Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pedang Iblis 9

Eps 9 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.

Hanya mulutnya saja yang terbuka dan menyeringai dan dari kerongkongannya keluar suara terkekeh, akan tetapi biji matanya yang putih, wajahnya, sama sekali tidak ikut tertawa!

"Heh-heh-hah-hah-hah!

Jadi engkau murid Pendekar Siluman?

Kebetulan sekali.

Sudah lama aku rindu untuk mengadu ilmu dengan Pendekar Siluman, sekarang bertemu dengan muridnya, dapat kuukur sampai di mana kehebatannya!"

Setelah berkata demikian, kakek itu menyerang!

Serangannya amat luar biasa, tubuhnya mengkerut pendek, kemudian tiba-tiba mencelat ke arah Kwi Hong, kaki tangannya bergerak kacau akan tetapi tahu-tahu kedua tangan yang jari-jarinya kurus seperti kerangka itu mengirim lima kali totokan secara bertubi-tubi.

Gerakan ini mengingatkan Kwi Hong akan gerakan binatang kuda laut yang meloncat, atau semacam ulat yang kalau hendak meloncat selalu menekuk dan mengerutkan tubuhnya, baru tiba-tiba mencelat ke depan.

Cepat ia meng-gerakkan tubuhnya mengelak, lima kali berturut-turut akan tetapi yang terakhir betapapun cepat gerakannya, tetap saja pundaknya tertotok dan tubuhnya menjadi lemas lumpuh.

"Heh-heh-heh! Tidak seberapa!"

Kakek yang mengerikan itu terkekeh, tangannya bergerak lagi ke arah pundak dan totokannya buyar.

Lalu Kwi Hong meloncat bangun lagi!

Ngeri hati dara ini, karena maklum bahwa kakek itu sengaja mempermainkannya, setelah berhasil menotoknya lalu membebaskan totokan itu agar dia dapat melawan lagi.

Perasaan ngeri ini sama sekali bukan berarti dia takut, malah sebaliknya.

Dia menjadi penasaran dan biarpun maklum bahwa kakek itu sakti sekali, namun dia mengambil keputusan untuk melawan mati-matian.

Maka ia cepat membalas dengan serangan cepat, mengunakan ilmu silat yang ia pelajari dara pamannya, semacam ilmu silat yang memiliki dasar ilmu Soan-hong-lui-kun.

Akan tetapi tentu saja tidak seperti Soan-hong-lui-kun yang aseli karena ilmu mujijat itu hanya dapat dilatih secara sempurna oleh seorang yang kakinya tinggal sebuah.

Pendekar Super Sakti telah mencipta sebuah ilmu silat yang dasarnya memakai ilmu itu, akan tetapi gerakan kakinya tentu saja disesuaikan dengan orang yang berkaki dua.

Namun ilmu ini cukup hebat, tubuh Kwi Hong mencelat ke sana ke mari dan pukulan kedua tangannya menggunakan Hwi-yang Sin-ciang yang panas, sedangkan kadang-kadang dirobah dengan Swat-im Sin-ciang yang dingin.

"Hebat.... hebat.... eh, ilmu apa ini?"

Kakek itu terkekeh-kekeh, mengelak ke sana ke mari dan kadang-kadang memberi komentar ketika menangkis pukulan-pukulan itu.

"Eh, panas.... Hwi-yang Sin-ciang, ya? Aduhhh, dinginnya, inilah Swat-im Sin-ciang! Ha-ha, akan tetapi bukan apa-apa bagiku!"

"Plak! Plak!"

Ketika Kwi Hong memukul dengan kedua tangannya berturut-turut selagi tubuhnya mencelat ke atas, menukik dan mengirim pukulan Yang-kang dan Im-kang dengan kedua tangan mengarah ubun-ubun kepala kakek itu, Cui-beng Koai-ong menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangannya dan....

Kwi Hong merasa betapa kedua telapak tangannya melekat kepada kedua tangan kakek itu, tak dapat terlepas lagi seperti tersedot oleh hawa yang mujijat.

Tubuhnya masih berada di udara, kedua kaki ke atas dan kedua tangannya tersangga oleh kedua tangan Si Kakek sehingga kelihatannya dua orang itu sedang main akrobat!

"Heh-heh-heh!"

Kakek itu tertawa dan sekali dia dorongkan kedua tangannya, tubuh Kwi Hong terlempar jauh ke atas dan ke belakang.

Untung bahwa dara ini memiliki gin-kang yang sudah cukup tinggi sehingga dia dapat berjungkir balik dan jatuh ke atas tanah dengan kedua kaki yang ditekuk lututnya terlebih dulu, tidak sampai terbanting.

Kwi Hong melongo dan dia maklum bahwa kalau dilanjutkan, dia akan celaka.

Lebih baik lari mengambil pedang Li-mo-kiam lebih dulu, atau minta bantuan bibinya, Phoa Ciok Lin.

Kalau dia meng-gunakan pedang itu dan dibantu bibinya, tentu akan dapat merobohkan kakek sakti ini.

Maka dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari!

"Eiiiiiittt!

Baru enak-enaknya bertanding mau pergi ke mana?"

Kembali Kwi Hong terkejut karena seperti tadi, tubuhnya tidak dapat maju biarpun kedua kakinya tetap bergerak lari.

Dia hanya lari di tempat, padahal jarak antara dia dan kakek itu ada tujuh meter jauhnya!

Bulu tengkuknya berdiri, ini tidak lumrah, pikirnya.

Bukan kepandaian manusia!

Tiba-tiba terdengar pekik burung di udara.

Kwi Hong menengok dan diam-diam mengeluh.

Celaka, burung rajawali dari Pulau Neraka.

Kalau bocah bengal dari Pulau Neraka yang datang, dia lebih celaka lagi!

Dikerahkannya tenaga sin-kangnya, namun tetap saja tubuhnya tak dapat maju dan kakek itu terkekeh-kekeh girang mempermainkan dara itu.

Burung rajawali menyambar turun dan tiba-tiba dari atas punggungnya meloncat turun seorang laki-laki berkaki buntung sebelah.

Pendekar Super Sakti Suma Han!

Begitu meloncat turun, Suma Han menggerakkan tangan kanannya didorongkan ke depan di antara keponakannya dan kakek itu.

Serangkum tenaga dahsyat menyambar, dan "terputuslah"

Tenaga kakek yang menyedot tubuh Kwi Hong.

Akibatnya, Kwi Hong yang mengerahkan tenaga lari ke depan itu, terdorong ke depan dan nyaris hidungnya yang kecil mancung itu mencium tanah kalau saja dia tidak cepat menekuk leher dan membiarkan bahunya yang terbanting, lalu bergulingan dan hanya pakaiannya saja yang kotor, Akan tetapi kulit tubuhnya tidak sampai terluka.

Ia meloncat bangun dan betapa girangnya ketika ia melihat pamannya telah berada di situ.

Dengan heran Kwi Hong menoleh ke arah burung rajawali yang kini bertengger di batu karang dan kelihatan tenang-tenang saja.

Pamannyalah yang datang menunggang rajawali.

Sungguh aneh!

Suma Han berdiri dengan kaki tunggalnya, bersandar tongkat dan memandang kakek kurus itu dengan sinar mata tajam dan dia berkerut.

Kakek itu pun memandang dan agaknya dia lupa akan kebiasaannya terkekeh, karena kini dia melongo dan meneliti Suma Han dari kakinya yang tinggal sebetah sampai ke rambut kepalanya yang putih berkilau seperti benang-benang perak itu.

"Kau.... kau.... Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es....?"

Kakek itu bertanya, suaranya agak gemetar!

Suma Han mengangguk, masih tidak menjawab dan sedang meneliti kakek di depannya.

Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi yang membuat dia heran adalah muka yang pucat tak berdarah, dan sukar sekali menaksir usia kakek ini, tentu lebih dari seratus tahun!

Juga kulit pembungkus tulang tanpa daging itu kelihatan kebiruan, dan dia maklum bahwa orang ini memiliki kekebalan yang tidak lumrah dimiliki manusia, maka dia bersikap hati-hati.

Betapa herannya ketika dia menjawab dengan anggukan kepala, tiba-tiba kakek itu menjatuhkan diri berlutut!

"Sebelumnya hamba, Cui-beng Koai-ong mohon maaf sebanyaknya kepada To-cu Pulau Es bahwa hamba seorang buangan berani bersikap kasar terhadap pemilik Pulau Es!"

Suma Han mengerutkan alisnya yang masih hitam, berbeda dengan rambut kepalanya, kemudian terdengar dia bertanya dengan suara halus dan hormat.

"Locianpwe siapakah? Dan mengapa minta maaf kepadaku?"

Tiba-tiba kakek itu bangkit berdiri, tertawa dan berkata.

"Aku sudah memenuhi sumpah dan kewajiban, sebagai orang buangan dari Pulau Neraka sudah minta maaf. Sekarang, karena kita bertemu bukan di Pulau Es, tingkat kita menjadi sama-sama orang pelarian, ha-ha-ha!"

"Locianpwe dari Pulau Neraka?"

Suma Han teringat akan Lulu dan kembali diam-diam dia merasa heran sekali.

"Masih ada hubungan apakah dengan Ketua Pulau Neraka?"

"Ketua Pulau Neraka? Wanita itu? Heh-heh, dia hanya Ketua palsu, Ketua boneka, ha-ha-ha! Kamilah yang sebetulnya menjadi pimpinan Pulau Neraka! Kami berdua, aku Cui-beng Koai-ong dan Suteku Bu-tek Siauw-jin Si Gila Otak Miring itu! Wanita itu bisa apa? Kalau aku menghendaki, mana bisa dia menjadi Ketua Pulau Neraka?"

Suma Han makin terheran-heran dan diam-diam mengkhawatirkan keadaan Lulu.

"Mengapa Locianpwe membiarkan dia menjadi Ketua?"

"Engkau tertarik sekali kepadanya, bukan? Heh-heh, Pendekar Siluman, karena dia itu adik angkatmu, karena dia mendendam kepadamu, maka kami biarkan saja! Kami senenek moyang kami telah disumpah untuk menjadi orang buangan dari Pulau Es, tidak diperbolehkan menginjakkan kaki ke Pulau Es! Betapa pun inginku menandingi yang menjadi Ketua Pulau Es, kalau aku tidak boleh datang ke sana, bagaimana mungkin? Maka kubiarkan wanita Adik Angkatmu itu menjadi Ketua, karena dialah merupakan umpan agar aku dapat berhadapan denganmu di luar Pulau Es. Sayang, ketika kau berani datang ke Pulau Neraka, aku dan Suteku sedang pergi merantau. Akan tetapi, sekarang Pulau Es telah menjadi abu, juga Pulau Neraka, kita sama-sama tidak berpulau, sama-sama menjadi pelarian dan kebetulan kita saling jumpa di sini. Pendekar Siluman, hayo kita mengadu ilmu di sini! Biarlah dendam Pulau Neraka yang sudah ratusan tahun itu kita selesaikan di sini, kau sebagai To-cu Pulau Es harus membayarnya!"

"Nanti dulu, Locianpwe! Setelah Pulau Neraka dibumihanguskan oleh pasukan pemerintah, lalu bagaimana dengan kedudukan Ketua Pulau Neraka?"

Suma Han masih khawatir akan nasib Lulu yang dicintanya.

"Dia? Heh-heh, biarlah menjadi Ketua orang-orang pelarian itu. Tadinya akan kubunuh dia, akan tetapi mengingat bahwa puteranya menjadi muridku, maka.... eh, sudahlah, banyak ngobrol. Hayo kau kalahkan aku!"

Berkata demikian, kakek itu sudah menerjang maju dengan gerakan aneh namun ganas dan dahsyat sekali ke depan, Suma Han mencelat ke atas menghindar dan batu karang pecah berhamburan terkena hantaman kakek itu debu mengepul menandakan betapa hebatnya pukulan tadi.

"Kwi Hong, pergilah, tempat ini berbahaya untukmu!"

Suma Han berkata ketika melihat keponakan dan muridnya itu tampak maju untuk membantunya.

Mendengar kata-kata yang nyaring ini, Kwi Hong menghentikan niatnya dan matanya terbelalak menyaksikan pamannya yang sudah bertanding dengan kakek itu.

Matanya menjadi silau dan pandang matanya kabur menyaksikan gerakan pamannya yang telah mainkan Soan-hong-lui-kun untuk menghadapi lawan yang amat tangguh itu.

Dia harus membantu, akan tetapi benar kata pamannya, dia membantu hanya akan mengantar nyawa saja, dan sama sekali tidak akan menguntungkan pamannya.

Li-mo-kiam, sebuah di antara Sepasang Pedang Iblis itu!

Teringat ini, Kwi Hong lalu meninggalkan tempat itu, berlari cepat sekali.

Melihat ini, Suma Han menjadi agak lega hatinya.

Lawannya ini berbahaya sekali, biarlah andaikata dia sendiri yang menjadi korban.

Namun, dia kecewa juga melihat betapa keponakannya itu lari seperti orang ketakutan setengah mati dan tidak mengira bahwa keponakannya ternyata bernyali demikian kecil.

"Desss!"

Dua telapak tangan saling bertemu bagaikan dua sinar kilat bertumbukan ketika Suma Han menangkis pukulan maut kakek itu.

Akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai lima langkah.

"Heh-heh-heh, kau boleh juga! Akan tetapi masih jauh kalau dibandingkan dengan kesaktian Bu Kek Siansu. Aku masih sanggup menandingimu, ha-ha!"

Kakek itu tertawa dan siap menerjang lagi.

"Locianpwe, dengarlah dulu. Aku Suma Han biarpun tinggal di Pulau Es dan menjadi pemimpin di sana, namun belum pernah aku memusuhi Pulau Neraka. Aku bukanlah keturunan raja yang dahulu berkuasa di Pulau Es, dan aku tidak pernah membuang orang ke Pulau Neraka. Bukan sekali-kali karena aku takut menghadapimu, Cui-beng Koai-ong, akan tetapi perlu apa kita bertanding mati-matian sedangkan kita mengalami nasib yang sama? Pulau kita dibakar pasukan pemerintah tanpa dosa, apakah kita harus saling gempur sendiri?"

"Cukup banyak bicara! Dendam Pulau Neraka yang turun-temurun harus dilunasi sekarang juga!"

Kakek itu membentak dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan seperti terbang, atau seperti sebatang tombak dilontarkan menuju ke tubuh Suma Han.

Pendekar ini terkejut dan kagum, cepat kaki tunggalnya menjejak tanah dan tubuhnya sudah mencelat ke atas mengelak.

Kakek itu menahan luncurannya, akan tetapi kedua tangannya ketika meluncur tadi sudah mengirim pukulan derhsyat yang tidak dapat ditariknya kembali, dan terus hawa pukulan itu menghantam jauh ke depan.

"Brakkkk!"

Batu karang di mana burung rajawali bertengger itu hancur.

Burung itu terbang dan memekik ketakutan, kemudian hinggap di atas batu karang yang lebih tinggi lagi, matanya jelalatan memandang ke bawah dengan ketakutan.

"Bukan main."

Suma Han diam-diam memuji.

"Kakek ini memiliki kepandaian yang amat tinggi."

Ketika dia turun, kembali kakek itu menyerang, akan tetapi secepat burung terbang, Ilmu Soan-hong-lui-kun membuat tubuh Suma Han terus mencelat ke sana ke mari, seolah-olah seekor kumbang yang beterbangan di atas setangkai bunga, berkelebatan mengelak dan dari atas membalas dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah ampuh dan dahsyatnya sehingga berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan memuji.

"Bukkk!"

Sebuah tamparan tangan kiri Suma Han mengenai pundak kakek itu, namun dia hanya tergetar saja dan terhuyung, sama sekali tidak terluka, padahal tamparan Pendekar Super Sakti itu cukup kuat untuk menumbangkan sebatang pohon yang besarnya setubuh manusia!

Suma Han makin kagum.

Dalam hal kecepatan, jelas dia menang karena dengan Ilmunya Soan-hong-lui-kun, kiranya tidak akan ada yang dapat menandinginya dalam hal kecepatan, juga dalam hal tenaga sin-kang, keadaan mereka berimbang dan hal ini dapat diketahuinya ketika mereka tadi mengadu tenaga dan saling terpental ke belakang.

Akan tetapi kakek ini memiliki kekebalan tubuh yang hebat, dalam hal inilah dia kalah.

Kalau dia yang terkena pukulan oleh tangan sakti kakek itu, tentu dia takkan dapat bertahan seperti yang dibuktikan oleh kakek itu.

Maka dia berlaku hati-hati sekali dan kini dia tidak hanya menyerang dengan tangan, melainkan totokan-totokan dengan ujung tongkatnya.

Setelah pertandingan yang luar biasa itu berlangsung seratus jurus lebih, dalam sebuah serangan kilat dari atas, ujung tongkat Suma Han berhasil menotok kepala kakek itu.

Tadinya dia maksudkan menotok tengkuk, akan tetapi gerakan mengelak kakek itu membuat tongkatnya mengenai kepala dan diam-diam Suma Han menyesal karena sesungguhnya dia tidak bermaksud membunuh kakek yang sama sekali bukan musuhnya ini.

"Trakkk!"

Rasa menyesal terganti kekaguman dan keheranan ketika kakek itu yang jelas tertusuk tongkat kepalanya, hanya menjadi miring saja tubuhnya, akan tetapi sama sekali tidak terluka!

Bukan main!

Kalau kekebalannya itu sudah menjalar sampai ke kepala, tidak tahu lagi Suma Han bagaimana dia harus mengalahkan kakek ini.

Satu-satunya jalan baginya hanyalah mengerahkan serangan-serangannya pada kedua mata kakek itu.

Dan dugaannya benar karena kakek itu sama sekali tidak mau terserang matanya yang selalu terlindung oleh kedua tangannya sehingga setiap serangan pukulan maupun tusukan tongkat ke arah mata selalu dapat ditangkis dengan lengan tangannya yang biarpun hanya tulang terbungkus kulit, namun amat kuat dan kebal itu.

Diam-diam Suma Han menghela napas dan merasa repot sekali.

Betapa mungkin dia akan dapat menang?

Tubuh lawan tak dapat dia lukai, sedangkan dia selalu harus mengelak dan menangkis karena sekali saja dia terkena pukulan-pukulan yang amat dahsyat itu, sedikitnya dia tentu akan menderita luka di dalam tubuh.

Dan berapa lama dia akan dapat bertahan kalau begini?

Di lain pihak, Cui-beng Koai-ong juga merasa kagum bukan main.

Ilmu silat yang dimainkan oleh Pendekar Siluman itu benar-benar tak dikenalnya dan amat cepatnya, Mengingatkan ia akan dongeng tentang Kauw Cee Thian atau Sun-go-kong, tokoh siluman atau raja kera yang terdapat dalam dongeng See-yu-ki yang dapat mencelat-celat dari bukit ke bukit dengan kecepatan laksana kilat.

Dia memutar otaknya karena kecepatan di udara yang digerakkan tubuh lawannya itu tidak memungkinkan dia untuk menyerang dengan tepat.

Tiba-tiba Suma Han meloncat jauh ke belakang dan duduk bersila dengan sebelah kakinya, kedua lengannya bersedekap dan tongkatnya dikempit.

Tiba-tiba dari ubun-ubun kepala Pendekar Siluman itu keluar bayangan Suma Han yang memegang tongkat dan bergerak-gerak hendak melawan kakek itu.

Sejenak kakek itu melongo, kemudian terkekeh-kekeh dan tanpa mempedulikan bayangan itu, dia menubruk tubuh Suma Han yang masih bersila.

"Aihhhh!"

Suma Han mencelat ketika mengelak.

Celaka, agaknya kakek ini juga kebal terhadap kekuatan mujijat!

Dia mencoba lagi, mengerahkan pandang matanya dan membentak.

"Cui-beng Koai-ong, robohlah!"

Dengan tongkatnya ia menuding dan baik dalam sinar mata, maupun dalam suara dan gerakan tangannya itu terkandung hawa mujijat yang amat berpengaruh.

"Heh-heh, nanti dulu. Aku belum kalah mana mau roboh?"

Jawab kakek itu dan menyerang terus.

Suma Han benar-benar kewalahan.

Jelas bahwa tenaga mujijat dalam dirinya, tidak mempan melawan kakek yang sudah puluhan tahun sering kali bertapa di antara mayat-mayat dan kerangka-kerangka manusia itu, sehingga dia telah memiliki kekebalan terhadap segala pengaruh batin dan ilmu sihir.

Pertandingan dilanjutkan dengan mati-matian.

Kedua pihak mengeluarkan ilmu-ilmunya yang tinggi sehingga debu dan pasir mengebul berhamburan, batu-batu karang yang berdekatan pecah berantakan dan pohon-pohon di sekitar tempat itu tumbang, mengeluarkan suara keras.

Kalau dilihat dari jauh, pantasnya ada dua ekor gajah yang mengamuk dan saling serang itu, bukan seorang kakek yang seperti mayat hidup dan seorang yang sebelah kakinya buntung.

"Heh-heh, aku tahu bagaimana harus menghadapi ilmumu yang aneh!"

Tiba-tiba kakek itu berkata dan....

dia melempar tubuh ke belakang, kakinya mencelat ke depan dan menendang bergantian ke arah muka dan pusar Suma Han.

Pendekar ini terkejut sekali, merendahkan tubuh mengelak tendangan ke mukanya dan menangkis dengan tangan kirinya ke arah kaki yang menendang pusar.

"Desss!"

Tubuh kakek itu terpelanting dan dia bergulingan sambil menyeringai, akan tetapi ia segera bergulingan dan rebah terlentang!

Suma Han menjadi girang karena maklum bahwa dia menemukan titik kelemahan kakek aneh itu, yaitu pada telapak kakinya.

Buktinya, kalau bagian tubuh lain amat kebal, telapak kaki itu ketika bertemu dengan tangannya, Si Kakek merasa nyeri.

Hal ini membuktikan bahwa telapak kakek itu tidaklah sekuat bagian tubuh yang lain.

Dia sudah mencelat ke atas dan melihat kakek itu rebah terlentang, dia segera meluncur turun dan menyerang dari atas.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu menggerakkan kedua tangannya mendorong ke atas.

"Wusss.... bukkk!"

Tubuh Suma Han terlempar dan terpelanting, jatuh ke atas tanah, akan tetapi dia dapat cepat meloncat lagi.

Dia kaget bukan main akan ilmu kakek yang aneh ini.

Kiranya dengan tubuh terlentang itu, pukulan Si Kakek menjadi berlipat ganda kuatnya, seolah-olah kakek itu telah mempergunakan daya tahan bumi!

Dan kakek itu tertawa, tetap terlentang.

"Nah, pergunakan ilmumu Sun-go-kong berloncatan itu sekarang!"

Suma Han maklum bahwa kakek yang seperti iblis itu ternyata cerdik sekali.

Kelihaian Soan-hong-lui-kun adalah mengandalkan kecepatan gerak kaki tunggal yang memantul menurut keseimbangan tubuh yang berkaki satu, dan dengan kecepatan itu membingungkan lawan dan dapat mengirim serangan tiba-tiba dari samping, depan atau belakang lawan.

Kini kakek itu hanya rebah terlentang, tentu saja tubuh bagian belakang terlindung tanah, juga sukar menyerang dari kanan-kiri.

Satu-satunya tempat untuk diserang hanyalah depan dan yang depan ini terlindung oleh kedua tangan kakek yang mempunyai kekuatan lipat ganda setelah rebah terlentang itu.

Benar-benar sukar mengalahkan kakek ini.

Namun Suma Han yang juga merasa penasaran, masih terus menyerang dengan tongkat dan tangan kirinya yang kesemuanya dapat ditangkis oleh kakek itu sambil "tiduran"

Seenaknya!

Kalau Suma Han berhenti menyerang dan turun berdiri ke atas tanah, tiba-tiba saja tubuh yang terlentang itu meluncur dan menyerangnya dengan dahsyat, bagaikan tombak besar dilontarkan kepadanya!

Dan kalau dia menggunakan Soan-hong-lui-kun, kembali kakek itu rebah terlentang!

Dua ratus jurus lewat dan pertandingan antara dua manusia sakti dan aneh itu masih berlangsung seru, belum ada yang kalah atau menang, bahkan belum ada yang terdesak.

Baru sekali ini selama hidupnya Suma Han bertemu dengan lawan yang begini lihai, yang kesaktiannya mengatasi semua lawan sakti yang pernah dilawannya.

"Heh-heh-heh, kau memang hebat, Pendekar Siluman. Akan tetapi coba sekarang kau terima ini!"

Kakek yang masih terlentang itu tiba-tiba mengeluarkan pekik dahsyat yang mendirikan bulu roma, tidak seperti manusia lagi dan tubuhnya sudah mencelat dan menubruk ke arah Suma Han dengan kedua tangan terpentang.

Dari kedua tangan itu menyambar hawa yang berputar-putar seperti angin puyuh dan Suma Han mak-lum bahwa kalau dia mengelak, ada bahayanya dia terkena sambaran angin pukulan itu.

Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menyambut pukulan itu, mengadu sin-kang, keras lawan keras.

Apalagi dia memang sudah bosan untuk terus bermain kucing-kucingan dengan kakek ini, maka jalan satu-satunya untuk menentukan kemenangan hanyalah mengadu tenaga sin-kang yang ia percaya tidak akan kalah mengingat bahwa dia telah berlatih sampai matang di Pulau Es.

Suma Han menancapkan tongkatnya di atas tanah lalu menggunakan kedua tangannya menerima dorongan kakek itu.

"Jieeetttt!"

Dua pasang tangan bertemu, melekat dan keduanya kini berdiri membungkuk, saling mengerahkan sin-kang yang mengalir penuh melalui kedua pasang tangan mereka.

Pertandingan mati-matian terjadi karena kini tidak ada lagi istilah mengelak.

Yang ada hanya saling menekan dan mendorong, dan siapa kalah kuat tentu akan binasa!

Kedua orang itu kalau dilihat sungguh tidak seperti orang sedang mengadu nyawa, lebih mirip dua orang kanak-kanak yang sedang bermain-main.

Keduanya berdiri tanpa bergerak, tampaknya tidak mengerahkan tenaga sama sekali.

Akan tetapi kalau orang melihat kedua kaki Si Kakek dan kaki tunggal Pendekar Super Sakti, orang akan terkejut melihat kaki mereka itu amblas ke dalam tanah sampai selutut!

Lebih dari setengah jam mereka mengadu sin-kang ini.

Dari ubun-ubun kepala Suma Han keluar uap putih, sedangkan dari kepala botak kakek itu mengepul uap kehitaman.

Muka kedua orang sakti itu penuh keringat yang besar-besar dan mata mereka saling pandang tanpa berkedip.

Pada saat itu tampak bayangan berkelebat dan Kwi Hong telah datang dengan pedang di tangan kanan, pedang yang mengeluarkan sinar kilat.

Li-mo-kiam sebatang dari Sepasang Pedang Iblis!

Tanpa banyak cakap lagi, Kwi Hong yang melihat betapa pamannya mengadu sin-kang dan berada dalam keadaan yang amat berbahaya, lalu menerjang maju dan menggerakkan pedangnya menusuk ke arah mata kakek itu.

Cui-beng Koai-ong terkejut sekali.

Melihat sinar pedang yang seperti kilat yang mendatangkan hawa yang mujijat itu, tahulah dia bahwa pedang itu merupakan pusaka yang amat ampuh.

Dia mengeluarkan pekik mengerikan, dari mulutnya menyembur darah merah ke arah muka Suma Han.

Pendekar sakti ini kaget, cepat dia pun mengerahkan tenaganya sekuatnya mendorong, membarengi gerakan kakek itu yang juga mendorong dan keduanya terpental ke belakang, sedangkan pedangnya tidak mengenai sasaran.

Melihat pamannya terpental dan terhuyung, juga kakek itu terhuyung, Kwi Hong cepat menerjang lagi, yang diarah adalah sepasang mata kakek itu.

Sekali ini, Cui-beng Koai-ong tidak berani menangkis, hanya cepat mengelak dan tangannya meluncur ke depan, hendak merampas pedang sedangkan tangan kanannya mencengkeram kepala Kwi Hong.

Dara itu terkejut sekali, menarik kembali pedangnya karena khawatir terampas sembil melempar tubuh ke belakang, namun tetap saja pundaknya tersentuh jari tangan kakek itu dan ia terpelanting, merasa betapa seluruh pundak kirinya seperti lumpuh!

"Heh-heh-heh, pedang setan, seperti milik muridku.

Serahkan padaku!"

Kakek ini menubruk lagi dan Kwi Hong segera terdesak hebat memutar pedang melindungi tubuhnya.

Untung ia melakukan hal ini karena kalau hanya mengelak, tentu dia akan celaka.

Kecepatannya masih kalah jauh, tidak dapat mengelak hawa sin-kang kakek yang luar biasa itu.

Akan tetapi begitu ia memutar pedang, membuat pedang itu membentuk gulungan sinar yang merupakan perisai bagi tubuhnya, kakek itu tidak berani menyerangnya.

Suma Han sudah bangkit berdiri, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia merasa hawa panas menyerang dada, terus turun ke pusar.

Cepat ia menahan napas dan tahulah dia bahwa adu tenaga tadi telah membuat dia terluka sebelah dalam tubuhnya!

Dia tidak tahu bahwa kakek itu pun terluka di sebelah dalam, dan karena Si Kakek nekat menyerang Kwi Hong maka tidak tampak bahwa kakek itu pun terluka.

Karena khawatir akan keselamatan keponakannya yang kini dia tahu bukan melarikan diri karena takut, melainkan mengambil pedang Li-mo-kiam, maka Suma Han berkata.

"Kwi Hong, serang kakinya! Telapak kakinya!"

Biarpun seruan ini merupakan pesan aneh yang membingungkan Kwi Hong, akan tetapi tanpa ragu-ragu ia menurut petunjuk pamannya dan kini dari gulungan sinar pedang itu meluncur sinar kilat yang membabat ke arah telapak kedua kaki Cui-beng Koai-ong!

Kakek ini kaget, sama sekali tidak mengira bahwa rahasianya telah diketahui Suma Han, maka tentu saja dia tidak mau membiarkan bagian tubuhnya yang tidak begitu kebal itu tertusuk atau terbabat pedang.

Melihat sinar pedang itu, terpaksa ia mengibaskan tangannya menangkis.

"Crakkk!"

Tangkisan itu membuat Kwi Hong terlempar, akan tetapi jari kelingking tangan kiri kakek itu pun terbabat putus oleh Li-mo-kiam!

Anehnya, tidak ada darah keluar dari luka itu!

Si Kakek menjadi marah sekali, lalu menerjang maju dengan ganas.

Melihat ini, Suma Han cepat meloncat pula ke depan.

"Bresss!"

Dua orang itu saling pukul dan mereka terlempar lagi ke belakang.

Suma Han merasa betapa kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, akan tetapi kakek itu masih dapat bangkit dengan cepat.

Kwi Hong melihat bahwa pamannya tetap duduk di atas tanah, akan tetapi kakek itu pun berdi-rinya bergoyang-goyang tidak tegak lagi.

Melihat ini, dan karena hatinya besar menyaksikan betapa pedangnya dapat membuntungi kelingking lawan, ia menerjang lagi, menggerakkan pedangnya, dibacokkan ke arah kepala.

Kini dia merasa yakin bahwa pedangnya akan dapat menembus kekebalan kakek luar biasa itu.

"Trangggg.... aihhhh!"

Kwi Hong menjerit kaget ketika pedangnya tertolak ke belakang dan ketika ia memandang, ternyata yang menangkis pedangnya adalah yang memegang pedang persis pedangnya sendiri, hanya agak lebih panjang!

Ternyata pedang pemuda itu sanggup menandingi pedangnya dan ia teringat kini wajah yang tampan itu, dan ingat pula akan cerita Bun Beng, bahwa pedang Lam-mo-kiam terampas oleh putera Pulau Neraka.

"Kau....? Keparat....!"

Dia membentak.

Akan tetapi pemuda itu sudah menyambar tubuh Cui-beng Koai-ong dengan lengan kirinya, kemudian setelah memandang dengan mata mendelik penuh kebencian kepada Suma Han, lalu meloncat dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, meninggalkan pantai itu.

"Tunggu, jahanam....!"

Kwi Hong membentak dan hendak mengejar.

"Kwi Hong, jangan kejar....!"

Suma Han berseru. Dara itu berhenti, menengok dan terkejutlah dia ketika melihat pamannya muntahkan darah segar dari mulutnya.

"Aihhh, Paman....!"

Ia meloncat menghampiri. Akan tetapi Suma Han mengangkat tangan mencegah gadis itu menyentuhnya.

"Tidak apa-apa, Cui-beng Koai-ong luar biasa saktinya, dan pemuda tadi gerakannyapun hebat. Kalau kau mengejar, bisa berbahaya.... coba ambilkan tongkatku...."

Kwi Hong mencabut tongkat pamannya dan menyerahkan kepadanya.

"Mari kita menemui bibimu Phoa Ciok Lin...."

Katanya menuding dan dari utara tampak Phoa Ciok Lin datang berlari-lari, diikuti oleh beberapa orang tokoh Pulau Es yang membawa senjata.

Mereka sudah mendengar dari Kwi Hong akan munculnya kakek sakti dan hendak membantu.

Alis Ciok Lin berkerut penuh kekhawatiran ketika ia melihat Suma Han terluka, namun Suma Han tetap tenang, lalu bersuit memanggil burung rajawali yang segera terbang turun.

"Rajawali Pulau Neraka...."

Katanya tersenyum duka.

"Beterbangan bingung kehilangan tempat, dapat kutundukkan.... kau pelihara baik-baik Kwi Hong. Mari kita ke tempat kalian.... aku perlu mengaso...."

Dengan perawatan penuh perhatian dan teliti oleh Phoa Ciok Lin, Suma Han mengobati sendiri lukanya di dalam dada dengan jalan mengatur napas dan bersamadhi.

Dia seringkali tampak termenung memikirkan perkembangan hidupnya yang makin diselimuti kesukaran dan kegagalan.

Hatinya masih tertindih oleh duka kalau dia teringat akan Nirahai dan Lulu, dan kini Pulau Es dihancurkan pula oleh pasukan pemerintah.

Di dalam perjalanannya, dia mendengar akan hal itu.

Ketika ia cepat menuju ke Pulau Es, dilihatnya pulau itu telah hancur dan terbakar.

Dapat dibayangkan betapa duka hatinya ketika ia melihat mayat-mayat anak buahnya yang telah mulai rusak.

Dengan keharuan yang ditekannya, Suma Han mengubur semua mayat itu seorang diri saja, kemudian meninggalkan pulau itu dan cepat menuju ke Pulau Neraka karena dia pun mendengar bahwa pulau ini pun menjadi sasaran penyerbuan pasukan pemerintah pula.

Juga di pulau ini dia melihat kehancuran, hanya tidak ada sebuah pun mayat di situ.

Di pulau inilah ia bertemu dengan rajawali yang dapat ia tundukkan ketika rajawali yang kebingungan itu menyerangnya.

Kemudian dia menunggang rajawali, dengan niat untuk mencari Maharya, merampas Hok-mo-kiam dan menghukum orang-orang yang telah menghancurkan kedua pulau, yang ia tahu dipimpin oleh Koksu Bhong Ji Kun.

Akan tetapi, dia tidak berhasil menemui mereka karena mereka itu pergi ke Cui-lai-san, di mana di-adakan pertemuan antara orang-orang kang-ouw atas undangan Thian-liong-pang.

Suma Han menyusul ke sana dan menyaksikan pertandingan-pertandingan dari udara.

Dia tidak akan mau mencampuri, karena dia maklum bahwa pasukan pemerintah pasti tidak akan mudah dilawannya dan dia harus menanti kesempatan yang lebih baik untuk menghadapi Bhong Ji Kun dan pembantu-pembantunya, tanpa ribuan orang pasukan yang menjaganya.

Maka terbanglah rajawali itu ke utara, di mana dia tahu tentu bersembunyi sisa anak buahnya di pantai utara yang telah ia beritahukan Phoa Ciok Lin sebagai tempat mengungsi kalau terjadi sesuatu di Pulau Es.

Memang jauh sebelum peristiwa menyedihkan di Pulau Es, Suma Han telah bersiap-siap mencari tempat di mana anak buahnya dapat pergi mengungsi karena dia maklum bahwa yang sudah jelas, Lulu dengan anak buah Pulau Neraka bermaksud menyerbu Pulau Es, juga Thian-liong-pang yang makin besar kekuasaan dan kekuatannya itu memperlihatkan sikap memusuhi Pulau Es.

Demikianlah, secara kebetulan dia melihat keponakan atau muridnya terancam oleh kakek yang amat lihai sehingga akhirnya dia sendiri terluka.

Kurang lebih sebulan kemudian, sembuhlah lukanya, akan tetapi kembali Suma Han harus mengalami tekanan batin ketika mendengar bahwa Kwi Hong telah meninggalkan tempat itu tanpa pamit, tidak tahu ke mana perginya dan tak seorangpun mengetahui apa kehendak dara yang kadang-kadang memiliki watak keras dan aneh itu.

Mendengar laporan itu, Suma Han menghela napas panjang.

"Biarlah, dia sudah dewasa dan sudah mampu menjaga diri sendiri. Hanya aku khawatir, dengan pedang itu di tangannya, akan terjadi banyak bencana. Mudah-mudahan saja tidak demikianlah."

"Taihiap, mengapa kau tidak minta saja pedang itu? Sepasang Pedang Iblis adalah pedang yang mengandung hawa jahat. Memang benar bahwa Hong-ji memiliki dasar yang baik dan kuat, akan tetapi dia masih begitu muda dan pedang itu benar-benar mengandung hawa yang mengerikan."

"Hemmm, betapa mungkin kuminta? Pedang itu adalah pemberian Gak Bun Beng, aku tidak berhak memintanya. Segala apa biarlah kuserahkan ke tangan Tuhan, dan aku sendiri akan mencari Hok-mo-kiam, karena hanya dengan Hok-mo-kiam sajalah Sepasang Pedang Iblis dapat ditundukkan. Yang berada di tangan Kwi Hong kiranya tak perlu dikhawatirkan, akan tetapi yang berada di dangan anak itu...."

Dia mengerutkan alisnya dan terbayanglah wajah pemuda tampan murid Cui-beng Koai-ong yang memandangnya dengan sinar mata penuh kebencian.

Pemuda itu gerakannya lihai sekali dan Lam-mo-kiam berada di tangannya!

"Anak yang mana, Taihiap?

Apakah Lam-mo-kiam telah diketahui berada di tangan siapa?"

Suma Han mengangguk "Di tangan putera dari Ketua Pulau Neraka...."

"Aihhhh....!"

Ciok Lin menjerit dan saking kasihan kepada Suma Han, dia sampai lupa diri dan menyentuh lengan pendekar itu.

Setelah dia sadar akan hal ini, cepat-cepat dia menarik kembali tangannya dan menarik napas panjang.

"Putera.... Lulu....?"

Suma Han tidak heran akan hal ini.

Phoa Ciok Lin dapat dikatakan bukan orang lain, seperti bibi sendiri dari Kwi Hong dan yang mendidik sejak kecil adalah wanita inilah.

Tentu Kwi Hong telah menceritakan semua pengalamannya ketika terculik di Pulau Neraka.

"Lalu.... bagaimana baiknya, Taihiap?"

"Aku harus mendapatkan Hok-mo-kiam, aku harus menghajar mereka yang menghancurkan Pulau Es dan Pulau Neraka. Aku harus mencari Lulu dan Nirahai.... dan aku akan mengumpulkan Sepasang Pedang Iblis untuk kuhancurkan agar kelak jangan menimbulkan banyak keributan lagi di dunia ini,"

Kata Suma Han dengan suara tegas. Ciok Lin menghela napas panjang lagi.

"Mudah-mudahan kau berhasil, Tai-hiap. Terutama sekali.... eh, menemukan kembali Lulu dan Nirahai dan berhasil berkumpul lagi dengan mereka...."

Terdengar suara wanita itu yang mengandung isak tertahan. Kini Suma Han yang menggerakkan tangan memegang lengannya.

"Ciok Lin, aku tahu semua perasaan yang terkandung di dalam hatimu, dan aku merasa betapa engkau telah melimpahkan banyak budi terhadap diriku. Akan tetapi, engkau pun tentu tahu pula akan keadaan hatiku, Ciok Lin. Andaikata tidak ada kedua orang wanita itu di dunia ini, aku tentu akan berbahagia sekali hidup bersamamu. Akan tetapi, mereka...."

Phoa Ciok Lin mengejap-ngejapkan kedua matanya sehingga dua titik air mata yang bergantung di bulu matanya jatuh ke bawah kemudian dia memaksa diri tersenyum dan memaksa wajahnya berseri ketika berkata.

"Taihiap, saya mengerti bahwa hidupmu hanya untuk Lulu dan Nirahai.... dan saya bukanlah seorang yang hanya mengejar kesenangan sendiri, Taihiap, Saya akan merasa berbahagia sekali melihat engkau dapat berkumpul dan hidup bahagia bsrsama mereka."

Suma Han menggenggam jari-jari tangan wanita itu dan memandang penuh rasa syukur dan berterima kasih.

"Engkau seorang wanita yang amat mulia, Ciok Lin,"

Katanya dan kata-kata ini memang keluar setulusnya dari dalam hati.

Dia maklum bahwa cinta kasih seperti yang terdapat di hati Ciok Lin terhadap dirinya itulah yang mcrupakan cinta kasih murni, Cinta yang bebas dari rasa sayang diri, bersih dari rasa ingin memiliki dan ingin senang untuk diri sendiri, melainkan seratus prosen ditujukan untuk melihat orang yang dicinta berbahagia.

Phoa Ciok Lin makin berseri wajahnya.

Dia maklum bahwa biarpun semenjak tinggal di Pulau Es, hatinya telah jatuh cinta kepada pendekar sakti kaki buntung sebelah yang tiada keduanya di dunia ini, namun dia mengenal pula siapa orang yang dicintainya.

Dia tahu bahwa tak mungkin dia dapat mengharapkan cinta kasih Suma Han terhadap dirinya.

Oleh karena itu, dia sudah merasa cukup bahagia kalau dapat bersahabat dengan pendekar ini, apalagi dianggap sebagai seorang sahabat yang baik!

Melihat betapa pelimpahan cintanya membuat pendekar itu makin merasa berdosa dan berduka, dia cepat mengalihkan percakapan dengan pertanyaan yang serius.

"Taihiap, kalau engkau pergi mencari Hok-mo-kiam dan memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang telah menghancurkan Pulau Es dan Pulau Neraka, habis bagaimanakah dengan anak buah kita? Agaknya pada waktu seka-rang, tidak mungkin lagi bagi kita untuk kembali ke Pulau Es, dan untuk membiarkan mereka tinggal di tempat ini sebagai buronan yang bersembunyi, amat menyengsarakan mereka pula. Apakah yang harus saya lakukan, Taihiap?"

"Engkau benar, Ciok Lin. Memang telah lama aku memikirkan hal ini, jauh sebelum pulau kita diserbu pasukan pemerintah. Engkau pun tahu bahwa dahulu aku tidak bermaksud mendirikan sebuah perkumpulan atau kerajaan kecil di Pulau Es, hanya karena kasihan melihat anak murid In-kok-san dan para bekas pejuang yang tertawan oleh tokoh-tokoh Pulau Neraka, maka pulau kita menjadi sebuah pulau yang banyak penghuninya dan aku dianggap sebagai Majikan atau Ketua Pulau Es. Karena pulau kita terkenal, maka timbullah penentang-penentangnya dan hal itu sungguh tidak kuinginkan. Oleh karena itu, setelah kini pulau kita dihancurkan pasukan pemerintah dan kalian tidak mempunyai tempat tinggal lagi, aku membubarkan anak buahku yang pernah tinggal di Pulau Es. Kau keluarkan semua pusaka dan harta yang dapat kau larikan dari pulau, bagi-bagilah harta itu kepada mereka agar mereka dapat menggunakannya sebagai modal dan hidup di dunia ramai, membentuk keluarga yang bahagia. Semua itu kuserahkan kepadamu untuk mengatur seadil-adilnya sampai lancar dan beres, Ciok Lin."

"Ohhh, saya girang sekali mendengar keputusan ini, Taihiap, karena memang itulah jalan terbaik. Akan tetapi, mengerjakan perintah Taihiap itu dapat saya selesaikan sebentar saja, harap Taihiap suka menyaksikannya dan meninggalkan kata-kata perpisahan untuk mereka. Kemudian, harap Taihiap suka memperkenankan saya untuk.... pergi bersama Taihiap, membantu Taihiap menghadapi para musuh dan menemukan kembali kedua orang yang Taihiap rindukan. Saya bersumpah tidak akan mengganggu, saya.... saya rela untuk menjadi pelayan Taihiap dan mereka yang Taihiap cinta, selama-lamanya...."

"Ciok Lin, harap jangan bicara seperti itu! Urusan yang kuhadapi tidaklah ringan. Bhong-koksu dan teman-temannya bukanlah orang-orang yang mudah dilawan, apalagi kini muncul orang-orang sakti seperti tokoh-tokoh Pulau Neraka yang selama ini menyembunyikan diri. Selain itu, aku tidak berhak merusak hidupmu, Ciok Lin. Engkau belumlah sangat tua, engkau pandai, mulia hatimu dan cantik wajahmu. Engkau masih belum terlambat untuk membangun sebuah rumah tangga, membentuk sebuah keluargamu sendiri untuk menjamin masa hidupmu kelak. Aku tidak akan tega hati kalau menyaksikan bekas anak buah yang terpaksa harus kububarkan, biarlah aku pergi lebih dulu sekarang juga. Maafkan aku, Ciok Lin, bahwa aku tidak dapat memenuhi permintaanmu yang penghabisan ini. Mudah-mudahan kelak kita dapat saling bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan."

Tanpa membuang waktu lagi dan tidak memberi kesempatan kepada wanita itu untuk membantah, Suma Han menekankan tongkatnya di atas tanah dan di lain saat tubuhnya sudah berkelebat lenyap dan tak lama kemudian tampak seekor burung rajawali terbang tinggi di angkasa, membawa tubuh bekas Majikan Pulau Es yang duduk anteng di atas punggung rajawali itu.

Phoa Ciok Lin kini tidak dapat menahan lagi air matanya yang turun bercucuran ketika ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah, menutupi muka dengan kedua tangan sedangkan mulut-nya mengeluarkan rintihan yang langsung keluar dari lubuk hatinya.

"Duhai, Suma Han.... betapa aku dapat menikah dengan orang lain? Apa artinya hidup bagiku kalau (Lanjut ke

Jilid 27) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 harus berpisah dari sampingmu?"

Beberapa hari kemudian, pantai laut yang tadinya menjadi tempat persembunyian para penghuni Pulau Es itu menjadi sunyi.

Bekas anak buah Pulau Es telah pergi mencari jalan hidup masing-masing dan orang terakhir yang meninggalkan tempat itu adalah Phoa Ciok Lin, seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tahun, akan tetapi masih cantik, berpakaian sederhana, bersikap pendiam namun sinar matanya mengandung kedukaan di samping sinar mata tajam berwibawa.

Seorang wanita ber-ilmu tinggi, bekas wakil Pulau Es yang ditakuti orang-orang kang-ouw!

Ke mana perginya Kwi Hong?

Dara itu pergi tanpa pamit.

Memang telah lama sekali dia terdorong oleh hasrat untuk pergi meninggalkan pantai laut, pergi merantau.

Jauh bersembunyi di sudut lubuk hatinya, dia menyimpan rahasia yang mendorongnya ingin sekali pergi merantau itu, yaitu keinginan untuk mencari Bun Beng!

Semenjak dia ditolong oleh pemuda itu dari ancaman bahaya mengerikan ketika dia ditawan di kapal Koksu, melihat betapa pemuda itu membela Pulau Es secara mati-matian, hatinya makin tertarik kepada pemuda itu.

Setelah pamannya kembali, hilanglah rintangan yang menghalanginya pergi meninggalkan tempat itu.

Tadinya dia menekan-nekan hasratnya, mengingat bahwa ia harus mambantu Ciok Lin monjaga para anak buah Pulau Es yang mangungai di situ, menanti sampai pamannya datang.

Kini pamannya telah muncul, dan biarpun pamannya kelihatan lelah dan terluka sehabis bertanding melawan kakek yang seperti mayat hidup itu, Namun dia percaya bahwa pamannya yang sakit akan dapat sembuh kembali dan dengan adanya pamannya di situ, tenaga bantuannya tidak dibutuhkan lagi.

Dengan sebuntal pakaian dan pedang Li-mo-kiam di punggung, Kwi Hong meninggalkan pantai, melakukan perjalanan cepat barlari-larian menuju ke selatan, melalui sepanjang pantai laut.

Dia merasa gembira, merasa bebas seperti seekor burung di angkasa.

Dia akan memperlihatkan kepada dunia kang-ouw bahwa dia, murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, penghuni Pulau Es, adalah seorang dara perkasa yang akan membalas terhadap mereka yang telah berani menghancurkan Pulau Es!

Dia akan memperlihatkan kepada Gak Bun Beng bahwa tidak percuma pemuda itu memberi pedang Pusaka Li-mo-kiam kepadanya karena dengan pedang itu, Dia akan menggerakkan dunia kang-ouw, akan membasmi penjahat-penjahat, akan melakukan hal-hal yang lebih hebat daripada yang telah dilakukan oleh guru dan pamannya, Pendekar Siluman!

Langkahnya cepat sesuai dengan hatinya yang ringan.

Seorang dara cantik jelita, yang usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh tahun lebih, namun senyum dan sinar matanya masih kekanak-kanakan seperti seorang dara remaja belasan tahun!

Wajahnya bulat dikelilingi rambutnya yang hitam subur dan gemuk, rambut yang dibagi dua di belakang kepala, dijadikan dua buah kuncir yang besar dan dibiarkan bermain-main di punggung dan pundaknya kalau dia berjalan.

Anak rambut halus berjuntai di atas dahi dan di depan kedua telinganya, melingkar indah seperti dilukis.

Sepasang matanya yang agak lebar bersinar-sinar penuh gairah hidup, agak panas sesuai dengan wataknya, penuh keberanian bahkan ada sinar memandang rendah kepada segala apa yang dihadapinya.

Hidung-nya mancung dan mulutnya dijaga sepasang bibir yang merah segar, bibir yang mudah sekali berubah-ubah, kalau tersenyum amat cerah seperti sinar matahari, kalau cemberut amat menyeramkan seperti awan gelap mengandung kilat.

Pakaiannya terbuat daripada sutera berwarna yang halus mahal, akan tetapi bentuknya sederhana.

Betapapun juga, segala macam pakaian yang menempel di tubuh itu takkan mungkin mampu menyembunyikan bentuk tubuh dara yang sudah padat dan masak, dengan lekuk lengkung tubuh yang ketat, seolah-olah hendak memberontak dari kungkungan pakaian yang mengurungnya.

Ketika dia berjalan mengayun langkah menggerakkan kedua lengan, jalan seenaknya tanpa dibuat-buat, seolah-olah seluruh lengkung tubuhnya menari-nari dengan penuh keserasian, mengandung daya tarik luar biasa terutama terhadap pandangan mata kaum pria!

Setelah melakukan perjalanan belasan hari lamanya dan mulai memasuki Propinsi Liau-neng, mulailah Kwi Hong melewati dusun-dusun besar bahkan kota-kota yang ramai.

Tujuannya pertama-tama hanya satu, yaitu ke kota raja.

Di sanalah tempat yang harus dia selidiki, yang menjadi pusat daripada musuh-musuh yang harus dicarinya.

Bukankah penyerbuan oleh pasukan pemerintah yang menghancurkan Pulau Es itu datang dari kota raja dan dipimpin oleh Koksu negara yang tentu berdiam di kota raja?

Sebelum Bun Beng meninggalkan pantai di mana anak buah Pulau Es mengungsi, pemuda itu sudah menceritakan dengan jelas siapa-siapa orangnya yang membantu Koksu menghancurkan Pulau Es.

Mereka adalah kedua orang Lama yang menurut pamannya amat lihai dan adalah musuh-musuh lama pamannya, yaitu Thian Tok Lama dan Thai Li Lama dan ditambah lagi dua orang guru murid yang menjadi musuh lama mereka pula, yaitu Tan Ki atau Tan-siucai yang berotak miring dan gurunya, Maharya!

Dia harus mencari mereka itu semua, bukan hanya untuk membalas kehancuran Pulau Es, akan tetapi juga untuk berusaha merampas kembali Hok-mo-kiam dari tangan Si Sasterawan Gila, Tan-siucai.

Dia maklum bahwa semua lawannya itu adalah orang-orang yang amat lihai, akan tetapi dia tidak takut!

Dengan Li-mo-kiam di tangannya, dia tidak takut melawan siapapun juga.

Bahkan kakek Si Mayat Hidup yang demikian sakti pun, iblis Pulau Neraka itu, dia mampu melawan dan mendesaknya!

Apalagi yang lain-lain itu!

Siapa lagi musuh-musuhnya?

Demikian Kwi Hong mengingat-ingat sambil melanjutkan perjalanannya.

O, ya!

Thian-liong-pang yang dikabarkan memusuhi Pulau Es!

Akan dia kacau Thian-liong-pang yang menurut kabar adalah perkumpulan yang jahat itu!

Dan Pulau Neraka yang pernah menculiknya adalah adik angkat pamannya sendiri, dan dia sudah dilarang pamannya untuk memusuhi....

eh, siapa namanya?

Oh, dia ingat sekarang.

Bibi Lulu!

Hemmm, dia tidak akan memusuhi Bibi Lulu, akan tetapi bocah kurang ajar itu!

Kwi Hong menggigit bibirnya dengan gemas kalau teringat kepada Wan Keng In!

Bocah itu tentu putera Bibi Lulu, pikirnya.

Kurang ajar dan jahat sekali!

Dahulu ketika masih kecil saja sudah nakal luar biasa.

Apalagi sekarang!

Dan ketika menolong Kakek Mayat Hidup, pedang Lam-mo-kiam berada di tangan-nya!

Dia harus mengalahkan bocah itu dan merampas Lam-mo-kiam karena sebetulnya Bun Beng yang berhak atas pedang itu!

Hari telah senja ketika Kwi Hong yang berjalan sambil melamun itu memasuki dusun Kang-san yang cukup besar.

Perutnya terasa lapar maka dia lalu masuk ke sebuah restoran di pinggir jalan.

Ketika para tamu melihat dia masuk ke restoran itu, banyak mata memandangnya dengan terbelalak.

Kwi Hong tidak merasa aneh lagi melihat mata laki-laki memandangnya terbelalak penuh kagum.

Hal ini sudah terlalu sering dia alami semenjak dia berusia lima belas tahun dan melakukan perantauannya keluar Pulau Es.

Mula-mula memang dia marah-marah dan seringkali dia menghajar pemilik mata yang memandangya secara kurang ajar, seperti mata kucing melihat daging itu, akan tetapi lama-lama dia terbiasa dan kini dia tidak mengacuhkan lagi ketika semua laki-laki yang sedang makan di restoran itu menyambut kehadirannya dengan mata terbelalak.

Bahkan hal ini seperti biasa, mempertebal keyakinan di hati Kwi Hong bahwa dia adalah seorang dara yang cantik menarik.

Teringat akan ini, makin girang hatinya karena terbayang olehnya betapa di antara sekian banyaknya mata laki-laki yang bengong mengagumi-nya terdapat sepasang mata Bun Beng!

Sayang hanya bayangan, pikirnya, namun dia penuh harapan sekali waktu akan melihat mata Bun Beng melotot seperti mata mereka ini ketika memandangnya.

"He, Bung Pelayan! Ke sinilah!"

Dia menggerakkan jari memanggil pelayan yang juga berdiri di sudut melongo memandangnya.

Ketika ia mengangkat muka, Kwi Hong mengerutkan alisnya.

Aih, pandang mata mereka itu tidak hanya kagum seperti biasa, akan tetapi mengandung sinar ketakutan!

Hemmm, apakah dia menakutkan?

Kurang ajar!

Dia disangka apa sih?

Tak puas hati Kwi Hong dan setelah pelayan datang dekat, dia membentak.

"Heii, mengapa semua orang memandangku seperti anjing-anjing takut digebuk?"

Seketika mereka yang memandang itu membuang muka dan melempar pandang mata ke bawah, bahkan ada yang bergegas meninggalkan warung.

"Maaf.... maaf.... Lihiap. Kami.... eh, kami tidak apa-apa, hanya kagum melihat kegagahan Lihiap...."

"Hushhh! Bohong kamu!"

Kwi Hong menggunakan jari tangannya yang halus dan kecil memucuk rebung (meruncing) itu mencengkeram ujung meja.

"Kressss!"

Ujung meja kayu itu patah dan sekali diremas, kayu di dalam genggaman itu hancur menjadi tepung!

"Hayo terus terang bicara kalau hidungmu tidak lebih keras daripada kayu ini!"

Kwi Hong men-desis lirih, akan tetapi penuh ancaman.

Otomatis tangan kiri Si Pelayan meraba hidungnya, matanya melotot memandang tangan dara itu, bergidik ngeri membayangkan betapa hidungnya akan remuk kalau kena dicengkeram seperti itu, lalu menelan ludah, demikian sukar menelan ludah sampai kepala dan lehernya bergerak.

Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa dapat mengeluarkan suara, akhirnya dapat juga dia bicara.

"Maafkan saya, Lihiap. Sebetulnya kalau saya katakan tadi bahwa kami semua kagum melihat Lihlap, karena selama ini, beberapa hari yang lalu sering kali muncul gadis-gadis cantik yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Entah betapa banyak orang yang tewas di tangan gadis cantik itu, dan di dusun ini selama beberapa hari terjadi pertandingan-pertandingan yang menggegerkan penduduk, terjadi di waktu malam. Oleh karena itu, begitu melihat Lihiap, kami menyangka bahwa Lihiap tentulah seorang di antara mereka dan kami kagum sekali."

Kwi Hong sudah menjadi sabar kembali.

"Hemm, buka mata lebar-lebar sebelum menyamakan aku dengan orang-orang lain tukang bunuh! Hayo cepat sediakan bakmi godok istimewa!"

"Istimewa? Maksud Lihiap....?"

"Bodoh! Bakmi istimewa berarti pakai telur. Hayo cepat! Dan arak manis yang istimewa!"

"Eh, araknya pakai telur?"

Pelayan itu melongo.

"Tolol kamu! Yang istimewa rasanya, bukan pakai telur. Cepat! Bodoh benar pelayan di sini."

Kwi Hong menurunkan buntalan dan pedangnya di atas meja, hatinya tidak marah lagi akan tetapi masih mendongkol melihat sikap pelayan yang dianggapnya bodoh itu, apalagi ada beberapa orang tamu yang ia tahu tertawa-tawa geli biarpun mereka menyembunyikan tawa mereka dengan menutupi muka atau memutar tubuh membelakanginya.

Tak lama kemudian, pelayan itu datang membawa bakmi dan arak yang dipesan Kwi Hong dan pada saat itu terdengar derap kaki kuda lewat di depan restoran.

Suara derap kaki kuda itu berhenti tidak jauh dari restoran.

Melihat cara para penunggang kuda yang duduk tegak di atas punggung kuda, rata-rata memiliki sikap gagah dan pimpinan mereka adalah seorang wanita muda yang cantik dan gagah, Kwi Hong tertarik sekali.

"Siapakah mereka itu?"

Tanyanya kepada pelayan yang sedang menaruh pesanannya ke atas meja dengan sikap hormat.

"Ah, sekarang saya yakin bahwa Nona bukanlah seorang di antara mereka. Mereka itulah rombongan yang saya ceritakan tadi. Semenjak mereka datang ke dusun ini, setiap malam terjadi pertandingan dan pada keesokan harinya tampak macam-macam orang bergelimpangan."

"Mayat-mayat siapa?"

"Orang-orang yang terkenal memiliki kepandaian tinggi di sekitar dusun ini."

"Apakah rombongan itu orang jahat?"

"Sukar dikatakan, Nona. Mereka, kecuali dara cantik yang kadang-kadang memimpin mereka selalu membayar makanan yang mereka beli di sini atau di lain tempat. Akan tetapi, kalau ada yang berani menantang, tentu dia akan celaka karena mereka itu memiliki kepandaian seperti iblis!"

"Hemmm...."

Kwi Hong mulai menyumpit bakminya, akan tetapi sebelum memasukkannya ke mulutnya yang kecil dia bertanya lagi.

"Rombongan orang apakah itu! Dan apa namanya?"

"Saya tidak tahu jelas, Nona, hanya mendengar kabar angin bahwa mereka adalah orang-orang Thian-liong-pang yang...."

"Hem, Thian-liong-pang?"

Sesumpit bakmi yang sudah menyentuh bibir itu terhenti dan Kwi Hong menoleh kepada Si Pelayan.

"Kudengar tadi kuda mereka berhenti tak jauh dari sini, mereka ke mana?"

"Mereka bermalam di dalam rumah penginapan satu-satunya yang berada dekat dari sini, hanya terpisah tujuh rumah. Semua tamu, beberapa hari yang lalu, terpaksa harus meninggalkan penginapan karena semua kamar dibutuhkan mereka yang jumlahnya ada belasan orang. Hemm, hati para penduduk menjadi gelisah terus selama mereka berada di sini, Nona. Sungguhpun kami tidak pernah diganggunya, akan tetapi semenjak mereka datang, suasana menjadi penuh ketegangan dan hati siapa tidak akan menjadi ngeri kalau melihat hampir setiap malam terjadi pembunuhan? Sudahlah, harap maafkan, Nona, saya tidak berani bicara lagi tentang mereka."

Pelayan itu pergi dan Kwi Hong menjadi panas hatinya.

Hemm, orang-orang Thian-liong-pang yang mengacau dusun ini?

Harus dia selidiki!

Malam hari itu Kwi Hong menyembunyikan pedang pusakanya di bawah punggung bajunya dan setelah keadaan menjadi sunyi, dia menggunakan kepandaiannya meloncat ke atas genteng rumah-rumah orang.

Dari atas itu dia terus oerloncatan, mengerahkan gin-kangnya sehingga kedua kakinya tidak menimbulkan suara gaduh, terus berlompatan menuju ke rumah penginapan di mana bermalam orang-orang Thian-liong-pang yang akan dia selidiki.

Dia mendapat kenyataan betapa dusun itu, tepat seperti yang diceritakan Si Pelayan restoran, diliputi suasana gelisah sehingga sore-sore penduduk sudah menutup pintu, hanya mereka yang terpaksa keluar rumah.

Jalan-jalan raya yang diterangi nyala lampu-lampu depan rumah, kelihatan sunyi sekali.

Tiba-tiba Kwi Hong menyelinap di belakang sebuah wuwungan, bersembunyi dalam bagian gelap ketika pandang matanya yang tajam melihat berkelebatnya bayangan tiga orang dari sebelah kanan.

Ketiga orang itu juga berlari di atas genteng mempergunakan gin-kang yang cukup lumayan.

Ketika mereka lewat dekat, Kwi Hong dapat memandang wajah mereka di bawah sinar bintang-bintang ditambah sinar api lampu penerangan yang menyorot keluar dari celah-celah genteng dan rumah orang.

Mereka adalah tiga orang laki-laki setengah tua, yang dua orang berpakaian seperti peranakan Mongol dan seorang suku bangsa Han yang berpakaian seorang pelajar.

Melihat dua orang berpakaian Mongol itu tidaklah mengherankan karena di dusun itu yang termasuk Propinsi Liu-neng, daerah utara, banyak terdapat orang-orang bersuku bangsa Mancu, Mongol dan lain suku bangsa utara lagi.

Akan tetapi yang membuat Kwi Hong curiga adalah sikap mereka.

Mereka tentu bukan orang biasa, karena mereka menggunakan jalan di atas genteng seperti dia.

Tentu mempunyai maksud tertentu.

Maka diam-diam dia membayangi mereka dari jauh.

Tidaklah sukar bagi Kwi Hong untuk melakukan hal ini karena tingkat gin-kang mereka itu masih jauh di bawahnya sehingga dia dapat membayangi mereka tanpa mereka ketahui.

Jantungnya berdebar tegang ketika ia mendapat kenyataan bahwa tiga orang itu menuju ke rumah penginapan di mana orang-orang Thian-liong-pang berada dan menjadi tempat yang akan diselidikinya.

Apakah tiga orang itu anggauta rombongan mereka?

Pertanyaan ini terjawab ketika mereka tiba di atas rumah penginapan, seorang di antara mereka, yang berpakaian sasterawan atau pelajar, berseru nyaring.

"Manusia-manusia penjilat rendah! Orang-orang Thian-liong-pang pengkhianat bangsa! Keluarlah kalian! Kami bertiga, Sepasang Biruang Utara dan aku Tiat-siang-pit Bhe Lok, datang untuk membalas kematian kawan-kawan seperjuangan kami!"

Kwi Hong cepat bersembunyi, mendekam di balik sebuah wuwungan tak jauh dari situ dan memandang ke depan penuh perhatian.

Kiranya tiga orang itu datang untuk memusuhi Thian-liong-pang dan diam-diam dia heran mendengarkan mereka menyebut Thian-liong-pang sebagai pengkhianat bangsa dan penjilat!

Siapakah tiga orang ini dan mengapa pula Thian-liong-pang mereka sebut pengkhianat bangsa?

Sepanjang pendengarannya Thian-liong-pang adalah sebuah perkumpulan yang besar dan amat kuat, bahkan di dunia kang-ouw hanya ada tiga buah perkumpulan atau nama yang terkenal, yaitu Pulau Es, Pulau Neraka dan Thian-liong-pang.

Belum pernah dia mendengar bahwa Thian-liong-pang adalah pengkhianat bangsa.

Karena dia tidak tahu duduknya perkara, maka dia mengambil keputusan untuk mendengarkan dan menonton saja tanpa mencampuri urusan mereka.

Kalau terbukti bahwa Thian-liong-pang melakukan perbuatan jahat dan mengacau penduduk, barulah dia akan turun tangan membasmi mereka!

Tiba-tiba suara yang halus nyaring memecah kesunyian menyambut ucapan orang berpakaian sasterawan yang bernama Bhe Lok, berjuluk Tiat-siang-pit (Sepasang Pensil Besi) itu.

"Heeiii, kalian orang-orang tak tahu malu! Kalian adalah pemberontak hina yang menggunakan sebutan perjuangan dan pahlawan untuk mengelabuhi mata rakyat, siapa tidak tahu bahwa kalian hanyalah orang-orang yang mencari kedudukan dan kesempatan untuk merampok? Kalau sudah bosan hidup, turunlah!"

"Ha-ha-ha! Orang lain boleh jadi takut berhadapan dengan Thian-liong-pang perkumpulan hina tukang culik dan tukang curi ilmu orang! Akan tetapi kami Sepasang Biruang dari Utara tidak takut kepada siapapun juga!"

Seorang di antara kedua orang peranakan Mongol tadi tertawa bergelak, perutnya yang gendut berguncang.

"Kalian hanyalah dua orang pelarian dari pasukan Mongol yang sudah kalah, sekarang masih berani banyak lagak? Turunlah kalau memang berani!"

Kembali suara halus tadi menantang.

Tiga orang itu mencabut senjata masing-masing.

Tiat-siang-pit Bhe Lok mencabut sepasang senjata yang berbentuk pensil bulu yang seluruhnya terbuat daripada besi, sedangkan kedua orang Mongol itu mencabut sepasang tombak pendek masing-masing, kemudian ketiganya melayang turun ke pekarangan belakang rumah penginapan yang diterangi oleh lampu-lampu gantung di tiga sudut.

Gerakan mereka ringan dan cepat, seperti tiga ekor burung yang terbang melayang turun dan begitu tiba di atas tanah, ketiganya sudah menggerakkan senjata masing-masing, diputar melindungi tubuh kalau-kalau ada serangan senjata lawan.

Akan tetapi ternyata tidak ada senjata rahasia yang menyambar ke arah mereka, Bahkan dengan sikap tenang sekali muncullah tiga orang kakek yang rambutnya panjang riap-riapan dan bertangan kosong, keluar dari balik pintu dan menyambut mereka dengan senyum mengejek.

Kwi Hong cepat menyelinap dekat dan mendekam di atas wuwungan, sambil bersembunyi mengintip ke bawah.

Dia masih tetap tidak mengerti mengapa Thian-liong-pang bermusuhan dengan orang-orang itu.

Dari percakapan mereka agaknya mereka itu tidaklah bermusuhan pribadi, melainkan karena urusan pemerintah dan agaknya jelas bahwa Thian-liong-pang berada di pihak yang membantu pemerintah sedangkan dua orang Mongol dan sasterawan itu adalah penen-tang-penentang pemerintah.

Akan tetapi Kwi Hong tidak tahu persoalannya dan memang sejak kecil pamannya selalu berpesan agar dia tidak mencampuri urusan pemerintah.

"Urusan yang menyangkut pemerintah adalah urusan yang ruwet,"

Demikian antara lain pamannya berpesan.

"karena itu jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dengan urusan pemerintah. Banyak terjadi pertentangan dan permusuhan karena pro atau anti suatu pemerintahan yang hanya terseret oleh rasa pertentangan golongan ataupun terdorong oleh ambisi pribadi untuk mencari kedudukan saja. Di dalam perebutan kedudukan itu terdapat lika-liku yang amat ruwet."

Tidaklah mengherankan kalau Pendekar Super Sakti memesan muridnya atau keponakannya ini agar jangan melibatkan diri dengan urusan negara karena pertama-tama, Kwi Hong sendiri adalah puteri seorang pembesar Mancu.

Apalagi kajau diingat isterinya sendiri, Nirahai, adalah puteri Kaisar!

Bahkan adik angkatnya, wanita yang dicintanya sampai saat itu, Lulu juga seorang wanita Mancu.

Bagaimana dia dapat menentang pemerintah Mancu?

Kwi Hong mengintai dengan hati tegang ketika melihat betapa tiga orang pendatang itu kini telah menyerang tiga orang kakek Thian-liong-pang yang bertangan kosong.

Gerakan Sepasang Biruang dari Utara itu amat ganas dan kuat.

Sepasang tombak pendek di tangan mereka mengeluarkan angin mendesing dan setiap serangan mereka dahsyat sekali.

Adapun permainan sepasang pit di tangan sasterawan itu halus gerakannya namun juga amat cepat dan berbahaya, jelas dapat dikenal dasar ilmu silat Hoa-san-pai yang dimainkan oleh sasterawan setengah tua itu.

Namun diam-diam Kwi Hong terkejut juga melihat gerakan tiga orang kakek rambut panjang dari Thian-liong-pang.

Mereka itu hebat sekali!

Biarpun mereka bertangan kosong, namun gerakan mereka demikian cepat dan ringan sehingga semua gerakan lawan dapat mereka elakkan dengan mudah, bahkan mereka membalas serangan lawan dengan totokan Coat-meh-hoat dari Partai Bu-tong-pai yang amat lihai dan berbahaya!

Baru berlangsung tiga puluh jurus saja Kwi Hong sudah dapat melihat jelas bahwa tiga orang penyerbu itu sama sekali bukanlah tandingan tiga orang kekek Thian-liong-pang yang lihai itu.

Baru tiga orang saja sudah sedemikian hebat, apalagi kalau belasan orang Thian-liong-pang keluar semua!

Dan pemimpin mereka tentu lihai bukan main!

Kwi Hong tidak tahu siapa yang be-nar dan siapa salah dalam pertentangan di bawah itu dan tadinya diapun tidak mau peduli, tidak tahu harus membantu yang mana.

Akan tetapi ketika melihat kenyataan bahwa tiga orang penyerbu itu sama saja dengan mengantar nyawa secara sia-sia, dia menjadi penasaran juga, apalagi mengingat akan penuturan pelayan restoran bahwa pihak Thian-liong-pang telah membunuh banyak orang.

Tangan kanannya meraba genteng, memecah tiga potong yang digenggamnya dan dia berseru ke bawah.

"Sia-sia membuang nyawa dengan nekat bukanlah perbuatan gagah, melainkan perbuatan goblok! Selagi masih ada kesempatan, menyelamatkan diri tidak mau pergi, lebih tolol lagi!"

Tiba-tiba tiga sinar hitam kecil menyambar ke arah tiga orang kakek Thian-liong-pang yang sudah mendesak lawan.

Mereka terkejut dan berusaha mengelak, akan tetapi hanya seorang saja yang berhasil meloncat ke belakang, bergulingan sampai jauh lalu meloncat bangun lagi, sedangkan dua orang kakek lainnya sudah roboh karena tertotok sambitan potongan genteng kecil itu.

Mendengar suara itu dan melihat betapa tiga orang lawan mereka yang lihai diserang secara gelap, tiga orang penyerbu itu cepat melompat ke atas genteng di depan sambil berseru.

"Terima kasih atas pertolongan Lihiap!"

Mereka maklum bahwa ucapan itu memang tepat dan kalau sampai semua orang Thian-liong-pang turun ta-ngan, tentu mereka akan tewas secara sia-sia.

Maka begitu sampai di atas genteng, ketiganya lalu pergi lari secepatnya menghilang di dalam kegelapan malam.

"Manusia sombong yang lancang tangan!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan halus dan pintu-pintu di rumah penginapan itu terbuka disusul munculnya banyak orang yang dipimpin oleh seorang dara yang cantik jelita.

Keadaan menjadi lebih terang karena di antara mereka ada yang membawa lampu.

Kwi Hong adalah seorang gadis yang berwatak keras dan tidak mengenal takut.

Di dasar hatinya dia sudah mempunyai rasa tidak senang kepada Thian-liong-pang yang menurut penuturan para pamannya di Pulau Es, merupakan perkumpulan besar yang bersikap memusuhi Pulau Es, kini, melihat munculnya dara yang amat cantik dan yang memakinya, dia menjadi marah dan balas memaki.

"Kaliankah orang-orang Thian-liong-pang yang sombong? Kabarnya Thian-liong-pang adalah perkumpulan besar yang memiliki banyak orang pandai, kiranya tiga orang kalian tadi sama sekali tidak ada gunanya!"

"Bocah sombong!"

Dua orang kakek meloncat ke atas dan gerakan mereka yang amat ringan itu menandakan bahwa mereka berdua memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi daripada tingkat tiga orang yang tadi melawan tiga penyerbu dan yang dipukul mundur oleh potongan genteng yang disambitkan Kwi Hong.

Dengan gerakan jungkir balik, keduanya sudah menerjang ke arah tubuh Kwi Hong dari dua jurusan, melakukan serangan yang amat dahsyat dan biarpun mereka menyerang dengan kedua tangan kosong, namun pukulan mereka mendatangkan angin keras dan merupakan pukulan yang mengandung tenaga sin-kang kuat!

Namun Kwi Hong adalah seorang dara yang semenjak kecilnya berlatih sin kang di Pulau Es, di bawah pengawasan pamannya sendiri, tentu saja dia memiliki sin kang yang jarang tandingannya.

Melihat datangnya pukulan dari belakang dan depan itu, cepat ia merobah kedudukan kakinya, tubuhnya dimiringkan sehingga kini pukulan itu tidak datang dari belakang, melainkan dari kanan-kiri.

Tanpa menggeser kakinya, dia mengembangkan kedua lengan, memapaki pukulan itu dengan dorongan telapak tangannya sambil membentak.

"Pergilah kalian!"

Dua orang kakek itu yang tentu saja memandang rendah, melihat betapa gadis itu menangkis pukulan mereka dengan telapak tangan terbuka, mereka melanjutkan pukulan dengan pengerahan sin-kang agar gadis yang berani menghina Thian liong pang ini dapat dirobohkan sekali serang.

"Desss! Desss!"

Kedua pukulan mereka bertemu dengan telapak tangan yang halus lunak, akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika tenaga sin kang mereka hanyut dan lenyap, sedangkan dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar hawa dingin yang demikian hebat dan cepatnya menyerang mereka melalui lengan mereka sehingga mereka merasa lengan itu lumpuh dan hawa yang dingin luar biasa membuat mereka menggigil, terus hawa dingin itu merayap menuju ke dada.

Mereka berusaha mempertahankan diri, namun dorongan hawa dingin yang luar biasa itu membuat tubuh mereka terpelanting dan terguling ke bawah.

Mereka berteriak kaget, berusaha mengerahkan gin kang, akan tetapi karena rasa dingin tadi membuat tubuh mereka seperti kaku, mereka masih terbanting ke atas tanah sehingga seorang di antara mereka pingsan dan yang seorang lagi bangun duduk merintih rintih sambil memegangi pinggulnya yang terbanting keras!

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan tampaklah sinar hitam meluncur ke atas dengan cepat sekali.

Sinar itu ternyata adalah sehelai tali yang meluncur keras seperti seekor ular panjang yang hidup, ujungnya bergerak-gerak dan menotok ke arah kedua mata Kwi Hong!

Karena cuaca di atas tidaklah begitu terang, Kwi Hong tak dapat melihat ujung tali hitam dan hanya menangkap suara dan anginnya, maka dia terkejut bukan main, cepat ia menggerakkan kedua tangannya ke depan muka, selain untuk menjaga mata juga untuk menangkap benda panjang yang menyambarnya itu.

Kiranya dara jelita yang memegangi tali hitam dari bawah itu lihai bukan main.

Dialah yang mengeluarkan suara melengking tadi dan menggunakan tali hitam untuk menyerang Kwi Hong yang berada di atas genteng.

Begitu melihat gadis perkasa di atas itu hendak menangkap ujung senjatanya yang aneh, dara ini cepat menggerakkan pergelangan tangannya dan tiba-tiba ujung tali di atas itu tidak jadi melanjutkan serangan ke arah mata, melainkan meluncur ke bawah dan tahu tahu telah membelit kaki kiri Kwi Hong dan dara itu mengerahkan tenaga, menarik tali secara tiba-tiba ke bawah!

"Aihhh!"

Kwi Hong terkejut bukan main.

Tali itu demikian lemas sehingga ia tidak merasa ketika kakinya dibelit, tahu tahu hanya merasa betapa kakinya ditarik dengan kuat sekali dari atas wuwungan genteng!

Karena tarikan itu tiba-tiba dan juga tenaga tarikan berdasarkan sin kang sedangkan tali itu pun amat kuatnya, Kwi Hong tak dapat mempertahankan kakinya lagi yang terpeleset dan tubuhnya terpelanting, jatuh ke bawah!

"Haiiiitttt!"

Dengan kekuatan yang luar biasa ditambah kegesitannya, Kwi Hong telah dapat menggerakkan tubuh, tangannya menyambar wuwungan sehingga tubuhnya tertahan dan kini terjadilah tarik menarik!

Dara di sebelah bawah meggunakan kedua tangan yang memegang tali untuk menarik, sedangkan Kwi Hong dengan berpegang pada wuwungan genteng, mempertahankan kakinya yang terbelit tali dan ditarik ke bawah.

Dia maklum bahwa kalau sampai dia jatuh ke bawah, tentu dia akan disambut oleh pengeroyokan orang-orang Thian liong pang.

Dia tidak takut dikeroyok, akan tetapi dalam keadaan kakinya terbelit tali dan jatuh ke bawah, tentu saja keadaannya amat berbahaya.

Maka dia mempertahankan diri mati matian sambil mengerahkan tenaga pada tangan yang berpegang pada wuwungan.

Tarik menarik terjadi.

Betapapun juga, Kwi Hong tentu saja kalah posisi, dan tiba-tiba wuwungan genteng itu tidak kuat bertahan lagi.

Terdengar suara keras dan wuwungan itu ambrol, genteng gentengnya runtuh ke bawah disusul tubuh Kwi Hong yang melayang turun pula.

Akan tetapi untung bagi Kwi Hong karena runtuhnya wuwungan itu membuat orang-orang Thian liong pang yang berada di bawah menjadi kaget dan takut tertimpa maka mereka meloncat dan menyingkir.

Dengan berjungkir balik, Kwi Hong berhasil membuka lipatan ujung tali pada kakinya dan ketika ia melayang turun dan disambut oleh orang Thian liong pang yang memukulnya, ia cepat menangkis.

"Plak! Plak!"

Kembali Kwi Hong terkejut.

Tangkisannya membuat kedua orang itu terpental, akan tetapi kedua tangannya juga tergetar hebat, tanda bahwa dua orang yang menyerangnya itu memiliki sin-kang yang amat kuat.

"Tar tar tar tar!"

Ujung tali panjang itu meledak ledak di atas kepalanya dan secara berturut-turut, ketika ia mengelak ke sana sini, ujung tali itu telah menotok ke arah ubun-ubun, kedua pelipis, jalan darah di tengkuk dan tenggorokan!

Tempat tempat berbahaya yang ditotok, dan semua merupakan serangan maut berbahaya!

Kwi Hong terbelalak dan secepat kilat dia meloncat ke atas, berjungkir balik dan mengelak serta menangkis totokan ujung tali secara bertubi tubi itu.

Sementara itu, para anggauta Thian liong pang sudah siap dan mencabut senjata masing-masing.

Juga tampak belasan orang yang berpakaian pasukan pemerintah muncul dari pintu samping.

Celaka, pikir Kwi Hong.

Kiranya Thian liong pang benar-benar bekerja sama dengan pemerintah dan biarpun dia tidak takut dikeroyok, akan tetapi kalau sampai dia bentrok dengan pasukan pemerintah dan dicap pemberontak, bukankah berarti dia akan menyeret nama baik kehormatan pamannya?

Dia melepaskan lagi gagang Li mo-kiam yang sudah dirabanya dan sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang ke atas.

Empat orang anggauta Thian liong pang berseru dan melompat pula.

Akan tetapi, tubuh Kwi Hong yang masih di atas itu, dapat membuat gerakan salto, membalik dan kedua kakinya menendang roboh dua orang pengejar terdekat yang juga masih berada di udara!

Semua orang melongo dan kagum.

Gerakan itu tiada ubahnya gerakan seekor burung garuda yang dapat menyerang!

Dan memang sesungguhnya Kwi Hong mendapatkan gerakan ini karena meniru gerakan garuda tunggangannya di Pulau Es dahulu!

Kini semua orang hanya berdiri melongo memandang bayangan Kwi Hong yang mencelat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Milana, dara jelita yang mengunakan tali panjang tadi, menjadi penasaran sekali.

Apalagi ketika tiba-tiba telinganya mendengar suara ringkik disusul derap kaki kuda di sebelah belakang rumah pe-nginapan, mukanya menjadi merah.

"Si keparat itu mencuri kuda kita! Hayo kejar!"

Anak buah Thian liong pang cepat berlari larian dan di dalam malam gelap itu mulailah mereka melakukan pengejaran.

Dan memang benar sekali dugaan Milana, Kwi Hong telah meloncat ke belakang penginapan dan melihat banyak kuda di kandang, timbul kenakalannya.

Dia mencuri seekor kuda terbaik dan melarikan diri naik kuda curian itu!

Gadis yang nakal itu tidak ingat bahwa dengan melarikan diri berkuda, maka dia memberi kesempatan kepada orang-orang Thian liong pang untuk mengejarnya, karena selain kuda mengeluarkan bunyi derap kaki yang cukup keras, juga di waktu terang tanah, para pengejarnya dapat mencari jejak kaki kudanya.

Milana merasa penasaran sekali.

Gadis cantik yang sombong itu benar benar telah menghina dan mempermainkan Thian liong pang!

Harus dia akui bahwa gadis itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi belum tentu dia kalah kalau diberi kesempatan untuk bertanding secara benar benar.

Tentu saja Milana sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cantik itu adalah murid Pendekar Siluman, tidak pernah mengira bahwa dia tadi bertanding melawan Giam Kwi Hong yang pernah dijumpainya sepuluh tahun yang lalu!

Karena mengira bahwa gadis tadi adalah seorang tokoh kang-ouw yang tentu memusuhi Thian liong pang, Milana menjadi penasaran dan belum puas hatinya kalau dia belum dapat menguji kepandaian gadis cantik tadi.

Maka dia memimpin anak buahnya melakukan pengejaran dengan berkuda pula.

Kwi Hong tidak kalah penasaran dibandingkan dengan Milana.

Sambil memacu kudanya keluar dari dusun menuju ke selatan, tiada hentinya Kwi Hong mengomel seorang diri panjang pendek.

Sungguh menggemaskan hati!

Mengapa hampir saja dia celaka di tangan seorang dara remaja?

Menurut penglihatannya, biarpun tidak begitu jelas, hanya melihat dari atas dan wajah gadis di bawah itu hanya ditimpa sedikit cahaya lampu, namun dia tahu bahwa dara yang cantik jelita itu usianya tentu jauh lebih muda daripada dia.

Seorang dara remaja belasan tahun!

Dan dia hampir celaka di tangannya!

Demikian rendahkan kepandaiannya?

Bukankah dia murid bahkan keponakan Pendekar Super Sakti, jagoan nomor satu di dunia yang tiada bandingannya?

Pamannya sudah terkenal di seluruh jagat karena kesaktiannya, mengapa dia sebagai keponakan dan murid yang telah digembleng sejak kecil, melawan seorang bocah dari Thian liong pang saja hampir keok?

Hemm, kalau saja tidak muncul pasukan pemerintah, tentu dia akan mengajak dara remaja dan semua anak buahnya berduel sampai mereka dapat membuka mata dan melihat siapa dia!

Pedangnya tentu akan membasmi mereka semua!

Kwi Hong merasa penasaran sekali.

Akan tetapi, diam diam dia merasa ragu apakah dia benar benar akan menang melawan gadis kecil bersama belasan orang pembantunya yang rata rata memiliki kepandaian tinggi.

"Hemm, kalau dikeroyok, tentu saja berat!"

Kwi Hong berjebi.

"Kalau main keroyokan, mereka pengecut! Kalau maju satu demi satu, aku dan pedangku sanggup mengalahkan mereka semua!"

Kwi Hong melarikan kudanya sampai pagi, tak pernah berhenti.

Dia melakukan perjalanan dalam cuaca remang-remang, hanya diterangi bintang bintang di langit dan menjelang pagi barulah muncul bulan sepotong.

Setelah matahari mulai muncul dari balik daun daun pohon di hutan sebelah depan, Kwi Hong baru merasa aman karena tidak terdengar sejak lewat tengah malam tadi suara derap kaki kuda yang mengejarnya.

Dia memasuki hutan sambil menjalankan kudanya perlahan lahan.

Biarpun dia tidak tidur semalam suntuk, namun tubuhnya terasa segar tertimpa sinar matahari pagi dan memasuki hutan yang yang kelihatan segar kehijauan itu.

Kicau burung dan kokok ayam hutan menyambut munculnya matahari.

Pohon pohon dengan daun kehijauan dihias embun mengintan berkilauan di ujungnya.

Rumput rumput hijau segar membasah dan kadang-kadang tampak berkelebatnya seekor kelinci atau kijang yang melarikan diri bersembunyi di dalam semak semak.

Kwi Hong tersenyum gembira.

Betapa indahnya pemandangan di dalam hutan di waktu pagi, setelah berbulan-bulan dia harus hidup di tepi laut yang kering dan tandus.

Betapa senangnya hidup bebas seperti itu, seperti burung-burung yang berkicauan dan saling berkejaran.

Tiba-tiba alisnya berkerut ketika ia melihat seekor burung jantan mengejar ngejar seekor burung betina, bercanda, berkejaran, bercuit cuit amat gembira.

Teringatlah ia kepada Bun Beng dan wajahnya yang berseri gembira tadi menjadi muram.

Ia menghela napas panjang.

Kwi Hong tentu akan menjadi murung hatinya, berlarut larut termenung kalau saja matanya tidak tertarik oleh serombongan orang yang datang dari kiri memasuki hutan itu pula.

Seketika ia lupa akan kekesalan hatinya teringat Bun Beng tadi dan kini dia menghentikan kudanya, menanti orang-orang dan memandang penuh perhatian.

Rombongan orang berjalan kaki itu jumlahnya ada lima belas orang dan setelah mereka datang dekat, Kwi Hong terbelalak keheranan karena muka orang-orang itu berwarna-warni.

Orang-orang Pulau Neraka!

Tidak salah lagi.

Dia sudah tahu akan keanehan para penghuni Pulau Neraka, yaitu warna muka mereka yang seperti dicat itu.

Sebagian besar adalah orang-orang yang mukanya berwarna kuning tua, dipimpin oleh dua orang yang bermuka merah muda.

Ah, ternyata bukanlah orang-orang tingkat rendah, pikir Kwi Hong yang sudah mengerti bahwa makin muda warna muka seorang Pulau Neraka, makin tinggilah tingkatnya.

Akan tetapi yang membuat dia terbelalak keheranan bukanlah kenyataan bahwa rombongan itu adalah orang-orang Pulau Neraka melainkan benda yang mereka bawa dan kawal.

Benda itu adalah sebuah peti mati!

Peti mati berukuran kecil, agaknya untuk seorang kanak-kanak tanggung, dipanggul oleh dua orang dan dipayungi segala!

Yang lain-lain mengiringkan dari belakang.

Begitu mendapat kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang Pulau Neraka, hati Kwi Hong sudah merasa tidak senang.

Dia maklum bahwa Ketua Pulau Neraka adalah Lulu, adik angkat pamannya akan tetapi bukankah kakek mayat hidup yang ia temui di tepi pantai itu mengatakan bahwa Lulu hanyalah seorang ketua boneka saja?

Dan dia pernah diculik ke Pulau Neraka, dan sikap Bibi Lulu terhadap paman amat tidak baik, apalagi bocah bernama Keng In putera Bibi Lulu itu!

Dia merasa benci dan begitu melihat orang-orang yang mukanya beraneka warna itu, ingin sudah hatinya untuk menentang dan menyerang mereka.

Akan tetapi, melihat peti mati itu, keheranannya lebih besar daripada ketidaksenangannya maka dia lalu berkata nyaring.

"Heiii! Bukankah kalian ini orang-orang Pulau Neraka? Siapakah yang mati dan hendak kalian bawa ke mana peti mati itu?"

Seorang wanita setengah tua yang bermuka galak dan seorang laki laki tinggi besar, keduanya bermuka kuning tua, meloncat maju dan memandang Kwi Hong dengan mata bersinar marah.

Tentu saja mereka marah menyaksikan sikap seorang gadis yang sama sekali tidak menghormat padahal gadis itu sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan orang-orang Pulau Neraka.

Sikap seperti itu sama dengan memandang rendah dan menghina.

Selain itu, juga mereka sedang melakukan sebuah tugas yang amat penting dan rahasia, kini tanpa disengaja berjumpa dengan gadis itu, tentu saja mereka menjadi khawatir dan tidak senang.

Wanita setengah tua bermuka kuning tua itu menjawab.

"Bocah sombong, sudah pasti peti mati ini bukan untukmu karena engkau akan dikubur tanpa peti mati!"

"Heiii, apa engkau gila? Aku belum mati, siapa bilang mau dikubur?"

Kwi Hong membentak marah.

"Setelah bertemu dengan kami, mengenal kami dan bersikap sesombong ini, apakah bukan berarti engkau menjadi calon mayat?"

"Keparat! Engkaulah yang patut mampus!"

Kwi Hong balas memaki, matanya yang indah itu melotot.

Kedua orang bermuka kuning tua itu segera menerjang maju dan karena mereka memandang rendah kepada Kwi Hong, mereka menyerang sembarangan saja.

Yang wanita menampar ke arah pundak Kwi Hong untuk membuat dara itu turun dari kuda, sedangkan yang pria menampar ke arah kepala kuda yang kalau terkena tentu akan pecah!

"Tar!

Tar!"

Melihat kedua orang itu menyerang, Kwi Hong tidak mengelak maupun menangkis, melainkan mengelebatkan perut kudanya, mendahului mereka dengan serangan pecut.

Biarpun dia tidak biasa mainkan pecut, namun berkat tenaga sin kangnya yang hebat, ujung pecut itu dua kali menyambar dan mengarah muka mereka yang berwarna kuning tua!

"Plak!

Plak!

Aiiihhh....!"

Dua orang itu cepat menangkis dan hendak mencengkeram ujung pecut, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika lengan mereka terasa nyeri dan pecah kulitnya, mengeluarkan darah begitu bertemu dengan ujung pecut yang bergerak dengan kekuatan luar biasa itu!

"Dari mana datangnya bocah sombong berani main gila dengan penghuni Pulau Neraka?"

Orang tinggi besar bermuka merah muda membentak keras dan bersama temannya yang bermuka merah muda pula, yang berkepala gundul dan bertubuh tinggi gendut pendek, segera menerjang maju.

Biarpun jarak di antara mereka dengan Kwi Hong masih ada dua meter lebih, namun mereka telah melancarkan pukulan jarak jauh.

Si Tinggi Besar menghantam ke arah Kwi Hong sedangkan Si Gendut Pendek menghantam ke arah kuda yang ditungangi gadis itu.

"Wuuuuutttt! Siuuut!"

Kwi Hong terkejut.

Bukan main hebatnya angin pukulan kedua orang itu, maha dahsyat dan mengandung bau amis seperti ular berbisa.

Maklumlah dia bahwa kedua orang Pulau Neraka yang sudah agak tinggi tingkatnya melihat warna mukanya itu memiliki pukulan beracun, maka dia tidak berani berlaku lambat.

Sekali enjot, tubuhnya mencelat ke atas, akan tetapi terdengar kudanya meringkik kesakitan dan roboh berkelojotan sekarat.

"Berani kau membunuh kudaku?"

Kwi Hong membentak, tubuhnya menukik dan meluncur ke bawah, cambuknya digerakkan bertubi tubi ke arah kepala dan tubuh Si Gundul Pendek yang sibuk mengelak sambil bergulingan.

"Tar tar tar tar!"

Biarpun Si Gundul Pendek itu mengelak dan bergulingan ke sana sini, namun tetap saja beberapa kali dia kena dihajar ujung cambuk sampai kepala gundulnya lecet dan bajunya robek robek.

Namun temannya sudah menerjang Kwi Hong dari belakang dengan pukulan beracun yang dahsyat, membuat gadis itu terpaksa mencelat ke belakang meninggalkan Si Gundul dan siap menghadapi pengeroyokan mereka.

Karena dia maklum bahwa lima belas orang itu amat lihai, maka tangan kanannya bergerak dan berbareng dengan bunyi mendesing nyaring tampaklah sinar kilat berkelebat membuat lima belas orang itu terkejut dan otomatis melangkah mundur sambil memandang ke arah pedang di tangan Kwi Hong dengan mata terbelalak.

"Pe.... dang.... Iblis....!"

Si Tinggi Besar bermuka merah muda berseru kaget.

"Hemmm, kalian mengenal pedangku? Majulah, pedangku sudah haus darah!"

Kwi Hong menantang.

"Melihat pedang itu, kita tidak boleh membunuhnya. Tangkap hidup-hidup, pergunakan asap berwarna. Cepat, ketua kita telah menanti, jangan sampai dia marah!"

Mendengar ini, jantung Kwi Hong berdebar.

Dia tidak takut akan ancaman mereka untuk menangkapnya hidup-hidup dengan menggunakan asap berwarna yang ia duga tentulah asap beracun.

Akan tetapi mendengar bahwa Ketua mereka telah menanti, dan agaknya berada di dekat tempat itu, dia menjadi bingung.

Kalau sampai adik angkat pamannya tahu bahwa dia mengamuk, lalu maju sendiri bagaimana?

Selain agaknya tak mungkin dia dapat menangkan Bibi Lulu itu, juga wanita aneh itu telah menolong dia dan penghuni Pulau Es ketika diserang pasukan pemerintah.

Apalagi kalau dia teringat akan pesan pamannya, kemarahannya terhadap orang-orang ini menjadi menurun dan ia membanting kakinya sambil berseru.

"Sudahlah, aku mau pergi saja!"

Kwi Hong meloncat, akan tetapi dari depan menghadang enam orang anggauta Pulau Neraka dengan senjata mereka melintang.

Kwi Hong marah, Pedang Li mo kiam dipercepat berubah menjadi segulung sinar kilat.

Enam orang itu terkejut, menggerakkan senjata masing-masing melindungi tubuh dan terdengarlah suara nyaring berulang ulang disusul teriakan teriakan kaget kerena semua senjata enam orang itu patah patah dan tubuh gadis itu mencelat ke depan terus lari dengan cepat sekali!

Karena takut kalau kalau rombongan orang Pulau Neraka itu melakukan pengejaran, bukan takut kepada mereka melainkan takut kalau sampai bertemu dengan Lulu, Kwi Hong berlari cepat ke selatan di mana terdapat sebuah anak bukit.

Ke sanalah dia melarikan diri dengan bibir cemberut karena pertemuannya dengan rombongan Pulau Neraka itu membuat dia kehilangan kudanya.

Akan tetapi kepada siapakah dia akan menumpahkan kemarahannya den kejengkelannya?

Betapapun juga, dia tidak mungkin dapat nekat mengamuk dan dapat menghadapi Bibi Lulu apabila wanita itu muncul.

Hal ini tentu akan membuat pamannya marah sekali, sungguhpun dia sama sekali tidak akan takut apabila dia harus menghadapi Bibi Lulu sekalipun.

Apalagi kalau dia teringat akan Keng In, ia bahkan ingin sekali bertemu dengan pemuda itu dan menantangnya untuk bertanding, tidak hanya mengadu kepandaian, akan tetapi juga mengadu pedang mereka.

Bukankah Pedang Lam mo-kiam berada di tangan pemuda brengsek itu?

Pedang itu adalah pedang Bun Beng, dan kalau dia dapat bertemu dengan Keng In ber-dua saja, dia pasti akan merampaskan Pedang Lam mo kiam dan ia berikan kepada Bun Beng!

Ketika ia tiba di anak bukit itu, kembali ia terkejut karena ternyata bahwa bukit itu merupakan sebuah tanah pekuburan yang luas sekali!

Di sana tampak batu batu bong-pai (nisan), ada yang masih baru akan tetapi sebagian besar adalah bong-pai yang tua dan tulisannya sudah hampir tak dapat dibaca, tanda bahwa tanah kuburan itu adalah tempat yang sudah kuno sekali.

Ia teringat akan rombongan orang Pulau Neraka yang membawa peti.

Celaka pikirnya, aku telah salah lari.

Mereka itu menuju ke tempat ini untuk mengubur peti mati itu.

Berpikir demikian, Kwi Hong berlari terus, dengan maksud hendak melewati bukit tanah kuburan itu dan untuk berlari terus ke selatan karena dia hendak mencari musuh musuh pamannya, musuh-musuh Pulau Es, di kota raja.

Tiba-tiba bulu tengkuknya berdiri dan kedua kakinya otomatis berhenti, bahkan kini kedua kaki itu agak menggigil!

Kwi Hong takut?

Tidak mengherankan kalau dara perkasa ini ketakutan.

Siapa orangnya yang tidak akan menjadi seram dan takut kalau tiba-tiba mendengar suara orang tertawa cekikikan dan terkekeh kekeh di tengah tanah kuburan, sedangkan orangnya tidak tampak.

Suara ketawa itu pun tidak seperti biasa, lebih pantas kalau iblis atau mayat yang tertawa!

Kwi Hong seorang gadis pemberani, akan tetapi baru dua kali ini dia benar benar menggigil ketakutan dan bulu tengkuknya menegang.

Pertama adalah ketika ia menemukan sebuah peti di tepi laut yang ketika dibukanya ternyata berisi mayat hidup!

Ke dua adalah sekarang ini.

Tempat itu demikian sunyi, tidak terdengar suara seorang pun manusia.

Dan tiba-tiba ada suara ketawa dan agaknya suara ketawa itu terdengar dari mana mana, mengelilinginya!

Ah, mana ada setan!

Gadis ini berpikir sambil menekan rasa takutnya.

Dahulu pun, mayat hidup itu ternyata adalah seorang kakek yang sakti, bahkan tokoh pertama dari Pulau Neraka, bukan setan.

Sekarang pun pasti bukan setan, apalagi di waktu pagi ini, mana ada iblis berani muncul melawan cahaya matahari?

Tentu seorang yang lihai sehingga suara ketawanya yang mengandung tenaga khi-kang itu terdengar bergema ke sekelilingnya.

Kwi Hong menjadi tabah dan kini dia menahan napas mengerahkan sin-kangnya, menggunakan tenaga pendengarannya untuk mencari darimana datangnya sumber suara ketawa itu.

Benar saja dugaannya.

Suara ketawa yang mengurungnya itu adalah gema suara yang mengandung khi kang amat kuat, sedangkan sumbernya dari....

sebuah kuburan kuno!

Kembali ia terbelalak dan bulu tengkuk yang sudah rebah kembali itu kini mulai bangkit lagi!

Suara keta-wa dari kuburan kuno?

Apalagi kalau bukan suara setan atau mayat hidup?

Hampir saja Kwi Hong meloncat jauh dan melarikan diri secepatnya kalau saja dia tidak merasa malu.

Biarpun tidak ada orang lain yang melihatnya, bagaimana kalau ternyata yang tertawa itu manusia dan melihat dia lari tunggang-langgang macam itu betapa akan memalukan sekali!

Tidak, daripada menanggung malu lebih baik menghadapi kenyataan, biarpun dia harus berhadapan dengan iblis di siang hari sekalipun!

"Heh heh heh heh, hayo....

biar kecil, hatinya besar, hi hi hik!"

Nah, benar manusia, pikir Kwi Hong yang masih bingung karena suara itu benar benar keluar dari sebuah kuburan yang sudah ditumbuhi banyak rumput dan tidak tampak ada manusia di dekat kuburan itu.

"Krik krik krik!"

"Krek krek krek!"

Eh, ada suara dua ekor jangkerik! Makin tertarik hati Kwi Hong, apalagi ketika kembali terdengar orang tak tampak itu bicara sendiri.

"Eh, maju, jangan mepet di pinggir, sekali dorong kau akan jatuh! Ha, biarpun kecil mrica tua, makin kecil makin tua dan makin pedas! Ha ha ha!"

Dengan berindap indap Kwi Hong maju menghampiri dan hampir saja dia tertawa terkekeh kekeh saking lega dan geli rasa hatinya ketika melihat bahwa yang disangkanya mayat hidup atau iblis itu kiranya adalah seorang kakek yang sudah tua sekali duduk seorang diri di atas tanah depan bong pai tua sambil mengadu jangkerik di atas telapak tangan kirinya!

Kakek itu sudah amat tua, sukar ditaksir berapa usianya.

Rambutnya yang riap riapan, kumisnya, jenggotnya, semua sudah putih dan tidak terpelihara sehingga kelihatan mawut tidak karuan.

Pakaiannya pun longgar tidak karuan bentuknya, sederhana sekali.

Kakinya memakai alas kaki yang diberi tali temali melibat libat kakinya ke atas, lucu dan kacau.

Yang paling menarik hati Kwi Hong adalah bentuk tubuh kakek itu.

Amat kecil!

Kecil dan pendek, seperti tubuh seorang kanak-kanak saja!

Biarpun kakek itu duduk mendeprok di atas tanah, dia berani bertaruh bahwa kakek itu tentu kalah tinggi olehnya.

Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya, bahkan tidak mempedulikan keadaan Kwi Hong sama sekali.

Perhatiannya tercurah kepada dua ekor jangkerik di atas telapak tangannya, pandang matanya bersinar sinar, wajahnya berseri dan kedua matanya yang amat lebar itu terbelalak.

Kwi Hong melangkah maju perlahan-lahan sampai dekat sekali.

Ia melihat bahwa di atas telapak tangan kiri kakek itu terdapat dua ekor jangkerik yang saling berhadapan, dipermainkan oleh kakek itu dengan sebatang kili kili rumput sehingga kedua ekor binatang itu mengerik keras.

Yang bunyi keriknya kecil adalah seekor jangkerik coklat yang tubuhnya kecil, sedangkan yang ke dua adalah seekor jangkerik hitam yang tubuhnya lebih besar dan bunyi keriknya pun lebih besar.

Kwi Hong duduk perlahan lahan di sebelah kiri kakek itu, mendeprok di atas tanah sambil menonton.

Dia pun tertarik sekali.

Selama hidupnya belum pernah dia melihat jangkerik diadu.

Tentu saja pernah dia melihat jangkerik akan tetapi tidak tahu bahwa jangkerik dapat diadu seperti ayam jago saja.

Dia menjadi kagum menyaksikan sikap dua ekor jangkerik itu.

Setelah mengerik dan sayapnya menggembung, sungutnya bergerak-gerak, mulutnya dibuka lebar siap menyerang lawan, binatang binatang kecil itu kelihatan gagah sekali.

Terutama sekali pasangan kuda kuda kakinya, kokoh kuat mengagumkan!

"Hayo, Si Kecil Merah, biarpun kecil jangan mau kalah!

Serang....!"

Kakek itu tiba-tiba melepaskan kili kilinya yang dipegang dengan tangan kanan, diangkatnya kili kili ke atas sehingga kini kedua ekor jangkerik itu tidak terhalang kili-kili dan mereka saling terkam!

Kwi Hong memandang dengan mata terbelalak kagum.

Baru pertama kali ini dia melihat dua ekor jangkerik itu benar benar saling terkam, melompat dengan garang dan saling gigit, kemudian saling dorong, menggunakan kaki belakang yang besar dan kuat itu untuk mempertahankan diri.

Namun, tentu saja jangkerik hitam yang lebih besar itu lebih kuat.

Jangkerik kemerahan atau coklat lebih kecil terdorong terus sampai ke pinggir telapak tangan, kemudian dilontarkan oleh jangkerik hitam sehingga terlempar jatuh ke atas tanah.

Si Hitam mengerik bangga dan berputar putaran di atas telapak tangan kakek itu seolah-olah seorang jagoan yang menantang tanding di atas panggung luitai (panggung adu silat)!

"Wah, Si Hitam itu hebat!"

Kwi Hong berkata lirih memuji.

"Puhh! Hebat apanya?"

Kakek itu mendengus dan mendelik kepada Kwi Hong.

"Kalau bukan kau datang mengagetkan Si Kecil Merah takkan kalah!"

Melihat sikap kakek itu marah marah tidak karuan kepadanya, menyalahkan dia karena jangkerik kecil itu kalah. Kwi Hong menjadi mendongkol hatinya.

"Apa? Aku yang salah? Wah, kakek sinting, memang jangkerik yang kecil begitu mana bisa menang?"

"Siapa bilang tidak bisa menang? Kau kira yang kecil itu harus kalah? Phuah, gadis besar yang sombong!"

"Plak! Plok!"

Hampir saja Kwi Hong menjerit saking marahnya.

Dia tidak melihat kakek itu menggerakkan tangan, akan tetapi tahu tahu pinggulnya yang berdaging menonjol kena ditampar dua kali oleh kakek itu sampai terasa panas kulitnya dan debu mengepul dari celananya yang tentu saja kotor karena dia duduk di atas tanah kering.

Kwi Hong meloncat bangun, siap untuk membalas akan tetapi karena mendapat kenyataan bahwa kakek itu lihai bukan main, dapat menampar belakang tubuhnya tanpa dia melihatnya, Kwi Hong meraba gagang pedang.

"Prokkk!"

Kakek itu meremas ujung batu bong pai dan Kwi Hong memandang dengan mata terbelalak.

Batu yang amat keras itu diremas seperti orang meremas kerupuk saja, hancur seperti tepung.

Dia sendiri, dengan pengerahan sin kangnya, mungkin dapat mematahkan ujung batu bongpai itu, akan tetapi meremasnya hancur, tanpa sedikit pun kelihatan mengerahkan tenaga, benar benar hebat!

Maklumlah dia berhadapan dengan seorang kakek yang amat sakti, akan tetapi juga amat sinting perangainya!

Tanpa mempedulikan Kwi Hong yang meloncat bangun, kakek yang bersungut-sungut itu telah menaruh jangkerik hitam yang menang ke dalam lubang yang dibuatnya di atas tanah, kemudian me-nyambar jangkerik hitam kemerahan yang kalah tadi.

"Kau harus menang! Si Kecil harus menang! Jangan biarkan Si Besar sombong dan mengira bahwa Si Besar yang kuat!"

Dia bersungut sungut, mengomel marah marah tidak karuan.

"Kau harus dijantur biar besar hatimu!"

Kakek itu mencabut sehelai rambut yang panjang, akan tetapi begitu dipandangnya, rambut putih itu dibuangnya.

"Ah, rambut putih tidak baik untuk menjantur jangkerik, hatinya menjadi tidak berani bertempur. Heh, gadis besar! Rambutmu banyak, berikan sehelai kepadaku!"

Biarpun Kwi Hong merasa mendongkol bukan main, namun dia mulai tertarik untuk menyaksikan bagaimana caranya kakek itu dapat memaksa jangkerik kecil maju dan mengalahkan jangkerik besar.

Biarpun bibirnya sendiri tak kalah runcingnya dengan bibir Si Kakek karena dia pun cemberut, dicabutnya juga sehelai rambut dan ditiupnya rambut itu ke arah kakek yang menerimanya sambil menjepit rambut dengan kedua jari tangan.

Diam diam Kwi Hong kagum dan kaget.

Sudah begitu tua, akan tetapi pandang matanya masih luar biasa tajamnya, sehingga dapat menangkap dengan jepitan jari tangan sehelai rambut yang melayang.

Kini kakek itu tidak bersungut sungut lagi, malah wajahnya berseru penuh harapan ketika dia menggunakan rambut untuk menjantur jangkerik kecil merah itu pada selakang kakinya.

Kwi Hong memandang dengan heran dan ngeri.

Jangkerik itu dijantur diputar putar seperti gasing kemudian dibiarkan berputar kembali pada rambut dan dimanterai oleh kakek aneh.

Entah diberi mantera atau diapakan, buktinya kakek itu mulutnya berkemak kemik dekat dengan tubuh jangkerik yang berputaran.

Setelah gerakan berputar itu terhenti, berhenti pula mulut yang berkemak kemik, akan tetapi tiba-tiba kakek itu meludah kecil tiga kali.

"Cuh! Cuh! Cuh!"

Ludah ludah kecil menyerempet ke arah tubuh jangkerik merah.

"Awas kau kalau kalah lagi!"

Kakek itu berkata.

"Harus kuberi tambahan semangat!"

Ia lalu bangkit berdiri, menjengking dan menaruh jangkerik yang masih tergantung di bawah rambut itu depan pantatnya.

"Busssshh!"

Kakek itu melepas kentut yang tepat menghembus ke arah jangkerik merah.

"Ihhh....!"

Kwi Hong mendengus dan melangkah mundur menjauhi kakek jorok (kotor) itu sambil memijit hidung.

Kentut yang tidak berbunyi biasanya amat jahat baunya!

Akan tetapi karena dia tertarik sekali, ingin melihat apakah "gemblengan"

Yang diberikan kakek itu pada jangkerik merah benar benar manjur, Kwi Hong tidak pergi dan masih berdiri menonton.

Kembali kakek itu membalikkan telapak tangan kiri, dipergunakan sebagai panggung pertandingan antara kedua ekor jangkerik itu.

Jangkerik merah sudah dilepas dari rambut yang menjanturnya, ditaruh di atas telapak tangan kiri kakek itu.

Jangkerik itu diam saja, agaknya nanar dan melihat bintang menari nari!

Sepatutnya begitulah setelah mengalami gemblengan hebat tadi, kalau tidak nanar oleh janturan tentu mabok oleh bau kentut.

Akan tetapi agaknya hal ini membuat si Jangkerik timbul kemarahannya, buktinya ketika kakek itu memainkan kili kili di depan mulutnya, jangkrik ini membuka mulut lebar lebar dan menyerang kili kili, sayapnya berkembang dan mengerik sumbang!

"Ha ha ha heh heh, bagus!

Sekarang kau harus menang!"

Kakek itu berkata lalu mengambil jangkerik hitam dan menaruh di atas telapak tangannya pula.

Dengan kili kilinya, kakek itu terus mengili jangkerik merah yang makin ganas dan bergerak maju menghampiri jangkerik hitam yang sama sekali tidak dikili, dibiarkan saja oleh kakek itu.

"Wah, kau licik! Kenapa jangkerik hitamnya tidak dikili?"

Kwi Hong tidak dapat menahan kemendongkolan hatinya.

Dia tahu bahwa karena tubuhnya kecil pendek, kakek itu berpihak kepada jangkerik kecil dan berlaku curang.

"Eh, kalau kau berpihak kepada Si Hitam, boleh kau kili dia!"

Kakek itu membentak marah.

Akan tetapi karena Kwi Hong belum pernah mengadu jangkerik, gadis ini berjebi dan tidak menjawab, hanya memandang saja.

Biarpun tidak diganggu kili kili, mendengar lawan mengerik, Si Hitam itu cepat membalik dan juga mengerik, menantang dengan keriknya yang nyaring sehingga mengalahkan bunyi kerik Si Kecil yang sumbang.

Hampir Kwi Hong bersorak bangga, akan tetapi dia menahan diri, takut kalau kalau kakek sinting itu marah lagi.

Setelah kedua jangkerik itu berhadapan dan siap, kakek aneh itu kembali melepaskan kili kilinya dari mulut Si Kecil, mencabutnya ke atas sehingga kembali dua ekor jangkerik itu saling terkam dan saling gigit.

Si Kecil itu kini benar benar lebih nekat cara berkelahinya, dan agaknya gemblengan kakek tadi ada gunanya pula karena dia lebih berani, tidak mudah menyerah seperti dalam pertandingan pertama.

Akan tetapi, betapapun nekatnya, karena memang kalah kuat, dia didorong terus ke pinggir dan akhirnya terjengkang ke bawah.

Kalah lagi.

Kwi Hong cepat melangkah mundur dan tepat seperti dugaannya, kakek itu marah marah lagi.

Batu bong-pai kuno itu mengalami nasib sial!

Digempur berapa kali sampai pecah pecah dan remuk remuk, debu beterbangan ke atas.

"Sialan! Pengecut! Penakut! Kau membikin malu saja! Tidak bisa, kau tidak boleh kalah, harus menang. Harus kataku, tahu? Kalau perlu aku akan menggemblengmu selama hidupku sampai kau menang!"

Kembali dia menaruh jangkerik hitam di dalam lubang dan mulailah ia melakukan "penggemblengan"

Ke dua terhadap jangkerik kecil merah.

Cara menggemblengnya makin gila, membuat Kwi Hong mendekap mulutnya menahan ketawa.

Benar benar kakek sinting, pikirnya, akan tetapi karena Kwi Hong juga mempunyai dasar watak gembira, binal dan nakal, dia ingin sekali menyaksikan jangkerik gemblengan kakek itu benar benar akan dapat menang satu kali saja.

Kalau kalah terus, dia mempunyai alasan untuk mentertawakan kakek sinting yang tadi sudah berani menggaplok pinggulnya sampai dua kali.

Kalau nanti kakek itu marah, dia akan melawan dengan pe-dangnya.

(Lanjut ke

Jilid 28) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 Kakek itu benar benar seperti sinting saking penasaran melihat jagonya kalah terus.

Tepat seperti dugaan Kwi Hong, karena merasa bahwa dia adalah seorang yang mempunyai perawakan tidak normal, terlalu kecil pendek bagi ukuran pria, maka tentu saja kakek itu selalu berpihak kepada apa saja yang ukurannya lebih kecil!

Demikian pula dalam adu jangkerik ini.

Dia akan penasaran terus kalau Si Kecil belum memang, karena dia melihat seolah-olah Si Kecil itu adalah dia sendiri.

Kini dia membe-nam benamkan Si Kecil Merah itu ke dalam....

air kencingnya sendiri.

Tanpa mempedulikan Kwi Hong kakek itu merosotkan celananya begitu saja sehingga Kwi Hong tersipu sipu membuang muka, lalu dia melepas air kencing ke arah jangkerik merah yang ia masukkan ke dalam sebuah lubang besar di atas tanah.

Tentu saja payah jangkerik merah kecil itu berenang di lautan kencing, sedangkan Kwi Hong yang berdiri dalam jarak sepuluh langkah saja masih mencium bau sengak seperti cuka lama, apalagi jangkerik yang kini dibenamkan ke dalam air kencing!

Akan tetapi kakek itu tidak peduli.

Setelah mengikatkan kembali celananya dan membenam benamkan jangkerik jagoannya sampai setengah kelenger, barulah ia menghentikan gemblengannya, membiarkan jagonya siuman di bawah sinar matahari, kemudian mulailah dia mengadu lagi dua ekor jangkerik itu.

Anehnya, ketika jangkerik itu digoda kili kili, dia mengamuk, menggigit asal kena saja, akan tetapi tidak lagi mau mengerik.

Dia betul-betul sudah puyeng sekarang, sudah nekat dan menyerang ke depan dengan ngawur akan tetapi pantang mundur!

"Bagus, kau kini tidak mengenal takut lagi!"

Kwi Hong lupa akan bau air kencing yang biarpun sudah dihisap tanah masih meninggalkan bau lumayan, karena dia tertarik maka dia mendekat lagi, bahkan kini dia duduk di sebelah kiri kakek itu, menonton penuh perhatian.

Dua ekor jangkerik sudah berkelahi lagi di atas telapak tangan kakek itu.

Akan tetapi jangkerik kecil itu mundur terus!

"Kalau sekali ini kalah, kugencet dengan batu kepalamu!"

Kakek itu mengomel dan Kwi Hong menaruh kasihan kepada jangkerik kecil merah itu.

"Kek, tahan pantatnya dengan kili-kili. Dia masih terus melawan, belum kalah, jangan keburu dia jatuh ke bawah!"

Kwi Hong yang melihat Si Kecil itu benar benar nekat, saling gigit tak dilepaskan lagi, menjadi tegang hatinya dan ingin melihat Si Kecil yang diingkal ingkal (didesak desak) oleh Si Besar itu dapat menang.

Kakek itu tidak menjawab, akan tetapi ternyata dia menurut petunjuk Kwi Hong menggunakan kili kili untuk menahan pantat jangkerik kecil merah yang terdorong terus ke belakang.

Setelah kili kili itu menahannya, pertandingan menjadi makin seru dan mati matian, dan kedua jangkerik saling gigit sampai mulut Si Kecil mengeluarkan air menguning!

Jangkerik hitam yang besar agaknya penasaran, makin dikerahkan tenaga kakinya yang besar, didorongnya kepala jangkerik kecil yang sudah luka luka itu sekuatnya sehingga tubuh jangkerik kecil itu tertekan, Terhimpit dan tertekuk ke belakang sehingga akhirnya jatuh terlentang dan si Besar Hitam masih menggigit dan nongkrong di atasnya.

Kakek itu menjadi pucat wajahnya, matanya terbelalak dan perasaannya tertusuk.

Akan tetapi tiba-tiba jangkerik kecil yang kehilangan akal itu membuat gerakan membalik sehingga gigitan terlepas, dan ketika jangkerik hitam besar mengejar, Si Kecil itu menggerakkan kedua kaki besar ke belakang, menyentik dengan tiba-tiba dan gerakannya amat cepat dan kuat.

Akibatnya, tubuh jangkerik hitam besar itu terlempar ke atas dan jatuh.

Sial baginya dia jatuh menimpa batu sehingga kepalanya pecah dan mati di saat itu juga!

Lebih aneh lagi, kini jangkerik kecil merah yang masih berada di tangan kakek itu mulai mengerik dan bergerak-gerak ke sana ke mari, seolah-olah menantang lawan!

"Hebat dia....!"

Kwi Hong berseru, juga girang sekali.

Akan tetapi dia segera menghentikan kata-katanya dan matanya terbelalak memandang ke belakang kakek tua itu.

Dari jauh tampak olehnya rombongan orang Pulau Neraka yang menggotong peti mati, berjalan menuruni anak tangga batu menuju ke arah mereka!

Kwi Hong merasa khawatir sekali.

Dia maklum akan kelihaian orang-orang Pulau Neraka itu.

Akan tetapi dia terheran heran ketika melihat mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan meletakkan peti mati itu di depan mereka, terus berlutut tanpa bergerak sedikit pun.

Akan tetapi kakek tua yang kate kecil itu sama sekali tidak mempedulikan mereka.

Dia sedang bergembira, girang bukan main.

"Heh heh ha ha ha, kau boleh istirahat dan sembuhkan luka-lukamu, jagoan cilik!"

Katanya sambil melepaskan jangkerik itu ke dalam semak semak.

Kemudian dia menari-nari kegirangan, tertawa-tawa dan bergulingan ke sana sini, mendekati bangkai jangkerik hitam, mengejek dan menjulurkan lidah kepada bangkai kecil itu!

"Heh heh, kau kira yang besar harus menang?

Ha ha ha!"

Ketika ia bergulingan itu, tanpa disengaja dia bergulingan ke dekat Kwi Hong.

Tentu saja gadis ini tidak mau tubuhnya terlanggar, maka dia meloncat berdiri.

Gerakan gadis ini disalahartikan oleh Si Kakek sinting, disangkanya gadis itu menentangnya, apalagi dia melihat bahwa gadis itu tidak ikut bergembira bersamanya.

Marahlah dia dan tiba-tiba ia menelungkup, menekan tanah dengan kedua tangan dan bagaikan kilat cepatnya, kedua kakinya menyepak ke belakang persis gaya jangkerik kecil tadi, kedua ujung kaki menghantam dari bawah ke arah tubuh Kwi Hong!

Tentu saja Kwi Hong terkejut sekali.

Untuk mengelak sudah tidak keburu lagi maka cepat ia menangkis.

"Desss!"

Akibat benturan ini, tubuh Kwi Hong terlempar ke udara, jauh tinggi dan "temangsang"

Di atas dahan dahan pohon yang tinggi dalam keadaan lemas! Kakek sinting itu berseru kaget.

"Heiii....! Wah, mengapa kau mau saja kusepak?"

Secepat burung terbang, tubuhnya melayang ke atas tanpa mengin-jak dahan pohon, tangannya yang berlengan pendek itu menyambar tubuh Kwi Hong dan membawa dara itu meloncat turun.

Sekali ditepuk punggungnya, Kwi Hong dapat bergerak kembali dan ia terlongong memandang kakek yang ternyata memiliki ilmu kepandaian luar biasa itu.

Setelah memulihkan kesehatan Kwi Hong, kakek itu melanjutkan bersorak gembira.

"Ha ha ha! Hooree! Aku menemukan jurus baru yang hebat! Khusus untuk si kecil mengalahkan si besar, ha-ha ha!"

Tiba-tiba ia melihat rombongan orang Pulau Neraka yang berlutut di situ, lalu suara ketawanya berhenti, dia membentak marah.

"Eiiittt! Siapa suruh kalian berlutut di situ? Hayo pergi semua, jangan ganggu aku yang sedang bergembira!"

Kwi Hong kembali terheran heran.

Orang-orang Pulau Neraka yang tidak rendah tingkatnya itu, mengangguk angguk dan seperti anjing digebah mereka pergi mengundurkan diri, meninggalkan peti mati dan tampak mereka itu duduk jauh dari tempat itu, seperti sekumpulan pelayan menanti perintah majikan.

Sedikit pun mereka tidak berani lagi memandang ke arah kakek sinting!

"Heh heh heh, mereka itu menjemukan sekali.

Ilmu yang baru ini mana boleh dilihat mereka?

Tentu akan mereka curi kelak.

Eh, gadis gede, engkau ikut berjasa dalam penemuan jurus istimewa ini, maka sudah sepantasnya kalau aku mengajarkan jurus ini kepadamu."

Kwi Hong menggeleng kepala.

"Aku tidak ingin mempelajari jurus yang tidak sopan itu!"

"Wah, lagaknya! jurus tidak sopan, katamu? Hayo jelaskan, apanya yang tidak sopan!"

"Aku adalah seorang manusia, seorang gadis pula, bukan seekor jangkerik atau seekor kuda! Kalau aku mempelajari jurus menyepak seperti jangkerik atau kuda itu, bukankah itu tidak sopan?"

"Uwaaah, sombongnya! Mana ada jurus sopan atau tidak sopan? Hayo jawab, untuk apa engkau mempelajari jurus-jurus ilmu silat? Bukankah untuk merobohkan lawan, untuk membunuh lawan? Apakah ada cara membunuh yang sopan atau tidak? Kalau dilihat tujuannya, semua jurus yang pernah kau pelajari juga tidak sopan! Hayoh coba kau bantah!"

Kakek itu bersikap seperti seorang anak kecil yang cerewet dan mengajak bertengkar.

"Sudahlah, aku tak mau banyak bicara dengan tokoh Pulau Neraka!"

"Aihhh! Siapa tokoh Pulau Neraka?"

"Engkau, kakek sinting, apa kau kira aku tidak tahu bahwa engkau tokoh Pulau Neraka?"

"Dari mana kau tahu?"

"Dari mukamu yang tidak berwarna itu, seperti muka mayat!"

Kwi Hong tidak mau bilang bahwa dia tahu karena melihat orang-orang Pulau Neraka tadi amat takut dan menghormat kakek ini karena hal itu menjadi terlalu mudah untuk menduga.

"Ada apa dengan mukaku? Tidak berwarna? Hemm, kau mau warna apa? Hitam? Nah, lihatlah!"

Kwi Hong hampir menjerit ketika melihat betapa muka kakek itu tiba-tiba saja berubah hitam seperti pantat kuali yang hangus!

Hanya tinggal putih matanya dan dua giginya saja yang kelihatan.

"Apa kau mau yang merah? Dan berbareng dengan ucapannya itu, muka kakek itu menjadi merah seperti dicat.

"Atau biru? Hijau? Kuning?"

Kini Kwi Hong melongo.

Muka itu bisa berubah ubah seperti yang disebut kakek itu, seolah-olah ada yang mengecatnya berganti ganti, dan akhirnya berubah biasa lagi, muka yang pucat, muka seorang kakek yang berpenyakitan.

"Jelas engkau seorang tokoh besar Pulau Neraka!"

Kwi Hong berkata.

"Kalau betul, mengapa? Apa bedanya kalau aku orang Pulau Neraka, atau Pulau Es, atau pulau kosong, atau dari puncak Gunung Bu tong san, atau dari padang pasir! Apa bedanya kalau aku terlahir sebagai bangsa ini dan bangsa itu? Tetap saja aku seorang manusia seperti juga engkau! jangan sombong kau, gadis gede...."

"Jangan sebut sebut aku gede! Apa kau kira engkau ini masih bocah?"

"Eh eh, yang gede bukan usianya, melainkan tubuhnya. Bukankah engkau gede sekali kalau dibandingkan dengan tubuhku?"

"Bukan aku yang gede, melainkan engkau kate, terlalu kate, terlalu kecil! Aku biasa saja! Kau benar benar menjengkelkan orang, Kakek sinting. Siapa sih namamu?"

"Heh heh heh, kejengkelan bukan datang dari luar, melainkan dari dalam batinmu sendiri, digerakkan oleh pikiranmu, Nona. Siapa suruh engkau jengkel! Aku memang bukan orang yang besar, bukan orang ternama, aku hanyalah Bu-tek Siauw jin (Manusia Rendah Tanpa Tanding). Aku tidak bicara berlebihan kalau kukatakan bahwa aku adalah datuk Pulau Neraka.... heh heh heh... haa? Mengapa kau mencabut pedang? Waduhhh.... pedangmu itu....! Pedang iblis, seperti yang dipegang murid Suheng!"

Kini Kwi Hong dapat menduga siapa adanya kakek ini.

Kiranya sute dari kakek yang seperti mayat hidup, guru dari Keng In!

"Bagus, ketahuilah, Kakek sinting.

Aku adalah Giam Kwi Hong dari Pulau Es!

Dan pedang ini memang benar Li-mo kiam (Pedang Iblis Betina), sedangkan Lam mo kiam yang dipegang oleh murid keponakanmu itu adalah barang rampasan, curian yang harus dikembalikan kepadaku.

Sekarang setelah kita saling bertemu, dua wakil dari kedua pulau yang bertentangan, kita boleh mengadu nyawa!"

"Mengadu nyawa? Heh heh heh, boleh! Boleh sekali! Akan tetapi kita harus bertaruh, tanpa pertaruhan aku tidak sudi susah susah keluarkan keringat!"

Biarpun hatinya mendongkol sekali, Kwi Hong menjadi geli juga.

"Bu tek Siauw jin, orang mengadu nyawa mana bisa bertaruh? Yang kalah akan mati, mana bisa memenuhi pembayaran?"

"Siapa bilang mati? Kalau aku tidak menghendaki mati, mana bisa di antara kita ada yang mati? Begini, aku akan mainkan jurus baruku yang kau pandang rendah tadi untuk menghadapi pedangmu! Kalau pedangmu sampai terlepas, berarti kau kalah dan engkau harus menemani aku dikubur hidup-hidup selama seminggu!"

Kwi Hong bergidik.

"Gila! Itu sama saja dengan mati!"

"Eiit, siapa bilang sama? Aku sudah berkali kali dikubur hidup-hidup, sampai sekarang kok tidak mati? Dikubur hidup-hidup menemaniku berarti mempelajari ilmuku dan menjadi muridku, mengerti tidak kau, perawan tolol?"

Melihat kakek itu sudah naik pitam lagi, Kwi Hong menahan kegemasan hatinya dan berkata.

"Kalau kau yang kalah?"

"Kalau aku yang kalah tak usah bicara lagi karena aku tentu tidak dapat menjawabmu. Pedangmu Li mo kiam itu bukan sembarangan senjata, jauh lebih tua dan lebih ampuh daripada aku, kalau aku kalah tentu dia akan minum habis darahku. Nah, kau mulai."

Kwi Hong menjadi serba susah.

Biarpun dia tidak sudi menjadi murid seorang tokoh Pulau Neraka, akan tetapi untuk membunuh kakek sinting ini sebenarnya diapun tidak tega.

Biarpun dari Pulau Neraka, akan tetapi kakek ini hanya sinting dan aneh, sama sekali tidak kelihatan jahat, bahkan kegalakannya terhadap orang-orang Pulau Neraka tadi, kegalakan dan kemarahannya terhadap dia, seperti main main atau pura pura saja.

Selain itu, kakek ini jelas memiliki kepandaian yang luar biasa, dan dia bergidik kalau mengingat akan kepandaian kakek mayat hidup guru Keng In.

Namun, demi menjaga nama dan kehormatan paman dan gurunya, dia harus menang.

Apalagi dia memegang Li mokiam dan hanya dilawan dengan jurus baru yang diperoleh kakek itu dari adu jangkerik tadi.

"Lihat pedang!"

Bentaknya dan terdengar suara bercuit nyaring dan aneh ketika Li mo kiam lenyap berubah menjadi segulung sinar kilat yang mujijat dan mengandung hawa maut.

"Hayaaaa....!"

Kakek itu mengelak dan betul saja, dia sudah menjatuhkan diri dan bergulingan mengelak dari sambaran pedang.

Kwi Hong yang maklum bahwa dia hanya harus menjaga kedua kaki yang menyepak, melancarkan serangan bertubi tubi kepada tubuh kecil yang bergulingan itu sehingga pedangnya menjadi gulungan sinar kilat yang menyambar-nyambar ke bawah.

Kakek itu ternyata memiliki gerakan yang ringan seperti kapas tertiup angin, kadang-kadang dapat mencelat ke sana-sini seperti jangkerik meloncat.

Namun sedikitpun kakek itu tidak mendapatkan kesempatan untuk mempergunakan jurus barunya, yaitu sepakan kuda atau jentikan kaki jangkerik!

Malah dia repot sekali harus mengelak terus karena pedang Li mo kiam adalah pedang yang amat luar biasa, baru hawanya saja sudah membuat kakek itu miris hatinya.

Tiba-tiba Kakek itu terpeleset jatuh.

Kwi Hong cepat mengayun pedang.

Tiba-tiba terdengar suara memberobot dan ternyata kakek itu melepas ken-tut yang besar dan panjang!

Kwi Hong mengerutkan alis, mengernyitkan hidung dan sedetik pedangnya tertunda.

Inilah kesalahannya.

Sedetik sudah terlalu lama bagi kakek sinting itu untuk menggerakkan kedua kakinya, menyepak seperti yang dilakukannya tadi membuat tubuh Kwi Hong terbang.

Akan tetapi kini sepakannya mengenai tangan kanan Kwi Hong.

Kaki kiri menotok siku membuat lengan itu lumpuh, kaki kanan menendang gagang pedang sehingga pedang Li-mo kiam mencelat ke atas mengeluarkan bunyi mengaung.

Ketika Kwi Hong sadar dan kaget bukan main, ternyata kakek itu sudah "terbang"

Ke atas menyambar pedangnya, lalu mengembalikan pedang itu sambil tersenyum menyeringai.

"Nah, kau kalah, muridku."

Kwi Hong menerima pedangnya, menyarungkan pedang dan menjawab.

"Bu-tek Siauw jin, ketahuilah aku adalah murid Pamanku sendiri, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Maka engkau tentu maklum bahwa aku tidak mungkin dapat menjadi muridmu."

"Apa kau kira aku tidak tahu? Kau anggap aku ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Aku ingin menurunkan ilmu kepadamu, tentang kau menjadi murid atau tidak, peduli amat! Kau tahu mengapa aku ingin menurunkan ilmu-ilmuku kepadamu?"

Kwi Hong makin heran dan kini dia memandang kakek yang sakti itu.

"Aku tidak tahu."

"Karena Suhengku Si Mayat Hidup yang bau busuk itu sudah melanggar sumpah!"

"Bagaimana? Aku tidak mengerti."

"Kami bertiga, Suheng Cui beng Koai-ong, aku dan Sute Kwi bun Lo mo Ngo Bouw Ek yang sudah bersumpah tidak akan menerima murid. Akan tetapi baru-baru ini Suheng mengambil murid bocah anak ketua boneka Pulau Neraka itu sebagai murid. Bocah itu pandai sekali, apalagi kini memegang Lam mo kiam, tentu tidak ada yang melawannya. Kebetulan engkau bertemu dengan aku, engkau memegang Li mo kiam, engkau nakal dan cocok dengan aku, dan dasar ilmumu tidak kalah oleh murid Suheng. Nah, kalau aku menurunkan ilmu kepadamu, kelak engkaulah yang akan mengha-dapi murid Suheng itu. Dia sudah melanggar sumpah, biar aku yang mengingatkannya mengalahkan muridnya oleh muridku!"

"Tanpa kau beri pelajaran ilmu pun aku tidak takut menghadapi bocah som-bong itu!"

"Hemm, dia belum tentu sombong, akan tetapi engkau sudah pasti sombong sekali! Engkau murid Pendekar Siluman, akan tetapi setelah dia menerima ilmu-ilmu dari Suheng, apa kau kira akan mampu menandinginya? Pedangmu itu tidak ada artinya karena dia pun mempunyai pedang yang sama ampuhnya."

"Pedang curian!"

"Curian atau bukan, bagaimana kau akan mampu merampasnya kalau kau tidak mampu menandingi ilmunya?"

"Siauw jin.... ehh.... wah, namamu benar benar aneh, bikin orang tidak enak saja memanggilnya dengan menyingkat!"

"Heh heh heh! Mengapa tidak enak memanggil aku Siauw jin (Manusia Hina)? Sudah terlalu halus kalau aku disebut Siauw jin, ha, ha!"

"Bu tek Siauw jin, aku sudah kalah berjanji dan aku harus memenuhi taruhan kita, aku suka mempelajari ilmu yang akan kau berikan kepadaku, biarpun untuk itu aku harus dikubur hidup-hidup. Akan tetapi, bagaimana engkau bisa tahu bahwa aku akan suka kau pergunakan untuk mengalahkan murid Suhengmu?"

"Kwi Hong, namamu Giam Kwi Hong, bukan? Engkau keponakan Suma Han, engkau puteri perwira gila she Giam di kota raja, engkau pernah diculik oleh adik angkat Suma Han yang menjadi ketua boneka di Pulau Neraka. Semua itu aku tahu.... heh heh, apa yang aku tidak tahu? Aku tahu bahwa Sepasang Pedang Iblis itu tadinya ditemukan oleh seorang bocah laki laki, entah siapa aku tidak kenal. Li mo kiam diberikan kepadamu dan Lam mo kiam dirampas oleh murid Suheng maka engkau akan merampas kembali pedang itu memusuhinya. Engkau harus menemani aku dikubur hidup-hidup selama seminggu. Jangan kau pandang remeh latihan ini. Latihan sin kang yang luar biasa. Engkau akan mengenal apa yang disebut Tenaga Inti Bumi! Setelah berlatih samadhi dan sin-kang di dalam tanah, nanti kuberikan ilmu-ilmuku yang paling istimewa, tiada keduanya di dunia, termasuk ilmu baruku tadi, yang kau katakan tidak sopan."

"Ilmu tendangan jangkerik?"

"Benar! Siapa tahu, dalam keadaan roboh dan terdesak, terancam malapetaka, engkau dapat menggunakan jurus itu. Dengan seluruh tubuh tertekan pada bumi, meminjam tenaga inti bumi, engkau akan dapat mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat, dalam keadaan tak terduga duga seperti yang dilakukan jangkerik kecil tadi. Jurus ini selain dapat menyelamatkan nyawamu dari ancaman maut, juga dapat merobohkan lawan yang jauh lebih kuat. Apakah kau masih menganggapnya ilmu tidak sopan?"

Kwi Hong mengangguk.

"Aku akan mempelajari semua ilmu yang kau berikan."

"Bagus, sekarang kau carilah sebuah peti mati untukmu. Peti mati besi ini punyaku, dan terlalu kecil untuk tubuhmu yang gede."

"Mencari peti mati? Ke mana?"

"Wah, bodohnya. Ratusan peti mati berada di depan hidung, masih tanya harus cari ke mana? Selamanya tak mempunyai murid, sekali dapat murid, bodohnya bukan main. Di dalam kuburan-kuburan itu bukankah terisi peti peti mati?"

Kwi Hong terbelalak ngeri.

"Apa? Bongkar peti mati di kuburan? Wah, kan ada isinya!"

"Isinya hanya rangka yang sudah lapuk. Petinya masih baik. Itulah lucunya. Betapapun kokoh kuat petinya, mayatnya toh akan membusuk dan rusak. Membuang uang sia sia hanya untuk pamer saja, akan tetapi menguntungkan untukmu. Petinya yang masih baik dapat kau pergunakan!"

Kwi Hong menggeleng geleng kepala.

"Aku tidak bisa, Kek. Tidak mungkin aku sampai hati membongkar kuburan dan merampas peti dari sebuah kerangka manusia!"

"Uuhhh! Sudah bodoh penakut lagi! Apanya yang dipilih?"

Kakek itu bersuit tiga kali memanggil anak buahnya. Mun-cullah mereka berbondong-bondong dari tempat mereka duduk menanti.

"Hayo cepat carikan sebuah peti dari kuburan tertua."

Bu tek Siauw jin memerintah.

"Aihhh.... Ji tocu (Majikan Pulau ke Dua), hamba sekalian telah membawakan sebuah peti untuk To cu,"

Kata tokoh Pulau Neraka yang gendut pendek berkepala gundul.

Orang ini adalah Kong To Tek, seorang tokoh Pulau Neraka yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, bahkan memiliki ilmu mengeluarkan pukulan beracun diikuti semburan asap dari mulutnya yang amat berbahaya.

"Cerewet kau! Peti untukku sudah ada, akan tetapi untuk muridku ini belum ada! Lihat baik baik, dia ini adalah muridku yang akan mengalahkan murid Twa suheng, tahu? Namanya Kwi.... eh, lupa lagi. Siapa namamu tadi?"

"Kwi Hong, Giam Kwi Hong,"

Kata gadis itu dengan hati geli menyaksikan tingkah gurunya yang sinting.

"Oya, dia Giam Kwi Hong, murid tunggalku, Hayo cepat, carikan peti mati yang paling baik!"

Kwi Hong memandang dengan hati penuh kengerian betapa orang-orang itu membongkari kuburan dan akhirnya mendapatkan sebuah peti mati kuno yang benar-benar amat kokoh kuat dan ukiran-ukirannya masih lengkap.

Peti mati itu dibuka, kerangka manusianya dikeluarkan lalu peti mati kosong itu digotong dekat Kwi Hong yang memandang dengan jantung berdebar penuh rasa ngeri.

Dia harus tidur di situ?

Bekas tempat mayat?

"Gali sebuah lubang besar untuk dua peti ini, cepat!"

Kakek itu kembali memberi perintah dan belasan orang Pulau Neraka itu cepat melakukan perintah Bu-tek Siauw-jin.

Karena mereka itu rata-rata lihai dan memiliki tenaga besar, sebentar saja sebuah lubang yang lebarnya dua meter dan dalamnya juga dua meter telah tergali terbuka menganga dan menantang dalam pandang mata Kwi Hong.

"Lekas kau masuk ke dalam petimu!"

Kwi Hong menggelengkan kepalanya.

"Eh, apa kau takut?"

Melihat semua mata para penghuni Pulau Neraka itu memandang kepadanya, mendengar pertanyaan kakek sinting itu Kwi Hong cepat menjawab.

"Siapa bilang aku takut? Aku hanya merasa jijik, peti mati itu kotor!"

Tentu saja sebetulnya bukan karena kotor dan jijik, melainkan karena takut dan ngeri!

"Eh, siapa bilang kotor?

Orang yang yang sudah mati jauh lebih bersih dari pada orang yang masih hidup!

Hayo cepat masuk, atau engkau hendak membantah perintah Gurumu dan tidak mememenuhi janji?"

Kwi Hong merasa terdesak.

Kalau dia tetap menolak, selain berarti dia tidak membayar kekalahan taruhan, dan dianggap takut oleh orang-orang Pulau Neraka, juga kalau kakek itu menggunakan kekerasan, mana dia mampu mencegahnya?

"Kalau sudah di dalam peti, bagaimana engkau bisa melatihku?"

Dia mencoba menggunakan alasan menolak.

"Bodoh! Biarpun di dalam peti, apa kau kira aku tidak bisa memberi petunjuk? Hayo cepat, mereka ini sudah menanti untuk mengubur kita."

Dengan jantung berdebar penuh takut dan tegang, terpaksa Kwi Hong memasuki peti mati itu.

Bu-tek Siauw-jin menggunakan tangannya memukul tengah-tengah tutup peti mati yang tebal.

"Brakkk!"

Papan tebal itu bobol dan berlobang ditembus telapak tangannya, kemudian dipasanglah sebatang bambu panjang yang sudah dilubangi.

"Pejamkan matamu agar jangan kemasukan debu!"

Kata kakek itu sambil mengangkat tutup peti mati dan menutupkannya.

Dunia lenyap bagi Kwi Hong.

Ketika ia mengintai dari balik bulu matanya, yang tampak hanya hitam pekat!

Ia merasa betapa peti mati di mana ia berbaring terlentang itu bergerak, kemudian turun ke bawah.

Dia sudah diturunkan ke dalam lubang!

Memang kakek itu sendiri yang menurunkannya dan kini batang bambu itu menjadi lubang hawa yang lebih tinggi daripada lubang tanah itu, dua jengkal lebih tinggi.

Bu-tek Siauw-jin memasuki petinya yang kecil, menutupkan petinya dari dalam dan peti itu dapat bergerak sendiri, meloncat ke dalam lubang, persis di samping peti mati Kwi Hong!

Anak buahnya yang sudah tahu akan kewajiban mereka, cepat menguruk lubang itu dengan tanah galian sampai dua buah peti itu tertutup sama sekali dan tempat itu berubah menjadi segunduk tanah di mana tersembul keluar sebatang bambu kecil yang panjangnya sejengkal dari gundukan tanah.

Itulah bambu yang menjadi lubang angin atau lubang hawa, penyambung hidup Kwi Hong!

Adapun kakek sinting itu sama sekali tidak menggunakan bambu untuk lubang hawa.

Belasan orang Pulau Neraka itu lalu beristirahat agak jauh dari "kuburan"

Itu, karena kalau kakek itu sedang berlatih seperti itu, sama sekali tidak boleh diganggu dan mereka harus menjaga kuburan itu agar tidak ada yang berani mengusiknya.

Akan tetapi mereka pun tidak berani menjaga terlalu dekat, karena kakek sinting ini benar-benar aneh dan galak sekali, dan biarpun berada di dalam peti mati yang sudah dikubur, agaknya masih dapat mendengar percakapan mereka yang di atas!

Karena itu, mereka lebih "aman"

Menjaga di tempat yang agak jauh, akan tetapi siang malam mereka bergilir menjaga dan memperhatikan kuburan itu.

Dapat dibayangkan betapa ngeri dan takutnya hati Kwi Hong.

Dia mendengar suara berdebuknya tanah bergumpal-gumpal yang jatuh menimpa peti matinya, sampai akhirnya yang terdengar hanya suara gemuruh tidak jelas lagi.

Kemudian sunyi, sunyi sekali dan yang tampak hanyalah hitam pekat di sekelilingnya dan di tengah-tengah, tepat di atasnya, terdapat sebuah bulatan sinar yang menyilaukan mata.

Dia tidak tahu benda apa itu, setelah ia meraba-raba dengan tangannya, barulah ia mengerti bahwa sinar bulat itu adalah sebuah lubang, lubang dari batang bambu yang tentu saja menembus keluar tanah kuburan dari mana cahaya matahari masuk bersama hawa.

Makin ngeri hati Kwi Hong.

Lubang bambu itu merupakan gantungan nyawanya!

Kalau lubang itu tertutup....

ihh, dia bergidik dan mendadak saja napasnya terasa sesak sekali, seolah-olah hawa di dalam peti mati telah habis dan lubang itu telah tertutup!

"Kakek sinting....!"

Dia memaki gemas.

"Kalau engkau menipuku dan aku sampai mati di sini, aku akan menjadi setan dan belum puas hatiku kalau setanku belum mencekik lehermu sampai putus!"

Tiba-tiba terdengar suara, jelas akan tetapi terdengar seperti amat jauh, suara dari balik kubur!

"Uwaaahhh, ganas sekali engkau!

Belum menjadi setan sudah demikian ganas, apalagi kalau benar-benar menjadi setan!

Kwi Hong, engkau muridku, aku Gurumu, mana mungkin Guru mencelakakan murid?

Kau lihat, ada tabung bambu untuk hawa segar.

Bernapaslah dalam-dalam, pejamkan matamu, dan dengarkan baik-baik, kita mulai berlatih pernapasan, samadhi dan menghimpun sin-kang dari hawa inti sari bumi...."

Dengan penuh perhatian Kwi Hong mendengarkan suara kakek itu yang terdengar jelas sekali, mendengarkan cara-cara berlatih pernapasan yangg istimewa, kemudian mencobanya dalam praktek dengan petunjuk-petunjuk suara kakek itu.

Dia bukan saja dilatih pernapasan yang amat aneh, juga dilatih untuk bernapas di dalam ruang tertutup di bawah tanah!

"Jangan memandang ringan latihan ini, muridku.

Tahukah mengapa kami tokoh-tokoh dan datuk-datuk Pulau Neraka melakukan latihan ini?

Terciptanya dari keadaan yang memaksa kami.

Bayangkan saja keadaan Pulau Neraka pada ratusan tahun yang lalu, sebelum semua kesukaran dapat ditaklukkan seperti sekarang ini.

Hidup di permukaan pulau merupakan hal yang mustahil apalagi kalau ular-ular dan semua binatang berbisa mengamuk, rawa-rawa mengeluarkan hawa beracun dan terbawa angin menyapu seluruh permukaan pulau!

Terpaksa nenek moyang kami mencari tempat persembunyian di dalam tanah!

Namun masih saja diancam bahaya oleh ular-ular dan kelabang-kelabang berbisa.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanyalah mengubur diri hidup-hidup dan terciptalah cara berlatih seperti ini!

Mengapa dilakukan dalam sebuah peti mati?

Karena dari sebuah peti kunolah di-temukan ilmu-ilmu rahasia yang kami miliki.

Ketika seorang di antara nenek moyang kami bersembunyi di dalam tanah dengan mengubur diri hidup-hidup, melindungi tubuhnya dalam sebuah peti mati kuno yang ditemukan di dalam tanah ketika dia menggali lubang, dia menemukan ukiran-ukiran dan coretan-coretan di dalam peti mati itu yang ternyata adalah ilmu-ilmu rahasia yang agaknya ditinggalkan oleh nenek moyang Bu Kek Siansu yang kebetulan mati dikubur di Pulau Neraka!

Nah, setelah kau tahu akan riwayat singkatnya, belajarlah baik-baik karena sesungguhnya, biarpun sifatnya berbeda, namun pada dasarnya ilmu-ilmu Pulau Neraka adalah satu sumber dengan ilmu-ilmu Pulau Es."

Dengan tekun dan kini sama sekall tidak berani memandang rendah kepada kakek sinting itu, Kwi Hong diam-diam memusatkan perhatiannya dan mentaati semua petunjuk kakek itu, berlatih dengan penuh ketekunan dan penuh ketekatan, tidak merasa ngeri atau takut lagi karena dia sudah menyerahkan mati hidupnya di tangan kakek yang menjadi gurunya itu.

Sebetulnya apakah yang terjadi dengan orang-orang Pulau Neraka?

Mengapa mereka berada di situ dan bagaimana pula dengan Lulu yang menjadi Ketua Pulau Neraka?

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pasukan pemerintah menyerbu Pulau Neraka dan melihat bahwa Pulau Neraka itu sudah kosong, Pasukan pemerintah yang amat besar jumlahnya itu lalu membakar pulau itu.

Para penghuni Pulau Neraka telah lebih dahulu disingkirkan oleh Lulu, diajak mengungsi meninggalkan pulau dan karena Lulu maklum bahwa pulau-pulau di sekitar tempat itu tidak aman bagi anak buahnya, maka dia memimpin rombongan perahu yang dipakai mengungsi itu ke pantai di sebelah barat pulau.

Puteranya, Wan Keng In, pada waktu ter-jadi penyerbuan itu, tidak berada di pulau karena memang puteranya itu pergi bersama gurunya yang belum pernah dijumpai Lulu.

Ketika perahu-perahu yang ditumpangi oleh hampir seratus lima puluh orang penghuni Pulau Neraka itu tiba di pantai, ternyata Wan Keng In telah berada di tepi pantai, berdiri tegak dan bertolak pinggang dengan sikap angkuhnya.

"Ibu, kulihat dari jauh asap mengepul di pulau kita dan sekarang ini Ibu hendak membawa anak buah kita ke mana? Apa yang telah terjadi?"

"Pulau kita diserbu pasukan pemerintah. Untung aku telah menduganya terlebih dahulu dan membawa anak buah melarikan diri,"

Jawab Lulu.

"Ahh, mengapa melarikan diri? Mengapa Ibu tidak memimpin anak buah melawan? Sungguh memalukan sekali, lari terbirit-birit seperti serombongan pengecut. Bukankah Pulau Neraka sebagai sarangnya orang-orang berilmu tinggi?"

Lulu memandang puteranya dengan marah.

"Enak saja mencela! Engkau sendiri mengapa tidak datang melihat pulau kita terancam? Bagaimana kita mampu melawan pasukan pemerintah yang jumlahnya seribu orang lebih? Dan pasukan itu dipimpin oleh orang-orang berilmu tinggi seperti Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, pendeta India Maharya, kedua orang pendeta Lama dari Tibet, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, dan masih banyak lagi panglima yang lihai."

"Ibu adalah Ketua Pulau Neraka, masa takut menghadapi mereka?"

Keng In membantah. Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari tepi pantai.

"Ha-ha-ha, Ketua boneka seperti Ibumu mana mungkin mampu menandingi mereka, muridku? Engkaulah yang dapat menandingi Koksu itu dan kaki tangannya!"

Lulu cepat membalikkan tubuhnya dan melihat seorang kakek tua setengah telanjang berjalan terbungkuk-bungkuk dari dalam air laut!

Mula-mula yang tampak hanya tubuh atas sepinggang, makin lama air makin dangkal dan makin tampaklah tubuhnya, akhirnya dia berjalan dengan tubuh tertutup cawat dan kaki telanjang, berjalan terbungkuk-bungkuk di atas pasir menghampiri mereka sambil tertawa-tawa.

Melihat kakek ini, serta-merta semua orang Pulau Neraka mengeluarkan seruan kaget dan ketakutan, lalu mereka menjatuhkan diri berlutut dan menelungkup, tidak berani mengangkat muka apalagi memandang!

Melihat ini, Lulu dapat menduga bahwa tentu orang inilah yang dimaksudkan oleh puteranya, yaitu orang pertama dari Pulau Neraka yang berjuluk Cui-beng Koai-ong.

"Orang tua, agaknya engkau yang berjuluk Cui-beng Koai-ong. Kalau engkau menganggap aku Ketua Boneka, mengapa selama itu engkau diam saja? Karena engkau takut terhadap Pendekar Super Sakti, maka engkau hendak menggunakan aku sebagai umpan? Kakek yang sombong dan pengecut, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani mengambil anakku sebagai murid tanpa minta ijin kepada aku yang menjadi Ibunya!"

"Ibu, jangan....!"

Wan Keng In berseru kaget ketika melihat ibunya menerjang maju dan menyerang kakek aneh itu dengan sebuah pukulan yang amat dahsyat.

Memang Lulu sudah marah sekali, maka begitu dia menyerang, dia telah menggunakan jurus simpanan dan mengerahkan tenaga Swat-im Sin-ciang di tangan kiri dan tenaga Hwi-yang Sin-ciang di tangan kanan.

Dua tenaga inti yang berlawanan ini, yang kiri dingin yang kanan panas, adalah tenaga inti mujijat yang dahulu dia latih bersama kakak angkatnya di Pulau Es.

"Desss! Dessss!"

Hebat bukan main benturan pukulan kedua tangan wanita sakti itu, akan tetapi kakek setengah telanjang yang menangkis kedua pukulan itu dengan dorongan tangan, hanya terdorong mundur tiga langkah saja sambil terkekeh-kekeh mengejek!

Hal ini membuat Lulu menjadi makin penasaran dan sambil mengeluarkan suara melengking dia sudah menerjang lagi dengan pengerahan tenaga yang lebih hebat.

"Ibu, jangan! Kau takkan menang!"

Keng In kembali mencegah, akan tetapi ibunya tidak mempedulikan seruannya, dan pemuda ini pun tidak dapat berbuat sesuatu karena ibunya sudah melancarkan serangannya dengan amat cepat dan dahsyat kepada Cui-beng Koai-ong yang nemandang dengan mulut menyeringai.

"Heh-heh, Ibumu sudah bosan hidup, muridku. Kalau dia ingin mati, jangan dilarang, jangan dihalangi, biarlah!"

Kakek itu berkata dan ejekan ini tentu saja membuat Lulu menjadi makin penasaran dan marah.

"Plak! Plek!"

Kedua telapak tangan Lulu kini bertemu dengan kedua telapak tangan kakek itu, melekat dan terjadilah kini adu tenaga sakti yang amat dahsyat antara kedua orang ini.

Dari dua pasang telapak tangan yang saling melekat itu, keluarlah asap seolah-olah empat buah tangan itu sedang terbakar!

"Suhu, harap jangan bunuh Ibu...."

Wan Keng In berkata memohon gurunya karena dia maklum bahwa ibunya tentu akan celaka kalau melanjutkan perlawanannya terhadap kakek yang amat sakti itu.

Akan tetapi, kedua orang sakti yang sedang mengadu tenaga itu, mana sudi mendengarkan kata-kata Keng In yang kebingungan?

Lulu sudah marah sekali, merasa terhina dan dia mengerahkan seluruh sin-kangnya untuk menyerang kakek itu, Sedangkan Cui-beng Koai-ong yang wataknya sudah terlalu aneh, tidak lumrah manusia lagi itu, terkekeh-kekeh senang karena maklum bahwa wanita itu tentu akan tewas di tangannya.

Sementara itu, para anggauta Pulau Neraka yang menyaksikan pertandingan hebat itu, memandang dengan mata terbelalak.

Mereka itu suka dan tunduk kepada Lulu yang selama ini menjadi ketua mereka, akan tetapi mereka pun amat takut kepada Cui-beng Koai-ong.

Yang paling bingung adalah Wan Keng In.

Pemuda ini menjadi pucat wajahnya.

Untuk menghentikan pertandingan adu nyawa itu, dia merasa tidak sanggup dan tidak berani, akan tetapi kalau tidak dihentikan, tentu ibunya akan tewas!

Ingin dia menangis saking bingungnya, dan dia hanya dapat membujuk dan mohon kepada gurunya dan ibunya menghentikan pertandingan itu.

Kini Lulu maklum bahwa sesungguhnya, puteranya tidak sombong kalau mengatakan bahwa ilmu kepandaian kakek itu hebat bukan main.

Setelah kedua tangannya melekat pada kedua tangan kakek itu, dia merasa betapa seluruh tenaga sin-kangnya tersedot dan tidak berdaya, bahkan kini kedua telapak tangannya terasa panas seperti terbakar, tanpa dia mampu menariknya atau melepaskannya dari telapak tangan lawan.

Rasa nyeri yang hebat mulai terasa oleh tangannya, namun Lulu mengerahkan seluruh daya tahannya dan tidak mau memperlihatkan rasa nyeri, tidak mau menyerah kalah dan mengambil keputusan untuk melawan sampai mati!

Asap yang mengepul dari kedua tangannya kini bukan hanya uap dari hawa sin-kang, melainkan asap dari telapak tangannya yang mulai terbakar dan terciumlah bau yang hangus dan sangit!

"Suhu, harap maafkan Ibuku....!"

Wan Keng In berseru dan berlutut di depan kaki gurunya. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki kiri, tubuh Keng In terlempar dan gurunya berkata.

"Jangan ikut campur! Kalau wanita ini bosan hidup, dia akan mati di tanganku, ha-ha-ha!"

Lulu merasa betapa kedua tangannya panas sekali dan tenaga sin-kangnya makin lama makin menjadi lemah, tubuhnya mulai gemetar dan dia maklum bahwa dia tidak akan dapat bertahan lama lagi.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

"Ha-ha-ha, Twa-suheng sungguh keterlaluan! Orang sudah berjasa, menggantikan kita memimpin anak buah kita, tidak diberi hadiah malah hendak dibunuh. Dia seorang wanita lagi, apakah tidak memalukan?"

Tahu-tahu muncullah seorang kakek yang pendek sekali, yang matanya lebar dan begitu dia berada di situ, kakek ini dari belakang menepuk punggung Lulu dan melanjutkan kata-katanya.

"Engkau tidak lekas pergi dari sini mau menanti apa lagi?"

Begitu punggungnya ditepuk, Lulu merasa ada tenaga yang amat hebat menyerbu dari punggungnya, melalui kedua lengannya sehingga lenyaplah tenaga menyedot dari Cui-beng Koai-ong dan begitu dia menarik kedua tangannya, tubuhnya terjengkang ke belakang seperti didorong.

Lulu cepat berjungkir balik, memandang kedua telapak tangannya yang sudah menjadi hitam terbakar, matanya kini memandang ke kiri, ke arah kakek pendek yang telah menolongnya.

"Apakah engkau yang bernama Bu-tek Siauw-jin?"

Tanyanya secara langsung, sedikitpun tidak menaruh hormat karena biarpun kakek ini sudah menyelamatkan nyawanya, namun tetap saja dia adalah tokoh Pulau Neraka yang telah mempermainkannya, membiarkan dia menjadi Ratu Boneka!

"Ha-ha-ha, selamat bertemu, Toanio!

Aku memang seorang yang tidak terhormat, seorang siauw-jin sehingga tidak berharga untuk bertemu dengan Toanio.

Sebelum saat ini, Suhengku paling suka membunuh orang, harap Toanio suka memaafkannya."

Muka Lulu menjadi merah sekali.

Berhadapan dengan kedua orang kakek yang demikian aneh sikap dan wataknya, dia merasa seperti menjadi seorang anak kecil yang tidak berdaya sama sekali.

"Keng In, hayo kita pergi!"

Bentaknya kepada puteranya yang kini berdiri sambil menundukkan mukanya.

"Maaf, Ibu. Aku tidak bisa pergi meninggalkan Suhu. Aku masih mempelajari ilmu dan.... menurut Suhu...., aku ditunjuk untuk memimpin anak buah Pulau Neraka."

"Wan, Keng In! Engkau anakku! Engkau harus taat kepadaku. Hayo kita pergi meninggalkan setan-setan ini!"

Lulu membentak lagi.

"Aku tidak mau pergi, Ibu."

Keng In membantah.

"Kau...., lebih berat kepada mereka ini daripada kepada Ibumu?"

"Maaf, Ibu. Kita sudah banyak menderita, sudah banyak terhina. Kini aku memperoleh kesempatan menerima ilmu yang tinggi dari Suhu agar kelak dapat kupergunakan untuk membalas orang-orang yang telah membuat Ibu menderita. Bagaimana Ibu akan dapat menghadapi kekuatan Pulau Es kalau aku tidak memperdalam ilmuku?"

"Ha-ha-ha! Ibumu tidak memusuhi Pulau Es, muridku. Biarpun dia telah menderita karena Pendekar Siluman, ternyata dia masih belum dapat melupakan pria yang dicintanya itu. Bahkan dia baru-baru ini membantu Pulau Es ketika diserbu pasukan. Ha-ha-ha, mana kau tahu akan isi hati wanita, biarpun wanita itu Ibumu sendiri?"

Cui-beng Koai-ong berkata.

"Hayaaaa! Twa-suheng, urusan orang lain perlu apa kita mencampurinya? Suheng sendiri sudah bersumpah tidak akan mengambil murid, kini tahu-tahu Suheng telah mempunyai seorang murid. Apa artinya ini?"

Bu-tek Siauw-jin mencela suhengnya yang tertawa-tawa tadi.

"Siauw-jin! Engkau mau apa mencelaku? Aku mengambil murid atau tidak, kau ada hak apa mencampurinya? Kalau suka boleh lihat kalau tidak suka boleh minggat!"

"Bagus! Kalau Twa-suheng melanggar sumpah, aku pun tidak takut melanggarnya! Kita sama-sama lihat saja, murid siapa kelak yang lebih hebat! Toanio, puteramu telah menjadi murid Cui-beng Koai-ong, biar kau larang juga akan percuma saja. Lebih baik kau pergi meninggalkan kami, karena kalau sekali lagi Twa-suhengku yang manis ini turun tangan terhadapmu, biarpun aku sendiri akan sukar untuk menyelamatkan nyawamu."

"Dia benar.... dia benar...., pergilah!"

Cui-beng Koai-ong mengomel.

Diam-diam Lulu bergidik.

Puteranya telah menjadi murid seorang manusia iblis seperti itu, yang selain amat sakti juga amat aneh wataknya.

Dipandangnya sepintas lalu kedua orang kakek itu seberti orang-orang yang gila.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi mereka, maka setelah sekali lagi memandang ke arah puteranya yang tetap menundukkan muka, Lulu segera meloncat dan lari pergi meninggalkan tempat itu.

Hanya satu tujuan hidupnya sekarang, yaitu mencari Suma Han dan mohon pertolongan kakak angkatnya juga satu-satunya pria yang dicintanya itu, untuk turun tangan menyelamatkan puteranya dari cengkeraman iblis-iblis itu!

Demikianlah, setelah Lulu meninggalkan orang-orang Pulau Neraka yang telah kehilangan pulau itu, para anak buah Pulau Neraka menganggap Keng In sebagai Ketua mereka, menggantikan kedudukan ibunya, sedangkan dua orang kakek itu tetap saja menjadi tokoh-tokoh yang ditakuti dan ditaati, tidak hanya oleh semua orang Pulau Neraka, juga oleh Ketuanya!

Bu-tek Siauw-jin, kakek pendek yang biarpun terhitung sute dari Cui-beng Koai-ong namun memiliki ilmu kepandaian yang sama tingkatnya dan diam-diam dikagumi dan disegani oleh suhengnya itu, lalu pergi sambil menyuruh lima belas orang anak buah membawa sebuah peti mati kosong untuk berlatih di tempat yang akan dipilihnya sendiri.

Secara kebetulan sekali, di tengah jalan kakek ini bertemu dengan Kwi Hong yang dianggapnya berjodoh untuk muridnya, apalagi setelah kakek pendek ini tahu bahwa gadis itu adalah keponakan dan juga murid Pendekar Super Sakti.

Karena kalah dalam pertarungan, juga karena dia sendiri memang ingin memperoleh ilmu-ilmu yang lebih tinggi, Kwi Hong menjadi miurid Bu-tek Siauw-jin, berlatih secara menyeramkan, yaitu di dalam peti mati berdekatan dengan peti mati gurunya yang baru, menerima gemblengan-gemblengan ilmu mengatur napas, samadhi dan mengumpulkan sin-kang secara luar biasa, mengambil inti sari daya sakti bumi!

Dia melatih diri dengan tekun, dengan tekad membulat mempertaruhkan nyawa!

Ilmu samadhi dan menghimpun hawa daya sakti bumi yang dilatih oleh Bu-tek Siauw-jin dan kini dia ajarkan kepada Kwi Hong adalah sebuah ilmu yang mujijat.

Sesungguhnya latihan inilah yang mendatangkan kekuatan sin-kang yang tidak lumrah dalam diri Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, dua orang tokoh Pulau Neraka yang selalu menyembunyikan diri itu.

Ilmu mujijat ini disertai dengan ilmu silat Inti Bumi yang amat dahsyat pula, yang diciptakan oleh seorang tokoh Pulau Es yang karena kesalahan dibuang di Pulau Neraka.

Orang sakti ini menjadi sakit hati dan putus harapan maka dia "membunuh diri"

Dengan jalan mengubur dirinya hidup-hidup di dalam sebuah peti mati di Pulau Neraka.

Akan tetapi, rasa penasaran dan dendam di hatinya membuat dia sebelum mati, menciptakan ilmu mujijat ini dan dicoret-coretnya ilmu ciptaannya di ambang kematian itu di sebelah dalam peti matinya!

Kebetulan sekali seorang kakek pimpinan Pulau Neraka yang menyembunyikan diri untuk membebaskan diri dari ancaman binatang-binatang berbisa dan hawa berbisa di Pulau Neraka, mendapatkan peti mati di dalam tanah itu dan membaca tulisan dan ukiran di dalam peti, maka berhasillah dia menguasai ilmu itu yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya sehingga yang terakhir menjadi ilmu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin!

Hanya kedua orang inilah yang memiliki ilmu ini, bahkan mendiang sute mereka Kwi-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek sendiri tidak memiliki ilmu ini.

Tidak sembarang orang dapat menguasai ilmu silat dan menghimpun tenaga sakti Inti Bumi itu karena caranya berlatih amat menyeramkan dan memperta-ruhkan nyawa.

Wan Keng In sendiri yang banyak menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Cui-beng Koai-ong, masih belum berani melatih diri dengan ilmu mujijat itu.

Kwi Hong yang berwatak berani mati dan nekat secara kebetulan sekali kini menjadi orang ke tiga di dunia ini yang melatih diri dengan Ilmu Inti Bumi!

Para anak buah Pulau Neraka yang menjaga di tanah kuburan itu, tidak berani mengganggu, bahkan mendekat saja mereka tidak berani.

Mereka sudah mengenal dua orang datuk Pulau Neraka yang amat mereka takuti itu, karena bagi dua orang datuk itu, apalagi Cui-beng Koai-ong, membunuh manusia seperti membunuh nyamuk saja, dan watak mereka sukar sekali diikuti.

Mereka maklum bahwa sebelum kakek pendek itu keluar dari dalam tanah, mereka harus menjaga dengan mati-matian agar jangan sampai kuburan itu diganggu orang.

Kalau kakek dan muridnya yang baru itu sudah keluar dari dalam tanah, barulah mereka bebas dari tugas berat ini, kecuali tentu saja kalau ada perintah baru dari kakek pendek yang aneh itu.

Pada malam hari ke tiga, orang-orang Pulau Neraka itu menjadi terkejut ketika melihat munculnya serombongan orang yang mereka kenal sebagai orang-orang Thian-liong-pang!

Rombongan itu terdiri dari delapan belas orang dipimpin oleh seorang dara remaja yang cantik jelita dan yang mereka kenal sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang, dan seorang laki-laki tinggi besar yang lengan kirinya buntung dan berwajah menyeramkan.

Laki-laki berlengan satu ini wajahnya muram dan sinar matanya berkilat, orangnya pendiam akan tetapi sikap semua anggauta rombongan amat hormat kepadanya, bahkan puteri Ketua Thian-liong-pang sendiri kelihatan bersikap manis kepadanya.

Orang ini adalah seorang tokoh baru yang telah berjasa mengorbankan tangannya untuk Thian-liong-pang sehingga Ketua perkumpulan itu menaruh penghargaan kepadanya dan menurunkan ilmu yang dahsyat kepadanya, yang membuat dia bahkan lebih lihai daripada sebelum lengan kirinya buntung!

Dia adalah Kiang Bok Sam yang lengan kirinya buntung oleh Pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In dan kini telah menjadi seorang lihai sekali dengan lengan kanannya.

Nirahai telah menurunkan Ilmu Sin-to-ciang (Telapak Tangan Golok Sakti) kepadanya sehingga lengannya itu lebih lihai daripada lengan kiri mendiang Su Kak Houw yang berjuluk Toat-beng-to itu.

Dengan ilmu-ilmunya yang baru dia terima dari Ketuanya sebagai pembalas jasanya mengorbankan lengan kiri, kini dia menjadi orang ke dua sesudah Tang Wi Siang di Thian-liong-pang.

Bahkan dibandingkan Sai-cu Lo-mo, dia masih lebih berbahaya karena sambaran tangan kanannya atau permainan tongkat kuningan dengan tangan tunggalnya selalu mendatangkan maut bagi setiap orang lawannya.

Orang-orang Pulau Neraka yang se-dang bertugas menjaga "kuburan"

Bu-tek Siau-jin dan muridnya yang sedang berlatih di bawah tanah, tidak berani mencari perkara dengan orang-orang Thian-liong-pang yang mereka tahu merupakan lawan yang amat lihai.

Rombongan Pulau Neraka ini dipimpin oleh Kong To Tek dan Chi Song, dua orang tokoh Pulau Neraka yang bermuka merah muda yang pernah diutus oleh Ketua mereka mengunjungi Thian-liong-pang untuk menguji kepandaian para pimpinan Thian-liong-pang dan secara mudah dirobohkan oleh "ketua"

Thian-liong-pang yang di luar tahu mereka pada waktu itu dipalsukan Gak Bun Beng.

Maka kini melihat munculnya tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang dipimpin oleh puteri Ketua Thian-liong-pang sendiri, mereka memberi isyarat dengan kedipan mata kepada para anak buahnya agar tetap berdiam di tempat persembunyian mereka dan tidak mengganggu orang-orang Thian-liong-pang yang kini berkumpul dan beristirahat di sebuah bangunan kuburan kuno tidak jauh dari tempat persembunyian orang-orang Pulau Neraka.

Tadinya rombongan Pulau Neraka mengira bahwa rombongan Thian-liong-pang itu hanya lewat dan kebetulan beristirahat saja di tanah kuburan itu, akan tetapi ternyata bahwa sampai malam tiba, mereka tidak pergi dari situ, bahkan membuat api unggun dan berjaga sambil bercakap-cakap, seolah-olah mereka itu dalam keadaan siap menghadapi musuh!

Melihat sikap orang-orang Thian-liong-pang itu, gelisah hati rombongan Pulau Neraka.

Mereka ingin sekali melihat datuk mereka menghabiskan atau menghentikan latihannya agar mereka bebas tugas dan mereka dapat memilih dua kemungkinan, yaitu menggempur orang-orang Thian-liong-pang atau meninggalkan tempat itu.

Sekarang mereka merasa serba salah.

Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang Thian-liong-pang itu, dan tidak tahu apakah musuh-musuh lama itu sudah tahu akan kehadiran rombongan Pulau Neraka atau belum.

Dalam keadaan bersembunyi dan tidak menentu ini mereka merasa tidak enak hati sekali.

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai tampak berseri mengusir embun pagi yang menyelimuti hutan dan sebidang tanah kuburan di anak bukit itu, tampaklah tujuh orang hwesio tua dengan langkah tenang dan wajah serius memasuki tanah kuburan dan langsung berhadapan dengan rombongan Thian-liong-pang.

"Bagus sekali, kiranya Thian-liong-pang sudah siap menanti di tempat ini! Ternyata Thian-liong-pang masih merupakan sebuah perkumpulan besar yang suka memegang janjinya!"

Seorang di antara para hwesio tua itu, yang bertubuh kurus bermuka tengkorak dan berjenggot hitam, tangan kiri memegang tasbih, tangan kanan memegang hud-tim (kebutan) berkata dengan tenang.

"Thian-liong-pang selamanya memegang janji dan sejak dahulu adalah perkumpulan besar yang tiada bandingnya!"

Milana berkata nyaring sambil manyapu tujuh orang hwesio itu dengan sinar matanya yang lembut.

"Memenuhi permintaan para sahabat di dunia kang-ouw untuk mengadakan pertemuan, kami menggunakan tempat yang sunyi ini agar di antara kita dapat bicara dan bergerak tanpa mengacaukun manusia lain karena di sini yang tinggal hanyalah orang-orang mati. Nah, setelah kami yang mewakili Ketua Thian-liong-pang berada di sini dan Cu-wi Losuhu sudah dutang, apakah kehendak Cu-wi mengajukan tantangan kepada pihak kami untuk mengadakan pertemuan?"

Seorang hwesio berjenggot putih yang berwajah lembut melangkah maju, memandang kepada Milana dan teman-temannya, lalu berkata.

"Omitohud...., seorang dara remaja yang lembut menyambut kami sebagai wakil Thian-liong-pang! Nona, di manakah Ketua Thian-liong-pang sendiri? Mengapa mewakilkan urusan besar kepada seorang gadis muda seperti Nona?"

Milana cepat menjura dengan hormat, hatinya tidak enak menghadapi sikap hwesio yang agung dan penuh wibawa, juga amat halus itu.

Seringkali dia terpaksa merasa canggung dan tertekan batinnya dalam memenuhi tugas dalam Thian-liong-pang atas perintah ibunya.

Biarpun ia tahu bahwa ibunya bukan orang jahat, dan Thian-liong-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah, namun kadang-kadang sikap keras hendak menang sendiri dari perkumpulan yang di-pimpin ibunya, membuat gadis yang memiliki dasar watak halus itu merasa canggung dan tidak enak.

"Harap Lo-suhu suka memaafkan, Thian-liong-pangcu tidak dapat sembarangan hadir dalam setiap pertemuan, apalagi kami lihat bahwa Ketua Siauw-lim-pai sendiri pun tidak datang memimpin rombongan Siauw-lim-pai. Oleh karena itu, Ketua kami mewakilkan kepada kami yang bertanggung jawab penuh akan segala keputusan dalam pertemuan yang diadakan di tempat ini."

Hwesio itu mengangguk-angguk, namun pada wajahnya yang halus itu masih terbayang ketidakpuasan hatinya.

Siauw-lim-pai adalah sebuah perkumpulan atau partai persilatan yang besar dan terkenal sekali, sekarang rombongan Siauw-lim-pai yang terdiri dari tokoh-tokoh bukan tingkat rendah, hanya di-sambut oleh seorang gadis muda Thian-liong-pang!

"Omitohud, Nona yang muda pandai bicara.

Bolehkan pinceng mengetahui, kedudukan apa yang Nona miliki di Thian-liong-pang?"

"Nona kami adalah puteri Pangcu, kalian ini hwesio-hwesio tua terlalu ba-nyak bicara! Nona kami wakil Pangcu dalam pertanggungan jawab, akan tetapi aku Kiang Bok Sam juga berhak mewakili Pangcu menghadapi orang-orang yang banyak cerewet!"

Tiba-tiba Si Lengan Buntung itu sudah meloncat maju dan tangan tunggalnya sudah melintangkan toyanya di depan dada, sepasang matanya mendelik dan sikapnya menakutkan.

Para hwesio kelihatan tercengang dan hwesio tua itu cepat berkata.

"Omitohud...., maafkan pinceng yang tidak tahu bahwa Nona adalah puteri Thian-liong-pangcu sendiri! Kalau begitu, kami merasa terhormat sekali. Pinceng adalah Ceng Sim Hwesio, murid kepala dari Suhu yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai."

"Harap Lo-suhu suka menceritakan apa yang dikehendaki oleh Siauw-lim-pai maka menuntut agar diadakan pertemuan dengan pihak kami."

Milana cepat bertanya mendahului Bok Sam yang ia tahu amat keras wataknya dan biarpun jarang bicara, sekali mengeluarkan suara, dapat mengejutkan dan menyinggung perasaan hati orang!

"Sudah bertahun-tahun Siauw-lim-pai mendengar akan sepak terjang Thian-liong-pang yang menyinggung perasaan dunia kang-ouw, menculik tokoh-tokoh kang-ouw, merampas kitab pelajaran dan pusaka partai-partai lain...."

"Akan tetapi kami selalu menjaga agar tidak mengganggu Siauw-lim-pai yang kami pandang sebagai perkumpulan sahabat!"

Milana cepat membantah.

"Sedangkan mengenai urusan dengan tokoh-tokoh dan perkumpulan lain, mengenai peminjaman kitab atau pusaka, kami rasa tidak ada sangkut pautnya dengan pihak Siauw-lim-pai seperti juga kami tidak pernah mencampuri urusan dalam Siauw-lim-pai sendiri."

Ceng Sim Hwesio, murid kepala Ketua Siauw-lim-pai, Ceng Jin Hosiang, menarik napas panjang dan melanjutkan kata-katanya yang dipotong oleh nona muda itu.

"Tepat sekali ucapan Nona dan kenyataannya pun kami pihak Siauw-lim-pai tidak pernah mencampuri urusan itu, bukan? Akan tetapi semenjak pertemuan yang menghebohkan di Pegunungan Ciung-lai-san, terjadilah hal-hal yang dilakukan oleh Thian-liong-pang dan sekali ini karena menyangkut persoalan negara dan rakyat, terpaksa kami harus mencampurinya!"

"Harap Lo-suhu suka memberi penjelasan!"

Milana berkata halus akan tetapi nyaring karena dia merasa tersinggung juga mendengar bahwa perkumpulan ibunya dicela orang lain.

"Terus terang saja pinceng katakan bahwa Siauw-lim-pai telah mendengar akan sepak terjang Thian-liong-pang yang merendahkan dirinya menjadi kaki tangan Pemerintah Mancu! Dengan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah untuk menindas bangsa sendiri, hal ini sungguh bertentangan dengan kegagahan dan berarti salah menggunakan perkumpulan Thian-liong-pang untuk menjadi penjilat dan pengkhianat."

Si Lengan Buntung mencelat maju, akan tetapi Milana membentak nyaring.

"Kiang-lopek, mundur dan jangan turun tangan sebelum ada perintah!"

Si Lengan Buntung mendelik kepada para hwesio itu, akan tetapi tanpa membantah ia melangkah mundur, sedangkan para anggauta Thian-liong-pang lainnya sudah marah dan bersiap turun tangan begitu ada perintah.

"Lo-suhu, kata-kata Lo-suhu agaknya terdorong oleh nafsu amarah dan Lo-suhu belum menyelidiki terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang kurang baik terhadap perkumpulan kami. Kami tidak akan mengingkari kenyataan bahwa kami membantu pemerintah dalam menghadapi para pemberontak. Bukankah hal itu berarti bahwa Thian-liong-pang membersihkan kaum pemberontak yang akan mengacaukan keadaan dan yang hanya akan memancing timbulnya perang yang menyengsarakan penghidupan rakyat jelata? Ataukah.... mungkin Siauw-lim-pai bahkan memihak pemberontak yang jelas terdiri dari orang-orang yang mengejar kedudukan, perampok-perampok yang berkedok pejuang?"

Muka para hwesio berubah merah dan pandang mata mereka mengandung kemarahan. Namun suara hwesio tua itu masih halus ketika dia berkata.

"Perjuangan melawan penjajah, di manapun juga di dunia ini, adalah perjuangan kaum patriot pembela bangsa dan tidak boleh dikotori dengan tuduhan keji memakai dalih apapun juga. Kami tidak bersekutu dengan kaum patriot dan pe-juang yang kalian anggap sebagai pemberontak, akan tetapi kami pun tidak sudi untuk menjadi kaki tangan pemerintah mencelakakan bangsa sendiri yang berjuang menurut keyakinan dan kebenaran mereka sendiri. Kami hanya minta kepada Thian-liong-(Lanjut ke

Jilid 29) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 pang, mengingat bahwa Thian-liong-pang adalah parkumpulan orsng gagah, untuk mundur dan jangan mambunuhi rakyat dan bangsa sendiri."

Tentu saja hati Milana manjadi panas mendengar ucapan itu, betapapun juga baik kata-kata itu diatur dan dikeluarkan dengan halus.

Dia tidak dapat menyelami kebenaran kata-kata itu, tidak dapat merasakan alasan yang dikemukakan oleh Ceng Sim Hwesio.

Bagaimana ia dapat merasakan kebenaran itu kalau dia sama sekali tidak merasa bahwa pemerintah yang sekarang adalah pemerintah penjajah?

Dia sendiri adalah cucu Kaisar!

Di dalam pandangannya, bangsa Mancu adalah bangsa yang berhak dan patut memimpin seluruh Tiongkok karena telah menunjukkan kebesaran dan kelebihannya!

Mana bisa disamakan atau dibandingkan dengan bangsa pemberontak yang hanya terdiri dari perampok kasar itu?

Dia percaya sepenuhnya bahwa pemerintah Kerajaan Ceng-tiauw membawa rakyat kepada kemakmuran dan kemajuan, sedangkan para pemberontak itu hanya akan mencari kesempatan menggendutkan perut sendiri dengan membawa nama rakyat dan perjuangan untuk menghalalkan kejahatan mereka!

"Ceng Sim Hwesio, sebagai wakil Siauw-lim-pai engkau minta kepada Thian-liong-pang untuk mundur dan tidak bolah membantu pemerintah membersihkan para pemberontak, dan sebagai wakil Thian-liong-pang saya menjawab bahwa Siauw-lim-pai tidak boleh mencampuri urusan kami sendiri.

Kami menolak permintaannmu itu, dan kami akan tetap melanjutkan tugas kami membersihkan kaum pemberontak, bukan semata-mata untuk membantu pemerintah, melainkan terutama sekali untuk menjauhkan rakyat daripada kekacauan dan peperangan baru yang ditimbulkan oleh kaum pemberontak!"

"Kalau begitu, Thian-liong-pang menentang kepada Siauw-lim-pai!"

Hwesio bermuka tengkorak yang memegang kebutan dan tasbeh berkata.

Sikapnya tidaklah sehalus Ceng Sim Hwesio dan mata di dalam tengkorak itu mengeluarkan sinar berkilat.

"Habis, engkau mau apa?"

Si Lengan Satu sudah membentak lagi, toya di tangan kanannya diputar-putar sehingga terdengar suara angin bersuitan.

"Terserah akan pendapat Siauw-lim-pai terhadap sikap kami, akan tetapi Thian-liong-pang tidak akan tunduk terhadap siapapun juga dalam menentukan sikap akan urusan kami dengan pemerintah!"

Milana berkata.

"Omitohud! Sejak dahulu Thian-liong-pang memang ganas dan tinggi hati. Agaknya karena semua tokohnya memiliki ilmu kepandaian tinggi!"

Kata Ceng Sim Hwesio yang mulai panas hatinya.

"Ilmu kepandaian curian semua!"

Kembali hwesio muka tengkorak berkata mengejek.

"Cu-wi Lo-suhu dari Siauw-lim-pai! Bukan kami yang mengundang kalian, melainkan Siauw-lim-pai yang menuntut pertemuan ini. Akan tetapi ternyata Siauw-lim-pai memperlihatkan sikap tidak bersahabat. Karena itu, karena kami yang menyediakan tempat ini, berarti kami menjadi pihak pemilik tempat dan kalian adalah tamu. Sekarang kami persilakan kalian pergi dari sini, pertemuan telah selesai!"

Milana berkata marah.

"Omitohud, benar-benar Thian-liong-pang tidak memandang sebelah mata kepada Siauw-lim-pai!"

Ceng Sim Hwesio berkata.

"Setelah kedua belah pihak bertemu, bicara tanpa ada hasilnya, tidak boleh kita menyia-nyiakan kesempatan ini untuk saling menguji sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian masing-masing. Biarpun kami hanya bertujuh dan jumlah kalian dua kali lebih banyak, kami tidak akan mundur dan kami tantang Thian-liong-pang mengadakan pertandingan menguji ilmu kepandaian sebagai penutup pertemuan ini!"

"Bagus! Siapa takut kepada tujuh ekor kerbau gundul?"

Bok Sam meloncat sambil memutar toyanya.

"Trang-trangg....!"

Bunga api berpijar ketika toya itu bertemu dengan tombak pendek yang berada di tangan seorang hwesio yang menangkis toya itu.

Hwesio tua bertubuh tinggi besar itu terhuyung mundur dengan wajah pucat karena merasa betapa dari toya itu keluar tenaga dahsyat yang membuat kedua lengannya tergetar dan kuda-kudanya tergempur!

"Kiang-lopek!

Harap mundur dulu!

Aku tidak perkenankan tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang gagah perkasa melakukan pengeroyokan!

Mereka hanya bertujuh, aku membutuhkan enam orang pembantu saja untuk menghadapi mereka!"

Milana lalu menyebutkan nama enam orang pembantu yang dipilihnya, termasuk Si Lengan Buntung, kemudian bersama enam orang pembantunya ia menghadapi para hwesio Siauw-lim-pai sambil melintangkan pedang di depan dada dan berkata.

"Ceng Sim Hwesio, apa yang kalian kehendaki sekarang?"

"Omitohud! Kiranya Thian-liong-pang masih menjaga nama baik dan memiliki kegagahan! Kouwnio (Nona) yang perkasa, biarlah pertemuan ini kita akhiri dengan menguji kepandaian masing-masing sehingga akan lengkaplah pelaporan kami kepada Ketua kami."

"Bagus sekali. Majulah, jumlah kita sekarang sama!"

Kemudian dia menoleh kepada para pembantunya.

"Kalian ingat baik-baik, pertandingan ini hanya sekedar menguji ilmu. Aku tidak perkenankan kalian turun tangan membunuh. Cukup kalau sudah mengalahkan orang-orang tua yang keras kepala ini!"

"Orang-orang Thian-liong-pang yang sombong! Sambutlah serangan kami!"

Ceng Sim Hwesio membentak, memberi isyarat kepada rombongannya dan tujuh orang hwesio itu sudah menerjang maju.

Yang mempelopori adalah hwesio tua ini.

Senjatanya hanya kedua lengan bajunya yang lebar, namun sepasang senjata ini amatlah dahsyatnya, tidak kalah oleh senjata-senjata lain karena begitu kedua tangannya bergerak, ujung lengan baju yang panjang itu merupakan senjata yang menyambar kuat sekali, panjangnya lebih dari satu kaki di depan tangannya.

"Wuuuut.... wuuuutttt!"

Kedua lengan bajunya itu menerjang ke arah Milana.

Ketika dara ini dengan gerakan yang gesit sekali mengelak dengan sebuah loncatan ke belakang kemudian membalik, tahu-tahu dia melihat bahwa pemimpin rombongan, hwesio itu telah dihadapi oleh Bok Sam dengan putaran toyanya sehingga Ceng Sim Hwesio cepat memutar kedua ujung lengan bajunya dan terjadilah pertandingan seru di antara mereka.

Milana tersenyum, maklum bahwa pembantunya yang paling lihai ini tentu saja turun tangan menandingi hwesio yang dianggapnya paling ampuh dan lihai di antara rombongan lawan sehingga nona muda puteri Ketuanya itu tidak akan bekerja terlalu keras!

Terpaksa Milana melayani seorang hwesio lain, yang bertubuh tinggi besar dan yang bersenjata sepasang tombak pendek, yaitu hwesio yang tadi menangkis toya Si Lengan Buntung.

Namun lawan ini terlalu lemah baginya dan dalam belasan jurus saja Milana sudah mendesak sepasang tombak pendek itu sehingga lawannya hanya dapat mengelak dan sibuk menangkis dengan sepasang senjatanya seolah-olah di tangan Milana bukan terdapat sepasang pedang melainkan banyak sekali yang membuat hwesio itu kewalahan.

Sementara itu, lima orang hwesio lainnya sudah pula bertanding melawan lima orang pembantu Milana dan terjadilah pertandingan yang seru di tanah kuburan.

Melihat bahwa ternyata anggauta Thian-liong-pang yang berada di situ sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka, rombongan Pulau Neraka kini menjadi lega hatinya dan menonton pertandingan sambil bersembunyi.

Mereka diam-diam merasa kagum sekali kepada puteri Ketua Thian-liong-pang dan Si Lengan Buntung yang ternyata hebat bukan main.

Pertandingan antara Bok Sam yang buntung lengan kirinya melawan Ceng Sim Hwesio merupakan pertandingan yang paling seru dan seimbang, dibandingkan dengan pertandingan lain di antara kedua rombongan itu.

Biarpun lengannya hanya sebuah, namun toya yang diputar di tangan kanan itu benar-benar dahsyat sekali gerakannya sehingga Ceng Sim Hwesio yang amat lihai itu pun tidak mampu mendesaknya dengan kedua ujung lengan bajunya, bahkan hwesio tua itu kelihatan terkejut sekali dan bersilat dengan amat hati-hati.

Hwesio-hwesio Siauw-lim-pai terkenal memiliki ilmu silat yang tinggi, dengan dasar yang kokoh kuat dan boleh dikata di antara semua ilmu silat yang sesungguhnya bersumber satu itu, ilmu silat Siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang masih dekat dengan sumbernya, masih murni dibandingkan dengan cabang-cabang persilatan lain.

Hal ini adalah karena para pengembang ilmu silat Siauw-lim-pai terdiri dari hwesio-hwesio yang berwatak bersih, jujur dan tekun serta setia kepada pelajaran guru-guru mereka.

Berbeda dengan cabang persilatan lain yang mengalami perubahan karena tokoh-tokohnya terdiri dari orang-orang kang-ouw atau petualang yang banyak merantau sehingga di sana sini mereka menemukan cara-cara baru yang mereka masukkan dalam ilmu silat mereka sehingga makin lama, biarpun ilmu mereka banyak yang menjadi aneh dan bermacam-macam coraknya, juga tidak kalah lihainya, namun makin menjauh dari dasar atau sumbernya.

Karena inilah, maka ilmu silat Siauw-lim-pai menjadi ilmu silat yang tertua dan yang paling aseli, tidak berubah semenjak ratusan tahun yang lalu.

Ceng Sim Hwesio adalah murid kepala dari Ketua Siauw-lim-pai pada waktu itu.

Tentu saja dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

Sebetulnya, dibandingkan dengan Bok Sam, baik mengenai kematangan latihan maupun tingkat kepandaian, hwesio ini tidak kalah bahkan lebih unggul dan lebih matang, juga tenaga saktinya tidak kalah kuat.

Akan tetapi, lawannya itu telah memperoleh gemblengan khusus dari Ketua Thian-liong-pang, dan ilmu yang dimilikinya adalah ilmu golongan hitam yang mempunyai banyak gerakan-gerakan mengandung tipu daya yang aneh-aneh dan tidak dikenal oleh seorang pendeta yang mengutamakan kejujuran seperti Ceng Sim Hwesio.

Ketika dengan gerakan yang kuat sepasang lengan baju hwesio itu menyambar ke arah toya yang menyerang, Melibat kedua ujung toya itu dengan sepasang lengan bajunya untuk merampas senjata lawan, secara tak terduga dan tiba-tiba, Si Lengan Satu itu melepaskan toyanya dan menggunakan kesempatan selagi lawan tidak bebas karena kedua lengan dipakai untuk berusaha merampas toya, tangan kanan yang mempunyai ilmu dahsyat "telapak tangan golok"

Itu telah membabat ke arah pundak Ceng Sim Hwesio!

Hwesio tua itu terkejut sekali.

Dari sambaran hawa pukulan tangan kanan itu dia dapat menduga bahwa lawannya memiliki pukulan ampuh yang berbahaya sekali.

Untuk menangkis, tidak keburu lagi karena kedua tangannya tidak bebas, sepasang ujung lengan bajunya sudah melibat toya, maka jalan satu-satunya baginya hanyalah miringkan tubuh dan menerima hantaman tangan miring itu dengan pangkal bahunya yang berdaging sambil mengerahkan sin-kangnya.

"Desss!"

Hebat bukan main pukulan tangan miring dari Bok Sam ini.

Dia telah menerima latihan khusus dari Ketua Thian-liong-pang dan kekuatan tangan tunggalnya itu amat dahsyat.

Bukan seperti tangan yang mengandung tenaga sin-kang biasa yang dapat memecahkan batu karang, akan tetapi tangan kanan Bok Sam ini dapat dipergunakan seperti sebatang golok yang tajam, dapat mematahkan senjata lawan dan dapat dipakai membacok putus leher manusia!

Ketika tangan yang dihantamkan miring itu bertemu dengan pangkal lengan Ceng Sim Hwesio yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat sehingga menjadi kebal, tubuh hwesio itu tergetar hebat dan biarpun dia tidak terluka karena "bacokan"

Tangan itu dilawan oleh sin-kangnya, namun dia roboh terpelanting, libatan kedua ujung lengan bajunya pada toya terlepas dan toya itu telah dirampas kembali oleh Bok Sam yang menggunakan toya untuk menodong dada hwesio yang sudah rebah terlentang.

"Pinceng sudah kalah, perlu apa menodong dan mengancam? Kalau mau bunuh, lakukanlah, pinceng tidak takut mati!"

Kata Ceng Sim Hwesio yang merasa terhina dengan penodongan toya di atas dadanya itu.

Milana yang sudah merobohkan lawannya dan sedang meloncat ke atas sebuah kuburan untuk menyerang hwesio muka tengkorak yang ternyata telah merobohkan dua orang pembantunya berturut-turut cepat berseru.

"Kiang-lopek! Jangan lancang membunuh!"

Bok Sam tentu saja tidak berani melanggar larangan puteri ketuanya.

Dia menodong hanya untuk membuktikan keunggulannya saja, maka kini ujung toyanya bergerak cepat menotok jalan darah di pundak Ceng Sim Hwesio, mem-buat hwesio itu mengeluh dan tak dapat bergerak lagi.

Sementara itu, hwesio muka tengkorak yang memegang kebutan dan tasbih, ternyata dengan gerakan kebutannya telah berhasil merobohkan pula seorang anggauta Thian-liong-pang yang tadi menerjangnya dengan sebatang pedang, gerakan hwesio ini hebat sekali, dan begitu memandang, tahulah Bok Sam bahwa hwesio kurus itu ternyata jauh lebih lihai daripada Ceng Sim Hwesio!

Hwesio kurus itu telah merobohkan tiga orang temannya dan seorang lagi telah roboh oleh hwesio lain.

Kini di pihak Thian-liong-pang hanya tinggal dia, puteri Ketuanya, dan seorang pembantu lagi, yaitu Su Kak Liong yang masih bertanding seru melawan seorang hwesio pendek bersenjata toya.

Biarpun dia lihai, Su Kak Liong terdesak juga oleh dua orang pengeroyoknya.

Milana sudah menerjang hwesio kurus yang bersenjata hud-tim dan tasbih, dikeroyok oleh hwesio itu dan seorang hwesio lain yang bersenjata pedang.

Karena percaya akan kelihaian Milana, Bok Sam membiarkan Milana menghadapi dua orang pengeroyoknya dan dia sendiri cepat meloncat ke depan membantu Su Kak Liong.

Begitu Si Lengan Buntung ini maju, keadaan berubah sama sekali.

Hwesio pendek yang bersenjata toya sama sekali bukan tandingan Si Lengan Buntung, biarpun senjata mereka serupa dan hwesio itu mengguna-kan kedua tangannya untuk mainkan senjatanya.

Dalam belasan jurus saja, hwesio pendek itu tak kuat bertahan iagi, toyanya patah menjadi dua dan dia roboh dengan sambungan lutut terlepas karena hantaman toya lawan.

Juga hwesio muda yang bersenjata golok sudah roboh oleh Su Kak Liong, terluka pundaknya.

Bok Sam cepat meloncat dan membantu Milana yang masih dikeroyok dua.

Ternyata hwesio kurus bermuka tengkorak itu benar-benar lihai sekali.

Permainan kombinasi sepasang senjatanya yang aneh memiliki gerakan-gerakan aneh dan tenaga sin-kang yang terkandung dalam gerakan senjata-senjatanya amat kuat.

Kebutan di tangan kanan itu kadang-kadang lemas dan dipergunakan untuk membelit pedang untuk merampasnya, akan tetapi kadang-kadang dapat menjadi keras dan kaku bulu-bulunya sehingga dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Sedangkan tasbihnya menyelingi gerakan kebutan dengan sambaran-sambaran ke arah kepala lawan.

Milana terkejut dan tertarik sekali.

Dia sudah mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai maka dia menjadi heran sekali ketika melihat bahwa dasar ilmu silat hwesio kurus ini jauh berbeda dengan Siauw-lim-pai, bahkan mendekati ilmu silat dari barat!

Setelah kini Bok Sam maju membantunya dan menghadapi hwesio yang ber-senjata pedang, Milana mendapat kesempatan untuk menghadapi hwesio muka tengkorak itu satu lawan satu dan dengan mengerahkan gin-kangnya yang luar biasa, Milana dapat memancing hwesio itu mengeluarkan semua jurus-jurusnya yang sama sekali bukan ilmu silat Siauw-lim-pai.

Tiba-tiba untuk kesekian kalinya, tasbih menyambar dari udara, mengeluarkan bunyi bersuitan.

Tasbih itu telah dilepas oleh tangan kiri hwesio kurus, dan melayang-layang seperti seekor burung me-nyambar ke arah kepala Milana.

Dara ini tidak menjadi gugup.

Tadi pun dia pernah diserang seperti itu dan ketika ia mengelak, tasbih itu dapat kembali ke tangan lawan!

Kini dia sengaja menggunakan pedangnya menangkis dengan hantaman miring dari samping ke arah tasbih sambil membagi perhatian ke depan karena selagi tasbih itu melayang turun, hud-tim di tangan kanan lawannya juga tidak tinggal diam, bahkan mengirim penyerangan cepat sekali.

"Cringgg!"

Milana terkejut karena tangkisan itu membuat tangannya tergetar dan ternyata bahwa tasbih itu tidak tertolak oleh tangkisannya, melainkan terus melibat pedangnya.

Kiranya tasbih itu dilempar dengan gerakan berputar sehingga ketika ditangkis terus melibat!

Padahal pada saat itu kebutan di tangan kanan hwesio itu telah meluncur datang, ujung kebutan bergerak cepat sekali seolah-olah berubah menjadi banyak dan mengirim totokan Secara bertubi-tubi ke arah jalan-jalan darah di bagian depan tubuh Milana dan pinggang ke atas.

"Wuuuuttt.... singgg!"

Milana menggunakan gin-kangnya, tubuhnya mencelat ke atas, pedang dikelebatkan dengan pengerahan sin-kang sehingga tasbih yang melilit pedangnya itu terlepas menyambar ke depan, menangkis ke arah kebutan.

"Wuuuut!"

Dengan lihainya hwesio kurus itu menggerakkan kebutan menangkap tasbihnya, dan sudah siap untuk menerjang lagi sambil diam-diam memuji ketangkasan dara itu.

"Tahan!"

Tiba-tiba Milana membentak sambil melintangkan pedangnya di depan dada.

"Siapa engkau? Aku yakin bahwa engkau bukanlah seorang hwesio tokoh Siauw-lim-pai!"

Hwesio itu tersenyum mengejek, kemudian memandang kepada enam orang hwesio yang semua telah roboh terluka.

Hwesio berpedang yang tadinya membantu dia mengeroyok Milana, telah roboh pula di tangan Bok Sam yang kini sudah berdiri dengan memegang toya tegak lurus di depannya, siap untuk menerjangnya.

Enam orang temannya sudah kalah semua, tinggal dia seorang, sedangkan di pihak Thian-liong-pang masih ada tiga orang termasuk nona muda yang amat lihai dan Si Lengan Buntung yang juga lihai sekali itu.

"Pinceng Mo Kong Hosiang memang bukan seorang tokoh Siauw-lim-pai, akan tetapi pinceng adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai. Pinceng datang dari barat dan mendengar akan sepak terjang Thian-liong-pang yang telah merendahkan diri menjadi kaki tangan pemerintah penjajah, pinceng dan para sahabat ini...."

"Aihh, kiranya engkau seorang pemberontak dari Tibet, bukan?"

Milana memotong, dan hwesio itu kelihatan terkejut.

"Bagaimana Nona dapat menyangka demikian?"

"Aku mengenal gaya bahasamu dan dasar gerak silatmu. Tibet sudah takluk, akan tetapi banyak tokohnya diam-diam masih ingin memberontak. Tentu engkau adalah seorang di antara mereka yang ingin memberontak, maka kini engkau menghasut para Lo-suhu dari Siauw-lim-pai untuk menentang kami. Hemm, Mo Kong Hosiang, karena engkau bukan orang Siauw-lim-pai, maka urusan antara engkau dan kami lain lagi. Engkau seorang pemberontak dan sudah menjadi tugas kami untuk membasmi pemberontak."

"Ha-ha-ha, perempuan sombong! Kau kira pinceng takut....?"

Baru sampai di sini ucapannya, terdengar suara gerengan keras dan Bok Sam telah menerjang maju dengan dahsyat, menggerakkan toyanya menusuk ke arah dada hwesio kurus itu.

Mo Kong Hosiang cepat mengelak sambil menggerakkan hud-tim di tangannya yang menyambar dari samping ke arah lambung Si Lengan Buntung.

Serangan berbahaya ini dapat dielakkan oleh Bhok Sam dan segera terjadi pertandingan hebat antara kedua orang itu.

Sekali ini, pertandingan terjadi lebih he-bat daripada tadi karena kalau tadi masing-masing pihak masih menjaga agar jangan sampai menjatuhkan pukulan maut kepada pihak lawan, kini kedua orang ini bertanding dengan niat membunuh!

Milana sudah mengukur tingkat kepandaian hwesio kurus itu, maka kini ia mengerutkan alis menyaksikan kelancangan Bok Sam yang terlalu berani turun tangan.

Dia maklum bahwa pembantu ibunya itu memiliki ilmu yang boleh diandalkan, akan tetapi dia khawatir kalau pembantu ibunya itu bukan tandingan Mo Kong Hosiang yang amat lihai.

Biarpun hatinya tidak senang menyaksikan kelancangan dan kekerasan hati Bok Sam, namun karena dia tahu bahwa Si Buntung ini mendahuluinya bukan hanya karena keras hati akan tetapi juga karena menyayangnya menghadapi lawan tangguh, Maka di lubuk hatinya Milana merasa tidak tega dan tidak mau membiarkan Si Lengan Buntung itu menghadapi bahaya maut.

Diam-diam ia bersiap sedia untuk menolong apabila pembantu ibunya itu terancam bahaya.

Kiang Bok Sam bukan seorang bodoh.

Begitu terjadi saling serang beberapa jurus saja, tahulah dia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai, sama sekali tidak boleh disamakan dengan Ceng Sim Hwesio.

Gerakan hud-tim itu membingungkan hatinya karena amat cepat dan aneh, selain itu, juga hud-tim yang kadang-kadang lemas kadang-kadang kaku itu membuat dia sukar sekali menduga gerakan serangan lawan.

Namun, dia tidak menjadi jerih dan toyanya diputar amat cepatnya ketika dia membalas dengan serangan-serangan maut yang tidak kalah hebatnya.

Permainan toyanya yang khusus diturunkan oleh Ketua Thian-liong-pang kepadanya memang dahsyat sekali, apalagi di balik toya ini tersembunyi lengan tunggal yang memiliki keampuhan luar biasa.

Toya ini selain merupakan senjata, juga merupakan semacam kedok yang menyembunyikan senjatanya yang paling utama dan ampuh, yaitu tangan kanannya.

Lawan biasanya akan memandang rendah apabila dia kehilangan toyanya, dan hal ini pun tadi telah mengakibatkan robohnya Ceng Sim Hwesio.

Mo Kong Hosiang maklum bahwa lawan yang berbahaya adalah Si Buntung ini dan nona muda itu, maka dia harus dapat merobohkan seorang di antara mereka baru dia mempunyai harapan untuk keluar dari pertandingan dengan selamat.

Maka kini melihat gerakan toya Si Lengan Buntung, dia memandang rendah.

Si Buntung ini memang amat cepat dan kuat sin-kangnya, namun masih jauh ka-lau dibandingkan lawannya dengan nona muda yang cantik itu.

Dia harus dapat mengalahkan lawannya dengan cepat.

Tiba-tiba hwesio kurus itu mengeluarkan suara bentakan melengking sehingga ter-kejutlah lawannya karena bentakan ini mengandung tenaga khi-kang yang menggetarkan jantung.

Pada saat itu, hud-tim di tangan Mo Kong Hosiang meluncur ke depan, menjadi lemas dan telah melibat ujung toya yang tadi menusuk ke arah dadanya, sedangkan tasbih di tangan kirinya sudah dilontarkannya ke atas dan kiri tasbih itu meluncur turun ke arah kepala lawan selagi lawan masih terkejut dan berusaha membetot toyanya.

"Sinngggg.... tranggg!"

Tasbih itu putus dan runtuh ke atas tanah, kesambar pedang yang dilontarkan oleh Milana.

Pedang itu pun runtuh ke atas tanah, akan tetapi telah berhasil menyelamatkan Si Lengan Buntung dari ancaman maut!

Pada saat itu Bok Sam melepaskan toyanya dan hal ini dianggap oleh Mo Kong Hosiang sebagai kemenangan.

Dia berseru girang walaupun tadi kaget melihat tasbihnya runtuh, dengan gerak kilat tangan kirinya menghantam ke arah lawan.

Pukulannya cepat dan keras bukan main sehingga didahului oleh hawa pukulan yang kuat.

Seperti juga Ceng Sim Hwesio, hwesio dari Tibet ini telah salah menduga keadaan lawan.

Disangkanya bahwa Si Lengan Buntung itu hanya mengandalkan toyanya, maka begitu toya terlepas dianggapnya Si Lengan Buntung itu menjadi tak berdaya dan lemah.

Maka hwesio kurus itu hanya tersenyum mengejek ketika Bok Sam menggerakkan lengan tangannya menangkis dengan tangan terbuka miring.

"Krakkkk....!"

Mo Kong Hosiang berteriak kaget setengah mati ketika pergelangan tangannya terasa nyeri dan tulangnya ternyata patah begitu berternu dengan tangan miring lawan.

"Celaka....!"

Dia cepat meloncat ke belakang, lengan kirinya tergantung lumpuh karena tulangnya patah, namun hud-timnya berhasil merampas toya.

Kini dia menggerakkan hud-timnya dan toya itu meluncur seperti anak panah yang besar ke arah Bok Sam!

"Wuuuttt....

wirrrr!"

Tiba-tiba toya yang meluncur itu berhenti dan tertarik ke atas oleh sinar hitam yang meluncur cepat dari tangan Milana.

Kiranya dara perkasa ini telah menggunakan sebatang tali sutera, sebuah di antara senjatanya yang amat lihai, dilontarkannya tali itu dan berhasil menangkap toya!

Kini toya itu telah kembali ke tangan pemiliknya yang mengangguk sebagai tanda terima kasih kepada Milana.

Lontaran toya tadi benar-benar tidak terduga dan amat cepatnya sehingga kalau tidak ditolong Milana, tentu dia akan celaka, setidaknya terluka.

Sambil menggereng seperti seekor harimau terluka, Bok Sam menerjang maju dan terpaksa dilawan oleh Mo Kong Hosiang yang keadaannya tidak berbeda jauh dengan lawannya.

Kalau lawannya itu hanya menggunakan lengan kanan karena lengan kirinya buntung, hwesio Tibet ini pun hanya menggunakan lengan kanan karena lengan kirinya lumpuh dan patah tulangnya.

Maklum bahwa selain terluka parah, juga di samping lawannya yang lihai ini masih terdapat puteri Ketua Thian-liong-pang yang lebih lihai lagi, maka Mo Kong Hosiang berlaku nekat, menubruk maju dengan dahsyat, hendak mengadu nyawa dan mengajak lawannya mati bersama!

Akan tetapi Bok Sam tentu saja tidak suka nekat seperti lawannya karena dia sudah berada di pihak lebih kuat.

Menghadapi terjangan nekat ini, dia mengayun toyanya menangkis dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Desss! Krakkk!"

Hud-tim dan hoya di tangan kedua orang lawan itu patah menjadi dua disusul pekik Mo Kong Hosiang yang roboh terjengkang karena dadanya terkena pukulan tangan kanan Bok Sam yang amat ampuh.

Biarpun dengan sin-kangnya dia masih dapat membuat dadanya kebal, namun getaran hebat membuat jantungnya pecah dan isi dadanya rusak sehingga hwesio Tibet ini tewas seketika!

Milana cepat menyuruh anak buahnya mundur, kemudian dia menghampiri enam orang hwesio Siauw-lim-pai yang sudah bangkit berdiri saling bantu.

Ceng Sim Hwesio berdiri dengan muka pucat.

"Ceng Sim Hwesio, engkau tadi telah mendengar sendiri bahwa kami membunuh Mo Kong Hosiang bukan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai karena menurut pengakuannya sendiri, dia bukan seorang anggauta Siauw-lim-pai. Kami membunuhnya sebagai seorang pemberontak. Adapun Cu-wi Lo-suhu, enam orang anggauta Siauw-lim-pai telah kalah dalam ujian kepandaian melawan kami, hal ini kami rasa sudah sewajarnya, apalagi kalau diingat bahwa yang menantang mengadu ilmu adalah pihak Siauw-lim-pai sendiri. Harap saja Lo-suhu tidak akan memutarbalikkan kenyataan ini dalam laporan Lo-suhu kepada Ketua Siauw-lim-pai."

Ceng Sim Hwesio tersenyum pahit lalu menghela napas panjang.

"Biarpun Mo Kong Hosiang bukan anggauta Siauw-lim-pai, namun dia adalah seorang saudara kami, sudah sepatutnya kalau kami membawa pergi jenazahnya. Tentang urusan antara kita, hemmm.... kami sudah kalah, tidak perlu banyak bicara lagi! Selamat tinggal, mudah-mudahan dalam pertemuan mendatang kami akan lebih berhasil."

Setelah berkata demikian, Ceng Sim Hwesio mengajak anak buahnya pergi sambil menggotong jenazah Mo Kong Hosiang.

Rombongan Pulau Neraka yang bersembunyi sambil menonton, melihat bahwa biarpun pihak Thian-liong-pang memperoleh kemenangan, akan tetapi rombongan itu tidak meninggalkan tempat itu, hanya mengobati empat orang anggauta yang terluka dalam pertandingan tadi.

Bahkan mereka bermalam lagi di tempat itu melakukan penjagaan secara bergiliran.

Kiranya, bukan hanya dari partai persilatan Siauw-lim-pai saja yang datang.

Pada keesokan harinya datang pula rombongan orang-orang kang-ouw yang juga mempunyai niat yang sama dengan rombongan Siauw-lim-pai, yaitu mereka me-nentang Thian-liong-pang yang oleh dunia kang-ouw dianggap telah menyeleweng dari peraturan kang-ouw, yaitu telah mencampurkan diri dengan urusan politik, bahkan telah mengekor dan meng-hambakan diri kepada pemerintah penjajah.

Betapapun juga, partai-partai persilatan besar dan orang-orang gagah di dunia kang-ouw itu biar tidak secara terang-terangan memberontak atau menentang pemerintah penjajah, namun di dalam hati mereka masih berpihak kepada orang-orang yang memberontak terhadap kaum penjajah.

Oleh karena itu, mendengar betapa Thian-liong-pang mem-bantu pihak pemerintah, mengejar-ngejar pemberontak dan membasmi mereka, golongan kang-ouw menjadi marah dan sengaja menentang Thian-liong-pang!

Setiap hari terjadilah pertempuran di tanah kuburan itu dan karena di pihak Thian-liong-pang terdapat Si Lengan Buntung yang amat lihai dan puteri Ketua Thian-liong-pang yang sukar menemui tandingan, maka pihak Thian-liong-pang selalu dapat menang dan mengusir musuh-musuh mereka dengan alasan yang sama seperti yang mereka kemukakan kepada Siauw-lim-pai.

Pihak yang merasa penasaran mereka lawan dengan mengadu kepandaian.

Rombongan Pulau Neraka sekarang mengerti mengapa Bu-tek Siauw-jin, datuk mereka yang aneh sekali wataknya itu memilih tempat ini untuk berlatih!

Kiranya kakek yang tidak lumrah manusia biasa itu agaknya sudah tahu bahwa tempat itu dijadikan gelanggang pertandingan oleh Thian-liong-pang yang menyambut musuh-musuhnya, maka dia sengaja memilih tempat itu yang dianggapnya menarik!

Kalau tidak untuk keperluan ini, apa perlunya kakek itu menyuruh belasan orang Pulau Neraka menggotong-gotong peti mati kosong itu sampai ratusan mil jauhnya?

Padahal untuk latihan itu, di mana-mana pun ada tanah, di mana-mana pun ada tanah kubur-an!

Diam-diam para anak buah Pulau Neraka merasa mendongkol sungguhpun tentu saja tidak berani menyatakan ini, karena mereka berada dalam keadaan serba salah, setiap hari harus menyaksikan ketegangan-ketegangan tanpa berani berkutik.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert