Eps 3 Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo.
Terlalu sombongkah gadis ini, atau memang betul-betul berkepandaian begitu tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu dianggap permainan kanak-kanak.
"Kumaksudkan bukan dalam pertandingan melawan Sai-kong itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah karena kulihat Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi dalamnya sudah lapok seperti pohon tua, napasnya sudah hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang Thian-liong-pang. Lihat saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggalkan tempat ini dengan selamat."
Kini Kwi Lan yang merasa heran.
Ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi hatinya penasaran.
Ia belum berpengalaman seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kang-ouw.
Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin seru.
Kini Ci-lan Sai-kong tidak lagi menggunakan Tee-tong-to karena setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil, ia menjadi kelelahan sendiri.
Memang Tee-tong-to sungguhpun lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya membutuhkan tenaga dan napas panjang.
Adapun Ci-lan Sai-kong, sungguhpun terlatih baik dan banyak pengalaman, namun tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi di sebelah dalam tubuhnya ia sudah lemah.
Sai-kong ini adalah seorang abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga tentu saja kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan?
Kini keringatnya sudah membasahi muka dan leher, napasnya mulai terengah-engah seperti orang dikejar setan.
Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan menerjang dengan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Kebut Kipas).
Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan, bahkan lebih gencar serangannya daripada jurus Hun-in-toan-san tadi.
Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis, keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil tangan kirinya bergerak memukul dada lawan.
Namun siapa kira, Ciam Goan sudah merobah gerakan pedangnya, ia tidak jadi menotok iga, melainkan memutar pedangnya ke kanan dan..
"Crakkkk"
Lengan kiri Sai-kong itu terbabat putus sebatas siku.
"Aduhh.."
Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir.
Akan tetapi pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan "Traanggg.."
Pedang di tangan Ciam Goan terpental dan lepas dari pegangannya.
Sebatang sumpit gading yang tadi menghantam pedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.
Pucat wajah Ciam Goan.
Kiranya Ma Kiu yang menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong.
Lemparan sumpit saja sudah dapat meruntuhkan pedangnya.
Baru lemparan sumpit begitu hebat, apalagi kalau orangnya maju.
Ciam Goan menghela napas dan berkata.
"Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja sudah sehebat itu, apalagi kalau Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang laki-laki yang tidak takut mati. Majulah kalian semua dan mari kita mengadu nyawa di sini"
Sikap Ciam Goan benar-benar amat gagah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali.
Diam-diam gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang gagah itu.
Ia mendengar kawannya berbisik.
"Kalau dia. dikeroyok, hemmm.. akan kucabuti semua rambut dari muka Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya"
Mau tidak mau Kwi Lan tertawa geli mendengar ucapan ini.
Karena gadis wajar dan polos, maka suara ketawanya tidak ia tahan-tahan.
Padahal waktu itu, keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi.
Tidak ada suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan selanjutnya yang menegangkan.
Tentu saja suara ketawa gadis ini terdengar jelas.
Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri.
Suara ketawa Kwi Lan tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia berkata.
"Sudahlah kami sedang hendak melakukan upacara penting tidak perlu pertandingan dilanjutkan berlarut-larut. Apalagi, kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu, kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?"
Ciam Goan menghela napas dan berkata, (Lanjut ke
Jilid 06) Mutiara Hitam (Seri ke 04
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula"
Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.
"Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga"
Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing.
Biarpun merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu, terpaksa bangkit juga.
Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, terdengar nyata.
Sambil berlutut murid itu memberikan panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya.
Dengan kedua tangan ia memegang panci itu dan pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu.
Seorang murid lain datang pula dari belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong.
Kiranya murid ini datang menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya.
Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu.
Terdengar anjing itu menguik keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya diangkat ke atas.
Dari lehernya yang berlubang bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi.
Anjing tadi meronta-ronta dan menguik-nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan.
Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh Si Murid yang lalu mengundurkan diri.
Beberapa orang pelayan lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan mendengar suara Hauw Lam berbisik di belakangnya.
"Hemm, tentu dimasak daging anjing itu."
"Ihhh.."
Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di mana Sin-seng Losu memegang panci berisi darah anjing hitam.
Kakek ini lalu mengangkat panci tinggi-tinggi dan berkata.
"Dengan disaksikan oleh Cu-wi sekalian, dan dengan syarat sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang kami, saat ini aku menyerahkan kedudukan Pangcu (Ketua) kepada muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu menjadi saksi dan darahnya menghalau semua iblis yang hendak mengganggu tugasnya"
Setelah berkata demikian, Sinseng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas kepala Ma Kiu yang botak.
"Ihhh.."
Kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia pun menuangkan kecap dari botol ke dalam cangkirnya sampai penuh.
Kecap itu kental dan merah seperti darah.
"Hemmm, benar-benar keji dan kotor."
Bisik Hauw Lam di belakangnya.
"Mutiara Hitam, aku sudah muak dan gatal-gatal tanganku diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan lagak badut-badut ini kita harus diam saja? Hayo kau ramaikan tontonan di sini, kau tarik perhatian mereka dan aku akan masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang memancing keributan sedangkan kau yang menolong..?"
"Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau menolong, pergilah. Aku.. aku ingin mencoba sampai di mana kelihaian mereka ini"
Hauw Lam mengangguk lalu diam-diam ia menyelinap pergi menggunakan kesempatan selagi semua orang mencurahkan perhatian kepada upacara pengangkatan ketua baru.
Kwi Lan yang memang sejak tadi mendongkol dan tidak senang, mendengar niat Hauw Lam hendak menolong dua belas orang gadis-gadis itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang lagi.
Dan kini ia ingin menumpahkan kemarahan hatinya kepada orang-orang Thian-liong-pang.
Ia membawa cangkir kecap itu menuju ke depan, lalu berkata.
"Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing. Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan selamat dengan darah naga ini"
Kwi Lan tersenyum manis dan begitu ia menggerakkan tangan kanan.
"darah"
Dalam cangkirnya menyiram keluar dan dengan kecepatan luar biasa menyambar kepala dan muka Ma Kiu yang masih berlepotan darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi diduduki suhunya"
Namun Ma Kiu memang lihai.
Tanpa turun dari kursinya, ia mengerahkan tenaga dan..
berikut kursi yang didudukinya ia telah meloncat kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu meter.
Akan tetapi karena sambaran kecap itu luar biasa cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap menyiram pipinya dan memasuki mulutnya.
Ketika ia tahu bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara.
Akan tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu adalah utusan Jin-cam Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu berseru dengan nada marah.
"Nona sebagai tamu yang kami hormati, sebagai utusan Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti perbuatanmu ini?"
Kwi Lan tersenyum mengejek.
Sejak tadi ia sudah tidak senang kepada mereka, terutama Ma Kiu.
Ia memang tidak peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan tetapi mereka itu ia anggap terlalu sombong, tidak memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di depannya seakan-akan ia tidak akan bisa berbuat sesuatu.
Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu menurutkan perasaan hatinya.
Kalau perasaan hatinya suka, seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan bersikap baik.
"Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin oleh orang-orang yang busuk. Bahwa kuanggap engkau seorang yang suka mandi darah anjing hitam, tak patut menjadi Ketua Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing"
Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua tamu menahan napas.
Omongan itu merupakan penghinaan yang tiada taranya.
Apalagi bagi mereka yang mengenal bahwa dahulunya Ma Kiu adalah seorang tukang jagal, maka omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka tidak tahu tentu amat menyakitkan hati ketua baru Thian-liong-pang ini.
Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali sampai ke telinganya.
Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya dan kalau ia tidak ingat bahwa kursi itu adalah kursi ketua tentu telah diterkamnya hancur lengan kursi itu untuk melampiaskan kemarahannya.
"Bocah kurang ajar"
Bentaknya, Suaranya menggetar saking marahnya.
"Biarpun engkau utusan dari utara, apa kau kira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoa-ong untuk menghinaku?"
Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara main-main meremas cangkir bekas kecap tadi sehingga cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman tangannya yang berkulit halus lalu berkata.
"Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia algojo manusia maupun algojo anjing seperti engkau, aku sama sekali tidak mengenalnya. Siapa kesudian bersembunyi di belakang namanya?"
Mendengar ini, kembali semua orang melengak kaget.
Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan kurang ajar, mereka semua mengira bahwa gadis itu adalah kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu tidaklah begitu aneh.
Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal menjadi orang Pak-sin-ong dan berani menghina tokoh besar itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi kaget dan heran sekali.
Gilakah dara remaja ini?
Kalau gila, alangkah sayangnya, dara remaja begitu cantik jelita.
Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri.
Kemarahannya meluap-luap dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini bukan utusan Jin-cam Khoa-ong, karena dengan kenyataan ini ia boleh berbuat sesuka hatinya, terhadap gadis ini.
"Bagus"
Teriaknya sambil bangkit berdiri.
"Kalau begitu, biarlah kau menjadi tawanan kami dan akan kau rasakan penderitaan yang akan membuat kau merindukan kematian"
Dalam suara ini terkandung ancaman yang hebat dan mengerikan. Akan tetapi Kwi Lan tidak mengenal apa itu artinya takut dan ngeri. Ia malah tertawa.
"Sudah, jangan membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak mendengar dan melihat segala yang terjadi di sini. Lekas keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi"
Sambil berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk mengebut-ngebutkan bajunya.
Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu saja pakaiannya banyak debunya dan begitu ia kebut-kebutkan, debu mengepul ke sekelilingnya dan mengotori meja-meja tamu lainnya.
"Wanita keparat. Kau belum tahu lihainya tuan besarmu"
Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan kini hendak melangkah maju.
Akan tetapi terdengar suara Sin-seng Losu di belakangnya.
"Seorang ketua tidak sepatutnya melayani segala anak kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain untuk membereskan kuda betina liar ini? Hayo, siapa berani maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku butuh yang liar macam ini untuk menambah semangatku"
Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek ini.
Kalau ia tahu tentu ia takkan dapat menahan kemarahannya lagi.
Tiba-tiba dari golongan tamu melompat keluar seorang laki-laki muda yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih.
Pengemis muda ini menjura ke arah kursi ketua dan berkata.
"Betul apa yang dikatakan Losuhu tadi. Thian-liong-pang tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih banyak yang sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang"
"Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami. Tidak percuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauw-sicu"
Kata Sin-seng Losu.
Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat muka dan membusungkan dadanya, melangkah maju menghampiri Kwi Lan.
Dia adalah seorang di antara dua pengemis muda yang tadi dipaksa menelan daging kambing oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas penghinaan tadi.
Akan tetapi karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat wajah jelita, hatinya sudah berdebar-debar dan timbul niat hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan.
Ia tersenyum dibuat-buat, matanya memandang kurang ajar, dan berkata.
"Nona kecil bermulut besar. Kau tidak tahu tingginya langit lebarnya bumi, Berani mengacau Thian-liong-pang dan tidak memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu besar sekali dan sudah sepatutnya kau dihukum mati. Akan tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda remaja dan cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak Sin-seng Losuhu dan.. aduuuhhh.."
Pengemis muda itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan gosong dan tulang-tulangnya remuk.
Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu membuat ia terlempar sampai menimpa meja di depan Ma Kiu si ketua baru.
Kagetlah semua yang hadir di situ.
Terutama sekali lima orang pengemis anggauta Hek-coa Kai-pang yang melihat seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas, segera melompat bangun dari tempat duduk masing-masing.
Saudara muda mereka tadi, biarpun bukan anggauta pimpinan teratas dari Hek-coa Kai-pang, namun merupakan seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga.
Bagaimanakah dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh gadis remaja itu?
Sekali melompat mereka tiba di dekat meja Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda mereka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu biru menghitam, mereka mengeluarkan seruan kaget dan marah.
Hek-coa Kai-pang adalah perkumpulan pengemis dunia hitam yang terkenal akan kelihaian mereka bermain racun.
Kini seorang anggauta mereka tewas oleh pukulan yang mengandung racun hebat.
"Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus turun tangan terhadap siluman betina ini"
Berkata seorang di antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu.
Setelah berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan mengurung Kwi Lan yang berdiri dengan sikap tenang.
Di tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk menerjang dan mengeroyok.
Akan tetapi melihat pukulan beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi menyangkal sebagai utusan Pak-sin-ong, pengemis tertua berlaku hati-hati dan berkata.
"Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo mengaku, siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat mempertimbangkan tindakan kami selanjutnya terhadap dirimu."
Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis itu ke tempat atas dan memang inilah yang dimaksudkan oleh pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima mengurung seorang nona muda.
"Apakah kau tuli? Tadi sudah diperkenalkan namaku Mutiara Hitam, bukan dari partai manapun juga. Saudaramu mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang sudah ingin mampus? Kalau ada, boleh maju biar aku membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu kotor. Kalau tidak ada, hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu sudah jemu dan ingin pergi dari sini."
Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan berseru.
"Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat membalas kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggauta Hek-coa Kai-pang"
Seruan ini merupakan komando bagi teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang mengirim serangan.
Akan tetapi lima orang pengemis ini hanya melihat Si Nona tidak berpindah tempat melainkan menggerakkan kedua tangannya dan..
pedang mereka membalik dan menghantam diri mereka sendiri.
Benar-benar amat luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini.
Setiap sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka dan dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat kuatnya, pedang yang menyambar dadanya membalik ke dada Si Pemegang Pedang, yang menyambar pundak membalik ke pundak Si Penyerang dan demikian seterusnya sehingga terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka sendiri.
Melihat gerakan luar biasa yang mendatangkan akibat aneh itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum bahwa biarpun masih amat muda, gadis itu benar-benar lihai sekali.
Kalau tidak lekas turun tangan membekuk atau membinasakan gadis yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya.
Maka ia lalu berseru.
"Tangkap siluman ini"
Ia memberi isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya mengikuti gerakannya menghampiri Kwi Lan.
Gadis ini teringat akan cerita Hauw Lam akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya disegani oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka ia bersikap hati-hati namun wajahnya tetap berseri dan bibirnya tersenyum mengejek.
"Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liong-pang? Hemm, Sungguh gagah"
Kata Kwi Lan sambil tersenyum.
Merah muka Ma Kiu.
Sebagai ketua baru Thian-liong-pang, sungguh amat memalukan kalau ia harus maju bersama sebelas orang sutenya untuk mengeroyok seorang gadis remaja.
Nama Cap-ji-liong sudah tersohor.
Masa kini menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju bersama?
Akan tetapi gadis ini aneh ilmu silatnya, dan kalau sekali turun tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya, hal itu akan lebih memalukan lagi.
"Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong, mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong selamanya maju bersama. Karena kau menjadi tamu, berarti kami kurang sopan kalau turun tangan di sini. Jika engkau benar-benar berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di ruangan silat"
Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas orang tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja, melainkan telah melakukan tantangan secara berterang.
Kalau gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi meninggalkan tempat itu tentu Cap-ji-liong tidak akan menghalanginya.
Semua tamu menduga bahwa, tentu gadis itu akan mempergunakan kesempatan ini untuk pergi menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti mencari mati.
Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat gadis itu tersenyum lebar dan menjawab.
"Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa kepandaian Cap-ji-liong"
Kwi Lan yang tidak mengenal apa artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak tantangan ini, yang diucapkan dengan kata-kata "kalau ia berani"
Ia seorang gadis remaja yang baru saja turun ke dunia ramai sama sekali belum berpengalaman hanya mengandalkan kepandaian luar biasa dan keberanian saja.
Kalau ia berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Cap-ji-liong menantangnya dengan memilih tempat.
"Bagus"
Seru Ma Kiu.
"Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat), biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi bahwa kau menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-bu-thia"
Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan belakang di mana terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar.
Sebelas orang adik seperguruan Ma Kiu berjalan di belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang ingin menyaksikan pertandingan itu membanjiri ruangan silat pula.
Kini mereka telah berhadapan.
Kwi Lan memperhatikan mereka.
Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di tengah sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya.
Mereka tampak gagah dan keren dan melihat gerak-gerik mereka, memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata memiliki kepandaian tinggi.
Juga usia dan pakaian mereka bermacam-macam.
Ada yang sudah tua, ada yang masih amat muda.
Ada yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar.
Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi sebuah batu permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka.
Juga Ma Kiu kini memakai tali semacam itu.
Ia tidak tahu bahwa itulah tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi nama mustika naga.
"Majulah"
Kwi Lan menantang, sikapnya acuh tak acuh. Terdengar suara "set-set-set"
Teratur ketika kaki dua belas orang itu mulai bergeser dengan cepat mengatur barisan mengurung.
Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki melainkan bergeser sehingga sepatu mereka menimbulkan suara di atas lantai.
Keadaan menjadi hening dan tegang semua tamu memandang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat perhatian karena nona ini sudah terkurung di tengah-tengah.
Dua belas orang itu masih terus bergerak menggeser kaki sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi Lan, suara geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti desis ular, Kwi Lan masih berdiri diam tak bergerak, hanya biji matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti gerakan mereka di sebelah depan.
Kedua telinganya memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama, setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya mengejek Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba.
Dengan teriakan nyaring seorang anggauta Cap-ji-liong yang muda, bertubuh tinggi kurus bermuka seperti tikus, menerjang Kwi Lan dari sebelah belakang.
Agaknya laki-laki muda ini tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh Kwi Lan sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya.
Namun gerakannya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh dipandang ringan.
Pada detik berikutnya, anggauta lain, seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk mencengkeram pundak, disusul serangan saudaranya dari depan, kanan, dan kemudian dua belas orang itu sudah bergerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali.
Gerakan mereka yang teratur itu lebih merupakan gerakan dalam sebuah barisan dan sekaligus mereka telah menutup semua jalan keluar bagi Kwi Lan.
Kiranya Ma Kiu dan adik-adiknya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun tangan mereka tidak main-main lagi.
Pendengaran Kwi Lan yang tajam mewakili matanya.
Ia tahu bahwa penyerang pertama datang dari belakang.
Dengan mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah tangan tosu yang mencengkeram pundak kirinya, disambut dengan gerakan meloncat ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat ke atas itu tiba-tiba melakukan gerak berputaran secara cepat sekali.
Hebat bukan main gerakan gadis ini, cepat dan aneh.
Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan tangan dan kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah menangkis semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki, bahkan masih berkesempatan membagi pukulan dan tendangan yang mengenai empat orang lawannya.
Mereka mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain dapat bergerak cepat itu, bekas tangan atau kaki gadis itu amat berat menimpa pundak dan dada.
Sesaat barisan itu kacau, akan tetapi Ma Kiu berseru keras dan barisan menjadi rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya dan berdiri di tengah kurungan.
Ia tersenyum-senyum karena dalam gebrakan pertama ini ia berhasil memperlihatkan kelihaiannya.
Kini para tamu menjadi berisik sekali.
Mereka kagum dan kaget bukan main.
Ketika tadi dua belas orang itu menyerang secara bertubi-tubi dan setiap serangan merupakan pukulan dan cengkeraman yang lihai, diam-diam mereka menduga bahwa gadis ini mencari mati.
Akan tetapi siapa kira, gadis itu dapat bergerak seperti kilat cepatnya dan hampir sukar dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis semua serangan, juga dapat memukul dan menendang empat orang pengeroyoknya, biarpun hal itu dilakukan cepat-cepat dan tergesa-gesa sehingga tidak tepat kenanya.
Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu.
Ia maklum bahwa biarpun dalam hal tenaga, mereka semua tidak akan kalah oleh lawan.
Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak maupun dalam hal ilmu silat yang luar biasa, gadis itu benar-benar merupakan lawan tangguh.
Dia tadi berlaku sungkan sehingga mengeluarkan komando untuk bergerak satu-satu secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang adiknya mengalami pukulan dan tendangan.
Sekali lagi ia berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju secara berbareng.
Hanya lima orang yang menyerang langsung ke arah tubuh Kwi Lan.
Sedangkan yang tujuh orang menghantam ke tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat Kwi Lan berdiri sehingga mereka telah menutup semua jalan keluar.
Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan disambut hantaman yang dilakukan dengan pengerahan Iwee-kang.
Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan.
Gadis ini terkejut juga, maklum bahwa keadaannya berbahaya.
Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan tangguh.
Biarpun kalau melawan mereka satu-satu, ia sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan tetapi kalau mereka maju berbareng amatlah sukar dilawan.
Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya, melainkan menggunakan kaki tangan menangkis dan jari tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang yang menyerangnya secara berturut-turut.
Akan tetapi tiba-tiba lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan mereka dan barisan bergeser terus, disusul lima orang lain yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang mencegat jalan keluar.
Setiap menyerang, lima orang itu mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat bahwa serangan itu akan gagal, Barisan yang terus bergeser itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga sebelumnya.
Kwi Lan merasa kewalahan.
Dahinya yang putih halus itu mulai berkeringat.
Ia takut, akan tetapi jengkel dan penasaran sekali.
Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan menyerangnya dan kepalanya sudah mulai pening karena mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia berseru keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu ke sekelilingnya.
Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya.
Tahu-tahu dua belas orang itu mencium bau yang wangi dan tampak oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti bermain di angkasa, seperti hawa yang dingin sekali.
"Awas.. mundur dan siapkan senjata.."
Ma Kiu berseru keras.
Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja ada dua orang yang terkena serempetan ujung pedang Siang-bhok-kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka mengeluarkan darah.
Lagi-lagi kurang tepat kenanya karena Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian sepenuhnya dan tadi hasilnya inipun hanya kebetulan saja.
Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah serangan kalau lawannya yang dua belas orang banyaknya itu selalu bergerak secara membingungkan?
Kini terdengar suara nyaring dan semua anggauta Cap-ji-liong sudah memegang senjata masing-masing.
Ada yang memegang toya, ada yang membawa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek (sepasang tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan besi) dan lain-lain.
Ma Kiu sendiri bersenjatakan sepasang pedang panjang yang kelihatan berat.
Para tamu makin tegang.
Setelah kini kedua pihak menggunakan senjata, tak dapat disangsikan lagi gadis itu tentu akan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh.
Setiap anggauta Cap-ji-liong memiliki ilmu kepandaian khusus, bahkan sebelum menjadi murid Sin-seng Losu mereka itu adalah ahli-ahli silat kelas satu.
Kini mereka maju bersama, dapat dibayangkan betapa hebatnya.
"Ha-ha-ha-ha. Sayang sekali kau akan tercincang mati.. bunga liar seperti engkau sukar dicari.."
Tiba-tiba terdengar suara Sin-seng Losu yang tadi kelihatan bersungut-sungut ketika beberapa orang di antara murid-muridnya ada yang terluka.
Kakek ini sejak tadi melenggut di atas kursi, menonton pertandingan sambil merem-melek.
Kelihatannya saja ia melenggut dan mengantuk tak acuh, padahal sebenarnya ia menonton dengan hati penuh penasaran karena semenjak tadi, belum juga ia dapat mengetahui dari aliran mana ilmu silat gadis ini.
Hal ini benar-benar membuat ia kaget dan heran.
Biarpun ia sudah terlalu tua sehingga tenaga dan napasnya sudah berkurang banyak dan kalau bertanding, dia sendiri tidak akan dapat mengatasi keampuhan Cap-ji-liong, akan tetapi pengetahuannya dalam ilmu silat sudah amat dalam.
Hampir semua aliran ilmu silat di dunia ini.
Ia kenal baik akan tetapi mengapa sekali ini, setelah melihat gadis itu bersilat sampai puluhan jurus, ia sama sekali tidak mengenal aliran ilmu silat yang dimainkan?
Ia anggap luar biasa sekali ilmu silat gadis itu.
Mirip-mirip ilmu silat Kun-lun-pai, gerakan pedang seperti Kong-thong-pai, akan tetapi ketika menotok hampir sama dengan ilmu totok Im-yang-tiam-hoat yang lihai dari Siauw-lim-pai.
Akan tetapi semua itu hanya mirip saja, dan sama sekali bukan aselinya, bahkan kadang-kadang berlawanan dengan aselinya.
Hal ini memang tidak mengherankan kalau orang mengenal dari mana Kwi Lan mendapatkan semua ilmu yang aneh itu.
Gurunya adalah seorang wanita yang luar biasa, yang puluhan tahun menyembunyikan diri dan menelan segala macam ilmu tanpa ada yang menuntun.
Dalam istana bawah tanah terdapat banyak sekali kitab pelajaran ilmu silat peninggalan mendiang Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian yang mencuri kitab-kitab itu dari partai-partai besar.
Karena jiwa Kam Sian Eng, guru Kwi Lan, memang tidak sehat alias tidak normal, maka ketika mempelajari semua ilmu itu ia telah menyeleweng dan ilmu yang aseli berubah, menjadi ilmu aneh dan ganas.
Kwi Lan juga mempelajari kitab-kitab itu sendirian saja, hanya menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya, justeru sedikit petunjuk itu menyeleweng daripada aselinya, maka dapat dibayangkan betapa hasil ilmu yang ia kuasai tentu saja lebih aneh dan lebih menyimpang dari aselinya"
Jangankan Sinseng Losu, biar tokoh-tokoh dari partai yang memiliki kitab yang tercuri itu sendiri melihat cara Kwi Lan bersilat tentu takkan mampu mengenal ilmunya sendiri.
Ucapan mengejek dari Sin-seng Losu tidaklah berlebihan.
Memang ilmu pedang Kwi Lan hebat dan luar biasa.
Baru pedangnya, sebatang pedang kayu wangi, sudah membuktikan bahwa gadis ini biarpun masih remaja, namun sudah mencapai tingkat yang dinamakan tingkat "yang lunak mengalahkan yang keras"
Yaitu tingkat ahli pedang yang sudah pandai mengatur, tenaga yang dikendalikan hawa sakti sehingga setiap benda lemas dapat dipergunakan untuk melawan senjata keras.
Akan tetapi, menghadapi pengurungan dua belas Cap-Ji-liong yang mempergunakan dua belas macam senjata ini, Kwi Lan benar-benar terdesak hebat.
Senjata lawan menyambarnya seperti hujan dan hanya dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan ilmu pedangnya yang aneh maka sementara itu ia masih mampu bertahan.
Seperti juga tadi, dua belas orang pengeroyoknya itu tidak mengeroyok, secara serampangan saja, melainkan mengurungnya dengan membentuk barisan yang kokoh kuat.
Perlahan akan tetapi tentu mereka mulai menekan dan mendesak.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah dalam.
Teriak-teriakan orang terdengar.
"Kebakaran.."
Kebakaran.."
"Tangkap bocah setan.."
"Celaka, tawanan gadis-gadis itu dilarikan.."
Semua tamu terkejut dan dua belas orang Cap-ji-liong yang sudah mulai mengurung dan mendesak Kwi Lan, terpengaruh oleh teriakan-teriakan ini sehingga tekanan kepada gadis itu agak mengendur.
Pada saat itu, berkelebat bayangan yang tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, sungguh memalukan. Dua belas ekor monyet tua mengeroyok seorang gadis jelita. Dua belas ekor naga kini menjadi dua belas ekor monyet buntung"
Kiranya bayangan ini bukan lain adalah Hauw Lam yang dengan gerakan cepat sudah meloncat dan memutar goloknya menerjang barisan pengepung sehingga terbukalah barisan itu.
Melihat ini, Ma Kiu mengeluarkan aba-aba.
Barisan yang diterjang Hauw Lam sengaja membuka "pintu"
Dan pemuda ini pun sekarang masuk ke dalam pengurungan dua belas orang tangguh itu.
"Eh, Mutiara Hitam. Kita datang bersama, mana bisa sekarang engkau berpesta-pora sendiri saja melabrak dua belas ekor monyet tua ini? Aku ikut. Hayo kita sekarang berlumba. Kita beradu punggung dan lihat pedangmu, atau golokku yang lebih dulu membabat mampus mereka ini"
Kwi Lan tersenyum.
Ia tadi sudah tertekan dan terdesak hebat.
Namun seujung rambut ia tidak merasa gentar.
Ia tadi sudah siap-siap, kalau sampai ia kalah dan harus roboh di tangan dua belas orang pengeroyoknya, ia tentu akan menyeret beberapa orang di antaranya terutama sekali Ma Kiu, untuk tewas bersamanya"
Untuk niat ini ia sudah menggenggam tujuh jarum hijau di tangan kirinya"
Sekarang melihat munculnya Hauw Lam yang mengajak ia berlumba, timbul kegembiraannya dan ia berseru.
"Berandal cilik"
Kau lihat betapa aku merobohkan mereka"
Setelah berkata demikian, Kwi Lan mainkan pedangnya menerjang maju.
Empat orang di depannya cepat mengangkat senjata untuk menangkis dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu tangan kiri Kwi Lan bergerak dan sinar hijau menyambar ke depan.
"Awas.."
Ma Kiu berseru memperingatkan adik-adiknya.
Namun, jarum-jarum hijau yang halus itu disambitkan dari jarak dekat sehingga biarpun empat orang itu berusaha mengelak, dua orang di antara mereka kurang cepat dan robohlah mereka sambil mengeluarkan jeritan kesakitan.
Murid-murid Thian-liong-pang segera menolong mereka ini dan kini sepuluh orang pengeroyok menerjang dengan marah sekali.
Hauw Lam tertawa-tawa dan sambil berdiri saling membelakangi, dia dan Kwi Lan memutar senjata menghadapi para pengeroyok.
Lega hati Kwi Lan setelah kini ia dibantu Hauw Lam.
Tadi yang membuat ia amat repot adalah penyerangan lawan yang berada di belakangnya.
Akan tetapi kini ia tidak usah lagi memperhatikan bagian belakang, maka ia kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang.
Setiap ada serangan datang ia tidak mengelak, akan tetapi langsung menyambut serangan ini dengan tusukan atau totokan yang mendahului sehingga Si Penyerang terpaksa menarik kembali serangannya.
"Semua mundur.."
Tiba-tiba Ma Kiu berteriak keras memberi perintah kepada adik-adiknya Sepuluh orang itu serentak melompat mundur sambil menggerakkan tangan kiri.
Maka berhamburanlah senjata-senjata rahasia yang berbentuk peluru bintang, bagaikan hujan menyerang Hauw Lam dan Kwi Lan.
Dua orang muda itu cepat memutar golok dan pedang, memukul runtuh semua senjata rahasia.
"Wah, kau yang mengajar monyet-monyet itu. Sekarang mereka membalas. Lebih baik kita lekas pergi dari sini"
Hauw Lam mengomel.
Kwi Lan yang maklum betapa besar bahayanya kalau pihak lawan mulai menyerang dari jauh dengan senjata rahasia, setuju akan usul ini.
Akan tetapi sebelum mereka sempat mendapatkan jalan keluar untuk melarikan diri, tiba-tiba lantai yang mereka injak tergetar dan dengan suara keras lantai itu terbuka, nyeplos ke bawah.
"Celaka.."
Hauw Lam berseru dan bersama Kwi Lan tubuhnya terjeblos ke bawah tanpa dapat dicegah lagi.
"Cari pegangan.."
Hauw Lam berseru pula dan merentangkan kedua tangannya.
Goloknya ia tusuk-tusukkan ke samping dan akhirnya tangan kirinya berhasil meraba dinding.
Ia menggerakkan tubuh sehingga tubuhnya yang meluncur itu terbanting ke kiri, menubruk dinding dan di lain saat tubuhnya tergantung pada gagang golok yang dipegangnya erat-erat.
Akan tetapi Kwi Lan yang memiliki gin-kang luar biasa itu, dengan menggerak-gerakkan kaki tangannya dapat memperlambat luncuran tubuhnya, bahkan ketika kedua kakinya menyentuh dasar sumur, tubuhnya membalik lagi ke atas sampai dua meter lebih, seakan-akan di kedua kakinya dipasangi per yang lemas sekali.
"Mutiara Hitam.. kau di mana..?"
Terdengar suara Hauw Lam di atas. Kwi Lan sudah duduk di atas tanah berbatu dan menjawab.
"Di bawah sini. Turunlah. Mau apa kau bergantungan disitu?"
Hauw Lam menengok ke bawah.
Sinar yang masuk dari atas memberi penerangan suram, akan tetapi ia dapat melihat betapa gadis itu sudah duduk enak-enakan di sebelah bawah, kira-kira tiga meter dari tempat ia bergantung.
Ia mengerahkan tenaga, mencabut goloknya dan meloncat turun di dekat gadis itu.
Pada saat itu, terdengar suara berderit keras dan lobang di sebelah atas itu tertutup rapat kembali.
Keadaan menjadi gelap gulita, melihat tangan sendiri pun tak tampak.
"Wah, kita seperti dua ekor tikus masuk perangkap"
Hauw Lam berkata berusaha untuk tertawa, akan tetapi menahannya karena khawatir kalau-kalau membuat gadis itu tak senang.
"Kau kenapa? Mau tertawa, tertawalah. Mengapa memandang kepadaku seperti orang ragu-ragu? Kau kira aku takut? Huh, enak di sini"
Kata Kwi Lan yang segera duduk melonjorkan kedua kakinya. Hauw Lam terkejut.
"Apa kau bilang..? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku.. eh, Mutiara Hitam, apakah engkau mempunyai nama seperti kucing?"
"Hemm, kalau aku kucing, engkau tikus. Sudahlah, jangan rewel dan lebih baik kau ceritakan apa yang kau lakukan tadi."
Tentu saja Hauw Lam tidak tahu bahwa gadis ini semenjak kecil tinggal di bawah tanah, di dalam istana bawah tanah sehingga ia merasa enak berada di bawah tanah.
Karena semenjak kecil biasa hidup di tempat gelap Kwi Lan memiliki mata yang sudah biasa dengan kegelapan dan dapat melihat benda di dalam gelap, setidaknya lebih awas daripada orang biasa.
Mendengar suara gadis itu tidak dibuat-buat, diam-diam ia merasa semakin kagum dan suka.
Gadis ini benar-benar hebat, pikirnya.
Selain cantik jelita seperti dewi, juga wajar dan polos, ditambah kepandaian yang amat tinggi.
Tadi ketika dikeroyok Cap-ji-liong, gadis ini sudah memperlihatkan bahwa ia memiliki kepandaian yang benar luar biasa.
Jarang ada tokoh yang mampu mempertahankan diri dari pengeroyokan Cap-ji-liong, apalagi melukai dua orang di antara mereka dalam pengeroyokan.
Dan sekarang, biarpun telah terjebak masuk ke dalam sumur, gadis ini masih bersikap tenang dan enak saja, sama sekali tidak membayangkan sikap takut-takut.
"Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan tempat ini, mencari jalan keluar."
Kata Hauw Lam sambil mengulur kedua lengan ke depan, meraba-raba.
"Tak usah kau selidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia."
Kembali Hauw Lam menjadi heran.
Gadis ini bicara seakan-akan tidak berada di dalam gelap, seperti menceritakan keadaan yang dilihatnya dengan nyata.
Ia tidak percaya lalu kedua tangannya meraba-raba dinding.
Dan memang betul apa yang dikatakan gadis itu.
Dinding sumur itu segi empat, lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat daripada batu tebal.
Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia meraba kepala gadis itu.
"Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja"
Gadis itu membentak.
"Wah, maaf.. aku.. aku memang seperti buta di sini.."
"Duduklah dan jangan berkeliaran."
Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur.
Tanah padas berbatu itu agak basah.
Betapapun juga, ia tidak dapat bersikap masa bodoh seperti gadis ini.
Masa mereka harus menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur?
Ia harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini.
"Mutiara, aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak mungkin kita meloncat keluar dari sini. Biarpun begitu, dengan bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat sambil menancapkan golok dan pedang bergantian pada dinding, terus sampai keluar. Setelah itu, aku akan mencari tambang untuk menarikmu keluar pula."
"Eh, takutkah engkau di sini?"
"Bukan takut. Akan tetapi kita harus mencari jalan keluar."
"Hemm, bagaimana kau akan membuka penutup besi di atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata akan menyambutmu?"
Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini.
"Habis.. bagaimana."
"Kita menanti kesempatan dan sementara itu, duduk mengaso di sini dan kau ceritakan apa yang terjadi tadi."
Malu juga rasa hati Hauw Lam mendengar suara gadis itu yang amat tenang.
Ia lalu bercerita.
Ketika tadi melihat datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggiring dua belas orang gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main.
Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang amat berani.
Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap dan menotok seorang anggauta Thian-liong-pang.
Dari orang inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang anggauta Thian-liong-pang.
Ia menotok lumpuh orang itu kemudian melanjutkan penyelidikannya.
Tekad hatinya akan menolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia merobohkan empat orang penjaga dan pada saat itulah dari atas genteng melayang turun seorang laki-laki yang ternyata adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi diusir oleh Ma Kiu.
Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum menyaksikan keberanian Ciam Goan.
Biarpun sudah jelas bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan, namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha menolong dua belas orang gadis tawanan.
Tanpa banyak cakap mereka lalu memasuki kamar, membebaskan dua belas orang gadis itu.
Hauw Lam menyerahkan dua belas orang gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri, sedangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan jalan membakar bangunan samping bagian belakang.
Akalnya berhasil baik.
Semua orang lari ke tempat kebakaran dan mengeroyoknya, sehingga Ciam Goam dan dua belas orang gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman.
Hauw Lam sendiri lalu memancing mereka yang mengeroyoknya ke sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu menggabung dengan Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalam sumur perangkap.
"Begitulah."
Hauw Lam mengakhiri ceritanya.
"Kuharap saja orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamatkan dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main, Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau melawan pengeroyokan Cap-ji-liong"
"Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama. Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh."
Mutiara Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya.
Hauw Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia merasa puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian bersama nona ini di dalam sumur.
"Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus keluar dari sini, terutama sekali engkau.."
Katanya.
"Mengapa aku? Kalau kau bagaimana?"
"Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus didahulukan keselamatanmu.."
"Huh, laki-laki dan wanita apa bedanya?"
Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu.
"Biar kucoba untuk merayap atau meloncat naik."
"Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarum-jarumku. Begitu ada orang di atas, kuserang dengan jarum dan kau boleh melompat dengan bantuan golokmu ditancapkan pada dinding."
"Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di atas?"
"Kalau begitu, hemm.. kita tinggal di sini selamanya sampai mati"
Mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan tenang-tenang saja itu, Hauw Lam bergidik.
Akan tetapi hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ selamanya sampal mati.
Ia menjadi terharu dan baru sekali ini selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan juga bahagia.
Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata, lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini bersungguh-sungguh.
"Nona.. aku.., aku pun rela mati di sini, rela tinggal di sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali.. berdua di sampingmu selamanya.."
"Ihhh. apa maksud kata-katamu yang aneh ini?"
Kwi Lan yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara, bertanya heran.
Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam, membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu sekali.
Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan kata-katanya yang membisikkan suara hatinya.
"Mutiara.. biarpun belum lama aku mengenalmu, bahkan namamu yang sesungguhnya pun aku belum tahu.. akan tetapi.. aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia ini. setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang kara lagi. Mutiara.. ah, aku harus berterus terang.. aku.. aku cinta padamu.."
Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang lama sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan menggigit jarum yang dipegangnya.
Ia seperti orang terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu dibuka orang.
Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap untuk menerjang ke atas dan berseru.
"Mutiara.. lekas serang dia.."
Akan tetapi Kwi Lan hanya memandangnya dan berkata bingung.
"Ada apa..?"
"Ssstt.. naiklah.."
Tiba-tiba orang yang membuka penutup sumur itu berkata, kemudian seutas tambang meluncur turun dari atas.
Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bahwa yang muncul dan melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkerudung kain hitam, akan tetapi dari suaranya dapat diketahui bahwa dia seorang laki-laki.
Begitu melempar tambang, bayangan itu lenyap kembali.
"Mari kita naik"
Hauw Lam berkata dan cepat-cepat pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera cepatnya, Kwi Lan juga sudah merayap naik dan sebentar saja keduanya sudah melompat keluar dari sumur.
Sejenak mata Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap berada diterang.
Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini menjadi merah seluruh mukanya.
"Pergi dari sini cepat"
Hauw Lam berkata dan mereka lalu melompat keluar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi.
Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan keluar beberapa orang anggauta Cap-jiliong.
"Celaka, Mereka lolos. Kepung.. tangkap.."
Mereka berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam dan Kwi Lan.
Akan tetapi, keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka maju bersama.
Kini hanya ada empat orang di antara mereka, tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan.
Begitu sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya maut.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi Lan untuk berlari terus.
Karena dari depan berbondong datang para anggauta Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang.
Mereka lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang.
Beberapa orang anggauta Thian-liong-pang yang bertemu dengan mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan dengan tendangan atau pukulan tangan kiri.
Untung bagi mereka bahwa para pimpinan Thian-liong-pang pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang akan diadakan di Puncak Cheng-liong-san untuk memilih jagoan nomor satu di dunia.
Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng Losu sendiri bersama murid-muridnya bersama beberapa orang tamu penting sudah meninggalkan gedung untuk mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut datangnya seorang tokoh besar yang terkenal dengan julukan Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa).
Karena tokoh besar ini masih terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh Thian-liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka mengharapkan kakek guru ini akan menjadi jagoan nomor satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat tinggi.
Karena kesibukan ini mereka hanya meninggalkan empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan untuk menjaga gedung.
Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat meloloskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas kelaparan di dalam sumur.
How Lam dan Kwi Lan maklum bahwa kalau para pimpinan Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok, keadaan mereka akan berbahaya.
Karena mereka datang ke tempat itu hanya untuk "main-main"
Dan tidak mempunyai urusan tertentu dengan perkumpulan ini, mereka pun tidak ada niat untuk melanjutkan pengacauan.
Dihadang oleh murid-murid bawahan Thian-liong-pang tentu saja mereka dengan enak merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang, mencari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda hitam yang mereka "sumbangkan"
Tadi, mereka lalu menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar dari Yen-an.
Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor pun kuda mampu menandingi larinya kuda hitam dari Khitan itu.
Setelah kota Yen-an jauh ditinggalkan dan tak tampak adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba menahan kudanya.
Mereka berhenti di jalan simpang empat.
"Di sini kita berpisah. Kau turunlah."
Hauw Lam meloncat turun dan memandang gadis itu dengan muka terkejut.
Tak disangkanya bahwa secara tiba-tiba gadis itu mengajak mereka saling berpisah.
Namun nona itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.
"Mutiara Hitam.. Nona.., mengapa kita harus berpisah?"
Suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi Lan berdebar aneh. Ia marah dan juga bingung.
"Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di dalam sumur tadi? Maafkanlah, aku bukan bermaksud menyinggung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biarpun kau akan menjadi marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa aku.. cinta padamu, Mutiara Hitam."
Kwi Lan menarik napas panjang.
Ia tidak bisa marah kepada pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengakuan itu.
Akan tetapi ia tidak ingin selamanya berada di samping Hauw Lam.
Ia ingin menyendiri.
"Hauw Lam, ada hal yang lebih penting bagimu. Engkau harus pergi kepada Ibu kandungmu."
Terbelalak mata Hauw Lam memandang.
"Apa..? Apa yang kau maksudkan..?"
"Bukankah Ayahmu bernama Tang Sun dan Ibumu bernama Phang Bi Li?"
Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi Lan.
"Mutiara, Bicaralah yang jujur. Bagaimana kau tahu akan nama Ayahku? Memang Ayahku bernama Tang Sun. Nama Ibu aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau.. bagaimana bisa tahu?"
Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum.
"Kau pantas menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap aku anak sendiri. Ayahmu.. Ayahmu telah tewas, aku melihat sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini tinggal di Hutan Iblis."
Makin pucat wajah Hauw Lam.
"Di Hutan Iblis..? Ayahku mati..?"
Ia merasa mimpi mendengar keterangan ini dan tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah membohong seperti juga tak pernah merasa takut.
"Pergilah, carilah Ibumu dan kau akan mendengar semua. Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki Pegunungan Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, Ibumu tinggal seorang diri di dalam pondok di hutan itu, menanti-nanti kedatanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula."
Setelah berkata demikian, Kwi Lan membalapkan kudanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih berdiri seperti arca dengan muka pucat.
"Ibuku.. Ibu kandungku.. Ibuku.."
Pemuda yang biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang mata basah.
Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di atas kudanya.
dan semangatnya serasa terbawa terbang pergi.
Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun.
Begitu berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan suasana gembira.
Akan tetapi kalau ia teringat akan pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kecewa.
Hal ini melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak enak, hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin bertemu kembali dengan pemuda itu.
Ada hal lain yang sejak tadi ia pikirkan.
Siapakah orang yang menolongnya ketika ia bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan?
Apakah orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang gadis tawanan?
Rasanya tidak mungkin karena biarpun gagah beran, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya.
Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan dan rahasia Thian-liong-pang.
Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang mengalir di sebelah timur Yen-an.
Ia juga tidak tahu bahwa jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi tadi, menuju ke Tai-goan.
Hari telah menjelang senja.
Ia segera membalapkan kudanya ketika melihat sebuah dusun jauh di depan.
Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di rumah penginapan dusun itu.
Semua orang kagum melihat gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli.
Setelah pengalamannya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersikap hati-hati dan tidak mau mencari perkara.
Mulailah ia tahu bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang berilmu tinggi.
Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan menurut penuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jin-cam Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khitan.
Ia akan menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam kepandaiannya.
Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amat lebar.
Ia duduk di atas kudanya sambil termenung.
Bagaimana ia dapat melanjutkan perjalanan?
Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun manusia.
Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menyalakan lampu penerangan.
Ia lalu menjalankan kudanya menyusuri sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kiranya akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan besok baru berusaha menyeberang.
Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke pantai.
Itu tentu seorang nelayan, pikirnya.
Mungkin dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk menyeberang.
Perahu kecil macam itu mana dapat menyeberangkan kudanya?
Kwi Lan mempercepat larinya kuda ke arah pantai.
Akan tetapi ia terlambat karena dari dalam perahu itu meloncat keluar bayangan hitam yang kemudian berlari amat cepatnya ke darat.
Kwi Lan terkejut.
Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya.
Nelayan biasa mana bisa memiliki gin-kang yang sedemikian baiknya.
Ia pun cepat membelokkan kudanya, mengikuti arah larinya orang itu.
Cuaca sudah mulai gelap dan Kwi Lan yang merasa tertarik, melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan pandang matanya.
Bayangan itu lenyap sudah.
Gerakannya terlalu cepat dan melakukan pengejaran sambil menunggang kuda amat sukar.
Selain itu, juga Kwi Lan meragu untuk mengejar secara sungguh-sungguh.
Ia tidak tahu siapa orang itu dan mengapa berlari-lari dengan (Lanjut ke
Jilid 07) Mutiara Hitam (Seri ke 04
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 cepatnya.
Terang bukan nelayan dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu.
Hanya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk menyeberang bersama kudanya.
Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung di pantai sebelah depan menarik perhatiannya.
Sinar yang bergerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang dinyalakan orang.
Ada api unggun tentu ada orang dan kalau ada orang berarti ia akan bisa mendapatkan keterangan dan petunjuk yang diharapkan.
Kini kuda hitam yang ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas yang tinggi dan dijalankan perlahan.
Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah guha batu yang amat lebar.
Ketika Kwi Lan yang masih duduk di atas kudanya tiba di depan mulut guha, ia melihat lima orang laki-laki di dalam guha.
Kedatangannya agaknya sudah dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing.
Yang paling depan adalah seorang pemuda yang berambut panjang, berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali.
Kepalanya diikat tali dan di dahinya besinar sebuah batu permata kuning, Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak kaget dan marah.
Adapun orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar dan jarang seperti kawat, tubuhnya tinggi besar dan di belakang punggungnya tampak gagang sebatang pedang.
"Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang mengacau di Thian-liong-pang.."
Seorang di antara tiga orang di belakang pemuda tampan itu berseru.
Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring.
"Mau apa engkau datang ke sini?"
Kwi Lan tersenyum.
Ia tidak memandang mata kepada orang-orang Thian-liong-pang ini dan melihat batu permata di dahi Si Pemuda Tampan, Ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang tokoh pula.
Akan tetapi ia sedikit pun tidak takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk melayani mereka.
"Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan yang dapat menyeberangkan aku dan kudaku."
Jawabnya, suaranya dingin.
Biarpun ia tidak mengharapkan bantuan mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi keterangan tentang nelayan yang ia butuhkan.
Sebelum pemuda dan tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata.
"Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya"
Dengan langkah lebar pendeta ini maju.
Setelah berhadapan dengan Kwi Lan, ia menjura dengan hormat, tersenyum-senyum dan jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya berkejap-kejap.
"Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak terjang Nona yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh gagah. Seorang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan sama sekali tidak pantas dimusuhi. Orang gagah mengutamakan persahabatan sesama orang gagah, maka terimalah rasa kagum lohu"
Kwi Lan yang melihat kakek ini merangkapkan kedua tangan, membawa kedua tangan ke depan dada sambil bergerak memberi hormat, tersenyum mengejek.
Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura sambil berkata.
"Kau orang tua terlalu merendah"
Biarpun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi Lan.
Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum, agaknya seperti tidak tahu akan penyerangan orang, akan tetapi kakek itu merasa betapa tenaga dorongan kedua tangannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik, menimbulkan rasa panas pada dadanya.
Ia kaget sekali, akan tetapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan berkata.
"Nona benar-benar hebat.."
Kedua tangannya membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah pergelangan tangan.
Hebat serangan ini, namun masih saja tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti orang menyerang.
Padahal serangan itu kalau tepat mengenai sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan lemas.
"Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan"
Kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula seperti orang mencegah.
Hanya tampaknya saja seperti mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua tangan kakek itu.
Kalau kakek itu melanjutkan serangannya, maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang, Ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan.
"Ahhh.."
Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah memiliki kepandaian hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona ingin menyeberang? Biarlah lohu antarkan"
Girang hati Kwi Lan mendengar ini.
"Kau mempunyai perahu, Totiang?"
"Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir. Marilah"
Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam guha, diikuti oleh Kwi Lan.
"Tahan. Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thian-liong-pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi begitu saja?"
Teriak seorang di antara anggauta anggauta Thian-liong-pang sambil melompat maju dan mencabut pedang.
Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan menghardik.
"Nona sudah ikut bersama Huang-ho Tai-ong (Raja Sungai Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?"
Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau, tentu ia akan terkejut sekali mendengar nama ini.
Huang-ho Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak Sungai Huang-ho yang terkenal sekali.
Akan tetapi gadis ini selain kurang pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan Si Pemuda ini sama sekali tidak ada artinya.
Ia mengikuti sai-kong itu yang terus berjalan mendekati pantai, kemudian kakek itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring tinggi sambil menengadahkan kepalanya.
Terdengar suitan balasan dari arah kiri dan tidak lama kemudian, muncullah sebuah perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram muram.
Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan didayung oleh empat orang tinggi besar.
"Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu menyeberang."
Kata saikong tadi sambil tersenyum.
"Terima kasih. Kau baik sekali, Totiang."
Jawab Kwi Lan yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu, Kakek itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah.
Ketika Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang.
Karena tidak mengerti, Kwi Lan sama sekali tidak merasa heran mengapa layar perahu itu tidak dipasang.
Untuk menyeberangi sungai sebesar Sungai Kuning ini, tentu dibutuhkan layar agar penyeberangan dapat berjalan cepat.
Akan tetapi empat orang itu hanya mendayung saja sehingga perahu bergerak lambat, malah hanyut oleh air.
Kuda hitam yang tinggi besar dan gagah itu pun mendengus-dengus dan meringkik, keempat kakinya menggigil ketika melihat air yang hitam berombak.
Akan tetapi, Kwi Lan berdiri tegak memegangi kendali, sedikit pun tidak merasa takut.
"Nona, orang-orang Thian-liong-pang tadi menceritakan tentang sepak terjang Nona di Thian-liong-pang dan menyebut Nona Mutiara Hitam. Bolehkah lohu tahu, siapa sesungguhnya namamu dan dari perguruan manakah? Lohu sendiri disebut orang Huang-ho Tai-ong, bernama Ma Hoan."
Kwi Lan tidak menaruh curiga kepada kakek ini, juga tidak memperhatikan nama maupun julukannya, akan tetapi karena kakek ini menolongnya menyeberang, ia menganggapnya orang baik.
Dengan acuh ia menjawab.
"Si Berandal sudah menjuluki aku Mutiara Hitam, biarlah selanjutnya orang mengenalku dengan nama itu juga. Aku tidak terikat dengan perguruan mana pun."
Kakek ini mengerutkan alisnya. Gadis yang cantik jelita, akan tetapi sombong sekali, pikirnya.
"Mutiara Hitam, julukan yang bagus. Nona, kenapa engkau mengacau Thian-liong-pang? Mengapa memusuhinya?"
"Aku tidak memusuhi Thian-liong-pang dan tidak ada urusan apa-apa antara mereka dan aku. Hanya aku tahu bahwa orang-orang Thian-liong-pang bukan manusia baik-baik, pula pengecut. Beraninya hanya melakukan pengeroyokan dan menggunakan perangkap"
Pada saat itu, Ma Hoan tertawa bergelak dan terdengarlah bunyi banyak dayung memukul air.
Ketika Kwi Lan melihat ke kanan kiri, ia mengerutkan alisnya.
Kiranya tanpa ia ketahui, telah muncul empat buah perahu kecil yang mengurung perahu yang ditumpanginya.
Perahu-perahu kecil itu juga bercat hitam dan setiap buah perahu ditumpangi enam orang bersenjata golok.
"Ha-ha-ha, Mutiara Hitam, engkau terlalu cantik jelita, akan tetapi terlalu sombong"
Engkau sudah berada dalam cengkeramanku, masih bermulut besar mencaci maki Thian-liong-pang? Ketua Thian-liong-pang adalah Kakakku, tahukah kau?"
Kwi Lan memandang tajam dan teringatlah ia sekarang.
Orang ini bernama Ma Hoan, kiranya adik Ma Kiu Ketua Thian-liong-pang.
Julukannya Tai-ong dan kini tampak banyak anak buahnya, tentu kepala bajak sungai dan dia berada dalam bahaya.
"Bagus, kalau begitu kau sudah bosan hidup"
Kata Kwi Lan dan sekali tangan kanannya bergerak, Siang-bhok-kiam telah tercabut dan menerjang, merupakan sinar kehijauan menyambar ke arah Huang-ho Tai-ong Ma Hoan dan empat orang pendayung perahu.
Kuda hitam meringkik ketakutan, empat orang itu berteriak keras dan terjungkal keluar dari perahu, akan tetapi dengan gerakan cepat sekali Ma Hoan sudah meloncat dan tubuhnya melayang ke atas sebuah diantara perahu-perahu kecil yang mengurung perahu besar.
"Tangkap dia, gulingkan perahu"
Ma Hoan berseru, memberi komando kepada anak buahnya.
Kwi Lan mendengar ini menjadi kaget juga.
Kalau lawan menggunakan akal menggullngkan perahu, dia dan kudanya celaka.
Karena itu, sebelum mereka turun tangan, tubuhnya sudah lebih dulu mencelat ke atas sebuah perahu kecil terdekat.
Sambil meloncat, ia memutar pedangnya.
Enam orang dengan golok di tangan menyambutnya.
Terdengar suara keras dan enam buah golok itu terlempar ke dalam air dan seorang di antara mereka malah roboh dengan lengan kanan terbabat putus.
Lima orang lainnya cepat-cepat meloncat ke dalam air dengan panik.
Begitu perahu kecil yang diinjaknya itu terus bergoyang-goyang dan miring Kwi Lan sudah mengenjot tubuhnya lagi, kini meloncat ke arah perahu yang ditumpangi Ma Hoan.
Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat menawan Ma Hoan.
Ia tentu akan celaka.
Di darat, ia tidak akan peduli akan pengeroyokan tiga puluh orang itu, akan tetapi di air.
Melawan seorang di antara mereka saja belum tentu ia menang.
Ma Hoan tidak akan berjuluk Raja Sungai Kuning dan tidak akan menjadi kepala bajak kalau ia tidak lihai ilmu silatnya dan pandai bermain di air.
Melihat tubuh gadis, perkasa itu berkelebat meloncat ke arah perahunya, ia mengenal bahaya dan..
cepat-cepat ia melempar diri ke dalam air.
Dua orang anak buahnya di perahu itu yang tidak keburu terjun, menjadi korban babatan pedang Kwi Lan dan terjungkal di air.
Keadaan menjadi kacau-balau.
Dalam cuaca suram gelap Kwi Lan mengamuk, meloncat dari perahu ke perahu.
Namun para bajak itu sudah lebih dahulu terjun ke air dan mulailah mereka berusaha menggulingkan perahu di mana Kwi Lan berdiri.
Gadis ini tentu saja tidak, mau digulingkan ke dalam air.
Ia bermain loncat-loncatan dari perahu ke perahu.
Akan tetapi karena perahu-perahu yang tidak dikemudikan itu berputaran dan hanyut, apalagi karena bajak-bajak menggulingkan semua perahu, akhirnya Kwi Lan yang sudah berdiri di atas perahu yang terbalik, tidak mempunyai tempat lagi untuk meloncat.
Kuda hitam besar sudah terjungkal ke dalam air ketika perahu besar digulingkan.
Ketika perahu terbalik yang ia injak itu tiba-tiba menyelam, ia masih dapat meloncat ke atas dan..
tak dapat dicegahnya lagi tubuhnya jatuh terbanting ke dalam air yang bergelombang.
Kwi Lan pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah setelah ia terbanting ke air.
Ketika ia siuman kembali, ia mendapatkan dirinya lemas dan lumpuh kaki tangannya"
Tahulah Kwi Lan bahwa ia telah tertotok lumpuh.
Tubuhnya terasa dingin dan basah.
Ketika ia membuka mata, ia melihat api unggun dan ternyata ia telah berada di dalam guha besar tadi, menggeletak di atas rumput kering dan tubuhnya tidak tertutup pakaian sama sekali.
Kenyataan ini membuat Kwi Lan merasa kaget setengah mati dan cepat-cepat ia menutupkan kedua matanya lagi, pura-pura pingsan atau hampir pingsan lagi saking kagetnya.
Ia tahu bahwa ia telah tertawan, dan bahwa orang telah menanggalkan semua pakaian dari tubuhnya.
Kemudian ia mendengar betapa di situ terdapat banyak orang, bahkan ada suara orang berbantahan.
Dengan jantung berdebar ketakutan, baru sekali ini Kwi Lan mengenal rasa takut, ia mendengarkan, tanpa membuka matanya.
"Ma-totiang, aku tahu bahwa urusan ini adalah urusan pribadimu dan sekali lagi kunyatakan bahwa antara Nona itu dan aku tidak ada sangkut-paut apa-apa. Akan tetapi kedua hal itu bukan menjadi halangan bagiku untuk mencegah terjadinya hal yang memalukan ini. Betapapun juga, Kakakmu, Ma Kiu Suheng adalah ketua kami, kalau sekarang engkau melakukan perbuatan hina dan rendah, bukankah hal itu berarti akan menodai nama besar Thian-liong-pang?"
"Eh, Siangkoan-kongcu. Sejak kapan Thian-liong-pang melarang seorang laki-laki mengambil seorang wanita yang disukanya? Engkau hendak menghalangiku, berarti engkau iri hati dan engkau sendiri suka kepada wanita pengacau itu. Betulkah?"
"Tidak, Ma-totiang. Laki-laki boleh mengambil wanita mana saja yang disukainya, akan tetapi kalau wanita itu mau. Engkau merobohkannya dengan akal curang, dan hendak memaksanya secara keji. Mendiang Ayahku, seorang Ketua Thian-liong-pang tidak pantang melakukan apa saja kecuali sikap curang dan pengecut. Kalau kau mengalahkan dia dengan kepandaianmu, maka menjadi hakmulah untuk memperlakukan orang yang kau kalahkan sesuka hatimu. Akan tetapi melihat betapa tadi dia dilawan secara licik dan sekarang hendak diperlakukan keji, sungguh sebagai seorang gagah aku tidak akan mendiamkan saja. Ma-totiang, agar jangan kita menjadi bahan ejekan di dunia kang-ouw, kau bebaskan dia"
"Bocah, berani engkau membuka mulut besar? Siangkoan Li. Kau menganggap kau ini siapa dan aku ini orang macam apa, bisa kau perintah sesukamu? Biarpun mendiang Ayahmu pernah menjadi ketua Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu bukanlah sahabatku. Hanya mengingat engkau masih cucu luar Sin-seng Losu dan masih adik seperguruan Twako (Kakak) Ma Kiu, aku masih menganggapmu orang sendiri. Akan tetapi jangan kau keterlaluan karena menjadi cucu Sin-seng Losu, karena semua saudara Cap-ji-liong juga tidak suka akan sepak terjangmu yang menyimpang dengan jalan mereka"
Hening sejenak.
Kwi Lan memandang dari balik bulu matanya dan melihat bahwa yang bertengkar adalah pemuda tampan berambut panjang dan sai-kong yang menawan dirinya.
Tiga orang anggauta Thian-liong-pang berdiri di sudut, memandang dan melihat pandang mata mereka terhadap pemuda itu, agaknya mereka ini tidak berpihak kepada Si Pemuda.
Kwi Lan lalu menutupkan matanya kembali, menekan perasaannya yang seperti akan meledak itu, kemudian ia diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan.
Akan tetapi kaki tangannya tetap lumpuh dan karena dadanya penuh hawa amarah yang hebat, sukar baginya untuk mengumpulkan hawa murni.
"Ma-totiang, bicara tentang sepak terjang, bukan aku yang menyimpang, melainkan orang lain yang menyeleweng. Akan tetapi cukuplah tentang Thian-liong-pang. Kita bicara tentang perbuatanmu sekarang. Ma-totiang, engkau adalah seorang bekas pendeta, sedikit banyak pernah belajar tentang kebajikan. Engkau adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedikit banyak mengerti tentang kegagahan. Engkau adalah seorang yang sudah tua, mengapa masih menuruti nafsu binatang hendak memperkosa seorang gadis..?"
"Huh, bocah bermulut lancang. Siapa hendak memperkosa? Lancang kau menuduh orang.."
"Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona ini.."
"Ha-ha-ha. Memang, dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak berniat memperkosanya. Mungkin anak buah Thian-liong-pang itu mempunyai niat demikian, melihat pandang mata mereka. Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa, melainkan ingin menggunakan dia membantu menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta. Dia seorang gadis yang memiliki Iwee-kang tinggi, memiliki hawa sakti yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan Im-kang dari tubuhnya.."
"Keji. Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa engkau sedang mencipta dan melatih Ilmu Bi-ciong-kun (Ilmu Silat Menyesatkan) yang kau lengkapi dengan pukulan Tok-hiat-ciang (Pukulan Darah Beracun).., akan tetapi mengapa menggunakan Im-kang seorang gadis..?"
"Ha-ha-ha, Siangkoan Li. Kau kira akan mudah saja mencari rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kau ketahui bahwa aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe (Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi dan jangan menggangguku lagi."
"Tidak. Kalau engkau lebih dulu membebaskan Nona ini, kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak akan tinggal diam saja"
"Bagus, Memang anak tidak akan berbeda dengan ayahnya. Ayahmu penyeleweng dari Thian-liong-pang, engkaupun.."
"Tutup mulut, jangan membawa-bawa nama Ayah"
Bentak Siangkoan Li yang sudah mencabut pedangnya.
Huang-to Tai-ong Ma Hoan berteriak keras seperti seekor harimau terluka, mencabut pedangnya dan menyerang pemuda itu.
Karena guha itu kurang luas untuk bertanding, sedangkan ia maklum akan kelihaian lawannya, pemuda yang bernama Siangkoan Li itu lalu meloncat keluar guha dikejar oleh Ma Hoan.
Segera terjadi pertandingan hebat di luar guha, di bawah sinar bintang-bintang di langit.
Suara senjata mereka saling beradu, terdengar nyaring oleh Kwi Lan yang masih berusaha menekan kemarahannya dan membebaskan diri daripada totokan.
"Sam-sute, bagaimana baiknya sekarang?"
Terdengar seorang di antara tiga anggauta Thian-liong-pang berkata.
Mereka bertiga masih berada di dalam guha itu, kini memandang ke arah Kwi Lan dengan mata terbelalak penuh kagum dan gairah.
"Biarkan saja mereka bertempur."
Kata suara lain yang parau.
"Ma-totiang adalah adik kandung Pangcu (Ketua), dan Siangkoan-kongcu adalah cucu luar Lo-pangcu, bagaimana kita boleh campur tangan? Lihat alangkah hebatnya Nona ini, hemm.. selagi mereka bertanding, mengapa kita sia-siakan kesempatan bagus ini?"
"Sam-suheng benar"
Kata suara ke tiga.
"Aku pun selama hidupku belum pernah melihat yang seindah ini. Aku rela nanti dimarahi Ma-totiang atau Siangkoan-kongcu.."
Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menghampiri Kwi Lan dengan wajah menyeringai penuh nafsu.
Sebetulnya mereka itu bukanlah kaum jai-hwa-cat macam Ci-lan Sai-kong, bukan pula orang-orang mata keranjang, sungguhpun mereka juga tak dapat disebut orang baik-baik.
Akan tetapi melihat keadaan Kwi Lan, menyaksikan kecantikan wajah yang memang jarang bandingannya, melihat bentuk tubuh yang demikian menggairahkan, mereka tak dapat lagi menguasai hati dan menyerah kepada bujukan iblis nafsunya.
Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Kwi Lan ketika melihat tiga wajah yang berkeringat dengan mata berkilat-kilat seperti mata binatang kelaparan itu makin mendekatinya.
Ia tidak pernah mengenal takut menghadapi ancaman maut sekalipun, akan tetapi hati kecilnya membisikkan bahwa kini ia terancam malapetaka yang jauh lebih mengerikan daripada maut sendiri.
Ia sudah mengerahkan tenaga, namun perhatiannya tak dapat terkumpul bulat-bulat sehingga belum juga ia berhasil.
Kedua tangan dan kakinya masih lemas, lumpuh tak bertenaga.
"Sam-sute, Hok-sute, kalian mundurlah. Aku sebagai Suheng kalian, paling tua dan biarkan aku mendekati dia lebih dulu."
"Ah, tidak, Suheng, Aku yang mengusulkan lebih dulu"
"Sam-suheng, aku yang paling muda lebih cocok dengan dia"
Tiga orang murid Thian-liong-pang yang hati serta pikirannya sudah hitam dan gelap kotor oleh nafsu iblis itu kini saling berebut.
Dari pertengkaran mulut, mereka kini saling betot dan agaknya mereka akan saling jotos karena sudah mulai memaki.
Melihat ini, Kwi Lan maklum betapa dirinya diperebutkan oleh tiga orang manusia yang seperti anjing-anjing kelaparan itu, maka ia merasa hatinya makin berdebar gelisah, perasaannya seperti ditusuk-tusuk.
Makin rusaklah pengerahan tenaga dan hawa murni di tubuhnya sehingga akhirnya ia menghela napas dan mengeluarkan suara rintihan karena putus harapan.
Tiba-tiba dari luar guha menyambar dua sinar hitam yang tepat sekali mengenai jalan darah di leher dan pinggang Kwi Lan.
Kiranya dua sinar itu adalah dua buah batu kecil yang tepat telah menotok jalan darahnya dan..
seketika Kwi Lan merasa betapa jalan darahnya pulih kembali.
Kaki tangannya dapat ia gerakkan dan biarpun masih kesemutan, namun ia segera melompat bangun, bagaikan kilat cepatnya ia sudah menyambar pakaiannya yang tadi ia lihat bertumpuk di sudut guha.
Dengan jari-jari tangan gemetar saking lega dan girang hatinya tertolong pada detik-detik berbahaya itu, namun dengan amat cepat Kwi Lan mengenakan pakaiannya dan tubuhnya yang kini sudah berpakaian itu berkelebat cepat ke arah pintu guha ketika ia melihat tiga orang Thian-liong-pang berusaha lari keluar.
Kejadian ini amat cepatnya.
Ketika tiga orang Thian-liong-pang tadi bertengkar untuk memperebutkan Kwi Lan, mereka tidak tahu bahwa calon korban mereka itu sudah melompat bangun dan berpakaian.
Setelah akhirnya seorang di antara mereka melihat Kwi Lan dan berteriak kaget, mereka semua menoleh dan serentak mereka kini berlumba lari ke arah pintu guha untuk menjauhkan diri dari gadis yang mereka tahu amat lihai itu.
Namun tiba-tiba di depan mata mereka berkelebat bayangan orang dan tercium bau harum, tahu-tahu mereka sudah melihat Kwi Lan menghadang di depan pintu guha dengan pedang Siang-bhok-kiam yang harum di tangan.
Wajah yang cantik jelita itu tersenyum, senyum manis sekali, akan tetapi sinar matanya tajam bagaikan pedang dan dingin seperti salju.
Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu melangkah mundur dengan muka pucat dan bergidik ngeri.
Jalan mundur tidak ada lagi.
Satu-satunya jalan keluar untuk lari telah dihadang oleh Mutiara Hitam.
Gadis itu melihat tiga orang lawannya mundur-mundur ketakutan, kini melangkah maju pula perlahan-lahan.
Ia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata, namun pandang matanya dan senyumnya telah membayangkan ancaman yang menyeramkan, dan tiada caci maki dari mulut lebih jelas membayangkan kemarahan yang meluap-luap itu.
Tiga orang yang mundur terus akhirnya sampai mepet di dinding batu guha.
Terpaksa mereka berhenti, saling pandang dengan muka pucat, mata terbelalak dan tubuh menggigil.
Mereka tersudut seperti tiga ekor tikus menghadapi seekor kucing yang hendak mempermainkan mereka lebih dahulu sebelum menjatuhkan terkaman maut.
Tiga orang itu saking takutnya menjadi nekat.
Mereka merogoh saku dan mengeluarkan senjata rahasia mereka, yaitu perluru-peluru bintang Sin-seng-piauw yang menjadi senjata utama para anak buah Thian-liong-pang.
Tidak semua anggauta Thian-liong-pang mewarisi ilmu silat Sin-seng Losu, akan tetapi mereka semua diharuskan melatih penggunaan senjata rahasia Sin-seng-piauw ini.
Senjata rahasia ini bentuknya seperti bintang, kecil namun berat dan pada ujungnya yang runcing diberi racun.
Seperti mendapat aba-aba saja, tiga orang itu menggerakkan tangan menyambit dengan Sin-seng-piauw.
Belasan buah peluru bintang ini menyambar ke arah Kwi Lan.
Namun sekali memutar Siang-bhok-kiam, semua senjata itu runtuh, menancap di atas lantai atau dinding kanan kiri gadis itu.
Tiga orang anak buah Thian-liong-pang itu adalah anggauta-anggauta tingkat rendah kepandaian mereka masih terlalu rendah bagi Kwi Lan.
Mereka menjadi makin ketakutan dan menghamburkan senjata-senjata rahasia mereka sampai habis.
Sebuah pun tidak ada yang menyentuh pakaian Kwi Lan.
Gadis ini memperlebar senyumnya.
Sambil berteriak-teriak seperti orang gila saking takut dan nekat, tiga orang itu lalu menerjang maju, memutar golok dan membacok sejadinya asal cepat dan kuat.
Kwi Lan menggerakkan pedangnya yang berkelebatan seperti kilat menyambar.
"Trangg.. tranggg.. tranggg.."
Tiga batang golok itu patah-patah dan yang berada di tangan mereka hanya tinggal gagangnya saja"
Kembali mereka mundur-mundur sampai mepet dinding dan rasa takut mereka ini memuncak.
Melihat betapa gadis itu sambil tersenyum-senyum melangkah maju dengan pedang di tangan, mereka bertiga hampir menjadi gila.
Lutut mereka menggigil dan akhirnya mereka tak dapat menahan diri lagi, jatuh berlutut sambil memohon-mohon ampun dan menangis.
"Menjijikkan"
Kwi Lan berkata perlahan akan tetapi pedangnya bergerak cepat sekali sampai lenyap berubah gulungan sinar hijau menyambar-nyambar.
Terdengar jeritan-jeritan menyayat hati dan ketika gadis itu melangkah keluar dari dalam guha, di bawah penerangan api unggun tampak tiga tubuh manusia bergelimpangan di atas lantai guha itu, tanpa tangan dan kaki lagi.
Darah membanjir merah.
Mengerikan sekali tubuh yang hanya tinggal kepala dan badan itu, kaki tangan mereka buntung dari pangkalnya.
Kini tiga orang itu hanya bisa menggerak-gerakkan kepala dengan mulut mengerang kesakitan dan mata terbelalak, masih ketakutan.
Namun satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat bergerak, kepala itu, tentu takkan lama bergerak karena mereka tak mungkin dapat hidup lagi dengan darah mengalir keluar seperti pancuran itu.
Kwi Lan mendengar betapa di luar masih terjadi pertarungan hebat.
Kini terdengar suara bersuitan keras dan ketika ia meloncat keluar dari dalam guha, ia melihat betapa pemuda tampan yang menolongnya tadi dikeroyok oleh banyak orang yang membantu Huang-ho Tai-ong Ma Hoan.
Pemuda itu hebat sekali permainan pedangnya dan biarpun Ma Hoan mengeroyoknya dengan bantuan tujuh orang anak buahnya, namun pemuda itu masih saja menekan mereka dengan gerakan-gerakan pedang yang amat kuat.
Belasan orang anak buah bajak bersuwitan dan mengurung.
Biarpun ilmu pedangnya hebat, pemuda itu terkurung oleh banyak sekali bajak yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.
Kwi Lan melompat, pedang Siang-bhok-kiam berkelebat dan terdengarlah jerit susul menyusul di antara anak buah bajak yang mengurung.
Keadaan menjadi kacau-balau dan Kwi Lan yang merasa benci sekali kepada Ma Hoa, berhasil membuka jalan darah mendekati Ma Hoan dan langsung mengirim tikaman berantai ke arah dua puluh tujuh jalan darah lawan.
"Hayaaaa.."
Ma Hoan terkejut sekali seperti disambar petir.
Repot ia menggerakkan pedang untuk menangkis dan mengelak.
Setiap tangkisan membuat pundak kanannya tergetar dan dadanya panas, sedangkan setiap elakannya hanya berselisih sedikit sekali dari sambaran pedang lawan sehingga berkali-kali ia berteriak kaget dan mencium bau harum pedang lawan yang menyeramkan hatinya.
Betapa pun lihainya Ma Hoan, namun menghadapi ilmu pedang Kwi Lan yang amat aneh, ia hanya mampu mempertahankan diri dan terhuyung-huyung mundur sambil berteriak-teriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok.
Adapun pemuda itu sekarang juga sudah dikeroyok banyak bajak sungai, namun mereka ini bukanlah lawan Si Pemuda yang gagah perkasa.
Sebentar saja mereka berseru kesakitan dan banyak di antara mereka yang mundur.
Namun tak seorang pun terluka berat karena pemuda ini sengaja tidak mau menurunkan tangan maut.
Biarpun dikeroyok banyak orang, Kwi Lan menggmuk dan sudah lima orang anak buah bajak roboh tewas oleh pedangnya.
Ketika ada empat orang bajak menubruknya dengan golok dari depan sedangkan Ma Hoan meloncat mundur bersembunyi di belakang empat orang ini, agaknya hendak lari, Kwi Lan mengeluarkan suara melengking nyaring.
Seketika empat orang di depannya itu menjadi lemas dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Lan untuk meloncati kepala mereka mengejar Ma Hoan.
Sebelum tubuhnya turun, pedangnya sudah menyambar ke arah leher lawan yang amat dibencinya ini.
Ma Hoan terkejut sekali dan mengerahkan tenaga menangkis dengan pedangnya.
"Tranggg.."
"Celaka.."
Seru Ma Hoan ketika pedangnya menjadi patah oleh pedang gadis itu dan pundaknya terasa sakit karena tertusuk pedang.
Ia cepat menggulingkan tubuhnya ke bawah dan terus bergulingan, sedangkan para anak buahnya kembali maju menyerbu Kwi Lan.
Dengan demikian, kepala bajak itu tertolong dan sekali tubuhnya meloncat, ia lenyap dalam gelap.
Dengan pundak berdarah, Ma Hoan berlari cepat menuju kesungai.
Ia pikir kalau ia bisa sampai ke sungai, berarti nyawanya selamat karena sekali terjun ke air, gadis itu tentu takkan dapat mengejarnya lagi.
Ia bergidik kalau mengingat betapa hebat ilmu kepandaian gadis itu dan juga menyesal mengapa ia gagal mendapatkan hawa murni Im-kang dari gadis yang sehebat itu.
Diam-diam ia marah dan gemas kepada Siangkoan Li.
Hatinya girang setelah ia mendengar suara air.
Sungai Kuning terbentang di depan dan ia mempercepat larinya menghampiri pantai.
Ia melihat di dalam gelap sesosok bayangan hitam di pantai dan dikiranya bayangan itu seorang di antara anak buahnya, maka ia menghampiri sambil berteriak.
"Lekas sediakan perahu.."
Akan tetapi kata-katanya terhenti dan ia berdiri melongo, tengkuknya terasa dingin dan rambutnya berdiri satu-satu.
Bayangan itu kini melangkah maju dan bukan lain adalah Kwi Lan, Si Mutiara Hitam.
Gadis ini tersenyum manis dan pedang di tangannya tergetar.
Huang-ho Tai-ong Ma Hoan bukanlah seorang penakut.
Sebagai kepala bajak yang sudah belasan tahun merajalela disepanjang Sungai Kuning, entah sudah berapa banyaknya manusia tewas di tangannya dan ia dapat membunuh orang tanpa berkedip mata.
Akan tetapi sekarang menghadapi seorang gadis yang tersenyum-senyum manis di depannya, ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.
Baru sekarang ia merasa apa yang dirasakan oleh para korbannya, rasa takut dan ngeri menghadapi bahaya maut.
Akan tetapi sebagai seorang jagoan, ia segera dapat mengubah rasa takut ini menjadi kemarahan dan kenekatan.
Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti suara srigala marah, ia menerjang maju dan kedua telapak tangannya memukul berbareng dari kanan kiri lambung.
Inilah sebuah jurus Bi-ciong-kun dan dari kedua telapak tangannya keluar tenaga Tok-hiat-ciang.
Biarpun ilmu yang ganas ini belum terlatih sempurna, apalagi tenaga beracun Tok-hiat-ciang belum jadi sepenuhnya, namun sudah hebat bukan main.
Seorang lawan yang tanggung-tanggung saja kepandaiannya, mungkin masih dapat menangkis atau mengelak dari pukulan, namun sukar untuk menyelamatkan diri daripada hawa pukulan yang beracun itu.
Kwi Lan menghadapi pukulan ini dengan tenang.
Melihat lawannya tidak bersenjata lagi, ia pun tidak menggunakan Siang-bhok-kiam di tangannya.
Dengan pengerahan tenaga dalam, tangan kirinya menyampok dan hawa pukulannya menyambut serangan lawan, kemudian kakinya menendang.
Tubuh Huang-ho Tai-ong terlempar ke belakang.
Kaget bukan main kepala bajak ini.
Bukan hanya gadis itu dapat menahan pukulannya, bahkan secara aneh sekali kakinya sudah menendangnya sampai terjengkang beberapa meterjauhnya.
Ia makin panik dan takut, lalu melompat bangun dan..
membalikkan tubuhnya lari kembali ke tempat tadi.
Setidaknya di tempat pertempuran tadi, ia masih dapat mengharapkan anak buahnya untuk membantunya, daripada menghadapi gadis setan ini sendirian saja di pinggir sungai dan jalan untuk menyelamatkan diri terjun ke air sudah ditutup oleh Mutiara Hitam.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan bingung hati kepala bajak ini ketika ia tiba di depan guha tadi, di situ telah sunyi, tidak ada lagi pertempuran dan tidak tampak seorang pun anggauta bajak sungai.
Selagi ia hendak lari lagi ke kiri, tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan..
lagi-lagi Si Gadis jelita telah berada di depannya.
"Perempuan siluman"
Ia membentak dan dengan nekat menubruk maju dengan kedua lengan terpentang, untuk memeluk dan kalau perlu mengajak mati bersama.
Tampak sinar hijau berkelebat, disusul pekik mengerikan dari kepala bajak itu dan darah menyambur keluar dari dadanya ketika Huang-ho Tai-ong Ma Hoan roboh tersungkur, mendekap dada dengan kedua tangan, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian.
Kwi Lan berdiri memandang korbannya.
Baru lenyap sekarang sinar matanya yang berkilat-kilat dan senyumnya yang dingin.
Sambil menarik napas panjang, ia memasukkan Siang-bhok-kiam ke dalam sarungnya.
"Mereka memang jahat, Huang-ho Tai-ong memang layak mati, akan tetapi kau terlalu ganas, Nona."
Kwi Lan cepat membalikkan tubuhnya.
Ia melihat pemuda tampan yang rambutnya dibiarkan terurai di atas punggung itu, pemuda yang bernama Siangkoan Li, yang tadi telah menolongnya dari bahaya yang lebih hebat daripada maut.
Pemuda itu berdiri di mulut guha dan tampak gagah membelakangi sinar api unggun yang agaknya masih menyala di dalam guha itu.
Teguran ini seketika mendatangkan rasa marah di hati Kwi Lan, akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah menolongnya, ia menekan perasaan marahnya dan bertanya, suaranya ketus.
"Aku membunuh dia dengan sebuah tusukan, mengapa kau bilang ganas? Apa yang kau maksudkan?"
Pemuda itu mengerutkan keningnya dan wajahnya yang tampan itu tampak makin sungguh-sungguh.
"Huang-ho Tai-ong sudah layak mati dan tusukan pada jantungnya sudah tepat. Yang kumaksudkan adalah pembunuhan yang kau lakukan kepada tiga orang anggauta Thian-liong-pang. Mengapa kau begitu ganas membuntungkan kaki tangan mereka, membiarkan mereka menderita hebat sebelum mati?"
Pertanyaan yang penuh teguran ini bagi Kwi Lan dirasakan seperti tantangan. Ia segera membusungkan dada, menegangkan leher dan memandang tajam.
"Hemm, kulihat engkau memakai pengikat kepala dan permata kuning seperti yang dipakai Cap-ji-liong. Engkau seorang tokoh Thian-liong-pang. Apakah engkau kini hendak membalas atas kematian tiga ekor anjing di dalam guha itu?"
Pemuda itu memandang marah.
Dua pasang mata saling pandang dan saling tentang, akan tetapi pemuda itu lebih dahulu menurunkan pandang matanya, menghela napas dan berkata, nada suaranya penuh penyesalan.
"Engkau membunuh Huang-ho Tai-ong memang sudah sepatutnya karena dia mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Akan tetapi tiga orang Thian-liong-pang di dalam guha itu, mengapa kau menyiksa mereka? Dan mengapa pula engkau dan temanmu membikin kacau di Thian-liong-pang ketika diadakan upacara pengangkatan ketua baru?"
"Huh. Orang sendiri biar kotor dianggap bersih selalu. Tiga orang itu bukan manusia, mereka hanya tiga ekor anjing busuk yang patut dibunuh seratus kali. Mereka itu hendak.. hendak.. berbuat kurang ajar, mereka seperti anjing-anjing yang kotor.."
Pemuda itu menghela napas.
"Ah, sudah kusangka demikian"
Makin lama makin rusaklah nama Thian-liong-pang bersama rusaknya watak mereka"
Ah, Nona, sekarang aku tahu mengapa kau membunuh mereka, akan tetapi tetap saja kau terlalu ganas.
Membunuh dengan dorongan kebencian dan kemarahan bukanlah sikap seorang gagah."
Kwi Lan makin marah dan penasaran. Ia membanting kaki kanannya dan menghardik.
"Kau ini seorang tokoh Thian-liong-pang, apa kau kira seorang gagah? Apakah Thian-liong-pang perkumpulan orang gagah? Huh. Kulihat dengan mata sendiri bahwa Thian-liong-pang hanyalah perkumpulan orang-orang jahat. Dalam pesta perayaan untuk mengangkat ketua baru, yang datang adalah orang-orang dari golongan hitam. Bahkan ada yang menyumbangkan dua belas orang gadis culikan. Dan ketuanya diangkat dengan upacara penyembelihan dan penyiraman darah anjing. Perkumpulan apa ini? Dan kau yang menjadi tokohnya masih berani bicara tentang sikap seorang gagah?"
Aneh sekali.
Pemuda yang tadinya bersikap marah dan penuh teguran kepada Kwi Lan, setelah menghadapi kata-kata yang pedas ini tiba-tiba saja berubah air mukanya.
Ia mengerutkan keningnya, wajahnya yang tampan menjadi gelap, kemudian ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah, menarik napas panjang berkali-kali dan mengeluh.
"Disalah gunakan.. disalah gunakan.."
Dan ia pun menangis.
Kwi Lan tercengang menyaksikan perubahan ini.
Dia sendiri memang keras hati, mau membawa kehendak sendiri dan berwatak aneh, namun dia bukan seorang yang tidak mengenal budi.
Melihat keadaan pemuda ini, hatinya pun menjadi lunak, dan tanpa disadarinya, ia sudah duduk pula di atas sebuah batu, di depan pemuda itu lalu berkata.
"Aku tidak bermaksud memaki dan menyinggungmu. Aku hanya memaki Thian-liong-pang. Biarpun kau seorang tokoh Thian-liong-pang, kulihat engkau lain daripada mereka. Engkau sudah menolongku tadi dan budimu itu sungguh amat besar, membuat aku bersyukur dan berterima kasih sekali. Engkau sudah menentang Huang-ho Tai-ong, dan dalam keadaan terancam bahaya hebat, engkau sudah memulihkan totokan pada tubuhku dengan sambitan batu kerikil."
Pemuda itu menyusut air matanya dan mengangkat muka memandang Kwi Lan. Kemudian berkata dengan suara berduka.
"Aku tidak peduli andaikata kau mencaci maki diriku. Dan aku tentu akan menyerangmu andaikata makianmu terhadap Thian-liong-pang tidak benar. Akan tetapi apa yang kau katakan adalah benar dan keadaan Thian-liong-pang seperti itulah yang menghancurkan hatiku. Aku rela mati untuk Thian-liong-pang, akan tetapi dengan keadaan Thian-liong-pang seperti sekarang ini.. bagaimana mungkin aku membelanya? Aku malu sekali, sedih, tapi.. tidak berdaya.."
Timbul rasa suka di hati Kwi Lan terhadap pemuda ini.
Ternyata pemuda ini selain memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti telah dibuktikannya tadi dengan sambitan kerikil dan dengan sepak terjangnya dikeroyok oleh Huang-ho Tai-ong dan anak buahnya, juga memiliki kesetiaan namun tidak ikut menyeleweng seperti tokoh-tokoh lain dari perkumpulannya itu.
Dengan suara halus ia berkata.
"Dari percakapan tiga ekor anjing tadi aku mendengar bahwa kau bernama Siangkoan Li dan menjadi cucu luar Si Kakek Sin-seng Losu. Seorang seperti kau ini bagaimanakah bisa berada di tengah-tengah mereka yang kotor seperti mereka itu?"
Siangkoan Li menundukkan mukanya.
"Nona, bagaimana aku dapat bercerita tentang keadaanku sebagai seorang di antara tokoh-tokoh dunia hitam kepada seorang gadis gagah perkasa, seorang pendekar seperti engkau ini?"
"Pendekar? Siapa bilang aku pendekar?"
"Ah, tidak perlu kau merendahkan diri. Kau tentulah seorang Lihiap (Pendekar Wanita) dari perguruan tinggi yang terkenal maka kau berani menentang Thian-liong-pang. Kau hidup di dunia yang bersih, yang menjujung tinggi kegagahan, yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Sebaliknya aku, aku hidup bergelimang dosa dan kejahatan, hidup di dunia kotor dan hitam.."
"Ihhh, kau ngaco tidak karuan. Siapa bilang aku pendekar? Aku sama sekali bukan seorang lihiap. Aku seorang perantau, tidak datang dari perguruan manapun juga. Guruku bukan orang terkenal, dan andaikata kuberitahukan juga engkau pasti tak pernah mendengar namanya. Aku sama sekali bukan penegak kebenaran dan keadilan, bukan pendekar dan aku hanya bertindak menurut suara hatiku saja. Yang memusuhi aku, tentu akan kumusuhi kembali, yang baik kepadaku, tentu akan kubaiki kembali. Engkau baik kepadaku, telah menolongku, tentu saja tidak mungkin kau kuanggap musuh. Siangkoan Li, aku ingin sekali mendengar bagaimana kau bisa terlibat dalam Thian-liong-pang."
Mula-mula pemuda itu memandang Kwi Lan dengan sinar mata heran dan tidak percaya, kemudian berkata perlahan.
"Ah, kalau begitu ada persamaan antara kita. Hanya bedanya, engkau bebas dan aku terikat.."
Ia meraba permata kuning yang menghias dahinya.
Kemudian ia melonjorkan kakinya, duduk dengan enak dan mulai bercerita.
Thian-liong-pang tadinya merupakan perkumpulan orang-orang gagah, sisa dari Kerajaan Hou-han yang telah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung.
Orang-orang gagah yang berjiwa patriot membentuk perkumpulan Thian-liong-pang dengan cita-cita merebut kembali wilayah Hou-han yang sudah tertumpas musuh.
Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, yang bernama Siangkoan Bu, putera seorang bekas panglima Kerajaan Hou-han.
Di bawah pimpinan Siangkoan Bu inilah para orang gagah di Hou-han mengadakan pertempuran gerilya dan sering kali melakukan pengrongrongan terhadap Kerajaan Sung.
Karena perkumpullan ini membutuhkan banyak tenaga orang-orang gagah, tentu saja sukar untuk mengadakan penyaringan sehingga banyak pula orang-orang dari dunia hitam yang memiliki kepandaian, masuk pula menjadi anggauta.
Di antara mereka ini terdapat seorang pelarian dari barat, bekas seorang pendeta yang bukan lain adalah Sin-seng Losu bersama puterinya yang cantik dan berkepandaian tinggi pula.
Hal yang lumrah terjadilah, Siangkoan Bu jatuh cinta kepada puteri Sinseng Losu dan kemudian mereka menikah.
Dari pernikahan ini lahirlah Siangkoan Li.
Sin-seng Losu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga Ketua Thian-liong-pang yaitu mantunya sendiri, mengangkatnya sebagai guru untuk para anggauta Thian-liong-pang.
Dengan kedudukan ini, ditambah kenyataan bahwa dia adalah ayah mertua Siangkoan Bu, maka Sin-seng Losu merupakan orang ke dua setelah mantunya di dalam perkumpulan.
Kekuasaannya tinggi dan mulailah timbul penjilat-penjilat, yaitu orang-orang dari dunia hitam yang menyelundup masuk ke dalam Thian-liong-pang.
Mulailah Sin-seng Losu menyimpang daripada jalan bersih menjadi hamba nafsu dan makin tua menjadi makin gila.
Orang-orang gagah yang melihat gejala-gejala busuk mulai tumbuh dalam Thian-liong-pang, menjadi marah dan tidak senang sekali.
Akan tetapi oleh karena segan terhadap Siangkoan Bu, seorang patriot sejati yang dihormat dan disegani, mereka masih dapat menahan sabar.
Tentu saja, sebagai seorang yang bijaksana, Siangkoan Bu maklum pula akan keadaan ayah mertuanya yang menyeleweng dan didukung oleh banyak anggauta yang berasal dari dunia hitam.
Orang gagah ini menjadi serba susah.
Mau ditindak, kakek itu adalah ayah mertuanya.
Tidak ditindak, dapat merusak nama baik perkumpulan.
Akhirnya, Siangkoan Bu yang pada suatu hari berhasil merampas tiga belas butir permata kuning milik pembesar tinggi yang berkuasa di Hou-han dan yang menjadi boneka Kerajaan Sung, lalu menggunakan permata-permata kuning itu sebagai tanda kekuasan.
Ia memilih tiga belas orang tokoh pimpinan Thian-liong-pang, di antaranya dia sendiri dan ayah mertuanya di tambah sebelas orang tokoh lain yang ia tahu adalah orang-orang gagah dan patriot-patriot sejati, sebagai dewan pimpimpinan yang memakai hiasan dari permata kuning dan mereka yang memakai tanda ini berhak untuk mengambil keputusan demi kebaikan Thian-liong-pang, di antaranya berhak menghukum para anggauta yang menyeleweng.
Dengan adanya peraturan ini, Sin-seng Losu merasa tersudut dan tidak berani lagi melakukan penyelewengan-penyelewengan secara berterang.
Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga Siangkoan Bu dan Thian-liong-pang pada umumnya.
Ketika terjadi bentrokan dengan jagoan-jagoan Kerajaan Sung, Siangkoan Bu dan isterinya tewas dalam pertempuran hebat.
Semenjak itulah, kekuasaan tertinggi jatuh ke tangan Sin-seng Losu.
Dan karena ilmu kepandaiannya paling tinggi ditambah dua belas orang muridnya yang paling ia sayang, yaitu para penjilat terdiri dari Thai-lek-kwi Ma Kiu dan yang lain-lain, tidak ada tokoh lain yang berani menentangnya.
Bahkan satu demi satu para patriot mengundurkan diri sehingga tiga belas buah permata kuning terjatuh ke tangan Sin-seng Losu yang mengangkat diri menjadi Ketua Thian-liong-pang.
"Demikianlah, Nona. Sebuah permata, yaitu bekas milik Ayah, oleh Gwa-kong (Kakek Luar) diberikan kepadaku untuk kupakai, sedangkan yang dua belas diberikan kepada para suheng, murid Gwakong."
"Cap-ji-liong itu?"
"Benar, kami diharuskan sumpah setia sebelum menerima permata ini, dan hal itu memang menjadi peraturan perkumpulan kami."
Hening sejenak setelah pemuda itu selesai bercerita.
Diam-diam Kwi Lan merasa kasihan kepada Siangkoan Li.
Pemuda ini yatim piatu dan terpaksa hidup di antara orang-orang jahat dan merasa tidak berdaya karena yang mengepalai orang-orang jahat itu adalah kakek luarnya sendiri.
Di samping kenyataan ini, juga ia telah bersumpah setia sebagai pemakai permata kuning, setia terhadap Thian-liong-pang yang kini berubah menjadi dunia hitam.
Pantas saja pemuda ini selalu bersedih, wajahnya tak pernah berseri karena batinnya tertekan selalu.
"Aku seorang anggauta dunia hitam, Nona. Bahkan seorang tokohnya karena aku masih cucu luar orang pertama Thian-liong-pang. Sebetulnya tidak patut bagi seorang macam aku untuk menceritakan semua ini kepada seorang seperti Nona. Akan tetapi.. aku tidak bisa diam saja melihat kau dirobohkan orang dengan cara pengecut, karena itu.. biarpun merupakan penghinaan terhadap perkumpulan, aku.. aku nekat turun tangan.."
Kwi Lan memegang kedua tangan pemuda itu.
"Siangkoan Li, kalau begitu.. yang menolong aku dan Berandal keluar dari sumur itu.. engkaulah orangnya?"
Siangkoan Li menundukkan mukanya yang menjadi merah.
"Aku seorang pengkhianat kotor.. aku.. aku akan menebus dosa, akan menanti sampai Gwa-kong kembali.."
Hidup bagiku sudah memuakkan, lebih baik menyusul Ayah Ibu.."
"Siangkoan Li, mengapa seorang gagah seperti kau ini bisa mengucapkan kata-kata pengecut seperti itu? Orang yang bosan hidup, yang mengharapkan kematian, adalah seorang pengecut yang tidak berani menentang kesulitan hidup, demikian kata Guruku. Biarpun semua orang menganggapmu sebagai seorang tokoh dunia hitam, akan tetapi aku, Kam Kwi Lan, menganggapmu seorang sahabat yang baik dan gagah"
"Kam Kwi Lan? Itukah namamu, Nona..?"
Kwi Lan terkejut. Karena merasa kasihan, ia sampai memperkenalkan namanya secara tak sadar. Karena sudah terlanjur, ia lalu berkata.
"Benar, itulah namaku. Nama julukan Mutiara Hitam adalah pemberian Si Berandal."
"Si Berandal? Pemuda tampan yang datang bersamamu? Dia tampan dan lihai sekali. Di mana dia sekarang?"
"Dia pergi mencari Ibu kandungnya. Siangkoan Li, kau tadi mengatakan bahwa kau akan menebus dosa menanti kembalinya Sin-seng Losu. Apa yang hendak kau lakukan?"
Dalam percakapan tadi ketika Si Nona memperkenalkan nama, pada wajah yang tampan itu tampak sedikit cahaya gembira, akan tetapi mendengar pertanyaan itu, kembali wajahnya menjadi muram.
Sejenak ia tidak menjawab, melainkan memandang ke arah pohon-pohon yang mulai tampak karena tanpa mereka sadari, sang malam telah mulai diusir oleh sinar matahari pagi.
Kicau burung menyambut datangnya fajar.
"Aku harus mengakui perbuatanku di depan mereka, harus berani menebus dosaku dan menerima hukuman."
"Ah, mengapa begitu? Tinggalkan saja Thian-liong-pang dan mereka yang hidup bergelimang kejahatan"
Teriak Kwi Lan penasaran. Tiba-tiba Siangkoan Li melompat bangun.
"Tidak"
Tak mungkin Thian-liong-pang adalah perkumpulan yang didirikan oleh mendiang Ayahku.
Ayah Ibuku telah menyerahkan nyawa mereka untuk Thian-liong-pang.
Masa aku harus melarikan diri?
Meninggalkan Thian-liong-pang?
Tidak, Kwi Lan.
Aku takkan mundur biarpun harus menghadapi kematian."
"Tapi, orang tuamu mati untuk Thian-liong-pang dalam membela Hou-han, mereka mati sebagai pahlawan-pahlawan utama. Akan tetapi kau.., kau hendak menyerahkan nyawa sebagai seorang pengkhianat Thian-liong-pang? Selagi Thian-liong-pang dikuasai orang-orang jahat?"
Siangkoan Li menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Betapapun juga, masih ada Sin-seng Losu di situ dan kau harus ingat, dia adalah Gwakong (Kakek Luar) bagiku. Andaikata tidak ada dia, tentu aku sudah akan mengadu nyawa dengan Cap-ji-liong untuk membasmi mereka dari Thian-liong-pang"
"Marilah kita berdua sekarang juga menghadapi mereka. Siangkoan Li, kau percayalah, kita berdua akan dapat menghancurkan mereka. Kulihat kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada Cap-ji-liong.."
Siangkoan Li mengangguk.
"Memang, terhadap Cap-ji-liong aku tidak takut. Biarpun mereka itu terhitung Suheng-suhengku sendiri karena aku pun mendapat pelajaran ilmu silat dari Gwakong, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang Guru yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian Gwakong."
"Siapakah mereka itu?"
Kwi Lan bertanya kagum. Siangkoan Li menggeleng kepala.
"Tidak boleh kusebut, sungguhpun andaikata kukatakan juga, kau takkan mengenalnya. Agaknya antara gurumu dan guruku ada persamaan keanehan dalam hal nama ini. Kau bilang gurumu tidak terkenal sama sekali. Akan tetapi kurasa gurumu masih jauh lebih terkenal daripada guruku yang benar-benar tak ada seorang pun mengenalnya."
Tiba-tiba Siangkoan Li memandang ke depan dan wajahnya menegang.
Kemudian ia memegang tangan Kwi Lan, menggenggam tangan yang kecil halus itu sejenak sambil berkata.
"Sudahlah, Kwi Lan. Mereka sudah datang. Selamat berpisah. Kau percayalah, pertemuan ini merupakan satu-satunya hal yang paling menyenangkan hatiku selama hidupku dan sampai mati pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
Setelah berkata demikian, Siangkoan Li melepaskan pegangan tangannya dan dengan langkah lebar ia pergi meninggalkan Kwi Lan.
Kwi Lan berdiri di depan guha dengan hati bimbang.
Biarpun pemuda itu sudah dua kali menolongnya, akan tetapi pemuda itu bukan apa-apanya.
Orang lain yang kebetulan bertemu di situ.
Urusan pribadi pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan dirinya.
Kalau pemuda itu begitu setia kepada Thian-liong-pang dan begitu bodoh untuk menyerahkan diri minta dihukum, peduli apakah dengan dia?
Berpikir demikian, Kwi Lan juga mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
Ia masih gemas kala mengingat kuda hitamnya yang hilang.
Matikah kuda itu?
Hanyut dan tenggelam?
Ataukah terampas para bajak?
Pemuda yang aneh, kembali ia berpikir tentang diri Siangkoan Li.
Tidak mudah baginya untuk melupakan pemuda itu begitu saja.
Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda itu ketika hendak berpisah, ucapan yang agak gemetar.
Pertemuan yang paling menyenangkan hatinya selama hidupnya.
Sampai mati pun pemuda itu takkan melupakannya.
Hemmm, Kwi Lan merasa betapa mukanya menjadi panas.
Jantungnya berdebar aneh, seperti ketika Hauw Lam si Berandal menyatakan cinta kasihnya kepadanya di dalam sumur.
Siangkoan Li merupakan pemuda yang aneh.
Akan tetapi ada perbedaan mencolok dalam sikap mereka.
Hauw Lam selalu gembira dan jenaka, nakal dan lucu.
Sebaliknya, Siangkoan Li selalu muram dan sedih.
Mengenangkan Hauw Lam menimbulkan kegembiraan.
Mengenangkan Siangkoan Li menimbulkan keharuan.
Akan tetapi keduanya sama baiknya.
Sama tampan, sama lihai dan keduanya sama amat baik kepadanya.
Hauw Lam sedang pergi mencari ibu kandungnya, dan Siangkoan Li..
pergi mencari maut.
Ah, tidak boleh begini.
Ia harus melarangnya, harus mencegahnya.
Kwi Lan lalu pergi mengejar.
Siangkoan Li sudah tak tampak lagi bayangannya akan tetapi karena waktu itu matahari telah mulai muncul mengusir kegelapan, ia dapat lebih mudah mencari pemuda itu.
Ia mendapatkan pemuda itu di tepi Sungai Huang-ho dalam keadaan..
terbelenggu kedua tangannya dan sedang dimaki-maki oleh Sin-seng Losu, disaksikan oleh seorang di antara Cap-ji-liong dan seorang kakek kurus berjenggot lebat.
Siangkoan Li hanya menundukkan mukanya dengan kening berkerut, kelihatan berduka sekali.
Melihat keadaan pemuda ini, darah Kwi Lan sudah bergolak saking marahnya.
Di situ hanya terdapat tiga orang Thian-liong-pang, biarpun yang seorang adalah tokoh terbesar, Sin-seng Losu.
Andaikata Cap-ji-liong lengkap berada di situ sekalipun, ia tidak akan gentar menghadapi mereka untuk menolong Siangkoan Li.
Pemuda itu telah dua tiga kali menolongnya, tidak hanya menolongnya daripada bahaya maut, bahkan dari bahaya yang lebih hebat dari pada maut.
"Sin-seng Losu tua bangka jahat. Hayo bebaskan Siangkoan Li"
Bentaknya sambil muncul dari belakang batang pohon dengan pedang di tangan.
Seorang di antara Cap-ji-liong yang memakai mutiara kuning di dahi seperti Siangkoan Li, menoleh dan mukanya menjadi marah sekali ketika ia mengenal Kwi Lan.
Bagaikan kilat cepatnya, tangan kirinya bergerak dan pada saat itu Siangkoan Li berseru.
"Thio-suheng.. jangan.., Nona Kam, jangan turut campur.."
Namun terlambat.
Tiga buah Sin-seng-piauw sudah menyambar ke arah tubuh Kwi Lan, akan tetapi gadis ini menggerakkan pedang menyampok runtuh tiga batang Sin-seng-piauw sedangkan tangan kirinya sudah menyebar jarumnya ke arah anggauta Cap-ji-liong itu.
Orang she Thio ini cepat meloncat untuk mengelak, namun kurang cepat karena Kwi Lan melepas jarum secara luar biasa sekali.
Ia melepas dengan gerakan sekaligus, namun ternyata jarum-jarum di tangannya telah terpecah menjadi dua rombongan.
Rombongan pertama menyerang cepat sekali sedangkan rombongan kedua, biarpun disambitkan dalam waktu yang sama, lebih lambat dan merupakan jarum penutup jalan keluar sehingga ke mana pun juga lawan mengelak, tentu akan disambut oleh jarum-jarum rombongan ke dua ini.
Anggauta Cap-ji-liong itu kaget namun terlambat.
Pahanya tertusuk sebatang jarum yang amblas sampai tidak tampak menembus celana, kulit dan dagingnya.
Seketika tubuhnya menjadi kaku dan ia roboh pingsan.
"Wuuuttt.. singgg.."
Masih untung bahwa Kwi Lan mempunyai kegesitan yang mengagumkan dan gerakan yang aneh.
Otomatis tubuhnya mencelat ke kiri sampai hampir menyentuh tanah untuk mengelak sambaran pedang yang amat luar biasa itu.
Ketika ia berjungkir balik memandang, kiranya yang menyerangnya adalah orang kurus berjenggot lebat.
Diam-diam Kwi Lan terkejut juga.
Gerakan pedang orang ini hebat sekali, jauh lebih hebat daripada orang-orang Cap-ji-liong.
Padahal Cap-ji-liong adalah orang-orang Thian-liong-pang yang menduduki tingkat satu.
Kalau begitu orang itu tentu bukan orang Thian-liong-pang.
Ia memandang penuh perhatian.
Orang itu tinggi kurus mukanya pucat kehijauan, tanda bahwa dia telah melatih semacam ilmu Iweekang yang aneh dan dalam.
Rambut dan jenggotnya awut-awutan tak terpelihara, juga kotor seperti seorang pengemis terlantar.
Namun pakaiannya bukan seperti pakaian pengemis.
Agaknya seorang pertapa yang sudah tidak peduli akan kebersihan dirinya lagi.
Mukanya kurus tak berdaging, hanya kulit pembungkus tengkorak.
Tentu usianya sudah tua sekali.
Orang ini (Lanjut ke
Jilid 08) Mutiara Hitam (Seri ke 04
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 berdiri memandangnya dengan muka seperti kedok, sedikit pun tidak membayangkan perasaan sesuatu, juga mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata.
"Susiok, harap jangan layani dia. Nona Kam, kau pergilah.."
Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Kwi Lan dengan pandang mata penuh kedukaan.
Makin tidak tega hati Kwi Lan, maka ia menghadapi kakek berpedang itu sambil mengejek.
"Kalian bebaskan dia atau.. pedangku harus bicara?"
"Sute (Adik Seperguruan), kau wakili aku hajar siluman ini"
Sin-seng Losu berkata.
Kini tahulah Kwi Lan bahwa kakek kotor ini adalah adik seperguruan Sinseng Losu, pantas saja Siangkoan Li menyebutnya paman guru.
Ia melihat betapa orang itu menggetarkan pedangnya di tangan kanan sedangkan tangan kirinya tergetar hebat lalu menjadi kaku dengan jari-jari membentuk cakar garuda.
Kemudian tubuh orang itu menubruk ke depan, pedangnya membabat ke arah pinggang sedangkan tangan kirinya mencakar ke arah mukanya.
Sukar dikatakan mana yang lebih berbahaya, pedang itu ataukah jari-jari tangan kiri itu.
Keduanya mengeluarkan angin pukulan yang bersuitan dan amat kuatnya.
Sambutan Kwi Lan atas serangan dahsyat dan aneh ini tidak kalah luar biasanya.
Gerakan Kwi Lan memang aneh dan tidak terduga-duga.
Bahkan sudah menjadi inti daripada ilmu silat Kam Sian Eng bahwa setiap serangan lawan merupakan pintu yang terbuka dan merupakan kesempatan untuk dibalas serangan yang mematikan.
Tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, Kwi Lan sudah meloncat tinggi ke atas sehingga pedang lawan lewat di bawah kedua kakinya dan berbareng pedang Siang-bhok-kiam di tangannya bergerak menyambar ke bawah membabat tangan kiri lawan yang mencakarnya tadi.
Kakek itu membelalakkan mata dan agaknya hanya gerakan mata ini sajalah yang menyatakan bahwa ia merasa kaget sekali karena bagian muka yang lain tetap seperti kedok.
Namun ternyata ia lihai sekali.
Karena tidak keburu menarik kembali lengan kirinya yang kini menjadi sasaran pedang lawan, ia segera membuang diri ke belakang sehingga roboh terlentang sambil memutar pedang di depan dada dan bergulingan.
Secepat kilat ia sudah bangun kembali dan kini mereka sudah berhadapan lagi.
Keduanya sama maklum bahwa lawan adalah seorang yang lihai.
Namun Kwi Lan tetap tersenyum mengejek, menanti serangan lawan.
Kakek itu kini menerjang kembali sambil memutar pedang dengan gerakan dahsyat sekali.
Pedangnya membacok-bacok secara bertubi, kiri kanan atas bawah, diselang-seling namun tak pernah berhenti, mengikuti bayangan dan gerakan lawan.
Kwi Lan memperlihatkan kegesitannya, terus mengelak dengan sedikit miringkan tubuh sehingga pedang lawan menyambar-nyambar di samping tubuhnya, bahkan kadang-kadang kelihatan seperti sudah menyerempetnya"
Makin lama makin gencar serangan aneh dan hebat ini.
Pedang itu seakan-akan digerakkan oleh mesin, tak pernah berhenti menyerang dan setiap bacokan disertai tenaga dahsyat.
Setelah dua puluh jurus lewat Kwi Lan hanya menghadapinya dengan elakan-elakan segesit burung walet, gadis ini lalu berseru nyaring dan pedang Siang-bhok-kiam berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung yang makin lama makin luas lingkarannya dan betapa pun lawannya memutar pedang setelah lewat lima puluh jurus, sinar hijau mulai menggulung dan melibat sinar pedang kakek itu.
Kakek ini sebenarnya bukan orang sembarangan.
Dia bernama Yo Cat, murid dari tokoh besar Siauw-bin Lo-mo paman guru Sin-seng Losu.
Di dalam dunia hitam, ia sudah menduduki tingkat tinggi, sejajar dengan Sin-seng Losu.
Karenanya jarang ia bertemu tanding.
Siapa kira, hari ini, selagi ia ikut dengan suhengnya itu untuk mempersiapkan tempat istirahat bagi gurunya yang akan datang berkunjung ke Yen-an, ia bertemu seorang gadis muda belia yang tidak hanya mampu menandinginya, bahkan kini mendesaknya dengan ilmu pedang yang hebat dan luar biasa, dimainkan dengan sebatang pedang kayu pula.
"Auuuggghhhh.."
Hebat sekali pekik yang keluar dari dalam perut melalui kerongkongan Yo Cat ini, bukan seperti suara manusia lagi, dahsyat dan liar, lebih mirip suara binatang buas atau suara iblis.
Kwi Lan adalah seorang gadis gemblengan yang telah mempelajari pelbagai ilmu yang aneh-aneh dengan cara yang aneh pula.
Namun menghadapi Yo Cat yang terlatih puluhan tahun lamanya dan sudah menjadi ahli sebelum gadis ini terlahir, apalagi menghadapi ilmu hitam Koai-houw Ho-kang (Auman Harimau Iblis) ini, jantungnya tergetar dan tubuhnya menggigil.
Gerakan pedangnya kacau dan ia terhuyung-huyung ke belakang.
Lebih hebat lagi, setelah mengeluarkan ilmu menggereng yang dahsyat itu, Yo Cat terus menerjang maju dan melakukan tekanan-tekanan berat.
Ada satu hal yang menguntungkan Kwi Lan, yaitu wataknya yang tabah dan hatinya yang tidak pernah mau kenal apa artinya takut.
Kalau ia merasa takut, celakalah ia karena kelemahan orang menghadapi ilmu semacam Koai-houw Ho-kang itu adalah perasaan takut.
Kalau hati merasa gentar, makin hebat pengaruh ilmu itu sehingga mungkin tanpa bertanding lagi orang sudah bertekuk lutut.
Karena hatinya sama sekali tidak gentar, pengaruh gerengan dahsyat itu sebentar saja dan Kwi Lan sudah dapat menetapkan perasaannya lagi.
Pedangnya mulai memperhebat lagi gerakannya dan dalam waktu singkat saja kembali ia telah mengurung dan mendesak.
Yo Cat boleh jadi lihai dan banyak pengalamannya, namun menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi yang dilatih di bawah bimbingan seorang jago wanita gila, tentu saja ia menjadi bingung sekali, tak dapat menduga-duga bagaimana perubahan pedang itu sehingga menjadi mati kutu.
"Eh, budak cilik, kau kurang ajar sekali"
Seruan ini keluar dari mulut Sin-seng Losu yang sudah melompat ke depan dan sekali tangan kirinya bergerak, tampak sinar berkilauan menyambar ke arah Kwi Lan.
Sinar ini adalah senjata rahasia Sin-seng-piauw, namun jauh bedanya dengan piauw yang dilepas oleh semua anak murid Thian-liong-pang.
Piauw ini memang bentuknya seperti bintang, akan tetapi terbuat daripada perak berkilauan dan karena kakek ini yang menciptakan senjata rahasia itu, tentu saja cara menggunakannya pun hebat luar biasa.
"Gwakong (Kakek Luar), jangan.."
Terdengar Siangkoan Li berseru kaget.
Kwi Lan maklum bahwa ia diserang dengan senjata rahasia.
Karena ia masih menghadapi pedang Yo Cat yang tak boleh dipandang ringan, maka perhatiannya kurang sepenuhnya terhadap datangnya serangan Sin-eng-piauw.
Ketika ia melirik, ia kaget sekali melihat sinar-sinar berkeredepan menyambarnya dari kanan kiri bawah dan atas, sinar-sinar yang menyambar tanpa mengeluarkan bunyi akan tetapi yang kecepatannya menyilaukan mata.
Celaka, Kwi Lan berseru kaget dalam hati.
Ia cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya, namun bagaikan ada matanya, piauw-piauw perak itu melejit dan menyambar seperti gila.
Ketika ia berseru keras dan meloncat tinggi, semua piauw lewat di bawah kakinya kecuali sebuah yang secara aneh telah menancap betis kaki kirinya.
Untung baginya bahwa tadi Kwi Lan sudah bersiap-siap dan begitu merasa kakinya disambar ia telah menutup jalan darah dan mengerahkan Iwee-kang sehingga senjata rahasia itu hanya separuhnya saja menancap di daging betisnya.
Pada saat tubuhnya masih di udara, Yo Cat menerjang maju dengan tusukan pedangnya, dan lebih hebat lagi, Sin-seng Losu sudah mengerahkan sin-kang di lengan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh yang amat hebat dan sukar ditangkis.
"Auhhhh.. hehhh.. kau berani.. berani..?"
Terdengar Sin-seng Losu terengah-engah dan tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung.
Kiranya pukulannya telah ditangkis oleh kedua tangan Siangkoan Li yang terbelenggu.
Melihat ini, Kwi Lan yang tubuhnya masih di udara dan menghadapi terjangan Yo Cat, mengeluarkan lengking tinggi dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor ular raja menggeliat aneh di udara namun pedang lawan menyelinap di bawah ketiak kirinya, langsung ia kempit dan pedangnya sendiri menyambar ke lengan kanan lawan.
"Iihhh.."
Suara ini keluar dari mulut Yo Cat yang cepat melepaskan pedangnya dan menarik lengannya, namun kurang cepat sehingga lengannya dekat siku terkena serempetan pedang, terluka dan darahnya bercucuran Si Muka Mayat ini meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanan, agaknya khawatir kalau-kalau gadis yang perkasa itu mendesaknya dengan serangan maut.
Akan tetapi Kwi Lan menengok ke arah Siangkoan Li yang sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
"Gwakong.. kau tak boleh membunuhnya.. tak boleh.."
Pemuda itu mengeluh berkali-kali.
"Anak keparat, cucu durhaka.. hehhehhh.. berani kau.. huh-huhh.. kubunuh kau.."
Sekali meloncat, tubuh Kwi Lan berkelebat dan ia sudah berdiri menghadang di depan Siangkoan Li, mulutnya tersenyum dan matanya memandang kakek itu dengan penuh ancaman.
Akan tetapi kekhawatirannya hilang ketika ia melihat betapa kakek itu berdiri dengan muka pucat, dengan napas senin kamis dan di ujung mulutnya menetes-netes darah segar.
Diam-diam Kwi Lan terkejut sekali dan kagum.
Jelas bahwa Sin-seng Losu bukan seorang lemah.
Sambitannya Peluru Bintang Sakti tadi sudah amat berbahaya, kemudian pukulannya jarak jauh juga hebat.
Mengapa sekali ditangkis oleh Siangkoan Li, kakek itu menderita luka dalam yang tidak ringan?
Sampai di manakah tingkat kepandaian pemuda yang berkali-kali menolongnya ini?
"Kalian ini dua orang tua bangka yang bosan hidup.
Hari ini nonamu akan mengantar kalian ke neraka"
Kwi Lan menyerbu dengan pedangnya, akan tetapi tiba-tiba lengan kirinya dipegang orang dari belakang.
Ternyata Siangkoan Li yang memegangnya dan pemuda itu berkata dengan nada sedih.
"Jangan, Kwi Lan. Dan lekas kau keluarkan obat pemunah jarummu untuk Suhengku. Lekaslah, harap, kau sudi melihat mukaku dan menolongnya."
Kwi Lan melongo.
Pemuda aneh sekali.
Jelas bahwa ia diperlakukan tidak baik, mengapa masih nekad hendak menolong mereka?
Akan tetapi mengingat bahwa sudah berkali-kali ia ditolong, tidak enaklah hatinya untuk menolak permintaan itu.
Dengan bersungut-sungut tak puas ia mengeluarkan sebungkus kecil obat bubuk dan berkata.
"Robek kulitnya, keluarkan jarum dan pakai obat ini pada lukanya."
Siangkoan Li menerima bungkusan itu, memberikan kepada suhengnya.
"Thio-suheng, kau pakailah ini"
Akan tetapi suhengnya membuang muka dan menghardik.
"Tutup mulutmu, pengkhianat"
Siangkoan Li mengerutkan keningnya lalu meletakkan bungkusan di dekat kaki suhengnya yang masih rebah tak dapat bangun.
Kemudian ia menghampiri Kwi Lan dan berkata.
"Nona Kam, harap engkau sekarang segera pergi dari sini. Kalau sampai para suhengku datang, engkau tentu akan celaka dan aku tidak akan mampu menolongmu lagi."
Kwi Lan mengeluarkan suara mendengus di hidungnya.
"Huh, kau tidak takut mati, apa kau kira aku pun takut mati? Biarlah mereka membunuhku kalau mereka mampu."
"Nona.., Kwi Lan.., aku tidak ingin melihat kau mati karena aku"
"Aku pun tidak ingin melihat kau mati. Aku mau pergi kalau engkau pun mau pergi bersama meninggalkan tempat ini"
"Jahanam besar kau, Siangkoan Li. Kau membikin mayat Ayahmu membalik di dalam kuburnya. Berani main cinta-cintaan dengan seorang musuh perkumpulan. Hah, bocah macam apa ini"
Sin-seng Losu sudah memaki-maki lagi.
"Kwi Lan, aku seorang anak Thian-liong-pang, harus tunduk dan setia. Aku sudah berdosa, biarlah aku menerima hukuman. Akan tetapi kau orang luar, kau pergilah dan jangan membikin aku mati penasaran karena kau menderita celaka."
Kini Kwi Lan menjadi marah. Dengan pedang di tangan ia membentak.
"Siangkoan Li, Engkau ini pemuda macam apa begini lemah dan buta? Memang benar kau adalah orang Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu dahulu adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan bukan golongan orang jahat. Terhadap perkumpulan seperti ketika dipimpin Ayahmu itu, aku tidak akan merasa heran apabila engkau mengambil sikap seperti ini, bersetia sampai mati. Siangkoan Li, engkau melihat sikap Ciam Goan? Nah, dialah orang gagah sejati, yang melihat betapa Thian-liong-pang menjadi busuk di bawah pimpinan Gwakongmu yang berjiwa kotor ini rela meninggalkan Thian-liong-pang dan kalau perlu memusuhinya. Bukan memusuhi perkumpulannya, melainkan orang orangnya yang menyeleweng daripada kegagahan. Siangkoan Li, aku tidak bisa bicara banyak dan pengetahuanku pun sedikit. Akan tetapi karena kau seorang yang sudah melepas budi berkali-kali kepadaku, aku harus membelamu dengan taruhan nyawaku. Pernah Guruku bilang bahwa orang hidup tentu akhirnya mati. Akan tetapi kematian yang paling memalukan adalah kematian seorang pengecut yang tidak berani menentang kelaliman. Demi untuk kebenaran, jangankan hanya perkumpulan atau teman-teman, biar orang tua sendiri kalau perlu boleh saja dilawan"
Hebat kata-kata ini, apalagi kalimat yang terakhir.
Pada jaman itu, kebaktian merupakan kebajikan mutlak dan nomor satu.
Tidak ada kejahatan yang buruk daripada kemurtadan anak terhadap orang tua demi membela kebenaran"
Ini hanya dapat diucapkan oleh seorang yang otaknya tidak waras.
"Dengar.., Dengar itu omongan iblis betina. Omongan perempuan gila. Siang koan Li, kau berani murtad terhadap Kakekmu?"
Sambil berlutut Siangkoan Li berkata.
"Tidak, Gwakong, aku tidak berani.."
Kemudian ia menoleh ke arah Kwi Lan.
"Kwi Lan, kau pergilah. Lekas mereka telah datang.."
"Biarkan mereka datang. Biar aku mati aku tidak mau pergi tanpa kau ikut pergi. Kau sudah menolong nyawaku, aku harus membalasnya sedikitnya satu kali"
Kata Kwi Lan dengan suara tetap.
"Celaka.., Kwi Lan, kau tahu, siapa kakek itu?"
Ia menuding ke arah kakek yang terluka lengan kanannya.
"Dia itu susiok Yo Cat, dia itu murid sucouw yang akan datang pula bersama Cap-ji-liong. Biar ada lima orang engkau dan aku belum tentu akan dapat melawannya."
Akan tetapi Kwi Lan hanya tersenyum saja.
Makin lama Siangkoan Li makin bingung dan kini dari jauh tampak layar beberapa buah perahu.
Siangkoan Li meloncat bangun, menghampiri Kwi Lan, memegang lengannya dan berseru.
"Kalau begitu, demi keselamatanmu, kita pergi.."
Kwi Lan ikut berlari, membiarkan dirinya ditarik. Siangkoan Li. Tak lama kemudian ia berseru.
"Eh, eh, kenapa lari ketakutan? Mari kita lawan bersama."
"Hushhh.. diamlah. Aku tahu jalan rahasia yang tak mungkin dapat mereka kejar dan cari. Mari.."
Mereka lari memasuki sebuah hutan yang gelap dan memang pemuda itu tidak bohong.
Ia melalui jalan menyusup-nyusup yang amat sukar, bukan jalan manusia lagi dan kalau bukan orang yang sudah mengenal jalan tentu amat sukar memasuki hutan melalui jalan ini.
Akhirnya setelah lari setengah hari lamanya Siangkoan Li nampak tenang dan mengajak gadis itu duduk di pinggir sebuah sungai kecil dalam hutan.
Keadaan di situ teduh dan sejuk sekali.
Sinar matahari yang amat terik ditangkis oleh daun-daun pohon yang lebat.
"Mari kuputuskan belenggu."
Kata Kwi Lan sambil menarik tangan Siangkoan Li. Akan tetapi pemuda itu merenggut kembali tangannya.
"Untuk apa? Setelah menyelamatkan engkau, aku akan kembali menyerahkan diri."
Kwi Lan marah sekali. Ia meloncat bangun dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuknya kepada Siangkoan Li.
"Engkau boleh berkepala batu, aku pun berhati baja. Akan tetapi engkau berkeras secara ngawur. Siangkoan Li, engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa begini lemah? Kalau kau memang amat mencinta Thian-liong-pang, mengapa kau tidak mengumpulkan orang-orang seperti Ciam Goan untuk membersihkan Thian-liongpang dari oknum-oknum macam Ma Kiu dan lain-lain? Kalau kau lakukan itu dan Thian-liong-pang menjadi perkumpulan orang gagah kembali, barulah kau seorang yang berbakti kepada mendiang Ayahmu, menjujung tinggi nama baik orang tua dan perkumpulan. Yang kau lakukan sekarang ini hanya membuktikan bahwa kau pengecut dan picik. Baiklah, kalau kau berkukuh hendak menyerahkan diri, aku pun berkukuh hendak membasmi Thian-liong-pang sendirian saja. Kita akan sama-sama mati, akan tetapi matiku seribu kali lebih berharga daripada matimu yang seperti kematian seekor kacoa"
Pucat wajah Siangkoan Li mendengar ini.
Ia meloncat bangun, sejenak ia memandang dengan mata melotot.
Kedua orang muda itu saling pandang untuk beberapa lama.
Kemudian Siangkoan Li menarik napas panjang.
"Aku bingung dan ragu-ragu.. agaknya engkau benar.. biarlah akan kutemui kedua orang Suhuku dan minta nasihat mereka.., Thian-liong-pang, untuk sementara ini aku Siangkoan Li menjadi pengkhianat"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga menggerakkan kedua tangannya.
Terdengar suara keras dan..
belenggu besi itu rontok semua dan putus-putus"
Kwi Lan tersenyum girang dan kagum.
Tak salah dugaannya, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, yang jelas adalah tenaganya yang istimewa.
Pantas saja kekeknya yang sudah tua itu sekali ditangkis terluka.
"Bagus Siangkoan Li. Begitu barulah seorang gagah sejati. Akan tetapi aku masih belum percaya betul. Bagaimana kalau kau lakukan ini hanya untuk mengelabuhi aku? Sebelum aku yakin akan keputusan hatimu, aku hendak mengikuti sepak terjangmu beberapa lama. Sekarang engkau hendak ke mana?"
"Ucapan-ucapanmu mulai membekas di hatiku, Kwi Lan. Akan tetapi aku masih bimbang ragu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah bertanya kepada kedua orang Guruku. Aku hendak mengunjungi mereka."
"Kedua orang Gurumu tentu orang-orang luar biasa. Aku pun ingin bertemu dengan mereka. Aku ikut"
"Eh, tidak bisa, Kwi Lan. Mereka itu orang-orang luar biasa sekali dan tidak suka bertemu dengan orang lain. Kecuali itu, juga tempatnya amat sukar didatangi orang, bagaimana aku bisa mengajakmu ke sana?"
Kwi Lan tersenyum.
"Kata-katamu makin membuat aku curiga. Siangkoan Li, sudah kukatakan tadi. Engkau telah berkali-kali menolongku, maka aku sudah mengambil keputusan, sebelum kau yakin akan kekeliruanmu mengenai sikapmu terhadap Thian-liong-pang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau bisa mengunjungi mereka, mengapa aku tidak? Marilah kita berangkat"
Siangkoan Li mengerutkan keningnya. Gadis ini amat keras hati dan ia tahu bahwa Kwi Lan tentu akan melakukan apa yang diucapkannya.
"Baiklah, Kwi Lan. Akan tetapi kau sudah kuperingatkan. Jangan persalahkan padaku kalau kau terbawa-bawa ke dalam lembah hitam karena kau pergi bersama aku yang sejak kecil bergelimang dalam dunia yang kotor."
Berangkatlah dua orang itu melanjutkan perjalanan.
Melakukan perjalanan bersama Siangkoan Li bedanya sejauh bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan perjalanan bersama Hauw Lam.
Perjalanan di samping Hauw Lam merupakan perjalanan yang penuh tawa dan gurau, gembira karena pemuda itu memandang dunia dari sudut yang terang dan lucu.
Akan tetapi sebaliknya, Siangkoan Li adalah seorang pemuda yang pendiam dan wajah yang tampan itu hampir selalu muram diselimuti awan kedukaan.
Di sepanjang jalan, dua orang yang melakukan perjalanan cepat ini jarang sekali bicara.
Kalau tidak diajak bicara, Siangkoan Li tak pernah membuka mulut.
Akan tetapi Kwi Lan tidak merasa kecewa.
Ia maklum akan isi hati pemuda ini dan sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya, penuh perasaan, sudah cukup baginya.
Sinar mata pemuda ini tiada bedanya dengan sinar mata Hauw Lam di waktu menatapnya.
Ada sesuatu dalam sinar mata kedua pemuda itu yang mendatangkan kehangatan di hatinya.
Sebelas hari lamanya mereka berdua melakukan perjalanan yang sukar, naik turun Pegunungan Lu-liang-san, masuk keluar hutan-hutan lebat.
Pada hari ke dua belas, setelah selama itu tak pernah bertemu dengan manusia karena agaknya Siangkoan Li memang memakai jalan yang liar dan tak pernah diinjak orang, sampailah mereka di sebuah dusun kecil di lereng bukit.
Dusun ini hanya ditinggali beberapa puluh keluarga petani, akan tetapi di ujung dusun itu berdiri sebuah rumah makan yang kecil dan sederhana sekali.
"Kita sudah sampai."
Kata Siangkoan Li.
"Apa? Di dusun ini?"
Siangkoan Li menggeleng kepala dan menudingkan telunjuknya ke depan.
"Di puncak sana itu."
Kwi Lan memandang dan benar saja.
Tak jauh dari dusun itu menjulang tinggi puncak bukit dan samar-samar tampak tembok putih panjang melingkari bangunan-bangunan kuno.
"Bangunan apakah itu?"
Tanya Kwi Lan.
"Itulah kuil dan markas Lu-liang-pai. Di sana tinggal para hwesio Lu-liang-pai yang merupakan partai persilatan besar di daerah ini."
"Ahhh, kedua orang Gurumu itu hwesio-hwesio yang tinggal di sana?"
Siangkoan Li menggeleng kepala dan keningnya berkerut, agaknya pertanyaan ini menimbulkan kekesalan hatinya.
"Apakah dugaanku keliru?"
Pemuda itu mengangguk dan menghela napas panjang.
"Kedua orang Guruku adalah.. orang-orang hukuman di kuil itu.."
"Apa..?"
Kwi Lan benar-benar kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah diduganya.
"Kenapa mereka dihukum? Apakah mereka itu anggauta-anggauta Lu-liang-pai yang menyeleweng?"