Eps 2 Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Mutiara Hitam - Kho Ping Hoo.
Ibumu adalah adik angkatku, yaitu Ratu Yalina di Khitan.
Tentang Ayahmu..
hi-hik, kau tanya saja kepada Ibumu yang manis itu"
Demikianlah, setelah Sian Eng bersama Suma Kiat pergi, Kwi Lan lalu pergi pula meninggalkan hutan di mana ia hidup selama delapan belas tahun.
Ia menasihati Bi Li agar tinggal di dalam istana bawah tanah saja, menanti kembalinya mereka dari perantauan.
Ia berjanji akan mencari keterangan di dunia luar tentang Tang Hauw Lam.
Dengan kawan pedang pusaka pemberian bibinya, Kwi Lan melakukan perjalanan seorang diri.
Tujuan perjalanannya tentu saja di Khitan di sebelah utara.
Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa, melakukan perjalanan seenaknya.
Hal ini bukan saja karena ia memang hendak menikmati keadaan kota dan dusun yang dilaluinya, juga terutama sekali karena hatinya merasaamat kecewa ketika mendengar keterangan gurunya bahwa dia sebetulnya anak Ratu Khitan "Anak ratu"
Akan tetapi ratunya bangsa Khitan yang dianggap sebagai bangsa yang setengah liar di utara.
Dan kalau dia benar anak ratu, mengapa sampai diberikan kepada gurunya?
Kalau benar ibunya itu, Ratu Khitan, adalah adik angkat gurunya, tentu dia telah diberikan kepada bibi itu untuk dilatih ilmu silat.
Alangkah tega hati ibu kandungnya itu.
Berarti tidak sayang kepadanya.
Karena pikiran inilah maka Kwi Lan tidak sangat bernafsu untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang menjadi ratu di Khitan.
Pada pagi hari yang cerah itu, Kwi Lan berjalan dikaki Bukit Lu-liang-san, menikmati keindahan alam yang mandi cahaya matahari pagi.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara orang bertanding disebelah depan.
Hatinya tertarik dan ia mempercepat langkahnya.
Ketika tiba disebuah belokan, ia melihat dua orang tengah bertanding hebat.
Yang seorang bersenjata pedang, yang kedua bersenjata tongkat butut.
Disekeliling tempat pertandingan itu, berdiri pula beberapa orang dengan tegak dan penuh perhatian menonton jalannya pertandingan.
Melihat betapa dua orang yang bertanding, juga mereka yang berdiri menonton, semua berpakaian pengemis, teringatlah Kwi Lan akan peristiwa dihutan iblis pada lima tahun yang lalu.
Yang bersenjata tongkat butut adalah seorang kakek pengemis berpakaian butut dan disitu masih ada tiga orang temannya yang kurus-kurus dan tua berdiri menonton.
Adapun lawannya, yang berpedang, adalah seorang pengemis pakaian bersih, sedangkan agaknya empat orang yang berdiri menonton disebelah kiri adalah teman-temannya, sungguhpun hanya dua diantara mereka yang berpakaian pengemis baju bersih.
Pertandingan itu cukup seru dan dari gerakan mereka tahulah Kwi Lan bahwa mereka yang bertanding itu memiliki kepandaian cukup tinggi dan tentu bukan anggauta biasa dari perkumpulan mereka, melainkan tokoh-tokoh yang berkedudukan cukup tinggi.
Maka ia memandang penuh perhatian sambil mendekati dengan langkah perlahan.
"Ssssttt.."
Kwi Lan terkejut dan berdongak.
Ternyata yang berdesis itu adalah seorang pemuda yang duduk ongkang-ongkang diatas dahan pohon sambil menghadap ke arah pertandingan.
Pemuda itu kini menoleh kepadanya dan menaruh telunjuk kedepan mulut.
Melihat wajah pemuda itu yang berseri, tidak hanya mulutnya, bahkan hidung dan matanya ikut tersenyum ramah, sekaligus timbul rasa suka dihati Kwi Lan.
Mata pemuda itu bersinar terang dan gembira, jelas tampak bahwa dia seorang periang yang lucu dan juga nakal.
"Kalau mau nonton, disini paling enak, jelas aman dan tidak usah bayar"
Bisik pemuda itu dan terkejutlah KwiLan.
Pemuda itu hanya berbisik-bisik, akan tetapi suaranya jelas sekali terdengar olehnya, seperti didekat telinganya.
Tahulah ia bahwa pemuda yang periang ini bukan hanya seorang pemuda berandalan biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah menguasai Ilmu Coan-im-pekli (Mengirim Suara Seratus Mil).
Kalau saja pemuda itu tidak memiliki wajah tampan yang begitu jenaka seperti wajah seorang anak kecil yang nakal, tentu Kwi Lan akan ragu-ragu bahkan marah.
Namun jelas baginya bahwa pemuda itu nakal dan polos, tidak bermaksud kurang ajar.
Hal ini dapat ia lihat dari sinar matanya.
Selama setengah tahun merantau dan bertemu banyak laki-laki, Kwi Lan sudah dapat membedakan pandang mata laki-laki yang tertarik akan kecantikan wajah dan bentuk tubuhnya, pandang mata mengandung berahi yang kurang ajar.
Sengaja Kwi Lan mengerahkan ginkangnya sehingga ketika ujung kedua kakinya menggenjot tanah, tubuhnya melayang naik seperti seekor burung kenari terbang melayang dan hinggap di atas cabang di dekat pemuda itu, duduk ongkang-ongkang seperti si pemuda tanpa sedikit pun membuat cabang itu bergoyang.
Akan tetapi Kwi Lan kecelik kalau ia memancing kekaguman pemuda itu, karena si pemuda menoleh kepadanya seperti tidak ada apa-apa saja, seakan-akan gerakannya yang indah dan ringan itu tadi sudah sewajarnya.
Setelah menoleh dan memandang wajah Kwi Lan sejenak, pemuda itu tersenyum lebar, merogoh saku bajunya yang lebar, mengeluarkan bungkusan dan membuka bungkusan itu, menyodorkannya kepada Kwi Lan.
Kiranya tanpa bicara pemuda itu telah menawarkan kacang garing kepada Kwi Lan.
"Enak nonton di sini sambil makan kacang,"
Katanya dengan mata bersinar-sinar.
"Gerakan mereka dapat nampak jelas. Hayo bertaruh, siapa yang akan menang antara pengemis bertongkat kurus kering dan pengemis botak berpedang itu? Aku berpegang kepada Si Botak"
Kwi Lan makin suka kepada pemuda yang sebaya dengannya ini, atau mungkin lebih muda melihat sikapnya yang kekanak-kanakan.
Tanpa ragu-ragu lagi ia mengambil segenggam kacang, membuka kulit dan memakannya sambil menonton ke arah pertandingan.
"Aku bertaruh pengemis baju butut yang menang,"
Kwi Lan berkata setelah menonton sebentar.
Kacang garing itu enak sekali, selain gurih dan wangi tanda kacang tua dan baik, juga agaknya diberi bumbu dan asinnya cukup.
"Belum tentu"
Kata Si Pemuda gembira dan kedua kakinya yang ongkang-ongkang itu digerak-gerakkan menendang.
"Memang Si Kurus Kering itu lebih lihai ginkangnya, lebih cekatan. Akan tetapi aku lihat Si Botak ini banyak tipu muslihatnya. Di gagang pedangnya terdapat alat untuk melepas jarum beracun."
"Ihhh.., Memang pengemis baju bersih itu golongan hitam dan curang"
Kwi Lan berseru.
"Eh, bagaimana engkau bisa tahu?"
"Tahu saja. Kau kira engkau saja yang tahu kelicikan mereka?"
Mereka saling pandang, cemberut karena dengan pertaruhan itu mereka seperti hendak saling memihak.
Akan tetapi pemuda itu tersenyum, menyodorkan lagi bungkusan kacangnya.
"Enak kacang ini, bukan? Tentu enak, kacangini khusus dibuat untuk istana kerajaan"
Ia tertawa ha-ha-he-he, lalu melanjutkan.
"Akan tetapi, Raja dan para Pangeran belum tentu mempunyai mulut seperti mulutku, maka aku merasa bahwa mulutku tidak terlalu rendah untuk mencicipi kacang untuk istana ini dan kucuri sebagian. He-he-heh"
Kwi Lan juga tersenyum lebar dan mengambil lagi segenggam.
Keduanya kini tidak berkata-kata lagi karena ikut merasa tegang dengan pertandingan yang makin seru itu.
Mereka seperti lupa diri, makan kacang sambil menonton ke bawah, persis seperti lagak para penonton permainan sepak bola yang ramai.
Mereka seperti dua orang anak nakal yang sudah sejak kecil menjadi kawan bermain.
Memang pertandingan itu makin seru.
Tepat seperti yang dikatakan pemuda itu, gerakan pengemis baju butut yang memegang tongkat amat lincah, tubuhnya seringkali mencelat ke atas dan menyambar-nyambar dengan tongkatnya.
Pengemis botak yang berbaju bersih, agaknya kewalahan dan terdesak sehingga ia hanya mampu mengelak dan menangkis, sukar untuk dapat membalas.
Namun harus diakui bahwa pertahanan pedangnya cukup kuat sehingga semua terjangan Si Pengemis kurus kering selalu tidak mengenai sasaran.
Tiba-tiba pengemis baju kotor itu mengeluarkan seruan keras dan ilmu tongkatnya berubah, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin sempit sehingga mengurung tubuh lawannya.
"Hah, mampus sekarang jagomu"
Kata Kwi Lan.
"Heh, belum tentu"
Lihat saja..jawab Si Pemuda.
"Lihat, nah..kena"
Berbareng dengan ucapan Kwi Lan yang tentu saja dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas dan bahkan dapat menduga pula perkembangan setiap gerakan, benar saja tongkat pengemis pakaian kotor itu dapat menusuk leher pengemis botak.
Akan tetapi, ketika pengemis botak itu berusaha menangkis dengan sia-sia, tiba-tiba dari gagang pedangnya meluncur sinar hitam dan kakek pengemis kurus kering itupun berseru kesakitan dan roboh bersama-sama lawannya.
Kalau lawannya dapat ia tusuk dengan tongkat, tepat mengenai leher, adalah dia sendiri menjadi korban tiga batang jarum beracun yang menyambar keluar dari gagang pedang ketika lawannya menekan alat rahasia di gagang pedang itu.
Tiga batang jarum berbisa memasuki perutnya.
Tiga orang pengemis baju kotor yang bertubuh kurus-kurus itu menjadi marah sekali.
Akan tetapi pada saat itu, empat orang lawannya yang tadinya juga menonton, dengan bersorak telah menyerbu dan menerjang mereka bertiga.
Tiga orang pengemis ini cepat menggerakkan tongkat melawan pengeroyokan empat orang lawan itu.
Akan tetapi ternyata kepandaian empat orang lawan, terutama yang berpakaian seperti jago silat, bermuka penuh brewok dengan alis tebal, tubuhnya tinggi besar, amatlah lihai.
Si Brewok tinggi besar ini menggunakan sepasang pedang dan gerakannya laksana harimau mengamuk.
Tiga orang pengemis baju kotor itu amat kewalahan dan terdesak sambil mundur.
Namun mereka melawan terus dengan nekad sambil memaki-maki.
Tidak lama pertandingan itu karena tiba-tiba tiga orang pengemis kurus itu berteriak keras dan terjungkal roboh.
Kiranya diam-diam empat orang lawannya itu telah mempergunakan senjata rahasia dan memukul roboh lawannya dengan senjata rahasia ini.
Dan agaknya senjata rahasia mereka itu semua memakai racun, buktinya begitu roboh, seperti halnya pengemis pertama, tiga orang kakek baju kotor ini pun tak bergerak lagi, mati seketika.
"Hah-ha-ha, kau kalah bertaruh. Bukankah jembel-jembel busuk pesolek yang menang?"
Pemuda di samping Kwi Lan bersorak. Kwi Lan cemberut, lalu berseru keras ke bawah.
"Jembel-jembel pesolek dan kaki tangannya memang curang. Anak buah Bu-tek Siu-lam mana ada yang tidak curang dan pengecut?"
Teringat peristiwa lima tahun yang lalu, sengaja Kwi Lan menyebut nama itu.
Siapa kira, mendengar disebutnya nama ini, Si Pemuda di sampingnya terkejut dan berteriak keras lalu terjungkal ke bawah pohon.
Kwi Lan terkejut dan baru ia tahu bahwa pada saat pemuda itu terjungkal, dari bawah menyambar beberapa macam senjata rahasia itu.
Cepat ia menggunakan ujung lengan bajunya mengebut dan..
runtuhlah semua senjata rahasia itu.
Dengan muka merah Kwi Lan meloncat berdiri di atas cabang pohon.
Ia melihat empat orang itu terbelalak kaget, akan tetapi seorang diantara dua pengemis baju bersih, yang bertubuh pendek dan bermuka bengis, telah mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kembali menyambitkan senjata rahasia gelang besi yang melayang dan terputar-putar menyambar ke arah perut Kwi Lan.
Gadis ini memuncak kemarahannya.
Iameloncat turun sambil menyampok senjata gelang besi itu ke bawah dan setengah disengaja ia menyampok gelang besi itu ke arah Si Pemuda yang sudah bangun.
"Aduhh"
Teriak Si Pemuda sambil berloncatan bangun dan mengelus-elus kepalanya, seakan-akan kepalanya terkena hantaman senjata rahasia itu.
Akan tetapi jidatnya yang lebar dan kelimis itu tidak terluka, lecet pun tidak.
Kwi Lan tidak pedulikan pemuda itu, lalu melayang ke arah pengemis baju bersih yang menyambut kedatangannya dengan sebuah tusukan pedang.
Tampaknya serangan ini tak mungkin dielakkan lagi oleh Kwi Lan yang tubuhnya sedang melayang di udara dan memang gadis inipun tidak berusaha untuk mengelak.
Tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka melakukan gerakan mendorong dan..
pedang itu terkena dorongan hawa pukulan ini membalik kemudian secepat kilat Kwi Lan menyentil dengan telunjuknya ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang dan..
pedang itu mencelat sambil membalik sehingga menusuk pangkal lengan pengemis pendek itu sendiri sehingga kulit dagingnya terbelah dan tampak tulang lengannya.
Sementara itu, entah bagaimana pedangnya telah berpindah ke tangan Kwi Lan yang mempergunakan pedang rampasan untuk menodong.
"Ha-ha-ha-heh-heh"
Si Pemuda itu bersorak sambil mempermain-mainkan gelang besi yang tadi menyambarnya dengan tangan kanan.
"Jembel tua bangka pesolek sekarang kehilangan aksinya. Makanya jangan sok aksi. Sudah tua bangka begitu, pura-pura jadi pengemis tapi pakaiannya bersih dan baru, biar kelihatan aksi dan tampan. Wah, ini namanya tua-tua keladi"
Tentu saja pengemis pendek yang dirobohkan Kwi Lan itu melotot ke arah Si Pemuda dengan kemarahan meluap-luap, akan tetapi juga terheran-heran mengapa senjata rahasianya yang biasanya ampuh bahkan mengandung racun itu kini dipakai main-main oleh Si Pemuda ini.
Pada saat itu, pengemis ke dua yang tubuhnya kurus kecil seperti kucing kelaparan itu menudingkan telunjuknya kepada Kwi Lan sambil membentak, suaranya besar dan parau sungguh berlawanan dengan tubuhnya yang serba kecil kurus.
"Eh, iblis betina dari mana berani menentang Hek-coa Kai-pang dan mengeluarkan ucapan menghina ciang bujin Bu-tek Siu-lam? Apakah sudah bosan hidup?"
Kwi Lan membalikkan tubuhnya, membelakangi pengemis pendek yang terluka untuk menghadapi lawan baru ini. Ia tersenyum manis ketika berkata.
"Kalian ini jembel-jembel busuk, biarpun tidak sama dengan Hek-peng Kai-pang, kiranya sama busuknya, apalagi sama-sama di bawah pimpinan Bu-tek Siu-lam yang biarpun belum pernah kujumpai, tentu busuk pula"
"Eh, perempuan keparat. Selama hidup kami tidak pernah bertemu denganmu dan tidak pernah bertentangan, mengapa hari ini kau datang-datang menghina dan memusuhi kami? Apakah kau berpihak kepada jembel-jembel butut itu?"
Bentak pula pengemis kurus kecil sambil menuding ke arah mayat empat orang pengemis baju butut.
Kumis kecil di kanan kiri hidung itu bergerak-gerak akan tetapi tidak sama sehingga kelihatannya seperti sepasang sayap kupu-kupu yang hinggap di situ membuat Kwi Lan menjadi geli dan memperlebar senyumnya.
"Urusan kalian dengan jembel-jembel berpakaian butut sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Akan tetapi kebetulan sekali aku adalah orang yang paling tidak suka melihat perbuatan-perbuatan curang dan pengecut. Dalam pertandingan tadi, kalian merobohkan lawan mengandalkan senjata rahasia secara curang sekali. Kemudian kalian juga menyerangku dengan senjata rahasia. Apakah kau masih mau bilang di antara kita tidak ada pertentangan?"
Berkata demikian, Kwi Lan melirik kepada dua orang lain yang tidak berpakaian pengemis, yaitu yang bermuka brewok dan seorang temannya lagi.
Jelas mereka itu tidak segolongan dengan dua orang pengemis baju bersih ini dan mereka pula tidak mencampuri perdebatan, hanya memandang dengan mata terbelalak heran dan kening berkerut.
"Bocah sombong. Merampas pedang dan melukai saudaraku masih belum merupakan dosa besar, akan tetapi menyebut dan menghina nama ciang bujin kami.."
Kwi Lan memegang ujung pedang dengan tangan kirinya dan sekali tekuk, pedang rampasan itu patah menjadi dua dan ia buang ke atas tanah.
"Pedang sudah kupatahkan, kalau aku bunuh saudaramu itu dan kumaki Si Kepala Penjahat busuk Bu-tek Siu-lam, kau mau apa?"
"Iblis betina, rasakan tanganku"
Tiba-tiba pengemis kecil kurus itu sudah mencabut pedang dan menggerakkan pedangnya membacok, gerakannya selain cepat juga kuat sekali, jauh lebih kuat daripada gerakan pengemis yang sudah terluka tadi.
Pada saat yang sama, ketika Kwi Lan memutar tubuhnya untuk menghadapi serangan pengemis kecil kurus, pengemis ke dua yang sudah terluka lengannya itu kini menggerakkan tangan kirinya menyambitkan sebuah gelang besi ke arah punggung gadis itu.
Apa yang terjadi selanjutnya sedemikian cepatnya sehingga sukar di ikuti pandangan mata, akan tetapi tahu-tahu dua orang pengemis itu menjerit dan roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi dan hebatnya, tepat di dahi mereka tampak luka berlubang ditembusi gelang besi beracun.
Kiranya ketika tadi diserang pedang pengemis kurus, Kwi Lan juga tahu bahwa dari belakang ia diserang dengan senjata rahasia maka secepat kilat ia berkelebat kedepan, menangkap tangan yang berpedang dari samping lalu membetot tubuh itu dipakai menangkis gelang besi yang menyambar punggungnya sehingga senjata rahasia itu tepat menyambar dahi pengemis kurus.
Adapun Si Pengemis pendek yang melepas senjata rahasia secara curang itu, sebelum sempat mengelak, telah "dimakan"
Senjata rahasianya sendiri yang dilemparkan oleh pemuda teman Kwi Lan dengan gerakan sembarangan namun yang membuat senjata itu menyambar cepat sekali dan masuk ke dalam dahi pemiliknya.
Kini tinggal dua orang yang bukan pengemis, teman-teman dari pengemis baju bersih, berdiri memandang dengan mata terbelalak kaget.
Mereka berdua mengerti bahwa dua orang muda itu memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Orang pertama yang mukanya penuh brewok segera melangkah maju dan menjura sambil mengangkat kedua tangan kedada dan berkata.
"Kepandaian Ji-wi (Tuan Berdua) sungguh hebat dan membuat kami merasa kagum sekali"
Kwi Lan hanya tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda itu tertawa-tawa tanpa membalas penghormatan orang.
"Heh-heh, kulihat kalian berdua bukan pengemis. Tapi tadi membantu dalam pertandingan antar pengemis. Apakah sekarang hendak menuntut bela atas kematian dua orang sahabatmu ini?"
Si Brewok menggeleng-geleng kepalanya.
"Kami tidak tersangkut dalam urusan antara mereka dan Ji-wi, dan telah saya lihat betapa mereka itu mencari mati sendiri dengan keberanian mereka melawan dan memandang rendah Ji-wi. Sungguhpun menghadapi empat orang anggauta Khong-sim Kai-pang pengemis baju butut tadi kami merupakan sekutu mereka, namun urusan terhadap Ji-wi kami tidak ikut campur."
"Menggerakkan lidah memang amat mudah"
Kwi Lan berkata mengejek.
"Kau bilang tidak ikut campur, akan tetapi siapa tadi yang ikut menyerangku dengan senjata rahasia ketika aku beradadi atas pohon itu?"
Wajah Si Brewok menjadi merah.
Memang tadi dia ikut menyerang Kwi Lan dengan senjata rahasianya yang berbentuk peluru bintang.
Ia menjura kepada gadis itu dan berkata.
"Harap Nona maafkan, tadi saya menyangka Nona adalah kawan pengemis Khong-sim Kai-pang."
"Tidak peduli apa yang kau sangka. Hayo serang aku lagi dengan senjata rahasiamu"
Bentak Kwi Lan sambil tersenyum mengejek. Berubah muka Si Brewok.
"Saya.. saya mana berani?"
"Berani atau tidak masa bodoh, kau harus. Kalau membangkang, jangan bilang aku keterlaluan"
Suara ini mengandung penuh ancaman sehingga muka yang penuh brewok itu menjadi pucat.
Ia berdiri saling pandang dengan kawannya.
Kawannya itu agaknya lebih berani daripada Si Brewok, matanya yang agak menjuling itu dipelototkan ke arah Kwi Lan dan ia berseru.
"Nona, engkau sungguh keterlaluan"
Kami adalah orang-orang Thian-liong-pang, bukan orang-orang sembarangan.
Kalau Suhengku ini berlaku mengalah kepadamu, adalah karena melihat engkau masih muda, masih setengah kanak-kanak.
Setelah Ouw-suheng mengalah, mengapa engkau malah mendesaknya?
Sekali dia turun tangan, engkau akan celaka, dan hal itu akan sayang sekali, melihat engkau begini muda dan cantik"
"Sute, diam.."
"Si Brewok menegur adik seperguruannya. Kwi Lan marah sekali, akan tetapi tak seorang pun tahu akan hal ini karena senyumnya makin manis.
"Ah, begitukah? Jadi kalian ini orang-orang Thian-liong-pang yang lihai? Kebetulan sekali, lekas kalian berdua menyerangku dengan senjata-senjata rahasia kalian"
Si Brewok ragu-ragu, akan tetapi Si Mata Juling berkata.
"suheng, dia yang minta dihajar, tunggu apa lagi?"
Sambil berkata demikian Si Juling mengeluarkan dua buah senjata rahasianya, yaitu peluru bintang.
Senjata rahasia ini terbuat daripada baja, ujungnya runcing-runcing dan karena bentuknya bulat seperti peluru, maka dapat disambitkan dengan keras.
Melihat ini, Si Brewok yang didesak-desak juga mengeluarkan senjata rahasia yang sama, akan tetapi hanya sebuah.
"Hayo lekas serang, tunggu apa lagi?"
Kwi Lan berseru, berdiri dengan sikap seenaknya, bahkan sengaja ia miringkan tubuh dan menoleh membelakangi dua orang itu.
Selagi Si Brewok ragu-ragu dan adik seperguruannya yang marah itu menanti gerakan kakaknya, terdengar pemuda itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha. Aku mendengar nama besar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan yang disegani dan ditakuti, yang mempunyai cabang di seluruh negeri, yang dipimpin oleh orang-orang sakti. Akan tetapi ternyata kini orang-orangnya hanya pengecut-pengecut yang suka menyerang seorang gadis dengan curang.."
"Eh, manusia berandalan. Diam kau, Ini bukan urusanmu"
Kwi Lan membentak dan melotot kepada pemuda itu.
Si Pemuda masih tertawa-tawa, akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak dan wajahnya memperlihatkan sikap kaget ketika pemuda itu melihat betapa dua orang itu menggunakan kesempatan selagi Kwi Lan menoleh dan bicara kepadanya untuk menyerang dengan senjata rahasia mereka.
Pemuda itu menjadi pucat karena maklum betapa hebatnya serangan itu dan betapa ia sendiri yang berdiri jauh tidak sempat mencegah serangan ini.
Akan tetapi wajah yang kaget itu berubah girang dan sinar matanya menyorotkan kekaguman ketika ia mendengar pekik kesakitan kedua orang anggauta Thian-liong-pangitu.
Si Mata Juling roboh dan tewas seketika karena pelipis dan dadanya dihantam senjata rahasianya sendiri, sedangkan Si Brewok roboh kesakitan akan tetapi segera melompat bangun kembali karena hanya pahanya yang terluka oleh senjata rahasianya sendiri pula.
Ia berdiri dengan mata terbelalak kagum dan heran.
Memang luar biasa sekali caranya gadis itu menghadapi serangan senjata rahasia tadi.
Biarpun sedang menengok kebelakang, namun Kwi Lan tahu akan serangan senjata rahasia.
Bahkan tanpa menoleh lagi ia menggerakkan kedua tangannya, menyambar senjata rahasia Si Juling yang datang lebih dulu kearah pelipis dan dada, kemudian secepat kilat ia mengembalikan dua senjata itu ke arah pemiliknya, tepat mengenai pelipis dan dada.
Adapun peluru bintang yang dilepas Si Brewok hanya mengarah pahanya, itupun tidak tepat di tengah-tengah, maka Kwi Lan juga me "retour"
Senjata rahasia itu tepat mengenai pinggir paha Si Brewok yang mendatangkan luka daging.
Sambil meringis menahan sakit, Si Brewok menjura kepada Kwi Lan.
"Benar hebat dan mengagumkan. Saya mengaku kalah dan kematian Suteku adalah karena tidak hati-hatinya. Mohon tanya, siapakah nama Nona yang gagah?"
Kwi Lan sudah menggerakkan bibir hendak mengaku, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu berkata.
"Eh, apakah matamu sudah buta? Terang Nona ini menggunakan nama Mutiara Hitam, engkau masih bertanya-tanya lagi?"
Sambil berkata demikian, pemuda itu sekali menggerakkan kaki tubuhnya sudah melayang dan hinggap didekat Kwi Lan seperti gerakan seekor burung ringannya.
Si Brewok memandang kagum dan tersenyum mendengar kata-kata itu.
Ia menduga bahwa gadis ini memakai nama julukan Mutiara Hitam karena gagang pedangnya terhias sebutir mutiara hitam yang besar.
Ia lalu menjura kepada pemuda itu dan ber tanya.
"Terima kasih atas penjelasan Tuan Muda. Bolehkah saya mengetahui nama Kongcu?"
"Namanya Si Berandal, apa kalian belum tahu?"
Suara ini keluar dari mulut Kwi Lan yang hendak membalas pemuda itu.
Akan tetapi Si Berandal hanya tertawa, lalu berkata kepada anggauta Thian-liong-pang itu.
"Kau ini manusia tidak tahu diri berani main-main di depan Mutiara Hitam dan Berandal, sungguh sudah bosan hidup"
"Mohon Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memaafkan, karena tidak mengenal maka kami telah berlaku kurang hormat. Harap Ji-wi suka memandang perkumpulan dan ketua kami memberi maaf kepada saya."
"Kalau kami tidak memaafkan, apa kau kira akan masih tinggal hidup?"
Si Berandal bersombong.
"Hayo ceritakan siapa engkau dan apa urusan Thian-liong-pang dengan pengemis-pengemis itu serta mengapa pula terjadi pertandingan dengan pengemis-pengemis Khong-sim Kai-pang? Dan mengapa pula nama Bu-tek Siu-lam tadi kudengar disebut Ciangbujin oleh pengemis pendek itu?"
"Saya bernama Ouw Kiu seperti semua pimpinan dan petugas Thian-liong-pang saya taat dan tunduk kepada perintah atasan. Saya dan Sute Ouw Lun itu mendapat tugas untuk menyampaikan undangan kepada para pimpinan Hek-coa Kai-pang, untuk menghadiri pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang pertengahan bulan depan. Ketika hendak kembali ke Yen-an, di sini kami bertemu dengan tiga orang anggauta Hek-coa Kai-pang yang berhadapan dengan empat orang Khong-sim Kai-pang. Tentu saja kami membantu Hek-coa Kai-pang dan salah mengira bahwa Ji-wi adalah teman-teman anggauta Khong-sim Kai-pang."
"Dan tentang Bu-tek Siu-lam?"
Pemuda itu mendesak. Ouw Kiu tidak menjawab, wajahnya pucat.
"Ah, urusan begitu saja mengapa mesti banyak tanya lagi?"
Kwi Lan mencela.
"Si badut Bu-tek Siu-lam itu sudah jelas menjadi cukong dunia pengemis golongan hitam"
Ingin aku bertemu dengan badut itu untuk memberi hajaran agar ia kapok dan tidak membiarkan anak buahnya bermain curang"
Ouw Kiu makin pucat.
"Saya.. saya tidak mempunyai cukup harga untuk menyebut-nyebut nama besar Beliau, hanya saya mengerti bahwa Beliau merupakan seorang tokoh besar yang amat dihormati Thian-liong-pang. Suaranya agak gemetar dan matanya lirak-lirik ke kanan kiri penuh kekhawatiran.
"Sudah, pergilah dan bawa mayat temanmu. Mengingat Thian-liong-pang kami memaafkanmu dan bulan depan kalau tiada halangan, kami akan datang menonton keramaian di Yen-an."
Ouw Kiu menjura mengucapkan terima kasih, kemudian menyambar mayat sutenya dan pergi dari situ dengan langkah terpincang-pincang.
Kwi Lan membalikkan tubuh terus lari pergi pula dari tempat itu.
Akan tetapi belum jauh ia pergi, ia mendengar suara orang berlari di belakangnya.
Ketika melirik dan melihat bahwa yang mengikutinya adalah pemuda itu, Kwi Lan lalu mengerahkan ginkangnya dan berlari makin cepat.
Setelah lari agak jauh, ia melirik kebelakang.
Kiranya pemuda itu masih saja mengikuti di belakangnya, hanya terpisah tiga meter.
Kwi Lan penasaran dan mengerahkan seluruh tenaganya, lari secepat terbang.
Pemuda itupun mengerahkan tenaganya.
Beberapa lama mereka berlari-larian cepat sampai puluhan li jauhnya.
Akhirnya terdengar pemuda itu berkata dengan napas memburu.
"Waduh.., berat nih. Eh, Mutiara Hitam, apakah engkau takut padaku maka melarikan diri?"
Kalau pemuda itu mengeluarkan ucapan lain, agaknya Kwi Lan tidak akan mempedulikannya dan akan berlari terus.
Akan tetapi dikatakan takut merupakan pantangan besar baginya, maka cepat ia mengerem larinya, berhenti dengan tiba-tiba sehingga pemuda yang membalap dibelakangnya itu hampir saja menubruknya kalau tidak cepat-cepat membuang diri ke samping dan berjungkir balik dua kali.Gerakan pemuda ini amat lucu, akan tetapi juga indah dan membuktikan kegesitannya yang luar biasa.
"Takut? Siapa bilang aku takut padamu?"
Kwi Lan bertanya, memandang tajam dan mengangkat muka membusungkan dada, sikapnya menantang.
"Tentu saja aku yang bilang.."
Pemuda itu berhenti dan mengatur napasnya yang agak terengah-engah.
"Wah, bisa putus napasku kalau diajak balapan lari gila-gilaan seperti tadi. Aku tidak bilang kau takut, aku tadi bertanya apakah engkau takut kepadaku."
"Aku tidak takut. Apamu yang kutakuti?"
Kwi Lan membentak.
"Kalau tidak takut mengapa lari seperti dikejar setan? Aku.. aku mau bicara denganmu, aku ingin jalan bersama, kenapa kau melarikan diri?"
"Aku lari, atau jalan, atau tidur, bukan urusanmu. Aku tidak ada urusan denganmu, aku tidak ingin berjalan bersama, tidak ingin bicara denganmu."
"Wah-wah-wah, kenapa begini galak? Sungguh tidak berbudi.."
"Aku tidak berhutang budi kepadamu. Kau mau apa?"
Pemuda itu menyeringai dan senyumnya yang lebar itu lucu sekali, seperti senyum orang mengunyah garam, sehingga diam-diam KwiLan menjadi geli.
"Kau memang tidak berhutang budi kepadaku. Akan tetapi engkau hutang kacang. Hayo menyangkallah kalau mampu. Bukankah kau berhutang kacang asin garing yang gurih dan wangi, tidak satu, tidak pula dua atau tiga, melainkan tiga genggam yang isinya banyak"
"Hanya dua genggam"
Bentak KwiLan.
"Dua genggam banyak juga namanya. Lebih dua puluh. Hayo kau bayar kembali hutangmu itu, baru diantara kita tidak ada sangkut paut lagi"
Kwi Lan tertegun dan melengak.
Ia menoleh ke kanan ke kiri, tak berdaya.
Dari mana ia bisa mendapatkan kacang asin di dalam hutan itu?
Dan yang sudah masuk perutnya pun tidak mungkin dikeluarkan lagi.
Betapapun juga, ia kalah benar.
Memang tak dapat ia menyangkal bahwa ia tadi telah makan dua genggam kacang asin pemuda itu.
Baru sekarang Kwi Lan merasa kalah debat.
Biasanya, menghadapi suhengnya, Suma Kiat ia selalu menang berdebat sampai suhengnya kewalahan.
Akan tetapi sekarang ia benar-benar bingung, tak tahu harus melawan secara bagaimana.
Akhirnya Kwi Lan menggerakkan kepala keras-keras untuk menyingkap gumpalan rambut yang jatuh ke mukanya, sebuah kebiasaan atau gerakan yang biasa ia lakukan tanpa sadar apabila ia merasa malu, bingung atau marah.
"Kau memang manusia berandalan, ugal-ugalan, tidak tahu malu menyebut-nyebut urusan dua genggam kacang asin yang tidak ada harganya. Cih"
"Kau yang sombong, galak, tidak menghargai orang. Diajak jalan bersama dan bicara saja tidak sudi, seperti tidak ingat saja betapa tadi di atas pohon ikut duduk dan makan kacang.."
Pemuda itu merengut.
"Sudahlah"
Betul aku telah berhutang dua genggam kacang padamu. Nah, sekarang apa yang hendak kau bicarakan."
Wajah pemuda itu sekaligus berseri kembali seperti biasa, sepasang matanya bersinar-sinar penuh keriangan.
Memang wajah yang amat tampan dan melihat wajah ini, sukarlah bagi Kwi Lan untuk mempertahankan kemendongkolan hatinya.
Wajah itu amat segar dan riang, tidak hanya mata dan bibir yang selalu membayangkan senyum gembira, bahkan alis yang tebal itu bergerak-gerak lucu, bulu mata ikut bergetar seperti menari-nari.
Wajah yang tampan, wajah yang lucu dan gembira.
Seperti awan tipis disapu angin, lenyaplah rasa panas di hati Kwi Lan dan gadis ini lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol, membereskan rambutnya dan mengusap peluh di leher dengan ujung lengan baju.
"Gerah, ya? Memang hawanya panas, apalagi kalau dipakai lari-lari cepat, bisa mandi keringat kita."
Tangannya merogoh dalam baju dan ketika ditarik keluar, ternyata ia telah memegang sebuah guci panjang berisi air jernih dan dingin.
Gerakannya cepat dan kelihatannya seperti seorang pelawak main sulap saja.
Dibukanya tutup guci dan dengan tersenyum ia berkata.
"Isinya air, jernih dan bersih. Guci ini bukan sembarang guci, melainkan guci wasiat dan air yang disimpan di sini, makin lama tidak makin kotor malah makin jernih, berbau harum dan timbul rasa manis, juga menjadi dingin segar. Minumlah, Nona."
Ia menyodorkan guci itu kepada Kwi Lan.
Air yang tampak jernih berkilau, muka yang tampak riang dan menawarkan dengan penuh kejujuran, hawa yang panas, semua ini membuat Kwi Lan bernafsu sekali untuk meneguk air segar itu.
Tanpa berkata apa-apa ia menerima guci, mendekatkan bibir guci yang halus ke pada bibirnya sendiri yang lebih halus lagi, akan tetapi pada saat itu pandang mata mereka bentrok dan cepat-cepat Kwi Lan menurunkan lagi guci air itu kebawah, tidak jadi minum.
"Kenapa..?"
Kwi Lan mengerling dengan pandang mata tajam.
"Apakah air ini juga akan dianggap hutang? Lebih baik mati kehausan dari pada minum air hutangan"
Ia menyerahkan kembali guci itu kepada pemiliknya. Pemuda itu tertawa bergelak, memperlihatkan deretan gigi yang terpelihara rapi dan putih.
"Apakah benar-benar engkau begini pemarah dan galak? Ah, aku tidak percaya, kau hanya pura-pura bersikap galak saja"
"Siapa tidak akan marah kalau kau begini ugal-ugalan? Dua genggam kacang asin saja digugat-gugat, dijadikan alasan.."
Pemuda itu tiba-tiba berdiri dan menjura sampai jidatnya hampir menyentuh tanah, seperti seorang melakukan penghormatan kepada ratu.
"Hamba mohon beribu ampun atas segala kesalahan hamba terhadap tuan putri yang mulia.."
"Heiii. Bagaimana engkau tahu bahwa..?"
Kwi Lan tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
Sikap pemuda ugal-ugalan yang melawak itu sejenak mengingatkan ia akan ibu kandungnya yang menjadi ratu di Khitan sehingga timbul dugaan dan kecurigaannya bahwa pemuda aneh ini tahu bahwa dia anak ratu.
Akan tetapi melihat wajah pemuda itu berbalik menjadi kaget dan heran, ia menahan kata-katanya, kemudian melanjutkan.
"Sudahlah. Jangan kau main-main seperti badut. Sebetulnya engkau mau apakah? Mengapa mengejarku dan hendak bicara apa dengan aku?"
Pemuda itu menarik muka sungguh-sungguh, akan tetapi tetap saja mukanya yang kekanak-kanakan itu berseri ketika ia menyodorkan guci airnya.
"Harap nona suka minum dulu air ini agar percaya bahwa Nona tidak lagi marah kepadaku."
Kwi Lan menerima guci itu dan meneguk isinya. Memang air yang amat dingin dan segar sehingga hilanglah hausnya, terasa amat puas dan nikmat.
"Enak benar air ini,"
Katanya memuji sambil mengembalikan guci. Pemuda itupun meneguk air, kemudian menutup guci dan menyimpannya kembali ke balik bajunya.
"Nona, terus terang saja, begitu bertemu denganmu, aku sudah menjadi sangat tertarik dan kagum. Gerakanmu jelas menunjukkan bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sikapmu terbuka dan tegas. Benar-benar hebat sekali. Setelah bertemu dengan seorang seperti Nona, bagaimana aku dapat berpisah begitu saja tanpa lebih dahulu bicara dan mengikat persahabatan? Apalagi melihat sikap Nona yang sama sekali tidak memandang mata kepada Thian-liong-pang dan terutama sekali berani memaki seorang tokoh besar seperti Bu-tek Siu-lam, benar-benar hebat sekali dan tentulah Nona seorang yang memiliki kedudukan sejajar dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw pada waktu ini." (Lanjut ke
Jilid 04) Mutiara Hitam (Seri ke 04
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Ngawur dan ngaco. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan macamnya Bu-tek Siu-lam dan aku merasa heran sekali mengapa Ouw Kiu si Brewok tadi kelihatan begitu ketakutan ketika nama Bu-tek Siu-lam disebut-sebut."
"Apalagi dia, aku sendiri pun hampir terjengkang karena kaget mendengar engkau berani memaki-maki Bu-tek Siu-lam"
"Huh, orang macam apakah Bu-tekSiu-lam itu? Aku hanya pernah mendengar dari mulut pengemis-pengemis Hek-peng Kai-pang bahwa dia yang melindungi semua pengemis golongan hitam yang katanya datang dari dunia barat. Perlu apa takut terhadap badut macam dia?"
"Aihh.. aihh.., agaknya Nona belum banyak tahu akan tokoh-tokoh dunia kang-ouw pada waktu ini"
Sehingga nama besar Bu-tek Siu-lam pun belum dikenalnya betul.
"Nona, agaknya engkau merupakan seorang perantau yang baru, belum lama turun gunung.."
Kwi Lan merasa betapa pipinya panas.
Hatinya juga panas karena rahasianya diketahui.
Dengan lain kata-kata pemuda ini hendak mengejeknya, mengatakan bahwa ia masih hijau, masih belum berpengalaman sehingga tidak mengenal tokoh-tokoh besar.
"Hemm, kalau engkau.., sudah banyak pengalaman, ya? Sudah puluhan tahun merantau?"
Kwi Lan sengaja mengatakan puluhan tahun padahal usia pemuda itu paling banyak sama dengan usianya sendiri, sembilan belas tahun"
Akan tetapi pemuda itu tidak merasakan ejekan ini agaknya. Wajahnya serius ketika ia menjawab.
"Semenjak lahir aku sudah merantau, Nona."
"Dan aku.., sebelum lahir sudah merantau"
Potong Kwi Lan, matanya menyinarkan kemarahan, bibirnya tersenyum manis, senyum marah.
Memang ciri khas gadis ini, makin marah ia, makin manis senyumnya.
Pemuda ini menatap wajahnya penuh selidik, tiba-tiba wajahnya yang serius itu kembali berseri seperti biasa.
"Aih, kiranya Nona juga suka berkelakar. Mana bisa sebelum lahir sudah merantau"
"Mengapa tidak bisa kalau kau pun sudah merantau sejak lahir? Tentu kau akan mendongeng bahwa begitu lahir engkau sudah pandai tertawa, pandai berlari cepat, dan pandai.. membual?"
"Ha-ha-ha-ha. Lucu sekali"
Pemuda itu terpingkal-pingkal dan mau tak mau Kwi Lan tertawa juga membayangkan betapa begitu lahir pemuda itu pandai membual.
"Aku tidak membohong, Nona. Tentu saja bukan aku yang melakukan perantauan seorang diri, melainkan Ayahku. Aku dibawa merantau dan sejak itu tak pernah berhenti merantau. Akan tetapi sudahlah, tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Lebih baik kuceritakan kepadamu tentang tokoh itu. Bu-tek Siu-lam adalah seorang tokoh besar yang benar-benar sakti. Tidak ada tokoh kang-ouw yang tidak ngeri mendengar nama ini sungguhpun baru beberapa tahun saja ia datang dari sebelah barat Pegunungan Himalaya. Selain sakti, dia pun amat aneh sehingga tak seorang pun dapat menduga apakah dia itu laki-laki tulen ataukah perempuan."
"Hee..? Mengapa begitu?"
Kwi Lan mulai tertarik.
Karena semenjak kecil ia terkurung di istana bawah tanah kemudian di dalam hutan yang tak pernah ada yang berani memasukinya, tentu saja pengetahuannya tentang dunia kang-ouw amat sempit.
Apalagi tentang tokoh-tokoh yang demikian anehnya.
Adapun pemuda itu ketika melihat sikap Kwi Lan mulai tertarik, menjadi gembira untuk bercerita.
"Dia berperawakan laki-laki tinggi tegap dan gagah, wajahnya tampan sekali, rambutnya terurai dan berombak indah. Akan tetapi lagak dan bicaranya seperti seorang perempuan yang amat genit, dan senjatanya adalah sebuah gunting besar yang amat mengerikan. Melihat gerak-gerik dan lagaknya, dia itu seratus prosen wanita, akan tetapi melihat bentuk tubuh dan wajahnya, dia adalah laki-laki. Hal ini saja sudah menyeramkan, apalagi menyaksikan kekejamannya, membikin bulu roma berdiri. Ia pernah membasmi pengemis golongan putih dalam sebuah rapat besar sebanyak dua ratus orang lebih yang digunting-gunting dan dipotong-potong tubuhnya. Sejak itu ia menjadi datuknya pengemis golongan hitam. Banyak sudah tokoh golongan putih dan para pendekar hendak membasminya, namun mereka itu malah menjadi korban. Karena kesaktiannya inilah maka tak seorang pun berani lagi mengganggunya dan ia merupakan tokoh besar yang dicalonkan menjadi pemimpin dunia hitam jika ada pemilihan lagi di samping tokoh-tokoh yang lain."
Kwi Lan, mengerutkan keningnya.
Tak pernah disangkanya ada seorang yang sedemikian hebatnya.
Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini hanya bibinya, Kam Sian Eng, saja yang paling lihai.
Siapa tahu, pemuda ini sendiri sudah lihai sungguhpun ia belum mencobanya, akan tetapi pemuda ini amat jerih ketika menceritakan kesaktian Bu-tek Siu-lam.
"Hemm, betapapun juga, aku tidak takut kepadanya"
Kata Kwi Lan.
"Bagaimana dengan Thian-liong-pang? Apakah ketuanya juga sehebat laki-laki genit itu?"
Pemuda itu tertawa.
"Ihh, mengapa kau tertawa?"
"Mendengar kau menyebut Bu-tek Siu-lam laki-laki genit"
"Kau sendiri yang bilang dia genit."
"Mana bisa laki-laki genit? Laki-laki tidak ada yang genit, yang genit hanyalah perempuan."
"Belum tentu semua perempuan genit. Laki-laki yang genit banyak, di antaranya.. engkau inilah"
"Wah, wah, menyerang lagi. Kau benar-benar pemarah, Nona. Maaflah. Yang kumaksudkan adalah bahwa Bu-tek Siulam itu bersikap genit seperti wanita, jadi dia itu laki-laki bukan wanita bukan. Dia seorang banci."
"Banci? Apa banci..?"
"Banci itu wadam"
"Wadam? Apa itu?"
"Wadam itu wandu."
"Wandu? Aku tidak mengerti."
Pemuda itu menarik napas panjang, lalu menggeleng kepala.
"Tidak banyak pengertianmu, Nona. Banci, wadam, atau wandu itu adalah orang yang bukan laki-laki bukan pula wanita, akan tetapi juga bisa laki-laki bisa disebut wanita."
Pusing kepala Kwi Lan mendengar ini. Keningnya berkerut, matanya bersinar marah.
"Berandal, kalau kau mempermainkan aku, hemm.. aku takkan sudi mendengarmu lagi"
"Eh, eh, nanti dulu. Aku tidak main-main, Nona. Banci adalah seorang yang bertubuh laki-laki akan tetapi berwatak perempuan, atau sebaliknya. Memang sukar untuk menerangkan, karena aku sendiri tidak tahu persis mengapa bisa begitu, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Kau tadi bertanya tentang Thian-liong-pang? Ketuanya juga seorang yang terkenal memiliki ilmu kepandaian hebat, dan bukan itu saja yang membuat Thian-liong-pang disegani, melainkan banyaknya anggauta dan banyaknya para pimpinan yang tinggi-tinggi ilmunya. Kabarnya tidak kurang dari dua belas orang murid kepala Thian-liong-pang amat lihai dan jika tenaga mereka digabungkan menjadi satu, agaknya Bu-tek Siu-lam sendiri tidak berani main-main dengan mereka. Pusatnya di Yen-an dan entah apa yang dimaksudkan Si Brewok tadi dengan upacara pengangkatan ketua baru. Mungkin ketua lama mengundurkan diri, diganti muridnya yang paling besar. Peristiwa itu tentu amat menarik dan dikunjungi semua tokoh dunia hitam, karena itu aku ingin sekali mengunjungi ke Yen-an bersama.., Nona, kalau Nona.. berani"
"Tentu saja aku berani"
Kwi Lan meloncat sambil meraba gagang pedangnya.
"Jadi Nona mau..?"
Pemuda itu tersenyum lebar dan menjadi girang sekali. Kwi Lan sadar lalu duduk kembali.
"Soal mau atau tidak, nanti, dulu. Akan tetapi pokoknya aku berani. Sekarang ceritakan, selain laki-laki genit.."
Ia berhenti dan melotot, akan tetapi pemuda itu tidak tertawa sekarang.
"selain dia, siapa lagi tokoh besar di dunia ini sekarang?"
"Tokoh-tokoh dunia hitam banyak sekali, akan tetapi mereka itu adalah tokoh-tokoh yang dahulu berada di bawah Thian-te Liok-koai yang sekarang sudah lenyap dari permukaan bumi. Adapun tokoh-tokoh yang sekiranya dapat disejajarkan Bu-tek Siu-lam, sedikit sekali. Aku hanya mendengar bahwa ada tokoh-tokoh iblis yang berjuluk Thai-lek Kauw-ong, seorang hwesio tua yang kabarnya memiliki kesaktian seperti iblis. Ada pula yang berjuluk Sin-cam Khoa-ong yang suka membunuh orang tanpa sebab dan tanpa berkedip. Orang ke empat adalah Siauw-bin Lo-mo. Kabarnya empat tokoh itulah yang kini merajai empat penjuru dunia hitam. Akan tetapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan seorang di antara mereka."
"Hemm, kalau mereka itu jahat, perlu apa memiliki kepandaian hebat? Apakah tidak ada yang menentang dan mengalahkan mereka?"
"Aku tidak tahu jelas, hanya kabarnya sudah terlalu banyak orang gagah dan pendekar yang roboh di tangan mereka."
"Orang gagah? Pendekar? Orang macam apa mereka ini?"
Pemuda itu membelalakkan matanya.
Kalau tadi mendengar gadis ini tidak tahu apa-apa tentang dunia hitam, ia menyangka gadis ini tentu murid tokoh sakti dunia putih yang baru saja turun gunung.
Akan tetapi mendengar pertanyaan ini ia benar-benar heran sekali.
Kalau tidak mengerti tentang dunia hitam dan dunia putih, habis gadis ini termasuk golongon apa?
"Bagaimana Nona tidak mengerti akan hal ini?
Pendekar adalah orang-orang yang menentang kejahatan, orang-orang dari dunia putih yang selalu berusaha menumpas dunia hitam.
Aku percaya bahwa guru Nona sendiri tentu seorang tokoh besar, seorang locianpwe dari dunia putih yang amat mulia."
Kwi Lan menggeleng kepala.
"Guruku bukan dari dunia putih, bukan pula dunia hitam. Entah dunia apa aku tidak tahu. Coba katakan, siapa tokoh-tokoh paling hebat di dunia putih?"
Pemuda itu masih belum hilang keheranannya, akan tetapi ia menahan perasaan ini dan menjawab.
"Juga di antara pendekar-pendekar sakti banyak sekali yang merupakan tokoh puncak, akan tetapi aku yang muda hanya pernah mendengar beberapa orang saja. Pertama-tama adalah Suling Emas.."
"Suling Emas? Aku tanya nama orangnya, bukan sulingnya. Dari emas, perak, atau kuningan siapa peduli?"
"Suling Emas adalah nama julukannya. Nama aslinya, seperti tokoh-tokoh besar kang-ouw lainnya, siapa yang tahu?"
"Siapakah Suling Emas itu? Orang macam apa dan bagaimana kelihaiannya?"
Pemuda itu mengangkat jempol tangannya ke atas.
"Aku sendiri belum mempunyai keberuntungan berjumpa dengan Suling Emas, akan tetapi namanya sudah seringkali kudengar dari para Locianpwe. Ilmu kepandaiannya setinggi langit, bahkan kabarnya Thian Te Liok-koai, enam datuk persilatan, musnah oleh sepak terjang Suling Emas. Sulingnya yang terbuat dari emas itu mengalahkan segala macam senjata yang ada di dunia ini."
"Dimana dia tinggal?"
"Tak seorang pun tahu. Seperti juga empat tokoh dunia hitam, banyak tokoh dunia putih terdiri dari orang-orang aneh yang sukar diketahui tempatnya, akan tetapi yang sewaktu-waktu dapat muncul di tempat-tempat yang sekali tidak terduga-duga. Aku tidak akan merasa heran kalau saat ini di sekeliling kita terdapat tokoh dunia hitam maupun dunia putih. Sepak terjang mereka penuh rahasia."
Mendengar ini, tanpa disadarinya lagi, Kwi Lan melirik ke kanan-kiri, akan tetapi keadaan di sekeliling tempat itu sunyi.
"Lalu siapa lagi selain Suling Emas?"
"Di antara para pengemis golongan putih menyebut-nyebut nama Yu Kang Tianglo adalah seorang tokoh pengemis yang amat lihai ilmu silatnya, senjatanya hanya sebatang tongkat rotan kecil namun keampuhannya tidak kalah oleh pedang pusaka yang manapun juga. Tentu saja dua orang itu hanya dua diantara banyak lagi. Apalagi kalau kita ingat kepada partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai yang tentu mempunyai banyak orang pandai. Belum lagi di selatan kabarnya Agama Beng-kauw di Negara Nan-co dipimpin oleh orang-orang yang amat sakti. Akan tetapi di antara segala orang sakti, baik di dunia putih maupun hitam, agaknya tidak akan dapat menyamai tingkat kakek yang mulia dan terhormat Bu Kek Siansu.."
Berkata sampai di sini, pemuda itu membungkukkan tubuhnya seakan-akan hendak memberi hormat kepada nama yang disebutnya tadi.
"Bu Kek Siansu? Siapa dia..?"
Kwi Lan makin tertarik.
Kalau di antara semua tokoh yang hebat-hebat tadi tidak dapat menyamai tingkat kakek ini, tentu kakek ini benar-benar seorang manusia yang amat luar biasa.
"Maaf, Nona. Aku tidak berani sembarangan menyebut-nyebut namanya yang terhormat. Akan tetapi aku mempunyai lagu yang menurut Suhu adalah ciptaan Beliau. Kau suka mendengar lagu tiupan suling?"
Sambil berkata demikian, pemuda itu merogoh ke belakang baju dan kembali seperti orang main sulap, ia telah mengeluarkan sebatang suling bambu.
Diam-diam Kwi Lan terheran dan menduga-duga, apa saja kiranya isi dalam baju pemuda tukang sulap ini.
Kemudian melihat suling itu, ia bertanya.
"Jangan-jangan engkau sendiri yang berjuluk Suling Emas"
Pemuda itu tertawa.
"Ah, Nona jangan main-main. Apakah aku pantas menjadi seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih? Dan pula, sulingku ini bambu biasa, bambu kuning, sama sekali bukan emas, biarpun sama kuningnya. Kau dengarlah baik-baik, karena lagu ini bukan lagu sembarangan lagu melainkan lagu agung ciptaan manusia dewa."
Pemuda itu lalu meniup sulingnya dan terdengar lengking suara suling yang halus merdu, kemudian suara itu membentuk irama lagu yang amat aneh.
Mula-mula amat sukar ditangkap iramanya, sukar dirasakan kenikmatannya, akan tetapi makin lama suara suling itu makin menggulung semua pikiran dan perasaan Kwi Lan sehingga gadis ini duduk termenung seperti orang tak sadar, terbuai suara itu yang mendatangkan rasa tenang dan damai dalam hatinya.
Lenyaplah segala kehendak, segala keinginan, segala perasaan, seperti keadaan orang tidur dalam sadar.
Setelah pemuda itu menghentikan tiupan sulingnya, gema suara tadi masih berdengung dan mempesona jiwa Kwi Lan sehingga ia masih diam terlongong.
Akhirnya ia sadar dan menarik napas panjang, kemudian memandang dengan kagum kepada pemuda itu.
"Aiih, kiranya engkau amat pandai meniup suling. Hebat"
Wajah pemuda itu makin berserigembira. Ia menjura dan berkata.
"Bukan karena aku pandai meniup suling Nona, melainkan karena lagu itu memang hebat, sekaligus menembus jantung menguasai jiwa. Dibandingkan dengan Suling Emas, kepandaianku meniup suling tidak ada sepersepuluhnya dan lagi.. kabarnya Suling Emas memang menerima ilmu-ilmunya dari Bu Kek Siansu yang terhormat."
Kwi Lan makin kagum dan terheran-heran.
Timbul keinginan hatinya untuk bertemu dengan Suling Emas, walaupun hanya untuk mendengar tiupan sulingnya yang sepuluh kali lebih hebat daripada tiupan suling pemuda ini.
"Wah, alangkah goblok"
Pemuda itu yang sudah menyimpan sulingnya kembali, meloncat bangun sambil menampar kepalanya. Kwi Lan ikut terkejut dan ikut meloncat bangun.
"Ada apa lagi?"
Pemuda itu tertawa.
"Alangkah goblok aku. Lihat, kita bicara sudah setengah hari, banyak nama tokoh-tokoh dunia hitam dan putih sudah kuperkenalkan, malah aku sudah meniup suling untukmu dan kau sudah menaruh kepercayaan penuh kepadaku. Akan tetapi, kita masih belum saling mengenal nama"
Padahal aku merasa seakan-akan sudah mengenal Nona selama bertahun-tahun, seolah-olah kita sudah saling bersahabat lama sekali.
Bolehkah aku mengetahui nama besar Nona yang mulia?"
Kwi Lan tersenyum.
Terhadap seorang pemuda seperti ini, tak mungkin ia dapat membencinya.
Pemuda ini berandalan memang, aneh pula, akan tetapi tidak terbayang watak kurang ajar baik dalam kata-kata maupun dalam pandang mata kepadanya.
Ilmu silatnya agaknya tinggi, banyak pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, budinya baik dan masih ditambah pandai bersuling lagi.
"Mengapa masih bertanya lagi? Bukankah namaku Mutiara Hitam dan engkau Setan Berandalan?"
Pemuda itu tertawa geli kemudian berkata sungguh-sungguh.
"Biarpun kita bukan orang lemah, namun kita belumlah seperti kakek-kakek dan nenek-nenek yang suka memakai nama julukan dan menyembunyikan nama sendiri. Nona yang baik, sudilah memperkenalkan nama besar dan she (nama keturunan) yang terhormat."
"Kau sendiri siapa? Kau yang ingin berkenalan, seharusnya kau yang lebih dulu memperkenalkan nama."
Pemuda itu mengangguk-angguk.
"Nona benar. Maafkan aku yang pelupa. Nah, namaku Hauw Lam, she Tang. Tang Hauw Lam, nama yang bagus, sesuai dengan orangnya, bukan?"
Sambil berkata demikian, sengaja pemuda itu pasang aksi menggoyang-goyangkan kedua pundak.
Segala hal dilakukan sambil melucu.
Akan tetapi kali ini Kwi Lan tidak merasa lucu, melainkan kaget bukan main.
Kalau saja ia tidak memiliki batin yang kuat, tentu ia akan kelihatan kaget sekali pada mukanya.
Namun muka yang cantik jelita itu tenang saja, hanya jantungnya yang berdebar-debar keras.
Jadi inikah putera Bi Li?
Putera Tang Sun dan Phang Bi Li yang disangka lenyap setelah gurunya, ketua kelenteng di Kim-liong-san, meninggal dunia?
Inikah yang dicari-cari oleh Bi Li, bahkan yang telah ia janjikan kepada Bibi Bi Li untuk bantu mencari?
Sungguh tidak disangka-sangka.
Akan tetapi, betapapun juga ia merasa girang bahwa putera Bibi Bi Li yang amat sayang kepadanya itu ternyata adalah seorang yang berilmu tinggi, yang berbudi baik seperti Ibunya, dan yang lucu seperti..
entah siapa yang menurunkan sifat lucu kepada pemuda ini.
Akan tetapi, untuk sementara Kwi Lan tidak akan membuka rahasia ini.
"Aku sebatang kara,"
Hauw Lam melanjutkan.
"dan Guruku yang terakhir adalah seorang kakek yang sakti dan aneh yang dahulu merupakan orang ke dua setelah Bu Kek Siansu, seorang kakek yang hidup di dalam kuburan, tidak pernah keluar dari kuburan itu. Kakek itu sudah sangat tua, sukar ditaksir lagi berapa usianya, akan tetapi sifatnya ugal-ugalan dan seenaknya sendiri.."
"Seperti engkau"
Kwi Lan memotong. Hauw Lam tertawa dan mengangguk.
"Ya, aku banyak meniru sifat-sifatnya itu, sifat yang amat baik. Manusia hidup satu kali di dunia, kalau tidak bergembira mau apa lagi? Keadaan baik diterima dengan gembira, akan menjadi lebih menyenangkan, sebaliknya keadaan buruk kalau diterima dengan gembira, akan terasa ringan. Aku hanya menerima petunjuk Beliau selama seratus hari, akan tetapi gemblengan selama tiga bulan itu begitu jauh lebih berharga daripada ajaran kuterima belasan tahun dari guru-guru yang lain."
"Siapa nama Gurumu yang aneh. itu?"
"Julukan Beliau adalah Bu-tek Lo-jin. Menurut Beliau memang aku berjodoh menjadi muridnya."
Hauw Lam kemudian menuturkan pengalamannya menjadi murid kakek sakti itu yang didengarkan Kwi Lan penuh perhatian.
Ketika Hauw Lam berusia lima tahun, setelah selama itu ia diajak merantau oleh Tang Sun, ayahnya, yang mencari ibunya, ia dititipkan oleh ayahnya kepada Gwat Kim Hosiang ketua kelenteng di Bukit Kim-liong-san.
Karena ketika berpisah dari ayahnya ia baru berusia lima tahun, maka wajah ayahnya pun tidak begitu teringat olehnya.
Apalagi ibunya meninggalkannya ketika ia berusia tiga bulan.
Sepuluh tahun lamanya ia tinggal di kelenteng Bukit Kim-liong-san, menjadi kacung kelenteng membantu pekerjaan para hwesio dan karena bakatnya memang baik sekali, ketua kelenteng itu, Gwat Kim Hosiang murid Go-bi-pai, telah menurunkan semua ilmunya kepada Hauw Lam.
Ketika ia berusia lima belas tahun dan telah mewarisi ilmu kepandaian suhunya, ketua kelenteng itu meninggal dunia.
Hauw Lam lalu meninggalkan kelenteng dan dan pergi merantau.
Anak muda ini suka akan ilmu silat, maka dengan bekal pelajaran dari Gwat Kim Hosiang yang membuat ia mencapai dasar-dasar ilmu silat tinggi, ia dapat memperdalam ilmunya, Hauw Lam pandai merendah sehingga pandai ia mengambil hati beberapa tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi sehingga banyak pula ia menerima petunjuk.
Pada suatu hari, perantauannya membawanya ke selatan.
Ia telah berusia tujuh belas tahun dan ketika ia melewati sebuah hutan, keadaan yang sunyi membuatnya menjadi keisengan dan dikeluarkanlah sulingnya.
Memang semenjak kecil ketika ia tinggal di kelenteng Kim-liong-san, seorang hwesio yang pandai menyuling mengajarnya menyuling dan Hauw Lam amat suka meniup suling.
Kini ia berjalan perlahan sambil meniup sulingnya.
Tiba-tiba, ketika melewati segundukan tanah ia roboh terguling.
Hauw Lam kaget sekali, kedua kakinya adalah anggauta badan yang terlatih.
Diserang lawan saja tidak mudah terguling bagaimana sekarang bisa terguling tanpa sebab?
Ia tadi merasa kakinya ada yang tarik dengan tenaga luar biasa.
Sambil meloncat bangun, ia memutar tubuh mempersiapkan kedua tangan untuk menangkis atau memukul dan memandang ke sekeliling.
Akan tetapi tidak ada apa-apa di sekeliling tempat itu.
Ia memandang ke bawah.
Tanah di bawah kakinya menonjol, merupakan gundukan tanah seperti tempat kuburan orang.
Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang.
Setankah yang menggodanya tadi?
Setan dalam kuburan yang marah karena kuburan itu tanpa sengaja terinjak olehnya?
Hauw Lam boleh jadi gagah perkasa dan tidak pernah merasa takut menghadapi lawan yang tangguh.
Akan tetapi sekali ini, biarpun belum gelap, baru menjelang senja, berada seorang diri di hutan sunyi dan merasa diserang dari dalam kuburan, ia merasa ngeri karena seram dan takut.
Tanpa berpikir panjang lagi Hauw Lam menggerakkan kedua kaki hendak lari dari tempat yang menyeramkan itu, akan tetapi baru selangkah ia lari, kembali tubuhnya roboh terguling.
Timbul kemarahan hatinya yang amat sangat, melebihi ketakutannya.
Belum pernah selamanya ia diperhina seperti ini.
Kali ini ia melompat bangun berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, memasang kuda-kuda, membusungkan dada melebarkan mata mengatasi rasa seram sambil memaki-maki.
"Setan atau iblis atau siluman dari mana berani mengganggu Siauw-ya (Tuan Muda) yang sedang lewat? Kalau manusia, jawablah, kalau siluman muncullah dan mari kita bertanding sepuluh ribu jurus melawan Tang Hauw Lam"
Ia petentang-petenteng, memaki-maki sambil menantang-nantang sampai beberapa lama.
Namun sunyi tiada jawaban, juga tiada suara maupun sesuatu.
Hanya angin yang lewat menggerakkan daun-daun pohon menimbulkan suara bisik-bisik seperti banyak mahluk tak tampak bersendau gurau.
Rasa seram kembali menyelubungi hati Hauw Lam, mengatasi kemarahannya dan semua bulu di tubuhnya berdiri satu-satu.
Tak salah lagi tentu setan, pikirnya.
Ketika ia roboh yang kedua kalinya tadi terasa benar betapa ada hawa pukulan yang mengait kakinya.
Kini ia memaki-maki lagi, akan tetapi diam-diam ia mengerahkan kedua kakinya.
Ia ingin mengikat perhatian "siluman"
Yang mengganggunya dengan makiannya kemudian menggunakan saat "siluman"
Itu lengah, sekali meloncat jauh pergi dari situ.
Setelah siap, sambil memaki-maki, mendadak ia menggerakkan kakinya meloncat jauh.
Girang hatinya karena akalnya ini berhasil, buktinya ketika ia meloncat, tidak ada yang menjegal kakinya lagi.
Akan tetapi, selagi ia merasa girang dan tubuhnya masih melayang di atas, tiba-tiba tubuhnya itu tanpa dapat Ia kuasai lagi, tertarik ke bawah dan terbanting di atas tanah.
Ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia terbanting kembali di atas gundukan tanah, ia makin kaget dan berseru.
"Celaka.. mati aku di tangan siluman.."
"Heh-heh, siapa bilang mati itu celaka? Hidup sekedar hidup itulah yang celaka, apalagi hidup menghamba nafsu, lebih-lebih celaka"
Hauw Lam terkejut sekali.
Karena suara itu terdengar dari bawah, ia lalu memandang ke bawah dan..
hampir ia terjengkang roboh kembali ketika melihat sebuah kepala di atas tanah.
Kepala yang berdiri sebatas leher di atas tanah yang rambutnya riap-riapan, mukanya penuh cambang bauk, matanya melotot.
Dengan muka pucat Hauw Lam memandang kepala itu, mengucek-ucek kedua matanya, memandang lagi dan bergidik.
Kedua kakinya terasa lemas dan lumpuh, seluruh tubuhnya menggigil.
Sambil menahan kedua kakinya agar tidak roboh saking lemas, Hauw Lam menghadap ke arah kepala di atas tanah lalu menjura dan berkata, suaranya gemetar.
"Saya.., Tang Hauw Lam.. selamanya ingin menjadi orang baik-baik.., harap anda jangan mengganggu saya.."
Kepala itu bergerak, menengadah dan matanya yang melotot itu menatap tajam, kemudian terdengar suara dari balik kumis tebal yang menyembunyikan mulut.
"Tidak mengganggu, hah? Kau menginjak-injak dan melangkahi kepalaku, masih bisa bilang tindak mengganggu?"
Melihat kepala itu bergerak-gerak dan mendengar mulut di balik kumis dapat bicara seperti manusia, mulai berangsur hilanglah rasa ngeri dan takut dari hati Hauw Lam.
Ia memandang lebih teliti lagi.
Kepala itu di atas tanah den lehernya tersembul keluar dari tanah, agaknya tubuhnya terpendam.
Kakek tua renta ini tadi bicara tentang "kepalaku", hal ini hanya berarti bahwa kakek itu masih mempunyai bagian tubuh yang lain.
Andai kata ia seorang siluman dan tubuhnya hanya kepala itu saja, tentu tidak akan menyebut kepalaku.
Pula, setelah kini ia memandang penuh perhatian, biarpun muka itu buruk penuh cambang bauk dan tertutup rambut yang riap-riapan, namun jelas bahwa itu kepala manusia, hanya entah bagaimana tubuh kakek itu terpendam ke dalam tanah kuburan dan entah bagaimana pula kepala itu tiba-tiba muncul sedangkan tadinya tidak ada apa-apa di situ.
Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kepala itu dan berkata.
"Locianpwe (Orang Tua Gagah), mohon maaf sebanyaknya apabila boanpwe (saya yang bodoh) telah melakukan kesalahan terhadap Locianpwe karena sesungguhnya boanpwe tidak tahu bahwa Locianpwe berada di sini dan tidak sengaja.."
"Wah-wah, membekuk-bekuk lidah pun tidak ada gunanya. Masa begini caranya orang minta maaf? Mulutnya bilang minta maaf akan tetapi berlutut di sebelah atas kepalaku? Terlalu.. terlalu.."
Kepala itu mengomel panjang pendek.
Hauw Lam membelalakkan matanya.
Kakek ini terlalu aneh dan agaknya seorang yang suka berkelakar.
Ia sendiri adalah seorang pemuda yang jenaka dan selalu riang gembira maka biarpun ia merasa mendongkol atas sikap kakek yang tidak puas dengan permintaan maafnya itu, ia memutar otak mencari akal.
"Baiklah, Locianpwe. Saya akan mohon maaf dan memberi hormat sepatutnya. Setelah berkata demikian Hauw Lam lalu mencabut goloknya dan dengan senjata ini ia menggali tanah di depan kepala itu. Dengan pengerahan tenaga dalam, cepat ia dapat menggali sampai dalam, dan ia lalu masuk ke dalam lubang itu sehingga kini yang tampak di luar tanah hanyalah kepalanya saja yang ia angguk-anggukkan sambil mengulangi permintaan maafnya. Mulut kakek itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Kau cocok untuk menjadi muridku. Kau banyak akal, tidak mudah putus asa dan menghadapi segala rintangan hidup dengan wajah gembira. Hayo naik"
Begitu kakek ini mengeluarkan kata-kata tubuh Hauw Lam mencelat ke atas.
Pemuda ini kaget sekali dan menggerakkan tenaga untuk mengatur keseimbangan tubuh.
Ketika ia berhasil turun dengan berdiri di atas tanah, ternyata kakek itu sudah keluar dari dalam tanah, kini duduk bersila di atas tanah.
Sekilas pandang, ia kaget dan heran.
Kakek itu kepalanya besar dan seperti kepala orang dewasa, akan tetapi tubuhnya kecil pendek seperti tubuh seorang anak berusia belasan tahun"
Maklum bahwa kakek yang tubuhnya aneh ini seorang sakti, ia lalu menjatuhkan diri kembali, berlutut di depan kakek itu.
"Demikianlah, Mutiara Hitam. Semenjak saat itu aku menjadi murid Bu-tek Lo-jin selama seratus hari. Aku tidak menerima ilmu silat baru dari Guruku yang aneh itu, akan tetapi semua ilmu silat yang pernah kupelajari ia lihat dan ia beri petunjuk. Semenjak itu, baru terbuka mataku akan ilmu yang sebenarnya."
Hauw Lam mengakhiri ceritanya.
Kwi Lan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ia tertarik sekali akan semua pengalaman Hauw Lam dan diam-diam ia merasa girang bahwa putera bibinya ini benar-benar seorang pemuda yang perkasa dan juga kalau ia tak salah duga, berbudi baik.
Perasaan hangat memenuhi dadanya ketika is menatap wajah yang tampan dan jenaka itu.
Ia sudah merasa tertarik sekali, seakan-akan ia berhadapan dengan kakak kandungnya sendiri.
Perasaan ini mungkin timbul karena semenjak kecilnya ia sudah menganggap Bibi Bi Li seperti ibu kandungnya.
Betapa tidak?
Bibi Bi Li yang memeliharanya semenjak ia belum mengerti apa-apa, yang menghiburnya kalau ia menangis, yang memberinya makan kalau ia lapar dan memberinya minum kalau ia haus.
Dan pemuda ini adalah anak kandung Bibi Bi Li.
Apa bedanya dengan kakaknya sendiri?
"Wah, kau melamunkan apa?"
Tiba-tiba Kwi Lan terkejut oleh seruan ini, sampai ia tersentak kaget.
Ia mendongkol juga akan watak pemuda ini yang ugal-ugalan dan kadang-kadang kasar.
"Kenapa kau membentak-bentak orang?"
Hauw Lam tertawa.
"Siapa membentak-bentak? Aku hanya bertanya. Mengapa engkau melamun sedangkan aku sudah menanti sejak tadi memasang telinga setajam-tajamnya"
"Menanti apa? Memasang telinga untuk apa?"
"Waduh, bagaimana ini? Sejak tadi sampai letih mulutku bercerita tentang riwayatku, tentang nama dan pengalamanku. Setelah aku selesai, kini kau bertanya aku menanti apa dan memasang telinga untuk apa? Tentu saja untuk mendengarkan ceritamu, tentang nama dan keadaanmu, tentang riwayat hidupmu"
Jawab Hauw Lam, penasaran.
Mendengar ini, Kwi Lan menarik napas panjang.
Ia tidak ingin menyebut-nyebut tentang Bibi Kam Sian Eng, tidak mau pula bercerita tentang ibu kandungnya, Ratu Khitan yang belum pernah dilihatnya itu.
Ia mau bercerita tentang Bi Li, akan tetapi merasa belum tiba saatnya.
Maka ia lalu berkata.
"Perlu apa banyak cerita? Namaku, engkau sudah tahu."
"Siapa?"
"Mutiara Hitam."
"Wah, kenapa kau suka sekali mempermainkan aku? Aku sudah menceritakan namaku sendiri, Tang Hauw Lam.."
"Tapi aku mengenalmu sebagal Berandal saja, cukup. Dan kau mengenalku sebagai Mutiara Hitam. Apa artinya nama? Nama apa pun, juga apa bedanya? Yang penting mengenal orangnya dan melihat wataknya. Nama hanya kosong belaka"
Hauw Lam menggaruk-garuk belakang telinganya dan mulutnya menggumam lirih.
"Nama itu kosong belaka"
Eh, Mutiara Hitam, semuda ini kau sudah sepandai itu berfilsafat? Ataukah.. kau pernah patah hati?"
"Patah hati? Bagaimana hati bisa patah? Apakah hati itu seperti kayu kering.. macam ini?"
Kwi Lan mematahkan sebatang ranting kayu. Melihat wajah gadis itu bersungguh-sungguh, mau tidak mau Hauw Lam tertawa.
"Sudahlah, tidak gampang mengajak kau bicara. Tidak mau menceritakan nama ya sudah, sedikitnya kau tuturkan riwayatmu yang tentu menarik sekali."
"Aku tidak punya riwayat. Lebih baik kau lanjutkan ceritamu. Kau tadi bilang bahwa kau sebatang kara. Mana Ayah dan Ibumu?"
Untuk sesaat wajah yang jenaka dan lucu itu diselimuti awan kedukaan.
Akan tetapi hanya sebentar saja karena kembali wajah yang tampan itu menjadi cerah ketika menjawab.
"Ibuku telah meninggal dunia dan.."
"Siapa bilang Ibumu meninggal dunia?"
"Lho, Kenapa marah?"
Hauw Lam bertanya mendengar suara pertanyaan yang membentak itu dan melihat wajah yang masam.
"Siapa bilang Ibumu meninggal dunia?"
Kwi Lan mengulang.
Pemuda itu melongo.
Dara yang cantik jelita seperti bidadari, yang gagah perkasa, akan tetapi yang anehnya bukan main, memiliki watak yang sukar sekali dijajaki, sukar diduga.
"Yang bilang? Tentu saja Ayahku. Ayahku yang bilang bahwa Ibu telah meninggal dunia."
Sudah berada di ujung lidah Kwi Lan untuk menyangkal, untuk menyatakan bahwa ayah pemuda itu bohong akan tetapi dapat ditahannya.
"Dan Ayahmu di mana dia?"
"Ayah? Ayah tidak sayang kepadaku. Ketika aku berusia lima tahun, Ayah meninggalkan aku di kelenteng Bukit Kim-liong-san dan semenjak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Nah, sudah lengkap kini riwayatku, sekarang ganti engkau.."
Ucapan Hauw Lam terhenti karena tiba-tiba terdengar derap suara kaki kuda, disusul suara orang.
Tak lama kemudian muncullah tujuh orang penunggang kuda.
Pakaian, topi, dan bahasa mereka membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang asing.
Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda besar dan baik.
Akan tetapi tujuh ekor kuda tunggang mereka itu seperti tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan seekor kuda yang dituntun oleh seorang di antara mereka.
Kuda yang dituntun ini lebih tinggi, tubuhnya ramping dilingkari otot-otot yang kuat.
Keempat kakinya merit kecil an bulunya hitam mulus dan mengkilap.
Sepasang matanya lebar dan bercahaya.
"Kuda betina yang hebat"
Hauw Lam terdengar memuji dengan suara lantang, matanya memandang ke arah kuda hitam itu penuh kekaguman.
Akan tetapi Kwi Lan yang tidak mengerti tentang kuda, tidak tahu apanya yang hebat pada kuda hitam itu, maka ia tidak memperhatikannya.
Sebaliknya, ia tertarik kepada tujuh orang laki-laki yang menunggang kuda.
Mereka itu rata-rata berusia sekitar empat puluhan tahun, bertubuh tegap dan tinggi, membayangkan ketangkasan dan kekuatan.
Wajah mereka gagah dan agak hitam oleh sinar matahari.
Sementara itu, tujuh orang ini pun menahan kendali kuda ketika mereka melihat Hauw Lam dan Kwi Lan.
Akan tetapi pandang mata semua orang ini ditujukan kepada Kwi Lan, dan agaknya tidak ada perbedaan antara pandang mata mereka terhadap Kwi Lan dengan pandang mata Hauw Lam terhadap kuda hitam.
Penuh kekaguman.
Pandang mata mereka yang penuh getaran nafsu itu agaknya terasa pula oleh Kwi Lan, membuat dara ini menjadi jengah dan marah di dalam hati.
Akan tetapi karena mereka itu tidak mengeluarkan kata-kata, Kwi Lan menahan kemarahannya dan mencabuti beberapa helai rumput hijau sambil menundukkan muka, kadang-kadang saja melirik ke arah mereka.
Ia masih tetap duduk di atas akar pohon.
Akan tetapi Hauw Lam sudah meloncat berdiri.
Pemuda ini banyak sudah merantau dan banyak pula pengalamannya.
Melihat sikap dan pandang mata tujuh orang itu kepada temannya, ia merasa mendongkol pula.
Akan tetapi wajahnya berseri dan ia tersenyum lebar ketika berkata.
"Salam, sobat-sobat yang bersua di jalan"
"Salam"
Tujuh orang itu menjawab, suara mereka rata-rata besar parau.
Senyum di mulut Hauw Lam melebar dan ia melangkah mendekati kuda hitam.
Setelah kini dekat dan memandang penuh perhatian, ia menjadi makin kagum.
Benar-benar seekor kuda yang hebat, pikirnya.
Ketika ia mencoba untuk menepuk-nepuk leher kuda hitam itu, si Kuda hitam meringkik dan hampir saja tangan Hauw Lam digigitnya kalau pemuda ini tidak cepat-cepat menarik kembali tangannya.
"Kuda hebat.."
Ia memuji pula.
"Sobat, apakah kuda hitam ini hendak dijual? Kalau hendak dijual, berapakah harganya?"
Orang yang menuntun kuda membelalakkan matanya kepada Hauw Lam, kemudian ia tertawa sehingga tampak betapa dua buah gigi atasnya ompong.
Enam orang temannya hanya berdiri memandang.
Kemudian Si Ompong berpaling dan menterjemahkan ucapan Hauw Lam tadi dalam bahasa mereka.
Seketika meledaklah ketawa enam orang itu sehingga keadaan hutan yang tadinya sunyi kini menjadi riuh dengan suara ketawa mereka.
Lalu disusul mereka bertujuh saling bicara riuh rendah sambil tertawa-tawa.
"Orang muda, tahukah engkau kuda apakah ini, darimana dan hendak dibawa ke mana?"
Akhirnya Si Ompong yang menjadi juru bicara berkata dengan suara pelo dan kaku.
"Kuda ini adalah kuda keturunan langsung dari Hek-liong-ma milik pribadi Ratu kami"
"Siapakah Ratu kalian yang mulia?"
Hauw Lam bertanya, tertarik karena ia tidak mengerti bahasa mereka.
"Ratu kami adalah Sang Ratu di Khitan."
"Ohhh.."
Suara seruan kaget ini keluar dari mulut Kwi Lan.
Akan tetapi ketika Hauw Lam menengok, gadis ini sudah dapat menekan perasaannya kembali dan hanya memandang penuh perhatian.
"Dan tahukah engkau kuda ini hendak kami bawa ke mana? Akan kami antarkan ke Yen-an sebagai barang sumbangan kepada ketua baru dari Thian-liong-pang"
Diam-diam Hauw Lam terkejut juga.
Kiranya bukan kuda sembarangan dan ia maklum bahwa tujuh orang ini sengaja menyebut nama Thian-liong-pang untuk membuat ia kaget dan jerih.
Akan tetapi ia berpura-pura tidak mengenal Thian-liong-pang bahkan ia lalu berkata.
"Wah, barang sumbangan saja mengapa kuda yang begini bagus? Yang kalian tunggangi itu semua juga sudah lebih dari cukup untuk sumbangan. Yang hitam ini kalau boleh, harap jual kepadaku."
Tiba-tiba seorang di antara mereka berbicara dengan bahasa mereka, suaranya lantang dan telunjuknya menuding nuding ke arah Kwi Lan yang masih duduk di atas akar pohon.
Begitu selesai ia berbicara, tujuh orang itu tertawa bergelak-gelak.
Semua kuda mereka kaget dan meringkik-ringkik sambil berdiri di atas kedua kaki belakang sehingga hampir saja dua orang di antara mereka terlempar ke bawah.
Hal ini membuat mereka tertawa makin riuh rendah.
"Orang muda, mengertikah engkau apa yang dimaksudkan teman-temanku? Ha-ha-ha. Engkau sendiri sudah memiliki seekor kuda betina yang demikian cantik jelita, mengapa masih ingin membeli kuda hitam ini? Apakah artinya kuda hitam ini kalau dibandingkan dengan kudamu yang putih kuning dan cantik molek itu? Ha-ha-ha"
Kembali tujuh orang itu tertawa-tawa karena mereka tahu bahwa temannya Si Ompong sudah menterjemahkan ucapan mereka.
Tentu saja Hauw Lam menjadi marah dan mendongkol sekali.
Akan tetapi Kwi Lan lebih marah lagi.
Tadinya ia tidak mengerti apa artinya ucapan mereka, akan tetapi karena mereka bertujuh semua memandang kepadanya dan menuding-nudingkan telunjuk ke arahnya, tahulah ia bahwa dia sesungguhnya yang disebut kuda betina putih kuning.
Ia disamakan dengan kuda "Keparat"
Bagaikan seekor harimau ia meloncat bangun, kedua tangannya bergerak dan melesatlah sinar hijau dari kedua tangannya menyambar ke arah muka tujuh orang itu.
Seketika lenyap suara ketawa mereka, terganti suara jeritan dan mereka bertujuh terguling roboh dari atas kuda.
Namun dengan gerakan yang amat cekatan mereka bertujuh sudah meloncat bangun lagi dan ramailah mereka berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti Hauw Lam maupun Kwi Lan.
Kini Hauw Lam yang melongo dan memandang mereka dengan muka terheran-heran.
Kiranya sinar kehijauan yang melesat dari kedua tangan Mutiara Hitam tadi adalah rumput-rumput yang tadi dicabutinya sambil duduk di atas akar pohon.
Dalam kemarahannya gadis itu telah menyerang tujuh orang Khitan dengan rumput-rumput itu.
Biarpun hanya rumput hijau, namun di tangan dara perkasa ini berubah menjadi senjata rahasia yang amat ampuh dan menggiriskan hati.
Batang-batang rumput itu meluncur melebihi anak panah cepatnya dan tak terhindarkan lagi oleh tujuh orang Khitan itu.
Tahu-tahu muka mereka telah terkena rumput yang menempel pada kulit muka mereka, menimbulkan rasa perih dan pedas, sedangkan tadi ketika rumput-rumput itu menyerang, mereka terdorong oleh angin pukulan yang membuat mereka terjungkal dari atas kuda.
Kini mereka berdiri dan berusaha melepaskan rumput-rumput yang menempel muka mereka.
"Aneh bin ajaib"
Sampai meringis-ringis mereka berusaha mengambil rumput yang menempel di kulit muka.
Sia-sia belaka.
Rumput-rumput itu menempel seakan-akan diberi lem perekat ajaib, seakan-akan telah tumbuh menjadi satu dengan kulit.
Seorang di antara mereka agak menggunakan kekerasan untuk mengupas rumput, akan tetapi kulit pipinya ikut terkelupas, nyeri dan perih bukan main dan darah menetes-netes.
Mereka terheran-heran dan juga kesakitan, terutama sekali rasa jerih membuat wajah mereka pucat.
Bagi Hauw Lam, penglihatan itu amatlah lucu.
Melihat mereka berusaha mengupas rumput dari muka meringis-ringis kesakitan, melihat betapa rumput itu merupakan pleister-pleister hijau "menghias"
Muka, apalagi orang yang tadi menghina Mutiara Hitam, rumput melintang di atas kulit hidungnya sehingga wajahnya tampak lucu sekali, membuat Hauw Lam tak dapat menahan ketawanya.
"Hua-ha-ha-ha, Lucu sekali"
Lucu sekali"
Muka kalian bertujuh ditambal-tambal seperti badut dan delapan ekor kuda ini begini bagus. Tentu kalian hendak main komidi kuda, ya? Bagus.., bagus.."
Hauw Lam bertepuk-tepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak, membuat tujuh orang itu mendongkol bukan main.
Akan tetapi karena mereka dapat menduga bahwa dua orang muda-mudi itu tentu bukan orang sembarangan, mereka tidak mau lagi meladeni dengan kata-kata.
Serentak tangan mereka bergerak dan tujuh orang itu sudah mencabut golok masing-masing lalu mengurung dengan sikap mengancam.
"Aih.. aih.. kalian masih belum kapok? Kalau tadi Nona muda kalian ini menghendaki nyawa kalian, apakah kalian tidak menjadi bangkai?"
Hauw Lam berseru sambil melangkah maju, kemudian menoleh kepada Kwi Lan.
"Biarlah aku yang kini menikmati permainan dengan mereka"
Kwi Lan diam saja, sikapnya tidak acuh.
Ia tidak memandang mata kepada tujuh orang itu, akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah orang-orang Khitan, rakyat dari ibu kandungnya, ia tadi tidak mau membunuh mereka.
Kini ia hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian Berandal, karena dari gerak-gerik tujuh orang itu ia dapat menduga bahwa mereka memiliki ilmu silat yang tinggi juga.
"Mengalahkan mereka tanpa membunuh barulah hebat,"
Kwi Lan sengaja berkata, nada suaranya mengejek, padahal di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda berandalan itu membunuh rakyat ibu kandungnya.
"Oho, mudah saja, kau lihat"
Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian membusungkan perutnya ke depan, menantang.
"Hayo kalian maju, tunggu apalagi? Bukankah golok kalian sudah terhunus? Di sini tidak ada babi untuk ditusuk perutnya, tidak ada kambing untuk disembelih lehernya. Nih perutku, boleh kalian tusuk, atau leher nih, boleh pilih"
Ia menantang dengan cara mengejek sekali, meramkan kedua mata, mengulur leher membusungkan perut dan menaruh kedua tangan di punggung.
Diam-diam Kwi Lan geli menyaksikan sikap ini, juga merasa betapa sikap ini keterlaluan dan berbahaya.
Coba dia yang ditantang secara itu, tentu sekali bergerak akan dapat merobohkan pemuda ugal-ugalan itu.
Agaknya tujuh orang yang sudah amat marah itupun berpikir demikian.
Mereka tadi sudah marah dan penasaran sekali, merasa mengalami penghinaan yang luar biasa maka kini menyaksikan sikap dan tantangan Hauw Lam, mereka sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya.
Tujuh orang Ini bukan orang sembarangan, merupakan jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi, bagaimana sekarang menghadapi dua orang bocah saja mereka tidak berdaya dan sampai mengalami hinaan?
Kini melihat sikap Hauw Lam, mereka serentak menerjang untuk membalas penghinaan yang mereka alami.
"Cring-cring-trang-traaanggg.."
Tujuh batang golok yang menerjang dalam detik bersamaan dengan sebuah saja sasaran, tentu saja tak dapat terhindar lagi saling beradu ketika sasarannya tiba-tiba lenyap dari tempatnya.
Cepat mereka meloncat dan membalikkan tubuh.
Kiranya pemuda ugal-ugalan itu sudah berada di belakang mereka dan kembali pemuda itu mengulur leher membusungkan perut, akan tetapi sekarang tangannya memegang sebatang golok pula, golok yang pendek dan lebar seperti golok tukang babi.
Akan tetapi melihat sinar putih bersinar dari mata golok, dapat diduga bahwa golok buruk bentuknya itu ternyata terbuat daripada logam yang ampuh dan terpilih.
"Hayo tusuk lagi, bacok lagi, kenapa ragu-ragu? Perut dan leherku sudah gatal-gatal nih"
Hauw Lam mengejek, menggoyang-goyangkan perutnya yang sengaja ia busungkan ke depan.
Kemarahan tujuh orang Khitan itu memuncak.
Sambil memaki-maki dalam bahasa sendiri kembali mereka menerjang maju, melakukan serangan dahsyat penuh kemarahan.
Kali ini tampak sinar putih yang amat lebar menyilaukan mata bergulung-gulung menyambut mereka.
Terdengar suara nyaring beradunya senjata diikuti tujuh batang golok terlempar dalam keadaan patah menjadi dua, disusul pekik tujuh orang itu dan memberebetnya kain robek.
Dalam sekejap mata saja tujuh orang itu tidak hanya kehilangan golok, akan tetapi juga baju mereka robek dari leher sampai ke perut.
Wajah mereka kini menjadi pucat sekali karena mereka maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki, dalam segebrakan saja tadi tentu mereka akan terobek perut mereka.
Si Gigi Ompong lalu menjura dan berkata.
"Kami telah kesalahan terhadap Taihiap, mohon maaf, mengingat bahwa kami jauh dari utara hendak mengunjungi Thian-liong-pang."
Hauw Lam tertawa akan tetapi sebelum ia menjawab, Kwi Lan melompat maju dan menghardik.
"Masih banyak cakap lagi? Kalian ini orang-orang Khitan yang tidak baik. Lekas pergi dan tinggalkan kuda hitam"
Si Gigi Ompong kaget bukan main dan dengan suara gemetar ia menterjemahkan ucapan ini.
Kawan-kawannya juga nampak kaget dan memprotes.
Si Gigi Ompong kini menghadapi Kwi Lan dan berkata.
"Tidak mungkin, Nona"
Kuda hitam ini adalah persembahan kepada kami untuk dihadiahkan kepada ketua Thian-liong-pang sebagai tanda persahabatan.
Bagaimana kami berani meninggalkannya di sini?
Hal ini berarti akan hilangnya nyawa kami sebagai penggantinya"
"Huh. Siapa peduli nyawa anjing kalian? Katakan saja kepada Ratumu bahwa yang mengambil kuda hitam adalah Mutiara Hitam. Habis perkara"
Kini Hauw Lam mendengarkan dengan mulut ternganga.
Dara itu terlalu lancang, terlalu berani.
Tadi berani menghina dan memandang rendah Bu-tek Siu-lam, kini malah berani menantang Ratu Khitan yang selain terkenal sebagai ratu, juga terkenal memiliki ilmu kesaktian hebat dan mempunyai banyak anak buah yang berilmu tinggi.
Apakah yang diandalkan dara ini maka bersikap sedemikian angkuh dan berani menghina orang-orang golongan atas?
Kepandaiannya memang hebat dan melihat cara melempar rumput yang sampai kini menempel di muka ketujuh orang Khitan itu, terbukti akan kelihaiannya.
Akan tetapi belum tampak ilmu silatnya dan ia merasa ragu-ragu apakah dara semuda ini akan mampu menandingi tokoh-tokoh besar itu?
Akan tetapi mendengar ucapan gadis yang memandang rendah Ratu Khitan, tujuh orang itu tidak menjadi marah setelah Si Ompong menterjemahkannya, bahkan nampak heran dan girang.
Si Ompong lalu berkata sambil menjura.
"Aha, kiranya masih sepaham. Nona yang gagah perkasa, ketahuilah bahwa kami adalah anak buah Pak-sin-ong.."
"Tidak peduli siapa itu Pak-sin-ong"
Bentak Kwi Lan tidak sabar lagi. Akan tetapi Hauw Lam sudah menjadi kaget sekali dan bertanya.
"Apa? Kalian ini anak buah Jin-cam Khoa-ong (Raja Algojo Manusia) yang juga disebut Pak-sin-ong (Raja Sakti dari Utara)?"
Si Ompong berseri wajahnya, akan tetapi jadi menyeringai buruk karena wajahnya masih pucat dan masih tertempel rumput.
"Betul.., betul"
Nona, agaknya Nona belum mengenal nama besar Tai-ong kami yang juga memusuhi Ratu Khitan dan.."
"Bedebah.."
Bentakan ini keluar dari mulut Kwi Lan, disusul berkelebatnya sinar kehijauan dan terciumlah bau yang harum.
Akan tetapi tujuh orang Khitan itu menjerit, darah muncrat dan di lain saat Kwi Lan sudah berdiri tegak kembali, sikapnya keren dan mulutnya membentak.
"Lekas pergi dari sini"
Hauw Lam melongo.
Sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu saja ia dapat melihat gerakan gadis itu yang luar biasa cepatnya.
Ia melihat betapa gadis itu mencabut sebatang pedang yang sinarnya kehijauan dan mengeluarkan ganda harum semerbak, melihat pula betapa dengan gerakan yang amat aneh, dahsyat dan secepat kilat pedang di tangan gadis berkelebat dan dengan persis membabat putus telinga kanan ketujuh orang Khitan itu sebelum mereka mampu mengelak atau melawan.
Melihat pula betapa dengan gerakan yang masih sama cepatnya gadis itu telah menyimpan kembali pedangnya sebelum darah yang muncrat dari pinggir kepala tujuh orang itu menyentuh tanah.
Sebuah gerakan yang luar biasa sekali, yang aneh, dahsyat akan tetapi juga ganas dan kejam.
Tujuh orang Khitan yang tadinya kegirangan karena mengira bahwa mereka itu sefihak dengan nona ini dalam hal memusuhi Ratu Khitan, tentu saja menjadi kaget dan kesakitan.
Sambil menutupi telinga kanan yang sudah tak berdaun lagi, mereka memandang dengan wajah pucat dan mata terbelalak, sejenak lupa akan rasa perih dan nyeri pada telinganya.
"Kami telah menerima pengajaran,"
Kata Si Ompong sambil meringis.
"harap Nona suka memberitahukan nama agar tidak mudah kami melupakannya.."
"Eh-eh, masih banyak tingkah lagi?"
Hauw Lam yang khawatir kalau-kalau nona itu makin marah dan membunuh mereka, memotong.
"Dia ini bernama Mutiara Hitam, apakah kalian buta? Dan aku adalah Berandal. Hayo pergi dan jangan membuka mulut busuk lagi"
Tujuh orang Khitan itu melompat ke atas kuda, sekali lagi mereka menoleh dengan pandang mata penuh kebencian dan sakit hati, kemudian membalapkan kuda mereka pergi dari tempat itu.
Kuda hitam ditinggalkan begitu saja dan kuda ini kelihatan tenang makan rumput, kendalinya terlepas dan terseret di atas tanah.
Hauw Lam cepat mengambil kendali itu dan kini kuda itu diam saja ketika ditepuk-tepuk lehernya.
Agaknya kuda itu tahu bahwa siapa yang memegang kendali adalah majikannya.
"Kuda bagus, kuda hebat.."
Hauw Lam menepuk-nepuknya dan membawanya dekat kepada Kwi Lan.
"Pilihanmu tepat, Mutiara Hitam. Julukanmu Hitam maka tepatlah kalau kau menunggang kuda hitam ini."
"Siapa yang menginginkan kuda? Aku hanya minta kuda ini agar ada alasan mengunjungi Thian-liong-pang.
"Apa? Bagaimana maksudmu?"
Kwi Lan tersenyum mengejek.
"Bodoh"
Kalau kita datang ke sana dan membawa kuda ini sebagai barang sumbangan, bukankah namanya sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat?
Maksud Si Raja Algojo yang kau sebut-sebut itu mempersembahkan kuda kepada Thian-liong-pang tak berhasil, berarti dia sudah kalah satu nol melawan kita.
Ke dua, dengan hadiah ini, masa kita tidak akan diterima sebagai tamu agung oleh Thian-liong-pang?"
Hauw Lam membelalakkan matanya kemudian berjingkrak dan bertepuk tangan.
"Wah, bagus. Kau ternyata pintar sekali. Tapi sesungguhnya sayang kalau kuda sebaik ini dilepaskan kembali kepada orang lain."
"Hal ini dapat diputuskan nanti. Kalau kulihat Thian-liong-pang tidak berharga memiliki kuda ini, bisa saja kita ambil kembali."
Diam-diam Hauw Lam merasa khawatir.
Gadis ini memang harus diakui memiliki ilmu kepandaian hebat.
Akan tetapi terlalu ceroboh, terlalu sembrono dan terlalu memandang rendah orang lain.
"Ahh, Mutiara Hitam. Engkau benar-benar belum banyak mengenal orang. Engkau tidak tahu siapa dia. Jin-cam Khoa-ong." (Lanjut ke
Jilid 05) Mutiara Hitam (Seri ke 04
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Siapa sih Algojo itu?"
"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan tokoh menyeramkan itu, akan tetapi sepanjang pendengaranku, dia tidak kalah terkenalnya daripada, Bu-tek Siu-lam sendiri. Kabarnya dia datang dari daerah Mongol, paling suka membunuh orang. Semua orang yang pernah bentrok dengan dia tidak akan dapat keluar hidup-hidup, semua itu, betapapun gagahnya, tewas di bawah senjatanya yang mengerikan, yaitu berbentuk gergaji berkait. Dia mengangkat diri dengan sebutan Pak-sin-ong untuk memperkenalkan asalnya dari utara, akan tetapi karena kekejamannya yang melewati batas, di dunia kangouw dia dijuluki orang Jin-cam Khoa-ong si Raja Algojo Manusia"
"Huh, makin besar julukannya, makin kosong melompong. Aku tidak takut"
"Dan Thian-liong-pang sungguh tidak boleh dibuat permainan. Bahkan kini merupakan perkumpulan yang paling besar, paling berpengaruh dan paling banyak anggautanya untuk golongan hitam. Karena itulah, para tokoh golongan hitam yang tidak mempunyai perkumpulan besar, masih memandang kepada Thian-liongpang.."
"Sudahlah. Kalau engkau takut, tidak perlu kau banyak mengoceh lagi. Aku pun tidak mengajak engkau. Kau kira aku takut untuk pergi sendiri?"
Sambil berkata demikian, Kwi Lan menyambar kendali kuda dari tangan Hauw Lam, lalu pergi menuntun kuda hitam itu meninggalkan Hauw Lam yang berdiri melongo.
Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan belum pernah mempunyai kuda, apalagi menunggang kuda, ia canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat merasakan hal ini.
Kuda itu mulai meronta dan mogok jalan.
Kwi Lan menarik-narik kendali kuda sambil membentak.
"Kau juga hendak mogok? Kuda sialan. Kupenggal lehermu nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang, hendak kulihat apakah kau berani mogok lagi"
"Wah-wah-wah.., kenapa kau begini galak, Mutiara Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali tidak takut, hanya aku heran menyaksikan keberanianmu menentang semua tokoh-tokoh besar. Mari, biarlah kita pergi bersama. Dan kuda itu.. kenapa repot-repot amat? Lebih baik kau tunggangi dia, kan enak?"
Watak Kwi Lan memang aneh, agaknya ia tiru dari Sian Eng.
Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa juga menjadi lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah mengenal duka maupun takut.
Melihat pemuda itu menghampiri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum.
"Aku belum pernah menunggang kuda"
Katanya. Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda? Benar-benar luar biasa sekali ini.
"Belum pernah? Kalau begitu berbahaya, dong. Kau harus belajar dulu. Seekor kuda yang baik selalu akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut menunggang kuda."
"Aku memang belum pernah menunggang kuda, akan tetapi siapa bilang aku takut? Kau lihat saja"
Sekali menggerakkan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk di atas punggung kuda, dengan kedua kaki di samping kiri perut kuda itu.
Canggung dan kaku sekali.
Benar saja, kuda hitam itu tidak memberontak, karena kuda itu hanya memberontak apabila yang menunggangnya takut-takut, sedangkan Kwi Lan tidak takut.
"Ah, keliru kalau begitu menunggangnya. Mana bisa tahan lama kalau kuda itu membalap?"
"Siapa bilang tidak bisa? Kau lihat"
Kwi Lan menarik kendali kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan lalu lari cepat.
Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan karena duduknya miring, maka hampir saja ia jatuh.
Cepat ia berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian turun di atas punggung kuda dalam keadaan berdiri.
Hauw Lam sudah mengejar dan memegang kendali kuda, mengeluarkan suara menyuruh berhenti.
Setelah kuda berhenti, ia menggeleng-geleng kepala.
"Wah-wah, memang kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan tetapi mana ada di dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas punggungnya? Engkau akan menjadi tontonan orang di sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan. Beginilah cara menunggang kuda. Lihat, kuberi contohnya"
Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka pelajaran menunggang kuda ini dapat ia kuasai sebentar saja.
Berangkatlah kedua orang muda itu melakukan perjalanan menuju Yen-an.
Kwi Lan menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil meniup sulingnya.
Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat turun dan berjalan kaki, menyuruh pemuda itu berganti menunggang kuda.
Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan marah.
Begitu pula, kadang-kadang gadis yang berhati polos itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas punggung kuda.
Hauw Lam juga menuruti kehendaknya sehingga dalam waktu beberapa hari saja melakukan perjalanan, keduanya telah menjadi sahabat yang amat akrab dan diam diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada putera bibi pengasuhnya ini.
Kota Yen-an terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san sebelah barat, di Propinsi Shen-si.
Kota ini cukup besar dan ramai dan dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han yang kini sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung dan menjadi wilayah Kerajaan Sung.
Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang kecil tapi amat kuat.
Terutama sekali ketika seorang di antara panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai mengatur siasat perang.
Setelah jenderal ini mengundurkan diri keadaan kerajaan mengalami kemunduran pula.
Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan terdapat Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang menjadi "tante girang"
Di dalam istana mengumbar nafsu dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan, Di samping Tok-siauw-kwi (ibu kandung Suling Emas) ini terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian berjuluk, Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee.
Akan tetapi semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada kerajaan makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.
Tokoh-tokoh yang dikalahkan biasanya kalau tidak dipakai lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan kelompok yang menentang si Pemenang secara diam-diam.
Demikian pula keadaan di bekas Kerajaan Hou-han ini.
Orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan bersembunyi di balik papan nama perkumpulan menjadi golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan untuk melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan yang tak disukainya.
Di antara perkumpulan-perkumpulan semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan terbesar, bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk perkumpulan.
Hal ini adalah karena bekas para panglima dan tokoh Kerajaan Hou-han banyak yang menggabungkan diri dalam perkumpulan ini.
Namun karena kesempatan untuk melawan pemerintahan Sung tidak ada, apalagi setelah para panglima yang benar-benar berjiwa patriotik meninggal dunia, jiwa perkumpulan Thian-liong-pang mengalami perubahan hebat.
Dasar yang semula patriotik tadinya terdorong setia kepada kerajaan berubah, berubah menjadi dasar dunia hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh nafsu angkara murka untuk menguasai dunia, harta benda, nama besar dan kemenangan mengandalkan kekuatan.
Sisa para panglima Hou-han melihat ini sebanyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusun-dusun dan pegunungan menanti maut datang menjemput.
Semenjak Thian-liong-pang seluruhnya dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia hitam.
Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang bekas pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang Sakti).
Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam dan biarpun jahat, namun ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya, Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang amat kuat.
Semua anggauta Thian-liong-pang rata-rata di gembleng ilmu silat tinggi.
Apalagi murid kakek itu sendiri, benar-benar terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa.
Murid-murid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kang-ouw sehingga tokoh-tokoh yang besar sekalipun tidak akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) dari Thian-liong-pang.
Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing.
Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).
Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua, seorang laki-laki tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu.
Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggauta Beng-kauw.
Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggauta Beng-kauw ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.
Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan takut pula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara.
Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanya dan menjadi muridnya.
Karena memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang diantara murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang.
Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an.
Agak janggal nampaknya bahwa jalan besar dimana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga.
Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yen-an.
Hal ini dipergunakan oleh Thian-liong-pang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumah-rumah dan pekarangan yang ditinggalkan.
Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang, keadaan di situ lebih ramai diripada biasanya.
Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk Yen-an hari itu merasa ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya menyeramkan.
Karena itu biarpun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik.
Memang dugaan ini tepat.
Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orang-orang dari dunia hitam, golongan liok-lin dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolan-gerombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.
Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang yang dan danannya aneh-aneh memasuki kota Yen-an.
Menjelang siang hari, orang-orang yang dengan hati berdebar tidak enak menonton keramaian dan iring-iringan tamu ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya daripada orang-orang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan.
Bahkan sebaliknya, dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biarpun pinggangnya digantungi pedang dan gagang pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan, melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang memandangnya.
Adapun temannya, seorang pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri, mulutnya tersenyum-senyum.
Bahkan ketika memasuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda hitam.
Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu, seakan-akan, pemuda itu sengaja membadut dan menggantungkan golok untuk main-main saja.
Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam, kelihatan gembira pula.
Setelah beberapa pekan lamanya melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan..
selalu mengalah kepadanya.
Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang mudanya.
Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadang-kadang memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga pemarah dan tak acuh.
Tidak mengherankan apabila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sahabat yang akrab.
Sukar bagi seseorang untuk tidak ikut bergembira apabila melakukan perjalanan dengan Hauw Lam.
Apalagi seorang seperti Kwi Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira.
Melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil meniup suling dan dengan lenggang dibuat-buat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris, Kwi Lan tersenyum geli.
Ia maklum bahwa kedatangan mereka ke Yen-an bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat berbahaya.
Akan tetapi melihat pemuda itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut, ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira.
Banyak penduduk Yen-an, terutama orang-orang mudanya yang tertarik melihat sepasang muda-mudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan tersenyum-senyum.
Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liong-pang di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu, Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya.
Dari luar gedung saja sudah terdengar suara banyak orang di sebelah dalam.
Beberapa orang penjaga menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk dan yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu.
Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu berubah merah dan ia segera menjura dan berkata.
"Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan. Berandal yang datang berkunjung, Silakan masuk.."
Melihat sikap Si Brewok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.
"Ha-ha-ha, Kiranya Si Ouw Kiu. Engkau masih hidup? Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru Thian-liong-pang"
Teman-teman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini.
Bicaranya begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja.
Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu yang terkenal jagoan di antara mereka, begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat muda.
Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang menjadi merah mukanya.
Peristiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thian-liong-pang dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar perkumpulan.
Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut nama Mutiara Hitam dan Berandal, teman-temannya tidak tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak murid Thian-liong-pang.
Dengan menahan kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.
"Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk. Nona, biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona itu. Silakan turun dan masuk ke dalam"
"Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?"
Kwi Lan berkata.
"Barang sumbangan..? Apakah maksud Nona..?"
Kwi Lan tersenyum.
"Justeru kuda inilah barang sumbangannya untuk disampaikan kepada Ketua Thian-liong-pang"
"Ah.. kuda bagus.. kuda hebat.."
Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang hebat ini akan dipersembahkan kepada ketuanya.
Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan hendak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya.
Akan tetapi jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini, biarpun telah menyogok dengan seekor kuda.
Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura..
seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan mereka dan yang lain-lain juga menjura.
Kwi Lan lalu berkata.
"Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip arak wangi Thian-liong-pang"
"Hayo, tunggu apa lagi?"
Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada mulutnya dan melangkah maju sambil meniup suling.
Adapun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik kendali dan memaksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya memasuki ruangan depan menuju ke dalam.
Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada teman-temannya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena marah.
Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah yang membunuh seorang kawan mereka.
"Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali"
Bisik Ouw Kiu.
"Biarkan Pangcu yang membereskan mereka"
Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diam-diam melaporkan kepada pimpinan Thian-liong-pang.
Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi ketua sambil melenggut mengantuk.
Akhir-akhir ini, kakek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak mengantuk.
Kini ia telah mengenakan pakaian khusus untuk upacara.
Jubahnya baru dan indah di bagian dadanya terdapat gambar sebuah timbangan.
Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi penasihat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru.
Di sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu.
Wajah murid kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini keren, apalagi jenggot dan kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakan-akan selalu mengeluarkan sinar mengancam.
Di sebelah kanan Thai-lek-kwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas orang adik-adik seperguruannya yang terdiri dari bermacam-macam orang.
Ada Hwesio gundul, ada tosu, ada yang seperti petani, ada yang tua dan ada yang muda.
Di belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas yang membawa bendera Thian-liong-pang, bergambar naga terbang.
Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, duduk di bangku-bangku memutari meja bundar yang sudah disediakan.
Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman dan makanan.
Saat itu, upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma Kiu mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya.
Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang masih melenggut, setengah tidur setengah bersamadhi.
"Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?"
"Hemmm..?"
Kakek itu membuka mata malas-malasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah bangku yang kosong.
"Dia belum datang?"
Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya.
"Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauw-te (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia, suka pergi berburu binatang, suka pergi bermain-main, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini."
"Kita tunggu sebentar lagi."
Bantah Si Kakek.
"Betapapun juga, Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku, dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatutnya dia menyaksikan upacara penting hari ini."
Biarpun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara pengangkatannya menjadi Ketua Thian-liong-pang namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya.
Siangkoan Li adalah cucu Sin-seng Losu, semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah bundanya yang tewas dalam pertandingan.
Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biarpun ia cucu kakek ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thian-liong-pang itu memanggil dia sute (adik seperguruan).
Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua puluh tahun usianya.
Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor.
Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi.
Tentu saja Thai-lek-kwi Ma Kiu marah sekali, mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggauta Thian-liong-pang berani muncul.
Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang panas.
Apalagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus.
Maka dia segera berdiri dan menyambut.
Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut.
Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh membicarakan tamu yang baru muncul.
Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam, amat menarik perhatian dan selain mendatangkan kaget, juga heran.
Akan tetapi disamping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinar-sinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul.
Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah, diam-diam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruannya.
Biarpun belum pernah bertemu dengan mereka, namun jumlah ini menimbulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti orang itu.
Ia tersenyum dan berseru dengan suara nyaring.
"Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal.."
Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran mendengar sebutan dewa dan dewi tadi, kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya.
"... secara kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak mengadakan upacara pengangkatan ketua baru. Maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk Thian-liong-pang"
Mendengar dirinya disebut-sebut sebagai Sang Dewi Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari kuda dan berkata.
"Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini"
Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thian-liong-pang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan hadiah dari Khitan untuk Thian-liong-pang"
Mendengar ucapan Kwi Lan berubah air muka dua belas orang "naga"
Dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu segera berkata, suaranya berubah ramah.
"Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan dari Pak-sin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami, mohon Ji-wi sudi memaafkan."
"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan."
Kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam.
"Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan kuda keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang suka menerima. anugerah dari Ratu Khitan ini."
Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk membela Ratu Khitan yang menurut penuturan guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri.
Akan tetapi Ma Kiu mendengar ini, mengangguk-angguk dan bertukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.
"Kami mengerti.. kami mengerti dan terima kasih banyak.. katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai seorang anggauta Thian-liong-pang yang tinggi besar.
"Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baik-baik beri makan minum secukupnya"
Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima kendali.
Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasai tarikan keras, segera meringkik, membuka mulut dan menerjang orang tinggi besar itu.
Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehingga ia berkaok-kaok kesakitan dan ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan darah membasahi semua bajunya.
Tentu saja anggauta ini menjadi kaget dan melepaskan kendali kudanya.
Hauw Lam tertawa bergelak.
"Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda sembarangan"
"Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang."
Seorang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju, Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong dan begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, Si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tubuhnya melayang naik ke punggung kuda hitam.
Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun dengan menjepitkan kedua kaki ke perut kuda, Si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot kendali kuda.
Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan meloncat-loncat tinggi menggerak-gerakkan punggungnya.
Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata Si Kecil Kurus itu lihai sekali.
Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap.
Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan menurut saja disuruh berjalan keluar dari dalam ruangan tamu.
Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan.
Hauw Lam berbisik.
"Mereka mengira bahwa kita ini tokoh-tokoh kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan memang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan.
Tentu Si Brewok tadi mengira kita berpura-pura menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti.
Pemuda itu tertawa dan Kwi Lan juga tertawa geli.
Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat dan mahal.
Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak sungkan-sungkan lagi.
Kiranya pemuda jenaka itu adalah seorang ahli makanan.
Sambil mencoba dan mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjir.
meja mereka Hauw Lam tiada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.
"Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa dan daerah selatan saja, dagingnya empuk, gurih dan harum sedap. Maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan telurnya. Hanya Kaisar yang suka menyuruh buatkan kodok betina goreng"
Memang luar biasa masakan kodok goreng itu.
Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi justeru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang.
Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya enak pula dimakan, tidak keras.
"Wah, ini sop buntut menjangan namanya. Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat, Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah mengalir cepat. Sedikit cukup untuk menghangatkan tubuh. Dan ini masak tim kaki burung raja air. Kau tahu apa itu burung raja air? Bebek. Ini tim kaki bebek. Enak kenyil kenyil dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa. Sedap"
"Apa itu ayam angkasa?"
Kwi Lan bertanya, gembira oleh penjelasan yang lucu ini.
"Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara. Enak juga, cobalah."
Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya Hauw Lam memperkenalkan setiap masakan sehingga tak dapat ia bertahan untuk tidak mencicipinya.
"Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar tapi bukan bakso? Licin.."
Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek dengan sumpit untuk memeriksa.
"Ini..? Waaahh.. gila amat. Ini.. ini bukan makanan wanita. Celaka, yang begini dikeluarkan. Sialan benar"
Ia mengomel panjang pendek tanpa menjawab pertanyaan Kwi Lan. Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali.
"Masakan apa sih? Kenapa bukan makanan wanita?"
Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan ia tampak gagap-gugup dalam menjawab. Padahal biasanya pemuda ini paling pandai bicara.
"Masakan.. waaahhh, bagaimana ini..? Ini masakan.. masakan..hemmmm.."
Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan orang lain, tentu saja percakapan terakhir ini pun terdengar pula oleh para tamu yang duduk berdekatan.
Mereka mulai tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.
"Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal, bilang saja terus terang, mengapa susah-susah amat?"
Kwi Lan menegur.
"Siapa bilang aku tidak mengenal masakan ini? Semua masakan di dunia pernah kumakan. Aku pernah memasuki dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamuan Beng-kauw di selatan, Ini masakan.. daging kambing saus tomat"
"Uhh, hanya daging kambing saja kenapa tidak dari tadi menyebutnya? Kau bohong agaknya. Kalau benar hanya daging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan mengapa pula tadi kau bilang ini bukan makanan wanita?"
"Ha-ha-ha-ha. Itu bukan daging kambing, melainkan.. peluru kambing. Ha-ha-ha"
Riuh rendah suara ketawa itu.
Hauw Lam dan Kwi Lan menengok.
Sejak tadi mereka sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka, dalam jarak lima meter, terdapat enam orang anggauta pengemis baju bersih yang duduk mengelilingi meja dan sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
Enam orang pengemis itu rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, hanya yang dua inilah mereka masih muda dan kini dua orang inilah yang tertawa-tawa oleh ucapan seorang di antara mereka tadi.
Pada saat itu, Kwi Lan dengan sumpitnya telah menusuk dua potong daging kambing itu yang memang berbentuk bundar telur sebesar telur ayam.
"Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru kalau orang bilang wanita tidak boleh memakannya, malah sebetulnya itu makanan wanita, apalagi wanita cantik.., Ha-ha-ha-ha"
Komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang yang duduknya menghadap kepada meja Kwi Lan tertawa-tawa sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.
Akan tetapi, mendadak dua orang pengemis muda yang sedang tertawa berkakakan itu terhenti ketawanya setelah mengeluarkan suara "ha-haaauupp"
Dan mata mereka mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan menunjuk-nunjuk kebingungan ke arah mulut mereka yang ternganga.
Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya gerakan tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi berada di ujung sepasang sumpitnya kini telah menyusup masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi terbuka lebar-lebar.
Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang temannya ini, tersedak makanan sibuk menolong, menepuk-nepuk punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya.
Akan tetapi dua orang itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat.
Akhirnya seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat keluarlah daging bulat seperti telur ayam itu, sedangkan seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa napasnya hampir putus, dengan nekat lalu memasukkan sumpit ke mulutnya dan mendorong daging di kerongkongannya itu terus masuk.
Akal ini menolong juga dan terhindarlah ia daripada bahaya maut tercekik.
Kwi Lan yang telah memberi hukuman kepada dua orang pengemis muda yang berani mentertawakannya itu, kedua pipinya menjadi merah.
Tidak hanya karena marah, juga karena jengah setelah ia mendengar apa sebetulnya daging bulat-bulat itu.
Diam-diam ia memaki tuan rumah yang mengeluarkan hidangan macam itu.
Gadis ini memang masih asing dengan segala masakan-masakan kota, apalagi masakan-masakan yang begitu mewah.
Semenjak kecil ia hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li.
Kini untuk mengalihkan perhatian dari masakan yang dianggapnya tidak pantas itu, lalu bertanya kepada Hauw Lam yang masih tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis tadi.
"Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti darah."
"Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu menambah asin atau manis masakan."
Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah bebas daripada daging-daging bulat, kelihatan marah-marah, berdiri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot.
Empat orang kawannya yang lebih tua juga sudah menengok semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain, wajah mereka mengancam.
Agaknya mereka sedang mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta.
Mereka berenam hanyalah tokoh-tokoh biasa saja yang datang mewakili pengemis golongan hitam, maka tentu saja mereka segan untuk membuat gaduh dan kacau dalam pesta perayaan pengangkatan Ketua Thian-liong-pang.
Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menanti sampai upacara berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua orang muda kurang ajar itu.
Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara laki-laki mengiringi tangis wanita.
Semua tamu menengok dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti pendeta, akan tetapi rambutnya panjang riap-riapan dan mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar.
Laki-laki berusia lima puluhan tahun ini memegang sebatang cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua belas orang wanita muda-muda dan cantik-cantik seperti seorang penggembala menggiring ternak saja.
Beberapa orang di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan yang lain berjalan dengan muka pucat dan mata penuh kecemasan.
Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan wajahnya menjadi makin menyeramkan.
Rambutnya yang riap-riapan dan terhias bunga-bunga cilan, semacam bunga yang wangi, bergerak-gerak ketika ia tertawa.
Melihat tamu ini, Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang dan segera turun sendiri menyambut dan menjura.
"Wah, kiranya sahabat Ci-lan Saikong yang datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami."
"Huah-ha-ha-ha. Thian-liong-pang terkenal dengan Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh gagah perkasa. Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar menambah keangkeran Thian-liong-pang. Pinceng (aku) datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Losuhu, dan memberi selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua barunya, dan karena pinceng seorang miskin yang hanya suka mengumpulkan bunga-bunga harum maka pinceng hanya dapat memberi sumbangan dua belas tangkai bunga harum ini untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang sehingga kamar mereka menjadi harum dan membuat mereka enak tidur. Ha-ha-ha"
Kemudian kakek itu membunyikan cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawanannya sambil membentak.
"Hayo kalian lekas berlutut di depan majikan-majikan baru kalian"
Karena agaknya sudah tahu akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan muka.
Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan hitam, maka peristiwa ini tidaklah mengherankan hati mereka, malah banyak di antara mereka.
tertawa-tawa dan terdengar komentar di sana-sini memuji dua belas orang gadis itu dan menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda hidup seperti itu.
Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik seperguruannya serta para anggauta Thian-liong-pang menganggap hal ini biasa dan sewajarnya saja.
Akan tetapi karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat banyak tamu, Ma Kiu merasa malu dan jengah juga.
Ia kembali menjura dan berkata.
"Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu sungkan? Kami tidak mengharapkan sumbangan. Kedatanganmu saja sudah cukup menggirangkan hati kami"
Sungguhpun tidak menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan ketidaksenangan hati dengan sumbangan itu, karena diberikan bukan pada saatnya yang tepat.
"Ha-ha-ha-ha"
Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kaku.
"Sudah kukatakan tadi, pinceng orang miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena mendengar bahwa para pimpinan Thian-liong-pang mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng maka pinceng membawa dua belas tangkai kembang ini. Jangan Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih murni, datang dari keluarga baik-baik dan sengaja kupilih untuk Sicu sekalian"
Pada saat itu, Si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini tiba-tiba nampak segar, dan tidak mengantuk lagi.
Ia duduk tegak di kursinya, matanya yang setengah lamur itu dilebar-lebarkan untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di atas lantai.
Kemudian seperti seorang mimpi ia berkata.
"Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa banyak rewel? Kalau tidak suka, boleh giring semua ke kamarku"
"Huah-ha-ha-ha"
Ci-lan Sai-kong tertawa bergelak sambil berdongak sehingga perutnya yang besar bergerak-gerak turun naik.
"Sin-seng Losu benar-benar mengagumkan sekali. Orang boleh tua tapi hati harus tetap muda. Kalau Losuhu menghendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai bunga yang lebih muda, lebih cantik dan lebih harum"
"Heh-heh, terima kasih.. ini sudah cukup.. banyak .."
Biarpun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan segala macam maksiat, namun sebagai calon ketua perkumpulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar percakapan kasar ini.
Maka untuk mencegah agar suhunya yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ci-lan Sai-kong itu tidak mengeluarkan omongan-omongan yang tidak patut lagi, ia segera menjura.
"Banyak terima kasih atas sumbanganmu, kami persilakan duduk dan menikmati hidangan sekadarnya"
Sambil menyuruh adik-adik seperguruannya membawa para gadis itu ke belakang, ia sendiri lalu mengantar tamu ini ke tempat duduknya.
Hauw Lam mengerutkan alisnya, mukanya yang tampan dan biasa bergembira itu berubah sama sekali, sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan Kwi Lan melihat hal ini dan merasa heran.
Mengapa pemuda, ini marah-marah?
"Kau kenapa?"
Ia bertanya lirih.
"Kenapa? Hemm, tidakkah kau lihat mereka tadi..?"
Hauw Lam menjawab dengan pertanyaan pula.
"Ci-lan Sai-kong itu, jai-hwa-cat terkutuk.."
"Apa itu jai-hwa-cat?"
Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan mengomel.
"Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa. Tidak mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang dara dengan kepandaian seperti kau ini yang patut menjagoi dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar bikin hati mendongkol. Sekan-akan kau mempermainkan aku dan pura-pura tidak tahu"
Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah kemarahannya.
"Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya, ya? Aku benar-benar tidak tahu, kau marah-marah. Hayo jelaskan, apa sih yang dinamakan jai-hwa-cat itu? Kakek itu menjemukan, buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta. Apakah jai-hwa-cat itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta suka memetik daun-daun dan menggali, akar-akar untuk obat. Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?"
"Kau benar bodoh, Mutiara Hitam. Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik kedoknya, ia penjahat yang sejahat-jahatnya. Yang dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita muda. Dia bukan memetik bunga biasa, melainkan tukang culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kau lihat dua belas gadis itu.."
"Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu apa dipikirkan boneka-boneka hidup itu?"
"Mereka dipaksa"
"Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan dengan sukarela sama sekali tidak melawan."
"Mereka orang-orang lemah, bagaimana berani melawan?"
Kwi Lan mengangkat kedua pundak.
Ia tetap tidak mengerti dan tidak mempedulikan nasib dua belas orang wanita tadi.
Hauw Lam makin mendongkol.
Gadis aneh yang telah merampas hatinya ini agaknya selain berwatak luar biasa, juga, hatinya keras dan tidak mempedulikan nasib orang lain.
Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih tinggi kurus dan wajahnya tampan, sikapnya agung dan pakaiannya biarpun tidak baru, namun bersih dengan potongan pakaian pelajar.
Di pinggang orang ini tergantung sebatang pedang.
Begitu masuk, semua orang tahu bahwa pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam mengeluarkan sinar.
Ia langsung melangkah lebar ke dalam ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng Losu lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak.
"Sin-seng Losu"
Bagaimana pertanggunganjawabmu terhadap Thian-liong-pang?
Kulihat betapa Thian-liong-pang berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang mengotorkan nama kami para patriot Hou-han.
Tadinya melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa dan dapat membawa Thian-liong-pang ke jalan benar, aku masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu.
Akan tetapi setelah Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang keji, menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat perkumpulan para patriot Hou-han menjadi perkumpulan bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat"
Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut sebelas orang adik seperguruannya.
"Heh, orang she Ciam. Engkau dahulu memang tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi dengan kehendakmu sendiri kau pergi mengundurkan diri sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang sudah bubar dan hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di dunia kangouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan kita yang lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi."
Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang.
"Akan tetapi katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marah-marah? Bukankah anak buahku sudah pula memberi kabar kepadamu dan memberi undangan?"
"Aku tidak peduli akan upacara pengangkatan ketua baru, asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan benar. Akan tetapi, aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong Si Penjahat Pemetik Bunga yang terkutuk, yang telah menculik belasan orang gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk diantarkan ke sini. Hayo menyangkallah kalau bisa. Bukankah Sai-kong keparat itu mengantarkan mereka ke sini sebagai sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liong-pang sekarang? Begini rendah dan bejat?"
"He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang dipersembahkan orang, kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik untuk ditolak. Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud baik orang lain. Memang kami telah menerima sumbangan Ci-lan Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka, biarlah kuberikan mereka kepadamu,"
Kembali Ketua Thian-liong-pang itu berkata penuh kesabaran.
Ia sebetulnya tidak takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah karena mengingat akan perhubungan mereka yang lalu.
Ciam Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thian-liong-pang dan terkenal aktif serta setia terhadap perkumpulan.
Baru sepuluh tahun yang lalu, karena makin tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru ia mengundurkan diri dan tidak pernah mencampuri Thian-liong-pang.
Baru sekarang ia tiba-tiba muncul dan marah-marah karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejar-kejarnya itu memberikan gadis-gadis culikannya sebagai sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang.
"Sin-seng Losu. Kau masih mempunyai rasa malu, itu bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu dan selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liong-pang lagi karena semenjak saat ini, aku bersumpah takkan sudi lagi menginjak lantai ini"
Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah dua belas orang muridnya.
Sikapnya jelas hendak mengalah dan gerakan mukanya merupakan perintah agar murid-muridnya membebaskan dua belas orang gadis sumbangan Ci-lan Sai-kong.
Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya merasa mendongkol dan marah sekali.
Mereka memang suka dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi mereka amat mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan mengandalkan uang, kedudukan, maupun kepandaian dan tentu saja mereka tidak begitu kukuh,untuk menahan dua belas orang gadis tadi.
Akan tetapi, sikap Ciam Goan amat merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka merasa malu kepada para tamu.
Selain itu, mereka pun tahu bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat bahwa Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang.
Soal kepandaian, sungguhpun Ciam Goan cukup lihai, namun mereka tidak gentar menghadapinya.
Karena inilah, Ma Kiu menjadi ragu-ragu untuk menyetujui sikap gurunya yang mengalah.
Pada saat itu, terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Sai-kong sudah melompat bangun menghadapi Ciam Goan.
Sambil bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata.
"Huah-ha-ha-ha, Cacing kurus yang bicara besar dan sombong. Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua belas tangkai bunga itu adalah pinceng yang menyumbangkan kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan karena pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung jawab pinceng"
"Bagus. Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat"
Bentak Ciam Goan dengan marah.
Bekas tokoh Hou-han ini tidak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya sudah meluap-luap.
Yang membuat marah sekali bukan hanya melihat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu, melainkan terutama sekali karena melihat betapa Thian-liong-pang yang tadinya menjadi harapan para patriot Hou-han untuk membangun kembali kerajaan yang sudah runtuh, kini ternyata menyeleweng menjadi sarang penjahat kejam terkutuk.
Maka kini dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan tusukan kilat ke arah dada, Harus diketahui bahwa Ciam Goan ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun seorang panglima Kerajaan Hou-han dan dalam hal ilmu pedang, Ia telah digembleng oleh seorang pamannya, adik ibunya, juga seorang panglima, yaitu Panglima Giam Siong yang terkenal jagoan.
Ilmu pedangnya bersumber kepada ilmu pedang Kun-lun-pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan.
Mendengar suara angin pedang berdesing dan melihat serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak berani memandang rendah.
Sambil berseru keras ia sudah meloncat mundur sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah menghunus keluar sebatang golok tipis yang mengkilap saking tajamnya.
Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi dengan tusukan kearah leher.
Kini Ci-lan Sai-kong menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
Sai-kong ini adalah seorang ahli gwa-kang (tenaga luar) sehingga tenaganya amat besar.
Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata beradu.
Diam-diam Ciam Goan terkejut sekali.
Untung tadi sudah menduga akan besarnya tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iwee-kang dan ketika pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga keras dengan tenaga lemas.
Dengan cara ini, walaupun tertangkis keras, pedangnya tidak terpental melainkan menempel pada golok sehingga tidak ada bahaya terlepas atau rusak.
Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul jatuh, Ciam Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung dengan gerakan nyerong pedangnya itu menyambar ke arah lengan kanan lawan.
Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang bernama Hunin-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung), amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh lain melainkan lengan kanan yang memegang golok"
Hebatnya jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang gerakannya membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang.
Kecepatannya mengandalkan kepada gerak pergelangan tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang tentu akan menjadi bingung.
Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong.
Melihat pedang lawannya membabat ke arah lengan kanannya, ia kaget sekali dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok, siap membalas.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedang yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan kecepatan kilat dan telah membabat lagi ke arah pinggangnya"
Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi serangan sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerakkan golok menangkis.
Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus menyambung serangannya, begitu tertangkis, pedangnya membalik dan meluncur dengan babatan dari samping, demikian pula kalau dielakkan sehingga Sai-kong itu mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot menyelamatkan diri.
Akan tetapi, Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah.
Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah kenyang akan pengalaman bertanding.
Inilah sebabnya maka menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang amat lihai ini ia pun tidak kekurangan akal.
Melihat betapa pedang lawan selalu membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya, sedangkan yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras dan tubuhnya lalu rebah dan menggelinding ke atas tanah.
Ia tidak hanya menggelinding untuk menyelamatkan diri, melainkan juga berguling untuk mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk ke arah perut.
Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan) yang amat berbahaya.
Segera keadaan menjadi berubah.
Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini Si Penjahat Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to.
Ciam Goan menjadi repot sekali, harus meloncat ke sana ke mari dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang amat sulit dilindungi dengan pedang.
"Wah, ramai betul"
Hauw Lam berkata dengan wajah gembira.
"Kalau tidak hati-hati orang she Ciam itu tentu akan celaka."
"Tidak mungkin"
Bantah Kwi Lan.
"Biarpun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak, sedikitnya ia lebih baik daripada brewok itu."
Hauw Lam melirik ke arah gadis ini.