Ceritasilat Novel Online

Pendekar Super Sakti 4

Eps 4 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.

Si Setan Botak tertawa bergelak, suara ketawanya yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya itu terbawa angin laut dan terdengar sampai jauh, seperti suara ketawa iblis taut sendiri.

Adapun Ma-bin Lo-mo dan tiga orang kawannya, dapat menghindari maut dengan jalan mengapungkan diri berpegangan kepada bambu-bambu yang mereka renggut putus dari perahu, yaitu bamboo-bambu pengapung yang dipasang di kanan kiri perahu yang terbakar itu.

Pada saat itu, badai mulai mengamuk dan Gak Liat bersama anak buahnya terlalu repot dan sibuk menyelamatkan perahu mereka melawan ombak membadai sehingga mereka tidak melihat betapa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya mempergunakan kekuatan tangan mereka untuk mendayung bambu-bambu pengapung itu mendekati perahu Mancu itu.

Tidak melihat betapa empat orang sakti itu akhirnya berhasil menempel di tubuh perahu dan berpegang kuat-kuat sehingga betapapun badai mengamuk dan perahu itu diayun dan diguncangkan, mereka tetap menempel pada tubuh perahu seperti empat ekor lintah menempel di perut kerbau.

Setelah badai mereda, perahu itu dibawa jauh dari sekumpulan pulau-pulau itu dan terdampar di sebuah pulau kecil yang kosong.

Gak Liat dan anak buahnya lalu mendarat dan para perwira Mancu itu lalu mempergunakan sebuah alat teropong untuk menyelidiki keadaan sekitar pulau itu.

Tiba-tiba seorang di antara para perwira itu berseru keras dalam bahasa Mancu dan menunjukkan teropongnya ke arah utara.

Sekali meloncat, Gak Liat sudah tiba di dekat perwira ini dan menyambar teropongnya.

Biarpun dia memiliki ilmu tinggi dan pandang matanya jauh lebih awas daripada mata orang biasa, namun dibandingkan dengan kekuatan teropong itu ia masih kalah jauh.

Ia lalu memakai teropong itu dan menujukan pandangannya ke utara, kemudian ia berkata girang.

"Tidak salah lagi"

Itulah Pulau Es"

Kita berhasil..."

Teriaknya.

Tentu saja hatinya girang ketika ia melihat sebuah puJau yang putih diliputi salju dan melihat samar-samar sebuah bangunan indah di tengah pulau, dibagian yang agak tingi.

Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan ngeri dan empat orang perwira Mancu roboh terjungkal dan tewas seketika.

Seperti iblis-iblis penghuni pulau, muncullah empat orang kakek yang pakaiannya basah kuyup, dan biarpun keadaan empat orang kakek ini cukup payah karena terendam di air laut terlalu lama, namun mereka itu dapat dikenal sebagai Ma-bin Lo-mo, Si Muka Tengkorak Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Si Muka Bopeng Ouw Kian.

Mereka herhasil mendarat pula dan begitu muncul, mereka berempat menyerang empat orang perwira yang roboh dan tewas seketika.

"Iblis Muka Kuda, Engkau masih belum mampus?"

Teriak Setan Sotak dengan nyaring dan terheran-heran.

"Si Botak yang buruk. Bukan aku, melainkan engkaulah yang akan mampus."

Balas Ma-bin Lo-mo yang segera maju menerjang Si Setan Botak.

Adapun tiga orang pembantunya sudah dikurung oleh dua puluh enam orang perwira Mancu.

Pertandingan hebat din mati-matian terjadilah di pulau kosong itu.

Terjangan Ma-bin Lo-mo sudah disambut dengan tangkisan Kang-thouw-kwi.

Dua buah lengan yang amat kuat bertemu dan keduanya terpental ke belakang.

Biarpun hawa sakti yang tersalur di tangan mereka berlawanan dan amat ber beda, yang seorang adalah ahli Yang-kang dan yang ke dua adalah ahli Im-kang, Namun karena tingkat mereka sudah amat tinggi dan seimbang, keduanya terpental keras dan masing-masing harus mengakui bahwa lawan tldak boleh dipandang ringan.

Maka mereka segera saling menggempur dengan hati-hati sekali, karena mereka maklum bahwa satu kali saja terkena pukulan lawan, berarti bahaya maut mengancam nyawa mereka.

Pertandingan antara tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo yang dikeroyok dua puluh enam orang perwira Mancu juga berjalan dengan sengit dan mati-matian.

Para perwira itu bukanlah perajurit-perajurit sembarangan, melainkan perwira-perwira pilihan yang sengaja diutus oleh kaisar untuk mencari Pulau Es di bawah pimpinan Setan Botak.

Mereka mengeroyok dengan senjata golok mereka secara teratur dan tidak serampangan karena mereka pun tahu bahwa tiga orang itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi.

Kalau saja tiga orang sakti itu berada dalam keadaan segar seperti biasa, biarpun dikeroyok dua puluh enam orang, tipis harapan bagi para perwira itu untuk dapat menang.

Akan tetapi tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu telah mengalami penderitaan hebat ketika mereka menempel pada tubuh perahu yang diombang-ambingkan gelombang lautan.

Gempuran-gempuran air laut membuat mereka lelah sekali, kehabisan tenaga, ditambah ketegangan yang mengerikan, sehingga kini ketika mereka menghadapi pertempuran, tenaga mereka tinggal setengahnya.

Hal inilah yang membuat mereka terdesak hebat dan terancam.

Sampai puluhan jurus, mereka bertiga belum juga mampu merobohkan seorang di antara para perwira yang bekerja sama secara rapi dan membalas dengan serangan-serangan berganda yang ganas.

Antara Gak Liat Si Setan Botak dan Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda terjadilah pertandingan yang seru dan hebat.

Keduanya sekali ini dapat melanjutkan pertandingan beberapa tahun yang lalu dan sungguhpun mereka itu merupakan dua di antara para datuk yang enggan untuk saling bermusuhan, apalagi saling membunuh, namun pertandingan sekali ini lain lagi sifatnya.

Pulau Es sudah tampak di depan mata, dan satu sama lain merupakan penghalang terbesar untuk dapat memiliki semua pusaka di pulau itu yang diidam-idamkan oleh golongan kang-ouw seluruhnya, baik dari kaum bersih maupun kaum sesat.

Mereka ini para tokoh kang-ouw, sudah tahu bahwa Pulau Es itu merupakan tempat bertapa Kaoi-lojin, seorang manusia dewa yang memiliki kesaktian luar biasa dan yang telah meninggalkan benda-benda pusaka termasuk kitab-kitab pelajaran segala macam ilmu di pulau itu.

Karena ingin mendapatkan benda pusaka, kini Gak Liat dan Siangkoan Lee bertanding mati-matian, maklum bahwa sebelum berhasil menewaskan lawan berat ini, tak mungkin mereka itu akan dapat mencapai idam-idaman hati masing-masing.

Setelah lewat kurang lebih satu jam, pertandingan antara Gak Liat dan Siangkoan Lee masih berlangsung seru dan sukar untuk diduga siapa diantara mereka yang lebih unggul dan akan mencapai kemenangan.

Memang sudah tentu sekali seorang di antara mereka akan kalah, akan tetapi hal ini tentu akan terjadi lama sekali, mungkin sehari penuh, atau dua bahkan tiga hari.

Dan dapat diduga pula bahwa kalau sampai terjadi seorang di antara mereka kalah dan tewas, dia yang menang tentu takkan keluar sebagai pemenang yang utuh, sedikitnya tentu akan mengalami luka-luka parah.

Namun dalam pertempuran kurang lebih satu jam itu, telah terjadi perubahan pada pertandingan antara dua orang pembantu Ma-bin Lo-mo dengan para perwira.

Tiga orang sakti itu mengamuk hebat sekali, melupakan kelelahan tubuh nereka karena mereka maklum bahwa kalau mereka tidak dapat keluar sebagai pemenang, mereka akan tewas di pulau kosong itu.

Swi Coan si muka tengkorak sudah menggunakan senjatanya yang ampuh, sebuah thi-pian, yaitu sebatang pecut besi yang biasanya ia libatkan di pinggang sebagai sabuk.

Pecut besi itu kini menyambar-nyambar dan mengeluarkan suara meledak-ledak seperti halilintar yang menyambar-nyambar di atas kepala para pengeroyoknya yang amat banyak jumlahnya itu.

Adapun Kek Bu hwesio tokoh Kong-thong-pai yang meyeleweng itu menggunakan senjatanya yang kelihatan sederhana namun sesungguhnya tidak kalah ampuhnya, yaitu jubahnya sendiri yang kini ia lolos dan dipergunakan sebagai senjata.

Jangan dipandang ringan senjata ini, karena di tangan pendeta kosen ini, jubah itu dapat menjadi lemas dan dipakai melibat senjata lawan, juga dapat menjadi kaku seperti sebatang tongkat baja.

Ouw Kian si muka bopeng telah mempergunakan senjata pedang, sebatang pedang yang lemas sekali, tipis namun amat keras dan tajam sehingga ketika di mainkan, berubah menjadi segulung sinar putih yang membentuk lingkaran-lingkaran dan melindungi tubuhnya dari atas ke bawah dari hujan golok yang dilancarkan oleh para pengeroyoknya.

Betapapun lihainya tiga orang tokoh ini dengan senjata-senjata mereka yang ampuh, namun jumlah pengeroyok terlalu banyak sehingga setiap kali senjata-senjata mereka itu menyambar, tentu akan bertemu dengan tangkisan delapan sampai sembilan batang golok di tangan para perwira Mancu yang rata-rata memiliki tenaga besar.

Setelah pertandingan ini berjalan kurang lebih satu jam, mereka itu masing-masing telah menewaskan dua pengeroyok sehingga ada enam orang perwira yang roboh tewas, akan tetapi mereka bertiga pun tidak luput daripada luka-luka bacokan golok.

Biarpun luka-luka itu tidak parah, hanya merobek kulit dan melukai sedikit daging, namun darah yang keluar membuat mereka menjadi makin lemas dan mulailah mereka merasa khawatir karena kalau dilanjutkan, agaknya mereka itu sendiri akan roboh biarpun mungkin mereka akan dapat menewaskan lebih banyak lawan lagi.

Dengan demikian, keadaan tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo ini terancam bahaya, sedangkan keadaan Ma-bin Lo-mo sendiri pun belum pasti, kesempatannya untuk menang masih setengah-tengah atau paling banyak dia hanya menang seusap saja.

Pertandingan yang berlangsung amat serunya ini membuat mereka semua tidak sempat memperhatikan soal-soal lain yang terjadi di sekitar pulau kosong itu.

Tidak tahu betapa dari sebelah belakang pulau mendarat pula sebuah perahu layar yang keadaannya pun tidak lebih baik daripada perahu Mancu, dan jelas tampak bekas-bekas amukan badai sehingga layar perahu ini sebagian kecil robek-robek, tiangnya ada sebuah yang patah.

Tidak melihat betapa dari perahu ini meloncat turun ke darat tujuh orang yang gerakannya ringan dan gesit, tanda bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Mereka itu terdiri dari tujuh orang kakek yang usianya paling sedikit lima puluh tahun, dan di punggung masing-masing tampak menggemblok sebatang pedang yang gagangnya terukir indah dan dihias ronce-ronce beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning dan biru.

Siapakah mereka ini?

Para pembaca sudah mengenal mereka, karena tujuh orang kakek gagah perkasa ini bukan lain adalah Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pedang Siauw-lim-pai), jago-jago pedang dari Siauw-lim-pai yang telah terkenal keampuhan ilmu pedang mereka.

Seperti juga para tokoh kang-ouw yang lain, mereka ini tertarik akan Pulau Es, bahkan sekali ini atas perintah ketua Siauw-lim-pai, mereka menggunakan perahu untuk mencari pulau rahasia itu setelah mendengar bahwa pemerintah Mancu juga menaruh minat atas pulau yang mengandung benda-benda pusaka yang amat penting bagi dunia persilatan itu.

Dan seperti juga halnya perahu-perahu Mancu dan Ma-bin Lo-mo, Siauw-lim Chit-kiam ini pun diserang badai sehingga perahu mereka dipermainkan gelombang tanpa mereka dapat berbuat sesuatu yang berarti.

Tenaga manusia, betapapun kuat dan pandainya mereka, akan tampak kecil tak berarti setelah berhadapan dengan kekuasaan alam yang maha hebat.

Akhirnya, tanpa mereka kehendaki, perahu mereka juga terdampar pada pulau kosong itu seperti juga perahu Mancu, hanya bedanya, mereka terdampar di pantai yang berlawanan dengan pantai di mana perahu Mancu mendarat.

Siauw-lim Chit-kiam tidak membawa teropong seperti yang dimiliki para perwira Mancu, maka pandangan mata mereka tidak dapat mencapai Pulau Es yang tampak samar-samar di jauh.

Karena ini, mereka tidak tahu bahwa Pulau Es yang diidam-idamkan berada tak jauh lagi dari pulau kosong ini.

Mereka lalu mendarat dan tiba-tiba mereka melihat pertandingan hebat yang sedang berlangsung di pantai yang berlawanan itu.

Sebagai orang-orang gagah tentu saja mereka tertarik sekali menyaksikan pertandingan mati-matian itu, maka tanpa dikomando mereka lalu berloncatan mendekati tempat pertandingan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang sedang bertanding itu adalah Setan Botak Gak Liat melawan Iblis Muka Kuda Siangkoan Lee, dan banyak sekali perwira Mancu mengeroyok tiga orang kakek yang keadaannya telah payah dan terancam hebat.

Siauw-lim Chit-kiam mengenal siapa adanya dua orang kakek sakti yang bertanding mati-matian itu, tahu bahwa mereka itu keduanya adalah datuk-datuk sesat yang berwatak aneh dan kejam luar biasa.

Bahkan mereka pun hampir saja tewas di tangan Setan Botak Gak Liat ketika Setan Botak itu membasmi anak buah Lauw-pangcu.

Mereka pun tahu bahwa Ma-bin Lo-mo adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam dan jahat, yang tidak patut dijadikan sahabat maupun sekutu sungguhpun mereka tahu pula betapa kakek sakti ini membenci penjajah Mancu.

Akan tetapi kini menyaksikan pertandingan itu, tidaklah sukar bagi mereka untuk memihak.

Bukan sekali-kali karena mereka menaruh simpati kepada Ma-bin Lo-mo sama sekali tidak.

Mereka sebagai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang bernama bersih dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pedang yang gagah, tentu saja tidak sudi bersekutu dengan manusia iblis seperti Ma-bin Lo-mo.

Akan tetapi mereka memiliki permusuhan pribadi dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Permusuhan itu timbul ketika keponakan wanita mereka, yaitu Bi-kiam Khok Khim, anak murid Siauw-lim-pai yang cantik, telah menjadi korban kekejian Gak Liat, telah diperkosa oleh Setan Botak ini.

Di samping permusuhan pribadi ini, juga mereka teringat akan pembasmian anak buah Lauw-pangcu oleh Set an Botak.

Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan sekarang betapa Gak Liat bersekutu dengan para perwira Mancu, yaitu perwira-perwira penjajah.

Tentu saja kenyataan-kenyataan ini memudahkan Siauw-lim Chit-kiam untuk memihak dan serta-merta mereka mencabut pedang sambil menghampiri Gak Liat yang masih bertanding seru melawan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.

"Kang-thouw-kwi, bersiaplah untuk menerima hukuman atas dosa-dosamu."

Bentak Song Kai Sin yang menjadi wakil dari para sutenya.

Bentakan ini pun merupakan isyarat komando karena serentak mereka bertujuh sudah mengge rakkan pedang mereka sehingga tampak sinar pedang mereka bergulung-gulung dan terdengar suara bercuitan nyaring sekali.

Gak Liat terkejut bukan main melihat munculnya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi musuhnya ini.

Kalau saja dia tidak sedang menghadapi Ma-bin Lo-mo yang lihai, tentu dia tidak gentar menghadapi Siauw-lim Chit-kiam.

Akan tetapi di situ ada Ma-bin Lo-mo, dan dia sudah pernah bertanding melawan Siauw-lim Chit-kiam yang kalau bergabung merupakan lawan yang amat tangguh pula.

Kini melihat gulungan sinar pedang itu, ia mengeluarkan seruan keras dan cepat melempar tubuhnya ke belakang, menggunakan tenaga dorongan Ma-bin Lo-mo sehingga tubuhnya terjengkang lalu bergulingan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah meloncat ke depan Song Kai Sin yang berada paling dekat lalu mengirim pukulan Hwi-yang Sin-ciang.

Maklum akan lihainya pukulan ini Song Kai Sin meloncat jauh namun hawa pukulan itu masih menyerempet pundaknya sehingga ia terhuyung.

Pada saat itu, enam orang sutenya sudah menyerang secara berbareng kepada Gak Liat, sedangkan Ma-bin Lo-mo sendiri yang tidak menyia-nyiakan kesempatan sudah mengirim pukulan Swat-im Sin-ciang kepada Setan Botak itu.

Gak Liat terkejut setengah mati.

Ia tahu bahwa pukulan Ma-bin Lo-mo yang paling berbahaya maka ia cepat menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk."

Sekali lagi tubuh kedua orang ini terpental dan Gak Liat cepat mengelak sambil mendorong dengan tangannya ke arah enam sinar pedang, akan tetapi biarpun ia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut, pundaknya masih tergurat pedang sehingga bajunya robek dan pundak berdarah.

Pada saat itu, sebuah dorongan datang lagi dari Ma-bin Lo-mo.

Gak Liat mencoba menangkis, namun gerakannya kurang cepat sehingga ia terdorong ke belakang dan kembali sebuah tusukan pedang mengenai pangkal lengan kirinya.

Kakek ini mengeluarkan gerengan keras dan menggulingkan tubuhnya menjauhi para pengeroyoknya.

"Ha-ha-ha."

Ma-bin Lo-mo tertawa dan mendadak kakek ini membalik dan mengirim pukulan Swat-im Sin-ciang kepada tujuh orang Siauw-lim-pai itu.

Serangan ini benar-benar amat tidak terduga sehingga kedua kakak beradik Oei Swan dan Oei Kiong roboh terguling dengan muka menjadi pucat sekali.

Untung bahwa pukulan itu ditangkis oleh saudara-saudara mereka sehingga tenaganya banyak berkurang.

Mereka hanya terluka di sebelah dalam yang tidak terlalu parah, hanya membuat tubuh mereka menggigil kedinhinan, namun setelah bersila sebentar mengerahkan sinkang, rasa dingin itu lenyap.

Siauw-lim Chit-kiam kini bersatu dan mereka kini terpecah menjadi tiga kelompok, tidak bergerak-gerak dan saling memandang, menanti pihak lawan bergerak lebih dulu.

Mereka menjadi bingung sendiri karena maklum bahwa mereka tidak boleh saling bantu.

Bagi Siauw-lim Chit-kiam, keadaan mereka paling sulit.

Kalau dibuat ukuran, di antara mereka tiga kelompok, kedudukan Siauw-lim Chit-kiam yang paling lemah.

Kalau, mereka mengeroyok Gak Liat dengan bantuan Ma-bin Lo-mo, tentu mereka akan berhasil membalas dendam dan membunuh Setan Botak, akan tetapi mereka tahu bahwa watak Ma-bin Lo-mo amat aneh sehingga mereka itu akhirnya pasti akan berhadapan dengan Iblis Muka Kuda yang berhati palsu ini.

Kalau mereka kini menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Setan Botak membantu mereka, tentu Ma-bin Lo-mo akan dirobohkan, akan tetapi mereka pun akan diserang oleh Gak Liat yang mempunyai banyak kawan perwira-perwira Mancu.

Si Setan Botak Gak Liat yang tadinya merasa khawatir sekali melihat munculnya Siauw-lim Chit-kiam, kini tertawa bergelak melihat Ma-bin Lo-mo menyerang mereka.

Ia maklum bahwa bukan sekali-kali hal itu dijakukan oleh Si Muka Kuda karena memiliki rasa setia kawan terhadap dirinya.

Sama sekali bukan.

Ia tahu bahwa Ma-bin Lo-mo menganggap bahwa orang-orang Siauw-lim-pai itu sebagai pesaing juga dalam memperebutkan pusaka-pusaka Pulau Es.

Maka ia tertawa bergelak dan berkata.

"Ha-ha-ha, Iblis Muka Kuda. Kiranya engkau cerdik juga. Pulau Es sudah tampak di depan mata, kalau kita mati-matian saling gempur, akhirnya kita berdua roboh den enak sekali bagi tikus-tikus Siauw-lim ini. Kita menjadi seperti dua ekor anjing tua memperebutkan tulang dan akhirnya tikus-tikus ini yang akan mendapat tulangnya. Ha-ha-ha."

Mendengar ini, Siauw-lim Chit-kiam tercengang dan jantung mereka berdebar.

Pulau Es sudah di depan mata?

Benarkah Pulau Es sudah dekat dengan pulau kosong ini?

Adapun Ma-bin Lo-mo juga bersiap-siap.

Kalau tadi ia menyerang Siauw-lim Chit-kiam, bukan sekali-kali ia hendak menolong Gak Liat.

Ia melihat Gak Liat sudah terluka sehingga kini pasti ia akan dapat mengalahkan Setan Botak itu.

Ia tahu bahwa setelah ia mengalahkan Setan Botak, tentu tenaganya tinggal sedikit karena lelah dan Siauw-lim Chit-kiam ini bukanlah lawan yang empuk.

Dan ia pun tahu bahwa mereka bertujuh ini tentu akan mendahuluinya mengambil pusaka-pusaka Pulau Es kalau tidak dapat ia binasakan bersama dengan Setan Botak.

Kini ia meragu dan bersikap hati-hati karena kalau sampai Setan Botak dapat membujuk mereka ini menghadapinya, ia akan celaka.

Pada saat itu, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang setelah mendengar disebutnya Pulau Es lalu mencari-cari dengan pandang mata mereka, tiba-tiba mereka itu melihat ke kiri dan menjadi bengong.

Melihat keadaan mereka ini, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi ikut pula menengok dan mereka pun terkejut dan melongo.

Apakah yang mereka lihat?

Kiranya para perwira yang jumlahnya tinggal dua puluh orang mengeroyok tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo yang sudah terluka dan mulai kehabisan tenaga itu pun sekarang telah menghentikan pertempuran mereka.

Akan tetapi mereka itu bukan berhenti bertempur dalam keadaan sewajarnya.

Mereka itu masih dalam sikap bertanding, bahkan berhenti di tengah-tengah gerakan silat akan tetapi sudah menjadi kaku seperti berubah menjadi arca-arca batu.

Tahulah orang-orang sakti yang memandang heran bahwa dua puluh orang Mancu dan tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu dalam keadaan kaku karena tertotok jalan darah mereka.

Kalau dua puluh orang perwira Mancu itu sampai menjadi kaku tertotok, hal ini tidaklah amat mengherankan benar.

Akan tetapi tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo adalah orang-orang berilmu tinggi, tidak mudah tertotok begitu saja.

Dan hebatnya, mereka itu, dua puluh tiga orang banyaknya, tertotok dalam waktu yang serentak, padahal mereka itu sedang bergerak-gerak cepat dalam pertandingan mati-matian.

Manusia mana yang sanggup melakukan totokan seperti itu?

Kenyataan inilah yang membuat mereka makin terbelalak memandang ketika tampak seorang kakek yang bertubuh tegap tinggi muncul di pantai.

Sebuah perahu nelayan kecil tampak di belakangnya dan kini kakek ini melangkah perlahan-l.ahan menuju ke tempat mereka.

Kakek itu tidak dapat dilihat mukanya karena tertutup oleh sebuah caping nelayan yang amat lebar.

Hanya dapat dilihat betapa pakaiannya amat sederhana, pakaian seorang nelayan miskin.

Biarpun kini dia sudah melangkah makin dekat, sembilan orang sakti itu tetap tidak dapat melihat mukanya yang terus terlindungi caping lebar.

Langkahnya perlahan dan sikapnya amat tenang, namun kehadirannya ini membuat seorang sakti dan ganas macam Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo sekalipun menjadi bergidik.

Siauw-lim Chit-kiam juga tidak mengenal kakek nelayan ini.

Akan tetapi gerak-gerik kakek ini yang penuh dengan ketenangan, wibawa yang seolah-olah tergetar keluar dari sikap kakek ini mengingatkan mereka akan guru mereka, Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai.

Oleh karena itu, mereka segera tunduk dan maklum bahwa mereka bertemu dengan seorang sakti yang menyembunyikan diri.

Dipelopori oleh Song Kai Sin, tujuh orang gagah ini menekuk lutut kanan memberi hormat dan berkatalah Song Kai Sin.

"Teecu bertujuh Siauw-lim Chit-kiam menghaturkan hormat kepada Locianpwe dan mohon maaf apabila teecu sekalian mengganggu tempat kediaman Locianpwe tanpa disengaja. Mohon Locianpwe memperkenalkan diri."

Kakek nelayan itu tetap menyembunyikan mukanya di balik caping lebar dan terdengarlah suaranya yang halus dan penuh getaran kesabaran dan welas asih.

"Chit-wi-sicu datang di pulau kosong milik alam, aku nelayan tua mana bisa mempunyai pulau ini? Jauh-jauh menempuh bahaya mencari apa? Lebih baik pulang melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi dunia dan manusia."

Sementara itu, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi yang menyaksikan keadaan kakek ini, menjadi khawatir hati mereka.

Sikap kakek ini jelas membayangkan bahwa kakek ini pasti akan berfihak kepada Siauw-lim Chit-kiam, karena itu mereka pikir lebih baik turun tangan lebih dulu selagi kakek ini tidak memperhatikan.

Seperti telah bermufakat terlebih dahulu, kedua orang sakti ini tiba-tiba saja menyerang dari kanan kiri.

Setan Botak melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang dari arah kanan kakek itu sedangkan dalam detik yang sama, Ma-bin Lo-mo menyerang dengan pukulan Swat-im Sin-ciang dari kiri.

Siauw-lim Chit-kiam terkejut sekali akan tetapi mereka tidak sempat lagi berbuat apa-apa, selain itu, menghadapi dua pukulan dahsyat ini, mereka dapat berbuat apakah?

Akan tetapi kakek itu dengan sikap tenang sekali mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri.

"Dessss..., Desssss..."

Dorongan kedua orang kakek sakti dari kanan kiri itu bertemu dengan lengan kakek nelayan yang dikembangkan.

Tenaga mukjizat yang tak tampak bertumbuk di udara dan akibatnya hebat sekali.

Kakek nelayan masih berdiri tenang dan kini sudah menurunkan kembali kedua lengannya yang dikembangkan, bahkan lalu bersedakap, tetapi Setan Botak dan Iblis Muka Kuda jatuh terduduk.

Muka Setan Botak menjadi merah sekali dan kepalanya mengepulkan asap, sedangkan Iblis Muka Kuda menjadi pucat kebiruan mukanya den tubuhnya menggigil, keduanya cepat bersila mengerahkan sinkang masing-masing untuk memulihkan getaran yang membuat mereka hampir tidak dapat bertahan itu karena tenaga sakti mereka tadi membalik dan menyerang diri mereka sendiri.

Kakek nelayan itu bersenandung, suaranya lirih namun jelas terdengar.

"Tenaga Im dan Yang adalah hebat sekali dan Ji-Wi telah dapat menguasainya. Sayang, tenaga murni sehebat itu bukan dipergunakan untuk menyebar kebaikan, melainkan untuk memupuk keburukan, sungguh sayang karena akibatnya akan menimpa diri sendiri..."

Setan Botak dan Iblis Muka Kuda itu terbelalak dan mulut mereka berseru kaget.

"Koai-lojin......"

Pada saat itu, Siauw-lim Chit-kiam yanng melihat betapa dua orang kakek iblis itu menyerang Si kakek nelayan, sudah siap dengan pedang mereka dan kini melihat kesempatan baik, tujuh sinar pedang menyambar ke arah Setan Botak yang jatuhnya lebih dekat dengan mereka.

Kejadiah ini amat cepatnya sehingga Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri hanya terbelalak, tak kuasa menghindarkan diri karena dia sendiri masih lemah oleh getaran yang diakibatkan tangkisan kakek nelayan.

Ia maklum bahwa nyawanya berada di ujung rambut, maka ia hanya mengeluh dan memandang terbelalak.

Mendadak kakek nelayan itu mengibaskan lengan kanannya ke depan, telapak tangannya mendorong ke arah sinar pedang dan.....

"Trangggg....."

Tujuh batang pedang itu runtuh semua di atas tanah dan tujuh orang pendekar Siauw-lim-pai itu meloncat ke belakang dengan muka pucat.

Kembali kakek itu bersenandung, suaranya tetap halus dan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa yang penting.

"Tujuh pedang lihai takkan ada gunanya kalau titik sasarannya terpencar, jika titik sasaran dipusatkan, alangkah akan kuatnya..."

Tujuh orang pendekar pedang itu terkejut dan menjadi girang sekali karena mereka mendapat petunjuk yang menjadi rahasia kekuatan ilmu pedang mereka dan yang tak pernah mereka pikirkan, maka mereka cepat mengambil pedang masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek nelayan ini yang mereka ketahui adalah Koai-lojin, manusia dewa yang pernah mereka dengar disebut-sebut suhu mereka namun yang tak pernah mereka jumpai itu.

"Hendaknya Cu-wi sekalian kembali ke tempat asal masing-masing. Tiada gunanya memperebutkan pusaka karena pusaka yang diperebutkan melalui cucuran darah orang lain hanya akan mendatangkan kutuk. Mencari sesuatu harus dengan cucuran keringat sendiri, bukan dengan cucuran darah orang lain. Dan kalau tidak berjodoh, takkan mendapat. Hendaknya segera Cu-wi meninggalkan tempat berbahaya ini dan kiranya kepandaian Cu-wi sudah lebih dari cukup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan manusia."

Dia berpaling ke arah Ma-bin Lo-mo dan berkata.

"Siangkoan-sicu kehilangan perahu, boleh menggunakan perahu nelayanku yang berada di sana itu. Nah, selamat berlayar."

Kakek nelayan itu sudah duduk bersila di atas tanah.

Kiranya di bawah capingnya yang lebar itu terdapat tirai sutera hitam yang menyembunyikan mukanya, akan tetapi dari balik tirai sutera hitam (Lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 itu tampak sepasang mata yang mengeluarkan cahaya lembut namun penuh wibawa sehingga mereka yang berada di situ, terrnasuk Gak Liat dan Siangkoan Lee yang biasanya ganas seperti iblis, tidak berani membantah lagi.

Gak Liat bersungut-sungut dan mengumpulkan sisa para perwira Mancu yang kini tiba-tiba dapat bergerak kembali yang menandakan bahwa totokan itu memang dilakukan dengan sengaja menghentikan gerakan mereka untuk beberapa menit saja.

Akan tetapi buyarlah harapan Gak Liat yang diam-diam masih hendak mencari Pulau Es ketika secara aneh sekali semua teropong yang berada di situ telah lenyap.

Mereka berbondong-bondong kembali ke perahu sambil membawa mayat teman-teman mereka, dan betapa heran dan mendongkol hati Gak Liat ketika mendapat kenyataan bahwa teropong-teropong yang disimpan di perahu juga lenyap semua.

Terpaksa mereka melayarkan perahu dan mencari-cari secara ngawur saja, namun akhirnya tidak berhasil juga dan karena daerah itu banyak diserang badai, mereka akhirnya pergi ke selatan.

Demikian pula dengan Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya.

Dengan perahu nelayan kecil mereka tidak berani mengambil resiko diserang badai, maka mereka juga berlayar kembali ke selatan.

Siauw-lim Chit-kiam meninggalkan pulau itu dan mereka langsung berlayar kembali ke selatan.

Di waktu semua orang meninggalkan pulau, terdengar lapat-lapat suara nyanyian kakek nelayan.

Yang tidak ingin itu cukup dan puas Yang ingin itu kurang dan kecewa Yang tidak mencari akan mendapat Yang mencari akan sia-sia....

Yang ada tidak dimanfaatkan Yang tidak ada dicari-cari Tak lama kemudian, setelah tiga buah perahu itu mulai mengecil dan hanya tampak sebagai titik hitam di kaki langit, tampak kakek nelayan ini meninggalkan pulau.

Dilihat dari jauh, dia seolah-olah melayang di atas air dengan jubah berkibar-kibar tertiup angin.

Akan tetapi andaikata ada yang dapat melihat dari dekat, akan tampaklah betapa kakek nelayan yang aneh ini sesungguhnya berdiri di atas dua batang bambu dan bambu itu meluncur cepat ke depan karena jubah kakek itu tertiup angin dan sengaja dikembangkan sehingga menjadi pengganti layar.

*** "Han-ko....!

Sadarlah.

Engkau sudah tiga hari tiga malam di situ."

Lulu berteriak sambil berdiri bertolak pinggang di pondok taman, memandang kepada Han Han yang duduk bersila tanpa sepatu di atas batu es.

Sebagian tubuh dan di atas kepala Han Han penuh dengan salju membeku.

Di belakangnya, beruang es sedang menggaruk-garuk salju yang menutup air, agaknya dia mencium ikan di bawah situ.

Lulu kini bukanlah Lulu enam tahun yang lalu.

Ketika datang ke pulau itu terbawa perahu bersama Han Han, usianya baru sembilan tahun.

Kini dia telah menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, berwajah cantik dengan sepasang mata lebar dan indah, tubuhnya ramping kecil namun singset dan padat membayangkan tenaga sakti yang amat kuat.

Adapun Han Han yang duduk bersila itu pun bukan kanak-kanak lagi sekarang.

Dia kini telah berusia delapan belas tahun, telah menjadi seorang jejaka remaja yang tampan dan gagah, tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang pinggangnya kecil, tubuhnya kelihatan kuat sekali dan bibirnya selalu tersenyum, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan jarang ada orang akan dapat bertahan bertemu pandang dengan pemuda luar biasa itu.

Dia sedang melatih diri dan kini Han Han yang tekun berlatih menghimpun Im-kang selama enam tahun itu telah memperoleh kemajuan yang amat mentakjubkan.

Tenaga sinkang yang ia kerahkan menjadi Im-kang amat dahsyat sehingga sekali dorong dengan kekuatan Im-kang, ia dapat membuat air membeku seketika menjadi gumpalan es yang besar.

Dan kalau dia sedang melatih diri, dia sengaja duduk di luar, membiarkan dirinya diserang hujan salju dan ia bertelanjang kaki.

Namun hawa dingin tidak lagi mengganggunya karena dengan tenaga sinkang ia telah membuat tubuhnya lebih dingin daripada yang di luar dirinya, sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi es dan salju yang melekat pada tubuhnya sampai membeku.

"Koko! Terlalu sekali kau, Masa aku kau diamkan sampai tiga hari tiga malam? Benar-benar kakak yang tidak menyayang adik."

Lulu membanting-banting kaki kanannya dengan jengkel.

Akan tetapi Han Han sama sekali tidak mendengar ucapan adiknya ini karena dia masih tenggelam ke dalam samadhi.

Alisnya berkerut, wajahnya berseri dan bibirnya yang tersenyum itu membayangkan senyum yang mengejek.

Dalam keadaan terlelap itu timbul bayangan-bayangan yang menyenangkan hatinya, yaitu betapa dengan amat mudahnya ia menangkap para perwira yang dahulu membasmi keluarga orang tuanya, Dan membawa mereka itu ke pulau ini, kemudian melaksanakan pembalasannya dengan memuaskan sekali.

Ia memikirkan dan mencari-cari cara yang paling mengerikan, paling kejam dan paling menyakitkan untuk membunuh musuh-musuhnya itu sedikit demikian sedikit, untuk menyiksa mereka dengan siksaan-siksaan yang mengalahkan siksaan di dalam neraka seperti yang pernah ia baca dalam kitab-kitab.

Dan ia telah mencurahkan segala perhatiannya kepada cara-cara penyiksaan ini ketika ia mulai siulian, tepat seperti cara mencurahkan perhatian dalam samadhi seperti yang pernah diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li kepadanya.

Tidaklah mengherankan apabila wajahnya kini mengandung sinar yang kejam karena pemuda ini tanpa disadari telah melatih diri dengan ilmu yang amat sesat.

"Han-ko... Han-ko.... tolong..... Paman Beruang diserang ular....."

Kalau lulu hanya mengomel dan marah-marah, kiranya Han Han takkan dapat sadar dari keadaan samadhinya.

Akan tetapi mendengar adiknya yang dicintanya itu menjerit minta tolong, seketika ia sadar dan membuka matanya.

Setelah pikirannya yang tadi sedang membayangkan siksaan yang paling kejam terhadap musuh-musuhnya sudah mulai terang, ia menoleh.

Dilihatnya Lulu, sedang menarik seekor ular dari leher beruang yang terkapar di atas salju sambil berkelojotan.

Dia merasa heran sekali mengapa beruang es yang selain bertenaga besar, juga kebal kulitnya dan dapat bergerak sigap itu kini terkapar hanya oleh gigitan seekor ular merah darah yang entah bagaimana tadi menggigit leher beruang dan membelit leher itu.

Pada waktu itu, Lulu telah menjadi seorang gadis remaja yang memiliki kepandaian tinggi.

Dengan pengerahan sin-kang, ia dapat merenggut tubuh ular itu terlepas dari tubuh beruang dan ular merah itu tiba-tiba melejit sehingga terlepaslah pegangan tangan Lulu karena ular itu licin dan tenaganya ketika melejit besar sekali.

Ular merah yang panjangnya ada semeter dan besarnya hanya seibu jari kaki itu kini meluncur dari bawah dan menyerang ke arah leher Lulu.

Namun gadis ini sudah menyambar dengan tangannya dan dengan gerakan manis dan tepat sekali jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menangkap dan menjepit leher ular itu.

Ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya, dua buah jarinya yang kecil itu seperti sepasang sumpit menjepit, dan ular itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi, hanya dapat meronta-ronta dan mulai melibat tangan Lulu yang menjadi jijik dan geli.

Ketika merasa betapa tubuh ular yang licin dan panas itu menggeliat-geliat dan membelit-belit tangannya, bulu tengkuk Lulu berdiri dan ia sudah siap mencengkeram kepala ular dan diremas hancur dengan tangan kiri.

"Tunggu, Moi-moi. Jangan bunuh dulu."

Tiba-tiba Han Han meloncat dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah berada di depan lulu.

Gerakan Han Han benar-benar luar biasa cepatnya dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa ini pun ia dapatkan dari hasil latihan-latihannya yang menyeleweng.

"Mau apa kau? Enak-enak saja siulian dan setelah ular jahat ini kutangkap, tidak boleh kubunuh."

Lulu mengomel.

"Jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak bagi ular keparat itu kalau dibunuh begitu saja. Lihat apa yang telah ia lakukan. Lihat Paman Beruang itu."

Han Han menunjuk ke bawah, Lulu menengok ke arah beruang dan gadis ini mengeluarkan jerit.

Han Han cepat menyambar ular itu dan ia pegang pada lehernya.

Dengan mudah ia melepaskan belitan tubuh ular dari tangan lulu dan gadis ini pun tidak mempedulikan lagi kepada ular itu, melainkan cepat menubruk tubuh beruang sambil memekik-mekik memanggil.

"Paman Beruang.... Paman....."

Akan tetapi beruang es itu telah mati dalam keadaan yang mengerikan karena mukanya yarig putih menjadi biru sedangkan kulit pada telapak keempat kakinya ada totol-totol merah.

Sampai lama Lulu menangisi beruang yang mati itu.

Kemudian baru Lulu teringat mengapa Han Han tidak ikut menangisi beruang yang mati.

Ketika ia menengok, ia melihat Han Han berdiri di bawah pohon yang tidak berdaun, entah sedang melakukan apa, hanya tampak olehnya asap mengebul seolah-olah kakaknya itu sedang membakar sesuatu.

"Apa yang kau lakukan itu, Koko?"

Lulu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kakaknya.

Ketika melihat apa yang dilakukan Han Han, gadis ini memandang dengan mata terbelalak.

Ternyata Han Han telah mengikat leher dan ekor ular itu dengan akar halus dan menggantung binatang itu di pohon, kemudian menggunakan sebatang ranting kering yang bernyala untuk membakar ular itu sedikit demi sedikit.

Ular itu menggeliat-geliat kepanasan akan tetapi Han Han tidak membakarnya terus melainkan menyentuh-nyentuh tubuh ular dengan api, menyiksanya dengan kejam sekali, seolah-olah merasa puas dan gembira menyaksikan betapa ular itu menggeliat-geliat dan berkelojotan.

Andaikata ular itu dapat bersuara, tentu sudah melolong karena kesakitan.

"Han-ko, kenapa tidak kau bunuh saja dia?"

"Ha-ha, terlalu enak kalau dibunuh begitu saja, Lulu. Biar dia rasakan hukumannya dan dalam penderitaan sakit ini biar dia sadar akan dosanya telah membunuh Paman Beruang. Lihat dia menggeliat-geliat berkelojotan. Setelah dia cukup tersiksa, akan kuambil darahnya untuk kita minum."

"Ihhh, jijik. Aku tidak mau."

"Mengapa, Lulu? Ingat, ular ini kulitnya berwarna merah, dan gigitannya amat berbisa. Aku pernah membaca kitab yang menyatakan bahwa makin berbisa seekor ular, makin lezat dan makin banyak khasiat darah dan dagingnya. Selain untuk menikmati darahnya dan dagingnya, juga kalau kita makan dia, berarti kita membalaskan sakit hati Paman Beruang. Apakah kau tidak ingin membalas dendam kematian raman, Beruang?"

"Tentu saja, Biar kuhancurkan kepalanya."

"Eiiiiit, jangan. Dia harus dihukum dan kalau dibunuh sekarang, darahnya akan membeku. Darahnya akan kuambil dan kita minum, kemudian dagingnya kita bakar dan kita makan. Biar arwah Paman Beruang melihatnya dan menjadi puas. Kepalanya kita kubur bersama mayat Paman Beruang."

Berkata demikian, sinar mata Han Han bercahaya penuh kepuasan.

"Koko, kau tidak menengok... dia....?"

Lulu menuding ke arah tubuh beruang yang sudah menjadi mayat.

"Perlu apa? Dia sudah mati. Dia bukan Paman Beruang lagi, dia adalah bangkai yang akan kita kubur nanti. Nah, kau lihat, aku akan mengambil darah ular keparat ini."

Setelah berkata demikian, Han Han mengambil sebuah cawan dari dalam rumah, kemudian dengan kekuatan tangannya ia merobek kulit dan daging di bagian ekor ular itu.

Binatang ini berkelojotan dan darah yang merah sekali mulai menetes-netes keluar yang segera ditadahi Han Han ke dalam cawan.

Makin deras darah menetes, makin keras tubuh ular menggeliat dan makin berseri wajah Han Han.

Lebih setengah jam darah itu bertetesan sampai setengah cawan, kemudian tubuh ular itu makin lemah menggeliat dan akhirnya hanya bergerak-gerak lemas, darahnya tidak menetes lagi.

Han Han membawa cawan darah itu ke dekat mayat beruang di mana Lulu berlutut sambil membelai bulu beruang dengan penuh kesedihan.

"Lulu, mari kita minum darah ini di depan mayat Paman Beruang sebagai tanda pembalasan terhadap ular."

Setelah berkata demikian, Han Han minum sebagian besar darah ular itu dari cawan, kemudian menyerahkan cawan dengan sisa darahnya kepada Lulu.

Lulu menerima cawan itu, mukanya berkerut dan menyeringai.

"Ihhh, aku... jijik...., Koko."

"Lulu,"

Kata Han Han sambil menjilat sedikit darah ular di bibirnya dengan lidahnya.

"Rasanya manis dan enak pula, apakah kau tidak mau menyenangkan arwah Paman Beruang? Dia saat ini mungkin sedang menggereng marah meliha ketidak-setiaanmu."

Lulu bergidik dan memandang ke kanan kiri seolah-olah mencari arwah itu, kemudian ia menengok ke arah bangkai beruang itu.

Kebetulan sekali muka beruang itu menghadapnya dan beruang itu mati dengan mata terbuka.

Dalam pandangan Lulu, seolah-olah mata beruang yang sudah mati itu mendelik marah kepadanya.

Kembali ia bergidik, kemudian sambil meramkan matanya ia minum darah ular itu sampai habis.

Memang benar ada rasa manis, akan tetapi baunya amis dan ia harus menahan diri dengan meraba leher agar jangan muntah.

"Koko.... badanku.... menjadi panas....."

"Bagus! Itu tandanya bahwa darah ular ini benar-benar besar khasiatnya, Lulu. Nah, sekarang kau bantu aku memanggang daging ular, kita makan didepan mayat Paman Beruang sebagai upacara sembahyang, kemudian kita kubur mayat Paman Beruang bersama kepala ular yang tadi menggigitnya, agar di akherat Paman Beruang dapat mengejek dan menyiksa ular yang hanya tinggal kepalanya saja."

Ular itu sudah mati dan karenanya Lulu tidak jijik lagi.

Han Han menguliti ular itu setelah memenggal kepalanya yang ia putar dan patahkan begitu saja dengan jari-jari tangannya yang kuat.

Kepala ular itu ia taruh ke dalam telapak kaki depan beruang, kemudian Lulu memanggang daging ular yang putih kemerahan itu.

"Upacara"

Makan daging panggang ular itu lebih menyenangkan bagi Lulu, karena ternyata bahwa daging itu benar-benar gurih dan sedap lezat sehingga sebentar saja habislah daging ular sepanjang satu meter itu.

Setelah itu, mereka lalu menggali lubang sampai tampak tanah dan terus menggali sedalam satu meter lebih, kemudian mengubur mayat beruang bersama kepala ular.

Lulu menangis terisak-isak ketika mereka menguruk lubang itu.

Teringat kepada beruang yang selama enam tahun menjadi kawan bermain dan kawan berlatih silat, Lulu menjadi berduka sekali den terus menangis di atas gundukan salju yang menjadi kuburan beruang.

Han Han membiarkan adiknya menangis.

Dia lalu pergi mencari batu untuk dijadikan batu nisan kuburan beruang es.

Ia mendapatkan sebuah batu lonjong yang terpendam setengahnya dalam salju.

Dengan tenaganya yang besar ia mencabut batu ini dan heranlah ia melihat betapa di bagian tengah dan bawah batu itu terdapat ukir-ukiran huruf.

Cepat ia membersihkan batu itu dari tanah dan salju, kemudian membaca huruf-huruf terukir itu.

"Betapa menjemukan ular salju merah itu. Aku datang ke sini untuk menjauhi wanita, dan daging ular itu membuat aku menderita hebat. Dan hari ini, tiga hari kemudian, pulau diserbu ribuan ekor ular salju merah, memaksa aku harus pergi. Keparat, Pulau Es ini pulau terkutuk, agaknya tanah di bawahnya menjadi istana ular-ular salju merah. Ataukah nenek moyangku yang terkutuk sehingga Suma Hoat tidak berjodoh dengan Pulau Es.?"

Demikianlah bunyi tulisan itu dan jantung Han Han berdebar.

Penulis itu bernama Suma Hoat?

Teringatlah ia akan patung yang dipuja di In-kok-san, yang menurut cerita Ma-bin Lo-mo dan Kim Cu adalah sucouw mereka bernama Suma Kiat.

Dan menurut cerita itu selanjutnya, Ma-bin Lo-mo mempunyai seorang suheng yang menjadi perantau, yang ilmu kepandaiannya tinggi sekali, yaitu putera tunggal sucouw itu dan bernama Suma Hoat.

Kalau begitu, suheng dari Ma-bin Lo-mo itukah penghuni Pulau Es?

Patung pria yang tampan itu adakah itu Suma Hoat?

Akan tetapi coretan, huruf terukir di batu ini amat jauh bedanya dengan tulisan-tulisan di dinding istana yang amat indah.

Coretan ini huruf-hurufnya buruk dan kasar.

Disebut pula tentang ular salju merah.

Apakah ular yang telah membunuh beruang?

Akan tetapi Han Han tidak mempedulikan lagi.

Semua yang ada hubungannya dengan In-kok-san tidak menarik hatinya, apalagi kalau ia teringat betapa ia terancam hukuman potong kaki oleh perguruan itu.

Membaca tulisan Suma Hoat itu mengingatkan dia bahwa sampai kini pun tetap ia terancam bahaya hukuman itu.

Cepat ia mengangkat batu itu dan meletakkannya di depan kuburan beruang, dengan ukiran huruf-huruf itu ia taruh di bawah agar tidak tampak.

Ditaruhnya batu nisan di depan kuburan ini membuat Lulu menangis makin keras, sampai gadis ini tersedu-sedu.

Han Han memeluknya, kemudian setengah memaksanya bangkit berdiri dan menuntunnya ke dalam pondok di taman.

"Sudahlah, Lulu, Untuk apa ditangisi lagi? Biar engkau menangis air mata darah sekalipun, Beruang tidak akan dapat hidup kembali. Ketahuilah bahwa kini mungkin dia sedang enak-enak mengganyang kepala ular yang membunuhnya""

Akan tetapi hiburan ini tidak menghentikan tangis Lulu yang karena kematian beruang jadi teringat akan kematian orang tuanya.

Gadis itu terisak-isak menangis sambil bersandar di dada Han Han.

Akhirnya pemuda itu mendiamkannya saja dan tiupan angin laut membuat gadis yang berduka itu akhirnya tertidur di dalam pelukannya.

Han Han merasa tubuhnya panas dan aneh sekali ada ribuan ekor semut di balik kulit tubuhnya merayap-rayap.

Angin bersilir sejuk dan akhirnya ia pun tertidur sambil duduk di lantai pondok yang terbuat daripada marmer, dengan Lulu masih bersandar di dadanya.

Mereka berdua tertidur seperti orang mabuk, tidur nyenyak sehingga tidak tahu betapa malam telah tiba.

Malam bulan purnama clan cahaya bulan menerobos masuk ke dalam pondok yang tidak berdinding itu.

Hawa udara pun amat dinginnya.

Namun aneh sekali, kedua orang muda itu berpeluh.

"Han-ko..... ah, Han-ko....."

Han Han membuka matanya, jantungnya berdenyut-denyut tidak karuan, tubuhnya panas dan telinganya mendengar suara terngiang-ngiang.

Suara panggilan Lulu seperti mengambang di atas lautan suara mengiang itu.

Ia melihat wajah Lulu dekat sekali di atas dadanya, wajah yang cantik jelita, bersinar-sinar keemasan tertimpa sinar bulan.

Sepasang mata yang lebar dan indah itu kini seperti berlinang air, memandang kepadanya dengan aneh.

Cuping hidung yang kecil itu kembang-kempis, seolah-olah sukar bernapas dan mulut yang kecil itu pun terbuka, membantu pernapasan hidung.

Ada apakah dengan Lulu?

Dan apa yang terjadi pada dirinya?

Ia merasa panas sekali.

"Lulu...."

"Han-koko....."

Suara gadis itu seperti mengerang lirih, muka mereka berdekatan, pandang mata mereka melekat dan ada dorongan aneh yang membuat Han Han menundukkan mukanya, menyentuh dahi adiknya dengan hidung.

Belaian seperti ini tidaklah aneh bagi mereka.

Sudah sering kali kalau menghibur adiknya, ia mencium dahi atau pipi Lulu.

Akan tetapi begitu hidungnya menyentuh dahi adiknya, jantungnya berdebar keras sekali, napasnya sesak.

Ia seperti mencium bau harum yang tak pernah selamanya ia alami, dan ia terus mencium, bahkan kini dengan bibirnya, dengan mulutnya.

Gilakah dia?

Han Han masih sadar akan hal yang tidak semestinya ini, dan dia menjadi makin kaget ketika merasa betapa Lulu juga membalas menciumnya, tidak seperti biasa, melainkan ciuman yang penuh nafsu panas sehingga akhirnya mulut mereka bertemu dalam ciuman, mesra.

Akan tetapi keduanya seperti terkejut dan keduanya merenggut muka masing-masing, saling pandang dengan mata terbelalak dan malu, kemudian Han Han melepaskan pelukannya, pura-pura tidak sadar akan apa yang baru saja terjadi.

"Aku... aku.... panas sekali...."

Dengan suara terputus-putus Han Han berkata lirih untuk menutupi hal yang baru saja terjadi.

"Aku pun.... begitu..... Koko...."

Lulu juga bicara dengan bingung sambil berusaha mengelakkan pandang mata mereka agar jangan bertemu.

Han Han yang merasa betapa tubuhnya menjadi panas dan tidak karuan rasanya, menekan ketegangan yang ditimbulkan oleh ciuman tidak semestinya tadi dengan tertawa aneh.

"Heh mungkin racun ular hemmm, tidak tertahankan panasnya, lebih baik kubuka bajuku."

Karena dia sudah biasa dalam latihannya membuka baju atasnya di depan Lulu, maka ia sekarang membuka bajunya dengan maksud agar keadaan perasaannya biasa kembali.

Akan tetapi kini pandang mata Lulu menatap setiap gerakannya, dan mata yang lebar itu memandangnya penuh kemesraan, memandang tubuh atasnya yang telanjang itu dengan pandang mata luar biasa.

"Lulu, Kau kenapa?"

Han Han membentak karena pandang mata itu seperti menembus dadanya dan mendatangkan rangsang yang lebih hebat lagi.

Ia seingaja membentak marah untuk menutupi perasaannya.

Lulu terkejut dan menggeleng-geleng kepala.

Pipi gadis itu menjadi merah seperti dibakar dan pandang matanya seperti orang mabuk.

"Entahlah...... aku...... pun merasa panas sekali, tak tertahankan, Koko....."

Gadis itu seperti dalam keadaan tidak sadar membuka kancing bajunya bagian atas sehingga tampaklah pakaian dalamnya yang tipis.

Han Han meramkan matanya dan meloncat bangun.

Ia mengerahkan seluruh sinkangnya untuk melawan perasaan panas ini, akan tetapi hasilnya malah membuat tubuhnya makin panas, lalu berubah dingin, dan seluruh tubuh seperti dimasuki gelembung-gelembung tenaga mukjizat yang membuat ia merasa seperti sebuah bola karena penuh angin.

Ia mengeluh danterhuyung-huyung.

"Han-ko....., kau kenapa..... hati-hati, kau bisa jatuh."

Lulu meloncat bangun dan memeluk kakaknya untuk mencegah kakaknya terguling.

Akan tetapi sentuhan tubuh mereka yang tadinya sebagai sentuhan seperti biasa itu mendatangkan getaran yang aneh dan mereka akhirnya berpelukan dan kembali mereka berciuman dengan penuh nafsu, penuh gairah dan dalam keadaan tidak atau setengah sadar.

Seluruh hati dan pikiran mereka sepenuhnya dikuasai oleh nafsu yang bergolak tak tertahankan, membuat darah mereka mendidih dan pikiran mereka gelap.

Mereka lupa segala, saling membelai mesra, berdekapan dengan mata dipejamkan.

Ketika Han Han membuka mata dan melihat betapa tanpa disadari ia hampir menelanjangi Lulu yang tidak melawan bahkan membantunya penuh gairah nafsu berahi, ia terkejut seperti disambar halilintar.

Kekuatan batin dan sinkang Han Han jauh lebih besar daripada Lulu, maka ia masih dapat sadar dan cepat ia mendorong tubuh adiknya itu sehingga Lulu terhuyung dan roboh terlentang dengan napas terengah-engah dan mata terpejam, tubuh menggeliat-geliat.

"Lulu, Ini tidak benar. Engkau Adikku."

Han Han berkata, berteriak dengan suara nyaring.

"Han-ko..... ahhh, Han-ko..... jangan tinggalkan aku.... aku bukan Adikmu, Han-ko......"

"Gila."

Han Han membentak lagi, menahan diri sekuatnya agar tidak menubruk dan memeluk gadis itu, melanjutkan hasrat berahi yang memenuhi benak dan hatinya.

"Kita keracunan, Ular merah itu. Keparat....."

Terlintas dalam benaknya bunyi tulisan pada batu dan kini mengertilah ia mengapa Suma Hoat mengutuk ular salju merah.

Agaknya Suma Hoat juga makan daging dan darah ular itu dan merasa pula rangsangan nafsu berahi seperti ini.

Teringat akan ini, Han Han lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan tubuhnya meloncat keluar dari dalam pondok itu.

Ia berlari-lari seperti orang gila menjauhi pondok dan ketika ia tiba di pantai yang berbatu-batu, ia lalu mengamuk.

Dipergunakan kaki tangannya untuk memukul, menendang, dengan pengerahan tenaga sinkang, kadang-kadang menggunakan tenaga inti Hwi-yang Sin-ciang di luar kesadarannya, akan tetapi lebih banyak ia menggunakan tenaga Im-kang.

Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras ketika batu-batu besar itu pecah berantakan oleh amukan Han Han yang seperti telah menjadi gila.

Han Han terus mengamuk sepanjang malam sampai pagi, sampai habis tenaga sinkangnya dan ia menggunakan tenaga biasa sehingga kaki dan tangannya luka-luka dan akhirnya ia roboh pingsan di antara batu-batu yang sudah hancur berantakan itu.

Matahari telah naik tinggi ketika Lulu mengguncang-guncang tubuh Han Han yang menggeletak di pantai, tubuh atas telanjang, tangan kaki luka-luka.

Gadis itu menangis dan memanggil-manggil.

"Han-koko.. Han-ko... jangan tinggalkan aku..., Han-ko...."

Han Han membuka matanya, mengejap-ngejapkan matanya karena silau oleh sinar matahari.

"Han-ko, kau kenapa?"

Lulu bertanya penuh kekhawatiran, air mata masih membasahi kedua pipinya.

Han Han menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningannya.

Juga mengusir pemandangan yang aneh.

Kini, melihat wajah Lulu yang cantik, sepasang pipi yang merah itu, ia merasa berbeda dari biasanya.

Tidak seperti biasanya ia memandang gadis ini seperti adiknya.

Kecantikan Lulu kini menyentuh hatinya dan membingungkannya, sungguhpun gairah gila seperti yang mendorongnya malam tadi sudah lenyap.

"Tidak apa.. Aku... aku hanya mimpi buruk... tanpa sadar, kuhantami batu-batu ini.."

Ia melihat kaki dan tangannya yang lecet-lecet.

"Aku pun mimpi, Koko. Mimpi aneh akan tetapi indah sekali..."

"Mimpi apa?"

Han Han memandang tajam, diam-diam memaki diri sendiri nengapa kini Lulu tampak lain dalam pandangannya.

"Aku tadi pagi terbangun di pondok taman dan... dan pakaianku tidak karuan, aku mimpi... engkau seperti bukan Kakakku, melainkan.. ah, sungguh aneh akan tetapi aku aku senang sekali, Koko.."

Dan gadis itu menundukkan mukanya. Kedua pipinya menjadi makin kemerahan sampai ke telinganya.

"Hushhh! Kau gila, Kita keracunan ular Merah itu."

Lulu memandang muka Han Han penuh selidik. Gadis ini masih terlalu murni dan polos dan dia bertanya.

"Betulkah, Koko? Keracunan ular itu? Akan tetapi.., setelah mimpi itu, aku.. heran sekali, kau seperti bukan Kakakku dan aku khawatir kalau-kalau kau akan meninggalkan aku."

"Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Lulu, kita harus meninggalkan pulau ini."

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara tetap karena di dalam hatinya Han Han maklum bahwa makin lama mereka berada di pulau itu, makin besar bahayanya dan ia khawatir bahwa akhirnya ia tidak akan kuat bertahan.

Ia mengeraskan hatinya, memusatkan tenaga batinnya dan kemauannya untuk men gambil keputusan bahwa gadis ini adalah adiknya, adiknya.

Ia merasa kuat kini dan mulai berani memandang wajah Lulu lagi, diperkuat oleh kemauannya yang memaksa hati dan pikirannya bahwa Lulu adalah adiknya, bukan orang lain dan bahwa tidak boleh ia mencinta Lulu seperti perasaannya malam tadi.

"Lulu adiknya, Lulu adiknya"

Kekuatan kemauan Han Han memang luar biasa dan ia sudah tenang kembali.

Sambil tertawa ia menangkap tangan Lulu, diajak bangkit berdiri dan sambil berkelakar ia berkata.

"Kita harus membuat perahu, kita akan meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Kau bocah malas, harus membantu."

Kekuatan kemauan yang terpancar keluar dari mata Han Han mempengaruhi Lulu pula. Gadis itu pun menjadi biasa dan bertanya keras.

"Pergi ke mana, Koko?"

"Eh, anak bodoh dan pelupa. Apakah kau selamanya akan tinggal di pulau ini sampai menjadi nenek-nenek? Apakah kau tidak ingin rnencari musuh besarmu?"

Lulu menjadi bersemangat.

"Betul, Kita harus pergi mencari musuh besar kita."

Demikianlah, kedua orang muda itu lalu mulai membuat perahu.

Han Han bukan seorang ahli maka tentu saja membuat perahu amatlah sukar baginya.

Namun, berkat tenaga dan kemauannya yang kuat, tiga hari kemudian selesailah dia membuat sebuah rakit dari kain dan bambu seadanya, menggandeng-gandengnya dengan ikatan akar yang cukup kuat.

Ia menyediakan dua buah cabang pohon untuk mendayung.

Baru saja selesai ia mengikat sambungan terakhir, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras sekali dan terdengar Lulu berlari-lari sambil menjerit-jerit.

"Ular..! Ular...! Banyak sekali ular...."

Han Han terkejut dan menengok.

Dilihatnya Lulu beriari-lari menghampirinya dengan wajah pucat penuh jijik dan dari jauh tampaklah ratusan, mungkin ribuan ekor ular merah mendatangi sambil mengeluarkan suara mendesis mengerikan sekali.

"Cepat! Naikkan bekal makanan dan air itu ke atas perahu."

Teriak Han Han dan sibuklah mereka mengangkuti bekal makanan dan minuman ke atas perahu.

Beberapa ekor ular merah sudah datang dekat dan Han Han membunuhnya dengan injakan-injakan kakinya pada kepala ular-ular itu.

Setelah semua bekal diangkut ke perahu, Han Han lalu mendorong perahu rakit itu ke air dan bersama Lulu ia mendayung perahunya ke tengah laut.

Ular-ular itu agaknya tidak takut air, buktinya mereka itu terus mengejar dan berenang sambil terus mendesis-desis.

Lulu yang merasa geli itu memukuli ular-ular terdekat dengan dayungnya.

Tenaga pukulan gadis ini sudah kuat sekali sehingga dalam waktu singkat puluhan ekor ular mati dengan kepala remuk.

Han Han mengerahkan tenaga mendayung perahu yang meluncur cepat sehingga mereka dapat meninggalkan ular-ular yang mengejar.

Dari jauh, kedua orang anak muda itu memandang ke arah pulau dengan pandang mata sayu.

Betapapun juga, selama enam tahun mereka hidup di pulau itu, Pulau Es yang tadinya amat indah, namun yang kini menjadi pulau ular yang menyeramkan.

Dari jauh tampak warna merah ular-ular itu seolah-olah pulau itu penuh dengan bunga-bunga merah yang mulai mekar.

"Arah mana yang kita tuju ini, Han-ko?"

Tanya Lulu sambil membantu kakaknya mendayung.

"Arah selatan. Pulau Es adanya hanya di utara, maka kita harus kembali ke selatan."

"Bagaimana kau tahu bahwa arah yang kita tempuh ini menuju ke selatan?"

"Ha-ha, kau bodoh sekali"

Kau tahu dari mana munculnya matahari?"

"Dari timur."

"Nah, kau lihat. Matahari yang baru muncul itu berada di sebelah kiri kita, berarti kita kini maju ke arah selatan."

Mulailah Han Han dan Lulu menuju kepada pengalaman-pengalaman baru dengan hati penuh ketegangan, juga kegembiraan karena mereka kini akan memasuki dunia ramai yang sudah enam tahun mereka tinggalkan.

Bekal yang mereka bawa cukup banyak, juga mereka membawa bekal pakaian.

Han Han tidak lupa untuk membawa kantung karet berisikan surat-surat peninggalan manusia sakti penghuni Pulau Es, karena sesuai dengan pesan di luar sampul, ia hendak menyampaikan surat-surat peninggalan itu kepada yang berhak sebagai tanda terima kasih dan tanda bakti kepada penghuni Pulau Es.

Tentu saja ia tidak tahu kepada siapa surat itu akan diberikan, akan tetapi hal ini akan dia selidiki kelak.

Sungguhpun kedua orang muda itu, terutama sekali Han Han, kini telah merupakan seorang yang memiliki tenaga luar biasa dan jauh sekali bedanya dengan ketika dahulu menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo, namun perjalanan pulang ini bukanlah merupakan perjalanan yang mudah.

Apa lagi kalau diingat bahwu perahu mereka bukanlah perahu biasa, melainkan hanya batang-batang kayu dan bambu disambung-sambung sehingga biarpun mereka dapat mendayung dengan kuat dan cepat, namun perahu yang melaju di laut bebas itu sering kali mundur lagi karena terbawa ombak.

Juga dalam perjalanan selama belasan hari ini tiga kali mereka diserang badai yang ganas sehingga kalau saja mereka tidak kuat-kuat berpegang kepada rakit itu, tentu mereka sudah terlempar ke laut dan binasa.

Perbekalan mereka hanya sedikit saja yang dapat diselamatkan selama mereka diserang badai dan akhirnya mereka harus berjuang melawan ombak selama tiga hari tiga malam, tanpa makan dan minum"

Untung bahwa mereka berdua telah memiliki daya tahan yang luar biasa sehingga mereka hanya merasa lelah sekali ketika akhirnya mereka berhasil mendarat di pantai yang sunyi dan penuh dengan hutan liar.

Dapat dibayangkan betapa gembira hati mereka setelah dapat mendarat, melihat tanah dan pohon-pohon berdaun hijau.

Selama enam tahun mereka tidak pernah melihat tanah karena daratan di Pulau Es itu seluruhnya tertutup salju dan es membatu.

Juga di Pulau Es, hanya ada beberapa macam tanaman saja yang dapat hidup dan berdaun, dan sekarang mereka melihat pohon-pohon raksasa yang hidup subur dengan daun-daun hijau.

Sambil tertawa-tawa kedua orang muda itu lalu mencari buah-buah yang dapat mereka makan dan ketika mereka menemukan buah-buah apel yang dapat dimakan dan sudah masak, mereka makan buah-buahan seperti seorang kelaparan.

Han Han juga menangkap seekor rusa yang mereka panggang dagingnya dan sehari itu mereka berdua berpesta-pora dan makan dengan lahap sampai perut mereka penuh kekenyangan.

"Kita mendarat di mana, Koko?"

"Siapa tahu? Dan aku tidak peduli, pokoknya mendarat di tanah. Ah, Lulu, aku merasa seolah-olah hidup kembali. Mari kita melanjutkan perjalanan terus ke selatan. Akhirnya tentu kita bertemu manusia menuju ke kota raja."

"Keluarga Ayahku dahulu tinggal di kota raja."

Kata Lulu dengan suara terharu, teringat akan keluarganya yang sudah terbasmi habis.

"Dan musuh-musuhku tentu berada di kota raja pula."

Kata Han Han penuh semangat dan terbayanglah wajah-wajah para perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya.

Dengan penuh semangat.

dan kegembiraan, kedua orang muda itu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, menjauhi pantai taut.

Mereka melakukan perjalanan sampai belasan hari, naik turun gunung, masuk keluar hutan dan belum juga mereka bertemu dengan dusun yang ada manusianya.

Namun mereka tidak menjadi putus asa dan terus melakukan perjalanan seenaknya.

Mereka tidak tergesa-gesa karena tidak ada sesuatu yang memaksa mereka tergesa-gesa.

Kurang lebih dua bulan kemudian, setelah Han Han dan Lulu bertemu dengan dusun dan mendapat keterangan bahwa kota raja tidak jauh lagi berada di sebelah selatan, pada suatu pagi mereka memasuki sebuah hutan besar.

Mereka mengikuti jalan yang masuk ke hutan itu, sebuah jalan umum yang biasa dipergunakan oleh orang yang melakukan perjalanan jauh.

Ada tapak-tapak kereta menjalur panjang di jalan itu dan dengan hati gembira Han Han dan Lulu berjalan sambil melihat-lihat burung yang beterbangan di antara dahan-dahan pohon menyambut datangnya pagi dengan kicau dan tarian mereka dari dahan ke dahan.

Keadaan Han Han mengherankan orang-orang yang melihatnya.

Pemuda ini bertubuh tegap dan jangkung, pakaiannya cukup bersih dan terbuat dari kain mahal, akan tetapi bentuknya sederhana.

Yang amat menarik adalah rambutnya yang dibiarkan terurai ke punggungnya, rambut yang hitam dan kaku mengkilap, tak pernah disisir karena Han Han memang sarna sekali tidak mempunyai keinginan untuk bersolek.

Lebih hebat lagi adalah sepasang matanya.

Mata itu kini merupakan dua buah benda yang mengeluarkan sinar aneh.

Kadang-kadang tenang seperti air telaga, seperti orang termenung kehilangan semangat, kadang-kadang secara tiba-tiba menjadi amat tajam dan panas seperti mengandung bara api.

Tidak pernah ada orang yang berani menentang pandang mata Han Han dan setlap orang yang beradu pandang menjadi ngeri mengkirik karena pandang mata itu seolah-olah menelanjangi mereka dan dapat menembus terus ke lubuk hati.

Lulu juga amat menarik perhatian orang, akan tetapi bukan karena anehnya, melainkan karena cantik jelitanya dan karena sikapnya yang polos dan tidak pernah malu-malu seperti gadis-gadis biasa.

Sepasang mata gadis remaja inilah yang menjadi daya penarik luar biasa, sepasang mata yang lebar dan jeli, yang pandang matanya dapat membuat segala sesuatu di dunia ini tampak lebih cemerlang, lebih indah.

Pakaian Lulu termasuk mewah dan indah karena gadis ini memang mengenakan pakaian-pakaian indah yang ia dapatkan di dalam kamarnya.

Bahkan ia memakai pula sebuah anting-anting bermata mutiara yang amat besar dan mahal.

Namun hanya sepasang anting-anting dan pita rambut sutera merah saja, yang menghias tubuhnya, dengan jikat pinggang kuning emas, baju berwarna merah muda dan sepatu putih.

Gadis remaja ini benar cantik jelita mengagumkan semua pria yang memandangnya.

Akan tetapi setiap orang pria yang memandang kagum, begitu bertemu pandang dengan kakak gadis itu, seketika mengkeret dan mundur teratur karena merasa ngeri.

"Koko, apakah kau mengetahui nama musuh-musuhmu, para perwira yang membunuh orang tuamu?"

Sebetulnya Han Han tidak pernah merasa suka membicarakan tentang musuh-musuhnya dengan adik angkatnya ini.

Bukankah Lulu seorang anak per wira Mancu pula?

Bicara tentang perwira-perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya tentu mendatangkan rasa tidak enak dalam hati Lulu.

"Tidak, Lulu. Aku tidak tahu,"

Jawabnya singkat.

"Tapi kau mengenal wajah mereka? Aku ingin sekali melihat mereka yang begitu kejam terhadap keluargamu, Koko. Engkau seorang yang begini baik. Kalau Ayahku masih ada, tentu perwira-perwira yang kejam itu akan dilaporkan dan dijatuhi hukuman. Aku masih ingat betapa Ayah dahulu mencela keras perajurit-prajurit yang melakukan perampokan."

Han Han diam saja.

Hemm, benarkah ayah Lulu perwira yang baik?

Adakah perwira Mancu yang baik?

Ma-bin Lo-mo dan semua murid In-kok-san mengutuk semua orang Mancu.

Demikian banyaknya anak-anak yang menjadi murid Ma-bin Lo-mo adalah korban-korban kebiadaban orang-orang Mancu, termasuk Kim Cu.

Bahkan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak itu, baru menjadi kaki tangan Mancu saja sudah begitu kejamnya.

Orang-orang Mancu dan kaki tangannya adalah orang-orang yang seperti iblis.

Akan tetapi, Han Han membantah sendiri pendapat ini, Ma-bin Lo-mo adalah seorang yang anti Mancu, akan tetapi mengapa kekejamannya tidak kalah oleh Gak Liat?

Apakah semua orang yang berkepandaian tinggi di dunia ini adalah orang-orang berwatak iblis?

Han Han menjadi bingung dan ia mengambil keputusan untuk menentang semua orang-orang yang berilmu tinggi.

"Bagaimana, Koko?"

"Ha..? Apa...?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mengenal wajah mereka?"

Han Han mengangguk dan terbayanglah wajah tujuh orang perwira Mancu itu, terutama Si Muka Kuning dan Si Brewok.

Yang lima lainnya juga akan dikenalinya setiap saat dan tujuh orang ini harus ia bunuh, lebih-lebih dua orang perwira yang telah memperkosa ibunya dan kakaknya.

"Aku mengenal mereka, akan tetapi sukar dikatakan... sudahlah, Lulu. Aku tidak suka membicarakan mereka."

"Baiklah, Han-ko. Memang sebuah kenang-kenangan yang tidak enak. Akan tetapi aku akan mencari Lauw-Pangcu.."

"Sukar, Lulu.."

"Mengapa sukar?"

Tanya Lulu dan memandang penuh selidik.

"Dia seorang pejuang.."

"Pemberontak, maksudmu?"

"Ya, pemberontak bagi pihak Mancu, pejuang bagi rakyat. Sama saja. Kalau tidak dia sudah mati, tentu dia selalu bersembunyi, sukar ditemukan..."

"Aku tidak khawatir. Ada engkau di sampingku, masa tidak dapat mencarinya? Kau tentu akan membantuku, Koko."

"Tentu saja, Moi-moi. Hanya, kurasa sukar melawan dia. Kau takkan menang, dia lihai sekali."

"Kalau kau membantuku, tentu akan menang."

Kata pula Lulu dengan suara mengandung penuh kepercayaan.

"Belum tentu. Kawan-kawannya banyak sekali dan amat lihai.."

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda dan bunyi roda kereta.

Terpaksa Lulu menghentikan percakapan itu dan hati Han Han menjadi lega.

Bagaimana ia dapat bicara dengan enak hati kalau pembicaraan itu mengenai permusuhan dengan Lauw-pangcu, gurunya yang pertama?

Bagaimana nanti sikap Lauw Sin Lian puteri Lauw-pangcu kalau dia membantu Lulu memusuhi Lauw-pangcu?

Kereta yang lewat tak lama kemudian menyusul mereka itu adalah sebuah kereta besar ditarik oleh empat ekor kuda dan di dalamnya tidak ada penumpangnya, melainkan dua buah peti yang panjangnya ada dua meter, tinggi dan lebarnya satu meter.

Dua buah peti itu ditaruh berjajar di dalam kereta dan di atas kereta hanya ada seorang kusir dan seorang laki-laki bersenjata golok.

Di kanan kiri dan belakang kereta ada belasan orang berpakaian piauwsu (pengawal) yang dikepalai oleh seorang laki-laki berjenggot panjang.

Mereka ini semua menunggang kuda, sikap mereka keren dan gerak-gerik mereka membayangkan bahwa para piauwsu ini memiliki kepandaian silat yang tidak lemah.

Ketika para piauwsu ini lewat, semua mata mereka ditujukan kepada Lulu dan mereka tertawa-tawa, pandang mata mereka kagum sekali.

Han Han tidak mempedulikan hat ini, dan Lulu malah tersenyum, sama sekali dia tidak tahu bahwa mereka itu bersikap kurang ajar.

Han Han hanya memperhatikan sebuah bendera di atas kereta, bendera yang bersulam gambar seekor burung garuda putih di atas dasar biru, dan empat huruf besar yang berbunyi HOA SAN PEK ENG (Garuda Putih dari Hoa-san) sedangkan di bawahnya terdapat dua huruf kecil yang berbunyi Piauwkiok (Perusahaan Pengawal Barang).

"Mereka itu ramah."

Kata Lulu setelah rombongan piauwsu ini lewat.

Han Han tidak menjawab.

Dia juga tidak tahu bahwa seperti kebanyakan kaum pria kalau melihat wanita cantik, para piauwsu tadi tertawa-tawa dengan sikap kurang ajar, hanya ia harus mengakui bahwa mereka itu ramah sungguhpun keramahan mereka tidak menyenangkan hatinya.

"Hoa-san Pek-eng Piauwkiok"

Apa artinya itu, Koko?"

"Mereka itu adalah rombongan piauwsu, yaitu pengawal-pengawal barang kiriman dan nama itu adalah merk-nya. Mungkin piauwkiok itu dipimpin oleh orang dari Hoa-san atau.. ah, benar juga. Agaknya pemimpinnya adalah seorang anak murid Hoa-san-pai."

"Kalau begitu, mereka itu adalah orang-orang kang-ouw, Koko"

Kenapa tidak kau katakan dari tadi?"

"Kalau mereka orang-orang kang-ouw, habis kau mau apa?"

"Ah, kita harus berkenalan dengan mereka. Tentu mereka dapat bercerita banyak tentang dunia kang-ouw. Bukankah engkau menjadi buronan In-kok-san? Dan engkau pun mencari tahu tentang penghuni Pulau Es, bukankah kau ingin menyampaikan surat-surat peninggalan manusia sakti itu? Mungkin sekali para piauwsu yang tentu banyak pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, akan dapat memberi keterangan kepada kita."

"Wah, kau benar juga, Moi-moi. Mari kita kejar mereka."

Han Han lalu menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat dan Lulu juga cepat mengejarnya.

Biarpun Lulu tidak dapat bergerak secepat Han Han, namun dibandingkan dengan orang biasa, gadis ini dapat berlari amat cepat karena ia memiliki keringanan tubuh, tenaga sinkang, dan napasnya tidak kalah panjang oleh napas kuda.

Lebih dari seperempat jam mereka berlari cepat dan hutan itu makin lebat.

Ketika mereka tiba di bagian yang berbatu-batu, mereka mendengar suara ribut-ribut dan sayup-sayup terdengar pula suara beradunya senjata berdencing-dencing.

"Koko, ada orang bertempur..."

"Hemmm, agaknya para piauwsu itu menghadapi musuh. Mari kita percepat lari kita."

Han Han mengerahkan tenaganya meloncat dan tentu saja Lulu tertinggal jauh.

Akan tetapi Lulu sekarang bukan seperti Lulu enam tahun yang lalu.

Dahulu ia penakut, akan tetapi sekarang Lulu menjadi seorang yang tabah dan pemberani, biarpun tertinggal di belakang ia tidak takut dan mempercepat juga larinya agar dapat sampai ke tempat pertempuran itu.

Dugaan Han Han ketika dia bicara dengan Lulu tadi memanglah tepat.

Pek-eng-piauwkiok adalah sebuah piauwkiok yang kenamaan di kota Kwan-teng.

Terkenal sebagai piauwkiok yang boleh dipercaya dan yang dapat menjamin keamanan semua barang kiriman sehingga tidak hanya para saudagar besar menjadi langganannya, bahkan para bangsawan yang mengirimkan barang-barang berharga selalu minta diantar dan dikawal oleh perusahaan pengawalan barang Garuda Putih ini.

Hal ini bukan hanya karena Pek-eng-piauwkiok mempunyai banyak sekali piauwsu yang cakap dan kosen, melainkan terutama sekali karena piauwkiok itu dipimpin oleh seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Ketua atau pemimpin piauwkiok ini adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, seorang bekas pendekar perantauan yang gagah perkasa bernama Tan Bu Kong yang berjuluk Hoa-san Pek-eng (Garuda Putih dari Hoa-san).

Setelah ia bosan merantau dan sudah berusia lima puluh tahun, juga mengingat bahwa sebagai seorang kepala keluarga tidak baik kalau dia menjadi perantau terus, ia membuka piauwkiok itu yang ia beri nama mengambil dari julukannya yang sudah terkenal.

Dalam masa sepuluh tahun saja, nama piauwkiok itu menjadi terkenal sekali dan setiap pengiriman barang yang diberi tanda bendera piauwkiok ini tentu akan lewat dengan aman sampai ke tempat tujuan karena para perampok dan penjahat merasa segan untuk memusuhi Pek-eng-piauwkiok.

Setelah perusahaannya menjadi besar, Tan-piauwsu lalu mendatangkan adik-adik seperguruannya, yaitu anak-anak murid Hoa-san-opai yang masih menganggur untuk membantunya bekerja, mewakilinya mengantar barang-barang yang penting.

Kiriman barang yang tidak begitu penting cukup dikawal oleh orang-orangnya yang kesemuanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi.

Dengan demikian, selain ia dapat menjamin nafkah hidup para sutenya, juga mereka dapat berkumpul dan dapat melanjutkan cita-cita yang dipesansankan oleh guru besar Hoa-san-pai, yaitu diam-diam membantu perjuangan para patriot yang menentang kekuasaan pemerintah Mancu.

Akan tetapi, perjuangan ini selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena pada waktu itu, kekuasaan pemerintah Mancu sudah terlalu meluas dan hampir seluruh pedalaman telah diduduki sehingga perlawanan berupa perang terbuka takkan ada gunanya dan pasti akan mengalami kekalahan dan kegagalan.

Dengan demikian, di samping tugasnya menjadi piauwkiok, Pek-eng-piauwkiok juga menjadi tempat rahasia dari para patriot untuk mengadakan pertemuan, perundingan, pengiriman barang-barang rahasia, dan juga pembantu dalam bidang pembiayaan.

Beberapa hari yang lalu, kantor pusat Pek-eng-piauwkiok di Kwan-teng kedatangan seorang wanita yang cantik jelita dan berpakaian mewah.

Wanita ini datang berkuda dan melihat pakaiannya, mudah diketahui bahwa dia adalah seorang gadis Mancu yang berpengaruh dan berkuasa.

Kedatangannya saja dikawal oleh selosin perajurit Mancu yang bersenjata lengkap.

Adapun gadis cantik ini sendiri menunjukkan bahwa dia bukan gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian.

Hal ini dapat dilihat dari cara melompat turun dari kuda, dari gerak-geriknya yang gesit, dan dari cara bicaranya.

Gadis bangsawan Mancu ini dengan suara keras menyatakan kepada para penjaga piauwkiok bahwa dia ingin berjumpa dengan ketua Pek-eng-piauwkiok.

Hati Tan-piauwsu merasa tidak enak, akan tetapi sebagai seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman, ia keluar dengan sikap tenang dan dengan sikap hormat ia menyambut gadis Mancu yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu.

Ia memberi hormat, mempersilakannya duduk, menghidangkan air teh kemudian menanyakan maksud kedatangannya.

Biarpun gadis itu masih berpegang kepada kebiasaan lama, yaitu berpakaian sebagai seorang wanita bangsawan Mancu, namun setelah membuka mulut bicara, ternyata ia dapat berbicara bahasa Han dengan fasih sekali.

"Apakah saya berhadapan dengan Tan Bu Kong piauwsu sendiri yang berjuluk Hoa-san Pek-eng?"

Tan-piauwsu tidak menjadi heran menyaksikan lagak gadis muda ini.

Dalam pengalamannya ia sudah banyak menyaksikan wanita-wanita yang berkepandaian, dan sudah mendengar bahwa di antara para tokoh Mancu banyak terdapat wanitaa-wanita yang berilmu tinggi.

Apalagi wanita-wanita yang berasal dari bangsa Khitan dan yang kini banyak masuk dalam pasukan Mancu sehingga pasukan itu merupakan pasukan gabungan yang amat kuat.

"Tidak salah dugaan Nona. Saya adalah Tan Bu Kong yang memimpin piauwkiok ini. Apakah yang dapat saya lakukan untukmu, Nona?"

"Pek-eng-piauwkiok adalah sebuah piauwkiok kenamaan yang katanya dapat menjamin keamanan setiap barang kiriman. Sampai di manakah kebenaran berita itu?"

"Saya tidak perlu bersombong, Nona. Namun kenyataannya, selama sepuluh tahun ini, tidak ada barang kiriman yang tidak sampai di tempat tujuannya. Sungguhpun ada terjadi gangguan-gangguan di tengah jalan, namun semua gangguan dapat diatasi dan kami belum pernah merugikan para langganan kami."

Gadis itu tersenyum mengejek.

Senyumnya manis sekali dan pasti akan mudah merobohkan hati setiap orang pria, akan tetapi di balik senyum ini membayang kekerasan hati yang dingin membeku sehingga diam-diam Tan-piauw-su bergi dik.

Wanita muda ini amat berbahaya, pikirnya.

"Hemmm, bagus kalau begitu. Saya memiliki dua buah peti kiriman yang harus dibawa ke Nam-keng. Apakah engkau berani menjamin bahwa barang-barang itu akan sampai ke tempat tujuan dengan seJamat, Tan-piauwsu?"

"Menjamin sampainya barang kiriman ke tempat tujuan dengan selamat adalah kewajiban mutlak setiap piauwkiok, Nona, karena itu, saya berani menjamin."

Kembali senyum mengejek itu sehingga Tan-piauwsu menjadi mendongkol, akan tetapi segera ditutupnya dengan sikap hati-hati dan waspada.

"Bagaimana andaikata kiriman itu dirampok di tengah jalan?"

"Akan kami bela mati-matian."

"Bagaimana andaikata, hemmm, maaf, piauwsu. Bagaimana andaikata kalian gagal mempertaruhkan keselamatan barang-barang itu dan kemudian sampai terampas orang?"

"Hah, Tak mungkin. Dan kalau terjadi demikian.. hal ini... tak ada lain jalan kecuali mengganti harga barang-barang kiriman itu."

Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara.

"Barang-barangku dalam dua peti itu biarpun diganti dengan seluruh benda milikmu ditambah milik penduduk kota ini masih takkan cukup, Tan-piauwsu. Dengar baik-baik. Aku menghendaki dua buah peti mati itu dikirimkan sekarang juga dan berapapun kau minta untuk biayanya akan kubayar. Akan tetapi, kalau sampai hilang di jalan, tanggungannya adalah nyawamu. Engkau akan ditangkap dan dihukum mati sebagai pemberontak."

Berubah wajah Tan-piauwsu dan ia nemandang gadis muda itu dengan alis terangkat.

"Mengapa begitu?"

"Tentu saja. Selama sepuluh tahun engkau mengawasi barang, kesemuanya selamat, akan tetapi sekarang mengawal benda penting dari seorang Puteri Mancu, kalau sampai hilang maka ini berarti bahwa kau sengaja membikin hilang dan berarti kau memusuhi pemerintah Mancu. Nah, sekarang aku tanya Beranikah engkau mengawal barang-barangku ini ke Nam-keng? "

Ditanya begitu, Tan-piauwsu merasa tersinggung kehormatannya.

Juga piauwsu yang berpengalaman luas ini berpikir bahwa kalau ia menolak, akan menimbulkan kesan bahwa dia anti kepada pemerintah Mancu.

Ia percaya bahwa para tokoh kang-ouw tidak ada yang akan mengganggunya, apalagi di daerah selatan ia memiliki banyak sahabat dan namanya sudah terkenal.

Siapa yang akan berani dan mau mengganggu barang kiriman yang dikawalnya?

"Baiklah, Akan tetapi karena jaminannya adalah nyawa, maka biaya pengirimannya tentu harus lipat sepuluh kali dari biasa."

"Hi-hik, Jangankan sepuluh kali lipat, biar dua puluh kali pun kubayar sekarang juga. Nih, cukupkah?"

Gadis itu mengeluarkan sebuah pundi-pundi uang dan melemparkannya di atas meja.

Tan-piauwsu mengambilnya dan membuka.

Matanya terbelalak melihat bahwa pundi-pundi itu isinya potongan-potongan emas belaka yang menurut taksirannya berharga tiga empat puluh kali daripada tarip biasa.

"Terlalu banyak. Saya tidak setamak itu dan nyawa saya yang tua pun tidak semahal ini,"

Katanya tersenyum.

"Engkau benar-benar jujur dan gagah, Tan-piauwsu. Saya boleh berlapang dada kalau dua buah petiku itu dilindungi oleh Pek-eng-piauw-kiok. Biarlah semua emas itu kuserahkan kepada Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi kuminta hari ini juga barang-barangku dikirim."

"Di manakah dua peti itu?"

Gadis itu kembali tersenyum.

"Sudah tersedia di luar pintu piauwkiok ini."

Ia bertepuk tangan tiga kali dan selosin pengawalnya memberi hormat di depan pintu.

"Bawa masuk dua peti ke sini."

Para pengawal mundur dan tak lama kemudian mereka masuk lagi menggotong dua buah peti yang panjangnya dua meter, lebar dan tingginya satu meter.

Peti-peti itu terbuat dari kayu besi yang kuat dan keras, dicat keemasan dan selain kokoh kuat, juga rapi dan halus.

Batas antara peti dan tutupnya tidak tampak sehingga agaknya untuk membuka peti itu jalan satu-satunya hanya merusaknya, yaitu membukanya secara paksa.

Agaknya hal ini sengaja dilaku kan untuk mencegah orang luar yang ingin tahu membuka peti-peti itu.

"Agaknya Nona tidak akan memberi tahu apa isi buah peti ini?"

Tan-piauwsu memancing.

"Perlukah itu? Tugasmu hanya mengawal dan mengantar sampai ke tempat tujuan. Tentang isinya adalah rahasiaku, Tan-piauwsu."

"Baiklah, dalam waktu paling lama sebulan dua buah peti ini tentu akan tiba di tempat tujuannya di Nam-keng. Harap Nona suka memberi alamat penerimanya."

Gadis Mancu itu lalu menuliskan alamat penerimanya dengan gerakan tangan cepat dan ternyata huruf-huruf tulisannya amat indah dan halus.

Alamat di Nam-keng itu adalah alamat sebuah rumah penginapan.

"Eh, mengapa tidak ada nama penerimanya? Hanya nama penginapan."

"Tidak perlu karena penerimanya adalah aku sendiri yang tentu akan berada di rumah penginapan itu pada saat barang-barang itu tiba."

Tan-piauwsu tidak mau banyak bertanya lagi, padahal merupakan hal yang aneh kalau gadis ini menyatakan dapat berada di sana lebih dulu daripada rombongan piauwsu yang melakukan perjalanan cepat"

Dia mulai menaruh curiga, akan tetapi untuk menjaga keselamatan diri dan piauwkioknya, dia tidak dapat menolak kiriman itu.

"Nah, sampai bertemu kembali, Tan-piauwsu. Hati-hati, kalau sampai gagal, aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menangkapmu."

Setelah berkata demikian, gadis itu tertawa dan meninggalkan piauwkiok, dikawal oleh selosin orang perajurit.

Suara derap kaki kuda mereka meninggalkan kesan yang menyeramkan bagi para piauwsu yang berada di situ, seolah-olah derap kaki kuda itu mendendangkan peringatan yang mengerikan.

Setelah gadis Mancu yang tidak memperkenalkan namanya bersama para perajurit Mancu Itu pergi, Tan-piauwsu cepat berkata kepada seorang di antara sutenya yang bertubuh kurus tinggi.

"Teng-sute, lekas kau selidiki ke mana mereka itu pergi."

Orang she Teng yang kurus itu mengangguk dan sekali berkelebat ia sudah lari keluar dari tempat itu.

Dia memang ahli ginkang yang dapat berlari cepat sekali, maka dialah yang disuruh oleh Tan-piauwsu untuk mengejar rombongan gadis itu dan mengetahui dimana tempat tinggal dan siapa gerangan gadis aneh itu.

Kemudian Tan-piauwsu mengumpulkan lima orang sutenya yang lain dan diajaknya masuk ke ruangan dalam untuk berunding.

"Sute sekalian, gadis Mancu tadi amat mencurigakan. Aku dapat merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres. Tentu dia mengandung maksud tertentu di balik pengiriman ini."

"Aku pun berpikir demikian, Suheng. Mengapa Suheng tidak menolak saja tadi?"

Berkata sutenya yang tertua, seorang berusia lima puluh tahun lebih, berjenggot panjang dan bertubuh kecil pendek, namun bermata tajam.

Dia ini adalah seorang Hoa-san-pai yang bernama Lie Cit San dan dialah merupakan orang ke dua di Pek-eng-piauwkiok karena tingkat kepandaiannya pun paling tinggi di antara para sute dari Tan-piauwsu.

"Tidak bisa menolak, Sute. Dia sudah sengaja memilih kita dan kalau aku menolak, dia memiliki (Lanjut ke

Jilid 12) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 alasan untuk mengecap kita sebagai pemberontak-pemberontak yang tidak mau mengawal barang milik seorang Puteri Mancu.

Aku khawatir kalau-kalau rahasia perjuangan kita tercium oleh mereka dan sekarang ini mereka menggunakan ujian di balik pengiriman barang."

"Dugaanmu bagaimana, Suheng?"

"Ada dua kemungkinan. Kalau dia mau mengganggu kita, mungkin dia sendiri yang akan mempersiapkan orang-orangnya untuk merampas peti-peti itu di tengah jalan sehingga dengan mudah akan menghancurkan kita."

"Keji sekali! Akan tetapi kita akan lawan dia, Suheng."

Kata Ok Sun, sutenya yang berangasan, seorang berusia tiga puluh lebih yang bertubuh kekar dan di pinggangnya tergantung sebuah golok besar.

"Tentu saja akan kita lawan, akan tetapi ada kemungkinan lain yang lebih melegakan hati. Yaitu mungkin ini hanya merupakan ujian bagi kesetiaan kita terhadap Pemerintah Mancu. Kalau benar demikian, kita akan selamat."

"Jangan-jangan dua peti itu terisi peralatan untuk menghancurkan kawan-kawan seperjuangan kita."

Kata seorang sute lain.

"Hal itu tidak penting dan kurasa tidak demikian. Untuk menjaga kemungkinan pertama, yaitu gadis aneh itu mengerahkan orang-orang untuk mengganggu kita di jalan, aku sendiri akan mengawalnya."

Kata Tan-piauwsu sambil mengepal tinju.

Dia harus unjuk gigi, dan untuk menjaga nama baik Pek-eng-piauwkiok, akan dia lawan mati-matian setiap usaha untuk merampas dua buah peti itu.

Tiba-tiba Kwee Twan Giap, sutenya yang paling muda akan tetapi terkenal paling cerdik, berkata.

"Suheng, justeru inilah yang aku khawatirkan. Agaknya justeru pemikiran dan keputusan Twa-suheng ini yang sudah diperhitungkan mereka."

"Apa maksudmu, Kwee-sute?"

"Bukan lain, tipu muslihat memancing harimau keluar dari sarang."

Tan-piauwsu dan empat orang sutenya yang lain terkejut dan membelalakkan mata. Tan-piauwsu meninju meja di depannya.

"Ah, tepat sekali, Sute. Mengapa hal yang mungkin sekali ini kulupakan? Memancing harimau keluar dari sarang. Ah, bisa jadi itulah inti dari rahasia pengiriman aneh ini. Kita harus bersiap-siap untuk kemungkinan itu."

"Sebaiknya begini saja, Twa-suheng,"

Kata pula sute termuda yang cerdik itu.

"Pengawalan barang ini diserahkan saja kepada seorang di antara kami, karena untuk menghadapi gangguan di jalan, kurasa tidaklah amat berat. Apalagi kalau diingat bahwa perjalanan itu menuju ke Nam-keng. Daerah sepanjang perjalanan ke selatan penuh dengan sahabat-sahabat kita, sehingga kalau terjadi sesuatu, banyak sahabat yang dapat membantu. Adapun Suheng sendiri bersama para Suheng lainnya menjaga di sini untuk menghalau setiap gangguan dan juga untuk dapat melihat perkembangan, kalau perlu merundingkan dengan kawan-kawan seperjuangan yang datang dan lewat di kota ini."

Usul ini dapat diterima dan akhirnya Tan Bu Kong menetapkan Lie Cit San dan Ok Sun sebagai wakilnya mengawal dua buah peti itu, membawa pasukan piauwsu pilihan sebanyak lima belas orang.

Berangkatlah hari itu juga dua orang piauwsu dan lima belas orang anak buahnya, mengawal dua buah peti yang dimasukkan ke dalam kereta yang ditarik empat ekor kuda besar.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, di dalam hutan, rombongan piauwsu ini bertemu dengan Han Han dan Lulu.

Ketika dari jauh mereka melihat seorang pemuda dan seorang pemudi berjalan di hutan yang liar dan sunyi itu, Lie Cit San sudah menjadi curiga dan berbisik.

"Awas, semua siap sedia. Dua orang di depan itu mencurigakan."

Demikianlah, rombongan piauwsu itu lewat dan ketika mereka melihat bahwa yang mereka curigai itu hanyalah seorarg pemuda sederhana dan seorang gadis remaja yang cantik, mereka tertawa-tawa dan memandang ke arah Lulu dengan kagum dan tentu saja timbul sifat-sifat kurang ajar mereka, sungguhpun di depan Lie Cit San dan Ok Sun para anak buah itu tidak berani mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan.

Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, di bagian yang berbatu, mendadak muncul sembilan orang laki-laki yang gagah sikapnya dan mereka ini sengaja menghadang di tengah jalan.

Usia sembilan orang ini dari dua puluh sampai empat puluh tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi dan seperti biasa dipakai orang-orang yang pandai ilmu silat, mereka itu seperti bukan golongan perampok.

Seorang di antara mereka, yang paling tua, sudah mengangkat tangan ke atas dan berseru.

"Pek-eng-piauwsu yang mengawal kereta, berhenti dulu."

Lie Cit San yang menunggang kuda, segera mengajukan kudanya, mengerutkan kening dan matanya yang tajam memandang penuh selidik, kemudian bertanya.

"Sahabat-sahabat yang berada di depan siapakah dan apa maksudnya menghentikan kami? Hendaknya diketahui bahwa kami mewakili Suheng kami Hoa-san Pek-eng untuk mengawal barang-barang dalam kereta menuju ke Nam-keng. Harap sahabat-sahabat suka minggir dan membiarkan kami lewat."

Sembilan orang laki-laki itu mengeluarkan suara marah dan yang tertua di antara mereka segera mengangkat tangan memberi isyarat agar teman-temannya bersikap tenang.

Kemudian ia berkata kepada Lie Cit San.

"Orang-orang Hoa-san-pai amat sombongnya sehingga seperti buta, tidak membedakan orang. Kami bukanlah golongan perampok rendah yang menjadi sahabat para piauwsu. Kami adalah anak-anak murid Siauw-lim-pai yang sengaja mencegat kalian di sini untuk membalas dendam."

Lie Cit San terkejut sekali dan mengerutkan alisnya.

Dia memang tahu bahwa beberapa bulan yang lalu terjadi bentrokan antara beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dengan anak murid Hoa-san-pai, akan tetapi bentrokan itu terjadi antara orang-orang muda yang masih kurang pengalaman dan hal itu telah dibereskan oleh golongan tua.

Urusannya hanya kecil karena terjadi hubungan cinta antara seorang murid wanita Hoa-san-pai dengan seorang murid pria Siauw-lim-pai.

Hubungan cinta ini menimbulkan rasa iri pada saudara-saudara seperguruan lain sehingga terjadilah bentrokan itu.

Dalam bentrokan itu pun hanya mengakibatkan luka-luka tak berarti di kedua pihak.

Mengapa hal yang sudah padam itu kini hendak digali dan dipanaskan kembali oleh sembilan orang anak murid Siauw-lim-pai yang tidak dapat dikatakan orang-orang muda ini?

Lie Cit San bukan seorang anak muda yang berdarah panas, maka ia menyabarkan hatinya dan mengangkat kedua tangan setelah meloncat turun dari atas kuda.

Sutenya, Ok Sun yang tadinya berada di atas kereta, juga meloncat turun dengan gerakan gesit, berdiri di dekat suhengnya dalam keadaan siap-siap.

Tokoh Hoa-san-pai yang berangasan ini sudah meraba-raba gagang senjata.

"Maafkan kalau kami salah menyangka,"

Kata Lie Cit San.

"Kiranya Cu-wi adalah para Enghiong dari Siauw-lim-pai, Lebih baik lagi kalau begitu. Hendaknya Cu-wi suka memberi tahu apakah sebabnya Cu-wi sekalian menahan kami?"

Ok Sun yang marah menyambung.

"Biarpun anak-anak murid Siauw-lim-pai namun lagaknya seperti perampok, menghadang perjalanan orang. Suheng, kurasa mereka ini telah menjadi antek-antek Mancu dan sekarang mereka diperalat oleh gadis Mancu itu."

"Tutup mulutmu."

Bentak seorang pemuda diantara sembilan orang murid Siauw-lim-pai itu.

Lie Cit San dan pemimpin rombongan Siauw-lim-pai segera menghardik saudara masing-masing agar suka diam.

Kemudian orang Siauw-lim-pai itu berkata.

"Aku Liong Tik adalah seorang anak murid Siauw-lim-pai yang menjunjung kebenaran dan keadiIan. Maksud kami sembilan orang murid Siauw-lim-pai menahan kalian tidak lain hanya untuk bertanya apa isinya kereta yang kalian kawal."

"Ada sangkut-paut apakah hal itu dengan kamu orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong?"

Bentak Ok Sun yang memang berangasan dan sebagai seorang murid Hoa-san-pai tentu saja masih panas hatinya oleh bentrokan antara murid-murid keponakannya dengan murid-murid Siauw-lim-pai beberapa bulan lalu.

Akan tetapi kembali Lie Cit San yang masih sabar itu menyambung.

"Mengapakah para sahabat gagah dari Siauw-lim-pai ingin mengetahui hal itu? Hendaknya Cu-wi sekalian tahu bahwa kami sendiri hanya bertugas untuk mengawal barang dan sama sekali tidak tahu apa isinya dua buah peti yang kami kawal, bahkan kami pun tidak ingin mengetahui barang milik orang lain."

"Dua buah peti..?"

Sembilan orang Siauw-lim-pai itu saling pandang penuh arti, kemudian memandang marah ke arah kereta.

Liong Tik yang tertua di antara saudara-saudaranya mengimbangi kesabaran Lie Cit San dan kini ia berkata, suaranya masih halus namun nadanya memaksa.

"Kami percaya bahwa dua orang saudara Hoa-san-pai yang gagah tidak mengetahui isinya, akan tetapi kami minta agar kedua buah peti itu dibuka agar kita bersama dapat melihat isinya."

"Perampok-perampok berkedok Siauw-Lim-Pai. Kalau ternyata isinya emas permata tentu kalian akan merampoknya."

Bentak Ok Sun sambil mencabut golok besarnya.

Para anak murid Siauw-lim-pai juga sudah mencabut senjata masing-masing dengan sikap marah.

Lie Cit San menggeleng kepala.

"Tidak mungkin hal itu dilakukan,"

Katanya.

"Kami harus menjaga nama baik kami sebagai piauwsu, tidak akan membuka peti kiriman barang orang lain, juga tidak memperbolehkan siapa juga membukanya."

"Twa-suheng, sudah jelas bahwa mereka hendak menyembunyikan. Kalau tidak lekas turun tangan, mau menanti apa lagi?"

Bentak seorang di antara anak murid Siauw-lim-pai yang paling berangasan sambil meloncat maju dengan pedang di tangan.

Ok Sun menggereng dan kedua orang itu sudah bertanding dengan sengit.

Melihat ini, Lie Cit San dan Liong Tik maklum bahwa bentrokan tak dapat dielakkan lagi, terpaksa mereka pun maju.

Lie Cit San mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang cambuk besi yang kecil panjang, sedangkan Liong Tik mengeluarkan senjata sepasang tombak bercagak dan kedua orang ini pun sudah bertanding hebat.

Tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai yang lain sudah menyerbu ke arah kereta dan mereka disambut oleh lima belas orang anak buah piauwsu sehingga sebentar saja di situ terjadi pertandingan yang seru, terdengar bunyi senjata-senjata bertemu diseling teriakan marah mereka.

Pertandingan antara dua orang murid Hoa-san-pai melawan dua orang murid Siauw-lim-pai terjadi seru dan berimbang, akan tetapi lima belas orang anak buah rombongan piauwkiok itu segera terdesak hebat oleh tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai dan setelah lewat belasan jurus, mulailan pihak piauwkiok terdesak dan empat orang sudah roboh terjungkal mandi darah.

Tiba-tiba terdengar bentakan yang amat keras.

"Semua berhenti."

Aneh sekali.

Bentakan itu selain keras dan penuh wibawa, juga mengandung tenaga mukjizat yang membuat mereka yang sedang bertempur itu serentak meloncat mundur dengan kaget dan gentar, menahan senjata masing-masing dan memandang terbelalak kepada seorang pemuda rambut riap-riapan yang tahu-tahu sudah berada di tengah antara mereka.

Pemuda ini bukan lain adalah Han Han yang segera dapat memilih pihak karena melihat betapa tadi rombongan piauwsu itu terdesak, bahkan ada empat orang di antara mereka yang roboh dan tewas.

Kini ia memutar tubuh, membelakangi para piauwsu, menghadapi para murid Siauw-lim-pai dan membentak marah.

"Perampok-perampok laknat, berani kalian mengganggu orang lewat? Orang-orang jahat macam kalian ini patut dibasmi."

Para piauwsu yang mengenal Han Han sebagai pemuda yang tadi mereka lewati, memandang heran namun juga geli.

Pemuda hijau macam ini mana mungkin dapat menakuti hati para anak murid Siauw-lim-pai yang lihai itu.

Dan betul saja dugaan mereka, murid-murid Siauw-lim-pai marah sekali karena mengira bahwa pemuda liar yang bermata setan ini pasti seorang anak murid Hoa-san-pai pula.

Maka seorang di antara mereka yang termuda, yang tidak memandang mata kepada Han Han, sudah menerjang sambil membentak.

"Bocah setan, mampuslah."

Pemuda Siauw-lim-pai itu bersenjata sebuah toya dan senjata toya ini memang merupakan sebuah di antara senjata kaum Siauw-lim-pai yang ampuh.

Begitu tara digerakkan terdengar bunyi mengaung dan ujung toya itu tergetar menimbulkan bayangan belasan batang banyaknya.

Kini toya itu rneluncur ke arah tubuh Han Han, menyodok ke dadanya.

Han Han sama sekali tidak bergerak.

"Krakkk."

Toya itu dengan tepat menyodok ulu hati Han Han, akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak bergeming, sebaliknya toya itu patah-patah rnenjadi tiga potong.

Anak murid Siauw-lim-pai itu terdorong tenaganya sendiri sehingga menubruk tubuh Han Han.

Pemuda ini mengangkat tangan kiri yang terbuka, memukul ke arah tengkuk lawannya.

"Krekkk."

Murid Siuw-lim-pai roboh dengan batang leher patah dan tewas seketika.

Peristiwa ini menirnbulkan geger.

Delapan orang anak murid Siauw-lim-pai menjadi marah sekali dan mereka maju dengan senjata mereka menerjang Han Han.

Saking marahnya menyaksikan seorang saudara mereka tewas, mereka itu lupa akan sifat kegagahan dan delapan orang jagoan Siauw-lim-pai dengan senjata di tangan kini menerjang dan mengeroyok seorang pemuda tanggung yang tak terkenal dan bertangan kosong.

Pada saat itu, Lulu juga sudah tiba di situ dan gadis ini dengan mata berkilat dan muka berseri berteriak-teriak.

"Han-ko, sikat saja perampok-perampok itu."

Akibat pengeroyokan itu sungguh hebat.

Han Han kaku sekali gerakannya dan ia tidak mempunyai ilmu silat tertentu untuk dimainkan menghadapi pengeroyokan itu.

Biarpun ia sudah mempelajari gerak kaki, namun gerak tangannya hanya ia pelajari sepintas lalu saja karena selama enam tahun ini ia hanya memusatkan ketekunannya untuk memupuk tenaga sinkang.

Ia memasang bhesi dengan kuda-kuda Chi-ma-se, kedua kakinya terpentang dan lutut ditekuk, akan tetapi kedua lengannya dikembangkan dan diputar-putar menghadapi setiap serangan para pengeroyok.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya kedua pihak yang bermusuhan melihat akibat pertandingan ini.

Setiap kali ada senjata datang menyerang, Han Han memapakinya dengan dorongan atau kibasan tangannya dan..

si penyerang terguling, senjatanya patah-patah dan orangnya roboh tewas, ada kalanya tewas dengan muka kebiruan seperti membeku, ada kalanya pula tewas dengan tubuh hitam seperti hangus terbakar.

Dalam keadaan tidak sadar akan kekuatan sendiri, Han Han telah "mengisi"

Lengan kiri dengan tenaga inti Im-kang, sedangkan tangan kanannya mengandung tenaga inti Yang-kang.

Kekuatan dan kedahsyatan setiap gerak tangannya tidak kalah oleh ilmu pukulan Swat-im Sin-kang maupun Hwi-yang Sin-kang.

Karena dia tidak menyerang hanya memapaki mereka yang menyerang saja, maka dalam gebrakan-gebrakan itu robohlah tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak bernyawa lagi, sedangkan Liong Tik dan seorang sutenya yang lebih tinggi ilmunya dapat meloncat ke belakang sehingga terhindar dari bahaya maut, akan tetapi juga senjata mereka itu remuk oleh hantaman hawa pukulan yang keluar dari tangan Han Han.

Pada saat itu keadaan Han Han benar-benar mengerikan sekali.

Ia masih berdiri seperti tadi karena ia telah merobohkan tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak mengubah kedudukan kaki sama sekali.

Ia berdiri menghadapi Liong Tik dan sutenya, siap menerima serangan, matanya mengeluarkan cahaya yang tajam sekali, mulutnya tersenyum mengerikan seperti senyum setan mengejek sehingga wajahnya yang tampan itu kelihatan menyeramkan, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri.

Karena pihak lawan yang tinggal dua orang itu terbelalak dan tidak menyerangnya, maka ia pun diam tak bergerak dan sesaat keadaan di situ menjadi sunyi karena Lie Cit San, Ok Sun dan semua anggauta piauw-su juga terbelalak dengan hati ngeri.

Derap kaki kuda terdengar jelas di saat yang sunyi itu dan Lulu menengok ke kanan.

Seekor kuda hitam datangseperti terbang cepatnya dan di atas kuda itu duduk seorang gadis cantik.

Bukan duduk, lebih tepat berdiri karena gadis itu memang berdiri dengan kaki di kanan kiri perut kuda, di atas tempat kaki.

Dapat berdiri seperti itu selagi kuda membalap dengan miring membuktikan betapa pandainya gadis cantik ini menunggang kuda.

Akan tetapi wajah gadis itu diliputi kedukaan dan kegelisahan.

Melihat betapa anak murid Siauw-lim-pai banyak yang tewas dan kereta yang membawa dua buah peti berada di situ dalam keadaan ditinggalkan karena para piauwsu tadi menyambut penyerbuan para murid Siauw-lim-pai, gadis itu mengeluarkan teriakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meluncur cepat sekali mendahului kuda dan tahu-tahu ia telah berada di belakang kereta.

Para piauwsu terkejut, akan tetapi sebelum ada yang sempat bergerak, gadis itu sudah menggerakkan tangan dua kali.

"Brakkkkk, Brakkkkk."

Dua buah peti itu terpukul bagian atasnya oleh dua tangan yang kecil halus, akan tetapi seketika bagian tutupnya remuk dan terbukalah kedua peti itu.

Si gadis cantik menjenguk ke dalam peti-peti itu dan terdengar teriakannya menyayat hati.

"Liok-suhu..., Chit-suhu..."

Dan gadis itu menangis tersedu-sedu.

Para piauwsu tercengang keheranan, apalagi setelah Liong Tik dan seorang sutenya berlari menghampiri kereta, menjenguk isi peti dan menjatuhkan diri berlutut pula sambil menangis.

Lie Cit San dan Ok Sun, diikuti para piauwsu lari pula mendekat dan ketika mereka melihat isi peti, mereka terbelalak.

"Aihhhhh..."

Lie Cit San dan Ok Sun terhuyung ke belakang dengan muka pucat sekali.

Kiranya di dalam dua buah peti itu terisi dua sosok mayat orang yang bukan lain adaiah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam.

Gadis cantik itu sudah menghentikan tangisnya lalu bangkit berdiri.

Sikapnya dingin sekali, penuh hawa amarah meluap-luap, penuh dendam sakit hati yang harus dilampiaskan.

Ia bertanya kepada Liong Tik dan sutenya.

"Siapa yang membunuh saudara-saudaramu itu?"

"Sukouw (Bibi Guru)... mohon bantuan.. para Sute dibunuh oleh bocah iblis itu..."

Liong Tik menuding ke arah Han Han yang masih berdiri seperti arca.

Tadi ia seperti kemasukan pengaruh yang aneh, terdapat rasa gembira sekali ketika kedua tangannya merobohkan para pengeroyoknya.

Akan tetapi kini Han Han memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu dengan bengong.

Ia baru sadar ketika ada suara wanita membentak di depannya.

"Siapa engkau yang begini kejam telah membunuh tujuh orang murid keponakanku?"

Tiba-tiba Lulu yang berdiri di belakang Han Han tertawa geli sehingga suasana tegang itu menjadi terpecah.

"Hi-hi-hi, aneh sekali. Melihat muka dan tubuhmu, usiamu tidak akan banyak selisihnya dengan usiaku, akan tetapi engkau mempunyai keponakan-keponakan yang sudah tua-tua. Aneh dan lucu, hi-hi-hik."

Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikannya, bahkan seperti tidak mendengarnya karena gadis itu kini sedang memandang Han Han penuh perhatian, bahkan wajahnya yang cantik kini menjadi agak pucat, sinar matanya penuh keheranan dan tidak percaya.

Han Han yang sadar akan teguran suara wanita, mengangkat muka dan begitu ia memandang wajah gadis cantik di depannya itu, ia terbelalak dan sampai lama tidak dapat menge1uarkan suara.

Kedua orang ini saling pandang, kadang-kadang meragu, kemudian merasa yakin dan Han Han berkata lirih.

".. Suci..."

"Engkau..? Engkau... Han Han..? Dan engkau membantu Hoa-san-pai, menjadi anjing penjajah Mancu..?"

"Suci.., sama sekali tidak.."

"Kau bukan Suteku lagi, Kau musuh yang harus mati di tanganku"

Gadis itu menyerang dengan dahsyat sekali.

Biarpun dia menyerang dengan pukulan tangan ke arah dada Han Han, namun tangan kosong gadis cantik ini jauh lebih berbahaya daripada serangan senjata para murid Siauw-lim-pai tadi.

Datangnya antep, cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat.

"Dukkkkk.."

Han Han yang tidak menangkis itu terpukul dadanya, terhuyung mundur dua langkah.

Akan tetapi gadis itu sendiri terbanting roboh.

Gadis itu yang sesungguhnya adalah Lauw Sin Lian, terkejut dan meloncat bangun.

Tangan kanannya yang memukul itu menjadi kebiruan dan tubuhnya menggigil kedinginan.

Cepat-cepat ia menahan napas dan mengerahkan hawa dari pusarnya sehingga rasa dingin itu dapat diusir.

Ia memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak, kemudian ia menoleh kepada dua orang murid keponakannya sambil berkata, suaranya mengandung isak tertahan.

"Naikkan jenazah para Sute itu ke atas kereta."

Dua orang murid Siauw-lim-pai itu segera melaksanakan perintah ini dengan air mata bercucuran.

Lauw Sin Lian meloncat ke atas kereta, diikuti dua orang murid keponakannya, kemudian setelah sekali lagi menoleh ke arah Han Han dengan pandang mata penuh kebencian, ia lalu memekik nyaring dan menarik kendali kuda.

Empat ekor kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, lalu membalap.

Para piauwsu tidak ada yang berani berkutik.

Mereka masih terkejut dan bingung menyaksikan kenyataan yang amat mengerikan tadi.

"Suci...."

Han Han mengeluh perlahan, kemudian ia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan, menghadapi anak murid Hoa-san-pai yang masih berdiri pucat.

Pandang mata Han Han mengandung sesuatu yang membuat dua orang ini bergidik.

"Kalian.. Kalian.. manusia-manusia iblis. Kiranya kalianlah yang jahat, dan kalian membuat aku membunuh mereka yang tak berdosa..."

Suara Han Han perlahan seperti mendesis, namun hal ini bahkan menambah keseramannya. Dua orang murid Hoa-san-pai itu menggeleng kepala.

"Tidak.. tidak...."

Akan tetapi kedua tangan Han Han sudah menyambar, melakukan gerakan menampar ke depan.

Jarak antara mereka masih jauh, ada dua meter, namun tamparan ini mengandung hawa sinkang yang hebat, mengandung hawa pukulan yang biasa ia latih di Pulau Es, pukulan-pukulan yang dapat membuat air membeku menjadi bongkah-bongkah es sebesar anak lembu.

Dua orang murid Hoa-san-pai itu roboh tanpa dapat bersambat lagi, roboh dengan tubuh kaku membeku dan tewas seketika.

Para anak buah piauwsu menjadi putat sekali, akan tetapi Han Han sudah menghadapi mereka dan berkata.

"Kalian hanya anak buah, tidak tahu apa-apa..."

Tanpa berkata apa-apa lagi Han Han lalu menyambar tangan adiknya dan ditariknya lalu diajak pergi cepat-cepat dari tempat itu.

Sebentar saja kedua orang muda ini lenyap dari tempat itu dan barulah para anggauta piauwkiok itu sibuk mengurus jenazah kedua orang pimpinan mereka dan empat orang jenazah itu, dengan penuh duka dan masih menggigil kalau teringat kepada pemuda yang mereka anggap iblis itu, mereka kembali ke Kwan-teng untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.

"Eh-eh, berhenti dulu, Han-ko..."

Lulu merenggut tangannya dan terpaksa Han Han berhenti.

Wajah pemuda ini keruh tanda bahwa pikirannya kalut dan hatinya terganggu oleh peristiwa dalam hutan tadi.

"Han-ko, semua peristiwa tadi amatlah mengherankan hatiku. Siapakah gadis cantik yang kau sebut Suci tadi? Benarkah dia itu Kakak Seperguruanmu?"

Han Han yang masih kalut pikirannya itu mengangguk.

"Dia Suciku, dia Puteri guruku yang pertama. Dia puteri Lauw-pangcu."

Baru Han Han teringat dan kalau bisa ia hendak menelan kembali semua kata-kata yang sudah dikeluarkan.

Namun terlambat karena Lulu sudah mendengar semua dan gadis itu tiba-tiba menjerit, lalu membalikkan tubuh dan lari secepatnya.

"Eh, Moi-moi.., tunggu dulu..."

Han Han meloncat dan cepat mengejar.

Sebentar saja ia dapat menyusul dan memegang tangan Lulu.

Akan tetapi Lulu merenggutkan tangannya dan dengan cemberut memandang Han Han dengan muka merah dan air mata membasahi pipinya.

"Jangan dekat-dekat! Jangan pegang-pegang, Kau kiranya murid musuh besarku. Apakah kau hendak membelanya? Mulai sekarang aku tidak sudi berdekatan denganmu."

"Eh, Lulu jangan begitu. Aku tetap Kakakmu, dan aku tidak akan membela siapapun juga kecuali engkau Adikku.."

"Bohong! Mana mungkin membelaku kalau musuh besarku adalah Gurumu sendiri? Kakek jahat she Lauw itu adalah Gurumu, baru puterinya saja sudah kau bela tadi. Sudahlah, karena kau murid musuh besarku, berarti engkau musuhku juga. Nah, kau lekas serang dan bunuh aku.., lekas bunuh aku... tak mungkin aku dapat membalas kematian keluargaku karena engkau murid musuhku. Bunuh aku, engkau murid musuh besarku."

Saking berduka dan marah, omongan Lulu menjadi kacau-balau tidak karuan dan bercampur dengan isak yang ditahan-tahannya.

Sepasang matanya yang lebar dan yang biasanya bersinar seperti sepasang matahari kembar itu kini menyuram, dan dua butir air mata jernih seperti mutiara menggantung di bulu matanya yang lentik.

Han Han melangkah maju dan memegang kedua pundak Lulu, tersenyum duka dan berkata.

"Baiklah, lulu. Engkau menganggap aku musuhmu, nah, ini dadaku sudah terbuka di depanmu. Kau hantamlah aku sampai mati, kalau kau menganggap aku musuhmu."

Sepasang mata yang lebar indah itu memandang ke arah dada Han Han, dada kakaknya yang selama ini menjadi tempat ia bersandar, dan ia bergidik, akan tetapi mulutnya masih mencela.

"Kau mengejek. Kau tahu bahwa betapapun keras aku memukul, takkan melukai dadamu..."

"Adikku yang manis. Sekali ini aku tidak akan melawan, dan aku akan senang mati di tanganmu, kalau hal itu memang kau kehendaki dan akan menyenangkan hatimu. Apakah kau akan senang hatimu kalau kau dapat memukul mati Kakakmu ini, Moi-moi?"

Lulu menengadahkan mukanya, mereka berpandangan dan Lulu terisak menangis sambil menubruk kakaknya, menyembunyikan mukanya di dada yang ditawarkan untuk ia pukul itu.

Air matanya membasahi baju dan dada Han Han yang mengelus-elus kepala adiknya penuh kasih sayang.

"Lulu, sudahlah jangan menangis. Aku bukan musuhmu melainkan Kakakmu."

"Akan tetapi kau murid Lauw-pangcu musuh besarku."

"Sekarang tidak lagi, Lulu. Itu dahulu ketika aku masih kecil. Engkau mendengar sendiri betapa puterinya tadi mengatakan demikian pula, bahwa dia bukan Suciku dan aku bukan Sutenya. Puterinya itu pun kini telah menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang hebat..."

Lulu mengangkat mukanya memandang.

Mukanya masih agak basah, kulit muka yang halus itu kemerahan dan kemarahan sudah menghilang dari pandang matanya yang kini menatap wajah kakaknya penuh selidik dan juga penuh kekhawatiran.

"Koko, engkau... mencinta dia.?"

"Siapa?"

"Dia, puteri musuh besarku itu.."

"Aha! Kau maksudkan Lauw Sin Lian tadi? Dia bekas Suciku, ahhh... tidak, aku tidak tahu tentang cinta, jangan bertanya yang bukan-bukan."

"Syukurlah, aku akan bingung sekali kalau sampai engkau mencinta puteri musuh besarku. Akan bagaimanakah sikapku? Dia puteri musuh besarku akan tetapi juga... eh calon So-so (Kakak Ipar), kan merepotkan hati namanya."

"Hussh, kau memang nakaI, Moi-moi. Apakah lupa baru saja kau mengamuk dan menangis? Sekarang sudah menggoda orang."

Lulu tersenyum, giginya yang rapi dan putih berkilat di balik kemerahan bibirnya.

"Tapi aku girang, tak mungkin kau menikah dengan Lauw Sin Lian. Dia sudah marah dan benci kepadamu karena kau telah membunuh murid-murid keponakannya."

Han Han menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Lulu, jangan menganggap hal itu seperti main-main"

Aku tadi telah salah membunuh orang.

Kusangka tadinya orang-orang Siauw-lim-pai itu yang jahat dan menjadi perampok, kiranya piauwsu-piauwsu anak murid Hoa-san-pai itu yang jahat, menyembunyikan dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang mereka bunuh di dalam peti-peti itu."

Seketika wajah Lulu menjadi serius dan membayangkan kekhawatiran.

"Wah, kalau begitu engkau akan dimusuhi oleh Siauw-lim-pai, Koko?"

Han Han tersenyum dan pandang matanya membayangkan ejekan.

"Aku tidak takut, Mengapa mesti takut karena memang aku membunuh mereka karena salah sangka? Juga sikap mereka itu sendiri yang mendorongku membunuh mereka. Bahkan aku akan pergi ke Siauw-lim-pai, mencari Sin Lian untuk menjelaskan peristiwa itu."

"Bagus sekali. Mari kita ke sana, Koko. Engkau ingin memberi penjelasan kepada Sin Lian dan aku akan bertanya di mana adanya Ayahnya agaraku dapat membalas dendam. Engkau tentu akan membantuku membunuh Lauw-pangcu, bukan?"

Han Han merasa serba salah, akan tetapi dengan sungguh-sungguh ia berkata.

"Kurasa sekarang engkau telah cukup lihai untuk mengalahkan Lauw-pangcu, Lulu. Bagaimana mungkin aku dapat turun tangan terhadap dia yang dahulu amat baik kepadaku? Aku hanya berjanji akan melindungimu jika kau sekiranya kalah, akan tetapi untuk membantumu membunuhnya..., wah, berat juga."

"Tidak apalah tidak kau bantu juga. Kalau aku kalah, aku dapat belajar lagi darimu dan lain kali kucari lagi dia. Mari kita ke Siauw-lim-pai mencari Sin Lian, Koko."

Akan tetapi Han Han menggeleng kepala.

"Tidak sekarang, Moi-moi. Aku akan pergi dulu mencari pusat Pek-eng-piauwkiok itu. Aku telah kesalahan tangan membunuh murid Siauw-lim-pai dan semua itu hanya karena kejahatan dan kepalsuan orang-orang Pek-eng-piauwkiok. Mungkin dua orang piauwsu yang mengawal dua peti terisi mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam itu pun hanya petugas saja. Tentu ketua piauwkiok itu yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab. Dia yang harus menebus semua kesalahan ini. Setelah aku menghukum orang yang menjadi biang keladi peristiwa di hutan itu, yang menjadi pembunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, barulah aku akan mengajakmu pergi ke Slauw-lim-pai." 'Tapi, ke mana kau akan mencari Pek-eng-piauwkiok, Koko? Kita tidak mengenal mereka..."

"Wah, kau bodoh sekali. Lulu, Kita pergi saja ke jurusan dari mana mereka datang, kemudian kita bertanya-tanya orang, apa sukarnya?"

Tanpa memberi kesempatan kepada adiknya yang cerewet itu membantah lagi, Han Han menyambar tangan Lulu dan digandengnya, kemudian mengajak dara itu pergi meninggalkan tempat itu.

Biarpun lama berada di Putau Es, namun Han Han masih belum kehilangan kecerdikannya kalau tak dapat dikatakan dia makin cerdik karena ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, yang membuat otaknya dapat bekerja, lebih cepat.

Tepat seperti yang diduganya, dengan mudah mereka dapat mencari keterangan tentang Pek-eng-piauwkiok.

Piauwkiok yang besar dan terkenal ini berada di kota Kwan-teng, dan dua orang muda itu segera pergi ke kota Kwan-teng, tidak peduli akan tatapan pandang mata keheranan dan kagum dari orang-orang yang berjumpa dengan mereka.

Heran melihat Han Han yang aneh dan rambutnya riap-riapan, kagum menyaksikan Lulu yang cantik jelita.

Pandang mata heran dan kagum ini lama-lama terbiasa bagi mereka.

Di dalam hatinya, Han Han mengambil keputusan untuk menebus semua pembunuhan.

yang ia lakukan di hutan tadi, pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan seakan-akan di luar kesadarannya.

Entah bagaimana, sekali bertemu tanding, ia mendapat perasaan gembira dan senang sekali merobohkan para lawannya tanpa dasar apa-apa.

Dan begitu keluar pulau, dia telah melakukan pembunuhan terhadap orang-rang Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dua partai persilatan yang besar"

Karena itu, dia harus membereskan urusan ini, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang menjadi biang keladinya.

Memang tidak salah pendapat Han Han bahwa Hoa-san-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar dan terkenal, sungguhpun tidaklah sebesar partai Siauw-lim-pai yang seolah-olah menjadi sumber partai persilatan di Tiongkok.

Hoa-san-pai yang berpusat di puncak Gunung Hoa-san itu mempunyai banyak sekali anak murid yang pandai-pandai dan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh anak murid Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh persilatan yang gagah perkasa dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan.

Pek-eng-piauwkiok dipimpin oleh Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya.

Di dalam anak tangga tingkat Hoa-san-pai, Tan Bu Kong menduduki tingkat lima.

Di samping para sutenya yang tentu saja lebih rendah tingkatnya, dia telah berhasil membuat nama besar, tidak hanya mengakibatkan kemajuan dan keuntungan piauwkiok yang ia pegang, akan tetapi juga sekaligus mengangkat nama besar Hoa-san-pai.

Apalagi karena di samping perusahaannya ini diam-diam Pek-eng-piauwkiok menjadi tempat pertemuan tersembunyi di antara para patriot yang melakukan gerakan menentang pemerintah penjajah Mancu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pek-eng-piauwkiok didatangi seorang gadis Mancu yang cantik jelita dan juga aneh, yang mengirimkan dua buah peti panjang dengan biaya amat mahal itu.

Setelah dua buah peti itu diberangkatkan, hati Tan Bu Kong yang menjaga di rumah menjadi amat tidak enak dan selalu gelisah.

Dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat dan hatinya makin tidak enak ketika sampai sore sutenya yang ia suruh mengikuti dan menyelidiki gadis Mancu itu belum juga kembali.

Sutenya itu, Teng Lok, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dan terutama sekali ginkangnya amat tinggi, tidak kalah oleh dia sendiri.

Mengapa sampai sore belum juga sutenya itu kembali?

Menjelang malam, Tan-piauwsu mendengar suara ribut-ribut di luar.

Cepat ia, meloncat dan berlari keluar dengan jantung berdebar, siap menghadapi segala kemungkinan karena agaknya para anak buahnya ribut-ribut oleh sesuatu yang tentunya tidak beres.

Ketika ia tiba di luar dan memandang, wajahnya menjadi pucat dan cepat ia menyongsong ke depan dan berseru.

"Teng-sute...."

Adik seperguruannya itu sedang digotong oleh anak buahnya dan agaknya begitu tiba di depan gedung piauwkiok, adik seperguruannya itu roboh pingsan.

Tidak aneh kalau melihat keadaannya yang demikian mengerikan.

Lengan kanannya buntung sebatas siku dan lehernya terluka mengeluarkan darah.

Cepat orang she Teng ini digotong masuk direbahkan di atas dipan dalam kamar.

Setelah menerima perawatan, akhirnya dia mengerang dan siuman.

Luka di lehernya tidak membahayakan, hanya lengannya yang buntung itu benar-benar mengerikan.

Ketika ia menengok dan memandang suhengnya duduk di situ menjaganya, ia mengeluh.

"Ahhh, Suheng... untung siauwte masih hidup... dan dapat bercerita kepada Suheng.."

Tan Bu Kong menekan pundak sutenya dan dengan terharu berkata.

"Tenanglah, Sute dan ceritakan perlahan-lahan dan seenaknya, engkau masih amat menderita.."

"Tidak, harus sekarang juga Suheng dengar. Gadis Mancu itu bukan manusia. Dia seperti iblis, Ketika aku mengikuti keretanya, kusangka tidak ada yang tahu dan aku terus membayanginya sampai kereta itu berhenti di luar kota raja di mana terdapat sebuah gedung peristirahatan yang mewah, entah punya siapa, yang jelas tentu milik seorang pembesar Mancu. Diam-diam aku lalu menyelidik dan akhirnya aku dapat membekuk seorang pelayan, kuseret keluar dan di bawah ancaman, dia mengaku bahwa gedung itu tempat peristirahatan Puteri Nirahai yang katanya adalah puteri Kaisar Mancu dari selir. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan gadis Mancu itu telah berada di situ tanpa kuketahui sama sekali. Dia menyindir bahwa aku sejak tadi membayangi keretanya dan untuk kelancangan itu aku harus dihukum. Aku menyatakan bahwa sebagai pimpinan piauwkiok, aku wajib mengetahui alamat pengirim barang. Dia tidak peduli dan minta supaya aku membuntungi lengan kananku dengan pedang sendiri."

"Ah..., terang dia bersikap tidak baik terhadap kita."

Kat a Tan Bu Kong marah.

"Bukan hanya tidak baik, bahkan telah direncanakannya, Suheng. Aku tentu saja tidak mau dan hendak pergi, akan tetapi aku selalu terguling roboh setiap kali tangannya bergerak mendorongku. Agaknya dia memiliki sinkang yang luar biasa dan dengan pukulan jarak jauh selalu merobohkan aku setiap aku hendak pergi. Aku menjadi marah, mencabut pedang dan menyerang gadis penjajah laknat itu."

Muka Teng Lok menjadi merah karena ia masih penasaran dan marah terhadap gadis bangsa Mancu itu.

"Lalu bagaimana, Sute?"

"Dia lihai sekali. Entah bagaimana aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba pedangku telah dirampasnya dan di lain saat, lenganku telah terbabat buntung dan leherku terluka. Hanya dengan mengandalkan ginkang saja aku dapat melarikan diri untuk melapor kepadamu, Suheng."

Pucat wajah Tan Bu Kong, pucat karena kaget dan marah.

Dia maklum akan gawatnya persoalan.

Andaikata gadis itu bukan puteri Mancu, apalagi puteri kaisar sendiri, tentu dia akan mengerahkan tenaga untuk mendatangi dan membalas semua ini.

Akan tetapi gadis itu adalah puteri Mancu, kalau diganggu, tentu berarti merupakan perang terbuka menentang Pemerintah Mancu dan hal ini akan menyeret pula Hoa-san-pai.

"Itu belum semua, Suheng,"

Kata pula Teng Lok sambil memandang wajah suhengnya yang berkerut.

"Ketika aku lari, aku tahu bahwa jika dia menghendaki, tentu dia akan dapat mengejar dan membunuhku. Akan tetapi dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa kita harus bersiap-siap menanti serbuan orang-orang Siauw-lim-pai. Entah apa maksudnya, akan tetapi aku khawatir sekali, Suheng. Gadis itu seperti iblis betina yang entah pekerjaan terkutuk apa yang sedang dia lakukan..."

"Hemmm..., tentu ada hubungannya dengan peti-peti itu. Baik kita tunggu saja dan engkau beristirahatlah, Sute sambil merawat diri. Kelak, karena lengan buntung, tentu Suhu akan dapat memberi ilmu yang khusus untukmu. Sementara ini, aku akan memperkuat penjagaan, bersiap menanti datangnya bahaya yang terasa benar olehku sedang mengancam kita."

Semenjak sore hari itu, sampai tiga hari tiga malam lamanya, Tan Bu Kong makin gelisah, duduk salah berdiri pun tak enak, makan tak sedap tidur tak nyenyak, dan selalu menanti-nanti kembalinya rombongan sutenya yang pergi mengawal dua buah peti itu ke selatan.

Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika pada suatu sore, sepekan kemudian, rombongan anak buahnya berlari-lari datang dengan wajah kusut, tanpa membawa kereta piauwkiok dan tanpa dipimpin oleh dua orang sutenya yang bertugas mengantar dua buah peti itu.

Tan-piauwsu membentak para anak buahnya yang bercerita simpang-siur dan amat gaduh, lalu memerintahkan seorang di antara mereka, yang tertua, menceritakan semua pengalamannya.

Piauwsu tua itu bercerita sambil mencucurkan air mata, menceritakan semua peristiwa yang terjadi, betapa kereta mereka dihadang oleh serombongan anak murid Siauw-lim-pai yang hendak memaksa membuka dua buah peti itu, kemudian betapa mereka bertanding meJawan anak-anak murid Siauw-lim-pai dan munculnya seorang pemuda aneh yang rambutnya riap-riapan bersama seorang dara remaja jelita yang secara mengerikan telah merobohkan dan menewaskan tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, kemudian betapa muncul seorang gadis anak murid Siauw-lim-pai yang lihai dan yang membuka dua buah peti dengan secara paksa.

"Dibuka? Apa isinya...?"

Tan-piauwsu bertanya dengan suara keras saking tegang hatinya.

"Isinya adalah dua mayat manusia, mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam.."

"Hayaaa...."

Tan Bu Kong mencelat bangun dari kursinya dengan muka pucat sekali.

"Celaka..."

Piauwsu itu lalu melanjutkan ceritanya.

Betapa gadis murid Siauw-lim-pai itu menyerang Si Pemuda aneh namun dapat dikalahkan dan kemudian gadis itu membawa pergi jenazah-jenazah dalam peti dan jenazah para anak murid Siauw-lim-pai.

Kemudian, dengan suara terengah-engah dia menceritakan betapa pemuda aneh itu menjadi marah kepada para piauwsu, dan dengan sekali gerakan telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun.

"Ahhh. Siapakah pemuda yang ganas dan kejam itu?"

Tan-piauwsu berseru dengan alis berdiri.

"Entahlah, hanya kami mendengar gadis murid Siauw-lim-pai yang lihai itu mengenalnya dan pemuda itu malah menyebut Suci kepada murid Siauw-lim-pai itu, dan gadis itu menyebut namanya Han Han..."

Akan tetapi, biarpun kedua orang sutenya tewas, hal ini tidak mengurangi kekhawatiran hati Tan-piauwsu dan kemarahannya terhadap Si Puteri Mancu.

Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah dia bahwa pihaknya, yaitu Pek-eng-piauwkiok yang tentu saja dapat juga dianggap mewakili Hoa-san-pai, telah diadu domba secara licin dan keji sekali oleh Puteri Mancu yang lihai itu.

Pantas saja puteri itu menyindir kepada sutenya, Teng Lok bahwa Hoa-san-pai harus bersiap-siap untuk menghadapi penyerbuan Siauw-Hm-pai"

Kini jelaslah sudah bahwa dua orang tokoh Siauw-Hm-pai itu, kedua orang dari Siauw-lim Chit-kiam, telah dibunuh oleh puteri Mancu yang kemudian memasukkan dua jenazah itu ke dalam peti dan sengaja menyuruh Pek-eng-piauwkiok mengawalnya ke selatan.

Dan ia dapat menduga pula bahwa tentu pihak Siauw-lim-pai secara diam-diam diberi tahu oleh puteri iblis itu sehingga mereka menghadang kereta dan minta lihat isi peti.

Hal ini kalau dipikirkan amat sederhana, sebuah tipu muslihat yang mudah, akan tetapi betapa kejinya.

Tentu saja pihak Siauw-lim-pai berkeyakinan bahwa dua orang tokoh mereka itu terbunuh oleh Hoa-san-pai dan tentu akan timbul dendam dan bentrokan hebat antara kedua partai besar ini.

Tan-piauwsu termenung.

Si pembuat urusan ini adalah puteri Mancu itu, tak salah lagi, sungguhpun ia bergidik kalau mengingat betapa dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam sampai dapat terbunuh.

Padahal dia tahu bahwa Siauw-lim Chit-kiam adalah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, yang memiliki tingkat ilmu kepandaian amat hebatnya, masing-masing merupakan tokoh Siauw-lim-pai tingkat tiga.

Kalau biang keladinya adalah puteri Mancu, dan yang menjadi korban adalah Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, dua buah partai yang menentang Mancu, maka mudah saja diduga sebabnya.

Tentu pihak Pemerintah Mancu sengaja mengadu domba Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar dua partai yang me musuhi Mancu ini menjadi lemah dan saling gempur sendiri.

Dan hal ini amatlah berbahaya.

Malam hari itu juga Tan Bu Kong menyuruh seorang sutenya untuk pergi keHoa-san, miengabarkan peristiwa hebat ini kepada pimpinan Hoa-san-pai agar dapat mengambil langkah-langkah seperlunya untuk-mencegah terjadinya pertentangan hebat antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang akan timbul sebagai akibat taktik adu domba yang amat keji itu.

Juga mengundang tokoh-tokoh sakti Hoa-san-pai untuk diajak mengambil tindakan terhadap puteri Mancu yang amat sakti dan aneh itu, Karena dia maklum bahwa dia sendiri takkan mungkin dapat mengalahkan puteri Mancu yang telah berhasil membunuh dua orang sakti seperti dua di antara Siauw-lim Chit-kiam.

Atau, andaikata bukan puteri itu yang membunuh, karena dia masih tidak percaya seorang puteri remaja seperti itu akan sanggup membunuh dua di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu ada orang sakti di belakang puteri itu yang tentu akan melindungi Sang Puteri.

Pada keesokan harinya, tanpa.

disangka-sangka muncullah seorang pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan bersama seorang gadis baju kuning yang cantik manis.

Kedatangan dua orang in sedikit menghibur hati Tan Bu Kong karena mereka itu, biarpun terhitung sute dan sumoinya, namun murid-murid dari supeknya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampauinya.

Sutenya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan tinggi besar, usianya dua puluh tahun lebih, gerak-geriknya halus, wajahnya periang dan peramah, namun sesungguhnya dia inilah pendekar muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoa-san Gi-hiap (Pendekar Budiman dari Hoa-san)"

Adapun gadis cantik manis berusia antara delapan belas tahun itu pun bukan sembarang orang karena dialah tokoh kang-ouw yang amat terkenal yang berjuluk Hoa-san Kiam-li (Dewi Pedang Hoa-san)"

Biarpun masih muda, dua orang pendekar Hoa-san ini telah membuat nama besar dengan perbuatan-perbuatan mereka yang menggemparkan dalam membela kebenaran dan keadilan.

Ketika melihat wajah suheng mereka yang keruh, pemuda dan dara ini cepat bertanya apa yang terjadi sehingga menyusahkan hati Tan-piauwsu.

"Kami berdua menerima pesan Suhu untuk datang membantu usaha Suheng menghimpun orang-orang gagah yang bergerak menentang kekuasaan penjajah Mancu,"

Kata pemuda tampan itu.

"Mengapa Suheng kelihatan tidak bersemangat dan berduka?"

Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang muda perkasa itu ketika tiba-tiba Tan-piauwsu mengeluh, menarik napas panjang dan matanya menjadi basah dengan air mata.

Suheng mereka, yang gagah perkasa dan banyak penga.laman di dunia kang-ouw itu, menangis.

Tentu terjadi sesuatu yang amat hebat.

"Sute dan Sumoi, kedatangan kalian ini merupakan cahaya penerang bagi hatiku yang sedang gelap, akan tetapi aku membutuhkan bantuan para Lo-cian-pwe, para Susiok dan Suhu kita di Hoa-san-pai karena tanpa mereka, kiranya sukar untuk membikin terang perkara yang amat gelap in."

Tan Bu Kong lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi semenjak puteri Mancu itu menitipkan dua buah peti untuk dikirim ke selatan.

Mendengar semua itu, Hoa-san Gihiap mengepalkan tinjunya.

"Ah, jelas. Puteri Mancu itulah yang mengatur semua rencana terkutuk itu, Biarlah aku akan pergi menangkapnya, kemudian menyeretnya ke Siauw-lim-pai, memaksanya mengaku akan semua perbuatannya. Hanya dengan jalan itu, semua perkara dapat dlbereskan, Suheng."

"Betul pendapat Wan-suheng."

Kata Hoa-san Kiam-li penuh semangat.

"Biar aku membantu Wan-suheng menangkap iblis betina itu."

Tan Bu Kong mengangkat tangan dan menggeleng kepala.

"Bukan aku kurang percaya akan kesanggupan Sute dan Sumoi, akan tetapi sungguh sembrono sekali kalau hal itu dilakukan. Pertama, ada kemungkinan puteri itu memiliki kelihaian yang amat luar biasa kalau benar dia yang membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam. Kelihaiannya telah dirasakan oleh Suheng kalian Teng Lok, akan tetapi akan lebih hebat lagi kalau dia dapat membunuh dua orang Locian-pwe dari Siauw-lim-pai itu. Selain itu, mungkin dia mempunyai kaw an-kawan yang berilmu tinggi dan hal ini tidak mengherankan kalau diingat betapa datuk-datuk besar golongan hitam banyak yang menghambakan diri kepada penjajah Mancu. Hal itu saja sudah menjadi sebab yang harus kita perhatikan dan sama sekali tidak boleh dianggap ringan. Ada lagi hal yang harus dipikirkan masak-masak sebelum kalian mengambil keputusan untuk menangkap puteri itu. Dia adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri, sungguhpun puteri selir namun kedudukannya amat tinggi sehingga kalau sampai dia kita tawan, tentu akan timbul geger dan Hoa-san-pai tentu akan diserang secara terang-terangan oleh bala tentara Mancu. Dalam hal ilmu kepandaian, tentu Sute dan Sumoi jauh melampaui aku, namun dalam hal pengalaman, aku jauh lebih tua dan lebih banyak mengalami hal-hal yang sulit. Sebaiknya, Sute dan Sumoi secara diam-diam melakukan penyelidikan terhadap Puteri itu. Tentu saja kalian harus berhati-hati, jangan sampai terjadi hal yang menimpa diri Sute Teng Lok. Cukup kalau Sute dan Sumoi mengetahui latar belakang puteri itu, apakah ada orang-orang sakti di sana, dan siapa sesungguhnya puteri yang aneh dan lihai itu."

Mau tidak mau kedua orang muda perkasa itu harus tunduk dan merasa kagum akan pandangan yang luas dari suheng mereka itu.

Mereka menyanggupi dan pertemuan antara murid-murid seperguruan itu dilanjutkan dengan makan minum dalam suasana prihatin.

"Sebaiknya Sute dan Sumoi melakukan penyelidlkan di waktu siang saja agar tidak berbahaya. Kita menanti kembalinya utusanku ke Hoa-san, dan setelah para Locianpwe dari Hoa-san tiba, barulah kita mengambil keputusan berdasarkan pendapat beliau-beliau itu, agar sepak terjang kita tidak simpang-siur."

Demikian pesan Tan Bu Kong yang dipatuhi oleh dua orang adik seperguruannya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda perkasa itu sudah meninngalkan piauwkiok dan melakukan penyelidikan ke tempat yang ditunjuk oleh teng Lok, yaitu di luar kota raja yang tidak begitu jauh dari situ, hanya dalam jarak perjalanan seperempat hari saja.

Pada sore harinya menjelang senja, selagi Tan-piauwsu dan para anak buahnya duduk menanti kedua orang sutenya itu, juga menanti berita dari Hoa-san, tiba-tiba muncul dua orang muda di depan pintu gerbang piauwkiok.

Melihat mereka ini, para pengawal yang tempo hari ikut mengawal dua peti jenazah, menjadi pucat dan gugup.

Ada yang berbisik-bisik.

"Dia datang. Dia datang..."

Ketika Tan Bu Kong menengok dan melihat seorang pemuda yang berambut panjang riap-riapan, berwajah tampan dan aneh, Sinar matanya tajam sekali dengan sikap tenang muncul di depan pintu menggandeng tangan seorang dara remaja yang cantik jelita, kemudian mendengar suara orang-orangnya, hatinya berdebar dan ia dapat menduga bahwa tentu inilah pemuda aneh yang telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai dan membunuh pula dua orang sutenya, yaitu Lie Cit San dan Ok Sun.

Sejenak Tan-piauwsu terbelalak keheranan, sama sekali tidak mengira bahwa orang yang dikabarkan amat aneh dan amat lihai itu hanyalah seorang pemuda remaja yang kelihatannya terlalu tenang dan terlalu lemah, bahkan terlalu sederhana mendekati tidak normal.

Yang membiarkan rambutnya terurai seperti itu biasanya hanyalah kaum pertapa yang tidak peduli lagi akan keadaan dirinya.

"Apakah di sini Pek-eng-piauwkiok?"

Han Han, pemuda itu, bertanya sambil memandang ke arah Tan-piauwsu yang baru muncul dari dalam dengan langkah lebar.

Tan Bu Kong mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan sambil menjawab.

"Benar, di sini adalah kantor Peng-eng-piauwkiok. Kalau Siauw-enghiong (Pemuda Gagah) ada keperluan, silakan masuk, kita bicara di dalam."

Betapapun juga, Han Han yang sudah mengerti akan sopan santun dan belajar tentang kebudayaan dan kesusastraan semenjak kecil, menjadi kikuk juga dan terpaksa ia pun membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada sambil melangkah masuk, diantar oleh tuan rumah memasuki ruangan dalam yang luas.

Di belakang Tan-piauwsu, para pengawal mengikuti dengan wajah tegang.

Teng Lok masih beristirahat di dalam kamarnya dan di situ hanya terdapat empat orang sute Tan-piauwsu yang tingkat kepandaiannya belum dapat diandalkan, sungguhpun tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai jauh lebih lihai daripada semua pengawal yang bekerja di Pek-eng-piauwkiok.

"Siauw-enghiong dan Lihiap, silakan duduk,"

Kata Tan-piauwsu.

Akan tetapi Han Han tetap berdiri dan Lulu juga berdiri karena melihat kokonya tidak duduk.

Gadis ini hanya memandang ke kanan kiri, mengagumi perabot rumah yang biarpun tidak seindah perabot di Istana Pulau Es, namun jauh berbeda.

Han Han berkata dengan kening dikerutkan.

"Harap tidak usah repot-repot karena saya datang untuk mencari pemimpin Pek-eng-piauwkiok."

Tan-piauwsu memandang tajam, lalu menjawab.

"Saya Tan Bu Kong adalah pemimpin Pek-eng-piauwkiok. Enghiong siapakah dan ada keperluan apa mencari saya?"

Sebagai seorang yang berpengalaman, piauwsu ini tidak langsung menyatakan mengenai pemuda ini, melainkan pura-pura bertanya akan maksud kedatangan pemuda itu yang, memang belum dapat ia menduganya.

"Bagus sekali! Jadi engkau pemimpin piauwkiok ini? Tan-piauwsu, tidak perlu main sandiwara lagi. Tentu orang-orangmu telah menceritakan betapa aku telah membunuh kedua orang pembantumu. Engkau tentu yang bertanggung jawab tentang pengiriman dan pembunuhan dua orang tokoh Siauw-lim-pai, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Karena itu, aku datang untuk membunuhmu sebagai tebusan kejahatanmu. Bersiaplah."

Han Han sudah bergerak hendak memukul.

"Nanti dulu, Siauw-enghiong. Yang kau bunuh itu adalah dua orang Suteku, justeru aku ingin bertanya mengapa engkau membunuh mereka? Dan mengapa pula engkau hendak membunuhku?"

"Sudah jelas, kalian telah membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dan memasukkan jenazah mereka dalam peti. Karena salah sangka, aku membantu orang-orangmu dan kesalahan tangan membunuh orang-orang Siauw-lim-pai. Engkaulah yang bertanggung jawab. Aku bukan algojo, tukang bunuh orang tanpa sebab, maka engkau yang menjadi biang keladinya harus menebus dosa."

Setelah berkata demikian, Han Han menggerakkan tangan kirinya melakukan pukulan dengan jari tangan terbuka.

"Wesssss..."

Angin pukulan yang amat dingin menyambar.

Tan-piauwsu mengenal tenaga sakti yang menyambar ganas.

Ia berseru kaget dan cepat ia meloncat ke kanan untuk mengelak.

Sebuah meja yang berdiri dua meter dibelakangnya menggantikannya kena sambaran tenaga pukulan itu dan pecah berantakan, terlempar sapai jauh.

Tan Bu Kong merasa ngeri, dan cepat ia melompat mundur sambil berseru.

"Nanti dulu, Siauw-enghiong. Aku sama sekali tidak mengerti tentang jenazah-jenazah itu. Bukan kami yang bertanggung jawab, kami pun terperosok dalam perangkap musuh.."

"Sudah ada bukti hendak menyangkal lagi? Koko, orang ini pintar mainkan lidah, jangan kena dibohongi. Sikat saja."

Kata Lulu yang ingin agar urusan ini cepat selesai sehingga ia dapat mengajak kakaknya mencari lauw Sin Lian agar dapat ia bertanya tentang musuh besarnya, ayah dari gadis itu.

Han Han juga berpendapat seperti Lulu.

Sudah jelas buktinya bahwa peti-peti yang berisi jenazah itu diangkut oleh Pek-eng-piauwkiok, dan jelas pula bahwa ketika orang-orang Siauw-lim-pai minta supaya peti-peti itu dibuka, para pengawal Pek-eng-piauwkiok rnencegahnya mati-matian.

Andaikata bukan orang Siauw-lim Chit-kiam, setidaknya Pek-eng-piauwkiok tentu bersekutu untuk rahasiakannya.

"Tidak perlu banyak cakap lagi."

Katanya karena hatinya amat kesal kalau ia teringat betapa ia telah membunuh tujuh orang Siauw-lim-pai yang tidak berdosa dan karenanya Sin Lian, gadis yang dahulu amat baik terhadap dirinya, yang telah berkali-kali menolongnya, Dan yang dengan rajin sekali memberi petunjuk-petunjuk kepadanya ketika ia mula-mula berlatih silat, menjadi marah-marah dan membenci kepadanya.

Ia memukul lagi dengan tangan kirinya.

Akan tetapi Tan-piauwsu yang sudah siap sedia dan yang melihat gerakan pemuda aneh itu maklum betapa pemuda itu gerakannya kaku namun memiliki hawa sakti yang menggiriskan, telah berkelebat cepat, mempergunakan ginkangnya meloncat tinggi dan melewati tubuh Han Han sambil mengayun tangan menotok pundak pemuda itu.

Tan Bu Kong berjuluk Hoa-san Pek-eng (Garuda Putih dari Hoa-san), dan julukan ini saja menunjukkan bahwa dia dapat bergerak tangkas dan cepat seperti seekor burung garuda putih.

Kecepatannya yang luar biasa ini membuat Han Han tak dapat menghindarkan totokan sehingga dua jari tangan piauwsu itu dengan keras menotok pundaknya.

"Dukkk."

"Aduhhhhh..."

Bukan Han Han yang mengaduh, melainkan Tan-piauwsu sendiri karena tulang kedua jari tangannya hampir patah ketika ia menotok pundak yang keras dan panas seperti besi membara.

Han Han menjadi marah, lalu memutar tubuhnya sehingga kedua kakinya bersilang, tangan kanan diayun ke depan mendorong ke arah tubuh Tan-piauwsu yang baru saja turun ke atas lantai.

"Aihhh..."

Tan Bu Kong cepat meloncat lagi ke atas.

"Byarrr..."

Pukulan tangan kanan Han Han mengandung tenaga sakti Yang-kang dan karena pukulannya dielakkan, maka hawa pukulannya terdorong terus menghantam tiang balok besar.

Separuh dari tiang kayu itu rontok dan mengepulkan asap, sebagian besar gosong seperti terbakar api.

Tan-piauwsu dan para sutenya yang menyaksikan kehebatan pukulan ini, menahan napas dan mereka telah bersiap-siap untuk mengeroyok.

Namun Han Han tidak mempedulikan mereka, terus mengejar Tan-piauwsu yang mempergunakan gerakan-gerakan ginkang untuk menghindarkan diri dari setiap pukulan jarak jauh.

Betapapun cepat gerakan Tan-piauwsu, ternyata gerakan Han Han yang memiliki tingkat sinkang jauh lebih kuat masih menang cepat.

Pemuda ini mulai meloncat-loncat pula sehingga dalam belasan kali serangan saja, Tan-piauwsu telah kehilangan lubang untuk mengelak, sehingga ketika ia untuk ke sekian kalinya meloncat ke atas untuk menghindarkan diri, ia kurang cepat dan pun dak kirinya masih terkena sambaran hawa sakti dari dorongan tangan kiri Han Han.

Biarpun tidak tepat kenanya, hanya diserempet saja, namun tubuh Tan-piauwsu terguling dan dia menggigil karena kedinginan.

Namun, piauwsu yang sudah banyak pengalaman ini masih sempat mencegah sute-sutenya dengan teriakan.

"Sute, mundur semua."

Dan ia sendiri lalu meloncat ke atas karena dorongan tangan kanan Han Han telah menyusulnya.

"Desssss."

Lantai menjadi berlubang dan mengepulkan asap ketika terkena sambaran hawa yang keluar dari tangon kanan pemuda sakti itu.

Ia mulai merasa penasaran dan ketika ia hendak menerjang tubuh Tan-piauwsu yang masih melambung itu tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya, kemudian tahu-tahu tubuh Tan-piauwsu telah disambar orang itu sehingga kembali pukulan Han Han luput.

Ternyata yang datang dan sempat menolong Tan-piauwsu dari bahaya maut itu adalah seorang pemuda tampan sekali, bertubuh tinggi besar dan di belakangnya berdiri seorang gadis cantik yang sudah mencabut pedang dan sikap keren berdiri memandang Han (Lanjut ke

Jilid 13) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Han.

Pemuda itu adalah Hoa-san Gi-hiap dan gadis itu bukan lain adalah sumoinya, Hoa-san Kiam-li.

Mereka berdua baru saja pulang dari penyelidikan mereka ke gedung tempat tinggal puteri Mancu.

Ketika mereka memasuki piauw-kiok, mereka melihat pertandingan itu dan terkejut sekali mereka menyaksikan suheng mereka terancam bahaya.

Hoa-san Gi-hiap yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada Tan-piauwsu, sekali pandang saja maklum bahwa pemuda rambut panjang itu memiliki sinking yang luar biasa sekali dan bahwa untuk menolong suhengnya, jalan satu-satunya hanya menyambar tubuhnya dan membawanya pergi.

Maka ia cepat meloncat, menggunakan ginkangnya dan untung ia tidak terlambat sehingga Tan-piauwsu terhindar dari bencana maut.

"Siapakah engkau yang datang membikin kacau di sini?"

Hoa-san Gi-hiap menegur setelah ia menurunkan tubuh Tan Bu Kong yang segera bersila di lantai sambil mengatur napas untuk melawan hawa dingin yang menerobos masuk melalui pundaknya.

"Hemmm, dan kau sendiri siapa berani berlancang tangan mencampuri urusan orang lain?"

Han Han juga menegur.

Dua orang muda itu berhadapan, saling memandang dengan sinar mata tajam.

Mereka sama tinggi, hanya Han Han kalah gemuk karena dia memang agak kurus, sama tampan dan usia mereka pun agaknya sebaya.

Para murid Hoa-san-pai dan para pengawal memandang dengan hati tegang.

Pemuda rambut riap-riapan itu lihai sekali, akan tetapi mereka pun maklum bahwa pemuda tokoh Hoa-san-pai itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampaui tingkat Tan-piawsu sendiri.

Juga Hoa-san Kiam-li amat lihai sehingga dengan adanya dua orang muda itu, hati mereka menjadi lega.

Han Han dan jago muda Hoa-san-pai itu masih saling berpandangan, tidak menjawab pertanyaan masing-masing yang sama maksudnya.

Akan tetapi pandang mata mereka kini berubah, tidak lagi penuh penasaran dan kemarahan seperti tadi, melainkan penuh keheranan, keraguan dan menduga-duga.

"Ya Tuhan..! Bukankah kau... kau Sie Han? Yang dahulu disebut Han Han, gembel baik budi yang membagi-bagi roti?"

Hoa-san Gi-hiap berseru penuh keheranan.

"Dan kau..., gembel cilik nakal, kau Wan Sin Kiat yang dahulu kepingin menjadi perwira. Benarkah?"

Teriak Han Han.

Dua orang muda itu saling pandang, kemudian tertawa bergelak lalu saling tubruk, saling rangkul sambil tertawa-tawa.

Semua orang yang berada di situ memandang dengan mata terbelalak, mereka tertegun dan hanya dapat mernandang dua orang muda yang tadinya diharapkan akan bertanding dengan hebat kini malah berpelukan dan tertawa-tawa itu.

"Koko, siapakah dia ini? Gembel cilik nakal? Kawan gembelmu di waktu kecil? Wah, ketika aku dahulu menjadi gembel cilik, aku tidak punya sahabat baik."

Kata Lulu yang menghampiri mereka.

Han Han masih tertawa-tawa ketika ia melepaskan rangkulannya dari pundak Sin Kiat atau Hoa-san Gi-hiap itu.

Ia lalu menoleh kepada adiknya.

"Lulu, dia ini bernama Wan Sin Kiat, sahabat baikku, seorang jantan tulen. Sin Kiat, ini Adikku yang manis, namanya Lulu"

Sin Kiat yang tentu saja tidak biasa dengan sikap tulus wajar seperti itu, menjura kepada Lulu dengan muka merah.

Jantungnya terasa seperti copot tersendal keluar oleh sinar mata yang menyorot dari sepasang mata yang seperti bintang kembar itu.

Ia menahan napas karena harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang dara sejelita ini.

Dan dara ini adik Han Han.

Setelah menjura dengan hormat tanpa dibalas oleh Lulu yang hanya memandang kagum melihat wajah tampan dan sikap halus ramah itu, Sin Kiat menoleh kepada sumoinya yang juga sudah menghampiri mereka.

"Han Han, dia adalah Sumoiku, namanya Lu Soan Li. Sumoi, inilah Sie Han, sahabat baikku di waktu kecil."

Han Han masih ingat untuk melakukan penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada, akan tetapi mulutnya langsung menyatakan isi hatinya tanpa disadarinya.

"Nona cantik sekali."

Lu Soan Li menjadi merah mukanya, semerah udang direbus dan semua orang mendengarkan sambil menahan napas.

Akan tetapi Soan Li tidak marah, hanya tersenyum dan membalas penghormatan Han Han.

"Sute! Apa artinya ini? Dia.. dia sahabatmu?"

Tiba-tiba Tan Bu Kong menegur dan piauwsu ini sudah dapat berdiri, memandang dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan penasaran.

Sin Kiat teringat akan suhengnya.

"Suheng, dia ini Sie Han, sahabatku. Han Han, dia ini Tan-suheng. Eh, mengapa kau tadi bertempur melawan Suheng? Kau hebat bukan main, untung aku keburu datang. Kenapakah kau memusuhi Suhengku yang baik hati ini?"

Alis Han Han berkerut.

"Ah, dia Suhengmu, Sin Kiat? Hemmm sungguh tidak menyenangkan sekali. Harap kau ingat akan persahabatan kita dan jangan mencampuri urusan ini. Aku datang hendak membunuh orang jahat ini."

"Eh, apa artinya ini? Han Han, mengapa begitu?"

"Sute, mengapa engkau begini lemah? Biarpun di waktu kecil sahabat, akan tetapi sekarang dia musuh besar kita. Dia seorang kejam yang telah membunuh kedua Suhengmu Lie Cit San dan Ok Sun."

Sin Kiat dan Soan Li melangkah mundur sampai tiga tindak dengan muka pucat.

Apalagi Sin Kiat, dia terheran-heran dan sejenak menjadi bingung mendengar keterangan yang baginya seperti halilintar menyambar ini.

"Han Han, Benarkah itu? Engkau yang membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta?"

Han Han mengangguk.

"Benar, Sin Kiat. Dan aku akan membunuh Tan-piauwsu ini pula, harap engkau jangan mencampurinya."

Dengan wajah pucat Sin Kiat memandang sahabatnya di waktu kecil itu.

"Han Han, benarkah engkau menjadi begini kejam sekarang? Ceritakan mengapa engkau membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta dan mengapa pula kau hendak membunuh Tan-suheng. Aku sudah mendengar penuturan para pengawal Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi sepak terjangmu sungguh membuat aku tidak mengerti."

"Sin Kiat, bukan urusanmu. Minggirlah."

"Tidak! Kalau kau tidak mau memberi penjelasan, lebih baik kau membunuh aku pula, dan tentu akan kucoba melawanmu sekuatku."

Mereka berpandangan pula. Han Han menghela napas.

"Engkau keras kepala seperti dulu. Aku membunuh dua orang piauwsu itu karena mereka jahat, mereka menyembunyikan jenazah dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dalam kereta, melarang orang-orang Siauw-lim-pai melihat jenazah, sehingga aku menjadi tertipu pula, membantu mereka dan kesalahan tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa. Karena itu aku membunuh dua orang piauwsu itu dan kini aku akan membunuh pula Tan-piauwsu yang sebagai pemimpin menjadi biang keladi utama."

Sin Kiat mengangkat tangannya.

"Wah, semua adalah kesalah-pahaman yang amat besar. Semua adalah sahabat-sahabat, baik antara Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai, maupun antara engkau pribadi dengan kami. Kita semua telah menjadi korban perbuatan terkutuk, korban tipu muslihat yang dipasang oleh puteri Mancu yang lihai itu, Tan-suneng, Han Han tidak dapat dipersalahkan telah membunuh Lie-suheng dan Ok-suheng setelah dia membantu mereka menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai, Han Han, akulah yang menanggung bahwa kami semua, terutama Tan-suheng, sama sekali tidak bersalah dalam urusan dua jenazah dalam peti. Mari kita bicara dan dengarlah penuturanku."

Sin Kiat menggandeng tangan Han Han, menariknya duduk menghadapi meja besar di ruangan itu.

Lulu mengikuti kakaknya, dan Soan Li juga mengikuti suhengnya, kedua orang gadis ini tidak ikut bicara karena maklum betapa tegangnya urusan antara mereka itu.

Setelah mereka mengambil tempat duduk, Wan Sin Kiat menceritakan semua peristiwa yang terjadi dari semula ketika gadis Mancu, yang ternyata adalah Puteri, Nirahai seperti ia ketahui dari hasil penyelidikannya hari itu, mendatangi Pek-eng-piauwkiok mengirimkan dua buah peti dengan biaya mahal namun dengan janji takkan dibuka dan apabila tidak sampai di tempatnya, Pek-eng-piauwkiok akan dibasmi dan dianggap pemberontak.

"Kami tidak mungkin dapat menolak permintaannya yang luar biasa itu, Sie-enghiong,"

Tan-piauwsu memotong cerita sutenya.

"karena mengingat bahwa dia itu adalah seorang puteri Kaisar sehingga apabila kami menolak, tentu kami akan dicap menentang pemerintah. Dan sebagai ksatria yang memegang teguh janji, tentu saja para pembantuku tidak mau membuka peti-peti itu, biarpun dengan taruhan nyawa karena hal itu telah menjadi tugas mereka. Kalau saja kami tahu bahwa isi dua buah peti adalah jenazah manusia, apalagi jenazah kedua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang terkenal, biar dihukum mati sekalipun tentu saja kami tidak sudi menerima permintaan puteri iblis itu."

Wan Sin Kiat lalu melanjutkan ceritanya, selain tentang pengawal kereta yang dihadang oleh anak-anak murid Siauw-lim-pai, juga tentang suhengnya, Teng Lok yang membayangi Puteri Nirahai dan kemudian terbuntung lengannya.

Ia menutup penuturannya dengan kata-kata.

"Nah, kau kini mengerti Han Han, bahwa peristiwa ini sama sekali bukanlah kesalahan fihak kami, juga terutama sekali bukan kesalahan Tan-piauwsu. Semua ini tentu telah diatur oleh puteri iblis itu yang sengaja hendak mengadu domba antara fihak Hoa-san-pai dan fihak Siauw-lim-pai. Siasat kejinya itu pasti akan berhasil baik dan kedua fihak tentu melakukan pertandingan saling membunuh dalam hutan itu kalau saja tidak muncul engkau yang mengacaukan semua rencana keji itu, akan tetapi biarpun mengacau, tetap saja merugikan kedua fihak karena engkau yang masuk pula dalam perangkap telah membunuh tujuh anak murid Siauw-lim-pai dan dua orang murid Hoa-san-pai. Keadaan ini gawat sekali, Han Han. Betapapun juga, fihak Siauw-lim-pai tentu tidak mau menerima kematian tujuh orang murid mereka sebagai tambahan kematian dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Bagi mereka hal itu merupakan malapetaka hebat dan tentu saja semua kesalahan ditimpakan kepada Hoa-san-pai karena engkau sendiri pun tentu dianggap seorang dari Hoa-san-pai, atau setidaknya menjadi pembantu Hoa-san-pai."

Han Han bukan seorang bodoh.

Ia segera dapat melihat, mengerti setelah mendengar penuturan itu.

Mudah saja diperkirakan bagaimana jalannya tipu muslihat yang licin itu.

Hatinya merasa menyesal dan kecewa sekali.

Nasibnya benar-benar amat buruk.

Dia telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa karena salah sangka.

Kemudian, dalam marahnya oleh kesalahan tangan itu ia membunuh pula dua orang murid Hoa-san-pai yang ternyata kemudian tidak berdosa pula!

Han Han mengerutkan keningnya, menggeleng kepala dan berkata.

"Aahhh.. kalau begitu semua kesalahan tertimpa di pundakku, Baik Siauw-lim-pai maupun Hoa-san-pai tentu menyalahkan aku karena aku telah membunuh anak murid mereka. Tan-piauwsu, harap kau maafkan kekasaranku tadi."

Ia bangkit menjura kepada Tan-piauwsu yang cepat membalas.

Piauwsu ini memandang kagum dan menghela napas karena selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu seorang pemuda yang demikian anehnya dan demikian kuat sinkangnya.

"Engkau juga tidak boleh terlalu disalahkan, Sie-enghiong. Andaikata engkau tidak turun tangan dan terlibat dalam urusan ini, kurasa antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai tetap saja akan terjadi pertentangan yang mungkin membawa akibat lebih parah dan lebih berlarut-larut lagi."

Sejenak keadaan menjadi sunyi, semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing menghadapi urusan yang amat tidak menyenangkan hati itu.

Tiba-tiba terdengar suara Lulu.

"Wah, sialan benar, Koko. Kau membantu rombongan piauwsu ternyata salah tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai yang tak berdosa,"

Kemudian kau membunuh dua orang piauwsu untuk membela kematian murid-murid Siauw-lim-pai dan ternyata yang kau bunuh itu juga tidak bersalah.

Itulah kalau kau terlalu bernafsu untuk menolong orang, Koko!

Sekarang semua kesalahan ditimpakan kepadamu."

Semua orang tertegun.

Dara remaja yang cantik jelita ini bicaranya amat kasar, jujur dan tanpa sungkan-sungkan lagi.

Akan tetapi Sin Kiat memandang dengan mata kagum.

Semenjak tadi, tiap kali ia memandang Lulu, jantungnya berdebar tidak karuan dan setiapgerak-gerik Lulu selalu menarik hatinya, bahkan ketika Lulu mencela Han Han, ia tersenyum dan di dalam hati membenarkan dara ini seribu prosen.

Memang demikianlah kalau cinta kasih telah menceng keram hati seorang pemuda.

Apa pun yang dilakukan, diucapkan dan dipikir dara yang dicintanya, selalu benar dan menarik hati.

Tanpa disadarinya sendiri, sekali bertemu dengan Lulu, Wan Sin Kiat pendekar muda Hoa-san-pai ini telah bertekuk lutut, hatinya jungkir-balik dalam cengkeraman asmara.

"Menurut pendapat saya, Saudara Sie tidaklah salah. Dia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu dalam pertempuran dan dengan dasar hendak berbuat baik. Pembunuhan atas diri tujuh orang murid Siauw-lim-pai terjadi karena Saudara Sie mengira mereka itu perampok yang hendak mengganggu rombongan pengawal Pek-eng-piauwkiok. Kemudian, pembunuhan yang dia lakukan atas diri kedua orang Suheng kami pun didasari pendapat bahwa mereka berdua itu amat jahat terhadap orang-orang Siauw-lim-pai. Hanya sayang sekali bahwa Saudara Sie terlalu terburu nafsu, seandainya tidak terburu nafsu dan agak sabar sambil meneliti keadaan, belum tentu terjadi hal yang amat menyedihkan ini."

Ucapan yang keluar dari mulut Lu Soan Li terdengar sungguh-sungguh, dan pandang matanya yang ditujukan kepada Han Han penuh simpati dan pembelaan.

Hal ini terasa pula oleh Han Han sehingga ia bangkit menjura kepada nona itu sambil berkata.

"Nona Lu benar-benar amat adil dan aku mengucapkan terima kasih, juga aku harus mengakui semua kelancanganku yang telah mengakibatkan bencana ini. Biarlah akan kuhadapi semua akibatnya, bahkan aku akan menghadap Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai untuk menerima hukuman kalau perlu."

Jawaban ini memancing keluar sinar mata yang penuh kekaguman dari pandang mata Lu Soan Li.

Seperti halnya suhengnya yang sekaligus tergila-gila kepada Lulu, gadis pendekar Hoa-san-pai ini pun amat tertarik akan pribadi Han Han yang aneh dan penuh dengan sifat-sifat liar ganas namun gagah perkasa.

"Ah, engkau tidak boleh dipersalahkan, Han Han."

Tiba-tiba Wan Sin Kiat berkata.

"Yang bersalah adalah Puteri Nirahai yang seperti iblis betina itu, Aku bersama Sumoi sehari tadi pergi menyelidik dan mendapat kabar bahwa dia itu adalah puteri selir Kaisar Mancu bernama Nirahai dan bahwa kini dia sedang pergi ke kota raja. Agaknya untuk melaporkan hasil muslihatnya kepada Kaisar. Terkutuk benar puteri Mancu itu. Dan orang-orang Mancu memang amat jahat, penjajah laknat yang sepatutnya dibasmi dari muka Bumi ini."

Dalam kemarahan terhadap penjajah Mancu, Sin Kiat bangkit dari kursinya.

Memang semua anak murid Hoa-san-pai adalah patriot-patriot yang merasa marah melihat tanah air dijajah bangsa Mancu, sehingga menimbulkan rasa benci kepada bangsa Mancu.

Tiba-tiba semua orang, terutama sekali Sin Kiat sendiri, dikejutkan oleh bentakan Lulu yang sudah bangkit berdiri pula lalu bertolak pinggang, matanya yang lebar memancarkan kemarahan, sepasang pipinya menjadi merah sekali, mulutnya yang kecil cemberut, kepalanya bergerak-gerak sehingga rambut yang dikepang dua itu bergoyang, satu di depan dada, yang lain di belakang punggung.

Manis bukan main dalam pandangan Sin Kiat, akan tetapi pada saat itu pemuda ini memandang terbelalak dengan kaget mendengar bentakan Lulu.

"Eihhh.. eihhhhh..., seenaknya saja membuka mulut, ya?."

Telunjuk tangan kirinya diangkat menuding ke arah hidung Sin Kiat, sedangkan tangan kanannya masih bertolak pinggang.

"Wan Sin Kiat, apakah engkau hendak menyamakan satu bangsa manusia dengan seladang gandum saja?"

Sin Kiat terbelalak heran.

"Apa... apa... maksudmu, Nona..?"

Baru sekali ini selama hidupnya, pendekar muda yang biasanya lincah, ramah, tabah dan pandai bicara itu kehilangan akal dan menjadi gugup.

Lulu memandang tajam dengan sepasang matanya yang lebar dan indah sehingga Sin Kiat menjadi makin bingung dan gugup, seolah-olah menjadi seorang pesakitan yang menghadapi jaksa penuntut.

"Kalau ada beberapa batang gandum yang busuk, orang menganggap seladang gandum itu busuk. Akan tetapi kalau ada beberapa orang Mancu jahat, apakah patut kalau seluruh bangsa Mancu dianggap jahat semua? Kalau begitu, karena aku mendengar bahwa banyak bangsa Han yang menjadi pengkhianat bangsa, semua bangsa Han adalah pengkhianat, termasuk engkau. Dan aku tahu bahwa banyak sekali perampok bangsa Han, maka semua bangsa Han adalah perampok, termasuk engkau. Ada pula bangsa Han yang jahat sekali maka semua bangsa Han adalah jahat, terutama engkau. Begitukah pendapatmu??"

Muka Sin Kiat menjadi merah, kemudian pucat, dan dengan gugup ia berkata.

"Tentu saja tidak, dan.. eh, itu lain lagi.. akan tetapi.. ahhh, mengapa kau marah-marah karena aku mencela bangsa Mancu yang menjadi musuh kita, Nona?"

"Tentu saja marah. Kau mengatakan aku jahat dan patut dibasmi dari muka bumi, dan kau masih bertanya mengapa aku marah? Hayo, kau basmilah aku"

Kau kira aku takut kepadamu."

Han Han hanya memandang sambil tersenyum.

Rasakan kau, Sin Kiat, pikirnya dengan hati geli.

Rasakan kau menghadapi adikku yang liar ini.

Ketemu tanding kau.

"Eh, kapan aku mengatakan demikian, Nona? Bagaimana ini, Han Han?"

"Tak usah mencari pelindung. Dan seorang laki-laki tidak patut plin-plan, bicara mencla-mencle. Bukankah kau tadi mengatakan bahwa semua bangsa Mancu jahat dan patut dibasmi dari muka bumi ini?"

"Benar demikian, akan tetapi tidak menyangkut dirimu, Nona.."

"Kau bilang semua bangsa Mancu dan kini mengatakan tidak menyangkut diriku? Aku seorang gadis Mancu, tahukah engkau??"

"Aihhh..."

Sin Kiat terkejut sekali dan semua orang yang berada di situ pun terkejut, cepat bangkit berdiri dalam keadaan siap siaga.

Kalau gadis ini seorang Mancu, berarti bahwa rahasia Pek-eng-piauwkiok sebagai anggauta pejuang menjadi bocor.

"Hayo, siapa yang menganggap aku jahat dan patut dibasmi? Maju, Aku tidak takut."

Bentak Lulu dengan mata dilebarkan dan sikap mengancam.

Lu Soan Li yang sejak tadi memperhatikan Han Han secara diam-diam dan melihat betapa pemuda rambut terurai itu tersenyum-senyum geli, dapat lebih dulu menguasai hatinya.

Ia melangkah maju dan memegang pundak Lulu sambil berkata.

"Aihhh, Adik Lulu yang baik, siapa sih yang mau memusuhimu? Suheng telah salah bicara, apakah kau begini kejam untuk menekannya? Lihat, dia sudah amat menyesal dan kebingungan."

Dengan muka merah Wan Sin Kiat lalu menjura.

"Harap Nona Sie suka memaafkan mulutku yang lancang."

Lulu cemberut dan mengerling ke arah pemuda tinggi besar itu.

"Habis, kau terlalu menghina sih..."

Han Han tertawa lalu berkata nyaring setelah menyaksikan ketegangan membayang di wajah semua orang yang hadir.

"Tak perlu disembunyikan, memang Adikku ini adalah seorang gadis Mancu, akan tetapi sekarang telah menjadi Adikku, she Sie dan namanya tetap Lulu. Hendaknya diketahui bahwa semenjak kecil, Adikku ini hidup sebatangkara dan menderita karena Ayah Bundanya dan seluruh keluarganya dibasmi habis oleh para pejuang."

"Ahhhhh...."

Seruan ini keluar dari mulut Sin Kiat.

"Apa ah-ah-uh-uh-uh sejak tadi? Biar keluargaku dibunuh habis oleh orang Han, aku tidak begitu tolol untuk menganggap semua orang Han musuh-musuhku yang harus kubasmi habis dari muka bumi."

Wajah Sin Kiat makin merah dan ia benar-benar terpukul.

Seolah-olah dibuka matanya betapa kelirunya mendendam kepada bangsa lain hanya karena terjadi perang, karena sesungguhnya tidak semua orang dari sesuatu bangsa itu jahat semua atau baik semua.

"Aku telah mengaku salah, harap Nona maafkan dan mau hukum apa pun juga aku siap menerimanya."

Han Han tersenyum lebar.

"Lulu, dia sudah mengaku salah dan minta dihukum. Hayo, kau hukumlah dia kalau kau mau."

Aneh sekali, digoda kakaknya begini, Lulu yang biasanya lincah dan nakal, kini hanya cemberut, kemudian melengos dengan kedua pipinya merah.

Semua orang merasa lega bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi tetap saja masih ada rasa tegang di antara mereka setelah mendengar bahwa dara jelita itu adalah seorang gadis Mancu.

Mereka semua telah menjadi korban kekejian seorang puteri Mancu, kini di situ terdapat seorang gadis Mancu, bagaimana mereka tidak akan menjadi gelisah dan tidak enak hati?

"Keadaan menyedihkan seperti yang kini timbul dalam hati Sin Kiat dan Lulu adalah akibat perang yang terkutuk."

Demikian Han Han berkata setelah semua orang duduk kembali.

"Perang yang hanya dicetuskan oleh beberapa gelintir orang yang berambisi, yang memperebutkan kekuasaan dan kedudukan, membakar hati semua rakyat, menimbutkan kekejaman-kekejaman, menimbulkan dendam, menimbulkan kebencian antara bangsa yang sesungguhnya adalah sesama manusia. Perang menjadikan keluargaku terbasmi orang-orang Mancu dan sebaliknya menjadikan keluarga Adikku Lulu terbasmi oleh orang-orang Han. Yang suka akan perang hanyalah mereka yang menginginkan kedudukan tinggi dan kemuliaan di kerajaan. Dengan dalih membela nusa bangsa, mereka ini mempergunakan kekuatan rakyat yang sebetulnya membenci perang karena perang hanya mendatangkan malapetaka bagi rakyat jelata, sebaliknya mendatangkan kemuliaan duniawi bagi para penggerak perang yang mendapat kemenangan. Rakyat Mancu ditipu oleh para pimpinan mereka, dijadikan bala tentara yang setiap saat kehilangan nyawanya. Sebaliknya, rakyat pribumi ditipu oleh pimpinan mereka, dijadikan pula tentara yang mengorbankan nyawa. Dalihnya berlainan, namun selalu yang muluk-muluk memabukkan dan membodohi rakyat, padahal semua itu hanya ditujukan kepada pamrih yang satu, yaitu kemuliaan dan kemenangan bagi para pimpinan."

Mendengar ucapan penuh nafsu dari pemuda aneh yang rambutnya terurai kacau itu, Tan-piauwsu sendiri melongo.

Ucapan itu mengandung penuh kepahitan, namun memang pada kenyataannya demikianlah.

Dan pendirian seperti yang diucapkan pemuda ini bahkan menjadi pendirian pula dari banyak partai persilatan termasuk Hoa-san-pai sendiri ketika terjadi perang saudara.

Akan tetapi hanya dalam perang saudara saja para tokoh kang-ouw tidak suka mencampurkan diri, diperalat oleh mereka yang memperebutkan kedudukan dengan saling bunuh antara sebangsa sendiri.

Akan tetapi sekarang, yang menjajah negara adalah bangsa Mancu sehingga pendapat Han Han itu lebih luas lagi, tidak lagi mengenal bangsa melainkan berlaku untuk seluruh manusia sedunia.

Ia maklum bahwa tentu bocah itu terpengaruh oleh kasih sayangnya terhadap adik angkatnya, gadis Mancu itu sehingga pertalian persaudaraan antara mereka melenyapkan rasa benci kepada bangsa Mancu, sungguhpun keluarganya sendiri terbasmi oleh orang-orang Manchu.

"Tepat sekali, Koko."

Lulu bersorak girang.

"Aku akan senang sekali melihat para kaisar yang gendut karena banyak makan dan terlalu senang hidupnya, berikut semua pembesar-pembesar tinggi, mengadakan perang sendiri, tidak membawa-bawa rakyat jelata. Biarkan mereka itu berperang, kaisar lawan kaisar, menteri lawan menteri, dan pembesar lawan pembesar. Tentu badut-badut itu akan terkencing-kencing ketakutan menghadapi ancaman maut."

Kembali semua orang terheran.

Tidak ada yang mau membantah pendapat dua orang muda yang aneh itu karena mereka tidak ingin timbulnya satu kesalahpahaman lagi.

Bahkan Tan-piauwsu lalu membelokkan percakapan.

"Yang terpenting sekarang kita harus menghadapi kenyataan. Tak dapat disangkal lagi bahwa pihak Siauw-lim-pai tentu akan memusuhi Sie-enghiong, juga pihak pimpinan. Hoa-san-pai akan salah paham terhadap Sie-enghiong. Oleh karena itu, saya harap Ji-wi suka sementara tinggal di sini menanti datangnya mereka itu. Saya yakin bahwa orang-orang Siauw-lim-pai tentu akan datang ke sini, mengingat bahwa peristiwa ini timbul dari Pek-eng-piauwkiok yang membawa dua peti jenazah. Kalau Sie-enghiong berada di sini, ada kami yang akan menjadi saksi dan yang akan menerangkan duduknya perkara sebenarnya sehingga semua pihak mengerti bahwa yang menjadi biang keladinya adalah puteri Mancu itu."

Han Han mengerutkan keningnya.

"Akan tetapi, kami tidak suka mengganggu Cu-wi sekalian. Lebih baik aku dan Adikku pergi, karena aku pun ingin sekali-kali bertemu dengan puteri Mancu yang demikian lihainya, dan tentang kemarahan pihak Siauw-lim-pai maupun pimpinan Hoa-san-pai, biarlah kami sendiri yang menanggungnya."

Wan Sin Kiat memegang tangan sahabatnya itu.

"Aih, Han Han. Mengapa kau banyak sungkan? Kita berada di antara sahabat sendiri. Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu. Tinggallah di sini barang sepekan. Apakah engkau sudah melupakan sahabatmu ini? Sahabat senasib sependeritaan di waktu kecil? Aku ingin mendengar semua pengalamanmu, juga ingin menceritakan pengalaman-pengalamanku. Demi persahabatan kita, kuharap kau dan Nona Sie sudi untuk tinggal beberapa hari lamanya di sini."

Berat juga rasanya hati Han Han untuk menolak. Apalagi ketika Lu Soan Li merangkul Lulu dan berkata.

"Adik yang manis, kuharap kau tidak menolak undangan kami. Aku ingin sekali belajar satu dua pukulan darimu yang lihai agar bertambah pengertianku."

"Aih, Cici. Engkau merendahkan diri. Sebagai tokoh Hoa-san-pai, agaknya aku yang harus berguru kepadamu."

Dua orang gadis itu bersendau-gurau, keduanya sama muda remaja, sama cantik jelita.

Han Han merasa kasihan kepada adiknya dan tidak tega untuk memaksanya pergi sekarang juga.

Sudah terlalu lama Lulu tinggal menyendiri di pulau, terlalu lama jauh dari pergaulan mesra.

Kini bertemu dengan gadis Hoa-san-pai itu, timbul kegembiraan hati Lulu dan sebaiknya kalau mereka tinggal di situ beberapa lamanya.

Juga, ia tidak dapat membantah bahwa ia merasa am at suka kepada sahabat lamanya yang kini telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa itu, di samping merasa suka kepada Lu Soan Li yang cantik manis, pendiam dan memiliki sifat-sifat gagah dalam gerak-geriknya.

Demikianlah, Han Han dan Lulu tinggal di Pek-eng-piauwkiok, dijamu dan diperlakukan dengan manis dan hormat oleh Tan-piauwsu dan para anah buahnya.

Mereka telah melupakan rasa dendam bahwa pemuda ini telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun.

Kini mereka maklum bahwa pemuda ini melakukan hal itu tanpa dasar membenci Hoa-san-pai.

Bahkan tadinya pemuda itu membantu Lie Cit San dan Ok Sun menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai sehingga membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai.

Kemudian pemuda itu membunuh dua orang tokoh Hoa-san-pai itu hanya karena menganggap mereka ini jahat.

Semua terjadi karena kesalahpahaman, terjadi sebagai akibat daripada tipu muslihat keji yang diatur oleh Puteri Nirahai yang selain lihai juga amat cerdik itu.

Lulu benar-benar mendapatkan kegembiraan di tempat ini.

Dia merupakan sahabat yang amat cocok dengan Lu Soan Li, bahkan ia bersikap manis terhadap Wan Sin Kiat.

Juga Han Han merasa suka kepada Lu Soan Li yang manis budi dan pendiam.

Empat orang muda ini setiap hari berkumpul, bercakap-cakap dan Han Han mendengarkan penuturan Wan Sin Kiat dengan hati tertarik.

Ternyata dari penuturan tokoh muda Hoa-san-pai itu bahwa tidak lama setelah berpisah dari Han Han, Wan Sin Kiat bertemu dengan seorang tosu aneh.

Tosu ini sesungguhnya adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, akan tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang lain, Tokoh ini adalah seorang tosu perantau yang selain wataknya aneh, juga memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi karena ilmu-ilmunya dari Hoa-san-pai mendapat kemajuan pesat setelah ia banyak merantau dan menyempurnakan ilmu-ilmunya dengan membandirigkannya dengan ilmu dari lain golongan.

Tosu ini berjuluk Im-yang Seng-cu dan selain Sin Kiat, dia juga mengambil seorang murid wanita, yaitu Lu Soan Li yang hidupnya juga sudah sebatangkara, ditinggal mati keluarganya dalam sebuah bencana banjir Sungai Huang-ho.

Berkat gemblengan suhu mereka yang memiliki kesaktian melebihi tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya, Sin Kiat dan Soan Li menjadi jago muda yang lihai sekali, sehingga biarpun menurut tingkat mereka itu terhiturtg masih sute dan sumoi dari Tan-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu silat, mereka jauh melampaui tingkat kepandaian sang suheng ini.

Sudah banyak mereka melakukan perbuatan-perbuatan menggemparkan dunia kang-ouw dengan separk terjang mereka sebagai pendekar-pendekar muda yang perkasa, bahkan semenjak ada gerakan perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu, kedua orang muda ini sudah banyak berjasa.

Tentu saja ketika menceritakan pengalamannya Sin Kiat tidak menceritakan tentang perjuangan ini, khawatir kalau-kalau akan membikin hati Lulu menjadi tidak enak.

Apalagi karena ia mengenal pendirian Han Han yang agaknya tidak ingin melibatkan dirinya dalam urusan perang.

Ia hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu, kemudian betapa bersama sumoinya dia digembleng oleh gurunya sambil merantau sampai jauh ke selatan dan ke barat.

Diceritakannya pula pertandingan-pertandingan melawan kaum penjahat dalam usaha mereka membasmi kejahatan sehingga Sin Kiat mendapat julukan Hoa-san Gi-hiap dan sumoinya dijuluki Hoa-san Kiam-li.

Nama mereka terkenal di dunia kang-ouw sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang mengagumkan.

Han Han dan Lulu mendengarkan dengan amat tertarik.

Apalagi Lulu.

Dia mendengarkan penuturan pemuda tampan tinggi besar itu seperti mendengar dongeng yang amat menarik hati.

Ia seolah-olah berubah menjadi arca, pandang matanya melekat dan bergantung kepada bibir Sin Kiat yang bergerak-gerak ketika bercerita.

Baru setelah selesai cerita itu, Lulu menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu berkata.

"Wahhh kalian hebat sekali. Kalian ini pendekar-pendekar muda yang amat mengagumkan..."

Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sin Kiat, Lulu melihat betapa pandang mata pemuda itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri seolah-olah ucapan Lulu tadi mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa.

Tentu saja Lulu tidak mengerti atau dapat menduga akan isi hati Sin Kiat, hanya dia pada saat itu merasa betapa wajah pemuda ini sungguh tampan dan gagah.

Entah mengapa, jantungnya berdebar dan pipinya tiba-tiba terasa panas.

Untuk menghindarkan perasaan yang tidak dikenalnya ini, Lulu berpaling kepada Soan Li dan berkata.

"Enci Soan Li, engkau hebat sekali, lain waktu kau harus memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku."

Soan Li merangkulnya dan mengerling kepada Han Han.

"Adik Lulu, engkau seperti mutiara terpendam, tidak dikenal akan tetapi dalam hal kepandaian, agaknya aku boleh berguru kepadamu."

"Wah, Adikku dan aku ini sama sekali tidak memiliki kepandaian, mana dapat dibandingkan dengan Sin Kiat dan kau, Nona Lu?"

Han Han berkata sambil tersenyum.

Gadis itu memandangnya dan sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka sukar sekali untuk melepaskan pandang mata mereka dari pertemuan yang melekat itu.

Lulu bertepuk tangan.

"Hi-hik, dari tadi tiada hentinya kalian saling memandang saja. Ada apakah dengan Enci Soan Li, Koko? Dan mengapa kau mengerling saja kepada Kakakku, Enci Soan Li?"

"Ihhh, genit kau, Adik Lulu."

Soan Li menjadi merah sekali mukanya dan ia mencubit paha Lulu sehingga gadis ini menjerit.

Han Han juga merasa betapa mukanya menjadi panas, maka ia tertawa dan memandang.

"Lulu, kita mempunyai mata untuk memandang. Apa salahnya dipakai memandang sesuatu yang indah dan menarik?"

Ucapan Han Han yang terus terang ini membuat Soan Li menjadi makin malu dan jengah lagi.

Dia sendiri diam-diam menjadi amat heran akan diri sendiri.

Sudah banyak kali terjadi, ia menjadi marah-marah kalau mendengar ada laki-laki mengeluarkan ucapan-ucapan tentang dirinya, memuji-muji kecantikannya dan sebagainya.

Bahkan ada laki-laki kurang ajar yang dibunuhnya hanya karena mengeluarkan ucapan-ucapan yang bermaksud kotor dan kurang ajar.

Kini, mendengar ucapan-ucapan Han Han yang memuji kecantikannya dengan blak-blakan di depan banyak orang ketika mereka diperkenalkan, kini secara terang-terangan pula dalam menjawab godaan Lulu, mengapa dia tidak marah malah menjadi...

berdebar jantungnya, berdebar karena girang?

Akan tetapi pemuda ini lain daripada laki-laki lain, dia membela perasaannya sendiri yang tidak wajar.

Pemuda ini secara terang-terangan menyatakan isi hatinya, tanpa tedeng aling-aling, akan tetapi juga bersih daripada niat-niat kurang ajar, hal ini dapat dilihat dari pancaran pandang matanya yang wajar dan biasa, sinar mata kagum yang tidak ditutup-tutupi, seperti kewajaran sinar mata orang mengagumi bintang di langit atau mawar di taman.

Sin Kiat hanya tersenyum saja melihat sumoinya digoda Lulu, kemudian ia berkata kepada Han Han.

"Han Han, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita kepada kami. Tentu pengalamanmu amat menarik hati, terutama tentang pertemuan dengan Adikmu, dan tentang Gurumu yang tentu amat sakti, melihat akan kelihaianmu."

"Nanti dulu, Sin Kiat. Aku teringat akan tekad hatimu dahulu. Bukankah kau dahulu pernah menyatakan kepadaku bahwa engkau ingin menjadi seorang perwira Mancu? Kenapa sekarang engkau sebaliknya malah menjadi orang yang memusuhi perwira-perwira Mancu?"

Sin Kiat menarik napas panjang.

"Ada sebabnya memang. Ingatkah engkau dahulu betapa kau telah membelaku ketika aku dipukuli oleh bangsawan muda Ouw-yang Seng murid datuk hitam Kang-thouw-kwi itu? Nah, semenjak itu, aku berbalik haluan, apalagi setelah bertemu dengan Suhu, menerima pelajaran dan juga mendengarkan wejangan-wejangannya. Han Han, sekarang ceritakanlah kepadaku, bagaimana engkau bertemu dengan Nona Lulu?"

"Wah, aku menjadi kikuk sekali kau sebut Nona. Usiamu tentu tidak banyak selisihnya dengan Han-koko, maka aku akan menyebutmu Wan-koko dan kau pun menyebut aku Adik seperti biasa Koko menyebutku. Kalau tidak mau, aku selamanya tidak akan mau bicara dengan.mu."

Tiba-tiba Lulu berkata kepada Sin Kiat. Pemuda ini menjadi merah mukanya dan hatinya menjadi girang bukan main.

"Baiklah, Lulu-moi, dan terima kasih atas kebaikanmu,"

Sin Kiat berdiri dan menjura.

"Wan, kebetulan sekali usul Lulu ini. Aku pun hendak mencontohnya dan kuminta Nona Lu Soan Li juga jangan bersungkan-sungkan lagi, mulai sekarang mau tak mau kusebut Moi-moi dan harap suka menyebut Kakak kepadaku."

Jantung di dalam dada Soan Li berdebar.

Dia merasa makin suka kepada kakak beradik yang baru dikenalnya ini.

Mereka berdua itu begitu jujur, begitu polos, dan juga ia dapat menduga bahwa mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Han-twako."

"Sebetulnya tidak ada yang banyak dapat diceritakan tentang kami berdua,"

Kata Han Han.

"Engkau sudah tahu bahwa aku dahulu di waktu kecilku adalah seorang bocah gembel seperti engkau, Sin Kiat. Dan aku bertemu dengan adikku Lulu ini yang juga seorang bocah gembel setelah hidup terlunta-lunta karena keuarganya terbasmi semua. Nah, kami saling bertemu dan mengangkat saudara sampai sekarang kami menjadi kakak beradik yang tak pernah berpisahan."

"Han-twako, belehkah aku mengetahui, siapakah Suhumu yang mulia?"

Tiba-tiba Soan Li bertanya, mendahului suhengnya, karena ia ingin sekali mendengar siapa adanya guru dari pemuda yang amat mengagumkan hatinya ini.

Han Han dan Lulu saling berpandangan sejenak.

Mereka berdua selama ini berlatih di Pulau Es, berlatih tanpa guru, hanya mempelajari ilmu dari kitab-kitab dan berlatih secara ngawur.

Ataukah beruang itu dapat dianggap menjadi guru mereka?

Ah, tidak beruang itu hanya teman berlatih.

Guru mereka adalah penghuni-penghuni Pulau Es, pemilik-pemilik istana yang meninggalkan kitab-kitab pelajaran, akan tetapi siapakah dia itu?

Han Han memiliki pikiran yang tidak lumrah, dapat berpikir cepat melebihi manusia biasa, dapat mengambil keputusan yang amat tepat dalam sedetik dua detik pemikiran saja.

Ia tahu bahwa Sin Kiat dan Soan Li adalah murid-murid Hoa-san-pai yang menentang Mancu, dan dia tidak boleh sekali-kali memperlihatkan sikap bermusuh atau mengaku sebagai pihak yang bermusuhan.

Dia telah belajar ilmu dari Lauw-pangcu, kemudian mencuri ilmu dari Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Akan tetapi dua orang ini tidak boleh dia sebut-sebut, karena menyebut nama Lauw-pangcu berarti menyinggung hati Lulu, menyebut Kang-thouw-wi Gak Liat sebagai guru lebih tidak mungkin lagi karena Setan Botak itu adalah kaki tangan Mancu.

Dan dia tidak suka berbohong maka ia mendapat jalan tengah yang baik.

"Guruku adalah Suhu Siangkoan Lee..."

"Ahhh..."

Sin Kiat dan Soan Li benar-benar terkejut mendengar ini.

"Ma-bin Lo-mo.?"

Han Han memandang wajah Sin Kiat.

"Benar, mengapa? Apakah kau mengenal Suhu? Dia juga seorang yang amat setia kepada Kerajaan Beng-tiauw, bahkan kalau tidak salah dia bekas menteri..."

"Tentu saja kami telah mendengar namanya. Ah, Ma-bm Lo-mo, seorang di antara datuk-datuk hitam yang amat sakti. Pantas saja kau begini lihai, Han Han. Kiranya engkau murid tokoh besar itu."

Lulu yang mendengarkan ucapan Han Han itu pun diam saja, hanya memandang dengan sinar mata nakal.

Ia menganggap bahwa kakaknya ini tidak terlalu berbohong, karena memang kakaknya menjadi murid banyak orang sakti, di antaranya Ma-bn Lo-mo Siangkoan Lee yang hampir membunuhnya, bahkan yang telah berusaha membakar mereka berdua di perahu.

Ia tidak mengerti mengapa kakaknya seolah-olah tidak mau bercerita terus terang bahwa mereka berdua telah belajar ilmu di Pulau Es.

Biarpun Lulu dan Han Han baru tinggal di Pek-eng-piauwkiok selama beberapa hari, namun hubungan empat orang muda ini menjadi amat akrab.

Apalagi karena di situ ada Lulu yang wataknya lincah jenaka, yang nakal dan tak pernah malu-malu, jujur dan tidak mengenal palsu, sebentar saja rasa jengah yang membatasi pergaulan mereka menjadi lenyap.

Berkat kelincahan Lulu, Lu Soan Li menjadi tidak malu-malu lagi terhadap Han Han, juga Sin Kiat makin tertarik kepada gadis Mancu yang benar-benar telah menjatuhkan hatinya itu.

Sepekan kemudian, ketika Lulu sedang mengumpulkan bunga-bunga yang dipetiknya dalam taman bunga tak jauh dari gedung Pek-eng-piauwkiok, ia dikejutkan oleh suara Sin Kiat.

"Wah, Lulu-moi, setiap pagi kau tentu berada di sini memetik bunga."

Dara jelita itu menoleh dan tersenyum.

Bagi Sin Kiat, senyumnya amat manis dan hangat, sehangat matahari di pagi hari itu.

Taman bunga itu menjadi makin cerah dan makin jernih bagi Sin Kiat.

"Tentu saja, Twako. Bertahun-tahun aku tidak berkesempatan melihat bunga, sekarang ada begini banyak bunga indiah di sini. Dahulu aku hanya melihat bunga-bunga es melulu.."

Tiba-tiba gadis itu teringat akan larangan kakaknya untuk bercerita kepada siapa juga tentang Putau Es, maka ia terikejut dan menghentikan kata-katanya.

Akan tetapi Sin Kiat telah mendengar kalimat terakhir itu dan dia mendekat.

"Bunga es? Apa maksudmu, Moi-moi?"

"Eh... oh... tidak apa-apa..."

Lulu yang biasanya.

amat jujur polos dan tidak biasa membohong itu menjadi gagap.

Ia tidak senang sekali untuk menyembun yikan atau merahasiakan sesuatu, karena untuk ini, terpaksa ia harus pula membohong, padahal ketidakwajaran ini terasa amat asing dan amat sukar baginya.

Sin Kiat memandang tajam, hatinya merasa tidak enak, bahkan sakit karena ia mengerti bahwa dara yang dikaguminya ini menyembunyikan sesuatu dari padanya dan hal ini menimbulkan kesan bahwa Lulu tidak menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Dengan nada sedih ia lalu berkata, tanpa disadarinya ia memegang kedua tangan Lulu yang penuh bunga.

"Moi-moi, mengapa engkau tidak percaya kepadaku? Ahhh, sungguh mati, aku tidak ingin memaksamu untuk membuka sesuatu yang kau rahasiakan, akan tetapi... ah, ketidakpercayaanmu ini menyakitkan hatiku, Moi-moi. Tidak tahukah engkau, tidak merasakah engkau betapa aku.. aku cinta kepadamu, Lulu?"

Lulu tersenyum dan dengan gerakan halus menarik tangannya sehingga terlepas dari genggaman jari tangan pemuda itu, yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

"Aku merasakan itu dan aku tahu, Twako. Akan tetapi, tidak kelirukah cintamu itu kau jatuhkan atas diriku? Ingat, aku seorang gadis Mancu, musuhmu."

Sin Kiat memandang penuh keharuan.

"Moi-moi, tak dapatkah kau memaafkan kesalahan ucapanku ketika pertama kali kita bertemu? Tidak, aku tidak memusuhi seluruh bangsa Mancu, dan aku hanya akan menentang yang jahat, siapapun dia dan bangsa apa pun dia. Engkau bagiku bukan bangsa apa-apa, engkau adalah Lulu, satu-satunya gadis yang pernah dan akan menjadi pujaan hatiku, menjadi satu-satunya wanita yang kucinta."

Tiba-tiba Lulu tertawa. Hati Sin Kiat makin sakit, mengira bahwa dara yang dicintanya ini mentertawakan pernyataan cinta kasihnya"

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hati bagi seorang pria dari pada cinta kasihnya ditertawai oleh wanita yang dicintanya.

"Hi-hi-hik, alangkah lucunya."

"Apa yang lucu, Moi-moi? Mengapa engkau tertawa?"

Sin Kiat bertanya, mukanya menjadi agak pucat.

"Habis, lucu sekali sih"

Engkau dan Sumoimu keduanya telah jatuh cinta kepada aku dan Kakakku, bukankah ini lucu sekali namanya?"

Sin Kiat memandang wajah jelita itu dengan kaget.

"Apa? Sumoi mencinta Kakakmu? Ah, bagaimana engkau bisa tahu?"

"Apa sih sukarnya mengetahui itu? Aku tahu bahwa Sumoimu mencinta Han-koko dan bahwa engkau mencintaku. Mau bukti? Mari, kau ikut denganku."

Lulu menancapkan bunga-bunga yang dipetiknya di atas tanah, kemudian ia memegang tangan Sin Kiat dan menarik pemuda itu, diajak pergi ke sebelah selatan taman bunga, di mana terdapat pondok yang bercat kuning dan disebut pondok Cahaya Matahari karena pondok ini menghadap ke timur dan setiap pagi menerima sinar matahari sepenuhnya.

Memang pondok ini dipergunakan untuk mandi cahaya matahari oleh keluarga Tan-piauwsu.

Sin Kiat menjadi tegang dan juga girang.

Ia merasa betapa kulit telapak tangan yang halus dan hangat menggandengnya.

Akan tetapi ia pun gelisah kalau mengingat bahwa perbuatan dara ini menggandengnya terdorong oleh sifatnya yang polos dan kekanak-kanakan, bukan sekali-kali terdorong oleh cinta kasih seperti yang ia harapkan.

Setelah mereka tiba di pondok, Lulu menaruh telunjuknya di depan mulut sebagai isyarat agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara berisik, kemudian berendap-indap ia mengajak Sin Kiat measuki pondok dari pintu belakang, terus menembus sampai ke ruangan depan pondok.

Lulu berhenti dan memandang Sin Kiat dengan sinar mata penuh kebanggaan dan kemenangan.

Tangan kanannya bertolak pinggang, sedangkan tangan kiri menuding ke sebelah luar di mana tampak Han Han duduk di atas anak tangga pondok itu sambil bercakap-cakap dengan Soan Li dalam suasana mesra.

"Nah, betul tidak keteranganku? Itu mereka mengobrol dengan asyiknya"

Sumoimu mencinta Kakakku dan setiap pagi mereka berdua tentu duduk dan mengobrbl mesra di situ.

Semenjak semula sudah kuduga, dalam pertemuan pertama mereka sudah saling lirak-lirik, hi-hik."

"Wah, ini sama sekali tidak boleh..."

Kata Sin Kiat dengan alis dikerutkan.

"Apa kau bilang? Apanya dan mengapa tidak boleh? Jangan main-main kau, ya? Apa kau hendak menghina Kakakku? Menganggap Kakakku kurang berharga untuk Sumoimu?"

Kini Lulu menghadapi Sin Kiat dengan mata terbelalak marah, kedua tangan di pinggang, sikapnya menantang.

"Bukan.., bukan begitu, akan tetapi Sumoi... dia.. dia telah ditunangkan oleh Suhu.. dia sudah mempunyai calon suami..."

Kini Lulu yang terbelalak kaget.

"Apa kau bilang? Dan engkau calon suaminya?"

"Bukan, bukan"

Calon suaminya adalah seorang sastrawan.."

"Taihiap.."

Para pimpinan Hoa-san-pai telah tiba, Taihiap diminta untuk menyambut..."

Seruan ini keluar dari mulut seorang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang datang berlari-lari.

Ia berteriak-teriak sehingga tidak saja Sin Kiat dan Lulu yang menengok kaget dan percakapan mereka terputus, juga Han Han dan Soan Li menjadi kaget dan menengok, lalu menghampiri mereka.

Sepintas lalu Sin Kiat melihat betapa wajah sumoinya berseri-seri, agak kemerahan sehingga hatinya makin tidak enak.

Dia akan merasa bahagia sekali kalau sumoinya dapat menjadi calon isteri Han Han, andaikata dia belum bertunangan.

Akan tetapi sumoinya telah ditunangkan kepada orang lain.

Berbeda dengan wajah Soan Li, Lulu maupun Sin Kiat melihat betapa wajah Han Han biasa saja.

Semua urusan mengenai sumoinya itu segera terhapus dari ingatan Sin Kiat karena pada saat itu ada urusan yang lebih gawat, yaitu dengan datangnya para pimpinan Hoa-san-pai yang tentu akan timbul persoalan yang amat gawat dengan Han Han.

"Han Han, tokoh-tokoh Hoa-san-pai telah tiba, sebaiknya engkau bersamaku pergi menyambut mereka agar persoalan ini lekas beres."

Han Han mengangguk, sikapnya tenang sekali, berbeda dengan Sin Kiat dan sumoinya yang mengerutkan kening dan kelihatan gelisah.

Han Han sudah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai, apa pun alasannya, tentu akan membikin hati para pimpinan Hoa-san-pai menjadi tidak puas.

Sungguhpun Sin Kiat dan Soan Li merupakan dua orang tokoh Hoa-san-pai, namun mereka tidak banyak mengenal para pimpinan Hoa-san-pai karena mereka itu digembleng oleh guru mereka, Im-yang Seng-cu, dalam perantauan dan hanya satu kali mereka disuruh guru mereka pergi menghadap ketua Hoa-san-pai di Puncak Hoa-san.

Maka, hanya ketua Hoa-san-pai saja yang mereka kenal, sedangkan para susiok (paman guru) lainnya, mereka tidak kenal.

Ketika empat orang muda itu tiba di ruangan dalam yang lebar, di situ Tan-piauwsu dan para sutenya telah menghadap tiga orang tosu tua dengan sikap hormat.

Sin Kiat dan Soan Li sebagai murid-murid Hoa-san-pai, cepat melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang tosu itu yang duduk berjajar di atas bangku-bangku kehormatan.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert