Eps 2 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.
Sambil tertawa-tawa ia menghalau semua serangan dengan dorongan-dorongan hawa pukulan dahsyat ini, kemudian melanjutkan dengan pukulan.
Setiap pukulan atau dorongan yang disertai pengerahan sin-kang yang aneh dari tangannya yang berubah merah dan mengeluarkan asap, tentu merobohkan lawannya.
Akibatnya, dalam waktu singkat saja, dua orang pembantu Lauw-pangcu roboh tewas, Lauw-pangcu sendiri roboh terluka.
Khu Cen Tiam kehilangan cambuk dan lengannya patah tulangnya.
Liem Sian patah-patah toyanya dan sambungan pundaknya patah pula, adapun Bhok Kim sudah tertotok dan kini pinggang gadis itu dikempit oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Kakek ini terbahak-bahak tertawa sedangkan muridnya, Ouwyang Seng, kini sudah datang mendekat sambil menuntun kuda, wajahnya berseri dan pandang matanya penuh kebanggaan.
Sin Lian lari menubruk ayahnya yang terluka dadanya sambil memanggil nama ayahnya yang pingsan.
"Ayah...., Ayahhh....."
Biarpun lengannya sudah patah tulangnya, Khu Cen Tiam masih berdiri gagah.
Demikian pula Liem Sian yang terlepas sambungan pundak kirinya.
Mereka berdiri dengan muka pucat dan memandang kakek botak penuh kemarahan dan kebencian.
"Locianpwe adalah seorang datuk terkemuka. Kami sudah kalah, hal ini sudah lazim dalam pertandingan, kalau tidak menang tentu kalah. Akan tetapi mengapa locianpwe menawan sumoi kami? Harap locianpwe membebaskannya,"
Kata Khu Cen Tiam yang menyebut locianpwe, karena memang dalam hatinya ia takluk dan kagum akan kehebatan ilmu kepandaian kakek yang merupakan seorang di antara Lima Datuk Hitam itu.
Lima Datuk Besar atau Lima Datuk Hitam sama saja karena Lima Datuk itu adalah lima orang berilmu tinggi yang merupakan orang-orang tingkat pertama di dunia persilatan, akan tetapi karena kelimanya merupakan tokoh-tokoh yang kejam, maka diam-diam orang menyebut mereka Lima Datuk Hitam.
"Heh-heh-heh, kalau tidak memandang muka Ceng San Hwesio, apakah kalian bertiga masih dapat bernapas saat ini? Sumoimu ini manis, biar dia menemaniku untuk beberapa hari, sebagai penebus nyawa kalian."
Khu Cen Tiam dan Liem Sian membentak marah.
Biarpun sudah terluka, kemarahan mereka membuat mereka menerjang maju, namun dengan hanya dorongan tangan kiri saja, keduanya sudah terbanting dan terjengkang ke belakang.
"Baik, kalau kamu iblis tua bangka memang ada keberanian, datanglah ke kota Tiong-kwan tiga hari lagi. Kami para anggauta Ho-han-hwe (Perkumpulan Para Patriot) menantangmu membuat perhitungan."
"Sute....."
Khu Cen Tiam menegur, akan tetapi ucapan sudah dikeluarkan dan kakek botak itu tertawa bergelak.
"Bagus.... bagus.... kiranya akan diadakan pertemuan di Tiong-kwan? Tentu saja aku datang, sekalian mengembalikan sumoimu yang kupinjam. Ha-ha-ha."
Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya melayang, kakek itu sambil mengempit tubuh Bhok Khim yang tak dapat bergerak itu sudah berada di atas kuda, kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan berkata.
"Mari, Kongcu. Jangan lupa ajak pelayan itu."
Dengan tangannya kakek itu mendorong ke arah pohon dan "kraaakkkkk."
Batang pohon itu patah dan pohonnya tumbang, membawa tubuh Han Han runtuh ke bawah bersama-sama.
Han Han bergulingan, kulitnya lecet-lecet dan cambuk di tangan Ouwyang Seng sudah meledak di atas kepalanya.
"Hayo tuntun kuda suhu, kau pemalas."
Bentak putera pangeran itu.
Han Han menoleh ke arah Sin Lian, melihat Sin Lian melotot kepadanya.
Ia menghela napas, mengangkat pundak, lalu berjalan menghampiri kuda dan menuntun kendali kuda itu, berjalan di depan kuda.
Terdengar olehnya tangis Sin Lian, akan tetapi karena kuda itu jalannya cepat sehingga punggungnya beherapa kali terdorong moncong kuda, Han Han mempercepat langkahnya dan sebentar saja sudah keluar dari dalam hutan itu.
Dapat dibayangkan betapa hancur dan sakit hati Lauw-pangcu melihat anak buahnya terbasmi habis oleh Si Setan Botak yang lihai itu.
Kematian kurang lebih lima puluh orang anggauta Pek-lian Kai-pang ini hampir menghabiskan semua anggautanya sehingga mereka yang kebetulan tidak berada di situ dan bebas dari kematian hanya tinggal beberapa orang saja.
Dengan dendam sedalam lautan, Lauw-pangcu mengurus jenazah semua anak buahnya, dibantu oleh Kang-lam Sam-eng yang kini tinggal dua orang, Khu Cen Tiam dan Liem Sian saja karena sumoi mereka, Bhok Khim, terculik oleh Si Kakek Sakti.
Dua orang anak murid Siauw-lim-pai ini pun di samping amat menyesal, juga amat marah dan sakit hati.
"Sudah kucegah tadi ji-wi enghiong bersama Bhok-lihiap untuk tidak mencampuri urusan kami,"
Demikian Lauw-pangcu berkata penuh penyesalan.
"Sekarang terbukti, selain ji-wi terluka, juga Bhok-lihiap terculik. Ahh, semua ini gara-gara Pek-lian Kai-pang. Lebih celaka lagi, malapetaka ini dibawa datang oleh muridku sendiri, si jahanam Sie Han."
Khu Cen Tiam dan Liem Sian menghibur ketua kai-pang yang berduka itu.
"Pangcu jangan berkata demikian. Kita sama-sama anggauta Ho-han-hwe, sudah bersumpah sehidup semati menghadapi penjajah dan para pengkhianat bangsa. Lebih baik kita lekas bereskan pekerjaan di sini dan cepat mengumpulkan saudara-saudara di Ho-han-hwe untuk merundingkan hal ini dan agar dapat menolong Sumoi dari tangan iblis itu."
"Ahhhhh, iblis itu terlampau sakti. Di dunia ini hanya ada lima orang datuk besar yang ilmu kepandaiannya amat luar biasa. Kita di Ho-han-hwe, siapakah kiranya yang akan mampu melawannya?"
Demikian keluh Lauw-pangcu dengan hati gentar kalau ia teringat akan sepak terjang Si Setan Botak tadi.
"Di antara saudara kita banyak yang lihai, kalau perlu aku akan memberi tahu para susiok dan juga tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw. Sute tadi telah menantangnya tiga hari lagi. Dalam waktu tiga hari kita harus dapat mendatangkan bala bantuan untuk membunuh iblis itu dan menolong sumoi."
Demikianlah, setelah penguburan sekian banyaknya jenazah itu selesai, tiga orang gagah ini bersama Sin Lian yang dalam usia sekecil itu sudah mengalami hal-hal yang menegangkan dan pembunuhan-pembunuhan massal yang mengerikan, pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kota Tiong-kwan lalu menghubungi para pejuang yang bergabung dalam perkumpulan Ho-han-hwe.
Sibuklah mereka semua itu mengundang orang-orang pandai dalam persiapan mereka menghadapi Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Adapun Kang-thouw-kwi Gak Liat yang menunggang kuda sambil memangku tubuh Bhok Khim yang tertotok lemas, diiringkan oleh Ouwyang Seng dan Han Han, pergi menuju ke timur menyusuri pantai Sungai Huang-ho.
Setelah melakukan perjalanan setengah hari, mereka tiba di pantai yang berbatu-batu dan kakek itu berkata.
"Berhenti di sini."
Ia meloncat turun, masih memondong tubuh Bhok Khim.
"Apakah disinik tempatnya batu-batu bintang yang suhu cari?"
Tanya Ouwyang Seng. Si Setan Botak mengangguk.
"Kau ajak Han Han mencari di pantai, sebanyak mungkin. Kau sudah tahu macamnya, seperti yang pernah aku perlihatkan dulu, Kongcu. Batu-batu itu penting sekali untuk latihanmu. Nah, aku mau mengaso bersama Si Manis ini."
Ouwyang Seng melihat betapa gurunya membungkuk dan mencium leher Bhok Khim yang menggeliat dan meronta lemah, tertawa bergelak, kemudian menangkap tangan Han Han dan ditarik sambil membentak.
"Bujang malas, hayo bantu aku mencari batu bintang."
Akan tetapi sekali merenggutkan tangannya, Han Han melepaskan diri.
Matanya terbelalak marah memandang ke arah Gak Liat Si Setan Botak yang sudah duduk di atas batu-batu kecil yang halus sambil memangku tubuh Bhok Khim dan mempermainkan rambut gadis itu yang hitam panjang.
Han Han dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh kakek botak itu terhadap Bhok Khim dan terbayanglah semua peristiwa jahanam yang menimpa diri kakak perempuannya dan ibunya.
Melihat Bhok Khim ia merasa seperti melihat cicinya sendiri yang telah lenyap, sungguhpun pandang mata Bhok Khim padanya bukanlah seperti pandang mata cicinya yang penuh kasih sayang.
Dengan langkah lebar ia menghampiri Gak Liat dan setelah tiba di depannya, Han Han menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya nyaring.
"Locianpwe adalah seorang yang sakti, dapat mengalahkan pengeroyokan puluhan orang. Akan tetapi mengapa kini melakukan perbuatan yang amat hina dan rendah?"
"Han Han, tutup mulutmu yang busuk."
Ouwyang Seng membentak marah, akan tetapi Si Setan Botak tertawa dan memberi isyarat dengan tangannya kepada muridnya untuk mundur.
Kemudian ia memandang wajah Han Han.
Sejenak pandang mata mereka bertemu dan kakek botak itu berseru perlahan.
"Demi iblis...., Matamu mata iblis.... Eh, bocah, perbuatan hina dan rendah apa yang telah aku lakukan?"
Han Han menuding ke arah Bhok Khim yang menggeliat-geliat di pangkuan kakek botak itu.
"Lepaskan cici itu dan aku baru dapat menganggap locianpwe seorang gagah dan sakti yang tidak melakukan perbuatan hina."
Si Setan Botak memandang terbelalak, lalu menunduk dan memandang wajah Bhok Khim yang cantik manis, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ini kau anggap perbuatan hina dan rendah? Ha-ha-ha-ha."
Dengan sengaja kakek ini lalu mengelus-elus pipi Bhok Khim yang halus, kemudian jari-jari tangannya menjalar ke bawah, meraba-raba leher dan dada.
Gadis itu menggeliat dan meronta lemah, akan tetapi karena ia berada dalam keadaan tertotok, ia tidak dapat melepaskan diri, kemudian meramkan mata dan merintih perlahan.
Kemarahan Han Han memuncak.
Depgan mata berapi ia memandang kakek botak itu dan membentak.
"Locianpwe! Kau tidak boleh menghina wanita."
Kakek itu mengangkat mukanya memandang sambil tertawa, akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan sinar mata Han Han, seketika tawanya terhenti, ia terbelalak, mulutnya ternganga dan terdengarlah ia berkata perlahan.
"Aku.... aku...."
Tentu saja Ouwyang Seng menjadi bengong menyaksikan keadaan suhunya ini, maka ia berseru keras dan heran.
"Suhu....! Apa artinya ini....?"
Sesungguhnya, pandang mata dan suara Han Han yang sedang marah itu mengandung tenaga mukjizat yang tidak sewajarnya.
Demikian kuat dan mukjizat tenaga sakti ini sehingga seorang seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri, seorang di antara Lima Datuk Besar, sampai terpengaruh.
Sayangnya, Han Han sendiri tidak sadar dan tidak tahu akan kekuatan dahsyat yang tersembunyi dalam pandang mata dan kekuatan pikirannya sehingga tentu saja ia tidak dapat memanfaatkannya.
Selain itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang kakek yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali dalam ilmu-ilmunya, maka ia cepat tersadar begitu mendengar seruan muridnya.
Ia sadar dengan kaget sekali dan melempar tubuh Bhok Khim ke samping.
Gadis itu terguling dan rebah miring, tanpa dapat bangun.
Di lain saat Gak Liat telah menyambar lengan Han Han dan ditariknya anak itu duduk di atas batu-batu kali, di depannya.
Sejenak kakek itu memandang dengan penuh perhatian sepasang mata Han Han yang masih bersinar-sinar sungguhpun kini kemarahan anak itu mereda karena melihat Bhok Khim sudah dilepaskan.
"Eh, Han Han, coba katakan, siapakah nama Ayahmu?"
Kalau Han Han ditanya riwayatnya, tentu ia tidak akan sudi menceritakannya, karena hal itu akan mengharuskan ia bercerita tentang malapetaka ngeri yang menimpa ayah bundanya.
Akan tetapi kalau hanya ditanya nama ayahnya saja, ia tidak keberatan untuk menjawab, apalagi ia memang hendak menyenangkan hati kakek ini agar selanjutnya tidak akan mengganggu Bhok Khim.
"Ayahku bernama Sie Bun An."
"Ayahmu ahli silat tinggi dan tokoh kang-ouw?"
"Ah, tidak sama sekali, locianpwe. Ayah seorang sastrawan, dan semenjak kecil Ayah melarang aku belajar silat, hanya memberi pelajaran tulis dan baca."
Ia berterus terang dengan suara keras.
Kalau dahulu di depan Lauw-pangcu ia tidak mengaku pandai membaca, kini di depan Si Setan Botak ia malah sengaja mengatakan ayahnya sastrawan.
Hal ini pun ada sebabnya, yaitu karena di situ hadir Ouwyang Seng.
Han Han yang sering kali mengalami penghinaan dari Ouwyang Seng putera pangeran, kini mendapat kesempatan untuk menyatakan bahwa dia adalah putera sastrawan dan pandai membaca kitab, dan dalam hal ini ia tidak mau kalah oleh Ouwyang Seng.
Mendengar ini, kakek botak itu tampak kecewa dan pandang matanya penuh selidik terheran-heran.
"Matamu itu.... hemmm.... Han Han, kau katakan, siapa nama Kong-kongmu (Kakekmu)? Barangkali aku mengenalnya."
"Aku tidak pernah melihat Kong-kong,"
Jawab Han Han sejujurnya.
"Dan Ayahku tidak banyak bercerita tentang Kong-kong. Hanya mengatakan bahwa Kong-kong adalah seorang perantau dan namanya Sie Hoat...."
Kakek botak itu meloncat bangun dan tertawa terbahak-bahak.
"Sie Hoat....? Sie Hoat Si Dewa Pencabut Bunga? Ha-ha-ha-ha-ha, engkau cucu Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)? Pantas.... pantas...."
Han Han bengong, mengira bahwa Si Botak ini selain lihai juga miring otaknya.
Ayahnya adalah seorang sastrawan yang kaya raya, biarpun ayahnya belum pernah bercerita tentang kakeknya, namun ia dapat menduga bahwa kakeknya pun tentu seorang sastrawan.
Mengapa kakek botak ini menyebutnya Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)?
Dengan pandang mata penasaran Han Han menatap wajah kakek botak itu dan bertanya.
"Kenapa locianpwe tertawa? Apakah locianpwe mengenal Kakekku?"
"Ha-ha-ha. Mengenal Jai-hwa-sian Sie Hoat? Ha-ha, dia sainganku terbesar dahulu. Dia masih hutang beberapa pukulan dariku. Dan kau.... ha-ha-ha, engkau cucunya mencela aku karena aku membelai seorang gadis cantik? Sungguh lucu, dan ingin aku melihat muka Sie Hoat kalau mendengar dan melihat ini semua ha-ha-ha-ha."
"Locianpwe, apa yang locianpwe maksudkan....?"
Han Han bertanya dengan suara keras, hatinya penuh rasa penasaran.
Akan tetapi Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya tertawa bergelak, lalu seperti orang gila ia memandang ke atas, ke arah awan yang berarak di langit.
"Dan kini cucumu menjadi pelayanku, Sie Hoat. Kalau engkau masih hidup, hayo datanglah dan jemputlah cucumu, ha-ha-ha."
Kemudian matanya memandang ke arah tubuh Bhok Khim yang masih rebah miring di atas tanah dan dengan langkah lebar menghampiri, lalu menyambar tubuh itu yang diangkatnya.
"Locianpwe tidak boleh....."
Akan tetapi ucapan Han Han ini terhenti karena lengannya telah ditangkap oleh Ouwyang Seng dan tubuhnya diseret pergi dari tempat itu.
"Engkau bocah tak tahu diri, berani sekali mengganggu suhu. Apakah engkau sudah bosan hidup? Anak kecil mencampuri urusan orang tua, sungguh lancang. Lebih baik kau bantu aku mencari batu-batu bintang. Kau pemberani, aku suka kepada anak pemberani dan aku tidak senang melihat kau dibunuh suhu kalau dia sudah marah. Kalau kau baik kepadanya, siapa tahu engkau akan diambil murid seperti aku."
Han Han yang terus diajak pergi sampai di tepi sungai yang banyak batu-batu karangnya, mengerti juga betapa tak mungkin ia dapat mencegah perbuatan kakek botak yang demikian sakti itu.
Sedangkan dalam pegangan Ouwyang Seng saja ia sudah tidak mampu berkutik.
Ia tertarik mendengar tentang bintang dan tentang kemungkinan ia diambil murid.
"Untuk apakah batu bintang? Dan batu bintang macam apa yang dimaksud?"
Tanyanya sambil memperhatikan ketika Ouwyang Seng mulai memilih-milih batu di antara batu karang yang banyak terdapat di situ.
"Kau lihat baik-baik batu ini dan bantu mencari sebanyaknya, nanti kucerita kan,"
Jawab Ouwyang Seng.
Han Han melihat batu yang dipilih bocah itu dan melihat bahwa batu itu kecil-kecil, paling besar sebesar tangannya dan bentuknya seperti pecahan batu karang, runcing-runcing dan tajam, akan tetapi warnanya kemerahan.
Ia lalu membantu dan mencari batu-batu seperti itu yang tidak banyak terdapat di situ, harus dicari dan dipilih dengan teliti baru dapat menemukan beberapa potong.
Sambil mencari Ouwyang Seng lalu memberi keterangan.
Seperti yang pernah didengar bocah ini dari gurunya, ratusan tahun yang lalu banyak orang menyaksikan benda besar seperti bola api melayang turun di daerah lembah Sungai Huang-ho ini.
Benda itu menurut dugaan banyak orang pandai adalah sepotong batu besar pecahan dari bintang, karena itu, melihat bahwa di daerah itu kemudian tampak banyak sekali pecahan-pecahan batu berwarna kemerahan, batu-batu ini disebut batu bintang.
Akan tetapi ketika orang berusaha mempergunakannya, batu-batu yang kecil ini tidak ada gunanya, bahkan untuk bahan bangunan pun tidak sebaik batu kali biasa, maka sampai ratusan tahun kemudian batu-batu ini tidak diperhatikan orang.
"Akan tetapi suhu yang sakti luar biasa melihat sifat yang mukjizat dari batu-batu ini,"
Demikian Ouwyang Seng melanjutkan ceritanya.
"Sifat yang cocok sekali untuk memperhebat ilmu kepandaian suhu yang berdasarkan pada tenaga Yang-kang."
Sambil memandangi batu-batu kemerahan itu penuh perhatian dengan hati tertarik sekali, Han Han lalu bertanya.
"Sifat mukjizat apakah? Dan apa itu Yang-kang?"
"Ah, dasar kau hijau bodoh tidak tahu apa-apa."
Ouwyang Seng mengomel.
"Masa tidak tahu Yang-kang? Ketahuilah, guruku adalah seorang di antara Lima Datuk Besar, dan ilmu kesaktiannya menjulang setinggi bintang di langit. Di dunia ini tidak ada seorang pun manusia sanggup menandingi ilmunya yang disebut Hwi-yang-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api). Dengan hawa dari tangannya, guruku dapat membuat kayu terbakar. Nah, batu-batu bintang ini mengandung tenaga mukjizat dari Yang-kang, dan menurut suhu, ada inti panasnya matahari tersembunyi di dalamnya. Agaknya bintang yang pecah ini tadinya berada di dekat matahari, aku tidak tahu jelas. Batu-batu ini dipergunakan oleh suhu untuk melatih kedua lengan."
"Bagaimana caranya?"
"Kau akan melihat sendiri. Tahukah engkau bahwa kedua lenganku ini dapat bertahan direndam air yang mendidih?"
"Ah, masa....?"
Tentu saja Han Han tidak percaya.
Ouwyang Seng tersenyum bangga dan menyingsingkan kedua lengan bajunya sehingga tampak kedua lengannya yang berkulit putih dan halus.
"Kedua lenganku ini kelak kalau sudah jadi benar seperti kedua lengan suhu, akan membuat aku dapat menjagoi seluruh jagat"
Kalau sudah selesai latihanku, sekali sampok saja aku dapat membuat hangus tubuh lawan yang bagaimana kuat sekalipun."
Han Han memandang dengan melongo, setengah tidak percaya, akan tetapi juga ngeri dan kagum.
Benarkah di dunia ada ilmu seperti itu?
Ia akan melihat dan membuktikan sendiri.
Berkali-kali ia dihina orang karena ia tidak bisa silat dan tidak memiliki kekuatan yang mukjizat.
Kalau dia sampai dapat menjadi seorang pandai, bukankah dengan mudah ia dapat menentang semua orang yang jahat-jahat itu?
Memang ia dapat membayangkan betapa senangnya memiliki sepasang lengan tangan yang lihai seperti itu, dapat mengeluarkan hawa panas seperti api.
"Benarkah semua yang kau katakan itu, Ouwyang Seng?"
Tiba-tiba bocah itu melotot dan membentak marah.
"Han Han! Di mana kesopananmu? Katamu sendiri kau keturunan sastrawan, mengapa tidak tahu sopan santun? Kau sekarang menjadi pelayan suhuku, berarti kau pelayanku juga. Dan ketahuilah bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok yang berpengaruh besar sekali di kota raja. Sudah seharusnya kalau kau juga menghormat padaku kalau kau tahu akan sopan santun."
Wajah Han Han menjadi merah. Tentu saja ia tahu akan semua peraturan ini, peraturan "sopan santun"
Yang diciptakan oleh kerajaan, yang mengharuskan sikecil mencium ujung sepatu si bangsawan, si miskin menyembah-nyembah si kaya.
Ia mengerti bahwa dia memang bersalah, maka ia menghela napas dan mengulangi pertanyaannya.
"Maaf, benarkah semua yang kau ceritakan tadi, Ouwyang-kongcu?"
Berseri wajah Ouwyang Seng.
"Bagus! Memang benar dugaanku, kau bukan sembarangan pengemis dan kini aku percaya bahwa engkau tentu keturunan seorang terpelajar. Guruku sendiri menyebutku Kongcu, tentu saja engkau pun harus menghormatku. Tentu benar apa yang aku ceritakan tadi dan engkau ini memang bernasib baik sekali, Han Han. Menjadi pelayan guruku berarti menemukan harta yang tak ternilai harganya, karena sedikit banyak engkau tentu akan dapat memetik ilmunya. Akan tetapi sudah tentu saja jangan harap mendapatkan sebanyak aku, karena aku muridnya. Mengerti? Hayo cepat kumpulkan batu bintang yang banyak."
Han Han mengangguk dan mereka berdua asyik mencari-cari batu bintang sampai terkumpul cukup banyak.
Ouwyang Seng membungkus batu-batu itu dengan kantung kain yang memang sudah dibawanya, lalu menyuruh Han Han memanggulnya.
Mereka berdua lalu kembali ke tempat di mana tadi mereka meninggalkan Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Ketika kedua orang anak itu tiba di situ, Han Han melihat bahwa kakek botak itu duduk di atas batu dengan mata dipejamkan dan mulut menyeringai, sedangkan tak jauh dari situ ia melihat Bhok Khim sedang melangkah pergi.
Wajah wanita itu pucat dan ia melangkah pergi sambil terisak menangis.
"Ho-ho, Manis, kenapa menangis? Laporkan saja kepada Ceng San Hwesio bahwa akulah yang mengganggumu, dan dia tentu tidak akan bisa berbuat sesuatu ho-ho-ha-ha."
Wanita muda itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan Han Han melihat betapa mata yang merah itu memandang penuh kebencian, wajah yang pucat itu basah air mata dan ia bergidik.
Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan wajah yang membayangkan kemarahan, kebencian dan dendam sehebat itu.
Bhok Khim lalu membalikkan tubuhnya lagi dan berlari, meninggalkan isak tangis yang bercampur dengan suara ketawa bergelak Si Kakek Botak.
"Sudah mendapatkan banyak batu bintang? Bagus, mari kita melanjutkan perjalanan pulang agar dapat cepat-cepat engkau berlatih, Kongcu."
Tubuh kakek botak yang tadinya duduk, tiba-tiba melambung ke atas dan pandang mata Han Han sampai menjadi berkunang ketika ia berusaha mengikuti gerakan kakek itu.
Tahu-tahu Si Kakek Botak sudah duduk di atas punggung kudanya.
Ouwyang Seng agaknya tidak heran menyaksikan demonstrasi kepandaian yang bagi Han Han seperti orang bermain sulap ini, bahkan lalu menepuk pundaknya.
"Hayo kita berangkat, Han Han. Hari sudah hampir gelap."
Kembali mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap.
Kuda yang ditunggangi oleh kakek botak yang duduk melenggut seperti orang mengantuk itu berjalan di depan, diikuti oleh Han Han yang memanggul kantung berisi batu-batu bintang, dan paling belakang adalah Ouwyang Seng yang berjalan sambil kadang-kadang mendorong pundak Han Han disuruh cepat agar jangan tertinggal langkah kuda.
Menjelang malam, tibalah mereka di tempat yang dijadikan tempat tinggal Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Han Han tertegun dan memandang kagum.
Rumah itu adalah sebuah gedung yang indah sekali, yang letaknya berada di sebelah timur kota Tiong-kwan, di dekat Sungai Suang-ho dan mempunyai tanah yang luas, yang dipagari dengan pagar tembok tinggi.
Inilah bukan sembarang rumah, pikirnya.
Seperti istana saja.
"Rumah siapa ini....?"
Tanyanya ketika mereka memasuki rumah itu setelah dua orang pelayan menyambut kuda tunggangan Si Kakek Botak dan Ouwyang Seng mengajak Han Han untuk terus menuju ke belakang melalui pintu samping, berbeda dengan kakek botak yang langsung memasuki gedung dari pintu tengah.
"Heh-heh, rumah siapa lagi? Ini rumahku."
"Rumahmu....?"
Han Han makin kagum.
"Bodoh, bukankah sudah kukatakan bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok? Apa artinya rumah ini bagi Ayah? Ini hanyalah sebuah rumah pesanggrahan yang biasanya ditinggali keluargaku di waktu musim panas. Kini dipergunakan oleh suhu untuk mengajar ilmu silat kepadaku. Hayolah. Kau makan dulu, kemudian tidur. Besok kita bekerja."
Ouwyang Seng lalu memanggil pelayan, menyuruh pelayan memberi makan kepada Han Han dan memberi sebuah kamar untuk tidur.
Kemudian kongcu itu pun melenyapkan diri ke dalam rumah gedung dan malampun tiba.
Pada keesokan harinya, Han Han terbangun pagi-pagi sekali.
Keadaan di dalam gedung masih sunyi, tanda bahwa semua penghuninya masih tidur.
Ia berindap-indap keluar dari kamarnya, yaitu sebuah kamar kecil di antara kamar-kamar untuk bujang di bagian belakang gedung, dan dengan hati-hati Han Han mencari jalan untuk lari minggat dari situ.
Betapapun tertarik hatinya untuk menyaksikan Ouwyang Seng berlatih dan kalau mungkin dia sendiri menerima pelajaran dari Setan Botak itu, namun ia masih memilih bebas daripada tekanan mereka dan dipaksa menjadi pelayan.
Karena kedua kaki Han Han telanjang, ia dapat melangkah secara hati-hati sekali tanpa mengeluarkan suara dan berhasil melewati kamar-kamar bujang tanpa membangunkan mereka.
Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa rumah gedung itu terkurung tembok tinggi sekali dan tidak ada jalan keluar sama sekali kecuali memanjat pintu gerbang atau tembok.
Akan tetapi pintu gerbang pun terlalu tinggi untuknya.
Selagi ia termangu bingung, terdengar suara tertawa.
"Ho-ho-ha-ha, kau hendak lari ke mana?"
Han Han terkejut dan cepat menengok, akan tetapi keadaan di sekelilingnya tetap sunyi dan gelap.
Tidak tampak bayangan seorang manusia pun, juga tidak tampak di mana adanya Setan Botak tua yang tadi ia dengar suaranya.
Ia bergidik.
Hebat bukan ilmu kesaktian kakek itu.
Mungkinkah dapat melihatnya dari dalam gedung dan dapat mengirim suaranya seperti itu?
Karena maklum bahwa usahanya untuk lari sia-sia belaka dan tak mungkin dapat ia lakukan, Han Han lalu kembali ke dalam kamarnya dan ia duduk bersila dan bersamadhi seperti yang pernah dilatihnya di bawah bimbingan Lauw-pangcu.
Setelah Ouwyang Seng bangun, Han Han diajak pergi ke tempat latihan.
Tempat ini dahulunya dijadikan sebuah gudang besar, akan tetapi sejak Gak Liat tinggal di situ, oleh kakek ini dijadikan semacam lian-bu-thia (ruangan bermain silat) lengkap dengan dapurnya di mana ia melatih diri dan muridnya untuk memperkuat Yang-kang dengan bantuan batu-batu bintang.
Masih ada lagi sebuah tempat yang letaknya di belakang gedung dan tempat ini penuh rahasia.
Kalau para pelayan di gedung itu masih diperbolehkan memasuki lian-bu-thia, maka tidak seorang pun kecuali kakek botak itu sendiri yang boleh memasuki tempat terlarang di belakang gedung ini.
Tempat itu dahulunya menjadi kebun dari gedung itu, akan tetapi kabarnya sebelum Pangeran Ouwyang membangun gedung di situ, kebun itu dahulunya sebuah tanah kuburan kuno.
Di tempat inilah Gak Liat secara rahasia menggembleng diri memperdalam kesaktian karena sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar ia harus selalu memperdalam ilmu agar jangan sampai kalah oleh datuk lain.
Han Han mendengar semua ini dari Ouwyang Seng.
"Engkau harus taat akan perintah suhu kalau kau ingin hidup,"
Antara lain putera pangeran itu berkata.
"Kalau suhu sudah marah dan menghendaki nyawamu, biar ada seribu orang dewa sekalipun tidak akan dapat menolongmu. Kau ingat baik-baik, sekali-kali jangan memasuki daerah terlarang di belakang gedung ini karena siapa saja, termasuk aku sendiri, kalau berani melanggar larangan ini, akan mati."
Diam-diam Han Han tidak puas hatinya.
Terlalu sekali Setan Botak itu, demikian pikirnya.
Karena ketidak senangan hatinya ia memberi nama Setan Botak kepada kakek itu.
Mudah saja memutuskan mati hidupnya orang lain.
Akan tetapi ia tidak mau banyak cakap.
Ia maklum bahwa keadaannya seperti seorang tahanan, tidak dapat lari dan terpaksa ia harus bekerja di situ.
Ia tidak bodoh, tidak mau nekat memperlihatkan ketidak senangannya karena berada dalam keadaan tidak berdaya.
Aku harus dapat memetik keuntungan sebanyaknya dalam keadaan seperti ini, pikirnya.
Maka ia lalu membantu pekerjaan di dalam lian-bu-thia seperti yang diperintahkan Ouwyang Seng.
Ia harus mengisi air yang diambilnya dari sumur, memenuhi sebuah kwali baja yang amat besar dan yang ditaruh di atas perapian.
Juga ia harus memukuli batu-batu bintang sampai menjadi kecil-kecil, mempergunakan sebuah palu besi.
Pekerjaan ini sukar dan meletihkan karena batu-batu bintang itu cukup keras.
Tiap kali beradu dengan palu besi, mengeluarkan titik-titik api dan kalau mengenai kulit lengan, terasa panas sekali.
Pecahan batu-batu bintang ini lalu dituangkan ke dalam kwali besar yang airnya mulai mendidih.
Pada saat itu, muncullah Gak Liat dan seperti biasanya, kemunculannya secara tiba-tiba seperti ia pandai menghilang saja.
Padahal ia dapat muncul seperti itu karena menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya sehingga gerakannya selain ringan tak terdengar, juga amat cepat.
"Suhu, apakah teecu (murid) sudah boleh berlatih dengan batu bintang?"
Ouwyang Seng bertanya.
"Hemmm...., masih jauh. Kedua lenganmu belum cukup kuat, Kongcu. Lebih baik kau tekun melatih kedua lenganmu dengan air panas beracun itu. Itu pun amat berguna, dan kelak kalau tingkatmu sudah cukup kuat, baru akan kulatih dengan air panas batu bintang. Mulailah, Kongcu. Dan kau, Han Han, air di kwali besar itu kurang penuh, hayo ambil lagi dan isi sampai penuh, kemudian besarkan apinya. Batu-batu kecil merah itu harus digodok sampai hancur."
Dengan muka keruh karena kecewa Ouwyang Seng menghampiri kwali yang lebih kecil, yang tadi ia tumpangkan di atas perapian kecil di sudut.
Air dalam kwali itu kelihatan menghitam, dan airnya sudah mulai panas akan tetapi masih belum mendidih.
Setelah menggulung kedua lengan bajunya, Ouwyang Seng memasukkan kedua tangannya ke dalam kwali air hitam, akan tetapi ia menyeringai kesakitan dan menarik kembali kedua tangannya keluar.
"Aduh, terlalu panas....."
Serunya.
"Hemmmmm, Kongcu kurang tekun berlatih."
Setan Botak menegur dan suaranya jelas membayangkan bahwa hatinya tidak puas.
"Yang begini saja tidak kuat, apalagi berlatih dengan batu bintang. Masukkan lagi tangan Kongcu ke dalam kwali itu, jangan ragu-ragu, masukkan."
Ouwyang Seng memandang ke arah suhunya dengan muka pucat, kemudian ia menggigit bibirnya dan dengan nekat memasukkan kedua lengannya ke dalam kwali di depannya.
Tubuhnya menggigil dan hampir ia tidak kuat menahan, akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengulur tangan kiri, menyentuh pundaknya dan tubuh Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, bahkan wajahnya kelihatan tenang.
"Bantulah dengan hawa dalam tubuh, Kongcu harus dalam keadaan siulian (samadhi) jika tidak kuat,"
Suara kakek itu mengomel.
Ouwyang Seng lalu meramkan kedua mata dan mulai mengatur napas mengumpulkan perasaan, mengerahkan hawa dari dalam pusar dan ketika kakek itu menarik kembali tangannya, Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, wajahnya tenang.
"Berlatih terus sampai dua hari dua malam, jangan hentikan kecuali makan, dari ulangi lagi sampai aku kembali dari pertemuan Ho-han-hwe,"
Pesan Si Kakek sambil berdiri dan bertolak pinggang.
Han Han yang sejak tadi berdiri memandang dan mendengarkan, menjadi terheran.
Air hitam itu terang amat panas, bahkan sudah mulai menguap, akan tetapi kini Ouwyang Seng dalam keadaan samadhi mampu menahan dengan kedua lengannya direndam air panas.
"Hei, mana airnya? Cepat tambah sampai penuh dan godok batu bintang sampai hancur. Kalau airnya menguap habis dan batunya masih belum hancur betul, tambah terus dan godok terus sampai hancur. Mengerti?"
Han Han terkejut dan sadar dari keadaan bengong tadi, cepat-cepat ia menyambar ember kosong dan lari ke sumur, mengambil air dan menuangkannya ke dalam kwali besar berisi batu bintang.
Kakek itu masih berdiri di situ, kemudian berkata.
"Kerjakan penggodokan batu ini sampai hancur, terus besarkan api sampai aku datang kembali. Awas, kalau aku datang batu-batu ini belum hancur, kau yang akan aku masukkan ke dalam air ini."
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, tubuh Setan Botak yang tinggi kurus itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Han Han sejenak memandang dan mencari-cari dengan matanya, kemudian melirik ke arah Ouwyang Seng yang masih duduk bersamadhi dengan kedua lengan direndam air hitam yang panas.
Han Han mengangkat pundak dan melanjutkan pekerjaannya, maklum bahwa ia tidak berdaya melarikan diri dan terpaksa harus melakukan perintah Setan Botak.
Akan tetapi betapa mendongkol hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa batu-batu bintang itu benar-benar amat sukar dicairkan.
Sampai berkali-kali ia harus menambah air lagi dalam kwali dan menambah kayu perapian sehingga hawa panas memenuhi ruangan "dapur"
Dari lian-bu-thia ini.
Baiknya ia bekerja kepada Ouwyang Seng, putera pangeran yang amat dihormat, dan diperhatikan keadaannya oleh para pelayan sehingga pada waktu-waktu tertentu tidak pernah pelayan lupa untuk mengantar minuman dan makanan.
Ouwyang Seng kelihatan gembira bahwa ia telah memperoleh kemajuan.
Kini tanpa bantuan gurunya, ia sudah dapat bertahan merendam kedua lengannya di air racun yang panas.
Karena kegembiraannya, ia sering bercerita di waktu mengaso sehingga Han Han banyak tahu akan keadaan yang aneh di tempat itu dan akan keadaan Setan Botak yang amat luar biasa itu.
Diam-diam di dalam hatinya Han Han bergidik.
Kalau saja ia tahu sebelumnya, tentu ia tidak akan membawa Setan Botak itu kepada sarang Pek-lian Kai-pang.
Bergidik ia teringat betapa banyaknya manusia menjadi korban kekejaman Si Setan Botak ini.
Menurut penuturan Ouwyang Seng yang sesungguhnya tidak banyak pengetahuannya tentang keadaan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagaimana yang ia ceritakan penuh kebanggaan kepada Han Han, kakek itu adalah tokoh terbesar di antara Lima Datuk Besar yang pada saat itu menguasai dunia kang-ouw golongan hitam.
Merupakan tokoh yang amat terkenal karena ilmunya yang mengerikan, yaitu Hwi-yang-sin-ciang, dan sudah banyak jasanya terhadap Pemerintah Mancu karena ketika barisan Mancu menyerbu ke selatan, kakek inilah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang melancarkan jalan dengan merobohkan pejuang-pejuang yang memiliki kesaktian.
"Menurut kata Ayahku, Pangeran Ouwyang Cin Kok, ilmu kepandaian suhu tidak ada lawannya di kolong langit ini, maka aku disuruh menjadi muridnya. Kau lihat sendiri, betapa hebat ilmunya. Dan aku.... aku sudah mulai dapat menggembleng kedua lenganku agar kelak menjadi jago nomor satu di dunia, setelah suhu."
Han Han amat tertarik.
Belum pernah ia mendengar tentang ilmu kesaktian yang aneh-aneh, sungguhpun sudah banyak ia membaca cerita tentang orang-orang sakti di jaman dahulu.
Kini ia tidak saja mendengar, bahkan ia menyaksikan dengan mata sendiri.
"Kongcu, tadi gurumu mengatakan telah mengenal Kakekku dan menyebut Kakekku Jai-hwa-sian, apakah kau pernah mendengar tentang Kakekku itu?"
Ouwyang Seng menggeleng kepala.
"Aku belum pernah mendengar nama itu. Mungkin para suheng (Kakak Seperguruan Laki-laki) atau suci (Kakak Seperguruan Perempuan) pernah mendengar dan mengetahuinya. Kelak akan kutanyakan mereka."
"Ah, jadi Kongcu masih mempunyai suheng dan suci?"
Ouwyang Seng mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja, dan mereka pun hebat"
Aku mempunyai dua orang suheng dan seorang suci, dan kepandaian mereka saja sudah cukup menggegerkan dunia dan tidak ada lawannya.
Akan tetapi menurut suhu, kalau aku tekun belajar, aku akan lebih lihai daripada mereka.
Han Han dapat menduga bahwa putera pangeran ini sedang bersombong, maka ia tidak begitu mengacuhkannya.
Pikirannya sendiri bekerja dan ia amat tertarik untuk mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, bukan sekali-kaii karena ia ingin menggunakannya untuk berkelahi memukul apalagi membunuh orang, melainkan keanehan ilmu-ilmu itulah yang menarik hatinya.
Ingin ia mengetahui rahasianya.
Ketika ia menuangkan air tadi, ada air dari kwali, air yang mendidih dan berwarna agak merah, memercik ke atas dan setetes air mengenai lengannya.
Kulit lengannya terasa panas sekali dan melepuh.
Hal ini adalah wajar, akan tetapi mengapa Ouwyang Seng dapat merendam kedua lengannya di air panas tanpa terluka?
"Kau lanjutkan pekerjaanmu menggodok batu bintang sampai hancur mencair, Han Han.
Jangan sampai gagal dan jangan menggangguku.
Ingat lagi, tak boleh sekali-kali kau keluar dari lian-bu-thia ini, apalagi berkeliaran di daerah terlarang di belakang gedung.
Kalau melanggar, engkau akan mati dalam keadaan mengerikan."
Sudah menjadi watak Han Han, juga mungkin watak sebagian besar anak-anak, makin terlarang makin ingin tahu.
"Ada apanya sih di daerah terlarang itu, Kongcu?"
"Hush! Mana aku tahu? Di situ tempat suhu bersamadhi dan melatih ilmu, tidak ada yang boleh masuk. Aku pun baru tiga kali diperkenankan masuk dan keadaannya mengerikan dan menyeramkan. Ada tengkorak-tengkorak hidup.... hihhh.... ada setan-setannya di situ. Akan tetapi, suhu menguasai setan-setan itu semua yang membantunya memperdalam ilmu-ilmunya."
Han Han merasa seram juga, akan tetapi diam-diam ia makin tertarik dan ingin sekali menjenguk daerah terlarang.
Namun tentu saja hai ini hanya ia simpan dalam hati dan karena melihat Ouwyang Seng sudah tekun bersamadhi dan berlatih, ia pun lalu duduk bersila di depan perapian menjaga godokan batu bintang.
Ho-han-hwe (Perkumpulan Kaum Patriot) adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah Mancu, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang kemudian di dunia kang-ouw sendiri dikenal dengan golongan putih atau kaum bersih sebagai tandingan dari mereka yang mendukung pemerintah penjajah yang mereka namai golongan hitam atau kaum sesat.
Di mana-mana ada Ho-han-hwe ini, namun tidak pernah ada tempat atau markasnya tertentu karena tentu saja perkumpulan ini merupakan perkumpulan rahasia yang oleh pemerintah Mancu dicap sebagai pemberontak.
Setiap saat dapat saja diadakan pertemuan rahasia antara tokoh-tokoh patriot ini yang secara diam-diam selalu mengadakan hubungan satu dengan yang lain.
Kang-lam Sam-eng Si Tiga Pendekar Kang-lam merupakan tokoh-tokoh bersemangat dari Ho-han-hwe.
Tiga orang murid Siauw-lim-pai inilah yang memelopori pertemuan antara orang gagah di Tiong-kwan yang menjadi pusat dari Pek-lian Kai-pang.
Tentu saja Pek-lian Kai-pang merupakan sepaham atau sahabat karena perkumpulan pengemis di bawah pimpinan Lauw-pangcu ini menjadi anak buah musuh Mancu di barat, yaitu Raja Muda Bu Sam Kwi.
Akan tetapi, tiga hari sebelum pertemuan penting ini diadakan, terjadilah malapetaka menimpa Pek-lian Kai-pang sehingga hampir seluruh anggauta perkumpulan pengemis pejuang ini terbasmi habis oleh datuk hitam Gak Liat, bahkan Lauw-pangcu sendiri terluka, juga Kang-lam Sam-eng yang tadinya datang mengunjungi sahabat mereka ikut pula mengalami nasib malang.
Khu Cen Tiam dan Liem Sian terluka dan Bhok Khim Si Pedang Cantik malah tertawan oleh Setan Botak yang lihai luar biasa itu.
Semua ini masih ditambah lagi dengan terpecahnya rahasia pertemuan Ho-han-hwe sehingga kini pertemuan itu terancam oleh hadirnya Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Peristiwa ini yang segera terdengar oleh kaum bersih, membuat mereka sibuk sekali membuat persiapan.
Nama besar Gak Liat sudah dikenal mereka semua, sungguhpun belum pernah ada yang bertemu, apalagi bertanding melawan datuk hitam itu.
Mereka sibuk mengundang tokoh-tokoh besar dari golongan putih, namun tak seorang pun yang merasa akan sanggup menandingi kesaktian Setan Botak.
Akhirnya, hati mereka lega, ketika Khu Cen Tiam dan Liem Sian berhasil mengundang Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pendekar Pedang Siauw-lim-pai) yang masih terhitung paman-paman guru Kang-lam Sam-eng, atau murid-murid dari Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai.
Agaknya hanya Siauw-lim Chit-kiam ini sajalah yang akan sanggup menandingi musuh itu.
Selain Siauw-lim Chit-kiam yang diundang datang oleh Khu Cen Tiam dan Liem Sian, juga ada beberapa orang tokoh undangan lain sehingga kedudukan Ho-han-hwe yang diadakan di Tiong-kwan itu cukup kuat.
Namun mereka itu telah mengatur siasat dan rencana, karena khawatir kalau-kalau yang muncul bukan hanya Setan Botak sendiri dan siapa tahu kalau-kalau di belakang Setan Botak ini terdapat pasukan pemerintah penjajah yang akan membasmi mereka.
Demikianlah, pada hari yang ditetapkan, semua orang gagah berkumpul dengan hati berdebar, dalam suasana penuh ketegangan.
Mereka memilih tempat di sebuah kuil tua, yaitu sebuah kuil di luar kota Tiong-kwan sebelah barat.
Kuil ini selain sudah tua tidak terpakai lagi, juga memiliki pekarangan yang luas dan jauh dari tetangga, letaknya sunyi dan dari tempat itu akan mudah diketahui kalau ada pihak musuh datang menyerang.
Semenjak pagi, sudah banyak anggauta-anggauta Ho-han-hwe yang berdatangan.
Sambungan pundak Liem Sian yang terlepas telah dapat disambung kembali, dan lengan Khu Cen Tiam juga sudah diobati dan masih terbalut.
Semua ini dapat dilakukan berkat ilmu pengobatan yang tinggi dari seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam.
Namun tentu saja kedua orang ini masih harus beristirahat dan tidak mungkin dapat menghadapi dan ikut dalam pertandingan melawan musuh pandai.
Ada tiga puluh orang lebih yang berkumpul, kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang tinggi ilmu silatnya.
Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian, juga menjadi pusat harapan mereka, adalah Siauw-lim Chit-kiam yang rata-rata berusia lima puluhan tahun dan bersikap tenang sekali, ditambah lagi dua orang tokoh undangan lain yang namanya tidak kalah tenarnya dari Siauw-lim Chit-kiam.
Mereka ini adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam dan seorang lagi kakek kurus kering bermuka pucat.
Laki-laki tinggi besar itu bernama Giam Ki, akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Ban-kin Hek-gu (Kerbau Hitam Selaksa Kati).
Dari julukannya ini saja mudah diduga bahwa laki-laki tinggi besar berusia empat puluhan tahun ini selain memiliki ilmu silat Bu-tong-pai yang lihai, juga memiliki tenaga yang dahsyat.
Adapun laki-laki berusia enam puluhan tahun yang kecil tubuhnya dan bermuka pucat itu amat terkenal dengan julukannya It-ci Sin-mo (Iblis Berjari Sakti) dan bernama Tan Sun.
Kalau Giam Ki terkenal dengan tenaga luar yang dahsyat, adalah Tan Sun ini terkenal sebagai ahli lwee-keh (tenaga dalam) yang amat pandai mempergunakan jari tangan untuk melakukan ilmu tiam-hiat-hoat (menotok jalan darah).
Akan tetapi berbeda dengan sikap Siauw-lim Chit-kiam yang tenang dan diam, kedua orang ini agak sombong dan berlagak memandang rendah ancaman Kang-thouw-kwi Gak Liat"
Sikap ini hanya mendatangkan perasaan lega dan percaya di antara golongan muda yang hadir di Ho-han-hwe itu, akan tetapi bagi mereka yang lebih tua, bahkan menimbulkan kekhawatiran dan keraguan.
"Mengapa khawatir menghadapi Si Setan Botak?"
Demikian antara lain Ban-kin Hek-gu berkata sambil mengangkat dadanya yang lebar dan kuat.
"Kita sekalian hanya baru mendengar namanya sebagai seorang di antara Lima Datuk Hitam, Tak perlu gelisah. Macam datuk-datuk hitam yang berkecimpung di dunia kemaksiatan, mana mungkin bisa memiliki kesaktian tulen? Kalau dia datang, biarlah aku yang maju menghadapinya."
Karena semua orang maklum bahwa Si Kulit Hitam tinggi besar ini memang berkepandaian tinggi dan lihai sekali, mereka tidak mau membantah, apalagi mereka semua sedang dalam suasana berkabung.
Sebuah meja sembahyang besar dipasang di tengah ruangan dan mereka tadi satu demi satu telah melakukan sembahyang untuk mengenang dan menghormat kematian teman-teman mereka, yaitu anggauta-anggauta Pek-lian Kai-pang yang telah dibasmi oleh Setan Botak secara mengerikan.
"Kami percaya akan kemampuan Giam-taihiap dan amat mengharapkan bantuan taihiap yang berharga,"
Kata pula Khu Cen Tiam tenang.
"Akan tetapi kami harap sukalah Giam-taihiap dan semua saudara-saudara yang lain berhati-hati sekali. Setan Botak itu benar-benar amat lihai dan kesaktiannya dahsyat sekali. Kita telah mengatur rencana dan siasat, apabila dia datang dan tak dapat dilawan, kita harus mengandalkan tenaga bantuan ke tujuh orang susiok (Paman Guru) kami untuk menghadapinya."
Sambil berkata demikian, Khu Cen Tiam memandang ke arah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang duduk diam dan sejak tadi tidak berkata-kata, hanya mendengarkan dengan sikap tenang.
Seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang tertua, kakek berjenggot putih panjang berpemandangan tajam dan bernama Song Kai Sin, berkata dengan suara halus dan tenang.
"Kami bukanlah anggauta-anggauta Ho-han-hwe dan kami datang memenuhi undangan murid-murid keponakan kami hanya karena seorang keponakan perempuan kami ditawan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Meman, Gak Liat amat keji dan jahat, sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya, apalagi kalau Bhok Khim dia ganggu. Akan tetapi, dia amat sakti, sungguhpun kami sendiri belum pernah melawannya, namun menurut perhitungan kami, hanya kalau kami bertujuh maju bersama, mungkin baru dapat menahannya. Kalau sudah terjadi demikian, hendaknya rencana diteruskan dan jangan pedulikan kami. Kami Siauw-lim Chit-kiam sekali turun tangan memenuhi kewajiban, sudah rela dan siap untuk mengorbankan nyawa untuk membersihkan dunia dari tangan kotor seorang di antara Lima Datuk Hitam."
Setelah bicara demikian, Song Kai Sin kembali menundukkan mukanya dan bersamadhi seperti enam orang saudara seperguruannya.
Ketika orang memperhatikan, kiranya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini sejak tadi bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan diam-diam mereka sedang meyakinkan latihan untuk menyatukan semangat dan sin-kang mereka.
Untuk menghadapi seorang tokoh besar seperti Setan Botak, tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini yang sudah maklum akan kelihaian lawan, tanpa banyak cakap telah berlatih dan bersiap-siap.
Lauw-pangcu, ketua Pek-lian Kai-pang yang hadir pula dalam pertemuan ini, telah mendapat pengobatan pula dari lukanya di sebelah dalam tubuh akibat pukulan jarak jauh Setan Botak.
Wajah ketua Pek-lian Kai-pang ini pucat sekali dan tubuhnya masih lemah, namun semangatnya sama sekali tidaklah lemah, bahkan berkobar-kobar karena ia merasa sakit hati terhadap Setan Botak atas kematian hampir seluruh anggauta Pek-lian Kai-pang.
Setelah membawa puterinya, Sin Lian, ke rumah seorang sahabatnya di Tiong-kwan, menitipkan anak itu dan memesan kepada Sin Lian agar jangan keluar dari rumah, ia sebagai seorang terpenting dalam Ho-han-hwe itu lalu mengatur persiapan bersama Khu Cen Tiam dan Liem Sian.
Mereka semua telah bersepakat menjalankan siasat, yaitu dengan cara apa pun harus dapat mereka tewaskan Si Setan Botak, kalau mungkin dalam pertandingan, kalau tidak mungkin, telah disediakan cara untuk membakar Setan Botak hidup-hidup di dalam kuil tua.
Setelah semua hadir, pertemuan itu dibuka oleh Lauw-pangcu yang membicarakan tentang usaha perlawanan Raja Muda Bu Sam Kwi di wilayah barat untuk menentang pemerintah penjajah bangsa Mancu.
Kemudian ia menceritakan pula malapetaka yang menimpa Pek-lian Kai-pang dan dengan suara pilu bercampur sesal hebat ia menambahkan.
"Kalau saya merenungkan betapa malapetaka ini didatangkan oleh.... murid saya sendiri.... sungguh perih sekali perasaan hatiku...."
Tak tertahankan lagi, Lauw-pangcu yang sudah tua ini menitikkan air mata.
Ia merasa menyesal bukan main telah bertemu Sie Han dan mengambil anak itu sebagai murid.
Lebih-lebih perih rasa hatinya betapa muridnya itu membawa datang Si Setan Botak, bahkan membawakan buntalan yang isinya lima buah kepala pembantu-pembantunya.
Kenangan ini mendatangkan kemarahan luar biasa dan biarpun lukanya masih belum sembuh benar, ia menggerakkan tangan menghantam remuk sisa arca batu di sampingnya sambil berkata.
"Selama hidup aku takkan melupakan murid murtad yang bernama Sie Han itu. Sekali waktu tentu akan kubalas dendam ini."
Napasnya terengah dan ia menyambung.
"Mohon bantuan para saudara untuk kelak menangkap murid ini dan menyerahkannya kepada saya."
Setelah berkata demikian, Lauw-pangcu muntahkan darah segar. Song Kai Sin, orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam, berkata tenang.
"Lauw-pangcu, seorang gagah dapat menerima segala keadaan, betapapun buruknya, dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Keluh-kesah dan kesedihan tiada gunanya, hanya akan melemahkan semangat dan badan."
Kemudian ia bangkit berdiri, menghampiri Lauw-pangcu dan menggunakan dua jari tangan kirinya menotok jalan darah di punggung ketua Pek-lian Kai-pang yang akhirnya menjadi tenang kembali.
Akan tetapi ucapan kakek ini telah membangkitkan amarah di hati para orang gagah yang hadir dan diam-diam mereka ini pun membenci Sie Han, apalagi Khu Cen Tiam dan Liem Sian dua orang murid Siauw-lim-pai itu yang menganggap bahwa hilangnya sumoi mereka adalah gara-gara murid murtad itu pula.
Kalau murid murtad Lauw-pangcu tidak berkhianat, tentu Setan Botak tidak akan datang dan sumoi mereka tidak akan terculik.
Para anggauta Ho-han-hwe itu lalu saling menceritakan hasil perjuangan mereka menentang penjajah dan mengatur siasat untuk melakukan gerakan-gerakan selanjutnya.
Ada yang mengusulkan agar mereka itu menculik anak-anak para pembesar Mancu sehingga selain hal ini merupakan pukulan batin bagi para pembesar penjajah, juga dapat mereka pergunakan untuk membebaskan teman-teman seperjuangan yang ditawan.
Usul ini diterima, bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki masing-masing berjanji untuk menculik anak pembesar yang paling tinggi kekuasaannya, kalau mungkin malah akan menculik putera Raja Mancu"
Kesanggupan kedua orang sakti ini tentu saja disambut gembira.
Di antara mereka yang hadir dan membicarakan semua rencana perlawanan dengan bermacam cara terhadap penjajah ini, hanya Siauw-lim Chit-kiam saja yang tidak mencampuri dan mereka tetap bersamadhi sambil melatih diri untuk menghadapi Setan Botak yang mereka tahu amatlah lihainya.
Akan tetapi, sehari itu mereka menanti-nanti, Setan Botak belum juga tampak muncul.
Menjelang senja, tiba-tiba dari luar menyambar sebatang piauw beronce merah ke arah Khu Cen Tiam.
Pendekar Siauw-lim-pai ini cepat mengulurkan tangan dan menyambar piauw itu sambil berseru heran karena ia mengenal piauw ini sebagai senjata rahasia sumoinya.
Juga Liem Sian mengenalnya, maka pendekar ke dua dari Kang-lam Sam-eng ini sudah melesat tubuhnya keluar dari kuil tua dan terdengar suaranya di luar kuil.
(Lanjut ke
Jilid 05) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Sumoi....."
Akan tetapi, tak lama kemudian Liem Sian kembali ke dalam kuil dengan wajah muram dan pandang mata heran.
"Dia benar sumoi, akan tetapi sudah pergi jauh."
Ucapan ini ia tujukan kepada suhengnya. Khu Cen Tiam menarik napas panjang.
"Biarlah, memang dia tidak ingin datang ke sini, buktinya ini dia mengirim surat dengan piauwnya. Betapapun juga, dia selamat, sute, dan kita boleh bersyukur karenanya."
Akan tetapi setelah Khu Cen Tiam membuka surat yang terikat pada piauw tadi, keningnya berkerut dan ia menoleh ke arah Siauw-lim Chit-kiam yang masih bersamadhi.
"Susiok, teecu persilakan membaca surat sumoi,"
Bisik Khu Cen Tiam kepada Song Kai Sin.
Kakek ini membuka mata memandang, lalu dengan tenang mengulur tangan menerima surat dan dibacanya.
Wajahnya masih tenang, namun pandang matanya mengandung sinar kilat, lalu menyerahkan surat itu kepada hwesio gendut di sebelahnya, orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam.
Hwesio ini menerima surat, membaca dan bibirnya bergerak.
"Omitohud....."
Lalu menyerahkan surat itu kepada orang ke tiga.
Sebentar saja surat itu beralih tangan dan Siauw-lim Chit-kiam sudah membaca semua.
Yang terakhir dari ketujuh orang tokoh Siaiw-lim-pai ini adalah seorang kakek kurus bermuka merah.
Setelah membaca surat itu, bibirnya mengeluarkan suara mendesis seperti ular dan surat yang dikepalnya itu hancur menjadi bubuk ketika ia membuka kembali tangannya.
Kemarahannya membuat kakek ini lupa diri dan kekuatan yang ia perlihatkan sungguh dahsyat.
Mengepal hancur benda keras bukanlah hal yang amat mengagumkan, akan tetapi mengepal benda lemas seperti kertas sampai hancur membubuk, benar-benar tidaklah mudah dilakukan oleh sembarang ahli.
"Chit-te (Adik ke Tujuh), simpan tenagamu untuk menghadapi lawan tangguh, bukan diumbar dan habis dihisap kemarahan,"
Kata pula Song Kai Sin dengan nada menegur.
Orang ke tujuh yang bernama Liong Ki Tek ini menghela napas panjang dan segera meramkan mata kembali.
Apakah bunyi surat yang dikirim secara aneh oleh Bhok Khim itu?
Bunyinya pendek saja namun isinya difahami oleh dua orang suhengnya dan tujuh orang susioknya.
Kedua Suheng, Perbuatan keji biadab Kang-thouw-kwi memaksa aku tidak ada muka untuk bertemu dengan orang lain, memaksa aku pergi mengurung diri ke dalam "kamar siksa diri"
Di kuil.
Kalau suheng berdua dapat menewaskannya, syukurlah.
Kalau tidak, aku akan memperdalam ilmu dan kelak aku sendiri yang akan menghancurkan kepalanya.
Bhok Khim.
Tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu diam-diam mengeluh dan menangis dalam hati.
Mereka tahu bahwa murid wanita Siauw-lim-pai itu telah diperhina oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat dan mereka tahu bahwa mengurung diri ke dalam "kamar siksa diri"
Merupakan perbuatan nekat seperti orang membunuh diri.
"Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa dengan Kang-thouw-kwi....."
Tiba-tiba Song Kai Sin berseru keras ke arah luar kuil.
Semua orang terkejut dan ketika mereka memandang keluar, ternyata Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah tampak berdiri di luar kuil bersama dua orang lain yang kelihatan amat menarik karena perbedaan muka mereka.
Yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti pantat kwali, adapun yang seorang lagi bertubuh pendek kurus bermuka putih seperti kapur.
Akan tetapi mereka yang mengenal dua orang ini maklum bahwa dua orang yang menemani Si Setan Botak ini bukanlah sembarang orang, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat terkenal, yaitu kakak beradik yang terkenal dengan julukan Hek-pek Giam-ong (Raja Maut Hitam Putih).
Mereka ini adalah murid-murid Si Setan Botak.
Masih ada seorang lagi murid Si Setan Botak, yaitu seorang murid wanita yang bernama Ma Su Nio, berjuluk Hiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya malah lebih lihai daripada Hek-pek Giam-ong dan lebih kejam daripada gurunya.
Akan tetapi iblis wanita itu tidak nampak hadir.
"Hah-ha-ha-ha-ha."
Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, hanya tertawa dengan nada mengejek.
Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giam-ong, muridnya yang bermuka hitam.
Hek-giam-ong melangkah maju dan berkata, suaranya nyaring sekali.
"Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah murid-murid Ceng San Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?"
"Sejak iblis-iblis macam kalian membantu penjajah Mancu."
Bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang suaranya lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam.
"Kalau kalian berani, masuklah ke dalam kuil, di sini lega dan memang sudah disediakan untuk kita bertanding mengadu ilmu."
Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan sekedar karena wataknya yang keras dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk memancing musuh yang tangguh ke dalam kuil.
"Hah-ha-ha-ha-ha."
Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil, diikuti oleh dua orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu.
Hek-pek Giam-ong maklum betapa berbahaya memasuki "sarang"
Musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka, dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil, tentu saja mereka berbesar hati dan melangkah masuk sambil mengangkat dada.
Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biarpun mereka bertiga sudah tiba di ruangan kuil yang luas, kakek botak ini masih tertawa terus, Makin lama makin keras dan terkejutlah mereka semua yang hadir karena tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa yang mengandung tenaga khi-kang amat luar biasa ini.
Hanya mereka yang sudah tinggi tingkat sin-kangnya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu mengatasi getaran hebat ini.
Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu, Ban-kin Hek-gu dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguhpun mereka ini diam-diam harus mengerahkan sin-kang untuk melawan suara ketawa itu.
Beberapa orang anggauta Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi belasan orang lain yang tingkat tenaga sin-kang mereka masih kurang kuat, sudah terjungkal dan cepat-cepat merangkak lalu berlari menjauhi ruangan itu ke sebelah belakang kuil sambil menutupi telinga mereka.
Kalau mereka tidak cepat pergi dan menutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa itu yang mengguncangkan jantung.
Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali.
Ia seorang ahli silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, mengerti bahwa orang yang telah pandai mempergunakan khi-kang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu Ho-kang seperti auman suara harimau, adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan.
Akan tetapi, selain kasar dan keras, Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapapun juga.
Dengan kemarahan memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si Setan Botak sambil berseru.
"Setan Botak"
Jangan menjual lagak di depan Ban-kin Hek-gu."
Ban-kin Hek-gu bertenaga besar dan kini menyerang dengan penuh kemarahan, maka pukulan tangan kanannya yang dikepal mengarah kepala Kang-thouw-kwi Gak Liat amatlah dahsyatnya.
Pukulan belum tiba anginnya sudah menyambar hebat.
Akan tetapi kakek botak itu tenang-tenang saja, masih tertawa lebar sungguhpun sudah tidak mengeluarkan suara lagi.
Setelah kepalan tangan yang besar itu menyambar dekat, hanya tinggal sepuluh sentimeter lagi dari dahinya, kakek ini mengangkat tangan kirinya dan menerima kepalan tangan Ban-kin Hek-gu dengan telapak tangan.
"Plakkk."
Si Kerbau Hitam itu terkejut bukan main karena merasa betapa telapak tangan Setan Botak itu lunak dan panas seperti air mendidih, di mana tenaganya sendiri seperti tenggelam.
Cepat ia menarik tangannya, akan tetapi kepalan itu melekat pada telapak tangan Setan Botak yang tertawa-tawa.
Ban-kin Hek-gu Giam Ki meronta-ronta dan rasa panas dari telapak tangan itu menerobos lengannya, membuat tubuhnya mandi keringat dan mukanya yang hitam berubah makin hitam.
"Ha-ha-ha, siapa yang berlagak?"
Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa.
"Pergilah, kau tidak berharga untuk bertanding melawan aku."
Sekali kakek botak itu mendorongkan lengannya, Ban-kin Hek-gu Giam Ki terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan.
Akan tetapi dia memang bandel dan berani.
Cepat ia meloncat bangun lagi dan memaki.
"Siluman botak. Hayo bertanding menggunakan ilmu silat, jangan menggunakan ilmu siluman. Aku masih dapat berdiri, sebelum mati aku Giam Ki tidak sudi mengaku kalah terhadapmu."
"Phuahhh, sombongnya."
Hek-giam-ong yang juga bermuka hitam dan sama tinggi besarnya dengan Giam Ki sudah melompat maju dan bertolak pinggang.
"Engkau ini berjuluk Kerbau Hitam, memang otakmu seperti otak kerbau. Suhuku telah berlaku lunak terhadapmu, akan tetapi kau masih banyak lagak. Kerbau macam engkau ini tidak perlu suhu melayaninya, cukup dengan aku yang akan mencabut nyawa kerbaumu."
"Bagus! Memang hendak kubasmi sampai ke akar-akarnya, baik guru maupun murid harus dibasmi agar jangan mengotori dunia."
Ban-kin Hek-gu Giam Ki sudah menerjang maju dengan kepalannya yang besar.
Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, sama tinggi besar dan karenanya suka mempergunakan tenaga kasar.
Dengan ilmu Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) ditambah tenaganya yang besar, dia benar amat lihai.
Melihat datangnya pukulan Giam Ki, ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan lengannya.
"Dukkk."
Dua buah lengan yang besar dan kuat bertumbuk dan keduanya terpental ke belakang.
Tenaga mereka seimbang, akan tetapi Hek-giam-ong menang dalam hal "isi"
Lengannya yang mengandung hawa panas.
Giam Ki merasa betapa lengannya panas akan tetapi ia maju terus dan ternyata bahwa gerakan tubuhnya lebih cepat daripada gerakan Hek-giam-ong.
Dengan kemenangan ini ia bisa menutup kekalahannya dalam hal ilmu pukulan Hwi-ciang.
Segera terdengar suara bak-bik-buk dan dak-duk-dak-duk ketika dua orang raksasa ini saling gebuk.
Mereka ini selain bertenaga besar, juga memiliki kekebalan sehingga pukulan yang tidak tepat kenanya, tidak cukup merobohkan mereka.
Akan tetapi terjadi perubahan aneh pada diri Ban-kin Hek-gu Ciam Ki sehingga membuat teman-temannya yang tentu saja menjagoinya menjadi heran dan juga gelisah.
Kini raksasa tinggi besar hitam ini sering mempergunakan kedua tangannya bukan untuk menyerang lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya.
Karena diseling dengan garuk sana garuk sini, pertandingan menjadi kacau karena ternyata gerakan-gerakan menggaruk ini malah membingungkan Hek-giam-ong.
Raja Maut Hitam ini sudah mengirim pukulan Toat-beng Hwi-ciang ke arah dada lawan.
Ketika melihat tangan kiri Giam Ki bergerak menuju ke dada, Hek-giam-ong menarik kembali pukulannya karena takut lengannya dicengkeram.
Akan tetapi ternyata bahwa Giam Ki menggerakkan tangan itu bukan untuk mencengkeram tangan lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk keras dadanya.
Kemudian Giam Ki berseru aneh dan membawa tangan kanannya ke atas seperti hendak menyerang dari bagian atas.
Melihat ini, Hek-giam-ong cepat mengelak, akan tetapi kembali ia kecelik karena tangan kanan yang bergerak ke atas itu kini menggaruk-garuk kepala.
Kejadian-kejadian ini aneh dan lucu sekali, juga menegangkan dan mendatangkan kekecewaan bagi para teman kedua pihak.
Hek-giam-ong menjadi marah, merasa seolah-olah ia dipermainkan, maka ia menerjang lagi dengan gerakan dahsyat.
Giam Ki yang diam-diam mengeluh di hatinya karena secara tiba-tiba tubuhnya diserang penyakit gatal yang tak tertahankan, cepat menangkis dan kembali pertemuan dua lengan yang kuat itu membuat mereka terpental mundur.
Giam Ki meloncat maju lagi, kini menggerakkan tangan kiri ke atas.
Hek-giam-ong meragu.
Hendak memukul ataukah hendak garuk-garuk tangan itu?
Akan tetapi ia tidak mau menanggung resiko dan cepat menggerakkan kedua tangan ke atas, maksudnya kalau lawan memukul benar-benar, ia akan menangkap lengan itu dan akan mematahkannya, kalau hanya garuk-garuk, ia akan mencengkeram kepala lawan.
Dan ternyata tangan kiri Giam Ki itu kembali hanya menggaruk kepala, akan tetapi kepalan kanannya sudah menonjok ke depan.
Gerakan ini sama sekali tidak tersangka oleh Hek-giam-ong sehingga dadanya tertonjok.
"Bukkk."
Tubuh Hek-giam-ong terjengkang dan bergulingan di atas tanah.
Dadanya ampek, napasnya sesak dan setelah terbatuk-batuk, barulah ia meloncat bangun dan menghadapi lawannya dengan mata merah.
Akan tetapi Giam Ki tidak peduli dan masih terus garuk-garuk.
"Kau masih belum mampus?"
Bentaknya dan kembali ia menerjang.
Memang gerakan Giam Ki lebih cekatan daripada Hek-giam-ong.
Kembali tangan Giam Ki diangkat ke atas.
Hek-giam-ong mengejek dengan dengusan marah, ia tidak mau ditipu lagi dan tahu bahwa lawannya yang agaknya mempunyai penyakit kudis ini tentu mengangkat tangan untuk menggaruk kepala yang gatal.
Maka ia pun tidak mau mengelak, bahkan cepat melangkah maju dan menonjok dada Giam Ki.
"Bukkk, Desssss....."
Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki roboh kelenger (pingsan) karena tertonjok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak, akan tetapi di lain pihak, Hek-giam-ong tadi pun kecelik karena sekali ini Giam Ki mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul sehingga dalam saat yang bersamaan, Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong dengan tangan miring.
Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun telah semaput (pingsan).
Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa kakaknya tidak terluka parah, hanya terguncang oleh kerasnya pukulan.
Di lain pihak, para anggauta Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh Ban-kin Hek-gu, dipimpin oleh Lauw-pangcu.
Atas isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang tubuh Giam Ki yang pingsan itu dibawa mendekat.
Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas panjang.
"Untung...."
Kata tokoh Siauw-lim-pai ini.
"Tadinya ia keracunan maka ketika bertanding terus diganggu rasa gatal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan dengan iblis tua itu. Baiknya, pukulan Hek-giam-ong tadi pun mengandung hawa panas dan pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya sehingga nyawanya tertolong."
Pek-giam-ong yang marah menyaksikan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan sikap menantang. Akan tetapi ia dibentak gurunya.
"Mundurlah."
Bagaikan seekor anjing dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya.
Kini Kang-thouw-kwi Gak Liat melangkah maju, menyapu semua anggauta Ho-han-hwe dengan pandang mata yang membuat mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Setan Botak ini berkata.
"Aku sudah datang, siapa di antara anggauta Ho-han-hwe yang ternyata hanyalah segerombolan pemberontak ingin menyusul para anggauta Pek-lian Kai-pang?"
Suaranya penuh ejekan, akan tetapi matanya menatap ke arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga untuk menjadi lawannya.
It-ci Sin-mo Tan Sun biarpun tubuhnya kecil namun hatinya besar.
Ia maklum akan kelihaian kakek botak ini, namun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan.
Kalah atau mati sekalipun bukan apa-apa bagi seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.
"Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah menjadi pengkhianat bangsa. Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah seranganku ini."
Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat daripada gerakan Ban-kin Hek-gu Giam Ki.
Tubuhnya melesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk menyerang dengan totokan-totokan maut.
Si Setan Botak tertawa-tawa dan hanya tampak ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua totokan It-ci Sin-mo tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya.
"Sut-sut-sut-cet-cet....."
Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan totokan-totokannya secara bertubi-tubi, tubuhnya berloncatan mencari posisi yang baik.
Namun, tak pernah ia mampu mengenai tubuh lawan biarpun kecepatan gerakannya membuat ia berada di belakang tubuh Si Setan Botak.
Padahal Kang-thouw-kwi Gak Liat tak pernah mengubah kedudukan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja yang bergoyang-goyang akan tetapi entah bagaimana semua serangan lawan tidak ada yang berhasil.
Belasan orang anggauta Ho-han-hwe yang melihat betapa It-ci Sin-mo seperti dipermainkan, sudah bergerak mengurung hendak mengeroyok Si Setan Botak.
Melihat ini, Pek-giam-ong berteriak keras dan tubuhnya menyambar ke depan, langsung ia menyerbu dan gegerlah tempat itu dengan jerit-jerit kesakitan dan robohnya beberapa orang anggauta Ho-han-hwe karena amukan Pek-giam-ong.
"Krek-krekkk....."
Setan Botak menggerakkan kedua tangan menampar lengan lawan dan tubuh It-ci Sin-mo Tan Sun terlempar, kedua tengannya tergantung lumpuh karena tulang-tulang lengannya telah patah-patah"
"Huah-ha-ha-ha, Pek-giam-ong, pergilah dan bawa kakakmu pergi."
Pek-giam-ong yang terkenal berwatak kejam seperti iblis itu kini merupakan seorang murid yang amat taat.
Tanpa berani berlambat sedikit pun ia lalu meninggalkan para lawan yang tadi mengeroyoknya, menyambar tubuh kakaknya yang masih pingsan lalu sekali melompat ia lenyap dari tempat itu.
Lauw-pangcu dan kedua orang saudara Kang-lam Sam-eng membiarkannya saja lewat, karena yang menjadi sasaran untuk dibinasakan adalah Si Setan Botak yang kini hanya seorang diri saja di dalam kuil.
"Ha-ha-ha, Siauw-lim Chit-kiam, hanya kalianlah yang patut main-main denganku. Majulah."
Lima orang anggauta Ho-han-hwe yang masih penasaran karena banyaknya kawan mereka yang roboh, masih mencoba untuk menyerang Si Setan Botak dengan senjata mereka, akan tetapi kini kakek botak itu berseru keras, kedua tangannya mendorong ke depan dan....
lima orang itu roboh dengan tubuh hangus dan mati seketika.
Itulah kehebatan ilmu pukulan Hwi-yang-sin-ciang yang sengaja diperlihatkan oleh Kang-thouw-kwi untuk membikin gentar hati lawan.
Memang semua anggauta Ho-han-hwe menjadi pucat wajahnya melihat kedahsyatan ilmu kepandaian kakek botak ini, akan tetapi melihat itu, Siauw-lim Chit-kiam bukannya menjadi gentar, sebaliknya malah menjadi marah sekali.
"Kang-thouw-kwi, engkau telah berani menghina seorang murid Siauw-lim-pai. Hari ini kami Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa denganmu. Beranikah engkau menghadapi gabungan Siauw-lim Chit-kiam?"
Kata Song Kai Sin dengan suara tenang namun sinar matanya membayangkan kemarahan.
"Huah-ha-ha-ha. Siauw-lim Chit-kiam masih terlalu ringan, boleh ditambah guru kalian. Mana Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai? Boleh datang membantu kalian, aku masih akan kurang puas. Ha-ha."
"Omitohud.... engkau benar-benar tokoh sesat yang sengsara, Gak-locianpwe,"
Kata Lui Kong Hwesio orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam sambil menggeser duduknya, bersila di sebelah kiri Song Kai Sin.
Kemudian secara berjajar, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini duduk bersila, menurutkan urutan tingkat mereka.
Dari kanan ke kiri mereka ini adalah Song Kai Sin, Lui Kong Hwesio, Ui Swan dan adiknya Ui Kiong, Lui Pek Hwesio, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek.
Sebetulnya, tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini merupakan orang-orang berilmu tinggi yang mempunyai keistimewaan masing-masing.
Jika dinilai secara perseorangan, tingkat masing-masing masih lebih tinggi daripada tingkat Ban-kin Hek-gu Giam Ki atau bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun.
Akan tetapi, sekali ini, menghadapi seorang di antara Lima Datuk Besar, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat yang amat terkenal di antara golongan sesat sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, Ketujuh orang toakoh Siauw-lim-pai ini tidak berani berlaku sembrono, tidak berani memandang rendah dan karenanya mereka lalu bergabung untuk mengeluarkan ilmu gabungan mereka yang paling ampuh, yaitu Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang secara khusus digubah oleh Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai untuk diajarkan kepada tujuh orang muridnya.
Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang) ini dapat dimainkan secara perorangan dan sudah merupakan sebuah ilmu pedang yang ampuh, akan tetapi permainannya tidak akan menjadi lengkap dan utuh kalau tidak dimainkan secara bergabung oleh tujuh orang itu.
Kalau dimainkan secara bergabung, maka Chit-seng-sin-kiam merupakan sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang sukar dilawan karena amat kuat.
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang dengan wajah berseri.
Sudah lama ia mendengar akan ciptaan ilmu pedang ketua Siauw-lim-pai ini yang disarikan dari inti ilmu kepandaian Ceng San Hwesio.
Kini ia berhadapan dengan kiam-tin ini, berarti bahwa ia berhadapan dengan Ceng San Hwesio, yang sejak dahulu merupakan lawan seimbang darinya.
Kalau ia bisa menangkan kiam-tin ini, berarti ia akan dapat menangkan Ceng San Hwesio pula.
Ia melihat betapa tujuh orang murid Siauw-lim-pai itu sudah duduk bersila dengan pedang di tangan kanan, pandang mata lurus ke depan menatapnya.
Bahkan tujuh pasang mata itu seolah-olah bersatu ketika memandangnya, menimbulkan wibawa yang kuat sekali.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Memang aku sudah lama ingin melihat sampai di mana lihainya Chit-seng-sin-kiam dari Ceng San Hwesio."
Sambil tertawa, kakek botak ini lalu duduk bersila pula di depan ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai.
Jarak di antara Setan Botak dan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu ada tiga meter jauhnya, dan kalau tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu semua bersenjatakan pedang pusaka, adalah Setan Botak ini sambil tersenyum menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong.
Memang datuk hitam ini sombong, akan tetapi kesombongannya tidaklah kosong belaka.
Ia memang amat sakti dan biarpun kakek botak ini menyimpan sebatang pedang lemas yang ia belitkan di pinggang sebelah dalam bajunya, namun tidak pernah orang melihat ia mempergunakan senjata dalam pertempuran.
Hal ini berarti bahwa ia masih memandang rendah Siauw-lim Chit-kiam.
Song Kai Sin dapat menduga sikap lawan, maka ia pun tidak mau banyak sungkan lagi.
Kakek botak ini selain merupakan tokoh sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya dibasmi, juga telah menghina murid keponakan mereka, telah mencemarkannya dan berarti mencemarkan kehormatan Siauw-lim-pai pula.
Oleh karena itu, Song Kai Sin dan adik-adik seperguruannya maklum bahwa sekali ini mereka akan bertanding mati-matian, bukan saja untuk melenyapkan seorang tokoh sesat yang jahat, juga untuk mempertabankan nama dan kehormatan Siauw-lim-pai.
"Sudah siapkah engkau, Kang-thouw-kwi?"
"Ha-ha, sudah, sudah. Lekas keluarkan Chit-seng-sin-kiam itu."
Jawab Si Botak sambil menggerak-gerakkan kedua lengannya yang segera menjadi kemerahan.
"Lihat pedang."
Song Kai Sin berseru dan pedang di tangannya itu ia tusukan ke depan.
Menurut pendapat dan pandangan umum, biarpun lengan dilonjorkan ditambah panjangnya pedang, masih belum dapat melewati jarak tiga meter itu.
Akan tetapi tanpa dapat dilihat mata, dari ujung pedang itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat sehingga selain tampak sinar pedang yang keemasan juga terdengar suara mencicit yang aneh.
Kang-thouw-kwi mengangkat lengan kirinya dan menggetarkan jari tangannya.
Tentu saja tangannya tidak menyentuh pedang yang dipegang Song Kai Sin, akan tetapi jelas tampak betapa pedang itu terpental dan lengan tangan orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam itu tergetar"
Melihat kehebatan tenaga sin-kang yang amat panas dari tangan Setan Botak, tokoh Siauw-lim-pai yang lainnya maklum bahwa mereka harus maju bersama.
Maka serentak pedang-pedang mereka bergerak, ada yang membacok, ada yang menusuk, ada pula yang membabat.
Tampak sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata, pantulan cahayanya gemerlapan di dinding ruangan yang luas itu.
Apalagi setelah beberapa orang anggauta Ho-han-hwe tadi menyalakan belasan batang lilin dan menaruh lilin-lilin itu di atas lantai di kanan kiri ruangan, maka sinar-sinar pedang itu menjadi amat indahnya.
Tanpa terasa, senja telah berganti malam dan kini para anggauta Ho-han-hwe menonton pertandingan yang amat aneh dan yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya.
Betapa mereka tidak akan terheran-heran dan bengong menyaksikan pertandingan itu?
Baik ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu maupun Setan Botak, hanya duduk berhadapan, bersila di atas lantai dan jarak antara mereka terlampau jauh sehingga mereka itu tidak dapat saling menyentuh.
Akan tetapi, kini mereka "bertanding"
Dan tujuh orang itu mengeroyok Si Setan Botak dengan serangan-serangan pedang yang berubah menjadi sinar-sinar gemerlapan.
Sebaliknya, Setan Botak menggerak-gerakkan kedua lengannya, kadang-kadang menangkis, ada kalanya mencengkeram dan mendorong, bahkan balas memukul tanpa menyentuh pedang dan tubuh para pengeroyoknya.
Kedua tangannya kini selain berwarna merah seperti api membara, juga mengepulkan uap putih seperti asap panas.
Kalau dilihat begitu saja, seolah-olah Si Setan Botak dan ketujuh Siauw-lim Chit-kiam sedang bermain-main.
Mereka tidak saling sentuh, namun mereka bergerak dengan sungguh-sungguh dan ruangan itu kini seperti dihujani sinar-sinar gemerlapan dan udara menjadi sebentar panas sebentar dingin.
Hanya beberapa orang saja di antara mereka, yaitu Lauw-pangcu, kedua Kang-lam Sam-eng, Ban-kin Hek-gu yang sudah sadar dari pingsannya, dan It-ci Sin-mo yang maklum apa yang sedang terjadi dan mereka memandang dengan hati penuh ketegangan.
Mereka ini mengerti bahwa Siauw-lim Chit-kiam sedang bertanding melawan Si Setan Botak mengadu ilmu pedang yang digerakkan oleh tenaga sin-kang tingkat tertinggi.
Mengerti pula betapa selain sinar-sinar gemerlapan itu mengandung hawa maut, juga gerakan tangan Setan Botak itu mengandung hawa pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.
Akan tetapi mereka yang tidak mengerti cara pertandingan seperti ini, menjadi amat penasaran.
Si Setan Botak dan kedua muridnya telah menyebar maut, kini Setan Botak itu hanya duduk bersila dan menggerak-gerakkan kedua tangan.
Bukankah ini membuka kesempatan baik untuk membinasakannya?
Mereka yang merasa amat benci kepada Setan Botak ini yang sudah membasmi Pek-lian Kai-pang dan menewaskan lima puluh orang lebih anggauta perkumpulan itu yang merupakan kawan-kawan seperjuangan mereka, kini ingin membalas dendam.
Tujuh orang anggauta Ho-han-hwe setelah saling memberi isyarat dengan kedipan mata dan diam-diam mengambil jalan memutar, serentak maju menerjang tubuh kakek botak yang bersila itu dari belakang.
Mereka bertujuh menggunakan senjata dan menyerang secara berbareng.
"Celaka....."
It-ci Sin-mo Tan Sun berseru.
Juga teman-temannya yang tahu akan bahaya mengancam, berseru kaget namun sudah tidak keburu mencegah.
Segera terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang anggauta Ho-han-hwe itu yang roboh tewas dengan tubuh tersayat-sayat dan ada pula yang roboh dengan tubuh hangus.
Mereka tadi seperti sekumpulan nyamuk yang menerjang api, tidak tahu bahwa udara di sekitar arena pertandingan aneh itu penuh dengan berkelebatnya sinar pedang yang tajam dan hawa pukulan yang mengandung panasnya api.
Sebelum mereka dapat menyentuh tubuh Si Setan Botak, tubuh mereka lebih dulu sudah dihujani sinar pedang yang menyambar-nyambar dan hawa pukulan yang membakar.
Melihat ini, Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiam berseru keras.
Mereka bertujuh tadi terdesak hebat oleh Setan Botak yang benar-benar amat tangguh dan lihai sekali.
Karena mereka melakukan pengeroyokan secara bertubi, maka setiap orang dari mereka mengadu tenaga dengan Kang-thouw-kwi dan ternyata bahwa mereka kalah kuat jauh sekali.
Karena itu, gerakan pedang mereka makin lama makin lemah dan terdesak sehingga ketika tujuh orang anggauta Ho-han-hwe tadi maju, biarpun mereka tahu akan bahayanya, mereka tidak keburu menarik sinar pedang dan sinar pedang mereka itu ada yang mengenai tubuh para penyerbu.
Maka begitu Song Kai Sin berseru keras, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam lalu menggunakan siasat terakhir.
Dengan tangan kiri mereka menyentuh punggung kawan yang bersila di sebelah kiri, tangan kanan memegang pedang dan kini mereka telah menyatukan tenaga.
Getaran sin-kang mereka bersatu dan karenanya gerakan pedang mereka pun sama, hanya merupakan satu serangan saja, akan tetapi yang mengandung tenaga tujuh kali lipat kuat daripada tenaga perorangan.
Ketika Si Setan Botak menangkis dengan dorongan Hwi-yang-sin-ciang, menghalau sinar pedang yang amat besar dan kuat yang menyambarnya, ia mengeluarkan seruan marah dan kaget.
Ia berhasil menghalau sinar pedang itu, akan tetapi telapak tangan kirinya robek sedikit dan mengeluarkan darah"
"Keparat! Kalian sudah bosan hidup."
Bentaknya dan kini Si Setan Botak menggunakan kedua tangannya menahan.
Hebat bukan main adu tenaga sakti ini.
Tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang menyentuh punggung dan menyalurkan tenaga disatukan dengan teman-teman seperguruan, sehingga tenaga mereka menjadi satu, kini menghadapi dorongan kedua tangan Setan Botak dan terjadilah adu tenaga, keras lawan keras.
Mereka tidak bergerak-gerak lagi, pedang mereka menuding ke satu jurusan, yaitu ke arah Kang-thouw-kwi yang sebaliknya mengulur kedua lengan ke depan, dengan kedua telapak tangan mendorong ke arah tujuh orang pengeroyoknya.
Wajah Siauw-lim Chit-kiam pucat dan penuh keringat, di lain pihak, wajah Kang-thouw-kwi menjadi merah sekali dan kepalanya mengepulkan uap panas.
Dorong-mendorong terjadi, akan tetapi sedikit demi sedikit keadaan Siauw-lim Chit-kiam terdesak.
Lauw-pangcu yang melihat keadaan tidak menguntungkan ini lalu mendekati Khu Cen Tiam dan Liem Sian.
Mereka bertiga ini sudah terluka, tentu saja tidak berani membantu.
Andaikata mereka tidak terluka sekalipun, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk mencampuri pertandingan tingkat tinggi itu.
Mereka berbisik-bisik dan akhirnya mengambil keputusan untuk menjalankan siasat yang telah mereka atur sebelumnya, yaitu hendak membakar kuil itu selagi Si Setan Botak terikat dalam pertandingan mati-matian melawan Siauw-lim Chit-kiam.
Memang siasat ini kalau dijalankan berarti akan membahayakan keselamatan Siauw-lim Chit-kiam sendiri, namun memang telah mereka sepakati sebelumnya bahwa untuk membasmi Si Setan Botak, Siauw-lim Chit-kiam bersedia untuk mergorbankan nyawa.
Dengan isyarat Lauw-pangcu, mereka semua mengundurkan diri dan mulailah mereka membakar kuil itu dari luar.
Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang membantu pekerjaan ini mengucurkan air mata, karena maklum bahwa nyawa ketujuh orang susiok (paman guru) mereka terancam maut bersama nyawa Setan Botak.
Para anggauta Ho-han-hwe demikian sibuknya dengan pekerjaan menuangkan minyak dan membakar kuil sehingga mereka tidak tahu betapa di antara kegelapan malam itu, sesosok tubuh kecil menyelinap memasuki kuil melalui bagian yang belum terbakar.
Tubuh cilik ini bukan lain adalah Lauw Sin Lian, gadis cilik puteri Lauw-pangcu.
Sin Lian tadinya dititipkan kepada seorang sahabatnya oleh Lauw-pangcu.
Akan tetapi, anak perempuan ini diam-diam merasa tidak senang.
Ia tahu bahwa ayahnya dan teman-teman ayahnya sedang berusaha membalas dendam atas kematian semua anggauta Pek-lian Kai-pang.
Dia ingin sekali menonton, bahkan kalau mungkin ingin sekali membantu.
Selain itu, juga anak ini amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya, maka diam-diam ia minggat keluar dari rumah sahabat ayahnya itu dan berlari menyusul ayahnya.
Bocah ini amat cerdik dan ia menduga bahwa Ho-han-hwe pasti diadakan di kuil tua yang sudah tak terpakai di luar kota.
Tanpa ragu-ragu ia langsung lari menuju ke kuil itu dan malam telah tiba ketika ia akhirnya sampai di tempat tujuan.
Karena melihat banyak orang sibuk membakar kuil, hatinya makin gelisah.
Ia tidak melihat ayahnya, dan untuk bertanya ia tidak berani, takut mendapat marah.
Maka ia lalu menyelinap dan berhasil memasuki kuil dari bagian yang gelap dan yang belum dicium api.
Ruangan dalam kuil kosong itu mulai berasap.
Di antara asap tipis, Sin Lian melihat musuh besar ayahnya, Setan Botak, duduk bersila membelakanginya, tak bergerak seperti sebuah arca batu yang menyeramkan, dengan kedua lengan dilonjorkan ke depan dan telapak tangan dibuka ke arah tujuh orang laki-laki yang bersikap keren dan yang kesemuanya memegang pedang.
Juga tujuh orang itu diam tak bergerak seperti arca, akan tetapi muka mereka pucat dan penuh peluh, bahkan tubuh mereka, terutama tangan yang memegang pedang, mulai gemetar.
Melihat musuh besar itu, Sin Lian menjadi marah.
Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan tujuh orang berpedang itu dengan musuhnya, akan tetapi melihat musuhnya duduk membelakanginya, diam seperti arca, ia melihat kesempatan baik untuk menyerang.
Berindap-indap Sin Lian menghampiri kakek itu, setelah dekat ia lalu menerjang maju, memukul tengkuk.
"Dukkk....."
Sin Lian terjengkang dan terbanting keras.
Kepalanya menjadi pening, tangannya sakit, akan tetapi ia bandel, terus melompat bangun dan siap menyerang lagi.
Ia tadi merasa betapa tengkuk kakek botak itu keras seperti baja, dan amat panas seperti baja dibakar.
Ia tidak tahu betapa tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam memandang kepadanya dengan heran dan juga khawatir.
Memang bocah ini masih baik nasibnya, tidak seperti tujuh orang anggauta Ho-han-hwe tadi yang tewas secara konyol.
Kalau Siauw-lim Chit-kiam dan Setan Botak sedang bertanding seperti tadi, serang-menyerang antar sinar pedang yang digerakkan sin-kang dan pukulan jarak jauh Hwi-yang-sin-ciang yang amat dahsyat, tentu sebelum menyentuh tubuh Setan Botak, Sin Lian telah roboh tewas, Kalau tidak hangus karena Hwi-yang-sin-ciang, tentu tersayat-sayat oleh sinar pedang Chit-seng-sin-kiam.
Akan tetapi kebetulan sekali pada saat itu, kedua pihak sedang mengadu tenaga sehingga kedua pihak seolah-olah saling menempel, saling mendorong dan tidak bergerak ke mana-mana.
Inilah sebabnya mengapa ketika Sin Lian memukul, ia tidak terkena pengaruh Hwi-yang-sin-ciang, melainkan terbanting roboh karena kekebalan tubuh kakek botak itu.
Betapapun juga, karena berani memukul Kang-thouw-kwi, tentu saja nyawa anak ini berada dalam cengkeraman maut.
Sekali saja Kang-thouw-kwi bergerak, tentu bocah itu takkan dapat tertolong lagi nyawanya.
Hal inilah yang membuat Siauw-lim Chit-kiam menjadi gelisah.
Keadaan mereka sendiri terancam maut dan sedang terdesak hebat, bagaimana mereka akan dapat menolong bocah ini?
Mereka tadinya tidak mengharapkan dapat keluar sebagai pemenang karena makin lama, tenaga Setan Botak itu makin hebat, hawa di situ makin panas sebagai bukti bahwa Hwi-yang-sin-ciang makin unggul.
Akan tetapi mereka merasa lega bahwa para anggauta Ho-han-hwe sudah mulai bergerak membakar kuil.
Mereka akan mati dengan lega karena merasa yakin bahwa Si Setan Botak juga akan mati terbakar hidup-hidup.
Kang-thouw-kwi Gak Liat maklum akan gangguan seorang anak perempuan di belakangnya.
Akan tetapi ia tidak peduli, karena kalau ia membagi perhatian, apalagi membagi tenaga, ia akan celaka.
Menghadapi persatuan Siauw-lim Chit-kiam ini ia merasa bahwa amat sukar mencapai kemenangan dan hanya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya saja ia akan dapat menang.
Akan tetapi kini kuil mulai terbakar dan tahulah ia bahwa keadaannya berada dalam bahaya pula.
Kalau saja tidak ada gangguan ini, tentu ia akan dapat segera merobohkan Siauw-lim Chit-kiam dan masih ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Dalam usahanya untuk segera dapat merobohkan tujuh orang pengeroyok yang berilmu tinggi itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat tidak mempedulikan Sin Lian sama sekali, karena anak itu sama sekali tidak ada arti baginya.
Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, kedua lengannya menggigil dan lengan yang diluruskan ke depan itu menjadi makin panas.
Kekuatan mukjizat yang amat dahsyat kini menerjang maju bagaikan hembusan angin badai yang panas ke arah Siauw-lim Chit-kiam.
Getaran gelombang tenaga sakti ini segera terasa oleh Siauw-lim Chit-kiam dan betapa pun mereka ini menggerakkan tenaga mempertahankan diri, tetap saja tangan mereka yang menudingkan pedang gemetar keras.
"Werrrrr.... cringgg.... krak-krak....."
Pertahanan Siauw-lim Chit-kiam menjadi berantakan ketika dua batang pedang di tangan Ui Swan dan Ui Kiong, dua orang di antara mereka, patah dan terlepas dari tangan mereka, yang menjadi pucat wajahnya.
Melihat betapa orang ke tiga dan ke empat dari Siauw-lim Chit-kiam ini kehilangan pedang yang tadi bergetar keras lalu patah-patah, lima orang tokoh Siauw-lim itu mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan gelombang tenaga hebat yang menekannya, namun kini mereka jauh kalah kuat setelah tenaga mereka berkurang dua orang.
Pedang mereka mulai tergetar hebat, muka mereka pucat dan napas terengah.
Ui Swan dan Ui Kiong yang sudah bertangan kosong, tentu saja tidak dapat berdiam diri begitu saja menyaksikan keadaan saudara-saudaranya terdesak, mereka ini lalu menggunakan tangan kanan yang kosong untuk mendorong ke depan dengan pukulan jarak jauh, sedangkan tangan kiri masih menempel punggung saudara yang berada di sebelahnya seperti tadi.
Akan tetapi dengan pedang di tangan saja mereka tadi tidak dapat bertahan, apalagi bertangan kosong.
Begitu mereka mendorong dengan tangan, telapak tangan mereka bertemu dengan hawa panas yang menyusup kuat, terus menyerang isi dada.
Kedua kakak beradik Ui ini mengeluh perlahan dan tubuh mereka rebah miring.
Melihat ini, lima orang Siauw-lim Chit-kiam menjadi terkejut.
Tahulah mereka bahwa mereka akan roboh semua, namun mereka berkeras untuk mempertahankan diri sampai api menjilat tempat itu agar musuh mereka yang amat tangguh itu mati pula terbakar.
Pada seat mereka terhimpit dan terancam hebat itu, tiba-tiba Kang-thouw-kwi Gak Liat berteriak marah den bajunya sudah termakan api.
Bagaimanakah baju Setan Botak ini dapat terbakar padahal api kebakaran kuil itu belum menjilat ke situ?
Bukan lain adalah hasil perbuatan Sin Lian.
Karena tubuhnya terjengkang dan terbanting sendiri ketika memukul tubuh Setan Botak, Sin Lian menjadi penasaran dan marah sekali.
Sebagai puteri Lauw-pangcu yang tidak asing akan kehebatan ilmu silat, anak ini maklum bahwa tubuh Setan Botak itu kebal dan percuma saja kalau ia memukul.
Maka ia lalu mencari akal dan barulah ia sadar bahwa tempat itu telah terkurung api yang mulai membakar ruangan.
Dalam kaget dan paniknya, timbul akalnya.
Ia lalu lari ke tempat kebakaran, mengambil sepotong kayu yang terbakar dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak den membakar pakaian musuh ini dengan api itu.
Bahkan ia lalu berusaha membakar rambut di kepala botak itu pula.
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang ahli Yang-kang, bahkan kedua lengannya sudah memiliki Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang bersumber pada panasnya api.
Boleh jadi kedua lengannya itu sudah kebal terhadap api, namun tubuhnya tidak, apalagi rambut di kepalanya.
Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian rambutnya dimakan api, ia terkejut dan marah sekali.
Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia menggulingkan tubuhnya ke kiri, pertama untuk memadamkan api yang berkobar pada bajunya, ke dua untuk menyingkirkan diri daripada gelombang sinar pedang Siauw-lim Chit-kiam.
Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran lawan, ia membalikkan tubuhnya dan memukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh.
Saking marahnya, kini ia menumpahkan semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.
Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman maut.
Mereka juga maklum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan nyawa mereka yang tadi sudah tertekan hebat.
Tentu saja sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat berpeluk tangan saja menyaksikan penolong mereka terancam.
Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini menodongkan pedang mereka dan mengerahkan tenaga, menghadang pukulan jarak jauh Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian.
Tenaga serangan itu tertangkis oleh sinar pedang, akan tetapi biarpun Sin Lian dapat diselamatkan, Sebagian hawa pukulan menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan dengan muka gosong.
Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan tubuhnya sudah melesat keluar menerjang api lalu lenyap di dalam kegelapan malam di luar kuil.
Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak mengejar, karena selain mereka harus menyelamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang pingsan, juga mengejar keluar kuil apa gunanya?
Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang lihai itu.
Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan mereka pun cepat-cepat menerjang api menerobos keluar sebelum ruangan itu ambruk.
Para anggauta Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka.
Tidak saja usaha mereka menewaskan Setan Botak itu gagal sama sekali, juga mereka harus cepat-cepat angkat kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk membasmi mereka.
Terutama sekali Lauw-pangcu yang kehilangan lima puluh lebih anggauta Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali.
Akan tetapi di samping kedukaan ini, ada sinar terang yang membahagiakan hati ketua kai-pang ini, yaitu bahwa Siauw-lim Chit-kiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka.
Setelah Ui Swan dan Ui Kiong diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk mendapat gemblengan ilmu di kuil Siauw-lim-si.
Adapun Lauw-pangcu sendiri lalu pergi ke barat untuk menyampaikan laporan kepada Raja Muda Bu Sam Kwi dan membantu perjuangan raja muda itu dalam usahanya mengusir penjajah Mancu dari tanah air.
Juga semua anggauta Ho-han-hwe yang mengunjungi pertemuan itu, cepat-cepat meninggalkan Tiong-kwan, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka menghentikan atau mengurangi semangat perjuangan mereka yang anti penjajah.
Kurang lebih setengah tahun lamanya Han Han berada di dalam gedung besar di pinggir kota Tiong-kwan, menjadi pelayan dari Setan Botak bersama muridnya Ouwyang Seng.
Mengapa Han Han dapat bertahan sampai demikian lamanya menjadi pelayan di situ?
Sesungguhnya hatinya amat tidak senang menjadi pelayan Ouwyang Seng, akan tetapi karena anak ini menemukan hal-hal yang amat menarik hatinya maka ia memaksa diri tidak mau meninggalkan tempat itu.
Ia tertarik melihat cara-cara latihan yang diajarkan Setan Botak kepada Ouwyang Seng.
Bahkan diam-diam kalau tidak dilihat guru dan murid itu, ia pun mulai melatih kedua lengannya dan merendamnya di dalam air panas bercampur racun.
Mula-mula ia tidak berani, akan tetapi karena tekadnya memang luar biasa, ketika ia diberi tugas menggodok air beracun, ia mencelup kedua tangannya.
Dengan kemauan yang amat luar biasa, terdorong oleh sifat aneh yang menguasainya, akhirnya dalam sebulan saja ia sudah mampu menahan kedua lengannya direndam air panas beracun sampai semalam suntuk.
Apa yang dicapai oleh Ouwyang Seng dalam latihan dua tiga tahun, dapat ia peroleh hanya dengan latihan sebulan saja.
Dan pada bulan-bulan berikutnya, ia bahkan telah jauh melampaui Ouwyang Seng karena ia sudah dapat bertahan untuk merendam kedua lengannya ke dalam air panas batu bintang.
Padahal latihan merendam lengan di air batu bintang ini hanya dilakukan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, sedangkan Ouwyang Seng hanya baru mulai dengan latihan yang berat ini.
Guru dan murid yang wataknya aneh dan keras itu ternyata merasa suka kepada Han Han yang juga tidak kalah aneh wataknya.
Han Han dapat menjadi seorang anak yang pendiam dan penurut sekali kalau ia kehendaki, dan ia pandai menyimpan rahasia, sehingga guru dan murid itu merasa suka, bahkan akan merasa kehilangan kalau tidak ada Han Han yang mengerjakan segala keperluan mereka berdua itu dengan alat-alat dan keperluan berlatih.
Apalagi Ouwyang Seng, sama sekali tentu saja tidak pernah menduga bahwa kacung itu telah ikut berlatih, bahkan telah melampauinya.
Sedangkan gurunya, Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri tidak pernah mimpi bahwa bocah gembel itu ternyata selain melatih diri dengan dasar-dasar ilmu Hwi-yang-sin-ciang, juga sudah berani memasuki daerah terlarang, tempat ia berlatih dan yang merupakan tempat terlarang bagi semua orang.
Dan tidak pernah menduga bahwa semua ajaran teori yang ia berikan kepada Ouwyang Seng, diam-diam telah didengar jelas oleh Han Han, bahkan bocah ini segera mempraktekkan ajaran-ajaran itu.
Apabila Kang-thouw-kwi Gak Liat sedang bepergian, dan hal ini sering kali ia lakukan tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya, Ouwyang Seng yang pada dasarnya malas berlatih dan lebih suka berkuda atau berjalan-jalan keluar kota mengumbar kenakalannya, kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Han Han.
Setelah ia dapat bertahan merendam kedua lengannya dalam air cairan batu bintang, mulailah ia diam-diam memasuki daerah tertarang.
Mula-mula jantungnya berdebar dan ia merasa ngeri.
Di kebun yang liar itu terdapat banyak lubang-lubang dan ketika ia memperhatikan, ia terbelalak memandang ke arah kerangka-kerangka manusia yang berada di dalam lubang-lubang itu.
Tahulah ia bahwa kuburan-kuburan yang berada di situ seperti yang pernah diceritakan Ouwyang Seng kepadanya, kini telah dibongkar dan tulang-tulang manusia serta tengkorak-tengkorak berserakan di tempat itu.
Benar-benar bukan merupakan tempat latihan seorang manusia.
Lebih tepat dinamakan tempat seekor siluman atau iblis.
Teringat pula ia akan cerita Setan Botak kepada Ouwyang Seng bahwa kalau latihan merendam lengan dalam cairan batu bintang sudah mencapai puncaknya, maka latihan dilanjutkan dengan membakar kedua lengan di atas api bernyala.
"Bukan api sembarang api,"
Demikian ia menangkap pelajaran yang diberikan Setan Botak kepada Ouwyang Seng.
"Melainkan api yang menyala dari tulang-tulang manusia yang dibakar. Api dari tulang-tulang itu mengandung sari hawa Yang-kang, sudah merupakan racun Hwi-yang. Dengan latihan itu, sari Hwi-yang akan meresap ke dalam kedua lengan memperkuat tulang lengan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat ini, kau harus berlatih dengan tekun sampai sedikitnya sepuluh tahun, Kongcu."
Demikian antara lain penjelasan Setan Botak.
Entah mengapa ia suka mempelajari semua ini, Han Han sendiri tidak akan dapat menjawab.
Ia tidak bermaksud mendapatkan kekuatan pada kedua lengannya karena ia tidak suka, bahkan benci berkelahi.
Akan tetapi mungkin sifat aneh pada pelajaran inilah yang menarik hatinya dan yang membuatnya ingin mencoba dan melatih diri"
Maka setelah ia mendapat kesempatan memasuki daerah terlarang, ia segera mulai dengan latihan-latihan yang menegangkan hatinya.
Mula-mula ia memanaskan kwali tua yang terisi cairan tulang-tulang tengkorak manusia, merendam kedua lengannya dalam cairan yang menjijikkan itu sebagaimana ia dengar dari penjelasan Setan Botak kepada Ouwyang Seng.
Kemudian mulailah ia melatih kedua lengannya di atas api bernyala yang ia buat dengan bahan bakar kayu-kayu dan tulang-tulang kering manusia yang berserakan di tempat itu.
Sampai setengah tahun lebih Han Han melatih diri di daerah terlarang itu.
Tentu saja hal ini dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena ia pun tahu bahwa kalau sampai hal ini diketahui Setan Botak, nyawanya takkan tertolong lagi.
Kini sudah lebih dari setahun ia menjadi pelayan Ouwyang Seng dan gurunya, dan mulailah ia merasa bosan.
Memang ia melatih diri selama ini tanpa pamrih apa-apa, hanya karena tertarik dan kini setelah ia dapat bertahan menaruh tangannya di dalam api berkobar sampai api itu mati sendiri kehabisan bahan bakar, ia menjadi bosan dan menganggap bahwa apa yang dicarinya sudah dapat.
Ia mulai bosan setelah mengingat betapa ia telah membuang waktu dengan sia-sia.
Kalau ia renungkan dan bertanya sendiri, apakah yang ia dapatkan selama setahun lebih ini?
Ia tidak dapat menjawab karena harus ia akui bahwa kedua lengannya yang dapat menahan panasnya api itu sesungguhnya tidak ada guna atau manfaatnya sama sekali"
Sungguh ia tidak tahu bahwa sebetulnya ia telah dapat menguasai dasar-dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang amat hebat.
Tidak tahu bahwa bakatnya jauh melampaui Setan Botak sendiri sehingga kalau ia latih terus dan melatih pula ilmu pukulannya, ia akan menjadi seorang ahli Hwi-yang-sin-ciang yang tidak ada tandingannya di dunia ini.
Sayang bahwa Han Han sama sekali tidak tertarik kalau ia melihat Ouwyang Seng berlatih silat, juga tidak mau mendengarkan kalau Setan Botak memberi penjelasan tentang kouw-koat (teori silat) kepada Ouwyang Seng.
Sampai saat itu pun Han Han masih belum suka akan ilmu silat, bukan hanya tidak suka, malah membencinya.
Apalagi kalau ia terkenang akan pertandingan antara Setan Botak dengan orang-orang Pek-lian Kai-pang, ia menjadi muak dan makin membenci ilmu silat yang dianggapnya hanya merupakan ilmu membunuh manusia lain.
Kalau dipikirkan memang lucu sekali.
Anak ini membenci ilmu silat yang dianggapnya ilmu yang keji.
Akan tetapi tanpa ia ketahui sama sekali, ia kini telah memiliki dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang, padahal ilmu ini adalah ilmu golongan hitam atau ilmu sesat yang amat keji.
Ilmu meracuni kedua lengan seperti ini, yang sebagian menggunakan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia, tidak akan dipelajari oleh orang gagah di manapun juga kecuali oleh kaum sesat.
Untuk memperkuat kedua lengan tangan, kaum gagah di rimba persilatan biasanya menggembleng lengan dengan pasir panas, pasir besi panas, dan lain-lain yang pada dasarnya hanya untuk memperkuat kedua lengan.
Akan tetapi kaum sesat mencampurkan racun dalam latihan ini sehingga tangan mereka menjadi tangan beracun yang sesuai dengan watak mereka.
Han Hen sama sekali tidak tahu akan hal ini, maka amatlah lucu kalau dipikirkan bahwa dia membenci ilmu silat namun diam-diam meniadi calon ahli Hwi-yang-sin-ciang.
Akan tetapi, kebosanannya melatih diri ini menolongnya.
Kalau ia lanjutkan, tentu akhirnya ia akan ketahuan dan hal ini berarti mati baginya.
Dan kebetulan sekali sebelum kebosanannya membuat ia berlaku nekat dan minggat dari situ, pada pagi hari itu Setan Botak pulang dan siang harinya ia dipanggil Ouwyang Seng.
"Han Han, lekas berkemas, bungkus pakaian-pakaianku yang terbaik. Kita akan pergi dari sini ke kota raja."
"Kota raja?"
Han Han bengong. Sebutan kota raja hanya ia dapat dalam kitab-kitabnya saja karena selama hidupnya belum pernah ia melihat kota raja.
"Ya, kota raja di utara. Ha-ha-ha, Engkau akan bengong keheranan kalau melihat kota raja dan aku sudah rindu kepada orang tuaku, kepada teman-temanku. Lekas berkemas, kalau terlambat, suhu akan marah."
"Aku.... aku diajak, Kongcu?"
Han Han menyembunyikan debar jantungnya.
Kalau ia minggat, ia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana.
Akan tetapi ia akan bebas dan merasa berbahagia.
Dia tidak suka untuk menjadi pelayan selamanya.
Betapapun juga, kalau diajak ke kota raja, ia akan mengesampingkan dulu ketidak sukaannya menjadi pelayan.
Kota raja Ia harus melihatnya"
"Tentu saja kau kuajak. Bukankah kau pelayanku? Habis, kalau tidak diajak, siapa yang akan mengurus keperluan kami?"
Bentak Ouwyang Seng marah.
"Siapa saja yang pergi, Kongcu?"
"Siapa lagi kalau bukan suhu, aku dan kau? Sudahlah, cerewet amat sih. Lekas berkemas dan suruh tukang kuda menyediakan dua ekor kuda untuk suhu dan aku."
"Dan aku sendiri jalan kaki? Apakah hal itu tidak akan memperlambat perjalanan, Kongcu?"
Han Han membantah, penasaran.
"Huh, mana ada pelayan menunggang kuda? Akan tetapi kalau suhu menghendaki perjalanan cepat, boleh membonceng di belakangku. Cuma, jangan lupa. Sebelum berangkat kau mandi yang bersih pula. Nah cukup, lekas berkemas."
Han Han berkemas dan diam-diam mengomel.
Biarpun ia menjadi pelayan, namun tidak pernah ia menerima upah, tidak pernah menerima pakaian, hanya mendapat makan setiap hari.
Pakaiannya masih pakaian setahun yang lalu, penuh tambalan.
Namun ia mempunyai satu stel pakaian cadangan, pemberian seorang pelayan di situ yang menaruh kasihan kepadanya.
Pakaian ini pun sudah ia tambal-tambal.
Dengan adanya cadangan pakaian ini, ia selalu berpakaian bersih, yang satu dipakai, yang satu dicuci.
Biarpun penuh tambalan, pakaiannya selalu bersih.
Setelah selesai berkemas, berangkatlah Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ouwyang Seng dan Han Han meninggalkan gedung di kota Tiong-kwan.
Perjalanan itu amat melelahkan bagi Han Han karena, berbeda dengan Kang-thouw-kwi dan muridnya yang masing-masing menunggang kuda, Han Han berjalan kaki.
Akan tetapi biarpun amat melelahkan, perjalanan ini pun mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya.
Terlalu lama ia terkurung di dalam gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan dan kini ia selalu berada di alam terbuka, menyaksikan keindahan alam dan melalui bermacam kota dan dusun.
Kadang-kadang kalau Kang-thouw-kwi menghendaki perjalanan dipercepat, baru Han Han diperbolehkan membonceng Ouwyang Seng, duduk di punggung kuda di belakang pemuda bangsawan itu.
Dan di sepanjang perjalanan ini dia pulalah yang melayani segala keperluan mereka.
Hanya dengan kemauan keras yang dikendalikan kecerdikannya saja membuat Han Han dapat menekan perasaaannya yang panas penuh dendam dan kebencian setiap kali ia memasuki kota-kota besar dan melihat tentara-tentara dan perwira-perwira Mancu berkeliaran dengan lagak sombong.
Melihat tentara penjajah ini, teringatlah ia akan keluarganya yang terbasmi dan terbayang makin jelaslah wajah tujuh orang pembesar Mancu yang dilayani ayahnya ketika mereka berpesta-pora di dalam rumahnya.
Terbayanglah wajah dua orang di antara ketujuh perwira itu, wajah yang sudah terukir di hatinya dan yang selamanya takkan pernah dapat ia lupakan, yaitu wajah perwira muka kuning dan perwira muka brewok.
Pada suatu pagi mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san dan Kang-thouw-kwi Gak Liat menyuruh muridnya berhenti.
"Kita berhenti dan mengaso di sini."
Kata Setan Botak itu sambil meloncat turun dari kudanya.
Han Han cepat-cepat meloncat turun dari belakang Ouwyang Seng dan menuntun kuda Setan Botak untuk diikat kepada sebatang pohon.
Kemudian ia merawat kuda tunggangan Ouwyang Seng Pula.
Sejak pagi-pagi sekali mereka melarikan kuda dan kini kedua ekor kuda itu berpeluh dan terengah-engah.
Han Han cepat mengeluarkan kain kuning dari buntalannya yang tergantung di sela kuda, dan menyusuti tubuh kuda yang berpeluh.
Dua ekor kuda yang sedang makan rumput itu menggosok-gosokkan telinga dan muka pada Han Han, seolah-olah mereka menyatakan terima kasih.
"Kongcu, lihatlah, puncak di sana itu menjadi tempat tinggal seorang kenalan baik yang daerahnya sama sekali tidak boleh diganggu."
Ouwyang Seng memandang suhunya dengan heran. Baru sekali ini suhunya memperlihatkan dan memperdengarkan suara yang sifatnya segan kepada seseorang.
"Suhu, siapakah kenalan suhu itu? Dia orang macam apa?"
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang ke arah puncak gunung yang tertutup awan putih itu dengan kening berkerut, termenung sejenak lalu berkata.
"Namanya Siangkoan Lee, julukannya Ma-bin Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Kuda). Semenjak muda dia menjadi sainganku, menjadi lawanku yang paling ulet. Hemmm.... lebih lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. Entah bagaimana sekarang tingkat ilmunya yang paling diandalkan."
"Ah, jadi di sanakah tempat tinggal Ma-bin Lo-mo yang amat terkenal itu? Suhu, bukankah dia seorang diantara tokoh-tokoh yang disebut datuk-datuk besar di samping suhu?"
"Benar dialah orangnya...."
Kembali Kang-thouw-kwi tampak melamun, teringat ia akan masa dahulu di mana ia bersama Ma-bin Lo-mo malang-melintang di dunia kang-ouw dan hanya Si Muka Kuda itu sajalah yang merupakan lawan yang paling tangguh.
"Dia bekas seorang menteri di Kerajaan Beng lima puluhan tahun yang lalu, kemudian mengundurkan diri. Entah bagaimana kedudukannya di jalan kerajaan baru ini...."
"Ilmu apakah yang paling ia andalkan, suhu?"
Setan Botak itu menghela napas panjang.
"Dia sengaja memperdalam ilmu untuk menandingi Hwi-yang-sin-ciang, Ilmunya itu disebut Swat-im-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Sari Salju). Ah, betapa inginku mengetahui sampai di mana sekarang tingkat ilmunya itu...."
"Suhu, kenapa kita tidak naik ke sana saja kalau suhu ingin mencobanya? Teecu yakin suhu tidak akan kalah."
"Hemmm, Kongcu. Lupakah engkau akan pelajaranku bahwa kalau kita ingin dapat lama bertahan di dunia kang-ouw, kita harus selalu pandai menilai keadaan lawan? Turun tangan kalau sudah yakin akan menang, dan berhati-hati apabila menghadapi keadaan yang akan dapat merugikan. Itulah syarat utama dan syarat itulah yang kupakai selama puluhan tahun ini sehingga namaku masih menjulang tinggi tak pernah runtuh."
Ouwyang Seng mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa kagum dan penasaran kepada tokoh yang julukannya Ma-bin Lo-mo itu.
Ia tidak mau percaya dan tidak mau mengerti bahwa ada orang yang akan dapat menandingi gurunya.
Adapun Han Han yang menyusuti keringat kuda, ikut mendengarkan semua itu.
Tentu saja ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat Setan Botak yang dianggapnya pengecut dan sama sekali tidak tepat menjadi watak orang gagah.
Orang gagah mendasarkan wataknya kepada yang baik dan jahat.
Betapapun kuatnya lawan, kalau jahat harus ditentang, sebaliknya, biarpun lawan lemah, kalau benar tidak semestinya ditentang, bahkan harus dibantu.
Akan tetapi dia tidak peduli akan watak guru dan murid itu, hanya merasa kagum dan ingin sekali melihat tokoh yang dijuluki Iblis Tua Muka Kuda itu.
"Han Han, lekas pergi ke dalam hutan di depan itu mencarikan buah-buahan untuk suhu. Jangan kembali kalau belum mendapatkan buah-buahan yang cukup banyak."
Ouwyang Seng yang melihat bahwa Han Han mendengarkan percakapan mereka tadi memerintah karena betapapun juga ia merasa tidak senang melihat kacungnya itu mendengar betapa suhunya seolah-olah jerih terhadap tokoh yang berjuluk Iblis Tua Muka Kuda itu.
Han Han yang juga merasa lapar, mengangguk lalu meninggalkan tempat itu, memasuki hutan yang berada di sebuah lereng dekat kaki gunung itu.
Timbul lagi kegembiraan hatinya.
Memasuki hutan liar itu seorang diri saja amat menyenangkan hatinya.
Ia merasa seolah-olah menjadi satu dengan hutan itu, bebas lepas seperti burung yang beterbangan di antara pohon-pohon raksasa, seperti seekor di antara kera-kera yang berloncatan, kelinci-kelinci yang berlarian.
Ah, betapa ingin hatinya untuk menggunakan kesempatan itu melarikan diri.
Akan tetapi, ia ingin menyaksikan kota raja, dan juga ia tahu bahwa kalau ia melarikan diri, tentu akan mudah dikejar Setan Botak yang amat sakti itu, dan dia tentu akan mengalami hukuman di tangan Ouwyang Seng yang kejam dan suka menyiksa orang.
Biarlah kucarikan buah untuk mereka, pikirnya.
Belum tiba saatnya bagi dia melarikan diri.
Untung baginya bahwa hutan itu mempunyai banyak pohon berbuah yang sudah matang dan tinggal pilih saja.
Akan tetapi selagi ia menengadah mencari buah-buah apa yang akan dipilihnya, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan-bentakan halus dan nyaring.
".... heiiiiit.... siaaat.... heiiiiittt."
Han Han tertarik dan cepat ia menyelinap di antara pohon-pohon itu ke arah datangnya suara.
Ternyata bahwa yang membentak-bentak itu adalah seorang anak perempuan, usianya takkan jauh selisihnya dari usianya sendiri.
Bocah itu sedang berlatih ilmu silat, memukul, menangkis menendang, berloncatan dan sekali-kali mengeluarkan jerit membentak untuk memperkuat pukulan atau tendangan.
Anak perempuan berusia sepuluh atau sebelas tahun itu amat cantik dan mungil, gerakannya gesit bukan main, mengingatkan Han Han akan Sin Lian, puteri Lauw-pangcu.
Akan tetapi gadis cilik ini lebih cantik, dan mukanya manis sekali, tidak membayangkan kegalakan dan keliaran seperti yang terbayang pada wajah Sin Lian.
Adapun gerakan-gerakannya jauh lebih cepat daripada gerakan Sin Lian, hal ini saja menjadi tanda bahwa tingkat kepandaian ilmu silat anak perempuan ini lebih tinggi daripada puteri Lauw-pangcu.
Selain cepat, juga ilmu silat yang dimainkan gadis cilik itu bagi Han Han kelihatan amat indahnya, seperti menari-nari.
Tubuh yang semampai itu berkelebatan, berloncatan dan kadang-kadang membuat gerakan kaki tangan demikian halus dan indah sehingga ia memandang dengan bengong (Lanjut ke
Jilid 06) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 penuh kekaguman.
Ada sepuluh menit anak perempuan itu berlatih, kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sampai lima kali, baru tubuhnya berjungkir balik melompat ke belakang.
Indah sekali gerakannya.
"Bagus sekali....."
Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.
Anak perempuan itu menengok dan memandang.
Han Han terkejut dan tahu bahwa dia telah berlaku lancang.
Ia mengira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu akan marah dan memakinya.
Setelah ia bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak perempuan adalah mudah marah, mudah memaki, akan tetapi mudah pula tertawa.
Akan tetapi ia kecelik.
Anak perempuan itu tidak marah melainkan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, memperhatikannya dari atas sampai ke bawah, kemudian tersenyum dan melangkah maju menghampirinya.
Setelah mereka berdiri saling berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh Han Han membuat Han Han menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak boleh dibanggakan.
Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat berganti pakaian.
Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya den mengeluarkan dua potong uang tembaga, tanpa berkata-keta menjulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada Han Han.
Tentu saja Han Han melongo dan tidak mengerti, terpaksa bertanya.
"Untuk apa ini....?"
"Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kau temui dusun, akan percuma mencari sumbangan...."
"Aku bukan pengemis."
Han Han membentak dan mundur dua langkah, mata nya memandang penasaran.
Gadis cilik itu menatap wajahnya dan agaknya kaget sekali ketika bertemu pandang dengan Han Han, lalu cepat-cepat menyimpan kembali uangnya dan mengalihkan pandangnya, meneliti pakaian tambal-tambalan dan kaki telanjang itu.
Han Han merasa menyesal mengapa ia membentak karena kini ia tahu bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan bermaksud menghinanya, melainkan keadaan pakaiannyalah yang membuat anak itu menduga bahwa dia seorang pengemis.
Begitu berjumpa, tanpa diminta telah memberi sumbangan, benar-benar hati bocah ini tidak buruk, pikirnya.
Cepat-cepat ia berkata dengan suara halus.
"Aku memang miskin, pakaianku tambal-tambalan, akan tetapi aku belum pernah mengemis. Maafkan penolakanku."
Kembali anak itu mengangkat alis dan memandang dengan heran.
Ucapan Han Han begitu halus dan susunan kata-katanya teratur rapi, bukan seperti seorang anak dusun, apalagi pengemis.
"Kau..ini.. siapa? Dan apakah kehendakmu datang ke tempat ini?"
"Aku bernama Han, she Sie. Aku hanya seorang kacung yang kebetulan mengikuti perjalanan majikanku. Mereka berhenti di kaki gunung dan menyuruh aku mencari buah-buah di hutan ini. Dan Engkau siapa? Kalau tadi kau katakan di sini tidak ada dusun, bagaimana engkau bisa berada di sini?"
"Namaku Cu, she Kim. Aku memang penghuni daerah ini, di puncak sana itu. Lebih baik engkau lekas pergi, dan katakan kepada majikanmu agar cepat pergi meninggalkan daerah ini. Daerah ini milik suhuku dan siapapun juga tidak boleh berada di sini. Lekas pergilah bersama majikanmu sebelum terjadi hal-hal yang hebat menimpa kalian."
"Nona Kim Cu, engkau baik sekali."
"Eh, baik bagaimana?"
"Aku lancang memuji ilmu silatmu, kau tidak marah. Kini engkau menasehati aku agar tidak sampai tertimpa malapetaka. Benar-benar engkau seorang anak yang amat baik."
Anak perempuan itu menggeleng kepala.
"Apa sih artinya baik? Engkau ini yang amat aneh. Pakaianmu seperti pengemis akan tetapi engkau tak pernah mengemis. Pekerjaanmu sebagai kacung akan tetapi sikap dan bicaramu seperti seorang anak terpelajar. Dan kau.... agaknya kau pandai ilmu silat, ya?"
Han Han cepat menggeleng kepala.
"Ah, mana aku bisa? Aku tidak bisa ilmu silat...."
"Kalau tidak bisa, bagaimana tadi dapat memuji ilmu silatku?"
"Karena memang bagus dan indah, seperti tarian. Nona Kim Cu, apakah gurumu itu pandai sekali ilmu silatnya? Aku tadi mendengar percakapan majikanku dan muridnya, menyebut-nyebut nama Ma-bin Lo-mo yang tinggal di In-kok-san. Kenalkah engkau dengan dia?"
Tiba-tiba wajah gadis cilik itu berubah agak pucat dan seperti lupa diri, dia memegang lengan Han Han.
"Wah celaka....! Siapa majikanmu itu, begitu berani mati menyebut-nyebut nama suhu....?"
Melihat gadis cilik yang menimbulkan rasa suka di hatinya ini kelihatan gelisah, Han Han juga memegang tangannya dan berkata menghibur.
"Nona, tidak perlu khawatir. Majikanku juga bukan orang biasa, julukannya Kang-thouw-kwi...."
"Ihhhh....?"
Pada saat itu, terdengar bentakan.
"Han Han! Kau kacung malas, Disuruh mencari buah-buahan malah bermain gila dengan seorang gadis gunung."
Han Han cepat melepaskan pegangannya pada tangan Kim Cu, menoleh dan memandang kepada Ouwyang Seng dengan penuh kemarahan.
Ucapan yang menghina dirinya tidaklah mendatangkan kemarahan, akan tetapi teguran itu sekaligus menghina Kim Cu yang begitu baik.
Masa Kim Cu dikatakan gadis gunung dan dituduh bermain gila dengan dia?
"Ouwyang-kongcu, jangan bicara sembarangan....."
Kim Cu yang sudah melepaskan tangannya dan dengan langkah lebar gadis cilik ini telah menghadapi Ouwyang Seng.
Sepasang mata yang tadinya berseri dan bening itu kini kelihatan memancarkan cahaya kilat.
"Sie Han, mengapa manusia macam ini kau sebut Kongcu? Pantasnya engkaulah yang harus dia sebut Kongcu, karena menurut pendapatku, dia ini menjadi kacungmu saja masih belum patut."
"Budak hina, jangan membuka mulut besar kalau tidak ingin kuhajar mulutmu."
Bentak Ouwyang Seng yang menjadi marah sekali. Selama hidupnya baru sekali ini ada orang berani menghinanya seperti itu.
"Kau yang membutuhkan hajaran."
Kim Cu berseru dan tubuhnya sudah melesat ke depan dengan serangan kilat.
Kedua kepalan tangan yang kecil itu dengan gerakan cepat sekali sudah menghantam ke arah kepala dan dada Ouwyang Seng.
Akan tetapi, murid Kang-thouw-kwi ini tertawa mengejek, menggerakkan kedua tangannya untuk menangkap kedua kepalan itu.
Anehnya, gadis cilik itu tidak peduli, bahkan membiarkan kedua kepalan tangannya tertangkap, padahal ini merupakan bahaya besar baginya.
Ouwyang Seng memperkeras ketawanya karena ia yakin bahwa sekali cengkeram, kepalan kedua tangan gadis itu akan remuk-remuk tulangnya.
Namun, segera dia berseru kaget, cepat melepaskan cengkeramannya dan berusaha meloncat mundur.
Terlambat, Perutnya masih kena serempet ujung sepatu Kim Cu sehingga ia terjengkang ke belakang sambil memegangi perutnya dan meringis.
Biarpun tidak mengalami luka, namun setidaknya perutnya menjadi mulas seketika.
Dengan kemarahan meluap-luap, Ouwyang Seng kini membalas dengan serangan yang dahsyat.
Bertempurlah kedua orang anak itu, ditonton oleh Han Han yang menjadi makin kagum.
Jelas tampak betapa gadis cilik itu telah memiliki dasar yang matang, gerakan-gerakannya jauh lebih cepat daripada Ouwyang Seng sehingga dialah yang lebih banyak menghujankan serangan daripada murid Setan Botak itu.
"Rebahlah, manusia sombong."
Kim Cu berseru keras dengan serangan desakan yang sukar sekali dijaga karena kedua tangan itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak saking cepat gerakahnya, dan tubuhnya pun berkelebatan di kanan kiri lawan.
Bukkk...., Aduuuhhhhh...."
Kembali Ouwyang Seng terjengkang karena pukulan tangan kiri Kim Cu bersarang di dadanya.
Kini agak tepat kenanya sehingga napasnya menjadi sesak.
Namun Ouwyang Seng yang terlath sejak kecil telah memiliki kekebalan, dan biarpun ilmu silatnya lebih unggul dan gin-kangnya lebih tinggi daripada Ouwyang Seng, namun agaknya gadis cilik itu belum memiliki tenaga yang cukup kuat untuk merobohkan lawan dengan beberapa kali pukulan saja.
"Budak hina, engkau sudah bosan hidup."
Ouwyang Seng marah sekali.
Kedua matanya merah, mulutnya menyeringai seperti mulut harimau haus darah.
Ia meloncat bangun, menggerak-gerakkan kedua lengannya kemudian ia menerjang maju, mengirim pukulan dengan mendorongkan kedua lengannya itu dengan jari-jari terbuka ke arah Kim Cu, tubuhnya agak merendah.
Melihat ini, Han Han terkejut sekali.
Itulah pukulan beracun yang dilatih Ouwyang Seng, dengan tenaga inti api sebagai hasil latihan merendam kedua lengan ke dalam air beracun mendidih.
"Kongcu....."
Ia berseru, akan tetapi Ouwyang Seng yang sudah amat marah itu lupa pula akan pesan suhunya bahwa tidak boleh ia semberangan mempergunakan dasar pukulan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang itu.
Kim Cu yang tadinya sudah beberapa kali berhasil memukul lawannya, tentu saja memandang rendah dan melihat datangnya pukulan, ia menangkis sambil miringkan tubuh.
"Plakkk...., aughhh....."
Tubuh Kim Cu terlempar dan masih untung bahwa ketika menangkis tadi ia miringkan tubuh sehingga pukulan api beracun itu tidak mengenainya dengan tepat.
Namun hawa pukulan yang hebat itu cukup membuat gadis cilik itu terlempar dan terbanting keras.
Dan selagi Kim Cu masih pening, berusaha bangkit, Ouwyang Seng yang masih belum puas telah meloncat dekat dan mengirim pukulan api beracun untuk kedua kelinya.
Kalau mengenai tepat dan tidak ditangkis, pukulan ini akan membahayakan nyawa Kim Cu.
"Jangan....."
Han Han cepat meloncat dekat dan mendorongkan kedua tangan nya menyambut pukulan maut yang dilakukan Ouwyang Seng itu.
"Desssss....."
"Aiiihhhhh....."
Kini tubuh Ouwyang Seng yang terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dan jatuh bergulingan lalu meloncat bangun dengan muka pucat sekali.
Kedua lengannya seperti terbakar rasanya dan tenaganya tadi begitu bertemu dengan dorongan Han Han telah membalik dan membuat ia terlempar.
Saking nyeri, marah dan heran ia sampai bengong terlongong.
Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Setan Botak dan Han Han mengeluh karena ia sudah roboh tertotok oleh Setan Botak yang tahu-tahu telah berada di situ.
"Anak setan, dari mana kau mencuri pukulan itu?"
Bentak Setan Botak yang kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan bertanya.
"Ouwyang-kongcu, engkau tidak apa-apa?"
Ouwyang Seng menggeleng kepala, kini kemarahannya ditimpakan semua kepada Han Han.
Cepat ia menyambar sebatang kayu yang terletak di bawah pohon, kemudian meloncat ke depan dan menggunakan ranting itu memukuli tubuh Han Han yang tertotok dan tidak mampu bergerak itu.
Terdengar suara "bak-buk-bak-buk"
Ketika ranting itu jatuh seperti hujan di seluruh tubuh Han Han.
"Pengecut....."
Bentakan ini dikeluarkan oleh Kim Cu yang telah menerjang maju dan sebuah tendangannya tepat mengenai lengan Ouwyang Seng yang memegang ranting sehingga ranting itu terlepas di atas tanah.
Ouwyang Seng sendiri meloncat ke belakang karena khawatir kalau mendapat serangan susulan dari gadis cilik yang amat cepat gerakannya itu.
Di depan gurunya, tentu saja ia tidak berani lagi menggunakan pukulan api beracun.
Kim Cu menolong Han Han dan membangunkannya, akan tetapi Han Han sudah dapat bergerak kembali dan kini ia bangkit duduk.
Biarpun totokan Setan Botak itu amat lihai, akan tetapi karena tubuh Han Han memang memiliki sifat luar biasa, hanya sebentar saja anak ini terpengaruh.
Dengan kemauannya yang hebat, timbullah hawa tan-tian dari pusarnya, mendorong jalan darah nya sehingga pengaruh totokan itu buyar.
"Budak hina, kacung busuk. Tunggu saja, kalian tentu akan kuhajar sampai mampus."
Ouwyang Seng menudingkan telunjuknya dan mengancam.
"Engkau bangsawan berwatak rendah melebihi anjing."
Kim Cu balas memaki dan diam-diam Han Han kecewa sekali mendengar betapa gadis cilik ini pun pandai memaki seperti Sin Lian.
Dia sendiri amat marah kepada Ouwyang Seng dan diam-diam ia meraih ranting yang terletak di depannya, yang tadi dipergunakan kongcu itu untuk mencambuki tubuhnya.
Akan tetapi perhatian Ouwyang Seng segera terpecah dan tertarik ketika ia mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh yang amat aneh, persis suara ringkik kuda.
Ketika ia memandang, kiranya suhunya telah bertanding melawan seorang kakek berpakaian hitam yang aneh sekali.
Kakek itu mukanya persis muka kuda, lonjong dan meruncing ke depan.
Rambutnya riap-riapan, namun pakaiannya yang serba hitam itu amat indah dan mewah, dihias pinggiran benang yang kuning emas.
Caranya bertanding melawan gurunya juga aneh.
Mereka itu tidak bergerak-gerak dari tempat masing-masing.
Si Muka Kuda itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kiri bertolak pinggang dan hanya dengan tangan kanan yang dibuka jari-jarinya saja ia menandingi Setan Botak.
Ouwyang Seng belum pernah melihat suhunya berwajah serius seperti ketika berhadapan dengan Si Muka Kuda itu.
Suhunya berdiri tegak pula dengan kedua kaki teguh memasang kuda-kuda, yang kiri di belakang yang kanan di depan, kemudian tangan kanannya menampar dengan jari terbuka ke arah dada Si Muka Kuda.
Andaikata didiamkan saja pukulan itu pun tidak akan menyentuh baju Si Muka Kuda.
Akan tetapi pukulan itu bukanlah sembarang pukulan, melainkan pukulan dahsyat yang amat ampuh dengan Ilmu Hwi-yang-sin-ciang.
"Hi-yeh-heh-heh-heh-heh."
Si Muka Kuda itu meringkik lalu menggerakkan tangan kanannya seperti menangkis.
Bukan tangan Setan Botak yang ditangkisnya, melainkan hawa pukulan itu yang bagaikan angin panas menyambar-nyambar dahsyat.
Dari kibasan atau tangkisan tangan kanan Iblis Tua Muka Kuda ini bertiup hawa yang dingin luar biasa karena untuk menghadapi pukulan sakti lawan, ia pun mengeluarkan ilmunya Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin melebihi salju.
"Darrr....."
Pertemuan dua hawa yang bertentangan itu menimbulkan suara nyaring dibarengi sinar berapi, seperti pertemuan dua hawa Im dan Yang di angkasa yang menimbulkan kilat halilintar"
Dan tubuh kedua orang tokoh besar itu tergetar dan masing-masing mundur dua langkah.
"Hi-yeh-heh-heh...., Hwi-yang Sin-ciang tidaklah begitu buruk....."
Si Muka Kuda tertawa mengejek.
Kang-thouw-kwi Gak Liat diam-diam terkejut sekali.
Dari pertemuan tenaga sakti itu tadi saja ia sudah dapat mengukur kehebatan Swan-im Sin-ciang yang ternyata dapat menandingi ilmunya.
Padahal di dalam hatinya ia sudah menganggap bahwa Hwi-yang Sin-ciang yang dilatihnya itu paling hebat di dunia.
Ia menjadi penasaran dan mukanya merah oleh ejekan lawan.
"Siangkoan Lee, kau sambutlah ini....."
Kini dari tempat ia berdiri, Setan Botak itu mengerahkan seluruh tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke dalam sepasang lengannya.
Mengepullah uap putih dari sepasang lengan itu yang kulitnya berubah makin merah seperti besi dibakar.
Melihat ini, kembali Si Muka Kuda terkekeh meringkik-ringkik, namun sambil meringkik itu dia pun telah mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya tampak mengebulkan uap pula, uap putih yang bergerak naik, keluar dari dalam lengan bajunya.
Biarpun sepasang lengan mereka itu masing-masing mengeluarkan uap putih, akan tetapi sesungguhnya amatlah jauh bedanya.
Uap yang keluar dari sepasang lengan Setan Botak adalah panas, sebaliknya yang mengebul keluar dari lengan Si Muka Kuda adalah uap dingin.
Bentakan Kang-thouw-kwi itu disusul dengan mencelatnya tubuhnya ke udara dan ia telah menerjang Si Muka Kuda dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang sekuatnya.
Namun Si Muka Kuda yang tahu pula akan kelihaian serangan ini, sudah melesat pula ke atas untuk menyambut pukulan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang pula.
Kalau gebrakan yang pertama tadi dilakukan di atas tanah dan masing-masing hanya ingin mengukur kehebatan ilmu pukulan lawan, kini mereka bertumbukan di udara dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
Karena kini mereka mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan kedua telapak tangan, maka benturan tenaga yang berlawanan sifatnya ini terjadi dengan dahsyatnya.
Ledakan keras disusul sinar terang menyilaukan mata dan tubuh keduanya mencelat ke belakang seperti dilontarkan.
Hanya bedanya, kalau Kang-thouw-kwi roboh setengah terbanting sehingga ia terhuyung-huyung di atas tanah, adalah Si Muka Kuda dapat berjungkir-balik dengan indahnya dan kemudian turun ke atas tanah dalam keadaan tenang.
Hal ini membuktikan dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) Si Muka Kuda masih berada di atas Setan Botak tingkatnya.
"Suhu.... suhu.... tolong....."
Mendengar seruan muridnya ini, Kang-thouw-kwi meloncat ke kiri di mana Ouwyang Seng sedang dihajar oleh Han Han dengan ranting, dicambuki dan setiap kali Ouwyang Seng hendak melawan, Han Han dibantu oleh Kim Cu.
Dikeroyok dua, Ouwyang Seng menjadi repot sekali, dan tubuhnya sudah babak-belur dihajar sabetan ranting di tangan Han Han.
Sambil meloncat, Kang-thouw-kwi mengulur tangannya dan tiba-tiba saja Han Han dan Kim Cu kehilangan lawan karena Ouwyang Seng telah lenyap dari depan mereka.
Ketika mereka memandang ke depan, ternyata pemuda tanggung itu telah dikempit oleh lengan Kang-thouw-kwi yang sudah mengangguk ke arah Si Muka Kuda sambil berkata.
"Siangkoan Lee, Swat-im Sin-ciang yang tersohor itu tidak buruk. Karena aku ada keperluan di kota raja, tidak ada waktu untuk lebih lama melayanimu. Kau perdalam ilmumu itu agar kelak kalau ada kesempatan dapat kita bertanding tiga hari tiga malam lamanya."
Si Muka Kuda meringkik keras sekali, kemudian menjawab.
"Gak Liat, engkau memang licik. Akan tetapi karena tidak sengaja kau datang melanggar wilayahku, biarlah kali ini kuampuni nyawamu. Lain kali boleh kita bertanding sampai mampus untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita."
Mendengar ucapan mereka itu, Han Han mendapat kesan bahwa keduanya adalah orang-orang yang tinggi hati dan sombong, menganggap diri sendiri terpandai.
Akan tetapi pada saat itu, Kang-thouw-kwi sudah menoleh kepadanya dan membentak.
"Han Han, hayo kita kembali."
Pada saat itu, Han Han merasa betapa tangan kirinya dipegang orang, dipegang oleh sebuah tangan yang berkulit lunak halus.
Tanpa melirik ia mengerti bahwa yang memegang tangannya tentulah anak perempuan yang bernama Kim Cu tadi.
Ia merasa suka kepada anak ini, merasa seolah-olah mereka telah menjadi sahabat lama.
Dan ia pun maklum bahwa ikut kembali bersama Kang-thouw-kwi dan Ouwyang Seng berarti mengalami siksaan karena Ouwyang Seng tentu akan membalas dendam.
Maka ia lalu berkata dengan suara lantang.
"Saya tidak mau kembali. Saya tidak sudi lagi dipaksa menjadi pelayan Ouwyang-kongcu yang jahat dan kejam."
Sepasang mata Setan Botak mengeluarkan sinar kemarahan. Sejenak ia memandang tajam, lalu terdengar kata-katanya.
"Engkau telah mencuri ilmu pukulanku, dan sekarang engkau tidak mau ikut, sepatutnya engkau mampus."
Setelah berkata demikian, dengan lengan kiri masih mengempit tubuh muridnya, Kang-thouw-kwi mendorongkan tangan kanannya ke arah Han Han.
Ia memukul anak itu dengan Hwi-yang Sin-ciang dari jarak jauh dengan penuh keyakinan bahwa sekali pukul tubuh bocah itu tentu akan menjadi hangus.
Han Han maklum akan datangnya bahaya, maka ia menjadi nekat.
Cepat ia pun mengerahkan seluruh kemampuannya dan memaksa hawa di pusarnya bergerak ke arah kedua lengannya yang ia dorongkan menyambut pukulan kakek botak itu.
"Desssss....."
Han Han tertumbuk hawa yang amat panas.
Kedua lengannya yang ia dorongkan seolah-olah remuk seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya.
Tubuhnya terlempar ke belakang, bergulingan dan ia roboh dengan mata mendelik.
Ia telah pingsan.
Kim Cu lari menubruknya dan melindungi tubuhnya sambil berteriak ke arah kakek botak yang memandang terheran-heran.
"Jangan bunuh dia....."
Kang-thouw-kwi Gak Liat benar-benar terheran-heran dan penasaran bercampur marah bukan main menyaksikan betapa kacungnya itu mampu menangkis dorongannya sehingga tidak roboh hangus dan mati, melainkan hanya pingsan saja.
Dan ia juga dapat merasakan betapa dorongan anak itu mengandung hawa yang jauh lebih panas daripada tingkat yang dimiliki Ouwyang Seng.
Tingkat seperti itu tidak mungkin dapat dimiliki anak ini kalau hanya meniru-niru Ouwyang Seng dalam berlatih, maka timbullah kecurigaannya bahwa kacung itu tentu telah menggeratak ke dalam daerah terlarang di gedung di Tiong-kwan itu yang menjadi tempat ia berlatih dengan rahasia.
"Bocah setan, pencuri busuk. Mampuslah."
Ia mengirim pukulan lagi, tidak peduli bahwa pukulannya kali ini membahayakan pula Kim Cu yang berlutut di dekat tubuh Han Han.
"Desssss....."
Hawa yang amat dingin menangkis pukulannya dari samping.
Kiranya Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee, Si Muka Kuda itu telah menangkisnya dan kini berdiri bertolak pinggang sambil berkata.
"Gak Liat, apakah engkau sudah tidak memandang aku sebagai orang setingkat, bahkan lebih tinggi daripadamu? Di daerahku ini tidak boleh engkau membunuh orang sembarangan saja tanpa seijinku."
"Siangkoan Lee, aturan apa ini? Bocah ini adalah kacungku sendiri, mau kubunuh atau tidak, apa sangkut-pautnya denganmu?"
Setan Botak itu membentak marah. Ma-bin Lo-mo tertawa meringkik.
"Engkau boleh membunuh bocah itu, akan tetapi aku pun akan membunuh muridmu itu."
Gak Liat makin marah.
"Mengapa?"
"Hemmm, engkau ini tua bangka yang pura-pura bodoh. Kalau tidak ada bocah itu yang menolong muridku dari pukulan muridmu, apakah kau kira aku tinggal diam saja? Kalau bocah ini tadi tidak menangkis pukulan muridmu, tentu aku yang turun tangan dan apa kau kira muridmu masih dapat hidup sekarang? Aku sudah memandang mukamu yang buruk, apa engkau berani memandang rendah kepadaku? Aku telah mengampuni muridmu, apakah engkau masih berkeras hendak membunuh anak ini?"
"Tapi, dia bukan muridmu, dia kacungku."
"Kau keliru. Setelah dia menolong muridku, berarti dia pun menjadi orang In-kok-san."
"Ahhh! Engkau tidak tahu siapa dia"
Hemmm, dia telah mencuri ilmuku...."
"Itu bukan alasan. Salahmu sendiri. Pendeknya, aku melarang engkau membunuhnya dan kalau engkau hendak melanjutkan pertandingan, silakan."
Setan Botak itu meragu.
Ia tidak sayang kepada Han Han dan ia tidak peduli anak itu menjadi murid In-kok-san.
Apalagi mengingat kakek anak itu.
Hanya ia membenci anak itu yang sudah mencuri Hwi-yang Sin-ciang, sungguhpun ia tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.
Ia mendengus marah.
"Baiklah, lain kali masih banyak waktu untuk membunuhnya dan lain kali aku akan membalas kebaikanmu ini."
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Setan Botak itu bersama muridnya.
"Panggil saudara-saudaramu, bawa dia ke atas."
Ma-bin Lo-mo berkata kepada Kim Cu dan ia pun berkelebat lenyap dari tempat itu.
Kim Cu lalu memasukkan dua buah jari tangannya ke dalam mulut, menekuk lidah dan bersuit keras dam nyaring sekali.
Suara suitan itu bergema ke empat penjuru dam dari sana-sini terdengar suitan-suitan balasan.
Tak lama kemudian muncullah dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan yang usianya antara sepuluh sampai tiga belas tahun, berlari-larian dengan gerakan ringan.
Mereka itu adalah anak-anak yang tampan dan cantik, dan segera mereka merubung Kim Cu dengan hujan pertanyaan sambil memandang tubuh Han Han yang masih menggeletak pingsan di atas tanah.
"Nanti saja aku ceritakan. Namanya Sie Han, dia murid baru suhu. Mari bantu aku menggotongnya ke puncak."
Beramai-ramai lima orang anak ini menggotong tubuh Han Han.
Sambil bercakap-cakap mereka menggotong Han Han mendaki puncak dan asyik sekali Kim Cu menceritakan peristiwa yang telah terjadi, tentang Kang-thouw-kwi Gak Liat yang sudah lama mereka dengar namanya itu.
Siapakah sebenarnya kakek yang mukanya berbentuk muka kuda ini?
Seperti telah diceritakan Setan Botak kepada muridnya, dia bernama Siangkoan Lee dan julukannya adalah Ma-bin-Lo-mo.
Kakek ini di waktu mudanya adalah seorang pembesar tinggi Kerajaan Beng-tiauw, akan tetapi karena menyalah gunakan kedudukannya dan bersikap sewenang-wenang mengandalkan kedudukan, harta dan terutama sekali ilmu silatnya yang tinggi, ia dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga akhirnya ia dipecat.
Siangkoan Lee lalu melarikan diri dan memperdalam ilmunya sehingga kemudian ia muncul sebagai seorang tokoh atau datuk golongan sesat, melakukan segala macam perbuatan kejam dan tidak peduli akan prikemanusiaan.
Namanya makin meningkat dan ditakuti semua orang setelah belasan tahun yang lalu ia berhasil mendapatkan sebuah di antara ilmu-ilmu yang mukjizat dan tinggi yang seolah-olah disebarkan oleh penghuni Pulau Es yang hanya dikenal dengan sebutan Koai-lojin (Kakek Aneh).
Bersama-sama dengan puluhan orang tokoh kang-ouw dia mengejar dan memperebutkann ilmu-ilmu ini dan akhirnya ia kebagian ilmu yang diciptakannya menjadi Swat-im Sin-ciang, di samping Setan Botak yang mendapatkan ilmu inti sari tenaga Yang sehingga ia dapat menciptakan Ilmu Hwi-yang Sin-ciang.
Biarpun puluhan tahun Ma-bin Lomo hidup sebagai seorang manusia iblis, namun di dasar hatinya dia adalah seorang yang berjiwa patriot.
Dia tidak secara langsung menentang pemerintah penjajah Mancu, akan tetapi di lubuk hatinya ia membenci bangsa Mancu ini.
Maka ia lalu memilih In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san, di mana ia mengumpulkan anak-anak berusia belasan tahun, Anak-anak yang dia pilih bertulang dan berbakat baik, juga yang memiliki wajah yang elok-elok.
Ia sudah mengumpulkan belasan orang anak yang ia gembleng sebagai murid-muridnya dengan cita-cita untuk kelak membentuk barisan murid-murid yang pandai untuk menentang dan menggulingkan pemerintah penjajah memimpin rakyat yang berniat memberontak terhadap Kerajaan Mancu.
Ma-bin Lo-mo boleh jadi kejam dan tak berprikemanusiaan terhadap lawan-lawannya, akan tetapi ia memimpin murid-muridnya penuh ketekunan dan kasih sayang, bersikap seperti seorang kakek terhadap cucu-cucunya.
Namun, di samping kasih sayang ini, ia pun menekankan disiplin yang amat keras sehingga kalau perlu ia tidak segan-segan untuk memberi hukuman yang mengerikan kepada murid yang bersalah.
In-kok-san (Puncak Lembah Berawan) merupakan puncak indah yang mempunyai banyak lapangan datar.
Di situ Ma-bin Lo-mo membangun beberapa buah pondok untuk dia dan murid-muridnya.
Han Han digotong naik ke puncak In-kok-san dan dibawa masuk ke sebuah pondok.
Ma-bin Lo-mo sendiri mengobati anak ini dari pengaruh dorongan hawa Hwi-yang Sin-ciang yang amat hebat.
Dalam beberapa hari saja Han Han sudah sembuh kembali.
Ketika ia siuman dari pingsannya, ia melihat Ma-bin Lo-mo, Kim Cu dan dua orang anak laki-laki berada di pondok menjaganya.
Ia cepat bangkit dan memandang ke sekeliling.
Sinar matanya penuh pertanyaan ditujukan kepada Kim Cu.
Anak perempuan ini tertawa lalu berkata.
"Han Han, engkau berada di In-kok-san dan engkau telah menjadi seorang di antara kami, menjadi murid suhu."
Mendengar ini, Han Han cepat meloncat turun dan berdiri memandang kakek muka kuda "Aku....
aku tidak mau menjadi murid di sini.
Aku tidak mau belajar silat."
"Eh, kenapa, Han Han?"
Kim Cu bertanya heran.
"Engkau sudah memiliki pukulan sakti. Kalau engkau pandai silat, tentu tidak akan mudah dipukul orang, seperti yang dilakukan Kongcu keparat itu kepadamu."
Dengan keras kepala Han Han menggeleng.
"Belajar silat menjemukan, membuang waktu sia-sia belaka. Kalau sudah pandai hanya dipakai untuk memukul orang. Aku benci ilmu silat, Kalau aku tidak bisa silat, aku tidak akan berdekatan dengan orang pandai silat dan tidak akan mengalami pukulan."
"Wah, seorang jantan harus berani menghadapi pukulan, malah membalas lebih hebat lagi. Harus tabah dan tegas agar tidak sampai kalah oleh orang lain. Apakah senangnya menjadi orang lemah dipukul orang kanan kiri dan menjadi pengecut?"
Ucapan ini keluar dari seorang anak laki-laki usianya paling banyak sepuluh tahun, bahkan lebih muda dari Kim Cu yang kurang lebih berusia sebelas tahun.
Han Han yang merasa dimaki pengecut menjadi marah sekali.
Ia menghadapi anak itu dan membentak.
"Kau bilang aku pengecut? Siapa yang pengecut? Bukan aku, melainkan engkaulah. Engkau....."
Di luar kesadarannya, Han Han kembali dalam kemarahannya telah memandang anak itu dengan sinar matanya yang aneh, membentaknya dengan suara yang mengandung getaran hebat.
Anak laki-laki itu menjadi pucat, tubuhnya menggigil, kemudian jatuh berlutut dan mulutnya berbisik-bisik.
"Ya.... aku...., akulah yang pengecut...."
"Heiii, sute! Mengapa kau ini....?"
Kim Cu meloncat dan menarik bangun anak itu.
Han Han menjadi sadar dan teringat akan peristiwa aneh yang sama ketika ia marah-marah kepada Sin Lian dan Lauw-pangcu.
Ia terkejut dan cepat menahan kemarahannya, menggunakan kekuatan kemauannya untuk tidak melanjutkan pengaruh aneh yang menguasai dirinya dan yang kalau ia pergunakan mudah saja mempengaruhi orang lain itu.
Ia menundukkan mukanya, tidak peduli terhadap anak itu yang telah bangkit berdiri dan terheran-heran berkata.
"Apa yang terjadi....? Ahhh.... apakah aku mimpi....?"
"Ehhh.... tak mungkin....."
Seruan ini keluar dari mulut Ma-bin Lo-mo dan ia sudah meloncat maju dan memegang kedua pundak Han Han memaksa anak itu memandang wajahnya.
Han Han sudah pernah diperiksa seperti ini oleh Lauw-pangcu dan juga oleh Kang-thouw-kwi, maka sekali ini ia berlaku cerdik.
Cepat ia menindas segala perasaannya sehingga batinnya berada dalam keadaan "kosong", maka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ma-bin Lo-mo, kakek itu tidak mendapatkan sesuatu yang aneh kecuali sinar mata bocah itu benar-benar amat terang dan tajam, seolah-olah dapat menjenguk ke dalam hatinya melalui sinar matanya.
"Hemmm, aneh sekali. Bocah aneh, engkau akan hidup senang menjadi murid di sini, akan tetapi di samping itu pun engkau harus belajar taat. Aku menjamin kepada semua muridku kelak akan menjadi jago yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi kalau tidak taat dan melanggar peraturan, akan kuhukum berat. Kalau berhati keras dan berkepala batu seperti engkau, sekali dijatuhi hukuman, lehermu akan putus. Hayo lekas ceritakan kepadaku tentang dirimu dan siapa saja yang pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadamu."
Di lubuk hati Han Han menentang, akan tetapi ketika ia mengerling kepada Kim Cu, ia melihat gadis cilik itu berkedip-kedip dan mengangguk kepadanya, pandang mata anak perempuan itu penuh kekhawatiran dan penuh pembelaan.
Sadarlah Han Han.
Ia tidak boleh main-main.
Kakek ini tidak kurang kejamnya daripada Setan Botak.
Kalau ia menentang dan dibunuh, apa untungnya?
Pula belajar di sini agaknya lebih menyenangkan, terutama karena di situ ada Kim Cu yang manis budi.
Ia duduk kembali di pembaringan menghadapi Ma-bin Lo-mo.
Teringat ia akan tata susila, dan karena ia tidak melihat jalan keluar lagi, terpaksa ia lalu menekuk lututnya, berlutut di depan kakek muka kuda itu sambil berkata.
"Teecu Sie Han menerima kebaikan suhu untuk memberi bimbingan."
"Heh-heh-hiyeeehhhhh....! Anak baik, lekas ceritakan riwayatmu. Tunggu dulu, mari kita keluar dan kau Kim Cu, kumpulkan semua saudaramu agar mengenal muridku yang baru, Sie Han."
Han Han mengikuti mereka keluar dari pondok dan ternyata di luar pondok itu adalah tanah datar berumput yang luas sekali.
Dari jauh tampak awan putih berkelompok seperti sekelompok domba berbulu putih.
Hawanya dingin sekali dan di sekeliling tempat itu tampak halimun tipis seperti sutera putih yang jarang.
Seperti juga tadi, Kim Cu memasukkan dua buah jari tangan ke mulut lalu bersuit nyaring beberapa kali.
Terdengar suitan-suitan balasan dari empat penjuru dan tak lama kemudian datanglah berlari-larian lima belas orang anak-anak yang sebaya dengan Kim Cu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun usianya.
Jumlah semua murid, termasuk Han Han, ada lima orang anak perempuan dan empat belas orang anak laki-laki, kesemuanya sembilan belas orang.
Dengan mata terbelalak Han Han melihat bahwa tiga orang laki-laki di antara mereka cacad, yang seorang buntung kaki kirinya, seorang buntung lengan kirinya dan seorang lagi buntung kedua daun telinganya"
Namun gerakan mereka sama cepatnya dengan yang lain.
Bahkan Si Buntung kaki itu pun dapat berlari cepat dibantu sebatang tongkat.
Ma-bin Lo-mo duduk di atas sebuah batu hitam yang halus permukaannya, kemudian menarik tangan Han Han dan menyuruh anak itu duduk di dekatnya sambil mengelus-elus kepala anak itu.
Diam-diam Han Han merasa agak terharu.
Benarkah guru barunya ini adalah seorang yang kejam?
Sentuhan tangan pada kepalanya mendatangkan perasaan haru karena semenjak ia tidak berayah ibu lagi, belum pernah ada orang mencurahkan kasih sayang seperti kakek ini.
Namun hanya sebentar saja ia sudah dapat menguasai keharuan hatinya.
"Nah, berceritalah, muridku."
"Jangan sungkan-sungkan dan banyak aturan, Han Han sute (Adik Seperguruan)."
Kata Kim Cu gembira.
"Di sini kita berada di antara keluarga sendiri."
"Benar, Benar sekali."
Teriak anak-anak itu dan mereka pun duduk membentuk lingkaran kipas menghadapi Han Han dan guru mereka.
Timbul kegembiraan di hati Han Han.
Agaknya, guru dan murid-muridnya ini merupakan orang-orang yang amat baik.
Maka lenyaplah keraguan dan kesungkanan hatinya dan ia pun mulai bercerita.
"Namaku Sie Han dan kedua orang tuaku, seluruh keluarga terbunuh oleh tentara Mancu...."
"Aaahhh, aku juga, begitu....."
"Orang tuaku juga."
"Keluargaku juga terbunuh tentara Mancu....."
Han Han tercengang.
Semua anak itu, delapan belas orang banyaknya, termasuk Kim Cu, berteriak-teriak mengatakan bahwa orang tua dan keluarga mereka pun terbasmi oleh tentara Mancu.
Mengapa begini kebetulan?
Ataukah kakek muka kuda itu memang sengaja mengumpulkan murid-murid dari keluarga yang terbasmi orang Mancu?
Betapapun juga, ia menjadi terharu dan baru kini terbuka matanya bahwa bukan dia seorang saja yang bernasib buruk, kehilangan orang tua dan keluarga yang menjadi korban keganasan orang Mancu.
Baru sekarang yang berkumpul di In-kok-san saja sudah ada begini banyak, belum yang tidak ia ketahui.
"Seorang diri aku mengembara merantau tak tentu arah tujuan. Kemudian aku bertemu dengan Lauw-pangcu dan menjadi muridnya hampir setengah tahun."
"Kau maksudkan Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang?"
Ma-bin Lo-mo tiba-tiba bertanya.
"Benar, suhu."
"Hemmm, apa saja yang ia ajarkan kepadamu?"
"Dalam waktu lima bulan lebih teecu hanya belajar memasang kuda-kuda dan langkah-langkah kaki saja, di samping belajar bersamadhi dan mengatur pernapasan."
"Bagus, coba kau berlatih langkah-langkah kaki menurut ajaran Lauw-pangcu."
Han Han mulai tertarik kepada kakek ini.
Berbeda dengan Lauw-pangcu, agaknya guru baru ini penuh perhatian terhadap dirinya, maka sekaligus timbul kegairahan hatinya untuk belajar.
Ia lalu melangkah ke depan, kemudian memainkan gerak-gerak langkah yang pernah ia pelajari dari Lauw-pangcu, atau lebih tepat dari Sin Lian karena anak perempuan itulah yang lebih banyak memberi petunjuk-petunjuk kepadanya.
Ia sudah siap untuk bersikap sabar apabila murid-murid yang lain akan mentertawakannya karena ia tahu bahwa mereka itu rata-rata, seperti Kim Cu, tentu telah memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi.
Akan tetapi ternyata mereka itu tidak ada yang tertawa, hanya memandang penuh perhatian.
Setelah selesai mainkan langkah-langkah itu, Han Han kembali duduk di dekat gurunya yang mengangguk-angguk.
"Baik sekali. Dasar-dasar langkah yang diajarkan Lauw-pangcu tepat dan memudahkan engkau mempelajari ilmu selanjutnya. Sekarang lanjutkan ceritamu."
"Kemudian muncul Kang-thouw-kwi yang membasmi Pek-lian Kai-pang dan dia memaksa aku ikut pergi bersamanya dan menjadi kacung di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan. Aku dipaksanya melayani semua keperluan dia dan Ouwyang Seng yang berlatih ilmu silat di sana. Sampai setahun lamanya aku menjadi kacung mereka, lalu mereka mengajak aku melakukan perjalanan menuju ke kota raja dan akhirnya bertemu dengan suhu di sini...."
"Nanti dulu, Han Han. Selama setahun engkau bekerja kepada Gak Liat. Apakah dia mengajar silat kepadamu?"
"Sama sekali tidak, suhu."
"Hemmm, kalau tidak sama sekali, bagaimana engkau bisa melakukan pukulan Hwi-yang Sin-ciang?"
"Pukulan Hwi-yang Sin-ciang?"
Han Han memandang gurunya yang baru ini penuh keheranan.
"Teecu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa...."
"Perlihatkan lenganmu."
Han Han mengangsurkan kedua lengannya.
Ma-bin Lo-mo memegang tangan muridnya ini dan menekan.
Rasa dingin menjalar ke dalam tangan Han Han, membuat kedua lengannya menggigil.
Makin lama makin dingin dan karena ia merasa tidak tahan, terpaksa ia mengerahkan hawa dari pusarnya untuk melawan hawa dingin ini.
Hawa panas yang timbul karena latihan-latihan secara diam-diam di tempat latihan Setan Botak merayap keluar melalui kedua lengannya dan kedua lengan itu menjadi hangat kembali.
Ma-bin Lo-mo melepaskan kedua lengan anak itu dan berkata, alisnya berkerut.
"Han Han, awas jangan engkau membohong. Apakah engkau minta dihukum?"
Ketika kebetulan Han Han mengerling ke arah Kim Cu, ia melihat wajah anak perempuan itu menjadi pucat dan anak itu memberi tanda dengan kedipan mata.
"Teecu sama sekali tidak membohong. Memang Setan Botak itu tidak memberi pelajaran apa-apa kepada teecu."
"Dari mana engkau bisa mendapatkan hawa panas yang keluar dari tan-tian di pusarmu?"
Wajah yang tadinya ramah dari kakek itu kini menjadi bengis, seperti muka seekor kuda marah. Wajah Han Han menjadi merah karena malu.
"Teecu mencurinya dari mendengarkan ajarannya kepada Ouwyang Seng dan secara diam-diam teecu berlatih seorang diri tanpa mereka ketahui."
Anak-anak itu kini tertawa, akan tetapi sama sekali bukan mentertawakannya karena terdengar mereka memuji. Bahkan Kim Cu bersorak.
"Bagus sekali. Engkau cerdik sekali, Han Han."
Han Han memandang anak-anak itu, hampir tidak percaya dia.
Juga gurunya kelihatan girang dan mengangguk-angguk.
Bagaimana mereka ini?
Mendengar dia mencuri malah dipuji, dan dikatakan cerdik.
Agaknya Ma-bin Lo-mo mengerti akan kebingungan muridnya, maka ia berkata.
"Kemajuan hanya dapat diperoleh dengan kecerdikan. Untuk memperoleh kemajuan, segala jalan dapat ditempuh, bahkan mencuripun baik saja. Demi tercapainya cita-cita, segala cara boleh digunakan dan tidak ada yang buruk. Anak-anak semua, contohlah perbuatan Han Han yang cerdik."
Di dalam hatinya Han Han sama sekali tidak menyetujui pendapat ini, akan tetapi mulutnya tidak membantah.
Bahkan ia mulai meragukan pendapatnya sendiri berdasarkan kitab-kitab filsafat yang menyatakan bahwa kalau jalan yang ditempuh buruk, maka hasilnya pun tidak baik.
Kalau dia yang benar, mengapa semua murid Ma-bin Lo-mo ini menerima dan menyetujui nasehat guru ini?
Betapapun juga, kebenaran pendapat Ma-bin Lo-mo sudah terbukti.
Kalau dia tidak mencuri, mana mungkin dia bisa memiliki kekuatan yang timbul dari latihan merendam kedua lengan datam air panas, bahkan membakarnya dalam nyala api tulang-tulang manusia?
Han Han masih terlampau kecil untuk dapat yakin akan kebenaran, dan tentu saja anak seusia dia itu mudah terpengaruh keadaan sekelilingnya.
Tanpa ia sadari, mulailah pengaruh-pengaruh buruk kaum sesat memasuki hatinya.
"Coba ceritakan bagaimana caramu melatih kedua lenganmu di sana,"
Kata pula Ma-bin Lo-mo dengan suara memerintah.
Anak-anak yang lain tidak ada yang bergerak atau mengeluarkan suara, semua mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Pertama-tama teecu merendam kedua lengan ke dalam air mendidih, yaitu air yang dicampuri obat-obatan dan racun oleh Kang-thouw-kwi, entah racun apa. Mula-mula memang terasa panas, akan tetapi dengan mempertebal tekad dan memperkuat kemauan sambil mengerahkan hawa dari pusar ke arah kedua lengan, akhirnya teecu kuat bertahan sampai semalam suntuk. Kemudian karena teecu disuruh menggodok batu bintang...."
Han Han berhenti dan teringat dengan hati menyesal mengapa ia ceritakan ini semua.
Ilmu yang dipelajari itu adalah rahasia.
Mengapa ia begitu bodoh untuk menceritakan kepada orang lain?
Kalau barang rahasia dibuka, tentu saja akan hilang keampuhannya.
"Batu bintang? Benar-benarkah Si Botak mempergunakannya? Di mana dia mengumpulkan batu bintang itu?"
Ma-bin Lo-mo bertanya penuh perhatian. Han Han tidak dapat mundur lagi. Biarlah kuceritakan sampai pada batu bintang itu saja, pikirnya.
"Batu-batu bintang itu didapatkan di sepanjang Sungai Huang-ho di sebelah timur kota Tiong-kwan."
"Lalu bagaimana? Teruskan....."
Desakan ini keluar dari mulut para murid Ma-bin Lo-mo yang agaknya ingin sekali tahu bagaimana cara melatih diri untuk mendapatkan Ilmu Pukulan Sakti Inti Api itu.
"Diam-diam teecu lalu merendam kedua tangan teecu ke dalam air larutan batu bintang yang mencair setelah digodok berhari-hari lamanya. Panasnya hampir tak tertahan, akan tetapi berkat ketekadan teecu, akhirnya teecu kuat juga. Nah, hanya itulah yang secara diam-diam teecu lakukan, akan tetapi sesungguhnya, teecu tidak pernah mempelajari ilmu pukulan apa-apa dari Kang-thouw-kwi."
"Inilah yang dinamakan bakat dan jodoh. Han Han, engkau berbakat secara ajaib sekali sehingga tanpa bimbingan engkau dapat berhasil melatih Hwi-yang Sin-ciang. Dan engkau berjodoh dengan kami, berjodoh untuk menjadi muridku dan ini merupakan nasib baikmu. Aku akan menyelidiki Hwi-yang Sin-ciang, dan kelak engkau akan membikin Gak Liat kecelik karena kau akan melawannya dengan ilmunya sendiri. Ha-ha-ha, jangan khawatir, aku akan menyempurnakan latihanmu di samping kau mempelajari ilmu ciptaanku. Akan tetapi, untuk itu membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang luar biasa. Sekarang, engkau harus melakukan kewajiban bersembahyang dan bersumpah, muridku."
"Bersumpah....?"
Han Han tertegun dan terheran ketika melihat murid-murid itu tanpa diperintah telah berlari-lari dan mempersiapkan meja sembahyang di ruangan depan pondok.
"Semua murid harus menjalankan sumpah,"
Ia mendengar Kim Cu berkata. Gadis cilik ini membawa sesetel pakaian dan menyerahkannya kepada Han Han.
"Untuk sementara kau pakailah dulu pakaian seorang suheng (Kakak Seperguruan) ini sebelum dapat aku buatkan yang baru untukmu. Yang ada hanya warna putih ini. Warna apa yang paling kau sukai?"
"Putih...."
Jawab Han Han sekedarnya.
Ia tidak ingin memakai pakaian orang lain, akan tetapi karena pakaiannya penuh tambalan dan kotor, dan dia tidak tega untuk menolak kebaikan Kim Cu, ia menerimanya juga.
Pula, bukankah ia kini sudah menjadi murid di situ, berarti menjadi seorang di antara anak-anak itu?
Masa ia memakai pakaian seperti pengemis?
"Lekas kau pakai pakaian itu dan membersihkan diri.
Suhu telah menanti untuk upacara pengambilan sumpah.
Hayo kuantar, di sana ada air...."
Tanpa menanti jawaban, Kim Cu memegang tangan Han han, ditariknya dan diajak berlarian ke belakang puncak.
Ternyata di situ terdapat sumber air yang amat sejuk dan jernih sehingga segala batu-batuan di dasarnya tampak jelas dan air itu sendiri agak kehijauan saking jernihnya.
"Lekas kau mandi dan tukar pakaian, sute."
Mendengar sebutan sute ini, sejenak Han Han tertegun kemudian ia teringat akan Sin Lian yang juga menyebutnya sute (adik seperguruan).
Ia tersenyum dan diam-diam merasa geli hatinya.
Ada dua orang gadis cilik yang keduanya lebih muda dari padanya, akan tetapi keduanya adalah sucinya (kakak perempuan seperguruan).
"Eh, kenapa kau tersenyum-senyum dan tidak lekas mandi?"
Han Han tertawa.
"Engkau.... engkau baik sekali, suci."
"Tentu saja. Bagaimana seorang suci tidak baik kepada sutenya? Kaupun harus baik dan taat kepada sucimu. Nah, hayo lekas mandi dan tukar pakaian bersih."
Han Han mendekati air dan hendak membuka bajunya.
Akan tetapi ia melihat betapa Kim Cu masih berdiri di situ menghadapinya dan memandangnya, maka ia melepaskan lagi baju yang sudah ia pegang untuk ditanggalkan.
"Eh, suci. Harap jangan memandang ke sini...."
"Mengapa sih?"
"Malu ah...."
Kim Cu mengangkat alisnya, membelalakkan kedua mata kemudian tertawa terkekeh-kekeh, menutup mulut dengan tangan sambil membalikkan tubuh membelakangi Han Han.
"Hi-hi-hik, engkau benar-benar orang aneh. Apakah tubuhmu mempunyai cacad maka kau malu untuk ditonton? Lekaslah mandi dan tukar pakaian, aku menanti di sana. Jangan lama-lama karena suhu sudah menunggu."
Gadis cilik itu berlarian pergi dan Han Han cepat menanggalkan pakaian lalu membersihkan tubuh dengan pikiran melayang-layang.
Benar aneh.
Apakah bagi anak-anak di situ, bertelanjang di depan orang lain bukan merupakan hal yang membuat malu?
Ia tidak mau mempedulikan hal itu lebih lanjut, melainkan cepat ia mandi.
Air itu dingin sekali, membuatnya menggigil, akan tetapi seperti biasa, berkat kekuatan kemauannya yang luar biasa, secara otomatis timbul hawa dari pusarnya melawan rasa dingin sehingga tubuhnya tidak menggigil lagi, bahkan terasa sejuk dan segar.
Setelah cepat-cepat berpakaian dengan warna putih yang bersih dan masih baru, memakai pula sepatu yang disediakan oleh Kim Cu, Han Han merasa seolah-olah menjadi orang baru.
Di dalam saku baju itu ia menemukan sebuah pita rambut, maka setelah memeras rambutnya sampai kering, ia lalu mengikat rambutnya di atas kepala dan ketika pemuda tanggung ini kembali ke pondok, semua murid Ma-bin Lo-mo memandangnya dengan mata berseri dan kagum.
Apalagi Kim Cu.
Nona cilik ini menyambutnya dengan kata-kata memuji.
"Sute, engkau benar-benar tampan dan gagah."
Dipuji secara begitu terbuka di depan banyak anak-anak, wajah Han Han menjadi merah.
Ma-bin Lo-mo tertawa dan memanggilnya dari belakang meja sembahyang.
"Han Han, muridku, lekas engkau menyalakan sembilan batang hio dan bersembahyang, kemudian berlutut di depan meja sembahyang untuk bersumpah menirukan semua kata-kataku."
"Baik, suhu."
Han Han menghampiri meja sembahyang, ditonton semua murid di situ.
Sambil menyalakan sembilan batang hio, ia mengangkat muka memandang.
Di atas meja sembahyang itu terdapat arca setengah badan, arca seorang kakek tua yang wajahnya keren, hidungnya agak bengkok seperti hidung burung.
Wajah yang tampan dan gagah akan tetapi membayangkan kekejaman.
"Arca siapakah itu....?"
Ia berbisik, akan tetapi gurunya tidak menjawab, dan sebaliknya ia mendengar suara Kim Cu di sebelah kanan.
"Jangan banyak bertanya. Itu arca Suma-couwsu (Kakek Guru she Suma)...."
Hemmm, arca itu tentulah arca guru Ma-bin Lo-mo atau kakek guru yang dipuja-puja di tempat itu.
Ia tidak peduli lalu mulai bersembayang, mengacung-acungkan dupa bernyala itu dengan sikap hormat, kemudian menancapkan hio (dupa) itu di atas tempat dupa dan menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan terkepal di depan dada.
Pada saat itu, terdengar suara Ma-bin Lo-mo yang ditujukan kepadanya.
"Murid baru Sie Han, sekarang bersumpahlah dan meniru semua kata-kataku."
"Baiklah, suhu. Teecu siap,"
Jawab Han Han, bulu tengkuknya meremang juga karena suasana hening itu menyeramkan, dengan asap hio mengepul dan berbau harum, ditambah suara Ma-bin Lo-mo yang terdengar parau mengandung getaran penuh kesungguhan.
Maka bersumpahlah Han Han, tidak sepenuh hatinya karena ia hanya menirukan ucapan Ma-bin Lo-mo, dia bukan bersumpah secara suka rela, hanya untuk syarat paksaan.
"Teecu Sie Han bersumpah di hadapan Couwsu yang mulia bahwa mulai saat ini teecu menjadi murid Suhu Siangkoan Lee dan berjanji akan belajar dengan tekun dan rajin, mematuhi segala perintah dan larangan suhu, siap untuk menerima hukuman apa pun juga jika teecu melakukan pelanggaran. Mulai saat ini, teecu menyerahkan jiwa raga ke tangan Suhu Siangkoan Lee yang akan menurunkan ilmu-ilmu warisan dari Couwsu yang mulia. Ilmu-ilmu itu kelak akan teecu pergunakan untuk mengangkat tinggi nama besar Couwsu dan nama besar suhu, untuk mengusir penjajah dari tanah air dan untuk melaksanakan segala perintah suhu."
Di dalam hatinya, Han Han amat tidak setuju dengan isi sumpahnya itu.
Tentang ketaatan dan hukuman ia dapat menerimanya, akan tetapi mengapa setelah tamat belajar, cita-citanya hanya mengusir penjajah dan mengangkat tinggi nama guru?
Mengapa tidak disebut-sebut tentang kewajiban para pendekar yang membela dan mempertahankan keadilan dan kebenaran, membela orang-orang tertindas dan menentang pihak yang sewenang-wenang?
Akan tetapi agaknya Ma-bin Lo-mo memiliki ilmu untuk menjenguk isi hati orang, demikian pikir Han Han, karena kakek itu lalu mengajak mereka duduk di lapangan di luar pondok kemudian berkata.
"Han Han, dan semua muridku. Jangan kalian mudah disesatkan oleh pendapat orang-orang yang menyebut diri pendekar-pendekar kang-ouw bahwa seorang yang berkepandaian berkewajiban untuk membasmi orang jahat dan membela orang benar. Karena, jahat dan baik atau benar itu merupakan pendapat prihadi yang sering kali menyesatkan. Yang penting bagi kita adalah kita sendiri. Tunjukkanlah setiap tindakan kalian untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Manusia adalah mahluk yang paling tidak mengenal budi, sehingga akan percuma belaka kalau kalian menggunakan kepandaian demi orang lain. Keliru sama sekali, Yang penting adalah diri kita sendiri dan demi tercapainya cita-cita kita, yaitu mengusir penjajah dan membentuk pemerintah bangsa sendiri dengan kita sebagai tokoh-tokoh pimpinan."
Kembali timbul keraguan di dalam hati Han Han akan segala yang pernah dibacanya tentang syarat-syarat menjadi seorang budiman dan gagah, karena ia melihat semua murid mengangguk-angguk dengan wajah berseri, dan ia pun merasa bahwa yang terpenting di atas segalanya memang diri sendiri lebih dahulu.
Buktinya, dia sudah banyak mengalami penghinaan dan kesengsaraan, tidak ada orang yang membelanya.
Kalau dia tidak membela diri sendiri, tentu selamanya ia akan hidup terhina dan sengsara seperti itu.
Pula, kalau dia tidak berkepandaian tinggi bagaimana ia akan dapat mengusir penjajah dan terutama sekali, menghancurkan tujuh perwira terutama perwira muka brewok dan muka kuning bangsa Mancu yang telah membasmi semua keluarganya?
"Han Han, sebagai murid baru kini engkau mendapat kesempatan untuk bertanya.
Tanyakantah apa yang perlu kau ketahui, dan jangan sembunyi-sembunyikan perasaan.
Segala pertanyaanmu akan kujawab,"
Kata Ma-bin Lo-mo.
Sampai lama Han Han memandang gurunya yang baru ini.
Sukar baginya untuk menilai kakek yang bermuka kuda ini, karena muka itu tidak membayangkan sesuatu kecuali keanehan.
Ia tidak tahu apakah gurunya ini jahat dan keji seperti Setan Botak, ataukah baik dan gagah seperti Lauw-pangcu.
Betapapun juga, ia tahu bahwa gurunya ini amat lihai, dan pribadi suhunya diliputi banyak keanehan.
Ingin ia mengetahui riwayat gurunya.
Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lalu bertanya.
"Hanya ada sebuah pertanyaan teecu. Yaitu, siapakah suhu ini, bagaimana riwayat suhu dan siapa pula Couwsu yang kita puja-puja itu?"
Terdengar seruan-seruan heran di antara murid-murid yang berada di situ.
Semua murid ketika diterima selalu diberi kesempatan bertanya, akan tetapi mereka semua menanyakan tentang ilmu silat.
Baru sekali ini ada murid baru yang datang-datang bertanya tentang riwayat gurunya dan riwayat Couwsu yang amat dihormati itu.
Kim Cu memandang gurunya dengan wajah khawatir, karena ia takut kalau-kalau gurunya akan marah dan semua murid maklum betapa akan hebat akibatnya kalau guru itu marah.
Akan tetapi aneh.
Ma-bin Lo-mo malah tertawa dan suara ketawanya persis kuda yang meringkik-ringkik.
Para murid lainnya tidak ada yang merasa heran, akan tetapi Han Han kembali memandang suhunya dengan mata terbelalak.
Memang gurunya ini seorang aneh, lebih aneh daripada Setan Botak.
"Pertanyaan yang aneh, akan tetapi sudah semestinya kalau murid-muridku mengenal siapa sesungguhnya guru mereka, terutama sekali Couwsu mereka. Dengarlah baik-baik, murid-muridku, karena sesungguhnya kalian adalah murid-murid dari orang yang bukan sembarangan. Couwsu kalian yang kita puja-puja itu adalah keturunan pangeran, nama lengkapnya adalah Suma Kiat. Ilmu silatnya tinggi bukan main, seperti dewa. Murid-muridnya hanya dua orang, yaitu aku sendiri dan suhengku yang bernama Suma Hoat, puteranya sendiri, putera tunggalnya. Betapapun tekun dan rajin aku belajar, namun dibandingkan dengan supekmu (Uwa Gurumu) Suma Hoat itu, aku masih kalah jauh."
Kakek itu menarik napas panjang seolah-olah ceritanya mengingatkan dia akan masa lalu dan membuatnya termenung sejenak.
"Di manakah supek itu sekarang, suhu?"
Tanya Kim Cu dengan suara penuh kagum.
"Entahlah, sudah dua puluh tahun lebih aku tidak pernah bertemu dengannya, bahkan tidak pula mendengar namanya. Dia seorang yang suka sekali merantau, seorang petualang tulen yang ingin menikmati hidup ini sebanyak mungkin. Yang terakhir aku bersama supek kalian itu pergi mencari kakek sakti Koai-lojin untuk mohon bagian ilmu-ilmu yang beliau bagi-bagikan. Aku mendapat dasar-dasar Im-kang sehingga dapat kuciptakan Swat-im Sin-ciang, dan pada saat yang sama Kang-thouw-kwi Gak Liat mendapatkan dasar Yang-kang sehingga ia menciptakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Adapun supek kalian itu mendapatkan lebih banyak lagi. Entah mengapa, agaknya Koai-lojin kakek sakti itu menaruh kasih sayang kepada supek kalian. Ilmunya menjadi amat tinggi dan sampai lama dia menjagoi di antara semua tokoh kang-ouw. Dia banyak melakukan hal-hal menggemparkan sehingga dimusuhi tokoh-tokoh kang-ouw, akan tetapi memang itulah sebuah di antara kesukaannya, yaitu berkelahi."
Semua murid, termasuk, Han Han, mendengarkan dengan kagum.
"Dan suhu sendiri?"
Tanya Han Han.
"Aku membantu sukong kalian, kemudian memperoleh kedudukan. Akan tetapi, mungkin karena petualangan supek kalian, atau juga karena kedudukan tinggi dan kepandaian sukong kalian menarik banyak orang gagah menjadi iri dan memusuhinya, sukong kalian banyak dimusuhi orang kang-ouw. Termasuk aku sebagai muridnya yang setia. Namun sukong kalian dan aku selalu mempertahankan diri dan selalu berhasil menghalau mereka yang datang memusuhi kami. Akhirnya, setelah sukong kalian meninggal dunia, aku tidak mau menghadapi sekian banyaknya musuh seorang diri, apalagi karena supek kalian yang dapat diandalkan telah pergi merantau entah ke mana. Aku lalu meninggalkan kedudukanku sebagas pembesar tinggi, merantau pula dan akhirnya aku tinggal di sini, apalagi setelah Kerajaan Beng-tiauw digulingkan oleh bangsa Mancu. Aku ingin menentang Mancu, akan tetapi sendirian saja mana mungkin berhasil? Banyak tokoh-tokoh besar, seperti Gak Liat itu, rela dijadikan penjilat penjajah. Aku tidak sudi dan aku lalu mengumpulkan kalian murid-muridku yang keluarganya telah dibasmi orang Mancu untuk kuwarisi kepandaianku agar kelak dapat menjadi patriot-patriot yang perkasa."
Cerita itu jelas merupakan singkatan saja.
Masih banyak hal-hal yang tersembunyi dan tidak diceritakan oleh Ma-bin Lo-mo.
Namun yang ia ceritakan adalah bagian-bagian yang baik sehingga para murid menjadi kagum dan bangkit semangat mereka untuk belajar lebih tekun agar kelak dapat (Lanjut ke
Jilid 07) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 berjuang mengusir penjajah yang tidak saja sudah menjajah negara dan bangsa, juga telah membasmi keluarga mereka.
Mulai hari itu Han Han menjadi murid di In-kok-san dan belajar ilmu silat.
Mula-mula, ketika menerima pelajaran-pelajaran pokok, ia berlatih dengan tekun.
Akan tetapi setahun kemudian, ia merasa bosan karena pelajaran yang diberikan hanya itu-itu saja dan diulang-ulang kembali.
Memang benar bahwa kini ia selalu memakai pakaian baik, makan pun tidak pernah kekurangan, banyak teman dan setiap hari berlatih ilmu silat.
Akan tetapi diam-diam Han Han menjadi bosan dan ingin sekali ia bebas seperti dahulu.
Hidup menjadi murid Ma-bin Lo-mo merupakan hidup yang telah diatur dan seolah-olah ia telah dapat melihat bagaimana kelak jadinya dengan dirinya kalau ia berada di situ terus.
Ia melihat dirinya seolah-olah logam yang digembleng dan dibentuk oleh Ma-bin Lo-mo"
Dan dia tidak suka dirinya dibentuk seperti baja.
Tidak suka dia hidupnya diatur oleh orang lain, menjadi dewasa menurut kehendak dan bentuka Ma-bin Lo-mo.
Ia ingin bebas.
Di antara murid-murid di situ, dia merupakan murid termuda, bukan muda usia melainkan muda karena dialah orang terbaru.
Maka lima orang murid perempuan di situ adalah suci-sucinya, dan murid-murid laki-laki adalah suheng-suhengnya.
Di antara mereka, hanya ada tiga orang murid yang paling ia sukai, dan yang merupakan sahabat-sihabatnya.
Pertama tentu saja adalah Kim Cu yang selalu bersikap manis kepadanya.
Ke dua adalah seorang suci lain yang usianya sebaya dengan Kim Cu, namanya Phoa Ciok Lin, juga seorang anak yatim-piatu yang orang tuanya dibunuh orang-orang Mancu.
Ke tiga adalah seorang suheng, usianya baru sebelas tahun, setahun lebih muda daripada Han Han, namanya Gu Lai Kwan, seorang anak yang selalu gembira, penuh keberanian dan pandai bicara.
Dengan tiga orang anak-anak inilah Han Han sering kali bermain-main dan berlatih.
Akan tetapi sering kali, kalau Kim Cu yang lebih pandai daripada mereka, berlatih dengan Ciok Lin atau dengan Lai Kwan, Han Han termenung seorang diri, disiksa rasa rindunya akan kebebasan.
Ia ingin merantau, ingin melihat kota raja.
Cerita tentang supek mereka amat menarik hatinya.
Ia ingin seperti supeknya itu, tukang merantau, petualang dan menikmati hidup sebanyak mungkin.
Teringat ia akan bunyi sajak yang menganggap bahwa hidup ini laksana anggur, dan selagi hidup sebaiknya meneguk anggur sebanyaknya, sekenyangnya dan sepuasnya.
Sering kali ia termenung dan kalau sudah demikian, Kim Cu yang selalu mendekatinya dan menegur serta menghiburnya.
Kim Cu merupakan satu-satunya kawan yang agaknya mengenal keadaannya.
"Kenapa kau murung selalu, sute?"
Pada suatu petang setelah mengaso dari berlatih, Kim Cu bertanya.
Mereka duduk di bawah pohon dan Kim Cu menyusuti peluh yang membasahi leher dan dahinya.
"Tidak apa-apa, suci. Hanya.... ah, aku kepingin sekali berjalan-jalan keluar, turun gunung agar melihat pemandang lain. Bosan rasanya terus-menerus begini, sudah setahun lamanya...."
"Tunggulah sebulan lagi, sute. Pada hari raya Sin-cia (Musim Semi atau lebih terkenal dengan istilah Tahun Baru Imlek), biasanya Suhu memperkenankan kita untuk turun gunung selama beberapa hari."
"Syukurlah kalau begitu. Kim-suci, senangkah engkau di sini?"
Gadis cilik yang kini berusia dua belas tahun itu memandang wajah sutenya yang lebih tua setahun dari padanya, lalu tersenyum manis.
"Mengapa tidak senang, sute? Habis ke mana lagi kalau tidak di sini? Aku.... sudah tidak mempunyai keluarga searang pun."
"Suci, engkau telah mendengar riwayatku, akan tetapi aku belum pernah mendengar riwayatmu. Maukah kau menceritakan riwayatmu kepadaku?"
"Apakah yang dapat aku ceritakan? Ayah bundaku tinggal di utara, di sebuah dusun dekat kota raja. Kami diserbu orang-orang mancu, ayah bundaku dan tiga orang kakakku dibunuh semua. Aku ditolong suhu dan dibawa ke sini semenjak aku berusia delapan tahun, empat tahun yang lalu. Nah, hanya itulah yang kuingat."
"Dan semua suci dan suheng itu, apakah mereka itu juga yatim-piatu?"
"Benar."
"Dan semua ditolong suhu?"
"Begitulah, hanya engkau seorang yang tidak. Karena itu engkau murid istimewa. Menurut suhu, kelak engkau yang paling hebat di antara kita."
"Wah, jangan memuji, suci."
"Sesungguhnyalah, sute."
Dengan sikap ramah Kim Cu memegang tangan Han han.
"Ada sesuatu yang aneh pada dirimu. Engkau belum pandai silat namun engkau memiliki tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang. Engkau amat kuat dan pandai akan tetapi engkau selalu menyangkal dan selalu merendahkan diri. Engkau hebat, sute."
Muka Han Han menjadi merah dan ia menarik tangannya.
Jantungnya berdebar dan ia membenci diri sendiri mengapa ia menjadi begitu girang mendengar pujian Kim Cu.
Untuk mengalihkan percakapan, ia cepat bertanya.
"Tiga orang suheng yang cacad itu, apakah mereka menjadi korban orang-orang Mancu?"
"Ah, belum tahukah engkau? Tidak, mereka itu adalah murid-murid yang mengalami hukuman."
"Hukuman? Siapa yang menghukum mereka?"
"Siapa lagi kalau bukan suhu? Kumaksudkan, suhu yang menjatuhkan hukuman, tentu saja murid-murid lain yang melaksanakannya. Siauw-sute itu, yang kedua telinganya buntung, dijatuhi hukuman potong kedua daun telinga karena dia berani melanggar larangan dan mendengarkan suhu ketika suhu bercakap-cakap di dalam pondoknya dengan seorang tamu, sahabat suhu."
"Wah....."
Han Han juga tahu akan larangan mendengarkan atau mengintai suhu mereka kalau sedang berada di pondok.
"Siapa yang melaksanakan?"
"Aku."
"Hah....?"
Han Han memandang sucinya dengan mata terbelalak. Kim Cu tersenyum geli.
"Mengapa?"
"Kau.... kau tega melakukan itu....? Kau.... mengapa begitu kejam....?"
Kim Cu menggeleng kepala.
"Sama sekali tidak, sute. Aku hanya mentaati perintah suhu dan syarat utama seorang murid harus taat kepada gurunya. Pula, aku melakukan hal itu sama sekali bukan karena kejam atau tidak tega, melainkan sebagai pelaksanaan hukuman yang harus diterima oleh Siauw-sute. Setelah membuntungi kedua daun telinganya, aku pula yang merawatnya sampai sembuh."
"Dia.... tidak mendendam kepadamu?"
"Ah, tidak sama sekali. Dia mengerti bahwa dia harus menjalani hukuman itu."
"Dan.... yang lengannya buntung?"
"Kwi-suheng? Dia telah mencuri baca kitab milik suhu tanpa ijin. Hal itu dianggap mencuri dan karena lengannya yang mencuri kitab, maka lengannya dibuntungkan."
"Yang buntung kakinya?"
"Lai-suheng? Dia hendak minggat, tertangkap dan karena kakinya yang melarikan diri, maka sebelah kakinya dibuntungkan."
Han Han bergidik. Kim Cu berkata lagi.
"Akan tetapi cacad mereka tidak menjadi halangan karena suhu tidak membenci mereka, malah mengajarkan ilmu yang khusus untuk mereka. Kami semua diajar ilmu-ilmu yang khusus disesuaikan dengan keadaan dan bakat kita. Ilmu silat dasar memang sama, akan tetapi perkembangannya berlainan. Suhu memiliki ilmu-ilmu yang amat banyak."
"Hemmm...., sungguh ganjil. Tamu tadi, yang bicara dengan suhu di pondok, siapakah dia? Sudah setahun aku tidak pernah melihat ada tamu datang."
Kini Kim Cu memandang ke kanan kiri, kelihatannya jerih dan takut.
"Tamu itu seorang manusia yang hebat, dan ilmunya kata suhu melampaui tingkat suhu. Dia itu adalah Ibu Guru dari suhu...."
"Apa....? Suhu masih mempunyai Ibu Guru? Kalau begitu, dia isteri Suma-sukong itu....?"
Kim Cu mengangguk.
"Tidak ada yang tahu jelas. Pernah dalam keadaan mabuk suhu bercerita bahwa sukong mempunyai banyak sekali isteri dan agaknya Ibu Guru yang ini adalah isteri yang paling muda. Lihainya bukan main, bahkan suhu amat takut kepadanya. Suhu masih mencinta kita dan melakukan hukuman berdasarkan pelanggaran. Kalau Sian-kouw itu...."
"Kau menyebutnya Sian-kouw (Ibu Dewi)?"
Kim Cu mengangguk dan menelan ludah, agaknya hatinya tegang membicarakan wanita itu.
"Kita para murid suhu diharuskan taat kepadanya dan menyebutnya Sian-kouw. Namanya tak pernah disebut suhu, akan tetapi julukannya adalah Toat-beng Ciu-sian-li (Dewi Arak Pencabut Nyawa)."
Han Han bergidik.
"Mengapa Ciu-sian-li (Dewi Arak)?"
"Ke mana-mana dia membawa guci arak dan hampir selalu mabuk. Akan tetapi makin mabuk makin lihai dia. Sudahlah, sute, tidak baik kita bicara tentang Sian-kouw...."
"Kalau begitu kita bicara tentang tokoh-tokoh lain, suci. Ceritakanlah kepadaku tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw. Aku ingin sekali mendengar dan aku suka mendengar akan petualangan mereka, terutama sekali supek yang disebut-sebut oleh suhu, putera dari sukong itu."
"Banyak sekali tokoh-tokoh besar yang pernah diceritakan suhu kepada kami. Mengenai tokoh-tokoh yang dikenal suhu, kiraku Sian-kouw itulah yang paling lihai ilmunya. Menurut suhu, Sian-kouw banyak mewarisi ilmu silat sukong. Akan tetapi, tokoh-tokoh besar yang penuh rahasia dan amat aneh, yang tidak pernah dikenal suhu namun sudah terkenal namanya di jaman dahulu, banyak sekali."
"Seperti Koai-lojin (Kakek Aneh) yang pernah disebut suhu dahulu? Yang suka membagi-bagi ilmu?"
Kim Cu mengangguk.
"Benar, dialah merupakan orang pertama yang agaknya menduduki tempat paling atas dari segala golongan. Baik golongan yang menyebut dirinya golongan bersih maupun golongan yang disebut golongan sesat."
"Kita ini masuk golongan mana?"
Kim Cu tersenyum.
Manis sekali kalau gadis itu tersenyum, pikir Han Han dan tiba-tiba kedua pipinya menjadi merah ketika ia sadar bahwa perasaannya ini benar-benar tidak sopan dan tidak patut.
"Kita ini golongan sesat, begitulah menurut pendapat dunia kang-ouw seperti yang diceritakan suhu. Akan tetapi, apa artinya sebutan-sebutan itu? Tentu mereka yang tidak suka kepada golongan kita yang menyebutnya sesat. Apakah artinya sesat? Dan siapa yang tidak sesat?"
Han Han menjadi bingung.
"Ceritakanlah tentang Koai-lojin itu, suci."
"Dia itu, menurut suhu, merupakan manusia dewa yang tak diketahui tempat tinggalnya oleh siapa pun. Juga usianya tidak ada yang tahu, mungkin dua ratus tahun, mungkin lebih atau kurang. Tingkat kepandaiannya pun tidak ada yang dapat mengukurnya, akan tetapi seluruh tokoh tingkat tinggi masih membutuhkan ilmu darinya. Juga tidak ada yang tahu dia itu sekarang sudah mati ataukah masih hidup. Sejak dahulu, semua tokoh besar selalu mencari-carinya, termasuk suhu sendiri. Namun tak pernah ada yang berhasil."
"Seperti dongeng saja...."
Kata Han Han kagum.
"Memang seperti dongeng, dan bukan hanya nama Koai-lojin itu saja pernah didongengkan suhu. Menurut suhu, dunia kang-ouw pada jaman sukong masih muda, lebih seratus tahun yang lalu, atau bahkan dua ratus tahun yang lalu, memang seperti dongeng karena, menurut suhu pada waktu itu hidup tokoh-tokoh yang memiliki ilmu kepandaian silat seperti dewa saja. Suma-sukong sudah hebat kepandaiannya, akan tetapi Ayah Sukong kabarnya lebih luar biasa lagi dan tokoh-tokoh di jaman itu malah banyak yang memiliki ilmu silat aneh-aneh. Yang amat terkenal kabarnya adalah pendekar sakti Suling Emas yang kabarnya menerima ilmu-ilmunya dari manusia dewa Bu Kek Siansu."
"Manusia Dewa? Namanya Bu Kek Siansu? Mengapa disebut manusia dewa?"
"Entahlah. Siapa tahu? Menurut dongeng suhu, ada yang mengabarkan bahwa Koai-lojin kakek aneh itu pun menerima ilmu-ilmu dari manusia dewa itu. Masih ada lagi nama-nama tokoh besar dalam dongeng, seperti pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang sesungguhnya adalah Puteri Ratu Khitan. Antara Mutiara Hitam dan Suling Emas ini masih ada pertalian hubungan keluarga yang dekat, entah bagaimana. Akan tetapi menurut suhu, keluarga Suling Emas ini amat hebat dan menurunkan orang-orang yang sukar dilawan. Suma-sukong yang berkepandaian seperti dewa itu pun masih ada hubungan keluarga, entah bagaimana dengan Pendekar sakti Suling Emas."
Han Han mendengarkan penuh kekaguman dan melamun.
Di dunia ini banyak terdapat orang-orang pandai seperti itu.
Kalau dia hanya bersembunyi di In-kok-san saja, mana mungkin ia bertemu dengan orang-orang pandai yang kepandaiannya melebihi tingkat Setan Botak atau Setan Muka Kuda yang kini menjadi gurunya?
"Heiiii, sute dan sumoi, kenapa kalian enak mengobrol saja?
Hayo kita berlatih."
Terdengar seruan Lai Kwan yang datang berlari-lari sambil bergandengan tangan dengan Ciok Lin, menghampiri Kim Cu dan Han Han.
Dua orang anak ini lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput dengan muka berseri.
"Sie Han sute bertanya tentang Suma-sukong dan tokoh-tokoh aneh dalam dongeng yang diceritakan suhu,"
Kata Kim Cu. Gu Lai Kwan yang berwatak gembira itu tertawa bergelak dan menepuk-nepuk pundak Han Han.
"Eh, sute, apakah engkau ingin menjadi seorang yang sakti seperti Suma-sukong? Mana mungkin? Ilmu kepandaian suhu tentu saja kurang cukup mengajarmu menjadi seorang sakti seperti Suma-sukong."
"Agaknya baru mungkin kalau engkau mendapat hadiah ilmu-ilmu dari Koai-lojin, sute,"
Kim Cu ikut pula menggoda.
"Atau ketemu dengan manusia dewa Bu Kek Siansu."
"Ha-ha-ha."
Lai Kwan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Untuk bertemu dengan dewa-dewa dalam dongeng itu, agaknya sute harus berangkat ke nirwana, karena mereka kini tentu telah berada di sana."
Han Han diam saja dan akhirnya Kim Cu yang menaruh kasihan, menarik tangannya dan berkata menghibur.
"Sudahlah, sute. Kalau kita belajar dengan tekun di bawah bimbingan suhu, kelak pun kita akan dapat menjadi orang-orang gagah. Siapa orangnya yang tidak ingin menjadi sakti seperti Suma-sukong? Akan tetapi pada jaman ini kiranya tidak akan ada orangnya yang dapat mengajar kita...."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh yang sekaligus membuat ucapan Kim Cu terputus.
"Hih-hih-hih-he-he-he, Dua pasang anak-anak yang elok dan bersemangat. Kalian ingin menjadi seperti Suma Kiat? Akulah orangnya yang akan dapat membimbing kalian menjadi selihai dia, dan mulai saat ini kalian berempat menjadi muridku."
Empat orang anak itu cepat membalikkan tubuh dan kiranya di depan mereka telah berdiri seorang nenek yang amat aneh.
Begitu melihat nenek ini, Kim Cu, Ciok Lin dan Lai Kwan cepat-cepat menjatuhkan diri, berlutut dan mengangguk-angguk penuh hormat sambil menyebut.
"Sian-kouw....."
Kim Cu menarik kaki Han Han dan anak ini pun cepat menjatuhkan diri berlutut di samping Kim Cu.
Han Han tadi terkejut mendengar sebutan tiga orang temannya, dan dari bawah ia mengerling ke atas penuh perhatian.
Nenek itu benar-benar amat aneh dan menyeramkan.
Melihat wajahnya yang kurus penuh keriput, masih dapat diduga bahwa dahulunya dia tentu seorang wanita cantik sekali.
Kini muka itu penuh keriput, rambutnya sudah putih semua terurai ke belakang dan disisir rapi, mukanya bersih dan diselimuti bedak putih, mulut yang tak bergigi lagi itu kelihatan tersenyum selalu, senyum mengejek dan memikat.
Yang hebat adalah kedua telinganya.
Kedua telinga ini dihias dengan rantai besar dari perak, yang kanan agak pendek terdiri dari sembilan lingkaran mata rantai, yang kiri dua kali lebih panjang.
Mata rantainya besar-besar seperti gelang tangan dan setiap kali kepalanya bergoyang, terdengarlah suara gemerincing yang amat nyaring.
Tubuhnya yang kecil langsing itu masih seperti tubuh wanita muda, memakai pakaian dari sutera yang mahal dan mewah sungguhpun potongannya ketinggalan jaman.
Di tangan kanannya tampak sebuah guci arak yang mengeluarkan bau harum dan amat keras.
Muka yang putih keriputan itu agak merah di kedua pipi dan di pinggir mata, tanda bahwa nenek itu dalam keadaan terpengaruh hawa arak.
"Hi-hi-hik, aku suka mendengar semangat kalian. Aku akan mengajar kalian menjadi seperti Suma Kiat. Hi-hik, yang dua laki-laki akan menjadi seperti Suma Kiat, dan yang dua perempuan akan menjadi seperti aku di waktu muda. Hebat."
Tiba-tiba nenek itu lalu berpaling ke arah pondok dan suaranya melengking nyaring.
"Heiiiii, Siangkoan Lee....! Ke sinilah kamu....."
Ketika berseru memanggil ini, sikap Si Nenek Tua seperti seorang puteri memanggil hambanya, kemudian ia menenggak araknya dari guci arak, caranya minum arak dengan menggelogok begitu saja dan kasar sehingga ada dua tiga tetes arak tumpah dari ujung bibirnya.
"Teecu datang menghadap....."
Suara ini bergema dan datangnya dari arah pondok disusul berkelebatnya bayangan dan tahu-tahu Ma-bin Lo-mo sudah berada di situ, berdiri membungkuk penuh hormat kepada nenek tua itu.
"Harap Sian-kouw sudi maafkan, karena tidak tahu akan kedatangan Sian-kouw, maka teecu terlambat menyambut."
Sikap dan kata-kata Si Muka Kuda benar-benar amat menghormat, seperti seorang murid terhadap ibu gurunya.