Ceritasilat Novel Online

Asmara Berdarah 10

Eps 10 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.

"Hemm, engkau kena ditipunya, Cia Sun! Engkau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Karena dia berkedok domba, engkau tidak tahu bahwa di balik kedok itu adalah seekor harimau yang liar dan buas! Aku dapat membuktikannya sendiri kejahatannya! Ketahullah bahwa kalau tidak ada aku yang mencegahnya, mungkin dia sudah... memperkosa Sui Cin!"

"Ahhh..."

Cia Sun terbelalak dan memandang wajah Ci Kang dengan penuh selidik.

Dia sudah tahu sendiri betapa pemuda itu tidak mau menyerah memilih mati ketika dirayu Siang Hwa.

Pemuda ini bukan orang yang lemah terhadap nafsu berahi dan agaknya tidak mungkin akan melakukan hal terkutuk itu terhadap Sui Cin!

"Ci Kang, benarkah itu...?"

Tanyanya, masih terkejut dan tidak percaya. Ci Kang menghela napas panjang.

"Pendekar Cia Hui Song terlalu membenciku, terlalu bernafsu memusuhiku sehingga tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri. Cia Sun, engkau telah mengenalku, kita sama-sama telah menghadapi ancaman-ancaman maut dan sudah saling mengenal watak masing-masing. Tidak kusangkal bahwa memang aku pernah bersikap kurang ajar terhadap nona Ceng Sui Cin, akan tetapi apa yang kulakukan itu terjadi di luar kehendakku, di luar kekuasaanku untuk menahan. Pada waktu itu aku dikuasai nafsu dan gairah yang tidak wajar, dan aku yakin bahwa aku telah keracunan sehingga melakukan Hal-hal di luar kesadaranku. Ketika itu aku terluka dan menerima obat dari nona Ceng Sui Cin. Aku diobati dan dirawat, mana mungkin aku melakukan hal keji? Akan tetapi hal itu terjadi dan aku yakin bahwa racun itu terdapat justeru dalam obat itu!"

"Alasan yang dicari-cari!"

Hui Song membentak marah.

"Terserah, akan tetapi kenyataannya demikianlah. Bukan aku mencari alasan untuk membela diri. Tidak, aku cukup tersiksa dan merasa menyesal dan kalau nona Ceng Sui Cin sendiri yang menghukumku, aku akan menyerahkan diri tanpa melawan. Akan tetapi, jangan orang lain yang hendak menghukumku!"

Kata Ci Kang dengan sikap dingin.

Mendengar ini, Hui Song merasa betapa mukanya panas kemerahan.

Dia seperti diingatkan bahwa dia tidak berhak marah-marah dan hendak membunuh Ci Kang.

Bagaimanapun juga, walau dia amat mencinta Sui Cin, akan tetapi secara resmi gadis itu bukan apa-apanya, bahkan kekasihnyapun bukan karena gadis itu belum pernah menyatakan membalas cintanya!

Kalau Sui Cin yang dihina itu tidak apa-apa, mengapa dia ribut-ribut?

"Hemm, sekarang memang tidak dapat kubuktikan bahwa nona Ceng marah dan mendendam, akan tetapi kalau kelak ia mencarimu untuk membuat perhitungan, aku akan membantunya dan kami akan membunuhmu!"

Katanya menahan kemarahan.

"Sudahlah, paman Hui Song. Kita semua sedang menghadapi keadaan yang amat gawat. Para pemberontak telah merebut Cengtek dan semakin merajalela saja. Kalau di antara kita ribut sendiri, bagaimana kita dapat menentang mereka? Seperti telah diputuskan di dalam pertemuan itu, kita harus bergerak sendiri-sendiri untuk membantu pasukan pemerintah yang tentu akan segera menyerbu mereka dari selatan. Kita harus bersiap-siap dan kalau mungkin, sebelumnya kita melakukan gangguan-gangguan untuk melemahkan mereka, atau setidaknya menyelidiki kekuatan mereka, memata-matai mereka agar kita dapat memberi pelaporan kepada pasukan pemerintah kelak."

"Benar, suheng,"

Siang Wi menyambung.

"Urusan pribadi lebih baik dikesampingkan saja dulu, lebih baik kita cepat-cepat pergi ke Cengtek."

"Ke Cengtek? Ada apa? Bukankah kota itu sudah diduduki musuh?"

Tanya Hui Song.

"Kita harus cepat pergi ke sana, suheng, karena..."

Tiba-tiba Siang Wi menghentikan kata-katanya dan melirik ke arah Ci Kang.

Melihat ini, Cia Sun menoleh kepada Ci Kang.

"Ci Kang, mari kita pergi."

Ci Kang mengangguk.

"Memang aku sedang mencari nona Hui Cu..."

"Hui Cu? Ada apa dengannya?"

"Ia telah tertawan oleh Raja Iblis..."

"Ahhh..."

Cia Sun merasa terkejut bukan main.

"Cia Sun, kita sudah berhutang budi kepadanya, mari kau bantu aku mencarinya dan menyelamatkannya."

Cia Sun mengangguk dan mereka lalu berpamit kepada Siang Wi dan Hui Song.

Setelah dua orang muda itu pergi, Siang Wi berkata.

"Suheng, apakah engkau tidak tahu? Suhu dan subo kini berada di Cengtek, juga semua saudara anggota Cin-Ling-Pai."

Sepasang mata Hui Song terbelalak. Dia teringat akan kata-kata Sim Thian Bu tentang orang tuanya.

"Ada... ada apakah mereka berada di Cengtek?"

Tanyanya gagap dan gelisah.

Siang Wi dapat menduga bahwa suhengnya belum mendengar tentang hal yang amat mengejutkan mengenai gurunya itu.

"Suheng, suhu, subo, dan sukong bersama para murid Cin-Ling-Pai telah berada di Cengtek karena mereka semua membantu pemberontak..."

"Tak mungkin!"

Hui Song berteriak.

"Sumoi, dari siapa engkau mendengar berita bohong itu?"

"Suheng, ketika pertama kali mendengarnya, akupun terkejut dan tidak percaya, bahkan ingin marah. Akan tetapi... yang memberi tahu kepadaku adalah toako Cia Sun sendiri."

"Ahh..."

Jantung Hui Song berdebar keras.

Jadi, benarkah apa yang didengarnya dari Sim Thian Bu?

"Bagaimana mungkin itu?

Tidak kelirukah Cia Sun ketika bercerita kepadamu?"

"Suheng, kalau saja yang bercerita itu orang lain, tentu sudah kuserang dia! Akan tetapi Cia-toako, kiranya tidak mungkin dia berbohong dan aku khawatir sekali suheng. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan subo dan untuk membuktikan kebenaran berita itu."

"Mari kita ke Cengtek. Berita itu harus kita selidiki dan kalau memang benar terjadi hal yang luar biasa itu, aku harus menegur dan mengingatkan ayah dan ibu!"

Dengan hati gundah dan gelisah Hui Song dan Siang Wi meninggalkan tempat itu menuju ke Cengtek.

Mereka berdua mengambil keputusan bahwa kalau memang benar ketua Cin-Ling-Pai dan para anggotanya membantu pemberontak, mereka akan menegur dan menyadarkan sedapat mungkin.

"Suhu, teecu merasa sangsi apakah tindakan kita membantu para pemberontak ini sudah tepat,"

Seorang di antara lima pria gagah itu berkata kepada Cia Kong Liang yang duduk bersanding dengan isterinya.

Semenjak pasukan pemberontak, dengan bantuan orang-orang Cin-Ling-Pai yang lebih dulu menyelundup ke dalam, berhasil menduduki Cengtek, ketua Cin-Ling-Pai itu diangkat oleh Panglima Ji Sun Ki menjadi komandan pasukan penjaga keamanan kota benteng itu.

Dia sekeluarga berikut puluhan orang murid Cin-Ling-Pai mendapat pelayanan yang mewah dan hormat oleh pasukan pemberontak dan dianggap berjasa besar.

Pagi hari itu, ketua Cin-Ling-Pai duduk dalam ruangan belakang bersama isterinya, di dalam gedungnya yang megah, menerima lima orang murid kepala Cin-Ling-Pai yang menghadap sebagai wakil semua murid.

Mendengar ucapan seorang di antara murid kepala itu, Cia Kong Liang memandang tajam.

Dia sendiri pada hari-hari terakhir ini merasa tidak tenang dalam keraguan karena dia melihat betapa pasukan Ji-ciangkun dibantu oleh serombongan orang-orang aneh yang dari sikap mereka menunjukkan kekerasan dan kekejaman golongan hitam.

Maka, mendengar ucapan muridnya yang biasanya tentu akan membuatnya marah itu, dia merasa tertarik sekali.

"Kenapa tidak tepat? Kita bukan sekedar memberontak memperebutkan kedudukan! Kita berjuang menentang pemerintah yang lalim. Ini tugas para pendekar dan patriot, menyelamatkan rakyat dari penindasan pemerintah lalim,"

Katanya memancing pendapat.

"Akan tetapi, suhu,"

Kata murid kedua.

"Pasukan pemberontak ini dibantu oleh kaum sesat! Teecu melihat sendiri betapa mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan kejam terhadap penduduk dusun yang diserbu, menculik dan memperkosa wanita-wanita, merampok harta benda bahkan hasil sawah ladang dan binatang ternak petani! Apakah benar kalau kita membantu orang-orang seperti itu, suhu?"

Cia Kong Liang meraba jenggotnya dan mengerutkan alisnya.

"Hemm, benarkah semua itu? Apalagi yang kalian dengar atau lihat?"

"Teecu tidak berbohong, suhu!"

Kata orang ketiga.

"Selama dalam perantauan teecu dalam dunia kang-ouw, teecu sudah beberapa kali bertemu dengan tokoh-tokoh sesat yang kini nampak berada dalam rombongan mereka yang membantu pasukan dan yang kini berdiam di Sanhaikoan. Akan tetapi Kadang-kadang ada utusan mereka datang ke Cengtek ini dan kalau bertemu dengan teecu, mereka pura-pura tidak mengenal teecu. Teecu yakin, mereka itu adalah dari golongan hitam, kaum penjahat yang kejam!"

"Bukan itu saja, suhu,"

Kata orang keempat.

"teecu dahulu pernah bertemu dengan Hwa Hwa Kuibo, nenek iblis yang menjadi seorang tokoh dari Cap-sha-kui, dan teecu melihat pula nenek iblis itu dalam rombongan mereka! Teecu dapat menduga bahwa rombongan itu tentu dipimpin oleh iblis-iblis dari Cap-sha-kui!"

Mendengar ini, Cia Kong Liang menjadi terkejut sekali.

"Cap-sha-kui...?"

Pernah dia mendengar nama Tiga Belas Iblis ini walaupun dia belum pernah bertemu dengan mereka.

Dia mendengar bahwa Cap-sha-kui pernah merajalela di dunia kang-ouw, dikepalai oleh Si Iblis Buta.

Dan kalau benar Cap-sha-kui sekarang membantu pasukan pemberontak, ini merupakan hal yang amat mencurigakan!

"Apalagi yang kalian ketahui?"

Tanyanya.

"Satu hal lagi yang amat mengejutkan, suhu,"

Kata seorang murid lain.

"Teecu... teceu takut mengatakan..."

Murid ini memandang ke kanan kiri dengan muka pucat dan mata membayangkan ketakutan.

"Takut apa? Tak usah takut, siapa yang akan mendengar keteranganmu kecuali kita sendiri, dan andaikata ada orang lain mendengar, takut apa? Aku berada di sini!"

Mendengar ucapan guru atau ketuanya itu, murid Cin-Ling-Pai ini menjadi besar hati dan biarpun demikian, suaranya masih lirih ketika dia melanjutkan keterangannya.

"Suhu, teecu mendengar bahwa Pangeran Toan itu, yang memimpin pemberontakan bersama Ji-ciangkun, adalah rajanya kaum sesat yang berjuluk Raja Iblis dan isterinya adalah Ratu Iblis..."

"Ahhh..."

Untuk kesekian kalinya Cia Kong Liang terkejut akan tetapi yang terakhir lebih hebat lagi sehingga matanya terbelalak dan mukanya pucat.

"Benarkah itu? Tidak kelirukah penyelidikanmu?"

"Hati-hatilah kau, jangan sembarangan karena keteranganmu itu kalau tidak benar, amat berbahaya dan engkau telah menjatuhkan fitnah!"

Kata Bin Biauw yang juga terkejut bukan main mendengar berita yang sama sekali tidak disangkanya ini.

Wanita ini maklum bahwa ayahnya membujuk suaminya membantu pemberontak agar suaminya kelak bisa memperoleh kedudukan tinggi, akan tetapi dasar pemberontakan itu adalah perjuangan menentang pemerintahan kaisar sekarang yang dianggap lalim.

Akan tetapi sedikitpun ia tidak pernah menduga bahwa pemberontakan itu dipimpin oleh raja kaum sesat!

Seperti juga suaminya, biarpun tidak jelas benar, pernah ia mendengar tentang Cap-sha-kui dan Raja Iblis.

Nyonya ketua Cin-Ling-Pai ini, biarpun puteri bekas datuk sesat, sejak muda tidak suka akan kejahatan dan apalagi setelah ia menjadi isteri ketua Cin-Ling-Pai, jiwa kependekarannya semakin menebal.

"Suhu dan subo, teecu mana berani menyampaikan berita ini kepada suhu berdua kalau teecu tidak lebih dahulu melakukan penyelidikan dengan seksama? Teecu telah bicara dengan beberapa orang anggauta pasukan pemberotak yang sedang mabok dan mereka itu agaknya tidak mampu menyimpan rahasia lagi. Hal itu mungkin karena mereka menganggap teecu sebagai teman atau rekan sepasukan. Bahkan menurut mereka, ada pasukan inti yang biasanya menyerbu ke dusun-dusun, dipimpin oleh seorang tokoh hitam bernama Sim Thian Bu, murid mendiang Iblis Buta. Juga Gui Siang Hwa, wanita cantik yang suka berkeliaran dan memimpin pasukan pengawal itu adalah murid Raja dan Ratu Iblis."

"Sssttt..."

Tiba-tiba Cia Kong Liang memberi isyarat kepada muridnya supaya jangan melanjutkan kata-katanya karena dia mendengar sesuatu di luar.

Cepat tubuhnya berkelebat dan ketua Cin-Ling-Pai ini sudah meloncat keluar, kemudian terus meloncat naik ke atas genteng.

Akan tetapi tidak terdapat seorangpun di situ.

Betapapun juga, dia yakin bahwa tadi ada seorang yang mengintai atau mendengarkan percakapan mereka.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang di situ, ketua Cin-Ling-Pai segera meloncat turun lagi dan memasuki ruangan, disambut oleh isterinya dan lima orang muridnya yang sudah berdiri dan memandang dengan wajah tegeng.

Cia Kong Liang menggeleng kepala sebagai jawaban pertanyaan yang terbayang dalam pandang mata mereka, lalu berkata lirih.

"Mulai sekarang, kalian harus berhati-hati dan melakukan penyelidikan lebih teliti lagi. Kawan-kawanmu semua agar dibisiki agar siap siaga dan menanti perintahku selanjutnya. Nah, masih ada lagi yang hendak kalian laporkan?"

"Ada satu lagi, suhu,"

Kata murid pembicara pertama.

"teecu mendengar bahwa serombongan pendekar yang sedang mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang, telah disergap oleh pasukan pemberontak dan banyak di antara mereka yang tewas."

Suami isteri itu saling pandang dengan muka pucat dan tahulah mereka bahwa pada saat itu keduanya mengkhawatirkan hal yang sama, yaitu bahwa mungkin sekali putera mereka berada di antara para pendekar yang disergap itu!

Cia Kong Liang mengangguk lalu memberi isyarat kepada lima orang murid itu agar mengundurkan diri.

Setelah lima orang murid itu meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu, Cia Kong Liang berkata kepada isterinya.

"Sungguh mengejutkan dan menggelisahkan apa yang kita dengar dari para murid tadi. Kalau benar demikian, mengapa gakhu (ayah mertua) diam saja dan tidak memberi tahu kepadaku? Apakah engkau tidak diberi tahu oleh ayahmu?"

Isterinya menggeleng.

"Aku juga hanya mengenal pangeran dan isterinya itu sebagai Pangeran Toan Jit Ong dan isterinya yang hendak menolong negaranya dengan menggulingkan kaisar yang sekarang dianggap lalim. Dan aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka sesudah kita bicara dengan Ji-ciangkun tempo hari. Mereka berada di Sanhaikoan dan kita berada di sini, mana aku tahu?"

"Sebaiknya ayahmu harus diberi tahu dan diajak bicara. Panggil dia ke sini, sebaiknya sekarang juga kita bicarakan hal yang amat penting ini. Hatiku merasa khawatir sekali kalau-kalau kita telah keliru membantu kaum sesat yang hendak memberontak bukan untuk mengenyahkan kaisar lalim, melainkan untuk merebut kedudukan."

"Baik, akan kucari dia dalam kamarnya,"

Kata isterinya.

Ketika tiba di luar kamar, Bin Biauw melihat berkelebatnya orang di atas genteng.

Sebagai seorang isteri ketua Cin-Ling-Pai yang juga memiliki ilmu silat tinggi, nyonya ini cepat melakukan pengejaran, meloncat ke atas genteng.

Akan tetapi setibanya di atas genteng, ia tidak melihat seorangpun dan ia terkejut.

Orang tadi benar-benar memiliki ginkang yang amat hebat, jauh lebih tinggi dari pada ginkangnya sendiri.

Maka setelah celingukan dan tidak melihat lagi bayangan itu, iapun turun kembali dan tak lama kemudian ia mengetuk daun pintu ayahnya.

Ayahnya belum tidur dan sedang membaca buku.

Ketika daun pintu dibuka, puterinya segera memberi tahu bahwa putera mantunya minta agar dia suka memasuki ruangan belakang untuk diajak merundingkan sesuatu yang amat penting.

Bin Mo To cepat berpakaian yang pantas dan bersama puterinya pergi ke dalam ruangan.

"Ada keperluan apa sih malam-malam begini suamimu memanggilku?"

Tanya ayah itu dengan sikap heran.

"Ada urusan penting sekali, ayah. Kita bicarakan saja di dalam nanti,"

Jawab puterinya dan melihat sikap puterinya yang serius itu kakek itupun tidak bertanya-tanya lagi.

Begitu berhadapan dan dipersilakan duduk, kakek itu lalu bertanya.

"Ada urusan penting apakah...?"

Akan tetapi kata-katanya terhenti karena Bin Biauw yang merasa tegang itu memotongnya dengan menceritakan kepada suaminya bahwa ketika keluar dari kamar tadi ia melihat bayangan orang.

"Tidak kau kejar?"

Tanya suaminya.

"Sudah, akan tetapi orang itu memiliki ginkang yang amat hebat. Begitu berkelebat ke atas genteng dan kukejar, dia lenyap dan tidak nampak lagi bayangannya."

"Hemm, makin mencurigakan lagi..."

Gumam Cia Kong Liang.

"Aih, apakah artinya semua ini? Apa yang telah terjadi?"

Kakek Bin Mo To bertanya.

Cia Kong Liang memandang wajah ayah mertuanya dengan tajam penuh selidik dan diapun berkata.

"Maafkan kami, ayah, kalau kami mengganggu dan mengejutkan ayah dari istirahat. Saya ingin bertanya, apakah ayah mengenal baik Pangeran Toan Jit Ong?"

Ditanya demikian dan dipandang dengan penuh selidik, kakek Bin Mo To maklum bahwa mantunya ini agaknya mulai tahu akan kenyataan sebenarnya, akan tetapi dia masih berpura-pura tidak mengerti.

"Tentu saja aku mengenal baik Pangeran Toan Jit Ong. Ada apakah?"

"Maksud saya, apakah sebelum kita datang ke sini ayah sudah mengenalnya?"

Terpaksa kakek itu membohong dan dia menggeleng kepala.

"Tidak, aku hanya tahu bahwa komandan pasukan yang memberontak terhadap kekuasaan kaisar lalim adalah Panglima Ji Sun Ki dan setelah tiba di sini kita mendengar bahwa pangeran itu adalah pemimpin kedua setelah dia atau sekutunya."

"Bukan itu, ayah. Akan tetapi pernahkah ayah mendengar bahwa Pangeran Toan itu adalah raja golongan hitam yang berjuluk Raja Iblis dan isterinya adalah Ratu Iblis?"

Kini yakinlah hati kakek itu bahwa mantunya sudah tahu akan rahasia itu.

Dengan wajah polos dia berkata.

"Benarkah itu? Aku tidak tahu..."

Bin Biauw yang sudah mengenal watak ayahnya itu, yang demikian pandai menguasai dirinya, sehingga apa yang berada dalam hatinya tidak pernah terbayang pada wajahnya, segera berkata.

"Harap ayah tidak berpura-pura lagi karena kita bicara antar keluarga. Ayah, aku tidak dapat percaya kalau ayah tidak mengetahui semua ini. Bagaimanapun juga, belasan tahun yang lalu ayah pernah menjadi seorang datuk di timur. Tentu ayah mengenal semua tokoh dalam dunia hitam. Kalau sekarang tokoh-tokoh besar seperti Cap-sha-kui membantu Raja dan Ratu Iblis memimpin pemberontakan ini, mustahil kalau ayah tidak tahu sama sekali!"

Kakek itu menarik napas panjang, merasa tiada gunanya lagi mengelak karena anak dan mantunya ini agaknya telah mengetahui segalanya.

"Baiklah, memang aku mengetahui bahwa mereka membantu pemberontak..."

"Kalau ayah tahu mengapa menyeret kami ke sini?"

Puterinya berseru kaget dan marah.

"Ayah, mengapa ayah mengajak kami membantu pemberontakan yang dipimpin oleh para datuk kaum sesat? Ini adalah penyelewengan besar sekali bagi seorang pendekar!"

Kata pula Cia Kong Liang, terkejut bahwa ayah mertuanya sejak belasan tahun telah mencuci tangan tidak lagi mau berkecimpung di dalam dunia kaum sesat, akan tetapi mengapa kini kakek itu malah menyeret keluarganya membantu pemberontakan yang dipimpin para datuk sesat?

Kembali kakek itu menghela napas, lalu memandang mantu dan anaknya dengan sinar mata tajam.

"Apakah artinya para datuk sesat itu tanpa adanya pasukan besar? Mereka itupun hanya menjadi pembantu-pembantu pasukan yang dipimpin Ji-ciangkun. Berarti kita membantu Ji-ciangkun dan bukan membantu mereka."

"Akan tetapi hal itu hanya sedikit bedanya. Bagaimanapun juga, berarti kita bekerja sama atau bersekutu dengan para datuk sesat,"

Bantah Cia Kong Liang.

"Apa salahnya?"

Mertuanya menjawab.

"Bekerja sama untuk menentang kaisar lalim. Kalau kelak perjuangan berhasil dan kita memperoleh kedudukan tinggi, apa sukarnya untuk berbalik menentang mereka kalau mereka itu melakukan kejahatan?"

"Tidak! Tidak mungkin!"

Cia Kong Liang bangkit berdiri.

"Aku telah melakukan penyelewengan, bersekutu dengan kaum sesat. Ah, perbuatanku ini menyeret nama baik keluargaku, menyeret nama Cin-Ling-Pai ke lembah kehinaan. Aku harus cepat bertindak!"

Berkata demikian, pendekar ini melangkah maju ke pintu.

"Apa yang akan kau lakukan? Ke mana engkau hendak pergi?"

Isterinya tiba-tiba memegang lengannya dan memandang dengan wajah khawatir.

Cia Kong Liang berhenti dan menepuk-nepuk pundak isterinya.

"Aku harus melakukan penyelidikan sendiri ke Sanhaikoan dan menemui Ji-ciangkun. Ini merupakan urusan besar yang menyangkut nama baik keluarga kita, lebih penting dari pada sekedar keselamatan nyawa."

"Aku ikut!"

Kata isterinya sambil memegang lengan suaminya kuat-kuat. Suaminya menggeleng kepala.

"Kita harus membagi tugas, isteriku. Semua anggota Cin-Ling-Pai berada di sini. Aku menyelidiki ke Sanhaikoan dan engkau mengumpulkan semua murid dan mengajak mereka diam-diam melarikan diri keluar dari Cengtek. Kita kembali ke Cin-ling-san! Akan tetapi aku harus yakin dulu dan aku akan menemui Ji-ciangkun!"

Isterinya mengenal kekerasan hati suaminya dan membantahpun tidak ada gunanya.

Apalagi karena memang apa yang dikatakan suaminya itu tepat.

Kalau mereka berdua pergi, lalu siapa yang akan memimpin para murid yang berkumpul di Cengtek.

Iapun mengangguk lemah menyembunyikan kekhawatirannya terhadap keselamatan suaminya.

Setelah sekali lagi menepuk pundak isterinya dengan perasaan kasih sayang besar, Cia Kong Liang lalu meloncat keluar dan sebentar saja sudah lenyap dalam kegelapan malam.

"Ayah, semua ini adalah kesalahan ayah!"

Bin Biauw kini menghadapi ayahnya dan menegur marah. Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Anakku, jangan kau marah-marah dulu. Semua ini kulakukan demi kebahagianmu!"

"Demi kebahagiaanku, ayah? Engkau menyeret aku dan suamiku ke dalam persekutuan kotor ini yang mengancam kebersihan nama baik suamiku dan keluarganya, dan kau mengatakan bahwa engkau melakukannya demi kebahagiaanku? Apa kau kira kebahagiaanku terletak dalam kehancuran nama dan kehormatan suamiku?"

"Tenanglah, dan dengarkan kata-kataku dengan baik. Aku melakukan ini bukan lain hanya dengan maksud untuk memberi kesempatan kepada suamimu agar suamimu mendapatkan sebuah kedudukan yang tinggi kelak. Kalau pemberontakan ini berhasil, tentu suamimu akan memperoleh kedudukan. Sekarangpun sudah nampak hasilnya. Suamimu diangkat menjadi komandan pasukan keamanan di Cengtek. Ini baru permulaan. Kelak, kalau gerakan ini berhasil, tentu sedikitnya suamimu akan menjadi seorang panglima besar, berkedudukan tinggi dan mulia, dihormati semua orang dan bukankah dengan demikian nama dan kehormatannya akan terangkat tinggi? Nah, siapa bilang aku hendak menghancurkan nama dan kehormatan mantuku sendiri?"

"Akan tetapi, ayah telah menggunakan cara yang amat kotor, bersekutu dengan orang-orang jahat dari dunia hitam!"

Bantah puterinya. Kakek itu tertawa.

"Apa artinya cara? Yang penting dan menentukan adalah tujuannya! Tujuanku baik, yaitu mengangkat derajat mantuku sendiri, dengan cara apapun asal untuk tujuan baik, apa salahnya?"

Mendengar bantahan ayahnya, Bin Biauw termenung dan bimbang.

Benarkah pendapat ayahnya itu?

Selama ini ayahnya sudah mencuci tangan, tidak pernah berkecimpung dalam dunia kejahatan, dan ayahnya selalu kelihatan bangga sekali terhadap mantunya, dan ia tahu bahwa ayahnya amat suka kepada suaminya.

Mungkinkah ayahnya mencelakakan keluarga mereka?

Agaknya tidak mungkin dan kalau yang dilakukan ayahnya itu demi kebahagiaan keluarganya, bukankah itu benar?

Wanita ini menjadi bimbang dan hanya duduk dengan alis berkerut, hatinya gelisah.

"Percayalah, anakku. Ayahmu ini sudah tua, tidak ingin apa-apa lagi. Segala yang ayah lakukan hanya demi kebahagiaanmu dan suamimu. Kalau suamimu kelak berkedudukan tinggi, bukankah kalian berdua menjadi bahagia? Menjadi orang-orang terhormat, mulia dan kaya raya?"

Bin Biauw semakin bingung.

Hampir semua orang tua, baik disadari maupun tidak, melakukan hal yang sama seperti dilakukan Bin Mo To itu.

Orang-orang tua selalu ingin mengatur anak-anaknya, mengambil keputusan mengenai anak-anaknya dalam hal apa saja, dari pendidikan sampai kepada perjodohan dan pekerjaan.

Mereka, orang-orang tua yang berbuat di luar kesadarannya ini, menganggap bahwa apa yang baik baginya tentulah baik bagi anaknya pula.

Apa yang dianggapnya menyenangkan baginya tentu menyenangkan anaknya pula.

Karena inilah banyak sekali terjadi orang tua memilihkan pendidikan sekolah, agama, bahkan calon jodoh untuk anaknya, bukan hanya memilihkan makanan dan pakaian, bahkan kalau perlu orang-orang tua ini mempergunakan kekuasaannya sebagai orang tua, dengan memaksa anak-anak mereka mentaati kehendak mereka.

Tentu saja dengan anggapan bahwa pemilihan mereka itu sudah baik dan benar!

Bin Mo To, mungkin tanpa disadarinya lagi sebetulnya mementingkan diri sendiri ketika dia menyeret anak dan mantunya untuk bersekutu dengan gerombolan Raja Iblis.

Dan hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa tujuannya adalah baik, yaitu mengangkat derajat mantunya sehingga kelak dia boleh membonceng kemuliaan dan kehormatan.

"Aku harus mengumpulkan para murid..."

"Nanti dulu!"

Ayahnya mencegah.

"hal itu belum perlu, pula kalau kita memanggil mereka semua ke sini, tentu akan menimbulkan kecurigaan saja. Sebaiknya kalau memanggil beberapa orang di antara mereka, sebaiknya para murid kepala..."

Tiba-tiba dua orang murid Cin-Ling-Pai masuk dengan tergesa-gesa, ke dalam ruangan itu.

Muka mereka pucat sekali sehingga Bin Biauw yang tadinya hendak marah melihat mereka berani masuk tanpa dipanggil, berbalik bertanya.

"Ada apakah? Mengapa kalian kelihatan begitu takut?"

"Subo... celaka, subo... celaka..."

Kata seorang di antara mereka dan agaknya lidahnya menjadi kaku sehingga sukar baginya untuk bicara.

"Tenanglah! Ada apa? Apa yang terjadi?"

Bin Mo To membentak tak sabar.

"Celaka... lima orang suheng... mereka... mereka telah tewas..."

"Apa?"

Bin Biauw dan ayahnya berteriak kaget sekali.

"Hayo ceritakan apa yang terjadi dengan mereka!"

Dengan suara patah-patah, dua orang murid itu menceritakan betapa lima orang murid kepala itu telah tewas semua, yang tiga orang tewas dalam kamar masing-masing dan dua orang lagi tewas di luar rumah jaga.

Tidak ada orang mendengar mereka itu berkelahi.

"Di mana mereka sekarang?"

"Jenazah mereka... kami kumpulkan di ruangan besar markas kami..."

Tanpa membuang waktu lagi, Bin Biauw dan Bin Mo To lari bersama dua orang murid itu menuju ke markas yang menjadi tempat tinggal para anggota Cin-Ling-Pai yang dianggap oleh pasukan pemberontak sebagai pasukan istimewa yang berjasa dan menjadi tamu terhormat.

Ketika memeriksa keadaan lima jenazah itu, hati Bin Biauw terharu, akan tetapi juga terkejut.

Lima orang murid itu adalah murid-murid kepala yang sore tadi masih bicara dengan ia dan suaminya.

Dan kini ia merasa yakin bahwa mereka itu dibunuh karena tadi telah melaporkan kepada guru mereka tentang Raja dan Ratu Iblis yang dibantu Cap-sha-kui.

Sudah pasti ini sebabnya, dan pembunuhnya tentulah bayangan yang telah dikejarnya dan lenyap tadi, juga yang menimbulkan suara sehingga suaminya mencoba pula untuk mengejar akan tetapi tidak melihat siapapun di atas genteng.

Bayangan itu lihai dan lima orang murid inipun tewas oleh orang yang lihai sekali.

Lima orang itu adalah murid-murid kepala, tentu saja tingkat kepandaiannya sudah lumayan tingginya.

Akan tetapi, mereka tewas tanpa mengeluarkan teriakan dan tubuh mereka tidak terluka parah, hanya di kepala mereka ada bekas telapak jari tangan menghitam!

Mereka itu terbunuh dengan tiba-tiba atau lebih dahulu dirobohkan dengan pukulan atau benda beracun.

Ini memperkuat dugaannya bahwa musuh yang membunuh lima orang murid ini tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan jelas merupakan seorang tokoh kaum sesat yang biasa mempergunakan racun.

Bin Mo To juga memeriksa dengan teliti dan kakek ini mengerutkan alisnya.

"Hemm, benarkah mereka akan melanggar janji?"

Gumamnya kepada diri sendiri.

"Benarkah mereka mengingkari janji kerja sama dan tidak akan mengganggu anak buah Cin-Ling-Pai? Kita sudah berjasa besar dan mereka masih tega membunuh lima orang murid kepala secara ini?"

Kakek itu menjadi marah, mengepal tinju dan mukanya berobah merah.

Melihat sikap ayahnya ini, Bin Biauw berbisik.

"Hemm, kiranya ayah memang sudah bersekutu dengan mereka?"

"Anakku, aku bukan ingin berbaik dengan mereka, hanya kulihat kesempatan baik untuk meraih kedudukan bagi suamimu, maka biarlah persekutuan ini dijadikan jembatan untuk mencari kedudukan. Tak kusangka mereka sekeji ini..."

Para anggota Cin-Ling-Pai sudah mendengar akan adanya kaum sesat yang membantu pemberontakan Ji-ciangkun dan mereka itu yang sejak dahulu digembleng dengan keras oleh Cia Kong Liang untuk menjadi pendekar-pendekar sejati, merasa penasaran sekali.

Apalagi melihat tewasnya lima orang saudara tua mereka ini, mereka merasa marah dan ingin mengamuk.

"Subo, apa yang harus kami lakukan?"

"Subo, di mana suhu?"

"Subo, haruskah kita berdiam diri saja?"

Lontaran-lontaran penasaran ini membuat Bin Biauw semakin bingung.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanyanya kepada ayahnya.

Kakek itupun merasa bingung dan gelisah.

Baru dia merasa menyesal sekarang telah bermain api, telah menyeret anak dan mantunya, bahkan sebagian besar anggauta Cin-Ling-Pai yang pada waktu itu dapat dihubungi, untuk bersekutu dengan orang-orang macam Cap-sha-kui dan para datuk yang membantu Raja dan Ratu Iblis.

Kesetiaan orang-orang seperti mereka itu memang sama sekali tidak boleh dipercaya.

Andaikata pemberontakan berhasil sekalipun, belum tentu mantunya akan bisa memperoleh kedudukan dan kemuliaan tanpa adanya pengkhianatan-pengkhianatan dari orang-orang golongan hitam itu.

"Tidak ada lain jalan kecuali menanti kembalinya suamimu."

Jawaban ini cocok dengan pendapat Bin Biauw, maka wanita ini lalu berkata kepada para murid Cin-Ling-Pai.

"Kuminta kalian jangan bertindak sendiri-sendiri dengan ceroboh. Kita harus menanti sampai suhu kalian pulang, baru kita akan berunding tindakan apa yang selanjutkan akan kita lakukan."

"Akan tetapi, subo. Kalau kita terlambat, mungkin kita semua akan mereka bunuh selagi kita berada di sini."

"Subo, ke manakah perginya suhu?"

Kembali suara-suara terdengar di antara para murid Cin-Ling-Pai yang marah itu.

"Suhu kalian sedang melakukan penyelidikan ke Sanhaikoan..."

".... dan menjadi tawanan di sana!"

Tiba-tiba terdengar suara wanita memotong.

"dan kalian orang-orang Cin-Ling-Pai yang hendak berkhianat, menyerahlah dari pada harus kubasmi semua!"

Bin Biauw dan Bin Mo To cepat membalikkan tubuh dan mereka melihat betapa yang bicara itu adalah Gui Siang Hwa dan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki tampan pesolek, yaitu Sim Thian Bu!

"Kalian sudah dikepung, melawanpun percuma!"

Kata Sim Thian Bu dengan suara mengejek. Wajah Bin Mo To menjadi merah sekali.

"Apa maksud kalian?"

Bentaknya dengan kedua tangan dikepal.

"Kami adalah orang-orang yang telah berjasa dalam menduduki Cengtek! Kami bukan pengkhianat melainkan pejuang-pejuang gagah berani!"

Sim Thian Bu tertawa.

"Ha ha ha, Tung-hai-sian, mungkin engkau adalah segolongan dengan kami, akan tetapi orang-orang Cin-Ling-Pai itu jelas bukan! Karena engkau bergabung dengan Cin-Ling-Pai, engkau pun harus menyerah!"

Tung-hai-sian yang sekarang bernama Bin Mo To dan sudah lama membuang nama julukan ketika dia masih menjadi datuk sesat itu menjadi marah sekali.

Dia mengerti bahwa tidak ada gunanya bicara dengan mereka.

Dia merasa menyesal sekali mengapa rencananya menjadi berantakan begini.

Dan semua ini adalah karena ulahnya.

Mantunya yang pergi menyelidiki ke Sanhaikoan sudah diketahui musuh dan tentu terjebak.

Cin-Ling-Pai juga sudah dikepung dan menghadapi bahaya besar.

Semua ini dia yang menjadi biang keladinya.

Oleh karena itu dia pula yang harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan orang-orang Cin-Ling-Pai.

"Serbu keluar! Berpencar dan mencari jalan keluar sendiri-sendiri! Kita kembali ke Cin-ling-san!"

Teriaknya dengan penuh geram.

Suaranya nyaring melengking dan para anggota Cin-Ling-Pai yang maklum pula akan adanya bahaya yang mengancam lalu tumbuh semangat dan merekapun bergerak mencabut senjata masing-masing dan menyerbu keluar!

Bin Mo To dan Bin Biauw sendiri sudah mencabut pedang mereka dan menerjang Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu.

Siang Hwa dan Thian Bu mengelak, dan wanita itu berteriak memberi komando kepada pasukan yang mengepung tempat itu untuk menyergap.

Ia sendiripun sudah mencabut pedangnya dan menangkis kuat-kuat ketika Bin Biauw kembali menyerang.

"Cringgg..."

Dan Bin Biauw terkejut bukan main karena merasa betapa lengannya yang memegang pedang tergetar dan pedangnya terpental.

Siang Hwa tertawa mengejek dan balas menyerang.

Bin Biauw memutar pedangnya melindungi diri dan sebentar saja ia sudah terdesak hebat.

Bagaimanapun juga, ia adalah isteri ketua Cin-Ling-Pai dan sedikit banyak sudah menerima banyak petunjuk suaminya dalam ilmu silat.

Maka biarpun tingkat ilmu pedangnya kalah tinggi dan tenaganya kalah kuat dibandingkan Siang Hwa, ia membela diri mati-matian dan terjadilah perkelahian yang amat seru.

Sementara itu, Bin Mo To yang sudah tua sekali itupun mengamuk, akan tetapi amukan pedangnya ditahan oleh pedang di tangan Sim Thian Bu.

Bin Mo To pernah menjadi datuk timur yang terkenal sekali dengan ilmu pedangnya dan ilmunya di dalam air.

Akan tetapi sudah dua puluh tahun lebih dia tidak pernah mencabut pedang, tidak pernah berkelahi dan ketika pasukan menyerbu Cengtek, diapun hanya memberi petunjuk saja dan tidak ikut terjun ke dalam pertempuran.

Akan tetapi sekali ini, dia terpaksa bertanding mati-matian dan lawannya adalah murid terkasih mendiang Iblis Buta, maka tentu saja dia merasa kewalahan dan repot sekali.

Bukan hanya gerakannya kurang tangkas lagi, juga napasnya pendek dan lewat tiga puluh jurus saja napasnya sudah terengah-engah.

Keadaannya tidak lebih baik dari pada puterinya yang juga sudah terkurung oleh gulungan sinar pedang di tangan Siang Hwa.

Maklum bahwa keadaannya terhimpit dan sukar untuk meloloskan diri, Bin Biauw berseru keras sekali.

"Anak-anak, pergilah kalian dan selamatkan diri! Cepat..."

Suaranya kandas dan tubuhnya terhuyung, pedangnya terlepas dan kedua tangannya mendekap dada di mana terdapat luka yang mencucurkan darah karena ketika ia berteriak tadi, pedang di tangan Siang Hwa telah menembus jantungnya.

"Ayah... lari..."

Bin Biauw masih sempat berteriak sebelum tubuhnya terguling dan tak bergerak lagi.

Bin Mo To terkejut bukan main dan hal ini melemahkan dan membuatnya lengah sehingga dengan mudah pedang di tangan Sim Thian Bu menyambar dan mengenai batang lehernya!

Tanpa dapat mengeluarkan suara lagi kakek itu terpelanting dan roboh dengan darah bercucuran dari lehernya.

Kakek itu tewas hanya beberapa detik saja sesudah puterinya tewas.

Sementara itu, para murid Cin-Ling-Pai sejak tadi sudah menerjang keluar dan terjadilah pertempuran yang seru yang berat sebelah, antara puluhan orang Cin-Ling-Pai melawan ratusan orang perajurit pemberontak, pasukan yang dipimpin oleh Gui Siang Hwa, pasukan istimewa yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan.

Biarpun para anak murid Cin-Ling-Pai melawan dengan gagah berani, namun jumlah lawan terlampau banyak.

Setiap orang Cin-Ling-Pai harus menghadapi pengeroyokan belasan orang lawan, maka tentu saja mereka terdesak hebat.

Ketika Bin Biauw berteriak menyuruh mereka lari, ada beberapa orang yang berhasil meloloskan diri dari kepungan dan melarikan diri, dikejarkejar para perajurit.

Keadaan yang kacau timbul dari kejarkejaran ini memberi kesempatan kepada para murid Cin-Ling-Pai untuk berusaha meloloskan diri.

Akan tetapi, banyak di antara mereka yang gagal dan roboh sebelum berhasil keluar dari kota.

Ada belasan orang saja yang akhirnya dapat lolos dari dalam kota, melarikan diri sambil membawa luka-luka di tubuh mereka, sedangkan puluhan orang lainnya tewas.

Hanya seperempat bagian saja orang-orang Cin-Ling-Pai itu selamat dari pembantaian yang terjadi di Cengtek!

Bagaimana dengan nasib Cia Kong Liang, ketua Cin-Ling-Pai itu?

Ejekan yang keluar dari mulut Siang Hwa bukan hanya kosong belaka.

Memang kedatangan ketua Cin-Ling-Pai itu ke Sanhaikoan sudah diketahui lebih dahulu oleh Raja Iblis!

Apa yang terjadi di Cengtek telah didengarkan oleh Siang Hwa dan Thian Bu, bayangan-bayangan yang terlihat oleh Bin Biauw dan terdengar oleh Cia Kong Liang.

Mendengar percakapan itu, Siang Hwa yang memang sedang memata-matai orang-orang Cin-Ling-Pai, cepat mengirim utusan ke Sanhaikoan memberi tahu kepada gurunya sehingga tentu saja kunjungan ketua Cin-Ling-Pai itu ke Sanhaikoan sudah diketahui lebih dahulu dan kedatangannya itu sudah ditunggu-tunggu!

Cia Kong Liang yang memiliki watak keras dan gagah perkasa itu memasuki Sanhaikoan pada keesokan harinya setelah melakukan perjalanan semalam suntuk tak pernah berhenti.

Dia langsung masuk saja dan karena dia sudah dikenal oleh para penjaga pintu gerbang, dia diperbolehkan masuk dengan sikap hormat.

Biarpun hari masih amat pagi dan belum pantas untuk sebuah kunjungan, Cia Kong Liang tidak perduli.

Kemarahan yang bergejolak di hatinya hampir tak dapat ditahannya lagi dan diapun langsung mengunjungi gedung Panglima Ji Sun Ki yang dijaga ketat oleh pasukan pengawal.

Merekapun mengenal Cia Kong Liang dan menyambutnya dengan hormat.

"Aku ingin bertemu dengan Ji-ciangkun,"

Katanya dengan tenang.

"Katakan ada urusan penting sekali dan kuharap dia akan suka menerimaku sekarang juga!"

Setelah dilaporkan ke dalam, ketua Cin-Ling-Pai itu segera dipersilakah masuk ke dalam ruangan tamu yang luas dan ketika dia masuk, di situ telah duduk Panglima Ji Sun Ki seorang diri.

Begitu melihat ketua Cin-Ling-Pai, panglima itu mengangkat tangan kanan sebagai salam dan mempersilakannya duduk.

"Silakan duduk, Cia-pangcu. Pagi sekali pangcu sudah mencariku, ada unusan penting apakah?"

Tanyanya ramah akan tetapi tegas.

Dengan tenang Cia Kong Liang mengambil tempat duduk berhadapan dengan panglima itu, terhalang sebuah meja besar.

Setelah duduk, dia memandang sejenak penuh selidik, baru dia berkata.

"Ji-ciangkun, maafkan kalau kedatanganku ini mengganggumu. Akan tetapi sebuah hal yang teramat penting memaksaku malam-malam meninggalkan Cengtek dan langsung mengunjungi ciangkun pada pagi hari ini."

Panglima itu tersenyum ramah.

"Ah, kalau begitu tentu penting sekali urusan itu. Katakanlah, pangcu, urusan apakah itu?"

Sambil memandang tajam Cia Kong Liang melontarkan pertanyaannya.

"Ciangkun, sebenarnya siapakah Pangeran Toan Jit Ong dan isterinya itu?"

Panglima itu mengerutkan alisnya dan memandang heran.

"Sungguh mengejutkan pertanyaan pangcu ini dan aku tidak mengerti apa yang pangcu maksudkan dengan pertanyaan aneh itu. Pangeran Toan Jit Ong adalah seorang pangeran keluarga keisar yang sudah puluhan tahun meninggalkan kota raja dan hidup bertapa. Sekarang melihat keadaan pemerintah demikian lalim, beliau turun gunung."

"Akan tetapi dia adalah datuk sesat yang berjuluk Raja Iblis dan isterinya adalah Ratu Iblis! Benarkah itu?"

Ji-ciangkun mengangkat kedua pundaknya.

"Aku tidak memperhatikan perkara itu, pangcu, dan andaikata benarpun, apa bedanya?"

"Apa bedanya?"

Cia Kong Liang berseru marah.

"dia adalah seorang raja datuk sesat dan dia dibantu oleh Cap-sha-kui dan para datuk sesat lain dari golongan hitam! Tak tahukah ciangkun akan hal ini?"

Ji-ciangkun mengerutkan alisnya.

"Aku tahu atau memang dapat menduga. Akan tetapi apa salahnya? Yang penting adalah menggulingkan pemerintah yang dipimpin oleh kaisar lemah dan pembesar-pembesar lalim, dan Pangeran Toan adalah seorang pangeran aseli..."

"Ji-ciangkun! Aku... kami dari Cin-Ling-Pai tidak sudi bekerja sama dengan golongan hitam! Para penjahat itu akan mengotori perjuangan kita. Ji-ciangkun, engkau tidak boleh bersekutu dengan orang-orang jahat dari kaum sesat itu!"

Panglima Ji memandang dengan alis berkerut dan sinar matanya dingin sekali.

"Cia-pangcu, sikap dan kata-katamu sungguh aneh. Lalu apa yang akan kau lakukan karena aku bersekutu dengan mereka?"

"Ji-ciangkun, engkau harus mengusir mereka semua dan tidak menggunakan tenaga mereka untuk perjuangan!"

Wajah panglima itu menjadi merah dan sinar matanya mengandung kemarahan.

"Cia-pangcu, bicaramu sungguh aneh dan lancang. Ada hak apakah engkau hendak melarang dan mengatur apa yang kulakukan? Kalau aku tetap bekerja sama dengan mereka, engkau mau apa?"

"Brakkk..."

Cia Kong Liang bangkit berdiri dan tangannya menampar meja di depannya sehingga empat kaki meja itu menancap dan masuk ke dalam lantai hampir sejengkal dalamnya!

"Ji-ciangkun, engkau tinggal memilih saja.

Mereka yang pergi atau kami yang pergi!"

Panglima itupun bangkit berdiri dan memandang marah.

"Orang she Cia, engkau orang yang sombong dun angkuh! Apa sih artinya puluhan orang Cin-Ling-Pai bagiku? Kalian datang tanpa kuundang dan kalau mau pergi, tidak semudah itu. Kami tidak mau kalian keluar membawa rahasiarahasia pertahanan kami!"

Tiba-tiba terdengar suara dengusan dan disusul suara wanita.

"Ketua Cin-Ling-Pai ini memang besar kepala dan patut menerima hukuman!"

Cia Kong Liang membalikkan tubuhnya dan dia melihat Raja Iblis dan Ratu Iblis sudah berdiri di ambang pintu ruangan itu dengan sikap menakutkan, seperti dua mayat hidup saja wajah mereka yang kehijauan.

Dan di belakang mereka nampak puluhan orang perajurit pengawal yang siap dengan tombak dan golok mereka.

Sekilas pandang saja tahulah ketua Cin-Ling-Pai itu bahwa dia telah terkepung dan tidak mungkin dapat meloloskan diri kecuali harus melawan mereka.

Diapun dapat menduga bahwa Raja dan Ratu Iblis ini tentu lihai sekali, apalagi ditambah puluhan orang pasukan pengawal.

Mana mungkin dia yang hanya seorang diri melawan musuh yang sekian banyaknya itu?

Pikirannya bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya membalik dan meloncat ke arah Ji-ciangkun!

Panglima ini terkejut bukan main, dapat menduga bahwa ketua Cin-Ling-Pai itu menyerangya, dia lalu menyambutnya dengan pukulan tangan kanan yang keras ke arah dada Cia Kong Liang!

Akan tetapi, dengan mudahnya ketua Cin-Ling-Pai itu menangkap pergelangan lengan kanan lawan dan sekali menggerakkan jari tangan kanan menotok, tubuh panglima itu menjadi lemas tak mampu melawan lagi!

Cia Kong Liang menelikung lengan itu ke belakang tubuh dan sambil mengancam dengan pedangnya.

Ketika dia mencabut Hongcukiam, nampak berkelebat sinar emas.

Itulah pedang pusaka Hongcu"kiam yang tipis dan dapat digulung menjadi ikat pinggang!

Sambil menempelkan pedangnya di batang leher Ji-ciangkun, dia menghardik ke depan.

"Kalau ada yang menyerangku, panglima ini akan kubunuh lebih dahulu!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Ratu Iblis mengejek.

"Heh heh , pangcu, kau boleh bunuh panglima tujuh kali dan kami masih mampu mengangkat yang lain delapan kali. Apa artinya seorang panglima bagi kami? Setiap waktu kami dapat mengangkat penggantinya. Bunuhlah kalau mau bunuh dia, akan tetapi tetap engkau tidak akan mampu lolos dari kami!"

Cia Kong Liang bukan orang bodoh dan dia tahu bahwa apa yang dikatakan Ratu Iblis itu memang benar.

Sekarang baru dia menyadari bahwa orang pertama dalam barisan pemberontak itu bukan Ji-ciangkun, melainkan Pangeran Toan Jit Ong atau Raja Iblis yang berdiri diam saja di samping isterinya yang menjadi juru bicara itu.

Menyandera Ji-ciangkun tidak ada artinya dan membunuhnyapun tidak ada artinya.

Bahkan kalau mungkin dia memanaskan hati Ji-ciangkun.

Maka diapun membebaskan totokannya dari tubuh panglima itu.

"Nah, ciangkun, harap jangan bodoh. Lihat sikap dan ucapan mereka! Apakah engkau masih sudi bersekutu dengan iblis-iblis jahat dan palsu macam mereka?"

Setelah terbebas dari totokan, Ji Sun Ki mundur-mundur dan wajahnya nampak merah sekali tanda kemarahan.

"Cia-pangcu, engkau sungguh bodoh! Tanpa bimbingan Toan Ongya, mana mungkin kita berhasil? Menyerahlah saja!"

Tentu saja Cia Kong Liang menjadi marah.

Tak disangkanya bahwa Raja Iblis sudah menguasai Ji-ciangkun seperti itu.

Tahulah dia bahwa harapan untuk lolos tidak ada lagi, dan dia menjadi nekat.

"Baiklah Raja Iblis, kalau begitu aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Cia Kong Liang meloncat dan pedangnya berkelebat menjadi sinar emas yang panjang dan cepat menyambar ke arah Raja Iblis.

Akan tetapi, tiba-tiba Ratu Iblis mengeluarkan lengkingan panjang dan pedangnya sudah berada di tangan, bergerak menangkis serangan ketua Cin-Ling-Pai itu.

"Tranggg..."

Keduanya meloncat ke belakang dan memeriksa pedang masing-masing karena pertemuan kedua batang pedang itu tadi membuat tangan mereka tergetar.

Setelah melihat bahwa pedang mereka tidak rusak, Cia Kong Liang menyerang lagi dengan dahsyatnya, disambut oleh Ratu Iblis yang memutar pedangnya dengan cepat.

Serang menyerang terjadi akan tetapi semua serangan dapat dialakkan atau ditangkis.

Lewat belasan jurus, tiba-tiba Ratu Iblis membentak nyaring dan kini bukan hanya pedangnya yang menusuk ke arah lambung lawan, Akan tetapi rambutnyapun sudah berobah menjadi senjata ampuh menyambar ke arah tenggorokan Cia Kong Liang.

Pendekar ini terkejut sekali dan maklum bahwa serangan rambut itu tidak kalah ampuhnya dari serangan-serangan pedang, maka sambil menangkis pedang yang menusuk lambung, diapun mengerahkan tenaga pada telapak tangan kirinya dan kini tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat kuatnya menyambar ke arah gumpalan rambut itu.

Rambut itu membuyar dan hilang tenaganya ketika bertemu dengan tenaga Thian-te Sin-ciang, membuat nenek itu terkejut bukan main.

Dengan sendirinya ia tidak memandang rendah lawan dan dapat menduga bahwa orang yang telah menjadi ketua Cin-Ling-Pai tentu lihai sekali, akan tetapi tidak disangkanya selihai itu!

Maka iapun mengeluarkan suara memekik nyaring dan kini pedangnya bergerak-gerak aneh dan liar, Sedangkan tangan kirinya diputar-putar lalu menyambar-nyambar ke depan dengan telapak tangan terbuka.

Terdengar desir angin ketika tangan kiri itu didorongkan ke depan dan Cia Kong Liang merasa betapa angin pukulan yang panas dan kuat menyambar ke arah tubuhnya.

Cepat diapun mengerahkan Thian-te Sin-ciang dan melawan pukulan-pukulan itu dengan dorongan telapak tangan kirinya, sedangkan pedangnya masih terus merupakan gulungan sinar emas yang kuat.

Pertandingan itu berlangsung semakin seru dan ternyata kedua pihak memiliki tingkat kepandaian dan kekuatan yang seimbang.

Cia Kong Liang merasa penasaran bukan main melihat kenyataan bahwa sampai puluhan jurus dia belum mampu mengalahkan nenek itu.

Baru melawan nenek itu saja dia tidak mampu mengalahkan, apalagi kalau Raja Iblis sendiri yang maju!

Dia membentak dan kini gerakan pedangnya berobah sama sekali karena dia mainkan Ilmu Pedang Siangbhok Kiamsut (Ilmu Pedang Kayu Harum) yang amat aneh dan hebat.

Pedangnya bergerak tanpa mengeluarkan suara dan tahu-tahu pedang itu menghunjam ke arah dada lawan.

Nenek itu cepat menangkis, akan tetapi ketika kedua pedang bertemu, pedang Hongcukiam itu membuat gerakan memutar dan tiba-tiba terdengar suara keras ketika pedang di tangan nenek itu patah menjadi dua potong!

Jurus Ilmu Pedang Siangbhok Kiamsut tadi memang hebat dan pedang di tangan ketua Cin-Ling-Pai itu adalah sebatang pedang pusaka yang lebih ampuh dari pada pedang si nenek.

Akan tetapi pada saat itu, rambut itu menyambar dan menotok ke arah pergelangan tangan kanan lawan, sedangkan kedua tangan nenek itu sudah menubruk dan mencengkeram.

Gerakan ini dilakukan dengan lengking nyaring mengejutkan.

Biarpun Cia Kong Liang sudah mengerahkan Tiat-po-san, semacam ilmu kekebalan, tetap saja lengannya kesemutan ketika terkena totokan rambut dan pada saat pedangnya hampir terampas itu, tiba-tiba menyambar angin pukulan yang amat hebat dari samping dan tahu-tahu pedangnya telah terbang meninggalkan tangannya.

Dia cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari tubrukan Ratu Iblis dan ketika dia mengangkat muka, ternyata pedangnya telah berada di tangan Raja Iblis yang menimangnimangnya dan memeriksanya tanpa memperdulikan dirinya.

Cara Raja Iblis tadi merampas pedang saja sudah membuktikan betapa saktinya iblis itu.

Akan tetapi Cia Kong Liang tidak menjadi gentar, malah merasa penasaran dan marah sekali.

Sambil mengerahkan tenaga, diapun meloncat ke depan, menyerang Raja Iblis sambil membentak.

"Kembalikan pedangku!"

Akan tetapi, Ratu Iblis yang sudah kehilangan pedang pula, meloncat dan menyambut serangan ketua Cin-Ling-Pai yang ditujukan kepada suaminya.

Dua tubuh itu bertemu di udara dan dua pasang tangan saling bersilang dan berbenturan.

"Desss..."

Tubuh keduanya terlempar ke belakang, akan tetapi tubuh Ratu Iblis terlempar lebih jauh dan ia agak terhuyung ketika kedua kakinya menyentuh tanah, sedangkan tubuh pendekar itu tetap tegak.

"Ji-ciangkun, tangkap dia!"

Tiba-tiba terdengar suara Raja Iblis memerintah dan terdengar Ji Sun Ki memberi aba-aba kepada anak buahnya.

"Kepung dan tangkap pengkhianat ini!"

Bentaknya.

Mendengar bentaken Ji-ciangkun ini, Cia Kong Liang menjadi marah sekali dan tahulah dia bahwa panglima itu sudah menjadi antek Raja Iblis.

Bukan Panglima Ji yang memimpin pemberontakan itu, melainkan Raja Iblis!

Betapa bodohnya!

Dia telah membawa nama Cin-Ling-Pai ke dalam lumpur, menyeret Cin-Ling-Pai menjadi antek-antek Raja Iblis!

"Majulah jangan dikira aku takut!"

Bentaknya dan diapun mengamuk ketika dikepung oleh banyak sekali perajurit pengawal.

Akan tetapi, jumlah mereka banyak sekali dan tiba-tiba lengannya dapat tertangkap oleh seorang perajurit.

Dia hendak meronta, akan tetapi tiba-tiba perajurit itu berbisik, suaranya terdengar dekat sekali di telinganya, tanda bahwa perajurit itu menggunakan ilmu mengirim suara yang amat kuat.

"Percuma melawan, menyerah saja untuk saat ini!"

Di dalam suara itu terkandung nasihat dan juga bujukan dan Cia Kong Liang dapat menduga bahwa perajurit ini tentu bermaksud baik, maka diapun (Lanjut ke

Jilid 34) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 34 berhenti meronta dan membiarkan dirinya ditelikung dan dibelenggu.

"Bunuh saja dia!"

Terdengar Ji-ciangkun berkata.

"Kalau tidak tentu mereka akan menyusahkan saja di kemudian hari."

"Tidak, masukkan saja dalam tahanan dan jaga keras jangan sampai lolos. Lain waktu kita bisa membutuhkan dia,"

Terdengar Raja Iblis berkata dan tubuh ketua Cin-Ling-Pai lalu diseret oleh beberapa orang perajurit pengawal, dibawa ke dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat dan dijaga oleh selosin orang perajurit pengawal.

Cia Kong Liang mencari-cari dengan pandang matanya akan tetapi perajurit yang tadi berbisik kepadanya sudah lenyap menyelinap di antara banyak perajurit di situ.

Gerakan para pemberontak yang telah menduduki Sanhaikoan dan Cengtek, tentu saja amat mengejutkan pemerintah di kota raja.

Panglima Ji dikenal sebagai seorang Panglima golongan tua yang sejak dahulu setia terhadap pemerintah, oleh karena itu, ketika mula-mula terdengar berita bahwa Sanhaikoan diduduki oleh panglima yang memberontak ini, Pemerintah di kota raja masih merasa ragu-ragu untuk dapat percaya.

Mungkin ada pertikaian pendapat antara pimpinan pasukan Cengtek dengan pimpinan pasukan Sanhaikoan yang dipimpin Ji-ciangkun, demikian para menteri di istana kaisar berpendapat.

Oleh karena itu, sebelum dilakukan penyelidikan lebih dahulu, tidak perlu dikirim pasukan besar dari kota raja, karena jaraknya cukup jauh.

Penyelidikan dilakukan dan terkejutlah kaisar dan para pembantunya ketika mendengar bahwa bukan hanya Sanhaikoan diduduki, bahkan Cengtek juga sudah diduduki oleh pasukan pemberontak yang kini memperluas kekuasaan mereka dengan penyerbuan ke dusun-dusun.

Setelah mengadakan perundingan dengan para menteri, Panglima Yang Ting Houw, seorang panglima muda yang cerdik berkata.

"Menurut penyelidikan dan laporan beberapa orang pendekar yang baru kembali dari utara, pergerakan kaum pemberontak yang dipimpin Ji Sun Ki itu dibantu oleh golongan hitam di dunia kang-ouw. Dan pergerakan itu diikuti pula oleh para suku bangsa liar di utara yang agaknya hendak menegakkan kembali kekuasaan mereka di selatan. Oleh karena itu, menurut pendapat hamba, lebih baik kalau membiarkan dua pihak itu, pasukan pemberontak dan pasukan suku liar, saling hantam sendiri. Setelah mereka saling hantam dan menderita sehingga menjadi lemah, barulah kita turun tangan membasmi keduanya dan mengerahkan pasukan besar yang sudah kita persiapkan secara rahasia."

Kaisar dan para pembesar menyatakan setuju, maka diaturlah pasukan yang berjumlah dua puluh lima ribu orang, dipimpin oleh panglima-panglima yang berpengalaman, untuk menuju ke utara secara diam-diam dan dengan cara berpencar.

Sementara itu, Yelu Kim yang kini sudah menjadi pimpinan para kepala suku bangsa di utara, sudah mempersiapkan diri pula.

Dibentuknya pasukan amat kuat yang terdiri dari berbagai suku bangsa utara itu dan dilatihnya mereka agar mengenal tanda-tanda dan isyarat-isyarat barisan.

Untuk bertempur, mereka itu tidak perlu dilatih lagi karena setiap anggota pasukan dari suku bangsa di utara itu merupakan orang yang sudah biasa bertempur, biasa menghadapi kesukaran, pendeknya orang yang sudah digembleng oleh keadaan hidup yang sukar dan keras.

Mereka adalah penunggangpenunggang kuda yang mahir, pemanah-pemanah yang terlatih dan orang-orang yang berani mati.

Karena nampaknya pihak pemerintah selatan belum juga mengirim pasukan besar dan yang menentang gerakan para pemberontak itu hanyalah pasukan-pasukan pemerintah di perbatasan yang tidak berapa kuat, Yelu Kim lalu merencanakan penyerbuan ke Cengtek.

Apalagi setelah ia mendengar akan pemberontakan di dalam benteng itu oleh orang-orang Cin-Ling-Pai yang tadinya membantu pemberontak.

Dianggapnya telah tiba saatnya yang baik untuk bergerak karena benteng Cengtek itu tidak sekuat Sanhaikoan yang menjadi pusat pemberontak di mana tinggal para pimpinan pemberontak dengan pasukannya yang besar dan kuat.

Kekuatan Cengtek hanya beberapa ribu orang pasukan dan setelah mengumpulkan kurang lebih tujuh ribu orang, Yelu Kim lalu mengatur siasat untuk melakukan penyerbuan kepada para pemberontak yang menduduki Cengtek.

Kota itu akan diserbu dari delapan jurusan penjuru angin!

Dan para pembantunya yang pandai akan menimbulkan kekacauan di empat pintu gerbang, kemudian jauh hari sebelum penyerbuan dilakukan, sebanyak mungkin pembantu yang pandai akan diselundupkan memasuki kota benteng itu dan pada saat para pembantu menimbulkan kekacauan di empat pintu gerbang, maka mereka yang menyelundup ini serentak melakukan pengrusakan dengan cara membakar tempat-tempat penting.

Kebakaran ini yang akan menjadi tanda bagi pasukan Yelu Kim untuk menyerbu dari delapan penjuru, yang empat bagian menyerbu langsung ke pintu gerbang yang sedang kacau, dan yang empat bagian lain menyerbu dengan menghujankan anak panah melalui tembok benteng dan menyerbu dengan menggunakan tangga dan tali.

Demikian rapinya Yelu Kim mengatur siasatnya sehingga sudah puluhan orang mata-mata diselundupkannya ke Cengtek tanpa ada yang mengetahuinya.

Para komandan di Cengtek masih tenang saja, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kota mereka diam-diam telah terkepung oleh banyak perajurit pasukan suku bangsa utara!

Setelah Cin-Ling-Pai dihancurkan, kota Cengtek ini dipimpin oleh Sim Thian Bu dan Gui Siang Hwa, dibantu oleh para perwira pasukan pemberontak.

Di antara beberapa orang datuk sesat yang membantu dua orang ini melakukan penjagaan di Cengtek terdapat Koai-pian Hek-mo, Hwa Hwa Kuibo, dan Tho-tee-kwi, tiga di antara Cap-sha-kui yang tinggal tujuh orang itu.

Empat orang tokoh lain tak pernah berpisah dari Raja dan Ratu Iblis karena mereka yang berjuluk Huithian Sukwi (Empat Setan Terbang ke Langit) ini dipercaya untuk menjadi pengawal pribadi Raja dan Ratu Iblis!

Kaum pemberontak itu bukanlah pejuang-pejuang sejati, melainkan segerombolan orang-orang yang selalu mengejar kesenangan.

Bahkan pemberontakan itu mereka lakukan demi mengejar kesenangan.

Oleh karena itu, setelah Cin-Ling-Pai dibasmi, penjagaan di kota benteng itu tidaklah seketat semula.

Para pimpinan itu kerjanya hanya bersenang-senang saja, makan minum, pesta pora dan melampiaskan nafsu-nafsu mereka sepuasnya karena di kota benteng itu merekalah yang berkuasa.

Memang mereka tidak merasa khawatir.

Benteng mereka itu amat kuat, terjaga oleh ribuan orang, ada lima ribu lebih orang tentara.

Dan tidak nampak tanda-tanda datangnya pasukan pemerintah dari selatan.

Apa yang perlu ditakutkan?

Pada senja hari itu, seperti biasa, para penjaga pintu gerbang menjaga sambil bersenang-senang.

Ada yang bermain kartu, ada yang minum-minum dan setiap ada wanita muda lewat di pintu gerbang, tentu mereka akan mengganggu, baik dengan ucapan-ucapan ataupun dengan sentuhan-sentuhan.

Karena kebiasaan yang amat buruk ini, jarang ada wanita muda berani melewati pintu gerbang.

Akan tetapi pada senja hari itu, di pintu gerbang sebelah timur, nampak seorang wanita muda mendorong sebuah gerobak, datang dari luar pintu gerbang.

Wanita ini masih muda, pakaiannya seperti wanita petani biasa, akan tetapi wajahnya amat cantik, berkulit halus dan matanya indah bersinar-sinar.

Senja itu jarang ada orang lewat di pintu gerbang dan keadaannya sudah sunyi, membuat para penjaga menjadi semakin jemu dan membutuhkan hiburan.

Sebentar lagi, kalau sudah ada tanda genta dibunyikan, pintu gerbang akan ditutup dan mereka dapat berjaga sambil tidur.

Ketika melihat wanita yang mendorong gerobak itu datang dari jauh, segera penjaga yang melihatnya mengeluarkan seruan girang.

"Si cantik datang mengunjungi kita!"

Serunya dan para penjaga yang jumlahnya selosin orang itupun keluar semua.

Yang sedang berjudi menghentikan permainan mereka, yang sedang minum-minumpun keluar dan semua kini berdiri menghadang di pintu gerbang, memandang wanita muda yang mendorong gerobak itu dengan mulut menyeringai.

Wanita muda itu agaknya tidak perduli dan terus saja datang menghampiri pintu gerbang.

Gerobak dorong itu tidak besar, muatannya penuh dengan jerami.

Agaknya ia baru pulang mengumpulkan jerami untuk makanan ternaknya.

Tentu perempuan ini keluar melalui pintu gerbang lain, pikir para penjaga itu karena mereka tidak melihat wanita itu keluar tadi.

"Aih, manis, perlahan dulu..."

Kata kepala jaga sambil melintangkan tombak panjangnya ketika wanita itu hendak lewat.

Wanita muda itu terpaksa menghentikan gerobaknya dan memandang tajam kepada dua belas orang penjaga itu.

Alisnya berkerut dan matanya bersinar-sinar, akan tetapi bibirnya tersenyum.

Memang cantik jelita sekali gadis ini, maka biarpun ia berpakaian wanita dusun, kecantikannya menonjol dan membuat dua belas orang penjaga itu mengilar.

Tak mereka sangka bahwa hari itu, sebelum tutup pintu gerbang, mereka memiliki nasib begini baik bertemu dengan seorang wanita secantik ini.

"Kalian mau apa? Biarkan aku lewat!"

Kata gadis itu sambil mencibirkan bibirnya yang merah basah.

"Aih, kenapa terburu-buru amat?"

"Berhenti dulu, kita bicara-bicara nona manis. Masih banyak waktu untuk pulang."

"Siapa sih namamu, manis?"

"Berapa usiamu?"

"Di mana rumahmu? Aku belum pernah melihat seorang gadis secantikmu!"

Dengan sikap ceriwis para penjaga itu mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda dan merayu, akan tetapi gadis itu hanya tersenyum saja.

"Harap jangan menahanku, aku tergesa-gesa, sapiku sudah lapar,"

Katanya membujuk.

"Ha ha ha, perlahan dulu, nona. Engkau tidak boleh lewat sebelum membayar pajak!"

Kata kepala jaga sambil tertawa-tawa dan mengamang-amangkan tombaknya seperti orang mengancam dan menakut-nakuti.

"Pajak? Pajak apa?"

Tanya gadis itu.

"Orang lain harus membayar uang, akan tetapi tetapi engkau cukup membayar... ehm, engkau tahu sendiri, nona."

"Hemm, membayar apakah? Harap dijelaskan,"

Gadis itu mendesak. Kepala jaga itu menyeringai lebar.

"Bukan sapimu saja yang lapar, akan tetapi kami juga lapar, bukan lapar makanan, melainkan lapar wanita cantik. Engkau harus menemani kami tidur, baru boleh lewat."

"Ihhh!"

Wajah yang cantik itu menjadi merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi.

"Sudah kusangka! Kalian hanyalah babi-babi yang kurang ajar dan suka mengganggu wanita! Mau makan? Nih, makanlah ini..."

Dan tiba-tiba saja gadis itu mendorong gerobaknya menabrak si kepala jaga.

"Bresss..."

Kepala jaga itu terjengkang dan menimpa seorang kawannya di belakangnya.

Dia mengaduh-aduh dan menyumpah-nyumpah karena tulang betisnya yang tertabrak muka gerobak itu terasa nyeri bukan main, kiut-miut rasanya dan dia takut kalau-kalau tulang itu patah.

"Perempuan keparat! Tangkap dia..."

Akan tetapi gadis itu sudah mendorong kembali gerobaknya dengan kuat menabrak seorang penjaga lain yang sudah mencabut golok.

Penjaga itu terpelanting, goloknya terlepas dan diapun mengaduh-aduh kesakitan.

Kini semua penjaga menjadi sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak memusuhi mereka.

Mereka lalu mencabut senjata masing-masing dan mengepung.

Akan tetapi si kepala jaga berteriak.

"Simpan senjata kalian, tolol! Tangkap ia hidup-hidup, kita permainkan ia sepuasnya sebelum membunuhnya. Jahanam betina ini harus dihajar sampai kita puas!"

Kepala jaga dan kawan-kawannya itu tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan.

Gadis itu adalah Ceng Sui Cin!

Seperti kita ketahui, gadis ini menjadi pembantu Yelu Kim, karena ia melihat bahwa dengan membantu para suku bangsa di utara, ia dapat pula ikut menentang para pemberontak yang dipimpin oleh Raja Iblis.

Maka, ketika Yelu Kim mengatur siasat dan merencanakan penyerbuan Cengtek, ia mengajukan diri untuk bertugas mengacau satu di antara empat pintu gerbang pada saat penyerbuan hendak dilakukan.

Dan gurunya, Yelu Kim, yang percaya akan kelihaian Sui Cin, menyetujui dan menugaskan muridnya itu untuk mengacau di pintu gerbang bagian timur itu.

Andaikata para penjaga itu mengenal Sui Cin, tentu dia akan mengerahkan semua kekuatan kawan-kawannya, menggunakan senjata untuk menyerang dan mengeroyok gadis pendekar itu.

Bahkan, andaikata mereka mempergunakan senjata tajam sekalipun, mereka bukanlah lawan pendekar wanita perkasa ini.

Maka kini, karena mereka maju dengan tangan kosong, enak dan mudah saja bagi Sui Cin untuk mengamuk dan merobohkan mereka semua hanya dengan gerobaknya yang didorong ke sana-sini!

Mereka yang roboh tidak mampu bangkit kembali karena tulang mereka patah atau retak-retak dihantam kayu melintang di depan gerobak.

Setelah mereka semua roboh dan mereka berteriak-teriak minta tolong, Sui Cin cepat menyalakan api membakar jerami di dalam gerobaknya, kemudian mendorong gerobak yang berkobar-kobar itu sampai masuk ke dalam pondok penjagaan sampai pondok itu terbakar pula.

Ia melihat datangnya puluhan orang perajurit dari dalam.

Cepat Sui Cin menyambar dua batang golok dari atas tanah dan berlari menghampiri alat pemutar pintu gerbang.

Pintu gerbang yang berat itu dibuka atau ditutup dengan menggunakan alat putaran yang kuat, kini Sui Cin menghajar rantai besar itu dengan sepasang goloknya, membacoki rantai itu sehingga sepasang goloknya rompal akan tetapi rantai itupun putus!

Kini daun pintu gerbang tidak dapat ditutup kembali setelah rantai itu putus.

Ketika puluhan orang perajurit menyerbu dan mengeroyoknya, Sui Cin mengamuk, menggunakan sepasang goloknya yang sudah rompal.

Ia sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada teman temannya bergerak.

Memang pada saat yang sama, di tiga pintu gerbang lainnya terjadi pula kekacauan yang ditimbulkan oleh pembantu-pembantu Yelu Kim, yang memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi, mereka itu datang sedikitnya berlima, tidak seperti Sui Cin yang bekerja seorang diri saja.

Tiba-tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh Sui Cin sambil mengamuk itupun tiba.

Terdengar suara teriakan-teriakan riuh rendah di sebelah dalam kota dan nampaklah api berkobar tinggi.

Ternyata teman-teman yang menyelundup ke dalam itu kini sudah mulai dengan aksi mereka membakari tempat-tempat penting.

Tentu saja ada di antara mereka yang kepergok dan dikeroyok sehingga mulailah terjadi pertempuran-pertempuran antara para mata-mata dengan para petugas keamanan.

Melihat ini Sui Cin tidak mau melayani para pengeroyoknya.

Cuaca mulai menjadi gelap dan iapun mempergunakan ilmu ginkangnya untuk melompat dan melarikan diri memasuki kota Cengtek, meloncat ke atas wuwungan rumah rumah orang dan lenyap dari kejaran para penjaga.

Keadaan menjadi kacau ketika para penjaga melihat bahwa pintu gerbang tidak dapat ditutup dan betapa di dalam kota sudah terjadi pembakaran-pembakaran dan pertempuran-pertempuran.

Dan pada saat itulah terdengar ledakan-ledakan disusul bunyi terompet dan tambur, dan dari delapan penjuru pasukan-pasukan Yelu Kim menyerbu.

Kacau balaulah pertahanan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Sim Thian Bu dan Siang Hwa.

Begitu mereka mencurahkan perhatian untuk menahan serbuan musuh ke empat pintu gerbang, datang serbuan melalui tembok-tembok benteng dan datang hujan panah dari luar tembok.

Penyerbuan di waktu malam gelap ini sungguh telah diperhitungkan dengan masak-masak oleh Yelu Kim.

Pasukannya mempunyai sasaran yang jelas, yaitu benteng itu.

Dan di dalam kota benteng itu terdapat penerangan yang cukup sehingga mereka mampu melihat keadaan musuh.

Sebaliknya, pasukan pemberontak yang berada di dalam benteng menjadi bingung karena pihak musuh datang dari tempat gelap, tidak tahu dari arah mana yang tepat, dan pihak musuh sama sekali tidak membawa obor.

Mereka bahkan tidak tahu siapakah musuh mereka dan berapa jumlahnya.

Maka tanpa banyak susah payah, menjelang tengah malam pasukan-pasukan Yelu Kim mulai dapat mendesak masuk melalui pintu gerbang dan melalui tembok-tembok benteng!

Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu tak dapat disangkal adalah dua orang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Akan tetapi dalam hal ilmu perang, mereka bukan ahli dan tidak berpengalaman, maka menghadapi penyerbuan yang dilakukan dengan taktik yang matang dari Yelu Kim ini, mereka menjadi bingung.

Dan seperti ahli-ahli silat, mereka hanya mengandalkan kepandaian silat untuk bertahan, lupa bahwa perang antara pasukan tidak dapat disamakan dengan perkelahian antar perorangan di mana ilmu silat memegang peran yang menentukan kalah menang.

Karena pasukan mereka kalah banyak, juga karena mereka diserbu secara tiba-tiba dan tidak terduga-duga, pertahanan mereka akhirnya bobol dan terjadilah pertempuran di dalam kota benteng itu antara pasukan pemberontak dan suku bangsa utara yang berani mati.

Sebelum melakukan penyerbuan, Sui Cin sudah mendengar dari para mata-mata Mancu bahwa perkumpulan Cin-Ling-Pai yang dipimpin oleh ketuanya sendiri membantu pemberontakan Raja Iblis, bahkan ketika pasukan pemberontak menyerbu Cengtek dan akhirnya menguasainya, orang-orang Cin-Ling-Pai berjasa besar.

Kemudian iapun mendengar bahwa orang-orang Cin-Ling-Pai kini bertugas sebagai perwira-perwira dan kepala-kepala pasukan penjaga untuk menjaga keamanan Cengtek.

Oleh karena itu, ketika ia berhasil mengacau pintu gerbang timur dan teman-temannya, baik yang berada di dalam maupun di luar sudah mulai bergerak, ia lalu berloncatan dari wuwungan ke wuwungan lain, mencari-cari.

Ketika ia mendengar akan hal Cin-Ling-Pai, ia hampir tidak percaya dan merasa prihatin sekali.

Benarkah orang-orang Cin-Ling-Pai ikut memberontak, bersekutu dengan Raja Iblis?

Bahkan dipimpin sendiri oleh ketuanya, ayah Hui Song?

Sukar untuk dipercaya.

Bukankah Hui Song sendiri seorang pendekar muda yang gagah perkasa dan budiman?

Dan biarpun ayah bundanya nampaknya tidak suka kepada ketua Cin-Ling-Pai yang mereka anggap angkuh dan sombong, namun merekapun mengakui bahwa ketua Cin-Ling-Pai adalah seorang pendekar yang lihai dan gagah perkasa.

Mana mungkin kini pendekar itu bersama murid-muridnya malah bersekutu dengan Raja Iblis yang dibantu oleh Cap-sha-kui?

"Tidak mungkin..."

Katanya pada diri sendiri, akan tetapi tiba-tiba Sui Cin mendekam di atas wuwungan ketika ia melihat berkelebatnya dua orang dari dalam sebuah gedung di bawah.

Ketika dua orang itn berdiri di bawah penerangan, ia segera mengenal mereka yang bukan lain adalah Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu!

Melihat dua orang musuh besar yang dibencinya itu, Sui Cin lupa diri, lupa bahwa dua orang itu amat lihai dan terlalu berbahaya baginya kalau menghadapi mereka berdua itu sendirian saja.

Akan tetapi kemarahan sudah membuat ia melompat ke bawah sambil berseru marah.

"Jahanam-jahanam busuk hendak lari ke mana kalian?"

Memang dua orang itu nampaknya sudah bersiap-siap untuk lari.

Mereka membawa buntalan yang kelihatan berat di punggung masing-masing dan agaknya mereka hendak melarikan diri sambil membawa barang-barang berharga dari dalam kota benteng itu.

Siang Hwa dan Thian Bu terkejut sekali.

Keduanya mencabut pedang dan ketika mengenal Sui Cin, merekapun marah dan tanpa banyak cakap lagi keduanya menyerang Sui Cin.

Gadis ini cepat mengelak.

Dua orang yang melihat betapa gadis ini bertangan kosong dan sendirian saja, mempercepat serangan mereka, dengan penuh nafsu melancarkan serangan-serangan maut untuk membunuh Sui Cin.

Akan tetapi, Sui Cin telah menguasai Ilmu Bueng Huiteng dari Wuyi Lojin, gerakannya cepat bagaikan beterbangan saja dan dua pedang di tangan Siang Hwa dan Thian Bu tidak dapat menyentuhnya.

Dua orang lawan itu terkejut melihat kecepatan gerak Sui Cin dan mereka terus mendesak.

Biarpun Sui Cin mampu mengelak dan berloncatan ke sana-sini, namun ia tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang.

Untung baginya bahwa dua orang lawannya itu nampak gugup.

Pertempuran telah memasuki kota dan mereka itu tergesa-gesa hendak melarikan diri.

Munculnya Sui Cin merupakan bahaya bagi mereka, bahaya terlambat melarikan diri.

Maka mereka menyerang terus kalang kabut membuat Sui Cin terpaksa harus mengerahkan ilmu ginkangnya untuk menghindarkan diri dari libatan dua gulung sinar pedang itu.

Tiba-tiba berkelebat dua bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah nampak Hui Song dan Siang Wi!

Siang Wi sudah menggunakan sepasang pedangnya menyerang Siang Hwa sedangkan Hui Song juga membantu Sui Cin menghadapi Thian Bu.

Munculnya dua orang muda ini tentu saja amat mengejutkan hati Siang Hwa dan Thian Bu.

Apalagi ketika melihat betapa hebatnya gerakan Hui Song dan betapa sepasang pedang dari Siang Wi itupun tidak boleh dipandang rendah.

"Lari..."

Thian Bu berseru sambil memutar pedangnya mendesak Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong itu mundur.

Keduanya meloncat dan lari ke dalam gelap.

Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi tidak mengejar.

Sui Cin dan Hui Song merasa girang sekali dapat bertemu di situ.

"Cin-moi, engkau selamat, aku gembira sekali bertemu denganmu di sini!"

Kata Hui Song sambil memegang tangan gadis itu.

Sui Cin membiarkan saja tangannya digenggam sejenak oleh pemuda itu, kemudian sambil melirik kepada Siang Wi ia melepaskan tangannya.

"Song-ko, mari kita bantu pasukan suku bangsa utara menyerang pasukan pemberontak!"

"Nanti dulu, kami hendak menyelidiki apakah benar ayah dan ibu berada di sini,"

Kata Hui Song, suaranya mengandung rasa penasaran.

Sui Cin menatap wajah pemuda itu dengan hati tegang.

Agaknya pemuda inipun sudah mendengar tentang Cin-Ling-Pai yang kabarnya membantu Raja Iblis!

"Sejak tadi akupun mencari-cari apakah benar ada anggota Cin-Ling-Pai yang..."

"Jadi engkau sudah tahu pula, Cin-moi?"

Hui Song bertanya kaget.

"Jadi... benarkah berita tentang..."

"Aku sudah mendengar beritanya dan aku tidak percaya, Song-ko. Akupun tidak melihat adanya orang Cin-Ling-Pai... akan tetapi mungkin mereka memakai pakaian seragam dan aku tidak mengenal mereka..."

"Tunggu..."

Tubuh Hui Song berkelebat dan tak lama kemudian dia sudah kembali lagi sambil mengempit tubuh seorang perajurit pemberontak yang menggigil ketakutan namun tidak mampu bergerak itu.

Hui Song melemparkan tubuh orang itu ke atas tanah dan meminjam sebatang pedang dari Siang Wi, lalu menodongkan senjata itu ke dada tawanannya.

"Hayo ceritakan di mana adanya orang-orang Cin-Ling-Pai!"

Bentak Hui Song.

Orang itu sudah amat ketakutan karena tadi secara tiba-tiba saja tubuhnya tidak dapat digerakkan lalu "diterbangkan"

Orang tanpa dia dapat berbuat sesuatu.

Akan tetapi melihat sikap Hui Song yang agaknya bukan sahabat orang-orang Cin-Ling-Pai, dia mengira bahwa pemuda ini mencari musuh-musuhnya, maka dengan memberanikan hati diapun menjawab.

"Orang-orang Cin-Ling-Pai telah dibasmi, banyak yang tewas dan sebagian sudah ditahan dalam penjara. Pengkhianat-pengkhianat itu..."

Dia tidak mampu melanjutkan karena Hui Song telah menendangnya sehingga perajurit itu pingsan.

"Bagus!"

Hui Song berseru gembira.

"Biarpun ayah mengajak saudara-saudara Cin-Ling-Pai ke sini, ternyata bukan untuk menjadi sekutu, melainkan untuk melawan. Mari kita cari di dalam penjara!"

Sui Cin ikut pula dengan kakak beradik seperguruan itu dan merekapun berloncatan ke atas genteng.

Akhirnya mereka dapat menemukan tempat para tahanan yang merupakan penjara di dalam kota benteng itu.

Penjara itu hanya dijaga oleh belasan orang saja karena sebagian besar para penjaga sudah menjadi panik dengan datangnya penyerbuan musuh dan kini mereka sudah ikut membantu pasukan untuk mempertahankan kota Cengtek dari serbuan pasukan-pasukan suku bangsa utara.

Karena hanya ada belasan orang penjaga, Sui Cin dan Siang Wi berdua saja sudah cukup untuk melayang turun dan menghadapi mereka, sedangkan Hui Song tanpa membuang banyak waktu sudah memaksa pintu penjara terbuka.

Dia membebaskan semua tawanan dan akhirnya dia melihat murid-murid Cin-Ling-Pai yang diborgol di dalam sebuah kamar tahanan besar.

Para murid Cin-Ling-Pai gembira bukan main melihat munculnya Hui Song dan mereka segera merangkulnya sambil menangis.

Hal ini mengejutkan dan mengherankan hati Hui Song, karena dia tahu bahwa murid-murid ayahnya amat gagah dan bukan merupakan orang-orang cengeng.

"Aih, kenapa kalian malah menangis setelah aku datang membebaskan kalian?"

Tanyanya dengan alis berkerut.

"Sute... ah, sute... kami telah mengalami malapetaka! Sedikitnya empat puluh orang saudara Cin-Ling-Pai tewas..."

"Hemm, itu sudah menjadi resiko perjuangan! Perjuangan menuntut pengorbanan, mengapa kalian menangis?"

Hui Song mencela karena hatinya merasa tidak puas melihat sikap cengeng saudara-saudara seperguruannya.

"Aih, sute... subo... subo dan sukong... mereka juga tewas..."

"Apa...?"

Wajah Hui Song pucat dan matanya terbelalak mendengar bahwa kedua orang tua itu, terutama sekali ibunya, tewas pula dan beberapa lamanya dia tidak mampu mengeluarkan suara.

Siang Wi sudah langsung menangis terisak-isak mendengar subonya tewas.

Beginilah keadaan batin kita pada umumnya.

Kalau orang lain yang terkena musibah, pandaipandai kita menghibur dan menasihatinya dengan kata-kata yang indah.

Hal ini lumrah karena kita sendiri tidak merasakan kedukaan akibat musibah yang menimpa itu.

Akan tetapi kalau kita sendiri yang terkena, entah ke mana perginya segala nasihat kita tadi, sudah terlupa sama sekali dan kita tenggelam ke dalam kedukaan dan kemarahan.

Ketika tadi melihat saudara-saudara seperguruan itu menangis dan mendengar mereka melaporkan bahwa banyak saudara yang tewas, Hui Song masih menghibur dan mengatakan bahwa perjuangan mereka merlukan pengorbanan.

Akan tetapi begitu mendengar ibu kandungnya sendiri tewas, jantungnya seperti ditusuk rasanya.

Perlahan-lahan muka yang amat pucat tadi berobah merah oleh dendam.

"Siapa yang membunuh mereka?"

Pertanyaan ini keluar dengan datar.

"Sukong tewas oleh Sim Thian Bu dan subo tewas di tangan Gui Siang Hwa,"

Jawab murid Cin-Ling-Pai itu yang sudah mengenal murid Iblis Buta dan murid Raja Iblis yang menjadi tokoh-tokoh besar dalam pemberontakan itu.

Mendengar siapa pembunuh ibu dan kakeknya, kemarahan Hui Song memuncak.

Dia mengepal tinju.

"Jahanam keparat mereka itu! Aku harus bunuh mereka..."

Tiba-tiba ada tangan menyentuh lengannya, tangan yang berkulit halus dengan sentuhan hangat namun dengan cengkeraman yang mengandung teguran.

"Song-ko, mereka itu korban-korban perjuangan."

Lirih saja ucapan ini, akan tetapi langsung terasa oleh hati Hui Song dan diapun menoleh, memandang kepada Sui Cin dan menggunakan punggung tangan untuk menghapus dua titik air mata yang tergantung di pelupuk matanya.

Dia menarik napas panjang dan mengangguk.

"Engkau benar, Cin-moi,"

Bisiknya kembali dan sesaat kemudian pemuda perkasa ini sudah dapat menguasai dirinya, memandang kepada saudara-saudara seperguruannya yang masih merubungnya.

"Semua ini adalah pengorbanan untuk perjuangan, mereka gugur sebagai orang-orang gagah yang menentang golongan jahat. Nah, sekarang ceritakan tanpa ragu-ragu, di mana ayahku?"

"Sebelum kami disergap oleh pasukan pemberontak itu, suhu telah pergi meninggalkan Cengtek untuk melakukan penyelidikan ke Sanhaikoan, dan sejak itu tidak pernah kembali."

Hui Song mengerutkan alisnya.

Pertempuran di luar penjara itu masih tardengar ramai sekali dan semua tahanan, kecuali anak buah Cin-Ling-Pai, sudah berlarian keluar untuk mencari kebebasan atau ada pula yang lari untuk ikut bertempur, tentu saja memihak para penyerbu.

Atau ada pula tahanan orang-orang jahat yang keluar untuk mengail di air keruh, mencari keuntungan selagi keadaan kacau oleh pertempuran.

"Sebetulnya, apa yang telah terjadi? Mengapa kalian berada di sini? Mengapa ayah berada di sini? Ceritakan dengan singkat!"

"Suhu telah terbujuk dan membawa kami ke sini untuk membantu pemberontak. Suhu tadinya mengira bahwa pasukan pemberontak yang dipimpin Ji-ciangkun mempunyai tujuan perjuangan yang murni, untuk menggulingkan pemerintahan lalim. Kemudian ternyata bahwa pemberontak bersekutu, bahkan dipimpin oleh datuk sesat Raja Iblis. Setelah mengetahui hal ini, suhu marah sekali dan suhu pergi ke Sanhaikoan untuk menyelidik. Agaknya hal ini diketahui oleh pihak kaum sesat, maka mereka telah bertindak lebih dahulu, kami diserbu dan kami melakukan perlawanan sedapat mungkin. Akan tetapi fihak musuh terlampau banyak dan dalam pertempuran ini, subo dan sukong, juga banyak saudara kita tewas, kami ditangkap karena telah roboh dan tidak mampu melawan lagi."

"Kalau begitu mari kita keluar dan mengamuk dan membasmi para pemberontak keparat yang ditunggangi golongan hitam itu!"

Hui Song mengangkat tangan kanan dengan tinju terkepal, disambut sorak sorai para saudara seperguruannya.

"Tahan dulu..."

Tiba-tiba Sui Cin berseru.

"Kurasa tidak benar kalau kita terjun ke dalam pertempuran..."

"Kami hendak berjuang dan untuk itu kami tidak takut kehilangan nyawa, kenapa kau katakan tidak benar?"

Tiba-tiba Siang Wi berkata dengan alis berkerut.

Ia tahu bahwa ada hubungan kasih antara suhengnya dan Sui Cin, dan bagaimanapun juga hal ini menimbulkan rasa tidak suka dalam hatinya terhadap gadis yang dianggapnya telah merebut hati pria yang sejak kecil dicintanya itu.

"Cin-moi, apa maksudmu menyalahkan maksud kami menyerbu keluar?"

Hui Song juga bertanya dan memandang heran.

"Song-ko, menyerbu keluar dan ikut bertempur sama saja dengan bunuh diri..."

"Kami tidak takut mati!"

Siang Wi membentak.

Gadis ini sudah mencabut sepasang pedangnya sejak tadi dan mukanya masih basah air mata ketika ia menangisi kematian subonya tadi.

Sui Cin tersenyum melihat sikap Siang Wi itu, dan ia mengalihkan pandang matanya kepada Hui Song.

"Song-ko, engkau tahu bahwa semua orang gagah tidak takut mati. Akan tetapi menceburkan diri dalam pertempuran adalah perbuatan nekat atau membunuh diri. Harus diingat bahwa yang menyerbu Cengtek ini adalah barisan suku bangsa utara dan mereka sudah mendengar bahwa Cin-Ling-Pai membantu pemberontak. Mereka itu tidak akan percaya semua alasan kita dan mereka tentu akan menganggap Cin-Ling-Pai sebagai musuh pula. Dan kita berada di dalam kota benteng seperti sekumpulan burung dalam sangkar perangkap. Kalau kita sekarang menyerbu keluar dan ikut bertempur di dalam kota, akhirnya kita semua akan tewas..."

"Itulah resiko perjuangan! Kalau kau takut, tak perlu ikut dengan kami!"

Siang Wi berseru.

"Sumoi, diamlah!"

Hui Song mencela sumoinya.

"Cin-moi, lanjutkan bicaramu."

Dia mulai tertarik.

Dia sudah mengenal siapa Sui Cin, gadis perkasa yang suka bertualang dan memiliki keberanian yang amat besar, dan tidak mungkin gadis seperti Sui Cin takut bertempur.

Sui Cin tetap tersenyum, tidak marah melihat sikap Siang Wi.

"Sumoimu memang penuh semangat, Song-ko. Sudah kukatakan tadi bahwa kalau kita menceburkan diri dalam pertempuran, berarti kita nekat dan membunuh diri. Dan perjuangan bukanlah usaha nekat dan bunuh diri! Mati konyol karena kenekatan itu malah merugikan perjuangan dan tiada gunanya sama sekali. Lebih berguna kalau kita berlaku cerdik. Kenekatan bukah perbuatan gagah perkasa, bukan suatu keberanian melainkan kebodohan orang yang sudah putus asa dan kehilangan akal. Kalau masih bisa dicari jalan yang lebih baik, kenapa mesti nekat dan mati konyol?"

"Lalu menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan, Cin-moi?"

"Kita menyerbu keluar, akan tetapi bukan untuk menceburkan diri dalam pertempuran melawan pemberontak dan membantu suku bangsa utara, melainkan untuk membuka jalan darah dan meloloskan diri keluar dari kota benteng ini."

"Apa? Melarikan diri? Aku tidak mau menjadi pengecut!"

Siang Wi kembali berteriak.

Hui Song memandang sumoinya dengan alis berkerut dan memberi isyarat kepadanya agar tidak banyak bicara.

"Melarikan diri bukan karena takut, melainkan dengan perhitungan. Kalau kita sudah lolos dari kota benteng ini, kita dapat menyusun kekuatan dan siasat baru untuk bertindak selanjutnya menghadapi perkembangan dan dapat menarik keuntungan sebesarnya bagi perjuangan kita. Apakah itu pengecut namanya? Dalam urusan besar, tidak boleh hanya mengandalkan perasaan dan nafsu dendam belaka, melainkan harus mempergunakan kecerdikan dan ketenangan."

Hui Song mengangguk-angguk.

"Benar sekali apa yang diucapkan Cin-moi. Kita semua tidak boleh membuang nyawa sia-sia belaka. Kita keluar dari kota ini. Aku harus mencari ayah di Sanhaikoan dan kalau dapat berjumpa dengan ayah, baru kita tentukan langkah selanjutnya. Mari kita keluar, berpencar dan mencari jalan keluar, lalu berkumpul di sebelah selatan kota raja, di dalam hutan cemara itu!"

Siang Wi terpaksa tidak membantah perintah suhengnya dan merekapun lalu keluar dan menyerbu sambil berpencar, mencari jalan keluar dan merobohkan setiap orang perajurit pemberontak yang berani menghalang di depan mereka.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan amat serunya antara pasukan para suku bangsa utara dan pasukan pemberontak.

Penyerbu sudah berhasil membobolkan pintu benteng dan kini pertempuran terjadi di mana-mana, di seluruh kota walaupun yang paling ramai terjadi di pintu-pintu gerbang yang kini semua telah dibuka secara paksa oleh pihak penyerbu.

Karena ada Sui Cin di samping mereka, orang-orang Cin-Ling-Pai hanya dihalangi oleh para perajurit pemberontak saja.

Perajurit-perajurit suku bangsa utara semua mengenal Sui Cin sehingga gadis ini dapat mencegah para penyerbu itu menyerang orang-orang Cin-Ling-Pai.

Dengan demikian, akhirnya mereka dapat lolos keluar dari kota benteng Cengtek walaupun jumlah mereka sudah berkurang pula.

Setibanya di dalam hutan cemara, Hui Song lalu mengajak Siang Wi dan para saudara lainnya untuk pergi ke Sanhaikoan mencari ayahnya.

Sui Cin tidak mau ikut.

"Song-ko, aku harus tinggal di sini membantu subo Yelu Kim menghancurkan pemberontak."

Hui Song terbelalak.

"Apa? Dan engkau sudah tahu bahwa nenek itu mempunyai niat untuk menyerbu ke selatan! Apakah engkau akan membantu pemberontaken baru yang direncanakan oleh suku bangsa liar itu?"

Sui Cin tersenyum dan menggeleng kepala.

"Song-ko, engkau tentu tahu bahwa aku hanya mau membantu mereka menentang dan menyerbu para pemberontak yang dipimpin Raja Iblis. Kalau tiba saatnya mereka akan menentang pemerintah kita, tentu aku tidak akan membantu mereka, bahkan menentang mereka. Siapa tahu dengan halus aku dapat membujuk subo Yelu Kim untuk tidak melanjutkan rencananya yang gila itu. Nah, bukankah perjuangan dapat dilakukan dengan bermacam cara, pokoknya membela nusa dan bangsa?"

Hui Song merasa kecewa sekali harus berpisah lagi dari gadis yang dicintanya itu, akan tetapi dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia harus mengeraskan hatinya dan mengesampingkan semua urusan dan perasaan pribadi.

Dia harus mencari ayahnya, dan apa yang dikatakan Sui Cin tadi memang tepat.

Gadis ini bukan orang sembarangan dan selalu memakai perhitungan yang matang.

Mungkin apa yang mampu dilakukan Sui Cin pada waktu itu akan jauh lebih besar gunanya dari pada apa yang mampu dilakukan oleh para pendekar lain.

Maka diapun berpamit dan bersama rombongannya pemuda ini lalu meninggalkan Sui Cin.

Gadis inipun segera kembali ke induk pasukan dan bertemu dengan Yelu Kim membuat laporan.

Nenek itu merasa girang sekali dan memuji-muji muridnya.

Pertempuran masih terus berlangsung.

Biarpun pihak penyerbu berhasil membobolkan pintu gerbang, namun kekuatan pasukan pemberontak juga cukup besar sehingga pertempuran itu berlangsung sampai semalam suntuk.

Dan pada keesokan harinya, setelah bertempur mati-matian, akhirnya pasukan Yelu Kim mulai mendesak pasukan pemberontak yang mempertahankan kota Cengtek, dan pasukan pemberontak mulai melarikan diri keluar kota.

Selagi pasukan Yelu Kim mengobrak-abrik kota dan siap mendudukinya, tiba-tiba datang pasukan bala-bantuan dari Sanhaikoan dan kembali terjadi pertempuran yang hebat lagi.

Sekali ini, pasukan Yelu Kim yang sudah menduduki benteng itu menjadi pihak yang bertahan, mempertahankan benteng itu, sedangkan barisan pemberontak yang datang dari Sanhaikoan itu menjadi pihak penyerbu!

Perhitungan Panglima Yang Ting Houw memang tepat sekali.

Dia tidak tergesa-gesa mengerahkan pasukan pemerintah untuk menggempur pasukan pemberontak yang telah menduduki Sanhaikoan dan Cengtek, Melainkan memimpin bala-tentara ke utara secara diam-diam dan membiarkan pihak pemberontak bertempur melawan pasukan suku bangsa liar di utara.

Peristiwa penyerbuan Cengtek oleh pasukan suku bangsa di utara itu diikuti dengan gembira oleh Panglima Yang Ting Houw dan para perwira pembantunya, juga mereka melihat betapa Sanhaikoan dikerahkan untuk menolong Cengtek.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Panglima Yang itu.

Pasukannya sudah berkumpul dan kini pasukan yang besar jumlahnya itu dia bagi dua, yang sebagian menyerbu Sanhaikoan dan sebagian lagi menyerang pasukan pemberontak yang sedang berusaha merebut kembali Cengtek itu dari belakang, setelah membiarkan pasukan pemberontak itu mati-matian bertempur melawan pasukan utara yang telah menduduki Cengtek.

Dan dalam penyerbuan ke Sanhaikoan ini, pasukan pemerintah dibantu oleh orang-orang gagah yang datang menawarkan tenaganya dan yang diterima dengan gembira oleh Panglima Yang Ting Houw.

Sebelum pasukan pemerintah melakukan penyerbuan ke Sanhaikoan, dua orang pendekar telah lebih dahulu memasuki kota benteng itu.

Mereka adalah Cia Sun dan Siangkoan Ci Kang.

Seperti kita ketahui, dua orang pendekar muda ini pergi ke Sanhaikoan untuk mencari jejak Toan Hui Cu yang dilarikan ayah kandungnya sendiri, yaitu Pangeran Toan Jit Ong atau Si Raja Iblis.

Dengan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dua orang muda ini berhasil menyelundup memasuki kota benteng Sanhaikoan dan mereka lalu berpencar, mencari jalan sendiri-sendiri setelah mereka berjanji bahwa sebuah kelenteng tua di sudut barat kota itu menjadi tempat pertemuan mereka.

"Jika menemukan sesuatu yang penting, kita harus saling berhubungan,"

Kata Cia Sun sebelum mereka berpisah.

"Dan di belakang kuil ini, tepat jam dua belas malam, kita dapat mengadakan pertemuan."

Mereka lalu berpisah dan menyelinap dengan cepat, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Ci Kang merasa bingung, bagaimana dia akan dapat bersembunyi di waktu siang, akan tetapi dia tidak kekurangan akal.

Ketika dia melihat banyaknya orang berpakaian tentara yang ketika saling berpapasan di jalan tidak saling menegur seperti tidak saling mengenal, dia memperoleh akal.

Dia dapat menduga bahwa saking banyaknya jumlah perajurit, apalagi mengingat bahwa banyak pula orang-orang kaum sesat yang membantu pasukan pemberontak, tentu di antara mereka banyak yang tidak saling mengenal.

Dia mencari kesempatan baik dan ketika melihat seorang perajurit yang tubuhnya sebesar dia berjalan seorang diri di tempat yang agak sunyi, dia telah menotoknya dan perajurit itupun roboh pingsan tanpa sempat melihat siapa yang merobohkannya.

Tentu saja kalau dia menghendaki, sekali pukul saja dia mampu membunuh perajurit itu.

Akan tetapi, semenjak berguru kepada Ciu-sian Lokai, hatinya semakin mantap untuk tidak sembarangan melakukan kekerasan-kekerasan terutama sekali membunuh, seperti yang dilakukan oleh mendiang ayahnya dan para kaum sesat pada umumnya.

Diapun tidak membunuh perajurit itu, melainkan hanya melucuti pakaiannya dan melemparkan tubuh yang pingsan itu ke balik semak-semak.

Setelah perajurit itu siuman kembali, tentu saja dia merasa heran dan ketakutan setengah mati.

Dia tidak melihat siapa penyerangnya, tahu-tahu pingsan dan telanjang, hanya memakai pakaian dalam, terbaring di semak-semak.

Maka diapun diam saja, merasa malu untuk bercerita kepada orang lain bahwa dia telah dibawa "siluman"

Dan hal ini menguntungkan Ci Kang yang tidak menarik perhatian atas kecurigaan orang lain.

Mudah bagi Ci Kang untuk berkeliaran di kota benteng itu, bahkan di siang haripun dia berani jalan-jalan.

Kalau berpapasan dengan rombongan perajurit yang tidak mengenalnya, rombongan itu tidak menjadi curiga karena memang banyak perajurit yang tidak saling mengenal di tempat itu.

Demikianlah, ketika ketua Cin-Ling-Pai, Cia Kong Liang, dikepung dan dikeroyok oleh para perajurit, dengan mudah tanpa dicurigai siapapun juga, Ci Kang dapat menyelundup dan ikut pula mengeroyok.

Dia mengikuti semua percakapan antara ketua Cin-Ling-Pai itu dengan Ji-ciangkun dan Raja Iblis, dan dia merasa bingung sekali.

Kalau dia turun tangan menolong dengan kekerasan, walaupun ketua Cin-Ling-Pai itu lihai, namun dia tahu bahwa mercka berdua tidak akan mampu menghadapi pengeroyokan banyak perajurit.

Maka diapun cepat mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh untuk membisiki Cia Kong Liang agar menyerah saja karena dia maklum bahwa Raja Iblis tidak menghendaki ketua Cin-Ling-Pai itu dibunuh, melainkan hendak ditawan saja dan dijadikan sandera.

Dan ketua Cin-Ling-Pai itupun menurut sehingga ditangkap dan dimasukkan dalam tahanan dan dijaga dengan ketat.

Karena Ci Kang dapat pula menyelundup ke dalam tempat penjagaan penjara, maka diapun pada malam hari itu berhasil menyelundupkan sehelai surat yang dilipat-lipat kecil dan dilemparkannya mengenai tangan ketua Cin-Ling-Pai yang kedua lengannya diborgol di depan.

Kong Liang memandang ke arah perajurit tinggi tegap itu dan tahulah dia bahwa perajurit itu pula yang berbisik kepadanya agar dia menyerah.

Dia mengangguk perlahan sambil mengepal lipatan surat itu.

Setelah dia dibiarkan sendiri dan memperoleh kesempatan, dia membuka lipatan surat itu yang hanya terisi beberapa huruf yang isinya memperkenalkan perajurit muda itu bernama Siangkoan Ci Kang murid Ciu-sian Lokai yang menentang Raja Iblis.

Dan surat itu mengatakan pula bahwa untuk sementara, penjara itu merupakan tempat yang aman bagi Cia Kong Liang dan ketua itu diminta untuk bersabar karena kalau sudah tiba saatnya yang baik, tentu Ci Kang akan membebaskannya.

Membaca surat ini, Kong Liang merasa girang dan berterima kasih sekali, juga kagum akan kecerdikan pemuda itu.

Dia merasa setuju bahwa untuk sementara penjara ini memang merupakan tempat aman baginya.

Andaikata dia melepaskan belenggu kaki tangannya sekalipun, agaknya akan sukarlah baginya untuk dapat lolos dari Sanhaikoan yang terjaga kuat itu, apalagi di situ terdapat banyak sekali orang yang amat lihai.

Dia lalu menggunakan tenaga sinkangnya untuk meremas sampai hancur kertas surat itu dan bersila dengan tenang, walaupun sukar baginya menekan kegelisahannya memikirkan keadaan isteri, ayah mertua, dan murid-muridnya yang masih berada di Cengtek.

Bagaimana dengan pengalaman Cia Sun?

Pemuda ini seperti juga Ci Kang, mendapatkan akal untuk dapat melakukan penyelidikan dengan baik, yaitu menyamar sebagai seorang perajurit.

Akan tetapi berbeda dengan Ci Kang, sesuai dengan gemblengan Gobi Sanjin, dia bertindak keras dan tanpa ampun kepada perajurit yang ditangkapnya untuk diambil pakaiannya.

Dia membunuh perajurit pemberontak itu dan mengenakan pakaiannya sendiri kepada mayat perajurit itu yang tewas tanpa terluka karena pukulan ampuhnya membuatnya tewas seketika tanpa luka.

Orang yang menemukan perajurit itu tentu akan mengira bahwa perajurit yang berpakaian preman itu mati karena penyakit mendadak!

Pada suatu malam, ketika Cia Sun sedang berjalan-jalan dengan aman dalam pakaian perajurit pengawal, dia melihat Raja Iblis berjalan diikuti oleh empat orang bertubuh tegap dan berpakaian seragam, akan tetapi bukan seragam perajurit.

Cia Sun yang maklum akan lihainya Raja Iblis, tidak berani sembarangan bergerak, bahkan membayanginya dengan hati-hati, dan berjalan sebagai seorang perajurit yang sedang bertugas ronda.

Untung baginya bahwa Raja Iblis dan empat orang pengikutnya itu tidak begitu memperhatikannya, atau mungkin juga melihatnya dan tidak curiga karena memang banyak perajurit berkeliaran di dekat bangunan besar itu.

Ketika Raja Iblis dan empat orang itu memasuki sebuah pintu tembusan kecil di samping bangunan, terpaksa Cia Sun tidak berani mengikutinya lagi, apa pula di depan pintu kecil itu terdapat dua orang penjaga yang memegang tombak.

Sebuah pintu tembusan saja dijaga, tentu tempat itu merupakan gedung yang penting pula.

Akan tetapi dia merasa penasaran.

Dia harus dapat menyelidiki apa yang dilakukan oleh Raja Iblis di dalam gedung itu.

Siapa tahu Hui Cu yang dilarikan bekas pangeran itupun kini berada di situ.

Cia Sun lalu mengambil keputusan nekat.

Dengan gerakan yang amat cepat, dia menerjang dua orang penjaga itu secepat kilat dari tempat gelap dan dua kali tangannya bergerak, dua orang penjaga pintu kecil itu roboh dan tewas tanpa dapat mengeluarkan suara sedikitpun juga.

Cia Sun lalu memanggul tubuh dua orang penjaga yang sudah tidak bernyawa itu berikut tombak mereka, dan di belakang sebuah rumah yang sunyi, dia melemparkan mereka ke atas tanah, lalu mengatur mereka sedemikian rupa sehingga mereka itu seolah-olah tewas karena saling tusuk dengan tombak yang masih dipegang di tangan.

Kalau ada yang menemukan dua orang penjaga ini, tentu mereka akan mengira bahwa dua orang perajurit ini telah berkelahi dan mati sampyuh terkena tombak masing-masing.

Setelah itu, dengan berani Cia Sun menyelinap masuk ke dalam pintu kecil yang ternyata membawa dia ke dalam sebuah taman yang luas.

Untung bahwa taman itu penuh dengan pohon-pohon bunga yang rimbun sehingga dia dapat menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak mendekati sebuah bangunan besar yang gelap.

Giranglah hatinya ketika tiba-tiba dia melihat Raja Iblis dan empat orang pengikutnya tadi keluar dari dalam bangunan besar dan kini dengan langkah lebar menuju ke sebuah bangunan kecil di belakang taman.

Raja Iblis membuka daun pintu, diikuti oleh empat orang tadi dan mereka berlima masuk ke dalam.

Cia Sun cepat mengintai dari balik sebuah jendela samping.

Karena tidak terdapat lubang di jendela itu, terpaksa dia hanya mampu mendengarkan, akan tetapi tidak dapat melihat apa yang terjadi di sebelah dalam.

Akan tetapi, apa yang didengarnya sudah cukup baginya, membuat jantungnya berdebar keras karena dia mengenal suara seorang gadis, suara Hui Cu yang menyambut kedatangan ayah kandungnya itu dengan kata-kata yang ketus.

"Iblis tua, mau apalagi engkau datang ke sini?"

Terdengar suara Hui Cu menyambut Raja Iblis dengan kata-kata pedas.

Kini terdengar suara Raja Iblis yang suaranya aneh seperti datang dari tempat jauh, akan tetapi suara itu menggetar penuh wibawa dan menembus dinding bangunan kecil itu.

"Hui Cu, aku datang untuk memperingatkanmu yang penghabisan kalinya. Tinggal kau pilih, mau menjadi isteriku atau menjadi anakku. Kalau menjadi isteriku, engkau akan hidup senang di sampingku, apalagi kalau dapat menurunkan anak laki-laki untukku. Kalau menjadi anakku, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Dan besok malam engkau harus sudah dapat memberi kepastian, mau hidup senang sebagai isteriku atau mati!"

"Iblis tua tak tahu malu! Aku tidak sudi menjadi isterimu, juga tidak sudi menjadi anakmu! Mau bunuh, bunuhlah."

Diam-diam Cia Sun kagum kepada Hui Cu.

Biarpun Hui Cu puteri tunggal pasangan suami isteri iblis seperti Raja dan Ratu Iblis, akan tetapi ternyata Hui Cu memiliki semangat dan watak yang gagah perkasa, bahkan berani menantang ayahnya, walaupun ia tahu bahwa ayahnya itu adalah manusia berwatak iblis.

Di samping kekagumannya, juga Cia Sun merasa khawatir sekali.

Kalau Raja Iblis turun tangan sekarang juga membunuh puterinya, dia sendiri jelas tidak mungkin akan dapat menolong Hui Cu.

Akan tetapi hatinya merasa lega karena tidak terjadi gerakan sesuatu di dalam pondok itu, bahkan kini nampak Raja Iblis keluar dari situ bersama empat orang pengikutnya dan bekas pangeran itu berkata.

"Sukwi, kalian harus menjaganya mulai sekarang sampai besok malam. Jangan sampai ia lolos dan andaikata ibunya sendiri yang datang untuk membebaskannya, kalian harus melarangnya. Hanya kalian berempat yang akan mampu menandingi ibunya. Awas, kalau sampai ia lolos dari sini, kepala kalian menjadi gantinya."

Empat orang itu bersikap siap dan mengangguk, kemudian mereka tinggal di ruang depan bangunan kecil itu ketika Raja Iblis pergi dengan langkah lebar dan cepat.

Sejenak Cia Sun termangu-mangu.

Menurutkan dorongan hatinya, ingin dia menerjang ke dalam pondok itu untuk membebaskan Hui Cu.

Akan tetapi, dia ragu-ragu.

Baru saja dia mendengar sendiri ucapan Raja Iblis bahwa hanya empat orang itu saja yang akan mampu menandingi Ratu Iblis!

Padahal Ratu Iblis memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Dan empat orang ini disebut Sukwi (Empat Setan) oleh Raja Ibils, maka teringatlah Cia Sun akan keterangan gurunya, Gobi Sanjin bahwa di antara Cap-sha-kui (Tiga Belas Setan) terdapat empat orang yang lihai sekali berjuluk Hui-thian Sukwi (Empat Setan Terbang ke Langit)!

Agaknya empat orang Inilah mereka.

Maka dia ragu-ragu apakah dia akan mampu mengalahkan empat orang ini.

Andaikata mampu sekalipun, tentu akan memakan waktu dan keributan itu tentu akan diketahui oleh pengawal-pengawal lain dan kalau sudah begitu, dia akan celaka sebelum mampu membebaskan Hui Cu.

Maka diapun diam-diam meninggalkan pondok itu.

Raja Iblis memberi waktu cukup panjang kepada Hui Cu.

Sampai besok malam.

Berarti malam ini ia tidak akan diganggu.

Dan kalau dia maju bersama Ci Kang, agaknya tidak akan sukar menolong Hui Cu.

Menjelang tengah malam, dua orang pemuda yang gagah perkasa itu saling bertemu di kuil sunyi.

Mereka berbisik-bisik saling menceritakan pengalaman mereka masing-masing.

Mendengar betapa ketua Cin-Ling-Pai yang masih terhitung paman dari ayahnya itu ternyata kini berbalik menjadi musuh Raja Iblis dan menjadi tawanan, hati Cia Sun merasa lega.

Tadinya diapun ikut prihatin mendengar betapa paman ayahnya itu bersekutu dengan kaum sesat.

Apalagi mendengar dari Ci Kang bahwa ketua Cin-Ling-Pai itu tertipu dan kini untuk sementara aman di dalam kamar tahanan karena Raja Iblis tidak berniat membunuhnya sekarang.

Dia lalu menceritakan kepada Ci Kang tentang Hui Cu yang ditahan di dalam sebuah bangunan kecil, dan percakapan antara ayah dan anak itu seperti yang telah didengarnya.

Mendengar betapa Raja Iblis hendak memaksa Hui Cu menjadi isterinya, dan betapa Hui Cu lebih memilih mati, Ci Kang mengepalkan tinjunya.

"Manusia itu sungguh lebih keji dari pada iblis! Anak kandungnya sendiri akan diperisteri!"

"Akan tetapi sikap Hui Cu sungguh mengagumkan. Di depan iblis itu sendiri ia berani mengatakan bahwa ia tidak sudi menjadi anaknya atau isterinya, menantang mati!"

Kata Cia Sun.

"Gadis itu memang hebat, Cia Sun, dan ia mencintamu!"

Wajah Cia Sun berobah merah.

"Hemm, dalam keadaan seperti sekarang ini, jangan kau berkelakar, Ci Kang!"

"Tidak, Cia Sun, aku mengatakan sejujurnya. Gadis itu tergila-gila kepadamu dan jatuh cinta kepadamu."

Cia Sun mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang sampai tiga kali.

Dia percaya kepada Ci Kang dan pemuda perkasa di depannya ini tidak akan mau membohonginya.

Maka diapun merasa kasihan sekali kepada Hui Cu.

"Kasihan Hui Cu..."

Katanya, kata-kata yang tanpa disadarinya keluar dari mulut, langsung dari dalam hatinya.

Ci Kang menatap tajam, berusaha menembus kegelapan malam untuk menjenguk isi hati sahabat yang dikaguminya ini.

"Cia Sun, apakah kata-katamu itu berarti bahwa engkau tidak membalas cintanya?"

Cia Sun menggeleng kepalanya.

"Ahh, kalau begitu kasihan sekali Hui Cu..."

Kata Ci Kang yang mengerutkan alisnya mengenang nasib gadis yang patut dikasihani itu.

"Memang kasihan sekali Hui Cu. Akan tetapi aku harus berterus terang, aku mencinta seorang gadis lain, jadi tak mungkin aku mencintanya."

Ci Kang memandang tajam sesaat lamanya, lalu berkata.

"Sudahlah, mari kita menolongnya sebelum terlambat."

Dua orang pemuda perkasa yang sama-sama berpakaian sebagai perajurit pemberontak itu lalu berangkat menuju ke bangunan yang dimaksudkan Cia Sun.

Dia menjadi penunjuk jalan dan Ci Kang mengikutinya di belakangnya.

Mereka bergerak cepat menyusup-nyusup, dan Kadang-kadang kalau ada perajurit-perajurit lain mereka bersikap wajar, Bergandengan dan sempoyongan seperti dua orang perajurit setengah mabok, pemandangan yang biasa saja.

Setelah tiba di dekat pondok di mana Hui Cu ditahan, dua orang pemuda itu bergerak perlahan sesuai rencana yang telah mereka atur ketika mereka menuju ke tempat itu.

Ci Kang dan Cia Sun kini berpencar.

Ci Kang menghampiri empat orang penjaga yang duduk sambil bercakap-cakap itu dari depan, sedangkan Cia Sun menyelinap dari samping pondok di mana terdapat jendela yang dipergunakan untuk mendengarkan percakapan tadi.

Sesuai yang telah direncanakan, Ci Kang berpura-pura mabok, berjalan terhuyung-huyung ke arah empat orang Hui-thian Sukwi yang sedang duduk di atas bangku di depan pondok.

Melihat seorang perajurit mabok menghampiri mereka, Sukwi menjadi marah.

"Hei, perajurit tolol! Pergi dari sini dan jangan ganggu kami!"

Bentak seorang dari mereka yang bermuka pucat.

"Heh-heh-hoh-hoh..."

Ci Kang tertawa seperti orang mabok.

"Sobat, mari kau temani aku minum arak. Kau perlu minum banyak arak agar mukamu tidak pucat seperti mayat, Heh-heh-heh!"

Dia menunjuk ke arah muka yang menegurnya tadi. Si muka pucat itu menjadi marah dan bangkit berdiri.

"Manusia goblok! Berani kau mengeluarkan kata-kata sembarangan terhadap kami? Kami adalah Hui-thian Sukwi, pengawal pribadi Toan Ongya!"

"Hah hah, agaknya majikanmu kurang memberi upah kepadamu sehingga badanmu kurus mukamu pucat kurang makan..."

"Eh, keparat mulut lancang! Kuhancurkan mulutmu..."

Si muka pucat menjadi marah sekali dan sekali menggerakkan tubuhnya, tubuh itu sudah mencelat ke depan Ci Kang dan tangannya menampar ke arah mulut Ci Kang dengan keras sekali karena si muka pucat itu agaknya hendak benar-benar menghancurkan mulut perajurit yang berani menghinanya itu.

Diam-diam Ci Kang terkejut menyaksikan gerakan ginkang yang demikian ringan dan cepatnya dan tahulah dia mengapa mereka ini dijuluki Hui-thian (Terbang ke Langit).

Kiranya mereka adalah ahli-ahli ginkang yang cukup tinggi tingkat kepandaiannya.

Akan tetapi tamparan tangan itu menunjukkan tenaga yang tidak perlu dikhawatirkan.

Maka dia hanya mundur sedikit sambil miringkan mukanya sehingga bukan mulutnya yang kena tampar, melainkan pipinya.

"Plakkk..."

Ci Kang sempoyongan dan hampir roboh, ditertawai oleh empat orang itu.

Ci Kang bangkit dan mengusap pipinya yang menjadi merah, matanya melotot dan diapun maju sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung orang yang tadi menamparnya.

"Kau monyet tak tahu malu, manusia tidak mengenal budi. Diajak minum arak malah memukul. Aku harus membalas pukulanmu!"

Dan dengan gerakan sembarangan saja diapun menerjang maju hendak memukul kepala si muka pucat.

Melihat gerakan Ci Kang, si muka pucat tentu saja memandang rendah dan dia sudah menggerakkan tangannya hendak menangkis dan menangkap lengan lawan untuk dipuntir dan ditelikung.

Akan tetapi, tangan yang memukul kepalanya itu berkelebat aneh dan tahu-tahu pipinya telah kena ditampar.

"Plakkk..."

Keras sekali tamparan itu, membuat kepala si muka pucat terasa nanar dan tentu saja ia menjadi marah bukan main.

Kemarahan membuat dia lengah dan dia masih tetap memandang rendah kepada perajurit mabok ini ketika dia membalas pula dengan tendangan tenaga yang cukup kuat.

Akan tetapi, Ci Kang dengan mudah mengelak dengan lagak sempoyongan dan pada saat kaki lawan masih terangkat, ujung sepatunya menotok ke arah lutut kaki lawan yang masih berpijak di atas tanah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh si muka pucat itupun terpelanting!

"Ha ha!"

Ci Kang tertawa-tawa seperti orang mabok dan bertepuk-tepuk tangan kegirangan sambil memandang orang yang terpelanting itu.

Kini tiga orang lainnya juga bangkit berdiri.

Orang yang mampu menampar teman mereka, bahkan mampu merobohkan dalam segebrakan saja, pasti bukan perajurit biasa!

"Siapa engkau?"

Bentak mereka dan kini mereka sudah mengurung bersama si muka pucat yang sudah bangkit kembali.

Akan tetapi Ci Kang bersikap pura-pura takut dikurung empat orang itu dan tiba-tiba diapun melompat ke belakang menjauhi empat orang itu yang kini menjadi semakin terkejut karena mereka yang mengurung itu ternyata tidak mampu menahan perajurit yang melompat jauh ke belakang itu.

Dan cara melompat Ci Kang juga mengejutkan mereka.

Ci Kang melayang ke arah belakang begitu saja dan berjungkir balik sampai lima kali!

Mereka dapat menduga bahwa orang yang berpakaian perajurit dan bersikap mabok-mabokan itu tentulah orang lihai yang mungkin adalah mata-mata musuh!

Maka, kini empat orang Hui-thian Sukwi itu lalu mencabut pedang mereka dan melakukan pengejaran.

Ci Kang sengaja memancing mereka agar menjauhi pondok dan pada saat itu, Cia Sun sudah cepat menyelinap masuk melalui jendela yang dibongkarnya dari luar.

Dan benar saja, tepat seperti yang diduganya, di dalam pondok itu terdapat Hui Cu yang dibelenggu kaki tangannya dan rebah di atas sebuah pembaringan!

Cia Sun tidak banyak bicara, cepat dia menghampiri dan menggunakan sinkangnya mematahkan belenggu yang mengikat kaki dan tangan Hui Cu.

Gadis itu terbelalak dan wajahnya berseri-seri ketika mengenal siapa pemuda yang menolongnya.

"Cia-toako..."

Keluhnya setelah kaki tangannya bebas dan ia hendak berlari menghampiri, akan tetapi karena terlalu lama kakinya dibelenggu, aliran darahnya terganggu dan iapun terhuyung dan tentu terbanting kalau saja Cia Sun tidak cepat menyambarnya dan merangkulnya.

Hui Cu menjadi (Lanjut ke

Jilid 35) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 35 merah mukanya akan tetapi ia tersenyum dan balas merangkul leher Cia Sun dengan mesra dan penuh penyerahan.

Ketika pemuda itu merasa betapa rangkulan Hui Cu tidak sewajarnya, melainkan rangkulan yang penuh arti, dia terkejut dan teringat akan ucapan Ci Kang bahwa gadis itu jatuh hati kepadanya, maka diapun cepat melepaskan rangkulannya dan membiarkan gadis itu berdiri.

"Aku harus membantu Ci Kang yang sedang bertempur melawan Hui-thian Sukwi,"

Katanya melihat betapa gadis itu memandang kecewa karena merasa betapa Cia Sun melepaskan rangkulan tadi dengan tiba-tiba dan agak kasar.

"Ahhh..."

Hui Cu seperti baru sadar.

"Mereka itu lihai sekali. Akan tetapi jangan tinggalkan aku, lebih dulu bawa aku ke tempat rahasia yang hanya diketahui oleh ibu dan aku. Mari..."

Ia menggandeng tangan Cia Sun dan diajaknya pcmuda itu melarikan diri melalui pintu belakang.

Gadis itu terus membawanya ke dalam taman dan membuka sebuah semak-semak yang cukup tebal.

Ternyata di bawah semak-semak ini terdapat sebuah bundaran besi yang segera digesernya dan nampaklah lubang.

Hui Cu mengajak Cia Sun memasuki lubang itu dan ternyata di bawahnya terdapat tangga batu.

Hui Cu menutupkan kembali bundaran besi dan segera otomatis semak-semak itupun ikut bergerak menutupi tempat rahasia itu.

Hui Cu terus berjalan turun sambil menggandeng tangan Cia Sun.

Tempat itu tidak begitu gelap dan sinar remang-remang keluar dari depan.

Dan ternyata lorong yang menyambung tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan segi empat.

Sebuah ruangan bawah tanah pula!

Matahari dapat memasukkan sinarnya dari lubang-lubang yang terdapat pada retakan-retakan batu-batu yang berada di atas gua bawah tanah ini.

Dan ternyata di ruangan itu terdapat sebuah lilin besar yang bernyala di atas meja.

Nyala itu kecil saja karena sumbunya kecil, akan tetapi lilinnya besar sekali, sehingga kalau dibiarkan bernyala, mungkin dalam waktu sebulan belum habis!

Dari nyala lilin inilah datangnya sinar remang-remang sampai ke lorong tadi.

"Tempat ini aman, toako. Hanya diketahui oleh ibu saja. Ibu yang memberitahukan kepadaku agar kalau sewaktu-waktu aku dapat lolos dari tangan iblis tua itu, aku dapat bersembunyi dengan aman di sini. Ibu sengaja menyuruh seorang ahli bersama rombongannya membuat tempat ini dalam waktu dua hari setelah aku ditangkap iblis itu."

Cia Sun mengerutkan alisnya.

"Hemm, kalau begitu selain engkau dan ibumu, masih ada beberapa orang lain yang mengetahui rahasia tempat ini, yaitu para pembuatnya,"

"Tidak, mereka itu berjumlah sembilan orang dan begitu tempat ini selesai, ibu telah membunuh mereka semua dan ibu bahkan menanam mayat mereka di dalam tanah di belakang ruangan ini!"

Diam-diam Cia Sun bergidik mendengar kekejaman luar biasa itu.

Ayah kandung gadis ini sudah jahat sekali, ternyata ibunya juga tidak kalah jahatnya.

Yang amat mengherankan adalah gadis ini yang ternyata memiliki perangai yang jauh bedanya dengan ayah bundanya, seperti bumi langit!

"Hui Cu, aku sekarang harus keluar membantu Ci Kang."

Akan tetapi Hui Cu menghampirinya dan merangkulnya.

"Jangan, toako... jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut kalau engkau celaka... lalu... bagaimana dengan aku? Kalau engkau mati, akupun tidak mau hidup lagi, toako. Aku... cinta padamu..."

Gadis itu mempererat pelukannya.

Cia Sun menjadi bingung akan tetapi dia adalah seorang gagah yang harus berani bertindak tegas dan tepat.

Dengan halus dia memegang kedua pundak Hui Cu dan mendorongnya ke belakang dan kini mereka saling pandang.

Dengan sinar mata penuh iba Cia Sun menatap wajah cantik yang agak pucat itu.

"Hui Cu, dengarlah baik-baik. Aku suka padamu, aku sayang padamu dan aku suka menjadi kakakmu. Akan tetapi sebelum aku bertemu denganmu, aku... aku sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain..."

"Ahhh... Kalau begitu engkau tentu akan meninggalkan aku, toako..."

"Tidak, biarpun aku tidak dapat berjodoh denganmu, aku akan selalu memperhatikan keadaanmu dan kalau perlu melindungimu. Aku sudah berhutang budi dan nyawa kepadamu, engkau seorang gadis baik... ah, aku harus membantu Ci Kang sekarang!"

"Toako..."

Hui Cu menahan tangisnya, akan tetapi kedua matanya basah.

"Aku ikut keluar lagi membantu kalian..."

"Jangan! Aku dan Ci Kang sudah susah-susah berusaha membebaskanmu, sekarang sudah bebas engkau hendak terjun kembali ke tempat berbahaya. Biarlah aku membantunya dulu, baru kami berdua masuk ke sini dan kita bicara."

Gadis itu mengangguk.

"Baiklah, toako. Aku percaya padamu, dan kalau engkau tidak kembali ke sini, sampai matipun aku tidak akan mau keluar dari tempat ini!"

Cia Sun merasa terharu sekali.

Dia mendekat, dipegangnya kedua pundak gadis itu dan dengan penuh rasa terharu dan sayang dia mencium kepala gadis itu, lalu berkelebat keluar dari ruangan melalui lorong dan naik kembali ke atas taman dengan membuka penutup besi dan menyingkap semak-semak.

Ketika dia berlari ke depan pondok, ternyata Ci Kang dikurung oleh empat orang itu dan betapapun lihainya Ci Kang, dia terdesak juga oleh gerakan empat orang yang mengeroyoknya.

Gerakan Hui-thian Sukwi itu memang benar-benar cepat dan ringan, dapat berloncatan seperti kijang saja.

Melihat kawannya terdesak, Cia Sun cepat meloncat dan begitu dia menyerang kepungan terhadap Ci Kang itu pecah dan kini empat orang itu terkejut bukan main.

Seorang perajurit lain datang dan ternyata perajurit yang baru datang ini kepandaiannya tidak kalah lihainya dari perajurit pertama!

Setelah Cia Sun membantu, keadaan menjadi berobah.

Sebentar saja kedua orang pendekar muda ini dapat mendesak empat orang lawan itu, bahkan mereka berdua mampu merampas pedang dan membuat dua orang lawan terpelanting.

Hui-thian Sukwi menjadi gentar juga dan tiba-tiba mereka teringat kepada tawanan mereka.

Tanpa mereka sadari, mereka telah terpancing menjauhi pondok dan perkelahian itupun terjadi jauh dari pondok.

Teringat akan hal ini, juga gentar terhadap dua orang perajurit muda yang amat lihai itu, mereka lalu berloncatan meninggalkan gelanggang perkelahian dan kembali ke dalam pondok untuk menjaga agar tawanan mereka jangan sampai lolos.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka ketika mereka memasuki pondok, ternyata tawanan itu telah lenyap, hanya tinggal borgol kosong berserakan di atas pembaringan!

"Celaka..."

Teriak si muka pucat dan merekapun keluar dari pondok dan berteriak-teriak minta tolong.

Mendengar teriakan-teriakan ini, berbondong-bondong berdatanganlah perajurit-perajurit penjaga dan keadaan menjadi kalut.

Ketika Hui-thian Sukwi mencari-cari, dua orang pemuda yang berpakaian perajurit itu telah lenyap pula dari situ!

Mereka mengatur pasukan penjaga dan mencari-cari tanpa hasil.

Tentu saja mereka tidak berhasil menemukan Ci Kang dan Cia Sun karena dua orang pemuda ini sudah aman berada di dalam gua bawah tanah bersama Hui Cu!

Ketika melihat Hui-thian Sukwi tadi lari ke pondok, Cia Sun lalu menarik tangan Ci Kang dan mengajaknya menyusul Hui Cu di tempat persembunyiannya.

Hui Cu merasa girang sekali melihat mereka masuk ke dalam gua bawah tanah, akan tetapi kegirangan itu hanya sebentar saja karena dara ini lalu duduk termenung dengan wajah murung, teringat bahwa cintanya terhadap Cia Sun tidak mendapatkan sambutan.

Ci Kang tidak tahu mengapa gadis itu nampak murung, maka untuk memecahkan kesunyian yang mencekam di antara mereka, sambil duduk di atas lantai bersandar dinding batu, dia berkata.

"Sungguh aneh nasib kita bertiga ini. Untuk kedua kalinya kita bertiga berkumpul menjadi satu di tempat persembunyian yang hampir serupa, di dalam gua bawah tanah. Inilah yang dinamakan jodoh barangkali!"

Ucapan ini tidak disengaja menyindir sesuatu, akan tetapi Cia Sun dan Hui Cu yang baru saja bicara tentang cinta itu merasa tersindir dan wajah Cia Sun menjadi merah, sebaliknya wajah Hui Cu menjadi semakin muram.

Gadis itu dari tempat duduknya, sebuah bangku satu yang berada di situ, memandang kepada Cia Sun yang juga duduk di atas lantai bersandar dinding batu untuk memulihkan tenaga dan tiba-tiba gadis itu bertanya, suaranya lirih dan polos.

"Cia-toako, siapakah gadis yang kau cinta itu?"

Pertanyaan yang tiba-tiba dan tidak terduga-duga ini bukan hanya mengejutkan Cia Sun, akan tetapi juga Ci Kang.

Barulah Ci Kang mengerti bahwa agaknya Cia Sun sudah memberi tahu kepada Hui Cu bahwa dia tidak dapat menerima cintanya karena telah mencinta gadis lain!

Pantas saja wajah gadis yang cantik itu nampak muram saja sejak tadi.

Dia merasa kasihan sekali dan tidak berani memandang wajah cantik itu lama-lama karena makin dipandang makin menimbulkan rasa iba.

"Hui Cu, tak perlu aku mengatakan siapa gadis itu. Engkau pun tidak akan mengenalnya."

Suasana menjadi sunyi sekali karena ucapan itu keluar dari mulut Cia Sun dengan suara tergetar.

Mereka bertiga termenung dalam lamunan masing-masing.

Ci Kang dan Hui Cu tidak tahu bahwa keadaan Cia Sun tiada bedanya dengan mereka.

Hui Cu mencinta Cia Sun akan tetapi tidak terbalas.

Cia Sun mencinta Sui Cin namun gadis itupun agaknya tidak dapat membalas cintanya.

Apalagi Ci Kang yang mencinta Sui Cin akan tetapi malah melakukan suatu hal yang amat buruk terhadap gadis itu sehingga tidak mungkin gadis itu akan membalas cintanya.

Tiga orang muda ini tenggelam dalam kesedihan masing-masing karena cinta yang bertepuk scbelah tangan, cinta gagal!

Tiba-tiba Cia Sun dan Ci Kang meloncat berdiri dan dengan mata tajam memandang ke arah lorong dan siap siaga.

Mereka mendengar gerakan orang dan tak lama kemudian berkelebat bayangan orang dan disusul munculnya Ratu Iblis di ruang itu.

Wajah nenek yang biasanya pucat kehijauan itu kini nampak makin menyeramkan dengan sepasang mata yang mencorong dan liar memandang kepada dua orang pemuda itu.

"Kalian lagi!"

Terdengar Ratu Iblis membentak marah.

"Sekali ini kalian harus mati untuk menyimpan rahasia tempat ini!"

Dan cepat iapun sudah menyerang ke depan, pedangnya menyambar dalam bentuk sinar berkilat ke arah dada Ci Kang sedang rambutnya yang panjang menyambar dalam bentuk sinar putih ke arah leher Cia Sun.

Nenek ini sudah mempergunakan dua senjatanya yang ampuh untuk merobohkan dua orang muda itu dan jangan dikira bahwa serangan rambutnya itu tidak berbahaya.

Bahkan dibandingkan dengan serangan pedangnya, mungkin lebih berbahaya.

Akan tetapi dua orang muda perkasa itu sudah siap dan karena mereka maklum akan kelihaian nenek itu, merekapun cepat meloncat ke belakang sehingga serangan pedang dan rambut itu tidak mengenai sasaran.

Dan loncatan itu membuat Cia Sun dan Ci Kang berjauhan sehingga tak mungkin bagi nenek itu untuk melakukan serangan ganda kepada mereka.

Terpaksa ia menyerang orang terdekat, yaitu Ci Kang, dengan sambaran pedangnya.

Serangan itu hebat sekali, membuat Ci Kang terdesak dan berloncatan ke belakang menghindarkan pedang yang menyambar-nyambar susul-menyusul itu.

Melihat ini, Cia Sun menerjang maju mengirim totokan ke arah punggung nenek itu untuk menolong sahabatnya.

Ratu Iblis mendengar desir angin dari belakang, membalikkan kepala dan rambutnya menyambut tangan Cia Sun yang menotok, bermaksud menangkap pergelangan tangan itu dengan rambutnya.

Namun Cia Sun yang menyerang hanya untuk membantu sahabatnya dan mengurangi penekanan terhadap Ci Kang, mengelak dengan cara menarik kembali tangannya.

"Ibu, jangan..."

Hui Cu berseru dan ia sudah meloncat ke depan, menghadang di depan ibunya.

Sejenak ibu dan anak saling berpandangan.

Nenek itu masih memegang pedangnya dan ia menggerakkan kepala sehingga rambutnya yang riap-riapan panjang itu kini dari depan pindah ke belakang.

"Hui Cu, dahulu engkau membela dua orang ini dan sekarang masih kau ulangi lagi sikapmu itu. Akan tetapi tidak, sekali ini mereka harus mampus! Tempat ini merupakan rahasia kita sendiri, tidak boleh ada yang tahu. Yang tahu harus kubunuh!"

Ia sudah hendak menyerang lagi, akan tetapi dengan berani Hui Cu memegang lengan ibunya.

"Tidak boleh, ibu! Ketahuilah, mereka ini yang telah membebaskan aku dari kurungan, dari belenggu dan ancaman iblis tua itu! Kalau tidak ada mereka, tentu aku telah celaka. Mereka telah melepas budi kebaikan kepadaku, maka harus kubela mereka."

"Budi tahi kucing!"

Nenek itu membentak marah.

"Bicara tentang budi adalah kebohongan besar. Tidak ada budi di dunia ini. Semua orang yang melakukan sesuatu untuk membantu orang lain tentu mengandung pamrih!"

"Ibu jangan mengukur orang lain seperti teman-teman ibu sendiri! Teman-teman ibu memang orang-orang yang tak mengenal budi dan semua perbuatannya mengandung pamrih kotor. Akan tetapi, dua orang pendekar ini menolong tanpa pamrih dan akupun tidak mau menjadi orang yang tidak mengenal budi. Mereka sengaja kuajak ke sini untuk bersembunyi dan siapapun yang akan mengganggu mereka, akan kulawan. Juga ibu!"

Sejenak nenek itu ragu-ragu, akan tetapi ia lalu menarik napas panjang dan menyarungkan lagi pedangnya.

Ia terlalu mencinta puterinya dan demi cintanya kepada puterinya ia bahkan berani menentang suaminya, walaupun secara diam-diam.

"Baiklah, aku ampunkan mereka ini. Akan tetapi kalian harus berjanji untuk merahasiakan tempat ini!"

"Baik, kami berjanji,"

Kata Ci Kang yang tidak ingin ribut-ribut di tempat itu karena biarpun dia tidak takut menghadapi nenek ini, akan tetapi dia merasa tidak enak terhadap Hui Cu kalau harus menentang ibu kandung gadis itu di depannya.

"Dan kalian harus berjanji pula untuk melindungi anakku!"

Kata pula nenek itu.

Diam-diam dua orang pendekar muda itu mendongkol.

Nenek ini memang keterlaluan, bersikap seolah-olah sebagai seorang pemenang yang memberi ampun dan mengajukan syarat-syarat dan tuntutan-tuntutan.

Padahal, mereka berdua tidak pernah kalah dan juga tidak takut menghadapi nenek ini.

Akan tetapi, karena memang di dalam hatinya Cia Sun merasa suka kepada Hui Cu, tanpa ragu-ragu diapun berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Baik, kami berjanji!"

Setelah dua orang pemuda itu berjanji untuk merahasiakan tempat itu dan melindungi puterinya, barulah nenek itu merasa puas.

"Hui Cu, jangan tinggalkan tempat ini sebelum aku datang menjemputmu,"

Pesannya kepada puterinya dan nenek inipun lalu berkelebat pergi, keluar dari tempat rahasia itu.

Setelah ibunya pergi, Hui Cu menghadapi dua orang pendekar itu.

"Harap kalian suka maafkan ibuku tadi."

Cia Sun tersenyum.

"Hui Cu, sungguh aku merasa heran sekali melihat betapa suami isteri seperti Raja dan Ratu Iblis dapat mempunyai seorang puteri seperti engkau. Sungguh seperti bumi dan langit bedanya!"

Gadis itu menjadi agak cerah wajahnya mendengar pujian Cia Sun ini walaupun pandang matanya masih suram dan iapun lalu mempersiapkan bahan-bahan masakan yang terdapat banyak di tempat itu untuk membuatkan makanan.

Ada mi kering, daging kering dan gandum, juga beras sehingga sebentar saja, mereka bertiga sudah makan bersama untuk mengisi perut mereka yang sudah amat lapar.

Pada malam harinya, Ci Kang dan Cia Sun meninggalkan Hui Cu yang tidak dapat menahan mereka.

"Engkau tinggallah di sini, Hui Cu. Kami berdua harus menolong ketua Cin-Ling-Pai yang juga menjadi tawanan di sini. Mungkin kalau kami berhasil, kami akan membawanya ke sini juga untuk bersembunyi. Andaikata kami gagal, kami tentu akan kembali ke sini malam ini juga."

Terpaksa Hui Cu membiarkan mereka pergi dan dua orang pemuda itu lalu menyusup-nyusup lagi dalam penyamaran mereka sebagai dua orang perajurit.

Mereka bersikap hati-hati sekali karena mereka tahu bahwa setelah Hui-thian Sukwi menceritakan pengalamannya tentu kini para pemberontak sudah tahu bahwa ada dua orang musuh yang menyamar sebagai perajurit pasukan mereka.

Untung bagi mereka bahwa keadaan di kota Sanhaikoan malam itu tidak seperti hari-hari yang lalu.

Nampak para perajurit hilir mudik dalam keadaan panik dan sebentar saja mereka berdua mendengar bahwa kota ini telah dikepung oleh pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Inilah sebabnya maka para perajurit di dalam kota benteng itu menjadi gelisah dan mereka sudah membuat persiapan pertempuran sehingga tidak begitu memperhatikan berita tentang dua orang mata-mata musuh yang menyelundup itu.

Dan dengan sendirinya, mudah saja bagi Cia Sun dan Ci Kang untuk menyusup di antara banyak perajurit yang berseliweran itu.

Mendengar bahwa benteng itu telah dikepung pasukan pemerintah, Cia Sun dan Ci Kang merasa girang, akan tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus cepat-cepat membebaskan Cia Kong Liang sebelum terlambat.

Kalau Raja Iblis menganggap bahwa ketua Cin-Ling-Pai itu tidak ada gunanya lagi sebagai tawanan, tentu akan dibunuhnya.

Dan mengingat bahwa pasukan pemerintah sudah bergerak mengurung kota Sanhaikoan, bukan tidak mungkin ketua Cin-Ling-Pai itu kini terancam bahaya besar.

Kesibukan-kesibukan luar biasa terjadi di mana-mana, juga di penjara.

Pasukan-pasukan hilir-mudik dan nampak gelisah dan tegang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Cia Sun dan Ci Kang untuk menyusup memasuki penjara.

Tiba-tiba, sampai di pintu gerbang sebelah dalam, seorang perwira penjaga melintangkan pedangnya di depan mereka dan memandang tajam.

"Mau apa kalian? Kalian bukan anggota pasukan penjaga di tempat ini!"

Bentaknya dengan sikap curiga.

"Ciangkun, apa kau mencurigai kami? Jangan mengira kami adalah dua orang mata-mata yang membikin kacau itu. Ketahuilah, kami diutus oleh Toan Ongya sendiri!"

Kata Ci Kang.

Perwira itu terkejut dan sikapnya berubah.

Kalau benar dua orang ini utusan Toan Ongya, sungguh dia tidak boleh bersikap lancang atau kurang hormat karena hal itu bisa berarti hukuman berat baginya!

Akan tetapi dia masih ragu-ragu.

"Kalau benar kalian utusan Toan Ongya, mana surat perintahnya atau tanda pengenalnya?"

Ci Kang mengerutkan alisnya, bersikap pura-pura marah.

"Apa? Kau tidak mempercaya kami sebagai utusan Toan Ongya? Apakah kami tidak boleh melaksanakan perintah itu? Baik, kami akan kembali dan melaporkan kepada Toan Ongya bahwa seorang perwira berani melarang kami dan membangkang terhadap perintah Toan Ongya!"

Wajah perwira itu menjadi pucat.

"Ah, bukan begitu maksudku! Saudara berdua harus tahu bahwa kita harus bersikap waspada dan aku bersikap begini karena berhati-hati. Baiklah, secara persahabatan saja, benarkah kalian ini utusan Toan Ongya? Dan bagaimana aku dapat yakin akan kebenaran pengakuan kalian itu?"

"Ciangkun, dalam keadaan benteng dikepung musuh dan terancam bahaya ini, mana Toan Ongya sempat memberi tanda pengenal segala macam? Kami adalah kepercayaan beliau dan kami diutus untuk menemui Cia Kong Liang..."

"Ketua Cin-Ling-Pai? Wah, ini gawat! Kami diperintahken untuk menjaganya baik-baik agar dia jangan sampai lolos dan perintah itu kami terima sendiri dari Toang Ongya."

"Jadi kau tetap tidak percaya kepada kami?"

Ci Kang bertanya dengan suara menantang. Sikap ini kembali membuat perwira itu ketakutan.

"Tidak, tidak demikian. Akan tetapi aku harus berhati-hati karena akupun mempunyai tanggung jawab. Kalau kalian hanya mengunjungi saja tidak mengapa, akan tetapi kalau hendak membawa pergi ketua Cin-Ling-Pai itu terpaksa kami menentang. Aku sendiri menerima perintah dari Toan Ongya dengan pesan bahwa kecuali Toan Ongya sendiri, siapapun tidak boleh membawa tawanan itu!"

Ci Kang bertukar pandang dengan Cia Sun dan tiba-tiba Cia Sun yang berkata, suaranya halus membujuk.

"Ciangkun, harap tidak usah khawatir. Kami diutus Toan Ongya untuk membunuh ketua Cin-Ling-Pai itu, dengan tangan kami sendiri!"

Diam-diam Ci Kang terkejut akan tetapi dia dapat menekan perasaannya sehingga wajahnya biasa saja walaupun sinar matanya memandang Cia Sun penuh selidik.

Perwira itu sendiri nampak lega.

"Ah, kalau untuk membunuhnya tentu saja aku setuju sekali. Lebih cepat dibunuh lebih baik agar tidak menjadi beban penjagaan saja. Mari kuantar sendiri kalian ke sana!"

Diam-diam Cia Sun memberi isyarat dengan pandang mata kepada Ci Kang sehingga pemuda ini yakin bahwa Cia Sun mempergunakan siasat ketika mengatakan hendak membunuh ketua Cin-Ling-Pai, maka diapun diam saja.

Tak lama kemudian mereka dapat dengan mudah tiba di depan kamar tahanan berkat pengawalan perwira itu dan dari jeruji jendela kamar tahanan mereka melihat ketua Cin-Ling-Pai dengan kaki tangan diborgol masih duduk bersila seperti arca.

"Nah, itu dia,"

Kata sang perwira.

Belasan orang penjaga yang mendengar bahwa dua orang perajurit muda yang datang itu adalah utusan Toan Ongya, untuk membunuh ketua Cin-Ling-Pai, merasa tertarik dan merekapun datang bergerombol untuk menonton, berdiri di depan kamar tahanan.

Melihat ini, Cia Sun lalu berkata kepada sang perwira.

"Ciangkun, karena kami tidak membawa pedang, tolong pinjamkan pedangmu itu untuk kupakai memenggal lehernya!"

Wajah perwira itu berseri dan dia segera mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada Cia Sun.

"Ah, sungguh pedangku memperoleh kehormatan besar untuk memenggal leher ketua Cin-Ling-Pai, ha-ha-ha! Kelak akan menjadi kebanggaanku!"

Sementara itu, Cia Kong Liang membuka matanya dan mendengar semua percakapan itu.

Diam-diam dia terkejut mendengar ucapan Cia Sun, akan tetapi ketika dia melihat Ci Kang, dia mengenalnya dan hatinya menjadi tenang, apalagi dia menangkap isyarat mata Ci Kang kepadanya.

Perwira itu dengan gembira membuka pintu penjara dan semua perajurit penjaga penjara itu berdatangan untuk menonton pelaksanaan hukuman mati dari ketua Cin-Ling-Pai itu.

Tanpa ragu-ragu lagi Cia Sun berkata.

"Ciangkun, seret dia keluar dari dalam kamar tahanan. Aku akan melakukan hukuman mati itu di lapangan penjara agar semua perajurit dapat melihatnya."

Ucapan ini merupakan siasat Cia Sun yang ingin mengetahui kekuatan penjagaan di situ, dan kalau semua berkumpul, agaknya akan lebih mudah baginya dan Ci Kang untuk membawa ketua Cin-Ling-Pai melarikan diri.

Perwira itu menjadi semakin girang dan bangga.

"Hayo bangun dan ikut kami!"

Bentaknya sembil memegang lengan Cia Kong Liang dan dengan kasar menariknya bangkit berdiri.

Cia Kong Liang bersikap tenang, bangkit berdiri dan dengan kaki tangan terbelenggu diapun diseret keluar dari dalam kamar tahanan.

Pengikat kaki tangan ketua Cin-Ling-Pai ini tidak terbuat dari besi.

Raja Iblis maklum bahwa ketua ini memiliki tenaga sinkang yang besar sehingga belenggu besi akan dapat dipatahkannya.

Maka untuk membuatnya tidak berdaya, kaki tangannya diikat pada pergelangannya dengan tali sutera yang amat ulet dan lentur sehingga tenaga sinkang tidak akan mampu membikin putus karena tali itu kalau direntangkan dapat mulur akan tetapi tidak dapat putus saking uletnya.

Inilah sebabnya mengapa Cia Sun minta pinjam pedang.

Kalau belenggu itu dari besi, tangannya akan mampu mematahkannya.

Akan tetapi, tali sutera seperti itu hanya akan dapat dibikin putus dengan menggunakan senjata tajam.

Pula, ketua Cin-Ling-Pai itu mungkin membutuhkannya, tidak seperti dia dan Ci Kang yang cukup bertangan kosong saja.

Dia minta agar tawanan dibawa ke lapangan karena di tempat ini mereka akan lebih leluasa bergerek kalau dikeroyok, tidak seperti di dalam kamar tahanan yang sempit.

Kini Ci Kang dapat menebak apa yang direncanakan oleh sahabatnya yang cerdik itu maka diapun sudah bersiap-siap.

Kini Cia Kong Liang sudah berada di tengah-tengah lapangan, dikelilingi para perajurit penjaga yang hendak nonton pelaksanaan hukuman mati itu.

Ketua Cin-Ling-Pai itu tetap berdiri dengan sikap gagah.

Cia Sun menghampirinya dengan pedang di tangan dan hati para penonton menjadi tegang.

"Pangcu, aku menerima perintah dari Toan Ongya untuk menjatuhkan hukuman mati kepadamu. Maka, kuminta agar engkau suka menyerahkan nyawa dengan ikhlas dan memasang dirimu agar pedang ini dapat melaksanakan tugas sebaiknya!"

Cia Kong Liang memandang wajah pemuda itu dan diapun menjawab dengan suara lantang dan gagah.

"Aku akan menghadapi kematian dengan berdiri!"

Dan diapun menjulurkan kedua lengan yang diikat menjadi satu, juga kedua kakinya agak direntangkan.

"Baik, bersiaplah!"

Cia Sun berkata dan semua mata kini dengan terbelalak memandang ke arah pedang yang sudah diangkat ke atas kepala oleh Cia Sun.

Tiba-tiba pedang itu berkelebat ke bawah dua kali dan putuslah tali sutera pengikat lengan dan kaki Cia Kong Liang sehingga ketua itu menjadi bebas!

"Heiii..."

Perwira itu berteriak akan tetapi teriakannya terhenti di tengah jalan karena dia sudah roboh dan pingsan oleh tamparan Ci Kang yang mengenai tengkuknya.

Gegerlah keadaan di situ!

Pedang yang tadi membikin putus belenggu kaki tangan Cia Kong Liang, kini telah berada di tangan ketua itu dan bersama Cia Sun dan Ci Kang, dia mengamuk dan merobohkan banyak pengeroyok yang masih panik karena perubahan keadaan yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangka itu.

"Locianpwe, mari kita pergi!"

Ci Kang berkata sambil mendekati Cia Kong Liang yang mengamuk dengan pedangnya itu.

"Baik!"

Kata ketua Cin-Ling-Pai karena diapun tahu bahwa mereka bertiga saja, betapapun lihainya, tidak mungkin akan mampu menghadapi pengeroyokan banyak sekali perajurit, apalagi mereka berada di dalam benteng musuh.

Untung bagi mereka bahwa pada saat itu, pasukan pemerintah yang mengepung benteng itu mulai bergerak dan pertempuran mulai terjadi di sepanjang tembok benteng sehingga ketika ketiganya melarikan diri, keadaan di luar penjara cukup kacau balau sehingga sukarlah bagi para pengejar mereka untuk dapat mengikuti jejak mereka.

Apalagi para pengejar itupun merasa gentar menyaksikan kelihaian tiga orang itu yang dalam waktu singkat saja sudah merobohkan puluhan orang pengeroyok.

Setelah menyusup-nyusup, akhirnya dua orang pendekar muda itu berhasil mengajak Cia Kong Liang memasuki gua rahasia di bawah tanah dan mereka disambut dengan girang oleh Hui Cu.

Melihat gadis ini, Cia Kong Liang merasa heran dan dia segera bertanya.

"Siapakah nona ini?"

Bagaimanapun juga, dia tentu saja ingin mengenal semua orang yang berada di situ, mengingat bahwa mereka semua masih berada di tempat yang berbahaya.

"Lociainpwe, nona ini adalah Toan Hui Cu, puteri dari... Pangeran Toan Jit Ong."

Ci Kang hampir saja menyebut nama Raja Iblis, akan tetapi diubahnya ketika dia teringat bahwa gadis itu tentu akan merasa tersinggung dan tidak enak kalau ayahnya disebut Raja Iblis.

Akan tetapi, mendengar bahwa gadis itu puteri Pangeran Toan Jit Ong, berarti puteri Raja Iblis, ketua Cin-ling-pai itu terbelalak dan mukanya berobah merah.

Tangannya yang masih memegang pedang tadi bergerak dan dia sudah menyerang Hui Cu dengan pedangnya!

Akan tetapi dia terkejut karena tiba-tiba saja tubuh gadis itu lenyap dan ternyata dengan gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya, gadis itu telah melompat jauh ke belakang sambil mengerutkan alisnya.

"Toako, kenapa kalian membawa orang sejahat itu ke sini?"

Teriak Hui Cu penasaran. Sementara itu, Cia Sun dan Ci Kang cepat melerai dan berkata.

"Harap locianpwe suka menyimpan kembali pedang itu. Biarpun ia puteri Pangeran Toan, akan tetapi ia sama sekali tidak boleh disamakan dengan ayahnya atau ibunya. Ia menentang kejahatan orang tuanya dan ia pernah menyelamatkan nyawa kami, bahkan sekarangpun kalau tidak ada ia yang menunjukkan tempat rahasia ini, kita bertiga jangan harap dapat lolos dari Sanhaikoan."

Cia Kong Liang menarik napas panjang dan diapun melepaskan pedangnya yang jatuh berdenting ke atas lantai.

Dia teringat akan isterinya.

Bukankah isterinya juga puteri seorang datuk sesat?

Isterinya juga tidak dapat dikatakan berwatak penjahat, walaupun dia tahu bahwa ayah mertuanya, yang sudah lama mencuci tangan, kini agaknya kumat lagi dan bersekutu dengan pemberontak yang dipimpin datuk-datuk sesat.

"Maafkan aku,"

Katanya lirih kepada Hui Cu yang kini berani mendekat lagi.

"Nona Toan Hui Cu ini bahkan dimusuhi oleh ayahnya sendiri,"

Ci Kang menambahkan.

Cia Kong Liang menggeleng-geleng kepala keheranan, lalu memandang kepada Ci Kang dengan sinar mata mengandung kagum dan terima kasih.

"Dan sekarang baru kita sempat bicara, orang muda. Siapakah engkau dan mengapa engkau dengan berani mati telah menolongku?"

Ci Kang tersenyum pahit dan diapun menjawab.

"Locianpwe, keadaan saya tidak banyak bedanya dengan keadaan nona Hui Cu. Nama saya Siangkoan Ci Kang dan ayah saya adalah mendiang Siangkoan Lojin..."

"Ahhh..."

Kembali Cia Kong Liang terkejut sekali.

Dia tahu siapa adanya Siangkoan Lojin alias Si Iblis Buta!

Seorang datuk sesat yang terkenal jahat, yang mengepalai para datuk sesat untuk mengeruhkan dunia kang-ouw.

Dan pemuda yang amat disukanya dan dikaguminya ini, pemuda yang sudah menolongnya secara cerdik dan berani, adalah putera datuk sesat itu!

"Saudara Siangkoan Ci Kang ini, walaupun orang tuanya menjadi datuk sesat, namun dia sendiri berjiwa pendekar sejati yang selalu menentang kejahatan, dan memang benar bahwa agaknya keadaannya tidak berbeda dengan nona Toan Hui Cu."

Cia Sun menerangkan.

Cia Kong Liang menarik napas panjang beberapa kali sambil mengangguk-angguk dan memandang kepada Ci Kang.

"Siangkoan Ci Kang,"

Akhirnya dia berkata.

"kalau melihat putera seorang pendekar menjadi orang gagah, hal itu tidaklah aneh dan tidak perlu dibicarakan lagi. Akan tetapi putera seorang raja datuk sesat menjadi seorang pendekar budiman, sungguh hal ini merupakan suatu yang luar biasa dan amat mengagumkan."

Kemudian dia memandang kepada Cia Sun.

"Dan engkau sendiri, orang muda. Siapakah kau?"

Cia Sun menjura dengan hormat.

"Harap locianpwe suka memaafkan kalau saya bersikap kurang pantas. Sesungguhnya, saya adalah cucu keponakan locianpwe sendiri, nama saya Cia Sun dan ayah bernama Cia Han Tiong."

Sepasang mata ketua Cin-Ling-Pai itu terbelalak dan wajahnya berseri ketika dia mengulur tangan dan memegang lengan pemuda itu.

"Ahh..."

Kiranya engkau putera Cia Han Tiong?

Pantas...

Cia Sun, bagaimana kabarnya dengan ayah dan ibumu?

Apakah masih tinggal di Lembah Naga?"

"Terima kasih, ayah baik-baik saja dan masih berada di Lembah Naga, akan tetapi ibu telah tewas terbunuh orang jahat."

Cia Sun lalu menceritakan keadaan keluarganya dengan singkat dan percakapan lalu menjurus ke arah pemberontakan itu sendiri.

"Aku telah tertipu! Aku telah khilaf karena kesembronoanku sendiri!"

Ketua Cin-Ling-Pai itu mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.

"Tanpa penyelidikan lebih dahulu aku telah membawa keluarga dan murid-murid Cin-Ling-Pai untuk membantu pasukan pemberontak, karena tadinya kukira bahwa pemberontak Ji-ciangkun adalah suatu perjuangan yang menentang pemerintah lalim. Siapa kira, Ji-ciangkun sendiri diperalat oleh para datuk sesat yang hendak mencari kedudukan. Aku memberontak terhadap mereka dan ditawan, dan entah bagaimana nasib keluarga dan para muridku di Cengtek."

Tiba-tiba terdengar suara keras dan gaduh di sebelah atas.

"Ah, di atas terjadi pertempuran besar!"

Kata Hui Cu ketika mereka semua terkejut mendengar kegaduhan itu.

"Kota ini telah dikepung oleh pasukan besar pemerintah dan mungkin sekali kini telah terjadi pertempuran,"

Kata Ci Kang.

"Bagus!"

Cia Kong Liang bangkit berdiri dan mengambil pedang yang tadinya dilemparkan ke atas lantai.

"Inilah kesempatan baik begiku untuk menebus dosa. Aku harus keluar membantu pasukan pemerintah dan menyerang para pemberontak laknat itu!"

"Akan tetapi kita harus bertindak hati-hati, locianpwe. Sebelum benteng ini bobol, kita bertiga saja mana mungkin dapat menghadapi pasukan besar,"

Ci Kang membantah.

"Tentu saja kita harus melihat keadaan,"

Kata Cia Kong Liang yang sudah bangkit kembali semangatnya.

"Mari kita keluar, kita melakukan pembakaran-pembakaran dan pengrusakan-pengrusakan untuk menimbulkan kekacauan dari dalam."

Cia Sun memandang kagum.

Ketua Cin-Ling-Pai ini memang gagah perkasa dan penuh semangat, sayang sekali tadinya agak ceroboh sehingga mudah tertipu.

"Memang sebaiknya kalau kita keluar melakukan penyelidikan dari pada menduga-duga di tempat ini dan tidak berbuat apa-apa."

"Harap kalian jangan pergi meninggalkan aku lagi!"

Kata Hui Cu.

"Atau kalau kalian terpaksa pergi juga, aku akan ikut!"

"Hui Cu, kami keluar untuk melawan anak buah orang tuamu, sebaiknya engkau tinggal saja di sini menunggu kedatangan ibumu. Tak mungkin engkau melawan ayahmu sendiri,"

Kata Ci Kang.

Mendengar ini, wajah yang cantik dan agak pucat itu menjadi murung dan gadis itu hampir menangis, kini memandang kepada Cia Sun dengan sinar mata penuh permohonan.

Cia Sun merasa kasihan dan memegang tangan gadis itu.

"Hui Cu, kami terpaksa meninggalkanmu di sini. Tinggallah kau di sini. Kalau engkau ikut dan terlihat oleh ayahmu, tentu engkau terancam bahaya besar dan kami sudah berjanji kepada ibumu untuk menjagamu. Tinggallah di sini dan aku berjanji bahwa kalau pertempuran sudah selesai, aku pasti menjemputmu di sini."

Akhirnya Hui Cu tidak membantah lagi, akan tetapi tidak lama setelah tiga orang itu keluar, Hui Cu tidak tahan untuk berada di tempat itu seorang diri saja dan iapun segera menyelinap keluar.

Hati Sui Cin girang sekali bahwa ia telah berhasil mengantar Hui Song, Siang Wi dan para murid Cin-Ling-Pai keluar dari dalam benteng Cengtek dengan selamat.

Ia berpisah dari mereka dan kembali ke Cengtek untuk membantu pasukan suku bangsa, yang dipimpin Yelu Kim menyerbu Cengtek.

Ia bergerak di antara para perajurit dan mencari gurunya.

Pasukan para suku bangsa utara itu telah memperoleh kemajuan, telah menyerbu ke dalam dan kini terjadi pertempuran-pertempuran sengit di sebelah dalam kota benteng Cengtek di mana pihak penyerbu mulai mendesak pasukan pemberontak yang bertahan.

Akhirnya Sui Cin menemukan gurunya, nenek Yelu Kim sedang memimpin pasukan pengawal di depan sebuah gedung.

Yelu Kim juga girang melihat muridnya.

Tadi ia sudah merasa khawatir karena belum juga melihat gadis itu yang bertugas sebagai penyelundup untuk mengacau sebelah dalam benteng musuh.

Tiba-tiba dari dalam gedung itu bermunculan serombongan orang yang langsung menyerbu pasukan pengawal Yelu Kim.

Ada tiga belas orang yang menerjang itu dan ternyata mereka semua memiliki gerakan yang cepat dan kuat, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Beberapa orand perajurit pengawal Yelu Kim sudah roboh dalam segebrakan saja.

Ketika Sui Cin memandang, ternyata mereka itu adalah datuk-datuk sesat yang diperbantukan di Cengtek oleh Raja Iblis.

Tiga belas orang itu dipimpin oleh Koai-pian Hek-mo, Hwa Hwa Kuibo dan Tho-tee-kwi, tiga orang dari Cap-sha-kui yang lihai!

"Hati-hati, subo, tiga orang itu adalah orang-orang Cap-sha-kui yang lihai!"

Katanya memperingatkan gurunya dan ia sendiri sudah menerjang maju dengan cepatnya.

Gerakannya yang lincah ini disambut oleh Koai-pian Hek-mo dan Hwa Hwa Kuibo.

Koai-pian Hek-mo sudah menggerakkan pecut bajanya yang panjang dilecutkan ke arah kepala Sui Cin, sedangkan Hwa Hwa Kuibo juga sudah menyambut dengan tusukan pedang.

"Wuuuuttt..."

Secara luar biasa sekali tubuh Sui Cin yang masih melayang di udara itu menukik dan mengelak bagaikan seekor burung walet saja gesitnya dan serangan dua orang itu luput.

Kini Sui Cin sudah turun dan berhadapan dengan mereka sambil tersenyum-senyum ia bertolak pinggang.

Ia mentertawakan dua orang musuh besarnya ini dan teringat betapa kurang lebih empat tahun lalu ia pernah bertanding menghadapi dua orang tokoh Cap-sha-kui ini.

"Hihik, kiranya dua orang tua bangka Cap-sha-kui yang sudah bosan hidup! Beberapa tahun yang lalupun kalian tidak menang melawanku, apalagi sekarang. Kalian sudah menjadi semakin tua, sedangkan kepandaianku semakin maju!"

Tadinya dua orang tokoh Cap-sha-kui itu tidak mengenal Sui Cin, akan tetapi setelah gadis itu bicara dan tertawa, mereka teringat dan keduanya merasa kaget dan marah sekali.

Sepasang mata di balik kedok hitam dari Hwa Hwa Kuibo itu mengeluarkan sinar berapi dan mulutnya yang lebar dengan gigi besar-besar putih itu terbuka.

"Kiranya engkau bocah setan! Sekarang aku tidak akan mengampuni kamu lagi!"

Dan secepat kilat tangan kirinya bergerak dan dua sinar hitam menyambar ke arah tubuh Sui Cin.

Gadis ini sudah maklum bahwa nenek ini pandai menggunakan Jarum-jarum beracun sebagai senjata rahasia, maka ia sudah siap siaga dan sekali ia mengebutkan tangan kirinya, Ada angin menyambar kuat sekali dan Jarum-jarum itu runtuh, bahkan ada sebagian yang menyambar kembali ke arah muka berkedok itu!

Hwa Hwa Kuibo terkejut, mengeluarkan teriakan dan mengelak, lalu pedangnya bergerak melakukan serangan ganas.

Gerakannya ini diikuti pula oleh menyambarnya paku di ujung pecut baja di tangan Koai-pian Hek-mo.

Dua orang tokoh muara Sungai Huangho ini lalu mengamuk dengan buasnya mengeroyok Sui Cin.

Akan tetapi, gadis ini mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tubuhnya sudah berkelebatan di antara gulungan sinar senjata lawan, dengan enaknya ia mempermainkan dan semua sambaran senjata lawan selalu luput, sebaliknva iapun membagi-bagi tamparan dan tendangan yang tidak kalah dahsyatnya, bahkan yang membuat dua orang itu gentar dan terdesak mundur.

Tho-tee-kwi (Setan Bumi), kakek raksasa yang menyeramkan itu, yang memiliki kebiasaan mengerikan, yakni makan daging anak-anak manusia, seorang tokoh Cap-sha-kui yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari pada Koai-pian Hek-mo dan Hwa Hwa Kuibo, kini ditandingi oleh Yelu Kim yang dibantu oleh perwira-perwira pengawal yang lihai pula.

Adapun para datuk lain dikeroyok oleh pasukan pengawal.

Terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian.

Akan tetapi karena pihak pasukan pengawal jauh lebih banyak jumlahnya, kini para datuk itu segera terdesak hebat.

Sui Cin tadinya ingin mempermainkan dua orang musuh lama itu, sesuai dengan wataknya yang memang nakal.

Akan tetapi iapun tahu betapa lihainya Tho-tee-kwi dan ia harus dapat cepat membantu gurunya menghadapi kakek raksasa itu.

Maka iapun mempercepat gerakannya.

"Singggg..."

Tiba-tiba Hwa Hwa Kuibo yang licik itu menyerangnya dengan merendahkan diri dan pedang itu membabat ke arah kedua kaki Sui Cin.

Serangan ini berbahaya sekali karena pada saat itu Sui Cin sedang menghadapi serangan paku di ujung cambuk Koai-pian Hek-mo yang menyambar ke arah matanya.

"Tingggg..."

Sui Cin menggunakan jari tangannya menyentil ke arah paku sehingga paku di ujung cambuk itu mencelat dan membalik, menyambar ke arah muka pemiliknya sedangkan tubuh gadis itu meloncat ke atas untuk menghindarkan babatan pedang nenek Hwa Hwa Kuibo.

Gerakannya cepat dan kuat.

Koai-pian Hek-mo terkejut melihat pakunya membalik dan menyambar ke arah mukanya.

Akan tetapi sekali menggerakkan gagang cambuk, paku itu berhenti menyambar dan kini cambuknya yang panjang ia gerakkan ke arah tubuh Sui Cin yang masih meloncat ke atas ketika menghindarkan babatan pedang tadi.

Sui Cin mengulur tangan menangkap ujung cambuk!

Gerakan ini terlalu berani akan tetapi gadis itu telah membuat perhitungan yang matang.

Ketika jari tangannya berhasil menangkap paku di ujung cambuk, secepat kilat ia meminjam tenaga gerakan cambuk, melontarkan paku itu ke arah Hwa Hwa Kuibo.

Paku di ujung cambuk itu meluncur bersama cambuk panjang itu ke arah kepala Hwa Hwa Kuibo.

Nenek ini sama sekali tidak pernah menyangka dan tahu-tahu ujung cambuk kawannya sendiri telah melayang ke arah kepalanya.

Ia tidak keburu mengelak lagi.

"Cappp... Aiiiiiihhh..."

Nenek itu menjerit, paku menancap batok kepalanya dan melihat ini, Koai-pian Hek-mo terkejut setengah mati.

Ditariknya cambuknya dan paku itu tercabut keluar, diikuti muncratnya darah dari kepala nenek itu.

Dengan mata mendelik yang memandang dari belakang kedoknya, Hwa Hwa Kuibo menubruk ke depan dan tahu-tahu pedangnya telah menembus dada Koai-pian Hek-mo!

Dasar orang sesat, karena paku di ujung cambuk temannya mengenai kepalanya, Hwa Hwa Kuibo sudah menjadi marah kepada temannya sendiri dan menyerangnya dengan tiba-tiba.

Koai-pian Hek-mo berteriak dan terjengkang roboh, darah muncrat dari dadanya.

Hwa Hwa Kuibo tertawa bergelak akan tetapi lalu terjengkang juga dan berkelojotan, tewas dalam waktu hampir berbareng dengan temannya.

Sui Cin sudah tidak memperdulikan mereka lagi, langsung saja ia terjun ke dalam pertempuran membantu nenek Yelu Kim yang dibantu oleh beberapa orang perwira pengawal mengepung Tho-tee-kwi yang lihai.

Majunya Sui Cin membawa perubahan.

Kalau tadinya Tho-tee-kwi masih nampak gagah perkasa dan agaknya sukar bagi Yelu Kim untuk dapat merobohkan raksasa ini walaupun ia dibantu oleh para perwira pasukan pengawal, kini setelah Sui Cin maju dan menghujankan pukulan dan tamparan ampuh kepada Tho-tee-kwi, kakek itu terdesak hebat!

Bahkan sebuah tamparan yang amat kuat dari tangan kiri Sui Cin mengenai pundak kakek itu yang membuatnya terhuyung ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Yelu Kim untuk menggerakkan kebutannya yang berwarna putih.

Ujung kebutan menjadi kaku dan menotok ke arah tiga jalan darah di tubuh kakek raksasa.

Tho-tee-kwi sempat menangkis dua totokan, akan tetapi totokan ketiga mengenai tengkuknya dan tubuhnya seketika menjadi kejang.

Saat ini kekebalannyapun lenyap dan ketika dua orang perwira pengawal menusukkan pedangnya, Pedang itu amblas dan memasuki lambung dan dadanya.

Padahal tadi, sebelum terkena totokan, pedang para perwira itu tidak mampu menembus kekebalan kulitnya!

Robohnya Tho-tee-kwi berarti berakhirnya perlawanan gigih para datuk sesat.

Tiga orang Cap-sha-kui yang menjadi pimpinan mereka itu telah roboh dan tewas, tentu saja semangat mereka menjadi kecil dan dengan mudah merekapun dapat dirobohkan.

Habislah tiga belas orang datuk sesat itu, semua tewas di tangan rombongan Yelu Kim walaupun pihak Yelu Kim juga menderita kematian belasan orang pasukan pengawal.

Setelah bertempur semalam suntuk, Cengtek jatuh ke tangan pasukan Yelu Kim.

Akan tetapi, kini datanglah balabantuan dari Sanhaikoan, yaitu pasukan pemberontak sehingga kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit lagi.

Akan tetapi kini pihak Yelu Kim yang mempertahankan benteng Cengtek, sedangkan pihak pasukan pemberontak yang menjadi penyerang dari luar.

Hebat bukan main pertempuran ini.

Pihak pasukan Yelu Kim sudah lelah setelah mengerahkan tenaga merebut benteng Cengtek, sedangkan pasukan pemberontak dari Sanhaikoan masih segar dan jumlah merekapun lebih banyak.

Akan tetapi, dengan pandainya Yelu Kim dapat menyusun kekuatan dan benteng Cengtek yang pintupintunya rusak telah diperbaiki.

Kini benteng itu menjadi kokoh kuat sehingga tidak mudah bagi pasukan pemberontak untuk merebut kembali benteng itu.

Sampai lima hari lamanya pasukan pemberontak mengepung Cengtek dan setiap hari terjadi penyerbuan, namun tetap saja benteng itu dapat dipertahankan oleh pasukan Yelu Kim.

Bagaimanapun juga, nenek itu mulai merasa gelisah.

Kalau pengepungan itu dilanjutkan, paling lama sebulan saja pasukannya akan kehabisan ransum dan ini berarti mereka akan menderita kekalahan dan terpaksa melepaskan kembali Cengtek yang telah mereka kuasai.

Bagaimanapun juga, nenek itu mengambil keputusan untuk mempertahankan Cengtek sampai kekuatan terakhir, karena sekali mereka meninggalkan benteng itu, akan sukarlah bagi mereka untuk memperoleh benteng baru di mana mereka akan dapat menyusun kekuatan untuk melakukan penyerangan ke selatan.

Sui Cin masih tinggal di Cengtek mendampingi gurunya.

Gadis ini sudah bertekad membantu pasukan Yelu Kim selama pasukan ini bertempur melawan pasukan pemberontak dan iapun ikut prihatin melihat betapa pasukan gurunya terkurung di Cengtek dan benteng itu sudah dikepung oleh pasukan pemberontak yang besar jumlahnya.

Sementara itu, pertempuran di Sanhaikoan juga terjadi dengan amat serunya.

Sisa pasukan pemberontak yang berada di Sanhaikoan terkejut bukan main melihat betapa tiba-tiba saja pasukan pemerintah yang berjumlah besar sekali telah mengepung Sanhaikoan.

Mereka dipimpin oleh Ji-ciangkun dan para pembantunya melawan dengan gigih dan mempertahankan benteng Sanhaikoan mati-matian.

Juga para pembantu Raja Iblis, yaitu datuk-datuk sesat dan tokoh-tokoh dunia hitam, membantu pasukan pemberontak mempertahankan benteng itu.

Akan tetapi, pasukan pemerintah jauh lebih kuat dan pasukan inipun dibantu oleh para pendekar yang kini membalas dendam kepada pasukan pemberontak, maka dalam waktu sehari semalam saja benteng itupun bobol dan pertempuran terjadi dengan serunya di dalam kota Sanhaikoan.

Cia Sun dan Ci Kang kini mengikuti Cia Kong Liang yang memimpin mereka untuk menggempur para pemberontak dari dalam.

Mereka bertiga mengamuk sampai mereka dapat bertemu dengan para pendekar yang membantu pemerintah.

Melihat betapa ketua Cin-Ling-Pai kini membantu pasukan pemerintah menggempur pemberontak, para pendekar menjadi girang dan mereka menganggap bahwa berita tentang Cin-Ling-Pai yang bersekutu dengan pemberontak ternyata tidak benar, atau mungkin juga ketua Cin-Ling-Pai menggunakan siasat pura-pura bersekutu dengan pemberontak untuk dapat menggempur dari sebelah dalam!

Setelah para pemberontak akhirnya tidak mampu melawan lagi, sebagian besar tewas, sebagian melarikan diri dan sebagian pula menakluk, Ci Kang dan Cia Sun cepat kembali ke tempat rahasia di mana Hui Cu tadi mereka tinggalkan.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah hati mereka ketika mereka tidak lagi melihat gadis itu di tempat itu.

Hui Cu telah hilang dan mereka berdua tidak tahu apakah gadis itu pergi sendiri dari situ ataukah dilarikan orang.

Juga dalam penyerbuan itu, walaupun mereka semua sudah mencari-cari bersama para pendekar lain, tidak ditemukan jejak Raja dan Ratu Iblis bersama Hui-thian Sukwi dan beberapa orang datuk sesat lain.

Juga Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu tidak dapat mereka temukan.

Hanya Ji-ciangkun yang akhirnya dapat tertawan hidup-hidup dalam keadaan luka-luka dan panglima pemberontak inipun tidak dapat menjawab ke mana larinya Raja Iblis dan kaki tangannya itu.

Tentu saja para pendekar merasa menyesal sekali.

Mereka tadinya sudah siap-siap untuk mengeroyok dan membasmi para datuk sesat.

Kiranya tokoh-tokoh terpenting mereka dapat melarikan diri.

Setelah Sanhaikoan jatuh tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga bagi pasukan pemerintah, Yang-ciangkun lalu mengerahkan pasukan untuk menuju ke Cengtek.

Seperti yang telah diperhitungkannya, pasukan-pasukan pemberontak sedang mengepung Cengtek dan menghamburkan banyak tenaga untuk mencoba membobolkan benteng Cengtek yang sudah diduduki puukan Yelu Kim.

Dan selagi kedua pihak itu kelelahan, muncullah pasukan pemerintah dari Sanhaikoan yang keadaannya masih segar dan dalam jumlah yang besar, dibantu pula oleh para pendekar yang penuh semangat.

Tentu saja pasukan pemberontak yang sedang mengepung Cengtek menjadi terkejut dan panik ketika tiba-tiba mereka diserang oleh pasukan pemerintah dari belakang.

Apalagi setelah mereka mendengar berita bahwa benteng pertama mereka, Sanhaikoan, telah direbut kembali oleh pasukan pemerintah.

Berarti mereka telah kehilangan kedua benteng itu.

Cengtek direbut oleh pasukan suku bangsa utara dan Sanhaikoan dirampas oleh pasukan pemerintah.

Pasukan pemberontak mencoba untuk melakuken perlawanan, akan tetapi mereka dihimpit dari depan dan belakang dan dalam waktu sehari saja merekapun hancur lebur dan cerai berai, sebagian besar melarikan diri atau menakluk.

Dan terjadilah perubahan pula di Cengtek.

Pasukan Yelu Kim masih tetap mempertahankan kota itu dan kini yang mengepung kota itu adalah pasukan pemerintah yang jauh lebih kuat lagi dibandingkan pasukan pemberontak tadi.

Yang-ciangkun adalah seorang panglima yang pandai dan bijaksana.

Biarpun dia sudah mendengar bahwa Yelu Kim memimpin para kepala suku bangsa utara untuk bergerak, pertama-tama menduduki benteng Cengtek untuk kemudian menyerbu ke selatan untuk menegakkan kembali kekuasaan bangsa utara di selatan, namun dia menganggap bahwa Yelu Kim telah berjasa bagi pemerintah dalam menghadapi para pemberontak.

Dia tahu bahwa tidak ada untungnya menanam bibit permusuhan dengan suku-suku bangsa liar yang kalau sudah bersatu akan menjadi amat kuat itu.

Lebih baik mengambil jalan damai dengan mereka, baru kalau tidak ada jalan lain, terpaksa harus dipergunakan kekerasan.

Oleh karena itu, Yang-ciangkun lalu menyuruh para pembantunya untuk menyuruh penyiar yang suaranya keras untuk menyampaikan pesan dan usulnya kepada pimpinan pasukan para suku bangsa utara.

Beberapa orang yang memiliki suara nyaring dan memang bertugas untuk itu, maju ke depan dengan corong-corong di depan mulut mereka dan terdengarlah teriakan-teriakan mereka bergema dengan amat kuatnya.

"Para pimpinan suku bangsa yang gagah, dengarlah baik-baik pesan Yang-ciangkun! Kami tidak menganggap kalian sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat yang telah membantu kami membasmi para pemberontak. Oleh karena itu, kami harap agar suka menyerahkan benteng Cengtek kembali kepada kami agar persahabatan di antara kita tidak terganggu!"

Berkali-kali kalimat-kalimat itu diteriakkan oleh para penyiar sehingga terdengar oleh mereka yang berjaga di pintu gerbang atau di atas tembok benteng dan tentu saja segera disampaikan kepada Yelu Kim.

Nenek itu berada di atas menara yang menjadi pusat di mana ia memimpin para kepala suku bangsa dan pasukan mereka.

Nenek ini merasa bimbang sekali dan ia duduk berdua saja dengan Sui Cin.

Ketika menerima laporan tentang usul yang diteriakkan oleh Yang-ciangkun, nenek itu mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.

Ia merasa penasaran, akan tetapi juga ragu-ragu.

"Keparat! Dengan susah payah kita merebut kota ini, dengan pengorbanan ribuan jiwa pasukan, dengan cucuran keringat dan darah. Dan sekarang hendak diminta begitu saja? Mana mungkin aku dapat memberikan kepada mereka?"

Sui Cin sejak tadi memandang wajah nenek itu.

Ia merasa kagum terhadap nenek ini yang dengan gagah dan pandainya memimpin pasukan utara itu sehingga berhasil menduduki Cengtek.

Akan tetapi iapun tahu bahwa kini, setelah pasukan pernerintah datang dan berhadapan dengan pasukan Yelu Kim, ia sendiri tidak mungkin membantu nenek yang menjadi penolong dan gurunya ini.

Maka, mendengar usul yang diajukan oleh Yang-ciangkun, Sui Cin melihat suatu cara yang baik untuk turun tangan, yaitu membujuk nenek ini agar suka menerima uluran tangan Yang-ciangkun.

"Subo..."

Katanya lirih dan hati-hati.

"Hemm...?"

Nenek yang sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri itu agak kaget dan memandang muridnya.

"Subo tentu percaya kepadaku, bukan?"

"Percaya apa?"

"Percaya bahwa aku selalu beriktikad baik terhadap subo dan pasukan yang subo pimpin."

Nenek itu memperlebar matanya dan memandang tajam.

"Tentu saja. Sudah banyak yang kau lakukan untukku, Sui Cin, dan untuk itu aku berterima kasih sekali. Kalau aku tidak percaya padamu, tentu engkau tidak kuberi tugas yang panting-penting selama ini."

"Terima kasih! Aku suka menjadi murid dan pembantu subo, bukan hanya karena terikat perjanjian, bukan pula hanya karena aku sudah menerima budi pertolongan subo, melainkan karena aku merasa suka kepada subo yang gagah perkasa dan bijaksana, juga aku suka melihat pasukan suku bangsa utara yang demikian gagah berani. Nah, karena rasa suka saya itulah maka aku hendak mengemukakan pendapatku tentang penawaran Yang-ciangkun kepada subo, akan tetapi kuharap subo tidak akan merasa tersinggung dan menjadi marah."

Nenek itu tersenyum dan memandang lembut.

"Muridku, apa kau kira aku belum mengenalmu dan tidak tahu akan isi hatimu? Engkau membantuku karena melihat aku menentang para pemberontak. Engkau seorang gadis pendekar dan tentu engkau menentang para kaum sesat yang menunggangi pasukan pemberontak. Kalau kami berhadapan dengan pasukan pemerintah, jelas bahwa engkau tidak akan membantu kami walaupun aku percaya engkau tidak akan tega untuk mengkhianatiku. Bukankah demikian?"

Sui Cin terkejut dan memandang nenek itu dengan kagum.

Sungguh seorang wanita tua yang cerdik dan bijaksana.

Pantaslah kalau menjadi keturunan Yelu Cetai yang amat terkenal di jaman awal pemerintah Mongol itu.

"Sungguh tepat sekali wawasan subo."

"Nah, sekarang katakanlah apa yang menjadi pendapatmu mengenai keadaan kita sekarang ini."

"Begini, subo. Cengtek telah dikepung oleh pasukan pemerintah yang amat besar jumlahnya. Tanpa diserang sekalipun, baru dikepung saja sampai sebulan lebih, kita akan kehabisan ransum dan akan celaka. Andaikata kita melawanpun, tidak mungkin dapat menang. Aku yakin subo tidak akan sebodoh itu, membiarkan pasukan hancur lebur hanya untuk mempertahankan sebuah benteng kecil seperti Cengtek ini. Kalau menurut pendapatku, jauh lebih menguntungkan untuk menerima usul Yang-ciangkun, menyerahkan kembali benteng ini dalam suasana damai dan bersahabat dari pada mempertahankannya dengan kekerasan untuk akhirnya melihat pasukan subo dihancurkan."

"Pendapatmu memang tepat dan cocok sekali dengan apa yang kupikirkan, muridku. Akan tetapi, pantaskah kalau aku memberikan kota ini begitu saja sehingga semua pengorbanan yang telah kita lakukan itu, kematian ribuan orang saudara itu, menjadi sia-sia dan tanpa guna sama sekali bagi bangsa kami?"

"Subo, Yang-ciangkun mengulurkan tangan sebagai sahabat. Seorang sahabat yang baik tentu tidak hanya pandai minta saja, akan tetapi juga pandai pula memberi. Minta dan memberi merupakan syarat persahabatan yang baik. Kalau subo menyerahkan kota ini dengan damai, tentu subo dapat pula mengajukan permintaan-permintaan yang kiranya berguna bagi bangsa-bangsa di utara sehingga pengorbanan itu tidak sia-sia belaka melainkan ada pula hasilnya, bukan?"

"Aih, benar sekali, Sui Cin!"

Nenek itu bangkit dan merangkul muridnya.

"Mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ? Engkau benar sekali. Aku akan menyusun permintaan-permintaan itu dan aku tahu siapa yang akan menjadi utusan dan wakilku. Engkau lah orangnya yang akan menyampaikan permintaan dan usul kami itu kepada Yang-ciangkun!"

Sui Cin gembira sekali.

"Aku bersedia, subo!"

Nenek itu lalu memerintahkan pembantunya untuk menjawab teriakan-teriakan dari bawah itu, menyatakan bahwa jawabannya akan dikirim besok pagi-pagi setelah matahari terbit.

Setelah jawaban diteriakkan ke bawah, tidak terdengar lagi teriakan-teriakan dari bawah dan keadaan menjadi sunyi.

Yang mengepung kota tinggal diam saja dan tidak melakukan gerakan apa-apa, malam itu membuat api unggun, sedangkan yang melakukan penjagaan di pintu gerbang dan atas tembok benteng juga nampak tenangtenang saja.

Bahkan kedua pihak begitu percaya satu sama lain sehingga para pemimpinnya dapat tidur nyenyak pada malam hari itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari terbit, Sui Cin menerima gulungan kertas berisi permintaanpermintaan atau usul-usul dari Yelu Kim yang ditujukan kepada pemerintah Bengtiauw melalui Yang-ciangkun yang tentu saja berwenang memutuskan peraturan di perbatasan utara karena di perbatasan, yang berlaku adalah peraturan-peraturan militer.

Akan tetapi gadis itu tidak keluar sendirian, melainkan diantar sampai keluar pintu gerbang oleh Yelu Kim sendiri.

Hal ini selain untuk memperlihatkan niat baik Yelu Kim, juga nenek ini merasa khawatir kalau-kalau ada di antara para kepala suku bangsa yang tidak setuju dan hendak mengganggu muridnya.

Untuk keperluan menyampaikan surat itu, Sui Cin menunggang seekor kuda putih yang telah dipersiapkan oleh penjaga di pintu gerbang.

Pintu gerbang dibuka dan dengan diantar oleh Yelu Kim sampai keluar pintu gerbang, Sui Cin menuntun kuda putih dan setelah berpamit kepada gurunya, gadis itu lalu meloncat ke atas kudanya sambil membawa gulungan kertas itu.

Tiba-tiba nampak berkelebat dua bayangan orang yang menghadang kuda yang ditunggangi Sui Cin.

Gadis ini terkejut sekali, apalagi setelah mengenal bahwa dua orang itu bukan lain adalah Raja dan Ratu Iblis sendiri!

Gadis itu berpikir cepat.

Tentu kemunculan dua iblis ini ada huburgannya dengan surat yang dibawanya.

"Kalian mau apa?"

Bentaknya marah.

"Menyerahlah dengan baik!"

Kata Ratu Iblis.

"Huh, kalian kira aku takut? Sampai mati aku tidak sudi menyerah!"

Dan tiba-tiba Sui Cin membalapkan kudanya.

Akan tetapi ia tidak mudah lolos begitu saja.

Tangan Raja Iblis bergerak dan hawa pukulan yang amat kuat membuat kuda yang ditungganginya terpelanting ke kiri!

Untung Sui Cin masih memiliki ketenangan sehingga dengan ginkangnya yang tinggi, ia dapat melompat dan tidak ikut terbanting.

Kuda itu terbanting akan tetapi tidak terluka, hanya terkejut saja dan meringkik ketakutan.

Sementara itu, nenek Yelu Kim yang juga melihat munculnya dua bayangan itu, tidak masuk kembali ke dalam pintu gerbang, melainkan cepat lari menghampiri tempat itu yang tidak begitu jauh dari tempat ia berdiri.

"Sui Cin, suratnya..."

Nenek ini berseru.

Sui Cin maklum apa yang dikehendaki gurunya, cepat gulungan kertas itu ia lemparkan ke arah nenek yang cepat menyambarnya.

Nenek itu langsung meloncat ke atas punggung kuda yang ketakutan dan ia membalapkan kuda itu untuk menggantikan Sui Cin menghadap Yang-ciangkun menyerahkan sendiri surat tuntutan atau permintaan bangsanya itu.

Akan ketapi kembali Raja Iblis menggerakkan tangannya dan sekali ini bukan untuk melakukan (Lanjut ke

Jilid 36) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 36 pukulan jarak jauh seperti yang dilakukan terhadap kuda tadi, melainkan ada benda bersinar putih meluncur dari tangan itu menuju ke arah tubuh Yelu Kim yang sedang melarikan kuda.

Benda itu berputar-putar cepat seperti hidup dan tahu-tahu sudah hinggap di atas punggung Yelu Kim.

Nenek ini merasa betapa punggungnya panas dan perih sekali.

Ia cepat mencengkeram ke arah benda di punggungnya itu dan menariknya dari punggung.

Ketika dilihatnya, ternyata itu adalah sebuah tengkorak kecil, agaknya tengkorak seorang anak kecil.

Nenek ini terkejut dan membanting tengkorak itu ke atas tanah.

Tengkorak pecah berantakan dan dari dalamnya keluar asap hitam!

Nenek itu merasa betapa rasa panas menjalar cepat ke seluruh tubuh dan tahulah ia bahwa ia terkena senjata beracun yang amat ampuh.

Akan tetapi ia terus saja membalapkan kuda ke depan, ke arah perkemahan pasukan pemerintah yang mengepung kota Cengtek dari jarak antara dua tiga li jauhnya.

Ia menahan rasa nyeri yang menyengat-nyengat tubuhnya, terus melarikan kuda putihnya yang kabur karena sudah ketakutan.

Nenek itu berhasil mencapai perkemahan dan terpelanting dari atas kudanya sambil masih mencengkeram gulungan kertas.

Para prajurit yang menyaksikan peristiwa itu cepat mengangkutnya ke dalam kemah besar, ke hadapan Yang-ciangkun.

Panglima ini cepat menerima gulungan kertas dan nenek Yelu Kim hanya sempat mengeluarkan kata-kata begini.

"Taiciangkun... demi kejujuran seorang pemimpin, kota Cengtek kuserahkan akan tetapi penuhilah permintaan-permintaan kami yang pantas ini..."

Dan nenek yang gagah perkasa inipun menghembuskan napas terakhir di depan Yang-ciangkun.

Berita tentang kegagahan nenek Yelu Kim ini tersiar luas dan sampai puluhan tahun mendatangkan namanya menjadi kebanggaan suku bangsa di timur dan dikagumi pula para pendekar selatan.

Tuntutannya adalah pembebasan pajak bagi suku bangsa utara yang membawa barang dagangan keluar masuk perbatasan dan hal ini disetujui oleh Yang-ciangkun sehingga keadaan para pedagang suku bangsa utara menjadi jauh lebih baik.

Sementara itu, Sui Cin dengan nekat melakukan perlawanan.

Melihat betapa nenek Yelu Kim berhasil lari walaupun agaknya terluka, gadis ini menjadi marah.

"Kalian ini iblis-iblis busuk!"

Bentaknya dan iapun sudah menerjang mereka dengan tangan kosong, menggunakan ilmu pukulannya yang ampuh sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.

Akan tetapi, yang diserangnya adalah Raja Iblis yang luar biasa tangguhnya.

Setiap kali kakek bermuka pucat kehijauan itu menangkis, Sui Cin merasa betapa lengannya nyeri dan tergetar hebat.

Akan tetapi ia tidak takut dan menyerang terus sehingga kakek itu menjadi marah.

Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Sui Cin tidak dapat dibilang rendah dan sampai belasan kali tubrukan balasan Raja Iblis tidak mampu menangkap Sui Cin yang lincah dan menggunakan ginkangnya untuk mengelak ke sana-sini itu.

Sui Cin tidak membiarkan dirinya ditangkap, bahkan membalas dan ketika ia mengelak dari cengkeraman kedua tangan Raja Iblis, tiba-tiba ia membalik dan dengan kedua tangannya yang terbuka telapak tangannya, ia melakukan pukulan yang dilakukan dengan mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.

Angin dahsyat menyambar ke arah Raja Iblis yang diam-diam merasa kagum juga kepada gadis yang pernah membikin ia penasaran dan repot ketika Sui Cin dahulu merampas Tongkat Suci dari tangannya.

Kini, kembali dia tidak mampu menangkap gadis ini dalam waktu singkat.

Raja Iblis merasa penasaran sekali.

Dia dan isterinya telah gagal dalam pemberontakan membonceng pasukan Ji-ciangkun dan kedua kota benteng telah jatuh ke tangan pemerintah.

Melihat betapa pasukan pemerintah berhadapan dengan pasukan liar dari utara, dia masih mempunyai harapan agar kedua pihak berperang sehingga keduanya lemah.

Akan tetapi ternyata Yelu Kim menerima tawaran dan uluran tangan Yang-ciangkun untuk berdamai.

Oleh karena itu, dia lalu keluar bersama isterinya untuk menggagalkan ini, merampas surat dan juga menawan Sui Cin untuk dijadikan sandera.

Akan tetapi, terayata nenek Yelu Kim berhasil melarikan surat, dan mengorbankan nyawa sendiri dan kini tinggal gadis itu yang juga tidak mudah ditangkap!

Melihat betapa gadis itu malah menyerangnya dengan dahsyat, kakek seperti setan itu mengeluarkan suara mencicit seperti burung dari dalam mulutnya dan diapun mengulur kedua tangan ke depan menyambut pukulan Sui Cin.

"Plakk!"

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan Raja Iblis merasa betapa tubuhnya tergetar!

Semakin kagumlah dia, akan tetapi sebaliknya Sui Cin merasa betapa telapak kedua tangannya melekat pada telapak tangan Raja Iblis.

Dia berusaha menarik kedua tangannya akan tetapi merasa betapa ada tenaga menyedot dari kedua telapak tangan iblis itu yang membuat kedua tangannya melekat.

Dan pada saat itu, Ratu Iblis sudah bergerak menotok punggungnya.

Sui Cin tidak mampu mengelak dan iapun roboh dengan lemas lalu dipanggul oleh Ratu Iblis.

Pada saat itu, serombongan perajurit Yelu Kim sudah menghampiri tempat itu dan mengurung dengan senjata ditodongkan.

Akan tetapi nenek Ratu Iblis membentak mereka.

"Majulah dan nona ini akan kubunuh dulu, baru kalian!"

Melihat betapa Sui Cin yang mereka kenal sebagai pembantu dan murid nenek Yelu Kim sudah tertawan, dan mendengar ancaman Ratu Iblis, pasukan itu tidak berani menyerang dan terpaksa membiarkan saja kakek dan nenek itu berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu sambil membawa tubuh Sui Cin yang sudah tidak mampu bergerak.

Sementara itu, Cia Sun dan Ci Kang yang bersama Cia Kong Liang sudah bergabung dengan para pendekar dan ikut pula membantu pasukan pemerintah yang mengurung Cengtek, melihat betapa nenek Yelu Kim tewas di tangan Raja Iblis.

Dari jauh mereka melihat kakek dan nenek itu yang melarikan diri tanpa diganggu oleh pasukan suku utara.

Keduanya segera berlari cepat menuju ke depan pintu gerbang Cengtek.

Semua orang mengenal Ci Kang yang gagah perkasa karena Ci Kang pernah dicalonkan menjadi jagoan bahkan hampir memperoleh kemenangan kalau tidak dikalahkan oleh Sui Cin.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak menahan dua orang kakek dan nenek itu tadi?"

Tanya Ci Kang.

"Mereka menawan nona Sui Cin, kami tidak berani turun tangan."

"Apa?"

Cia Sun terkejut mendengar bahwa Sui Cin ditawan Raja dan Ratu Iblis.

"Ke mana mereka lari?"

"Ke sana..."

Seorang perwira menunjuk ke arah sebuah bukit yang nampak gundul dari tempat itu.

Tanpa banyak cakap lagi, seperti sudah berunding lebih dahulu, Siangkoan Ci Kang dan Cia Sun berlari menuju ke bukit itu, mempergunakan ilmu berlari cepat.

Ketika keduanya tiba di kaki bukit itu, mereka bertemu dengan Hui Song dan sisa murid-murid Cin-Ling-Pai.

Seperti kita ketahui, Hui Song dan Siang Wi bersama murid-murid Cin-Ling-Pai, berhasil dibawa keluar dari Cengtek oleh Sui Cin.

Akan tetapi ketika mereka pergi ke Sanhaikoan untuk mencari ketua mereka, ternyata Sanhaikoan sedang dalam perang sehingga mereka tidak dapat masuk kota benteng itu.

Terpaksa mereka menjauhkan diri karena mereka merasa khawatir terjadi salah paham dari pasukan pemerintah yang agaknya sudah mendengar bahwa Cin-Ling-Pai bersekutu dengan pemberontak.

Barulah setelah perang berakhir, Hui Song, Siang Wi dan saudara-saudara seperguruan mereka mendengar bahwa Cia Kong Liang kini membantu pasukan pemerintah menyerang ke Cengtek, sehingga mereka merasa gembira sekali dan merekapun mengejar ke Cengtek.

Biarpun hati Hui Song tetap tidak senang melihat Ci Kang, akan tetapi malihat Cia Sun dia segera bertanya.

"Cia Sun, engkau hendak ke manakah dan bagaimana dengan keadaan di Cengtek? Apakah engkau bertemu dengan ayah?"

Cia Sun mengangguk.

"Kami bersama-sama dengan ayahmu dan beliau kini berada di antara pasukan yang mengepung Cengtek. Kami berdua hendak mengejar Raja dan Ratu Iblis yang telah menawan dan melarikan nona Sui Cin..."

"Apa...?"

Hui Song menjadi pucat wajahnya.

"Ke mana ia dibawa lari?"

"Ke bukit itu, dan kita akan mencarinya!"

Kata Cia Sun dan diapun cepat mengejar Ci Kang yang agaknya tidak mau banyak cakap dan sudah lari lagi.

"Aku ikut..."

Kata Hui Song.

"Sumoi, bawa saudara-saudara menemui ayah di luar Cengtek!"

Dan diapun cepat mengerahkan tenaganya untuk mengejar Ci Kang dan Cia Sun.

Mereka bertiga seperti orang berlomba lari menuju ke bukit yang nampak gundul dan hitam dari tempat itu.

Bukit itu memang gundul dan kering.

Setelah didekati, nampak bahwa bukit itu hanya terdiri dari padang pasir dan batu-batu karang belaka, tidak nampak sedikitpun tumbuh-tumbuhan.

Dan di sebuah lereng bukit karang, mereka melihat pemandangan yang menegangkan hati dari jauh sehingga dengan sendirinya ketiganya berhenti dan memandang ke arah depan.

Di sana, dalam jarak puluhan meter, nampak Sui Cin sedeng berdiri bersandar tiang dan jelas bahwa gadis itu diikat pada tiang itu.

"Itu Sui Cin..."

Hui Song berteriak dan dialah yang lebih dulu meloncat dan lari, diikuti oleh Cia Sun dan Ci Kang.

"Cin-moi..."

Hui Song berseru setelah tiba dekat.

"Song-ko! Jangan mendekat..."

Tiba-tiba Sui Cin berseru dan seruan ini mengejutkan tiga orang pemuda itu.

Mereka berdiri memandang dengan alis berkerut dan memperhatikan keadaan.

Ternyata Sui Cin terikat pada sebuah tiang baja yang terletak di tengah-tengah lingkaran segi delapan.

Patkwa atau Segi Delapan itu terbuat dari batu dan bentuknya biasa saja, akan tetapi amat mencurigakan.

Garis tengahnya kurang lebih enam meter dan jarak dari sisi segi delapan itu ke tiang di mana Sui Cin terikat, sekitar tiga meter.

Tempat di mana Sui Cin diikat itu tidak dapat dijangkau dengan tangan dan untuk meghampiri atau menolongnya, orang terpaksa harus naik dan menginjak batu segi delapan yang tebalnya antara dua kaki itu.

Dilihat begitu saja, tentu akan mudah melepaskan belenggu yang mengikat kedua lengan Sui Cin pada tiang di belakangnya.

Akan tetapi tiga orang muda itu bukan orang sembarangan, apalagi ada cegahan Sui Cin yang membuat mereka mengerti bahwa segi delapan ini merupakan jebakan yang mengandung rahasia yang amat berbahaya apabila diinjak oleh orang yang hendak menolong gadis itu.

"Jangan mendekat dari depan. Tadi ada seorang pendekar yang tewas karena hendak menolongku. Pasir di depan itu adalah pasir yang dapat membunuh, menyedot orang yang menginjaknya. Ah, mengerikan sekali..."

Aku melihat orang yang hendak menolongku itu tersedot, menangis tanpa aku mampu menolongnya sampai dia lenyap ke bawah permukaan pasir..."

Suara gadis itu tergetar hebat.

"Raja Iblis sengaja menaruh aku di sini untuk menjebak kalian yang tentu datang mencoba untuk menolongku. Hati-hati, jangan sembarangan bergerak."

Tentu saja tiga orang pemuda itu menjadi terkejut sekali dan bingung.

Mereka berdiri agak jauh di depan Sui Cin.

Kini gadis itu dapat melihat mereka semua dan wajahnya berseri gembira.

Tak disangkanya bahwa tiga orang pemuda itulah yang datang hendak merolongnya, tiga orang pemuda yang begitu dekat dengan hatinya!

Baru kini seperti terbuka matanya bahwa mereka itu, Cia Sun, Cia Hui Song, dan Siangkoan Ci Kang, semua mencintanya, jatuh hati kepadanya!

Dan melihat mereka bertiga itu berdiri barjajar di depannya, hati Sui Cin yakin bahwa sesungguhnya perasaan hatinya lebih condong kepada Hui Song.

Apapun kekurangan pemuda ini kalau dibandingkan dengan dua orang pemuda yang lain, tetap saja perasaan Sui Cin lebih dekat dengannya dan ia tahu bahwa Hui Song memiliki watak dan citarasa yang mirip dengannya.

Hanya dengan Hui Song dia dapat bergembira, dapat bertengkar, berbaik kembali, berbantahan dan saling mengalah.

Cia Sun terlalu serius, terlalu halus perasaannya sehingga tentu mudah tersinggung.

Siangkoan Ci Kang mungkin yang paling gagah di antara mereka, penuh daya tarik kejantanan, akan tetapi juga pendiam dan bahkan agak dingin.

Kini, dalam keadaan terancam bahaya seperti itu, memang lucu sekali, gadis ini mengambil keputusan bahwa yang dicintanya hanyalah Hui Song.

"Cin-moi, aku harus menolongmu. Aku dapat meloncat ke atas batu dan membebaskanmu, tanpa menginjak tanah di tepi batu patkwa ini!"

Kata Hui Song.

"Jangan..."

Berhati-hatilah, Song-ko, engkau akan celaka nanti.

Batu patkwa ini mengandung Alat-alat rahasia yang mengerikan.

Aku melihat sendiri betapa Raja dan Ratu Iblis melakukan langkah-langkah aneh ketika menginjak batu patkwa ini, dan aku yakin bahwa sekali saja salah langkah dan menginjak bagian yang ada alat rahasianya, akan terjadi Hal-hal yang mengerikan."

"Aku tidak takut, kalau perlu aku boleh saja mati untuk menolongmu!"

"Nanti dulu, paman Hui Song! Kalau alat rahasia itu mengakibatkan kematianmu masih baik, akan tetapi bagaimana kalau alat rahasia itu bekerja membunuh Sui Cin?"

Kata Cia Sun dan Hui Song berubah agak pucat wajahnya karena dia teringat akan kemungkinan ini dan membayangkan kematian mengerikan bagi Sui Cin sebagai akibat perbuatannya yang gegabah!

"Begini saja!"

Tiba-tiba Ci Kang berkata.

"Aku yang mencoba menghampiri nona Ceng dengan jalan di atas batu patkwa. Kalau terjadi apa-apa dengan diriku, biarlah, aku rela mati. Dan kalau terjadi sesuatu dengan nona Ceng, kalian berdua berjaga-jaga dan melindunginya."

"Biar aku saja yang mencobanya, Ci Kang,"

Kata Cia Sun.

"Engkau dan paman Hui Song yang berjagajaga melindungi Cin-moi."

"Jangan..."

Kini Hui Song yang berteriak.

"Apakah kalian mau mempermainkan keselamatan Cin-moi? Tidak, tidak boleh gegabah! Kita harus menyelidiki dulu keadaan batu patkwa ini dan sekelilingnya!"

"Lalu apa yang akan kau lakukan, paman Hui Song?"

"Kita selidiki dulu tanah di sekelilingnya patkwa ini."

Hui Song mengambil batu-batu sebesar kepala orang.

Dia melemparkan batu itu di dekat batu patkwa di depan Sui Cin dan benar saja, tiba-tiba begitu tersentuh batu, pasir di depan batu patkwa itu bergerak memutar dan batu itupun disedot dengan cepat sekali ke bawah!

Hui Song mencoba lagi untuk melihat di mana batas pasir berputar itu dan ternyata sampai sejauh tiga meter di bagian itu masih berbahaya.

Kini Cia Sun dan Ci Kang tanpa diminta membantu pemuda Cin-Ling-Pai itu.

Mereka menggunakan batu untuk menyelidiki tanah di sekeliling batu untuk menyelidiki tanah di sekeliling batu patkwa.

Ada bagian yang kalau diinjak atau kejatuhan batu mengeluarkan paku-paku beracun, ada pula yang mengeluarkan asap beracun sehingga tidaklah mungkin menghampiri batu patkwa dengan menginjak tanah di sekelilingnya, kecuali satu bagian saja yang ketika dijatuhi batu tidak mengakibatkan apa-apa.

Bagian ini berada di sebelah kiri Sui Cin.

Ketika beberapa kali mereka melempukan batu di segi itu dan tidak terjadi reaksi apa-apa seperti yang terjadi pada tujuh segi yang lain, mereka menjadi girang.

"Bagian ini tidak mengandung perangkap!"

Kata Hui Song.

"Biar aku sekarang mencoba naik ke batu patkwa,"

Kata Ci Kang sambil melangkah maju.

"Tidak! Engkau tidak boleh mendekatinya. Akulah yang berhak menolong Cin-moi, bukan engkau!"

Hui Song yang masih membenci Ci Kang karena perbuatannya yang lalu terhadap Sui Cin, membentak marah.

"Hemm, mengapa harus engkau saja?"

Ci Kang merasa mendongkol dan membantah.

"Karena ia... ia... adalah orang yang kucinta!"

Dengan jujur Hui Song mengaku begitu saja sehingga wajah Sui Cin menjadi merah dan hatinya juga mendongkol mengapa Hui Song begitu lancang untuk bicara soal cinta di depan orang-orang lain dalam keadaan seperti itu.

"Hemm, engkau sungguh terlalu tinggi hati,"

Kata Ci Kang tak puas.

"Paman Hui Song, siapapun orangnya boleh saja jatuh cinta kepada Cin-moi dan hanya ialah yang akan menentukan siapa yang berhak memiliki hatinya. Akan tetapi untuk menolongya kukira tidak ada perbedaan, semuapun berhak."

"Tidak! Biar aku yang mencobanya lebih dulu, dan kuharap engkau suka menjaga kalau-kalau ada sesuatu yang mengancam dirinya, Cia Sun."

Tanpa memberi kesempatan kepada dua orang pemuda yang lain, Hui Song melangkah ke atas tanah yang tadi sudah dicoba berkali-kali dengan lemparan batu dan tidak terjadi sesuatu.

Sui Cin yang tadi merasa bingung melihat betapa terjadi pertengkaran di antara mereka, memandang dengan hati khawatir.

Tiba-tiba terdengar ledakan dan Hui Song cepat meloncat ke belakang sambil berjungkir balik.

Untung dia dapat bergerak cepat dan bersikap waspada.

Kiranya tanah yang tadi sudah dicoba dengan lemparan batu dan tidak berbahaya itu, begitu terkena injakan kakinya lalu melemparkan batu dan pasir ke atas disertai suara ledakan dari bawah!

"Sungguh aneh!

Kenapa tadi ketika dicoba dengan batu tidak apa-apa?"

Tanya Hui Song.

Cia Sun juga merasa heran dan dia sudah melemparkan lagi sebuah batu ke tempat itu.

Kembali terdengar ledakan dan pasir bersama batu menyambar ke atas disertai ledakan dari bawah!

"Ah, aku tahu sekarang!"

Kata Ci Kang yang menusuk-nusukkan sebatang kayu yang didapatnya ke atas tanah di sebelah kanan bagian yang meledak tadi.

Dan di bagian itu, ketika ditusuk-tusuk, tidak terjadi apa-apa.

Padahal tadi bagian itu kalau disentuh mengeluarkan paku-paku beracun!

"Aku mengerti sekarang.

Lihat, bayangan tiang itu tadi tiba di segi yang meledakkan pasir dan ketika dicoba tidak apa-apa.

Kini bayangan tiang sudah bergeser ke kanan, jatuh di bagian ini dan bagian ini yang tadi menyemburkan paku kini tidak berbahaya.

Sebaliknya, bagian yang tadi terkena bayangan dan tidak berbahaya, kini menjadi berbahaya!

Agaknya bayangan tiang itu membuat alat rahasia di bagian atau segi yang tertutup bayangan menjadi lumpuh dan alat rahasia itu tidak bekerja!"

Dua orang pemuda yang lain mencoba-coba dan memang benar.

Kini bagian yang terkena bayangan yang nampak melintang hitam di satu segi dari batu patkwa, ketika dilempar batu tanah di depannya, tidak terjadi apa-apa.

"Aku akan naik, harap kalian menjaga nona Sui Cin!"

Kata Ci Kang dan dengan berani dia sudah melangkah ke depan.

Tanah itu diinjaknya dan tidak terjadi apa-apa.

Dia melangkah menghampiri batu patkwa, dipandang dengan jantung berdebar oleh Sui Cin.

Dua orang pemuda yang lain, karena kedahuluan Ci Kang terpaksa hanya berdiri dengan sikap penuh kewaspadaan mereka menjaga kalau-kalau Sui Cin akan terancam bahaya bekerjanya alat rahasia.

Ci Kang sudah tiba di dekat batu patkwa.

Dia tidak mau gegabah naik ke atas batu-batu patkwa itu, akan tetapi lebih dahulu menggunakan tongkat kayu tadi memukul permukaan batu pada kotak pertama.

Setelah tidak terjadi sesuatu, dia lalu naik dan menginjak bagian itu.

Dengan tongkatnya, dia memukul lagi bagian depan, juga tidak terjadi apa-apa.

Kotak ketiga di depan dibagi menjadi dua oleh sebuah garis.

Ci Kang meragu.

Yang mana yang harus dipukul untuk mencari landasan yang aman.

Dia memukulkan tongkatnya dengan hati-hati ke atas kotak yang kiri dan tiba-tiba saja bagian itu terbuka dan nampak berkelebat dua sinar hitam, satu ke arah Ci Kang dan yang lain ke arah Sui Cin!

Ci Kang cepat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik melompat ke bawah batu patkwa sehingga anak panah hitam itu meluncur lewat dan tidak mengenai tubuhnya.

Dan pada saat itu, Hui Song melemparkan sebuah batu besar menyambit anak panah yang meluncur dan menyambar ke arah Sui Cin.

"Takkk..."

Anak panah itu terpukul batu dan mencelat jauh keluar batu patkwa.

Wajah Sui Cin menjadi agak pucat dan wajah tiga orang pemuda itupun diliputi ketegangan.

"Sungguh berbahaya!"

Kata Cia Sun.

"Biarlah aku yang sekarang mencobanya, harap kalian suka menjaga baik-baik."

Tanpa menanti jawaban, diapun menghampiri bagian segi yang tadi dilalui Ci Kang.

Seperti juga Ci Kang, dia berhasil naik sampai ke dalam kotak kedua dan di sini, Dengan hati-hati dia menggunakan ujung kakinya menekan kotak yang kanan dari kotak yang terbagi dua itu dan ternyata di sini aman, tidak seperti di bagian kiri yang tadi menyemburkan anak panah.

Dua orang pemuda lain memandang penuh ketegangan.

Di depan kotak ketiga yang terbagi dua itupun terdapat kotak yang terbagi dua.

Satu segi dari batu patkwa itu terbagi menjadi lima kotak dengan garis melintang dan di bagian yang dilalui Cia Sun itu kotak ketiga dan keempat terbagi menjadi dua.

Di sini Cia Sun menjadi ragu lagi.

Kotak mana yang harus dilaluinya.

Dia sudah dekat dengan Sui Cin, akan tetapi belum dapat menjangkau ke depan untuk melepaskan belenggu pada kedua pergelangan lengan gadis itu.

Dia masih harus melalui dua bagian lagi ke depan.

Dengan hati-hati dan secara untung-untungan, kakinya menginjak bagian kanan dari kotak yang terbagi dua itu.

"Blarrr..."

Bagian itu terbuka dan dengan desis yang mengerikan, keluarlah dua ekor ular sendok yang agaknya sudah kelaparan karena dua ekor ular itu tiba-tiba menyerang ke arah Cia Sun dan Sui Cin.

Dalam keadaan berdiri dengan sebelah kaki seperti itu, tentu saja Cia Sun tidak dapat melawan serangan ular dan menghindarkan diri, dia melempar tubuh ke belakang seperti yang dilakukan oleh Ci Kang tadi.

Akan tetapi, Ci Kang dan Hui Song yang sudah siap siaga, menggerakkan tangan dan dua buah batu menghantam dua ekor ular itu sehingga dua binatang berbisa itu terlempar jauh dengan kepala hancur oleh dua buah batu yang disambitkan dengan kekuatan besar itu.

Kini mereka bertiga saling pandang dengan muka pucat.

"Berbahaya sekali!"

Kata Cia Sun.

"Sungguh tidak mungkin menghampiri Sui Cin melalui atas batu patkwa, terlalu berbahaya baginya, harus dicari jalan lain."

"Aku tahu,"

Kata Hui Song "Aku akan meloncat ke atas tiang itu.

Dengan demikian aku akan melewati batu patkwa dan dari atas tiang, aku dapat membebaskan belenggu yang mengikat kedua pergelangan tangan Sui Cin."

"Jangan, Song-ko, terlalu berbahaya. Bagaimana kalau sampai engkau terjebak dan celaka?"

Seru Sui Cin penuh kekhawatiran.

Bukan main gembiranya rasa hati Hui Song mendengar dan melibat kekhawatiran gadis itu.

Mungkinkah Sui Cin begitu mengkhawatirkan keselamatan dirinya karena mencintanya?

"Ah, apa artinya malapetaka bagiku, Cin-moi?

Yang penting asal engkau selamat dan bebas dari tempat ini!"

Setelah berkata demikian, dengan penuh semangat karena terdorong rasa gembiranya, Hui Song sudah meloncat ke atas.

Bagaikan seekor burung garuda yang besar, dia melayang ke arah tiang di tengah batu patkwa dan hinggap di puncak tiang itu.

Akan tetapi, begitu kedua kakinya menginjak tiang, tiba-tiba terdengar suara keras dan tiang itupun berputar dengan cepat sekali, membawa tubuh Sui Cin dan Hui Song berputaran dengan cepat.

Karena Sui Cin tidak dapat bergerak, kedua pergelangan tangannya diikat di belakang tiang, ia merasa ngeri dan hanya memejamkan kedua matanya, menanti datangnya maut yang mungkin tak dapat dihindarkannya lagi.

Tubuh Hui Song yang berdiri di atas tiang dengan sebelah kaki, berpusing dengan amat cepatnya pula.

Pemuda inipun bingung sekali karena dia tidak mungkin dapat menghentikan gerakan tiang yang berputar dengan amat cepatnya itu, yang membawa tubuhnya berpusing seperti kitiran.

Betapapun pandainya, mana mungkin dia dapat menggunakan tenaga untuk melawan perputaran tiang.

Yang membingungkan hatinya adalah karena dia memikirkan keselamatan gadis yang dicintanya, yang juga berpusing di sebelah bawahnya.

Dia tidak begitu memperhatikan dirinya sendiri, akan tetapi lebih mengkhawatirkan keselamatan Sui Cin.

Semua orang yang berada di luar batu patkwa juga terbelalak bingung.

Kalau tiang itu tidak cepat dapat dihentikan, kalau kedua orang itu terus berpusing seperti itu cepatnya, akan berbahayalah keadaan mereka.

Orang akan dapat tewas hanya karena diputar secepat itu, atau setidaknya akan gila karena ketakutan.

"Hui Song, cepat meloncat turun!"

Tiba-tiba Ci Kang membentak dan nyaring.

Dia tidak ingat lagi akan segala ketidaksenangan hatinya dan menyebut nama Hui Song begitu saja di luar kesadarannya, saking gelisahnya melihat Sui Cin dan Hui Song berpusing seperti itu.

Barulah Cia Sun teringat dan iapun cepat meneriaki Hui Song agar segera meloncat turun.

Tadinya, Hui Song sendiri tidak sadar dan mengambil keputusan untuk mati bersama Sui Cin.

Akan tetapi, mendengar teriakan-teriakan kedua orang pemuda di bawah itu, teringatlah dia bahwa berpusingnya tiang karena terinjak olehnya dan besar sekali kemungkinan tiang itu akan berhenti kalau tidak diinjak.

Akan tetapi, meloncat turun sampai di luar batu patkwa dalam keadaan berputar secepat itu bukanlah hal yang mudah dan tidak berbahaya.

Betapapun juga, teringat akan keselamatan Sui Cin, dia tidak memperdulikan lagi bahaya apapun yang akan mengancamnya dan setelah mengumpulkan tenaga, tiba-tiba saja tubuhnya meloncat meninggalkan tiang.

Tentu saja dia tidak dapat mempergunakan perhitungan karena pandang matanya sudah kabur dan dia tidak dapat melihat ke arah mana dia melompat.

Bayangan kedua orang pemuda di luar batu patkwa itupun sudah tidak nampak olehnya saking cepatnya tubuhnya berpusing.

Begitu tubuhnya meloncat terlepas dari tiang, tubuh itu terbawa oleh tenaga dorongan ketika berpusing itu dan loncatannya menjadi jauh sekali!

Tubuhnya seperti sebuah batu dilemparkan dengan tenaga raksasa.

Kalau bukan Hui Song yang berkepandaian tinggi, tentu akan celakalah orang yang dilontarkan seperti itu.

Akan tetapi Hui Song tidak kehilangan ketenangannya sehingga dalam keadaan yang amat berbahaya itu dia dapat mengambil tindakan tepat.

Dia cepat mengerahkan tenaganya dan dengan gerakan kaki tangannya dia mampu meloncat jungkir balik sedemikian rupa sehingga tubuhnya melayang ke atas dan dorongan tenaga berpusing tadipun dapat dihindarkan.

Tubuhnya masih berjungkir balik beberapa kali kemudian meluncur turun dan dia dapat hinggap ke atas tanah dengan selamat, walaupun mukanya menjadi pucat sekali dan tubuhnya basah oleh peluh.

Ketika memandang, kepalanya pening dan dia memejamkan mata sebentar, mengumpulkan hawa murni dan akhirnya dia dapat menguasai keadaannya.

Dibukanya matanya dan ternyata dia telah terlempar sampai puluhan meter jauhnya!

Dia melihat betapa tiang itu masih berputar, akan tetapi tidak cepat lagi dan perlahan-lahan berhenti.

Tubuh Sui Cin masih terikat dan gadis itu nampak lemas, kepalanya terkulai dan matanya terpejam.

Gadis itu telah jatuh pingsan!

"Cin-moi..."

Hui Song berseru dengan hati penuh kegelisahan dan dia berlompatan menuju ke batu patkwa itu.

"Ia tidak apa-apa, hanya pingsan. Pernapasannya berjalan seperti biasa,"

Kata Cia Sun.

"Untung ia pingsan, itu lebih baik bagi syarafnya,"

Sambung Ci Kang.

Hui Song memandang penuh perhatian dan hatinyapun lega.

Memang gadis itu hanya pingsan, dan kini tiang itu telah berbenti sama sekali seperti tadi.

Kiranya kalau tiang itu diinjak atau disentuh dari atas, ada alat yang menggerakkannya sehingga berputar sampai dia dan Sui Cin tidak kuat lagi.

Sungguh berbahaya!

"Aihh, bagaimana kita dapat membebaskannya?"

Dia mengeluh khawatir.

"Kita harus berhati-hati. Agaknya Raja Iblis sengaja menggunakan Sui Cin sebagai umpan agar para penolong celaka,"

Kata Cia Sun.

"Atau dia sengaja memancing para pendekar agar berkumpul di sini dengan maksud-maksud tertentu. Dia tentu tidak jauh dari sini. Kalau kita bisa menemukan Hui Cu, tentu gadis itu dapat memberi tahu kepada kita rahasis batu patkwa ini,"

Kata Ci Kang.

"Aku tidak perduli Iblis itu menggunakan siasat apapun, aku tidak perduli siapa celaka asal dapat membebaskan Cin-moi!"

Kata Hui Song penuh nafsu. Cia Sun mengerutkan alisnya.

"Membebaskan Sui Cin memang amat penting, akan tetapi keselamatan orang lain juga penting,"

Katanya seperti kepada diri sendiri.

Ci Kang diam saja dan Hui Song sadar betapa dia terlalu mementingkan keselamatan Sui Cin saja sehingga meremehkan keselamatan orang lain.

"Maksudku, aku tidak perduli aku celaka atau mati sekalipun asalkan ia dapat diselamatkan dan dibebaskan dari situ,"

Katanya lagi.

Pada saat itu terdengar suara keluhan dan mereka bertiga cepat mengangkat muka memandang kepada Sui Cin yang baru saja siuman.

Gadis itu membuka matanya dan segera menutupkannya kembali.

Seperti juga Hui Song tadi, ia merasa betapa sekelilingnya masih berpusing.

"Kumpulkan hawa murni, Cin-moi, sebentar juga pening itu akan hilang,"

Kata Hui Song.

Mendengar suara Hui Song, legalah hati Sui Cin.

Tadi ia sudah merasa khawatir sekali akan nasib Hui Song.

Ia yang terbelenggu pada tiang saja, merasa berpusing sedemikian cepatnya dan ia mengkhawatirkan Hui Song yang juga ikut terputar di atasnya.

Ia lalu menarik napas panjang berkali-kali, mengumpulkan hawa murni dan akhirnya ia dapat menguasai dirinya dan membuka matanya.

"Kalian berhati-hatilah, jangan gegabah,"

Katanya.

"Jangan sampai menolongku gagal, kalian malah tertimpa bahaya."

Ia mengangkat mukanya memandang ke depan dan tiba-tiba gadis itu berkata.

"Ah, siapa yang datang itu...?"

Tiga orang muda itu memandang dan mereka mangerutkan alis.

Dari jauh, di atas sebuah bukit, nampak dua sosok bayangan besar dan kecil bergerak cepat sekali menuruni bukit itu menuju ke arah mereka.

"Hemm, kalau itu Raja dan Ratu Iblis yang datang, aku akan mengadu nyawa dengan mereka!"

Kata Hui Song mengepal tinju.

"Raja Iblis tidak segendut itu!"

Kata Ci Kang.

"Dan yang seorang lagi itu terlalu pendek untuk menjadi Ratu Iblis,"

Kata Cia Sun.

"Heiii, itu suhu... tak salah lagi, itu suhu Wuyi Lojin!"

Kata Sui Cin dengan suara gembira.

"Dan yang gendut itu adalah suhu Siangkiang Lojin!"

Hui Song juga berseru girang ketika mengenal kakek gendut botak itu.

Dan memang benarlah.

Setelah tiba dekat, ternyata mereka adalah dua orang kakek aneh sakti yang pernah menggembleng Sui Cin dan Hui Song selama tiga tahun.

Begitu tiba di situ, Wuyi Lojin yang berjuluk Dewa Arak itu terkekeh dan menudingkan telunjuknya kepada Sui Cin.

"Heh heh , bocah nakal, kau sedang mengapa di situ?"

"Suhu, aku tertawan oleh Raja Iblis dan diikat di sini. Suhu, jangan dekat-dekat, mereka bertiga tadi hampir celaka ketika mencoba menolongku! Batu patkwa ini mengandung alat rahasia yang amat berbahaya!"

Mendengar seruan muridnya ini, kakek yang berkepala gundul dengan alis, kumis dan jenggot putih panjang sampai ke perut itu menggarukgaruk kepalanya yang gundul.

"Wah, wah kalau begitu, bagaimana harus menolongmu?"

"Locianpwe, kami bertiga tadi sudah mencoba-coba, akan tetapi selalu gagal, bahkan bukan saja membahayakan penolongnya, juga membahayakan pula nona Sui Cin."

Mendengar ucapan Ci Kang ini, Hui Song yang sudah mendekati gurunya barkata.

"Suhu, tolonglah suhu memberi petunjuk, bagaimana teecu dapat membebaskan Cin-moi dari tiang itu tanpa membahayakan keselamatannya?"

Siangkiang Lojin Si Dewa Kipas nampak tertegun memandang batu patkwa itu, alisnya berkerut dan sebentar saja penggunaan pikiran yang diperas itu membuat tubuh gendut itu mandi keringat.

Terpaksa dia menggerakkan kipasnya yang lebar untuk mengipasi tubuhnya yang bagian depannya nampak karena bajunya tidak dapat dikancingkan itu.

"Ha ha ha, Si Dewa Kipas yang terlalu banyak makan, mana mampu memecahkan masalah rumit seperti ini? Aku berani bertaruh bahwa dia tidak akan mampu, Ha-ha!"

Wuyi Lojin yang suka berkelakar dan menggoda orang itu tertawa-tawa mengejek.

Kerut di antara alis mata Si Dewa Kipas makin mendalam dan agaknya otaknya diperas lebih keras lagi untuk mencari akal.

"Aahhh, apa sih sukarnya? Biar batu patkwa ini mengandung banyak alat rahasia, kalau kugempur tentu hancur!"

"Jangan, suhu!"

Kata Hui Song.

"Baru diinjak saja sudah mengeluarkan senjata-senjata rahasia yang berbahaya, apalagi digempur!"

"Gendut, enak saja kau bicara! Kalau digempur dan Alat-alat rahasia menggerakkan senjata-senjata maut menyerang muridku, berarti kau membunuhnya dan kalau terjadi demikian, mau tidak mau terpaksa aku akan menggempur perut gendutmu itu!"

Kata Wuyi Lojin dengan mata terbelatak dan mulut cemberut.

Dia marah sungguh-sungguh akan tetapi tetap saja mukanya nampak lucu sehingga sama sekali tidak menyeramkan.

"Huh!"

Siangkiang Lojin mencela.

"Lalu apa gunanya engkau si kerdil ini hadir di sini? Aku menggempur batu patkwa dan engkau berjaga-jaga, kalau muridmu terancam bahaya, engkau menghalau serangan-serangan itu. Apa sukarnya? Kalau kau tidak mampu, berarti kau tidak berguna di sini dan lebih baik kau pergi agar tidak memuakkan saja!"

"Wah, wah! Kau menghina, ya? Aku ini memuakkan? Engkau lah yang memuakkan. Lihat perutmu, orang macam engkau ini yang menyebabkan banyak orang kelaparan. Makan sepuluh orang kau habiskan sendiri!"

"Dan engkau ini si kerdil yang mabok-mabokan. Engkau ini namanya orang yang tidak tahu terima kasih kepada alam, biar alam melimpahkan segala untukmu, engkau tetap kurus kering, seperti cecak mati. Aku ini yang namanya mengenal budi dan selalu bersyukur sehingga tubuhku subur."

"Subur apanya? Perut gendut itu sarang cacing dan penyakit!"

Dua orang kakek itu berhadapan dan agaknya seperti dua orang anak kecil yang siap untuk berhantam.

Melihat ini, Sui Cin berseru.

"Suhu, aku tak berdaya dan perlu pertolongan, akan tetapi suhu ribut-ribut sendiri saja bercekcok! Ini namanya suhu tidak sayang kepadaku!"

Ditegur demikian oleh Sui Cin, Wuyi Lojin mundur menjauhi Siangkiang Lojin dan kini dia memandang ke arah batu patkwa dengan alis bergerak-gerak.

Sampai lama dia termenung.

Melihat ini, Siangkiang Lojin tertawa bergelak, memegangi perut gendutnya yang kembang kempis bergelombang.

"HuaHa-ha, otakmu terlalu kecil untuk dapat memecahkan persoalan ini!"

Akan tetapi Wuyi Lojin tidak melayani dan dia bertanya kepada Hui Song.

"Kalian tadi sudah mencoba dan menyelidiki keadaan batu patkwa ini? Coba ceritakan, apa rahasianya!"

"Begini, locianpwe. Delapan segi dari batu ini semua mengandung alat rahasia yang kalau diinjak atau disentuh lalu mengeluarkan serangan senjata-senjata rahasia yang berbahaya. Bahkan setiap kotak satu segi itu mempunyai senjata rahasia sendiri-sendiri. Bahkan tanah di sekeliling batu patkwa inipun mengandung jebakan yang amat berbahaya sehingga mendekati batu patkwa itu saja sudah berbahaya. Hanya bagian tanah di luar segi patkwa yang tertutup bayangan tiang itu saja yang agaknya menjadi lumpuh dan tidak berdaya lagi alat rahasianya. Akan tetapi yang lumpuh itu hanya tanah di luarnya saja, sedangkan batu patkwa itu sendiri masih bekerja. Kami telah mencoba dari berbagai jurusan, namun selalu gagal dan membahayakan keselamatan Cin-moi. Bahkan saya sendiri sudah mencoba dengan meloncat melewati batu dan hinggap di tiang itu akan tetapi begitu terinjak, tiang itupun berpusing dengan amat cepatnya sehingga amat membahayakan dan tidak memungkinkan saya menolong dan membebaskan Cin-moi."

Hui Song yang merasa gelisah sekali melihat keadaan Sui Cin lalu menyambung dengan suara memohon.

"Locianpwe, tolonglah... tolonglah Cin-moi..."

Melihat muridnya memohon kepada kakek kerdil itu, Siangkiang Lojin mengejek.

"Hemm, sudah kukatakan, otaknya terlalu kecil untuk dapat berpikir besar!"

Akan tetapi tiba-tiba kakek katai itu meloncat dan wajahnya nampak berseri.

"Nah, sudah tahu aku bagaimana harus membebaskan muridku!"

Hui Song memandang girang.

"Bagaimana, locianpwe?"

"Membebaskannya melalui batu patkwa tidak mungkin, meloncat ke tiang itupun tidak mungkin. Satu-satunya cara untuk menolongnya hanyalah membuka ikatan tangannya tanpa menyentuh batu patkwa atau tiang. Bukankah sederhana saja cara itu?"

Tiba-tiba kakek gendut itu tertawa bergelak.

Kakek kerdil mengerutkan alis memandang kepadanya dengan marah.

"Ndut, kenapa kau tertawa? Engkau mentertawakan akalku yang amat bagus itu?"

"Akal bagus tahi kucing! Akalmu itu hanya dapat dilakukan oleh Sun Go Kong (Si Raja Monyet dalam dongeng Seeyu)! Hanya Sun Go Kong yang bisa mengulur lengannya sampai satu li panjangnya atau pianhwa (berganti rupa) menjadi seekor lalat yang dapat terbang ke tangan muridmu itu tanpa menyentuh tiang, terapung di udara! Omong kosong akalmu itu!"

Biarpun ucapan kakek gendut itu bernada mengejek, berkelakar atau menggoda, namun tiga orang pemuda dan Sui Cin yang mendengarkan, mau tidak mau harus membenarkan dan mereka menganggap akal Wuyi Lojin itu biarpun benar akan tetapi tidak mungkin dapat dilaksanakan.

Akan tetapi kakek kerdil itu bertolak pinggang dan memandang kakek gendut dengan mata melotot.

"Nah, ini buktinya bahwa biar kecil, aku seperti sebuah ciu-ouw (guci arak) yang penuh dengan arak wangi, sebaliknya engkau biar besar, seperti sebuah gentong air yang kosong melompong! Kalau aku tahu akalnya, tentu aku tahu pula caranya untuk melaksanakan akal itu."

"Bagaimana caranya, suhu?"

Sui Cin yang sudah tidak sabar mendengarkan perdebatan itu bertanya.

"Tenanglah, muridku. Selama ada gurumu di sini, tentu engkau akan selamat."

Dan dia lalu menghadapi Siangkiang Lojin.

"Kita adalah laki-laki berisi, bukan boneka-boneka lemah. Kita bentuk jembatan manusia. Engkau San-sian (Dewa Kipas), karena engkau paling gendut dan paling berat, juga untuk hukumanmu telah berani mengejek akalku, engkau menjadi tiang penyangga paling bawah. Kemudian pemuda tinggi besar yang bertubuh kokoh kuat itu."

Dia menunjuk kepada Ci Kang.

"menjadi tiang penahan. Dia ini,"

Ditunjuknya Cia Sun.

"dan muridmu menjadi dua tiang penghubung yang melengkung ke arah muridku. Aku sendiri menjadi bagian paling atas untuk mencapai muridku dan membebaskannya dari belenggu. Nah, mengertikah engkau?"

Siangkiang Lojin adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dalam hal kecerdikan, dia memang kalah oleh kakek kerdil itu.

Agaknya memang orang yang bertubuh kecil biasanya lebih gesit dan cerdik dari pada orang yang bertubuh besar.

Dia menggeleng kepala.

"Aku tidak mengerti..."

"Suhu, aku sudah mengerti dan memang akal Wuyi locianpwe itu hebat kali! Mari kita laksanakan!"

Kata Hui Song.

Akan tetapi Siangkiang Lojin masih belum mengerti dan melihat ini.

Wuyi Lojin berkata tidak sabar.

"Kalau tidak mengerti, turut saja perintahku! Tak perlu membuang waktu banyak lagi. Nah, gendut, engkau rebahlah di dekat batu patkwa di bagian yang ditimpa bayangan tiang. Engkau rebah terlentang di atas tanah dan persiapkan tenagamu. Apakah engkau masih kuat menyangga empat orang?"

Biarpun belum mengerti benar, akan tetapi pertanyaan ini dianggap tantangan oleh Dewa Kipas.

"Jangankan hanya empat orang, biar sepuluh orang masih dapat kuangkat!"

Jawabnya.

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 7

Baca Juga: Mutiara Hitam 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert