Ceritasilat Novel Online

Asmara Berdarah 9

Eps 9 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.

Ci Kang sendiri terkejut mendengar suara gaduh itu dan diapun meloncat turun dan berdiri dalam keadaan siap siaga.

Pada saat itu, Hui Song meloncat dan menyerbu ke arah Ci Kang, menggerakkan sebatang tongkat kayu yang disambarnya dari luar tadi, menyerang Ci Kang.

Tongkat kayu itu menghantam ke arah kepala Ci Kang dan terdengar suara Hui Song memaki.

"Jahanam busuk, kuhancurkan kepalamu!"

Melihat datangnya serangan potongan kayu sebesar lengan yang menyambar kepalanya dengan dahsyat itu, Ci Kang cepat melemparkan selimut yang masih menempel di tubuhnya, kemudian dia mengelak sambil melompat ke belakang.

Hui Song yang sudah marah sekali terus menerjang lagi dengan hebatnya.

Ketika dia melihat Sui Cin merawat Ci Kang yang sakit, biarpun hatinya terasa panas, namun dia masih mampu mengendalikan dirinya.

Ketika dia melihat Ci Kang tiba-tiba bangkit duduk dan merangkul Sui Cin, menciumi gadis itu dan melihat Sui Cin meronta-ronta, darah dalam tubuh Hui Song mendidih.

Dia menyambar sepotong kayu dari dekatnya dan menerjang ke dalam kamar, langsung saja menyerang Ci Kang tanpa bertanya-tanya lagi.

Apalagi yang perlu ditanyakan kalau sudah jelas betapa Ci Kang berbuata kurang ajar terhadap Sui Cin dan gadis itu meronta dan menolak?

Agaknya Ci Kang hendak memperkosa Sui Cin dan untuk perbuatan itu, Ci Kang harus dibunuhnya!

"Hyaattt..."

Kembali tongkat itu meluncur dan menyambar ke arah kepala Ci Kang yang masih berdiri kaget dan bingung.

Pemuda ini masih bingung karena semua peristiwa yang terjadi ini sungguh berada di luar kemampuannya untuk menguasainya.

Tadipun ketika dia merangkul dan menciumi Sui Cin, hal itu dilakukan dalam keadaan perang di dalam batinnya, sepihak didorong oleh nafsu berahi yang berkobar, di pihak lain batinnya menentang keras.

Ketika Hui Song muncul, dia merasa terkejut, malu dan bingung, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa.

Betapapun juga, tenaganya sudah pulih kembali dan melihat sambaran tongkat, maklumlah dia bahwa Hui Song yang marah itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh, dengan pengerahan tenaga sinkang dan dia tahu betapa bahayanya kalau sampai kepalanya terkena hantaman kayu yang menpndung tenaga sinkang amat kuatnya itu.

"Ihhh..."

Ci Kang terpaksa menggerakkan lengan kanannya untuk menangkis, karena mengelak dari sambaran tongkat seperti itu di ruangan yang sempit ini sungguh berbahaya sekali.

"Dukkk..."

Keras sekali pertemuan antara tongkat dan lengan tangan itu.

Ci Kang merasa betapa lengannya tergetar hebat, akan tetapi tongkat kayu itupun pecah berantakan!

Hui Song membuang sisa tongkat itu yang tadi hanya dipergunakan karena dia sudah hampir lupa diri saking marahnya.

Padahal, menggunakan kedua tangannya bahkan lebih dahsyat dan lebih berbahaya dari pada tongkat yang mati itu.

Ci Kang yang merasa bahwa telah melakukan hal yang amat memalukan, merasa bahwa dia bersalah, tidak berniat melawan, dan dia bahkan merasa malu sekali kepada Sui Cin.

Dilihatnya Sui Cin berdiri di sudut kamar itu dengan mata dan muka pucat, kedua tangan berusaha menyatukan lagi baju yang terobek.

Ci Kang merasa jantung seperti ditusuk melihat baju yang robek itu, suatu bukti bahwa hal tadi memang telah terjadi, bahwa dia tadi telah melakukan sesuatu yang amat memalukan.

Bahkan sekarangpun, darahnya tersirap dan mukanya terasa panas melihat kecantikan Sui Cin.

Dia tahu bahwa tidak ada gunanya menerangkan segalanya, tidak ada gunanya membela diri.

"Nona, maafkan aku..."

Katanya dengan suara gemetar dan tubuhnya melayang keluar dari dalam kamar itu.

"Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau? Dosamu harus kau tebus dengan nyawa!"

Hui Song membentak dan melakukan pengejaran dengan loncatan jauh keluar dari dalam kamar itu.

Sui Cin yang sejak tadi tercengang dan masih terpengaruh oleh peristiwa yang amat mengejutkan dan membingungkan hatinya itu, kini baru tersadar dan iapun turut pula meloncat dan melakukan pengejaran, tangan kirinya memegang dan merapatkan bagian baju yang terobek tadi.

Akan tetapi ternyata oleh mereka ketika mereka tiba di luar, Ci Kang sudah tidak lagi nampak bayangannya.

Pemuda itu masih dalam keadaan bingung dan menyadari kesalahannya itu, agaknya tidak mau melayani mereka, bahkan merasa malu untuk bertemu muka dengan Sui Cin, maka dengan cepat sekali dia telah melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam yang mulai menyelimut tempat itu.

"Jahanam, jangan lari kau!"

Hui Song membentak dan mencari-cari, akan tetapi dia tidak tahu ke jurusan mana Ci Kang melarikan diri dan pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut karena suara gaduh mereka tadi telah menarik perhatian para penjaga dan kini banyak pengawal Bangsa Khin mulai berdatangan.

"Song-ko, mari kita pergi dari sini!"

Sui Cin berkata. Ia telah mengikat baju yang robek dengan saputangan.

"Tak perlu dicari lagi!"

Suara Sui Cin ini membuat jantung Hui Song berdebar keras saking girangnya.

Sui Cin telah mengenalnya!

Ini berarti bahwa gadis itu telah memperoleh kembali ingatannya!

Akan tetapi di samping rasa girangnya, dia masih merasa terbakar oleh kemarahan.

"Tidak, aku harus mencarinya sampai dapat dan membunuhnya!"

Bentaknya marah.

Sui Cin mengerutkan alisnya.

Dia sendiri tidak marah kepada Ci Kang, hanya merasa heran.

Tidak biasanya Ci Kang bersikap seperti tadi.

Dia tidak memperlihatkan sikap kurang ajar, apalagi berani melakukan hal seperti tadi.

Bukankah dahulu Ci Kang bahkan telah menentang Sim Thian Bu mati-matian ketika saudara seperguruannya itu hendak memperkosanya?

Akan tetapi, kenapa secara tiba-tiba Ci Kang melakukan hal itu?

Dan sikap itu timbul setelah pemuda itu makan nasi dengan akar obat, mula-mula mukanya menjadi merah, juga matanya, dan tubuhnya panas sekali.

Apakah tidak ada apa-apa di balik itu?

Kini, melihat Hui Song marah-marah dan hendak membunuh Ci Kang tanpa dipertimbangkan lebih dahulu persoalannya, ia merasa tidak senang.

"Kalau begitu carilah sendiri!"

Dan Sui Cin lalu membalikkan tubuhnya dan melompat pergi.

"Cin-moi..."

Hui Song gelagapan melihat gadis itu melarikan diri dan dia cepat mengejar, takut kehilangan bayangan Sui Cin dalam kegelapan malam itu.

Sui Cin tidak menjawab dan terus melarikan diri.

Mereka berkejaran dan meninggalkan perkemahan itu, melalui padang pasir yang halus dan sunyi.

Bintang-bintang bertaburan di langit, mcrupakan kumpulan titik-titik terang yang membuat cuaca remang-remang, sejuk dan indah.

Akhirnya, di sebuah lapangan yang penuh batu-batu gunung, Sui Cin berhenti dan duduk.

Hui Song menyusulnya dan pemuda ini berdiri di depan gadis itu.

Mereka saling berpandangan sampai lama tanpa berkata-kata, masing-masing mengatur pernapasan yang agak memburu karena berlari cepat tadi.

"Cin-moi... ah, engkau telah sembuh dan mendapatkan ingatanmu kembali? Girang sekali hatiku. Dan jahanam itu! Siangkoan Ci Kang, sekali waktu aku akan membunuhnya! Akan tetapi mengapa engkau merawatnya, padahal, bukankah siang tadi engkau pula yang merobohkannya? Engkau maju sebagai penunggang harimau itu, bukan? Cin-moi, mengapa engkau berada di daerah ini, bahkan lebih aneh lagi, mengapa engkau menjadi jagoan yang membantu nenek iblis itu?"

Dihujani pertanyaan bertubi-tubi itu, Sui Cin diam saja.

Setelah Hui Song selesai dengan pertanyaan-pertanyaannya, barulah ia menjawab.

"Song-ko, ceritaku panjang sekali. Kuharap engkau yang lebih dulu bercerita kepadaku sejak kita berpisah dan mengapa pula engkau dapat berkeliaran di tempat ini?"

Sui Cin masih terguncang batinnya oleh peristiwa dengan Ci Kang tadi, maka ia belum sempat memperoleh kembali kegembiraannya dan bersikap serius.

Hal inipun dipengaruhi oleh sikap Hui Song yang agaknya amat membenci Ci Kang, padahal ia sendiri, walaupun sikap Ci Kang tadi amat mengejutkan dan membuatnya amat marah, masih belum merasa bahwa ia membenci pemuda putera datuk sesat itu.

Melihat sikap serius gadis itu, Hui Song juga bersikap tenang dan diapun mencari tempat duduk di depan Sui Cin.

Sejenak mereka saling berpandangan kembali dan keduanya merasa seolah-olah mereka tidak pernah berpisah, apalagi saling berpisah sampai tiga tahun lebih.

"Aaihh, betapa cepatnya waktu berkelebat,"

Akhirnya Hui Song berkata.

"Ingatkah kau bahwa kita telah saling berpisah selama tiga tahun lebih? Akan tetapi, berhadapan denganmu seperti sekarang ini, aku merasa seolah-olah kita tidak pernah saling berpisah, atau baru kemarin saja."

Sui Cin mengangguk karena memang demikian pula perasaan hatinya.

"Song-ko, ceritakanlah segala pengalamanmu. Aku ingin sekali tahu mengapa engkau dapat bekerja sama dengan murid Raja Iblis di Gua Iblis Neraka itu, dan bagaimana pula sekarang engkau tiba-tiba berada di daerah ini."

"Ceritaku juga panjang, akan tetapi baiklah akan kusingkat saja. Tiga tahun lebih yang lalu, kita saling berpisah. Engkau diajak pergi oleh locianpwe Wuyi Lojin, sedengkan aku pergi mengikuti Siangkiang Lojin untuk mempelajari ilmu. Nah, selama tiga tahun aku belajar ilmu dari suhu Siangkiang Lojin. Setelah tiga tahun, suhu menyuruh aku untuk menghadiri pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang sehubungan dengan tekad para pendekar untuk menentang gerakan yang dipimpin oleh Raja Iblis. Dalam perjalanan itu aku bertemu dengan iblis betina itu. Ia menipuku, mengaku sebagai pejuang yang menentang Raja Iblis, karena itu aku membantunya mencari harta karun yang tersembunyi di dalam Gua Iblis Neraka itu. Akan tetapi, harta itu telah diambil orang lain lebih dulu yang meninggalkan lencana Harimau Terbang di daerah utara. Dan aku terjebak, tentu telah tewas kalau tidak ada engkau muncul menolongku. Akan tetapi, engkau sendiri malah tertimpa bencana ketika menolongku, terluka kepalamu oleh pukulan batu musuh sehingga engkau kehilangan ingatan, dan bahkan menyerangku. Nah, pertemuan yang hanya sebentar itu berakhir dan kita saling berpisah lagi. Aku lalu menyelidiki ke utara dan aku sempat terlibat dalam pemberontakan yang terjadi di Sanhaikoan."

Hui Song lalu menceritakan pengalamannya di kota benteng itu.

"Nah, karena tidak mungkin lagi menyelamatkan Sanhaikoan, aku pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang, bertemu dengan suhu yang menyuruhku melakukan penyelidikan kepada para suku bangsa di sini. Aku bertemu dan berkenalan dengan Lamnong, kepala suku Mancu Timur dan ikut dengan rombongannya ke tempat pertemuan para suku untuk memilih pimpinan. Aku ingin menyelidiki Yelu Kim yang kabarnya adalah ketua Harimau Terbang, menyelidiki tentang harta karun dan juga tentang pergerakan para suku di sini dan aku melihat engkau! Melihat pula Ci Kang, jahanam busuk itu..."

"Sekarang dengarkan pengalamanku."

Sui Cin memotong cepat ketika mendengar Hui Song mulai hendak memaki-maki Ci Kang lagi.

"Seperti juga engkau, aku mengikuti suhu Wuyi Lojin selama tiga tahun untuk menerima gemblengan ilmu. Dan akupun disuruh oleh suhu untuk pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang. Di tengah jalan aku melihat kuil tempat tinggal murid Raja Iblis itu dan kaki tangannya. Aku merasa curiga dan menyelidiki mereka. Aku mendengar percakapan mereka tentang harta pusaka di Gua Iblis Neraka, maka aku melakukan penyelidikan ke sana. Aku lalu melihat engkau bersama iblis-iblis itu dan selanjutnya engkau tahu. Aku terluka, kehilangan ingatan. Dalam keadaan seperti itu, aku hampir celaka oleh Kiu-bwe Coali. Untung ada saudara Cia Sun yang menolongku. Akan tetapi, pada saat itu juga muncul nenek Yelu Kim yang mengobati aku sampai sembuh sama sekali dari racun yang diberikan oleh Kiu-bwe Coali, juga sembuh sama sekali dari kehilangan ingatan. Karena budinya ini, aku lalu diangkat menjadi muridnya dan menjadi pembantunya. Aku berjanji membantunya memperoleh kedudukan pimpinan dalam pemilihan jago dan aku berhasil."

"Akan tetapi, kenapa setelah engkau merobohkan Ci Kang, engkau lalu..."

Sui Cin menggerakkan tangan dengan kesal.

"Dengarkanlah dulu! Engkau tahu bahwa Ci Kang pernah menyelamatkan aku dan pertandingan antara kami itu bukan urusan pribadi. Dan aku telah merobohkannya dengan menggunakan jarum merah beracun. Aku merasa menyesal karena kalau tidak kuobati, dia mungkin akan celaka. Aku akan merasa menyesal bukan main kalau sampai dia mati dalam pertandingan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pribadi kami itu. Maka, aku lalu mengobatinya. Sungguh tidak kusangka sama sekali dia... dia akan melakukan hal itu..."

"Dasar orang jahat, anak seorang datuk sesat seperti Iblis Buta, mana bisa baik?"

"Aku tidak yakin, Song-ko, perbuatannya itu seperti tidak sewajarnya..."

"Ah, dia itu putera datuk sesat, tentu seorang yang jiwanya sudah kotor. Kalau dahulu dia menolongmu, bukan karena kebaikan hatinya, melainkan karena dia tidak ingin engkau diganggu orang lain itulah!"

"Sudahlah, Song-ko, aku tidak mau bicara lagi soal itu. Anehnya, aku sendiri tidak mendendam atas peristiwa itu dan masih ragu-ragu, akan tetapi kenapa engkau malah ribut-ribut?"

"Kenapa tidak, Cin-moi? Melihat engkau hendak dipaksa, hatiku sudah terbakar dan aku tentu sudah menghancurkan kepalanya kalau saja dia tidak lari. Siapa tidak cemburu melihat itu...?"

"Cemburu...?"

"Cin-moi, masih haruskah kujelaskan lagi? Perlukah kuulangi lagi? Sui Cin, sejak dahulu sampai sekarang aku tetap mencintamu dan sampai saat inipun engkau belum pernah memberi jawaban yang pasti. Sui Cin, aku cinta padamu dengan sepenuh jiwa ragaku dan aku hampir merasa yakin bahwa cintaku tidak bertepuk tangan sebelah, bahwa engkau pun cinta padaku. Cin-moi, jawablah..."

Kini sikap Hui Song yang biasanya gembira jenaka itupun berobah menjadi serius, bahkan di dalam suaranya terdengar nada memelas dan memohon.

Sampai lama Sui Cin menatap wajah pemuda itu.

Hatinya diliputi kebimbangan yang membuatnya bingung dan sejenak tidak mampu menjawab.

Harus diakuinya bahwa ia merasa amat suka, mungkin mencinta kepada pemuda ini.

Hui Song adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, budiman, dan berwatak cocok dengannya, riang jenaka dan gembira.

Akan tetapi, iapun tahu bahwa ayah ibunya tidak suka kepada orang tua pemuda ini, dan iapun belum tahu apakah orang tua pemuda ini, ketua Cin-Ling-Pai, suka pula kepada ayah bundanya.

Dan baik ia sendiri maupun Hui Song adalah anak-anak tunggal!

"Cin-moi..."

"Song-ko, maafkan aku. Bagaimana mungkin kita bicara tentang hal itu kalau kita berdua masih sibuk dengan urusan perjuangan yang amat penting? Raja Iblis dan sekutunya telah menduduki kota Sanhaikoan, dan kekuatan mereka semakin membahayakan keselamatan negara. Lebih baik kita selesaikan tugas kita lebih dahulu. Setelah urusan ini selesai, barulah kita sempat berpikir tentang urusan pribadi. Kalau saatnya tiba, sudah sepatutnya kalau orang-orang tua kita yang saling berunding tentang hal itu, bukan kita sendiri. Bukankah begitu, Song-ko?"

Wajah Hui Song berobah merah.

Dia seperti menerima teguran dan merasa tidak enak sendiri.

Orang-orang gagah sedunia sedang sibuk bersiap-siap menanggulangi para datuk yang hendak memberontak, dan dia sendiri ribut-ribut bicara tentang cinta!

"Ah, maafkan aku, Cin-moi.

Bukan maksudku melupakan perjuangan, hanya aku ingin sekali tahu dan merasa pasti tentang cinta kita...

ah, sudahlah.

Engkau benar.

Biar nasib kita saja yang menentukan kelak.

Kalau sudah selesai perjuangan, kita bicara lagi dan aku tentu akan minta orang tuaku pergi kepada orang tuamu untuk meminang.

Nah, sekarang mari kita bicara tentang perjuangan.

Bagaimana pendapatmu tentang usaha kita untuk menentang Raja Iblis dan kaki tangannya?"

"Aku tidak tahu, Song-ko. Aku menjadi bingung setelah mendengar bahwa Raja Ibils dan para datuk telah bergabung dengan pasukan pemberontak di Sanhaikoan dan bahkan sudah menduduki kota benteng itu. Dengan demikian tentu tidak mungkin bagi kita untuk menentang pasukan besar secara begitu saja. Kurasa, lebih besar hasilnya kalau aku melanjutkan perjuangan di sini, membantu nenek Yelu Kim yang akan menggerakkan para suku utara untuk menghantam pasukan pemberontak. Dengan demikian berarti akupun secara tidak langsung menentang kekuasaan Raja Iblis, melawan pasukan pemberontak dengan mengandalkan pasukan suku utara."

"Akan tetapi, para kepala suku itupun bermaksud memberontak dan menyerang ke selatan!"

Hui Song berseru.

"Itu adalah soal nanti. Kini yang penting adalah menentang para pemberontak, bukan? Kalau pemberontak sudah dapat dihancurkan dan kalau para suku utara hendak melanjutkan gerakan mereka menyerang ke selatan, masih belum terlambat bagiku untuk meninggalkan mereka. Dengan adanya gerakan dari para suku utara yang menyerang mereka, dan pasukan pemerintah yang menyerang dari selatan, berarti Raja Iblis dan sekutunya akan tergencet dari utara dan selatan."

Hui Song mengangguk-angguk.

"Aku dapat melihat kebenaran pendapatmu, Cin-moi. Baikiah, aku akan pergi menghadiri pertemuan para pendekar untuk melihat apa yang akan dibicarakan dan keputusan apa yang akan diambil."

"Song-ko, kalau bertemu dengan suhu, ceritakan keadaanku dan rencanaku menghadapi para pemberontak."

Mereka lalu berpisah.

Sui Cin kembali ke perkemahan nenek Yelu Kim sedangkan Hui Song pergi menuju ke bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Betapapun gembira hatinya telah dapat bertemu kembali dengan Sui Cin dan melihat gadis itu telah sehat kembali, namun ada sedikit kekecewaan dalam hati Hui Song mendengar jawaban Sui Cin tentang cintanya, jawaban yang masih belum meyakinkan hatinya bahwa gadis itupun mencintanya.

Pemuda itu menangis seorang diri!

Lucu nampaknya, akan tetapi juga mengharukan melihat seorang pemuda bertubuh tinggi beser, yang gagah perkasa seperti Siangkoan Ci Kang itu menangis!

Akan tetapi, tangis tak terlepas dari pada kehidupan setiap orang manusia, karena hidup ini memang merupakan tempat bagi tawa dan tangis untuk bersilih ganti mengisi batin manusia.

Tangis merupakan alat pelepas semua ganjalan dalam batin, pelepas semua kedukaan dan kekecewaan.

Orang yang tidak dapat menangis, yang tidak memiliki tangis sebagai pelepasan duka, tentu akan terganggu kesehatannya.

Siangkoan Ci Kang adalah seorang pemuda yang sejak kecil hidup dalam lingkungan yang keras dan boleh dibilang tidak pernah mengenal tangis.

Sejak kecil hampir tidak pernah dia menangis.

Segala derita batin diterima dengan gigitan bibir.

Namun, hal itu bukan berarti dia tidak pernah menangis dalam batinnya.

Hanya karena kerasnya hati maka tangis tidak sampai tersalur keluar dari mulut.

Akan tetapi sekarang, menghadapi pengalaman yang bertubi-tubi yang amat menyakitkan hatinya, setelah berada seorang diri di tempat sunyi itu, Ci Kang tidak kuasa lagi membendung air matanya dan diapun menangis tersedu-sedu sembil berlutut di atas tanah dan menutupi muka dengan kedua tangannya!

Dan begitu air matanya mengucur, bagaikan air yang sudah lama terbendung dan sudah terlalu penuh, tangisnyapun menjadi-jadi.

Terbayanglah segala pengalaman yang menyedihkan dan mengecewakan hatinya dan diapun membiarkan semua rasa duka itu mengalir keluar melalui air matanya.

Ketika menangis amat sedihnya itu, pikiran Ci Kang penuh dengan kenangan-kenangan yang mengecewakan hatinya.

Teringat dia akan semua nasibnya, sejak dia dimusuhi ayahnya sendiri sehingga hampir dia dibunuh oleh ayahnya.

Betapa dia senang menentang kejahatan, yang dilakukan oleh ayahnya dan kawan-kawan ayahnya akan tetapi hal ini membuat dia dibenci oleh golongan sesat.

Kemudian, dalam usahanya menjadi orang baik, menggabungkan diri dalam golongan pendekar, dia tidak dipercaya, bahkan dimusuhi oleh para pendekar, dianggap sebagai putera datuk sesat yang tentu jahat pula.

Dan berita tentang kematian ayahnya di tangan Raja Iblis.

Walaupun dia merasa bangga bahwa pada saat terakhir hidupnya, ayahnya menentang raja datuk sesat itu, bahkan mengorbankan nyawa, akan tetapi tetap saja kenangan akan ayah kandungnya yang tidak pernah akrab dengannya itu menghancurkan perasaannya pula.

Kemudian sekali, pengalaman yang baru-baru ini dia alami bersama Sui Cin!

Dia tahu benar bahwa semenjak pertemuannya pertama dengan gadis pendekar itu, ketika dia menolong Sui Cin dari ancaman tangan kotor Sim Thian Bu, dia sudah merasa kagum dan tertarik sekali, bahkan dalam pertemuannya tadi, ketika dia diobati gadis itu, dia merasakan benar betapa dia telah jatuh cinta sejak dahulu kepada nona itu!

Dan teringatlah dia akan ulahnya kepada Sui Cin.

Gadis itu mengobatinya, merawatnya, menyuapkan nasi ke mulutnya!

Bukan main kenyataan ini!

Akan tetapi apa yang dilakukannya tadi?

Dia telah membalas kebaikan hati gadis itu dengan perbuatan yang tidak senonoh!

Dia telah menghina gadis itu!

Makin dibayangkan perbuatannya tadi, makin hancurlah hatinya dan dia merintih-rintih.

"Ya Tuhan... apa yang telah kulakukan tadi...?"

Dia mengeluh dan menjatuhkan dirinya di atas tanah, rebah menelungkup sambil menangis!

Batin yang kemasukan satu di antara perasaan girang, susah, takut dan sebagainya akan kehilangan kepekaannya dan biarpun Ci Kang seorang pemuda terlatih yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dalam keadaan menangis dan tenggelam dalam lautan kedukaan itu dia menjadi lengah.

Sama sekali dia tidak tahu ketika ada bayangan orang berkelebat dengan gerakan yang amat cepat dan ringan.

Bayangan itu tahu-tahu telah berada dekat sekali dengan Ci Kang dan sekali tangan kanannya bergerak, tubuh Ci Kang mengejang lalu lemas dan tidak mampu bergerak lagi, karena jalan darahnya telah tertotok secara amat lihai!

"Hihihik, akhirnya engkau jatuh juga ke tanganku, orang sombong!"

Bayangan yang ternyata seorang wanita itu tertawa mengejek dan menggunakan kaki kirinya untuk membalikkan tubuh Ci Kang yang sudah lemas itu sehingga terlentang.

Ci Kang yang tiba-tiba saja merasa tubuhnya lemas dan lumpuh melihat wanita itu.

Seorang wanita cantik, bajunya kembang-kembang, perawakannya ramping, pakaiannya sederhana dengan hiasan rambut setangkai kembang.

Akan tetapi alis Ci Kang berkerut melihat wanita muda yang cantik ini karena dia mengenalnya sebagai seorang iblis betina yang amat lihai dan berbahaya, juga amat kejam.

Gadis ini bukan lain adalah Gui Siang Hwa yang berjuluk Siangtok Sianli (Dewi Racun Wangi), murid Raja Iblis!

Tahulah Ci Kang bahwa dia berada dalam ancaman bahaya maut.

Iblis ini tentu tidak akan mau melepaskannya, dan dia merasa heran mengapa totokan tadi bukan merupakan serangan maut, karena kalau hal itu dilakukan, tentu kini dia sudah tewas.

Kemudian teringat olehnya akan watak cabul wanita ini yang pernah membujuk rayu padanya.

Teringat akan ini, dia maklum bahwa tentu sekarangpun, sebelum membunuhnya, wanita cabul ini akan mengulangi lagi usaha dan bujuk rayunya.

Dia merasa sebal dan merasa lebih baik mati, apalagi hatinya sedang berduka seperti itu.

Memang kematian lebih baik baginya, sebagai hukuman atas perbuatannya terhadap Sui Cin tadi.

"Iblis betina, engkau telah merobohkan aku dengan curang seperti seorang pengecut. Nah, tidak perlu lagi engkau mengulangi perbuatanmu yang hina dan tak tahu malu, tak perlu lagi engkau merayuku. Kalau engkau memang gagah, bebaskan aku dan kita bertanding sampai mati, atau kalau memang engkau seorang pengecut hina seperti yang kuduga, bunuh saja aku!"

Katanya sambil memandang dengan mata melotot penuh tantangan.

Akan tetapi, Siang Hwa yang dimakimaki itu hanya tersenyum mengejek, sama sekali tidak memperlihatkan sikap marah.

Dengan lagak genit ia menggunakan telunjuk tangen kirinya mengelus dagu Ci Kang.

"Ehm, tampan! Jangan dikira bahwa hanya engkau saja laki-laki tampan di dunia ini. Kalau engkau menolak melayaniku, masih ratusan orang pria tampan yang siap untuk menyenangkan hatiku. Dan tentang membunuhmu, tentu saja aku akan membunuhmu, akan tetapi jangan mengira engkau akan mati dengan nyaman. Hihik, tidak, tampan, karena engkau menyakitkan hatiku dengan penolakanmu, engkau akan mati perlahan-lahan dan dengan sengsara sekali. Aku akan menyayat-nyayat seluruh kulit badanmu sampai penuh darah, dan kutinggalkan engkau di sini dalam keadaan seperti itu biar engkau dikeroyok semut dan dipatuk burung-burung sampai engkau mati dengan siksaan hebat. Nah, menarik sekali, bukan?"

Akan tetapi, sebaliknya Ci Kang juga tidak nampak gentar.

Dia sudah bertekad untuk menghadapi kematian dengan tabah.

"Perempuan iblis busuk, pengecut jahanam, tak perlu banyak mengeluarkan omongan busuk lagi, bunuhlah kalau mau bunuh, dengan cara apapun juga, aku tidak takut mati!"

Dan Ci Kang lalu memejamkan mata seperti orang yang merasa muak dan hendak tidur, tidak lagi mau memperdulikan gadis itu.

Sebetulnya perbuatan ini dilakukan untuk menyembunyikan rasa sesal dan malunya.

Dia memaki-maki wanita iblis ini sebagai wanita yang hina dan busuk, wanita yang cabul.

Akan tetapi bagaimana dengan dia sendiri?

Apa yang telah dilakukannya terhadap Sui Cin hampir tidak ada bedanya dengan kecabulan yang dilakukan wanita ini.

Memaksakan hasrat dan gejolak berahi kepada orang lain.

Gui Siang Hwa sudah mengenal watak seorang pendekar muda seperti Ci Kang yang amat keras hati ini.

Ia tahu bahwa percuma saja membujuk pemuda ini, baik untuk menjadi kekasihnya atau menjadi pembantu gurunya.

Dan orang yang tidak mau bekerja sama berarti musuh, apalagi orang yang memiliki kelihaian seperti pemuda ini.

Sungguh bisa berbahaya sekali.

Maka, jalan terbaik adalah membunuhnya!

Ia mencabut pedangnya dan siap untuk melaksanakan ancamannya tadi, yaitu merobek-robek kulit tubuh pemuda itu dan membiarkannya tergolek di situ dalam keadaan lumpuh dan penuh luka agar dia mati perlahan-lahan kehabisan darah dan dikeroyok binatang-binatang kecil yang tentu akan tertarik oleh bau darah.

"Hihik, lebih dulu aku akan membikin putus otot-otot kaki tanganmu agar setelah bebas dari totokan engkau tidak akan mampu bergerak!"

Kata Gui Siang Hwa.

Pedangnya diangkat ke atas, lalu berkelebat ke arah lutut kiri Ci Kang.

Akan tetapi, tiba-tiba pedang itu berhenti di udara, tertahan oleh sesuatu yang amat kuat.

Siang Hwa terkejut sekali dan cepat membalikkan tubuhnya.

Ia melihat bahwa pedangnya itu telah terlibat oleh bulu-bulu panjang sebuah kebutan berwarna putih yang gagangnya dipegang oleh seorang gadis remaja yang berdiri sambil memandang kepadanya dengan sepasang mata berapi penuh teguran!

Gadis ini paling banyak delapan belas tahun usianya.

Pakaiannya amat sederhana, rambutnyapun dibiarkan riap-riapan ke belakang dan mukanya agak pucat, akan tetapi sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar mencorong!

"Engkau orang jahat!"

Gadis ini menegur Siang Hwa dengan suara halus.

"Akan membunuh orang begitu saja, orang yang sudah tidak mampu melawan sama sekali. Sungguh jahat!"

Akan tetapi Siang Hwa marah bukan main.

Gadis muda ini cukup cantik dan mengingat bahwa Ci Kang selalu menolaknya, kemudian muncul gadis ini yang membela Ci Kang, mudah diduga bahwa tentu gadis ini merupakan kekasih Ci Kang.

Ia merasa betapa libatan bulu kebutan itu mengendur, maka iapun lalu menarik pedangnya dan menghadapi gadis itu dengan senyum mengejek.

Tentu saja ia memandang rendah gadis bertampang pucat seperti orang berpenyakitan ini.

"Hihik, engkau hendak menemaninya mampus? Baik, akan kukirim engkau lebih dulu ke neraka!"

Berkata demikian, pedangnya menyambar ganas ke arah leher gadis itu.

Akan tetapi, Siang Hwa kecelik kalau mengira bahwa pedangnya akan mudah merobohkan lawan dengan sekali serang saja.

Ia tadi mengeluarkan jurus yang penuh tipuan, pedangnya meluncur menusuk ke arah tenggorokan, akan tetapi sebetulnya pedang itu hanya menggertak saja karena secara tiba-tiba pedang yang meluncur itu berobah arah dan membacok ke bawah, ke arah perut!

Hebatnya, gadis bermuka pucat itu agaknya mengenal gerak serangan ini, karena ia sama sekali tidak melindungi lehernya, melainkan menangkis ke depan dada dengan gagang kebutannya sehingga secara tepat sekali ia menggagalkan serangannya ke arah perut.

"Trangg..."

Dan Siang Hwa mundur dua langkah dengan kaget karena tangkisan gagang kebutan itu membuat lengannya tergetar, juga gerakan menangkis tadi amat dikenalnya.

Dengan penasaran Siang Hwa lalu menyerang lagi sambil memutar pedangnya dengan amat cepat.

Ia menerima pelajaran ilmu pedang dari Raja dan Ratu Iblis, tentu saja ilmu pedangnya amat ganas dan (Lanjut ke

Jilid 30) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 berbahaya.

Pedangnya lenyap berobah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ganas ke arah lawan.

Akan tetapi, keheranan hati Siang Hwa menjadi-jadi ketika lawannya itu mampu mengelak atau menangkis, menghindarkan semua serangannya dengan amat mudah dan seolah-olah semua gerakan serangannya itu telah diduga lebih dulu.

Ia terkejut bukan main ketika lawannya membalas dengan serangan ujung kebutan dan terpaksa Siang Hwa harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk mempertahankan diri karena serangan balasan lawannya itu benar-benar amat hebat.

Ujung kebutan itu menyambar-nyambar dan setiap helai bulu kebutan seperti hidup, Kadang-kadang berobah kaku seperti kawat-kawat baja dan Kadang-kadang lemas sekali dan dapat menyerang ke arah jalan darah.

Ci Kang tidak merasa heran melihat betapa gadis muda yang baru datang ini mampu menandingi Siang Hwa.

Begitu membuka matanya memandang, dia segera mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Toan Hui Cu, puteri Raja dan Ratu Iblis yang tinggal di dalam gua bewah tanah itu.

Munculnya gadis muda yang membelanya ini menimbulkan harapan baginya bahwa dia akan tertolong dari ancaman maut, walaupun hal ini tidak mendatangkan kegirangan besar dalam hatinya.

Bagi Ci Kang pada saat itu, mati dan hidup tiada bedanya, bahkan dia tidak akan menyesal kalau tewas karena hal ini hanya akan membebaskan dirinya dari pada kedukaan dan penyesalan.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya dan lima puluh jurus telah lewat.

Kini tiada keraguan lagi dalam hati Siang Hwa bahwa lawannya telah mengenal semua gerakan silatnya, dan iapun mengenal gerakan yang serupa dengan ilmu silat yang diajarkan kepadanya oleh suhu dan subonya.

Malang baginya, gerakan kebutan itu asing baginya sehingga baberapa kali ia kebobolan dan hampir celaka ketika ujung kebutan menyambar.

Untung ia amat gesit sehingga hanya keserempet saja dan belum terkena serangan yang telak.

Bagaimanapun juga, hal ini mengecutkan hatinya dan Siang Hwa mulai terdesak hebat oleh Hui Cu.

Untung bagi Siang Hwa, sejak kecil Hui Cu hidup menyendiri di dalam gua di bawah tanah sehingga ia berwatak bersih, belum terseret ke dalam lembah kekejaman dan kejahatan oleh kehidupan orang tuanya.

Oleh karena itu, walaupun ia telah mempelajari ilmu-ilmu silat dari ibunya, bahkan menguasai ilmu kebutan yang merupakan ilmu rahasia dan yang hanya dipelajari olehnya sendiri, namun tiada sedikitpun keinginan di hatinya untuk mencelakakan orang lain.

Perasaan inilah yang membuat ia menentang mati-matian ketika ibunya pernah hendak membunuh Cia Sun dan Ci Kang dan kini ia menentang Siang Hwa yang hendak membunuh Ci Kang.

"Hyaaaattt..."

Tiba-tiba Hui Cu mengeluarkan bentakan aneh seperti sering dilatihnya ketika ia berlatih silat di dalam gua bawah tanah dan ujung kebutannya membuat gulungan sinar yang membuat pandang mata Siang Hwa kabur.

Sebelum Siang Hwa dapat menghindarkan dirinya baik-baik, pundak kirinya telah disambar ujung kebutan dan ia berteriak kesakitan lalu meloncat ke belakang.

Pundaknya terasa nyeri bukan main dan kalau saja ia tidak melindungi dirinya dengan tenaga sinkang, tentu ia sudah roboh.

Dengan muka agak pucat Siang Hwa memandang gadis itu lalu telunjuknya menuding ke arah muka yang putih agak pucat itu.

"Kau... dari mana engkau mencuri ilmu perguruan kami..."

Yang ditanya tersenyum dan wajahnya tidak lagi nampak menyeramkan karena kepucatan wajahnya setelah tersenyum karena wajah itu menjadi manis sekali.

"Aihh, agaknya engkau lah murid ibuku. Engkau lihai dengan pedangmu, sayang engkau jahat, mau membunuh orang! Ibu pernah bercerita tentang seorang muridnya bernama Gui Siang Hwa. Engkau kah itu?"

Siang Hwa menjadi semakin terkejut.

Puteri subonya?

Belum pernah ia mendengar subonya mempunyai seorang puteri.

Memang, subonya pernah melahirkan seorang anak perempuan akan tetapi anak itu telah mati!

"Kau...

kau...

puteri subo...?"

Ia memandang terbelalak seperti melihat setan.

Mungkinkah anak yang mati dapat hidup kembali?

Tiba-tiba Hui Cu teringat akan pesan ibunya agar tidak memperkenalkan diri kepada siapapun juga, maka iapun berkata dengan tak sabar lagi.

"Sudahlah, engkau cepat pergi dari sini dan jangan mengganggu orang lain. Pergilah!"

Ia melangkah maju dan mengancam dengan kebutannya untuk mengusir Siang Hwa.

Pada saat itu ada angin menyambar kuat dan tiba-tiba muncullah seorang nenek berpakaian putih dengan rambut putih riap-riapan dan wajah pucat kehijauan.

Ci Kang mengenal nenek ini sebagai Ratu Iblis dan diam-diam diapun merasa menyesal mengapa dia masih dalam keadaan tertotok.

Kalau tidak, ingin dia melawan Ratu Iblis ini dengan muridnya yang jahat.

"Hui Cu, apa yang kau lakukan ini?"

Bentak nenek itu kepada puterinya dan ketika ia melihat Siang Hwa, wajah nenek itu berobah, alisnya berkerut dan sinar matanya mencorong.

"Siang Hwa, apa yang kau kerjakan di sini?"

Nenek ini sejenak bingung dan terkejut melihat betapa anaknya yang kehadirannya dirahasiakan itu ternyata telah bentrok dengan muridnya dan kalau sampai hal ini ketahuan oleh suaminya tentu akan terjadi geger.

Suaminya tentu akan menuntut agar Hui Cu dibunuh mati atau diberikan kepadanya untuk menjadi selirnya!

"Subo, teecu berhasil merobohkan Siangkoan Ci Kang dan akan membunuhnya, akan tetapi lalu muncul...

eh, adik ini yang menentang teecu,"

Kata Siang Hwa membela diri karena ia tahu bahwa subonya sedang marah.

Nenek itu membalikkan tubuhnya memandang kepada tubuh Ci Kang, lalu kepada puterinya dengan sikap marah.

Sebelum ia mengeluarkan kata-kata, Hui Cu sudah meloncat dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah tiba dekat Ci Kang dan ia bersikap melindungi.

"Ibu, kenapa engkau dan juga muridmu itu berkeras hendak membunuh orang yang tidak bersalah?"

"Hui Cu, pergilah dan biarkan Siang Hwa membunuhnya!"

Bentak Ratu Iblis.

"Tidak! Siapapun tidak boleh membunuhnya! Aku akan menentang siapa saja yang hendak membunuhnya!"

Berkata Hui Cu dengan sikap gagah dan ia melintangkan kebutannya di depan dada.

"Siang Hwa, kalau engkau berkeras hendak membunuhnya, aku yang akan lebih dulu merobohkanmu. Kalau engkau jahat, akupun terpaksa akan tega melukaimu!"

Tentu saja Siang Hwa tidak berani sembarang bergerak.

Ia sudah tahu akan kelihaian gadis itu, apalagi setelah kini tahu bahwa gadis itu puteri subonya.

Mana ia berani menyerang atau menentangnya?

"Kalau aku yang membunuhnya?"

Bentak pula nenek itu.

"Aku tetap akan melindunginya dan agaknya ibu harus membunuh aku lebih dulu sebelum dapat membunuhnya!"

Nenek itu nampak terkejut dan sepasang matanya yang mencorong itu terbelalak.

"Apa? Kau... kau cinta pemuda itu?"

"Aku tidak tahu apa maksudmu, ibu. Aku tidak tahu apa artinya cinta, akan tetapi aku suka kepadanya karena dia orang baik dan aku tidak suka melihat dia dibunuh, aku akan menentang setiap pembunuhan tanpa sebab."

Melihat kenekatan puterinya, nenek itu sejenak nampak bingung dan kehabisan akal.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Akan tetapi baginya, mati hidupnya seorang pemuda seperti Siangkoan Ci Kang tidaklah begitu penting.

Yang merupakan urusan besar adalah pertemuan antara anaknya dengan Siang Hwa.

Maka ia menoleh kepada Siang Hwa dan berkata dengan suara penuh mengandung ancaman.

"Siang Hwa, berjanjilah untuk menutup mulutmu dan tidak bicara kepada siapapun juga tentang Hui Cu, terutama kepada suhumu. Kalau hal ini sampai bocor, engkau lah satu-satunya orang yang tahu dan engkau akan kubunuh!"

Mendengar suara subonya dan melihat sikap yang mengancam itu, Siang Hwa menjadi pucat dan iapun mengangguk sambil berkata lirih.

"Baik subo... teecu berjanji tidak akan bicara dengan siapa juga mengenai... sumoi."

"Nah, Hui Cu, Siang Hwa, mari kita pergi!"

Kata pula nenek itu. Hui Cu memandang kepada Ci Kang dan kemudian kepada ibunya dengan ragu-ragu.

"Ibu... dan... suci sungguh tidak akan membunuh dia?"

"Tidak, mari kita pergi,"

Kata pula nenek itu mendesak.

"Pergilah dulu, ibu dan suci, nanti aku menyusul,"

Kata pula Hui Cu yang masih belum percaya benar bahwa ibunya dan sucinya itu benar-benar akan membebaskan Ci Kang dan tidak mengganggunya.

"Mau apa kau?"

Ibunya membentak.

"Aku mau bercakap-cakap dulu sebentar dengan dia,"

Jawab gadis itu menunjuk kepada Ci Kang.

Nenek itu mendengus marah akan tetapi segera meninggalkan tempat itu.

Siang Hwa tersenyum mengejek.

"Sumoi yang manis, agaknya engkau tergila-gila kepada pemuda ini, ya? Memang dia tampan dan gagah, akan tetapi hati-hati, dia jahat dan curang tak dapat dipercaya. Jangan-jangan engkau akan celaka olehnya. Kalau engkau ingin agar dia dapat melayanimu sepuas hatimu, engkau berilah dia minum ini."

Wanita itu mengeluarkan sebungkus bubukan merah dan memberikannya kepada Hui Cu.

Akan tetapi Hui Cu menolak, menggeleng kepala dengan alis berkerut.

"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, akan tetapi dia tidak jahat dan curang seperti engkau. Pergilah cepat!"

Bentaknya marah.

Gui Siang Hwa hendak menjawab, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking lirih dan ini adalah panggilan subonya, maka sambil tersenyum mengejek Siang Hwa mengangkat pundak dan pergi meninggalkan sumoinya.

Hui Cu berjongkok dan melihat betapa pemuda itu tak mampu bergerak karena totokan, ia lalu menepuk dan mengurut punggung dan kedua pundak Ci Kang.

Akhirnya berhasillah dia membebaskan pemuda itu dari pengaruh totokan dan Ci Kang lalu bangkit duduk sambil mengatur pernapasan.

"Aku sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suci tadi."

Hui Cu mengomel sambil duduk di depan Ci Kang.

Pemuda ini menatap wajah yang manis itu dan merasa kagum.

Gadis ini sungguh masih bersih dan polos, batinnya belum tercemar kekotoran yang mengelilingi keluarganya.

"Sucimu itu jahat sekali, Hui Cu. Dan kalau tadi aku tidak tertotok, tentu akan kuserang dan kurobohkan sucimu."

Gadis itu memandang dengan alis berkerut, agaknya bingung dan tidak mengerti.

"Kenapa akan kau lakukan itu?"

"Karena ia jahat dan berbahaya bagi orang lain dan ibumu juga."

"Engkau akan menyerang dan membunuh ibuku pula?"

"Kalau mungkin, walaupun ibumu lihai sekali. Mereka itu jahat bukan main, mereka adalah datuk-datuk sesat, bahkan ibumu dijuluki Ratu Iblis. Mereka itu hanya menyebarkan perbuatan jahat dan kejam dan merupakan ancaman bagi keselamatan orang-orang lain yang tidak berdosa dan mengotorkan bumi."

"Engkau... benci kepada mereka?"

Mendengar pertanyaan ini, Ci Kang termenung dan mengamati batinnya sendiri.

Tidak, dia tidak benci siapapun.

Apa yang diajarkan oleh Ciu-sian Lokai tentang cinta dan benci dan dendam sudah mendalam di dalam batinnya dan dia tidak merasa membenci siapapun juga.

Akan tetapi dia merasa harus menentang orang-orang seperti Ratu Iblis dan Siang Hwa karena mereka itu jahat dan berbahaya bagi manusia pada umumnya, seperti juga dia menentang ayahnya sendiri yang sama sekali tidak dibencinya.

"Tidak, Hui Cu. Aku tidak membenci mereka, akan tetapi yang kutentang adalah kejahatan mereka demi menyelamatkan orang-orang dari ancaman kejahatan mereka."

Gadis itu menggeleng-geleng kepala.

"Aku menjadi bingung dan tidak mengerti, Ci Kang. Akan tetapi, tadi aku melihat engkau seorang diri menangis demikian sedihnya. Kemudian muncul suci yang menotokmu dengan curang. Ci Kang, kenapa engkau menangis begitu menyedihkan? Apakah yang menyusahkan hatimu?"

Ci Kang merasa terharu sekali.

Terhadap seorang gadis sejujur dan sebersih ini, dia merasa mendapatkan seorang sahabat dan tak perlu dia merasa malu atau menyembunyikan rahasia hatinya.

Bahkan Hui Cu dapat merupakan satu-satunya orang kepada siapa dia boleh mencurahkan semua kepedihan hatinya saat itu.

"Hui Cu, aku memang berduka sekali karena aku mencinta seorang gadis dan tidak ada harapan bagiku untuk berjodoh dengannya."

Gadis itu mengerutkan alisnya seperti hendak mengerahkan otaknya untuk menangkap arti ucapan Ci Kang.

"Engkau cinta padanya? Apakah cinta itu?"

Ci Kang tersenyum.

Tidak mengherankan kalau gadis ini demikian hijau, karena sejak kecil selalu berada seorang diri saja di dalam gua bawah tanah.

"Cinta adalah perasaan seorang pria terhadap wanita, Hui Cu, dan orang yang mencinta mengharapkan untuk dapat hidup bersama dengan wanita yang dicintanya. Aku jatuh cinta kepada seorang gadis akan tetapi tidak ada harapan bagiku untuk dapat berjodoh dan hidup bersamanya."

"Kenapa, Ci Kang? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik. Apakah ia tidak suka kepadamu?"

"Aku tidak tahu..."

Dia teringat betapa Sui Cin menyuapkan makanan ke mulutnya, betapa gadis itu mengobati dan merawatnya.

"Mungkin ia suka padaku... akan tetapi aku telah melakukan kesalahan besar terhadap dirinya... dan pula ia adalah puteri seorang pendekar besar, sedangkan aku..."

"Engkau kenapa?"

"Aku sebaliknya adalah anak seorang datuk sesat yang amat jahat!"

Kata Ci Kang dengan gemas dan suaranya mengandung penuh penyesalan.

Ucapan ini amat menarik hati Hui Cu.

Gadis itu memegang lengan Ci Kang dan memandang tajam wajah pemuda itu.

"Apa? Orang tuamu itu jahat? Sejahat... orang tuaku?"

Ci Kang mengangguk.

"Ayah dan ibumu berjuluk Raja dan Ratu Iblis dan kini menjadi raja para datuk sesat. Sebelum itu, yang menjadi raja datuk sesat adalah ayahku yang berjuluk Iblis Buta."

"Ahh... kenapa mereka itu jahat? Dan aku tidak suka perbuatan jahat, engkau pun tidak suka. Kenapa mereka begitu, Ci Kang?"

Pertanyaan yang sederhana ini tidak mampu terjawab oleh Ci Kang.

"Aku tidak tahu, Hui Cu. Akan tetapi aku girang bahwa engkau tidak suka kejahatan seperti mereka. Kita senasib, sama-sama menjadi anak orang-orang jahat. Dan ayahku kini telah tiada..."

"Akan tetapi kalau dia buta, berarti tidak dapat melihat, kenapa jahat? Dan dia tentu lihai sekali, karena engkau pun lihai."

"Dia lihai, akan tetapi masih kalah oleh ayah ibumu. Ayahku tewas di tangan ibumu."

"Ihhh... Dan kau... kau puteranya, karena itu engkau membenci ibu dan hendak membalas..."

"Tidak! Engkau keliru, Hui Cu. Kalau aku menentang ibumu, itu hanya karena ibumu jahat. Ayahku mati karena akibat ulahnya sendiri, akibat kejahatannya sendiri. Aku tidak mendendam kepada siapapun juga."

Gadis itu terdiam.

"Aku bingung dan tidak mengerti tentang semua ini, Ci Kang. Akan tetapi, mendengar bahwa engkau pun anak seorang datuk sesat seperti aku, aku makin suka padamu. Eh, Ci Kang, di manakah kawanmu itu?"

"Kawanku? Kau maksudkan Cia Sun?"

"Benar! Cia Sun, yang bersamamu masuk ke dalam gua bawah tanah itu. Di manakah dia sekarang dan kenapa tidak bersamamu? Aku ingin sekali bertemu dan bicara dengan dia."

Mendengar kegairahan dalam suara gadis itu, Ci Kang menatap wajahnya dengan penuh selidik.

Akan tetapi, wajah dan pandang mata yang berseri itu tidak berobah dan tetap polos terbuka.

"Hui Cu, kau... kau cinta pada Cia Sun?"

"Cinta? Ah, kau tadi bilang bahwa cinta berarti ingin hidup bersama orang yang dicinta selamanya. Aku tidak tahu, apakah aku ingin hidup selamanya dengan Cia Sun, akan tetapi, aku suka sekali padanya dan semenjak bertemu dengannya, aku selalu teringat kepadanya."

"Hemm, kalau tidur engkau seringkali mimpi bertemu dengannya?"

"Benar..."

"Dan kalau engkau sedang duduk seorang diri, wajahnya terbayang olehmu, suaranya seperti Kau dengar kembali, setiap gerak-geriknya amat menyenangkan hatimu?"

"Wah, benar! Benar sekali! Eh, bagaimana engkau bisa tahu?"

Ci Kang tersenyum pahit.

Tentu saja dia tahu karena seperti itulah keadaan dan perasaannya selama ini terhadap Sui Cin!

Puteri Raja dan Ratu Iblis ini telah jatuh cinta kepada Cia Sun!

Kenyataan ini membuat hatinya semakin pedih.

Dia, putera datuk sesat jatuh cinta kepada puteri Pendekar Sadis yang terkenal.

Dan kini, puteri Raja Iblis yang amat jahat itu jatuh cinta kepada putera ketua Pek-Liong-Pang dari Lembah Naga yang juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang dihormati orang!

Mana mungkin terjadi?

"Ci Kang, kenapa engkau bengong saja?

Engkau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana engkau dapat mengetahui apa yang kualami selama ini, dan di mana pula adanya Cia Sun?"

"Hui Cu, aku tahu apa yang kaualami karena aku sendiripun mengalami hal yang sama terhadap bayangan gadis yang kucinta. Dan Cia Sun... ah, engkau belum tahu siapa dia. Dia bukan orang sembarangan saja, dia adalah putera dari pendekar besar Cia Han Tiong, ketua Pek-Liong-Pang di Lembah Naga."

"Lembah Naga? Aku pernah mendengar nama tempat itu dari ibu, tidak begitu jauh dari sini! Jadi dia berada di sana?"

"Entahlah, kukira begitu."

"Kalau begitu, aku akan pergi mencerinya! Aku akan mencari Cia Sun, aku tidak senang tinggal bersama ibuku!"

Gadis itu bangkit berdiri.

"Nanti dulu, Hui Cu!"

Ci Kang juga melompat dan memegang lengan gadis itu.

"Kenapa kau menahanku? Ada apa?"

Ci Kang merasa kasihan kepada gadis ini dan tidak ingin melihat gadis ini mengalami patah hati dan penghinaan di Lembah Naga.

"Dengarkan dulu baik-baik. Ingat bahwa engkau adalah puteri Raja dan Ratu Iblis, sedangkan Cia Sun adalah putera pendekar..."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu menyambar angin dahsyat sekali dan tahu-tahu di situ muncul seorang kakek yang rambutnya riap-riapan putih, pakaiannya juga serba putih dan sepasang matanya mencorong mengerikan, sedangkan mukanya pucat kehijauan.

Melihat kakek ini, terkejutlah Ci Kang karena dia mengenal kakek ini sebagai Raja Iblis sendiri!

"Aku mendengar tadi ada puteri Raja dan Ratu Iblis.

Siapa puteri itu?"

Terdengar suara kakek aneh itu, suaranya seperti terdengar dari lain tempat yang jauh, dan bibirnya tidak nampak bergerak.

Hui Cu yang juga kaget melihat munculnya seorang kakek aneh, kini memandang kakek itu dengan mata terbelalak.

"Engkau kakek aneh dan lucu, bicara tanpa menggerakkan bibir! Akulah puteri Raja dan Ratu Iblis!"

Ci Kang terkejut dan tidak sempat menahan gadis itu mengeluarkan kata-kata yang demikian beraninya.

Berhadapan dengan iblis ini tidak perlu banyak cakap, pikirnya, karena tidak mungkin iblis itu akan mau melepasnya seperti yang dilakukan Ratu Iblis karena bujukan puterinya tadi.

Maka diapun tanpa banyak cakap lagi lalu menerjang maju dengan pukulan tangannya yang ampuh.

Karena dia maklum bahwa lawannya ini amat sakti, maka begitu menerjang dia sudah mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan mengirim pukulan yang mengandung tenaga dahsyat.

"Wuuuttt... dukk..."

Tubuh Ci Kang terjengkang ke belakang dan dia tentu akan terbanting keras kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik dan berloncatan ke belakang.

Dia dapat berdiri lagi dengan tegak dan merasa betapa lengan kanannya yang tertangkis oleh lengan kakek itu terasa nyeri dan panas.

"Jangan pukul kawanku!"

Hui Cu membentak dan iapun sudah menyerang kakek itu dengan kebutannya.

Ia marah melihat betapa Ci Kang terjengkang dan hampir roboh.

Kakek itu mengeluarkan suara menggereng aneh dan begitu jari-jari tangannya bergerak, bulu kebutan itu berhenti dan menempel pada telapak tangannya, sedangkan tangan kirinya diulur untuk mencengkeram ubun-ubun kepala Hui Cu.

Jelas bahwa dia bermaksud membunuh puterinya itu dengan sekali serangan.

"Iblis keji! Kau hendak membunuh anakmu sendiri?"

Ci Kang membentak dan dengan nekat dia menerjang dari samping, memukul ke arah tengkuk kakek itu dan tangan kirinya menangkis tangan kakek yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Hui Cu.

"Dukk! Dukkk!"

Kembali lengan mereka beradu dan Ci Kang terjengkang, akan tetapi Hui Cu selamat dan dapat menarik kembali kebutannya.

Gadis ini memandang kakek itu dengan mata terbelalak ketika ia mendengar bentakan Ci Kang tadi.

"Apa? Dia... dia ini ayahku?"

Teriaknya.

"Benar, dialah Raja Iblis atau Pangeran Toan Jitong, ayah kandungmu. Pangeran Toan Jitong, gadis ini adalah Toan Hui Cu, puterimu sendiri. Jangan ganggu ia, akulah lawanmu dan mari kita bertanding sampai mati!"

Ci Kang menantang dengan sikap gagah dan dia sudah memasang kuda-kuda dan siap untuk berkelahi mati-matian melawan raja kaum sesat ini.

Akan tetapi kakek itu tidak menjawab, bahkan tidak memperhatikan dia.

Sepasang mata yang mencorong itu ditujukan kepada Hui Cu, mengamatinya dari pucuk rambut sampai ke kaki.

"Ia harus mati, tapi sayang, ia gagah dan cantik. Engkau harus melahirkan anak laki-laki dariku!"

Dan tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan tangannya sudah meluncur ke depan.

Lengan itu dapat mulur panjang dan tangan itu hendak menangkap pinggang Hui Cu.

Gadis ini terkejut dan menjerit, kebutannya digerakkan menotok ke arah pergelangan tangan lawan.

"Tukk!"

Raja Iblis itu bagaimanapun saktinya, terkejut karena pergelangan tangan yang tertotok ujung kebutan itu seperti dipatuk ular dan terasa kesemutan.

Mengertilah dia bahwa isterinya telah melatih anak ini dan mungkin anak ini telah mewarisi ilmu kebutan rahasia dari mendiang gurunya yang belum sempat dipelajarinya, dan ilmu kebutan ini lebih lihai dari pada ilmu menggunakan rambut dari isterinya.

Terpaksa dia menarik kembali lengannya.

"Iblis keji!"

Ci Kang menyerangnya dari samping dengan totokan ke arah lambung kiri Raja Iblis.

Totokan ini hebat sekali dan saking cepatnya, tidak dapat ditangkis lagi maka terpaksa pula Raja Iblis itu menggerakkan tubuh ke belakang untuk mengelak.

Diam-diam dia terkejut.

Pemuda ini cukup lihai, mungkin lebih lihai dari pada semua pembantunya.

Dan anak perempuan itupun memiliki ilmu kebutan yang hebat.

Tiba-tiba dia melompat ke belakang dan mengangkat kedua tangan.

Kakek ini memang memiliki wibawa yang kuat karena dua orang muda itu berhenti dan memandang.

"Siapa namamu?"

Tanyanya kepada Ci Kang.

"Aku Siangkoan Ci Kang,"

Jawab pemuda itu dengan tabah.

"Bagus! Kau putera Siangkoan Lojin?"

"Benar!"

"Hemm, kau datang untuk membalas kematian ayahmu?"

"Tidak, aku datang untuk menentang kejahatanmu!"

"Siangkoan Ci Kang, apakah engkau cinta puteriku ini? Jadilah suaminya dan kalian menjadi pembantu-pembantuku yang setia. Bagaimana?"

Sungguh luar biasa sekali watak iblis ini!

Baru saja menyerang dan hendak membunuh, sekarang tiba-tiba menawarkan hal yang sebaliknya.

Ini menunjukkan betapa cerdiknya Raja Iblis.

Dia segera dapat mengubah pendirian begitu melihat segi keuntungannya.

"Persetan dengan engkau!"

Bentak Ci Kang.

Usul Raja Iblis itu tentang perjodohannya dengan Hui Cu tentu saja bukan merupakan hal yang buruk, akan tetapi menjadi pembantu iblis itu sungguh merupakan tawaran yang dianggapnya amat menghina.

"Lebih baik mati dari pada menjadi antekmu!"

Dan pemuda itu sudah menyerang lagi.

Raja Iblis mengelak dengan mudah dan balas menendang dengan keeepatan kilat.

Akan tetapi Ci Kang juga dapat menghindarkan diri dan menyerang langsung dengan bertubi-tubi.

"Kalau begitu engkau akan mampus dan ia menjadi isteriku!"

Raja Iblis berloncatan sambil berkata demikian, kemudian membalas.

Terjadilah serang-menyerang dengan hebat dan lewat beberapa jurus, kembali tangannya yang ampuh itu ketika ditangkis Ci Kang membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.

"Mampuslah!"

Raja Iblis meloncat dan mengirim pukulan susulan terhadap pemuda yang sedang terhuyung itu.

Akan tetapi Hui Cu menerjang dari samping dengan kebutannya yang menyambar dan beruntun mematuk ke arah jalan darah di pelipis, leher dan pundak!

Terpaksa Raja Iblis mengurungkan pukulannya terhadap Ci Kang dan mengelak dari sambaran ujung kebutan yang cukup lihai itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Ci Kang untuk memperbaiki kedudukannya, lalu diapun membantu Hui Cu menyerang lagi.

Raja Iblis menjadi marah sekali.

Hampir tidak pernah ada orang yang berani menentangnya, dan kini, seorang pemuda, hanya putera mendiang Iblis Buta, berani menentangnya.

Dan yang lebih menggemaskan lagi anak perempuan itu, anaknya sendiri, membantu si pemuda!

Dia mengeluarkan suara lengkingan nyaring berkali-kali dan kedua tangannya kini bergerak dengan dorongan-dorongan yang mengeluarkan hawa panas dan mengeluarkan angin kuat.

Nampak uap putih setiap kali dia mendorongkan kedua tangannya.

Dan dua orang muda itupun terdesak hebat.

Hanya dengan pengerahkan sinkang sekuatnya saja keduanya tidak sampai terlempar oleh hawa dorongan yang demikian kuatnya.

Biarpun demikian, Ci Kang maklum bahwa tidak lama lagi dia dan Hui Cu tentu akan roboh.

Raja Iblis ini sungguh memiliki ilmu kepandaian yang amat dahsyat.

Karena merasa bahwa tenaga sinkangnya masih kalah jauh dibandingkan kakek itu, Ci Kang teringat akan ilmu yang diajarkan oleh Ciu-sian Lokai kepadanya, yaitu ilmu silat menggunakan tongkat atau benda apa saja yang berbentuk tongkat.

Dia melompat ke kiri dan menyambar patah sebatang cabang pohon yang besarnya selengan, kemudian diapun menggunakan senjata ini.

Ilmu tongkat bambu merupakan satu di antara ilmu-ilmu yang ampuh dari Ciu-sian Lokai, maka begitu Ci Kang mainkan tongkat ini, dia dapat menggempur desakan-desakan lawan dan dibantu oleh Hui Cu, kini dia mampu membalas, bekerja sama dengan kebutan gadis itu yang juga ampuh.

Menghadapi keadaan yang berbalik ini, Raja Iblis semakin marah dan diapun tiba-tiba mengeluarkan gerengan keras dan ketika kedua tangannya bergerak menyilang menyambut tongkat di tangan Ci Kang, terdengar suara keras.

Tongkat itu hancur dan tubuh Ci Kang terjengkang!

Dengan mengeluarkan suara gerengan seperti tertawa, kakek itu menubruk ke arah Ci Kang yang masih terlentang.

Pemuda ini menyambutnya dengan tendangan, akan tetapi kakek itu dapat menangkis tendangan dan terus menjatuhkan diri berlutut, kedua tangannya dihunjamkan dengan jari-jari terbuka ke arah kepala Ci Kang.

Pemuda ini merasa betapa ada hawa pukulan dahsyat menyambar dan maklumlah dia bahwa dia terancam maut karena sekali jari-jari tangan itu mengenai kepalanya, tentu kepalanya akan hancur berantakan.

Jalan satu-satunya baginya hanya menangkis.

Dia mengangkat kedua tangannya dan berhasil menangkap dua lengan tangan lawan.

Terjadilah adu tenaga yang mengerikan.

Kakek itu berusaha melanjutkan terkaman kedua tangannya, sedangkan Ci Kang yang berada di bawah itu mempertahankan.

Mereka bersitegang dan kedua lengan Ci Kang mulai menggigil, mukanya pucat dan penuh keringat, tanda bahwa dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan berada di tepi maut.

Agaknya sebentar lagi dia tidak akan kuat bertahan dan kakek itu dapat melanjutkan pukulan mautnya.

Melihat keadaan Ci Kang terancam maut seperti itu, tiba-tiba Hui Cu mengeluarkan teriakan keras dan diapun menggerakkan kebutannya.

Ujung kebutannya berubah menjadi dua gumpal yang ujungnya meruncing seperti pedang dan dua batang pedang dari bulu-bulu halus yang kini menjadi kaku keras itu menusuk ke arah sepasang mata Raja Iblis!

Tusukan ini cepat dan hebat sekali dan agaknya gadis itu sudah lupa bahwa ia bisa menewaskan atau setidaknya membutakan mata ayah kandungnya.

Menghadapi serangan mendadak yang amat berbahaya ini, Raja Iblis terkejut dan terpaksa dia menarik kembali kedua tangan yang tadi menekan ke bawah, dan kaki kanannya menyambar ke depan menyambut serangan gadis itu.

"Desss..."

Tubuh Hui Cu terpental dan biarpun ia telah melindungi dirinya dengan sinkang, tidak urung tubuhnya terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sampai bergulingan.

Akan tetapi, perbuatannya itu menyelamatkan Ci Kang yang cepat meloncat bangun dan menjauhkan diri karena dia harus mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya.

Hui Cu juga sudah melompat bangun dan kedua orang muda itu sudah bersiap lagi, kini wajah mereka pucat dan kedua kaki agak gemetar karena kecapaian.

Raja Iblis tersenyum mengejek.

Dua orang itu tentu akan dapat dirobohkannya dalam serangan berikutnya.

Dia menggerak-gerakkan kedua tangannya, saling bersilang dan setiap kali kedua lengan itu bergesekan, tentu nampak uap putih mengepul.

Memang hebat sekali ilmu kakek ini kalau dia sudah mengeluarkan tenaga sakti seperti itu.

Ci Kang memandang khawatir.

Dia tidak mengkhawatirkan diri sendiri.

Memang tadi dia sudah menghadapi kematian dengan tenang.

Akan tetapi dia mengkhawatirkan Hui Cu.

Gadis itu tadi telah menyelamatkan nyawanya.

Dia tahu bahwa tanpa bantuan Hui Cu tadi, dia sudah tewas.

Dan kini, dia merasa tidak kuat untuk dapat melindungi gadis itu dari ayah kandungnya yang jahat seperti iblis itu.

Betapapun juga, dia akan melawan dan melindungi Hui Cu sampai napas terakhir.

Karena niat melindungi ini perlahan-lahan Ci Kang menghampiri Hui Cu sambil terus memandang ke arah Raja Iblis yang berdiri dalam jarak lima meter dari mereka.

Setelah dekat, dia menyentuh lengan gadis itu.

"Jangan takut, Hui Cu, aku akan membelamu sampai mati."

Hui Cu tersenyum duka.

"Kita akan mati, Ci Kang. Akan tetapi aku gembira dapat mati bersama seorang sahabat sepertimu. Mari kita lawan dia."

"Yang berat adalah tenaga dorongannya, mari kita satukan tenaga untuk menyambutnya."

Bisik Ci Kang.

Gadis itu mengangguk dan menyelipkan kebutan pada pinggangnya, kemudian bersama Ci Kang dia melangkah maju berdampingan.

Melihat dua orang muda itu nekat maju bersama, Raja Iblis kembali tersenyum mengejek.

Dia tahu akan siasat pemuda itu untuk menyatukan tenaga.

Akan tetapi dia tadi sudah mengukur sampai di mana tenaga mereka dan dia tidak menjadi gentar.

Bahkan sengaja dia maju lagi menyerang dengan kedua tangannya didorongkon ke depan, kedua telapak tangannya menghadap kepada dua orang lawan itu.

Begitu kedua tangannya mendorong, nampak uap putih dan angin menyambar dahsyat.

Ci Kang dan Hui Cu yang sudah maklum akan kehebatan tenaga dorongan itu, cepat menyambut dengan kedua tangan didorongkan pula.

Kini mereka bergerak dengan berbareng, menyatukan tenaga sinkang menyambut dengan kuatnya.

"Desss..."

Hebat bukan main ketika tiga pasang tangan itu bertemu dan akibatnya tubuh Raja Iblis undur dua langkah, akan tetapi tubuh Ci Kang dan Hui Cu terjengkang dan roboh terbanting!

Mereka kalah tenaga dan kini mereka berdua merasa betapa napas mereka menjadi sesak.

Terpaksa mereka cepat mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni untuk mencegah dada yang terguncang hebat itu jangan sampai terluka.

Kesempatan baik terbuka bagi Raja Iblis dan sambil tersenyum lebar dia melangkah maju, siap untuk mengirim pukulan maut!

"Sungguh tak tahu malu tua bangka menghina orang-orang muda!"

Tiba-tiba terdengar suara halus dan suatu hawa tenaga yang amat kuat mendorong dan menyambut Raja Iblis.

Kakek ini terkejut dan mengerahkan tenaga, menggunakan tangannya mengibas dan dua tenaga sakti saling bentur membuat keduanya terkejut karena masing-masing mendapat kenyataan betapa kuatnya lawan yang dihadapi!

Raja Iblis cepat memandang dan alisnya berkerut.

Yang muncul di depannya adalah seorang laki-laki yang usianya paling banyak lima puluh tahun.

Perawakannya gagah dan wajahnya masih nampak tampan menarik, pakaiannya serba indah dan membuat dia nampak semakin anggun.

Wajah itu tersenyum ramah akan tetapi sepasang matanya mencorong penuh kekuatan.

Di samping pria ini berdiri seorang wanita yang usianya sebaya, cantik sekali, dengan pakaian yang juga mewah, bersih dan baru, rambutnya dihias batu permata.

Namun wanita cantik ini nampak anggun dan angkuh, serius dan sepasang matanya menatap wajah Raja Iblis seperti hendak menegur.

Raja Iblis tidak pernah mengenal mereka, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah dua orang dari golongan pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia tidak memandang rendah dan bersikap waspada dan hati-hati.

Biasanya, kalau ada Ratu Iblis di sampingnya, dia tidak pernah mau bicara sendiri dan bahkan jarang dia turun tangan sendiri.

Kini, karena dia seorang diri saja, dia terpaksa bicara dan bertindak sendiri.

Dia teringat bahwa di antara para datuk di dunia persilatan, banyak yang sudah pernah ditaklukkannya, bahkan mereka bersumpah tidak akan melawannya kalau dia memegang Tongkat Suci Sakti.

Kini berhadapan dengan dua orang itu, bahkan dia sudah mengukur tenaga pria itu yang ternyata amat kuat, dia ingin mengambil cara yang lebih mudah.

Kalau dua orang ini mempunyai hubungan dengan para tokoh yang pernah ditundukkannya, tentu mereka tidak akan berani pula menentang dia yang memegang Tongkat Suci Sakti.

Cepat dia mengeluarkan sebatang tongkat dari balik jubahnya dan sambil mengangkat tongkat itu ke atas kepala, dia berkata, suaranya bergema seperti datang dari jauh dan amat berwibawa.

"Lihat Tongkat Suci Sakti dan berlututlah kalian sebelum aku menyatakan kalian berdosa dan menerima hukumanku!"

Pria dan wanita itu memandang dengan heran, lalu saling pandang dan pria itu tertawa.

"Ha ha ha! Yang suci dan sakti bagi orang jahat belum tentu suci bagi kami! Aku she Ceng belum pernah melihat tongkat butut itu!"

"Tua bangka, jangan membadut di depan kami. Pergilah dan jangan ganggu dua orang muda ini sebelum aku turun tangan menghajarmu!"

Kata si wanita dengan suara galak dan sepasang matanya mencorong penuh ancaman.

Raja iblis menjadi marah sekali.

Tongkat Suci Sakti itu mereka hina!

Padahal, melihat tongkat itu saja banyak tokoh persilatan gemetar dan berlutut.

"Bagus, kalau begitu kalian adalah calon-calon bangkai!"

Raja Iblis menyerbu ke depan, menggunakan tongkat itu dan secepat kilat tongkat itu sudah melakukan dua kali pukulan ke arah pria dan wanita itu secara bertubi, bahkan diikuti oleh cengkeraman tangan kirinya yang tidak kalah berbahaya.

Pria dan wanita itupun bukan orang sembarangan.

Sekali gerakan saja mereka sudah maklum akan kelihaian kakek yang mukanya seperti kedok mayat itu, dan mereka tahu akan bahayanya tongkat yang dinamakan Tongkat Suci Sakti itu.

Maka keduanya cepat mengelak dengan gerakan yang indah dan cepat sehingga semua serangan kakek itu mengenai tempat kosong.

Wanita itu meloncat untuk menghindar dan ketika ia membalikkan tubuhnya, kedua tangannya sudah memegang sepasang pedang berwarna hitam dan ketika dicabut, nampak dua sinar hitam berguunggulung.

"Awas, tongkatnya itu beracun!"

Kata si wanita kepada pria yang hanya tersenyum saja.

"Orangnya busuk, bagaimana tongkatnya tidak akan beracun?"

Pria itu malah mengejek.

Raja Iblis semakin marah.

Tongkatnya menyambar ganas ke arah kepala wanita itu.

Wanita setengah tua cantik itu bersikap tenang.

Sepasang pedang hitamnya membuat gerakan menangkis dan menggunting, menyambut tongkat.

"Trakk!"

Tongkat itu terjepit sepasang pedang hitam.

Pada saat itu, tangan kiri Raja Iblis melayang, menampar kepala lawan.

"Singgg..."

Pedang kanan melesat dari tongkat menyambut tangan!

Raja Iblis kaget, tak mengira wanita itu memiliki gerakan sedemikian cepat dan lihainya.

Dia tidak berani mengadu lengannya dengan pedang hitam, menarik tangan dan langsung tangan itu mendorong ke depan.

Serangkum hawa panas dan kuat sekali menyambar.

"Ihhh!"

Wanita itu berseru kaget dan cepat meloncat ke belakang.

Ketika Raja Iblis hendak mendesak, suami wanita itu sudah menghadapinya dan menghalanginya mendesak isterinya.

"Hemm, engkau lihai juga,"

Kata pria itu. Orang yang mampu mengejutkan isterinya dalam segebrakan saja sungguh jarang terdapat.

"Siapakah engkau?"

Akan tetapi Raja Iblis tidak menjawab melainkan menubruk dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan totokan ke arah dahi di antara mata lawan.

Pria itu cepat mengelak dengan kepala ditundukkan dan ketika tongkat itu melanjutkan gerakannya menyambar ke arah tengkuknya, dia mengangkat tangan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang untuk melindungi kulit lengannya kalau-kalau tongkat itu benar mengandung racun seperti yang tadi diperingatkan oleh isterinya.

Dalam hal racun, isterinya memang jauh lebih ahli dari pada dia.

Akan tetapi dia tidak takut terhadap racun.

"Plakkk!"

Dan kembali keduanya terkejut.

Pria itu merasa betapa lengannya tergetar dan dia tahu pula bahwa tongkat itu memang dilumuri atau direndam racun.

Sebaliknya Raja Iblis merasa tengannya yang memegang tongkat bertemu dengan tenaga yang dahsyat sekali.

Jarang dia bertemu tanding sehebat ini tenaganya.

Apalagi melihat betapa lawan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh racun pada tongkatnya.

Sejak tongkatnya terampas oleh kelicikan Sui Cin dahulu itu, dia merendam tongkat saktinya dengan racun yang amat jahat agar siapapun yang akan merampas tongkatnya menjadi keracunan, dan juga setelah direndam racun, tongkat itu selain merupakan benda pusaka untuk menundukkan tokoh-tokoh dunia persilatan, juga dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh.

Akan tetapi lawan ini sedemikian lihainya sehingga sinkangnya mampu menolak hawa beracun yang amat kuat dari tongkatnya.

Maklum akan kehebatan lawan, begitu tongkat tertangkis, Raja Iblis secara tiba-tiba dan cepat sekali menggerakkan tangan kirinya dan sebelum pria itu mengelak atau menangkis, tangan kirinya telah menghantam punggung lawan.

Hebat dan cepat sekali tamparan telapak tangan kiri Raja Iblis ini, sama sekali tidak tersangka-sangka dan agaknya pria itupun tidak sempat pula mengelak.

"Plakk..."

Tiba-tiba sepasang mata Raja iblis terbelalak dan nampak dia menarik kembali tangan kirinya, akan tetapi tangannya itu telah melekat pada punggung lawan.

Baru dia tahu bahwa lawannya memang sengaja tidak mengelak dan memang menerima tamparannya tadi.

"Thi-khi-I-Beng..."

Raja Iblis berseru dan secepat kilat tongkatnya menyambar ke arah mata lawan.

Pria itu terpaksa mundur dan Raja Iblis menyimpan tenaga saktinya.

Agaknya dia tahu pula bagaimana cara menghadapi Ilmu Thi-khi-I-Beng.

Setelah Raja Iblis menyimpan tenaga saktinya, tangannya yang tadi melekat pada punggung lawan terlepas dengan mudah dan diapun meloncat jauh ke belakang.

"Kau... Pendekar Sadis?"

Tanyanya, lalu menoleh ke arah wanita cantik.

"Dan kau... yang dulu berjuluk Lamsin, kau puteri Pangeran Toan Su Ong?"

Kini tahulah pria dan wanita itu dengan siapa mereka berhadapan dan keduanya nampak terkejut bukan main.

"Aha! Kiranya engkau yang terkenal dengan julukan Raja Iblis yang tersohor itu?"

Kata Ceng Thian Sin Si Pendekar Sadis. Isterinya, Toan Kim Hong, berkata.

"Inikah Pangeran Toan Jit Ong yang kabarnya memberontak terhadap pemerintah itu?"

"Hemm, kalau engkau puteri Toan Su Ong, berarti engkau adalah keponakanku sendiri! Keponakan dan mantu keponakan. Tidak lekas memberi hormat kepada pamanmu?"

"Biar paman, biar siapapun, kalau jahat adalah musuh kami!"

Kata Toan Kim Hong dengan suara garang.

Raja Iblis Toan Jit Ong adalah seorang yang amat cerdik.

Dia tidak takut menghadapi dan melawan Pendekar Sadis dan isterinya, akan tetapi diapun tahu bahwa tidak akan mudah baginya untuk mengalahkan suami isteri perkasa ini.

Apalagi ada Siangkoan Ci Kang di situ dan pemuda inipun tidak dapat dipandang ringan.

Belum lagi puterinya sendiri yang malah membantu musuh!

Kalau dia nekat melawan mereka berempat dan kalah atau mati sekalipun tidak takut, akan tetapi namanya akan jatuh dan pula, bagaimana dengan rencana besarnya?

Raja Iblis menarik napas panjang.

"Sudahlah, mengingat hubungan darah, biar aku memandang arwah kakanda Toan Su Ong untuk mengampuni kalian berdua. Inilah anakku. Kemarilah, nak. Mereka ini adalah encimu sendiri dan kakak iparmu."

Dengan lagak kebapakan dia menghampiri Hui Cu seperti hendak memperkenalkan mereka.

Hui Cu yang masih hijau itu tentu saja menjadi lengah melihat sikap kakek yang menjadi ayah kandungnya itu.

Dengan mudah sekali Raja Iblis dapat menangkap lengan kanan anaknya dan tiba-tiba kakek itu sudah menotoknya dan memanggulnya lalu meloncat jauh, melarikan diri.

Melihat ini, Ci Kang meloncat dan hendak mengejar.

"Lepaskan ia!"

Bentaknya marah.

Akan tetapi, suami isteri pendekar dari Pulau Teratai Merah itu tahu-tahu telah menghadangnya.

"Mengejar dia sama dengan bunuh diri!"

Kata Pendekar Sadis.

"Gadis itu dibawa pergi ayah kandungnya sendiri, mencampurinya adalah suatu kebodohan!"

Kata pula Toan Kim Hong.

Ci Kang maklum bahwa suami isteri ini mencegahnya untuk melakukan pengejaran dengan maksud menghindarkannya dari bahaya maut dan diapun sadar akan kebodohannya.

Pula, Raja Iblis itu telah cepat menghilang dan dia sendiri tidak begitu mengenal daerah ini maka melakukan pengejaran selain tak mungkin, juga benar-benar sama dengan membunuh diri.

Baru menghadapi Raja Iblis seorang diri saja dia sudah kalah, apalagi kalau raja sesat itu muncul bersama kaki tangannya.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, tidak mungkin dia dapat mendiamkan saja Hui Cu dibawa ayahnya.

Gadis itu seperti berada dalam cengkeraman harimau.

Lebih celaka lagi, seperti berada dalam cengkeraman iblis.

Harimau takkan membunuh anaknya sendiri, akan tetapi Raja Iblis itu hendak memaksa Hui Cu menjadi isterinya, atau akan dibunuhnya.

Kini setelah Raja Iblis pergi, Ci Kang dapat mencurahkan perhatiannya kepada suami isteri itu.

Dia memandang kepada mereka dan merasa jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Jadi inikah yang terkenal dengan julukan Pendekar Sadis itu?

Ayah dan ibu Sui Cin, gadis yang dicintanya.

Dan mereka ini demikian gagah perkasa, demikian anggun dan berpakaian indah.

Sepasang pendekar yang berilmu tinggi, yang dapat membuat datuk sesat seperti Raja Iblis melarikan diri.

Sepasang pendekar perkasa yang agaknya kaya raya pula.

Sedangkan dia?

Dia hanya seorang yatim piatu, dan lebih lagi, anak seorang datuk sesat yang buta.

Dibandingkan dengan Sui Cin dan keluarganya, dia tidak lebih pantas menjadi seorang pelayan atau pegawai mereka saja.

Akan tetapi dia teringat bahwa kemunculan dua orang ini tadi telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut.

Kalau tidak ada mereka ini, tentu dia sudah tewas di tangan Raja Iblis, maka diapun cepat menjura dengan sikap menghormat.

"Jiwi locianpwe telah menyelamatkan nyawa saya. Saya menghaturkan terima kasih."

Suami isteri itu memandang dengan wajah berseri.

Mereka merasa suka kepada pemuda gagah yang berani melawan Raja Iblis dan membela gadis itu.

Mereka menduga bahwa tentu pemuda ini kekasih gadis itu, atau setidaknya mencinta gadis itu dan mungkin Raja Iblis tidak merestui hubungan mereka.

Akan tetapi semua itu bukan urusan mereka.

"Orang muda, engkau gagah dan agaknya tidak akan mudah dapat dirobohkan oleh Raja Iblis itu. Tidak perlu berterima kasih karena kebetulan saja kita berjumpa di sini dan setiap orang gagah memang wajib menentang iblis jahat seperti Raja Iblis itu. Nah, selamat berpisah,"

Kata Ceng Thian Sin dengan ramah.

Bersama isterinya dia membalikkan tubuhnya hendak melanjutkan perjalanan mereka.

Kepergian Sui Cin yang amat lama itu menggelisahkan hati suami isteri ini dan mereka seringkali melakukan perjalanan untuk mencari puteri mereka.

Itulah sebabnya ketika Sui Cin pulang ke Pulau Teratai Merah, ia tidak bertemu dengan ayah bundanya yang sedang pergi mencarinya.

Ia meninggalkan surat dan melanjutkan perjalanannya ke utara, sesuai dengan perintah gurunya.

Dan tak lama kemudian, Ceng Thian Sin dan isterinya yang kembali ke pulau itu, menemukan surat puteri mereka.

Tentu saja keduanya merasa khawatir sekali mendengar betapa Sui Cin terlibat dalam urusan menentang pemberontakan di utara, hendak menghadiri pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk menentang gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Iblis.

Karena mengkhawatirkan puteri mereka, suami isteri ini berangkat lagi melakukan pengejaran ke utara.

"Jiwi, harap perlahan dulu!"

Mendengar suara pemuda itu menahan mereka, Ceng Thian Sin dan isterinya berhenti melangkah dan menengok dengan heran.

"Ada apakah, orang muda?"

Pendekar Sadis bertanya.

"Kalau tadi saya tidak salah dengar, locianpwe berjuluk Pendekar Sadis. Apakah locianpwe bernama Ceng Thian Sin dan jiwi adalah ayah bunda dari nona Ceng Sui Cin?"

"Benar, apakah engkau mengenal anakku?"

Toan Kim Hong berseru dengan wajah berseri dan suaranya mengandung kegembiraan.

Selama ini mereka berdua sudah mencari-cari akan tetapi belum pernah mendengar tentang puterinya dan tidak dapat menemukan jejaknya.

Dan kini, tanpa disangkanya ia mendengar orang bertanya tentang Sui Cin!

"Saya mengenal nona Ceng dengan baik,"

Jawab Ci Kang perlahan.

Ceng Thian Sin memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.

Setelah mendengar bahwa pemuda ini mengenal Sui Cin dan agaknya merupakan sumber berita di mana adanya puterinya itu, tiba-tiba saja pemuda itu menjadi penting baginya.

"Orang muda, sungguh Thian telah menuntun kami untuk bertemu denganmu di sini. Siapakah namamu, orang muda?"

"Nama saya Siangkoan Ci Kang."

"Siangkoan...? Jarang mendengar tokoh dengan she Siangkoan di dunia persilatan,"

Kata Pendekar Sadis.

"Bukankah ada seorang datuk yang juga memiliki she Siangkoan, yang terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi?"

Tiba-tiba Toan Kim Hong berkata.

"Ah, maksudmu Siangkoan Lojin? Mana ada hubungannya dengan..."

"Maaf, locianpwe. Siangkoan Lojin adalah mendiang ayah saya."

"Ahh..."

Suami isteri itu saling pandang.

Mereka sudah mendengar tentang Siangkoan Lojin atau Si Iblis Buta yang terkenal sebagai seorang datuk kaum sesat yang selain berilmu tinggi, juga amat kejam.

Dan mereka juga mendengar berita di dunia kang-ouw selama mereka mencari Sui Cin bahwa Iblis Buta telah tewas di tangan Raja dan Ratu Iblis yang kini merampas kedudukan pemimpin para datuk kaum sesat.

Kini merekapun menduga bahwa tentu pemuda ini memusuhi Raja Iblis karena mendendam atas kematian ayahnya.

Akan tetapi mengapa pemua ini membela puteri Raja Iblis?

Mereka tidak ingin tahu lebih banyak karena hal itu bukan urusan mereka.

"Orang muda, engkau tadi mengatakan mengenal baik anak kami. Di manakah kini anak kami Sui Cin itu?"

Pendekar Sadis bertanya tidak sabar.

"Menurut pengetahuan saya, nona Ceng Sui Cin kini berada bersama para pimpinan suku bangsa di utara ini. Ia telah membantu nenek Yelu Kim yang berhasil meraih kedudukan pemimpin para suku bangsa. Kalau jiwi dapat bertemu dengan nenek Yelu Kim yang kini menjadi pemimpin besar para kepala suku bangsa di utara, tentu jiwi akan dapat bertemu pula dengan nona Ceng."

"Apa? Anakku membantu pemimpin para kepala suku liar?"

Toan Kim Hong bertanya, matanya terbelalak.

"Orang muda, di mana adanya rombongan nenek Yelu Kim itu sekarang?"

Ceng Thian Sin bertanya.

"Tidak begitu jauh dari sini, locianpwe. Di balik bukit tandus di barat itu. Kalau tidak salah, para kepala suku masih berada di sana bersama rombongan masing-masing."

"Terima kasih, orang muda. Kami akan mencarinya sekarang juga."

Thian Sin bersama isterinya lalu mengangguk dan meninggalkan Ci Kang yang hanya menjura dengan hormat kepada mereka.

Dia tidak berani bicara banyak tentang Su Cin, tentang hubungannya dengan gadis itu.

Setelah mereka pergi, pemuda itu berdiri termangu-mangu, merasa nelangsa dan kesepian, merasa betapa semakin jauhnya dirinya dari Sui Cin, gadis yang dicintanya itu.

Akan tetapi, dia segera teringat kepada Hui Cu dan bangkit semangatnya.

Saat ini, yang terpenting adalah menolong Hui Cu dari cengkeraman iblis, dari tangan ayahnya sendiri.

Maka diapun cepat pergi dari situ untuk mencari jejak Hui Cu, atau lebih tepat lagi, jejak Raja Iblis.

Pertemuan yang dinanti-nantikan dengan hati tegang oleh para pendekar itupun tibalah.

Malam bulan purnama dan mengambil tempat di bekas benteng Jeng-hwa-pang yang sudah rusak dan keadaannya menyeramkan karena tidak pernah ditinggali manusia.

Malam itu, tidak kurang dari seratus orang pendekar dari berbagai aliran berkumpul di tempat itu.

Tentu saja tidak semua aliran mengirim wakilnya karena tidak semua pendekar berjiwa patriot.

Bahkan banyak sekali para pendekar di dunia kang-ouw yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan pemerintahan dan pemberontakan.

Mereka lebih suka bekerja secara bebas, menghadapi kejahatan perorangan dan tidak suka terikat dalam suatu kelompok.

Akan tetapi yang hadir pada malam hari itu telah mewakili sebagian besar dari para perguruan silat dan cabang persilatan.

Hal ini adalah karena sebagian besar dari para pendekar merasa perlu untuk menghadiri pertemuan.

Pemberontakan yang terjadi sekarang ini bukan sekedar pemberontakan dari golongan yang tidak puas terhadap golongan lain yang berkuasa, bukan sekedar perebutan kedudukan belaka.

Akan tetapi yang memberontak adalah kaum sesat yang menjadi musuh besar mereka di sepanjang masa.

Raja Iblis sendiri, dibantu oleh Cap-sha-kui, mengumpulkan para datuk sesat untuk merampas kedudukan dan menggulingkan pemerintah.

Kalau sampai mereka berhasil, kalau sampai pemerintah dipegang oleh kaum sesat, berarti dunia para pendekar akan hancur!

Jadi, pemberontakan kaum sesat itu bukan hanya mengancam para penguasa yang sekarang menduduki kekuasaan, melainkan juga mengancam kehidupan para pendekar sendiri.

Di pekarangan bangunan-bangunan rusak yang amat luas, yang kini menjadi padang rumput karena tidak terpelihara, para pendekar berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran lebar.

Di dalam lingkaran itu dinyalakan api unggun besar.

Mereka bekerja bergotong-royong tanpa adanya suatu pimpinan karena memang mereka itu datang untuk berunding, mendengar berita dari mulut ke mulut, dan di antara mereka tidak terdapat golongan pimpinan.

Hanya dengan sendirinya mereka semua menganggap para locianpwe yang hadir sebagai pimpinan, bukan hanya karena usia mereka yang lebih tua, melainkan juga karena kedudukan mereka dalam tingkat kepandaian.

Di antara para tokoh tua dari berbagai cabang persilatan seperti dari Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai dan Kun-Lun-Pai yang hadir, terdapat pula empat orang tokoh tua yang dianggap sebagai tokoh-tokoh bertingkat tinggi oleh mereka, walaupun sebagian dari para pendekar tidak pernah mengenal mereka.

Hanya kaum tua yang mewakili partai-partai besar itu saja yang mengenal empat orang ini dan memperkenalkan mereka dengan sikap hormat kepada para pendekar.

Mereka ini adalah Ciu-sian Lokai, Gobi Sanjin, Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin.

Guru Ci Kang, Gobi Sanjin menjadi guru Cia Sun.

Seperti telah kita ketahui, Ciu-sian Lokai adalah Wuyi Lojin menjadi guru Sui Cin sedangkan Siangkiang Lojin menjadi guru Hui Song.

Dan mereka berempat ini bukanlah asing satu sama lain.

Puluhan tahun yang lalu mereka merupakan empat di antara tokoh penting di dunia persilatan yang telah dikalahkan dan ditaklukkan oleh Raja Iblis dan mereka mengundurkan diri dari dunia ramai untuk bertapa dan memperdalam ilmu.

Dua orang di antara mereka sudah meninggal dunia dalam pertapaan mereka dan empat orang kakek inipun tadinya sudah mengambil keputusan untuk mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi sampai mati.

Akan tetapi, kini mereka semua terpaksa bangkit dan turun tangan ketika mendengar betapa Raja Iblis telah muncul kembali ke dunia ramai, bahkan merencanakan pemberontakan setelah berhasil menguasai para datuk golongan hitam.

Dan sepertli kita ketahui, mereka telah mengambil murid pilihan masing-masing yang memang sengaja mereka gembleng dan mereka wariskan ilmu-ilmu mereka kepada murid-murid itu untuk kelak dapat dipergunakan menghadapi Raja Iblis.

Pernah terjadi kelucuan di antara Ciu-sian Lokai dan Wuyi Lojin, puluhan tahun yang lalu.

Karena keduanya tukang minum arak, dan keduanya selalu membawa guci arak, ketika saling bertemu terjadi keributan di antara mereka, yaitu saling memperebutkan julukan Ciu-sian (Dewa Arak).

Untuk menentukan siapa yang lebih berhak memakai julukan Dewa Arak, keduanya bertanding, bukan bertanding silat, melainkan bertanding minum arak dengan sewajarnya tanpa mempergunakan akal dan ilmu sinkang.

Dalam pertandingan ini, akhirnya Wuyi Lojin menyerah kalah setelah mereka berdua menghabiskan belasan guci besar arak yang kiranya cukup untuk menjamu dua ratus orang!

Dan mulai saat itu kakek berpakaian gembel berhak memakai julukan Ciu-sian Lokai, sedangkan kakek yang selalu berpakaian mewah memakai julukan Wuyi Lojin, biarpun julukan Ciu-sian atau Dewa Arak masih menempel secara tidak resmi pada dirinya.

Pertemuan antara empat orang kakek itu menggembirakan mereka dan mereka merasa muda kembali dan penuh semangat perjuangan.

Mereka berempat ini dan beberapa orang kakek tokoh partai-partai persilatan yang besar berada di dalam lingkaran itu, dekat api unggun, dikelilingi oleh para pendekar berbagai aliran.

Tanpa pemilihan dan tanpa diumumkan, empat orang ini dipandang sebagai pimpinan, apalagi karena mereka berempat itulah yang sudah mengenal Raja Iblis dan kesaktiannya yang amat tersohor dan menggemparkan dunia persilatan.

Wuyi Lojin yang usianya sudah amat lanjut, delapan puluh tahun lebih, masih nampak sehat dan gembira.

Kepalanya gundul botak, alis, kumis, jenggot dan sedikit rambut yang tersisa di belakang kepalanya sudah putih semua.

Jenggotnya putih panjang sampai ke perut.

Pakaiannya berkembang-kembang, dari kain yang baru dan indah.

Beberapa kali dia minum arak dari gucinya yang besar tanpa menawarkan kepada orang lain.

Kini nampak dia menggerakkan tangan kiri ke atas dan berkata.

"Matipun aku tidak akan dapat memejamkan mataku kalau Raja Iblis itu belum terbasmi habis sampai ke akar-akarnya!"

"Bicara memang enak dan mudah, akan tetapi pelaksanaannya yang sukar!"

Ciu-sian Lokai yang selalu mempunyai perasaan bersaing dengan Dewa Arak yang lain itu mencela.

"Aku kira menentang Raja Iblis sekarang ini sama artinya dengan menentang puluhan ribu orang perajurit. Dia sudah menguasai Sanhaikoan dan sudah bergabung dengan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Panglima Ji Sun Ki. Mana mungkin kita mengandalkan kaki tangan biasa saja untuk menempuh dan melawan pasukan yang terdiri dari laksaan orang? Kita harus mencari cara yang lebih tepat."

"Benar, memang sekarang ini, dengan jumlah kita yang hanya seratus orang lebih, kiranya tidak (Lanjut ke

Jilid 31) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 mungkin melawan laksaan orang perajurit.

Tadinya kita bermaksud untuk menentang Raja Iblis dengan antek-anteknya yang tentu jumlahnya tidaklah terlalu besar bagi kita.

Hui Song, muridku, telah kusuruh melakukan penyelidikan di antara para kepala suku karena di sanapun teriadi pergerakanpergerakan.

Hui Song, coba kau ceritakan semua yang kau ketahui,"

Kata Siangkiang Lojin atau Si Dewa Kipas kepada pemuda itu.

Dewa Kipas ini masih tetap gendut sekali perutnya, kepalanya botak, dengan rambut sedikit saja di belakang kepala.

Jubahnya, seperti biasa, tidak dapat tertutup saking besar perutnya dan juga karena memang tidak suka hawa panas.

Kipasnya yang lebar itu kini berkembang dan digerak-gerakkan ke arah perutnya.

Kakek berusia tujuh puluh tahun lebih inipun masih nampak sehat.

Hui Song lalu bangkit berdiri di antara mereka yang duduk membentuk lingkaran dan semua mata ditujukan kepadanya.

Dia lalu menceritakan tentang segala yang dialaminya, mulai dari jatuhnya kota Sanhaikoan sampai kepada para kepala suku yang mengadakan pertemuan dan pemilihan pimpinan.

"Para kepala suku liar itu sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan kesempatan dengan adanya pemberontakan yang terjadi di Sanhaikoan untuk membonceng keadaan dan mulai gerakan mereka ke selatan untuk menghidupkan kembali kekuasaan bangsa utara. Pertama-tama mereka akan menyerang para pemberontak dan mengambil alih kota-kota yang sudah diduduki oleh para pemberontak, menyusun kekuatan dan bergerak terus ke selatan."

Demikian dia mengakhiri ceritanya. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ah, kalau begitu, sama dengan kita melibatkan diri ke dalam urusan pemerintah dan pemberontakan. Padahal, bukan demikian maksud kita semula. Kita hanya bergerak untuk menentang Raja Iblis,"

Kata Gobi Sanjin, kakek berjubah pendeta, jubahnya bersih dan baru, mukanya hitam dan matanya lebar menambah kegagahan kakek berusia tujuh puluh tahun yang tubuhnya tinggi besar ini.

"Kalau saja kita bisa menyerbu Raja Iblis dan antek-anteknya selagi mereka itu berada di tempat persembunyian Raja Iblis, tentu kita tidak perlu berurusan dengan pasukan pemerintah maupun pasukan pemberontak. Muridku telah berhasil menemukan tempat persembunyian Raja Iblis itu. Cia Sun, ceritakan pengalamanmu."

Cia Sun bangkit berdiri dan dia bercerita tentang gedung kuno di lereng bukit yang merupakan tempat persembunyian dan pertapaan Raja dan Ratu Iblis.

"Akan tetapi, kiranya akan sukar menemukan mereka di tempat itu,"

Katanya sebagai penutup penuturannya.

"Setelah kota Sanhaikoan mereka rampas, tentu Raja Iblis dan para kaum sesat itu ikut memasuki kota untuk mempertahankan kota itu."

"Biarpun demikian,"

Bantah Gobi Sanjin.

"kalau sampai pasukan pemberontak itu dipukul hancur, tentu tempat itu menjadi tempat pelarian Raja Iblis dan Cap-sha-kui. Nah, kalau mereka sudah lari ke sana, barulah kita dapat menyergap dan menyerang mereka tanpa adanya campur tangan pasukan."

"Semua itu tidak penting,"

Wuyi Lojin berkata.

"yang penting sekarang adalah bagaimana kita akan bertindak selanjutnya. Sayang bahwa muridku belum datang memberi laporan."

Tiba-tiba Hui Song bangkit berdiri dan berkata.

"Locianpwe, saya telah bertemu dengan nona Ceng Sui Cin. Ia kini membantu nenek Yelu Kim yang telah diangkat menjadi pemimpin para kepala suku. Ia berpendapat bahwa untuk menentang Raja Iblis yang sudah bergabung dengan pasukan pemberontak, harus dilakukan dengan menggunakan pasukan pula. Karena itu, ia akan membantu para suku liar kalau mereka menggempur pasukan pemberontak yang menjadi sekutu Raja Iblis."

"Bagus sekali!"

Wuyi Lojin berkata girang.

"Ah, muridku memang cerdik. Melihat keadaannya sekarang, tidak ada lain jalan bagi kita untuk menentang Raja Iblis kecuali dengan jalan membantu pasukan-pasukan yang menggempur pasukan pemberontak yang menjadi sekutunya itu. Kita harus berpencar, dan masing-masing mengambil jalan dan cara sendiri, baik secara perseorangan maupun bergabung dan membantu pasukan pemerintah atau pasukan mana saja yang menentang Raja Iblis dan sekutunya."

Semua orang merasa setuju dengan usul ini.

Memang kebanyakan para pendekar lebih suka bekerja sendiri-sendiri secara bebas, tidak ditentukan oleh siasat suatu pimpinan, walaupun tujuan dari gerakan mereka mempunyai arah yang sama dan tertentu, yakni menentang kekuasaan Raja Iblis.

Maka, mendengar ucapan para tokoh tua itu, mereka menerimanya dengan gembira.

Hanya Ciu-sian Lokai seorang yang tidak kelihatan gembira.

Kemuraman tipis menyelubungi wajahnya yang biasanya gembira itu.

Dia merasa kecewa karena muridnya, Siangkoan Ci Kang, tidak muncul dalam pertemuan itu.

Akan tetapi, dia tidak mau memperlihatkan kekecewaannya ini dan dia hanya menggunakan pandang matanya untuk melihat-lihat ke sekeliling tempat itu dengan harapan kemunculan Ci Kang yang amat dlharapkannya.

Tiba-tiba sepasang matanya mengeluarkan sinar, bukan karena melihat Ci Kang, melainkan karena dia melihat gerakan orang-orang di luar tembok bekas benteng itu dan sebagai seorang pendekar yang banyak pengalaman, gerakan orang-orang ini dapat ia duga apa artinya.

Kakek ini tiba-tiba meloncat ke depan dan menginjak-injak api unggun sambil berseru.

"Semua berpencar! Kita dikepung!"

Mendengar ini dan melihat sepak terjang Ciu-sian Lokai, semua orang terkejut.

Para tokoh tua yang melihat betapa orang seperti Ciu-sian Lokai nampak gugup dan tegang, mengerti bahwa tentu keadaannya gawat, maka merekapun cepat turun tangan membantu memadamkan api unggun.

"Berpencar dan bersembunyi!"

Teriak Gobi Sanjin.

"Lihat dulu siapa mereka! Kalau pasukan sekutu Raja Iblis, kita lawan mati-matian!"

Kata pula Wuyi Lojin.

"Buka jalan darah dan usaha menyelamatkan diri masing-masing!"

Teriak Siangkiang Lojin yang maklum bahwa kalau pasukan yang datang dalam jumlah yang amat banyak, melawanpun tidak akan menguntungkan.

Tiba-tiba terdengar bunyi terompet disusul derap kaki banyak orang dan benar saja, tempat itu telah dikepung oleh sedikitnya seribu orang perajurit yang kini menyerbu ke dalam benteng kuno itu sambil bersorak-sorak.

Dengan senjata golok atau pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri, pasukan itu menyerbu ke dalam benteng, dipimpin oleh beberapa orang yang amat lihai gerakannya.

Tentu saja para pendekar yang sudah siap itu lalu menyambut dengan perlawanan mati-matian dan terjadilah pertempuran yang amat seru dan hebat di dalam pekarangan luas itu, dalam cuaca yang remang-remang karena hanya disinari bulan purnama.

Pasukan yang menyerbu itu dipimpin oleh Gui Siang Hwa, lalu nampak orang-orang yang aneh pakaiannya dan perawakannya, namun mereka ini memiliki gerakan yang amat lihai.

Mereka ini adalah orang-orang Cap-sha-kui dan para datuk sesat lain.

Kiranya Raja Iblis telah mengetahui adanya pertemuan para pendekar itu sebagai hasil penyelidikan Siang Hwa dan pembantunya.

Gadis murid Raja Iblis yang amat cerdik ini memang amat lincah dan pandai menyebar orang-orangnya.

Mendengar adanya pertemuan para pendekar di daerah utara, Raja Iblis lalu mengirim pasukan dari Sanhaikoan berjumlah seribu orang lebih yang dibantu dan dipimpin oleh Siang Hwa dan para datuk Cap-sha-kui.

Raja Iblis menghendaki agar semua pendekar yang berada di benteng tua Jeng-hwa-pang itu ditumpas habis.

Di sebelah Siang Hwa nampak seorang pemuda tampan yang juga amat gagah gerakannya.

Pemuda ini adalah Sim Thian Bu!

Seperti kita ketahui, Sim Thian Bu adalah murid mendiang Siangkoan Lojin atau Iblis Buta.

Bagaimanakah murid itu malah membantu pasukan Raja Iblis, padahal gurunya tewas di tangan Ratu Iblis?

Agaknya Sim Thian Bu tidak menaruh dendam atas kematian gurunya.

Beberapa hari yang lalu, pada suatu pagi, dia yang melakukan perjalanan seorang diri tiba di lereng sebuah bukit yang amat sunyi, di sebuah padang rumput.

Tiba-tiba Thian Bu berpapasan dengan Siang Hwa yang menunggang kuda.

Biarpun dia sedang berjalan kaki dan penunggang kuda itu membalapkan kuda dengan cepat, namun Thian Bu yang mata keranjang itu dapat melihat bahwa penunggang kuda itu adalah seorang wanita muda yang cantik sekali.

Sebaliknya, biarpun ia sedang sibuk dengan segala urusan pemberontakan yang dibantunya, namun melihat seorang pemuda gagah dan ganteng berada seorang diri di tempat sunyi itu, Siang Hwa segera merasa tertarik sekali.

Ia menghentikan kudanya dan memutar kudanya, menjalankan kuda itu menghampiri Thian Bu.

Pemuda inipun sudah merasa amat tertarik dan gembira sekali, maka setelah Siang Hwa menghentikan kudanya di depannya, dia memandang sembil tersenyum.

Mereka saling pandang, saling memperhatikan dan keduanya tersenyum, terpesona oleh keanggunan masing-masing.

"Selamat pagi, nona!"

Thian Bu yang memang jagoan dalam menghadapi dan mengambil hati wanita itu berkata dan memberi hormat dengan sikap sopan, wajahnya berseri penuh keramahan.

"Sungguh mengejutkan sekali bertemu dengan seorang wanita cantik jelita seperti nona di tempat seperti ini. Suatu kejutan yang amat menggembirakan hati. Dari mana hendak ke manakah nona yang sendirian saja di tempat liar ini?"

Siang Hwa tersenyum, senyum manis yang penuh daya pikat.

Ia senang sekali melihat sikap pemuda tampan itu.

"Pertanyaan yang sama benar dengan yang berada dalam hatiku. Siapakah engkau yang berada seorang diri di tempat sunyi ini?"

Thian Bu tertawa gembira.

Seorang wanita yang selain cantik dan menggairahkan, juga tidak pemalu.

Dan melihat pedang yang tergantung di punggung itu, dia dapat menduga bahwa wanita ini bukan orang lemah, apalagi kenyataan bahwa seorang diri wanita ini berani berkeliaran di tempat liar penuh bahaya itu.

"Nona, aku bernama Sim Thian Bu. Senang sekali berkenalan denganmu. Siapakah namamu, nona dan bagaimana seorang gadis cantik jelita seperti nona dapat berada di tempat liar seperti ini?"

Siang Hwa tersenyum. Pemuda ini sungguh menarik hatinya.

"Engkau sungguh tabah, berani berada seorang diri di tempat ini. Tidak takutkah kau bertemu dengan suku-suku liar? Ataukah engkau termasuk seorang pendekar yang akan menghadiri pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang?"

"Ha-ha, seorang gadis muda cantik seperti nona tidak takut bersendirian di sini, apalagi seorang laki-laki seperti aku."

"Akan tetapi aku dapat membela diri dengan baik, kaki tanganku dan pedangku akan mampu menghalau semua bahaya yang mengancam diriku."

"Akupun tidak takut akan bahaya, nona, dan selama ini kaki tangankupun mampu melindungi diriku dari ancaman bahaya. Eh, nona belum memperkenalkan diri. Siapakah nama nona yang cantik dan gagah?"

Siang Hwa makin tertarik dan iapun meloncat turun dari atas kudanya, membiarkan kudanya makan rumput yang hijau subur dengan membuka kendali kudanya.

"Aih, benarkah engkau ahli membela diri? Tentu ilmu silatmu tinggi sekali. Nah, mari kita bermain silat sebentar, kalau engkau mampu menandingi aku, barulah aku akan memperkenalkan namaku. Kalau engkau ternyata hanya seorang pemuda biasa saja, tidak perlu aku memperkenalkan nama."

Melihat pemuda yang tampan, nampak gagah dan bersikap menarik dan pandai merayu itu timbul gairah dan kegembiraan dalam hati Siang Hwa.

Ia sudah terlalu lama sibuk mengurus Hal-hal yang serius, dan ia membutuhkan hiburan sebagui selingan dan pemuda ini, baik wajahnya, bentuk tubuhnya maupun sikapnya menjanjiken hiburan manis yang menyenangkan.

Sebaliknya, Thian Bu adalah seorang mata keranjang yang selalu tertarik apabila melihat wanita cantik, maka sikap Siang Hwa sungguh menggembirakan hatinya.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada bermain cinta dengan seorang wanita cantik, dan bermain silat dengan wanita cantikpun tidak kalah menggembirakannya.

Maka diapun lalu meloncat ke belakang mencari tempat yang lebih enak agak menjauhi kuda.

"Mari nona, mari kita main-main sebentar. Akan tetapi, tidak biasa aku bertanding tanpa taruhan. Oleh karena itu, mari kita bertaruh dalam pertandingan silat ini,"

Ajaknya sambil bertolak pinggang dengan sikap gagah.

Siang Hwa tersenyum gembira dan menggulung lengan bajunya.

Nampaklah sepasang lengan yang berkulit putih bersih dan berbentuk bulat indah.

Iapun bertolak pinggang dengan sikap menantang, akan tetapi wajahnya berseri gembira.

"Baik, apa taruhannya?"

"Kalau aku sampai kalah olehmu, maka aku akan menurut segala permintaanmu,"

Jawab Thian Bu.

"Akur! Apapun yang kuperintahkan harus kau taati. Dan kalau aku kalah?"

"Tentu sama juga, semua permintaanku harus kau penuhi."

Keduanya saling pandang dan tersenyum karena mereka sudah sama-sama tahu apa maksud yang tersembunyi di balik teruhan itu.

"Nah, mari kita mulai. Lihat seranganku!"

Siang Hwa membentak dan iapun menyerang dengan cepat, mengayun tangannya menyambar ke arah dada Thian Bu.

Pemuda itu melihat datangnya serangan yang amat cepat dan didahului angin pukulan kuat, diam-diam terkejut karena dia tidak menyangka bahwa wanita itu ternyata demikian cepat dan kuatnya.

Diapun menggerakkan tangannya menangkis.

"Dukkk..."

Keduanya terpental akan tetapi Sim Thian Bu sampai terhuyung.

"Aihh..."

Kini dia benar-benar kaget dan Siang Hwa tertawa mengejek lalu menyerang lagi.

Karena maklum bahwa gadis itu ternyata jauh lebih lihai dari pada yang diduganya, diapun cepat menggerakkan tubuhnya mengelak dan balas menyerang.

Terjadilah pertandingan yang seru dan ramai.

Keduanya memang sudah saling tertarik dan tentu saja tidak suka saling melukai, akan tetapi bagaimanapun juga, keduanya ingin keluar sebagai pemenang karena tentu akan lebih senang memerintah dari pada mentaati perintah.

Setelah perkelahian berlangsung selama lima puluh jurus, diam-diam Siang Hwa girang sekali.

Pemuda ini bukan hanya ganteng, akan tetapi juga cukup lihai sehingga cukup berharga untuk dijadikan kekasih merangkap pembantunya!

Sebaliknya, Thian Bu mulai merasa khawatir ketika memperoleh kenyataan pahit bahwa dia tidak mampu mengatasi lawannya.

Dia khawatir bahwa kalau sampai dia kalah, wanita ini mengajukan permintaan yang akan memberatkan dirinya dan tidak seperti yang diharapkannya.

Kalau dia menang, tentu dia tidak hanya akan minta wanita itu mengakui namanya, akan tetapi juga akan minta agar wanita itu suka melayaninya dan menjadi kekasihnya untuk beberapa hari lamanya!

Maka, diapun mengeluarkan seluruh tenaganya dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Bagaimanapun juga, harus diakuinya bahwa dia kalah setingkat.

Dia mulai terdesak dan tiba-tiba dalam keadaan terdesak dan menghadapi serangan bertubi-tubi itu, lututnya disentuh ujung sepatu Siang Hwa Thian Bu merasa betapa kaki kanannya kesemutan dan seperti lumpuh, maka ketika tangan Siang Hwa mendorong dadanya, diapun terjengkang dan terjatuh ke atas tanah yang bertilam rumput tebal.

Sebelum dia dapat meloncat bangun, Siang Hwa sudah menubruknya, menekan pundaknya dengan jari tangan mengancam ubun-ubun kepalanya dan wanita itu tersenyum menghardik.

"Engkau sudah kalah!"

Melihat sikap dan senyum itu, Thian Bu tersenyum pula.

"Ya, aku sudah kalah. Aku sudah takluk dan akan mentaati permintaanmu."

"Bagus! Nah, kau peluklah aku, kau cintailah aku!"

Thian Bu terbelalak girang, lalu merangkul dan menarik wanita itu ke atas tubuhnya.

"Ha-ha, itulah yang akan kuminta kalau aku menang!"

"Kau kira aku tidak tahu?"

Siang Hwa juga berkata dan balas merangkul.

Mereka berciuman dan bergumul di atas rumput tebal di tempat yang sunyi itu.

Memang kedua orang ini seperti lalat dengan sampah, cocok satu sama lain sehingga setelah saling bertemu, mereka seperti merasa memperoleh tandingan yang amat cocok dan menyenangkan.

Sampai matahari naik tinggi mereka lupa diri dan tenggelam dalam lautan kenikmatan mengumbar nafsu mereka sepuasnya.

Setelah puas bermesraan dengan kekasih barunya itu, Siang Hwa mengajak Thian Bu duduk berteduh di bawah pohon.

Sambil memegang tangan pemuda itu dan memandangnya dengan sinar mata mesra, ia berkata.

"Sim Thian Bu, engkau adalah murid mendiang Siangkoan Lojin, bukan?"

Bagi Thian Bu, ucapan ini tidak mengejutkan.

Nama gurunya memang amat terkenal di dunia dan diapun sejak tadi dapat menduga bahwa wanita yang amat menyenangkan hatinya ini tentu dari golongan sesat.

Yang membuat dia merasa tidak enak adalah karena dia sendiri belum mengenal siapa adanya wanita ini, walaupun telah menjadi kekasihnya.

Sejak tadi dia menduga-duga siapa gerangan wanita muda yang selain cantik, juga memiliki ilmu silat yang amat tinggi ini.

"Benar, sayang. Dan engkau sendiri? Ilmu silatmu begitu hebat..."

"Nanti dulu. Aku mendengar bahwa gurumu itu tewas di tangan Raja Iblis Pangeran Toan Jit Ong dan isterinya. Benarkah?"

Thian Bu mengangguk, tidak mengerti apa maksud wanita ini bertanya tentang hal itu.

"Apakah engkau tidak menaruh dendam atas kematian gurumu itu?"

Sepasang mata yang jeli namun genit itu memandang penuh selidik.

Thian Bu cukup cerdik untuk bersikap hati-hati.

Kini dia mulai dapat menduga bahwa tentu wanita ini mempunyai hubungan dekat dengan Raja Iblis, maka diapun menggeleng kepala.

"Mendiang suhu tewas karena dia menentang Toan Ongya, dan itu merupakan kesalahannya sendiri. Dia tidak tahu diri dan tidak mau menerima kehadiran orang yang jauh lebih kuat. Aku sendiri bahkan ingin membantu Toan Ongya, akan tetapi aku takut untuk menghadap karena tentu aku akan dicurigai sebagai murid mendiang suhu yang tewas di tangan beliau."

Giranglah hati Siang Hwa mendengar ini. Ia lalu merangkul dan mencium orang muda itu.

"Kekasihku, jangan khawatir. Ada aku di sini yang akan menanggungmu bahwa engkau pasti akan diterima dengan hati girang oleh Toan Ongya."

"Engkau? Mengapa bisa begitu?"

"Karena aku adalah satu di antara muridnya yang paling dipercaya dan dikasihi."

"Ahh..."

Thian Bu benar-benar terkejut akan tetapi juga girang bahwa dia telah berhasil memikat hati murid terkasih Raja Iblis!

"Pantas saja ilmu silatmu begitu hebat.

Aku akan senang sekali kalau dapat membantu gurumu, yang berarti akan membantumu dan akan selalu berada di sampingmu."

"Jangan khawatir, mari kita pergi dan mulai saat ini, engkau tidak akan terpisah dariku."

Demikianiah, sejak saat itu, Sim Thian Bu menjadi pembantu Siang Hwa yang paling boleh diandalkan, di samping juga menjadi kekasihnya yang melayaninya setiap saat ia menghendaki.

Bahkan ketika dihadapkan kepada Raja dan Ratu Iblis, suhu dan subonya itupun menerima Thian Bu dengan girang.

Dan dalam penyerbuan terhadap para pendekar di dalam benteng Jeng-hwa-pang itu Thian Bu juga berada di samping Siang Hwa, membantu dan ikut menyerbu.

Kita kembali ke dalam bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Penyerbuan yang terjadi secara mendadak itu tentu saja amat mengejutkan dan membuat panik para pendekar.

Namun, mereka adalah pendekar-pendekar gagah perkasa yang tidak mau menyerah begitu saja.

Begitu pasukan itu menyerbu masuk, mereka melakukan perlawanan dengan gigih.

Dan karena rata-rata para pendekar memiliki ilmu silat tinggi, sebentar saja tempat itu penuh dengan tubuh anak buah pasukan yang berserakan dan tumpang tindih.

Akan tetapi, jumlah pasukan itu jauh lebih besar dan di antara mereka terdapat pula orang-orang pandai Cap-sha-kui, juga Siang Hwa dan Thian Bu.

Oleh karena itu, para pendekar terdesak dan banyak pula di antara mereka yang roboh setelah terlebih dahulu merobohkan beberapa orang perajurit.

Para pendekar terhimpit dan cerai berai, dan terpaksa mencari jalan keluar berdarah untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya, hanya tokoh-tokoh besar yang memiliki kepandaian tinggi saja di antara para pendekar yang mampu meloloskan diri.

Sedikitnya lima puluh orang pendekar tewas di dalam pertempuran itu dan selebihnya lolos.

Akan tetapi, mayat-mayat anak buah pasukan pemberontak yang berserakan tewas di situ tidak kurang dari dua ratus orang jumlahnya!

Biarpun demikian, Siang Hwa merasa girang sekali dan membawa pulang pasukan ke Sanhaikoan dengan gembira dan merasa telah memperoleh hasil baik membasmi sebagian para pendekar yang menjadi musuh besar gurunya dan golongannya.

Dan di Sanhaikoan mereka disambut dengan girang dan pujian.

Dalam kesempatan ini, Siang Hwa menonjolkan jasa Thian Bu sehingga Raja Iblis makin percaya kepada pemuda ini.

Bahkan panglima pemberontak Ji Sun Ki juga mempercayakan seribu orang perajurit untuk dipimpin oleh Sim Thian Bu untuk menyerbu dan menduduki dusun-dusun di sekitar Sanhaikoan untuk memperluas dan memperkuat kedudukan mereka di samping merampok bahan-bahan makanan dan ternak untuk ransum.

Sanhaikoan telah menjadi kota benteng pemberontak.

Pintu gerbangnya dijaga oleh pengawalpengawal pasukan pemberontak dan setiap orang yang memasuki kota itu tentu akan digeledah dan diperiksa.

Penjagaan amat ketat.

Selain Sanhaikoan, juga dusun-dusun di sekitar daerah itu telah diduduki pasukan pemberontak.

Pada suatu pagi, Sanhaikoan didatangi tiga orang tamu yang disambut dengan amat hormat.

Bahkan begitu tiba tiga orang itu diterima di dalam markas.

Panglima Ji Sun Ki lalu mengadakan perjamuan kehormatan dan dalam kesempatan ini Raja dan Ratu Iblis sendiri ikut hadir!

Siapakah tamu-tamu yang amat dihormati itu?

Mereka bertiga kini sudah berada di dalam sebuah ruangan yang luas, menghadapi meja besar panjang, berhadapan dengan Ji Sun Ki sendiri yang berpskaian panglima gemerlapan.

Pangeran Toan Jit Ong berpakaian agak pantas, berwarna kuning gading, akan tetapi rambutnya yang putih itu tetap saja riap-riapan, mukanya yang kehijauan nampak serius dan hanya jenggot kumis yang pendek terpelihara rapi itu yang membuat dia nampak agak pantas.

Isterinya juga hadir, pakaiannya juga putih dan kuning kainnya baru dan bersih, akan tetapi rambutnya juga masih riap-riapan.

Suami isteri ini duduk dengan sikapnya yang angkuh di sebelah kanan Panglima Ji yang amat menghormati mereka.

Di sebelah kiri panglima itu duduk lima orang panglima pembantu dan di deretan lain duduklah orang-orang aneh yang sikapnya menyeramkan.

Mereka adalah orang-orang Cap-sha-kui yang kini sudah berkumpul dan menjadi pembantu-pembantu Raja Iblis.

Nampak Koai-pian Hek-mo, kakek berusia enam puluh lima tahun yang tinggi besar dan bermuka hitam, mata bulat dan hidungnya besar, mulutnya lebar tertutup kumis dan jenggot yang brewok.

Di punggungnya nampak sebatang cambuk baja yang panjang dan ujungnya dipasangi paku.

Di sebelahnya duduk Hwa Hwa Kuibo, nenek berusia lima puluh empat tahun yang mukanya memakai kedok hitam dan yang nampak hanya mata, hidung dan bibir saja.

Mulutnya besar dan buruk, tubuhnya ramping dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Koai-pian Hek-mo dan Hwa Hwa Kuibo ini adalah tokoh-tokoh muara Huangho dan merupakan tokoh Cap-sha-kui yang terkenal.

Kemudian nampak pula Tho-tekwi (Setan Malaikat Bumi), kakek raksasa yang usianya sudah enam puluh tahun lebih.

Kakek ini amat menyeramkan, tingginya satu setengah orang biasa, perawakannya serba besar.

Pakaiannya hijau agak utuh, tidak compang camping seperti biasanya, kaki tangannya memakai gelang emas yang besar dan berat.

Kakek peranakan Nepal bekas pendeta Lama ini duduk melenggut, sikapnya tidak perduli.

Masih nampak lagi empat orang laki-laki berusia antara lima puluhan tahun yang pakaiannya seragam seperti orang-orang dari satu pasukan.

Semua berjumlah tujuh orang dan memang, Cap-sha-kui (Tiga Belas Setan) kini tinggal tujuh orang lagi, karena yang enam orang telah tewas.

Tiga orang tamu itu terdiri dari seorang kakek yang sudah amat tua, usianya tentu sudah delapan puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih nampak segar dan penuh semangat.

Tubuhnya pendek tegap dan kepalanya botak hampir gundul sama sekali, sikapnya dan bicaranya gagah.

Sebatang pedang panjang model samurai Jepang tergantung di punggungnya.

Kakek ini bukan orang sembarangan.

Pernah namanya terkenal di dunia persilatan karena dia pernah menjadi seorang datuk sesat yang amat ditakuti di bagian timur dan berjuluk Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur).

Dia seorang berbangsa Jepang yang sejak muda sudah tinggal di pantai timur.

Nama aselinya Minamoto telah berubah menjadi Bin Mo To.

Orang kedua adalah Cia Kong Liang, ketua Cin-Ling-Pai yang menjadi mantu Bin Mo To.

Ketua Cin-Ling-Pai ini sudah berusia lima puluh empat tahun, namun masih nampak tampan dan gagah.

Sebagai seorang ketua perkumpulan Cin-Ling-Pai yang terkenal, dia nampak berwibawa dan angkuh, Seperti tidak memandang mata kepada orang-orang aneh di depannya walaupun dia tahu bahwa Raja Iblis dan teman-temannya itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Isterinya, yang bernama Bin Biauw, peranakan Jepang Korea itu, duduk di sebelahnya.

Wanita yang berusia hampir lima puluh tahun ini berpakaian sederhana, namun nampak gagah dengan pedang yang tergantung di punggungnya.

Seperti telah kita ketahui, atas bujukan ayah mertuanya dan isterinya, akhirnya ketua Cin-Ling-Pai ini menyetujui untuk membantu para pemberontak yang hendak menggulingkan Kaisar Ceng Tek yang dianggapnya tidak cakap itu.

Sebagai seorang pendekar, Cia Kong Liang membenci pemerintahan yang penuh dengan koruptor, penuh dengan pembesar-pembesar penindas rakyat dan semua ini adalah kesalahan kaisarnya, Oleh karena itu, dia mau membantu mereka yang berusaha menggulingkan kaisar, agar kerajaan dipimpin oleh kaisar lain yang lebih baik.

Tentu saja tidak demikian pendapat ayah mertuanya.

Ketua Cin-Ling-Pai ini keras hati dan tindakannya hanya didasari pendapatnya sendiri yang memang tidak menyeleweng dari pada jalan benar.

Cia Kong Liang tidak mempunyai pamrih pribadi ketika dia mengunjungi Sanhaikoan.

Satu-satunya tujuan yang ada dalam batinnya hanyalah menggulingkan kaisar yang dianggapnya tidak becus agar diganti oleh kaisar lain sehingga kehidupan rakyat akan menjadi lebih baik.

Sebaliknya, Bin Mo To dan anak perempuannya mempunyai ambisi besar, yaitu agar ketua Cin-Ling-Pai itu memperoleh kedudukan tinggi apabila gerakan itu berhasil!

Kedatangan tiga orang tamu ini tentu saja menggirangkan hati Panglima Ji dan juga Raja Iblis.

Bantuan tiga orang ini amat penting, karena di belakang ketua Cin-Ling-Pai ini terdapat para anggota Cin-Ling-Pai dan sekali Cin-Ling-Pai bergerak besar harapannya akan diikuti pula oleh perkumpulan pendekar yang lain.

Dan yang hadir dalam ruangan itu, selain tujuh orang Cap-sha-kui sebagai pembantu-pembantu Raja Iblis masih terdapat beberapa orang pula tokoh-tokoh sesat dan di deretan belakang, sebagai kaum muda, nampak Sim Thian Bu dan Gui Siang Hwa!

Setelah berkenalan secara singkat, Cia Kong Liang menyatakan maksud kedatangannya, yaitu hendak membantu gerakan para pemberontak untuk menentang dan menggulingkan kekuasaan kaisar yang dianggap tidak mampu menjadi pemimpin rakyat itu.

Ji Sun Ki mendengarkan dengan wajah berseri gembira dan setelah tamunya selesai bicara, dia mengangguk-angguk.

"Alangkah bahagianya hati kami menerima kunjungan Cia Pangcu (Ketua Cia), apalagi mendengar pernyataan pangcu. Memang sesungguhnyalah, kaisar yang sekarang berkuasa adalah kaisar lalim yang dikelilingi oleh menteri-menteri korup dan jahat. Kalau kekuasaan mereka yang duduk di tampuk pemerintahan yang sekarang tidak digulingkan, maka kehidupan rakyat akan menjadi semakin sengsara. Sebaiknya kini kami mohon pendapat Toan Ongya untuk menyambut uluran bantuan Cia Pangcu itu,"

Kata panglima itu sambil menoleh dengan sikap hormat kepada Raja Iblis yang duduk di sebelah kanannya.

Pangeran Toan Jit Ong itu mengangguk, kemudian menoleh ke sebelah kanannya memberi isyarat kepada isterinya.

Seperti biasa, Raja Iblis ini tidak pernah atau jarang sekali bicara sendiri dan isterinya menjadi wakil pembicara.

Ratu Iblis mengangguk dan memandang kepada semua yang hadir dan menghentikan pandang matanya kepada tiga orang tamu itu.

"Perlu cuwi ketahui bahwa selama puluhan tahun Toan Ongya bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan duniawi. Akan tetapi setelah beliau mendengar akan kelaliman kaisar yang masih terhitung cucu beliau sendiri, beliau merasa penasaran dan bertanggung jawab untuk turun tangan. Sungguh kebetulan sekali bahwa beliau dapat bekerja sama dengan Ji-ciangkun sehingga bantuan orang-orang gagah, dapat diharapkan kita bersama akan dapat menyerbu ke selatan dan menggulingkan pemerintahan yang lalim dan lemah itu. Bantuan Cia Pangcu untuk bekerja sama dengan kami sungguh merupakan hal yang amat baik dan mudah-mudahan akan ditiru oleh semua orang gagah di dunia. Dengan persatuan antara kita sambil melupakan urusan pribadi, maka perjuangan ini akan dapat berhasil lebih cepat lagi. Kemudian, mengenai rencana siasat pergerakan kita, harap Ji-ciangkun yang menjelaskan sesuai dengan rencana kita bersama yang telah diambil."

Ratu Iblis lalu mengangguk dengan anggun dan berwibawa.

Cia Kong Liang yang semula merasa ragu-ragu melihat keadaan dan sikap pangeran itu dan anak buahnya yang kelihatan kasar-kasar, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan hitam, setelah mendengar ucapan Ratu Iblis merasa tertarik.

Dari kata-katanya jelas dapat diketahui bahwa nenek itu adalah seorang terpelajar dan berpengetahuan luas dan sikap Toan Jit Ong juga begitu penuh wibawa, seperti seorang raja besar layaknya.

Panglima Ji segera menjelaskan.

"Kita sudah beruntung dapat menduduki Sanhaikoan ini yang dapat kita pergunakan sebagai benteng pusat, juga kita sudah berhasil menduduki dusun-dusun di sekitar daerah Sanhaikoan. Kedudukan kita sudah cukup kuat untuk melanjutkan penyerbuan ke selatan. Akan tetapi sungguh menggemaskan, di utara terdapat pergerakan para suku bangsa Nomad yang agaknya hendak menegakkan kembali kekuasaan bangsa Mongol yang sudah hancur. Oleh karena itu, kita diancam bahaya dari utara. Dan untuk memperkokoh kedudukan, kita harus cepat merampas kota benteng Cengtek. Dengan demikian kita mempunyai dua benteng, Sanhaikoan dapat kita pergunakan untuk menahan serbuan para suku bangsa dari utara, sedangkan benteng Cengtek dapat kita pergunakan sebagai benteng pertahanan untuk bergerak ke selatan."

Mereka lalu mengadakan perundingan, mencari siasat bagaimana akan dapat merampas benteng Cengtek yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah itu.

Dalam perundingan itu, ketua Cin-Ling-Pai bersama isteri dan ayah mertuanya juga diikutsertakan, yang menjadi tanda bukti bahwa mereka bertiga itu telah diterima sebagai sekutu!

"Untuk gerakan ini, Toan Ongya telah lama membuat gambaran rencana penyerbuan dan siasat memancing mereka keluar dari sarang,"

Kata Ratu Iblis yang menyampaikan segulung kertas.

Ji-ciangkun menerima gulungan kertas itu lalu membukanya dan menggantung kertas yang sudah dibuka itu agar semua yang hadir dapat melihat dengan jelas.

Melihat gambar siasat penyerbuan itu, Cia Kong Liang merasa kagum.

Di situ digambarkan siasat yang diatur oleh Pangeran Toan Jit Ong.

Dengan gambar dan tulisan dijelaskan siasat itu.

Pertama-tama pasukan yang tidak besar jumlahnya harus dapat diselundupkan ke kota Cengtek untuk mengatur siasat dan bergerilya membantu pasukan mereka kalau saatnya penyerbuan tiba.

Kemudian, pasukan besar dari Sanhaikoan akan meninggalkan benteng Sanhaikoan dengan berpencarpencar dan membuat gerakan seolah-olah hendak meluaskan wilayah dan menyerangi dusun-dusun di empat penjuru.

Yang ditinggalkan di benteng hanya seperempat saja dari jumlah pasukan mereka, Karena benteng Sanhaikoan sudah dibuat sedemikian kokohnya sehingga musuh yang jumlahnya jauh lebih besar sekalipun tidak akan mudah menjatuhkan benteng itu.

Sementara itu, tiga perempat dari pasukan itu yang tadinya meninggalkan benteng dan dipencar, diam-diam bersatu kembali dan menanti kesempatan baik.

Kalau diketahui oleh para pemimpin pasukan pemerintah di Cengtek bahwa benteng Sanhaikoan ditinggalkan oleh sebagian besar pasukan pemberontak, tentu Cengtek akan mengirim pasukan untuk menggempur dan merampas kembali benteng itu.

Nah, dalam kesempatan inllah pasukan yang tiga perempat jumlahnya dan sudah bersatu itu lalu mengadakan penyerbuan kilat ke Cengtek, dibantu oleh mata-mata yang sudah menyelundup ke dalam kota Cengtek.

"Rencana siasat yang bagus sekali!"

Ji-ciangkun berkata gembira.

"Dan untuk tugas penyelundupan ke Cengtek, kami mohon bantuan Cia-pangcu dan para pendekar Cin-Ling-Pai. Dapatkah pangcu membantu?"

"Tentu saja Cia-pangcu dapat membantu!"

Bin Mo To yang mendahului mantunya.

"Memang para anggota Cin-Ling-Pai sudah siap di luar."

Memang, ketua Cin-Ling-Pai itu sudah mempersiapkan lima puluh orang anggota Cin-Ling-Pai untuk membantu gerakan pemberontakan itu dan mereka telah siap menanti di luar kota benteng Sanhaikoan.

Segera mereka dihubungi dan malam hari itu juga pasukan istimewa Cin-Ling-Pai ini dijamu dengan penuh penghormatan.

Dan beberapa hari kemudian, siasat itu dijalankan dengan baiknya.

Pasukan di Cengtek yang dipimpin oleh Bhe-ciangkun terpancing, Ketika para penyelidik melaporkan adanya gerakan besar-besaran dari pasukan pemberontak yang meninggalkan benteng sehingga benteng di Sanhaikoan hampir kosong.

Panglima Bhe yang masih menanti keputusan dari kota raja atas laporannya bahwa Ji-ciangkun dari Sanhaikoan memberontak dan menguasai Sanhaikoan, melihat kesempatan baik untuk merebut kembali kota benteng itu.

Maka diapun mengerahkan pasukannya untuk menyerang Sanhaikoan.

Akan tetapi benteng ini ternyata amat kuat walaupun hanya dijaga oleh pasukan pemberontak yang tidak begitu banyak jumlahnya.

Dan selagi pasukan pemerintah sibuk berusaha merampas kembali Sanhaikoan, diterima berita bahwa benteng Cengtek diserbu oleh pasukan pemberontak yang kuat sekali!

Dan dalam waktu semalam saja benteng itu jebol dan diduduki oleh pasukan pemberontak!

Tentu saja pasukan pemerintah menjadi kacau, apalagi ketika sebagian dari pasukan yang merampas Cengtek itu lalu dipergunakan oleh Ji-ciangkun untuk menyerang pasukan pemerintah dari belakang.

Terpaksa Bhe-ciangkun menarik mundur pasukannya dan melarikan diri ke selatan sampai di Tembok Besar dan cepat mengirim berita ke kota raja untuk minta bantuan.

Cin-Ling-Pai mempunyai jasa besar dalam penyerbuan kota Cengtek karena perkumpulan orang gagah inilah yang dipimpin sendiri oleh Cia Kong Liang, isteri dan mertuanya, yang menyelundup ke dalam kota Cengtek.

Ketika terjadi penyerbuan, mereka telah membantu dari dalam, membakari tempat-tempat penting, menyerang pembesar-pembesar sehingga kekacauan ini menyebabkan pertahanan kota Cengtek menjadi lemah dan mudah ditundukkan dan dirampas.

Untuk menyenangkan hati para pendekar Cin-Ling-Pai, atas petunjuk Raja Iblis, Ji-ciangkun lalu mengangkat Cia Kong Liang sebagai pimpinan pasukan keamanan di kota itu, sedangkan para anggota Cin-Ling-Pai diangkat menjadi perwira-perwira pasukan keamanan kota Cengtek.

Mereka itu, dari para murid sampai kctuanya, bertugas dengan penuh disiplin dan semangat tinggi, merasa bahwa mereka telah menjadi pejuang-pejuang yang menegakkan keadilan dan menentang pemerintah lalim demi kebaikan rakyat dan negara.

Hanya Bin Mo To dan puterinya yang diam-diam merasa gembira dengan pengangkatan itu.

Ini merupakan permulaan yang baik bagi Cia Kong Liang untuk menuju ke tangga kedudukan yang kelak tentu akan jauh lebih tinggi kalau pemberontakan itu berhasil.

Bin Mo To yang diam-diam telah mengadakan kontak dengan Raja Iblis dapat menyimpan rahasianya dan ketika berjumpa di Sanhaikoan, dia berpura-pura tidak mengenal pangeran itu.

Kakek ini memang sejak puterinya menikah dengan Cia Kong Liang, tidak lagi terjun ke dalam dunia kejahatan, akan tetapi bagaimanapun juga dia tidak mampu melawan dorongan ambisinya untuk melihat anak mantunya menjadi seorang yang berkedudukan tinggi sehingga dia sendiri otomatis akan terangkat martabatnya.

Setelah Cengtek terjatuh ke tangan para pemberontak, kekuasaan para pemberontak menjadi semakin besar dan mereka semakin rajin menyerbu ke dusun-dusun.

Yang paling rajin di antara para pembantu Ji-ciangkun adalah Sim Thian Bu.

Orang ini selain menjadi kekasih Siang Hwa, juga menjadi kepercayaan Raja Iblis dan Ji-ciangkun karena memang sudah banyak jasanya.

Sim Thian Bu selama ini memperlihatkan kesetiaannya dan kesungguan hatinya dalam membantu pasukan pemberontak menaklukkan dusun-dusun dan melakukan perampokanperampokan.

Oleh karena itu dia dipercaya memimpin pasukan besar sebanyak seribu orang, bahkan dia boleh menentukan sendiri gerakan-gerakan aksinya ke dusun-dusun.

Thian Bu tidak mau sembarangan menyerang dusun-dusun yang miskin.

Dia selalu menyelidiki lebih dabulu apakah terdapat Hal-hal yang menguntungkan bagi penyerbuan pasukannya.

Kalau di dusun itu terdapat harta kekayaan, atau setidaknya ternak atau bahan makanan, terutama sekali kalau terdapat wanita-wanitanya yang muda, tentu dia akan mengerahkan anak buahnya menyerbu.

Pada suatu pagi, Sim Thian Bu menunggang kuda seorang diri.

Dia mendengar dari seorang penyelidiknya bahwa ada serombongan orang suku bangsa Mancu memasuki sebuah dusun yang sudah kosong karena semua penghuninya telah pergi, yaitu sisa dari mereka yang terbunuh oleh pasukannya.

Yang tinggal hanya sisa-sisa rumah mereka yang sudah rusak dan sebagian terbakar.

Mendengar berita bahwa rombongan itu terdiri dari kurang lebih seratus orang dan dalam rombongan terdapat banyak wanita cantik, hati Sim Thian Bu tergerak.

Maka, pada pagi hari itu dengan menunggang kuda dia pergi sendiri melakukan penyelidikan.

Dusun itu berada di sebuah lereng bukit, tidak begitu jauh dari Cengtek.

Sebuah dusun yang keadaannya amat menyedihkhn karena hanya tinggal belasan orang pondok yang masih utuh, selebihnya sudah menjadi puing bekas dibakar.

Ketika memasuki dusun itu, Thian Bu memandang dengan senyum bangga karena keadaan dusun itu merupakan hasil atau bekas tangan pasukannya.

Lumayan juga hasil yang diperolehnya dari dusun ini ketika dirampoknya dua pekan yang lalu karena di situ terdapat serombongan pengungsi dari utara yang membawa harta benda cukup banyak.

Puluhan ekor kuda yang ditambatkan di lapangan rumput dekat dusun membuat Thian Bu memandang dengan gembira.

Baru puluhan ekor kuda itu saja sudah akan menjadi hasil serbuan yang lumayan.

Kemudian ada pemandangan lain yang menggirangkan hatinya, yaitu jemuran pakaian-pakaian wanita yang indah-indah!

Dia meloncat turun, menambatkan kudanya pada sebatang pohon dan memasuki dusun itu sambil berindap dan menyelinap di antara pohon-pohon.

Kemudian dia mulai melihat beberapa orang laki-laki berjalan keluar dari dalam pondok.

Mereka adalah orang-orang Mancu dan melihat pakaian mereka yang serba bagus, dia dapat menduga bahwa rombongan itu merupakan makanan yang berdaging.

Tiba-tiba perhatian Thian Bu tertarik kepada lima orang wanita yang baru muncul dari dalam pondok sambil tertawa-tawa dan bersendau-gurau.

Sepasang mata Thian Bu terbelalak.

Wanita-wanita itu muda-muda, antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, dan semua cantik-cantik.

Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa di tempat seperti itu dia akan dapat melihat demikian banyaknya wanita muda cantik.

Wanita-wanita muda bangsa Mancu yang cantik dan berpakaian indah-indah, memakai perhiasan badan dari emas permata!

Agaknya rombongan orang kaya raya yang kini berada di dusun ini, pikirnya dengan mulut berliur.

Karena lima orang wanita itu membawa keranjang berisi pakaian dan keluar dari pondok menuju ke sebuah sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari tempat itu.

Thian Bu tidak dapat menahan diri lagi dan diam-diam dia membayangi mereka.

Soal menyerbu rombongan orang Mancu dalam dusun itu adalah soal nanti, yang terpenting baginya sekarang juga dia harus dapat melarikan seorang di antara lima gadis cantik itu.

Selama menjadi pembantu Raja Iblis, dia kekurangan hiburan karena waktu luangnya habis oleh Siang Hwa yang tidak pernah mau melepaskannya.

Dan wataknya sebagai seorang penjahat cabul, membuat dia tidak puas kalau hanya berdekatan dengan satu orang wanita yang itu-itu juga.

Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati laki-laki cabul ini ketika dia melihat lima orang wanita itu menuruni lorong kecil menuju ke anak sungal itu dan mereka berlima lalu melepas jubah luar dan mandimandi sambil mencuci pakaian!

Dia dapat melihat dengan jelas sekali bentuk tubuh mereka dan kecantikan mereka sehingga sukarlah dia memilih yang mana yang akan dilarikannya.

Kesemuanya cantik manis dan memiliki daya tarik khas sendiri-sendiri.

Bagaikan seorang anak nakal Thian Bu bersembunyi, mendekam di balik semak-semak tak jauh dari tempat mereka mencuci pakaian dan berendam di air atau duduk di batu-batu besar itu.

Matanya tak pernah berkedip, mukanya menjadi kemerahan dan buah lehernya turun naik.

"Laki-laki tidak sopan, tidak malu kau mengintai wanita-wanita mandi?"

Tiba-tiba terdengar bentakan yang mengejutkan hati Thian Bu.

Dia terkejut bukan karena perbuatannya diketahui orang, melainkan karena ada orang yang muncul di situ dan berada di belakangnya tanpa dia ketahui kedatangannya.

Thian Bu menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan periang.

Karena hatinya sedang gembira, diapun menaruh telunjuk ke depan mulut dan berbisik.

"Sobat, kalau engkau ingin menikmati pemandangan indah bersamaku, ke sinilah dan jangan ribut-ribut!"

Pemuda itu mengerutkan alisnya dan mukanya berobah merah, pandang matanya mengandung kemarahan.

"Aku bukan laki-laki cabul macam engkau! Sobat, pergilah dan jangan kurang ajar, kalau tidak..."

"Kalau tidak, bagaimana?"

Thian Bu menjadi marah pula dan meloncat dari balik semak-semak, berdiri menghadapi pemuda itu sambil bertolak pinggang.

Orang ini mengganggu kesenangannya, dan karena menganggap pemuda ini seorang pemuda biasa saja, maka diapun bersikap sabar.

"Kalau tidak, terpaksa aku menyeretmu dan melemparmu pergi dari tempat ini!"

Kata pemuda itu dengan suara tegas.

Tentu saja Sim Thian Bu menjadi marah bukan main.

Dia, yang jarang menemui tandingan, bahkan kini menjadi seorang penting dari pasukan pemberontak, pembantu Raja Iblis dan Panglima Ji yang dipercaya, juga kekasih murid Raja Iblis, mau diseret dan dilempar begitu saja oleh seorang pemuda dusun!

"Jahanam lancang mulut!

Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan maka berani membuka mulut sembarangan.

Untuk itu engkau pengganggu kesenanganku.

harus mampus!"

Berkata demikian, Sim Thian Bu lalu menyerang dengan pukulan tangannya yang ampuh, mengerahkan tenaga sinkang karena dia ingin sekali pukul membuat kepala pemuda dusun ini pecah untuk melampiaskan kemengkalan hatinya.

Apalagi lima orang wanita cantik itu mendengar suara ribut-ribut lalu berkemas dan meninggalkan tempat itu, membawa cucian mereka sambil berlari-lari kecil!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Bu melihat pemuda dusun yang pakaiannya aneh-aneh itu berani menangkis pukulannya yang mengandung sinkang kuat itu.

Dia tersenyum mengejek dan melanjutkan pukulannya dengan keyakinan hati bahwa tulang lengan lawan itu akan patah-patah dan tangannya tentu akan tetap dapat mengenai kepalanya.

"Dukkk..."

Untuk kedua kalinya Thian Bu terkejut, akan tetapi sekali ini dia terkejut dan heran, juga kesakitan karena tubuhnya terdorong ke belakang dan lengannya yang kena tangkis tadi tergetar hebat dan terasa nyeri seolah-olah tulang lengannya akan patah rasanya!

Barulah dia tahu bahwa pemuda dusun ini ternyata seorang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi!

"Siapa...

siapakah engkau?"

Tanyanya terdorong oleh rasa kaget dan heran yang besar.

Pemuda itu tersenyum dan sepasang matanya yang tajam itu ikut tersenyum, dan kelihatan jenaka dan nakal.

"Manusia cabul, kiranya engkau memiliki pula kepandaian yang tidak rendah. Aku tidak tahu orang macam apa adanya engkau dan apa keinginanmu maka mengintai para wanita yang sedang mandi, akan tetapi kalau kau ingin tahu namaku adalah Cia Hui Song."

Thian Bu terkejut.

Dia sudah mendengar nama ini walaupun belum mengenal orangnya.

Dengan hati-hati dia bertanya.

"Apa hubunganmu dengan ketua Cin-Ling-Pai yang bernama Cia Kong Liang?"

Kini Hui Song terkejut.

Kiranya orang ini sudah mengenal nama dan kedudukan ayahnya.

Tentu bukan orang sembarangan.

Tadipun dia sudah merasakan betapa orang itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali.

"Dia adalah ayahku. Sobat, siapakah engkau yang mengenal nama ayahku?"

"Pendekar manakah yang tidak mengenal nama besar Cin-Ling-Pai dan ketuanya? Maafkan tadi aku tidak mengenalmu, Cia-taihiap. Aku bernama Sim Thian Bu. Maafkan, ketika aku melakukan perjalanan lewat di sini, melihat wanita-wanita itu mandi... mereka begitu gembira, aku tertarik dan mengintai..."

Kalau saja ketika terjadi penyergapan oleh pasukan gerombolan terhadap para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang terjadi pada siang hari, tentu Hui Song akan mengenal orang ini sebagai pembantu Gui Siang Hwa yang memimpin penyergapan itu.

Akan tetapi malam itu gelap sehingga dia tidak mengenal Thian Bu dan dia percaya akan keterangannya.

Bagaimanapun juga, dia maklum kalau seorang laki-laki mengintai wanita-wanita yang sedang mandi, apalagi kalau yang mandi itu adalah selir-selir Lamnong yang demikian cantik manis dan periang.

"Sudahlah, harap engkau tinggalkan tempat ini. Wanita-wanita itu adalah isteri dari Lamnong, harap jangan diganggu karena Lamnong adalah sahabatku."

"Lamnong...? Siapa dia?"

Thian Bu bertanya, tidak mau sembrono menentang pemuda putera ketua Cin-Ling-Pai ini yang sekarang telah menjadi sekutu Raja Iblis, apalagi karena amat berbahaya melawan pemuda yang tadi sudah dia rasakan kekuatannya ketika menangkis pukulannya.

"Lamnong adalah kepala suku Mancu Timur. Eh, saudara Sim, apakah engkau juga hadir ketika terjadi penyergapan terhadap para pendekar oleh pasukan pemberontak?"

Dengan cerdik dan hati-hati Thian Bu menggeleng kepala dan menark napas panjang.

"Sayang sekali aku datang terlambat, taihiap. Ketika aku datang ke benteng Jeng-hwa-pang, tidak ada seorangpun di sana kecuali bekas-bekas pertempuran hebat. Lalu apakah yang menjadi keputusan para pendekar yang mengadakan pertemuan di tempat itu?"

Akan tetapi Hui Song juga bukan seorang yang bodoh dan ceroboh.

Dia belum mengenal betul laki-laki ini, tidak tahu siapa dia sebenarnya, oleh karena itu tentu saja dia tidak mau sembarangan saja menceritakan tentang hasil pertemuan para pendekar yang diserbu oleh pasukan pemberontak itu.

"Keputusan-keputusan itu hanya boleh diketahui oleh mereka yang hadir. Maaf, aku tidak dapat memberi tahu padamu."

Diam-diam Thian Bu merasa penasaran.

Dia tahu bahwa putera ketua Cin-Ling-Pai tidak percaya kepadanya dan dia dapat menduga pula bahwa Hui Song ini tentu belum tahu bahwa ayahnya kini berada di Cengtek membantu Raja Iblis, membantu para pemberontak!

Bagaimanapun juga, dia gembira sekali mendengar keterangan tentang Lamnong, kepala suku Mancu Timur yang kini bersama rombongannya berada di dusun itu.

"Sekali lagi maafkan kelancanganku, taihiap, dan perkenankan aku pergi,"

Akhirnya dia berkata karena dia melihat datangnya beberapa orang Mancu menuju ke tempat itu.

Hui Song mengangguk dan Sim Thian Bu lalu pergi dengan cepat, diikuti pandang mata Hui Song yang masih menduga-duga orang macam apa adanya laki-laki yang berpakaian mewah dan berkepandaian tinggi itu.

Enam orang Mancu yang datang itu adalah Lamnong dan para pengawalnya.

Melihat Hui Song, Lamnong segera mengulur tangan dan memegang tangan sahabatnya itu.

"Isteri-isteriku telah bercerita bahwa engkau datang dan bertengkar dengan seorang laki-laki. Apakah yang telah terjadi dan siapakah dia?"

Hui Song tidak mau menyembunyikan urusan itu kepada sababatnya.

"Dia kulihat mengintai Isteri-isterimu yang sedang mandi, maka kutegur dia dan kusuruh dia pergi. Saudara Lamnong, engkau dan rombonganmu hendak pergi ke manakah?"

"Ke mana lagi kalau tidak pulang? Daerah ini berbahaya. Pasukan pemberontak membuat pembersihan di mana-mana. Mereka menyerbu dusun-dusun, membunuhi orang-orang dan merampok. Lihat, dusun inipun habis dirampok dan dibakar. Kami hanya beristirahat dan bermalam di sini, besok pagi kami melanjutkan perjalanan ke timur, pulang ke kampung halaman kami sendiri."

"Engkau tidak membantu nenek Yelu Kim?"

Lamnong menggeleng kepala dan menggandeng tangan sahabatnya diajak kembali ke dalam dusun.

Mereka memasuki sebuah pondok yang telah dibersihkan dan dijadikan tempat bermalam Lamnong dan para selirnya.

Kedatangan Hui Song disambut dengan gembira oleh para selir yang sudah mengenalnya dan mereka semua lalu duduk di atas lantai yang ditilami tikar.

Sambil menjamu sahabatnya, Lamnong mengajak Hui Song bercakap-cakap, sedangkan para selir hanya duduk mendengarkan.

Mereka semua suka kepada Hui Song yang gagah, tampan dan sopan itu.

Menghadapi pemuda ini dan bicara dengannya, para selir ini tidak merasa canggung atau malu-malu lagi, apalagi karena suami mereka juga amat suka dan percaya kepada pendekar itu.

"Bagaimana mungkin aku merendahkan diri mentaati perintah-perintah seorang wanita, sudah nenek-nenek pula? Tidak, aku tidak akan begitu merendahkan diri, lebih baik aku kembali ke timur dan lebih baik aku membantu seorang pemimpin bangsa Mancu yang kupercaya sekali waktu akan bangkit dan menjadi lebih besar dari pada suku-suku lain di utara,"

Lamnong berhenti sebentar, lalu memandang kepada pendekar itu.

"Dan engkau sendiri, dari mana dan hendak ke mana, Cia-taihiap? Bagaimana kabarnya dengan kepergianmu yang katanya hendak mengunjungi kawan-kawanmu itu?"

"Tidak baik sekali, kami yang sedang mengadakan pertemuan telah diserbu oleh pasukan pemberontak. Banyak di antara teman-teman kami tewas."

"Ah, kalau begitu mari engkau ikut bersama kami saja ke timur, Cia-taihiap. Aku akan merasa beruntung sekali kalau kelak engkau dapat membantu pergerakan kami orang-orang Mancu, kalau waktunya sudah tiba untuk itu,"

Kata Lamnong yang merasa amat suka kepada sahabat barunya ini.

Hui Song menarik napas panjang, memandang kepada Lamnong dan Isteri-isterinya.

Mereka semua menatap wajahnya dengan sinar mata penuh harapan agar dia mau menemani mereka.

Betapa baiknya orang-orang ini, pikirnya.

"Sayang sekali, saudara Lamnong. Sebetulnya aku sendiripun merasa amat suka bersama dengan kalian, akan tetapi kiranya tidak mungkin. Aku harus menentang para pemberontak, karena mereka dipimpin oleh orang-orang jahat. Andaikata suku bangsamu mengangkat senjata menentang mereka, sudah pasti aku akan membantumu sekuat tenaga."

Lamnong juga menarik napas panjang.

"Sayang sekali. Akan tetapi aku tidak akan melakukan gerakan sekarang. Untuk itu bangsaku belum siap dan untuk bekerja di bawah perintah seorang nenek-nenek akupun tidak sudi. Marilah kita bersenang-senang malam ini sebagai malam perpisahan, Cia-taihiap. Siapa tahu kita tidak akan saling bertemu kembali walaupun aku sungguh mengharapkan itu."

Hui Song dijamu dan mereka makan minum dengan gembira pada malam harinya.

Hui Song ditahan untuk bermalam di situ bukan bermalam untuk tidur melainkan melewatkan malam bercakap-cakap dan makan minum dengan gembira bersama Lamnong dan Isteri-isterinya.

Mereka yang sedang bergembira dalam malam perpisahan ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa malam perpisahan itu merupakan malam perpisahan yang sungguh-sungguh dan amat menyedihkan, menjadi malam malapetaka besar bagi keluarga Lamnong dan rombongannya yang tidak besar jumlahnya itu.

Bencana ini datang dari Sim Thian Bu.

Pria ini tentu saja mempersiapkan segalanya karena yang diincarnya ini bukan hanya rombongan yang diduganya membawa banyak harta, melainkan juga rombongan di mana terdapat wanita-wanita mudanya yang cantik manis!

Pertemuannya dengan Hui Song yang memberi tahu kepadanya bahwa rombongan Lamnong itu adalah sahabat putera ketua Cin-Ling-Pai itu, membuat Thian Bu semakin hati-hati.

Pemuda itu tinggi ilmu silatnya dan amat berbahaya, pikirnya.

Apalagi pemuda itu adalah putera ketua Cin-Ling-Pai yang tentu saja tidak boleh dibunuh.

Akan tetapi, kalau pemuda itu memihak Lamnong dan rombongannya, terpaksa dia turun tangan dan mengandalkan pasukannya yang amat besar itu, dia tidak takut menghadapi Cia Hui Song!

Maka, untuk meyakinkan keberhasilan pasukannya, dia mengerahkan pasukannya yang berjumlah seribu orang itu!

Anak buah pasukan itu sendiri mengira bahwa mereka tentu dibawa menyerbu musuh yang besar jumlahnya dan kuat kedudukannya, maka tentu saja mereka merasa terheran-heran ketika mendapat kenyataan bahwa yang mereka serbu itu hanyalah serombongan orang yang kekuatannya tidak lebih dari tiga puluh orang lebih saja!

Dapat dibayangkan betapa paniknya tiga puluh orang lebih itu ketika tiba-tiba dusun itu sudah dikurung dan banyak sekali pasukan menyerbu mereka.

Lamnong yang sedang makan minum bersama Hui Song, terkejut dan bersama pendekar itu mengamuk dan membela diri mati-matian.

Bahkan selir-selirnyapun, yang sedikit banyak pernah belajar ilmu membela diri karena mereka hidup di perantauan, ikut melawan dan membela diri.

Hui Song marah sekali dan dialah yang mengamuk seperti harimau kelaparan.

Begitu ada penyerbuan itu, dia sudah dapat menduga bahwa penyerbu ini tentulah pasukan pemberontak, sama dengan pasukan yang menyergap para pendekar di benteng kuno Jeng-hwa-pang.

Maka diapun mengamuk dengan hebatnya dan entah berapa banyak anak buah pasukan yang roboh dan terlempar oleh tamparan-tamparan dan tendangannya.

Akan tetapi jumlah lawan terlampau banyak dan Hui Song maklum bahwa betapapun gagahnya, menghadapi lawan yang nampaknya tidak pernah akan habis ini, akhirnya dia akan celaka sendiri, dan yang terpenting adalah menyelamatkan Lamnong.

Maka, melihat Lamnong yang membela diri dengan pedangnya dan mengamuk dengan gagahnya itu dikepung oleh belasan orang musuh, diapun mengeluarkan suara melengking dan merobohkan beberapa orang ketika dia menerjang dan mendekati Lamnong.

"Mari kita pergi, biar kulindungi engkau!"

Katanya kepada Lamnong.

Kepala suku inipun maklum betapa sia-sianya melawan.

Diapun lalu mengikuti Hui Song yang membuka jalan keluar dan setelah merobohkan belasan orang dan membuat yang lain menjadi gentar dan mundur, diapun menyambar tubuh kawannya itu dan dibawanya berloncatan dan lari menjauhkan diri.

Akhirnya mereka dapat terbebas dan lolos dari kepungan pasukan dan Hui Song melarikan kawannya itu ke dalam hutan yang dekat.

"Berhenti... lepaskan aku di sini, Cia-taihiap..."

Kata Lamnong yang masih terengah-engah. Dan ketika Hui Song melepaskannya, Lamnong berkata.

"Taihiap, kasihanilah aku, engkau bebaskanlah Isteri-isteriku... kasihan mereka..."

Hui Song berdiri dan tertegun, kemudian menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Saudara Lamnong, betapa mungkin itu? Kulihat pasukan itu besar sekali jumlahnya, tentu ada ratusan orang. Mana mungkin aku dapat menyelamatkan Isteri-isterimu yang begitu banyak?"

Tiba-tiba Lamnong menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hui Song.

"Tidak semua, taihiap, hanya seorang saja, hanya isteri ke tujuh. Engkau tahu yang mana yang kumaksudkan. Aku cinta sekali padanya dan tanpa ia di sampingku, aku takkan dapat hidup lagi. Tolonglah, tolonglah aku, taihiap, selamatken kekasihku itu..."

Hui Song merasa kasihan sekali.

Dia tahu betapa bahayanya memasuki dusun itu kembali, seperti orang menolong orang dari dalam sebuah rumah yang sudah terbakar dan apinya sedang berkobar saja.

Akan tetapi, dia merasa kasihan kepada Lamnong dan diapun merasa bahwa kalau hanya menyelamatkan seorang saja, kiranya dia masih akan sanggup dan akan dapat berhasil.

Bagaimanapun banyaknya, para perajurit pasukan pemberontak itu hanyalah orang-orang yang hanya mengandalkan pengeroyokan saja dan tidak ada yang memiliki kepandaian yang berarti.

"Baiklah, tunggu saja di sini, aku akan berusaha menyelamatkannya!"

Kata Hui Song dan tanpa menanti sahabatnya itu berterima kasih, dia sudah berkelebat lenyap.

Dengan cepat dia memasuki dusun yang masih ribut itu dan menyerbu ke dalam.

Dan mudah saja baginya untuk memasuki rumah di mana tadi Lamnong dan Isteri-isterinya tinggal.

Akan tetapi rumah itu telah kosong!

Dan selagi dia kebingungan tidak tahu harus mencari ke mana, terdengar sorak sorai dan rumah itupun sudah dikepung dengan ketat.

Kiranya dia memang dijebak dan kini seperti seekor harimau yang jatuh ke dalam perangkap, dan para perajurit pasukan pemberontak itu menyorakinya!

Hui Song menggigit gigi dan mengepal tinju.

Dia akan membela diri dan melawan mati-matian, kalau perlu dia akan menumpas semua anak buah pasukan pemberontak ini, walau hal itu nampaknya tidak mungkin mengingat betapa banyaknya jumlah mereka.

Akan tetapi, diapun yakin bahwa andaikata dia tidak dapat menemukan lagi Isteri-isteri Lamnong yang entah berada di mana itu, masih tidak terlalu sukar baginya untuk menerjang ke luar dan membuka jalan darah meloloskan diri.

Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang membuat Hui Song terbelalak dan mukanya menjadi merah, metanya memancarkan api kemarahan.

Laki-laki itu bukan lain adalah Sim Thian Bu!

Kini mengertilah dia!

Kiranya siang tadi orang ini datang bukan hanya untuk mengintai wanita mandi, melainkan untuk memata-matai dan menyelidiki keadaan di dusun itu!

Dan orang ini ternyata adalah seorang pemimpin pasukan pemberontak!

"Jahanam busuk!

Kiranya engkau adalah seorang pemberontak?"

Bentak Hui Song.

"Bagus, aku tidak akan dapat mengampunimu lagi!"

Akan tetapi, Sim Thian Bu melintangkan pedangnya dan berkata.

"Cia-taihiap, aku tidak ingin memusuhimu. Ketahuilah bahwa banyak orang gagah membantu kami untuk menghadapi kaisar lalim. Menyerahlah dan engkau akan kami sambut sebagai seorang pembantu kami yang terhormat."

"Tutup mulutmu yang busuk! Siapa sudi bersekutu dengan pemberontak busuk?"

Hui Song menyerang dengan cepat sekali.

Akan tetapi, Sim Thian Bu menyelinap di antara para perajurit dan belasan orang perajurit dengan berbagai macam senjata menyambut terjangan Hui Song.

Dua orang terdepan terjengkang muntah darah diterjang Hui Song dan yang lain-lain mundur.

Akan tetapi, kepungan semakin diperketat dan puluhan batang senjata menyambar-nyambar.

Hui Song yang hanya bertangan kosong itu, cepat merampas dua batang pedang dan kini dengan sepasang pedang, Dia mengamuk, menangkisi semua senjata dengan sepasang pedangnya dan merobohkan banyak sekali pengeroyok dengan tendangan-tendangannya!

Akan tetapi, betapapun lihainya, dia hanya seorang manusia biasa dan tenaganya tentu saja terbatas.

Setelah merobohkan tiga puluh orang lebih, dan bajunya sudah robek-robek terkena senjata, akhirnya Sim Thian Bu berhasil melukai pahanya dan selagi Hui Song terhuyung, belasan orang menubruknya dan diapun akhirnya lemas terkena totokan Sim Thian Bu yang lihai.

Thian Bu melarang orang-orangnya untuk membunuh Hui Song dan dia sendiri menyeret tubuh Hui Song ke dalam sebuah kamar.

Dia menembahkan beberapa totokan ke pundak dan punggung Hui Song, membuat pemuda ini menjadi lemas dan tidak mampu mengerahkan sinkang, seperti setengah lumpuh kaki tangannya.

"Ha-ha, Cia-taihiap, Lihat, kalau aku mau membunuhmu, betapa mudahnya. Akan tetapi aku tidak (Lanjut ke

Jilid 32) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 akan membunuhmu.

Aku bahkan akan membikin senang hatimu karena aku mengharapkan engkau kelak suka membantu kami."

"Pemberontak hina, kalau engkau mau membunuhku, lakukanlah, dari pada bersekutu dengan pemberontak, lebih baik aku mati. Kalau engkau gagah dan memiliki kepandaian, mari kita bertanding satu lawan satu!"

Dengan suara lemah Hui Song berkata, akan tetapi Thian Bu hanya tertawa saja, tertawa dengan sikap mengejek.

Setelah memerintahkan seregu pasukan pengawal untuk berjaga dengan ketat di luar kamar, dia lalu meninggalkan Hui Song.

Hanya Lamnong seorang yang dapat lolos dari serbuan para perajurit pemberontak itu.

Belasan orang wanita ditawan dan semua laki-laki dibunuh dengan kejam!

Thian Bu sendiri lalu mendatangi para tawanan wanita yang bersimpuh di atas lantai sambil menangis.

Di antara para selir dan para pelayan itu, dia memilih empat orang selir Lamnong yang paling muda dan paling cantik, kemudian dia membawa empat orang wanita tawanan ini ke dalam bekas kamar Lamnong.

Empat orang wanita itu menangis dan menjatuhkan diri berlutut di lantai kamar itu ketika Thian Bu membawa mereka masuk dan menutupkan pintunya.

"Ha-ha, nona-nona manis. Sekarang akulah yang menjadi suamimu, pengganti Lamnong. Lihat, aku tidak kalah ganteng dan gagah dibandingkan dengan dia, bukan?"

Dia menyeringai dan membuka kancing bajunya, memperlihatkan dadanya yang bidang.

Pria cabul ini memang berwajah tampan, berpakaian mewah dan bertubuh tegap.

Memang dia memiliki daya tarik yang kuat bagi wanita.

Akan tetapi, empat orang selir itu yang masih ketakutan dan berduka karena malapetaka yang menimpa suami dan keluarga mereka, tentu saja tidak tertarik oleh gayanya ini dan mereka hanya berlutut di lantai, menundukkan muka dan menangis.

Melihat mereka itu menangis, Thian Bu mengerutkan alisnya yang tebal, hatinya merasa jengkel sekali.

"Sudah, jangan menangis!"

Bentaknya.

"Kalian kuajak ke sini bukan untuk bertangis-tangisan, melainkan untuk bersenang-senang!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan wanita.

Mendengar ini, empat orang wanita itupun menjadi ketakutan dan menangis semakin keras.

Mereka mengenal suara jerit tangis itu sebagai suara tangis wanita-wanita yang tadi tidak terpilih oleh Thian Bu.

Belasan orang wanita, yaitu selir-selir Lamnong dan para pelayan, oleh Thian Bu dihadiahkan kepada para pembantunya yang terdiri dari belasan orang perwira.

Tentu saja orang-orang kasar ini segera berebutan dan sebentar saja wanita-wanita itu ditarik dan dibetot sana-sini dan dipondong, dibawa ke tempat-tempat terpisah oleh orang-orang itu dan merekapun menjerit-jerit dan menangis.

Mendengar jerit tangis itu, Thian Bu menyeringai.

"Nah, dengar itu. Mereka terpaksa harus melayani para perajurit itu dan mengingat jumlah para perajurit, tentu mereka akan hancur dan mati sebelum semua orang kebagian. Apakah kalian ingin kulemparkan kepada para perajurit itu?"

Empat orang wanita itu mengangkat muka dan mata mereka terbelalak memandang kepada Thian Bu.

Muka mereka pucat dan mereka menggeleng-geleng kepala, merasa ngeri membayangkan betapa mereka akan menjadi rebutan para perajurit yang kasar itu, seperti seekor kelinci dijadikan rebutan ratusan ekor harimau.

Mereka tentu akan dicabik-cabik sampai tubuh mereka hancur binasa!

"Tidak...

tidak...

jangan..."

Teriak mereka memohon. Thian Bu tersenyum.

"Jadi kalian memilih untuk melayani aku dari pada para perajurit itu? Nah, kalau begitu, hentikan tangis kalian dan bersikaplah manis!"

Saking takutnya kalau-kalau mereka dilemparkan kepada para perajurit yang buas seperti segerombolan anjing serigala itu, empat orang wanita ini lalu memaksakan diri menghentikan tangis mereka.

Sim Thian Bu menjadi girang sekali dan mulailah dia membelai dan mempermainkan mereka.

Biarpun hati mereka terasa hancur, empat orang itu terpaksa mandah saja dipermainkan sesuka hati oleh Sim Thian Bu.

Pria ini memang ganteng dan banyak pengalamannya dengan wanita.

Maka tidaklah mengherankan kalau empat orang wanita yang tadinya menangis sedih itu, akhirnya menyerahkan diri dengan pasrah, bahkan mulai timbul kegembiraan mereka melayani pria yang ganteng dan pandai mengambil hati itu.

Ada seorang tawanan lain yang bukan wanita.

Seorang kakek yang terluka pundaknya.

Oleh Thian Bu, kakek ini tidak boleh dibunuh, bahkan diobati lukanya.

Pada keesokan harinya, Thian Bu membawa kakek ini ke sebuah kamar, lalu dia berkata.

"Lihat baik-baik, dan laporkan kepada Lamnong agar lain kali dia berhati-hati memilih kawan. Kepercayaannya kepada Cia Hui Song menghancurkan dia. Ayah pemuda itu, ketua Cin-Ling-Pai, adalah seorang tokoh di antara pasukan kami yang sedang berjuang. Lihat, kini dia bersenang-senang dengan kami!"

Setelah berkata demikian, Thian Bu membuka daun pintu kamar itu dan membiarkan kakek Mancu menjenguk ke dalam.

Setelah melihat ke dalam, kakek itu terbelalak dan mulutnya mengeluarkan makian.

Apakah yang dilihatnya?

Cia Hui Song, pemuda yang selama ini dianggap sebagai sahabat baik Lamnong, yang telah disambut sebagai tamu kehormatan oleh kepada sukunya itu, kini nampak rebah di atas pembaringan dengan pakaian setengah telanjang dan empat orang wanita cantik yang hampir tidak berpakaian sama sekali malang melintang rebah di sisi dan di atas tubuh pendekar itu, bahkan ada yang merangkulnya!

Melihat ini, tentu saja kakek itu menjadi marah karena empat orang wanita itu adalah selir-selir kepala sukunya!

"Nah, kau sudah melihat jelas?

Kakek, sekarang engkau boleh pergi, cari Lamnong dan laporkan semua yang kau lihat,"

Kata Thian Bu sambil menutupkan lagi daun pintu kamar itu.

"Akan tetapi... kenapa... kenapa engkau membebaskan aku sedangkan semua kawanku telah dibunuh?"

"Kakek, bersyukurlah kepada para dewa bahwa wajahmu mirip sekali dengan mendiang ayahku. Itulah sebabnya mengapa aku tidak membolehkan anak buahku membunuhmu. Nah, pergilah cepat!"

Katanya dan kakek itupun tanpa banyak cakap lagi lalu pergi meninggalkan dusun itu.

Apakah yang telah terjadi?

Mengapa empat orang wanita itu kini berada di atas pembaringan bersama Hui Song?

Ini adalah akal Thian Bu yang memang licik sekali.

Setelah puas bermain-main dengan empat orang wanita itu semalam suntuk, dia lalu menyuruh mereka memasuki kamar di mana Hui Song rebah tak berdaya.

"Sekarang kalian bantulah aku. Kalian tentu mengenal Cia Hui Song sahabat suami kalian itu, bukan? Nah, kalau kalian tidak ingin kuserahkan kepada para perajurit, kalian berempat sekarang harus melayani dia! Rayulah dia agar suka bermain-main dengan kalian dan kalian boleh tidur di atas pembaringannya melepaskan lelah."

Empat orang wanita yang kelelahan itu lalu digiring ke dalam kamar di mana Hui Song nampak rebah di atas pembaringan seorang diri.

Empat orang wanita itu dalam keadaan setengah atas hampir telanjang sama sekali, menghampiri pembaringan.

Melihat Hui Song yang mereka suka dan yang menjadi kepercayaan suami mereka, mereka merasa seperti bertemu dengan seorang sahabat baik, apalagi mengingat akan kelihaian Hui Song, mungkin mereka dapat mengharapkan pertolongannya.

Maka tanpa diperintah lagi mereka lalu lari dan menubruk pemuda itu.

Akan tetapi, pemuda itu hanya dapat bergerak dengan lemah saja.

Di dalam hatinya, Hui Song terkejut setengah mati.

Tidak disangkanya bahwa ucapan Thian Bu tadi dibuktikannya, yaitu bahwa Thian Bu hendak menyenangkan hatinya, bahkan dengan cara yang membuat darahnya tersirap.

Dia menjadi rikuh dan malu sekali melihat betapa empat orang selir-selir Lamnong yang paling cantik menghampirinya dengan pakaian hampir telanjang, apalagi ketika mereka menubruk dan merangkulnya.

Akan tetapi dia tidak dapat menggerakkan kaki tangan untuk menolak atau mengelak.

Dia diam saja dan membiarkan mereka menangis di pundaknya, di dadanya dan mungkin terpengaruh oleh rayuanrayuan Thian Bu tadi, dan teringat akan ancaman Thian Bu, mereka bahkan mulai membelai tubuh Hui Song!

"Pergilah...

jangan ganggu aku..."

Kata Hui Song lemah akan tetapi empat orang wanita itu tidak menghentikan usaha mereka.

Dalam keadaan seperti itulah tadi kakek Mancu dibawa oleh Thian Bu untuk melihat ke dalam kamar.

Tentu saja dia merasa terkejut dan marah.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa pemuda yang diterima dengan ramah dan baik oleh Lamnong itu, yang dianggap sebagai seorang sahabat suku bangsanya hanya untuk menjadi mata-mata, dan setelah terjadi penyerbuan, berbalik malah menjadi musuh dan melakukan Hal-hal yang amat tidak patut, yaitu menzinahi Isteri-isteri kepala sukunya.

Kakek Mancu itu tahu bahwa kepala sukunya, Lamnong, berhasil menyelamatkan dirinya, dan dia tahu pula di mana kepala suku itu menyembunyikan diri, karena pernah mereka melewati sebuah hutan sebelum tiba di dusun itu dan Lamnong pernah mengatakan bahwa hutan itu merupakan tempat yang amat baik untuk menyembunyikan pasukan kalau kelak terjadi perang di tempat itu.

Maka diapun lalu memasuki hutan itu dan menyusup-nyusup, mencari-cari dan memanggil-manggil.

Akan tetapi baru dua hari kemudian panggilannya terjawab dan muncullah Lamnong dari balik semak-semak belukar.

Melihat pemimpinnya berada dalam keadaan compang-camping itu, kakek Mancu lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis!

Lamnong merangkul satu-satunya anak buah yang masih hidup ini dan dapat dibayangkan betapa marah hatinya mendengar laporan orang itu bahwa seluruh anak buahnya dalam rombongannya telah habis dan tewas semua, dan betapa Isteri-isterinya telah menjadi korban perkosaan, dan terutama sekali betapa Cia Hui Song ternyata adalah seorang tokoh pemberontak dan juga ikut pula menjinai empat orang isterinya yang paling disayangnya!

"Mustahil!"

Dia membentak.

"Cia-taihiap adalah seorang sahabat dan dia pula yang telah menyelamatkan aku sampai ke sini!"

"Saya melihat sendiri dia dan empat orang isteri paduka dalam sebuah kamar, dalam keadaan yang amat tidak sopan dan memalukan. Saya berani bersumpah!"

Kata kakek itu. Lamnong mengerutkan alianya dan hatinya mulai terasa panas.

"Akan tetapi... kenapa dia bersikap begitu baik ketika menjadi tamu kita, dan dia sama sekali tidak pernah bersikap kurang ajar atau menggoda Isteri-isteriku. Kenapa sikapnya berbalik secara mendadak seperti itu dan kenapa pula dia menyelamatkan aku kalau memang dia itu berpihak kepada musuh?"

"Dia tentu bertindak sebagai mata-mata ketika menjadi tamu kita, dan dia sengaja menyelamatkan paduka hanya untuk menutupi niatnya yang busuk terhadap Isteri-isteri paduka. Bagaimanapun juga, sepasang mata saya tidak dapat ditipu dan saya melihatnya sendiri."

Lalu kakek Mancu ini menceritakan kembali dengan penggambaran yang lebih jelas apa yang dilihatnya di dalam kamar itu, betapa dalam keadaan setengah telanjang Hui Song dipeluki oleh empat orang isteri Lamnong yang telanjang bulat.

Mendengar penggambaran itu, hati Lamnong menjadi semakin panas.

Dia sudah terpukul sekali mendengar akan terbasminya seluruh anak buahnya, dan kini mendengar akan perbuatan Hui Song terhadap empat orang isterinya yang tercinta, dia mengepal tinju dan mukanya menjadi merah.

Hui Song berjanji akan menyelamatkan seorang selirnya yang paling dicinta, siapa tahu pemuda itu malah menjinai selirnya itu dengan selir-selir lain pula.

"Keparat jahanam Cia Hui Song!"

Dia mengutuk, akan tetapi Lamnong lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

"Kasihan Isteri-isteriku yang malang..."

Dan diapun menangis!

Kakek Mancu itu menjadi terharu sekali melihat pemimpinnya menangis dan diapun teringat akan dua orang anaknya yang menjadi anggota rombongan dan tewas pula, maka tak dapat ditahannya, diapun kini menangis.

Dua orang laki-laki itu menangis di dalam hutan yang lebat dan sunyi, dengan hati dilanda duka yang hebat.

Dan memang sepatutnya Lamnong menangisi Isteri-isterinya karena nasib wanita-wanita itu memang menyedihkan.

Sim Thian Bu adalah seorang laki-laki cabul yang berhati kejam bukan main.

Dia tidak pernah merasa puas dengan wanita tertentu dan menganggap wanita seperti makanan atau pakaian saja.

Kalau sudah kenyang dimakannya, maka sisanya akan diberikan kepada anjing dan kalau sudah bosan memakainya, bekasnya akan dicampakkan begitu saja.

Demikian pula setelah dia merasa kenyang dan bosan terhadap empat orang wanita itu, untuk menyenangkan hati anak buahnya, Thian Bu lalu menghadiahkan empat orang tawanan itu kepada anak buahnya.

Empat orang wanita yang sejak dahulu hidup berbahagia di samping Lamnong kini mengalami nasib yang mengerikan.

Mereka itu diperebutkan dan dipermainkan banyak orang kasar sampai akhirnya mereka tidak tahan dan tewas menyusul teman-temannya yang sudah mendahului mereka!

Akan tetapi mengapakah Thian Bu memperlakukan Hui Song seperti itu?

Mengapa dia membiarkan kakek Mancu lolos setelah memberinya kesempatan melihat seolah-olah Hui Song sedang berjina dengan empat orang selir Lamnong?

Thian Bu melakukannya bukan hanya sekedar untuk melampiaskan kemarahannya kepada Hui Song ketika pemuda itu menggagalkan dia yang hendak menculik wanita ketika dia mengintai wanita-wanita yang sedang mandi itu.

Dia melakukannya dengan perhitungan.

Dia membiarkan kakek Mancu lolos bukan sekali-kali karena kakek itu mirip dengan ayahnya, sama sekali tidak.

Itu hanya suatu alasan belaka.

Dia sengaja membiarkan kakek itu hidup agar kakek itu dapat menghubungi Lamnong!

Dan dia sengaja membiarkan kakek itu melihat seolah-olah Hui Song bermain gila dengan para selir Lamnong agar timbul kebencian dan permusuhan antara suku bangsa itu dengan Hui Song.

Dia tidak mau membunuh Hui Song, mengingat bahwa ayah pemuda itu menjadi sekutu Raja Iblis, akan tetapi dia ingin memberi kesan buruk terhadap pemuda ini kepada suku bangsa Mancu.

Kalau sudah demikian, tidak mungkin lagi Hui Song kelak membantu orang-orang Mancu.

Dan dia hendak merusak nama baik Hui Song, bukan hanya untuk melampiaskan kebenciannya terhadap pemuda ini akan tetapi secara tidak langsung dia hendak menghantam pula nama baik ketua Cin-Ling-Pai.

Betapapun juga, keluarga Cin-Ling-Pai sejak dahulu adalah musuh-musuh yang dibencinya, orang-orang dari golongan pendekar yang selelu memusuhi golongannya.

Dan di samping semua alasan ini, juga Thian Bu hendak main-main untuk merendahkan dan membikin malu Hui Song.

Karena memang sudah diaturnya, ketika kakek itu melarikan diri.

Diam-diam Thian Bu menyuruh belasan orang pengawalnya untuk membayanginya dan kalau kakek itu sudah bertemu dengan Lamnong, agar menangkap mereka tanpa membunuhnya karena dia masih memiliki rencana lebih jauh dengan kepala suku Mancu Timur itu.

Demikianlah, ketika Lamnong dan kakek Mancu itu bertangisan di dalam hutan, tiba-tiba muncul tiga belas orang perajurit pengawal pilihan yang sudah mengurung mereka dan membentak agar keduanya suka menyerah tanpa perlawanan.

Akan tetapi, Lamnong yang sedang dilanda duka dan dendam itu, tentu saja tidak sudi menyerah.

Dia mencabut pedangnya dan mengamuk, dibantu oleh kakek Mancu yang sudah luka pundaknya.

Mereka mengamuk dengan nekat tanpa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri sehingga agak kewalahanlah tiga belas orang pengawal itu.

Kalau saja mereka diperintahkan membunuh, tentu dua orang itu sudah terbunuh sejak tadi.

Akan tetapi mereka dilarang membunuh, melainkan disuruh menangkap mereka berdua itu hidup-hidup dan inilah sukarnya.

Dua orang itu nekat, membuat para pengeroyok itu sukar menangkapnya hidup-hidup.

Betapapun juga, karena dikeroyok oleh banyak orang, perlahan-lahan Lamnong dan pembantunya mulai kehabisan tenaga dan napas mereka sudah terengah-engah, tubuh sudah basah oleh keringat.

Agaknya tidak lama lagi mereka akan roboh sendiri kehabisan tenaga sehingga akan mudah ditawan.

Pemimpin regu pengawal pemberontak itu tahu akan hal ini, maka dalam suatu kesempatan yang baik, kakinya terayun dan tepat mengenai lutut kanan Lamnong yang roboh terguling.

Empat orang menubruknya dan kakek Mancu yang sudah kehabisan tenaga itupun dapat tertangkap dari belakang dan keduanya lalu dibelenggu.

Lamnong meronta-ronta dan memaki-maki, akan tetapi dia segera tidak berdaya setelah kaki tangannya diikat.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan dua orang prajurit terpelanting disusul oleh dua orang perajurit juga terpelanting ke kanan kiri.

Semua orang melihat dan ternyata yang datang adalah seorang laki-laki dan seorang wanita yang gagah perkasa.

Begitu mereka berdua itu menggerakkan tangan tadi, empat orang telah terpelanting dan hal ini amat mengejutkan hati pasukan itu, juga membuat mereka marah.

Sembilan orang sisa pasukan pengawal itu segera mencabut senjata dan tanpa banyak cakap mereka lalu menerjang dan mengeroyok laki-laki dan wanita yang baru datang itu.

Akan tetapi, dengan gerakan ringan dan mudah saja, dua orang itu mengelak dan begitu mereka menggerakkan kaki tangan membalas, sembilan orang itu terpelanting satu demi satu!

Untung bagi tiga belas orang perajurit pemberontak itu bahwa laki-laki dan wanita ini agaknya tidak berhati kejam dan tidak bermaksud membunuh sehingga mereka itu hanya menderita luka-luka ringan saja.

Akan tetapi merekapun maklum bahwa dua orang ini adalah orang-orang sakti.

Hati mereka menjadi gentar dan tanpa menanti koniando lagi mereka lalu berloncatan tunggang langgang melarikan diri dari tempat berbahaya itu, meninggalkan dua orang tawanan yang sudah mereka belenggu.

Suami isteri setengah tua yang gagah perkasa itu adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya, Toan Kim Hong.

Tidak mengherankan kalau dalam segebrakan saja tiga belas orang perajurit pemberontak itu terpelanting semua.

Setelah semua perajurit melarikan diri, Ceng Thian Sin lalu melepaskan ikatan tangan kaki Lamnong dan pembantunya.

Setelah dibebaskan dari belenggu, Lamnong berdiri memandang kedua orang penolongnya itu dengan penuh perhatian, kemudian dia bertanya dengan suara kaku, dalam bahasa Han.

"Apakah kalian ini dua orang pendekar dari selatan?"

Tentu saja suami isteri itu merasa heran melihat sikap dan mendengar pertanyaan ini.

Akan tetapi sambil tersenyum Thian Sin mengangguk.

"Benar, kami datang dari selatan. Sobat, siapakah engkau dan mengapa kalian ditangkap oleh pasukan itu?"

Tiba-tiba Lamnong mengepal tinju dan memandang marah.

"Sudahlah! Aku tidak mau berurusan dengan segala pendekar dari selatan yang berhati palsu. Dari pada nanti kalian akan mengkhianati aku lebih baik kalian membunuhku sekarang juga!"

Berkata demikian, tiba-tiba saja Lamnong menyerang kalang kabut kepada Thian Sin.

Tentu saja pendekar ini menjadi kaget dan terheran-heran, cepat mengelak.

"Manusia tak kenal budi memang lebih baik mampus!"

Toan Kim Hong berseru marah dan tangannya bergerak hendak menghajar orang yang diselamatkan akan tetapi berbalik memusuhi mereka itu.

Akan tetapi suaminya memegang pundaknya dan mencegahnya menyerang Lamnong.

Dan dia sendiri lalu menghadapi Lamnong dan ketika tangan orang itu menyambar ke depan, dia menangkap dan tubuh Lamnong tidak mampu bergerak lagi.

"Nanti dulu, sobat. Segala perkara harus dibicarakan dulu, tidak membabi buta menuduh dan menyerang orang. Apakah yang telah terjadi dan mengapa engkau membenci para pendekar dari selatan?"

Akan tetapi Lamnong tidak menjawab dan ketika Thian Sin melepaskan tangannya, diapun menutupi mukanya dan menangis lagi!

Hal ini tentu saja mengejutkan hati suami isteri itu dan Thian Sin lalu bertanya kepada pembantu Lamnong yang hanya berdiri dengan wajah kusut dan muram.

"Sobat, sebenarnya apakah yang telah terjadi kepada kalian?"

Kakek Mancu itu menarik napas panjang lalu menjawab dalam bahasa Han yang kaku akan tetapi cukup jelas.

"Dia ini adalah pemimpin kami bernama Lamnong kepala suku Mancu Timur yang biasa hidup tenteram. Akan tetapi dalam perjalanan sekali ini kami tertimpa bencana. Semua anggota rombongan kami terbunuh oleh pasukan pemberontak, harta benda dirampok dan wanita-wanita kami ditawan. Yang amat menyedihkan dan menggemaskan hati, semua ini Gara-gara pengkhianatan seorang pendekar dari selatan."

"Hemm, Gara-gara seorang pendekar dari selatan? Apa yang telah dilakukan pendekar itu?"

"Pemimpin kami telah bertemu dan bersahabat dengan seorang pendekar dan memperlakukannya sebagai tamu agung dan sebagai sahabat. Akan tetapi, ketika rombongan kami diserbu dan dibasmi oleh pasukan pemberontak, baru ternyata bahwa pendekar yang tadinya kami kira seorang sahabat itu bukan lain adalah seorang mata-mata pemberontak yang amat keji dan telah mengkhianati kami!"

Kakek itu mengepal tinju dan suaranya terdengar marah.

Agaknya Lamnong kini sudah dapat menguasai dirinya.

Dia menambahkan.

"Coba saja bayangkan, seorang yang kuanggap sebagai sahabat baik, bahkan seperti saudara sendiri, ketika rombonganku, anak buahku semua tertimpa bencana dan tewas, dia... dia malah menodai Isteri-isteriku... dan aku yakin bahwa dia tentu menggunakan paksaan, kalau tidak, tidak mungkin Isteri-isteriku bertindak serong dan berjina!"

Suami isteri itu terkejut juga.

Kalau seperti itu perbuatan pendekar itu, maka dia sama sekali bukan pendekar melainkan seorang penjahat yang mengaku sebagai pendekar.

"Ah, dia itu penjahat keji yang terkutuk, bukan pendekar!"

Toan Kim Hong berseru marah.

"Akan tetapi dia seorang pendekar, bahkan putera seorang tokoh yang terkenal. Menurut keterangannya, ayahnya adalah seorang ketua perkumpulan Cin-Ling-Pai yang besar."

"Tidak, Cia Hui Song adalah seorang pendekar, akan tetapi ternyata hatinya busuk dan penuh khianat keji!"

"Apa...? Siapa...?"

Ceng Thian Sin berseru kaget dan dia memegang lengan Lamnong dengan kuat sehingga kepala suku itu menyeringai kesakitan.

Thian Sin sadar dan melepaskan cengkeramannya dan ternyata baju pada lengan Lamnong hancur lebur!

Kepala suku itu memandang dengan wajah pucat, akan tetapi dia tersenyum.

"Aku tahu, pendekar-pendekar selatan memang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi hatinya palsu dan busuk. Nah, kau bunuhlah aku!"

Tantangnya.

"Nanti dulu, saudara Lamnong. Tentu ada kesalah-pahaman di sini. Kalau memang benar dia itu pendekar Cia Hui Song putera ketua Cin-Ling-Pai, tidak mungkin dia melakukan hal yang kotor itu. Dan andaikata benar dia melakukannya, tentu dia bukan putera ketua Cin-Ling-Pai atau semua itu hanya fitnah belaka."

"Fitnah? Orangku ini menyaksikan dengan kepala sendiri dan masih dianggap fitnah? Kalian pendekar-pendekar selatan tentu saja membela!"

Kata Lamnong dan dia menyuruh pembantunya menceritakan kembali semua yang telah terjadi.

Kakek Mancu itu menceritakan sejak terjadinya penyerbuan pasukan pemberontak sampai ketika dia tertawan dan dia dilepas karena mirip wajah pemimpin pasukan pemberontakg dan betapa dia menyaksikan Hui Song berjina dengan empat orang isteri Lamnong yang tertawan, betapa wanita-wanita lainnya menjadi korban perkosaan yang biadab.

Mendengar penuturan ini, Thian Sin dan isterinya saling pandang dan pendekar ini menggeleng-geleng kepalanya.

"Sungguh sukar untuk dipercaya!"

Serunya.

"Sungguh membingungkan!"

Kata pula Toan Kim Hong.

Mereka sudah mendengar dari puteri mereka akan nama Cia Hui Song itu yang oleh puterinya dipujipuji sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa.

Akan tetapi menurut penuturan dua orang Mancu ini, ternyata Hui Song adalah seorang mata keranjang yang cabul dan berwatak busuk dan palsu.

Tentu saja mereka belum mau percaya sepenuhnya hanya dengan mendengar penuturan dua orang ini walaupun jelas bahwa dua orang yang keadaannya seperti itu, kehilangan semua kawan yang terbunuh habis, kiranya tidak akan sempat lagi untuk berbohongbohong.

Tidak mungkin mereka ini menceritakan fitnah, akan tetapi besar kemungkinannya pendekar yang menjadi sahabat mereka itu bukan putera Cin-Ling-Pai yang sebenarnya, melainkan akuan saja.

Betapapun juga, di dalam lubuk hatinya, suami istri ini kurang begitu suka kepada ketua Cin-Ling-Pai yang mereka anggap berwatak angkuh.

"Kami akan menyelidiki kebenaran keterangan kalian itu,"

Akhirnya Thian Sin berkata.

"Kalau benar orang itu melakukan hal yang demikian jahat, kami akan menghajarnya. Akan tetapi, dapatkah kalian menolong kami menceritakan di mana adanya nenek yang bernama Yelu Kim?"

Mendengar pertanyaan ini, sepasang alis Lamnong berkerut dan diapun memandang penuh kecurigaan dan ejekan.

"Hemm, kiranya kalian ini pendekar-pendekar dari selatan yang ingin mengabdi kepada nenek Yelu Kim untuk memberontak terhadap pemerintah kalian di selatan?"

"Tutup mulutmu dan jangan menduga yang bukan-bukan!"

Toan Kim Hong membentak marah.

Akan tetapi Thian Sin tersenyum dan dia maklum mengapa kepala suku ini demikian penuh dendam dan benci kepada para pendekar dari selatan.

"Sobat Lamnong, mengapa kau menduga demikian?"

"Karena petualang-petualang dari selatan itu berkeliaran di sini hanya untuk mencari kedudukan atau kekayaan. Nenek Yelu Kim sendiripun sekarang telah dibantu oleh seorang pendekar wanita dari selatan..."

"Ah, pendekar wanita itulah yang kami cari!"

Toan Kim Hong berseru.

"Bukankah ia masih muda sekali, cantik dan lihai, dan namanya Ceng Sui Cin?"

Lamnong menggeleng kepala.

"Aku tidak mengenal namanya, akan tetapi memang ia muda, cantik dan lihai bukan main. Aku hanya mendengar bahwa ia menjadi murid dan pembantu nenek Yelu Kim, bahkan ialah yang memenangkan sayembara pemilihan jagoan sehingga kemenangannya membuat nenek Yelu Kim diangkat menjadi pimpinan para kepala suku."

"Ah, tentu ia itu puteri kami Ceng Sui Cin!"

Toan Kim Hong berseru dan suaranya agak gemetar.

"Puteri kalian? Ah, menarik sekali!"

Kata Lamnong.

"Saudara Lamnong, berlakulah baik kepada kami dan tolonglah tunjukkan di mana adanya nenek Yelu Kim agar kami dapat mencari puteri kami,"

Kata Thian Sin, suaranya halus membujuk.

"Hemm, mengingat betapa kalian tadi baru saja menyelamatkan kami dari tangan pasukan pemberontak sudah cukup untuk kubalas dengan pertolongan apapun. Akan tetapi apakah arti pertolonganmu tadi sebagai pendekar dari selatan dibandingkan dengan kekejian yang dilakukan lain pendekar selatan kepada kami? Oleh karena itu, aku mau membantumu, bahkan bukan hanya menunjukkan melainkan mengantarmu ke sana kalau engkau mau berjanji bahwa engkau akan membantuku pula menangkap dan menyeret si jahanam Cia Hui Song ke depan kakiku! Bagaimana?"

Thian Sin saling pandang dengan isterinya.

Janji yang berat.

Bagaimana kalau ternyata bahwa pendekar itu benar-benar putera ketua Cin-Ling-Pai?

Bukankah itu berarti bahwa mereka akan berhadapan sebagai lawan dan musuh dengan keluarga Cin-Ling-Pai?

Demikian Thian Sin berpikir.

"Baik, kami setuju!"

Tiba-tiba Toan Kim Hong berseru.

"Siapapun juga adanya pendekar itu, kalau benar dia melakukan kekejian seperti itu, tentu akan kami hadapi sebagai lawan dan musuh!"

Ucapan ini menyadarkan Thian Sin akan kewajibannya sebagai seorang gagah, yaitu menentang siapa saja tanpa pilih bulu, menentang siapa saja yang melakukan perbuatan jahat.

"Benar, kami setuju. Mari antar kami kepada tempat kediaman nenek Yelu Kim!"

Katanya.

Lamnong nampak gembira.

Janji ini merupakan sinar terang dalam kegelapan hatinya.

Dia baru akan merasa puas kalau dapat membalas dendam kepada Cia Hui Song, atas perbuatannya yang biadab kepada Isteri-isterinya!

Memang kelihatannya aneh sikap Lamnong ini, akan tetapi memang sudah demikianlah sifat dendam yang mengotori batin kita semua.

Perbuatan merugikan kita yang dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita terasa jauh lebih menyakitkan dari pada kalau dilakukan oleh orang lain yang asing bagi kita.

Inilah sebabnya mengapa kebencian yang menyelinap dalam batin terhadap seorang bekas teman baik atau keluarga jauh lebih mendalam dari pada kebencian terhadap orang asing.

Lamnong seolah-olah melupakan parbuatan para pemberontak yang telah membasmi keluarga dan rombongannya, juga seperti lupa akan cerita kakek pembantunya betapa selir-selirnya yang lain diperkosa secara biadab oleh mereka.

Yang diingatnya dengan penuh rasa sakit hati hanyalah perbuatan Hui Song yang berjina dengan empat orang isterinya!

"Baiklah, akan kuantar sampai ke depan nenek Yelu Nim.

Bahkan aku akan mintai pertanggungan jawabnya atas pertstiwa yang menimpa rombonganku, karena bukankah ia telah menamakan dirinya pemimpin para kepala suku?

Mari, mari kita pergi.

Tapi, siapakah jiwi?

Aku belum mengenal nama jiwi."

Thian Sin tersenyum.

"Namaku Ceng Thian Sin dan ini adalah isteriku."

Lamnong mengangguk-angguk, baru sekarang teringat dia betapa lihainya suami isteri ini ketika tadi membubarkan pasukan pemberontak.

"Mari, taihiap dan toanio, mari kita berangkat."

Bagaimana dengan Cia Hui Song?

Pemuda ini merasa marah dan mendongkol sekali ketika dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya, dia melihat empat orang isteri sahabatnya memasuki kamarnya itu dalam keadaan hampir telanjang bulat.

Dia melihat betapa wajah mereka pucat, rambut mereka kusut dan pandang mata penuh takut dan duka.

Dia tahu bahwa mereka itu ketakutan dan menangis ketika mereka memeluknya seperti hendak minta perlindungan, bahwa mereka itu dipaksa oleh Sim Thian Bu untuk merayunya.

Dia tidak marah kepada wanita-wanita ini melainkan merasa kasihan, akan tetapi apa yang dapat dilakukannya?

Dia tidak berdaya sama sekali.

Untung baginya, hanya sebentar saja wanita-wanita itu disuruh merayu atau menemaninya.

Dan dia melihat wajah orang Mancu itu ketika pintu dibuka, melihat betapa orang Mancu tua itu terbelalak lalu menyumpah dan pintu ditutup lagi.

Agaknya hanya untuk keperluan memperlihatkan adegan itu kepada orang Mancu tadilah maka empat orang wanita itu disuruh naik tempat tidurnya.

Tak lama kemudian mereka disuruh keluar lagi, entah dibawa ke mana oleh Thian Bu.

Pada keesokan harinya, Sim Thian Bu muncul pula di dalam kamarnya.

Totokan pada tubuhnya sudah bebas, akan tetapi malam tadi Thian Bu mengikat tangannya dengan tali sutera yang amat kuat sehingga percuma saja ketika Hui Song berusaha melepaskan diri dengan cara menariknya putus.

"Aha, Cia-taihiap. Engkau nampak segar pagi ini. Bagaimana, apakah usulku semalam sudah kau pertimbangkan?"

"Aku tidak sudi bersekutu dengan pemberontak. Biar akan kau-bunuh sekalipun, aku tidak perduli. Akan tetapi ingat, kalau aku sampai dapat lolos dari sini, aku akan mengejar dan mencarimu, dan akan kupaksa engkau bertanding sampai mampus!"

"Aih, mengapa galak amat? Bukankah aku telah memperlakukanmu dengan amat baik? Bahkan telah kusuguhkan wanita-wanita cantik. Sayang engkau yang bodoh tidak mau menerimanya. Cia-taihitip, ketahuilah bahwa aku bersikap baik kepadamu bukan tanpa sebab. Tahukah engkau bahwa ayah ibumu, juga kakekmu, kini telah berada bersama kami dan bekerja sama dengan kami, bahkan ayahmu kini mengepalai pasukan keamanan di Cengtek?"

"Bohong! Siapa sudi percaya omongan busukmu?"

Bentak Hui Song.

"Sim Thian Bu, aku tidak tahu mengapa engkau memusuhiku, akan tetapi yang jelas engkau adalah tokoh pemberontak rendah. Jangan mencoba-coba untuk membujukku. Perbuatanmu semalam dengan memaksa empat orang isteri Lamnong dalam keadaan tak tahu malu itu ke sini saja sudah melampaui batas dan untuk itu, mau rasanya aku membunuhmu sampai tujuh kali! Sekarang, kau apakan mereka itu?"

"Ha ha ha, karena mereka tidak berhasil membujukmu, mereka kuhadiahkan kepada orang-orangku dan kau dapat membayangkan apa jadinya kalau empat orang wanita itu harus melayani ratusan orang perajurit..."

"Jahanam keparat kau!"

Hui Song membentak dan wajahnya berobah merah sekali, hatinya perih membayangkan nasib para isteri Lamnong.

Sim Thian Bu sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapannya dengan Hui Song itu ada yang mendengarkan.

Seorang laki-laki yang berpakaian seragam perajurit berdiri di luar kamar itu, dengan sikap bertugas jaga, akan tetapi sebenarnya dia sedang mendengarkan dengan teliti apa yang sedang dibicarakan di dalam kamar.

Prajurit ini bertubuh tinggi tegap dan memiliki sepasang mata yang mencorong tajam.

Perajurit ini adalah Siangkoan Ci Kang!

Seperti telah kita ketahui, Ci Kang terancam bahaya maut di tangan Raja Iblis Pangeran Toan Jit Ong, akan tetapi secara kebetulan dan tiba-tiba muncul Pendekar Sadis dan isterinya yang menyelamatkannya dan setelah dia memberi tahu kepada mereka tentang Sui Cin, suami isteri yang sakti itu lalu meninggalkannya untuk mencari puteri mereka.

Setelah berpisah dari suami isteri yang sakti itu, yang membuat Ci Kang merasa semakin nelangsa karena mereka itu adalah ayah bunda Sui Cin yang dicintanya, membuat dia merasa semakin kecil dan rendah, pemuda ini lalu mengambil keputusan untuk mencari Raja Iblis yang melarikan Hui Cu.

Dia harus dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan ayah kandungnya sendiri yang jahatnya melebihi iblis.

Gadis itu sudah dua kali menyelamatkannya, pertama kali ketika dia bersama Cia Sun terjeblos ke dalam gua bawah tanah dan kedua kalinya ketika dia hampir celaka di tangan murid Raja Iblis, Gui Siang Hwa.

Sekarang, dia tahu bahwa gadis itu berada dalam cengkeraman iblis yang membahayakan keselamatannya, maka dia harus berusaha untuk menolongnya, biarpun untuk itu keselamatan nyawanya sendiri akan terancam.

Dalam perjalanannya mencari Hui Cu inilah secara kebetulan Ci Kang di dusun itu.

Dia hanya melihat bekas-bekas kejahatan pasukan pemberontak yang dipimpin Sim Thian Bu itu, yang telah membasmi puluhan orang anak buah suku Mancu Timur di bawah pimpinan Lamnong.

Hatinya menjadi panas oleh kemarahan ketika dia mendengar dari penyelidikannya betapa sutenya itu telah sedemikian jahatnya membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menganiaya dan memperkosa wanita-wanitanya.

Akan tetapi kedatangannya terlambat dan dia tidak sempat lagi mencegah perbuatan sutenya.

Pula, Ci Kang tidaklah begitu bodoh untuk langsung menemui Thian Bu dan menegurnya.

Bagaimanapun juga, jalan hidup antara mereka telah terpisah, mereka telah bersimpang jalan, bahkan saling menentang.

Sutenya itu, setelah kini memimpin ratusan orang perajurit, mana mungkin mau mentaatinya?

Tentu tidak takut kepadanya dan dia akan dianggap musuh dan dikeroyok.

Karena itulah, Ci Kang diam-diam lalu menculik seorang perajurit yang perawakannya seperti dia, membawa perajurit itu ke dalam sebuah hutan yang cukup jauh, mengikat kaki tangannya setelah melucuti pakalannya, dan dengan berpakaian perajurit dia kembali ke dalam dusun.

Dengan mudah dia menyelinap di dntara perajurit yang seribu orang banyaknya itu dan dia berhasil masuk ke dalam pondok di mana Sim Thian Bu sedang mengunjungi Hui Song yang tertawan.

Dengan muka geram dia mendengarkan semua percakapan itu dan tahulah dia bahwa pendekar putera ketua Cin-Ling-Pai itu sedang dibujuk oleh sutenya untuk membantu pemberontak.

Sutenya, Sim Thian Bu, telah membantu Raja Iblis.

Padahal, ayahnya, Siangkoan Lojin, guru sutenya itu tewas di tangan Raja Iblis.

Sungguh seorang murid murtad.

Dia sendiri memang tidak mendendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya tewas karena ulah sendiri, akan tetapi dia tidak akan sudi diperalat oleh pemberontak.

Dan biarpun Hui Song pernah memperlihatkan sikap bermusuh dengannya, ketika dia muncul di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan ketika dia berada dalam kamar bersama Sui Cin, namun dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar sejati.

Diapun sudah mendengar tentang ketua Cin-Ling-Pai yang membantu gerakan para pemberontak, maka diam-diam dia merasa kasihan kepada Hui Song.

Sedikit banyak ada persamaan antara dia dan pemuda ini.

Biarpun ayah pemuda ini seorang pendekar besar, ketua Cin-Ling-Pai, akan tetapi sekarang menyeleweng dan membantu pemberontak, padahal puteranya mati-matian menentang pemberontak dan lebih memilih mati dari pada harus menjadi kaki tangan pemberontak seperti yang diperlihatkan ketika dibujuk oleh Sim Thian Bu itu.

Dan agaknya Hui Song belum tahu akan penyelewengan ayahnya.

"Hui Song, engkau sungguh orang yang tidak tahu akan kebaikan orang!"

Akhirnya Sim Thian Bu menjadi marah dan tidak menyebutnya taihiap lagi.

"Melihat muka orang tuamu yang kini menjadi rekanku, aku bersikap baik kepadamu dan tidak membunuhmu walaupun engkau telah membantu suku bangsa liar. Bahkan aku telah menyuguhkan empat orang wanita tawanan untuk menghiburmu, akan tetapi engkau menolak. Baiklah, agaknya engkau baru akan mau percaya kalau sudah kubawa ke Cengtek dan bertemu dengan ayah ibumu."

Dia mendengus marah.

"Karena engkau masih tidak mau tunduk, terpaksa harus kubelenggu terus sampai ke Cengtek. Hari ini juga kita berangkat ke sana!"

Dengan uring-uringan Thian Bu meninggalkan Hui Song dalam kamar itu.

Tadinya dia berniat untuk membujuk Hui Song agar dapat membantu dan ikut dengannya secara suka rela agar dia dapat berbangga memamerkan jasanya di Cengtek.

Tak disangkanya Hui Song demikian keras hati sehingga terpaksa dia akan membawanya sebagai tawanan, hal yang amat tidak enak terhadap ketua Cin-Ling-Pai.

"Jaga dia, awasi terus jangan sampai dia dapat meloloskan diri!"

Perintah Sim Thian Bu kepada dua orang pengawal yang berada di luar pintu kamar.

Dua orang pengawal itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar, berdiri dekat pembaringan dengan tombak di tangan.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah Sim Thian Bu meninggalkan kamar itu, sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar itu.

Hui Song yang masih rebah tak mampu berkutik itu melihat betapa dengan gerakan yang amat ringan, bayangan ini menyergap ke arah dua orang penjaga yang tidak sempat berteriak atau mempertahankan diri.

Dua kali totokan membuat mereka itu roboh pingsan.

Dengan cekatan Ci Kang, bayangan itu, menyambar dua batang tombak agar tidak mengeluarkan bunyi keras ketika terbanting ke atas lantai.

Hui Song terbelalak ketika mengenal siapa adanya perajurit tinggi tegap yang merobohkan dua orang pengawal itu.

"Hemmm...kau...?"

Gumamnya, sama sekali tidak girang melihat kedatangan penolong ini, bahkan matanya mengandung sinar kemarahan.

Andaikata dia tidak dalam keadaan terbelenggu, tentu dia sudah bergerak menerjang Ci Kang!

Ci Kang dapat melihat kebencian terpancar dari mata putera ketua Cin-Ling-Pai itu dan diapun maklum.

"Sobat Cia Hui Song, sebaiknya engkau tahan kemarahanmu dan kita simpan dulu urusan pribadi. Yang jelas engkau tertawan..."

"Benar, dan yang menawan adalah murid ayahmu!"

Hui Song mengejek.

"Simpan ejekanmu itu, sobat! Biarpun dia suteku, akan tetapi jalan hidup kami tidak sejalur. Biarpun mendiang ayahku seorang datuk sesat, akan tetapi tak dapat kau samakan aku dengan mereka, seperti juga berbedanya jalur hidupmu dengan ayahmu yang kini mengabdi pemberontak..."

"Tutup mulut! Kalian pembohong..."

Hui Song membentak.

"Sstttt kita tunda dulu perselisihan ini. Yang penting kita harus dapat lari dari tempat ini,"

Berkata demikian Ci Kang cepat melepaskan ikatan kaki tangan Hui Song.

Biarpun bekas ikatan pada kaki dan tangan itu masih membuat kaki tangannya terasa kesemutan dan setengah lumpuh, namun Hui Song memaksa diri meloncat turun dari pembaringan dan langsung dia menyerang Ci Kang!

"Jahanam busuk, aku harus membunuhmu untuk membalaskan penghinaanmu terhadap Sui Cin!"

Serangan Hui Song tentu saja hebat sekali dan Ci Kang yang sudah mengenal kelihalan lawan ini cepat mengelak.

"Sabar dulu, sobat. Masih banyak waktu dan kesempatan bagi kita untuk bertanding. Sekarang yang penting kita herus meloloskan diri dari dusun ini!"

Ci Kang berseru, akan tetapi semua seruannya percuma saja karena Hui Song yang sudah marah sekali teringat akan perbuatan pemuda ini memeluk dan mencium Sui Cin, sudah menerjang lagi kalang kabut.

Tentu saja Ci Kang menjadi bingung sekali dan sikap Hui Song ini membuat dia naik darah juga, maka setelah mengelak dan menangkis, diapun mulai balas menyerang!

Terjadilah perkelahian yang amat hebat di dalam kamar itu dan tentu saja, hal ini menarik perhatian para pengawal yang cepat datang melihat.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka melihat tawanan itu telah bebas dan kini sedang berkelahi melawan seorang rekan perajurit sedangkan dua orang perajurit pengawal sudah roboh tak bergerak di atas lantai.

Melihat ini, para perajurit itu yang mengira bahwa Ci Kang adalah seorang di antara kawan mereka cepat menerjang dan membantu Ci Kang sehingga Hui Song kini dikeroyok!

Pemuda yang sudah mempunyai perasaan benci terhadap Ci Kang ini, rasa benci yang bukan hanya karena Ci Kang putera datuk sesat Iblis Buta, akan tetapi terutama sekali karena rasa cemburu yang hebat, kini menjadi semakin marah dan semakin yakin bahwa Ci Kang tentu bekerja sama dengan sutenya, Sim Thian Bu yang licik itu.

"Huh, Siangkoan Ci Kang, majulah bersama semua antekmu! Aku tidak takut!"

Dan diapun mengamuk merobohkan empat orang perajurit dengan sekali serang!

Pada saat itu, Sim Thian Bu yang diberi tahu oleh anak buahnya datang dan diapun terkejut bukan main ketika mengenal perajurit tinggi tegap itu yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang!

Sebaliknya, melihat Sim Thian Bu, Ci Kang juga marah sekali.

Kalau tadi ketika dia mendengar Thian Bu membujuk Hui Song dia masih mempertahankan kemarahannya karena perlu membebaskan Hui Song lebih dulu, kini setelah ketahuan dan dikeroyok, kemarahannya terhadap sutenya itu makin berkobar.

"Sim Thian Bu, engkau semakin gila dan jahat saja!"

Bentaknya dan tiba-tiba saja dia menyerang Sim Thian Bu!

Thian Bu maklum akan kelihaian putera suhunya ini.

Maka cepat dia menangkis dengan lengan kanannya.

"Dukkk..."

Dan tubuh Thian Bu terlempar sampai bergulingan.

Terkejutlah dia dan baru dia tahu bahwa suhengnya itu ternyata telah menjadi semakin lihai saja.

Maka diapun berteriak kepada para perajuritnya.

"Dia perajurit palsu! Kepung dan bunuh dia juga!"

Tadi para perajurit bingung melihat pimpinan mereka berkelahi melawan perajurit itu, bahkan mereka kaget melihat betapa dalam segebrakan saja komandan mereka yang biasanya amat lihai itu terlempar sampai bergulingan.

Akan tetapi begitu mendengar teriakan Thian Bu mengertilah mereka bahwa perajurit itu adalah seorang musuh yang menyamar, maka tentu saja segera mereka mengeroyok Ci Kang!

Hui Song sendiri juga dihujani senjata dan kini melihat betapa Ci Kang dikeroyok, tadinya dia masih bingung dan ragu, mengira bahwa Ci Kang bersandiwara.

Akan tetapi melihat betapa Ci Kang mengamuk dan merobohkan banyak perajurit seperti juga dia, dan betapa para pengeroyoknya itu juga menyerang dengan sungguh-sungguh, baru dia percaya bahwa Ci Kang benar-benar dimusuhi oleh Sim Thian Bu dan pasukannya!

Dia masih bingung, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih lama lagi.

Para pengeroyok terlalu banyak dan melihat betapa Ci Kang mendesak para pengeroyok dan berhasil keluar dari dalam kamar yang sempit, diapun menerjang dan membuka jalan darah.

Segera dua orang pemuda perkasa ini dikeroyok di luar pondok yang lebih luas dan terjadilah pertempuran yang amat seru.

Akan tetapi, baik Ci Kang maupun Hui Song maklum bahwa mereka berdua saja tidak akan mungkin dapat menandingi pengeroyokan perajurit yang jumlahnya hampir seribu orang itu.

Mereka tentu akan kehabisan tenaga.

Oleh karena itu, seperti telah berunding lebih dulu saja keduanya menyerang ke depan dan menyelinap lalu meloncat jauh dan melarikan diri.

Beberapa orang perajurit yang berusaha mengejar, mereka robohkan dengan pukulan jarak jauh.

Melihat ini, para perajurit lainnya menjadi gentar dan ragu-ragu untuk mengejar.

Thian Bu yang marah sekali melihat dua orang itu lolos, cepat berteriak memerintahkan anak buahnya untuk mengejar.

Karena mengandalkan jumlah banyak pasukan itu melakukan pengejaran, akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu telah lari jauh dan tidak nampak lagi bayangannya sehingga terpaksa para perajurit mencari ke sana-sini di bawah pimpinan Sim Thian Bu yang menyumpahnyumpahi mereka karena pengejaran itu gagal sama sekali.

Sim Thian Bu cukup maklum bahwa perajurit-perajurit itu tidak dapat disalahkan karena memang kedua orang pemuda itu amat lihai, akan tetapi karena kegagalan ini amat menjengkelkan hatinya, maka untuk melampiaskan kemarahannya itu dia memaki-maki para perajuritnya.

Biarpun tidak berjanji lebih dulu, akan tetapi kenyataannya Ci Kang dan Hui Song lari ke satu jurusan.

Agaknya mereka itu keduanya tidak mau mengambil jalan lain atau memisahkan diri, khawatir kalau disangka takut atau sengaja melarikan diri menghindarkan perkelahian.

Dan setelah mereka lari jauh dan pasukan pemberontak tidak mengejar lagi, di sebuah tanah datar di lereng sebuah bukit, keduanya berhenti tanpa kencan dan berdiri saling berhadapan.

"Cia Hui Song, masih tidak percayakah kau kepadaku? Aku juga menentang kaum pemberontak!"

"Boleh jadi engkau menentang pemberontak, akan tetapi aku tidak mungkin dapat mengampunimu atas kebiadabanmu menghina Sui Cin!"

Bentak Hui Song dan diapun sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Ci Kang merasa betapa pemuda ini keterlaluan sekali mendesaknya.

Biarpun ada dorongan aneh dalam dirinya ketika dia menjadi terangsang dan timbul berahinya sehingga dia melakukan hal yang tidak patut terhadap Sui Cin, namun dia tidak mau mencari alasan untuk membela diri.

Dia diam saja dan menangkis, bahkan lalu membalas sehingga dua orang muda itu terlibat dalam suatu perkelahian yang amat seru dan mati-matian, walaupun Hui Song lebih banyak menyerang karena Ci Kang masih merasa enggan untuk menyerang.

Dia tidak membenci Hui Song, tidak ada alasan baginya untuk membenci pemuda ini, maka diapun hanya membela diri dan menghadapi seorang lawan selihai Hui Song, kalau hanya membela diri dengan menangkis atau mengelak saja sungguh amat berbahaya dan tidak cukup aman.

Serangan balasan yang dilakukannya, yang tidak kalah dahsyatnya, hanya dilakukan untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan Hui Song terhadap dirinya.

Dua orang ini memang sama mudanya, sama gemblengan orang-orang pandai, bahkan keduanya pada akhir-akhir ini selama tiga tahun telah digembleng oleh orang-orang sakti yang segolongan.

Oleh karena itu, sukar dikatakan siapa yang lebih kuat di antara mereka.

Hui Song adalah putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai yang tentu saja mewarisi ilmu-ilmu Cin-Ling-Pai yang tinggi, dan gemblengan selama tiga tahun yang diterimanya dari Siangkiang Lojin membuat ilmu-ilmunya menjadi matang.

Akan tetapi di lain pihak, Ci Kang juga telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah kandungnya, Siangkoan Lojin atau Iblis Buta, dan gemblengan selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lokai juga mematangkan ilmu-ilmunya.

Maka pertandingan antara mereka ini sedemikian dahsyatnya bagaikan perkelahian dua ekor naga sakti yang tidak mau saling mengalah.

Setelah perkelahian itu berlangsung seratus jurus tanpa ada yang terdesak, keduanya semakin maklum bahwa lawan masing-masing itu lebih sukar dikalahkan seperti yang mereka sangka semula, oleh karena itu kini bergerak dengan hati-hati sambil mengeluarkan seluruh ilmu silat mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

"Dukkk..."

Kembali terjadi adu tenaga yang amat dahsyat yang mengakibatkan kedua orang muda itu terhuyung ke belakang dan keduanya harus mengatur pernapasan beberapa detik lamanya untuk menghimpun hawa murni melindungi tubuh bagian dalam agar jangan sampai terluka akibat guncangan pertemuan tenaga dahsyat itu.

Dan pada saat itu, selagi keduanya siap untuk saling terjang lagi, nampak dua bayangan orang berkelebat.

Seorang gadis cantik menghadang di depan Hui Song, dan seorang pemuda perkasa menghadang di depan Ci Kang.

"Suheng, harap jangan berkelahi..."

Gadis itu berteriak.

"Ci Kang, tahan dulu..."

Pemuda itu berseru pula.

Melihat gadis itu yang menghadangnya, Hui Song terpaksa menghentikan serangannya, juga Ci Kang segera menghentikan gerakannya ketika dia mengenal siapa yang menghadang di depannya.

Gadis dan pemuda itu adalah Tan Siang Wi dan Cia Sun!

Bagaimanakah dua orang muda ini dapat saling berkenalan dan dapat datang bersama di tempat itu?

Seperti kita ketahui, Cia Sun hadir pula dalam pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan seperti juga yang lain, dia terpaksa melawan sambil berpencar dan akhirnya menyelamatkan diri karena jumlah lawan yang terlampau banyak.

Ketika dia sedang melarikan diri tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali perajurit yang agaknya hendak menangkap gadis cantik itu hidup-hidup.

Akan tetapi, gadis cantik itu memainkan sepasang pedang secara hebat sehingga dua puluh lebih orang perajurit itu sukar dapat menangkapnya, dan hanya mengepung dan menyerang dari jauh dengan tombak mereka untuk menghabiskan tenaga gadis itu agar akhirnya dapat disergap.

Gadis itu adalah Tan Siang Wi.

Sejak muda, Tan Siang Wi telah biasa hidup dalam kekerasan sebagai seorang gadis kang-ouw yang disegani.

Ia murid Bin Biauw, isteri ketua Cin-Ling-Pai, bahkan menerima petunjuk pula dari ketua Cin-Ling-Pai sehingga tentu saja ia amat lihai, terutama sekali Ilmu Silat Siangmo Kiamsut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang hebat itu.

Karena sifatnya yang keras dan berani, juga karena ia tidak pernah memberi ampun kepada para penjahat, maka di dunia kang-ouw ia dijuluki Toatbeng Sianli (Dewi Pencabut Nyawa)!

Maka, biarpun kini dikepung dan dikeroyok dua puluh orang lebih, ia mengamuk dan sedikitpun tidak menjadi gentar.

Gadis ini mendengar tentang adanya pertemuan di antara para pendekar di Jeng-hwa-pang.

Selama tiga tahun ini ia merantau dengan hati penuh duka, mencaricart Hui Song, pemuda yang menjadi pujaan hatinya.

Dan seperti telah kita ketahui, ia melihat betapa suheng yang dicintanya itu dirayu dalam kamar oleh Siang Hwa, membuat ia cemburu dan marah sekali.

Akan tetapi akhirnya ia tertawan dan yang amat menyedihkan hatinya, suhengnya bersekutu dengan wanita iblis itu dan ia disuruh pergi!

Sakit sekali rasa hatinya walaupun ia tahu bahwa Hui Song melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman Gui Siang Hwa.

Akan tetapi, baginya, rasanya lebih suka mati di tangan wanita itu dari pada melihat suhengnya berkawan dengan iblis betina itu dan ia disuruh pergi.

Akan tetapi, suhengnya yang menyuruhnya dan ia tidak dapat membantah.

Dengan hati dirundung duka, gadis yang usianya sudah dua puluh dua tahun ini lalu pergi ke utara, hendak menghadiri pertemuan antara pendekar di benteng Jeng-hwa-pang.

Hal ini dilakukannya bukan hanya untuk memperluas pengalaman, akan tetapi terutama sekali karena ia mengharapkan akan bertemu dengan suhengnya.

Ia percaya bahwa seorang pendekar besar seperti suhengnya itu pasti akan hadir pula di sana.

Demikianlah, ia tiba di antara para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang, menyelinap di antara mereka, tidak berani muncul berterang karena ia tidak mewakili siapa-siapa dan iapun tidak datang atas nama perguruan Cin-Ling-Pai.

Hatinya merasa girang sekali ketika ia melihat Hui Song berada di situ pula, bahkan membuat pelaporan.

Ia merasa ikut bangga akan tetapi ia tetap bersembunyi dengan keputusan akan menemui suhengnya itu setelah pertemuan selesai.

Hatinya lega karena ia tidak melihat adanya iblis betina yang merayu suhengnya dahulu.

Akan tetapi, ada perasaan kecut dan cemburu di dalam hatinya kalau mengingat akan sikap suhengnya yang dingin terhadap dirinya, sikap yang tidak membalas cintanya, teringat pula betapa manis sikap suhengnya terhadap Ceng Sui Cin, kemudian terhadap wanita iblis itu.

Dan ketika pasukan pemberontak yang sangat besar jumlahnya datang menyergap, Siang Wi ikut pula bertempur dan membela diri sambil mencari jalan keluar.

Akan tetapi, belum jauh ia lari meninggalkan bekas benteng itu, ia dikepung oleh dua puluh orang lebih perajurit pemberontak dan kembali ia mengamuk membela diri dan sama sekali tidak merasa gentar walaupun pihak lawan terlampau banyak baginya.

Dalam keadaan terancam inilah muncul Cia Sun yang segera turun tangan membantu.

Walaupun dia belum mengenal gadis itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa gadis yang dikeroyok para perajurit pemberontak itu tentulah seorang di antara para pendekar yang tadi hadir dalam pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Serbuan Cia Sun mengubah keadaan dan dengan kerja sama mereka, dua puluh orang perajurit pemberontak itu kocar kacir dan banyak di antara mereka yang roboh tak dapat bangkit kembali.

Selebihnya, hanya beberapa orang saja, melarikan diri.

"Saudara yang gagah, terima kasih atas bantuanmu,"

Kata Siang Wi sambil menjura setelah semua pengeroyok roboh dan pergi.

"Lebih baik kita pergi secepatnya sebelum pasukan lain datang!"

Jawab Cia Sun tidak memperdulikan ucapan terima kasih orang dan diapun lari dengan cepat, diikuti oleh Siang Wi.

Gadis ini tadi merasa kagum sekali melihat kelihaian Cia Sun ketika membantunya, dan kini menjadi semakin kagum karena pemuda itu memiliki ilmu berlari cepat yang hebat, sehingga ia tidak akan mampu menyusulnya kalau saja pemuda itu tidak memperlambat larinya.

Demikianlah, setelah berhasil menyelamatkan diri, mereka saling berkenalan.

Keduanya terkejut dan girang setelah mendengar tentang diri masing-masing.

Sudah lama Siang Wi mendengar tentang keluarga Cia yang gagah perkasa di Lembah Naga, maka cepat ia memberi hormat ketika mendengar bahwa ia berhadapan dengan Cia Sun, putera Lembah Naga.

"Sungguh beruntung aku dapat bertemu dengan pendekar gagah perkasa dari Lembah Naga! Pantas tadi aku seperti mengenal gerakan silatmu. Bukankah menurut keterangan suhu, ilmu silat keluarga Cia di Lembah Naga masih dekat sekali kaitannya dengan ilmu dari Cin-Ling-Pai?"

"Benar, nona. Ilmu-ilmu silat keluarga kami memang satu sumber dengan ilmu-ilmu Cin-Ling-Pai. Dan akupun girang bahwa engkau adalah murid dari ketua Cin-Ling-Pai. Apakah nona hadir di pertemuan itu bersama dengan putera ketua Cin-Ling-Pai yang kulihat tadi hadir pula? Ataukah sebagai wakil Cin-Ling-Pai?"

"Cia-toako, pertama-tama kuharap engkau tidak memanggil nona padaku. Bukankah kalau diselidiki benar, di antara kita ini masih ada ikatan saudara dalam perguruan? Aku tidak datang bersama suheng, juga bukan utusan suhu. Aku datang untuk... mencari suheng yang sudah lama pergi dan untuk meluaskan pengalaman. Toako, apakah engkau melihat ke mana larinya suheng tadi?"

"Maksudmu Cia Hui Song? Entahlah, nona... eh, Wi-moi. Akupun tidak melihatnya. Mana mungkin bisa melihatnya di antara serbuan ribuan orang pasukan pemberontak itu?"

Siang Wi mengepal tinju.

"Aku benci pemberontak-pemberontak itu! Apalagi iblis betina yang memimpinnya itu! Sekali waktu aku harus membunuhnya!"

Diam-diam Cia Sun tersenyum.

Tidak begitu mudah, nona cilik, betapapun lihaimu.

Murid Raja Iblis itu terlalu lihai bagimu, demikian pikirnya.

"Siauw-moi, apakah engkau mengenal wanita iblis itu?"

"Tentu saja! Ia adalah Gui Siang Hwa, murid Raja Iblis! Dan ialah wanita cabul yang pernah merayu... suhengku. Aku benci padanya! Dan sekarang, ia mengerahkan pasukan pemberontak untuk menyerang dan banyak kawan kita yang tewas. Dan aku terpisah lagi dari suheng yang kucari-cari, tidak tahu ke mana harus mencarinya sekarang?"

Cia Sun memandang wajah gadis itu.

Malam telah terganti pagi dan sinar matahari pagi yang keemasan menyiram wajah yang cantik itu.

Wajah yang manis sekali dan sepasang mata yang jeli dan penuh sinar berapi, penuh semangat hidup dan keberanian.

"Wi-moi, benarkah engkau membenci para pemberontak dan engkau hendak menentang mereka?"

"Eh, eh, kenapa engkau masih bertanya? Bukankah aku hampir celaka oleh mereka dan mungkin sekarang aku sudah tewas kalau tidak ada engkau yang menolongku, toako?"

"Begini, Wi-moi. Adanya aku bertanya kepadamu adalah... eh, apakah engkau belum mendengar atau mengerti bahwa suhu dan subomu juga berada di utara sini?"

Siang Wi kaget akan tetapi juga girang.

"Aih! Benarkah itu? Di mana mereka sekarang? Apakah toako sudah berjumpa dengan suhu dan subo? Kenapa mereka tidak nampak hadir dalam pertemuan antara pendekar?"

Cia Sun menggeleng kepala dan memandang tajam penuh selidik.

"Siauw-moi, agaknya engkau belum tahu atau mendengar tentang suhu dan subomu. Tahukah engkau kenapa mereka berada di daerah ini dan sekarang berada di Cengtek?"

Siang Wi memandang bingung.

"Aku tidak tahu, toako. Mereka di Cengtek? Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Mereka... membantu para pemberontak menyerbu Cengtek dan kini menjadi tokoh pemberontak di Cengtek..."

"Ahh... Tidak mungkin!"

Seru gadis itu.

"Aku sendiri ketika mendengar berita itu untuk pertama kalinya, tidak percaya dan merasa penasaran sekali. Aku memang mendengar bahwa gurumu, paman Cia Kong Liang adalah seorang yang keras hati, akan tetapi menurut penuturan ayah, paman Cia Kong Liang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan agaknya tidak mungkin kalau sampai beliau begitu rendah menjadi kaki tangan pemberontak. Akan tetapi berita itu sudah kuselidiki kebenarannya dan ternyata memang paman Cia Kong Liang bersama isterinya dan ayah mertuanya kini membantu Raja Iblis dan Panglima Ji Sun Ki yang memberontak. Aku tidak dapat menyelidiki mengapa terjadi hal yang mustahil itu."

Siang Wi termenung dengan wajah pucat.

Ia dapat menduga.

Tentu ini Gara-gara kakek Jepang yang menjadi (Lanjut ke

Jilid 33) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33 mertua suhunya itu.

Bagaimana juga, ia sebagai murid subonya tahu bahwa kakek itu dahulu pernah menjadi datuk sesat di timur.

Bukan tidak mungkin kakek itu mempunyai hubungan dengan Raja Iblis dan para datuk sesat yang kini memberontak, dan berhasil membujuk suhunya untuk membantu pemberontak!

"Aku harus mencari mereka...

harus menyadarkan mereka..."

Ia berkata berkali-kali seperti kepada dirinya sendiri.

Cia Sun merasa kasihan, juga kagum akan kegagahan gadis ini.

Biarpun mendengar betapa suhu dan subonya membantu pemberontak, gadis ini tetap dengan pendiriannya berpihak kepada para pendekar yang menentang pemberontak, bahkan ia hendak menyadarkan suhu dan subonya dari kesesatan itu.

"Wi-moi, telah menjadi keputusan rapat bahwa kita terpaksa harus bertindak sendiri-sendiri, dengan cara sendiri menentang para kaum sesat yang temyata kini bersekutu dengan pasukan pemberontak. Dan kita tidak akan berhasil menghadapi mereka kalau tidak bergabung dengan pasukan pula. Oleh karena itu, mari kita melakukan penyelidikan ke Cengtek, dan kita bantu gerakan pasukan pemerintah, sekalian menyelidiki paman Cia Kong Liang dan kalau sampai berhasil menyadarkan mereka sehingga mereka membantu kita dari dalam untuk menghancurkan pemberontak, alangkah baiknya."

Siang Wi yang kini merasa suka dan kagum kepada pendekar muda Lembah Naga ini, merasa setuju dan berangkatlah mereka bersama.

Dan secara kebetulan sekali mereka tiba di tempat sunyi di lereng bukit di mana Ci Kang sedang berkelahi mati-matian melawan Cia Hui Song.

Melihat ini, tentu saja mereka menjadi terkejut sekali.

"Suhengku melawan putera Iblis Buta, aku harus membantunya!"

Kata Siang Wi, dan ia sudah siap menerjang. Akan tetapi lengannya disentuh Cia Sun.

"Jangan tergesa-gesa! Putera Iblis Buta itu seorang yang gagah perkasa yang juga menentang kaum sesat. Kita hentikan perkelahian itu dan bicara dengan baik!"

Setelah berkata demikian, mereka lalu meloncat ke dalam gelanggang perkelahian.

Siang Wi menghentikan suhengnya dan Cia Sun menahan Ci Kang.

Baik Ci Kang maupun Hui Song terpaksa menghentikan gerakan perkelahian mereka ketika Siang Wi dan Cia Sun melerai, walaupun hati Hui Song masih merasa penasaran sekali.

Cia Sun segera memberi hormat kepada Hui Song.

Walaupun usia mereka sebaya, dia hanya satu tahun lebih tua dari Hui Song, akan tetapi menurut "abu"

Dia jauh lebih muda dan Hui Song masih terhitung pamannya.

Kalau pendekar sakti Cia Bun Houw adalah kakek Hui Song, maka baginya kakek sakti itu adalah kakek buyutnya.

Kakek Cia Bun Houw adalah ayah kandung Cia Kong Liang dari ibu Yap In Hong, sedangkan kakeknya sendiri, Cia Sin Liong adalah anak kandung Cia Bun Houw dari ibu Liong Si Kwi.

Kakeknya itu dengan Cia Kong Liang adalah saudara seayah berlainan ibu.

"Harap paman Cia Hui Song suka bersabar dan maafkan saya yang berani melerai dan menghentikan perkelahian ini,"

Katanya.

Hui Song sudah tahu bahwa pemuda perkasa ini adalah Cia Sun, keturunan Lembah Naga yang masih keluarga Cia juga.

Dan biarpun dia terhitung paman paman dari pemuda itu, karena mereka sebaya, diapun cepat membalas penghormatan itu.

"Engkau tentu Cia Sun, bukan? Sebetulnya senang sekali dapat berkenalan dengan anggota keluarga sendiri, dan aku sudah melihatmu di bekas benteng Jeng-hwa-pang. Akan tetapi Cia Sun, apakah engkau tidak tahu siapakah jahanam ini?"

Dia menuding ke arah Ci Kang.

"Kalau engkau sudah tahu dia siapa tentu engkau tidak akan melerai melainkan membantuku membunuhnya. Dan kau juga sumoi, apakah engkau sudah lupa siapa adanya penjahat ini?"

"Aku tidak lupa, suheng, dan tadipun aku sudah hendak membantumu. Akan tetapi Sun-toako mencegah."

"Paman Hui Song, akupun tahu siapa adanya Siangkoan Ci Kang. Aku tahu benar bahwa dia adalah putera mendiang Siangkoan Lojin..."

"Putera Si Iblis Buta, datuk sesat yang amat jahat itu!"

Hui Song menambahkan.

"Benar, akan tetapi dia tidak boleh disamakan dengan mendiang ayahnya. Saudara Ci Kang ini kukenal benar karena kami sudah sama-sama menentang Raja Iblis dan kami berdua bahkan hampir tewas oleh Raja Iblis dan muridnya yang jahat, Gui Siang Hwa. Saudara Ci Kang ini adalah murid locianpwe Ciu-sian Lokai dan dia selalu menentang kejahatan sampai dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan oleh para tokoh sesat. Dia adalah seorang gagah dan berjiwa pendekar..."

Baca Juga: Mutiara Hitam 2

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert