Eps 6 Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo
Baca online Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo
Cersil Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo.
Gerak kaki mereka ketika berlari itu cepat bukan main dan diam-diam Siauw Bwee kagum sekali.
Gerakan orang-orang berlengan kiri buntung itu ternyata amat hebat dan dalam hal berlari cepat, jelas bahwa orang-orang berkaki buntung bukanlah lawan mereka ini!
Dia sendiri harus mengerahkan gin-kangnya dan berlari cepat-cepat untuk dapat membayangi mereka dan tidak tertinggal.
Ketika tiga orang itu mengampiri pondok, Siauw Bwee menyelinap dan bersembunyi sambil mengintai.
Pakaiannya sudah kering kembali, akan tetapi robek-robek di bagian lutut, paha, betis dan lengan kanan kiri.
Burung-burung sialan, ia memaki.
Bekal pakaiannya masih tertinggal di atas punggung kuda hitamnya yang sekarang entah bagaimana nasibnya.
Siauw Bwee memandang heran ketika melihat seorang laki-laki tua renta dan bertubuh kurus kering duduk di atas bangku bambu depan pondok itu.
Laki-laki itu keadaannya amat menyedihkan.
Kedua kakinya buntung sebatas paha, lengan kirinya juga buntung seperti tiga orang pendatang itu dan yang tinggal hanyalah lengan kanannya yang kurus dan yang memegang sebatang tongkat seperti milik para anggauta kaum kaki buntung.
Siauw Bwee memandang heran dan menduga.
Termasuk golongan manakah kakek itu?
Lengan kirinya buntung seperti tiga orang pendatang itu, akan tetapi belum tentu dia merupakan anggauta kaum lengan buntung karena kakinya juga buntung, tidak hanya kaki kanan, bahkan kedua-duanya!
Dan kakek itu duduk tanpa kaki seperti orang sedang bersila, tangan kanan memegang tongkat yang melintang di depannya, lengan baju kiri tergantung lepas tanpa isi, kedua matanya terpejam seolah-olah dia tidak tahu akan kedatangan tiga orang itu.
Siauw Bwee mengalihkan pandangnya.
Di antara tiga orang lengan buntung ini, tidak seorang pun pernah dilihatnya di antara mereka yang dulu pernah dilihatnya ketika lima orang lengan buntung membawa tawanan seorang kaki buntung.
Yang seorang adalah seorang nenek yang mukanya masam dan kelihatan galak.
Yang ke dua adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, lebih muda daripada Si Nenek, sikapnya gagah dan agaknya dia yang memimpin rombongan tiga orang itu.
Orang ke tiga adalah seorang laki-laki bermuka tampan akan tetapi membayangkan kesombongan.
Ketiganya kini berdiri di depan kakek tua renta itu, kemudian terdengarlah laki-laki tinggi tegap yang memimpin rombongan itu berkata.
"Twa-supek, kami diperintah oleh Suhu untuk memperingatkan Supek yang terakhir kalinya agar supek suka memberitahukan rahasia gerak tangan kilat kaum kaki buntung!"
Biarpun laki-laki itu menyebut twa-supek (uwa guru tertua), namun nada suaranya amat tidak menghormat, bahkan mengandung ancaman dan kekerasan.
Kakek itu membuka matanya dan terkejutlah Siauw Bwee menyaksikan betapa sinar mata kakek tua renta itu mengandung penderitaan seperti mata orang yang sakit berat!
Kemudian terdengar kakek itu berkata lirih.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak sudi mencampuri permusuhan terkutuk itu! Pergilah kalian!"
"Twa-supek! Kalau begitu benar keterangan para penyelidik bahwa supek menerima kedatangan orang-orang berkaki buntung, tentu supek telah membuka rahasia ilmu kami!"
"Benar, mereka datang pula ke sini membujuk akan tetapi aku tidak sudi pula membantu mereka. Seperti juga kaum lengan buntung, kaum kaki buntung adalah anak muridku pula. Betapa aku sudi membantu mereka yang saling bermusuhan sendiri?"
"Twa-supek! Kiranya sampai sekarang, setelah menerima kutukan dari roh para nenek moyang, Twa-supek masih saja mengkhianati sumpah...."
"Sudahlah, tutup mulutmu!"
Kakek itu membentak. Orang itu melotot marah.
"Orang tua, biarpun engkau terhitung supek sendiri, akan tetapi engkau telah hampir mati, hanya mempunyai sebuah lengan saja. Kalau kami turun tangan, apakah kau sanggup melawan kami?"
Kakek itu menundukkan kepalanya.
"Hanya kesesatan itu yang belum kalian lakukan, kalau kalian hendak membunuhku, silakan!"
Siauw Bwee terkejut ketika mendengar suara kakek itu.
Teringatlah ia akan suara yang dikirim dengan ilmu Coan-im-jip-bit dan yang telah menolongnya dari serangan burung-burung liar.
Kini mendengar ancaman laki-laki lengan buntung, Siauw Bwee tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Dia mengenjotkan kakinya dan tubuhnya melayang cepat sekali, tahu-tahu telah berdiri di depan laki-laki tinggi tegap yang menyerang kakek itu dengan kata-kata keras tadi.
"Engkau manusia yang tak tahu aturan!"
Siauw Bwee tidak memberi kesempatan kepada tiga orang itu untuk pulih kembali dari rasa kaget mereka melihat munculnya seorang dara yang gerakannya seperti burung walet.
"Tidak menghormati supek sendiri, dan tidak menghiraukan alasan-alasan yang begitu bijaksana, melainkan bersikap seperti tiga ekor kerbau gila yang hanya bertindak karena dorongan nafsu bermusuhan dan haus darah! Kalian hendak membunuh Locianpwe ini? Hi-hik, bicara sih mudah! Baru melawan aku saja kalian sudah takkan bisa menang, apalagi melawan Locianpwe ini!"
Tiba-tiba muncul seorang dara jelita yang masih remaja dan datang-datang memaki-makinya membuat laki-laki tinggi tegap bertangan satu itu tercengang dan sejenak tak dapat berkata-kata.
Akan tetapi kemudian timbul kemarahannya.
Dia tadi hanya mengancam saja dan sama sekali bukan bermaksud menyerang apalagi membunuh kakek itu.
Karena ancamannya itu kini disaksikan orang luar, tentu saja hal ini amat memalukan dan merendahkan dirinya, maka dia amat marah.
"Bocah siluman dari mana berani mencampuri urusan kami!"
Bentaknya.
"Bocah dari mana tak perlu kau tahu. Pendeknya, lekas kau mentaati petintah Locianpwe inl untuk segera angkat kaki dari tempat ini, kalau tidak, jangan sesalkan aku menggunakan kekerasan mengusir kalian bertiga!"
Ucapan ini tekebur sekali dan tentu saja murid kepala kaum lengan buntung itu saking marahnya sampai memandang dengan mata mendelik.
"Bocah kurang ajar! Engkau ada hubungan apakah degan kakek itu?"
"Bukan sanak bukan teman, akan tetapi aku akan melindunginya dari keganasan kalian!"
"Hemm, kulihat engkau masih amat muda, masih bocah. Ingat lebih baik jangan mencampuri urusan kaum lengan buntng kalau kau sayang nyawamu."
"Tentu saja aku sayang nyawaku, akan tetapi aku siap membelanya dengan nyawaku karena aku yakin nyawaku tidak akan apa-apa kalau hanya melawan orang-orang kejam macam kalian!"
"Keparat!"
Laki-laki itu tak dapat menahan kesabarannya lagi dan ia sudah menerjang dengan sambaran lengan baju kirinya ke arah muka Siauw Bwee, dan tangan kanannya sudah cepat mengirim susulan dengan tonjokan ke arah leher!
Cepat sekali gerakannya ini, namun terlalu lambat bagi Siauw Bwee yang sudah dapat mengelak dengan jalan menarik muka ke belakang kemudian menggerakkan tangan kiri menangkis tangan kanan yang memukul.
"Plakk!"
Tubuh Laki-laki itu hampir terjengkang ke belakang sehingga ia mengeluarkan seruan kaget dan heran.
Siauw Bwee tidak peduli dan sudah menerjang maju dengan tamparan kedua tangannya susul-menyusul.
Akan tetapi kini dara ini yang merasa kaget karena tubuh laki-laki itu dengan amat indah dan cepatnya sudah bergerak dan semua tamparannya luput!
Kiranya laki-laki itu mempunyai gerak langkah yang amat luar biasa dan tiba-tiba saja kaki kiri laki-laki itu menyambar amat dahsyat dan cepatnya!
Siauw Bwee makin terkejut dan hanya dengan loncatan ke samping secara cepat ia dapat menghindar.
Namun, dengan langkah-langkah yang aneh dan berputar, laki-laki itu telah berada di belakangnya dan lengannya mencengkeram kepala disusul tendangan lagi yang akan melontarkan tubuh seekor kerbau bunting saking kuatnya!
"Ayaaaa....!
Siauw Bwee berteriak dan tubuhnya mencelat ke atas tinggi sekali kemudian dari atas, ketika tubuhnya meluncur turun, dia telah menggerakkan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong.
Laki-laki itu kagum sekali menyaksikan gin-kang yang begitu sempurna, akan tetapi ia juga girang karena kalau tubuh itu turun ia akan dapat menyambut dengan serangan dahsyat.
Siapa kira, dari telapak kedua tangan dara itu menyambar hawa yang kuat dan ketika ia berusaha menangkis, hawa dingin yang luar biasa membuat tubuhnya menggigil dan dia terhuyung-huyung.
"Aihhh....!"
Laki-laki itu berseru keras dan kini kedua orang saudara seperguruannya sudah menerjang maju mengeroyok Siauw Bwee.
"Bagus, majulah semua kalian orang-orang tak tahu malu!"
Siauw Bwee mengejek, akan tetapi segera ia mendapat kenyataan bahwa dikeroyok tiga oleh orang-orang itu benar-benar merupakan lawan amat berat!
Tingkat sin-kang dan gin-kang mereka tidaklah seberapa hebat, akan tetapi dia dibikin bingung oleh gerak langkah mereka yang amat luar biasa itu.
Teringatlah ia akan penuturan Cia Cen Thok bahwa kaum lengan buntung ini telah mencipta semacam ilmu silat yang disebut gerak kaki kilat.
Siauw Bwee harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini dia terdesak terus.
Sungguhpun dengan ilmu silatnya yang tinggi, sin-kangnya yang kuat dan gin-kangnya yang sempurna dia dapat selalu mengelak atau menangkis namun dia tidak diberi kesempatan membalas sama sekali.
Terkejutlah dara perkasa itu karena mendapat kenyataan bahwa kaum lengan buntung ini benar-benar memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki kaum kaki buntung dengan gerak tangan kilat mereka!
Tiba-tiba terdengar kelepak sayap yang riuh-rendah dan tiba-tiba udara di situ menjadi gelap tertutup bayangan dari atas.
Tiga orang lengan buntung itu memandang ke atas dan seketika wajah mereka menjadi pucat sekali.
Kini kelepak sayap itu ternyata bukanlah sayap melainkan suara cecowetan separti suara kera yang banyak sekali dan dari mulut tiga orang lengan buntung itu terdengar jerit ketakutan.
"Celaka....! Kelelawar siang!"
Siauw Bwee menjadi heran sekali melihat tiga orang itu menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala mereka dengan tubuh menggigil ketakutan.
Dia mendongak dan apa yang dilihatnya membuat ia hampir menjerit.
Yang disebut kelelawar siang itu memang sesungguhnya kelelawar, akan tetapi banyaknya bukan main, sama banyaknya dengan burung-burung yang menyerangnya kemarin!
Dan yang hebat, kelelawar-kelelawar itu agaknya berbeda dengan kelelawar biasa, tidak takut sinar matahari dan tubuh mereka hitam seperti arang!
Biarpun merasa ngeri sekali, akan tetapi Siauw Bwee tidak mau bersikap penakut seperti tiga orang bekas lawan itu, maka ia masih berdiri tegak dan siap melakukan perlawanan.
"Nona, lekas berlutut, serendah mungkin. Kelelawar-kelelawar itu tidak akan menyerang lebih tinggi dari satu meter di atas tanah, dan gigitannya seekor saja cukup membuat manusia menjadi gila!"
Mendengar suara lirih di dekat telinganya yang sama dengan suara ketika dia dikeroyok burung, Siauw Bwee terkejut.
Pada saat itu beberapa ekor kelelawar sudah menyambar turun mengarah kepalanya!
Menjadi gila kalau digigit?
Dia makin ngeri dan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut seperti yang dilakukan tiga orang lengan buntung, hanya dia tidak menutup kepalanya melainkan memandang ke atas penuh perhatian.
Tiba-tiba terdengar bunyi melengking tinggi dan nyaring.
Siauw Bwee menoleh dan melihat bahwa suara itu keluar dari mulut Si Kakek Tua, suara yang dikeluarkan dengan pengerahan sin-kang yant tinggi.
Aneh sekali, ketika terdengar suara melengking tinggi penuh getaran ini, kelelawar-kelelawar itu menjadi kacau-balau terbangnya, menabrak sana sini dan kelihatan panik.
Akan tetapi, sebelum suara itu cukup kuat untuk mengusir semua kelelawar, suara itu makin melemah dan Siauw Bwee melihat kakek itu terengah-engah kehabisan tenaga.
Siauw Bwee adalah seorang dara yang cerdik.
Melihat ini, maklumlah bahwa cara mengeluarkan lengkingan itu adalah cara untuk mengusir binatang-binatang mengerikan itu dan bahwa pada saat itu Si Kakek yang lihai sedang menderita sakit maka pengerahan sin-kang yang kuat membuatnya kehabisan tenaga.
Maka dia lalu mengerahkan sin-kang dan keluarlah suara melengking tinggi dengan getaran kuat dari dalam dada Siauw Bwee.
Dia hampir menari kegirangan ketika melihat hasil tiruannya.
Binatang-binatang itu menjadi makin panik dan kacau, beterbangan membubung setinggi mungkin, agaknya untuk menghindari getaran lengkingan maut itu dan tak lama kemudian mereka sudah terbang tinggi dan jauh, lenyap dari pandangan mata.
Barulah Siauw Bwee menghentikan lengkingannya dan ia meloncat berdiri memandang tiga orang lengan buntung yang juga sudah berdiri dengan muka pucat.
"Mau dilanjutkan?"
Siauw Bwee menantang berani.
"Kalian bertiga tidak lekas pergi? Melawan Nona ini berarti mencari mati sia-sia!"
Kata Si Kakek Tua.
Tiga orang itu sudah melihat bukti kelihaian Siauw Bwee.
Selain merasa gentar, juga mereka tahu bahwa.
berkat pertolongan gadis itulah maka mereka lolos dari bahaya yang lebih mengerikan daripada maut, maka tanpa berkata-kata mereka lalu berlari pergi.
Siauw Bwee membalikkan tubuh memandang kakek tua itu.
"Locianpwe, kau sedang menderita sakit."
Kakek itu mengangguk, tersenyum dan lengan tunggalnya melambai.
"Ke sinilah, anak baik. Siapa namamu?"
"Nama saya Khu Siauw Bwee, Locianpwe."
"Ha-ha-ha, jangan menyebut locianpwe. Kepandaianmu lebih hebat daripada sedikit ilmu yang kumiliki. Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang dara semuda engkau telah memiliki sin-kang yang sedemikian hebat. Siapakah gurumu?"
Siauw Bwee sudah mendapat pesan suhengnya bahwa mereka bertiga tidak boleh menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, sesuai dengan pesan kakek manusia dewa itu.
Maka dia menjawab menyimpang.
"Guruku tidak boleh disebut namanya, aku hanya belajar dari suhengku yang bernama Kam Han Ki. Locianpwe jangan terlalu memuji dan membuatku menjadi bangga dan sombong."
Kembali kakek itu tertawa.
"Engkau benar-benar masih bocah. Eh, Nona yang baik, engkau selain lihai juga rendah hati, dan hatimu amat baik penuh budi dan welas asih. Engkau belum mengenal aku akan tetapi engkau berani mempertaruhkan nyawa untuk membelaku mati-matian."
Siauw Bwee tertawa manis dan dia berkata.
"Aihhh, Locianpwe membikin aku merasa malu saja. Aku tidaklah sebaik yang Locianpwe katakan. Tentu saja aku membela mati-matian kepada Locianpwe yang telah menolongku kemarin."
Mata kakek itu terbelalak.
"Menolongmu? Apa maksudmu, Nona?"
"Waah, Locianpwe pandai berpura-pura lagi. Siapakah yang kemarin menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit menyelamatkan aku dari serangan burung-buruhg gila? Kalau tidak ada pertolongan Locianpwe, agaknya aku akan mati di tengah rawa!"
"Ah, engkaukah orangnya? Aku tidak mengenal siapa orangnya karena dari jauh. Aku kebetulan berjalan-jalan di dekat rawa dan melihat orang dikeroyok burung elang. Kiranya engkaukah orangnya?"
Hati Siauw Bwee menjadi geli.
Orang tidak mempunyai sebuah kaki pun, bagaimana bisa berjalan-jalan?
Ingin dia menyaksikan bagaimana orang tak berkaki bisa berjalan.
"Akulah orangnya, Locianpwe. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu itu,"
Siauw Bwee menjura dengan hormat. Kakek itu tertawa bergelak dan sejenak wajahnya yang muram itu berseri gembira.
"Wah, pengakuanmu ini meningkatkan pandanganku terhadap dirimu, Nona. Di samping segala kebaikanmu, engkau jujur dan ingat budi pula! Engkaulah orangnya. Ya, engkaulah orangnya yang akan dapat menolong kedua kaum yang saling bermusuhan sehingga setiap tahun mengorbankan banyak nyawa manusia tidak berdosa. Aku mohon kepada-mu, Nona, sukakah engkau mewakili aku menyelamatkan mereka!"
Siauw Bwee mengerutkan alisnya.
Sikap kakek itu benar-benar patut dikasihani.
Dalam keadaan seperti itu masih mementingkan keselamatan orang lain, keselamatan kaum buntung kaki dan buntung lengan yang memperlakukannya dengan buruk.
"Apakah maksudmu, Locianpwe? Mereka itu saling bermusuhan dan kedua pihak amat lihai. Bagaimana aku dapat mencampuri dan betapa mungkin aku dapat menolong dua pihak yang saling bermusuhan?"
"Duduklah, Nona, dan dengarkan ceritaku."
Siauw Bwee memang tertarik sekali akan permusuhan kedua kaum yang cacat itu, yang sebagian sudah ia dengar dari Cia Cen Thok, maka ia lalu duduk di atas dipan bambu di sebelah kakek itu.
"Tahukah engkau mengapa kedua kaum yang bercacat itu saling bermusuhan, Nona?"
Siauw Bwee mengangguk.
"Permusuhan mereka ditanam oleh kedua orang saudara seperguruan yang bermusuhan dan dalam pertandingan, seorang kehilangan kaki kanan dan yang seorang lagi kehilangan lengan kiri."
"Benar, dan aku tadinya adalah seorang di antara kaum lengan buntung itu. Akan tetapi, sejak dahulu aku tidak menyetujui permusuhan antara saudara sendiri, karena kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung sebenarnya adalah saudara-saudara seperguruan. Apalagi cara mereka menerima murid-murid yang harus dibuntungi kaki atau lengannya seperti kaum mereka, benar-benar merupakan perbuatan yang amat keji. Aku adalah suheng dari The Bian Le dan aku berusaha membujuk suteku yang menjadi ketua kaum lengan buntung sekarang untuk berdamai dengan pihak kaki buntung. Pada waktu itu akulah yang menjadi ketua kaum lengan buntung. Usul itu diterima dengan penuh kemarahan dan mereka memberontak. Aku yang menjadi ketua mereka malah mereka anggap pengkhianat sumpah leluhur dan aku dikeroyok, kemudian kaki kananku mereka buntungkan dan aku diusir dengan kata-kata menghina bahwa aku berpihak kepada kaum kaki buntung, maka kaki kananku dibuntungi dan aku diusir."
Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang, Siauw Bwee mengepal tangannya dan berkata.
"Betapa kejamnya!"
Kakek itu menggeleng kepala.
"Merceka patut dikasihani, Nona. Aku tidak menyesal karena kakiku dibuntungi sebelah, melainkan menyesal bahwa usahaku itu gagal sama sekali. Aku lalu pergi ke tempat kaum kaki buntung. Biarpun kaki kananku sudah buntung seperti lengan kiriku, aku tidak putus harapan dan berusaha menghubungi Liong Ki Bok, ketua mereka yang sebenarnya kalau diperhitungkan malah suteku sendiri pula. Akan tetapi, karena tadinya aku adalah ketua kaum lengan buntung, aku dicurigai dan malah di sana aku dikeroyok dan kaki kiriku dibuntungi pula."
"Ahhh....! Biadab! Jahat benar mereka itu!"
Kembali kakek itu menggeleng kepala.
"Mereka, kedua pihak telah dibikin mabok oleh dendam permusuhan. Akulah orangnya yang patut disesalkan karena berusaha mendamaikan mereka. Akan tetapi aku malah tetap penasaran dan aku takkan dapat mati dengan meram kalau belum berhasil mendamaikan mereka."
Kakek itu kelihatan berduka sekali dan diam-diam Siauw Bwee merasa terharu dan kasihan, juga kagum menyaksikan iktikad baik yang tak kunjung padam dari hati kakek yang tubuhnya sudah cacad seperti itu.
"Apa hubungannya semua itu dengan aku, Locianpwe? Kalau engkau sendiri yang tadinya adalah ketua kaum lengan buntung sama sekali tidak dapat mendamaikan mereka bahkan dianggap pengkhianat, bagalmana aku akan dapat mengusahakannya?"
"Dengan jalan lain pasti dapat, Khu-lihiap. Akan tetapi dengarlah dulu ceritaku. Aku terasing di antara mereka kedua pihak dan aku, dengan tekad untuk tetap hidup dan terus berusaha mendamaikan mereka, dapat menyeret tubuhku dengan hanya lengan kanan ini sampai ke tempat ini, terpencil dan terasing. Sepuluh tahun lamanya aku berdiam di sini, menggembleng diri dan terutama sekali mempelajari rahasia ilmu-ilmu kedua pihak yang sesungguhnya memang sesumber. Dan ketekunanku selama sepuluh tahun ini berhasil baik, Nona! Aku telah memecahkan kedua ilmu mereka, maksudku aku telah menemukan cara pemecahannya dan cara untuk menundukkan ilmu gerak tangan kilat dari kaum kaki buntung dan ilmu gerak kaki kilat dari kaum lengan buntung. Dengan ilmu ini mereka tentu akan dapat ditundukkan kalau perlu dengan kekerasan!"
Wajah Siauw Bwee berseri, dia ikut merasa gembira akan hasil kakek itu yang akan dapat memenuhi cita-cita hidupnya, yaitu menundukkan dan mendamaikan kedua kaum yang bersaudara akan tetapi permusuhan itu.
"Bagus sekali, Locianpwe. Kalau begitu, Locianpwe pergunakan saja ilmu itu untuk menghajar orang-orang keras kepala itu!"
Serunya.
"Nona, lihatlah keadaanku. Aku hanya mempunyai sebuah lengan dan aku.... karena terlalu tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu itu, aku menderita sakit jantung yang hebat dan takkan terobati lagi. Biarpun semua teori silat mereka sudah berada di telapak tanganku kalau aku hanya mempunyai satu lengan saja, bagaimana mungkin aku dapat menghadapi mereka?"
"Ohhh....! Maafkan aku, Locianpwe,"
Siauw Bwee berkata dengan muka merah karena dalam kegembiraannya tadi ia sampai lupa bahwa kakek itu tubuhnya tidak lengkap lagi.
"Tidak apa, Nona. Bahkan akulah yang minta maaf kepadamu karena berani minta engkau seorang luar untuk mewakili aku...."
"Maksudmu....?"
"Ilmu kepandaianmu hebat, Nona. Baik Liong Ki Bok maupun The Bian Le, malah aku sendiri tidak akan dapat menandingimu. Engkau tentu murid seorang yang amat sakti. Akan tetapi, kalau engkau dikeroyok dan menghadapi ilmu silat gerak tangan sakti dan gerak kaki sakti, engkau yang masih kurang pengalaman tentu akan menjadi bingung sehingga keadaanmu akan berbahaya. Akan tetapi kalau engkau kuberi pelajaran rahasia tentang kedua ilmu itu dan pemecahannya, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan mereka. Nona, sudikah engkau memenuhi permintaan seorang tua yang sudah hampir mati dan sudikah engkau membiarkan aku mati dalam keadaan meram dan tenang karena menyaksikan kedua kaum itu telah dapat dipaksa berdamai?"
Kakek itu suaranya seperti orang akan menangis dan disambungnya dengan suara parau.
"Andaikata aku memiliki dua buah kaki, aku akan berlutut memohon kepadamu, Khu-lihiap!"
Siauw Bwee merasa terharu sekali.
Dia memiliki watak yang halus dan perasa, penuh welas asih, bagaimana mungkin ia dapat menolak permintaan itu?
"Aihh, Locianpwe harap jangan terlalu sungkan.
Aku sudah Locianpwe tolong dari ancaman maut dikeroyok burung-burung liar dan aku belum dapat membalas budi itu.
Tentu saja aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu."
"Terima kasih, Li-hiap! Semoga Tuhan memberkatimu! Dan jangan bicara tentang budi pertolongan dariku, karena aku tahu bahwa tanpa kunasihatkan untuk menyelam juga, burung-burung gila itu mana mungkin dapat menjatuhkan seorang seperti Li-hiap? Nah, marilah kita mulai dengan latihan ilmu-ilmu tangan kilat dan kaki kilat, Nona. Waktu untuk pibu (mengadu ilmu) di antara mereka tiga bulan lagi, cukup lama bagimu untuk menguasai kedua ilmu itu dan kelak, dalam pertandingan pibu Nona dapat maju dan mengalahkan mereka. Kalau ketua mereka kalah olehmu, tentu mereka tidak berani membantah dan akan memenuhi permintaan Li-hiap untuk berdamai dan bersumpah mengubur semua permusuhan di antara kedua kaum!"
Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar dan berarti bahwa perjalanan akan tertunda selama tiga bulan.
Akan tetapi waktu itu tidak dibuang sia-sia, dan sebagai seorang ahli silat seperti Siauw Bwee, tentu saja akan girang sekali, menerima pelajaran dua macam ilmu yang demikian hebat.
Apalagi kalau diingat bahwa dia sedang melakukan tugas yang mulia yaitu berusaha mendamaikan permusuhan semua saudara sehingga kalau berhasil berarti dia telah menyelamatkan entah berapa banyak nyawa yang setiap tahun pasti ada yang jatuh menjadi korban pibu.
Demikianlah, mulai hari itu, Siauw Bwee menerima petunjuk-petunjuk kakek cacad itu melatih diri dengan ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat dan karena dasar ilmu silatnya malah lebih tinggi tingkatnya daripada kedua ilmu itu dia dapat melatih diri dengan mudah dan hasilnya amat hebat, lebih hebat daripada kalau kedua ilmu itu dilatih oleh tubuh Si Kakek sendiri andaikata dia tidak bercacad!
Terpaksa kita tinggalkan dulu Siauw Bwee yang setiap hari tekun berlatih kedua macam ilmu silat istimewa itu dan sebaiknya kita mengikuti perjalanan Kam Han Ki, karena hal ini untuk memperlancar jalannya cerita.
Telah kita ketahui betapa Kam Han Ki merana hatinya, seolah-olah kehilangan semangat dan gairah hidup ketika kedua orang sumoinya meninggalkan Istana Pulau Es sehingga dia tinggal seorang diri di Pulau Es.
Karena tidak dapat menahan kesepian yang menggerogoti hatinya, juga karena khawatir akan keadaan kedua orang sumoinya, Han Ki lalu membuat sebuah perahu dan berlayarlah dia meninggalkan Pulau Es dengan maksud hendak mencari kedua orang sumoinya, atau setidaknya, seorang di antara mereka.
Setelah mendarat di tepi pantai daratan Tiongkok, pemuda ini menjadi bingung karena dia tidak tahu di sebelah mana kedua orang sumoinya mendarat dan ke mana pula mereka pergi.
Akan tetapi, dia berjalan terus ke barat dan di sepanjang jalan dia berusaha menemukan jejak kedua orang sumoinya dengan bertanya-tanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan.
Akan tetapi, sampai berpekan-pekan ia melakukan perjalanan, belum juga ia mendapatkan jejak kedua orang sumoinya.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditanyainya pernah melihat dua orang gadis itu, sebaliknya, Han Ki mendengar akan keadaan kerajaan baru yang makin luas saja wilayahnya, yaitu Kerajaan Cin yang dibangun oleh bangsa Yucen.
Kini di daerah utara, hampir seluruh wilayah Kerajaan Sung telah terjatuh ke tangan Kerajaan Cin.
Dari dia mendengar pula tentang pergolakan di Kerajaan Sung, tentang para pembesar yang memberontak dan berdiri sendiri-sendiri menguasai wilayah masing-masing.
Mendengar pula akan pergerakan bangsa Mancu di samping bangsa Yucen.
Ketika ia mendengar bahwa dia memasuki daerah yang telah dikuasai bangsa Yucen yang mulai mengangkat pejabat-pejabat daerah sebagai pegawai Kerajaan Cin, teringatlah Han Ki akan kekasihnya, Sung Hong Kwi yang dahulu akan dikawinkan dengan Raja Yucen.
Timbul hasrat hatinya untuk mendengar berita tentang kekasihnya itu, dan kalau mungkin....
menjumpainya!
Masih hidupkah Hong Kwi kekasihnya itu?
Apakah kini telah menjadi seorang yang mulia di Kerajaan Cin?
Ataukah hanya menjadi selir rendahan saja?
Hatinya terasa perih kalau ia mengingat akan cerita betapa raja-raja yang berkuasa, seperti halnya Kaisar Kerajaan Sung, paling suka mempermainkan wanita dan setiap hari berganti wanita, yang lama dicampakkan begitu saja.
Jangan-jangan seperti itu pula nasib Hong Kwi.
Kekhawatiran ini mendorong hasratnya untuk menyelidiki keadaan Hong Kwi.
Akhirnya, karena dorongan hasrat ingin bertemu bekas kekasihnya tak dapat ditahannya lagi, Han Ki mendatangi kota raja Yucen dan berhasil pada suatu malam menyelundup masuk ke taman Istana Raja Yucen!
Dilihatnya bahwa dia telah memasuki harem (keputren, tempat selir-selir raja) dan ketika ia melihat beberapa orang wanita cantik berpakaian indah bersendau-gurau di dekat kolam ikan, ia lalu melompat ke dekat mereka.
Wanita-wanita itu terkejut dan menjerit, akan tetapi Han Ki mengangkat tangannya dan berkata halus.
"Harap kalian jangan takut. Aku datang tidak berniat buruk, hanya ingin bertemu dengan Sung Hong Kwi. Adakah dia di sini?"
Ketika melihat bahwa yang muncul seperti setan itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, lenyaplah rasa takut wanita-wanita itu dan di antara mereka bahkan ada yang tersenyum-senyum dan melirik-lirik tajam.
Mereka adalah wanita-wanita yang selalu dikurung dan hanya kadang-kadang melayani Raja Yucen yang sudah tua, tentu saja jantung mereka berdebar tegang dan aneh ketika berhadapan dengan seorang pemuda tampan dan gagah seperti itu.
Seorang di antara mereka yang paling berani, segera berkata.
"Engkau sungguh berani mati memasuki tempat ini. Bagaimanakah engkau tidak ditangkap dan dibunuh oleh para pengawal yang menjaga di luar?"
"Hal itu tidak penting. Yang penting, adakah Sung Hong Kwi di sini? Aku ingin berjumpa dengan dia."
"Siapa itu Sung Hong Kwi? Kami tidak mengenalnya dan tidak pernah mendengar namanya."
Han Ki mengerutkan kening.
Salahkah dugaannya bahwa kekasihnya itu diboyong oleh Raja Yucen?
"Lima tahun yang lalu, ada seorang puteri Kerajaan Sung dikawinkan dengan Raja Yucen...."
"Ohhh! Kau maksudkan dia?"
Seorang selir yang usianya paling tua, kurang lebih tiga puluh tahun akan tetapi masih amat cantik, segera berkata.
"Puteri yang rewel itu? Dia tidak menjadi selir sribaginda, akan tetapi diberikan kepada Pangeran Dhanu yang tergila-gila kepadanya. Aihhh, kasihan Pangeran Dhanu yang tampan, rela tidak memelihara selir akan tetapi isterinya itu selalu merongrongnya!"
Han Ki terkejut.
"Pangeran Dhanu? Di mana istananya?"
Wanita itu tertawa.
"Mana ada waktu beristirahat dengan tenang di istana? Isterinya, Puteri Sung itu terlalu rewel, bahkan kini kabarnya sakit sehingga diajak tetirah ke Hutan Bunga Bwee di tepi sungai"
"Di mana tempat itu?"
"Ihh, mau apa sih engkau mencari puteri yang sakit-sakitan? Di sini banyak...."
"Lekas katakan!"
Han Ki membentak marah ketika mendengar wanita-wanita itu mulai tertawa memikat.
"Kalau tidak terpaksa aku akan membunuh kalian!"
Ia sengaja mengancam dan berhasillah dia karena wanita-wanita itu menjadi pucat dan ketakutan.
"Di luar kota raja, di sebelah utara, dekat sungai ada hutan penuh bunga bwee dan sudah beberapa hari mereka di sana.... aihhh....!"
Wanita itu dan temantemannya menjerit ketika tiba-tiba tubuh Han Ki berkelebat dan pemuda gagah itu sudah lenyap dari depan mereka.
"Setan....! Siluman....!"
Mereka berteriak-teriak sambil melarikan diri, ada yang terkencing-kencing ketakutan dan bahkan ada yang pingsan di tempatnya!
Semenjak malam itu, sampai beberapa lama pemuda itu menjadi bahan percakapan para selir dengan penuh rasa ngeri dan juga rindu!
Akan tetapi ketika Han Ki tiba di hutan yang dimaksud, ia terkejut menyaksikan bekas-bekas pertempuran dan mendapat kabar bahwa malam tadi tempat itu diserbu oleh gerombolan pasukan Mancu yang memang telah bermusuhan dengan pihak Yucen.
Banyak terdapat mayat-mayat bangsa Mancu dan Yucen dan ketika dia tiba di situ, pasukan Yucen sedang mengangkuti mayat-mayat itu dan melakukan penjagaan ketat.
Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi, Han Ki berhasil mendekati sampai di luar perkemahan yang ditinggali Pangeran Dhanu dan isterinya.
Di luar perkemahan dia dihadang oleh para pengawal!
"Berhenti!
Siapa engkau dan ada keperluan apa?"
Bentak pengawal-pengawal itu.
"Aku hendak berjumpa dengan Pangeran Dhanu. Aku adalah.... seorang saudara dari isterinya, hendak menengoknya, karena kabarnya sakit."
Para pengawal mengepungnya dengan pandang mata curiga.
"Sang Pangeran sedang sibuk, Sang Puteri sakit keras...."
Tiba-tiba Han Ki meloncat ke dalam kemah, gerakannya amat cepat sehingga para pengawal itu sejenak melongo karena kehilangan pemuda itu.
Baru mereka tahu bahwa pemuda itu menerobos masuk ketika mendengar pemuda itu menjerit.
"Hong-Kwi....!"
Mendengar kekasihnya sakit keras, pemuda itu seperti gila dan nekat menerobos sambil memanggil nama kekasihnya.
"Han Ki-koko....? Ohhh...."
Suara ini cukup bagi Han Ki.
Dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat memasuki sebuah kamar di dalam perkemahan besar itu dan dia berdiri pucat dengan mata terbelalak memandang tubuh kekasihnya yang rebah telentang seperti mati di atas pembaringan.
Di kepala pembaringan itu duduk seorang laki-laki yang berkumis tipis berpakaian indah dan bersikap gagah namun wajahnya diliputi kedukaan besar.
Laki-laki ini meloncat bangun dan tangannya meraba gagang pedangnya.
Seorang pelayan wanita mundur-mundur ketakutan memandang Han Ki.
Wajah Hong Kwi pucat sekali, matanya sayu dan rambutnya yang hitam itu terurai lepas, tubuhnya kelihatan lemah.
Dia memandang Han Ki, beberapa kali bibirnya bergerak namun tidak ada suara keluar.
Air mata seperti butiran-butiran mutiara menetes turun dan akhirnya dia dapat juga bersuara.
"Han Ki-koko.... kau datang....? Ahh, Koko.... bawalah aku pergi.... bawalah....!"
Kedua lengannya diangkat lemah, diulurkan ke arah Han Ki, akan tetapi tiba-tiba kedua lengannya terkulai kembali di atas pembaringan, mukanya yang tadinya menghadap ke Han Ki itu tergolek ke kiri, matanya terpejam, hanya mulutnya yang masih agak terbuka seolah-olah dia belum selesai bicara.
"Hong Kwi....!"
Han Ki tidak mengenal suaranya sendiri, suara yang terhenti di kerongkongannya.
"Isteriku....!"
Pangeran Dhanu, laki-laki gagah itu menubruk dan menangis. Kemudian ia meloncat bangun, memandang Han Ki dan berkata, air matanya masih menetes-netes.
"Jadi engkaukah Kam Han Ki, laki-laki kejam yang menghancurkan hati isteriku? Engkau datang hanya untuk menyaksikan kematiannya? Betapa kejam engkau!"
Ucapan ini bagaikan petir menyambar karena seolah-olah Han Ki baru tahu bahwa kekasihnya, telah meninggal dunia.
Dia menubruk ke depan, dipegangnya tangan kanan Hong Kwi, diguncang-guncangnya pundak mayat itu.
"Hong Kwi.... Hong Kwi....! Ini aku Kam Han Ki! Aku telah datang. Hong Kwi....! Hong Kwi, bukalah matamu, pandanglah aku, bicaralah....!"
Menyaksikan sikap pemuda itu, Pangeran Dhanu agak berkurang kemarahannya dan memandang dengan kening, berkerut.
Di belakang Han Ki, Si Pelayan menangis sesenggukan dan di luar kamar itu, seorang pengawal berdiri tegak menjaga, dalam keadaan siap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, sungguhpun alisnya berkerut menandakan bahwa dia ikut prihatin terharu.
"Hong Kwi...., kekasihku.... Hong Kwi, aku berdosa padamu! Ah, kekasihku, kau bawalah aku....!"
Han Ki yang biasanya tenang itu kini tidak dapat menahan pukulan batin yang amat hebat itu.
Dia masih mencinta Hong Kwi, bahkan belum pernah dia berhenti mencintanya.
Kini melihat kekasihnya mati setelah bertemu dengannya, dia merasa berdosa dan berduka.
"Hemm, dia sudah mati baru engkau datang dan bicara seperti itu. Kam Han Ki, engkau bukan seorang laki-laki yang patut dipuji!"
Ucapan yang bernada keras ini membuat Han Ki sadar bahwa dia telah berada di tempat orang, bahkan sadar bahwa mayat yang dipeluknya itu adalah mayat isteri orang lain.
Dia bangkit, menekan perasaannya, berdiri lemas dan dengan mata merah dan pipi basah ia memandang Pangeran Dhanu.
Sejenak kedua orang laki-laki itu saling berpandangan.
"Engkau tentu Pangeran Dhanu...."
Katanya perlahan.
"Benar! Akulah Pangeran Dhanu, laki-laki yang mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku, yang selama bertahun-tahun ikut menderita bersamanya, yang berusaha menghiburnya, yang memenuhi segala permintaannya. Akan tetapi, pada saat terakhir, namamulah yang diucapkannya!"
Di dalam ucapan pangeran itu terdapat kegetiran yang hebat sehingga diam-diam Han Ki merasa kasihan dan bersalah.
"Pangeran, selama bertahun-tahun aku berpisah darinya, dipisahkan dengan kekerasan, akan tetapi engkau.... selama itu berada di sampingnya. Akulah yang lebih menderita daripada engkau."
"Aku sudah mendengar akan namamu, dia bercerita tentang dirimu. Akan tetapi kumaafkan dia asal dia dapat membalas dan menerima cintaku. Akan tetapi.... dia selalu berduka, teringat kepadamu, selalu sakit-sakitan.... kuajak tetirah ke mana-mana untuk menghiburnya, kukorbankan tugas-tugasku. Semalam anjing-anjing Mancu menyerbu perkemahan, biarpun dapat dipukul mundur akan tetapi isteriku menderita kaget yang hebat, Jantungnya lemah.... dan.... kemudian kau datang.... ah, isteriku....!"
Pangeran itu mengusap air matanya.
"Pangeran, maafkan aku. Betapapun juga, engkau yang mencintanya telah menjadi suaminya selama lima tahun. Engkau telah memiliki dia sebagai isteri yang tercinta...."
"Memang aku memiliki tubuhnya akan tetapi tidak memiliki hatinya. Engkau telah merampas hatinya, keparat!"
"Dan orang-orang Mancu telah merampas nyawanya. Aku akan membalas ini!"
"Orang she Kam! Tidak perlu menimpakan kesalahan kepada orang lain. Engkaulah yang telah membunuh isteriku! Engkaulah yang menghancurkan hidupnya, dan engkau pula yang merampas kebahagiaan hidupku! Pengawal, tengkap orang ini!"
Belasan orang pengawal menerjang masuk dengan tombak di tangan. Han Ki berseru.
"Hong Kwi, kalau rohmu masih di sini, dengarlah sumpahku. Aku tidak akan menikah dengan wanita lain di dunia ini!"
Setelah barkata demikian, tubuhnya berkelebat keluar dan robohlah enam orang pengawal yang menghadangnya.
Dia tidak membunuh karena dia maklum betapa hancur hati Pangeran Dhanu, maklum pula bahwa pangeran itu betul-betul mencinta Hong Kwi.
Dia hanya marah kepada orang-orang Mancu karena andaikata malam tadi orang-orang Mancu tidak menyerbu sehingga tidak mengagetkan hati Hong Kwi yang jantungnya lemah karena sakit, tentu pertemuannya dengan bekas kekasihnya itu tidak berskhir dengan kematian Hong Kwi!
Biarpun Pangeran Dhanu yang marah, berduka dan sakit hati itu mengerahkan semua sisa pasukannya, namun mereka tidak dapat mencegah Han Ki melarikan diri dan keluar dari hutan itu dengan gerakan cepat seperti menghilang.
Han Ki berlari cepat meninggalkan Kerajaan Yucen.
Ingin sekali ia dapat menggabungkan diri dengan barisan Kerajaan Sung, melupakan semua peristiwa yang membuat ia menjadi orang buruan.
Ingin ia membela Sung dan menghajar musuh-musuh besarnya.
Akan tetapi, tentu dia akan ditangkap begitu muncul di kota raja!
Ah, biarpun tanpa pasukan, dia tetap berusaha untuk membalas kematian Hong Kwi kepada bala tentara Mancu!
Dengan keputusan bulat, Han Ki melanjutkan perjalanannya, hatinya makin merana.
Dia tidak saja kehilangan Maya dan Siauw Bwee, bahkan kini ditinggal mati Hong Kwi yang sampai detik terakhir masih mencintanya!
Kenyataan ini makin memberatkan hatinya, dan ia selalu merasa telah berbuat dosa yang amat besar kepada Hong Kwi.
Cinta kasih di antara mereka yang terenggut putus, yang disangkanya hanya membuat dia seorang menderita sengsara, kiranya lebih menyiksa lagi bagi Hong Kwi sampai dibawanya mati!
Hati Han Ki menjadi kosong dan ia merasa dirinya sudah tua sekali.
Padahal pada waktu itu, usia Han Ki baru tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun.
Maya membuka matanya.
Sudah matikah dia?
Pertama yang berkelebat dalam pikirannya adalah bahwa dia terseret ke dalam air yang gelap lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Tentu sudah mati.
Akan tetapi mengapa dia berada di atas perahu?
Dan ada enam orang perajurit di perahu itu, perahu yang didayung cepat.
Tidak!
Dia tentu belum mati.
Ataukah perahu ini perahu yang akan menyeberangkannya ke alam baka dan enam orang itu malaikat-malaikat?
Tak mungkin.
Mana ada malaikat berpakaian seperti perajurit dunia!
Keparat, tentu mereka ini yang membuat ia terjatuh ke air dan mereka yang menyeretnya ke dalam air sehingga dia pingsan dan tertawan.
Dia menjadi marah dan menggerakkan tangan....
akan tetapi, kedua tangan dan kedua kakinya tidak dapat digerakkan.
Terbelenggu!
Ia mengerahkan tenaga, akan tetapi dia lelah sekali sehingga tenaganya masih belum cukup untuk mematahkan belenggu, dan ketika ia memandang, kiranya belenggu itu terbuat daripada baja yang tebal dan kuat sekali!
Maya pura-pura masih pingsan dan tidak bergerak, diam-diam mengumpulkan hawa murni ke lengannya.
Perahu itu kini menempel pada sebuah perahu besar.
Dia membuka mata memperhatikan.
"Wah, dia sudah sadar!"
Kata seorang di antara mereka yang kebetulan menengok dan melihat Maya membuka mata.
Karena sudah ketahuan, Maya tidak berpura-pura lagi.
Dengan gerakan tubuhnya, ia berhasil bangun duduk.
"Siapa kalian? Mengapa aku kalian tangkap?"
Akan tetapi ketika melihat pakaian seragam mereka adalah tentara laut Kerajaan Sung, ia lalu berkata.
"Hemm.... kalian tentu anjing-anjing Kerajaan Sung!"
"Perempuan liar. Bangunlah dan ikut kami menghadap panglima, atau engkau lebih suka kami seret ke atas perahu?"
Karena belum mendapat kesempatan mematahkan belenggunya, Maya bangkit berdiri dan tiba-tiba kedua kakinya membuat gerakan menendang sambil meloncat.
Akibatnya, dua orang perajurit terlempar ke dalam air!
"Wah!
Wah!
Awas...., betina ini liar sekali!"
Seru seorang di antara mereka dan kini dari atas perahu besar meloncat turun banyak perajurit.
Tubuh Maya diringkus dan dia dipaksa naik ke atas perahu besar.
Dua orang perajurit yang bertubuh kuat memegang ujung rantai yang membelenggu kedua tangannya, dan setengah diseret Maya dibawa memasuki ruangan besar di atas perahu.
Biarlah, pikirnya, biar aku dihadapkan panglima mereka.
Kalau nanti ada kesempatan, dia akan membasmi anjing-anjing ini!
Dengan dada membusung dan kepala tegak Maya berjalan terpincang-pincang karena kedua kakinya dibelenggu, memasuki ruangan.
Ketika ia melihat dua orang panglima duduk di atas kursi dalam ruangan itu, matanya terbelalak.
Ia mengenal mereka!
Mereka adalah panglima-panglima perahu besar yang telah ditolongnya!
Bahkan panglima muda yang kini sudah bangkit berdiri adalah panglima muda yang ditolongnya dari tangan Si Dampit yang lihai!
Juga panglima besar yang berjenggot itu memandang dengan kaget.
"Engkau....? Engkau pendekar wanita penolong kami....!"
Ia lalu membentak anak buahnya.
"Apakah kalian ini buta dan gila semua? Hayo cepat lepaskan belenggunya!"
"Krek! Krekkk!"
Tiba-tiba Maya yang sudah berhasil mengumpulkan kembali tenaganya, sekali mengerahkan telah mematahkan belenggu kaki tangannya!
Dia melangkah maju dan termanyum.
"Ciangkun, selamat berjumpa!"
Panglima besar itu meloncat dari tempat duduknya dan cepat menjura.
"Selamat datang, Li-hiap!"
Dan kepada anak buahnya ia membentak.
"Lihat apakah yang telah kalian lakukan, orang-orang tolol! Menawan dan membelenggu penolong kami! Seolah-olah belenggu kalian itu ada artinya bagi Li-hiap yang sakti!"
Kemudian ia membentak makin nyaring.
"Hayo cepat berlutut, minta ampun kepada Li-hiap!"
Enam orang itu, yang dua tertendang tadi sudah ikut naik, cepat menjatuhkan diri dan seperti burung-burung saling sahut mereka berseru.
"Mohon maaf kepada Li-hiap, karena kami tidak tahu maka...."
Maya menggerakkan tangannya.
"Sudahlah! Salahku sendiri yang kurang pandai berenang sehingga mudah kalian bekuk!"
"Li-hiap, silakan duduk!"
Panglima muda yang brewok cepat menyerahkan kursinya dan ia memandang kagum.
Ketika ia ditolong dari tangan lawan dampit yang lihai dia tidak dapat melihat jelas wajah penolongnya.
Kini ia kagum bukan main melihat bahwa penolongnya hanyalah seorang dara remaja yang masih amat muda lagi cantik jelita seperti bidadari!
"Lekas ambil pakaian bersih dan kering untuk Li-hiap!
Dan sediakan meja perjamuan!"
Panglima besar itu memberi perintah. Sibuklah anak buahnya mempersiapkan barang-barang yang diperintahkan itu.
"Li-hiap, silakan berganti pakaian kering dulu. Nanti kita bicara,"
Panglima tua itu mempersilakan.
Tanpa sungkan-sungkan Maya lalu memasuki kamar di perahu yang ditunjuk dan berganti pakaian.
Panglima besar itu berbisik-bisik dengan wajah serius dengan pembantunya, panglima muda brewok.
"Wah, betapa lucunya aku berpakaian seperti ini!"
Maya yang sudah selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar, tertawa memandangi pakaian panglima yang dipakainya.
"Engkau gagah sekali dan patut dalam pakaian itu, Li-hiap. Hanya kurang pedangnya. Silakan memakai pedangku."
Panglima tua itu menyambut dan meloloskan sabuk pedangnya kemudian menghampiri Maya dan memakaikan sabuk pedang itu di punggung Maya sehingga dara itu tampak makin gagah perkasa.
Atas ajakan penuh hormat dari kedua orang panglima itu, Maya kini dijamu dan sambil makan minum mereka bercakap-cakap.
Atas pertanyaan panglima tua itu, Maya menjawab.
"Namaku Maya dan kuharap Ciangkun jangan menanyakan siapa guruku dan dari mana asal-usulku karena hal itu takkan dapat kuterangkan. Seandainya aku tidak melihat sendiri betapa pasukan Ciangkun bertempur melawan pasukan-pasukan Sung, tentu aku tidak akan dapat duduk semeja dengan kalian. Ciangkun siapakah, dan mengapa pula pasukan Ciangkun bertempur melawan Pasukan Sung yang menjadi musuhku?"
Wajah panglima tua itu berseri mendengar bahwa dara perkasa yang menjadi penolongnya ini menganggap Kerajaan Sung sebagai musuhnya.
Dia menyuguhkan secawan arak, setelah arak yang disuguhkan sebagai penghormatan itu diminum, dia berkata.
"Namaku Bu Gi Hoat, dan dia ini adalah pembantuku, Panglima Muda Lai Sek. Tadinya aku adalah seorang panglima besar Kerajaan Sung yang ditugaskan memimpin armada menjaga pantai timur. Kini kami menjadi musuh Kerajaan Sung yang makin menyuram dan penuh kelaliman."
"Hemm...., jadi Ciangkun memberontak terhadap Kerajaan Sung? Mengapa?"
Panglima she Bu itu menarik napas panjang.
"Selama beberapa keturunan, nenek moyangku adalah pembesar-pembesar militer yang setia kepada kerajaan. Akan tetapi, sekarang ini Kerajaan Sung mengalami kesuraman hebat karena kelemahan Kaisar yang dipengaruhi oleh menteri-menteri dorna, thaikam-thaikam dan panglima-panglima jahat macam Suma-goanswe. Karena itu, banyak sekali panglima yang memberontak, pembesar-pembesar daerah yang berdiri sendiri. Aku pun tidak dapat tinggal diam, apalagi semenjak Menteri Kam yang amat kami hormati itu difitnah dan tewas oleh kekejian Kerajaan Sung. Kami harus membunuh Kaisar dan kaki tangannya yang lalim dan membentuk kerajaan baru yang bebas daripada penindasan para pembesar korup."
Maya mengangguk-angguk.
Diam-diam ia merasa girang karena kini mendapat kesempatan untuk membasmi musuh-musuhnya, terutama Kerajaan Sung!
Apalagi karena jelas bahwa panglima ini bersetiakawan dengan pek-hunya, Menteri Kam.
Tanpa ragu-ragu lagi ia berkata.
"Kalau begitu, aku siap membantumu, Ciangkun!"
Bukan main girangnya hati panglima itu. Ia mengisi cawan arak dan mengajak Maya minum kemudian berkata.
"Sungguh sudah menjadi kehendak Tuhan agaknya bahwa Kerajaan Sung yang buruk itu mesti hancur sehingga hari ini Tuhan sendiri yang mengirim Lihiap untuk membantu kami! Belum juga aku berani mengutarakan maksud hatiku minta bantuanmu, engkau telah menyatakan hendak membantu. Terima kasih, Li-hiap, terima kasih!"
"Ah, engkau terlalu sungkan, Ciangkun. Memang aku pun berniat membasmi Kerajaan Sung yang kubenci sehingga kebetulan sekali kerja sama ini. Kalau Bu-ciangkun setuju, berilah aku pasukan yang cukup banyak dan kuat, dan sekarang juga aku akan membawa pasukan itu menyerbu ke kota raja Sung!"
Hampir saja kedua orang panglima perang itu tertawa bergelak mendengar ucapan ini.
Betapa dangkalnya pengetahuan dara ini tentang perang.
Begitu mudahnya hendak membawa pasukan menyerbu ke kota raja, seolah-olah jalan ke kota raja Sung itu halus lunak tanpa rintangan.
Perjalanan ribuan li itu sebelum ditempuh sepersepuluhnya sudah akan menghadapi pasukan-pasukan besar musuh yang amat banyak jumlahnya.
Dara ini bicara tentang perang seperti orang membalikkan tangan saja mudahnya!
Akan tetapi karena maklum bahwa tentu saja dara semuda ini sama sekali tidak mengerti tentang perang, dan agar jangan menyinggung perasaan, kedua orang panglima itu hanya saling pandang dan menahan kegelian hati mereka.
"Li-hiap, serahkan urusan perang kepadaku karena perang melawan Kerajaan Sung tidaklah semudah itu. Mereka masih memiliki bala tentara yang kuat dan besar jumlahnya. Akan tetapi, kau akan kuangkat menjadi panglima muda dan kuserahi pasukan yang hendaknya kau gembleng menjadi pasukan istimewa yang kuat dan percayalah kami hanya mengandalkan kegagahan Li-hiap dengan pasukanmu untuk mendobrak pihak musuh di garis depan."
Maya mengangguk.
"Terserah kepadamu, Ciangkun. Bagiku, asal aku mendapat kesempatan membasmi pasukan Sung, cukuplah. Lebih banyak lebih baik."
"Bagus! Mulai sekarang engkau adalah seorang panglima dan sudah selayaknya kalau engkau sebagai pembantuku yang kupercaya, sebagai pembantu utama di samping Lai-ciangkun, tahu akan kedudukan dan siasat kita."
Dengan panjang lebar Bu-ciangkun lalu memberi tahu kepada pembantunya yang baru ini bahwa dia telah mengadakan kontak dengan bala tentara Mancu yang besar dan kuat agar bersama-sama mereka dapat menyerang ke selatan.
Mendengar ini, Maya tidak ambil peduli.
Baginya, bersekutu dengan Mancu pun tidak menjadi soal asal dia dapat membalas kepada Kerajaan Sung, Yucen dan Mongol!
"Boleh saja bersekutu dengan orang Mancu.
Bu-tai-ciangkun.
Asal jangan bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Yucen saja.
Kedua bangsa itu pun masih musuhku!"
Bu-ciangkun tertawa bergelak.
Gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa sekali, akan tetapi tidak berpengalaman sama sekali, bahkan masih memiliki sifat kekanak-kanakan dan jujur.
"Ha-ha-ha! Jangan khawatir, Li-ciangkun (Panglima Wanita)! Kami tidak mempunyai hubungan dengan bangsa Mongol! Sedangkan bangsa Yucen yang sekarang telah mendirikan Kerajaan Cin juga merupakan musuh kita karena dia merupakan penjajah yang mengancam bangsa dan negara. Di dalam pertempuran yang akan kau hadapi, engkau bahkan akan melawan Bangsa Yucen dan juga pasukan Kerajaan Sung."
"Bagus!"
Maya, girang sekali.
"Lekas siapkan pasukan untukku, Tai-ciangkun. Akan kulatih mereka!"
Demikianlah, mulai hari itu, Maya mengepalai lima ratus orang pasukan dengan sepuluh orang perwira pembantunya.
Dara ini dahulu adalah seorang Puteri Khitan dan dia sudah sering kali melihat, bahkan mengikuti cara ayahnya dan para panglima Khitan melatih tentaranya, maka kini dengan baik sekali ia dapat melatih pasukan di bawah perintahnya.
Mereka dia beri pelajaran ilmu berkelahi dengan menurunkan beberapa jurus yang lihai dari ilmu silatnya.
Juga para perwira pembantunya ia latih sendiri dengan beberapa jurus ilmu silat sehingga mereka pun menjadi lihai.
Mula-mula Bu-ciangkun terkejut dan terheran-heran, juga girang menyaksikan cara Maya melatih pasukannya.
Diam-diam ia lalu menyebar para penyelidik dan tak lama kemudian dia mendengar bahwa puteri Raja Khitan yang bernama Maya tidak ketahuan ke mana perginya semenjak ikut bersama Menteri Kam Liong yang tewas dikeroyok oleh tentara Sung.
Diam-diam ia menjadi girang dan kagum sekali.
Tidak salah lagi, melihat bentuk wajahnya, Maya yang kini menjadi panglimanya itulah Puteri Maya, puteri Khitan dari Raja Khitan dan keponakan dari mendiang Menteri Kam Liong!
Akan tetapi karena dara itu sudah menyatakan tidak akan menceritakan riwayatnya, ia pun diam-diam saja, bahkan tidak memberitahukan dugaannya itu kepada siapapun juga.
Setelah selesai menggembleng pasukan di tepi pantai sampai dua bulan lamanya, pada suatu pagi Bu-ciangkun mengumpulkan para panglimanya yang berjumlah lima orang.
"Barisan Mancu yang menjadi sekutu kita berjanji akan menyambut kita di pantai ini untuk bergabung kemudian bergerak ke selatan. Akan tetapi, telah sebulan mereka terlambat dan kurirnya juga belum tampak. Aku khawatir kalau-kalau ada perubahan keadaan, maka sebaiknya seorrang di antara kalian harus membawa pasukan untuk menghubungi mereka di perbatasan Mancu. Akan tetapi selain perjalahan itu jauh, melalui daerah-daerah yang kering dan sukar, juga ada bahayanya akan bertemu dengan pasukan-pasukan Mongol, terutama sekali pasukan Kerajaan Cin. Siapakah di antara kalian yang sanggup melakukan tugas berat ini?"
Seperti telah diduganya, dan juga diharapkannya maka dia sengaja menyebutkan bahaya pasukan Mongol dan Yucen. Maya segera berdiri sigap dan menjawab.
"Aku sanggup!"
Empat orang panglima yang lain telah mengenal kelihaian panglima wanita itu, maka mereka tidak berani berebut, bahkan Li-ciangkun yang brewok dan dapat menangkap isi hati panglimanya, segera berkata.
"Memang tugas berat ini paling tepat dilakukan oleh Li-ciangkun dengan pasukan mautnya."
Bu-ciangkun mengangguk-angguk.
"Akan kubuatkan surat untuk pimpinan barisan Mancu yang berada di perbatasan. Li-ciangkun tentu maklum bahwa suratku ini sama harganya dengan nyawa."
"Baiklah, Tai-ciangkun. Akan kujaga dengan taruhan nyawaku sendiri. Harap jangan khawatir."
"Selain mengadakan hubungan dengan mereka dan menyerahkan suratku, di sepanjang jalan harap Li-ciangkun mencari tenaga-tenaga dari rakyat yang sekiranya akan dapat memperkuat kedudukan kita dan dapat membantu perjuangan kita."
"Baik!"
Jawab Maya yang teringat, akan rakyat Khitan.
Kalau dia bisa bertemu dengan rakyat Khitan dan membujuk mereka masuk menjadi perajurit di bawah pimpinannya, betapa akan senang hatinya.
Diam-diam timbul keinginan hatinya melihat rakyatnya bangkit di bawah pimpinannya untuk membangun kembali Kerajaan Khitan yang besar dan jaya!
Karena persediaan kuda amat terbatas, pasukan yang dipimpin Maya sebanyak lima ratus orang itu hanya membawa seratus ekor kuda.
Maya dan sepuluh orang perwiranya tentu saja mempunyai masing-masing seekor kuda, adapun seratus ekor kuda itu akan ditunggangi lima ratus orang secara bergilir, lima orang perajurit untuk setiap kuda seekor.
Maka berangkatlah pasukan itu dengan megahnya, dipimpin oleh Panglima Muda Maya yang menunggang kuda putih berada di depan, diapit dua orang pengawal pembawa bendera.
Amat gagah dan barisan itu pun bergerak rapi, yang berjalan kaki di depan, yang berkuda, seratus orang banyaknya, di belakang.
Bu-ciangkun sendiri mengantar berangkatnya pasukan istimewa ini sampai di luar daerah perkemahan.
Dua buah bendera itu berkibar-kibar.
Yang sebuah bertuliskan nama pasukan yang diberi oleh Bu-ciangkun sendiri, yaitu "Pasukan Maut"!
Dan bendera yang sebuah lagi bertuliskan nama panglimanya, yaitu Panglima Wanita Maya!
Perjalanan ke barat dimulai.
Oleh gemblengan-gemblengan keras Maya selama dua bulan, tubuh anak buah pasukan kuat-kuat dan semangat mereka juga besar.
Mereka semua merasa bangga menjadi perajurit Pasukan Maut, mempunyai seorang panglima yang mereka tahu amat sakti, melebihi kegagahan Bu-tai-ciangkun sendiri, seperti seekor naga betina.
Belasan hari kemudian, pasukan itu telah tiba di daerah kering tandus dan di sana-sini mereka melalui padang pasir yang tidak berapa luas.
Ketika mereka tiba di daerah pegunungan yang mulai memperlihatkan kesuburan, tiba-tiba mereka diserbu oleh pasukan Yucen yang berjaga di situ karena daerah itu sebagian telah dikuasai oleh tentara Yucen.
"Basmi anjing-anjing Yucen!"
Maya berteriak, suaranya melengking tinggi mengatasi semua kegaduhan dan terdengar oleh semua anak buahnya sehingga mereka bertempur seperti harimau-harimau kelaparan, (Lanjut ke
Jilid 18) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Pasukan Yucen yang terdiri dari tiga ratus orang lebih dan mengira bahwa yang mereka serbu adalah pasukan Sung yang dianggap melanggar wilayah, menjadi kewalahan.
Apalagi ketika Maya sendiri turun dari kudanya dan mengamuk, pedangnya membabati tentara musuh seperti orang membabat rumput saja, pasukan Yucen menjadi gentar.
Komandan Yucen mengeluarkan aba-aba untuk mundur, akan tetapi dengan gerakan kilat, Maya melompat, pedangnya memenggal leher seorang perwira musuh dan tangan kirinya mencengkeram leher baju Panglima Yucen itu terus menariknya dari atas kuda.
Panglima itu terkejut dan meronta, heran dan kaget melihat bahwa yang menawannya adalah seorang dara jelita yang masih muda.
Akan tetapi keringatnya mengucur deras ketika ia mendengar dara itu mendesis bengis.
"Engkau Panglima Yucen keparat. Ingatkah kepada ayahku Raja Talibu dari Khitan?"
Wajah panglima itu pucat dan ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku.... aku tidak....!"
Akan tetapi kata-katanya terhenti dan lehernya terbabat putus oleh pedang Maya.
Dara perkasa ini melompat ke atas batu besar, membawa kepala Panglima Yucen sambil berseru.
"Heii.... anjing-anjing Yucen! Lihat kepala siapa ini?"
Suaranya yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang amat nyaringnya dan makin paniklah tentara Yucen mendengar dan melihat kepala pemimpin mereka, sebaliknya makin bersemangatlah Pasukan Maut itu sehingga mereka mengamuk, membunuhi musuh yang kocar-kacir dan lari berserabutan.
"Hidup Maya Li-ciangkun!"
Sorak para perajurit dan mereka mengejar musuh yang melarikan diri.
Hanya setelah ada perintah Maya saja para perajurit berhenti mengejar.
Ketika Maya memerintahkan para perwira menghitung, dalam perang pertama ini pasukannya kehilangan dua puluh orang akan tetapi membunuh lebih dari seratus orang musuh.
Ini merupakan kemenangan besar dan perajurit yang terluka dirawat baik-baik, sedangkan yang tewas lalu dikubur.
Mayat-mayat para perajurit Yucen dibiarkan saja berserakan.
Maya lalu memerintahkan pasukannya bergerak maju lagi.
"Pasukan Maut yang gagah perkasa. Serbu....!"
Barulah pasukan Yucen itu menjadi panik benar-benar.
Suara perintah itu datang dari atas puncak dan mereka dapat menduga bahwa itu tentulah suara panglima wanita yang menurut cerita perajurit Yucen yang melarikan diri memiliki ilmu kepandaian yang mengerikan.
Akan tetapi, serbuan itu datangnya bukan dari puncak, melainkan dari bawah, dari belakang mereka!
Terjadilah perang tanding yang jauh lebih hebat mengerikan daripada tadi, akan tetapi lebih celaka lagi akibatnya bagi tentara Yucen karena mereka berada dalam keadaan panik dan siasat mereka hancur sehingga mereka berada di pihak yang diserang.
Keadaan yang sama sekali di luar perhitungan mereka ini, yang membuat keadaan menjadi berbalik secara tiba-tiba, membuat para komandan pasukan itu tidak sempat lagi memikirkan siasat, maka satu-satunya jalan adalah melawan dan mempertahankan diri secara kacau-balau dan mencari selamat sendiri-sendiri!
Di lain pihak, tentara Pasukan Maut yang bergerak secara terpimpin dan teratur, ditambah kegembiraan mereka karena baru sekarang mereka tahu akan kelihaian siasat pimpinan mereka, tumbuh semangatnya dan terjadilah penyembelihan besar-besaran seperti yang semula direncanakan pasukan Yucen, Akan tetapi sekarang merekalah yang menjadi domba-dombanya dan pihak musuh yang menjadi jagalnya!
Banyak di antara mereka terbunuh, bukan hanya oleh senjata Pasukan Maut, akan tetapi juga yang terjun ke jurang dan tewas dalam usaha mereka menyelamatkan diri, dan hanya ada dua ratus orang saja yang sempat melarikan diri menerobos kepungan musuh dan terus lari sipat-kuping ke bawah bukit!
Pertempuran yang berat sebelah itu berlangsung sampai pagi dan dengan hati penuh kegembiraan Maya mendapat kenyataan bahwa dalam perang kedua kalinya ini pasukannya membasmi hampir tiga ratus orang musuh sedangkan dia hanya kehilangan tiga puluh orang, itu pun tidak semua tewas dan masih ada yang dapat tertolong karena hanya menderita luka-luka saja!
Kemenangan yang membesarkan hatinya dan hati anak buahnya itu sekali ini benar-benar dirayakan mereka dengan tertawa-tawa dan bersendau-gurau menceritakan pengalaman masing-masing dalam pertempuran semalam!
Maya membawa pasukannya turun bukit dan beristirahat setengah hari lamanya di padang rumput yang luas sehingga mereka tidak akan dibokong musuh.
Kemudian perjalanan ke barat dilanjutkan dengan semangat penuh.
Maya tidak selalu menunggang kuda di depan pasukannya, kadang-kadang membiarkan pasukannya lewat sambil dia mengucapkan kata-kata bersemangat dan menyapa anak buahnya sehingga semua anak buahnya merasa bangga dan dekat dengan panglima ini.
Banyak di antara mereka yang ketika panglima di atas kuda putihnya itu menjajari mereka, berkata terang-terangan, Hidup Maya Li-ciangkun!
Kami siap mati membelamu!"
Maya tersenyum mengangguk dan berkata dengan suara merdu.
"Aku pun siap mati membela Pasukan Maut! Setiap orang dari Pasukan Maut adalah seperti kaki dan tanganku sendiri!"
Tentu saja ucapan panglima wanita remaja yang cantik jelita ini disambut sorak-sorai gembira.
Ketika pasukan pada beberapa hari kemudian melalui padang rumput, tiba-tiba pasukan berhenti.
Maya yang sedang berada di belakang membalapkan kudanya menuju ke depan.
Kiranya di depan pasukannya menghadang ribuan ekor domba.
Ia mengerutkan keningnya dan memerintahkan perwiranya mengurus hal itu.
Akan tetapi sampai agak lama pasukan masih belum bergerak maju, maka dia menjadi tidak sabar dan cepat ia menuju ke bagian depan.
Seorang perwira melaporkan bahwa para perwira dan pengawal cekcok dengan para penggembala domba, bahkan terjadi perkelahiani Maya terkejut, cepat ia menghampiri dan ketika melihat betapa enam orang perwira roboh dan terluka, dia marah sekali dan cepat meloncat turun dari atas kudanya dan lari ke depan.
Dilihatnya bahwa para perwiranya sedang berkelahi melawan pimpinan penggembala domba.
Dia tertarik sekali menyaksikan kelihaian seorang di antara para penggembala itu.
Agaknya dia itu pemimpinnya, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap, tangan kanan memegang sebatang pecut kulit hitam, lengan kiri memondong seekor anak domba.
Gerakan penggembala muda ini hebat dan cepat sekali dan pecutnya itu menyambar-nyambar ganas, merobohkan dua orang perwira sekaligus dan yang masih menandinginya adalah Kwa-huciang, seorang di antara perwiranya yang paling lihai.
Kwa-huciang bersenjata pedang dan kini terjadilah pertandingan antara kedua orang itu.
Maya menghampiri dan memandang penuh perhatian, diam-diam kagum menyaksikan kegagahan pemuda penggembala muda itu.
Setelah bertanding belasan jurus, tiba-tiba penggembala yang melawan Kwa-huciang sambil memondong domba itu berseru keras, pecutnya melibat pedang Kwa-huciang dibetot dan perwira itu terlempar.
Kakinya menendang lutut Si Perwira yang jatuh terpelanting dan kini penggembala itu menginjakkan kaki kanannya di atas dada Kwa-huciang sambil berkata nyaring.
"Hayo lekas perintahkan pasukanmu mengambil jalan memutar, kalau tidak akan kuinjak hancur dadamu!"
"Eh, galak amat!"
Maya berseru sambil melompat maju.
"Penggembala berbau domba, kau sombong sekali. Mengapa engkau dan kawan-kawanmu mengamuk dan merobohkan para perwiraku!"
Penggembala domba itu menengok dan kelihatan tercengang lalu menjawab.
"Domba kami banyak yang terinjak mati, sebagian lari kocar-kacir ketakutan. Domba-domba kami sedang makan rumput, mengapa pasukan kalian mengganggu? Mengapa tidak mengambil jalan memutar? Lihat, domba kecil ini sampai patah kakinya!"
Ia menoleh ke arah domba yang dipondongnya. Kemudian ia memandang lagi kepada Maya sambil bertanya.
"Eh, engkau ini perajurit wanita, mau apa?"
Maya tersenyum.
"Orang kasar, agaknya engkau lebih pandai bergaul dengan domba daripada dengan manusia."
"Tentu saja! Apa sih baiknya manusia? Palsu dan berpura-pura, ganas dan kejam melebihi srigala. Domba-domba adalah mahluk yang lemah, selalu mengalah dan...."
"Dan engkau lupa bahwa kau sendiri juga seorang manusia!"
Maya memotong.
"Ataukah barangkali engkau ini pun seekor domba yang menyamar manusia?"
Pemuda itu gelagapan, merasa kalah bicara maka ia membentak.
"Kau siapa dan mau apa?"
"Aku adalah panglima Pasukan Maut ini!"
Jawab Maya dengan sikap keren.
Tiba-tiba penggembala domba yang muda itu melepaskan injakan kakinya sehingga Kwa-huciang mampu bernapas lagi dan Si Penggembala tertawa bergelak sampai tubuhnya berguncang-guncang dan mukanya memandang langit.
"Ha-ha-ha-ha! Panglimanya seorang bocah perempuan belasan tahun yang halus dan cantik! Pasukan macam apa ini? Pantas saja para perwiranya lebih lemah daripada domba!"
Kwa-huciang marah sekali. Dia sudah bangkit duduk dan kini ia bangun sambil membentak.
"Penggembala kurang ajar! Apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Li-ciangkun?"
Akan tetapi Maya menggoyang tangan berkata.
"Kwa-huciang, kaumundurlah dan biar aku sendiri yang memberi hajaran kepada bocah nakal bau domba ini. Hei, bocah! Engkau kira bahwa engkau sudah paling jempolan setelah mengalahkan beberapa orang perwiraku yang memang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Coba kau melawan aku! Lihat, aku akan tetap berdiri di sini, sedikit pun tidak akan memindahkan kedua kakiku. Kau boleh menyerangku, kalau sampai aku merobah kedudukan kedua kakiku, aku mengaku kalah padamu!"
"Kalau hanya mengaku kalah saja apa gunanya bagiku?"
Pemuda itu membantah dan memandang Maya penuh selidik, seolah-olah ia dapat merasa bahwa biarpun hanya seorang wanita muda, panglima itu agaknya tidak boleh dibuat sembrono.
Kalau tidak berkepandaian tinggi, mana mungkin bersikap demikian tekebur?
Kembali Maya tersenyum.
"Eh, pecinta domba. Kalau sampai kau dapat merobah kedudukan kakiku, selain aku mengaku kalah, aku akan memerintahkan pasukanku mengambil jalan memutar dan akan kuganti harganya semua dombamu yang terluka atau hilang. Akan tetapi bagaimana kalau kau tidak mampu merobah kedudukan kakiku malah kau akan roboh olehku kurang dari sepuluh jurus? Apa yang akan kaupertaruhkan?"
Mata yang lebar penuh kepolosan itu terbelalak.
"Aku? Roboh dalam waktu kurang dari sepuluh jurus olehmu? Mana mungkin ini? Kalau sampai begitu, aku akan berlutut dan menyembah seratus kali kepadamu!"
"Kalau hanya disembah seratus kali oleh orang seperti kau saja apa gunanya bagiku?"
Maya membalas bantahan pemuda penggembala itu.
Pemuda itu kembali merasa kalah bicara.
Sudah jelas bahwa dalam hal silat lidah ia bukan tandingan gadis jelita yang perkasa itu.
"Habis, kau minta apa? Aku seorang miskin, hanya menjadi buruh menggembala domba bersama teman-temanku, gajinya sebulan dimakan dua puluh hari. Aku tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan!"
Maya mengangguk-angguk.
"Engkau punya banyak sekali. Kepandaianmu, kegagahanmu, kekasaranmu, kejujuran, kesetiaan. He, penggembala domba yang gagah. Kalau dalam sepuluh jurus aku merobohkan engkau tanpa menggerakkan kaki pindah dari sini, engkau harus suka menjadi seorang perwira Pasukan Mautku!"
Pemuda penggembala itu mengerutkan keningnya yang tebal.
Sebetulnya, tidak ada sedikit pun hasrat hatinya menjadi perwira atau perajurit.
Akan tetapi, ditantang seperti itu, dia menjadi penasaran.
Pula, kalau benar panglima wanita muda ini dapat merobohkannya dalam sepuluh jurus tanpa mengangkat kedua kaki, berarti panglima ini bukan manusia, melainkan dewa dan dia tentu akan suka sekali menjadi pembantu panglima dewa atau dewi!
"Baiklah!
Nah, rasakan lihainya pecutku!"
Penggembala itu melangkah maju menghampiri Maya, pecutnya ia gerakkan, diputar-putar di atas kepalanya sehingga terdengar suara ledakan-ledakan kecil yang nyaring.
Ketika sinar hitam pecut itu melalui atas kepala Maya karena Si Penggembala memang mengeluarkan gerakan ancaman, dia cepat mengangkat tangan kiri dan....
pecut itu sudah berada di tangannya, yaitu ujung pecut dia pegang.
Penggembala itu terheran-heran melihat betapa ujung pecutnya tadi seolah-olah tertarik oleh sesuatu sehingga terbang ke arah tangan panglima wanita itu.
Melihat ujung pecutnya sebelum dipakai menyerang sudah terpegang lawan, ia menjadi penasaran dan berusaha melepaskan dengan membetot keras.
Maya tersenyum.
"Aku hanya menahan sebentar seranganmu, untuk memberi kesempatan padamu melepaskan dombamu. Lepaskan dulu domba itu biar gerakanmu menjadi leluasa!"
Bukan main heran hati penggembala itu, akan tetapi makin keras dugaannya bahwa seorang yang dapat bersikap sedingin itu, setenang itu, sudah pasti memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.
Maka ia pun tidak menjadi sungkan-sungkan lagi, dilepaskannya perlahan domba yang dipondong lengan kirinya.
Maya juga melepaskan ujung pecut itu dan memandang tersenyum melihat pemuda itu mulai menghampirinya, dengan gerak langkah satu-satu, memasang kuda-kuda, langkah seperti seekor harimau menghampiri calon mangsanya.
Maya memandang kagum.
Bukan main gagahnya pemuda kasar ini.
Pakaiannya kasar sederhana, kepalanya ditutupi topi bulu domba, pasangan kuda-kudanya kokoh kuat, tangan yang memegang pecut melintang di depan dada, tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan jari terbuka dan telapak tangan menghadap langit, sepasang matanya yang lebar memandang tanpa berkedip ke arah pundak Maya.
Sikap seorang ahli silat yang kuat!
Sementara itu, pemuda penggembala yang sudah banyak mengalami hidup penuh kesukaran dan di tempat yang liar sehingga keselamatan banyak mengandalkan kekuatan, juga telah mempelajari banyak macam ilmu silat utara dari beberapa orang pertapa di pegunungan utara, bersikap hati-hati.
Dari para gurunya ia pernah mendengar bahwa lawan yang patut dihadapi dengan waspada justeru adalah lawan yang kelihatannya lemah.
Orang-orang tua lemah, pendeta-pendeta lemah lembut, dan wanita-wanita.
Orang-orang lemah ini kalau sudah berani menghadapi lawan berarti mereka telah memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka tidak dapat mengandalkan tenaga mereka yang lemah, pula, karena keadaan mereka yang kelihatan lemah, lawan menjadi lengah dan memandang rendah.
Maka dia tidak segera menerjang secara ngawur, apalagi karena dia harus dapat mempertahankan diri selama sepuluh jurus, maka setiap jurus serangannya harus diperhitungkan benar-benar.
Mengingat pula akan janji wanita muda itu tidak akan merobah kedudukan kedua kakinya, maka Si Penggembala lalu melangkah perlahan-lahan memutari tubuh Maya dengan maksud menyerang dari belakang!
Kalau diserang dari belakang, mau tidak mau lawannya itu tentu akan membalik tubuh dan dengan sendirinya tentu akan merobah kedudukan kedua kakinya, atau setidaknya tentu akan mengangkat sebelah kaki.
Dan kalau hal ini terjadi, berarti dia menang!
Ia lalu menerjang dari belakang dengan sabetan yang amat kuat, yang diserang adalah kedua kaki Maya!
Memang dia cerdik, tidak saja menyerang dari tempat aman agar dia tidak dapat dirobohkan sampai jurus ke sepuluh, akan tetapi juga dalam jurus terakhir ini dia menyerang kaki lawan.
Tak mungkin engkau mengelak atau menangkis, kecuali dengan merubah kedudukan kaki, pikirnya.
Untuk menangkis, tentu tangan dara itu tidak sampai ke bawah, dan kaki yang tak boleh digerakkan itu mana bisa mengelak!
Akan tetapi Maya sama sekali tidak mengelak maupun menangkis, melainkan menerima saja sabetan itu sambil mengerahkan sin-kang ke arah kedua kakinya, kemudian pinggangnya berputar, tangan kanannya mendorong dengan pukulan jarak jauh.
"Brettt.... dessss....! Auggghhh....!"
Pecut itu mengenai kedua kaki Maya dan melibat-libat kaki, akan tetapi sedikit pun kaki itu tidak tergoyang, dan ketika hawa pukulan Maya yang mengandung Im-kang amat kuat itu mengenai dada Si Penggembala, tak dapat ditahannya pula tubuhnya terjengkang dan terbanting ke belakang dan dia menggigil!
Para perwira dan perajurit bersorak menyambut kemenangan panglima mereka itu.
Akan tetapi Maya mengangkat tangan menyuruh mereka diam, kemudian ia berkata kepada penggembala itu.
"Engkau sudah kalah, harus memenuhi janji menjadi pembantuku. Kerugian domba akan kuganti agar diberikan oleh kawan-kawanmu kepada pemilik domba."
Di dalam hatinya pemuda gembala itu sudah tunduk dan kagum sekali kepada Maya. Dia lalu berlutut di depan Maya sambil berkata.
"Saya Cia Kim Seng adalah seorang laki-laki sejati yang tidak akan mengingkari janji. Mulai saat ini saya akan membantu Li-ciangkun dan siap melakukan semua perintah dengan taruhan nyawa!"
Wajah Maya berseri gembira dan ia menoleh kepada para perwira dan perajurit.
"Para perwira dan perajurit Pasukan Maut yang gagah perkasa. Kita menerima Cia Kim Seng sebagai seorang perwira pembantuku, sebagai seorang anggauta pasukan kita yang jaya!"
Terdengar sorak-sorai riuh-rendah dan para perwira yang tadinya dirobohkan Kim Seng menghampiri pemuda gembala itu dan memeluknya, menepuk-nepuk pundaknya dengan keramahan seorang rekan.
Tentu saja pemuda itu menjadi girang sekali dan ia merasa beruntung berada di tengah-tengah pasukan yang demikian kuat dengan seorang pemimpin yang demikian sakti, muda dan jelita.
Tiba-tiba semua orang tertegun ketika melihat para penggembala, teman-teman Cia Kim Seng, menjatuhkan diri berlutut dan ada yang menangis.
Kim Seng melompat dan membentak mereka.
"Eh, eh, apakah kalian sudah gila? Kenapa menangis?"
"Kalau engkau masuk menjadi anggauta Pasukan Maut yang hebat ini, bagaimana dengan kami? Kami mohon diterima pula menjadi anggauta pasukan di bawah pimpinan Li-ciangkun yang sakti!"
Kata seorang di antara mereka. Maya tertawa gembira.
"Bagus! Bagus! Kumpulkan semua kawan-kawan kalian yang suka membantuku. Aku menerima kalian!"
Para penggembala bersorak dan berdatanganlah penggembala-penggembala yang bertubuh kuat itu dan jumlahnya ada dua puluh tiga orang.
Maya menerima mereka dan menyerahkan ganti kerugian kepada dua orang penggembala tua yang tidak ikut masuk.
Kemudian pasukannya bergerak maju bersama Cia Kim Seng dan teman-temannya yang ikut berbaris dengan langkah tegap dan dada membusung ke depan.
Dari penggembala menjadi perajurit Pasukan Maut, hati siapa tidak akan menjadi bangga dan besar?
Di sepanjang jalan Maya melatih ilmu pedang kepada Cia Kim Seng dan giranglah hatinya melihat betapa "muridnya"
Ini benar-benar memiliki bakat yang baik sekali di samping kekuatan besar, keringanan tubuh, dan keberanian yang luar biasa.
Juga para penggembala itu ternyata menjadi perajurit-perajurit yang baik dan kuat.
Di sepanjang perjalanan, Maya berhasil mengumpulkan beberapa puluh tenaga sukarela terdiri dari pemuda-pemuda gunung dan dusun sehingga beberapa pekan kemudian pasukan yang tadinya hanya tinggal empat ratus lima puluh orang, kini menjadi lima ratus lebih, meningkat jumlahnya dibanding dengan ketika dia berangkat.
Pada suatu hati, pasukan telah tiba di perbatasan daerah Mancu dan mereka membangun perkemahan di tempat itu karena Maya berniat menghentikan gerakan dan berdiam di situ menanti beberapa orang utusan yang ia kirim menyeberangi perbatasan mengadakan kontak dengan bala tentara Mancu.
Beberapa hari lewat tanpa ada peristiwa penting.
Para perajurit setiap hari berlatih olah yuda di bawah pimpinan para perwira, sedangkan para perwira sendiri berlatih silat di bawah petunjuk-petunjuk Maya.
Yang mengagumkan adalah Kim Seng karena ilmu pedangnya menjadi makin hebat saja sehingga dalam latihan dengan kayu, ia sanggup menandingi pengeroyokan sepuluh orang perwira rekannya!
Pemuda ini merasa berterima kasih sekali terhadap Maya yang dia anggap sebagai panglimanya, gurunya, dan orang yang paling dijunjung tinggi, dihormati dan dicintainya!
Akan tetapi pada malam ke empat, Cia Kim Seng menghadap Maya dan berkata lirih.
"Li-ciangkun, saya melihat berkelebatnya bayangan asing dan agaknya ada mata-mata menyelundup. Sudah saya cari, akan tetapi tidak dapat saya temukan. Karena khawatir maka saya datang menghadap dan melapor."
Sepasang alis Maya berkerut.
"Hemm, sungguh berani mati sekali! Mari kita cari dia sampai dapat. Kita geledah semua kemah. Dia harus dapat ditangkap hidup-hidup karena aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya memata-matai keadaan kita."
Karena tidak ingin menimbulkan kekacauan dan kepanikan di antara para pasukan, diam-diam Maya bersama sebelas orang perwiranya mulai melakukan penggeledahan.
Semua kemah dimasukinya, dan para perajurit yang mengira bahwa panglima mereka melakukan pemeriksaan seperti biasa, menyambut dengan hormat dan gembira karena ke mana saja Maya datang, tentu akan terlepas kata-kata ramah terhadap semua perajurit sehingga mereka menjadi gembira dan bangga.
Akan tetapi, biarpun semua perkemahan telah dimasuki dan diperiksa, Maya dan para pembantunya tetap saja tidak dapat menemukan jejak mata-mata yang dicarinya.
Maya mengerutkan alisnya.
Apakah mata-mata itu sedemikian lihainya sehingga dapat memasuki perkemahan tanpa terlihat penjaga, bahkan tidak diketahui para perajurit yang demikian banyaknya?
Kalau dia mencampurkan diri dengan para perajurit, hal itu tidaklah mungkin karena para perajuritnya tentu akan mengenal orang asing yang menyelundup.
Untuk itu mereka sudah cukup terlatih dan di antara para perajurit ada banyak macam kode rahasia yang hanya mereka ketahui sehingga penyelundupan orang luar tentu akan segera diketahui.
"Cia-ciangkun, jangan-jangan engkau hanya melihat bayangan burung saja,"
Kata Kwa-huciang, kepala perwira pembantu utama Maya kepada perwira muda yang baru itu.
"Tak mungkin salah penglihatan Cia Kim Seng,"
Bantah Maya mendahului sebelum pembantu mudanya yang keras hati itu tersinggung.
"Mata-mata itu tentu amat cerdik dan kalau tidak salah dugaanku, saat ini tentu dia berada di dalam kemahku sendiri."
"Hahhh....?"
Para perwira terkejut, juga Kim Seng memandang panglimanya dengan heran.
"Bagaimanakah Li-ciangkun menduga begitu?"
Tanya Kim Seng. Maya tersenyum.
"Seorang mata-mata yang pintar akan memancing harimau keluar sarang. Setelah aku dan kalian keluar, tentu dia akan menggeledah kemahku, karena pekerjaan mata-mata tentulah menyelidiki keadaan panglima dari sebuah pasukan. Mari kita ke sana!"
Akan tetapi ketika dengan bergegas mereka memasuki kemah besar yang menjadi tempat tinggal Maya, tidak terdapat perubahan dan tak tampak bayangan manusia.
Para pengawal yang bertugas menjaga di luar pintu kemah, masih berdiri tegak dengan tombak di tangan, tanda bahwa mereka pun tidak melihat orang memasuki kemah itu.
Selagi para perwira mengerutkan alis dan memandang Maya penuh pertanyaan, panglima wanita itu menyuruh mereka diam, matanya agak terpejam, kulit di antara kulitnya berkerut tanda bahwa dia sedang mengerahkan seluruh perhatiannya.
Tiba-tiba wanita sakti inl berdongak memandang langit-langit tenda, kemudian memberi isyarat kepada Cia Kim Seng, menuding ke atas.
Bekas penggembala domba ini memandang ke atas dan kalau tidak ditunjukkan oleh panglimanya, tentu dia tidak akan tahu.
Kini tampaklah betapa kain tenda di bagian itu bergoyang-goyang sedikit, seolah-olah ada seekor tikus atau kucing di atas sana!
Akan tetapi dia tahu bahwa panglimanya takkan salah duga, tentu Si Mata-mata berada di atas itu.
Ia mencabut pedangnya dan memandang Maya yang tersenyum mengangguk.
Isyarat ini cukup bagi Kim Seng dan berserulah ia nyaring.
"Mata-mata keparat turunlah!"
Bentaknya ini disusul loncatan tubuhnya ke atas, pedangnya membabat.
"Brettt!"
Kain tenda itu robek besar terbabat ujung pedang Kim Seng dan dari atas melayang turunlah tubuh seorang laki-laki muda yang tampan.
Kim Seng yang masih berada di atas itu melanjutkan babatan pedangnya, kini ke arah tubuh yang melayang turun.
"Cringgg....!"
Dua pedang bertemu dan tangan Kim Seng tergetar.
Laki-laki yang melayang turun itu dalam keadaan terjatuh dari atas masih mampu menangkis serangan Kim Seng, bahkan kini tubuhnya berjungkir balik ringan dan lincah sekali, meluncur cepat seperti burung terbang dan tahu-tahu telah berdiri di depan Maya.
Maya kaget bukan main.
Inilah seorang lawan yang berat!
Tak boleh disamakan dengan kepandaian para perwiranya atau bahkan kepandian Kim Seng sekalipun.
Karena itu, ketika ia melihat Kim Seng dengan penasaran hendak menerjang orang itu ia memberi isyarat dengan matanya.
Setiap gerak-gerik Maya dari gerak tangan, mulut dan mata, sudah dikenal benar oleh Kim Seng, maka isyarat mata itu sudah cukup baginya dan ia mundur dengan pedang di tangan.
Laki-laki itu dengan sikap angkuh dan sama sekali tidak mempedulikan sikap Kim Seng yang hendak menyerangnya tadi, kini menyarungkan pedangnya.
Pandang matanya tidak pernah terlepas dari wajah Maya, kemudian dengan tenang sekali ia bertanya.
"Engkaukah yang bernama Maya?"
Maya sudah menyelidiki dengan pandang matanya dan sudah menilai laki-laki ini.
Ilmu kepandaiannya tinggi dan pedangnya tadi hebat sekali, mengeluarkan cahaya kilat dan mempunyai wibawa menyeramkan.
Laki-laki tampan ini agaknya amat percaya kepada kepandaiannya sendiri dan memandang rendah orang lain.
Ia menjawab, suaranya dingin.
"Akulah Panglima Wanita Maya yang memimpin Pasukan Maut ini!"
Tiba-tiba laki-laki itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Sudah banyak aku mendengar tentang Pasukan Maut yang hebat dan terutama panglima wanitanya yang berilmu tinggi seperti dewi. Siapa kira bahwa memang wajahnya jelita seperti dewi. Maya...., Maya...., tadinya kukira mengenal nama ini.... hemm, apakah engkau puteri...."
Maya memotong dengan suara tajam seperti pedang menyambar.
"Seorang gagah tidak mengandalkan kepandaian bicara! Engkau siapakah dan menaapa engkau menyelundup seperti maling ke sini?"
"Ha-ha-ha! Nama Maya itulah yang menarikku untuk menyelidiki, di samping nama Pasukan Maut yang terkenal! Aku bernama Can Ji Kun, dan aku sengaja datang hendak menyaksikan sendiri keadaan Pasukan Maut dan hendak menyaksikan sampai di mana kebenaran nama besar Maya yang katanya lihai seperti dewi!"
Hampir saja Maya berseru saking kagetnya.
Kini ingatlah dia akan pemuda angkuh ini.
Tentu saja dia mengenal seorang di antara murid Mutiara Hitam, bibinya!
Dan pemuda itu masih ingat namanya, akan tetapi agaknya pangling karena dia kini telah menjadi seorang dara dewasa yang berpakaian panglima.
Dia pun kini tidak merasa perlu lagi menyembunyikan keadaan dirinya karena apakah salahnya kalau diketahui bahwa dia adalah Puteri Khitan?
Yang dipimpinnya adalah pasukan yang memberontak terhadap Kerajaan Sung.
"Can Ji Kun, kiranya engkau yang lancang masuk ke sini. Bagaimana dengan keadaan bibiku?"
Mata Can Ji Kun terbelalak dan ia berseru.
"Aihhh! Kiranya benar engkau Maya yang dahulu itu? Ahhh...."
"Can Ji Kun, bagaimana kabarnya dengan bibiku Mutiara Hitam?"
Wajah yang tampan gagah itu menjadi muram dan ia menjawab dengan suara berduka.
"Subo.... Subo telah tewas di Kerajaan Mongol ketika beliau berusaha membalas kematian ayahmu. Abu jenazahnya dikirim oleh Raja Mongol dan telah dikubur di Bukit Merak, disamping kuburan Suhu...."
Wajah Maya berubah pucat dan kemudian merah sekali saking marahnya dan saking bencinya kepada orang Mongol.
"Jadi, Paman Tang Hauw Lam juga...."
Wajah Ji Kun menunduk dan ia mengangguk.
"Suhu.... Suhu.... meninggal dunia karena duka dan.... sakit...."
Maya mengira bahwa jawaban tersendat-sendat itu adalah karena duka, maka ia menghela napas.
Barulah ia tahu bahwa para pembantunya memandang kepadanya dengan mata terbelalak penuh pertanyaan, agaknya terheran-heran mendengar percakapan itu, apalagi ketika mendengar pemimpin mereka menyebut "bibi"
Kepada pendekar sakti wanita Mutiara Hitam yang namanya tentu saja sudah mereka dengar. Melihat ini, Maya memandang mereka dan berkata.
"Tak perlu kusembunyikan lagi. Aku adalah Puteri Maya, puteri Kerajaan Khitan yang sudah hancur. Karena itulah maka aku memusuhi Kerajaan Sung, Kerajaan Yucen dan bangsa Mongol yang biadab! Adapun dia ini adalah Can Ji Kun, murid Mutiara Hitam."
Sebelas orang perwira itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Maya dengan penuh hormat dan kini mereka lebih bangga lagi menjadi pembantu-pembantu Puteri Maya, puteri Raja Talibu yang terkenal dan keponakan dari Mutiara Hitam!
"Maya, engkau kini telah menjadi seorang panglima yang terkenal.
Hemm....
betapa aneh dan mengagumkan."
Maya mengerutkan kening.
Dahulu ketika masih kecil, agaknya dia tentu akan ikut dengan bibinya Mutiara Hitam kalau saja di sana tidak ada Ji Kun dan Yan Hwa yang dianggapnya angkuh dan tidak menyenangkan hatinya.
Sampai sekarang ternyata Can Ji Kun masih seangkuh dulu.
"Can Ji Kun, setelah engkau tahu bahwa akulah yang menjadi panglima di sini, lalu.... engkau mau apa?"
"Heh-heh-heh, tidak apa-apa. Tadinya aku tertarik sekali akan nama besar Panglima Maya dan ingin mengadu kepandaian, akan tetapi setelah ternyata bahwa hanya engkaulah sebenarnya orang itu, hemmm...., baiklah aku pergi saja!"
"Tahan!"
Maya membentak, menahan kemarahannya.
Dia marah sekali akan sikap angkuh pemuda ini, akan tetapi betapapun juga, Ji Kun adalah murid bibinya, jadi masih dekat hubungannya dengan dirinya.
Di samping itu, dia tadi melihat bahwa murid bibinya ini lihai.
Kalau dia bisa menariknya menjadi pembantu alangkah baiknya, amat menguntungkan bagi terlaksananya cita-citanya.
Ji Kun yang sudah membalikkan tubuh itu berhenti dan menoleh.
"Engkau mau apa?"
Tanyanya, sikapnya congkak sekali.
"Can Ji Kun, tak baik membatalkan niat hati setengah jalan. Engkau menganggap aku tidak patut menjadi Panglima Pasukan Maut. Baiklah, mari kita berpibu, aku pun ingin sekali melihat sampai di mana engkau mewarisi ilmu kepandaian bibi yang amat hebat. Dan mari kita berjanji, Ji Kun. Kalau aku kalah dalam adu pibu ini, aku akan meninggalkan kedudukanku sebagai panglima dan akan memperdalam kepandaian sampai aku patut menjadi panglima pasukan ini. Sebaliknya, kalau engkau yang kalah, engkau harus mengakui aku sebagai panglimamu dan engkau menjadi seorang di antara pembantu-pembantuku. Bagaimana?"
"Li-ciangkun! Mana bisa diadakan peraturan ini? Li-ciangkun tidak mungkin akan meninggalkan Pasukan Maut!"
Kwa-huciang membantah kaget, juga para perwira yang lain menjadi gelisah, bahkan Kim Seng segera berkata.
"Mengapa Li-ciangkun melayani pengacau ini?"
Melihat para perwira mengkhawatirkan kekalahan Maya, Ji Kun yang memang berwatak angkuh dan percaya bahwa dia tentu akan menang dengan mudah, sudah berkata sambil tertawa.
"Sudah adil! Pertaruhan itu adil sekali. Maya, jangankan hanya engkau sendirian, biar dibantu sebelas orang perwiramu ini aku tentu akan menang!"
"Sombong!"
Bentak Kim Seng dan bersama sepuluh orang rekannya ia sudah melangkah maju.
"Menggelindinglah kalian!"
Tiba-tiba Can Ji Kun membentak, tubuhnya berputaran seperti gasing, kedua tangannya mendorong dengan tenaga sin-kangnya yang ampuh.
Kim Seng kena disambar pukulan sin-kang, terhuyung-huyung ke belakang sedangkan sepuluh orang perwira lainnya terguling roboh!
Kesombongan Ji Kun menjadi-jadi dan ia tertawa bergelak.
"Ji Kun, ternyata engkau hanya mewarisi kepandaian Bibi, tidak mewarisi wataknya yang gagah!"
Bentak Maya.
"Majulah!"
Ji Kun berseru nyaring, kini kedua lengannya dilonjorkan mengirim, pukulan sin-kang ke arah Maya.
Maya mengerahkan sin-kangnya, tangan kiri masih bertolak pinggang dan dia hanya menyambut dorongan kedua tangan Ji Kun dengan tangan kanannya.
"Desss!"
Dua tenaga sin-kang raksasa bertemu di udara dan akibatnya tubuh Ji Kun terdorong ke belakang sampai dua langkah!
Dia terkejut sekali, cepat menahan napas mengerahkan sin-kang melawan hawa dingin yang menyesak dada sambil memandang dengan mata terbelalak.
Maya masih berdiri bertolak pinggang dan tersenyum mengejek.
Para perwira yang maklum bahwa yang bertanding adalah ahli-ahli tingkat tinggi, mengundurkan diri mepet pada kemah dan menonton dengan mata di buka lebar-lebar, tentu saja dengan hasrat hati ingin melihat panglima mereka menang.
Can Ji Kun merasa penasaran sekali.
Sin-kangnya amat kuat dan semenjak ia berpisah dari sumoinya, turun gunung dan malang-melintang di dunia kang-ouw menggegerkan dunia penjahat karena kelihaian dan kekerasannya yang tidak mengenal ampun, tidak pernah ada lawan yang mampu menandingi kekuatan sinkangnya, apalagi ilmu pedangnya.
Akan tetapi dorongan kedua tangannya hanya dilawan dengan sebelah tangan saja oleh Puteri Khitan ini dan dia kalah tenaga!
Dengan marah dan penasaran dia lalu menerjang maju, kedua tangannya bergerak cepat dan kuat, tulang-tulang lengannya mengeluarkan bunyi berkerotakan ketika sin-kangnya bekerja.
"Wut-wut.... plak-plak....!"
Untuk kedua kalinya tubuh Ji Kun terlempar ke belakang, kini malah sampai lima langkah dan hampir saja ia jatuh.
Kedua lengannya yang bergerak cepat melakukan pukulan-pukulan dahsyat tadi kena ditangkis oleh sepasang lengan yang lunak halus itu namun yang mengandung tenaga mujijat yang membuatnya tergetar, kedinginan dan terhuyung ke belakang hampir jatuh.
Rasa penasaran dan malu membuat Ji Kun marah sekali.
Keangkuhannya tersinggung, dan dia mengeluarkan suara pekik melengking, kemudian tubuhnya bergerak aneh dan cepat, menerjang maju dan menyerang Maya yang masih berdiri tersenyum-senyum.
Biarpun mulutnya tersenyum, akan tetapi Maya bersikap tenang dan hati-hati sekali menyaksikan gerak serangan yang dahsyat itu.
Jurus serangan yang dilakukan Ji Kun benar-benar berbahaya sekali.
Sepuluh buah jari tangan pemuda itu bergerak-gerak melakukan totokan dan cengkeraman.
Itulah jurus yang disebut Tok-hiat-coh-kut (Meracuni Darah Melepaskan Tulang) dari ilmu silat yang paling luar biasa dari Mutiara Hitam, yaitu Capsha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Sakti)!
Menghadapi serangan ini, Maya maklum bahwa dia tidak boleh lengah.
Dia lalu mempergunakan gin-kangnya, tubuhnya berkelebat cepat sekali, mengelak ke sana-sini kemudian kedua lengannya diputar di depan badan sehingga tampak gulungan sinar biru dari warna lengan bajunya, membentuk payung yang menolak dan menangkis semua serangan lawan.
Ji Kun makin marah dan tiba-tiba ia merobah gerakannya.
Sekali ini memutar tubuhnya seperti tadi ketika ia merobohkan sebelas orang perwira sekaligus, tubuhnya berputar seperti gasing mengejar lawan dan dari putaran itu kadang-kadang kedua tangannya mengirim pukulan-pukulan berbahaya yang tak tersangka-sangka.
Inilah jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Bepusing Mengeluarkan Kilat), juga sebuah di antara Tiga Belas Jurus Sakti!
Maya terkejut sekali.
Akan tetapi dia adalah murid Bu Kek Siansu yang sudah digembleng secara tekun dan hebat oleh Kam Han Ki, maka menghadapi jurus aneh ini dia tidak menjadi bingung.
Dia berdiri tegak, tidak menghiraukan bayangan tubuh lawan yang berpusing itu, hanya pada waktu tampak berkelebatnya lengan tangan dari putaran itu menyambar, dia memapaki dengan telapak tangannya, menggunakan dorongan dengan tenaga saktinya.
Ketika Ji Kun terpaksa mengakhiri jurus ini karena tidak mempan terhadap lawannya yang lihai, tiba-tiba tubuh Maya berkelebat lenyap dari depannya.
Sebagai murid seorang sakti, Ji Kun maklum bahwa lawannya menggunakan gin-kang yang amat hebat, yang lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri, maka cepat ia membalikkan tubuh.
Dan memang benar, tahu-tahu Maya telah berada di belakangnya.
Cepat Ji Kun melakukan gerakan menangkis, akan tetapi Maya mengeluarkan bentakan menggeledek yang menggetarkan seluruh ruangan itu, bahkan sebelas orang perwiranya seketika merasa kakinya lumpuh dan jatuh berlutut, sedangkan Ji Kun yang menangkis tadi terdorong ke belakang dan hampir saja ia roboh terbanting kalau tidak cepat-cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik.
Dia tidak jatuh, akan tetapi wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan tiba-tiba tampak sinar kilat menyilaukan mata ketika murid Mutiara Hitam ini sudah mencabut pedangnya!
Melihat ini, Maya terkejut sekali dan menegur, Ji Kun, perlukah pibu dilanjutkan dengan senjata?
Belum terbukakah matamu bahwa tingkat kepandaianku sekarang ini takkan terlawan olehmu dan mungkin hanya mendiang Bibi Mutiara Hitam saja yang akan dapat menandingiku?"
"Kalau kau belum mengalahkan pedangku, aku tetap belum mengaku kalah, Maya!"
Jawab Can Ji Kun dengan keras kepala.
Maya menghela napas.
Untuk mendapatkan seorang sehebat ini memang tidak mudah.
Dia maklum bahwa biarpun kepandaian Ji Kun amat tinggi, namun ilmu silatnya masih berada di atas tingkat Ji Kun, demikian pula gin-kang dan sinkangnya.
Hanya melihat pedang itu, dia merasa ngeri.
"Pedangmu dahsyat dan mengandung hawa kejam, Ji Kun. Akan tetapi jangan kira bahwa aku takut menghadapi pedangmu. Marilah!"
Maya menggerakkan tangan kanannya dan dia sudah mencabut pedang panjangnya, pedang panglima yang ia terima sebagai pemberian Bu-taiciangkun sendiri.
Sebuah pedang yang amat baik, terbuat daripada baja biru, akan tetapi bukanlah pedang pusaka seperti yang berada di tangan Ji Kun.
"Awaslah terhadap seranganku ini, Maya!"
Ji Kun berseru dan tubuhnya menerjang maju, didahului oleh sinar putih yang menyilaukan mata dari pedangnya.
Maya tidak menjawab, melainkan mengelak jauh ke kiri sambil mengelebatkan pedangnya menusuk mata kaki lawan.
Serangan seperti ini hanya dilakukan oleh seorang ahli pedang yang sudah tinggi tingkatnya sehingga Ji Kun cepat-cepat meloncat dan pedangnya sudah meluncur ke dada Maya.
Ji Kun mengerti bahwa entah siapa yang menjadi guru Maya, mungkin sekali Menteri Kam Liong yang ia dengar memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari Mutiara Hitam, maka diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Lan-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Iblis Jantan) yang merupakan perpaduan dari Siang-bhok-kiam dari Mutiara Hitam dan Pek-kong-To-hoat dari Tang Hauw Lam.
Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa biarpun dalam hal pengalaman masih kalah jauh oleh Menteri Kam Liong, namun dalam hal ilmu silat, tingkat Maya malah lebih tinggi daripada tingkat menteri putera Suling Emas itu karena dara ini adalah penghuni, Istana Pulau Es, murid tidak langsung dari Bu Kek Siansu!
Menghadapi ilmu pedang yang dimainkan Ji Kun demikian dahsyatnya, diam-diam Maya kagum sekali dan memuji kepandaian bibinya, maka ia bersikap tenang.
Terutama sekali pedang pusaka di tangan Ji Kun membuat ia ngeri.
Pedang itu mengeluarkan hawa maut yang menggetar dan dingin sekali.
Kalau saja sin-kangnya tidak sudah amat kuat, agaknya dia akan terpengaruh oleh getaran itu yang akan mengacaukanpermainan pedangnya.
Dia pun tak berani mengadukan pedangnya dengan pedang lawan, dan ketika Ji Kun mendesaknya sedemikian rupa sehingga terpaksa sekali Maya mengelebatkan pedang menangkis, tak tercegah lagi kedua pedang bertemu.
"Takkk!"
Maya terkejut bukan main karena pedangnya itu melekat pada pedang Ji Kun yang seolah-olah mempunyai daya tarik atau daya sedot yang mujijat!
Dan kesempatan ini dipergunakan Ji Kun untuk menggerakkan pedang ke bawah, membacok kepala Maya!
Maya mengelak cepat.
"Breet!"
Robek dan putuslah ujung pundak baju panglima wanita itu.
Dia melompat mundur, Ji Kun tersenyum girang dan mendesak terus.
Kini Maya mengerti bahwa pedang pusaka itu selain mempunyai wibawa ampuh, juga mempunyai daya menyedot.
Pengetahuan ini membuat dia memutar otak mencari akal.
Ketika untuk kesekian kalinya sinar pedang yang ampuh itu terus mendesaknya dan mengirim tusukan, kembali ia menangkis.
Kalau dibacok, dia tidak berani menangkis karena pertemuan langsung itu mungkin sekali akan merusakkan pedangnya.
Akan tetapi kalau hanya tusukan, dia berani menangkis dari samping.
Dia sengaja menangkis dari atas sehingga ketika pedangnya tersedot dan menempel, pedangnya berada di atas pedang lawan dan sebelum Ji Kun melanjutkan pedangnya untuk mengirim serangan mendadak,.
Maya telah mendorongkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga sin-kang yang membentuk hawa pukulan dingin.
Inilah pukulan inti es yang hebatnya bukan kepalang, yang oleh Han Ki tdisebut pukulan Swat-im Sin-jiu!
Tubuh Ji Kun seperti terkena aliran halilintar, menggigil dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Dia berusaha mempertahankan diri namun ia hanya dapat mencegah tubuhnya terguling, dan hanya jatuh duduk dengan muka pucat!
Cepat ia bersila dan memejamkan matanya, mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dadanya yang terserang hawa dingin luar biasa.
Semua perwira bengong terlongong dan tidak ada yang bergerak, semua terpesona oleh pertandingan yang sedemikian hebatnya, yang belum pernah mereka saksikan selama hidup mereka.
Maya menyimpan pedangnya, membungkuk dan mengambil pedang Ji Kun.
Dia mengamati pedang itu dan tangannya menggigil.
"Bukan main....!"
Serunya sambil menggeleng kepala.
Memegang pedang itu, ia merasa seolah-olah pedang itu bernyawa dan mengeluarkan hawa maut yang amat kejam!
Can Ji Kun membuka matanya dan melotot memandang Maya.
Jelas terbayang pada pandang matanya bahwa ia khawatir sekali kalau pedangnya dirampas Maya.
Melihat ini Maya lalu melangkah maju dan menyerahkan pedang itu kepada Ji Kun sambil berkata.
"Ji Kun, seorang murid Mutiara Hitam yang gagah perkasa tidak patut memiliki pedang seganas ini."
Bayangan khawatir lenyap dari wajah Ji Kun, terganti rasa lega ketika ia menerima pedangnya. Ia bangkit berdiri,menyimpan pedangnya dan berkata.
"Pedang ini adalah pedang Lam-mo-kiam pemberian Subo."
"Ahhh.... sungguh heran mengapa Bibi menyimpan pedang seperti itu,"
Kata Maya perlahan, kemudian sambil menatap tajam wajah murid bibinya itu ia bertanya "Bagaimana sekarang, Ji Kun?
Apakah engkau akan memenuhi janji dan membayar taruhanmu?"
Ji Kun membusungkan dadanya dan menjawab.
"Li-ciangkun, mungkin sekali aku bukan seorang murid yang baik dari Suhu dan Subo, akan tetapi aku tetap adalah seorang gagah yang tidak akan mengingkari janji. Biarlah mulai saat ini aku menjadi pembantumu."
Sebelas orang perwira bersorak dan menghampiri Ji Kun, berebut menjabat tangan pemuda itu saking girang hatinya.
Ji Kun tersenyum masam, akan tetapi diam-diam kagum sekali kepada Maya dan harus ia akui bahwa kepandaiannya tidak dapat menandingi dara itu!
"Ji Kun, mulai sekarang engkau menjadi seorang perwira berpangkat huciang dan membantu Kwa-huciang.
Dari mulai sekarang aku memanggilmu Can-huciang.
Eh, aku teringat akan sumoimu, Ok Yan Hwa.
Di manakah dia sekarang?"
Diingatkan kepada Ok Yan Hwa, sumoinya yang juga menjadi kekasihnya, akan tetapi juga musuhnya (betapa aneh) itu, wajah yang tampan itu menjadi muram.
"Aku tidak tahu. Kami saling berpisah setelah Suhu meninggal dunia dan turun gunung."
Mungkin karena gemblengan pengalaman-pengalaman pahit, semuda itu Maya sudah dapat menjenguk isi hati orang dengan melihat wajahnya.
Ia tahu bahwa tentu ada apa-apa antara kedua murid bibinya itu dan bahwa bicara mengenai diri Yan Hwa tidak menyenangkan hati pembantu barunya ini, maka dia tidak bertanya lebih banyak.
Pada keesokan harinya, terdengarlah berita mengejutkan yang disampaikan oleh utusan yang menyeberang perbatasan bahwa bala tentara Mancu yang berada di tapal batas, yang tadinya hendak menyatukan diri dengan pasukan-pasukan Bu-tai-ciangkun di pantai untuk bersama-sama menyerbu ke selatan, telah lebih dulu dihancurkan oleh bala tentara Kerajaan Cin, yaitu tentara Yucen!
Bala tentara Mancu terpaksa mundur dan melarikan diri ke barat, terancam bahaya terjepit oleh pasukan-pasukan Yucen dan pasukan Sung yang bergerak dari selatan!
Mendengar ini, Maya mengumpulkan dua belas orang pembantunya.
"Karena sudah jelas bahwa barisan Mancu yang menjadi sekutu kita itu terancam oleh pihak Yucen dan Sung, terpaksa aku akan melanjutkan gerakan pasukan mengejar dan membantu mereka. Akan tetapi, kita harus mengirim laporan kepada Bu-tai-ciangkun yang masih menanti di pantai. Can-huciang, aku menugaskan engkau membawa lima puluh orang pasukan untuk menyampaikan laporan kepada Bu-tai-ciangkun!"
"Baik!"
Jawab Can Ji Kun yang segera mengumpulkan pasukan lima puluh orang, membawa surat laporan Maya dan berangkat pada hari itu juga ke timur.
Maya lalu mengatur rencana pengejaran ke barat.
"Sayang kita tidak tahu pasti ke mana mundurnya barisan Mancu dan di antara kita tidak ada yang mengenal baik daerah ini."
"Li-ciangkun, harap jangan khawatir. Aku mengenal daerah ini dengan baik dan kiranya tidak akan keliru kalau saya katakan bahwa barisan Mancu tentu mundur ke selatan."
Maya tercengang.
Banyak hal yang aneh dan tidak tersangka-sangka dimiliki oleh bekas penggembala domba ini!
"Mengapa kau berpendapat demikian, Cia-huciang?
Bukankah di selatan banyak terdapat barisan Sung?"
"Jalan mundur satu-satunya yang paling lemah dijaga musuh hanyalah ke selatan. Ke timur berhadapan dengan barisan Yucen yang kuat, demikian pula ke utara. Sedangkan di sebelah barat terdapat pasukan-pasukan Mongol dan Sung. Di selatan hanya terjaga oleh pasukan Sung, akan tetapi mengingat keadaan Sung yang makin lemah daripada menghadapi barisan Yucen atau Mongol lebih ringan menghadapi pasukan Sung. Maka kiranya tidak akan meleset jika kita perhitungkan bahwa barisan Mancu itu tentu mengundurkan diri ke selatan."
Maya mengangguk-angguk, diam-diam ia kagum karena tidak mengira bahwa Si Penggembala domba ini memiliki pemandangan yang luas dan cerdik.
"Baiklah, kalau begitu kita mengejar ke selatan."
Berangkatlah pasukan itu pada keesokan harinya, menuju ke selatan dan ketika para penyelidik memberi pelaporan bahwa memang benar ada tanda-tanda bahwa pasukan-pasukan Mancu mengundurkan diri ke selatan, Maya makin kagum terhadap pembantunya, Cia Kim Seng.
Keadaan di sepanjang jalan amat sunyi, karena sebagian besar penduduk mnengungsi dari daerah yang dilanda perang itu.
Kita kembali mengikuti perjalanan dan pengalaman Khu Siauw Bwee yang sudah lama kita tinggalkan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara perkasa itu mempelajari ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat dari kakek yang kedua kakinya buntung dan lengan kirinya juga buntung.
Kedua ilmu silat yang amat aneh itu adalah ilmu rahasia dari kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung.
Ilmu silat ini memang luar biasa dan kini Siauw Bwee telah mempelajari teorinya dari kakek itu, bahkan sekalian diajari cara pemecahannya sehingga tentu saja Siauw Bwee menjadi lihai bukan main.
Kaki tangannya masih utuh dan ilmu-ilmu itu dimainkan oleh orang-orang cacad saja sudah begitu hebat, apalagi dimainkan oleh Siauw Bwee yang selain masih utuh kaki tangannya, juga telah memiliki dasar ilmu silat yang, tingkatnya jauh lebih tinggi pula.
Disamping ini masih mendapat ajaran rahasia pemecahan kedua ilmu itu!
"Bagus!
Li-hiap telah menguasai kedua ilmu itu dengan sempurna!
Andaikata.
Aku sendiri yang melatih dengan kaki tangan utuh, belum tentu dapat sesempurna ini!"
Lu Gak, demikian nama kakek itu, tertawa puas.
Akan tetapi Siauw Bwee sama sekali tidak merasa puas.
Sudah sering kali ia minta agar kakek itu beristirahat, akan tetapi kakek itu berkeras, siang malam mengajarnya padahal keadaan kesehatan kakek itu buruk sekali!
Kini, biarpun kakek itu tertawa, wajahnya amat pucat dan napasnya memburu.
"Lu-locianpwe, engkau terlalu memaksa diri. Sebaiknya sekarang beristirahat."
"Baiklah.... baiklah Khu-lihiap. Besok adalah hari pibu antara mereka, seperti biasa mengambil tempat di kuil tua dekat rawa, kuil bekas tempat tinggal nenek moyang kami kedua pihak di mana terdapat pula kuburan mereka berdua itu. Engkau wakililah aku Li-hiap, mendamaikan mereka dengan mengalahkan mereka. Kalau berhasil, barulah aku dapat mati dengan mata terpejam."
"Baik, Locianpwe, dan mudah-mudahan semua berjalan lancar,"
Jawab Siauw Bwee dan hatinya lega menyaksikan kakek itu dapat tidur pulas di dalam pondok.
Kakek ini sebenarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, biarpun tidak berkaki dan hanya berlengan satu, namun tubuhnya dapat bergerak meloncat-loncat dengan tekanan tangannya ke atas tanah.
Akan tetapi sayang, karena keadaan tubuhnya seperti itu dan mengandung penyakit berat pula, tentu saja kakek ini bukan lawan kaum kaki buntung dan lengan buntung yang saling bermusuhan itu.
Pada keesokan harinya, di depan kuil tua yang dimaksudkan, telah berkumpul seluruh anggauta kaum kaki buntung berjumlah tiga puluh enam orang dan kaum lengan buntung sebanyak tiga puluh orang.
Mereka dipimpin oleh ketua masing-masing, yaitu Liong Ki Bok si kaki buntung dan The Bian Le si lengan buntung.
Seperti biasa setiap tahun masing-masing pihak mengajukan lima orang jago untuk diadu sampai mati!
Pihak yang lebih banyak jumlahnya menang dianggap pemenang dan pibu akan dilanjutkan tahun depan, akan tetapi adakalanya pertempuran terjadi dengan hebat sehingga semua anggauta saling serang merupakan perang kecil yang akan merobohkan banyak korban di kedua pihak.
Kedua pihak telah mengajukan lima orang jago, termasuk ketua masing-masing.
Akan tetapi, sebelum pertandingan dimulai, berkelebatlah bayangan orang dan Siauw Bwee telah meloncat ke tengah-tengah antara mereka!
Dara ini datang bersama Lu Gak akan tetapi kakek itu hanya menonton dari tempat tersembunyi di balik sebuah batu besar.
Dia tidak mau memperlihatkan diri, khawatir kalau-kalau kemunculannya akan mengganggu tugas Siauw Bwee yang bagi kakek ini amatlah penting, merupakan tugas hidupnya!
Melihat munculnya Siauw Bwee, yang amat dikenal oleh kedua pihak karena dengan keduanya dara ini pernah bentrok, Kedua kaum cacad itu menjadi terkejut dan marah.
"Bocah pengecut!"
Bentak Liong Ki Bok yang merasa tertipu karena tadinya ia merasa menyesal telah "membunuh"
Gadis ini dan yang ternyata kemudian sama sekali tidak mati malah membikin kacau anak buahnya.
Tadi ketika dalam pertemuan ini orang she Liong itu tidak melihat Cia Cen Thok yang ternyata selama bertahun-tahun itupun tidak mati, hatinya sudah menjadi lega.
Siapa tahu sekarang dara yang ilmunya tinggi itu berada di situ!
"Mau apa engkau?"
Bentak The Bian Lee dan kedua orang ketua kaum buntung itu agak lega hatinya karena teguran-teguran mereka ini jelas membuktikan bahwa dara lihai itu tidak berpihak kepada siapapun.
Siauw Bwee memandang kedua orang ketua itu berganti-ganti, kemudian berkata dengan senyum mengejek dan suara bernada dingin.
"Kalian ini orang-orang tua, sudah bercacad tubuhnya akan tetapi masih selalu dikuasai nafsu mendendam yang membikin kalian seperti hidup di neraka dan selalu, haus darah dan kejam! Lupakah kalian bahwa sebenarnya kalian ini adalah keturunan saudara-saudara seperguruan dan kepandaian kalian berasal dari satu sumber? Mengapa permusuhan yang gila ini masih juga dilanjutkan?"
"Eh, bocah setan. Mau apa engkau mencampuri urusan kedua kaum yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirimu?"
Bentak Liong Ki Bok.
"Pergilah! Kami tidak mempunyai urusan denganmu!"
Bentak pula The Bian Le. Siauw Bwee tertawa.
"Nah, nah! Sikap kalian ini saja sudah menunjukkan bahwa kalian tidak semestinya saling bermusuh. Begitu ada orang luar mencampuri, kalian besikap seperti hendak bersatu! Alangkah akan baik dan kuatnya kalau kalian dapat bersatu, yang satu memenuhi kekurangan yang lain. Bukankah dengan hidup berdampingan secara damai kalian dapat saling tolong-menolong?"
"Banyak cerewet!"
The Bian Le berteriak.
"Urusan kami adalah urusan dendam turun-menurun, siapa juga tidak boleh mencegahnya atau coba mendamaikannya! Kalau salah satu kaum di antara kami musnah, barulah akan terhenti!"
"Wah, wah! Memang aku tahu bahwa ketua kaum lengan buntung lebih galak dan lebih fanatik. Banyak orang baik-baik menjadi korban karena permusuhan gila ini, bahkan baru masuk menjadi murid saja sudah terjadi kekejian, membuntungi lengan dan kaki! Sungguh kasihan mereka, sudah dibuntungi lengan atau kakinya, yang didapat hanya ilmu kanak-kanak yang hanya bisa dipakai saling hantam antara saudara sendiri!"
"Engkau terlalu menghina kami!"
Teriak Liong Ki Bok.
"Perempuan keparat!"
The Bian Le membentak. Siauw Bwee mengangkat kedua tangan ke atas.
"Disuruh damai secara baik-baik, tidak sudi, memang seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Sekarang baik kita buktikan betapa kalian ini sia-sia saja mengorbankan kaki tangan untuk mempelajari ilmu kanak-kanak! Mari kita bertaruh. Aku seorang diri dengan tangan kosong melawan kalian dua orang ketua gila! Kalau aku kalah dan mati, sudahlah, kalian boleh melanjutkan permusuhan gila ini sampai dunia kiamat! Akan tetapi kalau kalian dengan ilmu kanak-kanak kalian kalah olehku, kalian harus menghentikan permusuhan ini dan merobah menjadi persaudaraan. Coba, pergunakan kedua ilmu kalian untuk bersatu mengalahkan aku kalau bisa!"
Dua orang ketua itu tertegun.
Mereka sudah maklum akan kelihaian dara ini, akan tetapi melawan mereka berdua berarti mencari mati, karena kedua ilmu mereka itu isi-mengisi sehingga memperlengkap kekurangan mereka.
"Nona, jangan main-main!"
Teriak Liong Ki Bok.
"Engkau mencari mampus!"
Teriak pula The Bian Le.
"Gertak sambal! Ataukah gertakan untuk menutupi bahwa kalian jerih mengeroyok aku?"
"Keparat! Siapa takut?"
Teriakan ini keluar berbareng dari mulut kedua orang ketua.
"Kalau begitu, kalian menerima taruhanku?"
Tanya Siauw Bwee dengan girang.
Kedua orang ketua ini sejenak saling pandang.
Penghinaan dara itu membuat keduanya menjadi marah sekali, kemarahan yang amat besar sehingga pada saat itu mengatasi rasa saling benci mereka.
"Aku terima!"
Kata Liong KI Bok.
"Marilah!"
Kata The Bian Le.
"Bagus! Nah, seranglah!"
Siauw Bwee menantang sambil berdiri di tengah-tengah menghadapi mereka di kanan kiri.
Liong Ki Bok sudah menggerakkan.
kedua tangannya, yang kiri mencengkeram disusul totokan tongkat.
Gerakannya cepat bukan main karena dia sudah menggunakan ilmu gerak tangan kilat.
Sedangkan The Bian Le juga sudah menerjang maju dengan pukulan tangan kanan disusul tendangan yang dahsyat!
Namun, karena Siauw Bwee sudah paham betul akan gerakan mereka dan perkembangannya, tahu pula cara pemecahannya, dengan mudah ia mengelak sambil tertawa mengejek.
Makin diserang, makin cepat ia mengelak dan makin keras suara ketawanya sehingga kedua orang ketua itu menjadi makin marah.
Gerakan mereka begitu cepatnya sehingga datangnya serangan tangan Liong Ki Bok seperti hujan dan kedua tangannya seperti berubah menjadi delapan buah saking cepatnya.
Demikian pula, The Bian Le seolah-olah mempunyai delapan buah kaki yang menghujankan tendangan dengan gerak, kaki yang indah dan rapi.
"Duk!"
Kedua orang ketua itu terhuyung-huyung karena secara aneh sekali tahu-tahu pangkal paha kaki tunggal Liong Ki Bok sudah kena ditendang Siauw Bwee, sedangkan pangkal lengan satu The Bian Le sudah kena ditepuk!
"Nah, bukankah ilmu kalian seperti ilmu kanak-kanak?"
Siauw Bwee mengejek dan cepat mengelak karena kedua orang itu sudah menerjang lagi dengan dahsyat dan penuh kemarahan.
Kini Siauw Bwee bersilat menurut petunjuk Kakek Lu Gak, mainkan dua macam ilmu silat yang merupakan pemecahan rahasia kedua ilmu mereka.
Mulailah keduanya terheran-heran dan terdesak hebat!
Mereka segera mengenal ilmu mereka sendiri, dan kini bahkan serangan mereka seperti tetesan air yang menimpa lautan, amblas tanpa bekas, sebaliknya setiap serangan Siauw Bwee seolah-olah melumpuhkan semua perkembangan gerakan mereka!
Setelah bertanding selama seratus, jurus, akhirnya dengan gerakan indah sekali Siauw Bwee berhasil menotok thian-hu-hiat mereka secara berbareng dengan kedua tangannya dan seketika kedua orang ketua itu mengeluh (Lanjut ke
Jilid 19) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 dan jatuh terduduk dalam keadaan lumpuh! Siauw Bwee bertolak pinggang.
"Bagaimana, apakah kalian masih memiliki kegagahan untuk memenuhi janji?"
Liong Ki Bok dan The Bian Le tetap membisu, hanya menundukkan muka dengan alis berkerut.
Siauw Bwee cepat menotok dan membebaskan mereka yang segera melompat bangun.
Anak buah kedua kaum cacad itu menjadi marah dan mereka sudah bergerak hendak mengeroyok Siauw Bwee.
Akan tetapi ketua mereka membentak mereka supaya mundur.
"Aku mengaku kalah. Nona lihai sekali, akan tetapi.... bagaimana Nona dapat mempelajari ilmu gerak tangan kilat kami?"
Kata Liong Ki Bok.
"Hal itu tidak perlu dibicarakan. Yang penting sekarang, kalian sudah kalah dan harus memenuhi janji untuk menghentikan permusuhan!"
Tiba-tiba The Bian Le berseru.
"Mari kita pulang! Biarlah sekali ini kami kaum lengan satu mengaku kalah. Sampai lain tahun!"
Dan ia sudah berlari pergi diikuti dua puluh sembilan orang anak buahnya, pergi dengan wajah muram dan penasaran!
"Kami memenuhi janji dan menghentikan pertempuran untuk kali ini!"
Kata pula Liong Ki Bok, yang juga berloncatan pergi diikuti semua anak buahnya.
Siauw Bwee tercengang dan diam-diam mengeluh.
Celaka, usahanya itu sama sekali tidak berhasil.
Hanya berhasil menghentikan pibu hari itu saja, tetapi sama sekali tidak berhasil menghentikan permusuhan di antara kedua kaum, tidak berhasil menghapus dendam di antara mereka.
Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan keras dari arah tempat Kakek Lu Gak bersembunyi.
Ia meloncat ke tempat itu dan melihat Lu Gak roboh dengan mata mendelik!
"Lu-locianpwe!"
Siauw Bwee cepat memeriksa keadaan kakek itu dan mendapat kenyataan bahwa kakek itu terserang jantungnya dan dalam keadaan pingsan.
Dia lalu memondong tubuh yang hanya berlengan satu itu, membawanya lari kembali ke pondok Lu Gak.
Kakek itu setelah sadar lalu mengeluh panjang dan menggeleng kepalanya.
"Keras kepala.... keras kepala mereka itu.... Li-hiap....!"
"Aku akan menghajar mereka, Locianpwe. Akan kupaksa mereka!"
Siauw Bwee berkata gemas, maklum bahwa kakek ini merasa berduka sekali ketika tadi menyaksikan betapa kedua kaum itu masih saja tidak mau menghentikan permusuhan mereka, berarti bahwa tugasnya telah gagal!
Akan tetapi, dengan napas terengah-engah kakek itu berkata.
"Percuma, Lihiap....! Ahh....! Kiranya hanya Tuhan saja yang akan dapat menggerakkan hati mereka dan membuka mata mereka bahwa semua permusuhan dan dendam itu amatlah tidak baik...."
"Tenanglah, Locianpwe. Yang paling penting Locianpwe memelihara kesehatanmu dulu, nanti perlahan-lahan kita mencari akal. Percayalah, aku akan membantumu."
"Aihh, kau baik sekali, Li-hiap. Akan tetapi mereka, aahhh...."
Dan kakek itu lalu menangis terisak-isak!
Siauw Bwee menjadi terharu sekali dan dia tidak tega meninggalkan kakek itu yang telah menurunkan ilmu silat yang luar biasa kepadanya.
Dengan sabar dia menghibur dan merawat kakek yang menderita sakit itu.
Tiga hari kemudian, selagi Siauw Bwee menggodok obat untuk Kakek Lu Gak, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar pondok.
Siauw Bwee segera meloncat keluar dan tampaklah semua anggauta kedua kaum bercacad itu berkumpul di luar pondok dan saling memaki.
"Sudah jelas betapa rendah dan curangnya Si Lengan Buntung!"
Teriak seorang nenek berkaki buntung sambil menudingkan tongkatnya ke arah kelompok lengan buntung yang memandang marah.
"Siapa lagi kalau bukan kalian yang menculik ketua kami dengan bantuan gadis setan itu? Orang she Lu adalah seorang di antara kaummu, tentu membantu kalian!"
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Bentak seorang kakek lengan buntung juga menudingkan telunjuk lengan tunggalnya kepada rombongan kaki buntung.
"Gadis itu pernah berada di tempat kalian, tentu dia telah membantu kalian menculik ketua kami!"
Mendengar ini Siauw Bwee yang baru keluar berseru.
"Apa ini saling tuduh dan membawa-bawa aku?"
Semua orang menengok dan ketika melihat Siauw Bwee, seperti mendengar komando saja mereka kedua pihak telah menyerbu dan menyerang Siauw Bwee.
Dara perkasa ini terkejut dan heran akan tetapi juga marah.
Tubuhnya berkelebat ke depan, menyambar-nyambar laksana burung walet menyambar sekumpulan laron sehingga terdengarlah orang-orang mengaduh disusul robohnya belasan orang berturut-turut!
Untung bagi mereka bahwa Siauw Bwee masih menaruh kasihan, menganggap mereka itu orang-orang keras kepala yang bodoh dan dimabok dendam, maka dia masih menahan tenaganya dan hanya merobohkan mereka tanpa membunuh.
"Tahan.... Apakah kalian telah gila mengeroyok Khu-lihiap? Berhenti semua....!"
Siauw Bwee melompat kedekat pintu, berdiri di sebelah Lu Gak yang telah duduk di depan pintu, menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan marah.
Semua orang kedua kaum cacad itu memandang Lu Gak dan seorang kakek lengan buntung berkata.
"Lu-supek, Suhu The Bian Le telah diculik orang. Siapa lagi yang mampu menculik Suhu kalau bukan Nona ini?"
"Juga ketua kami diculik oleh Nona ini!"
Berkata seorang tokoh kaki buntung. Lu Gak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hemm.... kalian sudah gila semua, gila oleh dendam permusuhan sehingga melontarkan fitnah dan tuduhan secara membabi-buta. Apakah kalian melihat sendiri Khu-lihiap menculik kedua orang ketua kalian?"
"Kemarin pagi ketua kami menyatakan hendak mengadakan pertandingan pibu secara diam-diam di dekat rawa melawan ketua lengan buntung,"
Demikian kakek yang berkaki buntung bercerita.
"Kami dilarang turun karena pibu itu merupakan pibu perorangan diantara kedua ketua, dan dilakukan diam-diam agar jangan diketahui oleh Nona ini yang melarang pibu. Akan tetapi sampai sehari ketua kami tidak pulang, maka terpaksa kami menyusul ke rawa. Pada waktu senja itu, ketika kami tiba di dekat rawa, kami bertemu rombongan lengan buntung yang juga mencari ketua mereka. Akan tetapi kedua pihak kami hanya mendapatkan lengan baju yang buntung dari ketua lengan buntung dan tongkat ketua kami. Karena tidak kelihatan mayat di situ, berarti ketua kami diculik dan siapa lagi yang sanggup menculiknya kalau bukan Nona ini?"
Tiba-tiba Siauw Bwee melangkah maju dan orang-orang kedua kaum itu otomatis melangkah mundur.
Mereka jerih terhadap Siauw Bwee yang luar biasa lihainya.
"Permusuhan di antara kalian telah menimbulkan banyak malapetaka. Lihat Lu-locianpwe ini, karena dialah satu-satunya orang yang sadar dan waras di antara kedua kaum, dia berusaha mendamaikan dan apa yang kalian perbuat terhadapnya? Membuntungi kedua kakinya! Padahal dialah yang paling tepat memimpin kalian dari dua kaum ke arah jalan yang benar penuh damai. Sekarang, ketua kalian lenyap diculik orang, dan kalian datang pula menuduh Lu-locianpwe dan aku! Hemm, kalau tidak ingat betapa besar, rasa sayang Locianpwe ini kepada kedua kaum yang gila, agaknya aku akan senang untuk membunuh kalian semua seperti membasmi lalat-lalat busuk yang hanya mengotori dunia! Sekarang agaknya Thian sendiri yang menghukum kalian sehingga ketua kalian lenyap diculik orang. Apakah kalian belum juga sadar? Kalau aku berjanji untuk membantu kalian mencari ketua kalian, apakah kalian suka bersumpah untuk menghapus permusuhan dan bekerja sama membantu aku mencari mereka?"
Orang-orang kedua rombongan saling pandang. Yang fanatik dimabok dendam masih ragu-ragu.
"Ingat, orang yang dapat menculik ketua-ketua kalian tentu berkepandaian tinggi. Aku akan berusaha mencarinya dan melawannya untuk menolong ketua kalian, Akan tetapi bersumpahlah lebih dulu bahwa semenjak saat ini, semua dendam di antara kalian telah habis dan kalian tidak akan saling bermusuhan lagi, bagaimana, sanggupkah?"
Hening sejenak dan terdengar mereka semua berbisik-bisik. Kemudian, kakek kaki buntung memelapor teman-temannya.
"Kami pihak kaum kaki buntung bersumpah, dan sanggup asal ketua kami diselamatkan!"
Siauw Bwee tersenyum. Memang pihak kaki buntung belum segila pihak lengan buntung. Maka ia bertanya.
"Bagaimana dengan kaum lengan buntung? Kalau tidak mau aku hanya akan mencari dan menyelamatkan Liong Ki Bok ketua kaki buntung saja!"
"Kami.... kami sanggup dan bersumpah untuk menghabiskan permusuhan asal ketua kami diselamatkan!"
Akhirnya nenek lengan buntung berseru.
Siauw Bwee masih belum puas.
Dia maklum betapa hebat dendam dan permusuhan di antara mereka dan siapa tahu kalau nanti ketua mereka telah berada di tengah mereka, permusuhan akan dilanjutkan.
"Bagaimana kalau kelak ternyata bahwa kedua ketua kalian masih tidak mau berdamai dan melanjutkan permusuhan?"
Hening pula sejenak dan tiba-tiba terdengarlah Kakek Lu Gak yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian berkata.
"Mengapa kalian ragu-ragu? Begitu bodohkah kalian menaati kehendak ketua kalian yang sudah gila? Kalau ternyata mereka masih nekat saling bermusuhan dan tidak menaati janji dengan Khu-lihiap, kita hancurkan saja mereka yang menjadi sarang dan bibit permusuhan."
"Akurr....!"
Kini semua anggauta kedua kaum itu berteriak. Wajah Siauw Bwee berseri.
"Kalau begitu, marilah. Bawa aku ke tempat mereka berdua lenyap meninggalkan lengan baju dan tongkat!"
Berangkatlah mereka menuju ke rawa di mana dahulu Siauw Bwee hampir celaka dikeroyok burung-burung liar.
Ketika mereka tiba di tepi rawa di mana mereka menemukan tongkat Liong Ki Bok dan lengan baju The Bian Le, Siauw Bwee memandang ke sekitarnya dan dia mengerutkan kening.
Rawa itu amat luas dan tidak tampak tempat yang kiranya dapat dipergunakan sebagai tempat tinggal orang yang menculik kedua orang ketua itu.
Dia merasa heran dan menduga-duga.
Kalau benar dua orang itu diculik, tentu tidak disembunyikan di rawa ini, melainkan dibawa ke lain tempat.
Tempat terbuka.
luas seperti rawa ini, mana mungkin dipakai menawan orang?
Dia memandang lagi ke sekeliling dan diam-diam bergidik.
Tempat ini merupakan tempat sarang maut dan teringatlah penuh kengerian akan dua orang temannya yang juga melarikan diri cerai-berai ketika dikeroyok burung, yaitu Cia Cen Thok si bekas "mayat hidup"
Dan pemuda Co-bi-san yang gagah, Hui-eng Liem Hok Sun.
Tentu mereka itu telah tewas dimakan burung atau tenggelam di dalam rawa atau....
dikeroyok ular.
Siauw Bwee bergidik.
"Li-hiap, ke mana sekarang kita mencari mereka?"
Tiba-tiba nenek lengan buntung bertanya dan semua orang kini memandang kepada Siauw Bwee.
Siauw Bwee menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Tiba-tiba Kakek Lu Gak yang juga ikut bersama mereka yang sejak tadi mengerutkan alisnya dan memandangi daerah rawa yang luas, berkata.
"Ahh, aku tahu! Tidak salah lagi....!"
Semua orang kini memandang kakek itu dan Siauw Bwee bertanya.
"Di mana mereka menurut pendapatmu, Locianpwe?"
Semua orang diam mendengarkan jawaban kakek itu.
"Kedua orang sute itu kalau diculik orang tentu disembunyikan di suatu tempat. Rawa ini tak mungkin dipergunakan untuk maksud itu dan satu-satunya tempat yang paling tepat tentulah di kuil tua!"
Orang-orang kedua kaum cacad itu saling pandang dan agaknya mereka tidak percaya, bahkan mulai kelihatan murung dan kecewa karena sesungguhnya mereka tidak suka datang ke tempat itu, kecuali jika diadakan pibu!
Namun, melihat Siauw Bwee dan Kakek Lu Gak pergi menuju ke kuil tua, mereka mengikuti dari belakang.
"Lihat itu....! Siauw Bwee berseru ketika kuil itu sudah tampak, menuding ke arah benda-benda beterbangan di atas kuil.
"Kelelawar-kelelawar siang!"
Anggauta kedua rombongan berteriak kaget dan seketika menghentikan langkah.
Akan tetapi Siauw Bwee dan Kakek Lu Gak sudah cepat bergerak ke arah kuil.
Kedua rombongan maju pula mengikuti, akan tetapi dengan wajah takut-takut.
Siauw Bwee lebih dulu tiba di kuil dan cepat memasuki kuil itu terus ke ruangan belakang yang menambus ke halaman belakang yang penuh rumput.
Dan tampaklah pemandangan yang mengejutkan hatinya.
Dua orang kakek itu, Liong Ki Bok dan The Bian Le, rebah telentang di atas rumput, agaknya terluka dan tertotok, terbelalak memandang ke arah ratusan kelelawar yang beterbangan di atas dan mengeluarkan suara seperti sekumpulan anjing dan kera berkelahi, siap untuk menerjang kedua orang kakek yang tidak berdaya itu!
Melihat ini, Kakek Lu Gak yang dengan terengah-engah sudah datang pula, cepat mengeluarkan suara melengking dari kerongkongannya.
Mendengar ini, Siauw Bwee teringat dan melihat kakek itu dengan susah payah mengerahkan tenaga khi-kang, ia lalu mengeluarkan lengking yang amat tinggi dan mengandung getaran, hebat.
Mendengar itu kelelawar-kelelawar menjadi panik dan cepat melarikan diri dengan terbang membumbung tinggi sambil cecowetan.
Makin lama kelelawar-kelelawar itu makin bingung, bahkan ada yang meluncur jatuh karena tidak kuat diserang suara melengking yang begitu dahsyatnya.
Tiba-tiba di luar kuil terdengar suara tertawa-tawa disusul suara teriakan-teriakan kesakitan dan suara gedebak-gedebuk orang berkelahi.
"Locianpwe, harap menjaga agar binatang-binatang jahat itu tidak turun lagi, akan tetapi tidak perlu memaksa diri. Aku akan melihat keluar!"
Tubuh dara perkasa itu sudah berkelebat keluar kuil dan apa yang dilihatnya membuat ia terbelalak keheranan.
Puluhan orang-orang anggauta kaki buntung dan lengan buntung itu sedang diamuk oleh dua orang yang tertawa-tawa dan gerakannya aneh serta lihai bukan main!
Sudah belasan orang anggauta kedua kaum itu roboh tewas, banyak pula yang terluka dan kedua orang itu mengamuk sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Aku adalah raja rawa! Lebih banyak lagi korban untuk dipersembahkan dewa-dewa kelelawar!"
Teriak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan hanya bercawat saja, tubuhnya penuh lumpur.
"Ha-ha-ha! Benar, lebih banyak lebih baik menemani dua orang kakek! Ha-ha-ha, aku adalah pangeran rawa-rawa!"
Siauw Bwee menahan napas melihat orang ke dua itu, yang pakaiannya robek-robek tidak karuan hampir telanjang dan seperti orang pertama rambutnya riap-riapan tubuhnya penuh lumpur dan mata mereka itu merah dan liar berputaran.
Akan tetapi ilmu kepandaian mereka luar biasa sekali.
Mereka bersilat seperti orang ngawur saja akan tetapi setiap tangan mereka bertemu dengan anggauta-anggauta kedua kaum yang mengeroyok, tentu lawan roboh dan tewas!
"Cia Cen Thok, Liem Hok Sun....!"
Siauw Bwee berteriak dan meloncat ke tengah pertempuran.
"Semua orang mundur, jangan melawan mereka!"
Mendengar seruan ini dan karena memang takut dan gentar menghadapi kehebatan dua orang gila itu, anak buah kedua kaum cacad itu cepat mengundurkan diri sehingga kini hanya Siauw Bwee saja yang berhadapan dengan dua oranggila.
ia menoleh dan berkata kepada orang-orang itu.
"Ketua kalian selamat, di halaman belakang!"
Mendengar ini, semua orang lari memasuki kuil.
"Cia Cen Thok, Liem Hok Sun, apa yang kalian lakukan ini?"
Siauw Bwee memberanikan diri menegur dengan hati gentar dan ngeri karena dia dapat menduga bahwa kedua orang ini sudah tidak waras lagi dan tidak normal.
"Ha-ha-ha!"
Kedua orang itu tertawa-tawa dan menudingkan telunjuk mereka ke muka Siauw Bwee.
"Cia Cen Thok! Liem Hok Sun! Apakah kalian tidak mengenal aku lagi? Aku Khu Siauw Bwee!"
"Ha-ha-ha! Korban lunak untuk para dewa kelelawar!"
Tiba-tiba Cia Cen Thok yang tertawa-tawa itu menyerang hebat sehingga Siauw Bwee cepat mengelak.
Dari tangan Si Bekas Mayat Hidup itu tercium bau amis.
Tangan beracun!
Bahkan tubuh mereka semua beracun!
Siauw Bwee dapat menduga bahwa agaknya kedua orang ini telah berhasil menyelamatkan diri dari pengeroyokan burung, akan tetapi agaknya menjadi korban gigitan kelelawar-kelelawar itu sehingga menjadi gila dan selain gila, tubuh mereka menjadi beracun!
Dia tidak dapat membujuk lagi karena kini dua orang gila itu telah mengeroyoknya dengan gerakan-gerakan aneh dan dahsyat sekali!
Pada saat Siauw Bwee mengelak dan mengandalkan gin-kangnya agar jangan sampai kulit tubuhnya tersentuh tangan-tangan beracun itu, para anggauta kedua kaum telah memapah keluar ketua mereka, mengganti pakaian mereka dan kini mereka semua berdiri di luar kuil menonton pertandingan yang dahsyat mengerikan itu.
Mereka tidak membantu karena ketua mereka berkata.
"Dua orang itu korban kelelawar, tubuh mereka beracun dan sekali sentuh saja akan cukup menularkan kegilaan mereka!"
Siauw Bwee harus menggunakan seluruh kepandaiannya menghadapi pengeroyokan yang amat hebat itu.
Yang menyulitkannya adalah bahwa dia tidak tega menurunkan pukulan maut karena maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dalam keadaan tidak sadar.
Betapa mungkin dia tega untuk membunuh mereka?
Inilah yang menyulitkan, karena kedua orang itu menyerangnya dengan nafsu membunuh, setelah menjadi korban gigitan kelelawar dan menjadi gila, tidak hanya tubuh mereka beracun, juga gerakan mereka menjadi aneh dan mereka menjadi berlipat kali lebih lihai daripada sebelum gila.
Bukan main ramai dan serunya pertandingan itu.
Biarpun Siauw Bwee memiliki gerakan yang ringan dan cepat sekali, akan tetapi sambaran tangan kedua orang gila itu telah membuat beberapa bagian pakaiannya robek-robek, bahkan pundak kirinya telah terserempet cakaran tangan Hok Sun sehingga mengeluarkan darah.
Rasa gatal dan panas pada pundaknya membuat, Siauw Bwee maklum bahwa dia telah terkena racun.
Terpaksa dia harus mengerahkan sin-kangnya dan dengan hawa murni itu dia mendesak hawa beracun di pundaknya sehingga tidak menjalar lebih luas.
Ketika ia agak lengah karena melirik ke arah pundak kirinya, tiba-tiba gerakan aneh dari Cia Cen Thok dengan tendangan yang merupakan jurus gerakan kaki kilat mengenai paha kanannya.
"Desss!"
Tubuh Siauw Bwee terlempar dan jatuh bergulingan di atas tanah!
Dua orang gila itu terkekeh-kekeh dan keduanya menubruk tubuh Siauw Bwee dengan gerakan seperti dua ekor harimau memperebutkan seekor kelinci.
Siauw Bwee merasa pahanya panas sekali, cepat ia menggunakan sin-kang melindungi darahnya dan melihat tubrukan dua orang itu, ia mulai menjadi gemas, gila atau tidak, mereka itu adalah dua orang lawan yang berbahaya dan kalau tidak dia robohkan, tentu akhirnya dia sendiri yang celaka.
Karena itu, melihat mereka menubruk maju Siauw Bwee mengerahkan sin-kangnya dan menyambut tubuh mereka dengan tendangan kedua kakinya!
"Bukk!
Bukk!"
Dua orang gila itu berteriak seperti binatang buas, tubuh mereka terlempar ke belakang dan mereka bergulingan menekan perut yang rasanya seperti diremas-remas!
Mereka kini meringis dan Siauw Bwee sudah melompat bangun, kepalanya pening akibat bau racun dan tubuhnya agak terhuyung.
Akan tetapi hatinya merasa kasihan sekali melihat dua bekas lawan yang gila itu meraung-raung kesakitan.
Namun, kedua orang itu kini sudah bangkit lagi dan dengan gerakan buas telah menyerangnya.
Siauw Bwee terkejut.
Kalau dilanjutkan, tentu dia akan celaka.
Dia harus membagi sin-kang untuk melindungi tubuhnya dari kedua lukanya.
Luka di kulit pundak dan kulit pahanya.
Tendangan Cen Thok tadi merobek celananya di paha sahingga kulit pahanya terkoyak dan keracunan pula bertemu dengan kaki Cen Thok!
Kini melihat kedua orang gila itu sudah menyerbu lagi, ia menguatkan hatinya, menggunakan Swat-im Sin-jiu mendorong ke depan.
Tubuh kedua orang gila itu seperti disambar petir.
Mereka terjengkang, muka mereka menjadi biru, tubuh mereka menggigil dan mereka bergulingan sampai jauh kemudian berhasil merangkak bangun dan melarikan diri sambil berteriak-teriak!
Siauw Bwee terhuyung-huyung.
Seorang nenek kaki buntung dan seorang anggauta lengan buntung cepat menolongnya, memegang kedua lengannya menuntunnya memasuki kuil tua.
"Lepaskan aku...."
Siauw Bwee berkata, kemudian dia duduk bersila di ruangan kuil, memejamkan matanya dan tidak bergerak-gerak.
Para anggauta kedua kaum itu mengerti bahwa Siauw Bwee sedang bersamadhi menghimpun tenaga dan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya dan mengusir racun, maka Liok Ki Bok dan The Bian Le memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk meninggalkan Siauw Bwee.
Mereka pergi ke ruangan depan di mana mereka bercakap-cakap dari hati ke hati, merasa bersatu dan lenyaplah.
rasa permusuhan di antara mereka setelah kedua pihak merasa yakin bahwa nona pendekar yang sakti itu sampai hampir mengorbankan nyawa karena permusuhan mereka dan dami untuk mendamaikan mereka!
Mereka tidak mau meninggalkan Siauw Bwee dan beberapa kali kedua orang ketua itu menjenguk dan pergi lagi ketika melihat Siauw Bwee masih tetap bersamadhi.
Malam tiba dan para anggauta kedua kaum itu menyalakan lampu dan membersihkan ruangan kuil tua yang dahulu menjadi tempat tinggal nenek moyang mereka yang saling bermusuhan.
Kini tampaklah suasana yang mengharukan di mana seorang kaki buntung dan seorang lengan buntung bekerja sama membersihkan lantai dan menyapu halaman kuil!
Bahkan kedua orang ketua mereka, dalam suasana yang ramah-tamah, saling membicarakan kedua ilmu mereka, membuka rahasia gerak kilat masing-masing!
Setelah malam tiba dan lampu penerangan dipasang, Siauw Bwee membuka matanya.
Racun dari luka di pundak dan pahanya telah dapat ia usir bersih, akan tetapi tubuhnya menjadi lemah karena ia terlampau banyak mengerahkan tenaga untuk usaha pengusiran racun-racun berbahaya itu dan ketika ia bangkit, ia mengeluh dan terhuyung.
Kemudian dengan terpincang-pincang ia dipapah dua orang anggauta kaki buntung dan lengan buntung.
"Mana kedua ketua kalian?"
Tanyanya ketika ia dipapah keluar.
Kedua orang kakek itu sudah menyambutnya dengan wajah berseri dan ketika melihat Siauw Bwee, mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dara perkasa itu!
"Terima kasih kami haturkan kepada Li-hiap yang sudah menolong kami!"
Kata The Bian Le yang berlutut dan mengangkat sebelah tangannya ke depan dada sebagai tanda penghormatan.
"Terima kasih sekali, terutama karena Li-hiap telah berhasil mendamaikan kami. Kami telah bersumpah untuk mengubur semua dendam permusuhan dan mulai saat ini, kedua kaum kami bersatu sebagai saudara-saudara seperguruan,"
Kata Liong Ki Bok.
Bukan main girangnya hati Siauw Bwee.
Tidak sia-sialah usahanya sekali ini, biarpun ditebusnya dengan bahaya maut yang mengancam nyawanya.
Ia girang karena mengingat betapa akan bahagianya rasa hati Kakek Lu Gak.
Ia menoleh ke kanan kiri dan bertanya.
"Mana dia?"
Dua orang ketua itu saling pandang.
"Siapakah yang Li-hiap cari?"
Tanya Liong Ki Bok.
"Hemmm, betapa kalian telah melupakan orang yang paling berjasa dalam usaha mendamaikan kalian! Mana Locianpwe Lu Gak?"
"Ahh....!"
Barulah semua orang teringat akan tetapi ketika dicari kakek itu tidak tampak.
"Lekas, jemput dia di pondoknya!"
Siauw Bwee yang masih lemah dan kakinya pincang itu menyuruh mereka karena dia sendiri masih terlalu lemah.
Dua orang kakek itu cepat pergi sendiri dan tak lama kemudian mereka datang dengan wajah berduka sambil memanggul tubuh yang hanya berlengan satu dan yang sudah tak bernyawa itu!
Hati yang duka dari Siauw Bwee berubah terharu dan juga lega ketika ia melihat wajah jenazah Kakek Lu Gak.
Wajah itu berseri, mulutnya tersenyum dan matanya terpejam.
Agaknya saking girangnya menyaksikan kedua kaum itu berdamai kakek ini pulang dengan hati girang dan rasa girang yang berlebihan menyerang jantungnya dan membuatnya mati dalam keadaan penuh bahagia!
Jenazah Kakek Lu dikubur di halaman kuil itu dan diberi batu nisan yang megah, Siauw Bwee berkata dalam pesannya ketika ia hendak pergi setelah lukanya sembuh.
"Kuharap saja kalian akan dapat mempertahankan perdamaian ini dan tidak lagi memupuk permusuhan dan membuntungi kaki dan lengan orang, dan anggaplah kuburan Lu-locianpwe sebagai lambang perdamaian abadi."
Siauw Bwee diantar oleh semua anak buah kedua kaum yang kini telah bersatu itu, diberi pakaian, kuda dan bekal secukupnya.
Kedua ketua itu berlinang air mata ketika Siauw Bwee melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal, meninggalkan tempat yang takkan dapat ia lupakan itu karena di situ dia telah mengalami hal-hal yang hebat.
Setelah meninggalkan tempat itu, Siauw Bwee melakukan perjalanan ke selatan mencari ibunya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika mendengar berita dari seorang perwira Sung bekas sahabat ayahnya bahwa ibunya yang dahulu melarikan diri mengungsi itu, telah meninggal dunia karena sakit sesudah mendengar bahwa suaminya gugur.
Siauw Bwee sempat mengunjungi kuburan ibunya, bahkan dia berkabung dan menangisi kuburan ibunya di dusun sunyi sampai beberapa hari, kemudian karena mendengar keterangan bahwa musuh besarnya, Suma Kiat kini sedang memimpin barisan besar ke utara untuk melawan para pemberontak dan pasukan-pasukan Mancu di perbatasan utara, dia lalu melanjutkan perjalanannya menyusul ke utara.
Kebenciannya terhadap musuh besar itu meningkat karena dia menganggap bahwa kematian ibunya pun disebabkan oleh Suma Kiat!
Dara yang hatinya merana dan setiap saat teringat dengan hati penuh rindu kepada suhengnya, Kam Han Ki, kini melakukan perjalanan dengan hati mengandung dendam besar, membuatnya menjadi pendiam dan kurang gembira.
Kota-kota dan dusun-dusun daerah utara amat sunyi karena sebagian besar penduduknya lari mengungsi menjauhi pertempuran.
Namun, banyak juga yang tidak pergi mengungsi karena selain tidak tahu harus pergi ke mana, juga mereka merasa sayang untuk meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka.
Ada pula yang menyuruh keluarganya saja pergi mengungsi.
Karena banyak warung, toko dan restoran tutup, maka bagi mereka yang berani membuka restoran dan toko merupakan usaha yang amat baik dan menguntungkan.
Warung-warung nasi selalu ramai, akan tetapi tidak terpelihara baik-baik karena tempat itu sewaktu-waktu kalau terjadi perang harus ditinggalkan.
Meja-meja dan bangkunya butut, tembok-tembok rumahnya tidak dikapur dan makanan yang disediakan pun amat sederhana, walaupun harganya sama sekali tidak sederhana, melainkan harga pukulan!
Bagi restoran-restoran di dusun-dusun, yang menjadi langganan mereka adalah tentara-tentara yang kebetulan pasukannya singgah di situ dan yang membuat perkemahan dekat dusun itu.
Para perajurit yang makan-makan di restoran tidak berani berbuat sewenang-wenang, dan selalu membayar karena pemilik-pemilik restoran itu dengan cerdiknya selalu menghubungi komandan mereka dan mengirim hidangan-hidangan yang lezat.
Selama ini, juga dengan adanya rumah-rumah makan itu mereka mendapat kesempatan untuk sekedar menghibur diri.
Kalau mereka tidak bayar dan semua restoran tutup, tentu mereka akan kehilangan.
Pada suatu pagi, Panglima Maya dan sebelas orang pembantunya memasuki sebuah restoran yang cukup besar di kota dekat tempat pasukannya berhenti.
Pelayan segera menyambutnya dan Maya beserta para perwiranya dipersilakan duduk di loteng dan segera mereka itu dilayani penuh hormat.
Para pengawal cukup duduk di ruangan bawah saja dan mereka menghadapi meja sambil bersendau-gurau, karena para pemimpin mereka berada di loteng, maka mereka mendapat kesempatan untuk bersenang-senang dan bersendau-gurau saling menggoda.
Tiba-tiba delapan orang perajurit pengawal Pasukan Maut yang sedang bercakap-cakap itu menghentikan sendau-gurau mereka dan semua mata memandang ke arah pintu restoran, mulut mereka tersenyum-senyum.
Siapa orangnya yang tidak akan terpesona menyaksikan seorang dara jelita memasuki restoran itu dengan langkah tegap dan lenggangnya menggiurkan itu?
Dara itu masih muda, di punggungnya tampak sebatang pedang, bajunya kuning dengan leher baju biru seperti celananya.
Melihat pakaian yang agak kotor oleh debu dapat diduga bahwa dia baru datang dari perjalanan jauh.
Wajah dara ini cantik sekali, terutama sekali matanya yang bergerak-gerak dan berbentuk indah, kerlingnya tajam dan menyentuh berahi.
Ketika seorang pelayan menghampirinya, dara itu mengulur sebelah tangannya yang putih halus, menyentuh lengan Si Pelayan sambil berkata.
"Cepat sediakan nasi lauk-pauk seadanya dan minuman teh panas!"
Para perajurit tertawa-tawa gembira menyaksikan sikap dara itu yang demikian berani dan ramah, berani memegang lengan seorang pelayan laki-laki tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Wah, sayang bukan lenganku....!"
Terdengar seorang perajurit berkata sambil mengelus-elus tangannya sendiri dan menciumnya, ditertawai oleh teman-temannya.
Dara itu tidak peduli, melainkan menghampiri sebuah meja kosong dan duduk dengan anteng.
Para perajurit itu tidak melihat betapa pelayan yang tadi lengannya disentuh oleh dara baju kuning itu seketika menjadi pucat, tubuhnya gemetar dan setelah dara itu duduk, tergesa-gesa pelayan itu menyediakan makanan yang dipesan, sikapnya amat hormat dan takut-takut.
Meledaklah suara tertawa empat orang perajurit dari meja yang telah dilayani, mentertawakan empat orang teman mereka yang belum dilayani.
Seorang perajurit dari meja kosong menggebrak meja.
"Apa ini? Pelayan, kami memesan lebih dulu, kenapa melayani orang yang datangnya belakangan? Apa kaukira kami tidak membayar?"
"Ha-ha-ha!"
Seorang perajurit dari meja, yang sudah dilayani tertawa.
"Kenapa mencak-mencak? Kalau mukamu cantik dan kau memakai pakaian wanita, tentu kau dilayani lebih dulu! Ha-ha-ha!"
Teman-temannya tertawa dan empat orang perajurit yang belum dilayani itu makin marah.
"He! Pelayan! Ke sini kau, kalau mau tahu rasanya pukulan perajurlt-perajurit Pasukan Maut!"
Pelayan itu berdiri dengan kaki menggigil ketakutan.
Dara itu yang menghadapi meja, telah menuangkan teh ke dalam cawannya dengan sikap tenang, kemudian memandang Si Pelayan.
"Pelayan, jangan layani anjing-anjing mabok itu. Semua tentara tidak baik, terutama sekali yang menggunakan nama Pasukan Maut, tentu lebih tidak baik lagi!"
Mendengar ini, empat orang perajurit itu merasa terhina dan mereka melompat mendekati meja gadis, itu, mengurung dari empat penjuru.
Seorang di antara mereka yang berada di belakang gadis itu mencabut golok dan berkata.
"Eh, engkau perempuan kang-ouw merasa jagoan, ya? Cabut pedangmu kalau memang pedangmu lebih tajam dari mulutmu yang manis!"
Gadis itu masih memegang cawan teh panas, menunda minumnya dan, matanya yang indah bergerak melirik ke kanan kiri dan depan.
Perajurit yang berada di depannya sudah membentak.
"Engkau sungguh kurang ajar, datang-datang minta dilayani lebih dulu. Mengingat engkau seorang gadis muda cantik, kami masih mengalah dan hanya ingin menegur pelayan. Kenapa kau memaki kami? Penghinaan itu baru lunas kalau kau membayar dengan sebuah ciuman dari bibirmu yang ma.... ougghhh....!"
Perajurit itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mukanya sudah kena siraman air teh panas yang telah "meloncat"
Dari cawan yang dipegangi dara itu.
Tiga orang temannya menjadi marah dan bergerak hendak menyerang, akan tetapi dari dalam cawan itu kini air teh "meloncat"
Ke tiga penjuru, ke kiri kanan dan belakang, tepat mengenai muka tiga orang perajurit yang menjadi gelagapan, bukan hanya karena air teh itu panas sekali, akan tetapi juga karena percikan air yang mengenai muka rasanya seperti jarum-jarum menusuk!
Empat orang perajurit lain menjadi marah menyaksikan empat orang temannya mengaduh-aduh dan mengusap-usap mata seperti itu.
Mereka sudah meloncat dan mencabut senjata.
"Tentu dia mata-mata musuh! Serang! Bunuh....!"
Dara itu bangkit berdiri, tangannya meraih ke depan dan sebuah piring melayang-layang terbang menyambar empat orang perajurit itu.
Terdengar jerit-jerit kesakitan dan empat orang perajurit itu roboh dengan lengan mereka berdarah karena ketika mereka menangkis, lengan mereka tergores piring yang menjadi tajam karena berpusing itu, melebihi pisau!
Akan tetapi tiba-tiba piring itu terhenti di tengah udara kemudian berdesing turun menyambar kepada dara itu sendiri yang mengeluarkan seruan kaget, menangkap piring, meletakkannya di atas meja lalu dia menoleh ke arah anak tangga menuju loteng.
Di situ telah berdiri Maya!
Melihat seorang wanita cantik dan gagah perkasa berpakaian panglima, dara baju kuning itu memandang tajam dan kakinya menendang meja di depannya sehingga meja itu terlempar jauh.
Agaknya dia tahu bahwa dia kedatangan lawan tangguh, maka ingin mencari tempat yang luas untuk menghadapi pengeroyokan.
Ketika para perwira lari-lari turun dari loteng dan para pengawal siap untuk mengeroyok, Maya berseru.
"Tahan! Mundur semua! Aku mau bicara.... dengan dia!"
Dara itu telah siap berdiri dengan tenang dan pandang mata tajam mengikuti gerak langkah Maya yang juga tenang-tenang menuruni anak tangga, menghampiri dara itu sampai mereka berhadapan dan saling pandang.
Keduanya terkejut dan mengingat-ingat karena masing-masing seperti telah mengenal.
Ketika Maya melihat gagang pedang di pungung dara baju kuning itu, teringatlah dia dan segera menegur.
"Bukankah di punggungmu itu Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)?"
Dara itu kelihatan kaget sekali, akan tetapi dia tetap tenang dan balas bertanya.
"Bagaimana engkau bisa tahu?"
Maya tersenyum lebar.
"Kalau benar, engkau tentulah Ok Yan Hwa. Dan agaknya engkau telah lupa kepadaku!"
Dara perkasa itu memang benar Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam. Dia meneliti wajah Maya dan teringat, lalu berkata.
"Dan engkau agaknya Maya...."
"Benar, Yan Hwa, kebetulan sekali pertemuan kita ini dan maafkan anak buahku yang tidak mengenal wanita perkasa! Heii, dengarlah. Dia ini adalah sumoi dari Can-huciang! Hayo lekas kalian minta maaf!"
Mendengar bahwa dara baju kuning yang gagah perkasa itu adalah sumoi dari Can Ji Kun, delapan orang perajurit pengawal itu cepat memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Lihiap, mohon sudi mengampuni kami yang bermata tapi seperti buta!"
Akan tetapi Ok Yan Hwa yang berwatak angkuh tidak mempedulikan mereka, apalagi karena ia tertarik dan terheran mendengar ucapan Maya yang memperkenalkannya sebagai sumoi dari "Can-huciang"!
"Apa maksudmu, Maya?
Benarkah Suheng berada di sini?"
"Benar, Yan Hwa. Dia adalah seorang di antara pembantu-pembantuku yang utama."
"Suheng? Ah, mana mungkin Suheng menjadi perwira pembantumu? Mengapa bisa begitu?"
Maya mengerti bahwa dalam hal keangkuhan, gadis itu tidak kalah oleh suhengnya. Maka ia pun berterus terang dan tersenyum.
"Dia menjadi perwira pembantuku karena kalah taruhan."
Yan Hwa mengerutkan alisnya, memandang wajah Maya yang tersenyum-senyum itu dengan sinar mata marah karena mengira bahwa Maya bicara main-main.
"Maksudmu?"
"Dia telah mengadu kepandaian melawan aku dengan taruhan bahwa kalau aku kalah aku akan meninggalkan kedudukanku sebagai Panglima Pasukan Maut, dan kalau dia yang kalah dia akan membantuku dan menjadi perwiraku."
Yan Hwa membelalakkan matanya yang bagus, dan wajahnya makin tidak senang. Ketidakpercayaan membayang jelas di wajahnya.
"Aku tidak percaya. Mana dia?"
"Dia sedang bertugas ke pantai timur, menjalankan perintahku."
"Hemmm..., aku lebih tidak percaya lagi."
"Bahwa dia menjadi perwira pembantuku?"
"Aku tidak percaya bahwa dia telah kalah olehmu!"
"Namun kenyataannya demikianlah, Yan Hwa, karena suhengmu sudah menjadi pembantuku, bagaimana kalau engkau juga membantu aku? Kita membasmi pasukan Kerajaan Sung yang telah menewaskan Menteri Kam Liong kakak subomu, kita membasmi tentara Yucen, dan terutama sekali kita membasmi bangsa Mongol yang telah membunuh subomu. Bagaimana?"
Sejenak Yan Hwa diam memutar pikirannya.
Dia ingin sekali bertemu dengan suhengnya, karena rindu dan juga karena ingin melihat apakah sekarang, setelah merantau sekian lamanya, dia sudah dapat menundukkan suhengnya itu.
"Aku tetap tidak percaya bahwa Suheng telah kalah olehmu."
Ia mengamati wajah Maya yang amat cantik jelita itu.
Dia diam-diam harus mengakui bahwa belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis yang begini cantik jelita dan gagah.
Diam-diam ia mulai merasa cemburu!
"Kalau benar Suheng menjadi perwira pembantumu, aku lebih percaya kalau dia lakukan karena dia jatuh cinta kepadamu."
Wajah Maya menjadi merah, akan tetapi ia tetap tersenyum dan berkata dengan ejekan yang disengaja.
"Yan Hwa, engkau tetap angkuh seperti dahulu. Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kita pun mengadakan pertaruhan seperti yang telah dilakukan suhengmu?"
"Engkau menantangku?"
Sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi.
"Bukan menantang, murid bibiku yang manis, melainkan aku mengajak engkau berjuang bahu-membahu, dan untuk meyakinkan hatimu maka marilah kita mencoba kepandaian, tentu saja kalau kau berani."
"Singggg....!"
Tampak sinar kilat berkelebat menyilaukan mata ketika Yan Hwa mencabut pedangnya.
Jantung Maya berdebar dan untuk ke sekian kalinya ia merasa terheran-heran mengapa mendiang bibinya yang terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang sakti dan gagah perkasa, suka memiliki dua buah pedang seperti yang diwariskan kepada Ji Kun dan Yan Hwa ini.
Pedang di tangan Yan Hwa mempunyai wibawa yang sama dengan Pedang Iblis Jantan milik Ji Kun.
"Engkau menerima pertaruhan ini?"
Dia bertanya. Yan Hwa mengangkat pedangnya, tegak lurus di depan dahinya.
"Maya, aku telah bersumpah demi kehormatan nama suhu dan subo, pedangku ini hanya akan menghirup darah orang-orang jahat. Baru sekarang tercabut keluar dari sarangnya bukan untuk membasmi penjahat. Akan tetapi ketahuilah, sekali pedang ini tercabut, dia tidak akan kembali ke sarungnya sebelum menghirup darah. Karena itu, katakan bahwa engkau membohong, bahwa Suheng tidak pernah kaukalahkan, dan aku akan menyimpannya kembali dan pergi dari sini, akan kupuaskan pedangku dengan darah penjahat di lain tempat yang kudapatkan."
Maya tersenyum.
"Yan Hwa, engkau tidak memalukan menjadi murid mendiang Bibi, Mutiara Hitam, engkau seorang pendekar, akan tetapi betapa angkuh watakmu, betapa kejam hatimu. Aku tidak pernah membohong, dan biarpun aku tidak mamiliki sebatang pedang pusaka sekeji pedangmu itu, namun aku tidak takut menghadapinya."
Sambil berkata demikian perlahan-lahan Maya melolos pedangnya dan membuka jubah luarnya yang ia lemparkan kepada Cia Kim Seng.
Bekas penggembala domba ini menerima jubah dan dia bersama para perwira lain kini mencari tempat yang enak buat menonton pertandingan yang akan terjadi.
Para perajurit pengawal sudah menjauh-jauhkan meja kursi di dalam restoran itu sehingga ruangan restoran yang cukup luas itu kini menjadi sebuah arena pertandingan yang dapat diduga akan terjadi dengan dahsyat dan seru.
"Maya, bersiaplah engkau!"
Sebelum gema suara ini habis, tahu-tahu tubuh Yan Hwa telah berkelebat ke depan didahului sinar putih berkilat yang menyilaukan mata.
Diam-diam Maya kagum.
Kiranya Yan Hwa memiliki gerakan yang lebih cepat dan ringan daripada Ji Kun, maka ia bersikap hati-hati dan cepat ia mengelak sambil membalas dengan tusukan pedangnya dari samping.
Yan Hwa mengandalkan keampuhan pedang pusakanya maka dia menyabetkan pedangnya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya dengan maksud merusak pedang lawan.
"Bagus!"
Maya memuji dan meloncat tinggi sehingga sinar kilat itu meluncur di bawah kakinya.
Dari atas, jubah Maya membalik, menukik ke bawah dan ujung pedangnya mengancam ubun-ubun kepala lawan.
Hebat bukan main gerakan Maya ini, selain indah juga amat sukar dilakukan sehingga para perwira pembantunya memuji.
Juga Yan Hwa kagum sekali, akan tetapi watak dara ini tidak ada bedanya dengan watak suhengnya.
Dia tahu bahwa Maya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya kalau Maya dapat mengalahkan suhengnya, atau dia dengan Pedang Iblis Betina di tangannya!
Maka serangan Maya yang amat berbahaya itu ia hindarkan dengan merendahkan tubuh lalu menggulingkan tubuhnya ke depan.
Ketika serangan Maya itu luput dan panglima wanita ini sudah berjungkir balik lagi membuat salto dan kakinya menginjak lantai, sinar kilat pedang Yan Hwa sudah berkelebat lagi, sinar pedangnya berubah seperti payung, merupakan gulungan yang bundar dan dari gulungan sinar putih itu menyambar-nyambar kilatan sinar yang panjang dan mengandung hawa panas!
Maya makin kagum.
Harus ia akui bahwa dalam hal kecepatan gerak dan ilmu pedang, ternyata Yan Hwa ini tidak kalah oleh suhengnya, bahkan mungkin lebih berbahaya serangan-serangannya.
Maka dengan hati kagum, gembira namun juga waspada dan mengimbangi permainan lawan dengan gerakannya yang lebih cepat lagi.
Dia berlaku hati-hati, tidak pernah pedang mereka bentrok secara langsung.
Paling-paling hanya bersentuhan sedikit dan bergeseran, namun itu pun sudah membuat pedangnya mengeluarkan api dan kadang-kadang hampir dapat tersedot dan menempel!
Hanya dengan sin-kangnya yang kuat saja dia dapat mencegah pedangnya melekat pada pedang lawan.
Mata para perwira, apalagi para perajurit sudah berkunang-kunang karena silau menyaksikan sinar kilat pedang Yan Hwa berkelebatan di ruangan itu dan seratus jurus telah lewat tanpa ada yang tampak terdesak.
Hal ini sebetulnya memang disengaja oleh Maya.
Kalau ia mau, dengan sin-kangnya yang amat tinggi dan kuat, tentu saja dia dapat merobohkan lawannya dengan pukulan yang membahayakan bagi keselamatan Yan Hwa, namun dia tahu bahwa jika dia mengalahkan Yan Hwa dalam waktu singkat, tentu hati dara yang angkuh ini akan tersinggung.
"Yan Hwa, inikah Siang-bhok Kiam-sut dari mendiang Bibi? Hebat bukan main....!"
Maya cepat mengelak karena kembali ada sinar kilat menyambar ke arah lehernya.
"Singggg! Wuuuusssshhhh!"
Diam-diam Yan Hwa terkejut dan juga kagum sekali.
Kini tahulah dia bahwa Maya benar-benar amat hebat kepandaiannya, ilmu pedangnya aneh dan dalam hal gin-kang.
Maya bahkan melampaui tingkatnya!
Seperti juga Ji Kun, dia terheran-heran mengapa bocah yang dahulu ikut bersama Panglima Khu Tek San itu kini telah menjadi seorang yang begini lihai.
Tentu Menteri Kam Liong, kakak subonya yang kabarnya lebih lihai dari subonya itu yang menjadi gurunya.
"Maya, engkau, pun hebat! Agak berkurang ketidakpercayaanku. Akan tetapi aku belum kalah!"
Kata Yan Hwa yang sudah menyerang lagi dengan hebat, agaknya dia hendak menguras semua kepandaiannya untuk mencapai kemenangan.
Maya maklum bahwa untuk menundukkan orang seperti Yan Hwa ini harus mengalahkannya, maka ia lalu mengeluarkan suara melengking keras dan tiba-tiba tubuhnya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga Yan Hwa mengeluarkan seruan kaget dan pandang matanya berkunang-kunang.
Cepat Yan Hwa memutar pedang pusakanya sehingga tubuhnya terlindung dan terkurung oleh benteng sinar kilat.
Menghadapi pertahanan seperti ini, Maya tak berdaya.
Jalan satu-satunya hanya memancing agar pedangnya melekat, pikirnya.
Maka ia mengurangi kecepatannya dan menahan serangannya.
Melihat bahwa gerakan Maya tidak secepat tadi, Yan Hwa juga berhenti melindungi tubuh dan ia mendapat kesempatan untuk menyerang lagi dengan tusukan kilat ke dada Maya.
"Bagus!"
Maya memuji, pedangnya menangkis dari samping.
"Trakk! Pedangnya menempel dan tersedot oleh Li-mo-kiam, dan melihat kini lawan berani mengadu pedang sehingga tertempel oleh pedang pusakanya, Yang Hwa menjadi girang sekali dan melanjutkan pedangnya isang sudah membikin tak berdaya pedang lawan itu untuk menusuk ke perut. Kesempatan ini yang dipergunakan Maya. Ia melepaskan pedangnya, membanting diri ke kiri dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah ia mengirim pukulan sin-kang ke arah lengan tangan Yan Hwa yang memegang pedang.
"Aiiihhh...."
Yan Hwa memekik, pedangnya yang menempel pedang lawan terlepas, tangannya lumpuh dan tubuhnya menggigil kedinginan, rasa dingin yang terus menjalar ke dalamdadanya.
Ia maklum bahwa dia telah terkena pukulan sin-kang yang amat kuat dan berbahaya, maka tanpa mempedulikan sesuatu ia lalu duduk bersila dan mengatur napas.
Maya telah melompat dan sekaligus menyambar dua buah pedang yang saling menempel itu.
Dengan tenaga sin-kang ia melepaskan pedangnya yang tersedot dan menempel pada Li-mo-kiam, menyarungkan pedangnya dan mengamat-amati pedang Yan Hwa dengan penuh kengerian.
Yan Hwa membuka matanya, lega bahwa lukanya tidak hebat.
Kalau dadanya yang terkena pukulan seperti itu, agaknya dia akan tewas.
Dan tahulah dia bahwa kalau Maya menghendaki dan menggunakan pukulan-pukulan dahsyat dan sakti seperti itu, tak mungkin dia dapat melawan sampai ratusan jurus.
Kini dia percaya penuh.
Jangankan baru dia atau suhengnya, bahkan mendiang suhunya atau subonya sekalipun agaknya belum tentu mampu menandingi ilmu kepandaian Maya yang demikian hebatnya.
Maya menghampirinya dan menyerahkan pedang pusakanya.
Yan Hwa menarik napas panjang, menerima dan menyimpan pedangnya dan berdiri dengan muka tunduk.
"Maafkan aku, kini aku percaya sepenuhnya. Suheng dan aku bukanlah tandinganmu."
Mendengar ucapan yang bernada kecewa itu Maya berkata.
"Tidak perlu penasaran, Yan Hwa. Ketahuilah bahwa aku adalah penghuni Istana Pulau Es, pewaris ilmu Suhu Bu Kek Siansu."
Terbelalak mata Yan Hwa memandang dan dalam pandang mata itu kini terkandung kekaguman dan sikap takluk.
"Aahhhh, sungguh aku tidak tahu diri. Maya, biarlah mulai saat ini aku menjadi pembantumu."
Maya tersenyum girang dan maju merangkul pundak Yan Hwa.
Tiba-tiba mereka berdua menoleh ketika mendengar suara keluhan.
Ketika memandang ke arah para perwira, mereka itu mengeluh dan menggosok-gosok mata mereka seolah-olah mata mereka sakit dan memang mata mereka terasa pedih dan gatal karena setelah pertandingan berhenti, mata mereka masih terus seperti melihat sinar kilat menyambar-nyambar menimbulkan rasa pedih dan nyeri.
Maya menghela napas.
"Yan Hwa, hati-hatilah engkau menggunakan pedangmu. Pedangmu itu di samping pedang Ji Kun, adalah pusaka-pusaka yang ampuhnya menggila dan kalau kurang hati-hati atau salah mempergunakannya dapat menimbulkan malapetaka hebat."
Yan Hwa mengangguk dan dia lalu menceritakan riwayat kedua pusaka Sepasang Pedang Iblis itu.
Mendengar penuturan ini, Maya bergidik ngeri dan diam-diam ia amat khawatir akan nasib Yan Hwa dan Ji Kun yang mewarisi sepasang pedang pusaka seperti itu.
Namun karena maklum akan keangkuhan mereka, dia tidak mau berkata apa-apa, baik terhadap Yan Hwa maupun terhadap Ji Kun kelak.
Para perwira dan perajurit menjadi makin kagum terhadap Maya, juga menjadi girang karena pasukan mereka bertambah seorang perwira wanita yang luar biasa lihainya sehingga tentu saja hal ini membesarkan hati karena berarti kuatnya pasukan mereka.
Pasukan Maut terus bergerak ke selatan dengan hati-hati karena mereka telah mendekati batas-batas daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Sung dan Yucen.
Ketika mendengar pelaporan dari para penyelidik depan bahwa ada berita di depan, kurang lebih tiga puluh li dari situ terdapat sebuah barisan besar yang belum diketahui barisan kerajaan mana, Maya lalu menghentikan pasukannya dan menugaskan kepada Ok Yan Hwa dan Cia Kim Seng untuk pergi melakukan penyelidikan.
Berangkatlah Cia Kim Seng si bekas penggembala dan Ok Yan Hwa menunggang kuda melakukan penyelidikan ke depan.
"Cia-huciang, karena engkau lebih mengenal daerah ini, biarlah engkau yang menjadi penunjuk jalan, aku ikut di belakangmu,"
Kata Yan Hwa di tengah jalan.
Cia Kim Seng memandang dengan wajah berseri.
Biarpun dalam ilmu silat, wanita ini amat angkuh dan keras hati tidak mau kalah, akan tetapi dalam hal lain cukup jujur dan berwatak gagah, maka ia menjawab.
"Baiklah, akan tetapi tentang keselamatanku di jalan, aku sepenuhnya mengandalkan perlindunganmu."
"Jangan khawatir, Cia-huciangkun aku akan selalu menjaga."
Mereka membalapkan kuda dan setelah melakukan perjalanan belasan li jauhnya, mereka tiba di padang rumput.
Dari depan nampak mengebul debu tebal dan tinggi.
Mereka menahan kuda dan Cia Kim Seng mengerutkan alisnya yang tebal sambil memandang ke depan penuh perhatian.
Tak salah lagi, di sana terdapat barisan besar yang sedang berperang.
Entah barisan mana yang agaknya sedang mengundurkan diri ke sini itu.
Tiba-tiba Yan Hwa berseru keras.
"Awas belakangmu!"
Cia Kim Seng membalikkan kuda dan pada saat itu terdengar gonggongan anjing yang riuh-rendah.
Ketika mereka memandang, banyak sekali serigala keluar dari padang rumput.
Demikian banyaknya sehingga kuda yang ditunggangi dua orang itu meringkik-ringkik ketakutan.
"Kita lari....!"
Cia Kim Seng berteriak.
"Jangan! Percuma, kuda-kuda kita akan dapat disusulnya. Tunggu!"
Yan Hwa berseru karena ia melihat penglihatan yang amat aneh.
Di antara serigala-serigala itu, merangkak paling depan, tampak seorang laki-laki berkepala gundul, hanya memakai celana hitam sebatas betis yang sudah robek-robek ujungnya.
Laki-laki ini merangkak seperti serigala, dan mulutnya mengeluarkan bunyi menggonggong dan agaknya dia memimpin barisan serigala itu!
"Pergunakan cambuk melindungi diri, Cia-hu-ciang!
Aku akan menangkap manusia serigala itu.
Tentu dia pemimpinnya!"
Setelah berkata demikian, Yan Hwa meloncat dari atas kudanya dan langsung menerkam Si Kepala Gundul.
Manusia serigala itu tiba-tiba meloncat berdiri, tertawa-tawa dan menyambut datangnya tubuh Yan Hwa dengan kedua tangan mencengkeram dan mulut dibuka lebar untuk menggigit!
Yan Hwa merasa ngeri, akan tetapi dia sama sekali tidak menjadi takut dan gugup.
Sambutan serangan ini dapat ia elakkan dan kakinya terayun menendang dari samping.
"Desss!"
Tendangan kaki Yan Hwa tepat mengenai lambung laki-laki aneh itu, akan tetapi ternyata dia memiliki tubuh yang kebal dan kuat sehingga ketika tubuhnya terguling, dia sudah bangkit lagi dan mengeluarkan suara menggonggong keras.
Mendengar suara ini, enam ekor serigala menerjang maju, akan tetapi dengan mudah Yan Hwa menggerakkan kedua kakinya, menendangi binatang-binatang itu sehingga terlempar jauh.
Melihat betapa Cia Kim Seng dikeroyok banyak serigala sehingga repot mengayun pecut ke kanan kiri tubuh kudanya yang meringkik-ringkik ketakutan dan keadaannya benar terancam bahaya, Yan Hwa maklum kalau dia tidak cepat bertindak, mereka akan terancam bahaya maut dan dia merasa enggan untuk menggunakan pedang pusakanya membunuh binatang-binatang itu!
Maka ia lalu miringkan tubuh ketika laki-lakl gundul itu menerjangnya, dari samplng ia mengirim totokan yang tepat mengenai jalan darah di pundak yang telanjang.
Laki-laki itu mengaduh dan Yan Hwa sudah mencengkeram tengkuknya.
"Cepat perintahkan anjing-anjingmu mundur, kalau tidak kupatahkan batang lehermu!"
Ia mengancam dan jari-jari tangannya yang halus itu mencengkeram tengkuk seperti sepasang jepitan baja! "Aduhhh...., ampun.... lepaskan aku....!"
"Lekas perintahkan anjing-anjing itu mundur atau kau mampus!"
Tiba-tiba laki-laki gundul itu mengeluarkan suara menyalak-nyalak seperti seekor anjing ketakutan dan....
serigala-serigala itu lalu menyalak-nyalak dan mundur teratur meninggalkan Cia Kim Seng!
Dengan muka berkeringat Kim Seng melompat turun dari kudanya.
"Bunuh saja manusia serigala itu!"
Katanya marah.
"Ampun....!"
Si Laki-laki gundul berkata.
"Aku mau mengampuni kau, akan tetapi engkau harus siap sewaktu-waktu membantu pasukan kami kalau kami butuhkan!"
Bentak Yan Hwa.
"Baik...., baik...., aku berjanji....!"
Yan Hwa melepaskan cengkeramannya dan sambil mengeluh laki-laki itu mengelus-elus tengkuknya dan memandang dengan gentar.
"Ceritakan siapa kau?"
"Aku bernama Theng Kok, keluargaku habis karena korban perang, dan aku.... sejak kecil bermain-main dengan serigala-serigala di sini, aku pandai menguasai mereka...."
"Hemm, Theng Kok. Kalau kelak kau suka membantu kami, kau akan kami beri hadiah besar, akan tetapi kalau kau tidak mau, lihat ini!"
Yan Hwa mengayun tangannya ke arah sepotong batu dan hancurlah batu itu.
Muka Theng Kok menjadi pucat dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul.
"Aku menurut.... menurut....!"
Yan Hwa lalu menangkap kembali kudanya dan melanjutkan perjalanan bersama Cia Kim Seng.
Debu yang tampak di depan mengebul makin tinggi.
Mereka membalapkan kuda ke arah debu mengebul itu dan tak lama kemudian tampaklah oleh mereka pasukan Mancu yang bergerak mengundurkan diri.
Terjadilah hal yang amat aneh dan mengherankan hati Ok Yan Hwa ketika mereka berdua bertemu dengan pasukan Mancu yang berada paling belakang.
Pasukan yang dipimpin oleh seorang perwira Mancu itu begitu bertemu dengan Cia Kim Seng serta-merta menjatuhkan diri berlutut, dan Sang Perwira berkata.
"Pangeran....!"
Lenyaplah sikap Cia Kim Seng yang biasanya sederhana, kini tampak dia penuh wibawa ketika bertanya.
"Siapa yang memimpin barisan ini?"
"Panglima Durbana, Pangeran!"
Jawab perwira itu penuh hormat.
"Mengapa mundur ke selatan dan kini mundur lagi ke timur? Apa yang terjadi?"
"Ketika kami hendak bergerak ke pantai timur, kami bertemu dengan barisan besar Yucen sehingga kami terpukul mundur ke selatan. Kemarin kami bertemu dengan barisan besar Kerajaan Sung dan setelah bertempur sehari semalam, terpaksa kami mundur...."
"Memalukan! Apakah pasukan-pasukan kita sudah demikian lemahnya sehingga bisanya hanya mundur dan lari saja? Panggil Panglima Durbana menghadap!"
"Baik, Pangeran!"
Perwira itu lalu meloncat ke atas kudanya dan membalap ke depan. Ok Yan Hwa memandang "rekannya"
Itu penuh takjub.
"Jadi kau.... kau.... seorang Pangeran Mancu....?"
Cia Kim Seng menggerakkan tubuh menjura dengan membungkuk setengah badan sambil berkata.
"Benar, Ok-lihuciang. Aku adalah Pangeran Bharigan yang sengaja menyamar untuk melakukan penyelidikan sendiri ke arah timur. Tidak ada waktu untuk bicara panjang, kelak tentu kujelaskan semua kepada Maya-ciangkun. Seorang panglima datang berkuda. Dia segera melompat turun dari kudanya dan berlutut dengan sebelah kaki di depan Pangeran Bharigan.
"Lekas katakan mengapa (Lanjut ke
Jilid 20) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 engkau mundur menghadapi pasukan Sung!"
Pangeran itu menegur dengan suara marah.
"Maaf, Pangeran. Terpaksa hamba menarik mundur barisan karena pihak musuh terlalu kuat, apalagi dipimpin oleh Jenderal Besar Suma Kiat dan pembantupembantunya yang berkepandaian tinggi."
Pangeran Bharigan mengelus dagunya, kemudian menoleh kepada Yan Hwa.
"Ok-li-huciang. Harap kau suka segera memberi laporan kepada Maya-li-ciangkun mengenai keadaan kami yang memerlukan bantuan segera."
"Baik, Cia.... eh, Pangeran Bharigan, Ok Yan Hwa meloncat ke atas kudanya dan membalap meninggalkan tempat itu, Ketika tiba di perkemahan Pasukan Maut, dengan singkat namun jelas dia menceritakan kepada Maya dan para perwira lain tentang keadaan barisan Mancu, tentang pihak musuh barisan Sung yang dipimpin Suma Kiat, dan tentang diri Cia Kim Seng yang ternyata adalah Pangeran Bharigan dari Kerajaan Mancu. Mendengar penuturan itu, Maya menjadi terheran-heran, juga kaget dan girang. Musuh besarnya, Suma Kiat, berada di depan! "Bagus! Kita akan berpesta menghancurkan barisan Sung! Sungguh tidak kusangka bahwa penggembala domba itu ternyata seorang Pangeran Mancu!"
Pada saat Maya mempersiapkan pasukannya untuk membantu pasukan Mancu menggempur bala tentara Sung yang dipimpin oleh Jenderal Suma Kiat, tiba-tiba datang sebuah pasukan kecil, terdiri dari lima puluh orang.
Maya menjadi girang ketika mendapat kenyataan bahwa pasukan kecil itu ternyata adalah pasukan yang dipimpin Can Ji Kun yang kembali dari timur setelah memenuhi tugasnya melapor kepada Panglima Laut Bu Gi Hoat yang memberontak terhadap Kerajaan Sung.Hati Maya menjadi tegang dan memandang penuh perhatian kepada Ok Yan Hwa dan Can Ji Kun, suheng dan sumoi yang bertemu di tempat itu dan kini berdiri berhadapan saling pandang itu.
"Hemm...., kiranya engkau di sini?"
Terdengar Can Ji Kun menegur, pandang matanya tidak pernah melepaskan wajah sumoinya.
"Kalau engkau cukup berharga menjadi pembantu di sini, mengapa aku tidak?"
Ok Yan Hwa menjawab pula, suaranya mengandung ejekan dan tantangan, namun sinar matanya yang bersinar dan kedua pipi yang kemerahan itu tak dapat menyembunyikan rasa rindu dan senangnya berhadapan dengan pemuda tampan itu.
Dua orang ini aneh, pikir Maya.
Untung bahwa saat itu mereka sedang, sibuk menghadapi serbuan ke tempat musuh maka segala urusan pribadi dapat dikesampingkan.
Maya lalu berkata.
"Ji Kun dan Yan Hwa, kalian adalah murid-murid tersayang dari Bibi Mutiara Hitam! Suma Kiat adalah musuh besar kita karena dialah yang menjadi biang keladinya sehingga Menteri Kam Liong, uwa guru kalian, tewas secara menyedihkan. Semenjak dahulu, keturunan Suma selalu melakukan kejahatan, dan kini tiba saatnya bagi kita untuk membersihkan dunia dari keturunan jahat itu. Ji Kun, engkau memimpin pasukan sayap kiri, dan Yan Hwa memimpin pasukan sayap kanan. Biar aku sendiri yang akan menghadapinya langsung dari depan bersama pasukan-pasukan Mancu. Kalian berdua jangan ikut menerjang maju karena tugas kalian hanya menjaga kalau Si Keparat itu melarikan diri. Kalian harus mencegahnya lolos dan begitu bertemu dengan dia, lepaskan panah api sebagai isyarat."
Kedua orang suheng dan sumoi itu mengangguk.
"Jangan khawatir, Si Tua Bangka, keparat Suma Kiat itu tentu akan tewas di tanganku!"
Kata Ji Kun sambil meraba gagang pedangnya.
"Belum tentu! Agaknya akulah yang akan berhasil menembuskan pedangku di jantungnya!"
Yan Hwa tidak mau kalah. Maya tersenyum.
"Kita sama lihat sajalah. Hanya, sebagai atasan kalian, aku tidak akan memberi ampun kalau sampai kalian memberi kesempatan kepadanya untuk lolos."
Setelah melepas pandang mata penuh wibawa dengan sinar tajam seperti menembus dada mereka, Maya lalu tersenyum dan berkata.
"Ji Kun, engkau baru datang, beristirahatlah. Aku akan mengatur barisan dan menjelang senja nanti kita berangkat."
Ji Kun mengangguk dan membalikkan tubuh menghadapi Yan Hwa.
Kembali mereka itu saling pandang dengan sinar mata penuh rindu.
Maya yang sudah meninggalkan mereka, tiba-tiba teringat akan pandang mata mereka itu, lalu menengok.
Alisnya berkerut dan berbagai pertanyaan aneh timbul di hatinya ketika ia melihat kedua orang muda itu sambil berpegangan tangan, bergandeng memasuki tenda Yan Hwa!
Jelas sekali sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka saling mencinta!
Memasuki perkemahan berdua dengan sikap seperti itu?
Hemmm....
diam-diam Maya makin terheran-heran mengapa di samping menyerahkan Sepasang Pedang Iblis yang sungguh tidak pantas dipegang pendekar, juga agaknya bibinya, Mutiara Hitam, telah memberi pendidikan batin yang keliru sehingga kini kedua orang suheng dan sumoi itu agaknya saling mencinta, bukan seperti saudara seperguruan, melainkan seperti seorang pria dan wanita.
Hemmm....
tiba-tiba Maya merasa betapa mukanya panas.
Mengapa dia merasa tidak senang?
Apakah salahnya kalau Yan Hwa dan Ji Kun saling mencinta?
Mereka adalah dua orang muda yang sama-sama tampan dan cantik, sama-sama gagah perkasa.
Sedangkan dia sendiri...., dia pun jatuh cinta kepada Kam Han Ki, Suhengnya!
Ah, betapapun juga, tidak seperti mereka berdua itu yang secara terang-terangan di siang hari memasuki perkemahan berdua!
Sungguh tidak patut!
Itu pelanggaran susila namanya!
Belum menjadi suami isteri, di siang hari, di depan mata semua anggauta pasukan, memasuki perkemahan untuk bermain asmara!
Benar-benar tidak pantas!
Akan tetapi...., apa pedulinya?
Maya mengangkat kedua pundak dan mengusir bayangan kedua orang itu dari dalam kepalanya lalu menyibukkan diri untuk mengatur barisan yang senja itu juga akan diberangkatkan untuk bersama barisan Mancu menghantam pasukan Sung yang dipimpin oleh Jenderal Suma Kiat.
Barisan Mancu sendiri, setelah melihat kehadiran Pangeran Bharigan yang gagah perkasa dan yang kini langsung memimpin mereka sendiri, timbul semangat baru, apalagi ketika mendengar bahwa mereka kini dibantu oleh Pasukan Maut yang sudah amat terkenal dipimpin oleh panglima wanita bersama pembantu-pembantunya yang lihai.
Segera Pangeran Bharigan yang sudah mengadakan kontak dengan Maya, menyusun barisannya dan mengatur siasat yang sesuai dengan petunjuk Maya untuk bersama-sama menyerbu barisan Sung pada malam hari itu.
Bala tentara Sung yang dipimpin oleh Suma Kiat itu memang kuat.
Bukan hanya lengkap peralatan perangnya, akan tetapi juga besar jumlahnya dan dipimpin sendiri oleh Suma Kiat yang bukan saja amat tinggi ilmu silatnya, juga amat pandai mengatur barisan dalam perang.
Apalagi, di sampingnya terdapat pembantu-pembantunya yang lihai, di antaranya yang menjadi pembantu utamanya adalah selir mudanya sendiri, selir cantik jelita yang amat dicintanya, yaitu Bu Ci Goat yang tak pernah terpisah dari sampingnya semenjak dahulu tertangkap basah bermain gila dengan puteranya, Suma Hoat yang kemudian diusirnya.
Bu Ci Goat yang telah mewarisi ilmu kepandaian Suma Kiat, bahkan memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Siangkoan Lee murid tunggal jenderal itu, selain menjadi pembantu utama yang boleh diandaikan juga merupakan satu-satunya yang dapat menghibur dan menyenangkan hati Suma Kiat di mana dan kapan saja.
Selain selir mudanya ini, tentu saja orang ke dua yang dapat ia andalkan adalah muridnya sendiri, Siangkoan Lee yang kini juga merupakan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Semenjak Suma Kiat berhasil mempengaruhi Kaisar untuk mencelakai orang yang amat dibencinya, yaitu Menteri Kam Liong sehingga musuhnya itu tewas bersama muridnya, dikeroyok pasukan pengawal, Suma Kiat merasa hidupnya tidak tenang dan tidak tenteram lagi.
Kebenciannya terhadap Kam Liong yang sesungguhnya masih keluarganya sendiri adalah kebencian yang timbul semenjak dia masih muda, timbul perasaan mengiri dan karena dia selalu mempunyai anggapan bahwa keturunan Suling Emas adalah orang-orang yang selalu memusuhinya dan menghalanginya.
Padahal Suling Emas adalah kakak ibunya sehingga keturunan Suling Emas adalah saudara-saudara misannya sendiri.
Dia tidak pernah mau mengerti bahwa keturunan Suling Emas memusuhi perbuatannya, menentang kejahatannya, bukan pribadinya.
Keturunan Suling Emas adalah orang-orang yang berjiwa pendekar, terutama Menteri Kam Liong, sedangkan dia selalu mengumbar nafsu dan tidak segan melakukan perbuatan yang amat jahat (baca cerita MUTIARA HITAM).
Memang demikianlah keadaan manusia yang belum sadar batinnya, suka sekali untuk dapat mengenal kekurangan pada diri sendiri.
Orang yang belum sadar selalu tinggi hati, terlalu tinggi menghargai diri sendiri, selalu merasa sebagai orang terbaik, terpandai, dan segala sifat baik yaitu diawali "ter"
Lagi karena dia mempunyai perasaan lebih daripada siapa pun di dunia ini.
Mereka paling pandai, paling baik, paling benar karena itu paling patut dianugerahi, paling patut dikasihani, dan lain-lain.
Orang yang belum sadar batinnya selalu mengemukakan kebaikan-kebaikan dirinya sehingga dia menjadi terbiasa dan mabok, tanpa, disadarinya menyeret dia menjadi hamba nafsu keakuannya, pertimbangan akalnya miring dan budinya digelapkan.
Sebaliknya, manusia yang sudah sadar batinnya akan selalu berhati-hati dalam setiap sepak terjangnya, setiap kata-katanya, selalu mawas diri dan meneliti diri pribadi agar setiap perbuatannya tidak akan menyusahkan atau merugikan lain orang hanya demi keuntungan diri sendiri.
Menilai diri sendiri lebih dulu yang dianggap jauh lebih penting daripada menilai diri orang lain dengan kesadaran bahwa sesungguhnya SUMBER SEGALA SESUATU YANG MELANDA DIRI BERADA DI DALAM HATI SENDIRI.
Karena itu, seorang yang sudah sadar batinnya, setiap kali tertimpa sesuatu hal, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, selalu akan menjenguk ke dalam hati sendiri untuk mencari sebab musababnya sebelum mencari sebab-sebab itu di luar dirinya.
Ketika menteri Kam Liong masih ada, Suma Kiat yang menjadi jenderal dan menduduki kursi panglima itu merasa tidak bebas, seolah-olah sepasang mata saudara misannya yang tajam itu selalu mengikuti dan mengawasinya.
Dia selalu beranggapan bahwa kalau Kam Liong sudah dibinasakan, tentu akan merasa senang dan bebas, merasa tidak ada musuhnya lagi.
Akan tetapi, setelah keadaan membantunya, yaitu keadaan yang ditumbulkan oleh hubungan cinta antara Kam Han Ki dan Sung Hong Kwi, sehingga dia berhasil melenyapkan Menteri Kam Liong yang dibencinya, bukan kesenangan dan kebebasan yang didapatnya, melainkan sebaliknya!
Kematian Menteri Kam Liong itu membangkitkan kemarahan di hati banyak pembesar dan terutama di hati orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga Suma Kiat malah dimusuhi banyak orang!
Sudah banyak orang gagah berusaha menjatuhkannya, dan biarpun dengan kepandaian dan kedudukannya, dia berhasil mengalahkan mereka, namun dia selalu merasa tidak tenteram dan tidak aman.
Pemberontakan-pemberontakan yang timbul karena terutama sekali disebabkan oleh kematian Menteri Kam Liong membuat Suma Kiat merasa kepalang untuk mundur, bahkan dia mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan lebih tinggi dan jasa lebih besar di mata Kaisar, maka dia sendiri yang memimpin pasukan untuk membasmi para pesnberontak.
Di dalam melaksanakan tugas ini pun dia selalu didampingi oleh selirnya yang tercinta dan dapat diandalkan, juga oleh muridnya, Siangkoan Lee.
Dengan adanya dua orang pembantu ini, bersama pasukan yang kuat dan besar, dia merasa agak aman sungguhpun dia selalu berhati-hati meneliti para pembantu di kanan kirinya kalau-kalau ada di antara mereka yang menjadi pengagum mendiang Menteri Kam Liong dan merupakan orang berbahaya baginya.
Ketika tiba di perbatasan utara dan bertemu dengan barisan Mancu, tentu saja Suma Kiat segera mengerahkan pasukan-pasukannya dan berhasil memukul mundur barisan Mancu ke utara kembali.
Kemenangan besar itu dirayakan oleh Suma Kiat dengan pesta dan pencatatan pahala bagi para perwira dan tentaranya, dan sehari itu dia sendiri bersenang-senang dengan Bu Cin Goat selirnya tercinta sambil memberi kesempatan kepada pasukan-pasukannya untuk beristirahat.
Namun penjagaan tetap dilakukan dengan ketat dan para penyelidiknya tetap melakukan penyelidikan di sekitar daerah itu untuk mengawasi gerak-gerik musuh.
Tentu saja Suma Kiat yang memandang rendah pasukan Mancu itu tidak tahu bahwa pasukan yang telah dipukul mundur itu sehabis menderita kekalahan dari pasukan-pasukan Yucen, kini bangkit kembali semangatnya karena Pangeran Bharigan telah berada di tengah mereka, apalagi karena pasukan Mancu ini percaya akan kekuatan Pasukan Maut yang dipimpin Panglima Wanita Maya yang membantunya dan telah mengatur siasat untuk menyerbu barisan Sung di malam itu.
Yang didengar oleh Suma Kiat dari para penyelidiknya hanya bahwa pasukan Mancu kini tidak lagi melarikan diri, melainkan menghentikan gerakan mereka lari dan kini agaknya sedang menyusun kekuatan dan membuat perkemahan di lereng bukit.
Mendengar itu Suma Kiat tertawa dan memberi perintah kepada para perwiranya.
"Biarkan mereka hari ini. Kalau kita menyerbu, selain pasukan kita masih lelah juga kedudukan mereka di lereng membuat mereka kuat dan tentu kita akan mengorbankan banyak perajurit. Biarkan perajurit-perajurit kita beristirahat. Tentu mereka malam ini akan melakukan penyerbuan balasan, dan kita akan siap untuk menyambut dan menghancurkan mereka. Ha-ha-ha!"
Setelah memberi perintah, Suma Kiat menggandeng tangan selirnya memasuki kamar.
Setelah menutupkan pintu kamar, langsung ia memeluk, memondong dan menciumi Bu Ci Goat penuh nafsu, membawanya ke pembaringan.
Akan tetapi Ci Goat melepaskan diri dan berkata.
"Musuh menyusun kekuatan dan ada bahaya mereka menyerbu. Mengapa engkau hanya memikirkan senang-senang saja? Ini bukan waktunya untuk kita bersenang-senang."
Suma Kiat memandang selirnya yang muda, merangkulnya dan tertawa.
"Ah, mengapa engkau pusingkan hal itu? Melawan sekelompok anjing Mancu yang sudah kita pukul mundur, apa bahayanya? Biarkan mereka mengira bahwa kita lengah, dan biarkan mereka malam ini menyerbu untuk menemukan maut, seperti sekumpulan nyamuk menerjang api, ha-ha-ha! Ci Goat, engkau semakin manis saja!"
Ia memeluk dan menciumi lagi, dan kini Ci Goat tidak menolak, bahkan membalas dengan belaian yang dapat memabokkan jenderal tua itu.
Akan tetapi, sepasang alis wanita itu agak mengerut, dan dia tidak melayani pencurahan kasih sayang suaminya dengan sepenuh hati, karena hanya tubuhnya saja yang melayani, akan tetapi hati dan pikirannya penuh kecewa dan terbayanglah wajah tampan seorang perwira muda yang sebetulnya selama ini telah direncanakan untuk menjadi temannya melewatkan malam dingin!
Memang, di samping kecerdikan Suma Kiat sebagai seorang panglima perang, dia memiliki kelemahan, dan menghadapi selir mudanya ini, dia seolah-olah buta tidak melihat kenyataan betapa selirnya ini hanya berpura-pura saja puas mempunyai suami yang jauh lebih tua akan tetapi sebenarnya, secara diam-diam dia cerdik, setiap ada kesempatan, Bu Ci Goat selalu mencari teman bersenang-senang melewatkan malam dengan perwira-perwira muda yang jauh lebih muda, tampan dan memuaskan daripada suaminya!
Penyelewengan Bu Ci Goat ini hanya diketahui oleh Siangkoan Lee yang cerdik.
Akan tetapi, orang muda muka buruk seperti kuda ini masih kalah cerdik oleh Bu Ci Goat dalam hal seperti itu.
Dengan modal wajah cantik tubuh menggairahkan, Ci Goat berhasil membuat Siangkoan Lee terpeleset ke dalam pelukannya dan menikmati cinta kasih berahinya!
Hal ini bukan dilakukan oleh Ci Goat karena dia suka kepada Siangkoan Lee, sama sekali bukan.
Mana mungkin seorang wanita hamba nafsu berahi seperti dia tertarik kepada seorang pemuda yang mukanya seperti kuda itu?
Dia sengaja menyerahkan diri kepada Siangkoan Lee karena dia tahu bahwa murid suaminya ini telah mengetahui rahasia penyelewengannya.
Sekali Siangkoan Lee telah diberi kesempatan bermain cinta dengannya, tentu saja pemuda ini tidak lagi berani mencoba untuk membuka rahasianya kepada Suma Kiat, karena dia sendiri merupakan seorang di antara mereka yang berani mencemarkan kehormatan.
Sang Panglima!
Suma Kiat adalah seorang panglima perang yang cerdik, dan juga seorang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Tentu saja dia pun bukan tidak dapat menduga bahwa seorang wanita seperti Ci Goat, yang pernah mengganggu putera tunggalnya sehingga puteranya itu dia usir, akan dapat melayani dia seorang diri tanpa jemu.
Dia menduga bahwa kalau ada kesempatan pasti Ci Goat akan melampiaskan nafsu berahinya yang tak kunjung padam dan puas itu dengan pria-pria muda dan tampan.
Akan tetapi, dia tidak mau peduli asal tidak menyolok di depan matanya!
Memang, seorang pria seperti Suma Kiat yang tak tahu diri, adalah sebodoh-bodohnya orang.
Dia pun menjadi lengah oleh nafsu-nafsunya, tidak tahu bahwa di saat dia bersenang dengan selirnya, ada beberapa orang perwiranya yang mengadakan pertemuan rahasia dan saling berbisik-bisik mengatur rencana.
Mereka itu bukan lain adalah para perwira yang sudah terbujuk oleh tiga orang perwira tinggi, yaitu Ong Ki Bu, Cong Hai dan Kwee Tiang, tiga orang perwira yang dahulu pernah menjadi rekan Khu Tek San.
dan mereka ini diam-diam mendendam atas kematian Menteri Kam Liong dan perwira Khu Tek San.
Mereka itu hanya menanti saat baik, dan mendengar betapa pihak Mancu mengadakan persiapan, diam-diam mereka menanti saat itu untuk mereka pergunakan apabila keadaan memungkinkan.
Kita tinggalkan dulu dua pasukan yang sudah sama-sama bersiap untuk saling serbu itu dan marilah kita mengikuti perjalanan dan pengalaman Suma Hoat yang sudah lama kita tinggalkan.
Di dalam hati orang muda yang tampan wajahnya dan tegap tubuhnya, seorang pria muda yang memiliki segalagalanya untuk dengan mudah menjatuhkan hati setiap orang wanita ini terdapat watak-watak yang saling bertentangan.