau perlu dia akan mempertaruhkan nyawanya.
Gak Bun Beng mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, menggunakan tangan kanan dengan jari terbuka untuk menghantam.
Serangkum hawa panas sekali menyambar dan Topeng Setan terpaksa menyambutnya dengan telapak tangan kanannya, seperti tadi tubuhnya mengambil posisi rendah dan lengan baju kirinya tergerak-gerak di belakangnya seperti mengatur keseimbangan.
"Blarrr....!"
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti di udara ini, terasa oleh semua orang, bahkan beberapa orang pengawal yang sudah menonton dari jarak jauh ada yang terpental.
Topeng Setan berseru keras dan pada saat kedua tangan bertemu tadi, kakinya melangkah ke belakang, akan tetapi tiba-tiba "ekor naga"
Yang berupa lengan baju kirinya itu menyambar, tubuhnya miring.
"Pyarrr....!"
Bun Beng terkejut dan masih sempat menangkis, akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang, sedangkan Topeng Setan juga terhuyung ke belakang dengan muka pucat akibat pertemuan tenaga sakti yang pertama tadi.
Topeng Setan memandang dengan mata terbelalak.
Dia maklum bahwa dia sudah berhasil menguasai Ilmu Tenaga Sakti Sin-liong-hok-te, biarpun belum sesempurna gurunya, Namun ilmu ini hebat sekali dan menurut gurunya, jarang ada orang di dunia yang akan mampu melawannya.
Akan tetapi siapa kira, baru saja dia berkesempatan mempergunakan ilmu yang dahsyat ini, dia telah menemui lawan yang begini hebat.
Di lain pihak, Gak Bun Beng juga memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar keras.
Baru sekarang dia bertemu dengan lawan yang hebat, yang dapat mengimbangi kepandaiannya.
Seolah-olah dia melihat tokoh-tokoh besar seperti Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, dua tokoh Pulau Neraka itu, hidup lagi!
Topeng Setan ini merupakan orang yang kepandaiannya sukar ditandingi.
Padahal dia sudah menggembleng dirinya dan pukulannya tadi adalah pukulan yang didasari persatuan tenaga Hwi-yang Sin-kang dan Inti Bumi.
Kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja yang akan mampu menahan pukulannya, di samping tentu saja orang sakti seperti Pendekar Super Sakti, akan tetapi orang bertopeng ini mampu menahan bahkan membalas dan membuat dia terhuyung.
Sejenak keduanya saling pandang dengan mata terbelalak, seperti dua ekor ayam jago yang berlagak sebelum saling gempur, berdiri saling pandang dan saling taksir.
Tiba-tiba Bun Beng mengeluarkan suara melengking tinggi dan pendekar sakti ini sudah bergerak menyerang.
Topeng Setan yang sudah memasang kuda-kuda Sin-liong-hok-te menyambut dan bertempurlah kedua orang itu.
Karena dia yakin bahwa lawannya ini memang dahsyat sekali dan tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi daripadanya, Maka Topeng Setan tidak berani mainkan lain ilmu silat kecuali yang baru saja dikuasainya, yaitu Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat yang sejak dahulu memang sudah dihafalnya benar akan tetapi baru sekarang dia kuasai.
Pula, ilmu inilah satu-satunya ilmu silat tinggi yang dikenalnya, yang cocok dimainkan dengan lengan tunggal, sedangkan ilmu silatnya yang lain, dahulu dilatihnya dengan sepasang lengan sehingga tentu sekarang menjadi canggung kalau dia mainkan dengan lengan tunggal.
Sementara itu, menghadapi serangan-serangan yang aneh dari lengan kanan dan "ekor"
Berupa lengan baju kiri itu, Gak Bun Beng mainkan ilmu silat Kong-jiu-jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan) sambil mengerahkan tenaga saktinya berganti-ganti kadang-kadang dengan Hwi-yang Sin-kang, kadang-kadang dengan Swat-im Sin-kang yang amat dingin.
Akhirnya Topeng Setan harus mengakui keunggulan Pendekar Sakti Gak Bun Beng.
Dan diam-diam Bun Beng juga harus mengakui bahwa kalau saja Topeng Setan tidak sedang terluka hebat, dan kalau saja ilmu silat aneh itu sudah dikuasainya benar, sudah terlatih matang dan banyak dipakai mengha-dapi orang pandai dalam pertempuran, belum tentu dia akan dapat menang dengan mudah!
Kini Topeng Setan terhuyung dan terdesak hebat, agaknya sebentar lagi akan roboh.
Topeng Setan merasa heran sekali mengapa Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li tidak membantunya, padahal kedua orang itu memiliki kepandaian hebat pula dan kalau membantunya, belum tentu dia sampai terdesak seperti ini.
Ketika sebuah hantaman yang biarpun sudah ditangkisnya membuat dia ter-lempar ke belakang, dia menengok dan....
dia tidak melihat mereka.
Terkejutlah dia.
Celaka, pikirnya, siapa tahu dia ditipu oleh orang Pulau Neraka itu.
"Tahan dulu....!"
Teriaknya ketika Gak Bun Beng mendesak maju. Napasnya sudah terengah-engah dan keringatnya bercucuran.
"Taihiap....! Puteri....! Tolonglah.... harap jangan serbu Hek-tiauw Lo-mo karena.... karena Ceng Ceng mereka jadikan sandera. Mereka akan membunuh Ceng Ceng kalau saya tidak melawan Ji-wi, maka terpaksa saya melawan agar Ceng Ceng dibebaskan...."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
"Paman....! Kau sudah mati-matian membelaku....! Aku telah dapat lolos, Paman....!"
Kemudian dia membalik, menghadapi Gak Bun Beng dan Puteri Milana dengan kedua tangan terkepal.
"Paman Gak Bun Beng dan.... Bibi Puteri Milana! Kalau kalian melanjutkan mendesak dan menyerang Paman Topeng Setan, terpaksa aku akan menantang kalian!"
"Hushhh.... Ceng Ceng, jangan kurang ajar kau terhadap mereka. Gak-taihiap, celaka, kita telah diadu domba dan ditipu oleh Hek-tiauw Lo-mo!"
Kata Topeng Setan.
Akan tetapi Ceng Ceng yang kegirangan melihat Topeng Setan tidak mati seperti dikhawatirkannya itu, sudah lari dan menubruk, merangkulnya dengan penuh kebanggaan dan kegirangan.
Lagi-lagi dalam keadaan seperti itu, Topeng Setan telah memperlihatkan kemuliaan hatinya terhadap dia, telah membelanya mati-matian, bahkan sampai berani melawan Gak Bun Beng yang demikian sakti karena dia ditekan oleh Hek-tiauw Lo-mo yang mengancam hendak membunuhnya kalau Si Buruk Rupa ini tidak melawan Gak Bun Beng.
Dia baru saja tiba dan selagi dia terheran-heran dan ke-bingungan menyaksikan Topeng Setan bertanding sedemikian hebatnya dengan Gak Bun Beng, dia mendengar ucapan Topeng Setan itu maka dia lalu berteriak dan muncul memperlihatkan diri.
"Syukur engkau telah bebas pula, Paman. Betapa aku amat mengkhawatirkan dirimu, Paman...."
Katanya.
"Dan kau.... bagaimana kau dapat bebas, Ceng Ceng?"
Topeng Setan bertanya dan mereka lalu bicara dengan asyik, tanpa mempedulikan Milana dan Gak Bun Beng yang sudah menerjang ke dalam.
Akan tetapi rumah itu sudah kosong sama sekali dan di belakang mereka berjumpa dengan Suma Kian Bu.
"Eh, kau tadi ke mana, Bu-te?"
Tanya Milana terheran-heran. Baru sekarang dia teringat bahwa adiknya ini tidak nampak ketika mereka bertanding melawan Topeng Setan.
"Aku.... aku tadinya menyelinap ke belakang untuk menolong Ceng Ceng, kiranya Ceng Ceng tidak ada dan mereka semua telah melarikan diri,"
Jawab Suma Kian Bu yang sebenarnya menghindarkan diri dari Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui.
Mereka semua lalu mencari-cari, mengejar ke sana-sini dan mengerahkan belasan orang pengawal, namun hasilnya sia-sia belaka.
Hek-tiauw Lo-mo dan kawan-kawannya sudah melarikan diri entah ke mana, menggunakan kesempatan selagi Milana dan Gak Bun Beng sibuk bertempur melawan Topeng Setan tadi.
Terpaksa mereka kembali ke tempat tadi dan melihat Topeng Setan dan Ceng Ceng masih bercakap-cakap dengan asyik sekali.
"Orang itu hebat, entah siapa dia...."
Diam-diam Gak Bun Beng berbisik kepada Milana dan wanita perkasa itu mengangguk menyetujui.
"Tapi dia benar-benar setia, agaknya dia mencinta Ceng Ceng...."
Bisiknya kembali dan biarpun tidak yakin akan hal ini, Gak Bun Beng juga mengangguk.
Baginya, tanpa melihat wajah Si Kedok itu, bagaimana dia bisa menduga isi hati orang?
Akan tetapi, dalam hal asmara memang wanita lebih halus perasaannya.
Melihat kedatangan mereka, Ceng Ceng lalu bertanya kepada Milana.
"Bibi Puteri Milana, bagaimana dengan Syanti Dewi? Di mana Kakak Syanti?"
Yang menjawabnya adalah Suma Kian Bu.
"Menurut penuturan Perdana Menteri Su, puteri itu kini telah dikawal oleh para utusan Bhutan sendiri kembali ke negaranya...."
"Ah....! Kiranya dia bermain curang....!"
Ceng Ceng berseru.
"Siapa?"
"Ang Tek Hoat. Dia menolongku dari tahanan di sini, akan tetapi dia membawaku, dan menukarkan aku dengan Enci Syanti yang tadinya tertawan oleh Tambolon. Untung aku dapat meloloskan diri...."
Dia tidak menceritakan kepada orang lain kecuali kepada Topeng Setan tadi betapa dia secara aneh dan tiba-tiba memiliki tenaga mujijat yang amat dahsyat itu.
Selagi mereka bercakap-cakap, datang serombongan pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang!
Begitu tiba di situ dan melihat Ceng Ceng, jenderal ini menjadi girang sekali.
"Ceng Ceng.... ahhh, Nona yang baik....! Ternyata benar engkau masih hidup....!"
Dengan suara serak karena terharunya dia menghampiri Ceng Ceng dan memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri.
"Banyak yang mengatakan bahwa kau masih hidup, akan tetapi sukar bagiku untuk percaya setelah melihat kau terjerumus ke dalam sumur maut! Aihhh, betapa bahagia rasa hatiku dapat bertemu denganmu!"
Ceng Ceng segera memberi hormat dan hatinya terharu sekali. Jenderal ini merupakan satu di antara orang-orang di dunia ini yang amat baik kepadanya.
"Paman, inilah dia Paman Jenderal Kao Liang yang sering kuceritakan kepadamu, seorang yang amat mulia hatinya!"
Katanya kepada Topeng Setan memperkenalkan.
Jenderal Kao Liang terkejut sekali melihat orang yang bertopeng seperti setan dan amat buruk, lagi lengannya buntung sebelah itu.
"Siapa.... siapa dia....?"
Gak Bun Beng yang mene-rangkan.
"Goanswe, dia adalah Topeng Setan yang amat terkenal, yang menjadi pembantu dan pengawal Ceng Ceng, akan tetapi ternyata ilmu kepandaiannya hebat bukan main, saya sendiri sampai kewalahan dibuatnya!"
Dengan singkat pendekar ini menuturkan kepada Jenderal Kao tentang peristiwa tadi.
Sang Jenderal mengangguk-angguk, kagum memandang ke arah Topeng Setan yang hanya menunduk.
"Selama orang-orang jahat itu masih berkeliaran, negara tidak akan aman,"
Katanya.
"Setelah kini pemberontakan dapat terbasmi, para kaki tangan pemberontak harus dibersihkan karena jelas bahwa mereka tidak mau insyaf dan melanjutkan kejahatan mereka. Saya akan mengerahkan semua kekuatan untuk membasmi mereka."
Lalu kepada Ceng Ceng dia berkata.
"Harap kau suka ikut bersamaku dan singgah di rumahku karena banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, anak yang baik."
Ceng Ceng menoleh kepada Topeng Setan yang masih menunduk saja, hatinya bimbang karena dia tidak mau berpisah lagi dari Topeng Setan, akan tetapi menolak permintaan jenderal yang amat baik hati itu pun dia merasa tidak enak.
Melihat keraguan Ceng Ceng, jenderal yang gagah perkasa dan berwatak jujur itu lalu tertawa dan dengan suara lantang berkata.
"Anak Ceng, biarlah disak-sikan oleh para tokoh perkasa di sini, bahkan oleh Puteri Milana yang masih terhitung bibi luarmu, aku mengundangmu untuk membicarakan soal perjodohan! Aku ingin sekali mengambil engkau sebagai mantuku, Ceng Ceng!"
Puteri Milana terbelalak, lalu tersenyum dan mengangguk-angguk setuju, sedangkan Gak Bun Beng juga tersenyum.
Dia sudah mendengar bahwa putera sulung jenderal ini, yang tadinya lenyap, kini telah pulang dan telah menjadi seorang pemuda yang amat lihai dan telah membantu pelaksanaan penghancuran para pemberontak.
Biarpun dia sendiri tidak mengenal pemuda itu, namun melihat Jenderal Kao, seorang yang dia ketahui betul sifat dan keadaannya, amat baiklah kalau gadis yang gagah ini menjadi mantu jenderal itu.
Akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng berseru keras.
"Eh, Paman....! Paman Topeng Setan, kau tunggu aku....!"
Semua orang menoleh dan melihat bahwa Topeng Setan telah pergi dari situ tanpa pamit lagi.
Mendengar teriakan Ceng Ceng, dia hanya menoleh sebentar, lalu melangkah pergi lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Paman Jenderal Kao, harap suka maafkan saya. Biarlah lain kali saja saya pergi mengunjungi rumah Paman untuk menghaturkan terima kasih. Paman Gak, Bibi Puteri, maafkan saya....!"
Ceng Ceng lalu berlari cepat mengejar Topeng Setan yang sudah agak jauh.
Semua orang memandang ketika dara itu berhasil menyusul Topeng Setan dan mereka berdua itu berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap.
Sungguh pasangan yang sama sekali tidak patut dan berat sebelah!
Jenderal Kao Liang menggosok-gosok dagunya, mengelus jenggot dengan hati penasaran dan kecewa.
"Sungguh manusia aneh Topeng Setan itu...."
"Akan tetapi kesetiaannya terhadap dara itu tidak perlu diragukan lagi, Kao-goanswe. Karena itu tenangkanlah hatimu, dara itu tidak akan dibiarkan meng-alami malapetaka."
Jenderal Kao Liang dan pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari dan membasmi kaki tangan bekas pemberontak yang masih berkeliaran, sedangkan Gak Bun Beng dan Puteri Milana melanjutkan perjalanan mereka untuk mengejar rombongan Syanti Dewi untuk melindunginya.
"Bu-te, aku dan Gak-suheng akan mengantarnya sampai ke Bhutan. Kau sebaiknya pulang dulu ke Pulau Es dan ceritakan semua yang telah terjadi kepada Ayah dan Ibu dan katakan bahwa setelah mengantar Syanti Dewi ke Bhutan, kami berdua akan pergi ke Pulau Es menghadap Ayah dan Ibu."
Kian Bu hanya mengangguk, akan tetapi setelah semua orang pergi, dia tidak menuju ke Pulau Es, sebaliknya dia pun menuju ke barat karena dia ingin mencari kakaknya, Suma Kian Lee yang tidak diketahuinya ke mana perginya itu.
Juga dia masih perlu waktu panjang untuk memulihkan perasaannya yang terguncang karena dia malu dan menyesal akan semua perbuatannya bersama dengan Mauw Siauw Mo-li.
Kini baru dia insyaf betapa dia telah terpikat oleh wanita yang hina, seorang datuk kaum sesat yang gila laki-laki.
Sungguh dia merasa menyesal sekali kepada dirinya sendiri yang dianggap amat lemah dan mudah jatuh oleh kecantikan wanita.
Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu berjalan dengan tenang melalui lembah pegunungan, dikawal oleh tiga puluh enam orang yang kelihatan gagah perkasa, kesemuanya menunggang kuda dan biarpun mereka berpakaian seperti orang-orang biasa, bukan pakaian seragam piauwsu (pengawal barang), namun dari cara mereka menunggang kuda, duduk dengan tegak dan kuda mereka teratur rapi di belakang dan di depan kereta, dapat diduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang biasa berbaris dengan kuda dan mengenal disiplin.
Pemimpinnya, seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot pendek rapi, kelihatan gagah sekali dan mereka melanjutkan perjalanan berkuda itu menuju ke barat tanpa banyak kata-kata.
Kereta itu sendiri amat besar, tidak seperti kereta biasa, agaknya kereta yang khusus dibuat untuk keperluan itu.
Panjang kereta dua kali panjang kereta biasa, maka penariknya adalah empat ekor kuda, tidak dua ekor seperti biasa kalau hanya menarik penumpang.
Di bagian paling belakang dari rombongan itu terdapat seekor kuda menarik sebuah kereta kecil yang terisi barang-barang perbekalan mereka.
Orang-orang yang kelihatan gagah itu ternyata dapat bekerja sama dengan cepat dan setiap kali jalan terlalu mendaki sehingga empat ekor kuda yang menarik kereta besar itu kelihatan payah, mereka lalu langsung meloncat turun dan beberapa orang ikut mendorrong roda kereta sehingga kereta itu dapat mendaki dengan lancar dan perjalanan tidak perlu dihentikan.
Biarpun mereka tidak tergesa-gesa, namun perjalanan itu tidak pernah berhenti kecuali kalau hendak makan atau bermalam di tengah perjalanan.
Pagi hari itu amat cerah.
Jalan yang dilalui rombongan itu pun datar sehingga kuda mereka berlari congklang dan kereta bergerak lancar.
Suara derap kaki kuda menimbulkan bunyi irama yang lucu dan menggembirakan, dan barisan kuda itu akhirnya memasuki sebuah hutan kecil yang mulai diterobos sinar matahari pagi yang membangunkan semua binatang penghuni hutan.
Beberapa ekor kelinci dan tikus lari berserabutan melintasi jalan dan menyelinap ke balik semak-semak ketika rombongan itu tiba.
Burung-burung terbang ketakutan dari pohon-pohon di kanan kiri jalan.
Kuda-kuda mereka agaknya merasa gembira pula tiba di dalam hutan di antara pohon-pohon dan daun-daun segar.
Beberapa di antara mereka meringkik dan mendengus, agaknya bau daun-daunan dan tanah yang sedap menimbulkan gairah dan kegembiraan mereka.
Tentu saja jauh bedanya dengan bau pengap di kota-kota dan dusun-dusun yang penuh manusia.
Akan tetapi, selagi rombongan yang terdiri dari tiga puluh enam orang termasuk kusir kereta dan komandan rombongan itu menjalankan kuda dengan hati tenang gembira, tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan tahu-tahu tiga batang tombak menancap di tengah jalan di depan Si Pemimpin.
Cepat pemimpin rombongan ini menahan kudanya, mengangkat tangan kiri memberi tanda agar rombongan itu berhenti.
Kemudian beberapa orang pembantunya melarikan kuda dari belakang ke depan dan lima orang pemimpin rombongan yang berkuda itu berjajar memenuhi jalan sambil memandang ke arah tiga batang tombak yang masih menggetar di atas tanah itu.
Mereka menyangka bahwa tentu ada perampok-perampok yang "bosan hidup"
Berani menghadang mereka.
Akan tetapi ketika dari balik pohon-pohon besar muncul seorang kakek tinggi besar bersama seorang wanita cantik dan di belakang mereka terdapat belasan orang yang dipimpin oleh seorang kakek gendut tinggi besar, rombongan berkuda ini menjadi terkejut sekali.
Andaikata benar mereka itu perampok, tentu bukan perampok-perampok sembarangan.
Orang-orang yang datang bersama kakek tinggi besar itu adalah orang-orang yang berwajah me-nyeramkan sekali, seperti setan-setan karena wajah mereka itu samar-samar masih membayangkan warna-warna bermacam-macam, ada yang kehijauan dan ada yang kemerahan!
"Haii, rombongan yang melakukan perjalanan, jangan kalian takut, kami bukan perampok.
Ketahuilah, kami adalah orang-orang Pulau Neraka dan aku adalah Hek-tiauw Lo-mo.
Hayo kalian turun dari kuda, berikan kereta itu untukku dan berikan kepada anak buahku masing-masing seekor kuda dan kami tidak akan membunuh kalian."
Rombongan itu belum pernah mendengar tentang Pulau Neraka atau Hek-tiauw Lo-mo maka tentu saja mereka menjadi marah mendengar ucapan yang bernada sombong itu.
Apalagi harus menyerahkan kereta yang dikawalnya dengan rapi, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan permintaan ini.
Pemimpin rombongan lalu berkata, suaranya tegas dan bernada keras.
"Hek-tiauw Lo-mo, kami serombongan pelancong tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka harap kalian jangan mengganggu kami. Kuda dan kereta ini kami butuhkan sekali untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan tetapi penolakan kami bukan berarti bahwa kami pelit. Nah, sedikit emas dan perak ini kiranya cukup bagi kalian untuk membeli kuda!"
Setelah berkata demikian, pemimpin rombongan itu melemparkan sebuah kantung kecil ke arah Hek-tiauw Lo-mo!
Kakek ini menerimanya dan merobeknya, sehingga isinya yang berupa potongan-potongan emas dan perak berhamburan ke atas tanah.
"Ha-ha-ha, ada orang berani memberi sedekah kepada Hek-tiauw Lo-mo. Penghinaan ini selama hidupku belum pernah kuterima. Ji Song, hajar mereka!"
Perintahnya kepada pembantunya yang selama ini tidak pernah ketinggalan memimpin para anak buahnya.
Ji Song, kakek gendut tinggi besar, segera berteriak memberi aba-aba dan majulah belasan orang anak buah Pulau Neraka itu menyerbu.
Akan tetapi pemimpin rombongan itu pun memberi aba-aba dan bagaikan perajurit-perajurit yang terlatih baik, para anak buahnya juga meloncat dari atas kuda dan menyambut serbuan itu sehingga terjadilah pertempuran yang seru.
Akan tetapi betapa kaget hati pemimpin itu menyaksikan kehebatan pihak lawan, terutama kakek gendut tinggi besar.
Maka dia sendiri bersama empat orang pembantunya lalu meloncat turun dan disambut oleh wanita cantik itu sambil tertawa-tawa.
Wanita cantik itu bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo yang telah kehilangan Ceng Ceng, menggunakan siasat adu domba ketika dia diserbu oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng, dan menggunakan kesempatan selagi Topeng Setan melayani mereka, dia mengajak sumoinya itu dan semua anak buahnya untuk meloloskan diri.
Mauw Siauw Mo-li penasaran sekali karena kehilangan Kian Bu, pemuda yang amat memuaskan hatinya itu, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo penasaran karena kehilangan Ceng Ceng.
Mereka terus mencari ke barat dan di hutan itu mereka bertemu dengan rombongan berkuda itu yang hendak mereka rampas kereta dan kudanya agar perjalanan mereka lebih lancar dan cepat.
Biarpun dikeroyok oleh lima orang pimpinan rombongan itu, Mauw Siauw Mo-li masih melayani seenaknya saja.
Untung bahwa lima orang pemimpin rombongan itu adalah laki-laki yang gagah perkasa dan rata-rata berwajah tampan menarik.
Laki-laki muda tampan dan menarik merupakan kelemahan Mauw Siauw Mo-li sehingga hati wanita ini tidak tega untuk membunuh mereka.
Dia hanya mempermainkan mereka, menangkis senjata mereka dengan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan jari-jari tangan kirinya tidak hentinya mencolek sana-sini di tubuh kelima orang lawannya itu sambil mengeluarkan kata-kata pujian yang membuat lima orang itu terkejut, terheran, akan tetapi juga menjadi muak.
"Hemm, Sumoi, apakah pada saat begini sudah kumat lagi penyakitmu gila laki-laki? Hayo kau bunuh mereka agar lebih cepat urusan ini beres!"
Teriak Hek-tiauw Lo-mo yang duduk di bawah pohon menonton pertempuran.
Dia sendiri merasa terlalu tinggi untuk melayani orang-orang yang kepandaiannya tidak berapa tinggi itu dan dia mendongkol menyaksikan sumoinya yang mempermainkan lima orang lawannya.
"Hi-hi-hik, baiklah, Suheng. Wah, sayang sekali, aku terpaksa harus merobohkan kalian, orang-orang ganteng!"
Mauw Siauw Mo-li tertawa dan pedangnya lalu berubah berkelebatan menjadi gulungan sinar hijau yang amat cepat.
Lima orang lawannya terkejut sekali dan mereka pun menggerakkan senjata mereka untuk membela diri, akan tetapi biarpun mereka sama sekali tidak dapat menyerang dan hanya mempertahankan diri, tetap saja mereka terhimpit dan terdesak hebat oleh sinar hijau itu dan agaknya pertahanan mereka tidak akan berlangsung lama.
Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat terjun ke medan pertempuran ini, didahului sinar yang seperti halilintar menyilaukan mata.
"Cringgg.... trakkkk!"
Mauw Siauw Mo-li mengeluarkan pekik kaget ketika pedangnya yang bersinar hijau itu disambar oleh sinar kilat itu dan ternyata ujung pedangnya yang merupakan pedang pusaka ampuh itu telah patah!
Ketika dia yang telah meloncat mundur memandang ke depan, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah yang dikenalnya baik karena pemuda ini bukan lain adalah Tek Hoat!
Setelah pemuda itu menyerahkan Syanti Dewi kepada Perdana Menteri Su, hatinya lega bukan main karena kekasih hatinya itu telah berada dalam keadaan aman.
Barulah dia teringat akan Ceng Ceng dan Topeng Setan.
Dia suka sekali kepada Ceng Ceng dan agaknya akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada gadis itu andaikata tidak ada Syanti Dewi di dunia ini.
Maka setelah meninggalkan istana Perdana Menteri, dia bergegas keluar dari kota raja dan kembali ke tempat Tambolon di sebelah selatan untuk menolong gadis itu.
Diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau dia akan terlambat.
Dan ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Tambolon dan kawan-kawannya telah pergi dan demikian pula Ceng Ceng, entah pergi ke mana, entah lolos ataukah dibawa pergi oleh Tambolon.
Maka ia menjadi gelisah juga dan dia cepat pergi ke dusun Nam-lim untuk menolong Topeng Setan.
Akan tetapi dusun bekas sarang kaum sesat ini pun telah kosong!
Terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu dan secepatnya dia menuju ke barat, karena dia dapat menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan dikawal dan dipulangkan ke Bhutan maka sebaiknya kalau dia mengamat-amati dari jauh.
Demikianlah, pada pagi hari itu dia melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li mencegat rombongan berkuda, dan melihat orang-orang yang menjadi musuh-nya ini sekarang, orang-orang yang telah menangkap Topeng Setan dan Ceng Ceng, dia menjadi marah dan tanpa mengetahui siapa mereka yang didesak oleh Mauw Siauw Mo-li, dia sudah mencabut Cui-beng-kiam dan sekali tangkis dia telah mematahkan ujung pedang sinar hijau di tangan Siluman Kucing itu.
"Eh, kau.... bocah tampan? Kau di sini....? Kenapa kau melawan aku?"
Mauw Siauw Mo-li menegur, setengah marah karena kerusakan pedangnya, akan tetapi juga girang karena sejak dahulu dia ada hati terhadap pemuda tampan itu yang dahulu merupakan tangan kanan dari Pangeran Liong Khi Ong.
Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan menghadapi Tek Hoat dengan alis berkerut.
"Bocah lancang! Kenapa engkau mencampuri urusanku? Hayo minggat, sebelum aku marah dan membunuhmu!"
Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo tidak bersikap kasar dan bicara dengan baik, agaknya Tek Hoat yang tidak mengenal rombongan itu akan merasa sungkan untuk mencampuri dan akan pergi.
Akan tetapi entah mengapa, semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan orang-orang seperti Milana dan lain-lain, Dia merasa betapa dirinya amat rendah dan hina, betapa dia adalah seorang pemuda yang tersesat dan jahat, betapa dia karena semua perbuatannya yang jahat, sama sekali tidak berharga untuk berdekatan dengan Syanti Dewi.
Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main akan perbuatan-perbuatannya yang sudah-sudah.
Dia bukan anak penjahat, mengapa dia telah tersesat sedemikiah jauhnya?
Penyesalan inilah, terutama sekali bayangan wajah Syanti Dewi yang lembut dan penuh welas asih, yang membuat dia merasa tidak senang dengan orang-orang dari golongan sesat karena dia mengang-gap bahwa mereka itulah yang menyeretnya ke lembah kesesatan.
Kini, Hek-tiauw Lo-mo bersikap kasar, maka dia menjadi makin marah dan mengambil keputusan untuk melawannya dan membela rombongan yang tak dikenalnya ini.
"Hek-tiauw Lo-mo, engkau manusia sombong dan jahat! Kau kira aku takut kepadamu?"
Bentaknya dan pedang Cui-beng-kiam yang menggiriskan itu melintang di depan dadanya.
Hek-tiauw Lo-mo memang benar telah menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi dia bukanlah asli penghuni Pulau Neraka.
Dia adalah pendatang baru yang menggunakan ilmunya untuk menaklukkan orang-orang Pulau Neraka, maka dia tidak mengenal pedang di tangan Tek Hoat itu.
Akan tetapi Kakek Ji Song, kakek gendut gundul yang memang merupakan tokoh Pulau Neraka asli, begitu melihat pedang di tangan Tek Hoat, seketika dia menjadi ketakutan, gemetar dan berseru.
"Cui-beng-kiam....!"
Lalu dia menjauhkan diri dari situ.
Hal ini adalah tidak aneh.
Cui-beng-kiam ini dahulunya adalah pedang milik Cui-beng Koai-ong, yaitu tokoh nomor satu dari Pulau Neraka, yang merupakan iblis Pulau Neraka, orangnya mengerikan seperti mayat hidup, kepandaiannya tidak lumrah manusia.
Seperti kita ketahui, pedang pusaka ini berikut kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin terjatuh ke tangan seorang tokoh Pulau Neraka lainnya, yaitu Kong To Tek dan akhirnya terjatuh ke tangan Tek Hoat.
Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak mengenal pedang ini lalu bergerak menerjang pemuda itu dari kanan kiri.
Hek-tiauw Lo-mo yang dapat menduga akan kelihaian pemuda yang pernah menjadi tangan kanan pemberontak ini, langsung mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok besar tajam yang punggungnya berbentuk gergaji!
Senjata ini terbuat dari baja pilihan sehingga mengkilap dan amat tajam, ketika digerakkan menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing.
Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali karena kerusakan pedangnya, akan tetapi karena yang patah hanya ujungnya sedikit, dia masih dapat menyerang dengan ganas.
Dia merasa menyesal sekali bahwa obat peledaknya yaitu senjatanya yang paling diandalkan, telah habis dan belum memperoleh kesempatan untuk membuat lagi, maka kini dia hanya dapat menyerang dengan pedang buntung dibantu oleh cakaran tangan kirinya yang juga amat berbahaya.
Tek Hoat mengamuk.
Kadang-kadang dia menyeringai menahan rasa sakit.
Luka-lukanya akibat pertempuran membela Syanti Dewi di dalam hutan melawan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo masih belum sembuh sama sekali.
Dan kini dua orang lihai yang mengeroyoknya itu pun mengeluarkan seluruh daya upaya mereka untuk membunuhnya.
Sebetulnya suheng dan sumoi itu sama sekali tidak merasa sakit hati atas kematian Hek-wan Kui-bo karena di antara mereka bertiga biarpun terhitung suheng dan sumoi, akan tetapi tidak mempunyai hubungan akrab, bahkan saling mengiri dan saling mencurigai.
Kematian Hek-wan Kui-bo di tangan pemuda ini tidak mendatangkan perasaan dendam.
Akan tetapi, karena kini Tek Hoat berani menentang mereka, maka mereka teringat akan hal itu yang sedikitnya merupakan pukulan bagi nama mereka, maka tanpa berunding lebih dulu, keduanya kini berusaha sekuat tenaga untuk membunuh Tek Hoat.
Tek Hoat juga maklum akan kelihaian lawan, maka dia memutar pedangnya yang ampuh itu dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Ilmu yang diwarisinya dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin memang hebat sekali.
Dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah memperoleh ilmu menghimpun tenaga sakti, sedangkan dari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dia memperoleh ilmu-ilmu pukulan beracun, ilmu pedang yang dinamakan Cui-beng Kiam-sut dan obat perampas ingatan.
Kini dia menggerakkan pedangnya berdasarkan sin-kang yang sesungguhnya berpusat pada ilmu mujijat atau Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi dan dia memainkan Cui-beng Kiam-sut yang luar biasa gerakannya itu.
Hebat bukan main pertandingan antara tiga orang ini.
Sinar pedang Cui-beng-kiam berubah menjadi gulungan sinar kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata, dan sinar ini dikeroyok oleh gulungan sinar hijau dan biru!
(Lanjut ke
Jilid 51) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 51 Adapun lima orang pemimpin rombongan itu kini sudah saling gempur melawan kakek gundul Ji Song yang lihai dan teman-temannya.
Akan tetapi karena jumlah para anak buah Pulau Neraka ini kalah jauh dan karena ternyata anggauta rombongan berkuda itu pun rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka pertandingan antara mereka itu berjalan seru dan akhirnya pihak Pulau Neraka mulai terdesak.
Mauw Siauw Mo-li yang sudah marah kini tidak lagi memperlihatkan sikapnya yang gila laki-laki, apalagi dia teringat akan sucinya yang tewas oleh pemuda ini dan pedangnya yang menjadi buntung.
Lebih-lebih lagi karena dia yang mengeroyok dengan suhengnya yang dia tahu amat lihai, selama hampir seratus jurus masih belum juga dapat mengalahkan pemuda ini.
Dia gemas dan penasaran sekali.
"Ang Tek Hoat, kau manusia khianat! Engkau yang sudah banyak makan uang pemberontak, pada saat terakhir malah berkhianat. Manusia tak tahu malu! Sekarang engkau agaknya hendak bermuka-muka dan menjilat-jilat pantat Kaisar agaknya! Hi-hik, manusia rendah, pemuda yang hina!"
Bukan main marahnya hati Tek Hoat mendengar ini.
Diingatkan akan penyelewengan dan kejahatannya adalah hal yang amat dibencinya karena hal itu mengingatkan dia lagi akan ketidakpantasannya untuk berdekatan dengan Syanti Dewi!
Tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya.
Biarpun Cui-beng Kiam-sut adalah ilmu pedang iblis yang amat hebat, akan tetapi pertahanan kedua orang itu amat ketat dan mereka mulai dapat mengikuti gerakan dari ilmu pedang ini.
Maka secara tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya dan mainkan Pat-mo Kiam-sut yang pernah dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo, bekas tokoh Thian-liong-pang.
Pat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Iblis) juga merupakan ilmu pedang golongan sesat yang amat hebat sekali, dahulu menjadi satu di antara ilmu-ilmu yang paling hebat dari ketuanya, yaitu Puteri Nirahai yang kini menjadi nyonya Pendekar Super Sakti.
Dan perubahan mendadak ini membuat kedua orang lawan itu terkejut, terutama sekali Lauw Hong Kui yang memang didesak hebat oleh Tek Hoat yang marah mendengar ejekannya tadi.
Sinar kilat menyambar ke arah ulu hati Lauw Hong Kui.
Wanita hamba nafsu berahi ini memekik, cepat dia miringkan tubuhnya dan menangkis.
"Cringgg.... trekk.... aughhh....!"
Tangkisan itu memang tepat, akan tetapi saking kuatnya Tek Hoat menggerakkan pedangnya, kembali pedang sinar hijau dari wanita itu terbabat putus dan Cui-beng-kiam masih sempat melukai pangkal lengan kanan wanita itu sehingga kulit dan dagingnya terobek lebar dan darah bercucuran, pedangnya yang buntung tinggal pendek saja itu terlepas!
Akan tetapi pada saat itu, sinar hitam menyambar dari atas ke arah kepala Tek Hoat.
Pemuda ini terkejut dan cepat menangkis dengan Cui-beng-kiam.
"Plakkkk....!"
Makin kagetlah hati Tek Hoat karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah sehelai jala tipis yang tadi dikepal di tangan kiri Ketua Pulau Neraka dan jala ini terbuat dari bahan yang amat kuat, tidak dapat diputus oleh pedang pusaka.
Pedang itu telah tertangkap oleh jala!
Dan golok berpunggung gergaji itu menyambar ganas ke arah lehernya!
Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li yang juga marah sekali karena lengannya terluka parah dan pedangnya rusak, menerjang ke depan dengan hantaman tangan kirinya dengan pengerahan sin-kang dan dia telah mempergunakan pukulan beracun ke arah kepala Tek Hoat.
Pemuda ini maklum akan datangnya bahaya besar.
Pedangnya tak dapat di-gerakkan lagi karena telah tertangkap dan terbelit jala tipis, dan andaikata dia hanya mementingkan pedangnya, tentu dia akan terkena sambaran golok dan hantaman wanita itu.
Dia teringat akan Tenaga Sakti Inti Bumi yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin.
Tiba-tiba dia melepaskan pedangnya, melempar diri ke bawah dan menelungkup, kemudian dengan pengerahan sin-kang sakti Inti Bumi, kedua kakinya menghantam ke atas seperti seekor jengkerik menendang.
Tendangannya yang tak tersangka-sangka dan mengandung tenaga dahsyat itu memapaki golok.
"Dessss.... crakkk....!"
Hek-tiauw Lo-mo berteriak keras karena goloknya itu membalik sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu mempertahankan lagi dan goloknya telah menghantam pundaknya sendiri sehingga tulang pundaknya retak dan bahunya terluka!
Dengan kemarahan meluap, dia menguyun kakinya.
"Bukkk! Plakkk!"
Tek Hoat terkena tendangan pada perutnya dan terkena hantaman tangan kiri Mauw Siauw Mo-li pada punggungnya.
Tubuhnya terlempar dan terbanting lalu bergulingan.
Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali, matanya terbelalak marah dan tangan kirinya mengusap mulutnya yang berdarah.
Hek-tiauw Lo-mo menyumpah-nyumpah.
Dia telah terluka, juga Mauw Siauw Mo-li telah terluka.
Celakanya, anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang sudah terluka.
Maka dia lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi bersama sumoinya.
Anak buahnya maklum bahwa pimpinan mereka juga terdesak, maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan medan pertempuran sambil memapah teman-teman yang terluka.
Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak, tidak dapat mengejar karena dia maklum bahwa dia sendiri pun terluka parah.
Setelah melihat bahwa musuh-musuhnya lari pergi membawa pedang Cui-beng-kiam yang terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo, dia mengeluh, memejamkan matanya dan terguling pingsan di dekat kereta rombongan itu.
Tek Hoat, yang memang luka-lukanya akibat pertandingan melawan para pengawal lihai dari Pangeran Liong Khi Ong itu belum sembuh benar, kini mengalami pukulan dan tendangan yang hebat, tentu saja menjadi makin parah luka-luka di sebelah dalam tubuhnya.
Dia tidak tahu bahwa selama sehari semalam dia tidak sadar.
Ketika dia akhirnya siuman kembali, dia merasa dirinya terguncang-guncang perlahan dan telinganya mendengar suara bergemuruh.
Dia membuka matanya.
Kiranya tubuhnya memang sedang terguncang-guncang di dalam bilik kereta yang berjalan perlahan, dan suara gemuruh itu adalah suara roda-roda kereta melindas jalan yang tidak rata.
Cuping hidungnya kembang-kempis karena dia mencium bau harum semerbak dan matanya mencari-cari.
Kiranya di dalam bilik kecil kereta itu terdapat peralatan rias dari wanita di atas sebuah meja kecil.
Sisir, cermin, bedak dan lain-lain.
Dia bergerak hendak bangkit duduk dan mengeluh.
Kiranya tubuhnya sakit-sakit semua, terutama di dada dan punggungnya.
Dia melihat betapa luka-luka luar di lengan dan dahinya telah dibalut orang dan diobati.
Tek Hoat menjadi terheran-heran dan menduga-duga.
Tak salah lagi, tentu dia ditolong oleh rombongan itu, karena dia juga melihat ada sebuah kereta besar dari rombongan yang diserbu oleh Hek-tiauw Lo-mo itu.
Akan tetapi siapakah orang-orang ini dan kereta siapa ini yang penuh dengan peralatan rias seorang wanita?
Tiba-tiba kereta itu berhenti dan Tek Hoat menyingkap tirai di jendela kereta.
Kiranya mereka berhenti di dalam hutan dan waktu itu adalah tengah hari.
Dia mengira bahwa belum lama dia berada di situ, karena pertempuran itu terjadi di pagi hari.
Baru setengah hari.
Seorang yang berjenggot dan berkumis pendek, yang dikenalnya sebagai seorang di antara para pemimpin yang mengeroyok Mauw Siauw Mo-li, datang menjenguk dan diikuti seorang anggauta rombongan yang membawa makanan untuk Tek Hoat.
"Aih, syukurlah bahwa engkau telah siuman kembali, orang muda yang perkasa! Hati kami sudah gelisah melihat kau pingsan selama sehari semalam."
"Sehari semalam?"
Tek Hoat berseru kaget.
"Bukankah baru pagi tadi aku jatuh pingsan?"
"Bukan pagi tadi, melainkan kemarin pagi,"
Orang itu berkata sambil tersenyum dan memandang kagum.
"Sungguh hebat engkau, dapat menandingi orang-orang iblis itu! Terpaksa kami membawamu ke dalam kereta karena engkau pingsan dan tentu saja kami tidak tega meninggalkan engkau di dalam hutan itu."
"Ah, terima kasih....!"
Tek Hoat mencoba untuk bangkit duduk lagi, akan tetapi dia menyeringai kesakitan.
"Tak usah duduk. Mengasolah dulu, orang muda...."
"Akan tetapi.... akan tetapi, siapakah kalian ini....?"
"Kami adalah pelancong-pelancong, rombongan pelancong."
"Dan ke mana kalian hendak pergi?"
"Engkau sendiri hendak ke mana, orang muda? Kalau tidak satu tujuan dengan kami, biarlah kami mencarikan tempat di sebuah kota atau dusun untuk kau tinggal dan beristirahat. Jangan khawatir, kami akan meninggalkan biaya secukupnya sampai kau sembuh."
"Terima kasih, kau baik sekali, Paman. Aku.... aku akan ke barat...."
"Ahhh! Kalau begitu kita setujuan. Kami pun serombongan sedang menuju ke barat. Kalau begitu, biarlah engkau mengaso di kereta itu dan kami akan berusaha mengobatimu."
Tek Hoat merasa girang sekali dan amat berterima kasih.
Karena dia belum kuat bangkit duduk, maka dia mengang-kat kedua tangan ke dada sambil rebah telentang, lalu berkata.
"Engkau sungguh baik sekali, Paman dan banyak terima kasih atas pertolonganmu ini."
Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Orang muda perkasa yang rendah hati! Jangan bicara tentang terima kasih dan pertolongan, karena kalau bukan engkau yang datang menolong, agaknya saat ini kami telah menjadi mayat-mayat yang diperebutkan binatang-binatang hutan! Mengasolah dan biar anak buahku ini melayanimu."
Pemimpin rombongan itu lalu pergi dan kiranya mereka semua berhenti di hutan itu untuk makan siang.
Orang yang membawa bubur dan asinan itu lalu hendak menyuapkan makanan, akan tetapi Tek Hoat mengucapkan terima kasih dan makan sendiri sambil rebah miring.
Dia merasa berhutang budi kepada mereka ini dan diam-diam dia harus mengakui bahwa di dunia kaum sesat kiranya tidak berlaku hukum tolong-menolong seperti ini.
Baru terbuka matanya bahwa manusia harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, bukan saling bermusuhan seperti di dunia kaum sesat.
Betapa tenteramnya dunia ini kalau kehidupan manusia tidak dikotori oleh permusuhan dan kebencian!
Seorang di antara anggauta rombongan, seorang kakek, ternyata pandai dengan ilmu pengobatan dan setiap hari Tek Hoat diperiksa dan diberi obat minum yang pahit namun manjur juga karena dia merasa makin tenang dan makin ringan luka-lukanya di dalam tubuh.
Tentu saja setelah dapat duduk dia pun bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya sendiri.
Setiap hari, bahkan setiap saat Tek Hoat tidak pernah dapat melupakan Syanti Dewi.
Makin dikenang, makin sakitlah hatinya, karena dia makin melihat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak berharga berdekatan dengan puteri itu.
Jangankan menjadi....
kekasih seperti yang selalu mengganggu hatinya, bahkan menjadi sahabat pun tidak pantas, menjadi pelayannya pun tidak patut.
Pendeknya dia hanya akan mengotorkan puteri itu kalau berdekatan, karena hawa di sekitar dirinya adalah kotor, hina dan jahat!
Teringat akan itu semua, dia mengeluh panjang pendek di dalam bilik itu.
"Keparat kau, Tek Hoat....!"
Dia memaki diri sendiri sambil menjambak rambut di bilik itu, tidak peduli bahwa suara hatinya itu keluar dari mulutnya dengan suara lirih.
"Engkau manusia sesat, manusia jahat, sejahat-jahatnya orang! Bagaimana orang macam engkau tergila-gila kepada seorang bidadari seperti Puteri Syanti Dewi? Kau sudah gila! Seperti seekor burung gagak merindukan seekor burung hong!"
Kadang-kadang dia memaki-maki dirinya sendiri menyesali semua perbuatannya.
Kadang-kadang dia membayangkan kecantikan Syanti Dewi, kelembutannya, keramahannya, kemuliaan budinya, bahkan terdorong oleh suara hatinya, dia bersenandung memuji-muji puteri yang telah menguasai seluruh cinta kasih hatinya itu.
Hampir setiap malam dia bermimpi, bertemu dengan puteri itu dan dalam mimpinya tentu dia menyebut-nyebut namanya.
Apalagi ketika luka-lukanya membuat tubuhnya terserang demam, dalam keadaan tak sadar dia mengigau tentang Syanti Dewi.
Berkat usahanya sendiri siulian dan menghimpun tenaga murni, ditambah pengobatan rombongan itu, seminggu kemudian kesehatan Tek Hoat sudah berangsur baik.
Biarpun dia belum sembuh sama sekali, dan masih lemah, akan tetapi dia sudah dapat meninggalkan kereta dan di waktu kereta berhenti di dusun-dusun, dia dapat ikut pula turun dan bersama dengan rombongan itu makan di warung-warung.
Hari itu mereka agak lama berhenti di dusun yang agak besar, karena rombongan itu membeli banyak ransum.
Setelah melewati dusun itu, perjalanan akan melalui daerah pegunungan yang sunyi dan jarang terdapat dusun yang menjual bahan makanan, maka rombongan itu memperbanyak bekal mereka untuk keperluan di perjalanan.
Tek Hoat juga membantu mereka dan karena tenaganya belum pulih kembali, dia ditugaskan untuk menghitung dan menimbang bahan-bahan makanan yang dibeli.
Ketika akhirnya semua beres, dan dia hendak kembali ke kereta karena dia belum kuat naik kuda, Tek Hoat menjadi bingung.
Baru sekarang dia melihat bahwa kereta yang panjang itu ternyata terdiri dari dua bilik.
Dia hampir saja membuka pintu bilik yang berada di depan, akan tetapi pemimpin rombongan itu memegang lengannya dan berkata.
"Eng-kau keliru, Taihiap."
Dia kini disebut Taihiap setelah dia memperkenalkan diri, Ang-taihiap sebutannya.
"Bilikmu adalah yang di belakang ini."
"Ah, maaf. Akan tetapi siapakah yang berada di bilik depan?"
Tanyanya.
"Tidak ada siapa-siapa, akan tetapi Taihiap jangan membukanya. Sekali-kali harap jangan membukanya dan kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap."
Tek Hoat mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya dia curiga sekali.
Beberapa kali ingin dia membuka pintu bilik itu kalau tidak ada orang melihatnya, akan tetapi kata-kata pimpinan rombongan itu mengingatkannya.
"....kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap."
Hemm, apakah dia yang sudah menyeleweng dan tersesat itu kini juga menjadi orang yang tidak bisa dipercaya?
Betapapun curiganya, betapapun inginnya untuk membuka pintu bilik depan itu, dia mengeraskan hati dan tidak mau membukanya!
Mulai sekarang, dia harus menjadi seorang yang menjauhi segala keburukan!
Dia harus memulai hidup baru dan menanggalkan semua kebiasaan lama yang busuk dan sesat!
Menjelang tengah hari, kereta mulai memasuki daerah hutan yang sunyi.
Akan tetapi, ketika memasuki sebuah hutan, baru saja tiba di pinggir hutan itu, tiba-tiba rombongan ini berhenti dan kereta juga berhenti.
Tek Hoat terkejut.
Kalau sekali ini terjadi pencegatan oleh orang-orang sakti seperti yang terjadi seminggu yang lalu, sedangkan kesehatan dan tenaganya belum pulih sama sekali, tentu mereka semua akan celaka dan dia sama sekali tidak dapat melindungi mereka.
Padahal mereka sudah begitu baik kepadanya!
Akan tetapi tidak terdengar kegaduhan, maka Tek Hoat lalu menyingkap tirai bilik keretanya dan memandang ke depan, menjenguk ke luar.
Di depan, tampak seorang dara remaja berdiri menghadang rombongan itu.
Tek Hoat memandang kagum.
Seorang dara remaja yang amat cantik jelita, sangat cantik dan lincah, sikapnya ramah kekanak-kanakan namun memikat hati, tubuhnya tiada hentinya bergerak, sepasang matanya seperti sepasang bintang senja yang berkedip-kedip dan bersinar terang, jernih dan tajam, bibirnya yang merah itu bersungut-sungut namun bertambah manisnya.
Dengan sikap yang lucu dan jenaka, namun juga agak ugal-ugalan dara itu menggunakan telunjuk tangan kanannya menyodok perut kepala rombongan yang agaknya sudah mengenalnya itu.
"Wah, Paman mencari penyakit, ya? Kenapa melalui jalan sini? Di balik hutan ini terdapat rombongan orang jahat yang amat jahat, bukan penjahat biasa melainkan gerombolan yang berilmu tinggi. Kalau rombongan Paman ini diketahuinya, tentu celaka! Suhu sendiri merasa ngeri berhadapan dengan gerombolan itu dan Suhu yang menyuruh aku menghadang Paman di sini untuk memberi peringatan agar Paman menggunakan jalan lain!"
Kepala rombongan itu tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak dara remaja yang jenaka itu sungguhpun sekali ini dia membawa berita yang mengejutkan.
"Aih, Nona Teng, kita bertemu kem-bali di tempat yang tak tersangka-sangka ini! Di mana Locianpwe yang menjadi gurumu itu? Dan gerombolan apakah yang kau ceritakan itu?"
"Gerombolan apa yang berbahaya kalau bukan gerombolan yang dipimpin Raja Tambolon? Musuh besarmu, bukan? Menurut Suhu, Tambolon selalu menjadi musuh besar orang-orang Bhutan!"
Kepala rombongan itu kelihatan kaget bukan main, juga semua anggauta rombongan itu mengeluarkan seruan kaget.
"Celaka....!"
Kepala rombongan itu berseru.
Akan tetapi Tek Hoat yang mendengarkan percakapan itu pun terkejut bukan main.
Kiranya rombongan ini adalah orang-orang Bhutan!
Dia meloncat turun dan pergi ke depan mendekati gadis ini yang memandang kepada Tek Hoat dengan pandang mata penuh selidik.
"Taihiap, sekali ini kita dihadang gerombolan yang lebih berbahaya lagi,"
Pemimpin rombongan itu berkata ketika melihat Tek Hoat mendekati mereka.
"Paman Jayin, siapa dia yang kau sebut taihiap ini? Aku baru sekali ini melihatnya. Apa dia orang baru?"
Dara remaja itu berkata dan dengan sinar mata penuh selidik, seperti seorang pedagang kuda yang hendak membeli seekor kuda dan menaksirnya, dia berjalan dengan gerak penuh kelembutan dan lagak yang memikat, mengelilingi Tek Hoat perlahan-perlahan sambil memandang dengan mata dipicingkan!
Melihat sikap ini, Tek Hoat menjadi geli di dalam hatinya.
Benar-benar seorang bocah perempuan yang bersemangat, lincah jenaka dan ugal-ugalan.
Rambut yang dikepang dua itu melambai-lambai lucu ketika kepala yang manis itu digerak-gerakkan dan lengannya lemah gemulai sehingga pinggul yang tertutup baju panjang itu bergerak-gerak membayang dengan lemasnya.
Rombongan itu kini berkerumun dan Tek Hoat lalu bertanya kepada dara remaja yang bukan lain adalah Teng Siang In itu.
Seperti kita ketahui, Siang In telah diambil murid oleh See-thian Hoat-su, kakek yang sakti bekas suami nenek iblis Durganini.
Mereka berdua telah saling berjumpa dan rujuk kembali.
Akan tetapi dasar watak Durganini sudah pikun dan sudah berubah.
Mereka berdua tadinya mengajak Siang In untuk kembali ke barat, ke Himalaya.
Akan tetapi di tengah perjalanan, nenek itu banyak rewel dan kadang-kadang timbul niat buruknya untuk mengganggu penduduk dusun yang mereka lalui di tengah perjalanan.
See-thian Hoat-su menentangnya dan kembali mereka cekcok dan bertentangan.
Akhirnya, nenek yang ilmu silatnya masih kalah tinggi dibandingkan bekas suaminya ini ngambek dan pergi meninggalkan guru dan murid itu.
Setelah ditinggalkan oleh Nenek Durganini, See-thian Hoat-su menjadi kecewa dan membatalkan niatnya untuk kembali ke Himalaya.
Dia mengajak muridnya kembali ke timur, karena dia tidak akan merasa tenang selama nenek yang pernah menjadi isterinya itu masih berkelana di timur.
Dialah yang harus mencegah kalau bekas isterinya itu menggunakan ilmu mendatangkan kerusakan dan malapetaka kepada penduduk yang tidak berdosa.
"Adik kecil, apakah ceritamu itu benar? Benarkah Tambolon dan kawan-kawannya sudah berada di sini?"
Tek Hoat bertanya kepada Siang In. Kontan dara ini cemberut dan bertolak pinggang.
"Eh, kau manusia sombong, ya? Dumeh (mentang-mentang) sudah disebut orang taihiap (pendekar besar) kau lalu merasa tua sekali, ya?"
Tentu saja Tek Hoat yang belum pernah bertemu dengan seorang dara seperti ini menjadi melongo.
"Eh, eh, kok marah? Apa salahku?"
Perwira Jayin dari Bhutan dan empat orang pembantunya yang sudah mengenal Siang In, bahkan sudah sama-sama menjadi tawanan raja liar Tambolon, menahan senyumnya.
Siang In memandang ke kanan kiri, kepada rombongan itu dan dengan hidung diangkat ke atas dia menuding kepada Tek Hoat.
"Coba....! Dia masih pura-pura bertanya apa kesalahannya? Kau menyebut aku adik kecil, apakah itu bukan menghina namanya? Sudah sebegini, masih disebut anak kecil? Kalau aku anak kecil, apakah engkau sudah kakek-kakek?"
Semua rombongan itu tertawa dan muka Tek Hoat menjadi merah.
Akan tetapi pemuda ini tersenyum.
Pada dasarnya, Tek Hoat adalah seorang yang jenaka dan lincah gembira pula.
Kalau dia berubah menjadi pendiam adalah karena banyak hal yang menekan hatinya.
Kini dia memandang dengan mata berseri.
Dara remaja ini benar-benar jenaka dan kemarahannya itu dia tahu adalah dibuat-buat.
"Kalau begitu, biarlah aku menyebutmu nyonya tua yang galak!"
Tek Hoat menggoda.
Dara itu membelalakkan matanya, kelihatan menjadi makin cantik.
Dia lalu menarik muka seperti nenek-nenek, tubuhnya agak membungkuk, suaranya lalu gemetar seperti seorang wanita tua yang sudah tua sekali, dan dia menjura ke arah Tek Hoat dengan lagak seorang nenek.
"Baiklah, kakek tua renta yang sudah pikun. Mengapa sudah setua ini kau masih belum juga mati-mati? Apakah tidak merasa bosan?"
Kembali rombongan itu tertawa karena suara dan sikap dara itu persis nenek-nenek tua. Tek Hoat juga tertawa dan dia lalu berkata.
"Sudahlah, Nona. Maafkan aku. Aku hanya ingin bertanya apakah benar Tambolon sudah tiba di sini karena belum lama ini aku masih bertemu dengan mereka di timur."
"Itu Suhu datang kalau kau tidak percaya, sudah jangan tanya aku, kau tanya saja kepada Suhu!"
Tek Hoat menoleh dan benar saja dari jauh datang seorang kakek tua renta yang larinya cepat sekali.
Perwira Jayin dan para pembantunya cepat memberi hormat.
"Locianpwe, terima kasih atas peringatan Locianpwe tentang gerombolan itu. Sekarang bagaimana baiknya? Belum lama, baru seminggu ini kami juga telah dihadang oleh gerombolan Hek-tiauw Lo-mo dan kalau tidak ada Ang-taihiap ini tentu kami sudah celaka semua."
Kakek itu bukan lain adalah See-thian Hoat-su.
Dia terkejut mendengar bahwa rombongan ini seminggu yang lalu dicegat oleh Hek-tiauw Lo-mo dan dia memandang kepada Tek Hoat dengan kagum.
Seorang yang dapat menolong rombongan ini dari gangguan Hek-tiauw Lo-mo, biarpun masih begitu muda, tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, pikirnya.
Akan tetapi sekali pandang saja, dia tahu bahwa Tek Hoat pernah mengalami luka-luka dalam yang amat hebat, maka dia terkejut sekali.
"Ahh, engkau telah terpukul hebat sekali, orang muda!"
Tek Hoat menjadi kagum dan dia menjura.
"Sudah berangsur baik, Locianpwe, berkat rawatan dan pengobatan rombongan ini."
"Rombongan ini harus mengambil jalan lain. Cepat! Jangan melalui hutan ini. Mudah-mudahan saja belum terlambat dan tidak akan bertemu dengan mereka. Dan engkau harus diobati secepatnya, orang muda, agar tenagamu pulih dan kau dapat membantu kalau toh mereka masih dapat mengejar."
Mendengar kata-kata kakek ini, pewira pengawal Bhutan itu tidak ragu-ragu lagi dan cepat me-merintahkan rombongannya mengambil jalan berbelok ke selatan, mengambil jalan memutari bukit di depan dan menyimpang dari jalan besar.
Adapun Kakek See-thian Hoat-su lalu mengajak Tek Hoat ke dalam bilik keretanya itu dan setelah dia menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, dia memanggil muridnya.
"Berikan dia obatmu penyembuh luka dalam yang manjur itu!"
Kata kakek ini yang segera meninggalkan mereka untuk ikut menjaga di bagian depan barisan itu.
"Hemm, enaknya! Sudah menghina masih minta obat. Panggil dulu aku sebagaimana mestinya, nanti kuberi obat yang paling manjur,"
Siang In berkata dengan sikap jual mahal.
Kalau saja Tek Hoat sudah tidak melihat kesesatannya dan mengambil keputusan untuk merubah watak dan sikapnya, tentu dia akan menjadi marah dan akan menghina gadis ini.
Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk dalam.
"Nona yang baik, aku minta maaf dan kau berikanlah obat itu."
Siang In tersenyum.
"Nah, begitu dong! Sekarang engkau menjadi sahabatku, tidak usah minta pun tentu akan kuberikan obat itu."
Dia lalu mengeluarkan sebungkus obat yang berwarna merah dan berbentuk bulat kecil. Dia menyerahkan dua butir kepada Tek Hoat sambil berkata.
"Telan semua dan kau tidur, nanti setelah bangun baru terasa khasiatnya."
Kemudian dia tersenyum manis dan meloncat turun dari dalam kereta.
Tek Hoat memandang dua butir obat di telapak tangannya itu sambil berkata seorang diri.
"Betapa baiknya semua orang. Betapa manisnya dara itu, akan tetapi mana bisa dia menandingi Syanti Dewi....?"
Lalu ditelannya dua butir obat itu dan dia pun merebahkan dirinya.
Begitu memasuki perutnya, terasa hawa panas memenuhi perut dan dadanya, kemudian seluruh tubuh sehingga dia mengeluarkan keringat.
Nyata manjur sekali obat itu dan Tek Hoat menjadi makin kagum.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu, Teng Siang In, adalah puteri mendiang ahli obat Yok-sian (Dewa Obat) yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dewa atau ahli pengobatan yang tinggal di Lembah Pek-thouw-san.
Menjelang senja, rombongan ini telah mengelilingi bukit dan memasuki hutan kecil.
Tiba-tiba tanpa ada sebabnya, tahu-tahu hutan di sekeliling mereka terbakar!
Rombongan ini tentu saja berhenti dan terkejut sekali.
Akan tetapi See-thian Hoat-su yang berada di depan rombongan itu berteriak.
"Jangan panik! Ini hanya ilmu siluman!"
Dia lalu meloncat ke atas sebuah batu besar, bersedakap dan berteriak.
"Durganini, kau terlalu! Terpaksa aku melawanmu!"
Kakek itu bersedakap terus dan tak lama kemudian, rombongan orang Bhutan itu melihat hujan turun secara tiba-tiba dan api yang berkobar itu padam.
Akan tetapi anehnya, mereka semua tidak tertimpa hujan!
Kiranya baik kebakaran maupun hujan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan oleh kekuatan sihir yang mujijat saja!
Tak lama kemudian dari balik pohon-pohon bermunculan banyak orang dan di depan sendiri tampak Tambolon, Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Maut Yu Ci Pok, dan si nenek hitam Durganini yang menghadang rombongan!
"Orang gila, kau berani melawan aku?"
Durganini memaki bekas suaminya dan dengan ganas dia melontarkan tongkatnya ke udara.
Tongkat itu berubah menjadi seekor naga yang turun me-nyambar ke arah See-thian Hoat-su yang masih berdiri di atas batu.
See-thian Hoat-su cepat meloncat turun, menyambar segenggam tanah dan melontarkannya ke arah naga yang menyerangnya dengan dahsyat itu.
"Darrr....!"
Tampak kilat menyambar dan naga itu berubah menjadi tongkat butut kembali, melayang ke tangan Durganini, akan tetapi See-thian Hoat-su terhuyung karena memang dia kalah kuat dalam ilmu sihir.
"Kau perempuan iblis!"
Kakek itu me-maki dan tubuhnya sudah menyambar ke arah bekas isterinya untuk merampas tongkat.
Durganini memaki dengan hantaman tongkatnya, akan tetapi See-thian Hoat-su menangkis dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah ubun-ubun Si Nenek Ganas.
Durganini mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya keserempet jari tangan See-thian Hoat-su sehingga dia memekik kesakitan, terhuyung dan menudingkan tongkatnya.
"Kau.... kau berani memukulku?"
Teriakan ini disertai suara tangis, persis seperti lagak seorang isteri yang marah kepada suaminya!
Tambolon juga sudah mencabut pedangnya dan membantu gurunya menerjang See-thian Hoat-su.
Sedangkan Liauw Kui dan Yu Ci Pok memimpin anak buah mereka menyerbu Perwira Jayin dan pasukannya.
Terjadilah pertempuran yang hebat.
"Heeeiii, bangun! Bangun kau....! Wah, celaka, malasnya orang ini!"
Diguncang-guncang pundaknya itu, Tek Hoat terbangun dengan kaget dan dia meloncat turun dari kereta. Kiranya yang menggugahnya adalah Siang In.
"Lekas bantu, lihat Suhu terdesak hebat oleh nenek siluman itu dan Tambolon!"
Tek Hoat meraba pinggangnya dan baru teringat dia ketika tangannya meraba tempat kosong, bahwa pedang yang diandalkannya, yaitu Cui-beng-kiam, telah terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo.
"Kenapa kau sendiri tidak membantu gurumu?"
Tanyanya.
"Uh, mana aku berani? Kau bantu gu-ruku, mereka itu lihai sekali, dan aku akan membantu Paman Jayin!"
Kata Siang In yang memang belum begitu tinggi ilmu silatnya sehingga dia merasa ngeri kalau harus membantu suhunya menghadapi orang-orang seperti Tambolon dan gurunya itu.
Tek Hoat menggerak-gerakkan kedua lengannya.
Memang lebih enak daripada kemarin.
Dia menarik napas panjang, juga dadanya tidak nyeri lagi.
Dikerahkan sin-kangnya dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa keadaannya jauh lebih baik daripada yang sudah-sudah.
Maka dia lalu meloncat dan terjun ke dalam pertempuran, menyerang Tambolon dengan pukulan dahsyat yang dilakukan dengan pengerahan sin-kangnya.
Tambolon terkejut, maklum bahwa lawannya ini lihai sekali.
Dia mengelak dan berkata.
"Eh, orang muda. Lupakah kau akan hubungan baik kita baru-baru ini? Kau bantulah kami dan engkau akan mendapat bagian, kau takkan kecewa!"
"Manusia keparat, siapa sudi mendengar bujukanmu?"
Tek Hoat membentak dan sudah menerjang lagi, mengirim pukulan mautnya.
Tambolon menyambut dengan tangan kirinya dan membarengi dengan bacokan pedangnya.
"Dessss....!"
Tambolon terjengkang ke belakang dan Tek Hoat terkena ujung pedang pundak kirinya, akan tetapi hanya luka kecil saja dan dia terus mendesak Tambolon yang ternyata kalah tenaga.
Akan tetapi Tek Hoat mengerutkan alisnya.
Memang dia telah mampu mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi begitu bertemu dengan lawan yang kuat, dalam pertemuan tenaga dahsyat tadi, biarpun dia berhasil membuat Tambolon terjengkang, akan tetapi dadanya terasa agak nyeri.
Sementara itu Tambolon sudah menubruk maju dengan serangan pedangnya yang membabi buta.
Tek Hoat mengelak dengan cepat, akan tetapi kembali dia diam-diam mengeluh karena pengerahan gin-kangnya juga membuat dadanya sakit.
Ini menandakan bahwa luka di dadanya belum sembuh benar.
"Sut-sutt-sing.... desss!"
Biarpun Tek Hoat dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang yang bertubi-tubi itu, akan tetapi sebuah tendangan mengenai lambungnya dan dia terlempar, jatuh terguling-guling.
Sialnya, dia terlempar ke dekat Nenek Durganini yang sedang bertanding melawan bekas suaminya.
"Hiyyaaahhh!"
Nenek itu mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke arah leher Tek Hoat.
Pemuda yang masih bergulingan ini terkejut sekali.
Ternyata kini sepuluh jari tangan nenek itu telah mengeluarkan kuku yang panjang runcing dan ketika dia mengelak, kuku jari tangan itu lewat dekat mukanya dan dia mencium bau yang amis, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun yang hebat!
Dia berusaha meloncat berdiri, akan tetapi kaki kanan nenek yang memakai gelang itu menyambar.
"Desss....!"
Kembali dia roboh.
See-thian Hoat-su hendak menolongnya, akan tetapi Tambolon sudah menerjang kakek itu dengan putaran pedangnya secara dahsyat sehingga terpaksa kakek itu mengelak ke sana-sini.
Tek Hoat terus didesak oleh Nenek Durganini, dan begitu dia bangkit, dua cakar beracun itu menyambarnya.
Tek Hoat mengelak ke sana-sini, akan tetapi tetap saja leher dan pundaknya kena dicakar.
Panas dan perih rasanya!
Tek Hoat terkejut, cepat dia melempar tubuh ke atas tanah dan ketika nenek itu menendang, dia membiarkan dirinya ditendang.
"Desss....!"
Tubuh pemuda itu bergulingan menabrak benda keras.
"Bresss!"
Ketika dilihatnya, ternyata tubuhnya tertumbuk kepada roda kereta!
Nenek itu terkekeh-kekeh dan sudah lari menghampirinya dengan kedua tangan bergerak-gerak menyeramkan.
Tek Hoat bangkit dengan kepala pening, siap untuk melawan mati-matian.
Akan tetapi tiba-tiba pintu bilik depan kereta itu terbuka dan sebuah tangan yang halus namun kuat mencengkeram pungung bajunya dan menarik tubuh pemuda itu ke dalam bilik kereta yang segera ditutupkan.
Nenek itu marah-marah dan hendak mencengkeram kereta, akan tetapi pemilik tangan halus itu menusukkan pedang menembus pintu kereta.
"Crattt! Aihhhh.... aduhhhh....!"
Nenek itu tertusuk pedang tangannya dan terasa sakit bukan main.
Karena tidak disangka-sangkanya, maka ujung pedang itu dapat melukai tangannya dan nenek yang pikun ini segera membalikkan tubuhnya, me-nangis lalu mengamuk kepada bekas suaminya, agaknya dia sudah lupa sama sekali akan Tek Hoat yang tidak kelihatan lagi itu.
Tek Hoat membuka mata memandang dan....
dia terbelalak, matanya melebar dan mulutnya ternganga.
karena ternyata yang menolongnya itu bukan lain adalah....
Syanti Dewi!
"Ya Tuhan....
sudah....
sudah matikah aku....?
Ataukah....
ini hanya....
mimpi....?"
Tek Hoat menggosok-gosok matanya.
Syanti Dewi yang duduk di atas bangku kereta itu memandang dengan dua titik air mata berlinang, mengulurkan tangan menyentuh leher dan pundak itu dan terdengar suaranya halus.
"Kau.... kau.... terluka lagi...."
Disentuhnya luka-luka itu dengan ujung jarinya yang halus.
"Kau.... kau.... Syanti Dewi....?"
Tek Hoat menangkap ujung tangan itu dan menciumnya.
"Aku.... aku.... ah, benarkah aku masih hidup?"
Kedua pipi puteri itu menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar ketika dia merasa betapa ujung jarinya diciumi dan merasakan hembusan napas yang panas dari pemuda itu mengenai jari-jari tangannya.
"Engkau masih hidup dan aku memang Syanti Dewi.... aku.... akulah yang berada di bilik depan kereta ini...."
Tek Hoat menjadi girang bukan main, girang dan juga jengah dan malu.
Setiap saat dia teringat kepada puteri ini, dicari-carinya dan dikenang, dikhawatirkannya.
Siapa tahu, seminggu lamanya dia berada di satu kereta dengan puteri ini!
Dan teringatlah dia betapa dia sering kali menggandrungi puteri ini, bersenandung memuji-muji puteri ini.
Tiba-tiba dia teringat.
Pertempuran itu masih ber-langsung.
"Ah, aku harus melindungimu, aku harus membasmi mereka.... kalau tidak.... Paduka akan celaka.... kiranya mereka itu menyerang karena Paduka berada di sini...."
"Kau.... kau masih terluka...."
Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak peduli lagi.
Begitu melihat bahwa Syanti Dewi berada di situ, mengertilah dia mengapa gerombolan Hek-tiauw Lo-mo menyerang rombongan ini, dan mengapa pula kini gerombolan Tambolon juga menyerang rombongan ini.
Kiranya mereka itu tahu bahwa Sang Puteri berada di dalam kereta.
Hanya dialah yang tolol, yang goblok, sekereta sampai seminggu lamanya tidak tahu!
Hatinya girang, tapi juga khawatir, dan dia meloncat keluar dari kereta itu, cepat menutupkan pintunya kembali seolah-olah dia hendak menyembunyikan mustika agar tidak terlihat oleh lain orang!
Kakek See-thian Hoat-su masih dikeroyok dua oleh Tambolon dan Durganini, kakek ini terdesak hebat, agaknya juga sudah terluka karena pangkal lengan kirinya berdarah.
Siang In masih mengamuk membantu Perwira Jayin dan para anggauta rombongan, akan tetapi mereka pun terdesak hebat oleh Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, karena memang tingkat kepandaian dua orang pembantu Tambolon ini lebih tinggi dari mereka.
Senjata pikulan dari Liauw Kui dan senjata sepasang poan-koan-pit dari Yu Ci Pok memang berbahaya sekali, Dan hanya karena Jayin yang dibantu oleh Siang In dan empat orang perwira pembantunya itu melakukan perlawanan gigih, maka pertandingan masih berlangsung dengan seru dan mati-matian.
Tek Hoat maklum bahwa yang boleh diandalkan oleh rombongan ini hanyalah Kakek See-thian Hoat-su.
Dia sendiri sudah terluka parah, dan kalau kakek itu roboh, tentu yang lain akan celaka semua.
Maka dia lalu menerjang maju lagi membantu kakek itu dan kini entah bagaimana, pertemuannya dengan Syanti Dewi seolah-olah memulihkan semua tenaganya.
Ketika dia menyerbu dan meng-hantam, Tambolon sampai terpental ke belakang dan bergulingan sambil memaki-maki, bangkit berdiri lagi dan menerjang Tek Hoat yang merasa betapa dadanya sakit akan tetapi kini dia pertahankan dengan semangat baru.
Dia harus hidup.
Dia harus menang, karena kalau tidak, Syanti Dewi akan celaka.
"Sutt.... singgg-singgg....!"
Pedang di tangan Tambolon menyambar-nyambar ganas.
Tek Hoat mengelak dua kali dan dari samping dia memukul dengan tangan miring, ke arah lambung raja liar itu.
Tambolon terkejut dan tidak sempat mengelak akan tetapi karena dia maklum bahwa pemuda itu sudah terluka dan dalam keadaan tidak sehat sehingga tenaganya pun tidak sepenuhnya, dia lalu berlaku nekat, menyambut hantaman itu dengan tangan kirinya sambil mengerahkan seluruh sin-kangnya.
"Desss....!"
Sekali ini hebat sekali pertemuan tenaga sin-kang yang sama kuatnya, dan akibatnya, kembali tubuh Tambolon terpental, mulutnya muntahkan darah segar sedangkan tubuh Tek Hoat terguling-guling sampai beberapa kaki jauhnya dan wajah pemuda ini pucat sekali, napasnya terengah-engah dan sesak sehingga dia menggunakan tangannya untuk menekan dadanya.
Dengan mata mendelik Tambolon meloncat bangun, mengusap darah dari bibirnya dengan gemas, kemudian mengangkat pedangnya sambil lari menerjang Tek Hoat.
Sementara itu, kakek See-thian Hoat-su masih belum merobohkan Durganini karena sesungguhnya kakek ini masih merasa kasihan kepada bekas isterinya yang dia tahu berubah jahat karena sudah pikun dan disalahgunakan oleh muridnya, Tambolon yang penuh ambisi dan jahat itu.
Ketika melihat betapa Tek Hoat sudah tidak berdaya dan Tambolon mengejar hendak membunuhnya, dia terkejut sekali, akan tetapi karena jaraknya agak jauh, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat menyelamatkan pemuda perkasa itu.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tempat itu muncul seorang kakek berlengan tunggal yang berpunggung bongkok!
Punggungnya demikian bongkoknya sehingga ketika dia datang berjalan cepat ke arah pertempuran, kepalanya seperti meluncur di depan saja, sedangkan kedua kakinya seperti terseret jauh di belakang.
Atau cara kakek ini berjalan seperti setengah merangkak!
Anehnya, bukan main cepatnya karena tahu-tahu dia telah berada di situ.
Hebatnya, bersama dengan kakek bongkok yang aneh ini datang pula angin berputar yang seperti ombak dahsyatnya, dan semua orang, termasuk Tek Hoat, Tambolon, Durganini dan See-thian Hoat-su terdorong dan terhuyung ke belakang oleh angin dahsyat ini.
Jangan ditanya lagi para anggauta rombongan orang Bhutan dan anak buah Tambolon, mereka semua roboh jungkir balik dan tumpang-tindih antara kawan dan lawan seperti daun-daun kering diamuk angin puyuh.
Kakek bongkok yang berdirinya seperti mau "tiarap"
Itu menggerakkan kedua lengannya seperti orang mencegah mereka bertempur, lalu berkata.
"Antara sesama manusia, mengapa saling bunuh? Tanpa saling bunuh pun, apakah ada di antara kalian yang kelak bebas dari kematian?"
Durganini yang sudah pikun itu tidak terpengaruh oleh ucapan aneh ini, tidak seperti See-thian Hoat-su yang sudah berdiri tegak dan bersikap hormat.
Sebaliknya Durganini malah melangkah maju mendekati kakek bongkok itu, kedua tangannya lurus ditujukan ke arah kakek bongkok itu sambil membentak dengan suara yang amat berpengaruh.
Nenek ini sudah mengerahkan kekuatan sihirnya!
"Tua bangka bongkok, kau yang sudah mau mampus, hayo cepat bergulingan di atas tanah!"
"Durganini, jangan....!"
See-thian Hoat-su mencegah namun terlambat.
Semua orang di situ merasa betapa ada pengaruh yang amat jahat dan mengerikan terbawa oleh suara dan gerakan kedua tangan Durganini, Bahkan ada di antara perajurit yang tanpa disadarinya tahu-tahu sudah merebahkan diri di atas tanah dan bergulingan seperti orang gila!
Akan tetapi yang paling aneh adalah ketika semua orang melihat bahwa kakek bongkok itu hanya menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas, sama sekali tidak bergerak dan lucunya, kini Durganini tahu-tahu merebahkan diri dan bergulingan di atas tanah dengan hebatnya!
Tek Hoat yang sudah setengah pingsan itu melihat dengan terbelalak, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir dengan Tambolon tadi membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang.
Sebuah tangan yang halus memegang lengannya.
Dia menoleh dan kiranya Syanti Dewi yang memegang lengannya.
Puteri itu lalu menariknya perlahan-lahan dan pergi dari situ selagi semua orang terpesona oleh peristiwa aneh tadi.
"Kau terluka parah.... sebaiknya kita menyingkir dari tempat berbahaya ini...."
Tek Hoat menggeleng kepala.
"Aku.... aku harus melawan.... aku harus melindungimu...."
Akan tetapi Syanti Dewi memaksanya pergi, setengah menyeretnya dan keduanya lalu menyelinap ke dalam hutan yang lebih lebat.
Sementara itu, melihat Durganini makin lama makin hebat bergulingan, kakek bongkok itu mengangkat tangan ke atas.
"Sadarlah semua.... bangkitlah...., dan lenyaplah semua kekuatan gelap....!"
Aneh, mereka yang bergulingan di atas tanah, termasuk Durganini, menjadi terkejut, sadar dan terheran-heran, lalu Durganini bangkit dengan napas terengah-engah dan wajah pucat.
Kini dia memandang kepada kakek bongkok itu dengan sinar mata ketakutan karena dia maklum bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti luar biasa.
"Siapa yang pernah bertemu dengan muridku? Harap katakan, di mana muridku? Apakah ada yang melihatnya? Dia berusia kira-kira dua puluh lima tahun, pemuda yang bertubuh tinggi besar, wa-jahnya tampan dan gagah, matanya tajam seperti mata naga, sikapnya gagah seperti seekor singa, namanya Kok Cu.... siapakah yang pernah bertemu dengan dia?"
See-thian Hoat-su dan Durganini menggeleng kepala dan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang pemuda murid kakek bongkok itu.
See-thian Hoat-su cepat memberi hormat dan bertanya dengan suara tergetar penuh kagum.
"Kalau saya tidak keliru sangka, Locianpwe ini adalah Yang Mulia Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir....?"
Kakek bongkok itu menghela napas dan menggerakkan tangannya, seolah-olah tidak mempedulikan kata-kata itu.
"See-thian Hoat-su, Durganini dan Tambolon, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku Kok Cu itu?"
Tiga orang itu terkejut bukan main.
Selama hidup mereka, baru sekarang mereka bertemu dengan kakek tua renta itu, akan tetapi kakek ini begitu saja menyebut mereka seolah-olah sudah lama mengenal mereka.
Otomatis mereka menggeleng kepala karena memang mereka belum pernah bertemu dengan pemuda yang dimaksudkan kakek itu.
"Sudahlah, aku mencari di tempat lain!"
Kata kakek itu dan sekali berkelebat dia sudah lenyap!
Selagi semua orang tertegun dan melongo, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan dari jauh di atas bukit tampaklah debu mengepul tinggi dan datang sebuah pasukan besar dari barat yang jumlahnya tentu tidak kurang dari seratus orang.
Tambolon belum dapat mengenal pasukan itu, maka dia sudah berteriak lagi.
"Serbu!"
Dan pertandingan pun mulai lagi!
Sungguh mereka ini seperti serigala-serigala yang haus darah dan tadi pertempuran terganggu sebentar karena munculnya kakek bongkok luar biasa itu.
Durganini kembali menyerang See-thian Hoat-su seperti sikap seorang isteri galak yang mencemburui suaminya, tak pernah mau sudah menyerang!
Karena dikeroyok dua oleh bekas isterinya dan Tambolon, sedangkan Tek Hoat sudah tidak ada lagi untuk membantunya, kakek ini tentu saja kembali terdesak hebat dan kewalahan.
Akan tetapi tak lama kemudian pasukan itu tiba dan bersoraklah pihak rombongan Perwira Jayin karena ternyata bahwa pasukan itu adalah pasukan dari Bhutan yang dikirim oleh rajanya untuk menyusul Perwira Jayin yang belum ada kabarnya dalam mencari puteri raja.
Tentu saja pertempuran menjadi berubah keadaannya dan terpaksa Tambolon membujuk gurunya untuk lari menyingkir karena menghadapi pasukan pilihan dari Bhutan yang terlatih baik dan yang jumlahnya jauh lebih besar itu, tentu saja dia dan anak buahnya kewalahan dan terancam bahaya kemusnahan.
Maka berlarilah mereka, meninggalkan para korban di antara anak buah raja liar Tambolon.
Sementara itu, Syanti Dewi yang dulu sudah berpengalaman ketika menemani Gak Bun Beng yang juga menderita sakit payah, kini setengah menyeret tubuh Tek Hoat yang hampir pingsan itu.
Akhirnya, karena tenaganya habis dan napasnya terengah-engah, Syanti Dewi berhenti di belakang semak-semak yang rimbun.
"Aihh...., kau terluka lagi...."
Katanya sambil menggunakan saputangannya menyeka darah yang mengucur dari luka di leher dan pundak Tek Hoat yang pecah kembali.
"Syanti.... puteri.... saya.... saya harus membantu teman-teman menghadapi mereka...."
Tek Hoat bangkit akan tetapi terhuyung.
"Tidak.... tidak....! Apakah kau mau bunuh diri? Tidak, aku melarang kau pergi. Aku melarang!"
Syanti Dewi memegangi lengannya erat-erat. Tek Hoat membalik dan menghadapi puteri itu, memandang dengan mata terbelalak.
"Paduka.... paduka peduli apa.... kalau saya mati....?"
Syanti Dewi mengerutkan alisnya.
"Ang Tek Hoat, kau sudah berkali-kali menolong aku dan menyelamatkan aku dengan pengorbanan dirimu, dan kau masih bertanya aku peduli apa? Kau anggap aku ini orang apa? Orang yang tidak mengenal budi? Kau terluka, biar aku merawat lukamu...."
"Paduka.... kau.... merawat lukaku....?"
Tubuh Tek Hoat menjadi lemas, kepalanya pening kembali sehingga bicaranya tidak karuan lagi dan dia menurut saja ketika ditarik turun dan disuruh rebah di atas rumput.
"Luka-lukamu harus dicuci bersih.... sayang obat-obat untuk luka yang pernah kuterima dari Jenderal Kao sebagai bekal berada di kereta...."
"Aku mempunyai obat seperti itu...."
Tek Hoat dengan mata masih terpejam meraba saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan.
"Gunakan obat bubuk ini.... auhhh.... dadaku...."
"Kenapa dadamu? Kenapa....?"
Syanti Dewi meraba-raba dan membuka kancing baju pemuda itu untuk memeriksa.
Alangkah kagetnya ketika melihat kulit dada yang putih itu tampak tanda biru bekas pukulan sedangkan ketika dia mencuci luka di leher dan pundak bekas cakaran kuku Durganini, luka-luka itu kelihatan kehitaman!
"Ah, kau terluka parah....!"
Dia berseru penuh kekhawatiran.
"Tidak mengapa.... tidak mengapa, harap paduka cepat kembali ke sana, biarlah saya mengurus diri sendiri...."
"Tek Hoat!"
Tiba-tiba Syanti Dewi berkata dengan nada suara agak keras.
"Mengapa kau begini angkuh?"
Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak.
"Saya....? Angkuh....?"
"Engkau terluka parah dan perlu ditolong, mengapa engkau seolah-olah menolak pertolonganku? Engkau benar-benar mengusirku agar kembali ke sana, agar tertawan oleh Tambolon?"
"Ah, tidak...., tidak.... jangan paduka salah sangka....!"
"Engkau sungguh.... memuakkan perutku!"
Syanti Dewi bangkit berdiri dan membelakangi Tek Hoat.
Pemuda ini menjadi bengong dan dia bangkit duduk, memandangi tubuh belakang Syanti Dewi.
Dia benar-benar tidak mengerti harus berkata dan berbuat apa.
Sikap wanita ini menbingungkannya, dan dia tidak dapat menyelaminya.
Ketika dia melihat pundak puteri itu berguncang perlahan, dia terkejut.
Puteri itu menangis!
Tentu merasa tersinggung dan sakit hatinya, pantas dia dikatakan memuakkan dan memuakkan perut!
"Ahh, Puteri Syanti Dewi, harap paduka sudi mengampuni saya....
saya sungguh tidak tahu terima kasih....
saya memang membutuhkan bantuan dan paduka demikian rela membantu, akan tetapi saya keras kepala, sombong dan....
memuakkan perut, maafkan saya...."
Dengan kaku dia lalu merebahkan dirinya sehingga kepalanya terbentur batu di belakangnya.
"Aduhhh....!"
Syanti Dewi cepat membalik dan berlutut. Melihat belakang kepala Tek Hoat menjendol, dia lalu menggosok-gosoknya dan mulutnya berbisik.
"Kasihan.... orang muda yang malang...."
"Saya.... saya tidak muda lagi...., paduka lebih muda...."
"Tek Hoat, aku akan marah kalau kau terus menerus merendahkan diri, menyebut aku puteri dan paduka. Engkau mau bersahabat ataukah tidak?"
Bibir yang merah itu cemberut.
"Baikiah.... baiklah, put...., eh, Syanti Dewi. Engkau tentu lebih muda daripada aku...."
Syanti Dewi tersenyum, agak lega karena wajah pemuda itu tidak sepucat tadi.
"Tentu saja, kau tadi bilang tidak muda lagi, agaknya engkau sudah kakek-kakek."
"Aku sudah tua, sudah terlalu tua oleh dosa...."
"Sudah, jangan banyak cakap. Biarkan aku membalut luka-lukamu dan memberi obat-obat secukupnya."
Dengan jari-jari tangan cekatan, sedikit pun tidak jijik melihat darah membeku dan luka kehitaman yang mengerikan, Syanti Dewi mengobati dan membalut luka-luka itu.
Bukan main nyerinya, akan tetapi Tek Hoat menggigit giginya menahan sakit.
"Orang-orang muda, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku?"
Tiba-tiba saja kakek bongkok itu berdiri di dekat mereka, membuat Syanti Dewi kaget dan hampir menjerit kalau saja dia tidak menutupi mulut dengan tangannya.
Tek Hoat juga bangkit duduk dan memandang tajam, siap melindungi Syanti Dewi yang dipeluknya dengan lengan kiri.
Ketika dia mengenal kakek bongkok yang tadi datang secara ajaib dan secara mujijat pula melerai pertempuran, dia bertanya dengan hormat.
"Locianpwe, siapakah murid Locianpwe itu?"
"Dia pemuda gagah perkasa, tinggi besar dan usianya dua puluh lima tahun, namanya Kok Cu...."
"Maafkan saya, Locianpwe, saya belum pernah bertemu dengan dia...."
Jawab Tek Hoat sejujurnya. Kakek itu menghela napas panjang.
"Kalau begitu, biar aku mencari di lain tempat...."
"Nanti dulu, Locianpwe!"
Syanti Dewi berseru ketika kakek itu berkelebat lenyap.
Dalam sekejap mata saja kakek itu kelihatan lagi dan Tek Hoat diam-diam kagum bukan main.
Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seorang yang memiliki kesaktian sehebat ini!
"Kau mau bicara apa, Nona?"
"Entah dia murid Locianpwe atau bukan, akan tetapi saya pernah mendengar nama Kok Cu. Dia itu adalah Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dahulu kabarnya lenyap di gurun pasir, bukan? Kalau Locianpwe mencari dia, sebaiknya ke kota raja menemui Jenderal Kao Liang."
"Aihhh....!"
Tiba-tiba kakek bongkok itu menepuk dahinya.
"Jadi putera Jenderal Kao....?"
Sepasang matanya yang mencorong itu kini bersinar-sinar sehingga mengejutkan dan menakutkan hati Syanti Dewi dan Tek Hoat.
Mata kakek ini tidak lumrah mata manusia, mencorong seperti mengandung api!
"Orang muda, engkau menderita keracunan yang lumayan.
Di sini aku menerima berita tentang muridku, sudah sepatutnya pula kalau aku merubah sedikit keadaanmu agar lekas sembuh!"
Kakek itu lalu menggerakkan lengannya dan Syanti Dewi memandang dengan mata terbelalak dan ngeri.
Kakek itu berdiri kurang lebih tiga meter jauhnya dari Tek Hoat, akan tetapi lengannya terus memanjang sampai akhirnya telapak tangannya menempel di punggung pemuda itu, mengusap beberapa kali di punggung, leher dan pundak, kemudian lengan itu ditarik.
"Aku pergi!"
Terdengar suaranya akan tetapi orangnya sudah lenyap!
Syanti Dewi bengong, menoleh ke kanan kiri dengan bulu tengkuk meremang.
Sukar dia percaya bahwa kakek tadi seorang manusia, pantasnya sebangsa dewa atau juga siluman!
Tiba-tiba Tek Hoat berseru kaget.
"Aihh.... aku sudah sembuh!"
Syanti Dewi cepat berlutut mendekati dan ketika dia memeriksa, benar saja, warna biru kehitaman di dadanya lenyap, juga luka-luka di leher dan pundaknya sudah tidak hitam lagi, bahkan hampir kering.
Akan tetapi tubuhnya masih lemas sehingga ketika dia bangkit berdiri, dia terhuyung.
Tek Hoat lalu berlutut.
"Terima kasih, Locianpwe."
"Akan tetapi kenapa kau kelihatan lemas sekali, Tek Hoat?"
"Semua racun telah lenyap dari tubuh, dan luka-lukaku tidak ada artinya lagi. Akan tetapi tenagaku belum pulih dan aku perlu mengaso...."
Pada saat itu terdengar sorak-sorai dan pertempuran makin menghebat, terdengar dari tempat itu.
Mendengar ini, Syanti Dewi terkejut, cepat dia menarik lengan Tek Hoat dan diajaknya terus lari memasuki hutan yang lebat itu, makin jauh ke dalam.
Kalau saja dia tahu bahwa sorak-sorai itu adalah tanda kedatangan pasukan pembantu dari negerinya, tentu dia tidak akan lari ketakutan.
Setelah racun yang berada di tubuhnya lenyap semua berkat kesaktian kakek bongkok, tubuh Tek Hoat menjadi lemas sekali.
Akan tetapi Syanti Dewi terus memaksanya untuk memasuki hutan lebih dalam sehingga pemuda ini berjalan terhuyung-huyung dipapah oleh dara itu.
Hati pemuda ini terharu bukan main.
Seorang dara begitu lembut dan halus, seorang puteri kerajaan, kini memapahnya, tersaruk-saruk menerjang semak-semak belukar yang penuh duri sehingga kaki tangan dara itu yang tidak terlindung, luka-luka dan lecet-lecet berdarah.
Akhirnya senja telah tiba dan biarpun di luar hutan itu orang masih dapat melihat keadaan, akan tetapi di tengah hutan besar yang lebat itu, di mana pohon-pohon raksasa dengan daun-daunnya yang lebat merupakan atap yang menghalangi sinar matahari yang sudah condong ke barat sudah amat gelap sehingga tidak mungkin melanjutkan perjalanan.
"Kita berhenti di sini...."
Syanti Dewi berkata terengah-engah, sebagian karena lelah memapah tubuh Tek Hoat, akan tetapi terutama sekali karena tegang takut dikejar Tambolon.
Tek Hoat menjatuhkan diri terguling, rebah di atas rumput.
Syanti Dewi yang sudah lelah itu lalu membuat api unggun dan tak lama kemudian dia sudah duduk berlutut di dekat tubuh Tek Hoat yang rebah kelelahan.
"Dewi.... Syanti Dewi.... mengapa engkau begini bersusah payah untukku...."
Tek Hoat mengeluh, hatinya terharu sekali.
"Jangan mengucapkan kata-kata seperti itu, Tek Hoat. Sudah berkali-kali engkau menyelamatkan aku dengan taruhan nyawamu, apa artinya bantuanku ini selagi engkau dalam keadaan sakit?"
Hening sejenak.
"Tujuh hari lamanya aku di kereta itu.... dan selama itu engkau berada di bilik kereta depan?"
Puteri itu tersenyum dan mengangguk.
Wajahnya memang sudah kelihatan merah oleh sinar api unggun, sehingga kalau toh sepasang pipinya berubah merah pun tidak akan kentara.
"Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau bersembunyi?"
"Engkau tahu, Tek Hoat. Banyak pihak yang jahat ingin menghalangiku kembali ke Bhutan. Setelah aku dilarikan oleh Bibi Puteri Milana dari istana, aku bertemu dengan ayah angkatku, Jenderal Kao Liang. Aku diberi dua losin orang pengawal dan di tengah jalan malah tertawan oleh Tambolon. Setelah engkau menyelamatkan aku dan mengantarku ke rumah Perdana Menteri Su, aku lalu ditemukan dengan Paman Panglima Jayin dari Bhutan. Agar perjalananku aman, maka aku lalu disuruh oleh Paman Jayin agar bersembunyi di dalam kereta besar itu, dan tidak boleh memperlihatkan diri kepada siapapun juga. Bilik belakang itu adalah tempat alat-alat keperluanku. Akan tetapi engkau muncul pula dan karena engkau telah terluka ketika membantu kami, maka aku memerintahkan Paman Jayin untuk menolongmu ke dalam bilik belakang. Ketika engkau masih pingsan.... aku merawatmu. Akan tetapi engkau siuman dan aku lalu masuk kembali ke bilik depan."
Jantung Tek Hoat berdebar tegang ketika dia teringat akan semua pengalamannya di dalam bilik kereta itu.
"Dan aku.... aku mengigau tentang dirimu, aku.... aku bernyanyi.... menyebut-nyebut namamu.... kau.... kau mendengar semua itu....?"
Kembali Syanti Dewi tersenyum dan mengangguk.
Karena keadaan Tek Hoat itulah maka mula-mula Syanti Dewi tertarik sekali, merasa kasihan dan timbul perasaan kasih di dalam hatinya terhadap pemuda ini.
Dalam keadaan tidak sadar pemuda ini dengan jelas menyatakan cinta kasih yang mendalam terhadap dirinya dan hatinya merasa terharu sekali.
(Lanjut ke
Jilid 52) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 52
"Kalau begitu...."
Tek Hoat tidak mampu melanjutkan.
"Mengapa, Tek Hoat?"
"Kalau begitu aku telah melakukan dosa besar terhadapmu, Syanti Dewi."
"Hemm, mengapa?"
"Engkau seorang puteri yang agung, seorang puteri kerajaan yang mulia, seorang dara yang cantik jelita dan berbudi mulia, sedangkan aku...."
"Kau adalah penolongku berkali-kali, sejak kau menyamar sebagai tukang pe-rahu."
"Tidak, aku adalah seorang yang jahat sekali, Dewi...."
"Lagi-lagi kau merendah. Sikapmu itu sungguh tidak menyenangkan, Tek Hoat. Penyesalan diri secara berlebihan tidak ada gunanya sama sekali kecuali mendatangkan perasaan muak kepada orang lain. Yang penting adalah menyadari bahwa dirinya telah bertindak keliru. Kesadaran ini akan mendatangkan perubahan, bukan hanya penyesalan kosong belaka!"
"Maaf, akan tetapi kau.... kau sungguh tidak tahu siapa aku?"
"Siapa bilang aku tidak tahu siapa engkau, Tek Hoat? Aku malah mengetahui lebih banyak tentang dirimu daripada engkau sendiri! Dulu ketika engkau hendak meninggalkan aku di istana Perdana Menteri Su, aku tidak sempat lagi menceritakan hal ini. Sesungguhnyalah, aku lebih tahu daripada engkau sendiri tentang dirimu."
Tek Hoat memandang terbelalak heran.
"Apa yang kau maksudkan, Dewi?"
Hati Syanti Dewi terharu.
Pemuda itu kini menyebutnya Dewi dan satu-satunya orang yang menyebutnya demikian hanyalah Gak Bun Beng.
Ada persamaan baginya antara pemuda ini dengan Gak Bun Beng!
"Maksudku, aku telah bertemu dengan ibumu yang bernama Ang Siok Bi!
Dan aku telah mendengar ibumu bicara dengan Bibi Puteri Milana sehingga terbukalah rahasia yang agaknya belum kau ketahui sendiri tentang dirimu."
Tentu saja Tek Hoat terkejut bukan main dan bagaikan diserang ular dia bangkit duduk, tidak peduli akan tubuhnya yang lemas sehingga hampir dia terguling.
"Kau berjumpa dengan ibuku? Di mana? Kapan? Dan apa yang dibicarakannya dengan Puteri Milana?"
Syanti Dewi tersenyum.
Dia melihat gairah dan kerinduan membayang di mata pemuda itu ketika menyebut ibunya dan giranglah hatinya menyaksikan ini karena dia tahu bahwa pemuda ini mencinta ibunya.
"Sebelum aku menceritakan semua itu, aku ingin tahu lebih dulu apakah engkau mengenal nama Gak Bun Beng?"
Tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi muram.
"Tentu saja! Sampai mati pun aku tidak akan melupakan nama itu!"
"Dan engkau tadinya mengira dia sudah mati, bukan?"
"Benar, akan tetapi aku girang bahwa dari Puteri Milana aku mendengar bahwa dia masih hidup. Aku harus dapat mencarinya dan bertemu muka dengan dia!"
Kata-kata ini dikeluarkan dengan nada ke-ras.
"Aku tahu, engkau masih menganggap dia musuh besarmu. Untung terbuka rahasia itu sehingga aku mengetahui, karena kalau tidak, dan engkau masih terus menganggap dia musuh besarmu.... hal itu.... akan amat mendukakan hatiku, Tek Hoat. Ketahuilah bahwa dia itu sesungguhnya bukanlah musuh besarmu, bahwa Gak Bun Beng adalah semulia-mulianya manusia, seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang patut dihormati dan dikagumi...."
"Dewi! Apa maksudmu?"
"Dengarlah baik-baik apa yang kudengar dari pembicaraan antara ibumu dan Bibi Milana. Sebelum bertemu dengan Bibi Milana, Ibumu sendiri, Bibi Ang Siok Bi itu, juga menganggap Gak Bun Beng sebagai musuh besarnya yang sudah mati. Akan tetapi ternyata Gak Bun Beng belum mati, bahkan sama sekali bukan musuh besarnya. Katakanlah dulu, Tek Hoat, apa yang diceritakan oleh ibumu tentang ayahmu dan tentang Gak Bun Beng?"
"Ibu menyatakan bahwa ayahku bernama Ang Thian Pa dan bahwa ayahku itu dibunuh oleh penjahat Gak Bun Beng yang juga telah berhasil dibunuh oleh Ibu. Dan ternyata sekarang bahwa Gak Bun Beng masih hidup...."
"Dia sama sekali bukan penjahat, melainkan seorang pendekar besar berhati mulia! Ibumu dahulu salah duga, Tek Hoat, dan beginilah menurut percakapan antara ibumu dan Puteri Milana. Dahulu di waktu masih gadis, ibumu telah diperkosa oleh seorang penjahat muda yang dilakukan dalam gelap dan penjahat muda itu mengaku bernama Gak Bun Beng karena Gak Bun Beng adalah musuh besarnya.... eh, kenapa kau?"
Syanti Dewi terkejut melihat pemuda itu memegangi kepalanya.
"Tidak, tidak apa-apa, teruskan!"
Tek Hoat berkata.
Kepalanya seperti dihantam palu godam mende-ngar permulaan cerita itu, karena dia seolah-olah diejek dan disindir, teringat akan perbuatannya sendiri yang melakukan segala kejahatan menggunakan nama Gak Bun Beng pula!
"Nah, tentu saja ibumu menganggap Gak Bun Beng sebagai musuh besarnya dan pada suatu hari, bersama wanita-wanita lain yang menjadi korban pemuda jahat yang menyamar sebagai Gak Bun Beng, ibumu dan beberapa orang wanita berhasil mengeroyok Gak Bun Beng sampai pendekar itu terjerumus ke dalam jurang yang dalam dan disangka mati.
Ibumu lalu pergi dan tak pernah muncul kembali sehingga dia tidak tahu bahwa Gak Bun Beng belum tewas.
Di antara para pengeroyok itu terdapat Bibi Milana.
Bibi Milana akhirnya tahu bahwa Gak Bun Beng tidak berdosa, dan penjahat yang sesungguhnya, telah tewas menebus dosanya.
Akan tetapi ibumu agaknya tidak atau belum tahu sehingga ketika melahirkan engkau, dia hendak menanam bibit kebencian di hatimu terhadap Gak Bun Beng yang disangka pemerkosanya."
Dengan wajah pucat sekali Tek Hoat memandang Syanti Dewi.
Andaikata bukan puteri itu yang bercerita seperti ini, bukan wanita yang dipujanya, dicintanya dan tentu saja dipercayanya, tentu dia akan marah dan akan membunuh yang bercerita itu.
"Dewi.... Dewi.... demi Tuhan....! Benarkah itu....?"
"Aku mendengar sendiri, dan perlu apa aku membohongimu?"
"Lalu.... lalu bagaimana....? Lalu siapa orang itu? Siapa.... pemerkosa Ibu dan.... ayahku itu....?"
"Dia bernama Wan Keng In, putera tiri dari Pendekar Super Sakti sendiri. Jadi engkau masih cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan engkau bukan she Ang, karena itu she Ibumu melainkan she Wan."
"Dan.... dan Ang Thian Pa.... ah, bisa jadi dialah kakekku.... bekas ketua Bu-tong-pai.... ahh, Ibuuu...!"
Tek Hoat menjerit lalu terguling dan pingsan.
Tentu saja Syanti Dewi menjadi sibuk sekali, mengguncang-guncang tubuh pemuda itu dan memanggil-manggil.
Panglima Jayin dan anak buahnya, juga pasukan yang baru tiba dan berhasil menyelamatkan mereka, dibantu pula oleh See-thian Hoat-su dan Teng Siang In, setelah Tambolon dan anak buahnya melarikan diri, bingung karena Puteri Syanti Dewi dan Tek Hoat tidak berada di dalam kereta!
"Celaka, kita kena diperdaya musuh!"
Jayin berseru dan dia lalu menyebar orang-orangnya untuk mencari ke sana-sini.
"Hemmm, nenek gila itu sungguh keterlaluan. Tidak salah lagi, tentu mereka telah berhasil menawan Sang Puteri dan pemuda itu. Pemuda itu terluka hebat, tentu tidak mampu melawan. Awas kau, Durganini, sekali ini aku tidak akan mengampunimu kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sang Puteri!"
See-thian Hoat-su membanting-banting kakinya.
"Suhu, kenapa tidak tadi-tadi kau merobohkan nenek itu dan baru sekarang mengancam setelah dia pergi dan berhasil menculik Sang Puteri?"
Muridnya menegur dan kakek itu hanya menunduk dan menarik napas panjang.
Harus diakuinya bahwa dia lemah terhadap bekas isterinya itu sehingga kini mengakibatkan malapetaka.
"Betapapun juga, kita harus berusaha mencari dan mengejar mereka,"
Panglima Jayin yang merasa khawatir sekali akan keselamatan puteri junjungannya berkata. Tiba-tiba terdengar Siang In berseru nyaring.
"Heiii....! Kiranya kau laki-laki genit juga berada di sini....!"
Semua orang menengok dan ternyata yang muncul adalah Suma Kian Bu!
Seperti telah kita ketahui, baik Kakek See-thian Hoat-su maupun Panglima Jayin dan empat orang pembantunya pernah berkenalan dengan Kian Bu, bahkan sama-sama menjadi tawanan Tambolon, kemudian sama-sama melarikan diri di atas rakit dan melawan anak buah Tambolon.
Tentu saja kemunculan pemuda perkasa ini menrgirangkan semua orang.
Akan tetapi Siang In yang girang sekali bertemu kembali dengan pemuda ini, tidak memberi kesempatan kepada orang-orang lain untuk menyambut Kian Bu.
Dia sudah lari menghampiri Kian Bu dengan kegembiraan meluap dan tak terbendung lagi dia memegang lengan tangan Kian Bu sambil bicara dengan asyik, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Kian Bu untuk bernapas lagi!
Siang In teringat akan pertemuan-nya yang pertama dengan Kian Bu, maka sambil tertawa cekikian menutupi mulutnya dia mencerita-kan dengan suara nereces tiada hentinya tentang pengalamannya, betapa dia menjadi murid See-thian Hoat-su dan lain sebagainya.
"Kau ingat pertemuan kita dahulu? Wah, aku sudah kangen sekali kepada Pek-liong, kudaku yang hebat itu. Kau menyebutnya keledai, ya? Salah! Dia itu kuda, kuda peranakan keledai, jadi masih kuda juga namanya! Dan aku sekarang sudah lebih pandai meniru gayamu dahulu itu! Hayo kita ke sana, kuperlihatkan kepadamu!"
Siang In menowel dagu Kian Bu begitu saja di depan banyak orang lalu menarik tangan Kian Bu pergi dari situ.
Semua orang tersenyum-senyum dan See-thian Hoat-su tertawa bergelak melihat kepolosan sikap dara remaja yang masih kekanak-kanakan itu.
Wajah Kian Bu menjadi merah sekali.
Pemuda ini menyeringai dan serba salah, akan tetapi kalau dia berkeras menolak, dia merasa tidak tega.
Dara itu begitu polos, begitu jenaka dan kekanak-kanakan sehingga di balik semua lagaknya itu tidak tersembunyi maksud-maksud tertentu, melainkan wajar terbawa oleh kegembiraannya.
Maka dia pun membiarkan dirinya ditarik menjauhi semua orang sehingga tidak tampak lagi oleh mereka.
"Nah, kau lihat. Bukankah begini lagak wanita genit memikat itu?"
Siang In mulai beraksi, mengitari tubuh Kian Bu, berlagak, mengerling, tersenyum simpul, manisnya bukan main, melebihi orang yang ditirunya sendiri, yaitu Mauw Siauw Mo-li.
Dia menowel, menyodok, mencubit dengan wajah menengadah, begitu menantang, begitu menggoda agar Kian Bu memuji kepandaiannya.
Akan tetapi, dara itu sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya sekarang ini bukanlah Kian Bu yang dahulu lagi!
Bukan Kian Bu yang masih hijau dan kekanak-kanakan pula.
Kian Bu yang sekarang adalah seorang laki-laki bukan kanak-kanak lagi, sudah digembleng dalam buaian asmara dan permainan cinta oleh Lauw Hong Kui si Siluman Kucing, sudah diperkenalkan dengan madunya asmara yang memabokkan, sudah pernah menghamba kepada nafsu berahi.
Kini, melihat bibir yang manis, merah merekah itu setengah terbuka menantang sekali, tersenyum simpul melihatkan sedikit gigi putih dan ujung lidah, melihat cuping hidung mancung itu agak kembang-kempis dan mata itu menyambar-nyambar dengan kerlingan memikat, dada yang mulai membusung itu mengalun naik turun, pinggang yang ramping berliuk dan pinggulnya bergerak-gerak memutar ke kanan kiri, dua kuncir rambut yang hitam panjang itu menari-nari di belakang pinggulnya saking panjangnya, jantung Kian Bu sudah berdebar seperti mau pecah.
"Kau.... menggemaskan....!"
Dia berbisik dan ketika dara itu dengan sikap manja dibuat-buat seperti hendak merangkul leher dengan kedua lengan, menyentuh pundaknya, dia segera menyergap, merangkul dan mencium mulut itu dengan bibirnya, dikecupnya dengan penuh kemesraan dan penuh semangat, sampai lama tidak dilepaskannya.
Siang In gelagapan seperti seekor anak ayam jatuh ke air, tak dapat bernapas dan meronta-ronta, dari kerongkongannya keluar suara ah-ah-uh-uh karena mulutnya tersumbat, kedua kakinya menyepak-nyepak seperti seekor kuda marah.
Setelah akhirnya Kian Bu melepaskannya, dia memandang pemuda itu dengan sepasang mata yang terbelalak lebar, seperti mata seekor kelinci ketakutan, kemudian tangan kanannya menyambar ke depan.
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali pipi kiri Kian Bu ditamparnya sampai ada tapak tangan merah di atas pipi itu.
"Kau.... kau.... jahat! Kau menjijikkan....!"
Gadis itu lalu menangis dan membalikkan tubuh lagi sambil meludah cah-cih-cuh ke kanan kiri!
Tentu saja semua orang terkejut dan terheran-heran melihat dara itu berlari keluar dari gerombolan pohon sambil menangis, kemudian menubruk dan merangkul gurunya sambil menangis tersedu-sedu.
"Eh, ada apa? Apa yang terjadi?"
See-thian Hoat-su bertanya, akan tetapi gadis itu hanya membanting-banting kedua kakinya tanpa mau memberi tahu dan terus menangis.
"Kenapa, Siang In? Dan di mana Suma Kongcu?"
Tanya pula gurunya, akan tetapi gadis cilik itu hanya menggeleng-geleng kepala dengan keras dan masih menangis, menyembunyikan mukanya di baju suhunya.
Jayin mengejar ke tempat dari mana gadis itu tadi lari keluar, akan tetapi dia tidak melihat Kian Bu lagi.
Kemudian dia memperoleh keterangan dari seorang anak buahnya bahwa pemuda itu setelah mendengar keterangan darinya tentang semua peristiwa yang baru terjadi, bahwa mungkin Syanti Dewi dan Tek Hoat dilarikan oleh Tambolon dan anak buahnya karena Tek Hoat dalam keadaan terluka hebat, lalu pergi dan mengatakan hendak mengejar dan mencari mereka!
Jayin lalu kembali dan menceritakan hal ini kepada See-thian Hoat-su.
Setelah Siang In mendengar bahwa Kian Bu telah pergi, barulah dia menghentikan tangisnya dan dia lalu duduk termenung-menung menunjang dagunya, dengan mulut cemberut dan bersungut-sungut, kadang-kadang menelan ludah.
Sementara itu, Kian Bu cepat lari dari tempat itu.
Dia merasa malu dan menyesal sekali mengapa dia sampai lupa diri dan berbuat seperti itu terhadap seorang dara remaja seperti Siang In!
Dia merasa serba salah, maka dia pergi dari situ, bertemu dengan seorang pembantu Jayin dan menanyakan urusan.
Ketika mendengar bahwa Syanti Dewi terculik musuh, dia terkejut dan khawatir sekali.
Betapapun juga, cintanya terhadap Puteri Bhutan itu masih melekat di kalbunya, bahkan luka oleh penolakan puteri itu masih belum sembuh.
Diam-diam dia harus mengakui bahwa luka itulah yang membuat dia mudah tergoda oleh Lauw Hong Kui.
Andaikata cinta kasihnya diterima dan dibalas oleh Syanti Dewi, jangankan baru Hong Kui, biar ada tujuh bidadari turun dari kahyangan untuk menggodanya, tentu dia tidak akan runtuh!
Dan godaan Hong Kui sebagai akibat patah hatinya terhadap Syanti Dewi itu mendatangkan akibat yang hebat, membuat dia lemah menghadapi wanita sehingga di depan Siang In tadipun dia tidak dapat menahan diri!
Kini, Syanti Dewi yang dicintanya diculik orang!
Dia lalu menyusup-nyusup ke dalam hutan yang lebat itu karena dia menduga bahwa agaknya menghadapi pasukan besar Bhutan, Tambolon tentu membawa lari puteri itu dan bersembunyi di dalam hutan lebat ini.
Hutan itu makin lebat dan makin gelap saja.
Malam itu terpaksa Kian Bu bermalam di atas pohon besar.
Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi baru dia terbangun.
Tubuhnya terlalu lelah sehingga tidur di atas pohon itu amat nikmat, membuat dia pulas sampai hampir siang baru terbangun oleh suara yang terdengar di bawah pohon.
Ketika dia memandang ke bawah, dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat Tambolon dan nenek hitam yang lihai itu berjalan perlahan dan menengok ke kanan kiri.
"Tidak salahkah kau, Tambolon?"
Terdengar nenek itu mengomel.
"Awas, akan kujewer telingamu kalau puteri itu tidak berada di sini."
"Tidak mungkin salah, Subo. Di dalam keributan, puteri itu menghilang. Ka mana lagi kalau tidak ke hutan lebat ini, dan tadi kita menemukan jejak mereka dan sedikit darah. Agaknya puteri itu lari bersama Tek Hoat yang sudah terluka."
"Heh, pemuda itu memang hebat!"
"Tapi sudah terluka parah, Subo. Terkena guratan kuku Subo dua kali, mana bisa dia bertahan hidup? Dan masih terkena pukulan dan tendangan. Andaikata dia belum mampus pun, tentu tidak akan mampu melawan lagi."
Mereka melanjutkan perjalanan, menyusup-nyusup dan perlahan-lahan sambil memandang ke kanan kiri.
Dua orang itu tidak tahu betapa diam-diam Kian Bu membayangi mereka dari jauh, dengan hati-hati sekali.
Kian Bu berani bergerak kalau kedua orang itu bergerak sehingga suara keresekan kaki mereka menginjak daun-daun kering menyembunyikan suara berisik dari kakinya sendiri.
Kalau mereka berhenti, dia pun cepat berhenti.
Tiba-tiba nenek itu berhenti dengan mendadak.
"Aku mendengar suara orang!"
Bisiknya. Tambolon terkejut, memasang telinga, akan tetapi tidak mendengar apa-apa.
"Tidak ada suara, Subo."
"Tolol! Tadi aku mendengar, suaranya dari belakang."
Tambolon membalik dan memandang ke belakang.
Sunyi saja.
Diam-diam dia mengomeli subonya yang dianggapnya sudah pikun.
Mana mungkin ada orang di belakang?
Kalau ada tentu sudah mereka lewati dan mereka lihat tadi.
"Tidak ada siapa-siapa, Subo. Mari kita lanjutkan. Aku dapat menduga ke mana mereka pergi."
"Ke mana?"
"Aku sudah mengenal betul hutan ini. Satu-satunya sumber air di hutan ini adalah di depan, di bawah pohon pek yang besar. Dan kalau Tek Hoat terluka parah, tentu mereka membutuhkan air. Agaknya ke sanalah mereka."
"Benarkah? Jangan salah, Tambolon, aku sudah gelisah, duri-duri ini tidak enak sekali mencakar-cakar kaki!"
Nenek itu mengomel lagi.
Diam-diam Kian Bu makin berhati-hati.
Nenek ini boleh jadi sudah pikun, akan tetapi ternyata masih memiliki kepekaan seorang ahli silat tinggi yang biarpun tidak mendengar dengan telinganya, mampu menangkap dengan kepekaannya.
Kembali dia mengikuti sampai agak jauh, makin lama makin mendalam di hutan yang amat lebat.
"Ssssttt....!"
Tiba-tiba Tambolon mengeluarkan suara desis ini.
Mereka berdua mendekam dan Tambolon menuding ke depan.
Dari jauh Kian Bu melihat hal ini, maka dia cepat mendaki pohon besar, tidak berani meloncat, khawatir kalau-kalau melanggar daun kering.
Dia mendaki tanpa mengeluarkan suara dan dari atas dia melihat ke arah yang ditunjuk oleh Tambolon.
Jantungnya berdebar tegang.
Tak salah lagi, wanita cantik jelita yang menuruni jalan menurun ke arah sumber air itu, yang pakaiannya kusut dan rambutnya awut-awutan namun masih tampak luar biasa cantiknya, adalah Syanti Dewi yang dicari-carinya.
Dara bangsawan itu menuruni jalan berbatu yang licin sambil membawa sebuah periuk air butut dari tanah, sama sekali tidak tahu bahwa ada bahaya mengancam di belakangnya.
Tentu saja Tambolon menjadi girang sekali melihat Puteri Bhutan ini.
Puteri ini merupakan orang yang sangat berharga baginya, karena kalau puteri ini berada di tangannya, seolah-olah dia memegang kekuasaan atas Raja Bhutan di dalam tangannya.
Maka dia lalu berjalan berindap-indap menuruni jalan itu, lupa kepada gurunya yang ditinggalkan begitu saja dan Nenek Durganini yang pikun itu telah mulai melenggut dan mengantuk di tempatnya karena dia memang sudah lelah sekali.
Bagaikan seekor harimau yang mengintai dan mendekati calon mangsanya, Tambolon berjingkat-jingkat mendekati, kemudian mengambil ancang-ancang dan diterkamnyalah Puteri Syanti Dewi yang sedang mengambil air dengan periuk butut itu.
"Bresss....!"
"Aihhhh....!"
Yang menjerit itu adalah Syanti Dewi ketika tiba-tiba dia mendengar gerakan orang dan ketika menoleh dia melihat Tambolon menubruknya.
Akan tetapi pada saat itu dari samping juga meloncat seorang pemuda yang bukan lain adalah Suma Kian Bu sehingga bertemulah pemuda ini dengan Tambolon di tengah udara.
Tubuh Tambolon terbanting ke samping dan raja liar ini terkejut bukan main ketika melihat bahwa yang menghalangihya adalah pemuda tampan yang sudah diketahuinya amat lihai itu.
"Keparat, berani engkau menghalangiku?"
Bentaknya.
"Tambolon, manusia kejam! Sekali ini aku akan membunuhmu!"
Bentak Suma Kian Bu.
"Bu-koko....!"
Syanti Dewi berseru girang ketika dia mengenal pemuda itu, akan tetapi dia khawatir sekali.
Cepat diraihnya periuk yang sudah terisi air itu dan dia men-jauhkan diri dari mereka yang sudah saling serang dengan dahsyatnya itu.
"Syanti Dewi, kau larilah cepat....!"
Kian Bu berseru sambil mengelak ketika pedang Tambolon menyambarnya, dan secepat kilat dia menghantam dengan pengerahan Swat-im Sin-kang yang amat dingin.
Tambolon terkejut, tidak berani menerima pukulan yang dahsyat dan berhawa dingin itu, mengelak sambil menyabetkan pedangnya dari samping, juga menggerakkan tangan kirinya mencengkeram.
Namun kembali Kian Bu dapat mengelak dengan mudah karena baginya, semua gerakan Tambolon masih terlampau lambat.
Dengan marah pemuda itu terus mainkan ilmu silat tangan kosong yang amat tinggi mutunya.
Sebagai putera tersayang dari Puteri Nirahai, tentu saja dia banyak mewarisi ilmu-ilmu silat tangan kosong yang banyak dikenal ibunya.
Sebentar dia mainkan Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti), lalu dirubah dengan jurus-jurus dari Pat-mo-kun (Silat Delapan Iblis) yang telah digabung dengan Pat-sian-kun (Silat Delapan Dewa).
Dengan ilmu-ilmu silat tinggi yang diubah-ubah ini, biarpun dia memegang pedang, Tambolon yang kasar itu menjadi bingung dan beberapa kali dia kena ditendang dan digampar, dan hanya mengandalkan tubuhnya yang kekar dan kebal itu saja maka dia masih belum roboh.
Akan tetapi beberapa kali tamparan tangan Kian Bu yang mengandung Swat-im Sin-kang membuat dia menggigil dan jerihlah raja liar ini.
"Subo, tolong....! Subo....!"
Akan tetapi nenek itu tidur mendengkur dengan mulut terbuka, giginya ompong semua sehingga ilernya tidak ada yang menahan lagi, mengalir turun melalui ujung bibirnya.
"Suboooo....!"
Tambolon berteriak.
"Desss....!"
Tubuhnya terpental dan terguling-guling terkena tendangan Kian Bu dan raja liar ini terus sengaja menggulingkan dirinya ke dekat subonya, tidak peduli pakaiannya menjadi kotor semua.
"Subo.... Subo.... bangun, bangun...., tolonglah aku!"
Kini dia mengguncang-guncang tubuh subonya.
"Aaaahhhh, plak-plak! Aduh....!"
Memang sedang sialan Tambolon sekali ini.
Karena terkejut dibangunkan secara keras, Nenek Durganini terbangun dalam keadaan bingung dan tanpa memilih bulu lagi kedua tangannya menampar sehingga kedua pipi Tambolon kena ditampar sampai bengkak-bengkak!
"Subo, ini aku....!
Itu di sana musuhku....!"
Tambolon berteriak sambil memegangi mukanya yang bengkak dan terasa nyeri bukan main. Hampir copot giginya oleh tamparan nenek itu.
"Apa....? Heeii...., kau kah itu? Siapa? Mana....?"
Nenek itu masih bingung karena semangatnya masih tertinggal di luar setengahnya.
"Itu dia musuh kita, Subo. Bunuhlah dia!"
Tambolon menuding.
Kini Nenek Durganini dapat melihat Kian Bu.
Timbullah kemarahannya karena dia merasa terganggu tidurnya yang amat menyenangkan tadi, terbongkok-bongkok menghampiri Kian Bu.
"Keparat, kau berani mengganggu tidurku, ya? Kau sudah bosan hidup barangkali?"
Nenek itu menggerakkan tongkatnya.
"Wirrr.... siuuut....!"
Tongkat itu menghantam ke arah kepala Kian Bu.
Pemuda ini sudah mengerti bahwa nenek ini amat lihai dan pandai ilmu sihir, maka dia cepat menangkis dengan lengannya sambil mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kiang.
"Plakkk!"
"Aihhh.... dingin.... dingin bukan main....!"
Nenek itu menggigil, kemudian dia berkemak-kemik dan melontarkan tongkatnya.
"Coba kau lawan ini, orang muda yang banyak tingkah!"
Kian Bu sudah tahu bahwa nenek ini adalah seorang ahli sihir, maka dia sudah mengerahkan sin-kangnya.
Ayahnya sendiri adalah seorang yang terkenal dengan julukan Pendekar Siluman, memiliki kekuatan gaib, akan tetapi kekuatan gaib ayahnya itu bukanlah ilmu yang dapat diturunkan kepada orang lain, melainkan kekuatan pembawaan yang tidak dapat diajarkan.
Namun, sebagai seorang putera pendekar sakti, tentu saja dia tahu bahwa dengan pengerahan sin-kang dia dapat melawan pengaruh sihir.
Dia sudah mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi ternyata dia masih kalah kuat dan terpengaruh juga.
Tongkat yang dilontarkan itu tiba-tiba berubah menjadi seekor naga hitam yang mulutnya mengeluarkan api dan matanya mencorong menakutkan.
Kalau orang lain, tentu sudah lemas dan tidak berani melawan.
Akan tetapi Kian Bu, biarpun kalah kuat dan matanya masih melihat tongkat sebagai naga, sama sekali tidak menjadi gentar dan dia menyambut terkaman naga itu dengan hantaman kedua tangannya yang mengandung tenaga Hwi-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) di tangan kanan dan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) di tangan kiri.
"Blarrr.... darrrr....!"
Bukan main hebatnya gabungan dua tenaga ini yang merupakan inti dari ilmu orang-orang Pulau Es.
Biarpun naga itu hanyalah jadi-jadian dan hasil ilmu sihir dari Nenek Durganini, namun karena nenek itu tidak kuat menghadapi penggabungan tenaga sakti itu, naga itu lenyap dan ternyata tongkat hitam itu telah terbanting ke atas tanah dalam keadaan patah-patah!
"Aihhhh....!"
Nenek itu menjerit dengan suara tinggi sekali sehingga terdengar amat tajam seperti mengiris jantung.
"Bocah lancang...., lihat ini....!"
Kian Bu yang menjadi besar hati karena melihat pukulannya memusnahkan ilmu sihir tadi, memandang dan inilah kesalahannya.
Dia disuruh memandang dan dia memandang, maka seketika dia terkejut sekali karena melihat nenek itu seperti bukan lagi Nenek Durganini, melainkan Puteri Nirahai, ibunya sendiri!
"Ibu....!"
Dia berteriak, meng-gosok-gosok matanya.
"Hi-hik, aku memang ibumu. Ke sinilah, Nak....!"
Kian Bu lari menghampiri.
"Desss....!"
Pemuda itu terpelanting dan kepalanya terasa pening ketika dia menerima hantaman tangan kurus yang bertenaga mujijat itu.
Untung dia tadi dalam kagetnya karena "ibunya"
Memukul, masih sempat miringkan kepalanya sehingga yang terkena hanya tengkuknya, bukan kepalanya.
Kian Bu kaget dan bingung.
Mengapa ibunya memukulnya sedemikian rupa?
Dia memandang dan masih saja ibunya yang berdiri di situ.
"Ibu....!"
"Hayo berlutut kau!"
Ibunya berkata dan Kian Bu berlutut.
"Subo, pergunakan pedangku!"
Tambolon berteriak dan melemparkan pedangnya, diterima oleh Nenek Durganini yang oleh Kian Bu masih kelihatan sebagai ibunya itu.
Pemuda ini bingung.
Mengapa Tambolon menyebut ibunya subo?
Pada saat itu, tiba-tiba turun hujan dari atas langit.
Memang sejak tadi cuaca sudah mendung dan beberapa air hujan pertama menimpa kepala Kian Bu.
"Cessss....!"
Dingin sekali rasanya air hujan itu menimpa kepalanya dan mata Kian Bu terbelalak. Kiranya yang disangka "ibunya"
Itu adalah Nenek Durganini yang buruk dan yang kini sudah meng-angkat pedang hendak membacok kepalanya.
Otomatis Kian Bu mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang dan sambil melompat dia mengirim pukulan.
"Blarrr....!"
Pedang di tangan nenek itu terpental dan nenek itu sendiri terhuyung ke belakang.
Kian Bu meloncat ke belakang dan siap menghadapi dua orang lawannya itu.
Sementara itu, hujan turun dengan derasnya.
Dan tiba-tiba nenek itu menangis.
"Aduhh.... hu-hu-hu.... celaka.... Tambolon.... Tambolon....! Mana payung? Mana payung? Wah, aku bisa masuk angin kehujanan.... huuuuhhh, bisa kumat penyakit tulangku.... hu-huuhhh...."
Terseok-seok nenek itu lari mencari tempat untuk meneduh, di bawah sebatang pohon besar!
Suma Kian Bu tidak memperhatikan guru dan murid itu lagi.
Dia mencari-cari dengan pandang matanya, kemudian dia lari mengejar ke arah larinya Syanti Dewi dengan hati penuh kekhawatiran terhadap dara bangsawan itu.
Hujan masih turun dengan derasnya dan akhirnya dia melihat sebuah kuil bobrok di tengah-tengah hutan.
Cepat dia menghampiri kuil rusak itu dan berindap-indap masuk, lalu dia cepat menyelinap dan bersembunyi di balik pilar.
Apa yang dilihatnya?
Di sana, di sebelah dalam kuil tua itu, dilihatnya Tek Hoat rebah terlentang, agaknya menderita sakit.
Pundak dan lehernya dibalut, dan Syanti Dewi dengan sikap mesra dan penuh kasih sayang sedang memberi minum kepada pemuda itu!
"Dewi....
ah, kau bilang Tambolon dan Durganini....?
Ah....
aku harus melawan mereka....
aku harus melindungimu...."
Terdengar Tek Hoat berkata dan pemuda itu hendak bangkit. Akan tetapi Syanti Dewi memegang pundaknya.
"Jangan, Tek Hoat, engkau baru saja sembuh, tenagamu belum pulih, mana mungkin engkau melawan mereka? Sama dengan membunuh diri. Biarlah, kita bersembunyi di sini. Kalau Thian menghendaki, mereka tentu tidak akan mampu menemukan kita. Kalau memang dikehendaki bahwa kita akan mati di tangan mereka, biarlah kita mati bersama...."
Penglihatan dan pendengarannya di waktu itu seperti ujung pedang tajam meruncing menusuk-nusuk jantungnya.
Kian Bu menjadi makin patah hati.
Kiranya Syanti Dewi menolak cintanya karena puteri itu mencinta Tek Hoat!
Dia lalu keluar lagi dan lari ke tempat tadi.
Tidak!
Syanti Dewi tidak akan dapat diketemukan mereka!
Tidak seorang pun di dunia ini boleh mengganggu kebahagiaan puteri itu.
Dilihatnya nenek itu masih mengeluh panjang pendek kehujanan di bawah pohon dan Tambolon sedang duduk bersila mengumpulkan tenaga dan luka-lukanya akibat pertandingan berturut-turut melawan orang-orang muda yang perkasa, yaitu melawan Tek Hoat kemudian menghadapi Kian Bu tadi.
"Iblis keji, kalian harus mampus!"
Kian Bu berteriak seperti orang gila karena dia dilanda kekecewaan, patah hati yang membuat dia marah bukan main, apalagi dianggapnya dua orang ini mengancam keselamatan Syanti Dewi.
Dengan terjangan kilat dia membuat Nenek Durganini dan Tambolon yang tidak menduga-duga itu terlempar ke belakang dan terguling-guling.
Melihat kedahsyatan pemuda ini, Tambolon dan Nenek Durganini menjadi jerih dan mereka lalu melarikan diri tunggang langgang.
Tadinya Tambolon hendak melawan, mengandalkan gurunya.
Akan tetapi nenek itu sudah habis semangatnya bertempur tertimpa hujan basah kuyup, seperti batang kering tertimpa hujan, menjadi lemas dan dia hanya mengomel panjang pendek sambil melarikan diri pontang-panting bersama muridnya, meninggalkan hutan itu jauh-jauh sambil berteriak-teriak memanggil anak buah mereka.
Kian Bu tidak mengejar.
Sejenak pemuda yang patah hati ini berdiri tegak seperti patung, tidak peduli akan turunnya hujan deras yang menyiram tubuhnya.
Lalu dengan langkah gontai dia bergerak, tersaruk-saruk dan pergi tanpa tujuan tertentu.
Hanya satu hal yang terasa di dalam dadanya, hatinya tertekan hebat.
Tidak dipedulikan pula kulit-kulitnya lecet akibat pertempuran dan akibat duri-duri runcing merobek celana di pahanya, pahanya berdarah.
Dibiarkannya saja darah bercampur air hujan, seolah-olah darah itu mengucur dari dalam hatinya.
Semangatnya melayang-layang dan dia merasa kesedihan yang luar biasa menguasai hatinya, membuat dua butir air matanya keluar dan bercampur dengan air hujan mengalir terus ke dagunya.
Kilat menyambar-nyambar dan hujan yang turun deras itu menimbulkan suara aneh, seperti bisikan, seperti nyanyian, mungkin terdengar riang gembira bagi yang sedang bersuka, namun bagi Kian Bu terdengar amat menyedihkan.
Bukanlah cinta kasih kalau menimbulkan duka dan kecewa.
Bukanlah cinta kasih kalau merupakan pengejaran nikmat dan suka.
Bukan cinta kasih kalau mengandung dendam dan benci, marah, iri dan dengki.
Hati yang patah bukanlah karena cinta, melainkan karena tidak tercapai apa yang diinginkannya, karena kecewa, karena itu bukanlah cinta namanya yang menimbulkan hati yang patah dan luka.
Lalu apakah cinta kasih itu?
Kalau kesemuanya itu tidak ada di dalam batin, kalau kita bebas dari semua itu, bersih dari semua itu, bukan dibebaskan atau dibersihkan, melainkan bebas karena kesemuanya itu sudah diinsyafi benar-benar, di dalam kebebasan itulah cinta kasih baru mungkin ada!
"Paman, kenapa engkau meninggalkan aku?"
Ceng Ceng menegur Topeng Setan ketika akhirnya dia dapat menyusul orang itu.
Topeng Setan diam saja, tidak menjawab, melainkan menarik napas panjang dan melangkah terus dengan lebar.
Karena kakinya panjang langkahnya pun lebar sehingga sibuklah Ceng Ceng harus mengimbangi kecepatannya.
Satu langkah dari kaki Topeng Setan berarti dua langkah dari Ceng Ceng, kadang-kadang malah tiga langkah karena langkahnya kecil-kecil.
"Paman, kenapakah? Apakah Paman marah kepadaku?"
Ceng Ceng bertanya lagi, kini dengan khawatir dia memegang lengan Topeng Setan.
Mereka sudah pergi jauh dan tiba di tempat sunyi.
Topeng Setan berhenti dan memandang Ceng Ceng, agaknya sukar untuk mengeluarkan kata-kata.
Kemudian dia menjawab.
"Bagaimana aku bisa marah kepadamu, Ceng Ceng? Tidak, aku hanya ingin meninggalkanmu, karena aku insyaf bahwa tempatmu di sanalah, bersama mereka itu. Engkau seorang gadis terhormat, seorang gadis perkasa, engkau tidak semestinya bersama dengan aku."
"Aih, Paman, mengapa? Bukankah selama ini kita bersama-sama? Kita bersusah-payah bersama, menghadapi maut bersama dan engkau.... engkau telah melakukan segala itu untukku? Mana mungkin aku dapat kau tinggalkan begitu saja. Tidak, ke mana pun engkau pergi, aku ikut, Paman. Aku tidak mau tinggal dengan siapapun juga."
"Eh, aku mendengar tadi kau.... kau hendak diambil mantu oleh jenderal tadi...."
"Jenderal Kao? Ah, dia itu orang yang jujur dan terbuka. Mungkin dia hanya berkelakar saja."
Tiba-tiba Topeng Setan memegang lengan gadis itu.
"Ceng Ceng, tahukah kau siapa putera sulung jenderal itu?"
"Entah, aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu! Apakah aku ini seekor anjing, kucing atau kuda saja mau dijodohkan secara demikian mudah dengan orang yang tak pernah kulihat? Tidak, aku tidak sudi, biarpun dia itu putera Jenderal Kao yang kuhormati dan kusayang itu. Dan aku tidak mau berpisah dari engkau, Paman."
"Ehh....? Aku tidak mempunyai tempat tinggal, aku orang miskin dan perantau yang sengsara, masa engkau seorang gadis muda akan menjadi seorang terlantar seperti aku?"
"Tidak! Mari kuajak kau ke barat, Paman. Kita ke Bhutan. Puteri Syanti Dewi juga sudah pulang ke Bhutan, dan aku adalah adik angkatnya. Setidaknya, di sana aku masih mempunyai rumah peninggalan kakekku. Marilah kita ke sana, Paman...."
"Dan bagaimana dengan.... dia....?"
"Dia siapa?"
"Musuh besarmu!"
"Ohhh...., dia? Kalau aku dapat bertemu dengan dia, kubunuh dia!"
"Kalau tidak bertemu?"
"Sudah saja, kuanggap dia sudah mampus."
"Ceng Ceng, engkau benar-benar tidak dapat menerima uluran cinta kasih dari Pangeran Yung Hwa?"
Ceng Ceng menggeleng kepala.
"Aku sudah tidak berharga lagi, dan sudah kuceritakan kepadamu, Paman. Aku mau hidup sendirian saja, ah, maksudku dengan Paman kalau Paman sudi menganggap aku sebagai anak sendiri."
"Hemmm...."
"Bagaimana, Paman? Sukakah Paman mengantar aku ke Bhutan?"
"Ke mana pun engkau pergi, aku akan mengantarmu, Ceng Ceng."
"Paman amat baik kepadaku, hanya karena aku mengingatkan Paman akan.... wanita itu? Apakah Paman tidak dapat melupakan dia?"
"Sampai mati pun aku tidak akan melupakan dia, Ceng Ceng."
"Kenapa Paman membunuhnya?"
Topeng Setan menunduk dan Ceng Ceng menyesal telah mengajukan pertanyaan itu.
"Maaf, Paman. Tak perlu dijawab pertanyaanku itu."
"Aku telah gila, aku telah mabok.... tidak sadar, akan tetapi penyesalan seumur hidup terasa, Ceng Ceng...."
Suara Topeng Setan gemetar dan Ceng Ceng ikut terharu.
"Marilah kita melanjutkan perjalanan. Dunia begini indah, mengapa kita harus mengenang yang sudah-susah?"
Di sepanjang perjalanan Ceng Ceng berusaha untuk bersikap gembira. Dia lalu menceritakan pengalaman ketika ditawan oleh Tambolon.
"Ketika itu, aku memiliki tenaga yang amat dahsyat, Paman. Entah mengapa, akan tetapi sekarang telah berkurang kedahsyatan tenaga itu. Betapapun, masih jauh lebih kuat daripada sebelum itu. Paman lihat!"
Ceng Ceng menghampiri sebongkah batu dan mengayun tangannya yang halus.
"Darrr....!"
Batu itu pecah berkeping-keping! Topeng Setan mengangguk-angguk.
"Itu adalah berkat khasiat anak ular naga, Ceng Ceng. Untung sekali, engkau kehilangan racun di seluruh tubuhmu yang kau dapat dari Ban-tok Mo-li dan sebagai gantinya engkau memperoleh kekuatan sin-kang yang dahsyat dari khasiat anak ular naga itu."
"Kau ajarkan aku ilmu silat agar aku kelak dapat membantumu kalau ada musuh kuat menentang kita, dan agar aku dapat melawan musuh besarku yang juga amat lihai itu, Paman."
"Baik, Ceng Ceng, perlahan-lahan akan kuajarkan segala ilmuku kepadamu."
Topeng Setan tidak mau menceritakan akan ilmu baru yang belum lama ini dikuasainya, yaitu tenaga Sin-liong-hok-te dan Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat.
Ketika pada suatu hari Ceng Ceng menyatakan keheranannya melihat sinar mata Topeng Setan yang kini berbeda dari biasanya, mencorong dan berapi, dia menjawab sederhana.
"Mungkin hanya penglihatanmu saja, Ceng Ceng, atau mungkin karena aku kehilangan lenganku."
Biarpun dia sedang menuju ke barat, akan tetapi Ceng Ceng tidak pernah menghentikan kebiasaannya mencari musuh besarnya dengan cara bertanya-tanya kepada para pemilik warung atau rumah penginapan, para pelayan yang diajaknya bercakap-cakap.
Mereka melakukan perjalanan seenaknya, bahkan kadang-kadang menyimpang untuk menikmati suatu tempat di pegunungan yang terkenal indah pemandangannya.
Pada suatu hari, selagi Ceng Ceng dan Topeng Setan duduk makan di warung makan, kembali Ceng Ceng menggunakan kesempatan ini untuk bertanya-tanya tentang seorang pemuda tinggi besar bernama Kok Cu, barangkali para pelayan dan pemilik warung itu ada yang pernah melihatnya.
Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang pernah melihatnya, dan pemilik warung yang melihat dara cantik jelita itu demikian ramah dan tidak pemalu, berani mengajak mereka bercakap-cakap dengan sikap manis, menjadi suka sekali dan dia lalu bercerita bahwa ada berita bahwa besok pagi rombongan pasukan Jenderal Kao akan lewat di dusun itu.
Ceng Ceng pura-pura tidak mengenal nama ini sungguhpun diam-diam dia menjadi girang pula.
"Siapakah jenderal itu dan mengapa pasukannya mau lewat di sini?"
Tanyanya, sedangkan Topeng Setan juga mendengarkan dengan penuh perhatian sungguhpun dia tidak ikut bicara.
"Saya sendiri pun tidak tahu jelas urusannya, hanya mendengar berita saja,"
Jawab pemilik warung itu.
Selanjutnya dia menceritakan tentang berita itu karena semua orang di dusun ini mengenal baik siapa adanya Jenderal Kao yang dahulu seringkali memimpin pasukan mengadakan pembersihan di daerah ini dan membasmi gerombolan-gerombolan jahat pengganggu rakyat.
Menurut berita itu, karena jasa-jasanya membasmi pemberontak, Jenderal Kao diangkat menjadi panglima perang.
Akan tetapi sebelum berkedudukan di kota raja sebagai panglima besar itu, Jenderal ini lebih dulu akan mentertibkan kembali pasukan-pasukan yang menjaga tapal batas, di samping memimpin sendiri pembersihan dan penumpasan sisa-sisa kaki tangan pemberontak yang melarikan diri ke pedalaman.
Selagi Ceng Ceng dan pemilik warung itu enak mengobrol didengarkan oleh Topeng Setan, tiba-tiba terdengar derap langkah orang dan dari luar warung itu masuklah seorang pemuda tampan yang bertubuh jangkung.
Melihat wajah pemuda ini, Ceng Ceng seketika menjadi pucat wajahnya dan dia bangkit berdiri.
Juga Topeng Setan yang melihat pemuda itu kelihatan kaget sekali.
Muka Ceng Ceng yang pucat seketika berubah merah sekarang, matanya terbelalak seperti mengeluarkan sinar bernyala penuh kebencian, tangan kanannya menekan dan mencengkeram ujung meja tanpa disadarinya.
Terdengar bunyi berkerotokan dan meja itu hancur.
"Ah-ehh-ehh....!"
Pemilik warung yang tadi bercakap-cakap dengan mereka dan oleh Ceng Ceng diundang duduk semeja, terguling dan jatuh tunggang-langgang ketika terdesak meja yang miring dan matanya terbelalak melihat mejanya itu remuk.
"Keparat....!"
Ceng Ceng mengeluarkan suara lirih seperti menggereng dan tubuhnya sudah melesat ke pintu bagaikan kilat.
Hati siapa tidak akan marah ketika dia melihat munculnya orang yang selama ini dicari-carinya?
Pemuda yang baru masuk itu bukan lain adalah si pemuda laknat, pemuda tinggi yang dulu telah memperkosanya!
Pemuda yang telah merusak hidupnya.
Biarpun pemuda itu kini agak kurus, tidak setegap dulu, akan tetapi dia tidak akan pangling melihat wajahnya!
Pada saat tubuh Ceng Ceng melesat ke pintu, sesosok bayangan lain juga meluncur lebih cepat lagi.
Ceng Ceng sudah menyerang ke arah pemuda itu, serangan yang amat dahsyat.
Akan tetapi tiba-tiba tangannya yang sudah terulur ke depan itu tiba-tiba menjadi lemas dan tubuhnya terbanting ke kiri seperti dilanda ombak yang menghantamnya dari samping kanan.
Hampir saja dia jatuh tunggang-langgang, akan tetapi bayangan yang amat cepat dan yang menyerangnya itu kini telah menyambarnya dan merangkulnya sehingga dia tidak terbanting jatuh.
Ceng Ceng marah bukan main, marah dan heran melihat bahwa yang menyerang dan kini merangkul-nya itu bukan lain adalah Topeng Setan sendiri!
"Eh, kau....?"
Keheranan lebih menguasai hatinya melihat kenyataan betapa orang yang paling dipercayanya, yang selama ini membantunya, bahkan pembantunya mencarikan musuh besarnya itu, kini malah menghalang-halanginya menyerang dan membunuh musuh besarnya itu!
"Tenanglah, tenang dan telitilah lebih dulu, Ceng Ceng,"
Bisik Topeng Setan.
"Lihatlah baik-baik, jangan sampai kau kesalahan membunuh orang lain!"
"Siapa bilang aku salah lihat? Dialah orang itu! Tak salah lagi, wajah itu sampai mati pun aku tidak akan lupa!"
"Hemm, nanti dulu. Aku pernah kau suruh melukis orang itu, katamu usianya sudah dewasa, kurang lebih dua puluh lima tahun. Akan tetapi pemuda itu.... hemm, masih remaja! Dan seingatku, kau bilang bibirnya agak tebal, tidak setipis bibir pemuda ini, lihatlah dulu yang benar...."
Ceng Ceng memandang lagi dengan penuh perhatian ke arah pemuda itu yang tadi menjadi kaget dan heran menyaksikan seorang wanita cantik ribut-ribut dengan seorang laki-laki yang mukanya buruk sekali.
Dan baru sekarang dia harus membenarkan pendapat Topeng Setan, karena memang bukan pemuda remaja inilah pemuda yang memperkosanya dahulu.
"Akan tetapi dia juga tinggi, dan wajahnya.... wajahnya...."
Ceng Ceng tiba-tiba terbelalak dan tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat seorang pemuda lain masuk pula, seorang pemuda tinggi kurus yang wajahnya juga mirip sekali dengan gambar dari musuh besarnya itu.
Pemuda ini melangkah tenang ke arah meja di mana sudah duduk pemuda pertama dan pemuda yang ke dua ini masuk bersama dengan seorang kakek rambut putih panjang terurai yang kakinya cuma satu, akan tetapi gerakannya gesit sekali seolah-olah kakinya tidak buntung sebelah.
"Itu.... dia...."
Ceng Ceng menjadi beringas memandang pemuda ke dua yang baru masuk.
Badannya gemetar, tangannya otomatis bergerak memukul.
Topeng Setan terkejut sekali.
Karena tidak disangka-sangkanya dan gerakan gadis itu cepat sekali, kini gadis ini benar-benar memiliki gerakan yang amat ringan dan cepat, dan pukulan yang diarahkan kepada pemuda itu dengan tangan terbuka amat dahsyatnya.
Sin-kang mujijat yang timbul dari khasiat anak ular naga itu memang ajaib sehingga ketika Ceng Ceng mengerahkan tenaga memukul, dari tangannya yang terbuka itu menyambar uap dan angin pukulannya mengeluarkan suara bersuitan!
"Hemmm....!"
Suara ini keluar dari mulut kakek rambut putih yang kakinya buntung sebelah.
Dia menengok ke arah Ceng Ceng, mengangkat tangan kiri ke atas dan....
bukan main anehnya, uap dan angin pukulan dahsyat dari tangan Ceng Ceng itu menyeleweng dan "tersedot"
Ke arah kakek ini dan seolah-olah amblas menghilang ke lubang lengan baju kakek itu!
Ceng Ceng menjerit kaget dan menarik kembali tangannya.
Semua orang yang menyaksikan hal ini terkejut, tak terkecuali Topeng Setan karena dia maklum bahwa kepandaian kakek buntung kakinya ini benar-benar amat hebatnya, sukar diukur tingginya.
Dan dia tahu pula bahwa kakek sakti ini bukan orang sembarangan, biarpun jelas bahwa Ceng Ceng melakukan serangan maut kepada pemuda yang datang bersamanya, kakek itu ternyata hanya memunahkan saja pukulan Ceng Ceng tanpa kekerasan sama sekali.
"Sabarlah.... kau.... salah lagi,"
Topeng Setan memegang lengan Ceng Ceng.
"Lihat baik-baik, dia itu malah lebih jauh berbeda lagi dari orang yang kugambar itu...., juga lebih muda.... jauh sekali. Kau ingatlah baik-baik...."
Topeng Setan berkata berbisik-bisik.
Ceng Ceng terbelalak memandang pemuda yang kini bersama kakek itu pun berhenti melangkah dan memandang kepadanya.
Setelah pemuda itu menoleh dan memandangnya, baru Ceng Ceng mengakui bahwa memang bukan ini pemuda laknat musuhnya itu.
Akan tetapi wajah itu....!
"Tapi....
tapi....
ahhh, bagaimana ini....?
Paman....
aku....
aku bingung...."
Dia merintih dengan penuh kekecewaan dan rasa penasaran.
Badannya menjadi limbung dan lemas, seluruh tenaganya habis karena kecewa mendapat kenyataan bahwa dua orang pemuda itu memang benar bukan pemuda laknat yang dicari-carinya, keringat dingin mengalir keluar dan dia mengeluh panjang lalu jatuh pingsan!
Topeng Setan menjadi bingung tidak karuan.
Kalau Ceng Ceng pingsan terkena pukulan, dia tentu akan bersikap tenang dan dapat menolongnya cepat-cepat.
Akan tetapi dia tahu bahwa gadis ini pingsan karena tekanan batin dan dia bukanlah seorang tabib yang dapat menyembuhkan dan mengobati penderita itu.
Dengan bingung dia merebahkan tubuh Ceng Ceng di atas bangku panjang dan menggoyang-goyang tubuhnya.
Pada saat itu, selagi semua orang merubung Ceng Ceng dengan bingung, muncul seorang nenek yang agaknya masih serombongan dengan dua orang pemuda yang menimbulkan kegemparan di hati Ceng Ceng tadi, akan tetapi yang masuknya belakangan.
Melihat banyak orang merubung seorang gadis yang pingsan, nenek ini segera mendekati.
"Aihh, kenapa ada orang menderita begini semua orang hanya merubung saja?"
Nenek itu mengomel dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu memondong tubuh Ceng Ceng dan membawanya ke dalam.
"Apakah ada kamar di sini?"
Tanyanya sambil melangkah masuk. Pemilik warung yang tadi bercakap-cakap dengan Ceng Ceng dan jatuh kerengkangan kini cepat menghampiri.
"Ada.... ada.... mari, silakan, Toanio,"
Katanya mengantar.
Topeng Setan melihat cara nenek itu memondong dan melangkah, tahulah dia bahwa nenek itu pun bukan orang sembarangan.
Dia khawatir akan keadaan Ceng Ceng dan melangkah untuk mengejar, akan tetapi tiba-tiba lengannya disentuh tangan orang.
Ketika dia menengok, dia melihat kakek berambut putih panjang dan berkaki satu itu berkata tenang dan halus kepadanya.
"Jangan kau khawatir, biarkan isteriku mengurusnya. Isteriku lebih ahli dalam hal itu. Aku ingin bicara denganmu, Sobat."
Topeng Setan menjadi tidak enak hati untuk memaksa.
Tidak baik memperlihatkan kecurigaan kepada orang-orang yang berniat baik itu, apalagi dia maklum bahwa kakek dan nenek itu bukanlah orang sembarangan.
Maka dia mengangguk dan duduk di bangku terdekat, tanpa mengeluarkan kata-kata.
Dua orang pemuda yang mukanya mirip pemuda laknat musuh besar Ceng Ceng itu adalah putera-putera Jenderal Kao Liang yang ikut dengan rombongan ayahnya.
Mereka itu adalah Kao Kok Tiong, dan adiknya yang bersama Kao Kok Han, biarpun masih remaja namun memang tubuh mereka tinggi-tinggi seperti ayah mereka, dan sejak kecil putera-putera Jenderal Kao Liarg ini tentu saja telah terdidik dan memiliki ilmu silat yang lumayan.
Adapun kakek berambut putih yang buntung sebelah kakinya itu bukan lain adalah Si Pendekar Super Sakti, sedangkan nenek yang menolong Ceng Ceng itu adalah isterinya yang ke dua, yaitu Nenek Lulu.
Kebetulan saja suami isteri pendekar dari Pulau Es ini bertemu dengan pasukan Jenderal Kao dalam perjalanan mereka mencari putera mereka, yaitu Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu yang sudah terlalu lama meninggalkan Pulau Es tanpa ada beritanya.
Ketika suami isteri pendekar sakti ini sudah mendengar banyak keterangan tentang dua orang putera mereka yang berjasa dalam membantu pemerintah membasmi pemberontak, mereka girang sekali dan kemudian menjadi gelisah juga ketika mendengar tentang halnya puteri mereka, yaitu Puteri Milana yang kini melarikan diri dari istana.
Juga bahwa dua orang puteranya mungkin sedang menuju ke barat pula untuk menyelamatkan Puteri Syanti Dewi yang akan dipulangkan ke Bhutan.
Ketika suami isteri ini hendak melanjutkan pencarian mereka, kedua orang putera Jenderal Kao Liang yang juga hendak mendahului pasukan melihat-lihat ke dusun di depan, Segera mengajak suami isteri yang mereka hormati dan kagumi itu untuk mengadakan perjalanan bersama.
Untuk menghormati Jenderal Kao, Pendekar Super Sakti tidak keberatan maka demikianlah, kakek dan nenek sakti ini datang ke dusun itu bersama dua orang putera Jenderal Kao.
Topeng Setan hanya mendengarkan saja penjelasan Pendekar Super Sakti.
Pendekar yang berpemandangan tajam sekali ini dapat menduga bahwa orang di balik topeng ini adalah seorang yang luar biasa, yang memiliki kepandaian mujijat, kentara dari sinar matanya yang mencorong.
Akan tetapi dia dapat menduga pula bahwa orang ini sedang dilanda tekanan batin yang amat hebat sehingga lebih senang menyembunyikan diri di balik topeng setan itu.
Topeng Setan merasa tidak tenang dan resah menghadapi Pendekar Super Sakti yang sinar matanya seolah-olah dapat menembus hatinya dan menjenguk isi hatinya itu.
Belum pernah dia bertemu orang yang sinar matanya seperti ini.
Gurunya memiliki sinar mata mencorong, akan tetapi pendekar buntung kaki ini sinar matanya seperti dapat menembus segala sesuatu!
Sebentar-sebentar dia melirik ke arah dua orang kakak beradik putera-putera Jenderal Kao Liang dan kadang-kadang dia menengok ke pintu di mana nenek tadi memasuki kamar bersama Ceng Ceng.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Topeng Setan segera meloncat berdiri.
Nenek itu tersenyum dan biarpun usianya sudah hampir enam puluh tahun, ternyata Nenek Lulu ini masih jelas membayangkan betapa cantiknya dia di waktu mudanya.
"Apakah engkau suaminya....?"
Secara langsung nenek itu bertanya kepada Topeng Setan.
Ditanya secara langsung seperti itu, Topeng Setan merasa seperti ditodong ujung pedang yang runcing dan dia gelagapan.
"Anu.... anu.... itu.... eh, benar... ah, bukan....!"
Sungguh aneh sekali.
Orang yang biasanya tenang dan kokoh kuat seperti batu karang dan yang lihainya bukan kepalang itu kelihatan tergagap menghadapi pertanyaan ini.
Pendekar Super Sakti sendiri menjadi terheran-heran dan timbul kecurigaannya.
Dia dapat menduga bahwa orang di balik topeng buruk itu masih belum tua, akan tetapi mengapa menyembunyikan mukanya di balik topeng?
Mengapa segala macam rahasia itu?
Dan mengapa pula orang ini kelihatan tertekan batinnya dan sekarang dalam menjawab pertanyaan yang mudah itu menjadi gagap?
"Jangan khawatir,"
Nenek itu berkata.
"Dia cuma menderita kaget dan bingung, keselamatannya tidak akan terancam, sungguhpun menyesal sekali bahwa kandungannya gugur karena memang telah mati beberapa hari yang lalu. Katakan saja kepada suaminya agar dia beristirahat dan menjaga diri baik-baik, jangan biarkan terlalu lemah...."
Topeng Setan terkejut bukan main, suaranya menggigil ketika dia memotong.
"Apa.... apa.... maksud Locianpwe....?"
Pendekar Super Sakti tersenyum. Menghadapi keadaan yang bagaimana pun, bagi kakek ini wajar dan biasa saja, dan dia selalu tenang.
"Isteriku hanya ingin mengatakan bahwa karena sesuatu hal yang tidak kami ketahui, kandungan wanita muda itu telah gugur, akan tetapi kesehatannya baik-baik saja. Yang penting adalah kesehatan calon ibu itu, bukan?"
Nenek Lulu tersenyum dan mengangguk.
"Ya Tuhan....!"
Topeng Setan berteriak dan kakek dan nenek itu saling pandang ketika melihat Topeng Setan melesat ke dalam kamar itu seperti kilat cepatnya.
Kecepatan Topeng Setan itu demikian hebatnya, hampir secepat Ilmu Soan-hong-lui-kun dari kakek yang amat terkenal sukar dicari tandingannya itu.
Nenek Lulu yang melihat ini menggeleng-geleng kepalanya saking kagum.
"Suamiku, aku berani bertaruh bahwa engkau tentu akan menemui kesukaran jika seandainya harus bentrok dengan dia. Kulihat kepandaiannya tidak di sebelah bawah tingkat Bun Beng. Padahal dia masih begitu muda!"
"Engkau benar, isteriku. Heran, siapakah dia? Mari kita lihat."
Nenek Lulu menggeleng kepala.
"Urusan mereka mana boleh kita tahu? Biar kita menanti di sini sambil memesan makan minum. Bukankah kita masuk ke warung ini untuk makan? Lihat, dua orang muda Kao sudah menanti-nanti kita."
Mereka lalu menghampiri meja di mana Kao Kok Tiong dan Kao Kok Han sudah duduk dan memandang peristiwa itu dengan penuh keheranan.
Sementara itu, dengan tubuh menggigil dan jantung berdebar tidak karuan, Topeng Setan sudah memasuki kamar itu.
"Ceng Ceng.... ah, Ceng Ceng....!"
Dia berseru.
Gadis itu sudah duduk di pinggir pembaringan, mukanya pucat sekali memandang kepada gumpalan-gumpalan darah menghitam di atas lantai depan pembaringan.
Ketika mendengar suara Topeng Setan, dia menengok dan memandang.
"Paman....!"
Dia bangkit berdiri dan menubruk Si Buruk Rupa itu.
"Paman, aku.... aku bingung sekali.... aku.... aku...."
Dia menangis. Topeng Setan gemetar menahan perasaan.
"Ceng Ceng, sungguh tak kusangka.... kau.... kau mengandung sampai keguguran.... ya Tuhan....!" (Lanjut ke
Jilid 53) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 53
"Akan tetapi aku telah tertolong, Paman. Nenek yang baik itu menolongku, katanya keguguran ini sudah terjadi beberapa hari dan kini tinggal keluar saja. Sekarang aku ingat.... agaknya khasiat anak ular naga...."
"Ya Tuhan...., betapa hebat penderitaanmu, Ceng Ceng...."
Dalam suara Topeng Setan terdengar isak tertahan.
"Tidak apa, Paman. Malah kebetulan! Siapa sih yang sudi mempunyai anak dari manusia biadab itu? Andaikata tidak gugur karena anak ular naga itu.... andaikata aku tahu bahwa aku telah mengandung selama beberapa bulan, tentu akan kugugurkan sendiri!"
"Ahhh, jadi kau.... kau sendiri tidak tahu bahwa.... bahwa kau.... mengandung, Ceng Ceng?"
"Tidak, Paman. Bagaimana aku tahu?"
Jawab dara ini yang memang masih bodoh dalam hal itu dan semenjak kecil tidak ada yang memberi tahu kepadanya karena dia hidup hanya dengan kakeknya.
"Jangan khawatir.... jangan sedih.... mari kutunjukkan padamu pemuda yang kejam dan bejat moralnya itu. Mari kuajak kau mencarinya sampai dapat. Aku bersumpah, sampai dapat!"
Topeng Setan melepaskan rangkulannya, merobek sebagian lebar jubahnya, kemudian dia menggunakan jubah itu untuk mengambil gumpalan-gumpalan darah di lantai sampai bersih.
Melihat ini, Ceng Ceng terkejut dan terheran-heran.
"Aihhh, Paman. Kotor itu....! Mengapa kau lakukan itu? Untuk apa....?"
Topeng Setan membungkus rapi gumpalan darah kental yang menghitam itu, lalu menyimpannya di dalam saku jubah, suaranya sungguh-sungguh dan agak gemetar.
"Ceng Ceng, bagaimanapun juga ini adalah calon manusia, bukan? Dan dia sama sekali tidak berdosa, tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan si jahanam keji, maka dia patut dikuburkan sebagai calon manusia yang tidak berdosa...."
Tiba-tiba Ceng Ceng terisak, menutupi mukanya dan berbisik.
"Kau benar.... dia itu.... senasib dengan aku.... hanya aku berhasil menjadi manusia dan dia tidak, gara-gara anak ular naga...."
"Sudahlah, Ceng Ceng. Aku bersumpah akan mengajak engkau mencari si jahanam itu sampai dapat. Akan tetapi lebih dulu mari kuperjumpakan engkau dengan.... keluargamu."
"Apa....? Siapa....?"
Ceng Ceng tentu saja terkejut sekali mendengar ini.
"Pendekar Super Sakti, kakekmu, dan.... nenek tadi adalah isterinya. Mereka berada di luar...."
"Nenek tadi....? Dia.... dia.... nenekku sendiri....?"
"Kau tanyalah sendiri kepada mereka, Ceng Ceng. Kau berhak bertemu dengan keluargamu."
"Tidak....! Tidak, Paman. Aku malu bertemu dengan keluargaku, atau dengan siapa pun, sebelum.... sebelum aku bertemu dengan si laknat itu...."
"Kalau begitu, mari kau ikut aku bersamaku, akan kubawa engkau bertemu dengan dia, agar engkau puas dan dapat membunuhnya sesuka hatimu!"
Setelah berkata demikian, Topeng Setan memondong tubuh Ceng Ceng yang masih lemah itu dan melesat keluar melalui jendela kamar itu.
Bagaikan seekor burung garuda, Topeng Setan sudah melesat ke atas genteng, akan tetapi begitu dia berada di atas genteng warung itu, tahu-tahu di depannya telah berdiri Pendekar Super Sakti dengan sikap tenang dan sinar mata tajam!
"Hemmm, beginikah caranya orang baik-baik pergi, seperti pencuri-pencuri saja atau seperti orang-orang yang telah melakukan perbuatan jahat?"
Dengan suara halus Pendekar Super Sakti menegur.
Topeng Setan kaget bukan main.
Dia tahu bahwa memang cara mereka pergi tanpa pamit ini amat tidak patut, dan hal ini dia lakukan hanya untuk menghindarkan pertemuan dan pembicaraan yang berkepanjangan.
Siapa kira, Pendekar Super Sakti itu demikian hebatnya sehingga tahu-tahu telah menghadang di atas genteng.
"Harap.... harap Locianpwe maafkan kami.... eh, maafkan saya, sesungguhnya sama sekali saya tidak bermaksud buruk...."
Ceng Ceng melorot turun dari pondongan Topeng Setan lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar kaki satu itu.
"Harap Locianpwe sudi mengampuni kami kalau-kalau dianggap bersalah. Akan tetapi, karena tergesa-gesa dengan suatu urusan pribadi yang amat penting, kami mengambil jalan ini, karena tidak ingin mengganggu Locianpwe sekalian. Saya.... saya berterima kasih kepada Nenek.... kepada Locianpwe yang menolong saya tadi...."
Pendekar Super Sakti tersenyum.
Kalau dia tadi menghadang adalah karena dia merasa curiga dan dia mengira bahwa Topeng Setan manusia aneh penuh rahasia itu hendak memaksa si gadis yang baru keguguran itu lari, khawatir kalau-kalau manusia aneh itu menggunakan kekerasan terhadap si wanita muda.
Kini melihat bahwa wanita muda itu sendiri yang bicara dia menjadi lega dan maklum bahwa pelarian mereka berdua itu adalah kehendak mereka berdua.
Dia mengelus jenggotnya dan tersenyum lebar.
Tertarik sekali hatinya terhadap dua orang ini yang merupakan sepasang manusia aneh penuh rahasia!
"Sudahlah, kalau kalian tidak ingin bertemu dan bicara dengan kami pun tidak mengapa.
Akan tetapi karena aku sudah menghadang di sini dan bertemu kalian, aku ingin bertanya apakah kalian pernah bertemu dengan puteraku yang bernama Suma Kian Lee?"
Topeng Setan dan Ceng Ceng tentu saja tahu siapa pemuda yang dimaksudkan itu. Topeng Setan tidak menjawab, akan tetapi Ceng Ceng yang menjawab.
"Saya sudah mengenalnya dengan baik, Locianpwe. Bahkan dia telah pernah menolong saya."
"Bagus! Tahukah engkau di mana dia sekarang? Dan meninggalkan pulau dengan adiknya, Suma Kian Bu. Aku sudah mendengar bahwa Suma Kian Bu pergi ke barat menyusul dan melindungi Syanti Dewi, akan tetapi tidak ada yang tahu ke mana perginya Kian Lee."
"Maaf, Locianpwe. Saya sendiri pun tidak tahu ke mana dia. Pertemuan kami yang terakhir adalah di kota raja."
"Hemm...., sayang...."
"Ceng Ceng, mari kita pergi."
Topeng Setan menjura dengan hormat kepada Si Pendekar Super Sakti, kemudian menggandeng tangan gadis itu dan diajak meloncat turun lalu pergi dari situ dengan cepatnya.
Sampai lama Pendekar Super Sakti berdiri di atas genteng, termangu-mangu, bukan hanya kecewa bahwa dia tidak dapat mendengar tentang Kian Lee, akan tetapi juga terheran-heran melihat dua orang muda itu.
Ceng Ceng memandang dengan terharu dan juga terheran-heran ketika dia melihat saja Topeng Setan mengubur bungkusan gumpalan darah itu dan menimbuninya dengan tanah.
Dia melihat betapa Topeng Setan termenung di depan gundukan tanah kecil itu, kemudian Topeng Setan kelihatan beringas dan dengan kepalan tangannya dia menghantam batu karang di sebelah kanannya.
"Darrr....!"
Batu karang itu hancur lebur dan debu mengepul tinggi.
"Paman....! Ada apakah, Paman?"
"Si keparat! Si jahanam keji! Aku akan menunjukkan dia kepadamu, Ceng Ceng. Kau benar, dia harus disiksa sepuas hatimu!"
"Paman, ke mana kita akan mencari dia? Sudah sekian lamanya, berbulan-bulan semenjak peristiwa itu aku mencarinya, namun sia-sia belaka."
"Satu-satunya tempat untuk kita mencarinya adalah di utara, di Istana Gurun Pasir, di tempat gurunya. Bukankah kau menceritakan bahwa dia itu murid Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir? Nah, kita ke sana!"
Sebetulnya, hati Ceng Ceng sudah mulai reda untuk mencari pemuda itu.
Hatinya sudah mulai tawar dan ingin dia beristirahat, ingin dia hidup tenang tenteram bersama Topeng Setan, satu-satunya sahabatnya yang setia dan dapat dipercaya itu.
Akan tetapi dia pun tahu bahwa sebelum dia bertemu dengan pemuda laknat itu, hidupnya akan selalu diselimuti mendung dan kegelapan, dia akan selalu merasa menjadi orang yang kotor dan hina dan ternoda.
Noda ini hanya dapat ditebus dengan darah pemuda laknat itu, dengan nyawa pemuda jahanam itu!
Mulailah mereka dengan perjalanan jauh itu.
Akan tetapi karena kini setelah kandungan Ceng Ceng yang diam-diam tak diketahuinya selalu merupakan gangguan itu telah keguguran, kesehatannya cepat pulih kembali.
Diam-diam gadis ini merasa girang juga bahwa kandungannya yang sama sekali tidak dikehendakinya itu telah keguguran.
Andaikata dia tahu bahwa dia mengandung, tentu dia akan merasa makin tersiksa!
Keparat!
Benar Topeng Setan, pemuda laknat itu benar-benar harus disiksa sampai mampus!
Ke-sehatannya telah pulih dan semua racun yang mengeram di tubuhnya akibat latihan dari Ban-tok Mo-li telah bersih dari tubuhnya, berkat khasiat anak ular naga, akan tetapi khasiat itu pun selain menggugurkan kandungannya, juga mendatangkan kekuatan sin-kang yang cukup dahsyat, yang takkan dapat diperolehnya dalam latihan selama sepuluh tahun!
Maka perjalanan itu dapat dilakukan dengan cepat dan setelah mereka tiba di sebelah utara kota raja, mulailah Ceng Ceng bertemu dengan tempat-tempat yang membuat dia terkenang akan semua pengalamannya ketika mencari Syanti Dewi dahulu itu.
"Paman, apakah engkau tahu, di mana adanya Istana Gurun Pasir?"
Topeng Setan mengangguk.
"Perjalanan itu sukar sekali, melalui gurun pasir selama tiga hari tiga malam. Paling sukar adalah kalau bertemu dengan badai, oleh karena itu, kita harus membawa perbekalan cukup."
Membayangkan kesukaran perjalanan itu, Ceng Ceng bergidik.
Entah bagai-mana, kini berkurang banyak gairahnya untuk mencari pemuda laknat itu.
Kalau dulu, dia tidak akan berpikir dua kali, biar harus menyeberangi lautan api umpamanya, akan ditempuhnya juga asal dia dapat menemukan musuh besarnya itu.
Sekarang dia agak ragu-ragu, apalagi mengingat bahwa si pemuda laknat itu saja sudah demikian lihainya, apalagi di sana ada gurunya dan mungkin orang-orang lain!
"Sebelum kita menyeberangi gurun pasir, aku ingin melihat-lihat tempat-tempat yang pernah kukunjungi dulu, Paman.
Lebih dulu, aku ingin pergi menengok sumur maut di mana aku dulu ketika menolong Jenderal Kao terjungkal, kemudian menjadi murid mendiang Ban-tok Mo-li di neraka bawah tanah.
Setelah itu, aku ingin pergi dulu ke tempat-tempat lain, antaranya mengunjungi benteng di mana dulu Jenderal Kao tinggal."
Topeng Setan tidak menjawab, hanya mengangguk.
Agaknya bagi orang aneh ini, perintah Ceng Ceng merupakan pegangan hidupnya!
Tidak pernah dia membantah kehendak gadis itu!
Agaknya Topeng Setan mengenal betul daerah ini, lebih kenal daripada Ceng Ceng yang baru satu kali berkunjung ke situ.
Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di sumur maut yang berada di tengah lautan pasir itu.
Sunyi senyap tempat itu dan seperti dahulu, banyak tulang berserakan di sekitar tempat itu.
Ceng Ceng mendekati sumur itu dan melongok ke bawah.
Gelap dan hitam pekat.
Dia bergidik.
Pantas saja dia dianggap mati oleh Jenderal Kao setelah terjungkal ke dalam tempat seperti itu.
Bulu kuduknya berdiri ketika dia mengenangkan betapa dia terjungkal ke dalam sumur dan diselamatkan oleh seekor ular besar.
Ceng Ceng duduk di dekat sumur, mengenangkan segala peristiwa masa lalu.
Tempat ini merupakan tempat yang bersejarah baginya.
Sunyi senyap mele-ngang, tidak ada kehidupan tampak di sekitar mereka berdua.
Hanya pasir-pasir yang bergerak seperti berlumba lari berhembus angin semilir.
Topeng Setan juga duduk agak jauh dari Ceng Ceng, kelihatannya termenung seolah-olah tempat itu merupakan tempat yang mempunyai kenangan tersendiri baginya.
Ceng Ceng bangkit dan mengitari sumur di mana terdapat tumpukan batu-batu besar.
Tiba-tiba dia melihat sesuatu.
"Heiii, apa ini? Ada tulisan orang!"
Mendengar ini, Topeng Setan mengangkat mukanya dan bangkit lalu menghampiri.
Bersama-sama mereka lalu membaca tulisan-tulisan yang agaknya belum lama dibuat orang itu.
"Kenyataan lebih pahit daripada bayangan, lebih kejam daripada kenangan, cinta hanya mendatangkan penderitaan!"
"Ohhh....!"
Ceng Ceng berseru ketika membaca tulisan itu.
"Hemm, ada orang laki-laki yang pernah datang di sini, mungkin tinggal beberapa hari di sini dan menuliskan sajak-sajak ini...."
Topeng Setan berkata perlahan.
Ketika mereka memeriksa lebih teliti, kiranya banyak diantara batu-batu yang berserakan itu bekas ditulisi yang semua bernada keluh-kesah tentang cinta tak sampai.
"Heiii.... ini.... seperti gambarmu, Ceng Ceng!"
Tiba-tiba Topeng Setan berteriak heran.
Ceng Ceng melompat mendekat dan mereka berdua memandang coretan wajah seorang wanita di atas permukaan batu kapur putih yang rata itu.
Coretan itu menggunakan batu kemerahan dan biarpun hanya merupakan coretan kasar, akan tetapi mudah dilihat dan dikenal sebagai bentuk wajah Ceng Ceng.
"Benarkah gambar ini seperti aku?"
Ceng Ceng bertanya ragu.
"Tak salah lagi, dan dia pandai benar melukis!"
"Kalau begitu engkau mendapat saingan, Paman!"
Ceng Ceng menggoda.
"Aku....? Ah, banyak benar dia menulis...."
Topeng Setan meneliti semua tulisan yang semua membayangkan kegagalan cinta itu.
Akan tetapi Ceng Ceng sudah duduk termenung di depan sajak pertama.
Lama ia termenung, kemudian dia berseru.
"Ah, ini tentu dia....!"
Topeng Setan kaget, menengok.
"Dia?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia yang kita cari-cari!"
"Ohhh....! Tapi.... tapi...."
Topeng Setan tidak melanjutkan kata-katanya dan Ceng Ceng kembali membaca sajak itu.
Mukanya berubah merah sendiri.
Kalau begitu, dia....
dia cinta padaku?
Demikian pikirnya dengan bingung dan dia membayangkan kembali, mengenangkan kembali peristiwa di dalam guha itu.
Pemuda yang gagah dan tampan itu mukanya beringas, jelas bahwa tidak sewajarnya, seperti ke-racunan hebat.
Pemuda itu menubruknya di luar kesadarannya!
Dan pemuda itu jatuh cinta kepadanya?
Mana mungkin!
Dugaan Ceng Ceng itu membuat dia merasa makin bingung.
Dia membenci pemuda itu dan pemuda itu mencintanya?
Akan tetapi benarkah dia membenci pemuda itu?
Setiap kali mengenang peristiwa di guha itu, dia seperti terlena, seperti terbuai, seperti....
seperti timbul perasaan rindu ingin bertemu dengan pemuda itu!
Akan tetapi perasaan halus yang samar-samar ini segera ditutupnya dengan kemarahan dan kebencian, dengan dendam dan sakit hati.
"Kalau begitu, kita sudah memperoleh jejaknya, Paman! Dia tentu tidak jauh lagi dan berada di sekitar tempat ini. Dugaan Paman benar bahwa kita harus mencari ke sini!"
Ceng Ceng berteriak, jantungnya berdebar.
Aneh, debar jantungnya itu menunjukkan kegirangan!
Girang bahwa dia akan dapat membalas dendam, ataukah girang karena dia akan dapat berjumpa dengan pemuda itu?
Mereka lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke benteng di mana dahulu Jenderal Kao Liang tinggal dan di mana dahulu Ceng Ceng tinggal pula.
Ketika mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, mereka mendengar berita bahwa baru setengah bulan yang lalu ketika para suku liar merampok desa itu, datang seorang bintang penolong yang amat lihai, seorang pemuda yang tidak dapat dilihat jelas mukanya karena pemuda itu datang mengamuk, membasmi para perampok liar dan lenyap lagi.
Akan tetapi, di waktu malam orang melihat pemuda itu sebagai sesosok bayangan yang berjalan sendirian di luar dusun sambil meniup suling, atau kadang-kadang juga suka bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu yang bernada sedih.
Mendengar ini, Ceng Ceng lalu bertanya kepada kepada kampung terpencil itu di mana pemuda itu tinggal.
"Mengapa Ji-wi (Anda Berdua) mencari in-kong (tuan penolong) itu?"
"Kami adalah sahabatnya,"
Jawab Ceng Ceng.
Jawaban ini membuat Kepala Kampung cepat menghormat mereka dan dia sendiri lalu mengantarkan mereka berdua keluar kampung di mana terdapat sebuah gubuk di tepi sungai yang membelah padang rumput itu.
Akan tetapi pemuda itu tidak ada lagi.
Yang ada hanya bekas-bekasnya, coret-coretan yang sama dengan di sumur maut, akan tetapi di sini terdapat juga bekas-bekas pemuda itu berlatih silat yang amat hebatnya.
Beberapa batang pohon tumbang dan hangus, dan batu-batu besar pecah berantakan.
Tempat sekitar gubuk itu seperti bekas diamuk gajah.
"Hebat.... dia hebat...."
Topeng Setan mengangguk-angguk. Ceng Ceng memegang tangan Topeng Setan.
"Sudah kukatakan dia berilmu tinggi, Paman. Apakah kiranya engkau akan mampu melawannya? Membantuku menghadapinya?"
"Dia siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan pemuda laknat itu!"
"Hemm.... kita lihat sajalah nanti."
Karena jelas bahwa pemuda yang mereka cari itu sudah pergi dari situ dan tidak ada orang tahu ke mana perginya, Ceng Ceng dan Topeng Setan berpamit dari orang-orang dusun itu kemudian melanjutkan perjalanan ke benteng pertahanan terakhir dari tentara kerajaan di perbatasan itu.
Ketika Topeng Setan dan Ceng Ceng muncul di pintu gerbang, beberapa orang penjaga yang ternyata adalah bekas anak buah Jenderal Kao, terkejut bukan main.
Mereka memandang dengan mata terbelalak ketika gadis cantik yang muncul itu tersenyum dan berkata.
"Apakah paman-paman masih ingat kepadaku? Aku Ceng Ceng!"
Mereka yang ingat kepadanya tentu saja terkejut sekali dan bahkan ketakutan, mengira bahwa yang datang adalah setan atau roh gadis yang telah mati di dalam sumur maut itu.
Apalagi kedatangannya bersama dengan seorang manusia berwajah setan!
"Nona....
Nona....
bukankah dahulu sudah....
eh....
tewas di sumur maut?"
Seorang penjaga tua memberanikan diri bertanya, telunjuknya yang menuding kepada gadis itu menggigil. Ceng Ceng tertawa.
"Memang aku di-sangka mati, akan tetapi untung Thian masih melindungiku dan aku tidak mati, Paman. Aku masih hidup. Dan aku ingin mampir ke benteng ini. Siapakah yang menjadi komandan di sini sekarang?"
"Bukan Jenderal Kao lagi, Nona...."
"Aku tahu, belum lama ini aku berjumpa dengan Jenderal Kao di barat. Siapa yang menjadi komandan di sini?"
"Thio-goanswe (Jenderal Thio),"
Jawab penjaga itu.
"Hemm, siapakah dia?"
"Dia adalah Panglima Thio Luk Cong yang kini menggantikan kedudukan Jenderal Kao."
"Ah, Panglima Thio Luk Cong yang dulu menjadi komandan di Ang-kiok-teng? Aku sudah mengenalnya pula!"
Ceng Ceng berseru dan mereka berdua lalu disambut, dibawa menghadap kepada komandan benteng itu dan Jenderal Thio yang tahu bahwa gadis ini dan pembantunya telah membantu Jenderal Kao ketika membasmi pemberontak, segera menyambut dan menjamu mereka.
Dengan gembira mereka makan minum dan Ceng Ceng menceritakan pengalaman-pengalamannya dahulu ketika dia menolong Jenderal Kao dan terjerumus ke dalam sumur maut sehingga disangka mati.
Dia dengan terus terang menceritakan betapa dia ditolong oleh seekor ular besar dan oleh Ban-tok Mo-li diangkat menjadi murid, dan betapa akhirnya dia berhasil keluar dari neraka di bawah tanah itu.
Jenderal Thio dan beberapa orang perwira tinggi yang menemani mereka makan minum mendengarkan dengan penuh kagum.
"Sungguh aneh sekali ceritamu itu, Lihiap (Pendekar Wanita)!"
Seorang perwira muda berseru kagum.
"Dan di sini juga baru-baru ini terjadi hal yang lebih aneh lagi.... eh...."
Tiba-tiba dia menoleh kepada Jenderal Thio dengan gugup karena merasa bahwa dia telah kelepasan bicara.
Jenderal Thio tertawa sambil mengangguk-angguk.
"Ciong-ciangkun, kita berhadapan dengan sahabat-sahabat baik, tidak ada halangannya menceritakan ke-anehan itu kepada mereka ini."
Perwira itu lalu bercerita dengan hati gembira.
Dia masih muda dan tentu saja dia amat kagum akan kecantikan dan kegagahan Ceng Ceng dan sebagai seorang pemuda yang normal, tentu saja ingin dia beraksi dan ingin menarik perhatian.
Dan ceritanya memang aneh sekali.
Kurang lebih seminggu yang lalu, terjadi hal yang amat mengherankan dan juga menakutkan hati para perajurit dan para perwira di benteng itu.
Di benteng itu terdapat sebuah menara yang amat tinggi, akan tetapi menara ini sudah tua dan tidak dipergunakan lagi setelah menara-menara baru yang lebih baik dan berada di pojok-pojok benteng dibangun, dan tidak ada yang berani naik ke menara tua itu karena anak tangganya sudah banyak yang runtuh dan sudah tua, berbahaya sekali naik ke sana, bahkan tidak mungkin sampai di puncaknya karena anak tangga ke puncak itupun sudah runtuh semua.
Akan tetapi pada suatu malam terdengar suara orang meniup suling di puncak menara itu dan kadang-kadang terdengar suara laki-laki bernyanyi dengan nada sedih!
Biarpun para perajurit adalah orang-orang yang tidak mengenal takut dan sudah biasa menghadapi maut di medan perang, akan tetapi menghadapi keanehan ini mereka merasa ngeri dan takut!
Apalagi karena menara ini terkenal sebagai tempat angker yang ada setannya karena dahulu pernah ada seorang perajurit yang tewas ketika sedang berjaga di puncak menara, tewas tanpa diketahui sebabnya.
Kadang-kadang di tengah malam tampak ada bayangan berkelebat ke atas puncak atau turun dari puncak, bayangan yang demikian cepat gerakannya, sehingga tidak mungkin kalau bayangan manusia.
Semua perajurit di benteng itu mengira bahwa itu tentulah bayangan hantu, bayangan roh penasaran dari perajurit yang mati berjaga itu.
"Keanehan itu terjadi setiap malam sampai tiga hari yang lalu,"
Demikian perwira muda itu melanjutkan ceritanya, tersenyum gembira penuh lagak ketika dia melihat betapa Ceng Ceng amat tertarik dan tanpa berkedip memandang kepadanya!
Tentu saja Ceng Ceng tertarik sekali oleh cerita itu karena dia menyangka tentu bayangan itu adalah pemuda yang dicarinya.
"Apakah sekarang dia masih berada di atas menara?"
Otomatis dia bertanya. Perwira muda itu menggeleng kepala.
"Sayang, hal itu berakhir tiga hari yang lalu. Pada tiga hari yang lalu, di benteng ini muncul seorang kakek yang luar biasa anehnya, punggungnya bongkok sekali...."
"Ahhh....!"
Ceng Ceng dan Topeng Setan berbareng mengeluarkan seruan kaget ini karena mereka sudah menduga siapa adanya kakek bongkok itu.
"Dia datang dan bertanya kepada kami apakah kami melihat muridnya, seorang pemuda tinggi besar yang tampan.... dia datang di waktu lewat senja dan pada saat itu terdengar suara melengking dari atas menara, suara orang meniup suling dengan nada yang merawankan hati. Kami semua ketakutan, akan tetapi kami hendak mempermainkan kakek bongkok itu. Kami mengatakan bahwa murid yang dicarinya itu berada di atas menara!"
"Hemmm...."
Topeng Setan menggeram.
"Kami tadinya hanya ingin main-main saja, akan tetapi siapa kira. Kakek yang kelihatannya bongkok dan lemah itu tiba-tiba menggerakkan lengan bajunya yang lebar dan.... dia terbang ke atas!"
"Terbang....?"
Ceng Ceng juga tertarik sekali dan tak disadarinya dia bertanya.
"Ya, terbang! Dia terbang ke atas puncak menara yang amat tinggi itu! Tentu saja kami semua menjadi bengong dan ketakutan. Kiranya kakek itu pun adalah seorang hantu yang mencari kawannya! Suara suling itu berhenti dan tidak lama kemudian tampak dua sosok bayangan berkelebat, melayang turun dari puncak menara itu dan lenyap entah ke mana. Nah, sejak saat itu, tiga hari yang lalu, hantu-hantu itu tidak pernah muncul lagi."
Perwira itu bergidik, merasa ngeri sendiri menceritakan peristiwa itu.
Keadaan menjadi sunyi senyap.
Jenderal Thio yang sudah berpengalaman luas lalu berkata.
"Tentu saja cerita itu mungkin berlebihan, Nona. Menurut pendapatku, yang berada di menara itu adalah seorang kang-ouw yang aneh dan berilmu tinggi, dan bukan tidak mungkin bahwa kakek yang datang itu adalah gurunya."
Ceng Ceng mengangguk-angguk.
"Mungkin sekali.... bahkan, kuyakin begitulah!"
Topeng Setan menoleh kepadanya dan Ceng Ceng juga memandangnya.
"Bagaimana pendapatmu, Paman?"
Tiba-tiba Ceng Ceng bertanya kepada orang bertopeng itu.
"Huh? Oh, mungkin sekali begitulah,"
Akhirnya dia berkata seperti orang baru sadar dari lamunannya.
Setelah mendengar cerita itu, Ceng Ceng melamun.
Agaknya tidak keliru lagi, tentu pemuda laknat itulah pemuda yang bersuling, bernyanyi dan menulis sajak-sajak cinta gagal itu!
Siapa lagi kalau bukan dia?
Akan tetapi sekarang pemuda itu telah berkumpul dengan gurunya, Si Dewa Bongkok yang lihai dan tentu diajak pulang ke Istana Gurun Pasir.
Jadi tepat dugaan Topeng Setan bahwa mencari pemuda itu harus di tempat tinggal gurunya.
Akan tetapi, pemuda itu sendiri sudah begitu lihai.
Apalagi kini ditambah gurunya dan mungkin tokoh-tokoh lain di Istana Gurun Pasir.
Ceng Ceng melirik ke arah "pembantunya"
Yang duduk melamun sambil memegang cawan arak karena mereka semua sudah selesai makan.
Jagonya inilah yang diharapkannya, karena kalau dia seorang diri yang harus membalas dendam, baru menghadapi pemuda laknat itu saja tidak mungkin dia menang.
Jagoannya ini makin lihai saja.
Entah bagaimana agaknya tiap hari tambah maju saja ilmu kepandaian orang ini.
Dapatkah Si Buruk Rupa ini menandingi Dewa Bongkok dan muridnya?
Dapatkah Si Buruk Rupa ini diandalkannya?
Si Buruk Rupa....
ah, buruk?
Belum tentu!
Pamannya ini belum tentu buruk, kalau bentuk tubuhnya sih gagah perkasa melebihi semua pria yang pernah dilihatnya!
Ah, apa pula yang dipikirkannya ini?
Ceng Ceng diam-diam memaki dirinya sendiri.
Paman Topeng Setan ini sudah seperti ayahnya sendiri, gurunya sendiri, pelindungnya yang amat setia.
Betapapun juga, mungkin karena pengaruh arak wangi yang amat lezat suguhan Jenderal Thio, Ceng Ceng melirik ke arah Topeng Setan, memandang dengan tajam ke arah topeng itu, menerka-nerka bagaimana bentuk wajah di balik topeng itu.
Bagaimana sih rupa di balik topeng itu?
Tiba-tiba pandang matanya seperti terasa oleh Topeng Setan.
Dia menoleh dan balas memandang.
Dua pasang mata bertemu dan Ceng Ceng tersipu-sipu melengos ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang mencorong itu.
Pada keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan benteng itu.
Mereka berdua menolak ketika Jenderal Thio menawarkan dua ekor kuda untuk mereka, akan tetapi karena didesak-desak, akhirnya mereka menerima bekal buntalan yang terisi kain, roti kering, dan beberapa potong uang emas dan perak.
Bekal seperti ini ada perlunya juga.
Maka mereka tidak malu-malu kucing lagi untuk menerimanya, karena diberikan dengan hati yang tulus ikhlas.
Ketika mereka tiba di dusun dekat Lembah Bunga Hitam, di mana orang-orang golongan beracun yang dipimpin Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek dulu tinggal, Ceng Ceng berhenti.
Hatinya terharu mengingat tempat ini.
Setelah dia keluar dari sebuah sumur, yang merupakan terowongan tembusan sumur maut, dia tiba di tempat ini dan melihat seorang pemuda tinggi besar, tampan dan gagah di dalam kerangkeng!
Dia menuju ke sumur itu dan duduk termangu-mangu di situ, tidak mempedulikan Topeng Setan yang memandangnya dengan sedih.
Masih terbayang oleh Ceng Ceng betapa dia menolong pemuda itu, melarikan kerangkengnya dan bersembunyi di dalam gua.
Dia berusaha membebaskan pemuda itu dari dalam kerangkeng dan teringat dia betapa pemuda itu berkeras melarangnya!
Betapa anehnya.
Pemuda itu melarangnya membuka kerangkeng!
Akan tetapi dia memaksa dan akhirnya kerangkeng terbuka dan....
"Ahhh....!"
Topeng Setan terkejut mendengar jerit tertahan ini.
Dia cepat melompat mendekat dan Ceng Ceng baru sadar betapa dalam melamun tadi dia sampai mengeluarkan jeritan.
"Kenapa, Ceng Ceng?"
"Tidak apa-apa, Paman, aku hanya melamun dan teringat peristiwa dahulu. Di sinilah tempatnya, Paman. Di sinilah aku menolong pemuda laknat itu. Dia berada di sana itu, di dalam kerangkeng dan dijaga oleh beberapa orang anak buah Lembah Bunga Hitam. Aku keluar dari sumur ini di mana aku bersembunyi, dan aku melawan mereka, lalu aku membawa lari kerangkeng itu di mana pemuda laknat itu masih terkurung."
Topeng Setan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Tempat itu sekarang sunyi, tidak ada seorang pun manusianya dan pohon-pohon di situ tumbuhnya tidak sehat seperti dimakan penyakit atau daun-daunnya dimakan ulat.
Padahal itu adalah akibat dari perang racun antara golongan Lembah Bunga Hitam dan golongan Pulau Neraka yang masing-masing mempergunakan racun-racun jahat.
"Ceng Ceng, apakah sebelumnya engkau sudah mengenal pemuda itu?"
"Sama sekali belum. Selama hidupku, baru satu kali itu aku melihat dia, di dalam kerangkeng itu."
"Hemm.... kalau begitu.... kalau begitu mengapa engkau menolongnya? Apakah kau tahu mengapa dia di dalam kerangkeng?"
Ceng Ceng mengerutkan alisnya, menyesal mengapa dia dahulu menolong pemuda itu!
"Aku tidak tahu, akan tetapi melihat dia dikerangkeng seperti binatang itu, aku....
aku merasa kasihan.
Maka aku lalu menolongnya.
Aku dikejar dan aku melarikan kerangkeng itu ke sana, jauh ke sana di mana aku membawa kerangkeng itu bersembunyi di dalam guha."
Topeng Setan menggeleng kepala.
"Sunggguh aneh. Engkau baru saja mengenalnya, engkau tidak tahu pula mengapa dia dikerangkeng, dan kau sudah berani melarikannya dan menentang orang Lembah Bunga Hitam. Apakah yang mendorongmu senekat itu sehingga kau berani menentang bahaya untuk menolong orang yang tidak kau kenal?"
Ceng Ceng termangu, lalu mengangguk-angguk.
Terhadap Paman Topeng Setan ini, dia tidak akan menyimpan rahasia apa-apa lagi.
Semua peristiwa itu pun sudah dituturkannya.
Orang ini seperti ayahnya sendiri dan dia akan menceritakan apa pun, yang paling rahasia sekalipun.
"Pertanyaanmu aneh, akan tetapi patut dipikirkan, Paman. Sudah kukatakan tadi bahwa mula-mula aku merasa kasihan kepadanya, kemudian, melihat wajahnya yang tampan dan gagah aku.... eh, terus terang saja, aku menjadi tertarik kepadanya. Dia sebetulnya gagah sekali, Paman. Belum pernah aku melihat pria segagah dia, gagah dan tampan...."
"Tampan mana dibandingkan dengan.... Suma Kian Lee atau Pangeran Yung Hwa misalnya?"
Tiba-tiba Topeng Setan bertanya.
"Hemmm.... Paman Kian Lee dan Pangeran Yung Hwa juga tampan sekali, akan tetapi sesungguhnya, menurut pendapat hatiku, tidak ada yang dapat melawan daya tarik pemuda itu, dia gagah dan tampan, aku tertarik sekali, akan tetapi siapa nyana, di balik ketampanan dan kegagahannya itu ternyata bersembunyi moral yang bejat!"
Hening sejenak dan Topeng Setan me-nundukkan mukanya, agaknya berpikir-pikir.
Ceng Ceng terbenam ke dalam lamunannya sendiri.
Sesaat kemudian, Topeng Setan bertanya.
"Lalu bagaimana, Ceng Ceng?"
"Setelah bersembunyi di dalam guha, aku lalu berusaha membuka kerangkengnya untuk membebaskannya, akan tetapi dia menolak dengan keras...."
"Ehhh?"
Topeng Setan terkejut.
"Dia menolak? Mengapa? Dia akan kau bebaskan dan dia menolak? Mengapa?"
"Dia menolak dengan keras ketika hendak kubuka kerangkeng itu. Pemuda itu mukanya merah padam dan beringas menakutkan, matanya merah dan agaknya dia berada dalam keadaan keracunan."
"Hemmm.... lalu bagaimana?"
"Aku paksa membuka kerangkengnya. Dia terbebas dan.... dan.... dia menubrukku, dia memeluk dan menciumiku...."
"Hemmm, bedebah....!"
"Akan tetapi dia mengeluh dan meloncat bangun, dia memandangku dengan mata merah, seperti orang berjuang keras dengan dirinya sendiri, meragu dan seperti hendak menyerang diri sendiri. Akhirnya dia meloncat keluar dari dalam guha! Aku masih rebah dengan jantung berdebar dan tubuh lemas. Pemuda itu kuat bukan main sehingga ketika ditubruknya tadi aku sama sekali tidak mampu melawan...."
"Hem, dia lari katamu? Dia tidak mengganggumu lagi?"