Pendekar Super Sakti 5

Eps 5 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.

"Suhu dan Ji-wi Supek (Dua Uwa Guru), ini adalah Sute Wan Sin Kiat dan Sumoi Lu Soan Li."

Tan-piauwsu memperkenalkan dua orang muda itu.

"Hemmm..."

Tosu yang berjenggot pendek, guru Tan Bu Kong, mengangguk-angguk dan berkata.

"Agaknya kalian inikah murid-murid Sute Im-yang Seng-cu?"

"Tidak salah dugaan Sam-wi Supek. Teecu berdua adalah murid-murid Suhu Im-yang Seng-cu. Teecu berdua menghaturkan hormat kepada Sam-wi Supek,"

Kata Sin Kiat sambil memberi hormat, yang dicontoh oleh Soan Li.

"Bagus! Kalian tidak mengecewakan menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Pinto telah mendengar akan sepak-terjang kalian di dunia kang-ouw,"

Kata tosu ke dua yang lebih tua dan yang didahinya terdapat cacat bekas luka memanjang.

"Duduklah baik-baik di bangku di pinggir sana."

Tosu ini menunjuk bangku-bangku dengan sikap tidak begitu mengacuhkan.

Betapapun juga, dua orang muda ini hanyalah murid-murid keponakan mereka, dan mereka bertiga datang untuk membereskan urusan yang amat gawat.

Dengan sikap hormat, Sin Kiat dan Soan Li duduk di atas bangku-bangku yang ditunjuk oleh tosu codet (luka di dahi) itu, dan diam-diam Han Han, terutama sekali Lulu, merasa tidak puas menyaksikan sikap angkuh Si Tosu terhadap sahabat-sahabat baik mereka.

Akan tetapi mereka tidak peduli dan hanya berdiri di pinggiran, tidak jauh dari tempat duduk dua orang sahabat mereka itu.

Tiga orang tosu tua yang melihat Han Han dan Lulu, tidak mengacuhkannya pula karena mereka ini mengira bahwa Han Han dan Lulu tentulah orang-orang muda tak berarti, anggauta keluarga atau pembantu-pembantu di Pek-eng-piauwkiok.

Tiga orang tosu Hoa-san-pai ini adalah tosu-tosu tingkat tiga, karena mereka ini adalah murid-murid langsung dari ketua Hoa-san-pai, yaitu yang bernama Thian Cu Cinjin, seorang tosu yang amat sakti dan sudah berusia lanjut.

Mereka bertiga ini adalah kakak beradik seperguruan.

Yang paling tua adalah tosu tinggi kurus yang berjenggot panjang bernama atau lebih tepat berjuluk Bhok Seng-cu, yang ke dua adalah tosu codet yang luka dahinya, berjuluk Kong Seng-cu.

Adapun tosu ke tiga adalah guru dari Tan-piauwsu yang berjuluk Lok Seng-cu.

Mereka ini rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, namun masih nampak sehat dan berwibawa, penuh semangat karena sesungguhnya, tiga orang tosu inilah yang bertugas untuk melaksanakan segala peraturan di Hoa-san-pai.

Mungkin karena terpengaruh tugas mereka yang harus dilaksanakan secara baik-baik dan penuh disiplin, maka tiga orang tosu ini sudah biasa berwatak keras asal benar"

Mereka bertiga tidak begitu ramah ketika diperkenalkan kepada Sin Kiat dan Soan Li, karena sesungguhnya mereka bertiga tidak suka kepada Im-yang Seng-cu, tokoh Hoa-san-pai yang dianggap menyeleweng, yaitu menyeleweng daripada aturan Hoa-san-pai, tidak suka menjadi tosu di Hoa-san-pai melainkan lebih suka mengembara dan berkeluyuran.

Juga perasaan tidak suka ini timbul pula karena Im-yang Seng-cu diinggap tidak setia kepada Hoa-san-pai, mempelajari ilmu silat-ilmu silat lain golongan, bahkan berani "mengawinkan"

IImu silat Hoa-san-pai yang aseli dengan ilmu silat golongan lain.

Apalagi kalau diingat bahwa mereka itu tidaklah seguru dengan Im-yag Seng-cu karena Im-yang Seng-cu bukanlah murid Thian Cu Cinjin, melainkan murid dari Tee Cu Cinjin yang sudah meninggal dunia, yaitu sute dari Thian Cu Cinjin.

"Tan Bu Kong, kami mendengar akan pelaporanmu dari mulut utusan Pek-eng-piauwkiok, karena mengingat akan gawatnya persoalan, maka kami bertiga dating sendiri untuk memberi hukuman kepada dia yang berdosa. Benarkah bahwa kedua orang Sutemu Lie Cit San dan Ok Sun dibunuh orang?"

Mendengar pertanyaan ini, berkerut alis Wan Sin Kiat.

Para supeknya ini ternyata adalah orang-orang yang berhati keras dan yang dipentingkan adalah urusan kematian anak murid Hoa-san-pai, padahal di batik urusan ini tersembunyi hal yang lebih gawat lagi, yaitu ancaman permusuhan dengan pihak Siauw-lim-pai.

Ataukah mungkin laporan utusan Tan-piauwsu yang tidak jelas menyampaikan laporan?

Namun, ia tidak berani mengganggu, hanya mendengarkan saja.

"Benar, Suhu. Sute Lie Cit San dan Sute Ok Sun tewas, bahkan Sute Teng Lok juga terluka hebat, buntung lengannya. Semua ini terjadi karena tipu muslihat keji seorang gadis Mancu, seorang puteri Kaisar sendiri yang bernama Puteri Nirahai.."

"Siapakah yang membunuh dan melukai Sute-sutemu? Apakah dia murid Siauw-lim-pai?"

"Bukan, Suhu. Memang terjadi bentrokan dengan pihak Siauw-lim-pai, akan tetapi semua itu adalah akibat tipu muslihat keji Puteri Mancu Nirahai. Sebaiknya teecu menceritakan asalu mula terjadinya peekara yang heboh ini."

Melihat betapa tiga orang tosu tua itu diam saja dan semua memandang kepadanya, Tan Bu Kong segera menceritakan asal mula terjadinya peristiwa itu.

Betapa puteri itu datang mengirim dua buah peti ke selatan dan betapa dia tidak berani menolak karena tidak ingin dicurigai oleh pemerintah Mancu akan perjuangan Hoa-.san-pai menentang penjajah.

Kemudian betapa Teng Lok sampai buntung lengannya ketika menyelidiki keadaan puteri aneh itu.

Diceritakannya pula betapa rombongan piauwsu yang mengantar dua buah peti ke selatan, di tengah jalan dihadang oleh anak-anak murid Siauw-im-pai yang memaksa mereka membuka peti sehingga terjadi pertempuran.

"Pinto telah mendengar penuturan itu dari utusanmu, tak perlu diulangi lagi,"

Lok Seng-cu memotong tak sabar sambil menggerakkan tangan kirinya ke atas sehingga ujung lengan bajunya bergetar dan bergoyang.

"Pinto hanya tertarik mendengar akan kematian murid-murid Lie Cit San dan Ok Sun. Siapakah yang membunuh mereka?"

Berkerut kening Han Han.

Ingin ia melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu, mengaku bahwa dialah yang membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu.

Akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Wan Sin Kiat, ia melihat pemuda itu menggeleng-geleng kepala perlahan sehingga ia membatalkan niatnya.

Tan-piauwsu juga bingung sekali atas pertanyaan gurunya yang mendesak-desak itu, seolah-olah tidak hendak memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan semua agar kesalahan tangan Han Han itu dapat diperingan dengan alasan kuat.

Akan tetapi, piauwsu ini yang sudah.

merasa yakin akan kebersihan hati Han Han dalam pembunuhan terhadap dua orang sutenya itu, memberanikan hatinya dan melanjutkan ceritanya.

"Pertempuran berat sebelah itu tentu akan berakibat terbasminya semua anak buah piauwsu yang mengawal kalau saja tidak secara kebetulan muncul seorang pendekar muda yang membantu pihak Hoa-san-pai dan pemuda itu memukul tewas tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai. Kemudian pihak Siauw-lim-pai memaksa membuka dua buah peti kiriman puteri Mancu dan isinya ternyata adalah.."

"Mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Pinto sudah tahu semua akan hal itu. Bu Kong, katakan, siapa yang membunuh dua orang Sutemu?"

"Pendekar muda yang tadinya membantu Hoa-san-pai dan membunuh tujuh orang Siauw-lim-pai ketika melihat bahwa dua peti itu berisi mayat tokoh-tokoh Siauw-lim, menjadi menyesal dan marah sekali, mengira bahwa pihak Hoa-san-pai yang bersalah, maka dalam kemarahannya ia turun tangan membunuh kedua orang Sute, tidak tahu bahwa baik pihak Siauw-lim-pai maupun pihak Hoa-san-pai tidak bersalah karena mereka semua telah termasuk dalam perangkap dan siasat adu domba puteri Mancu itu.."

"Tan Bu Kong! Engkau berpihak kepada siapakah? Katakan, di mana adanya orang yang membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu."

Bentak Lok Seng-cu dengan nada marah sehingga Tan-piauwsu menjadi jerih dan menundukkan mukanya.

"Totiang, akulah orangnya yang membunuh dua orang muridmu itu."

Tiba-tiba terdengar suara Han Han memecah kesunyian sehingga suasana menjadi tambah sunyi lagi karena kini kesunyian itu dicekam ketegangan yang memuncak ketika tiga orang tosu tua itu menoleh dan memandang kepada Han Han penuh perhatian.

Han Han sudah melangkah maju dengan sikap tenang, kemudian berdiri menghadapi tiga orang Hoa-san-pai itu sambil melanjutkan kata-katanya.

"Memang aku yang telah membunuh mereka, hal ini tidak kupungkiri dan aku mohon maaf kepada Totiang bertiga sebagai guru-guru mereka. Aku merasa menyesal sekali telah membunuh mereka berdua seperti rasa penyesalanku telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tak bersalah. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah karena aku membunuh dua orang murid Hoa-san-pai dengan persangkaan bahwa Hoa-san-pai lah yang membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai dan kusangka bersikap palsu sehingga menyebabkan aku kesalahan tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai. Hal itu telah terjadi di luar kesalahanku, dan aku pasti akan mencari biang keladinya, Puteri Mancu itu. Nah, kurasa cukup lama aku tinggal di sini bersama Adikku. Tan-piauwsu, dan juga kalian berdua, Sin Kiat dan Adik Lu Soan Li, aku harus pergi dari sini setelah bertemu dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai dan minta maaf. Aku hendak pergi menemui pimpinan Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan. Sampai jumpa kembali..."

"Berhenti."

Tiba-tiba Bhok Seng-cu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang membentak.

Suaranya mengejutkan semua orang karena mengandung getaran yang menusuk rongga dada, tanda bahwa kakek ini telah mempergunakan khikang yang amat kuat.

Han Han yang tadinya, sudah melangkah hendak keluar diikuti oleh Lulu, berhenti dan membalikkan tubuhnya.

Sikapnya tenang saja, demikian pula dengan Lulu sehingga Bhok Seng-cu sendiri menjadi terheran-heran.

Hapir semua yang hadir di situ, kecuali Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li yang rnemiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, menjadi pucat sekali wajah mereka karena pengaruh bentakan tadi, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak terpengaruh, kaget sedikit pun tidak.

"Orang muda, apakah sedemikian murahnya kau menghargai nyawa dua orang anak murid kami? Cukup dengan pernyataan menyesal dan minta maaf? Sungguh engkau memandang rendah ke-pada Hoa-san-pai."

Kata Bhok Seng-cu dengan alis terangkat.

"Habis apa yang harus kulakukan, Totiang? Aku telah lama menanti kedatangan Totiang di sini, hal itu karena aku memandang Hoa -san-pai,"

Jawab Han Han dengan sikap yang masih tenang.Pandang mata pemuda ini bertemu dengan pandang mata Bhok Seng-cu dan kakek Hoa-san-pai ini bergidik dan mengalihkan pandang matanya.

"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa."

Bentak Lok Seng-cu, guru Tan-piauwsu yang menjadi marah sekali kalau teringat betapa murid-muridnya terbunuh hanya oleh seorang pemuda yang tak di kenaI sama sekali, bukan pula murid Siauw-lim-pai, bahkan seorang pemuda yang kelihatannya liar.

Andaikata kedua orang muridnya tewas di tangan seorang tokoh besar, atau setidaknya oleh anak murid Siauw-lim-pai yang pandai, dia tidak akan begitu malu.

"Suheng,"

Katanya kepada Bhok Seng-cu.

"bukan hal yang mustahil kalau pemuda ini menjadi kaki tangan Mancu yang sengaja membunuh murid-murid Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar taktik adu domba berhasil baik. Bocah setan ini tak boleh diberi ampun."

"Suhu dan Ji-wi Supek, Han Han bukanlah kaki tangan Mancu..."

Tiba-tiba Wan Sin Kiat berseru dari tempat duduknya karena tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapan suhunya dan supeknya yang nadanya menekan Han Han.

(Lanjut ke

Jilid 14) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Teecu mengenal dia baik-baik semenjak dia masih kanak-kanak karena dia adalah sahabat baik teecu di waktu kecil."

"Wan Sin Kiat! Tak patut engkau sebagai anak murid Hoa-san-pai bicara seperti itu terhadap seorang yang telah membunuh dua orang Suhengmu"

Di mana kesetiaanmu terhadap Hoa-san-pai?

Apakah kalau dia ini menjadi sahabat baikmu di waktu kecil, lalu tak mungkin lagi menjadi kaki tangan Mancu?

Pandangan picik sekali."

Bentak Bh'ok Seng-cu sambil menatap wajah pemuda itu dengan mata melotot. Sin Kiat menunduk, akan tetapi ia menjawab dengan suara tenang.

"Maaf, Supek. Bukan karena itu, melainkan karena dia adalah murid Ma-bin Lo-mo Siang-koan Lee..."

"Ahhhhh."

Seruan ini keluar dari mulut ketiga orang tosu tua itu karena mereka benar-benar merasa kaget sekali mendengar bahwa pemuda ini adalah murid seorang di antara tokoh-tokoh datuk hitam yang amat terkenal itu.

Dan mereka pun maklum bahwa biarpun seorang tokoh datuk hitam, namun Siangkoan Lee bukanlah seorang yang tunduk kepada pemerintah penjajah Mancu.

Kini mereka kembali memandang kepada Han Han penuh perhatian dan dengan pandang mata agak meragu.

Akan tetapi hanya sebentar saja mereka meragu karena segera terdengar suara Bhok Seng-cu yang kaku dan tegas.

"Kalau dia murid Ma-bin Lo-mo, memang bukan kaki tangan Mancu. Akan tetapi biarpun demikian, dia telah membunuh dua orang murid Hoa-san..pai, dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Biarpun murid Ma-bin Lo-mo tidak boleh menghina kami orang orang Hoa-san-pai."

"Suheng, nanti dulu, Suheng."

Tiba-tiba Kong Seng-cu berkata dan tiba-tiba tubuh tosu ini sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkah lebar menghampiri Lulu.

Ia menghampiri dan memandang gadis itu penuh perhatian, mulutnya menggerutu.

"Adiknya....? ini Adikmu...?"

Han Han yang merasa sebal menyaksikan sikap congkak dari tiga orang Hoa-san-pai ini berkata.

"Benar, Totiang. Dia Adik angkatku."

Lulu yang dipandang penuh perhatian,bahkan kini tosu yang dahinya terhias bekas luka itu berjalan mengelilinginya sambil memandang seperti orang mem eriksa kuda yang hendak dibelinya, tersenyum-senyum dan melirak-lirik dengan sikap lucu dan mentertawakan.

Akhirnya tosu itu kembali ke bangkunya, duduk dan berkata.

"Gadis ini adalah seorang wanita Mancu."

Semua orang yang mendengar ini menjadi terheran, bagaimana tosu codet ini dapat menduga sedemikian tepatnya.

"Wanita Mancu?"

Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu berseru kaget. Lok Seng-cu memandang kepada Tan-piauwsu dengan pandang mata bengis lalu membentak.

"Tan Bu Kong! Betulkah bahwa gadis ini seorang wanita Mancu dan sudah kau biarkan dia menjadi tamumu?"

Sebelum Tan-piauwsu sempat menjawab, Lulu sudah melangkah maju dan menjawab dengan suara Ian tang sambil memandang kepada Kong Seng-cu.

"Benar sekali"

Aku adalah seorang gadis Mancu dan namaku Lulu, she Sie karena Kakakku ini pun she Sie. Tosu codet, matamu benar-benar tajam sekali."

"Siancai...! Apa kata pinto? Dalam jarak sepuluh Ii, pinto sudah dapat mengenal wanita Mancu"

Suheng dan Sute biarpun orang she Sie ini murid Ma-bin Lo-mo, akan tetapi dia mempunyai Adik angkat wanita Mancu.

Terang bahwa dia telah berkhianat, dan mungkin sekali dia sekarang menjadi kaki tangan Puteri Mancu itu.

Wah, berbahaya kalau begini, sama sekali tidak boleh membebaskan dia."

"Tosu codet, selain matamu awas sekali, juga hatimu busuk sekali. Tentu karena kebusukan hatimu maka dahimu menjadi codet, sayang di dahi, semestinya di lidah agar mulutmu tidak dapat menghamburkan ucapan-ucapan busuk lagi."

Lulu yang diam-diam marah kini mulai mem-permainkan tosu itu.

Semua orang terkejut sekali, bahkan Sin Kiat menjadi pucat wajahnya..

Gadis yang dicintanya itu benar-benar berani mati, mengeluarkan omongan yang seperti itu terhadap Kong seng-cu, seorang di antara ketiga murid ketua Hoa-san-pai yang berilmu tinggi.

Pemuda perkasa ini maklum bah-wa ucapan itu akan rnempunyai akibat yang berbahaya sekali bagi Han Han dan Lulu, maka ia memandang dengan jantung berdebar dan muka pucat.

Juga para anak buah Pek-eng-piauw-kiok terutama sekali Tan Bu Kong, menjadi khawatir sekali, apalagi karena Tan-piauwsu maklum bahwa perbuatannya menerima seorang gadis Mancu sebagai tamu benar-benar akan menimbulkan salah paham dari para supeknya.

"Suhu, harap maafkan teecu. Biarpun dia seorang gadis Mancu, akan tetapi dia lain lagi, sama sekali tidak menganggap kita sebagai musuh dan dan dia adalah Adik angkat Sie-taihiap..."

Ucapan ini malah merupakan angin yang membesarkan api kemarahan di dada tiga orang tosu itu, terutama sekali Kong Seng-cu yang dihina dan dimaki oleh seorang gadis Mancu.

"Bocah Mancu, mampuslah."

Bentak Kong Seng-cu dan tanpa bangkit dari tempat duduknya, kakek berdahi codet ini mengirim pukulan jarak jauh dengan.

dorongan tangan kanannya ke arah dada Lulu.

Jarak antara mereka ada empat meter dan kakek ini yang mermandang rendah gadis Mancu itu yang disangkanya gadis biasa saja, menaksir bahwa pukulannya ini cukup kuat untuk merusak isi dada gadis yang dianggapnya jahat dan musuh rakyat itu.

Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lulu dan jelas tampak betapa baju gadis itu di bagian dadanya berkibar disambar angin pukulan, akan tetapi gadis itu sendiri berdiri sambil tersenyum-senyum manis, sama sekali tidak bergerak, Seolah-olah ia tidak merasakan datangnya angin pukulan jarak jauh ini seperti sebongkah batu gunung ditiup angin semilir.

Dan memang sesungguhnyalah bahwa Lulu sama sekali tidak tahu bahwa dia dipukul orang.

Akan tetapi mengapa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti amat kuat dari tokoh Hoa-san-pai itu sarna sekali tidak terasa olehnya?

Apakah Lulu sudah memiliki kesaktian yang luar biasa seperti Han Han?

Sebetulnya tidaklah demikian.

Seperti kita ketahui, ketika berdiam di Pulau Es, Lulu juga tekun belajar di bawah bimbingan Han Han.

Akan tetapi berbeda dengan Han Han yang memiliki dasar tidak karuan, bahkan secara paksa menggembleng diri dengan ilmu dari aliran hitam.

Lulu sebaliknya mempelajari kitab-kitab peninggalan manusia sakti pemilik Istana Pulau Es.

Gadis ini berlatih samadhi dan pengumpulan hawa murni untuk membentuk tenaga sakti menurut petunjuk kitab yang dibacanya di pulau itu, dan ternyata ia dapat memiliki sinkang yang murni dan bersih yang amat kuat dan yang kini telah menjadi satu dengan darah daging dan pernapasannya sehingga tenaga sakti ini akan bergerak dengan sendirinya setiap kali ada bahaya mengancam tubuhnya.

Juga gadis ini melatih ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang dari dua buah kitab lain yang sudah amat tua dan tidak berjudul lagi, ilmu silat tangan kosong yang lebih mirip ilmu tari karena gerakan-gerakannya indah sekali sehingga sering kali jika sedang berlatih, lulu ditertawai dan digoda Han Han, dikatakan bahwa tarian adiknya amat indah dan 'bahwa' adiknya bukan mempelajari ilmu silat melainkan ilmu tari.

Namun, dengan "ilmu tari"

Ini,.Lulu sudah dapat membuat beruang es mengaku kalah.

Adapun ilmu pedangnya juga amat indah, akan tetapi karena dipulau itu mereka tidak mempunyai pedang, Lulu selalu berlatih mempergunakan sebatang ranting.

Dengan adanya sinkang yang sudah mendarah daging itulah maka tadi ketika Kong Seng-cu melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga sinkang, begitu angin pukulan menyentuh kulit, otomatis sinkang di tubuh Lulu bergerak dan menolak serangan dari luar itu maka gadis ini tidak merasakan apa-apa sungguhpun bajunya sampai berkibar dilanda angin pukulan jarak jauh tokoh Hoa-san-pai itu.

Wan Sin Kiat menjadi pucat mukanya,dan pandang matanya menjadi kagum dan heran bukan main.

Sebagat murid tersayang dari im-yang Seng-cu seorang tokoh yang biarpun tingkatnya hanya saudara seperguruan tiga orang tosu ini namun memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi, dan sebagai seorang yang ahli dalam ilmu silat Hoa-san-pai, Sin Kiat tadi dapat rnelihat jelas gerakan Kong Seng-cu dan maklum bahwa supeknya itu dengan secara keji sekali telah melakukan pukulan jarak jauh yang di-sebut jurus Sian-jin-hian-ko (Dewa Memberi Buah) dan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya ketika melihat bahwa gadis yang telah membuat jantungnya jungkir balik dan bertekuk lutut itu sama sekali tidak rnerasakan pukulan itu, bahkan berkedip pun tidak, malah senyumnya makin lebar dan makin manis, mata yang lebar itu makin bersinar-sinar"

"Eh, Tosu Codet. Engkau mengeluarkan ilmu hitam?"

Setelah bajunya berkibar dan dadanya agak berdenyut kulitnya, barulah Lulu sadar bahwa tosu itu tadi telah memukulnya dengan pengerahan sinkang, maka ia sengaja mengejek dan diarn-diam gadis ini bersikap waspada dan hati-hati karena maklum bahwa para tosu Hoa-san-pai itu benar-benar hendak memusuhi dia dan Han Han.

Sementara itu, ketika melihat betapa pukulan jarak jauh yang dilontarkan Kong Seng-cu kepada gadis Mancu itu sama.

sekali tidak berhasil, tiga orang tokoh Hoa.-san-pai ini diam-diam terkejut dan berhati-hati.

Mereka maklum bahwa.

gadis Mancu yang masih remaja itu telah memiliki tenaga sinkang yang hebat dan tidak lumrah dimiliki seorang gadis yang demikian muda.

Tiga orang tosu itu menjadi serba salah.

Mau merintahkan anak murid turun tangan terhadap Han Han dan Lulu, mereka maklum bahwa murid-murid yang berada di situ agaknya bukanlah lawan pemuda berambut riap-riapan dan adiknya yang bertenaga sinkang hebat itu.

Mau turun tangan sendiri, mereka masih merasa tidak enak dan malu karena amatlah menurunkan derajat bagi mereka untuk turun tangan terhadap dua orang yang masih amat muda, boleh disebut setengah dewasa itu"

Tiba-tiba pandang meta Bhok Seng cu yang memandangi para anak murid Hoa-san-pai dan anak buah Pek-eng-piauwkiok itu menatap ke Satu arah.

Ketika Lok Seng-cu dan Kong Seng-cu yang ragu-ragu menoleh ke arah suheng mereka yang tentu saja sebagai, orang tertua di antara mereka merupakan penentu terakhir, mereka berdua pun mengikuti arah pandang mata suheng mereka itu dan wajah mereka berseri.

Mengertilah kedua orang tosu ini akan jalan pikiran suheng mereka dan merekapun setuju sekali.

Tanpa mengeluarkan suara,tiga orang tosu Hoa-san-pai ini telah bersepakat untuk memerintahkan Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menghadapi Han Han dan Lulu"

Mereka itu sama mudanya sehingga tidak akan menurunkan nama Hoa-san-pai, mereka berdua itu pun murid-murid Hoa-san-pai yang lihai ilmunya sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap dan Hoa-san Kiam-li.

Dan yang menggirangkan hati ketiga orang ,tosu ini, dua orangmuda itu adalah murid-murid Im-yang Seng-cu, seorang tokoh Hoa-san-pai yang mereka anggap menyeleweng dan murtad sehingga kalau dua orang murid itu sampai kalah, Hoa-san-pai tidaklah terlalu merasa malu dan memang tiga orang tosu ini dalam kebenciannya terhadap Im-yang Seng-cu, menjadi tidak suka pula kepada Sin Kiat dan Soan Li.

Rasa benci terhadap Im-yang Seng-cu bukan semata karena tokoh Hoa-san-pai ini meninggalkan Hoa-san-pai, melainkan lebih banyak terdorong rasa iri hati.

Im-yang Seng-cu membuat nama besar bukan bersandar kepada Hoa-san-pai karena ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, dan di sam-ping ini, Im-yang Seng-cu tidak lagi hidup terikat dan terkurung di Hoa-san, melainkan hidup sebagai seorang pendekar dan petualang yang bebas dan bebas pula menikmati kesenangan duniawi"

"Murid-murid Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, Pinto memerintahkan kalian untuk menangkap musuh Hoa-san-pai dan adiknya, gadis Mancu itu. Kerjakan perintah pinto sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang baik."

Bhok Seng-cu berkata dengan nada suara halus dan muka berseri.

Dua orang sutenya mengangguk-angguk dan tersenyum sambil merabaraba jenggot mereka.

Sin Kiat dan Soan Li menjadi terkejut bukan main mendengar perintah ini.

Wajah mereka berubah dan jantung mereka berdebar karena mereka tersudut kedalam keadaan yang serba salah.

Untuk membantah, perintah itu keluar.

Dari mulut supek mereka dan dikeluarkan atas nama Hoa-san-pai.

Untuk mentaati perintah, bagaimana mereka dapat memusuhi dua orang muda yang menjadi sahabat baik mereka, bahkan dua orang muda yang masing-masing telah menjatuhkan hati mereka?

Mereka tak tahu harus berbuat apa, merasa mundur salah maju tidak sesuai dengan suara hati mereka.

Apalagi ketika mereka melihat betapa Han Han dan Lulu kini menoleh dan memandang mereka dengan sikap tenang dan bahkan Lulu tersenyum-senyum me-mandang Sin Kiat karena gadis nakal ini agaknya merasa geli, sama sekali tidak kasihan melihat pemuda itu yang ia tahu menjadi bingung.

Baru saja menyatakan cinta, kini disuruh menyerang.

Teringatlah dua orang murid Hoa-san-pai ini akan pesan suhu mereka, yaitu Im-yang Seng-cu.

"Kalian memang dapat disebut murid-murid Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu yang kuberikan kepada kalian sesungguhnya bukanlah ilmu aseli dari Hoa-san-pai. Karena itu, kalian harus berhati-hati terhadap Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai, yaitu Suheng-suheng dan Sute-suteku, adalah tosu-tosu yang kukuh dan terlalu kaku memegang peraturan sehingga kadang-kadang mereka itu keras sekali. Memang demikian watak orang-orang yang terikat oleh keadaan pada lahirnya namun sesungguhnya batinnya belum dapat mereka sesuaikan dengan keadaan lahir. Mereka banyak yang merasa iri hati melihat kehidupan orang-orang di luar lingkungan tosu yang hidup serba bebas dan dapat mengecap kenikmatan hidup tanpa pantangan-pantangan. lebih baik kalau kalian menjauhkan diri dari urusan Hoa-san-pai."

Demikianlah pesan suhu mereka dan kini, di luar kehendak mereka, mereka dihadapkan dengan urusan yang amat sulit yang menyangkut Hoa-san-pai.

"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Apakah kalian hendak menentang perintah pinto dan hendak menjadi murid murtad Hoa-san-pai pula?"

Kini suara Bhok Seng-cu terdengar keras dan tidak senang, mengandung tekanan menyindir bahwa guru kedua orang muda itu adalah seorang murid murtad Hoa-san-pai Soan Li hanya dapat memandang kepada suhengnya dengan pandang mata penuh permohonan agar suheng ini dapat mengambil keputusan.

Sin Kiat menghela napas panjang lalu berkata.

"Supek, mohon maaf, bukan sekali-kali teecu membantah. Hanya teecu teringat akan pesan Suhu bahwa segala perbuatan teecu berdua harus didasarkan kebenaran. Teecu menganggap bahwa Saudara Sie Han dan Lulu tidak bersalah dalam urusan ini, bagaimana mungkin teecu berdua harus memusuhi mereka?"

"Wan Sin Kiat! Bocah ini telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai yang terhitung Suheng-suhengmu sendiri dan kau masih hendak membelanya? Dan gadis ini, sudah terang dia itu gadis Mancu, seorang musuh bangsa kita, dan engkau pun hendak membelanya? Pelajaran macam apakah ini yang diberikan Gurumu kepada kalian?"

Bentak Kong Seng-cu.

Ucapan keras yang menambah ketegangan itu disusul suara Lulu yang perlahan akan tetapi karena keadaan yang amat sunyi, terdengar oleh semua telinga.

"Koko, Tosu Codet itu galak sekali. Kalau terjadi pertempuran, kau bikin mukanya bertambah satu codet lagi, baru puas hatiku."

"Hush...", Lulu, jangan lancang mulut...."

Han Han menjawab lirih, akan tetapi tentu saja terdengar pula oleh semua orang.

Kong Seng-cu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia memandang kepada Lulu dengan mata melotot.

Untuk turun tangan sendiri, ia merasa malu hati, tidak turun tangan, jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh sindiran dan ejekan gadis Mancu itu.

"Supek,"

Jawab Sin Kiat dengan suara tenang.

"Suhu mengajarkan agar teecu tidak sembrono dalam sepak terjang teucu, tidak menurutkan panasnya hati melainkan menggunakan pertimbangan pikiran dan liangsim (hati nurani). Biarpun Han Han membunuh kedua orang Suheng teecu, akan tetapi dia membunuh bukan karena kejahatan, melainkan karena tertipu muslihat Puteri Mancu. Adapun Adik Lulu ini....dia bukanlah musuh.dia tidak memusuhi kita.

"Kreeekkkkk."

Lengan kursi yang di.duduki Bhok Seng-cu hancur berkeping-keping karena dicengkeram tangan tosu lihai ini yang sudah tak dapat mengendalikan lagi kemarahannya.

"Murid murtad."

Ia menudingkan telunjuknya kepada Sin Kiat, kemudian menoleh ke arah Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap, dan murid-murid Hoa-san-pai pembantu Tan-piauwsu yang lain sambil berseru.

"Tangkap dua orang murid murtad ini, dan kami akan turun tangan sendiri menangkap bocah dan gadis Mancu itu."

"Serrr.. serrrrr..."

Bhok Seng-cu menggerakkan tangan kanannya, dua sinar hitam menyambar ke arah Han Han dan Lulu.

Itulah hancuran kayu lengan kursi yang dicengkeramnya tadi, kini ditimpukkan dengan pengerahan sinkang sehingga merupakan senjata rahasia yang amat berbahaya, menyambar ke arah dada Han Han dan Lulu yang sejak tadi hanya berdiri dengan sikap tenang di tengah ruangan itu.

Han Han mengibaskan tangannya sehingga hancuran kayu itu runtuh ke bawah, sedangkan, Lulu dengan sikap lincah meloncat ke samping, mengelak sambil tertawa mengejek.

"Wah, sayang luput Tosu galak."

Tan-piauwsu dan para sutenya, juga anak buah Pek-eng-piauwkiok yang sudah menganggap diri mereka sebagai anak buah Hoa-san-pai, tidak berani membantah perintah itu dan mereka telah mencabut senjata masing-masing, kini telah mengurung ruangan itu.

Di luar tahunya semua orang, Kwee Twan Giap sute termuda dari Tan-piauwsu yang amat cerdik, telah memberi tanda dengan jari tangan agar Sin Kiat dan SoanLi cepat melarikan diri saja sehingga terhindar pertandingan antara murid Hoa-san-pai sendiri.

Melihat ini, Sin Kiat dan Soan Li mencatat dalam hati mereka akan niat baik Kwee Twan Giap.

Akan tetapi, sebelum dua orang murid Im-yang Seng-cu ini sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba terdengar pekik .melengking keras sekali yang membuat semua orang tertegun, bahkan banyak diantara mereka meremang bulu tengkuk-nya mendengar suara ini.

Suara ini keluar dari mulut Han Han yang sudah meloncat ke depan sambil melengking keras, kemudian berkata.

"Majulah semua! Tosu-tosu picik, hayo majulah kalian. Kalau kekerasan yang kalian kehendaki, kekerasan yang kalian dapat."

Lulu juga meloncat ke dekat kakaknya sambil membusungkan dadanya yang sudah membusung.

"Jangan mengeroyok Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, keroyoklah kami kalau kalian sudah bosan hidup."

Akan tetapi tiba-tiba Han Han sudah menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke kanan kiri dan terdengarlah suara hiruk-pikuk jatuhnya beberapa buah senjata pedang dan golok karena pemiliknya rebah terguling disambar hawa pukulan hebat luar biasa, yaitu yang menyambar keluar dari kedua telapak tangan Han Han.

Amat mengerikan akibatnya karena empat orang itu roboh dengan lengan kanan sebatas siku gosong seperti dibakar.

Masih untung bahwa Han Han menyerang mereka mengarah lengan, kalau tubuh mereka yang terkena sambaran hawa pukulan yang merupakan inti dari Hwi-yang Sin-ciang ini, pasti nyawa mereka telah melayang.

Lulu menjadi gembira, tubuhnya berkelebat ke kiri dan sebuah tendangan membuat orang anak buah piauwkiok menjerit kesakitan, lengan tangannya patah tulangnya dan pedangnya mencelat ke atas.

Tubuh Lulu meloncat dengan gerakan indah dan cepat, seperti seekor burung walet terbang dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangannya, dan la melayang turun, berdiri tersenyum-senyum menimang-nimang dan memandang pedang, sikapnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah boneka.

"Pedang yang bagus sekali"'"

Ia memainkan ronce-ronce pedang yang berwarna kuning itu dan mengelus-elus mata pedang yang tajam.

Melihat ini, Tan-piauwsu dan para sute serta anak buah mereka mau tak mau lalu maju menyerbu, bukan menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, melainkan menyerbu Han Han dan Lulu yang telah bergerak terlebih dulu.

Biarpun sampai mati dalam pertandingan, mereka ini memilih mati di tangan Han Han dan Lulu yang merupakan orang-orang lain, bahkan boleh juga dianggap musuh karena Han-Han telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai sedangkan Lulu adalah seorang gadis Mancu.

Kalau mereka menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, berarti mereka bermusuhan dengan murid-murid Hoa-san-pai sendiri dan kalau tewas berarti mati konyol.

"Han Han... Lulu-moi.., kasihanilah mereka yang tak berdosa, jangan bunuh mereka..."

Sin Kiat berteriak dengan hati sedih dan amat terkejut menyaksikan sepak terjang Han Han.

Lulu mendengar getaran suara Sin Kiat ini dan ketika ia mengerling kepada kakaknya, ia melihat bahwa kakaknya telah diserang nafsunya yang aneh, yang kadang-kadang datang seperti ketika kakaknya ini menyiksa ular merah di Pulau Es.

Ia cepat berbisik.

"Koko, jangan bunuh orang..."

Pada saat itu, Han Han memang telah kemasukan nafsu iblis yang selalu menyerangnya apabila ia mengerahkan sinkang di tubuhnya.

latihan-latihan yang ia tempuh selama bertahun-tahun adalah latihan-latihan ilmu golongan hitam yang selalu menimbulkan nafsu ingin menyiksa dan membunuh.

Begitu menyaksikan sikap tiga orang tosu Hoa-san-pai, kemarahannya bangkit dan sekali ia mengerahkan sinkang, nafsu membunuh ini telah bangkit di dadanya, sepasang matanya yang amat tajam itu menjadi agak kemerahan, napasnya agak terengah dan ia merasa seolah-olah ia bukan bernapas hawa melainkan api.

Akan tetapi aneh sekali, bisikan suara Lulu itu merupakan embun dingin sejuk yang seketika dapat menekan gairahnya untuk membunuh musuh sebanyaknya, dan ia mengangguk sambil berkata lirih.

"Lulu, kau tahan mereka itu, biar aku menghadapi tiga orang tosu sombong."

Lulu tersenyum, menggerakkan tubuh ke kanan menghindarkan bacokan seorang anak buah piauwkiok, Tangan kirinya menyambar tengkuk dan orang itu mengeluh dan roboh dengan mata mendelik, pingsan.

Jurus-jurus pukulan Lulu amat aneh, selain karena memang ilmu silat tangan kosong yang dilatihnya dari kitab kuno di Pulau Es memang aneh, juga di-tambah dengan gerakan-gerakan yang ia ciptakan di luar kesengajaannya ketika ia berlatih dengan beruang es yang lihai sekali.

Biasanya, kalau ia memukul tengkuk beruang es dengan tangan miring, beruang itu kadang-kadang dapat mengelak atau menangkis, dan kalau terkena juga, beruang es itu hanya akan terhuyung.

Siapakira orang ini sekali kena disambar tengkuknya terus roboh pingsan.

Hebat bukan main sepak terjang Lulu.

Dia kini telah meloncat dekat kakak nya menyerahkan pedang dengan sikap seperti anak kecil dan berkata.

"Aku titip dulu,Koko, jangan sampai hilang pedangkul"

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat, berputaran seperti orang menari, namun cepat bukan main sehingga para anak buah Peng-eng-piauwkiok hanya melihat bayangan berkelebatan di sekeliling mereka dan mencium keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Lulu dan pada detik-detik berikutnya, senjata-senjata di tangan mereka beterbangan dan orangnya pun mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lenganya, ada yang terkilir kakinya kena tendangan, ada yang pening kepalanya dengan mata berkunang, karena ditempiling, dan ada pula yang mulas perutnya kena dicium ujung sepatu gadis itu.

Mereka seolah-olah melawan bayangan setan, membacok ,dan menusuk secara ngawur karena tidak dapat melihat jelas lawannya, dan tahu-tahu dua puluh orang lebih telah kehilangan senjata dan tubuh mereka malang-melintang di ruangan itu"

"Bukan main."

Sin Kiat berseru sambil menahan napas saking kagumnya.

Dia sendiri adalah seorang ahli silat kelas tinggi, memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi menyaksikan gerakan Lulu, ia menjadi bengong karena gerakan gadis itu seolah-olah terbang saja.

Betapa mungkin dara remaja itu memiliki ginkang setinggi itu?

Siapakah gerangan gurunya?

Melihat gerakannya yang jelas membayangkan ilmu dari golongan bersih, kaum putih, ia tidak percaya kalau Lulu juga murid Ma-bin Lo-mo.

Kalau Han Han memang amat boleh jadi, karena gerakan dan pukulan pemuda mengerikan sekali, Jelas termasuk Ilmu dari kaum sesat.

Kini hanya tinggal Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap dan dua orang sutenya yang lain saja diantara para piauwsu yang belum roboh.

Mereka berempat ketika menyaksikan betapa semua anak buah piauwkiok roboh oleh gadis Mancu itu menjadi kaget akan tetapi juga marah.

Tanpa dikomando lagi mereka sudah mencabut senjata dan menerjang maju.Tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang sudah bertingkat empat atau lima ilmu silat mereka sudah hebat dan gerakan mereka ketika menyerang Lulu tak boleh disamakan dengan gerakan para anak buah Pek-eng-piauwkiok tadi.

"Pergilah..."

Terdengar bentakan Han Han yang tidak membiarkan adiknya.

dikeroyok murid-murid Hoa-san-pai ini.

Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke kanan kiri..dan empat orang murid Hoa-san-pai itu terpental sampai empat meter ke belakang, roboh tak dapat bangkit kembali karena tulang pundak mereka remuk disambar hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Han Han.

Untung bagi mereka bahwa Han Han masih ingat akan cegahan adiknya sehingga ia membatasi dorongannya dan hanya membuat mereka roboh pingsan dengan tulang remuk saja.

"Siancai.. pemuda iblis...."

Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu dengan gerakan tenang namun sesunggunnya cepat dan mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, meloncat turun dari kursi mereka diikuti oleh Kong Seng-cu.

Melihat tiga orang kakek tokoh Hoa-san-pai itu hendak turun tangan, diam-diam Sin Kiat dan Soan Li menjadi khawatir sekali.

Mereka maklum akan kelihaian tiga orang supek mereka ini dan karena sekali ini yang turun tangan adalah tokoh tinggi yang berkepandaian hebat, maka akibatnya pun tentu mengerikan.

Mereka masih bingung dan serba salah, tidak tahu harus berbuat apa.

Membantu sana salah membantu sini tak benar.

Maka mereka hanya memandang bengong dan jantung mereka serasa berhenti berdetik.

"Koko, mana pedangku. serahkan si Codet galak itu kepadaku."

Kata Lulu yang agaknya tidak mengenal bahaya.

Pedang itu tadi oleh Han Han ditancapkan di atas tanah ketika ia membantu Lulu dan merobohkan empat orang murid Hoa-san-pai.

Kini Lulu menyambar pedang itu dan terus dimainkan sambil mengejek ke arah Kong Seng-cu.

"Hayo, Tosu Codet, berani kau melawan pedang wasiatku?"

Kong Seng-cu yang sudah sejak tadi diejek dan dipermainkan Lulu, memuncak kemarahannya.

Ia lupa diri, lupa bahwa adalah pantangan pertama dan terutama bagi seorang ahli tapa seperti dia untuk mudah dirangsang nafsu amarah.

Dengan seruan keras ia telah mencabut pedangnya dan menerjang Lulu.

Sinar pedangnya yang bersinar kehijauan itu bagaikan kilat menyambar ke arah leher Lulu.

"Cring.. iiihhhhh..., Pedangmu bagus sekali, Tosu Codet. Wah, kau berikan saja pedangmu itu padaku dan aku serta kakakku akan mengampunimu. Hayo, serahkan pedangmu sebagai pengganti nyawamu. Lulu berteriak kaget dan mandang pedangnya yang tinggal sepotong. Ketika menangkis tadi, pedang rampasannya bertemu dengan pedang Kong Seng-cu yang bersinar kehijauan, dan sekali beradu pedang rampasannya buntung. Maka ia menjadi tertarik sekali dan wajah serta matanya berseri memandang pedang kehijauan yang dipegang Kong Seng-cu. Dapat dibayangkan betapa marah dan mendongkol hati Kong Seng-cu mendengar ucapan gadis itu. Sudah terang bahwa sekali serang saja, biarpun gadis itu berhasil menangkisnya, namun pedang gadis itu menjadi buntung sehingga hal ini dapat dipakai ukuran bahwa dia sudah menang dalam satu gebrakan. Namun gadis itu masih mengeluarkan ucapan untuk menukar pedangnya dengan nyawa. Seolah-olah gadis itu baru mau mengampuninya kalau dia sudah memberi "thiap" (sogokan) kepada gadis Mancu itu berupa pedangnya. Padahal pedangnya itu bukanlah sembarang pedang. ltulah pedang Cheng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau), sebuah pusaka Hoa-san-pai"

Cheng-kong-kiam ini dahulu amat terkenal didunia kang-ouw sebagai senjata ampuh dari para pimpinan Hoa-san-pai dan kini berada di tangan Kong Seng-cu karena dia merupakan seorang diantara pemimpin Hoa-san-pai dan di antara ketiga orang tosu itu, dialah yang paling pandai dalam kiam-sut (ilmu pedang) Hoa-san-pai.

Dan sekarang, pedang itu diminta oleh Lulu sebagai barang "sogokan".

Sung-guh keterlaluan sekali"

"Perempuan Mancu keparat, engkau tak patut dibiarkan hidup."

Kong Seng-cu yang sudah memuncak kemarahannya itu kini menerjang maju dengan ganas, mengeluarkan jurus-jurus maut dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut.

"Ayaaaaa.., Tosu Codet selain galak juga ganas sekali."

Mulut Lulu berkata demikian, akan tetapi sesungguhnya dia tidak berpura-pura dan menjadi kaget sekali.

Kasihan dara remaja ini.

Biarpun dia telah mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dan aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia kurang pengalaman dan selamanya dia hanya berlatih dalam pertandingan pura-pura melawan beruang es.

Kini dia diserang oleh seorang tosu Hoa-san-pai tingkat empat yang memegang sebatang pedang pusaka Hoa-san-pai pula, yang sudah menjadi ahli pedang sebelum dia terlahir.

Tentu saja dia terkejut dan kewalahan.

Baiknya, selama di Pulau Es, gadis ini telah berlatih secara aneh dan hebat sehingga dia memiliki sinkang dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa sehingga biarpun terdesak ia, selalu dapat bergerak cepat, menghindar diri dengan meloncat ke sana kemari, mengelak terus karena tidak berani menangkis dengan pedangnya yang tinggi sepotong.

"Sing-sing-sing.. siuuuuutttt.. aihhh...."

Untuk ke sekian kalinya,.

hampir saja ujung pedang bersinar hijau itu mencium kulit leher Lulu yang putih halus sehingga gadis itu membelalakkan matanya dan untung ia masih dapat cepat sekali menarik tubuh ke belakang lalu meloncat keatas dan berjungkir-balik empat meter disebelah belakangnya.

Namun Kong Seng-cu yang sudah marah dan penasaran itu menerjang terus tanpa mengenal kasihan.

Kong Seng-cu tidak malu menyerang dengan pedangnya karena tadi Lulu juga memegang pedang, bahkan biarpun sekarang pedang gadis itu tinggal sepotong, namun masih terus dipegangnya sehingga gadis itu dapat dikatakan "bersenjata"

Dan dia tidak akan disebut menyerang seorang yang bertangan kosong dengan senjatanya.

Berbeda dengan Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu.

Mereka berdua setelah menyaksikan betapa Kong Seng-cu sudah turun tangan terhadap gadis Mancu yang telah merobohkan para anak buah Pek-eng-piauwkiok, lalu melangkah maju menghampiri Han Han pula.

Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat juga, maka mereka pun tidak malu-malu untuk turun tangan berdua, sungguhpun mereka masih merasa sungkan menggunakan senjata.

Mereka percaya bahwa andaikata seorang diri masih diragukan untuk dapat menundukkan pemuda liar itu, berdua tentu akan dapat menawannya untuk diseret kedepan ketua Hoa-san-pai.

Dengan demi-kian, barulah nama besar dan wibawa Hoa-san-pai tidak akan tercemar karena tewas dan robohnya beberapa orang anak murid Hoa-san-pai di tangan bocah ini.

"Pemuda iblis, menyerahlah."

Lok Seng-cu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pundak Han Han.

Pemuda ini sudah menjadi marah, apalagi melihat betapa Lulu diserang dengan pedang oleh Kong Seng-cu.

Kini menghadapi cengkeraman tangan Lok Seng-cu, ia sama sekali tidak mengelak, bahkan menggerakkan tangan pula menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan lengan kiri.

"Plakkkkk ....."

"Ayaaaaa......"

Tubuh Lok Seng-cu terpelanting dan hampir saja tosu ini roboh kalau saja dia tidak cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik, wajahnya pucat dan lengan kirinya agak membiru.

Hawa dingin seperti es menusuk nusuk lengannya itu.

Dia sudah mendengar akan kelihaian Ma-bin Lo-mo yang kabarnya memiliki ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Es) yang mengandung Im-kang yang amat kuat.

Akan tetapi sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa murid datuk hitam itu rnemiliki sinkang sekuat ini.

Cepat Lok Seng-cu menghimpun tenaga dalamnya dan segera rasa dingin rne-nusuk-nusuk itu lenyap kernbali.

Melihat sutenya hampir roboh dalam segebrakan, Bhok Seng-cu terkejut bukan main dan cepat ia pun menubruk maju dari sebelah kanan pemuda itu dan mengirim dorongan dengan telapak tangan-nya ke arah dada Han Han.

Dorongan ini .bukan sembarang dorongan, melainkan pukulan sakti yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang kuat sekali.

Han-Han dapat merasai sambaran angin dahsyat yang panas, maka ia pun segera membuka tangan kanan dan memapaki telapak tangan kakek itu yang mendorong-nya.

"Plak..."

Dua telapak tangan yang mengandung hawa Yang-kang bertemudan melekat"

Bhok Seng-cu kembali tertegun dan cepat-cepat mengerahkan sinkangnya untuk memperkuat Yang-kang yang mendorong keluar dari telapak tangannya.

Pemuda ini menggunakan Yang-.kang yang amat panas.

Hal ini benar-benar mengagetkan Bhok Seng-cu karena hawa panas yang menyambut telapak tangannya itu hampir tak tertahankan olehnya.

Melihat betapa suhengnya telah turun tangan akan tetapi belum mampu merobohkan pemuda itu, Lok Seng-cu menjadi penasaran dan ia pun menerjang maju dan kini ia memukul dengan mengerahkan hawa Im-kang.

Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi Hoa-san-pai, tiga orang tosu ini tentu saja telah kuat sekali sinkangnya sehingga mereka pun menguasai tenaga Yang-kang maupun Im-kang.

Lok Seng-cu yang sudah merasai betapa pemuda itu tadi menerima cengkeramannya dengan tangkisan yang mengandung hawa sakti dingin, kini me-nyerang pula dengan Im-kang karena ia maklum pula melihat jurus yang dipergunakan suhengnya bahwa Bhok Seng-cu menyerang pemuda itu dengan Yang-kang dan bahwa pemuda itu menyambut dorongan suhengnya dengan hawa sakti panas pula.

Kesempatan bagus pikirnya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kiri pemuda itu menerima telapak tangannya dengan sinkang yang berhawa dingin pula.

Betapa mungkin ini?

Dengan tangan kanannya pemuda itu melawan hawa panas Bhok Seng-cu dengan hawa panas pula, Dan dengan tangan kirinya menghadapi Lok Seng-cu dengan sinkang yang berlawanan, yaitu dengan hawa dingin.

Lok Seng-cu juga merasa betapa hawa dingin yang keluar dari telapak.

tangan pemuda itu amat luar biasa dan hampir ia tidak kuat menahannya.

Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan.

Adapun Bhok Seng-cu yang sudah berkeringat dahinya karena hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, juga mengerahkan tenaga dengan mata setengah dipejamkan untuk melawan sinkang pemuda itu yang benar-benar amat luarbiasa.

Tiga orang ini, dengan telapak tangan beradu, hanya berdiri tak bergerak, telapak tangan mereka saling melekat.

Melihat ini, Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menjadi bengong saking heran dan kagumnya.

Han Han seorang diri mampu menahan pukulan-pukulan sakti kedua orang supek mereka.

Mereka sudah menduga bahwa Han Han adalah seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi sungguh jauh melampaui batas dugaan mereka bahwa pemuda itu mampu menahan serangan hawa sakti kedua orang kakek itu, dan bahkan Han Han masih dapat menengok dan memperhatikan keadaan Lulu yang terdesak hebat oleh pedang Kong Seng cu yang lihai.

Dua orang muda ini menjadi makin gelisah dan bingung.

Melihat anak buah Pek-eng-piauwkiok terluka semua termasuk Tan-piauwsu dan tiga orang sutenya sehingga ruangan itu penuh dengan mereka yang rebah dan merintih-rintih, kini melihat betapa Lulu terancam maut di ujung pedang Kong Seng-cu, dan melihat Han han juga bergulat dengan maut, mereka menjadi bingung tak tahu harus berbuat apa.

Betapapun juga, Han Han dan Lulu jelas merupakan musuh atau lawan pihak Ho-san-pai, sehingga menurut patut, sebagai murid-murid Hoa-san-pai pula, mereka semestinya membantu para supek mereka.

Kalau mereka yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tiga orang tosu itu, bahkan dalam hal ilmu silat mungkin mereka lebih lihai, pada saat itu turun tangan membantu, tentu Han Han dan lulu takkan dapat bertahan lebih lama lagi.

Namun hati mereka tidak mengijin kan mereka turun tangan dan karena itu,mereka hanya memandang dengan muka pucat.

Apalagi Sin Kiat yang jatuh cinta kepada lulu, menjadi bingung sekali hatinya ingin sekali membantu lulu membebaskan gadis itu dari desakan berbahaya pedang Kong Seng-cu, namun bagaimana mungkin ia melawan supeknya sendiri?

Sementara itu, Han Han memandang ke arah adiknya dengan hati penuh kekhawatiran.

Ia maklum bahwa menghadapi ilmu pedang tosu itu, adiknya takkan mampu mempertahankan diri lebih lama lagi.

Jangankan lulu, dia sendiri pun kalau harus bertanding mempergunakan atau mengandalkan ilmu silat, bukanlah tandingan tosu-tosu Hoa-san-pai ini.

Han Han maklum bahwa menghadapi mereka, ia hanya dapat mengandalkan kekuatan sinkangnya, karena dalam hal ilmu silat, dia tidak lebih pandai daripada Lulu kalau tidak mau dikatakan bahkan lebih rendah lagi karena Lulu telah mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan pemilik Pulau Es.

Untuk menolong adiknya, ia harus cepat menundukkan dua orang kakek ini.

"Aiiiggghhhhh...."

Seruan dahsyat ini keluar dari dada Han Han dan kedua orang tosu yang mempertahankan desakan sinkangnya menjadi kaget seperti disambar petir ketika tiba-tiba mereka merasakan perubahan pada kedua lengan pemuda itu.

Bhok Seng-cu yang tadinya menghadapi hawa Yang-kang panas dari tangan Han Han, tiba-tiba merasa betapa telapak tangan pemuda itu berubah menjadi dingin sekali, terlalu dingin sehingga seluruh lengannya seperti ditusuk-tusuk jarum.

Di lain pihak, Lok Seng-cu yang tadinya menghadapi Im-kang dingin, tiba-tiba merasa betapa tangan pemuda itu berubah menjadi panas luar biasa.

Cepat kedua orang tosu itu pun mengubah sin-kang mereka untuk menyesuaikan diri, akan tetapi kembali Han Han menukar sinkangnya secara tiba-tiba.

Dua orangtosu itu hampir tidak dapat percaya ke pada perasaan tangannya sendiri.

Selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan hal seperti ini.

Betapa mungkin mengubah-ubah sinkang secara mendadak seperti itu?

Karena perubahan-perubahan ini, mereka menjadi kacau dan tak kuat bertahan lagi, sehingga ketika Han Han mengerahkan tenaga mendorong tubuh mereka mencelat ke belakang dan mereka roboh terbanting dengan napas megap-megap hampir putus karena dada mereka terluka oleh sinkang mereka yang.membalik secara tiba-tiba.

Cepat mereka bersila dan memejamkan mata untuk menolong nyawa mereka yang terancam maut.

Han Han sudah meloncat ke dekat adiknya dan sekali kedua tangannya mendorong ke depan, Kong Seng-cu tak dapat bertahan.

Tosu ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi dingin, seolah-olah darah di tubuhnya membeku.

Ia menggigil dan tanpa dapat ia cegah lagi, pedang pusaka Cheng-kong-kiam terlepas dari tangannya yang menjadi kaku.

Lulu cepat menyambar pedang itu dan tertawa tawa girang sekali, tidak mempedulikan lagi Kong Seng-cu yang sudah cepat duduk bersila, seperti kedua orang saudara seperguruannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menolong nyawanya yang terancam maut.

Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya rintihan beberapa orang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang tak dapat menahan nyeri.

Namun, tak seorang pun tewas dalam pertempuran aneh yang hanya memakan waktu sebentar saja itu.

Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li terlampau terheran-heran sehingga mereka itu masih bengong.

Han Han menggandeng tangan Lulu yang masih mengagumi pedang rampasannya, kemudian Han Han menoleh kepada dua orang murid Im-yang Seng-cu sambil berkata.

"Sin Kiat dan Adik Soan Li, selamat tinggal. Kami berdua harus pergi sekarang juga"

Lulu juga menoleh kepada dua orang muda itu, tersenyum manis dan mengedipkan matanya yang lebar kepada Sin Kiat sambil berkata.

"Selamat berpisah dan sampai jumpa lagi, ya?"

Hati Sin Kiat terasa sakit dan ia bersedih harus berpisah dari gadis yang telah merampas hatinya itu, akan tetapi pada saat seperti itu dia tidak dapat berkata apa-apa, apalagi menahannya, bahkan ia maklum.

bahwa paling baik kedua orang itu cepat pergi dari tempat itu.

Juga Soan Li hanya dapat memandang punggung Han Han yang bidang sampai bayangan kedua orang itu lenyap dari situ, keluar dari piauwkiok melalui pintu gerbang yang sudah tidak terjaga lagi.

Sin Kiat memandang ke arah tiga orang supeknya yang masih duduk bersila dengan wajah pucat akan tetapi napas mereka tidak begitu sesak lagi, kemudian memandang kepada para suhengnya yang terluka.

Hatinya berduka sekali.

la segera menghampiri Bhok Seng-cu dan berkata dengan suara terharu.

"Supek, sungguh teecu merasa menyesal sekali telah terjadi malapetaka ini."

"Teecu mohon maaf tidak dapat membantu Supek,"

Kata pula Soan Li.

"Dia terlalu hebat, seperti dewa....andaikata teecu berdua melawan pun tidak akan ada gunanya..."

Kata pula Sin Kiat, masih kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Han Han tadi.

Bhok Seng-cu membuka matanya memandang kepada Sin Kiat dan Soan Li.

Dua orang muda ini terkejut dan otomatis melangkah mundur melihat betapa sinar mata Bhok Seng-cu penuh dengan api kemarahan.

"Manusia-manusia khianat! Murid-murid murtad, Pergilah. Mulai detik ini kalian bukanlah murid, melainkan musuh Hoa-san-pai."

"Supek.."

"Pinto bukan Supek kalian, keparat, pergi."

Bentak pula Bhok Seng-cu.

Sin Kiat dan Soan Li saling pandang Di mata gadis itu tampak dua butir air mata yang ditahannya agar tidak runtuh Sin Kiat menghela napas panjang, bangkit berdiri karena tadi mereka berlutut, lalu berkata lirih kepada Soan lie.

"Marilah kita pergi, Sumoi. Kelak Suhu tentu akan dapat mengerti keadaan kita..."

Soan li juga bangkit berdiri dan pergilah kedua orang muda itu meninggalkan rumah piauwkiok itu pergi dengan hati perih karena sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang sudah membuat nama besar dan mengharumkan nama Hoa-san-pai, kini mereka diusir pergi dan tidak diaku sebagai murid.

Padahal julukan mereka pun memakai nama Hoa-san.

Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan atau partai silat yang bukan saja paling tua.

Banyak orang mengatakan bahwa Siauw-lim-pai merupakan sumber dari semua partai persilatan yang kemudian timbul, dan sudah tentu saja ilmu silat yang keluar itu bercampur baur dengan gerakan-gerakan dari lain golongan dan suku bangsa sehingga ratusan tahun kemudian, ilmu silat dari partai lain sudah tak dapat dibedakan lagi dengan sumbernya.

Tentu saja amat berbeda dalam lagak ragam dan kembangannya saja karena kalau dilihat lebih mendalam pada dasarnya memang tiada perbedaan dalam ilmu silat yang hanya terdiri dari dua pokok, yaitu menjaga diri serapat mungkin dan menyerang lawan setepat mungkin.Semenjak pertama kali didirikan oleh tokoh besar dalam dunia persilatan maupun Agama Buddha, yaitu Tat Mo Couw-su, Siauw-lim-pai selalu berada di bawah bimbingan para hwesio sehingga di mana-mana didirikan kuil Siauw-lim atau Siauw-lim-si.

Sesuai dengan alam fikiran manusia yang selalu berubah ubah, di dalam Siauw-lim-pai sering kali terjadi perubahan yang tentu saja ditentukan oleh pimpinan setempat dan terdorong oleh keadaan pula.

Perubahan peraturan yang kadang-kadang amat menyolok.

Pernah terdapat peraturan dalam kuil Siauw-lim-si yang mengeluarkan pantangan bagi seluruh murid untuk berdekatan dengan wanita"

Bahkan ada larangan keras bagi tamu-tamu wanita yang datang bersembahyang ke kuil untuk melangkah melewati pintu tengah yang sudah dijadikan garis demarkasi.

Mungkin peraturan ini dikeiuarkan untuk memperkuat batin para murid yang sedang digembleng agar jangan sampai ternoda oleh nafsu berahi karena sesungguhnya, t Terutama bagi mereka yang sedang melatih sinkang, hubungan dengan wanita merupakan pantangan dan penghalang besar sekali bagi penghimpunan tenaga murni.

Akan tetapi, peraturan yang kelihatan seolah-olah "anti wanita"

Ini pun tidak dapat dipertahankan dan kembali terjadi perubahan di mana para tokoh Siauw-lim-pai ada yang mulai menerima murid-murid wanita.

Hal ini terutama sekali terjadi atas kesadaran para tokoh Siauw-lim-pai bahwa dalam keadaan negara kacau, pihak wanitalah yang sering kali mengalami penghinaan dan kekejian-kekejian karena pihak wanita termasuk golongan lemah.

Maka,dalam keadaan negara kacau dan kejahatan merajalela, perlu sekali wanita diharuskan menjadi nikouw (pendeta), sekarang murid murid itu, baik pria maupun wanita tidak diharuskan mencukur rambut menjadi pendeta, Akan tetapi tentu saja mereka ini sekaligus menjadi pula murid murid agama Budha.

Hal ini adalah penyebarluasan agama mereka melalui perguruan silat.

Demikianlah, peraturan bebas kewajiban menjadi pendeta ini sudah berjalan seratus tahun lebih, jauh sebelum bangsa Mancu menyerbu pedalaman dan menjajah dengan mendirikan Kerajaan Ceng sehingga di dalam Siaw-lim-pai terdapat tokoh-tokoh bukan pendeta seperti Kang-lam Sang-eng, dan bahkan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai sendiri, murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu Siauw-lim Chit-kiam, terdiri dari hanya dua orang hwesio dan lima orang bukan hwesio.

Pada masa itu, anak murid Si-auw-lim-pai tersebar luas di kalangan rakyat jelata, ada yang menjadi petani,nelayan, piauwsu, kauwsu (guru silat) dan banyak pula yang menjadi pendekar-pendekar perantau.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah guru Siauw-lim Chit-kiam berjuluk Ceng San Hwesio.

Hwesio ini usianya kurang lebih delapan puluh tahun, bertubuh tegap agak kurus, berwajah keren dan penuh wibawa.

Seperi halnya Hoa-san-pai dan banyak perkumpulan silat lainnya, diam-diam Siauw-lim-pai juga menentang bangsa Mancu yang datang menjajah.

Sunguhpun tidak secara terang-terangan, namun banyak para pendekar Siauw-lim-pai membantu perjuangan para patriot yang berusaha menentang dan mengusir penjajah yang.makin lama makin kuat itu.

Apalagi karena Ceng San Hwesio sendiri adalah seorang yang anti penjajahan, sehingga sejak penjajahan Mancu, lenyaplah sebagian besar kesabarannya sebagai seorang hwesio dan semangat patriotnya timbul, mengeraskan hatinya dan mengeraskan wajahnya.

Di dalam setiap pertemuan dengan murid-muridnya, dia selalu memberi wejangan agar para anak murid Siauw-lim-pai melakukan segala usaha untuk menentang bangsa Mancu kalau perlu dengan taruhan nyawa.

Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja Ceng San Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali.

Dia seorang ahli lweekeh yang sudah matang sehingga benda apa pun juga yang berada di tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh.

Akan tetapi Ceng San Hwesio tidak pernah mempergunakan senjata, tidak mau mempergunakan tongkat hwesio sebagai senjata seperti kebiasaan para ketua lainnya, melainkan lebih suka mengandalkan tasbih putih yang terbuat dari pada biji jagung jali yang besar-besar.

Seperti telah disinggung; di bagian de beberapa kali telah terjadi bentrokan-bentrokan antara anak murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai.

Akan tetapi bentrokan-bentrokan ini hanya terjadi karena urusan pribadi dan berkat kebijaksanaan para pimpinan kedua pihak, bentrokan antara kedua partai yang sama-sama menjadi pembantu-pembantu para pejuang itu dapat diredakan, bahkan diantara para pimpinan telah menghukum murid masing-masing dan saling minta maaf sehingga urusan dianggap telah selesai.

Ceng San Hwesio yang memegang keras peraturan, berdisiplin terhadap murid-muridnya, selain memberi hukuman kepada murid-murid yang menimbulkan.bentrokan juga mengeluarkan ancaman bahwa siapa yang membuat gara-gara keributan dan menimbulkan bentrokan baru dengan pihak Hoa-san-pai, akan dihukum berat.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian ketika hwesio penjaga pintu membuka pintu gerbang Siauw-lim-si dan siap untuk menyapu pekarangan, Dia melihat tubuh tiga orang menggeletak di depan pintu.

Ketika diperiksa, hwesio ini kaget sekali mendapat kenyataan bahwa mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang membuka toko obat di kota Seng-kwan.

Segera ia berseru minta tolong dan beberapa orang hwesio mengangkat tiga batang tubuh itu ke dalam.

Dua di antaranya sudah tewas, sedangkan seorang diantara mereka masih hidup akan tetapi sudah empis-empis napasnya dan keadaannya payah sekali.

Kebetulan sekali pada waktu itu, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam berada di kuil itu.

Mereka ini adalah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam.

Ketika mendengar ribut-ribut, dua orang pendekar pedang Siauw-jim yang sedang menghadap suhu mereka, segera keluar untuk melihat mewakili Ceng San Hwesio.

Mereka berdua kaget sekali dan cepat memeriksa.

Tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu terluka oleh pedang yang menggorok leher mereka.

Yang dua orang hampir putus lehernya dan telah mati, sedangkan yang masih hidup terluka parah, tak dapat diharapkan lagi dapat tertolong.

Liong Ki Tek yang bersikap tenang, cepat menotok beberapa jalan darah dipundak clan punggung orang yang terluka hebat itu sehingga rasa nyeri tidaklah terlalu hebat lagi.

Begitu rasa nyeri mereda, orang yang sekarat itu mengeluarkan suara yang tidak jelas, berbisik dan seperti mengorok tertahan di kerongkongannya.

Akan tetapi Liong Ki Tek dan Liok Si Bhok sudah dapat mendenga rapa yang dimaksudkan anak murid yang sekarat itu.

"....Hoa-san-pai...Tee-kong-bio..."

Setelah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas itu, anak murid Siauw-lim-pai itu pun menghembuskan napas terakhir menyusul kedua orang saudaranya yang tewas lebih dulu.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek lalu menghadap guru mereka untuk merundingkan peristiwa menyedihkan itu.

Ceng San Hwesio yang biasanya bersikap tenang saat itu menjadi merah mukanya dan jelas sekali bahwa hwesio tua ini diserang nafsu kemarahan yang besar.

"Kalian pergilah, carilah mereka di Tee-kong-bio, akan tetapi jangan bunuh tangkap mereka dan seret ke sini. Pinceng menghendaki agar dia menjadi tawanan kita sehingga ada pimpinan Hoa-san-pai yang datang untuk mendengarkan kekejaman-kekejaman anak murid mereka. Sungguh keji sekali."

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek segera berangkat meninggalkan kuil Siauw lim-si untuk mencari Tee-kong-bio (Kuil Dewa Bumi) yang terletak di luar dusun Ciu-si-bun.

Kuil ini sebenarnya hanyalah bekas kuil, karena sudah tidak dipakai lagi tidak dipergunakan sebagai kuil.

Letaknya pun di luar kota, di pinggir jalan sebuah hutan dan karena tidak ada yang merawatnya, maka menjadi kotor dan rusak.

Akan tetapi, perlengkapan kuil itu masih ada, seperti meja-meja sembahyang yang reyot, arca-arca dan ukiran-ukiran di dinding yang sudah berlumut.Tidak ada yang berani mengambil benda-benda di situ atau mengganggunya karena menurut desas-desus di dusun-dusun sekeliling tempat itu, Tee-kong-bio sekarang dihuni oleh mahluk-mahluk halus atau iblis-iblis sehingga tempat itu menjadi angker.

Karena keadaan kuil yang dianggap angker inilah maka ketika Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek keluar dari dusun Ciu-si-bun menuju ke kuil itu, keadaan disekeliling tempat itu sunyi seperti kuburan.

Waktu itu sudah menjelang senja, dan sungguhpun cuaca belum gelap, namun tidak ada penduduk dusun yang berani berada di daerah angker ini.

Kesunyian itu amat terasa oleh dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini dan mereka berjalan terus dengan tenang dan penuh kewaspadaan.

"Liong-sute, aku masih ragu-ragu akan kebenaran ucapan murid yang sudah dalam sekarat itu. Mereka adalah pedagang pedagang obat di kota, bagaimanama mereka bisa menyebut nama Hoa-san-pai di Tee-kong-bio?"

"Entahlah, Liok-suheng. Aku sendiripun ragu-ragu. Akan tetapi, agaknya tidak sembarangan dia mengatakan itu tentu ada hubungannya. Aku yakin terdapat rahasia dalam peristiwa itu dan rahasianya terletak di kuil depan itu."

Liok Si Bhok yang sudah berusia enampuluh tahun lebih itu mengangguk-angguk.

Dia merupakan tokoh ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam, seorang yang bertubuh pendek gemuk namun tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit sekali, Wajahnya bundar dan selalu kelihatan serius, namun mulutnya hampir tersenyum selalu menandakan bahwa dalam keseriusannya itu sebetulnya dia adalah seorang yang peramah.

Adapun Liong Ki Tek, orang ketujuh atau yang termuda dari Siauw-lim Chit-kiam, usianya kurang lebih limapuluh lima tahun, berbeda dengan suheng ke enam itu, tubuhnya tinggi kurus sehingga tinggi suhengnya hanya sampai dipundaknya.

Sikap orang termuda.

Dari Tujuh Pedang Siauw-lim-pai ini amat tenang sehingga kelihatan lamban, akan tetapi biji matanya yang bergerak-gerak terus itu menandakan bahwa biarpun tenang ia sarna sekali tidak lamban melainkan terus waspada dan setiap urat syaraf di tubuhnya sudah siap.

Ketika kedua orang tokoh Siauw-lim-paj ini memasuki pekarangan kuil Tee-kong-bio yang sunyi, tiba-tiba mereka mendengar kepak sayap burung.

Dengan kaget mereka mengangkat muka memandang.

Kiranya ada tiga ekor burung gagak terbang dari atas genteng kuil itu, agaknya terkejut oleh kedatangan mereka.

Melihat ini, kedua orang itu saling pandang dan menjadi agak kecewa.

Terbangnya tiga ekor burung itu dapat diartikan bahwa di kuil itu tidak ada orangnya tentu burung yang ketakutan melihat mereka datang itu tidak akan berani tinggal di situ.

Akan tetapi mereka melangkah maju terus, melewati pekarangan yang lebar dan yang tertutup rumput agak tinggi itu, sampai di anak tangga yang cukup tinggi, ada dua puluh anak tangga banyaknya sehingga ruangan depan kuil itu tingginya hampir dua meter dari tanah dipekarangan.

Biarpun mulut kedua orang kakek ini tidak mengeluarkan suara, namun keduanya seperti te"ah bersepakat dan melangkahlah mereka menaiki anak tangga dengan langkah ringan dan sikap tenang.

Begitu mereka melangkahi anak tangga terakhir dan tiba di ruangan depan, terdengar suara bercicit keras daan keduanya siap untuk menghadapi serangan senjata rahasia ketika pandang mata mereka yang tajam dapat menangkap meluncurnya dua buah Benda hitam dari sebelah dalam kuil.

Akan tetapi sebelum benda itu menyerang mereka, benda benda itu menyambar ke atas dan mengeluarkan bunyi bercicit, dan ternyata dua buah benda hitam itu adalah dua ekor kelelawar besar.

Li-ok Si Bhok dan Liong Ki Tek saling pandang, tersenyum dan menghela napas panjang.

Mereka tadi sudah merasa agak tegang, dan kini ternyata mereka kecelik.

Bahkan keluarnya dua ekor kelelawar dari sebelah dalam kuil ini lebih meyakinkan dugaan mereka bahwa kuil itu kosong karena kalau memang ada orangnya, tentu dua ekor kelelawar itu sudah sejak tadi terbang pergi, tidak menanti kedatangan mereka yang mengejutkan binatang itu.

"Ah.. Chit-te (Adik ke Tujuh), tempat ini tidak ada orangnya...."

Kata Liok Si Bhok, kecewa.

"Sebaiknya kita menyelidiki keadaan di dalam Liok-heng (Kakak ke Enam),"

Jawab Liong Ki Tek.

Karena hubungan diantara Siauw-lim Chit-kiam amat erat sehingga mereka itu bukan hanya merupakan kakak beradik seperguruan melainkan merasa seperti kakak beradik sekandung kadan-kadang mereka menyebut kakak dan adik.

Mereka maju terus akan tetapi karena hati mereka merasa makin yakin bahwa kuil itu kosong, mereka tidaklah menjadi tegang lagi, bahkan ada sebagian atapnya yang runtuh.

Arca-arca yang tidak terawat di situ bahkan kelihatan makin menyeramkan.

Mereka melangkah maju terus, meneliti setiap ruangan yang mereka lalui.

Tiba-tiba keduanya menghentikan langkah karena pada saat yang sama kedua orang gagah perkasa ini mencium bau yang amat harum.

Bau minyak harum yang biasa dipakai wanita.

Mereka mengerutkan kening.

Seperti para suheng mereka, baik yang menjadi hwesio seperti Lui Kong Hwesio dan Lui Pek Hwesio orang ke dua dan ke lima dari Siauw-lim Chit-kiam, kedua orang ini.

Pun merupakan murid-murid angkatan lama sehingga mereka pemah mengalami pelajaran pantangan mendekati wanita.

Bahkan mereka itu, seperti suheng-suheng mereka, tidak pernah kawin.

Maka, begitu mencium bau harum minyak wangi yang menandakan bahwa di situ ada wanitanya, mereka mengerutkan kening.

Bukan hanya karena mereka segan berurusan dengan wanita, melainkan juga mereka terkejut menghadapi kenyataan ini.

Kalau di situ ada orangnya, apalagi wanita, hal ini berarti bahwa wanita atau siapa adanya orang yang memakai wangi-wangian itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Sedemikian halus dan ringan tentu gerakan-gerakannya sehingga kelelawar dan burung gagak yang berada di kuil itu sampai tidak tahu dan tidak menjadi kaget.

"Sahabat-sahabat Hoa-san-pai, silakan keluar. Kami dua orang utusan Siauw-lim-pai ingin bertemu dan bicara."

Liok Si Bhok berseru sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya bergema diseluruh kuil, bahkan menggetarkan sarang laba-laba yang banyak terdapat di sudut-sudut ruangan itu.

Mereka berdiri ditengah-tengah sebuah ruangan lebar dimana terdapat empat buah pintu, menjurus ke empat penjuru.

Daun-daun pintunya tertutup, hanya sebuah yang menuju keluar terbuka karena mereka yang membukanya tadi ketika masuk dari luar.

Hati mereka makin yakin bahwa kuil ini ada penghuninya ketika melihat bahwa berbeda dengan ruangan-ruangan lain dibagian depan, ruangan yang paling lebar dan berada di bagian belakang kuil ini lantainya bersih seolaholah sering disapu Gema suara Liok Si Bhok mengaung menyeramkan, kemudian sunyi kembali.

Selagi dua orang tokoh Siauw-lim-pai jtu meragu apakah benar-benar ada penghuninya kuil itu, terdengar suara tertawa merdu, suara ketawa wanita yang halus dan bernada genit, seperti suara ketawa kuntilanak yang menyeramkan.

Biarpun dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut, namun suasana di kuil itu dan suara ketawa ini membuat bulu tengkuk mereka meremang.

Namun mereka dapa segera menindas perasaan ngeri ini dan Liong Ki Tek lalu membentak.

"Manusia atau siluman, kami orang keenam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tidak merasa takut."

"Hi-hi-hi-hik, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek mengantar kematiannya, masih bermulut besar."

Perlahan-lahan tiga buah daun pintu terbuka dari luar dan masuklah tiga orang dari tiga buah pintu itu.

Dari pintu belakang masuk seorang wanita yang usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan cantik sekali, berpakaian mewah dan bersikap genit, terutama sekali matanya yang penuh dengan sinar nafsu berahi.

Akan tetapi yang.

amat mengerikan adalah kedua buah tangannya.

Tangan yang kecil berjari runcing halus bagus sekali, hanya warnanya merah seolah-olah kedua tangan itu berlumur darah.

Dari pintu kiri muncul seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti dipulas arang, usianya mendekati enam puluh tahun namun masih jelas tampak bahwa dia kuat sekali dan bertenaga besar.

Kesombongan bersinar dari sepasang matanya yang bulat dan lebar.

Adapun dari pintu kanan muncul seorang kakek yang usianya sebaya akan tetapi dalam segala hal merupakan lawan merupakan lawan kakek muka hitam karena kakek ini tubuhnya pendek kecil mukanya putih seperti dibedaki, keliahatannya lemah tak bertenaga dan pandang matanya seperti orang mengatuk, matanya sipit.

Liok Si Bhok dan Liok Ki Tek adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman di dunia kang-ouw, bahkan sudah mengenal tokoh-tokoh besar.

Maka begitu melihat tiga, orang ini, jantung mereka berdebar keras karena mereka mengenal mereka itu sebagai tokoh-tokoh sakti dari golongan sesat.

Wanita cantik genit itu bukan lain adalah Ma Su Nio yang terkenal dengan julukan Hiat-ciang Sian-Ii (Dewi Bertangan Darah), seorang tokoh sakti yang cabul genit dan kejamnya seperti iblis betina.

Adapun kakek bermuka hitam yang tinggi besar itu adalah Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), sedangkan kakek bermuka putih adalah Pek-giam-ong (Raja Maut Putih).

Mereka berdua adalah kakak beradik.dan terkenaldengan sebutan Hek-pek Giam-ong yang selalu muncul berdua dan setiap kali turun tangan tentu berdua sehingga merupakan lawan yang amat tangguh.

Tiga orang ini adalah murid-murid dan juga pembantu-pembantu Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, seorang di antara datuk-datuk golongan hitam atau kaum sesat.

Akan tetapi, dari tiga orang yang muncul ini tidak ada tercium bau harum tadi.

Memang Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ada juga membawa bau wangi, akan tetapi berbeda dengan keharuman tadi, Bahkan di antara bau wangi, yang datang dari tubuh Dewi Tangan Darah ini tercium bau amis darah.

Adapun Hek-pek Giam-ong sama sekali tidak membawa bau harum, kalau ada membawa bau, paling-paling juga bau apek karena pakaian berkeringat yang tak pernah dicuci.

Setelah kini semua pintu yang menembus ruangan itu terbuka, bau harum itu makin keras dan ternyata datangnya dari atas.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek cepat memandang ke atas dan..jauh di atas balok melintang tampak duduk dua orang muda, seorang gadis cantik dan yang seorang lagi pemuda yang tampan.

Gadis itu cantik sekali, tubuhnya ramping padat hidungnya mancung dagunya runcing dan sepasang mataya seperti mata burung hong jantan.

Rambutnya yang hitam panjang itu hanya diikat dengan (Lanjut ke

Jilid 15) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 sutera di belakang tengkuk, dibiarkan melambai ke punggung.

Kepalanya ditutup atau lebih pantas dihias sebuah topi buIu putih yang kecil, dengan sebatang buIu burung menjadi penghias.Kedua telinganya digantungi sepasang anting-anting emas dan kedua lengannya bergelang emas pula.

Gadis yang usianya sukar ditaksir, kurang lebih dua puluhtahun ini, tersenyum-senyum dan agaknya bau wangi yang sedap harum itu keluar dari tubuh dan pakaiannya.

Di sebelah kirinya duduk pula di atas balok itu, seperti si gadis, dengan kedua kaki ongkang-ongkang, seorang pemuda tampan dan gagah, Usianya sebaya dengan gadis itu.

Pemuda ini tubuhnya tinggi tegap wajahnya ganteng dan pakaiannya amat indah, dari sutera disulam menyaingi keindahan pakaian gadis itu.

Wajahnya yang tampan itu terawat baik, berklulit putih halus dan rambut nya pun tersisir rapi dan halus kelimis.

Sayang bahwa wajah yang tampan itu memiliki hidung yang agak besar terlalu besar dan melengkung, dengan sepasang mata yang mengandung sinar tajam, bengis dan kejam.

Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main.

Mereka tidak mengenal dua orang muda itu, akan tetapi kenyataan bahwa mereka itu dapat berada di situ sejak tadi tanpa mereka ketahui bahkan tanpa diketahui kelelawar dan burung yang hanya terbang setelah mereka berdua datang, membuktikan bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan.

Akan tetapi karena tidak tahu siapa adanya kedua orang muda itu, dan tidak tahu pula apa hubungannya mereka dengan tiga orang murid Kang-thouw-kwi ini, dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu hanya menggunakan seluruh perhatian untuk menghadapi Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-Ii.

"Hemmm, kirananya Hiat-cian Sian-Ii dan Hek-pek Giam-ong yang berada didalam kuil ini. Sungguh tidak kami sangka. Akan tetapi karena ternyata Sam wi yang berada di sini, kiranya Sam-wi dapat memberi keterangan kepada kami tentang tiga orang anak murid Siauw-lim-pai yang terluka parah.."

Tiga orang murid Setan Botak itu kelihatan terkejut clan mereka memandang ke atas dengan sikap tenang.

"Kongcu (Tuan Muda), bagaimana mereka ini bisa tahu...?"

Kata Hiat-ciang Sian-lie "Hemmm, agaknya Suheng bekerja kurang sempurna sehingga di antara mereka ada yang belum mampus dan membuka rahasia.."

Pemuda tampan itu mencela.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah tokoh-tokoh yang sudah banyak pengalaman.

Begitu mendengar percakapan ini, mengertilah mereka akan duduk perkara.

Kiranya murid-murid Setan Botak yang memang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu yang telah membunuh tiga orang murid Siauw-lim-pai dan agaknya mereka itu menyamar sebagai orang-orang Hoa-san-pai untuk menjalankan siasat adu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai.

Hanya mereka merasa heran mendengar betapa pemuda itu menyebut suheng kepada murid-murid Setan Botak yang menjadi tanda bahwa pemuda itu murid Setan Botak pula, akan tetapi mengapa Hek-pek Giam-ong dan juga Hiat-ciang Sian-Ii menyebutnya kongcu?

Siapakah pemuda itu yang melihat sikapnya dan mendengar ucapannya seolah-olah yang menjadi pemimpin di antara mereka?

"Bagus sekali."

Liong Ki Tek sudah membentak marah.

"Kiranya kalian ini orang-orang sesat yang membunuh anak murid kami kemudian menyamar sebagai orang Hoa-san-pai untuk mengadu domba."

Sambil membentak demikian, Liong Ki Tek sudah mencabut pedangnya, berbareng dengan suhengnya.

Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, akan tetapi lidahnya asing sehing ga bahasa yang diucapkannya terdengar lucu.

"Lebih baik lagi begini, Sudah kukatan bahwa memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar pula. Tiga orang itu hanya merupakan ikan teri, kurang besar untuk dijadikan umpan. Kalau kita menggunakan yang besar ini sebagai umpan, pasti berhasil. Siauw-lim-pai sukar dipancing, hendak kulihat nanti kalau mereka melihat mayat dua orang ini. Ouwyang-twako, jangan khawatir, rencana kita sekali ini pasti berhasil. Eh, kalian bertiga tidak lekas turun tangan, hendak menunggu apa lagi?"

Berbareng dengan teriakan-teriakan mereka, tiga orang murid Setan Botak itu maju menyerbu.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek memutar pedang melindungi diri, dan di dalam hati mereka timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi heran terhadap gadis itu.

Jelas bagi mereka bahwa gadis itu adalah seorang gadis Mancu yang agaknya malah lebih berpengaruh dari pada si pemuda she Ouwyang itu, terbukti dari ucapannya yang nadanya seperti orang bicara kepada bawahannya.

Akan tetapi, dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak dapat memecah perhatian mereka karena tiga orang lawan mereka sudah mengirim pukulan-pukulan maut yang amat berbahaya.

Mereka itu adalah murid-murid pilihan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat.

yang terkenal sebagai seorang ahli Yang-kang.

Tidak mengherankan apabila kedua orang kakek Hek-pek Giam-ong itu amat lihai, karena keduanya mempunyai ilmu pukulan berdasarkan Yang-kang disebut Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dan setiap kali mereka mengirim pukulan, tangan mereka didahului menyambarnya hawa yang amat panas melebihi panasnya api.

Mereka berdua inilah yang telah membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai dan karena mereka itu hendak menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang Hoa-san-pai yang biasa menggunakan pedang, mereka tidak menggunakan pukuIan Toat-beng Hwi-ciang mereka ketika membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu, melainkan dengan sebatang pedang.

Akan tetapi, lebih hebat lagi daripada dua orang Raja Maut itu adalah serangan yang keluar dari sepasang tangan merah Ma Su Nio.

Hawa pukulan wanita.

Ini juga mengandung panas yang hebat, namun di samping hawa panas ini juga membawa bau amis dan mengeluarkan suara bercicitan sangat tinggi menggetarkan jantung.

Sesuai dengan julukannya, kedua tangan wanita ini memiliki pukulan-pukulan beracun yang amat hebat karena yang teracun oleh pukulan ini adalah darah lawan yang langsung akan membunuh lawan dari dalam.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek maklum akan kelihaian tiga orang lawan mereka.

Biarpun lawan mereka itu bertangan kosong, namun sesungguhnya gerak pukulan mereka lebih berbahaya dari pada datangnya luncuran anak panah beracun.

Mereka memutar pedang melindungi tubuh, namun karena terus menerus diserang secara bertubi tubi, pedang mereka itu hanya dapat dipergunakan untuk pertahanan, sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggerakkan pedang membalas.

Karena ini, mereka segera mengeluarkan suara keras dan itulah suara sebagai tanda bagi Siauw-lim Chit-kiam untuk mengeluarkan ilmu yang mereka andalkan, ilmu pedang yang amat ampuh yang khusus diajarkan oleh ketua Siauw-lim-pai kepada tujuh orang tokoh Siauw-lim itu, yaitu Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bihtang).

Begitu kedua orang ini mainkan Chit-seng-sin-kiam dengan pedang .mereka, tiga orang lawan mereka berseru kaget dan meloncat mundur.

Ilmu pedang Chit-seng-sin-kiam ini memang hebat luar biasa, diciptakan oleh ketua Siauw-lim-pai dengan bantuan suhunya yang masih hidup dan sudah berusia tua sekali.

Bukan sembarangan ilmu pedang, melainkan ilmu pedang yang digerakkan dengan sinkang yang kuat sehingga sinar pedangnya menjadi bergulung-gulung panjang dan dapat melukai lawan dari jarak jauh.

Apalagi kalau dimainkan oleh ketujuh orang Siauw-lim Chit-kiam, keampuhannya menggila sehingga pernah Siauw-lim Chit-kiam ini dapat menandingi Setan Botak yang terkenaI sebagai seorang di antara datuk-datuk hitam yang sakti.

Sungguhpun akhirnya Siauw-lim Chit-kiam terdesak, namun tidaklah mudah bagi datuk hitam itu untuk mencapai kemenangan.

Kini, dimainkan oleh orang ke enam dan ketujuh dari tujuh pendekar pedang Siauw-lim itu, sudah cukup hebat sehingga membuat ketiga orang murid Setan Botak terdesak mundur, gentar menghadapi sinar pedang yang berkilauan dan mengandung hawa yang dingin namun berbahaya itu.

Dua gulungan sinar pedang itu kini bersatu, merupakan sinar kilat yang membentuk lingkaran-lingkaran aneh mengurung dan menindih tiga orang tokoh hitam yang terpaksa harus meloncat kesana kemari untuk menghindarkan diri dari sinar pedang yang berbahaya itu.

"Rebahlah."

Bentakan ini keluar secara berbareng dari mulut Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek dan sinar pedang mereka tiba-tiba berpisah, terpecah dua dan secepat kilat membabat tangan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang melakukan pukulan mendorong.

Kedua orang kakek ini terkejut sekali, cepat menarik kembali tangan mereka, akan tetapi sinar pedang itu dari kanan kiri meluncur kearah dada mereka.

"Aihhhhh...."

Hek-giam-ong terpaksa mengerahkan tenaga di tangan kanannya, menangkis sinar itu sambil mengerahkan Toat-beng Hwi-ciang.

la berhasil menangkis pedang itu, akan tetapi lengannya-tergores ujung pedang dan terluka sehingga mengeluarkan darah.

Pek-giam-ong yang tenaganya tidak sehebat Hek-giam-ong, tidak berani menangkis melainkan cepat membuang diri ke belakang, akan tetapi pundaknya tetap saja kena dlserempet pedang sehingga terluka.

"Hiaaaaattt....."

Ma Su Nio menggunakan kesempatan itu memukul dengan kedua tangannya yang merah ke arah lambung kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu, akan tetapi dengan gerakan otomatis kedua orang pendekar pedang itu menyabetkan pedang mereka ke belakan sambil memutar tubuh.

"Ayaaaaa......"

Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio menjerit dan cepat ia menarik kembali kedua lengannya yang berbalik menjadi terancam.

la dapat menyelamat kan kedua lengannya, akan tetapi tubuhnya terhuyung ke belakang dan saat itu dipergunakan oleh Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek untuk menerjang maju, mengirim tusukan maut ke arah tubuh wanita iblis yang amat lihai itu.

"Tranggg..., Tranggggg....."

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek terkejut, sekali karena pedang mereka ter-pental dan hampir terlepas dari tangan mereka.

Terutama sekali Liok Si Bhok yang merasa betapa pedangnya tergetar sehingga setelah tertangkis masih tergetar mengeluarkan suara mengaung, tanda betapa penangkisnya memiliki sinkang yang hebat sekali.

Lebih kaget dan heran dia ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya itu hanyalah sebatang payung di tangan gadis Mancu yang tadi duduk di atas tiang balok melintang.

Adapun yang menangkis pedang Liong Ki Tek adalah sebatang pedang bersinar kuning di tangan pemuda tampan tadi.

.Kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu maklum bahwa mereka terancam bahaya.

Dua orang muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sedangkan tiga orang murid Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya terluka kecil saja.

Bahkan Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio hanya mengalami kekagetan saja, belum terluka.

Kalau mereka itu mau pula membantu tentu mereka berdua akan terancam bahaya maut.

Akan tetapi, sebagai pendekar-pendekar besar, mereka tidak menjadi gentar, bahkan saling berdekatan,berdampingan sambil menyilangkan pedang mereka di depan dada.

Liok Si Bhok dengan sikap dan suara tenang bertanya.

"Siapakah kalian orang-orang muda?"

Gadis Mancu yang cantik itu tersenyum, pandang matanya melebihi tajamnya pedang diangan pemuda itu dan lebih runcing daripada ujung payung ditangannya, namun senyumnya amat manis, membuka sepasang bibir yang indah bentuknya, memperlihatkan kemerahan rongga mulut di balik deretan gigi seperti mutiara.

"Memang amat tidak enak mati dalam penasaran. Kalian berdua orang Siauw-lim-pai yang keras hati dan keras kepala sudah menghadapi kematian, agar tidak mati dalam penasaran baiklah kalian mengenal kami. Aku adalah Puteri Nirahai, puteri ke tujuh belas dari Kaisarl Adapun dia ini adalah Ouwyang Seng, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid bungsu namun paling lihai dari Kang-thouw-kwi Gak Liat."

Kedua orang pendekar pedang itu terkejut.

Biarpun mereka belum pernah mendengar nama kedua orang muda ini,namun melihat gerakan mereka dan tenaga sinkang mereka, tentu mereka ini merupakan lawan berat Apalagi kalo gadis ini benar benar seorang puteri kaisar, tentu di situ terdapat banyak pe-ngawal-pengawal istana yang setiap saat dapat datang mengeroyok mereka.

Mereka tidak takut, akan tetapi ingin sekali mengetahui apa yang menyebabkan puteri ini melakukan semua perbuatan ini.

"Mengapa kalian membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai, melempar mayat mereka di depan kuil dan meng-gunakan nama Hoa-san-pai?"

Tanya pula Liok Si Bhok.

"Adik Nirahai, kita bunuh saja mereka."

Ouwyang Seng, pemuda tampan itu berkata sambil mengerutkan alisnya yang hitam tebal.

Akan tetapi gadis Mancu itu sambil tersenyum menggoyang tangan kirinya yang kecil dan berkulit halus.

"Jangan membikin mereka mati penasaran, Ouw-yang-twako. Mereka toh pasti akan mati di tangan kita, mengapa tergesa-gesa? Biar mereka tahu lebih dulu akan duduknya persoalan, toh kita tidak usah khawatir kelak roh mereka. akan membuka rahasia kepada para pimpinan Siaw-lim-pai dan Hoa-san-pai."

Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu bergidik. Gadis ini bicara dengan sikap dingin, tidak sombong akan tetapi mengandung wibawa yang mengerikan.

"Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dengarlah baik-baik. Tiga orang muridmu itu memang kami yang membunuhnya dan sengaja kami pergunakan untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Akan tetapi siapa nyana, kalian keras kepala dan tidak mau masuk perangkap, bahkan seorang muridmu yang belum mati membuka rahasia sehingga kalian dapat menemukan tempat ini. Sekarang kami hendak membunuhmu, dan akan kami atur agar para pimpinan Siauw-lim-pai menganggap bahwa kematianmu berada di tangan orang-orang Hoa-san-pai. Takkan dapat dicegah lagi, Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai akan bermusuhan, bertanding dan bunuh-bunuhan sampai keadaan mereka menjadi lemah. Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali."

"Keji! Iblis betina yang keji."

Liong. Ki Tek memaki.

"Kalau benar kalian ini puteri Kaisar, tentu mengerti akan peradaban, kebudayaan dan setidaknya mengenal prikemanusiaan. Akan tetapi engkau palsu dan keji, lebih patut menjadi puteri siluman."

"Manusia biadab lancang mulut.."

Ouw-yang Seng membentak dan hendak menyerang, akan tetapi kembali ia ditahan oleh Puteri Nirahai yang masih tetap tersenyum-senyum dan sedikit pun tidak kelihatan marah.

Hal ini saja sudah mengagetkan hati kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu.

Gadis masih begitu muda remaja sudah pandai menguasai perasaan tanda bahwa dia betul-betul memiliki..

ilmu yang tinggi lahir batin.

"Orang-orang Siauw-lim-pai, pandanganmu amat picik. Aku melakukan semua itu semata-mata untuk kepentingan kerajaan Ayahku yang menjadi Kaisar, untuk kejayaan bangsaku, untuk kemenangan negaraku. Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai diam-diam menentang Kerajaan Ceng merupakan musuh-musuh dan karena kedua partai ini amat kuat dan berbahaya maka perlu sekali dibikin lemah. Siasat ini merupakan siasat perang, dan kulakukan dengan dasar berbakti kepada Ayah dan negara, kepada bangsa yang tercinta. Apakah bedanya dengan perbuatanmu menentang kerajaan kami? Kalian melakukan hal itu dengan dalih mengabdi bangsa, aku pun melakukan hal ini dengan dasar mengabdi bangsa, apa bedanya? Perbuatan kalian mungkin dianggap patriotik dan gagah perkasa oleh bangsa-mu dan kalian dianggap sebagai pahlawan oleh bangsamu. Akan tetapi aku pun dianggap seorang pahlawan wanita oleh bangsaku. Antara kalian dan aku hanya ada satu perbedaan, yaitu perbedaan dalam penilaian. Kalian berjuang untuk kebaikan, aku pun demikian. Yang menjadi pertanyaan besar, apakah itu yang dikatakan kebaikan?"

"Akan tetapi, kami penjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan pantang untuk melakukan siasat-siasat busuk yang hina seperti yang kaulakukan."

Kata pula liok Si Bhok setelah tercengang sejenak mendengar ucapan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang gadis remaja berusia dua puluh tahun itu.

"Hi-hik, ucapanmu itu menandakan bahwa engkau bukanlah seorang ahli perang. Mengandalkan kejujuran dan welas asih dalam perang, mana mungkin dapat menang? Perang ialah mengadu siasat, makin keji makin baik, mengadu kekerasan dan kekejaman. Sudahlah, kini bersiaplah kalian untuk mati"

"Baru saja ucapan ini habis dikeluar kana tiba-tiba Liok Si Bhok melihat sinar .hitam yang lebar sekali mengembang didepannya dan gadis itu tiba-tiba lenyap, kemudian tahu-tahu ujung payung yang runcing telah meluncur secepat kilat menusuk dadanya"

Kaget sekali pendekar ini, namun tidak percuma ia menjadi orang ke-enam dari Siauw-lim Chit-kiam karena pedangnya sudah bergerak dengan pemutaran pergelangan tangannya, langsung menangkis ujung payung dar samping.

"Crinngggg."

Liok Si Bhok terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar pedang melindungi tubuhnya.

Lengan kanannya seperti kesemutan, pedangnya masih tergetar dan diam-diam ia kaget dan kagum bukan main.

Kiranya gadis itu telah menggerakkan payungnya secara luar biasa dahsyatnya.

la memandang dengan penuh perhatian.

Senjata itu adalah sebuah payung biasa yang batangnya tentu terbuat dari baja pilihan yang amat kuat.

Gagangnya melengkung seperti payung biasa, ruji-rujinya dari baja keras pula dan payungnya dari kain tebal berwarna hijau, ujung batangnya runcing seperti pedang.

Tadi ketika gadis itu menyerangnya, payung itu berkembang sehingga menyembunyikan tangan dan tubuh gadis itu dan disinilah letak kehebatan senjata ini.

Kalau payung berkembang, lengan dan tangan yang memegang payung tersembunyi dan tidak tampak oleh lawan.

Padahal, dalam bertanding, yang penting adalah memperhatikan gerak lawan yang dapat dilihat sebelum senjata digerakkan dari gerakan tangan, lengan dan pundak.

Kalau semua bagian tubuh ini tersembunyi, maka gerakan-gerakan selanjutnya dari lawan takkan tampak dan perkembangan serangannya takkan dapat diduga terlebih dulu.

Sementara itu, Ouwyang seng juga sudah enerjang Liong Ki Tek dengan pedangnya.

Liong Ki Tek cepat menangkis, akan tetapi pada saat pedang ber temu, tangan kiri Ouwyang Seng yang terbuka itu mendorong ke depan dan serangkum hawa panas yang lebih hebat daripada ilmu Toat-beng Hwi-ciang dari Hek-pek Giam-ong menyambar ke depan.

"Aihhh...."

Liong Ki Tek cepat meloncat ke belakang dan agak terhuyung saking kagetnya.

Ouwyang seng tertawa mengejek dan menerjang terus ke depan dengan pedangnya diseling pukulan-pukulan yang lebih berbahaya daripada pedang itu sendiri karena pemuda ini menggunakan pukulan sakti Hwi-yang sin-ciang.

Di dalam jilid-

Jilid yang lalu banyak diceritakan tentang Ouwyang seng ini sebagai murid Gak Liat yang lihai dan sejak kecil sudah memiliki watak yang keras dan kejam.

Namun di samping watak ini, dia merupakan seorang murid yang amat tekun dan disayang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, maka setelah kini berusia dua puluh tahun, ia telah menjadi seorang murid yang paling pandai diantara semua murid Si Setan Botak.

Bah-kan Hwi-yang Sin-ciang yang tidak dapat dimiliki murid-murid lain, telah dikuasai oleh Ouwyang Seng yang ikut berlatih bersama suhunya dengan masakan batu batu bintang.

Toat-beng Hwi-ciang boleh jadi amat lihai, dan Hiat-ciang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang, kedua ilmu pukulan yang berdasarkan Yang-kang itu masih kalah jauh.

Setelah dewasa, tentu saja Ouwyang Seng yang terkenal dengan sebutan Ouw-yang-kongcu menjadi seorang yang penting kedudukannya dalam tokoh-tokoh pembela Kerajaan Ceng.

Ayahnya seorang pangeran yang terkenal juga, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang menjadi seorang di antata para penjilat yang terlihai di dekat Kaisar Mancu.

Dan mengingat akan kepandaiannya yang tinggi, Ouwyang-kongcu ini bergerak dalam bidang pengamanan kerajaan terhadap ancaman para pejuang yang bergerak secara rahasia menentang pemerintah Mancu.

Siapakah wanita cantik yang amat hebat itu?

Dia memang seorang puteri,ber nama Puteri Nirahai, puteri dari Kaisar Mancu yang lahir dari seorang selir berbangsa Khitan.

Puteri Nirahai ini rnemiliki kepandaian yang dahsyat, bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ouwyang-kongcu sendiri.

Dibandingkan dengan tingkat para tokoh datuk hitam, dia hanya kalah sedikit.

Memang sukar untuk dipercaya bagaimana seorang gadi berusia dua puluh tahun telah memiliki ilmu kepandaian sedahsyat itu, akan tetapi hal ini tidak akan mengherankan orang lagi kalau diingat bahwa dia adalah ahli waris dari kitab pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dari mendiang puteri Ratu Khitan yang dahulu terkenal diseluruh dunia kang-ouw dengan julukan Mutiara Hitam.

Mutiara Hitam adalah seorang pendekar wanita sakti yang amat hebat ilmu kepandaiannya dan memiliki banyak kitab kitab pusaka ilmu silat yang aneh-aneh dan amat tinggi.

Kitab-kitab itu adalah peninggalan seorang tokoh wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cilik"

Beracun) Liu Lu Sian yang bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas yangt amat terkenal (baca cerita Suling Emas, Cinta Bernoda Darah dan Mutiara Hitam).

Selama puluhan tahun, tidak ada kabar ceritanya tentang kitab-kitab itu dan secara kebetulan beberapa buah diantara kitab-kitab itu terjatuh ke tangan Puteri Nirahai inilah.

Di antara ilmu-ilmu silatnya yang hebat, Nirahai dapat mewarisi tiga buah ilmu kepandaian Mutiara Hitam, yaitu pertama adalah Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti), Ke dua Ilmu, Pedang Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang De-lapan Iblis), dan yang ke tiga adalah ilmu senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi).

Yang amat hebat adalah ilmu pedangnya Pat-mo-kiam-hoat yang sukar dicari bandingnya karena memang dahsyat dan ganas sekali.

Apalagi gadis ini mainkan ilmu itu dengan senjatanya yang istimewa yang disebut Tiat-mo-kiam (Pedang Payung Besi), maka kehebatannnya bertambah.

Dapat dibayangkan betapa lihainya permainan pedang yang tersembunyi di batik payung sehingga lawan tak dapat melihat gerakan-gerakannya.

Sebetulnya ilmu ini tadinya merupakan ilrnu pedang, akan tetapi dengan senjata seperti itu, sama dengan permainan pedang dibantu perisai, namun disatukan sehingga merupakan senjata yang ampuh dan jika tidak dipakai bertanding, Dapat dipergunakan sebagai payung biasa untuk berlindung dari serangan hujan dan panas, juga menambah gaya bagi seorang gadis jelita seperti Nirahai.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang sudah tinggi tingkat ilmu kepandaiannya.Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, Tujuh Pedang Siauw-lim yang amat disegani orang.

Mereka adalah murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai yang selain ahli dalam bermain pedang, juga memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, di samping pengalaman bertanding yang sudah luas.

Akan tetapi sekali ini, bertemu dengan Nirahai dan Ouwyang Seng, sebentar saja dua orang tokoh Siauw-lim-pai ttu terdesak hebat.

Ilmu pedang yang dimainkan Nirahai dengan senjata payung luar biasa sekali dan tidak sampai lima puluh jurus, Liok Si Bhok yang bertubuh gemuk pendek itu tak mampu balas menyerang lagi karena dari balik payung hitam itu menyambar-nyambar sinar pedang bagaikan sinar kilat dari balik awan hitam yang tebal.

Tiba-tiba Nirahai mengeluarkan suara melengking tinggi dari balik payung menyambar sinar berkeredepan yang berbau harum ke arah leherl Liok Si Bhok.

Tokoh ini terkejut, maklum bahwa itulah senjata rahasia yang amat berbahaya.

Dan memang dugaannya benar karena yang menyambar ltu adalah Siang-tok-ciam, segenggam jarum beracun yang berbau harum.

Liok Si Bhok cepat mengelak dengan miringkan diri ke kiri, akan tetapi ternyata bahwa serangan jarum itu hanya merupakan pancingan karena kini tahu-tahu ujung paying itu telah menusuk perutnya.

"Crinnggg."

Pedang di tangan Liok Si Bhok tergetar, bertemu dengan ujung payung dan melekat.

Pada detik berikut nya, dari batik payung itu menyambar kaki Nirahai yang kecil bersepatu indah, menendang dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu telah mengenai lambung liok Si Bhok.

Tokoh Siauw-ljm-pai yang bertubuh gendut pendek ini mengeluh dan tubuhnya terbanting ke belakang.

Dua kali ia masih berhasil menangkis sinar pedang Nirahai, akan tetapi yang ketiga kalinya, tangkisamya meleset dan ujung payung itu menancap memasuki lehernya menembus dari kanan ke kiri.

Tanpa sempat berteriak lagi Liok Si Bhok tewas dengan leher hampir putus.

"Ouwyang-twako, jangan robohkan dia dengan sin-ciang. Pukulan itu akan dikenaI orang dan menggagalkan rencana-ku."

Nirahai berseru ketika melihat betapa Ouwyang Seng mendesak Liong Ki Tek dengan pedang dan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang.

Ouwyang Seng yang melihat betapa puteri itu telah berhasil merobohkan lawannya, menjadi penasaran dan malu.Tanpa mengandalkan Hwi-yang Sin-ciang, bagaimana ia akan mampu merobohkan lawan yang tangguh ini?

Akan tetapi pada saat itu, Nirahai telah menerjang maju dan menyerang Liong Ki Tek dengan payungnya yang hebat itu.

Seperti juga Liok Si Bhok tadi, kini menghadapi serangan payung, Liong Ki Tek terkejut dan bingung.

Tahulah pendekar ini mengapa suhengnya tewas di tangan puteri ini, ternyata bahwa senjata payung pedang itu benar-benar sukar dilawan.

Ia mengerahkan tenaganya menangkis dan terdengar suara keras diikuti muncratnya bunga api.

Dibandingkan dengan suheng-nya, Liong Ki Tek yang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang lebih kuat sungguhpun ilmu pedangnya tidak sehebat Liok Si Bhok.

Akan tetapi tangkisannya yang mengandung tenaga kuat itu pun tidak mampu membikin payung terpental,bahkan kini pedangnya melekat pula pada ujung payung itu, tak dapat ia lepaskan.

Dan saat ini dipergunakan dengan baik oleh Ouwyang Seng yang sudah menusukkan pedangnya ke perut Liong KI Tek sampai tembus ke punggung.

"Ihhh...., kau kasar sekali, Twako."

Nirahai menarik payungnya dan cepat meloncat ke belakang agar jangan terkena semburan darah dari perut Liong Ki Tek.

Ouwyang Seng menjadi merah mukanya.

Memang, tadi ia menyerang dengan kasar saking gemas dan penasaran bahwa ia harus dibantu oleh gadis ini untuk merobohkan tokoh Siauw-lim-pai ini sehingga kekasaran serangannya itu nyaris mendatangkan noda darah yang menyembur keluar dari perut Liong Ki Tek pada baju nona itu..

"Sesudah dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tewas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Adik Nirahai? Kurasa permainanmu terlalu berbahaya sekarang. Untuk menutupi kenyataannya bahwa dia tidak secepat Nirahai merobohkan lawan. bahkan mendapat bantuan gadis perkasa itu, Ouwyang Seng menekan gadis itu dengan kata-kata yang sifatnya menegur ini. Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dan kekuatan Siauw-lim-pai sama sekali tidak boleh dipandang ringan."

"Tenanglah, Ouwyang-twako dan serahkan saja padaku karena aku telah membuat rencana yang baik sekali, jauh lebih baik dari pada rencana semula. Engkau tahu,Twako. Untuk memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar dan dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam ini merupakan umpan besar sekali yang kematiannya akan membikin geger Siauw-lim-pai dan sekali lni kutanggung bahwa Siauw-lim-pai akan memusuhi Hoa-san-pai sehingga kita tidaklah harus bersusah payah lagi menggempur keduanya."

Dengan wajah manis dan sikap tenang gadls itu lalu menceritakan rencananya kepada Ouwyang Seng.

Pemuda ini mendengarkan penuh perhatian, makin lama makin tertarik dan setelah gadis itu menyelesaikan penuturan tentang rencana dan siasatnya, ia bangkit berdiri dan menyura kepada Nirahai sambi"

Berkata.

"Wah, engkau hebat sekali, Adik Nirahai. Sungguh mengagumkan, Makin besar dan berbahagialh hatiku kalau aku teringat bahwa engkau yang begini cantik jelita, begini lihai ilmu silatnya, begini cerdik pandai adalah tunanganku.."

"Hemmm, jangan tergesa-gesa, Twa-ko..."

Nirahai memotong, sepasang alisnya yang kecil panjang dan hitam itu berkerut, akan tetapi bibirnya yang merah tersenyum tenang.

"Nirahai... aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi... bukankah sudah setengah resmi perjodohan kita..?"

Ouwyang Seng berlutut dan suaranya gemetar penuh perasaan.

"Diantara Ayahmu dan Ayahku.."

"Nirahai menundukkan muka memandang wajah pemuda yang tampan itu. Ia suka kepada pemuda yang selalu pandai mengambi"

Hatinya ini akan tetapi... Ouwyang Seng bukanlah pria yang memenuhi idaman hatinya.

"Ouwyang-twako yang akan berjodoh adalah kita, bukan Ayah Kita.."

"Nirahai....."

Ouwyang Seng memandang dengan sinar mata penuh cinta kasih dan permohonan sehingga Nirahai menjadi kasihan, mengulurkan tangannya.

Ouwyang Seng menangkap jari-jari tangan yang halus meruncing itu dengan kedua tangannya, lalu menciumi jari-jari tangan.itu penuh nafsu birahi dan cinta kasih.

"Ohhh, Nirahai puteri jelita, pujaan hati-ku. Aku cinta padamu.."

Sejenak puteri itu membiarkan jari tangannya dibelai dan dicium akan tetapi mulutnya berkata halus.

"Aku tahu bahwa engkau mencintaku, Twako. Akan, tetapi aku tidak..ah, belum lagi aku dapat menjatuhkan cinta kasihku kepada seseorang..."

"Aku dapat menanti, sayang. Aku dapat bersabar, akan kunanti penuh harapan berseminya cinta kasih di hatimu terhadap diriku. Nirahai..."

Puteri itu menarik tangannya terlepas dan berkata, biarpun mulutnya masih tersenyum namun suaranya agak dingin.

"Cukuplah, Twako. Kita sedang bertugas,dan aku tidak senang bicara tentang hal itu. Harap kau suka mempersiapkan pasukan pengawal dan sediakan dua buah peti mati akan tetapi jangan kelihatan seperti peti mati, melainkan peti untuk mengirim barang berharga. Aku hendak menyampaikan berita kematian ini kepada anak murid Siauw-Jim Chit-kiam yang kebetulan berada di kota Kok-lee-bun tak jauh dari sini, kemudian aku akan ke Kwan-teng menemui Tan-piauwsu kepaIa Pek-eng-piauwkiok. Siasatku ini harus berjalan lancar dan harus berhasil,Twako."

Ouwyang Seng adalah seorang pemuda yang cerdik, maka ia dapat menangkap nada suara dingin itu dan tidak berani melanjutkan rayuannya tentang cinta.

Ia bangkit berdiri, menghela napas dan berkata.

"Baiklah, Nirahai. Aku sudah maklum akan rencanamu tadi."

Nirahai lalu berkelebat cepat ke arah belakang kuil tua itu, meloncat ke punggung kuda yang disembunyikan jauh dari situ kemudian membalap untuk melaksanakan siasatnya.

Apakah siasat puteri yang cerdik ini?

Seperti telah diceritakan di bagian depan, siasatnya mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai ternyata hampir berhasil atau hanya setengah berhasil karena secara tak tersangka-sangka muncul tokoh aneh yang mengacaukan urusan, yaitu Han Han dan Lulu.

Keadaan dalam kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat Siauw-lim-pal dan diketuai oleh Ceng San Hwesio kini diliputi awan kedukaan dan penasaran.

Beberapa hari yang lalu, datanglah Lauw Sin Lian murid terkaslh Siauw-Iim Chit-kiam bersama beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai mengawal sebuah kereta yang terisi dua peti yang terisi mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek.

Juga mayat tujuh Qrang anak murid Siauw-lim-pai tingkat rendah.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan berduka hati Ceng San Hwesio dan para tokoh Suw-lim-pai ketika melihat dua mayat tokoh Siauw-lim-pai yang telah rusak itu.

Mayat-mayat itu cepat diperabukan dan setelah mereka semua berkabung, Ceng San Hwesio lalu mengumpulkan anak murid dan adik-adik seperguruan untuk berunding.

Biarpun Lauw Sin Lian terhitung hanya cucu murid ketua Siauw-lim-pai ini, akan tetapi karena tingkat kepandaian Sin Lian sebagai murid terkasih Siauw-lim Chit-kiam sudah amat tinggi dan pula karena gadis inilah menjadi saksi utama mengenai bentrokan dengan Hoa-san-pai, maka Sin Lian juga hadir dalam pertemuan besar itu.

"Sungguh tidak nyana sekali Hoa-san-pai menjadi perkumpulan yang rendah dan dapat diperalat oleh kaum penjajah."

Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim pa imengerutkan alisnya dan mengepal tasbih di tangannya erat-erat, wajahnya yang kurus itu menjadi merah sekali warnanya.

"Amatlah keji perbuatan mereka terhadap dua orang muridku itu dan agaknya mereka itu sudah menyatakan permusuhan secara terbuka. Sute, mulai saat ini, harap Sute suka mengatur seluruh anak murid kita untuk melakukan penjagaan ketat siang malam menjaga keamanan kuil Semua anak murid yang berada di dalam kuil tidak diperbolehkan keluar dan segala bentrokan dengan golongan apa pun juga harus ditiadakan. Selain itu, Sute harap mengutus anak murid untuk mengundang semua saudara dan murid untuk berkumpul di sini, selambatnya sebulan. Sebelum tenaga kita berkumpul semua dan kedudukan kita cukup kuat, jangan ada yang lancang turun tangan terhadap anak murid Hoa-san-pai. Nanti kalau semua tenaga sudah terkumpul, pinceng sendiri yang akan memimpin pasukan Siauw-lim-pai menuju ke Hoa-san-pai dan menuntut balas atas kekejaman Hoa-san pai terhadap kita."

Kalau seorang ketua perkumpulan besar seperti Siaw-Lim-pai sudah rnenyatakan hendak rnemimpin sendiri penyerbuan, hal ini menandakan bahwa ketua itu sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Dan memang demikianlah keadaan Ceng San Hwesio yang sudah marah sekali.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua di antara murid-murid yang paling ia sayang, kini melihat murid-muridnya itu tewas dalam keadaan mengenaskan, hwesio tua ini tak mampu lagi mengendalikan kemarahannya.

Sutenya, Ceng To Hwesio yang bertugas menjaga kuil dan membantu pekerjaan suhengnya yang menjadi ketua, juga merupakan guru dan pelatih dari sebagian besar murid-murid Siauw-lim-pai, menariknapas panjang dan berkata.

"Baiklah, Suheng. Penjagaan akan diperkuat, dan pinceng akan mengutus murid-murid mengumpulkan tenaga. Akan tetapi, maaf, Suheng. Mengenai hal yang menyangkut permusuhan dengan pihak Hoa-san-pai ini, apakah tidak sebaiknya kalau kita bertanya nasihat kepada Su-pek?"

"Bagaimana kita dapat mengganggu Supek dengan urusan ini? Supek sudah bertahun-tahun bertapa dalam sebuah diantara kamar-kamar penyiksaan diri, tidak mau diganggu. Biarpun bagi kita urusan ini adalah urusan besar yang tidak hanya menyangkut nyawa murid-murid kita, juga menyangkut nama dan kehormatan Siauw-lim-pai, akan tetapi bagi Supek yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai, tidak melibatkan diri dengan urusan dunia, tentu merupakan hal yang tidak ada artinya sama sekali, Tidak, Sute, tidak semestinya kalau kita mengganggu Supek untuk urusan ini.Urusan mengenai Siauw-lim-pai menjadi tugas pinceng sebagai ketua dan tugas semua anak murid Siauw-lim-pai."

"Terserah keputusan Suheng, pinceng hanya mentaati perintah,"

Jawab Ceng To Hwesio yang menjadi tegang hatinya karena maklum bahwa kalau suhengnya itu mengumumkan perang terhadap Hoa-san-pai, akan terjadi geger dan tentu akan mengambil korban yang banyak sekali di kedua pihak.

"Bagus, Sute. Dan engkau Sin Lian, engkau mengatakan bahwa menurut dugaanmu, kedua orang Gurumu itu terbunuh oleh seorang pemuda bernama Sie Han. Mungkinkah itu? Seorang pemuda dapat membunuh dua di antara tujuh orang Gurumu?"

"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong (Kakek Guru). Han Han.eh, Sie Han itu kini ternyata telah menjadi seorang pemuda yang pandai ilmu iblis."

"Coba ceritakan keadaannya dan bagaimana engkau dapat mengenali dia?"

"Ketika masih kecil, Sie Han ini adalah seorang gelandangan. seorang pengemis yang terlantar. Kemudian Ayah yang menaruh kasihan, membawanya dan mengambilnya sebagai murid. akan tetapi hanya sebentar karena dia itu berkhianat, malah kemudian menjadi murid atau pelayan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat....."

"Omitohud..."

Ceng San Hwesio berseru kaget. Nama tokoh datuk hitam ini selalu mengejutkan hati semua orang pandai.

"Dia menjadi murid setan itu Akan tetapi... andaikata benar menjadi muridnya. pinceng tetap masih meragukan apakah bocah itu mampu mengalahkan Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek"

"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong. Ketika berusaha menghajar orang-orang Hoa-san-pai dan bergebrak dengan Han Han itu, dalam bentrokan tenaga teecu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang bocah itu melampaui sinkang semua suhu."

"0mitohud..., mana mungkin...?"

Ceng San Hwesio kembali berseru.

"Teecu tidak berbohong, Sukong. Ketika itu, teecu menyerangnya dan mengirim pukulan dengan pengerahan lweekang sekuatnya. Pukulan teeucu itu adalah jurus Cam-liong-jiu (Pukulan Membunuh Naga) dan dia sama sekali tidak menangkis. Teecu yakin bahwa tujuh orang Suhu tidak akan dapat menerima pukulan itu dengan dada, akan tetapi Han Han menerima dengan dadanya dan akibatnya teecu sendiri yang terbanting roboh dan tangan teecu membengkak."

"Hemmm..."

Ceng San Hwesio mengulur lengannya ke depan dan membuka tangan dengan telapak di atas.

"Coba engkau menggunakan Cam-liong-jiu dengan kekuatan seperti yang kau gunakan memukul bocah itu, dengan mengukur kekuatan pukulanmu dapat kiranya sedikit banyak menilai kepandaiannya."

Lauw Sin Lian maklum akan maksud kakek gurunya Itu, maka ia lalu mengerahkan tenaga dan mengayun kepalan tangannya, memukul ke arah telapak tangan kakek tua itu.

"Plakkk."

Sin Lian merasa betapa kulit tangannya panas dan tergetar, maka ia cepat menarik kembali tangannya.

"Omitohud, sukar dipercaya kalau bocah itu mampu menerima pukulanmu tadi dengan dadanya."

Ketua Siauw-lim-pai berseru kaget.

"Memang dia luar biasa, Sukong."

"Kalau murid Hoa-san-pai semuda itu takkan mungkin memiliki sinkang yang cukup kuat untuk menerima pukulanmu tadi. Akan tetapi kalau dia murid Gak Liat yang menjadi kaki tangan penjajah, bagaimana dia dapat membantu Hoa-san-pai yang selama ini anti penjajah?"

"Siapa tahu Hoa-san-pai menyeleweng atau mungkin hanya Pek-eng-piauwkiok atau sebagian murid Hoa-san-pai saja yang bersekutu dengan kaki tangan penjajah. Urusan ini amat berbahaya, kalau Sukong mengijinkan, biarlah teecu pergi menyusul lima orang Suhu untuk diundangke sini."

"Memang, semua murid Siauw-lim-pai harus berkumpul. Terutama sekali para Gurumu yang tinggal lima orang itu..."

Kakek gundul ini menarik napas duka teringat akan dua orang muridnya yang tewas.

"Apakah engkau tahu di mana mereka itu kini merantau?"

"Teecu mendengar bahwa para Suhu merantau ke Telaga Barat, tentu masih berada di sana. Teecu akan menyusul mereka dan menyampaikan berita duka tentang kematian Liok-suhu clan Jit-suhu (Guru ke Enam dan ke Tujuh)."

"Baiklah, Lian-ji, berangkatlah sekarang juga. Pinceng amat membutuhkan bantuan guru-gurumu."

Pada hari itu juga, berangkatlah Lauw Sin Lian pergi menyusul guru-guru nya untuk menyampaikan berita kematian dua orang gurunya dan undangan ketua Siauw-lim-pai, dan selain Sin Lian, berangkat pula murid-murid Siauw-lim-pai yang diutus oleh Ceng San Hwesio untuk mengundang tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang kebetulan melakukan perjalanan, atau yang memang tidak lagi bertempat ting-gal di pusat ini.

Beberapa hari kemudian semenjak para murid Siauw-lim-pai pergi melakukan tugas masing-masing menghimpun tenaga yang diundang ke pusat, para hwesio penjaga pintu gerbang Siauw-lim-pai menyambut datangnya dua orang tamu dengan pandangan mata penuh kecurigaan.

Tamu ini bukan lain adalah Han Han dan Lulu.

Seperti biasa, pemuda ini tenang-tenang saja menghampiri pintu gerbang, diikuti dari belakang oleh Lulu yang juga bersikap tenang.

Dara ini makin cantik jelita saja, apalagi kini di punggungnya tampak sebatang pedang yang amat indah gagangnya, yaitu pedang pusaka Cheng-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu tokoh Hoa-san-pai.

Biarpun di luarnya kelihatan tenang, namun di sebelah dalam dada gadis ini terjadi ketegangan karena ia ingin sekali segera bertemu dengan Sin Lian untuk bertanya di mana adanya Lauw-pangcu, musuh besarnya.

SembiIan orang hwesio penjaga yang segera datang ke pintu gerbang itu mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan dan seorang di antara mereka ber-tanya.

"Ji-wi hendak mencari siapakah?"

Dengan sikap tenang akan tetapi membalas penghormatan itu, berbeda dengan Lulu yang memandang ke kanan kiri penuh perhatian, Han Han lalu menjawab.

"Saya ingin bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua dari Siauw-lim-pai."

Para hwesio penjaga itu saling pandang.

Keadaan pemuda yang aneh Ini mencurigakan.

Pakaian pemuda ini sederhana, akan tetapi rambutnya dibiarkan riap-riapan begitu saja, sungguh mencurigakan, dan lebih-lebih sepasang-mata itu yang amat tajam.

"Nona Lauw Sin Lian tidak berada disini, sedangkan keinginan Kongcu untuk berjumpa dengan Ketua, agaknya hal ini tidaklah mudah dilaksanakan. Hendaknya Kongcu berdua suka memberitahukan nama dan keperluan barulah kami akan menyampaikan keatasan apakah permohonan Kongcu, menghadap dapat dikabulkan"

"Han Han mengerutkan alisnya yang tebal, masih dapat menahan kesabarannya, akan tetapi Lulu yang mendengar bahwa Sin Lian yang dicarinya itu tidak -berada di kuil itu, sudah kehilangan kesabarannya dan ia membentak.

"Wah-wah, seorang pendeta biarpun sudah menjadi ketua, masa lagaknya melebihi seorang raja saja? Orang mau berjumpa saja sukarnya setengah mati."

Para hwesio penjaga itu memandang dengan muka tidak senang dan wakil pembicara mereka segera menjawab.

"Nona, kalau yang kau maksudkan raja penjajah, memang ketua kami jauh lebih tinggi dan terhormat. Ada perkumpulan ada pula peraturan, dan Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang memegang teguh peraturannya, siapa pun tidak berhak melanggarnya."

"Waduh-waduh, galaknya. Eh, hwesio-gundul, apakah engkau ini ber-liamkeng (membaca doa) dan bersembahyang, memantang makanan berjiwa yang enak-enak, bertapa susah payah, hanya untuk belajar galak kepada orang lain? Kalau sikapmu masih galak dan tidak ramah-tamah terhadap orang, tidak baik budi, percuma saja dong rambutmu dibuang. Ternyata kepalamu menjadi bertambah panas."

Sikap dan omongan Lulu yang ugal-ugalan ini membuat para hwesio menjadi merah mukanya, akan tetapi karena kata-kata itu tepat menusuk hati dan merupakan sindiran bagi mereka, sejenak mereka tak mampu membantah.

Kalau mereka menuruti nafsu kemarahan, hal ini hanya membuktikan betapa tepatnya ucapan gadis nakal itu, kalau tidak marah, hati yang tidak kuat.

"Heiii, dia inilah bocah setan itu. Dia yang membunuh saudara-saudara kita, dia yang membela orang-orang Hoa-san-pai."

Tiba-tiba terdengar suara dua orang anggauta Siauw-lim-pai yang bukan lain adalah Liong Tik dan seorang sutenya, dua orang di antara sembilan murid Sauw-lim-pai yang tidak tewas ketika mengeroyok Han Han.

"Kepung, jangan sampat dia lari."

Liong Tik yang marah sekali melihat musuh besarnya ini telah mengeluarkan senjatanya, sepasang tombak cagak dan para hwesio lainnya telah pula siap dengan senjata masing-masing.

Dua oranghwesio sudah berlari masuk memberi laporan.

Han Han masih bersikap tenang, dan Lulu sudah berkata lagi.

"Wah, tidak hanya galak, malah agaknya para pendeta Siauw-lim-pai terkenal sebagai tukang mengeroyok orang. Apakah kalian masih belum kapok, hendak mengeroyok Kokoku?"

Han Han berdiri dengan kedua kaki terpentang, tegak dan matanya melirik ke kanan kiri ketika kini berdatangan belasan orang hwesio yang sudah me-ngurungnya.

Ia tidak ingin berkelahi karena kedatangannya lni hendak men-jelaskan persoalan yang timbul antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai.

"Bocah iblis, apakah engkau datang hendak mengacau Siauw-lim-pai?"

Liong Tik membentak, masih ragu-ragu untuk menyerang karena ia maklum akan kepandaian pemuda itu yang amat menggiriskan hati.

"Cu-wi sekalian harap sabar. Aku datang sama sekali bukan hendak mengacau, bukan pula hendak menimbulkan perkelahian. Aku datang untuk bicara dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan yang baru-baru ini terjadi."

"Engkau sudah membunuh saudara-saudara kami, masih datang hendak bicara dengan ketua kami?"

Pertanyaan ini timbul dari hati yang terheran-heran.

Alangkah beraninya pemuda ini.

Ataukah karena sombongnya maka sengaja datang hendak menantang ketua Siauw-lim-pai?

"Kalau aku tidak datang memberi penjelasan, bagaimana urusan dapat dibereskan?

Semua terjadi karena salah paham..."

"Jahanam! Sudah membunuh banyak orang, enak saja mengatakan bahwa semua terjadi karena salah paham"

Saudara-saudara, mari kita basmi iblis ini."

Liong Tik berkata marah, akan tetapi sebelum mereka turun tangan, terdengar bentakan halus.

"Para murid Siauw-Lim-pai, minggirlah."

Mendengar suara ini, para murid yang tadinya mengurung Han Han serentak minggir dan membentuk lingkaran kipas yang lebar.

Han Han memandang mereka yang datang dan ternyata dari dalam kuil keluarlah lima orang hwesio yang usianya rata-rata sudah lima puluh tahun lebih.

Sikap mereka agung dan keren, dan seorang di antara mereka pincang kakinya sehingga jalannya dibantu sebatang tongkat.

Pakaian mereka sederhana, namun menyaksikan gerak-gerik mereka yang tenang dan keren, dapat diduga bahwa mereka ini merupakan tokoh-tokoh penting dari Siauw-lim-pai.

Dan dugaan Han-Han ini memang benar karena lima orang hwesio itu adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio, sute dari ketua Siauw-lim-pai itu.

Tingkat kepandaian lima orang hwesio ini sudan tinggi, bahkan tugas mengajar semua murid yang menjadi tugas Ceng To Hwesio, diwakili oleh lima orang ini.

Biarpun tingkat mereka masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan tingkat Siauw-lim Chit-kiam, namun karena mereka terhitung adik-adik seperguruan Siauw-lim Chit-kiam, maka mereka merupakan tokoh-tokoh tingkat tiga di Slauw-tim-pai.

Han Han yang dapat mengenal orang-orang pandai segera rnengangkat kedua tangan depan dada dan berkata.

"Saya Sie Han dan adik saya Lulu mohon perkenan Lo-suhu sekalian agar dapat bertemu dan bicara dengan ketua Siauw-tim-pal dan dengan Nona Lauw Sin Lian."

Lima orang hwesio itu tadi sudah mendapat laporan bahwa yang datang ini adalah pemuda lihai yang membantu Hoa-san-pai dan yang telah membunuh tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, bahkan yang mungkin juga menjadi pembunuh dua orang suheng mereka, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek.

Kini, melihat betapa pemuda itu masih amat muda, mereka sudah terheran-heran sekali, apa lagi menyaksikan sikap pemuda ini yang sopan santun, mereka menjadi ragu-ragu dan hampir tidak percaya bahwa seorang pemuda seperti ini dapat memiliki kepandaian yang tinggi.

Mereka segera membalas penghormatan Han Han karena biarpun tamu itu masih muda, adalah menjadi kewajiban para hwesio untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada siapa saja.

"Sicu hendak bertemu dengan murid kami Lauw Sin Lian?"

Berkata seorang diantara mereka yang mukanya kurus.

"Sayang sekali, Nona Lauw sedang melakukan tugas keluar kota, tidak berada disini. Akan tetapi Supek kami, ketua Siauw-lim-pai, berada di dalam. Kalau Sicu berdua hendak menghadap Supek, silakan masuk."

Han Han mengangguk dan hatinya lega.

Kiranya tokoh-tokoh Siauw-lim-pal adalah orang-orang gagah yang mudah diajak urusan, tidak seperti anak buahnya tadi yang bersikap kasar, sungguhpun ia dapat memaafkan kekasaran mereka kalau ia ingat bahwa dia telah membunuh tujuh orang saudara mereka.

Dengan langkah lebar dan tenang ia memasuki pintu gerbang didahui oleh lima orang hwesio itu.

lulu menyentuh tangan Hanl Han dari belakang sehingga pemuda itu menengok dan memandang-nya.

Gadis itu berbisik.

"Koko, aku merasa khawatir sekali. Jangan-jangan kita masuk perangkap mereka."

"Nona, kami menjunjung tinggi kegagahan dan kebenaran, anti akan segala kejahatan dan kecurangan. Tidak perluk hawatir."

Terdengar jawaban dari hwesio pincang bertongkat yang masih berjalan di depan, tanpa menengok.

Dapat mendengar bisikan Lulu yang begitu perlahan cukup membuktikan betapa tajam pendengaran para hwesio ini.

Rombongan lima orang hwesio yang mengantar Han Han dan Lulu itu kini memasuki ruangan depan kuil besar yang menjadi pusat perkumpulan Siauw-lim-pai itu.

Bersih dan luas sekali ruangan itu dan dari situ tampak meja sembahyang di sebelah dalam yaitu di dalam ruangan sembahyang yang kelihatan tenang dan sunyi, yang mengebulkan asap tipis berbau harum dari mana terdengar lirih suara hwesio berdoa.

Adapun para hwesio lain yang menjadi anak buah dan bertugas menjaga hanya berkumpul di pekarangan depan tidak diperkenankan masuk karena kini dua orang tamu itu telah berada di dalam tangan lima orang hwesio kepala ini.

Dengan slkap tenang akan tetapi alis berkerut karena dapat menduga bahwa para hwesio Siauw-lim-pai ini menyambut nya dengan penuh kecurigaaan dan sikap bermusuhan, Han Han memasuki ruangan depan yang bersih ltu, diikuti oleh Lulu yang sikapnya biasa saja bahkan gadis itu seperti biasa tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan menonton ke kanan kiri memandangi keadaan di situ.

"Sicu dan Nona, silahkan masuk ruangan disebelah, para pimpinan Siauw-tim-pal telah menanti di sana. Pinceng berlima hanya bertugas mengantar Ji-wi sampai di luar pintu"

Berkata hwesio pengantar, sedangkan ernpat orang hwesio lainnya hanya berdiri dan rnengangkat tangan memberi hormat.

"Koko, jangan percaya kepada mereka ini."

Kata Lulu.

"Biar kita menanti disini saja dan suruh mereka panggil keluar Lauw Sin Lian dan ketua mereka."

"Mengapa mesti takut? Kita adalah tamu dan tamu harus tunduk akan peraturan tuan rumah. Kalau mereka menghendaki dengan peyambutan besar-besaran, biarlah, Adikku. Mari kau ikut aku, tak usah takut"

"Siapa takut?"

Lulu menjebikan bibir-nya.

"Aku hanya berhati-hati, bukannya takut."

Dengan langkah lebar dan dada terangkat, Han Han dan lulu memasuki pintu yang menembus ke ruangan samping yang sesungguhnya adalah ruangan terbesar karena ini adalah ruangan lian-bu-thia (belajar silat) yang luas sekali.

Begitu Han Han dan Lulu memasuki ruangan ini, tampak oleh mereka sepasukan hwesio muda berdiri berbaris di tengah ruangan.

Mereka terdiri dari tiga belas orang, berdiri dengan sikap berbaris, bertangan kosong .dan nampaknya kuat-kuat.

Lengan baju mereka digulung sampai ke siku dan, mereka berdiri dengan bhesi (kuda-kuda) yang amat kuat, yaitu kuda-kuda Ji-ma-she dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk, kedua kepalan tangan di kanan kiri lambung.

Tiga belas orang hwesio muda itu hanya berdiri dalam keadaan siap sarnbil memandang ke arah Han Han, tanpa mengeluarkan kata-kata, tanpa bergerak.

Han Han tidak tahu harus berbuat apa karena barisan ini menghalang di jalan.

Akan tetapi terdengarlah suara keren dari mulut seorang hwesio tua yang berdiri di sudut, hwesio tua yang bermata tajam dan suaranya nyaring.

"Khong-jiu-tin (Barisan Tangan Kosong) Siauw-lim-pai merupakan ujian pertama bagi orang yang berani minta berjumpa dengan ketua Siauw-lim-pai."

Mendengar ini, Lulu meloncat maju dan menudingkan telunjuknya yang kecil runcing kepada hwesio tua ini sambil memaki.

"Hwesio busuk Orang mau berjumpa dengan ketua Siauw-lim pai pakai diuji segala macam. Peraturan apakah ini? Hayo suruh minggat barisan yang tiada gunanya ini, dan panggil ketuamu ke sini kami ingin bicara."

Hwesio tua itu yang sesungguhnya adalah Ceng To Hwesio, mengerutkan keningnya dan matanya memandang marah.

"Nona, pernah ada jaman di mana wanita dilarang masuk ke ku.il Siauw-lim-si dengan ancaman hukuman mati. Pinceng akan senang sekali kalau peraturan itu kini masih berlaku. Sayang kini peraturan diperlunak dan kalau kalian tidak berani menghadapi ujian kami, lebih baik pergi saja dari sini."

"Eh, hwesio sombong, siapa yang tidak berani? Biar ditambah lima kali ini, aku tidak takut."

Lulu sudah bergerak maju hendak menerjang barisan itu.

Tiba-tiba tiga betas hwesio itu menggerakkan kaki dan menggeser kaki, kiri ke belakang mengubah kuda-kuda.

Gerakan mereka itu mantap dan kuat juga amat rapi sehingga Han Han yang melihat ini cepat berkata.

"Lulu, mundurlah. Kalau memang begini peraturan Siauw-lim-pai, biar aku coba menghadapi barisan ini."

Lulu melangkah mundur dan mengomel.

"Hemmm. hwesio-hwesio sial Sekali ini agak baik nasib kalian sehingga tidak jadi mati ditanganku. Kakakku terlalu baik hati untuk membunuh kalian sehingga kalian hanya akan luka-luka ringan saja. Katau aku yang maju sendiri..hemmm, jangan tanya-tanya lagi tentang dosa."

Biarpun sikapnya masih kekanak-kanakan namun Lulu sebetulnya adalah seorang yang cerdik dan dapat menyembunyikan kecerdikannya di balik sikap kekanak-kanakannya.

Ia sudah mengenal watak kakaknya yang setiap kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dalam sebuahah pertandingan lalu timbul watak beringas dan kejam seolah-olah haus darah dan ia tahu pula bahwa pihak lawan tentu akan toboh tewas kalau bertemu dengan kakaknya yang luar biasa.

Dia tidak menghendaki kakaknya menjadi seorang kejam yang membunuhi manusia seperti membunuh semut saja, maka tadi ia sengaja berkata demikian untuk mengingatkan Han Han agar tidak membunuh lawan.

Han Han mengerti akan sindiran Lulu maka ia berkata.

"Lulu, tewas atau luka dalam pertandingan adalah hal biasa. Yang penting, kalau sampai terjadi pertandingan, hal itu bukanlah kehendak kita, melainkan dikehendaki oleh para hwesio ini. Minggirlah."

Lulu minggir dan Han Han lalu melangkah lebar menghampiri barisan yang sudah siap menyambutnya.

Dengan sinar matanya, Han Han menyapu barisan itu dan diam-diam ia merasa amat kagum karena sikap dan kedudukan pasangan kuda-kuda tiga belas orang hwesio yang rata-rata berusia tiga puluh tahun itu amatlah kuat dan kokoh seperti batu karang.

Dari pasangan kuda-kudanya saja dapat diketahui bahwa Siauw-lim-pai memiliki murid-murid yang baik-baik dan ilmu silat Siauw-lim-pai bukanlah omong kosong belaka.

"Majulah."

Han Han berseru dan menerjang maju, kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dilambaikan ke depan dari kanan kiri.

Ia tidak ingin menyerang lebih dulu dan ingin sekali menyaksikan bagaimana kehebatan Khong-jiu-tin ini.

Setelah belajar ilmu di Pulau Es, Han Han amat suka melihat ilmu silat dan ingin sekali meluaskan pengalamannya dengan menyaksikan ilmu-ilmu silat didunia kang-ouw.

"Sambut serangan."

Tiba-tiba bentakan ini keluar dari tiga belas buah mulut secara serentak dan bergeraklah tiga belas orang hwesio itu menyerang Han Han.

Gerakan mereka amat cepat dan langkah-langkah mereka teratur, pukulan-pukulan yang dilancarkan mantap dan kuat.

Han Han menggunakan ginkangnya, tubuhnya bagaikan tubuh seekor walet saja ringannya dan dengan kecepatan yang mengagumkan ia telah mengelak dari setiap pukulan yang menyerangnya.

Akan tetapi betapapun cepat gerakannya, ia tidak dapat mengatasi kecepatan gerakan tiga belas orang sekaligus.

Apalagi ketika tiga belas orang itu ternyata bukan sembarangan bergerak mengandalkan kepandaian perorangan, melainkan bergerak menurut ilmu barisan yang aneh dan hebat.

Ke manapun Han Han mengelak, di situ telah menanti pukulan tangan kosong lain hwesio yang disusul dengan pukulan-pukulan lain dari segala jurusan sehingga bagi Han Han seolah-olah tidak ada jalan keluar lagi.

Terpaksa pemuda ini menggunakan lengannya menangkis.

Beberapa kali saja menangkis, terdengar seruan-seruan kesakitan daripara hwesio yang tertangkis lengannya,dan segera gerakan para hwesio itu berubah, kini tidak pernah mereka membiarkan lengan mereka tertangkis lagi.

Tiap kali lengan meereka ditangkis, mereka sudah menarik kembali tangan mereka untuk disusul dengan lain pukulan dari lain jurusan oleh hwesio lain.

Han Han makin kagum.

Sudah beberapa kali terdengar suara bak-bik-buk ketika beberapa buah pukulan para pengeroyoknya tak dapat ia elakkan dan terpaksa ia terima dengan tubuhnya yang sudah kebal.

Ia maklum bahwa andaikata ia tidak memiliki sinkang yang jauh lebih tinggi sehingga ia dapat mengandalkan kekebalan tubuhnya yang dilindungi sinkang dan mengandalkan pula kecepatan gerakannya mengandalkan ginkang, kiranya ia akan celaka di tangan tiga belas orang ini.

Kalau hanya mengandalkan ilmu silat, agaknya akan sukarlah menandingi barisan yang hebat ini.

Ia mulai memperhatikan gerakan mereka dan mengertilah ia bahwa sesungguhnya Khong jiu-tin yang terdiri dari pada tiga belas orang itu adalah dua macam barisan yang digabung menjadi satu.

Pertama barisan Pat-kwa-tin yang terdiri dari delapan orang, ke dua barisan Ngo-heng-tin yang terdiri dari lima orang.

Kedua barisan itu kadang-kadang melakukan gerakan terpisah saling membantu, kadang-kadang membentuk lingkaran dengan Pat-kwa-tin di sebelah luar dan Ngo-heng-tin di sebelah dalam.

Karena dalam hal ilmu silat Han Han memang belum dapat dikatakan mahir, menghadapi kedua barisan yang digabung merupakan Khong-jiu-tin yang mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Lo-han-kun yang amat hebat dari Siauw-lim-pai ini, tentu saja Han Han tidak mampu melawannya dan terpaksa ia harus mengandalkan sinkangnya yang membuat tubuhnya kebal dan menerima belasan kali pukulan-pukulan keras sebelum ia sempat melihat jalannya barisan yang amat mengagumkan itu.

Karena khawatir kalau-kalau pukulan-pukulan yang makin berbahaya melanda tubuhnya, Han Han mengerahkan khikangnya, mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua lengannya mendorong ke arah lawan yang mengeroyok dengan pengerahan tenaga sakti Im-kang.

Dapat dibayangkan betapa hebatnya dorongan-dorongan tenaga Im-kang ini kalau diingat bahwa bertahun-tahun pemuda ini melatih diri di Pulau Es yang amat dingin, sehingga ia telah dapat menyedot inti sari hawa dingin, membuat Im-kangnya yang dipelajari menurut kitab-kitab Ma-bin Lo-mo menjadi hebat, lebih hebat dari Swat-im Sin-ciang milik Ma-bin Lo-mo sendiri.

Terdengar keluhan-keluhan ketika tiga belas orang itu terhuyung-huyung dan roboh semua dengan muka pucat dan tubuh menggigil kedinginan"

Untung bahwa Han Han teringat akan sindiran Lulu tadi sehingga ia tidak menurunkan tangan maut, membatasi tenaga dorongannya sehingga darah tiga belas orang itu tidak membeku.

"Omitohud..., luar biasa..."

Terdengar Ceng To Hwesio berseru.

Tiga belas orang hwesio anggauta barisan Khong-jiu-tin itu saling bantu can mundur.

Tempat mereka kini diganti oleh sebuah barisan lain yang terdiri dari sembilan orang hwesio-hwesio tua berusia antara lima puluh tahun, rata-rata bertubuh kurus kering dan kelihatannya lemah sekali.

"Eh, hwesio curang. Sudah jelas barisan tadi tidak mampu menahan Kakakku, sekarang hwesio-hwesio tua kurus kering ini mau coba lagi?"

Bentak Lulu yang menghampiri kakaknya dan mengusap-usap leher kanan Han Han yang agak merah karena tadi terpukul, bahkan sebelah kanan bibirnya pecah dan berdarah sedilkit, bajunya robek-robek.

(Lanjut ke

Jilid 16) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16

"Koko tidak sakitkah?"

Han Han menggeleng kepala dan dengan halus mendorong tubuh adiknya kepinggir sambil berkata.

"Lulu, tenanglah barisan yang datang ini lebih berat."

"Apa? hwesio-hwesio kurus kering ini? Jumlahnya pun hanya sembilan orang, Sekali dorong saja roboh Tak usah di dorong kautiup saja mereka akan roboh semua. Mereka ini hanyalah penderita-penderita penyakit encok dan batuk."

Ceng To Hwesio tldak rnempedulikan ulah dan kata-kata kakak beradik itu lalu berkata dengan suara nyaring.

"Ujian pertama dapat di lalui, ujian ke dua menyusul. Lo-han-tin (Barisan Orang Tua) dari Siaw-lim-pai, hadapilah, orang muda."

Barisan ini jauh sekali bedanya dengan barisan Khong-jiu-tin tadi.

Kalau barisan pertama tadi terdiri dari hwesio hwesio yang bertubuh tegap dan gerakan mereka mantap mengandung tenaga kuat barisan ke dua ini terdiri dari hwesio-hwesio tua yang lemah sedangkan gerakan mereka pun kelihatan tak bertenaga.

Namun Han Han yang biarpun belum berpengalaman namun sebagai seorang ahli sinkang dan karena sudah banyak membaca kitab-kitab ilmu silat tinggi, dapat menduga bahwa barisan ini terdiri dari ahli-ahli sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Dugaannya memang benar.

Sembilan orang ini adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio dan tingkat mereka hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio yang tadi menjadi pengantar kedua orang muda itu dan yang kini tidak tampak lagi.

"Hemmm, beginikah peraturan Siauw-lim-pai? Kurasa hanya ditujukan kepada tamu-tamu yang tak dikehendaki saja,"

Kata Han Han sambil tersenyum mengejek.

"Para Losuhu, kalau tidak malu mengeroyok seorang muda, majulah."

Sembilan orang hwesio itu adalah sebuah barisan yang hanya mentaati perintah, maka tentu saja tidak mengandung perasaan pribadi dan ucapan Han Han itu tidak membuat mereka menjadi rikuh, bahkan kini mereka bergerak maju dan mulai mengurung lalu mengirim serangan-serangan yang kelihatannya lambat, namun sesungguhnya cepat dan dahsyat sekali, jauh lebih berbahaya dari pada penyerangan Khong-jiu-tin karena kini setiap pukulan mengandung tenaga lweekang yang hebat.

Melihat pukulan-pukulan yang berbahaya ini Han Han cepat meloncat ke atas dan ia pun mengerahkan sinkang ditubuhnya, berjungkir balik di udara dan kini tubuhnya menukik ke bawah dengan kedua tangan didorongkan, lalu ditarik kekanan kiri untuk menangkis sambutan para pengeroyoknya yang sudah mengirim pukulan-pukulan pula.

Begitu hawa pukulan itu bertemu dengan hawa sinkang yang keluar dari kedua lengan Han Han sembilan orang kakek itu terhuyung dan mereka berseru heran.

Akan tetapi mereka sudah menerjang lagi maju dan kini gerakan tangan mereka mengeluarkan angin sebagai tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang ada pada diri mereka.

Seperti juga tadi ketika menghadapi pengeroyokan Khong-jiu tin, Han Han tidak dapat melawan IImu silat Lo-han-kun yang dimainkan sembilan orang Ahli itu.

Biarpun ia sudah mempergunakan ginkangnya sehingga kadang-kadang tubuhnya lenyap dari pengurungan sembilan orang hwesio Itu, dan sudah mempergunakan kecepatannya untuk mengelak atau menangkis, namun tetap saja masih ada bebera buah pukulan yang "mampir"

Dl tubuhnya.

Dan kali Ini pukulan-pukulan yang mengenal tubuhnya sama sekali tidak boleh disamakan dengan pukulan-pukulan barisan pertama tadi karena pukulan-pukulan kali ini adalah pukulan yang mengandung tenaga lweekang.

Biarpun tubuh Han Han amat kebal karena kuatnya sinkangnya, dan memang ternyata bahwa tenaga dalamnya jauh lebih kuat dari pada para pengeroyoknya, namun pukulan-pukulan itu masih menggetarkan isi dada dan isi perutnya sehingga sebuah pukulan yang cukup keras pada dadanya membuat darah keluar mengucur dari mulutnya.

Dia tidak terluka, akan tetapi getaran dan goncangan itu ditambah pukulan yang mampir dl lehernya membuat mulut dan hidungnya berdarah.

Marahlah Han Han, kemarahan yang tidak dibuat-dibuat, yang timbul dengan sendirinya, yang membuat, mukanya tampak marahs, sepasang matanya menyorotkan pandang mata seperti kilat, penuh kebencian penuh nafsu membunuh.

Seolah olah semua wajah para pengeroyoknya berubah menjadi wajah wajah tujuh orang perwira Mancu yang membasmi keluarganya sehingga menimbulkan kebencian yang meluap luap di dalam hatinya, mendatangkan nafsu membunuh.

Ia mengeluarkan suara teriakan melengking yang terdengar mengerikan, lalu tubuhnya digoyang seperti seekor harimau menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu, kemudian ia menerjang maju dengan kedua tangan menyambar-nyambar kedepan.

"Koko.. jangan..."

Lulu berteriak ngeri menyaksikan keadan kakaknya itu.

Han han dapat mendengar jerit ini dan untunglah demikian, karena kedua tangannya yang menyebar maut dengan pukulan-pukulan Swat-im Si-ciang dan Hwi-yang Sin-cian secara berganti-ganti itu dapat ia tahan kekuatannya sehingga sembilan orang hwesio itu hanya terjengkang dan muntah-muntah darah terluka parah, tetapi tidak ada yang tewas.

"Omitohud...."

Ceng To Hwesio berseru marah.

"Kejam sekali engkau...."

Pada saat itu dari luar menyambar sinar-sinar berkeredapan dan ternyata lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio sudah muncul sambil menyambitkan senjata rahasia mereka ke arah Han han.

Hal ini mereka lakukan bukan sekali-kali untuk bermain curang, melainkan terdorong oleh kekhatiran dan karena mereka ingin menolong para sute mereka agar jangan sampai dipukul lagi oleh Han han.

Mereka mengira bahwa pemuda itu tentu akan membunuh semua sute mereka yang sembilan orang itu.

"Hwesio-hwesio curang."

Lulu sudah mencabut pedangnya, sinar hijau menyilaukan mata berkelebat dan semua senjata rahasia yang disambar sinar ini menjadi patah-patah seperti buah-buah mentimun bertemu pisau yang amat tajam.

"Cheng-kong-kiam."

Teriak hwesio pincang bertongkat ketika melihat pedang itu.

"Omitohud. kiranya benar-benar murid Hoa-san-pai yang mengacau, tangkap."

Bentak Ceng To Hwesio ketika mengenal Cheng-kong-kiam sebagai pedang pusaka Hoa-san-pai.

Memang pedang ditangan Lulu itu adalah Cheng-kong-kim yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu dan pedang ini sudah amat terkenal di dunia kang-ouw sehingga para hwesioSiauw-lim-pai juga mengenalnya.

Lima orang hwesio itu menyerang dengan hebat, mengurung Han Han dan mereka mempergunakan senjata mereka.

Si Pincang mempergunakan tongkatnya, dua orang hwesio mempergunakann.

Toya yang sudah mereka pegang ketika mereka, muncul, sedangkan yang tertua dan yang nomor dua memegang pedang.

Serangan mereka itu birarpun tidak sehebat ilmu pedang Siauw-lim Chit-kiam.

namun karena mereka adalah tokoh tokoh Siauw-Lim-pai tingkat tinggi, tentu saja serangan mereka ini hebat bukan main.

Boleh jadi dalam hal kekuatan singkang, Han Han yang telah memiliki tenaga mukjizat itu sukar ditandingi para hwesio yang mendapat sinkang secara latihan wajar, tidak seperti Han Han yang berlatih dengan cara-cara golongan sesat akan tetapi dalam hal IImu silat, Han Han sunguh ketingalan jauh kalau dibandingkan dengan lima orang hwesio murid Ceng To Hwesio itu.

Adapun Lulu yang juga memiliki tenaga sinkang yang tidak lumrah kalau dibandingkan dengan gadis seusianya yang sejak kecil belajar silat, dan telah mempelajari ilmu silat yang tinggi, namun dia kurang mendapat bimbingan yang benar sehingga ilmu pedangnya yang amat indah dan tinggi mutunya itu kekurangan isi.

Tentu saja diapun bukan lawan tokoh-tokoh Siaw-lim-pai itu.

Si hwesio tua yang pincang kakinya menghadapi Lulu dengan tongkatnya.

Ternyata hwesio ini bukan main ketika bergerak menerjang Lulu dengan tongkat di tangan.

Gerakanya gesit dan biarpun kakiknya melebihi kecepatan orang yang tidak cacat.

Ketika Lulu menangkis dengan pedangnya terdengar suara keras, ujung tongkat kayu Itu terbacok putus sedikit saking tajmnya pedang pusaka Hoa-san-pai Itu, akan tetapi telapak tangan Lulu tergetar hebat saking kuatnya tongkat di tangan hwesio pincang.

"Nona muda, lebih baik engkau menyerah saja. Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang adil dan tentu akan mengadakan sidang pengadilan yang tidak sewenang-wenang. Melawanpun tiada gunanya,"

Hwesio pincang ltu berkata dengan suara halus.

Dia seorang tokoh Siuw-lim-pai yang berilmu tinggi, sudah puluhan tahun malang-melintanl di dunia, kang-ouw sehingga kini merasa sungkan untuk bertanding melawan seorang gadis remaja yang menjadi cucu muridnya.

"Hwesio sombong, apa kau kira akan dapat mengalahkan, aku? Lihat pedang."

Lulu berteriak marah dan pedangnya sudah berkelebat menyambar lagi, merupakan segulungan sinar hijau yang tebar dan panjang.

"Omitohud, orang muda yang bersemangat baja."

Hwesio pincang itu berseru, tidak marah karena sebagai seorang hwesio tentu saja ia telah memiliki kesabaran besar, bahkan ia merasa kagum menyaksikan sepak-terjang gadis cantik ini.

Cepat ia menggerakkan tongkatnya dan sekejap kemudian bertandinglah mereka dengan hebat.

Biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, Namun hwesio pincang itu harus bersilat dengan amat hati-hati karena ginkang gadis itu sudah mencapai tingkat yang tinggi pula, membuat tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet.

dan tenaga sinkang yang tersembunyi di tangan halus.

Yang memegang pedang pun tak boleh dipandang ringan.

Sementara itu, Han Han juga mengamuk, dikeroyok oleh empat orang hwesio lain.

Agaknya para hwesio itu tidak ingin gagal untuk memenuhi perintah suhu mereka, yaitu menangkap Han Han, maka mereka berempat maju serentak dengan tangan kosong, membiarkan hwesio pincang seorang diri menghadapi.

Lulu yang mereka pandang rendah.

Mereka.sudah mendengar akan kelihaian Han Han ini dan karena Han Han telah membunuh orang-orang Siauw-lim-pai secara mengerikan, bahkan disangka membunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu saja mereka maklum bahwa pemuda ini amat lihai, maka mereka maju mengeroyok dan berlaku hati-hati sekali.

Pening rasa pandang mata Han Han ketika ia melihat geakan para pengeroyoknya yang selain cepat juga amat mantap itu, kemanapun ia menggerakkan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-ciang atau Swat-im Sin-ciang, selalu serangannya dapat dihindarkan keempat orang hwesio itu yang cepat mengelak dan sama sekali tidak berani menangkis.

Memang dahsyat mengerikan sekali sambaran kedua tangan Han Han ini, kadang-kadang mengandung hawa yang panas seperti api membara kadang-kadang dingin seperti es, Ilmu silat yang dimainkan oleh, empat orang hwesio itu adalah ilmu silat tinggi Siauw-lim-pai yang amat terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya.

Dibandingkan dengan Ilmu Silat Lo-han-kun yang dimainkan oleh barisan Khong-jiu-tin yang tadi mengeroyoknya, memang tidak ada bedanya, akan tetapi kini dimainkan dengan tenaga yang jauh lebih kuat dan gerakan yang lebih mantap.

Seperti juga tadi, Han Han tidak dapat mempertahankan dirinya, tidak dapat menghindarkan diri dari gebukan-gebukan dan tendangan-tendangan yang tentu akan membuatnya roboh pingsan sekiranya dia tidak memiliki tubuh yang penuh dengan hawa sinkang amat kuatnya.

Beberapa kali ia kena dijotos dadanya sampai tubuhnya terjengkang dan roboh bergulingan, namun setiap kali ia bangkit lagi dan mengamuk leblh hebat lagi.

Setelah berkelahi, hawa yang aneh memenuhi tubuh Han Han dan matanya berubah beringas, wajahnya merah menyeramkan, mulutnya yang berdarah Itu membayangkan kekejaman dan nafsu membunuh, hidungnya yang jga berdarah itu berkembang-kempis, matanya seperti meta harimau gila, kerongkongannya mengeluarkan suara rnengereng-gereng dan kadang-kadang melengking-lengking.

Empat orang hwesio murid Ceng To Hwesio kagum bukan main dan berkali-kali mereka mengeluarkan seruan terkejut saking herannya melihat betapa pemuda itu dapat menerima hantaman mereka tanpa mengalami cedera atau terluka sedikit pun, hanya sedikit darah mengalir dari mulut atau hidungnya setiap kali menerima pukulan.

Hampir mereka tak dapat percaya bahwa ada seorang pemuda remaja memiliki kekebalan seperti itu.

Sungguhpun tubuh Han Han tidak sampai terluka di sebelah dalam, namun sesungguhnya Han Han menderita bukan main.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan tidak karuan, kepalanya pening, pandang matanya berkunang dan telinganya mendengar suara mengiang-ngiang tiada hentinya.

Kemarahannya memuncak.

Ketika empat orang hwesio itu untuk ke sekian kalinya menerjang.

maju dari empat jurusan, ia sengaja tidak mau mengelak lagi, juga tidak menangkis hanya menanti sampai pukulan mereka tiba.

Mendadak Han Han mengeluarkan suara melengking tinggi, tangan kirinya menghantam ke kiri dengan pengerahan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang sedangkan tangan kanan menghantam ke kanan dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang.

Karena pemuda ini sengaja mengorbankan tubuhnya menjadi sasaran dan berbareng pada detik itu mengirim pukulan-pukulan, maka terdengar jerit mengerikan ketika pukulan-pukulannya mengenai sasaran.

Hwesio di sebelah kirinya roboh dengan muka biru dan darah membeku sedangkan yang berada di sebelah kanannya roboh pula dengan muka menjadi hitam gosong seperti terbakar"

Akan tetapi dia sendiri pun menerima pukulan-pukulan yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan tiba-tiba ia muntahkan darah segar yang banyak juga"

"Koko...."

Tiba-tiba Lulu menjerit dan Han Han cepat menengok.

Ternyata bahwa pedang adiknya itu telah terpukul tongkat dan terlepas dari pegangan tangan adiknya itu.

Ia melihat Ceng To Hwesio menggerakkan tangan seperti melambai dan..

pedang adiknya itu terbang ke arah tangan Si Hwesio yang membentak marah.

"Bocah setan, engkau kembali membunuh dua orang murid pinceng"

Kau tidak boleh dibiarkan hidup lagi."

Kini mereka semua menyerbu mengeroyok Han Han.

Ceng To Hwesio dan muridnya yang tinggal tiga orang karena hwesio pincang itu setelah melihat dua orang sutenya tewas lalu meninggalkan Lulu dan ikut mengeroyok Han Han.

Tidak seperti tadi ketika dilkeroyok empat orang hwesio bertangan kosong, kini Han Han dikeroyok empat orang hwesio yang semuanya bersenjata.

Hwesio pincang memegang tongkat, dua orang hwesio lain memegang toya dan Ceng To Hwesio memegang pedang Ceng-kong-kiam dari Hoa-san-pai.

Dalam kemarahanya, Han Han tldak takut menghadapi bahaya apapun juga.

Ia menjadi nekat dan memutar kedua lengannya mengirim pukulan-pukulan dengan hawa sakti Hwi-yang Sin-ciang yang dahsat sehingga empat orang hwesioa itu tidak berani terlalu mendekatinya.

"Omltohud...keji sekali..."

Ceng To Hweslo berseru dan pedangnya berubah menjadi sinar hijau menuju pusar Han Han, Pemuda itu terkejut, cepat ia melompat ke atas seperti terbang saja dan pada saat itu, tongkat hwesio pincang menyambar kakinya.

Namun Han Han menggerakkan kaki menendang sehingga tongkat itu hampir terlepas dari tangan pemeganya.

Pada saat itu, sinar hijau berkelebat ke lehernya.

Han Han membuang tubuh ke belakang, namun masih saja pedang itu menyerempet pundaknya sehingga bajunya berikut kulit dan sedikit daging pundak robek den berdarah.

"Koko..."

Lulu menjerit dan menubruk Han Han, matanya melotot memandang empat orang hwesio itu dan mulutnya memaki-maki.

"Hwesio.... hwesio jahat"

Beginikah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai Tukang keroyok?

Melihat gadis itu yang melindungi tubuh Han Han, empat orang hwesio itu menjadi sungkan untuk menyerang.

Han Han tidak ingin melihat adiknya terancam bahaya, maka ia lalu meraih pingang adiknya dibawa meloncat sambil membentak.

"Minggir kalian."

Bentakan Han Han Ini mengandung suara aneh yang memiliki pengaruh mukjizat.

Tanpa mereka ketahui mengapa, empat orang hwesio itu segera mundur ke pinggir dan membiarkan Han Han lewat bersama Lulu.

Setelah pemuda itu berlari ke depan, memasuki kuil, barulah Ceng To Hwesio berseru.

"Omitohud..., mengapa kita diam saja...?"

Ia amat terkejut, demikian pula tiga orang muridnya dan serentak mereka mengejar ke dalam kuil.

Han Han berkelebat cepat memasuki kuil sampai ke ruangan belakang.

Ternyata kuil itu luas sekali dan mempunyai banyak ruangan.

Melihat betapa para hwesio kosen itu mengejar, Han Han berlari terus sambil menarik tangan Lulu Karena para pengejarnya yakin bahwa pemuda itu tidak dapat meloloskan diri, apalagi kalau dilihat kenyataannya bahwa Han Han malah lari memasuki kuil, maka mereka ini agaknya tidak mau ribut-ribut, dan mengejar seenaknya saja.

Han Han yang menggandeng Lulu terus lari sampai di ruangan belakang yang amat luas.

Tampak banyak daun-daun pintu tertutup dan ketika Han Han tiba di ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara halus namun penuh wibawa.

"Orang muda yang diperalat iblis berlututlah dan menyerah."

Han Han dan Lulu mengangkat muka ke atas karena suara jtu seperti datang dari atas, akan tetapi diatas tidak tampak apa-apa kecuali langit-langit rumah.

Ketika mereka menoleh ke kiri, ternyata di situ telah berdiri seorang hwesio tua bermuka kurus bertubuh kecil jangkung yang berwajah angker penuh wibawa.

Hwesio kurus ini kepalanya gundul kelimis, alisnya tebal dan kumis jenggotnya jarang, tangan kirinya memegang seuntai tasbih dan pakaiannya sungguhpun sederhana namun masih jelas berbeda dengan pakaian para hwesio lain, juga kepalanya diikat tali dengan "hiasan"

Benda kecil runcing seperti jimat di atas kepala.

Hwesio ini adalah Ceng San Hwesio, ketua Siauw-lim-pai yang memandang Han Han dengan sinar mata penuh teguran.

Han Han menarik tangan Lulu hendak lari keluar lagi.

Melihat hwesio tua itu, Han Han maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, akan tetapi begitu ia membalikkan tubuhnya, Ceng To Hwe-sio dan tiga orang muridnya sudah tiba di situ dan berdiri memenuhi ambang pintu yang menuju keluar.

Mereka berempat ini memandang dengan sinar mata penuh kemarahan.

"Suheng, dia inilah bocah yang telah membunuh murld-murid Siauw-lim-pai, bahkan di luar tadi telah membunuh dua orang muridku. Mohon keputusan ketua."

Berkata Ceng To Hwesio sambil menahan kemarahannya.

Kalau menurutkan kemarahan hatinya, ingin ia turun tangan terus membunuh bocah itu, akan tetapi karena yang berkuasa memutuskan sesuatu adalah Ceng San Hwe sio sebagai ketua Siauw-lim-pai, ia menahan kemarahannya dan menyerahkan keputusannya kepada Ceng San Hwesio.

"Omitohud, malapetaka menimpa Siauw-lim-pai tiada henti-hentinya... semoga Tuhan mengampuni kita sekalian..."

Ceng San Hwesio menekan kemarahannya dan berdoa, kemudian memandang kepada Han Han sambil berkata.

"Orang muda, engkaukah yang bernama Sie Han, pemuda yang telah membunuh murid-murid pinceng Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, kemudian membunuh pula beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dan kini bahkan membunuh dua orang murid keponakanku? Heh, orang muda yang berhati kejam, apakah sebabnya engkau melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Apakah enkau murid Hoa-san-pai?"

Han Han menjura penuh hormat setelah kini la tahu bahwa hwesio itu adalah ketua Siauw-lim-pai.

"Harap Locianpwe sudi mempertimbangkan dan tidak tergesa-gesa sepertl yang lain menjatuhkan tuduhan yang bukan-bukan. Saya bukanlah murid Hoa-san-pai, juga tidak mempunyal hubungan apa-apa dengan Hoa-san-pai. Adapun tentang pembunuhan yang saya lakukan terhadap anak murid Siauw-lim-pai ketika mereka bentrok dihutan dengan murid-murid Hoa-san-pai tidak perlu saya sangkal, dan memang saya melakukan pembunuhan itu sunggupun hal itu bukan menjadi kehendak saya. Juga tewasnya dua orang hwesio yang mengeroyok saya di luar itu terjadi bukan atas kehendak saya. Akan tetapi tentang kematian dua orang murid Locianpwe, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, saya tidak tahu-menahu dan justeru kedatangan saya ini hendak menjelaskan semua duduknya perkara sehingga timbul bentrokan antara Hoa-san-pai, dan Siauw-lim-pai, kemudian yang menyeret diri saya sebagai orang luar karena kebetulan saja dan karena salah pengertian sebagai korban dari tipu muslihat keji seorang Puteri Mancu."

"Orang muda, setelah membunuh sekian banyaknya murid-murid Siauw-lim-pai, engkau datang ke sini dengan alasan hendak memberi penjelasan, akan tetapi sambil membunuh pula dua orang murid Siauw-lim-pai lainnya. Begitukah caramu hendak memberi penjelasan? Apakah engkau hendak menghilangkan dosa dengan pembunuhan lain lagi?"

"Maaf, Locianpwe. Sudah kukatakan tadi bahwa tewasnya Losuhu di luar itu bukanlah kehendak saya. Saya dikeroyok dan mereka berkeras menolak keinginan saya bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian dan dengan Locianpwe sebagai ketua untuk memberi penjelasan, akan tetapi mereka menggunakan kekerasan. Terpaksa saya melawan untuk membela diri dan akhirnya dua di antara para losuhu tewas..."

"Suheng! Setan cilik ini telah menginjak-injak kehormatan Siauw-lim-pai, telah membunuh dengan cara keji tujuh orang murid-murid Siauw-lim-pai kemudian sekarang membunuh pula dua orang murid tingkat pertama, bahkan kematian Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek tentu akibat perbuatannya pula karena memang dia memiliki ilmu setan. Harap Suheng sekarang memberi keputusan agar saya dapat turun tangan menangkap atau membunuhnya,"

Kata Ceng To Hwesio yang merasa marah sekali atas kematian dua orang muridnya yang tersayang.

Tidak hanya Ceng To Hwesio yang merasa sakit hatinya oleh kematian para murid Siauw-lim-pai.

Biarpun ketua Siauw-lim-pai sendiri, Ceng San Hwesio, juga merasa sakit hati.

Akan tetapi sebagai seorang ketua yang berpikiran luas dan berpemandangan jauh ia tidak mau bertindak sembrono.

Urusan Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai jauh lebih penting dan lebih besar dari pada urusan dendam terhadap orang muda ini, pikirnya.

Maka ia menindas perasannya dan bertanya.

"Orang muda she Sie, engkau hendak menyampaikan penjelasan tentang sebab-sebab bentrokan antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. penjelasan yang kau awali dengan pembunuhan baru lagi. Penjelasan apakah gerangan? Coba kau sampaikan kepada pinceng untuk dipertimbangkan."

Han Han maklum bahwa keadaannya terhimpit dan terancam.

la malah merasa pening dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, sedangkan Lulu yang memegang lengannya dari belakang kelihatan pucat dan tangan gadis itu agak gemetar tanda bahwa hatinya tegang dan takut.

Kenyataan bahwa kedatangannya ini menimbulkan pembunuhan-pembunuhan baru membuat perkara menjadi makin ruwet.

Akan tetapi karena memang hatinya tidak mengandung pamrih apa-apa, tidak pula mempunyai niat untuk menonjolkan atau menguntungkan diri sendiri, melainkan hanya bertindak untuk membela diri dari serangan-serangan maut, dengan suara tenang ia lalu berkata.

"Locianpwe, semua peristiwa yang terjadi sehingga mengakibatkan korban-korban yang tewas di antara murid-murid Siauw-lim-pai dan juga Hoa-san-pai, adalah disebabkan oleh siasat adu domba yang amat licin dari seorang puteri Mancu yang bernama Puteri Nirahai. Mula-mula terjadi pembunuhan atas diri dua orang Locianpwe dari Siauw-lim Chit-kiam yang merupakan rahasia, akan tetapi yang pertama kali membawa datang kedua jenazah itu adalah Puteri Nirahai itulah."

Kemudian dengan tenang Han Han menceritakan semua peristiwa yang didengarnya dari pihak Hoa-san-pai tentang pengiriman peti oleh puteri Mancu, dan betapa peti-peti itu dikawal oleh murid Hoa-san-pai kemudian di tengah jalan dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai sehingga terjadi pertempuran.

"Saya dan adik saya kebetulan lewat di tempat pertempuran dan karena saya mengira bahwa murid-murid Siauw-lim-pai adalah perampok-perampok yang hendak merampas kereta yang dikawal Pek-eng-piauwkiok, saya lalu membantu Pek-eng-piauwkiok dan dalam pertandingan itu saya dikeroyok dan akibatnya tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang saya kira perampok ltu tewas. Setelah muncul Nona Lauw Sin Lian yang saya kenaI diwaktu kecil, yang membuka dua peti terisi jenazah, barulah saya terkejut dan kembali saya salah sangka, mengira bahwa pihak Hoa-san-pai yang jahat dan turun tangan membunuh dua orang pimpinan Pek-eng-piauwkiok yang menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Saya sudah menjelaskan persoalan ini kepada pimpinan Hoa-san-pai, dan biarpun hasilnya, tidak begitu memuaskan, saya tetap mendatangi Siauw-lim-si untuk memberi penjelasan pula kepada ketua Siauw-lim-pai dan kepada Nona Lauw Sin Lian. Sungguh menyedihkan bahwa kedatangan saya dikeroyok dan akibatnya dua orang murid Siauw-lim-pai tewas. Sekarang terserah kepada keputusan Locianpwe."

Ceng San Hwesio diam-diam terkejut sekali dan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan bohong tidaknya cerita yang ia dengar dari mulut pemuda aneh ini.

Kalau tidak bohong, benar-benar Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai terancam kehancuran kalau melanjutkan permusuhan yang dijadikan umpan perpecahan oleh pihak penjajah.

Akan tetapi siapa tahu kalau cerita itu hisapan jempol belaka?

Pemuda ini amat aneh dan lihai, siapa dapat menjenguk isi hatinya?

"Suheng, harap jangan percaya dia.

Masih ingat pinceng akan cerita Sin Lian bahwa bocah ini adalah murid Kang-thouw-kwi Gak Liat dan tadi pun dia mengeluarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang.

Tentu kedua orang murid Suheng dia pula yang membunuhnya."

Ceng To Hwesio berkata.

bukan untuk memanaskan hati suhengnya, melainkan karena ia menduga keras bahwa Han Han adalah seorang musuh besar.

Sinar mata Ceng San Hwesio berkilat.

"Hemmm, Gak Liat manusia yang keji dan jahat. Sekarang muridnya lebih kejam lagi.., Omitohud. Sie Han, kau lebih baik menyerahkan diri, jangan melawan. Kau harus menjadi tawanan kami untuk kemudian diperiksa lebih lanjut."

"Locianpwe, sebagai seorang ketua perkumpulan besar, apakah Locianpwe tidak dapat menggunakan kebijaksanaan? Kakakku tidak bersalah, memaksa diri datang kesini untuk memberi penjelasan agar jangan terjadi permusuhan berlarut-larut antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Akan tetapi sampai disini malah hendak ditawan. Hayo kembalikan pedangku dan biarkan kami berdua pergi dari sini kalau Locianpwe tidak suka mendengarkan penjelasan Kakakku."

Lulu yang tadinya kelihatan takut-takut itu kini melangkah maju dan bicara dengan suara membentak-bentak kepada ketua Siauw-lim-pai.

Jari-jari tangan kiri Ceng San Hwesio menggerak-gerakkan tasbihnya ketika ia memandang Lulu, alisnya berkerut dan ia bertanya halus.

"Nona muda, siapakah namamu?"

"Namaku Lulu dan aku adalah adik Kakakku Han Han ini."

"Nona bukan murid Hoa-san-pai?"

"Bukan, juga Kakakku bukan murid Hoa-san-pai, bukan pula murid Gak Liat."

Bibir hwesio tua itu tersenyum.

"Hem, Nona bicara tidak karuan. Kalau bukan murid Hoa-san-pai, bagaimana pedang Cheng-kong-kiam bisa berada di tangan-mu? Pedang itu adalah pedang pusaka Hoa-san-pai dan biasanya hanya dipergunakan oleh pihak pimpinan Hoa-san-pai."

"Ohhh, itu? Pedangku yang dirampas oleh hwesio jahat ini? Sama saja dengan hwesio itu, Locianpwe, aku merampas dari tosu Hoa-san-pai?"

"Hemmm, merampas dari tosu Hoa-san-pai?"

"Apa bedanya dengan hwesio ini? Dia pun merampas pedangku. Aku diserang tosu Hoa-san-pai dan aku merampas pedangnya."

Tiba-tiba Ceng To Hwesio maju dan berkata.

"Nona muda yang lancang mulut. Benarkah engkau Adik pemuda ini? Pinceng tidak percaya."

Lulu membelalakkan matanya kepada hwesio yang dibencinya itu, yang telah memegang pedangnya.

"Kau percaya atau tidak bukan urusanku. Aku adalah adik angkat Kakakku ini dan aku tidak membutuhkan kepercayaanmu."

"Suheng, gadis ini adalah keturunan Mancu."

Tiba-tiba Ceng To Hwesio berkata.

"Lihatlah matanya, lihat hidungnya dagunya Dia berdarah Mancu."

"Memang aku gadis mancu, habis engkau mau apa?"

"Omitohud.. kalau begitu benar. Mereka ini adalah mata-mata penjajah yang dipergunakan untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Bocah kejam, terpaksa pinceng. Turun tangan kepadamu."

Ceng San Hwesio berseru dan tiba-tiba dia menggerakkan kaki maju dua langkah dan tangan kanan-nya mendorong ke depan, mencengkeram ke arah pundak Han Han.

Pemuda yang sudah sakit-sakit rasa tubuhnya ini ketika mendengar suara mencicit keluar dari tangan ketua Siauw-lim-pai, terkejut bukan main.

Cepat ia miringkan tubuh, agak merendah dan dengan nekat ia mengangkat tangan menangkis ke arah tangan hwesio yang terulur itu.

"Plakkk."

"Omitohud... menakjubkan."

CengSan Hwesio berseru dan meloncat kebelakang untuk mematahkan daya dorong yang dapat.

merusak kuda-kuda kakinya.

Akan tetapi Han Han terpental ke belakang dan roboh terguling-guling.

Ternyata bahwa dalam hal tenaga, bahkan kakek ketua Siauw-lim-pai ini sendiri tak mampu mengatasi Han Han, akan tetapi karena kakek ini amat lihai, ketika tangan mereka bertemu tadi Ceng San Hwesio telah menggerakkan pergelangan tangan sehingga Han Han terdorong dari samping dan kena dilontarkan ke belakang.

"Kalian benar-benar menghendaki nyawaku? Hemmm...majulah, aku Sie Han bukannya orang yang takut mati."

Bentak Han Han, kemarahannya membuat wajahnya menjadi merah sekali dan kelihatannya beringas menyeramkan, sinar maut terpancar dari sepasang matanya.

Ceng San Hwesio maklum bahwa anak muda ini benar-benar merupakan bahaya dan bahwa kalau dia sendiri tidak turun tangan, tentu akan sukar bagi murid-muridnya menundukkan Han Han tanpa mengorbankan nyawa banyak anak murid Siauw-lim-pai lagi.

Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia berpantang membunuh, akan tetapi karena maklum bahwa pemuda ini sukar dikalahkah dan memiliki sinkang yang amat luar biasa, ia lalu melangkah maju, siap menurunkan tangan menyerang.

Juga Ceng To Hwesio bersama tiga orang muridnya sudah maju mengurung Han Han yang beringas dan marah sedangkan Lulu masih berdiri terbelalak penuh kekhawatiran memandang kakaknya.

Keadaan itu amat menegangkan, terutama sekali bagi Lulu yang seolah-olah melihat betapa kakaknya yang tercinta itu hendak disembelih, hendak dibunuh di depan matanya.

Ia amat bangga dan yakin akan kelihaian kakaknya, akan tetapi kini ia mengerti bahwa kakaknya bukanlah lawan hwesio-hwesio yang sakti ini.

Ia pun bersiap-siap untuk menyerbu untuk membela kakaknya, karena kalau sampai kakaknya tewas, ia pun tidak mau hidup lebih lama lagi ingin mati disamping kakaknya.

Dalam detik seperti itu terasa benar di hati Lulu betapa ia mencinta kakaknya, betapa di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa lagi, betapa hidupnya akan kosong dan hampa kalau Han Han mati.

Perasaan ini seperti duri-duri menusuk jantungnya, membuat Lulu tanpa disadarinya memekik nyaring.

"Koko..! Aku ingin mati bersamamu..."

Jeritan melengking yang keluar dari mulut Lulu ini langsung keluar dari hatinya, maka mengandung getaran hebat.

Ceng San Hwesio bersama sutenya dan tiga orang muridnya itu, sudah siap menerjang maju membinasakan Han Han tergetar oleh jeritan ini.

Mereka adalah hwesio-hwesio y.ang berilmu, hwesio-hwesio yang mengutamakan kebajikan yang penuh dengan welas asih dan cinta kasih terhadap sesama hidup.

Mereka sama sekali bukanlah orang-orang kejam, bahkan mereka telah berhasil mengusir jauh-jauh nafsu kebencian.

Kalau mereka hendak turun tangan membunuh Han Han, hal ini dilakukan dengan perasaan demi menjaga keutuhan den kelangsungan Siauw-lim-pai yang terancam kedudukannya.

Kini mendengar lengking itu, hati mereka tertusuk dan sejenak mereka berdiri melongo memandang Han Han yang berdiri dengan muka beringas dan darah mengalir dari pundak, hidung dan ujung bibirnya.

Pada detik-detik yang sunyi itu terdengarlah suara halus yang seolah-olah terbawa asap dupa yang mengepul keluar dari balik daun pintu tertutup sebelah kiri, suara yang penuh getaran pula.

"Siancai..., hidupnya belum terisi, mengapa ingin mati? Aduhai, sebentar lagi tubuh itu terbujur di dalam tanah, busuk menjijikkan, tanpa kesadaran, tidak ada, gunanya seperti kayu habis dimakan api"

Omitohud.., Ceng San.., apa yang hendak kau lakukan di luar? Kesinilah segera."

Mendengar suara ini, lima orang hwesio yang mengurung Han Han itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dengan muka menghadap daun pintu tertutup dari mana mengepul keluar asap dupa harum itu.

Kemudian Ceng San Hwesio lalu melompat sambil berlutut dan tubuhnya yang masih berlutut itu melayang ke arah daun pintu, tangan kanan mendorong daun pintu terbuka dan tubuhnya terus meluncur masuk ketika daun pintu itu tertutup kembali.

Han Han memandang penuh kagum.

Mengertilah ia bahwa kepandaiannya masih amat jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan hwesio-hwesio tokoh Siauw-lim-pai ini.

la maklum bahwa biarpun Ceng San Hwesio sudah pergi, namun tetap saja ia tidak akan dapat menghindarkan diri dari maut kalau ia melawan Ceng To Hwesio, apalagi jika hwesio sakti ini dibantu oleh tiga orang muridnya.

Maka ia lalu menggandeng tangan Lulu dan berlarilah Han Han menuju ke pintu yang tadi dimasuki Ceng San Hwesio.

"Hei, berhenti kau..."

Ceng To Hwesio membentak dan ketika Han Han tidak mempedulikannya, Ceng To Hwesio mengirim pukulan jarak jauh dari belakang.

Kembali Han Han mendengar suara bercuit dari belakang dan ia maklum bahwa ia dipukul dengan hawa sakti yang amat kuat.

Maka ia cepat menarik tubuh Lulu agar berlindung di belakang, kemudian.

ia membalik sambil menggerakkan tangan menangkis.

Namun tetap saja tubuhnya terlempar bersama tubuh Lulu, menabrak dinding akan tetapi malah dekat dengan pintu itu yang cepat ia buka sambiI melompat masuk dan menarik tangan adiknya.

Kepalanya pening sekali, napasnya sesak dan kemarahannya makin memuncak.

"Koko, kita ke mana ?"

Tanya Lulu terengah-engah.

"Biarlah...akan kucari Ceng San Hwesio..kalau perlu aku mati bersama dia. Aku akan mengadu nyawa dengan ketua Siauw-lim-pai.., mati di tangannya tidak penasaran."

"Koko...."

Lulu menjadi pucat akan tetapi ketika ia menengok dan melihat betapa Ceng To Hwesio dan tiga orang muridnya tidak berani mengejar, bahkan sudah berlutut lagi menghadapi pintu, hatinya menjadi lega.

Memang tidak seorang pun hwesio Siauw-lim-pai, termasuk ketuanya, berani memasuki kamar-kamar yang daun pintunya berjajar diruangan luas sebelah belakang kuil ini.

Itulah kamar-kamar yang disebut "ruangan penyiksaan diri"

Dan merupakan tempat terlarang bagi para hwesio lainnya.

Kalau tadi tidak medengar suara supeknya memanggil, Ceng San Hwesio sendiri tidak akan berani memasuki kamar melalui daun pintu itu.

lnilah sebabnya mengapa Ceng To Hwesio dan tiga orang muridnya tidak berani mengejar Han Han dan Lulu yang memasuki kamar terlarang ini.

Dengan alis berkerut dan wajah masih beringas darah masih menetes-netes dari hidung dan mulut sebagai akibat gempuran pukulan terakhir Ceng To Hwesio tadi, mata masih berkunang dan kepala berdenyut-denyut, Han Han memasuki lorong yang menembus pintu tadi, dipegang lengannya oleh Lulu yang memandangnya penuh kekhawatiran.

Han Han seperti terbetot asap dupa harum karena kakinya bergerak melangkah maju menempuh asap dupa dan menghampiri kamar dari mana dupa itu mengepul keluar.

Ia melangkah ke ambang pintu kamar itu dan berdiri tertegun sambil memegangi pundaknya yang terasa perih karena darahnya keluar lagi ketika terbanting tadi.

Seperti terpesona.

Han Han memandang ke dalam kamar sedangkan Lulu yang juga memandang ke dalam kamar dan melihat tiga orang hwesio di kamar itu, memandang kakaknya dengan hati gelisah.

Dengan sinar matanya ia seolah-olah hendak melarang kakaknya turun tangan, karena betapa mungkin kakaknya melawan tiga orang hwesio tua itu?

Ternyata Han Han tidak turun tangan, bahkan berdiri seperti arca, terpesona oleh pemandangan den pendengaran di dalam itu.

Di atas sebuah dipan bambu sederhana duduk seorang hwesio yang amat tua, begitu tua dan kurusnya seperti rangka terbungkus kulit.

Kepalanya gundul halus mengeluarkan sinar, alis, kumis dan jenggotnya Seperti menjadi satu berjuntai ke bawah berwarna putih, mukanya tunduk dan matanya terpejam, tubuhnya terbungkus kain kuning yang kasar dan tangan kanannya memegang sebuah kipas daun.

Hwesio ini duduk bersila dan di sebelah kirinya, di dekat kaki dipan, duduk bersila sambil menundukkan muka pula seorang hwesio lain yang keningnya selalu berkerut, mulutnya cemberut dan matanya terpejam.

Hwesio ini pun sudah tua sekali, dan agaknya dialah yang melayani segala keperluan hwesio tua di atas dipan.

Sebuah pedupaan berada di dekat hwesio pelayan ini dan agaknya dia pula yang membakar dupa bubuk di pedupaan itu.

Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai tampak duduk berlutut di depan hwesio tua renta itu dengan sikap penuh hormat.

Kamar itu sendiri kosong dan buruk tua, tidak ada hiasan apa-apa kecuali dipan itu dan sebuah meja kayu di mana terdapat sebuah guci air.

Terdengar oleh Han Han suara yang halus seperti suara tadi yang keluar dari daun pintu bersama asap dupa dan sungguhpun bibir kakek tua itu tidak bergerak, namun ia dapat menduga bahwa itulah suara hwesio tua yang bersila diatas dipan.

"Jangan menilai perbuatan orang lain yang tidak patut maupun dosa-dosa dan kejahatan orang lain, melainkan perbuatan dan penyelewengan diri sendirilah yang harus selalu diperhatikan. Harum semerbaknya bunga-bunga tagara, malika dan kayu cendana tak dapat tersebar melawan arahnya angin, akan tetapi harum semerbaknya nama baik seseorang bahkan sampai tersebar melawan arahnya angin. Sama seperti dionggokan sampah kotor tumbuh bunga teratai yang bersih dan indah, demikian pula seorang murid Buddha tetap bijaksana seperti teratai diantara orang-orang sesat. Wahai, Ceng San, apakah engkau sudah melupakan semua pelajaran itu?"

Han Han terpesona, tak berani bergerak dan tak berani berkedip, memandang kakek tua itu dan mendengarkan kata-katanya.

Ia pernah membaca kata-kata yang keluar dari dalam mulut kakek itu, mengenal kata-kata itu dari kitab-kitab Agama Buddha yang pernah dibacanya.

Akan tetapi entah bagaimana dia sendiri tidak mengerti, mendengar kata-kata bersajak itu keluar dengan suara getaran aneh dari tubuh hwesio ini, terasa dingin sejuk dan sekaligus membuka mata batinnya, membuatnya terpesona dan ingin mendengarkan terus.

"Teecu selalu ingat akan semua pelajaran dan tidak pernah melupakannya. Akari tetapi, Supek, urusan yang melanda Siauw-lim-pai ini adalah urusan besar sekali. Teecu bukan bertindak berdasarkan dendam kebencian melainkan karena ingin menjaga nama besar Siauw-lim-pai. Siauw-lim-pai yang didirikan ratusan tahun yang lalu oleh Couwsu kita, kalau tidak dijaga dan dipertahankan, bukankah hal itu merupakan dosa besar terhadap Couwsu? Siauw-lim-pai diadu domba dengan Hoa-san-pai, murid-murid Siauw-lim-pai pilihan telah dibunuh orang, kini pembunuhnya muncul pula di kuil kita dan membunuh pula murid-murid Siauw-lim-pai, bahkan mengajak datang seorang gadis Mancu mengotori kuil kita. Mohon petunjuk, Supek. Apakah teecu bersikap dungu kalau teecu hendak membasmi manusia sesat dan keji itu dari permukaan bumi agar perbuatan-perbuatannya tidak menimbulkan mala petaka yang lebih hebat lagi? Tidak benarkah perbuatan teecu seperti itu?"

Terdengar suara halus itu keluar dari balik jenggot tanpa pergerakan bibir dan kini suara itu mengeluarkan nyanyian halus yang ternyata adalah ayat-ayat kitab suci dari Agama Buddha yang pernah pula dibaca Han Han.

Si dungu dengan perbuatannya mencipta diri sendiri menjadi musuh banyak manusia di mana pun dia melakukan kejahatan yang menimbulkan banyak penderitaan.

Tidak benarlah perbuatan yang menimbulkan duka nestapa penyesalan, ratap tangis dan air mata.

Benarlah perbuatan yang mendatangkan manfaat kegembiraan dan kebahagiaan.

Biarpun ucapan itu ditujukan kepada Ceng San Hwesio, namun secara aneh sekali meresap ke dalam sanubari Han Han dan pemuda ini merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada dirinya sehingga menimbulkan pertanyaan di hatinya apakah selama ini perbuatannya itu benar?

Ia mengangapnya benar, akan tetapi melihat akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya, setelah mendengar ucapan kakek itu, ia menjadi ragu-ragu.

Betapa banyaknya kekacauan dan keributan timbul sebagai akibat perbuatan-perbuatannya itu.

Siapakah yang untung, gembira dan bahagia oleh perbuatannya?

Tidak ada?

Siapa yang rugi.

Yang jelas saja, Hoa-san-pai memusuhi nya karena dia telah membunuh beberapa orang anak muridnya, kini Siauw-lim-pai juga memusuhinya, belum lagi diingat Sin Lian yang begitu baik kepadanya kini menjadi sakit hati dan membencinya.

Dengan hati perih seperti ditusuk pedang dan perasaan penuh keharuan, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah kakek di atas dipan itu sambil berkata.

"Locianpwe yang mulia..., boanpwe Sie Han merasa menyesal sekali atas segala kejahatan yang boanpwe lakukan..mohon Locianpwe segera turun tangan menghukum.."

Lulu juga berlutut, bukan berlutut untuk menghormat kakek itu melainkan untuk merangkul pundak kakaknya dengan penuh kekhawatiran.

"Koko, mengapa begini? Kita tidak bersalah apa-apa, engkau tidak melakukan kejahatan. Mari kita pergi saja, Koko..., kalau mereka tidak sudi mendengarkan penjelasanmu, mari kita pergi saja."

Suara Lulu terdengar begitu menyedihkan dan sepasang mata yang lebar itu mengucurkan air mata.

"Diamlah, Lulu, diamlah.. biarkan Kakakmu mendengarkan wejangan Locianpwe yang mulia ini, dan kau juga... perlu mendengarkan, Lulu..."

Kata Han Han tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah kakek tua renta yang masih menunduk.

Sementara itu, tanpa mempedulikan kehadiran Han Han dan Lulu, Ceng San Hwesio berkata pula dengan suara penasaran.

"Mohon maaf, Supek. Kalau Supek menganggap bahwa keputusan teecu untuk membunuh pemuda jahat itu tidak benar, habis bagaimanakah teecu harus berbuat menurut pendapat Supek? Teecu mengambil keputuan berdasarkan pertimbangan yang masak dan adil. Pertama, bocah ini adalah murid Gak Liat dan mengingat betapa Gak Liat telah merusak hidup cucu murid teecu sendiri, Bi-kiam Bhok Khim maka berarti bahwa muridnya ini pun bukan manusia baik-baik.."

Tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding tebal di sebelah kanan jebol dan berlubang besar, kemudian muncullah seorang wanita dari dalam lubang itu, seorang wanita yang memondong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih enam tahun, dan keadaan wanita itu sungguh mengerikan.

Pakaiannya hitam compang-camping, rambutnya panjang riap-riapan sampai ke pinggul, wajahnya yang masih jelas membayangkan kecantikan itu kotor dan menyeramkan sekali karena pandang matanya berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.

Anak laki-laki itu tampan dan mukanya putih, juga memakai pakaian hitam yang tidak karuan bentuknya, kaki nya telanjang dan rambutnya pun panjang.

"Hi-hi-hik, Biar gurunya jahat, muridnya mungkin baik. Biar gurunya baik, banyak sekali muridnya yang jahat. Kang-thouw-kwi adalah setan neraka jahanam, akan tetapi bocah ini tidak jahat. Sama sekali tidak.. dia berani menentang setan itu dahulu untuk menolongku."

Sementara itu, Ceng San Hwesio memandang wanita itu dengan mata terbelalak, dan setelah wanita itu mengeluarkan kata-kata tadi, barulah ketua Siauw-lim-pai ini agaknya dapat menekan kekagetannya dan berkata.

"Bhok Khim...! Kau.. kau.. dan anak itu.."

Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw-lim-pai yang masih berlutut, wajahnya berseri aneh ketika ia berkata.

"Hi-hi-hik, Sukong, engkau heran melihat anak ini? Dia ini anakku. Hi-hik, engkau ketua Siauw-lim-pai pun tidak tahu bahwa di dalam kamar penyiksa diri aku melahirkan anakku ini. Hi-hik, Selama ini Siauw-lim-pai tidak mampu membasmi Kang-thouw-kwi, biarlah aku sendiri yang akan membunuhnya."

Sambil berkata demikian, tubuhnya membalik dan berkelebat cepat sekali pergi dari ruangan itu.

"Supek, apakah artinya itu? Mengapa Bhok Khim menjadi seperti itu..?"

Ceng San Hwesio bertanya kepada supeknya. Hwesio tua itu menarik napas panjang lalu terdengar suaranya.

"Kehendak Thian tak dapat diubah oleh siapapun juga. Dia telah mencuri belajar ilmu yang pinceng berikan kepada Siauw Lam, dan keadaan jiwanya yang tertekan membuat ia keliru mempelajari ilmu-ilmu itu. Dunia akan bertambah seorang tokoh yang akan membikin geger. Ceng San muridku, orang muda ini seorang yang menderita, sama halnya dengan Bhok Khim tadi. Betapun juga, pinceng tidak melihat dasar-dasar jahat. Menurut pinceng, sebaiknya membebaskan orang muda ini, akan tetapi karena engkau yang menjadi ketua Siauw-lim-pai, keputusannya terserah kepadamu. Nah, cukuplah pinceng bicara."

Ceng San Hwesio memberi hormat lalu bangkit berdiri, mukanya agak keruh ketika ia berkata.

"Mendengar perintah Supek, bagaimana teecu berani membantahnya? Biarlah sesuai dengan perintah supek, teecu akan membebaskan. Dia dan gadis Mancu itu untuk sekali ini. Akan tetapi, mengingat akan kematian para murid-murid, teecu tidak mungkin dapat membebaskan dia untuk seterusnya dan lain kali dalam lain kesempatan, tentu teecu akan memerintahkan untuk menangkap dan kalau perlu membunuh dia."

Setelah berkata demikian, kembali Ceng San Hwesio memberi hormat kepada supeknya, lalu membalikkan tubuh keluar dari kamar itu dengan wajah muram.

"Siancai.., siancai.., lahir dan batin memang selalu bertentangan, betapa mungkin disatukan? Siauw Lam, tahukah engkau, apa yang harus dilakukan manusia yang hidup di tengah antara dua kekuatan raksasa lahir dan batin?"

Kakek itu bertanya tanpa menoleh Hwesio pelayan yang bernama Siauw Lam Hwesio, masih duduk bersila.

Dan kini terdengar suaranya yang pertama kali, suara yang kasar dan serak seperti kaleng diseret.

"Karena sifatnya bertentangan, menyatukannya berarti menghentikan hidup karena justeru keadaan hidup yang membuat keduanya bertentangan. Yang seyogianya dilakukan manusia adalah menyesuaikan dan menyelaraskan keduanya sehingga berimbang."

"Baik sekali pendapatmu, Siauw Lam. Eh, orang orang muda, engkau masih di sini? Apakah yang kau kehendaki?"

Han Han yang sejak tadi masih berlutut, lalu menjawab.

"Boanpwe yang banyak melakukan hal-hal yang menimbulkan malapetaka bagi orang lain, boanpwe merasa bingung sekali dan mohon peunjuk Locianpwe apa yang harus boanpwe lakukan selanjutnya dalam hidup yang penuh pertentangan ini.

Kini tubuh hwesio tua itu bergerak sedikit, mukanya diangkat menghadapi Han Han dan mata yang terpejam itu bergerak-gerak, terbuka sedikit, menyipit, akan tetapi kagetlah Han Han ketika dari balik garis mata itu menyambar keluar sinar mata yang lembut dan tenang sekali, setenang lautan yang luas.Sejenak mereka saling pandang dan kalau sinar mata Han Han yang pada saat itu masih dikuasai kemarahan itu dapat di umpamakan api bernyala-nyala, maka.

sinar mata kakek itu seperti air yang tenang dan dingin.

Di dalam sinar mata Han Han terdapat pengaruh mukjizat yang membawa isi pikirannya dengan tenaga batin yang luar biasa kuatnya sehingga kakek itu merasa betapa dia dipaksa oleh tenaga gaib untuk memberi petunjuk kepada orang muda itu.

Kakek yang puluhan tahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa ini, mengeluarkan suara halus penuh kekaguman.

"Siancai..patut dikasihani orang muda yang malang. Pinceng hanya dapat memberi dua nasihat kepadamu. Pertama ambillah pedang dan potonglah kaki kirimu. Dan ke dua, belajarlah mengalah terhadap siapapun juga. Nah, pergilah orang muda."

Han Han masih berlutut, mukanya pucat dan matanya terbelalak, hampir ia tidak percaya akan ucapan kakek itu.Tadinya ia amat terpesona dan terpengaruh oleh semua ucapan kakek itu, akan tetapi bagaimana kini kakek itu memberi nasihat seperti ini kepadanya?

Disuruh membuntungi kakinya sendiri"

Kalau disuruh belajar mengalah ia masih dapat menerimanya, akan tetapi disuruh membuntungi kaki sendiri?

"Eh, hwesio tua, kiranya engkau pun sama saja, sama jahatnya dengan yang lain-lain"

Apakah semua orang di sini sudah begitu palsu sehingga perlu menyembunyikan sifat jahat dan dengkinya di balik kepala gundul dan pakaian pendeta?

Hanya orang gila yang menasihati orang disuruh membuntungi kakinya, dan hanya orang gila pula yang akan menuruti nasihat gila itu."

Lulu membentak dan kini bangkit berdiri, menarik tangan kakaknya sehingga Han Han pun bangkit berdiri pula.

Akan tetapi kakek.

Yang dimakinya itu telah bersamadhi pula dan sama sekali tidak terpengaruh, wajah yang seperti tengkorak terbungkus kulit itu seperti telah mati.

Hanya hwesio pelayan itu yang kini mengangkat mukadan tiba-tiba matanya terbuka sambil berkata.

"Nona, memang dunia ini seperti panggung orang-orang gila bermain komidi, gila oleh nafsu mereka sendiri. Harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami."

Lulu menjadi makin marah.

Ia kaget melihat sinar mata hwesio pelayan itu seperti dua bola api menyerangnya, akan tetapi gadis itu memiliki keberanian luar biasa kalau dia merasa benar.

"Memang penuh orang-orang gila dan kalian lebih gila daripada orang-orang gilla."

Teriaknya.

"Apa artinya hidup kalian ini? Apakah gunanya bertapa mengasingkan diri di sini? Apa untungnya bagi dunia? Apa manfaatnya bagi manusia lain? Paling-paling berguna dan bermanfaat bagi diri kalian sendiri. Phuhhh, berlagak suci dan.."

"Lulu, diam...."

Han Han terkejut sekali mendengar keberanian adiknya yang memaki-maki seorang hwesio tua yang dijadikan junjungan oleh para murid Siauw-lim-pai.

Ia sudah menarik tangan adiknya diajak berlari keluar dari kamar itu.

Mereka berdua terus berlari keluar melalui ruangan belakang, ke ruangan tengah kemudian terus ke ruangan luar.

Mereka melihat para hwesio Siauw-lim-pai, akan tetapi mereka semua seolah-olah tidak melihat dua orang muda yang berlari keluar itu.

Yang membersihkan kuil tetap bekerja, yang membaca doa tidak menghentikan tugas mereka, Dan yang menjaga di luar pun seolah-olah tidak melihat mereka.

Han Han menggandeng tangan Lulu, berlari terus sampai jauh meninggalkan kuil dan setelah mereka memasuki sebuah hutan, barulah Han Han melepaskan tangan Lulu, Kemudian ia duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya dan menenangkan batinnya yang terguncang.

Akan tetapi, biarpun ia tidak menderita luka parah, tubuhnya terasa sakit-sakit, sungguhpun rasa nyeri di tubuhnya tidak seperti rasa perih dihatinya kalau ia terkenang akan ucapan-ucapan hwesio tua di datam kamar penyiksa diri yang seolah-olah membuka mata batinnya betapa sepak terjangnya selama ini mendekati perbuatan sesat, betapa mudahnya ia membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, membunuhi orang-orang gagah murid-murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai.

Hatinya merasa menyesal sekali dan pikirannya menjadi bingung.

Sebuah negara betapa kecil pun, tak kan mungkin dapat ditundukkan dan di jajah negara lain yang lebih besar apa bila rakyatnya bersatu-padu dan berjiwa patriotik, memiliki rasa cinta kasih dan setia bakti kepada tanah airnya.

Sebaliknya, betapapun besarnya negara itu, kalau rakyatnya tidak bersatu, dan banyak pula yang berjiwa pengkhianat, negara besar ini mudah saja dijajah oleh negara.yang jauh lebih kecil.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah,Tiongkok merupakan negara amat besar yang rakyatnya selalu bertentangan sendiri satu kepada yang lain.

Perang saudara tak pernah berhenti karena oknum-oknum yangi memperebutkan kedudukan.

Apabila ada negara asing yang datang menyerbu dan menjajah barulah bersatu, melupakan permusuhan antara saudara sendiri den bersama-sama menghadapi musuh asing.

Sayang sekali, begitu musuh asing dapat diusir keluar dari tanah air pertentangan satu sama lain timbul kembali, memecah-mecahah kekuatan mereka sehingga memungkinkan masuknya kekuatan asing lain lagi ke dalam negeri.

Ketika bangsa Mongol menyerbu Tiongkok, negara ini pun sedang dalam keadaan kacau dan rusak oleh perang saudara sehingga menjadi lemah dan mudah saja ditaklukkan dan dijajah bangsa Mongol.

Setelah seluruh negeri dijajah bangsa Mongol, barulah rakyat bersatu-padu dan tentu saja rakyat yang luar biasa besar jumlahnya itu tidak sukar merobohkan kekuasaan Mongol dan mengusir penjajah ini.

Akan tetapi, begitu penjajah Mongol terusir, timbul kembali perang saudara yang tak kunjung henti, susul-menyusul yang melemahkan negara itu sendiri.

Karena perang saudara inilah maka kekuasaan Mancu mulai menyelundup memasuki Tiongkok.

Dengan dukungan para oknum penjilat yang tidak segan-segan menjual negara dan bangsa demi sekelumit kesenangan duniawi bagi diri pribadi, cepat sekali bangsa Mancu menguasai Tiongkok.

Cerita ini dimulai pada tahun 1645 di mana tentara Mancu menyerbu ke selatan dan sekarang, delapan tahun kemudian, hampir seluruh Tiongkok dikuasai bala tentara Mancu yang mempunyai kaisar baru, yaitu Kaisar Kang Hsi, kaisar ke empat dari Kerajaaan Ceng-tiauw atau kerajaan bangsa itu.

Di bawah pimpinan Kaisar Kang His inilah diadakan pembersihan secara besar-besaran terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah air menentang penjajah Mancu.

Para pejuang melakukan perlawanan mati-matian dan sebagai pusat perjuangan, atau sebagai pucuk pimpinan gerakan para pejuang ini bersumber di Se-cwan di mana Bu Sam Ki menjadi raja muda yang tak pernah mau tunduk terhadap penjajah Mancu.

Seperti lazim dalan jaman perang seperti itu, golongan-golongan terpecah dua, juga golongan kaum kang-ouw.

Banyak di antara mereka yang terjun ke dalam perjuangan menentang kekuasaan Mancu, akan tetapi tidak sedikit pula yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan, kemuliaan dan kemewahan secara mudah, yaitu menjadi pembantu pemerintah Mancu dan menentang bangsa sendiri yang oleh pihak mereka disebut pengacau dan pemberontak.

Pada suatu hari, para tokoh yang menjadi pengawal-pengawal istana dan penasihat-penasihat mengenai usaha Kerajaan Mancu membasmi para pemberontak, mengadakan pertemuan atas undangan Pangeran Ouwyang Cin Kok.

Pangeran ini telah banyak jasanya terhadap Kerajaan Mancu, telah terbukti kesetiaannya ketika berkali-kali pangeran ini dengan pengaruhnya yang besar dan para pembantunya yang pandai menghancurkan golongan pemberontak.

Karena kepercayaan yang amat besar ini, Pangeran Dorgan pada beberapa tahun yang lalu menghadiahkan seorang puteri Mancu kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok, bahkan setelah Kaisar Kang Hsi menduduki tahta kerajaan.

Pangeran Ouwyang Cin Kok yang kini telah dianggap "keluarga kaisar"

Telah diangkat menjadi panglima bagian keamanan yang bertugas melakukan operasi pembasmian terhadap para pemberontak.

Dan untuk merundingkan tugas inilah maka pada pagi hari ini Ouwyang Cin Kok mengundang semua pembantunya dan pembantu para pembesar lain, termasuk pengawal-pengawal kaisar sendiri ke dalam istananya.

Dengan pakaian kebesaran sebagai seorang pangeran Kerajaan Ceng-tiauw, Pangeran Ouwyang Cin Kok duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah sekali.

Pangeran ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi masih tampak tampan dan ganteng, tubuhnya tinggi besar mukanya merah, pakaiannya indah rapi dan rambut serta jenggot kumisnya juga terpelihara baik-baik.

Di sebelah kirinya duduk seorang wanita Mancu yang cantik, bermata tajam lincah, usianya tiga puluh tahun lebih, tubuhnya montok dan menggairahkan.

Itulah puteri Kerajaan Mancu, puteri selir Pangeran Dorgan yang diberikan sebagai hadiah kepada Ouwyang Cin Kok dan kini menjadi selir terkasih pangeran ini.

Selir ini paling dikasihi, bukan hanya karena cantik montok dan mudanya, melainkan juga terutama sekali karena selir ini menjadi "lambang"

Kekuasaannya, sebagai pangeran mantu Kerajaan Mancu.

Dan untuk memperlihatkan kedudukannya yang tinggi ini pulalah maka ketika menyambut datangnya tokoh-tokoh berilmu yang membantu kerajaan baru, Ouwyang Cin Kok ditemani oleh sang selir.

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger