Eps 20 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.
Tak lama kemudian berangkatlah perahu itu, kini dikemudikan oleh kakak beradik Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu, dua orang pemuda dari Pulau Es yang tadinya meninggalkan Pulau Es dalam usia sekitar enam belas tahun, dan seperti sepasang rajawali perkasa mereka mengarungi daratan besar mengalami banyak sekali hal-hal yang hebat dalam Kisah Sepasang Rajawali dan Jodoh Rajawali!
Dan kini mereka berlayar kembali ke Pulau Es bersama calon isteri masing-masing.
Sepasang Rajawali itu telah menemukan jodoh masing-masing!
Ceng Ceng memandang dari pantai laut sampai akhirnya perahu itu makin menghilang.
Beberapa bulan kemudian, lima buah perahu besar menjemput para tamu yang berkumpul di dusun tepi laut itu untuk menghadiri pesta pernikahan dua pasang pengantin di Pulau Es!
Tentu saja berbondong orang-orang kang-ouw berdatangan ke tempat itu.
Seperti sebuah dongeng saja.
Mengunjungi Pulau Es yang tadinya hanya mereka kenal dalam do-ngeng saja!
Di antara mereka yang ikut hadir dan ikut dalam perahu-perahu besar itu tentu saja terdapat keluarga dari Pulau Es sendiri, dan orang-orang terdekat seperti Milana, Gak Bun Beng dan dua orang anak kembar mereka, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, kemudian Ceng Ceng dan Kao Kok Cu bersama anak mereka Kao Cin Liong.
Nampak pula Pangeran Yung Hwa yang mewakili pemerintah atau keluarga istana, dan juga hadir Hek-sin Touw-ong, Sai-cu Kai-ong, Sin-siauw Seng-jin, dan masih banyak tokoh besar lain, termasuk wakil-wakil partai persilatan besar yang tentu saja ingin sekali melihat Pulau Es!
Pesta pernikahan itu cukup meriah, apalagi karena disaksikan oleh banyak tokoh besar di dunia kang-ouw.
Muka-muka lama saling jumpa di situ dan suasana menjadi gembira sekali.
Ketika dua pasang pengantin itu dipertemukan, suasana menjadi cerah dan penuh khidmat, diikuti oleh semua mata para tamu.
Sungguh mengagumkan sekali dua pasang pengantin itu.
Kedua mempelai pria tampan dan gagah, Siluman Kecil nampak garang dan aneh dengan rambutnya yang putih mengkilap dan panjang, sedangkan dua orang mempelai wanita amatlah cantiknya, sukar dikatakan yang mana lebih cantik karena masing-masing memiliki kelebihan dan kecantikan yang khas.
Ketika dua pasang mempelai melakukan upacara pai-ciu, yaitu menyuguhkan arak kepada sang mertua dan orang tua, maka dua pasang mempelai itu berlutut di depan Pendekar Super Sakti Suma Han yang duduk diapit oleh kedua isterinya, yaitu Nirahai di sebelah kanan dan Lulu di sebelah kirinya.
Dua orang wanita tua itu tak dapat menahan keharuan hati mereka dan mereka menerima suguhan arak dalam cawan sambil bercucuran air mata.
Suasana menjadi khidmat dan penuh keharuan, bahkan para tamu wanita banyak pula yang berlinangan air mata, termasuk Ceng Ceng, Milana dan yang lain-lain.
Malamnya indah bukan main.
Kebetulan bulan bersinar terang, bulan purnama yang memuntahkan cahaya keemasan di atas pulau itu.
Indah sekali!
Para tamu menikmati dan mengagumi keindahan Istana Pulau Es, lalu beramai-ramai mengelilingi pulau itu diantar oleh Milana dan Gak Bun Beng sebagai penunjuk jalan mewakili fihak tuan rumah.
Sedangkan dua pasang pengantin sudah memasuki kamar masing-masing, tenggelam ke dalam lautan kemesraan yang hanya dapat dirasakan oleh sepasang pengantin pada malam pertama!
Akan tetapi, diam-diam Ceng Ceng yang ikut pula menikmati keadaan di Pulau Es itu merasa kehilangan dan kadang-kadang dia menarik napas panjang kalau teringat kepada kakak angkatnya, yaitu sang puteri dari Bhutan, Syanti Dewi dan Ang Tek Hoat.
Apa jadinya dengan dua orang muda itu?
Suaminya telah berusaha keras mencari mereka untuk menyampaikan undangan, namun usaha suaminya gagal!
Diam-diam Ceng Ceng merasa kasihan sekali kepada Syanti Dewi!
Apakah yang terjadi dengan puteri itu?
Apakah puteri itu akan dapat bertemu kembali dengan Ang Tek Hoat dan dapat berlangsung perjodohan mereka?
Kiranya pertanyaan itu pun terkandung dalam hati para pembaca semua.
Juga pertanyaan yang sama tentang Siauw Hong atau Kam Hang, keturunan Pendekar Suling Emas itu, dengan Yu Hwi atau yang dikenal sebagai Kang Swi Hwa atau Ang-siocia, si gadis pencopet dan tukang menyamar itu.
Apa yang terjadi dengan mereka?
Cerita ini sudah terlampau panjang, oleh karena itu terpaksa pengarang menutupnya, apalagi karena Sepasang Rajawali Sakti, yaitu yang diumpamakan bagi diri Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu, kini telah menemukan jodohnya, bahkan telah menjadi pengantin.
Maka selesailah sudah kisah ini.
Adapun mengenai nasib Syanti Dewi dan Ang Tek Hoat, juga Kam Hong dan Yu Hwi, dapat anda baca dalam cerita selanjutnya yang sedang disusun oleh pengarang, yaitu yang berjudul SULING EMAS & NAGA SILUMAN.
Seperti biasa, harapan pengarang semoga cerita ini selain dapat merupakan hiburan bagi pembaca, juga mengandung manfaat yang menggugah kesadaran.
Sampai jumpa pula di lain karangan!
Terima kasih!
TAMAT
Baca Juga: Bu Kek Siansu 5
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 10