Eps 8 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.
"Sudahlah! Sampai mati aku tidak mungkin dapat berbaik dengan iblis-iblis berwajah manusia macam engkau dan Raja Iblis! Kalau aku tidak dijatuhkan dengan kelicikan dan kecurangan, kalau aku bebas, pertama-tama yang akan kulakukan adalah mencekikmu sampai mampus baru kucari kakek dan nenek iblis untuk kubunuh! Jadi tidak perlu engkau membujuk rayu seperti itu. Bunuh saja kalau mau bunuh!"
Tiba-tiba terdengar suara lirih, terdengar dari jauh akan tetapi jelas sekali.
"Nah, apa kubilang, Siang Hwa. Bocah dari Lembah Naga itu mana mau diajak bekerja sama? Bunuh saja, akan tetapi siksa dulu!"
Itulah suara Ratu Iblis yang agaknya diam-diam mengikuti usaha muridnya untuk membujuk Cia Sun agar suka menjadi pembantu mereka dengan menggunakan kecantikan gadis itu.
"Baik, subo,"
Kata Siang Hwa dengan suara gemas dan kini pandang matanya kepada Cia Sun berobah kelam.
"Akan kusiksa mereka, kubikin mereka mati tenggelam, mati perlahan-lahan!"
Setelah berkata demikian, kedua tangan gadis yang tadi membelai-belai Cia Sun dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, kini mencengkeram pundak pemuda itu dan menariknya turun dari pembaringan, lalu menyeretnya keluar kamar itu.
Cia Sun yang tidak berdaya itu melihat bahwa dia diseret keluar dari dalam bangunan induk menuju ke bangunan belakang yang berada di tempat yang agak tinggi, akan tetapi setelah gadis itu menyeretnya naik dan memasuki bangunan itu, ternyata di dalam bangunan terdapat sebuah anak tangga yang menurun.
Kemudian, sesampainya di sebuah ruangan sempit, Siang Hwa melepaskan cengkeramannya dan dengan pengerahan tenaga, ia memutar sebuah roda besi di sudut.
Terdengar suara berkerotokan dan dua buah batu besar persegi empat yang berada di atas lantai bergerak terbuka ke kanan kiri, memperlihatkan sebuah lubang.
"Nah, mampuslah kau di situ!"
Kata Siang Hwa sambil menendang tubuh Cia Sun yang tak mampu melawan dan tubuh pemuda itu terlempar masuk ke dalam sebuah kolam atau sumur yang sempit.
Dia hanya mengangkat kepala agar tidak sampai terbanting menimpa dasar sumur.
Untung bahwa yang menimpa dasar itu adalah pinggulnya lebih dulu.
"Bukk!"
Agak nyeri rasanya akan tetapi dia tidak terluka.
Kiranya sumur itu tidak sangat dalam, kurang lebih dua meter saja dan kejatuhannya itu disusul dengan menutupnya kembali dua buah batu persegi yang mengeluarkan suara gaduh.
"Ah, kau juga?"
Tiba-tiba terdengar suara teguran.
Cia Sun terkejut dan menengok.
Matanya sudah agak terbiasa dengan keremangan tempat itu dan dia melihat bahwa Ci Kang sudah berada di tempat itu pula, duduk di sudut bersandarkan dinding batu!
Cia Sun tidak memperdulikan orang ini.
Bagaimanapun juga, dia masih merasa mendongkol dan penasaran.
Harus diakuinya bahwa rasa bersaing dengan pemuda inilah yang memaksa dia mengikuti Siang Hwa.
Andaikata tidak ada perasaan itu, mungkin dia akan menolak ajakan Siang Hwa.
Dia bangkit berdiri dan dengan kedua tangannya yang masih ditelikung ke belakang, dia meraba-raba dinding melakukan penyelidikan, dengan kedua kaki yang juga terbelenggu itu mcloncatloncat.
"Sobat, tiada gunanya kau mencari jalan keluar. Sudah sejak tadi aku menyelidiki dan semua dinding ini terbuat dari besi kuat, dan lantai ini batu-batu gunung. Jalan keluar satu-satunya hanyalah batu penutup lubang di atas itu, akan tetapi sudah kucoba pula dan kuatnya bukan main."
Cia Sun menghentikan usahanya dan duduk di sudut, memandang pemuda di depannya itu.
Ci Kang agaknya sudah kehilangan bajunya karena hanya tubuh bagian bawah sajalah yang tertutup celana.
Tubuhnya yang kokoh kuat dengan otot yang melingkar-lingkar itu nampak besar menyeramkan.
Dia sendiri masih untung, pikir Cia Sun, hanya robek saja bajunya, akan tetapi orang itu malah setengah telanjang!
Akan tetapi Ci Kang tidak menjawab, menengokpun tidak, seolah-olah tidak perduli kepada Cia Sun dan masih terus berusaha menggunakan tenaganya untuk mendorong membuka batu penutup lubang jebakan itu ke atas.
Namun, agaknya batu itu terlalu berat baginya dan air terus naik dengan cepatnya.
Dua pendekar muda itu terancam maut dan keadaan mereka amat gawat!
Seperti telah kita ketahui, sudah beberapa pekan lamanya Raja dan Ratu Iblis berada di daerah utara.
Daerah ini sama sekali bukan merupakan daerah asing bagi mereka.
Sama sekali tidak.
Bahkan ketika Raja Iblis masih menjadi Pangeran Toan Jitong, dalam pelariannya dari kota raja, dia bersembunyi di utara.
Gedung itu adalah sebuah istana kuno yang dahulu dipergunakan kaisar untuk melepaskan lelah dan bermalam jika mengadakan perjalanan ke utara, yang amat jarang terjadi.
Dan kaisar yang masih ingat akan pertalian kekeluargaan dengan Pangeran Toan Jitong, diam-diam mengutus orang untuk menyerahkan istana kuno itu kepada Pangeran Toan Jitong.
Maka pangeran pelarian itupun tinggal di dalam istana tua itu.
Istana itu selain kokoh kuat juga mempunyai beberapa tempat untuk tahanan, karena para pengawal kaisar selalu siap dengan mereka yang menentang kaisar, mata-mata musuh ataupun pengacaupengacau.
Tempat-tempat ini oleh Pangeran Toan Jitong diperbaiki dan disempurnakan menjadi tempat-tempat jebakan yang berbahaya.
Ketika dia meninggalkan kota raja sebagai buronan, Toan Jitong sudah berusia tiga puluh tahun lebih, memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi.
Dan ketika dia merantau ke utara dan tinggal di dalam istana kuno itu, Dia memperdalam ilmu-ilmunya dengan menghubungi pertapapertapa dan orang-orang pandai.
Pintar sekali pangeran ini mengambil hati orang-orang pandai sehingga dia berhasil mengumpulkan ilmu-ilmu kesaktian yang aneh-aneh.
Di dalam perantauan inilah dia bertemu dengan seorang gadis puteri seorang pertapa di Pegunungan Gobisan, gadis Thio yang kini menjadi Ratu Iblis.
Gadis itu selain cantik juga memiliki kepandaian tinggi dan setelah mereka menjadi suami isteri, mereka lalu mengadakan perjalanan ke seluruh negeri.
Dengan kepandaian mereka yang tinggi, mereka mencoba dan menandingi semua datuk sesat dan tak seorangpun di antara para datuk itu ada yang mampu mengalahkannya!
Nama Raja dan Ratu Iblis, demikian mereka dijuluki oleh para datuk sesat, menjadi amat terkenal dan ditakuti di kalangan kaum sesat.
Akan tetapi, pangeran ini tinggi hati dan tidak mau merendahkan dirinya untuk bergaul dengan kaum sesat walaupun dia membenci pemerintah dan kaum pendekar pula.
Dia dan isterinya hidup terasing, hanya bertapa dan memperdalam ilmu kepandaian mereka di dalam perantauan mereka sampai jauh ke barat.
Dalam usia setengah tua, Raja dan Ratu Iblis baru kembali ke istana di utara itu dan tinggal di situ.
Mungkin karena kini merasakan ketenteraman hati setelah tidak merantau lagi, Ratu Iblis yang setengah tua itu mengandung!
Hal ini menggirangkan hati Raja Iblis yang kini hidup seperti raja kecil di tempat sunyi, dilayani belasan orang taklukan yang juga rata-rata berkepandaian tinggi.
Akan tetapi dasar watak Pangeran Toan Jitong aneh dan jahat seperti iblis, bahkan mendekati kegilaan, dia mengatakan kepada isterinya bahwa dia ingin anak laki-laki.
"Awas kalau engkau melahirkan anak perempuan,"
Katanya mengancam.
"akan kubunuh anak itu, atau kalau tidak, akan kuambil ia sebagai selirku!"
Biarpun ia sendiri sudah biasa melakukan Hal-hal yang menyeramkan dan juga memiliki dasar watak yang liar dan jahat, akan tetapi hati wanita itu khawatir sekali mendengar ucapan suaminya.
Dan ia tahu betul bahwa suaminya itu bukan hanya mengancam kosong belaka, akan tetapi tentu akan melaksanakan apa yang diancamkannya.
Kalau ia gagal melahirkan seorang putera, kalau yang terlahir itu seorang anak perempuan, tentu akan dibunuh suaminya atau lebih menyakitkan hati lagi, kelak akan menjadi selir suaminya!
Akan tetapi Ratu Iblis bukan seorang bodoh.
Sebaliknya, ia cerdik sekali dan dalam keadaan terancam itu, Jauh hari sebelumnya ia sudah mengatur siasat dan merencanakan penyelamatan bayinya andaikata bayinya itu lahir perempuan.
Ia telah memperoleh seorang pembantu yang akan melaksanakan segala rencananya itu andaikata bayinya terlahir perempuan.
Saat yang dinanti-nantikan itupun tibalah.
Dan untung bagi Ratu Iblis, kelahiran itu terjadi tengah malam sehingga amat memudahkan pelaksanaan siasatnya.
Siasat yang amat keji karena pembantunya itu telah menyingkirkan bayinya yang ternyata terlahir perempuan dan menaruhkan seorang bayi lain, juga bayi perempuan yang diperolehnya dari dalam dusun yang berdekatan.
Menculik bayi itu dan menukarnya dengan bayi yang baru dilahirkan oleh Ratu Iblis!
Dan ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Raja Iblis datang menjenguk, dia hanya mendapatkan seorang bayi perempuan yang sudah mati!
"Ia lahir perempuan dan...
mati?"
Tanyanya.
"Ya, aku membunuhnya. Lebih baik mati di tanganku dari pada di tanganmu,"
Jawab Ratu Iblis sederhana.
Beberapa hari kemudian, setelah Ratu Iblis pulih kembali kesehatannya, secara aneh pembantu itupun tewas pada suatu malam.
Tentu saja yang membunuhnya adalah Ratu Iblis yang merasa khawatir kalau-kalau rahasianya terbongkar.
Setelah ia menyelidiki di mana adanya anak yang ditukarkan itu, ia lalu membunuh si pembantu sehingga rahasia itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri saja.
Demikian besarlah "aku"Nya Ratu Iblis yang selalu mementingkan diri sendiri saja.
Demi menyelamatkan nyawa bayinya, ia tidak segan-segan untuk membunuh lain bayi secara kejam sekali!
Akan tetapi, penyakit seperti yang mencengkeram batin Ratu Iblis inipun agaknya diderita oleh kita semua pada umumnya.
Akan tetapi, setelah isterinya melahirkan seorang anak perempuan yang dibunuhnya sendiri, Raja Iblis menjadi semakin menggila.
Dia ingin sekali memperoleh keturunan terutama seorang putera.
"Kalau kelak aku menjadi kaisar, lalu siapa yang akan menggantikan aku? Aku tidak rela kalau digantikan oleh orang lain!"
Mulailah dia mengambil selir-selir, bahkan Siang Hwa yang menjadi muridnya juga tidak terlepas dari gangguannya, dengan harapan agar dia dapat memperoleh keturunan, terutama keturunan laki-laki dari para selirnya itu.
Akan tetapi, Ratu Iblis yang merasa betapa kedudukannya sebagai "permaisuri"
Akan terancam kalau ada selir yang melahirkan seorang anak laki-laki, Diam-diam mengancam mereka agar mereka itu suka makan ramuan obat yang dibuatnya khusus untuk mencegah kehamilan, dengan ancaman akan membunuh mereka kalau tidak menurut.
Juga Siang Hwa diancam dan dipaksa minum obat itu.
Sebagai balas jasa, juga sebagai penyimpan rahasia ini, Siang Hwa selalu dilindungi oleh Ratu Iblis, bahkan dilindungi dan diperbolehkan pula murid itu berbuat cabul dengan pria mana saja yang disukainya.
Seperti telah kita ketahui, Siang Hwa gagal membujuk Lui Siong Tek, komandan kota Cengtek sehingga ia membunuh komandan itu dan melarikan dokumen penting mengenai keadaan benteng Cengtek.
Ia melarikan diri menemui gurunya dan sementara itu pasukan Ji-ciangkun yang dibantu oleh para tokoh sesat telah berhasil menguasai benteng Sanhaikoan.
Siang Hwa melaporkan peristiwa di Cengtek dan Raja Iblis girang mendengar bahwa komandan kota Cengtek yang setia terhadap pemerintah itu telah tewas.
Siang Hwa lalu diberi tugas untuk melakukan penyelidikan tentang berita bahwa para pendekar hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.
Gadis yang cerdik ini lalu memasang banyak pembantunya untuk menjadi mata-mata, di antara mereka adalah enam orang yang membuka kedai arak itu.
Dan ketika muncul Cia Sun dan Ci Kang yang lihai, hati Siang Hwa menjadi tertarik sekali.
Dengan cepat gadis ini dapat menyelidiki siapa adanya dua orang muda yang tampan dan gagah perkasa itu.
Terkejutlah ia mendengar bahwa mereka itu adalah putera penghuni Lembah Naga dan putera mendiang Iblis Buta.
Timbul niatnya untuk menaklukkan dua orang pemuda itu agar suka menjadi pembantu-pembantu gurunya, dan terutama sekali tentu saja, menarik dua orang pemuda itu menjadi kekasihnya!
Diaturlah siasat yang amat kejam, mengorbankan penghuni dusun yang dirampok dan dibunuh, hanya untuk membuat dua orang itu mudah percaya kepadanya.
Dan akhirnya iapun berhasil menjebak Cia Sun dan Ci Kang sehingga dua orang muda itu terperangkap dan karena mereka berdua menolak bujuk rayu Siang Hwa, kini gadis itu mencari kesenangan dengan jalan menghukum dan menyiksa mereka berdua sampai mati.
Ia merasa yakin bahwa kedua orang pemuda itu sudah pasti akan menemui kematian seperti dua ekor tikus yang tenggelam karena ia tahu bahwa tidak mudah membuka batu-batu penutup lubang yang digerakkan dengan alat rahasia, Tidak mungkin pula membobol dinding yang terbuat dari besi yang melapisi batu gunung!
Dan, direbutnya Sanhaikoan juga mengharuskan Raja dan Ratu Iblis, bersama murid mereka itu untuk cepat-cepat memasuki Sanhaikoan dan menyusun kekuatan di benteng pertama yang berhasil direbut itu.
Oleh karena itu, yakin bahwa dua orang muda itu tentu akan tewas tenggelam dalam lubang yang dialiri air, kakek dan nenek itu bersama Siang Hwa lalu bergegas pergi meninggalkan istana kuno itu yang hanya disuruh jaga beberapa orang anak buah.
Mereka pergi menuju ke Sanhaikoan.
Agaknya memang belum tiba saatnya bagi Cia Sun dan Ci Kang untuk mati sebagai dua ekor tikus yang tenggelam.
Dua kali sudah Cia Sun yang masih terbelenggu itu minta kepada Ci Kang untuk melepaskan belenggunya.
"Bantulah aku melepaskan diri, Ci Kang, agar aku depat membantumu membongkar penutup lubang itu!"
Untuk ketiga kalinya Cia Sun berseru setelah air sudah mencapai dada.
"Hemm, melepaskan diri dari belenggu sendiri saja tidak mampu, apa artinya bantuanmu mendorong batu ini?"
Ci Kang berkata dengan pandang mata merendahkan dan hatinya menjadi semakin penasaran.
Dia belum dapat mengalahkan pemuda yang begini lemah, yang tidak mampu membikin putus belenggu macam itu saja!
Cia Sun menjadi tidak sabar lagi.
Pemuda itu sungguh terlalu memandang rendah dirinya.
"Ci Kang, apakah kau sudah siap mati seperti tikus tenggelam?"
Bentaknya.
"kalau kau tidak mau melepaskan belengguku, tolong kau bebaskan totokanku. Jangan dikira aku tidak mampu membebaskan diri kalau pengaruh totokan sudah punah. Kau lebih banyak mempunyai waktu untuk membebaskan totokanmu dari pada aku, maka jangan kau takabur dan sombong!"
Ci Kang menoleh dan baru dia teringat bahwa adanya Cia Sun tidak mampu melepaskan belenggu itu adalah karena jalan darahnya tertotok.
Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menghampiri Cia Sun dan menotok kedua pundak pemuda itu.
Cia Sun memperoleh lagi tenaga sinkangnya setelah jalan darahnya lancar.
"Mari kita cepat menyatukan tenaga!"
Katanya karena air sudah mencapal leher.
Sebentar lagi mereka akan mati tenggelam kalau tidak cepat memperoleh jalan keluar.
"Mari!"
Kata Ci Kang dan mereka berdua kini berdiri dengan kaki kokoh kuat di atas lantai dan dua lengan mereka menyangga batu penutup lubang, lalu mereka mengerahkan sinkang sekuat tenaga untuk mendorong batu ke atas.
Hebat bukan main tenaga kedua orang pemuda itu.
Batu itu bukan hanya amat berat, akan tetapi juga diikat rantai baja yang dihubungkan dengan alat rahasia yang menggerakkannya.
Akan tetapi kekuatan kedua orang muda itu membuat batu itu mulai bergerak terangkat!
Akan tetapi, ketika batu itu terangkat sedikit, air yang masuk dari celah-celah batu semakin banyak sehingga sebentar saja air sudah sampai ke mulut mereka!
Mereka mengerahkan seluruh tenaga terakhir.
"Brakkkk..."
Bukan batu di atas itu yang terangkat, melainkan lantai yang menjadi landasan kaki mereka yang tentu tertekan dengan hebatnya ke bawah, kini jebol ke bawah!
Dan kedua orang muda itu terjatuh ke dalam lubang baru yang timbul karena jebolnya lantai yang mereka injak, terbawa bersama air yang membanjir ke bawah.
Cepat mereka mengerahkan ginkang dan menyalurkan tenaga ke kulit mereka melindungi diri.
Mereka terjatuh dan terbanting ke atas batu lantai yang jebol tadi, dan kalau bukan mereka berdua yang memiliki kekebalan dan ilmu yang tinggi, tentu setidaknya akan menderita patah tulang atau babak belur.
Mereka cepat berloncatan dan menjauhi air yang masih terjun ke bawah itu.
Dengan tubuh basah kuyup keduanya kini berdiri di dalam ruangan yang amat luas itu, siap menghadapi segala kemungkinan.
Mereka saling pandang dan tidaklah mengherankan kalau ada rasa haru di lubuk hati mereka.
Terharu karena baru saja mereka terlepas dari cengkeraman maut.
Air tadi sudah mencapai mulut dan terlambat satu menit lagi saja mereka akan tewas.
"Siangkoan Ci Kang, kita masih hidup?"
Seru Cia Sun.
Ci Kang mengangguk.
Kalau dia tadi tidak cepat-cepat membebaskan totokan pada tubuh Cia Sun, belum tentu sekarang mereka masih hidup.
"Cia Sun, engkau hebat!"
Dia memuji karena bagaimanapun juga, tanpa bantuan tenaga Cia Sun, tak mungkin lantai itu dapat jebol.
"Sudahlah, tak perlu saling puji. Mari kita selidiki tempat ini!"
Kata Cia Sun sambil memeras air dari rambut dan bajunya.
Mereka lalu menjauhi tempat yang jebol bagian atasnya itu dan tempat itu merupakan ruangan batu yang luas sekali.
"Ssttt... lihat..."
Tiba-tiba Ci Kang berbisik.
Cia Sun cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak.
Tak jauh dari situ dia melihat orang yang melihat pakaian dan tata rambutnya adalah seorang tosu, duduk bersila di atas sebuah batu datar tinggi yang mepet pada dinding batu.
Dilihat dari tempat mereka, tosu yang nampak dari sisi itu berambut panjang, sudah putih semua, pakaiannya juga serba putih dan dia memegang sebuah kebutan berbulu putih pula.
Tentu saja dua orang muda itu siap siaga karena di tempat seperti ini, mereka dapat menduga bahwa tentu tosu itupun merupakan sekutu dari Raja Iblis dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Dengan hati-hati keduanya lalu melangkah menghampiri batu datar itu dan ketika mereka tiba di depan tosu itu, mereka memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan.
Kiranya tosu itu telah menjadi tulang-tulang manusia yang masih duduk bersila, masih berpakaian lengkap!
Mukanya merupakan tengkorak yang menyeramkan, juga kedua tangan yang terjulur keluar dari lengan baju itu merupakan tulang-tulang rangka yang panjang-panjang dengan kuku panjang pula.
Akan tetapi rambut putih panjang itu masih utuh, demikian pula pakaian putih dan kebutan berbulu putih!
Menyeramkan sekali keadaan kerangka manusia berpakaian lengkap itu.
"Ah, hanya kerangka..."
Kata Cia Sun dan suaranya hanya bisikan yang agak gemetar karena dia masih dipengaruhi rasa kaget dan heran, juga serem.
"Ssst, lihat..."
Ci Kang berbisik dan suaranya juga gemetar.
Keduanya terbelalak dengan muka berobah agak pucat ketika melihat betapa tiba-tiba saja kebutan berbulu putih itu bergerak-gerak ke atas!
Ini tandanya bahwa kerangka itu masih hidup dan dapat menggerakkan kebutan!
Bukan itu saja, bahkan tiba-tiba terdengar suara keluar dari dalam tengkorak itu, suara yang melengking tinggi dan terdengar menyeramkan penuh wibawa, bergema di seluruh ruangan luas itu.
"Kalian ini orang-orang lancang dari mana berani mati memasuki dan mengotori tempat ini?"
Cia Sun dan Ci Kang yang terkejut setengah mati itu sejenak saling pandang dengan muka masih pucat.
Mereka sungguh hampir tidak dapat percaya kepada telinga sendiri.
Jelaslah bahwa kerangka manusia itu bukan topeng, melainkan kerangka yang benar-benar terbungkus pakaian.
Akan tetapi kenapa kerangka itu dapat menggerakkan kebutan dan dapat mengeluarkan suara seperti masih hidup?
Karena suara ini jelas adalah suara wanita, mereka lalu menduga bahwa pendeta yang sudah menjadi kerangka ini dahulunya adalah seorang pendeta wanita.
Maka Cia Sun segera menjura dengan sikap hormat.
"Harap locianpwe sudi memaafkan karena tanpa sengaja kami berdua telah memasuki tempat ini..."
"Tiada maaf! Cepat kalian pergi dari sini, kalau tidak akan kucabut nyawa kalian!"
Kerangka itu memotong dan suaranya terdengar galak sekali.
"Heeii!"
Tiba-tiba Ci Kang berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah kerangka itu.
"Lihat, mulutnya tidak bergerak dan kebutan itu gagangnya tidak dipegang oleh tangannya!"
Setelah berkata demikian, dengan cekatan Ci Kang melompat naik melalui lantai tangga yang menuju ke atas batu datar tinggi di mana tengkorak berpakaian itu duduk.
Kiranya selagi Cia Sun tadi bicara kepada kerangka itu, diam-diam Ci Kang memperhatikan dan pandang matanya yang tajam melihat kejanggalan-kejanggalan itu yang membuatnya berteriak dan cepat meloncat ke atas untuk mendekati kerangka itu.
Pada saat itu, dari belakang kerangka itu berkelebatan bayangan putih yang melesat dengan cepatnya sehingga sukar bagi pandang mata untuk mengikutinya.
Akan tetapi Cia Sun dan Ci Kang adalah dua orang muda yang terlatih sejak kecil, dengan pandang mata mereka yang terlatih, mereka dapat melihat bahwa yang berkelebat dari belakang kerangka itu adalah seorang gadis muda yang gerakannya lincah bukan main.
Mereka teringat akan Siang Hwa yang telah memperdayakan mereka, maka dengan marah mereka lalu mengejar dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya.
Gadis yang berpakaian serba putih itu menyelinap ke sudut ruangan yang luas itu, bersembunyi di balik batu yang menonjol.
Ketika dia melihat betapa dua orang pemuda itu melakukan pengejaran dengan gerakan yang cepat, ia lalu mengeluarkan teriakan nyaring.
"Laki-laki kurang ajar dan tidak sopan, jangan dekati aku!"
Tentu saja Cia Sun dan Ci Kang tidak takut oleh gertakan ini.
Mereka menduga bahwa wanita itu Siang Hwa, maka dengan marah mereka mengejar terus hendak menghadapi wanita jahat yang mencelakakan mereka itu.
Akan tetapi, begitu mereka tiba di situ, gadis itu meloncat keluar dari balik batu menonjol dan sinar putih yang amat cepat menyambar ke arah leher Cia Sun dan Ci Kang.
Dua orang pemuda itu terkejut bukan main.
Serangan ini sungguh amat cepat dan tidak terduga sehingga nyaris leher mereka kena totokan ujung kebutan putih yang bertubi-tubi menyerang ke arah leher mereka bergantian.
Untung keduanya cepat melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan ketika mereka turun lagi ke atas lantai, mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sama sekali bukan Siang Hwa!
Dara itu bertubuh kecil ramping, wajahnya agak pucat seperti wajah orang yang kurang memperoleh sinar matahari, akan tetapi sepasang mata itu amat tajam mencorong seperti mata seekor harimau, agaknya mata yang terlatih dalam gelap.
Rambutnya hitam panjang digelung sederhana, wajahnya manis sekali, terutama mulutnya yang kecil dengan bibir yang kelihatan amat merah dengan latar belakang kulit mukanya yang putih agak pucat.
Pakaiannya putih bersih namun potongannya sederhana, seperti pakaian pertapa saja, juga bulu kebutan yang dipegangnya putih bersih, seperti kebutan yang berada di pangkuan kerangka berpakaian itu.
Melihat wajah yang manis itu, agaknya dara ini paling banyak delapan belas tahun usianya, masih amat muda dan bahkan sikapnya masih kekanak-kanakan ketika ia berdiri menghadapi dua orang pemuda itu dengan mata terbelalak, marah dan juga takut atau ngeri melihat tubuh Ci Kang yang telanjang dada itu, suatu penglihatan yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Ia tidak berani memandang dada itu lama-lama dan menundukkan muka, akan tetapi sepasang matanya mengerling penuh kewaspadaan, memperhatikan gerak-gerik dua orang pemuda itu.
Ci Kang dan Cia Sun berdiri memandang, sejenak seperti kehilangan akal karena mereka sungguh tidak mengira bahwa wanita itu bukan Siang Hwa, melainkan seorang gadis muda yang sama sekali tidak mereka kenal.
Akan tetapi, karena gadis ini berada di tempat yang mereka anggap sebagai sarang dari Raja Iblis, tentu saja merekapun menaruh curiga kepada gadis ini.
Apalagi setelah mereka mengalami malapetaka dan nyaris tewas akibat seorang gadis cantik pula.
Dan gadis inipun tadi menyerang mereka dengan amat hebatnya, serangan maut yang kalau tidak cepat mereka elakkan, mungkin dapat membunuh mereka.
Betapapun juga, karena yang mereka hadapi hanya seorang gadis remaja yang kini nampak bingung dan ketakutan seperti seekor harimau yang terkurung, dua orang pemuda itu sendiripun tidak tahu harus berbuat apa.
Tentu saja mereka tidak sudi menyerang gadis yang tidak mereka kenal ini.
"Nona, kenapa engkau menakut-nakuti kami kemudian menyerang kami dengan kebutanmu itu?"
Tanya Cia Sun.
"Karena demikian pesan ibuku..."
Jawab gadis itu, suaranya mardu akan tetapi agak kaku seperti orang yang jarang sekali bicara.
"Pesan ibumu? Untuk membunuh kami?"
"Ya, kalian atau siapa saja yang berani masuk ke sini, terutama laki-laki. Aku... aku tadi tidak tega untuk menyerang kalian, maka hendak mengusir kalian dengan menakut-nakuti, akan tetapi kalian tidak takut..."
Cia Sun dan Ci Kang saling pandang.
Mereka mengerutkan alis.
Gadis ini masih seperti anak-anak saja.
Akan tetapi bagaimanapun juga, ketika mengatakan bahwa ia tidak tega menyerang mereka, menunjukkan bahwa gadis ini tidaklah sejahat Siang Hwa.
"Siapakah ibumu, nona?"
"Ibuku... ya, ibuku, satu-satunya orang yang baik kepadaku, yang Kadang-kadang mengunjungi dan yang melatih ilmu silat, mengajarku membaca dan menulis. Sayang, ibu kini hanya jarang saja dapat mengunjungiku..."
"Akan tetapi, kenapa engkau berada di tempat ini? Dan bagaimana dapat keluar dari sini?"
Cia Sun mendesak.
"Aku berada di sini sejak kecil, aku sudah lupa lagi berapa lamanya... sejak kecil, dan yang menemani aku hanya kerangka itu... dan ibu yang Kadang-kadang datang menjengukku."
"Engkau tidak pernah keluar dari sini?"
Tanya Ci Kang yang juga terheran-heran. Gadis itu menggeleng kepala.
"Tidak diperkenankan ibu. Katanya, kalau aku keluar, aku tentu akan dibunuh orang. Aku hanya dapat mandi cahaya matahari selama beberapa jam saja setiap hari ketika sinar matahari memasuki ruangan belakang melalui sebuah lubang."
"Bagaimana engkau makan? Minum? Dan mandi atau mencuci pakaian?"
Cia Sun bertanya, merasa heran dan kasihan.
"Aku masak sendiri, bahan makanan diberi ibu, banyak sekali."
Gadis itu lalu berjalan perlahan, diikuti dua orang pemuda itu.
Ia memperlihatkan tumpukan bahan makanan di sebuah ruangan lain dan juga adanya sebuah sumber air.
Ada beras, ada daging kering dan bumbu-bumbunya.
Cukup untuk makan berbulan-bulan.
"Akan tetapi, kenapa engkau dikurung di sini? Siapa yang akan membunuhmu kalau kau keluar?"
"Entahlah, ibu hanya bilang bahwa aku tidak boleh bertemu dengan laki-laki. Kalau ada laki-laki masuk ke sini, aku harus membunuhnya. Akan tetapi aku tidak suka membunuh, dan aku sekarang merasa girang sekali dapat bertemu dan bercakap-cakap denganmu..."
Gadis itu memandang wajah Cia Sun dengan mata bersinar-sinar.
"Aku girang tadi tidak sampai membunuhmu!"
"Hemm, jangan dikira mudah membunuh dia atau aku, nona,"
Kata Ci Kang.
"Aku tentu dapat kalau aku mau!"
Gadis itu berkata.
"Kebutanku ini lihai sekali, bahkan ibu sendiri bilang kebutanku akan sukar dilawan olehnya. Lihat..."
Gadis itu menggerakkan kebutannya.
"Tar-tar..."
Ujung batu di langit-langit ruangan itu terkena sambaran ujung kebutan dan hancur menjadi debu!
Diam-diam dua orang pemuda itu kaget dan kagum.
Gadis ini tidak main-main dan ilmu mempergunakan kebutan itu lihai dan berbahaya sekali.
"Siapa yang mengajarmu mainkan kebutan selihai itu?"
Cia Sun bertanya.
Kalau sampai ibu gadis itu sendiri yang katanya mengajarnya silat menyatakan tidak sanggup menandingi kebutan itu, berarti tentu bukan ibu gadis itu yang membimbingnya dalam ilmu menggunakan kebutan itu.
"Guruku dalam ilmu kebutan adalah dia!"
Gadis itu menuding ke arah kerangka manusia berpakaian tosu itu.
Dua orang pemuda itu terkejut dan kini mereka semua kembali, menghampiri kerangka yang masih duduk bersila.
Kini mereka berdua dapat membayangkan betapa lihainya orang ini dahulu ketika masih hidup.
Jelas bahwa orang itu mati dalam keadaan bersamadhi.
Dan hebatnya, biarpun seluruh kulit dan dagingnya telah habis dimakan waktu dan hanya tinggal kerangkanya saja, akan ketapi kerangka itu tetap dalam keadaan duduk bersila dan tidak runtuh.
"Siapakah locianpwe ini...?"
Tanya Ci Kang dengan hati kagum.
"Dia adalah kakek guruku, dia adalah guru terakhir dari ibu dan ayahku."
Gadis itu menjawab tanpa ragu-ragu dan dengan suara mengandung kebanggaan.
Agaknya dara itu merasa bangga sekali kepada kerangka itu yang selain menjadi kakek gurunya, juga menjadi temannya hidup di dalam gua bawah tanah ini.
"Akan tetapi dia... mana bisa mengajarmu? Dia sudah mati lama sekali,"
Kata Cia Sun.
Gadis itu tertawa dan wajahnya yang agak pucat itu nampak manis bukan main.
Sepasang matanya memandang wajah Cia Sun dan berseri-seri.
Agaknya ia dapat mendengar atau merasakan betapa di dalam suara pemuda itu terkandung perasaan iba dan kagum dan hal ini amat manyenangkan hatinya.
"Tentu saja tidak secara langsung. Dia sudah menjadi kerangka ketika aku dibawa ke sini untuk pertama kalinya. Akan tetapi atas petunjuk ibuku, aku mempelajari catatan-catatan dan gambar-gambar yang terukir di atas batu yang berada di belakangnya. Ilmu itu, kata ibu merupakan ilmu rahasia yang tidak pernah diajarkan kepada siapapun, juga tidak kepada ibu, sehingga kini menjadi milikku sendiri."
Dua orang pemuda itu kint dapat menduga bahwa gadis ini bukan orang jahat, dan agaknya tidak ada hubungannya dengan Raja Iblis, Ratu Iblis, maupun Siang Hwa.
Akan tetapi Ci Kang masih belum puas.
"Apakah engkau mengenal seorang gadis bernama Siang Hwa?"
Tanyanya sambil memandang wajah dara remaja itu.
Yang ditanya mengerutkan alisnya seperti orang mengingat-ingat, lalu menggeleng kepala.
"Tentu engkau mengenal Raja Iblis atau Ratu Iblis!"
Ci Kang menyambung tiba-tiba dan pandang matanya penuh selidik mengamati wajah cantik manis itu.
Akan tetapi gadis itu kelihatan geli dan menggeleng kepalanya lagi.
"Kau kira aku ini siapakah mengenal segala iblis? Aku hanya mengenal iblis dan setan dalam dongeng-dongeng ibuku atau cerita-cerita dalam buku-buku yang ditinggalkan ibu untukku."
Cia Sun dan Ci Kang saling pandang, kini yakin bahwa gadis ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga iblis itu.
"Siapakah nama ibumu dan ayahmu, nona?"
Cia Sun bertanya, sikapnya halus dan sopan walaupun dia dapat menduga bahwa gadis ini sejak kecil tidak pernah bergaul dengan manusia lain.
Gadis itu memandang Cia Sun dan seperti tadi, wajahnya berseri dan jelas nampak dari pandang matanya bahwa ia suka dan kagum kepada pemuda itu.
Lalu ia menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah jumpa dengan ayah, dan ibuku tidak pernah memberitahukan nama. Tapi aku... aku benci ayah!"
Cia Sun mengerutkan alisnya.
Seorang gadis yang begini manis dan yang keadaannya amat aneh, menarik perhatian dan rasa ibanya, tidak layak kalau mengeluarkan kata-kata keji seperti itu, kata-kata yang hanya patut keluar dari mulut seorang anak durhaka.
"Nona, tidak baik membenci ayah sendiri."
Dia menegur.
Mendengar nada suara teguran ini, dan melihat betapa pandang mata Cia Sun sedemikian marah dan tidak senang, tiba-tiba saja gadis itu menutupi muka dengan kedua tangan dan menangis!
Tentu saja Cia Sun dan Ci Kang menjadi heran dan tidak tahu harus berbuat apa.
Cia Sun yang merasa bersalah telah menegur orang padahal urusan pribadi nona itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dia, segera maju dan berkata dengan suara menyesal.
"Maafkan aku, nona. Bukan maksudku untuk menegurmu dan menyinggung hatimu, akan tetapi aku tadi hanya merasa heran bagaimana seorang gadis seperti engkau ini dapat membenci ayah sendiri. Kenapa engkau membencinya? Kalau sampai engkau membencinya, tentu dia seorang ayah yang tidak baik!"
Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan sejenak Cia Sun terpesona.
Setelah menangis, ada warna merah pada kedua pipi gadis itu dan kini ia nampak cantik manis sekali, amat menarik hati!
Gadis itu mengusap air mata dari kedua pipinya dengan ujung lengan baju, kemudian memandang Cia Sun.
"Dia... dia mau membunuhku!"
"Apa...?"
Cia Sun benar-benar terkejut mendengar ini.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah berjumpa dengan dia, akan tetapi ibu menekankan kepadaku bahwa aku tidak boleh bertemu dengan orang lain, terutama dengan laki-laki dan lebih-lebih lagi dengan ayahku karena ayahku pasti akan membunuhku kalau bertemu denganku. Karena itulah maka aku dikurung di sini."
Hati Cia Sun tertarik sekali.
Ayah dan ibu gadis ini sungguh merupakan manusia-manusia aneh.
Ibu gadis ini barangkali gila, ataukah ayahnya yang gila?
Ataukah gadis ini sendiri yang miring otaknya?
"Engkau tidak tahu siapa nama ayahmu atau ibumu?"
Gadis itu menggeleng kepalanya.
"Dan namamu sendiri? Siapakah namamu?"
"Ibu memanggil aku Hui Cu."
"She mu...?"
"Apa itu she?"
"Nama keluargamu? Siapakah nama keluarga ayahmu?"
"Aku tidak tahu, tahuku hanya bahwa ibu memanggil aku Hui Cu dan kata ibu usiaku sekarang sudah hampir delapan belas tahun."
Sementara itu, Ci Kang kelihatan tidak sabar melihat betapa Cia Sun asyik bicara dengan gadis ini.
Dia tahu bahwa Cia Sun hanya tertarik oleh riwayat gadis yang amat aneh itu, akan tetapi baginya, hal itu tidak ada sangkut-pautnya sama sekali.
"Sudahlah, mari kita cepat keluar dari sini. Nona, tunjukkanlah jalan keluar dari tempat ini untuk kami,"
Katanya.
Baru teringat Cia Sun bahwa mereka terkurung di dalam gua bawah tanah.
Diapun mengangguk kepada gadis bernama Hui Cu itu sambil berkata.
"Benar, kami perlu cepat keluar dari sini, adik Hui Cu. Tolonglah kami keluar dari sini!"
Hui Cu kelihatan girang sekali dipanggil adik oleh Cia Sun.
Ia tersenyum dan nampaklah giginya berderet putih.
Agaknya, ibu gadis ini tidak lupa untuk memberi pelajaran cara merawat dan membersihkan diri kepada gadis yang hidupnya terkurung dalam gua bawah tanah ini.
"Kau... siapakah namamu?"
Tiba-tiba ia bertanya kepada Cia Sun.
"Namaku Cia Sun dan dia bernama Siangkoan Ci Kang. Nah, adik Hui Cu, tunjukkanlah jalan keluar itu."
"Cia Sun... Cia Sun... kakak Sun, kenapa engkau mau keluar? Kenapa tidak tinggal saja di sini menemani aku?"
Keharuan menyelinap dalam hati Cia Sun. Sungguh patut dikasihani anak ini, pikirnya.
"Tidak mungkin, siauw-moi (adik kecil), tidak mungkin aku tinggal di sini. Aku harus keluar dari sini. Banyak urusan yang harus kuselesaikan. Nah, tunjukkanlah jalan keluar bagi kami."
Gadis itu menggigit bibir, agaknya terjadi pertentangan dalam hatinya, akan tetapi ia mengangguk lalu melangkah menuju ke lorong samping, diikuti oleh Cia Sun dan Ci Kang dari belakang.
Akhirnya gadis itu berhenti di depan sebuah pintu yang terbuat dari besi dan dicat hitam.
"Hanya dari sinilah jalan keluar, dan ini merupakan rahasia. Kalau bukan untukmu, Sun-ko, aku tidak akan suka membuka rahasia ini. Kalau diketahui ibu, tentu aku akan mendapat kemarahan besar sekali."
Berkata demikian, gadis itu meraba dinding batu dekat pintu dan terdengar suara berderit ketika pintu besi itu bergerak masuk ke dalam dinding.
Seketika Cia Sun dan Ci Kang memicingkan mata dan melindungi mata dengan tangan karena mereka menjadi silau ketika tiba-tiba berbareng dengan terbukanya daun pintu itu, nampak sinar matahari yang amat terang di balik pintu.
Mereka melewati ambang pintu dan berdiri di dalam cahaya matahari.
"Di sinilah aku setiap pagi berjemur diri seperti yang diajarkan ibu. Kalau pintu ini terbuka, maka penutup sumur ini di bagian atas terbuka pula. Kalau pintu tertutup, penutup di atas itupun ikut tertutup sehingga tempat ini tidak pernah dapat diketahui orang dari atas,"
Kata Hui Cu.
Dua orang pemuda itu memandang ke atas.
Tempat itu merupakan dasar sebuah sumur yang dalam, agaknya tidak kurang dari seratus kaki dalamnya!
"Adik Hui Cu,"
Kata Cia Sun memancing.
"Apakah engkau pernah keluar dari lubang ini?"
Gadis itu mengangguk.
"Beberapa kali aku keluar, biasanya di waktu malam saja kalau suasana sepi karena aku takut... kalau sampai ketahuan orang yang akan membunuhku. Dan juga pernah beberapa kali keluar siang bersama ibu, akan tetapi tidak lama dan sebelum bertemu orang lain aku sudah harus masuk lagi."
"Dan bagaimana caranya engkau keluar dari sini?"
Hui Cu memandang ke atas, lalu nampak kaget.
"Aih, kenapa aku tidak ingat? Aku dapat naik dengan mudah, akan tetapi engkau, Sun-ko, kalian... mana bisa memanjat naik?"
"Kenapa tidak bisa?"
Ci Kang berkata dan pemuda ini sudah cepat mengerahkan sinkang dan menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk memanjat naik.
Dengan menggunakan kedua tangan mencengkeram dinding sumur itu, dia dapat terus merayap naik seperti seekor cecak.
Hui Cu memandang dengan mata terbelalak.
"Wah, dia lebih pandai dari pada aku!"
Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadapi Cia Sun.
"Sun-ko, jangan kau pergi..."
"Mana bisa? Tak mungkin aku tinggal terus di sini, adik Hui Cu."
"Sun-ko, jangan tinggalkan aku, Sun-ko. Maukah engkau menemani aku barang beberapa hari saja? Aku amat kesepian, Sun-ko, hampir tak tertahankan lagi... dan begitu bertemu denganmu, aku ingin lebih lama berkenalan denganmu, bercakap-cakap denganmu..."
Cia Sun memandang dengan hati terharu.
Gadis ini masih seperti kanak-kanak saja, polos dan bersih, dan menderita.
"Adik Hui Cu, tidak mungkin aku tinggal di sini. Engkau saja agar minta kepada ibumu, kalau benar ia mencintamu, supaya engkau dibawa keluar dari tempat ini. Kulihat kepandaianmu hebat, kiranya engkau akan dapat pergi jauh dari orang yang hendak membunuhmu dan andaikata bertemu dengan aku, aku tentu akan siap melindungimu dari ancaman orang yang hendak membunuhmu."
Tiba-tiba Hui Cu memegang kedua tangan pemuda itu.
Dengan kedua mata basah ia memandang wajah Cia Sun.
"Benarkah, koko? Benarkah bahwa engkau akan suka melindungi aku? Menurut ibu, ayahku itu memiliki kepandaian tinggi, sukar dikalahkan siapapun juga..."
"Tentu, siauw-moi, tentu aku akan melindungimu. Nah, sekarang selamat tinggal. Lihat, kawanku sudah hampir sampai di atas!"
Akan tatapi, tiba-tiba saja terdengar Ci Kang mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya melayang turun ke bawah!
Cia Sun terkejut bukan main dan cepat dis menyambut tubuh kawannya itu dengan kedua lengannya.
Untung Ci Kang masih sempat mengerahkan ginkangnya sehingga dibantu oleh Cia Sun, dia dapat tiba di dasar sumur itu dengan selamat.
"Ibu..."
Tiba-tiba Hui Cu berseru nyaring dan tubuhnya melesat ke atas.
Cia Sun kagum melihat kehebatan ginkang gadis itu.
Sebentar saja tubuhnya sudah merayap naik dengan cepat sekali.
Dari bawah, dia melihat bayangan orang di atas dan maklumlah dia bahwa yang berada di atas itu adalah ibu Hui Cu!
"Ia menyerangku dengan angin pukulan dahsyat!"
Kata Ci Kang dengan marah.
"Mari kita susul Hui Cu!"
Cia Sun berkata.
Dengan cerdik dia hendak mempergunakan Hui Cu sebagai pelindung atau perisai.
Kalau mereka merayap di bawah Hui Cu, tentu ibu gadis itu tidak dapat menyerang mereka dan ibu itu kiranya tidak akan mau mencelakai anak sendiri.
Ci Kang mengerti apa maksud kawannya, maka diapun cepat merayap kembali bersama Cia Sun mengejar Hui Cu yang sudah merayap lebih dulu.
Benar saja, nenek yang berada di luar sumur itu menjenguk ke bawah dan mengeluarkan teriakan-teriakan yang tidak jelas, agaknya menyuruh puterinya itu turun kembali.
Akan tetapi Hui Cu tidak perduli dan terus merayap naik.
Ketika gadis itu akhirnya meloncat keluar sumur, ibunya hendak menyerang Cia Sun dan Ci Kang yang masih belum tiba di atas.
"Ibu, jangan..."
Hui Cu berseru dan menubruk ibunya, memeluk pinggang ibunya untuk menahan ibunya yang hendak mendekati sumur.
"Lepaskan aku, biar kubunuh mereka..."
Nenek itu berseru dan meronta-ronta.
Akan tetapi Hui Cu tetap tidak mau melepaskan rangkulannya dari pinggang ibunya dan kedua orang ini bersitegang.
Keributan itu memberi cukup waktu bagi Cia Sun dan Ci Kang untuk berloncatan keluar dari sumur dan kini mereka berdiri terbelalak.
Kiranya nenek yang kini berusaha melepaskan rangkulan Hui Cu adalah seorang nenek berambut dan berpakaian putih, dan mereka berdua segera mengenalnya sebagai Ratu Iblis!
Nenek itu kinipun mengenal Ci Kang dan Cia Sun.
Sejenak matanya yang kehijauan itu terbelalak, seolah-olah tidak percaya pandang matanya sendiri dan ia nampak kaget seperti melihat orang-orang yang sudah mati hidup kembali!
Akan tetapi otaknya yang amat cerdik segera dapat membuat perhitungan dan ia menjadi kagum bukan main.
Ia dapat menduga bahwa tentu dua orang muda itu berhasil menjebol lantai kamar jebakan yang dialiri air dari atas itu!
Dua orang pemuda ini, yang menjadi musuh besar keluarganya, telah mengetahui rahasianya, rahasia puterinya!
Gadis itu, Toan Hui Cu, adalah puteri Ratu Iblis yang ketika lahir dahulu ditukar dengan bayi seorang penghuni dusun.
Puteri inilah yang diselamatkan itu dengan mengorbankan nyawa bayi puteri penghuni dusun yang sama sekali tidak berdosa.
Ratu Iblis membunuh seorang bayi untuk menyelamatkan puterinya dari ancaman suaminya.
Kemudian, setelah anak itu berusia lima enam tahun, dia menculiknya dari suami isteri penghuni dusun itu dan mengurung anak yang diberi nama Hui Cu, Toan Hui Cu itu, ke dalam gua bawah tanah yang merupakan tempat rahasia yang hanya diketahuinya sendiri.
Raja Iblis tentu saja tahu akan tempat ini, akan tetapi tempat ini merupakan kuburan atau tempat terakhir dari seorang gurunya dan menjadi tempat keramat, maka dia sendiripun tidak pernah dan tidak mau menjenguk tempat itu.
Sama sekali dia tidak mengira bahwa isterinya mempunyai rahasia, bahwa tempat itu menjadi tempat persembunyian puterinya sendiri!
Ratu iblis merahasiakan segalanya dan bersikap hati-hati sekali.
Bahkan ia tidak pernah memperkenalkan namanya sendiri atau nama suaminya kepada Hui Cu, dan menakut-nakuti gadis itu agar membunuh setiap orang yang berani masuk, Juga memberi tahu bahwa ayah gadis itu tentu akan membunuhnya kalau sampai melihatnya.
Hal ini membuat Hui Cu ketakutan dan ia mentaati pesan ibunya, sampai belasan tahun lamanya ia menjadi penghuni gua bawah tanah itu sampai akhirnya, tanpa tersangka-sangka, nasib mempertemukan ia dengan Cia Sun dan Ci Kang!
Ketika Ratu Iblis mengenal dua orang pemuda itu, selain terkejut dan heran, ia juga marah dan khawatir sekali.
Dua orang muda ini harus dibunuhnya, kalau tidak, rahasianya tidak akan dapat dipertahankannya lagi dan suaminya tentu akan marah kalau tahu bahwa ia mempunyai seorang puteri, yang disembunyikan sampai belasan tahun lamanya.
Entah apa yang akan diperbuat suaminya terhadap dirinya dan terhadap Hui Cu, ia tidak sanggup membayangkan.
"Lepaskan, aku harus bunuh mereka!"
Tiba-tiba ia menggerakkan tubuhnya dengan kuat dan Hui Cu terpelanting jauh.
Melihat puterinya terpelanting jatuh, Ratu Iblis tidak jadi menyerang dua orang muda itu melainkan mendekati puterinya, merangkulnya dan bertanya dengan suara penuh kasih sayang.
"Anakku, engkau tidak terluka...?"
Diam-diam dua orang pemuda yang memperhatikan gerak-gerik Ratu Iblis merasa heran.
Lenyaplah sifat liar dan ganas dari nenek itu, terganti sifat yang menimbulkan rasa haru, karena sikapnya ketika merangkul dan mengelus rambut Hui Cu, dan juga suaranya menggetarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya!
"Ibu, jangan bunuh mereka...
jangan serang Sun-koko..."
Nenek itu melepaskan rangkulannya dan mengerutkan alianya.
"Sun-koko...? Siapa itu?"
"Seorang dari mereka... mereka tidak sengaja memasuki gua bawah tanah, ibu, jangan serang mereka, mereka itu orang-orang yang amat baik..."
"Setan! Mereka adalah musuh-musuh kita, kalau tidak dibunuh hanya akan mendatangkan bencana di kemudian hari!"
Dan tiba-tiba saja sikap nenek itu berobah lagi dan tubuhnya melesat ke depan, kedua tangannya sudah mendorong ke arah Cia Sun dan Ci Kang.
Akan tetapi kini dua orang pemuda itu sudah siap menghadapi serangan lawan.
Mereka berdua tahu bahwa nenek itu lihai bukan main.
Serangannya tadi saja mengeluarkan hawa yang amat kuat dan panas dan sebelum tangan itu menyentuh mereka, telah ada angin pukulan dahsyat yang menyerang.
Mereka cepat mengelak dan balas menyerang sambil mengerahkan tenaga mereka.
Ratu Iblis menggereng marah melihat betapa tamparan-tamparannya dapat dielakkan oleh dua orang lawan itu, bahkan kini mereka membalas dengan pukulan-pukulan yang keras.
Ia masih memandang rendah mereka dan menggunakan kedua lengannya untuk menangkis, dengan maksud tangkisan itu akan dilanjutkan dengan cengkeraman untuk menangkap lengan mereka.
"Dukk! Dukk..."
Nenek itu kembali mengeluarkan suara geraman aneh ketika ia merasa betapa benturan lengan itu membuat tubuhnya tergetar hebat, jangankan merobah tangkisan menjadi cengkeraman, bahkan ia terhuyung ke belakang oleh benturan-benturan itu.
Sedangkan Cia Sun dan Ci Kang juga terhuyung ke belakang karena nenek itu memang memiliki tenaga kuat yang aneh sekali.
Mulailah nenek itu memandang mereka dengan mata lain, tidak lagi berani memandang rendah.
Dan iapun mulai mengerti bahwa dua orang pemuda itu memang memiliki ilmu kepandaian hebat.
Tadinya memang Siang Hwa melaporkan bahwa mereka itu lihai, akan tetapi ia masih belum percaya.
Sekarang baru ia tahu bahwa memang tingkat kepandaian mereka ini lebih lihai dari pada tingkat Siang Hwa.
Pantas saja muridnya itu terpaksa mempergunakan siasat untuk menjebak mereka.
Karena tidak memandang rendah lagi, nenek itu menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar berkilat ketika ia tahu-tahu sudah mencabut pedangnya.
Dicabutnya pedang ini membuktikan bahwa Ratu Iblis benar-benar tidak memandang rendah lawan.
Jarang ia mempergunakan pedangnya kalau bertanding karena jarang pula ada orang mampu menandinginya walaupun ia tidak mencabut pedang.
Ci Kang maklum akan kelihaian lawan, maka diapun cepat mematahkan sebuah cabang pohon yang sebesar lengannya dan panjangnya satu tombak.
Menghadapi pedang seorang datuk sesat seperti nenek itu dia harus berhati-hati.
Cia Sun juga berhati-hati dan untung bahwa suling yang terselip di pinggangnya, di balik bajunya, masih ada, maka iapun mencabut sulingnya itu.
Benda ini telah menjadi senjata yang ampuh semenjak dia di digembleng oleh Gobi Sanjin.
Bukan hanya suling ini, bahkan kini dia pandai mempergunakan ujung lengan baju atau benda apa saja sebagai senjata.
Dengan cerdiknya, kedua orang muda itu lalu berpencar, menghadapi nenek itu dari kanan kiri.
Mereka bersikap hati-hati dan hanya menanti dengan waspada, tidak mau menyerang lebih dulu.
Sejenak tiga orang itu berdiri tegak seperti patung, hanya mata nenek itu yang melirik ke kanan kiri untuk mengikuti gerakan dua orang lawannya.
Pedang di tangan kanannya itu diangkat tinggi-tinggi dan melintang di atas kepala, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka, diletakkan di depan dada, rambutnya yang putih panjang itu tergantung di depan.
"Ibu, jangan serang mereka..."
"Sun-ko, jangan berkelahi dengan ibuku..."
Kan tetapi nenek itu tentu saja tidak memperdulikan teriakan puterinya, bahkan membentak marah.
"Diam kau..."
"Siauw-moi, aku hanya membela diri..."
Cia Sun menjawab.
Akan tetapi begitu dia bicara, nenek itu sudah menggerakkan pedangnya menyerang dengan amat hebatnya.
Pedang itu menyambar dari atas seperti halilintar dan mengeluarkan hawa dingin.
Cia Sun cepat mengelak.
Pedang menyambar lewat akan tetapi cepat membalik dan meluncur turun, kalau tadi membacok kini berbalik menusuk!
Demikian cepatnya datangnya serangan lanjutan itu sehingga Cia Sun terpaksa harus mengangkat sulingnya menangkis.
"Trakkk..."
Kembali keduanya mendapat kenyataan bahwa lawan memang memiliki tenaga sinkang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Pada saat itu, Ci Kang sudah menyerang dengan tongkatnya yang dibuat secara darurat, yaitu kayu cabang pohon tadi.
Serangannya hebat sekali, sampai mengeluarkan angin dan suara bersuitan.
Tongkat itu menyambar ke arah kepala nenek itu yang sedang menyerang Cia Sun.
Ratu Iblis itu sungguh lihai bukan main.
Menghadapi serangan tongkat yang datang dari samping agak belakang ini, ia bersikap tenang saja.
kepalanya digerakkan mengelak dan tiba-tiba saja gumpalan rambut putihnya menyambar dan menangkis batang kayu itu.
Hebatnya, kini gumpalan rambut itu tiba-tiba saja berobah menjadi kaku dan keras seperti besi.
"Takkk..."
Tongkat di tangan Ci Kang tertangkis dan mendadak tangan kiri nenek itu mendorong ke depan dan serangkum hawa panas yang amat hebat menyambar dada Ci Kang sebagai balasan serangannya.
"Ehhh..."
Ci Kang berseru kaget dan terpaksa dia meloncat jauh ke belakang karena serangan itu sungguh amat berbahaya.
Dua orang muda itu kini bersikap hati-hati sekali.
Mereka semakin tahu betapa hebatnya lawan mereka yang memiliki tiga macam senjata ampuh itu, yakni pedangnya, rambutnya, dan tangan kirinya.
Belum lagi diperhitungkan kedua kakinya kalau mengirim tendangan karena mereka melihat betapa sepatu nenek itu berlapis baja!
Nenek itu sendiri juga menjadi terkejut.
Belum pernah ia menghadapi lawan yang begini tangguhnya.
Andaikata dua orang pemuda itu maju satu demi satu saja, agaknya ia masih akan dapat mengatasi mereka, bahkan mengungguli mereka.
Akan tetapi pemuda itu maju bersama dan setelah kini mereka bersikap hati-hati, gerakan mereka amat kuat dan terpusatkan sehingga ia segera terdesak hebat!
Juga pertemuanpertemuan tenaga antara ia dan dua orang muda itu membuat ia lelah karena ia harus mengerahkan seluruh tenaganya kalau tidak mau celaka dilanda gelombang tenaga yang dahsyat dari mereka.
"Anakku, cepat maju dan gunakan kebutanmu! Bantulah aku!"
Akhirnya setelah terdesak hebat, nenek itu berseru minta bantuan puterinya yang sejak tadi hanya nonton saja dengan mata terbelalak penuh kegelisahan.
Kini, mendengar seruan ibunya, ia menjadi semakin bingung.
"Tidak, ibu! Kata ibu semua orang terutama laki-laki jahat, akan tetapi mereka ini tidak jahat, aku tidak bisa menyerang mereka. Ibu jangan memusuhi mereka!"
Gadis itu menjawab dengan suara yang tegas.
"Desss..."
Tubuh nenek itu terhuyung akan tetapi ia dapat menguasai dirinya dan tidak sampai roboh walaupun tongkat cabang pohon di tangan Ci Kang yang menyerempet pinggangnya tadi kuat bukan main.
Karena puterinya tidak mau membantunya dan maklum bahwa dua orang lawannya sungguh merupakan lawan tangguh yang dapat membahayakan keselamatannya, Ratu Iblis mengeluarkan pekik melengking yang sejenak membuat kedua orang pemuda itu tercengang dan mereka harus mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh suara itu dan kesempatan itu dipergunakan oleh nenek itu untuk meloncat ke arah puterinya, memegang lengan puterinya dan melarikan diri sambil menarik Hui Cu bersamanya.
"Kurasa tidak perlu dikejar, terlalu berbahaya..."
Cia Sun berkata ketika melihat temannya hendak mengejar.
Mendengar suara Cia Sun, Ci Kang menahan kakinya dan melangkah kembali menghampiri temannya yang sedang memeriksa tangan kirinya yang ternyata kulitnya berwarna hitam kehijauan dari jari-jari tangan sampai ke pergelangan.
"Cia Sun, engkau keracunan!"
Kata Ci Kang mendekat.
"Nenek itu memiliki banyak pukulan beracun yang jahat. Sungguh berbahaya sekali!"
Keta Cia Sun.
"Karena itu aku mencegahmu melakukan pengejaran. Aku tidak dapat membantumu dan kalau sampai ia dibantu kawan-kawannya, tentu engkau terancam bahaya. Aku harus menggunakan waktu beberapa hari untuk membersihkan racun ini."
"Tidak perlu begitu lama, Cia Sun. Aku telah mempelajari ilmu membersihkan hawa beracun itu dan dengan bantuanku, tanganmu akan sembuh dengan cepat."
Tak lama kemudian Ci Kang sudah mengobati tangan kiri temannya itu.
Cia Sun duduk bersila, mengerahkan sinkang dan dengan hawa murni dia mendorongkan tenaga ke arah tangan kirinya.
Kalau dia melakukan pengobatan ini sendiri saja, tentu akan memakan waktu sedikitnya sepekan baru hawa beracun dalam tangan kirinya itu dapat terusir bersih.
Akan tetapi, kini Ci Kang menempelkan kedua telapak tangannya di siku dan pundak kirinya dan teman ini membantunya dengan mengerahkan sinkang.
Hawa panas memasuki lengan kirinya itu dan dengan kekuatan disatukan, dengan mudah mereka depat mengusir racun dari tangan kiri.
Tak lama kemudian, kulit tangan itu berobah warnanya.
Warna hitam kehijauan itu perlahan-lahan surut dan akhirnya lenyap melalui kuku-kuku jari tangan.
"Terima kasih, Ci Kang, engkau telah menolongku,"
Kata Cia Sun dengan girang dan kagum. Ci Kang menggeleng kepala.
"Tidak ada terima kasih, Cia Sun. Ketika aku terjatuh kembali ke dalam sumur tadi, engkau pun telah menolongku. Sikapmu yang baik terhadap diriku saja sudah membuat aku bersyukur sekali."
"Ci Kang, sampai kini aku masih merasa heran mengingat bahwa engkau, seperti pengakuanmu, adalah putera Siangkoan Lojin! Dan engkau memusuhi datuk-datuk sesat! Sebetulnya, kalau aku boleh bertanya mengingat bahwa nasib telah mempertemukan kita yang menjadi sahabat senasib sependeritaan, apakah yang kau cari di sini?"
"Sama dengan engkau, Cia Sun. Bukankah engkau datang ini untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang hendak bangkit menentang Raja dan Ratu Iblis yang kabarnya dibantu oleh para datuk sesat termasuk Cap-sha-kui?"
Cia Sun mengangguk lalu bertanya.
"Apa maksudmu ingin menghadiri pertemuan itu?"
Ci Kang tersenyum pahit.
"Aku yang tolol ini hendak menipu diri sendiri. Ayahku seorang datuk sesat, begaimana mungkin aku diterima di antara para pendekar? Tadinya kusangka."
Melihat Ci Kang tidak melanjutkan kata-katanya dan wajahnya menjadi muram, Cia Sun memegang lengan yang kokoh kuat itu.
"Sahabatku, jangan kau persalahkan sikap para pendekar. Andaikata aku sendiri belum mengalami bahaya-bahaya itu bersamamu dan telah mengenalmu benar bahwa engkau adalah seorang gagah yang menentang para datuk sesat, mungkin akupun akan curiga kepadamu. Bayangkan saja. Engkau, putera Siangkoan Lojin, berkeliaran di sini, padahal para pendekar hendak mengadakan pertemuan untuk menentang golongan sesat! Tentu saja orang yang tidak mengenal keadaan dirimu akan menyangka engkau memata-matai pertemuan para pendekar itu. Akan tetapi jangan takut. Ada aku di sini yang akan menjelaskan segalanya kepada para pendekar. Tapi katakan dulu, apa sesungguhnya niat hatimu datang ke sini?"
"Aku hendak menyumbangkan tenaga menentang para datuk yang hendak melakukan pemberontakan."
"Bagus! Kalau begitu kita sehaluan. Mari kita pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk menemui para pendekar, Ci Kang."
Akan tetapi pemuda yang tinggi besar itu menggeleng kepala.
"Cia Sun, sejak kecil aku selalu ingin berusaha sendiri. Usaha apapun yang kuhadapi, kalau berhasil hanya karena bantuan orang lain, tidak akan memuaskan hatiku. Biarlah, aku akan hadapi sendiri para pendekar, apapun akibatnya. Aku girang sekali telah dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Cia Sun. Selamat berpisah!"
Setelah berkata demikian, Ci Kang lalu meloncat lari meninggalkan Cia Sun yang berdiri termenung, hatinya kagum melihat pemuda perkasa yang memiliki ilmu kepandaian yang dapat menandinginya.
Diapun lalu meninggalkan tempat berbahaya itu.
Semenjak Bangsa Mongol yang pernah menjajah dan menguasai Tiongkok terusir dan terbasmi sehingga sisa-sisa bangsa itu kembali ke utara, maka Bangsa Mongol menjadi bangsa yang lemah.
(Lanjut ke
Jilid 27) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 Lenyaplah kebesarannya seperti ketika mereka masih menguasai Kerajaan Goan yang menjajah seluruh Tiongkok itu.
Kini sisa bangsa itu terpecah-pecah, bercampur baur dengan Bangsa Mancu dan Bangsa Khin.
Jumlah suku bangsa mereka amat banyak, terpecah-pecah oleh berbagai aliran, tradisi, dan agama.
Mereka tinggal berkelompok-kelompok di luar Tembok Besar, dan hidup kembali sebagai suku-suku Nomad yang berpindahpindah sesuai dengan situasi dan kondisi iklim dan tanah.
Karena terpecah-pecah menjadi kelompok itulah maka Bangsa Mongol, Mancu dan Khin ini menjadi lemah.
Di antara mereka sendiri terjadilah persaingan, bahkan Kadang-kadang persaingan itu menjadi permusuhan dan pertempuran karena memperebutkan tanah, air dan sebagainya.
Mereka adalah bangsa yang sudah terbiasa dengan kekerasan, karena sifat hidup mereka memang keras, selalu berhadapan dengan kesukaran yang ditimbulkan oleh keadaan alam di daerah itu yang tidak menguntungkan manusia.
Masing-masing suku atau kelompok memiliki kepala sendiri, dan seperti biasa terjadi di seluruh dunia ini di antara manusia, kepala-kepala inilah yang menimbulkan permusuhan dan pertentangan karena ambisi masing-masing yang menyeret kelompok atau pengikut mereka ke dalam permusuhan.
Tidak pernah lagi lahir seorang Jenghis Khan baru yang memiliki kekuatan sedemikian hebatnya untuk menundukkan semua kepala suku itu sehingga terdapat persatuan seperti di jaman Jenghis Khan dahulu yang akan membuat Bangsa Mongol menjadi bangsa yang kuat.
Nenek Yelu Kim yang sudah tua itu memang cukup berpengaruh di antara suku bangsa utara ini.
Akan tetapi peranan nenek Yelu Kim bukanlah sebagai pemimpin dan pembangkit semangat mereka, melainkan sebagai penengah.
Nenek ini ditakuti karena memang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak pernah nenek Yelu Kim bangkit untuk memimpin mereka, hanya turun tangan kalau terjadi pertempuranpertempuran antara kelompok atau suku.
Dan setiap kali, nenek ini harus memperlihatkan kepandaiannya untuk dapat melerai dan memadamkan api permusuhan di antara mereka.
Akan tetapi pergolakan di utara yang dipimpin oleh pemberontakan para datuk sesat yang bersekongkol dengan Panglima Ji Sun Ki di Sanhaikoan, menimbulkan guncangan hebat di kalangan para suku Nomad di utara itu, membangkitkan sesuatu di dalam hati mereka yang selama ini tidak pernah lagi memikirkan kekuasaan yang sudah hilang di selatan.
Juga Yelu Kim seperti baru terbangun dari tidurnya.
Mengapa tidak, demikian pikirnya.
Kalau para datuk sesat saja berani mengadakan pemberontakan, mengapa ia tidak bisa memimpin suku-suku bangsa yang kuat dan terkenal sebagai ahli-ahli perang itu untuk mencoba membangkitkan kembali kekuasaan Bangsa Mongol dan sekutunya, meraih kembali mahkota yang pernah dikuasai oleh Bangsa Mongol?
Akan tetapi, api semangat yang mulai membakar dada orang-orang yang menjadi kepala kelompok atau suku itu kembali menimbulkan pertentangan di antara mereka sendiri.
Masing-masing ingin menjadi pemimpin kalau sampai mereka bersatu dan melakukan penyerbuan ke selatan selagi keadaan kacau oleh adanya pemberontakan.
Masing-masing ingin menjadi pemimpin, tentu saja dengan ambisi bahwa kalau gerakan mereka kelak berhasil, sang pemimpin itulah yang akan menjadi kaisar sampai ke anak cucu keturunannya!
Hal inilah yang membuat prihatin dan menyesal di hati nenek Yelu Kim sampai ia bertemu dengan Sui Cin.
Dalam diri gadis ini ia melihat bakat dan kepandaian yang depat ia pergunakan untuk mencapai hasil baik dalam rencananya menghadapi pertikaian baru di antara para kepala suku itu.
Nenek itu berhasil membawa pergi Sui Cin dengan bantuan harimau peliharaannya, dan mengobati Sui Cin yang tertipu oleh Kiu-bwe Coali dan minum racun pembius.
Akan tetapi selain keracunan, nenek itu mendapat kenyatan bahwa gadis itupun kehilangan ingatannya, maka iapun berusaha dengan sepenuh perhatian dan kepandaiannya untuk mengobati Sui Cin sehingga gadis itu akan sembuh sama sekali, juga dari penyakit kehilangan ingatan itu.
Nenek Yelu Kim memang ahli dalam hal pengobatan dan akhirnya ia berhasil mengobati Sui Cin sehingga gadis itu memperoleh kembali ingatannya!
Ingatan itu kembali kepadanya ketika pada suatu pagi ia terbangun dan melihat nenek itu telah duduk di dekat pembaringannya.
Nenek itu memegang sebatang jarum emas dan agaknya nenek itu tadi telah mengerjakan jarumnya ketika ia sedang tidur dan berhasil "membuka"
Kembali ingatannya.
"Aihhh..."
Sui Cin meloncat dan bangkit duduk, memandang nenek itu dengan mata terbelalak.
"Aihh, semuanya terjadi seperti dalam mimpi saja... Tapi aku tidak bermimpi!"
Ia menengok ke arah pintu kamar itu dan memanggil girang ketika melihat seekor harimau besar menjenguk ke dalam.
"Houwcu, engkau pun kenyataan, bukan mimpi! Dan nenek Yelu Kim, yang telah menolongku!"
Nenek itu tersenyum dan wajahnya nampak cantik ketika ia tersenyum.
"Anak baik, engkau sudah ingat semua, juga akan keadaan dirimu? Tadinya engkau lupa sama sekali akan keadaan dirimu dan asal-usulmu."
Sui Cin membelalakkan matanya.
"Benarkah itu? Ah, ya, teringat olehku sekarang. Tentu timpukan batu yang mengenai belakang kepalaku itu yang membuatku lupa segalanya. Dan bagaimana nasib Hui Song...?"
Nenek itu menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu. Apakah dia pemuda yang menolongmu dari Kiu-bwe Coali itu?"
"Bukan! Pemuda itu adalah Cia Sun-twako. Ah, tentu locianpwe tidak tahu. Betapa hebat dan mengerikan semua pengalamanku selama ini dan akhirnya locianpwe yang dapat menyembuhkanku. Sungguh besar sekali budi locianpwe kepadaku."
"Hushh, sudahlah. Di antara guru dan murid mana ada budi? Ingat, sesuai dengan janjimu, engkau telah menjadi murid juga pembantuku. Sekarang, ceritakan keadaan dirimu dengan singkat."
"Namaku Ceng Sui Cin dan ayahku..."
Sui Cin teringat bahwa ia tidak boleh membawa-bawa nama orang tuanya, maka ia meragu.
Bagaimanapun juga, ia belum mengenal benar siapa sesungguhnya nenek Yelu Kim yang telah menolongnya ini.
Akan tetapi nenek itu tersenyum setelah tadinya sepasang matanya terbelalak mendengar gadis itu memperkenalkan diri.
Lalu tangannya yang kurus memegang lengan Sui Cin dan matanya yang tajam itu menatap wajah gadis itu, mulutnya tersenyum ramah.
"Sungguh para dewa telah mempertemukan kita! Tepat suara hatiku bahwa engkau lah yang akan dapat membantuku dan menolong bangsa dan golongan kita. Kiranya engkau adalah keturunan Puteri Khamila, engkau masih berdarah bangsa kami, anak baik!"
Sui Cin terkejut dan merasa heran.
Benarkah nenek ini dapat mengenal keluarganya hanya dengan namanya?
Padahal, sebelum ini belum pernah ia mengenal nenek Yelu Kim.
"Apa maksud locianpwe?"
Tanyanya sambil memandang tajam. Senyum nenek ini melebar.
"Tidak sukar mengenalmu, Sui Cin. Ilmu silatmu lihai dan selama engkau berada di sini, di dalam latihan engkau memainkan beberapa ilmu silat yang kukenal bersumber pada ilmu-ilmu Cin-Ling-Pai. Tadinya kukira engkau murid Cin-Ling-Pai, akan tetapi setelah kini aku tahu bahwa engkau she Ceng, mudah saja menduga siapa adanya dirimu. Bukankah ayahmu adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin?"
Sui Cin mengangguk.
"Locianpwe sungguh cerdik sekali."
Ia memuji.
"Dan ayahmu itu adalah putera Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai. Kakekmu itu adalah putera mendiang Kaisar Ceng Tung dan Puteri Khamila, dengan sendirinya antara engkau dan aku masih ada hubungan yang dekat sekali, Sui Cin."
Dan kata-kata itu diakhiri dengan suara ketawa girang bukan main dari nenek itu.
Sui Cin memandang bengong ketika melihat nenek itu tiba-tiba bangkit dan menari-nari di dalam kamar itu, menari-nari sambil bernyanyi lagu Mongol dan bertepuk tangan!
Harus diakuinya bahwa biarpun di situ tidak ada iringan musik, akan tetapi tarian itu indah sekali dan suara nyanyian nenek itupun merdu.
"Locianpwe..."
"Aku sudah menjadi gurumu dan kau masih menyebutku locianpwe?"
Nenek yang sudah selesai menari itu menegur.
"Subo,"
Akhirnya Sui Cin berkata dengan nada agak terpaksa.
Sebenarnya, kalau ia berada dalam keadann sadar, ia tidak akan mau begitu saja berjanji menjadi murid dan pembantu nenek itu tanpa lebih dahulu mengenal keadaannya.
Akan tetapi ia sudah berjanji dan ia tidak akan menarik kembali apa yang telah dijanjikan.
"Subo, hubungan dekat apakah yang ada antara kita?"
"Tidak dapatkah engkau menduganya? Nama keturunanku Yelu! Tidak tahukah engkau apa artinya nama itu?"
Sui Cin menggeleng kepala dan menyesal mengapa ia tidak tahu akan hal itu karena ia melihat betapa wajah nenek itu nampak kecewa sekali.
"Aih, agaknya Ceng Thian Sin tidak pernah menceritakan kepadamu tentang kebesaran bangsa kita di utara."
"Ayah memang tidak suka menceritakan riwayat nenek moyang kami,"
Kata Sui Cin.
"Sayang sekali. Nah, dengarlah baik-baik. Ketika Kaisar Jenghis Khan, raja terbesar di seluruh dunia, masih bertahta dan menguasai seluruh daratan sampai ke lautan selatan, beliau mempunyai seorang pembantu dan penasihat yang amat arif bijaksana, bernama Yelu Cetai. Siapakah orangnya yang tidak mengenal nama besar Yelu Cetai di samping nama besar Jenghis Khan? Yelu Cetai inilah pengatur semua siasat yang membuat pemerintahan Jenghis Khan berhasil dengan baik."
"Dan subo tentulah keturunan Yelu Cetai itu,"
Kata Sui Cin karena memang mudah saja menduganya sekarang.
Nenek itu mengangguk dan wajahnya yang agung itu nampak diangkat penuh kebanggaan.
"Dan beliau tidak malu mempunyai keturunan seperti aku! Kerajaan Mongol yang menguasai seluruh daratan selatan sudah hancur, keturunan Jenghis Khan yang besar itu telah lenyap tidak ada sisanya lagi, akan tetapi kebesaran Yelu Cetai masih belum kabur! Lihat aku ini, aku keturunannya, walaupun aku hanya seorang wanita, akan tetapi aku masih dipandang dan diakui oleh semua kelompok suku bangsa di utara sebagai penasihat agung yang selalu mereka segani dan taati!"
Kini mengertilah Sui Cin mengapa nenek ini nampak begitu agung dan penuh bangga diri.
Kiranya memiliki kedudukan tinggi di antara suku bangsa utara.
"Subo telah menyelamatkan aku, dan aku telah berjanji untuk membantu subo, sebenarnya bantuan apakah yang dapat kulakukan? Bukankah sebagai seorang penasihat agung, subo memiliki banyak pembantu dan tidak membutuhkan lagi bantuanku?"
"Engkau tidak tahu betapa aku mengalami banyak kepusingan karena sifat yang liar dan keras dari orang-orang suku utara ini. Terutama sekali suku Khin yang amat ganas. Mereka itu menghormati aku, akan tetapi Kadang-kadang memperlihatkan kekerasan mereka dan agaknya mereka itu akan mudah sekali memberontak. Baiknya selama ini aku mampu mengendalikan mereka. Kini timbul keguncangan di kalangan kami karena adanya pergerakan kaum sesat di selatan yang hendak memberontak."
Sui Cin terkejut.
Betapa pandainya nenek ini, sehingga urusan di selatan tentang gerakan para datuk sesat yang hendak memberontakpun diketahuinya!
"Apakah yang subo ketahui tentang hal itu?"
Nenek itu tersenyum bangga.
"Tentu saja aku tahu semuanya! Ha, jangan dikira bahwa kami orang-orang Mongol sudah melupakan kekalahan kami! Orang-orang kasar itu mungkin sudah menerima kekalahan mereka dan sudah putus asa. Akan tetapi aku tidak! Aku selalu memperhatikan perobahan dan pergolakan di selatan. Aku tahu bahwa seorang pangeran she Toan yang kini menjadi datuk sesat dengan julukan Raja Iblis, dibantu oleh Cap-sha-kui dan para datuk sesat lainnya, sedang berusaha untuk memberontak. Bahkan mereka sudah berhasil mengadakan persekutuan dengan panglima Sanhaikoan dan merampas benteng itu!"
"Selain itu?"
Sui Cin mendesak.
"Tidak cukupkah itu? Kami melihat kesempatan yang baik sekali untuk bergerak selagi keadaan pemerintah Bengtiauw kacau. Saatnya tiba bagi kami untuk bergerak ke selatan, menegakkan kembali kekuasaan utara atas daerah selatan. Akan tetapi orang-orang kasar itu, orang-orang liar itu, mereka bahkan saling berebut, saling bertentangan sendiri memperebutkan kedudukan pimpinan seperti anjing memperebutkan bungkusan kosong! Sungguh memuakkan!"
Nenek itu mengepal tinju dan kelihatan marah sekali.
Sui Cin menduga bahwa nenek itu agaknya belum tahu akan gerakan para pendekar yang hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.
"Lalu apa hubungannya semua itu dengan bantuan yang subo harapkan dariku?"
"Orang-orang gila itu makin menjadi-jadi dalam nafsu mereka untuk memperebutkan kedudukan sebagai pemimpin gerakan kami. Bahkan setiap kelompok mengajukan usul agar masing-masing mengeluarkan jagoan dan diadakan pertandingan-pertandingan. Siapa yang jagonya menang berarti berhak menjadi pemimpin gerakan ke selatan. Dan aku ingin engkau membantuku, mewakili aku maju sebagai penghukum yang menaklukkan semua jagoan itu, atau menundukkan jagoan yang paling kuat dan yang keluar sebagai pemenang."
"Ahh..."
Sui Cin terkejut.
"Mengingat betapa kepandaian subo sendiri sudah amat tinggi, tentu di antara kelompok itu terdapat orang-orang pandai. Bagaimana aku akan dapat mengalahkan jagoan yang paling pandai? Jangan-jangan subo akan menyesal dan kecelik, aku malah yang akan kalah oleh jagoan itu sehingga nama dan wibawa subo menjadi turun."
"Tidak, tidak mungkin! Mereka itu hanya orang-orang kasar yang hanya menggunakan kekuatan dan kelincahan menunggang kuda disertai keberanian. Mana mungkin ada yang mampu mengalahkanmu? Sui Cin, aku sudah tahu akan kelihaianmu. Dalam ilmu berkelahi, aku sendiri tidak menang melawanmu. Pula, kalau engkau maju sambil menunggang Houwcu, siapa yang akan mampu mengalahkan? Di samping itu, masih ada yang membantumu dari belakang dengan kekuatan sihir. Kami pasti menang dan kemenanganmu akan membuat semua orang tunduk akan keputusanku!"
"Aih, jadi subo bercita-cita untuk memperebutkan kedudukan pemimpin itu!"
"Jangan salah sangka! Seorang nenek setua aku ini tidak butuh lagi kedudukan dan kemuliaan, akan tetapi aku ingin melihat bangsaku memperoleh kembali kekuasaannya sebelum aku mati, apalagi kalau kekuasaan itu diperoleh karena bantuan dan jasaku! Aku ingin kelak kalau mati, dapat menghadap nenek moyang Yelu Cetai dengan hati bangga. Biar semua orang melihat bahwa sampai kini Yelu Kim tetap menjadi orang yang menurunkan keluarga yang bahkan lebih besar dari pada keturunan Jenghis Khan sendiri! Aku harus memimpin kelompok-kelompok liar itu agar berhasil menyerbu ke selatan. Kemudian, untuk pemilihan kaisar, harus dilakukan dengan bijaksana dan adil, di bawah bimbinganku pula!"
Sui Cin merasa heran dan diam-diam merasa khawatir kalau-kalau orang yang menjadi gurunya ini bukan hanya seorang yang mempunyai cita-cita besar, akan tetapi juga merupakan orang yang miring otaknya!
"Kalau aku sudah melakukan tugasku mengalahkan jagoan itu, lalu bagaimana dengan aku, subo?"
"Janjimu itu hanya terikat oleh bantuanmu memenangkan sayembara itu. Selanjutnya aku serahkan kepadamu. Kalau engkau mau membantu kami dalam perjuangan kami, tentu saja aku akan merasa gembira dan bersyukur sekali. Andaikata tidak dan engkau ingin meninggalkan aku, silakan."
Tentu saja, setelah kini semua ingatannya pulih, diam-diam Sui Cin merasa tidak setuju dengan rencana nenek yang telah menjadi gurunva ini.
Nenek ini bersama bangsa dan kelompoknya merencanakan pemberontakan!
Padahal, sudah menjadi tugasnya untuk menentang pemberontakan, Untuk membela negara dan mencegah terjadinya perang agar rakyat tidak akan menderita.
Bahkan ia kini teringat bahwa ia berada di utara adalah karena ditugaskan oleh gurunya, Wuyi Lojin, untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang hendak menentang Raja dan Ratu Iblis yang hendak mengerahkan kaum sesat untuk memberontak.
Mana mungkin kini ia harus membantu pemberontakan nenek ini terhadap pemerintah?
Akan tetapi iapun tahu bahwa nenek ini bukan orang jahat, bahkan telah menyelamatkannya dan menolongnya dari keadaan yang amat menyedihkan, yaitu kehilangan ingatannya.
Bagi nenek ini tentu saja gerakan memberontak itu merupakan suatu perjuangan untuk memulihkan kembali kekuasaan bangsanya, Bangsa Mongol yang pernah menjajah Tiongkok.
"Subo, apakah subo kira mudah saja melakukan pemberontakan? Mana mungkin kelompok-kelompok suku di sini akan mampu menandingi kekuatan balatentara kerajaan? Sebelum dapat berbuat banyak, tentu subo dan teman-teman subo sudah akan dihancurkan oleh kekuatan balatentara kerajaan yang amat banyak jumlahnya dan kuat."
Nenek itu tersenyum.
"Ucapanmu memang benar. Akan tetapi seperti sudah kukatakan tadi, kini tiba saatnya yang amat baik, terbuka kesempatan besar karena kaum sesat telah bergerak. Biarlah mereka yang akan menandingi balatentara pemerintah dan kami akan memukul mereka dari belakang dan merampas semua kota yang sudah mereka duduki. Dengan menghadapi perlawanan pasukan pemerintah dari depan, tentu mereka akan lemah dan tidak akan mampu bertahan kalau kami pukul dari belakang. Mereka itulah yang akan menjadi pelopor kami dan kami tinggal merampas hasilhasil mereka dari belakang saja."
Diam-diam Sui Cin terkejut juga.
Nenek ini sungguh cerdik dan kalau berhasil semua siasat nenek itu, sungguh berbahaya keadaannya bagi pemerintah.
Berarti pemerintah akan menghadapi dua gelombang serangan musuh, dan menurut sejarah yang pernah dibacanya, suku Bangsa Mongol di utara merupakan orang-orang yang amat gagah perkasa, berani mati dan tangkas dalam pertempuran.
"Akan tetapi, subo. Hal itu akan menyalakan api peperangan besar dan untuk menggerakkan banyak orang bertempur, membutuhkan biaya yang amat besar. Kalau subo tidak mempunyai harta benda yang banyak untuk itu..."
"Jangan khawatir. Aku selalu membiasakan diri berpikir sampai matang dan membuat persiapan selengkapnya sebelum bergerak. Kalau aku tidak memiliki harta pusaka yang amat besar jumlahnya, mana berani aku merencanakan gerakan perjuangan?"
Tiba-tiba terdengar suara mengaum dan harimau besar itu mendekati Sui Cin dan mengelus-elus punggung gadis itu dengan kepalanya.
Itulah tandanya bahwa si harimau itu mengajaknya bermain-main.
"Houwcu, bersabarlah, nanti kita main-main,"
Katanya dan tiba-tiba melihat harimau ini, Sui Cin teringat akan sesuatu.
Terbayanglah semua peristiwa di dalam gua.
Gua Iblis Neraka!
Ketika ia menyelidiki gua itu, sebelum muncul Hui Song bersama Siang Hwa dan dua orang kakek, ia melihat bayangan lima orang yang dengan amat cepatnya berkelebatan memasuki gua.
Kemudian ia melihat mereka keluar lagi sambil memikul sebuah peti yang nampaknya berat.
Ia teringat akan harta pusaka di dalam gua itu.
Agaknya Hui Song bersama wanita cantik dan dua orang kakek itu memasuki gua untuk mencari harta pusaka, akan tetapi kedahuluan oleh lima bayangan itu.
Dan kini teringatlah ia bahwa pada dada mereka itu nampak gambar harimau, tersulam pada baju mereka.
"Subo, aku pernah mendengar tentang pusaka di Gua Iblis Neraka..."
Ia memancing. Nenek itu membelalakkan matanya.
"Aha! Engkau pun tahu akan hal itu? Tak perlu kusembunyikan lagi. Kami telah mendapatkan harta pusaka itu. Untung, karena harta pusaka itu telah diincar oleh Raja dan Ratu Iblis!"
"Kalau begitu, subo mempunyai banyak anak buah? Kukira, tadinya subo hanya bertiga dengan aku dan Houwcu ini..."
"Jangan bodoh. Mana mungkin kalau hanya sendirian saja aku dapat mempertahankan kedudukanku? Pernahkah engkau mendengar tentang Perkumpulan Harimau Terbang?"
Sui Cin menggeleng kepala, hanya diam-diam menduga bahwa tentu lima orang yang memakai baju bersulam gambar harimau itu merupakan anggauta-anggauta Perkumpulan Harimau Terbang.
"Harimau Terbang adalah nama perkumpulan rahasia yang kudirikan di daerah Mongol ini. Sebetulnya pendirinya adalah nenek moyangku, sejak Yelu Cetai dan merupakan perkumpulan yang anggautanya terdiri dari orang-orang pandai. Dengan bantuan para anggauta perkumpulan itu, aku dapat menguasai para kepala kelompok dan kepala suku sehingga sampai kini persatuan di antara mereka dapat kupertahankan."
Diam-diam Sui Cin merasa semakin kagum kepada nenek ini.
Seorang nenek yang selain memiliki kepandaian tinggi, pandai sihir, juga cerdik bukan main, bahkan menjadi kepala dari sebuah perkumpulan rahasia yang agaknya bergerak secara rahasia pula dan disegani oleh semua kepala suku dan kepala kelompok yang liar di daerah Mongol dan Mancu.
Iapun melihat betapa para pendekar akan sukar untuk dapat menentang Raja dan Ratu Iblis yang ternyata bukan hanya dibantu oleh kaum sesat, akan tetapi bahkan telah bersekutu dengan pasukan pemberontak yang besar jumlahnya dan kini bahkan telah berhasil merampas dan menduduki benteng pertama Sanhaikoan.
Kalau begini, untuk menghadapi mereka dibutuhkan pasukan yang kuat pula, bukan hanya sekedar beberapa puluh orang pendekar saja.
Maka, iapun mengambil keputusan untuk menentang pemberontakan yang dipimpin Raja dan Ratu Iblis itu dengan cara membantu orang-orang Mongol ini.
Bukan membantu untuk memberontak, melainkan membantu mereka untuk menentang pasukan pemberontak Raja Iblis.
"Subo sudah mempunyai banyak anggauta Perkumpulan Harimau Terbang yang terdiri dari orang-orang berilmu tinggi, kenapa subo masih membutuhkan bantuanku untuk menghadapi jagoan dari para kelompok itu?"
"Tidak, Sui Cin. Mereka itu lihai akan tetapi kelihaian mereka dalam hal ilmu silat jauh di bawah tingkatmu. Mereka itu hanya menguasai ilmu yang mereka pelajari dariku saja, jadi tidak dapat terlalu diandalkan untuk menghadapi jagoan yang tentu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi kalau engkau dengan ilmu silatmu yang tinggi maju, dibantu oleh Houwji yang menjadi binatang tungganganmu, kubantu pula dari belakang dengan kekuatan sihirku, aku yakin engkau pasti akan menang dan kemenanganmu akan membuat mereka semua tunduk padaku."
"Baiklah, subo. Aku akan membantu subo, bahkan aku akan membantu pula kalau subo menentang pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Raja Iblis. Akan tetapi aku tidak mungkin dapat membantu kalau subo melawan pemerintah. Tentu subo tahu bahwa tidak mungkin aku menjadi pemberontak."
Nenek itu mengangguk-angguk.
"Aku mengerti, Sui Cin. Kita sama-sama merupakan orang yang setia kepada negara dan bangsa, hanya sayang sekali kita terlahir sebagai bangsa yang berlainan."
Demikianlah, Sui Cin lalu diberi petunjuk oleh Yelu Kim untuk dapat bertanding sambil menunggang harimau besar itu dan karena gadis ini memang memiliki ginkang dan ilmu silat yang hebat, ditambah lagi bahwa ia telah akrab dengan harimau itu, sebentar saja ia sudah mahir menunggang harimau itu sambil menggerakkan sebatang tongkat baja sebagai pengganti senjata payungnya.
Yelu Kim juga sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi sayembara mengadu jagoan untuk memilih pimpinan perjuangan itu.
Anak buahnya, yaitu para anggauta Perkumpulan Harimau Terbang, yang jumlahnya ada seratus orang telah dipersiapkan, akan tetapi seperti biasa, mereka ini tidak muncul di depan umum melainkan bergerak secara rahasia, menyelinap di antara para anggauta kelompok berbagai suku bangsa itu, menutupi baju sulaman gambar harimau dengan jubah masing-masing kelompok.
Sejak pagi mereka sudah berkumpul di padang tandus itu.
Sebuah tanah datar luas yang kering.
Puluhan kelompok suku bangsa yang bermacam-macam, akan tetapi berasal dari tiga suku bangsa, yaitu Mongol, Mancu, dan Khin, telah berkumpul di situ.
Mereka masing-masing mendirikan tenda besar dan dari dandanan pakaian dan bendera masing-masing dapat dibedakan antara mereka walaupun bentuk tubuh dan wajah mereka tidak banyak berbeda, Bahkan banyak sekali yang serupa.
Mereka adalah tukang-tukang berkelahi, orang-orang yang sudah terbiasa sejak kecil hidup di alam liar dan selalu menghadapi tantangan hidup yang keras dan sukar.
Kepala kelompok atau kepala suku mengenakan pakaian yang bermacam-macam, akan tetapi semuanya serba indah dan gagah.
Ada pula yang mengenakan pakaian seragam panglima, mungkin peninggalan nenek moyang mereka ketika masih menjajah Tiongkok.
Ada pula yang berkepala gundul berjubah pendeta, menunjukkan bahwa kepala kelompok ini seorang pendeta Buddha.
Para kepala kelompok yang jumlahnya sampai tiga puluh orang lebih karena banyak di antara mereka mempunyai wakil, berkumpul di tengah lapangan luas itu untuk berunding tentang pelaksanaan adu jago di antara mereka.
Nampak Yelu Kim hadir pula dan kedudukan nenek ini jelas nampak karena kalau para kepala kelompok itu duduk bersila di atas tanah yang membentuk sebuah lingkaran, adalah nenek Yelu Kim sendiri yang duduk di atas sebuah tandu.
Ia tidak memimpin perundingan itu, namun bertindak sebagai penasihat dan selalu nenek inilah yang memecahkan persoalan yang mereka hadapi dan merupakan jalan buntu.
Setelah mengadakan perundingan yang ramai dan Kadang-kadang diselingi pembantahan yang nyaris menjadi perkelahian kalau tidak dilerai oleh Yelu Kim, akhirnya diambil keputusan bahwa masing-masing kelompok yang hadir hanya diperbolehkan mengajukan seorang jagoan saja.
Masing-masing jagoan hanya dipertandingkan dalam pertandingan satu kali, secara bebas, boleh naik kuda atau tidak, boleh menggunakan senjata apa saja.
Jagoan dianggap kalah kalau dia menyatakan tak berani melawan lagi atau kalau dia roboh tak mampu bangun lagi.
Kematian atau luka parah yang terjadi dalam pertandingan ini dianggap wajar dan tidak akan dijadikan alasan untuk menaruh dendam atau membalas.
Untuk menentukan siapa yang maju lebih dahulu, diadakan undian dan jagoan yang menang satu kali diperkenankan beristirahat, tidak diharuskan menghadapi lawan secara beruntun.
Peraturan pertandingan diadakan sedemikian adilnya sehingga Sui Cin yang diam-diam menyaksikan perundingan itu sebagai pengawal nenek Yelu Kim merasa kagum dan merasakan benar betapa orang-orang yang kasar ini sesungguhnya memiliki kegagahan dan sama sekali tidak mau mempergunakan kecurangan dalam memperebutkan kedudukan itu.
Tidak seorangpun memperdulikannya karena ia dianggap sebagai pengawal atau pembantu Yelu Kim dan Sui Cin merasa aman bersembunyi di balik punggung nenek Yelu Kim.
Betapapun juga, ia merasa ngeri juga.
Pertandingan itu, walaupun dilaksanakan di antara sahabat-sahabat seperjuangan, namun jelaslah bahwa jagoan masing-masing tidak akan mau saling mengalah.
Dan melihat sikap dan watak mereka, agaknya dapat dibayangkan bahwa setiap orang jagoan agaknya akan mempertahankan nama dan kehormatan sampai saat terakhir!
Pertandingan yang keras dan kejam dan sudah dapat ia bayangkan bahwa tempat itu nanti tentu akan menjadi merah oleh darah!
Tak lama kemudian, perundingan itupun berakhir dan masing-masing kepala kelompok mengajukan jagoan masing-masing.
Bahkan ada kepala kelompok yang maju sendiri karena dia tidak puas dengan wakil seorang yang dianggapnya kurang tangguh.
Nenek Yelu Kim lalu memberi tanda kepada empat orang pemikul tandu untuk mengundurkan diri, diikuti oleh Sui Cin dan nonton dari satu pinggiran yang terpisah.
Ternyata, tidak semua kelompok mengajukan jagoan.
Agaknya ada pula di antara mereka yang tidak berhasil menemukan jago yang mereka anggap cukup tangguh, maka mereka hanya menjadi tontonan saja.
Mereka ini kebanyakan terdiri dari kelompok-kelompok yang kecil.
Karena itu, setelah semua jagoan maju, dari dua puluh orang lebih kelompok itu yang muncul hanya sembilan orang jagoan saja.
Di antara sembilan orang jagoan ini hanya ada tiga orang yang tidak menunggang kuda, sedangkan enam orang yang lain menunggang seekor kuda yang besar dan tangkas.
Memang satu di antara keahlian orang-orang utara ini adalah menunggang kuda.
Sui Cin hampir mengeluarkan seruan kaget dan heran ketika dia mengenal seorang di antara sembilan jagoan itu.
Seorang pemuda tinggi tegap yang amat gagah, dengan memakai jubah kulit harimau, menunggang seekor kuda putih dan bersenjata sebatang tombak kongce yang bercabang dan bergagang panjang.
Pemuda ini nampak pendiam dan tidak bersikap sombong seperti para jagoan lain yang membusungkan dada dan tersenyum-senyum bangga.
Pemuda ini hanya menundukkan muka dan bersikap acuh tak acuh.
Tentu saja Sui Cin merasa terkejut dan heran karena pemuda ini bukan lain adalah Siangkoan Ci Kang!
Mau apa putera Si Iblis Buta ini berada di situ, bahkan menjadi jagoan dari satu di antara kelompok suku dari utara?
Biarpun Sui Cin tahu bahwa Ci Kang adalah seorang pemuda gagah perkasa yang tak dapat dikatakan jahat, akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah putera seorang datuk sesat yang ditakuti seperti iblis!
Mengapa pemuda ini tidak berada bersama sekutu Raja Iblis dan berada di situ?
Sungguh merupakan hal yang amat mengherankan dan juga mencurigakan.
Sui Cin lupa bahwa kehadirannya sendiri di tempat itupun merupakan hal yang amat aneh, mungkin lebih aneh dari pada kehadiran Ci Kang sendiri.
Ia adalah dari golongan pendekar dan kini ia berada di situ sebagai pengawal atau murid Yelu Kim, orang yang paling tinggi kedudukannya di antara kepala suku yang sedang memilih pimpinan untuk memberontak!
Sui Cin tidak tahu bahwa kehadirannya di situ yang agaknya tidak terlihat oleh Ci Kang, membuat seorang yang menyelinap di antara kelompok Suku Bangsa Mancu Timur hampir saja berteriak pula.
Orang ini juga seorang pemuda yang mengenakan pakaian seperti teman-temannya, pakaian orang Mancu Timur yang kehidupannya sebagai pemburu dan nelayan di pantai timur.
Dia seorang pemuda tampan yang berwajah gembira.
Ketika pemuda ini melihat Sui Cin, matanya terbelalak dan hampir saja mulutnya berteriak.
Akan tetapi dia menahan diri dan alisnya berkerut.
Dia merasa heran bukan main melihat Sui Cin berada di situ, apalagi setelah dia memperoleh keterangan dari teman-teman di kanan kirinya yang menceritakan siapa adanya nenek itu!
Dan orang ini bukan lain adalah Hui Song!
Dapat dibayangkan betapa besar rasa girang, kaget dan heran bercampur aduk di dalam hati Hui Song ketika tiba-tiba dia melihat Sui Cin di antara orang-orang liar dari utara ini.
Dan diapun merasa curiga apalagi mendengar bahwa nenek itu adalah Yelu Kim yang merupakan orang paling ditakuti di antara para kepala suku!
Dan Sui Cin, menurut keterangan orang-orang di kanan kirinya, adalah pengawal nenek itu!
Sui Cin menjadi pengawal tokoh dari suku-suku bangsa yang hendak mengadakan pemberontakan?
Memang merupakan suatu kebetulan yang amat mengherankan melihat tiga orang muda itu berada di situ, di antara suku-suku bangsa utara.
Kita sudah mengetahui mengapa Sui Cin dapat hadir di situ, akan tetapi bagaimana dengan Ci Kang dan Hui Song dapat pula berada di situ dalam keadaan terpisah-pisah, bahkan Ci Kang menjadi seorang di antara jagoan yang terpilih?
Seperti kita ketahui, Ci Kang telah terhindar dari malapetaka bersama Cia Sun ketika mereka berdua terjebak oleh Siang Hwa ke dalam gua bawah tanah.
Akan tetapi akhirnya mereka berhasil ke luar atas pertolongan Toan Hui Cu, puteri Raja dan Ratu Iblis.
Setelah kedua orang muda ini saling berpisah, Ci Kang tidak mau lagi menuju ke Jeng-hwa-pang di mana dia pernah disambut dengan serangan oleh para pendekar dan diapun melakukan perjalanan di sekitar daerah itu dengan hati murung.
Dia akan berusaha mencari gurunya di antara para pendekar, karena hanya dengan perantaraan gurunya dia akan dapat diterima sebagai rekan oleh para pendekar.
Pada suatu hari dia tiba di sebuah hutan dan dari jauh dia sudah mendengar suara ribut-ribut di dalam hutan itu, teriakan-teriakan manusia dan Kadang-kadang suara gerengan yang seolah-olah menggetarkan seluruh hutan.
Ci Kang yang masih bertelanjang dada itu cepat berlari memasuki hutan dan segera dia melihat keadaan yang mengerikan.
Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun berada dalam cengkeraman seekor beruang hitam yang besar sekali dan belasan orang laki-laki Suku Bangsa Khin mengurung binatang itu dan berteriak-teriak dalam usaha mereka menyerang beruang itu dan menyelamatkan anak laki-laki itu.
Akan tetapi beruang itu sungguh kuat.
Dengan kaki depan kiri yang bergerak seperti lengan binatang itu merangkul dan mencengkeram tubuh anak kecil tadi, sedangkan tangan kanannya mencengkeram dan menangkis semua serangan tombak atau pedang yang ditusukkan kepadanya.
Karena anak itu masih dicengkeram dan dipeluknya, maka para pembantu itupun berhati-hati sekali dalam penyerangan mereka, khawatir kalau kalau senjata mereka mengenai anak itu sendiri.
Dan mereka sama sekali tidak berani mempergunakan anak panah.
Melihat keadaan anak yang berada dalam ancaman maut itu, dengan pundak yang sudah robek terluka, Ci Kang tidak sempat menyelidiki lagi siapa adanya orang-orang itu dan siapa pula anak itu.
Dia sudah marah sekali melihat keganasan beruang itu dan melihat pula sudah ada dua orang yang terluka parah, mungkin terkena cengkeraman kuku kaki depan kanan beruang itu.
Ci Kang mengeluarkan suara melengking nyaring, mengejutkan para pemburu bangsa Khin itu dan dapat dibayangkan, betapa heran dan kagum rasa hati mereka ketika melihat pemuda yang bertelanjang dada dan mengeluarkan bunyi melengking seperti binatang buas itu meloncat dan tahu-tahu sudah menusukkan jari tangannya menotok pundak kiri beruang itu.
Binatang itu mengeluarkan auman marah dan kesakitan, akan tetapi totokan yang mengenai urat besar di pundaknya itu sejenak melumpuhkan lengan kirinya sehingga ketika Ci Kang menyambar tubuh anak itu, dia tidak mampu mempertahankan.
Ci Kang cepat melemparkan tubuh anak itu kepada seorang di antara para pemburu, dan dia sendiri cepat menghadapi beruang yang kini menjadi semakin marah.
Beruang itu sudah menerjang dan menubruk ke depan, kedua kaki depan itu bergerak seperti lengan yang amat kuat, dengan kuku-kuku jari yang meruncing panjang, menerkam dari kanan kiri ke arah tubuh Ci Kang.
Akan tetapi, Ci Kang sudah siap siaga.
Dengan gerakan yang amat gesit tubuhnya menyelinap ke bawah kaki yang menerkam itu, dan begitu dia terhindar, dia membalik dan tangan kanannya menyambar.
"Dukkk..."
Betapapun kuatnya kepala beruang itu, begitu terkena tamparan tangan Ci Kang yang amat kuatnya, beruang itu mengeluarkan suara pekik hebat dan tubuhnya terpelanting dan terbanting keras sampai bergulingan.
Akan tetapi, binatang itu memang kuat sekali.
Kulitnya yang tebal melindungi kepalanya sehingga tidak sampai pecah terpukul dan biarpun binatang itu menjadi pening karena guncangan hebat pada kepalanya, ia masih dapat meloncat bangun dan menerkam lagi, kini gerakannya ngawur karena matanya masih berkunang.
Ci Kang meloncat ke samping, kemudian dari samping dia memukul.
Kini dia mengerahkan tenaga pada telapak tangan kanannya itu menghantam ke arah dada kiri beruang.
"Krakkk!"
Jelas sekali terdengar tulang-tulang patah ketika tangan yang ampuh itu menghantam tulang-tulang iga di balik kulit tebal.
Beruang itu mengaum dan terjengkang.
Ci Kang meloncat dekat dan sekali tangannya bergerak memukul, kini terkepal, terdengar lagi pecahnya tulang dan kepala beruang itupun retak.
Binatang itupun tewas dengan mata, hidung, mulut dan telinga mengeluarkan darah!
Terdengar sorak-sorai memuji dan bahkan ada yang bertepuk tangan, dan ada pula yang menari-nari mengelilingi bangkai beruang itu.
Seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pemimpin rombongan, memegang lengan Ci Kang dan mengguncang-guncangkan lalu memeluk Ci Kang dengan sikap ramah bersahabat.
"Orang muda, engkau telah menyelamatkan putera kepala suku kami,"
Kata orang itu dalam bahasa Han yang cukup lancar.
Kiranya orang ini adalah seorang bangsa Khin yang sudah sering berhubungan dengan orang-orang Han di perbatasan untuk menjual kulit-kulit harimau hasil buruan rombongannya.
Ci Kang melihat bahwa luka di pundak anak itu sudah dibalut dan bahwa anak itu tidak terancam bahaya.
Dia mengangguk.
"Aku tidak perduli dia anak siapa, akan tetapi aku girang kalau dia selamat,"
Jawabnya sederhana.
Jawaban ini agaknya membuat semua orang bergembira dan kagum dan satu demi satu mereka menyalami Ci Kang.
Orang-orang ini sudah begitu biasa dengan sikap gagah dan jujur, sehingga pernyataan Ci Kang itu menambah rasa kagum di hati mereka.
Biasanya orang-orang Han selalu merupakan penjilat-penjilat kepada atasan dan penindas-penindas kepada bawahan, pikir mereka.
"Orang muda, mari ikut bersama kami pergi menemui kepala suku kami,"
Kala si brewok yang menjadi pimpinan rombongan itu.
Ci Kang memandang orang itu dan mengerutkan alisnya.
"Aku tidak butuh hadiah!"
Setelah berkata demikian, dia membalikkan tubuhnya hendak pergi dari situ.
Akan tetapi, dengan langkah lebar si brewok itu mengejarnya dan mendahuluinya lalu menghadang di depannya.
"Kau mau apa?"
Bentak Ci Kang sambil mengepal tinju.
Hatinya yang sedang kesal membuatnya murung dan mudah marah.
Tiba-tiba orang brewok itu menjatuhkan diri berlutut.
"Orang muda, aku hanya minta agar engkau suka menyelamatkan nyawaku."
Tentu saja Ci Kang menjadi heran dan terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Orang muda, anak yang kau selamatkan tadi adalah putera kepala suku kami. Kalau engkau tidak mau ikut bersama kami menemuinya, bukan untuk minta pahala melainkan untuk menjadi saksi, tentu aku dianggap mempunyai dua kesalahan dan akan dihukum mati. Pertama, aku membiarkan puteranya sampai terluka dan kedua, aku membiarkan penolongnya tanpa memperkenalkannya kepada kepala kami."
Ci Kang mengerutkan alisnya.
Dia percaya bahwa orang-orang yang kasar ini, orang-orang yang mempunyai pekerjaan yang sama dengannya, yaitu pemburupemburu binatang, tidak pernah membohong, dan kebiasaan yang kasar dan keras dari kapala suku itu mungkin benar.
Dan apa salahnya kalau dia berkenalan dengan orang-orang ini?
Berada di antara orang-orang kasar jujur pekerjaannya memburu binatang ini dia merasa tidak asing.
"Jauhkah tempat kepala suku itu?"
"Tidak, orang muda, tidak sampai seperempat hari perjalanan. Siang nanti kita sudah akan tiba di sana."
"Baiklah. Mari kita berangkat."
Dan orang brewok itu memang tidak berbohong.
Setelah matahari naik tinggi, tibalah mereka di perkampungan Suku Bangsa Khin itu dan andaikata Ci Kang tidak ikut datang, tentu si brewok ini mengalami hukuman berat.
Kepala suku itu orangnya tinggi besar dan kasar, sepasang matanya yang lebar itu keras dan terbuka.
Dia mendengarkan penuturan si brewok dengan alis berkerut.
Akan tetapi setelah memeriksa pundak puteranya yang terluka dan mendapat kenyataan bahwa keadaan puteranya tidak berbahaya, apelagi mendengar bahwa pemuda yang tak berbaju ini telah membunuh beruang hitam besar hanya dengan pukulan tangan kosong, dia lupa akan kemarahannya.
Sejenak dia memandang Ci Kang dengan sepasang mata penuh selidik dan agaknya dia tidak percaya ketika mendengar penuturan si brewok dan kawan-kawannya bahwa Ci Kang telah membunuh beruang itu hanya dengan tiga kali pukulan saja!
Kepala suku itu menggeleng kepala dan dia memandang kepada kedua lengannya yang berotot dan besar.
"Mana mungkin membunuh beruang hitam dewasa dengan tiga kali pukulan saja? Kedua tangan inipun tidak sanggup menandingi kekuatan beruang hitam. Mungkin dalam perkelahian mati-matian akhirnya aku akan dapat membunuhnya, akan tetapi dengan tiga kali pukulan? Tak mungkin! Orang muda, benarkah engkau tadi telah membunuh seekor beruang hitam dewasa dengan tiga kali pukulan?"
Ci Kang sudah menyukai sikap terbuka itu.
Orang-orang ini mengagumkan, pikirnya dan cocok sekali dengan wataknya.
Dia sejak kecil suka sekali berburu binatang dan walaupun ayahnya dan rekan-rekan ayahnya suka mencemoohkannya, namun dia menganggap berburu binatang untuk dimakan dagingnya dan dimanfaatkan kulitnya merupakan pekerjaan yang gagah.
Mencari makan dengan cara yang perkasa!
"Benar, dan kalau aku mau, aku dapat membunuh binatang itu dengan satu kali pukulan saja!"
Ucapan Ci Kang ini timbul dari hati yang sejujurnya, bukan untuk menyombongkan diri.
Kepala suku itu mengerutkan alisnya dan menganggap ucapan ini sebagai tanda ketinggian hati.
"Orang muda, kalau engkau tidak dapat membuktikan ucapanmu itu, terus terang saja engkau mengecewakan hatiku dan aku menjadi tidak suka kepadamu walaupun engkau telah menolong puteraku."
"Aku tidak berbohong dan perlu apa aku membuktikan omonganku? Andaikata engkau mempunyai seekor beruang hitam di sini, akupun tidak mau membunuhnya tanpa sebab, hanya untuk membuktikan omonganku."
"Orang muda, kekuatanku lima kali seekor beruang hitam. Kalau engkau mampu mengalahkan seekor beruang dengan satu kali pukulan saja, berarti bahwa engkau akan mampu mengalahkan aku dengan lima kali pukulan. Betapa tidak masuk di akal! Nah, aku akan melihat buktinya. Kalau engkau dapat mengalahkan aku dalam sepuluh jurus, berarti omonganmu memang benar."
"Kalau tidak dapat?"
"Berarti engkau bohong dan perkenalan kita hanya sampai di sini saja. Nah, bersiaplah engkau, kecuali kalau engkau takut!"
Harga diri Ci Kang tersentuh dengan ucapan itu.
"Aku tidak butuh membuktikan kemampuanku, akan tetapi kalau engkau memaksaku, jangan dikira aku takut!"
Sepasang mata yang lebar itu berseri.
"Bagus, nah, mari kita mulai, orang muda!"
Dia lalu mengajak Ci Kang keluar dari dalam rumahnya dan mereka sudah saling berhadapan di depan rumah itu, di halaman yang luas di mana tumbuh rumput hijau yang subur.
Orang-orang Khin ini selain merupakan pemburupemburu yang ulung, juga beternak domba dan mereka menanam semacam rumput yang amat gemuk dan baik sekali untuk makanan ternak mereka.
Kini dua orang laki-laki itu berdiri berhadapan dan banyak sekali orang Khin yang mendengar akan kedatangan pemuda yang gagah perkasa penolong putera kepala suku mereka, sudah berada di situ dan kini dengan wajah berseri mereka melihat betapa kepala suku mereka akan menguji pemuda itu!
Melihat Ci Kang bertelanjang dada, ketua itupun menanggalkan baju atasnya dan Ci Kang melihat tubuh seorang laki-laki yang jantan dan amat tegap, kokoh dan kuat.
Akan tetapi dia dapat menduga bahwa kepala suku itu hanya memiliki tenaga otot yang amat besar saja, dan dia tidak merasa gentar.
Akan tetapi diapun tidak memandang rendah dan mengambil keputusan untuk mengalahkan raksasa ini kurang dari sepuluh jurus karena diapun tidak ingin kehilangan persahabatan dengan orang-orang yang menyenangkan hatinya.
Bahkan orang-orang wanitanya yang berada di situ kelihatan gagah-gagah, sama sekali berbeda dengan wanita-wanita Han yang kebanyakan lemah.
Tentu saja ada kecualinya, pikirnya, terutama sekali Gadis-gadis seperti Sui Cin dan Hui Cu, puteri Ratu Iblis itu!
"Aku sudah siap!"
Katanya ketika melihat ketua itu melangkah maju dengan kedua lengan panjang itu tergantung ke sisi, dengan jari-jari tangan terbuka dan agak melengkung.
Sikap ini mirip sikap beruang hitam tadi, pikir Ci Kang dan diapun bersikap waspada, dapat menduga bahwa orang ini tentu ahli dalam ilmu gulat dan karenanya amat berbahaya kalau sampai kedua lengan panjang dengan jari-jari tangan kuat itu sampai dapat menangkapnya.
Akan tetapi ketika kepala suku itu menerjang dengan amat cepatnya, dia sudah mengambil keputusan untuk memperlihatkan kepandaiannya dan menundukkan raksasa ini secepat mungkin.
Ci Kang mempergunakan perhitungan yang matang dan berani.
Ketika dua tangan yang besar itu menyambar dari kanan kiri, dia sengaja berlaku lengah atau lambat, akan tetapi untuk menjaga kecepatan gerak tangannya, dia tidak membiarkan pundak atau lengannya tersentuh, apalagi tertangkap.
Dengan mengembangkan kedua lengannya, dia membiarkan batang leher dan pangkal lengan kirinya kena dicengkeram, sedangkan secepat kilat, begitu merasa kedua tangan lawan menyentuhnya, jari tangan kanannya bergerak dua kali menotok ke arah jalan darah di kedua pundak lawan.
Saking cepatnya, gerakan ini sampai tidak nampak oleh kepala suku itu sendiri yang tiba-tiba merasa betapa dua buah lengannya kehilangan tenaga sama sekali dan menjadi seperti lumpuh.
Biarpun kelumpuhan itu hanya terjadi untuk beberapa detik saja lamanya, namun cukup bagi Ci Kang untuk menggerakkan kakinya dan ujung sepatunya menyentuh kedua lutut lawan.
Kedua kaki yang besar dan kuat itu seketika kehilangan tenaga dan tubuh itupun terkulai dan roboh miring!
Kepala suku itu merasa kaget, heran dan penasaran sekali ketika mendapat kenyataan betapa dalam segebrakan saja dia sudah roboh dan kini kedua lengannya dicengkeram oleh lawan yang sudah berlutut di belakangnya.
Dia mengerahkan tenaga raksasanya, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh dan tubuhnya mengejang, tenaganya hilang.
Tiap kali dia mengerahkan tenaga, rasa nyeri yang amat hebat naik ke dalam dadanya dari kedua lengan yang dicengkeram Ci Kang.
Belum pernah selama hidupnya kepala suku itu mengalami hal seperti ini.
Cengkeraman rahasia dari lawan itu membuat dia menderita nyeri hebat setiap kali dia mengerahkan tenaga!
Melihat betapa kepala suku itu kini sama sekali tidak meronta lagi, Ci Kang melepaskan cengkeraman kedua lengannya dan melompat bangun, berdiri dengan sikap tenang.
Semua orang yang menonton pertandingan itu melongo, tak dapat percaya betapa kepala suku itu tak berdaya dan dikalahkan hanya dalam satu gebrakan saja!
Hal seperti ini mereka anggap sama sekali tidak mungkin!
Kepala suku mereka itu mempunyai kekuatan lebih dari sepuluh orang biasa!
Akan tetapi kepala suku bangsa Khin itu sendiri adalah seorang gagah yang tentu saja cerdik.
Kalau tidak demikian, tak mungkin dia bisa menjadi kepala suku bangsa yang kasar dan gagah berani, juga sukar diatur.
Dia tahu apabila dia kalah dan menghadapi orang-orang yang jauh lebih kuat darinya.
Oleh karena itu, diapun bangkit, memijit-mijit kedua lengannya bergantian, memandang kepada Ci Kang dengan wajah berseri, lalu mengulurkan kedua tangannya dan merangkul Ci Kang!
Pemuda ini sudah siap membela diri kalau kepala suku itu akan bertindak curang, akan tetapi ternyata rangkulan itu adalah pelukan persahabatan biasa saja.
"Orang muda, sungguh engkau hebat dan aku sendiri akan memukul orang yang tidak percaya bahwa dengan satu pukulan, engkau akan mampu merobohkan seekor beruang hitam dewasa! Engkau hebat dan aku, Moghu Khali, mengaku kalah!"
Kepala suku itu tertawa gembira dan sikap ini makin mengagumkan hati Ci Kang.
"Engkau memiliki tenaga yang amat kuat!"
Dia memuji dengan sejujurnya.
"Kalau hanya mempergunakan tenaga badan saja melawanmu, aku tentu akan kalah."
Kedudukan Moghu Khali yang tinggi di antara suku bangsanya itu sama sekali tidak membuat kepala suku ini sombong atau tinggi hati.
Dia tertawa dan girang sekali mendengar ucapan yang jujur itu.
"Orang muda, siapakah namamu?"
"Siangkoan Ci Kang."
"Saudara Siangkoan, kita sudah saling mengenal nama dan saling mengenal tenaga dan kepandaian. Ilmu kepandaianmu dalam perkelahian memang hebat dan kalau engkau suka mengajarku tentang cengkeraman rahasia yang membuat aku tidak mampu mengerahkan tenaga tadi, sunguh aku akan merasa gembira sekali."
Ci Kang memang merasa kagum dan suka kepada kepala suku ini, maka diapun mengangguk.
"Baiklah, saudara Moghu, akan kuajarkan cara mencengkeram seperti tadi."
Moghu Khali girang sekali dan sambil menggandeng tangan Ci Kang, dia lalu mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumah.
Sejak saat itu Ci Kang menjadi seorang tamu yang amat dihormat dan disuka.
Karena sikap ini, Ci Kang menjadi semakin akrab dengan mereka.
Melihat betapa kepala suku itu mempunyai banyak bulu binatang liar yang bagus, diapun lalu minta dibuatkan sebuah jubah bulu harimau yang menjadi kesukaannya.
Kemudian, dalam percakapan mereka, dia mendengar bahwa di antara kepala suku akan diadakan pemilihan ketua atau pimpinan.
"Di selatan terjadi pergolakan dan pemberontakan,"
Demikian antara lain Moghu Khali berkata.
"Kota benteng Sanhaikoan telah diduduki pemberontak yang kabarnya didukung oleh orang-orang pandai. Kami, bangsa Mongol, Khin dan Mancu harus bersatu untuk menghadapi pemberontak itu dan rencana kami adalah merampas kota-kota yang telah mereka duduki untuk dijadikan benteng-benteng kami di perbatasan. Dan untuk itu, kami akan mengadakan pemilihan pimpinan dan kalau engkau sudi membantu, dan suka menjadi jago kami, aku yakin bahwa tentu aku yang akan terpilih menjadi pimpinan."
"Menjadi jago? Apa yang kau maksudkan, saudara Moghu Khali?"
Tanya Ci Kang, di dalam hatinya terkejut mendengar betapa para pemberontak yang dipimpin oleh Raja Iblis itu ternyata telah merampas dan menduduki benteng kota Sanhaikoan.
Moghu Khali lalu menceritakan kepada pemuda itu tentang rencana para suku bangsa untuk mengadakan pemilihan pimpinan melalui adu jago, seperti yang diusulkan oleh nenek Yelu Kim dan diterima oleh mereka semua.
Biarpun kepala suku itu tidak membuka semua rencana para suku bangsa utara, Ci Kang sudah dapat menduga bahwa tentu para suku bangsa itu tidak memusuhi para pemberontak karena setia kawan kepada pemerintah Kerajaan Beng, melainkan karena mereka itu juga ingin membangun kembali kekuatan mereka yang telah hancur berantakan akibat jatuhnya Kerajaan Mongol.
Akan tetapi baginya, yang penting sekarang adalah menghadapi para pemberontak, dan kalau Raja Iblis sudah bersekutu dengan pasukan, bahkan telah merampas kota benteng Sanhaikoan, sebaiknya kalau dia mempergunakan suku bangsa Khin ini untuk menentang para pemberontak.
"Baik, saudara Moghu, aku akan membantumu dan suka menjadi jagoanmu untuk mengalahkan para jagoan lain. Tentu saja aku tidak yakin akan menang karena suku-suku bangsa itu tentu akan mengajukan jago-jago yang tangguh."
"Ha ha ha! Kesanggupanmu sudah merupakan kemenangan, saudara Siangkoan. Andaikata nasib tidak mempertemukan aku dan engkau, tentu aku sendiri yang maju. Akan tetapi walaupun tidak ada kulihat jagoan di utara yang dapat mudah mengalahkan aku, namun aku masih ragu-ragu karena memang banyak orang-orang kuat yang memiliki tenaga besar dan ilmu gulat yang hebat di daerah ini. Akan tetapi, tak mungkin ada di antara mereka yang akan dapat mengalahkanmu. Ha ha ha, aku sendiri kalah dalam segebrakan, siapa mampu mengalahkan seorang seperti engkau? Terima kasih, saudaraku. Kita harus mengadakan persiapan sekarang."
Demikiahlah, ketika sayembara adu jago untuk menentukan pemenang bagi calon pemimpin suku-suku di utara, Ci Kang muncul dengan gagahnya, mewakili Bangsa Khin, menunggang seekor kuda putih dan memegang sebatang tombak kongce.
Akan tetapi bagaimana Hui Song tiba-tiba dapat menyelinap di antara banyak orang, dan berpakaian sebagai seorang anggauta rombongan Mancu Timur?
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita mengikuti perjalanan Hui Song, pemuda jenaka yang biasa bergembira dan yang kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi berkat gemblengan selama kurang lebih tiga tahun oleh Siangkiang Lojin Si Dewa Kipas.
Seperti telah kita ketahui, Cia Hui Song hanya berhasil menyelamatkan Kok Hui Lian, anak perempuan berusia sepuluh tahun, puteri gubernur Sanhaikoan yang telah tewas bersama semua keluarganya itu.
Ketika melarikan anak perempuan itu, dia bertemu dengan sebagian dari Cap-sha-kui dan dikeroyok.
Untung ketika anak perempuan itu terancam, muncul Ciang Su Kiat murid Cin-Ling-Pai yang buntung lengan kirinya itu dan orang ini melarikan Hui Lian.
Karena Sanhaikoan telah jatuh ke dalam tangan pemberontak dan dia tidak mampu melakukan suatu untuk menentang para pemberontak, Hui Song lalu pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk menghadiri pertemuan para pendekar.
Pertemuan itu menjadi semakin penting saja setelah kini Raja Iblis dan kawan-kawannya sudah membuktikan pelaksanaan rencana mereka untuk memberontak dengan direbutnya Sanhaikoan.
Di tempat ini dia bertemu dengan beberapa orang pendekar yang sudah datang terlebih dahulu.
Akan tetapi karena memang hari yang ditentukan belum tiba, dia bersama para pendekar menanti di sekitar tempat itu.
Tak disangkanya Siangkoan Ci Kang yang dianggap sebagai seorang tokoh muda kaum sesat yang amat berbahaya itu muncul di situ.
Tentu saja Hui Song menjadi curiga.
Dia tahu benar siapa adanya pemuda ini dan betapapun gagah pemuda itu, kenyataan bahwa dia adalah putera tunggal Si Iblis Buta tentu saja menimbulkan kecurigaan bahwa Ci Kang tentu datang untuk menjadi mata-mata kaum hitam.
Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu lagi Hui Song menyerangnya dan para pendekar juga menjadi marah kepada Siangkoan Ci Kang.
Pada hari itu juga girang Hui Song melihat kedatangan gurunya, yaitu Si Dewa Kipas.
Murid dan guru ini segera bercakap-cakap dan ternyata kakek gendut itupun sudah mendengar tentang jatuhnya Sanhaikoan ke tangan para pemberontak.
"Mereka telah benar-benar bergerak,"
Kata kakek itu sambil menarik napas panjang.
"Kini tidak mungkin lagi kita melawan mereka begitu saja. Raja dan Ratu Iblis bersama para datuk kaum sesat, betapapun sakti mereka itu, dapat kita hadapi bersama. Kalau para pendekar bersatu, agaknya fihak kita tidak akan kalah kuat. Akan tetapi setelah mereka itu mempunyai pasukan besar sebagai sekutu, tentu saja tak mungkin bagi kita melawan pasukan yang beribu-ribu banyaknya. Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah berpencar dan membantu pasukan pemerintah kalau bertempur dengan mereka, di manapun juga."
Hui Song lalu bercerita tentang putera Si Iblis Buta yang baru pagi tadi datang ke tempat itu dan melarikan diri setelah mereka serang.
"Dia itu tentu mata-mata musuh, suhu. Sayang kami tidak dapat menangkapnya. Dia sungguh lihai."
Kakek gendut itu mengerutkan alisnya.
Kakek yang biasanya tertawa-tawa gembira itu kini kehilangan kegembiraannya melihat betapa kaum pemberontak telah bergerak sebelum mereka mampu mencegahnya.
"Aku tidak dapat menduga bagaimana sesungguhnya mereka itu. Aku tidak yakin apakah putera Iblis Buta itu juga bekerja untuk mereka."
"Tentu saja, suhu. Bagaimana tidak? Sejak dahulu dia itu merupakan tokoh jahat yang berbahaya sekali."
"Akan tetapi engkau harus ingat bahwa ayahnya dibunuh oleh Raja Iblis,"
Bantah kakek gendut itu.
"Sekali jahat tetap jahat!"
Hui Song berkata lagi.
"Putera seorang datuk seperti Iblis Buta itu, tentu menjadi seorang tokoh sesat yang luar biasa. Biarpun ayahnya terbunuh oleh Raja dan Ratu Iblis, mana mungkin dia lalu berubah menjadi orang baik-baik, bahkan hendak mendekati kaum pendekar? Dia tentu mata-mata, suhu."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Mungkin ada perebutan kekuasaan di antara mereka, Hui Song. Akan tetapi ada yang lebih penting lagi. Biarlah aku yang menghadiri pertemuan dan engkau kuberi tugas baru yang amat penting."
Girang rasa hati Hui Song.
Dia gelisah memikirkan Sui Cin dan duduk menganggur sambil menanti hari pertemuan itu di bekas benteng Jeng-hwa-pang sungguh tidak menyenangkan hatinya.
"Tugas apakah itu, suhu?"
"Setelah kini Raja Iblis bersekutu dengan pasukan pemberontak, bagi kita hanya dapat membantu pasukan-pasukan pemerintah untuk menumpas mereka. Akan tetapi ada kekuatan lain yang mungkin dapat kita manfaatkan. Kekuatan itu adalah para suku bangsa di daerah ini. Kalau mereka itu mau bergerak membantu dan menentang pemberontak, tentu akan mudah lagi menghancurkan para pemberontak berikut Raja Iblis dan kaki tangannya. Karena itu, aku menguasakan kepadamu untuk melakukan penyelidikan terhadap suku-suku liar itu, Hui Song. Kalau ada kemungkinan mengajak mereka itu untuk menentang pemberontak, sungguh merupakan bantuan besar sekali kepada pemerintah."
"Akan tetapi, bukankah suhu pernah mengatakan bahwa kita tidak akan mencampuri urusan pemerintah dan hanya semata-mata bangkit untuk menentang Raja Iblis dan para datuk sesat yang hendak mengacaukan negara."
"Benar, akan tetapi setelah mereka itu bergabung dengan pasukan pemberontak, tidak ada jalan bagi kita untuk membantu pemerintah menumpas mereka."
"Baiklah, suhu, akan kuselidiki keadaan para suku bangsa di daerah ini."
Hui Song lalu meninggalkan bekas benteng Jeng-hwa-pang dan menuju ke utara, mendaki bukit dan melintasi gurun pasir.
Tanpa disadarinya, ia tersesat jalan menuju ke timur dan pada suatu hari tibalah dia di sebuah dusun kecil.
Hari telah menjelang senja ketika dia memasuki pintu gerbang sederhana dusun itu, akan tetapi yang membuat dia merasa heran adalah karena dusun itu sunyi senyap, tidak nampak seorang manusia, bahkan tidak terdengar sesuatu.
Sebuah dusun kosong?
Bukan, pikirnya.
Masih ada asap mengepul dari sebuah rumah di antara rumahrumah kecil yang agaknya dibangun secara darurat di dusun itu.
Akan tetapi ke manakah perginya semua orang?
Agaknya mereka bersembunyi, pikirnya.
Bagaimanapun juga pendengarannya yang terlatih dan amat tajam dapat menangkap gerakan-gerakan dan dia merasa yakin bahwa dia telah dikurung secara sembunyi-sembunyi oleh banyak orang!
Karena dia merasa sebagai seorang tamu yang tidak diundang di dusun itu, maka Hui Song merasa tidak enak sekali dan diapun berdiri di tengah-tengah lapangan di antara rumah-rumah itu, di mana ia melihat bekas api unggun yang agaknya baru saja dipadamkan secara tergesa-gesa.
Di sini dia berdiri tegak, memandang ke empat penjuru, ke arah rumah-rumah yang sunyi itu, dan diapun berkata dengan dengan suara lantang.
"Saya Cia Hui Song, seorang kelana yang kemalaman di jalan, mohon kebaikan hati para penghuni dusun untuk mengijinkan saya melewatkan malam di dusun ini!"
Tidak ada jawaban.
Sampai tiga kali dia mengulang kata-katanya akan tetapi hanya dijawab oleh ringkik kuda di kejauhan saja.
Akan tetapi Hui Song dapat merasakan bahwa pengurungan tempat itu makin rapat sehingga dia bersikap waspada.
Tiba-tiba saja, seperti yang sudah diduganya, terdengar teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak dimengertinya dan tahu-tahu puluhan batang anak panah menyerbu dan menyerangnya dari semua penjuru!
(Lanjut ke
Jilid 28) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28
"Aku bukan penjahat..."
Teriak Hui Song akan tetapi percuma saja karena anak panah yang amat banyak itu sudah mcluncur ke arah dirinya.
Hui Song terpaksa menanggalkan jubahnya dan memutar jubahnya itu untuk melindungi tubuhnya.
Semua anak panah runtuh dan tidak ada sebatangpun yang mengenai dirinya, akan tetapi jubahnya robek-robek, juga bajunya ada yang robek, terkena anak panah.
Begitu anak panah itu dapat diruntuhkannya semua, tiba-tiba nampak sinar hitam meluncur dan dia melihat bahwa itu adalah tali-tali hitam panjang yang berbentuk laso pada ujungnya.
Dia tersenyum dan berdiri tegak tidak mengelak.
Dan lasolaso itu ternyata dengan amat cepatnya telah mengalungi lehernya, bahkan kedua tangannya juga kena dibelenggu.
Harus diakuinya bahwa pelempar-pelempar laso itu amat mahir dan agaknya para penghuni dusun ini adalah peternak-peternak lembu karena hanya peternak peternak lembu saja yang pandai menggunakan laso untuk menangkap lembu-lembu mereka yang binal atau kabur.
Setelah tubuhnya terbelit-belit laso, terdengar sorak kegirangan dan kini muncul puluhan orang, laki-laki dan wanita, yang kesemuanya berpakaian indah, berwajah cantik-cantik dan tampan-tampan, akan tetapi yang pada saat itu memandang kepadanya dengan penuh kemarahan!
Mereka muncul sambil mengacungkan senjata mereka yang berupa tombak-tombak, golok dan juga anak panah, semua diacungkan dan diangkat tinggi-tinggi.
Agaknya mereka itu siap untuk mengeroyok dan menghancurkan tubuhnya.
Akan tetapi terdengar bentakan nyaring dan mereka semua itu berhenti, lalu muncul seorang laki-laki muda yang tampan.
Usia laki-laki ini tiga puluh tahun lebih, wajahnya tampan dan pakaiannya paling indah, dengan jubah dari bulu tebal.
Laki-laki ini maju dan dia diiringkan oleh belasan orang wanita yang kesemuanya muda-muda dan cantik-cantik, usia mereka dari lima belas sampai dua puluh lima tahun!
Laki-laki bermantel bulu dan bartopi lebar ini melangkah maju dan semua orang yang mengepung Hui Song hanya memandang, namun siap untuk mengeroyok Hui Song andaikata pemuda yang sudah terbelenggu banyak tali laso itu memberontak.
Kini laki-laki bertopi itu berdiri di depan Hui Song yang masih berpura-pura tidak berdaya dalam lilitan laso.
Kalau dia mau, tentu saja sekali meronta semua tali laso akan putus dan dia dapat bergerak bebas.
Akan tetapi dia hendak melihat dahulu perkembangannya, ingin tahu mengapa orang-orang yang tidak dikenalnya ini memusuhinya.
Kemunculan mereka saja sudah menarik perhatiannya karena mereka itu tidak nampak seperti orang-orang liar yang kasar, bahkan gerak-gerik mereka halus, pakaian mereka indah dan tubuh mereka terpelihara rapi dan bersih.
Laki-laki bertopi inipun nampak tampan dan bersih, dan wanita-wanita yang datang bersamanya juga cantik-cantik dan berpakaian rapi.
"Aha, kiranya engkau tampan juga!"
Kata laki-laki bertopi itu.
"Dengan ketampanan dan kemudaanmu, apa sukarnya bagimu untuk menjatuhkan hati wanita-wanita cantik. Kenapa engkau harus mencari wanita dengan cara menculik dan memperkosanya?"
Tentu saja Hui Song melongo mendengar tuduhan-tuduhan ini.
Seorang di antara para wanita itu, yang termuda dan paling manis tiba-tiba melangkah maju menghampirinya.
Mata wanita ini merah oleh tangis.
"Kembalikan adikku..."
Bentaknya dan tiba-tiba tangan yang kecil halus itu bergerak menampar.
"Plak! Plak!"
Dua kali pipi Hui Song ditamparnya dan laki-laki bertopi itu cepat menangkap lengannya dan melarangnya memukul lagi.
Wanita itupun mundur sambil terisak.
"Ia adalah kakak gadis yang kau culik semalam. Nah, tidak tergerakkah hatimu menyusahkan hati seorang gadis semanis ia? Padahal, kalau engkau menjadi orang baik-baik, banyak kiranya gadis yang akan jatuh hati kepadamu, yang menyerahkan jiwa raga kepadamu tanpa kau paksa atau perkosa..."
Biarpun pria itu bicara dengan halus, dengan bahasa yang teratur dan tidak kaku, bahkan halus dan sopan seperti bahasa orang terpelajar, namun Hui Song merasa tersinggung dan bingung.
Tamparan tadi tidak begitu dirasakannya, akan tetapi tuduhan bahwa ia menculik dan memperkosa wanita, sungguh keterlaluan.
Tahulah dia mengapa dia dimusuhi.
Kiranya dia disangka penculik wanita yang agaknya sudah beberapa kali menculik wanita-wanita dari suku ini dan malam ini sengaja mereka berusaha menjebak dan menangkap si pencuri anak perawan!
"Aku bukan pencuri perawan!
Untuk apa aku mencuri wanita...?"
Dia berseru beberapa kali.
Akan tetapi agaknya yang mengerti bahasanya hanyalah pria bertopi, Gadis-gadis pengikutnya dan beberapa orang saja.
Yang tidak mengerti lalu bertanya-tanya dan keadaan menjadi berisik.
Tiba-tiba saja terdengar jerit wanita melengking nyaring.
Semua orang terkejut.
Jerit itu keluar dari rumah terbesar yang berada di tengah dusun.
"Adikku perempuan..."
Laki-laki bertopi itu berteriak gelisah.
Hui Song segera dapat mengerti apa yang telah terjadi.
Agaknya, selagi dia ditawan dan dituduh sebagai pencuri anak perawan, si pencuri yang aseli sedang bekerja dan agaknya sekali ini yang dicurinya bukan perawan kepalang tanggung, melainkan adik dari orang bertopi yang agaknya menjadi pemimpin mereka itu!
Dan inilah kesempatan baik baginya untuk membuktikan bahwa dia bukanlah penculik perawan, dan kesempatan baik baginya untuk mencegah terjadinya perbuatan terkutuk dan juga membasmi penjahat pemetik bunga itu.
Maka diapun bergerak dan sekali meronta, terdengar suara keras dan semua tali laso itupun putus.
Orang-orang berteriak kaget dan Hui Song meloncat dengan gerakan seperti seekor burung terbang saja.
"Aku akan menangkap penjahat itu!"
Serunya kepada si kepala dusun dan tanpa memperdulikan lagi teriakan-teriakan atau halangan-halangan dari mereka, dia berlompatan menuju ke arah suara jeritan wanita tadi.
Gerakannya yang memang lincah sekali itu tidak terlambat.
Dia melihat bayangan berkelebat keluar dari rumah itu, memanggul tubuh seorang wanita yang kelihatan pingsan atau mungkin juga tertotok.
"Perlahan dulu, sobat!"
Hui Song berkata dan dia sudah menerjang ke depan, jari tangan kirinya menotok ke arah pundak.
Orang itu nampak terkejut dan gerakannya ternyata juga amat cepat dan ringan.
Dengan mudahnya dia menggerakkan pundak, mengelak dan melanjutkan larinya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika tahu-tahu tangan yang tadi luput menotok itu dilanjutkan dengan totokan ke arah lambungnya sedangkan tangan lain menyambar ke atas, mencengkeram ke arah kepalanya.
Dan dua gerakan ini mengandung hawa yang amat kuat!
Agaknya orang itu sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang sepandai ini di daerah liar itu, maka dia mengeluarkan ke arah kepalanya.
"Dukk..."
Dan orang yang tidak mengerahkan semua tenaganya itu terhuyung! "Eh, siapa kau...?"
Bentaknya dan dari suaranya Hui Song tahu jelas bahwa orang ini adalah seorang Han.
Dan setelah orang itu kini melempar korbannya ke atas tanah dan menghadapinya, dia melihat di dalam keremangan senja bahwa dia adalah seorang laki-laki muda yang berwajah tampan bertubuh tegap dan berpakaian pesolek.
Dia teringat akan putera Siangkoan Lojin Si Iblis Buta.
Bukan, pemuda ini bukan putera datuk sesat itu, melainkan seorang pemuda tampan pesolek yang gerak-geriknya halus.
Kalau di tempat seperti ini ada seorang penjahat bangsa Han, jelaslah bahwa penjahat itu tentu anggauta dari para datuk sesat anak buah Raja Iblis!
"Aku adalah pembasmimu, jai-hwa-cat terkutuk!"
Hui Song membentak dan dia sudah menerjang lagi dengan tamparan-tamparan yang amat kuat karena dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang menghadapi penjahat yang dia dapat menduga juga lihai ini.
Tamparan-tamparan itu hebat sekali dan si penjahat agaknya mengenal pukulan lihai, maka dia menggerakkan tangan, sekali ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis.
"Plakk! Dukkk..."
Sekali ini, dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur dan seluruh tubuh mereka tergetar.
Hui Song terkejut dan marah, akan tetapi pada saat itu, orang-orang dusun sudah datang dengan senjata di tangan.
Mereka berteriak-teriak dan hendak maju mengeroyok, sebagian lagi, dipimpin pemuda bertopi, menolong gadis yang tadi dilemparkan ke atas tanah.
Melihat keadaan tidak menguntungkan, penjahat pemetik bunga itu lalu mengeluarkan seruan panjang dan meloncat jauh, terus lari menghilang dalam cuaca yang sudah mulai gelap.
Hui Song tidak mengejar karena penjahat itu sudah melepas korbannya.
Mengejar seorang musuh selihai itu di dalam gelap amatlah berbahaya, dan pula, tugasnya adalah menyelidiki suku-suku bangsa ini, bukan mengejar-ngejar jai-hwa-cat.
Si pria bertopi kini menghampiri dan merangkulnya.
"Engkau telah menyelamatkan adikku. Maafkan kecurigaan kami tadi. Kami mengira engkau penjahat itu, siapa tahu engkau malah penolong kami."
"Sudahlah, kesalah-pahaman itu dapat kumengerti dan dapat kumaafkan. Betapapun juga, penjahat itu telah menolongku."
"Menolongmu?"
Pria bertopi itu berseru heran.
"Kalau tidak dia muncul mencuri adikmu, tentu aku masih terus didakwa pencuri anak perawan."
Hui Song tertawa dan orang itupun tertawa, juga belasan orang wanita cantik yang mengerti omongannya tertawa.
Suasana berobah gembira sekali.
"Ha-ha, ternyata engkau selain tampan dan lihai, juga periang seperti kami. Saudara yang baik, siapakah namamu tadi? Engkau tadi pernah memperkenalkan nama ketika muncul untuk pertama kali, akan tetapi sayang aku tidak begitu memperhatikan karena kemarahan menyangka engkau penjahat."
"Namaku Cia Hui Song."
"Bagus sekali, Cia-taihiap. Namaku adalah Lamnong dan aku kepala suku bangsaku, bangsa Mancu Timur yang terpencil dan tidak besar jumlahnya. Kami hidup sebagai nelayan dan juga Kadang-kadang memburu atau beternak, akan tetapi kami masih suka merantau seperti kebiasaan nenek moyang kami. Betapapun juga, kami hidup bahagia. Lihat, kami selalu bergembira, bukan? Saudaraku yang baik dan gagah, engkau menjadi tamu kehormatan kami. Malam ini kami akan berpesta untuk menyatakan kegembiraan kami."
Dengan suara lantang kepala suku bernama Lamnong itu lalu memerintahkan pembantu-pembantunya untuk menyembelih domba dan lembu dan mempersiapkan pesta untuk menghormati Cia Hui Song.
Hui Song menerima dengan gembira dan sambil bergandeng tangan dengan Lamnong yang diiringkan belasan orang wanita cantik, Hui Song diajak memasuki bangunan terbesar di dalam dusun itu.
"Dusun ini hanya menjadi tempat peristirahatan selama beberapa pekan saja, maka kami membangun pondok-pondok darurat."
Lamnong menerangkan ketika mereka sudah mengambil tempat duduk di atas lantai bertilamkan kulit domba.
"Taihiap, orang seperti engkau ini tentulah seorang pendekar seperti yang pernah kudengar diceritakan orang tentang dunia persilatan. Akan tetapi bagaimana seorang pendekar seperti engkau sampai tersesat ke sini?"
Hui Song tidak ingin bicara tentang pertemuan para pendekar dan diapun teringat kepada Sui Cin.
Tadipun dia sudah cemas membayangkan Sui Cin yang kehilangan ingatan itu bertemu dengan jai-hwa-cat yang jahat seperti orang tadi.
"Aku... aku sedang mencari seorang teman..."
Dia teringat betapa tadi dituduh pencuri anak perawan, maka dia menahan lidahnya yang hendak bercerita tentang Sui Cin, seorang teman perempuan!
Dia tidak mau kalau nanti disangka seorang mencari wanita lagi.
"Aku ingin mencari keterangan tentang Harimau Terbang..."
"Ah! Maksudmu perkumpulan rahasia Harimau Terbang?"
"Ya, benar!"
Hui Song bertanya gembira.
Dia memang sedang melakukan penyelidikan tentang Perkumpulan Harimau Terbang yang lencananya tertinggal di dalam Gua Iblis Neraka yang menunjukkan bahwa mereka itulah pencuri harta pusaka di dalam gua itu.
"Apakah di daerah ini terdapat perkumpulan bernama Harimau Terbang?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah Lamnong yang tadinya gembira dan tersenyum-senyum itu berobah agak pucat dan alisnya berkerut, bahkan dia menengok ke kanan kiri seolah-olah tidak ingin percakapan itu didengar orang lain.
Melihat sikap ini, berdebar rasa hati Hui Song.
Agaknya penyelidikannya tentang pencuri harta pusaka itu akan mendapatkan jejak.
"Harap jangan takut, saudara Lamnong, kalau ada ancaman datang dari mereka, akulah yang akan menghadapinya!"
Katanya dengan suara tegas dan meyakinkan.
Agaknya jaminan ini melegakan hati Lamnong dan wajahnya berseri kembali, bibirnya tersenyum lagi.
"Cia-taihiap, bukannya kami takut, melainkan kami tidak suka berurusan dengan nenek iblis itu."
"Nenek iblis siapa yang kau maksudkan?"
"Namanya Yelu Kim, menurut pengakuannya. Ia adalah keturnan dari Menteri Yelu Cetai penasihat agung dari Jenghis Khan. Kini ia menjadi tokoh sesat di daerah utara dan dianggap sebagai penasihat para kepala suku."
"Dan apa hubungannya dengan Perkumpulan Harimau Terbang?"
"Hemm, biarpun ia tidak pernah mengaku dan tidak pernah terbukti karena perkumpulan itu merupakan rahasia yang bergerak secara rahasia pula, akan tetapi semua orang di sini tahu belaka bahwa nenek itulah pemimpin Perkumpulan Harimau Terbang."
"Di manakah sarang mereka? Di mana aku bisa bertemu dengan nenek Yelu Kim itu?"
Cia Hui Song bertanya dengan penuh semangat.
"Tinggallah bersama kami dan engkau akan dapat bertemu dengannya, Cia-taihiap. Besok lusa kami akan berangkat menuju ke padang pasir di mana para ketua suku mengadakan pertemuan dan pemilihan calon pemimpin. Aku yakin bahwa nenek Yelu Kim pasti akan hadir pula di sana."
"Para suku bangsa di utara ini hendak melakukan pemilihan pemimpin? Untuk apa dan apakah yang terjadi?"
Hui Song bertanya girang.
Tak disangka-sangkanya bahwa selain berita yang baik sekali mengenai Harimau Terbang yang diselidikinya, juga dia mendengar berita tentang kepala-kepala suku.
Justeru inilah tugas yang diberikan gurunya kepadanya.
"Di perbatasan terjadi pergolakan yang mengguncangkan kehidupan tenteram para suku kami. Menurut berita, golongan hitam di selatan telah bersekutu dengan para pemberontak, dan mereka bahkan telah merampas dan menduduki benteng Sanhaikoan, dan kabarnya akan terus bergerak melebarkan wilayah mereka sebelum mereka menyerang ke selatan. Kami terancam, dan... menurut rekan-rekan yang berambisi, inilah saatnya terbaik bagi kami untuk bergerak, menegakkan kembali kekuasaan Mongol di selatan. Sebetulnya aku sendiri pribadi tidak menyukai ambisi itu, akan tetapi kalau memang ketenteraman kami terancam oleh para pemberontak dan diadakan persatuan untuk menghadapi mereka, tentu aku setuju. Nah, kini para kepala suku akan mengadakan pemilihan pimpinan dan lusa kami akan berangkat."
Bukan main girangnya rasa hati Hui Song.
Sambil tersenyum dan dengan wajah berseri dia segera menyatakan setuju untuk menemani Lamnong dan anak buahnya yang akan berangkat ke tempat pertemuan itu Malam itu, dengan penuh kegembiraan Lamnong mengadakan pasta untuk menghormati Hui Song.
Seperti telah menjadi kebiasaan mereka, pesta itu dilakukan di luar rumah, di sebuah lapangan rumput di mana dibangun tenda besar dan dinyalakan api unggun.
Hui Song diberi pakaian orang Mancu dan mereka duduk di atas rumput.
Dagingdaging domba dan lembu dipanggang dengan bumbu-bumbu sedap sehingga asap dan uapnya memenuhi tempat itu, mengundang selera.
Lamnong duduk di samping Hui Song, diapit-apit belasan orang wanita cantik yang ternyata adalah selir-selirnya!
Hui Song sampai melongo ketika Lamnong memperkenalkan mereka sebagai isteri-isterinya!
Seorang dengan isteri demikian banyak, kesemuanya muda-muda dan cantik-cantik!
"Kenapa engkau kelihatan heran, Cia-taihiap?
Aku hanya mempunyai empat belas orang isteri, itu masih sangat sedikit sekali kalau dibandingkan dengan yang dipunyai kepala-kepala para suku bangsa lainnya.
Ada seorang kawanku mempunyai empat puluh empat orang isteri, ha ha ha!"
Lamnong tertawa bergelak melihat keheranan di wajah Hui Song.
Hui Song yang disuguhi arak istimewa buatan suku bangsa itu, arak yang amat harum dan keras, tertawa lepas.
Memang wataknya bebas gembira, maka kini dengan hawa arak di benaknya, dia menjadi semakin gembira.
"Ha-ha, saudara Lamnong. Aku pernah melihat seekor ayam jantan dengan puluhan ekor ayam betina, hal itu masih dapat kupercaya dan kumengerti. Akan tetapi manusia? Seorang harus... dengan demikian banyak...?"
"Ha ha Ha-ha!"
Lamnong tertawa dan para selirnya yang rata-rata mengerti bahasa Han itupun tersenyum dan tersipusipu, menutupi mulut mereka dengan saputangan atau punggung tangan.
"Kalau perlu aku bisa lebih kuat dari pada seekor ayam jantan, ha ha ha! Cia-taihiap, memang manusia berbeda dengan ayam, karena itu dalam hal itupun berbeda, tidak sembarang saat seperti ayam."
Merekapun tertawa-tawa dan suasana menjadi meriah ketika para selir yang memiliki suara merdu itu bernyanyi-nyanyi diiringi suara gendang, tambur dan suling.
Dan mulailah selir termuda dari Lamnong, yang manis sekali dengan kedua pipi kemerahan bukan oleh pemerah muka melainkan merah karena sehat saking halusnya kulit pipi, bangkit dan atas isyarat Lamnong, selir itupun mulai menari.
Dan Hui Song memandang dengan terpesona.
Selir ini pandai sekali menari, tubuhnya demikian lembut dan lemas meliuk-liuk di depannya, seolah-olah tubuh seekor ular saja.
Suara gendang dan tambur menambah kuat gerakan pinggul dan leher itu.
"Sekarang permainan yang kami namakan Bulan Jatuh. Siapa kejatuhan bulan harus bangkit dan menari, siapapun tidak boleh menolak karena menolak bulan yang jatuh ke pangkuannya berarti mengundang malapetaka dan tidak menghormati orang lain."
Lamnong berkata kepada Hui Song.
Tentu saja pemuda ini tidak mengerti apa artinya kata-kata itu dan dia tidak pernah mendengar tentang permainan ini.
Sambil tertawa gembira Lamnong menerangkan.
Permainan itu seperti permainan kanak-kanak yang dikenal oleh Hui Song di selatan, akan tetapi kini dimainkan oleh orang-orang dewasa!
Selir yang menari tadi membuka permainan.
Kedua matanya ditutup dengan sehelai saputangan diikatkan ke belakang kepalanya, kemudian oleh dua rekannya ia diputar-putar, hal ini dimaksudkan agar selir yang tertutup matanya itu akan lupa di mana dan siapa yang duduk di sekitarnya.
Setelah itu dilepas dan mulailah ia meraba-raba.
Kalau ia berhasil menangkap seorang yang duduk berkeliling, ia akan meraba-raba muka orang itu dan mengatakan siapa dia.
Kalau dugaannya keliru, yang ternyata setelah ia diperkenankan membuka penutup mata, maka ia harus menari lagi, kemudian setelah habis satu lagu, ia akan mencari sasaran lagi.
Bagaikan bulan meluncur di antara awan-awan, penari itu akan meraba-raba dan kalau bulan itu "jatuh"
Kepada seseorang dan orang itu dapat ditebak siapa adanya, Maka ia kejatuhan bulan dan ialah yang harus menggantikan permainan itu dan menari.
Demikian selanjutnya.
Tentu saja dengan adanya Hui Song di situ, permainan itu menjadi lucu dan selain menegangkan hati Hui Song, juga membuatnya merasa malu-malu dan sungkan sekali.
Selir muda yang cantik itu sudah diputar-putar dan dilepas.
Kini dengan mata tertutup selir itu melangkah ke depan perlahan-lahan, kedua tangannya diluruskan ke depan meraba-raba.
Hui Song merasa betapa jantungnya berdebar tegang, apalagi ketika kedua kaki yang kecil itu agaknya hendak maju ke arah tempat dia duduk!
Akan tetapi kedua kaki itu meragu, dan membelok ke kiri, kemudian maju terus dan akhirnya berhenti karena kaki itu terantuk kaki seseorang yang duduk di situ.
Selir itu terkekeh, lalu berjongkok dan kedua tangannya meraba-raba kepala dan muka orang itu.
"Ihhh..."
Jeritnya kecil ketika ia meraba topi orang itu dan tahulah ia bahwa ia telah menangkap atau "jatuh"
Kepada seorang pemukul tambur atau gendang.
Terdengar suara ketawa dari para selir dan selir yang menjadi bulan itu membuka penutup matanya, cemberut secara main-main mencela kesialan dirinya.
Kalau kebetulan menangkap seorang pemain musik, maka hal itu dianggap sial karena itu berarti bahwa ia harus main lagi.
Pemain musik tidak masuk hitungan karena kalau dia harus main, lalu siapa yang memukul gendang?
Kembali selir itu ditutup mukanya dengan saputangan dan diputar-putar.
Akan tetapi selir tadi sudah melirik ke arah Hui Song dan tersenyum.
Ketika ia dilepas, iapun berjalan perlahan-lahan, berkeliling dan kedua kaki kecil tertutup sepatu baru itulah yang yang kini meraba-raba dan ketika kakinya menginjak bagian yang agak menonjol, iapun berhenti lalu membalik dan kini kedua kakinya itu bergerak perlahan menuju ke arah Hui Song duduk!
Selir ini memang menjatuhkan pilihannya kepada Hui Song dan sebagai orang yang sudah biasa melakukan permainan Bulan Jatuh ini, tentu saja ia mengerti akan akal-akal yang dipergunakan orang dalam permainan ini.
Tadi ketika ia membuka penutup matanya, ia telah memperhatikan dan mempelajari tanah di depan Hui Song dan ia melihat ada tanah menonjol di depan pemuda itu dan inilah yang dapat menuntunnya kepada Hui Song.
Maka tadi ia berjalan keliling sampai kakinya mengijak tanah menonjol, baru ia menujukan langkahnya kepada Hui Song.
Ia hendak memilih pemuda yang telah menolong adik suaminya ini untuk penghormatan dan bukan hanya selir ini, juga selir-selir yang lain dan mereka yang hadir di situ ingin sekali melihat Hui Song menjadi bulan dan menari-nari.
Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Hui Song melihat betapa selir itu menggerakkan dua buah kaki kecilnya menghampirinya.
Dia tidak mungkin dapat lari, dan hanya tersenyum tegang.
Diapun tidak dapat mengelak ketika kaki kecil itu menumbuk kakinya dan ketika selir muda itu terkekeh kecil dan berjongkok di depannya, Hui Song memejamkan mata karena hidungnya mencium bau yang amat harum dan melihat kulit muka yang demikian halusnya.
Dia tetap memejamkan mata ketika wanita itu meraba-raba kepalanya, lalu mukanya, meraba-raba telinganya, hidungnya, bibir dan dagunya.
Hui Song merasa betapa jari-jari tangan yang berkulit halus dan hangat itu merayap di mukanya dan dia merasa betapa semua bulu di tubuhnya meremang.
"Haii... ini... ini... Cia-taihiap..."
Kata selir itu dan tebakannya disambut tepuk sorak memuji.
Selir itu cepat membuka penutup matanya dan sambil tersenyum manis ia menjura dan mempersilakan.
"Silakan, taihiap, kami mohon taihiap menjadi bulan,"
Katanya merdu.
"Ha ha ha, nasibmu baik, Cia-taihiap. Kami ingin sekali menyaksikan keindahan tarianmu!"
Kata Lamnong gembira.
Suling, tambur dan gendang dipukul gencar dan Hui Song yang mukanya menjadi merah itu terpaksa bangkit berdiri.
Dia merue tubuh dan kepalanya ringan karena pengaruh arak.
Hal ini membuat dia tidak malu-malu lagi dan karena dia tidak pandai menari, maka diapun mencoba untuk menirukan gerakan selir tadi.
Maka nampaklah pemandangan yang amat lucu ketika Hui Song melengganglenggok menggoyang pinggul mengikuti irama musik, berjoget dangdut!
Karena dia memang ahli silat yang amat pandai, Biarpun gerakannya lucu, namun juga lemas dan Kadang-kadang bahkan diisi dengan gerak-gerak silat.
Para selir tertawa-tawa dan bertepuk-tepuk tangan memuji, membuat Hui Song bertambah gembira dan tariannyapun menjadi semakin panas.
Ketika tiba giliran Hui Song untuk ditutup kedua matanya dengan saputangan, dengan mudah saja, mengandalkan ketajaman pendengarannya, dia menjatuhkan pilihannya kepada Lamnong!
Biarpun Hui Song seorang pemuda romantis dan lincah jenaka dan gembira, namun dia belum cukup berani untuk menjatuhkan pilihannya kepada para selir itu, merasa tidak berani kalau harus meraba-raba muka seorang di antara mereka.
Hal ini mengecewakan hati para selir karena mereka ingin sekali kejatuhan bulan!
Mereka merasa suka kepada pemuda yang lincah ini dan ingin mempererat persahabatan.
Lamnong adalah seorang kepala suku.
Tentu saja diapun tahu bagaimana caranya untuk menjatuhkan pilihannya kepada Hui Song sehingga terjadilah hal lucu, yaitu hanya dua orang itu saja yang silih berganti menari!
Akhirnya Lamnong menyuruh para selirnya menari bersama-sama dan suasana menjadi semakin gembira dan suara ketawa mereka riuh rendah ketika mereka menari bersama-sama.
Hui Song merasa suka sekali kepada keluarga kepala suku ini dan mereka makan minum dan bernyanyi-nyanyi, menari-nari sampai hampir pagi.
Demikianlah, bersama rombongan ini, Hui Song ikut pula hadir ketika diadakan pertandingan jagoan di antara kepala-kepala suku.
Lamnong sendiri tidak mengajukan jagoan.
Dia bersama para pangikutnya datang hanya untuk menyaksikan saja siapa pimpinan yang terpilih.
Dan Hui Song yang hendak melakukan penyelidikan tentang Perkumpulan Harimau Terbang, bersembunyi di antara orang-orang Mancu Timur itu dan dapat dibayangkan betapa besar rasa girang, kaget dan herannya melihat Sui Cin bersama seorang nenek yang menurut keterangan Lamnong adalah nenek Yelu Kim, kepala dari Perkumpulan Harimau Terbang yang dicari-carinya itu!
Dia merasa curiga dan heran, lalu diam-diam dia memperhatikan sambil menyelinap di antara anak buah Lamnong.
Demikianlah, tanpa disengaja, tiga orang muda itu ikut menghadiri pertemuan antara para suku di utara yang sedang mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa di antara mereka yang hendak menjadi pimpinan para suku untuk memulai dengan gerakan mereka menegakkan kembali kekuasaan Mongol yang sudah runtuh.
Dan mereka bertiga terpisah-pisah dalam kelompok suku yang berlainan, dengan alasan yang berlainan pula.
Sui Cin berada di situ karena ia telah ditolong oleh nenek Yelu Kim yang menjadi gurunya dan kini ia membantu Yelu Kim sebagai balas budi.
Siangkoan Ci Kang berada bersama suku Khin untuk membantu Moghu Khali, ketua suku Khin yang telah menjadi sahabatnya, bahkan dia mau dianggap menjadi jagoan suku itu.
Adapun Hui Song berada di tempat itu karena dia hendak menyelidiki Perkumpulan Harimau Terbang, juga untuk menyelidiki keadaan para suku bangsa di utara ini sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya oleh gurunya, yaitu Siangkiang Lojin atau Si Dewa Kipas.
Kini pertandingan telah dimulai dan seperti sudah diduga semula oleh setiap pengikut, jagoan-jagoan itu memang masing-masing memiliki ketangguan yang mengagumkan.
Suku Mongol yang merupakan suku kedua terbesar sesudah suku Mancuria, mengajukan jagoan seorang ahli gulat yang bertubuh raksasa dan jagoan ini tidak menunggang kuda, juga tidak memegang senjata apapun.
Akan tetapi, ketika dia sudah maju karena menurut undian dia harus maju lebih dahulu, dia menghadapi lawan yang menunggang kuda secara mengagumkan dan mengerikan.
Lawannya itu menggunakan sebatang golok dan menunggang seekor kuda.
Ketika lawan itu menerjangnya dengan golok diputar dan kaki depan kuda itu mengancam hendak menumbuknya, raksasa Mongol ini tertawa, menangkap dua kaki depan kuda itu dan sekali putar, kuda itu terpelanting dan kedua tulang kaki depan itu patah membuat kuda itu tidak ammpu bangkit kembali.
Lawannya cukup tangguh, ketika kuda terpelanting, dia melompat turun dan kini dia menerjang si raksasa dengan goloknya.
"Plakkk!"
Raksasa Mongol itu tidak mengelak, bahkan menerima golok itu dengan tangan kosong begitu saja.
Akan tetapi, bukan tangannya yang terluka, melainkan golok itu sendiri yang terlempar dan di lain saat, raksasa itu sudah menangkap pergelangan tangan lawan dan sekali mengerahkan tenaga, tubuh lawan itu sudah terlempar jauh sekali dan terbanting dengan keras ke atas tanah sehingga jatuh pingsan dengan tulang remuk!
Sorak sorai yang riuh rendah menyambut kemenangan raksasa Mongol ini dan diapun memperoleh waktu beristirahat menurut peraturan walaupun si raksana Mongol itu masih menantangnantang dengan congkaknya.
Menurut hasil undian, kini tiba giliran jagoan Mancu.
Seperti juga jagoan Mongol, maka jago dari Mancu inipun bertubuh tinggi besar dan terutama sekali sepasang kakinya amat panjang dan berotot kekar sekali.
Kaki itu memakai sepatu panjang sampai ke lutut dan solnya dilapisi besi dan diapun tidak menunggang kuda dan tidak memegang senjata.
Setelah dia melawan seorang jagoan lain, Hui Song yang nonton dari dalam kelompoknya melihat bahwa raksasa Mancu ini tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan raksasa Mongol tadi.
Kalau raksasa Mongol tadi kebal dan kuat sekali, juga ahli dalam ilmu gulat, maka raksasa Mancu yang lebih tinggi ini selain ahli dalam ilmu gulat campur silat, juga tangguh sekali dengan kedua kakinya!
Dalam satu gebrakan saja, lawannya yang menunggang kuda dan memegang tombak, dihadapi dengan tendangan kakinya yang panjang dan kuat itupun terpelanting jauh!
Lawannya berhasil melompat dan menyerangnya dengan tombak.
Akan tetapi, kembali kakinya bergerak dan tombak itu dihantam tangan yang amat kuat, membuat tombak itu patah menjadi tiga potong!
Lawannya masih penasaran dan menyerang dengan pukulan-pukulan, akan tetapi setiap pukulan ini ditangkis oleh tendangan secara sedemikian cepat dan tepatnya seolah-olah kedua kaki itu merupakan sepasang tangan yang lengannya panjang sekali, dan sebelum lawan itu mampu mengelak, tiba-tiba sebuah kaki melayang dan menghantam kepalanya dari samping.
Orang itu terjengkang dan roboh pingsan, atau mungkin juga mati karena ketika digotong oleh kawan-kawannya, dia sama sekali tidak bergerak dan terkulai lemas!
Ketika Ci Kang menerima gilirannya, Hui Song memandang dengan alis berkerut.
Sejak tadi dia sudah melihat pemuda ini dan dia merasa heran, bertanya-tanya dalam hati mengapa putera Si Iblis Buta itu berada di sini, bahkan menjadi seorang di antara jagoan suku utara!
Akan tetapi karena pertandingan itu bukan urusannya diapun diam saja dan hanya nonton.
Dengan tombaknya, Ci Kang dengan mudah mengalahkan lawan, akan tetapi berbeda dengan pemenang-pemenang terdahulu, lawannya dirobohkannya tanpa menderita luka apapun, kecuali senjatanya runtuh dan lawan itu ditodong ujung tombak pada lehernya sehingga tidak mampu bergerak dan terpaksa mengaku kalah.
Dan hal inipun dilakukan setelah dia membiarkan lawan menyerangnya sampai belasan jurus sehingga lawannya yang kalah itu tidak sampai terlalu kehilangan muka seperti yang diderita mereka yang tadi kalah dalam satu gebrakan saja!
Setelah semua jagoan dipertandingkan, akhirnya hanya tinggal satu orang yang belum kalah, yaitu raksasa Mongol, raksasa Mancu dan Ci Kang.
Dua orang raksasa itu telah memenangkan tiga kali pertandingan yang mereka selesaikan hanya dalam beberapa jurus saja, sedangkan Ci Kang memenangkan dua pertandingan.
Dan kini, menurut undian, dua orang raksasa itulah yang akan saling berhadapan.
Tentu saja para penonton menjadi tertarik sekali karena sudah depat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dua orang raksasa yang sama tangguhnya itu maju dan saling melawan!
Mereka berdua sudah melangkah maju, kakinya melangkah seperti kingkong, dengan kedua lengan tegak terpentang, Kedua kaki agak membungkuk, kepala ditundukkan dan mata mereka mengintai dari bawah alis mata yang tebal, mulut mennyeringai seperti mulut orang hutan marah.
Langkah mereka seperti menggetarkan bumi dan ketegangan semakin memuncak setelah akhirnya mereka saling berhadapan dalam jarak dua meter.
Agaknya mereka saling menilai dan menimbang keadaan lawan dengan pandang mata mereka.
Keduanya berdiri seperti arca yang menyeramkan, sedikitpun tidak bergerak.
Tiba-tiba terdengar gerengan nyaring dan kaki bersepatu itu meluncur dengan kecepatan kilat ke arah dada si raksasa Mongol.
Demikian cepatnya kaki itu menyerang sehingga tidak sempat dielakkan oleh raksasa Mongol yang lamban itu, namun raksasa itu memasang dadanya dan mengerahkan tenaga sampai perutnya mengembung besar dan otot-otot menonjol di dadanya.
"Blukkk..."
Hebat sekali benturan antara kaki dan dada itu dan akibatnya, tubuh raksasa Mongol terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi tubuh si penendang itupun terlempar ke belakang dalam jarak yang hampir sama!
Keduanya kini berdiri saling pandang dan tahulah mereka bahwa tenaga mereka seimbang dan si raksasa Mancu juga tahu bahwa lawannya sungguh kebal, walaupun dia dapat menduga bahwa kekebalan itu hanya sebatas kulit saja dan tendangannya tadi setidaknya mengguncangkan isi dada lawan.
Hal ini memang benar karena si raksasa Mongol merasa betapa tendangan tadi menyesakkan napasnya, maka diapun bersikap hati-hati sekali.
Ketika mereka maju kembali, si raksasa Mancu melancarkan serangan tendangan lagi.
Akan tetapi kini lawannya menangkis bertubi-tubi dengan kedua lengan sehingga semua tendangannya gagal dan pada suatu saat, kaki kirinya dapat dicengkeram oleh tangan kanan jagoan Mongol.
Dengan tenaga yang besar, raksasa Mongol itu mengangkat tubuh lawan ke atas dan diputar-putar dengan maksud akan dilemparkan atau dibantingkan.
Akan tetapi, jagoan Mancu itu dengan kaki kanannya berhasil menendang pundak kanan lawan, sehingga cengkeramannya mengendur dan pada saat hampir dibanting, jagoan Mancu depat melepaskan dirinya.
Dia terbanting akan tetapt tidak terlalu keras sedangkan lawannya yang tertendang pundaknya juga terhuyung ke belakang.
Keduanya kini terengah-engah dan berdiri saling pandang bagaikan dua ekor gajah yang sedang berlaga.
Kemudian keduanya mengeluarkan teriakan-teriakan keras dan mereka saling menerjang ke depan dengan cepat.
"Bress..."
Keduanya bertumbukan, mempergunakan kedua tangan dan kaki, juga dada untuk mengadu kekuatan dengan lawan.
Kembali keduanya terjengkang!
Mereka merangkak bangun dan melanjutkan pertandingan yang kini semakin seru bahkan mati-matian.
Jagoan Mancu masih mengandalkan tendangan-tendangan, yang disambut lawan dengan kekebalan dan kelincahan sehingga tiap kali kena dicengkeram, dia selalu dapat melepaskan diri, bahkan beberapa kali dia terbanting, akan tetapi dapat bangun kembali.
Juga raksasa Mongol beberapa kali kena terjangan kedua kaki yang melakukan tendangan terbang, sampai terjengkang akan tetapi juga dapat bangkit kembali.
Sorak sorai dan tepuk tangan riuh rendah menyambut pertandingan yang hebat ini.
Pertandingan itu memang ramai sekali.
Dua orang raksasa itu pukul-memukul, tendang-menendang, saling mencengkeram dan berusaha merobohkan lawan mengandalkan kekuatan otot-otot tubuh yang melingkar-lingkar dan melindungi diri masing-masing dengan kekebalan tubuh.
Mereka seperti dua ekor ayam jantan yang tidak mengenal artinya menyerah.
Dan agaknya mereka itu akan berkelahi terus sampai mati.
Para penonton menjadi seperti binatang-binatang haus darah, ingin sekali melihat seorang di antara mereka roboh dan tewas!
Akan tetapi tiba-tiba kepala suku Mongol dan kepala suku Mancu memasuki arena pertandingan dan masing-masing menyerukan kepada jagoan-jagoan itu untuk menghentikan perkelahian mereka.
Dua orang reksasa itu mentaati dan mereka mundur, berdiri terengah-engah dan tubuh mereka yang kokoh itu basah oleh keringat.
"Kami sudah melihat cukup!"
Kata kepala suku Mongol.
"Kedua orang jagoan ini sama kuat dan kalau dilanjutkan, mungkin keduanya akan tewas. Hal ini tidak adil karena masih ada seorang jago lagi yang akan memperoleh kemenangan tanpa berkelahi kalau mereka berdua ini keduanya tewas."
"Benar!"
Sambung kepala suku Mancu.
"Biarlah jagoan ketiga maju dulu melawan seorang di antara mereka menurut undian, baru kemudian perkelahian antara dua jagoan ini dilanjutkan!"
Agaknya kedua kepala suku itu merasa yakin bahwa jagoan ketiga itu tentu akan dapat dikalahkan dengan mudah.
Mendengar itu, Ci Kang sudah membisiki sahabatnya, Moghu Khali kepala suku Khin itu.
Moghu Khali bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Memang benar. yang tinggal hanya tiga orang jago. Agar adil, maka biarlah tiga orang jago itu maju bersama, saling serang sampai seorang di antara mereka tinggal sebagai pemenang dan yang dua orang lagi roboh."
Usul kepala suku Khin ini disetujui oleh semua orang.
Tentu saja para penonton menjadi semakin gembira.
Orang muda berjubah kulit hartmau itupun tadi mereka lihat cukup tangguh sehingga kalau tiga orang jagoan tangguh itu maju bersama dan saling serang, tentu mereka dapat menonton perkelahian yang sungguh menarik, seru dan mati-matian.
Kini tiga orang jagoan itu sudah maju ke tengah arena pertandingan.
Ci Kang yang maklum akan kekuatan lawan dan juga kekebalan tubuh mereka, maju sambil menunggang kuda putihnya dan memegang tombak kongce yang bergagang panjang itu.
Sikapnya tenang saja.
Dia sebetulnya tidak gentar kalau harus menghadapi mereka dengan jalan kaki dan bertangan kosong, akan tetapi dia tidak mau membiarkan dirinya terancam bahaya terlalu besar karena menghadapi dua orang itu dengan tangan kosong amatlah berbahaya, kecuali kalau dia menggunakan ilmunya untuk membunuh mereka dengan pukulan-pukulan ampuh.
Justeru dia sama sekali tidak ingin membunuh orang, apalagi dalam suatu pertandingan adu kepandaian ini di mana dia hanya menjadi wakil kepala suku Khin yang menjadi sahabatnya.
Sementara itu, dua orang raksasa Mongol dan Mancu itu tadi telah menerima bisikan kepala suku masing-masing.
Mereka memang cerdik.
Mereka berdua itu maklum bahwa antara mereka terdapat tingkat kekuatan yang seimbang dan biarpun masing-masing belum dapat menentukan kemenangan, Akan tetapi setidaknya kesempatan mereka untuk menang adalah setengah bagian.
Akan tetapi, kalau seorang di antara mereka sampai dibantu oleh pemuda berbaju kulit harimau itu yang dikeroyok akan celaka Maka, jalan satu-satunya bagi mereka adalah maju bersama mengeroyok pemuda berkuda itu dan setelah pemuda itu roboh, hal yang mereka yakin akan dapat mereka lakukan dengan cepat kalau mereka maju berdua, barulah mereka berdua akan dapat bertanding kembali untuk menentukan siapa yang lebih unggul.
Ci Kang sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan dikeroyok dan barulah dia tahu akan hal ini ketika dua orang raksasa itu maju menghampirinya dari kanan kiri dengan sikap mengancam dan wajah beringas.
Ci Kang sama sekali tidak merasa gentar, akan tetapi, diam-diam dia mengkhawatirkan kudanya, Maka diapun meloloskan kedua kakinya dari injakan agar kedua kakinya bebas.
Gerengan dari kanan kiri menandakan bahwa dua orang raksasa itu sudah mulai menyerangnya.
Raksasa Mongol itu menyerang dari kiri dengan kedua tangan menubruk seperti seekor harimau sedangkan raksasa Mancu yang mengandalkan kekuatan kakiya telah mengirim tendangan ke arah perut Ci Kang.
Pemuda ini sudah siap siaga, menyambut tubrukan raksasa Mongol dengan tombaknya.
Dia bukan menusuk tubuh melainkan menggunakan ujung tombak yang dibalik, yaitu menggunakan gagang tombak, menusuk ke arah mata!
Inipun hanya gertakan saja, atau siasat untuk mencegah raksasa itu melanjutkan serangannya.
Sementara itu, tendangan kaki raksaaa Mancu ke arah perutnya itu dia sambut dengan kaki kanannya.
"Dukkk..."
Terdengar dua orang raksasa itu mengeluarkan seruan kaget bukan main.
Raksasa Mongol terkejut karena tiba-tiba saja ada ujung gagang tombak menyambar cepat ke arah matanya.
Dia boleh mengandalkan kekebalannya, akan tetaipi kalau matanya dicolok dengan gagang tombak, tentu akibatnya celaka baginya.
Maka tidak ada jalan lain baginya kecuali membuang diri ke belakang dan bergulingan setelah mengeluarkan seruan kaget.
Sedangkan raksasa Mancu yang mengandalkan kekuatan kakinya itu, begitu kakinya bertemu dengan kaki pemuda itu, Tubuhnya terjengkang dan diapun bergulingan sambil menahan rasa nyeri yang membuat tulang kering kakinya berdenyut-denyut panas!
Dua orang raksasa itu meloncat bangun lagi dan suasana menjadi sunyi senyap karena semua penonton melongo ketika melihat betapa dalam gerakan pertama saja pemuda itu sudah berhasil membuat dua orang raksasa yang mereka jagoi itu jatuh bergulingan!
Bahkan orang-orang Khin sendiri yang mengajukan Ci Kang sebagai jagoan mereka, nampak sunyi dan melongo, terlalu heran dan kaget sehingga lupa untuk bersorak.
Bukan hanya karena ini saja, akan tetapi juga karena suku itu diam-diam merasa takut dan segan kepada suku Mongol dan Mancu yang merupakan suku-suku terbesar dan terkuat, maka melihat kepala suku mereka diam saja merekapun tidak berani untuk bersorak sorai.
Sementara itu Ci Kang maklum bahwa kalau dia menunggang kuda menghadapi dua orang lawan yang ingin dia jatuhkan tanpa membunuh, maka kudanya tentu akan terancam bahaya, dan agak sukarlah baginya untuk melindungi kuda itu.
Maka begitu kedua orang itu melompat bangun, dia sudah meloncat dari atas kudanya.
Ci Kang sengaja meloncat dengan gaya lompatan ke atas, tinggi dan kemudian tubuhnya berjungkir balik beberapa kali di udara sebelum meluncur turun, didahului oleh tombaknya yang menancap di atas tanah dan Ci Kang berdiri tegak di atas tombak itu dengan sebelah kaki.
Sedikitpun tubuhnya tidak bergoyang!
Tentu saja hal ini amat mengagumkan para penonton dan orang-orang Khin tidak dapat lagi menahan kebanggaan dan kegembiraan hati mereka.
Ketika kepala suku mereka bertepuk tangan memuji, merekapun bersorak gembira sehingga suasana menjadi riuh kembali.
Nenek Yelu Kim terkejut sekali dan ia mendekati Sui Cin, berbisik.
"Pemuda itu hebat sekali, apakah engkau sanggup menandinginya?"
Sui Cin juga melihat semua itu dan diam-diam kagum akan kelihaian Ci Kang.
Akan tetapi kalau hanya ginkang seperti yang dipertontonkan Ci Kang itu, dia masih sanggup menandinginya, bahkan mengatasinya.
"Harap subo jangan khawatir,"
Bisiknya kembali.
Sementara itu, Hui Song yang juga melihat Ci Kang bergaya, diam-diam merasa panas hatinya walaupun dia harus pula akui bahwa pemuda putera Iblis Buta itu agaknya telah memperoleh kemajuan dan kini mungkin lebih lihai dari pada dahulu, Hal yang sudah diduganya ketika Ci Kang muncul di bekas benteng Jeng-hwa-pang.
Ada timbul keinginan untuk mencoba kepandaian pemuda itu.
Akan tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan di sini karena tentu akan mengacaukan pemilihan pimpinan itu dan dia tidak mau menyusahkan rombongan Lamnong.
Maka diapun diam saja dan hanya menonton, sambil diam-diam seringkali melirik ke arah rombongan nenek Yelu Kim dan Sui Cin.
Dua orang raksasa itu sudah menjadi marah sekali karena dalam gebrakan pertama tadi mereka telah dibikin malu.
Walaupun mereka tidak terluka, akan tetapi mereka telah dipaksa roboh bergulingan.
Maka kini, biarpun mereka juga kaget melihat betapa pemuda itu memperlihatkan keringanan tubuh yang istimewa, mereka berlari menerjang dengan marah.
Akan tetapi betapa kaget dan heran mereka ketika tiba-tiba saja pemuda itu lenyap bersama tombaknya dan mereka hanya menubruk tempat kosong, bahkan hampir saling pukul sendiri.
Kalau saja mereka berdua itu tidak mempunyai siasat untuk lebih dahulu merobohkan Ci Kang, tentu mereka sudah saling hantam karena mereka kini saling berhadapan dekat sekali.
Akan tetapi keduanya sama sekali tidak melakukan hal ini, melainkan cepat membalik dan mencari Ci Kang.
Ketika melihat pemuda itu berdiri tak jauh di belakang mereka sambil melintangkan tombaknya, merekapun menyerbu lagi.
Kini semua penonton maklum bahwa dua orang raksaka yang tadi saling banting-membanting itu tiba-tiba saja sudah bersatu untuk menghadapi dan mengeroyok pemuda berbaju kulit harimau itu!
"Curang..."
Moghu Khali, kepala suku Khin itu mengomel akan tetapi tidak berani bicara keras.
Bagaimanapun juga, setelah memasuki arena pertandingan, tiga orang itu bebas berkelahi dengan cara bagaimanapun juga.
Dia hanya mengkhawatirkan keselamatan jagoannya karena menghadapi pengeroyokan dua orang raksasa itu sungguh amat berbahaya sekali.
Juga Sui Cin dan Hui Song menonton dengan hati tegang.
Mereka juga dapat merasakan betapa berbahayanya keadaan Ci Kang sekarang.
Akan tetapi Ci Kang menghadapi mereka dengan sikap tenangtenang saja.
Diapun bukan orang bodoh dan majunya ke tempat itu hanya untuk membantu Moghu Khali yang menjadi sahabatnya.
Kalau dia mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, Kiranya akan mudah baginya melawan dan menewaskan dua orang raksasa ini.
Akan tetapi dia tahu bahwa dengan melakukan hal ini, tentu akan timbul iri dan penasaran dalam hati para kepala suku Mongol dan Mancu yang merupakan suku yang terbesar dan kuat.
Dan hal itu tentu akan membuat keadaan Moghu Khali tidak menguntungkan dan mungkin dimusuhi.
Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk mencapai kemenangan setelah memberi muka kepada dua orang raksasa ini, yang berarti memberi muka kepada kepala suku masing-masing.
Oleh karena itu, ketika dua orang raksasa itu datang menyerbu lagi, dia hanya mengelak dan menangkis, mampergunakan kegesitannya untuk menghindarkan diri.
Terjadilah perkelahian yang kelihatannya saja seru dan menegangkan, akan tetapi bagi orang-orang pandai seperti Sui Cin dan Hui Song, Nampak jelas bahwa Ci Kang sengaja mengalah dan belum pernah membalas.
Dan mereka berdua inipun setelah mengamati gerak-gerik kedua orang raksasa itu mendapat kenyataan bahwa dua jagoan tinggi besar itu hanya memiliki tenaga besar saja namun dalam hal ilmu berkelahi masih jauh kalah kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat Ci Kang.
Setelah membiarkan dirinya dihujani serangan sampai tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba Ci Kang memutar-mutar tombaknya dan tombak itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar putih yang membungkus tubuhnya.
Tubuh Ci Kang sendiri lenyap, hanya nampak kedua kakinya saja Kadang-kadang menginjak tanah.
Melihat ini, dua orang raksasa itu menjadi terkejut dan tentu saja merasa ragu-ragu karena mereka gentar untuk menerjang dinding yang terbuat dari gulungan sinar putih itu.
Ci Kang tidak bermaksud membunuh lawan.
Dia memutar tombak itu hanya untuk menciptakan dinding sinar yang menutup tubuhnya, dan memang menjadi maksudnya agar kedua orang lawan itu menghentikan serangan mereka.
Pada saat kedua orang raksaaa itu berdiri bimbang, tiba-tiba Ci Kang meloncat ke depan, menggunakan tombak yang dibalik untuk menotok kedua lutut raksasa Mancu yang ahli tendang itu dan berbareng tangan kirinya menampar ke arah tengkuk raksasa Mongol sambil mengerahkan tenaga sinkang.
Dua serangan yang dilakukan Ci Kang ini sudah memakai perhitungan dan pemusatan tenaga, maka mengenai suarannya secara tepat sekali.
Dua orang raksasa itu terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali!
Raksasa Mancu tertotok kedua lututnya dan kedua kakinya menjadi lumpuh, sedangkan raksasa Mongol yang kena dihantam tengkuknya dengan tangan yang dimiringkan itu roboh pingsan.
Ternyata kekebalannya tidak mampu melindungi tengkuknya dari hantaman yang mengandung tenaga sinkang amat kuat itu.
Suasana kembali menjadi sunyi, karena semua orang untuk ke sekian kalinya tertegun dan melongo, hampir tidak percaya bahwa pemuda itu akan mampu mengalahkan dua orang jagoan raksasa yang mengeroyoknya itu sedemikian mudahnya!
Ketika tadi Ci Kang memperlihatkan kepandaiannya, tak pernah dapat dirobohkan oleh kedua orang penyerangnya, orang-orang mulai menjadi tegang dan mengira bahwa tentu akan terjadi perkelahian mati-matian.
Akan tetapi siapa kira pemuda itu akan mampu mengakhiri pertandingan itu sedemikian mudah dan cepat.
Akan tetapi Ci Kang tidak perduli dan dia sudah meloncat lagi ke atas punggung kuda putihnya sambil melintangkan tombaknya.
Dengan gagahnya, Ci Kang menjalankan kudanya berputaran di lapangan itu, tidak bersikap sombong, melainkan menanti kalau-kalau masih ada jagoan lain yang akan maju menandinginya, sementara itu dua orang raksasa yang roboh telah digotong pergi oleh teman-temannya.
Setelah Moghu Khali mengangkat tangan bersorak, berulah anak buahnya berani bertepuk tangan dan bersorak kegirangan melihat betapa jagoan mereka mendapat kemenangan, dan tak lama kemudian hampir semua orang yang hadir bersorak menyambut kemenangan ini.
Bagaimanapun juga, mereka itu adalah suku-suku bangsa yang menghargai kegagahan dan melihat kehebatan Ci Kang, mereka merasa kagum sekali.
Melihat sikap semua orang ini, Moghu Khali berbesar hati untuk menuntut haknya, yaitu menjadi pimpinan karena jagoannya telah keluar sebagai pemenang.
Dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru dengan suara lantang.
"Seperti saudara sekalian menyaksikannya, jagoan yang kami ajukan telah menjadi juara dan mengalahkan semua jagoan lainnya, oleh karena itu..."
"Tunggu dulu..."
Suara nenek Yelu Kim melengking dan mengatasi semua suara sehingga semua orang menengok kepadanya.
Nenek ini sudah bangkit berdiri pula dan mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya.
Karena nenek ini dikenal sebagai seorang yang disegani bahkan ditakuti, dan nasihat-nasihatnya selalu ditaati oleh para suku bangsa di utara karena nasihat-nasihat itu memang amat baik dan tepat, maka kini semua orang memandang dan menanti apa yang aken dikatakan oleh nenek itu.
"Saudara sekalian harap tenang dulu. Aku sendiri masih mempunyai seorang jago, dan aku berhak mengajukan jagoku, setidaknya untuk menguji sampai di mana kemampuan jago dari saudara-saudara suku Khin itu!"
Tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang menggetarkan jantung dan dari belakang rombongan nenek Yelu Kim melompatlah keluar seekor harimau besar yang ditunggangi oleh seorang bertubuh kecil ramping yang muka dan kepalanya ditutupi kain hitam sebagai kedok.
Hanya sepasang matanya yang mencorong itu saja yang nampak dari lubang pada kain hitam itu.
Orang ini menunggang harimau seperti menunggang kuda saja, tanpa sela, dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang panjangnya hanya dua kaki lebih.
"Harimau Terbang..."
Terdengar orang berbisik-bisik dengan mata terbelalak, dan mereka memandang dengan gentar.
Hui Song yang sejak tadi memandang ke arah rombongan nenek Yelu Kim di mana terdapat pula Sui Cin, kini ikut terbelalak karena tadi dia hanya melihat gadis itu menyelinap lenyap di antara rombongan nenek itu, kini muncul orang menunggang harimau dan Sui Cin tidak nampak pula.
Biarpun orang itu menyembunyikan kepala dan mukanya di balik kedok kain sutera hitam, akan tetapi dia mengenal perawakannya dan juga tadi Sui Cin memakai pakaian seperti yang kini dipakai penunggang harimau itu.
Saking herannya Hui Song hanya memandang saja.
Apa artinya semua ini, pikirnya.
Sui Cin maju sebagai jagoan nenek Yelu Kim pemimpin perkumpulan rahasia Harimau Terbang, bahkan kini Sui Cin memakai kedok dan menunggang harimau!
Ci Kang juga terkejut sekali melihat munculnya orang menunggang harimau itu.
Dari Moghu Khali, dalam percakapan mereka, dia sudah mendengar akan nenek Yelu Kim yang disegani itu, juga bahwa nenek itu memimpin sebuah perkumpulan rahasia yang bernama Harimau Terbang dan nenek itu bertindak sebagai penasihat dan pengawas para suku di utara.
Kini, melihat munculnya penunggang harimau itu, dia bersikap tenang tetapi waspada.
Dia tahu bahwa penunggang harimau itu seorang wanita, dan kalau seorang wanita sudah mampu menunggang harimau dengan gerakan seperti itu, tentulah wanita itu lihai sekali.
Akan tetapi calon lawannya itu agaknya tidak memberi banyak waktu baginya untuk berpikir dan melamun.
Dengan lompatan-lompatan jauh, harimau itu sudah datang mendekat dan Ci Kang sudah siap siaga dengan tombaknya.
"Lihat serangan!"
Tiba-tiba penunggang harimau itu membentak dan harimau itu sudah melompat, menerkam ke arah Ci Kang dan kudanya, sedangkan penunggangnya juga menggerakkan tongkatnya menusuk ke arah mata Ci Kang!
Sungguh hebat bukan main serangan itu dan melihat kenyataan betapa orang ini memberi peringatan sebelum menyerang, dalam bahasa Han yang tidak kaku, Ci Kang dapat menduga bahwa orang di balik kedok sutera hitam itu tentulah seorang pendekar wanita dari selatan!
Menghadapi serangan maut itu, yang amat berbahaya bagi dirinya dan juga kuda yang ditungganginya, Ci Kang bergerak cepat.
Tangan kirinya diangkat ke atas menangkis tusukan tongkat.
"Dukkk..."
Tangan kirinya yang kuat itu bertemu dengan tongkat dan tongkat itu terpental, akan tetapi Ci Kang juga merasa betapa lengan kirinya tergetar.
Pada saat itu diapun harus menyelamatkan kudanya, maka dia menggerakkan tombaknya menangkis dua kaki depan harimau yang menerkam itu.
"Bresss..."
Dua kaki harimau itu tertangkis dan tombaknya dilanjutkan menusuk dada harimau yang masih melompat itu.
"Dukkk..."
Kini ujung tombaknya ditangkis oleh tendangan wanita penunggang harimau!
Ci Kang terkejut sekali.
Sungguh hebat gerakan wanita itu dan kini harimau itu sudah menyerang lagi dengan cepat setelah tadi meloncat turun, membalik dan mengaum.
Ci Kang terpaksa memutar tombaknya untuk melindungi dirinya sendiri dan juga kudanya.
Dan binatang tunggangannya itu menjadi panik, mengangkat kaki depan ke atas dan meringkikringkik ketakutan, juga meronta-ronta.
Hal ini sungguh membahayakan dirinya dan hampir saja pundaknya terkena pukulan tongkat.
Kalau dilanjutken begini, menunggang seekor kuda yang ketakutan, dia akhirnya akan celaka, pikirnya.
Maka Ci Kang lalu meloncat turun dari atas kudanya dan begitu kuda itu merasa terbebas dari kendali, diapun meringkik dan melarikan diri ketakutan!
Kini Ci Kang berdiri di atas tanah, siap dengan tombaknya.
Dia merasa penasaran dan marah, apalagi mendengar wanita itu tertawa lirih di balik kedoknya.
Engkau curang, pikirnya, mengandalkan harimau itu untuk membikin takut kuda.
Maka, melihat harimau itu kembali menubruk, diapun memapakinya dengan tusukan tombaknya yang panjang.
"Tranggg..."
Ujung tombak tertangkis tongkat baja dan keduanya merasa betapa masing-masing memiliki tenaga sinkang yang sama kuat.
Akan tetapi Ci Kang tidak mau memberi hati dan diapun memutar tombaknya, mendesak dan ujung tombaknya melakukan serangan bertubi-tubi ke arah tubuh harimau!
Maka repotlah penunggang harimau itu yang harus melindungi tubuh harimaunya dengan tangkisantangkisan, yang membuat tubuhya Kadang-kadang membungkuk ke sana-sini.
Karena senjata di tangan Ci Kang jauh lebih panjang, maka mudah bagi pemuda itu untuk menghujankan serangan.
Kalau dia menujukan serangannya kepada penunggang harimau itu, tentu lebih mudah bagi lawannya untuk melindungi dirinya dan harimau itu akan merupakan bahaya baginya.
Akan tetapi karena dia menujukan serangan-serangannya kepada tubuh harimau, sebaliknya si penunggang harimau itu yang repot bukan main harus menyelamatkan binatang tunggangannya dari tusukan tombak.
Wanita penunggang harimau itu tentu saja Sui Cin orangnya.
Seperti kita ketahui, ia telah dipilih oleh Yelu Kim untuk menjadi murid dan pembantunya.
Sui Cin merasa hutang budi kepada nenek itu yang telah menyembuhkannya, bukan saja dari pengaruh racun yang diberikan oleh Kiu-bwe Coali kepadanya, melainkan juga nenek Yelu Kim itu telah menyembuhkannya dari penyakit hilang ingatan.
Dan kini, atas perintah Yelu Kim, ia maju menghadapi Ci Kang sambil menunggang harimau.
Memang benar bahwa harimau itu telah merepotkan Ci Kang dan membuat pemuda itu terpaksa turun dari kudanya yang ketakutan.
Akan tetapi setelah kini pemuda itu tidak lagi menunggang kuda dan menghadapinya di atas tanah dengan tombaknya, kini keadaannya menjadi terbalik.
Sui Cin kini menjadi kerepotan sekali, harus melindungi harimaunya.
Ia merasa penasaran dan marah, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali lalu meluncur turun menyerang Ci Kang dari udara.
Tongkat baja di tangannya diputar dan menhantam ke arah kepala pemuda itu.
Ci Kang terkejut dan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
Tongkat bertemu dengan tombak, nampak bunga api berpijar dan keduanya terdorong ke belakang.
Sui Cin berjungkir balik lagi dan turun ke atas tanah.
"Houwji, mundurlah!"
Ia berkata kepada harimau itu yang mengeluarkan suara menggereng, meringis memperlihatkan taringnya, akan tetapi agaknya binatang ini sudah mengenal dan mentaati suara Sui Cin.
Diapun mundur mendekat nenek Yelu Kim yang mengelus kepalanya.
Kini Ci Kang berhadapan dengan Sui Cin, keduanya berdiri tegak tidak menunggang apa-apa lagi.
"Hemm, kini engkau tidak dapat mengandalkan kegalakan macan itu!"
Ci Kang mengejek, diam-diam merasa kagum dan menduga-duga siapa adanya wanita perkasa bangsa Han yang menjadi kaki tangan nenek Yelu Kim ini.
"Lihat serangan!"
Sui Cin membentak marah dan tidak melayani ejekan Ci Kang, tongkat di tangan menyambar ganas.
Akan tetapi sambil tersenyum Ci Kang menggerakkan tombaknya menangkis dengan mudah, lalu balas menyerang, menyapukan tombaknya ke arah kaki lawannya.
Akan tetapi sapuan tombak itupun dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Sui Cin, dengan cara meloncat ke atas.
Melihat gerakan loncatan ke atas lalu tongkat di tangan itu langsung menusuk dari atas, diam-diam Ci Kang merasa kagum juga.
Bukan main wanita ini, pikirnya, memiliki ginkang yang amat hebat dan dia harus berhati-hati karena ginkang sehebat ini dapat mendatangkan kesukaran baginya.
Maka diapun menggerakkan tombaknya melindungi dirinya dengan amat kuat, memutar tombak itu sehingga membentuk lingkaran dari gulungan sinar.
Sui Cin yang mengenal Ci Kang dan mengetahui pula bahwa putera datuk sesat Si Iblis Buta ini memang lihai sekali, tidak merasa gentar dan diapun mengandalkan ginkangnya untuk mengimbangi kecepatan gerakan tombak.
Terjadilah serang-menyerang dan pertandingan yang seru ini membuat semua penonton menjadi gembira.
Bagaimanapun juga, jago yang diajukan oleh suku Khin itu adalah orang Han, dan merekapun tidak tahu siapa adanya jago Harimau Terbang yang diajukan oleh nenek Yelu Kim, maka merekapun sukar menentukan siapa yang mereka dukung.
Akan tetapi melihat betapa kedua orang itu berkelahi dengan amat cepat, perkelahian dengan ilmu silat yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, membuat mereka kagum sekali, juga bergembira.
Akan tetapi, setelah Ci Kang mengerahkan tenaga sinkangnya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya, Sui Cin terkejut sekali.
Tadinya ia merasa yakin akan mampu mengatasi pemuda itu mengingat bahwa selama tiga tahun ini ia digembleng oleh Wuyi Lojin.
Akan tetapi siapa kira agaknya pemuda itupun selama ini telah memperoleh kemajuan pesat sekali sehingga kini ia sama sekali tidak mampu mendesaknya, apalagi mengatasinya.
Bahkan ia mulai terdesak karena kalah kuat tenaganya walaupun dalam hal kecepatan ia masih lebih unggul.
Akan tetapi keunggulan dalam ginkang inipun ditutup oleh Ci Kang dengan gerakan tombaknya yang luar biasa cepatnya.
Tentu saja Sui Cin tidak tahu bahwa seperti juga ia sendiri, pemuda itu menerima gemblengan hebat selama tiga tahun oleh Cuisian Lokai!
Nenek Yelu Kim juga melihat betapa murid atau pembantunya itu sama sekali tidak mampu mendesak pemuda baju kulit harimau yang amat lihai itu, walaupun muridnya tidak dapat dibilang kalah karena keduanya agaknya memiliki kepandaian yang seimbang.
Akan tetapi ia merasa khawatir kalau-kalau Sui Cin kalah.
Ia tidak boleh kalah.
Kekalahan muridnya itu berarti akan menghancurkan nama besar Harimau Terbang dan akan meruntuhkan namanya pula sebagai orang yang paling disegani di antara suku-suku di utara.
Terutama sekali, kekalahan Sui Cin berarti kegagalannya untuk memegang tampuk pimpinan di antara para suku yang hendak berjuang menegakkan kembali kekuasaan utara atas daerah selatan!
Maka, diam-diam nenek ini duduk bersila dan mengerahkan semua tenaga batinnya, mulutnya kemakkemik dan ia mulai mengerahkan kekuatan sihirnya untuk membantu Sui Cin.
Tiba-tiba terjadilah perubahan dalam perkelahian itu.
Beberapa kali Ci Kang terhuyung dan kelihatan betapa dia keheranan dan kebingungan, Kadang-kadang menggunakan tombaknya untuk menangkis ke kanan, kiri atau belakang, padahal dari tiga jurusan itu tidak ada sesuatu yang menyerangnya.
Memang dia merasa seperti ada angin-angin pukulan menyambar dari jurusan-jurusan ini sehingga dia cepat menangkis, akan tetapi selalu hanya menangkis angin kosong saja.
Karena itu, tentu saja Sui Cin memperoleh kesempatan untuk mendesaknya.
Gadis ini merasa seolah-olah lawannya menghadapi pengeroyokan.
Sejenak ia sendiripun heran melihat perobahan pada lawannya.
Akan tetapi iapun lalu teringat kepada nenek Yelu Kim yang pandai sihir dan dapat menduga bahwa tentu nenek itu yang membantunya dengan kekuatan sihir.
Hal ini malah membuat ia merasa jengkel dan marah.
Ia belum kalah dan tidak akan kalah, dan sungguh memalukan kalau harus menghadapi Ci Kang dengan pengeroyokan.
Kemarahan ini yang membuat Sui Cin bertindak sambrono.
Karena marah, ia menumpahkan kemarahannya kepada lawan di depannya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking keras dan tangan kirinya bergerak ke depan.
Nampak sinar merah disusul teriakan Ci Kang yang kaget dan kesakitan dan tubuh pemuda itupun terjengkang keras, roboh dan tidak bergerak lagi karena dia telah pingsan!
Kiranya dalam kemarahannya, Sui Cin telah mempergunakan senjata rahasianya yang ampuh, yang diajarkan ibunya kepadanya.
Senjata rahasia itu berupa Jarum-jarum halus berwarna merah harum dan beracun!
Inilah senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh golongan hitam dan hal ini tidak mengherankan mengingat bahwa ibu gadis itu, Toan Kim Hong, dahulunya pernah bertahun-tahun terkenal sebagai (Lanjut ke
Jilid 29) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 Lamsin, seorang datuk sesat dari selatan!
Baru setelah melihat lawannya menggeletak dengan muka pucat dan pingsan, Sui Cin memandang dengan mata terbelalak, merasa menyesal mengapa ia mempergunakan senjata rahasia yang bahkan oleh ibunya sendiri ia sudah dilarang untuk sembarangan mempergunakannya.
Dan dalam penyesalannya, Sui Cin sampai berdiri terbelalak dan seperti orang kehilangan akal, diam saja ketika melihat beberapa orang Khin cepat maju dan menggotong tubuh Ci Kang yang masih pingsan.
Sorak-sorai gegap gempita menyambut kemenangan Sui Cin dan kini terdengar suara nenek Yelu Kim yang melengking tinggi mengatasi semua suara sehingga orang orang menjadi tenang mendengarkan.
"Saudara-saudara sekalian yang tercinta. Para dewata telah menunjuk kami sebagai pemenang dan pimpinan. Para jagoan tadi merupakan tenaga-tenaga yang amat baik untuk membantu perjuangan kita, juga pemuda baju kulit harimau itu agar dirawat sebaiknya. Sekarang kita beristirahat dan mempersiapkan diri untuk malam nanti mengadakan pertemuan rapat besar. Jagoku telah menang, berarti kami berhak menjadi pimpinan kalian yang akan membimbing kalian melakukan perjuangan dengan berhasil. Apakah ada yang tidak setuju dan ada yang masih hendak mengajukan jago baru?"
Semua orang menyatakan setuju.
Kalau masih ada yang merasa penasaran, merekapun tidak berani bicara terus terang, karena mereka semum merasa segan dan takut kepada nenek Yelu Kim.
Apalagi kini nenek itu mempunyai seorang jago yang sedemikian lihainya, sehingga melawanpun tidak akan menang.
Akan tetapi, di antara para kepala suku, ada pula beberapa yang diam-diam merasa tidak setuju kalau perjuangan mereka itu dipimpin oleh seorang wanita, sudah nenek-nenek pula.
Sejak dahulu, perjuangan bangsa mereka itu dipimpin oleh orang laki-laki yang gagah perkasa, bukan oleh seorang nenek tua renta.
Hal ini sungguh menyinggung rasa harga diri dan kejantanan mereka.
Akan tetapi, sedikit kepala suku itu, termasuk Lamnong kepala suku Mancu Timur, tidak berani berterus terang, hanya mereka sudah kehilangan gairah untuk melanjutkan perjuangan menyerbu ke selatan kalau dipimpin oleh seorang nenek tua.
Dan diam-diam kelompok-kelompok yang tidak setuju inipun meninggalkan tempat itu, tidak ingin menghadiri rapat yang dipimpin nenek itu.
Juga Lamnong mengajak rombongannya untuk kembali ke timur dan tidak mencampuri pemberontakan.
Sui Cin baru sadar ketika lengannya dipegang nenek Yelu Kim yang mengajaknya mengundurkan diri.
Melihat wajah muridnya yang nampak agak pucat dan penuh penyesalan, nenek itu berbisik.
"Engkau kenapakah, Sui Cin? Engkau telah menang, dan aku amat berterima kasih kepadamu. Lawanmu itu sungguh lihai sekali. Akan tetapi kenapa engkau tidak kelihatan senang, sebaliknya kelihatan muram? Apakah kemenanganmu itu tidak menggembirakan hatimu?"
Sui Cin menggeleng kepala.
"Tidak, sama sekali tidak menggembirakan hatiku."
Mendengar ini, nenek Yelu Kim terkejut dan iapun menggandeng tangan muridnya dan diajaknya muridnya itu memasuki tendanya yang sunyi menyendiri dan di sini ia bicara dengan wajah serius dengan gadis itu.
"Nah, anak yang baik, sekarang ceritakan mengapa engkau begini muram dan mengapa kemenangan itu tidak menggembirakan hatimu."
"Subo, aku telah kesalahan tangan kepada Siangkoan Ci Kang..."
"Siangkoan Ci Kang? Siapakah itu?"
"Jagoan suku Khin tadi."
"Ah, jadi engkau sudah mengenalnya? Dia... sahabatmu?"
Sui Cin menggeleng kepala.
"Bukan, bahkan dapat dibilang musuh karena dia pernah menjadi tokoh golongan hitam. Akan tetapi, subo, dia pernah menolongku, aku berhutang budi kepadanya dan tadi, karena aku merasa penasaran, aku... aku telah merobohkannya dengan jarum merah beracun yang amat berbahaya..."
Nenek itu mengangguk-angguk dan matanya yang mencorong itu menatap wajah muridnya penuh selidik, dan tiba-tiba ia memegang lengan gadis itu.
"Sui Cin, apakah engkau... cinta padanya?"
Tiba-tiba saja wajah gadis itu berobah merah sekali dan ia memandang nenek itu dengan mata terbelalak.
"Tidak, subo, kenapa subo bertanya dan menduga demikian?"
Nenek itu menarik napas panjang dan diapun menundukkan mukanya.
"Karena orang hidup harus ada cinta di hatinya, anak baik. Tiadanya cinta dalam hati berarti orang hidup dalam neraka, dalam kesengsaraan, dalam kesepian, seperti aku ini..."
Sui Cin semakin heran dan kini ia bengong memandang nenek itu yang tiba-tiba saja menangis!
Tangisnya sungguh menyedihkan, kedua pundaknya terguncang-guncang, mukanya disembunyikan di balik jari-jari tangan itu, dan suara tangisnya sampai sesenggukan.
Sui Cin hampir tidak percaya melihat semua ini.
Nenek Yelu Kim yang biasanya demikian penuh wibawa dan semangat, yang biasanya demikian tabah dan tegas, kini menangis seperti anak kecil!
Sebagai seorang wanita yang biasanya amat peka menghadapi kesedihan dan tangis wanita lain, Sui Cin menahan air matanya dari kedua mata yang sudah terasa panas itu dan iapun memegang kedua lengan nenek itu.
"Subo, ada apakah? Kenapa subo menangis?"
Sampai lama nenek itu tidak dapat menjawab, hanya terisakisak dan Kadang-kadang mengusap air mata yang bercucuran.
Akhirnya dapat juga ia menguasai dirinya dan tangisnya terhenti, hanya tinggal isak yang Kadang-kadang saja.
Ia mengeringkan semua bekas air mata dengan sehelai saputangan, lalu memandang wajah gadis itu dengan mata yang merah bekas tangis.
"Maafkan aku, Sui Cin, baru sekarang aku memperoleh kesempatan menumpahkan semua rasa duka di hatiku di depan seseorang. Ini merupakan yang pertama dan terakhir, walaupun kalau sedang sendirian, terutama sekali sebelum tidur, aku lebih sering menangis dari pada tidak."
"Akan tetapi, kenapa subo? Subo adalah seorang yang sakti, yang berwibawa dan berpengaruh, bahkan kini berhasil menjadi pimpinan para suku untuk melakukan gerakan perjuangan, akan tetapi kenapa subo berduka?"
"Karena aku takut!"
Jawaban ini makin mengherankan hati Sui Cin.
"Takut? Subo...? Ah, bagaimana mungkin subo mengenal takut? Takut apakah?"
"Aku takut, Sui Cin. Sungguh, aku menggigil dan jantungku berdebar hampir copot kalau aku membayangkan. Aku takut... takut akan kematian..."
"Eh? Takut akan kematian?"
"Aku takut, Sui Cin. Bagaimana nanti kalau aku sudah mati? Usiaku sudah amat tua dan hari kematianku tentu tidak lama lagi. Aku tahu bahwa kematian tidak dapat dihindarkan, bahwa semua manusia hidup pada suatu ketika pasti mati. Akan tetapi aku takut, karena bagaimana mungkin aku tidak hidup lagi? Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan kedudukanku? Ah, kalau saja aku dapat melihat apa yang terjadi setelah mati! Sudah banyak ilmu kupelajari, banyak tempat kujelajahi, namun aku belum berhasil memperoleh ilmu untuk menjenguk keadaan sesudah mati. Aku takut, Sui Cin... aku takut..."
Sui Cin duduk diam termenung, alisnya berkerut.
Ia sendiri belum pernah berpikir tentang kematian, bahkan sampai saat inipun ia tidak pernah perduli akan hal itu.
Akan tetapi ia tidak pernah merasa takut walaupun ia sendiripun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya sesudah mati.
Akan tetapi ia tidak takut!
Rasa takut akan kematian ini bukan hanya dirasakan oleh nenek Yelu Kim, melainkan oleh kebanyakan dari kita, tidak perduli tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, tinggi ataupun rendahnya kedudukan.
Bahkan rasa takut ini lebih banyak hinggap dalam batin mereka yang berkedudukan tinggi, yang kaya raya, yang terkenal dan dipuja.
Sesungguhnya, mengapa timbul rasa takut akan kematian ini?
Benarkah seperti yang dikatakan oleh Yelu Kim bahwa rasa takut ini akan hilang kalau kita dapat menjenguk keadaan sesudah mati?
Sui Cin memandang wajah nenek itu yang kini menjadi agak pucat dan wajah itu membayangkan kedukaan.
"Subo, aku sendiri tidak takut terhadap kematian. Aku tidak mengerti tentang kematian, perlu apa takut? Biarlah kuserahkan hidup dan matiku kepada Thian yang Maha Kuasa."
Nenek itu kini dapat tersenyum dan mengangguk.
"Akupun sudah berusaha berbuat demikian, akan tetapi hatiku selalu masih meragu, Sui Cin. Sudahlah, hatiku sudah mulai tenang, dan aku teringat kepada pemuda perkasa itu. Sui Cin, apakah engkau merasa menyesal setelah melukainya dan apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku bingung, subo. Jarum-jarum merah itu beracun dan berbahaya sekali, padahal, aku telah kehilangan bekal obat penawarnya. Kalau dia tidak cepat mendapatkan obat yang tepat, dan sampai tewas oleh Jarum-jarumku, sungguh aku merasa menyesal bukan main. Di antara kami tidak ada permusuhan, bahkan aku berhutang nyawa kepadanya..."
Sui Cin tidak mau menceritakan bahwa pemuda itu menolongnya dari ancaman bahaya yang lebih hebat dari pada nyawa, yaitu ketika ia hampir diperkosa oleh Sim Thian Bu, jai-hwa-cat yang menjadi saudara seperguruan sendiri dari Ci Kang.
Nenek itu tersenyum.
"Jangan khawatir, muridku. Tidak percuma engkau menjadi murid Yelu Kim! Coba keluarkan jarum merahmu, setelah mengenal macam racunnya, kiranya aku akan dapat memberikan obat penawarnya."
Giranglah hati Sui Cin dan ia cepat mengeluarkan beberapa batang jarum merah halus kepada nenek itu.
Yelu Kini menerima Jarum-jarum itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya untuk mempelajari racunnya tanpa gangguan.
Tak lama kemudian, nenek itu sudah keluar membawa obat penawarnya!
"Campur bubukan ini dengan secawan arak, minumkan padanya dan dia pasti akan sembuh.
Kalau dia masih lemah, masak akar ini dengan nasi lalu beri dia makan, tentu kesehatannya akan pulih sama sekali."
Dengan hati kagum terhadap kelihaian nenek itu dan juga dengan girang Sui Cin menerima bungkusan dua macam obat itu.
Akan tetapi ia mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Subo, bagaimana aku dapat memberikan obat-obat ini kepadanya?"
Yelu Kim tersenyum lebar.
"Anak bodoh, apa sukarnya itu? Ingat, aku ini menjadi pemimpin mereka. Apa sukarnya bagimu untuk mengunjungi pemuda itu di perkemahan orang-orang Khin? Nah, kau bawa ini dan perlihatkan kalau ada yang menghalangi kunjunganmu,. Katakan bahwa aku yang mengutusmu untuk mengobati pemuda itu."
Sui Cin menerima sebuah lambang berupa seekor harimau terbang dari nenek itu.
Ia memandang kagum.
Ia sudah tahu bahwa gurunya adalah pemimpin Perkumpulan Heriman Terbang yang ditakuti oleh para suku utara, akan tetapi baru sekarang ia melihat lambang perkumpulan itu.
Ia mengantongi obat-obat dan lambang itu, lalu memberi hormat kepada Yelu Kim.
"Terima kasih atas bantuan subo sehingga aku mendapatkan kesempatan untuk membalas budi Siangkoan Ci Kang dan menebus kesalahanku telah melukainya."
"Berangkatlah sekarang. Perkemahan orang-orang Khin berada di ujung barat dan malam ini semua kepala suku berkumpul untuk mengadakan rapat seperti yang kuperintahkan tadi. Engkau mempunyai banyak waktu dan kesempatan untuk mengobati dan merawatnya tanpa banyak gangguan."
Tepat seperti yang dikatakan nenek itu, ketika Sui Cin berkunjung ke perkemahan suku Khin, begitu ia dikenal sebagai murid nenek Yelu Kim yang dapat menunjukkan lambang Harimau Terbang, ia di diterima dengan gembira dan penuh hormat.
Apalagi ketika ia menyatakan maksud kunjungannya adalah untuk mengobati Siangkoan Ci Kang, Moghu Khali sendiri menyambutnya dan mengantarkannya ke dalam kamar Ci Kang.
Keadaan Ci Kang amat menyedihkan.
Pemuda itu rebah terlentang di atas sebuah pembaringan, hanya memakai sepatu dan celananya saja.
Tubuh atasnya telanjang, tertutup selimut sampai ke dada dan wajahnya agak pucat, kedua matanya terpejam dan dia masih pingsan.
"Kami telah mencabuti beberapa batang jarum halus merah dari dadanya, akan tetapi ahli pengobatan kami tidak sanggup menyadarkannya. Agaknya Jarum-jarum itu mengandung racun yang jahat. Bagaimana nona akan dapat menyembuhkannya?"
Tanya kepala suku itu dengan khawatir. Sui Cin tersenyum.
"Jangan khawatir, aku mempunyai obat penawarnya."
Kepala Suku Khin itu memandang tajam, kemudian dia bertanya dengan ragu-ragu.
"Jadi... nona ini... adalah penunggang harimau yang telah mengalahkannya tadi?"
Sui Cin mengangguk, hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ahhh..."
Seru Moghu Khali dengan takjub.
Dia seorang yang amat menghargai kegagahan dan sama sekali ia tidak mengira bahwa penunggang harimau yang telah mengalahkan jagoannya itu adalah gadis cantik jelita yang kelihatan lemah ini.
"Sungguh beruntung aku dapat berhadapan dengan seorang yang berkepandaian tinggi seperti nona,"
Katanya sambil memberi hormat.
Sui Cin merasa suka kepada kepala suku yang tinggi besar dan nampak kuat sekali akan tetapi yang bersikap jujur dan ramah ini.
"Sekarang harap aku diberi kebebasan untuk mengobatinya."
"Baiklah, silakan nona,"
Moghu Khali lalu memanggil seorang pelayan wanita untuk membantu Sui Cin.
Kemudian dia meninggalkan kamar itu.
Kepada pelayan yang biarpun tidak lancar dapat pula berbahasa Han itu Sui Cin minta disediakan arak yang baik, juga minta disediakan alat memasak obat di dalam kamar itu.
Setelah semua ini tersedia, iapun menyuruh pelayan wanita meninggalkannya dengan Ci Kang berdua saja.
Ia lalu menutupkan daun pintu kamar, dan membuka jendela kamar lebar-lebar agar hawa di dalam kamaar menjadi segar.
Ia memeriksa luka-luka kecil di dada Ci Kang.
Jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah tanpa disadarinya ia melihat dan meraba dada yang bidang dan kokoh kuat itu.
Belum pernah ia berada sedekat ini dengan pria, apalagi meraba dada yang tak berbaju.
Ia melihat bekas-bekas tusukan jarumnya, kemerahan dan agak menghitam.
Dikeluarkannya obat bubuk pemberian nenek Yelu Kim, dicampurnya obat itu dengan secawan arak.
Dengan hati-hati ia lalu menggunakan tangan kanan untuk membuka rahang pemuda itu dan setelah mulut terbuka, ia menuangkan arak obat itu perlahan-lahan, ke dalam mulut.
Untung baginya bahwa pemuda itu agaknya hanya setengah pingsan saja, karena buktinya dia dapat menelan arak yang memasuki kerongkongannya.
Setelah semua arak obat dalam cawan pindah ke dalam perut Ci Kang, Sui Cin lalu menyingkap selimut yang menutupi dada, dan menempelkan kedua telapak tangannya ke atas luka-luka kecil merah itu dan mengerahkan sinkang untuk menyedot racun.
Lambat laun ia merasa betapa kulit dada itu panas sekali, makin lama semakin panas sehingga ia hampir tidak tahan.
Akan tetapi Sui Cin bertahan terus mengerahkan sinkangya sampai akhirnya ia merasa betapa telapak tangannya yang menempel pada dada Ci Kang itu menjadi basah dan ketika ia melihatnya, ternyata telapak tangannya berdarah.
Kiranya darah telah dapat disedot dari luka-luka kecil itu dan ia tahu bahwa ini bukan hanya karena tenaga sinkangnya, melainkan terutama sekali karena manjurnya obat penawar racun yang mulai bekerja dengan cepatnya.
"Uhhh..."
Ci Kang mengeluh dan menggerakkan bibirnya.
Bulu matanya bergerak gerak dan dia mulai sadar.
Sui Cin hanya memandang tanpa melepaskan kedua telapak tangannya dari dada pemuda itu.
Sepasang mata itu kini perlahan-lahan terbuka dan Ci Kang memandang nanar ke atas.
Akan tetapi kesadarannya pulih kembali dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah cantik yang berada tidak jauh dari mukanya, dia terbelalak, mengejap-mengejapkan matanya seperti ingin memastikan apakah dia tidak sedang bermimpi.
Apalagi ketika dia teringat akan wajah cantik itu.
Inilah puteri Pendekar Sadis itu, yang pernah ditolongnya, juga pernah menolongnya, dan pernah pula mereka berdua saling bertanding karena memang keduanya berdiri di dua pihak yang saling bertentangan.
Gadis gagah perkasa yang amat menarik hatinya itu!
Dan kini gadis itu meletakkan kedua tangan ke atas dadanya, dan dari getaran yang keluar dari telapak tangan itu diapun maklum bahwa gadis ini sedang berusaha untuk menyembuhkannya!
Dan diapun teringat bahwa dia roboh karena menjadi korban serangan jarum halus yang harum dan merah.
"Kau... kau nona Ceng... kau... mengobati aku...?"
Tanyanya dengan suara berbisik dan dia merasa betapa tubuhnya lemah sekali.
"Diamlah, jangan bergerak dulu. Lihat, racun itu sudah tersedot keluar dari tubuhmu!"
Sui Cin melepaskan kedua tangannya dan Ci Kang melihat betapa ada darah merah kehitaman pada kedua tepalak tangan yang tadi menempel di tubuhnya, yang dia rasakan amat halus dan hangat.
Sui Cin mencuci kedua tangannya.
Obat dari nenek itu telah bekerja dan ia maklum bahwa obat itu memang mujarab sekali.
"Tapi... mengapa... bagaimana engkau dapat berada di sini, nona? Dan mengapa engkau bersusah payah mengobati orang macam aku?"
Ada rasa haru menyelinap di dalam hati Ci Kang.
Sama sekali ia tidak pernah dia mimpi bahwa seorang nona seperti Ceng Sui Cin ini mau mengobatinya seperti itu.
"Ci Kang, apa salahnya kalau aku mengobatimu? Bukankah engkau pernah pula menolongku dahulu? Sudah sewajarnya kalau sekarang aku mencoba untuk menyembuhkan dan aku gembira sekali telah berhasil. Racun jarum itu berbahaya sekali dan tanpa obat penawar yang tepat, bisa berbahaya bagi keselamatan nyawamu."
"Engkau sungguh lihai, nona, di samping ilmu silat yang tinggi, juga masih memiliki keahlian mengobati luka beracun."
"Ah, tak perlu memuji,"
Kata Sui Cin sambil duduk kembali di tepi pembaringan dan menggunakan kain bersih untuk membersihkan darah dari dada Ci Kang.
"Aku dapat mengobati karena tentu saja aku mengenal bekerjanya Jarum-jarumku sendiri."
Pemuda itu terkejut.
"Kau...? Jadi engkau kah penunggang harimau itu, nona? Ahh, sungguh tak kusangka. Akan tetapi, bagaimana engkau dapat berada di sini, bahkan menjadi jagoan nenek Yelu Kim? Sungguh membingungkan!"
"Aku sendiripun bingung melihat engkau menjadi jagoan suku Khin. Aku pernah diselamatkan nenek Yelu Kim dan aku membalas budinya dengan membantunya di dalam perebutan kedudukan pimpinan itu. Ketika melihat engkau juga menjadi jagoan, aku terheran-heran. Kemudian engkau keluar sebagai pemenang seperti yang sudah kuduga dan aku terpaksa mentaati permintaan nenek Yelu Kim untuk maju dan menghadapimu."
"Dan aku roboh. Engkau sungguh lihai sekali, nona."
"Sudahlah, pujianmu membuat aku malu. Kalau tidak mengandalkan Jarum-jarum itu sebagai senjata yang curang, tentu aku sudah kalah. Engkau lah yang lihai sekali, Ci Kang. Akan tetapi bagaimana engkau tiba-tiba saja menjadi jagoan yang diajukan oleh orang-orang Khin? Amat lucu dan aneh keadaan kita berdua ini, tiba-tiba saja berada di antara suku-suku bangsa liar di utara dan menjadi jagoan-jagoan mereka."
Ci Kang menarik napas panjang, agaknya tidak merasa lucu seperti Sui Cin melainkan merasa berduka.
"Ah, semua ini adalah Gara-gara ayahku. Kalau tidak karena ayahku, tidak mungkin aku sampai terlibat dalam urusan para suku utara ini, bahkan tidak mungkin aku bisa berkeliaran sampai ke utara ini."
Suara Ci Kang mengandung penuh penyesalan.
"Ah, kenapa engkau menyalahkan ayahmu?"
Sui Cin bertanya heran.
Kembali pemuda itu menarik napas panjang, diam-diam merasa heran mengapa tubuhnya menjadi semakin lemas saja.
"Ayahku dikenal sebagai Siangkoan Lojin, lebih celaka lagi dikenal sebagai Iblis Buta. Ayahku dikenal pula sebagai seorang datuk sesat. Sejak dahulu aku tidak setuju dengan cara hidup ayah dan selalu menentangnya. Akan tetapi hal itu malah membuat ayah marah dan menyebabkan aku terpaksa melarikan diri dari ayah. Aku mencoba untuk mencuci nama ayahku dengan bergabung kepada para pendekar, menentang kejahatan. Akan tetapi, karena nama ayah sudah begitu tersohor busuk, aku malah dimusuhi ketika tiba di bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk menghadiri pertemuan para pendekar. Dengan rasa malu dan duka, aku berkeliaran sampai di sini dan bersahabat dengan kepala suku Khin sehingga akhirnya aku menjadi jagoannya. Bukankah menyedihkan sekali keadaanku? Sayang Jarum-jarummu masih terhalang oleh baju kulit harimauku sehingga tidak masuk lebih dalam. Kalau kuingat keadaanku, lebih baik kalau Jarum-jarum itu menewaskanku saja. Mati di tanganmu adalah mati terhormat karena engkau adalah seorang pendekar wanita gagah perkasa, puteri Pendekar Sadis..."
"Sudahlah, Ci Kang. Tak perlu menyesali diri dan tidak ada baiknya pula mencela ayah kandung sendiri yang sudah tidak ada, apalagi bagaimanapun juga ayahmu meninggal dengan gagah perkasa, berani menentang Raja dan Ratu Iblis. Sayang bahwa dia meninggal karena kecurangan Raja Iblis..."
"Apa...?"
Sepasang mata Ci Kang terbelalak.
"Kematian ayah karena kecurangan Raja Iblis? Apa maksudmu?"
Baru Sui Cin mengerti bahwa pemuda ini belum tahu bagaimana ayahnya meninggal.
Ia memandang dengan hati kasihan.
Walaupun pemuda ini putera datuk sesat, akan tetapi telah meninggalkan kesan baik dalam hatinya dalam pertemuan yang pertama, ketika pemuda ini menyelamatkannya dari bencana perkosaan.
Dan apa yang diceritakan Ci Kang tadi bahwa dia selalu menentang ayahnya sampai dimusuhi, membuat hatinya merasa semakin kasihan dan suka.
"Aku melihat sendiri peristiwa itu, Ci Kang. Dalam pertemuan para datuk sesat itu, Raja dan Ratu Iblis hendak menguasai mereka, menjadi pimpinan dan hendak mengajak para datuk untuk memberontak. Akan tetapi ayahmu menentang dan dia lalu diserang oleh Ratu Iblis. Mereka berkelahi dengan hebat dan nyaris Ratu Iblis tidak mampu menandingi ayahmu, akan tetapi diam-diam ia dibantu Raja Iblis yang curang dan ayahmu tewas."
"Ayah!"
Ci Kang bangkit duduk, wajahnya berseri, tangannya dikepal.
"Akhirnya! Akhirnya engkau juga menentang mereka dan bahkan mengorbankan nyawa dalam menentang mereka. Aku bangga, ayah, aku bangga..."
Pemuda itu tiba-tiba memejamkan kedua matanya dan terjengkang ke belakang, terjatuh rebah lagi dan mukanya kini menjadi pucat sekali, kedua tangannya menekan-nekan pelipis kepala.
"Eh, Ci Kang, engkau kenapakah...?"
Sui Cin bertanya kaget setelah tadi terheran-heran melihat sikap Ci Kang bergembira mendengar ayahnya tewas oleh kecurangan Raja Iblis.
Ia memegang tangan pemuda itu dengan khawatir karena wajah pemuda yang tadinya sudah nampak segar itu kini menjadi layu kembali.
"Tidak tahu... tubuhku lemas sekali... tenagaku hilang dan kepalaku... pusing..."
Tiba-tiba Sui Cin teringat akan pesan nenek Yelu Kim yang sudah memberinya obat berupa akar-akaran yang harus dimasak dengan nasi untuk menyembuhkan Ci Kang kalau tubuhnya terasa lemah dan lemas.
Tentu akibatnya atau pengaruh obat penawar tadi, pikirnya.
"Jangan khawatir, Ci Kang. Kau rebah saja yang enak, aku akan membuatkan obat untuk menyembuhkanmu dan memulihkan tenagamu."
Ia memasang bantal di punggung dan kepala Ci Kang sehingga pemuda itu dapat duduk setengah rebahan dengan enak.
Lalu sibuklah gadis itu memasak akar dicampur nasi dan masakan yang sudah disediakan oleh pelayan tadi.
Sebentar saja selesailah pekerjaannya dan ia membawa mangkok nasi berikut akar dan sayuran itu ke pembaringan.
Dengan sepasang sumpit, diaduknya nasi itu agar agak dingin.
Ci Kang masih rebah dengan kedua mata terpejam itu.
"Ci Kang, obatnya sudah masak. Mari kau makan ini, tentu engkau akan sembuh sama sekali."
Katanya.
Ci Kang membuka mata, nampak lemas sekali dan ketika dia mengulur tangan menerima mangkok itu, hampir saja mangkok itu terlepas dan tumpah karena tangannya juga gemetar.
Melihat ini, Sui Cin cepat mengambil kembali mangkok itu.
"Ah, engkau benar-benar kehilangan tenagamu. Biarlah kubantu kau, Ci Kang."
Sui Cin lalu menggunakan sumpit untuk menyuapkan makanan ke mulut pemuda itu.
"Sungguh engkau membuat aku merasa malu, nona. Perawatanmu seperti ini... aku... aku berterima kasih sekali..."
Kata Ci Kang yang merasa sungkan.
"Aihhh, engkau sedang sakit, sudahlah jangan banyak memikirkan Hal-hal yang tidak perlu. Makanlah ini."
Kata Sui Cin dan mulai menyuapkan nasi berikut obat dan sayurmayur itu ke mulut Ci Kang yang menerimanya dengan hati penuh rasa terima kasih.
Ci Kang sedang menderita sakit sedangkan Sui Cin sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pemuda itu, maka mereka berdua yang berilmu tinggi dan biasanya amat waspada itu tidak mendengar sama sekali bahwa di luar jendela terdapat sesosok bayangan orang yang baru tiba dan kini bayangan itu mengintai dari balik jendela.
Bayangan orang itu adalah Cia Hui Song dan setelah melihat keadaan di dalam kamar itu, Hui Song mengerutkan alisnya dan matanya mengeluarkan sinar marah!
Hati siapa yang tidak akan marah melihat gadis yang sudah lama menjatuhkan hatinya itu, gadis pujaan hati yang diam-diam amat dicintanya, kini duduk di tepi pembaringan dan menyuapkan makanan kepada Ci Kang!
Begitu mesra nampaknya.
Hui Song bukan seorang pemuda yang sembrono dan singkat pandangan.
Dia tahu bahwa Ci Kang tadi roboh terluka dan agaknya pemuda itu kini menderita sakit cukup berat, maka kalau dia disuapi makanan, hal itu tidak membuatnya heran atau ribut-ribut.
Akan tetapi, justeru yang menyuapkan makanan adalah Sui Cin!
Apa artinya ini!
Bukankah tadi yang merobohkan Ci Kang adalah wanita penunggang harimau yang dia yakin adalah Sui Cin juga.
Mending kalau Sui Cin merawat orang lain, akan tetapi yang dirawat ini adalah Ci Kang, tokoh sesat muda yang lihai dan berbahaya lagi jahat itu!
Hati siapa tidak akan panas?
Hati Sui Cin merasa lega dan girang ketika melihat perubahan pada wajah Ci Kang.
Kini warna pucat itu berangsur-angsur hilang dari wajah yang ganteng itu, terganti warna kemerahan.
Akan tetapi, makin banyak pemuda itu menelan nasi dan obat, mukanya menjadi semakin merah dan pandang matanya yang juga kemerahan itu kini menatap wajah Sui Cin dengan aneh sekali, seolah-olah baru sekarang dia mengenal gadis itu!
Sui Cin masih terus menyuapkan makanan, diam-diam merasa heran dan juga agak khawatir.
Agaknya kesehatan pemuda ini mulai pulih, pikirnya, akan tetapi kenapa mukanya menjadi begitu merah, bahkan kedua matanya juga agak kemerahan dan kini napas pemuda itu mulai terengah-engah?
Dan yang amat menggelisahkan hatinya adalah pandang mata Ci Kang itu.
Pandang mata itu seperti merayap-rayap dan seolah-olah terasa olehnya betapa pandang mata itu menyentuh dan meraba-raba di seluruh mukanya, matanya, telinganya, pipinya, bibirnya bahkan lehernya.
Diam-diam ia bergidik dan jantungnya berdebar keras dan tegang.
Hui Song yang mengintai dari luar jendela harus menekan perasaannya agar kemarahannya tidak sampai membuat dia berbuat sesuatu.
Dia tiba di tempat ini bukan hanya kebetulan saja.
Rombongan suku bangsa Mancu Timur yang dipimpin oleh Lamnong telah diam-diam pergi meninggalkan para suku lain, bersama suku-suku lain yang juga tidak setuju kalau pimpinan dipegang oleh Yelu Kim akan tetapi tidak berani menentang dengan terang-terangan.
Lamnong mengajak Hui Song pergi, akan tetapi Hui Song tidak mau dan mereka saling berpisah pada hari itu juga.
Hui Song masih mempunyai tugas lain, yaitu pertama menyelidiki Yelu Kim sehubungan dengan Perkumpulan Harimau Terbang yang diduganya telah mencuri dan melarikan harta pusaka di Gua Iblis Neraka.
Di samping tugas ini, juga dia ingin berjumpa dengan Sui Cin.
Dia harus bersikap hati-hati dan sebelum dia bertindak terhadap nenek Yelu Kim, dia harus lebih dahulu menemui Sui Cin dan mendapatkan keterangan mengapa gadis itu membantu nenek Yelu Kim.
Akan tetapi, dia tidak berhasil menemukan Sui Cin ketika pada malam hari itu dia melakukan penyelidikan.
Akhirnya dia melakukan penyelidikan di perkemahan suku bangsa Khin untuk mencari keterangan tentang Siangkoan Ci Kang dan bagaimana putera datuk sesat ini dapat menjadi jagoan orang-orang Khin.
Hal ini sehubungan dengan tugas yang diberikan oleh gurunya kepadanya, yaitu menyelidiki keadaan para suku bangsa yang agaknya hendak bergerak pula melakukan pemberontakan ke selatan.
Dan tanpa disengaja dia menjenguk ke dalam kamar itu dan melihat Sui Cin sedang merawat Ci Kang yang sakit, sedang menyuapkan makanan kepada putera Iblis Buta itu dengan sikap demikian mesra yang membuat perutnya terasa panas.
Sementara itu, keadaan Ci Kang semakin aneh.
Pemuda ini merasa gelisah bukan main dan napasnya semakin memburu, matanya melotot menatap wajah Sui Cin tanpa berkedip.
Melihat ini, Sui Cin menjadi gelisah sekali.
Nasi itu sudah hampir habis dan ia meletakkan mangkok di atas pembaringan.
Lalu dirabanya dahi Ci Kang dengan telapak tangan kirinya.
Terkejutlah ia merasa betapa dahi itu panas sekali dan kulit tubuh pemuda itu dari kepala sampai ke dada nampak merah!
Ci Kang sendiri sejak tadi gelisah bukan main.
Setelah perutnya terisi nasi dan obat, tenaganya pulih kembali dengan cepat, akan tetapi bersama kembalinya tenaganya, datang pula suatu perasaan yang amat aneh.
Tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdegup seperti akan pecah, dan timbul gairah rangsangan yang amat kuat, makin lama makin kuat, yang membuat Sui Cin nampak semakin jelita menggairahkan, yang mendatangkan dorongan hasrat dalam hatinya untuk merangkul dan bemesraan dengan Sui Cin.
Namun, dengan kekuatan batinnya Ci Kang mempertahankan diri, tidak mau tunduk terhadap rangsangan gairah yang mendorongnya itu, rangsangan berahi yang tiba-tiba saja menyerangnya secara hebat.
Ketika Sui Cin meraba dahinya, gadis itu seolah-olah merupakan minyak bakar disiramkan kepada nafsu berahi yang sedang bernyala sehingga menjadi semakin berkobar.
Dan Ci Kang yang sejak tadi mempertahankan diri, kini tidak kuat lagi.
"Nona..."
Serunya dan tiba-tiba saja kedua lengannya bergerak merangkul, gadis itu sudah dipeluknya dengan ketat dan dia sudah menciumi muka Sui Cin dengan penuh nafsu berahi.
Karena dirinya dipengaruhi nafsu maka belaian dan ciuman Ci Kang kasar sekali.
Sejenak Sui Cin terbelalak dan tak mampu bergerak saking kagetnya, akan tetapi ciuman-ciuman yang panas pada pipinya, bibirnya, lehernya, membuat ia tiba-tiba menjerit dan meronta untuk melepaskan dirinya.
Akan tetapi pelukan Ci Kang itu kuat sekali dan terjadilah pergulatan.
Karena keduanya menggunakan tenaga terdengar suara.
"Brettt..."
Dan kain baju bagian leher dan sebagian dada yang menutupi tubuh Sui Cin terobek!
Melihat kulit leher dan dada bagian atas ini, Ci Kang seperti menjadi buas dan dia menciumi bagian itu seperti orang gila.
"Lepaskan... Ah, lepaskan..."
Sui Cin meronta sekuat tenaga dan pada saat itu terdengar suara keras disusul jebolnya tirai dan papan di atas jendela ketika Hui Song menerjang masuk.
Sui Cin telah berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Ci Kang dan ia meloncat turun dari pembaringan dan menjauhi pemuda itu.
Baca Juga: Suling Emas 14
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 7