Eps 17 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
"Itulah yang tadinya kusangka. Hatiku sudah lega. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia muncul di depan guha, lalu dia menubrukku, aku meronta dan berusaha melawan sekuat tenaga, akan tetapi sia-sia, dia amat kuat dan dia.... dia menggagahi aku, dia.... dia memperkosaku.... Paman, ahhh, Paman...."
"Anjing keparat! Jahanam busuk! Kau layak mampus!"
Tiba-tiba Topeng Setan menampar kepalanya sendiri.
"Plakkk....!"
Dan dia roboh terpelanting.
"Paman....!"
Ceng Ceng terkejut dan menubruk.
"Eh, Paman, mengapa....? Mengapa Paman menampar kepala sendiri?"
Topeng Setan menyeringai kesakitan.
Kalau saja dia tidak mempunyai tenaga mujijat dari Sin-liong-hok-te, sebelum ilmu mujijat ini dikuasainya, tentu dia sudah mampus sekarang terkena tangannya yang tadi memukul untuk membunuh!
Dia sadar dan berkata.
"Tidak apa-apa. Saking marahku tadi aku sampai lupa diri! Aku bersumpah, kau akan bertemu dengan dia, kau akan berkesempatan untuk melakukan hukuman sendiri kepadanya, Ceng Ceng. Terlampau enak baginya kalau dia mampus sebelum menerima siksaan dan hukumanmu. Aku akan menyerahkan dia ke depan kakimu!"
"Tapi.... tapi.... bukankah itu sukar sekali, Paman? Dia telah dibawa pulang oleh Si Dewa Bongkok, apakah Paman mampu melawan mereka?"
"Akan kuusahakan sampai titik darah terakhir agar engkau dapat menghukum si laknat itu, Ceng Ceng!"
"Paman.... Paman.... engkaulah orang termulia di dunia ini!"
Ceng Ceng men-jatuhkan dirinya merangkul kaki Topeng Setan dan berlutut.
Dada yang bidang itu naik turun bergelombang ketika dia menunduk dan memandang kepala dara yang berlutut di depan kakinya itu.
Kemudian dengan halus dia membangunkan Ceng Ceng.
"Sudahlah, mari kita melanjutkan perjalanan ke Istana Gurun Pasir, Ceng Ceng."
"Nanti dulu, Paman. Aku.... aku ingin sekali.... menengok tempat itu. Sekali lagi...."
"Tempat apa? Di mana?"
"Guha itu...."
"Ya Tuhan!"
Topeng Setan berteriak dan memegangi kepalanya.
"Kau.... kau malah ingin melihat tempat itu, tempat di mana perbuatan terkutuk, di mana kelaknatan itu terjadi?"
"Aku ingin melihatnya sekali saja, Paman."
Ceng Ceng mengangguk dan menunduk, malu kepada diri sendiri mengapa dia tidak menjauhi tempat itu dengan jijik, sebaliknya malah hendak menengoknya, seolah-olah tempat itu merupakan tempat kenangan yang indah!
Topeng Setan menghela napas dan menurut saja, mengikuti gadis itu menuju ke guha jauh di depan.
Ketika tiba di depan guha, Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memejamkan matanya dan terbayanglah peristiwa itu.
Dia menggigit bibir dan membuka kembali matanya, lalu dia melangkah perlahan-lahan memasuki guha besar itu.
Tiba-tiba, dia berhenti, mukanya berubah pucat dan matanya terbelalak memandang ke depan.
"Ada apa, Ceng Ceng?"
Topeng Setan yang juga berhenti itu bertanya, suara orang ini agak gemetar, agaknya Topeng Setan yang sakti itu pun merasa serem memasuki guha ini!
"Sssttt....
Paman....
ada asap....
tentu ada orangnya, jangan-jangan dia....
harap Paman waspada dan suka membantuku!"
Ceng Ceng berindap masuk ketika melihat ada asap mengepul dari dalam guha itu.
Tidak salah lagi, pikirnya.
Dengan hati berdebar penuh ketegangan Ceng Ceng berindap-indap memasuki bagian yang paling dalam dari guha itu dan....
ternyata tempat itu kosong tidak ada orangnya.
Hanya kelihatan ada bekas api unggun yang masih berasap dan ada beberapa potong pakaian wanita yang agaknya habis dicuci dan dibentangkan di situ.
Tiba-tiba Topeng Setan berbisik.
"Ssssttt.... mari keluar, ada suara orang di luar!"
Mendengar ini, Ceng Ceng cepat membalik dan mengikuti temannya itu keluar guha dan mereka cepat bersembunyi di balik sebuah batu besar di depan guha itu.
Kini Ceng Ceng juga mendengar suara itu, suara seorang wanita.
"Aihh, kelinci gemuk, kau berani datang mengantar nyawa, ya?"
Tentu saja Ceng Ceng terkejut sekali dan sudah siap menghadapi lawan sambil melirik Topeng Setan yang kelihatan tenang-tenang saja itu.
Suara wanita itu disusul suara senandung merdu dan kini suara itu makin dekat.
Tak lama kemudian, Ceng Ceng yang mengintai dengan hati tegang itu melihat seorang dara muda muncul dan sepasang mata Ceng Ceng terbelalak, mulutnya tersenyum ketika dia mengenal bahwa dara itu bukan lain adalah Kim Hwee Li, puteri dari Hek-tiauw Lo-mo!
Dara cilik itu berjalan sendirian sambil bersenandung, wajahnya yang cantik itu kemerah-merahan dan berseri-seri, kedua tangannya memondong seekor kelinci putih gemuk yang agaknya dia tangkap di jalan tak jauh dari tempat itu.
"Aihhh, kiranya engkau, bocah nakal!"
Ceng Ceng yang entah mengapa dia sendiri tidak tahu menjadi lega hatinya karena tidak bertemu dengan si pemuda laknat, kini keluar dan menegur, diikuti oleh Topeng Setan dari belakang.
Hwee Li terkejut bukan main sampai melemparkan kelinci ke bawah dan cepat dia menengok, sepasang matanya yang lebar jeli itu terbelalak.
"Eh, kiranya Subo!"
Teriaknya dan dia lari menghampiri Ceng Ceng dan memegang tangan gadis itu dengan sikap manja.
"Subo, sudah terlalu lama aku menanti, mengapa Subo tidak lekas-lekas mengajarkan ilmu tentang racun kepadaku?"
Ceng Ceng memang merasa suka kepada dara remaja ini, bukan hanya karena dia pernah ditolong dan dibebaskan, juga karena melihat dara ini cantik manis sekali dan berwatak polos dan periang serta jenaka, jauh berbeda dengan ayahnya yang kejam dan jahat.
Maka dirangkulnya gadis cilik itu.
"Kelak kalau aku sudah ada waktu, Hwee Li. Bagaimana engkau bisa berada di sini? Dengan siapa? Dan apakah kau tinggal di dalam guha itu?"
Dara remaja itu cemberut, kelihatannya dia jengkel sekali.
"Ayah selalu meninggalkan aku, Subo. Aku mencari jejaknya sampai ke sini, akan tetapi dia hilang lagi. Siapa tidak menjadi gemas mempunyai ayah seperti dia yang tidak mempedulikan anaknya? Semua ini gara-gara Bibi Lauw Hong Kui yang selalu menyeret Ayah ke dalam petualangan-petualangan itu. Subo, kau ajak aku, ya.... eh, siapa dia ini? Tentu jahat sekali, Subo."
Hwee Li memandang kepada Topeng Setan dan kelihatan takut.
"Dia ini Paman Topeng Setan, tidak perlu kau takut dan jangan mengatakan jahat karena dia adalah seorang pendekar besar,"
Jawab Ceng Ceng. Akan tetapi Hwee Li masih memandang dengan penuh keraguan.
"Seorang pendekar biasanya berwajah gagah, tidak seperti ini. Akan tetapi karena dia memakai topeng, aku percaya bahwa di balik topeng itu tentu tersembunyi wajah yang gagah. Paman, boleh aku membuka topengmu?"
Dengan sikap lincah Hwee Li menghampiri Topeng Setan dan hendak membuka topeng itu. Tentu saja Topeng Setan melangkah mundur dan melindungi topengnya.
"Hwee Li, jangan kurang ajar kau! Mundur!"
Ceng Ceng membentak dan Hwee Li segera mundur dengan cemberut.
"Boleh jadi dia pendekar besar, akan tetapi dia tidak adil dan penakut!"
Dara remaja ini memandang kepada Topeng Setan dengan sikap menantang.
"Hemm, Nona cilik, mengapa kau mengatakan aku tidak adil dan penakut?"
Topeng Setan bertanya.
"Engkau tidak adil karena kau bisa melihat dan mengenal wajahku dan wajah semua orang, akan tetapi sebaliknya aku tidak bisa melihat wajahmu. Apakah itu adil namanya? Dan biarpun Subo mengatakan kau seorang pendekar besar, mana bisa disebut gagah dan tidak penakut kalau kau selalu bersembunyi di belakang topeng?"
Menghadapi dara cilik yang lincah dan pandai bicara ini, Topeng Setan kewalahan dan tidak mampu menjawab.
Ceng Ceng yang melihat ini segera maju menolong pendekar itu.
"Hwee Li, diam kau, jangan cerewet. Aku tidak akan mengajakmu kalau kau cerewet!"
Wajah dara cilik itu menjadi girang sekali. Dia cepat memegang lengan Ceng Ceng dan berkata.
"Subo mau mengajakku? Ah, terima kasih, dan aku tidak akan berani nakal dan banyak cerewet lagi!"
Ceng Ceng baru teringat bahwa dia sudah kelepasan bicara.
Mengajak bocah ini hanya akan menghambat perjalanan saja.
Akan tetapi dia sudah terlanjur bicara, maka dia lalu membelokkan persoalan dengan bertanya.
"Jadi engkau sendirian di sini? Pakaian siapa di dalam guha itu?"
Nona cilik itu tertawa, nampak deretan giginya yang putih seperti mutiara.
"Pakaianku, Subo. Tadi kucuci, sudah kotor sih! Lalu aku merasa lapar dan.... eh, mana kelinciku yang gemuk tadi?"
Dia teringat kelincinya dan mencari-cari. Tentu saja binatang itu sudah sejak tadi melarikan diri tidak dapat ditemukan lagi.
"Wah, celaka, rugi besar aku...."
Dara remaja itu membanting kakinya jengkel.
"Kau lapar, Nona? Kami membawa bekal roti kering dan daging dendeng kering...."
Kata Topeng Setan menawarkan.
"Benarkah? Wah, ternyata kau baik sekali, Paman,"
Katanya melihat Topeng Setan pergi menghampiri belakang batu besar di mana tadi dia menaruh buntalannya, dan segera kembali membawa roti kering dan dendeng.
Setelah makan roti kering dan minum air, Hwee Li lalu berkata.
"Subo, sekarang Subo hendak mengajak aku ke mana?"
Ceng Ceng mengerutkan alisnya.
Dia tadi sudah terlanjur berkata hendak mengajak bocah ini!
"Kami berdua mempunyai urusan yang amat penting dan juga amat berbahaya, Hwee Li.
Oleh karena itu, kau menanti saja di guha ini untuk beberapa lamanya.
Setelah urusan kami selesai, aku pasti akan menjemputmu di sini."
"Ah, aku sudah bosan di sini sendirian saja, Subo. Ajaklah aku seperti yang sudah Subo katakan tadi!"
Ceng Ceng merangkul pundak "muridnya"
Itu.
"Sungguh menyesal sekali, muridku yang baik! Kami menghadapi urusan yang sangat penting dan kami tergesa-gesa, kalau engkau kuajak sekarang, tentu akan memperlambat perjalanan...."
"Wah, Subo tidak perlu memikirkan hal itu. Aku tidak akan ketinggalan biar Subo dan Paman ini menggunakan ilmu lari cepat seperti terbang sekalipun. Pendek-nya, asal Subo memperbolehkan aku ikut, Subo tidak perlu menggandeng atau menggendongku, dan aku pasti akan dapat mengikuti Subo, bahkan bisa pula mendahului kalau perlu!"
Topeng Setan terkejut mendengar kata-kata yang sombong dan sikap yang jumawa itu.
"Eh, Nona cilik, jangan main-main. Benarkah engkau akan dapat mengikuti kecepatan lari kami?"
"Mengapa tidak? Eh, apa Paman pandai terbang?"
"Terbang?"
"Ya, terbang di angkasa."
"Tentu saja tidak bisa!"
"Nah, kalau begitu apa sukarnya mengikuti Paman dan Subo? Aku akan mengkuti kalian sambil terbang!"
"Hwee Li, jangan main-main kau!"
Ceng Ceng menegur.
"Masa kau bisa terbang?"
Anak perempuan yang manis itu tertawa.
Ceng Ceng tidak mungkin bisa marah.
Bocah ini sungguh sama sekali tidak pantas menjadi puteri Hek-tiauw Lo-mo yang menyeramkan itu.
Begini manis dan wajar.
"Subo, tentu saja aku tidak bisa terbang karena aku tidak mempunyai sayap. Akan tetapi burungku bisa dan ke mana-mana aku naik burungku itu."
"Eh, mana burung itu?"
"Dia galak sekali, kalau kupanggil sekarang mungkin akan menyerang Subo dan Paman ini. Nanti kalau Subo berdua sudah pergi, dia kupanggil dan aku akan mengikuti Subo. Bolehkah?"
Ceng Ceng kini tidak dapat menolak lagi.
"Sesukamulah. Akan tetapi engkau tidak boleh nakal dan harus menurut semua omonganku."
"Baik, Subo. Baik, ah, Subo manis sekali!"
Mau tidak mau Ceng Ceng tersenyum.
Bocah ini memang menyenangkan dan andaikata dia masih memiliki ilmu-ilmunya yang beracun dari Ban-tok Mo-li pun dia tidak akan mau menurunkannya kepada bocah manis ini, karena ilmu itu terlalu keji.
"Nah, kami akan melanjutkan perjalanan. Kalau burungmu tidak dapat membayangi kami, sebaiknya kau kembali saja ke sini dan dalam perjalanan pulang aku tentu akan menjemputmu di sini."
Gadis cilik itu hanya mengangguk dan memandang ketika subonya dan Topeng Setan melanjutkan perjalanan menuju ke utara.
Setelah mereka itu pergi jauh, barulah dia bersuit menyaring dan berkali-kali.
Tak lama kemudian terdengar jawaban dari atas dan seekor burung rajawali hitam yang amat besar menyambar turun.
Hwee Li tadi tidak membohong ketika mengatakan bahwa burungnya ini galak dan suka menyerang orang asing.
Burung itu adalah hek-tiauw (rajawali hitam) dari Pulau Neraka yang oleh ayahnya ditinggalkan kepadanya untuk melindungi puterinya itu dan untuk mengantarnya kembali ke Pulau Neraka kalau dikehendaki oleh Hwee Li.
Akan tetapi ternyata bocah ini tidak suka pulang ke Pulau Neraka, lebih senang berkeliaran ke mana-mana dan mengejar-ngejar ayahnya.
Setelah mengambil pakaiannya dari dalam guha, Hwee Li meloncat ke atas punggung rajawali hitam.
"Terbanglah, hek-tiauw dan ke sana....!"
Dia menepuk leher burung itu yang segera meloncat dan membentangkan sayapnya, terbang cepat ke atas menuju ke utara, yaitu arah yang ditunjuk oleh nona cilik itu.
Ceng Ceng yang berlari cepat bersama Topeng Setan mengharap agar "muridnya"
Itu tidak benar-benar mengejarnya.
"Heran sekali, engkau mempunyai murid seperti dia, puteri Ketua Pulau Neraka pula. Akan tetapi memang tidak bisa dielakkan lagi karena seperti telah kau ceritakan dahulu, dia telah menolong membebaskanmu, Ceng Ceng. Kulihat dia seorang bocah yang cerdik dan luar biasa sekali."
"Memang, akan tetapi sekarang aku tidak bisa mengajak dia, tentu hanya akan menimbulkan kelambatan dan kerepotan saja. Mudah-mudahan dia tidak benar-benar mempunyai burung dan dapat menyusul seperti yang dibualkan."
Hening sejenak, kemudian tiba-tiba Topeng Setan tertawa.
"Kau terlalu memandang rendah muridmu itu. Lihat!"
Dia menuding ke atas.
Ceng Ceng mengangkat mukanya memandang dan benar saja, di atas mereka kelihatan seekor burung rajawali hitam besar sedang terbang lewat dengan cepat sekali.
"Subo....! Hiiiii!!"
Hwee Li bersorak dan melambaikan tangannya. Burung itu terbang berputar-putar dan terus mengikuti ke arah perginya Topeng Setan dan Ceng Ceng.
"Luar biasa puteri Hek-tiauw Lo-mo itu!"
Ceng Ceng berkata.
"Mudah-mudahan saja dia tidak akan membikin keributan."
Namun ternyata Hwee Li tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan keributan dalam perjalanan itu.
Kalau malam tiba dan melihat subonya dan Topeng Setan beristirahat, dia pun menyuruh burungnya turun agak jauh dari situ, lalu membebaskan burungnya dan dia sendiri lalu menghampiri subonya, membantu subonya membuat api unggun, mencari binatang hutan untuk dipanggang dan dimakan bersama.
Keesokan harinya, setelah subonya dan Topeng Setan berang-kat, dia memanggil hek-tiauwnya dan kembali naik ke atas punggung burung yang segera menerbangkannya mengikuti gurunya.
Akhirnya, pada suatu siang, tibalah Ceng Ceng dan Topeng Setan di depan sebuah istana setelah melalui perjalanan melintasi gurun pasir selama setengah hari lamanya.
Sungguh aneh sekali, di tengah gurun seperti ini, di tengah lautan pasir, terdapat sebuah bangunan besar yang begitu megah, kelihatan sunyi sekali dan karenanya kelihatan "angker"
Dan keramat.
"Hati-hati, Paman...."
Ceng Ceng berbisik sambil melambaikan tangan ke atas.
Hwee Li menyuruh burungnya menukik turun, kemudian setelah dekat Ceng Ceng berkata kepada muridnya sambil mengisyaratkan dengan tangannya.
"Kau pergi agak jauh, jangan ikut turun di sini! Tunggu sampai kami keluar!"
"Baik, Subo....!"
Hwee Li menjawab dengan suara agak mengkal karena dari atas, istana itu kelihatan aneh dan indah, dan sebetulnya dia ingin sekali turun masuk.
Akan tetapi karena dilarang subonya, maka dia lalu menyuruh burungnya terbang tinggi di atas dan berputaran di sekeliling istana itu.
"Mari kita masuk, Paman...."
Ceng Ceng berkata kepada Topeng Setan setelah melihat burung dan muridnya itu melayang tinggi dan jauh.
Topeng Setan mengangguk dan mengikuti gadis itu yang melangkah masuk dengan hati-hati sekali.
Istana itu kuno sekali, akan tetapi buatannya kokoh kuat dan amat indah, terbuat dari batu-batu berwarna sehingga kelihatan aneh dan mencolok di tengah gurun pasir yang tandus.
Akan tetapi anehnya pula, di belakang dan samping kiri istana itu terdapat tanaman-tanaman berupa pohon-pohon dan bunga-bunga, cukup segar dan indah!
Mereka berdua memasuki gang-gang dan lorong-lorong di dalam istana itu.
Berliku-liku jalannya lorong-lorong itu, diapit-apit tembok tinggi yang penuh ukir-ukiran, berupa lukisan-lukisan dan huruf-huruf yang tidak dimengerti artinya oleh Ceng Ceng.
Istana ini ternyata luar biasa luasnya, akan tetapi sungguh mengherankan hati Ceng Ceng mengapa dia tidak bertemu dengan seorang pun di dalamnya.
Padahal istana itu mempunyai banyak sekali kamar-kamar, ruangan-ruangan dan halaman-halaman di mana terdapat tanaman-tanaman aneh, pohon-pohon yang tua sekali akan tetapi kate, tingginya hanya dua tiga kaki, diatur seperti sebuah taman yang indah dan di tengahnya terdapat kolam ikan emas dengan air memancar dari tengah-tengahnya!
Dan melihat betapa bersihnya tempat itu, terawat baik, mustahil kalau tidak ada penghuninya.
"Heran sekali, mengapa kosong, Paman? Apakah penghuninya sedang pergi?"
Ceng Ceng berbisik.
"Hemm.... mungkin begitu...."
Jawab Topeng Setan, suaranya juga lirih setengah berbisik.
Ceng Ceng bergidik.
Topeng Setan biasanya begitu tabah menghadapi apa pun, akan tetapi sekarang mendengar suaranya seperti seorang yang merasa ngeri dan jerih!
Apalagi dia.
Dia sudah merasa serem dan longak-longok memandang ke sana-sini.
"Sregggg....! Sregggg....!"
Ceng Ceng terperanjat sampai terloncat ketika kesunyian melengang itu tiba-tiba dipecahkan suara yang amat nyaring ini, suara orang menyapu lantai dengan sapu lidi.
Suara itu terdengar dari halaman yang baru saja mereka lewati, halaman di depan gedung perpustakaan, seperti yang tertulis di depan pintunya tadi.
Mendengar suara ini, giranglah hati Ceng Ceng.
Tentu itu seorang perawat atau pelayan rumah besar ini dan dapat ditanyai tentang Kok Cu si pemuda laknat.
Maka otomatis kakinya bergerak, berlari cepat menuju ke halaman depan gedung perpustakaan itu.
Akan tetapi begitu dia tiba di tempat itu, suara sapuan itu berhenti dan di situ kosong tidak nampak seorang pun manusia.
Hanya dia melihat onggokan daun dan debu di sudut, bekas sapuan, padahal tadi ketika dia lewat di sini, daun-daun itu masih berserakan, Ceng Ceng berdiri termangu-mangu dan memandang ke kanan kiri.
Tampak jelas bekas goresan sapu lidi di halaman yang cukup luas itu.
Sungguh aneh bukan main!
Halaman seluas itu, bagaimana mungkin disapu dalam waktu secepat itu?
Dia baru saja mendengar suara menyapu dan terus lari menghampiri, akan tetapi tempat itu telah selesai disapu orang dan si penyapu ajaib itu telah lenyap.
Bulu tengkuknya meremang.
Hanya iblis saja yang mampu bekerja secepat ini, atau kalau manusia, tentu memiliki kepandaian yang tak dapat diukur tingginya.
Keadaan yang sunyi itu, peristiwa yang amat aneh itu, menambah keseraman tempat yang demikian luas dan kosong.
Ceng Ceng terlongong dan memandang ke arah bekas tempat yang disapu.
Corat-coretan bekas sapuan itu aneh, tidak seperti biasa, melainkan malang melintang akan tetapi sangat teratur, setiap goresan bekas sapu lidi demikian panjang dan rata, lalu ujung-ujung goresan itu makin menipis dan lenyap akan tetapi semua tempat bersih seolah-olah semua kotaran itu terdorong oleh tenaga mujijat, bukan oleh lidi-lidi yang dijadikan satu menjadi sebatang sapu.
Melihat jarak goresan-goresan itu, awal dan akhir gerakannya, Ceng Ceng terkejut karena gerakan-gerakan itu bukanlah gerakan orang menyapu biasa sambil membongkok sedikit, melainkan gerakan orang bermain silat yang aneh!
Agaknya orang atau setan yang menyapu halaman ini tadi menyapu sambil bersilat!
Dan semua "serangan"
Ditujukan ke sudut halaman sehingga semua kotoran berkumpul dan menumpuk secara tepat di tempat itu. Bukan main! "Sreggg! Sreggg!"
Ceng Ceng terloncat kaget dan kini lebih cepat dari tadi, dia meloncat dan berlarian ke arah suara orang menyapu di bagian depan, di halaman depan ruangan samadhi.
Akan tetapi setibanya di tempat itu, dia hanya melihat berkelebatnya bayangan orang yang cepat sekali meninggalkan lapangan yang sudah disapu itu!
Dia hendak mengejar, akan tetapi kembali sudah terdengar suara orang menyapu, kini di sebelah kiri.
Dia lari mengejar ke tempat itu, hanya untuk mendapatkan halaman lain yang sudah bersih dan hanya tinggal ada bekas-bekasnya saja seperti tadi.
Sampai lima enam kali dia dipermainkan suara orang menyapu ini sehingga dia merasa (Lanjut ke
Jilid 54) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 54 mendongkol bukan main.
Agaknya orang itu bukannya menyapu, melainkan sengaja mempermainkan aku, demikian bisik hatinya yang panas.
Dan dibandingkan dengan orang itu, kepandaiannya sendiri agaknya tidak ada artinya.
Akan tetapi dia tidak takut.
Kalau dia bertemu dengan pemuda laknat musuh besarnya itu di sini, dia sudah siap untuk menghadapinya dan menyerangnya mati-matian.
Dia kini telah memiliki tenaga mujijat, khasiat anak naga itu.
Di dalam perjalanan, dia sudah memperoleh petunjuk-petunjuk dari Topeng Setan sehingga kini sedikit demi sedikit Ceng Ceng sudah mampu memanfaatkan tenaga mujijatnya itu, sungguhpun belum seluruhnya dan belum sempurna.
Menurut keterangan Topeng Setan, kalau dia sudah mampu menguasai seauruh tenaga mujijat itu, maka di dunia ini jarang ada yang akan mampu menandingi kekuatan sin-kangnya.
"Paman...."
Dan Ceng Ceng terkejut sekali, baru teringat sekarang bahwa sejak tadi dia meninggalkan Topeng Setan dan sejak tadi kawannya itu tidak ada lagi di belakangnya!
"Ahh, di mana dia....?"
Ceng Ceng memandang ke kanan kiri.
Dia sampai lupa kepada Topeng Setan karena dia digoda oleh tukang sapu yang dikejarnya ke sana ke mari.
Dia lalu mencari ke mana-mana, akan tetapi istana itu luas bukan main, banyak sekali lorongnya sehingga dia sudah lupa lagi di mana tempat dia meninggalkan kawannya itu tadi.
Dia seolah-olah telah "dipancing"
Untuk meninggalkan Topeng Setan.
Celaka, pikirnya, tentu pihak musuh sengaja menggunakan siasat memecah-belah mereka berdua sehingga tidak dapat saling menjaga dan saling menolong!
"Paman....!"
Dia mulai berteriak memanggil sambil berlari ke sana-sini, hatinya penuh ketegangan.
Dia memasuki setiap lorong, membuka setiap kamar yang amat banyak jumlahnya.
Akan tetapi semua kamar kosong.
Kosong dan sunyi melengang.
Dia merasa panik dan serem, bulu tengkuknya meremang.
Hari sudah mulai gelap agaknya, ataukah karena istana itu amat tinggi maka matahari yang sudah mulai condong ke barat itu terhalang sinarnya?
Dia sendirian saja di istana yang angker ini, dan menghadapi tempok-tembok yang kokoh kuat dan tinggi itu, dia merasa dirinya amat kecil.
Dia terus lari mencari-cari dan kini hatinya penuh rasa takut dan juga kagum.
Kiranya di sebelah dalam istana ini luasnya bukan main, seperti sebuah kota saja.
Ada tamannya, ada anak sungai dengan jembatan yang artistik, bangunan-bangunan kecil yang aneh bentuknya namun indah.
Ceng Ceng mulai terengah-engah.
Lalu dia mengambil keputusan untuk keluar saja dari istana yang menyeramkan ini.
Di luar sana setidaknya ada muridnya, Hwee Li dan burung rajawali hitam itu.
Dan di luar dia akan menanti Topeng Setan, atau mungkin sekali Topeng Setan sudah keluar lebih dulu karena melihat istana itu kosong dan menanti dia di luar.
Mulailah Ceng Ceng berlarian mencari jalan keluar.
Akan tetapi celaka!
Lorong mana pun yang diambilnya, tidak membawanya ke luar!
Jalan-jalan di situ amat aneh, berputar-putar dan dia tidak dapat keluar, bahkan memasuki bagian-bagian yang tadi belum pernah dilalui.
Dia tersesat di dalam istana luas kosong itu!
"Paman Topeng Setan....!"
Dia berteriak-teriak karena hari makin gelap, suasananya makin menyeramkan.
Akan tetapi, teriakannya itu kini bergema dan yang terdengar kembali hanya gema suara terakhir.
"....setaaaann....!"
Sehingga makin meremang bulu tengkuknya.
Tengkuknya terasa dingin, seolah-olah setiap saat tengkuknya akan diraba dan dicekik tangan setan yang dingin!
Ceng Ceng makin panik dan baru sekali ini dia merasa takut, takut karena jalan pikirannya yang mencipta yang bukan-bukan.
Ceng Ceng adalah seorang gadis yang dalam beberapa tahun telah digembleng oleh pengalaman-pengalaman aneh mengerikan, bahkan beberapa kali dia menghadapi bahaya maut.
Namun baru satu kali ini dia merasakan ketakutan yang lain lagi sifatnya, rasa takut yang timbul karena menghadapi hal yang membingungkan dan tidak dimengertinya.
Lebih baik dia menghadapi seratus orang lawan yang mengeroyoknya dan dapat dilihatnya.
Sekarang ini, dia tidak dapat keluar, seorang diri dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Padahal malam agaknya mulai tiba dan cuaca menjadi makin gelap.
Ceng Ceng hampir saja menangis.
Cuaca menjadi demikian gelapnya sehingga dia tidak berani lagi berlari-larian, hanya berjalan dengan mata terbelalak seperti mata seekor kelinci yang terkurung oleh jebakan.
Tiba-tiba dia menahan napas.
Tampak olehnya bayangan orang di seberang jembatan di depan sana, bayangan hitam yang memegang sebatang lilin bernyala.
Cahaya lilin itu terlalu kecil sehingga dia tidak dapat melihat wajah pemegangnya.
Rasa ngeri dan takutnya lenyap.
Pasti bukan setan yang memegang lilin bernyala itu.
Bayangan itu menggunakan api lilin, menyalakan lampu-lampu minyak yang berdiri di setiap sudut.
Gerakannya ketika membuka penutup lampu, menyulut dan menutupnya kembali amat cepatnya dan api lilin itu bergerak-gerak.
Ceng Ceng cepat menggerakkan kakinya mengejar.
Akan tetapi orang itu makin cepat pula gerakannya, meloncat ke sana-sini, sulut sana-sini, lari ke depan, sulut lagi sana-sini, terus dikejar oleh Ceng Ceng dan akhirnya, setelah menyalakan lampu terakhir, orang itu meniup padam lilinnya dan lenyap!
Ceng Ceng terpaksa berhenti, memandang ke sana ke mari.
Sunyi melengang dan cahaya lampu-lampu minyak di sekitar tempat itu yang telah disulut oleh orang aneh tadi menciptakan suasana yang makin menyeramkan.
Akan tetapi sedikitnya ancaman kegelapan sudah tidak ada lagi dan Ceng Ceng berbesar hati.
Andaikata muncul apa pun musuh atau siluman, dia masih dapat menjaga diri di bawah sinar-sinar lampu yang muram akan tetapi cukup terang itu.
Selagi dia termangu-mangu, tidak tahu betul apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh di sebelah kanan, suara orang bertempur!
Ceng Ceng cepat berlari ke arah suara itu, dan akhirnya dia tiba di bawah sebuah bangunan tingkat dua.
Dia melihat ke atas dan ternyata ada dua orang bertempur saling serang dengan serunya di atas genteng bangunan tingkat dua itu.
Yang seorang adalah kakek-kakek yang bertongkat, melawan seorang laki-laki bermantel lebar yang menutupi hampir sekujur badannya yang tinggi besar.
Agaknya laki-laki tinggi besar itu maklum akan kedatangan Ceng Ceng.
Dia menoleh dan....
hampir saja Ceng Ceng menjerit.
Itulah dia!
Laki-laki berjubah lebar itu!
Si pemuda laknat, tak salah lagi!
"Keparat....!"
Mulutnya mendesis dan Ceng Ceng hendak meloncat ke atas.
Akan tetapi pemuda itu yang menoleh dan melihat Ceng Ceng, nampak terkejut lalu meloncat jauh ke depan melarikan diri, dikejar oleh musuhnya, kakek bertongkat.
Melihat ini, Ceng Ceng terus melayang ke atas genteng dan mengejar pula ke arah kedua orang itu tadi berkejaran.
Akan tetapi, gerakan mereka cepat bukan main dan di atas genteng-genteng istana, cuaca tidaklah seterang di bagian bawah yang sudah diterangi banyak lampu.
Ceng Ceng terpaksa berhenti ketika dia kehilangan dua bayangan yang dikejarnya itu.
Dia mengerahkan seluruh ketajaman telinga untuk mendengarkan.
Benar, di kejauhan dia mendengar lagi suara orang bertempur.
Cepat dia meloncat dan dari atas dia melihat ada satu orang dikeroyok tiga orang.
Yang dikeroyok adalah seorang yang berjubah lebar tadi, si pemuda laknat, musuh besarnya.
Karena Ceng Ceng tidak mempedulikan lain-lainnya, hanya mencurahkan seluruh perhatian terhadap si pemuda laknat, maka dia tidak peduli siapa yang mengeroyok itu dan dia langsung meloncat dari atas dengan maksud menyerang musuh besarnya sambil memaki.
"Hendak lari ke mana kau?"
Orang berselubung mantel atau jubah lebar itu menengok dan sekali ini Ceng Ceng dapat mengenal betul wajah yang gagah perkasa itu, wajah yang dahulu di dalam guha kelihatan kemerahan dan beringas, akan tetapi sekarang kelihatan terkejut.
Orang itu mengeluarkan suara aneh di lehernya lalu meloncat dan melarikan diri lagi, dikejar oleh tiga orang musuhnya yang juga amat lihai dan memiliki gerakan-gerakan cepat bukan main sehingga kembali Ceng Ceng tertinggal jauh ketika mencoba mengejarnya dan sebentar saja sudah kehilangan bayangan mereka.
Ceng Ceng makin mendongkol.
Terpaksa dia berdiri diam di sebuah taman, sambil mendengarkan lagi.
Jantungnya berdebar tegang.
Sekarang dia tidak akan keliru lagi.
Tentu dialah orangnya!
Selain wajahnya yang tak mungkin dia lupakan selama hidupnya itu, juga buktinya begitu melihat dia muncul, orang bermantel lebar itu melarikan diri.
Padahal melihat kelihaiannya menghadapi lawan-lawannya, tidak mungkin laki-laki itu takut kepadanya.
Tentu dia lari karena dia pun ingat kepadaku, pikir Ceng Ceng.
Jantungnya berdebar aneh.
Ingat padaku?
Dia masih ingat padaku?
Ingat secara bagaimana?
Kalau dia sendiri tentu saja selama hidupnya akan teringat kepada pemuda itu, ingat dengan hati penuh kebencian.
Akan tetapi bagaimana perasaan pemuda itu begitu melihat dan mengenalnya?
Ingin sekali dia mengetahui perasaan pemuda itu.
Kembali terdengar suara orang bertempur.
Ceng Ceng menahan kakinya yang sudah hendak berlari lagi.
Tidak, dia harus cerdik sekarang.
Dia tidak boleh lari tergesa-gesa, karena hal ini akan membuat kehadirannya ketahuan dan si laknat itu tentu akan lari lagi.
Maka kini Ceng Ceng menghampiri tempat arah datangnya suara pertempuran dengan jalan kaki, berindap-indap dan hati-hati agar jangan sampai diketahui oleh mereka yang sedang bertanding, terutama tentu saja oleh pemuda musuhnya itu.
Akan tetapi setelah tiba di tempat itu dan melihat mereka tidak melarikan diri, hatinya kecewa karena yang bertanding sekali ini bukanlah si pemuda laknat yang memakai mantel lebar tadi, Melainkan seorang kakek yang memegang sebatang sapu lidi bergagang panjang, dikeroyok oleh dua orang kakek yang bersenjata kebutan dan yang seorang bersenjata tasbeh.
Dua orang kakek pengeroyok itu lihai sekali, akan tetapi kakek pembawa sapu lidi itu tidak kalah lihainya.
Terutama sekali gin-kangnya, amat luar biasa sekali gerakannya, cepat seperti beterbangan sehingga pandang mata Ceng Ceng menjadi kabur melihat kakek itu berkelebatan dan sapu lidi di tangannya digerakkan menjadi gulungan sinar yang amat lebar mengelilingi dan menyelimuti dirinya.
Biarpun dua orang pengeroyoknya itu pun amat lihai sehingga gerakan senjata mereka mendatangkan angin yang bersiutan, akan tetapi kakek tukang sapu ini mampu melindungi dirinya, bahkan masih sempat pula menyumpah-nyumpah dengan suaranya yang agak parau.
"Kurang ajar sekali! Kalian ini setan-setan dari mana malam-malam begini berani mengacau di rumah orang?"
"Heh, pelayan rendah! Kedudukanmu hanya tukang sapu, jangan banyak bicara kau! Hayo antarkan kami ke gedung pusaka milik Si Bongkok kepada kami!"
Teriak lawannya yang bersenjata kebutan.
"Hemm, kiranya kalian ini maling-maling tak tahu malu? Benar-benar gagah perkasa, berani datang merampok selagi tuanku pergi. Kalau beliau berada di sini tak mungkin kalian berani datang. Dasar pengecut!"
"Pelayan hina bermulut lancang!"
Bentak lawan yang memegang tasbeh dan mereka sudah bertanding lagi makin seru.
Ceng Ceng yang sedang menonton pertempuran hebat itu dengan hati kecewa karena dia tidak melihat si pemuda laknat yang dikejarnya, tiba-tiba mendengar ada suara pertempuran yang lebih ramai di balik tembok kiri.
Cepat dia lalu menyelinap dan menghampiri.
Ketika dia sudah tiba di balik tembok itu, dia melihat si pemuda laknat yang memakai jubah mantel lebar itu dikeroyok oleh lima orang yang lihai.
Agaknya si pemuda itu hanya menggunakan ujung mantelnya yang lebar untuk menghadapi pengeroyokan lima orang lawannya yang bersenjata pedang.
Akan tetapi kedatangan Ceng Ceng yang sudah menyelinap hati-hati itu agaknya diketahuinya pula dan dia sudah meloncat lagi, menghilang ke dalam sebuah lorong yang agak gelap.
Lima orang lawannya agaknya telah mengenal kelihaian pemuda itu maka melihat pemuda itu memasuki lorong gelap, mereka tidak berani mengejar, takut terjebak melainkan mengambil jalan atas dengan berloncatan ke atas genteng.
Akan tetapi Ceng Ceng tidak mempedulikan apa-apa lagi dan dia sudah mengejar secepatnya ke dalam lorong gelap itu.
Sekali ini dia tidak akan melepaskan musuh besarnya itu, tekadnya sambil mempercepat larinya.
Akan tetapi tiba-tiba dia berteriak kaget dan terguling di dalam lorong gelap karena ada sesuatu yang membelit kedua kakinya.
Cepat dia merenggut benda itu dan ternyata benda itu adalah sehelai jubah lebar seperti yang dipakai oleh pemuda musuhnya tadi!
Tentu saja tergulingnya ini memperlambat pengejarannya dan ketika ia meloncat bangun kembali, bayangan pemuda itu telah lenyap.
Ceng Ceng mendongkol dan sambil melempar mantel itu dia menyumpah-nyumpah dan melanjutkan pengejarannya sampai keluar dari lorong gelap.
Setibanya di luar lorong itu, di dalam halaman yang luas dan cukup terang, Ceng Ceng termangu-mangu, tidak tahu harus mengejar ke mana karena sudah tidak nampak lagi bayangan orang yang dicarinya sedangkan di situ terdapat banyak sekali jalan simpangan.
Selagi dia kebingungan, kembali terdengar suara orang bertanding di sebelah kiri.
Cepat dia menuju ke tempat itu, berindap-indap dan setelah melewati jembatan kecil, dia melihat seorang kakek yang bersenjata cambuk sedang berhadapan dengan Topeng Setan!
Ceng Ceng memandang heran.
Agaknya istana yang sunyi itu hanya dihuni oleh tukang sapu yang lihai dan murid Si Dewa Bongkok, yaitu si pemuda laknat yang memakai mantel lebar, dan malam ini istana didatangi oleh banyak sekali orang lihai yang maksudnya tentu akan merampok pusaka-pusaka Istana Gurun Pasir ini.
Dan Topeng Setan agaknya membantu pihak tuan rumah menghadapi rombongan perampok!
Dia sendiri menjadi bingung.
Pemuda laknat musuh besarnya tinggal di istana ini, dan dia harus memusuhinya.
Akan tetapi, perampok-perampok ini, tidak mungkin dia harus bekerja sama dengan para perampok!
Jelas bahwa Topeng Setan sendiri menentang para perampok dan dia tidak dapat menyalahkan Topeng Setan karena memang sudah sepatutnya bagi seorang gagah untuk mencegah perbuatan jahat seperti perampokan.
Akan tetapi dia?
Tak mungkin dia mau membantu musuh besarnya!
Kakek itu amat lihai menggerakkan cambuknya, namun dia bukanlah lawan berat bagi Topeng Setan sehingga ketika ujung cambuknya kena dicengkeram, ujung cambuk itu patah.
Pemiliknya mengeluarkan seruan kaget dan meloncat ke belakang melarikan diri.
Topeng Setan bergerak mengejarnya.
"Paman....!"
Ceng Ceng berteriak. Topeng Setan berhenti, membalikkan tubuhnya dan berkata.
"Ceng Ceng, istana ini kemasukan maling-maling, aku harus membantu. Kau berdiamlah dulu di sini, aku hendak mengejar mereka."
Setelah berkata demikian, Topeng Setan meloncat ke atas genteng dan lenyap, agaknya hendak membantu si tukang sapu.
Ceng Ceng termenung, bingung.
Lalu dia cemberut.
Mengapa Topeng Setan lebih mementingkan urusan istana ini, urusan tempat tinggal musuh besarnya?
Mengapa Topeng Setan tidak cepat-cepat membantunya menangkap si pemuda laknat?
Dengan hati panas dia lalu mengejar pula.
Terdengar pertempuran hebat di lapangan yang luas, yang terletak di belakang istana.
Ceng Ceng lari menghampiri dengan penuh harapan.
Kalau dia bertemu dengan musuhnya di situ, tidak peduli Topeng Setan membelanya menghadapi para perampok, dia tetap akan menyerang di pemuda laknat!
Dengan hati panas Ceng Ceng sudah mencabut pedangnya dan dengan pedang di tangan dia menghampiri tempat pertempuran itu.
Akan tetapi kembali hatinya kecewa sekali.
Ada sebelas orang yang lihai-lihai mengeroyok dua orang, yaitu kakek tukang sapu dan Topeng Setan, sedangkan pemuda laknat itu tidak kelihatan di situ!
Masih ada empat orang musuh yang berdiri di luar tempat pertempuran dan terdengar seorang diantara mereka berkata nyaring.
"Mereka berdua telah dikurung, mari kita mencari sendiri gudang pusaka!"
Empat orang anggauta gerombolan maling itu lalu meloncat, dengan gerakan luar biasa ringannya tubuh mereka melayang ke atas genteng.
Terdengar kakek tukang sapu tertawa.
"Ha-ha-ha, kalian berempat hanya mengantar nyawa!"
Ceng Ceng tidak mengerti mengapa kakek tukang sapu itu mentertawakan empat orang itu, tentu saja dia tidak mengira bahwa tukang sapu itu merasa yakin bahwa murid majikannya yang tadi menghadapi para penyerbu dan yang sekarang tidak nampak, tentu telah berlaku cerdik dan menjaga keselamatan gudang perpustakaan sehingga empat orang itu tentu akan tewas di tangan murid majikannya.
Kakek tukang sapu itu memang gagah berani.
Biarpun dia yang telah dibantu oleh Topeng Setan itu berada dalam keadaan terdesak menghadapi keroyokan sebelas orang yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia masih mampu mentertawakan para lawannya, sedikit pun tidak mengenal takut.
Tiba-tiba terdengar lengking aneh di atas, diikuti suara tertawa merdu nyaring, suara ketawa seorang gadis cilik yang menunggang seekor rajawali hitam.
Kiranya rajawali hitam dari Pulau Neraka itu yang tadi mengeluarkan suara melengking dan kini atas dorongan dan bujukan Hwee Li, gadis itu, si rajawali hitam raksasa menyambar ke arah empat orang anggauta penyerbu yang tadi berlompatan di atas genteng!
Empat orang itu kaget bukan main, cepat mereka menggerakkan pedang menyerang ke atas.
Akan tetapi sepasang cakar rajawali hitam itu besar dan kuat sekali, melebihi baja kerasnya, sehingga dua orang berteriak kaget, pedang mereka terlepas dan tangan mereka berdarah kena dihantam cakar, orang ke tiga terpelanting kena disambar sayap dan orang ke empat berteriak-teriak menutupi mata kanannya yang disambar ujung sepatu Hwee Li yang tertawa-tawa!
Empat orang itu cepat berloncatan turun lagi dan Hwee Li sambil tertawa menerbangkan rajawalinya ke atas, berputaran sambil menonton pertempuran hebat yang masih terjadi di halaman luas itu.
Pada saat itu, terdengar suara lengking nyaring berkali-kali dan rajawali yang ditunggangi Hwee Li itu menggerakkan sayapnya dan terbang tinggi sekali seperti terkejut atau ketakutan.
Ceng Ceng mengkhawatirkan keselamatan muridnya dan berseru.
"Hwee Li, hati-hati kau....!"
Akan tetapi tiba-tiba nampak di angkasa dua bayangan besar hitam, lalu terdengar kelepaknya sayap-sayap burung raksasa.
Kiranya dua bayangan hitam besar setelah kini tiba dekat, adalah dua ekor rajawali putih yang besar-besar dan di atas rajawali putih yang betina duduk seorang kakek yang berkaki satu dan berambut putih panjang riap-riapan.
"Hemm.... orang-orang yang tamak di mana-mana menimbulkan kekacauan saja!"
Terdengar kakek berkaki buntung sebelah itu berkata dan tiba-tiba tubuhnya melayang turun dari atas punggung rajawali itu.
"Pendekar Siluman....!"
Beberapa orang di antara para penyerbu itu berseru kaget dan kini mereka semua menjadi panik karena melihat betapa pendekar tua berkaki buntung sebelah itu ketika tiba di bawah telah terpecah-pecah menjadi sepuluh orang kembar yang menggerakkan tongkat secara hebat, tubuh sepuluh orang Pendekar Super Sakti itu mencelat ke sana-sini dengan kecepatan seperti kilat karena dia menggunakan ilmunya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun!
Melihat ini, peninglah kepala semua orang itu dan pandang mata mereka menjadi kabur.
"Lari....!"
Teriak seorang berpakaian tosu yang memegang kebutan dan tanpa diperintah dua kali, lima belas orang itu segera meningalkan ternpat itu dengan kacau-batau dan ketakukan.
Padahal mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi.
Sejenak kakek tukang sapu itu berdiri terbelalak memandang kepada Pendekar Super Sakti Suma Han yang berdiri dengan tenang di depannya, kini sudah menjadi satu, tidak lagi terpecah menjadi sepuluh orang.
Kemudian kakek itu membungkuk dengan penuh hormat kepada Suma Han dan berkata.
"Kiranya Taihiap yang berjuluk Pendekar Super Sakti, tocu (majikan pulau) dari Pulau Es. Hamba mewakili majikan hamba dan kongcu menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Taihiap mengusir para penjahat. Juga kepada Ji-wi berdua saya menghaturkan terima kasih,"
Katanya lebih lanjut dan menjura ke arah Ceng Ceng dan Topeng Setan. Pendekar Super Sakti mengangguk.
"Pelayan yang baik dan setia,"
Katanya.
"Di manakah adanya tuanmu? Aku datang karena melihat jejak puteraku, Suma Kian Lee, menuju ke tempat ini. Apakah dia bersama dengan majikanmu?"
Tukang kebun itu kembali menjura.
"Belum lama ini majikan hamba datang bersama Suma Kongcu, kemudian majikan hamba mengajak Suma Kongcu ke selatan setelah tiba undangan dan tantangan dari tiga orang datuk lainnya yang mengadakan pertemuan di Yin-san, pegunungan sebelah selatan. Kemudian datang Kongcu (Tuan Muda) murid majikan hamba dan kami berdua diserang oleh gerombolan penjahat tadi. Untung ada Sam-wi (Anda Bertiga) yang membantu kami."
Tiba-tiba Ceng Ceng meloncat ke depan dan menodongkan pedangnya kepada kakek si tukang sapu yang menjadi terkejut sekali.
"Hayo katakan, siapa kongcumu itu? Bukankah dia yang bernama Kok Cu?"
"Benar, Nona.... kenapa....?"
"Di mana dia? Lekas suruh dia keluar!"
"Eh, hamba.... hamba kira dia menjaga di gedung pusaka, sudah pasti begitu karena dia amat cerdik, tahu bahwa para penjahat tadi hendak menyerbu gedung pusaka."
"Nona muda, segala urusan dapat diselesaikan dengan baik, tanpa kekerasan."
Tiba-tiba Pendekar Super Sakti berkata dan suaranya yang halus itu membuat Ceng Ceng meremang bulu tengkuknya.
"Maaf, Locianpwe,"
Katanya dan dia menyimpan pedangnya.
"Biar saya yang mencarinya bersama orang tua ini,"
Kata Topeng Setan.
Tukang sapu mengangguk dan sekali berkelebat lenyaplah keduanya itu dari halaman.
Setelah mereka pergi, Pendekar Super Sakti memandang Ceng Ceng penuh perhatian dan bertanya.
"Nona, semenjak pertemuan kita di warung itu, tak kusangka akan bertemu lagi dengan kau di sini. Sahabatmu yang bertopeng itu hebat sekali. Siapakah dia?"
"Dia adalah sahabat dan pelindungku, Locianpwe. Dia adalah Paman Topeng Setan."
"Paman? Hemm, kukira dia belum setua itu. Tadinya kami kira dia itu suamimu. Kepandaiannya hebat. Akan tetapi mengapa kalian sampai di Istana Gurun Pasir ini? Tidak sembarang manusia dapat sampai di tempat berbahaya ini."
"Saya.... saya mencari.... seorang musuh besar saya,"
Kata Ceng Ceng gagap.
Jantungnya berdebar dan dia merasa jerih sekali berhadapan dengan pendekar yang hebat ini, yang juga masih terhitung kakek tirinya!
Segala sesuatunya dari pendekar ini demikian berwibawa dan amat kuat pengaruhnya sehingga dia merasa tidak enak, takut dan sungkan.
"Hemm, jadi itukah yang kau katakan urusan pribadi dahulu itu? Kasihan, semuda ini sudah dicengkeram oleh dendam yang begitu hebat...."
Ucapan ini dikeluarkan oleh pendekar itu dengan lirih seperti bicara kepada dirinya sendiri.
"Dan bocah perempuan yang naik rajawali hitam itu, siapa dia? Engkau tadi berseru kepadanya."
"Dia.... dia itu Kim Hwee Li, puteri dari Hek-tiauw Lo-mo...."
"Eh! Ketua Pulau Neraka?"
Suma Han kelihatan tercengang juga.
"Benar, Locianpwe, dan dia.... dia menjadi murid saya."
Jawaban ini tentu saja membuat Suma Han atau Pendekar Super Sakti yang tidak tahu akan duduknya perkara menjadi terheran-heran.
Akan tetapi pada saat itu, Topeng Setan dan kakek tukang sapu sudah muncul lagi sehingga percakapan mereka terhenti.
"Dia tidak ada lagi di sini, dan di kamarnya aku menemukan suratnya ini,"
Kata Topeng Setan kepada Ceng Ceng, sedangkan kakek tukang sapu tadi hanya mengangguk membenarkan.
"Benar, Nona. Surat itu ditujukan kepada saya,"
Katanya.
Ceng Ceng menerima surat itu dan membaca huruf-huruf yang agaknya ditulis dengan tergesa-gesa, mengatakan bahwa penulisnya hendak pergi menyusul gurunya ke selatan, ke Yin-san untuk membantu gurunya menghadapi para datuk lainnya.
"Kalau begitu, kita susul ke Yin-san!"
Ceng Ceng berteriak, penuh kekecewaan dan kemarahan.
"Akan tetapi Yin-san bukan tempat yang dekat dari sini...."
Topeng Setan berkata.
"Tidak peduli, aku harus menyusulnya!"
Ceng Ceng berkata penasaran. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.
"Subo.... celaka, dua ekor pek-tiauw (rajawali putih) itu mengejar-ngejar burungku! Aku terpaksa mendarat!"
Dari atas menyambar turun burung rajawali hitam dan Hwee Li cepat meloncat turun, merangkul leher burungnya dan berkata.
"Tenanglah, hek-tiauw, semua ini sahabat, kau tidak boleh nakal."
Dengan susah payah Hwee Li menenangkan burungnya yang kelihatan marah dan gelisah melihat orang-orang asing itu.
Tiba-tiba Hwee Li menahan jeritnya ketika menoleh dan melihat Suma Han.
Dia menudingkan telunjuknya kepada pendekar itu dan berkata gagap.
"Celaka.... aku.... aku pernah mendengar.... kau.... kau Pendekar Super Sakti...."
Suma Han tersenyum dan mengangguk.
"Anak baik, kau puteri Ketua Pulau Neraka? Sungguh bahagia sekali ayahmu memiliki seorang puteri seperti engkau."
Hwee Li memainkan matanya yang jeli.
"Ehh? Kau.... kau tidak benci padaku, tidak membunuh aku....?"
Suma Han tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"....tapi rajawali putih menyerang rajawaliku. Mereka itu tentu rajawali-rajawali dari Pulau Neraka dahulu, yang sekarang sudah menjadi besar dan lebih tangkas daripada hek-tiauw ini."
Suma Han bersuit panjang dan dua ekor rajawali putih itu menyambar turun, akan tetapi mereka itu mendekam di belakang Suma Han tanpa berani bergerak, sedangkan rajawali hitam dirangkul Hwee Li karena kelihatan gelisah dan gemetaran.
"Memang ini dua ekor pek-tiauw dari Pulau Neraka yang dahulu menerbangkan kedua orang puteraku dari Pulau Neraka."
Kemudian dia menoleh kepada Ceng Ceng dan Topeng Setan.
"Agaknya kita semua mempunyai niat yang sama yaitu ke Yin-san. Aku pun hendak menyusul Kian Lee yang pergi bersama Dewa Bongkok ke Yin-san, kalau kalian hendak ke sana, mari pergunakan pek-tiauwku yang seekor lagi. Nona dapat boncengan dengan muridmu ini di punggung hek-tiauw dan Saudara Topeng Setan ini boleh memakai pek-tiauw jantan ini."
Tentu saja Ceng Ceng dan Topeng Setan menerima penawaran itu dengan gembira.
Ceng Ceng lalu meloncat ke atas punggung hek-tiauw bersama Hwee Li, sedangkan Topeng Setan meloncat ke punggung pek-tiauw jantan setelah Suma Han naik ke punggung pek-tiauw betina.
Suma Han menerbangkan pek-tiauw betina itu di depan dan burung yang ditunggangi Topeng Setan segera mengejarnya.
Hwee Li yang gembira sekali memboncengkan gurunya lalu memerintahkan rajawali hitamnya untuk mengikuti sepasang rajawali putih itu.
Memang hebat sekali Pendekar Super Sakti.
Menunggang burung rajawali saja sudah merupakan hal yang amat mendebarkan hati penuh ketegangan, apalagi di waktu malam!
Hwee Li sudah biasa sejak kecil menunggang burungnya, seperti menunggang kuda saja.
Akan tetapi Ceng Ceng merasa ngeri, bahkan Topeng Setan sendiri mau tidak mau kadang-kadang menahan napas saking tegangnya.
Namun Pendekar Super Sakti dengan enak saja melanjutkan penerbangan itu dan baru pada keesokan harinya menyuruh rajawalinya menukik turun ke atas sebuah bukit yang sunyi.
Mereka memberi kesempatan kepada tiga ekor burung rajawali untuk beristirahat, dan juga mereka mencari tempat teduh untuk mengaso dan mengisi perut dengan roti kering yang dibawa sebagai bekal oleh Topeng Setan dan Ceng Ceng.
Saat beristirahat, setelah makan, dipergunakan oleh Pendekar Super Sakti untuk bersamadhi.
Melihat ini, Topeng Setan, Ceng Ceng, dan Hwee Li tidak berani mengganggu, bahkan Topeng Setan mengajak mereka agak menjauhi di mana Topeng Setan memberi petunjuk kepada Ceng Ceng untuk menyempurnakan penguasaan tenaga sin-kangnya, Sedangkan Ceng Ceng juga mulai mengajarkan semacam ilmu pukulan kepada Hwee Li.
Akan tetapi diam-diam Majikan Pulau Es itu melihat betapa Topeng Setan kadang-kadang melakukan latihan yang aneh, dengan tubuh hampir menelungkup dan begitu Topeng Setan melakukan gerak silat, batang-batang pohon di seke-lilingnya bergoncang seperti diamuk badai, daun-daun rontok berhamburan.
Pendekar Super Sakti terkejut dan maklum bahwa Topeng Setan benar-benar merupakan seorang yang amat lihai.
Dia tidak tahu bahwa itu adalah ilmu yang paling mujijat dari Istana Gurun Pasir, yaitu Ilmu Sin-liong-hok-te yang sedang dilatih dan disempurnakan oleh Topeng Setan, yang akhirnya menguasai ilmu mujijat itu setelah lengan kirinya buntung.
Juga sering sekali Suma Han yang memiliki penglihatan waspada itu melihat sikap termangu-mangu dan tenggelam dalam kedukaan hebat dari orang yang wajahnya disembunyikan di balik topeng itu.
Dia tahu bahwa Topeng Setan masih muda dan dia makin kagum, juga makin heran karena antara Ceng Ceng dan manusia aneh ini terselubung rahasia yang luar biasa.
Akan tetapi karena dia merasa tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, pendekar besar yang hanya sedang mencari puteranya ini tidak menaruh perhatian, apalagi menanyakan.
Beberapa hari kemudian, menjelang tengah hari, tibalah mereka di atas Pegunungan Yin-san.
Tiga ekor burung rajawali itu berputaran di atas pegunungan dan tiba-tiba Hwee Li yang bermata tajam melihat gerakan orang-orang di atas sebuah di antara puncak pegunungan itu.
"Subo, itu di sana ada orang bertempur!"
Serunya. Ceng Ceng memandang ke arah yang ditunjuk muridnya.
"Kalau begitu kita melihat ke sana. Biar mereka nanti pun mengikuti kita kalau melihat kita turun."
Hwee Li lalu menepuk-nepuk leher rajawali hitam yang mengerti akan perintah ini.
Dia menukik turun dan melayang cepat sekali.
Akan tetapi Suma Han atau Pendekar Super Sakti melihat hal lain lagi yang menarik hatinya, maka rajawali yang ditungganginya disuruhnya turun pula di tempat yang tidak jauh dari puncak di mana Hwee Li dan Ceng Ceng melihat orang-orang bertempur itu.
Karena rajawali yang ditunggangi Topeng Setan, yaitu pek-tiauw jantan, selalu mengikuti pek-tiauw betina, maka burung ini pun menukik turun mengikuti burung yang ditunggangi Pendekar Super Sakti.
Tak lama kemudian, Suma Han dan Topeng Setan sudah meloncat turun dari punggung dua ekor rajawali itu yang segera beterbangan lagi ke atas, agaknya maklum bahwa mereka telah bebas tugas dan hanya tinggal menanti panggilan majikan mereka.
Selama bebas tugas mereka lebih suka terbang ke atas dan mengintai korban, yaitu binatang-binatang hutan untuk menjadi mangsa mereka.
Pendekar Super Sakti berloncatan dengan kaki tunggalnya, menuju ke sebuah telaga kecil, diikuti oleh Topeng Setan.
Baru sekarang Topeng Setan mengerti mengapa pendekar besar itu mendarat di situ.
Kiranya di dalam telaga itu terdapat seseorang yang sedang merendam tubuhnya di dalam air, kelihatannya sedang bersamadhi.
Seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah.
Suma Kian Lee!
Pendekar Super Sakti melangkah maju mendekati puteranya, mengerutkan alisnya dan berkata halus.
"Kian Lee, keluarlah kau dan biar kuobati lukamu itu."
Mendengar suara ayahnya yang diucapkan dengan pengerahan khi-kang sehingga suara itu langsung memasuki telinganya dan menggugahnya, Kian Lee membuka mata.
Sebelum menoleh, dia sudah berbisik girang.
"Ayah....!"
Lalu ia menoleh, mengambil pakaian dan mengenakan pakaiannya lalu naik ke tepi telaga, gerakannya agak lemah dan ternyata setelah dia keluar dari air telaga nampak tanda telapak jari kehijauan di punggungnya.
Topeng Setan terkejut sekali dan diam-diam dia kagum.
Kenapa Pendekar Super Sakti sudah tahu bahwa puteranya itu terluka hebat?
Dia sendiri sebelum melihat telapak jari di punggung itu tidak akan mgngetahuinya.
Dengan hanya mengenakan celananya, Kian Lee berlutut di depan ayahnya.
Pendekar Super Sakti memeriksa punggung puteranya itu.
"Hemmm.... pukulan dengan dasar yang-kang akan tetapi beracun. Tidak berbahaya akan tetapi kalau disembuhkan di sini memakan waktu lama,"
Kata pendekar itu, lalu dia berloncatan dengan cepat di sekeliling tubuh puteranya, jari tangannya menotok dan menampar di beberapa bagian tubuh pemuda itu, kemudian dia pun duduk bersila di belakang puteranya, menempelkan tangan kirinya ke punggung yang terpukul, menyalurkan tenaganya yang mujijat dan tak lama kemudian, ketika dia telah melepaskan tangan-nya, tanda telapak tangan kehijauan itu telah lenyap!
Makin kagumlah Topeng Setan menyaksikan ini, karena dari peristiwa ini saja dia sudah dapat membayangkan betapa hebatnya tenaga sin-kang dari kakek buntung ini!
"Sekarang, pakai bajumu dan ceritakan dengan singkat bagaimana kau sampai tiba di tempat ini dan terluka,"
Kata Pendekar Super Sakti.
Kian Lee menceritakan bahwa sesungguhnya dia ingin pulang ke Pulau Es, akan tetapi berputar-putar di daerah utara, katanya hendak mencari adiknya yang terpisah darinya.
Tentu saja dia tidak menceritakan tentang sakit hati atau patah hatinya karena gagal dalam bercinta ketika dia mendapat kenyataan bahwa Ceng Ceng yang dicintanya itu ternyata adalah keponakannya sendiri!
"Saya bertemu dengan Locianpwe Go-bi Bu Beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama dari Go-bi)...."
"Siapa dia?"
"Orang-orang mengenal beliau sebagai Dewa Bongkok penghuni Istana Gurun Pasir...."
"Oh, dia? Lalu bagaimana?"
"Ketika beliau mendengar nama Ayah, beliau suka sekali kepada saya dan mengajak saya ke istananya di gurun pasir. Akan tetapi setibanya di sana, Locianpwe itu menerima undangan pertemuan para datuk besar di Yin-san, maka beliau lalu datang ke sini dan saya yang ingin meluaskan pengalaman lalu ikut. Beliau sudah memesan agar saya tidak mencam-puri urusan para datuk. Akan tetapi, Ayah, para datuk yang tiga orang itu bermain curang! Mereka tidak mengadu ilmu untuk menentukan orang terpandai seperti biasa, melainkan mengeroyok Locianpwe Go-bi Bu-beng Lojin. Tentu saja saya tidak mau tinggal diam melihat kecurangan itu dan saya maju membantu. Akibatnya saya terkena pukulan ini dan Locianpwe itu menasihatkan saya untuk merendam tubuh di sini, karena hawa dingin air telaga ini akan banyak menolong."
"Hemmm.... dia benar. Akan tetapi kurang dingin. Kau sudah terbebas dari hawa beracun sekarang, akan tetapi untuk memulihkan kesehatan dan semangatmu yang kulihat melayu dan muram, se-baiknya kau pulang dulu dan melatih diri dengan Swat-im Sin-kang di rumah."
"Baik, Ayah!"
Pendekar Super Sakti bersuit keras dan dua ekor burung pek-tiauw itu melayang turun.
"Kau bawa pek-tiauw betina pulang ke Pulau Es."
"Tapi Ayah...."
"Biar aku yang akan membantunya."
Kian Lee maklum dari tegangan suara ayahnya bahwa dia tidak boleh menawar lagi, maka dia lalu memberi hormat, juga menjura kepada Topeng Setan yang dia tidak mengerti bagaimana bisa datang bersama ayahnya, kemudian dia meloncat ke atas punggung pek-tiauw betina yang segera terbang melayang tinggi sekali.
Pek-tiauw jantan mengeluarkan suara aneh, seperti hendak menyusul, akan tetapi Pendekar Super Sakti menepuk punggungnya dan berkata.
"Kau pergilah cari majikanmu, Kian Bu!"
Burung itu seperti mengerti perintah ini, dan dia pun memekik keras dan terbang melayang, meninggalkan angin yang membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang.
"Mari kita melihat pertemuan itu,"
Kata Pendekar Super Sakti kepada Topeng Setan dan mereka bergerak cepat menuju ke puncak gunung.
Ketika mereka tiba di puncak, mereka melihat Dewa Bongkok sedang bertempur dengan hebatnya melawan seorang nenek yang juga amat lihai.
Ceng Ceng dan Hwee Li sudah berada di situ pula, menonton pertempuran dari jarak agak jauh karena gerakan dua orang itu mendatangkan angin dahsyat sekali sehingga pohon-pohon yang berdekatan pada tumbang!
Tak jauh dari situ terdapat dua orang kakek yang duduk bersila, agaknya mereka itu terluka dan sedang mengusahakan pengobatan dengan sin-kang.
Begitu muncul di situ, terdengar suara bisikan dekat telinga Si Pendekar Super Sakti dan Topeng Setan.
"Ini adalah urusan kami di luar tembok besar, harap kalian jangan mencampuri."
Suma Han mengangguk-angguk, dan kagum kepada kakek tua renta bongkok yang terkenal sebagai Si Dewa Bongkok penghuni Istana Gurun Pasir dan yang memperkenalkan diri sendirl sebagai Orang Tua Tanpa Nama dari Go-bi itu.
Biarpun dikeroyok tiga, dan sudah melukai dua orang lawan, akan tetapi dia sendiri pun telah lemah gerakannya, agaknya sudah mengeluarkan tenaga terlalu banyak, dan lawannya, nenek yang bermata biru dan rambutnya kuning emas, juga amat lihai sekali, namun toh Si Dewa Bongkok itu masih sempat minta kepada dia dan Topeng Setan agar jangan mencampuri!
Padahal, biarpun yang mengadakan pertemuan adalah datuk-datuk di luar tembok besar, namun jelas bahwa tiga orang di antara mereka adalah orang-orang yang menggunakan kecurangan mengeroyok Si Dewa Bongkok.
"Kenalkah kau kepada mereka?"
Suma Han berbisik kepada Topeng Setan, karena sesungguhnya selama hidupnya dia belum pernah bertemu dengan empat orang ini, sungguhpun pernah dia mendengar nama Dewa Bongkok penghuni Istana Gurun Pasir.
Topeng Setan mengangguk, dan hal ini tidak mengherankan hati Suma Han karena dia maklum bahwa orang ini pun bukan orang sembarangan dan dia melihat kini betapa gerakan Si Dewa Bongkok yang lengan kirinya juga buntung seperti lengan kiri Topeng Setan itu mirip sekali dengan latihan yang dilakukan oleh Topeng Setan di waktu mereka berhenti dan beristirahat dalam perjalanan menuju ke Pegunungan Yin-san ini.
Maka dia dapat menduga bahwa tentu ada hubung-an erat antara Topeng Setan dan Dewa Bongkok.
"Locianpwe, saya sendiri pun baru pernah mendengar nama dan gambaran tentang mereka. Yang berambut pirang bermata biru, nenek lihai itu adalah datuk dari daerah barat, sedangkan yang dua orang lagi dan agaknya sedang bersamadhi itu, adalah datuk-datuk dari kutub utara dan datuk pantai timur. Nama-nama mereka tidak dikenal orang, dan mereka itu adalah datuk-datuk di luar tembok besar yang tidak pernah menyeberang tembok besar maka tidak terkenal di pedalaman."
Suma Han mengangguk-angguk dan memperhatikan jalannya pertandingan.
Dia terkejut karena mendapatkan kenyataan bahwa dua orang yang sedang bertanding itu benar-benar memiliki tingkat kepandaian yang sudah sempurna dan dia sendiri pun agaknya hanya dapat mengimbangi mereka saja.
"Dan yang gagah perkasa dikeroyok dan kini menandingi nenek itu tentu Si Dewa Bongkok majikan dari Istana Gurun Pasir, bukan?"
Tiba-tiba Suma Han bertanya sambil menoleh dan memandang Topeng Setan dengan penuh selidik.
Diteropong oleh dua mata yang amat tajam penglihatannya seolah-olah dapat menembus topengnya, bahkan menjenguk ke dalam dadanya itu, Topeng Setan mengangguk dan menunduk.
Pada saat itu, terdengar lengkingan keras sekali.
Suma Han dan Topeng Setan terkejut memandang.
Kiranya dua orang datuk yang tadi duduk bersila, kini sudah meloncat dan menyerang Si Dewa Bongkok dari dua jurusan.
Suma Han dan Topeng Setan mengeluarkan teriakan kaget, namun betapa pun lihainya mereka, karena tadi mereka mengalihkan perhatian, mereka itu terlambat dan tidak dapat turun tangan mencegah lagi.
Dua orang datuk itu sudah menyerang dari kanan kiri, dan Si Dewa Bongkok yang hanya berlengan satu itu memutar tubuh menyambut.
"Bresss....!"
Dewa Bongkok terlempar, berputaran dan roboh.
Seperti menerima komando saja, Suma Han dan Topeng Setan sudah meloncat ke depan, Suma Han menggunakan tongkatnya menghadang nenek berambut pirang sedangkan Topeng Setan sudah menerjang dua orang yang tadi secara pengecut membokong Dewa Bongkok.
"He-he-he-heiiik! Orang berkaki buntung berambut putih.... heiiii, matamu itu.... bukankah kau Pendekar Siluman dari Pulau Es?"
Bentak Si Nenek sambil mencelat mundur ketika ujung tongkat Suma Han berkelebat.
"Dan kau seorang nenek dari barat yang amat curang, bertiga mengeroyok seorang saja."
"Hi-hi-hik, kau tahu apa? Kau melindungi Dewa Bongkok?"
"Aku tidak melindungi siapa-siapa, hanya menentang yang lalim dan curang,"
Jawab Suma Han dengan tenang.
"Kalau begitu mampuslah kau!"
Nenek itu sudah menerjang lagi, didahului dua sinar emas dan perak yang melayang-layang ke arah kepala dan dada Suma Han.
Pendekar Super Sakti cepat menggerakkan tongkatnya menghalau sinar emas dan perak itu.
"Tinggg! Tinggg!"
Dua buah benda itu ternyata adalah dua buah gelang dari emas dan perak dan kini setelah kena ditangkis, dua benda itu melayang kembali kepada pemiliknya, yang cepat menyambarnya dan kini menggunakan dua buah gelang itu di tangannya untuk menyerang dengan gerakan seperti kilat cepatnya dan yang nampak hanya sinar emas dan perak berkilauan mengerikan.
Namun Pendekar Super Sakti sudah siap dengan tongkatnya dan karena dia maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang memiliki kesaktian hebat, Suma Han segera menggunakan ilmunya yang dahsyat, yaitu Soan-hong-lui-kun yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini seperti menyambarnya halilintar, sukar diduga perkembangan gerakannya sehingga beberapa kali nenek itu terpekik kaget.
Memang benar seperti yang diceritakan secara singkat oleh Topeng Setan kepada Pendekar Super Sakti tadi.
Di luar tembok besar sebelah utara Tiongkok, di luar perbatasan tanah Mongol, terdapat banyak pertapa dan tokoh-tokoh yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi.
Dan yang paling tinggi kepandaiannya adalah empat orang datuk-datuk luar tembok besar itu.
Lima tahun sekali, empat orang ini selalu mengadakan pertemuan di tempat-tempat sunyi, untuk saling menambah pengetahuan dan sekedar menguji hasil ciptaan masing-masing.
Akan tetapi, setelah tiga kali berturut-turut Si Dewa Bongkok selalu unggul, tiga orang itu menjadi iri hati dan diam-diam mereka bersepakat untuk dalam pertemuan berikutnya, merobohkan Si Dewa Bongkok, lalu mengambil pusaka-pusakanya dan mempelajari ilmu-ilmu yang diciptakannya.
Untuk itu, mereka bertiga telah mengutus anak-anak murid mereka menyelidiki ke Istana Gurun Pasir selagi Dewa Bongkok mereka undang ke Yin-san.
Untung bahwa usaha murid-murid mereka itu digagalkan berkat bantuan Topeng Setan dan Pendekar Super Sakti.
Dan di Yin-san, mereka ternyata berhasil merobohkan Si Dewa bongkok dengan siasat pengeroyokan yang curang, dan baiknya dalam saat terakhir itu muncul pula Topeng Setan dan Pendekar Super Sakti.
Akan tetapi, kalau Pendekar Super Sakti dapat mengimbangi kelihaian nenek berambut pirang yang bersenjatakan sepasang gelang emas dan perak, adalah Topeng Setan yang sibuk sekali mengha-dapi pengeroyokan dua orang datuk yang tingkat kepandaiannya tidak banyak selisihnya dengan tingkat para datuk lainnya itu.
Dia sendiri belum dapat menguasai Sin-liong-hok-te secara sempurna, maka biarpun kedua lawannya itu telah terluka oleh Si Dewa Bongkok, akan tetapi tetap saja Topeng Setan terdesak hebat dan menjadi sibuk sekali.
Ceng Ceng yang menonton pertandingan itu, hanya memandang terbelalak.
Dia dan Hwee Li tidak berani bergerak, karena dari tempat jauh saja sudah terasa oleh mereka sambaran hawa pukulan yang amat mujijat dari kalangan pertempuran.
Melihat ini, Hwee Li menjadi tidak sabar lagi.
Dia bersuit keras dan burung rajawali hitamnya menyambar turun.
"Hek-tiauw, kau bantulah Paman Topeng Setan, cakar dan patuk dua orang kakek itu, hayo cepat!"
Teriaknya kepada burungnya.
Hek-tiauw itu mengeluarkan suara memekik nyaring dan melayang ke atas, kelihatannya takut-takut dan ragu-ragu untuk turun karena naluri binatang ini agaknya memberi tahu kepadanya bahwa orang-orang yang bertanding di bawah itu bukanlah manusia-manusia biasa.
"Hayo, hek-tiauw....!"
Hwee Li berteriak-teriak dan terpaksa burung itu menyambar ke bawah, langsung mencengkeram ke arah kepala seorang kakek yang kepalanya gundul licin mengkilap mengeluarkan uap dingin.
Dia adalah datuk dari kutub utara dan melihat sambaran ba-yangan hitam, tangan kirinya menyampok, sedangkan tangan kanannya tetap saja menghantam ke arah Topeng Setan, dibarengi dari kiri oleh temannya.
Mereka menyerang Topeng Setan dengan persatuan tenaga seperti yang mereka lakukan ketika merobohkan Si Dewa Bongkok tadi.
"Plak....! Bresss....!"
Dalam sedetik itu terjadi banyak hal.
Rajawali hitam kena ditangkis oleh tangan yang ampuh itu, terlempar mencelat jauh dan terbanting menabrak batang pohon lalu terjatuh sambil mengeluarkan suara menguik seperti seekor anjing digebuk.
Sedangkan Topeng Setan yang tadi menangkis pukulan dari dua jurusan itu, terhuyung-huyung kemudian roboh, dari balik topengnya mengalir darah segar yang agaknya keluar dari dalam mulutnya.
Akan tetapi dua orang kakek itu yang terkena tangkisan Topeng Setan yang mengerahkan tenaga sakti Sin-liong-hok-te, juga terhuyung-huyung, memuntahkan darah segar dan mereka pun terluka hebat.
"Paman....!"
"Hek-tiauw....!"
Kalau Hwee Li lari menghampiri burungnya Ceng Ceng lari menghampiri Topeng Setan, akan tetapi dua orang kakek itu mengira bahwa Ceng Ceng akan membela Topeng Setan dan menyerang mereka karena mereka melihat betapa loncatan Ceng Ceng menandakan bahwa dara itu mempunyai kepandaian istimewa.
Seorang di antara mereka mengebutkan ujung bajunya.
"Prattt....!"
Ceng Ceng kena disambar ujung baju pundaknya dan dia terguling roboh pingsan di dekat Topeng Setan.
Melihat ini, Suma Han menjadi tidak senang hatinya.
Dia mengeluarkan pekik melengking yang luar biasa dahsyatnya, dan kini tubuhnya berubah menjadi tiga orang Suma Han, dan dia bersama dua bayangannya itu menyerang tiga orang datuk itu kalang-kabut.
Nenek berambut pirang berteriak kaget dan kesakitan, darah mengucur dari lehernya yang kena serempet tongkat, sedangkan dua orang datuk yang sudah terluka ketika mengadu tenaga dengan Topeng Setan, juga mundur-mundur dengan jerih.
Akhirnya ketiganya maklum bahwa dalam keadaan terluka, mereka tidak akan menang meng-hadapi Dewa Bongkok dan para pembantunya yang istimewa itu, Maka dengan teriakan nyaring melampiaskan kekecewaan hati mereka, tiga orang datuk itu lalu melarikan diri.
Suma Han tidak mengejar.
Dia melihat Dewa Bongkok bersila mengatur pernapasan, Ceng Ceng pingsan di samping Topeng Setan yang agaknya sudah tewas, dan Hwee Li merangkul burungnya yang terluka.
Dia menarik napas panjang.
Di manapun juga, biar sudah menjadi tua bangka-tua bangka dan sudah mengasingkan diri dari keramaian manusia, tetap saja manusia merupakan mahluk-mahluk yang suka menggunakan kekerasan.
Dan dia, sekali lagi terseret pula!
Melihat bahwa bagi Topeng Setan sudah tidak ada harapan lagi, dan burung hek-tiauw itu hanya terluka ringan dan menjadi buas tidak mau didekati orang lain kecuali nonanya, Suma Han lalu menghampiri Dewa Bongkok.
"Maafkan kelancangan saya,"
Bisiknya dan dia pun duduk bersila di belakang kakek bongkok itu, menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang bongkok sambil mengerahkan tenaga murni dari tubuhnya untuk membantu kakek itu mengobati luka-lukanya di sebelah dalam tubuhnya.
"Terima kasih, sahabat adalah Tocu Pulau Es, bukan?"
Suma Han mengangguk, dan keduanya lalu diam tak bergerak lagi.
Ceng Ceng siuman, lalu ditubruknya Topeng Setan.
Dirabanya tubuh yang masih hangat itu, dipegang nadinya, diraba dadanya.
Akan tetapi tidak ada lagi tanda-tanda hidup pada tubuh tinggi tegap itu!
"Paman....!"
Dia menjerit.
"Paman Topeng Setan, jangan kau tinggalkan aku, Paman....!"
Dia menangis dan mengguncang-guncang tubuh itu, tubuh satu-satunya manusia di dunia ini yang amat disayanginya, amat baik kepadanya dan yang telah mengorbankan apa saja demi dia.
Teringat betapa orang ini telah mati, barulah terasa oleh Ceng Ceng betapa dia kehilangan besar sekali, betapa dia sesungguhnya....
cinta sekali kepada orang ini.
"Paman...., aku mana bisa hidup tanpa kau....?"
Ratapnya dan menangis sesenggukan sambil memeluki leher mayat itu dan meletakkan mukanya di atas punggung yang bidang itu.
Tak disengajanya tangannya meraba topeng yang kasar dan Ceng Ceng lalu sadar.
Dia berlutut dan ber-kata lirih.
"Paman Topeng Setan, engkau telah mengorbankan segalanya untuk aku, engkau begitu sayang dan cinta padaku, akan tetapi engkau selalu menyembunyikan wajahmu dariku. Sekarang engkau telah mati.... hu-huuukkk.... Paman, kau perkenankanlah aku melihat wajahmu, Paman. Kau.... kau maafkanlah aku, Paman.... hu-hu-huuukk...."
Dengan jari-jari tangan menggigil Ceng Ceng mengulurkan tangannya meraih topeng di muka yang miring itu, kemudian dengan amat hati-hati seolah-olah tidak ingin menyakitkan muka mayat itu, dia menanggalkan topeng itu!
Topeng itu terbuka direnggutnya, sepasang mata Ceng Ceng terbelalak memandang wajah yang kini terbuka, wajah yang rebah miring itu, wajah yang tampan dan gagah, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung dan mulut yang membayangkan kegagahan, wajah....
si pemuda laknat yang selama ini dikejar-kejar, dianggap musuh besarnya, yang hendak dibunuhnya karena amat dibencinya!
"Aiiiihhhh....!"
Dia menjerit, memandang pucat, air matanya menetes turun, tangan kiri dikepal menutup mulut, matanya terbelalak seperti tidak mau percaya, dan dikejap-kejapkannya lalu memandang lagi lebih teliti.
Akan tetapi wajah itu tetap tidak berubah, wajah yang pucat dan tak bernyawa lagi dari si pemuda laknat, yang mengerikan karena di bawah mulut, di atas tanah itu nampak darah merah yang dimuntahkan akibat hantaman pukulan dahsyat dua orang lawannya.
"Aiiiihhh....!"
Dia menjerit, memandang pucat, air matanya menetes turun, tangan kiri dikepal menutup mulut.
"Ti.... tidaaaaakkk...., bukan.... ohh, bukan....!"
Ceng Ceng kembali menjerit, tubuhnya menggigil dan dia tergelimpang setelah mengeluh panjang, roboh pingsan lagi untuk kedua kalinya di samping tubuh Topeng Setan yang ternyata adalah si pemuda laknat, musuh besar yang dahulu memperkosanya di dalam guha itu.
Ceng Ceng rebah terlentang di dekat tubuh Topeng Setan.
Wajahnya pucat sekali seperti mayat, kedua pipinya masih basah air mata, tangan kanannya masih mencengkeram topeng dan mulutnya memperlihatkan tarikan muka yang menanggung kenyerian luar biasa, Menanggung penderitaan batin yang amat hebat sehingga siapa pun yang melihat keadaannya tentu akan merasa kasihan sekali.
Memang hebat sekali penderitaan batin dara ini.
Bertubi-tubi dia mengalami hal-hal yang amat menyakitkan hatinya, kesengsaraan dan penderitaan lahir batin yang dideritanya semenjak dia meninggalkan Bhutan.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi ditumpuknya dalam ingatan, menimbulkan sakit hati dan dendam kebencian.
Sesungguhnya, nasib berada di tangan kita sendiri.
Suka duka adalah buatan kita sendiri, buatan pikiran kita.
Sebab akibat tidak terpisah, dan berada di dalam genggaman tangan kita sendiri.
Adalah ingatan kita, pikiran kita yang menimbulkan kebencian terhadap sesuatu atau seseorang di dalam hati kita.
Dari mana timbulnya kebencian?
Sesuatu terjadi atas diri kita, sesuatu yang merugikan kita, rugi lahir maupun batin.
Kerugian menimbulkan kekecewaan, menimbulkan kemarahan dan terjadilah rasa benci kepada penyebab timbulnya kerugian itu.
Dan sekali benci sudah menguasai hati kita, hati tidak akan puas sebelum melihat yang kita benci itu terbalas dan tertimpa malapetaka yang lebih hebat daripada yang dijatuhkannya kepada diri kita.
Pikiran yang mencacat perbuatan orang lain yang dianggap merugikan kita inilah yang menimbulkan dendam kebencian seperti yang dialami oleh Ceng Ceng hidupnya dan dicengkeram oleh kebencian kepada seorang setelah terjadi peristiwa perkosaan atas dirinya di dalam guha itu.
Dasar kebencian karena dia merasa dirugikan.
Kemudian dia bertemu dengan Topeng Setan yang telah melimpahkan banyak sekali budi kebaikan kepadanya.
Hal ini pun membangun suatu rasa sayang di dalam hatinya terhadap laki-laki bermuka buruk itu, rasa sayang yang juga timbul dari ingatan betapa orang ini telah banyak menguntungkannya lahir batin!
Jadi sesungguhnya tidak ada bedanya antara rasa bencinya terhadap si pemuda laknat yang dianggap merugikannya, dan rasa sayangnya terhadap Topeng Setan yang dianggap menguntungkannya.
Rasa benci dan sayangnya itu hanyalah penonjolan dari sifat mementingkan diri pribadi.
Selama kita mementingkan diri pribadi, di dalam hidup kita pasti kita akan menjadi bulan-bulanan dan permainan dari suka duka, puas kecewa, benci sayang, seperti Ceng Ceng itulah!
Dan muncullah penderitaan-penderitaan hidup dan kesengsaraan-kesengsaraan.
Benci bukanlah kebalikan daripada cinta!
Yaitu cinta sejati, karena cinta yang menjadi kebalikan benci hanyalah cinta nafsu, cinta yang timbul dari mementingkan diri pribadi.
Cinta semacam ini hanya akan bertahan selama dirinya disenangkan, dipuaskan, dan dipenuhi kehendaknya.
Cinta macam ini selalu mengandung bayangan benci sebagai kebalikannya, sehingga kalau tidak disenangkan, tidak dipuaskan, dapat berbalik menjadi benci.
Cinta sejati tidak mempunyai sasaran seperti benci.
Kalau sudah tidak ada benci di hati, sama sekali tidak ada benci, barulah mungkin cinta yang suci ini memperlihatkan mukanya di dalam batin kita.
Ceng Ceng yang menggeletak pingsan itu menjadi permainan dari suka duka, dari kekecewaan melihat bahwa orang yang paling dibencinya itu justeru adalah orang yang paling dicintanya.
Dia menjadi permainan dari pikiran sendiri, sehingga kini menderita pukulan batin yang amat hebat, membuatnya kecewa, penasaran, dan putus harapan.
Mula-mula dilihatnya Topeng Setan satu-satunya orang yang dicintanya tewas, kemudian melihat bahwa yang tewas itu adalah musuh besarnya!
Jadi sekaligus dia kehilangan, dua orang manusia yang dianggapnya paling penting di dunia ini, yang dianggapnya sebagai sebab-sebab pokok mengapa dia masih suka hidup!
Kini dia kehilangan segala-galanya, maka hancur leburlah hatinya.
"Kasihan sekali kau, Nona muda....!"
Suara ini terdengar seperti datang dari langit dari atas oleh Ceng Ceng yang mulai siuman.
Tak terasa lagi air matanya mengalir turun sebelum dia membuka matanya.
Kemudian teringatlah dia akan segala hal.
Mendadak dia meloncat sambil membuka matanya, menoleh ke kanan kiri mencari mayat si laknat tadi.
"Keparat busuk! Jahanam kau....!"
Dia memaki-maki dan menerjang ke sana-sini seperti orang gila!
Dalam kemarahannya yang hebat, yang membanjiri rongga dadanya, membuat dadanya seperti akan meledak, Ceng Ceng mencak-mencak secara buas dan otomatis tenaga mujijat yang didapatnya sebagai khasiat anak naga itu timbul.
"Braaaak.... braaakkkk....!"
Dua batang pohon kena dihantamnya.
Pohon itu batangnya sebesar tubuh manusia, akan tetapi hantaman tangan Ceng Ceng membuat dua batang pohon itu tumbang.
"Eh, Nona....!"
Pendekar Super Sakti yang merasa kasihan dan tadi menolong Ceng Ceng dan membuatnya sadar itu terkejut bukan main.
Tak disangkanya bahwa nona ini memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya.
Akan tetapi Ceng Ceng yang sudah beringas dan mengamuk dengan buasnya itu tidak mendengarkan.
Dia terus mencak-mencak dengan buasnya, dengan mata terbelalak dan mulutnya mengeluarkan keluhan-keluhan panjang.
"Haiiiittt.... darrr! Dessss!"
Dua bongkah batu besar hancur berhamburan terkena tendangan dan pukulannya.
"Subo....!"
Hwee Li menjerit dan lari menghampiri gurunya, melihat betapa kedua kepalan tangan subonya itu berdarah.
Memang tenaga mujijat dari Ceng Ceng itu hebat sekali, akan tetapi kulit kedua tangannya yang belum terlatih baik, belum dapat dengan sempurna terlindung oleh tenaga mujijat, menjadi berdarah ketika dia menghantami pohon dan batu.
Melihat berkelebatanya tubuh Hwee Li, Ceng Ceng yang sudah buas karena seolah-olah hendak menghantam si pemuda laknat itu, menggerakkan tangan menyerang Hwee Li!
"Plakkk....
dukkkk!"
Ceng Ceng jatuh terduduk terkena tangkisan dan totokan Pendekar Super Sakti yang menolong Hwee Li tadi, dan sekaligus hal ini membuat Ceng Ceng sadar.
Seperti linglung Ceng Ceng memandang ke kanan kiri, mencari-cari dan bibirnya bergerak perlahan, terdengar suaranya lirih.
"Paman.... Paman Topeng Setan....?"
Lalu dia teringat akan segala peristiwa tadi dan menangislah dia, mengguguk seperti anak kecil menutupi muka dengan kedua tangannya yang berdarah sehingga air matanya bercampur dengan darah dari tangannya, membentuk aliran merah muda menetes-netes ke bawah.
"Subo....!"
Hwee Li merangkul gurunya dan juga menangis, tidak tahu apa yang ditangiskannya, hanya karena terharu melihat subonya begitu berduka.
Melihat dua orang wanita muda itu berpelukan dan bertangisan, Pendekar Super Sakti menarik napas panjang, lalu duduk di atas bongkahan batu membiarkan dua orang wanita itu melanjutkan tangis mereka.
Tangis merupakan obat yang paling mujarab bagi orang-orang yang tertekan hatinya, karena tangis dengan air matanya merupakan pelepasan dari tekanan itu.
Dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang lagi.
Betapa kehidupan manusia penuh dengan kesengsaraan, penuh dengan kekerasan, penuh dengan pertentangan, kebencian dan penderitaan hidup di waktu muda.
Betapa bodohnya manusia, betapa bodohnya dia dahulu.
Kebahagia-an sudah berada di dalam diri masing-masing manusia, keindahan terbentang luas di sekeliling manusia, namun manusia menjadi buta, tidak melihat semua keindahan itu, tidak waspada akan kebaha-giaan itu karena mata selalu ditujukan jauh ke sana, selalu mencari-cari sehingga yang berada di depan hidung tidak nampak lagi!
Yang tidak ada selalu dicari-cari, dirindukan, dianggap yang paling baik, paling indah, sehingga anggapan ini membuat apa yang sudah ada kelihatan buruk, bahkan tidak kelihatan lagi!
Manusia selalu menghargai yang belum diperoleh, memandang remeh yang sudah berada di dalam tangannya.
Inilah sumber dari segala pengejaran yang tak dapat dihindarkan lagi pasti mendatangkan pertentangan, kekecewaan dan penderitaan.
Pengejaran membuat mata buta, sehingga dalam usaha mengejar sesuatu yang diinginkan itu, manusia tidak lagi memperhatikan (Lanjut ke
Jilid 55) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 55 jalan, tidak lagi memperha-tikan cara, bahkan segala jalan dan segala cara akan ditempuhnya demi memperoleh yang dikejar-kejarnya itu.
Inilah sumber munculnya segala bentuk penyelewengan dan kejahatan.
Setelah melihat tangis Ceng Ceng reda, Pendekar Super Sakti lalu berkata, mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya dapat menembus segala suara lain dan memasuki telinga Ceng Ceng dengan getaran pengaruh kuat sekali.
"Nona, hentikan tangismu dan ingat bahwa segala sesuatu tidak cukup hanya ditangisi belaka. Hentikan pikiranmu yang meremas-remas perasaan hatimu, hentikan perasaan iba diri yang mencengkeram dirimu dan mari kita bicara dengan hati terbuka."
Ceng Ceng terkejut dan kini dia sadar benar-benar.
Didorongnya Hwee Li dengan halus, diangkatnya mukanya memandang pendekar besar itu, lalu dia memandang ke kanan kiri.
Sunyi senyap di situ, tidak ada orang lain kecuali mereka bertiga.
Seperti mimpi saja semua peristiwa yang terjadi tadi.
"Di.... mana....? Di mana mereka semua....?"
Tanyanya, suaranya lirih dan lemah.
Tiga orang datuk itu?
Mereka telah pergi.
Dan Go-bi Bu Beng Lojin, Si Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir telah pergi pula, membawa muridnya.
Membawa mayat Topeng Setan atau mayat Kok Cu.
Membawa musuh besarnya, sekaligus juga mayat orang yang paling disayangnya, demikian bisik hati Ceng Ceng.
Dia terisak lalu menghela napas hanjang.
Habislah segala-galanya!
Melihat gadis itu menunduk dan tak bergerak-gerak, seolah-olah kehilangan semangat dan gairah hidup, Pendekar Super Sakti menarik napas panjang.
"Nona, sekarang bagaimana kehendakmu? Engkau hendak ke manakah?"
Sejenak Ceng Ceng tak dapat menjawab, hanya duduk di atas tanah dan memandang ke depan dengan pandang mata kosong.
Ke mana?
Dia harus ke mana?
Ke mana lagi kalau tidak kembali ke Bhutan?
Biarlah dia akan menghabiskan sisa hidupnya di tempat asalnya itu.
Tiba-tiba saja dia merasa rindu kepada Bhutan, rindu kepada kampung halaman di mana dia dahulu tinggal bersama kakeknya.
"Saya akan pulang ke Bhutan...."
Katanya perlahan. Pendekar Super Sakti yang belum mengenal Ceng Ceng, merasa heran juga mendengar jawaban ini.
"Eh, jadi engkau datang dari Bhutan? Siapakah engkau sebenarnya, Nona?"
Ingin Ceng Ceng berlutut di depan pendekar itu dan mengaku bahwa dia masih cucu tiri pendekar itu sendiri, akan tetapi dia menggeleng kepalanya.
Tidak, tidak perlu dia memperpanjang riwayat buruk itu, riwayat buruk dari ibunya dan sekarang pun menurun kepadanya karena riwayatnya tidaklah lebih baik daripada keadaan ibunya.
Maka dia lalu menjawab dengan perlahan.
"Nama saya Lu Ceng dan saya adalah adik angkat dari Puteri Bhutan. Saya ingin pulang saja, kembali ke Bhutan, Locianpwe."
"Subo, aku ikut!"
Tiba-tiba Hwee Li berkata. Ceng Ceng memandang anak perempuan itu.
"Hwee Li, engkau akan dicari ayahmu. Sebaiknya engkau pulang saja dulu kepada ayahmu dan mana burungmu?"
Anak itu menggeleng kepala kuat-kuat.
"Burungku terluka dan sudah kusuruh terbang pergi mencari ayah agar diobati lukanya. Tidak, Subo. Aku tidak mau kembali kepada ayah yang tidak sa-yang kepadaku. Aku mau ikut Subo ke Bhutan."
Ada hawa hangat memasuki dada Ceng Ceng.
Masih ada orang yang suka kepadanya, yaitu Hwee Li ini!
"Hwee Li, perjalanan ke Bhutan amat jauh dan berbahaya, dan membawamu begitu saja tanpa perkenan ayahmu, aku akan dipersalahkan...."
"Tidak, Subo. Aku yang bertanggung jawab kalau ayah marah."
Suma Han berkata.
"Nona Ceng, anak ini memang tidak bisa ditinggalkan seorang diri saja di sini. Biarlah dia ikut bersama kita ke Bhutan, kelak kalau aku pulang, akan kuantar dia kepada ayahnya. Aku tahu di mana adanya Pulau Neraka."
"Locianpwe hendak ke Bhutan? Ah, saya tidak berani membuat Locianpwe repot mengantarkan kami berdua...."
"Tidak ada yang mengantar, kita hanya kebetulan saja sejalan. Aku memang ingin ke barat untuk menyusul dan mencari Kian Bu. Ibunya sudah gelisah memikirkan anak itu karena sudah terlalu lama merantau. Apalagi setelah Kian Lee kembali, Kian Bu harus pulang juga."
Tentu saja Ceng Ceng tidak berani membantah, bahkan diam-diam merasa girang karena melakukan perjalanan dengan pendekar ini merupakan jaminan keselamatannya, dan setelah Topeng Setan tidak ada lagi, dia dapat minta petunjuk dari pendekar ini untuk dapat menguasai tenaga mujijat dalam dirinya.
Maka berangkatlah tiga orang itu menuruni Pegunungan Yin-san dan terus melakukan perjalanan menuju ke barat.
Dengan adanya Hwee Li yang lincah jenaka, agak terhibur juga hati Ceng Ceng, sungguhpun kini dia berbeda sekali dengan Ceng Ceng sebelum dia tiba di Yin-san.
Dia sekarang merupakan seorang wanita muda yang mukanya pucat, wajahnya muram seperti bulan tertutup awan tipis.
Sudah terlalu lama kita meninggalkan para tokoh lain, maka biarlah kita lebih dulu meninggalkan Ceng Ceng yang melakukan perjalanan ke Bhutan bersama Pendekar Super Sakti dan Hwee Li, dan mari kita menengok pengalaman apa yang ditempuh oleh para tokoh lainnya dalam cerita ini.
Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, ada pasukan pengawal dari Bhutan yang mengawal Puteri Syanti Dewi secara rahasia kembali ke Bhutan.
Pengawalan dilakukan secara rahasia dan Sang Puteri bersembunyi di dalam kereta untuk mencegah terjadinya hambatan-hambatan dan serbuan-serbuan musuh.
Akan tetapi tetap saja pasukan itu mengalami penyerbuan Tambolon dan kaki tangannya, dan secara kebetulan saja Tek Hoat yang membantu pasukan itu dapat bertemu dengan Puteri Syanti Dewi.
Telah kita ketahui pula betapa Suma Kian Bu tanpa setahu encinya, Puteri Milana dan Gak Bun Beng, diam-diam juga melakukan perjalanan ke barat dan dia berhasil menyelamatkan Puteri Syanti Dewi dari ancaman Tambolon dan Durganini, akan tetapi begitu melihat kemesraan antara puteri itu dan Tek Hoat, untuk kedua kalinya hatinya patah dan dia pergi lagi dengan diam-diam dan dengan hati penuh duka.
Dia tidak berani menghampiri rombongan pasukan Bhutan karena di situ terdapat Teng Siang In, dara remaja cantik jenaka yang baru saja diciumnya karena dia tidak dapat menahan diri melihat kecantikan dara bengal yang menggodanya itu.
Diam-diam putera Pendekar Super Sakti itu pergi jauh meninggalkan hutan itu.
Teng Sian In juga tidak lama berada di situ, lalu diajak pergi oleh gurunya, yaitu See-thian Hoat-su, kakek rambut putih bekas suami Durganini yang lihai.
Mereka berdua tidak begitu mempedulikan akan hilangnya Puteri Syanti Dewi, karena kehadiran mereka itu sesungguhnya semata-mata hanya ingin menghalangi sepak terjang Durganini belaka, yang timbul dari rasa sayang di hati See-thian Hoat-su yang hendak mencegah bekas isterinya itu melakukan hal-hal yang jahat!
Akan tetapi, Panglima Jayin dan semua pasukan Bhutan menjadi sibuk dan bingung sekali karena tidak melihat Sang Puteri.
Selagi keadaan mereka menjadi sibuk dan bingung, tiba-tiba muncullah dua orang yang segera disambut oleh Panglima Jayin yang telah mengenal mereka, disambut dengan penuh penghormatan karena mereka itu bukan lain adalah Puteri Milana dan Gak Bun Beng.
Akan tetapi ketika Puteri Milana dan Gak Bun Beng mendengar bahwa Sang Puteri Bhutan lenyap, mereka terkejut bukan main.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
Puteri Milana menegur.
Panglima Jayin lalu menceritakan tentang penyerbuan Tambolon dan pasukannya, betapa keadaan mereka amat terancam akan tetapi berkat bantuan Tek Hoat yang gagah perkasa, keadaan Sang Puteri masih dapat diselamatkan.
Kemudian mereka tertolong oleh pasukan dari Bhutan dan dalam keributan perang itu, tahu-tahu Ang Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi telah lenyap.
"Hemmm....!"
Puteri Milana berkata sambil mengerutkan alisnya dan dia bertukar pandang dengan Gak Bun Beng.
"Pemuda itu benar-benar mencurigakan sekali."
"Kami pun berpikir demikian,"
Panglima Jayin berkata kepada Gak Bun Beng.
"Agaknya kalau Sang Puteri tidak tertawan oleh Tambolon, tentu dilarikan oleh pemuda itu."
"Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan,"
Kata Gak Bun Beng.
"Kita harus menyelidiki persoalan ini, akan tetapi yang terpenting adalah mencari jejak Sang Puteri."
"Aku pun akan membantu mencarinya,"
Kata Puteri Milana.
"Terima kasih atas segala kebaikan paduka Puteri dan Taihiap. Tadipun telah datang adik paduka Puteri dan agaknya dia pun sedang ikut mencari Sang Puteri Syanti Dewi."
Mendengar ucapan Jayin ini, Milana dan Bun Beng tercengang.
"Apa? Kau maksudkan siapa?"
Milana mendesak.
"Adik paduka, tuan muda Suma Kian Bu."
"Aih, anak itu!"
Milana mengomel.
"Disuruh pulang malah mendahului ke sini...."
Gak Bun Beng lalu mengajak Milana ke sisi untuk dapat bicara empat mata.
"Moi-moi, kau tentu sudah dapat menduga bahwa sesungguhnya adik kita itu telah jatuh cinta kepada Syanti Dewi."
Milana mengerutkan alisnya.
"Hemm, dia akan menjadi manusia yang bodoh sekali kalau nekat mencinta seorang yang tidak membalas perasaannya itu. Sebaiknya kita mencari mereka, mencari jejak Syanti Dewi dan juga jejak Kian Bu. Aku khawatir mereka terkena perangkap Tambolon yang cerdik dan keji."
Mereka lalu menghampiri Panglima Jayin lagi yang tengah mengatur anak buahnya untuk melanjutkan usaha pencarian mereka.
Malam sudah hampir tiba dan keadaan sudah menjadi gelap, namun usaha pencarian itu masih belum ada hasilnya.
"Sukar mencari di malam gelap. Akan tetapi harus menyebar anak buah membawa obor dan mencari terus,"
Kata Milana.
"Kami berdua sendiri akan mencari mereka besok pagi. Mereka harus ditemukan, kalau tidak aku khawatir akan terjadi apa-apa atas diri Puteri Syanti Dewi."
Selagi mereka mengadakan perundingan, tiba-tiba datang penjaga berlarian melapor bahwa dari jauh mendatangi sepasukan berkuda yang besar jumlahnya.
Tentu saja keadaan menjadi panik seketika.
Pasukan itu sedang disebar melakukan usaha mencari Puteri Syanti Dewi, maka kini Panglima Jayin memerintahkan para pembantunya untuk cepat memanggil kembali mereka, siap menghadapi penyerbuan musuh.
Terdengarlah terompet-terompet tanduk ditiup memanggil para perajurit.
Akan tetapi, ketika pasukan yang baru datang itu tiba, segera ternyata bahwa mereka itu sama sekali bukanlah pihak musuh, melainkan pasukan besar yang mengawal Raja Bhutan sendiri yang menjadi tidak sabar setelah mendengar bahwa puterinya itu telah dapat ditemukan dan dikawal pulang sudah tiba di perbatasan Bhutan.
Pasukan raja itu terdiri dari pengawal-pengawal pilihan, dan juga Raja diiringkan oleh belasan orang pendeta hwesio yang bertugas di istana Bhutan.
Adapun pasukan itu dipimpin sendiri oleh Panglima Sangita yang sudah tua.
Tentu saja Panglima Jayin tergopoh-gopoh menyambut rajanya, diikuti oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng.
Ketika kedua orang pendekar ini diperkenalkan oleh Jayin sebagai puteri cucu Kaisar dan pendekar besar yang telah menyelamatkan Syanti Dewi, Raja Bhutan menjadi girang sekali dan berkenalan dengan kedua orang lihai itu.
Akan tetapi ketika Jayin membuat laporan panjang lebar tentang bagaimana dia berhasil mengawal Sang Puteri sampai di situ, lalu terjadi keributan karena serbuan Tambolon dan pasukannya, kemudian betapa Sang Puteri lenyap bersama Ang Tek Hoat, Sri Baginda menjadi marah sekali.
Mereka semua menyangka bahwa tentu pemuda aneh itulah yang sudah melarikan Sang Puteri.
"Kerahkan semua tenaga! Sebar di daerah ini dan cari mereka sampai dapat!"
Sri Baginda mengeluarkan perintah dengan hati kecewa sekali karena tadinya dia sudah merasa girang akan dapat menyambut kembali puterinya yang hilang.
Kemudian Sri Baginda mengajak Puteri Milana dan Gak Bun Beng untuk beristirahat dan dijamu di dalam kemahnya.
Akan tetapi dengan halus Milana dan Bun Beng menolak, dan menyatakan bahwa mereka sayang datang terlambat sehingga tidak sempat melindungi Sang Puteri dan bahwa mereka pun akan membantu untuk menemukan kembali Sang Puteri yang hilang.
Sri Baginda merasa berterima kasih sekali dan dua orang itu pun lalu mengundurkan diri dan mulailah mencari-cari jejak Sang Puteri, dan juga jejak Suma Kian Bu seperti yang diceritakan oleh Jayin betapa pemuda itu pun malah sudah mendahului mereka tiba di tempat itu.
Ke manakah perginya Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi?
Seperti telah kita ketahui, dalam keadaan terluka parah, di tengah-tengah medan pertandingan yang kacau-balau, Syanti Dewi yang mengkhawatirkan keadaan Tek Hoat lalu diam-diam setengah menyeret tubuh pemuda ini menyembunyikan diri di dalam hutan.
Dia maklum bahwa Tambolon hendak menangkapnya, maka tentu saja tidak sudi dia menjadi tawanan Tambolon lagi dan dia harus melarikan diri dari tempat berbahaya itu.
Akan tetapi, dia tidak tega meninggalkan pemuda yang mati-matian membelanya dan yang menderita luka hebat itu, maka betapa pun sukarnya, akhirnya dia berhasil juga membawa dan menyeret pemuda itu memasuki hutan lebat.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, untung sekali bagi Tek Hoat yang menderlta luka-luka dalam akibat pukulan beracun, Dia bertemu dengan Si Dewa Bongkok dan diobati sehingga seketika dia sembuh sama sekali, hanya tinggal memulihkan tenaganya saja.
Dan yang terakhir puteri itu bersama Tek Hoat berada di dalam sebuah kuil rusak yang berada di tengah hutan lebat, di mana Syanti Dewi merawat Tek Hoat yang sudah sembuh hanya perlu beristirahat saja untuk memulihkan tenaganya.
Tentu saja Tek Hoat tidak tahu betapa nyawa dia dan Syanti Dewi telah tertolong oleh Suma Kian Bu yang berhasil mengusir Tambolon dan Durganini, sedangkan Syanti Dewi juga tidak mau menceritakan tentang Kian Bu kepada pemuda itu.
Sebetulnya, Tek Hoat menderita pukulan yang amat hebat, pukulan lahir batin.
Lahirnya, dia telah bertubi-tubi menerima pukulan-pukulan beracun dari lawan-lawan tangguh, akan tetapi dengan kemujijatan dan keampuhan tangan Dewa Bongkok, Semua lukanya sudah sembuh dan racun yang menguasai tubuhnya pun sudah lenyap.
Hanya pukulan batin yang dideritanya ketika dia mendengar cerita Syanti Dewi tentang Gak Bun Beng, membuat tubuhnya lemas, pikirannya bingung, kesadarannya tergoncang hebat dan hatinya merasa kecewa penuh penyesalan.
Betapa dia tidak akan menyesal mengingat bahwa dia telah melakukan segala kekejaman itu untuk memburukkan nama musuh besarnya, Gak Bun Beng, dan kini dia mendengar bahwa Gak Bun Beng itu bukan musuhnya?
Hampir saja dia berputus asa, apalagi kalau teringat betapa dia telah melakukan penyelewengan-penyelewengan hebat di dalam hidupnya, dia merasa tidak patut untuk bersanding dengan Puteri Syanti Dewi, apalagi mencintanya.
Betapapun juga, sikap yang amat manis, perawatan yang dilakukan dengan kesungguhan hati oleh puteri itu, meluluhkan semua kekerasan hati Tek Hoat akan tetapi sekaligus juga mengobati luka di batinnya.
Kalau saja gadis ini bukan puteri Raja Bhutan!
Betapa akan bahagianya hidup menjadi suami puteri ini.
Akan tetapi, dia seorang pemuda jahat, Si Jari Maut, orang yang rendah dan hina dan jahat, mana mungkin saling cinta dengan seorang dara seperti Syanti Dewi?
Tidak!
Hal itu berarti akan menyeret setangkai bunga yang indah bersih ke dalam lumpur!
Dan belum tentu cerita tentang Gak Bun Beng itu benar.
Sebelum dia mendengar sendiri dari ibunya....
Sudah beberapa hari mereka bersembunyi di dalam kuil tua itu.
Dan tenaga Tek Hoat sudah mulai pulih kembali.
Pada pagi hari itu, Syanti Dewi memasuki kuil membawa beberapa tangkai bunga hutan berwarna kuning.
Melihat dara itu memasuki kuil, dilatarbelakangi sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui genteng-genteng kuil yang pecah, Tek Hoat terbelalak dan memandang seperti orang terkena sihir.
Dara itu nampak segar, jelas bahwa puteri itu baru saja mencuci dan menggosok mukanya dengan air sumber di belakang kuil, kedua pipinya kemerahan dan masih agak basah, rambutnya masih agak awut-awutan dengan anak rambut halus berjuntai dan melintang di sekitar pelipis dan dahinya, sepasang matanya bening dan berkilauan, bibirnya keaihatan basah dan merah sekali, penuh dan tersenyum ditahan, nampak lesung pipit di ujung bibir kiri dan sedikit lekuk di dagunya menambah daya tarik.
Seperti bidadari pagi yang turun melalui tangga sinar matahari!
"Hi-hikk...."
Syanti Dewi menutupi mulutnya.
"Tek Hoat, kau kenapa? Apakah kau masih dalam mimpi?"
Puteri itu menegur sambil tersenyum.
"Kau meman-dang aku seperti selama hidup baru sekali ini kita saling bertemu."
Tek Hoat tersadar, menarik napas panjang akan tetapi tidak mampu melepaskan pandang matanya yang melekat pada wajah itu.
"Kau.... kau cantik jelita luar biasa, Dewi...."
Katanya dengan sejujurnya.
Warna merah menjalar naik dari leher yang berkulit putih halus itu, terus menjalar ke pipi dan akhirnya seluruh muka puteri itu menjadi kemerahan.
"Ihh! Kau memang perayu!"
Celanya sambil jalan menghampiri.
"Kau sekarang sudah kelihatan sehat, Tek Hoat. Mukamu sudah merah, tidak pucat lagi seperti kemarin."
Tek Hoat tersenyum dan turun dari atas jerami kering yang ditumpuknya di situ dan selama ini dijadikan tempat tidurnya, sedangkan tempat tidur Sang Puteri berada di sebelah dalam sehingga dia dapat menjaganya.
Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya dalam gerakan silat sehingga terdengar suara angin menyambar-nyambar dahsyat.
"Aku memang sudah sembuh, berkat perawatanmu yang amat teliti, Dewi. Ah, betapa besar budimu dan entah bagaimana aku akan da-pat membalasnya. Kalau dalam kehidupan sekarang aku tidak akan mampu membalasmu, biarlah dalam kehidupanku yang lain kelak, aku akan menjilma menjadi anjing atau kuda untuk mengabdi kepadamu."
Syanti Dewi tertawa dan menutup mulutnya.
"Wah, lagu lama itu! Apakah kau percaya bahwa di dalam kehidupanmu yang lain kelak engkau akan menjelma menjadi anjing atau kuda? Bagaimana kalau kau menjelma menjadi.... tikus misalnya? Bagaimana kau akan mengabdi kepadaku dalam bentuk tikus?"
"Wah, ini.... repot kalau jadi tikus!"
Tek Hoat menggaruk belakang telinganya karena bingung.
"Binatang itu hanya pandai merusak!"
"Kalau begitu, lebih baik jangan janji apa-apa. Tek Hoat, kau tidak perlu berpikir yang bukan-bukan. Engkau sudah berkali-kali menolong dan menyelamatkan aku, bahkan dengan pengorbanan dirimu sampai hampir tewas. Engkau sekarang baru saja sembuh dari luka-luka yang kau derita justeru ketika engkau menolongku, dan sekarang engkau bicara tentang budi?"
Tek Hoat menghela napas dan menatap wajah yang jelita itu dengan pandang mata mesra.
"Dewi, betapapun juga aku hanyalah seorang...."
"Cucu dari Pendekar Super Sakti!"
"Hemm.... kalau betul cerita itu, dan itu pun hanya cucu tiri dan putera seorang penjahat pemerkosa! Sedangkan engkau.... seorang puteri raja, puteri bangsawan luhur dan agung...."
"Tek Hoat, apakah semua yang keluar dari mulutmu dalam kereta dahulu itu, yang keluar di waktu kau dalam keadaan tidak sadar sehingga tidak mungkin kau buat-buat, apakah semua itu palsu belaka...."
"Aihh, tidak....!"
"Kalau begitu, apakah cinta kasih itu mengenal tingkat, mengenal kedudukan, mengenal kaya miskin?"
"Aku cinta padamu! Hal ini tidak dapat kusangkal lagi, Dewi. Aku cinta padamu dan aku rela mati untukmu, akan tetapi kau...."
Syanti Dewi menarik napas panjang dan membalikkan tubuhnya.
"Sudahlah, aku tidak senang kalau kau bersikap seperti ini. Kau mandilah sana, aku akan mencari buah di sebelah kanan kuil...."
Dan puteri itu lalu berlari kecil meninggalkan Tek Hoat yang termenung sejenak, kemudian pemuda ini pun keluar dari kuil melalui pintu belakang, menuju ke sumber air di belakang kuil.
Setelah membersihkan diri dia kembali ke dalam kuil.
"Dewi.... pujaan hatiku...."
Tiba-tiba dia terbelalak kaget.
Ketika dia mema-suki kuil, dia melihat bayangan wanita dan mengira dia Syanti Dewi, akan tetapi ketika dia menegur dengan mesra dan wanita itu membalik, ternyata wanita itu sama sekali bukan Syanti Dewi, melainkan Puteri Milana!
Sang Puteri perkasa ini memandangnya dengan marah!
Memang marahlah hati Puteri Milana.
Dia baru saja mendengar dari Bun Beng bahwa adiknya, Suma Kian Bu, jatuh cinta kepada Syanti Dewi.
Sebagai seorang kakak perempuan, tentu saja dia mengharapkan agar adiknya bahagia dan benar-benar kelak dapat mempersunting Syanti Dewi yang dianggapnya memang sudah cukup patut menjadi isteri adiknya itu.
Akan tetapi di hutan ini dia mendengar bahwa Syanti Dewi dilarikan oleh Tek Hoat.
Dia sudah tahu pemuda macam apa adanya Tek Hoat, yang pernah menjadi kaki tangan pemberontak, bahkan yang telah merusak nama Gak Bun Beng dengan perbuatan-perbuatan jahat dan menggunakan nama Si Jari Maut alias Gak Bun Beng.
Kini, dia menemukan mereka dan begitu pemuda itu masuk, dia mendengar Tek Hoat mengeluarkan kata-kata seperti itu yang tentu ditujukan kepada Syanti Dewi yang sedang keluar memetik buah-buahan.
Tentu saja Milana menjadi marah bukan main, marah dan cemburu demi adiknya!
"Keparat, engkau memang manusia busuk!"
Puteri Milana memaki dan memandang tajam.
Tek Hoat adalah seorang yang berhati keras pula.
Dia sudah merasa bahwa dia memang bukan orang baik-baik, akan tetapi dia tidak mau merendah karena kenyataan itu, dan dia tidak mau orang lain menekan-nekan soal itu yang amat menyakitkan hatinya.
"Sang Puteri, kalau sudah tahu aku seorang manusia busuk, kenapa paduka datang ke sini? Aku tidak mengundangmu."
"Jahanam, kau keturunan Wan Keng In, malah lebih jahat daripada ayahmu! Manusia macam kau memang tidak patut dikasihani lagi!"
"Kalau paduka berpendapat begitu, dan mau membunuhku, silakan, aku pun tidak takut terhadap siapa pun, dan tidak takut untuk mati!"
Tek Hoat menjawab sambil melangkah keluar dari dalam kuil yang sempit.
Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu tinggi, maka dia harus mencari tempat yang lebih luas.
Ucapan Tek Hoat itu diterima oleh Milana yang sedang marah mengingat betapa pemuda ini menculik puteri yang dicinta adiknya, sebagai suatu tantangan, maka dengan cepat dia meloncat keluar pula dan langsung menerjang Tek Hoat dengan pukulan yang amat dahsyat.
"Plak.... desss....!"
Keduanya terhuyung ke belakang.
Milana terkejut.
Tangkisan pemuda itu benar-benar amat hebat, dan tingkat tenaga pemuda itu tidak di sebelah bawah tingkatnya sendiri.
Hal ini membuat dia makin penasaran dan wanita perkasa ini sudah menerjang dengan hebat sekali, gerakannya cepat laksana burung walet dan dahsyat seperti seekor naga betina mengamuk.
"Manusia busuk....!"
Milana berteriak keras saking penasaran karena belasan jurus kemudian belum juga dia memperoleh kemenangan, maka dia lalu menge-rahkan Swat-im Sin-kang, yaitu Tenaga Sakti Inti Salju dari Pulau Es dan dengan pengerahan tenaga mujijat ini dia menghantam.
Jurus yang dilakukan oleh Milana ini memang dahsyat sekali sehingga tidak dapat dielakkan lagi, maka terpaksa Tek Hot menangkisnya kembali dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang dilatihnya dari kitab peninggalan dua orang datuk Pulau Neraka.
"Bresss....!"
Kembali keduanya terpental.
Tek Hoat agak menggigil karena merasa betapa hawa dingin menyusup ke dadanya, namun dengan pengerahan sin-kang, dia berhasil mengusirnya, sedangkan Milana terhuyung-huyung saking hebatnya getaran yang menyambut pukulan dahsyatnya.
Jelas bahwa dalam pertemuan tenaga hebat ini, keadaan Puteri Milana kalah unggul!
"Sumoi, minggirlah!"
Tiba-tiba terdengar suara Gak Bun Beng.
Pendekar ini tentu saja marah sekali melihat Tek Hoat bertanding dengan kekasihnya, dan pertandingan itu saja sudah meyakinkan hatinya bahwa tentu Tek Hoat telah menculik Syanti Dewi, kalau tidak tentu Milana tidak akan menyerangnya.
Sementara itu, ketika Tek Hoat melihat Gak Bun Beng, kebenciannya yang telah ditanamkan oleh ibunya sejak kecil, timbul kembali.
Sejak kecil dia sudah yakin benar bahwa Gak Bun Beng inilah musuh besarnya, pembunuh ayahnya!
Biarpun akhir-akhir ini dia mendengar hal yang sama sekali berbeda dari keterangan Syanti Dewi, namun dia masih belum dapat menerima sepenuhnya dan kini melihat Gak Bun Beng membela Milana menghadapinya, timbul kebenciannya dan wajahnya berubah beringas!
"Bagus, memang saat inilah yang kutunggu-tunggu!"
Tek Hoat menggereng dan dia segera menerjang ke depan dengan kedua lengan didorongkan, telapak tangan terbuka dan dari kedua lengannya itu menyambar hawa pukulan Inti Bumi yang amat dahsyat ke arah Bun Beng.
Bun Beng pernah mengenal hawa pukulan dari kedua tangan Tek Hoat, maka dia pun tidak berani memandang rendah.
Dia lalu mengerahkan tenaga Inti Bumi dan kedua tenaga Swat-im Sin-kang dan Hui-yang Sin-kang, tiga tenaga mujijat digabung menjadi satu, disalurkan kepada dua lengannya dan dia pun menangkis.
"Blarrr....!"
Dua tenaga mujijat yang jauh lebih kuat daripada ketika Tek Hoat melawan Milana tadi bertemu dan akibatnya tubuh Tek Hoat terjengkang, sedangkan Bun Beng hanya melangkah mundur dua tindak.
Dalam keadaan biasa pun tingkat Tek Hoat masih belum mampu menandingi tingkat Bun Beng, apalagi dalam keadaan baru saja sembuh dari luka-luka hebat.
Akan tetapi Tek Hoat yang merasa dadanya sesak itu sudah meloncat bangkit kembali dengan mata mendelik saking marahnya.
Pada saat itu, terdengar seruan nyaring.
"Paman Gak Bun Beng....!"
Bun Beng menoleh dan berseru girang.
"Dewi....!"
Syanti Dewi menjatuhkan buah-buah yang dibawanya, lalu berlari-larian sambil air matanya bercucuran akan tetapi mulutnya tersenyum lebar menghampiri Bun Beng yang saking girangnya melihat puteri itu selamat juga sudah menyambut dengan kedua lengan terbuka.
"Paman....!"
Syanti Dewi menubruk dan mereka berangkulan, Syanti Dewi terisak di atas dada Bun Beng dan pendekar ini mengusap-usap rambut kepala Sang Puteri.
Rasa gembira yang spontan memang tak dapat dipikirkan lebih dulu sehingga Bun Beng dan Syanti Dewi lupa bahwa di situ terdapat dua orang lain yang memandang pertemuan mesra dan bahagia ini dengan hati....
mendongkol!
Puteri Milana sudah maklum betapa Syanti Dewi pernah jatuh cinta kepada Gak Bun Beng, maka terasa agak panas juga perutnya melihat kekasihnya berpelukan itu, se-dangkan Tek Hoat tentu saja merasa dadanya seperti dibakar, apalagi melihat bahwa yang dipeluk oleh puteri yang dicintanya itu adalah musuh besarnya!
Kalau Milana diam saja melihat adegan itu karena dia pun maklum bahwa tidak ada apa-apa yang tidak wajar dalam pertemuan antara dua orang itu, sebaliknya Tek Hoat tak dapat menahan kemarahannya.
"Gak Bun Beng manusia pengecut! Hayo kau lawan aku!"
Mendengar ini, Syanti Dewi terkejut sekali dan melepaskan pelukannya, menoleh dan memandang Tek Hoat dengan mata terbelalak.
"Tek Hoat, jangan gila kau....!"
Akan tetapi kata-kata Syanti Dewi ini seperti merupakan minyak yang menyiram api kemarahan di hati Tek Hoat, karena dianggapnya Syanti Dewi membela dan memihak kepada Gak Bun Beng.
Maka begitu melihat Syanti Dewi sudah terlepas dari Bun Beng, serta merta dia menyerang dengan dahsyat dan ganas.
Tentu saja Bun Beng yang telah waspada itu cepat meloncat mundur, akan tetapi Tek Hoat terus mengejar dan menyerangnya dengan dahsyat seperti seekor kerbau gila mengamuk sehingga mau tidak mau Bun Beng terpaksa harus me-layaninya dan mereka pun saling pukul dan saling tangkis!
"Paman Gak....
jangan bunuh dia....
ja-ngan lukai dia....
dia telah menyelamatkan aku dari bahaya...."
Syanti Dewi berteriak-teriak dan kelihatan gelisah sekali melihat pertempuran antara dua orang itu.
Milana memandang tajam kepada Syanti Dewi dan naluri kewanitaannya membuat dia melihat sesuatu yang menusuk ulu hatinya.
Kiranya Puteri Bhutan ini jatuh cinta kepada Tek Hoat, pikirnya.
Kenyataan ini amat pahit baginya karena dia maklum bahwa adiknya tidak mempunyai harapan.
Dan kabenciannya kepada Tek Hoat mereda ketika mendengar pengakuan Syanti Dewi bahwa pemuda itu tidak menculiknya, bahkan malah menolongnya.
Demikian pula Gak Bun Beng segera meloncat ke belakang.
"Orang muda, tahan dulu!"
"Lebih baik mati!"
Tek Hoat yang masih marah itu tidak peduli, melihat Gak Bun Beng meloncat mundur dia pun segera menerjang lagi dan mendesak dengan pukulan-pukulan maut.
Terpaksa Bun Beng melayaninya dengan bingung.
Andaikata tidak ada seruan-seruan yang meminta kepadanya agar jangan melukai Tek Hoat, tentu Bun Beng dapat merobohkan lawannya dengan pukulan-pukulan sakti, akan tetapi kini Bun Beng tidak mau melakukan hal itu, hanya menjaga diri, menangkis atau mengelak tanpa membalas.
Tentu saja dia mulai menjadi kewalahan karena pemuda itu telah menjadi nekat dan agaknya hendak mengadu nyawa.
Memang Tek Hoat telah menjadi nekat.
Tadinyapun dia sudah merasa tidak berharga berdekatan dengan puteri yang dicintanya, kini munculnya dua orang pendekar hebat itu membuat dia merasa makin tidak berharga lagi, ditambah panasnya hati menyaksikan wanita yang dicintanya berpelukan demikian bahagia dengan orang yang dibencinya.
Ketika pertandingan itu masih berlangsung dengan serunya, datang pasukan yang dipimpin oleh Jayin, yang mendengar bahwa Sang Puteri telah ditemukan.
Jayin dan pasukannya menjadi bingung melihat dua orang itu bertanding, akan tetapi atas isyarat Puteri Syanti Dewi, mereka mundur lagi dan tidak berani mencampuri.
Berkali-kali Syanti Dewi minta kepada Tek Hoat untuk menyudahi serangannya, namun pemuda yang sudah nekat ini seperti tidak mendengar suaranya.
Melihat ini, diam-diam Puteri Milana melolos sabuknya dan pada saat untuk ke sekian kalinya Tek Hoat mengadu tenaga dengan Bun Beng dan pendekar ini menggunakan tenaga saktinya untuk membuat kedua tangan pemuda itu melekat pada tangannya, tiba-tiba Milana menggerakkan sabuknya dan sabuk itu seperti hidup membelit-belit dan mengikat tubuh dan kedua tangannya sehingga Tek Hoat tidak mampu bergerak lagi.
"Lepaskan aku dan kita bertempur sampai mati! Atau bunuh saja aku!"
Tek Hoat meronta-ronta.
"Gak Bun Beng manusia busuk! Engkau yang telah membuat ibuku menderita selama hidupnya! Terkutuk engkau....!"
Syanti Dewi menubruk dan memegang kedua lengan Tek Hoat.
"Tek Hoat, ingat. Siapa aku? Aku minta kau diam dan mendengarkan penjelasan. Ke manakah perginya sifatmu yang baik itu? Apakah kau ingin membuat aku berduka, Tek Hoat?"
Pemuda itu memandang wajah Sang Puteri, mukanya menjadi pucat, dua titik air mata meloncat turun dan dia menunduk.
"Dewi...."
Dia memejamkan matanya dan menggigit bibirnya.
Mereka kini duduk di dalam kuil, sedangkan Jayin dan pasukannya menanti di luar.
Dengan sabar dan tenang Gak Bun Beng bercerita kepada Tek Hoat yang telah dilepas ikatannya dan lengannya dipegang oleh Syanti Dewi.
Pegangan puteri ini sebetulnya malah lebih kuat daripada ikatan sabuk Puteri Milana, karena Tek Hoat menjadi jinak dan tidak mengamuk lagi.
Dia menunduk dan mendengarkan penuturan Gak Bun Beng dengan hati tidak karuan rasanya.
Setelah Gak Bun Beng menceritakan bahwa dia bukanlah musuhnya seperti yang diduga oleh Ang Siok Bi, ibunya, Milana juga lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Ang Siok Bi dan betapa ibunya kini pun sudah insyaf akan kekeliruannya yang amat besar dan mendatangkan akibat yang hebat itu.
"Akan tetapi.... masa ibuku begitu bodoh sehingga mudah saja ditipu oleh penjahat yang bernama Wan Keng In itu....?"
Tek Hoat membantah dengan ragu-ragu.
"Tek Hoat, kau lihat aku!"
Puteri Milana tiba-tiba berkata.
"Kau sedikit banyak sudah mengenal aku, bukan? Apakah aku seorang yang mudah ditipu? Dan aku masih terhitung saudara tiri dari Wan Keng In, juga aku adalah masih sumoi dari Gak-suheng. Akan tetapi toh aku juga tertipu seperti ibumu sehingga aku sendiri, bersama ibumu dan wanita lain yang juga menjadi korban Wan Keng In, kami mengeroyok Gak-suheng sehingga Gak-suheng terjerumus ke dalam jurang dan disangka mati oleh ibumu. Ibumu lalu pergi dan tak pernah muncul kembali, tak pernah bertemu dengan kami sehingga belum juga tahu akan kekeliruan sangka itu. Sampai engkau muncul dan melakukan tindakan yang menjadi akibat fitnah itu."
"Tek Hoat, sudah kukatakan kepadamu bahwa Paman Gak Bun Beng adalah seorang pendekar yang berhati mulia, tidak mungkin melakukan kekejaman seperti itu. Kau telah salah sangka dan ibumu pun demikian...."
Kata Syanti Dewi. Tiba-tiba Tek Hoat menutupi mukanya, lalu menjambak-jambak rambutnya.
"Dan aku.... aku telah.... menodai namanya...., persis seperti yang dilakukan oleh ayahku yang jahanam itu!"
Dia bangkit dan melotot.
"Aku tidak layak hidup! Dewi, aku tidak layak hidup, apalagi berdekatan de-nganmu."
"Tek Hoat....!"
Melihat pemuda itu seperti orang beringas, Syanti Dewi menubruknya.
"Tek Hoat, jangan.... jangan nekat.... kau.... adalah sebaik-baiknya orang bagiku...."
"Tidak, Dewi. Aku orang jahat...."
Dia masih meronta. Bun Beng bangkit dan memegang kedua pundak pemuda itu, mengguncangnya dan berkata dengan nada keras.
"Tek Hoat, beginikah sikap seorang jantan? Begini pengecutkah engkau sehingga kau menjadi putus harapan? Semua orang di dunia ini pasti pernah melakukan penyelewengan. Siapakah di antara kita yang tidak pernah keliru dalam tindakan dalam hidup kita? Yang penting adalah menyadari kesalahan itu, karena hanya kesadaran saja yang akan mendatangkan perubahan. Bersikaplah gagah, tenagamu yang muda masih dibutuhkan oleh manusia dan dunia, dan terutama sekali, kau lihat, Puteri Syanti Dewi amat membutuhkanmu."
Tek Hoat terbelalak memandang kepada Gak Bun Beng, kemudian menoleh ke arah Syanti Dewi, dan lemaslah seluruh tubuhnya.
Dia mengangguk-angguk, menarik napas panjang.
"Baiklah.... baiklah...., aku menyerah dan menurut.... akan tetapi aku harus mendengar sendiri keterangan itu dari ibuku...."
Bagaikan seekor harimau yang telah berubah menjadi seekor domba jinak, Tek Hoat menurut saja diajak keluar menemui Jayin dan pasukannya, dan dia tidak pernah membantah ketika diajak oleh Syanti Dewi untuk menemui ayahnya yang menanti dengan cemas di dalam perkemahannya di hutan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan ini tiba di perkemahan Raja Bhutan.
Mendengar bahwa puterinya telah ditemukan dalam keadaan selamat, Raja Bhutan menjadi girang dan tergopoh-gopoh dia keluar dari tendanya menyambut sendiri.
Syanti Dewi menjerit dan lari menghampiri ayahnya.
Mereka berpelukan dan Syanti Dewi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata, sedangkan Sri Baginda juga mengusap air matanya dan mengelus-elus kepala puterinya, mendekapnya ketat seolah-olah takut kehilangan puterinya lagi.
Setelah mendengar penuturan Panglima Jayin bahwa tiga orang dari timur itu, ialah Puteri Milana, Gak Bun Beng, dan Ang Tek Hoat telah banyak berjasa dalam menyelamatkan Puteri Syanti Dewi, Sri Baginda Kerajaan Bhutan berterima kasih sekali.
Dengan wajah berseri dia menghaturkan terima kasih dan mengundang mereka bertiga untuk berkunjung dan menjadi tamu kehormatan di Kerajaan Bhutan.
Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Raja Bhutan yang amat berterima kasih itu, Gak Bun Beng dan Puteri Milana merasa sungkan untuk menolak, sedangkan Tek Hoat yang hanya tunduk kepada pandang mata Puteri Syanti Dewi juga tidak banyak cakap lagi.
Pada keesokan harinya, berangkatlah rombongan Raja Bhutan ini, hendak kembali ke kota raja, diiringkan oleh tiga orang tamu itu.
Gak Bun Beng dan Puteri Milana saling bemufakat untuk singgah beberapa hari di kota raja Bhutan dan kemudian melanjutkan usaha mereka mencari Kian Bu yang lenyap jejaknya itu, kemudian setelah dapat bertemu dengan adik itu, bersama-sama akan pergi menghadap ke Pulau Es.
Akan tetapi, jauh di luar dugaan mereka dan dugaan Raja Bhutan sendiri, perjalanan yang diliputi kegembiraan karena Sang Puteri telah bertemu dengan ayahnya itu ternyata menghadapi ancaman yang hebat!
Rombongan yang megah ini sedang bergerak perlahan dan tidak tergesa-gesa melalui sebuah daerah terbuka, dan Raja Bhutan yang berkuda di sebelah puterinya itu, tiba-tiba terkejut melihat datangnya seorang perajurit yang berlari-larian dari depan dan serta merta menjatuhkan diri berlutut di tengah jalan menghadang rombongan itu!
Mula-mula Panglima Jayin yang meng-hampiri dan marah-marah menegur perajurit Bhutan yang membawa tombak itu, akan tetapi begitu mendengar pelaporan perajurit yang ternyata merupakan seorang kurir atau utusan dari komandan pasukan penjaga kota raja, Panglima Jayin terkejut sekali dan membawa kurir itu menghadap Sri Baginda sendiri.
"Mohon paduka mengampunkan hamba yang datang mengganggu tanpa dipanggil,"
Utusan itu berlutut dan menjawab pertanyaan Sri Baginda.
"Hamba diutus oleh komandan untuk mengabarkan bahwa kota raja kini sedang dikurung oleh pasukan-pasukan besar dari para kepala suku liar dan dipimpin sendiri oleh Tambolon. Jumlah pasukan mereka besar sekali dan kota raja telah dikurung sehingga rombongan paduka hendaknya tidak melanjutkan perjalanan ke sana karena pintu masuk telah dikurung semua oleh pihak musuh."
"Hemm, Si Tambolon keparat!"
Sri Baginda berseru marah.
"Apa kehendaknya sekali ini?"
"Maaf, Sri Baginda. Dengan terang-terangan Tambolon menyatakan bahwa dia menuntut agar Sang Puteri diserahkan kepadanya."
"Ayah.... kedatanganku ternyata hanya mendatangkan malapetaka saja....!"
Syanti Dewi berseru kaget.
"Hemm, jangan kau berkata demikian, anakku. Jayin, hentikan rombongan dan kumpulkan semua panglima dan perwira, juga undang tiga orang tamu agung kita untuk diajak berunding."
Rombongan berhenti dan perkemahan didirikan di tempat itu.
Kemudian Raja Bhutan mengadakan perundingan dengan para panglimanya, juga dihadiri oleh Puteri Syanti Dewi, Puteri Milana, Gak Bun Beng dan Tek Hoat.
Dengan wajah serius Sri Baginda membicarakan ancaman bahaya yang me-ngepung Bhutan itu, kemudian berkata kepada tiga orang tamunya.
"Untuk menyelamatkan kerajaan, kami sangat mengharapkan bantuan Anda bertiga."
"Bibi Milana, Paman Gak Bun Beng, saya harap Bibi dan Paman dapat membantu Ayah,"
Syanti Dewi juga berkata dengan suara khawatir melihat ayahnya begitu gelisah.
Puteri Milana adalah seorang yang ahli dalam hal perang, maka dengan tenang dia lalu bertanya kepada Panglima Jayin.
"Menurut pelaporan, berapakah kira-kira jumlah para pengepung dan bagaimana keadaan kekuatan para penjaga di kota raja?"
"Menurut pelaporan, para pengepungan berjumlah banyak sekali dan sudah menduduki empat penjuru menutup pintu-pintu gerbang yang menghubungkan kota raja dengan daerah luar,"
Jawab Panglima Jayin.
"Sayang bahwa Panglima Sangita juga berada di sini mengawal Sri Baginda sehingga para pasukan di kota raja kehilangan panglima tertinggi. Oleh karena itu, biarlah saya akan berusaha menyelundup ke kota raja agar dapat memimpin pasukan di sebelah dalam."
"Usul itu tepat,"
Kata Panglima Sangita yang tua.
"Biarpun pasukan yang sekarang mengawal Sri Baginda tidak besar, namun ini merupakan pasukan pengawal istimewa. Dengan menggempur mereka dari luar dan dalam, biarpun jumlah pasukan kita kalah besar, akan tetapi tentu akan dapat mengacaukan mereka."
"Kalau menurut pendapat saya, yang terpenting adalah menjamin keselamatan keluarga Sri Baginda dan pertahanan kota raja."
Puteri Milana berkata dengan tenang.
"Kehadiran Sri Baginda di kota raja amat diperlukan, karena hal itu tentu akan menambah semangat para pasukan. Maka, jika usul saya dapat diterima, kita harus mengusahakan agar Sri Baginda dan Puteri Syanti Dewi dapat diselundupkan masuk ke dalam kota raja sehingga dapat memperbesar semangat pasukan."
"Akan tetapi, hal itu tentu akan terlalu berbahaya bagi keselamatan Sri Baginda!"
Panglima Sangita membantah dengan nada khawatir.
"Tidak lebih berbahaya daripada berada di luar kota dan hanya dikawal oleh pasukan sebanyak ini,"
Gak Bun Beng berkata.
"Baiknya pihak musuh belum tahu bahwa Sri Baginda dan Sang Puteri berada di luar kota raja, kalau tahu, saya kira mereka sekarang pun sudah mengerahkan barisan untuk mengepung dan menyerbu. Tanpa adanya benteng yang melindungi, menghadapi pasukan musuh yang jauh lebih besar sungguh berbahaya sekali. Saya setuju sekali dengan usul Puteri Milana untuk menyelundupkan Sri Baginda dan Puteri Syanti Dewi memasuki kota raja."
Panglima Jayin dan Panglima Sangita hanya saling pandang dengan ragu-ragu, karena mereka tahu betapa berbahaya menerobos kepungan musuh mengantar Sri Baginda memasuki kota raja yang terkepung itu.
Akan tetapi Sri Baginda yang kelihatan termenung itu segera dipeluk oleh puterinya dan berkata.
"Ayahanda harus menaruh kepercayaan yang sepenuhnya kepada Bibi Puteri Milana dan Paman Gak Bun Beng. Mereka adalah manusia-manusia luar biasa yang saya percaya dapat melakukan apapun juga."
Sri Baginda menghela napas panjang.
"Baiklah, kami hanya mengandalkan bantuan Anda bertiga untuk membantu kami."
Dia tidak melewatkan Tek Hoat karena dia pun sudah mendengar bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa pula.
"Bagaimana sebaiknya diatur hal ini, Puteri Milana?"
Puteri Milana mengerutkan alisnya dan memejamkan mata, membayangkan keadaan kota raja Bhutan yang terkepung musuh yang dipimpin oleh Tambolon, raja liar itu.
Dia belum tahu bagaimana letak dan keadaan kota raja Bhutan, maka sukarlah dia membayangkan cara bertahan yang paling baik.
Akhirnya dia berkata.
"Kita menanti sampai malam ini, dan saya sendiri bersama Gak-suheng dan Panglima Jayin akan menyelundupkan paduka dan Puteri Syanti Dewi ke dalam kota raja. Adapun pasukan pengawal dipimpin oleh Panglima Sangita dan Tek Hoat diam-diam melakukan pengawalan sambil bersembunyi. Syukur kalau penyelundupan ke dalam kota raja itu tidak ketahuan musuh. Andaikata sampai ketahuan, pasukan pengawal harus cepat menyerbu dan membikin kacau untuk memecah perhatian musuh sehingga memudahkan kita masuk ke kota raja."
"Akan tetapi setiap pintu gerbang sudah dikepung musuh, bagaimana kita dapat masuk?"
Sri Baginda menyatakan kekhawatirannya.
"Paduka akan saya pondong, dan biarlah Puteri Syanti Dewi dipondong oleh Sumoi dan kami bawa paduka berdua meloncat tembok benteng."
"Wah, begitu tingginya....?"
Sri Baginda terkejut.
"Ayah, percayalah kepada Paman Gak dan Bibi Milana. Mereka memiliki kepandaian seperti dewa,"
Kata Syanti Dewi gembira, sedikit pun tidak merasa takut.
"Dan dengan adanya pengawalan pasukan yang dipimpin oleh Tek Hoat, kita boleh berbesar hati, Ayah. Kita pasti dapat memasuki kota raja dengan selamat."
Tek Hoat tadinya ingin mengajukan keberatan karena dia tidak ingin mencampuri urusan Kerajaan Bhutan, apalagi setelah dia kini melihat kenyataan bahwa sungguh tidak mungkin baginya untuk melanjutkan cinta kasihnya terhadap seorang puteri seperti Syanti Dewi, puteri Raja Bhutan yang tercinta dan berkedudukan amat tinggi.
Kalau menurut keinginan hatinya, dia ingin mencari ibunya, ingin kembali kepada ibunya dan mendengar sendiri dari ibunya tentang riwayat ibunya yang sebenarnya.
Akan tetapi, mendengar ucapan Syanti Dewi dan terutama sekali ketika mereka bertemu pandang, Tek Hoat tidak mungkin dapat menolak dan dia hanya berkata.
"Hamba akan membela dengan taruhan nyawa hamba."
"Akan tetapi engkau tidak boleh nekat, Tek Hoat,"
Milana berkata mendengar ucapan pemuda itu.
"Engkau sudah pernah memimpin pasukan ketika terjadi keributan di utara, maka aku percaya bahwa engkau tentu akan dapat membantu Panglima Sangita mengatur pasukan pengawal itu menjadi barisan terpendam dan hanya bergerak kalau perlu saja. Menyerbu mati-matian padahal jumlah musuh jauh lebih banyak hanya merupakan perbuatan nekat yang konyol."
Tek Hoat tidak menjawab, akan tetapi mengangguk.
Maka bersiaplah mereka dan setelah malam tiba, berangkatlah lima orang itu berindap-indap melalui tempat-tempat gelap menuju ke kota raja yang masih agak jauh letaknya dari tempat itu.
Sangita dan Tek Hoat memimpin pasukan yang disebar dan melakukan pengawalan rahasia dari kanan kiri dan belakang dan Tek Hoat sendiri mendahului perjalanan untuk mengadakan penyelidikan tentang keadaan penjagaan musuh yang mengepung kota raja.
Setelah Milana dan Gak Bun Beng yang mengawal raja dan puteri, ditemani Panglima Jayin tiba dekat dengan tembok kota raja, Tek Hoat menyambut mereka dengan laporan bahwa menurut penyelidikannya, tidak mungkin melakukan penyelundupan dekat pintu gerbang yang sudah dikurung ketat dan di setiap tempat dekat pintu gerbang musuh sudah memasang barisan yang terdiri dari regu anak panah dan bahkan regu alat-alat peledak yang tentu akan membahayakan keselamatan raja dan puterinya.
"Akan tetapi di sepanjang tembok benteng di selatan, melalui sungai yang curam, pengepungan tidaklah begitu ketat karena daerah itu amat terjal dan sukar sehingga selain melelahkan bagi musuh juga agaknya mereka anggap tidak penting. Saya kira hanya melalui tembok selatan itulah penyelundupan dapat dilakukan dengan lebih aman."
Puteri Milana mengangguk-angguk.
"Tek Hoat, bagus sekali laporanmu ini. Kau cepat mengerahkan barisan pendam di sekitar tembok selatan dan kau lihat saja. Kalau kau melihat kami dalam kesukaran, baru kau boleh menggerakkan pasukan untuk mengacau musuh dan membagi perhatian serta kekuatan mereka. Kalau tidak perlu, jangan sekali-kali bergerak."
"Baik,"
Kata Tek Hoat dan dia memandang ke arah Puteri Syanti Dewi yang seperti juga Sri Baginda dan yang lain telah menyamar sebagai orang-orang biasa.
Sejenak, di bawah sinar bintang-bintang di angkasa yang samar-samar, mereka saling pandang, kemudian Syanti Dewi lalu digendong oleh Milana dan Raja digendong oleh Gak Bun Beng.
Tembok benteng itu bertingkat-tingkat, dan di tingkat paling atas terdapat penjaga-penjaga yang selalu siap dengan anak panah mereka.
Sedangkan tembok di bagian selatan ini terlindung oleh sebatang sungai yang amat curam, dan karena sukarnya tempat ini, maka pasukan anak buah Tambolon yang mengurung kota raja hanya menjaga di tepi-tepi sungai sambil bersembunyi.
Oleh karena itu, maka dengan mudah Gak Bun Beng dan Milana yang menggendong raja dan puterinya menyusup dan menuruni sungai yang curam itu mendekati tembok, diikuti oleh Panglima Jayin yang berkepandaian tinggi itu.
Akhirnya mereka tiba juga di dekat tembok dan dengan bingung Panglima Jayin memandang ke atas.
Tembok benteng itu demikian tingginya, bagaimana mungkin membawa Raja dan puteri naik ke atasnya tanpa diketahui oleh pihak musuh?
Dia sendiri tidak akan sanggup untuk meloncat ke bagian tembok yang paling rendah saja, apalagi sampai ke tingkat paling tinggi.
Sunyi sekali tampaknya di sekeliling tempat itu, akan tetapi Gak Bun Beng dan Puteri Milana maklum bahwa di belakang mereka, di sungai curam yang kelihatan gelap dan sunyi itu, tentu ter-dapat pihak musuh yang siap menyerbu dan menyerang mereka dengan anak panah kalau sampai kehadiran mereka diketahui.
"Sumoi, biar aku membawa Sri Baginda naik lebih dulu dan kau melindungi aku dari belakang. Kalau dilakukan secara berbareng, tentu tidak dapat kita melakukan perlindungan dengan sempurna."
"Memang aku pun berpikir begitu, Suheng. Nah, aku sudah siap. Syanti Dewi, kau bersembunyi dulu di sini bersama Panglima Jayin sementara kami menyelamatkan ayahmu ke dalam benteng."
Panglima Jayin lalu mengajak Syanti Dewi untuk bersembunyi di dalam rumpun alang-alang agak menjauh dari tempat itu.
Dari tempat persembunyian ini mereka mengintai dengan hati berdebar penuh ketegangan.
"Sudah siap, Sumoi?"
"Sudah, Suheng,"
Kata Milana sambil mencabut keluar pedangnya.
Tak lama kemudian Gak Bun Beng yang menggendong Raja Bhutan meloncat ke atas tembok pertama, disusul oleh Milana yang memegang pedang.
Bayangan mereka nampak seperti dua ekor burung terbang dan dengan penuh kagum Jayin dan Syanti Dewi melihat betapa mereka telah berhasil hinggap dan berdiri di atas tembok pertama.
Dengan sigap seperti dua ekor kucing saja, dua orang sakti itu kembali bergerak meloncat ke atas ke tembok tingkat dua.
Tiba-tiba kelihatan sinar api dari atas tembok tingkat empat dan terdengar ribut-ribut para penjaga yang telah melihat bayangan mereka dan tentu saja para penjaga itu mengira bahwa mereka adalah pihak musuh yang hendak menyelundup masuk.
Terdengar tanda bahaya dipukul dan di atas benteng muncul kepala banyak orang yang menjenguk ke bawah.
Keributan ini agaknya terlihat oleh pihak musuh.
Segera tampak kesibukan di luar tembok dan anak-anak panah mulai meluncur secara gencar dari luar tembok, ditujukan kepada dua bayangan itu karena pihak pengepung maklum bahwa ada orang yang akan menyelundup ke dalam benteng.
"Hati-hati, Suheng. Aku menjaga serangan dari belakang!"
Milana berseru dan pedangnya sudah diputar cepat dan semua anak panah yang menyerang dari pihak musuh dapat ditangkisnya dengan mudah.
Sedangkan Bun Beng sendiri juga sudah cepat menggerakkan kedua lengan bajunya untuk menangkis anak panah yang sudah datang pula dari atas dan depan, yaitu dari pihak penjaga Bhutan!
Mereka diserang dari depan dan belakang!
"Sumoi, cepat meloncat ke tingkat tiga!"
Bun Beng berseru dan dengan pengerahan tenaga gin-kangnya, dia sudah melayang ke atas diikuti oleh Milana yang memutar pedangnya.
"Trang-tranggg....!"
Bun Beng berhasil tiba di atas tembok tingkat tiga dengan Raja Bhutan di gendongannya.
Milana tetap menjaga di belakangnya dan karena kini datangnya anak panah dari bawah amat lebat, puteri ini sibuk juga mclindungi Raja yang berada di punggung Bun Beng.
"Haiii.... para penjaga! Yang datang adalah raja kalian!"
Bun Beng berteriak ke atas akan tetapi karena di tingkat paling atas itu para penjaga gempar dan bising, maka teriakan Bun Bung ini tidak terdengar nyata dan dari atas kini datang pula serangan anak panah dan batu!
Dengan tangkas Bun Beng menangkisi semua senjata itu, dan Raja Bhutan sendiri menyumpah-nyumpah.
"Betapa tololnya mereka!"
Dia memaki.
"Mereka tidak tahu bahwa paduka yang datang, Sri Baginda. Biarlah saya merayap ke atas, harap paduka berpegang kuat-kuat."
"Naiklah, Suheng. Aku akan melindungimu dari belakang."
Milana berkata.
"Cepat, karena serangan dari bawah makin gencar dan aku melihat mereka itu sudah keluar dari tempat persembunyian mereka."
Gak Bun Beng tidak berani meloncat ke tingkat paling atas, karena selain tingkat itu tinggi, juga di situ sudah siap para penjaga yang tentu akan menyerang dengan membuta dan hal ini amat berbahaya.
Maka dia lalu menggunakan sin-kangnya, dan mulailah pendekar ini memanjat tembok itu seperti seekor cecak!
Puteri Milana dengan pedang di tangan tetap melindunginya dan menangkisi semua senjata yang meluncur dari bawah, sedangkan para penjaga di atas menjadi bingung dan tidak dapat melihat Bun Beng yang merayap mepet di tembok.
Dari atas mereka itu hanya menyerang Puteri Milana sehingga Sang Puteri harus memperlihatkan kehebatan permainan pedangnya yang menangkisi hujan anak panah yang datang dari bawah dan atas.
Ketika tiba di tingkat paling atas benteng itu, Gak Bun Beng menghadapi ujung-ujung tombak dan pedang yang sudah nampak dari bawah!
Karena suara hiruk-pikuk para penjaga di atas dan teriakan-teriakan para musuh di bawah, maka seruan Raja Bhutan sendiri tidak terdengar oleh para penjaga.
Pada saat itu terdengarlah bentakan-bentakan nyaring dari bawah.
Puteri Milana terkejut ketika melihat ada bayangan orang yang meloncat ke atas tembok tingkat pertama dengan gerakan yang ringan dan gesit seskali, terus orang itu berloncatan ke tingkat dua dan agaknya hendak mengejar Gak Bun Beng.
Karena dia dihujani anak panah dari atas dan bawah, dia tidak dapat mencegah orang itu yang kini dengan loncatan-loncatan cepat telah mengejar Bun Beng yang masih merayap sambil menggendong Raja Bhutan!
Akhirnya Puteri Milana dapat juga memukul runtuh semua anak panah dan cepat dia pun meloncat ke arah bayangan itu.
Namun terlambat, karena bayangan orang kurus itu telah melayang ke arah Gak Bun Beng yang masih merayap seperti cecak sambil berseru.
"Bunuh Raja Bhutan!"
Bun Beng terkejut, maklum bahwa ada lawan menyerangnya sambil meloncat ke udara, serangan yang ditujukan kepada tubuh Sang Raja di atas punggungnya.
Maka dia pun cepat menoleh dan pada saat itu dia mendengar teriakan Milana.
"Suheng, lemparkan beliau ke sini!"
Bun Beng maklum akan bahaya serangan orang yang agaknya cukup lihai itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu memegang kedua lengan Raja Bhutan yang merangkul lehernya, melepaskan rangkulan dan melemparkan tubuh Raja ke arah Milana.
Raja itu tentu saja terkejut sekali dan mengeluarkan keluhan panjang, karena kalau tubuhnya sampai terjatuh ke bawah sana, tentu akan hancur lebur.
Akan tetapi, sepasang lengan yang kecil kuat, dengan tangan yang halus, menerima tubuhnya dengan mudah dan tahu-tahu dia sudah berdiri di atas tembok tingkat tiga, dipegangi oleh Puteri Milana.
Tubuh Raja menggigil.
"Harap paduka tenang...."
Milana berkata dan pedangnya menyampok beberapa batang anak panah.
Sementara itu, orang kurus yang me-nyerang tadi telah disambut oleh dorongan tangan Bun Beng.
"Desss....!"
Begitu tangan mereka bertemu, orang itu terpental dan terdengar dia mengeluarkan lengking kematian yang mengerikan ketika tubuhnya terlempar ke bawah yang gelap dan amat dalam itu.
Bun Beng terpaksa melanjutkan usahanya merayap ke atas.
Dia dipapaki tombak dan pedang namun dengan mudah dia menangkis semua senjata itu sehingga runtuh dan dia cepat berseru.
"Kami adalah orang-orang sendiri! Kami menghantar Sri Baginda naik ke benteng, harap bantu beliau naik!"
Mendengar ini, barulah terkejut para penjaga.
Tadinya mereka juga terheran-heran melihat ada orang berani naik ke benteng seperti itu dan melihat betapa yang berusaha naik itu diserang oleh anak panah musuh juga.
Gak Bun Beng lalu meloncat turun lagi untuk menjemput Sri Baginda dan kini dari atas benteng dihujankan senjata ke arah musuh yang menyerang dari bawah.
Hujan anak panah ini membuat serangan dari bawah mereda dan dengan mudah Bun Beng membawa Sri Baginda ke atas tembok yang disambut dengan sorak girang oleh para penjaga.
Milana sudah meloncat turun, disusul oleh Bun Beng yang sudah berhasil menyelamatkan Raja Bhutan.
Kini Syanti Dewi dipondong oleh Milana, dan dilindungi oleh Gak Bun Beng yang membantu Jayin naik pula ke tembok benteng.
Berkat perlindungan Bun Beng, semua anak panah dari bawah dapat diruntuhkan dan akhirnya mereka semua berhasil tiba di atas benteng dengan selamat.
Sorak sorai gemuruh menyambut kedatangan Raja, puteri dan Panglima Jayin di atas benteng dan bangkitlah semangat semua perajurit Bhutan, apalagi setelah menyaksikan kelihaian Puteri Milana dan Gak Bun Beng.
Malam itu juga Sri Baginda lalu mengajak dua orang tamu agungnya itu berunding, dan pimpinan bala tentara diserahkan kepada Puteri Milana yang memang ahli dalam soal perang.
Panglima Jayin menjadi pembantunya dan Milana lalu mengatur bagaimana penjagaan harus dilakukan menghadapi pengepungan pihak musuh.
Dia juga minta kepada Panglima Jayin agar melepas mata-mata dan penyelidik untuk mengetahui keadaan musuh, di bagian mana adanya pengepungan yang paling kuat dan di mana pula yang paling lemah, berapa banyak adanya kekuatan musuh dibandingkan dengan kekuatan sendiri.
(Lanjut ke
Jilid 56) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 56 Kerajaan Bhutan adalah sebuah kerajaan yang beragama Buddha, maka banyak pendeta Buddha yang bertugas di istana.
Mereka ini oleh Milana dimanfaatkan untuk menghibur para penduduk kota raja, dan juga semua laki-laki yang berada di kota raja diharuskan ikut pula menjadi tentara suka rela, sedangkan yang wanita diharuskan mengatur agar ransum yang terdapat di kota raja dapat dihemat pemakaiannya.
Pendeknya, segala persiapan untuk menghadapi musuh yang telah mengurung benteng kota raja dipersiapkan dengan teliti oleh Puteri Milana dan diatur malam hari itu juga.
Ternyata berita bahwa Raja Bhutan dan puterinya secara luar biasa malam tadi dapat menyelundup ke dalam kota raja, terdengar pula oleh Tambolon yang kehilangan seorang pembantu cakap yang semalam tewas ketika berusaha menghalangi Bun Beng dan raja liar ini menjadi marah bukan main.
Dia sendiri lalu memimpin pasukan-pasukannya, mendekati pintu gerbang utama dan berteriak-teriak menantang perang kalau Raja Bhutan tidak mau menyerahkan puterinya.
Tentu saja Sang Puteri itu hanya untuk menjadi alasan saja, sedangkan tentu saja Tambolon sebetulnya ingin menguasai Bhutan!
Dari atas menara benteng, Puteri Milana dan Gak Bun Beng, juga Panglima Jayin dan para panglima lain, memandang ke bawah.
Mereka melihat bahwa Tambolon masih disertai dua orang pembantunya yang setia, yaitu Si Petani Maut Liauw Ki, dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, di samping ada pula di situ Hek-tiauw Lo-mo.
Dan biarpun tidak nampak, Milana dan Gak Bun Bung dapat menduga bahwa tentu guru dari Tambolon, Nenek Durganini yang akhir-akhir ini selalu muncul membantu muridnya, ada pula di antara barisan musuh itu.
Karena pihak musuh menantang untuk mengadakan perang terbuka di luar tembok kota raja, tentu saja pihak Kerajaan Bhutan tidak dapat menolak, maka Gak Bun Beng sendiri bersama Panglima Jayin dan beberapa orang panglima memimpin pasukan keluar dari pintu gerbang untuk menyambut musuh.
Puteri Milana yang memimpin pertahanan itu tetap berada di menara benteng untuk melihat keadaan dan mengatur kendali gerakan barisan Bhutan dari tempat tinggi itu.
Beberapa orang Panglima Kerajaan Bhutan maju berkuda, disambut oleh Liauw Ki dan Yu Ci Pok.
Dalam puluhan jurus saja para Panglima Bhutan ini roboh dari kuda mereka.
Panglima Jayin dengan marah, setelah mendapat perkenan Gak Bun Beng, maju sendiri.
Dia menangkan beberapa orang panglima musuh, akan tetapi ketika berhadapan dengan Lauw Ki Si Petani Maut, baru bertempur dua puluh jurus saja pundaknya sudah terpukul pikulan dan kalau dia tidak cepat mengundurkan diri tentu akan tewas pula!
Bun Beng menjadi penasaran dan marah.
Majulah pendekar ini dan segera dia dikeroyok dua oleh Liauw Ki dan Yu Ci Pok.
Akan tetapi, dengan mudah saja Bun Beng mempermainkan mereka.
Bahkan ketika Hek-tiauw Lo-mo yang kini tahu-tahu sudah bergabung dan membantu Tambolon itu maju pula mengeroyok, tetap saja Gak Bun Beng mengamuk hebat dan membuat Hek-tiauw Lo-mo sendiri terdesak hebat.
Ketua Pulau Neraka itu terkejut bukan main.
Apalagi ketika beberapa kali dia mengadu tenaga, dia memperoleh kenyataan betapa pendekar ini memiliki tenaga Hui-yang Sin-kang, Swat-im Sin-kang dan juga tenaga mujijat Inti Bumi!
"Kau siapakah?"
Bentaknya berulang-ulang.
Sudah banyak dia bertemu lawan lihai, akan tetapi baru sekarang dia melihat seorang yang memiliki ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Pulau Neraka sedemi-kian sempurnanya, seolah-olah Pendekar Super Sakti sendiri!
"Hemm, Hek-tiauw Lo-mo.
Engkau merendahkan nama Pulau Neraka dengan menjadi antek dari Tambolon si pemberontak!"
Gak Bun Beng berseru sambil menangkap sambaran pikulan yang dipukulkan oleh Liauw Ki, kemudian sekali dia mengerahkan tenaga, terdengar suara "krakkk!"
Dan pikulan itu pun patah-patah. Tentu saja Liauw Kui menjadi pucat dan meloncat mundur.
"Namaku adalah Gak Bun Beng."
Hek-tiauw Lo-mo terkejut. Pernah dia mendengar nama ini.
"Apamukah Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?"
"Beliau boleh dibilang adalah guruku!"
Bun Beng memutar tubuh dan dorongan telapak tangannya membuat Yu Ci Pok terpental dan terhuyung-huyung.
Pada saat itu, Milana yang melihat Bun Beng dikeroyok dan melihat betapa sudah tiba saatnya memberi perintah menyerbu, mengisyaratkan kepada peniup terompet tanduk binatang.
Terdengarlah perintah penyerbuan ini dan dipimpin oleh Jayin yang terluka pundaknya, menyerbulah bala tentara Bhutan dan terjadilah perang campuh yang hebat.
Gak Bun Beng kini bertanding dengan hebat melawan Hek-tiauw Lo-mo.
Tidak ada orang dari kedua pihak yang berani mendekati dua orang ini, karena sambaran hawa pukulan dari tangan mereka sedemikian hebatnya sehingga dalam jarak dua meter saja orang yang terkena hawa pukulan bisa roboh dan tewas.
Hek-tiauw Lo-mo mainkan sebatang tombak tulang ikan yang ampuh, akan tetapi dengan tenang Gak Bun Beng yang masih bertangan kosong itu menghadapinya.
Tombak tulang ikan itu ditangkisnya begitu saja dengan kedua tangannya dan dalam pertandingan mati-matian selama lima puluh jurus lebih, akhirnya Bun Beng berhasil memukul tombak itu sehingga patah menjadi empat potong!
"Keparat!"
Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah dan dia mencabut senjatanya yang lebih mengerikan lagi, yaitu sebatang golok gergaji yang amat tebal dan berat.
Dengan penasaran dia menyerang mati-matian, namun Gak Bun Beng dapat menghindarkan diri dengan gesit dan tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar golok.
"Mampuslah!"
Tiba-tiba Hek-tiauw Lomo berseru, tangan kirinya terbuka dan segumpal uap tipis menyambar.
Bun Beng terkejut karena tahu-tahu dirinya telah tertutup oleh sehelai jala tipis sekali yang ternyata amat kuat karena betapa pun dia meronta, dia tidak mampu membebaskan diri dari jala tipis itu.
"Ha-ha-ha, baru kau tahu kelihaian Hek-tiauw Lo-mo!"
Ketua Pulau Neraka itu tertawa, goloknya bergerak menyambar.
"Haiiit....!"
Gak Bun Beng mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya bergulingan dan Hek-tiauw Lo-mo tidak kuat mempertahankan tali jalanya yang ikut terbawa bergulingan.
Kembali Gak Bun Beng mengeluarkan lengking panjang, terdengar suara keras dan....
jala itu putus-putus semua dan si pendekar sakti meloncat keluar dari dalam jala.
Hek-tiauw Lo-mo terbelalak.
Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang yang mampu membebaskan diri dari jalanya.
Dia tidak tahu bahwa Gak Bun Beng sudah memiliki tingkat yang amat tinggi dalam pengerahan tenaga sakti.
Tadi pendekar ini mengerahkan seluruh tenaganya dengan tenaga Hui-yang Sin-kang (Tenaga Inti Api) yang amat panas dan ternyata jala itu kalah oleh hawa panas yang mujijat ini sehingga dapat dibikin putus.
Dengan marah Gak Bun Beng meloncat dan menerjang, kedua tangannya bergerak dengan pukulan yang didasari dua tenaga yang berlawanan, yaitu tenaga Swat-im Sin-kang dan Hui-yang Sin-kang.
"Trakkk....!"
Golok gergaji itu pun patah terpukul telapak tangan kanan Bun Beng dan pada saat itu, tangan kiri Hek-tiauw Lo-mo melakukan pukulan dengan ilmu keji Hek-coa-tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam).
Inilah kesalahan Hek-tiauw Lo-mo.
Kalau dia mempergunakan ilmu keji ini terhadap lawan lain, biasanya dia berhasil baik, dan bahkan Ceng Ceng pernah menderita hebat oleh pukulan keji ini.
Akan tetapi dia berhadapan dengan Gak Bun Beng, seorang pendekar sakti yang selain telah memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya, juga memiliki pengalaman yang luas, maka Bun Beng cepat menerima pukulan itu dengan telapak tangan sambil mengerah-kan Swat-im Sin-kang.
Ilmu pukulan berdasarkan tenaga Im yang amat dingin ini selain kuat juga amat baik untuk menghadapi pukulan-pukulan lawan yang beracun, karena hawa beracun membeku begitu bertemu dengan Tenaga Inti Salju ini.
"Desss....!"
Hek-tiauw Lo-mo memekik dan tubuhnya terlempar dan bergulingan sampai beberapa tombak jauhnya.
Pada saat itu, Tambolon menerjang maju dengan pedangnya disertai dua orang pembantunya.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar tiupan terompet dari atas menara, tanda bahwa pasukan Bhutan harus mundur dan masuk kembali ke dalam benteng.
Mendengar ini, Gak Bun Beng terkejut dan cepat dia pun mengatur pasukan itu bersama Jayin untuk mundur, meninggalkan pasukan musuh yang mengejar sambil bersorak-sorak.
Akhirnya semua pasukan dapat ditarik ke dalam benteng dan pintu gerbang segera ditutup rapat dan penjagaan dilakukan ketat, anak panah dan batu-batu dihujankan keluar sehingga pihak musuh yang mengejar terpaksa mundur kembali.
Bun Beng segera menemui Puteri Milana.
Puteri ini merasa agak gelisah karena ternyata bahwa pihak lawan amat kuat.
Tadi dia menarik pasukan karena selagi pasukan induk berperang di luar, di empat penjuru benteng pihak musuh berusaha menyerbu.
Maka terpaksa dia menarik pasukan dan memperkuat penjagaan sehingga usaha penyerbuan dari empat penjuru dapat digagalkan dengan menghujankan anak panah dan batu-batu.
Ketika dicacahkan, dalam perang tadi ada seperempat bagian pasukan yang tewas atau tertawan musuh.
Biarpun pihak musuh juga banyak kehilangan pasukan, akan tetapi tetap saja jumlah mereka masih amat banyak, dan Tambolon tentu masih dapat mendatangkan bala bantuan dari luar, sedangkan pihak Bhutan sudah terkurung dan tidak dapat mengharapkan bantuan dari mana pun karena Kerajaan Ceng di timur terlalu jauh letaknya, sedangkan negara-negara tetangga tidak ada yang mau mencampuri urusan itu.
Sayang bahwa Kerajaln Bhutan tidak pernah berhubungan terlalu baik dengan Tibet, kalau tidak, tentu Tibet dapat membantu mereka.
"Besok harus ada penentuan,"
Puteri Milana berkata ketika mereka berunding.
"Kalau dibiarkan musuh mengepung lebih lama, tentu mereka akan dapat memperkuat keadaan, mendatangkan bala bantuan dan hal itu akan berbahaya sekali. Yang penting, Tambolon harus dapat ditewaskan. Dialah yang menjadi biang keladi. Kalau tidak ada orang yang mempunyai wibawa dan pengaruh besar di antara suku-suku bangsa petualang itu, pasti persatuan mereka akan membuyar."
"Akan tetapi, kekuatan pasukan kita kalah banyak,"
Gak Bun Beng berkata.
"Karena itu, besok kita harus mengerahkan semua tenaga dan besok kita memberi isyarat kepada Panglima Sangita dan Tek Hoat agar mereka menyergap dan memecah kekuatan dan perhatian musuh."
"Bagaimana dengan siasat kita semula yang telah kita bicarakan dengan Tek Hoat?"
Bun Beng mengingatkan kepada kekasihnya dan juga sumoinya itu. Milana tersenyum.
"Malam nanti, menjelang pagi, siasat itu boleh dilaksanakan. Dan pagi-pagi sekali, selagi mereka kacau-balau, kita menyerbu. Mudah-mudahan saja sergapan selagi mereka kacau itu akan mampu menghancurkan jumlah mereka yang lebih besar."
Malam itu sunyi.
Pihak musuh memang beberapa kali mencoba untuk menerobos melalui berbagai jurusan, namun karena penjagaan dilakukan ketat sekali, semua usaha mereka gagal dan banyak di antara mereka yang menjadi korban anak panah dan batu-batu yang disambitkan dari atas.
Mereka berusaha melepas anak panah berapi ke dalam kota raja melalui tembok benteng, akan tetapi tembok itu terlalu tinggi dan usaha membakar kota raja itu dapat digagalkan oleh regu-regu pemadam kebakaran yang memang sudah dipersiapkan oleh pihak Bhutan sebelumnya.
Malam itu, para pimpinan di Bhutan tidak ada yang tidur, hanya mengaso sambil duduk di tempat masing-masing.
Lewat tengah malam, menjelang pagi, Puteri Milana dan Gak Bun Beng keluar dari kamar dan dua orang sakti ini lalu mementang gendewa.
Terdengar tali gendewa menjepret dan tampaklah beberapa kali sinar kemerahan meluncur di angkasa seperti bintang-bintang pindah tempat.
Itulah isyarat yang mereka berikan kepada Tek Hoat dan pasukannya untuk mulai dengan siasat mereka, untuk turun tangan.
Sesudah itu mereka menanti.
Tidak lama kemudian, menjelang pagi, mulailah terdengar keributan di bawah sana, di luar tempok kota raja dan mulailah nampak api besar bernyala-nyala dan asap di dalam sinar api merah membubung ke angkasa.
Makin lama makin banyaklah api yang mengamuk, kemudian terdengar teriakan-teriakan dan suara perang di antara api dan di waktu menjelang pagi itu.
Pasukan pengawal istimewa yang dipimpin oleh Tek Hoat dan Sangita telah mulai bergerak!
Puterl Milana tersenyum memandang keluar.
"Pemuda itu memang hebat,"
Bisiknya lirih akan tetapi cukup terdengar oleh Bun Beng.
"Tidak mengecewakan menjadi cucu tiri Suhu...."
Kata pula Bun Beng dan mereka bersiap-siap bersama para penglima untuk menyerbu ke luar bersama pasukan mereka begitu saatnya tiba.
Kita tinggalkan dahulu kota raja Bhutan yang dikepung musuh, yaitu pasukan yang terdiri dari suku-suku bangsa Nomad yang dapat dibujuk oleh Tambolon sehingga terkumpul menjadi barisan yang amat besar jumlahnya dan yang mengancam keselamatan Kerajaan Bhutan, dan mari kita mengikuti perjalanan Ceng Ceng yang mengalami pukulan batin di Pegunungan Yin-san itu.
Setelah terbukanya topeng yang menutupi muka Topeng Setan, yang telah tidak bernyawa dan sekaligus membuka rahasia pendekar itu bahwa Topeng Setan yang telah melimpahkan budi kepadanya yang telah berkorban untuknya, yang dipercaya dan disayangnya itu bukan lain adalah Kok Cu pemuda laknat yang memperkosanya, yang dibencinya dan yang hendak dibunuhnya, maka seketika lenyaplah segala arti kehidupan bagi Ceng Ceng.
Musuh besar yang paling dibencinya itu ternyata juga merupakan penolong yang paling disayangnya, dan kini telah mati!
Baru terasa olehnya betapa selama ini dia hidup berdasarkan hati benci dan sayang.
Dan begitu orang yang dibenci dan disayangnya mati, mati pula dasar hidupnya.
Ceng Ceng menjadi seorang yang seolah-olah tidak bersemangat lagi, seperti boneka hidup!
Keinginannya hanya satu, kalau boleh dinamakan keinginan, yaitu kembali ke tempat asalnya, di mana dia dibesarkan dan untuk....
mati di tempat itu, di pegunungan luar kota raja Bhutan, bekas tempat tinggal kakeknya.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, perjalanannya ini disertai oleh Kim Hwee Li, gadis cilik yang nekat minta menjadi muridnya dan ditemani pula oleh Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Suma Han Majikan Pulau Es.
Sungguh merupakan kelompok yang aneh sekali!
Seorang pendekar besar yang namanya mengguncangkan dunia persilatan, yang namanya saja sudah cukup membuat orang-orang jahat menjadi gentar dan tokoh-tokoh kang-ouw menjadi kagum, Kini melakukan perjalanan bersama seorang gadis yang sudah lenyap gairah hidupnya, dan seorang anak perempuan yang lincah, bengal, puteri dari seorang datuk sesat yang amat kejam, yaitu Ketua Pulau Neraka, Hek-tiauw Lo-mo.
Karena ditemani oleh Pendekar Super Sakti, perjalanan ke barat daya itu berjalan lancar dan tidak ada yang berani mengganggu mereka.
Kadang-kadang, kalau melalui daerah berbahaya, Suma Han menggandeng tangan kedua orang gadis itu dan membawa mereka berjalan seperti terbang berloncatan melewati jurang-jurang dalam dan lebar sehingga diam-diam Ceng Ceng yang seperti boneka hidup itu menjadi kagum bukan main, sedangkan Hwee Li bersorak-sorak girang kalau mendapatkan dirinya dapat pula "terbang"
Tanpa duduk di atas punggung rajawalinya.
Perjalanan itu lancar dan cepat.
Dan pada suatu hari tibalah mereka di suatu daerah padang rumput yang sudah dekat dengan kota raja Bhutan, karena daerah ini sebetulnya sudah termasuk wilayah Bhutan, dekat dengan perbatasan di timur.
Dan pada sore harinya, di tepi daerah padang rumput ini, tibalah mereka di sebuah perkampungan suku bangsa Nomad yang mengembala ternak.
Mereka ini adalah peternak-peternak Nomad yang selalu berpindah tempat dan selalu hidup di dekat padang-padang rumput di mana mereka dapat membiarkan ternak kam-bing mereka makan sekenyangnya.
Untung bagi Pendekar Super Sakti dan dua orang gadis itu bahwa yang berada di perkampungan peternak itu adalah suku bangsa yang tidak liar dan yang suka hidup damai.
Maka mereka bertiga diterima oleh mereka sebagai tamu-tamu dan dipersilakan duduk ikut makan minum bersama mereka.
Ternyata malam itu suku bangsa peternak Nomad ini sedang mengadakan keramaian untuk merayakan pahlawan-pahlawan mereka yang menang perang.
Tentu saja Pendekar Super Sakti tidak tahu bahwa kepala suku bangsa ini bersama puluhan anak buahnya, terbujuk pula oleh Tambolon dan ikut menggabungkan diri untuk memerangi Bhutan!
Dan malam hari itu, suku bangsa ini merayakan kemenangan para pahlawan mereka yang kabarnya telah mengepung kota raja Bhutan dan yang dianggapnya sebagai suatu kemenangan gemilang.
Sukarnya, di antara suku bangsa ini, hanya ada beberapa orang saja yang dapat berbahasa Han, itu pun tidak lengkap sehingga sukar sekali bagi Suma Han dan dua orang gadis itu untuk bicara dengan mereka.
Dengan bahasa tangan yang serba tidak lengkap, tiga orang tamu ini hanya dapat menangkap bahwa suku bangsa itu sedang merayakan pesta "menang perang", akan tetapi tidak jelas perang dengan siapa dan di mana!
Akan tetapi, Suma Han yang tidak mau mencampuri urusan mereka dan merasa sudah untung diterima sebagai tamu, tidak ingin menyelidiki lebih lanjut dan ikut pula berpesta makan minum sekenyangnya.
Hwee Li yang bengal itu tidak mau tinggal diam.
Setelah kenyang makan minum, melihat kegembiraan suku bangsa itu, dia meninggalkan dua orang teman seperjalanannya untuk menonton keramaian.
Bermacam-macam pertunjukan diadakan.
Ada pertunjukan adu gulat, ada pula adu domba, tari-tarian, nyanyian dan lain-lain.
Akan tetapi yang paling menarik hati Hwee Li adalah pertunjukan yang dilakukan oleh seorang yang agaknya berasal dari India, memakai sorban kuning dan orang ini meniup sebatang suling mengiringi gerakan seekor ular cobra yang meliak-liukkan tubuhnya seperti seorang penari yang genit.
Para penonton merasa ngeri karena maklum akan bahayanya gigitan ular cobra yang amat beracun ini maka mereka menonton agak menjauh dan tempat pertunjukan ini pun berada di sudut perkampungan, dekat pintu pagar yang mengitari perkampungan itu.
Tentu saja Kim Hwee Li tertarik sekali karena gadis cilik ini memang sejak kecil biasa bermain-main dengan segala macam ular, dari yang kecil sampai yang paling besar, dari yang jinak sampai yang paling buas dan beracun.
Yang membuat dia terheran dan geli hatinya adalah suara suling yang ditiup oleh orang bersorban itu.
Suara suling itu melengking tidak pernah ada putusnya, seolah-olah orang itu tidak pernah menarik napas, dan lucunya, lenggak-lenggok ular itu tepat dengan irama suling seolah-olah ular itu mengerti pula akan lagu yang ditiup melalui suling.
Karena amat tertarik, tanpa disadarinya, Hwee Li melangkah dekat, bahkan memasuki lingkaran penonton yang berjongkok agak jauh.
Beberapa orang berseru dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Hwee Li, akan tetapi jelas bahwa nadanya melarang gadis itu mendekat.
Mereka itu kelihatan khawatir, akan tetapi Hwee Li menoleh kepada mereka, tersenyum dan mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka tidak mengkhawatirkan dia.
Lalu dia pun berjongkok di dekat orang bersorban sambil mengawasi gerak-gerik ular itu.
Orang India bersorban itu menggunakan tangan kirinya untuk memberi isyarat mengusir Hwee Li sedangkan tangan kanannya tetap memegang dan mempermainkan lubang-lubang suling yang ditiupnya.
Akan tetapi Hwee Li yang sudah tertarik sekali dan timbul rasa gembiranya bertemu "kawan lama", yaitu seekor ular berbisa seperti cobra itu, sama sekali tidak mempedulikan orang India itu.
Bahkan kini Hwee Li menggerak-gerakkan kedua lengannya yang kecil panjang, digerak-gerakkan dengan amat lemasnya seperti dua ekor ular menari-nari!
Tangannya dibentuk seperti kepala ular dan lengannya seperti badan ular, melenggak-lenggok dan meliuk-liuk amat lemasnya.
Para penonton yang mula-mula merasa khawatir, kini menjadi geli dan tertarik, bahkan ada yang memuji karena memang indah sekali gerakan kedua lengan tangan Hwee Li, seolah-olah gadis cilik itu seorang penari ular yang amat pandai.
Akan tetapi seruan-seruan pujian menjadi seruan-seruan keheranan bercampur kekhawatiran ketika mendadak ular cobra itu kini meninggalkan keranjang, meninggalkan orang India dan menghampiri Hwee Li sambil menari-nari, matanya mencorong dan mulutnya mendesis-desis, lehernya mekar makin lebar.
Orang bersorban itu terbelalak, matanya melotot saking heran dan penasaran melihat betapa ularnya, ular yang dipeliharanya bertahun-tahun dan selalu taat kepada sulingnya itu sekarang mendadak saja meninggalkan dia dan suara sulingnya tidak lagi mempengaruhinya.
Dia menjadi penasaran, sulingnya ditiup makin kuat sehingga lehernya menggembung besar seperti leher cobra itu, matanya melotot karena dia menahan napas terlalu lama.
Benar saja, ular itu terkejut dan menengok, lalu bergerak kembali ke tukang suling.
"Trak-trak.... cek-cek-cek....!"
Tiba-tiba Hwee Li membunyikan jari-jari tangannya dengan jalan menjentrekkan jari tengah dan ibu jarinya, disusul suara lidah dan bibirnya dan suara itu membuat si ular cobra kembali menengok kepadanya.
Terjadilah "adu kekuatan"
Antara suara suling dan suara jari tangan dan mulut Hwee Li, saling menarik ular itu yang kelihatan ragu-ragu.
Akan tetapi akhirnya ular itu bergerak ke arah Hwee Li, lalu lehernya ditangkap tangan Hwee Li dan ular itu dengan sikap manja lalu melingkarkan tubuhnya pada tangan gadis cantik itu, lidahnya menjilat-jilat dan nampaknya jinak bukan main!
Orang bersorban itu bukan orang bodoh.
Dia tahu bahwa gadis cilik ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang "pawang ular"
Yang hebat, maka dia menghentikan tiupan sulingnya, bangkit berdiri dan menjura ke arah Hwee Li sebagai penghormatan, kemudian menyodorkan keranjang ular, agaknya minta agar Hwee Li mengembalikan ular itu kepadanya.
Para penonton juga menjadi kagum, ada yang bertepuk tangan dan tempat itu menjadi berisik sekali karena semua oreng membicarakan kelihaian gadis cilik ini dan menduga-duga siapa adanya pawang ular cilik yang hebat ini.
Akan tetapi Hwee Li memandang kepada orang bersorban itu dengan sinar mata tidak senang dan menghina, apalagi ketika melihat banyak di antara penonton memberi mata uang dan barang-barang hadiah lain kepada Si Pemilik Ular itu.
Dia membiarkan ular cobra itu melingkar di lengan dan lehernya, kemudian dia berkata.
"Kau orang yang kejam dan tak tahu malu, menggunakan ular untuk mencari uang! Kau menyiksa ular ini dengan sulingmu, memaksanya menari-nari agar kau mendapatkan uang. Huh, tak tahu malu!"
Setelah berkata demikian, Hwee Li lalu meninggalkannya sambil membawa pergi ular cobra itu.
Tentu saja orang bersorban menjadi marah.
Dia sudah per-nah merantau ke timur dan sedikit-sedikit dia dapat juga berbahasa Han.
"Nona, tunggu....! Kau kembalikan ularku!"
Katanya marah. Hwee Li berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya.
"Apa? Siapa bilang ini ularmu? Dia tentu ular yang bebas dan kau tangkap lalu kau paksa mencarikan uang untukmu!"
"Kembalikan!"
Orang India itu membentak.
"Tidak!"
Hwee Li juga membentak dan kini dia lalu melepaskan ular itu dan menggebahnya dengan suara tertentu.
Ular itu terkejut dan menghilang di dalam semak-semak yang tebal.
"Kurang ajar!"
Orang bersorban itu marah sekali, lalu dia mengeluarkan seekor ular dari dalam saku bajunya.
Ular ini kecil saja, sebesar kelingking dan panjangnya hanya satu jengkal, kulitnya belang-belang merah hitam.
Dengan ular ini di tangan, jari-jari tangannya yang coklat panjang menjepit leher ular, orang bersorban itu menyerang Hwee Li!
Gadis cilik ini tersenyum mengejek, membiarkan ular itu menggigit lengannya, kemudian dengan gerakan cepat dia menotok pergelangan tangan orang India itu.
Dia adalah puteri Hek-tiauw Lo-mo, tentu saja lihai sekali dan totokannya membuat tangan orang India itu menjadi lumpuh, jepitan jarinya pada leher ular terlepas dan ular kecil itu membalik dan menggigit ibu jari tangannya.
Orang India itu menjerit, membuang ularnya dan dia berjingkrak-jingkrak sambil memegangi ibu jari tangannya yang tergigit ular beracun itu.
Adapun Hwee Li dengan tenang saja mengobati luka di lengannya.
Dia sudah kebal terhadap gigitan ular yang bagaimana beracun pun, karena di Pulau Neraka adalah pusat segala macam ular beracun maka dia pun hanya mengobati lukanya saja, bukan memunahkan racunnya yang tidak akan mengganggunya sedikitpun juga.
Akan tetapi, orang India itu ketakutan setengah mati karena dia maklum bahwa gigitan ular kecil itu amat berbahaya dan dia tidak tahu bagaimana caranya mengobatinya.
Para penonton menjadi ikut sibuk karena terjadinya hal yang tidak mereka sangka itu.
Karena tidak mengerti bahasanya, maka para penonton yang tadi melihat orang India itu lebih dulu menyerang, tidak ada yang menyalahkan si gadis cilik, apalagi melihat gadis cilik itu pun terkena gigitan ular kecil.
Hanya yang membuat mereka terheran-heran, kalau gadis cilik itu tenang-tenang saja, mengapa orang India ini menjadi begitu ketakutan dan kini berjingkrakan sambil menangis?
Tiba-tiba di antara penonton muncul seorang gadis remaja yang menerobos masuk.
Dia amat cantik jelita, sukar dikatakan siapa yang lebih cantik antara dia dan Hwee Li, karena keduanya memiliki kecantikan khas masing-masing, hanya gadis ini lebih dewasa daripada Hwee Li.
Gadis ini dengan alis berkerut memandang kepada Hwee Li, kemudian menghampiri orang India itu, mengeluarkan sebungkus obat dan dengan cekatan dia menggunakan sebuah pisau kecil merobek ibu jari itu, mengeluarkan darahnya dan membubuhkan obat ke ibu jari itu, kemudian membalutnya dengan robekan baju orang India itu sendiri.
Dan orang India itu berhenti menangis, agaknya luka beracun itu seketika menjadi sembuh.
Orang India itu lalu menjura dengan dalam sampai tubuhnya hampir terlipat menjadi dua kepada nona yang tanpa banyak bicara telah mengobatinya itu.
Kini, nona itu berdiri menghadapi Hwee Li, sambil bertolak pinggang, sikapnya galak bukan main seperti seorang guru memarahi muridnya!
"Kau sungguh bocah yang kejam dan perlu dihajar!"
Nona itu menudingkan telunjuknya ke arah hidung Hwee Li.
"Masih sekecil ini sudah main-main dengan ular berbisa dan melukai orang! Kalau sudah besar kelak tentu akan menjadi iblis betina!"
Hwee Li tentu saja tidak takut. Dia meruncingkan bibirnya. Lincah dan manis sekali, akan tetapi juga membayangkan kebengalannya.
"Phuih, sombongnya! Baru bisa menyembuhkan gigitan ular begitu saja lagaknya sombong seolah-olah telah menjadi Kwan Im Pouwsat! Padahal kau ini tentu hanya Nona penjual obat yang biasa berteriak-teriak di pasar-pasar. Apa sih anehnya?"
Nona muda itu bukan lain adalah Teng Siang In.
Sebagai anak dari mendiang Yok-sian Si Dewa Obat, tentu saja dia adalah seorang yang ahli dalam hal pengobatan.
Setelah menjadi murid See-thian Hoat-su, di sepanjang perjalanan kalau melihat tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat mujarab, Dia tidak dapat menahan diri untuk tidak mengambilnya dan dia lalu mengumpulkan bahan-bahan obat yang penting-penting di antaranya obat penawar luka-luka berbisa.
Maka dengan mudah dia mampu mengobati orang India itu.
Seperti kita ketahui, Siang In juga memiliki watak lincah jenaka dan galak, maka kini berhadapan dengan Hwee Li yang bengal, diejek sebagap penjual obat di pasar, Siang In menjadi marah sekali.
Biarpun dia belum sempat digembleng oleh See-thian Hoat-su, namun dia pernah belajar ilmu silat bersama kakaknya, maka kini dia cepat menyerang Hwee Li.
Akan tetapi, biarpun dia lebih muda, Hwee Li puteri Ketua Pulau Neraka itu jauh lebih lihai.
Dengan gesit dia mengelak dan balas menyerang.
Terjadilah perkelahian di antara dua orang gadis cilik yang sama-sama cantik jelita ini, dan kejadian ini amat menarik hati dan menggembirakan hati para suku bangsa liar yang memang menganggap perkelahian sebagai tontonan yang mengasyikan, apalagi kalau dilakukan oleh dua orang gadis yang demikian cantiknya.
Setelah saling serang selama belasan jurus, Siang In mulai terdesak dan sudah beberapa kali dia menerima tamparan tangan Hwee Li.
Dia menjadi marah sekali dan mulailah Siang In yang galak itu memaki-maki.
Tak lama kemudian, berkelebat bayangan yang gesit dan tahu-tahu Ceng Ceng sudah tiba di tempat perkelahian itu.
Semua orang makin kagum dan gembira melihat datangnya seorang gadis dewasa yang amat cantik dan gagah perkasa, yang dengan mudah melerai dua orang gadis muda yang se-dang berkelahi mati-matian itu, hanya dengan menengahi dan menangkis pukulan-pukulan mereka.
"Berhenti, jangan berkelahi!"
Gadis yang bukan lain adalah Ceng Ceng itu berseru.
"Hwee Li, mundur kau!"
"Subo, dia kurang ajar!"
Hwee Li berkata.
"Mentang-mentang dia menjadi tukang obat di pasar, dia sombong dan dia yang lebih dulu menyerangku."
"Bocah setan!"
Siang In yang beberapa kali kena ditampar Hwee Li masih marah-marah sekali.
"Muridnya setan gurunya tentu iblis!"
Dia kini malah memaki Ceng Ceng untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya karena dia tadi ditampari dan belum sempat membalas sudah dipisahkan.
"Hemm, apakah kau tukang obat yang pandai?"
Ceng Ceng menghampiri sambil mengerutkan alisnya, tidak senang mendengar maki-makian gadis cantik itu.
Pertanyaan yang sewajarnya ini oleh Siang In dianggap penghinaan pula, maka dia lalu menjawab.
"Aku tukang obat atau bukan, setidaknya lebih bersih daripada kalian guru dan murid iblis peng-ganggu orang!"
Dan Siang In langsung lalu menerjang dan memukul Ceng Ceng.
Ceng Ceng adalah seorang wanita yang berwatak keras, dan pada saat itu dia sedang dilanda kedukaan hebat.
Maka melihat sikap Siang In dia sudah menjadi marah sekali.
"Bocah lancang dan sombong! Coba kauobati ini kalau bisa!"
Ceng Ceng menggerakkan tangan kirinya.
"Plakkk....! Oughhh....!"
Siang In terpelanting dan roboh, pundaknya kena dipukul oleh Ceng Ceng.
Biarpun tubuh Ceng Ceng sudah bersih dari hawa beracun berkat anak naga, akan tetapi gadis ini tentu saja masih menguasai pukulan beracunnya dan Siang In tentu saja tidak kuat menahan pukulan beracun ini dan dia roboh.
"Eh, Siang In, kau kenapa....?"
Tiba-tiba seorang kakek tua renta memasuki tempat itu dan para penonton menjadi makin tegang.
Kakek itu memeriksa pundak Siang In dan dia mengerutkan alis-nya, lalu bangkit menghadapi Ceng Ceng.
"Hemmm.... agaknya aku pernah bertemu dengan engkau, Nona yang bertangan kejam. Sungguh kejam kau menjatuhkan pukulan beracun kepada muridku. Hayo kau keluarkan obat penawarnya, jangan sampai aku orang tua menjadi hilang sabar kepadamu,"
Kata kakek itu yang bukan lain adalah See-thian Hoat-su.
"Subo, dia ini tentu pembual yang suka menjual obat di pasar-pasar, inilah macamnya tabib palsu yang beroperasi di pasar-pasar. Jangan layani dia!"
Hwee Li mengejek. Ceng Ceng memandang kakek itu.
"Muridmu yang lancang, mencampuri urusan muridku dan lebih dulu menyerang muridku, mengandalkan kepandaian mengobati. Sekarang biarlah dia atau engkau mengobati luka bekas tanganku itu. Hwee Li, mari kita pergi!"
Akan tetapi baru saja Ceng Ceng dan Hwee Li membalikkan tubuhnya, terdengar kakek itu berseru.
"Tahan dulu! Lihat, apakah kalian mampu menahan serangan jubahku ini!"
Ceng Ceng dan Hwee Li membalikkan tubuhnya, siap menghadapi kakek itu yang disangkanya akan menyerang mereka.
Akan tetapi mereka melihat kakek itu menanggalkan jubahnya, melemparkan jubah itu ke arah mereka dan....
Ceng Ceng dan Hwee Li terkejut bukan main ketika jubah itu tiba-tiba menjadi "hidup"
Dan telah menyerang mereka kalang-kabut, menghantam mereka dengan lengan jubah seolah-olah digerakkan oleh setan!
"Hiiiiiihhh...., tolongggg, Subo....!"
Hwee Li menjerit-jerit dan berusaha mengelak ke sana-sini dengan perasaan tegang dan seram.
Akan tetapi Ceng Ceng sendiri pun kalang-kabut oleh amukan jubah itu!
Para penonton kini makin menjauh karena orang Nomad sederhana ini amat percaya tahyul dan kini melihat sehelai jubah dapat mengamuk, mereka tentu saja menjadi ketakutan.
Ceng Ceng sendiri selama hidupnya belum pernah mengalami hal seperti ini.
Mukanya yang memang sudah muram itu menjadi makin pucat, matanya terbelalak dan beberapa kali dia bergidik dan merasa ngeri.
Jubah itu benar-benar telah menjadi "hidup"!
Biarpun dia pandai dan tenaganya juga amat kuat, tentu saja dia kewalahan melawan sehelai jubah yang hidup!
Dipukul betapa keras pun, tentu saja jubah itu tidak merasakan apa-apa sebaliknya tamparan-tamparan ujung lengan jubah itu mendatangkan rasa panas.
"Hiiiihhhh.... tolongg.... takuttt.... Locianpwe.... tolong, Locianpweee....!"
Hwee Li menjerit-jerit dikejar oleh jubah itu yang menampari pinggulnya sampai terasa panas dan pedas.
Tiba-tiba muncul Pendekar Super Sakti yang tahu-tahu sudah berdiri di situ dengan sikap tenang.
"Hemmm, menggunakan ilmu menggoda anak-anak perempuan, sungguh merupakan watak kekanak-kanakan saja!"
Dengan tongkatnya Pendekar Super Sakti menuding dan....
jubah itu seperti ketakutan, seperti seorang kanak-kanak yang ketakutan, dan lari kepada ayahnya.
Jubah yang seperti hidup itu kini "memasuki"
Lagi tubuh dan kedua lengan See-thian Hoat-su dan telah dipakainya kembali.
Sejenak kedua orang itu saling pandang.
Ceng Ceng yang masih pucat dan Hwee Li yang masih gemetaran itu memandang dari tempat jauh, sedangkan Siang In juga sudah bangkit duduk dan menonton.
Orang-orang yang tadinya menjauhkan diri, kini berani lagi agak mendekat akan tetapi tetap saja agak jauh dan mereka berjongkok untuk menonton apa yang selanjutnya akan terjadi.
Sampai lama kedua orang tua itu saling pandang.
Kemudian See-thian Hoat-su tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, hampir tak dapat aku percaya. Benarkah aku berhadapan dengan Pendekar Super Sakti, tocu dari Pulau Es yang juga terkenal sebagai Pendekar Siluman yang tersohor itu?"
Pendekar Super Sakti belum pernah mengenal kakek ini, juga belum pernah mendengar namanya, maka dengan tenang dan sikap sederhana dia menjawab.
"Saya memang datang dari Pulau Es."
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Kalau dicari sampai mati pun belum tentu dapat jumpa! Pendekar Siluman, kabarnya engkau disamping memiliki kepandaian silat yang tak terkalahkan, juga amat kuat di dalam ilmu sihir. Nah, aku See-thian Hoat-su memang paling suka main-main dengan ilmu sihir, maka pertemuan ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Mari kita main-main untuk melihat siapa yang lebih kuat di antara kita."
"See-thian Hoat-su, kita bukan anak kecil lagi. Perlu apa kita bersikap seperti anak kecil yang suka pamer? Kalau ada persoalan di antara kita, apakah tidak lebih baik kita selesaikan secara damai?"
Suma Han berkata.
"Ha-ha-ha, justeru tidak ada persoalan! Ada pun kecil tidak berarti, dan aku tadi pun hanya main-main saja dengan mereka."
Tiba-tiba pandang mata See-thian Hoat-su mengeluar-kan sinar mencorong yang aneh.
"Pendekar Siluman, kulihat tongkatmu itu bukan sembarangan tongkat, lihat dia pandai terbang....!"
Pendekar Super Sakti menghela napas panjang.
"Sesukamulah, Hoat-su."
Dan dia membiarkan tongkatnya terlepas dari tangannya dan sekali See-thian Hoat-su menggerakkan tangannya, tongkat itu benar-benar melayang di udara, diantara mereka.
Pendekar Super Sakti hanya bersedakap dan bersikap tenang saja.
Semua orang yang menonton menjadi melongo saking herannya, melihat tongkat butut itu melayang-layang di antara dua orang kakek itu, seolah-olah tongkat itu adalah sebuah benda hidup.
"Pendekar Siluman, lihat tongkatmu menjadi harimau yang akan menelanmu sendiri, ha-ha-ha!"
Terdengar suara See-thian Hoat-su.
Dia bicara sambil tertawa-tawa, seperti orang berkelakar saja, akan tetapi di dalam suaranya itu terkandung kekuatan mujijat yang amat berwibawa.
Semua orang yang berada di situ menjadi pucat mukanya dan melotot penuh rasa ngeri dan takut ketika melihat betapa tongkat yang tadinya melayang-layang dan bergerak-gerak seperti hidup itu tiba-tiba kini telah berubah menjadi seekor harimau yang amat besar dan yang menggereng dengan suara menggetarkan tempat itu dan harimau itu meringis, memperlihatkan taringnya dan seperti hendak menyerang kakek berkaki buntung sebelah itu.
"Kau keliru, Hoat-su. Tongkatku itu tidak menjadi harimau, melainkan menjadi seekor naga yang hendak menyerangmu!"
Pendekar Super Sakti berkata, suaranya halus tenang namun juga mengandung wibawa yang amat kuat.
Para penonton kini menjadi makin ketakutan, ada yang menggigil dan tidak dapat bangkit berdiri, kedua kaki mereka menggigil dan mata mereka makin lebar terbelalak ketika melihat betapa harimau besar itu tiba-tiba saja berubah menjadi seekor naga yang amat buas dan yang bersikap marah hendak menyerang Kakek See-thian Hoat-su!
See-thian Hoat-su menggerak-gerakkan kedua tanganya di udara dan bentuk naga itu berubah lagi menjadi bentuk harimau, akan tetapi tidak lama, karena segera berubah lagi menjadi bentuk naga seperti yang dikatakan oleh Pendekar Siluman tadi.
Terjadilah adu tenaga sihir yang amat aneh dan orang-orang yang menonton di situ makin lama menjadi makin ketakutan.
Siapa yang tidak akan merasa ngeri melihat tongkat butut itu berubah-ubah bentuknya antara bentuk harimau dan bentuk naga, bahkan kadang-kadeng "pertandingan"
Itu sedemikian hebatnya sehingga ada kalanya tongkat itu berubah menjadi seekor harimau yang tubuh bagian belakangnya berbentuk naga, atau seekor naga yang tubuh belakangnya berbentuk harimau!
Tentu saja semua orang menjadi ketakutan dan mereka makin lama makin mundur menjauhi dua orang kakek yang mereka anggap siluman-siluman itu.
Setelah mengadu kekuatan sihir beberapa lamanya, akhirnya See-thian Hoat-su terpaksa mengakui keunggulan Pendekar Super Sakti ketika tongkat itu sepenuhnya berubah menjadi seekor naga yang beterbangan dan mengancam kepala kakek dari barat itu.
"Hebat engkau, Pendekar Siluman. Biar aku mengakui keunggulanmu!"
Katanya sambil menghentikan pengerahan tenaga mujijat. Suma Han mengangkat tangannya dan "naga"
Itu terbang kembali ke tangannya dan berubah lagi menjadi sebatang tongkat.
"See-thian Hoat-su, engkau sudah tua sekali akan tetapi masih suka main-main seperti seorang anak-anak saja."
Pendekar Super Sakti menegur.
"Ha-ha-ha-ha, memang orang tua bukan lain hanyalah anak-anak yang tubuhnya besar. Anak-anak suka bermain-main dengan barang-barang mainan, orang-orang tua juga suka bermain-main dengan pikiran dan nafsu-nafsu keinginannya sendiri. Tidak begitukah?"
Suma Han tersenyum.
"Engkau benar, Hoat-su. Harap engkau orang tua suka memaafkan kalau dua orang temanku yang muda itu tadi melakukan kesalahan terhadapmu."
Suma Han menuding ke arah Ceng Ceng dan Hwee Li, akan tetapi dia tersenyum melihat Hwee Li dan nona cantik murid kakek itu ternyata sudah duduk berdekatan dan bicara dengan asyik dan dalam suasana bersahabat!
Memang demikianlah.
Hwee Li dan Siang In yang keduanya memiliki watak yang hampir sama, ternyata sudah bersahabat, bahkan Hwee Li telah setengah memaksa subonya untuk mengobati Siang In.
Tentu saja tidak ada lagi persoalan di antara mereka, bahkan mereka lalu bersahabat.
"Bagaimanakah Majikan Pulau Es yang berada jauh di utara bisa tersesat sampai ke tempat ini?"
Kakek See-thian Hoat-su yang tidak biasa bersikap hormat terhadap siapapun juga itu bertanya.
"Aku sedang mencari puteraku, Hoat-su. Barangkali engkau melihatnya. Dia bernama Suma Kian Bu...."
"Heee, Siang In. Bukankah kau mengenal seorang pemuda yang bernama Kian Bu?"
Tiba-tiba kakek itu memanggil muridnya.
Mendengar disebutnya nama itu, Siang In memandang kepada gurunya dengan kedua pipi berubah merah sekali.
Akan tetapi dia meninggalkan Hwee Li dan mendekati gurunya, memandang kepada Pendekar Super Sakti dengan penuh selidik.
"Tentu saja aku mengenal dia, Suhu,"
Jawabnya.
"Bagus!"
Suma Han berseru girang.
"Di mana kau terakhir ini bertemu dengan dia, Nona?"
"Nanti dulu,"
Siang In menjawab.
"Siapakah Locianpwe yang aneh ini mengapa bertanya tentang dia?"
"Ha-ha-ha, bocah tolol. Yang berdiri di depanmu ini adalah Pendekar Siluman dari Pulau Es, ayah dari pemuda itu."
Siang In terkejut sekali dan cepat dia menjura dengan hormat.
"Maafkan saya...."
Pendekar Super Sakti tersenyum. Seorang dara yang cantik jenaka dan pantas menjadi murid seorang sakti seperti See-thian Hoat-su, pikirnya.
"Aku hanya ingin tahu di mana engkau bertemu dengan dia akhir-akhir ini, Nona?"
Dia mengulang pertanyaannya.
"Di dalam hutan.... ketika terjadi pencegatan yang dilakukan gerombolan Tambolon terhadap rombongan pengawal Puteri Bhutan."
Gadis itu lalu bercerita, akan tetapi tentu saja dia tidak menceritakan betapa dia telah dicium oleh pemuda itu!
Pendekar Super Sakti mengerutkan alisnya.
"Kalau menurut perkiraanmu, ke mana sekarang perginya anakku yang suka bertualang itu, Nona?"
"Dia agaknya diam-diam mengawal Sang Puteri Bhutan, dan tentu sekarang telah berada di tapal batas Bhutan dan...."
Siang In menoleh ke kanan kiri, melihat banyak orang anggauta suku bangsa penggembala itu menonton, dia lalu berkedip dan mendekati Pendekar Super Sakti, berbisik.
"Mereka ini adalah suku bangsa yang terbujuk oleh Tambolon, sekarang Tambolon sedang memerangi Bhutan dan saya berani bertaruh bahwa putera Locianpwe itu sedang ikut perang membela Bhutan."
Melihat Siang In tadi mendekati Suma Han dan berbisik-bisik, Ceng Ceng yang menaruh curiga lalu mendekat pula.
Dia terkejut mendengar bahwa Bhutan diserang oleh Tambolon, maka dia pun lalu berkata kepada Pendekar Super Sakti.
"Kalau begitu, saya harus cepat ke sana untuk membantu...."
See-thian Hoat-su tertawa.
"Ha-ha-ha, kami guru dan anak tidak mau mencari keributan, kami mempunyai urusan pribadi sendiri, maka maafkan kami yang harus pergi sekarang. Hayo, Siang In!"
Dia memegang tangan muridnya dan pergi dengan cepat.
Siang In melambaikan tangan kepada mereka terutama kepada Hwee Li yang dibalas pula oleh Hwee Li.
Setelah guru dan murid itu pergi, Pendekar Super Sakti berkata kepada Ceng Ceng.
"Kita harus berhati-hati dan jangan sembrono, Nona. Lebih baik kita mendekati pimpinan suku bangsa ini dan mencari keterangan dari mereka."
Baru saja dia berkata demikian, para penonton yang merasa kagum kepada pendekar kaki buntung ini yang tadi telah memperhatikan kehebatan ilmu sihirnya sehingga mereka yang menonton menjadi kagum dan juga takut, kini bergerak minggir dan memberi jalan dengan sikap hormat kepada tiga orang yang berpakaian jubah lebar dan lebih mewah daripada pakaian mereka semua.
Kiranya mereka ini adalah tiga orang pimpinan suku bangsa itu yang mendengar akan kehebatan ilmu sihir dari kakek berkaki buntung sebelah, juga kehebatan seorang dara muda yang mengalahkan orang India ahli bermain ular.
Dengan sikap ramah tiga orang kepala suku itu lalu mengundang Pendekar Super Sakti dan dua orang dara cantik itu sebagai tamu kehormatan.
Kesempatan ini tentu saja disambut dengan baik oleh Pendekar Super Sakti.
Mereka lalu diajak memasuki perkemahan dan dijamu dengan masakan-masakan yang terbuat dari daging domba, menerima minuman yang bagi mereka merupakan minuman khas dan mewah, yaitu susu domba.
Melalui seorang penerjemah, Pendekar Super Sakti, Ceng Ceng dan Hwee Li mendengar penuturan mereka bahwa memang benar mereka itu merupakan suku bangsa yang berpihak kepada Raja Tambolon yang kini sedang memerangi Bhutan.
"Kami membutuhkan bantuan orang-orang pandai seperti Anda,"
Kata kepala suku tertua sambil meman-dang Suma Han penuh perhatian.
"Karena di pihak tentara Bhutan terdapat pemimpin-pemimpin yang amat pandai, bahkan seorang panglima wanita berada di sana memimpin pasukan pertahanan Bhutan. Kabarnya panglima wanita itu adalah puteri Kerajaan Ceng yang amat lihai. Dia dibantu oleh seorang laki-laki setengah tua yang luar biasa tinggi ilmunya, juga terdapat seorang pemuda yang luar biasa."
Mendengar ini, Pendekar Super Sakti menduga-duga dengan hati girang.
Panglima wanita Kerajaan Ceng itu siapa lagi kalau bukan Milana, anaknya sendiri?
Dan pemuda lihai itu tentulah Suma Kian Bu.
"Baiklah, kami akan melihat-lihat peperangan itu kalau kalian suka membawa kami ke sana,"
Katanya dengan girang.
Kepala suku itu menjadi girang dan pada keesokan harinya, berangkatlah serombongan orang laki-laki muda dari suku bangsa itu yang dipilih sebagai tenaga-tenaga bantuan untuk pasukan Raja Tambolon yang sedang sibuk mengurung kota raja Bhutan.
Pendekar Super Sakti dan dua orang gadis itu ikut bersama mereka menuju ke medan peperangan.
Karena suku bangsa liar itu sudah mengenal jalan dengan baik, maka perjalanan dapat dilakukan dengan amat cepatnya, dengan memotong jalan melalui pegunungan, menunggang kuda-kuda yang sudah terlatih baik.
Akan tetapi, sebelum mereka tiba di perkemahan yang didirikan oleh barisan pengurung kota raja Bhutan, ketika rombongan mereka tiba di lapangan terbuka, mereka terkejut sekali mendengar bunyi melengking tinggi dari atas, apalagi ketika mereka memandang dan melihat seekor burung rajawali yang besar dan berbulu hitam menyambar turun sambil mengeluarkan bunyi melengking keras.
Bubarlah pasukan itu dan pemimpin mereka lalu mementang gendewa, membidik ke arah rajawali.
"Jangan panah....!"
Pendekar Super Sakti berseru, namun terlambat, anak panah itu telah meluncur ke arah burung.
"Hek-tiauw, awas panah....!"
Hwee Li yang sudah mengenal burungnya itu berseru keras.
Namun penyerangan itu terlalu ringan bagi rajawali hitam.
Dengan mudahnya dia menyampok anak panah itu dengan kakinya, kemudian dia menukik dan hendak menyerang ke arah kepala suku yang memanahnya tadi.
Akan tetapi, dengan sekali bergerak, Pendekar Super Sakti telah mencelat dari atas kudanya, memapaki rajawali hitam yang menyambar turun itu.
"Plak! Desss....!"
Rajawali terpental dan terdengar teriakan kaget dari atas punggungnya. Kiranya ada orang yang menunggang rajawali itu.
"Ayah....!"
Hwee Li berteriak ketika mengenal orang itu.
Sedangkan Hek-tiauw Lo-mo juga terkejut mendengar suara anaknya.
Dia tadi amat kaget ketika serangkum hawa yang kuat keluar dari tangan Pendekar Super Sakti, membuat burungnya terpental.
Maka kini melihat puterinya berada di situ, dia menjadi girang dan juga heran dan setelah menyuruh burung rajawalinya turun, dia pun meloncat ke atas tanah.
"Ayah....! Kau sungguh terlalu, Ayah, selalu meninggalkan aku!"
Hwee Li berseru dengan wajah bersungut-sungut.
Sementara itu, rombongan suku bangsa liar itu terbelalak dengan muka pucat.
Tentu orang ini bukan manusia, pikir mereka, melainkan dewa yang tinggal di langit dan kini turun menunggang burung raksasa untuk menghukum.
Maka dua puluh lebih orang-orang yang tidak pernah takut menghadapi lawan manusia itu kini menjatuhkan diri berlutut!
Akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo tidak mempedulikan mereka, juga tidak mempedulikan puterinya setelah sekilas pandang melihat puterinya sehat-sehat saja, melainkan dia memandang dengan penuh perhatian kepada kakek yang sebelah kakinya buntung dan yang tadi membuat rajawalinya terpental.
Sampai lama kedua orang ini berdiri saling pandang karena Suma Han juga sudah meloncat turun dari kudanya setelah tadi menyelamatkan pimpinan rombongan yang diserang rajawali hitam.
Sedangkan Hwee Li sudah lari ke dekat burung rajawalinya itu dan merangkul lehernya.
"Aih, hek-tiauw, kau sudah sembuh....?"
Katanya sambil membelai kepala burung rajawali itu yang mengeluarkan suara menguik seperti seekor anjing yang dibelai majikannya.
Hal ini membuat semua orang suku bangsa liar itu menjadi bengong dan makin ketakutan.