Ceritasilat Novel Online

Mutiara Hitam 4

Eps 4 Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo.

"Bukan. Mereka bukan hwesio, tapi.. entah mengapa mereka menjadi orang-orang hukuman di sana, tak pernah mereka mau katakan kepadaku. Akan tetapi, Kwi Lan. Tidak mudah menemui mereka di sana, kalau, ketahuan para hwesio, tentu aku akan ditangkap. Karena itu, kuharap kau suka menanti di dusun ini dan biarlah aku seorang diri pergi menghadap kedua orang Guruku."

Kwi Lan mengajak pemuda itu duduk di tepi jalan, di atas akar pohon yang menonjol keluar.

"Siangkoan Li, keadaan Gurumu itu aneh sekali. Bagaimana kau dapat menjadi muridnya kalau mereka itu orang-orang hukuman di Kuil Lu-liang-pai?"

Setelah berulang-ulang menghela napas, pemuda berwajah muram ini lalu bercerita.

Ia tidak pandai bicara, ceritanya singkat namun menarik perhatian Kwi Lan karena cerita itu amat aneh.

"Terjadinya ketika ayahnya masih hidup. Ayah adalah Ketua Thian-liong-pang yang pada waktu itu masih bernama harum sebagai perkumpulan kaum patriot Hou-han. Ayah mengenal baik dengan para pimpinan hwesio Lu-liang-pai dan pada suatu hari Ayah datang ke Lu-liang-pai mengunjungi mereka. Aku baru berusia tiga belas tahun dan diajak oleh Ayah."

Siangkoan, Li mulai ceritanya yang didengarkan oleh Kwi Lan dengan tertarik.

Kemudian ia melanjutkan.

Sebagai seorang anak kecil berusia tiga belas tahun, Siangkoan Li menjadi bosan mendengar percakapan antara ayahnya dan para pimpinan Lu-liang-pai, maka diam-diam ia menyelinap pergi dan bermain-main di kebun belakang.

Para hwesio dan ayahnya tidak melarangnya karena di kebun belakang memang terdapat taman bunga yang amat indah.

Hawa pegunungan yang sejuk memungkinkan segala macam kembang hidup subur di situ.

Akan tetapi Siangkoan Li ternyata bukan hanya bermain-main di taman bunga, melainkan bermain terus lebih jauh lagi ke sebelah belakang bangunan Kuil Lu-liang-pai.

Dilihatnya sebatang kali kecil di belakang taman, kali yang lebarnya empat meter lebih.

Di seberang kali terdapat tanaman liar dan kali itu tidak dipasangi jembatan.

Dasar Siangkoan Li seorang anak yang ingin sekali mengetahui segalanya dan ia selalu merasa penasaran kalau belum terpenuhi keinginannya, maka biarpun sungai itu terlalu lebar untuk ia lompati, ia segera mendapatkan akal.

Ia tak pandai renang, melompati tak mungkin, akan tetapi ia ingin sekali menyeberang.

Dicarinya sebatang bambu dan dengan bantuan bambu panjang ini yang ia pakai sebagai gala loncatan, sampai jugalah ia, di seberang dengan kaki dan pakaian berlepotan lumpur.

Ia berjalan terus ke atas pegunungan kecil dan setelah tiba di puncak, tiba-tiba tubuhnya menginjak lubang yang tertutup rumput alang-alang.

Tubuhnya terjeblos dan melayang ke bawah.

Dia seorang anak pemberani dan karena ketika terbanting di dasar lubang ia tidak mengalami cedera, juga tidak terlalu nyeri karena dasar lubang juga berlumpur, ia tidak berteriak minta tolong.

Malah di dalam gelap, ia meraba-raba dan terus berjalan maju ketika mendapatkan bahwa lubang itu mempunyai terowongan.

Akhirnya setelah melalui terowongan yang berliku-liku, tibalah ia di ruangan bawah tanah dan melihat dua orang kakek di balik kerangkeng besi.

Dua orang kakek yang bukan seperti manusia lagi.

Mereka itu sudah tua dan pakaian mereka compang-camping penuh tambalan.

Yang seorang berwajah seperti seekor harimau, rambutnya kasar riap-riapan, demikian pula cambang dan kumisnya.

Orang ke dua kurus sekali sehingga kaki dan tangan yang tak terbungkus pakaian itu merupakan tulang tulang terbungkus kulit belaka.

Kepalanya botak, hanya bagian atas telinga dan atas tengkuk saja ditumbuhi rambut panjang.

Akan tetapi jenggotnya, lebat dan panjang.

Keduanya sama tua dan sama liar, dan perbedaan yang mencolok di antara mereka selain rambut itu, juga pada muka mereka.

Si Wajah Harimau itu mukanya merah sekali sedangkan yang botak itu wajahnya pucat seputih tembok.

"Heh-heh, Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), kau bilanglah. Apakah kita sekarang sudah mampus dan berada di neraka berjumpa seorang iblis cilik?"

Si Muka Merah berkata sambil terkekeh-kekeh.

"Huh, sebelum lewat tujuh tahun lagi mana aku mau mati?"

Kata Si Muka Putih dengan nada dingin dan mengejek.

Melihat keadaan mereka dan mendengar kata-kata itu, biarpun Siangkoan Li seorang anak yang pemberani, ia merasa serem juga.

Akan tetapi di balik rasa takutnya terselip rasa kasihan melihat dua orang kakek dikurung macam binatang-binatang buas saja, maka ia memberanikan hati dan menghampiri kerangkeng.

Setelah memandang penuh perhatian dan jelas bahwa dua orang itu benar-benar manusia yang sangat tua, ia lalu bertanya.

"Kakek berdua, siapakah dan mengapa dikerangkeng di sini?"

Dua orang-kakek itu saling pandang, yang muka merah tertawa ha-hah-he-heh sedangkan yang muka putih bersungut-sungut.

"Kau bocah dari mana? Mengapa berani masuk ke sini? Apakah kau kacung Lu-liang-pai?"

Tanya yang muka putih.

Siangkoan Li terkejut.

Suara itu seakan-akan menyusup ke dalam dadanya dan membuat jantungnya berhenti berdetik dan terasa dingin sekali sampai-sampai ia menggigil dan mukanya pucat.

Cepat ia menggeleng kepala.

"Bukan. Aku bernama Siangkoan Li dan bersama Ayahku berkunjung kepada para Losuhu di Lu-Lang-pai. Aku berjalan-jalan sampai ke sini dan terjeblos ke lubang."

Kemudian ia menceritakan siapa ayahnya dan bagaimana ia sampai ke tempat itu.

"Ayahmu Siangkoan Bu Ketua Thian-liong-pang? Ha-ha-ha"

Kakek muka merah itu tiba-tiba bergerak maju dan..

menyusup keluar dari kerangkeng.

Juga kakek muka putih berjalan maju dan tubuhnya menyusup keluar dari kerangkeng dengan amat mudahnya, seakan-akan kerangkeng itu merupakan pintu lebar.

Padahal besi-besi kerangkeng itu amat sempit.

Seorang anak seperti Siangkoan Li saja tak mungkin dapat lolos keluar.

Bagaimana dua orang kakek itu dapat meloloskan diri tanpa banyak susah?

Siangkoan Li adalah putera seorang pangcu (ketua) dan tentu saja sejak kecil ia sudah dilatih silat.

Melihat keadaan ini, sungguhpun ia tidak mengerti dan terheran-heran, namun ia kini sudah tahu bahwa dua orang kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Maka serta-merta ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Harap suka memaafkan teecu yang berani bersikap kurang ajar. Kiranya Jiwi Locianpwe adalah orang-orang sakti. Teecu masuk tidak sengaja, mohon maaf"

Si Muka Merah tertawa tergelak.

"Ha-ha-ha. Apa artinya Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Lepas Tulang Lemaskan Tubuh) seperti itu? Kau putera Siangkoan Bu? Bagus. Eh, bocah, maukah engkau menjadi murid kami?"

Siangkoan Li kaget, dan juga girang sekali.

Sudah seringkali ia mendengar dari ayahnya tentang orang-orang sakti di dunia persilatan dan seringkali mimpi betapa akan senangnya kalau dapat menjadi murid orang-orang sakti.

Kini tanpa disengaja ia berhadapan dengan dua orang sakti yang ingin mengangkatnya menjadi murid.

Ia menjadi girang sekali dan tentu ayahnya juga akan girang kalau mendengar akan hal ini.

Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengangguk-anggukkan kepala.

"Teecu akan merasa girang dan bahagia sekali, Ji-wi Suhu (Guru Berdua)"

"Ang-bin Siauwte (Adik Muka Merah), mudah saja engkau menetapkan dia sebagai murid kita, bagaimana kalau kelak ternyata salah pilih?"

Tegur Si Muka Putih.

"Heh-heh-heh"

Dia ini keturunan seorang patriot dan ketua perkumpulan besar.

Mana bisa salah pilih?

Kalau kelak ternyata dia menyeleweng, apa susahnya kita mengambil nyawanya?

Eh, Siangkoan Li, kau sendiri sudah menetapkan menjadi murid kami.

Seorang murid tak boleh membantah perintah guru.

Mulai detik ini, kau tinggal di sini menemani kami sambil belajar"

Siangkoan Li terkejut sekali.

"Tapi.. tapi.. teecu belum memberitahukan hal ini kepada Ayah.."

Bantahnya dengan muka pucat. Si Muka Putih mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. Si Muka Merah tersenyum lebar.

"Hah, boleh kau coba pergi dari sini. Sebelum keluar dari lubang, nyawamu akan lebih dulu melayang"

Siangkoan Li takut sekali akan tetapi akhirnya ia mengambil keputusan untuk mati hidup mentaati kedua orang gurunya.

Mulai saat itu dia digembleng oleh kedua orang gurunya yang aneh.

Setiap hari dari lubang itu turun makanan yang ternyata dikirim oleh hwesio-hwesio Lu-liang-pai.

"Demikianlah, Kwi Lan. Sampai empat tahun aku dilatih ilmu oleh kedua orang Guruku itu."

Siangkoan Li melanjutkan penuturannya kepada Kwi Lan yang mendengarkan dengan muka amat tertarik.

"Selama itu belum pernah kedua orang, suhu itu memberitahukan nama mereka. Dan ketika aku diperkenankan keluar, yaitu dua tahun yang lalu, aku segera pulang ke Yen-an akan tetapi ternyata Ayah telah meninggal dunia dan Thian-liong-pang telah dipegang oleh Gwakong. Karena aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, Gwakong menjadi pengganti orang tuaku dan aku harus tunduk dan berbakti kepadanya, juga kepada Thian-liong-pang di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimana aku dapat mengkhianati Thian-liong-pang dan bagaimana aku berani melawan Gwakong?"

Kini Kwi Lan mulai mengerti akan keadaan hati Siangkoan Li. Ia menjadi kasihan dan berkata.

"Memang sudah paling tepat kalau engkau menemui kedua orang Gurumu itu untuk minta pertimbangan dan nasihat mereka. Aku berani bertaruh bahwa mereka tentu lebih cocok dengan pendapatku, yakni bahwa kau harus mengumpulkan orang-orang gagah yang telah mengundurkan diri dari Thian-liong-pang, kemudian melakukan pembersihan di perkumpulan itu dan mendirikan kembali Thian-liong-pang yang sudah runtuh nama baiknya itu, Cap-ji-liong harus dibasmi. Kakekmu harus diinsyafkan. Dan selain itu, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang aneh yang menjadi gurumu. Maka aku akan ikut denganmu, Siankoan Li."

"Eh, jangan"

Berbahaya sekali.."

Kwi Lan mencibirkan bibirnya.

"Berbahaya? Kalau kau bisa, kenapa aku tidak mampu? Kita boleh lihat saja"

"Bukan, bukan itu maksudku. Kepandaianmu hebat, tentu saja kau dapat sampai ke tempat itu tanpa diketahui para hwesio Lu-liang-pai. Akan tetapi.. kedua orang Guruku itu wataknya aneh sekali. Siapa tahu mereka akan marah kalau melihatmu."

"Betapa pun anehnya mereka, belum tentu seaneh Guruku. Dan aku tidak takut. Kalau mereka itu begitu gila untuk marah-marah kepadaku tanpa sebab, biarkan mereka marah, aku tidak takut"

Siangkoan Li habis daya.

Berbantahan dengan gadis ini ia merasa tak sanggup menang.

Pula dia telah melakukan hal yang amat hebat, telah berkhianat terhadap Thian-liong-pang, semua gara-gara gadis ini.

Sekarang, kalau mereka berdua akan mengalami malapetaka bersama sekalipun, apalagi yang disesalkan?

Tidak ada paksaan dalam hal ini, semua dilakukan oleh mereka dengan sukarela.

Diam-diam ia malah merasa jantungnya berdebar girang.

Tak salah dugaannya bahwa gadis jelita ini pun suka kepadanya seperti rasa suka di hatinya?

Mencintanya seperti rasa cinta di hatinya?

Dengan ilmu kepandaian mereka, dengan mudah sekali Siangkoan Li dan Kwi Lan melompati tembok yang mengurung Lu-lian-pai dan memasuki daerah mereka itu dari tembok belakang.

Menurut keterangan Siangkoan Li, jalan satu-satunya menuju ke tempat tahanan di bawah tanah itu harus melalui kebun bunga di belakang Kuil Lu-liang-pai.

Berindap-indap mereka berjalan sambil menyusup-nyusup dan bersembunyi di balik pepohonan.

"Siangkoan Li, apakah para hwesio Lu-liang-pai yang menghukum kedua orang gurumu?"

Tanya Kwi Lan ketika mereka menyusup-nyusup di taman bunga.

"Entah, kedua orang Guruku tak pernah mau bercerita tentang diri mereka."

"Kalau benar demikian, tentu hwesio-hwesio Lu-liang-pal lihai luar biasa."

"Memang aku masih ingat cerita Ayah bahwa pimpinan Lu-liang-pai memiliki ilmu tinggi, akan tetapi aku tidak percaya mereka mampu mengalahkan kedua orang Guruku. Buktinya, kalau kedua orang Guruku menghendaki, apa susahnya bagi mereka untuk keluar dari kerangkeng? Agaknya memang sengaja kedua orang Guruku tidak mau keluar."

"Aneh sekali. Benar-benar aneh dan lucu"

Tiba-tiba terdengar desir angin.

Mereka cepat menyelinap di balik serumpun pohon kembang.

Dua batang piauw (senjata rahasia) menyambar di atas kepala mereka.

Dua orang hwesio muda muncul di dekat tempat mereka bersembunyi.

Mereka memandang ke sekeliling dengan pedang siap di tangan.

"Aneh sekali. Bukankah tadi jelas bayangan dua orang itu di tempat ini?"

Kata seorang di antara mereka.

"Benar sekali, Sute (Adik Seperguruan). Agaknya orang-orang jahat yang datang menyelundup. Kau ingat pesan Suhu (Guru)? Tahun ini hukuman dua orang musuh besar kita telah habis, maka Suhu berpesan agar kita semua menjaga dengan hati-hati. Siapa tahu kakek jahat itu masih belum kehilangan kebuasannya dan menjelang habisnya hukuman, teman-temannya yang jahat datang untuk menimbulkan kekacauan. di sini."

"Kau benar, Suheng (Kakak Seperguruan). Kata Suhu mereka itu lihai bukan main. Gerakan dua bayangan tadi pun amat lihai. Jelas piauw kita mengenai sasaran, mengapa mereka tidak roboh malah lenyap seperti setan? Lebih baik kita lekas-lekas melaporkan kepada Suhu agar dapat dikerahkan tenaga untuk mengepung dan mencari mereka"

Mendadak saja kedua orang hwesio itu roboh terguling.

Pedang mereka terlempar dan tubuh mereka lemas dan lumpuh karena jalan darah mereka telah tertotok oleh sambaran dua butir kerikil.

Siapa lagi kalau bukan Siangkoan Li yang melakukan hal ini.

Memang pemuda ini memiliki keahlian menyambit dengan kerikil menotok jalan darah, seperti pernah ia pergunakan untuk membebaskan dan menolong Kwi Lan di dalam guha yang terancam kehormatannya oleh tiga orang anak buah Thian-liong-pang.

Setelah merobohkan dua orang hwesio itu, Siangkoan Li menarik tangan Kwi Lan dan cepat-cepat mengajaknya berlari keluar dari taman itu menuju ke sungai yang melintang di belakang.

"Terpaksa kutotok mereka agar jangan melapor sehingga usahaku menemui kedua Suhuku terhalang."

Kata Siangkoan Li.

Berbeda dengan enam tahun yang lalu ketika Siangkoan Li melompati sungai itu harus dibantu sepotong bambu panjang, kini dengan amat mudahnya ia bersama Kwi Lan melompati sungai yang melintang.

Dengan cepat Siangkoan Li mengajak gadis itu mendaki bukit kecil yang penuh dengan rumpunalang-alang.

Ia khawatir kalau-kalau kedua orang suhunya sudah pergi.

Bukankah dua orang hwesio tadi mengatakan bahwa sekarang ini sudah tiba saatnya, kedua orang suhunya bebas?

Entah hari apa, akan tetapi tentu sekitar hari ini.

Dengan mudah Siangkoan Li mendapatkan sumur yang tertutup alang-alangitu.

Ia memberi isyarat kepada Kwi Lan untuk mengikutinya kemudian ia melompat masuk.

Dengan ilmu meringankan tubuh seperti yang ia kuasai sekarang ini, tentu saja tidak sukar baginya untuk melompat masuk ke dalam sumur itu.

Demikian pula Kwi Lan.

Setelah gadis itu mengikutinya dengan lompatan ringan dan keduanya tiba di dasar sumur, Siangkoan Li lalu menggandeng tangan Kwi Lan dan sambil meraba-raba ke depan ia memasuki terowongan di bawah tanah.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan terowongan dan dari jauh sudah tampak kerangkeng besi itu, tiba-tiba mereka merasai sambaran angin dahsyat dari depan disertai suara maki-makian keras.

Cepat Siangkoan Li menarik tangan Kwi Lan ke bawah dan keduanya lalu bertiarap di atas tanah sambil memandang ke depan.

Kiranya dua orang kakek yang seperti orang tak waras ingatannya itu sudah keluar dari kerangkeng dan kini mereka mencak-mencak seperti dua orang menari-nari.

Akan tetapi luar biasa hebatnya sambaran tangan mereka.

Dinding batu pecah-pecah dan hawa pukulan yang meluncur lewat memasuki terowongan menimbulkan angin hebat.

Tampak kakek muka putih hanya bersungut-sungut dan melotot sambil memukul-mukulkan kedua tangan, akan tetapi kakek muka merah sambil memukul-mukul juga memaki-maki.

Dan mereka berdua itu menujukan pandang mata ke arah Siangkoan Li dan Kwi Lan.

Akan tetapi ternyata maki makiannya bukan ditujukan kepada dua orang muda ini.

"Heh, Bu Kek Siansu, tua bangka menjemukan. Apakah engkau sudah mampus? Kalau sudah mampus kami tantang rohmu agar datang ke sini dan memenuhi janji. Hayo, biar engkau masih hidup ataupun sudah mampus, engkau harus datang menemui kami. Kami Pak-kek Sian-ong (Raja Sakti Kutub Utara) dan Lam-kek Sian-ong (Raja Sakti Kutub Selatan) bukanlah orang-orang yang tidak pegang janji dan takut padamu. Lima belas tahun sudah menebus kekalahan dengan berdiam di neraka ini, hanya untuk menunggu kedatanganmu. Hari ini tepat lima belas tahun. Hayo muncullah orangnya atau rohnya untuk mengadu kepandaian. Apakah engkau takut, Bu Kek Siansu?"

Suara kakek yang bernama Lam-kek Sian-ong ini hebat sekali, membuat seluruh terowongan tergetar, bahkan Kwi Lan dan Siangkoan Li yang bertiarap di lantai terowongan itu merasa betapa lantai tergetar hebat.

Kini mengertilah mereka bahwa dua orang kakek itu bukan marah-marah kepada mereka berdua, dan mungkin tidak melihat kedatangan mereka karena mereka berdua datang dari tempat gelap sedangkan tempat kedua orang kakek itu terang, menerima cahaya matahari yang menerobos masuk dari lubang dan celah-celah di atas.

Kehebatan gerakan dan suara kedua orang kakek sakti itu benar-benar mengejutkan mereka dan membuat mereka tak berani sembarangan bergerak-gerak.

Bahkan Kwi Lan yang tak kenal takut juga kini maklum betapa saktinya dua orang guru Siangkoan Li ini.

Akan tetapi mereka bingung tidak mengerti mengapa ke dua orang kakek itu menantang seorang lawan yang tidak tampak?

Siapakah itu Bu Kek Siansu yang mereka tantang?

Nama Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, pada puluhan tahun yang lalu adalah nama-nama yang amat terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti yang luar biasa.

Kedua orang kakek ini memang aneh sepak terjangnya.

Bahkan dengan dua orang saja mereka pernah membikin geger Kerajaan Khitan dengan membunuh Raja Khitan, yaitu Raja Kubakan dengan niat merampas kerajaan.

Akan tetapi maksud hati mereka itu gagal karena mereka dihalangi oleh Suling Emas, Kam Lin atau Yalina yang kini menjadi Ratu di Khitan, dan banyak orang gagah.

Kalau tidak di keroyok, agaknya dua orang kakek ini akan tercapai niat hatinya menjadi sepasang raja di Khitan.

Tidak ada orang di dunia ini yang mereka takuti kecuali seorang, yaitu Bu kek Siansu.

Siapakah Bu kek Siansu?

Jarang ada orang pernah bertemu dengan manusia setengah dewa ini, walaupun namanya menjadi kembang bibir semua tokoh dunia kang-ouw.

Diantara para pendekar terdapat kepercayaan bahwa siapa yang dapat bertemu dengan Bu Kek Siansu adalah orang yang bernasib baik sekali karena kabarnya kakek setengah dewa itu amat murah hati dan tak pernah menolak permintaan seorang untuk minta petunjuk dalam ilmu silat.

Akan tetapi juga menjadi kepercayaan semua tokoh dunia hitam bahwa bertemu Bu Kek Siansu merupakan hal yang mencelakakan, karena kakek sakti itu tidak terlawan oleh siapapun juga.

Bu Kek Siansu tidak mempunyai tempat tinggal tertentu atau lebih tepat, tak seorangpun tahu dimana adanya kakek setengah dewa ini yang sewaktu-waktu muncul pada saat yang tak disangka-sangka.

Lima belas tahun yang lalu, setelah Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong terusir dari Khitan oleh Suling Emas dan kawan-kawannya (baca cerita CINTA BERNODA DARAH ).

sepasang kakek sakti ini tiba di Luliang-san.

Melihat keadaan bukit ini, mereka suka sekali dan timbul keinginan hati mereka untuk merampas kuil dan mengangkat diri mereka sendiri menjadi pemimpin Lu-liang-pai.

Tentu saja niat buruk ini ditentang oleh para hwesio Luliang-san dan akibatnya, ketua Lu-liang-pai berikut beberapa tokohnya tewas di tangan Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong.

Dua orang kakek ini tentu akan menyebar maut lebih banyak lagi kalau tidak secara tiba-tiba muncul Bu Kek Siansu.

Sekali menggerakkan tangan, kakek setengah dewa ini membuat mereka berdua lumpuh tak dapat berdiri.

Kemudian setelah memberi wejangan, Bu Kek Siansu membuat mereka berjanji untuk menjalani hukuman di dalam kerangkeng di bawah tanah di belakang Lu-liang-pai untuk menebus dosa.

Hari itu tepat sekali lima belas tahun telah lewat, yaitu masa hukuman mereka seperti yang ditentukan dalam janji mereka dengan Bu Kek Siansu.

Maka itu mereka lalu memanggil-manggil dan memaki-maki karena menganggap Bu Kek Siansu tidak memegang janji.

"Hayo, Bu Kek Siansu, benarkah kau tidak berani muncul? Apakah Bu Kek Siansu seorang pengecut?"

Kini terdengar Pak-kek Sian-ong berseru, dan berbeda dengan suara Lam-kek Sian-ong yang nyaring keras menimbulkan hawa panas, adalah suara kakek ini dalam namun menimbulkan hawa dingin yang mengerikan.

Tiba-tiba terdengar suara yang-khim (kecapi) yang merdu sekali.

Suara ini memasuki terowongan itu di luar, suaranya halus dan merdu perlahan-lahan namun amat jelas terdengar.

Kwi Lan dan Siangkoan Li yang masih bertiarap mendengar suara ini menjadi tenang hatinya.

Rasa ngeri dan takut terusir lenyap, namun mereka masih bersikap hati-hati, tidak berani bangkit dan masih bertiarap sambil menanti perkembangan keadaan yang menenangkan itu.

"Heh-heh-heh, engkau benar datang, Bu Kek Siansu?"

Kata Lam-kek Sian-ong.

"Hoh, ke sinilah biar kami dapat menebus penderitaan lima belas tahun dengan kematianmu, tua bangka"

Kata pula Pak-kek Sian-ong.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara yang-khim makin jelas dan pengaruhnya juga makin besar, mendatangkan rasa tenang dan damai sehingga maki-makian kedua orang kakek itu makin lama makin mereda dan akhirnya mereka pun seperti Siangkoan Li dan Kwi Lan mendengarkan suara yang-khim penuh perhatian dan seakan-akan juga menikmati suara yang-khim itu yang berlagu merdu.

Kini suara yang-khim makin lama makin lambat dan lirih sampai akhirnya berhenti sama sekali.

Namun, seakan-akan oleh mereka terdengar gema suaranya memenuhi telinga, dan suasana tenang damai dan tenteram masih terasa menyelubungi hati.

"Siancai, siancai (damai, damai).., Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, aku girang sekali melihat Ji-wi (Kalian) memegang teguh perjanjian. Kerbau diikat hidungnya, manusia diikat janjinya. Itulah yang membedakan manusia daripada kerbau.."

Suara ini halus lembut, ramah dan menyenangkan.

Seperti juga suara yang-khim tadi, suara orang ini memasuki terowongan dan terdengar di mana-mana.

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang masih tiarap, tiba-tiba mendengar desir angin lewat di atas kepala mereka.

Maklumlah mereka berdua bahwa seorang yang luar biasa saktinya lewat di atas mereka memasuki terowongan itu.

Benar saja dugaan mereka karena tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek tua sekali rambut dan jenggotnya sudah putih semua, halus seperti benang sutera, pakaiannya juga putih dan sebuah yang-khim berada di punggungnya.

Melihat datangnya kakek ini, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sudah memasang kuda-kuda dan bersikap menyerang.

Akan tetapi kakek yang baru datang itu, yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu sendiri mengangkat kedua tangannya ke atas dan aneh sekali, sikap hendak menyerang itu urung dengan sendirinya.

"Dengarlah, sahabat berdua. Kita ini, kakek-kakek yang sudah amat tua, mengapa harus bertanding menjadi tontonan dan bahan tertawaan? Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, Ji-wi tinggal sampai lima belas tahun di tempat ini, sungguh merupakan kenyataan yang mengagumkan, tanda bahwa Ji-wi benar-benar tahan uji. Lima belas tahun bukan hukuman, melainkan tempaan dan gemblengan sehingga aku percaya bahwa kini Ji-wi telah memperoleh hasil yang amat berharga."

"Bu Kek Siansu, sejak dahulu engkau pandai bicara manis. Lima belas tahun yang lalu kami kalah olehmu dan kami menyiksa diri selama itu di sini. Boleh jadi kami tidak peduli tentang baik dan jahat, akan tetapi kami bukan pengecut yang bisa pegang janji. Kami sengaja berlatih lima belas tahun untuk menanti hari ini, saatnya kami bertemu denganmu untuk mengulang lagi pertandingan lima belas tahun yang lalu"

Kata Lam-kek Sian-ong dengan mata mendelik.

"Tidak peduli baik atau jahat, tak perlu banyak cakap lagi. Bu Kek Siansu, hayo lawan kami"

Kata pula Pak-kek Sian-ong yang sudah merendahkan tubuh dan menekuk kedua lututnya memasang kuda-kuda yang aneh dan lucu.

Bu Kek Siansu mengelus-elus jenggot dan tersenyum ramah.

"Orang-orang yang berlepotan lumpur kotor akan tetapi menyadari akan kekotorannya lalu mandi dan tidak bermain lumpur lagi, bukankah hal itu amat menyenangkan? Orang-orang yang bermain lumpur akan tetapi tidak sadar akan kekotorannya akan tetapi tidak mau membersihkan diri dan menginsyafi kekeliruannya, bukankah hal itu amat bodoh dan patut disesalkan?"

Pak-kek Sian-ong bertukar pandang dengan Lam-kek Sian-ong, kemudian Si Muka Merah itu tertawa.

"Ha-ha, Bu Kek Siansu. kami sudah kapok berkecimpung di dunia ramai melakukan kejahatan. Akan tetapi kami belum kapok untuk mencoba kepandaian, tidak takut untuk mengulangi kekalahan lima belas tahun yang lalu"

"Hendak kami lihat apakah benar-benar Bu Kek Siansu seorang manusia tanpa tanding di jagad ini"

Kata Pak-kek Sian-ong penasaran.

"Siancai.. Siancai.. mengapa Ji-wi tidak melihat bahwa hal itu sama sekali tidak ada gunanya? Apakah untungnya dunia kalau kakek-kakek macam kita ini bertanding? Harap Ji-wi ketahui, semenjak Thian-te Liok-kwi (Enam Iblis Bumi Langit) tidak ada lagi, dunia bukan makin aman, bahkan kini muncul tokoh-tokoh baru menggantikan kedudukan mereka. Tokoh-tokoh hitam akan mengadakan pertemuan dan sekali mereka itu bersatu padu, bukankah perikemanusiaan terancam bahaya hebat? Ji-wi, segala apa di dunia ini diciptakan demi kebaikan. Semua ada kegunaannya. Matahari memberi cahaya kehidupan. Tanah memberi kesuburan. Air memberi zat kehidupan. Tetanaman memberi zat makanan. Ji-wi yang telah dikurniai kepandaian tinggi, layaknya kalau tidak digunakan untuk sesuatu kebaikan? Kalau begitu, apa artinya Ji-wi hidup dan lebih-lebih lagi, apa gunanya Ji-wi puluhan tahun mempelajari ilmu kalau hanya untuk main-main dengan aku seorang tua bangka? Harap Ji-wi suka insyaf."

"Heh, Bu Kek Siansu. Manusia tidak lepas dari pada nafsu dan pada saat sekarang ini, nafsu kami satu-satunya mendorong kami untuk mencari kepuasan membalas kekalahan kami lima belas tahun yang lalu."

"Benar kata-kata Ang-bin Siauwte."

Kata Si Muka Putih.

"Yang lain-lain perkara kecil, kami akan menurut selanjutnya kalau kami kalah lagi."

Bu Kek Siansu menarik napas panjang.

"Aku sudah terlalu lama membuang nafsu mencari menang. Sekarang begini saja, Ji-wi boleh memukulku sesuka hati. Kalau tewas oleh pukulan Ji-wi, berarti aku kalah dan terserah kepada Ji-wi apa yang selanjutnya akan Ji-wi lakukan. Akan tetapi kalau pukulan-pukulan Ji-wi tidak membuat aku mati karena maut masih segan-segan menjemput tua bangka macam aku, harap Ji-wi menerima kalah dan sukalah melakukan usaha menentang munculnya tokoh-tokoh iblis yang kumaksudkan tadi."

Kembali dua orang kakek itu saling pandang.

Betapapun juga, mereka masih merasa gentar menghadapi manusia setengah dewa itu.

Biarpun mereka selama lima belas tahun ini menggembleng diri di dalam kurungan, namun mereka maklum bahwa Bu Kek Siansu memiliki kesaktian yang sukar diukur bagaimana tingginya.

Kini mendengar usul Bu Kek Siansu, mereka menjadi lega dan tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini.

Mereka sekali-kali bukan membenci Bu Kek Siansu dan ingin membunuhnya.

Melainkan mereka haus akan kemenangan.

Apapun juga caranya, kalau mereka sudah dianggap menang, akan puaslah hatinya.

Apalagi kalau kemenangan ini disahkan dengan terjatuhnya Bu Kek Siansu, si manusia dewa di bawah tangan mereka.

"Baik, aku akan memukulmu tiga kali Bu Kek Siansu"

Kata Si Muka Merah.

"Aku pun memukul tiga kali"

Kata pula Pak-kek Sian-ong.

"Terserah, tiga kali juga baik."

Kata Bu Kek Siansu tenang.

"Kau tidak boleh menangkis"

Kata pula Lam-kek Sian-ong.

"Dan tidak boleh mengelak"

Sambung Pek-kek Sian-ong.

"Baik, aku tidak akan menangkis dan mengelak. Akan kuterima masing-masing tiga kali pukulan Ji-wi."

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang semenjak tadi bertiarap dan menyaksikan serta mendengar semua ini, menjadi kaget sekali.

Dua orang kakek itu luar biasa lihainya.

Baru angin pukulan mereka saja tadi sudah menghancurkan batu.

Bagaimana sekarang kakek yang sudah amat tua itu dapat tahan menerima tiga kali pukulan dari masing-masing kakek itu, jadi enam kali pukulan tanpa mengelak maupun menangkis?

Kwi Lan bangkit duduk saking tertarik menyaksikan keanehan ini.

Juga Siangkoan Li sudah duduk di dekatnya sambil memandang ke dalam dengan kening berkerut.

Di dalam hatinya ia merasa menyesal sekali mengapa kedua orang gurunya yang dianggap orang-orang sakti itu kini hendak berlaku demikian licik dan curang terhadap seorang kakek yang kelihatan halus dan lemah itu.

Ia sangat kagum ketika mendengar ucapan Bu Kek Siansu, bahkan ucapan-ucapan itu secara tidak langsung menikam hatinya karena amat cocok dengan keadaan dirinya sendiri.

Mendengar ucapan kakek itu tadi, mulailah ia dapat melihat anjuran Kwi Lan.

Ia semenjak kecil hidup di lingkungan kotor dan hitam bergelimang di dunia kejahatan.

Setelah ia sadar akan hal ini, mengapa ia tidak mau mencuci diri membersihkan dari kotoran, kemudian melakukan kebajikan-kebajikan yang berlawanan dengan kejahatan?

Mengenai Thian-liong-pang yang sudah terlanjur kotor, tepat seperti yang dianjurkan Kwi Lan, sebaiknya ia turun tangan membersihkannya.

Dengan begini barulah ia menebus dosa kakeknya dan dengan begini barulah ia berbakti kepada almarhum ayahnya.

Lam-kek Sian-ong sudah menghampiri Bu Kek Siansu, mengambil napas dalam, mengerahkan tenaga lalu memukul ke arah dada Bu Kek Siansu yang berdiri tenang-tenang saja.

Angin pukulan dahsyat menyambar.

"Desss.."

Tubuh Bu Kek Siansu bergoyang-goyang ke belakang depan dan benar-benar kakek ini telah menerima pukulan tanpa menangkis maupun mengelak.

Pukulan yang amat keras dan menggeledek.

"Ang-bin Siauwte, bergantian"

Teriak Pak-kek Sian-ong sambil melompat maju.

Lam-kek Sian-ong mengangguk sambil meramkan mata dan mengatur pernapasan.

Ia tahu akan akal saudaranya.

Jika ia harus memukul terus sampai tiga kali, karena setiap pukulan memakan tenaga dalamnya, makin lama pukulannya makin lemah, juga ada kemungkinan ia sendiri menderita luka dalam.

Dengan bergantian, ia mendapat kesempatan memulihkan tenaga.

Diam-diam ia kagum sekali.

Setelah lima belas tahun, pukulannya amat hebat karena setiap hari ia latih.

Akan tetapi tadi mengenai dada Bu Kek Siansu, ia merasa seperti memukul sekarung kapas, tenaganya amblas kemudian membalik.

Sungguh hebat.

Dengan tubuh agak direndahkan, Pak-kek Sian-ong kini melancarkan pukulan pertama.

Berbeda dengan Lam-kek Sianong yang memukul dengan menggunakan kekerasan dan tenaga Yang-kang, kakek bermuka pucat ini memukul dengan jari-jari terbuka dan mengerahkan tenaga Imkang.

"Cesss.."

Kembali tubuh Bu Kek Siansu tergetar bahkan terhuyung tiga langkah ke belakang.

Muka kakek ini pucat sekali, namun matanya masih bersinar tenang dan penuh damai sedangkan mulutnya tersenyum ramah.

Betapapun juga, jelas tampak oleh Kwi Lan dan Siangkoan Li betapa dua kali pukulan itu luar biasa hebatnya dan mungkin sekali kakek tua renta itu sudah menderita luka dalam yang hebat.

Seperti juga Lam-kek Sian-ong, kakek muka putih itu kagum bukan main.

Ia telah mengerahkan seluruh tenaganya dalam pukulan pertama ini, akan tetapi pukulannya yang tepat mengenai ulu hati Bu Kek Siansu tadi seperti bertemu dengan segumpal baja yang amat keras.

Cepat-cepat ia pun mejamkan mata mengumpulkan tenaga dan mengatur pernapasannya.

Ketika Lam-kek Sian-ong melangkah maju hendak melakukan pukulan ke dua, tiba-tiba lengannya ditarik Pak-kek Sian-ong yang memberi tanda kedipan dengan mata.

Lam-kek Sian-ong maklum dan kini majulah mereka berdua, menghampiri Bu Kek Siansu.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, dua orang kakek ini telah bersepakat untuk melakukan pemukulan ke dua secara berbareng dan dapat dibayangkan betapa berbahaya pukulan kedua orang ini jika dilakukan berbareng.

Lam-kek Sian-ong adalah seorang ahli dalam penggunaan tenaga panas, sedangkan sebaliknya Pak-kek Sian-ong adalah ahli mempergunakan tenaga dingin.

Jika sekaligus menghadapi dua pukulan yang berlawanan sifatnya, bagaimana tubuh dapat mengatur dua macam tenaga sakti yang saling berlawanan untuk menghadapi dua pukulan itu?

Mustahil kalau seorang sakti seperti Bu Kek Siansu tidak mengerti soal itu.

Akan tetapi buktinya, kakek itu hanya tersenyum saja dan masih tenang, sedikit pun tidak menegur ketika dua orang itu menghampirinya untuk melakukan pemukulan kedua secara berbareng.

Kwi Lan dan Siangkoan Li memandang dengan muka pucat dan penuh kekhawatiran.

Dua orang muda ini merasa pasti bahwa kali ini kakek tua renta itu tentu akan terpukul mati.

"Bresss.."

Hebat bukan main pukulan yang dilakukan berbareng itu.

Kepalan tangan Lam-kek Sian-ong menghantam dada sedangkan jari-jari tangan Pak-kek Sian-ong menampar lambung dalam saat berbareng.

Tubuh Bu Kek Siansu terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, lalu punggungnya menubruk dinding batu.

Terdengar suara keras dan yang-khim di punggungnya ternyata telah remuk.

Akan tetapi kakek ini tidak roboh binasa, melainkan maju lagi dengan agak terhuyung-huyung.

Setelah ia maju, baru tampak yang-khimnya jatuh dalam keadaan hancur sedangkan dinding batu di mana ia (Lanjut ke

Jilid 09) Mutiara Hitam (Seri ke 04

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 terbanting tadi kini kelihatan amblas ke dalam dan tercetaklah bentuk tubuh kakek itu pada dinding batu.

Senyum itu masih belum meninggalkan bibir, akan tetapi matanya dipejamkan dan dari kedua bibirnya mengalir darah yang menetes-netes melalui jenggot putih yang panjang.

Dua orang kakek itu saling pandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

Dari ubun-ubun kepala mereka tampak keluar uap putih yang tebal.

Ini tandanya bahwa mereka telah mempergunakan tenaga dalam yang amat kuat.

Dada mereka terasa sakit dan tahulah mereka bahwa pukulan ke dua tadi telah melukai mereka sendiri.

Akan tetapi melihat keadaan Bu Kek Siansu, mereka menduga bahwa lawannya itu pun telah terluka.

Pukulan terakhir tentu akan merobohkan Bu Kek Siansu dan..

mungkin juga menyeret mereka berdua ke lubang kuburan.

Betapapun juga, mereka merasa penasaran sekali dan hendak berlaku nekat.

Pukulan ke tiga sudah siap mereka lakukan dan mereka sudah menghampiri Bu Kek Siansu yang berdiri dengan tubuh menggetar akan tetapi mulut tersenyum dan muka tenang.

Akan tetapi tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat.

Mereka ini adalah Kwi Lan dan Siangkoan Li.

Pemuda itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan kedua gurunya sambil berseru.

"Harap Suhu berdua jangan melakukan pemukulan lagi.."

Akan tetapi Kwi Lan sudah berdiri di depan dua orang kakek itu sambil menudingkan telunjuknya dan berkata.

"Kalian ini dua orang tua benar-benar tidak mengenal malu sama sekali"

Mana ada aturan memukul seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melawan?

Coba kalian yang tidak melawan kupukuli apakah kalian juga mau?

Kegagahan macam apa yang kalian perlihatkan ini?"

Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sianong terkejut.

Mereka tidak mengira bahwa semua yang terjadi itu telah disaksikan orang lain.

Marahlah mereka ketika melihat bahwa murid mereka berani mencampuri urusan ini bahkan berani pula mengajak datang seorang gadis yang begitu galak dan berani memaki-maki mereka.

Pada saat itu mereka berdua sudah bergandeng tangan.

Tangan kiri Lam-kek Sian-ong berpegang pada tangan kanan Pak-kek Sian-ong.

Mereka berniat untuk melakukan pukulan terakhir dengan menggabungkan tenaga, maka tadi mereka saling berpegang telapak tangan.

Kini melihat munculnya Kwi Lan dan Siangkoan Li, dalam kemarahan mereka itu mereka lalu menggerakkan tangan memukul ke depan, ke arah dua orang muda yang menghalang di jalan.

"Pergilah kalian"

Bentak Lam-kek Sian-ong.

Kwi Lan dan Siangkoan Li terkejut sekali ketika merasa ada angin pukulan dahsyat menyambar.

Mereka dapat mengerahkan tenaga hendak menangkis atau mengelak, akan tetapi aneh luar biasa.

Angin pukulan dari depan itu seakan-akan mengunci jalan keluar, bahkan ketika mereka mengerahkan tenaga, mereka mendapat kenyataan bahwa tenaga itu tak dapat mereka salurkan.

Ternyata bahwa pukulan itu sebelum tiba di tubuh lebih dulu pengaruhnya telah membuat mereka seperti dalam keadaan tertotok.

Benar-benar, pukulan yang amat aneh dan lihai.

Dengan mata terbelalak mereka menanti datangnya maut, karena sekali pukulan kedua orang kakek itu menyentuh tubuh mereka, tentu maut akan datang merenggut nyawa.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka merasa ada tangan menyentuh punggung mereka.

Tangan yang halus dan hangat, merapat di punggung mereka pada saat pukulan tiba.

Dan, sebelum tangan kedua orang kakek itu menyentuh kulit tubuh mereka, hawa pukulan itu membalik dan kedua kakek itu berseru keras lalu roboh terjengkang.

"Minggirlah, anak-anak"

Terdengar bisikan dari belakang dan Kwi Lan berdua Siangkoan Li merasa betapa tubuh mereka terdorong ke pinggir tanpa dapat mereka lawan.

Tahulah mereka bahwa nyawa mereka telah ditolong Bu Kek Siansu dan diam-diam mereka kagum bukan main.

Kini karena yakin akan kelihaian dua orang kakek itu.

Kwi Lan tak berani berlagak lagi, hanya memandang ke depan.

Kedua orang kakek itu sudah meloncat bangun lagi dan memandang kepada Bu Kek Siansu dengan mata terbelalak heran dan kagum.

Gebrakan tadi jelas membuktikan bahwa mereka berdua, sampai sekarang pun sama sekali bukan tandingan kakek setengah dewa ini.

Mulailah terbuka mata mereka dan mulailah mereka menyesal mengapa sejak dahulu mereka terlalu mengagungkan dan mengandalkan kepandaian sendiri.

Sinar mata mereka mulai melunak, tidak seliar biasanya dan hal ini tidak terluput dari pandangan mata Bu Kek Siansu yang amat waspada.

Sambil melangkah maju dan tersenyum, kakek sakti ini berkata.

"Perjanjian harus dipegang teguh. Kalian berdua baru memukul dua kali, masih ada satu kali lagi."

Dua orang kakek itu makin pucat.

Mereka maklum bahwa dua kali pukulan mereka tadi sama sekali tidak melukai kakek sakti itu, sungguhpun pengerahan tenaga dalam yang luar biasa membuat darah bertitik keluar dari mulutnya.

Kalau sekali lagi memukul, mungkin mereka sendiri yang akan tewas.

Menyaksikan keraguan mereka, Bu kek Siansu berkata lagi.

"Mengapa Ji-wi ragu-ragu? Adakah Ji-wi merasa menyesal? Baru saja ada orang-orang muda yang memberi contoh kepada Ji-wi. Biarpun kepandaian mereka jauh di bawah tingkat Ji-wi, namun tanpa merasa takut mereka berusaha membelaku. Melepas budi kebajikan tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, alangkah besar jasa yang diperbuat selagi hidup. Hayolah, aku masih hutang sebuah pukulan dari kalian berdua."

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong masih saling bergandengan tangan. Mereka kini melangkah maju dan Lamkek Sian-ong berkata.

"Masih sekali pukulan lagi, Bu Kek Siansu, dan kalau engkau dapat bertahan serta aku tidak mampus, biarlah aku bersumpah akan mentaati semua pesanmu"

"Benar, sudah sepatutnya dan sudah tiba saatnya kami melihat kebodohan sendiri"

Kata pula Pak-kek Sian-ong.

Kemudian sambil bergandeng tangan kedua orang itu menghantamkan tangan mereka ke arah dada Bu Kek Siansu.

Mereka maklum bahwa kalau kakek sakti ini menggunakan tenaga untuk memukul kembali pukulan mereka, tentu mereka takkan kuat bertahan, terpukul oleh hawa pukulan sendiri dan isi dada mereka yang sudah terluka akan terguncang merenggut nyawa.

"Dukkk.."

Dua orang itu mengeluarkan pekik kaget.

Ternyata kali ini Bu Kek Siansu menerima pukulan hebat itu dengan tubuhnya tanpa pengerahan tenaga sama sekali.

Kakek itu telah mengorbankan diri demi keselamatan mereka berdua.

Mereka melihat betapa tubuh Bu Kek Siansu mencelat ke belakang lalu jatuh terduduk, bersila dan tubuhnya masih bergoyang-goyang.

Dari mata, hidung, mulut, dan telinga mengalir darah segar.

Dua orang kakek itu menjerit dan menubruk, menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Kek Siansu.

Baru sekarang mereka mengenal rasa terharu.

Kakek ini yang mereka pukul tanpa melawan, begitu saja membiarkan dirinya terluka hebat untuk menyelamatkan mereka berdua.

Di mana ada budi kebajikan yang sebesar ini?

Bu Kek Siansu membuka matanya, tersenyum ketika melihat wajah mereka berdua.

"Siancai.. siancai.. legalah hatiku sekarang.. kejahatan yang merajalela di dunia akan menghadapi lawan berat.."

"Siansu, mengapa mengorbankan diri untuk kami?"

Lam-kek Sian-ong yang masih terheran itu bertanya.

"Siansu, kami bersumpah akan mentaati pesanmu sampai mati"

Kata pula Pak-kek Sian-ong.

"Anak-anak yang baik,"

Kata Bu Kek Siansu, seakan-akan dua orang kakek itu adalah dua orang anak-anak kecil saja.

"Tidak ada pengorbanan apa-apa. Yang keras kalah oleh yang lunak, itu sudah sewajarnya. Yang lenyap diganti oleh yang muncul, yang mati diganti oleh yang lahir. Apa bedanya? Paling penting, mengenal diri sendiri termasuk kelemahan-kelemahan dan kebodohan-kebodohannya, sadar insyaf dan kembali kejalan benar. Yang lain-lain tidaklah penting lagi. Selamat berpisah."

Setelah berkata demikian, ia bangkit berdiri lalu berjalan terhuyung-huyung keluar dari dalam terowongan itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.

Sungguh aneh bin ajaib.

Dua orang kakek yang biasanya liar itu kini menangis terisak-isak.

Lam-kek Sian-ong Si Muka Merah itu menangis sesenggukan sambil duduk dan menyembunyikan mukanya di antara kedua paha yang diangkat naik.

Adapun Pak-kek Sian-ong yang bermuka pucat itu berdiri memegangi kerangkeng dan terisak-isak tanpa mengeluarkan air mata.

Kalau saja Kwi Lan tidak menyaksikan semua peristiwa tadi, tentu ia akan tertawa bergelak saking geli hatinya.

Namun peristiwa tadi sungguh menenangkan hatinya dan kini ia hanya memandang dengan penuh keheranan.

Siangkoan Li segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu.

"Ji-wi Suhu, teecu Siangkoan Li datang menghadap Suhu.."

Mendadak Pak-kek Sian-ong membalikkan tubuh menoleh lalu membentak.

"Aku tidak mempunyai murid macam engkau."

Kaget sekali hati Siangkoan Li, juga ia menjadi berduka.

"Suhu, harap maafkan teecu. Teecu datang menghadap mohon nasihat Ji-wi Suhu. Ayah dan Ibu telah meninggal. Thian-liong-pang menjadi perkumpulan jahat akan tetapi di sana ada Gwakong. Apakah yang teecu harus lakukan..?"

Kini Lam-kek Sian-ong yang membalikkan tubuh dan menoleh.

Ia masih duduk di atas lantai dan mukanya makin merah ketika ia membelalakkan mata menghardik.

"Engkau orang jahat. Engkau tokoh Thian-liong-pang yang menjemukan. Pergi.. dan bawa pergi perempuan liar ini keluar dari sini"

"Cukup. Engkau membiarkan bangunan yang dengan susah payah didirikan Ayahmu menjadi runtuh berantakan. Kau kira kami tidak mengetahui sepak terjangmu? Kami tidak sudi mempunyai murid macam engkau"

Kata Pak-kek Sian-ong.

"Heh-heh, barangkali orang muda ini datang untuk memamerkan kekasihnya itu, dan minta persetujuan kita untuk menikah dengannya. Ha-ha, Pek-bin Twako, kau bikin dua orang muda ini kecewa saja"

Si Muka Merah mengejek.

Sambutan dan sikap kedua orang gurunya ini merupakan pukulan hebat bagi Siangkoan Li.

Tadinya ia menggantungkan harapannya kepada dua orang tua itu.

Siapa kira, dia sendiri menjadi saksi betapa kedua orang suhunya ini dahulu ternyata juga bukan orang baik-baik sehingga ditundukkan dan dihukum Bu Kek Siansu.

Kemudian ditambah lagi sikap mereka yang tidak mengakuinya sebagai murid, lebih dari itu lagi, mengejek dan menghina Kwi Lan.

Wajah pemuda ini menjadi pucat, layu dan sinar matanya sayu seperti orang kehilangan semangat.

Ia masih berlutut dan mengangkat mukanya yang pucat memandang kepada dua orang kakek itu mohon dikasihani.

Akan tetapi kedua orang gurunya sama sekali tidak menaruh kasihan.

Si Muka Pucat berdiri dengan muka merah.

Si Muka Merah duduk dengan mulut menyeringai dan mengejek.

Kwi Lan memang sejak tadi sudah merasa tidak suka kepada dua orang kakek jembel itu.

Ketika mereka melakukan pemukulan-pemukulan kepada Bu Kek Siansu, ia telah merasa kecewa dan tidak suka kepada dua orang guru Siangkoan Li.

Akan tetapi di samping perasaan ini ia pun maklum bahwa ilmu kepandaian kedua orang kakek itu benar hebat luar biasa.

Karena itu ia menjadi segan juga dan tidak berani menyatakan perasaannya ketika ia tadi terlempar oleh hawa pukulan mereka.

Kini, melihat betapa Siangkoan Li dihina sehingga pemuda ini kelihatan begitu kecewa dan bersedih bukan main, kemarahannya tak tertahankan lagi.

Ia melompat maju dan memaki.

"Kalian ini tua bangka benar-benar menjemukan sekali. Dahulu Siangkoan Li menjadi murid kalian adalah atas kehendak kalian sendiri, bukan dia yang minta-minta mengemis kepada kalian. Sekarang, jauh-jauh Siangkoan Li dengan hati berat datang menghadap minta nasihat, akan tetapi kalian malah memaki-maki dan tidak mengakuinya. Manusia-manusia macam apa kalian ini?"

Ia lalu memegang lengan Siangkoan Li, ditariknya pemuda itu bangun dari berlutut, digandengnya dan ditarik-tariknya agar pergi dari situ sambil membujuk.

"Sudahlah, Siangkoan Li. Mulai saat ini jangan kau mengandalkan dan menyandarkan pendirianmu kepada orang-orang lain. Belajarlah dewasa dan hidup mengandalkan diri sendiri. Untuk apa minta-minta kepada mereka yang tidak punya apa-apa ini? Untuk apa minta penerangan kepada orang yang berada dalam kegelapan? Salah benar diputuskan sendiri, akibatnya susah senang pun ditanggung sendiri. Itu baru laki-laki namanya"

"Hi-hi-hik.."

Pak-kek Sian-ong mengeluarkan suara ketawa tanpa membuka mulutnya.

"Ha-ha-ha-ha"

Lam-kek Sian-ong juga tertawa.

Dengan hati hancur Siangkoan Li yang merasa lemas tubuhnya itu membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh Kwi Lan.

Beberapa kali ia menoleh memandang kepada gurunya itu dengan harapan kalau-kalau kedua orang gurunya tadi hanya mencobanya saja dan sekarang sudah berubah sikap.

Akan tetapi dua orang kakek itu tetap menyeringai seperti tadi.

Mereka berdua kini duduk di dalam rumah makan kecil sederhana di ujung dusun tak jauh dari markas Lu-liang-pai itu.

Wajah Siangkoan Li masih pucat dan muram.

Kwi Lan membujuk dan menghiburnya dan atas bujukan Kwi Lan yang berkali-kali itu akhirnya Siangkoan Li mau juga makan nasi.

Hari telah siang, akan tetapi warung yang sederhana itu masih kosong, tidak ada tamunya kecuali seorang pengemis yang duduk melenggut di sudut sebelah depan.

Biarpun pakaiannya pengemis, namun berani duduk di situ menghadapi meja, tentu juga seorang tamu yang datang berbelanja.

Kini di atas meja di depannya tidak ada lagi mangkok piring, akan tetapi sisa-sisa di atas meja itu membuktikan bahwa pengemis ini tadi telah makan.

Beberapa ekor lalat merubungi sisa makanan di atas meja, akan tetapi pengemis itu tidak peduli dan duduk melenggut, agaknya tertidur setelah kekenyangan makan.

Kedua tangannya diletakkan di atas meja dan kalau orang memperhatikannya, tentu akan menjadi heran melihat kedua tangan ini berkulit putih dan halus, sedangkan kuku-kukunya pun terpelihara baik-baik.

Akan tetapi sukar untuk melihat mukanya karena sebuah topi butut yang lebar menutupi kepala berikut mukanya.

Topi lebar itu pun aneh, berhiaskan setangkai bunga mawar merah.

Kwi Lan dan Siangkoan Li tadi hanya melempar pandang satu kali ke arah pengemis ini, sungguhpun merasa heran namun tidak bercuriga.

Terlalu banyak perkumpulan pengemis dan terlalu banyak pengemis-pengemis yang berlagak aneh mereka jumpai.

Agaknya pengemis ini pun hanya seorang di antara anggauta perkumpulan-perkumpulan itu yang sengaja berlagak aneh untuk menarik perhatian orang.

Selain itu, juga Siangkoan Li terlalu sibuk dengan kemurungan pikirannya dan Kwi Lan terlalu sibuk dengan usahanya menghibur Siangkoan Li sehingga keduanya selanjutnya lupa lagi kepada Si Pengemis yang masih duduk melenggut di atas kursinya.

"Sudahlah, tak perlu kau bermuram durja lagi. Bukankah sudah jelas bahwa kedua orang gurumu itu, betapapun lihainya, tak lain hanya orang-orang yang pernah juga menyeleweng daripada jalan benar? Untuk apa memikirkan mereka? Yang paling perlu, percaya kepada diri sendiri untuk memperbaiki hidup, menghapus semua yang kotor dan mulai dengan lembaran baru yang bersih. Siangkoan Li, mana sifat jantanmu? Bangkitlah, jangan terbawa hanyut duka nestapa yang tiada gunanya."

Berkali-kali Kwi Lan menghibur.

"Aihhh.., bukan main.."

Tiba-tiba terdengar suara pujian perlahan sekali, akan tetapi cukup jelas.

Kwi Lan cepat menoleh keluar, akan tetapi tidak tampak ada orang di luar.

Suara tadi datang dari luar, ataukah..

dari pengemis yang tertidur tadi?

Akan tetapi bukan, karena telinganya yang tajam dapat menangkap suara pernapasan pengemis itu yang halus dan panjang, napas orang sedang tidur.

Ia menoleh ke arah dalam di mana kakek yang mengurus warung itu sibuk membersihkan dapur.

Tidak ada orang lain kecuali kakek itu yang mengurus warung ini.

Kwi Lan tidak pedulikan lagi.

Mungkin suara orang di luar warung dan ucapan tadi tidak ada hubungannya dengan dia.

Siangkoan Li menghela napas panjang.

"Kwi Lan, setelah menyaksikan segala yang terjadi tadi, mendengar semua ucapan kakek ajaib yang bernama Bu Kek Siansu itu, aku menjadi insyaf akan kebodohanku selama ini. Aku terlalu lemah dan menyerah kepada keadaan. Tidak, Kwi Lan, aku tidak lagi sudi menyerah dan tunduk kepada Gwakong yang ternyata telah menyelewengkan Thian-liong-pang. Aku akan berusaha mengangkat kembali nama baik Thian-liong-pang seperti yang telah kuusulkan. Akan tetapi.."

Ia menundukkan muka dengan sedih.

"Mengapa lagi? Apa yang menjadi halangan?"

"Selama dua tahun aku setia kepada Thian-liong-pang yang menyeleweng. Dengan sendirinya aku telah menjadi seorang tokoh dunia hitam, tokoh jahat. Lebih dari itu, kedua orang Guruku pun ternyata bukan orang baik-baik. Mana mungkin ada pendekar yang mau percaya kepadaku? Kurasa usahaku untuk menghimpun tenaga para patriot Hou-han takkan berhasil."

Kwi Lan mengerutkan keningnya.

Biarpun ia kurang pengalaman, namun ia seorang gadis yang cerdik.

Ia dapat mengerti keadaan Siangkoan Li dan melihat kebenaran pendapat itu.

Selagi ia hendak menjawab dan menghibur, tiba-tiba terdengar suara halus namun keren dan penuh teguran.

"Huh, bagus sekali, Siangkoan Li. Lekas menyerah sebelum pinceng (aku) terpaksa turun tangan menggunakan kekerasan"

Kwi Lan cepat menoleh dan tampaklah lima orang hwesio muncul di depan warung itu.

Lima orang hwesio yang kelihatannya bersikap agung, alim, akan tetapi juga berwibawa.

Apalagi yang memimpinnya.

Dia seorang hwesio tua yang berjenggot panjang dan putih, matanya bersinar halus namun amat tajam.

Empat orang hwesio lainnya yang belum tua benar, berdiri di belakangnya dan sikap mereka hormat, menanti perintah.

Mereka berlima semua membawa pedang.

"Celaka, mereka adalah hwesio-hwesio Lu-liang-pai.."

Bisik Siangkoan Li yang segera bangkit berdiri dan melangkah maju, terus memberi hormat kepada hwesio tua yang berdiri paling depan.

"Teecu Siangkoan Li telah melanggar wilayah Lu-liang-pai dan karena diserang terpaksa menotok roboh dua orang suhu dari Lu-liang-pai. Harap Thaisu sudi memaafkan karena hal itu teecu lakukan secara terpaksa ketika teecu ingin berjumpa dengan kedua orang Suhu teecu di dalam sumur di belakang kuil Lu-liang-pai."

Siangkoan Li yang mengenal kesalahannya dan kini sedang dalam usaha "memperbaiki jalan hidup"

Mendahului mereka minta maaf. Sikapnya merendah sekali sehingga diam-diam Kwi Lan mendongkol.

"Omitohud.. baik sekali kalau kau menyesali perbuatanmu yang sesat. Siangkoan-kongcu. Sayang, bukan hanya itu saja kesalahanmu. Kau telah berdosa besar sekali kepada kami. Beberapa tahun yang lalu, selagi masih kecil, kau telah melanggar daerah larangan, lebih dari itu, malah tanpa ada yang mengetahui kau telah menjadi murid dua orang musuh besar kami yang sedang dihukum. Hal itu berarti kau telah melakukan dua dosa. Kemudian, setelah keluar, kau menjadi orang sesat dalam Thian-liong-pang yang menjadi perkumpulan jahat semenjak Ayahmu mati. Dosa ketiga ini dosa yang paling besar dan untuk itu pinceng dan para anggauta Lu-liang-pai sudah cukup untuk menghukummu. Sekarang, semua dosa ini ditambah dengan pelanggaran ke dalam kuil dan merobohkan dua orang murid kami. Siangkoan Li, hayo lekas berlutut dan menerima hukuman di kuil kami."

Siangkoan Li menjadi bingung dan melihat ini Kwi Lan sudah melompat ke depan dan mencabut pedang Siang-bhokkiam.

Gadis ini berdiri dengan tegak, pedang di tangan kanan, sarung pedang di tangan kiri dan telunjuk tangan kirinya menuding ke arah hwesio-hwesio itu.

"Hwesio-hwesio gundul sombong. Siangkoan Li dengan kalian tidak ada hubungan sesuatu, kalian berhak apakah mengadilinya dan bicara tentang dosa-dosanya? Apakah kalian ini hakim? Ataukah dewa-dewa yang menentukan dosa tidaknya manusia?"

Para hwesio itu nampak kaget, bahkan ada di antara mereka mencabut pedang siap menanti komando.

Akan tetapi hwesio tua itu mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.

"Omitohud.. Nona muda siapakah? Kalau tidak salah, pinceng Cin Kok Hwesio Ketua Lu-liang-pai sama sekali belum pernah bertemu dengan Nona. Nona murid siapakah?"

"Hwesio tua, tak perlu aku memperkenalkan diri. Ketahuilah bahwa aku adalah sahabat Siangkoan Li yang tidak rela melihat kau bersikap begini sombong hendak mengadili dia. Kau tidak berhak"

"Ah, mengapa semuda ini Nona juga tersesat ke dalam jalan gelap? Omitohud, semoga Hudya (Buddha) membimbing Nona ke jalan benar. Ketahuilah Nona, kami bersikap begini adalah karena kami mengingat akan Siangkoan-pangcu yang menjadi sahabat kami. Karena ingat Siangkoan-pangcu, maka kami menganggap Siangkoan-kongcu ini orang sendiri sehingga kami hendak membawanya ke kuil dan memberi hukuman yang layak. Kalau kami tidak melihat muka mendiang Siangkoan-pangcu, hemm.. agaknya pinceng tidak akan berlaku selunak ini."

Siangkoan Li membuang muka dan mengerutkan keningnya.

Ia menjadi makin berduka, diingatkan betapa ayahnya seorang yang dihormati dan dijunjung tinggi dunia kang-ouw, sebaliknya dia, putera tunggalnya, hanya mencemarkan nama orang tuanya saja.

"Tua bangka gundul. Kau bicara seolah-olah engkau dan orang-orangmulah manusia paling suci di dunia ini. Hemm, sekarang mengerti aku mengapa Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong membunuh ketua kalian dan membikin kacau Lu-liang-pai. Kiranya kalian adalah orang-orang yang merasa diri paling suci, paling bersih dan karenanya memandang rendah orang lain yang kalian pandang orang-orang berdosa. Kiranya kalian ini hendak mengangkat diri sendiri menjadi wakil Thian (Tuhan) dan mewakili para dewa untuk menentukan nasib manusia lain, menghukum dan menganggap mereka berdosa. Pantas kalian hendak dibasmi dua orang kakek itu, dan sekiranya tidak ada Bu Kek Siansu yang benar-benar suci dan mulia, tentu kalian sudah mampus semua dan aku percaya, orang-orang seperti kalian ini malah akan mati dengan tersiksa hebat. Mau masuk sorga tak diterima karena hanya suci anggapan sendiri, mau masuk neraka tak diterima pula karena pada lahirnya kalian selalu menentang kejahatan. Huh, tak tahu malu"

"Kwi Lan, jangan.."

Tiba-tiba Siangkoan Li berseru keras dan meloncat ke depan gadis itu, mencegah gadis itu menggerakkan pedang.

Kemudian Siangkoan Li membalikkan tubuh menghadapi para hwesio dan berkata.

"Thaisu, dan para Suhu semua, dengarlah. Kuharap kalian tidak membawa-bawa nama Ayahku yang sudah tidak ada. Semua perbuatanku adalah tanggung jawabku sendiri. Aku tidak merasa berdosa terhadap Lu-liang-pai, setelah kini kupikir baik-baik. Pelanggaran itu bukanlah dosa. Kalau menurut pendapat kalian aku berdosa dan perlu dihukum, boleh. Aku bersedia melayani kalian, akan tetapi aku tidak mau dihukum. Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan, juga boleh. Biarlah aku melakukan apa yang dahulu kedua orang Suhuku Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sudah gagal melakukannya, yaitu memberi hajaran kepada kalian orang-orang Lu-liang-pai yang pura-pura suci. Nah, silakan"

Muka Cin Kok Thaisu yang kelihatan alim itu kini terkejut dan pucat.

Tak disangkanya pemuda ini akan berani melawan dan mengingat bahwa pemuda ini adalah murid dua orang kakek yang hebat itu, ia meragu.

Apalagi di situ terdapat nona muda yang galak ini, yang tentu bukan orang sembarangan pula maka berani bersikap sekeras itu.

Andaikata dia mampu mengalahkan dan menangkap Siangkoan Li, kemudian hal ini terdengar oleh dua orang kakek yang terhukum di belakang kuil, bukankah kemarahan mereka akan bangkit dan jangan-jangan mereka itu melakukan pembalasan dengan membasmi Lu-liang-pai?

Bantuan Bu Kek Siansu manusia dewa itu sukar diharapkan karena di mana adanya kakek itu tak seorang pun manusia mengetahuinya.

"Omitohud.., Maksud pinceng hanya untuk menghukum dan melempangkan yang bengkok, berarti kami menolong jiwa Siangkoan-kongcu dam berarti pula kami tidak melupakan persahabatan kami dengan Siangkoan-pangcu. Kalau Kongcu hendak mengambil jalan sesat terus, kami pun tidak bisa berbuat sesuatu, akan tetapi kelak akan tiba masanya terpaksa kami menghadapi Kongcu sebagai musuh, bukan sebagai putera sahabat lagi."

Ia menoleh kepada murid-muridnya dan mendengus.

"Mari kita pergi."

Hwesio tua itu mengebutkan lengan bajunya yang lebar, lalu melangkah keluar sambil berliam-keng (membaca doa), diikuti oleh empat orang muridnya.

Kwi Lan dan Siangkoan Li mengikuti mereka dengan pandang mata sampai mereka itu mulai mendaki bukit menuju ke markas Lu-liang-pai.

"Engkau benar, Kwi Lan. Orang harus dapat menentukan langkah sendiri, mempertimbangkan perbuatan sendiri kemudian mempertanggung jawabkannya sendiri pula. Terima kasih atas segala bantuanmu, Kwi Lan. Sekarang terbukalah mataku. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membangun kembali Thian-liong-pang sebagai sebuah perkumpulan orang-orang gagah sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat, terjunjung tinggi namanya di dunia kang-ouw. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa tidak sia-sia Ayah mempunyai seorang anak seperti aku."

Ucapan ini bersemangat sekali dan pemuda itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan terkepal dan mukanya yang tampan kehilangan kemuramannya, kini tampak berseri dan bercahaya.

Kwi Lan tersenyum lebar, menghampiri dan memegang tangan pemuda itu.

"Bagus. Sekarang aku dapat dengan hati ikhlas dan dada lapang melepasmu pergi, Siangkoan Li. Kelak aku pasti akan datang mengunjungi Thian-liong-pang di bawah pimpinanmu."

Pemuda itu memandangnya tajam.

"Apa? Kau.. kau tidak ikut bersamaku?"

Kwi Lan menggeleng kepala.

"Sungguh lucu, bukan? Tadinya engkau yang selalu menyuruh aku pergi akan tetapi aku tidak mau meninggalkanmu. Sekarang aku yang hendak meninggalkanmu akan tetapi engkau yang sebaliknya menghendaki aku membantumu. Sekarang engkau dapat berdiri sendiri, Siangkoan Li, dan urusan Thian-liong-pang bukanlah urusanku, melainkan urusan pribadimu. Betapapun juga, aku girang sekali telah dapat bersahabat denganmu. Engkau seorang pemuda yang amat hebat"

"Kwi Lan.. ahhh.."

"Ada apa? Kenapa kau meragu lagi?"

"Kwi Lan.., terus terang saja. hemm, sekarang ini.. terasa amat berat bagiku untuk berpisah darimu. Tidak.. tidak dapatkah kita.. eh, bersama selalu..?"

"Ehm.. ehm.."

Untung pengemis yang terlupa dan masih tidur di sudut depan itu terbatuk-batuk sambil menggaruk-garuk pundak yang agaknya digigit kutu bajunya sehingga suasana tak enak dan mencekam setelah kata-kata Siangkoan Li itu menjadi buyar seketika.

Siangkoan Li ingat bahwa dia berada dalam warung di mana terdapat pengemis itu dan juga pengurus warung yang berada di dalam, maka ia pun lalu tersenyum dan berkata.

"Maaf, Kwi Lan. Kembali aku terseret dalam kelemahan. Engkau benar. Kita harus mengambil jalan kita masing-masing dan kelak bertemu kembali dalam suasana yang lebih baik, setelah tugas kita masing-masing selesai. Nah, selamat tinggal dan selamat berpisah, Kwi Lan"

Jari tangan yang menggenggam tangan Kwi Lan itu seakan-akan memancarkan hawa hangat yang menjalar dari tangan Kwi Lan terus ke dalam hatinya.

Ia memandang mesra kemudian menarik kembali tangannya.

"Selamat jalan, Siangkoan Li. Engkau orang baik, tentu kau akan berhasil dalam tugasmu. Sampai berjumpa pula kelak.."

Dengan wajah berseri dan langkah lebar, Siangkoan Li meninggalkan warung itu dan tak lama kemudian ia telah berlari-lari cepat dan lenyap dari pandang mata Kwi Lan yang mengikutinya.

Gadis itu termenung sejenak, lalu menghela napas panjang dan memanggil pemilik warung.

Setelah membayar harga makanan, ia pun lalu membawa bungkusan pakaiannya dan meninggalkan warung itu.

Kita tinggalkan dulu Kam Kwi Lan yang berpisah dari Siangkoan Li untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke Khitan menemui ibu kandungnya.

Marilah kita menengok keluar, ke dunia kang-ouw.

Seperti telah disinggung oleh manusia dewa Bu Kek Siansu ketika memberi nasihat kepada Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, di dunia kang-ouw, terutama di kalangan golongan hitam, terjadi perubahan hebat semenjak lenyapnya Thian-te Liok-koai dari permukaan dunia penjahat.

Lenyapnya enam orang tokoh besar dunia hitam ini membuat golongan hitam menjadi lemah kedudukannya dan kuncup nyalinya.

Apalagi, pemerintah Sung dengan secara tidak langsung dibantu oleh para pendekar, mendapat angin baik dan di mana-mana para pendekar berusaha membasmi golongan hitam sehingga banyaklah golongan hitam tidak berani lagi memperlihatkan diri secara berterang.

Untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, kaum hitam ini menyelundup ke dalam perkumpulan-perkumpulan bersih seperti yang dilakukan ke dalam Thian-liong-pang dan sebagian besar perkumpulan pengemis sehingga banyaklah perkumpulan-perkumpulan baik berubah menjadi sarang mereka yang dikejar-kejar itu.

Kemudian timbul desas-desus yang menggembirakan dan membangkitkan semangat golongan hitam yaitu dengan turunnya pentolan-pentolan yang kabarnya malah memiliki kesaktian lebih hebat daripada mendiang Thian-te Liok-kwi"

Disebut-sebut oleh golongan hitam ini nama-nama tokoh yang selama ini tidak terkenal di dunia kang-ouw, pendatang-pendatang baru dari empat penjuru dan yang sebelum muncul sudah memiliki pengikut-pengikut yang memilih jagoan masing-masing untuk dijadikan semacam "datuk"

Mereka.

Orang pertama yang disebut-sebut adalah Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Berambut Wangi), seorang di antara Thian-te Liok-kwi yang belum tewas.

Karena dia merupakan seorang tokoh wanita, tentu saja yang memuja dan menjagoinya adalah golongan hitam kaum wanita yang akhir-akhir ini banyak muncul di dunia sebelah selatan.

Semenjak dikalahkan oleh Suling Emas (baca CINTA BERNODA DARAH ), iblis betina ini melarikan diri dan bersembunyi di sebuah pulau kosong di pantai selatan, di mana selain menggembleng diri dengan ilmu-ilmu baru, ia juga menerima murid-murid perempuan yang cantik-cantik dan kesemuanya berambut panjang terurai tidak digelung dan ia menciptakan sebuah barisan wanita yang disebutnya Siang-mou-tin (Barisan Rambut Wangi).

Akan tetapi belasan tahun lamanya Siang-mou Sin-ni melarang murid-muridnya mencampuri urusan luar, ia sendiri tak pernah terjun ke dunia kang-ouw.

Orang ke dua adalah seorang tokoh dari dunia barat yang tak dikenal orang, namun yang namanya menggemparkan perbatasan dunia barat.

Begitu muncul, dia mengacau di antara para dunia pengemis dan dikabarkan bahwa dia telah membunuh dua ratus lebih orang pengemis golongan putih dengan cara yang luar biasa kejamnya, yaitu mempergunakan senjata yang istimewa, sebuah gunting yang besar sekali.

Dia ini dijuluki Bu-tek Siu-lam (Si Tampan Tanpa Tanding).

Karena munculnya telah melakukan perbuatan membasmi golongan pengemis putih, tentu saja namanya disanjung-sanjung oleh para pengemis golongan hitam yang berusaha untuk mengambil alih kekuasaan di dunia pengemis.

Bu-tek Siu-lam ini dikabarkan selain lebih lihai daripada raja pengemis jahat It-gan Kai-ong, juga lebih kejam dan amat aneh.

Orangnya tampan, pakaiannya hebat luar biasa, lagak bicaranya seperti perempuan genit.

Orang ke tiga adalah Jin-cam Khoaong (Raja Algojo Manusia) atau yang menamakan dirinya Pak-sin-ong, seorang tokoh utara berbangsa campuran antara Mongol dan Khitan.

Kabarnya dia itu masih keturunan mendiang Hek-giam-lo itu tokoh Thian-te Liok-kwi (baca CINTA BERNODA DARAH ).

Pak-sin-ong (Raja Sakti Utara) atau Jin-cam Khoa-ong ini juga amat kejam, senjatanya sebuah gergaji berkait dan ia bercita-cita untuk menjadi Raja Khitan dan kini menjadi buronan Kerajaan Khitan.

Orang ke tiga ini pun mempunyai banyak anak buah, yaitu orang-orang Mongol dan Khitan yang tidak suka kepada Ratu Yalina dari Kerajaan Khitan.

Juga banyak tokoh dunia hitam bagian utara yang mengagumi kesaktian kakek ini menyatakan takluk dan menggabungkan diri atau lebih tepat bernaung di bawah pengaruh Pak-sin-ong.

Orang ke empat di antara deretan datuk-datuk dunia hitam ini adalah seorang kakek tua renta yang kurus dan mukanya selalu menyeringai, berjuluk Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa).

Dia ini adalah paman guru Sin-seng Losu Ketua Thian-liong-pang, maka dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaiannya.

Karena di waktu mudanya dahulu Siauw-bin Lo-mo adalah seorang bajak laut, maka sekarang pun para pengikutnya sebagian besar tokoh-tokoh bajak laut dan bajak sungai.

Orang ke lima di antara para tokoh adalah seorang raksasa yang mukanya seperti monyet, bahkan julukannya pun Thai-lek Kauw-ong (Raja Monyet Bertenaga Kuat).

Tokoh ini muncul dari kepulauan di laut, dan entah berapa ratus tokoh sudah dirobohkan oleh kakek ini semenjak ia mendarat di pantai timur sampai perantauannya ke daratan tengah.

Sampai kini belum pernah ada jago silat yang mampu mengalahkan sepasang senjatanya yang aneh dan lucu, yaitu sepasang gembreng alat musik yang biasa dipakai bersama tambur dan canang untuk mengiringi tarian dan permainan barongsai atau liong.

Keanehan kakek ini adalah bahwa tidak seperti tokoh lain, ia tidak mempunyai murid, juga tidak mempunyai pengikut.

Ia malang-melintang seorang diri di dunia kang-ouw dan kesukaan satu-satunya hanyalah berkelahi dan mengalahkan tokoh-tokoh besar.

Pagi hari itu amat ramai di Puncak Cheng-liong-san yang biasanya amat sunyi.

Puncak gunung ini merupakan sebuah di antara puncak-puncak yang paling sunyi, tak pernah didatangi manusia karena selain sukar mencapai puncak ini, juga di sekitar gunung ini menjadi sarang binatang buas dan seringkali dijadikan sarang manusia-manusia buas pula.

Pagi hari ini pun puncak Cheng-liong-san menjadi pusat pertemuan di antara orang-orang golongan hitam yang sudah berjanji untuk mengadakan pertemuan awal dalam menghadapi pertemuan para tokoh mereka untuk mengadakan pemilihan beng-cu (ketua) yang akan memimpin para tokoh dunia hitam menghadapi para pendekar golongan putih.

Semenjak malam tadi, berbondong-bondong orang kang-ouw mendatangi puncak itu.

Ada rombongan terdiri hanya dari dua tiga orang, akan tetapi ada pula rombongan besar terdiri dari belasan orang, bahkan sambil membawa bendera lambang perkumpulan mereka segala.

Pagi hari itu sudah ramailah puncak, penuh dengan orang-orang yang bermacam-macam pakaiannya.

Ada yang masih amat muda, ada pula yang sudah kakek-kakek.

Ada yang berpakaian mewah seperti seorang jutawan, ada yang berpakaian pedagang, ada seperti guru silat, dan banyak pula yang berpakaian pengemis.

Biarpun bermacam-macam, sesungguhnya mereka itu sama, yaitu orang-orang jahat yang selalu mendatangkan kekacauan di dunia ini.

Tampak bendera mereka berkibar dengan sulaman bermacam-macam lambang.

Ada gambar naga dengan beraneka warna, ada gambar bunga-bunga, dan lain macam binatang.

Di antara banyak bendera itu, tampak berkibar megah bendera dengan gambar garuda hitam dan ada pula bendera bergambar ular hitam.

Dua buah bendera ini dipegang oleh rombongan pengemis yang pakaiannya berkembang bersih, maka mudahlah diketahui bahwa mereka itu adalah rombongan perkumpulan-perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang.

Memang golongan pengemislah yang terbanyak datang mengunjungi pertemuan kaum sesat ini.

Serigala dan harimau, binatang-binatang buas hidup rukun dengan kelompok masing-masing, demikian pula manusia.

Burung memilih kawan dengan persamaan warna bulu, sedangkan manusia memilih kawan dengan kecocokan watak dan kebiasaan mereka.

Biarpun orang-orang yang pada pagi hari itu berkumpul di Puncak Cheng-liong-san terdiri dari orang-orang kang-ouw yang sudah biasa melakuken perbuatan sesat, namun kini setelah berkumpul mereka dapat beramah-tamah, bersendau-gurau dengan hati tulus ikhlas penuh rasa persahabatan satu dengan yang lainnya.

Dengan bangga mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang bagi umum merupakan perbuatan jahat, namun bagi mereka merupakan kegagahan dan keberanian yang patut mereka banggakan.

Ramailah suara mereka bercakap-cakap diseling gelak ketawa, mengalahkan dan mengusir burung-burung yang terbang pergi ketakutan.

Seperti telah bermufakat padahal hanya kebetulan saja, mereka kini berkumpul mengelilingi sebuah batu besar yang bundar bentuknya dan licin permukaannya sehingga batu itu dapat dipergunakan sebagai pengganti meja besar.

Batu-batu kecil diangkat dan digulingkan di seputar "meja"

Ini, dijadikan tempat duduk.

Ada pula yang berjongkok atau duduk begitu saja di atas tanah, ada yang berdiri dan bermacam-macamlah sikap mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dari jauh.

Sebagian besar dari kaum sesat yang berkumpul di situ adalah hamba-hamba nafsu, maka mendengar suara ketawa wanita semerdu ini, serentak mereka menengok dan memandang.

Tak lama kemudian semua percakapan terhenti dan semua mata melotot memandang penuh gairah kepada dua orang wanita muda yang datang berjalan dengan lenggang bergaya tari, menarik dan menggairahkan.

Dua orang wanita muda ini bertubuh kecil ramping, berpakaian sutera halus tipis berwarna merah muda dan hijau pupus.

Sikap dan percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah wanita-wanita selatan.

Rambut mereka terurai panjang tak digelung, dan gagang pedang tampak di belakang punggung.

Mereka datang sambil tersenyum-senyum manis dan sepasang mata mengerling-ngerling genit.

Karena yang menjadi pelopor pertemuan ini adalah dua perkumpulan pengemis Hek-pek Kai-pang dan Hek-coa Kaipang, maka dua perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah dan yang sekaligus meneliti dan mengenal para tamu agar jangan sampai ada pihak musuh yang datang menyelundup.

Melihat datangnya dua orang wanita muda yang tak terkenal ini, Ketua Hek-coa Kai-pang segera menyambut, menjura dan berkata kepada dua orang wanita itu.

"Selamat datang di antara sahabat. Mohon tanya, Ji-wi Kouwnio (Nona Berdua) ini dari golongan manakah dan berdiri di bawah bendera apa?"

Dua orang wanita muda itu saling pandang lalu tertawa genit sambil menutupi mulut dengan ujung lengan baju mereka yang panjang.

Kemudian seorang di antara mereka yang lebih tinggi berkata.

"Kami adalah anggauta-anggauta Siang-mou-tin, diutus oleh Sin-ni untuk melihat apa yang terjadi di sini."

"Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan Siang-mou Sin-ni dari selatan. Maaf, karena terlalu jauh kami tak sempat mengirim undangan, harap sampaikan maaf kami kepada Sin-ni. Akan tetapi kami girang bahwa Sin-ni berkenan mengutus wakil. Silakan duduk, Ji-wi Kouwnio"

Dua orang wanita itu tersenyum-senyum dan melangkah mendekati mereka.

Para tamu yang terdiri dari laki-laki semua itu kini mencium bau harum yang semerbak keluar dari rambut panjang dua orang wanita ini.

Mereka berseru kagum dan mulailah mereka, terutama yang muda-muda, berteriak-teriak menawarkan tempat duduk.

"Mari duduk dekatku sini, Nona. Batunya licin dan bersih"

"Di sini teduh. Marilah"

Berlumba mereka itu menawarkan tempat duduk sambil tertawa-tawa, semua mengharapkan untuk dapat duduk di dekat dua orang nona manis yang genit senyum kerlingnya dan harum rambutnya itu.

Bahkan ada pula yang mulai mengeluarkan kata-kata tidak sopan dan cabul, sesuai dengan watak mereka yang memang sudah biasa bersendau-gurau dengan kata-kata cabul.

Namun dua orang wanita itu pun bukan orang baik-baik.

Kalau wanita sopan mendengar sendau-gurau laki-laki yang cabul dan kurang ajar, tentu menjadi malu dan tidak senang, namun dua orang wanita anggauta Siang-mou-tin ini tersenyum-senyum dan melirik sana-sini memilih tempat.

Sesungguhnya bukan tempat yang mereka pilih, melainkan penawarnya.

Tak lama kemudian, di bawah sorak-sorai dan tawa gemuruh, mereka sudah memilih duduk di sebelah dua orang muda yang tampan dan segera mereka bercakap-cakap dan tertawa-tawa gembira.

Biarpun tuan rumahnya adalah perkumpulan-perkumpulan pengemis, namun mereka ini bukanlah tuan rumah yang miskin.

Sesungguhnya memang amat janggal terdengarnya.

"Pengemis yang tidak miskin"

Namun ini kenyataan karena sesungguhnya para anggauta Hek-peng Kai-pang, Hek-coa Kai-pang dan masih banyak lagi perkumpulan pengemis golongan sesat, tak pernah pergi mengemis, melainkan mengemis secara paksa alias merampok.

Dengan mengandalkan kepandaian dan pengaruh perkumpulan, mereka mendatangi orang-orang kaya lalu "mengemis"

Jumlah tertentu yang harus diberikan oleh si kaya.

Demikianlah praktek yang dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan pengemis golongan sesat ini.

Maka mereka itu bukanlah orang miskin dan dalam pertemuan ini, segera dihidangkan arak baik dan makanan-makanan yang cukup lezat dan mahal.

Menjelang siang, semua tamu sudah berkumpul, jumlahnya seratus orang lebih.

Maka perundingan pun dimulailah.

Yang menjadi pokok pembicaraan adalah membentuk persatuan dan persekutuan golongan sesat untuk bersama-sama menghadapi musuh golongan putih dan membalas dendam serta membasmi para pendekar yang pernah menghancurkan golongan mereka.

"Sudah terlalu lama kita ditindas"

Demikian antara lain Ketua Hek-pek Kai-pang berkata.

"Semenjak para datuk kita, di antaranya adalah It-gan Kai-ong raja pengemis kami, tewas, maka kita selalu dikejar-kejar, dihina dan harus sembunyi sembunyi. Maka kini kita harus bersatu untuk menghadapi mereka."

"Agar persatuan kita dapat lebih kuat teratur, kita harus mengangkat seorang bengcu (pemimpin). Pertemuan ini memang merupakan pertemuan pendahuluan dan persiapan untuk memilih bengcu. Tentu saja memilih bengcu harus mencari seorang tokoh yang sakti agar pekerjaan kita jangan sampai gagal"

Kata Ketua Hek-coa Kai-pang.

"Kami dari golongan pengemis mengajukan calon bengcu, yaitu Locianpwe Bu-tek Siu-lam"

Semua pengemis yang merupakan anggauta pimpinan pelbagai perkumpulan pengemis, bertepuk tangan menyatakan setuju dan mendukung tokoh yang disebut oleh ketua Hek-coa Kai-pang itu.

Mulailah golongan lain mengajukan calon-calon mereka.

Wakil-wakil dari utara mengajukan calon Sin-cam Khoa-ong atau Pak-sin-ong yang sudah terkenal kesaktiannya.

Golongan barat diperkuat oleh perkumpulan Thian-liong-pang mengajukan Siauw-bin Lo-mo.

Sebaliknya para penjahat yang datang dari timur dan yang mengagumi sepak terjang Thai-lek Kauw-ong yang mengerikan, tentu saja mengajukan tokoh baru ini sebagai bengcu.

Ramailah mereka memuji-muji setinggi langit calon masing-masing, menceritakan kehebatan sepak terjang mereka, kelihaian mereka, dan kekejaman mereka yang mereka katakan bahwa lebih hebat daripada Thian-te Liok-kwi yang kini sudah tidak ada lagi, tinggal Siang-mou Sin-ni seorang yang tak pernah muncul di dunia kang-ouw.

"Bagus, Agaknya kita tidak kekurangan calon yang hebat-hebat. Sudah ada empat orang calon kita yang dalam beberapa hari ini akan hadir di sini. Setelah semua calon berkumpul, barulah dilihat siapa di antara mereka yang paling patut dijadikan bengcu. Sementara itu, mengingat bahwa Siang-mou Sin-ni adalah seorang di antara Thian-te Liok-kwi, jadi merupakan tokoh tua yang patut diingat, sebaiknya kita mendengarkan suara utusannya yang kini hadir di sini."

Kata Ketua Hek-peng Kai-pang sambil melirik dua orang nona manis yang kelihatan makin merapat duduknya dengan dua orang laki-laki muda tampan tadi.

Tanpa malu-malu lagi kedua nona itu sudah bersikap sangat mesra terhadap dua orang pasangan mereka.

Mendengar ucapan itu, dua orang nona manis itu kini dengan manja dan perlahan mendorong dada pasangan mereka, kemudian tertawa genit sambil meloncat ke depan.

Sekali meloncat, gerakan mereka yang amat ringan dan cekatan itu membuat mereka sudah berdiri di atas batu besar di tengah-tengah.

Di tempat tinggi ini mereka kelihatan jelas.

Cantik genit dengan bentuk tubuh tampak membayang di balik pakaian sutera tipis.

Cantik menggairahkan.

"Seperti telah kami katakan tadi, kami hanyalah utusan yang ditugaskan oleh Guru kami sebagai peninjau saja. Guru kami menyatakan bahwa beliau tidak tertarik lagi akan urusan dunia dan tidak menghendaki kedudukan bengcu. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa kami tidak mau bekerja sama dengan Anda sekalian. Guru kami berpesan apabila bengcu baru sewaktu-waktu bergerak menggempur Suling Emas, Guru kami pasti akan turun tangan membantu. Hanya kalau bentrok melawan Suling Emas saja Guru kami suka berkerja sama. Kiranya cukuplah pernyataan kami dan selanjutnya kami hanya menjadi peninjau yang tidak mengajukan calon."

Setelah berkata demikian, dengan langkah menggoyang pinggul mereka kembali menghampiri pasangan masing-masing yang menerima mereka dengan kedua lengan terbuka dan tertawa-tawa.

Ucapan anggauta Siang-mou-tin ini sekaligus membelokkan percakapan mereka yang hadir di situ dari persoalan pencalonan bengcu menjadi soal musuh-musuh besar mereka.

"Apa yang dikatakan oleh Ji-wi Kouwnio tadi memang tepat"

Kata seorang di antara para tokoh dari utara.

"Memang Suling Emas merupakan seorang musuh besar kita bersama. Siapakah di antara kita yang belum pernah terganggu oleh Suling Emas, baik secara langsung mau pun tidak langsung? Dan jangan dilupakan Ratu Khitan. Wanita yang kini menjadi Ratu Khitan kabarnya masih sanak dekat Suling Emas, bahkan berhasil menjadi ratu karena bantuan Suling Emas. Kami mendengar pula bahwa ratu yang sampai kini tidak menikah itu adalah kekasih Suling Emas. Sungguh memalukan sekali, terutama terhadap bangsa Khitan yang menjadi kawan baik kami. Oleh karena itulah kami mengajukan Pak-sin-ong sebagai calon bengcu dan tugas kita pertama adalah mencari dan membunuh Suling Emas bersama teman-temannya, terutama sekali Ratu Khitan"

Ramailah mereka menyebut dan menyumpahi nama-nama tokoh yang menjadi musuh mereka.

Selain Suling Emas dan Ratu Khitan, juga ada yang menyebut-nyebut nama Yu Kang Tianglo yang mereka khawatirkan akan merupakan pimpinan para pengemis baju butut yang amat lihai.

Disinggung pula nama Kam Bu Sin bersama isterinya Liu Hwee puteri ketua Beng-kauw yang kini berdiam di kota Heng-yang, sebuah kota yang terletak di lembah Sungai Mutiara di mana keduanya hidup rukun dan tenteram namun yang selalu tak pernah merupakan tugas mereka sebagai orang-orang gagah untuk melawan kejahatan.

Masih banyak nama yang disebut dan dimusuhi oleh orang-orang golongan sesat ini, di antaranya disebut-sebut pemilik Ang-san-kok (Lembah Gunung Merah).

"Paling penting lebih dulu memohon bengcu baru untuk menyerang Ratu Khitan."

Seorang tokoh utara berkata.

"Kalau kedudukan Ratu Khitan dapat dirampas, berarti golongan kita akan mendapatkan bantuan yang amat kuat, yaitu bangsa Khitan, sehingga tidak akan sukarlah membasmi yang lain-lain."

"Akan tetapi kabarnya ilmu kepandaian Ratu Khitan juga amat hebat"

Bantah seorang lain.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, akan tetapi aku mendengar bahwa biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun ia masih cantik jelita seperti bidadari dan ilmu kepandaiannya amat dahsyat. Di sampingnya ada pula pembantunya yang setia, Panglima Besar Kayabu yang kabarnya juga lihai sekali."

"Uhh, lihai apa? Kayabu itu hanya mengandalkan ketampanan wajahnya sehingga ia menjadi seorang di antara kekasih Ratu Yalina yang gila lelaki"

"Masa..?"

"Siapa membohong? Kekasihnya banyak, di antaranya Suling Emas, Kayabu dan boleh dibilang setiap orang muda bangsa Khitan tentu ditarik masuk ke istana untuk memuaskan nafsunya."

"Ah, benarkah itu..?"

Orang-orang menjadi tertarik hatinya.

Orang yang bercerita itu membusungkan dadanya.

Dia seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar, nampak amat kuat, mukanya dihias kumis dan jenggot lebat, sehingga wajahnya menjadi angker menakutkan.

"Aku bukan hanya sudah menyaksikan dengan mata ini sendiri, bahkan sudah pula menikmati pelukannya yang hangat"

Kata laki-laki ini.

"Siapa yang tidak tahu bahwa aku pernah tinggal di Khitan dan menjadi kekasih Ratu Yalina sampai sepekan lebih?"

"Wah, hebat sekali. Twako, agaknya dia suka kepadamu karena kau tinggi besar dan gagah"

Kata seorang anggauta pengemis menggoda karena masih belum percaya benar.

"Memang dia paling suka kepada laki-laki yang tinggi besar, terutama sekali yang jenggot dan kumisnya sebagus ini"

Laki-laki itu mengelus-elus jenggot dan kumisnya dengan bangga sambil melirik ke arah dua orang anggauta Siang-mou-tin yang tidak memilih dia.

"Ceritakan.."

"Ya, ceritakan, Twako. Bagaimana ketika engkau menjadi kekasih Ratu Yalina?"

Orang-orang mendesak kepada Si Brewok ini untuk bercerita.

Dua orang wanita anggauta Siang-mou-tin yang mendengar percakapan yang makin menjurus ke arah cabul dan kotor ini hanya tersenyum-senyum dan kadang-kadang terkekeh geli.

Si Brewok yang kini menjadi pusat perhatian, dengan bangga lalu melompat ke atas batu besar di tengah-tengah, memasang aksi dan berdehem beberapa kali sebelum mulai dengan ceritanya yang pasti menarik dan cabul.

Akan tetapi pada saat itu, Si Brewok menjerit dan terjengkang roboh menggelinding turun dari atas batu besar.

Ketika orang-orang datang menghampirinya, ternyata Si Brewok sudah tewas dan di lehernya menancap sebatang jarum hijau.

Kagetlah semua orang dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon muncul seorang gadis muda yang amat cantik.

Gadis ini bukan lain adalah Kwi Lan.

Secara kebetulan sekali, dalam perjalanannya menuju ke Khitan, Kwi Lan lewat di kaki Gunung Cheng-liong-san.

Ia tertarik akan gerak-gerik dua orang anggauta Siang-mou-tin maka diam-diam ia mengikuti mereka naik ke puncak di mana ia melihat berkumpul banyak orang dari golongan sesat.

Mula-mula ia hanya mengintai dan mendengarkan, sudah merasa kesal dan hendak pergi ketika tiba-tiba ia mendengar nama Ratu Khitan disebut-sebut.

Ratu Khitan yang bernama Yalina, ibu kandungnya.

Ia mendengarkan dengan hati berdebar.

Ketika mendengar betapa Ratu Yalina dimusuhi, ia hanya mencibirkan bibirnya dan tidak mengambil peduli.

Akan tetapi ketika muncul Si Brewok yang menghina Ratu Yalina, ia tak dapat menahan kemarahannya sehingga sebelum Si Brewok bicara yang bukan-bukan, ia sudah menyerangnya dengan sebatang jarum.

Siapa kira Si Brewok itu hanya lihai mulutnya saja.

Diserang satu kali telah roboh dan tewas.

Kwi Lan muncul dari tempat sembunyinya dan berkata lantang.

"Aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun juga. Akan tetapi mendengar monyet itu membual, benar-benar membikin orang menjadi muak dan tak dapat menahan tangan untuk tidak menghajarnya. Selamat tinggal"

Dengan enak saja Kwi Lan yang telah membunuh orang itu membalikkan tubuh hendak pergi dari situ.

Semua orang terkejut.

Gadis cantik itu dapat bersembunyi di situ tanpa seorang pun di antara mereka tahu, hal ini sudah membuktikan kelihaiannya.

Kemudian sekali turun tangan sudah membunuh Si Brewok, hal ini merupakan bukti ke dua.

Semua orang menjadi kesima.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan seorang Khitan yang ikut dalam rombongan dari utara.

"Itu dia perempuan iblis yang merampas kuda hitam Hek-liong-ma"

Orang Khitan ini telinga kanannya putus bekas sabetan pedang Siang-bhok-kiam di tangan Kwi Lan.

"Benar, dia Si Gadis Siluman, murid iblis betina yang bernama Kam Sian Eng"

Teriak seorang yang tangan kanannya buntung, mata kanannya buta dan hidungnya bengkok.

Dia adalah seorang tokoh Hek-pang Kai-pang yang pernah mendapat hajaran Kam Sian Eng dan kini mengenal Kwi Lan.

"Dia pengacau itu.."

Beberapa orang Thian-liong-pang juga berseru.

"Srr.. werr.. siuuuuttt.."

Hujan senjata rahasia menyerang Kwi Lan.

Gadis ini terkejut.

Tak disangkanya bahwa ia akan bertemu banyak musuh di tempat ini.

Cepat ia meloncat ke depan mengelak dari serangan hujan senjata rahasiaitu.

ia menaksir bahwa jumlah lawannya ada seratus orang lebih dan dari sambaran senjata-senjata rahasia tadi tahulah ia bahwa di antara mereka terdapat banyak orang yang tak boleh dipandang ringan kepandaiannya.

Ia tidak takut, tidak pernah mengenal takut.

Akan tetapi Kwi Lan juga bukan seorang goblok yang mau menyia-nyiakan nyawanya, mati konyol dikeroyok begitu banyak lawan.

Sambil tersenyum mengejek ia lalu mempergunakan kepandaiannya berlari cepat.

Karena ia tidak mengenal daerah itu, ia lari ke kiri dan kebetulan sekali ia lari ke tempat kuda.

Kuda-kuda tunggangan para pendatang ini dikumpulkan di suatu tempat yang banyak ditumbuhi rumput gemuk, dijaga oleh belasan orang anggauta rendahan.

Ketika Kwi Lan lari sampai ke tempat ini dikejar oleh puluhan orang dari belakang, ia melihat betapa di tempat kuda ini ternyata juga terjadi kekacauan.

Belasan orang penjaga kuda sudah menggeletak malang-melintang di sekitar tempat itu sedangkan puluhan ekor kuda itu sudah terlepas semua.

Terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, membuat binatang-binatang itu menjadi makin panik, saling tabrak dan riuh rendah suara mereka meringkik-ringkik.

Melihat kesempatan ini, Kwi Lan lalu melompat ke atas punggung seekor kuda tinggi besar, kemudian menyendal kendali kuda itu, membelok ke kanan lalu melarikan kuda.

Ributlah suara para pengejar ketika, menyaksikan kekacauan di tempat ini, apalagi ketika melihat betapa semua kuda mereka telah terlepas dan panik.

Dalam keadaan seribut itu, mereka terhalang melakukan pengejaran, dan sibuk menenangkan kuda tunggangan mereka.

Kwi Lan membedal terus kudanya menuruni puncak.

Ketika mendengar derap kaki banyak kuda mengejarnya, ia segera mempersiapkan jarum-jarumnya dan menoleh.

Mau tidak mau ia tertawa sendiri melihat bahwa yang mengejarnya adalah kuda-kuda tanpa penunggang.

Kiranya banyak kuda yang karena bingung lalu mengikuti saja kuda yang ditunggangi Kwi Lan.

Gadis ini lalu menahan kudanya dan menghalau belasan ekor kuda yang mengikutinya itu sehingga mereka lari kacau-balau ketakutan.

Sambil tersenyum-senyum Kwi Lan melanjutkan perjalanannya.

Senyum kepuasan menghias bibirnya.

Ia telah berhasil merobohkan orang yang telah menghina ibu kandungnya.

Biarpun ia belum pernah bertemu dengan ibu kandungnya dan belum pernah ada yang bercerita tentang ibunya, namun ia tidak percaya bahwa ibunya seorang berwatak rendah seperti dibualkan oleh Si Brewok tadi.

Ia puas bahwa ia telah membunuh orang itu dan di samping ini telah mendapatkan seekor kuda tunggangan.

Biarpun tidak sebaik kuda keturunan Hek-liong-ma yang hilang ketika ia dikeroyok bajak sungai anak buah Huang-ho Tai-ong, namun kuda ini juga seekor kuda yang baik.

Agaknya tunggangan orang-orang utara tadi.

Mereka itu jelas adalah orang-orang dari golongan sesat, maka Kwi Lan tidak merasa malu untuk merampas kuda mereka.

Akan tetapi, setelah melarikan kuda beberapa lama belum juga Kwi Lan berhasil turun dari Cheng-liong-san.

Ia merasa heran dan bingung sekali.

Sudah lama ia membalapkan kuda, naik turun dan membelok ke kanan kiri, namun ia hanya berputar-putar di sekitar lereng gunung.

Ia memang berhasil melarikan diri dari para pengejarnya, namun ia tidak berhasil turun dari gunung.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari jauh ia melihat seorang berpakaian pengemis duduk bersandar batang pohon.

Pengemis itu agaknya kelelahan dan mengaso di tempat itu lalu tertidur karena hembusan angin gunung yang sejuk.

Pengemis ini pakaiannya penuh tambalan, memegangi sebatang tongkat, sebuah buntalan besar terletak di dekatnya dan sebuah topi lebar menutupi seluruh mukanya.

Topi lebar bundar yang butut dan tua, akan tetapi anehnya, setangkai bunga mawar yang merah segar berikut dua helai daunnya terselip menghias pita topi itu.

Kwi Lan menjadi ragu-ragu.

Ingin ia bertanya kepada pengemis ini, menanyakan jalan turun.

Akan tetapi siapa tahu kalau-kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat yang berkumpul di puncak tadi.

Tentu akan sia-sia pertanyaannya.

Kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat itu, tentu bukan percuma berada di situ.

Mungkin sengaja menghadang dan kalau ia lewat, tentu akan turun tangan.

Kwi Lan sengaja memperlambat jalannya kuda ketika melewati pengemis yang duduk melenggut itu.

Kudanya lewat dekat di depan Si Pengemis dan ia sudah siap waspada menjaga serangan.

Namun pengemis itu tidak bergerak, seolah-olah tidak mendengar suara kaki kuda lewat di depannya.

Kwi Lan lewat terus sampai agak jauh sambil menengok.

Pengemis itu tetap tidak bergerak.

Kalau begitu, tentu bukan seorang di antara kaum sesat, pikirnya.

Tentu seorang pengemis tulen yang kelaparan dan kelelahan.

Maka ia lalu memutar kembali kudanya dan meloncat turun dekat pengemis itu.

Muka pengemis itu tidak tampak, tertutup topi lebar.

Akan tetapi orang yang menjadi pengemis tentulah seorang tua yang sudah tidak kuat bekerja lagi dan hidup terlantar, pikirnya.

"Paman pengemis"

Tegurnya nyaring.

"Harap kau bangun sebentar, aku ingin bertanya.."

Pengemis itu tersentak seperti orang kaget, lalu mengguman dan menggaruk belakang telinganya.

Gerakan ini membuat topinya makin menunduk.

Ketika ia mengangkat sedikit mukanya, yang tampak oleh Kwi Lan hanya sepasang mata mengintai dari bayang-bayang gelap di bawah topi.

"Mau bertanya apa?"

Suara pengemis itu lirih seperti orang kelaparan benar sehingga kehabisan tenaga.

"Engkau tentu mengenal jalan di tempat ini, Paman tua, kau tolonglah aku yang tidak tahu jalan. (Lanjut ke

Jilid 10) Mutiara Hitam (Seri ke 04

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Tunjukkan padaku jalan menuruni lembah gunung ini."

Sejenak pengemis itu tidak menjawab, melainkan memandang kuda yang dituntun Kwi Lan. Kemudian ia berkata, acuh tak acuh.

"Jalan turun bisa ditempuh jalan kaki, tak mungkin berkuda. Dari sini maju kira-kira setengah li, di pinggir jalan terdapat sebuah batu besar berbentuk kepala burung. Di belakang batu itulah terdapat jalan setapak yang akan membawa orang turun ke bawah."

Setelah berkata demikian, pengemis itu kembali menundukkan mukanya dan agaknya ia sudah jatuh pulas lagi.

"Terima kasih, Paman."

Kata Kwi Lan akan tetapi pengemis itu tidak menjawab karena agaknya sudah tidur.

Huh, pemalas benar, pikir Kwi Lan.

Akan tetapi tiba-tiba ia ingat seperti pernah melihat seorang pengemis semalas ini.

Ketika ia mengingat-ingat, terbayanglah pengalamannya dalam rumah makan di dusun dekat markas besar Lu-liang-pai di mana ia bersama Siangkoan Li berpisah.

Di rumah makan itu pun terdapat seorang pengemis yang terus menerus duduk melenggut, sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya semenjak ia datang ke rumah itu sampai pergi lagi.

Inikah orang itu?

Melihat topi bututnya mungkin ini orangnya dan kalau betul, benar-benar aneh dan mencurigakan.

Bagaimana bisa begitu kebetulan?

Tadinya bertemu di Lu-liang-san, kini kembali bertemu di Cheng-liong-san.

Di sana tidur, di sini pun tidur.

Kalau pengemis ini begitu malas dan kerjanya hanya tidur, bagaimana bisa begitu cepat berada di sini?

Biarlah, asal ia tidak menggangguku, pikir Kwi Lan.

Musuh terlalu banyak di puncak itu dan tentu masih berusaha mencarinya.

Tak perlu menambah lawan yang belumdiketahui kesalahannya.

Ia lalu meloncat ke atas punggung kudanya lagi dan melarikan kuda ke depan.

Kurang lebih setengah li jauhnya, melihat sebuah batu besar yang bentuknya mirip kepala burung, ia berhenti.

Benar saja seperti diceritakan pengemis tadi, ketika ia menyelinap ke belakang batu, tampak olehnya jalan menurun yang hanya tampak bekas tapak kaki saja.

Jalan itu curam dan kecil sekali, turunnya harus berpegangan pada akar-akar dan batu.

Tak mungkin dilalui oleh seekor kuda.

Kalau begitu pengemis itu tidak bohong, dan tidak mempunyai niat buruk.

Pada saat Kwi Lan hendak menuruni jalan setapak itu, tiba-tiba ia mendengar bentakan-bentakan keras di sebelah belakang.

Ia meloncat keluar lagi dari belakang batu untuk melihat, siap dengan pedangnya.

Alangkah kaget dan herannya ketika dari jarak setengah li jauhnya ia dapat melihat betapa pengemis malas yang tadi duduk melenggut di bawah pohon, kini telah bertanding dikeroyok belasan orang banyaknya.

Hebatnya, pengemis itu masih menutupi kepala dan mukanya dengan topi lebar butut, bahkan masih duduk melonjorkan kaki dan bersandar pada pohon, hanya tongkat di tangannya yang bergerak-gerak ke depan menangkis serangan senjata tajam belasan orang itu yang menyerangnya sambil membentak-bentak.

Kwi Lan tertarik sekali.

Banyak sekali orang aneh di dunia ini dan agaknya pengemis malas itu pun seorang aneh.

Ia menunda niatnya meninggalkan gunung ini dan karena kudanya tadi sudah ia lepas, ia lalu berlari kembali ke tempat pengemis itu dikeroyok.

Ternyata kini setelah dekat bahwa belasan orang yang mengeroyok itu adalah pengemis-pengemis pula.

Pengemis-pengemis baju bersih yang sudah beberapa kali bentrok dengan Kwi Lan.

"Hayo mengakulah, Engkau dari golongan mana dan mengapa mengacau pertemuan di puncak Cheng-liong-san? Pakaianmu bersih, hal ini berarti bahwa engkau masih segolongan dengan kami, pengemis-pengemis pakaian bersih. Mengapa kau mengacau pertemuan yang diadakan Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang? Kau dari partai mana?"

"Hemm, baju bersih badan kotor hati busuk, apa artinya? Orang-orang sesat, pergilah dan jangan menggangguku"

Pengemis itu berkata tak acuh, dan tongkatnya juga bergerak sembarangan menghadapi belasan batang tongkat, golok, dan pedang itu.

Kwi Lan yang kini sudah berdiri dekat memandang penuh perhatian dan ia menjadi kaget serta kagum sekali.

Tongkat di tangan pengemis malas itu benar-benar hebat dan lihai bukan main.

Memang behar bahwa belasan orang pengeroyok itu tidak berapa tinggi ilmu silatnya, namun karena belasan orang maju bersama maka cukup berbahaya.

Apalagi kalau diingat bahwa pengemis malas itu melawan sambil duduk dan lebih-lebih lagi, mukanya ditutup topi butut.

Akan tetapi begitu tongkat di tangan pengemis malas ini bergerak ke depan, berturut-turut belasan orang pengemis baju bersih itu roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas karena totokan ujung tongkat yang dilakukan secara cepat dan tepat luar biasa.

Kini pengemis malas itu dengan gerakan sigap telah meloncat bangun, dan barulah tampak oleh Kwi Lan betapa tubuh pengemis ini jangkung dan tegap, namun mukanya tetap bersembunyi di balik topi butut.

Sambil melintangkan tongkatnya dengan sikap penuh wibawa pengemis itu menghadapi para pengemis yang merintih-rintih dan mengurut-urut lutut mereka, lalu terdengar suaranya lantang berpengaruh, jauh bedanya dengan ketika bicara dengan Kwi Lan tadi.

"Berani menjadi pengemis berarti berani menjauhkan diri dari pada perbuatan-perbuatan jahat, berani mengatasi kemiskinan dan kelaparan dengan jalan mengetuk hati nurani mereka yang mampu, berani mengekang diri melawan nafsu duniawi. Akan tetapi kalian menghadapi kemiskinan dengan perbuatan jahat. Kalau sudah begitu, mengapa masih memakai pakaian pengemis? Kalian hanyalah penjahat-penjahat yang menyamar sebagai pengemis, membikin kotor dunia pengemis dan sudah sepatutnya dibasmi. Kalau mau menjadi penjahat, jadilah penjahat yang berani bertanggung jawab, atau kalian mau jadi pengemis, jadilah pengemis yang baik. Mengapa berlaku seperti pengecut-pengecut yang hina-dina?"

Belasan orang pengemis yang menggeletak itu tidak menjawab, hanyalah memandang dengan mata melotot.

Sebagai jawaban kata-kata itu, dari jauh terdengar bentakan-bentakan dan berbondong-bondong datanglah berlari-lari banyak orang yang bukan lain adalah orang-orang yang tadi berapat di puncak dan kini sudah datang mengejar.

Jumlah mereka itu ada tiga puluh orang lebih.

Mendengar bentakan-bentakan mereka, pengemis aneh itu menggerakkan kepala memandang ke depan, kemudian ia menoleh kepada Kwi Lan dengan muka masih tersembunyi di balik topi.

"Nona, mengapa engkau kembali? Pergilah turun gunung dan jangan kau melibatkan diri dengan orang-orang jahat itu."

"Dan engkau sendiri?"

Kwi Lan bertanya.

"Aku akan menghadapi mereka. Tongkatku masih cukup kuat untuk memberi hajaran tikus-tikus itu."

"Wah, enaknya. Engkau mau mencari enak sendiri, Paman jembel. Kalau tongkatmu kuat, apa kau kira pedangku kurang tajam? Kaulah yang boleh pergi, mereka itu mengejar aku, bukan mengejar engkau"

Bantah Kwi Lan sambil mencabut Siang-bhok-kiam dari sarungnya.

Melihat bahwa pedang gadis itu terbuat daripada kayu, pengemis itu tercengang, kentara dari sikapnya yang tiba-tiba tak bergerak.

Topinya terangkat sedikit dan dari bayangan topi itu menyambar dua buah mata yang tajam sinarnya.

"Ah, kiranya Nona seorang pendekar pedang yang lihai"

Percakapan mereka terpaksa dihentikan karena para pengejar sudah tiba dekat.

Yang tercepat larinya bahkan sudah tiba di depan pengemis itu dalam jarak empat lima meter.

Mereka mengangkat senjata sambil membentak marah.

Akan tetapi pengemis itu dengan tenang namun cepat bukan main telah menggerakkan tangan kanannya ke arah topinya, meraih dan melemparkannya ke depan dengan gerakan kilat dan..

topi itu berpusing dan terbang menyambar mereka yang datang mengancam.

Bagaikan hidup, topi itu terbang keliling dan kembali kepada pemiliknya setelah lebih dahulu mampir dan mencium dahi atau leher mereka yang mengejar paling depan.

Terdengar teriakan-teriakan kaget dan kesakitan, disusul robohnya tubuh enam orang pengejar terdepan, roboh pingsan tak dapat bangun lagi.

Sejenak Kwi Lan bengong.

Bukan karena melihat senjata rahasia topi yang aneh dan luar biasa itu karena ia maklum bahwa dengan pengerahan tenaga dalam, tidaklah sukar melempar topi yang pinggirannya lebar dan berbentuk bundar itu seperti tadi.

Yang membuat ia bengong adalah ketika pengemis itu melepas topinya, maka tampaklah kepala dan muka seorang pengemis yang tampan dan gagah.

Seorang pemuda yang paling banyak dua tiga tahun lebih tua daripadanya.

Dan ia sudah menyebutnya paman tua.

Akan tetapi ketika pengemis muda itu sudah mengenakan kembali topinya yang lebar sehingga mukanya yang tampan tertutup topi, Kwi Lan sadar dari keheranannya.

Ia pun tidak mau kalah dan secepat kilat tangan kirinya bergerak melepas jarum-jarum halus.

Kembali terdengar jerit kesakitan dan enam orang pengejar roboh.

"Nona, mari kita pergi. Jumlah mereka amat banyak dan di antara mereka banyak terdapat orang pandai. Mari"

Mereka berdua lari cepat dan sesampainya di batu berbentuk kepala burung, mereka lalu menuruni jalan setapak.

Para pengejar yang belum roboh tidak berani mengejar setelah menyaksikan kelihaian dua orang muda itu.

Mereka berdiri ragu-ragu, menanti rombongan pengejar lain yang lebih banyak sambil menolong teman-teman yang terluka.

Karena Kwi Lan dan pengemis aneh itu menggunakan gin-kang mereka, sebentar saja mereka berhasil menuruni Cheng-liong-san dan tak tampak atau terdengar lagi pengejar mereka.

Mereka kini jalan berendeng menuju ke timur.

Semenjak turun gunung tadi, tak pernah mereka membuka mulut dan baru setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, mereka tidak berlari lagi dan kini pengemis itu mengeluarkan suara.

"Ah, untung bahwa tokoh-tokohnya belum hadir. Kalau iblis-iblis itu hadir, hemm.., berbahaya sekali"

"Kau maksudkan tua-tua bangka yang mereka sebut-sebut tadi seperti Bu-tek Siu-lam, Thai-lek Kauw-ong, Jin-ciam Khoa-ong dan Siauw-bin Lo-mo? Ah, aku tidak takut. Justeru aku ingin sekali bertemu dengan mereka untuk melihat sampai di mana kelihaian mereka"

Kata Kwi Lan.

Kini pengemis muda itu yang menoleh dan memandang terheran-heran.

Saking herannya ia sampai lupa menyembunyikan muka seperti yang biasa ia lakukan.

Kebetulan sekali Kwi Lan pun menoleh sehingga ia dapat melihat wajah pengemis itu dengan jelas.

Wajah yang tampan dan gagah, masih muda namun sudah jelas tampak kematangan jiwa pada sinar mata dan tarikan mukanya.

"Engkau seorang gadis yang aneh, Nona"

"Tidak seaneh engkau"

Jawab Kwi Lan cepat.

"Bukankah engkau ini pengemis malas yang pernah kulihat duduk dalam warung di lereng Lu-liang-san? Dan mengapa engkau sekarang berada di sini? Apakah engkau sengaja mengikuti perjalananku?"

Pengemis itu menggeleng kepala.

"Tidak ada yang mengikuti, hanya kebetulan saja kita bertemu lagi di sini karena memang aku hendak menonton pertemuan kaum sesat di sini. Akan tetapi engkau.. justeru pertemuan di Lu-liang-san itu yang membuat aku keheranan dan mengatakan engkau seorang aneh, Nona. Kulihat engkau di sana bersama cucu ketua Thian-liong-pang, bersama seorang dari golongan hitam yang menentang para hwesio Lu-liang-pai. Aku sudah menyayangkan mengapa seorang dengan kepandaian seperti kau ini terjerumus kedalam pergaulan kaum sesat. Akan tetapi hari ini aku melihat engkau mengacau pertemuan kaum sesat dan memusuhi mereka, bahkan baru saja kau menantang-nantang terhadap empat orang tokoh besar mereka. Bukankah hal ini amat aneh sekali?"

"Jadi tadinya kau kira aku ini seorang tokoh hitam pula?"

Tanya Kwi Lan sambil memandang marah.

"Begitulah, karena kau datang bersama tokoh Thian-liong-pang dan menentang hwesio-hwesio Lu-liang-pai."

"Bukan, aku bukan tokoh golongan sesat."

"Itu aku percaya setelah menyaksikan sepak terjangmu di sini. Engkau tentu seorang pendekar pedang wanita yang sakti."

"Juga bukan. Aku bukan pendekar wanita dan bukan pula penjahat. Aku orang biasa saja. Tidak seperti engkau. Engkau tentu seorang tokoh kaipang (perkumpulan pengemis) yang terkenal. Agaknya engkau memimpin pengemis-pengemis baju kotor, bukan?"

Pengemis muda itu menghela napas panjang kemudian menggeleng kepala.

"Aku juga bukan apa-apa, seperti engkau bahkan tidak ada orang yang mengenal siapa aku ini. Memang betul bahwa mendiang Ayahku adalah seorang tokoh besar dunia pengemis, akan tetapi sudah lama sekali sebelum aku lahir Ayahku telah mengundurkan diri dari dunia pengemis. Sebagai seorang pengemis, tentu saja Ayah hanya meninggalkan topi butut, tongkat lapuk, dan pakaian tambal-tambalan ini. Namun, melihat betapa dunia pengemis terancam malapetaka, terpaksa aku harus turun tangan mewakili mendiang Ayah. Karena itulah aku turun gunung dan bertemu dengan engkau di sini."

"Wah, kalau begitu Ayahmu tentu Yu Kang Tianglo"

Pengemis muda itu terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Kwi Lan tertawa dan wajah yang sudah cantik itu menjadi amat menarik.

Ketawanya wajar, tidak ditutup-tutupi dan tidak malu-malu sehingga gadis itu memperlihatkan kecantikan yang aseli.

Pengemis muda ini sejenak menjadi bengong, namun ia membuang pandang matanya dan menekan perasaannya.

"Tentu saja aku tahu. Kau berilmu tinggi dan seorang pengemis, kau bilang Ayahmu tokoh besar dunia pengemis. Tentu pengemis golongan putih. Dan tadi, di antara musuh-musuh kaum sesat disebut-sebut nama Yu Kang Tianglo, siapa lagi kalau bukan Ayahmu."

Diam-diam pemuda itu kagum sekali.

Gadis ini lihai, lincah, wajar dan belum terusak tata susila palsu, Di samping ini, juga pemberani sekali dan cerdik.

Teringatlah dia akan adegan di warung yang terletak di lereng Bukit Lu-liang-san.

Pemuda Thian-liong-pang itu tampan sekali dan lihai.

Pantas saja tergila-gila kepada gadis ini.

Siapa orangnya yang takkan tergila-gila?

"Betul sekali dugaanmu.

Mendiang Ayahku adalah Yu Kang Tianglo.

Namaku Siang Ki, Yu Siang Ki, pengemis muda sebatang kara, kalau saja Nona sudi mengetahui dan mengenalku."

Ia menjura dengan sikap hormat. Kwi Lan membalas penghormatan itu sambil tertawa.

"Ihh, kau lucu. Mengapa tidak suka berkenalan? Gerakan tongkatmu tadi hebat luar biasa, biarpun pakaianmu pakaian jembel, namun engkau bukan seorang kotor. Yu Siang Ki, namaku Kwi Lan, Kam Kwi Lan. Akan tetapi ada badut yang menyebutku Mutiara Hitam"

Pengemis muda itu mengangkat muka memandang, sinar matanya penuh dugaan.

"Engkau she Kam, Nona?"

"Benar, kenapakah?"

"Aih, tidak apa-apa, hanya.. mengapa begitu kebetulan? Eh, Nona Kwi Lan.."

"Wah, kau menjemukan benar, menyebutku nona-nonaan segala. Semua orang yang menjadi sahabatku menyebutku Kwi Lan begitu saja atau.. Mutiara Hitam."

"Tapi aku.. bukan sahabat.."

"Hemm, bagus, ya? Kalau tidak suka bersahabat, mengapa mengobrol sejak tadi? Engkau tak mau bersahabat? Nah, selamat berpisah"

Kwi Lan sudah membalikkan tubuh hendak pergi.

"Eh.., maaf, bukan begitu maksudku. Aku.. tadinya merasa terlalu rendah menjadi sahabatmu, tapi.. baiklah, Kwi Lan, jangan kau marah-marah. Mengapa kau begini gampang marah?"

Kwi Lan tertawa.

"Memang aku gampang marah gampang gembira. Nah, sekarang lanjutkan, kalau aku she Kam, mengapa kebetulan?"

"Shemu mengingatkan aku akan seorang yang kujunjung tinggi, seorang pendekar sakti yang selain menjadi sahabat baik mendiang Ayahku, juga menjadi tokoh besar dunia kang-ouw yang tadi pun disebut-sebut oleh mereka sebagai musuh nomor satu. Dia adalah Suling Emas"

"Eh, dia she Kam?"

Siang Ki mengangguk.

"Menurut penuturan Ayahku, Suling Emas bernama Kam Bu Song, Kwi Lan, melihat keadaanmu yang luar biasa, ilmu kepandaianmu yang lihai, dan shemu Kam, siapa yang takkan menghubungkan engkau dengan Suling Emas? Apakah engkau puterinya? Ataukah keponakannya?"

Kwi Lan menggeleng kepala, mukanya membayangkan kekecewaan.

Kalau saja benar demikian, bahwa dia puteri seorang sakti seperti Suling Emas, alangkah akan menyenangkan dan membanggakan.

Akan tetapi kenyataannya bukan demikian.

Dia puteri Ratu Khitan, dia seorang Khitan yang dianggap bangsa liar.

"Bukan, aku bahkan sama sekali tidak kenal dan tidak pernah melihat bagaimana macamnya Suling Emas."

"Ah, sayang sekali. Alangkah akan senang hatiku andaikata engkau benar-benar puterinya, karena aku pun sedang mencarinya. Aku sendiri pun belum pernah berjumpa dengan Suling Emas, akan tetapi Ayah berpesan bahwa dalam usahaku membersihkan dunia pengemis dari oknum-oknum jahat, sebaiknya aku mohon pertolongan Suling Emas. Bolehkah aku mengetahui siapa orang tuamu?"

Mereka tiba di depan sebuah anak sungai yang amat jernih airnya.

Hutan kecil di kaki Gunung Cheng-liong-san itu amat indah dan sunyi.

Bunyi air mengalir di antara batu-batu menjadi dendang yang aneh namun merdu.

Kwi Lan lalu duduk di tepi sungai, di atas batu yang halus licin.

Yu Siang Ki menanggalkan topinya dan mengebut-ngebutkan topi ke arah leher.

Sejuk dan nyaman sekali duduk di tepi anak sungai itu.

"Aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku."

Kata Kwi Lan sambil memandang air dengan pandang mata melamun.

"Semenjak aku masih bayi, aku dirawat Guruku."

Yu Siang Ki memandang dengan hati iba.

Dia sendiri sudah tidak punya ayah dan ibu, akan tetapi sedikitnya ia sudah menikmati hidup di samping orang tuanya.

Gadis ini sama sekali tidak tahu siapa ayah bundanya, seorang gadis yang patut dikasihani.

"Ah, Gurumu tentulah seorang sakti yang luar biasa. Siapakah julukannya yang mulia?"

"Guruku tidak mempunyai julukan apa-apa, selamanya menyembunyikan diri, dan aku hanya mengenalnya sebagai Bibi Sian. ilmu kepandaiannya memang luar biasa hebatnya, akan tetapi dia orang biasa saja."

Kwi Lan memang sengaja tidak mau menyebut nama bibinya karena bibinya adalah seorang aneh yang tidak suka dikenal namanya.

Juga ia tidak mau menimbulkan keheranan lagi kepada pengemis muda ini dengan memberitahukan bahwa bibi atau gurunya itu pun she Kam"

Yu Siang Ki menarik napas panjang.

"Memang banyak orang sakti aneh di dunia ini yang mengasingkan diri tidak mencampuri urusan dunia ramai. Gurumu tentu seorang di antara mereka dan melihat kepandaianmu, tentu Gurumu seorang yang amat pandai."

Kwi Lan tertawa.

"Yu Siang Ki, engkau belum pernah bertanding denganku, belum pernah melihat kepandaianku, akan tetapi sudah berkali-kali memuji. Guruku memang lihai, akan tetapi tidaklah terlalu aneh. Orang-orang sakti seperti Pak-kek Sian-ong dan Lang-kek Sian-ong itu barulah patut disebut orang-orang sakti dan aneh luar biasa."

Siang Ki terkejut dan cepat menatap wajah gadis itu dengan penuh perhatian.

"Apa? Engkau pernah berjumpa dengan kedua Locianpwe itu? Mengenal mereka?"

Kwi Lan mencibirkan bibirnya.

Hatinya masih mengkal kalau ia teringat kepada dua orang kakek itu, menganggap mereka itu keterlaluan sekali sikapnya terhadap Siangkoan Li.

"Tentu saja aku sudah pernah bertemu dengan dua orang tua bangka seperti monyet"

"Aiihhh.. Kwi Lan, bagaimana engkau berani..?"

"Memaki mereka monyet? Di depan mereka pun aku berani memaki-maki mereka. Boleh jadi mereka lihai dan aneh, akan tetapi mereka itu layak dimaki, dan seandainya aku memiliki ilmu kepandaian seperti Bu Kek Siansu, tentu mereka berdua itu sudah kuberi pukulan seorang satu sampai kapok"

Kini Siang Ki memandang bengong. Makin lama makin mengherankan gadis ini.

"Kau.. kau pernah berjumpa pula dengan.. dengan Bu Kek Siansu?"

Kwi Lan mengangguk, bangga melihat keheranan pengemis muda ini.

Tanpa disadarinya, Siang Ki memegang lengan gadis itu erat-erat dan dengan penuh gairah ia bertanya.

"Benarkah itu, Kwi Lan? Benarkah ada manusia dewa itu? Aku hanya mendengar namanya seperti dongeng yang diceritakan Ayah"

"Mengapa aku berbohong? Aku sudah melihatnya, dan memang kakek tua renta itu lihai dan aneh akan tetapi juga goblok"

Kali ini sepasang mata Siang Ki memandangi muka Kwi Lan dengan penuh curiga dan keraguan.

Gadis ini berani memaki Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, hal itu sudah merupakan sesuatu yang tak masuk akal dan terlalu luar biasa karena sebagian besar orang kangouw, menyebut nama dua orang kakek ini pun dengan berbisik-bisik.

Akan tetapi sekarang gadis ini tidak hanya berani memaki mereka, bahkan berani mengatakan bahwa Bu Kek Siansu goblok.

Ini sudah keterlaluan sekali.

Nama Bu Kek Siansu sudah disanjung-sanjung oleh semua pendekar, dianggap guru besar yang setara dengan Tat Mo Couwsu dan juga disegani, semua tokoh dunia hitam, dianggap seperti manusia dewa yang entah sudah berapa ratus tahun usianya.

Akan tetapi gadis ini menyebutnya goblok.

Kalau tidak mendengar dengan kedua telinganya sendiri, tak mau Siang Ki mempercayai hal ini.

"Kwi Lan, maukah engkau menceritakan kepadaku tentang perjumpaanmu dengan tiga orang kakek sakti itu?"

Dengan penuh gairah pemuda ini berkata sehingga membangkitkan semangat Kwi Lan untuk menceritakan pengalamannya bersama Siangkoan Li.

Ketika mendengar penuturan itu, Yu Siang Ki menghela napas panjang dan berulang kali ia mengangguk.

"Ah, kalau begitu keliru persangkaanku. Patut dikasihani keadaan Siangkoan Li dan biarlah kelak aku akan membantunya jika keadaan mengijinkan. Keadaan antara dia dan aku banyak persamaannya. Dia bertugas membangun dan membersihkan Thian-liong-pang sedangkan aku harus membangun kembali dan membersihkan Khong-sim Kai-pang dan kaum pengemis. Kalau benar seperti yang kau ceritakan bahwa kedua orang Sian-ong itu sudah ditundukkan dan berjanji kepada Bu Kek Siansu untuk memihak kebenaran, kita boleh bernapas lega, Kwi Lan. Hanya orang-orang seperti mereka itulah yang kelak akan sanggup membendung datangnya iblis-iblis jahat yang akan menguasai dunia persilatan."

"Yu Siang Ki, aku sudah terlalu banyak bercerita. Sekarang kau ceritakanlah pengalamanmu, tentang Ayahmu yang terkenal itu dan tentang kau sendiri."

Memang begitu berjumpa, Yu Siang Ki merasa suka dan cocok sekali dengan gadis yang wajar dan polos ini.

Apalagi ketika mengetahui bahwa Kwi Lan she Kam, biarpun tidak ada hubungan dengan Kam Bu Song si Suling Emas, namun persamaan she ini saja sudah menambah rasa suka di hatinya karena semenjak kecil memang Siang Ki sudah memuja nama Suling Emas yang dipuji-puji selalu oleh ayahnya.

Kini mendengar permintaan gadis ini tanpa ragu-ragu lagi ia lalu bercerita.

Yu Kan Tianglo adalah seorang tokoh partai pengemis Khong-sim Kai-pang.

Ia putera Ketua Khong-sim Kai-pang akan tetapi semenjak kecil menghilang dan mempelajari Ilmu silat tinggi.

Setelah berusia tiga puluh tahun ia muncul dan mencari musuh besar yang membunuh ayahnya, yaitu seorang di antara Thian-te Liok-kwi yang menjadi raja pengemis, It-gan Kai-ong.

Di dalam usahanya yang amat sukar ini karena It-gan Kai-ong memiliki kesaktian yang hebat, ia mendapat bantuan Suling Emas sehingga akhirnya berhasil membunuh tokoh iblis itu.

Semenjak itu, Yu Kang Tianglo tidak pernah lagi muncul di dunia kang-ouw.

Biarpun secara diam-diam ia masih suka kadang-kadang mengadakan hubungan dengan para pimpinan kai-pang, namun ia sendiri mengasingkan diri dan beberapa tahun kemudian menikah dengan puteri seorang sahabatnya, juga seorang pendekar silat yang mengasingkan diri.

Dari pernikahan ini lahirlah Yu Siang Ki.

Akan tetapi sungguh malang nasib Yu Kang Tianglo, ketika melahirkan, isterinya meninggal dunia.

Hal ini terjadi karena tempat tinggal mereka yang menyendiri di lereng Bukit Thai-hang-san, jauh tetangga sehingga pada saat melahirkan.

Yu Kang Tianglo sendiri tidak berada.

di rumah, sedang pergi mencari pembantu.

Ketika ia pulang ke pondok bersama seorang wanita yang biasa membantu orang melahirkan, isterinya telah menggeletak tak bernyawa di samping seorang bayi yang menangis keras.

Isterinya mati karena kehabisan darah.

Yu Kang Tianglo hidup dengan hati mengandung kedukaan besar.

Ia makin tak mau lagi muncul di dunia ramai.

Hidupnya dlcurahkan untuk merawat dan mendidik Siang Ki sehingga ketika pemuda ini, berusia dua puluh tahun, ia telah mewarisi semua kepandaian ayahnya.

Betapapun juga, Yu Kang Tianglo tak pernah mau mengingkari asal-usulnya sebagai putera kai-pang (perkumpulan pengemis) sehingga bukan hanya dia, bahkan puteranya pun semenjak kecil diharuskan memakai pakaian yang dihias tambal-tambalan seperti pakaian pengemis.

"Demikianlah, Kwi Lan. Ketika Ayah mendengar bahwa dunia pengemis kembali rusak dan terancam hebat oleh tokoh-tokoh sesat sehingga banyak pengemis dibawa menyeleweng, Ayah menjadi kaget dan marah sekali. Hal ini sungguh menjadi malapetaka karena jantung Ayah yang selalu lemah dan sakit-sakit semenjak ibu meninggal dunia, mendapat serangan yang membawa Ayah meninggal dunia pula. Ayah hanya berpesan agar aku mewakili Ayah untuk menolong kaum pengemis, terutama sekali Khong-sim Kai-pang."

Kwi Lan mendengarkan penuturan itu dengan hati penuh iba.

Kiranya pemuda ini juga bernasib buruk di waktu kecilnya, tidak ada bedanya dengan Tang Hauw Lam maupun Siangkoan Li.

Semenjak kecil sudah dirundung malang dan kini hidup sebatang kara di dunia.

"Saudara Siang Ki, karena engkau selalu melakukan perantuan di dunia kang-ouw, kulihat engkau mengenal semua tokoh kang-ouw yang sakti-sakti dari golongan hitam maupun putih. Karena Ayahmu adalah sahabat baik pendekar sakti Suling Emas, tentu engkau tahu baik tentang riwayat pendekar itu."

"Aku hanya mendengar dari penuturan mendiang Ayah. Biarpun hatiku amat kepingin, namun belum pernah aku mendapat kehormatan berjumpa dengan pendekar itu."

"Dalam percakapan kaum sesat di puncak Cheng-liong-san tadi, aku mendengar mereka menyebut-nyebut nama Ratu Khitan yang katanya masih sanak dekat dengan Suling Emas, bahkan katanya menjadi.. eh, kekasihnya. Tahukah engkau akan hal itu?"

Yu Siang Ki menggeleng kepalanya.

"Ayah tidak tahu akan hal itu. Aku pun tidak tahu benar. Yang kutahu bahwa Ratu Khitan kabarnya juga memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, dan aku pernah mendengar pula dari luaran bahwa ratu itu dahulu menjadi adik angkat Suling Emas. Tentang hubungan asmara di antara mereka, aku tidak tahu. Yang pasti, sampai sekarang Suling Emas tidak pernah menikah, juga Ratu Khitan yang kabarnya cantik jelita itu sampai sekarang tak pernah menikah."

Berdebar jantung Kwi Lan.

Berdebar dan merasa tidak enak.

Menurut kata Bibi Sian gurunya, dia adalah puteri Khitan.

Kalau Ratu Khitan tidak pernah menikah, bagaimana ia bisa menjadi puterinya?

Siapakah ayahnya?

"Ah, bagaimana mungkin seorang ratu tidak menikah?"

Ia pura-pura merasa heran dan bertanya.

"Bukankah seorang raja atau ratu itu membutuhkan keturunan untuk kelak diwarisi tahta kerajaan?"

Yu Siang Ki mengangguk-angguk.

"Aku tidak tahu mengapa Ratu Khitan yang terkenal itu tidak menikah. Akan tetapi aku mendengar dari para pedagang keliling yang seringkali mengembara ke Khitan bahwa sesungguhnya ia tidak menikah namun Ratu Khitan mempunyai seorang putera angkat. Agaknya putera angkatnya itu pun telah mewarisi kepandaian ibunya. Namanya Pangeran Talibu, dan sudah beberapa kali pangeran itu mengadakan perjalanan ke selatan. Ilmu silatnya tinggi, orangnya tampan bukan main dan sebentar saja namanya pun terkenal sebagai seorang yang tangguh."

Makin tidak nyaman rasa hati Kwi Lan.

Kalau benar seperti yang dituturkan gurunya secara singkat sekali bahwa dia puteri Ratu Khitan mengapa ia sejak kecil ikut Bibi Sian?

Mengapa Ibu kandungnya sendiri tidak merawat dan mendidiknya, bahkan mengangkat seorang putera?

Apakah karena aku perempuan?

Makin penasaran rasa hati Kwi Lan sehingga tampak mukanya kemerahan, matanya menyinarkan api kemarahan.

"Kau kenapakah?"

Siang Ki yang berpemandangan tajam itu menegurnya.

"Tidak apa-apa. Tahukah kau di mana aku bisa bertemu dengan Suling Emas?"

Siang Ki makin terheran.

"Kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai hubungan dengan Suling Emas, mengapa sekarang hendak bertemu dengannya?"

Kwi Lan sudah dapat menekan perasaannya. Ia tersenyum dan menjawab.

"Puji-pujian yang kudengar mendorong hatiku untuk melihat bagaimana macamnya pendekar besar itu. Di manakah dia berada sekarang?"

"Aku sendiri pun mencari-carinya, Kwi Lan. Tidak mudah mencari seorang tokoh penuh rahasia seperti Suling Emas. Aku hendak pergi ke Kang-hu mengunjungi pusat dari Khong-sim Kai-pang. Setelah aku memperkenalkan diri, kiranya para tokoh Khong-sim Kai-pang ada yang tahu di mana adanya Suling Emas yang merupakan sahabat baik itu."

Hati Kwi Lan kecewa mendengar bahwa pemuda yang luas pengalamannya ini pun tidak tahu di mana adanya Suling Emas.

Ia harus bertemu dengan Suling Emas.

Harus ia tanyai pendekar itu tentang ibu kandungnya.

Kalau memang betul bahwa ibu kandungnya itu seorang wanita tak tahu malu seperti yang dibicarakan oleh para kaum sesat, ia tidak usah melanjutkan keinginan hatinya pergi menemui ibunya itu.

Di samping ini, ia pun tertarik untuk menyaksikan bagaimana keadaan perkumpulan pengemis golongan putih yang menjadi musuh pengemis-pengemis golongan hitam.

Ingin ia bertemu dengan tokoh-tokoh dan pendekar-pendekar besar yang ia percaya tentu akan ia jumpai kalau ia mengikuti pengemis muda ini.

"Aku ikut"

Tiba-tiba ia berkata. Siang Ki memandang, terkejut.

"Apa maksudmu? Ikut..?"

"Ya, aku ikut bersamamu dengan harapan agar kau dan Khong-sim Kai-pang akan dapat membantuku mempertemukan dengan Suling Emas. Atau.. barangkali engkau tidak suka mengajak aku."

Sepasang mata gadis itu memandang penuh selidik, bahkan mengandung tantangan.

Mau tidak mau Siang Ki tersenyum.

Gadis ini benar lincah dan wajar, aseli dan menyenangkan.

Ia mengangguk dan berkata lirih.

"Bukan aku yang tidak suka melakukan perjalanan bersamamu, Kwi Lan. Sebaliknya aku bersangsi apakah engkau akan betah melakukan perjalanan di samping seorang pengemis sehingga derajatmu terseret turun dan dipandang rendah serta dihina orang."

"Karena kau seorang yang berpakaian pengemis? Huh, hendak kulihat siapa berani menghinaku kalau aku berjalan bersamamu. Mengukur manusia bukan dari pakaiannya, bukan pula dari kata-katanya, melainkan dari perbuatannya. Hal ini kuketahui benar setelah merantau."

Pengemis muda itu memandang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.

"Dan engkau akan masih belajar banyak, Kwi Lan, dan akan mendapatkan kenyataan-kenyataan yang banyak pula. Hidup ini belajar dan sebelum mati, takkan pernah habis hal-hal yang perlu kita pelajari. Nah, mari kita berangkat ke kota Kang-hu."

Demikianlah, untuk ke tiga kalinya Kwi Lan melakukan perjalanan bersama seorang pengemis tampan yang lihai dan sifatnya jauh lagi bedanya dengan dua orang pemuda yang pernah dikenalnya.

Kalau Tang Hauw Lam pemuda berandalan yang selalu riang gembira itu memandang hidup dari segi yang lucu dan menggembirakan, sedangkan Siangkoan Li memandang hidup dari segi yang penuh kedukaan, kekecewaan dan penuh perjuangan, adalah pemuda ke tiga ini seorang pemuda yang sikapnya seperti orang tua, sudah masak, berpemandangan luas banyak pengalaman hidup dan memandang dunia dengan sepasang mata yang penuh pengertian.

Tiga orang pemuda yang ketiganya sama lihai, entah mana yang paling tinggi ilmunya, dan yang memiliki sifat-sifat menarik dan baik masing-masing.

Tiga pemuda perkasa yang begitu berjumpa dengan Kwi Lan telah memperlihatkan rasa suka dan sayang.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Suling Emas, semenjak dalam buku

Jilid pertama.

Dua orang tokoh pengemis Khong-sim Kai-pang yang bernama Gaklokai dan Ciam-lokai, dengan penuh keyakinan mengira bahwa Suling Emas adalah Yu Kang Tianglo dan mohon kepada "Yu Kang Tianglo"

Ini untuk menolong kaum pengemis yang terancam keselamatannya oleh kaum sesat.

Setelah mendengar permintaan mereka berdua, akhirnya Suling Emas menyanggupi untuk datang ke Kang-hu mengunjungi Khong-sim Kai-pang sebagai Yu Kang Tianglo.

Ada dua hal yang menyebabkan Suling Emas menerima permintaan ini.

Pertama karena mengingat akan persahabatannya dengan Yu Kang Tianglo sehingga ia ingin sekali menyelamatkan Khong-sim Kai-pang dari tangan orang-orang sesat.

ke dua, karena ia sedang dikejar-kejar oleh para orang-orang suruhan Ratu Yalina dari Khitan yang minta kepadanya untuk datang ke Khitan.

Hatinya ingin sekali pergi ke Khitan melepaskan rindu terhadap kekasihnya, Lin Lin atau Ratu Yalina, akan tetapi keinginan ini ia tekan dengan anggapan bahwa kepergiannya ke Khitan berarti merendahkan derajat ratu yang di junjung tinggi oleh bangsa Khitan itu.

Tidak, ia harus berkorban.

Dengan menyamar menjadi Yu Kang Tianglo dan menutupi mukanya dengan saputangan, tentu akan membebaskannya daripada pengejaran orang-orang Khitan itu.

Karena kini menghadapi sebuah tugas yang penting, maka hati dan pikiran Suling Emas tidak lagi terlalu ditekan oleh kenang-kenangan pahit sehingga tubuhnya menjadi lebih segar dan bersemangat.

Memang tubuh pendekar sakti ini sudah amat kuat dan kebal terhadap segala penderitaan.

Hanya kalau terlalu merana hatinya, teringat akan kegagalan-kegagalan cinta kasih yang meremukkan jiwanya, maka jantungnya menjadi tidak kuat dan ia suka terbatuk-batuk.

Akan tetapi sekali ia sudah dapat mengatasi kedukaan lni, tubuhnya menjadi sehat kembali.

Kuda merah kurus yang menjadi kawan satu-satunya dan menjadi kuda tunggangannya yang setia, berjalan perlahan.

Setelah tiba di depan pintu gerbang kota Kang-hu sebelah barat, Suling Emas menarik napas panjang.

Entah sudah berapa belas tahun ia tak pernah lewat kota ini yang dahulu dikenalnya amat baik.

Ia menaikkan saputangan menutupi mukanya, menundukkan topi bututnya menyembunyikan muka dan melanjutkan perjalanan.

Untuk pergi ke kuil yang menjadi markas besar perkumpulan pengemis, Khong-sim Kai-pang, ia harus memasuki kota Kang-hu dan keluar lagi dari kota itu melalui pintu sebelah timur karena kuil itu berada di luar kota sebelah timur.

Kota Kang-hu tidak ada perubahan.

Bangunan-bangunannya, toko-tokonya, masih seperti dulu saja.

Namun ia tahu bahwa penduduknya sudah berubah.

Orang-orang muda yang dahulu telah menjadi tua, seperti dia.

Pekerjaan orang-orang tua sudah diganti yang muda, yang dahulu masih kanak-kanak atau bahkan belum terlahir.

Oleh karena penggantian satu generasi ini, maka Suling Emas melihat betapa ia tidak mengenal seorang pun di antara orang-orang yang lalu-lalang atau berada di dalam warung dan toko.

Maka hatinya menjadi lega dan ia melepas saputangan yang menutupi mukanya.

Hanya kalau perlu saja, agar jangan dikenal orang, ia menutupi mukanya.

Kalau memang tidak ada yang mengenalnya, ia tidak perlu menutupi mukanya karena hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan.

Seorang laki-laki tua di atas kuda kurus dan buruk bukanlah penglihatan yang aneh di kota itu, maka tak seorang pun memperhatikan Suling Emas.

Semua orang menganggap dia ini seorang petani tua miskin yang mungkin hendak mencari sanaknya di kota atau hendak berbelanja.

Ketika tiba di sebuah jalan simpang tiga di dekat pintu gerbang timur, Suling Emas menghentikan kudanya di depan sebuah warung.

Ia teringat bahwa warung ini dahulu amat terkenal dengan masakan bakminya yang lezat dan murah.

Perutnya memang sudah lapar maka ia ingin makan di mi warung ini.

Seperti yang telah diduganya, juga penjaga kedai bakmi ini sudah terganti orang lain semua.

Akan tetapi meja-mejanya masih seperti dahulu, menjadi hitam mengkilap saking tuanya dan setiap hari terkena minyak.

Dengan hati lega Suling Emas mengambil tempat duduk di sudut menghadap ke pintu masuk.

Senang juga melihat betapa dugaannya tepat, kedai bakmi itu masih dikunjungi banyak tamu karena bakminya.

Buktinya, belasan orang tamu yang memenuhi tempat itu semua menggerakkan sumpit makan bakmi.

Ia memesan bakmi dan arak, kemudian makan dengan enaknya.

Betapapun juga, karena ia berada dekat markas Khong-sim Kai-pang dan maklum bahwa mulai dari kota inilah ia akan menghadapi hal-hal yang pelik, Suling Emas memasang mata dengan waspada.

Ia sengaja tidak menurunkan topi bututnya dan mengintai dari balik topinya sambil makan bakmi dan minum arak.

Tidak ada sesuatu yang ganjil di antara para tamu yang makan bakmi.

Hanya di sudut kanan ada tiga orang laki-laki berpakaian seperti ahli-ahli silat, agaknya mereka ini adalah piauwsu-piauwsu (pengantar kiriman) yang lewat di Kang-hu dan makan di kedai ini.

Yang seorang sudah berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka merah.

Yang dua orang adalah pemuda-pemuda berusia dua puluh lima tahun, bersikap gagah dan hormat terhadap yang tua itu.

Di pinggang mereka tampak gagang pedang.

Melihat sikap mereka itu tidak sombong dan bicara dengan sopan dan perlahan.

Suling Emas tahu bahwa mereka ini adalah orang baik-baik.

Logat bicara mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang selatan.

Setelah habis semangkok bakmi, Suling Emas minta semangkok lagi.

Perutnya amat leper, sudah dua hari ia tidak makan.

Juga ia minta tambah arak.

Pelayan kedai curiga.

Orang tua ini pelahap benar, dan pakaiannya seperti pengemis, atau paling hebat juga seorang dusun yang miskin.

"Lopek harap bayar dulu,"

Kata Si Pelayan dengan suara perlahan.

Kalau sampai orang ini terlalu banyak makan minum kemudian tidak dapat membayarnya, dia juga tidak terlepas dari tanggung jawab dan selain mendapat teguran, sedikitnya ia harus menanggung separoh harga makanan dan minuman itu.

Suling Emas tersenyum.

Ia dihina, akan tetapi ia maklum mengapa pelayan mencurigainya.

Ia tidak merasa terhina karena ia tahu akan dasar sikap pelayan itu.

Tanpa berkata sesuatu ia mengeluarken sepotong perak dan memberikannya kepada Si Pelayan.

Melihat perak ini yang cukup besar, Si Pelayan mengubah sikap membungkuk-bungkuk dan berkata.

"Biar nanti sajalah, Lopek. Saya ambilkan tambahanmu."

Si Pelayan pergi dan Suling Emas menyimpan peraknya sambil tersenyum pula.

Semenjak ia muda dahulu sampai sekarang, generasi telah berganti namun watak manusia masih sama saja.

Hidup manusia sudah tidak sewajarnya lagi.

Hati dan pikiran manusia diselubungi hawa keduniaan sehingga orang mempercaya orang lain bukan berdasarkan pribadinya namun berdasarkan harta dan kedudukannya.

Orang menghormat orang lain bukan berdasarkan sikap pribadinya melainkan berdasarkan bagusnya pakaian dan padatnya kantung.

Manusia sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri yang sudah sepenuhnya dikuasai harta benda dan kedudukan.

Manusia hanyalah abdi-abdi nafsu kesenangan yang amat lemah dan menyedihkan.

Ketika pelayan itu membawa bakmi dan arak tambahan yang dipesannya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut di pintu kedai.

Si Pelayan menoleh dan ketika ia melihat dua orang pengemis di pintu itu yang marah-marah dan memaki-maki, ia cepat-cepat lari ke dalam dengan muka pucat.

Suling Emas menoleh dan diam-diam ia terkejut ketika melihat dua orang pengemis setengah tua yang berdiri di depan pintu itu.

Dua orang pengemis ini menaruh tangan kiri di atas dada sedangkan tangan kanan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk di atas kepala.

Itulah tanda bahwa mereka berdua adalah anggauta-anggauta Khong-sim Kai-pang.

Mau apakah dua orang Khong-sim Kai-pang datang ke kedai ini dengan sikap demikian aneh?

"Mana pemilik kedai?

Hayo lekas keluar"

Bentak seorang di antara mereka dengan suara galak.

Kini mereka sudah menurunkan kedua tangan, memegang tongkat yang tadi mereka kempit.

Tak lepas dari pandang mata Suling Emas betapa para tamu kelihatan gelisah melihat dua orang pengemis ini, seperti takut-takut.

Sejak kapankah anggauta-anggauta Khong-sim Kai-pang bersikap galak seperti ini dan ditakuti orang?

Dari dalam kedai berlari-lari keluar seorang berjubah hitam panjang, tubuhnya kecil kurus dan kumisnya panjang sampai ke dagunya.

Jelas tampak orang ini ketakutan, sambil membungkuk-bungkuk dan memaksa senyum sehingga tampak giginya yang hitam karena tembakau ia menghampiri dua orang pengemis itu sambil berkata.

"Ah, kiranya Ji-wi dari Khong-sim Kai-pang. Silakan duduk"

"Tak usah banyak jual omongan manis. Kami datang bukan menghendaki bakmimu yang busuk dan arakmu yang bau. Engkau Lai Keng pemilik kedai ini?"

"Be.. betul.., ada apakah, Taihiap..?"

Diam-diam Suling Emas geli juga mendengar, Si Pemilik Kedai menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada anggauta Khong-sim Kai-pang itu.

"Huh, engkau benar-benar memandang rendah kepada kami, ya? Ketika kemarin seorang anggauta rendahan kami datang minta derma sepuluh tail, kenapa hanya kau beri uang kecil? Engkau berani menghina kami?"

"Ah, tidak sama sekali.., mana saya berani? Ketahuilah, harap Ji-wi suka mempertimbangkan. Perdagangan sekarang sepi, dan pula keuntungannya habis dipakai bayar pajak pemerintah, bagaimana saya sanggup menderma sepuluh tail perak? Harap Ji-wi sudi mempertimbangkan.."

"Tidak laku, ya? Sepi kau bilang? Begini banyak tamu kau bilang sepi"

Bentak pengemis ke dua.

"Benar, ada juga yang datang berbelanja namun keuntungannya tipis sekali.."

"Banyak alasan. Kalau kau naikkan harganya setiap mangkuk, bukankah kau mendapatkan banyak untung dan tidak berat menyumbang sepuluh tail? Pendeknya, tak usah banyak cerewet. Kami Khong-sim Kai-pang bukannya orang-orang yang boleh dihina. Kalau kau sekarang tidak mengeluarkan sepuluh tail, jangan harap kau akan dapat membuka lagi kedaimu ini"

Sambil berkata demikian, seorang di antara para pengemis itu menggerakkan tongkatnya ke bawah dan..

"ceppp.."

Tongkat itu amblas masuk ke dalam lantai sampai setengahnya lebih.

Si Pemillk Kedai menjadi pucat wajahnya dan tubuhnya menggigil.

Dengan suara bercampur isak ia berkata.

"Kalau begini.. bakal bangkrut.."

"Kau pilih saja. Bangkrut atau mampus"

Keadaan sudah memuncak dan pada saat itu terdengar orang menggebrak meja sambil berseru.

"Bangsat tak tahu malu. Dari mana datangnya pengemis-pengemis yang begini kurang ajar"

Ternyata yang menggebrak meja dan marah-marah ini adalah tiga orang piauwsu tadi yang kini sudah bangkit berdiri dan menghampiri dua orang pengemis yang berdiri di luar pintu.

Piauwsu setengah tua bermuka merah tadi kini menudingkan telunjuknya kepada dua orang pengemis sambil membentak.

"Kalian ini golongan apakah? Melihat sikap dan pakaian seperti pengemis-pengemis yang biasanya mencari sisa makanan di kedai-kedai atau minta sedekah kepada orang yang lewat. Akan tetapi ternyata kalian lebih rendah daripada pengemis maupun perampok. Pengemis tidak minta secara paksa sedangkan perampok tidak akan berkedok pengemis"

Dua orang pengemis itu saling pandang, kemudian mereka memandang piauwsu itu dengan mata melotot lebar.

"Apa kamu mencari mampus berani mencampuri urusan kami dua orang anggauta Khon-sim Kai-pang?"

Sebutan Khong-sim Kai-pang ini dikatakan oleh seorang di antara pengemis itu dengan keras-keras, agaknya ia hendak mempergunakan pengaruh nama ini untuk mendatangkan kesan.

"Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong) semestinya mempunyai anggauta-anggauta yang berhati kosong tanpa pamrih akan tetapi kalian ini perampok-perampok berkedok pengemis amat menjemukan. Kami adalah tamu-tamu yang sedang makan di kedai ini, memang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pemilik kedai. Akan tetapi kami sedang makan kalian berani datang mengganggu. Huh, melihat saja membuat perut kami muak dan tidak ada nafsu makan. Hayo enyah dari sini"

Bentak piauwsu setengah tua muka merah.

Dua orang piauwsu muda di kanan kirinya juga bersikap galak.

Malah seorang di antara dua orang muda ini segera mengulur tangan ke depan, menggunakan dua buah jari menjepit tongkat yang tertancap di lantai kemudian sekali berseru keras, tongkat itu sudah tercabut keluar dari lantai.

"Phuhh, Yang macam ini dipakai menakut-nakuti orang? Menyebalkan"

Katanya sambil melempar tongkat itu sehingga tongkat besi itu jatuh berkerontangan di atas lantai.

Semua tamu kedai itu terkejut dan kagum.

Sebaliknya dua orang pengemis itu menjadi marah sekali.

Pemilik tongkat sudah menyambar tongkatnya, kemudian mereka berdua meloncat mundur lalu berdiri di jalan sambil menantang.

"Pengacau dari mana begitu buta matanya berani memusuhi Khong-sim Kai-pang?"

Piauwsu setengah tua sudah meloncat maju pula diikuti dua orang piauwsu muda.

"Tak tahu malu, menggunakan nama perkumpulan yang begitu muluk, kiranya Khong-sim Kai-pang hanyalah sarang sekumpulan manusia jahat. Kami datang dan pergi tak pernah menyembunyikan nama. Di selatan kami terkenal piauwsu-piauwsu yang paling, benci terhadap penjahat-penjahat berkedok pengemis, seperti srigala-srigala berkedok domba. Aku Lim Kiang atau Lim-piauwsu, dan ini kedua orang puteraku. Lekas kalian enyah dari sini, atau perlukah kalian kuusir dengan gebukan seperti orang mengusir anjing-anjing rendah."

Dua orang pengemis itu marah bukan main.

"Keparat she Lim. Kau dan anak-anakmu sudah bosan hidup rupanya. Majulah, hendak kami lihat sampai di mana hebatnya kepandaianmu, apakah sehebat mulutmu yang lebar itu?"

"Ayah, biarkan kami menghajar dua penjahat ini"

Seru dua orang muda sambil meloncat ke depan dan pedang mereka sudah berada di tangan.

Sang Ayah yang agaknya cukup percaya akan kepandaian putera-puteranya, lalu mengangguk dan tersenyum mengejek, mundur berdiri sambil bertolak pinggang.

Dua orang pengemis itu sudah berseru nyaring sambil memutar tongkat besi mereka, menyerang dua orang piauwsu muda yang sudah menangkis dengan pedang mereka pula.

Terjadilah pertandingan yang seru, di atas jalan raya di depan kedai bakmi"

Mereka yang tadinya enak-enak makan bakmi, kini sudah keluar pula dari kedai untuk menonton, wajah mereka tegang dan khawatir karena semua orang di Kang-hu tahu belaka akan pengaruh Khong-sim Kai-pang yang akhir-akhir ini berlaku sewenang-wenang.

Tentu saja diam-diam mereka mengharapkan kemenangan bagi piauwsu-piauwsu asing dari selatan itu.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert