Eps 10 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.
Akhirnya terlewat jugalah jarak waktu sepekan yang dibutuhkan oleh Bu-tek Siauw-jin untuk latihan bersama muridnya!
Akan tetapi, tepat pada hari terakhir itu terjadi pula pertandingan antara Thian-liong-pang dan rombongan Hoa-san-pai yang terdiri dari orang-orang pandai sebanyak sepuluh orang!
Seperti juga ketika menyambut rombongan Siauw-lim-pai, Milana mewakili ibunya memberi alasan-alasan kuat, dan perbantahan itu berakhir dengan adu kepandaian pula, karena pihak Hoa-san-pai itu adalah murid-murid Thian Cu Cin-jin Ketua Hoa-san-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Pertandingan hebat terjadi sampai lewat tengah hari dan berakhir dengan kemenangan pihak Thian-liong-pang, akan tetapi biarpun orang-orang Hoa-san-pai itu dapat diusir pergi dalam keadaan luka-luka, Pihak Thian-liong-pang sendiri kehilangan seorang anggautanya yang terluka terlalu parah sehingga nyawanya tidak tertolong lagi dan tewas tak lama setelah rombongan Hoa-san-pai pergi!
Melihat betapa pihak musuh tiada hentinya datang menantang mereka, Milana merasa penasaran dan juga berduka sekali, apalagi setelah melihat di pihaknya jatuh korban seorang tewas dan lima orang masih luka-luka.
"Lebih baik kita meninggalkan tempat ini membuat laporan kepada Pangcu,"
Katanya kepada Bok Sam.
"Sebaiknya demikian, Nona. Akan tetapi karena kebetulan kita berada di tanah kuburan, sebaiknya kita mengubur jenazah anak buah kita yang tewas itu di tempat ini."
Milana mengerutkan alisnya, akan tetapi menganggap bahwa memang sebaiknya demikian sehingga mereka tidak perlu membawa-bawa jenazah.
"Terserah kepadamu, Kiang-lopek, akan tetapi di tempat jauh dari kota ini, bagaimana kau bisa mendapatkan sebuah peti mati?"
Si Lengan Buntung itu menengok ke kanan-kiri yang penuh dengan batu nisan dan gundukan tanah kuburan.
"Hemm, banyak tersedia peti mati di sini, mengapa mesti susah-susah mencari tempat jauh? Biar aku mencarikan sebuah peti mati yang masih baik untuk jenazah kawan klta."
Si Lengan Buntung ini lalu mengajak beberapa orang anak buahnya mencari kuburan yang masih belum begitu lama sehingga peti mati di dalamnya tentu belum rusak pula.
Tentu saja perhatian mereka segera tertarik oleh gundukan tanah yang masih baru, yaitu kuburan Bu-tek Siauw-jin dan Kwi Hong!
Tanah yang digundukkan di situ baru sepekan lamanya.
"Bagus, ini kuburan baru sekali! Tentu peti matinya pun masih baik. Hayo kita gali dan keluarkan peti matinya!"
Bok Sam berkata dengan wajah berseri, berbeda dengan biasanya yang selalu kelihatan muram.
Memang dia merasa gembira mendapatkan kuburan yang baru itu, hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya karena tanah kuburan itu penuh dengan kuburan-kuburan yang sudah tua sekali.
Setelah berkata demikian, Si Lengan Buntung ini mempelopori anak buahnya, menggunakan tangannya menggempur gundukan tanah dan sekali tangan tunggalnya mendorong, gundukan tanah yang baru itu terbongkar dan tampaklah sebuah peti meti di bawahnya, berjajar dengan sebuah peti mati lain yang masih tertutup tanah.
Peti mati yang tampak itu adalah peti mati Kwi Hong!
"Heii, keparat!
Tahan....!"
Orang-orang Thian-liong-pang terkejut dan mereka semua melihat dengan mata terbelalak ketika belasan orang Pulau Neraka muncul dari kanan-kiri.
Benar-benar mengejutkan melihat orang-orang yang mukanya beraneka warna itu bermunculan di tanah kuburan itu, tidak ubahnya seperti setan-setan kuburan.
Si Lengan Satu yang kehilangan lengan kirinya dalam pertandingan melawan orang-orang Pulau Neraka, segera mengenal musuh-musuh lama ini, maka dia terkejut dan marah sekali.
"Gerombolan Iblis Pulau Neraka! Apakah kalian kembali hendak mengganggu urusan Thian-liong-pang?"
Bentaknya marah sekali.
Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka yang berkepala gundul bermuka merah muda dan bertubuh gendut pendek, menyeringai ketika menjawab.
"Orang-orang Thian-liong-pang yang sombong! Sudah sepekan kami berada di sini menyaksikan sepak terjang kalian dan kami diam-diam saja. Siapa sudi mencampuri urusan orang lain yang tidak harum? Akan tetapi kalian berani mengganggu kuburan yang kami jaga, tentu saja kami turun tangan. Kuburan yang satu ini berada di bawah pengawasan kami dan tidak ada seorang pun manusia atau iblis boleh mengganggunya. Kalau kalian membutuhkan peti mati, boleh mencari ku-buran lain!"
"Kau sudah bosan hidup!"
Bok Sam membentak dan langsung menerjang ke depan, disambut oleh Kong To Tek sehingga terjadilah perkelahian yang seru antara kedua tokoh ini.
Ternyata ilmu kepandaian mereka seimbang sehingga pertandingan itu hebat bukan main.
Anak buah Thian-liong-pang yang lain sudah pula bertanding melawan anak buah Pulau Neraka.
Perkelahian itu segera terdengar oleh Milana dan anak buahnya, maka dara ini cepat membawa anak buahnya menyerbu dan kembali tempat itu menjadi medan perang kecil-kecilan yang dahsyat sekali.
Milana mempunyai rasa tidak suka kepada Pulau Neraka, maka kini melihat betapa orang-orang dengan muka beraneka warna itu bertempur melawan orang-orangnya, dia segera terjun ke medan pertandingan dan sepak terjang dara ini membuat orang-orang Pulau Neraka terdesak hebat.
Bok Sam yang bertanding melawan Kong To Tek merupakan tandingan seimbang dan seru, akan tetapi Si Gundul Kong To Tek itu mulai terdesak karena lawannya menggunakan pukulan-pukulan Ilmu Telapak Tangan Golok yang dahsyat bukan main.
Kong To Tek terkenal dengan ilmunya memukul sambil berjongkok dan dari mulutnya keluar asap beracun.
Namun karena dia pernah mengacau ke Thian-liong-pang dan kepandaiannya ini sudah diketahui oleh Bok Sam, Si Lengan Buntung dapat menjaga diri dan selalu meloncat tinggi melampaui kepala lawan yang berjongkok itu, Kemudian membalik dan melancarkan pukulan-pukulan maut dengan lengan tunggalnya yang ampuh bukan main.
Adapun orang ke dua yang lihai dalam rombongan Pulau Neraka itu adalah Chi Song, tokoh Pulau Neraka yang tinggi besar dan berperut gendut.
Chi Song ini memiliki dua macam ilmu simpanan yang hebat dan pernah pula dia bersama Kong To Tek mengacau Thian-liong-pang dan akhirnya dikalahkan oleh Gak Bun Beng yang pada waktu itu me-nyamar sebagai Ketua Thian-liong-pang.
Dua ilmu simpanannya itu memang dahsyat, yaitu Ilmu Pukulan Beracun yang berbahaya sekali.
Kalau dia mendorong dengan telapak tangan terbuka, dari te-lapak tangannya menyambar uap beracun yang dapat merobohkan lawan sebelum pukulannya sendiri mengenai sasaran.
Adapun keistimewaannya yang ke dua adalah ilmu tendangan yang dahsyat, yang dilakukan sambil meloncat sehingga dinamakan Tendangan Terbang.
Banyak lawan yang dapat menghindarkan diri dari pukulannya yang beracun roboh oleh tendangan dahsyat yang amat cepat dan tidak terduga-duga datangnya ini.
Biarpun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit dibandingkan dengan Kong To Tek, namun Chi Song bukanlah seorang tokoh rendahan saja di Pulau Neraka.
Sial baginya, sekali ini dia bertemu dengan Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang!
Betapapun lihainya, dan biarpun dia telah dibantu oleh tiga orang untuk mengeroyok Milana, tetap saja dia dan kawan-kawannya dihajar babak belur oleh tali sutera hitam yang dimainkan sebagai cambuk tangan Milana!
Kalau dara remaja ini menghendaki, tentu dengan mudah dia dapat menyebar maut di antara rombongan orang-orang Pulau Neraka itu.
Akan tetapi biarpun dia puteri Ketua Thian-liong-pang yang terkenal berwatak keras dan ganas, pada hakekatnya Milana memiliki watak halus dan tidak tega membunuh orang kalau tidak secara terpaksa sekali.
Dia tidak suka kepada orang-orang Pulau Neraka, akan tetapi karena yang mengeroyoknya hanya orang-orang yang tingkatnya jauh lebih rendah daripadanya, dia tidak mau menurunkan tangan maut, dan hanya menghajar mereka dengan lecutan-lecutan tali suteranya sehingga mereka itu terdesak mundur, bahkan beberapa kali Chi Song roboh bergulingan, pakaiannya robek-robek dan kulitnya lecet-lecet.
Sepak terjang Milanna ini hebat sekali, membuat para anak buah Pulau Neraka menjadi kacau balau.
Apalagi ketika Bok Sam berhasil melukai pundak Kong To Tek dengan Telapak Tangan Goloknya sehingga tokoh gundul Pulau Neraka itu terpaksa mundur untuk mengobati lukanya dan Si Lengan Buntung itu kini mengamuk secara lebih hebat daripada Milana karena Si Lengan Buntung ini tidak menaruh segan-segan untuk membunuh atau menimbulkan luka parah di antara pengeroyoknya, pihak Pulau Neraka benar-benar terdesak hebat dan hanya main mundur.
Tiba-tiba terdengar pekik dari atas, disusul kelepak sayap dan seekor burung rajawali hitam menyambar turun, langsung mencengkeram ke arah Si Lengan Buntung Kiang Bok Sam yang sedang mengamuk dan menyebar maut di antara orang-orang Pulau Neraka!
"Haiiiitttt!"
Bok Sam berseru kaget, cepat dia melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas tanah.
Burung rajawali mengejar dan menyambar.
Tiba-tiba Bok Sam meloncat bangun, tangan kanannya bergerak memukul ke arah sebuah di antara sepasang cakar yang menyambarnya.
"Desssss!"
Burung rajawali itu memekik keras, akan tetapi tubuh Bok Sam juga terlempar bergulingan sampai jauh.
Kiranya ketika kaki burung itu bertemu dengan pukulan Telapak Tangan Golok, ada sebuah tangan lain yang mendorong ke bawah dengan kekuatan yang amat dahsyat, yang selain menyelamatkan kaki burung itu, juga membuat tubuh Si Lengan Buntung bergulingan.
Burung itu hinggap di atas tanah dan dari punggungnya meloncat seorang pemuda yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan sekali.
Kemudian burung itu terbang ke atas, hinggap di atas cabang pohon.
Su Kak Liong, tokoh Thian-liong-pang yang melihat betapa hampir saja Bok Sam celaka oleh pemuda dengan burung rajawalinya ini, menerjang maju dengan sebatang golok besar.
Pemuda itu sedang berdiri sambil bertolak pinggang memandang ke sekeliling, sama sekali tidak memperhatikan atau memperdulikan terjangan Su Kak Liong dengan golok, juga dia tidak meraba gagang pedangnya yang tersembunyi di balik jubahnya yang panjang.
Sikapnya tenang sekali, alisnya yang tebal agak berkerut, matanya bergerak ke kanan-kiri, mulutnya tersenyum simpul seperti orang mengejek, namun sikapnya angkuh seolah-olah dia memandang rendah kepada semua orang yang berada di sekelilingnya.
Golok di tangan Su Kak Liong menyambar dekat, hampir menyentuh lehernya.
Tiba-tiba tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya, pemuda itu membalikkan tubuh atas, tangan kirinya bergerak menangkap golok yang sedang menyambar, dijepit di antara jari tangannya sehingga golok itu tiba-tiba terhenti gerakannya.
Su Kak Liong memandang dengan mata terbelalak hampir tidak percaya bahwa ada orang mampu menyambut hantaman goloknya dengan jari tangan menjepitnya sedemikian rupa sehingga dia tidak mampu lagi menggerakkan goloknya.
Matanya masih tetap terbelalak akan tetapi mulutnya mengeluarkan pekik menyeramkan dan segera disusul menyemburnya darah segar ketika tangan kanan pemuda itu menepuk ulu hatinya dan seketika robohlah Su Kak Liong dalam keadaan tak bernyawa lagi!
"Keparat....!
Kau berani membunuhnya?
Rasakan pembalasanku!"
Bok Sam yang melihat peristiwa ini, menjadi marah bukan main.
Biarpun dia maklum bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali, namun dia tidak menjadi gentar.
Kemarahannya membuat ia lupa diri dan dengan nekat dia menerjang maju, tangan tunggalnya diangkat ke atas kepala dengan telapak tangan terbuka, dia sudah mengerahkan tenaga Telapak Tangan Golok dan siap membacokkan tangannya ke arah kepala pemuda itu.
Si Pemuda tetap berdiri dan kini bahkan melongo memandang ke arah Milana yang mengamuk dengan sabuk suteranya, sama sekali tidak mempedulikan makian dan serangan Si Lengan Buntung yang kini menggunakan Ilmu Telapak Tangan Golok sekuatnya itu!
"Plakkk!"
Ketika tangan kanan Bok Sam itu sudah dekat kepalanya, Si Pemuda tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke atas, melindungi kepala dan menyambut pukulan itu sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu dan melekat!
Bok Sam mengerahkan seluruh tenaganya, tenaga sin-kang yang istimewa untuk ilmunya Telapak Tangan Golok, namun betapapun dia menekan, tetap saja tangan pemuda itu tidak dapat didorongnya, bahkan dia tidak dapat lagi melepaskan tangannya dari telapak tangan Si Pemuda.
Kemarahannya memuncak.
Pemuda inilah yang telah membuntungi lengan kirinya maka tadi dia marah sekali dan telah mengerahkan seluruh tenaga untuk membalas dendam dan membunuhnya.
Siapa kira, kini pukulannya yang istimewa disambut oleh pemuda itu seenaknya saja dan dia tidak mampu menarik kembali tangannya.
Dengan kemarahan meluap, Bok Sam lalu menggunakan kepalanya.
Untuk menggunakan tangan kiri, dia sudah tidak mempunyai lengan kini, menggunakan kedua kaki, jarak mereka terlalu dekat karena tangan mereka sudah saling melekat, maka satu-satunya yang dapat dia pergunakan untuk menyerang musuh yang paling dibencinya ini adalah menggunakan kepalanya!
Dengan menunduk, dia lalu membenturkan kepalanya dengan sekuat tenaga ke arah dada pemuda itu!
Pemuda itu bukan lain adalah Wan Keng In, putera dari Ketua Pulau Neraka, murid yang amat lihai dari Cui-beng Koai-ong, datuk pertama dari Pulau Neraka!
Melihat serangan kepala ini, Wan Keng In tetap tenang bahkan dia meloncat sedikit ke atas sehingga kepala lawan tidak mengenai dada, melainkan mengenai perutnya.
"Capppp!"
Perut itu mengempis dan kepala itu menancap di perut sampai setengahnya, tak dapat dicabut kembali.
Bok Sam merasa betapa kepalanya nyeri bukan main, seolah-olah telah memasuki tempat perapian.
Makin lama makin panas.
Dia meronta-ronta akan tetapi karena tangan kanannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu, kepalanya sudah terjepit di rongga perut, yang bergerak hanya pinggul dan kedua kakinya yang menendang-nendang tanah!
"Manusia tak tahu diri, mampuslah!"
Pemuda itu menggumam sambil mengerahkan tenaga mujijat di rongga perutnya.
Terdengar bunyi keras ketika kepala Bok Sam retak-retak oleh tekanan perut yang amat kuat itu dan ketika Wan Keng In melontarkan tubuh Si Lengan Buntung dengan jalan mengembungkan perutnya, tubuh itu telah menjadi mayat dengan kepalanya retak-retak dan berwarna kehitaman!
Semua ini dilakukan oleh Wan Keng In tanpa mengalihkan pandang matanya dari Milana yang masih menghajar orang-orang Pulau Neraka dengan tali suteranya yang meledak-ledak di udara seperti cambuk.
Pandang matanya menjadi berseri, mulutnya tersenyum ketika ia melangkah dengan tenang, menghampiri tempat pertempuran itu, seolah-olah dia terpesona oleh gerak-gerik tubuh yang tinggi semampai dan lemah gemulai itu, oleh wajah yang amat cantik manis, bahkan amukan Milana pada saat itu menambah kejelitaan dalam pandang mata Wan Keng In ketika ia melangkah terus makin dekat.
"Aduhai, Nona yang cantik jelita seperti dewi kahyangan! Siapakah gerangan engkau?"
Para anak buah Pulau Neraka yang terdesak hebat oleh rombongan Thian-liong-pang kini menjadi girang bukan main ketika melihat munculnya Wan Keng In.
Terdengar seruan di antara mereka.
"Siauw-tocu (Majikan Muda Pulau) telah datang!"
Ketika mendengar seruan ini, Milana menengok dan kalau tadinya dia terheran mendengar kata-kata yang dianggapnya menyenang-kan akan tetapi juga kurang ajar itu kini dia kaget bukan main.
Kiranya pemuda ini adalah Majikan Muda Pulau Neraka!
Teringat ia akan cerita Bun Beng kepadanya dan marahlah hatinya.
Pemuda ini yang telah merampas pedang Lam-mo-kiam dari tangan Bun Beng.
Ketika ia memandang, baru sekarang tampak olehnya bahwa Su Kak Liong dan Bok Sam telah menggeletak menjadi mayat!
Tahulah dia bahwa dua orang pembantunya yang paling lihai itu telah tewas, dan melihat munculnya pemuda Pulau Neraka ini, mudah diduga bahwa tentu mereka tewas di tangan pemuda ini.
Agaknya Wan Keng In dapat mendu-ga isi hati Milana ketika melihat dara jelita itu memandang ke arah mayat ke dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan wajah berubah, maka dia tertawa lalu berkata.
"Ha-ha-ha, jangan kaget, Nona manis. Kedua orang itu telah berani menyerangku, terpaksa aku bunuh mereka. Orang-orang macam itu sungguh tidak patut menjadi pembantu-pembantumu. Nona, siapakah engkau? Heran sekali di dunia ini bisa terdapat seorang dara secantik jelita engkau, dan selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu. Nona, baru sekali ini hatiku tergetar hebat dengan seorang wanita. Aku yakin, engkaulah satu-satunya wanita yang diciptakan di dunia ini, khusus untuk menjadi pasanganku!"
Bukan main marahnya hati Milana.
Tak dapat disangkal lagi, pemuda itu amat tampan menarik, masih muda, sebaya dengannya, pakaiannya indah, kulit mukanya putih bersih, matanya bersinar-sinar, pendeknya dia seorang pemuda yang tampan gagah sukar dicari keduanya.
Akan tetapi sinar matanya yang agak aneh itu mengandung sesuatu yang mengerikan, sedangkan kata-kata dan sikapnya membuat Milana merasa muak dan membangkitkan perasaan tidak senang yang mendekatkan kebencian.
"Jadi engkau adalah bocah Pulau Neraka yang amat jahat itu? Engkau yang merampas pedang Lam-mo-kiam milik Gak Bun Beng?"
Wan Keng In mengerutkan alisnya yang tebal hitam.
"Eh, engkau mengenal Gak Bun Beng? Dia sudah mati, bukan? Engkau siapa, Nona?"
"Siauw-to-cu, dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang. Dia lihai sekali,"
Seorang anggauta Pulau Neraka tiba-tiba berkata sambil mencoba untuk bangkit. Tulang kakinya pecah terkena cambukan tali sutera Milana tadi.
"Aihhhh, kiranya puteri Ketua Thian-liong-pang? Pantas saja cantik jelita dan lihai. Sungguh tepat kalau begitu. Engkau puteri Ketua Perkumpulan Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, aku pun putera Majikan Pulau Neraka yang tidak kalah terkenalnya. Sungguh merupakan jodoh yang setimpal sekali!"
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Milana memaki dan tangannya bergerak.
"Tar-tar!"
Ujung tali sutera hitam melecut di udara dan menyambar ke arah kedua pelipis kepala Wan Keng In dengan kecepatan kilat.
Sekali ini, Milana bukan sekedar menggerakkan senjata untuk menghajar, melainkan dia memberi serangan totokan yang merupakan serangan maut.
Biasanya Wan Keng In memandang rendah kepada semua orang.
Akan tetapi begitu bertemu dengan Milana, entah bagaimana, hatinya tertarik seperti besi tertarik oleh besi sembrani.
Belum pernah selama hidupnya dia tertarik oleh wanita seperti itu.
Dia bukan seorang mata keranjang sungguhpun dia biasa disanjung wanita dan biasanya dia memandang rendah wanita-wanita cantik yang dianggapnya belum cukup untuk duduk berdampingan dengannya!
Sekali ini, begitu melihat Milana, dia tergila-gila.
Ketika dia menyaksikan gerakan ujung tali sutera, dia menjadi makin gembira dan kagum.
Gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan!
"Engkau hebat, Nona!"
Dia memuji akan tetapi cepat ia miringkan kepala untuk menghindar-kan totokan maut itu, kemudian tangannya cepat menyambar untuk menangkap ujung tali sutera hitam.
"Cuiittt.... taaar!"
Lihai sekali Milana bermain tali sutera yang digerakkan seperti pecut itu.
Begitu totokannya pada pelipis yang bertubi-tubi menyerang pelipis kanan-kiri itu tidak mengenai sasaran, bahkan hampir dicengkeram oleh tangan Wan Keng In, dara itu telah membuat gerakan dengan pergelangan tangannya dan ujung tali sutera itu sudah melecut dan menotok ke arah jalan darah di pergelangan tangan yang hendak menangkapnya!
"Trikkkk!"
"Engkau memang hebat, Nona manis!"
Keng In kembali memuji sambil tersenyum lebar.
Akan tetapi Milana kini terkejut bukan main.
Pemuda itu tadi telah menggunakan jari telunjuknya untuk menyentik ujung tali suteranya yang menotok ke arah pergelangan tangan.
Gerakan itu demikian tepat mengenai ujung tali sutera sehingga ujung tali terpental.
Hanya orang yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi saja yang dapat melakukan hal ini!
Namun, tentu saja Milana tidak menjadi jerih.
Dia tidak pernah mengenal takut dan dia pun sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri.
Biarpun tak mungkin dia dapat mewarisi seluruh ilmu kepandaian ibunya yang amat banyak itu, namun kiranya hanya beberapa macam ilmu yang amat tinggi dan terlalu sukar saja yang belum diajarkan ibunya kepadanya dan kalau hanya melawan musuh yang sebaya dengannya saja, kiranya di dunia ini sukar ada yang akan dapat menandinginya.
"Jahanam busuk, bersiaplah untuk mampus!"
Bentaknya dan kini terdengarlah ledakan-ledakan nyaring ketika ujung tali sutera itu menari-nari di tengah udara, membentuk lingkaran-lingkaran yang besar kecil saling telan, kemudian lingkaran-lingkaran hitam itu berjatuhan ke bawah, susul-menyusul dalam serangkaian serangan maut ke arah tubuh Wan Keng In dengan kecepatan kilat yang menyilaukan mata karena lingkaran itu tidak lagi berupa sabuk atau tali sutera, melainkan tampak seperti sinar hitam saja.
"Bagus sekali....!"
Wan Keng In kembali memuji dan tiba-tiba tubuhnya bergerak lenyap, lalu tampak berkelebatan seperti bayangan setan menari-nari di antara sinar hitam yang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar!
Wan Keng In tidak mau menggunakan pedangnya yang ampuh.
Kalau dia menggunakan pedang Lam-mo-kiam, sekali sambar saja tentu akan putus tali sutera hitam itu.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini, karena selain dia tidak mau menghina Milana, juga dia ingin memamerkan kepandaiannya.
Memang hebat sekali pemuda ini.
Gerakannya yang cepat itu hanya membuktikan bahwa gin-kangnya (ilmu meringanken tubuh) sudah mencapai tingkat yang amat tinggi sehingga tubuhnya itu amat ringan dan amat cepat, dapat mengelak dari setiap sambaran sinar tali sutera!
Menyaksikan pertandingan yang amat hebat, luar biasa dan indah dipandang ini, otomatis perkelahian-perkelahian antara rombongan Pulau Neraka dan rombongan Thian-liong-pang terhenti.
Mereka menonton karena maklum bahwa pertandingan antara kedua orang muda putera dan puteri ketua masing-masing rombongan itu merupakan pertandingan yang menentukan.
Kalah menangnya pertandingan antara kedua orang muda yang lihai bukan main itu berarti kalah menangnya pula perang kecil antara kedua rombongan itu!
Gerakan tali sutera itu makin hebat dan bukan lagi lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh sinar hitam itu, melainkan bentuk-bentuk segi tiga, segi empat, bahkan ada kalanya sinar itu membentuk segi delapan.
Ujung sabuk itu menyerang dari delapan penjuru, setiap gerakan merupakan totokan maut dan didasari tenaga sin-kang yang sangat kuat.
Bukan hanya amat indahnya sinar hitam itu membentuk segi tiga yang ajaib itu, juga gerakannya mengeluarkan bunyi bercuitan, seolah-olah sinar hitam itu hidup!
Itulah permainan tali sutera atau sabuk yang gerakannya berdasarkan Ilmu Silat Pat-sian-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa) warisan dari kitab-kitab pusaka peninggalan Pendekar Wanita sakti Mutiara Hitam!
Nirahai telah menciptakan ilmu dengan tali sutera ini khusus untuk puterinya setelah dia meemperoleh kenyataan bahwa puterinya berbakat baik sekali dalam menggunakan sabuk atau tali sutera halus dan lemas sebagai senjata yang ampuh.
Diam-diam Wan Keng In terkejut dan makin kagum.
Dia maklum bahwa kalau dia menghadapi permainan tali sutera lawan yang amat lihai ini dengan tangan kosong saja, lama-lama dia terancam bahaya maut.
Ternyata tingkat kepandaian puteri Ketua Thian-liong-pang ini benar-benar mengejutkan hatinya.
Kalau dia berpedang, agaknya dia masih akan dapat keluar sebagai pemenang dengan membabat putus tali itu.
Akan tetapi, kalau dia menggunakan pedang dan terpaksa merusak tali sutera itu, Tentu dara yang menjatuhkan hatinya itu akan tersinggung dan marah.
Sebaliknya kalau hendak menaklukkan dara ini dengan tangan kosong, benar-benar merupakan hal yang amat sulit, betapa pun tinggi ilmu kepandaiannya.
Dia harus menggunakan akal dan hal ini merupakan kelebihan dalam kepala Wan Keng In dibandingkan dengan orang-orang muda lainnya.
Pemuda ini cerdik bukan main, pandai menggunakan siasat-siasat yang tak terduga-duga dalam keadaan darurat seperti saat itu.
Ketika ujung sabuk atau tali hitam itu untuk kesekian kalinya menotok ke arah jalan darah Kin-ceng-niat di pundak kiri, tempat yang tidak begitu berbahaya dan yang dapat ia tutup dengan hawa sin-kang, dia sengaja berlaku lambat dan ujung tali sutera itu dengan tepat menotok pundaknya yang sudah ia tutup jalan darahnya dan terlindung oleh sin-kang yang kuat.
"Prattt!"
Tepat pada saat ujung tali sutera itu menotok pundak, tangan kanan Wan Keng In menyambar dan ia berhasil menangkap ujung tali sutera hitam!
Milana terkejut bukan main.
Tadinya dia sudah merasa girang karena totokannya berhasil, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak menjadi lumpuh, bahkan telah berhasil menangkap ujung tali su-teranya!
Namun, Milana tidak menjadi panik.
Dia mengerahkan sin-kangnya, mainkan pergelangan tangannya dan dengan penyaluran tenaga sin-kang dia menggerakkan tali suteranya dan....
tubuh Wan Keng In terbawa oleh meluncurnya tali sutera itu ke udara!
Milana terus menggerakkan tali suteranya, memutar tali itu ke atas, makin lama makin cepat sehingga tubuh Wan Keng In yang masih berada di ujung tali karena pemuda itu tidak mau melepaskan ujung tali sutera, terbawa pula terputar-putar!
Para anak buah rombongan kedua pihak yang menjadi penonton dengan hati diliputi penuh ketegangan itu menonton dengan mata terbelalak.
Demikian tegang rasa hati mereka itu menahan napas ketika menyaksikan pertendingan mati-matian yang kelihatannya seperti main-main atau permainan akrobat yang dilakukan oleh dua orang muda-mudi yang elok dan tampan!
Wan Keng In sengaja membiarkan dirinya terbawa oleh tali yang diputar-putar itu.
Kalau dia mau, tentu saja dia dapat mengerahkan sin-kang dan mengadu kekuatan dengan dara itu memperebutkan tali sutera.
Akan tetapi hal ini tentu akan mengakibatkan tali itu putus, hal yang tidak dia kehendaki karena putusnya tali itu bukan berarti bahwa dia telah menang, akan tetapi yang jelas gadis itu tentu akan marah dan benci kepadanya.
Tidak, dia tidak menggunakan akal itu, melainkan hendak menggunakan akal lain.
Kalau dia dapat merayap melalui tali, makin lama makin dekat, tentu akhirnya dia akan berhadapan dengan dara jelita itu dan kalau sudah begitu, mudahlah baginya untuk membuat dara itu tidak berdaya tanpa melukainya.
Dengan hati-hati dan perlahan, mulailah Wan Keng In merayap melalui tali yang panjang itu, sedikit demi sedikit, bergantung dengan mengganti-ganti tangan sambil tubuhnya masih terputar-putar cepat sekali sehingga dalam pandangan orang lain, tubuhnya berubah menjadi banyak sekali!
Mungkin bagi penonton lain tidak ada yang tahu akan usaha Wan Keng In mendekati lawan dengan cara merayap perlahan-lahan melalui tali sutera yang panjang itu, akan tetapi Milana dapat melihat atau lebih tepat lagi dapat merasakan gerakan lawan yang berada di ujung tali sutera itu.
Dara ini tidak bodoh, dan maklum bahwa kalau sampai pemuda itu dapat mendekatinya, belum tentu dia akan dapat menandingi pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa itu.
Maka begitu melihat pemuda itu perlahan-lahan merayap dekat, diam-diam Milana menggerakkan tangan kirinya dan hanya memutar tali itu dengan tangan kanan.
Tangan kirinya menyusup ke dalam kantung jarumnya dan tampak tiga kali dia menggerakkan tangan kirinya ke depan.
Gerakan tangan yang tidak begitu tampak, karena sambitan jarum-jarumnya itu ia lakukan dengan pergelangan tangan dan jari-jari tangan.
Namun, tiga kali tampak sinar halus menyambar ke arah tubuh Wan Keng In yang terbawa tali berputaran, sinar ke-merahan halus dari jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi)!
"Celaka....!"
Wan Keng In berseru kaget ketika melihat menyambarnya sinar halus dan mencium bau harum.
Tahulah dia bahwa dia yang sedang diputar-putar seperti kitiran itu kini diserang dengan senjata-senjata rahasia yang amat halus dan mengandung racun yang bahunya harum pula!
Namun Wan Keng In selain telah mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi dari ibunya, juga telah menerima gemblengan dari Cui-beng Koai-ong yang sakti, Maka biarpun keadaannya itu amat berbahaya, namun dia masih bersikap tenang dan tiba-tiba tubuhnya yang berada di ujung tali sutera itu membuat gerakan berputar pula!
Hebat bukan main pemandangan di waktu itu.
Tubuh di ujung tali sutera itu berputaran, sedangkan tali itu sendiri berputar cepat.
Dengan gerakan berputaran ini, Wan Keng In dapat menyelamatkan diri dan mengelak dari sambaran jarum-jarum Siang-tok-ciam.
Namun dia juga telah menemukan akal baru yang luar biasa dan cerdik sekali.
Dengan pengukuran tenaga yang tepat, Wan Keng In dapat mengerahkan sin-kangnya dan memberatkan tubuhnya sehingga tiba-tiba tali sutera yang berputar itu tak dapat dikuasai lagi oleh kedua tangan Milana dan berputar melibat tubuh dara itu.
"Aihhhh....!"
Milana menjerit kaget, sadar setelah terlambat karena tali yang berputar cepat itu kini telah membuat beberapa putaran mengelilinginya dan karena tali menurun akibat beratnya tubuh Wan Keng In, maka tali itu membelit-belit tubuhnya, menelikung kedua lengannya sendiri!
Terdengar suara Wan Keng In tertawa-tawa sambil terus membuat gerakan mengayun sehingga tali itu biarpun tidak lagi dipegang oleh Milana, masih terus berputar melibat tubuh Milana yang berusaha meronta-ronta.
"Ha-ha-ha, Nona manis. Bukankah dengan begini berarti engkau telah tertawan olehku seperti tertawannya hatiku olehmu?"
Tiba-tiba terdengar bunyi keras.
"Krakkkkk!"
Dan dari dalam lubang ku-buran tampak bayangan berkelebat, didahului sinar kilat menyambar ke arah tali sutera.
"Bretttt!"
Tali sutera itu putus dan tubuh Wan Keng In yang masih terayun di ujung tali, tentu saja terpelanting.
Untung dia masih dapat berjungkir balik sehingga tidak terbanting ke atas tanah.
Milana mempergunakan kesempatan baik itu untuk melepaskan diri.
Ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah seorang wanita muda yang cantik, segera dia mengenal wanita itu sebagai gadis yang pernah mengacau Thian-liong-pang di rumah penginapan.
Dia menjadi terkejut dan khawatir sekali, maka menggunakan kesempatan selagi gadis itu berhadapan dengan Wan Keng In, dia memberi isyarat kepada anak buahnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Anak buahnya pergi sambil membawa jenazah-jenazah para kawan yang menjadi korban.
Rombongan Pulau Neraka tidak mencegah mereka melarikan diri karena merasa jerih terhadap Milana, apalagi kini tuan muda mereka sedang menghadapi lawan baru berupa dara perkasa yang galak, murid dari datuk mereka yang selama sepekan ini berlatih di dalam tanah kuburan bersama datuk mereka, Bu-tek Siauw-jin!
Mereka menjadi bingung dan tidak berani turut campur, memandang dengan hati penuh ketegangan.
"Keparat, siapa engkau....? Ehhh, kiranya kau, bocah setan dari Pulau Es? Ha-ha-ha, kukira siapa! Dan Li-mo-kiam masih berada di tanganmu? Bagus....! Kau harus berikan Li-mo-kiam kepadaku, agar dapat kuhadiahkan kepada calon isteri.... haiiii! Ke mana dia....!"
Wan Keng In menoleh dan ketika dia melihat Milana sudah tidak berada di situ lagi, dia menjadi bengong dan mencari ke sana-sini dengan pandang matanya.
"Siauw-tocu, mereka telah pergi....!"
Kata seorang di antara anak buahnya.
"Tolol! Goblok kalian semua! Mengapa boleh pergi? Hayo kita...."
Belum habis ucapannya Wan Keng In terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh terjengkang ke belakang untuk menghindarkan (Lanjut ke
Jilid 30) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 sinar kilat yang menyambar tubuhnya.
Kiranya Kwi Hong telah menyerang dengan menusukkan Li-mo-kiam ke arah dadanya.
Gerakan gadis ini cepat sekali sehingga hampir saja dia menjadi korban.
Marahlah Wan Keng In.
"Kau berani melawan aku? Hemm, apa yang kau andalkan? Pedang itu? Baik, kita lihat siapa yang lebih unggul antara murid Pulau Neraka dan murid Pulau Es!"
Setelah berkata demikian, Wan Keng In menggerakkan tangan kanannya, meraba punggung di balik jubah.
Ketika tangannya diangkat, tampak sinar kilat dan Lam-mo-kiam sudah berada di tangannya!
Kwi Hong amat membenci pemuda ini.
Kemarahannya memuncak ketika dia melihat Lam-mo-kiam di tangan pemuda itu.
Dia tahu bahwa itu adalah pedang Gak Bun Beng yang dirampas oleh Keng In.
Semenjak dia masih belum dewasa, bocah Pulau Neraka ini sudah menjadi musuhnya.
"Keparat jahanam! Manusia tidak kenal malu! Pedang curian kau pamerkan di sini. Bukan aku yang harus menyerahkan Li-mo-kiam kepadamu, melainkan engkau yang harus memberikan Lam-mo-kiam itu kepadaku sebelum lehermu putus!"
"Singgggg....!"
Sinar kilat di tangan Kwi Hong menyambar ke depan, disambut sinar kilat yang sama di tangan Wan Keng In.
"Wuuuuiiiitttt!"
Dua orang itu terkejut bukan main karena pedang mereka tertolak ke belakang sebelum bertemu!
Seolah-olah dari sepasang pedang itu timbul hawa yang ajaib yang membuat kedua pedang tidak dapat saling sentuh, melainkan terdorong membalik oleh tenaga mujijat tadi!
Namun Kwi Hong tidak mempedulikan hal ini dan cepat dia menyerang lagi.
Terjadilah perang tanding yang amat hebat, lebih menegangkan daripada pertandingan antara Wan Keng In dan Milana tadi, karena kini kedua orang muda itu mempergunakan sepasang pedang yang membuat para penonton merasa tubuhnya panas dingin.
Baru sinar dan hawa pedang itu telah membuat mereka yang berada di situ meremang semua bulu di badan dan mengkirik.
Hal ini tidaklah mengherankan karena kini yang mengeluarkan sinar adalah Sepasang Pedang Iblis yang memiliki hawa mujijat seolah-olah dikendalikan oleh roh-roh dan iblis-iblis yang haus darah!
Memang hebat sekali pertandingan antara kedua orang muda itu.
Hebat, menyilaukan mata dan amat aneh sehingga menyeramkan para penonton.
Betapa tidak aneh kalau kedua orang itu bergerak cepat sehingga bayangan mereka tertutup gulungan dua sinar pedang yang seperti kilat berkelebatan, akan tetapi sama sekali tidak pernah terdengar suara beradunya senjata?
Seolah-olah tidak pernah ada yang menangkis, padahal kedua orang itu mainkan pedang secara dahsyat dan ada kalanya untuk menye-lamatkan diri, jalan satu-satunya hanya menangkis.
Akan tetapi, begitu seorang di antara mereka menggerakkan pedang menangkis, Serangan lawan terhalau oleh tangkisan tanpa kedua pedang itu saling bersentuhan karena keduanya tentu terpental oleh tenaga mujijat.
Seolah-olah Sepasang Pedang Iblis itu keduanya saling tidak mau bersentuhan.
Sebetulnya, kalau ditilik dasarnya, ilmu silat kedua orang muda ini masih satu sumber.
Wan Keng In adalah putera dari Lulu yang sejak kecil menerima gemblengan ilmu dari ibunya ini.
Lulu adalah adik angkat Pendekar Super Sakti dan biarpun kemudian Lulu menjadi murid Nenek Maya, namun sumber dari ilmu silatnya masih tetap sama, yaitu yang berasal dari Pulau Es, berasal dari Bu Kek Siansu.
Tentu saja karena tingkat kepandaian Pendekar Super Sakti jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Lulu, apa yang diajarkan kepada Kwi Hong sebenarnya bermutu lebih tinggi pula daripada pelajaran yang diterima Wan Keng In dari ibunya.
Akan tetapi, setelah Keng In digembleng oleh kakek sakti yang tidak seperti manusia, Cui-beng Koai-ong, kepandaian pemuda itu meningkat secara tidak lumrah se-hingga tingkatnya kini bahkan sudah melampaui tingkat kepandaian ibunya sendiri!
Keng In merasa penasaran sekali.
Kalau saja tidak mengingat bahwa gadis ini adalah murid Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dia sudah mengeluarkan ilmu-ilmunya yang mujijat, yang ia dapatkan dari gurunya.
Akan tetapi dia tidak mau membunuh Kwi Hong.
Dia ingin menawannya, untuk menunjukkan kepada Majikan Pulau Es yang dibencinya, orang yang telah membikin sengsara hati ibu kandungnya, bahwa dia tidak takut menghadapi Pulau Es, dan dia bahkan ingin memperguna-kan nona ini untuk meman-cing datangnya Pendekar Siluman untuk bertanding!
Tiba-tiba Wan Keng In mengeluarkan suara gerengan yang tidak lumrah manusia.
Gerengan yang keluar dari pusarnya, melalui kerongkongan dan mengeluarkan getaran yang seolah-olah membuat bumi tergetar!
Kwi Hong sendiri menjadi pucat wajahnya dan biarpun dia telah mengerahkan sin-kang, tetap saja jantungnya tergetar dan gerakannya tidak tetap.
Pada saat itu, ilmu pedang yang dimainkan oleh Keng In telah berubah aneh dan ganas bukan main.
Kwi Hong merasa gentar, jantungnya berdebar dan melihat pemuda itu menggerakkan pedangnya, ia menjadi pening, seolah-olah ia melihat lawannya menjadi tinggi besar dan menakutkan, gerakannya menjadi luar biasa cepat dan kuatnya!
Kalau saja dia tidak sedikit-sedikit memetik gerakan kilat gurunya, tentu saja sudah kena dicengkeram oleh tangan kiri Keng In yang menyelingi gerakan pedangnya!
"Hyaaahhh!"
Tiba-tiba Keng In membentak, tubuhnya secara mendadak bergulingan dan pedangnya membabat secara bertubi-tubi ke arah kedua kaki Kwi Hong.
Dara ini cepat meloncat-loncat dan menjauhkan diri, akan tetapi tiba-tiba lawannya bangkit dan memukul dengan tangan kiri terbuka.
Serangkum dorongan telapak tangan ini menyambar ke arah dada Kwi Hong.
"Aihhh!"
Dara ini cepat melakukan gerak mendorong yang sama, dengan tangan kirinya, didorongkan ke arah tangan lawan sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang dilatihnya di Pulau Es.
"Wesss....!"
Dua tenaga raksasa ber-temu di udara, di antara kedua telapak tangan yang terpisah dua kaki saja.
Tenaga panas bertemu dengan dingin dan akibatnya Kwi Hong terjengkang ke belakang karena di saat tenaga itu bertemu kembali Keng In mengeluarkan gerengan yang menggetarkan jantung itu.
Sebelum dia sempat meloncat, Keng In sudah menotok punnggungnya dan begitu lengan Kwi Hong lemas, cepat pedang Li-mo-kiam telah dirampas-nya!
Biarpun tubuhnya sudah menjadi lemah dan lumpuh, Kwi Hong masih dapat menggunakan mulutnya untuk memaki-maki.
"Pengecut! Curang engkau! Tak tahu malu! Pencuri busuk, hayo kembalikan pedangku dan kita bertanding secara bersih! Kau menggunakan ilmu siluman, keparat busuk!"
"Ikat dia dan bungkam mulutnya!"
Keng In berkata sambil membelakangi Kwi Hong, menyim-pan Li-mo-kiam disatukan dengan Lam-mo-kiam, disembunyikan di balik jubahnya.
Dia berdiri dengan sikap sombong, menengok ke kanan-kiri, tersenyum mengejek sambil berkata, mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya terdengar sampai jauh.
"Haiiii! Pendekar Siluman Si Kaki Buntung! Lihat, muridmu telah kutawan! Kalau kau memang seorang gagah, datanglah dan bebaskan muridmu!"
Wajah para anak buah Pulau Neraka menjadi pucat mendengar tantangan yang keluar dari mulut Majikan Muda itu!
Betapapun lihainya Tuan Muda mereka itu, namun tidak selayaknya menantang Pendekar Siluman seperti itu!
Baru mendengar nama Pendekar Siluman saja, wajah mereka sudah menjadi pucat, apalagi ditantang oleh majikan mereka!
"Kau berani membuka mulut besar karena kau tahu bahwa Pamanku tidak berada di sini!
Kalau Pamanku berada di sini, tentu engkau tak berani bernapas!
Jangankan dengan Paman, dengan aku pun kalau engkau tidak berlaku curang, menggunakan ilmu siluman, engkau takkan mampu menang.
Pengecut busuk, manusia keparat tak tahu malu!"
"Cepat bungkam mulutnya!"
Keng In membentak tanpa menoleh.
Seorang wanita anggauta Pulau Neraka yang bermuka biru muda, cepat menggunakan sehelai saputangan untuk menutup mulut Kwi Hong, diikatkan ke belakang leher, kemudian dia melanjutkan pekerjaan mengikat tangan Kwi Hong yang dibelenggu dan ditelikung ke belakang punggungnya.
Dara itu dalam keadaan setengah lumpuh, tak dapat meronta, hanya membelalakkan mata memandang ke arah punggung Keng In penuh keben-cian dan kemarahan.
"Cepat persiapkan orang-orang mengejar rombongan Thian-liong-pang! Puteri Ketua Thian-liong-pang itu harus dapat kutaklukkan!"
Kata Wan Keng In kepada orang-orangnya.
"Bagaimana dengan nona ini, Siauw-tocu....?"
Wanita itu bertanya, matanya penuh ketakutan memandang ke arah lubang kuburan ke arah peti yang masih tertutup tanah, peti tempat datuk Pulau Neraka berlatih!"Bawa dia sebagai tawanan, kalau dia banyak rewel, seret dia!
Jangan perbolehkan gadis galak ini banyak tingkah!"
"Siauw-tocu.... akan tetapi.... dia.... dia...."
"Banyak rewel kau!"
Wan Keng In membentak, akan tetapi matanya terbelalak kaget melihat wanita yang tadi bicara dan membelenggu serta membungkam mulut Kwi Hong telah roboh terlentang dengan mata mendelik dan nyawa putus!
Dan dia melihat Kwi Hong duduk bersila dengan mata dipejamkan dan alis berkerut, seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu.
Dan memang pada saat itu, Kwi Hong sedang mendengarkan suara yang berbisik-bisik di dekat telinganya, suara gurunya, Bu-tek Siauw-jin seolah-olah bicara di dekatnya akan tetapi yang sama sekali tidak berada di situ.
Ketika tadi dia melihat wanita Pulau Neraka itu tiba-tiba roboh terjengkang dan mendengar suara itu, tahulah ia bahwa gurunya telah turun tangan!
"Bocah tolol, mana patut menjadi muridku kalau tertotok dan terbelenggu seperti itu saja tidak mampu melepaskan diri?
Apa sudah lupa akan latihan membangkitkan kekuatan secara otomatis mengandalkan tenaga Inti Bumi yang baru saja kau dapatkan dan yang menjadi dasar dari semua tenaga yang ada?"
Kwi Hong memejamkan mata dan mengerahkan semua perhatian akan petunjuk gurunya yang diberikan lewat bisikan-bisikan itu.
Dia mentaati petunjuk itu dan....
tiba-tiba darahnya mengalir kembali dan totokan itu tertembus oleh hawa Inti Bumi dari dalam!
Setelah totokan terbebas, sekali mengerahkan tenaga belenggunya yang hanya terbuat dari tali itu putus semua dan sekali renggut dia telah melepaskan saputangan yang menutupi mulutnya, kemudian meloncat berdiri!
Wan Keng In memandang dengan mata terbelalak.
Totokannya adalah totokan yang tidak lumrah, bukan totokan biasa melainkan totokan yang ia latih dari gurunya.
Menurut gurunya, tidak ada orang di dunia ini yang akan dapat memulihkan orang yang terkena totokannya karena totokan itu mengandung rahasia tersendiri.
Bahkan menurut gurunya, Pendekar Siluman sendiri pun belum tentu mampu membebaskan orang yang tertotok olehnya.
Bagaimana sekarang gadis itu, tanpa bantuan, sanggup membebaskan?
Kalau hanya memutuskan belenggu itu, dia tidak merasa heran, akan tetapi dapat membebaskan diri dari totokannya, benar-benar membuat dia menjadi ngeri!
Tentu ada yang memberi petunjuk!
Otomatis dia menoleh ke kanan-kiri dan hatinya menjadi kecut.
Jangan-jangan Pendekar Siluman yang ditantangnya telah berada di sekitar situ dan memberi petunjuk kepada gadis itu lewat bisikan yang dikirim melalui tenaga khi-kang!
"Pendekar Siluman!
Kalau kau sudah datang, mari kita bertanding sampai selaksa jurus!"
Dia menantang sambil meraba gagang pedang di balik jubah.
"Tutup mulutmu yang sombong! Aku masih sanggup melawanmu!"
Kwi Hong membentak dan tiba-tiba dia menubruk maju, memukul dengan dorongan kedua tangannya ke arah dada dan pusar.
Pukulan yang hebat karena kalau tangan kirinya dia menggunakan tenaga Swat-im Sin-ciang yang dingin, tangan kanannya yang menghantam ke pusar dia isi dengan saluran tenaga Hwi-yang Sin-ciang yang panas.
Melihat ini, Keng In meloncat ke belakang, akan tetapi tiba-tiba Kwi Hong yang kedua pukulannya luput itu telah jatuh ke atas tanah dengan terbalik, kemudian tanpa disangka-sangka kedua kakinya menendang ke belakang dan tepat mengenai paha dan perut Keng In.
Tenaga tendangan model sepak kuda ini bukan main kuatnya sehingga biarpun Keng In sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja terlempar sampai lima meter jauhnya!
"Berhasil....!"
Kwi Hong bersorak sambil meloncat bangun. Akan tetapi ia segera kecewa karena mendengar bisikan gurunya mengomel.
"Apa artinya kalau hanya mampu membuat dia terlempar? Hayo lawan terus, pergunakan Tenaga Inti Bumi!"
Kwi Hong melihat bahwa Keng In sudah meloncat turun dan biarpun sepasang mata pemuda itu terbelalak penuh keheranan terhadap ilmu tendangan yang aneh dan tidak patut itu, dia tidak terluka dan mukanya yang tampan membayangkan kemarahan.
"Engkau sudah bosan hidup!"
Bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke depan dan tampak sinar kilat berkelebat ketika tangannya mencabut keluar Li-mo-kiam.
Sekali ini dia benar-benar mengambil keputusan untuk membunuh gadis itu dengan pedang gadis itu sendiri yang tadi dirampasnya.
"Aahhh....!"
Tiba-tiba Keng In berdiri tak bergerak, pedang yang diangkat ke atas kepala itu tidak jadi dilanjutkan gerak serangannya dan dia memandang ke depan dengan muka pucat.
Di depannya telah berdiri Bu-tek Siauw-jin, Si Kakek Pendek yang tahu-tahu telah berada di depan pemuda itu dengan lengan kiri dilonjorkan, tangan terlentang terbuka seperti orang minta-minta!
"Kembalikan pedang muridku itu!"
Sejenak Keng In terbelalak bingung, masih belum dapat menerima ucapan itu.
Gadis itu murid susioknya?
Teringat dia akan anggauta Pulau Neraka yang tewas secara aneh.
Kini mengertilah dia.
Tentu Bu-tek Siauw-jin yang telah membunuh wanita yang membelenggu Kwi Hong, dan kakek ini pula yang membuat gadis itu mampu membebaskan diri daripada totokannya!
Keng In adalah seorang pemuda yang tidak mengenal takut, akan tetapi menghadapi paman gurunya ini yang bahkan disegani oleh Cui-beng Koai-ong sendiri, dia tidak berani melawan.
Hanya keraguannyalah yang membuat dia masih belum menyerahkan pedang yang diminta itu.
"Akan tetapi.... Susiok...."
"Masih berani membantah dan tidak berikan pedang itu kepadaku?"
Cepat dan gugup Keng In menyerahkan pedang itu yang diterima oleh Bu-tek Siauw-jin dan dilemparkannya pedang itu kepada muridnya.
Kwi Hong menyambut pedang itu dengan hati girang sekali.
"Maaf, Susiok. Teecu tidak tahu bahwa dia murid Susiok...."
"Hemmm, sekarang sudah tahu!"
"Tapi.... dia adalah keponakan dan murid Pendekar Siluman!"
"Ha-ha-ha-ha-ha-heh-heh! Dan engkau sendiri siapa, anak siapa? Heh-heh, setidaknya Pendekar Siluman adalah Majikan yang tulen dari Pulau Es!"
Mendengar ucapan ini, wajah Keng In menjadi merah sekali.
Dia merasa terhina dan marah, akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya.
Dengan ucapan itu, paman gurunya yang ugal-ugalan itu hendak mengingatkan bahwa dia hanyalah putera dari seorang Majikan atau Ketua Boneka dari Pulau Neraka!
Sama saja dengan mengatakan bahwa paman gurunya itu masih lebih baik daripada gurunya dalam hal menerima murid dan bahwa keponakannya atau murid dari Majikan Pulau Es masih lebih baik daripada putera dari Ketua Boneka Pulau Neraka!
"Susiok....!"
"Kau mau apa?"
"Teecu tidak apa-apa, akan tetapi teecu akan menceritakan kepada Suhu tentang keanehan ini."
"Hemmm, kalau engkau mengira akan dapat mempergunakan Gurumu sebagai perisai maka engkau adalah seorang pengecut dan seorang yang bodoh!"
"Teecu tidak bermaksud mengadu.... hanya...., teecu rasa Susiok telah salah menerima murid...."
"Desssss!"
Tiba-tiba tubuh Keng In terpental sampai beberapa meter jauhnya.
Tidak tampak kakek pendek itu menyerang, akan tetapi tahu-tahu pemuda itu terlempar!
Keng In cepat meloncat berdiri lagi, diam-diam dia terkejut akan tetapi juga lega bahwa susioknya yang aneh itu tidak melukainya.
"Engkau berani memberi kuliah kepadaku tentang bagaimana mengambil murid?"
Bu-tek Siauw-jin membentak.
"Maaf, teecu mohon diri....!"
"Pergilah! Dan ingat, kelak muridku ini yang akan menandingimu!"
Keng In menjura dan meloncat pergi, loncatannya jauh sekali seperti terbang sehingga mengagumkan hati Kwi Hong.
Lebih terkejut lagi gadis ini ketika mendengar suara bisikan yang halus dan jelas dari jauh, suara pemuda itu.
"Kita sama lihat saja apakah perempuan bodoh ini akan dapat menandingiku!"
Bu-tek Siauw-jin mengerutkan alisnya dan menoleh kepada para anak buah Pulau Neraka yang kini sudah menjatuhkan diri berlutut semua.
"Lekas kalian pergi dari sini, tinggalkan mayat-mayat itu biar dimakan burung gagak!"
Anak buah Pulau Neraka itu menjura, kemudian bangkit dan pergi tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
Bu-tek Siauw-jin lalu berkata kepada muridnya, suaranya singkat dan ketus, berbeda dengan biasanya yang suka berkelakar.
"Mari kita pergi!"
Kwi Hong menurut dan berjalan mengikuti kakek pendek itu keluar dari tanah kuburan, menuruni bukit kecil.
Akan tetapi akhirnya dia tidak kuat menahan penasaran hatinya dan berkata.
"Suhu, bagaimana engkau bersikap begitu kejam, membiarkan mayat anak buahmu terlantar di sana dan dimakan gagak?"
Mulut kakek itu tidak kelihatan bergerak, akan tetapi terdengar suara ketawanya, seolah-olah suara itu keluar dari perut melalui lubang lain, bukan mulut!
"Heh-heh-heh!
Engkau merasa kasihan kepada mayat yang tidak bernyawa lagi, akan tetapi tidak kasihan kepada burung-burung gagak yang kelaparan!"
Kwi Hong terbelalak.
"Suhu! Biarpun sudah menjadi mayat yang tak bernyawa, akan tetapi itu adalah mayat-mayat manusia! Teecu tidak biasa bersikap kejam, sejak kecil diajar supaya berperikemanusiaan oleh paman atau guru teecu!"
Tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin menghentikan langkahnya dan memandang muridnya dengan mata lebar dan mulut menyeringai, kemudian dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Semenjak kecil, manusia diajar segala macam kebaikan! Manusia mana yang sejak kecilnya tidak diajar dan dijejali segala macam pelajaran tentang kebaikan oleh ayah bunda atau guru-gurunya? Agama bermunculan dengan para pendetanya. Ahli-ahli kebatinan bermunculan saling bersaing, mereka semua berlumba untuk menjejalkan pelajaran tentang kebaikan kepada manusia-manusia, semenjak manusia masih kecil sampai menjadi kakek-kakek. Akan tetapi, adakah seorang saja manusia yang baik di dunia ini? Setiap orang manusia, menurut ajaran agama masing-masing, berlumba keras dalam teriakan anjuran agar mencinta sesama manusia, namun di dalam hati masing-masing menanam dan memupuk perasaan saling benci, bahkan yang pertama-tama membenci saingan masing-masing dalam menganjurkan cinta kasih antar manusia! Gilakah ini? Atau aku yang gila? Ha-ha-ha! Muridku, kalau engkau melakukan kebaikan karena ajaran-ajaran itu, bukanlah kebaikan sejati namanya melainkan melaksanakan perintah ajaran itu! Engkau ini manusia ataukah boneka yang hanya bergerak dalam hidup menurut ajaran-ajaran yang membusuk dan melapuk dalam gudang ingatanmu?"
"Engkau sendiri dalam pertandingan, dengan enak saja membunuh manusia lain, sama sekali tidak merasa akan kekejaman perbuatanmu, akan tetapi baru melihat aku meninggalkan mayat agar membikin kenyang perut gagak yang kelaparan, kau katakan kejam! Ha-ha-ha, muridku. Pelajaran pertama bagi manusia umumnya, termasuk aku, adalah mengenal wajah sendiri yang cantik, akan tetapi juga mengenal isi hati dan pikiran kita sendiri yang busuk, jangan hanya mengagumi lekuk lengkung tubuh sendiri yang menggairahkan akan tetapi juga mengenal isi perut yang tidak menggairahkan!"
Kwi Hong memandang gurunya dengan sinar mata bingung.
Gurunya ini bukan manusia lumrah, bukan orang waras.
Tentu agak miring otaknya.
Sekali bicara tentang hidup, kacau balau tidak karuan.
Maka dia diam saja, kemudian melanjutkan langkah kakinya ketika melihat gurunya sudah berjalan kembali dengan langkah pendek.
"Kau tentu tidak dapat menangkan Keng In sebelum engkau mahir betul mempergunakan Ilmu Menghimpun Tenaga Inti Bumi. Bocah itu telah berhasil me-warisi kepandaian Suheng. Lihat saja warna mukanya tadi!"
Kwi Hong cemberut dalam hatinya tidak senang dikatakan bahwa dia tidak akan menang menghadapi Keng In.
Kini mendengar disebutnya warna muka muda itu dia mengingat-ingat.
"Warna mukanya biasa saja. Mengapa, Suhu?"
"Justru yang biasa itulah yang luar biasa!"
Gurunya menjawab dan berjalan terus. Kwi Hong menoleh, terbelalak tidak mengerti.
"Eh, apa maksudmu, Suhu?"
"Begitu bodohkan engkau? Semua murid Pulau Neraka memiliki wajah yang berwarna, apakah engkau lupa? Bahkan Ketua Boneka, ibu bocah itu sendiri, mukanya berwarna putih seperti kapur! Itulah tanda orang yang memiliki tingkat tertinggi Pulau Neraka yang menjadi akibat himpunan sin-kang yang mengandung hawa beracun pulau itu! Bahkan mendiang Sute Ngo Bouw Ek pun mukanya masih berwarna kuning, berarti bahwa ibu bocah itu masih setingkat lebih tinggi dari padanya. Hanya aku dan Suheng Cui-beng Koai-ong saja yang tidak terikat oleh warna muka, bisa mengubah warna muka sesuka hati kami berdua. Hal itu menandakan bahwa kami berdua adalah dapat mengatasi pengaruh hawa beracun Pulau Neraka, dan tingkat kami sudah lebih tinggi. Kalau sekarang Wan Keng In sudah menjadi biasa warna kulit mukanya, hal itu berarti bahwa dia pun sudah terbebas dari pengaruh hawa beracun, berarti tingkatnya sudah lebih tinggi dari tingkat ibunya sendiri!"
"Wah, hebat sekali kalau begitu!"
Diam-diam Kwi Hong bergidik.
Kalau benar-benar pemuda itu tingkatnya sudah melampaui tingkat kepandaian Majikan Pulau Neraka, benar-benar merupakan lawan yang berat!
"Teecu menerima gemblengan Suhu, jangan-jangan muka teecu akan menjadi berwarna pula!"
"Heh-heh-heh, jangan bicara gila! Kalau engkau berlatih di atas Pulau Neraka, tentu saja engkau akan mengalami keracunan dan mukamu berubah-ubah sesuai dengan tingkatmu sebelum engkau dapat mengatasi hawa beracun itu. Akan tetapi engkau kulatih di luar Pulau Neraka. Pula, engkau telah memiliki dasar sin-kang dari Pulau Es yang amat kuat, kiranya engkau hanya akan terpengaruh sedikit dan setidaknya kalau engkau berlatih di sana, engkau mendapatkan warna putih atau kuning. Sudahlah, mulai sekarang engkau harus benar-benar mencurahkan perhatian, berlatih dengan tekun. Melihat kemajuan dan tingkat bocah tadi, aku hanya akan menurunkan ilmu-ilmu yang paling tinggi saja kepadamu. Ini pun hanya akan dapat kau andalkan untuk memenangkan pertandingan melawan Keng In kalau engkau berlatih dengan sungguh-sungguh hati dan mati-matian."
Mereka berjalan terus dan sampai lama keduanya tidak bicara. Tiba-tiba Kwi Hong bertanya.
"Suhu, sebetulnya yang mempunyai kepentingan mengalahkan Wan Keng In itu siapakah? Teecu ataukah Suhu?"
Kakek itu berhenti dan menengok kepada muridnya, memandang dengan mata terbelalak kemudian tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, habis kau kira siapa?"
"Teecu tidak mempuyai urusan pribadi dan tidak mempunyai permusuhan langsung dengan pemuda Pulau Neraka itu, sungguhpun teecu tidak suka kepadanya. Kalau tidak kebetulan bertemu dengannya, teecu tidak bertempur dengannya dan teecu juga tidak akan mencari-cari dia untuk diajak bertanding. Hal itu berarti bahwa kalau teecu mati-matian mempelajari ilmu sudah tentu bukan dengan tujuan untuk semata-mata kelak dipergunakan untuk menandingi orang itu."
"Kalau begitu, mengapa tadi engkau sudah enak-enak di dalam peti, tahu-tahu engkau keluar dan menyerangnya?"
"Karena teecu tidak ingin dia mencelakai dara itu."
"Hemm, bocah puteri Ketua Thian-liong-pang itu! Mengapa engkau membantunya?"
Kwi Hong tak dapat menjawab.
Tadi ketika ia membuka peti matinya dan melihat Milana, ia segera mengenal dara itu sebagai Milana, puteri dari pamannya, puteri Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai!
Akan tetapi, begitu mendengar bahwa dara itu adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, dia menjadi ragu-ragu, bahkan teringat bahwa yang hampir mencelakainya ketika dia mengintai di rumah penginapan rombongan Thian-liong-pang, yang menggunakan tali sutera hitam panjang, juga gadis itulah!
Benarkah gadis itu Milana?
Kalau benar Milana, mengapa disebut puteri Ketua Thian-liong-pang?
Maka, kini pertanyaan gurunya tak dapat ia menjawabnya sebelum dia yakin benar apakah dara itu Milana atau bukan.
"Teecu.... teecu tidak bisa diam saja melihat seorang gadis terancam bahaya."
"Ha-ha-ha, cocok dengan semua pelajaran tentang kebaikan yang kau terima sejak kecil dari Pamanmu?"
Disindir demikian, Kwi Hong diam saja, hanya cemberut. Kemudian dia mendapat kesempatan membalas.
"Telah teecu katakan tadi bahwa teecu tidak mempunyai kepentingan mengalahkan Wan Keng In. Akan tetapi Suhu agaknya bersemangat benar untuk melihat teecu mengalahkan dia! Apakah bukan karena Suhu ingin bersaing dengan Supek Cui-beng Koai-ong?"
Kakek itu melotot, kemudian menghela napas dan membanting-banting kakinya seperti sikap seorang anak-anak yang jengkel hatinya.
"Sudahlah! Sudahlah! Engkau benar! Memang demikian adanya. Suheng telah melanggar sumpah, mengambil murid! Maka aku pun memilih engkau sebagai murid untuk kelak kupergunakan menandingi muridnya agar Suheng tahu akan kesalahannya! Nah, katakan bahwa engkau tidak mau membantu aku! Tidak usah berpura-pura!"
Kwi Hong tersenyum.
Suhunya ini benar-benar seorang yang amat aneh, luar biasa, agak sinting, sakti seperti bukan manusia lagi, akan tetapi sikapnya menyenangkan hatinya!
Biarpun ugal-ugalan, akan tetapi entah bagaimana tidak menjadi benci, malah dia suka sekali.
"Suhu, sebagai murid tentu saja teecu akan membantu Suhu karena sebagai seorang guru yang mencinta muridnya, tentu Suhu juga selalu ingin membantu muridnya seperti teecu, bukan?"
"Wah-wah-wah, dalam satu kalimat saja, engkau mengulang-ulang sebutan guru dan murid beberapa kali sampai aku jadi bingung! Katakan saja, apa yang kau ingin kulakukan untuk membantumu agar kelak engkau pun akan suka membantuku?"
Kwi Hong tersenyum lebar.
Biarpun kelihatan sinting, gurunya ini ternyata cerdik sekali dan mudah menjenguk isi hatinya.
Dia teringat akan urusan Gak Bun Beng, dan teringat akan niatnya meninggalkan pamannya.
Dia berniat pergi ke kota raja, membantu Bun Beng menghadapi musuh-musuhnya yang berat, dan juga untuk merampas kembali pedang Hok-mo-kiam yang dahulu dicuri oleh Tan-siucai dan Maharya.
Tanpa bantuan seorang sakti seperti gurunya ini, mana mungkin dia akan berhasil menghadapi orang-orang sakti seperti Koksu Negara Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan dua orang pembantunya yang hebat itu, sepasang pendeta Lama dari Tibet, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama.
Belum lagi kalau berhadapan dengan Tan-siucai dan gurunya yang sakti, Si Ahli Sihir Maharya!
"Suhu, sebelum bertemu dengan Suhu, teecu telah lebih dulu menjadi keponakan dan murid Pendekar Super Sakti.
Berarti, biarpun teecu berhutang kepada Suhu, akan tetapi teecu juga sudah berhutang budi kepada Pendekar Super Sakti yang belum teecu balas.
Benarkah pendapat ini?"
Betapa kaget hati Kwi Hong ketika melihat gurunya itu menggeleng kepala kuat-kuat!
"Tidak benar!
Tidak betul!
Orang yang melibatkan diri dalam hutang-piutang budi, baik yang berhutang maupun sebagai yang menghutangkan adalah orang bodoh karena hidupnya tidak akan berarti lagi!
Katakan saja apa yang akan kau lakukan dan apa yang dapat kubantu tanpa menyebut tentang hutang-piutang budi segala macam!"
Kwi Hong menelan ludahnya sendiri.
Sukar juga menentukan sikap menghadapi seorang sinting dan kukoai (ganjil) seperti gurunya ini!
Akan tetapi dia teringat akan watak gurunya yang seperti kanak-kanak ketika mengadu jangkerik, yaitu gurunya tidak bisa menerima kekalahan!
Gadis yang cerdik ini segara berkata.
"Suhu, urusan mengalahkan Wan Keng In adalah urusan mudah saja. Asalkan Suhu mau mengajarkan teecu dengan sungguh-sungguh dan teecu akan berlatih dengan tekun, apa sih sukarnya mengalahkan bocah sombong itu? Akan tetapi teecu mempunyai beberapa orang musuh yang benar-benar amat sukar dikalahkan, amat sakti, jauh lebih sakti daripada sepuluh orang Wan Keng In. Bahkan, dengan bantuan Suhu sekalipun teecu masih ragu-ragu dan khawatir apa-kah akan dapat mengalahkan mereka....?"
"Uuuuttt! Sialan kau! Aku sudah maju membantu masih khawatir kalah? Jangan main-main kau! Siapa musuh-musuhmu itu? Asal jangan tiga orang pengawal Tong Sam Cong saja, masa aku tidak mampu kalahkan?"
Yang dimaksudkan oleh kakek itu dengan tiga orang pengawal Tong Sam Cong adalah tiga tokoh sakti dalam dongeng See-yu, yaitu tiga orang pengawal Pendeta muda Tong Sam Cong atau Tong Thai Cu yang melawat ke Negara Barat (India) untuk mencari kitab-kitab Agama Buddha.
Mereka itu adalah Si Raja Monyet Sun Go Kong, Si Kepala Babi Ti Pat Kai dan See Ceng.
"Biarpun tidak sesakti para pengawal Tong Thai Cu, akan tetapi teecu sungguh tidak berani memastikan apakah dengan bantuan Suhu sekalipun teecu akan dapat mengalahkan mereka. Mereka itu adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Maharya!"
Kwi Hong sengaja tidak menyebut nama Tan-siucai karena untuk menghadapi orang ini tidaklah terlalu berat. Kakek itu tiba-tiba menjadi bengong.
"Kau.... bocah begini muda.... sudah menanam bibit permusuhan dengan orang-orang macam mereka itu?"
"Harap Suhu tidak perlu mengalihkan persoalan. Kalau Suhu merasa jerih dan tidak berani membantu teecu menghadapi mereka teecu pun tidak dapat menyalahkan Suhu karena mereka memang amat sakti. Hanya Paman Suma Han saja kiranya yang akan dapat mengalahkan mereka."
Kakek itu tersentuh kelemahannya.
Mukanya menjadi merah sekali dan kedua lengannya digerak-gerakkan ke kanan-kiri.
Terdengar suara keras dan empat batang pohon di kanan-kirinya tumbang dan roboh terkena pukulan kedua tangannya!
"Siapa bilang aku jerih?
Kalau Suma Han pamanmu yang buntung itu dapat menandingi mereka, mengapa aku tidak?
Haiiii, bocah tolol, kau terlalu memandang rendah Gurumu!
Lihat saja nanti, aku akan membikin empat orang tua bangka itu terkencing-kencing dan terkentut-kentut minta ampun kepadamu!
Haiii!
Mengapa kau bermusuh dengan mereka?"
"Pendeta India yang bernama Maharya itu telah membunuh burung-burung garuda peliharaan dan kesayangan teecu di Pulau Es bahkan telah merampas pedang pusaka yang teecu amat sayang."
"Hemm, aku akan hajar dia dan paksa dia mengembalikan pedang. Wah, kau mempunyai sebuah pedang pusaka lain lagi? Apakah Pedang Iblis macam yang kau bawa itu? Hati-hati, dengan segala macam pusaka seganas itu, jangan-jangan akan berubah menjadi iblis!"
"Tidak, Suhu. Pedang pusaka itu adalah sebatang pedang pusaka sejati yang amat ampuh dan bersih."
"Heh-heh-heh! Pedang dibuat untuk memenggal leher orang, menusuk tembus dada orang, merobek perut sampai ususnya keluar, mana bisa dibilang bersih?"
"Adapun Bhong Ji Kun Si Koksu Tengik itu, bersama dua orang pembantunya Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, mereka adalah orang-orang yang memimpin pasukan membakar Pulau Es. Karena itu mereka adalah musuh-musuh besar teecu dan teecu hanya dapat mengandalkan bantuan Suhu untuk dapat menghajar mereka."
"Uuut! Bocah bodoh. Setelah engkau mempelajari ilmu dariku dengan tekun dan berhasil baik, apa sih artinya kele-dai-keledai tua beberapa ekor itu? Tidak usah kubantu, engkau sendiri sudah cukup, lebih dari cukup untuk mengalahkan mereka."
"Akan tetapi, teecu tidak percaya dan tidak akan tenang kalau tidak ber-sama Suhu. Karena itu, marilah kita pergi ke kota raja mencari mereka, Suhu."
"Tapi kau harus berlatih...."
"Sambil melakukan perjalanan, teecu akan tekun berlatih."
"Tapi aku harus mampir dulu ke kaki Gunung Yin-san, di dekat padang pasir."
"Ihh, tempat itu tandus dan sunyi, mengapa Suhu hendak ke sana? Tentu di sana tidak ada orangnya."
"Memang tidak ada orangnya karena aku ke sana bukan untuk mencari orang."
"Habis, mencari apa?"
"Mencari kelabang!"
"Ihhhh....!"
"Kenapa ihhh? Engkau tidak tahu, kelabang di sana berwarna merah darah, panjangnya satu kaki, besarnya seibu jari kaki!"
"Ihhhh....!"
Kwi Hong mengkirik, makin geli dan jijik.
"Eh, masih belum kagum? Racun kelabang raksasa merah itu tiada keduanya di dunia ini. Mengalahkan semua racun yang berada di Pulau Neraka!"
Kwi Hong menahan rasa jijik dan gelinya agar tidak menyinggung hati gurunya yang kadang-kadang aneh dan pemarah itu, maka dia berkata mengangguk-angguk.
"Wah, kalau begitu hebat. Akan tetapi, untuk apa Suhu mencari Kelabang Raksasa Raja Racun itu?"
"Bulan ini adalah musim bertelur, aku hendak menangkap seekor kelabang betina yang akan bertelur. Sebelum telur-telur itu dikeluarkan, harus dapat kutangkap dia, karena telur-telur yang masih berada di dalam perutnya itu mengandung racun yang paling ampuh karena terendam di dalam sumber racun kelabang itu."
"Hemm, menarik sekali,"
Kata Kwi Hong memaksa diri.
"Setelah ditangkap, lalu untuk apa, Suhu?"
"Kupotong bagian perut yang penuh telur itu, kemudian kumasak dengan arak merah...."
"Wah, dimasak dengan arak perut penuh telur beracun ganas itu?"
Kwi Hong menelan ludah, bukan saking kepingin melainkan untuk menekan rasa muaknya.
"Mengapa menyiksa betinanya yang sedang bertelur, Suhu? Bukankah kabarnya kelabang jantan lebih hebat racunnya?"
"Memang demikian biasanya, akan tetapi setelah tiba masa kawin disusul masa bertelur, semua racun berkumpul di tempat telur. Kau tidak tahu, kelabang raksasa di tempat itu mempunyai kebiasaan aneh dan menarik sekali. Di musim kawin, si betina pada saat bersetubuh menggigit leher si jantan dan menghisap darah si jantan berikut racunnya sampai tubuh si jantan itu kering dan mati! Diulanginya perkawinan aneh ini sampai dia menghisap habis darah dan racun lima enam ekor jantan, barulah perutnya menggendut terisi telur. Nah, di tempat telur itulah berkumpulnya semua racun!"
Cuping hidung Kwi Hong bergerak-gerak sedikit karena dia merasa makin muak.
"Suhu mencari barang macam itu, memasaknya dengan arak, untuk Suhu makan?"
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya perlahan.
"Bukan....!"
Kwi Hong memandang terbelalak.
"Habis, untuk apa....?"
Hatinya sudah tidak enak.
"Untuk kau makan!"
"Uuuukhhh!"
Kwi Hong mencekik leher sendiri menahan agar jangan sampai muntah, matanya terbelalak memandang gurunya yang tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah tolol! Jangan memikirkan jijiknya, akan tetapi pikirkan khasiatnya! Kalau engkau makan itu, segala macam racun di dunia ini tidak akan dapat mempengaruhi tubuhmu, baik racun yang masuk melalui darah atau melalui perutmu! Dan racun itu cocok sekali untuk membangkitkan tenaga Inti Bumi yang kau latih!"
Kwi Hong tidak dapat membantah lagi, akan tetapi setiap kali teringat akan perut kelabang penuh telur beracun yang harus dimakannya, perutnya sendiri menjadi mual dan dia kepengin muntah!
Hal ini agaknya amat menyenangkan kakek itu, sehingga di sepanjang jalan, Bu-tek Siauw-jin selalu mengulangi godaannya dengan menceritakan tentang segala macam kelabang dan binatang-binatang menjijikkan, hanya untuk membuat muridnya mual, jijik dan ingin muntah!
Orang yang aneh luar biasa pula!
Milana melarikan diri bersama sisa anak buahnya.
Hatinya kacau dan berduka sekali ketika mereka berhenti di dalam sebuah hutan dan mengubur jenazah Si Lengan Buntung, Su Kak Liong dan lain-lain anak buahnya yang tewas dalam pertempuran melawan anak buah Pulau Neraka.
Dia merasa penasaran sekali dan mukanya menjadi merah saking marah dan malu kalau teringat betapa dia dipermainkan oleh pemuda tampan, putera Majikan Pulau Neraka yang amat lihai itu.
Dia harus melapor kepada ibunya dan minta pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi lagi.
Untung gadis tadi menolongnya, kalau tidak tentu dia telah menjadi tawanan.
Milana bergidik kalau teringat akan hal itu tak dapat dia membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia menjadi tawanan pemuda yang gila itu!
Thian-liong-pang telah mengalami kekalahan dan penghinaan dari Pulau Neraka.
Ibunya sendiri harus turun tangan menghajar orang-orang Pulau Neraka.
Setelah selesai mengubur jenazah-jenazah itu, Milana mengajak sisa anak buahnya yang tinggal delapan orang itu untuk melanjutkan perjalanan malam itu juga.
Rombongan ibunya berada di tempat yang tidak jauh lagi dari situ.
Tinggal dua hari perjalanan paling lama.
Dia tidak akan merasa aman sebelum bertemu dengan rombongan ibunya.
Dua orang pembantu utamanya, Si Lengan Buntung dan Su Kak Liong, serta bebe-rapa orang lagi, telah tewas.
Dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang dipimpin pemuda lihai itu sebagai musuh, dia merasa kurang kuat.
Akan tetapi, ketika rombongan terdiri sembilan orang ini memasuki sebuah hutan pada keesokan harinya, tiba-tiba tampak banyak orang berloncatan dan mereka telah dikurung oleh belasan orang!
Milana terkejut, akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengurung itu adalah orang-orang yang berpakaian seperti orang kang-ouw, dan bercampur dengan beberapa orang hwesio dan tosu, maklumlah dia bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Pulau Neraka seperti yang dikhawatirkannya, melainkan orang-orang kang-ouw!
Milana cepat meloncat maju dan menghunus pedangnya.
Tali suteranya telah putus dan ditinggalkan ketika dia hampir tertawan oleh Wan Keng In, maka kini satu-satunya senjata di tangannya hanyalah pedangnya.
Melihat bahwa yang memimpin para pengurung itu adalah seorang hwesio tinggi besar bersenjata toya yang berjenggot pendek, dia cepat menghampiri dan berkata, suaranya nyaring.
"Kami rombongan orang Thian-liong-pang sudah meninggalkan tempat yang dijadikan tempat pertemuan, hendak kembali ke tempat kami. Mengapa kalian masih menghadang di sini? Apa kehendak kalian dan siapakah kalian? Dari partai dan golongan apa?"
"Kami adalah sisa rombongan yang telah dipaksa mundur oleh Thian-liong-pang, dan karena kami merasa bahwa perjuangan kami sama, maka kami bergabung dan mengambil keputusan untuk membasmi Thian-liong-pang yang banyak menimbulkan bencana terhadap perjuangan orang-orang gagah."
Hwesio itu berkata sambil melintangkan toyanya.
"Hemmm.... perjuangan orang-orang gagah apa? Perbuatan kacau para pem-berontak maksudmu?"
Milana berkata dengan marah setelah kini dia mendapat kenyataan bahwa sebagian besar di antara orang-orang itu adalah benar anggauta rombongan partai-partai yang telah dikalahkan di tanah kuburan.
Bahkan tiga orang hwesio itu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai!
"Harap kalian suka tahu diri!
Setelah kalian kalah dalam pertandingan mengadu ilmu di tanah kuburan, mengapa kalian tidak pulang dan melaporkan kepada Ketua masing-masing akan tetapi malah diam-diam bergabung dan bersekongkol dengan para pemberontak untuk menghadang kami?"
"Orang-orang Thian-liong-pang penjilat pemerintah asing! Membunuh kalian bagi kami adalah kewajiban orang-orang gagah membunuh anjing-anjing penjilat yang kotor!"
Seorang di antara mereka yang berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, yang belum pernah dilihat Milana, membentak dan sudah menerjang dengan bacokan goloknya.
Tentu mereka inilah pemberontak-pemberontak yang aseli, sedangkan para hwesio, tosu dan orang-orang partai hanyalah terbawa-bawa saja, Terhasut oleh kaum pemberontak yang tentu saja hendak melibatkan partai-partai besar untuk membantu gerakan mereka.
Milana menangkis serangan golok itu dan segera ia dikeroyok oleh enam orang yang menghujankan serangan.
Agaknya para pengeroyok itu sudah maklum bahwa dia adalah orang terlihai di antara rombongannya, maka kini yang bertugas mengeroyoknya adalah enam orang yang cukup lihai, bahkan mereka itu semua bersenjata golok besar dan gerakan mereka teratur sekali.
Kiranya enam orang itu membentuk sebuah barisan golok yang cukup kuat!
Delapan orang anak buahnya sudah lemah dan lelah, apalagi tiga di antara mereka masih belum sembuh dari luka-luka yang diderita dalam pertandingan yang lalu namun kini terpaksa mereka itu mengangkat senjata melakukan perlawanan.
Milana sendiri sudah lelah dan kurang tidur, akan tetapi, permainan pedangnya membuat enam orang lawan yang membentuk barisan golok dan mengurungnya itu kewalahan.
Maka majulah tiga orang hwesio Siauw-lim-pai yang lihai itu, ikut mengeroyok dengan senjata mereka.
Setelah dikeroyok sembilan barulah Milana merasa sibuk juga.
Dia masih ingat bahwa tiga orang hwesio hanya terbawa-bawa saja, maka dia tidak ingin membunuh.
Justeru inilah yang membuat dia repot, karena sembilan orang pengeroyoknya itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya dan semua serangan mereka adalah serangan maut yang jelas membuktikan akan kebencian mereka kepadanya dan mereka bermaksud membunuhya!
Pertandingan yang berjalan berat sebelah itu tidak berlangsung lama karena di antara delapan orang anak buah Thian-liong-pang, sudah roboh lima orang.
Hanya tiga orang yang masih melawan mati-matian, sedangkan Milana sendiri yang dikeroyok sembilan orang, berhasil merobohkan tiga orang.
Akan tetapi, tiga orang roboh, lima orang datang membantu sehingga dara itu terpaksa harus memutar pedangnya untuk melingkari diri dari hujan senjata sebelas orang yang menyambar-nya dari segala jurusan.
Pada saat itu terdengar bunyi lengking yang nyaring dan menyeramkan sekali.
Beberapa pengeroyok terhuyung begitu mendengar lengking itu dan dari atas pohon-pohon meluncur sinar-sinar kecil-kecil merah yang menyambar ke bawah, disusul meloncatnya bayangan orang berkerudung.
Hanya delapan orang di antara sebelas orang pengeroyok Milana yang berhasil mengelak, sedangkan tiga orang lainnya roboh terkena jarum merah berbau harum yang dilepas oleh orang yang berkedok atau berkerudung itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati semua orang kang-ouw ketika melihat bahwa yang muncul adalah wanita berkerudung yang menyeramkan, Ketua dari Thian-liong-pang!
Tak lama kemudian, muncul pula enam orang wanita cantik yang menjadi pengawal atau pelayan Ketua itu, dipimpin oleh Tang Wi Siang!
Orang-orang kang-ouw itu terkejut, akan tetapi mereka tidak takut biarpun maklum bahwa kini keselamatan mereka terancam bahaya maut dengan munculnya Ketua Thian-liong-pang bersama enam orang pelayan.
Mereka menjadi nekat dan segera Ketua Thian-liong-pang dan puterinya dikeroyok.
Terjadilah pertandingan yang kembali berat sebelah, akan tetapi merupakan kebalikan daripada tadi.
Kini biarpun jumlahnya masih tetap lebih banyak, Rombongan orang kang-ouw itu yang terdesak hebat dan sebentar saja Ketua Thian-liong-pang yang hanya mengamuk dengan tangan kosong itu telah merobohkan enam orang pengeroyok dengan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat!
Berturut-turut para pengeroyok itu berkurang jumlahnya, bahkan dalam waktu singkat saja Milana dan ibunya telah berhasil merobohkan semua orang yang mengeroyok mereka!
Kini yang masih terus melakukan perlawanan hanya tiga orang hwesio Siauw-lim-pai dan tiga orang kang-ouw, termasuk dua orang tosu Hoa-san-pai, yang ditandingi oleh Tang Wi Siang dan teman-temannya.
Mereka ini pun sudah terdesak hebat dan agaknya tak lama kemudian akan roboh pula.
Tiba-tiba terdengar bunyi suara melengking yang jauh lebih hebat daripada tadi, disusul suara orang yang berpengaruh dan membuat semua orang tergetar jantungnya.
"Hentikan pertempuran....!"
Ketua Thian-liong-pang terkejut, menghentikan serangan dan menoleh.
Demikian pula tiga orang hwesio Siaw-lim-pai, dua orang tosu Hoa-san-pai, dan seorang kang-ouw meloncat mundur dan menoleh.
Berdebar hati semua orang ketika melihat seorang laki-laki, entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka, seorang laki-laki yang kaki kirinya buntung, berdiri tegak dengan tongkat kayu sederhana membantu kaki tunggalnya.
Seorang laki-laki yang berwajah tampan sekali namun tampak diselimuti awan duka yang membuat go-resan mendalam di kulit wajahnya.
Dia belum sangat tua, akan tetapi seluruh rambutnya yang dibiarkan berurai di sekeliling kepalanya sampai ke pundak dan punggung, semua telah berwarna putih seperti benang-benang sutera perak.
"Pendekar Super Sakti....!"
Seorang tosu Hoa-san-pai berbisik, biarpun bisikannya perlahan karena keluar dari hatinya dan tanpa disengaja, namun karena keadaan di saat itu amat sunyi, tidak ada yang bicara atau bergerak, maka suaranya terdengar jelas.
Laki-laki itu memang Suma Han, atau Pendekar Super Sakti, juga dikenal sebagai Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es.
Setelah terdengar suara lirih tosu Hoa-san-pai menyebutkan nama julukan pria yang berwajah penuh duka itu, keadaan menjadi makin sunyi.
"Han Han....!"
Suara ini lebih lirih dan oleh telinga lain hanya terdengar seperti berkelisiknya angin di antara daun-daun pohon.
Akan tetapi pendekar sakti itu kelihatan terkejut dan tersentak kaget, memandang ke kanan-kiri seperti orang mencari-cari kemudian bengong terlongong.
Tidak salahkah telinganya menangkap suara lirih itu?
Hanya ada beberapa orang saja yang memanggilnya dengan nama itu, nama kecilnya.
Han Han!
Dan suara lirih halus merdu itu amat dekat dengan hatinya, seperti suara yang tidak asing baginya, akan tetapi dia tidak yakin suara siapa yang menyebut nama kecilnya semerdu dan sehalus itu!
Dia menjadi bingung, kemudian teringat akan orang-orang di sekitarnya.
Dia menoleh ke arah wanita berkerudung dan berkata dengan suara keren penuh wibawa.
"Sudah bertahun-tahun aku mendengar di dunia kang-ouw tentang keanehan Thian-liong-pang yang selalu membikin geger dunia kang-ouw, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan berita terakhir mengatakan bahwa Thian-liong-pang membunuhi banyak tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah penjajah. Sekarang, kebetulan sekali Pangcu berada di sini dan kebetulan pula aku dapat menyelamatkan nyawa para sahabat ini dari ancaman maut, aku ingin bertanya, apakah maksud Thian-liong-pangcu sebenarnya dengan semua perbuatan itu?"
Sunyi senyap menyambut ucapan pendekar yang ditakuti, dihormati, dan disegani itu.
Bahkan Tang Wi Siang sendiri mukanya berubah pucat dan tidak berani mengangkat muka memandang, hanya menundukkan muka saja seolah-olah silau kalau memandang wajah yang mempunyai sepasang mata yang kabarnya dapat membunuh lawan hanya dengan sinar mata itu!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara yang bengis dan ketus, suara yang mem-buat para pendengarnya meremang bulu tengkuknya, karena nadanya dingin melebihi salju, penuh tantangan dan seolah-olah mengandung kebencian yang amat mendalam.
"Memang benar! Semua keributan di dunia kang-ouw itu akulah yang melakukannya! Akulah yang bertanggung jawab! Aku yang memerintahkan anak buahku! Habis, engkau mau apa? Dengarlah baik-baik! Semua perbuatanku itu memang kusengaja untuk menantangmu, agar engkau datang menyerbu ke tempatku. Kalau kau berani!"
Semua orang terkejut mendengar ini.
Akan tetapi terdengar suara isak tertahan sehingga semua orang menoleh ke arah Milana.
Dara itulah yang tadi terisak seperti orang tersedak.
Akan tetapi, dara itu kini menundukkan mukanya dan semua orang kembali memandang ke arah Pendekar Super Sakti dengan hati tegang, ingin mereka melihat apa yang akan terjadi selanjutnya antara dua orang hebat itu.
Suma Han sendiri sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ucapan Ketua Thian-liong-pang itu demikian ketus dan bengis terhadap dirinya, maka dia terkejut dan heran sekali.
"Apa? Menantang dan mengundangku? Mengapa....?"
"Sudah lama aku ingin mencincang hancur engkau! Engkau.... manusia yang tidak berjantung! Manusia tiada perasaan!"
"Ehhh.... heiiii? Mengapa? Apa.... apa maksudmu?"
"Tak perlu banyak cakap lagi kau!"
Ketua Thian-liong-pang itu segera menyerang dengan hebat.
Pedang yang telah dicabutnya, padahal tadi ketika pengeroyokan dia sama sekali tidak pernah mencabut pedangnya.
Kini bergerak cepat sekali, berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung menerjang ke arah tubuh Pendekar Super Sakti.
Sejenak timbul niat di hati Suma Han untuk benar-benar mencoba dan menguji sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Ketua Thian-liong-pang yang penuh rahasia ini dan untuk mengenal sumber ilmu kepandaiannya.
Akan tetapi dia menjadi bingung juga ketika melihat bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh wanita berkerudung itu adalah ilmu pedang campuran yang sukar diketahui atau dikenal lagi dasarnya.
Segala macam ilmu pedang partai besar di dunia persilatan terdapat dalam gerakan ilmu pedang ini!
Belum pernah selamanya dia menyaksikan ilmu pedang seperti itu, akan tetapi harus diakui bahwa gerakan wanita itu cepat sekali sedangkan desing suara angin yang terbelah oleh pedang itu sendiri menyatakan betapa kuatnya tenaga sin-kang yang dimiliki wanita itu!
Terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya dan balas menyerang, bukan menyerang sungguh-sungguh, hanya untuk memaksa lawan itu mengeluar-kan jurus simpanannya agar dia dapat mengenal dasar ilmu silatnya.
Akan tetapi, wanita berkerudung itu benar-benar hebat sekali karena sampai belasan jurus, dalam serang-menyerang itu, tidak pernah dia memperlihatkan dasar kepandaiannya, melainkan mainkan jurus campuran dari pelbagai ilmu pedang yang sudah "dicurinya"
Dari para tokoh yang pernah diculiknya.
Memang Nirahai amat lihai dan cerdik.
Dari ilmu-ilmu silat yang dilihatnya, dia dapat mengambil inti sarinya yang terpenting, kemudian menciptakan gabungan yang amat hebat, tentu saja dengan mendasarkan kepandaiannya sendiri sebagai unsur pokok yang terpenting.
Karena itu, kini Suma Han tidak dapat mengenal dasar ilmu pedangnya!
Suma Han memang tidak mempunyai niat untuk bertanding mati-matian.
Enam orang kang-ouw masih berada di situ, yaitu tiga orang hwesio, dua orang tosu dan seorang kang-ouw yang tentu akan terancam keselamatan mereka kalau tidak ditolongnya.
Pula, dia sendiri menghadapi banyak urusan besar.
Mencari Pedang Hok-mo-kiam saja belum berhasil.
Kalau dia harus melayani tantangan Ketua Thian-liong-pang yang galak dan entah mengapa selalu memusuhinya dan agaknya amat membencinya itu, berarti dia akan melibatkan diri dengan banyak urusan yang memusingkan kepala!
Apalagi sekarang terdapat kenyataan bahwa Thian-liong-pang yang diketuai oleh wanita aneh ini, aneh dan amat lihai, telah mengabdi kepada pemerintah!
Kalau dia melayani tantangannya, berarti akan menjadi berlarut-larut.
Padahal tindakan terhadap Koksu dan kaki tangannya yang telah menghancurkan Pulau Es tanpa alasan sama sekali!
Pertama, dia harus merampas kembali pedang Hok-mo-kiam.
Ke dua, dia harus minta pertanggungan jawab terhadap mereka yang telah menghancurkan Pulau Es dan Pulau Neraka.
Ke tiga, dia harus mencari ta-hu bagaimana dengan keadaan Lulu setelah Pulau Neraka dibakar!
Ke empat, dia harus menyelidiki pula keadaan isterinya, Puteri Nirahai, yang tidak diketahuinya di mana.
Dia sudah merasa amat rindu kepada mereka semua itu.
Kepada Lulu, kepada Puteri Nirahai, kepada anaknya dan anak Nirahai yang pernah dilihatnya beberapa tahun yang lalu!
"Para sahabat kang-ouw, harap lekas pergi dari tempat ini!"
Tiba-tiba Suma Han berkata.
"Tahan mereka! Jangan biarkan mereka pergi!"
Ketua Thian-liong-pang berteriak pula dari balik kerudungnya dengan suara yang bengis dan nyaring.
"Mengapa tidak biarkan mereka pergi saja....!"
Terdengar Milana berkata perlahan.
Dara ini semenjak tadi menangis secara diam-diam.
Menangis tanpa berani mengeluarkan suara atau air mata, takut kalau ketahuan ibunya.
Betapa dia tidak akan menangis, betapa dia tidak akan merasa seperti ditusuk-tusuk pisau jantungnya kalau melihat keadaan seperti itu?
Dia tahu bahwa Pendekar Super Sakti itu adalah ayah kandungnya sendiri!
Untung bahwa Pendekar Super Sakti tidak mengenalnya, tentu telah lupa karena tentu saja banyak terjadi perbedaan dan perubahan antara dia ketika masih kecil dengan dia sekarang yang telah menjadi seorang dara dewasa!
Betapa tidak akan hancur hatinya melihat ibu kandungnya bertanding dan memusuhi bahkan membenci ayah kandungnya sendiri?
Ingin sekali dia meloncat, ingin sekali dia terjun ke dalam gelanggang pertandingan itu, untuk memisah mereka, untuk membujuk ibunya.
Akan tetapi dia tidak berani.
Kalau dia melakukan hal itu, tentu ibunya akan marah bukan main.
Dia tidak boleh membuka rahasia ibunya!
Karena itulah dia merasa tertekan perasaannya, merasa berduka sekali dan menangis di dalam hatinya, kemudian, tanpa disadarinya, dia mencela ibunya mengapa tidak membiarkan mereka itu pergi saja?
Bukan hanya mereka orang-orang kang-ouw itu, akan tetapi terutama sekali ayah kandungnya!
Kalau memang ibunya tidak suka kepada ayah kandungnya, mengapa harus memusuhinya, tidak membiarkan saja pergi?
Suma Han mendengar suara gadis itu dan diam-diam ia merasa heran.
Tadi dia mendengar gadis itu terisak, biarpun isak yang ditahan, kini mendengar gadis itu berkata demikian.
Bukankah gadis itu seorang anggauta Thian-liong-pang yang paling penting, bahkan kalau tidak salah pendengarannya tadi sebelum ia memperlihatkan diri, gadis itu adalah puteri Ketua Thian-liong-pang.
Puteri wanita berkerudung yang kejam itu!
Hemm, jalan satu-satunya untuk mengendalikan Thian-liong-pang adalah puterinya ini.
Pikiran ini menyelinap di dalam otaknya dan tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya dengan pengera-han tenaga.
"Trangggg!"
Ketua Thian-liong-pang terkejut sekali karena tahu-tahu lawannya lenyap.
Tentu saja dia mengenal Pendekar Super Sakti dan maklum pula bahwa pendekar itu telah menggunakan ilmunya yang mujijat, yaitu Gerak Kilat Soan-hong-lui-kun.
Akan tetapi yang membuat dia terkejut adalah ketika melihat bayangan pendekar itu mencelat ke arah puterinya, Milana yang berdiri dengan muka tunduk.
Nirahai mengeluarkan keluh perlahan dan otomatis menyimpan pedangnya, berdiri dengan kedua kaki gemetar!
Milana sendiri kaget setengah mati ketika tiba-tiba tangan kanannya disambar dan dipegang oleh tangan kiri Pendekar Super Sakti, kemudian tampak sinar berkelebat ketika ujung tongkat itu telah menodong lehernya.
"Tidak.... tidak.... jangan....!"
Milana menjadi pucat, terbelalak memandang laki-laki itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia sama sekali bukan takut terbunuh melainkan merasa ngeri kalau sampai ayah kandungnya itu tidak mengenalnya dan kesalahan tangan membunuhnya.
Sebagai seorang dara perkasa yang telah digembleng kegagahan sejak kecil, mati bukan apa-apa baginya, akan tetapi mati di tangan ayah kandungnya sendiri benar-benar merupakan hal mengerikan!
Suma Han sendiri terbelalak kaget melihat wajah cantik jelita itu, yang tertimpa sinar matahari dan kelihatan pucat sekali.
Betapa cantiknya dara ini!
Tentu amat disayang oleh ibunya.
Ketua Thian-liong-pang yang seperti iblis itu!
"Thian-liong-pangcu, lekas kau bebaskan para sahabat kang-ouw itu, kalau tidak, terpaksa kubunuh anakmu di depan matamu!"
Suma Han mengancam.
"Kau....! Kau....!"
Nirahai tergagap-gagap sehingga mengherankan hati semua orang.
Juga Tang Wi Siang merasa heran sekali.
Dialah seorang di antara mereka yang mengenal siapa adanya Ketuanya yang selalu berkerudung itu.
Pada waktu Nirahai menguasai Thian-liong-pang, setelah mengalahkan semua tokohnya, pernah dia memperkenalkan diri sehingga Tang Wi Siang tahu bahwa Ketuanya adalah Puteri Nirahai, puteri Kaisar sendiri dan tahu bahwa Milana adalah (Lanjut ke
Jilid 31) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 puterinya.
Akan tetapi, dia tidak tahu siapa ayah Milana dan dia pun tidak berani bertanya, karena bertanya berarti memancing maut!
Dia pun tidak berani ketika Nirahai membantu pemerintah membasmi para pemberontak.
Akan tetapi mengapa kini sikap Nirahai demikian berubah?
Mengapa kelihatan begitu ketakutan setelah puterinya diancam oleh Pendekar Siluman?
"Pangcu, bolehkah saya suruh mereka pergi saja?"
Tang Wi Siang mendekati ketuanya dan bertanya penuh hormat. Nirahai mengangguk.
"Yaaah, suruh mereka pergi."
"Kalian boleh pergi dari sini!"
Tang Wi Siang berkata kepada tiga orang hwesio, dua orang tosu dan seorang kang-ouw yang berpakaian seperti guru silat itu.
Mereka berenam segera menjura ke arah Pendekar Super Sakti untuk mengha-turkan terima kasih, akan tetapi Suma Han cepat berkata tanpa menghentikan dorongan tongkatnya dari tenggorokan Milana.
"Harap Cu-wi segera pergi!"
Enam orang itu lain membawa jenazah kawan masing-masing dan pergi dari situ dengan cepat. Setelah bayangan mereka lenyap, barulah Suma Han berkata.
"Thian-liong-pangcu, terpaksa kulakukan hal ini...."
"Kau.... laki-laki pengecut!"
Suma Han menghela napas panjang.
"Benar agaknya, akan tetapi ketahuilah bahwa aku melakukan ini bukan karena takut bertanding melawanmu, melainkan karena aku ingin mengambil jalan damai agar tidak jatuh korban-korhan lebih banyak lagi. Sekarang, terpaksa anakmu kubawa dulu, dan baru akan kulepaskan dia, kukembalikan kepadamu kalau Thian-liong-pang sudah menghentikan sepak terjangnya yang mengacaukan dunia kang-ouw!"
"Keparat, kembalikan anakku!"
Nirahai membentak.
"Pangcu, selamat berpisah!"
Suma Han menotok Milana, disambarnya tubuh dara itu dan dia bersuit keras. Burung rajawali hitam menjawab suitannya dari jauh dan terbang menghampiri.
"Suma Han! Kembali kau!"
Nirahai mengejar, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat menyusul Suma Han yang berlompatan dengan ilmunya Soan-hong-lui-kun, kemudian bahkan meloncat ke atas punggung rajawali yang terbang rendah.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati Tang Wi Siang dan teman-temannya ketika mereka semua turut mengejar, mereka tidak melihat lagi Pendekar Siluman yang pergi membawa puteri Ketua mereka naik punggung rajawali dan melihat Ketua mereka mendeprok di atas tanah sambil menangis!
Sejenak mereka hanya dapat saling pandang dengan bingung.
Akhirnya Tang Wi Siang berlutut dan berkata.
"Maaf, Pangcu. Kalau Pangcu menghendaki, kami seluruh anggauta dan pimpinan Thian-liong-pang sanggup untuk dikerahkan dan mencari serta merampas kembali Nona Milana dari tangan Pendekar Siluman!"
Nirahai mengangkat mukanya yang berkerudung, menahan isak dan bangkit berdiri.
Kedatangan anak buahnya membuat dia sadar kembali dan dapat menguasai hatinya.
Dia terlalu marah kepada Suma Han.
Butakah mata suaminya itu sehingga tidak mengenal anaknya lagi?
Ataukah....
Suma Han memang sengaja berpura-pura tidak mengenal Milana dan sengaja membawa Milana pergi untuk mengendalikannya?
Betapapun juga, dia menangis bukan karena mengkhawatirkan keselamatan anaknya.
Sama sekali tidak!
Dia sudah mengenal siapa adanya orang yang pernah menjadi suaminya itu!
Andaikata benar-benar Suma Han lupa bahwa gadis itu anaknya sendiri sekalipun, dia tidak usah mengkhawatirkan keselamatan Milana.
Suma Han adalah seorang pria yang boleh dipercaya sepenuhnya!
Yang dia tangiskan adalah sikap Suma Han, orang yang dicintanya sepenuh jiwa raga, akan tetapi juga menimbulkan sakit hati dan bencinya!
"Mari kita pulang,"
Katanya kepada Tang Wi Siang.
"Suruh anak buah mengubur semua jenazah itu."
"Semua, Pangcu? Juga jenazah pihak musuh?"
"Semua! Aku hendak pulang lebih dulu. Jangan melibatkan diri dalam pertempuran dengan siapapun juga. Kalau sudah selesai, cepat pulang menyusulku."
"Baik, Pangcu."
Akan tetapi belum habis jawaban Wi Siang, tubuh wanita berkerudung itu telah berkelebat dan lenyap dari situ.
Tang Wi Siang menarik napas dalam.
Dia kagum kepada Ketuanya itu, kagum dan penuh hormat, juga merasa setia dan sayang karena selama ini Nirahai telah bersikap baik sekali kepadanya bahkan memberinya beberapa ilmu silat yang tinggi.
Akan tetapi, sam-pai sekarang belum juga dia dapat mengenal watak Ketuanya itu, apalagi tadi ketika Ketuanya itu berhadapan dengan Pendekar Siluman.
Dia tahu bahwa Ketuanya amat sakti, semua tokoh kang-ouw dan partai-partai persilatan yang besar tidak ada yang mampu menandinginya.
Dia ingin sekali menyaksikan, siapa yang lebih sakti antara Ketuanya dan Pendekar Siluman!
Hal yang benar-benar amat menarik dan membuat dia ingin sekali tahu, sungguhpun hatinya tegang dan gelisah memikirkan betapa Ketuanya yang tercinta itu bertanding melawan Pendekar Siluman yang kabarnya dapat membunuh lawan hanya dengan sinar matanya!
Tang Wi Siang sadar dari lamunannya dan ia cepat memerintahkan anak buahnya untuk mengubur semua jenazah yang jatuh menjadi korban dalam pertandingan tadi.
Baru saja selesai dan mereka habis mencuci kaki dan tangan, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda tampan telah berdiri di depan mereka!
Tang Wi Siang dan lima orang gadis cantik para pelayan pembantunya, siap menghadapi segala kemungkinan, sedangkan anak buah Thian-liong-pang bekas pengikut Milana yang tinggal tiga orang jumlahnya, menjadi kaget sekali dan cepat seorang di antara mereka berkata.
"Tang-kouwnio, dia.... dia.... adalah putera Majikan Pulau Neraka...."
Tang Wi Siang terkejut sekali.
Akan tetapi pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Keng In, tidak bicara apa-apa, hanya melangkah maju menghampiri Tang Wi Siang dan lima orang gadis pelayan, matanya memandang penuh selidik lalu menengok ke kanan-kiri, seperti orang mencari-cari.
Tadinya enam orang wanita itu mengira bahwa pemuda tampan yang disebut sebagai putera Majikan Pulau Neraka ini tentu mata keranjang dan seorang demi seorang, wajah para wanita ini sudah menjadi merah karena malu dan marah.
Akan tetapi ketika melihat pemuda itu seperti mencari-cari, mereka menjadi heran.
"Mana dia....?"
Tiba-tiba Wan Keng In bertanya, pertanyaan yang ditujukan kepada mereka semua.
Suaranya halus dan manis, akan tetapi mengandung sesuatu yang membuat rombongan orang Thian-liong-pang itu bergidik ngeri.
Kecuali Tang Wi Siang, karena wanita ini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sama sekali tidak takut berhadapan dengan orang yang dikatakan putera Majikan Pulau Neraka.
Hanya seorang pemuda remaja, pikirnya.
"Dia siapa yang kau cari?"
Tang Wi Siang balas bertanya, suaranya dingin sekali.
Biarpun pangcunya sudah berpesan agar dia tidak membawa orang-orangnya terlibat dalam pertempuran, akan tetapi kalau orang ini tokoh besar Pulau Neraka, tentu saja dia tak tinggal diam.
"Siapa lagi? Nona cantik jelita puteri Ketua Thian-liong-pang! Di mana dia? Kalian ini bukankah orang-orang Thian-liong-pang?"
Wan Keng In bertanya lagi.
"Benar kami orang-orang Thian-liong-pang. Engkau ini orang Pulau Neraka mencari Nona Majikan kami, ada keperluan apakah?"
Tang Wi Siang membentak marah.
"Hemmm, dia harus menjadi isteriku. Dia calon isteriku!"
"Jahanam bermulut lancang!"
Tang Wi Siang marah sekali dan tubuhnya mencelat ka atas lalu turun menyambar dengan serangan dahsyat ke arah kepala Wan Keng In!
Wanita itu memang memiliki ilmu kepandaian istimewa berdasarkan gin-kang yang luar biasa, yang diajarkan oleh Nirahai kepadanya, yaitu Ilmu Yan-cu-sin-kun.
Melihat datangnya serangan yang amat cepat itu, tahu-tahu tangan kiri wanita itu memukul ke arah ubun-ubun kepalanya.
Wan Keng In terkejut juga, cepat ia miringkan kepala sambil melangkah mundur.
Akan tetapi, Ilmu Silat Yan-cu-si-kun (Silat Sakti Burung Walet) benar-benar hebat sekali, karena begitu pukulannya luput, dan tubuhnya melayang, cepat sekali tubuh wanita itu sudah berjungkir balik dan tahu-tahu kedua tangannya telah memukul lagi dari kanan-kiri mengarah kedua pelipis!
"Plak-plak!"
Wan Keng In yang kaget sekali cepat menangkis dan tangkisan itu membuat tubuh Tang Wi Siang terpelanting!
Sekarang wanita inilah yang terkejut.
Kiranya pemuda itu memiliki kepandaian tinggi.
Dia cepat meloncat dan mengirim Pukulan Touw-sin-ciang (Pukulan Menembus Hati) yang mengandung sin-kang kuat.
"Plakk!"
Kembali Wan Keng In menangkis dan sekali ini ia mengerahkan tenaga sehingga tubuh Tang Wi Siang terbanting keras.
Marahlah para anak buah Thian-liong-pang yang delapan orang banyaknya itu melihat wanita kepercayaan Ketua mereka roboh.
Cepat mereka mencabut senjata dan menerjang maju, mengeroyok pemuda lihai itu.
Tang Wi Siang juga sudah meloncat bangun dan mencabut pedangnya, mainkan ilmu Pedang Bu-tong Kiam-sut yang sudah disempurnakan oleh Ketuanya.
Wan Keng In dikeroyok oleh sembilan orang yang semuanya bersen-jata!
Namun pemuda itu sama sekali tidak menjadi gentar.
Bahkan dia tersenyum, senyum yang membuat wajahnya makin menarik dan tampan.
Dia sama sekali tidak mengeluarkan senjata, hanya meloncat ke sana-sini sambil berkata.
"Hemm, Bibi yang cantik, engkau agaknya yang menjadi pimpinan rombongan ini. Baiklah, aku akan membiarkan kalian menghadap Ketua kalian dan katakan bahwa aku akan menyembuhkan kalian kalau puterinya dijodohkan dengan aku. Kalau tidak, kalian akan tewas dan seluruh anggauta Thian-liong-pang akan kubasmi, kecuali puteri Ketua yang harus menjadi isteriku, mau atau tidak!"
Tentu saja kata-katanya itu membuat Tang Wi Siang dan teman-temannya menjadi marah sekali dan mereka tidak dapat menjawab saking marahnya, hanya mempercepat gerakan mereka menyerang dengan pergerahan tenaga sekuatnya.
Ingin mereka mencincang hancur tubuh pemuda yang begitu kurang ajar, hendak memaksa nona mereka menjadi isterinya dan mengancam akan membasmi seluruh anggauta Thian-liong-pang kalau kehendaknya tidak dipenuhi!
Mana di dunia ini ada kesombongan dan kekurangajaran yang sehebat itu?
Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara tertawa seperti ringkik kuda dan tiga orang yang menyerang paling dekat dengannya tiba-tiba menjadi lemas sehingga mereka tidak mampu mengelak atau menangkis lagi ketika tangan kiri pemuda itu menepuk punggung mereka, seorang sekali.
"Plak! Plak! Plak!"
Tiga orang itu roboh terjungkal dan batuk-batuk, dari mulut mereka keluar darah merah.
Tang Wi Siang marah sekali, menggerakkan pedangnya dan menyerbu ke arah perut pemuda itu sambil menggerakkan tangan kiri pula untuk memukul dengan mengerahkan tenaga Touw-sim-ciang ke arah dada kiri Wan Keng In.
Pemuda itu mengelak sedikit untuk menghindarkan tusukan pedang, akan tetapi dia agaknya tidak tahu akan datangnya pukulan tangan kiri Wi Siang yang ampuh itu.
Tang Wi Siang merasa girang sekali karena pukulannya mengenai sasaran yang tepat dan betapapun lihainya pemuda itu, pukulannya yang menembus jantung itu tentu akan merobohkahnya, atau sedikitnya melukai isi dadanya.
"Plakkk!"
Betapa kaget hati Wi Siang ketika telapak tangannya melekat pada dada kiri pemuda itu yang agaknya sama sekali tidak merasakan apa-apa dan bahkan kini tangan kanan pemuda itu telah mencengkeram pergelangan tangannya yang memegang pedang dan sekali memutar tubuhnya terbawa membalik dan sebuah tepukan pada punggungnya membuat Tang Wi Siang terguling, kepalanya terasa pening, tenggorokannya gatal membuat dia terbatuk-batuk dan muntahkan darah merah!
Cepat sekali Wan Keng In bergerak, tubuhnya seperti lenyap dan beruntun ia telah menepuk punggung lima orang gadis pelayan pembantu Tang Wi Siang sehingga mereka ini hampir tidak tahu apa yang membuat mereka roboh terguling, dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah.
Sembilan orang itu, termasuk Tang Wi Siang yang amat lihai, telah roboh dan terluka oleh Wan Keng In dalam waktu beberapa menit saja!
Kalau Tang Wi Siang tidak terkena pancingannya, tidak mengira bahwa pukulan Touw-sim-ciang sama sekali tidak dapat menembus kekebalan tubuh Wan Keng In dan kalau wanita itu menggunakan ilmu silatnya untuk mempertahankan diri, kiranya biarpun akhirnya dia akan roboh juga, namun sedikitnya pemuda itu harus menggunakan waktu yang lebih lama.
Namun, pemuda itu cerdik sekali dan dia sudah tahu akan kelihaian Tang Wi Siang, maka dia sengaja membiarkan dirinya terpukul untuk dapat merobohkan wanita itu dalam waktu yang lebih cepat.
"Bibi yang cantik, katakanlah kepada Ketuamu bahwa kalau dalam waktu sebulan dia tidak menerima pinanganku dan tidak mengumumkan bahwa puterinya telah menjadi tunangan Wan Keng In dari Pulau Neraka, kalian akan mati dan aku akan datang sendiri ke sana untuk mengambil calon isteriku dan membasmi Thian-liong-pang. Akan tetapi kalau dia menerima pinanganku, Thian-liong-pang akan menjadi perkumpulan yang terkuat di dunia ini karena bantuanku!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, bayangan pemuda itu lenyap dari dalam hutan.
Tang Wi Siang cepat meloncat bangun, menahan rasa nyeri di dalam dadanya.
Ia melihat bahwa semua anak buahnya sudah dapat berdiri akan tetapi menyeringai tanda bahwa mereka pun menderita nyeri.
Tahulah dia bahwa mereka semua telah terluka di sebelah dalam tubuh oleh tepukan pada punggung tadi.
"Buka bajumu!"
Katanya kepada seorang anggauta Thian-liong-pang pria yang tadi telah dirobohkan.
Orang itu membuka bajunya, setelah diperiksa ternyata di punggungnya terdapat bekas jari yang berwarna merah!
"Hemmm, pukulan beracun, seperti yang kuduga,"
Kata Tang Wi Siang yang memang sudah menduga bahwa tokoh Pulau Neraka itu tentu menggunakan pukulan beracun.
"Manusia sombong itu! Apa dikira Pangcu kita tidak akan dapat menyembuhkan pukulan beracun macam ini saja? Hayo, kita cepat pulang menyusul Pangcu, membuat laporan agar Pangcu dapat mengobati kita dan mencari si keparat itu untuk diberi hajaran!"
Biarpun mulutnya berkata demikian, namun di dalam hatinya Tang Wi Siang merasa gelisah dan tegang sekali karena dari pertandingan tadi saja dia sudah maklum bahwa pemuda itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat luar biasa!
Dengan perasaan tertekan sembilan orang itu melakukan perjalanan tergesa-gesa dan tanpa mengeluarkan kata-kata menyusul Ketua mereka, pikiran mereka tidak pernah terlepas dari tanda tiga buah jari merah yang menempel di punggung mereka dan tersembunyi di bawah baju masing-masing.
"Hu-hu-huukkk....!"
Milana tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi ketika dia sudah berdua saja dengan Pendekar Super Sakti di atas punggung burung rajawali yang terbang tinggi menembus awan.
Mula-mula dia merasa bahagia sekali dapat duduk membonceng ayah kandungnya di atas punggung rajawali itu, hal yang sudah lama dia impi-impikan.
Akan tetapi dia teringat kembali kepada ibunya, teringat akan peristiwa antara ibu dan ayahnya, akan permusuhan antara ibu dan ayahnya dan akan rahasia ibunya yang tidak diketahui ayahnya.
Bagaimana dia dapat bergembira biarpun kini dia dapat membonceng ayah kandungnya kalau ayahnya itu tidak mengenal dan dia tidak boleh memperkenalkan diri?
Dia tidak akan memperkenalkan diri sebagai Milana, sebagai puteri Pendekar Super Sakti ini, demi menjaga rahasia ibunya.
Betapapun juga dia harus membela ibunya!
Dan dia pun kini mendapat kesempatan untuk mengenal dari dekat orang macam apakah yang menjadi ayah kandungnya ini.
"Eh, Nona mengapa engkau menangis?"
Tiba-tiba Suma Han bertanya kepada dara yang duduk di depannya, membelakanginya ketika ia mendengar dara itu terisak.
"Apakah setelah menjadi tawananmu, aku tidak boleh menangis?"
Milana bertanya tanpa menoleh.
"Hemm.... wanita dan tangis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tentu saja engkau boleh menangis, akan tetapi kurasa, sebagai puteri seorang ketua perkumpukan besar macam Thian-liong-pang, amatlah memalukan kalau harus memperlihatkan kekecilan hati dan menjadi seorang yang cengeng."
Rasa panas membubung ke dada Milana dan dia menggigit bibir, mengusir sisa tangis yang berada di dalam dadanya.
"Aku tidak cengeng! Aku tidak kecil hati!"
Bantahnya.
Suma Han yang duduk di belakangnya, tersenyum.
Dia maklum bahwa tentu puteri Ketua Thian-liong-pang ini membencinya dan menganggapnya musuh, akan tetapi semenjak tadi, dia sudah melihat perbedaan watak yang besar sekali antara Ketua Thian-liong-pang dan puterinya ini.
Gadis ini sama sekali tidak berwatak kejam, liar dan ganas seperti ibunya.
Sebaliknya dara ini mempunyai watak lembut, terbukti dari isak-nya dan pencelaannya kepada ibunya ketika berada di hutan tadi.
Kini, kembali tampak sifat halusnya dengan isak yang tertahan-tahan akan tetapi betapapun juga, ada setitik darah ibunya sehingga dara ini melawan perasaan sendiri dan kini berpura-pura memperlihatkan sikap keras seperti sikap ibunya!
Ahh, betapa terbuka keadaan hati dan pikiran dara ini baginya sehingga biarpun dara itu duduk membelakanginya dan dia tidak dapat melihat wajahnya yang memang belum diperhatikannya benar-benar, dia sudah dapat menjenguk isi hati dan mengenal wataknya!
"Kalau begitu mengapa menangis?"
Ih, betapa halus suara ayahnya!
Orang yang mempunyai suara halus dan menggetarkan perasaan yang halus pula itu tak mungkin seorang jahat, biarpun dijuluki Pendekar Siluman sekalipun!
Bagaimana ibunya mencacinya sebagai seorang yang pengecut, tidak berjantung, tiada perasaan?
"Kenapa engkau menawan aku?
Apakah benar untuk menekan Thian-liong-pang agar tidak membantu pemerintah membasmi para pengacau dan pemberontak lagi?"
Milana merasa betapa orang yang duduk di belakangnya itu menghela napas panjang.
Ingin sekali dia menengok dan memandang wajah yang menimbulkan rasa sayang dan kagum di dalam hatinya itu, ingin melihat tarikan muka itu dan sinar mata yang aneh itu.
Akan tetapi, pada saat itu dia sedang bersandiwara, harus beraksi seperti orang yang asing sama sekali, yang tidak mengenal Pendekar Super Sakti, maka tidak akan sopanlah sebagai seorang gadis tertawan kalau dia ingin memandang muka pria yang menawan.
"Nona, biarlah engkau mendengar hal yang sesungguhnya. Bukan menjadi pendirianku untuk mempergunakan cara pemerasan seperti ini, untuk menggunakan seorang gadis muda sebagai alat un-tuk menekan Thian-liong-pang. Cara ini, tepat seperti pendapat ibumu, adalah cara seorang pengecut. Kalau memang aku berniat menentang Thian-liong-pang, tentu akan kupergunakan cara laki-laki, yaitu langsung menentangnya dan menghadapinya seperti seorang gagah, tinggal melihat hasilnya, menang atau kalah. Akan tetapi, setelah aku melihatmu di sana tadi.... hemm, aku berpendapat lain dan aku menawanmu dengan maksud lain pula...."
Berdebar keras jantung Milana dan dia menarik tubuh ke depan agar orang yang berada di belakangnya itu jangan sampai tahu debar jantungnya.
Dia lupa bahwa yang duduk di belakangnya adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga pendengarannya sudah amat tajam, dapat membedakan debar jantung yang berubah, apalagi dari jarak demikian dekat!
Ayah kandungnya ini menawannya bukan untuk dipergunakan sebagai sandera, bukan untuk memeras dan menekan Thian-liong-pang!
Habis untuk apa?
"Maksud apalagi kalau bukan untuk menekan Ibuku?"
Tanyanya, menekan hatinya agar suaranya terdengar biasa.
Tentu saja Suma Han dapat membedakan pula suara menggetar yang terbawa oleh perasaan tegang itu, dan dia tersenyum, menduga tentu gadis ini mengira bahwa dia mempunyai niat yang bukan-bukan!
"Ketika aku melihatmu di sana tadi, timbul rasa kasihan di hatiku.
Betapa seorang gadis muda yang berdasarkan watak halus dan hati penuh welas asih dan mulia, bergelimang dalam perbuatan-perbuatan rendah yang dilakukan oleh Thian-liong-pang!
Kalau dibiarkan saja, akhirnya tentu anak itu akan menjadi rusak dan menjadi seorang wanita yang kejam, liar, ganas dan berwatak iblis, seperti ibunya yang menjadi Ketua Thian-liong-pang!
Karena itu, timbul niatku untuk membawamu pergi dari lingkungan kotor ini!"
Tiba-tiba Milana menoleh dan matanya terbelalak penuh kemarahan.
"Tidak! Biarkan aku kembali! Aku tidak peduli, aku lebih senang kalau menjadi seperti Ibu! Dia tidak jahat, engkaulah yang jahat dan kejam! Engkau membiarkan Ibuku merana dan sengsara dalam hidupnya!"
"Hahhh....? Apa maksudmu? Aku membikin Ibumu hidup sengsara?"
Milana terkejut sendiri. Dia telah kelepasan bicara. Cepat ia memutar otak mencari alasan.
"Tentu saja engkau telah menculik aku, anaknya, bagaimana Ibu tidak merasa sengsara dalam hidupnya memikirkan keselamatanku?"
"Ah, begitukah? Kalau dia masih mempunyai perasaan seperti seorang ibu biarlah dia sadar bahwa dalam hidupnya, jauh lebih penting memikirkan masa depan puterinya daripada melampiaskan nafsu kemurkaan melalui Thian-liong-pang. Biarlah dia menderita agar dia sadar. Kalau dia sudah sadar, aku pun tentu saja tidak akan suka memisahkan seorang anak dari ibu kandungnya."
Setelah berkata demikian, Suma Han menepuk leher rajawali dan menekan berat tubuhnya ke kiri sehingga burung itu segera menukik ke kiri dan meluncur turun.
Burung itu meluncur cepat sekali sehingga biarpun Milana telah memiliki kepandaian tinggi, dia merasa pening dan ngeri juga.
Akan tetapi di depan penawannya, atau bahkan ayah kandungnya, dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya, dan untuk menutupi rasa ngeri dan takutnya, dia bertanya.
"Engkau mau membawa aku ke mana?"
"Engkau takut?"
Wah, ayahnya ini benar-benar amat waspada! "Tidak!"
Jawabnya, akan tetapi suaranya gemetar juga ketika ia melirik ke bawah dan melihat seolah-olah dia dibawa jatuh ke bawah dengan kecepatan mengerikan!
"Jangan takut, menunggang burung ini lebih aman daripada menunggang seekor kuda."
Milana tidak menjawab lagi karena percuma saja dia hendak menyembunyikan rasa ngerinya.
Setelah penculiknya tahu, tidak lagi berpura-pura dan untuk mengusir rasa takutnya, dia memegangi tangan Pendekar Super Sakti yang membiarkannya saja sambil diam-diam tersenyum karena Suma Han maklum betapa ngeri dan takutnya menunggang burung rajawali, apalagi kalau menukik turun, bagi seorang yang belum bisa.
Dia sendiri ketika mula-mula menunggang burung garuda di Pulau Es, juga berkunang-kunang dan merasa ngeri!
Burung itu hinggap di atas tanah di luar sebuah dusun.
Suma Han meloncat turun diikuti oleh Milana.
Suma Han lalu mendorong tubuh burung rajawali itu sehingga terlempar ke atas dan burung itu segera terbang tinggi.
"Mengapa kita turun di sini? Engkau hendak membawaku ke mana?"
Sambil membalikkan tubuhnya rnenghadapi gadis itu Suma Han menjawab.
"Kita akan pergi ke...."
Tiba-tiba Suma Han tidak melanjutkan kata-katanya dan dia berdiri dengan mata terbelalak dan mulut agak terbuka seperti terkena pesona ketika memandang wajah dara itu.
Baru sekarang dia dapat melihat wajah Milana dengan jelas dan dari jarak dekat.
Mulut itu!
Mata itu!
Mata yang mengandung sinar seolah-olah dua ujung pedang yang amat runcing menusuk sampai ke lubuk hati!
Mata dan mulut yang sangat dikenalnya, tidak asing sama sekali baginya, akan tetapi selama hidupnya baru sekali ini dia berjumpa dengan puteri Ketua Thian-liong-pang!
"Kau....
kau kenapa, Paman?"
Milana bertanya.
Suaranya yang halus itu menyadar-kan Suma Han.
Dia menarik napas panjang lalu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menggosok-gosok kedua matanya, kemudian menggosok seluruh mukanya terus ke leher dan ke tengkuknya yang dirasakan meremang tanpa dia ketahui sebabnya.
"Aaahhh.... tidak apa-apa...."
Dia menghindarkan pandang matanya bertemu dengan sinar mata gadis itu dan tidak ingin lagi memandang wajah itu lama-lama karena merasa aneh dan....
ngeri!
"Aku hendak membawamu ke kota raja."
"Ke kota raja? Mengapa ke sana, Paman? Apakah engkau sekarang tinggal di kota raja setelah.... setelah.... kudengar...."
Karena Pulau Es merupakan tempat tinggal ayah kandungnya, tempat yang sudah lama ia rindukan, maka mendengar betapa pulau itu dibakar, Milana merasa terkejut dan duka, maka sekarang dia pun merasa sukar untuk melanjutkan kata-katanya.
"Setelah Pulau Es dibakar? Tidak, aku tidak tinggal di kota raja atau di mana pun."
"Jadi, engkau sekarang tidak mempunyai tempat tinggal, Paman?"
Suma Han menggelengkan kepalanya dan diam-diam merasa betapa aneh keadaan mereka berdua itu.
Dia adalah penculik dan gadis itu yang diculik dan ditawannya, akan tetapi mereka bercakap-cakap seperti seorang paman dan keponakannya saja, saling bersimpati dan saling menaruh kasihan!
"Kalau begitu, ke mana Paman hendak ke kota raja?"
"Aku akan minta pertanggungan jawab mereka yang telah membakar Pulau Es dan Pulau Neraka, dan aku akan merampas kembali Pedang Hok-mo-kiam...."
"....yang dicuri oleh Pendeta Iblis Maharya dan muridnya?"
"Eh, bagaimana engkau bisa tahu?"
Tiba-tiba Suma Han bertanya dan kembali dia merasa jantungnya seperti diguncang ketika memandang wajah yang cantik jelita luar biasa itu.
Ingin rasanya Milana menampar mulutnya sendiri karena kelepasan bicara itu.
"Siapa yang tidak tahu, Paman? Hal itu sudah diketahui di dunia kang-ouw, dan aku mendengar dari Ibuku."
Suma Han tidak merasa heran.
Peristiwa itu diketahui oleh orang lain, juga oleh Gak Bun Beng.
Andaikata pemuda itu tidak membicarakannya di luar, bisa jadi saja kalau Tan-siucai atau Gurunya membual bahwa mereka telah merampas Hok-mo-kiam dari tangan Pendekar Super Sakti sehingga peristiwa itu diketahui oleh Ketua Thian-liong-pang yang lihai dan berpengaruh.
"Hemm, begitukah? Benar, pedang itu akan kurampas kembali dari tangan mereka. Aku mendengar bahwa kini mereka pun membantu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan berada di kota raja."
"Wah, Paman hendak mencari banyak musuh di kota raja. Bagaimana dengan aku?"
"Engkau ikut saja denganku, tidak akan ada yang berani mengganggu."
"Habis, untuk apa aku ikut kalau hanya disuruh menonton? Apakah Paman.... ingin supaya aku membantu Paman itu?"
Suma Han tertawa.
Bocah ini sungguh menyenangkan hatinya.
Sikapnya begitu halus dan wajar, sedikitpun juga tidak memperlihatkan sikap bermusuhan padahal jelas bahwa dia telah membawanya secara paksa!
"Tidak, Nona.
Engkau ikut saja denganku dan di waktu terluang, aku akan mengajarkan ilmu kepadamu."
Hampir saja Milana bersorak saking girang hatinya.
Di antara hal-hal yang amat dirindukan adalah belajar ilmu dari ayah kandungnya, dari Pendekar Super Sakti, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es yang terkenal di seluruh jagad!
Akan tetapi dia menahan diri dan hanya kelihatan betapa bibirnya yang merah dan berbentuk kecil mungil indah itu merekah dalam senyum, sepasang matanya yang lebar itu terbelalak dan bersinar-sinar penuh keriangan hati.
Hal ini tidak lepas dari pandangan mata Suma Han sehingga diam-diam pendekar ini merasa terharu dan timbul rasa suka yang mendalam di hatinya terhadap gadis ini, timbul pula niat hatinya untuk menurunkan ilmu-ilmu yang paling tinggi kepadanya!
"Terima kasih, Paman.
Engkau baik sekali!"
"Ha-ha-ha...!"
Suma Han sendiri sampai terkejut.
Bertahun-tahun sudah dia tidak pernah tertawa.
Akan tetapi kini, tanpa disadarinya, dia telah tertawa begitu bebas, suara ketawa yang langsung keluar dari dalam hatinya.
Bocah ini telah menciptakan sesuatu yang amat aneh dalam hatinya!
"Paman, kenapa kau tertawa?"
"Aku.... tertawa....? Ahhh, karena mendengar ucapanmu yang lucu tadi, Nona. Kau bilang aku baik sekali padahal aku adalah penculikmu!"
"Biarpun begitu, sikapmu amat baik kepadaku, Paman dan aku suka ikut bersamamu. Aku merasa bahwa dengan ikut padamu, aku akan mengalami hal-hal yang hebat, dan lagi, menerima pelajaran ilmu dari Pendekar Super Sakti merupakan hal yang amat menyenangkan sekali. Bagaimana aku tidak menjadi gembira dan menganggap Paman seorang yang amat baik? Nanti kalau bertemu dengan Ibu aku akan meyakinkan hatinya betapa baiknya budi pekerti Paman."
Suma Han menghela napas.
"Aaahh.... kalau ada yang menganggap baik tentu ada yang menganggap sebaliknya, yaitu jahat. Dan aku sendiri tidak tahu siapa yang lebih benar di antara mereka yang menyebut baik dan mereka yang menyebutku jahat."
"Bagaimana ini? Aku tidak mengerti, Paman?"
"Tak usah kau pikirkan. Jangan merusak hatimu yang masih polos itu dengan teka-teki hidup yang tiada habisnya, juga tiada gunanya. Eh, Nona, engkau kuanggap sebagai muridku atau sebagai.... keponakanku sendiri.... ehhh, aku jadi teringat kepada Kwi Hong! Ke mana gerangan perginya bocah bengal yang sukar diurus itu?"
"Kwi Hong? Apakah Paman maksudkan bahwa keponakan Paman yang bernama Kwi Hong pergi tanpa pamit?"
Suma Han mengangguk.
"Bocah itu nakal bukan main. Dia pergi merantau tidak menggelisahkan karena ilmu kepandaiannya sudah cukup tinggi untuk menjaga diri. Akan tetapi, dia membawa pergi pedang Li-mo-kiam, itulah yang menggelisahkan hatiku...."
Tiba-tiba Milana meloncat kaget.
"Aihhh....! Kalau begitu diakah....?"
Terbayang olehnya seorang gadis yang telah menyelamatkannya ketika ia hampir saja tertawan oleh Wan Keng In, seorang gadis yang keluar dari dalam peti mati, dan yang memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kilat!
Gadis itu pula yang telah mengacau di rumah penginapan, menyelidiki keadaan rombongan Thian-liong-pang!
Ahh, mengapa dia begitu pelupa?
Tentu gadis perkasa itu Kwi Hong!
"Heiii!
Apa engkau pernah bertemu dengannya?"
Suma Han bertanya kaget.
Milana mengangguk, belum berani membuka mulut karena dia harus menekan perasaannya yang terguncang.
Bertemu dengan Kwi Hong dan dia tidak mengenalnya, apakah Kwi Hong juga tidak mengenalnya ketika menyelidiki rumah penginapan?
Dan apakah Kwi Hong baru mengenalnya ketika turun tangan menolongnya?
"Aku pernah bertemu dengan seorang gadis cantik yang membawa pedang bersinar kilat, Paman.
Dia pernah menyelidiki rombongan Thian-liong-pang, hampir tertangkap olehku, akan tetapi dia lihai sekali dan dapat meloloskan diri.
Kemudian, dia muncul pula bersama orang-orang Pulau Neraka!"
"Ah, kalau begitu bukan Kwi Hong! Tak mungkin dia bersama orang-orang Pulau Neraka."
"Akan tetapi dia telah menolongku ketika aku hampir tertawan oleh pemuda iblis, putera Majikan Pulau Neraka."
"Apa? Coba kau ceritakan yang jelas, Nona."
Dengan singkat Milana menceritakan bentrokan yang terjadi antara rombongan Thian-liong-pang yang dipimpinnya melawan rombongan Pulau Neraka.
"Mula-mula pihak kami sudah mendekati kemenangan, lalu tiba-tiba muncul pemuda iblis yang lihai itu. Aku hampir saja tertawan olehnya, kemudian muncul gadis itu dari dalam peti mati dan dengan sebatang pedang yang bersinar kilat, dia telah menyelamatkan aku dengan membabat putus tali sutera yang mengikatku. Karena aku maklum bahwa tempat itu berbahaya bagi rombonganku, aku lalu mengajak rombonganku segera pergi meninggalkan tempat itu."
"Dan gadis itu bagaimana?"
"Entah, Paman. Ketika aku pergi, dia sedang bertanding dengan hebatnya melawan pemuda iblis yang juga memegang sebatang pedang yang bersinar kilat!"
"Hemmm, Sepasang Pedang Iblis....!"
Suma Han berkata perlahan sambil mengerutkan alisnya.
Milana sudah mendengar dari Gak Bun Beng betapa sepasang pedang itu telah ditemukan Bun Beng.
Li-mo-kiam, pedang betina, diberikan oleh Bun Beng kepada Kwi Hong sedangkan yang jantan, Lam-mo-kiam, terampas oleh Wan Keng In putera Majikan Pulau Neraka.
Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu karena kalau dia menyebut Bun Beng, tentu ayah kandungnya itu akan mengenal dan dengan demikian, rahasia ibunya terbongkar.
"Apakah benar dia itu keponakanmu, Paman?"
"Agaknya begitulah. Dan dia tentu terancam bahaya...."
Suma Han menggeleng kepala.
"Akan tetapi, dia keluar dari sebuah peti mati, katamu? Hemm.... kalau begitu dia bukan Kwi Hong."
Di dalam hatinya, Milana sekarang merasa yakin bahwa gadis yang meloncat keluar dari peti mati itu pasti Kwi Hong.
Setelah diingatkan, kini dia dapat membayangkan wajah gadis itu dan dia merasa yakin bahwa gadis itu, juga gadis yang pernah dia "lasso"
Kakinya di atas genteng di rumah penginapan, tentu Giam Kwi Hong orangnya! Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani menyatakan, isi hatinya itu.
"Nona, kulanjutkan pertanyaanku yang tadi terganggu oleh persoalan Kwi Hong yang bengal. Aku hendak bertanya, siapakah namamu, Nona?"
Terkejut juga hati Milana mendengar pertanyaan ini.
Ayahnya, ayah kandungnya sendiri, menanyakan namanya.
Tidakkah amat ganjil ini?
Ingin ia berteriak menyebutkan namanya, berteriak mengaku bahwa dia adalah puteri Si Pendekar itu sendiri, ingin ia menangis dan mencela ayahnya yang seolah-olah tidak mempedulikan anaknya!
Akan tetapi Milana terpaksa harus menekan keinginan hatinya ini karena dia harus melindungi rahasia ibunya.
Entah mengapa ibunya menyembunyikan diri di balik kerudungnya itu, dia sendiri tidak tahu.
Entah mengapa ibunya tidak mau berbaik dengan ayahnya, tidak mau mengaku bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah ibunya, dia sendiri tidak tahu.
Betapapun juga, dia harus membela ibunya, harus melindungi rahasianya.
"Paman, panggil saja aku.... Alan...."
"Hemmm, nama palsu, ya?"
Milana mengangguk.
"Maaf, Paman. Aku tidak boleh memperkenalkan namaku kepadamu...."
"Aku mengerti. Ibumu selalu bersembunyi di balik kerudung, penuh rahasia, tentu anaknyapun penuh rahasia pula. Tidak mengapalah, Alan, aku akan menyebutmu Alan seperti yang kau kehendaki. Mari kita melanjutkan perjalanan ke kota raja."
"Kenapa tidak menunggang rajawali saja, tidak melelahkan dan lebih cepat?"
Milana membantah karena memang amat menyenangkan hatinya menunggang rajawali itu, berboncengan dengan ayahnya.
"Tidak, Alan. Dari sini ke kota hanya perjalanan tiga empat hari saja dan melalui banyak dusun dan kota. Kalau kita menunggang rajawali, tentu akan menarik banyak perhatian orang."
"Dan burung itu sendiri bagaimana?"
"Dia sudah jinak dan dia akan mengikuti aku dari angkasa. Setiap kali kubutuhkan, kupanggil tentu dia datang."
"Sungguh menyenangkan sekali mempu-nyai binatang peliharaan seperti itu, Paman. Akan tetapi.... aku pernah mendengar bahwa binatang peliharaan Paman di Pulau Es bukan rajawali, melainkan garuda putih."
Suma Han menghela napas teringat akan dua ekor burung garudanya.
"Mereka telah tewas di tangan orang-orang yang merampas Hok-mo-kiam. Burung rajawali ini pun dari Pulau Neraka, aku temukan dalam keadaan ketakutan karena Pulau Neraka dibakar. Aku dapat menundukkannya dan sekarang dia sudah jinak dan penurut."
Demikianlah, dua orang itu berjalan memasuki dusun sambil bercakap-cakap.
Mereka kelihatan begitu rukun, sama sekali tidak pantas sebagai seorang yang ditawan dan penawannya, lebih patut sebagai keluarga.
Namun, hanya Milana seorang yang tahu bahwa mereka adalah anak dan ayah, ayah kandung!
Dua hari kemudian, mereka telah tiba di tapal batas, kota raja hanya tinggal lima puluh li jauhnya, perjalanan setengah hari.
Karena mereka datang dari arah utara, mereka melalui daerah yang agak tandus dan pada pagi hari itu, mereka beristirahat di sebuah kuil tua yang sudah tidak dipakai lagi, di luar sebuah dusun.
Suma Han mengeluarkan bungkusan roti kering yang tinggal dua potong dan sebuah guci terisi air yang diisi penuh dalam perjalanan tadi.
Tanpa bicara dia menyerahkan sepotong roti kering kepada gadis itu, yang diterimanya tanpa berkata-kata pula, akan tetapi tidak segera dimakannya karena Milana kini duduk sambil memandang ayah kandungnya.
Pendekar Sakti itu duduk bersandar dinding butut, kaki tunggalnya ditekuk bersila, tongkat melintang di atas pahanya, tangan kiri memegang roti kering sepotong.
Melihat gadis itu tidak segera makan rotinya, dia berkata.
"Tinggal ini roti bekalku, akan tetapi perjalanan sudah dekat. Makanlah, Alan."
Namun dara itu tidak mau makan rotinya dan melihat betapa ayah kandungnya itu makan roti kering, kelihatan dipaksakan dan seret melalui kerongkongan, hatinya menjadi terharu sekali.
"Paman, kasihan sekali engkau, hanya makan roti kering tawar dan air! Aku pandai masak, Paman. Aku ingin memasakkan yang enak-enak untuk kau makan."
Suma Han menunda makannya, memandang dara itu dengan heran dan tersenyum.
"Engkau aneh sekali. Di tempat sunyi seperti ini, andaikata pandai masak sekalipun, apa yang hendak dimasak? Bahannya tidak ada, bumbu-bumbunya pun tidak ada, yang ada hanya bahan bakar dan api!"
"Di selatan sana sudah tampak sebuah dusun, tentu ada yang menjual bahan dan bumbu. Kalau Paman percaya kepadaku, aku akan ke sana membeli bahan kemudian akan kumasakkan yang enak untuk Paman."
"Percaya? Tentu saja aku percaya kepadamu, Alan."
Wajah Milana berseri dan ia meloncat bangun.
"Benarkah Paman percaya kepadaku? Terima kasih, Paman. Aku akan pergi dulu mencari bahan masakan!"
Gadis itu membalikkan tubuh dan berlari keluar dari kuil tua.
"Heiii, Alan! Nanti dulu!"
Dara itu berhenti, menengok dan memandang dengan wajah kecewa.
"Paman takut kalau aku melarikan diri?"
Suma Han tersenyum, menggeleng kepala dan mengeluarkan sebatang pedang dari buntalannya.
"Aku percaya kepadamu, akan tetapi kau bawalah pedang ini untuk membela diri kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan."
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Milana.
Ayah kandungnya, biarpun belum tahu bahwa dia adalah puterinya, sudah menaruh kepercayaan dan menaruh sayang kepadanya!
Cepat ia berlari menghampiri pendekar itu menerima pedang dan menjura.
"Terima kasih, Paman. Engkau baik sekali, selain percaya bahwa aku tidak akan melarikan diri, juga engkau ingat akan keselamatanku."
Ia memandang pedang di tangannya, mencabut dari sarungnya dan berseru girang.
"Ah, pedang pusaka yang indah! Pedang pusaka apakah ini, Paman?"
"Namanya Pek-kong-kiam, dahulu menjadi pegangan keponakanku. Akan tetapi sekarang dia tidak memerlukannya lagi. Pergilah, Alan, dan hati-hatilah."
Alan mengangguk, memasangkan pedang di pinggangnya kemudian berlari-lari kecil meninggalkan kuil itu, dipandang oleh Suma Han dengan bengong.
Setelah bayangan dara itu lenyap, dia menarik napas panjang.
"Ahhh, Suma Han, apakah engkau benar-benar memiliki dasar watak yang kotor? Mengapa engkau seperti tergila-gila kepada dara itu?"
Ingin pendekar sakti ini menempiling kepalanya sendiri.
Ada sesuatu dalam diri dara itu yang amat menarik hatinya, seperti besi sembrani menarik besi!
Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia merasa suka sekali, merasa ingin sekali berdekatan selalu, memandang wajah jelita itu, melihat senyum yang cerah dan mata yang lebar seperti matahari kembar itu.
Seolah-oleh dia berhadapan dengan seorang yang sudah lama sekali dikenalnya, yang amat dekat dengan hatinya, seolah-olah ada perasaan yang memenuhi hatinya bahwa sudah semestinya dan sewajarnya kalau gadis itu selalu berada di dekatnya!
"Keparat!"
Suma Han menepuk tanah di depannya.
"Aihhh, Nirahai.... Lulu.... kalianlah yang membuat aku menjadi begini! Aku rindu kepada kalian, rindu akan kasih sayang wanita sehingga begitu bertemu dengan gadis ini aku seperti orang tergila-gila!"
Ia mengeluh lalu duduk termenung.
"Apakah yang harus kulakukan agar aku dapat berkumpul kembali dengan Nirahai? Dengan Lulu?"
Nirahai adalah isterinya, yang ia cinta dan yakin bahwa isterinya itu pun mencintanya.
Akan tetapi mengapa sikap Nirahai seaneh itu?
Mengapa?
Dan Lulu?
Dia mencinta adik angkatnya itu, mencintanya dengan sepenuh hatinya, bukan cinta saudara, melainkan cinta seorang pria terhadap wanita yang pertama kali merebut kasihnya.
Terkenang dia akan ucapan-ucapan Lulu ketika mereka bertemu di Pulau Neraka.
"Aku sudah bersumpah untuk memilih antara dua kenyataan dalam hidupku. Menjadi isterimu atau menjadi musuhmu!"
Demikianlah kata Lulu yang masih menggores di hatinya.
Tentu saja dia sukar untuk dapat menerima tuntutan Lulu yang selain menjadi adik angkatnya, juga sudah menikah dengan orang lain biarpun kini sudah menjadi janda, dan mengingat bahwa dia sudah menjadi suami Nirahai!
Karena penolakannya, Lulu memusuhinya, sesuai dengan sumpahnya!
Akan tetapi, sekarang Pulau Neraka telah dibakar pemerintah, bagaimana nasib wanita yang menjadi cinta pertamanya itu?
Bagaimana pula nasib Nirahai?
Aihh, sikap Nirahai yang amat aneh, sama anehnya dengan sikap Lulu.
Masih terngiang di telinganya suara isterinya itu penuh dengan kemarahan.
"Kini aku tidak sudi menyembah-nyembah minta kau bawa! Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke Pulau Es. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah, kejam dan canggung!"
Suma Han kembali menarik napas panjang menundukkan muka dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan, seolah-olah kepalanya tiba-tiba menjadi amat berat begitu dia terkenang kepada Lulu dan Nirahai.
Apa yang harus dia lakukan agar mereka berdua, wanita-wanita yang dicintanya itu dapat berada di sampingnya, menyegarkan rasa dahaga yang selama ini dia derita, menyembuhkan sakit rindu yang selama ini membuat hidupnya tanpa gairah, memenuhi sisa hidupnya dengan kebahagiaan sebagai penebus kesengsaraan yang sudah amat lama dirasakannya?
"Ahh, Lulu...., Nirahai....!"
Suma Han merasa jantungnya seperti diremas-emas.
Memang demikianlah manusia pada umumnya.
Selama hidupnya, semenjak dia mulai mengerti, manusia telah kehilangan kebebasan dan kewajarannya.
Mulailah datang kesengsaraan bersama dengan pengertian itu!
Mulailah manusia dicengkeram dan dikurung dalam sangkar yang berupa pikiran, berupa gagasan yang dibentuk semenjak dia mengerti.
Segala macam gerak dan langkah hidup ditentukan oleh gagasan, oleh pikiran yang bukan lain adalah Sang Aku yang penuh dengan loba, dengki, iri, takut, khawatir, yang kesemuanya timbul karena iba diri, sayang diri yang didorong rasa takut kehilangan kesenangan, kehilangan ketenteraman.
Suma Han adalah seorang pendekar besar, pendekar sakti, yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa.
Namun semua itu hanyalah duniawi, lahiriah belaka.
Karena itu ilmu kepandaiannya tidak akan dapat membebaskan dia daripada duka dan khawatir.
Dia berduka mengenakan dua orang wanita yang dicintanya, dan dia khawatir kalau-kalau sisa hidupnya akan tetap merana seperti yang dirasakannya selama ini.
Dua orang wanita yang dia tahu amat mencintanya, akan tetapi yang karena keadaan tidak dapat hidup berdampingan dengannya.
Karena keadaankah?
Ataukah karena jalan pikiran antara mereka yang tidak cocok?
Ataukah mereka berdua yang aneh, apakah dia sendiri yang tidak pandai menundukkan hati wanita?
Akan tetapi semenjak masih setengah dewasa dahulu, Lulu selalu menurut akan semua kata-katanya!
Mengapa sekarang berbeda?
Ah, tentu saja berubah, pikirnya.
Dahulu Lulu mentaati segala kata-katanya karena merasa sebagai adik angkatnya, sekarang....
wanita itu cintanya sebagai seorang wanita terhadap seorang pria.
Teringat akan Lulu, terbayanglah dia akan pertemuannya dengan Lulu di Pulau Neraka, teringat pula tentang Pulau Neraka yang telah dibumihanguskan, dan akan burung rajawali Pulau Neraka yang berhasil ia taklukkan dan jinakkan.
Rajawali!
Dia terkejut karena tidak melihat burung itu ketika ia tiba-tiba menengadah.
Tadi masih tampak burung itu beterbangan di atas kuil, kadang-kadang menyambar turun di depan kuil.
Akan tetapi sekarang tidak tampak.
Suma Han mencelat keluar mencari-cari burung itu dengan pandang matanya.
Namun tetap saja tidak tampak bayangan burung itu.
Suma Han menjadi curiga, lalu mengeluarkan suara melengking nyaring.
Suara yang keluar dari dadanya, dengan pengerahan khi-kang sehingga suara panggilan itu bergema sampai jauh sekali.
Setelah mengeluarkan suara melengking sampai tiga kali berturut-turut, Suma Han diam tak bergerak menanti jawaban.
Tiba-tiba dari arah selatan terdengar suara burung itu, bukan sebagai jawaban panggilan, melainkan suara memekik kemarahan!
Dia merasa heran sekali.
Suara burung seperti itu hanya dikeluarkann kalau burung itu berhadapan dengan musuh atau terancam bahaya, atau sedang kesakitan!
Khawatir kalau burung itu terancam bahaya, Suma Han lalu mempergunakan kepandaiannya, tubuhnya berloncatan cepat sekali seperti terbang.
Dia tidak memasuki dusun di sebelah selatan kuil karena suara burung itu datangnya dari arah kiri dan kini sudah tampak olehnya dari jauh burungnya sedang bertempur melawan seekor burung lain!
Burungnya terdesak karena burung rajawali lainnya yang menjadi lawan itu bertubuh lebih besar.
Suma Han mempercepat loncatan-loncatannya mendaki sebuah anak bukit dan tiba-tiba ia berdiri dengan jantung berdebar tegang, matanya tidak lagi memandang ke arah burungnya yang sedang bertempur, melainkan ke bawah karena di situ terjadi pertandingan lain yang lebih menegangkan hatinya.
Dia melihat Alan, gadis tawanannya, puteri Ketua Thian-liong-pang itu, sedang bertempur melawan seorang pemuda jangkung yang lebih lihai sekali, ditonton oleh beberapa orang yang mukanya beraneka warna.
Anak buah Pulau Neraka!
Alan mempergunakan Pek-kong-kiam, menyerang dengan gerakan yang cepat sekali sehingga tubuh dara itu lenyap terbungkus sinar pedangnya sendiri yang bergulung-gulung dan berwarna putih.
Akan tetapi, pemuda jangkung itu menghadapinya dengan kedua tangan kosong dan kelihatan bersilat seenaknya saja!
Dengan beberapa loncatan tinggi, tubuh Suma Han mencelat dan hinggap di atas atap sebuah podok tua yang berdiri tak jauh dari tempat pertandingan.
Jantungnya makin berdegup tegang ketika melihat wajah pemuda tampan itu.
Wajah itu mirip sekali dengan mendiang Wan Sin Kiat, suami Lulu!
Melihat betapa di situ hadir enam orang yang mukanya berwarna merah muda dan hijau pupus, mudah saja bagi Suma Han untuk menduga, siapa adanya pemuda ini.
Tentu inilah Wan Keng In, putera Ketua Pulau Neraka, putera Lulu dan mendiang Wan Sin Kiat!
Bukan main hebatnya gerakan pemuda itu sehingga diam-diam Suma Han merasa kagum sekali.
Akan tetapi, melihat senyum dan sinar mata pemuda itu, ada sesuatu yang membuat hati Suma Han kecewa, karena senyum dan sinar mata pemuda itu membayangkan hal yang mengerikan, watak yang aneh dan tak dapat dipercaya!
Banyak sudah dia melihat senyum dan sinar mata seperti itu yang hanya dimiliki oleh datuk-datuk golongan sesat.
Apalagi ketika mendengar suara pemuda itu ketika berkata mengejek kepada Alan, hatinya makin tidak enak lagi.
"Heh-heh-heh, Nona manis. Mengapa engkau masih nekat melawan aku? Bukankah sudah jelas bahwa engkau bukan lawanku? Dan sejak tadi aku tidak pernah menyerangmu, karena aku tidak ingin melukaimu, tidak ingin mengalahkanmu karena takut kalau engkau merasa tersinggung. Hal ini sudah membuktikan betapa mendalam cintaku kepadamu, Nona!"
"Iblis keji, siapa sudi kepadamu?"
Gadis itu membentak dan mengirim sebuah tusukan ke arah ulu hati pemuda itu.
Suma Han yang berada di atas atap melihat betapa tusukan pedang itu hebat sekali dan diam-diam dia terkejut karena mengenal jurus itu berdasarkan Ilmu Pedang Sin-coa-kun (Ilmu Pedang Ular Sakti).
Padahal Ilmu Pedang itu adalah sebuah di antara ilmu-ilmu sakti dari Pendekar Sakti Suling Emas!
Akan tetapi ia teringat bahwa ibu dara itu adalah Ketua Thian-liong-pang yang terkenal memiliki dan mengenal segala macam ilmu silat yang diambilnya dengan segala macam cara pula, kalau perlu dengan menculik tokoh-tokoh kang-ouw!
Mungkin saja Ketua Thian-liong-pang yang luar biasa itu berhasil pula mencuri dasar-dasar Sin-coa Kiam-hoat yang bersumber dari Sin-coa-kun.
Akan tetapi dengan kagum Suma Han melihat betapa pemuda itu berhasil mengelak dengan mudah, seolah-olah sudah mengenal jurus ini, kemudian menggunakan Ilmu Pukulan Toat-beng-bian-kun yang amat hebat!
Suma Han mengerti bahwa Toat-beng-bian-kun (Ilmu Silat Tangan Kapas Pencabut Nyawa) merupakan ilmu pukulan yang sakti dan ampuh dari Lulu yang mendapatkan ilmu pukulan ini dari mendiang Nenek Maya yang sakti.
Dia sudah siap untuk menyelamatkan gadis itu dari pukulan itu ketika dengan heran dia melihat bahwa pemuda itu bukan mempergunakan pukulan sakti yang semestinya ditujukan ke arah leher itu diselewengkan menjadi sebuah totokan ke arah pundak!
Akan tetapi, hampir Suma Han berseru kaget dan kagum melihat betapa nona itu dapat mengelak secara tepat sekali, yaitu dengan berjongkok dari bawah, kakinya menyambar merupakan sebuah tendangan yang dibarengi dengan sabetan pedang.
Kakinya menendang ke arah pusar sedangkan pedangnya menyambar ke arah leher!
Yang membuat Suma Han terheran adalah cara gadis itu mengelak dari jurus Toat-beng-bian-kun, demikian tepat dengan berjongkok seolah-olah gadis itu sudah mengenal pula jurus Toat-beng-bian-kun!
Apakah Ketua Thian-liong-pang juga sudah berhasil mencuri ilmu peninggalan Nenek Maya itu?
Sungguh tidak mungkin!
Kalau sudah demikian jauh, tentu Ketua Thian-liong-pang merupakan seorang lawan yang luar biasa dan amat berat!
Setelah melihat dengan jelas bahwa ilmu kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaian puteri Ketua Thian-liong-pang, apalagi setelah pemuda itu kini mengeluarkan ilmu dengan gerakan amat aneh, sambil tertawa-tawa mempermainkan dara itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus sebelum diterkamnya, Suma Han lalu melayang dari atas sambil berseru.
"Tahan dulu....!"
Pada saat itu Wan Keng In telah berhasil mengempit pedang lawannya di bawah lengan kiri ketika dara itu menusuk dadanya, dan tangan kanannya bergerak menyambar untuk mencengkeram pundak Milana.
Melihat ini, Suma Han sudah menggerakkan tongkatnya yang berubah menjadi sinar yang menyambar antara tangan Wan Keng In dan pundak Milana.
Melihat sinar ini, Keng In cepat menarik kembali tangannya, dan terpaksa dia melepaskan kempitan pedang itu ketika ada sinar meluncur ke arah dadanya.
Ia meloncat mundur dan tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha! Sudah kudengar suara lengkinganmu tadi! Bukankah engkau ini yang berjuluk Pendekar Siluman, bekas Majikan Pulau Es berkaki buntung yang sombong?"
Pemuda itu berdiri dengan tegak, kedua tangan bertolak pinggang, pandang matanya yang tajam penuh kebencian, mulutnya tersenyum penuh ejekan.
Enam orang tokoh Pulau Neraka, dua wanita empat pria, menjadi terkejut sekali mendengar ucapan pemuda itu.
Mereka berenam sudah menjadi pucat ketika menyaksikan munculnya Pendekar Siluman itu dan mereka sudah menunduk dengan hati tergetar dan jerih.
Kini mendengar ucapan tuan muda mereka, benar-benar mereka menjadi kaget dan makin takut karena maklum bahwa siauw-tocu mereka telah mengucapkan penghinaan terhadap Pendekar Super Sakti itu!
Milana juga marah sekali.
Yang dimaki buntung sombong adalah ayahnya!
Maka dengan muka merah dia sudah menusukkan pedangnya ke arah perut pemuda itu sambil membentak.
"Manusia iblis bermulut busuk!"
"Trangggg!"
Milana meloncat mundur ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah tongkat Pendekar Super Sakti!
"Bersabarlah dan biarkan aku bicara dengan dia."
Suma Han berkata halus ketika melihat dara itu memandangnya dengan mata terbelalak heran.
"Ha-ha-ha-ha, Nona yang cantik jelita! Apakah engkau tidak mengenal keparat ini? Dia adalah Pendekar Siluman, To-cu Pulau Es musuh besar kami dan musuh besar Thian-liong-pang. Dia adalah musuh kita berdua, Nona! Mari kita berdua membunuh manusia busuk ini!"
Milana ingin berteriak kepada pemuda itu, mengatakan bahwa dia adalah puteri Pendekar Super Sakti, akan tetapi ditahannya karena dia harus melindungi rahasia ibunya, maka terpaksa dia hanya menelan kemarahannya dan tidak menjawab ucapan pemuda itu.
Hanya diam-diam dia merasa tidak puas mengapa ayah kandungnya begitu sabar menghadapi pemuda yang demikian menjemukan dan yang telah berani menghina Pendekar Super Sakti.
Tentu saja Milana tidak tahu mengapa Suma Han bersikap demikian sabar terhadap Keng In.
Wan Keng In adalah putera Lulu, jangankan mengingat akan ibunya, sedangkan mengingat akan ayahnya, Wan Sin Kiat yang pernah menjadi sahabat baik Suma Han saja, pendekar ini tentu bersikap sabar sekali dan banyak mengalah.
"Engkau tentu Wan Keng In, putera Majikan Pulau Neraka, bukan?"
Suma Han bertanya dengan suara halus mernandang wajah pemuda itu penuh perhatian dan penyelidikan.
Wajah yang amat tampan, bentuk wajahnya seperti wajah Wan Sin Kiat.
Mulut dan matanya seperti mulut dan mata Lulu, akan tetapi sungguh sayang sekali, karena persamaan itu hanya pada bentuknya saja, namun sifatnya jauh berbeda, bahkan merupakan kebalikannya seperti bumi dengan langit.
Senyum Lulu adalah senyum yang manis dan membuat dunia makin cerah, senyum yang menimbulkan rasa gembira di hati siapapun juga, membuat orang yang menyaksikan senyum itu ingin tersenyum pula.
Sinar mata Lulu adalah sinar mata yang membayangkan kejujuran hati, kepolosan dan kelembutan hati yang wajar dan tidak dibuat-buat.
Akan tetapi, senyum pemuda ini mendatangkan rasa ngeri, karena senyumnya biarpun menambah ketampanan wajahnya, mengandung sesuatu yang dingin mengerikan hati orang yang melihatnya.
Adapun sinar mata pemuda itu amat tajam menusuk, seolah-olah menjenguk isi hati orang yang dipandangnya, akan tetapi mengandung sifat kejam dan penuh kebencian dan ketidakpercaya-an, pandang mata orang yang sama sekali tidak mengenal cinta kasih antara manusia.
"Benar, dan aku pula yang pernah mengalahkan dan menghina muridmu dan keponakanmu! Aku pula yang telah lama menanti munculmu, yang telah menantangmu untuk mengadu nyawa. Kebetulan sekali sekarang kau muncul! Pendekar Siluman Suma Han, aku Wan Keng In pada saat ini menantangmu untuk bertanding mengadu nyawa kalau engkau berani!"
"Siauw-tocu....!"
Seorang anak buahnya berseru kaget.
"Plakkk....!"
Entah bagaimana digerakkannya, tahu-tahu tangan Keng In telah menampar dan tubuh anak buahnya itu terguling-guling sampai lima meter lebih, kemudian berhasil bangun dengan muka bengkak dan ada tanda lima buah jeri tangan di pipinya!
Mendengar ucapan dan menyaksikan sikap itu, Suma Han merasa jantungnya seperti ditusuk.
Ahh, mengapa Lulu yang berwatak demikian lembut dan menyenangkan, dapat mempunyai anak seperti ini?
Wan Sin Kiat bekas sahabatnya dahulu, ayah dari anak ini pun seorang gagah perkasa.
Mungkin lebih keras dan liar dibandingkan dengan Lulu, juga berjiwa petualang, akan tetapi tidak jahat apalagi keji.
"Wan Keng In, tahukah engkau, dengan siapa kau bicara?"
"Tentu saja! Dengan Suma Han, Pendekar Super Sakti, juga disebut Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es yang pandai ilmu sihir. Nah, boleh coba sihir aku, atau boleh kau serang aku dengan ilmu-ilmumu yang katanya setinggi langit itu!" (Lanjut ke
Jilid 32) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32
"Ah, anak muda.... tidak pernahkah ibumu bicara tentang aku....?"
"Jangan sebut-sebut nama Ibuku!"
Tiba-tiba pemuda itu membentak marah sekali, lalu menudingkan telunjuknya ka arah hidung Suma Han sambil berkata dengan keras dan penuh kebencian.
"Karena orang macam engkau inilah ibuku menderita sampai belasan tahun, hidup merana dan selalu berduka! Karena orang macam engkaulah maka ibuku sampai menjadi Ketua Pulau Neraka dan aku hidup di pulau itu sejak kecil! Dan karena ibulah maka sekarang aku menantangmu untuk bertanding mati-matian, Suma Han! "Wan Keng In, tahukah engkau bahwa mendiang Ayahmu, Wan Sin Kiat, adalah seorang sahabat baikku, seperti saudaraku sendiri?"
"Tutup mulutmu yang palsu! Mendiang Ayahku mati karena engkau! Keparat!"
Keng In menerjang dengan hebat, menggunakan pedang Lam-mo-kiam yang mengeluarkan sinar berkilat dan membawa hawa yang mengerikan.
Serangan itu dahsyat bukan main, dan hanya dengan menggunakan kelincahan Ilmu Soan-hong-lui-kun saja Suma Han berhasil menghindarkan diri dari sambaran sinar berkilat itu.
"Wan Keng In, Ibumu adalah adik angkatku!"
"Engkau membuat hidupnya sengsara! Kakak angkat macam apa engkau ini? Aku telah mengambil keputusan untuk memusuhimu, dan sekarang aku akan membunuhmu, bukan hanya karena Ibuku, akan tetapi juga karena engkau menghalagi aku membawa pergi Nona calon isteriku ini."
"Orang muda, engkau tersesat. Ibumu akan berduka sekali melihat engkau seperti ini...."
"Tak perlu banyak cakap lagi!"
Wan Keng In sudah menerjang lagi dengan lebih hebat lagi karena dia sudah marah, serangannya dahsyat, apalagi kini dia mempergunakan Lam-mo-kiam.
Sinar pedang itu berkilat dan menyambar dengan suara bercuitan.
Suma Han merasa berduka sekali melihat putera Lulu seperti itu, cepat ia menggerakkan tongkatnya dan menangkis dari samping agar tongkatnya tidak bertemu dengan mata pedang yang amat ampuh itu.
"Tranggg....!"
Keduanya terloncat mundur akibat benturan hebat antara pedang dan tongkat.
Wan Keng In tidak merasa heran ketika merasa betapa lengannya tergetar karena dia sudah mendengar dan maklum bahwa Pendekar Super Sakti merupakan lawan yang amat tangguh dan memiliki tenaga sin-kang yang jarang terdapat tandingannya.
Akan tetapi Suma Han terkejut dan kagum bukan main.
Pemuda itu benar-benar amat hebat, dan dari benturan antara tongkat dan pedang tadi, dia dapat mengukur kekuatan pemuda itu yang jauh lebih besar kalau dibandingkan dengan tenaga sin-kang yang dimiliki Lulu!
Biarpun maklum akan ketangguhan lawan, Wan Keng In tidak menjadi gentar, bahkan dia makin marah dan sudah menerjang dengan hebatnya.
Dia mengeluarkan seluruh ilmu pedang yang ia pelajari dari Cui-beng Koai-ong dan dari ibunya, mengerahkan seluruh tenaganya yang mujijat karena gurunya, datuk pertama dari Pulau Neraka telah menggemblengnya dengan latihan-latihan sin-kang yang tidak lumrah sehingga dia menguasai kekuatan sin-kang yang bercampur dengan ilmu hitam.
Begitu pemuda itu mainkan pedangnya, mengerahkan sin-kang mengguna-kan tangan kiri membantu pedangnya mendorong-dorong ke depan, nampak betapa tubuhnya diliputi kabut hitam dan dari dalam kabut itu mencuat sinar-sinar kilat pedangnya melancarkan serangan maut ke arah Suma Han secara bertubi-tubi.
Hati Pendekar Super Sakti merasa tidak karuan menghadapi serangan ini.
Berbagai perasaan bercampur aduk.
Dia merasa terharu karena menyaksikan putera Lulu sudah menjadi seorang pemuda dewasa, merasa kagum melihat ilmu silat pemuda ini yang benar-benar amat hebat, jauh lebih tinggi daripada kepandaian Lulu, dan biarpun dasarnya tidak lebih hebat daripada dasar ilmu silat yang dimiliki Kwi Hong, namun pemuda ini tentu tidak dapat terlawan oleh Kwi Hong karena selain memiliki ilmu pedang yang aneh dan sin-kang yang mengeluarkan kabut hitam, juga cara bertempur pemuda ini nekat dan kejam, mengandung serangan-serangan ganas.
Akan tetapi di samping rasa keharuan dan kekaguman ini, dia juga merasa berduka dan marah menyaksikan betapa keponakannya telah tersesat seperti itu.
Sampai puluhan jurus Suma Han menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mencelat ke sana-sini menghindarkan diri, kadang-kadang mendorong pedang dari samping.
Melihat betapa sambaran tangan kiri pemuda itu bahkan tidak kalah lihainya oleh pedang di tangan kanan, diam-diam Suma Han maklum bahwa hanya gerak kilatnya saja yang akan mampu menandingi ilmu pedang pemuda itu!
Mengenai tenaga sin-kang, tentu saja dia masih menang beberapa tingkat.
Kalau dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun, tentu dia akan dapat menggunakan ujung tongkatnya untuk merobohkan pemuda itu, juga dengan sin-kangnya, dia dapat mengadu tenaga dan menangkan pertandingan.
Akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini, tidak tega melukai putera Lulu.
Tadinya dia ingin menggunakan kekuatan sihirnya, akan tetapi hal itu tentu akan membuat pemuda itu tidak tunduk kepadanya, tidak membuatnya dia kapok.
Kalau dia ingin supaya pemuda itu menjadi jerih, dia harus menundukkannya dengan ilmu kepandaian.
"Wan Keng In, aku tidak ingin bertanding denganmu. Katakanlah di mana Ibumu, aku ingin bicara dengannya!"
"Kau harus mati di tanganku, atau boleh kau membunuhku kalau mampu!"
Pemuda itu berteriak dan memutar pedangnya dengan cepat, mengirim tusukan ke arah dada Suma Han disusul dorongan telapak tangan kiri dari bawah mengarah pusar.
"Trakkkk....! Plakkk....!"
Suma Han tidak mengelak, melainkan menggerakkan tongkatnya menerima pedang itu dari samping sedangkan tangan kanannya menyambut dorongan telapak tangan pemuda itu dengan telapak tangannya pula.
Sepasang senjata dan dua buah tangannya itu saling bertemu dan melekat!
Keng In terkejut bukan main.
Hampir dia tidak dapat percaya bahwa tongkat butut lawannya itu dapat menyambut pedangnya, sedangkan pukulan tangan kirinya mengandung hawa beracun yang amat ampuh, kini telapak tangannya juga disambut oleh telapak tangan Pendekar Siluman, melekat dan tak dapat ia tarik kembali seperti juga pedangnya yang melekat pada tongkat!
"Hemmm...., orang muda, kalau aku tidak mengingat Ibumu, tentu akan kucabut saja tunas buruk seperti engkau ini.
Pergilah!"
Suma Han yang mempergunakan tenaga sin-kangnya untuk mengatasi pemuda itu, mengerahkan tenaga sakti dan tubuh Wan Keng In terlempar sampai enam tujuh meter ke belakang.
Pemuda itu terhuyung akan tetapi tidak roboh, juga tidak terluka karena memang lawannya tidak ingin melukainya.
Wajah yang tampan itu menjadi agak pucat.
Wan Keng In seorang pemuda yang keras hati dan tidak mengenal takut, juga dia benci sekali kepada orang yang dianggapnya membikin sengsara ibunya itu.
Akan tetapi dia bukan seorang bodoh dan dia maklum bahwa kalau dia berlaku nekat menyerang terus, akhirnya dia akan kalah dan celaka.
Pertandingan membuktikan bahwa belum tiba saatnya dia menentang Pendekar Super Sakti.
Dia harus menyempurnakan dulu ilmu kesaktian yang dia pelajari dari gurunya, Cui-beng Koai-ong.
Setelah memandang ke arah Suma Han dengan mata mendelik beberapa menit lamanya, dia mendengus, membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dari tempat itu, diikuti lima orang anak buahnya yang pergi tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan sama sekali tidak berani melirik ke arah Pendekar Siluman.
Kekalahan tuan muda mereka tadi mereka terima dengan sewajarnya karena memang mereka maklum akan kesaktian pendekar kaki buntung itu.
Suma Han berdiri mengikuti pemuda itu dengan pandang matanya sampai akhirnya bayangan pemuda dan lima orang anak buahnya itu lenyap di balik anak bukit.
Tiba-tiba terdengar olehnya suara seperti bisikan namun cukup jelas, pemuda itu!
"Suma Han, ingat saja engkau!
Kalau aku sudah selesai menamatkan ilmuku, kelak akan kucari engkau untuk kita bertanding lagi mati-matian!
Biarpun kepandaianmu tinggi seperti siluman, engkau Si Kaki Buntung ini akhirnya tentu akan mampus di tanganku!"
Wajah Suma Han menjadi merah sekali, akan tetapi diam-diam ia makin kagum.
Khi-kang yang disalurkan untuk mengeluarkan suara dari jarak jauh itu sudah cukup hebat!
Diam-diam dia merasa berduka.
Dia tidak akan peduli dan memusingkan kalau dia dimusuhi tokoh-tokoh sesat dari manapun juga dan betapa sakitnya pun.
Akan tetapi, dimusuhi pemuda itu, putera Lulu, benar-benar merupakan hal yang membuatnya berduka dan cemas.
Sementara itu, tiada habis rasa heran dari hatinya kalau mengingat betapa jujur, halus dan baik watak Lulu, sedangkan Wan Sin Kiat juga seorang pendekar yang gagah perkasa dan selalu menentang kejahatan.
Akan tetapi, mengapa putera mereka menjadi seorang pemuda iblis seperti itu?
Suma Han menarik napas panjang.
Ahh, tidak keliru kiranya bahwa watak manusia dibentuk oleh keadaan sekitarnya.
Anak itu semenjak kecil dibawa oleh ibunya ke Pulau Neraka dan tentu saja setiap hari anak itu melihat watak-watak penghuni Pulau Neraka yang terkenal ganas, liar kejam dan palsu.
Dan agaknya Lulu sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai Ketua Pulau Neraka, atau mungkin sekali terlalu memanjakan putera tunggalnya itu, sehingga pembentukan watak anak itu sepenuhnya dikuasai oleh keadaan sekelilingnya!
Kembali Suma Han menarik napas panjang.
Betapa akan hancur hati Lulu kalau menyaksikan sepak terjang puteranya.
Dia tahu bahwa Lulu sendiri mempunyai perasaan hati yang aneh terhadapnya.
Bisa mencinta sehingga ingin menjadi isterinya, akan tetapi juga bisa membenci sehingga ingin pula memusuhinya kalau tidak dapat menjadi isterinya.
Akan tetapi andaikata menjadi musuhnya, wanita itu tentulah seorang musuh yang gagah perkasa dan jujur dan watak Lulu tak mungkin berubah biarpun sudah menjadi Ketua Pulau Neraka.
"Paman, mengapa Paman berduka?"
Tiba-tiba terdengar suara halus di sampingnya.
Suma Han seperti baru sadar dari mimpinya.
Dia menoleh dan memaksa bibirnya tersenyum ketika melihat Alan sudah berdiri di situ dan memandangnya dengan sinar matanya yang lembut.
Melihat wajah cantik dan sinar mata lembut penuh kasih ini hati Suma Han menjadi makin sakit dan duka.
Dara jelita lni adalah puteri ketua Thian-liong-pang, seorang wanita iblis berkerudung yang terkenal jahat dan kejam.
Seorang wanita seperti iblis itu dapat mempunyai puteri sebaik ini, mengapa sebaliknya seorang wanita seperti Lulu mempunyai seorang putera sejahat itu?
"Paman, mengapa Paman kelihatan berduka?"
Kembali Milana bertanya.
Tadi ketika melihat ayahnya bertanding melawan pemuda itu, dia menonton dengan penuh kagum, akan tetapi juga kecewa karena ayahnya membebaskan pemuda itu begitu saja tanpa melukainya sedikitpun.
Kemudian ia melihat ayahnya berdiri termenung seperti arca, dengan wajah yang tampan itu sebentar merah sebentar pucat, berkali-kali menghela napas panjang sambil memandang ke depan, ke arah perginya Wan Keng In dan anak buahnya tadi.
"Ohh, tidak apa-apa, Alan. Hanya.... eh, di mana rajawali kita?"
"Dia terbang dikejar oleh rajawali besar tadi, Paman. Dua ekor burung tadi bertanding, dan rajawali peliharaan Paman terdesak dan luka-luka. Mereka bertanding sambil terbang tinggi sehingga aku tidak dapat membantu."
"Hemm, biarlah. Burung itu memang berasal dari Pulau Neraka, agaknya kini ditundukkan kembali oleh bekas majikannya. Alan, bagaimana engkau tadi dapat bertemu dan bertanding dengan dia?"
"Aku sedang menuju ke dusun untuk mencari bahan masakan ketika aku bertemu dengan rombongan Pulau Neraka itu keluar dari dusun. Karena aku tahu betapa jahatnya mereka, aku lalu melarikan diri akan tetapi mereka mengejar dan aku tersusul di sini. Tentu saja aku melawan sedapatku, akan tetapi dia lihai sekali. Paman, mengapa Paman tadi membiarkan dia pergi? Orang seperti itu seperti seekor ular yang beracun dan jahat, kalau tidak dibasmi, tentu kelak hanya akan mencelakai orang lain saja."
Suma Han menarik napas panjang.
"Aku tak mungkin dapat membunuhnya, Alan. Engkau tidak tahu.... ahhh...."
Wajah pendekar itu kelihatan berduka sekali.
Melihat ini, Milana merasa kasihan kepada ayah kandungnya.
Tentu ada sesuatu antara ayah kandungnya dengan Pulau Neraka, ada rahasia yang besar yang membuat ayahnya itu bersikap lunak terhadap Wan Keng In.
"Aku tidak berhasil memasakkan sesuatu untukmu, Paman. Maafkan...."
"Tidak mengapa, Alan. Aku tadi sudah makan roti kering, cukup kenyang. Marilah kita melanjutkan perjalanan. Kota raja tidak jauh lagi, di sana tentu banyak rumah makan besar dan kita dapat makan sepuasnya."
Milana tidak membantah dan berangkatlah mereka berdua menuju ke selatan, ke kota raja.
Sebentar saja mereka sudah melalui jalan raya menuju kota raja yang ramai dan tampak banyak penunggang kuda atau kereta-kereta berkuda yang datang dari beberapa jurusan menuju ke kota raja, ada pula yang bersimpang jalan, yaitu mereka yang baru saja meninggalkan kota raja.
Sudah belasan tahun Suma Han tidak pernah muncul di kota raja.
Biarpun di dunia kang-ouw nama Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To-cu Pulau Es merupakan nama yang paling menonjol dan amat terkenal, namun jarang ada orang pernah melihat Pendekar Super Sakti, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw sebagian besar belum pernah bertemu dengan pendekar itu.
Apalagi penduduk kota raja!
Maka kini Suma Han dengan enak dapat memasuki kota raja tanpa khawatir akan dikenal orang, baik oleh penduduk maupun oleh para perajurit penjaga.
Di kota raja, yang sudah lama ditinggalkannya itu, tentu hanya beberapa gelintir orang saja yang pernah bertemu dengannya dan mereka itu adalah orang-orang berkedudukan tinggi seperti Thian Tok Lama, Koksu dan lain-lain yang tentu berada di dalam gedung masing-masing dan tidak pernah berkeliaran di dalam kota.
Milana sendiri tidak asing di kota raja.
Sudah sering dia keluar masuk kota raja, akan tetapi dia pun tidak dikenal orang sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang.
Oleh karena itu, dia pun memasuki pintu gerbang kota raja di samping Suma Han dengan hati tenteram dan tidak khawatir dikenal orang.
Apalagi semenjak dia melakukan perjalanan di samping ayah kandungnya, terutama setelah ayahnya itu menyelamatkan dengan mudah dari tangan Wan Keng In, hati Milana menjadi tenang dan penuh kepercayaan bahwa selama ia berada di samping ayahnya, Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengganggunya!
Wajahnya berseri gembira ketika dia memasuki kota raja dengan ayahnya, penuh kebanggaan karena kiranya tidak banyak orang yang dapat berdampingan dengan Pendekar Super Sakti!
Dia bukan hanya berdampingan, bahkan dia adalah puterinya, puteri kandungnya biarpun hal ini masih terpaksa harus dia rahasiakan dari pendekar itu sendiri.
Memang tidak aneh melihat seorang berkaki buntung di waktu itu.
Banyak terdapat orang-orang yang menderita cacad akibat perang penyerbuan bala tentara Mancu yang baru saja padam.
Seperti halnya perang di bagian mana pun di permukaan bumi ini, semenjak jaman sebelum sejarah sampai sekarang, perang mendatangkan malapetaka yang amat mengenaskan hati.
Setelah perang selesai, setelah hati tidak lagi dikuasai oleh nafsu angkara murka, barulah tampak oleh mata kita akan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang, akibat yang mendiri-kan bulu roma bagi orang yang masih memiliki sedikit saja cinta kasih dan perikemanusiaan.
Setelah perang padam, tampak bangunan-bangunan bekas terbakar, kuburan-kuburan penuh makam baru, anak-anak yatim piatu, janda-janda muda terjerumus ke dalam lembah pelacuran, penderita-penderita cacad yang buntung lengannya, buntung kakinya, luka-luka tubuhnya dan ada pula yang terluka jiwanya menjadi gila, gelandangan-gelandangan karena kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan mata pencarian, dan dari kaum gelandangan ini timbul pengemis-pengemis, pencuri-pencuri, atau ada yang menggabungkan dari dengan perampok-perampok.
Malapetaka ini yang tampak oleh mata, masih banyak malapetaka lain yang tidak tampak, namun lebih mengerikan lagi, yaitu akibat perang berupa dendam sakit hati dan iri yang mebjadi bahan penciptaan perang baru!
Tidak ada untungnya, lahir maupun batin, dalam sebuah perang.
Keuntungan yang tampak hanyalah keuntungan palsu yang di jadikan hiburan manusia untuk menyelimuti kengerian akibat perang.
Pemerintah Mancu yang berhasil merebut tahta kerajaan dan kepemimpinan, mengatakan bahwa mereka mendatangkan kemakmuran bagi rakyat dan telah berhasil menumbangkan kekuasaan pemerintah lama yang penuh kelaliman.
Namun, semua itu hampa belaka, karena sungguh tdak mungkin MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DENGAN PEPERANGAN!
Bangsa Mancu menggunakan berbagai alasan hiburan untuk perjuangan mereka, yaitu memberantas kelaliman para pemimpin dan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat.
Akan tetapi, setelah perang berakhir, yang berubah dan berbeda hanyalah sifat dan caranya belaka, namun kelaliman tetap ada, kemakmuran rakyat tetap hanya merupakan janji-janji yang diulur-ulur panjang belaka.
Hal seperti ini akan terus berlangsung selama manusia belum sadar akan perang yang terjadi di dalam diri manusia masing-masing sendiri.
Selama segala tindak, segala gerak, segala usaha merupakan akibat langsung dari akal pikir yang paling suka memusatkan segala kepada AKU, diriku, keluargaku, milikku, bangsaku, negaraku, agamaku, dan selanjutnya.
Selama AKU menguasai setiap orang manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa segala peristiwa, termasuk perang, merupakan gerakan demi kepentingan Sang AKU.
Betapapun banyak selimut yang dipergunakan untuk menyembunyikan dasar "demi aku"
Ini, yang disebut dengan banyak kata-kata indah seperti perjuangan, kepahlawanan, demi nusa bangsa dan lain-lain, namun sungguh sayang sekali, di dasar dari segala itu bersembunyilah Sang Aku yang sebenarnya menjadi pendorong dari semua gerak hidup.
Dan selama AKU bercokol menjadi dasar yang mendorong semua gerak hidup, maka yang timbul hanyalah pertentangan dan persoalan yang mendatangkan kepuasan di satu pihak, kekecewaan di lain pihak, suka duka, iri dengki, dendam dan sebagainya.
Setiap tampak akibat yang tidak baik, seluruh manusia sibuk mencarikan kambing hitam agar diri sendiri tetap bersih!
Semua manusia lupa bahwa segala macam kemunafikan dan maksiat bukan berada di luar, melainkan berada di dalam diri manusia sendiri!
Semua manusia menujukan pandang mata keluar tanpa mengingat untuk menujukan ke dalam biar semenit pun!
Bahagialah dia yang menujukan pandang mata ke dalam, menjenguk dan mengenal diri pribadi dengan segala macam isinya, mengenal pikiran sendiri yang membedal ke mana-mana dengan liarnya, tak terkendalikan!
Suma Han dan Milana berjalan seenaknya sambil menikmati pemandangan di kota raja.
Pemerintah Mancu telah membangun gedung-gedung besar yang megah dan indah di sepanjang jalan di kota raja sehingga kota raja nampak indah dan megah sekali, melebihi masa yang lalu.
Kemajuankah ini?
Demikianlah kalau ditonton begitu saja, ditonton keadaan kota rajanya dengan bangunan-bangunan baru yang besar dan indah.
Akan tetapi, adakah kemajuan dapat diukur dari keadaan bangunannya, bukan dari keadaan manusianya?
Kalau diketahui siapa pemilik gedung-gedung itu, maka akan ditemuilah jawab dari segala sebab timbulnya perang yang semenjak jaman dahulu selalu timbul.
Gedung-gedung itu tentu saja dimiliki oleh penguasa yang menang perang!
Hanya berganti bangunan baru dan penghuni, dari mereka yang dikalahkan kepada mereka yang menang.
Rakyat hanya dapat menonton dan dari menoton ini diharapkan ucapan mereka "kita telah mengalami kemajuan-kemajuan!"
Biarpun banyak terdapat orang berkaki buntung sungguhpun tidak pernah ada yang mengurai rambut seperti Suma Han, apalagi kalau rambutnya yang panjang itu sudah putih semua, dan banyak terdapat gadis-gadis muda yang biasa merantau sebagai gadis-gadis kang-ouw, namun tetap saja Suma Han dan Milana menarik perhatian orang.
Laki-laki berkaki buntung itu wajahnya tampan dan belum tua benar, namun rambutnya sudah putih semua seperti benang-benang sutera perak sedangkan sinar matanya membuat orang-orang yang bertemu pandang, menundukkan muka atau mengalihkan pandang mata dengan tengkuk dingin mengkirik.
Adapun dara remaja yang berjalan dl samping laki-laki berkaki buntung ini, dengan wajah berseri tersenyam-senyum, memiliki kecantikan yang luar biasa!
Suma Han melihat betapa banyak orang memandang ke arah mereka penuh perhatian, maka dia lalu mengajak dara itu tintuk memasuki sebuah rumah penginapan.
Seorang pelayan menyambut mereka, mata pelayan itu tidak memandang kepada Suma Han yang tidak menarik baginya, melainkan memandang kepada Milana yang benar-benar merupakan pemandangan yang amat menggairahkan hatinya!
"Beri kami dua buah kamar yang berdampingan,"
Kata Suma Han.
Pelayan itu terkejut karena tadinya dia merasa seolah-olah terbang di sorga ke tujuh dan berjumpa dengan seorang bidadari Sorga!
Ketika ia menoleh dan bertemu pandang dengan Suma Han, dia terkejut sekali, punggungnya seperti disiram air dingin dan dia cepat membung-kuk-bungkuk dan mempersilakan mereka mengikutinya untuk memilih dua buah kamar yang berdampingan.
Setelah menaruh barang bekal di kamar masing-masing dan makanan siang yang dipesannya dari pelayan dan dihidangkan ke ruangan depan kamar mereka, Suma Han dan Milana duduk di dalam kamar Suma Han, bercakap-cakap.
"Kapankah Paman akan mulai menyelidik dan mencari musuh-musuh Paman?"
"Aku harus berhati-hati, Alan. Musuh-musuhku itu adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi dan tentu berada di dalam istana-istana yang terjaga ketat oleh pasukan pengawal. Menyelidiki di siang hari tidaklah mungkin, bahkan di malam hari pun amat berbahaya karena biarpun pasukan yang baru tidak mengenalku, namun para perwira dan panglima tentu akan mengenalku begitu bertemu denganku. Sesungguhnya, mencari mereka di kota raja amat tidak leluasa bagiku, akan tetapi apa boleh buat, malam nanti aku harus menyelidiki ke lingkungan istana, atau ke rumah Koksu karena di sanalah berkumpulnya musuh-musuhku yang menjadi pembantu Koksu."
"Kalau bertemu dengan mereka, apa yang hendak Paman lakukan?"
Tiba-tiba Milana bertanya. Mendengar pertanyaan ini, Suma Han termenung dan berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Aku.... aku akan minta pertanggungan jawab mereka yang telah merusak Pulau Es dan Pulau Neraka. Selama ini kami tidak pernah menentang pemerintah, mengapa kini mereka menyerbu dan merusak Pulau Es? Selain itu, karena Maharya dan Tan-siucai juga membantu Koksu, tentu mereka berada di sini dan aku hendak minta kembali pedang Hok-mo-kiam yang mereka rampas."
Suma Han tidak mau menceritakan niatnya yang lain, yaitu menyelidik dan mencari Nirahai yang disangkanya tentu kembali ke kota raja!
"Paman, di antara musuh-musuhmu itu, siapakah yang paling lihai?"
"Hemm, hal ini agak sukar untuk ditentukan karena hanya beberapa orang di antara mereka yang pernah bertanding melawanku, yaitu Thian-tok Lama, Pendeta Maharya, dan mungkin beberapa orang panglima yang tertua. Dengan Koksu sendiri, aku belum pernah bertanding dan kabarnya dia amat lihai. Akan tetapi, kurasa dia tidaklah selihai Pendeta Maharya. Pendeta dari barat itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh, selain lihai sekali ilmu silatnya, juga dia seorang yang memiliki ilmu sihir dan ilmu hitam yang kuat."
"Akan tetapi, aku yakin Paman tentu akan dapat mengalahkan mereka!"
Kata Milana dengan suara tegas dan pandang mata penuh kekaguman ditujukan kepada wajah ayahnya.
Melihat pandang mata gadis ini, Suma Han merasa jantungnya berdebar!
"Aku dapat menandingi mereka satu lawan satu, akan tetapi kalau mereka mengeroyok, apalagi dibantu pasukan-pasukan pengawal yang kuat, belum tentu aku akan dapat menang.
Akan tetapi, kedatanganku bukan untuk menantang mereka bertanding, hanya untuk minta kembali pedang dan minta penjelasan dan pertanggungan jawab mereka mengapa Pulau Es dan Pulau Neraka diserbu pasukan pemerintah."
"Mereka tentu akan mengeroyok dan menangkapmu, Paman!"
"Hemm, kalau memang demikian, apa boleh buat, terpaksa aku melawan."
Hati Milana merasa tidak enak sekali.
Dia percaya bahwa ayahnya amat sakti, akan tetapi dia tahu bahwa tepat seperti pengakuan ayahnya sendiri, kalau banyak orang sakti maju mengeroyok ditambah pasukan-pasukan pengawal kerajaan, mana mungkin ayahnya yang hanya seorang diri itu kuat bertahan?
Baru menyelidiki ke sana saja sudah amat tidak leluasa bagi ayahnya!
Berbeda dengan dia!
Ibunya adalah bekas puteri Kaisar dan bekas pahlawan yang berkedudukan tinggi, bahkan kini Koksu sendiri sudah tahu, ibunya adalah ketua ketua Thian-liong-pang dan kini Thian-liong-pang bekerja sama dengan Koksu, membantu pemerintah menentang dan membasmi mereka yang hendak memberontak!
Kalau dia yang menyelidiki, kalau dia yang pergi kepada Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, minta kebijaksanaan Koksu itu untuk membujuk pembantunya, Maharya mengembalikan Hok-mo-kiam, minta kepada Koksu agar jangan mengeroyok dan menentang Pendekar Super Sakti, tentu harapannya lebih besar.
Koksu sudah mengenalnya, juga para pembantunya sudah tahu bahwa dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang yang kini merupakan sekutu mereka!
"Alan, malam ini aku akan pergi menyelidik.
Harap engkau menantiku di sini saja dan jangan kau pergi ke mana-mana.
Keadaan di kota raja berbahaya, di sini banyak terdapat orang pandai."
"Apakah Paman tidak mengajakku pergi menyelidiki?"
"Ah, aku hanya akan membawamu ke dalam bahaya, Alan. Dan pula, apa perlunya? Tidak, kau tunggu saja di sini, aku pasti akan kembali sebelum pagi."
Milana menunduk.
"Baiklah, Paman. Akan tetapi sore ini aku ingin sekali pergi berjalan-jalan melihat pemandangan kota."
"Sesukamulah, akan tetapi harap kau berhati-hati. Engkau masih muda dan cantik jelita, akan banyak menghadapi godaan."
"Aku dapat menjaga diri, Paman. Eh, benarkah pendapat Paman bahwa aku.... cantik?"
Tanyanya dengan hati girang sekali.
Ayahnya sendiri yang memujinya, bagaimana hatinya tidak akan merasa bangga dan senang?
"Engkau adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, Alan."
"Terima kasih atas pujianmu, Paman. Nah, aku akan pergi berjalan-jalan. Harap Paman nanti berhati-hati kalau pergi menyelidiki."
Suma Han mengangguk.
"Biarpun aku percaya bahwa dengan kepandaianmu, tidak sembarang orang akan dapat mengganggumu, akan tetapi harap engkau suka bersabar dan jangan menimbulkan keributan, juga jangan terlalu malam kembali ke sini."
Milana mengangguk-angguk dan hatinya terharu.
Pendekar itu menasehatinya seperti kepada anaknya sendiri!
Padahal dalam pengertian pendekar itu, dia adalah seorang tawanan bahkan puteri musuhnya!
Dengan hati senang bercampur haru, Milana pergi meninggalkan rumah penginapan.
Tentu saja dia bukan berniat untuk berjalan-jalan, melainkan hendak menjumpai Bhong Ji Kun, Koksu negara yang dia ketahui pula di mana letak gedungnya.
Akan tetapi, agar tidak menarik perhatian orang luar, dia pergi berjalan-jalan lebih dahulu dan setelah malam tiba, keadaan cuaca mulai gelap, barulah dia menuju ke gedung Koksu yang megah.
Sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang tentu saja Milana merasa rendah kalau harus datang menghadap Koksu seperti orang biasa.
Apalagi kalau ia datang menghadap seperti itu, tentu dia akan berhadapan dengan para penjaga dan diperlakukan seperti orang biasa.
Tidak!
Dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, tentu saja dia harus bersikap sesuai dengan kedudukan ibunya yang tinggi dan lihai.
Dengan kepandaiannya, tidaklah sukar bagi Milana untuk berloncatan ke atas genteng, melalui pagar tembok gedung Koksu dengan gerakan seperti terbang cepatnya sehingga tidak tampak oleh para penjaga dan peronda, kemudian dengan hati-hati dia menyelinap antara bayangan gelap, mencari di mana adanya Koksu pada saat itu.
Masih untung bagi Milana bahwa pada saat itu, para pembantu Koksu yang lihai semua sedang berkumpul di satu tempat, yaitu di ruangan dalam tempat mereka sedang berunding, duduk mengelilingi sebuah meja besar di ruangan itu menghadapi koksu.
Andaikata orang-orang lihai seperti Thian Tok Lama, Maharya, para panglima besar seperti Bhe Ti Kong dan lain-lain berada di kamar masing-masing, juga koksu sendiri, Maka besar sekali kemungkinan kedatangan Milana akan mereka ketahui semenjak tadi!
Milana berhasil mengintai dari luar jendela ruangan perundingan itu dan dia melihat Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dihadap oleh Thian Tok Lama, Maharya, dan enam orang panglima yang berpakaian gagah.
Dia merasa heran tidak melihat kehadiran Thai Li Lama dan Tansiucai.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa kedua orang lihai ini telah tewas di tangan Gak Bun Beng ketika mereka dahulu bersembunyi dan mengintai pertandingan di gurun tandus yang diadakan oleh Thian-liong-pang.
Selagi Milana hendak memperlihatkan diri dan menyatakan kedatangannya, tiba-tiba ia mendengar suara Koksu menyebut-yebut nama ibunya!
Tentu saja dia cepat menahan diri bahkan menahan napas agar dapat mendengarkan lebih jelas percakapan antara mereka.
"Puteri Nirahai telah menjadi ketua Thian-liong-pang dan telah membantu kita membasmi para pemberontak. Akan tetapi, Kaisar belum tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah puterinya! Hanya menerima pelaporan bahwa Thian-liong-pang membantu pemerintah. Munculnya Nirahai benar-benar membikin ruwet rencana kita, agaknya dia ingin berbaik kembali dengan Kaisar. Dia lihai sekali dan dapat menggagalkan rencana kita yang sudah hampir masak. Tidak ada jalan lain lagi, dia harus disingkirkan, harus dibunuh!"
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Milana mendengar ucapan itu.
Jantungnya berdebar keras sehingga ia khawatir kalau-kalau suara detak jantungnya akan terdengar oleh mereka yang sedang mengadakan perundingan di sebelah dalam, maka dia menekan dada dengan tangan dan menekan perasaannya, memasang perhatian untuk mendengar terus.
"Akan tetapi dia adalah puteri Kaisar!"
Terdengar Thian Tok Lama berseru kaget.
"Kalau dia berhasil terbunuh dengan memakai kerudung sebagai Ketua Thian-liong-pang yang kita buatkan bukti-bukti memberontak, andaikata kemudian Kaisar sendiri mendengar bahwa dia puterinya, kiranya Kaisar tidak akan menyalahkan kita. Bahkan akan menutup rahasia itu, karena Kaisar tentu tidak ingin tersiar di luaran bahwa puterinya menjadi ketua Thian-liong-pang yang memberontak!"
Kata Koksu lagi.
"Memang tepat apa yang dikatakan Koksu,"
Terdengar suara Maharya yang kaku.
"Kalau Thian-liong-pang tidak dihancurkan lebih dulu, akan merupakan kekuatan sebagai pembela kaisar dan untuk menghancurkannya, jalan satu-satunya adalah membunuh Ketuanya. Memang dia lihai, akan tetapi menurut penglihatanku, aku sendiri dapat menandinginya, dan kalau aku dibantu okh Thian Tok Lama, aku yakin dia akan dapat dibunuh. Pihak Mongol sudah siap, tinggal menanti isyarat dari kita, kalau sampai terhalang oleh utusan Thian-liong-pang, tentu akan tertunda lagi dan mereka akan patah semangat dan mundur."
"Pihak Tibet juga sudah siap, tinggal menanti komando,"
Kata Thian Tok Lama.
"Nah, kalau begitu, kita harus...."
Tiba-tiba Koksu menghentikan kata-katanya karena melihat tubuh Maharya sudah bergerak meloncat ke jendela sambil menyambar senjatanya yang mengerikan, yaitu tombak yang matanya melengkung seperti bulan sabit.
"Braaakkk!"
Jendela itu hancur berkeping-keping dan terbuka, tubuh Maharya melesat keluar.
"Trang-trang-trang....!"
Senjata di tangan Maharya itu ditangkis sampai tiga kali oleh pedang Pek-kong-kiam di tangan Milana.
"Eh, engkau.... Nona....?"
Maharya terkejut sekali ketika mengenal bahwa orang yang diserangnya adalah puteri Ketua Thian-liong-pang!
Dan pada saat itu, Koksu, Thian Tok Lama dan panglima yang tadi berada di dalam ruangan telah meloncat keluar semua.
Keringat dingin membasahi dahi Milana.
Serangan Maharya tadi benar-benar hebat luar biasa.
Selain pendeta itu dapat mengetahui kehadirannya di luar jendela, juga begitu meloncat dan menerjang keluar, senjata di tangan pendeta itu telah menyerangnya bertubi-tubi sehingga dia harus cepat-cepat mengelak dan menangkis.
Tangan kanannya terasa tergetar hebat ketika dia menangkis senjata tombak bulan sabit di tangan pendeta Maharya tadi.
Kalau saja dia tidak mendengarkan percakapan tadi, tentu Milana tidak menjadi gentar menghadapi mereka yang tentu saja dianggapnya sekutu ibunya.
Akan tetapi sekarang, dia memandang mereka sebagai musuh-musuh yang hendak membunuh ibunya!
Tentu saja dia menjadi marah bukan main, kemarahan yang disertai kekhawatiran akan nasib ibunya, lupa akan keadaan dirinya sendiri yang sudah terkurung dan sedang terancam hebat itu.
"Ah, kiranya Nona Milana yang datang. Ada keperluan apakah Nona datang berkunjung ke rumahku?"
Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bertanya, matanya memandang tajam untuk menyelidiki apakah nona ini tadi mendengar percakapan mereka atau tidak.
Milana bukan seorang dara yang bodoh.
Dia maklum bahwa dia berada di guha singa yang amat berbahaya.
Kalau dia melampiaskan kemarahannya di saat itu, sehingga dia harus bertanding melawan mereka, tentu dia akan celaka.
Maka dia memaksa sebuah senyum manis sambil berkata.
"Koksu, aku datang untuk bicara mengenai urusan penting denganmu."
"Ahhh, maafkan penyambutan kami tadi, Nona, karena kami tidak tahu bahwa engkau yang datang. Mari, silakan masuk."
Pintu ruangan itu dibuka lebar dan mereka semua memasuki ruangan. Milana dipersilakan duduk oleh Koksu yang masih ramah sikapnya.
"Silakan duduk, Nona Milana dan terimalah ucapan selamat datang dari kami dengan secawan arak."
"Terima kasih, tidak usah, Koksu. Aku datang hanya untuk bicara sebentar dan takkan lama di sini,"
Jawab Milana, akan tetapi dia duduk juga melihat semua orang sudah duduk.
"Apakah Nona datang seorang diri? Ataukah dengan Pangcu?"
Koksu bertanya, diam-diam mengerling ke arah jendela yang sudah pecah dan terbuka karena ia khawatir kalau-kalau nona ini datang bersama ibunya yang luar biasa lihainya itu.
"Aku datang sendiri untuk.... untuk...."
Milana menjadi bingung sekali.
Setelah mendengar percakapan tadi dan mendapat kenyataan bahwa mereka semua ini adalah musuh-musuh yang merencanakan pembunuhan terhadap ibunya, lenyap sama sekali keinginannya untuk membujuk Koksu agar menyerahkan Pedang Hok-mo-kiam kepada Pendekar Super Sakti dan agar tidak menentang ayahnya itu.
Mana mungkin mereka mau memenuhi permintaannya setelah ternyata bahwa mereka ini bukanlah sahabat melainkan musuh yang berbahaya?
Maka ketika hendak menyatakan isi hatinya, dia menjadi ragu-ragu dan gugup.
Tiba-tiba terdengar Maharya membentak.
"Engkau tentu sudah sejak tadi datang, bukan? Mengakulah dengan jujur!"
Ucapan ini bukan sembarangan, melainkan suara yang disertai sin-kang kuat sekali dan membawa pengaruh sihir yang seolah-olah mencengkeram semua semangat dan kemauan Milana, membuat dara itu tidak berdaya dan di luar kehendaknya sendiri, mulutnya mengeluarkan suara hatinya.
"Memang aku sudah semenjak tadi datang."
Milana terkejut sekali mendengar pengakuannya sendiri yang keluar dari hati yang jujur.
"Dan engkau sudah mendengarkan percakapan kami? Hayo, jawab setulusnya!"
Kembali Maharya menghardik dengan suara yang bergema aneh dan penuh wibawa.
Milana kini sudah memandang wajah kakek itu dan pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang mendelik dan amat tajam.
Dia maklum bahwa dia terpengaruh oleh kekuasaan sihir kakek itu, namun betapapun dia mengerahkan sin-kang melawan, tetap saja dia tidak dapat menahan mulutnya yang menjawab.
"Benar, aku sudah mendengarkan percakapan kalian."
Koksu mengeluarkan seruan kaget dan kembali terdengar suara Maharya.
"Apakah engkau tahu apa yang kami percakapkan? Jawab dan jelaskan!"
Milana kini sudah hampir dapat mengatasi dirinya.
Sin-kangnya sudah kuat sehingga dia mampu melawan pengaruh mujijat itu, dan selain ini, dara ini mewarisi sinar mata tajam dari ayahnya sehingga pada dasarnya dia memiliki sinar mata yang amat kuat.
Akan tetapi dia belum lolos sama sekali dari cengkeraman kekuasaan sihir Maharya, maka biarpun suaranya sudah lemah tanda bahwa dia hampir dapat menguasai diri dan melawan tenaga mujijat yang mendorongnya untuk mengaku, masih saja terdengar pengakuannya.
"Aku.... aku tahu.... kalian.... hendak membunuh Ibuku.... aihhhh!"
Kini Milana sudah dapat menguasai dirinya dan cepat ia meloncat ke belakang sambil mencabut Pedang Pek-kong-kiam yang tadi sudah dia sarungkan kembali.
Maklumlah dia bahwa dia sudah terlanjur membuat pengakuan dan maklum bahwa tentu mereka itu tidak akan membiarkan dia pergi menyampaikan rahasia itu kepada Ibunya.
Benar dugaannya, karena Koksu sudah berseru.
"Dia harus kita tangkap!"
Semua orang bergerak dan bayangan mereka berkelebatan cepat sekali, tahu-tahu Milana telah terkurung dan berada di tengah-tengah.
Maharya berada di depannya, Koksu dan Thian Tok Lama di kanan-kirinya, sedangkan enam orang panglima berada di belakangnya!
Milana berdiri dengan tegak, pedangnya melintang depan dada, tangan kiri terangkat keatas kepala, siap untuk menghadapi serangan mereka.
Seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan menggetar, matanya melirik ke depan, kanan dan kiri, dagunya ditarik keras dan mukanya agak menunduk, kedua kakinya berdiri dengan tumit diangkat sedikit karena dia maklum bahwa menghadapi orang-orang lihai ini dia membutuhkan kecepatan gerak dan gin-kangnya.
Sampai agak lama, mereka semua diam tak bergerak seperti arca-arca batu, suasana menjadi amat tegang.
Tiba-tiba Maharya berkata dalam bahasa Nepal yang dimengerti oleh Koksu.
Koksu ini adalah seorang peranakan India yang sudah menjadi Warga Negara Mancu, akan tetapi karena sejak kecil dia tinggal di Nepal, maka dia tidak mengerti bahasa India dan lebih paham bahasa Nepal.
Karena itulah maka Maharya bicara bahasa Nepal kepada murid keponakan itu.
"Dia tahu akan rahasia kita, harus kita bunuh sekarang, lebih cepat lebih baik!"
Akan tetapi, dalam bahasa Nepal pula yang tak dimengerti oleh Milana dan orang lain kecuali Thian Tok Lama, Koksu berkata.
"Jangan dibunuh, dia harus ditangkap untuk memancing dan memaksa ibunya menakluk!"
Mengguna-kan kesempatan selagi dua orang itu bicara dan yang lain memperhatikan percakapan dalam bahasa asing itu, tiba-tiba Milana meloncat dan memutar pedang Pek-kong-kiam melindungi tubuh dari serangan di bawah kaki sedangkan tubuhnya melayang ke arah jendela untuk melarikan diri.
"Tranggg....!"
Tiba-tiba Maharya sudah berkelebat dan mendahului Milana menghadang di depan lubang jendela sehingga ketika Milana menerjang, pendeta itu menangkis dengan senjatanya dan hampir saja Milana melepaskan pedangnya saking kerasnya tangkisan itu yang membuat tangannya tergetar hebat.
Yang lain-lain sudah mengejar dan mengepung, namun Milana sudah memutar pedangnya dan mengamuk dengan hebat.
Dia seorang dara yang tak mengenal takut, percaya akan kepandaian sendiri dan dia mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah terakhir.
Ia maklum bahwa orang-orang ini adalah musuh-musuh yang tak akan membiarkan ia hidup, maka hanya ada satu jalan baginya, yaitu melawan mati-matian dengan dua kemungkinan, tewas di tangan mereka atau berhasil lolos untuk menyelamatkan ibunya yang terancam bahaya maut!
"Wuuut-wuuuttt....!"
Milana terkejut dan cepat melempar diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali untuk meloloskan diri dari sinar merah yang menyambarnya dari samping dan menyilaukan matanya.
"Tar-tar!"
Kiranya yang menyambarnya dan yang kini meledak-ledak adalah pecut kulit berwarna merah yang berada di tangan Koksu yang berdiri sambil tersenyum mengejek di depannya.
"Pemberontak hina! Pengkhianat tak tahu malu!"
Milana membentak marah.
"Selain hendak berkhianat terhadap pemerintah, engkau juga hendak membunuh Ibuku! Manusia macam engkau ini mana bisa membunuh Ibuku? Lebih dulu kau mampus di tanganku!"
Sambil berkata demikian Milana sudah menerjang maju dengan cepat sambil menggerakkan pedangnya secara ganas namun hebat sekali.
Koksu yang memandang rendah dara remaja itu, dengan sembarangan mengebut dengan pecut merahnya.
"Singggg....! Tarrr.... brettt!"
"Hayaaaa....!"
Bhong Ji Kun berseru kaget.
Karena memandang rendah jurus yang dimainkan dara itu dan menangkis sembarangan saja, ujung pecut merahnya telah terbabat putus.
Itulah jurus dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat yang hebat sekali, ilmu pedang tingkat tinggi ciptaan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan pendiri Beng-kauw, kakek dari Pendekar Sakti Suling Emas (baca cerita Cinta Bernoda Darah dan cerita Suling Emas)!
Dan Koksu ini dengan sembrono telah berani memandang rendah karena dimainkan oleh seorang dara remaja!
Suara bercuit dari belakang membuat Milana cepat memutar tubuh sambil membabatkan pedangnya menangkis.
"Tranggg!"
Sekali lagi pedangnya bertemu dengan senjata di tangan Maharya dan hampir saja terlepas dari pegangannya.