Ceritasilat Novel Online

Kisah Sepasang Rajawali 14

Eps 14 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.

"Entahlah.... hemm, kira-kira dua puluh empat atau dua puluh lima begitulah,"

Ceng Ceng menjawab. Topeng Setan mencelupkan pensil bulu ke dalam bak tinta, lalu membuat coretan, melukis bentuk wajah bulat.

"Begini?"

"Ah, tidak gemuk begitu, bentuk wa-jahnya bulat.... atau hampir segi empat, dengan dagu agak keras berlekuk tengahnya...."

Topeng Setan memperbaiki coretannya di atas lantai.

"Nah.... nah, begitu lebih mirip.... sekarang rambutnya. Rambutnya hitam tebal dan panjang, atasnya agak tebal disisir ke belakang, kucirnya panjang membelit leher dan pundak.... ah, tidak menutup telinga, Paman. Telinganya masih nampak.... yaaa, begitu lebih mirip, rambut di pelipis kanan ini agak tebal, ya begitu...."

Topeng Setan membuat coret-coret di atas lantai.

"Sekarang matanya, buatlah sepasang mata yang agak lebar, alisnya tebal panjang seperti golok, ah, bukan begitu.... matanya tidak sayu mengantuk begitu, matanya hidup dan tajam, hidungnya sedang saja dan bibirnya membayangkan kekerasan hati.... aihhh.... mengapa berbeda....?"

Ceng Ceng memandang coretan di atas lantai itu dengan mata disipitkan, kadang-kadang dipicingkan sebelah dan mulutnya menggerutu.

"Hemmm.... mata dan mulutnya sudah mirip, akan tetapi mengapa lain? Seingatku tidak begitu dia.... ahh, tentu saja! Matanya yang berbeda, Paman!"

"Matanya berbeda bagaimana? Kau bilang tadi sudah mirip."

"Maksudku sinar matanya! Di samping tajam, sinar matanya mengandung sorot yang ganas, seperti binatang buas...."

"Eh....? Seperti binatang buas?"

"Ya, seperti.... ah, cobalah Paman buatkan mata seperti mata seekor harimau buas yang hendak menerkam seekor domba!"

"Aih, aneh betul mata orang itu."

"Memang aneh, Paman. Dia seperti.... eh, dia memang seorang yang gila pada saat itu. Mulutnya menyeringai, matanya kemerahan dan bersinar penuh api, nah, begitu, Paman.... ya, ya.... tulang pipi dan dagunya lebih menonjol, dia kelihatan gagah dan tampan.... eh, dan jahat seperti seekor harimau jantan yang buas. Nah, mirip sekali. Sekarang harap Paman lukis di atas kertas ini!"

Ceng Ceng merasa gembira sekali karena coret-coret itu memang mirip dengan Kok Cu, pemuda laknat musuh besarnya!

Topeng Setan tidak mengeluarkan kata-kata lagi dan kini dia sibuk menyalin coretan di atas lantai itu ke atas kertas.

Jari-jari tangannya bergerak lemas dan cepat, dan tak lama kemudian selesailah lukisan seorang pemuda tampan dan gagah setengah badan yang tak salah lagi memang mirip sekali dengan musuh besar Ceng Ceng itu.

"Beginikah dia....?"

Akhirnya Topeng Setan bertanya lirih sambil menyerahkan lukisan itu kepada Ceng Ceng.

Akan tetapi dia terbelalak heran melihat gadis itu berdiri memandang lukisan dengan mata merah dan berlinang air mata.

Tiba-tiba Ceng Ceng melompat, merampas lukisan itu dengan kasar dari tangan Topeng Setan.

"Plak-plak! Brettt.... reeeetttt....! Mampus engkau, jahanam....!"

Seperti orang gila, Ceng Ceng menampari kemudian merobek-robek lukisan itu sampai hancur berkeping-keping.

Kemudian Ceng Ceng melempar kepingan-kepingan kertas itu ke atas lantai dan menginjak-injaknya dengan kedua kakinya penuh kemarahan.

Topeng Setan terbelalak memandang ulah dara itu dan dia memejamkan mata ketika melihat Ceng Ceng akhirnya menjatuhkan diri duduk di atas lantai, di atas robekan kertas itu sambil menangis.

Dengan hati-hati Topeng Setan mendekati, duduk pula di atas lantai kemudian setelah melihat tangis Ceng Ceng mereda, dia bertanya lirih.

"Ceng Ceng, benci benarkah engkau kepadanya?"

Ceng Ceng mengangkat muka memandang, matanya merah dan air mata masih bertitik turun.

"Benci? Tidak ada orang di dunia ini yang lebih kubenci seperti dia! Aku membenci lahir batin dan aku tidak akan dapat mati meram apabila belum dapat membunuh jahanam biadab itu!"

Hening sejenak, yang terdengar hanya isak tertahan dari Ceng Ceng. Kemudian terdengar Topeng Setan berkata.

"Betapa hebat bencimu kepadanya, Ceng Ceng. Tentu dia telah melakukan dosa besar sekali kepada seorang gadis semulia engkau sampai engkau menjadi begini membencinya."

Orang tua bermuka seperti setan itu menghela napas panjang.

"Apakah yang telah diperbuatnya terhadapmu?"

Ceng Ceng menghapus air matanya. Lalu dia menggeleng kepala.

"Hal itu tidak mungkin dapat kuceritakan kepada Siapapun juga, Paman. Pendeknya, sakit hatiku terhadap dia hanya dapat dibayar dengan nyawa, itu pun masih kurang! Akan tetapi, dia lihai sekali, Paman, dan karena Paman merupakan satu-satunya orang yang dapat membantu aku, maka aku berjanji bahwa kalau aku dapat menemukan dia, aku akan menceritakan sakit hatiku itu kepada Paman."

"Ke mana engkau hendak mencarinya?"

"Ke mana saja, ke ujung dunia sekalipun. Memang sisa hidupku hanya untuk mencari dia dan membalas dendam itu, Paman. Aku akan mencari dia dan.... ahhh, apa yang telah kulakukan? Gambar itu.... ah, gambar itu kurusak...."

Ceng Ceng agaknya seperti baru teringat bahwa gambar yang dapat menolong dia mencari musuh besarnya itu tanpa disadarinya telah dirobek-robeknya ketika dia teringat akan sakit hatinya tadi.

"Jangan khawatir, aku dapat membuatkan lagi untukmu, Ceng Ceng."

Topeng Setan lalu mencoret-coret lagi dengan alat tulisnya di atas sehelai kertas dan setelah selesai ternyata lukisan ini malah lebih baik daripada tadi.

Ceng Ceng menjadi girang sekali, menggulung kertas lukisan wajah musuh besarnya itu, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Telaga Sungari.

Pada suatu pagi mereka memasuki sebuah rumah makan di dalam dusun yang masih sunyi.

Mereka membeli beberapa butir bakpao dan makan bakpao sambil minum air teh panas.

Seperti biasa, Ceng Ceng menggunakan setiap kesempatan bertemu dusun untuk menyelidiki perihal musuh besarnya.

Maka, setelah makan dua butir bakpao besar dan minum air teh, dia mempersilakan Topeng Setan melanjutkan sarapannya, sedangkan dia sendiri lalu membawa gulungan kertas menghampiri dua orang yang mengukus bakpao di dekat pintu.

"Bung, saya ingin bertanya kepadamu,"

Katanya kepada seorang di antara dua tukang bakpao itu yang cepat menoleh dan memandang heran serta kagum karena Ceng Ceng memang selalu mengagumkan pandang mata pria di mana pun dia berada.

"Tentu saja, Nona...."

Tukang bakpao yang berusia tiga puluhan tahun itu menjawab sambil tersenyum bangga bahwa ada seorang dara secantik itu mau menyapanya.

Ceng Ceng seperti biasa membuka gulungan kertas itu, memperlihatkan lukisan wajah musuh besarnya sambil berkata.

"Harap kau lihat baik-baik, barang-kali engkau mengenal orang ini dan tahu di mana dia berada?"

Tukang bakpao itu menggerak-gerakkan bibirnya sehingga kumis tebal di atas bibir itu ikut bergerak-gerak, keningnya berkerut seolah-olah dia sedang mengasah otaknya menghadapi teka-teki yang ruwet.

"Rasanya pernah kulihat akan tetapi mungkin juga belum pernah.... ehh, nanti kuingat-ingat dulu, Nona.... hemm...."

"Heiiii....! Subo (Ibu Guru)....!"

Tiba-tiba terdengar suara melengking merdu memanggil.

"Kiranya Subo berada di sini....?"

Ceng Ceng cepat memutar tubuhnya dan melihat seorang dara remaja berdiri di belakangnya, seorang dara tanggung yang cantik sekali, bertolak pinggang dan sikapnya sembarangan, bahkan seperti ugal-ugalan.

Tentu saja dia mengenal anak perempuan yang menyebutnya subo itu.

Kiranya dara remaja itu bukan lain adalah Kim Hwee Li, puteri dari Ketua Pulau Neraka, Hek-tiauw Lo-mo!

Ceng Ceng cepat memandang ke kanan kiri, gentar juga hatinya karena khawatir kalau-kalau ayah anak ini berada di situ.

Pernah dia melawan Hek-tiauw Lo-mo dan ternyata olehnya bahwa kakek iblis itu lihai bukan main sehingga dengan mudah dia tertawan.

Untung ada Hwee Li yang telah membebaskannya setelah dia berhasil menarik hati anak perempu-an itu untuk mengajarnya tentang ilmu mengenai racun.

Akan tetapi segera pandang matanya bertemu dengan Topeng Setan yang masih makan (Lanjut ke

Jilid 44) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 44 bakpao di sudut ruangan, maka hatinya menjadi lega kembali. Dengan adanya orang tua ini dia tidak takut lagi kepada Hek-tiauw Lo-mo.

"Eh, engkau Hwee Li! Engkau mencari siapa dan dengan siapa engkau di sini?"

Ceng Ceng menegur setelah dara remaja itu menghampirinya.

"Subo, aku mencari ayahku. Apakah Subo tidak melihatnya? Ayahku sedang mengejar musuhnya dan aku ditinggal begitu saja, maka aku menyusulnya dan mencarinya sampai di sini. Apakah Subo melihat ayahku?"

"Tidak, Hwee Li. Aku tidak melihat ayahmu."

"Subo sendiri mencari siapakah? Gambar siapa yang Subo pegang itu?"

Hwee Li yang lincah itu tanpa sungkan-sungkan melihat gambar yang dipegang oleh Ceng Ceng.

"Wah, gagah sekali pemuda ini, Subo. Apakah dia pacarmu?"

Biarpun dara cilik itu tidak mempunyai watak cabul seperti bibi gurunya yang disukanya, yaitu Mauw Siauw Mo-li, namun dekat dengan wanita genit itu dia pun sudah biasa bersikap genit dan tanpa sungkan-sungkan lagi.

Wajah Ceng-Ceng menjadi merah sekali.

"Ihhh.... lancang mulutmu. Hayo katakan, apakah barangkali engkau tahu orang ini di mana."

Hwee Li memandang gambar itu penuh perhatian lalu menggeleng kepala.

"Sayang aku tidak tahu, kalau aku tahu tentu kuajak dia berteman. Dia kelihatan gagah dan tentu merupakan kawan yang menyenangkan."

Mendengar ucapan yang dianggapnya tidak sopan itu Ceng Ceng menggulung gambar itu dengan kasar lalu berkata.

"Sudahlah, kau mencari ayahmu akan tetapi bermain-main di sini, mana bisa bertemu dengan dia? Lekas pergi mencarinya di tempat lain!"

Hwee Li mengangguk.

"Subo, ingat, kalau aku sudah bertemu Ayah, kelak aku akan mencarimu untuk mulai belajar ilmu itu."

Ceng Ceng mengangguk tak sabar.

"Baik, baik, nah, kau pergilah!"

Hwee Li tersenyum-senyum lalu pergi meninggalkan warung itu.

"Eh, Nona.... agaknya Nona kehilangan pacar? Daripada mencari orang yang tidak ada, aku.... eh, aku pun masih membujang."

Ceng Ceng memandang tukang bakpao berkumis itu dengan mata bersinar.

"Apa.... apa maksudmu....?"

Tukang bakpao itu mengurut kumisnya.

"Nona seorang dara cantik, tidak baik melakukan perjalanan di tempat berbahaya ini hanya untuk mencari pacar yang hilang. Tinggallah bersamaku di sini dan aku akan membikin Nona hidup senang dan.... aughhh!"

Tukang bakpao itu tak dapat melanjutkan teriakannya karena sebagian mukanya dari dagu sampai ke hidung telah terbenam ke dalam uap panas dari tempat bakpao dikukus!

Setelah menampar dan mendorong orang itu sampai mukanya masuk ke dalam tempat masak bakpao yang panas, Ceng Ceng mendengus dan membalikkan tubuhnya menghampiri Topeng Setan yang sudah bangkit berdiri dan cepat membayar makanan lalu mereka berdua pergi dari tempat itu yang sudah menjadi ribut karena tukang bakpao itu merintih-rintih dengan muka bagian bawah terbakar dan melepuh!

Topeng Setan dan Ceng Ceng berjalan tanpa bicara, dan setelah mereka keluar dari dusun itu barulah Topeng Setan bertanya.

"Ceng Ceng, siapakah anak perempuan yang muncul di warung bakpao tadi?"

"Ohh, dia? Dia adalah Kim Hwee Li, dia puteri dari Hek-tiauw Lo-mo...."

"Hei....?"

Topeng Setan terkejut bukan main.

"Hek-tiauw Lo-mo yang telah memukulmu secara keji?"

Tentu saja orang tua bermuka seperti setan ini kaget bukan main dan juga terheran-heran.

"Hek-tiauw Lo-mo memusuhimu, akan tetapi puterinya menyebutmu subo (Ibu guru). Apa artinya semua ini?"

Ceng Ceng tersenyum dan menghela napas.

"Memang di dunia ini banyak sekali terdapat hal-hal yang amat aneh, Paman Topeng Setan. Memang benar bahwa Hek-tiauw Lo-mo adalah seorang kakek iblis yang jahat dan kejam, selain memusuhiku apabila kami saling bertemu, apalagi akhir-akhir ini ketika dia memukulku dia adalah kaki tangan pemberontak sedangkan aku menentang pemberontakan. Dulu, pernah aku bertanding dengan dia dan aku kalah, menjadi tawanannya. Akan tetapi puterinya, Kim Hwee Li itu, menolongku dan membebaskan aku dengan janji bahwa aku akan suka menjadi subonya. Karena ingin bebas, tentu saja aku mau dan begitulah, dia membebaskan aku...."

"Akan tetapi, ayahnya sendiri demikian lihai, mengapa dia mengangkat engkau menjadi guru?"

"Ayahnya lihai dalam ilmu silat memang, akan tetapi dalam hal ilmu tentang racun, aku sebagai murid Ban-tok Mo-li lebih unggul. Dia ingin belajar ilmu tentang racun dariku."

Topeng Setan menghela napas.

"Memang tidak keliru bahwa sebagai murid Ban-tok Mo-li, engkau adalah seorang ahli yang hebat tentang racun, Ceng Ceng. Akan tetapi, buktinya engkau malah celaka karena tubuhmu mengandung racun, sehingga pukulan Hek-coa-tok-ciang dari Hek-tiauw Lo-mo membuat nyawamu terancam. Ilmu tentang racun memang hanya suatu ilmu yang tentu saja penting untuk dipelajari. Akan tetapi dalam cara mempergunakannyalah yang penting. Kalau dipelajari untuk digunakan sebagai ilmu pengobatan, baik sekali, sebaliknya kalau untuk mencelakakan lawan, menjadilah ilmu hitam yang hanya dimiliki golongan sesat. Sungguh menyesal sekali bahwa seorang seperti engkau sampai mengalami hal yang membuatmu begini sengsara....!"

Tiba-tiba Topeng Setan menghentikan kata-katanya dan berjalan sambil menundukkan mukanya.

Ceng Ceng menoleh dan memandang dengan terheran-heran.

Dia menangkap getaran suara aneh penuh keharuan dalam kata-kata Topeng Setan tadi dan kini makin heranlah dia ketika melihat sepasang mata yang besar sebelah itu setengah dipejamkan dan tampak ada air membasahi bulu-bulu mata itu.

Topeng Setan menangis!

"Paman Topeng Setan, berhenti sebentar, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."

Topeng Setan berhenti dan mereka berdiri berhadapan.

"Kau mau bertanya apa?"

Topeng Setan bertanya sambil menundukkan muka.

"Paman, engkau agaknya selalu menaruh iba kepadaku dan selalu membela dan melindungiku, akan tetapi kulihat hidupmu sendiri merana, bahkan demikian tersiksa batinmu sampai-sampai engkau selalu menyembunyikan diri di belakang topeng setan ini. Kenapa begitu? Engkau menaruh kasihan kepadaku akan tetapi melupakan kesengsaraanmu sendiri. Apa yang menyebabkannya? Kalau hal ini belum kau jelaskan, hatiku selalu akan diganggu oleh keraguan dan keheranan, Paman."

Topeng Setan menghela napas, kemudian dengan suara terpaksa dia menjawab juga.

"Engkau.... mengingatkan kepadaku akan seorang wanita...."

"Ya....? Lanjutkanlah, Paman. Siapakah wanita itu dan di mana dia sekarang?"

"Dia.... dia telah mati...."

"Ouhhh....? Maafkan, Paman...."

"Dia mati.... karena aku yang membunuhnya...."

"Aihhh....!"

Ceng Ceng terbelalak dan melihat Topeng Setan kini berdiri membelakanginya dengan kedua pundak yang lebar itu berguncang, tahulah dia bahwa orang tua itu menahan tangisnya dan amat menyesali perbuatannya.

Dengan hati terharu dia menghampiri dan memegang tangan orang tua itu.

"Paman, sukar dipercaya bahwa engkau telah membunuhnya.... padahal.... agaknya engkau mencinta wanita itu, bukan?"

Topeng Setan menahan napas menenangkan batinnya, dia mengangguk.

"Aku telah gila.... aku melakukan dosa besar dan karena itu.... tiada jalan lain bagiku kecuali menebus dosaku itu dengan jalan menjaga dan melindungimu, Ceng Ceng...."

"Aihh, Paman Topeng Setan. Orang seperti engkau ini tidak mungkin melakukan perbuatan jahat. Kalau bibi itu, wanita itu.... sampai mati olehmu, tentu dia yang bersalah.... dan jahatlah dia kalau bibi itu tidak dapat membalas cinta kasih seorang mulia seperti Paman...."

"Cukup....! Dia baik dan suci seperti dewi.... akulah yang jahat...."

Melihat keadaan Topeng Setan amat menderita tekanan batin, Ceng Ceng lalu menghibur dan mengalihkan percakapan.

"Sudahlah, Paman. Tidak perlu kita membicarakan soal-soal yang lalu. Yang jelas, Paman adalah seorang yang paling mulia bagiku...."

"Tapi engkau hidup merana, Ceng Ceng. Engkau diracuni oleh dendam yang tak kunjung habis...."

"Ah, urusan kecil! Sekarang, yang penting seperti kata Paman dulu, aku harus berobat sampai sembuh, kemudian aku akan tekun belajar ilmu dari Paman, kemudian setelah kepandaianku menjadi tinggi, apa sukarnya untuk mencari keparat itu? Sekarang, jangan dia mengganggu perjalanan kita ke Telaga Sungari. Nah, biar belum dapat membunuh orangnya, biar kubunuh dulu gambarnya!"

Ceng Ceng lalu merobek-robek gulungan gambar dari Kok Cu, musuh besarnya itu.

"Mari kita melanjutkan perjalanan ke Sungari mencari obat anak naga itu, Paman."

Berangkatlah kedua orang itu dengan cepat karena kini tidak lagi mereka berhenti untuk menyelidiki musuh besar Ceng Ceng.

"Auhhh....!"

Kian Bu merapatkan matanya kembali ketika merasa betapa kepalanya pening berdenyut-denyut, tubuhnya sakit-sakit semua dan dia teringat betapa dia ditelan ombak air sungai, digulung dan dihanyutkan tanpa dapat berdaya sama sekali.

Perasaan ngeri membuat dia memejamkan kembali matanya.

Akan tetapi dia tidak merasa lagi tubuhnya dipermainkan gelombang air, bahkan dia merasa rebah di suatu tempat yang keras, kepalanya berbantal sesuatu yang lunak dan hangat, kemudian mukanya ada yang menyentuh, bukan air yang keras dan ganas melainkan sentuhan-sentuhan hangat dari jari-jari tangan yang dengan lunak memijat-mijat pelipisnya.

"Bagaimana....? Pening sekalikah kepalamu....? Akan tetapi tidak mengapa, air sudah keluar semua dari perutmu dan memang akibatnya agak pening di kepala, atau mungkin kepalamu terbanting kepada batu ketika hanyut...."

Kian Bu mendengarkan suara itu seperti dalam mimpi.

Suara seorang wanita, merdu dan halus, dengan nada naik turun seperti orang bersenandung, atau seperti orang membaca sajak yang indah.

Wanita?

Dia teringat dengan kaget dan membuka matanya, apalagi ketika perasaannya makin sadar membuat dia dapat menduga bahwa kepalanya rebah di atas dua buah paha yang lunak dan hangat, di atas pangkuan seorang wanita!

Begitu matanya terbuka, dia memejamkannya kembali karena silau!

Bukan silau oleh sinar matahari pagi saja yang cerah, melainkan juga oleh wajah yang amat cantik, oleh sepasang mata panjang lentik, oleh sebatang hidung kecil mancung dan sepasang bibir yang merekah manis, perpaduan antara merahnya daging berkulit tipis dan putihnya gigi seperti mutiara!

Kian Bu tersentak kaget ketika dia teringat dan mengenal wajah wanita itu.

Cepat dia bangkit duduk dan menegur, mukanya merah sekali.

"Aihhh.... Enci Hong Kui....?"

Hong Kui atau Mauw Siauw Mo-li tersenyum.

"Mengapa engkau terkejut, Kian Bu yang baik? Tadi engkau gelisah sekali dalam tidurmu, mengeluh dan agaknya engkau mimpi terbawa air sungai, maka aku.... eh, memangku kepalamu dan memijit-mijit. Bagaimana sekarang, apakah masih pening....?"

Sikap wanita itu biasa saja dan diam-diam Kian Bu merasa terharu.

Apakah wanita cantik ini benar-benar demikian mencintanya seperti seorang kakak perempuan mencinta adiknya?

Akan tetapi....

sikapnya benar-benar terlalu mesra dan darahnya masih berdesir ketika teringat betapa tadi rebah dengan kepala di atas pangkuan wanita cantik itu.

"Ti.... tidak, Enci. Terima kasih. Ah, kiranya sudah pagi, biar aku pergi...."

Dia teringat akan janjinya untuk membantu wanita itu mencari obat di Telaga Sungari, maka cepat disambungnya.

"Marilah kita pergi mencari mereka...."

Lauw Hong Kui tersenyum mengangguk tanpa menjawab dan mereka lalu bangkit berdiri.

Tanpa banyak cakap mereka lalu menyusuri sungai itu mencari-cari, akan tetapi sampai setengah hari lamanya, mereka tidak berhasil menemukan jejak dari Siang In dan yang lain-lain, seolah-olah rakit mereka itu telah ditelan air sungai yang ganas semalam.

Melihat wajah Kian Bu yang berduka dan khawatir, Hong Kui segera memegang lengannya dan berkata.

"Jangan kau khawatir, Kian Bu. Aku yakin bahwa mereka itu tidak mengalami malapetaka dan masih dapat menyelamatkan diri mereka."

Mendengar ucapan yang nadanya bersungguh-sungguh itu Kian Bu memandangnya dengan penuh harapan dan bertanya.

"Bagaimana engkau bisa menduga demikian, Enci?"

"Mudah saja. Malapetaka yang dapat menimpa mereka hanya dua macam, bukan? Yang pertama adalah bahwa mereka terjatuh ke air dan dibawa hanyut seperti keadaanmu. Yang ke dua adalah bahwa mereka terjatuh ke tangan musuh atau terbunuh oleh mereka. Aku melihat bahwa kedua malapetaka itu tidak menimpa diri mereka. Karena, andaikata mereka hanyut, tentu ada di antara mereka yang terdampar ke pinggir seperti yang kau alami atau ada yang tersangkut di daerah yang berbatu-batu tadi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa mereka itu hanyut. Dan juga andaikata mereka itu tertawan atau terbunuh musuh, tentu orang-orangnya Tambolon semalam tidak mencari-cari dan menyerang kita. Jadi aku yakin bahwa mereka itu tentu telah berhasil menyelamatkan diri dan telah pergi dari tempat ini."

Kian Bu menjadi girang sekali karena kini dia pun percaya bahwa agaknya memang demikianlah.

Dia merasa kasihan sekali kepada Siang In, apalagi melihat gadis itu telah kehilangan encinya.

"Ah, engkau hebat dan cerdik sekali, Enci Hong Kui. Aku percaya keteranganmu itu."

Hong Kui melempar senyum, mengerling, mencubit lengan Kian Bu dan berkata dengan bibir merah mencibir, manis sekali.

"Ihhhh, engkau bisa saja memuji orang! Engkau yang tak kusangka ternyata amat sakti, mengalahkan dua orang pembantu Tambolon secara demikian mudah, masih memuji-muji aku yang lemah dan bodoh. Huiii.... sungguh menggemaskan!"

Kembali dia mencubit, kini yang dicubit-nya adalah paha Kian Bu dan agak keras sehingga pemuda itu berteriak kesakitan sambil tertawa-tawa.

Mereka tertawa-tawa dan Hong Kui menggandeng tangan Kian Bu dengan sikap mesra dan manja.

"Kian Bu, aku merasa berbahagia sekali....!"

Kian Bu memandang tajam, kecurigaannya timbul kembali.

Wanita ini dijuluki orang Mauw Siauw Mo-li, biarpun cantik jelita dan menggairahkan, namun cantiknya cantik siluman, bisa berbahaya.

Jangan-jangan wanita ini hendak menjebaknya dengan menggunakan kecantikannya.

Dia harus waspada!

Pernah ayahnya secara samar-samar memperingatkan dia bahwa di antara hal-hal yang amat berbahaya, lebih berbahaya daripada musuh yang sakti, selain kesombongan diri, nafsu-nafsu pribadi, juga kecantikan seorang wanita.

Kecantikan seorang wanita mampu merobohkan pertahanan seorang pendekar yang bagaimana sakti pun!

Dan Mauw Siauw Mo-li ini memang cantik bukan main.

Cantik jelita dan manis, memiliki keindahan dalam segala gerak-geriknya, gerak matanya, alisnya, bibirnya, dan gerak tubuh dari leher, pinggang, pinggul sampai langkahnya!

Bukan main!

Dia harus berhati-hati sekali.

Siapa tahu di balik semua keindahan ini tersembunyi perangkap yang akan mencelakakannya.

"Kenapa engkau berbahagia, Enci?"

Pancingnya.

Jari-jari tangan yang menggandeng lengannya itu makin mengetat dan mendekat.

Kepala yang berambut panjang terurai sebagian terlepas dari gelungnya yang tinggi bergerak-gerak dan tercium bau harum oleh hidung Kian Bu.

"Aku berbahagia karena dapat bertemu dengan seorang seperti engkau, Kian Bu. Kini bangkit kembali harapanku untuk dapat hidup karena aku yakin, dengan bantuan seorang pendekar sakti seperti engkau, sudah pasti anak naga keramat di Telaga Sungari itu akan berhasil kita dapatkan sehingga racun dari tubuhku dapat dibersihkan."

Kian Bu menghela napas panjang, hatinya lega bahwa kecurigaannya tadi ternyata palsu.

Wanita ini memang sudah sepatutnya merasa berbahagia karena wanita ini agaknya menggantungkan harapannya kepadanya.

"Jangan khawatir, Enci Hong Kui. Aku pasti akan membantumu sekuat tenagaku agar engkau dapat menjadi sehat kembali."

Wanita itu memandang dan dua butir air mata mengalir turun.

"Engkau.... engkau baik sekali...."

Katanya terisak dan Kian Bu merasakan jantungnya berdebar keras ketika jari-jari tangan yang kecil panjang itu menyusup di antara jari-jari tangan Kian Bu.

Pergeseran dan sentuhan antara jari-jari tangan ini seolah-olah mengandung getaran dahsyat yang memasuki tubuh Kian Bu, membuat dia merasa tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdebar seperti akan meledak!

Tubuhnya agak menggigil dan untung baginya, pada saat itu Hong Kui melepaskan tangannya sambil mengeluarkan suara ketawa yang aneh akan tetapi terdengar amat merdu dan mesra dalam telinga Kian Bu.

Suara ketawa yang mirip bunyi seekor kucing yang memanggil-manggil pasangannya di waktu malam!

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui adalah seorang wanita yang biarpun usianya baru tiga puluh tahun, namun telah memiliki pengalaman matang dalam hal bermain cinta dan mempermainkan seorang pria.

Dia sekali ini benar-benar terjebak ke dalam permainan dan nafsunya sendiri.

Dia jatuh cinta!

Belum pernah selama hidupnya dia mengalami perasaan seperti ini terhadap seorang pria.

Biasanya, dia mempermainkan pria, seperti seekor kucing betina kelaparan mempermainkan seekor tikus, dipermainkan lebih dulu sebelum diganyang dan kemudian ditinggalkan bangkainya begitu saja, sama sekali tidak diingatnya lagi.

Belum pernah dia dapat bertahan lebih dari tiga hari tiga malam mengeram seorang pria.

Kebosanannya timbul dan dia akan meninggalkan korbannya yang kebanyakan tentu dibunuhnya dulu.

Akan tetapi sekali ini, bertemu dengan Kian Bu, dia benar-benar jatuh cinta.

Dia sama sekali tidak merasa seperti seekor kucing yang mempermainkan tikus, melainkan seperti seekor kucing yang haus akan belaian manusia yang lebih kuat!

Pemuda ini bukan hanya tampan, karena ketampanan mudah didapatkan di antara orang-orang muda, Akan tetapi yang amat menarik hatinya adalah karena pemuda ini adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat, lebih tinggi daripadanya, dan terutama sekali seorang perjaka tulen yang dia tahu mempunyai sifat romantis!

Di dalam kecerdikannya, Hong Kui tidak mau menuruti nafsu berahinya.

Dia bersikap hati-hati dan biarpun tadi belaiannya membuat pemuda itu mulai tergetar, namun dia tidak mau terlalu mendesak, karena sekali pemuda sehebat ini timbul kecurigaannya, akan berbahayalah.

Dia sama sekali tidak mungkin dapat memaksa seorang seperti Kian Bu, maka dia akan menggunakan siasat halus dan tidak akan bermain kasar!

Suma Kian Bu adalah putera Pendekar Super Sakti, dan ibunya adalah bekas Ketua Thian-liong-pang, dia adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki kepandaian hebat dan kegagahan luar biasa.

Akan tetapi, menghadapi seorang wanita matang seperti Lauw Hong Kui, tentu saja dia itu hanya seorang pemuda hijau.

Andaikata Mauw Siauw Mo-li mempergunakan kekerasan dan kepandaian silatnya, tentu dalam waktu singkat saja dia akan roboh oleh pemuda itu dan andaikata dalam rayuannya dia terlalu tergesa-gesa, tentu pemuda perkasa itu akan menjadi curiga dan sadar.

Akan tetapi, Hong Kui terlalu cerdik dalam hal ini dan dia menjatuhkan hati Kian Bu secara perlahan-lahan, secara cerdik sekali dan tidak kentara sehingga setelah mereka melakukan perjalanan beberapa hari lamanya, Kian Bu telah percaya penuh bahwa wanita ini benar-benar seorang wanita yang patut dikasihani, seorang yang "baik-baik"

Akan tetapi tidak kebetulan menjadi sumoi dari orang-orang jahat macam Hek-tiauw Lo-mo Ketua Pulau Neraka dan mendiang Hek-hwa Kuibo.

Wanita ini amat ramah, amat halus dan sopan!

Dan di dalam perjalanan itu Hong Kui selalu menonjolkan keringanan tangannya, melayani Kian Bu, dan sikapnya penuh rasa sayang seorang kakak perempuan terhadap seorang adiknya.

Maka, diam-diam Kian Bu juga mengambil keputusan untuk mengerahkan kepandaiannya berusaha menangkap anak naga di Telaga Sungari untuk menyembuhkan keracunan di dalam tubuh Hong Kui.

Pada suatu siang yang amat panas mereka mengaso di dalam hutan dan duduk di bawah sebatang pohon yang lebat daunnya.

Sambil bersenandung merdu, Hong Kui memanggang daging ayam hutan yang tadi ditangkap oleh Kian Bu dan kini pemuda itu duduk beristirahat tidak jauh dari tempat itu.

Ketika Kian Bu sedang terlena mengantuk, tiba-tiba dia mendengar suara Hong Kui menjerit.

Dia terkejut sekali dan tubuhnya sudah bergerak meloncat, menyambar tubuh Hong Kui yang terhuyung dan ketika dia memeluk tubuh wanita itu ternyata Hong Kui telah pingsan!

Kian Bu terkejut bukan main, dan cepat dia mengurut jalan darah di tengkuk wanita itu.

Hong Kui membuka matanya, lalu menjerit.

"Ular.... ahh, Kian Bu, ada ular....!"

Matanya terbelalak dan telunjuknya menuding ke atas pohon.

Kian Bu menengok dan hampir dia tertawa bergelak.

Seekor ular hijau kecil merayap ketakutan di antara daun-daun di cabang pohon itu.

"Enci Hong Kui, kau kenapakah? Mengapa kau pingsan dan ular kecil itu...."

"Aihhh.... maafkan aku, Kian Bu...."

Hong Kui menggunakan saputangan, menyusuti peluh dari dahinya yang pucat sekali.

"Engkau belum kuberi tahu.... aku.... aku paling takut melihat ular...."

Kian Bu tersenyum lebar dan memandang aneh.

Mereka sudah duduk kembali dan Hong Kui melanjutkan pekerjaannya memanggang daging setelah beberapa kali menengok ke atas dan melihat bahwa ular itu sudah tidak tampak lagi.

"Enci Hong Kui, engkau seorang yang memiliki kepandaian begitu tinggi takut melihat seekor ular kecil itu? Biar ada seratus ekor seperti itu, mana mungkin bisa mengganggu seorang lihai seperti engkau?"

"Ah, engkau tidak tahu, Kian Bu. An-daikata aku tidak takut terhadap ular, tentu sudah sejak dahulu aku pergi mencari anak naga di Telaga Sungari itu! Akan tetapi, aku amat takut melihat ular...."

"Enci, sungguh aneh sekali. Mengapa orang yang lihai seperti engkau takut melihat ular?"

"Aku bukan takut, akan tetapi lebih dari takut, aku jijik sekali dan bisa pingsan kalau melihatnya. Dan tentu saja ada sebabnya.... ehh, malu aku untuk menceritakan pengalamanku di waktu aku baru berusia belasan tahun itu...."

Wanita itu lalu menunduk.

Kedua pipinya yang halus menjadi kemerahan, dari bawah matanya mengerling tajam ke atas dan bibirnya menahan senyum, giginya yang putih menggigit bibir bawah.

Sikap malu-malu kucing ini kelihatan manis dan menarik sekali sehingga timbul kelnginan tahu Kian Bu untuk mendengar cerita yang tentu aneh itu sehingga orangnya sampai merasa malu untuk bercerita.

"Enci Hong Kui, diantara kita yang sudah seperti kakak dan adik sendiri, mengapa engkau merasa malu? Ceritakanlah, apa yang telah terjadi sehingga engkau yang begini lihai sampai pingsan ketakutan melihat seekor ular kecil tadi."

"Terjadi di waktu aku berusia kira-kira tiga belas tahun,"

Wanita itu bercerita sambil menunduk dan memperhatikan daging yang dipanggangnya.

"Pada suatu hari ketika aku tertidur di dalam kamarku, tengah malam aku terbangun dengan kaget sekali dan.... dan.... dapat kau bayangkan betapa ngeri dan jijik serta takutku ketika aku merasa ada sesuatu yang dingin bergerak-gerak di dalam.... celanaku, di paha...."

Kian Bu terbelalak, mulutnya ternganga memandang wanita itu yang hanya mengangkat muka sebentar memandangnya kemudian menunduk kembali dengan pipi yang makin kemerahan.

"Ketika aku cepat-cepat melepas pakaian.... ternyata.... benda bergerak itu adalah seekor ular hitam! Aku menjerit-jerit dan jatuh pingsan. Nah, semenjak saat itulah setiap kali melihat ular, terbayang kembali kengerian hatiku di waktu dahulu itu dan aku tak kuat menahan."

Hening sejenak.

Entah mengapa, membayangkan pengalaman wanita ini di waktu berusia belasan tahun itu, jantung Kian Bu berdebar tegang dan beberapa kali dia menelan ludah.

"Memang.... memang mengerikan...."

Komentarnya pendek.

"Itulah sebabnya mengapa setelah mendengar bahwa yang menjadi obat tubuhku hanya anak naga di Telaga Sungari, aku menjadi ngeri dan takut. Untung aku bertemu dengan engkau, Kian Bu, yang telah begini baik hati untuk membantu aku menangkap anak naga itu. Kalau aku sendiri harus menangkapnya, apalagi anak naga, baru melihat seekor ular biasa saja aku sudah akan jatuh pingsan!"

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di luar sebuah dusun.

Telaga Sungari tidak begitu jauh lagi dari situ.

Ketika melihat sebatang anak sungai yang airnya amat jernih mengalir di luar dusun itu, dan betapa tempat itu sunyi sekali, Hong Kui berkata.

"Kian Bu, aku merasa gerah sekali. Air itu jernih, aku ingin mandi."

"Akan tetapi tempat ini dekat dusun, Enci. Tentu akan ada orang lewat nanti...."

Hong Kui mengerling penuh celaan.

"Habis ada engkau untuk apa?"

Katanya menegur sambil tersenyum.

"Kau jagalah di sini sebentar agar kalau ada orang lewat, kau minta dia jangan ke sungai dulu sebelum aku selesai mandi. Aku tidak akan lama, asal sudah berendam sebentar pun cukuplah untuk mengusir kegerahan dan menghilangkan debu yang menempel di tubuh."

"Baiklah...."

Kian Bu lalu duduk di tepi jalan, membelakangi anak sungai yang tidak begitu jauh dari jalan kecil itu.

Memang panas hawanya siang hari itu dan Kian Bu membuka kancing bajunya menelanjangi dada agar terhembus angin lalu.

Hatinya gembira.

Selama melakukan perjalanan dengan Hong Kui, dia makin tertarik dan kagum kepada wanita itu.

Gayanya yang genit memikat, persis seperti yang dulu ditirukan oleh Siang In, akan tetapi tentu saja lebih memikat karena gerak-gerik Hong Kui tidak dibuat-buat, memang sudah menjadi wataknya.

Biarpun genit memikat, namun wanita ini sopan dan amat baik terhadap dia, tidak pernah mengeluarkan kata-kata cabul, apalagi melakukan sesuatu yang tidak sopan.

Hanya setiap kali mereka bersentuhan, seperti ada aliran hawa panas keluar dari tubuh wanita itu menjalar di seluruh tubuhnya dan menggoncang jantungnya!

"Eiiihhh....

ular....

tolong....

Kian Bu....!"

Jerit ini mengejutkan Kian Bu.

Sekali meloncat dia telah mengejar ke pinggir sungai dan alangkah kaget hatinya ketika dia melihat tubuh Hong Kui rebah miring dengan kepala masuk ke dalam air, sedangkan seekor ular hitam yang panjangnya ada satu meter berenang terbirit-birit meninggalkan tempat itu menyeberang anak sungai.

Celaka, pikirnya, kalau tidak cepat ditolong, Hong Kui yang pingsan dengan kepala terbenam air itu tentu akan kehabisan napas dan tewas!

Maka dia lalu meloncat mendekati, memasuki anak sungai yang airnya hanya setinggi lututnya, kemudian dia mengangkat tubuh Hong Kui yang lemas.

Dapat dibayangkan betapa kacau perasaan Kian Bu ketika mengangkat tubuh yang sama sekali tidak berpakaian, yang telanjang bulat itu!

Ketika dia mengangkat tubuh polos itu, dia mencoba untuk memejamkan mata dan tidak melihat.

Akan tetapi tangannya dan lengannya menyentuh kulit tubuh yang mulus dan hangat, dan jantungnya berdebar hampir copot dari tempatnya!

Dan dia pun tidak mungkin memejamkan mata terus karena dia harus membawa Hong Kui ke tepi anak sungai.

Tidak lupa dia menyambar pakaian wanita itu yang tadi terletak di atas sebuah batu.

Teringat bahwa wanita itu tentu akan merasa malu sekali kalau sadar nanti dalam keadaan polos, Kian Bu lalu cepat-cepat mengenakan pakaian Hong Kui pada tubuh itu.

Dan tentu saja untuk dapat melakukan ini, dia harus membuka matanya, dan karena dia membuka matanya, tentu saja dia melihat dengan jelas semua bagian tubuh yang berada di depan hidungnya!

Sekali melihat, dia tidak kuasa lagi untuk menahan matanya yang menjelajahi semua bagian tubuh yang mulus dan menggairahkan itu.

Berkali-kali dia menelan ludah karena merasa lehernya seperti dicekik.

Jari-jari tangannya menggigil sehingga sampai lama barulah akhirnya dia berhasil mengenakan pakaian itu pada tubuh Hong Kui, walaupun setengah memaksa kedua tangannya yang agaknya mau mogok saja!

Begitu akhirnya Kian Bu selesai mengenakan pakaian Hong Kui, wanita itu siuman dan mengeluh, kemudian merangkul pinggang Kian Bu sambil merintih ketakutan.

"Ular.... ular...."

Kian Bu tersenyum, merasa geli juga melihat wanita yang dia tahu amat lihai ini menjadi begitu ketakutan seperti anak kecil ketika bertemu ular.

"Ularnya sudah pergi, Enci Hong Kui."

Wanita itu kembali mengeluh, kemudian tiba-tiba merenggutkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya, melihat ke arah tubuhnya yang sudah berpakaian.

"Eh.... ahhh.... aku tadi sedang mandi.... ada ular hitam menjijikkan...."

"Kau menjerit dan aku melihat engkau pingsan di air, Enci...."

"Dan aku...."

Muka yang halus itu menjadi merah sekali dan matanya mengerling malu-malu, sikap yang bahkan amat manis dan menarik hati.

"....aku tadi mandi.... kutanggalkan pakaianku...."

Kini Kian Bu memandang dengan muka terasa panas.

"Aku yang mengenakan kembali pakaianmu, Enci Hong Kui."

"Aihhh.... engkau.... engkau baik sekali, Kian Bu."

Kian Bu yang masih hijau itu tentu saja sama sekali tidak menduga bahwa ular-ular itu, baik yang merayap di cabang pohon maupun di sungai, adalah ular-ular yang sengaja ditangkap oleh Hong Kui dan dilepas di dekatnya, tidak tahu bahwa wanita ini sama sekali tidak takut terhadap ular yang bagaimana juga pun, bahkan sejak kecil dia telah biasa bermain-main dengan ular berbisa!

Kian Bu tidak tahu bahwa wanita itu secara halus dan cerdik sekali mulai menggoda dan memikat hatinya.

Dan memang hati Kian Bu terguncang hebat sekali.

Mula-mula hatinya sudah tergerak oleh cerita Hong Kui yang membuat dia selalu membayangkan yang bukan-bukan, kemudian dia disuguhi pemandangan yang amat mengesankan, melihat tubuh telanjang bulat yang menggairahkan itu, sehingga setiap kali memandang Hong Kui, dia melihat seolah-olah wanita itu tidak berpakaian.

Penglihatan itu terus menggodanya, membuat dia selalu terbayang akan hal yang mesra dan seringkali Kian Bu termenung.

Dia tidak tahu betapa Hong Kui seringkali tersenyum puas dan sepasang matanya kelihatan bersinar-sinar karena wanita yang berpengalaman ini dapat menduga bahwa siasatnya telah berhasil dan dia telah berhasil mengisi hati dan pikiran pemuda yang dicintanya ini dengan nafsu berahi yang berkobar.

Hanya berkat pendidikan yang baik di Pulau Es saja yang membuat Kian Bu masih dapat bertahan dan selalu menindas kobaran nafsu berahi itu.

Akan tetapi, pemuda ini merasa tersiksa sekali dan kini dia melihat setiap gerak-gerik Hong Kui sebagai sesuatu yang amat indah dan manis membangkitkan berahinya.

Apalagi memang sikap Hong Kui tepat seperti yang dikatakan Siang In dahulu, yaitu genit memikat, baik cara matanya memandang dan mengerling, cara bibirnya bergerak dalam berkata-kata atau tersenyum, Gerak lehernya, lengannya, pinggang dan pinggulnya ketika berjalan, sentuhan-sentuhan halus ujung jari tangannya, harum wangi-wangian yang keluar dari tubuhnya dan rambutnya, getaran pada suaranya yang mesra.

Bagaikan seekor laba-laba yang menjerat seekor lalat, Hong Kui terus memperketat jeratnya dan matanya yang penuh pengalaman itu melihat betapa lalat itu menjadi makin lemah, makin berkurang daya tahan dan daya lawannya, sampai dia yakin benar bahwa lalat itu sudah siap dan matang untuk dihisap da-rahnya.

Dan malam itu, ketika mereka berdua bermalam di sebuah rumah penginapan di dalam sebuah dusun, dia mengambil keputusan untuk melakukan penerkaman terakhir.

Dia sengaja memesan masakan-masakan lezat dan arak wangi sampai dua guci besar.

Ketika Kian Bu menyatakan keheranannya, Hong Kui berkata sambil tersenyum manis.

"Kian Bu, hari ini kebetulan adalah hari ulang tahunku, maka aku hendak merayakannya. Engkau tentu mau menemaniku merayakan hari ulang tahunku, bukan?"

Wajah Kian Bu berseri.

"Ah, tentu saja, Enci Hong Kui! Dan biarlah aku mengucapkan selamat atas hari ulang tahunmu ini!"

Kian Bu menjura dan dibalas oleh Hong Kui sambil tersenyum.

"Engkau baik sekali, terima kasih. Mari kita makan minum sekedarnya."

Mereka duduk menghadapi meja yang penuh hidangan, dan Hong Kui menuangkan arak wangi di dalam cawan mereka. Kian Bu mengangkat cawan sambil berkata.

"Semoga engkau panjang usia, banyak rejeki dan berbahagia, Enci"

"Terima kasih!"

Mereka mengangkat cawan lalu minum arak itu.

"Kalau aku boleh bertanya, hari ini merupakan ulang tahunmu yang ke berapa, Enci Hong Kui?"

Wanita itu memandang dengan mata dan mulut berseri.

"Coba kauterka, berapa kiranya umurku sekarang, Kian Bu?"

Kian Bu memandang wajah yang cerah itu.

Dia dapat menduga bahwa wanita ini tentu lebih tua daripada nampaknya, mengingat bahwa suhengnya, Hek-tiauw Lo-mo adalah seorang kakek, dan sucinya, mendiang Hek-wan Kui-bo, adalah seorang nenek.

Akan tetapi melihat wajah yang cantik itu, orang akan menduga bahwa wanita ini tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun usianya.

Dan Kian Bu yang sejak keluar dari Pulau Es sudah sangat memperhatikan wanita, mengerti bahwa wanita paling suka mendengar dugaan orang bahwa dia masih muda, maka sambil tersenyum dia menjawab.

"Menurut dugaanku, usiamu paling banyak dua puluh tahun, Enci."

"Hi-hi-hik!"

Hong Kui tertawa merdu sambil menutupi mulutnya dan matanya mengerling tajam.

"Masa kau kira aku semuda itu, Kian Bu? Bukan paling banyak dua puluh tahun, melainkan dua puluh dua tahun. Usiaku sudah dua puluh dua tahun, Kian Bu. Aihhh, tanpa kusadari aku sudah menjadi sangat tua, bukan? Setua nenek-nenek...."

Dia menarik napas panjang.

"Ah, siapa bilang engkau sudah tua, Enci? Sama sekali tidak! Engkau masih sangat muda dan.... dan...."

Kian Bu teringat bahwa dia sudah terlanjur bicara, maka dia cepat menahan kata-katanya dan menunduk.

"Ya....? Mengapa tidak kau teruskan? Katakanlah bahwa aku jelek dan tua."

Kian Bu tidak dapat melanjutkan karena dari pandang mata wanita itu, dia tahu bahwa wanita itu menertawakan dia.

Hong Kui juga tidak mau mendesak dan kembali mengisi arak ke dalam cawan Kian Bu yang sudah kosong.

Mereka makan minum dan karena pandainya Hong Kui bicara, Kian Bu terpaksa me-nemaninya minum arak sampai dua guci besar itu habis memasuki perut mereka!

Malam telah gelap ketika dalam keadaan setengah mabok Kian Bu mencuci muka dan mulut, menggosok gigi lalu memasuki kamarnya.

Begitu membuka baju karena arak membuat tubuhnya gerah dan me-lemparkan bajunya ke atas meja, membuka sepatunya, dia lalu melempar tubuhnya yang hanya memakai celana itu ke atas pembaringan dan tak lama kemudian dia sudah tidur pulas.

Kian Bu hanyut dalam mimpi.

Dia merasa seperti sedang berlatih sin-kang di Pulau Es, di atas salju yang amat dingin.

Seperti ketika dia berlatih di waktu masih tinggal di pulau itu, dia duduk bersila di atas salju yang lembut dan dingin itu, mengerahkan sin-kang melawan hawa dingin sehingga uap mengepul dari seluruh tubuhnya.

Kemudian dia melihat ada seekor ular bergerak perlahan berlenggak-lenggok mendekatinya dan ular itu lalu menggelutnya.

Dicobanya untuk melawan akan tetapi ular itu kuat sekali sehingga dia terjengkang rebah terlentang.

Ular besar itu menindihnya, membelit dan menggelutnya.

Tubuh ular itu licin halus dan hangat, dan ular itu menjilat-jilat mukanya, matanya, hidungnya, bibirnya.

Kemudian ular itu mengeluarkan suara aneh, suara merintih dan mengeong seperti suara seekor kucing!

Dan dalam mimpinya, Kian Bu melihat betapa ular itu berubah menjadi seekor kucing.

Kucing putih berbulu tebal, lunak halus dan hangat, lalu kucing itu menindih dan menggelutinya, menjilat-jilatkan lidah dan bibirnya yang basah dan hangat itu ke pipinya dan mulutnya, sambil mengeluarkan suara lirih mengerang.

Ketika kucing itu tidak hanya menjilat, akan tetapi kini menggigit bibirnya dengan gigitan halus, Kian Bu terkejut dan takut.

Cepat dia meronta dan kucing itu terlempar didorongnya.

Dia cepat bangkit mengangkat tubuh atasnya dan matanya terbelalak memandang kepada tubuh polos yang dihias rambut panjang itu.

Kiranya Hong Kui telah duduk di atas pembaringannya dan dadanya hanya tertutup rambut hitam panjang yang terurai lepas.

Kian Bu terbelalak memandang wajah yang cantik kemerahan dan sepasang mata yang seperti mata kucing, jeli dan berkilauan aneh itu.

"Enci...."

Dia berbisik dengan mata terbelalak lebar.

Hong Kui sudah menutupi dadanya dengan pakaiannya, akan tetapi gerakan ini membuat tubuh yang menjadi setengah telanjang itu makin menarik.

Kiranya wanita itu telah memasuki kamarnya, dan hal ini tidak sukar sama sekali bagi wanita yang lihai itu, dan telah menyalakan lampu tanpa diketahui Kian Bu yang tadi tidur pulas.

"Kian Bu.... Kian Bu.... kasihanilah aku...."

Hong Kui lalu menubruk pemuda yang masih bengong itu dan menangis, memeluk lehernya dan mendekapkan mukanya di dada pemuda yang telanjang itu.

"Enci.... apa.... apa artinya ini....?"

Kian Bu gelagapan.

"Artinya.... bahwa aku.... aku cinta padamu, Kian Bu.... kau kasihanilah aku...."

Tangan Hong Kui terjulur ke arah lampu dan di lain saat lampu itu pun padam.

Kamar menjadi gelap sekali akan tetapi Kian Bu tidak membutuhkan penerangan karena tubuhnya merasa betapa wanita itu mendekap dan menciuminya penuh nafsu.

Kian Bu hanyalah seorang pemuda yang baru menjelang dewasa.

Dia masih hijau dan sebelumnya dia telah digoda secara halus oleh Hong Kui.

Tanpa disadarinya, dengan cerdik sekali Hong Kui telah mengusahakan agar nafsu berahi pemuda remaja itu bangkit dan dia maklum akan hasil usahanya itu ketika melihat Kian Bu seringkali melamun dan di waktu berhadapan sering melihat pandang mata pemuda itu menjelajahi tubuhnya dari leher turun sampai ke kaki.

Kemudian, malam itu sengaja dia mengajak Kian Bu minum banyak arak sampai setengah mabok sehingga oleh pengaruh arak, lenyap sama sekalilah daya pertahanan batin Kian Bu dan kini pemuda itu hanyut dalam kemesraan belaian dan bujuk rayu, terseret hanyut oleh gelombang nafsu berahi yang dahsyat dari Hong Kui.

Wanita itu merupakan guru yang amat pandai dalam permainan cinta sehingga makin dalamlah Kian Bu tenggelam dan makin jauh dia terhanyut sehingga semalam suntuk itu dilewatkan oleh Kian Bu sebagai suatu malam yang amat indah dan nikmat.

Pada keesokan harinya, ketika mereka berdua pagi-pagi sekali sudah melanjutkan perjalanan, Hong Kui telah menjadi kekasih Kian Bu.

Wanita ini telah berhasil menundukkan dan menguasai Kian Bu yang menjadi tergila-gila, mabok oleh permainan cinta Hong Kui, dirayu oleh suara aneh seperti kucing mengerang yang bagi Kian Bu merupakan pendengaran yang menambah berkobarnya nafsu berahinya.

Mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandeng tangan dan kadang-kadang mereka berhenti untuk berpelukan dan berciuman, seolah-olah permainan cinta semalam suntuk tadi masih belum memuaskan dahaga wanita itu yang memang tidak pernah mengenal kepuasan.

Kian Bu menjadi makin mabok.

Dalam hal ilmu silat, dia jauh lebih lihai daripada Hong Kui, namun dalam hal ilmu mengumbar nafsu berahi ini, dia merupakan seorang murid bodoh dan mentah menghadapi Hong Kui yang amat pandai.

Demikianlah, Suma Kian Bu, pemuda perkasa putera Pendekar Super Sakti dan Nirahai, bekas Ketua Thian-liong-pang, jatuh cinta dan tergila-gila ke dalam pelukan Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, lupa sama sekali bahwa wanita ini adalah seorang wanita cabul yang hidupnya menghamba kepada nafsu berahinya.

Akan tetapi di lain pihak, sebaliknya wanita itu pun tergila-gila kepada Kian Bu.

Selama hidupnya baru sekarang dia mendapatkan seorang pria seperti pemuda ini yang selain tampan dan memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada dia sendiri, juga merupakan seorang pemuda yang romantis dan sebentar saja sudah hampir menandingi kelihaiannya dalam permainan cinta!

Perjalanan mereka menuju ke Telaga Sungari seringkali tertunda karena setiap kali mereka berhenti untuk mencurahkan perasaan yang penuh oleh hawa nafsu.

Pada suatu hari, lupa akan keadaan sekelilingnya, dua orang itu duduk di bawah pohon yang teduh.

Kian Bu duduk dan wanita itu menyandarkan tubuh ke dadanya, mereka saling mencumbu dan Hong Kui sudah mengeluarkan suara mengerang seperti seekor kucing manja.

Tiba-tiba terdengar suara orang ter-tawa.

"Kiranya Siluman Kucing dan kekasihnya berada di sini!"

Hong Kui dan Kian Bu terkejut.

Cepat mereka membetulkan letak pakaian mereka pada tubuh dan meloncat berdiri.

Pertama-tama yang muncul adalah Yu Ci Pok Si Siucai pembantu Tambolon dan yang tadi menegur sambil tertawa mengejek.

Lalu dari belakang mereka muncul pula Si Petani Liauw Kui dan dari balik-balik pohon berlompatlah anak buah mereka, orang-orang suku liar yang menjadi kaki tangan mereka.

Kian Bu menjadi marah sekali.

Dia tidak menjadi gentar dan mengambil keputusan untuk membasmi orang-orang ini.

Dia marah karena merasa malu bahwa tadi ada orang melihat dia bercumbu dengan Hong Kui.

Akan tetapi selagi dia hendak membentak, tiba-tiba terdengar suara meledak, kelihatan asap mengebul dan dari dalam asap itu muncul seorang nenek berpakaian serba hitam.

Terkejutlah Kian Bu karena dia mengenal nenek ini sebagai orang yang berada di pesta Tambolon tempo hari.

Nenek itu memang bukan lain adalah Durganini, guru dari Tambolon!

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali, merasa bahwa kesenangannya terganggu.

Sambil menggereng dia sudah mengeluarkan sebuah peluru peledak dan melontarkannya ke arah nenek yang muncul seperti itu.

Akan tetapi nenek itu tertawa, menudingkan telunjuknya ke arah senjata rahasia itu dan....

senjata rahasia itu meledak di udara!

"Aihhh....!"

Hong Kui menjerit dengan kaget sekali.

Kian Bu juga maklum bahwa nenek itu amat lihai, maka melihat betapa kini anak buah Tambolon ternyata lebih banyak lagi, dia berbisik.

"Mari kita pergi!"

Hong Kui mengangguk, kedua tangannya sibuk melempar-lemparkan senjata peledak ke kanan kiri dan depan, kemudian bersama Kian Bu dia meloncat ke belakang dan merobohkan empat orang anak buah mereka, terus menghilang pada saat senjata-senjata itu meledak dan tempat itu penuh asap.

"Siluman Kucing, hendak lari ke mana kau?"

Terdengar Si Petani membentak.

"Bresss!"

Liauw Kui yang tadi melihat ke mana berkelebatnya dua orang itu dan menerjang dengan lompatan dahsyat, bertemu dengan hantaman Kian Bu.

Dia menangkis, dan benturan tenaga dahsyat membuat Si Petani terjengkang dan terbanting ke atas tanah.

Dia bergulingan dan cepat meloncat ke belakang dengan kaget bukan main.

Kian Bu dan Hong Kui mempergunakan kesempatan itu untuk melompat jauh dan terus melarikan diri.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tertawa melengking tinggi.

Mendengar suara tertawa yang seolah-olah mengikuti mereka ini, Kian Bu dan Hong Kui bergidik ngeri karena suara tertawa itu seperti menikam-nikam jantung mereka.

Kemudian terdengar suara tinggi nyaring yang mengandung wibawa aneh.

"Perempuan genit, kau tidak bisa lari lagi, hi-hik-hik! Kakimu lumpuh tak bertenaga, kau robohlah....!"

"Enci Hong Kui....!"

Kian Bu terkejut sekali ketika melihat betapa tiba-tiba wanita kekasihnya itu terhuyung dan tentu sudah roboh kalau saja dia tidak cepat-cepat menyambarnya dan memondongnya lalu berlari lebih cepat lagi sambil memondong tubuh Hong Kui.

"Haiii.... pemuda remaja yang tampan...! Berhentilah...., berhentilah...., jangan berlari lagi.... berhenti....!"

Suara yang tinggi nyaring itu melengking dan bergema, akan tetapi Kian Bu tetap saja berlari terus, malah lebih cepat karena pemuda yang maklum bahwa nenek itu memiliki ilmu hitam yang luar biasa, telah menulikan telinganya dan sama sekali tidak mendengarkan suara itu melainkan berlari terus sampai akhirnya dia memasuki sebuah hutan besar dan jauh meninggalkan para pengejarnya.

Dua buah lengan yang halus panjang itu merayap seperti ular dan merangkul lehernya.

"Kian Bu, kekasihku.... kau telah menyelamatkan aku...."

Dan Hong Kui menarik leher itu, terus menciumi Kian Bu yang terpaksa menghentikan larinya untuk menyambut ciuman kekasihnya.

"Tempat ini sunyi dan teduh.... kita lanjutkan yang tadi terganggu orang...."

Hong Kui yang sudah turun dari pondongan itu memeluk pinggang dan menarik Kian Bu ke atas rumput.

"Jangan, Enci. Mungkin mereka sebentar lagi akan menyusul ke hutan ini. Kita harus lari terus sampai benar-benar terlepas dari mereka. Nenek itu mengerikan sekali. Tadinya kukira dia sudah mampus di waktu ruangan pesta Tambolon terbakar."

Hong Kui menghela napas kecewa, akan tetapi dia tidak membantah ketika Kian Bu mengajak dia terus berjalan menyusup-nyusup hutan lebat.

"Dia memang bukan manusia!"

Katanya bersungut-sungut.

"Dan aku hanya pernah mendengar namanya saja, baru sekarang aku bertemu dengan iblis tua itu. Hihh, bukan main dia! Bukan saja dapat membikin senjata rahasia peledakku tidak berdaya, akan tetapi dari jauh dia bisa memaksaku roboh hanya dengan suaranya! Dia adalah seorang manusia iblis dari See-thian, dan kabarnya di Pegunungan Himalaya banyak terdapat orang-orang ahli ilmu setan seperti dia. Namanya Durganini dan dia adalah seorang di antara guru-guru dari Tambolon."

"Sebetulnya tidak terlalu aneh,"

Kian Bu berkata.

"Orang yang memiliki kekuatan sihir tidak sukar meledakkan senjatamu di udara dan tadi dia menggunakan khi-kang yang mengandung kekuatan sihir untuk merobohkanmu. Kalau kau mengerahkan sin-kang, atau kalau kau menulikan telinga tidak mendengar suaranya, tentu dia tidak akan dapat mempengaruhimu. Ahli sihir seperti dia itu kalau bertemu dengan Ayah tentu celaka!"

Tiba-tiba Kian Bu menghentikan kata-katanya karena dia teringat bahwa tidak semestinya dia membawa-bawa nama ayahnya, apalagi memperkenalkan ayahnya kepada Hong Kui.

Akan tetapi, pemuda int terlalu memandang rendah Hong Kui yang luar biasa cerdiknya.

Semenjak Kian Bu bertekuk lutut oleh rayuan mautnya, dia selalu berusaha menyelidiki riwayat Kian Bu yang benar-benar telah merampas hatinya, yang membuat dia jatuh cinta.

Akan tetapi pemuda itu selalu merahasiakan riwayatnya, dan dia hanya berhasil mengetahui bahwa pemuda ini mempunyai she (nama keturunan) Suma.

Ini saja sudah menimbulkan dugaan karena dia melihat bahwa pemuda ini memiliki sin-kang yang amat kuat dari melihat she Suma serta sikap pemuda yang ingin merahasiakan dirinya ini sudah timbul dugaannya bahwa agaknya pemuda luar biasa ini tentu ada hubungannya dengan Majikan Pulau Es, Pendekar Super Sakti yang dia tahu bernama Han dan ber-she Suma pula.

Namun dengan cerdiknya, karena melihat pemuda itu merahasiakan riwayatnya dia pura-pura tidak menduga apa-apa.

Sekarang mendengar betapa pemuda itu memandang rendah Durganini dan mengatakan bahwa ilmu sihir itu tidak ada artinya jika bertemu dengan ayah pemuda ini, dia merasa yakin bahwa tentu ayah pemuda ini adalah Pendekar Super Sakti atau juga yang disebut Pendekar Siluman karena pendekar itu memiliki ilmu sihir yang kabarnya amat mujijat!

Diam-diam hati wanita ini menjadi girang bukan main.

Kekasihnya adalah putera Pendekar Super Sakti!

Kalau saja dia bisa menjadi mantu Majikan Pulau Es, betapa akan bangga dan bahagia hatinya.

Maka, dia mengambil keputusan untuk tidak melepaskan pemuda ini dari cerigkeramannya.

Tiba-tiba Kian Bu memegang tangannya.

"Ada derap kaki kuda dari jauh menuju ke sini! Mari kita bersembunyi di sana!"

Tanpa menanti jawaban, sambil memegang lengan wanita itu, Kian Bu melompat ke atas dan Hong Kui merasa kagum bukan main ketika tubuhnya terbawa melayang seperti terbang.

Mereka bersembunyi di dalam pohon, di cabang yang tinggi di antara daun-daun lebat.

Hong Kui merangkul dan mencium telinga Kian Bu, hatinya bangga bukan main.

Dia sendiri memiliki gin-kang yang sukar dicari tandingannya, namun dibandingkan dengan pemuda kekasihnya ini, dia kalah jauh!

Dan pendengaran telinga pemuda itu pun tajam bukan main.

Dia sendiri belum mendengar apa-apa dan Kian Bu sudah tahu akan datangnya rombongan kuda.

Setelah berada di atas pohon, baru dia mendengar suara itu, bahkan tak lama kemudian mereka melihat bahwa dari kiri tampak serombongan orang berkuda.

Ada tujuh belas orang berkuda dan di belakang barisan ini terdapat dua buah kereta tertutup yang agaknya terisi muatan-muatan.

Kereta pertama terhias bendera hitam yang tidak jelas gambarnya dan kereta ke dua jelas adalah kereta penuh dengan muatan barang.

Kian Bu menjadi lega karena melihat bahwa mereka itu bukanlah para pengejar, bukan anak buah Tambolon seperti yang dikhawatirkannya tadi.

Ketika dia menoleh dan memandang temannya, dia melihat wanita itu tersenyum manis.

"Eh, kenapa kau tersenyum?"

Dengan lagak genit Hong Kui mencolek dagu Kian Bu.

"Kita bersembunyi di atas kereta yang terakhir itu. Tak usah capai-capai berjalan kaki dan tidak akan terlihat oleh Si Nenek Iblis kalau dia mengejar kita."

Kian Bu mengangguk.

Buah pikiran yang baik sekali.

Memang atap kereta itu rata dan cukup lebar.

Kalau mereka berdua rebah di atas atap yang tertutup pinggiran atap tentu tidak kelihatan dari bawah.

Maka ketika kereta yang terakhir dan yang muat barang itu lewat, mereka meloncat turun sambil mengerahkan gin-kang mereka sehingga ketika kedua kaki mereka hinggap di atas atap, seperti di-tahan oleh per yang halus dan tidak menimbulkan guncangan sehingga tidak terasa sedikit pun juga oleh kusir kereta itu.

Cepat mereka berdua lalu menggulingkan tubuh rebah berdampingan di atas atap kereta.

"Hi-hik, enak di sini....!"

Hong Kui sudah terkekeh genit, membalikkan tubuh menghadapi kekasihnya, kaki dan tangannya sudah memeluk.

"Hishhh.... jangan di sini! Siang-siang begini.... dan malu kalau kelihatan orang!"

Kian Bu berbisik mencela sambil bergurau, akan tetapi dia mencium pipi kekasihnya yang cemberut oleh penolakannya itu sehingga Hong Kui tersenyum lagi.

Mereka lalu rebah menelungkup dan mengintai dari atas pinggiran atap ke depan.

Tiba-tiba terdengar suara bersuit nyaring dan penunggang kuda terdepan berteriak kaget karena kaki kudanya terperosok ke dalam lubang sehingga kaki depan kuda itu patah dan kudanya roboh terjungkal.

Akan tetapi, betapa kaget hati Kian Bu melihat penunggang kuda ini tidak ikut jatuh, bahkan mencelat ke atas, berpoksai di udara dan hinggap di atas punggung kuda penarik kereta pertama.

Sungguh merupakan kepandaian yang mengagumkan.

Akan tetapi kekagumannya berubah menjadi kekagetan dan kengerian ketika dia melihat orang itu yang melihat kudanya sekarat, dari atas kuda penarik kereta lalu menggerakkan tangan kanannya, seperti memukul ke arah kudanya yang sekarat.

Serangkum hawa pukulan jarak jauh mendorong bubuk putih seperti kapur yang mengeluarkan bau busuk menyambar ke arah kuda sekarat itu.

Terdengar ledakan keras dan kuda itu terbakar habis sampai menjadi abu!

Tentu saja Kian Bu terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa rombongan ini terdiri dari orang-orang yang demikian lihainya, bahkan belum tentu kalah lihai dibandingkan dengan para pengejarnya, orang-orang liar dari kaki tangan Tambolon!

Dia melirik ke arah Hong Kui dan dia melihat betapa kekasihnya itu hanya tersenyum saja seolah-olah tidak pernah terjadi kengerian seperti yang disaksikannya tadi.

Betapa tabah hati kekasihnya yang cantik ini!

Akan tetapi, perhatiannya sudah tertarik lagi oleh munculnya beberapa belas orang dibarengi tanda-tanda suitan dan ternyata yang muncul adalah rombongan perampok yang diketuai oleh seorang laki-laki bercambang bauk yang bertubuh tinggi besar.

Mereka itu pun kelihatan heran dan jerih melihat betapa kuda tadi dapat terbakar habis, maka kini kepala rampok yang agaknya setelah melihat peristiwa itu bersikap hati-hati dan lunak, lalu berkata, suaranya parau dan keras.

"Sahabat-sahabat yang lewat harap suka menolong kami orang-orang kekurangan dengan sedikit sedekah sebagai pembagian rejeki!"

Dari kereta pertama itu tiba-tiba terdengar suara yang berat dan malas-malasan.

"Kalian menghendaki sedekah? Nih, maju dan terimalah!"

Kepala rampok menjadi girang, lalu meloncat dekat kereta dan ketika dari dalam kereta itu menyambar sebuah pundi-pundi, dia cepat menyambutnya.

Pundi-pundi itu berat dan segera dibuka tali pengikatnya.

Ketika pundi-pundi terbuka dan tampak potongan-potongan emas berkilauan, kepala rampok itu terkejut, terheran dan tentu saja menjadi girang bukan main.

Dia mengelus jenggot yang lebat, mengucak-ucak matanya kemudian tertawa dan menjura ke arah kereta.

"Aihh, kiranya kami bertemu dengan sahabat yang amat dermawan, harap suka memaafkan kami yang telah membikin kaget...."

"Hi-hik, hendak kulihat siapa yang kaget."

Hong Kui terkekeh dan berbisik sambil terus mengintai dan tangannya mengelus-elus tengkuk Kian Bu penuh rasa sayang.

Kian Bu tidak mengerti mengapa kekasihnya berkata demikian, akan tetapi dia terus mengintai dan tiba-tiba dia terbelalak saking kaget dan herannya.

Kepala rampok itu tiba-tiba mengeluarkan seruan aneh, lalu kedua tangannya menegang kemudian saling menggaruk telapak tangan, kemudian kedua tangan menggaruk mukanya, lehernya, Dan tak lama kemudian dia sudah berteriak-teriak dan berkelojotan di atas tanah, kedua tangan menggaruki mukanya, mencakar mukanya berkali-kali sampai kulit mukanya robek berdarah, akan tetapi terus digarukinya sambil menjerit-jerit.

Pundi-pundi emas itu terjatuh ke atas tanah dan ketika sebuah lengan terjulur keluar dari tenda kereta pertama dan dengan jari-jari terbuka bergerak, tiba-tiba pundi-pundi itu seperti tersedot dan terbang ke arah tangan itu yang segera lenyap kembali ke balik tenda atau tirai kereta.

Melihat demonstrasi tenaga sin-kang yang dahsyat ini, tentu saja Kian Bu terkejut bukan main.

Kini anak buah perampok itu sadar bahwa kepala mereka telah terkena racun, maka dengan marah mereka berteriak-teriak dan menyerbu dengan pedang atau golok terhunus.

Dan tujuh belas orang berkuda itu dengan ketenangan seperti patung-patung hidup, membiarkan para perampok itu menyerbu.

Kemudian, mereka itu melontarkan bermacam bubuk racun yang beraneka warna, ada yang putih, ada yang merah dan ada pula yang hitam.

Akan tetapi akibatnya amat mengerikan.

Yang terkena bubuk putih meledak dan terbakar hidup-hidup dan yang terkena bubuk merah berkelojotan dan menggaruki tubuh seperti Si Kepala Rampok, sedangkan yang terkena bubuk hitam berkelojotan dan tubuh mereka mencair dan mengeluarkan bau yang amat busuk.

Melihat pembunuhan yang amat mengerikan ini, Kian Bu menjadi marah dan hampir saja dia melon-cat turun dari atas atap kereta, akan tetapi Hong Kui merangkul lehernya dan mencegahnya.

Ketika dia hendak membantah, sebelum ada suara keluar dari mulutnya, mulut itu sudah ditutup oleh bibir Hong Kui sampai lama sehingga Kian Bu menjadi nanar terbuai nafsu.

Hong Kui melepaskan ciumannya dan berbisik dekat telinganya.

"Mereka begitu lihai, sedang kita masih dikejar nenek iblis, mengapa mencari bahaya?"

Mau tidak mau Kian Bu terpaksa membenarkan pendapat kekasihnya itu.

Jelas bahwa mereka ini merupakan lawan yang amat lihai, apalagi orang yang berada di dalam kereta tadi.

Sedangkan menghadapi nenek iblis itu saja amat berbahaya, kalau ditambah mereka ini tentu dia akan kewalahan.

Dia terpaksa diam saja menonton akan tetapi merasa hatinya seperti diremas-remas dan ada rasa malu di dalam lubuk hatinya mengapa dia mendiamkan saja pembantaian manusia sedemikian kejamnya tanpa turun tangan sama sekali.

Sungguh amat tidak sesuai bahkan berlawanan dengan sifat pendekar yang ditanamkan oleh ayah bundanya dalam dirinya!

Pemandangan itu amat mengerikan.

Empat belas orang perampok itu roboh semua dan kini Kian Bu melihat betapa para korban bubuk putih terbakar menjadi abu seperti bangkai kuda tadi, yang terkena bubuk merah menggaruk-garuk kulit daging sampai habis dan mereka mati menjadi kerangka-kerangka karena kulit dan daging mereka habis dimakan racun merah sedangkan yang terkena racun hitam tubuhnya mencair dan meleleh menjadi cairan kuning yang baunya amat busuk!

Hawa dari racun-racun itu ternyata amat jahat karena pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan di dekat tempat itu menjadi layu dan daun-daunnya menjadi kuning dan rontok.

"Lanjutkan perjalanan, Telaga Sungari tak jauh lagi!"

Tiba-tiba terdengar suara berat dan malas dari dalam kereta.

Rombongan bergerak lagi dan kini kereta yang ditumpangi Kian Bu dan Hong Kui dilarikan cepat menyusul kereta depan dan ternyata kereta ini sekarang berada di depan sendiri, di belakang dua orang penunggang kuda yang agaknya menjadi penunjuk jalan, sedangkan kereta yang ditumpangi orang lihai tadi berada di belakang.

"Hi-hik, kebetulan sekali, Kian Bu. Mereka menuju ke Telaga Sungari juga!"

Hong Kui berbisik, kemudian membalikkan tubuhnya rebah terlentang menatap langit yang indah sekali terbakar api (Lanjut ke

Jilid 45) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 45 merah dari sinar matahari senja.

Sambil rebah dan bercumbuan tanpa mengeluarkan suara, Kian Bu dan Hong Kui mendengarkan percakapan dua orang berkuda di depan kereta itu dan dari percakapan kedua orang itu tahulah mereka bahwa mereka ini adalah kelompok anggauta perkumpulan Lembah Bunga Hitam!

Kiranya belasan orang ini adalah ahli-ahli racun jagoan dari Lembah Bunga Hitam dan melakukan perjalanan ke Telaga Sungari dipimpin sendiri oleh Hek-hwa Lo-kwi (Iblis Tua Bunga Hitam) Thio Sek yang berada di dalam kereta itu.

Kian Bu menjadi terkejut sekali.

Pantas saja orang-orang ini demikian lihai, dan kakek di dalam kereta itu mengerikan sekali.

Kiranya Ketua Lembah Bunga Hitam dengan para jagoannya!

Dari percakapan itu Kian Bu mendengar bahwa selama beberapa bulan ini Hek-hwa Lo-kwi bersama kaki tangannya tidak tinggal di Lembah Bunga Hitam dan selalu berpindah tempat karena mereka hendak menjauhkan diri dan bersembunyi dari kejaran dan intaian dua orang musuh besar yang amat lihai.

"Kalau Pangcu (Ketua) sudah selesai melatih diri dengan ilmu pukulan baru yang dirahasiakan, beliau tentu akan menghadapi dua orang musuh besar itu dan kita tidak perlu merantau lagi,"

Kata yang seorang. Kian Bu tidak tahu siapakah dua orang musuh besar yang dimaksudkan oleh dua orang pembicara itu. Dan Hong Kui berbisik.

"Musuh besar dari Ketua Hek-hwa-kok-pang (Perkumpulan Lembah Bunga Hitam) adalah suhengku."

"Hek-tiauw Lo-mo?"

"Benar, mereka bermusuhan karena memperebutkan kitab curian. Justeru karena mempelajari ilmu dari kitab curiannya itulah tubuhku keracunan."

Kian Bu mengangguk-angguk.

Dia tidak tahu bahwa dugaan Hong Kui itu hanya sebagian kecil saja yang benar.

Memang Ketua Lembah Bunga Hitam bermusuhan dengan Ketua Pulau Neraka, ka-rena memperebutkan kitab yang mereka curi dari Dewa Bongkok di Istana Gurun Pasir.

Akan tetapi yang membuat ketua ini melarikan diri dan menghindari pertandingan dengan dua orang pengejarnya, bukanlah Hek-tiauw Lo-mo, melainkan bekas rekannya, yaitu Louw Ki Sun, kakek pelayan Si Dewa Bongkok, dan Kok Cu, murid terkasih dari Si Dewa Bongkok yang amat lihai.

Dia tahu bahwa kedua orang itu telah menerima tugas dari Si Dewa Bongkok untuk melakukan penge-jaran dan merampas kembali kitab yang dicurinya bersama Hek-tiauw Lo-mo.

Dia tidak takut menghadapi mereka, akan tetapi karena maklum akan kelihaian mereka, terutama murid Dewa Bongkok, dia tidak ingin melihat orang-orangnya menjadi korban dan di samping itu dia sedang melatih ilmu pukulan dahsyat yang dipelajarinya dari kitab curian itu.

Kini, melihat bahwa telah tiba musimnya anak naga keramat akan dibawa keluar oleh induknya di permukaan Telaga Sungari, maka dia membawa anak buahnya ke telaga itu karena dengan bantuan anak naga itu, dia akan dapat menguasai ilmu pukulan yang dahsyat itu secara lebih cepat dengan hasil yang amat hebat sehingga dia tidak akan takut lagi menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun juga.

Malam itu terang bulan dan suasana di atas kereta itu romantis dan indah sekali.

Cahaya bulan keemasan langsung menimpa tubuh mereka, kadang-kadang diselimuti bayangan halus pohon-pohon di kanan kiri kereta.

Kian Bu makin terpesona dan mabok melihat kulit tubuh kekasihnya yang sengaja membuka pakaian itu bermandikan cahaya bulan dan untuk kesekian kalinya dia tidak dapat menolak rayuan Siluman Kucing itu.

Karena maklum bahwa mereka berdekatan dengan orang-orang pandai dan berbahaya, apalagi Ketua Lembah Bunga Hitam berada di dalam kereta di belakang mereka, Hong Kui terpaksa harus mengerahkan seluruh kekuatan sin-kangnya untuk menahan diri sehingga dari kerongkongannya tidak terlontar suara kucing yang biasanya dilakukannya kalau dia sedang tenggelam dalam permainan cinta.

Dia hanya merintih lirih.

Kian Bu sudah tertidur pulas kecapaian, tidur dengan senyum kepuasan di bibirnya, berbantalkan lengan sendiri, sedangkan Hong Kui yang rambut dan pakaiannya masih mawut itu terlentang memandang langit yang indah dengan mata merem-melek digulung kenikmatan ketika tiba-tiba terdengar suara gerengan seperti seekor singa dan kereta itu dihentikan.

Hong Kui terkejut dan miringkan tubuhnya mengangkat kepala dan memandang ke depan.

Dua orang penunggang kuda sudah berhenti dan mereka melihat datangnya seorang laki-laki berkuda.

Laki-laki yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, menunggang seekor kuda putih yang besar dan jubahnya yang lebar melambai-lambai ketika kudanya berlari congklang mencegat rombongan itu.

"Eh, kenapa berhenti?"

Kian Bu berbisik dan mengangkat tangannya, merangkul dada kekasihnya.

"Ssssh...."

Hong Kui memberi isyarat agar pemuda itu tidak ribut. Kian Bu kini terbangun dan cepat dia pun membalikkan tubuhnya, mengintai ke depan.

"Wah.... dia....?"

Bisiknya kaget ketika dia mengenal penunggang kuda, laki-laki tinggi besar itu yang ternyata bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, Ketua Pulau Neraka!

Akan tetapi kembali Hong Kui memberi isyarat agar dia tidak bersuara, dan mereka lalu mengintai ke depan dengan lengan saling merangkul dan mereka menelungkup di atas kereta.

"Orang she Thio, bujang hina-dina! Hayo keluar, manusia tak tahu malu. Hayo keluar dan kembalikan kitabku yang kau curi!"

Hek-tiauw Lo-mo berteriak dengan suaranya yang nyaring dan menggetarkan hutan itu.

Dari dalam kereta yang berada di belakang terdengar suara tertawa bergelak, dan berbareng dengan berkelebatnya bayangan hitam, seorang kakek tinggi kurus bermuka tengkorak dan berpakaian serba hitam telah berdiri di depan kuda yang ditunggangi Hek-tiauw Lo-mo.

Kakek tinggi kurus bermuka tengkorak ini adalah Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek.

"Ha-ha-ha, engkau maling rendah berani memaki orang! Kitab itu adalah milik bekas majikanku, Si Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir. Engkaulah yang menjadi maling! Aku telah meminjamkan sebagian kitab kepadamu, dan sekarang telah kuambil kembali karena akulah yang berhak memiliki kitab itu. Pergilah, Hek-tiauw Lo-mo, sebelum kau kutangkap sebagai maling hina!"

Hek-tiauw Lo-mo mengeluarkan suara memekik nyaring dan dari balik pohon-pohon berserabutan keluarlah orang-orang Pulau Neraka yang tadi bersembunyi.

Jumlah mereka ada lima belas orang dan mereka merupakan orang-orang pilihan yang mengawal ketua mereka.

Semenjak Hek-tiauw Lo-mo gagal dalam membantu para pemberontak, dia lalu kembali ke tempat di mana berkumpul orang-orang Pulau Neraka yang telah melakukan pendaratan di daratan besar dan pada suatu malam kitabnya yang hanya sepotong, yaitu bagian yang dapat dirampasnya ketika dia dan Thio Sek mencuri kitab dari Dewa Bongkok, ternyata telah dicuri oleh Ketua Lembah Bunga Hitam itu yang telah lama menanti-nanti saat dan kesempatan itu.

Tentu saja dia menjadi marah sekali dan me-lakukan penyelidikan dan pengejaran.

Kitab milik Dewa Bongkok yang dicuri oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi itu adalah sebuah kitab pelajaran ilmu mujijat tentang pukulan-pukulan beracun, akan tetapi karena tadinya mereka berebutan sehingga kitab itu terobek menjadi dua, maka isi kitab yang hanya setengah itu tidak begitu banyak manfaatnya.

Karena itu mereka berdua selalu bermusuhan untuk merebut setengah bagian kitab yang mereka butuhkan, dan kini dengan akal curang, selagi Hek-tiauw Lo-mo sibuk dengar mengejar kedudukan membantu pemberontak, Ketua Lembah Bunga Hitam yang dahulunya adalah pelayan Dewa Bongkok itu akhirnya dapat mencuri bagian yang ada pada Hek-tiauw Lo-mo dan yang dijaga oleh para anak buahnya, yaitu orang-orang Pulau Neraka.

Kini setelah anak buahnya muncul, Hek-tiauw Lo-mo meloncat turun dari kudanya dan menerjang Hek-hwa Lo-kwi sehingga mereka lalu saling serang dengan dahsyatnya.

Adapun anak buah Lembah Bunga Hitam sudah bertempur melawan belasan orang Pulau Neraka.

Malam yang indah di bawah sinar bulan purnama itu kini berubah menjadi menyeramkan karena pertempuran antara dua kelompok ahli racun yang lihai itu.

Karena orang-orang Lembah Bunga Hitam maklum bahwa orang-orang Pulau Neraka yang bermuka menyeramkan itu adalah orang-orang yang sudah kebal tubuh mereka terhadap racun, maka mereka tidak mau menggunakan senjata-senjata beracun mereka.

Dalam pertempuran-pertempuran yang lalu mereka sudah cukup maklum akan kelihaian orang-orang Pulau Neraka tentang hal racun sehingga kalau mereka mengeluarkan bubuk-bubuk racun itu jangan-jangan malah senjata makan tuan, maka kini mereka menyerbu dengan senjata tajam di tangan dan menggunakan ilmu silat untuk mengalahkan musuh besar mereka.

Melihat perang tanding yang dahsyat itu, Hong Kui hendak bangkit.

"Suheng bisa celaka kalau tidak kubantu...."

Akan tetapi dua lengan yang kuat memeluknya dan Kian Bu berkata.

"Hek-tiauw Lo-mo adalah bekas musuhku, kalau kau membantu dia, terpaksa aku pun akan membantu lawannya."

"Eihhh....?"

"Karena itu sebaiknya kita jangan mencampuri mereka, Enci."

Hong Kui menatap wajah pemuda itu, lalu tersenyum dan merangkul kemudian menciumi kekasihnya dengan penuh nafsu.

Dicumbu dan dibelai oleh wanita yang amat cantik jelita dan pandai memikat hati ini, Kian Bu kembali mabok dan tenggelam sehingga selagi di bawah kereta kedua golongan itu bertanding mati-matian, di atas atap kereta itu dua orang ini bemain cinta tanpa mempedulikan keadaan di sekitar mereka!

"Eh, lihat ada orang....!"

Tiba-tiba Kian Bu mendorong halus tubuh Hong Kui yang menindihnya dan menuding ke kiri.

Hong Kui menengok dan benar saja.

Mereka melihat sesosok bayangan manusia dengan gerakan cepat dan ringan berloncatan lalu berindap-indap menghampiri kereta di belakang tadi, kereta yang tadi ditumpangi Ketua Lembah Bunga Hitam.

Kemudian bayangan yang ternyata adalah seorang kakek berambut putih itu menyelinap masuk dan tak lama kemudian dia keluar lagi membawa sebuah kitab.

"Dia mencuri kitab!"

Bisik Hong Kui dan tangan kiri wanita ini bergerak, sebuah benda bulat melayang ke arah kereta di belakang itu.

"Darrrr....!"

Kereta itu meledak dan hancur, akan tetapi kakek itu dapat meloncat ke samping menghindar.

Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang sedang bertanding ramai itu, cepat menengok dan melihat kakek itu, mereka terkejut sekali.

"Dia mencuri kitab itu....!"

Teriak Hek-hwa Lo-kwi dan seperti mendapat komando saja, mereka lalu meloncat ke depan.

Kakek yang mengambil kitab dari dalam kereta itu cepat melarikan diri dan dikejar oleh dua orang datuk yang melihat betapa kitab mereka yang saling diperebutkan itu dilarikan orang.

"Wah, jadi ramai sekarang...."

Kata Kian Bu yang melihat betapa orang-orang Pulau Neraka dan orang-orang Lembah Bunga Hitam menjadi bingung melihat ketua mereka berhenti bertempur dan mengejar seorang kakek.

Mereka lalu berlari pula ikut mengejar dan otomatis pertempuran pun berhenti.

"Hayo kita nonton keramaian!"

Hong Kui terkekeh genit, menggelung rambutnya, membereskan pakaiannya dan bersama Kian Bu dia lalu meloncat turun dari atas kereta.

Sunyi di tempat itu karena tidak ada seorang pun di situ, semua telah melakukan pengejaran.

Mereka lalu berlari cepat mengejar ke arah larinya semua orang itu, yaitu ke utara.

Kakek tua berambut putih itu cepat sekali larinya sehingga malam lewat, belum juga dua orang datuk lihai itu dapat menyusulnya.

Akan tetapi dia pun tidak dapat membebaskan diri dari dua orang kakek yang seolah-olah menjadi bayangannya sendiri dan selalu mengikuti ke manapun dia pergi itu.

Kakek tua itu tidak berani berhenti, karena dia maklum bahwa menghadapi pengeroyokan mereka berdua, dia tidak akan mampu menang.

Kakek tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih itu menjadi bingung juga dan ketika dia melihat sebuah dusun di luar hutan dia cepat memasuki dusun itu dan tak lama kemudian dia sudah menyelinap memasuki sebuah warung nasi yang masih sunyi karena baru dibuka dan langsung dia bersembunyi di dalam.

Pemilik warung ini hanya melihat bayangan berkelebat dan bayangan itu lenyap sehingga dia bingung dan menggosok-gosok kedua matanya, kemudian menggerakkan pundaknya dan menggeleng kepala karena mengira bahwa dia tentu salah lihat.

Akan tetapi tak lama kemudian dia melihat dua orang kakek raksasa yang wajahnya mengerikan dan sikapnya bengis muncul di depan warungnya, pemilik warung ini menjadi terkejut dan ketakutan, yakin bahwa dia kini berhadapan dengan siluman-siluman maka dengan tubuh gemetar dia lalu berlutut dan bersembunyi di balik meja!

Yang muncul itu memang Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi dan memang wajah mereka amat menyeramkan.

Hek-hwa Lo-kwi kelihatan seperti tengkorak hidup, sedangkan wajah Hek-tiauw Lo-mo memang seperti raksasa menakutkan dan mulutnya bertaring.

Akan tetapi pada saat kedua orang datuk ini tiba di depan warung, pada saat yang sama datang pula dua orang yang begitu melihat mereka menjadi kaget sekali.

Dua orang ini bukan lain adalah Ceng Ceng dan Topeng Setan!

Ketika Ceng Ceng melihat dua orang kakek yang pernah dikenal dan dilawannya ini, dia menjadi terkejut sekali.

Akan tetapi dasar dia seorang gadis yang tidak mengenal takut, apalagi ada Topeng Setan di situ, dia memandang rendah dua orang datuk ini dan dengan sikap angkuh dia lalu membuang muka dan hendak memasuki warung itu karena memang dia tadi mengajak Topeng Setan untuk mengisi perutnya yang lapar di warung itu.

Hek-tiauw Lo-mo yang sudah sangat bernafsu untuk merampas kembali kitab yang kini telah utuh karena bagiannya dan bagian Hek-hwa Lo-kwi sudah disatukan dan yang telah dicuri dari dalam kereta oleh kakek berambut putih, tidak sabar lagi dan dia agaknya lupa dan tidak mengenal lagi kepada Ceng Ceng.

Maka melihat seorang gadis cantik yang sikapnya angkuh mendahuluinya masuk ke warung, dia lalu meloncat ke pintu dan membentak.

"Bocah hina mundurlah!"

Tentu saja seketika perut Ceng Ceng menjadi panas mendengar sebutan "bocah hina"

Tadi, maka melihat Ketua Pulau Neraka itu melangkah hendak mendahuluinya memasuki pintu, langsung saja dia memukul dengan tangan terbuka ke arah perut kakek tinggi besar itu.

Pukulan beracun, pukulan maut!

Barulah Hek-tiauw Lo-mo terkejut ketika dia merasa ada angin dahsyat menyambar dari pukulan, bukan hanya menunjukkan adanya tenaga sin-kang yang cukup kuat, akan tetapi terutama sekali hawa beracun yang hebat keluar dari telapak tangan gadis itu!

"Aihhh....!"

Dia berseru dan tentu saja dia pun cepat menangkis dan mengerahkan tenaganya karena baru sekarang dia teringat siapa adanya wanita ini.

Ceng Ceng sendiri karena merasa benci dan mendendam kepada Hek-tiauw Lo-mo yang telah membuat nyawanya terancam maut karena pukulan beracun Hek-coa-tok-ciang yang dijatuhkan kepadanya kini menggunakan pukulan beracun yang mematikan untuk membalas dendam.

"Dessss....!"

Dua tangan yang sama-sama mengandung racun jahat itu saling bertemu dan akibatnya Ceng Ceng terlempar dan hampir terjengkang kalau tidak cepat lengannya disambar oleh Topeng Setan.

Hek-tiauw Lo-mo yang hanya tergetar tangannya memandang kepada Ceng Ceng sambil tertawa.

"Hah! Kiranya engkau belum mampus?"

Dapat dibayangkan betapa marah hati dara itu. Dalam kemarahannya, dia sampai lupa diri dan berkata kepada Topeng Setan dengan suara memerintah.

"Paman, bunuh orang ini!"

Kelihatannya memang aneh.

Orang tua bermuka buruk itu tanpa banyak cakap lagi agaknya amat mentaati perintah Si Dara muda jelita itu karena tanpa berkata apa-apa dia sudah menggerakkan tangan kanannya.

Tanpa menggerakkan kakinya, tempat dia berdiri terpisah dua meter dari Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi lengan tangan kanannya yang digerakkan itu terulur ke depan, terus memanjang dan mulur seperti karet, sampai mencapai jarak dua meter itu dan jari tangannya langsung menyerang dengan totokan ke arah iga Hek-tiauw Lo-mo!

Tentu saja Hek-tiauw Lo-mo menjadi sangat terkejut menyaksikan hal ini dan tahulah dia bahwa orang tua bermuka buruk ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi tentu saja dia tidak merasa gentar dan dengan mengerahkan tenaga Hek-coa-tok-ciang, yaitu ilmu pukulan yang dilatihnya dari kitab curian, dia memapaki totokan itu dengan telapak tangannya.

"Cuuss....! Dessss!"

Akibat pertemuan kedua tangan yang sama besar dan sama kuatnya ini hebat sekali.

Tubuh Topeng Setan tergetar, akan tetapi tubuh Hek-tiauw Lo-mo terhuyung-huyung mundur sampai lima langkah keluar dari pintu warung!

Melihat ini, Ketua Lembah Bunga Hitam terkejut juga dan timbul kekhawatirannya.

Dia memperhitungkan bahwa munculnya gadis beracun dan laki-laki tua bertopeng setan itu tentu ada hubungannya dengan Si Pencuri Kitab yang agaknya bersembunyi di dalam warung, maka karena yakin bahwa orang tua bertopeng ini tentu membela Si Pencuri, secepat kilat, dia pun menerjang maju dan menyerang Topeng Setan dengan pukulan mautnya.

Topeng Setan mengeluarkan suara seperti orang menahan tawa, dan di lain saat dia telah dikeroyok dua oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang lihai.

Pertandingan ini berlangsung hebat sekali, sampai bumi di sekeliling tempat pertempuran itu tergetar hebat dan angin pukulan menyambar-nyambar dahsyat.

Hebat sekali sepak-terjang Topeng Setan, dan Ceng Ceng menonton dengan wajah khawatir akan tetapi juga takjub.

Dia tahu akan kelihaian Ketua Lembah Bunga Hitam dan Ketua Pulau Neraka, akan tetapi Topeng Setan dapat menghadapi pengeroyokan mereka dengan tangguh dan sama sekali tidak kelihatan terdesak.

Namun, diam-diam Topeng Setan maklum bahwa biarpun dia mampu menandingi dua orang datuk itu, akan tetapi dia pun tidak dapat mendesak mereka, apalagi mengalahkan.

Kalau pertandingan dilanjutkan, akhirnya dia yang akan terancam bahaya karena tingkat kepandaian dua orang kakek ini memang sudah tinggi sekali.

Tak lama kemudian, Kian Bu dan Hong Kui yang memiliki ilmu berlari cepat lebih mahir daripada para anak buah Lembah Bunga Hitam dan Pulau Neraka, telah dapat menyusul ke dusun itu dan tiba di depan warung dengan sembunyi.

Ketika Kian Bu melihat dua orang kakek lihai itu tidak bertanding melawan kakek pencuri kitab melainkan bertanding melawan Topeng Setan, dia terheran-heran.

Akan tetapi ketika dia melihat Ceng Ceng berada di situ, dia terkejut dan girang.

Hampir dia membuka mulut memanggil gadis yang ternyata masih keponakannya itu karena dia sudah mendengar bahwa Ceng Ceng adalah keturunan dari Wan Keng In putera ibu tirinya dan kakek tiri dari Suma Kian Lee.

Akan tetapi ketika dia teringat akan Hong Kui, teringat akan perhubungannya dengan Hong Kui, dia merasa malu dan jengah sekali, merasa sungkan untuk ber-temu dengan Ceng Ceng.

Teringat akan semua perbuatannya, akan petualangannya dalam permainan cinta yang mesra dan memabokkan selama beberapa hari ini dengan Mauw Siauw Mo-li, dia bahkan merasa khawatir sekali kalau-kalau sampai terlihat oleh Ceng Ceng bahwa dia datang bersama Hong Kui.

"Aku.... aku mau.... pergi kencing dulu...."

Katanya kepada Hong Kui dan tanpa menanti jawaban Hong Kui yang tersenyum lebar mendengar ini, Kian Bu lalu menyelinap pergi.

Sementara itu, ketika melihat betapa suhengnya dan Ketua Lembah Bunga Hitam itu tidak mampu mengalahkan orang bertopeng yang amat lihai, Mauw Siauw Mo-li menjadi penasaran.

Kebetulan sekali Kian Bu pergi dari sisinya, maka dia lalu meloncat tinggi ke atas dan langsung dia terjun ke pertempuran sambil mencabut pedangnya.

Topeng Setan terkejut sekali dan cepat mengelak dari tusukan pedang sambil membalas dengan tendangan kaki berantai yang mengancam ketiga orang pengeroyoknya.

Kini Topeng Setan menjadi makin repot.

"Perempuan hina dan pengecut!"

Ceng ceng membentak marah ketika melihat Topeng Setan dikeroyok tiga, dan dia pun lalu menerjang dan menggerakkan kedua tangannya melakukan pukulan beracun ke arah punggung Mauw Siauw Mo-li.

Wanita ini terkejut dan tidak berani menangkis karena maklum bahwa pukulan itu mengandung racun, dia hanya mengelak dan mengelebatkan pedangnya dengan cepat sehingga hampir saja pundak Ceng Ceng terbabat pedang kalau dia tidak cepat melempar tubuh ke bela-kang.

"Ceng Ceng mundurlah....!"

Topeng Setan berteriak karena dia khawatir akan kesehatan dara itu yang belum sembuh benar.

Pada saat itu, dari dalam warung meloncat seorang kakek berambut putih yang langsung menyerang Ketua Lembah Bunga Hitam tanpa mengeluarkan kata-kata.

Serangannya cepat dan berat, akan tetapi pukulannya dapat ditangkis oleh Hek-hwa Lo-kwi dan kini pertandingan menjadi makin ramai.

Ceng Ceng yang maklum bahwa luka di dalam tubuhnya bisa menjadi makin parah kalau dia mengerahkan tenaga, kini meloncat mundur dan menonton dengan penuh kekhawatiran karena biarpun dibantu oleh kakek berambut putih itu masih terdesak hebat, apalagi ketika dua orang datuk itu mulai mengeluarkan pukulan-pukulan beracun.

Tiba-tiba Mauw Siauw Mo-li yang tadinya membantu suhengnya mendesak Topeng Setan, membalik dan pedangnya menyerang kakek rambut putih.

Wanita ini memang cerdik sekali.

Dia segera tahu bahwa di antara dua orang lawan itu, yang amat tinggi ilmunya adalah Topeng Setan, maka sebaiknya kalau lebih dulu merobohkan kakek rambut putih yang lebih penting dan tidak begitu kuat, apalagi yang mencuri kitab adalah kakek rambut putih itu.

Pada saat itu, kakek rambut putih sedang terdesak hebat oleh Hek-hwa Lo-kwi, maka ketika Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui membalik dan menyerang, dia tidak mampu mengelak dan lambungnya tertusuk pedang!

Melihat ini Topeng Setan mengeluarkan gerengan dahsyat yang menggetarkan tiga orang lawannya, kemudian sambil merangkul pinggang kakek rambut putih yang terluka parah itu, dia melayani serangan tiga orang dengan tangkisan lengan dan ujung lengan bajunya.

Tentu saja dia menjadi repot sekali dan melihat ini Ceng Ceng juga tidak mau tinggal diam saja, terus dia terjun dan menyerang kalang-kabut untuk membantu Topeng Setan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi Topeng Setan, Ceng Ceng dan kakek berambut putih itu, tiba-tiba dari dalam warung muncul seorang nenek tua yang berkulit hitam, diiringkan oleh beberapa orang suku liar.

Mereka agaknya memasuki warung itu dari pintu belakang karena tidak ada orang melihat mereka tadi masuk.

"Heh-heh-heh, Siluman Kucing, kiranya engkau di sini!"

Melihat munculnya nenek yang dikenalnya sebagai guru Raja Tambolon yang luar biasa lihainya itu, Hong Kui menjadi terkejut dan dia mengkhawatirkan kekasihnya yang sejak tadi belum juga muncul.

"Kian Buuuu....!"

Dia memekik sambil meloncat keluar dari gelanggang pertempuran, lalu melarikan diri sambil mencari kekasihnya.

"Heh-heh-heh, kalian manusia-manusia gila, saling perang sendiri tidak karuan. Heh-heh-heh....!"

Pada saat itu, orang-orang Pulau Neraka dan Lembah Bunga Hitam yang melakukan pengejaran sudah tiba di situ dan melihat nenek itu melambai-lambai lengan bajunya yang hitam, mereka itu saling serang sendiri dengan mati-matian!

Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi menjadi bengong dan mereka berusaha untuk melerai orang-orangnya yang saling gempur karena terpengaruh oleh sihir nenek hitam itu!

Adapun nenek itu yang bukan lain adalah Durgagini, sambil terkekeh lalu mengejar Hong Kwi yang sudah melarikan diri.

Dua orang datuk lihai itu hanya bingung saja, tidak sampai terpengaruh hebat oleh sihir Si Nenek Hitam, akan tetapi mereka hanya sadar bahwa tidak semestinya mereka saling serang, hanya mereka seolah-olah pada saat itu terlupa akan kakek berambut putih yang telah mencuri kitab mereka.

Topeng Setan yang melihat kesempatan baik ini, cepat memanggul tubuh kakek berambut putih yang sudah pingsan, dan menyambar lengan Ceng Ceng terus saja dia membawa gadis itu melarikan diri secepat mungkin meninggalkan tempat yang berbahaya itu.

Sebaiknya kita tinggalkan dulu Ceng Ceng yang dibawa "terbang"

Oleh Topeng Setan yang memondong tubuh kakek berambut putih yang terluka parah itu, dan mari kita mengikuti perjalanan Puteri Milana bersama Puteri Syanti Dewi karena sudah terlalu lama kita tinggalkan mereka.

Seperti telah diceritakan di bagian yang lalu, dengan hati hancur Puteri Milana terpaksa meninggalkan istananya dan juga jenazah suaminya karena dia tahu bahwa pasukan pengawal diperintahkan datang dan dipimpin oleh Perdana Menteri Su sendiri untuk menangkapnya.

Setelah menyelinap dan meloncat pergi melalui pintu belakang istananya, puteri yang baru saja kematian suaminya ini menahan semua perasaan marahnya, lalu menggunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi untuk mencuri masuk ke dalam istana Kaisar dan langsung dia menuju ke bagian puteri dan memasuki kamar Puteri Syanti Dewi yang malam itu masih duduk termenung di atas pem-baringannya.

Puteri Bhutan ini terkejut sekali melihat bayangan berkelebat dari jendela dan tahu-tahu dia melihat Puteri Milana sudah berdiri di dalam kamarnya.

"Bibi Puteri Milana....!"

Tegurnya girang, akan tetapi dia khawatir melihat kedua pipi yang halus itu pucat dan basah air mata.

"Bibi.... apa yang terjadi....?"

Tegurnya sambil memegang kedua lengan puteri perkasa itu.

"Lekas berkemas, kau ikut aku pergi dari sini sekarang juga."

Tentu saja Syanti Dewi menjadi girang bukan main karena memang berita inilah yang dinanti-nantinya.

Diam-diam dia merasa terharu karena dia menduga bahwa tentu Kian Bu yang mengusahakan ini semua.

Dia merasa terharu betapa dia telah membikin pemuda itu patah hati, namun pemuda yang gagah perkasa itu masih juga menyampaikan kepada Puteri Milana sehingga dia sekarang akan dibebaskan dari tempat ini.

Cepat dia berkemas dan karena dia seorang puteri sejati, yang disebut berkemas ini malah menanggalkan pakaian indah yang diterimanya dari Kaisar dan dia mengenakan pakaian sendiri yang lama, juga dia menanggalkan semua perhiasan.

Melihat ini Puteri Milana diam-diam merasa kagum dan menjadi makin suka kepada Puteri Bhutan ini.

Puteri Syanti Dewi memejam-kan matanya ketika dia dipondong dan dibawa meloncat ke atas genteng, kemudian berlarian dan berlompatan dengan cepat sekali.

Dia merasa ngeri dan juga amat kagum.

Baru sekarang dia memperoleh kenyataan bahwa Puteri Milana, selain cantik jelita dan agung ternyata juga merupakan pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi.

Memang pantaslah kalau pendekar sakti Gak Bun Beng menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang wanita seperti ini!

Setelah mereka keluar dari daerah istana kaisar, barulah Puteri Milana melompat turun dan menurunkan Syanti Dewi dari pondongannya.

"Sekarang kita harus pergi keluar dari kota raja, Syanti Dewi."

"Eh, mengapa begitu? Mengapa tidak ke istana Bibi?"

"Hemm, engkau tidak tahu apa yang telah terjadi. Baiklah, kau dengarkan apa yang telah terjadi dengan keluargaku."

Dengan singkat Milana lalu menceritakan bagaimana suaminya, Han Wi Kong, melakukan pembunuhan terhadap dalang pemberontak yaitu Pangeran Liong Bin Ong karena suaminya penasaran melihat bahwa Kaisar tidak mau percaya bahwa pangeran tua inilah yang menjadi biang keladi pemberontakan.

Dan biarpun suaminya telah berhasil membunuh pangeran pemberontak, namun suaminya sendiri tewas oleh pengeroyokan pengawal.

"Nah, karena itu aku harus pula pergi, Syanti, karena kalau tidak aku tentu akan ditangkap sebagai isteri seorang yang tentu dianggap berdosa."

Ucapan ini memancing keluarnya dua buah air mata di atas pipi Milana yang pucat itu.

"Ahhh.... Bibi....!"

Syanti Dewi memeluk Milana sambil menangis.

Dua orang wanita itu berpelukan dan tidak mengucapkan sepatah pun kata.

Agaknya di dalam detik itu perasaan dan suara hati mereka sama, yaitu keduanya teringat kepada Gak Bun Beng berhubung dengan adanya peristiwa kematian suami Puteri Milana itu.

Tak lama kemudian, Syanti Dewi yang terlalu halus perasaannya untuk menyinggung nama Gak Bun Beng pada saat seperti itu, bertanya.

"Sekarang ke mana Bibi hendak membawa saya?"

Milana menarik napas panjang.

"Aku sendiri belum tahu ke mana aku harus membawamu, yang jelas kita harus keluar dari kota raja karena kita menjadi orang-orang pelarian. Akan tetapi sebelum kita meninggalkan kota raja untuk selamanya, aku ingin sekali lagi lewat di depan rumahku dan menengoknya."

Syanti Dewi dapat memaklumi perasaan hati puteri perkasa itu, apalagi karena jenazah suami puteri ini masih berada di dalam istana dan puteri ini tidak dapat mengurus sendiri pemakaman jenazah suaminya.

Mereka lalu berjalan melalui tempat-tempat gelap dan menuju ke istana Puteri Milana yang sudah sunyi.

Akan tetapi ternyata istana itu dijaga ketat dan tak terasa lagi air mata mengalir di sepanjang pipi Milana ketika dia mendengar suara para pendeta membaca liam-keng, berdoa untuk jenazah suaminya yang berada di dalam istananya.

Diam-diam dia merasa bersyukur dan maklum bahwa Perdana Menteri Su, sahabatnya yang baik itu, telah memenuhi permintaannya yang di tulisnya di atas tembok dan telah mengurus jenazah Han Wi Kong dengan baik-baik.

"Mari kita pergi,"

Katanya kemudian kepada Syanti Dewi yang juga memandang ke arah istana itu dengan hati terharu.

Tak disangkanya sama sekali bahwa seorang puteri besar seperti Milana ini sampai tertimpa malapetaka yang demikian hebatnya.

Kesengsaraan yang dideritanya sendiri semenjak dia meninggalkan istana ayahnya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan malapetaka yang dialami oleh Puteri Milana.

Milana yang berpemandangan tajam sekali, biarpun dalam keadaan berduka, masih dapat melihat berkelebatnya bayangan orang yang mengikuti mereka berdua dari jauh.

Dia tidak merasa takut, akan tetapi juga tidak peduli dan dia menggandeng tangan Syanti Dewi, diajaknya menuju ke benteng sebelah utara karena dia mempunyai hasrat untuk pergi mengunjungi orang tuanya di Pulau Es dan jalan terdekat adalah melalui pintu gerbang utara.

Para pembesar militer di istana semua adalah sahabat Milana, dan mereka amat menghormat dan kagum kepada puteri ini, maka peristiwa yang terjadi di istana Pangeran Liong Bian Ong itu di-rahasiakan oleh mereka sehingga belum tersiar luas.

Oleh karena itu, ketika Milana dan Syanti Dewi tiba di pintu gerbang utara, para penjaga yang mengenal Puteri Milana menjadi terkejut dan tentu saja dengan sikap hormat dan girang mereka membukakan pintu untuk puteri yang terkenal dan yang mereka hormati itu sehingga mudah saja bagi Milana dan Syanti Dewi untuk keluar dari kota raja di waktu yang sudah amat larut lewat tengah malam itu.

Setelah agak jauh meninggalkan pintu gerbang itu dan mereka berdua berhenti di tempat peristirahatan di pinggir jalan untuk melewatkan malam gelap, kembali Milana melihat berkelebatnya bayangan tadi.

Diam-diam dia menjadi penasaran, akan tetapi karena bayangan itu tidak melakukan sesuatu, dia pun hanya berjaga-jaga saja dan menyuruh Syanti Dewi untuk mengaso.

Malam lewat dengan cepatnya dan setelah matahari mengusir sisa kegelapan malam dan Milana hendak mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari jauh.

"Adik Milana, tunggu dulu....!"

Milana terkejut dan merasa heran sekali.

Dia berdiri di depan Syanti Dewi, melindungi dara itu dan matanya tajam menatap wanita yang berlari mendatangi dengan cepat.

Dia tahu bahwa wanita inilah yang sejak malam tadi membayanginya dari kota raja, atau lebih tepat mulai dari depan istananya.

Kini wanita itu telah tiba di depannya.

Milana tidak mengenalnya dan dia memandang penuh selidik.

Seorang wanita yang cantik dan bertubuh ramping sungguhpun usianya sudah sebaya dengan dia, sudah tiga puluh tahun lebih.

Sikapnya gagah dan dari sepatu dan pakaiannya yang kusut berdebu Milana dapat menduga bahwa wanita itu telah melakukan perjalanan jauh, seorang wanita kang-ouw yang kelihatannya tentu memiliki kegagahan.

Sebatang pedang tergantung di punggungnya.

Wanita itu pun memandang Milana dengan sinar mata penuh selidik, akan tetapi agaknya dia tidak ragu-ragu lagi dan mengenal puteri itu.

"Adik Milana, girang sekali hatiku dapat bertemu denganmu di sini. Tadinya aku sudah merasa heran dan ragu mengapa engkau meninggalkan rumahmu seperti orang yang sedang melarikan diri."

Wanita itu berkata.

"Maaf,"

Milana menjawab dengan hati-hati.

"Aku tidak ingat lagi siapakah engkau?"

"Ah, Adik Milana, benarkah engkau sudah lupa kepadaku? Kita adalah orang-orang senasib sependeritaan. Lupakah engkau betapa engkau dahulu bersama aku dan Lu Kim Bwee mengeroyok seorang musuh besar kita?"

"Lu Kim Bwee....? Aihh, engkau Ang Siok Bi....!"

Milana berseru kaget dan kini dia mengenal wanita yang baru satu kali dijumpainya dahulu, belasan tahun yang lalu ketika dia bersama wanita ini dan Lu Kim Bwee (ibu Ceng Ceng) mengeroyok Gak Bun Beng yang mereka anggap sebagai orang jahat yang telah memperkosa dua orang wanita itu(baca cerita Sepasang Pedang Iblis) .

Akan tetapi dia teringat akan Ang Tek Hoat yang tentu adalah putera wanita ini, maka dengan pandang mata tajam Milana lalu bertanya.

"Ada keperluan apakah engkau sejak di kota raja semalam?"

"Maaf, Adik Milana, karena aku masih ragu-ragu maka aku membayangimu dan baru pagi ini aku berani memanggilmu. Aku sengaja mencarimu di kota raja setelah aku mendengar bahwa engkau telah meninggalkan Teng-bun kembali ke kota raja."

"Ah, engkau mencariku, Enci Siok Bi? Ada keperluan apakah?"

"Adik Milana, aku ingin minta tolong kepadamu, demi persahabatan dan persamaan nasib kita belasan tahun yang lalu.... aku mendengar bahwa engkau telah menawan seorang bernama Ang Tek Hoat...."

"Hemm, apamukah pemuda itu?"

"Dia itu puteraku. Ah, aku sudah mendengar bahwa dia tersesat.... bahwa dia telah membantu pemberontak.... akan tetapi demi perkenalan kita.... kuharap engkau suka mengasihaninya dan suka mengusahakan agar dia diampuni dan dibebaskan."

Tiba-tiba Ang Siok Bi, ibu yang merasa amat khawatir akan keselamatan puteranya itu, telah menjatuhkan dirinya di depan Milana, berlutut sambil menangis!

Milana cepat memegang kedua pundak wanita itu dan mengangkat bangun.

"Jangan begitu, Enci Siok Bi. Bangkitlah dan mari kita duduk dan bicara tentang puteramu itu."

Dengan penuh harapan Ang Siok Bi bangkit berdiri lalu mengikuti Milana untuk duduk berhadapan di dalam tempat peristirahatan di tepi jalan itu, sedangkan Syanti Dewi hanya mendengarkan dari samping.

Puteri Bhutan itu ikut merasa terharu karena dia tahu siapa adanya Ang Tek Hoat, yaitu pemuda tampan dan gagah perkasa yang telah menyelamatkan dia dari tangan Pangeran Liong Khi Ong, pemuda perkasa yang mengorbankan diri demi untuk menyelamatkannya itu.

Pemuda yang tak mungkin dapat dia lupakan selamanya.

Dan wanita cantik dan gagah ini adalah ibunya!

Maka tentu saja dia ingin sekali mengetahui kelanjutan pertemuan yang amat menarik dari dua orang wanita cantik yang agaknya sudah sejak dahulu saling mengenal itu.

"Jadi Ang Tek Hoat itu adalah puteramu, Enci Siok Bi? Bolehkah aku bertanya kepadamu, siapakah ayahnya?"

Pertanyaan ini diajukan secara langsung dan Milana memandang tajam penuh selidik sehingga Ang Siok Bi merasa terkejut sekali, merasa seolah-olah menghadapi serangan tusukan pedang yang langsung mengarah ulu hatinya.

"Adik Milana! Mengapa engkau menanyakan hal itu? Apa hubungannya denganmu?"

"Hubungannya banyak sekali dan aku baru akan suka menolong puteramu apabila engkau mengaku terus terang siapa ayahnya."

"Betapa aneh pertanyaanmu ini! Mengapa engkau harus bertanya lagi seolah-olah engkau tidak tahu apa yang telah terjadi dan menimpa diriku, Adik Milana? Siapa lagi ayahnya kalau bukan si jahanam Gak Bun Beng itu?"

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Syanti Dewi mendengar ucapan ini, wajahnya menjadi pucat seketika akan tetapi dia tidak mau mengeluarkan suara, hanya memandang wanita itu dengan tajam dan mendengar penuh perhatian.

Milana mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

"Sudah kuduga demikian.... dan engkau tentu menceritakan kepada puteramu itu bahwa orang yang bernama Gak Bun Beng adalah musuh besarmu, bukan?"

"Adik Milana, bagaimana engkau masih juga bertanya begitu? Bukankah sudah jelas bagimu bahwa jahanam Gak Bun Beng itu...."

"Enci Siok Bi!"

Tiba-tiba Milana membentak dengan suara keras karena hatinya marah mendengar nama Gak Bun Beng dimaki orang.

"Kau datang untuk minta tolong padaku tentang Ang Tek Hoat. Nah, ceritakan saja jangan banyak membantah. Apa yang telah kau pesankan kepada anakmu Ang Tek Hoat itu dan yang telah kau ceritakan tentang ayahnya dan tentang Gak Bun Beng?"

Siok Bi memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi karena dia ingin sekali agar puteranya dapat selamat, biarpun hatinya penuh rasa penasaran, dia menjawab juga sejujurnya.

"Aku.... aku mengatakan kepadanya bahwa ayahnya adalah.... Ang Thian Pa...."

"Hemm, pantas dia memakai she Ang, kiranya begitu. Ang Thian Pa adalah nama Ang Lojin ayahmu, bukan?"

Siok Bi mengangguk.

"Dan aku katakan bahwa ayahnya itu terbunuh oleh Gak Bun Beng, akan tetapi bahwa jahanam itu telah terbunuh pula olehku. Apa salahnya dengan keterangan itu?"

Milana menggeleng kepada dan menarik napas panjang.

"Pantas kalau begitu.... aihh, sungguh kasihan sekali Gak-suheng....! Enci Siok Bi, jadi sampai detik ini pun engkau masih mengira bahwa puteramu itu adalah keturunan dari Gak Bun Beng, begitukah?"

"Tentu saja! Habis mengapa?"

"Engkau telah keliru, Enci! Kita semua telah keliru pada waktu itu, belasan tahun yang lalu. Engkau, aku, dan Enci Kim Bwee telah tertipu dan kasihan sekali Suheng Gak Bun Beng yang tidak berdosa sedikitpun juga. Ketahuilah, Enci, yang melakukan perbuatan terkutuk atas dirimu dan diri Enci Kim Bwee dahulu itu sama sekali bukan Suheng Gak Bun Beng...."

"Ahhh....!"

Wajah Siok Bi menjadi pucat.

Biarpun dia tidak pernah mau menyangkalnya, akan tetapi melihat wajah puteranya dia sudah merasa heran sekali karena biarpun puteranya itu tampan akan tetapi sedikitpun juga tidak ada miripnya dengan wajah Gak Bun Beng!

"Apa....

apa maksudmu....?"

"Maksudku adalah bahwa belasan tahun yang lalu itu kita semua salah duga. Ada orang yang menjatuhkan fitnah atas diri Gak-suheng, yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat dengan menggunakan nama Gak-suheng dan orang itulah yang telah melakukan perbuatan terkutuk terhadap dirimu dan diri Enci Kim Bwee. Coba kau ingat baik-baik ketika peristiwa terkutuk itu terjadi, apakah engkau melihat wajahnya?"

Siok Bi menjadi pucat sekali, mengenangkan peristiwa itu, ketika pada malam hari di dalam kamar dia dipaksa dan diperkosa oleh Gak Bun Beng, di tempat gelap, dan dia hanya tahu bahwa laki-laki itu Gak Bun Beng karena laki-laki itu mengaku demikian, dan dia percaya pula kepada laki-laki tampan yang mengaku sebagai sahabat Gak Bun Beng....

ah, hampir dia menjerit.

Kini dia teringat akan wajah sahabat dari Gak Bun Beng itu dan wajah puteranya mirip orang itu!

"Kita semua telah tertipu.

Bukan Gak Bun Beng yang melakukan perbuatan terkutuk itu, Enci, melainkan orang itulah, dan orang itu pula yang menjadi ayah kandung dari puteramu Tek Hoat."

Dengan mata terbelalak dan muka pucat Ang Siok Bi memandang Milana dan berkata dengan suara gemetar dan tergagap.

"Bagaimana.... bagaimana aku dapat percaya ceritanya ini....? Setelah belasan tahun aku percaya demikian.... bagaimana aku bisa tahu bahwa ceritamu ini benar, Adik Milana?"

"Engkau harus percaya kepadaku, Enci Siok Bi. Harus, kataku! Aku sendiri pun menjadi korban tipuan orang itu, sungguhpun tidak sampai tertimpa malapetaka seperti engkau dan Enci Kim Bwee, akan tetapi aku pun dahulu percaya bahwa Gak-suheng adalah seorang yang amat jahat dan melakukan perbuatan terkutuk. Oleh karena itulah maka aku dahulu suka bekerja sama dengan engkau dan Enci Kim Bwee untuk mengeroyok Gak-suheng sampai dia terjungkal ke dalam jurang dan engkau mengira bahwa dia telah mati. Sayang bahwa sejak itu aku tidak dapat bertemu lagi dengan engkau atau Enci Kim Bwee sehingga mengaki-batkan hal yang berlarut-larut sampai sekarang. Akan tetapi ketahuilah, orang yang melakukan perbuatan keji itu masih.... anggauta keluargaku sendiri dan.... dan dia telah mengakui segalanya di depanku dan di depan ayah ibuku sendiri. Dia adalah Wan Keng In, putera dari ibu tiriku di Pulau Es...."

"Ya Tuhan....!"

Siok Bi mengeluh panjang.

"Dan di mana keparat itu...."

"Dia sudah tewas, Enci. Dia sudah tewas menebus dosa-dosanya. Puteramu itu she Wan, tidak salah lagi. Wajahnya persis wajah ayah kandungnya itu...."

"Dan kita dahulu telah membunuh Gak Bun Beng....!"

"Tidak, Enci Siok Bi. Dan inilah celakanya. Puteramu masih belum tahu dan kini dia hanya tahu bahwa Gak Bun Beng masih hidup maka dia bertekad untuk mencarinya dan membunuhnya sebagai musuh besar. Dahulu, ketika kita mengira Gak-suheng yang tergelincir ke dalam jurang itu mati, sebetulnya dia masih hidup dan sekarang, puteramu itu tentu akan terus memusuhinya."

Milana berhenti sebentar.

"Sungguh kasihan Gak-suheng.... dahulu Wan Keng In yang memburukkan namanya, sekarang.... puteranya juga melakukan perbuatan-perbuatan jahat dengan menggunakan namanya."

"Ahhhh....! Apakah anakku telah menjadi manusia sejahat itu? Anakku telah menjadi seorang manusia yang menyeleweng dan jahat, Adik Milana?"

Siok Bi bertanya dengan suaranya mengandung rintihan batin tertekan.

"Tidak! Tek Hoat sama sekali bukanlah manusia jahat!"

Tiba-tiba Syanti Dewi berkata dengan suara tegas.

"Kalau dia sampai melakukan suatu penyelewengan sebelumnya, hal itu tentu adalah pengaruh dari keadaannya dan bekal yang dia bawa dari cerita ibunya. Dia bukan seorang manusia jahat dan patut dikasihani."

Siok Bi menoleh dan memandang dara yang cantik jelita itu dengan heran.

"Siapakah dia ini, Adik Milana?"

"Dia adalah Puteri Bhutan, bernama Syanti Dewi. Dia telah diselamatkan oleh puteramu itu dan agaknya apa yang dikatakannya itu mendekati kebenaran. Puteramu itu telah melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan mempergunakan nama Gak-suheng yang disangkanya sudah mati dan disangka musuh besar pembunuh ayahnya maka hendak dicemarkan nama musuh besar yang tidak dapat dibalasnya lagi karena disangkanya sudah mati itu. Dia lalu tersesat membantu pemberontakan. Tentu saja dosanya amat besar sekali dan dia selayaknya di jatuhi hukuman berat. Akan tetapi pada akhir pemberontakan, dia telah membuat jasa besar, membunuh pangeran pemberontak Liong Khi Ong dan tiga orang kaki tangannya, mengorbankan diri sendiri sampai terluka demi menyelamatkan Puteri Bhutan ini. Karena jasanya itulah maka dia telah kubebaskan, dan celakanya, setelah dia mendengar bahwa Gak-suheng masih hidup, dia bertekad untuk mencarinya dan membalas dendamnya."

"Ahhhh....!"

Siok Bi berseru kaget.

"Hal itu harus dicegah! Di mana dia sekarang, Adik Milana? Dia harus dicegah memusuhi Gak-taihiap.... selain beliau bukan musuh kami.... juga mana mungkin anakku mampu menandinginya?"

"Agaknya engkau tidak tahu. Puteramu itu telah menjadi orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, Enci Siok Bi. Dia telah dibebaskan dan aku tidak tahu ke mana dia pergi. Memang hanya engkaulah yang dapat mencegahnya dan menceritakan keadaan sebenarnya dari riwayat kalian ibu dan anak. Mungkin dia masih berada di kota raja."

"Kalau begitu aku akan mencarinya sekarang juga!"

Siok Bi berteriak, lalu lari meninggalkan dua orang puteri itu menuju ke kota raja. Milana menarik napas panjang dan Syanti Dewi berkata halus.

"Agaknya belasan tahun yang lalu telah terjadi hal-hal yang amat hebat menimpa dirimu dan diri Paman Gak, Bibi."

Milana menarik napas panjang.

"Kami semua telah melakukan dosa besar sekali terhadap Gak-suheng, dan dia semenjak dahulu sampai saat ini pun merupakan seorang manusia yang amat mulia, gagah perkasa dan hebat...."

Puteri ini menengadah, termenung karena teringat akan sikap Gak Bun Beng yang meninggalkannya, kemudian dia teringat pula akan surat peninggalan suaminya.

Jari tangannya meraba surat suaminya yang ditujukan kepada Bun Beng dan diam-diam dia meragu apakah dia akan dapat berjumpa lagi dengan satu-satunya pria yang di-kasihinya itu.

"Sekarang kita hendak pergi ke mana, Bibi?"

Syanti Dewi yang maklum akan kedukaan yang menyelimuti wajah puteri itu, memecahkan kesunyian dan menarik kembali Milana dari lamunannya.

"Ke mana....? Ahh, aku sendiri menjadi bingung memikirkan keadaanmu, Syanti. Sebaiknya kalau engkau kembali ke Bhutan. Akan tetapi semua orang telah pergi.... aku pun sekarang seorang diri. Sebetulnya aku ingin kembali ke Pulau Es, ke tempat tinggal ayah bundaku, akan tetapi engkau...."

"Bibi Milana, kalau begitu biarlah aku melakukan perjalanan sendiri ke barat. Aku pun bukan seorang yang lemah dan aku berani untuk pulang seorang diri ke Bhutan. Aku tidak mau membikin repot padamu, Bibi...."

"Hemm, jangan berkata demikian, Syanti Dewi. Aku yang telah melarikan engkau dari istana, dan akulah yang bertanggung jawab atas keselamatanmu. Tidak, aku harus mencari jalan sebaiknya agar engkau dapat diantar ke Bhutan dengan selamat."

Selagi Syanti Dewi hendak membantah, tiba-tiba dari arah kota raja tampak serombongan pasukan berkuda mendatangi.

Milana memandang dengan alis berkerut.

"Apakah mereka hendak menggunakan kekerasan?"

Dia mengomel dan mengepal tinjunya, sedangkan Syanti Dewi memandang dengan khawatir.

Dia mengkhawatirkan diri Milana karena tahu bahwa puteri itu mengalami hal yang amat hebat dan bisa dianggap sebagai pemberontak atau orang buruan istana.

Akan tetapi ketika pasukan yang terdiri dari dua losin perajurit itu tiba dekat, mereka melihat bahwa pasukan itu mengawal seorang jenderal yang tinggi besar dan gagah, yang bukan lain adalah Jenderal Kao Liang.

"Gi-hu....!"

Syanti Dewi berseru girang memanggil ayah angkatnya itu dan jenderal itu melompat turun dan cepat me-megang kedua pundak Syanti Dewi dengan sinar mata berseri.

"Syukurlah.... aku sudah menduga bahwa engkau tentu telah diselamat-kan!"

Sementara itu Milana melangkah dekat dan berkata dengan suara dingin.

"Jenderal Kao, apakah engkau mengejar untuk menangkap aku?"

Jenderal itu menarik napas panjang dan memberi hormat kepada Puteri Milana. Suaranya terdengar penuh penyesalan.

"Sampai mati pun tidak ada yang dapat memaksa saya untuk menangkap Paduka. Saya telah mendengar akan semua peristiwa di kota raja dan saya ikut menyatakan berdukacita atas malapetaka yang menimpa keluarga dan diri Paduka. Ketika saya mendengar dari para penjaga bahwa Paduka bersama seorang dara cantik keluar dari gerbang malam tadi, saya sudah menduga bahwa tentu Syanti Dewi Paduka selamatkan. Sekarang saya menyusul untuk menawarkan bantuan, barangkali ada sesuatu yang saya dapat lakukan untuk membantu Paduka."

"Jenderal Kao, aku adalah seorang yang hidup sebatang kara di kota raja, dan aku tidak membutuhkan bantuan apa-apa. Hanya kebetulan sekali engkau datang karena aku bingung memikirkan Syanti Dewi. Dia harus diantar kembali ke Bhutan."

"Jangan khawatir, biar para pengawalku ini yang mengantarnya sampai ke Bhutan dengan selamat."

Jenderal itu lalu menghadapi Syanti Dewi.

"Dewi, apakah engkau ingin kembali ke Bhutan?"

Puteri itu mengangguk.

"Kehadiranku di sini hanya menimbulkan keributan saja, Gi-hu. Sebaiknya kalau aku pulang saja ke Bhutan dan sebetulnya aku sudah memberi tahu kepada Bibi Milana bahwa aku berani pulang sendirian, tidak perlu dikawal...."

"Ah, mana mungkin? Jangan kau khawatir, biarpun aku terikat oleh tugasku dan tidak dapat mengan-tar sendiri, dua losin pengawalku ini akan mengawalmu sampai ke Bhutan. Kalau saja tidak ada peristiwa engkau hendak dinikahkan dan engkau melarikan diri dari istana, tentu bisa menanti sampai aku sempat mengantarmu sendiri. Akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, engkau akan dianggap sebagai seorang pelarian. Nah, biar pasukanku mengawalmu. Sebelum ada pengejaran dari kota raja, sebaiknya engkau berangkat sekarang, anakku. Kau pakailah kudaku ini."

Syanti Dewi merasa terharu dan dia memeluk ayah angkatnya, menghaturkan terima kasih dan selamat tinggal.

Kemudian dia pun memeluk puteri Milana dan berbisik di dekat telinganya.

"Bibi.... jangan biarkan Paman Gak merana...."

Dan sambil terisak dia lalu melompat ke atas kudanya lalu membalapkan kuda itu, diiringkan oleh dua losin pengawal yang sudah menerima pesan dari Jenderal Kao diiringkan oleh pandang mata Milana yang berlinang air mata dan pandang mata Jenderal Kao yang merasa kehilangan.

Dua orang gagah ini pun lalu saling berpisah, Milana melanjutkan perjalanan ke utara sedangkan Jenderal Kao Liang kembali ke kota raja.

Dengan kecepatan seperti terbang, Topeng Setan memanggul tubuh kakek berambut putih dan menggandeng tangan Ceng Ceng melarikan diri dari tempat berbahaya itu dan akhirnya, setelah mendaki sebuah bukit, dia memasuki sebuah kuil yang tua dan rusak, kuil yang terpencil di lereng bukit itu, di daerah yang sunyi sekali.

Ketika dia menurunkan tubuh kakek itu dari pondongannya, dia terkejut melihat keadaan kakek itu yang amat payah.

Pedang yang menusuk lambungnya itu melukai bagian penting di dalam tubuhnya dan pedang itu mengandung racun pula.

"Ahh, bukankah dia ini pelayan Istana Gurun Pasir?"

Tiba-tiba Ceng Ceng berseru ketika dia mengenal muka kakek itu.

"Benar, dia adalah Louw Ki Sun.... aku pernah bertemu dengan dia....!"

Ceng Ceng berseru lagi. Akan tetapi Topeng Setan yang memeriksa luka itu segera berkata.

"Ceng Ceng, harap engkau suka membantu. Carikanlah air yang jernih.... dia memerlukannya...."

Suara Topeng Setan penuh permohonan dan terdengar agak tergetar sehingga Ceng Ceng tidak banyak cakap lagi lalu mengangguk dan berlari keluar dari kuil.

Tidak mudah baginya mencari air di tempat yang tidak dikenalnya itu dan sampai beberapa lamanya barulah akhirnya dia berhasil mendapatkan air yang diisikan di sebuah guci yang tadi dibawanya dari Topeng Setan.

Cepat dia berlari kembali ke kuil itu.

Akan tetapi ketika dia memasuki ruangan di mana Topeng Setan tadi merebahkan tubuh kakek tua di atas lantai, dia terkejut sekali melihat Topeng Setan duduk termenung menyandarkan tubuhnya pada dinding rusak itu dan kedua pipi muka bertopeng buruk itu basah oleh air mata.

Topeng Setan menangis!

Ceng Ceng terkejut dan terheran-heran.

Selama dia mengenal Topeng Setan, orang tua ini adalah seorang yang jantan, berkepandaian tinggi, aneh dan agaknya tidak pernah dipengaruhi oleh perasaan.

Akan tetapi mengapa sekarang menangis.

"Paman, kau.... kau.... menangis?"

Topeng Setan tidak menjawab, hanya menggunakan tangan menghapus sisa air mata di atas pipi topengnya itu, dan dengan anggukan kepala dia menunjuk ke arah kakek berambut putih yang rebah telentang di atas lantai.

Ceng Ceng memandang dan tahulah dia bahwa kakek Louw Ki Sun itu telah tewas.

"Ah, dia telah mati?"

Tanyanya sambil berlutut dan memandang ke arah jenazah kakek itu. Topeng Setan mengangguk.

"Dia tewas karena membantu aku melawan orang-orang lihai tadi. Dia mati karena membantuku, Ceng Ceng."

Diam-diam hati Ceng Ceng terharu dan juga kagum.

Orang tua bertopeng ini selain gagah perkasa dan lihai, juga ternyata memiliki watak ingat budi sehingga kematian kakek yang membantunya itu membuat hatinya berduka.

Maka dia pun tidak banyak bicara lagi dan ikut bersembahyang memberi hormat ketika jenazah itu dikubur di depan kuil tua dan Topeng Setan melakukan upacara sembahyang secara sederhana sekali karena tidak terdapat alat-alatnya.

Mereka hanya berlutut di depan gundukan tanah, tepekur dan mengheningkan cipta.

Kemudian Topeng Setan mengajak Ceng Ceng melanjutkan perjalanan menuju ke Telaga Sungari.

Bulan muda telah mulai nampak di waktu malam dan pada malam bulan purnama, beberapa hari lagi, mereka harus sudah berada di telaga itu untuk mencoba peruntungan mereka, yaitu berusaha menangkap anak naga yang akan dipergunakan sebagai obat bagi Ceng Ceng.

Makin dekat dengan Telaga Sungai, makin teganglah hati Ceng Ceng.

Apalagi setelah dia mulai melihat berkelebatnya bayangan orang-orang aneh yang melakukan perjalanan menuju ke arah yang sama.

Rombongan-rombongan orang yang pakaiannya aneh-aneh, yang sikapnya ganjil dan luat biasa, melakukan perjalanan tanpa bicara seperti serombongan orang yang hendak berziarah ke tempat suci!

"Mereka adalah orang-orang pandai yang agaknya juga hendak pergi ke telaga itu,"

Topeng Setan berkata lirih ketika melihat keheranan Ceng Ceng.

"Sebaiknya kita jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan keributan dengan mereka sebelum kita tiba di tempat tujuan."

Ceng Ceng mengangguk dan timbul keraguan di dalam hatinya.

Bagaimana mungkin dia dan Topeng Setan akan dapat ber-hasil memperoleh anak naga atau anak ular itu?

Demikian banyaknya orang lihai yang menghendaki binatang keramat itu.

Dia sekarang menduga bahwa orang-orang lihai, datuk-datuk kaum sesat yang dilihatnya di jalan, seperti rombongan Tambolon, orang-orang Lembah Bunga Hitam, orang-orang Pulau Neraka, lalu Kakek Louw Ki Sun yang tewas itu, kiranya tentu semua juga bermaksud pergi ke Telaga Sungari untuk kepentingan yang sama pula.

Kemudian orang-orang aneh yang makin banyak menuju ke telaga ini!

Akhirnya, beberapa hari kemudian, tibalah mereka di pinggir sebuah telaga yang amat luas.

Dan tepat seperti yang telah diduga oleh Ceng Ceng, dia melihat banyak sekali orang-orang di pinggir telaga, bahkan ada pula yang sudah berperahu hilir mudik di atas permukaan air telaga yang biru seperti air laut saking dalamnya itu.

Telaga itu luas sekali sehingga pantai di seberangnya tidak nampak.

Karena luasnya telaga maka biarpun di tepi telaga berkumpul banyak orang dan ada belasan buah perahu di tengahnya, akan tetapi tempat itu masih kelihatan sepi.

Para nelayan tidak ada yang berani mencari ikan karena setiap bulan purnama, sering kali terdapat badai dan angin besar melanda telaga itu, apalagi terang bulan di musim semi ini yang dikaitkan dengan dongeng rakyat tentang munculnya naga siluman!

Akan tetapi sekali ini para nelayan di daerah itu tidak menjadi rugi, bahkan memperoleh keuntungan besar karena banyak datang orang-orang yang katanya hendak "pesiar"

Di Telaga Sungari dan menyewa perahu mereka.

Mereka itu demikian royal sehingga berani menyewa perahu dengan jumlah tinggi sehingga uang sewa perahu itu saja sudah beberapa kali lipat dari hasil mencari ikan di telaga!

Akan tetapi, agaknya orang-orang kang-ouw dan tokoh-tokoh yang biasanya bersembunyi dan memiliki kepandaian tinggi itu agaknya saling menjaga diri, tidak mau mencari keributan atau permusuhan karena kedatangan mereka itu semua bermaksud untuk mencari anak naga itu.

Bahkan Ceng Ceng melihat sendiri betapa anak buah Pulau Neraka dan anak buah Lembah Bunga Hitam yang biasanya kasar-kasar dan kejam-kejam, bahkan saling bermusuhan itu setelah tiba di tepi telaga lalu memisahkan diri, mencari tempat yang sunyi dan tidak kelihatan ingin memancing keributan.

Memang akan rugilah kalau sebelum anak naga itu muncul sudah membuat permusuhan lebih dulu yang akibatnya hanya akan merugikan mereka sendiri.

Ceng Ceng dapat merasakan suasana yang amat tegang dan panas itu.

Dia maklum bahwa biar keadaannya sekarang kelihatan tenang, namun begitu anak naga itu muncul, pasti akan terjadi pe-rebutan yang hebat dan dia makin meragu apakah Topeng Setan akan berhasil memperoleh anak ular atau naga itu.

"Begitu banyak orang...."

Ceng Ceng berbisik.

Topeng Setan memberi isyarat dan gadis itu mengikuti orang tua bertopeng ini menuju ke tepi telaga yang sunyi, jauh dari orang lain dan di sini Topeng Setan menyewa sebuah perahu kecil dari seorang nelayan.

Dia menyeret perahu itu ke tepi dan duduk di atas perahu bersama Ceng Ceng, menjauhi semua orang, menanti malam tiba.

Malam nanti adalah malam bulan purnama, malam yang dinanti-nanti oleh semua orang dengan jantung tegang berdebar.

"Mereka adalah orang-orang yang lihai sekali, kita harus berhati-hati Ceng Ceng. Wah, agaknya orang-orang yang selama ini hanya bersembunyi di gunung-gunung, di guha dan di tempat terasing, yang pekerjaannya hanya bertapa, kini keluar dari tempat pengasingan diri mereka untuk mencari anak naga itu."

"Ketua Pulau Neraka Hek-tiauw Lo-mo dan Ketua Lembah Bunga Hitam itu saja sudah memiliki kelihaian yang amat hebat. Apa kau kira ada yang lebih lihai dari mereka, Paman?"

"Hemmm, kau sungguh tidak melihat tingginya langit dan dalamnya lautan, Ceng Ceng, karena engkau hanya mengira bahwa di dunia ini hanya ada mereka berdua itu yang lihai. Aihhh, banyak sekali orang berilmu di dunia ini, Ceng Ceng. Sama banyaknya dengan bintang di langit dan sukar untuk mengatakan siapa di antara mereka yang paling pandai." (Lanjut ke

Jilid 46) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 46

"Aku mendengar bahwa orang paling lihai di dunia ini adalah Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es,"

Kata Ceng Ceng dan diam-diam dia ada juga sedikit rasa bangga bahwa dia masih terhitung cucu tiri dari pendekar sakti itu.

Topeng Setan menarik napas panjang.

"Mungkin di antara para pendekar yang dikenal orang, dia tergolong tingkat teratas. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai yang menyembunyikan diri. Para pertapa di puncak-puncak gunung, mereka yang sudah tidak mau lagi berurusan dengan dunia ramai, banyak sekali di antara mereka yang tinggi sekali ilmunya, sukar diukur bagaimana tingginya...."

"Lebih tinggi dari kepandaian Pendekar Super Sakti?"

Tanya Ceng Ceng tidak percaya.

"Mungkin sekali, bahkan mungkin be-berapa kali lipat! Mereka yang tidak mau lagi mempergunakan ilmunya untuk melakukan sesuatu di dunia ramai, tidak bisa dibandingkan dengan kita, dengan mereka yang kini datang ke sini mengandalkan ilmu untuk memperebutkan anak naga."

Topeng Setan menghela napas panjang.

"Kepandaian mereka yang tidak mau muncul di dunia ramai itu seperti dewa.... akan tetapi mereka telah melihat bahwa kepandaian itu tidak ada manfaatnya bagi kebahagiaan hidup manusia, dan mereka memang benar...."

"Apakah kau mau mengatakan bahwa kepandaian hanya mendatangkan malapetaka bagi kehidupan manusia, Paman?"

"Kenyataannya demikianlah.... akan tetapi, asal kita selalu ingat bahwa kepandaian bukanlah untuk mengumbar nafsu.... ah, sudahlah, itu ada orang mendekati kita, Ceng Ceng."

Topeng Setan lalu menghentikan kata-katanya dan Ceng Ceng menengok ke kanan.

Benar saja, ada seorang pria muda dengan langkah perlahan ke arah mereka, agaknya pemuda itu sedang menikmati pemandangan di sekitar telaga itu.

"Eh.... kau ini....? Moi-moi.... Nona Ceng....?"

Tiba-tiba pemuda itu melangkah maju menghampiri dan memandang Ceng Ceng dengan kedua lengannya dikembangkan dan wajahnya berseri.

Ceng Ceng memandang penuh perhatian.

Pemuda itu tampan sekali, tampan dan ramah, sikapnya halus dan gembira, pakaiannya indah sekali.

Maka dia makin kaget ketika mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Pangeran Yung Hwa!

Pangeran yang pernah ditolongnya dahulu di kota raja, pangeran yang bersikap amat manis kepadanya, yang tanpa banyak membuang waktu langsung saja menyatakan cinta kepadanya!

Pemuda bangsawan menarik hati, yang pernah....

menciumnya tanpa dia dapat mencegahnya, pemuda yang tentu akan mudah menjatuhkan hatinya sekiranya dia tidak sudah hancur hatinya karena perbuatan pemuda laknat yang menjadi musuhnya.

"Ohhh.... Pangeran.... Yung Hwa...."

Dia tergagap.

"Aih, Nona.... kiranya Thian sendiri yang menuntun aku ke telaga ini. Kiranya aku dapat bertemu dengan engkau di sini! Betapa bahagia rasa hatiku! Kau tidak tahu, susah payah aku mencarimu, Nona, hatiku penuh dengan kegelisahan setelah aku mendengar bahwa engkau terluka parah ketika terjadi penumpasan pemberontak, dan hatiku bangga bukan main mendengar akan kepahlawananmu. Ah, mukamu masih pucat.... Nona Ceng, marilah, engkau ikut bersamaku ke kota raja. Akan kuundang semua tabib terpandai, engkau harus diobati sampai sembuh. Katanya engkau terluka pukulan beracun...."

Ceng Ceng sampai merasa kewalahan mendengar ucapan yang membanjir ini.

Dia menoleh kepaqa Topeng Setan yang juga memandang pemuda itu dan baru sekarang agaknya Pangeran Yung Hwa melihat Topeng Setan.

Dia terkejut melihat wajah yang buruk itu dan dia bertanya.

"Dia ini.... eh, siapakah dia, Nona Ceng?"

Sebelum Ceng Ceng sempat menjawab, Topeng Setan sudah bangkit berdiri, menjura dan berkata.

"Kiranya Paduka seorang pangeran. Saya adalah Topeng Setan, pembantu Nona Ceng ini."

"Topeng Setan....? Nama yang aneh....!"

Pangeran Yung Hwa kelihatan serem.

"Dia yang mengobati aku, Pangeran. Dan dia akan mencarikan obat untukku di telaga ini, bagaimana Pangeran btsa tahu bahwa aku terluka? Dan bagaimana pula bisa sampai di tempat ini?"

Ceng Ceng bertanya.

Pangeran Yung Hwa kelihatan begitu gembira bertemu dengan Ceng Ceng, sehingga dia lalu melupakan Topeng Setan, duduk di atas perahu dan dengan ramah dia lalu bercerita.

"Aku bertemu dengan Perdana Menteri Su, beliau yang menceritakan semuanya kepadaku. Beliau mendengar dari Kakak Milana tentang engkau.... ah, kasihan Kakak Milana...."

"Kenapa, Pangeran?"

Ceng Ceng bertanya heran.

"Ah, kau belum mendengar apa yang terjadi di kota raja? Ah, banyak terjadi hal yang hebat mengerikan. Kau tahu, suami Kakak Milana, yaitu Han Wi Kong, dengan nekat telah menyerbu istana Pangeran Liong Bin Ong dan membunuh pangeran itu, akan tetapi dia sendiri pun tewas. Kakak Milana mengamuk, membunuh para pengawal yang menewaskan suaminya, kemudian Kakak Milana melarikan Puteri Bhutan dari istana dan peristiwa itu tentu saja menggegerkan istana."

Ceng Ceng terkejut bukan main.

Dia tahu bahwa Pangeran Liong Bin Ong adalah dalang pemberonta-kan.

Diam-diam dia merasa kasihan kepada Puteri Milana yang dikaguminya itu.

Juga dia kaget mendengar bahwa Syanti Dewi dilarikan dari istana oleh Puteri Milana.

"Lalu ke mana mereka pergi? Ke mana Puteri Bhutan itu dibawa pergi?"

Tanyanya.

"Entahlah. Siapa bisa mengikuti bayangan Enci Milana? Dia sudah terbang.... dan aku berterima kasih sekali kepadanya bahwa dia melarikan Puteri Syanti Dewi!"

Wajah yang tampan itu berseri.

"Mengapa, Pangeran?"

"Ah, engkau tidak tahu? Ceng-moi...., tidak tahukah engkau bahwa setelah Pangeran Liong Khi Ong tewas, Kaisar lalu memutuskan untuk menjodohkan Puteri Bhutan itu dengan aku? Nah, dapat kau bayangkan betapa gelisah hatiku.... engkau tahu bahwa setelah bertemu dengan engkau.... aku tidak mungkin dapat menikah dengan wanita lain.... maka keputusan Kaisar itu membuat aku mengambil keputusan untuk minggat lagi...."

"Ah, jangan berkata begitu, Pangeran!"

Ceng Ceng menegur halus sambil melirik dengan muka merah kepada Topeng Setan yang hanya mendengarkan tanpa memandang.

"Akan tetapi untung, sebelum aku terpaksa minggat, puteri itu telah dilarikan oleh Enci Milana. Memang Enci Milana adalah seorang puteri yang gagah perkasa, adil dan berbudi. Dia tahu bahwa Syanti Dewi juga tidak setuju dengan keputusan Kaisar, kami berdua akan dikawinkan secara paksa! Maka begitu aku mendengar tentang dirimu, bahwa menurut Perdana Menteri Su engkau telah terluka parah dan pergi, aku segera mencarimu ke mana-mana. Akhirnya, agaknya Thian sendiri yang menuntun aku ke telaga ini sambil pesiar, dan benar saja aku bertemu denganmu, Ceng-moi....!"

Pangeran itu kelihatan girang bukan main.

Ceng Ceng menarik napas panjang.

Tidak perlu lagi kiranya takut diketahui oleh Topeng Setan karena pemuda bangsawan ini dengan terang-terangan telah menyatakan perasaannya di depan sahabatnya itu.

"Pangeran Yung Hwa, sudah kukatakan dahulu bahwa tidak mungkin bagimu melanjutkan perasaanmu yang tidak selayaknya kepadaku itu. Kenapa engkau membuang-buang waktu mencariku, Pangeran? Tempatmu di istana, di kota raja, bukan di tempat liar ini...."

"Hushhh, jangan berkata demikian. Sudahlah, jangan kita bicarakan itu dulu sebelum engkau sembuh. Bagaimana? Apanya yang terasa sakit, Ceng-moi? Mari kita mencari tabib yang pandai di kota raja...."

"Paman Topeng Setan ini adalah tabibku, Pangeran."

"Ouhhh....! Benarkah Paman sanggup menyembuhkan nona ini?"

Yung Hwa bertanya kepada orang tua bertopeng buruk itu.

"Kalau benar, apa pun yang Paman minta akan kupenuhi. Aku bisa membantu Paman memperoleh kedudukan di kota raja! Ataukah harta benda? Akan kuserahkan kepadamu, Paman, asal Paman dapat menyembuhkan Nona Ceng...."

Topeng Setan menghela napas panjang dan Ceng Ceng yang merasa tidak enak terhadap Topeng Setan segera berkata.

"Pangeran, paman ini adalah sahabatku, sahabat baikku! Dia telah berkali-kali menolongku dan kini pun dia berusaha mencarikan obat untukku. Untuk semua itu dia sama sekali tidak mengharapkan apa-apa."

"Ah, kalau begitu Paman adalah seorang budiman. Biar aku menghaturkan terima kasih terhadap semua kebaikan Paman yang telah dilimpahkan kepada Nona Ceng!"

Dan Pangeran Yung Hwa lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Topeng Setan!

Memang pangeran ini sama sekali berbeda sikapnya dengan pangeran-pangeran lain.

Dia paling bandel dan suka memberontak terhadap peraturan dan tradisi istana, dan dia tidak angkuh seperti layaknya seorang pangeran, dan pandai dia bergaul dengan rakyat biasa.

Topeng Setan cepat-cepat mengangkat bangun pangeran itu.

"Ah, harap Paduka jangan merendahkan diri seperti itu, Pangeran."

Suara Topeng Setan mengandung keharuan.

"Saya berjanji akan berusaha sekuat saya untuk menyembuhkan Nona Ceng."

"Terima kasih.... terima kasih....! Wah, hatiku lega sekali mendengar ini. Ceng Ceng, obat apakah yang hendak dicari di telaga ini?"

"Obat yang juga akan diperebutkan oleh semua orang itu, Pangeran."

"Aihhh....?"

Pangeran itu terkejut, memandang ke pinggir telaga di mana berkumpul banyak orang dan di tengah telaga yang sudah nampak banyak perahu hilir mudik.

"Berebutan? Apa yang diperebutkan?"

"Anak naga yang akan muncul malam ini di permukaan Telaga Sungari!"

Kata Ceng Ceng dengan suara lantang dan pandang mata geli karena dia ingin menakut-nakuti pangeran ini.

Sikap pangeran yang gembira itu membangkitkan watak gadis ini yang memang lincah gembira sebelum malapetaka kehidupan menimpa dirinya.

Akan tetapi Pangeran Yung Hwa tidak menjadi takut atau kaget, malah dia tertawa bergelak.

"Lucu....! Dongeng itu? Ha-ha-ha, sungguh lucu. Lucu dan indah. Kau lihat betapa indahnya permukaan telaga yang biru itu, Ceng-moi. Lihat betapa air seperti terbakar oleh cahaya matahari senja yang kemerahan. Seolah-olah permukaan telaga berubah menjadi api neraka dan dari situ akan muncul anak naga? Ha-ha, pemandangan alam begini indah, ditambah suasana yang begini aneh dibumbui dongeng menyeramkan, benar-benar membuat orang menjadi gembira dan timbul gairah untuk menulis sajak!"

Ceng Ceng juga tersenyum. Kegembiraan pangeran itu menular dan memang sukar untuk tidak merasa gembira berdekatan dengan pemuda yang menarik hati ini.

"Kalau begitu, mengapa Pangeran tidak menulis sajak?"

"Alat tulisku berada di kereta yang menanti di sana...."

Pangeran itu menuding ke kanan.

"Aku datang bersama seorang kusir dan dua orang pengawal yang kusuruh menanti di sana karena aku ingin berjalan-jalan sendiri.... akan tetapi bertemu denganmu membangkitkan daya ciptaku, Moi-moi. Tanpa ditulis pun rasanya sanggup aku menciptakan sajak untukmu. Kau dengar...."

Pangeran itu berdiri menghadapi telaga yang pada saat itu memang amat indah pemandangannya.

Kemudian terdengar dia mengucapkan kata-kata sajak berirama seperti orang bersenandung, suaranya halus dan merdu, matanya tajam menatap ke depan seolah-olah melihat hal-hal yang tak tampak oleh mata biasa.

Mata seniman yang dapat menembus segala tabir dan kabut rahasia yang membutakan mata sebagian besar manusia.

Merah Nyala Matahari Membakar Langit Senjakala Di Atas Telaga Sungari!

Air Terbakar Merah Seperti Neraka Sebagai Isyarat Munculnya Sang Naga Dari Dongeng Rakyat Jelata.

Matahari Senja, Langit Menyala, Telaga Sungari, Kisah Naga, Tidak Seindah Saat Ini Berjumpa Kekasih Di Tepi Sungai!

Ceng Ceng mendengarkan dengan kagum dan terharu.

Dia maklum bahwa bagaimanapun juga, pangeran yang tampan ini masih terus menyatakan cinta kasih kepadanya!

"Bagaimana, Ceng-moi?

Baikkah sajakku tadi?"

"Sajak yang indah sekali!"

Tiba-tiba Topeng Setan berkata sambil merenung ke tengah telaga.

"Sajakmu memang bagus, Pangeran,"

Kata Ceng Ceng menunduk, jantungnya berdebar dan dia tidak tahu harus berkata apa di depan pangeran yang sifatnya terbuka dan yang menyatakan perasaan hatinya secara langsung dan terang-terangan.

"Tunggu sebentar, Ceng-moi. Aku akan menyuruh keretaku ke sini. Indah sekali di bagian ini dan hem.... aku maklum bahwa keindahan itu tidak akan ada artinya lagi kalau engkau tidak berada di sini. Kau tunggu sebentar, aku takkan lama...."

Pangeran itu lalu bergegas pergi hendak menyuruh kusir dan pengawalnya membawa keretanya ke tempat itu.

Sementara itu, cuaca mulai gelap dan kegelapan itu adalah karena pertemuan antara sinar senja dari matahari dan sinar lembut dari bulan di timur.

"Paman, mari kita pergi...."

Ceng Ceng berkata lirih setelah pangeran itu pergi jauh.

"Eh....?"

Topeng Setan berkata bingung.

"Mari kita dayung perahu ke tengah telaga. Kalau kita terlambat, jangan-jangan kita tidak akan berhasil mendapatkan anak naga itu.... dia.... dia.... tentu akan menjadi pengganggu kalau sudah kembali ke sini."

Topeng Setan hanya mengangguk, tidak membantah lalu mereka memasuki perahu kecil yang segera didayung ke tengah oleh Topeng Setan.

Sebentar saja mereka telah jauh meninggalkan tepi yang sudah tidak kelihatan lagi karena gelapnya cuaca dan Ceng Ceng membayangkan betapa pangeran itu akan mencari-cari dan akan kebingungan dan kecewa.

"Pangeran Yung Hwa itu baik sekali...."

Terdengar Topeng Setan berkata.

"Dia seperti orang gila saja...."

Ceng Ceng membantah yang lebih ditujukan kepada hatinya sendiri.

"Memang begitulah orang yang jatuh cinta, tergila-gila...."

"Sudahlah, Paman. Aku tidak mau bicara tentang dia. Mari kita mendekati perahu-perahu itu. Agaknya ada terjadi sesuatu di sana."

Bulan mulai muncul di ufuk timur dan perahu-perahu makin bertambah banyak.

Agaknya semua orang kang-ouw yang ingin menangkap anak naga sudah bersiap-siap dan sudah berada di perahu masing-masing.

Dan ketika prerahu kecil Ceng Ceng dan Topeng Setan berada di tengah, di tempat yang ramai karena agaknya semua perahu mengharapkan munculnya anak naga di telaga, tampaklah perahu-perahu berseliweran dan agak-nya banyak yang melagak, memamerkan kekuatan dan bersiap-siap untuk berebutan dan kalau perlu mempergunakan kepandaian mereka untuk saling mengalahkan lawan dalam perebutan itu!

Perahu-perahu itu ditumpangi oleh orang-orang yang wajahnya serem-serem dan aneh-aneh.

Ketika Topeng Setan mendayung perahunya perlahan-lahan sambil memperhatikan kanan kiri, tiba-tiba sebuah perahu besar lewat dengan laju dan perahu yang didayung cepat ini menimbulkan gelombang yang melanda perahu-perahu kecil di sekelilingnya, termasuk perahu yang ditumpangi Topeng Setan dan Ceng Ceng.

Perahu besar itu agaknya tidak mempedulikan perahu-perahu lainnya dan meluncur dengan angkuhnya.

Agaknya karena kurang hati-hati, sebuah perahu kecil terlanggar ujungnya dan dengan suara keras, perahu itu terbalik!

Ceng Ceng memandang dengan penuh perhatian karena perahu kecil yang terlanggar itu tidak jauh jaraknya dari perahunya.

Penumpangnya hanya satu orang.

Orang berpakaian tosu tua yang wajahnya bengis.

Orang-orang di dalam perahu lain sudah tertawa melihat perahu terbalik ini, akan tetapi tiba-tiba tosu itu mengeluarkan seruan melengking nyaring dan tubuhnya mencelat tinggi sekali, lalu bagaikan seekor burung garuda saja, di udara tubuhnya membuat poksai (salto) sampai tiga kali dan dia sudah melayang ke arah perahu besar itu.

"Tarrrr....!"

Suara ledakan ini dibarengi oleh uap yang mengepul ketika sebatang cambuk bergerak menyambar tubuh tosu itu dari atas perahu besar.

Sungguh merupakan sambaran yang amat berbahaya karena lecutan cambuk yang dibarengi suara meledak nyaring dan kepulan uap itu menandakan bahwa yang memegang cambuk adalah orang yang berilmu tinggi dan bertenaga besar.

Ceng Ceng terkejut karena menurut dugaannya tentu tubuh tosu itu akan kena dihajar dan akan terjatuh ke air.

Akan tetapi, betapa kagumnya ketika tosu itu kembali mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah membuat gerakan aneh, seperti seekor burung walet bertemu halangan dan sudah berjungkir balik dan berhasil mengelak lalu tubuh itu mencelat lagi ke atas, tahu-tahu tubuh itu sudah hinggap di puncak tiang layar perahu besar itu!

"Hebat....!"

Ceng Ceng memuji karena apa yang diperlihatkan oleh tosu itu adalah suatu demonstrasi kepandaian gin-kang yang hebat dan dia harus mengakui bahwa dia sendiri tidak mungkin meniru perbuatan tosu itu.

Terdengar bunyi aba-aba di perahu besar dan tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan empat batang anak panah yang besar dan berat, yang agaknya keluar dari satu busur, meluncur ke arah tubuh tosu di antara tiang layar itu.

Akan tetapi tosu itu telah meloncat ke atas dan ketika empat batang anak panah itu meluncur lewat, dia hinggap di atas empat batang anak panah itu dengan menelungkup, kaki dan tangannya hinggap di atas sebatang anak panah dan "terbanglah"

Dia mengikuti luncuran anak panah-anak panah itu!

Ceng Ceng sampai bengong menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian ini.

Gin-kang tosu itu benar-benar seperti seekor burung saja.

Akan tetapi pemain cambuk dan pemanah di atas perahu itu pun tak boleh dibuat main-main.

Tubuh tosu yang "menunggang"

Empat batang anak panah itu kebetulan meluncur ke arah perahunya yang terbalik dan dia lalu meloncat turun.

Hampir saja tubuhnya menimpa dua buah perahu kecil lainnya.

Perahu kecil yang ditumpangi oleh seorang kakek muka hitam tinggi besar dan perahu kecil yang ditumpangi seorang kakek gemuk pendek berkepala gundul.

"Huhhhh!"

Kakek tinggi besar sudah meloncat ke atas, menjepit perahu dengan kedua kakinya dan perahunya "terbang"

Terbawa oleh loncatannya sehingga tidak tertimpa tubuh tosu itu.

"Hemmm....!"

Kakek gundul gemuk pendek mengerahkan dayungnya dan.... perahunya "selulup"

Ke dalam air seperti seekor ikan, kemudian muncul kembali ke depan, lima meter jauhnya dan dia tetap mendayung perahunya seperti tidak pernah terjadi sesuatu sungguhpun pakaian dan kepala gundulnya basah kuyup!

Ceng Ceng makin kagum.

Dua orang kakek itu pun hebat sekali!

Kiranya tempat ini penuh dengan orang-orang pandai, tepat seperti yang diceritakan dan diduga oleh Topeng Setan tadi.

Ceng Ceng menjadi makin ragu-ragu.

Kalau tempat ini begitu penuh orang pandai, bagaimana mungkin dia dan Topeng Setan akan berhasil mendapatkan anak naga itu?

Tentu akan menghadapi banyak sekali halangan.

"Cluppp....!"

Tubuh tosu kurus tadi terjun ke dalam air dan lenyap.

Ceng Ceng menanti-nanti, akan tetapi tidak kelihatan tosu itu keluar dari dalam air.

Dia merasa khawatir sekali dan menduga-duga, lalu bertanya kepada Topeng Setan.

"Paman, apakah dia mati?"

Topeng Setan mendengus.

"Hemm, dia sudah kembali ke perahunya."

Ceng Ceng memandang perahu yang terbalik tadi.

Masih tetap terbalik dan kini dia yang menduga-duga apakah benar tosu itu telah berada di bawah perahunya yang terbalik itu dan kalau benar begitu, bagaimana Topeng Setan bisa mengetahuinya.

Sementara itu, perahu besar yang menabrak perahu tosu tadi, masih meluncur cepat ke tengah telaga.

Dari sebelah kanan juga meluncur sebuah perahu besar lain dengan cepat.

Karena keduanya tidak mau saling mengalah, tak dapat terhindarkan lagi, ujung kedua perahu besar itu beradu.

"Brakkkk....!"

Dua buah perahu besar terguncang hebat dan beberapa orang anak perahu terlempar keluar dari perahu dan jatuh ke air.

Demikian hebatnya tabrakan itu sehingga tiang perahu besar ke dua itu patah dan tumbang, jatuh menimpa ke arah sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kanannya, tidak kelihatan oleh Ceng Ceng yang berada agak jauh di sebelah kiri perahu itu.

Tiang yang terbuat dari balok besar itu menimpa perahu yang ditumpangi oleh dua orang muda, yang bukan lain adalah Kian Bu dan Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui!

Keduanya menjadi terkejut akan tetapi dengan tenang mereka lalu menghindar dengan meloncat tinggi ke atas.

Perahu mereka hancur akan tetapi keduanya selamat dan dengan gerakan yang indah sekali, sambil saling bergandeng tangan, kedua orang ini sudah melayang turun kembali dan hinggap di atas balok tiang layar yang menimpa perahu mereka tadi, berdiri tegak dan sedikit pun tidak terguncang.

Orang-orang yang menyaksikan ini memuji keindahan gerakan mereka.

Karena semua peristiwa itu terjadi di bawah sinar bulan purnama yang tidak terlalu terang akan tetapi juga tidak gelap, maka kelihatan makin indah.

Perahu ke dua yang patah tiangnya itu ternyata adalah perahu milik rombongan Pulau Neraka, sedangkan perahu besar pertama yang menabraknya adalah perahu yang ditumpangi oleh rombongan Raja Tambolon!

Kini seorang tokoh Pulau Neraka yang keluar dari balik perahu, dengan marah menyambitkan obor yang tadi dipegangnya ke arah perahu Raja Tambolon.

Obor meluncur seperti mustika naga ke arah perahu itu dan semua orang memandang dengan hati tegang.

Tiba-tiba jendela bilik perahu Raja Tambolon terbuka, sebuah lengan tangan yang hitam kurus mencuat ke luar dan....

obor yang melayang itu seperti bernyawa saja, terbang ke arah tangan itu yang sudah menyambutnya!

Maka keluarlah nenek itu, merupakan bayangan hitam yang kecil menyeramkan karena dengan tangan kirinya dia lalu meremas-remas api obor itu begitu saja sampai menjadi padam!

Akan tetapi ketika nenek itu membuka mulutnya ini melayanglah segumpal api yang merupakan bola api meluncur ke arah perahu Pulau Neraka dan tepat mengenai gulungan tali layar sehingga terbakar.

Tentu saja orang-orang Pulau Neraka cepat memadamkan api itu dan ada di antara mereka yang memaki-maki dan mengacung-acungkan senjata.

Ceng Ceng melihat bahwa nenek itu terkekeh aneh dan dia merasa seram seperti melihat setan!

Dan nenek itu memanglah Nenek Durganini, guru Tambolon ahli sihir yang lihai dan yang tadi telah mendemonstrasikan ilmu sihirnya.

Keadaan menjadi makin tegang.

Kedua pihak, yaitu anak buah Tambolon dan anak buah Pulau Neraka, sudah saling mengancam dan mendayung perahu saling mendekati, agaknya tak dapat dihindarkan lagi kedua rombongan ini akan saling gempur.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara aneh, seperti keluar dari dalam dasar telaga, suara yang dalam akan tetapi terdengar jelas oleh semua orang.

"Itu dia....! Naga sudah muncul....!"

Tampak air bergolak dan tahu-tahu perahu yang terbalik tadi kini membalik telentang dan Si Tosu sudah berada di dalam perahu!

Kiranya tosu aneh yang lihai inilah yang tadi bersuara dari balik perahu maka suaranya terdengar begitu aneh.

Dan otomatis ketegangan antara dua rombongan perahu besar itu beralih menjadi ketegangan menghadapi peristiwa yang telah mereka tunggu-tunggu.

Terdengar suara air gemericik dan telaga itu bergelombang dahsyat.

Semua orang memandang dengan panik.

Untung bulan purnama bersinar terang tanpa penghalang awan sehingga permukaan telaga kelihatan terang keemasan, akan tetapi belum kelihatan apa-apa kecuali gelombang yang makin membesar dan perahu-perahu kecil terombang-ambing.

Ceng Ceng dan Topeng Setan juga cepat menggerakkan dayung untuk mencegah perahu mereka terguling, sedangkan wajah Ceng Ceng menjadi tegang dan matanya terbelalak.

Belum pernah dia merasa setegang itu, jantungnya berdebar keras dan dia hampir tidak berani berkedip karena matanya terbelalak menyapu seluruh permukaan air, mencari-cari.

Bukan hanya mata Ceng Ceng saja yang tidak pernah berkedip menyapu ke kanan kiri, melainkan mata semua orang yang berada di atas perahu-perahu besar kecil itu semua terbelalak mencari-cari, seluruh urat syaraf di tubuh menegang, dan siap untuk bergerak apabila yang dinanti-nanti itu muncul.

Akan tetapi ketika yang ditunggu-tunggu itu benar-benar muncul, semua orang menjadi panik, apalagi anak buah Pulau Neraka karena di dekat perahu mereka itulah munculnya "naga"

Itu!

Secara tiba-tiba saja air telaga muncrat tinggi dan tampaklah sebuah kepala ular yang besar sekali, muncul di atas permukaan air begitu saja.

Sepasang mata ular itu mencorong seperti lentera bernyala, kuning kehijauan sinarnya dan seolah-olah ular atau naga itu hendak menyapu semua permukaan telaga dengan sinar matanya yang mencorong.

Di dekat lubang hidungnya nampak dua sungut panjang seperti sungut ikan lee dan ketika muncul itu, lehernya "berdiri"

Dan dari dalam mulut yang sedikit terbuka itu mencuat sebatang lidah putih yang bercabang dua.

Kepala ular itu sebesar karung beras dan kepala sebesar itu tentu akan dapat dengan mudah menelan seorang manusia dewasa!

Melihat kepala ular tersembul di permukaan air dekat perahu mereka, para anak buah Pulau Neraka menjadi panik dan mereka sudah mengangkat senjata untuk membacok ular itu kalau berani naik lebih tinggi lagi.

Akan tetapi terdengar bentakan keras dari Hek-tiauw Lo-mo menyuruh anak buahnya minggir dan dia sendiri lalu meloncat ke pinggir perahunya, dekat dengan ular besar itu dan tangan kirinya bergerak menyebar bubuk putih ke arah kepala ular itu.

"Koaaaakkk....!"

Terdengar suara nyaring sekali, suara yang menggetarkan jantung semua orang ketika ular yang terkena bubuk racun putih kepalanya itu memekik dan kepala itu menyelam sebentar.

Akan tetapi tidak lama kemudian kepala ular besar itu muncul lagi dan kedua matanya terpejam dan berair.

Ternyata racun dahsyat dari Hek-tiauw Lo-mo itu telah membutakan mata ular sehingga binatang yang usianya tentu sudah ratusan tahun ini menjadi marah sekali.

Begitu muncul lagi, terdengar dia mengeluarkan suara berkoak beberapa kali dan dia mengamuk.

Kepala dan ekornya bergerak menghantam sana-sini dan air telaga pun berguncang hebat seperti dilanda badai.

Perahu-perahu kecil terbanting dan banyak pula yang tersentuh sabetan ekor ular besar itu menjadi pecah berantakan dan tenggelam.

Juga kedua perahu besar itu diombang-ambingkan, saling bertumbukan dan masih dihantam oleh ekor ular sehingga pecah berantakan dan para penumpangnya cerai-berai banyak yang terlempar ke dalam air!

Suasana menjadi menakutkan dan semua orang menjadi panik.

Topeng Setan dan Ceng Ceng cepat mendayung perahunya menjauh.

Ceng Ceng gemetar dan mukanya pucat sekali.

Tak disangkanya bahwa ular "naga"

Itu sedemikian hebatnya.

Ketika mengamuk tadi, nampaklah tubuhnya yang panjang dan besar, sebesar tubuh manusia dan panjangnya belasan meter.

Sisik tubuhnya mengkilap dan besar-besar kehijauan dan kelihatan keras dan kuat sekali.

Bagian bawah tubuhnya agak putih dan ketika ular itu membuka moncongnya, nampak gigi yang seperti pedang, rongga mulut yang lebar dan merah dan lidahnya yang bercabang itu keluar masuk di antara gumpalan uap menghitam yang keluar dari dalam mulut ular itu.

Anak ular yang ditunggu-tunggu tidak kelihatan.

Melihat kedahsyatan ular itu, yang begitu besar dan mengerikan, Ceng Ceng menjadi gentar sekali.

Telaga yang demikian luasnya menjadi bergelombang ketika ular itu mengamuk.

Sukar dibayangkan betapa hebat tenaganya.

Mana mungkin orang dapat menangkap anaknya yang kabarnya selalu dibawa di dalam mulutnya?

Manu-sia gila manakah yang akan mampu mengambil anak "naga"

Itu dari dalam moncong yang demikian mengerikan dan berbahaya?

Betapapun lihainya seseorang mana mungkin mampu melawan seekor naga yang demikian kuat dan dahsyatnya?

Baru sabetan ekornya saja sudah dapat menghancurkan perahu-perahu besar kecil!

Kabarnya, selama ratusan tahun belum pernah ada yang mampu menaklukkan naga ini, apalagi mencuri anaknya dari dalam moncong!

Akan tetapi anehnya, menurut penuturan Topeng Setan, setiap sepuluh tahun sekali ada orang-orang kang-ouw yang datang untuk mencobanya, sungguhpun setiap sepuluh tahun itu pasti jatuh korban banyak orang tewas di Telaga Sungari ini!

Dan sekarang, aklbat perbuatan Hek-tiauw Lo-mo yang meracuni naga, sudah jelas akan menimbulkan korban yang tidak sedikit.

Sekarang saja yang tenggelam karena perahunya pecah sudah ada belasan orang!

"Bodoh si Hek-tiauw Lo-mo!"

Topeng Setan berkata lirih.

"Kenapa dia tergesa-gesa? Sekarang mana mungkin menangkap anak ular itu?"

Jelas bahwa Topeng Setan merasa kecewa sekali oleh perbuatan Hek-tiauw Lo-mo itu dan Ceng Ceng dapat mengerti karena menurut cerita Topeng Setan, naga itu biasanya akan lama berenang di permukaan telaga dan akan mengeluarkan anaknya dari mulut agar anak naga itu dapat berenang di permukaan air.

Sekarang, karena naga itu telah menjadi buta dan terluka berat, tentu binatang ini menjadi marah dan tidak ada harapan lagi untuk melihat dia mengeluarkan anaknya dari dalam mulut setelah tahu bahwa ada bahaya mengancam.

"Aaiiihhh....!"

Tiba-tiba Ceng Ceng menjerit dan cepat-cepat dia berpegang pada pinggiran perahunya ketika perahu kecil itu tiba-tiba mencelat ke atas tersundul oleh sesuatu dari bawah air.

Perahu itu mencelat ke atas, akan tetapi berkat kecekatan dan tenaga Topeng Setan yang memegangi kedua pinggiran perahu, perahu itu tidak terbalik dan dapat melayang turun lagi ke atas air dan mereka berdua tetap duduk di dalam perahu dan hanya kehilangan dayung.

Ceng Ceng terkejut bukan main dan hampir dia pingsan karena kagetnya.

"Apa... apa yang terjadi... eiiikkkhhh..!"

Ceng Ceng menjerit lagi dengan mata terbelalak memandang ke kiri karena tiba-tiba saja di samping perahu itu muncul moncong ular naga tadi.

Uap putih bergumpal keluar dari mulut itu dan Ceng Ceng mencium bau yang memuakkan, akan tetapi karena dia sudah kebal terhadap racun, uap beracun itu tidak mempengaruhi, hanya rasa takut membuat dia seperti kehilangan semangat dan tidak mampu bergerak lagi.

Ekor ular menyabet, tampak bayangan ekor ular itu muncul di permukaan air dan secepat kilat Topeng Setan sudah menyambar pinggang Ceng Ceng dengan lengan kanannya dan dia meloncat ke atas ketika ekor ular raksasa itu menyabet perahu.

"Braaakkkk....!"

Perahu kecil itu hancur berkeping-keping ketika dihantam ekor ular itu.

Topeng Setan sudah cepat meloncat ke atas akan tetapi tetap saja kaki kanannya keserempet sabetan ekar ular itu.

Bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya menusuk tulang seolah-olah tulang pahanya remuk.

Topeng Setan maklum bahwa sin-kangnya dapat melindungi tulang pahanya, akan tetapi biarpun dia tidak mengalami luka dalam yang hebat, tetap saja merasa betapa kaki kanannya itu seperti lumpuh.

"Pakai pedang pendek ini....!"

Ceng Ceng yang teringat akan bekalnya, sebatang pedang kecil yang diselipkan di pinggang, mencabut senjata itu dan menyerahkan kepada Topeng Setan yang cepat menyambarnya dengan tangan kiri.

Dia berhasil menginjak pecahan perahu dan selagi tubuhnya meluncur turun dan dia melihat kepala naga itu membuka moncongnya dan siap hendak menyerang dan menelan dia dan Ceng Ceng, Topeng Setan melihat lidah putih itu mencuat keluar.

Secepat kilat tangan kirinya menggerakkan pedang pendek Ceng Ceng.

Dia sudah melihat tadi betapa tubuh dan kepala naga itu kebal terhadap hantaman dan bacokan senjata-senjata tajam anak buah kedua perahu itu, maka kini dengan mati-matian dia menusukkan pedangnya ke arah lidah ular naga itu.

"Crattt.... plaaakkk!"

Pedang kecil itu tepat menancap di lidah ular, melukai lidah itu akan tetapi gerakan kepala ular itu ke samping membuat pedang itu terlepas dari pegangan tangan kiri Topeng Setan.

Dan Topeng Setan terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaganya karena terdengar pekik melengking yang dahsyat sekali dari mulut ular itu.

Pekik melengking nyaring ini terdorong oleh rasa kesakitan karena lidahnya terluka dan mengucurkan darah, dan pada saat ular itu terpekik melengking, pandang mata yang tajam dari Topeng Setan dapat melihat sebuah benda berkilauan mencelat keluar dari dalam kerongkongan mulut ular naga itu.

Benda itu ternyata adalah seekor ular kecil!

Itulah anak naga yang dicari-cari!

Dengan lengan kanan masih memeluk pinggang Ceng Ceng, Topeng Setan lupa akan segala bahaya dan cepat dia menubruk ke air, di mana tadi dia melihat ular kecil itu terlempar dan tangan kirinya menyambar.

Tepat sekali dia berhasil menangkap kepala ular kecil itu!

Ular kecil meronta-ronta, tubuhnya membelit lengan kiri Topeng Setan, akan tetapi Topeng Setan mengerahkan tenaganya dan ular kecil itu tidak mampu melepaskan diri.

Akan tetapi pada saat itu, induk ular naga menjadi marah sekali.

Biarpun matanya sudah buta, akan tetapi nalurinya memberi tahu bahwa anaknya berada dalam bahaya dan kepekaannya dapat membuat dia tahu bahwa musuh yang menyakiti lidahnya berada di depan.

Dia membuka moncongnya dan menyambar ke arah Topeng Setan yang sudah berhasil menangkap anak ular dan berusaha menghindar dan berenang, melihat moncong lebar itu menyambar dari arah kirinya, menjadi terkejut dan dia memindahkan anak ular ke tangan kanannya, kemudian dia menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan tenaga untuk menangkis karena sudah tidak keburu membalikkan badan.

Karena lengan kanan itu merangkul pinggang Ceng Ceng, tentu saja gerakan tangan kirinya menjadi kaku.

"Plakkk....!"

Topeng Setan mengeluarkan teriakan ngeri ketika dia merasa betapa Ceng Ceng terlepas dari rangkulan.

Seketika yang teringat olehnya hanyalah keselamatan Ceng Ceng yang disangkanya telah terampas oleh moncong ular naga, maka otomatis dia menggerakkan lengan kiri untuk menyambar.

Akan tetapi perasaan kosong dan aneh membuat dia memandang tangan kirinya dan Topeng Setan terbelalak, mulutnya mengeluarkan suara.

"Auhhhh...."

Ketika dia melihat betapa tangan kiri berikut lengannya telah lenyap!

Yang tinggal hanyalah pundaknya dan seluruh lengan kirinya itu ternyata telah buntung dicoplok ular naga tadi!

Melihat kenyataan yang mengerikan ini, hampir saja Topeng Setan menjadi pingsan.

Akan tetapi, dia menggigit bibir menahan pukulan lahir batin yang amat hebat ini.

Tidak, tekadnya.

Dia tidak boleh pingsan.

Yang penting adalah Ceng Ceng!

Dia cepat menengok dan melihat gadis itu gelagapan tak jauh dari situ.

Gadis itu tidak pandai berenang dan dipermainkan air bergelombang.

Cepat dia lalu berenang mendekati dan menggunakan lengan kanan memeluk pinggang gadis itu dan mengangkatnya ke atas.

Ular itu masih digenggam di tangan kanannya.

Selagi Topeng Setan yang kini hanya mengandalkan kedua kakinya untuk bergerak di air itu hendak berenang menjauh, tiba-tiba kaki kirinya dipegang orang dari bawah!

Topeng Setan merasa terkejut, mengerti bahwa amatlah berbahaya kalau dia tidak dapat melepaskan cekalan tangan orang itu.

Cepat dia meronta dan menendang-nendangkan kaki kirinya, bahkan kaki kanannya juga menendang ke bawah.

Akan tetapi tetap saja cekalan itu tidak terlepas dari kakinya.

Sementara itu Ceng Ceng sudah pingsan dan bergantung lemas dalam pelukan tangan kanannya, sedangkan anak ular itu masih membelit lengan kanannya tanpa mampu melepaskan diri.

Tangan yang mencekal kaki Topeng Setan itu kuat sekali dan kini berusaha menarik tubuh Topeng Setan tenggelam.

Topeng Setan meronta-ronta, namun cekalan pada pergelangan kakinya itu seperti jepitan baja, dan tidak mungkin dapat dilepaskan dengan cara meronta dan menendang.

Sudah beberapa kali dia ditarik ke bawah sampai gelagapan.

Hampir saja dia menyerah.

Akan tetapi tiba-tiba induk ular yang masih mengamuk itu menggerakkan ekor menyabet ke arah kaki Topeng Setan.

Hal ini menolongnya karena kakinya terlepas dari jepitan dan orang yang memegang kakinya itu muncul ke permukaan air.

Kiranya orang itu adalah Si Tosu yang lihai tadi!

Akan tetapi karena induk ular naga itu masih mengamuk, Si Tosu Lihai tidak berani mendekat, bahkan cepat-cepat berenang menjauh ketika ular naga itu bergerak ke arahnya dengan sikap menyeramkan.

Karena merasa betapa tubuhnya makin melemah dan ular naga itu masih mengamuk di dekatnya, maka Topeng Setan yang hanya teringat akan keselamatan Ceng Ceng semata, melihat adanya balok tiang perahu besar yang tadi patah dan kini ujung yang kiri masih ditumpangi oleh Kian Bu dan Hong Kui, cepat dia menggerakkan kakinya dan seluruh tubuhnya, mencelat ke atas balok tiang layar itu.

Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba tampak sebuah perahu juga meloncat dan menubruk Topeng Setan.

Orang yang berada di dalam perahu itu adalah kakek tinggi besar bermuka hitam yang cepat mengulur tangannya merampas ular kecil di dalam genggaman tangan Topeng Setan!

Karena perahu itu muncul tiba-tiba dan menubruknya, membuat dia tidak dapat mengelak lagi, apalagi lengannya yang tinggal satu itu memeluk Ceng Ceng yang sudah mulai siuman, maka Topeng Setan sekali ini tidak berdaya.

Ular kecil di dalam tangannya kena dirampas oleh kakek tinggi besar muka hitam itu!

Dengan kemarahan meluap, Topeng Setan masih sempat menggerakkan kakinya menendang.

"Bukkk!"

Tendangannya tepat mengenai lambung kakek itu sehingga terlempar keluar dari perahunya.

"Byuuuurrr....!"

Tiba-tiba dari dalam air muncul sebuah perahu dan kakek pendek gemuk berkepala gundul sudah menggunakan dayungnya mengemplang kepala kakek muka hitam!

Kakek muka hitam terkejut, masih dapat mengelak sambil menangkap dayung itu, akan tetapi ternyata kakek gundul itu hanya menipunya karena sambil tertawa lalu tangannya meraih dan....

ular kecil itu kembali berpindah tangan, dari tangan kakek tinggi besar bermuka hitam terampas oleh kakek gundul.

"Keparat....!"

Kakek muka hitam menggerakkan dayung rampasannya dan menghantam ke perahu lawan.

"Brakkkk....!"

Perahu itu hancur berkeping-keping dan Si Kakek Gundul sambil tertawa lalu menyelam dan lenyap!

Sementara itu, Topeng Setan berhasil hinggap di ujung balok tiang layar.

Ceng Ceng sudah siuman dan pertama kali gadis ini melihat lengan kiri Topeng Setan yang lenyap, hanya tinggal pundak kiri yang berlepotan darah, hampir dia pingsan lagi.

"Paman....!"

Dia menjerit dan memeluk tubuh mandi darah itu.

"Kau.... kau.... lenganmu....?"

"Tidak apa, Ceng Ceng.... tidak apa...."

Topeng Setan berkata tenang.

"Tidak apa-apa? Lenganmu buntung dan kau bilang tidak apa-apa?"

Ceng Ceng lalu cepat mengeluarkan obat bubuk yang sudah basah semua dari dalam bajunya, mengobati pundak yang buntung itu dengan hati penuh kengerian dan keharuan, kemudian dia merobek baju Topeng Setan dan membalut luka yang kini darahnya sudah berhenti mengucur.

Topeng Setan sama sekali tidak mengeluh, bahkan kelihatan tersenyum di balik to-pengnya yang buruk.

Kian Bu dan Hong Kui yang melihat semua ini menjadi bengong.

Kian Bu merasa kagum bukan main.

Betapa hebatnya orang yang bermuka buruk ini, yang dia tahu adalah pembantu dari Ceng Ceng.

Manusia muka buruk ini sudah putus lengannya, akan tetapi masih dapat bergerak sehebat itu di dalam air, berhasil menolong Ceng Ceng yang tadi pingsan, bahkan telah berhasil menangkap anak naga yang kini terampas oleh kakek gundul yang menyelam dan menghilang.

Melihat keslbukan Ceng Ceng merawat luka Topeng Setan, apalagi karena dia masih merasa malu karena terlihat berdua dengan Mauw Siauw Mo-li, maka Kian Bu tidak berani menegur Ceng Ceng yang agaknya juga tidak melihatnya biarpun mereka berada di satu balok tiang layar, di kedua ujungnya.

Agaknya Ceng Ceng juga tidak melihat dan mempedulikan keadaan sekelilingnya lagi karena seluruh perhatiannya tercurah kepada keadaan Topeng Setan yang kehilangan lengan kirinya.

"Sayang anak naga itu terampas Si Kakek Gundul...."

Terdengar Topeng Setan berkata.

"Peduli dengan ular itu....!"

Ceng Ceng menjawab sambil menyelesaikan pekerjaannya membalut pundak dengan hati-hati.

"Aku.... aku benci ular itu, Paman! Aku benci diriku sendiri karena aku yang menyebabkan kau kehilangan lengan kirimu."

"Ahhh.... jangan berkata begitu...."

Sementara itu, induk ular naga masih mengamuk karena selain matanya buta, lidahnya terluka, juga dia kehilangan anaknya.

Amukannya di dalam air itu agaknya membuat Si Kakek Gundul tidak kuat bertahan lama dan sudah muncul lagi ke permukaan air.

Akan tetapi begitu dia muncul, dari atas perahu besar milik Tambolon, tampak sinar hitam mencuat dan tahu-tahu tubuh kakek gundul sudah tertangkap dalam sehelai jaring hitam yang terbuat dari tali sutera halus yang amat kuat!

Kakek gundul yang masih memegangi ular kecil itu terkejut dan meronta-ronta, namun dia tidak berdaya ketika tubuhnya ditarik dan diangkat naik ke atas perahu oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya, yaitu Si Petani dan Si Siucai.

Begitu jaring dibuka, kakek gundul mengamuk dan gerakannya dahsyat sekali.

Akan tetapi tiba-tiba nenek itu berkata, suaranya melengking tinggi dan nadanya aneh.

"Jangan keroyok, biarkan dia!"

Mendengar ini, Tambolon dan dua orang pembantunya mundur dan nenek itu lalu berkata.

"Hai, cucuku gundul.... engkau memang anak baik sekali mau menyerahkan ular itu kepada nenekmu. Mari.... mari sini.... berikan ular itu kepadaku....!"

Ceng Ceng yang sudah selesai membalut, Kini bersama Topeng Setan memandang ke arah perahu itu dan mereka menjadi bengong terheran-heran melihat kakek gundul yang lihai dan yang tidak gentar dikeroyok oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya itu kini menjatuhkan diri berlutut di depan Si Nenek Hitam dan menyerahkan ular itu dengan kedua tangannya!

Sambil terkekeh Durganini menerima ular itu.

Begitu ular diterima, kakek gundul agaknya sadar dan dengan teriakan dahsyat dia meloncat berdiri dan hendak menerjang nenek itu.

Akan tetapi Tambolon dan dua orang pengawalnya sudah menyambutnya sehingga terjadilah pertandingan seru di atas perahu.

Akan tetapi kini semua perahu yang melihat bahwa ular yang diperebutkan itu terjatuh ke tangan Si Nenek Hitam, berbondong datang mendekati perahu besar Tambolon dan banyak sekali bayangan orang yang gerakannya ringan dan gesit berloncatan ke atas perahu besar itu untuk merampas ular kecil!

Di antara mereka terdapat Si Tosu Lihai, Hek-tiauw Lo-mo, dan banyak orang lagi termasuk Si Kakek Muka Hitam dan Si Kakek Gundul yang masih bertanding melawan Tambolon.

Anak buah raja liar ini menyambut dan terjadilah perang tanding yang amat seru di atas perahu.

Menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang pandai, Tambolon dan Si Nenek Lihai ini menjadi kewalahan juga dan dia tidak sempat menggunakan ilmu sihirnya terhadap begitu banyak orang pandai yang rata-rata memiliki tenaga batin amat kuat sehingga tidak mudah tunduk kepada kekuatan ilmu sihirnya.

Selagi Topeng Setan tidak tahu apakah dia harus pula ikut memasuki medan pertandingan itu, tiba-tiba perahu besar itu terlempar ke atas dan terbanting lalu terbalik!

Kiranya ular yang marah itu telah mengamuk dan menyundul perahu yang sudah pecah itu sehingga terbalik dan tentu saja semua orang lihai yang sedang enaknya bertempur semua terlampar ke dalam air!

Si Nenek Hitam yang lihai dan ahli ilmu sihir itu kehilangan kelihaiannya karena dia tidak pandai renang, maka dengan gelagapan dia terpaksa minta tolong dan dibantu oleh anak buah Tambolon, diseret kembali ke perahu yang sudah terbalik.

Akan tetapi dalam ketakutannya tenggelam tadi, nenek ini yang sudah pikun lupa akan ular kecil yang dipegangnya sehingga ular kecil itu terlepas.

Anak ular yang juga panik karena sejak tadi dicengkeram tangan-tangan panas dan kuat, dalam keadaan bingung dan panik meluncur dan berenang ke dekat tiang layar yang di-tumpangi Kian Bu, Hong Kui, Topeng Setan dan Ceng Ceng!

Melihat ini, Topeng Setan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.

Cepat tangannya meraih untuk menangkap anak naga itu.

"Desss....!"

Topeng Setan dan Kian Bu terkejut.

Keduanya tadi secara otomatis telah mengulur tangan hendak menangkap anak ular naga itu dan begitu tangan mereka saling bertemu, otomatis pula keduanya menyalurkan lengan sehingga terjadilah bentrokan hebat antara tangan mereka.

Kian Bu terkejut sekali karena merasa betapa tenaga yang keluar dari tangan Topeng Setan itu kuat bukan main, dan betapa orang yang sudah mengalami luka buntung lengan itu masih sanggup menandingi tenaganya.

Hal ini benar-benar membuat dia penasaran dan juga kagum bukan main.

Anak ular itu berenang ke dekat Ceng Ceng.

Tentu saja Ceng Ceng tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan cepat tangannya menyambar.

Akan tetapi pada saat itu, Lauw Hong Kui Si Siluman Kucing juga sudah menangkap pada saat yang bersamaan, tentu saja mereka lalu berebut dan saling betot!

Kasihan ular kecil itu yang dipegang kepala dan ekornya dan dijadikan rebutan!

Kian Bu memandang terbelalak.

Biasanya kekasihnya itu amat takut terhadap ular, bahkan beberapa kali pingsan melihat ular, akan tetapi mengapa kini berani menangkap ular itu dan membetotnya.

Melihat Ceng Ceng juga sudah menangkap ular itu, dia berteriak kepada Hong Kui.

"Enci, biarkan dia mendapatkan ular itu....!"

Hong Kui terkejut dan marah.

"Apa? Tidak sudi!"

Dan dengan marah dia menarik sekuatnya.

Ceng Ceng tentu saja mempertahankannya, gadis ini lebih beruntung dalam perebutan itu karena dia tadi memegang kepala ular yang tentu saja merupakan bagian yang lebih kuat daripada bagian ekornya.

"Prattt....!"

Anak ular naga itu putus menjadi dua dan putusnya di dekat ekor sehingga Hong Kui hanya mendapatkan bagian yang sedikit saja, yaitu bagian ekornya!

Dan karena Ceng Ceng yang mempertahankan ular itu berada di pinggir balok dan kini tiba-tiba ular putus, tak dapat dihindarkan lagi Ceng Ceng terjengkang dan terjatuh ke dalam air.

Pada saat itu, induk ular naga sudah tiba di atas lagi, ekornya mobat-mabit dan balok tiang itu kena dihantam ekor yang amat kuat, pecah berantakan.

Topeng Setan yang setengah pingsan karena penderitaannya itu melihat Ceng Ceng terjatuh ke dalam air, tahu bahwa gadis itu terancam bahaya karena tidak pandai berenang, maka tepat pada saat balok tiang dihantam ekor ular naga, dia sudah meloncat terjun ke air dan mengejar Ceng Ceng, merangkulnya dan terus dibawanya gadis itu menyelam selagi ular naga mengamuk di atas mereka.

Dia maklum bahwa keadaan sudah berbahaya sekali, tenaganya sudah tidak dapat diandalkan lagi untuk melindungi Ceng Ceng dan kalau mereka muncul lagi di permukaan air, tentu semua orang lihai itu akan mengeroyok mereka karena ular itu, biarpun ekornya putus sedikit, masih berada di tangan Ceng Ceng.

Karena dia maklum bahwa sekali mereka muncul, tentu mereka akan celaka dan terutama sekali yang terpenting baginya, Ceng Ceng akan terancam bahaya dan anak ular naga itu akan dirampas orang, maka Topeng Setan mengambil keputusan nekat.

Dia hendak membawa Ceng Ceng menyelam terus dan berenang di bawah permukaan air menuju ke tepi telaga.

Dengan sin-kangnya yang sudah amat kuat itu, dan melawan penderitaan tubuhnya yang terluka hebat dengan kekuatan kemauannya yang membaja, Topeng Setan lalu menyeret tubuh Ceng Ceng yang dirangkulnya itu, mulai berenang meninggalkan tempat berbahaya itu di mana tidak hanya ular naga raksasa yang mengamuk, akan tetapi juga banyak tokoh lihai yang mencari-cari mereka.

Dengan pengerahan tenaga yang amat mentakjubkan, yang sesungguhnya terdorong oleh keinginan dan kemauannya untuk menyelamatkan Ceng Ceng, Topeng Setan berenang cepat dan hanya menggunakan kedua kakinya dan dia berhasil menjauhi tempat itu.

Kakinya yang pernah dihantam ekor ular naga terasa nyeri bukan main, akan tetapi dia tidak mau merasakan siksaan ini dan terus menggerakkan kedua kaki meluncur ke depan.

Dengan sin-kangnya yang sudah mencapai puncak, dia dapat "menyimpan"

Hawa udara sehingga dia masih kuat bertahan.

Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Ceng Ceng.

Dasar sin-kang dari gadis ini masih lemah sekali, maka kini dia mulai kehabisan napas, meronta-ronta dan hal ini diketahui oleh Topeng Setan.

Akan tetapi, kalau dia membawa Ceng Ceng muncul ke permukaan untuk mencari hawa segar dan bernapas, tentu akan kelihatan oleh musuh dan selanjutnya mereka tidak mungkin dapat melari-kan diri lagi, karena tentu akan dikejar-kejar, baik di permukaan air atau di dalam air.

Di antara mereka terdapat banyak ahli bermain di air, seperti kakek gundul dan tosu itu.

Maka Topeng Setan mempererat pelukannya dan tidak membolehkan Ceng Ceng yang sudah kehabisan napas itu untuk naik ke permukaan air.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa kalau dibiarkan terus, gadis itu akan kehabisan napas dan akan tewas pula, maka dia lalu mengambil keputusan nekat.

Diangkatnya tubuh Ceng Ceng, didekatkan muka gadis itu dengan mukanya.

Di dalam air yang jernih itu mereka tidak dapat saling melihat, karena sinar bulan tidak dapat menembus sedalam itu, akan tetapi remang-remang mereka masih dapat saling melihat bayangan mereka.

Topeng Setan lalu menundukkan mukanya dan....

dia menutup mulut Ceng Ceng dengan mulutnya sendiri!

Tentu saja Ceng Ceng terkejut bukan main, mula-mula tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh orang tua itu.

Dia sudah pening dan telinganya mengeluarkan bunyi mengaung, dadanya seperti hendak meledak.

Rasa kaget ketika merasa betapa mulutnya dicium seperti itu oleh Topeng Setan, membuat dia ingin menjerit dan otomatis mulutnya terbuka.

Agaknya inilah yang dikehendaki Topeng Setan.

Dengan bibir masih menutup mulut Ceng Ceng yang terengah-engah itu, dia mengeluarkan hawa "simpanan"

Yang masih bersih, ditiupkannya ke dalam paru-paru Ceng Ceng yang sudah kehabisan napas.

Ceng Ceng gelagapan akan tetapi dadanya menjadi lega dan kini lenyaplah kekagetan dan kemarahan yang tadi menyelinap di dalam hatinya.

Kini dia mengerti bahwa orang tua bertopeng buruk itu, sama sekali tidak berniat kurang ajar kepadanya.

Sebaliknya malah, kembali Topeng Setan menyelamatkannya!

Dan dia tahu bahwa cara penyelamatan ini pun suatu pengorbanan diri karena dengan memberikan hawa cadangan itu kepadanya, berarti Topeng Setan sendiri akan cepat kehabisan napas!

Keharuan memenuhi hati Ceng Ceng dan ketika Topeng Setan melepaskan "ciumannya", dia merangkul pinggang kakek itu dan merapatkan tubuhnya sebagai tanda terima kasihnya.

Kini Ceng Ceng dapat bertahan dan mereka terus berenang ke suatu arah tertentu, secara untung-untungan karena mereka tidak dapat melihat arah mana yang terdekat ke pantai.

Setiap kali Ceng Ceng kehabisan napas, Topeng Setan lalu "menciumnya"

Seperti tadi untuk memindahkan hawa murni dan sampai tiga kali dia melakukan hal ini yang berarti menyambung napas dan umur gadis itu.

Ceng Ceng tidak meronta lagi, dan setiap kali dia dicium, dia memejamkan matanya dan sungguh aneh, dalam keadaan tercium itu, yang amat terasa olehnya, dia membayangkan wajah....

pemuda laknat yang telah memperkosanya!

Dia sendiri merasa heran.

Dicobanya untuk membayangkan wajah Pangeran Yung Hwa, mengkhayal bahwa pangeran yang tampan dan menarik itulah yang menciumnya, akan tetapi tetap saja wajah pemuda laknat itu yang muncul!

Ketika akhirnya, secara kebetulan sekali, mereka dapat mendarat di pantai terdekat, keduanya sudah kehabisan napas.

Mereka terengah-engah di pantai, dengan tubuh bawah masih terendam air dan tubuh atas rebah di atas lumpur, dada mereka terasa seperti akan meledak, terengah-engah seperti ikan-ikan terdampar di daratan.

Akan tetapi anak ular naga itu masih terus digenggam tangan kanan Ceng Ceng, dan tubuh ular yang ekornya buntung itu masih membelit lengannya dengan kuat.

Sementara itu, jauh di tengah telaga, orang-orang lihai masih terus sibuk melawan ular naga yang mengamuk dan mereka sibuk pula berusaha mencari Topeng Setan dan Ceng Ceng.

Adapun Hong Kui dan Kian Bu yang tadi terlempar ke air ketika balok tiang layar dihantam oleh ekor ular naga, kini sudah berhasil menyelamatkan diri ke atas sebuah pecahan perahu.

Melihat ekor ular itu yang masih berdarah, Hong Kui terus saja memasukkannya ke dalam mulutnya dan Kian Bu merasa ngeri melihat betapa mulut yang bentuknya indah itu, bibir yang merah basah dan yang sudah amat dikenalnya dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan mesra, kini mengunyah daging, tulang dan kulit ular yang berdarah itu sampai terdengar suara berkerotakan ketika tulang-tulang ekor ular kecil itu hancur digilas oleh gigi-gigi kecil kuat dari Hong Kui.

Sedikit pun tidak kelihatan wanita itu merasa jijik, maka kini Kian Bu mulai mengerti bahwa Hong Kui sebenarnya sama sekali tidak takut kepada ular!

Terbukalah matanya bahwa selama ini wanita itu memang sengaja memancing dan merayunya dan dia merasa betapa bodohnya dia.

Akan tetapi biarpun kenyataan ini membuat dia kehilangan perasaan cinta terhadap Hong Kui, namun tidak melenyapkan rasa tertariknya.

Wanita itu telah memperkenalkan kenikmatan yang luar biasa kepadanya dan dia masih merasa sayang untuk melepaskannya!

Kalau tadinya Kian Bu hampir mengakui dan percaya bahwa dia jatuh cinta kepada Hong Kui, semenjak peristiwa memperebutkan ular itu, dia yakin bahwa sebetulnya tidak ada kasih di hatinya terhadap wanita ini, melainkan hanya nafsu kesenangan karena wanita ini memang hebat dan pandai sekali menghibur dan menyenangkan hatinya.

Dan melihat Hong Kui mengunyah dan makan ekor ular itu mentah-mentah, timbul juga rasa kasihan di hatinya karena dia maklum bahwa wanita itu terpaksa melakukan hal ini karena khawatir kalau-kalau bagian yang hanya sedikit itu akan terampas orang lain!

Akan tetapi, yang sedikit ini pun cukuplah karena seketika itu juga Hong Kui merasa betapa tekanan panas di pusarnya akibat keracunan telah lenyap sama sekali begitu ekor ular itu mema-suki perutnya!

Topeng Setan sudah dapat memulihkan pernapasannya.

Pundak kirinya terasa sakit bukan main, berdenyut-denyut sampai terasa di ubun-ubun kepalanya, juga kaki kanannya yang kena hantaman ekor ular naga masih terasa setengah lumpuh.

Lebih-lebih lagi hatinya seperti ditusuk-tusuk kalau dia teringat akan lengan kirinya yang buntung akan tetapi semua penderitaan lahir batinnya ini dilupakannya seketika ketika dia menoleh kepada Ceng Ceng yang juga sudah tidak begitu terengah-engah seperti tadi.

"Cepat kau makan ular itu. Ular inilah obat yang akan menghilangkan semua racun yang mengancam nyawamu. Cepatlah, Ceng Ceng."

Topeng Setan berkata.

Ceng Ceng menoleh kepadanya, mukanya pucat, sebagian tertutup rambutnya yang terurai awut-awutan dan basah kuyup.

Begitu menoleh dia melihat lengan kiri yang buntung itu dan tiba-tiba Ceng Ceng memandang ular di tangannya dengan wajah beringas.

"Ular sialan! Ular itu telah membuat lenganmu buntung, Paman. Aku benci ular itu!"

Ceng Ceng lalu melemparkan ular itu ke telaga! "Aihhh.... kau.... kau gila....!"

Topeng Setan berteriak kaget sekali dan cepat dia terjun ke air dan berenang mengejar ular itu.

Untung ular itu sudah menjadi lemah dan setengah mati karena sejak tadi kepalanya digenggam oleh Ceng Ceng dan ekornya telah buntung, maka dia tidak menyelam dan hanya berenang lambat-lambat ke sana-sini sehingga mudah bagi Topeng Setan untuk menangkapnya dan membawanya berenang ke pinggir.

Ceng Ceng sudah merangkak dan duduk di atas tanah yang keras di tepi telaga ketika Topeng Setan mendarat.

"Kau harus makan daging ular ini dan minum darahnya."

Dia berkata.

"Ular sialan itu, biarlah aku tidak berobat lagi, Paman."

"Kau harus!"

"Tidak....!"

"Aku akan memaksamu!"

Ceng Ceng yang pada dasarnya berhati keras itu, mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang keras dan marah dari Topeng Setan, lupa kalau orang itu telah kehilangan lengannya dan dia me-loncat bangun sambil mengepal kedua tangannya.

"Tidak! Tidak sudi! Coba kau memaksaku kalau berani."

"Mengapa tidak berani? Hanya ular ini obatnya yang akan menyelamatkan nyawamu, Ceng Ceng."

Tiba-tiba Topeng Setan menyerbu dan Ceng Ceng berusaha mengelak, akan tetapi dia kalah cepat, dan sebuah totokan pada pundaknya membuat dia roboh dan tak dapat bergerak lagi.

Akan tetapi sebelum dia roboh, lengan Topeng Setan sudah menahannya dan dia lalu direbahkan dengan hati-hati di atas rumput.

"Karena kau berkeras menolak, aku terpaksa menggunakan kekerasan ini, Ceng Ceng. Ular ini harus cepat kau pergunakan sebagai obat, kalau sampai mereka mengejar ke sini, ular ini akan terampas dan kau akan celaka. Maafkan aku, terpaksa aku melakukan ini padamu...."

Topeng Setan mencari sehelai daun teratai lebar, membuatnya dengan susah payah sebagai tempat air dan sementara itu dia menjepit leher ular dengan jari kakinya yang dilepaskan dari sepatunya yang basah, kemudian dengan jari-jari tangannya yang panjang dia menggulung dan menggenggam ular itu ke dalam kepalannya, dan mengerahkan tenaga menghimpitnya!

Tentu saja kepala dan tubuh ular itu menjadi hancur dan cairannya mengucur ke dalam mangkok daun teratai itu, cairan yang terdiri dari darah dan perasan tubuh ular itu, cairan kuning kemerahan yang dipandang dengan mata jijik oleh Ceng Ceng.

"Cairan ini mengandung obat mujarab, akan tetapi juga mengandung racun ular itu yang akan mematikan bagi orang biasa. Akan tetapi karena tubuhmu sudah kebal racun, maka racun ular ini tidak akan mengganggu, bahkan mungkin akan mendatangkan suatu keuntungan bagimu, Ceng Ceng. Mestinya tidak dihidangkan secara begini saja, yang agak menjijikkan, akan tetapi apa boleh buat, kita masih belum aman benar dan obat ini perlu secepatnya kau minum."

Ceng Ceng yang sudah lumpuh kaki tangannya itu hanya menjawab pendek.

"Aku tidak mau!"

"Maaf....!"

Topeng Setan kembali menggerakkan jari tangannya.

"Aaaahhhh!"

Mulut Ceng Ceng terbuka dan tak dapat tertutup kembali!

Topeng Setan lalu menuangkan cairan itu ke dalam mulut yang terbuka itu!

Ceng Ceng mencium bau yang amat amis dan busuk, maka dia tidak mau menelan cairan yang sudah berada di mulutnya itu.

"Maaf, terpaksa aku....!"

Topeng Setan lalu menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk memencet kedua lubang hidung Ceng Ceng.

Dipencet lubang hidungnya seperti itu, Ceng Ceng tak dapat bernapas dan gelagapan sehingga terpaksa cairan itu tertelan olehnya.

Dia di "cekoki"

Cairan ular yang menjijikkan itu.

Topeng Setan itu lalu membebaskan totokannya dan Ceng Ceng bangkit duduk, meludah berkali-kali akan tetapi cairan itu telah memasuki perutnya.

(Lanjut ke

Jilid 47) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 47

"Kau maafkanlah aku, Ceng Ceng...."

Suara itu demikian penuh permohonan dan penyesalan sehingga kemarahan Ceng Ceng sudah sebagian terusir pergi.

Apalagi dia ingat bahwa semua yang dilakukan oleh Topeng Setan itu semata-mata adalah untuk menolongnya.

Dan penolakannya tadi pun hanya karena berduka dan menyesal mengapa untuk mencari ular itu Topeng Setan sampai mengorbankan lengannya.

"Mengapa kau minta maaf?"

Tanyanya pendek.

"Maaf bahwa aku terpaksa memaksamu minum cairan obat itu."

"Engkau memaksaku karena aku menolak dan engkau melakukan itu karena engkau hendak menolongku, Paman."

"Maaf, bahwa aku harus memencet hidungmu, menotokmu, mencekokkan obat itu kepadamu."

"Sudahlah, obat sudah masuk ke perutku, mengapa diributkan lagi?"

"Dan maafkan aku.... aku terpaksa mengoper hawa murni kepadamu secara itu...."

Topeng Setan memalingkan mukanya membelakangi Ceng Ceng, lalu bangkit berdiri dan memasuki hutan tak jauh dari situ.

Ceng Ceng juga bangkit dan mengikutinya memasuki hutan itu.

Di bawah sebatang pohon, Topeng Setan lalu berusaha membuat api, akan tetapi karena tangannya tinggal satu, sukarlah dia menggosok-gosokkan kayu kering untuk membuat api.

Ceng Ceng merebut kayu kering itu dan dia lalu membuat api dan menyalakan api unggun.

Tanpa bicara keduanya duduk di dekat api unggun itu.

Topeng Setan merenung ke dalam api, sedangkan Ceng Ceng memandang wajah yang buruk itu.

"Kenapa kau minta maaf tentang itu, Paman? Kalau kau tidak melakukannya, tentu saat ini aku sudah menjadi mayat dengan perut kembung penuh air."

Topeng Setan menoleh dan mereka saling pandang.

Pengalaman hebat yang baru saja mereka alami berdua itu masih menegangkan hati mereka.

Ketika dua pasang mata itu bertemu, Topeng Setan cepat mengelak dan menunduk.

"Bagaimana.... perasaan tubuhmu sekarang, Ceng Ceng?"

Ceng Ceng juga sadar betapa dia tadi memandang orang itu dengan sinar mata penuh kagum, penuh rasa syukur dan terima kasih, maka dia cepat menjawab sambil merasakan keadaan tubuhnya.

"Rasanya enak dan hangat.... dan rasa muak itu lenyap, Paman."

"Hemm.... aku yakin bahwa engkau akan sembuh sama sekali. Engkau telah terbebas dari bahaya maut, Ceng Ceng."

Suara itu terdengar girang. Ceng Ceng merasa jantungnya seperti ditusuk.

"Apa artinya itu? Dan untuk nyawaku yang tidak berharga ini engkau harus mengorbankan lengan kirimu! Ah, Paman....!"

Topeng Setan menoleh ke kiri memandang ke arah pundaknya yang buntung.

"Ah, ini? Tidak begitu hebat. Sekali waktu manusia akan kehilangan sesuatu yang berharga di luar kehendaknya, Ceng Ceng. Kalau dia dapat menghadapi peristiwa itu dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran, maka tidaklah terlalu menyiksa hati benar...."

Ceng Ceng memandang dengan mata terbelalak.

"Kau.... kau kehilangan lengan kiri dan tidak tersiksa hatimu karenanya?"

Topeng Setan menggeleng kepalanya.

"Ceng Ceng, segala peristiwa yang terjadi, menimpa diri kita tidak mengandung suka maupun duka, tidak mengadung sesuatu yang ada hubungannya dengan batin. Suka atau duka adalah permainan batin, permainan hati dan pikiran. Betapapun akan hebatnya pikiranku menyiksa hati, tetap saja lenganku takkan dapat tumbuh kembali. Karena itu, mengapa harus dipikir? Permainan pikiran hanya akan menimbulkan derita batin, menimbulkan duka, menimbulkan sengsara dan menimbulkan kebencian, dendam dan permusuhan belaka...."

Ceng Ceng makin terheran-heran.

Manusia ataukah apa yang bersembunyi di dalam topeng itu?

"Paman, setelah segala yang kau lakukan demi aku, setelah segala budi yang berlimpah-limpah bertumpuk yang kau lakukan untukku, setelah segala pengorbanan besar yang kau derita karena aku, maukah engkau memenuhi permintaanku ini?

Aku....

aku ingin sekali melihat wajahmu, Paman."

Topeng Setan kelihatan terkejut sekali, tersentak kaget dan melangkah mundur seperti terhuyung sampai punggungnya menabrak batang pohon di belakangnya, kepalanya digelengkan dan matanya terbelalak menatap wajah Ceng Ceng.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert