Ceritasilat Novel Online

Pendekar Super Sakti 3

Eps 3 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.

Hal ini saja sudah menjadi bukti bagi Han Han yang amat memperhatikan sejak tadi bahwa nenek aneh ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, jauh lebih hebat daripada kepandaian Si Muka Kuda.

Teringat ia akan cerita Kim Cu bahwa nenek ini berjuluk Toat-beng Ciu-sian-li (Dewa Arak Pencabut Nyawa)"

"Siangkoan Lee, aku datang untuk memberitahukan hal penting kepadamu. Akan tetapi lebih dulu aku beritahukan bahwa empat orang anak ini, dua pasang yang elok, mulai saat ini menjadi murid-muridku dan aku sendiri yang akan mendidik mereka menjadi Suma Kiat kecil dan Bu Ci Goat kecil."

Ma-bin Lo-mo mengangguk.

"Terserah kepada Sian-kouw dan hal itu hanya berarti bahwa nasib mereka ini amatlah baik."

"Karena mereka telah menjadi murid-muridku yang akan kudidik dan latih di tempatmu ini, maka mereka bukan orang lain dan biar mereka ikut mendengarkan. Siangkoan Lee, engkau harus cepat-cepat bersiap karena kini pemerintah Boan (Mancu) sudah mulai berusaha mencari Pulau Es. Celakalah kalau sampai kita kedahuluan mereka. Semua orang gagah juga sudah sibuk dan sudah dimulai lagi perlombaan mencari Pulau Es yang sudah puluhan tahun dianggap lenyap dari permukaan laut itu."

Ma-bin Lo-mo mengerutkan keningnya dan wajahnya berubah keruh.

"Ah, apa saja yang tidak dilakukan anjing-anjing penjajah itu. Dan sudah tentu Gak Liat Si Setan Botak itu menjadi pelopor, menjadi anjing penjilat penjajah."

"Soal Gak Liat mudah saja. Kalau aku turun tangan, apakah dia masih berani banyak cakap lagi? Yang penting sekarang engkau harus dapat meneliti gerak mereka. Pemerintah baru ini telah membangun sebuah kapal besar. Maka engkau cepat pergilah melakukan persiapan, mencari anak buah dan mengusahakan sebuah perahu besar. Kalau mungkin supaya dapat mulai bekerja sehabis musim semi, jadi paling lama dua bulan lagi."

Ma-bin Lo-mo mengangguk-angguk.

"Sudahlah, kau boleh membuat persiapan dan aku akan mulai mengajar kouw-koat (teori silat) kepada empat muridku yang tampan-tampan dan manis-manis. Pondok terbesar untuk aku dan murid-muridku."

Kata pula Si Nenek.

Ma-bin Lo-mo kembali mengangguk-angguk lalu berkelebat pergi.

Nenek itu lalu melangkah ke arah pondok besar sambil memberi isyarat dengan lirikan mata dan senyum yang dahulunya, puluhan tahun yang lalu, tentu akan amat manis tampaknya, akan tetapi sekarang kelihatan menyeramkan seperti kalau orang melihat seorang gila tersenyum-senyum.

Empat orang anak itu saling pandag, kemudian Kim Cu yang agaknya paling tabah, juga di antara mereka berempat dialah murid yang tertua dalam kedudukan, memberi tanda dengan anggukan kepala.

Tiga orang adik seperguruannya lalu bangkit dan bersama dia mengkuti nenek itu memasuki pondok.

"Kalian semua sudah pernah disumpah, bukan?"

Tanya nenek ini setelah dia duduk di atas pembaringan di dalam pondok, sedangkan empat orang muridnya itu berlutut di atas lantai.

Empat orang anak itu mengangguk.

"Syarat-syarat dan hukum-hukumnya tidak berubah, hanya kini akulah guru kalian dan aku pula yang akan menjalankan keputusan hukum terhadap setiap pelanggaran. Biarpun kalian menjadi muridku, namun kalian harus tetap menyebut Sian-kouw dan kelak tidak ada yang boleh menyebut namaku sebagai guru. Pelanggaran ini akan dihukum dengan pemenggalan kepala. Tahu?"

Empat orang anak itu mengangguk-angguk kembali akan tetapi di hatinya Han Han mengomel.

Guru macam apa ini?

Tidak mau diaku sebagai guru.

Mana pertanggungan jawabnya?

Timbullah rasa tidak suka di hatinya, akan tetapi karena ia tahu bahwa nenek itu lihai sekali dan dia mulai suka mempelaiari ilmu-ilmu yang aneh-aneh seperti tokoh-tokoh dalam dongeng yang ia dengar dari Kim Cu, maka ia pun menyimpan saja perasaan tak senang itu dalam hatinya.

"Gerak silat boleh kalian latih terus seperti yang telah kalian pelajari dari Siangkoan Lee. Yang penting, aku akan mengajarkan kalian menghimpun sin-kang, karena dengan kuatnya sin-kang di tubuh, maka kalian akan dapat melatih segala macam ilmu silat dengan mudah. Lihatlah aku. Aku sudah berusia seratus delapan puluh tahun paling sedikit. Akan tetapi lihat wajahku. Masih muda dan cantik, bukan?"

Nenek itu menggoyang-goyang muka ke kanan kiri agar murid-muridnya dapat melihat mukanya dari berbagai jurusan.

Kemudian ia bangkit berdiri di atas pembaringan sambil bertolak pinggang dan menggoyang-goyang pinggangnya ke kanan kiri sambil berkata.

"Lihat pula tubuhku. Masih seperti seorang dara remaja, bukan? Nah, inilah berkat kekuatan sin-kang yang hebat."

Ia duduk kembali. Han Han tertawa geli di dalam hatinya. Celaka, pikirnya, biarpun lihai, kiranya guru yang baru ini seorang yang miring otaknya.

"Golongan kami mengutamakan Im-kang, karena itulah maka Siangkoan Lee menciptakan ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung tenaga Im-kang. Jangan kalian memandang rendah sin-kang dingin ini, karena kalau sudah dapat menguasai dengan sempurna, kalian akan dapat membunuh setiap orang lawan hanya dengan sebuah pukulan. Sekaii pukul, biarpun targan tidak mengenai tubuh lawan, cukup membuat darah di tubuh lawan membeku, jantungnya berhenti berdenyut dan tentu dia mampus seketika. Lihat baik-baik ini."

Nenek itu mengangkat cawannya dan menuangkan arak ke mulut, terus ditelan.

Kemudian mulutnya menyemburkan ke atas dan....

berdetakanlah butir-butir es keluar perutnya melalui mulut, bertebaran di atas lantai.

"Im-kang yang sudah amat kuat dapat membuat air panas seketika menjadi butiran es, dapat membuat air membeku, juga darah di tubuh lawan dapat dibikin beku dengan pukulan yang mengandung Im-kang kuat. Nah, sekarang kalian harus mulai belajar samadhi untuk menghimpun Im-kang."

Setelah memberi pelajaran teori tentang ilmu silat dan samadhi, nenek itu lalu meninggalkan empat orang muridnya di dalam pondok dengan perintah bahwa mereka harus berlatih samadhi dan tidak boleh berhenti sebelum diperintah.

Dan ternyata kemudian bahwa nenek itu tidak memerintahkan empat orang muridnya menghentikan latihan siulian sebelum dua hari dua malam"

Dapat dibayangkan betapa hebatnya penderitaan mereka.

Bagi Han Han hal seperti itu biasa saja karena memang dalam tubuh anak ini terdapat suatu kelebihan yang tidak wajar, dan dia memiliki kemauan yang luar biasa pula.

Akan tetapi tiga orang temannya amat sengsara.

Biarpun begitu, Kim Cu dan teman-temannya tidak ada yang berani melanggar karena mereka maklum betapa kejamnya hukuman bagi pelanggar.

"Bagus, kalian memang patut menjadi muridku."

Demikian nenek itu memuji dengan suara gembira.

Dan sesungguhnya nenek itu sama sekali bukan ingin menyiksa empat orang murid barunya, melainkan hendak menguji mereka.

Setelah memberi kesempatan mereka makan dan mengaso, nenek itu mulai memberi penjelasan tentang latihan samadhi yang akan dapat menghimpun sin-kang mereka, bahkan ia sendiri turun tangan "mengisi"

Mereka dengan sin-kangnya untuk membuka jalan darah mereka seorang demi seorang.

Akan tetapi ketika tiba giliran Han Han nenek itu terkejut setengah mati.

Seperti tiga orang murid lain, Han Han disuruhnya duduk bersila dan dia lalu menempelkan tangannya pada punggung anak itu, lalu mengerahkan Im-kang untuk disalurkan ke dalam tubuh anak itu, membantu anak itu agar dapat membangkitkan tan-tian yang berada di dalam pusar.

Harus diketahui bahwa setiap manusia mempunyai tan-tian ini, yang merupakan pusat bagi tenaga dalam di tubuh manusia ini.

Hanya bedanya, tanpa latihan maka tan-tian ini akan menjadi lemah dan tidak dapat dipergunakan, hanya melakukan tugas menjaga tubuh manusia dari dalam, bekerja, diam-diam menciptakan segala macam obat yang diperlukan oleh tubuh manusia.

Namun dengan latihan samadhi dan peraturan napas dengan cara tertentu, tan-tian menjadi kuat dan hawa sakti akan timbul dan dapat dikuasai.

Nenek itu mengerahkan Im-kang dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia merasa betapa Im-kang yang ia salurkan itu tiba-tiba "macet"

Dan berhenti penyalurannya.

"Aihhhhh...., Di mana kau belajar mengerahkan sin-kang untuk melawanku?"

Han Han juga kaget. Cepat ia menyimpan kembali hawa yang timbul secara otomatis dan di luar kesadarannya itu sambil berkata.

"Maaf, Sian-kouw. Teecu hanya pernah belajar dari Lauw-pangcu dan dari Suhu Siangkoan Lee."

"Hemmm, kau jauh lebih kuat dari saudara-saudaramu. Sekarang kosongkan tubuhmu dan jangan melawan."

Han Han merasa tersiksa sekali.

Berbeda dengan Kim Cu dan teman-teman lain yang pada dasarnya belum memiliki sin-kang dan yang dapat menerima Im-kang yang tersalur dari nenek itu secara wajar, dia merasa betapa tubuhnya dijalari hawa dingin yang seolah-olah hendak meremukkan tulang-tulangnya.

Ia memaksa diri tidak melawan akan tetapi ketika Im-kang itu menyusup sampai ke pusarnya, otomatis hawa sakti di pusarnya bergerak dan menolak.

"Nah, latihlah dengan tekun. Engkau masih belum dapat menguasai tenagamu sendiri."

Akhirnya nenek itu berkata setelah memberi penjelasan kepada empat orang muridnya.

Cara nenek ini melatih sungguh amat jauh bedanya dengan cara Ma-bin Lo-mo melatih murid-muridnya.

Nenek ini melatih secara langsung dan kemajuan yang diperoleh empat orang murid ini memang cepat dan hebat.

Akan tetapi bagi Han Han, latihan yang diperolehnya ini amat menyiksa dan ia tidak pernah berhasil karena selalu terjadi pertentangan dan perlawanan dalam tubuhnya antara hawa Im dan hawa Yang.

Hawa Yang dia peroleh dari latihan diam-diam ketika ikut Kang-thouw-kwi.

Dan cara nenek ini memberi contoh melatih siulian juga amat jauh bedanya dengan yang diberikan Lauw-pangcu dan yang ia baca dari kitab-kitab.

Misalnya tentang pemusatan pikiran.

Lauw-pangcu mengajarnya untuk bersamadhi dengan memusatkan pikiran pada pernapasannya sendiri, yang oleh Lauw-pangcu disebut bersamadhi sambil menunggang naga sakti.

Yang diumpamakan naga sakti adalah pernapasan sendiri yang keluar masuk melalui hidung, dengan napas panjang-panjang sesuai dengan aturan bernapas dalam samadhi.

Latihan ini dapat membuat pikirannya terpusat sehingga akhirnya dapat membuat ia mudah menguasai pribadinya sehingga terbukalah jalan untuk menghimpun tenaga sakti di dalam tubuhnya.

Sungguhpun cara yang dipergunakan Lauw-pangcu ini berbeda dengan cara-cara yang ia kenal dari kitab kuno, namun tidaklah menyimpang.

Banyak cara yang terdapat dalam kitab-kitab tentang pelajaran samadhi, sesuai dengan kebiasaan dan agama yang mengajarkan soal samadhi.

Kaum beragama To menganjurkan agar dalam samadhi, orang selalu menujukan pikirannya kepada Thai-siang-lo-kun dengan mantera yang disebut berulang kali .

Gwan-si-thian-cun.

Thong-thian-kauw-cu, Thai-siang-lo-kun.

Bagi yang beragama Buddha menujukan pikirannya kepada Sang Buddha dan membaca mantera .

Lam-bu-hut, Lam-bu-kwat, Lam-bu-ceng.

Dan bagi para pemuja Khong-cu menujukan pikiran kepada Thian dengan mantera .

Hwi-le-but-si, Hwi-le-but-thing, Hwi-le-but-gan, Hwi-le-but-thong.

Kesemuanya itu untuk mencegah agar panca inderanya jangan melantur, agar pikiran jangan menyeleweng sehingga dapat dipusatkan.

Akan tetapi yang diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li lain lagi.

Nenek ini menasehatkan agar murid-muridnya dalam bersamadhi mengikuti saja ke mana jalan pikirannya melayang, kemudian kalau sudah mendapat sesuatu yang disenangi, terus-menerus memikirkan hal ini, tidak peduli hal ini dianggap baik atau pun buruk.

"Kalau engkau suka membayangkan tubuh seorang wanita telanjang dan kau menikmati bayangan itu, tujukan pikiranmu ke situ. Kalau engkau menaruh dendam kepada seseorang dan bayangan orang itu selalu tampak, tujukan pikiranmu mengingat dendammu"

Yang penting tujukanlah pikiran kepada hal yang menjadi perhatian pikiranmu dan demi kesenangan hatimu.

Dengan demikian engkau akan dapat menguasai pikiranmu.

Memang cara yang aneh, akan tetapi sesungguhnya jauh lebih mudah dilaksanakan daripada ajaran-ajaran yang lain karena memang pikiran itu amat sukar dikendalikan.

Justeru pelajaran nenek itu tidak mengharuskan si murid mengendalikan pikiran, bahkan disuruh membebaskan pikiran ke mana ia melayang.

Tanpa disadarinya, mulailah Han Han tenggelam makin dalam ke cara-cara kaum sesat mengejar ilmu silat dan kesaktian.

Dan memang cara yang dipergunakan kaum sesat ini lebih menarik dan lebih mudah dilaksanakan.

Makin sering Han Han melatih diri secara ini, makin sukarlah baginya kalau ia hendak memusatkan pikiran melalui atau menggunakan cara-cara kaum bersih seperti yang ia baca dalam kitab atau seperti yang pernah ia latih dibawah bimbingan Lauw-pangcu.

Sebulan lewat dengan cepat.

Sin-cia atau perayaan menyambut musim semi tiba.

Murid-murid In-kok-san diberi kebebasan selama tiga hari untuk pergi ke mana mereka suka.

Mereka malah diberi pakaian-pakaian baru dan diberi bekal uang untuk berfoya-foya ke bawah gunung.

Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri sedang sibuk mempersiapkan perahu besar untuk melaksanakan tujuan yang diperebutkan kaum kang-ouw, yaitu mencari Pulau Es yang terahasia.

Juga Toat-beng Ciu-sian-li tidak tampak di puncak In-kok-san, entah ke mana perginya tidak ada orang mengetahui.

Han Han tadinya diajak oleh Kim Cu untuk berpesiar ke kaki gunung sebelah selatan.

Akan tetapi Han Han menolaknya dan seorang diri ia turun dari puncak menuju ke utara.

Keadaannya kini jauh bedanya dengan hampir setahun yang lalu.

Setahun yang lalu ia berpakaian compang-camping penuh tambalan seperti pakaian seorang pengemis.

Akan tetapi kali ini pakaiannya indah dan bersih, rambutnya tersisir rapi dan diikat di atas kepala.

Usianya sudah tiga belas tahun dan ia kelihatan tampan dan gagah.

Tubuhnya tegap dan berisi, membayangkan kekuatan.

Han Han kelihatan seperti seorang kongcu muda yang berpesiar seorang diri, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum-senyum.

Berjalan seorang diri, timbul pula kegembiraan hatinya karena ia merasa bebas lepas seperti burung di udara.

Ia melakukan perjalanan menuruni bukit dan menjelang senja ia sudah berada jauh di sebelah utara kaki bukit.

Dengan hati gembira Han Han memasuki sebuah dusun yang cukup besar dan ramai.

Seperti juga kota-kota dan dusun lain pada hari itu, penduduk dusun itu merayakan hari raya Sin-cia dengan meriah.

Apalagi dusun itu merupakan dusun kaum petani.

Musim semi merupakan musim yang dinanti-nanti dan dicinta, karena musim ini menjadi harapan para petani agar mendatangkan kemakmuran bagi mereka.

Musim semi adalah musim bercocok tanam, maka disambutlah musim semi sebagai menyambut seorang dewa yang membagi-bagikan rejeki kepada mereka.

Menyaksikan kegembiraan dan kemeriahan dusun itu, Han Han menjadi gembira sekali.

Wajah semua orang nampak berseri, terutama sekali anak-anak berpakaian serba baru kelihatan riang gembira, berlari-larian dan bermain-main setelah perut mereka terisi kenyang dengan hidangan-hidangan istimewa, tangan mereka membawa main-mainan yang dihadiahkan oleh orang tua mereka.

Akan tetapi betapa heran hati Han Han ketika ia melalui sebuah rumah gedung yang berpekarangan lebar, ia mendengar suara anak perempuan menangis.

Suara tangis ketakutan disusul bentakan-bentakan suara laki-laki kasar dan parau.

Saking herannya, apalagi karena hatinya tergerak penuh rasa iba kepada anak yang menangis, Han Han lupa diri dan memasuki pintu gerbang pekarangan itu.

Padahal kalau dalam keadaan biasa, ia tidak akan berani melakukan hal yang tidak sopan ini, memasuki tempat kediaman orang tanpa ijin.

Begitu memasuki pintu gerbang, alis Han Han berkerut.

Ia melihat seorang gadis cilik, paling banyak sepuluh tahun usianya, berpakaian compang-camping penuh tambalan, sedang berdiri dan menangis, menyusuti air mata yang membasahi kedua pipi yang pucat dengan jari-jari tangannya yang kotor.

Seorang laki-laki yang bermuka kejam, berpakaian sebagai seorang jago silat atau seorang tukang pukul, berdiri dengan muka merah di atas anak tangga, tangan kanan bertolak pinggang di atas sebatang golok besar yang tergantung di pinggang, tangan kiri menuding-nuding dengan marahnya sambil membentak-bentak.

"Maling cilik, Bocah hina. Kalau tidak lekas minggat, kuhancurkan kepalamu."

Anak itu menggigil seluruh tubuhnya.

"Aku.... tidak mencuri apa-apa...."

"Tidak mencuri, ya? Kau hendak maling buah dan bunga, masih berani bilang tidak mencuri? Mau apa kau memanjat pohon ang-co (korma) tadi?"

"Aku.... aku ingin makan buahnya.... dan ingin memetik sedikit bunga, masa tidak boleh?"

"Setan alas! Masih banyak membantah?"

Laki-laki itu lalu melangkah maju dan mencengkeram baju anak perempuan itu.

Sekali ia menggerakkan tangan kiri yang mencengkeram, tubuh anak itu terangkat ke atas.

Anak itu terbelalak ketakutan memandang wajah yang begitu bengis menakutkan, yang amat dekat dengan mukanya.

Mata anak perempuan itu amat lebar, dan karena muka dan tubuhnya kurus, mata itu kelihatan makin lebar.

Tiba-tiba laki-laki itu menyeringai.

"Eh, engkau cantik juga, ya? Mukamu manis, kulitmu halus putih..... Hemmm, sayang engkau masih begini kecil, dan kurus...."

Kini tangan kanan laki-laki itu meraba-raba ke dada anak yang tergantung itu secara kurang ajar.

"Ah, masih terlalu kecil.... kalau kau lebih besar dua tahun lagi, hemmm.... hebat juga....."

"Lepaskan aku...., Lepaskan....."

Anak itu meronta-ronta.

"Ha-ha, tentu saja kulepaskan kau. Minggat."

Laki-laki itu lalu melontarkan tubuh itu ke arah pintu gerbang.

Han Han cepat menggerakkan tubuh dan menangkap tubuh anak perempuan itu.

Ia lalu menurunkan tubuh anak perempuan yang menggigil ketakutan dan menangis itu, kemudian melangkah maju sambil memandang laki-laki yang kejam tadi dengan sinar mata penuh kebencian.

"Kau manusia berhati keji, pengecut rendah yang hanya berani menghina anak perempuan kecil."

Han Han memaki.

Laki-laki itu terbelalak heran dan kaget ketika melihat tubuh anak perempuan itu tahu-tahu disambar oleh seorang pemuda tanggung.

Melihat pakaian pemuda itu, laki-laki yang bekerja sebagai pengawal dan tukang pukul di gedung itu mengira bahwa Han Han adalah putera seorang berpangkat atau hartawan, maka ia berkata.

"Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa? Harap jangan pedulikan gembel busuk ini."

"Keparat"

Hayo lekas berlutut dan mohon ampun kepadanya."

Han Han menuding ke arah anak itu. Merah muka si tukang pukul.

"Apa? Engkau siapa?"

"Aku seorang pelancong yang kebetulan lewat dan menjadi saksi kekejamanmu."

"Wah-wah, lagaknya. Habis, kau mau apa kalau aku tidak mau minta ampun?"

Tukang pukul itu mengejek dan berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Tentu saja ia memandang rendah pemuda tanggung yang kelihatan lemah ini.

"Kalau tidak mau, aku akan memaksamu."

"Ha-ha-ha, Engkau bosan hidup? Baik, mampuslah."

Tukang pukul yang mengandalkan kekuatan dan ilmu silatnya ini sudah menerjang maju dengan sebuah tendangan kilat ke arah dada Han Han.

Melihat gerakan orang itu masih amat lambat, Han Han tidak menjadi gugup.

Ia mengatur langkah, menggerakkan tubuhnya miring mengelak dan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ia hantamkan ke arah kaki yang menendang.

"Krakkk...., Aauggghhh....."

Tubuh laki-laki itu terpelanting dan ia meringis kesakitan karena tulang betisnya telah patah.

"Tidak lekas minta ampun?"

Han Han membentak dan di dalam hatinya anak ini merasa puas.

Wajah laki-laki itu baginya seolah-olah berubah menjadi wajah perwira muka kuning dan muka brewok, dan anak perempuan itu mengingatkan ia akan cicinya dan juga ibunya yang sudah diperhina dan diperkosa perwira-perwira tadi.

"Setan kecil."

Tukang pukul itu tentu saja tidak mau terima dan biarpun kakinya terasa nyeri, ia sudah meloncat bangun, golok besar terpegang di tangannya.

Sambil menggereng seperti harimau terluka ia meloncat terpincang-pincang, menggunakan goloknya membacok.

Biarpun dia pandai ilmu silat, akan tetapi ilmu silatnya hanyalah ilmu silat tukang pukul rendahan, sedangkan Han Han biarpun tidak pandai silat namun dia telah dibimbing oleh orang-orang sakti yang berilmu tinggi.

Dengan mudah Han Han mengelak dan kini karena dorongan hawa marah, tangan kanannya memukul ke arah kepala orang itu.

"Prokkk....."

Tubuh orang itu terbanting, goloknya terlempar dan kepalanya pecah.

Di luar kesadarannya, Han Han yang amat marah itu telah menggunakan tenaga yang timbul karena latihan Hwi-yang Sin-ciang.

Dia terbelalak dengan muka pucat, sejenak seperti arca memandang ke arah mayat orang itu yang menggeletak dengan kepala pecah, muka penuh darah, amat mengerikan.

Tiba-tiba ia mendengar tangis terisak-isak.

Cepat ia menoleh dan melihat betapa anak perempuan gembel itu menangis, menggosok-gosok kedua matanya seolah-olah hendak menyembunyikan penglihatan yang menimbulkan takut di hatinya.

Han Han tersadar bahwa dia telah membunuh orang, dan tentu akan berakibat hebat.

Maka ia cepat meloncat, mendekati anak perempuan itu, menyambar tangannya dan diajaknya anak itu berlari.

"Hayo kita cepat pergi dari sini."

Bisiknya Berlari-larianlah kedua orang ansk itu keluar dari dalam dusun.

Penduduk dusun yang sedang berpesta-ria merayakan hari Sin-ciag tidak ada yang mempedulikan mereka karena memang dalam suasana pesta seperti itu, tidak mengherankan melihat dua orang anak itu berlari-larian yang mereka anggap sebagai dua orang anak yang sedang bergembira dan bermain-main.

Keganjilan melihat seorang anak laki-laki berpakaian utuh dan baik belari-lari menggandeng tangan seorang anak perempuan yang pakaiannya seperti anak gembel, tidak terasa pada saat itu.

"Aduhhh.... aduhhh.... kakiku.... aahhh, berhenti dulu.... napasku mau putus....."

Anak perempuan gembel itu menangis dan merintih-rintih, kakinya terpincang-pincang dan ia tersaruk-saruk ketika diseret oleh gandengan tangan Han Han yang lupa diri dan mempergunakan ilmu lari cepat.

Mereka telah tiba jauh di luar dusun, di tempat sunyi.

Han Han berhenti dan melepaskan tangan anak itu.

Anak perempuan itu lalu menjatuhkan diri saking lelahnya, duduk dan memijit-mijit kedua kakinya sambil menangis.

Han Han berdiri memandangnya.

"Engkau bocah cengeng benar."

Katanya dengan suara gemas, akan tetapi sebenarnya, hatinya penuh rasa iba terhadap anak ini.

Teringat ia akan keadaannya sendiri dahulu, yang menjadi seorang gembel berkeliaran tanpa teman.

Anak perempuan itu mengangkat muka memandang.

Sepasang matanya lebar sekali, lebar dan jeli, memandang dengan sinar mata polos ke wajah Han Han, air matanya menetes turun ke atas pipi, kemudian terdengar ia berkata.

"Apakah engkau juga akan membunuhku?"

Melihat sepasang mata itu, seketika timbul rasa suka di hati Han Han, rasa suka dan kasihan.

Wajah dan sikap serta kata-kata anak ini jelas menunjukkan bahwa dia bukan seorang bocah dusun biasa.

Hanya pakaiannya yang gembel, tapi anaknya sendiri tidak patut menjadi gembel.

Han Han segera ikut pula duduk di atas rumput dekat anak itu.

"Tentu saja tidak. kau ini siapa? Di mana rumahmu? Siapa orang tuamu dan mengapa engkau berkeliaran di dusun itu dalam keadaan seperti anak gembel?"

Mendengar pertanyaan ini, anak itu menutupi mukanya dan menangis lagi, kini menangis sesenggukan.

Han Han menghela napas dan menggeleng-geleng kepala.

Ia sebenarnya jengkel melihat anak ini perengek benar, akan tetapi karena dia pernah mengalami hal-hal yang amat pahit dalam hidupnya, ia dapat memaklumi keadaan anak ini dan bersikap sabar.

Ia membiarkan anak itu menangis, kemudian setelah tangis itu agak reda, ia berkata.

"Sudahlah, jangan bersedih. Engkau hidup sebatangkara, bukan? Kehilangan keluargamu?"

Anak itu mengangguk, pundaknya bergoyang-goyang karena isaknya.

"Nah, aku pun sebatangkara, aku pun kehilangan keluarga. Biarlah mulai sekarang engkau menjadi adikku, dan aku menjadi kakakmu. Dengan begitu, kita masing-masing mendapatkan seorang saudara, bukan?"

Anak perempuan itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada Han Han dengan mata merah dan muka basah.

Sejenak mereka berpandangan, anak itu seolah-olah hendak menyelidiki kesungguhan hati Han Han dengan sinar matanya yang bening.

Han Han tersenyum.

"Maukah engkau menjadi Adikku?"

Anak itu mengangguk perlahan, kemudian tersenyum pula, senyum di antara isak tangis.

Dan hati Han Han makin suka kepada anak ini.

Tidak hanya sepasang matanya yang indah bening dan lebar, juga senyumnya membuat sinar matahari menjadi makin cerah.

"Engkau menjadi Adikku dan kusebut engkau Moi-moi, sedangkan kau menyebut aku Koko, namaku Han Han, she Sie. Nah, Moi-moi, sekarang ceritakan, siapakah namamu dan bagaimana kau sampai sebatangkara dan tiba di tempat ini?"

Sejenak anak itu memandang Han Han dengan mata terbuka lebar, kemudian tiba-tiba ia menubruk dan merangkul Han Han, menangis di atas dada Han Han.

Kali ini ia menangis keras, sampai tersedu-sedu.

Dan mulut yang kecil itu berbisik, setengah mengerang atau merintih.

"Koko.... Han-ko (Kakak Han).... Koko....."

Han Han menjadi terharu.

Ia mengerti bahwa anak perempuan ini sekarang menangis karena mendapat hiburan yang amat mendalam, menyentuh hatinya seolah-olah anak yang tadinya terombang-ambing dipermainkan ombak sehingga dalam keadaan ketakutan dan kengerian selalu, tiba-tiba mendapatkan pegangan yang dapat dijadikan penyelamat.

Maka tak terasa lagi Han Han mengedip-ngedipkan kedua matanya agar matanya yang mulai menjadi panas tidak sampai menjatuhkan air mata.

Setelah tangis anak itu mereda, ia lalu memegang kedua pundaknya, mendorong muka dari dadanya, memandangnya dan berkata.

"Moi-moi yang baik, sekarang katakan, siapa namamu?"

"Lulu...."

Han Han tercengang.

"Eh, namamu lucu sekali. Lulu? Ayahmu she apa?"

"Ayahku seorang pembesar Mancu di kota raja...."

"Haaahhh....?"

Han Han benar-benar merasa kaget sekali dan ia memandang wajah Lulu dengan mata terbelalak.

Dia ini anak Mancu?

Anak pembesar Mancu?

"Ayahmu seorang perwira Mancu?"

Tanyanya seperti dalam mimpi dan terbayanglah wajah perwira muka kuning.

Suaranya mengandung kebencian dan terdengar ketus dan dingin.

Kedua tangannya yang masih memegang pundak Lulu mencengkeram.

Lulu terkejut dan meringis kesakitan.

Cengkeraman itu tidak terlalu erat, namun cukup menyakitkan.

"Ada apakah, Han-ko....?"

Akan tetapi Han Han sudah mendorong tubuh anak itu sehingga terjengkang dan bergulingan.

Anehnya, sekali ini Lulu malah tidak menangis, melainkan merangkak bangun dan berdiri menghadapi Han Han dengan matanya yang lebar itu terbelalak.

"Ko-ko, engkau kenapa?"

"Aku benci orang Mancu."

Bentak Han Han sambil membalikkan tubuhnya membelakangi anak itu karena sesungguhnya hatinya penuh penyesalan mengapa ia telah memperlakukan Lulu seperti itu.

Melihat sepasang mata itu, ia tidak dapat menahan dan membalikkan tubuh.

Lulu lari menghampiri dan memegang lengan Han Han, sinar matanya yang tajam dan polos itu menjelajahi wajah Han Han penuh pertanyaan.

"Kenapa, Han-ko? Apakah kau membenci aku juga? Engkau begitu baik...."

"Benci, ya, benci. Aku benci semua orang Mancu."

"Tapi, kenapa....? Tentu ada alasannya. Apakah engkau.... pemberontak?"

Kalau bukan Lulu yang ia hadapi, tentu ia sudah meninggalkan anak itu, pergi dan tidak sudi bicara lebih banyak lagi.

Akan tetapi pandang mata itu seperti mengikutinya, membuat ia tidak dapat pergi, bahkan kini ia menjawab sebagai penjelasan sikapnya.

"Orang tuaku dibunuh, keluargaku dibasmi oleh orang-orang Mancu. Maka aku benci orang Mancu."

"Membenci aku juga?"

"Kalau kau orang Mancu, ya."

"Tapi aku Adikmu."

"Aku tidak sudi mempunyai Adik seorang Mancu."

Tiba-tiba Lulu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han, lalu memeluk kedua kakinya.

Ia tidak menangis, tapi muka pucat sekali dan Lulu berkata dengan suara gemetar.

"Han-ko, jangan.... jangan membenci aku. Aku Adikmu.... jangan membenci aku. Aku Adikmu...., dan aku, akupun sebatangkara. Ayah bundaku, biarpun orang-orang Mancu, mengalami nasib yang sama dengan orang tuamu. Ayah bundaku dibunuh orang, keluargaku dibasmi, dan aku dilepas oleh orang-orang itu hanya dengan maksud agar aku menderita, agar aku menjadi seorang gembel. Malah pakaianku ditanggalkan lalu aku dipaksa memakai pakaian gembel.... Yang melakukan pembasmian keluargaku adalah pemberontak-pemberontak, para pengemis pemberontak, dan dan.... mereka adalah sebangsamu. Akan tetapi.... aku tidak membenci semua orang pribumi, tidak membenci engkau, Koko."

Han Man tertegun mendengar ini.

Ia menunduk dan memandang wajah yang tengadah itu dan ia percaya.

Kenyataan bahwa gadis cilik yang dibasmi keluarganya ini tidak membenci semua orang yang sebangsa dengan mereka yang membasmi keluarganya, menusuk perasaannya.

Memang sungguh tidak adil kalau dia membenci semua orang Mancu, apalagi gadis cilik ini yang tidak tahu apa-apa.

Mereka berdua hanyalah menjadi korban perang yang kejam dan jahat.

"Maafkan aku, Moi-moi...."

Ia berkata dan menarik bangun Lulu yang tiba-tiba terisak lagi sambil memeluk Han Han.

Mereka berpelukan dengan perasaan dua orang kakak beradik yang saling menemukan setelah lama berpisah dan hilang.

Kemudian Han Han mengajaknya melanjutkan perjalanan memasuki hutan, karena ia khawatir kalau-kalau ada yang mengejar mereka dari dusun.

Padahal tidak mungkin akan terjadi demikian karena andaikata orang telah mendapatkan mayat si tukang pukul, siapa yang akan menyangka seorang anak kecil seperti dia yang telah membunuhnya?

"Lulu-moi, kau bilang tadi bahwa pembasmi keluargamu adalah kaum pengemis?"

Lulu mengangguk sambil berjalan di sisi Han Han.

Mereka bergandengan tangan, atau lebih tepat Lulu yang selalu memegang tangan Han Han, agaknya anak ini khawatir sekali kalau-kalau dia ditinggalkan kakak angkatnya ini.

"Ayah sedang berangkat ke selatan untuk menempati tugas baru di selatan, sekalian memboyong keluarganya, yaitu ibu, dua orang Kakakku, aku sendiri dan para pelayan. Di tengah jalan kami dihadang oleh sekelompok pengemis, terjadi perang dan rombongan Ayah terbasmi semua. Hanya aku seorang yang tidak dibunuh, melainkan ditukar pakaianku dengan pakaian ini dan disuruh pergi. Para pemberontak itu lihai sekali, semua pengawal Ayah dibunuh. Terutama sekali kepalanya, seorang gembel tua yang membawa tongkat butut, tinggi kurus dan rambutnya riap-riapan. Dialah yang membasmi Ayah Ibuku dan kedua Kakakku, akan tetapi dia pulalah yang melarang anak buahnya membunuhku kemudian membebaskan aku. Dia pembunuh Ayah bunda dan Kakakku, aku tidak akan lupa kepadanya, dan sekali waktu aku pasti akan membalas semua ini. Aku tidak akan melupakan kakek gembel yang disebut Lauw-pangcu itu."

Tiba-tiba kaki Han Han tersandung batu sehingga ia membawa Lulu terseret ke depan, terhuyung hampir jatuh.

"Hemmm...., dia....?"

Kata Han Han dengan jantung berdebar. Pembunuh orang tua dan saudara Lulu ini adalah gurunya, guru pertama, Lauw-pangcu.

"Mengapa? Kau kenal dia Koko?"

"Ya, begitulah."

"Kau hebat, kau lihai, dapat membunuh tukang pukul tadi. Engkau tentu bukan orang sembarangan, Koko. Maukah kau membalaskan sakit hatiku ini terhadap Lauw-pangcu? Aku kan Adikmu. Mau, bukan?"

"Ah, mudah saja kau bicara, Moi-moi. Untuk dapat membalas musuhmu, juga musuhku, kita membutuhkan kepandaian yang amat tinggi. Marilah engkau ikut bersamaku dan kita belajar sampai menjadi orang-orang pandai, baru kita bicara tentang membalas dendam. Mulai sekarang engkau ikut dengan aku, ke manapun aku pergi."

Lulu mempererat pegangannya, hatinya terhibur dan ia sudah tersenyum-senyum lagi, wajahnya yang manis berseri dan matanya yang lebar itu bersinar-sinar.

"Baiklah, Koko. Sampai mati aku tidak mau berpisah darimu."

Ucapan terakhir ini mengharukan hati Han Han.

Mereka melanjutkan perjalanan dan Han Han memutar otaknya.

Tidak ada lain jalan lagi.

Dia harus membawa Lulu kepada Ma-bin Lo-mo, minta kepada gurunya itu untuk menerima Lulu menjadi murid.

Hanya dengan jalan inilah adik angkatnya tidak akan berpisah darinya, dan Lulu akan dapat mempelajari ilmu yang tinggi.

"Sute....."

Han Han dan Lulu berhenti dan membalikkan tubuh.

Kiranya Kim Cu yang memanggil Han Han dan anak perempuan ini datang berlari-lari cepat sekali sehingga Lulu memandang penuh kekaguman.

Kim Cu memakai pakaian yanS indah, dan sebuah bungkusan menempel di punggungnya.

Wajah yang ayu itu kemerahan karena ia telah berlarian cepat mengerahkan tenaga ketika dari jauh melihat bayangan Han Han.

"Wah, sute. Setengah mati aku mencarimu."

"Ada apakah, suci? Bukankah waktu libur masih sehari lagi sampai besok?"

"Ada perubahan, sute. Suhu sendiri yang memerintah aku agar menyusulmu. Kita semua harus kembali sekarang juga karena suhu hendak pergi jauh, juga Sian-kouw akan pergi, karena itu kita harus berada di sana. Dan.... eh, siapakah dia ini?"

Agaknya karena ketegangan hatinya dan kegembiraannya dapat menemukan orang yang dicari, baru sekarang Kim Cu mendapat kenyataan bahwa di situ ada orang ke tiga, seorang anak perempuan bermata lebar yang berdiri memandangnya penuh kagum dan heran.

"Aku hendak membawa dia menghadap suhu, agar dapat diterima menjadi murid di In-kok-san."

"Wah, agaknya tidak akan mudah, sute. Siapa sih anak ini?"

"Namanya Lulu, seorang bocah Mancu.... heee, tahan, suci....."

"Dukkk."

Tubuh Kim Cu terhuyung-huyung ke belakang ketika pukulannya ke arah Lulu ditangkis oleh Han Han. Muka Kim Cu menjadi merah, matanya melotot marah.

"Sute! Apa-apaan ini? Kenapa kau malah melindungi seorang setan cilik Mancu? Melindungi musuh? Biarkan aku membunuh dia."

Kim Cu melangkah maju mendekati Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak ketakutan itu.

"Tidak, suci. Jangan! Dia ini bukan musuh kita."

"Siapa bilang bukan kalau dia seorang setan cilik Mancu? Orang-orang Mancu yang telah membasmi keluargaku, dan keluargamu juga."

"Benar, akan tetapi bukan dia ini yang membasmi keluarga kita, suci. Sebaliknya, keluarga Lulu ini pun terbasmi habis oleh bangsa kita, dan Lulu toh tidak menganggap kita sebagai musuhnya. Kita harus berpikir luas dan adil, suci. Kalau seseorang melakukan kesalahan lalu seluruh bangsa orang itu dianggap ikut bersalah, alangkah picik dan tidak adilnya ini. Bangsa apa pun juga di dunia ini pasti mempunyai orang-orang yang jahat, termasuk bangsa kita, suci. Kalau karena kejahatan beberapa gelintir orang-orang itu lalu bangsanya dianggap jahat juga, wah, agaknya dunia ini tidak akan ada bangsa yang baik dan perang akan terus-menerus terjadi. Tidak, suci. Lulu ini bagi kita bukanlah orang jahat, bukan musuh kita biarpun dia anak seorang perwira Mancu."

Kim Cu termenung.

Memang semenjak berdekatan dengan Han Han, dia tahu betapa sutenya ini amat pandai, betapa pikiran sutenya amat luas dan sutenya mengerti akan segala macam urusan dunia.

Hanya ilmu silat sajalah yang agaknya tidak begitu diperhatikan sutenya dan tingkat sutenya masih lebih rendah daripada tingkat murid lainnya.

Ucapan Han Han itu berkesan di dalam hatinya dan sekaligus membuat Kim Cu timbul rasa kasihan kepada Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak.

Alangkah indahnya mata itu, pikirnya, dan melihat pakaian Lulu begitu buruk, ia makin kasihan dan lenyaplah semua kemarahannya.

Memang Kim Cu seorang anak yang jujur dan wataknya bersahaja, mudah pula menguasai perasaan hatinya.

"Agaknya engkau benar dalam hal ini, sute. Akan tetapi engkau salah besar kalau engkau hendak membawa Lulu kepada suhu untuk dijadikan muridnya. Begitu dia bertemu suhu, dia tentu akan langsung dibunuh tanpa banyak cakap lagi. Engkau harus pulang bersamaku dan kau tidak boleh membawanya ke In-kok-san, sute." (Lanjut ke

Jilid 08) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08

"Tidak bisa, suci. Kalau dia ini tidak bisa ikut dan akan dibunuh suhu, lebih baik aku tidak kembali ke In-kok-san."

"Eh, mengapa begitu? Apamukah bocah ini, sute? Jangan bodoh...."

"Dia ini Adikku."

Apa? Adikmu? Anak Mancu ini.... mana mungkin Adikmu....?"

"Dia betul Adikku, dan aku Kakaknya. Baru saja kami telah bersaudara. Aku sudah berjanji akan melindunginya, tidak akan berpisah lagi. Dia tidak punya siapa-siapa, hanya aku yang telah menjadi kakaknya, suci,"

Kata Han Han, suaranya tetap. Wajah Kim Cu menjadi berduka.

"Sute, kalau kau tidak kembali.... bagaimana dengan aku? Aku akan kehilangan...."

"Suci, engkau adalah murid In-kok-san, dan engkau mempunyai banyak saudara-saudara seperguruan. Sedangkan Lulu tidak mempunyai siapa-siapa. Dia harus ikut bersamaku, dan pula, sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku tidak betah tinggal lebih lama lagi di In-kok-san. Aku akan pergi bersama Adikku ini, suci. Harap suci suka mengingat hubungan baik kita dan membiarkan aku pergi."

Kim Cu termenung dengan muka sedih.

"Kalau engkau tidak kembali, suhu akan marah sekali. Terutama sekali Sian-kouw. Lupakah kau bahwa kau telah menjadi murid Sian-kouw? Engkau pasti akan dicari suhu, dan kalau sampai engkau tertangkap.... ah, hukumannya mengerikan, sute."

"Kalau melarikan diri dan tertawan, hukumannya potong kaki, bukan?"

Lulu mengeluarkan jerit tertahan.

"Keji....."

Kim Cu memandang bocah itu dengan mata marah.

"Tidak keji. Ini peraturan dan orang yang berdisiplin saja yang akan mendapatkan kemajuan"

Sute, engkau sudah tahu akan hukumannya. Maka harap kau jangan pergi."

"Biarlah, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melarikan diri bersama Adikku, akan bersembunyi. Kalau sampai tertangkap, terserah. Akan tetapi aku percaya engkau tidak akan mengatakan di mana kau bertemu denganku, suci."

Kim Cu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.

"Aku tidak akan memberi tahu, sute. Tapi.... ah...."

"Sudahlah, suci. Harap suci suka kembali. Aku mau pergi sekarang juga. Marilah, Lulu."

Kim Cu berdiri dengan muka sedih memandang bayangan dua orang itu yang makin menjauh.

"Sute....! Tunggu dulu....."

Ia meloncat dan berlari mengejar. Han Han membalikkan tubuh, alisnya berkerut.

"Suci, benarkah engkau akan melupakan persahabatan dan hendak menghalangi aku?"

Kim Cu maju dan memegang tangan Han Han. Air matanya menitik turun.

"Tidak sama sekali, sute. Aku.... aku hanya mengkhawatirkan engkau. Dan dia ini.... ah, setelah dia menjadi Adikmu, mana bisa berpakaian seperti itu? Tunggu dulu...."

Gadis cilik ini lalu menurunkan buntalan pakaiannya, mengeluarkan sepasang sepatu cadangan dan satu stel pakaian, diserahkannya kepada Lulu.

"Lulu, kau pakailah ini agar engkau pantas menjadi adik Sie Han sute."

Lulu menerima pakaian dan sepatu, memandang terharu, lalu berkata.

"Enci, kau baik sekali, dan alangkah mendalam cinta kasihmu terhadap Han-koko...."

"Cihhhhh....! Kanak-kanak bicara tentang cinta, Cinta apa?"

"Engkau mencinta Han-ko, Enci...."

"Hush! Sudahlah....."

Suara Kim Cu mengandung isak dan gadis cilik ini lalu membalikkan tubuh dan lari dari situ dengan gerakan yang amat cepat.

Han Han berdiri melongo, memandang bayangan Kim Cu sampai gadis itu lenyap dari pandang matanya, kemudian ia menoleh kepada Lulu dan berkata.

"Apa kau bilang tadi? Cinta? Cinta bagaimana?"

Lulu tersenyum.

"Dia sungguh cinta kepadamu, Koko. Dan dia seorang gadis yang baik sekali. Kelak aku akan senang sekali mempunyai seorang soso (kakak ipar) seperti dia."

"Eh-eh, gilakah engkau?"

Entah bagaimana, sungguhpun ia hanya menduga-duga dan hanya mengerti setengah-setengah saja apa yang dimaksudkan Lulu, mukanya menjadi panas dan jantungnya berdebar-debar.

"Lebih baik lekas pakai pakaian itu dan kita melanjutkan perjalanan."

Lulu segera bersembunyi di balik semak-semak untuk bertukar pakaian.

Ketika ia muncul kembali, Han Han memandang kagum.

Benar saja.

Lulu ternyata ada lah seorang gadis cilik yang cantik jelita.

Setelah kini pakaiannya bersih dan baik, dia menjadi seorang anak yang manis sekali.

"Kita ke mana, Koko?"

"Hayo ikut sajalah. Aku ingin ke kota raja, akan tetapi belum tahu jalannya."

"Aku datang dari sana, akan tetapi juga tidak tahu jalannya. Di jalan kita nanti tanya-tanya orang, tentu akan sampai juga."

Maka pergilah kedua anak ini, tergesa-gesa karena Han Han ingin cepat-cepat menjauhkan diri dari In-kok-san.

Ia tahu bahwa gurunya, Ma-bin Lo-mo tentu marah sekali dan akan mencarinya, dan kalau yang mengejar dan mencarinya seorang sakti seperti itu, benar-benar tak boleh dibuat main-main.

Juga ia tidak berani sembarangan bertanya-tanya pada orang, bahkan menghindari perjumpaan dengan orang-orang agar tidak meninggalkan jejak.

Ia selalu mengambil jalan yang sunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung.

Karena perjalanan mengambil jalan yang liar dan sukar ini maka biarpun pakaian yang dipakai Lulu pemberian Kim Cu itu masih bersih dan baik, setelah lewat sebulan mulai robek di pundak dan oleh Lulu ditambal sedapatnya mempergunakan robekan ujung baju yang baginya agak kepanjangan.

Han Han menjadi makin suka kepada Lulu, setelah mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu benar-benar memiliki watak yang menyenangkan.

Biarpun usianya baru sembilan atau sepuluh tahun, Lulu adalah seorang anak yang tahu diri, tidak rewel, tidak banyak kehendak, penurut dan juga tahan uji.

Ia mentaati segala kehendak Han Han sebagai seorang adik yang baik, bersikap penuh kasih sayang kepada kakaknya ini, dan juga tidak pernah mau ketinggalan kalau Han Han mencari makanan untuk mereka.

Betapapun lelahnya jika Han Han memaksanya melanjutkan perjalanan yang sukar, gadis cilik ini tak pernah mengeluh, maklum bahwa kakaknya kini menjadi seorang buronan.

Ia pun berkali-kaii menyatakan kegelisahannya kalau-kalau kakaknya akan tertangkap oleh guru kakaknya yang dianggapnya seorang manusia keji dan mengerikan.

Banyak ia bertanya tentang Ma-bin Lo-mo dan Han Han juga menceritakan apa yang ia ketahui tentang Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan lain-lain tokoh kang-ouw yang terkenal.

Lulu amat tertarik mendengar cerita itu dan berkali-kali menyatakan bahwa ia pun ingin belajar silat agar kelak menjadi seorang yang pandai, sehingga ia akan dapat membalas dendam kepada musuh yang telah membasmi keluarganya.

Harus diakui bahwa Han Han yang semenjak kecil banyak membaca kitab-kitab, pengertian umumnya sudah amat dalam, bahkan ia tahu akan filsafat-filsafat hidup.

Namun karena ia hanyalah seorang bocah, tentu saja wawasannya pun amat terbatas dan banyak hal-hal yang tidak ia ketahui benar intinya.

Sedapat mungkin ia berusaha untuk menerangkan Lulu tentang dendam pribadi dan tentang bencana akibat perang.

"Lulu, kurasa engkau keliru kalau menaruh dendam kepada Lauw-pangcu, karena sesungguhnya dia seorang yang baik, seorang patriot sejati yang gagah perkasa,"

Katanya hati-hati ketika pada suatu hari mereka mengaso di bawah pohon besar dalam sebuah hutan.

Lulu memandang kakaknya dengan mata lebar dan penuh penasaran.

"Koko, keluargamu terbasmi oleh perwira-perwira Mancu seperti yang pernah kauceritakan kepadaku. Apakah engkau tidak mendendam kepada perwira-perwira itu?"

"Tentu saja."

"Kalau engkau menaruh dendam kepada pembasmi keluargamu, mengapa aku tidak boleh mendendam kepada pembasmi keluargaku?"

"Ah, jauh sekali bedanya, Moi-moi. Keluargaku terbasmi oleh orang-orang yang melakukan hal itu menurutkan nafsu mereka pribadi, tidak ada sangkut-pautnya dengan perang sungguhpun hal ini terjadi dalam perang, pembasmi-pembasmi keluargaku melakukannya dengan rasa benci dan nafsu pribadi, terdorong oleh watak mereka yang jahat dan kejam. Keluargaku bukanlah musuh mereka dalam perang, dan mereka melakukan pembasmian itu karena dua hal, yaitu ingin memperkosa wanita-wanita dan ingin merampok harta benda. Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Lauw-pangcu kepada keluargamu. Lauw-pangcu dengan kawan-kawannya adalah pejuang-pejuang yang berusaha menentang bangsa Mancu yang menjajah, dan Ayahmu adalah seorang pembesar Mancu. Tentu saja Lauw-pangcu menganggap keluargamu musuh, bukan musuh pribadi, melainkan musuh negara dan bangsa. Lauw-pangcu melakukan pembasmian bukan berdasarkan kebencian pribadi, melainkan sebagai pelaksanaan tugas perjuangan. Tahukah engkau bahwa dalam sekejap mata saja anak buah Lauw-pangcu yang jumlahnya lima puluh orang lebih dibasmi habis oleh seorang kaki tangan Mancu?"

Lulu merengut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apapun yang menjadi alasan, akibatnya sama saja, Koko. Apa pun yang menjadi dasar daripada perbuatan para pembasmi yang kejam itu, akibatnya tiada bedanya, buktinya engkau menjadi yatim-piatu dan aku pun sama juga. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa aku tidak lebih sengsara dari padamu? Apakah karena sebab-sebab itu aku lalu diharuskan memaafkan mereka?"

Ditegur oleh bocah yang matang dalam penderitaan ini, Han Han membungkam, ia tidak dapat menjawab, hanya berkali-kali menghela napas kemudian berkata.

"Ah, entahlah, Moi-moi. Memang kalau dipikir-pikir, semua perbuatan yang sifatnya membunuh di dalam perang adalah keji. Perang menimbulkan malapetaka yang mengerikan. Perang membuktikan betapa kejamnya mahluk yang disebut manusia. Perang dan bunuh-membunuh antar manusia dilakukan dengan penuh semangat, demi perjuangan dan cita-cita alasannya. Perjuangan dan cita-cita yang hanya diciptakan oleh beberapa gelintir manusia belaka. Aku tidak tahu, hanya yang kuketahui sekarang, kalau kita sudah memiliki kepandaian, kita harus membasmi orang-orang yang menjadi musuh kita, orang-orang yang kita anggap jahat."

"Koko, bagaimanakah orang yang jahat itu? Lauw-pangcu dalam anggapanku adalah seorang yang sejahat-jahatnya karena dia telah membuat keluargaku lenyap, telah membuat hidupku merana. Akan tetapi engkau tidak menganggapnya sebagai orang jahat, malah gagah perkasa. Bagaimana ini?"

"Tidak tahulah.... tidak tahulah.... mungkin kelak kita akan lebih mengerti."

Mereka melanjutkan perjalanan dan setelah mereka keluar dari hutan itu, tampaklah sebuah bukit di sebelah depan.

Senja telah mendatang dan di dalam cuaca yang sudah suram itu samar-samar tampak dinding di puncak bukit.

"Di puncak bukit itu tentu tempat tinggal para pendeta, kalau tidak kuli tentu sebuah dusun. Sebaiknya kita pergi ke sana. Aku akan bekerja untuk mencarikan beberapa stel pakaian untukmu, Moi-moi."

"Bukan hanya untukku, Koko, engkau pun perlu akan pakaian cadangan. Lihat, pakaianmu sudah mulai rusak pula. Aku pun dapat bekerja, apa saja, kalau perlu membantu di sawah, atau mencuci, membersihkan rumah, apa saja."

"Engkau puteri seorang pembesar, mana bisa bekerja kasar?"

"Jangan begitu, Koko. Dahulu puteri pembesar, sekarang hanya seorang bocah gemb...."

"Hanya Adikku yang baik dan manis."

Han Han memotong dan mereka tertawa, bergandengan tangan dan mulai mendaki bukit yang tidak berapa tingginya itu.

Namun, ketika mereka telah tiba di lereng, tak jauh lagi dari puncak di mana tampak dinding putih yang ternyata adalah pagar tembok yang tinggi, Lulu menuding dan berseru.

"Lihat! Kebakaran."

Benar saja.

Api yang berkobar-kobar tampak di balik dinding itu, makin lama makin membesar dan sinar api merah itu memperlihatkan dengan jelas bahwa di balik pagar tembok itu terdapat sekelompok rumah-rumah yang kini terbakar.

"Celaka....! Hayo kita naik terus, sedapat mungkin kita bantu mereka memadamkan api, Moi-moi."

"Aku.... takut...., Koko."

"Ada aku di sampingmu, takut apa? Hayolah."

Han Han menggandeng tangan adiknya dan dengan bantuan sinar api mereka mendaki terus menuju ke pagar tembok.

Akhirnya mereka tiba di luar pagar tembok dan tiba-tiba Han Han menarik tangan adiknya untuk mendekam dan berlindung di tempat gelap.

Dari pintu gerbang yang terbuka mereka dapat melihat ke sebelah dalam perkampungan itu dan keadaan di dalam perkampungan itulah yang membuat Han Han menarik tangan adiknya diajak bersembunyi.

Kiranya di dalam perkampungan itu terjadi perang tanding yang hebat.

Tampak bayangan-bayangan manusia berkelebatan, kilatan-kilatan senjata tajam dan terdengar nyaring suara senjata beradu.

Di sana-sini, jelas tampak karena disinari api yang membakar rumah, menggeletak mayat-mayat orang, malang-melintang dalam keadaan mandi darah.

Mengerikan.

Tubuh Lulu menggigil ketika ia merapatkan diri kepada kakaknya, napasnya terengah-engah.

Han Han juga merasa tegang, akan tetapi ia mengelus-elus kepala adiknya untuk menenangkannya.

Perang tanding yang lebih banyak terdengar daripada terlihat itu berlangsung semalam suntuk.

Demikian pula kebakaran yang agaknya tidak ada yang berusaha memadamkannya itu.

Dapat dibayangkan betapa gelisah dan sengsara dua orang bocah yang bersembunyi di luar tembok.

Jerit-jerit ketakutan dan pekik-pekik kematian terdengar oleh mereka, bercampur dengan suara pletak-pletok terbakarnya rumah-rumah yang makin menghebat.

Kiranya rumah-rumah dalam perkampungan itu amat berdekatan sehingga setelah api membakar dan tidak ada usaha memadamkannya, semua dimakan api dan kebakaran itu berlangsung sampai pagi.

Han Han yang memberanikan hatinya merangkak dan mengintai dari balik pintu gerbang, menjadi silau matanya menyaksikan berkelebatnya dua sinar putih.

Sebagai seorang yang pernah menjadi murid seorang pandai, ia dapat menduga bahwa dua sinar putih itu tentulah sinar senjata yang dimainkan oleh dua orang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya.

Dua sinar itu berkelebatan di antara puluhan orang yang mengepungnya dan ia dapat menduga babwa tentu ada dua orang lihai yang dikeroyok oleh banyak sekali orang.

Yang mengerikan hatinya adalah ketika di antara tumpukan mayat ia melihat pula mayat-mayat wanita dan anak-anak kecil.

Semalam suntuk tidak tidur sekejap mata pun, semalam suntuk terus mendekam bersembunyi, namun bagi kedua orang anak itu, agaknya semalam itu lewat dengan amat cepatnya.

Tahu-tahu sudah pagi.

Dan menjelang pagi, api mulai padam dan ketika mereka mendengarkan, ternyata tidak ada suara apa-apa lagi.

Sunyi di dalam perkampungan itu, hanya tampak asap hitam mengepul dan masih ada suara pletak-pletok lirih.

Akan tetapi tidak ada suara manusia, tidak ada suara pertempuran.

Han Han bangkit berdiri, akan tetapi terduduk kembali karena ujung bajunya sebelah belakang dipegang erat-erat oleh Lulu yang ketakutan.

Han Han menoleh dan melihat betapa tubuh Lulu gemetar, adiknya yang biasanya cerah itu kini pucat dan matanya terbelalak seperti seekor kelinci dikejar harimau.

Ia memberi isyarat agar adiknya itu bangkit berdiri, kemudian ia memasuki pintu gerbang itu perlahan-lahan.

Lulu yang masih menggigil ketakutan, berjalan di belakangnya, tidak pernah melepaskan ujung bajunya yang belakang.

Dua orang anak itu seperti sedang main naga-nagaan, berjalan perlahan dan muka bergerak memandang ke kanan kiri, wajah pucat dan mata terbelalak.

Hati siapa tidak akan ngeri menyaksikan keadaan dalam perkampungan itu.

Semua pondok habis terbakar, kini menjadi arang dan hanya tinggal asapnya karena sudah tidak ada lagi yang dapat dibakar.

Yang amat mengerikan adalah banyaknya mayat orang berserakan di mana-mana.

Ada puluhan orang banyaknya, bahkan mungkin seratus orang lebih.

Sebagian besar laki-laki tinggi besar akan tetapi banyak pula wanita-wanita, tua dan muda, ada pula anak-anak.

Mereka semua telah mati dengan tubuh terluka besar, seperti terbabat senjata tajam, ada yang perutnya pecah, dadanya berlubang, leher hampir putus.

Mayat ini mandi darahnya sendiri "Han-koko....

aku....

aku takut hiiii....."

Hampir Lulu tidak dapat melangkahkan kakinya yang menggigil, wajahnya pucat sekali dan sepasang mata yang lebar itu terbelalak.

"Tenanglah, Adikku.... aku pun takut, akan tetapi mari kita lihat ke sana..... eh, dengar.... ada orang merintih...., Hayo ke sana, suaranya datang dari belakang puing rumah itu...."

"Aku.... aku takut.... nge.... ngeri....."

Akan tetapi Han Han sudah menarik tangan adik angkatnya.

Melihat sekian banyaknya manusia menjadi mayat, tidak seorang pun yang masih hidup, tidak ada yang merintih atau bergerak, membuat hatinya menjadi tertarik sekali ketika ia mendengar suara merintih itu.

Dari jauh ia sudah melihat dua orang yang tidak mati, namun terluka hebat karena dua orang itu masing-masing tertusuk pedang di bagian perut, tertusuk sampai tembus ke punggung.

Mengerikan sekali, akan tetapi juga aneh, karena justeru dua orang ini di antara puluhan mayat yang hidup.

Han Han memiliki ketabahan yang luar biasa, tidak lumrah manusia biasa.

Biarpun Lulu sudah hampir pingsan saking ngerinya, namun Han Han tidak apa-apa, bahkan ia lalu melepaskan tangan Lulu dan mempercepat langkahnya menghampiri dua orang itu sambil berkata.

"Moi-moi, ada orang terluka. Mari kita tolong mereka....."

Kasihan sekali Lulu.

Sudah takutnya setengah mati, kakaknya melepaskan tangannya dan lari meninggalkannya.

Seperti seekor kelinci ketakutan ia lalu memaksa kakinya yang lemas itu untuk lari pula mengejar.

"Koko.... Han-ko, tunggu aku....."

Han Han sudah berlutut di dekat dua orang yang terluka itu.

Ia memandang dengan kagum dan terheran-heran.

Dua orang itu adalah seorang kakek dan seorang nenek.

Usia mereka tentu tidak akan kurang dari tujuh puluhan tahun, akan tetapi jelas tampak betapa mereka berdua itu dahulunya tentulah orang-orang yang elok dan gagah.

Kakek itu masih tampak gagah dan tampan, pakaiannya bersih dan dari rambutnya sampai sepatunya terawat rapi, pakaiannya seperti seorang sastrawan.

Jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik.

Adapun nenek itu biarpun sudah tua masih nampak cantik, tentu di waktu mudanya merupakan seorang wanita yang jelita.

Juga pakaiannya rapi dan bersih.

Kakek itu bersandar pada meja batu yang terdapat di taman, sebatang pedang menancap di perutnya sampai tembus punggung.

Adapun nenek itu setengah rebah menyandarkan kepala di pundak kanan itu, juga sebatang pedang menancap di dadanya, menembus ke punggung.

Yang mengherankan Han Han, pedang itu sama benar bentuknya, juga serupa gagangnya, pedang yang amat indah, yang putih berkilau seperti perak.

Si nenek menyandarkan kepalanya sambil merintih dan rintihan nenek inilah yang tadi terdengar oleh Han Han.

Tangan nenek itu meraba-raba perut kakek yang tertancap pedang.

Kakek itu sendiri sama sekali tidak mengeluh, seolah-olah perut ditembusi pedang tidak terasa nyeri olehnya, dan lengannya merangkul si nenek penuh kasih sayang.

"Tenanglah, Yan Hwa.... tenanglah menghadapi maut bersamaku, sumoi (Adik Seperguruan) tenanglah, Adikku, kekasihku...."

"Oughhh.... suheng (Kakak Seperguruan) aduhhh, Koko (Kanda), mengapa baru sekarang menyebut kekasih....? Aku.... aku.... selamanya cinta kepadamu, suheng...."

"Hushhh.... ada orang datang, diamlah...."

"Aughhh.... ahhh, panas rasa kerongkonganku...., aduh, Kanda, minum.... minum...."

Hati Han Han sebenarya sudah tidak mudah lagi terharu.

Perasaan hatinya sudah setengah membeku oleh peristiwa hebat yang dialaminya dahulu.

Namun kini menyaksikan keadaan kakek dan nenek itu, ia terheran-heran dan juga timbul rasa iba di hatinya.

"Locianpwe, biarlah saya yang mencarikan air minum....."

Tanpa menanti jawaban dua orang yang sedang dalam sekarat itu, ia bangkit den cepat pergi mencari air.

"Han-ko.... tunggu....."

Lulu berteriak dan meloncat pula mengejar kakaknya.

Anak kecil ini merasa terlalu ngeri kalau ditinggal sendirian di dekat kakek dan nenek yang sekarat itu.

"Mari kita mencari air minum untuk mereka. Kasihan mereka...."

Kata Han Han yang menanti adiknya lalu menggandeng tangan adiknya.

Sebentar saja mereka mendapatkan sebuah tempat air dan mengisinya dengan air lalu kembali ke dalam taman.

Wajah kedua orang tua itu sudah pucat karena darah mereka terus mengucur keluar dari luka di perut dan dada.

"Ini airnya, locianpwe,"

Kata Han Han.

Ia menyebut locianpwe karena ia dapat menduga bahwa mereka berdua itu tentulah bukan sembarang orang, bahkan ia menduga bahwa kematian puluhan orang itu tentu ada hubungannya dengan mereka.

Adapun Lulu berdiri di belakang Han Han, terbelalak memandang dua orang yang terluka berat dan sedang saling berpelukan mesra itu.

"Oohhh, mana air....?"

Nenek itu mengeluh.

Kakek itu membuka matanya dan sejenak pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han.

Kakek itu membelalakkan mata, seperti terpesona memandang wajah Han Han, akan tetapi segera menerima tempat air dan memberi minum nenek yang kehausan dan sedang sekarat itu.

Air diminum dengan lahap sampai terdengar menggelogok dan sebagian besar tumpah.

Nenek itu terengah kepuasan, wajahnya menjadi tenang, dengan sikap manja merebahkan pipi kirinya di atas pundak kakek itu, tangannya memeluk pinggang, matanya merenung seperti orang ngantuk, akan tetapi tidak merintih lagi.

Kakek itu tidak minum, bahkan tiba-tiba ia menggerakkan tangan yang memegang tempat air.

Han Han terkejut sekali melihat tempat air itu melayang jauh sekali dan jatuh ke atas tanah, tidak pecah, bahkan air di dalamnya yang masih setengah itu tidak tumpah, muncrat setetes pun tidak, seolah-olah tempat air itu dibawa melayang tangan yang tidak tampak dan diletakkan di tempat itu.

Wajah kakek itu kelihatan dingin ketika memandang kepadanya dan bertanya.

"Engkau siapa?"

Han Han adalah seorang anak yang amat kukoai (aneh), babkan tidak kalah kukoai oleh datuk-datuk persilatan yang bagaimana aneh wataknya sekalipun.

Kalau tadi ia merasa iba, kini menyaksikan sikap kakek itu, timbul keberaniannya dan ia pun hanya berdiri sambil memandang.

Sinar kemarahan terpancar keluar dari pandang matanya dan ia menjawab, sama kakunya dengan suara kakek itu.

"Namaku Sie Han."

Hanya sekian ia berkata karena tidak ada hasrat hatinya lagi untuk mengetahui siapa adanya kakek dan nenek itu dan apa yang terjadi sehingga mereka terluka seperti itu.

Kembali dua pasang mata beradu pandang dan kakek itu makin terbelalak.

"Eh...., Matamu....."

"Mataku kenapa?"

Balas tanya Han Han, makin penasaran.

"Seperti...."

"Mata setan."

Han Han melanjutkan, makin mendongkol dan teringat akan pengalamannya dengan Lauw-pangcu dan juga dengan Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo.

Mereka itu semua menyatakan keheranan akan matanya.

Lama-lama ia menjadi bosan juga kalau tokoh besar selalu menyebut-nyebut matanya.

Kakek itu menggeleng-geleng kepala, dan aneh....

dia tersenyum geli.

"Wah, tidak hanya matanya, juga wajahmu dan sikapmu yang kepala batu.... akan tetapi pada dasarnya berhati penuh welas asih.... eh, engkau benar-benar bocah aneh, mengingatkan aku akan seorang sahabatku yang amat baik."

"Hemmm, locianpwe yang aneh. Bicara tentang sahabat, akan tetapi keadaan locianpwe berdua ini tidak membayangkan bahwa locianpwe baru saja bertemu dengan seorang sahabat,"

Han Han menuding ke arah dua batang pedang yang masih menancap di tubuh mereka. Nenek itu mengangkat muka memandang kakek yang masih dipeluknya.

"Koko.... siapa bocah setan ini? Perlu apa bicara dengan dia? Mana.... mana dia.... Jai-hwa-sian?"

"Sabar, Moi-moi.... Jai-hwa-sian belum juga datang.... ahhh, sayang sekali.... kalau sampai kita keburu mampus sebelum dia muncul...."

Han Han terkejut sekali.

Tadinya ia merasa geli dan juga iba mendengar betapa dua orang tua renta ini demikian kemesra-mesraan dan menyebut koko dan moi-moi.

Akan tetapi mendengar nama Jai-hwa-sian disebut-sebut, ia terkejut.

"Locianpwe mencari Kong-kongku?"

Kakek itu mengangkat muka memandang, cemberut.

"Siapa mencari Kong-kongmu? Siapa itu Kong-kongmu?"

"Jai-hwa-sian....."

"Hehhh....?"

"Ihhhhh....?"

Kakek dan nenek itu berseru kaget dan kini memandang Han Han yang masih berdiri dengan muka merah.

Dia tadi telah kelepasan bicara, mungkin ia mengaku Jai-hwa-sian sebagai kakeknya hanya karena merasa penasaran tidak dipandang mata oleh kakek itu, juga karena ia terkejut dan teringat akan sangkaan Kang-thouw-kwi bahwa dia adalah cucu Jai-hwa-sian "Heh, anak setan, siapa nama Kong-kongmu?"

"Namanya Sie Hoat."

Kakek itu mengerutkan alisnya, sedangkan nenek itu yang masih lemah telah menyandarkan kembali pipinya ke pundak Si Kakek dengan sikap manja.

"Bagaimana kau tahu kakekmu itu berjuluk Jai-hwa-sian?"

"Yang memberi tahu adalah Setan Botak."

"Setan Botak? Kau maksudkan Setan Botak si....?"

"Siapa lagi kalau bukan Setan Botak Kang-thouw-kwi? Apakah ada Setan Botak ke dua di dunia ini?"

Kata Han Han, masih panas hatinya, apalagi karena kakek itu menganggapnya main-main.

Kini mata kakek itu makin terbelalak.

Baru sekarang, setelah menghadapi kematian, ia menemukan seorang anak yang begini kukoai, berani memaki Kang-thouw-kwi dengan julukan Setan Botak.

Padahal, ratusan orang gagah di dunia kang-ouw akan berpikir-pikir seratus kali lebih dulu untuk berani memaki seperti itu.

"Di mana Kakekmu yang berjuluk Jai-hwa-sian itu sekarang?"

Kakek itu mulai menduga-duga barangkali Jai-hwa-sian benar-benar datang bersama cucunya dan sengaja menyuruh cucunya itu datang lebih dulu.

Kalau anak ini benar-benar cucu Jai-hwa-sian, tidaklah begitu aneh kalau berani memaki Kang-thouw-kwi.

Akan tetapi anak itu menggeleng-geleng kepala.

"Aku sendiri tidak tahu. Mungkin sudah mati, seperti yang diduga Ayah. Aku sendiri tidak pernah melihatnya, sudah puluhan tahun pergi merantau, menurut cerita Ayah...."

"Siapa nama Ayahmu dan di mana tinggalnya?"

"Ayah bemama Sie Bun An, dahulu tinggal di Kam-chi...."

"Sie Bun An? Suma Bun An? Di Kam-chi katamu? Ha-ha-ha-ha-ha, betul juga."

Kakek itu tertawa bergelak sehingga Han Han menjadi heran dan mengira bahwa tentu kakek yang sudah sekarat ini menjadi berubah ingatannya alias menjadi gila.

"Sekarang di mana adanya Ayahmu itu? Di mana Suma Bun An?"

"Locianpwe! Ayahku adalah Sie Bun An, apa ini Suma-suma segala?"

"Ha-ha-ha. Dasar pengecut, mengingkari she apakah berarti dapat membersihkan diri dari noda? Ya.. ya, biarlah, Sie Bun An. Di mana dia kalau engkau tidak tahu di mana adanya Kakekmu?"

"Ayah dan sekeluargaku telah dibunuh perwira-perwira Mancu...."

"Ha-ha-ha-ha-ha, hukum karma.... Ha-ha-ha, tak dapat dihindarkan lagi...."

"Locianpwe."

Han Han membentak, marahnya bukan main.

Belum pernah dia menceritakan riwayatnya kepada siapapun juga dan kalau dia mau menceritakan tentang ayahnya dam keluarganya kepada kakek ini hanyalah karena ia tahu betul bahwa orang yang perutnya sudah tertembus pedang itu takkan dapat hidup lebih lama lagi.

Akan tetapi, dia yang sudah berterus terang menceritakan, malah ditertewakan.

Inilah yang benar-benar dapat disebut bocengli (tak tahu aturan).

Akan tetapi kakek itu tidak peduli, malah tertawa terus dan berkata-kata seorang diri.

"Ha-ha-ha, hukum karma. Jai-hwa-sian, engkau tak dapat lari dari kenyataan. Engkau orang sesat, datuk sesat, hukum karma pasti mengejarmu, betapapun engkau baik terhadap kami. Hukum karma akan mengejar setiap manusia, semua perbuatan jahat akan menimbulkan akibat, buah daripada pohon perbuatan sendiri akan dipetik sendiri.... seperti juga kami berdua...., kami berdua mungkin lebih sesat daripada engkau, maka buahnya pun lebih pahit.... aahhh."

Kakek itu kini menangis terisak-isak.

"Kakek.... kenapa menggali hal-hal lampau....? Tidak, buah yang kita petik tidak begitu pahit.... engkau mati di tanganku, aku mati di tanganmu, kita menemukan kembali cinta kasih, di ambang maut.... kita mati dalam cinta.... alangkah bahagianya...."

Dengan napas terengah-engah nenek itu memeluk leher kakek itu dan mencium bibirnya.

Mereka berciuman seperti dua orang muda yang sedang diamuk asmara, berciuman mulut dengan mesra, sedangkan darah menetes-netes dari mulut mereka.

Kini Han Han berdiri melongo.

Kemarahan dan penasaran di hatinya lenyap tak berbekas seperti awan ditiup angin.

Ia terheran-heran dan memandang terbelalak, menyaingi sepasang mata Lulu yang sejak tadi terbelalak penuh kengerian.

Akan tetapi nenek itu sudah hampir putus napasnya, tidak kuat berciuman lama, dan ia terengah-engah, meletakkan kembali pipi kirinya di atas pundak Si Kakek, bibirnya merah sekali, merah terkena darah, darahnya sendiri dan darah kakek itu.

Bibirnya tersenyum, penuh kebahagiaan, penuh pasrah, seperti seorang bayi akan tidur di pangkuan ibunya.

"Moi-moi.... anak ini cucunya.... kita berikan saja kepadanya, ya?"

"Terserah, Koko.... terserah kepadamu. Lekas berikan.... aku sudah ingin sekali melayang pergi bersamamu, Koko...."

Kakek itu kini dengan tangan menggigil merogoh sakunya di sebelah dalam jubahnya, dan tangan kirinya mengeluarkan sebuah kitab dari saku bajunya, sedangkan tangan kanannya meraba-raba dan merogoh saku di balik baju Si Nenek, mengeluarkan sebuah kitab pula yang sama bentuk dan warnanya, kekuning-kuningan.

Ia menumpuk dua buah kitab itu di tangan kirinya lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh, namun lemah sekali.

"Dengar, anak yang bernama Sie Han.... dengarlah baik-baik, berlututlah...."

Suara yang lemah menggetar itu mempunyai wibawa yang luar biasa dan Han Han tak dapat membangkangnya.

Ia tahu bahwa saat kematian kakek dan nenek itu sudah dekat sekali, maka demi menghormat dua orang yang hendak mati, ia pun berlututlah.

Lulu yang tidak disuruh berlutut, namun juga dapat merasakan suasana penuh kengerian dan ketegangan ini, merangkap kedua tangan di depan dada, penuh hormat dan takut-takut.

Dengan tangan gemetar, kakek itu mengangsurkan tangan kirinya yang memegangi dua buah kitab kuning.

"Kau terimalah ini.... kau simpan baik-baik dalam bajumu. Lekas.... jangan bertanya, simpan dulu, nanti kuberi penjelasan...."

Han Han tidak diberi kesempatan membantah dan seperti ada sesuatu yang menggerakkan hatinya anak ini menerima sepasang kitab yang kecil itu, langsung ia masukkan ke balik bajunya.

"Dekatkan telingamu...."

Han Han menggeser lututnya, mendekat dan mendengar mulut kakek itu berbisik lirih di dekat telinganya.

"Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun...."

"Sudah mengertikah engkau?"

Han Hen mengangguk dan mencatat pesan itu di dalam hatinya, sungguhpun ia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.

"Simpan kitab-kitab itu dan kalau kelak kau dapat bertemu dengan Jai-hwa-sian, berikan kepadanya berikut pesan yang kubisikkan tadi. Berjanjilah sebagai seorang jantan untuk memenuhi pesan kami berdua, pesan dua orang yang mau mati."

Kembali Han Han penasaran. Tidak percayakah kakek ini kepadanya? "Aku berjanji, locianpwe."

Kakek itu menarik napas panjang, agaknya hatinya menjadi lega.

Keadaannya sudah makin lemah terutama nenek itu yang kini benar-benar sudah seperti orang tertidur pulas.

Kakek itu mengerahkah tenaga, mengembangkan dada, lalu berkata, suaranya tidak selemah tadi, penuh semangat.

"Sie Han, dengarkan baik-baik, tiada banyak waktuku. Ketahuilah, kami berdua yang dikenal sebagai Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Tidak ada datuk persilatan yang tidak mengenal kami berdua. Kami datang dari utara, menjagoi di empat penjuru. Aku Can Ji Kun bukan sombong, mungkin aku sendiri atau sumoiku Ok Yan Hwa ini masih dapat ditandingi orang, akan tetapi kalau kami berdua bergabung menjadi satu, aku Si Iblis Jantan dan dia ini Si Iblis Betina, tidak akan ada orang yang mampu mengalahkan kami...."

"Juga Koai-lojin tidak mampu....?"

Untuk terakhir kalinya kakek yang bernama Can Ji Kun itu terbelalak heran.

"Engkau tahu pula akan Koai-lojin?"

"Hanya mendengar penuturan orang lain. Akan tetapi aku memang bermaksud hendak mencari Koai-lojin,"

Jawab Han Han sederhana dan sejujurnya.

"Engkau memang anak yang aneh, dan aku makin percaya bahwa kakekmulah Jai-hwa-sian itu. Kulanjutkan penuturanku selagi aku masih kuat bicara. Kami suheng dan sumoi, seperti engkau saksikan sendiri, saling mencinta dan kelihatannya rukun dan saling membela, saling membantu, saling melindungi. Sayang sekali, kenyataannya selama puluhan tahun tidaklah demikian. Kami tidak bisa menjadi suami isteri, tidak bisa menikah karena sumpah kami di depan guru kami...."

"Sumpah apakah, locianpwe?"

Han Han bertanya, tertarik hatinya.

Juga Lulu yang masih berdiri di belakang Han Han, mendengarkannya dengan hati tertarik dan berkurang rasa ngerinya.

Keadaan yang bagaimana mengerikan sekalipun akan kalah oleh biasa, lama-kelamaan hati akan terbiasa juga.

"Guru kami menyumpah bahwa murid-muridnya tidak boleh menikah, kalau dilanggar harus ditebus nyawa...."

"Iihhh...., kejam....."

Seru Lulu.

"Karena itu, biarpun saling mencinta, kami berdua tidak dapat mengikat tali perjodohan. Hal ini membangkitkan semacam kedukaan, kekecewaan dan akhirnya berubah menjadi kebencian. Kami lalu mulai mengumbar nafsu kebencian ini, kami saling berlomba berebut untuk membunuh-bunuhi orang yang dianggap jahat. Kami tidak pandang bulu, dan karena itulah kami dikenal sebagai Sepasang Pedang Iblis yang telengas. Dusun ini adalah sarang berandal, dahulu, puluhan tahun yang lalu kami berdua hampir celaka oleh kecurangan perampok-perampok ini, untung ada Jai-hwa-sian yang menolong kami. Karena itu, hari ini kami yang kebetulan mendapatkan sarang mereka, datang membasmi mereka. Akan tetapi, kembali kami saling berlomba dan akhirnya kami tidak hanya bersaing, melainkan saling serang sehingga akhirnya.... engkau lihat sendiri akibatnya...."

Suara kakek itu mulai lemah. Nenek itu membuka mata dan berkata, suaranya seperti orang berbisik.

"Memang, jodoh antara kira harus ditebus dengan nyawa, Koko.... dan aku.... aku girang sekali.... aku bahagia...."

Kakek itu mencium kening nenek itu.

"Sie Han.... Thian (Tuhan) telah mengirim engkau sebagai ahli waris kami.... kalau engkau tidak dapat menemukan Jai-hwa-sian, sepasang kitab itu kuberikan kepadamu.... engkau.... engkau mulai saat ini menjadi murid kami, dan aku girang mempunyai murid seperti engkau...."

Han Han yang tahu bahwa dua orang itu takkan bebas dari kematian, tidak mau mengecewakan mereka.

Gurunya sudah banyak.

Lauw-pangcu, Ma-bin Lo-mo dan yang terakhir Toat-beng Ciu-sian-li.

Sekarang ditambah lagi dengan Sepasang Pedang Iblis ini, tidak mengapalah.

Ia lalu menelungkup sebagai penghormatan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Teecu (murid) menghaturkan terima kasih kepada suhu dan subo (Ibu Guru)."

Akan tetapi kakek itu sudah tidak mempedulikannya karena kini ia mengalihkan perhatiannya kepada nenek itu.

Mereka kembali saling rangkul, saling mencium dan....

mereka menghembuskan napas terakhir dalam keadaan seperti bersandar pada meja batu dan kalau saja tidak ada sepasang pedang yang menancap dan menembus tubuh mereka, tentu mereka itu disangka sebagai dua orang yang sedang tenggelam dalam permainan cinta.

"Suhu...., Subo....."

Han Han mengguncang-guncangkan tubuh mereka, seperti orang hendak membangunkan dua orang dari tidur nyenyak.

Namun mereka berdua itu tidak akan bangun lagi dan guncangan tubuh mereka itu membuat rangkulan terlepas dan tubuh mereka terguling, satu ke kanan satu ke kiri.

"Me.... mereka.... sudah mati.... oohhh....."

Lulu menahan isaknya, merasa ngeri kembali karena baru sekarang selama hidupnya ia melihat orang menghembuskan napas terakhir.

"Aku harus mengubur mereka...."

"Hayo kita pergi. Han-ko...., aku takut sekali...."

"Nanti dulu, Lulu. Aku harus mengubur jenazah mereka. Mereka ini adalah suhu dan subo. Aku tidak mau menjadi seorang murid yang tidak mengenal budi. Tunggulah sebentar"

"Kalau begitu, mari kubantu engkau, Han-ko."

Dua orang anak itu lalu bekerja keras mengggali sebuah lubang di bawah pohon dalam taman itu.

Untung bahwa Han Han memiliki tenaga besar yang tidak disadarinya, sehingga dalam waktu beberapa jam, setelah matahari naik tinggi, tergalilah sebuah lubang cukup besar.

Lulu juga membantunya, mempergunakan dua buah cangkul yang mereka temukan di dusun yang sudah terbakar itu.

"Pedang-pedang itu bagus sekali."

Bisik Lulu. Han Han menggeleng kepala.

"Untuk apa pedang bagi kita, Moi-moi? Pedang itu adalah pedang mereka dan agaknya mereka itu senang sekali terbunuh dengan pedang masing-masing. Biarlah kita mengubur mereka berikut pedang-pedangnya."

Lulu tidak berani membantu ketika Han Han mengangkat tubuh dua orang tua itu, satu demi satu, ke dalam lubang.

Akan tetapi ia membantu dengan rajin ketika Han Han menguruk lubang itu dengan tanah galian.

Selesailah penguburan sederhana itu, dan Han Han lalu berlutut memberi hormat untuk terakhir kalinya di depan makam suami isteri yang menjadi gurunya.

Lulu juga ikut-ikutan berlutut memberi hormat.

"Sekarang kita harus cepat pergi dari sini...."

Kata Han Han.

Sebetulnya Lulu telah lelah sekali bekerja setengah hari dan tidak makan, hanya minum air yang bisa mereka dapatkan di bekas dusun itu.

Akan tetapi karena ia merasa ngeri untuk berdiam lebih lama lagi di dusun yang penuh mayat bergelimpangan, ia merasa girang diajak pergi dan setengah berlari mereka keluar dari dusun yang terbasmi habis oleh keganasan sepasang manusia aneh itu.

Setelah agak jauh dari dusun itu, Han Han teringat bahwa keadaannya tadi amatlah berbahaya.

Puluhan mayat berada di dalam dusun yang terbakar habis, dan yang hidup hanyalah dia dan Lulu.

Bagaimana kalau sampai ada orang lain datang ke dusun itu?

Tentu dia dan Lulu akan disangka menjadi penyebab kejadian mengerikan itu.

Berpikir demikian, ia lalu memegang tangan Lulu dan diajaklah anak itu berlari.

"Aduh.... aduh.... perlahan-lahan, Koko.... kakiku sakit....."

Akan tetapi Han Han yang kini sadar akan bahaya yang mengancam mereka kalau sampai ada orang tahu, segera berjongkok dan berkata.

"Lekas, mari kugendong...."

Lulu sudah merasa lelah sekali, lelah karena semalam tidak tidur, ditambah tadi bekerja keras menggali kuburan, terutama sekali karena mengalami ketegangan hebat.

Maka giranglah hatinya ketika kakak angkatnya hendak menggendongnya.

Tanpa banyak cakap ia lalu merangkul leher Han Han dari belakang dan mengempit pinggang kakaknya dengan kedua kaki.

Han Han bangkit berdiri lalu lari secepatnya.

Tubuh Lulu yang hangat menempel tubuhnya membuat hatinya merasa girang sekali, merasa bahwa kini ada orang yang menyayangi, yang juga amat disayangnya dan yang harus ia lindungi.

Keluarganya sudah habis, dan kini semua rasa sayang terhadap keluarganya itu ia tumpahkan kepada diri Lulu.

Sambil merangkul kedua kaki adik angkatnya, ia berlari terus tanpa mengenal lelah.

Ia harus pergi sejauh mungkin dari bukit di mana terdapat dusun perampok yang terbasmi habis itu.

Sambil berlari, Han Han teringat akan semua peristiwa tadi.

Ia bingung dan terheran-heran.

Benarkah kakeknya adalah orang yang berjuluk Jai-hwa-sian itu?

Kalau benar, mengapa ayahnya atau ibunya tidak pernah bercerita tentang kakeknya?

Pernah ia bertanya tentang kakeknya, namun ayahnya hanya mengatakan bahwa kakeknya sudah pergi jauh tak diketahui tempatnya semenjak ayahnya masih kecil.

Yang ia ketahui hanya bahwa kakeknya itu bernama Sie Hoat.

Agaknya tidak mungkin kalau kakeknya itu adalah seorang sakti dan aneh seperti mendiang Can Ji Kun si Iblis Jantan, atau seperti Kang-thouw-kwi dan datuk-datuk lain.

Kalau kakeknya seorang sakti, sedikitnya tentu ayahnya seorang yang berkepandaian pula.

Akan tetapi ayahnya....

ah, hatinya kecewa sekali kalau ia teringat akan ayahnya.

Teringat akan segala peristiwa yang menimpa ayahnya.

Ayahnya memang tewas sebagai seorang gagah yang membela keluarga, akan tetapi seorang gagah yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kepandaian silat.

Ayahnya seorang lemah.

Mungkinkah ayahnya putera seorang sakti?

"Jai-hwa-sian, Dewa Pemetik Bunga"

Sudah banyak ia baca, dan ia tahu apa artinya seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu seorang penjahat cabul yang suka memperkosa wanita.

Biarpun sakti dan berilmu tinggi, akan tetapi jahat.

Dan dia menjadi cucu seorang penjahat cabul?

Ah, tak mungkin.

Dan ia tidak sudi.

Tentu hanya kesalahan tafsir belaka.

Bukan.

Dia bukan cucu Jai-hwa-sian.

Akan tetapi, dia harus memenuhi permintaan Sepasang Pedang Iblis tadi yang telah menjadi gurunya, dia harus mencari Jai-hwa-sian dan menyerahkan sepasang kitab ilmu pedang itu.

Apa pula rahasianya?

Han Han memiliki daya ingatan yang amat kuat.

Ketika ia mengenangnya kembali, terngiang di telinganya bisikan Can Ji Kun si Iblis Jantan.

"Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun."

Dia tidak tahu apa artinya ucapan itu, akan tetapi dia harus menghafalnya dan tak boleh melupakannya, karena ucapan rahasia itu harus disampaikan pula kepada Jai-hwa-sian bersama sepasang kitab ilmu pedang.

Akan tetapi ke mana ia harus mencari Jai-hwa-sian?

Dan ke mana ia harus pergi?

Suhunya yang ke dua, Ma-bin Lo-mo tentu akan mencarinya dan kalau ia sampai ditangkap, celakalah.

Dia harus pergi jauh, bersama Lulu.

Ke mana?

Ke kota raja.

Dengan keputusan hati ini, Han Han melanjutkan larinya.

Tanpa ia sadari kedua kakinya sudah lelah sekali.

Hanya berkat kemauannya yang keras luar biasa maka ia dapat berlari terus sampai menjelang senja di mana ia tiba di pinggir sebuah sungai yang airnya jernih.

Melihat air gemilang inilah yang membuat lemas seluruh persendian tulangnya.

Sekali ia melihat air dan merasa haus, terasalah seluruh kebutuhan jasmaninya.

Haus, lapar, lelah.

Kakinya tersandung batu dan ia jatuh terguling.

Akan tetapi karena teringat kepada Lulu, ia cepat memutar tubuh dan menyambar tubuh adik angkatnya, membiarkan dirinya yang jatuh terbanting di bawah, sedangkan tubuh Lulu tidak sampai terbanting.

Bahu dan pundaknya terasa nyeri, akan tetapi ketika ia memandang Lulu yang dipeluknya, ia tertawa.

"Bocah malas! Enak saja kau, ya?"

Ia mengomel, akan tetapi yang diomelinya tidak menjawab sama sekali karena sejak tadi Lulu memang sudah tertidur pulas di atas punggung Han Han.

Demikian pulas tidurnya sampai dia tidak merasa bahwa dia hampir terbanting jatuh.

Melihat keadaan adiknya, hati Han Han diliputi penuh rasa sayang dan kasihan.

Ia lalu merebahkan tubuh anak perempuan itu perlahan-lahan di atas rumput hijau tebal di pinggir sungai, kemudian ia turun ke sungai, mandi dan minum sampai kenyang.

Setelah itu, ia kembali ke bawah pohon di mana Lulu masih tertidur nyenyak.

Ia lalu menanggalkan bajunya dan diselimutkan pada tubuh Lulu karena ia melihat betapa anak itu dalam tidurnya agak menggigil, menarik kedua kakinya sampai lutut menempel ke dada tanda kedinginan.

"Kasihan...."

Bisiknya penuh kasih sayang.

Aku harus mencarikan makanan untuknya.

Akan tetapi pada saat Han Han berdiri dan membalikkan tubuh hendak mencari makan, hampir ia menjerit saking kaget dan cemasnya.

Ternyata, tanpa dapat didengarnya sama sekali, di situ telah berdiri Ma-bin Lo-mo.

Bukan hanya kakek muka kuda itu sendiri yang datang, melainkan berempat, yaitu ada tiga orang lain lagi yang berdiri seperti arca dengan pandangan mata tak acuh kepada Han Han.

Seorang adalah laki-laki gundul seperti hwesio, ke dua seorang laki-laki bermuka tengkorak saking kurusnya, dan yang ke tiga seorang laki-laki bermuka bopeng, penuh totol-totol hitam.

Usia mereka itu rata-rata lima puluhan tahun, dengan sikap dingin yang menyeramkan.

Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri memandang kepada Han Han dengan muka bengis Han Han bukan seorang penakut.

Sama sekali tidak.

Rasa takut seakan-akan telah terhapus dari hatinya bersama dengan terbasminya keluarganya.

Dan ia memiliki rasa tanggung jawab yang tercipta daripada pengetahuannya tentang filsafat.

Ia cerdik pula, kecerdikan yang timbul dari keadaan tidak wajar setelah ia hampir mati disiksa para perwira di rumahnya yang terbasmi dahulu.

Kini ia pun cepat menggunakan pikirannya, tahu bahwa ia tak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan gurunya yang amat lihai ini.

Tahu pula bahwa tiada gunanya melawan atau mencoba untuk melarikan diri.

Nasibnya sudah pasti.

Akan tetapi dia tidak mau kalau sampai Lulu terbawa-bawa mengalami ben cana.

Oleh karena itu, cepat pikirannya bekerja dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ma-bin Lo-mo.

"Suhu."

"Hemmm, murid durhaka. Engkau sadar akan dosamu?"

"Teecu sadar dan teecu tidak menyangkal. Teecu telah melarikan diri dari In-kok-san karena teecu ingin bebas."

Dia tidak mau menyebut terus terang bahwa kepergiannya itu terutama sekali karena ia tidak mau berpisah dari Lulu.

"Karena itu, harap suhu suka menjalankan hukuman. Teecu menyerahkah sebelah kaki teecu, akan tetapi setelah hukuman terlaksana, harap Adik angkat teecu ini tidak diganggu dan biarkan teecu bersama dia."

Setelah berkata demikian, Han Han mengubah duduknya, tidak berlutut melainkan duduk dan melonjorkan kedua kakinya untuk dipilih suhunya, mana yang akan dibikin buntung.

Diam-diam Ma-bin Lo-mo kagum bukan main.

Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan seorang bocah yang memiliki ketabahan dan kekerasan hati seperti ini.

Menyerahkan kaki begitu saja untuk dihukum potong tanpa sedikit pun memperlihatkan hati takut atau gentar, bahkan penyesalan pun tidak, minta maaf pun tidak, melainkan berani bertanggung jawab sepenuhnya.

"Enak saja kau bicara"

Karena Sian-kouw yang langsung mengajarmu, dia pula yang berhak menghukummu.

Dan bocah ini yang menjadi gara-gara, akan kuhukum sendiri, hukum penggal kepala di depanmu."

Kaget bukan main hati Han Han.

Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, maka ia lalu menoleh kepada Lulu.

Anak perempuan itu agaknya terjaga karena mendengar suara ribut-ribut, membuka matanya, mengucek-ucek mata kemudian memandang dengan sepasang mata lebar kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya.

Melihat Han Han duduk bersimpuh, ia seperti merasa bahwa ada hal-hal tidak beres.

Cepat ia menubruk kakaknya dan berkata.

"Koko...., ada apa....? Siapakah orang-orang jahat ini"

"Ssttt, diamlah Moi-moi. Beliau ini adalah guruku dan karena aku sudah bersalah meninggalkan perguruan, kakiku yang harus dihukum potong. Akan tetapi tidak mengapa asal kita tidak saling berpisah...."

"Kakimu dipotong....? Tidak....! Tidak boleh. Wah, kau manusia jahat. Tidak boleh mengganggu Kakakku, Pergi.... pergi....."

Lulu yang biasanya penakut itu, mendadak saja menjadi beringas dan galak seperti seekor anak harimau, berdiri menentang Ma-bin Lo-mo dengan mata terbelalak marah.

"Moi-moi, ke sini....! Jangan begitu, aku melarangmu."

Han Han berkata, maklum betapa berbahayanya sikap Lulu itu.

"Tidak, sekali ini aku tidak mau menurutmu, Koko. Aku harus menentang niat keji manusia-manusia jahat ini, Enak saja, masa kaki mau dipotong? Tidak boleh, hayo kalian pergi, kakek-kakek jahat."

Lulu masih berdiri dengen sikap menantang dan matanya yang lebar itu seolah-olah mengeluarkan api yang hendak membakar Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya.

Ma-bin Lo-mo memandang Lulu dengan alis berkerut.

"Eh, bocah, kau siapakah? Mengapa kau membela muridku yang durhaka ini?"

"Namaku Lulu dan aku telah menjadi adiknya, kakakku Han Han. Tentu saja aku membelanya."

"Lulu namamu?"

Ma-bin Lo-mo menggerakkan lengannya dan tahu-tahu ia sudah menyambar baju di punggung anak itu dan mengangkatnya.

Lulu meronta-ronta dengan mata terbelalak, bergidik ketakutan melihat muka yang seperti kuda itu begitu dekat, mata yang bersinar aneh itu menelitinya.

"Hemmm, namamu Lulu dan mukamu seperti ini, matamu.... hemmm, kau anak Mancu, ya?"

Biarpun mulai ketakutan, namun Lulu masih marah.

"Bukan, suhu.... bukan....."

Han Han berteriak, mukanya pucat dan ia mengkhawatirkan keselamatan adik angkatnya itu.

Akan tetapi alangkah kaget dan gelisahnya ketika ia mendengar Lulu menjawab nyaring.

"Benar! Ayahku perwira Mancu dan keluargaku dibasmi orang-orang jahat seperti engkau ini. Lepaskan aku, Lepaskan."

"Ngekkk."

Lulu dibanting dan anak itu pingsan seketika.

"Suhu! Jangan bunuh dia. Buntungkan kakiku, bunuhlah aku, akan tetapi jangan bunuh dia."

Han Han berteriak-teriak sambil meloncat maju hendak menolong Lulu yang disangkanya mati.

Sebuah tendangan membuat tubuh Han Han terguling.

Ma-bin Lo-mo memandangnya dengan mata melotot marah.

"Bocah setan, Murid durhaka. Engkau bersahabat malah mengangkat saudara dengan anak seorang perwira Mancu? Keparat, Tak tahu malu. Seharusnya kuhancurkan kepalamu sekarang juga kalau engkau bukan sudah menjadi murid Sian-kouw. Biar Sian-kouw yang akan menghukum dan menyiksamu. Dan bocah Mancu ini...."

Ma-bin Lo-mo mengangkat tangan ke atas hendak memukul tubuh Lulu yang sudah pingsan tak bergerak itu.

"Suhu, jangan....."

Tiba-tiba terdapat perubahan pada wajah Ma-bin Lo-mo. Ia menyeringai dan mengangguk-angguk.

"Hemmm...., bagus sekali. Dia anak seorang perwira Mancu, ya? Bagus. Bisa dipakai untuk mengundurkan orang-orang Mancu yang menjadi saingan mencari pulau...."

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan cepat sekali tangannya bergerak dan ia sudah menotok Han Han.

Kemudian ia memberi isyarat kepada tiga orang kawannya.

Laki-laki muka tengkorak lalu menyambar tubuh Lulu yang sudah lemas dan dikempitnya.

Adapun laki-laki yang mukanya bopeng dan bertotol-totol hitam itu lalu menyambar tubuh Han Han yang tak mampu bergerak, juga dikempitnya.

Kemudian mereka berempat lalu lari cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Kiranya tak jauh dari situ terdapat sebuah perahu yang diikat di pinggir sungai.

Mereka melompat ke dalam perahu dan setelah mendayung perahu ke tengah dan layar dipasang, meluncurlah perahu itu, menuju ke laut.

Han Han dan Lulu diikat kaki tangannya lalu dilemparkan ke dek perahu, kemudian totokannya dibebaskan.

Lulu juga sudah siuman dan mengeluh.

Ketika melihat, bahwa dia terbelenggu dan terlentang di atas dek perahu, Lulu cepat memandang ke arah kaki Han Han yang juga terbelenggu di sampinnya.

Anak ini menarik napas lega dan berbisik.

"Han-ko.... syukur kakimu masih utuh...."

Anak ini terisak.

"Diamlah Lulu. Jangan menangis..."

"Aku.... aku.... takut, Koko."

"Jangan putus harapan. Selama nyawa kita masih ada, tidak perlu kita putus harapan."

"Tapi.... mereka jahat sekali...."

"Hushhh, diamlah...."

Mereka itu seperti dua ekor kelinci muda yang akan disembelih.

Hanya mata mereka saja yang dapat bergerak memandangi empat orang itu yang duduk di tengah perahu.

Si Muka Bopeng mengemudikan perahu dan yang tiga lainnya duduk diam tak bergerak.

Kemudian Ma-bin Lo-mo yang duduknya paling dekat dengan kedua orang anak itu, memandang Han Han dan menghela napas panjang seperti orang menyesal sekali.

Mulutnya mengomel.

"Murid murtad...., Murid durhaka....."

Han Han tidak putus harapan.

Kalau gurunya itu hendak membunuh Lulu, tentu dilakukannya sejak tadi.

Dengan menawan mereka berdua, hal itu menyatakan bahwa untuk sementara ini mereka berdua selamat, tidak akan terbunuh, dan tentu masih dibutuhkan.

Dia tidak takut menghadapi hukuman potong kaki, yang dikhawatirkan adalah keselamatan Lulu yang kini telah dikenal sebagai puteri seorang perwira Mancu.

"Suhu, murid sudah mengaku berdosa dan siap menerima hukuman. Akan tetapi Lulu ini sama sekali tidak berdosa, harap suhu mengampuni anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini."

"Cerewet! Engkau akan menerima hukuman dari Sian-kouw sendiri, adapun bocah Mancu itu, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, akan kupenggal di depan matamu."

"Suhu....."

"Diam! Kau murid murtad, pengkhiahat yang berkawan dengan musuh. Membuka mulut lagi, akan kutampar mulutmu sampai rusak."

Han Han tidak bodoh, dan tidak mau lagi membuka mulut.

Ma-bin Lo-mo segera bercakap-cakap sambil berbisik-bisik dengan tiga orang kawannya, tidak mempedulikan lagi kepada Han Han dan Lulu.

"Han-ko,"

Lulu berbisik.

"Dia itu kejam dan jahat, mengapa engkau berguru kepada seorang seperti dia?" (Lanjut ke

Jilid 09) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Hushhh, diamlah, Lulu. Dia sakti sekali, maka aku berguru kepadanya."

Perahu kecil itu meluncur cepat sekali dan menjelang malam perahu masuk ke lautan dan mulailah pelayaran itu amat sengsara bagi Han Han dan Lulu.

Perahu diombang-ambingkan ombak laut dan kedua orang anak yang tidak biasa naik perahu di laut itu menjadi mabuk laut.

Han Han yang telah memiliki sin-kang yang amat kuat, dapat menahan rasa mabuk itu dan tidak terlalu pening, akan tetapi sungguh kasihan sekali keadaan Lulu.

Bocah ini menjadi pening, mukanya pucat sekali dan ia muntah-muntah.

Karena tangan kedua orang anak itu dibelunggu ke belakang, maka Han Han tidak dapat menolongnya dan Lulu sendiri terpaksa hanya dapat memutar tubuhnya, rebah miring sehingga muntahannya tidak mengotorkan pakaian.

"Suhu....! Harap tolong membebaskan belenggu tangan Adikku lebih dulu.... Dia...., Dia sakit."

Ma-bin Lo-mo hanya menengok, lalu memberi isyarat kepada Si Kepala Gundul yang bangkit berdiri menghampiri Lulu.

Tangannya bergerak cepat menotok pundak Lulu yang segera menjadi lemas dan....

tertidur.

Karena tertidur ini maka anak itu tertolong, tidak begitu menderita lagi dan tidak lagi mabuk-mabuk.

Han Han bersyukur akan tetapi juga kagum.

Kiranya tiga orang kawan gurunya itu pun bukan orang-orang sembarangan dan tentu memiliki kepandaian yang amat lihai.

Malam itu mereka berdua diberi makan dan minum dan untuk keperluan ini mereka dibebaskan sebentar.

Setelah makan dan minum, mereka disuruh tidur di dekat dek perahu dengan kedua tangan masih dibelenggu ke belakang dengan tubuh mereka, akan tetapi kaki mereka bebas.

Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Han dan Lulu sama sekali tidak dapat tidur pulas.

Lulu mulai menangis, akan tetapi dihibur oleh Han Han yang tetap bersemangat tinggi dan berhati besar.

"Lihat, alangkah indahnya pemandangannya, Adikku. Lihat itu di langit, bintang-bintang bertaburan seperti intan berlian. Dan laut amat tenangnya, seolah-olah kita tidak bergerak, ya? Padahal lihat layarnya berkembang dan perahu ini sebetulnya maju cepat sekali."

Lulu terhibur dan setelah melihat ke kanan kiri yang adanya hanya air yang tertimpa sinar bintang-bintang yang suram, ia bertanya.

"Kita ini.... dibawa ke mana, Koko?"

"Entahlah, akan tetapi kalau tidak salah, suhu dan teman-temannya itu sedang mencari sebuah pulau. Pernah aku mendengar para suheng dan suci bercerita tentang Pulau Es."

"Pulau Es? Di mana itu? Mau apa ke sana?"

Lulu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Aku sendiri pun tidak tahu. Aku selalu berada di sampingmu, bukan? Selama aku di sampingmu, tidak usah kau takut. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku."

"Koko....."

Lulu menangis.

"Eh, malah menangis. Ada apa?"

"Koko, mengapa kau begini baik kepadaku?"

Suara Lulu terisak-isak.

"Aihhh, aneh benar pertanyaanmu. Kau kan Adikku, tentu saja aku baik kepadamu. Di dunia ini aku hanya mempunyai kau, dan kau hanya mempunyai aku."

"Han-ko....."

Lulu kembali menangis dan anak ini lalu menggeser tubuhnya, merebahkan kepalanya di dada kakak angkatnya itu.

Dalam keadaan seperti ini, akhirnya kedua orang anak itu tertidur.

Perahu kecil itu melakukan pelayaran selama tiga hari tiga malam.

cepat sekali karena di waktu angin berkurang, mereka berempat menggunakan dayung dan karena mereka berempat merupakan orang-orang sakti yang memiliki sin-kang kuat sekali, biarpun hanya didayung, perahu itu meluncur amat cepatnya.

Tujuan perahu itu adalah ke arah utara.

Kalau air laut sedang tenang, Han Han dan Lulu tidak amat menderita, akan tetapi apabila perahu dipermainkan gelombang besar, mereka menderita sekali, terutama Lulu.

Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali matahari mulai muncul di permukaan air sebelah timur, Si Muka Bopeng tiba-tiba berseru kaget.

"Perahu di sebelah depan."

Mereka semua memandang, termasuk Han Han dan Lulu.

Benar saja, di sebelah depan tampak sebuah perahu yang mengembangkan layarnya, perahu yang bercat hitam, juga layarnya berwarna hitam.

Ma-bin Lo-mo memandang ke utara, ke arah perahu itu dan melindungi matanya dari sinar matahari dari kanan.

Pandang matanya tajam sekali, lebih tajam daripada kawan-kawannya dan setelah memandang dengan pengerahan tenaga sakti pada kedua matanya, ia berkata.

"Perahu itu bukan perahu pemerintah Mancu. Selain tidak begitu besar, juga kulihat tidak ada tentara di atas perahu, hanya ada belasan orang. Juga bukan perahu nelayan, agaknya perahu orang-orang kang-ouw yang akan menjadi saingan kita. Kejar. Kita harus basmi mereka, lebih sedikit saingan lebih baik."

Layar tambahan dipasang, Si Muka Bopeng memegang kemudi dan tiga orang sakti itu masih menambah kelajuan perahu dengan gerakan dayung mereka.

Perahu kecil ini meluncur cepat sekali melakukan pengejaran terhadap perahu yang berada di depan.

Tak lama kemudian perahu itu dapat disusul dan agaknya perahu yang berada di depan juga melihat adanya perahu kecil yang menyusul mereka, dan para penumpangnya agaknya tidak merasa takut, buktinya perahu itu tidak melarikan diri, bahkan seolah-olah menanti datangnya perahu kecil yang mengejar.

Akhirnya perahu itu berdekatan, dengan jarak hanya beberapa meter.

Kini tampak jelas kebenaran ucapan Ma-bin Lo-mo tadi.

Perahu itu bukan perahu pemerintah, juga bukan perahu nelayan.

Yang berada di atas perahu itu adalah tiga belas orang, yang sebelas pria yang dua wanita.

Kedua orang wanita itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, cantik dan gagah.

Sebelas orang pria itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun.

Yang amat mencolok adalah pakaian mereka yang dasarnya berwarna hitam dan mereka semua membawa golok yang tergantung di pinggang dan tampaknya sikap mereka gagah.

Han Han memandang dengan hati tegang.

Ia maklum bahwa akan terjadi hal yang mengerikan.

Ketika ia menoleh ke arah Ma-bin Lo-mo, ia melihat Iblis Muka Kuda itu duduk bersila dan memandang ke arah perahu itu dengan pandang mata dingin dan sikap tak acuh.

Si Hwesio dan Si Muka Bopeng juga memandang penuh perhatian, sedangkan orang yang bermuka tengkorak segera berkata lirih kepada Ma-bin Lo-mo.

"Mereka adalah orang-orang dari Hek-liong-pang (PerkumpuJan Naga Hitam)."

"Sikat saja, habiskah mereka."

Kata Ma-bin Lo-mo dengan suara dingin sehingga Han Han yang maklum maksudnya menjadi ngeri.

Lulu hanya memandang dengan mata terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi.

"Akan tetapi, Siangkoan-locianpwe mereka itu adalah orang segolongan.."

Si Muka Tengkorak berkata dengan muka berubah, ragu-ragu dan khawatir. Ma-bin Lo-mo memandang kawannya ini dengan sinar marah.

"Orang she Swi, kau ini pembantu macam apa? Kita sudah berjanji, kalian bertiga yang sudah biasa dengan pelayaran dan tahu jalan, menjadi pembantu-pembantuku dan jika berhasil perjalanan ini, kalian akan kuberi masing-masing se

Jilid kitab ciptaanku mengenai ilmu silat tinggi.

Syaratnya kalian harus menurut dan melaksanakan semua perintahku.

Sian-kouw yang memilih kalian.

Apakah kini engkau hendak membantah?

Apakah kau takut menghadapi tikus-tikus itu?"

"Tidak.. tidak takut. hanya."

"Cukup! Hadapi mereka, dan sampaikan pesanku agar mereka tiga belas orang itu cepat meloncat ke laut karena perahu mereka akan aku tenggelamkan. Dengan demikian, kita tidak membunuh mereka, hanya merusak perahunya."

Han Han bergidik.

Gurunya ini benar-benar kejam sekali.

Kalau tiga belas orang itu dipaksa meninggalkan perahu dan meloncat ke laut, apa bedanya dengan membunuh mereka?

Mereka berada di laut bebas, tidak tampak dara tan, mana mungkin mereka dapat berenang menyelamatkan diri?

Kalau tidak mati tenggelam tentu akan mati di perut ikan.

Sementara itu, tiga belas orang di atas perahu hitam itu agaknya sudah mengenal Si Muka Tengkorak.

Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia empat puluh tahun dan berjenggot panjang, segera mengangkat tangan menjura ke arah Si Muka Tengkorak sambil berkata nyaring.

"Ah, kiranya Swi Coan Lo-enghiong yang membalapkan perahu mengejar kami? Harap Lo-enghiong menerima salam hormat kami yang melakukan perintah ketua kami melakukan pelayaran ini."

"Cu-wi (Tuan Sekalian) melaksanakan perintah apa maka berlayar sampai disini?"

Suara Si Muka Tengkorak terdengar dingin. Pimpinan orang-orang Hek-liong-pang itu mengerutkan alisnya yang tebal.

"Kami menerima tugas rahasia dari Pangcu (Ketua) kami dan bukanlah hak kami untuk menceritakannya kepada siapa juga. Kalau Lo-enghiong ingin mengetahui, hendaknya Lo-enghiong bertanya kepada Pangcu kami sendiri."

"Bukankah kalian disuruh mencari Pulau Es? Berarti kalian menyaingi kami"

Si Muka Tengkorak bertanya, suaranya marah karena biarpun di hatinya ia tidak setuju akan perintah Ma-bin Lo-mo, namun untuk melaksanakan perintah ini ia harus mencari alasan.

Pimpinan rombongan Hek-liong-pang yang berjenggot panjang itu tersenyum dan berkata.

"Mana mungkin kami dapat menang bersaing dengan Lo-enghiong? Kami hanya mengandalkan nasib baik Pangcu kami."

"Hemmm, kalian sudah berani mati menyaingi kami mencari Pulau Es, maka jangan sesalkan aku kalau harus mengambil kekerasaan terhadap kalian."

Tiga belas orang Hek-liong-pang itu mengeluarkan seruan marah.

Mereka semua mengenal Si Muka Tengkorak dan tahu akan kelihaiannya, akan tetapi karena selama ini Si Muka Tengkorak bersahabat dengan Pangcu mereka, sungguh mereka tidak menyangka bahwa orang tua itu akan memusuhi mereka.

"Swi Coan Lo-enghiong. Pulau Es adalah sebuah pulau yang bebas, bahkan pemerintah sendiri belum pernah menguasainya. Siapapun berhak untuk mencarinya. Kami melaksanakan perintah Pangcu kami, dan Lo-enghiong adalah seorang yang sudah mengenal baik Pangcu kami. Dalam usaha yang bebas ini, bagaimana Lo-enghiong mengatakan kami menyaingi dan Lo-enghiong hendak melarang kami? Harap Lo-enghiong suka ingat akan persahabatan Lo-enghiong dengan Pangcu kami."

"He-hemmm.."

Si Muka Tengkorak terbatuk-batuk dan menjadi agak kikuk juga.

Dia tidak takut kepada orang-orangHek-liong-pang ini, dan terhadap Pangcu mereka, dia hanya merupakan seorang kenalan saja.

Tentu saja ia merasa sungkan, akan tetapi dia pun sudah mengenal siapa Ma-bin Lo-mo dan melanggar janji terhadap kakek sakti ini berarti bunuh diri.

Maka ia lalu berkata.

"Kalian mentaati perintah, aku pun demikian. Tidak ada jalan lain, kalian harus meninggalkan perahu kalian, sekarang juga karena perahu kalian harus ditenggelamkan di sini."

Kembali seruan marah dan penasaran keluar dari tiga belas buah mulut dan wajah para rombongan Hek-liong-pang menjadi merah.

Si Jenggot Panjang yang tahu bahwa perintah itu merupakan perintah yang mengajak berkelahi, menyangka bahwa tentu diantara orang-orang yang berada di samping Swi Coan itu yang merupakan biang keladinya.

Akan tetapi dia tidak mengenal yang lain-lain dan melihat bahwa di situ terdapat dua orang anak dalam keadaan terbelenggu, dia mengerutkan keningnya dan bertanya.

"Kalau kami boleh bertanya, siapakah yang mengeluarkan perintah gila itu? Apakah Losuhu (sebutan untuk hwesio) itu?"

Si Muka Tengkorak Swi Coan tersenyum dan mukanya makin mengerikan karena seperti tengkorak yang dapat tertawa.

"Losuhu ini adalah sahabatku yang terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Kek Bu Hwesio seorang tokoh dari Kong-thong-pai."

Tiga belas orang anak buah Hek-liong-pang terkejut.

Nama Kek Bu Hwesio memang amat terkenal sebagai seorang tokoh yang menyeleweng dari Kong-thong-pai sehingga terusir dari perkumpulan silat yang besar itu.

Mereka semua maklum bahwa hwesio itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

"Adapun dia itu adalah Ouw Kian yang terkenal dengan julukan Ouw-bin-taihiap (Pendekar Besar Bermuka Hitam)."

Kembali tiga belas orang itu terkejut.

Dalam dunia kang-ouw nama Si Muka Bopeng ini sungguh tidak kalah oleh nama besar Kek Bu Hwesio atau bahkan Si Muka Tengkorak sendiri.

Ouw-bin-tai-hiap hanya julukannya saja taihiap (pendekar besar), akan tetapi sebetulnya memiliki cacat yang amat menyolok, yaitu merupakan seorang pendekar yang biarpun suka memusuhi orang-orang golongan liok-lim (perampok dan bajak) namun terkenal pula sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga alias tukang memperkosa wanita).

Tak mereka sangka bahwa Si Muka Tengkorak itu kini berkawan dengan orang-orang pandai itu.

"Hemmm, nama besar kedua orang Lo-enghiong ini pun sudah kami dengar sejak lama, namun sepanjang ingatan kami, belum pernah kami dari Hek-liong-pang bentrok dengan mereka. Mengapa mereka sekarang memusuhi kami?"

"Sama sekali tidak memusuhi."

Kata Si Muka Tengkorak Swi Coan.

"Seperti juga aku, kedua orang sahabatku ini pun hanya pembantu-pembantu yang mentaati perintah beliau ini."

Dia menuding ke arah Ma-bin Lo-mo yang masih duduk bersila sambil tidak menghiraukan mereka sama sekali, seperti orang mengantuk.

Kini tiga belas pasang mata memandang ke arah Ma-bin lo-mo dengan heran dan penuh rasa penasaran.

Kakek berpakaian hitam itu kelihatannya saja aneh, mukanya amat buruk dan lucu, seperti muka kuda.

Akan tetapi mereka belum pernah melihatnya sama sekali.

Tiga orang itu biarpun sakti, namun para anak buah Hek-liong-pang yang mengandalkan jumlah banyak masih tidak merasa gentar, apalagi terhadap kakek asing yang mukanya seperti kuda itu.

"Siapakah locianpwe ini?"

Tanya Si Jenggot Panjang menyebut locianpwe karena dapat menduga bahwa biarpun mereka belum mengenalnya, namun kakek yang memiliki tiga orang pembantu seperti tiga orang tokoh itu pastilah seorang yang amat tinggi kepandaiannya dan pastilah terkenal.

Swi Coan tersenyum lebar.

"Kalian ini orang-orang muda seperti tidak bermata dan tidak bertelinga, masa tidak mengenal Siangkoan-locianpwe dari In-kok-san?"

Si Jenggot Panjang dan para adik seperguruannya memandang dengan mata terbelalak penuh perhatian, namun mereka tidak juga dapat mengingat siapa adanya seorang sakti she Siangkoan yang berdiam di In-kok-san.

Akan tetapi seorang di antara dua wanita itu berkata lirih.

"Mukanya.. jangan-jangan dia.. Ma-bin Lo-mo.."

Tiga belas orang itu terkejut dan memandang makin terbelalak. Ma-bin Lo-mo menengok dan memandang tiga belas orang itu.

"Lihat baik-baik, bukankah mukaku seperti muka kuda? Aku memang Ma-bin Lo-mo. Hayo kalian lekas-lekas meloncat ke air dan hal ini hanya kulakukan mengingat kalian telah mengenal Swi Coan."

Tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu benar-benar kaget.

Mereka tidak pernah mengira akan berjumpa dengan seorang di antara datuk-datuk persilatan yang kabarnya sudah menyembunyikan diri itu, di antaranya adalah Si Muka Kuda ini.

Akan tetapi karena perintah gila itu sama artinya dengan membunuh diri, tentu saja mereka sedapat mungkin hendak membela diri.

"Maaf, Locianpwe. Terpaksa kami tidak dapat meninggalkan perahu, karena kami harus tunduk terhadap perintah Pangcu kami."

"Swi Coan, tidak lekas turun tangan menunggu apa lagi?"

Ma-bin Lo-mo membentak kepada tiga orang pembantunya.

"Kalian tidak lekas meloncat meninggalkan perahu?"

Teriak Si Muka Tengkorak sambil berjalan ke pinggir perahu, diikuti oleh dua orang temannya.

"Suhu! Kalau mereka disuruh meloncat ke air, bukankah hal itu sama saja dengan membunuh mereka? Mereka tidak bersalah, mengapa akan dibunuh?"

Han Han tidak dapat menahan kemarahannya lagi, berteriak nyaring.

"Tutup mulutmu, murid murtad."

Bentak Ma-bin Lo-mo marah.

Tentu saja tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang menjadi terheran-heran mendengar betapa anak laki-laki yang dibelenggu itu menyebut suhu kepada Ma-bin Lo-mo.

Murid sendiri dibelenggu seperti itu, apalagi terhadap orang lain.

Alangkah kejamnya Si Muka Kuda itu.

Akan tetapi karena mereka semua maklum bahwa kalau meloncat ke air tentu mati, Si Jenggot Panjang berkata.

"Sungguh mentakjubkan, Si murid lebih bijaksana daripada gurunya. Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah), karena kami adalah orang-orang yang menjunjung kegagahan dan sebagai anak buah Hek-liong-pang yang mentaati perintah Pangcu, juga sebagai orang-orang gagah yang tentu saja hendak mempertahankan nyawa, kami terpaksa akan membela diri dan tidak mau menurut perintah gila itu."

"Orang-orang muda yang keras kepala."

Teriak Ouw Kian si muka Bopeng dan mereka bertiga sudah meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu Hek-liong-pang itu.

Sebagai orang-orang yang lebih tinggi tingkatnya, tiga orang itu tidak mengeluarkan senjata mereka dan hendak memaksa tiga belas orang lawan mereka itu untuk dilempar ke laut.

Akan tetapi mereka kecelik.

Tiga belas orang itu adalah tokoh-tokoh pilihan dari Hek-liong-pang dan kini ketua mereka mengutus mereka melakukan pekerjaan yang amat penting, yaitu mencari Pulau Es.

Tentu saja ketua Hek-liong-pang tidak mau mengutus anak buah yang kepandaiannya rendah.

Begitu melihat tiga orang kakek yang lihai itu meloncat ke perahu mereka, tiga belas orang itu sudah siap mencabut golok masing-masing dan membentuk sebuah barisan melingkar, merupakan lingkaran yang kokoh kuat, barisan golok yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Begitu tiga orang kakek itu mendarat di perahu mereka, tiga belas orang yang membentuk lingkaran ini sudah bergerak, setengah berlari berputaran sehingga lingkaran itu bergerak-gerak dan tiga orang kakek berada di luar lingkaran.

Ketika tiga orang kakek itu sambil berteriak maju menyerang dengan kedua tangan mereka, hendak mencengkeram seorang lawan dan dilempar ke laut, mereka masing-masing bertemu, dengan tiga empat buah golok yang sekaligus menangkis dan membacok secara lihai sekali.

Mereka terkejut dan cepat mengelak dan hendak membalas dengan hantaman kilat.

Namun lingkaran itu bergerak dan mereka berhadapan dengan lain lawan sehingga mereka kembali harus mengubah posisi dan gerakan.

Ternyata barisan tiga belas golok ini lihai sekali dan dapat bekerja sama dengan baik, saling membantu dan saling melindungi.

Tiga orang kakek itu mulai berputaran mengelilingi lingkaran itu, melakukan segala usaha untuk menyerang, namun selalu tidak berhasil.

Andaikata tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu mau menyerang, tentu mereka bertiga akan dapat "memasuki"

Pertahanan mereka dan merobohkan seorang di antara mereka.

Akan tetapi, tiga belas orang itu tahu bahwa tingkat kepandaian lawan mereka jauh lebih tinggi maka mereka memusatkan perhatian dan tenaga mereka semata-mata untuk pertahanan sehingga kedudukan mereka kuat sekali.

Betapapun tiga orang kakek itu berusaha, selalu serangan mereka gagal, karena setiap serangan seorang diantara mereka berhadapan dengan tiga empat orang yang menangkisnya.

Setelah lewat dua puluh jurus belum juga tiga orang pembantunya merobohkan seorang pun di antara tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang, Ma-bin Lo-mo menjadi hilang sabar.

"Sialan"

Kalian menjadi pembantu-pembantuku namun tiada gunanya. Mundur semua."

Seruan ini segera diturut oleh tiga orang pembantunya yang meloncat kembali ke perahu kecil.

Sesungguhnya, kalau mereka itu mau mencabut, senjata masing-masing dan mengeluarkan seluruh kepandaian, agaknya mereka akan berhasil.

Namun mereka memang setengah hati dalam pertandingan itu, masih agak segan mengingat bahwa Hek-liong-pang bukanlah musuh dan bahkan masih terhitung segolongan.

Ketua Hek-liong-pang yang bernama Ciok Ceng, berjuluk Hek-hai-liong (Naga Laut Hitam) adalah seorang bajak laut dan juga bajak sungai yang terkenal sekali, dan terkenal sebagai bajak yang hanya mau membajak perahu-perahu saudagar dan pembesar, tidak pernah mengganggu rakyat atau nelayan, dan juga tidak pernah memusuhi orang-orang kang-ouw.

Kini terdengarlah lengking tinggi yang menyeramkan dan tubuh Ma-bin Lo-mo yang tadinya masih duduk bersila, tahu-tahu mencelat ke arah perahu Hek-liong-pang itu dengan gerakan yang cepat sekali.

Tiga belas orang itu terkejut melihat tubuh kakek muka kuda itu tahu-tahu sudah menyambar ke arah mereka dan barisan itu cepat bersiap-siap dengan golok melintang di dada.

Akan tetapi mereka menjadi makin terkejut karena kakek itu begitu menotolkan kedua kaki di perahu mereka, perahu itu terguncang keras sehingga kuda-kuda kaki mereka pun menjadi kacau.

Dan pada saat itu Ma-bin Lo-mo melakukan gerakan meloncat seperti terbang mengelilingi mereka dengan kedua lengannya bergerak-gerakseperti mendorong.

Terdengar pekik-pekik mengerikan dan dalam sekejap mata saja terdengar golok terlepas dari tangan, berjatuhan di lantai perahu berkerontangan disusul robohnya tubuh mereka.

Tiga belas orang itu roboh malang-melintang dan menggeliat-liat dengan wajah berubah, mula-mula pucat, kemudian makin lama menjadi biru dan tubuh mereka yang menggeliat-geliat itu menggigil kedinginan.

Mereka itu telah menjadi korban pukulan Swat-im Sin-ciang dan akibatnya benar-benar mengerikan sekali.

Mereka itu mati tidak hidup pun tidak, melainkan tersiksa oleh rasa nyeri yang diakibatkan oleh hawa dingin yang seolah-olah membuat isi dada mereka membeku.

"Hemmm, kalian memang sudah bosan hidup."

Kata Ma-bin Lo-mo, kemudian kakek sakti ini menyambar sebatang golok musuh yang berserakan di lantai perahu, dan dengan senjata ini ia meloncat ke kepala perahu, membacok beberapa kali ke lantai dan pecahlah dasar perahu sehingga air mulai menyemprot masuk"

Setelah melempar golok itu ke air, ia lalu melompat dengan enaknya ke perahu sendiri.

Empat orang kakek itu berdiri di perahu mereka, memandang perahu hitam yang mulai tenggelam, membawa tiga belas orang yang menggeliat-geliat dalam sekarat.

"Ohhh.. kejam sekali.. aahhh, Koko, aku takut.."

Lulu berkata lirih dan mulai menangis.

Han Han hanya menggigit bibir dan diam-diam membuat perbandingan antara kakek yang menjadi gurunya ini dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sukar ia menentukan siapa di antara kedua orang itu yang lebih kejam hatinya.

Memang mereka memiliki "pegangan"

Yang berbeda, yaitu kalau Kang-thouw-kwi Gak Liat merupakan seorang yang mau tunduk kepada kerajaan Mancu, sedangkan Si Muka Kuda ini menjadi seorang penentang bangsa Mancu, namun baginya, kedua orang itu merupakan orang-orang yang memiliki pribadi yang amat mengerikan, memiliki watak kejam yang mudah saja membunuhi orang lain seperti orang membunuh semut saja.

Ketika perahu Hek-liong-pang itu tenggelam, Han Han membuang muka, bukan merasa ngeri, melainkan merasa muak dan diam-diam ia mempertebal keinginannya untuk mempelajari ilmu silat sehingga menjadi orang pandai yang kelak akan dapat menentang manusia-manusia iblis seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang dianggap sebagai datuk-datuk golongan hitam ini.

Kembali tiga hari tiga malam telah lewat.

Kini mereka benar-benar berada di tengah lautan yang bebas dan kedua orang anak itu kini tidak dibelenggu lagi, karena mereka diharuskan membantu memasak air dan nasi.

Han Han dan Lulu bekerja tanpa banyak cakap, hanya di waktu malam, kalau Lulu kedinginan karena mereka diharuskan tidur di dek yang terbuka, Han Han memeluk adiknya ini untuk menghangatkan tubuh adiknya, menghibur jika adiknya menangis dan ketakutan.

Dan pada hari ke empatnya, jadi telah tujuh hari mereka memasuki lautan, perahu tiba di daerah yang banyak pulau-pulaunya.

Pulau-pulau kecil yang mulai tampak dari jauh.

"Sudah belasan kali aku berkeliaran di antara pulau-pulau itu, selama puluhan tahun yang lalu, namun tak pernah berhasil menemukan Pulau Es,"

Kata Ma-bin Lo-mo kepada tiga orang pembantunya sambil berdiri di kepala perahu dan menghela napas.

"Akan tetapi, sekarang kabarnya banyak yang mulai mencari-cari, tentu pulau itu telah muncul pula di permukaan air."

"Apakah dahulu pulau itu tenggelam?"

Tanya Kek Bu Hwesio, tertarik.

"Begitulah, agaknya. Ada kalanya tenggelam dan ada kalanya timbul. Kalau tidak begitu, masa dahulu dicari oleh banyak orang tidak pernah dapat ditemukan?"

"Siangkoan Locianpwe, benarkah kabarnya bahwa di atas Pulau Es itu dahulu tinggal seorang yang maha sakti?"

Tanya Si Muka Tengkorak.

"Saya mendengar, manusia dewa Koai-lojin tinggal di sana..?"

Tanya Ouw Kian si Muka Bopeng.

"Kalian bantu saja aku mendapatkan Pulau Es itu, tak usah banyak tanya-tanya. Kalau berhasil, kitab-kitab ciptaanku akan membuat kalian menjadi orang-orang yang benar-benar lihai, tidak seperti sekarang ini, mengalahkan tiga belas ekor tikus Hek-liong-pang saja masih sulit."

"Ada perahu lagi..."

Terlambat Han Han menutup mulut Lulu dengan tangannya.

Empat orang itu sudah menengok ke belakang dan benar saja, tampak sebuah perahu besar sekali datang dengan cepatnya dari arah belakang.

Kalau Han Han yang melihatnya, dia tentu tidak akan mau memberi tahu karena ia khawatir kalau-kalau penumpang-penumpang perahu itu akan menjadi korban kekejaman Ma-bin Lo-mo lagi.

Akan tetapi mereka sudah mendengar dan sudah melihat datangnya perahu itu, maka ia pun hanya ikut memandang dengan kening berkerut.

Seperti juga tiga hari yang lalu ketika perahu Hek-liong-pang itu muncul, kini Ma-bin Lo-mo menggunakan kekuatan pandang matanya untuk meneliti perahu besar itu dan suaranya terdengar tegang ketika ia berkata.

"Wah, sekali ini perahu Mancu. Kalian bertiga harus hersiap-siap dan jangan seperti anak kecil seperti ketika menghadapi Hek-liong-pang. Kurasa Setan Botak berada di pulau itu dan kita harus bersiap untuk bertempur mati-matian. Lawan yang sekarang ini tidak boleh dipandang rendah."

"Setan Botak? Kang-thouw-kwi...?"

Si Muka Tengkorak Swi Coan berkata dengan suara gentar.

Menggelikan sekali bagi Han Han melihat orang yang mukanya buas mengerikan seperti itu kini kelihatan ketakutan.

"Tak usah khawatir, Gak Liat adalah lawanku dan kalian hanya menghadapi orang-orang Mancu. Gak Liat tidak akan begitu bodoh untuk membawa orang-orang kang-ouw membantunya. Dia sendiri mengilar untuk mendapatkan pulau itu, dan hanya membonceng kepada orang-orang Mancu. Ha-ha-ha."

Sekali ini pun dugaan Ma-bin Lo-mo amat tepat.

Perahu besar itu perahu Kerajaan Mancu dan karena besar dan layarnya banyak, amat laju dan sebentar saja perahu Ma-bin Lo-mo tersusul.

Setelah makin dekat, tiga orang kakek itu pun dapat melihat seorang botak berdiri di kepala perahu, sedangkan anak buah perahu besar itu terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang tinggi besar berpakaian perwira-perwira Mancu.

"Bagus! Hanya tiga puluh orang perwira Mancu"

Tiga belas orang Hek-liong-pang tadi masih lebih berat kalau dibandingkan dengan tiga puluh ekor anjing Mancu.

Kalian bertiga sikat habis mereka, dan mengenai Setan Botak, akulah lawannya."

Kata Ma-bin Lo-mo penuh semangat.

"Mereka berada di sekitar daerah ini, kalau begitu tujuan kita tidak keliru. Pasti Pulau Es berada di sekitar tempat ini. Perwira-perwira Mancu itu tidak akan membuang waktu sia-sia kalau belum tahu dengan pasti."

Pada saat itu, biarpun jarak di antara kedua perahu itu masih jauh, terdengar suara yang terbawa angin, jelas dan mengandung getaran amat kuatnya.

"Ha-ha-ha-ha"

Iblis Muka Kuda, engkau di sana itu? Ha-ha-ha, bagus sekali"

Aku akan setengah mati kegirangan menyaksikan engkau mampus di tengah lautan."

Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Ouw Kian terkejut sekali.

Seorang yang memiliki khikang begitu kuat, yang dapat mengirim suara menerobos angin laut sehingga dalam jarak sejauh itu dapat terdengar begitu jelas, adalah seorang lawan yang amat berat"

Akan tetapi kegelisahan mereka lenyap dan terganti kagum ketika mereka melihat Ma-bin Lo-mo berdiri di kepala perahu sambil mengeluarkan suaranya yang didorong oleh khikang yang amat kuat.

Suara itu terdengar perlahan saja oleh tiga orang itu, akan tetapi menggetar dan penuh tenaga mujijat.

"Gak Liat Si Setan Botak! Engkau menggiring anjing-anjing Mancu ke sini? Bagus, dekatkan perahumu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menjadi santapan ikan. Adapun anjing-anjing Mancu itu, suruh mereka mengeroyok."

"Ha-ha-ha, Ma-bin Lo-mo, apakah kau kira aku begitu bodoh? Kulihat kau membawa pembantu-pembantu. Si MukaTengkorak, Si Hwesio Palsu, dan Si Muka Bopeng. Para Ciangkun yang datang bersamaku tentu tidak mau merendahkan diri bertanding melawan pembantu-pembantumu. Ha-ha. Kau sendiri tentu akan mampus kalau melawanku, akan tetapi ada pekerjaan penting yang lebih berharga bagiku. Maka, menyesal sekali aku tidak ada waktu untuk melayanimu, Iblis Muka Kuda! Sekarang mampuslah bersama para pembantumu."

Setelah terdengar suara Kang-thouw-kwi ini, dari perahu para perwira Mancu itu meluncur banyak anak panah yang tertuju kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya.

Namun, dengan kibasan tangan mereka, empat orang kakek sakti itu dapat meruntuhkan semua anak panah yang menyambar mereka.

Adapun Han Han cepat menarik tangan Lulu diajak bertiarap di atas dek perahu, kemudian sambil merangkak Han Han menggandeng Lulu, hendak diajak mengungsi dan bersembunyi di dalam kamar perahu.

Melihat ini, Si Muka Tengkorak lalu menendang kedua orang anak itu roboh.

"Belenggu mereka, agar jangan mengganggu."

Kata Ma-bin Lo-mo yang teringat bahwa Han Han pernah menjadi kacung Setan Botak dan khawatir kalau-kalau murid murtad itu akan berkhianat.

Si Muka Tengkorak cepat melaksanakan perintah ini, mengikat tubuh kedua orang anak dengan tangan mereka ditelikung ke belakang, kemudian melemparkan mereka di sudut lantai perahu.

"Ha-ha-ha, Setan Botak! Anak panah-anak panah macam ini kau kirim kepada kami? Boleh habiskan anak panah-anak panah semua anjing Mancu."

Ma-bin Lo-mo tertawa mengejek untuk memanaskan hati lawan agar perahunya makin mendekat sehingga ia bersama tiga orang pembantunya dapat meloncat dan menyerbu.

Ia percaya bahwa tiga orang pembantunya pasti akan dapat mengalahkan para perwira Mancu dan agaknya hal itu diketahui pula oleh Kang-thouw-kwi.

Akan tetapi, ternyata Kang-thouw-kwi amat cerdik dan biarpun para perwira Mancu membujuk dengan hati panas untuk mendekatkan perahu, Si Setan Botak menolaknya, bahkan lalu memberi saran untuk melepas anak panah berapi.

Serangan ini dilakukan dan terkejutlah Ma-bin Lo-mo.

Tak disangkanya musuh akan menggunakan akal ke ji ini.

Setelah puluhan batang anak panah yang membawa kain berminyak dan berkobar itu datang meluncur berhamburan, dia dan tiga orang pembantunya menjadi repot sekali.

Selain harus menangkis dan menghindarkan diri, mereka harus pula berusaha memadamkan api yang dibawa anak panah menancap pada bilik perahu dan pada layar.

"Celaka, perahu terbakar."

Seru Kek Bu Hwesio dan benar saja.

Tiga orang itu kekurangan tenaga untuk memadamkan api yang mulai membakar perahu.

Mereka masih terus berusaha, namun akhirnya bilik perahu itu dimakan api.

Api berkobar besar dan mengancam untuk membakar semua yang berada di perahu.

"Kita harus meninggalkan perahu."

Seru Ma-bin Lo-mo.

"Putuskan pengapung perahu dari bambu di kanan kiri dan pergunakan untuk penyelamat diri."

Tiga orang pembantunya yang sudah panik itu cepat melompat dari atas perahu yang terbakar.

Mula-mula Si Muka Tengkorak yang lebih dahulu meloncat ke air, disusul oleh Si Muka Bopeng yang tadinya berusaha memadamkan api di atas atap bilik.

Dari atas atap bilik ia melayang turun ke air dengan gerakan seperti hendak terbang.

Adapun Kek Bu Hwesio yang tangannya gosong terjilat api, cepat meloncat pula ke air.

Tiga orang ini mematahkan bambu pengapung perahu di kanan kiri dan mempergunakan bambu-bambu itu untuk menyelamatkan diri dari bahaya tenggelam.

Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri sudah masuk ke dalam bilik yang berkobar, dan keluar kembali membawa sebuah ember.

Ember yang disangkanya berisi minyak yang disediakan untuk memasang lampu itu ia siramkan ke atas tubuh Han Han dan Lulu sambil tertawa.

"Aku tidak berhak menghukummu, biarlah sekarang kalian ikut berkobar bersama perahu."

Setelah menyiramkan isi ember yang disangkanya minyak itu, Ma-bin Lo-mo melompat ke air menyusul kawan-kawannya.

Han Han segera mengerti bahwa dalam keadaan marah dan panik itu Ma-bin Lo-mo telah keliru ambil.

Di dalam bilik hanya terdapat sebuah ember yang terisi minyak, dan belasan ember terisi air, yaitu air persediaan untuk minum.

Begitu disiram, Han Han tahu bahwa yang membasahi dia dan Lulu bukanlah minyak, melainkan air.

Diam-diam ia menjadi geli dan girang, akan tetapi hanya sebentar.

Bagaimana dia bisa girang kalau bahaya api itu sedemikian hebatnya?

Melompat ke air berarti mati tenggelam karena kedua tangan mereka terbelenggu.

Tidak melompat akan mati terbakar.

"Koko.. aku takut... api itu akan membakar kita.."

Tiba-tiba saja air laut bergelombang hebat dan sinar matahari tertutup mendung tebal yang tanpa mereka sadari sejak tadi telah mengumpul.

Di udara yang gelap oleh mendung itu tampak kilat menyambar-nyambar.

Agaknya langit menjadi marah menyaksikan ulah nanusia-manusia yang berwatak bejat itu.

Atau kebetulan sajakah pada saat itu badai mulai mengamuk?

Tak ada manusia yang dapat menjawab, namun kenyataannya, ombak makin membesar dan langit makin gelap.

"Lulu, lekas berdiri contohlah aku. Kita bakar belenggu kita pada api."

Kata Han Han sambi angkit berdiri dan mendekati api yang membakar bilik perahu.

Dia mendekatkan belenggu tangannya pada api dan hal ini dapat ia lakukan dengan mudah karena begitu terjilat api, otomatis tenaga inti Hwi-yang Sin-kang yang sudah berada di tubuhnya bekerja sehingga kedua tangannya tidak terasa panas sama sekali, bahkan hangat-hangat nyaman.

Akan tetapi ketika Lulu mencoba untuk mencontoh kakaknya, ia menjerit dan cepat-cepat menarik kembali tangannya yang untung belum terlanjur terbakar.

Han Han dapat membebaskan belenggu tangan yang sudah terbakar.

Cepat ia lalu melepaskan ikatan adiknya.

"Hayo kita meloncat ke air."

Teriak Han Han.

"Tidak mau.., Aku takut..."

Kata Lulu sambil menangis dan menutupi mukanya agar jangan terlihat olehnya gelombang hebat yang seolah-olah hendak menelannya itu.

Angin menderu keras dan Han Han berteriak melawan suara angin.

"Apakah kau ingin terbakar api?"

Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar kilat menyambar di atas kepala, keras sekali dan kedua orang anak itu dengan gerakan reflex yang tak disengaja sudah bertiarap di atas lantai perahu sambil menutup kedua telinga dengan tangan.

Ketika mereka merangkak dan hendak bangkit kembali, tiba-tiba Lulu berteriak.

"Hujan.."

Bukan air hujan, melainkan percikan air gelombang yang mengamuk.

Perahu menjadi miring dan banyak air menyiram perahu sehingga bilik yang terbakar itu segera padam.

Makin keras perahu terayun, makin hebat gelombang mengamuk dan makin gelaplah langit.

Han Han yang dilempar ke dek oleh guncangan perahu, cepat menyeret tangan adiknya, dibawa memasuki bilik perahu yang sudah tidak terbakar lagi.

Ia berhasil menyeret tubuh Lulu yang menggigil itu ke dalam bilik dan biarpun perahu masih terayun-ayun sehingga tubuh mereka menabrak kanan kiri dinding, namun tidak ada bahaya mereka terlempar keluar perahu.

Babak-bundas tubuh mereka, terutama Lulu dan benturan terakhir membuat kepala Lulu terbanting pada dinding sehingga anak itu roboh pingsan di pelukan Han Han.

Han Han sendiri sudah payah mempertahankan diri.

Ketika dia bersama tubuh Lulu terbanting ke kanan, ia melihat dua buah kitab di dekatnya.

Ia mengira bahwa itu tentulah kitab yang ditinggalkan oleh Sepasang Pedang Iblis, maka ia cepat mengambilnya dan memasukkannya kembali ke balik bajunya.

Pada saat itu ia terbanting lagi ke kanan dan kepeningan membuat Han Han meramkan mata.

Namun dalam keadaan yang setengah pingsan itu ia masih selalu teringat kepada Lulu yang dipeluknya erat-erat di dadanya.

Entah berapa lamanya badai mengamuk, Han Han tak dapat mengira-ngira.

Cuaca selalu gelap sehingga tidak ada bedanya antara siang dan malam, hanya ia tahu bahwa badai mengamuk lama sekali, terlalu lama.

Untung bahwa di luar kesadarannya, Han Han memiliki daya tahan yang tidak lumrah.

Badai itu mengamuk sampai dua hari dua malam, dan selama itu Lulu menggeletak dalam keadaan setengah pingsan, hanya sebentar-sebentar mengerang lalu "tertidur"

Lagi.

Namun Han Han tetap sadar.

Ketika perahu berhenti terayun dan cuaca menjadi terang kembali, keadaan amat tenangnya, Han Han baru merasa betapa tubuhnya nyeri semua.

Tulang-tulang tubuhnya seperti remuk-remuk dan Lulu merintih perlahan.

"Bangunlah, Adikku, bangunlah. Badai sudah berhenti,"

Bisiknya dan Lulu membuka matanya perlahan.

"Han-ko., apakah kita sudah.. sudah mati..? Tubuhku lemas sekali dan semua terasa sakit.."

Han Han merasa kasihan sekali.

"Kita masih hidup, Lulu."

Ia mencari-cari dalam bilik yang sudah rusak keadaannya.

Alangkah girang hatinya ketika ia menemukan guci arak milik Ma-bin Lo-mo.

Guci ini terbuat daripada perak dan tertutup rapat-rapat sehingga biarpun terguncang dan terlempar-lempar, tidak rusak dan isinya tidak terbuang.

Ia cepat membuka tutup guci dan menuangkan sedikit arak ke mulut adiknya.

Lulu meneguk arak dan tersedak, terbatuk-batuk.

Akan tetapi hawa yang hangat memasuki tubuhnya dan anak itu biarpun masih amat lemah sudah dapat bangkit dan duduk, malah kemudian berkata.

"Perutku lapar.."

Han Han tertawa dan pada saat itu ja pun baru sadar betapa perutnya amat perih dan lapar.

Ia lalu membongkar-bongkar semua barang yang terjungkir balik di dalam bilik itu, mencari-cari perbekalan makanan Ma-bin Lo-mo dan akhirnya dengan girang ia menemukan beberapa potong roti kering.

Biarpun roti ini sudah basah oleh air laut dan terasa asin, namun cukup lumayan untuk pengisi perut yang kosong, mencegah kematian karena kelaparan.

Setelah terisi roti dan arak, tenaga mereka agak pulih kembali.

Han Han lalu menggandeng tangan adiknya diajak keluar dari bilik itu.

Mereka mengintai keluar dan melihat bahwa mereka berada di laut bebas, tidak tampak lagi pulau-pulau kecil, tidak tampak sama sekali perahu besar milik Kang-thouw-kwi.

Han Han berusana mencari-cari Ma-bin Lo-mo dan tiga orang kawannya, akan tetapi tak tampak pula bayangan mereka.

Tentu mereka sudah tenggelam, pikirnya.

Dan perahu besar milik perwira-perwira Mancu itu tentu telah hanyut jauh oleh badai yang mengamuk.

Hatinya agak lega karena kini dia dan adiknya terbebas daripada ancaman manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi ancaman maut yang lebih mengerikan berada di depan mata.

Mereka tidak mempunyai persediaan makanan cukup, terutama sekali air minum, dan selain perahu sudah rusak sehingga tidak dapat dikemudikan, layarnya pun sudah tinggal sedikit di bagian atasnya saja, juga tidak tampak ada daratan yang dekat.

Betapa mungkin mereka dapat hidup di atas perahu rusak ini?

Mereka akan mati kelaparan dan Han Han tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan diri daripada ancaman maut ini.

Memang, kalau menurut perhitungan akal budi manusia, agaknya nasib dua orang anak itu sudah dapat dipastikan tewas di atas perahu itu.

Tidak ada jaIan keluar lagi dan akal manusia tidak akan dapat menyelamatkan mereka.

Akan tetapi, nyawa manusia berada sepenuhnya di tangan Tuhan.

Apabila Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun orang itu memiliki nyawa seribu rangkap, memiliki kesaktian, memiliki segala-galanya dia akan mati juga karena tiada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membebaskannya daripada kehendak Tuhan.

Kalau Tuhan sudah menentukan dia mati, biar dia bersembunyi di lubang semut, maut tetap akan datang menjemput.

Sebaliknya, jika Tuhan belum menghendaki seseorang mati, biarpun tampaknya sudah tidak ada harapan baginya, namun ia tetap akan lolos dari ancaman maut.

Demikianlah pula dengan halnya Han Han dan Lulu.

Kedua orang anak ini sama sekali tidak mempunyai daya untuk lolos dari keadaan itu.

Namun, pada malam harinya, tiba-tiba saja turun hujan sehingga mereka dapat membasahi tenggorokan yang sudah mengering dan membengkak.

Dan hujan ini disusul dengan tiupan angin yang mengguncang air sehingga ombak datang bergulung-gulung.

Han Han dan Lulu kembali bersembunyi di dalam bilik perahu yang sudah rusak, saling berpelukan dan menghadapi kematian yang agaknya sekali ini takkan dapat mereka hindarkan lagi.

Mereka merasa betapa perahu itu bergerak, dilontarkan oleh gelombang air laut.

Lulu tidak dapat menangis lagi, hanya memeluk pinggang Han Han, menyembunyikan mukanya di dada kakaknya sambil ber bisik dengan suara gemetar.

"Kita mati, Koko.. kita mati.. akan tetapi jangan tinggalkan aku.. kita bersama."

Suara dan ucapan Lulu itu mendatangkan rasa puas dan lega di hati Han Han.

Apapun yang akan terjadi, dia tidak sendirian, dia mempunyai seorang adik yang mencintanya dan yang dicinta.

Dia tidak akan merasa penasaran biarpun dia akan mati, asal dia dapat mati bersama Lulu agar di mana pun juga, ia akan dapat mengawani dan melindungi adiknya ini.

Karena tubuh mereka sudah amat lemah, kepala pening dan pikiran mereka menjadi lemah pula, mereka tidak tahu lagi berapa lama mereka berdekapan di dalam bilik.

Perahu itu diombang-ambingkan terus dan cuaca menjadi gelap, kemudian berubah terang, gelap lagi sampai lama sekali dan tiba-tiba mereka terlempar dan menumbuk dinding.

Perahu itu membentur sesuatu.

Han Han membuka matanya dan melihat bahwa cuaca sudah menjadi terang.

Ada sinar menerobos masuk ke dalam bilik dan hawa udara amatlah dinginnya.

Perahu itu tidak bergerak lagi.

"Lulu, badai sudah berhenti lagi. mari. mari kita keluar.."

Kata Han Han dengan suara lemah.

Lulu membuka matanya.

Ia merasa nyaman dan senang dalam pelukan Han Han, seperti dinina-bobokkan dan ia merasa malas untuk bangun, malas untuk membuka mata.

Ingin rasanya ia memejamkan mata dan tidur selamanya dalam keadaan seperti itu.

Ia takut akan melihat dan menemukan hal-hal yang mengerikan kalau membuka matanya.

"Lulu.. mari kita keluar... kita harus berusaha, untuk mendarat.."

"Oohhh.. lebih senang begini, Koko..."

Lulu mempererat rangkulannya pada pinggang Han Han dan sama sekali tidak mau membuka matanya.

Han Han menunduk dan ketika ia melihat wajah adiknya yang kurus dan amat pucat seperti mayat itu, hatinya seperti ditusuk rasanya.

Entah mengapa ia seperti mendapat firasat bahwa kalau didiamkannya saja keadaan adiknya ini, tak lama lagi ia akan kehilangan Lulu.

Maka ia menguncang pundak Lulu dan berkata keras.

"Tidak! Selama nyawa masih di badan kita, kita harus berusaha. Bangunlah, Adikku sayang. Jangan takut, Kakakmu akan selalu berada di sampingmu."

Lulu membuka matanya dan seperti seorang yang baru bangun dari mimpi buruk ia mengejap-ngejapkan matanya, seolah-olah silau melihat cahaya terang yang memasuki bilik perahu.

Kemudian dengan tubuh lemas ia bangkit dan menggandeng tangan kakaknya.

Ketika Han Han menariknya berdiri, Lulu menuding ke lantai dan berkata.

"Koko, kitab-kitabmu tercecer.."

Han Han menunduk dan ia terheran.

Ia meraba-raba pinggangnya dan mendapat kenyataan bahwa kitab-kitabnya memang tidak berada di saku bajunya sebelah dalam lagi.

Akan tetapi, mengapa ada tiga buah kitab?

Bukankah Sepasang Pedang Iblis memberinya dua buah kitab yang sudah disatukan?

Ia berjongkok dan mengambil kitab-kitab itu.

Yang sebuah adalah kitab tebal dan ternyata adalah dua buah kitab yang disatukan, kitab peninggalan SepasangPedang Iblis.

Akan tetapi yang dua buah lagi adalah kitab-kitab yang baru dilihatnya saat itu.

Kini mengertilah ia bahwa dua buah kitab yang dia simpan di balik bajunya ketika perahu terbakar, adalah dua buah kitab yang baru inilah.

Sekilas pandang ia membaca judul dua buah kitab itu.

Yang sebuah berjudul "Menghimpun Tenaga Im-kang"

Dan yang ke dua berjudul "Berlatih Samadhi dan Lwee-kang", keduanya ditulis oleh Ma-bin Lo-mo.

Mengertilah ia kini bahwa dua buah kitab itulah yang agaknya oleh Ma-bin Lo-mo dijanjikan kepada tiga orang pembantunya.

Tentu ada sebuah kitab lagi yang entah lenyap di mana, akan tetapi ia tidak peduli.

Ia mengambil tiga buah kitab itu dan menggandeng tangan Lulu diajak keluar dari bilik.

Ketika mereka muncul di luar bilik perahu, mereka mengeluarkan seruan kaget, kagum dan juga girang.

Kiranya perahu rusak itu telah terdampar di antara kepulauan yang kelihatannya aneh sekali, serba putih.

Bahkan pohon-pohon yang tampak di situ diliputi salju.

"Pulau Es"

Pikiran ini memasuki ingatan Han Han dan ia diserang rasa girang yang amat luar biasa sehingga terhuyung ke depan.

"Pulau Es..! Lulu, kita berada di Pulau Es ."

Han Han berteriak-teriak dan menarik tangan Lulu untuk keluar dari perahu itu.

Lupa akan kelemahan tubuhnya dan lupa bahwa Lulu tidak berkepandaian.

Han Han yang menarik tangan adiknya itu membawanya melompat turun dari perahu ke atas daratan yang tertutup salju.

Untung bahwa salju itu merupakan tilam yang lunak sehingga ketika mereka bergulingan jatuh, mereka tidak terluka.

Mereka bahkan tertawa-tawa karena merasa bahwa kini mereka akan tertolong.

"Kita selamat. Kita mendarat..."

Seru Han Han sambil tertawa-tawa dan napasnya terengah-engah.

Anak ini dengan keadaan tubuhnya yang tidak lumrah, telah berhari-hari dapat bertahan terhadap segala kesengsaraan dan semua itu terdorong oleh semangatnya untuk menyelamatkan Lulu.

Kini, setelah kekuatan yang luar biasa dan yang tadinya ia pergunakan untuk mempertahankan dirinya itu mendapat jalan keluar karena kelegaan dan kegembiraannya, ia tiba-tiba menjadi lemah sekali dan bernapas pun menjadi sukar.

Ia berjalan maju, tersandung-sandung sambil tertawa-tawa, diikuti dari belakang oleh Lulu yang terus memegangi tangan kirinya.

Tiba-tiba Han Han yang tertawa-tawa itu terguling roboh menelungkup di atas salju.

Tiga buah kitab yang tadi dipegang di tangan kanannya, terlepas.

"Koko..! Han-ko...! Ah, Han-ko, bangunlah.."

Lulu mengguncang-guncang tubuh kakaknya, akan tetapi Han Han tidak bergerak.

Melihat kakaknya seperti itu, Lulu menjerit-jerit dan menangis tanpa mengeluarkan air mata karena sudah terlalu banyak menangis dan matanya sudah terlalu kering sehingga agaknya tidak mempunyai air mata lagi.

"Han-ko..! Jangan mati, Han-ko.., jangan tinggalkan aku..."

Lulu menjerit-jerit dan memeluki tubuh Han Han.

"Gerrrrr..."

Suara gerengan yang menggetarkan pulau itu membuat Lulu terkejut sekali dan anak ini mengangkat mukanya yang tadi ia letakkan di atas punggung Han Han.

Ketika ia bangkit dan mengangkat muka, matanya terbelalak lebar sekali, mulutnya ternganga dan wajahnya yang sudah pucat itu menjadi seperti kertas.

Tidak ada suara keluar dari mulutnya.

Lulu menjadi begitu kaget dan ngeri sehingga ia sudah kehilangan suaranya, hanya melongo seperti orang mimpi atau kehilangan akal.

Di depannya, dekat sekali, berdiri seekor binatang yang amat besar, seekor beruang yang berbulu putih.

Beruang itu berdiri di atas kedua kaki belakangnya, besar dan tinggi sekali, mengeluarkan suara menggereng-gereng dan matanya yang merah itu sejenak memandang ke arah perahu yang terdampar, kemudian menunduk dan memandang kepada Han Han dan Lulu.

Mulutnya yang terbuka itu memperlihatkan rongga mulut dan lidah yang merah dan gigi bertaring yang putih, kuat dan meruncing.

Setelah menggereng beberapa kali, binatang besar itu lalu menurunkan kedua kaki depannya, merangkak menghampiri Han Han.

"Ohhhhh, tidak.. jangan."

Lulu menggeleng kepalanya.

"Jangan mengganggu Han-ko.."

Memang luar biasa sekali cinta kasih bocah ini terhadap kakak angkatnya.

Andaikata tidak ada kekhawatirannya terhadap Han Han, tentu ia sudah roboh pingsan seketika itu juga saking ngerinya.

Kini, melihat beruang itu mendekati Han Han, Lulu melupakan rasa takutnya dan berusaha mengusir beruang itu dengan suara dan gerakan tangan.

Namun, beruang itu agaknya tidak mempedulikan Lulu, menggunakan kedua kaki depan seperti sepasang lengan manusia, memondong tubuh Han Han dengan amat ringannya, kemudian bangkit berdiri lagi dan berjalan terseok-seok sambil memondong tubuh Han Han yang masih pingsan.

Lulu terbelalak, seperti terpesona.

Beruang itu tidak menggigit Han Han, tidak menganggunya, malah memondong dan seperti hendak menolongnya.

Ia pun lalu bangkit perlahan, mengambil tiga buah kitab yang tertinggal di situ, kemudian berjalan perlahan-lahan mengikuti beruang itu.

Dia merasa terlalu takut kalau beruang itu menjadi marah dan mengganggu Han Han, maka Lulu melangkah maju tanpa mengeluarkan suara, bahkan setengah menahan napas karena mengkhawatirkan keselamatan kakaknya.

Beruang putih atau beruang es itu berjalan terus membawa Han Han ke tengah pulau.

Dalam kekhawatirannya akan keselamatan kakaknya, Lulu yang sebetulnya sudah amat lemah itu, kini dapat berjalan terus mengikuti beruang itu sampai ke tengah pulau.

Padahal tadi, melangkah setidak pun sudah terasa amat berat, bagi tubuhnya yang kurang makan sampai berhari-hari dan telah mengalami kesengsaraan hebat itu.

Alangkah heran hati Lulu ketika ia melihat sebuah bangunan yang cukup besar di tengah pulau dan ke arah bangunan itulah beruang besar tadi membawa Han Han.

Jantungnya berdebar tegang.

Kalau ada rumahnya, tentu ada orangnya"

Orang macam apakah yang tinggal di pulau kosong ini?

Lulu terus mengikuti beruang itu yang membawa Han Han memasuki bangunan, terus masuk ke dalam.

Lulu melongo.

Bangunan itu amat indahnya, dibuat dengan gaya seni yang luar biasa.

Akan tetapi ia tidak sempat untuk mengagumi semua itu karena matanya mencari-cari penghuni rumah itu.

Kosong dan sunyi saja.

Dan beruang itu membawa Han Han masuk kesebuah kamar yang besar, kemudian membaringkan tubuh Han Han di atas sebuah pembaringan yang bertilam kain berbulu tebal.

Kamar itu pun bersih dan dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang indah-indah.

Di sudut kamar itu terdapat sebuah tempat perapian.

Lulu yang tidak tahu harus berbuat apa, duduk di tepi pembaringan, memegang tangan Han Han dan mengguncang-guncangnya.

Namun Han Han seperti orang tertidur pulas, tidak juga terbangun.

Dengan ketakutan yang makin meningkat, Lulu mengikuti gerakan-gerakan beruang itu dengan pandang matanya dan ia makin terbelalak keheranan.

Beruang itu benar-benar luar biasa sekali, seperti manusia saja.

Kini binatang yang berdiri seperti manusia itu menghampiri perapian, kaki depannya yang tergantung di depan dengan kaku itu lalu mengambil kayu kering, dilemparkannya ke perapian dan dituangkannya minyak di atas perapian.

Semua ini dilakukan dengan jepitan kedua tangan atau kedua kaki depannya yang besar.

Kemudian, binatang itu mengambil dua batang pedang pendek yang tadinya tergantung di dinding, di atas perapian.

Lulu menahan pekiknya dengan tangan.

Kiranya beruang itu hendak menyembelih dia dan Han Han, pikirnya dengan hati ngeri.

Ia melihat betapa beruang itu, mencengkeram sepasang pedang dengan kedua kaki depannya, kemudian membuat gerakan seperti orang bersilat pedang.

Dua batang pedang itu berkelebat menjadi sinar putih dan saling bertemu, menerbitkan suara yang nyaring sekali.

"Cringgggg..."

Bunga api muncrat di dekat perapian, menyambar kayu yang sudah basah oleh minyak dan bernyalalah kayu itu di dalam tungku dan beruang itu dengan mulut menyeringai lalu mengembalikan sepasang pedang tadi, digantungkan di atas dinding.

Kemudian binatang itu menambahkan kayu kering sehingga api dalam tungku membesar dan terusirlah hawa dingin setelah hawa panas api di tungku itu mulai terasa oleh Lulu.

Beruang itu lalu memandang Lulu, mengeluarkan suara gerengan pendek kemudian keluar dari kamar.

Lulu seperti baru sadar dari mimpi, mengguncang-guncang pundak Han Han.

"Koko..! Koko.! Bangunlah.. Ada, ada binatang aneh..."

Akan tetapi Han Han belum juga sadar sehingga akhirnya Lulu menangis di atas dada kakaknya.

Akan tetapi ia segera menghentikan tangisnya karena beruang itu sudah kembali memasuki kamar, mulutnya menggigit daun-daunan yang membeku dan kedua kaki depannya membawa benda putih membeku sebesar kepala orang.

Ia menurunkan semua itu di atas meja dekat perapian, kemudian ia menoleh ke arah Lulu dan kembali mengeluarkan suara gerengan-gerengan, kedua kaki depannya bergerak-gerak seperti seorang gagu kalau hendak menyatakan sesuatu.

Lulu adalah seorang gadis cilik yang cerdik juga.

Kini ia mulai dapat men gerti bahwa binatang itu sama sekali tidaklah jahat.

"Apakah kehendakmu?"

Katanya perlahan sambil turun dari pembaringan dan menghampiri beruang itu.

Binatang itu kelihatan girang, lalu menuding ke arah dinding di mana terdapat perabot-perabot dapur yang cukup, terbuat daripada petak.

Ia menuding ke arah panci dan Lulu mengerti bahwa agaknya dia disuruh masak.

Mungkin daun itu adalah obat untuk menyembuhkan kakaknya.

Teringat akan hal ini, cepat dia mengambil panci itu dan membawanya ke depan beruang yang kini mengambil sebongkah es yang ia masukkan ke dalam panci, kemudian dengan suara "arrhh-arrhh-urrhh-urrhhh"

Ia menunjuk ke perapian.

Lulu tidak mengerti mengapa dia disuruh masak es, akan tetapi ia melakukannya juga, mendekati tungku dan menaruh panci itu di atas perapian.

Ketika es di dalam panci mencair menjadi air, barulah anak ini mengerti dan menjadi girang sekali.

Cepat ia mengambil air dalam panci itu dan menghampiri Han Han untuk memberi minum kakaknya yang ia tahu, seperti juga dia, amat kehausan.

Akan tetapi ia kaget sekali ketika tiba-tiba beruang yang besar itu melompat dengan ringannya, menghadang dan melarang dia menghampiri Han Han, lalu menunjuk-nunjuk dengan kaki depannya ke arah tungku.

"Paman beruang, aku mau memberi minum Han-ko, mengapa tidak boleh?"

Beruang itu hanya menggereng-gereng dan menunjuk ke arah tungku perapian.

Kini rasa takut Lulu terhadap binatang itu sudah lenyap karena dia makin merasa yakin bahwa binatang ini tidaklah jahat dan tentu ada tersembunyi maksud-maksud baik dalam semua perbuatannya ini.

Ia lalu menghampiri tungku dan menduga bahwa binatang itu menghendaki dia masak terus air dari es itu, maka ia meletakkan panci di atas api dan beruang itu mengangguk-angguk.

Lulu kini mengerti.

Agaknya air itu harus dimasak sampai mendidih lebih dulu sebelum diminumkannya kepada kakaknya.

Akan tetapi dugaannya keliru karena kini binatang itu mengambil daun-daun beku dari atas atas meja dan memasukkan daun-daun itu ke dalam panci air.

"Ah, kiranya disuruh masak obat untuk Han-ko? Begitukah, Paman Beruang?"

Beruang itu mengangguk-angguk dan Lulu menjadi girang sehingga anak ini lalu memeluk perut beruang yang gendut dan mendekapkan mukanya pada dada yang bidang dan kuat itu.

Beruang itu mengeluarkan suara ngak-ngak-nguk-nguk dan kaki depannya yang kiri dengan gerakan halus mengusap rambut kepala Lulu"

Bocah ini menjadi girang sekali dan cepat-cepat ia menambah kayu pada perapian sehingga tak lama kemudian daun-daun beku itu termasak dan air berubah menjadi kemerahan.

Setelah air masakan daun ini tinggal sedikit, beruang itu memberi tanda supaya Lulu memberi minum Han Han dengan air obat itu.

Air yang tadinya mendidih, sebentar saja menjadi dingin dan Lulu cepat memberi minum obat itu dengan hati-hati, menuangkannya ke dalam mulut Han Han setelah ia membuka dengan paksa mulut itu dengan tangan kirinya.

Hatinya girang sekali karena biarpun keadaannya amat lemas, ternyata Han Han dapat menelan obat itu.

Kemudian atas isyarat-isyarat binatang yang luar biasa itu, Lulu memasak benda putih biasa itu, Lulu memasak benda putih yang ternyata adalah segumpal gandum yang bubur encer dan mulailah anak yang amat mencinta kakaknya itu menyuapkan bubur ke mulut Han Han yang sudah dapat bergerak namun agaknya masih belum sadar betul itu.

Setelah Han Han tertidur dengan wajah agak merah, barulah Lulu teringat untuk makan dan minum.

Kemudian ia pun menggeletak tertidur di atas pembaringan di dekat kaki Han Han.

Atas perawatan yang tekun dari Lulu yang selalu diberi petunjuk oleh beruang es yang luar biasa itu, dalam waktu sepekan saja Han Han telah sembuh daripada sakitnya.

Dengan terheran-heran setelah sadar benar, Han Han mendengarkan cerita Lulu tentang beruang es itu dan Han Han tanpa ragu-ragu lalu bangkit memeluk binatang itu yang mengeluarkan suara seperti orang kegirangan.

Setelah Han Han pulih kembali kesehatannya, barulah ia bersama Lulu mengadakan pemeriksaan, diantar oleh beruang putih.

Bangunan itu cukup besar dan mewah sekali.

Mempunyai banyak kamar yang serba lengkap.

Kamar dimana Han Han dibaringkan adalah kamar dapur, lengkap dengan perabot dapurnya.

Ada tiga buah kamar tidur yang indah dan lengkap, adapula ruangan yang amat luas untuk belajar ilmu silat, ada pula sebuah "taman"

Yang aneh karena disitu bunga-bunga tidak dapat tumbuh subur dan hanya beberapa macam tetumbuhan saja yang dapat hidup karena disitu selali diliputi es dan salju.

Taman ini terhias dengan batu-batu yang bentuknya indah, dengan jembatan-jembatan kayu yang mungil dan pondok kecil yang di buat dengan gaya seni indah.

Ternyata pula bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tinggal di pulau itu hanyalah beruang es itulah.

Pantas saja kalau binatang itu menjadi kegirangan karena sekaligus ia memperoleh dua orang teman.

Dan tentu saja hal ini dapat dirasakan oleh beruang itu yang agaknya dahulu telah dipelihara orang.

Yang amat menarik perhatian Han Han adalah sebuah kamar perpustakaan di mana terdapat banyak sekali kitab-kitab yang aneh-aneh dan hebat-hebat.

Kitab-kitab pelajaran ilmu silat, pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi-tinggi tersusun rapi di lemari buku yang besar.

Kini dia mulai mengerti mengapa orang-orang kang-ouw berlomba untuk menemukan Pulau Es ini.

Kiranya untuk kitab-kitab inilah"

Han Han dapat menduga bahwa yang pernah tinggal di tempat aneh ini tentulah seorang manusia sakti.

Hal ini bukan hanya dapat dilihat dari adanya kitab-kitab itu, melainkan dengan mudah dapat menduga dengan melihat keadaan beruang putih itu.

Hanya seorang sakti saja yang mampu menundukkan dan melatih binatang itu menjadi seekor binatang yang luar biasa, selain cerdik seperti manusia, juga memiliki tenaga yang hebat dan gerak-geriknya tangkas seperti seorang ahli silat yang pandai.

Mula-mula Han Han dan Lulu merasa seolah-olah mereka menjadi pencuri-pencuri yang memasuki rumah orang.

Akan tetapi karena pulau itu benar-benar kosong, maka mereka (Lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 menjadi biasa dan menganggap bahwa rumah yang mewah seperti istana itu sebagai rumah sendiri.

Kamar pertama adalah kamar yang paling besar, perlengkapannya tidaklah sangat mewah, namun menyenangkan.

Dinding kamar ini penuh dengan tulisan-tulisan yang berbentuk sajak dan Han Han amat kagum membaca sajak-sajak ini yang selain mengandung filsafat yang dalam dan pandangan yang amat luas dan bijaksana, juga ditulis amat indah.

Di bagian lain dari dinding tertulis di rumah itu, ia mendapatkan tulisan-tulisan yang sifatnya mengandung keluh-kesah, sajak-sajak duka yang membayangkan kepatahan hati.

Kemudian di dalam laci sebuah meja di kamar pertama itu ia mendapatkan pula beberapa sampul surat dari kain yang dibungkus rapat dalam sebuah kantung karet.

Di luar bungkusan karet ada tulisannya .

"Diharap yang menemukan ini menyampaikannya kepada yang berkepentingan."

Sajak terbesar yang berada di dalam kamar pertama ditulis dengan cara yang lain daripada sajak-sajak dan tulisan-tulisan lain.

Kalau tulisan lain dilakukan dengan alat tulis biasa, adalah sajak terbesar ini entah ditulis dengan apa, akan tetapi kenyataannya huruf itu seperti diukir dalam dinding.

Amat indah goresannya, amat kuat dan bunyi sajaknya sukar dimengerti atau diselami oleh Han Han yang usianya baru dua belas atau tiga belas tahun itu.

Betapa ingin mata memandang mesra Betapa ingin jari tangan membelai sayang Betapa ingin hati menjeritkan cinta Namun Siansu berkata, Bebaskan dirimu daripada ikatan nafsu Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?

Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang, dunia takkan pernah tercipta Betapapun juga, cinta segi tiga membahagiakan Menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain Akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan Ikatan persaudaraan dilupakan Akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.

Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu Membaca sajak-sajak dan tulisan-tulisan yang memenuhi dinding rumah indah itu, Han Han hanya dapat menduga bahwa penghuni rumah ini tentulah seorang sakti yang ahli pula dalam kesusastraan, namun seorang yang banyak mengalami penderitaan dalam hidupnya sehingga tulisan-tulisannya membayangkan hati yang merana dan berduka.

Adapun kamar yang ke dua dan ke tiga menunjukkan dengan jelas bahwa kamar-kamar itu adalah kamar wanita.

Selain bersih dan mewah, juga berbau harum dan di situ masih lengkap dengan segala benda keperluan wanita, dari pakaian-pakaian sutera yang indah-indah, perhiasan emas permata sampai alat-alat kecantikan dan alat-alat menjahit dan menyulam.

Tentu saja Lulu menjadi girang sekali dan menempati sebuah di antara kedua kamar ini.

Juga di kamar pertama terdapat pakaian-pakaian pria sehingga kedua orang anak itu tidak perlu khawatir lagi tentang kebutuhan pakaian.

Mengenai keperluan makan, kedua orang anak itu pun sama sekali tidak khawatir.

Atas "petunjuk"

Beruang es, di dalam gudang di bawah tanah terdapat banyak sekali gandum yang dibekukan dan tidak pernah menjadi rusak.

Selain ini, juga lengkap terdapat bumbu-bumbu masak.

Adapun untuk keperluan daging, amat mudah didapat berkat bantuan beruang es.

Binatang ini adalah seekor mahluk yang amat ahli menangkap ikan laut.

Dengan demikian, segala keperluan hidup kedua orang anak itu sudah tersedia lengkap dan mulai hari itu, Han Han dan Lulu memasuki hidup baru yang amat aneh, terasing daripada dunia ramai.

Mulailah Han Han menggembleng diri sendiri dan adiknya dengan pelajaran ilmu dari kitab-kitab yang banyak terdapat di situ.

Kitab pelajaran melatih lweekang, bersamadhi dan dasar-dasar ilmu silat tinggi.

Akan tetapi bagi Han Han sendiri terdapat kesulitan.

Begitu membuka dan mempelajari kitab-kitab yang di tinggalkan oleh manusia sakti penghuni Pulau Es, kepalanya menjadi pening dan hatinya mendingin, sama sekali ia tidak tertarik.

Sebaliknya, ketika ia membaca dua buah kitab yang ia temukan di dalam perahu, kitab tulisan Ma-bin Lo-mo, ia dapat melatihnya dengan mudah.

Selain itu, ketika ia mulai membuka kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis, ia menjadi bingung dan terheran-heran karena kitab itu ditulis dengan huruf-huruf yang sama sekali tidak dikenalnya.

Huruf-hurufnya amat aneh, dengan coretan-coretan yang tak dapat dibaca sama sekali.

Akan tetapi Han Han memiliki kecerdikan yang tidak wajar.

Ia mengingat pesan kakek Pedang Iblis Jantan, mengingat kembali kata-kata yang dibisikkan di dekat telinganya.

Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun.

Ia membuka dua kitab yang disatukan itu, memeriksa huruf-hurufnya dan mengingat bisikan itu.

Sebentar saja Han Han sudah tersenyum kegirangan.

Kiranya huruf-huruf itu sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa memiliki kuncinya, takkan dapat dibaca orang.

Dengan mengingat kuncinya, maka setiap huruf dapat ditambah atau dibuang titik maupun coretannya dan akhirnya ia dapat mengenal huruf-huruf itu.

Dengan tekun Han Han lalu mulai membaca kitab-kitab itu, kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis dan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, bahkan lalu mulai melatih diri dengan cara-cara yang tersebut dalam kitab-kitab peninggalan para datuk golongan sesat ini.

Karena pada dasarnya Han Han melatih diri dengan ilmu-ilmu sesat, maka tentu saja ia lebih mudah menggembleng diri dengan ilmu sesat dan tanpa disadarinya, dia telah mengisi dirinya dengan ilmu dari manusia-manusia sesat dan yang ternyata amat cocok dengan dirinya yang sebenarnya telah menjadi tidak normal sebagai akibat ketika ia disiksa para perwira Mancu dan kepalanya dibenturkan dinding sedangkan perasaan hati dan pikirannya menghadapi peristiwa malapetaka hebat yang menimpa keluarganya.

Adapun Lulu yang juga mulai belajar ilmu karena bercita-cita untuk membalas kematian keluarganya, dibimbing oleh Han Han, namun anak yang masis "bersih"

Ini lebih dapat menyesuaikan diri dengan ilmu yang didapat dari kitab-kitab peninggalan manusia sakti penghuni Pulau Es.

Hanya sukar sekali baginya karena kitab-kitab itu mengandung ilmu-ilmu yang amat tinggi, sedangkan sebelum belajar ia sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa.

Baiknya Han Han pernah dipimpin oleh Lauw-pangcu maka biarpun amat terbatas dan secara meraba-raba dan ngawur, sedikit banyak dapat juga Lulu memperoleh kemajuan.

Mula-mula, Han Han mencari di antara kitab-kitab dalam perpustakaan dan menemukan kitab pelajaran siulian dan berlatih napas yang sesuai dengan ajaran Lauw-pangcu.

Ia lalu menyuruh Lulu melatih diri melalui kitab ini.

Untung bahwa Lulu sebagai puteri seorang perwira, sejak kecil sudah diajar membaca sehingga lebih mudah bagi Han Han untuk membimbingnya.

Dan didasari hati mendendam karena kematian orang tuanya, ditambah pula dengan meniru watak Han Han yang keras hati dan tak mengenal jerih payah, Lulu berlatih dengan tekun sekali sehingga biarpun bakatnya dalam ilmu ini tidak sehebat bakat Han Han yang memang luar biasa, dapat juga ia merasakan hasilnya.

Biasanya, semenjak berdiam di pulau yang amat dingin itu, Lulu melindungi tubuhnya dengan pakaian-pakaian dari bulu yang terdapat dalam kamar yang ditempatinya.

Akan tetapi berkat latihan-latihannya, setelah dua tahun, anak itu dapat mengerahkan sinkang yang mulai terkumpul di tubuhnya untuk melawan hawa dingin.

Hanya kalau hawa luar biasa dinginnya, ia terpaksa masih mengenakan baju bulu yang hangat.

Setelah tubuhnya menjadi kuat dan gerakannya menjadi lincah, Han Han mulai memberi petunjuk kepadanya tentang pelajaran memasang kuda-kuda dan gerakan langkah kaki.

Mulailah Lulu belajar silat dari sebuah kitab yang mengajarkan ilmu silat tangan kosong.

Ilmu silat ini amat tinggi tingkatnya seperti juga semua kitab yang berada di situ.

Tentu saja karena dasar yang dimiliki Lulu terlampau rendah, maka dia hanya dapat menguasai gerakan-gerakannya saja, sedangkan intinya hanya dapat ia petik sebagian kecil.

Kemajuan Lulu menggirangkan hati anak itu sendiri yang mengira bahwa kini dia telah menjadi seorang "ahli silat"

Dan yang kelak, kalau mereka berhasil keluar dari tempat terasing ini, dapat ia pergunakan untuk membalas dendam.

Adapun Han Han yang melatih diri dengan penggabungan ilmu dalam kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, Sepasang Pedang Iblis, dicampur dengan latihan-latihannya ketika ia "mencuri"

Ilmu dari Kang-thouw-kwi, menjadi tersesat tidak karuan dan secara ngawur ia telah dapat melatih dirinya sehingga memperoleh kemajuan yang aneh dan mengerikan.

Kalau seorang ahli lain melatih diri dengan sinkang berdasarkan pengerahan tenaga sakti di tubuh yang dapat dipergunakan untuk membangkitkan tenaga Yan-kang atau Im-kang, Han Han sebaliknya malah membenamkan diri dalam cengkeraman hawa sakti Im-kang karena ia melatih diri dengan menggunakan hawa dingin sebagai ujian.

Sebetulnya, dengan inti dari Ilmu Hwi-yang Sin-kang yang ia curi dari Kang-thouw-kwi, Han Han dapat membuat tubuhnya terasa panas untuk mengatasi hawa dingin di pulau itu, sungguhpun hal ini akan merupakan sebuah cara yang berbahaya karena ia seolah-olah melawan dingin dengan kekuatan sinkangnya.

Kalau dia menang, dia tidak akan kedinginan, akan tetapi kalau sampai kalah, dia yang menggunakan Yang-kang secara ngawur akan terancam bahaya maut.

Untung bahwa dia tidak sampai terancam bahaya ini karena dia memulai latihannya dengan menggunakan kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan Sepasang Pedang Iblis.

Kitab Ma-bin Lo-mo mengajarkan tentang menghimpun tenaga Im-kang dan karena di dalam diri Han Han telah terkandung tenaga sakti, begitu ia bersamadhi dan mulai melatih diri, sebentar saja ia dapat menghimpun tenaga "dingin"

Ini.

Berlatih menghimpun tenaga dingin, di dalam hawa yang dinginnya seperti Pulau Es itu, pada hari-hari pertama merupakan siksaan hebat pada tubuhnya.

Darahnya seolah-olah menjadi beku dan hampir saja Han Han beberapa kali terancam maut kalau saja Lulu tidak selalu menjaganya.

Kalau sudah melihat kakaknya menggigil kedinginan, mukanya membiru seperti itu, Lulu cepat turun tangan, menyelimuti tubuh kakaknya dengan baju bulu, atau membuat api unggun di dekat kakaknya, atau mengguncang-guncang tubuh Han Han sehingga terpaksa Han Han menyudahi latihannya menghimpun tenaga dingin.

Akan tetapi Han Han memiliki kekerasaan hati yang tidak lumrah manusia biasa.

Dia tidak pernah merasa kapok dan selalu berlatih Im-kang di waktu hawa sedang dinginnya sehingga akhirnya ia dapat membuat keadaan tubuhnya lebih dingin daripada hawa dingin di luar tubuhnya.

Dengan begini, karena dia membuat suhu tubuhnya lebih dingin daripada suhu di luar tubuh, setelah latihannya matang, ia malah merasa bahwa hawa yang amat dingin, yang bagi orang lain akan tak tertahankan itu masih kurang dingin.

Setelah berlatih tiga tahun lamanya, di waktu hawa di Pulau Es itu amat dingin, Han Han mulai berlatih sambil membuka sepatunya dan pakaiannya.

Demikianlah, dengan ditemani beruang es yang merupakan teman bermain bahkan teman berlatih silat amat tangguh dari Lulu, kedua orang anak itu hidup terasing dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu aneh tanpa bimbingan sehingga kepandaian yang mereka peroleh amatlah aneh bagi umum.

Setelah tinggal di Pulau Es selama tiga tahun, Han Han dan Lulu menganggap pulau itu seperti milik mereka sendiri dan makin banyak mereka mengenal istana itu, makin tebal keyakinan mereka bahwa dahulu tempat ini merupaan tempat tinggal orang-orang sakti dan bahwa kemudian terjadi hal-hal yang amat hebat di situ sehingga kemudian ditinggalkan para penghuninya.

Akan tetapi selama tiga tahun itu, Han Han dan Lulu tidak pernah menemukan sesuatu yang menceritakan tentang para penghuni itu.

Tulisan-tulisan di dinding hanya merupakan sajak-sajak yang selain mengandung filsafat-filsafat hidup, juga membayangkan kepahitan dan penderitaan batin si penulisnya namun tidak pernah menyinggung soal nama maupun riwayat mereka yang dahulu tinggal di istana Pulau Es itu.

"Ah, Paman Beruang. Kalau saja engkau mampu bicara, tentu ceritamu tentang para penghuni istana Pulau Es ini amat menarik hati,"

Kata Han Han sambil mengelus bulu putih lengan binatang itu.

"Mungkin dia sudah berkali-kali bercerita kepada kami dengan gerakan-gerakannya. Sayang kita yang tidak mengerti,"

Kata Lulu sambil tertawa.

"Boleh jadi."

Kata pula Han Han, juga tertawa setelah memandang wajah adik angkatnya penuh kagum.

Kini Lulu telah menjadi seorang gadis cilik dan jelas tampak betapa manis dan cantik anak ini, matanya yang lebar itu bersinar-sinar, mulutnya kelihatan manis dengan lesung pipit di pipi kiri.

"Benarkah, Paman Beruang? Apa sih yang hendak kau ceritakan kepada kami tentang manusia-manusia sakti yang telah melimpahkan kebaikan kepada kami sehingga kami ditinggali segala kemewahan ini?"

"Nguk-nguk ger-gerrrrr..."

Lulu meniru suara beruang itu dan menggerak-gerakkan kedua lengannya.

dengan lagak seperti beruang itu sehingga Han Han menjadi tertawa geli.

Mendadak beruang itu menggereng, kemudian menyergap hendak mencengkeram pundak Lulu.

Akan tetapi dengan sigap sekali Lulu miringkan tubuhnya sehingga cengkeraman itu luput.

"Ihhh, salah sangka selalu kau, Paman Beruang, Aku tidak ingin mengajak kau berkelahi."

Kata Lulu dan melihat gadis cilik itu tidak balas menyerangnya, beruang itu pun hilang semangatnya dan tidak menyerang terus.

Mendadak terdengar desir angin yang amat keras sampai salju-salju beterbangan dan dari tempat yang agak tinggi itu tampak air laut dari jauh bergelombang besar.

Lulu dan Han Han memandang ke arah laut sambil melindungi muka dari hantaman salju tipis yang terbawa angin.

Keduanya teringat akan peristiwa tiga tahun yang lalu ketika mereka diombang-ambingkan perahu yang menjadi permainan badai.

Angin cepat sekali berubah makin membesar dan suaranya berdesir menakutkan.

"Agaknya badai akan mengamuk lagi.."

Kata Han Han dan biarpun mereka tidak perlu mengkhawatirkan badai karena sekarang berada di tengan Pulau Es, namun teringat akan pengalamannya tiga tahun yang lalu, Lulu merasa ngeri juga.

Mendadak beruang es itu mengeluarkan bunyi pekik yang belum pernah mereka dengar selama ini.

Pekik ini seperti suara yang mengandung kecemasan dan tiba-tiba Han Han dan Lulu terkejut karena binatang besar itu telah menyambar tangan mereka dan menarik mereka memasuki istana.

"Paman beruang, bukan waktunya untuk main-main."

Lulu berusaha untuk merenggutkan tangannya.

"Dia tidak main-main, Lulu. Dia ketakutan dan mengajak kita masuk. Tentu ada sebabnya. Hayo kita ikut dia masuk."

Kata Han Han dan berlari-larianlah mereka memasuki istana.

Akan tetapi beruang itu sambil mengeluarkan suara mengeluh panjang mendorong-dorong untuk terus masuk dan menuruni anak tangga yang membawa mereka ke dalam gudang di bawah tanah, yaitu gudang tempat penyimpanan bahan makanan.

Setelah mereka tiba di gudang bawah tanah ini, beruang es itu lalu berjingkrak-jingkrak seperti mabuk atau ketakutan, dan menuding-nuding ke arah dinding sebelah belakang sambil membuat gerakan seperti mendorong dengan kedua lengannya ke arah dinding.

"Apa maksudnya?"

Tanya Han Han.

"Aneh sekali, dia seperti minta kita mendorong dinding. Padahal kalau memang begitu, tenaganya yang amat besar tentu lebih berhasil daripada kita,"

Jawab Lulu dan anak ini lalu menghampiri dinding, mengerahkan tenaga dan berusaha mendorong seperti yang diperlihatkan dengan gerakan oleh binatang itu.

Akan tetapi dinding itu tetap tidak bergerak.

"Eh, Paman Beruang. Kalau memang harus didorong, kau bantulah aku."

Kata Lulu rnendongkol karena tidak mengerti maksud binatang itu.

Han Han menghampiri dinding itu mencoba untuk mendorongnya, membantu Lulu.

Akan tetapi tiba-tiba beruang itu memegang pundaknya dan menariknya ke belakang, lalu menggereng-gereng dan menggeleng-celeng kepala, kemudian membuat gerakan mendorong lagi dari jauh sambil menuding-nuding ke arah Han Han.

Mereka telah tiga tahun bergaul dengan binatang itu dan sedikit banyak sudah dapat mengerti bahasa gerakan ini.

"Han-ko, agaknya Paman Beruang minta engkau yang mendorong dinding."

Kata Lulu. Han Han mengerutkan kening.

"Tidak, aku tadi mendorong dia tarik ke belakang. Ah, jangan-jangan dinding ini ada rahasianya dan harus didorong dengan hawa sinkang dari jarak jauh. Mundurlah, Lulu."

Ketika mendengar ini dan melihat Lulu mundur, beruang itu mengangguk-angguk dan mengeluarkan suara seperti kalau dia sedang bersenang hati.

Makin yakin hati Han Han dan ia lalu mundur.

Dalam jarak satu meter ia lalu menekuk kedua lututnya, memusatkan perhatian, menahan napas, mengerahkan hawa sin-kang di dasar perut dan disalurkan ke arah kedua lengannya lalu mendorong ke arah dinding.

Karena setiap hari selama tiga tahun ini ia melatih hawa sakti Im-kang, tentu saja ketika mempergunakan dorongan ini ia pun otomatis mempergunakan Im-kang.

Kemajuan yang diperoleh Han Han selama berlatih tiga tahun ini amatlah hebatnya.

Hawa dingin yang amat dahsyat menyambar dari kedua tangannya yang mendorong itu dan dinding yang terbuat dari baja itu tergetar hebat, akan tetapi tidak ada perubahan apa-apa.

Yang sebelah kirinya tergetar keras, akan tetapi yang sebelah kanan tidak tergoyang sedikit pun.

"Bagus! Sudah tergetar, Koko. Coba lagi, lebih kuat."

Kata Lulu setengah berteriak, mengharapkan untuk membuka rahasia tempat ini dan ingin sekali mengetahui apa yang akan terjadi.

Sementara itu, suara badai mengamuk di luar istana terdengar amat santer dan angin malah masuk sampai ke tempat itu.

Dapat dibayangkan betapa hebatnya badai mengamuk kalau anginnya dan suaranya sampai memasuki ruangan di bawah tanah itu.

Han Han sudah siap untuk mencoba lagi, akan tetapi beruang itu menggereng-gereng marah dan menggerak-gerakkan kedua kaki depan tanda tidak setuju, akan tetapi masih tetap membuat gerakan mendorong-derong dinding.

Han Han tidak jadi mendorong lagi, lalu mempergunakan pikirannya.

Memang dia harus mendorong, akan tetapi agaknya keliru cara menggunakan sinkang.

Kalau dorongan ini hanya membutuhkan tenaga kasar, tentu binatang itu sendiri akan sanggup melakukannya, karena dalam hal tenaga kasar, beruang itu jauh lebih menang dibandingkan dia.

Tentu harus menggunakan sinking, akan tetapi mengapa salah?

Tiba-tiba ia teringat.

Ah, dia melatih sin-kangnya berdasarkan ilmu-ilmu dari Ma-bin Lo-mo yang ia gabungkan dengan ilmu dari kitab Sepasang Pedang Iblis, yaitu mempergunakan Im-kang.

Inilah agaknya yang menjadi kesalahannya.

Tentu saja ilmu dari penghuni istana di Pulau Es ini berbeda sinkangnya dengan Ma-bin Lo-mo.

Akan tetapi, tenaga sinkang ada dua macam, kalau tidak hawa sakti dingin tentu hawa sakti panas, yaitu Yang-kang.

Dia sudah mencuri ilmu ini dari Kang-thouw-kwi, akan tetapi sudah tiga tahun ia tidak pernah melatih Yang-kang.

Betapapun juga, Han Han masih belum melupakan untuk mempergunakan tenaga yang keluar dari hawa sakti itu.

Latihan-latihannya dengan batu bintang dan dengan nyala api tulang manusia sudah cukup matang.

"Apakah dengan tenaga Yang-kang?"

Ia bertanya kepada diri sendiri, sedangkan Lulu hanya memandang, tidak berani mengganggu karena maklum bahwa kakaknya sedang berusaha keras untuk membuka rahasia dinding ini.

Han Han kembali menekuk kedua lututnya, kemudian ia berdiam sampai lama, berusaha mengobarkan hawa Yang-kang di tubuhnya.

Memang amat sukar dan sebentar saja peluh membasahi muka dan lehernya, akan tetapi ternyata ia berhasil karena kedua tangannya mulai menjadi panas, bahkan mengepulkan asap.

Lulu terbelalak kagum dan beruang itu meloncat ke belakang ketakutan.

Memang luar biasa sekali anak ini.

Keadaan jasmaninya yang tidak wajar lagi menimbulkan kekuatan mukjizat dan kekuatan kemauannya bukan main besarnya sehingga hawa sakti di tubuhnya itu lebih dikuasai kemauannya daripada kematangan latihannya.

Setelah merasa kedua lengannya menggetar-getar dengan hawa panas seperti dahulu kalau ia berlatih secara diam-diam di daerah terlarang belakang istana Pangeran Ouwyang Cin Kok, Han Han lalu melakukan gerakan mendorong untuk kedua kalinya ke arah dinding itu.

Kembali dinding itu tergetar hebat seperti tadi.

Akan tetapi, sekali ini yang tergetar hebat adalah bagian dinding di sebelah kanannya, sedangkan di sebelah kiri sama sekali tidak bergerak, menjadi sebaliknya daripada tadi.

Beruang itu mulai "mengomel"

Lagi dan membanting-banting kaki belakang seperti orang marah, lalu menuding-nuding Han Han lagi sambil menggunakan gerakan mendorong-dorong.

Han Han menjadi bingung.

Kalau dengan Im-kang dan Yang-kang keduanya gagal, habis cara bagaimana ia harus mendorong dinding itu?

Sementara itu, kini angin yang masuk dengan santer membawa pula butiran-butiran es yang keras sehingga mengejutkan mereka.

"Han-ko, apa bedanya doronganmu yang pertama dengan yang ke dua?"

Tiba-tiba Lulu yang sejak tadi memperhatikan itu bertanya.

"Yang pertama menggunakan hawa sakti dingin, yang kedua menggunakan hawa sakti panas."

Lulu bertepuk tangan dan wajahnya berseri.

"Ah, sekarang aku mengerti. Ketika engkau menggunakan Im-kang yang pertama tadi, dinding sebelah kiri yang terguncang hebat sedangkan yang kanan tidak bergerak. Sebaliknya, ketika kau menggunakan Yang-kang, dinding di kanan yang tergetar sedangkan yang kiri tidak. Sekarang, kau doronglah dengan kedua hawa sakti Im dan Yang. Kalau lengan kirimu mendorong dengan Im-kang ke sebelah kiri dinding dan lengan kananmu mendorong dengan Yang-kang ke sebelah kanan, tentu akan terbuka rahasia ini"

"Agaknya engkau benar, akan tetapi betapa mungkin menggunakan dua hawa sakti yang berlawanan secara berbareng?"

"Mengapa tidak mungkin Koko? Kita pernah membaca kitab tentang ilmu silat Im-yang-kun yang berada diperpustakaan. Bukankah ilmu itu pun mempergunakan dua macam sinkang?"

"Benar, dan sepasang kitab Suhu dan Subo yang diberikan kepadaku pun mengandung tenaga yang berlawanan. Akan tetapi hal itu dimainkan oleh dua orang, tentu saja dapat. Kalau aku seorang diri harus mengerahkan tenaga yang berlawanan, betapa mungkin? Aku belum pernah belajar tentang itu."

"Koko, engkau seorang yang paling cerdik dan pandai di seluruh dunia ini. Apa yang tidak mungkin bagimu? Cobalah, engkau tentu bisa. Lihat, badai makin hebat mengamuk. Butiran-butiran es seperti peluru dan aku harus selalu menangkis, akan tetapi butiran-butiran itu hancur kalau mengenai tubuhmu dan kau seperti tidak merasakan. Koko, aku dapat menduga bahwa tentu ada tempat persembunyian rahasia dan Paman Beruang agaknya hendak mengajak kita bersembunyi di tempat itu."

Han Han menoleh dan melihat betapa beruang itu repot menutupi mukanya agar jangan terkena hantaman butiran-butiran es yang kalau mengenai matanya atau hidungnya tentu akan mengakibatkan luka.

Binatang ini ketakutan dan mengeluarkan bunyi seperti anak kucing.

Harus kucoba, pikirnya dan mulailah ia menekuk kedua lututnya, menghadapi dinding dan mulailah ia mengatur hawa sinkang yang disalurkan dari pusarnya, naik ke atas dan dia mencoba untuk membaginya menjadi dua hawa sakti Im dan Yang.

Sesungguhnya, hanya orang yang sinkangnya sudah amat tinggi saja yang akan dapat mengerahkan Im-kang dan Yang-kang secara berbarengan.

Di luar kesadarannya, Han Han telah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat.

Akan tetapi karena dia belum pernah berlatih di bawah bimbingan ahli, maka ia repot sekali membagi sinking ini.

Kedua tangan sakti itu menarik-narik, kadang-kadang menjadi Im-kang semua yang amat hebat sehingga tubuhnya menggigil kedinginan, kadang-kadang Yang-kang menang kuat dan semua tenaga menjadi hawa sakti yang panas membuat kepalanya mengepulkan asap.

Ia merasa tersiksa sekali, dadanya sampai terasa nyeri dan napasnya terengah-engah.

Akan tetapi ketika ia hendak membatalkan usahanya yang sia-sia ini dan melirik ke arah Lulu, ia melihat adiknya itu memandang kepadanya penuh kekaguman dan penuh kepercayaan.

Hal ini memberi kekuatan luar biasa kepadanya dan cukup memberi dia kenekatan untuk berusaha sampai berhasil biarpun dia akan menderita sampai mati sekalipun.

Memang hebat sekali tenaga kemauan hati Han Han.

Tenaga mukjizat inilah yang membuat ia memiliki kekuatanpada matanya sehingga tanpa belajar ia telah mempunyai kepandaian menundukkan kemauan dan semangat orang lain.

Kini tenaga kemauannya ini ia tujukan ke dalam dan biarpun ia belum pernah melatih untuk mengendalikan sinkang, kini ia berusaha lagi untuk "mencegah"

Sinkangnya menjadi dua macam, sekali ini dia berhasil.

Akan tetapi keadaannya seperti seorang yang mengendalikan dua ekor kuda yang berlawanan larinya, sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada melawan sinkang sendiri agar jangan sampai menyeleweng ke kanan atau ke kiri.

Kembali ia mendorong dengan kedua lengan yang berlawanan hawa saktinya.

Dinding itu tergetar hebat, terdengar keras sampai mengeluarkan suara dan disusul suara berderit aneh kemudian..

dinding itu terpecah menjadi dua bagian dan terbuka seperti ada tenaga rahasia mendorongnya ke kanan kiri.

"Kau berhasil, Han-ko..."

Lulu bersorak akan tetapi kegirangannya segera berubah menjadi kaget ketika melihat tubuh Han Han roboh terguling.

Lulu cepat melompat dan berhasil memeluk tubuh kakaknya sehingga Han Han tidak sampai terbanting.

Beruang itu pun berseru girang, akan tetapi ia lalu menyambar tubuh Han Han, dipondongnya dan ia menunjuk-nunjuk ke bawah di mana terdapat anak tangga dari batu, memberi isyarat kepada Lulu untuk menuruni anak tangga sedangkan dia sendiri sambil memondong tubuh Han Han, mengikuti dari belakang dengan wajah takut-takut.

Lulu yang menjadi cemas melihat kakaknya pingsan, segera menuruni anak tangga tanpa ragu-ragu, karena ingin segera dapat menolong kakaknya yang dipondong beruangnya.

Melihat kakaknya dipondong beruang itu, teringatlah ia beberapa tahun yang lalu ketika mula-mula mereka datang, hanya bedanya, kalau dahulu dia yang mengikuti binatang itu, sekarang dialah yang berjalan di depan.

Anak tangga itu amat dalam, dua kali lebih dalam daripada anak tangga yang menuju ke gudang bawah tanah.

Dan ketika ia sampai di dasar anak tangga, Lulu menjadi bengong.

Tentu ia sudah bersorak gembira kalau saja tidak ingat akan keadaan kakaknya.

Ruangan yang berada di dasar tangga itu benar-benar mempesonakan sekali, jauh lebih indah daripada semua ruangan di atas"

Benda-benda yang berada di situ berkilauan, terbuat daripada emas dan perak.

Beruang itu sudah menurunkan tubuh Han Han ke atas lantai yang terbuat daripada batu putih bersih dan mengkilap, kemudian beruang itu berlari ke tengah ruangan dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga buah patung yang terbuat daripada batu pualam.

Berlutut sambil mengeluarkan suara seperti menangis.

Biarpun merasa heran sekali, akan tetapi Lulu tidak lagi memperhatikan binatang itu, tidak pula memperhatikan ruangan yang indah karena semua perhatiannya telah ia curahkan kepada Han Han yang menggeletak terlentang di atas tanah.

Ia berlutut di dekat kakaknya dan memeriksa.

Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa kulit muka kakaknya itu berwarna dua macam.

Yang kanan berwarna hitam seperti terbakar gosong, adapun yang kiri berwarna putih kebiruan seperti muka mayat.

Han Han rebah tak bergerak, dan napasnya tinggal satu-satu.

"Koko., Han-ko... ahhh, Koko..."

Lulu memeluk tubuh kakaknya dan menjadi kebingungan.

Akan tetapi ia lalu teringat bahwa kakaknya tentu menderita luka di sebelah dalam, akibat dari pengerahan sinkang yang dibagi menjadi dua hawa sakti tadi.

Ia sudah banyak membaca kitab tentang latihan sinkang, bahkan dia sendiri sudah melatih diri di bawah bimbingan kakaknya.

Yang ia latih adalah sebuah kitab dari perpustakaan di istana Pulau Es itu yang sesuai dengan latihan yang pernah dipelajari Han Han dari Lauw-pangcu.

Tanpa mereka sadari, kalau Han Han menggembleng diri dengan ilmu kaum sesat, adalah Lulu malah melatih diri dengan ilmu kaum bersih.

Melihat keadaan kakanya sekarang ini, Lulu teringat akan ilmu memindahkan sinking ke tubuh orang lain untuk membantu orang itu.

Maka, biarpun latihannya belum matang benar, Lulu tanpa ragu-ragu lagi duduk bersila dan menempelkan kedua telapak tangannya ke dada dan perut Han Han, kemudian ia mengheningkan cipta, bersamadhi mengumpulkan semua tenaga dalam di tubuhnya yang ia paksa keluar melalui kedua tangannya memasuki tubuh Han Han.

Han Han siuman dan merasa betapa ada hawa hangat yang halus lembut memasuki dadanya.

Ketika ia membuka mata dan melihat betapa Lulu bersila meramkan mata dan menempelkan kedua telapak tangan ke badannya, ia menjadi terharu sekali dan rasa sayangnya terhadap adiknya ini makin mendalam.

"Cukuplah, Lulu. Jangan menyia-nyiakan sinkangmu yang masih belum kuat..."

Katanya halus sambil mendorong kedua tangan Lulu perlahan-lahan.

Lulu membuka matanya akan tetapi menutup mulutnya yang sudah akan bertanya ketika ia melihat betapa kakaknya bangkit dan bersila sambil meramkan mata.

Ia tahu bahwa kakaknya sedang mengerahkan tenaga untuk mengobati diri sendiri dan perlahan-lahan muka kakaknya yang tadinya berwarna dua kini menjadi pulih kembali.

Hatinya menjadi lega dan mulailah dia menyapu keadaan sekeliling ruangan indah itu dengan pandang matanya.

Ruangan itu benar-benar amat indah.

Di tengah ruangan terdapat tiga buah patung, yang tengah merupakan seorang laki-laki yang tampan sekali, akan tetapi bagian kepalanya, di dahi, terdapat dua buah lubang seolah-olah bagian kepala patung ini ada yang menusuknya dengan senjata dua kali.

Di sebelah kiri patung pria ini adalah sebuah patung wanita, cantik jelita dengan tubuh ramping dan dengan wajah lemah lembut, akan tetapi sebelah kakinya buntung"

Adapun yang berada paling kanan adalah patung seorang wanita yang juga cantik jelita, lebih tinggi daripada wanita buntung, akan tetapi kecantikan wanita di kanan ini bercampur dengan kekerasan hati dan kekejaman yang membayangkan pada wajah cantik itu.

Hanya patung inilah yang tidak ada cacadnya.

Tiba-tiba Lulu tertawa.

Memang lucu melihat tingkah laku beruang es ketika itu.

Binatang ini seperti kesurupan atau telah menjadi gila.

Kadang-kadang ia lari dan menjatuhkan diri didepan patung pria, memeluk kaki patung itu, mengeluarkan suara seperti menangis, kemudian berlutut di depan patung wanita buntung, berdongak ke atas memandang wajah patung itu dengan wajah membayangkan rasa saying, akan tetapi selalu ia kembali ke patung sebelah kanan dan ia berlutut di depan wanita cantik tanpa cacad itu sambil mengangguk-angguk dan membentur-benturkan kepala ke lantai dan mengeluarkan suara seperti sedang ketakutan.

Melihat beruang itu berlutut di depan tiga patung dengan tiga macam tingkah laku, kelihatan lucu bukan main sehingga Lulu tertawa.

Han Han membuka matanya.

Ia pun terpesona akan keindahan ruangan itu dan kini tahulah ia mengapa beruang itu mengajak mereka ke situ.

Dari tempat ini, suara badai mengamuk tidak terdengar lagi dan mereka memang aman daripada gangguan suara den ancaman hujan butiran es keras yang beterbangan seperti peluru.

Akan tetapi, melihat beruang itu seperti gila berlutut di depan tiga buah patung itu, ia memandang terbelalak dan hatinya berdebar keras.

Tidak salah lagi, tentu patung-patung itu adalah patung dari para penghuni istana Pulau Es yang telah meninggalkan kesemuanya untuk dia dan Lulu.

Sudah meninggal duniakah mereka bertiga itu?

Ia bangkit lalu menggandeng tangan Lulu, dan berbisik.

"Lulu, jangan sembrono. Kurasa mereka itu adalah patung daripada Locianpwe yang dahulu menjadi penghuni Istana Pulau Es. Mari kita memberi hormat.."

Lulu menurut dan sambil bergandengan tangan mereka menghampiri tengah ruangan itu.

Melihat betapa tiga buah patung itu menggambarkan Seorang laki-Jaki muda dan tampan dan dua orang wanita yang cantik jelita seperti puteri-puteri istana, Han Han terbelalak dan meragu.

Inikah manusia-manusia sakti yang menjadi penghuni Istana Pulau Es?

Akan tetapi, menyaksikan sikap beruang itu, ia tidak ragu-ragu lagi dan ia membimbing tangan Lulu dan diajaknya adiknya itu berlutut di depan ketiga patung itu sambil berkata.

"Teecu Sie Han dan Sie Lulu mohon ampun kepada Sam-wi Locianpwe bahwa teecu berdua berani mendiami Istana Pulau Es tanpa ijin Sam-wi, dan teecu berdua menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan yang ditinggalkan Sam-wi Locianpwe untuk keperluan teecu berdua."

Beruang itu kelihatann girang sekali melihat Han Han dan Lulu berlutut.

Ia pun berlutut di depan patung pria itu dan mengeluarkan suara menguik-nguik seolah-olah ia pun menceritakan bahwa dua orang anak-anak itu adalah orang baik-baik dan selama ini menjadi sahabat-sahabatnya.

"Koko, mengapa aku bernama Sie Lulu?"

Lulu berbisik setelah mereka bangkit dan melihat-lihat keadaan ruangan yang indah itu.

"Habis, engkau Adikku. Kalau tidak ber-she Sie seperti aku, mau pakai she apa lagi?"

"Koko, para Locianpwe yang katanya orang-orang sakti, kenapa masih begitu muda-muda dan kelihatan seperti orang-orang lemah?"

"Hussshhh, jangan berkata demikian, Lulu. Kau lihat beruang itu mengenal majikan-majikannya, kiranya tidak salah lagi. Mereka adalah penghuni istana yang tadinya terbuka itu dapat menutup sendiri"

Tentu saja Han Han dan Lulu menjadi terkejut dan merasa seram.

Adakah mahluk tersembunyi di tempat itu yang menutupkan dinding baja ini?

Mereka diam-diam mengambil keputusan untuk tidak memasuki tempat rahasia itu lagi kalau tidak amat perlu, karena kehadiran mereka seolah-olah mengganggu ketenteraman dan kesunyian tiga patung yang indah itu.

Ke manakah perginya perahu Mancu yang dipimpin oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat pada tiga tahun yang laJu ketika perahu itu bertemu dengan perahu Ma-bin Lo-mo?

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dengan licik sekali Kang-thouw-kwi dapat mengalahkan Ma-bin Lo-mo dengan anak panah-anak panah berapi sehingga perahu Ma-bin Lo-mo terbakar dan memaksa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya meloncat ke laut meninggalkan perahu yang terbakar.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert