Eps 11 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.
"Bagus, kalau begitu cepat kau rebahkan dirimu terlentang, mukamu menghadap ke tiang!"
Siangkiang Lojin menurut dan merebahkan dirinya terlentang di luar batu patkwa, di bagian segi yang tertutup bayangan tiang.
"Sekarang engkau orang muda!"
Kata Wuyi Lojin kepada Ci Kang.
"Sebaiknya lepas bajumu agar pegangan menjadi kuat, tidak berpegang kepada baju yang dapat robek."
Ci Kang membuka bajunya, diturut pula oleh Cia Sun dan Hui Song.
Kemudian Ci Kang berdiri di depan tubuh Dewa Kipas, di antara kedua kakinya.
Kini Dewa Kipas sudah mulai mengerti, maka ketika pemuda tinggi besar itu mengulurkan lengan kanannya yang kokoh kuat, Dewa Kipas memegang tangan Ci Kang dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang pangkal lengan pemuda itu.
Ci Kang menekuk kedua kakinya dan Cia Sun lalu meloncat ke atas kedua paha yang melintang itu, membiarkan kedua lengannya ke belakang untuk ditangkap oleh tangan kiri Ci Kang.
Atas isyarat Wuyi Lojin, kini Hui Song lalu memanjat ke atas dan dengan ilmu meringankan tubuhnya, dia berhasil duduk di atas kedua pundak Cia Sun, menjepit leher Cia Sun dengan kedua pahanya, kedua kakinya ditekuk ke belakang melalui kedua ketiak Cia Sun dan mengait punggung.
Setelah itu, Wuyi Lojin sendiri dengan sekali lompatan saja, seperti seekor burung, sudah melayang ke atas pundak Hui Song dan seperti juga Hui Song, kedua kakinya menghimpit leher dan mengait ke punggung pemuda itu.
Jadilah lima orang itu sebuah tiang yang cukup tinggi.
"Sekarang, perlahan-lahan melengkung ke depan, kita membentuk jembatan!"
Kata Wuyi Lojin.
"Heii, gendut. Hati-hati kau, pegang yang kuat dan kerahkan tenagamu. Kalau kau gagal kami semua akan mampus!"
Tiang lima manusia ini mulai condong ke arah Sui Cin yang berdiri dengan hati tegang dan gadis ini menoleh ke belakang karena pada saat itu, matahari berada di depannya dan bayangan tiang itu berada di belakangnya sehingga lima orang itu beraksi di sebelah belakangnya.
"Ha-ha, engkau ringan seperti ampas kering, tidak perlu mengerahkan tenagapun aku masih sanggup menahanmu!"
Siangkiang Lojin yang menahan tubuh empat orang itu masih sempat tertawa dan bicara.
Akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga karena maklum bahwa biarpun dia berada paling bawah dan seperti diremehkan, namun sesungguhnya kepercayaan kakek kerdil itu dipusatkan kepadanya dan dialah yang kini memegang keselamatan mereka semua!
"Melengkung lagi, sedikit lagi!"
Kata Wuyi Lojin.
Tubuh Ci Kang yang menjadi tiang penahan itu nampak kokoh, uraturat melingkar-lingkar di kedua lengan dan dadanya yang telanjang.
Akhirnya, tiang manusia itu melengkung dan kedua tangan Wuyi Lojin dapat mencapai ikatan tangan Sui Cin!
Mereka akhirnya dapat mendekati Sui Cin tanpa menyentuh batu patkwa maupun tiang.
Dan jari-jari tangan kakek kerdil yang kecil namun mengandung tenaga sinkang yang amat kuat itu dengan mudah melepaskan tali sutera pengikat kedua pergelangan tangan Sui Cin.
"Hati-hati, jangan bergerak, lemaskan tubuhmu. Biar kulemparkan engkau keluar batu patkwa,"
Bisik kakek itu. Lalu dia berkata ke bawah.
"Kalian kerahkan tenaga, aku akan membuat gerakan melempar tubuh muridku keluar batu patkwa!"
Sui Cin menggeser kakinya sehingga tubuhnya kini berada tepat di depan gurunya, tidak terhalang tiang dan gurunya memegang kedua pundaknya, lalu dengan pengerahan tenaga yang tiba-tiba dia mengangkat dan melemparkan tubuh muridnya itu ke arah samping.
Tubuh gadis itu melayang jauh dengan cara berjungkir balik, Sui Cin menambah kecepatan luncuran tubuhnya dan akhirnya dengan lunak dara itu mendarat beberapa meter di luar daerah tanah berbahaya di luar batu patkwa!
Tiang manusia itupun terbongkar setelah Wuyi Lojin meloncat turun, disusul oleh Hui Song, Cia Sun dan Ci Kang.
Mereka semua berdiri dengan wajah berseri karena gembira melihat betapa mereka telah berhasil membebaskan Sui Cin.
"Suhu..."
Sui Cin lari menghampiri Wuyi Lojin yang melompat turun terlebih dahulu dan kakek kerdil itu merangkul muridnya sambil terkekeh gembira.
"Anak nakal, lain kali kalau mau main-main di tempat berbahaya, ajak gurumu!"
Sui Cin yang merasa gembira dan terharu sekali setelah mengalami ketegangan luar biasa kini lari menghampiri Hui Song yang sudah melompat turun.
Mereka itu saling menghampiri dan kini berhadapan, berpegangan tangan dan saling bertatapan dengan penuh kebahagiaan.
Pada saat itu Sui Cin merasa betapa ia mencinta pemuda ini dan dari dua pasang tangan itu keluar getarangetaran kasih yang hanya dapat terasa oleh mereka berdua.
"Heh hehe, kalian memang pasangan yang cocok sekali. Bukankah begitu, gendut?"
Kata kakek kerdil.
"Benar katamu!"
Kata Siangkiang Lojin, hilang marahnya karena dia kagum akan kecerdikan kawannya yang berkepala kecil dan berotak sedikit itu.
Mendengar ucapan dua orang kakek itu, Sui Cin tersipu dan merasa mukanya menjadi panas.
Muka itu kemerahan dan dua ini sudah melepaskan pegangan tangannya, lalu menghampiri Cia Sun.
"Sun-toako, terima kasih atas bantuanmu,"
Katanya dengan sikap halus.
"Berterima kasihlah kepada suhumu, Cin-moi. Beliau yang memperoleh akal itu,"
Jawab Cia Sun.
Ci Kang merasa risi dan sungkan sekali, di dalam hatinya dia tidak ingin berhadapan dengan Sui Cin karena hal ini hanya membuatnya malu.
Akan tetapi gadis itu menghampirinya dan berkata halus.
"Saudara Ci Kang, terima kasih!"
Ci Kang mengankat muka memandang dan melihat betapa sinar mata Sui Cin kepadanya sama sekali tidak nampak marah atau benci, jantungnya berdebar keras dan dia merasa terharu sekali.
Dia hanya mengangguk dan kata-kata sukar keluar dari mulutnya.
"Aku... aku tidak ada artinya, nona..."
Diam-diam Hui Song merasa mendongkol bukan main melihat betapa Sui Cin bercakap-cakap dengan Ci Kang.
Kalau menurutkan perasaan hatinya, dia ingin meneriaki Ci Kang dan memakinya.
Orang macam itu tidak pantas bercakap-cakap dengan Sui Cin!
Akan tetapi mengingat bahwa bagaimanapun juga Ci Kang membantu pertolongan kepada Sui Cin, dia menahan kepanasan hatinya.
"Di mana adanya datuk sesat Raja dan Ratu Iblis itu, Cin-moi?"
Hui Song meluapkan perasaan tidak senangnya kepada Ci Kang dengan pertanyaan itu.
"Aku akan mengadu nyawa dengan mereka dan harus kubasmi iblis-iblis kaum sesat!"
Berkata demikian, dia melirik ke arah Ci Kang seperti hendak mengingatkan bahwa pemuda inipun putera seorang datuk sesat.
"Mereka setelah mengikatku di sini lalu pergi ke puncak bukit hitam di utara itu. Entah sekarang masih di sana ataukah sudah pergi,"
Jawab Sui Cin.
"Kita harus cari mereka. Mari kita cari di bukit itu. Sebelum dua orang iblis itu dihancurkan, tentu akan timbul kekacauan-kekacauan yang lebih hebat lagi."
Kata Cia Sun dan semua orang merasa setuju.
Seperti dikomando saja, enam orang itu lalu berlari cepat meninggalkan batu patkwa yang berbahaya itu dan menuju ke bukit hitam di sebelah utara.
Akan tetapi, sampai matahari tenggelam ke barat, mereka tidak menemukan apa-apa di bukit itu dan jejak suami isteri iblis itupun tidak mereka temukan.
Agaknya dua iblis itu tadi berada di bukit hanya untuk mengamati batu patkwa itu dari jauh, karena dari puncak bukit memang dapat terlihat batu patkwa itu dengan jelas sehingga segala hal yang terjadi di situ dapat terlihat dari puncak bukit.
Agaknya suami isteri iblis itu ketika melihat betapa Sui Cin dapat tertolong oleh orang-orang pandai yang lima orang jumlahnya, enam orang bersama Sui Cin sendiri yang cukup lihai, mereka menjadi gentar dan meninggalkan tempat itu.
"Wah, iblis-iblis itu telah kabur agaknya!"
Kata Wuyi Lojin dengan kecewa.
"Hemm, ke mana kita dapat mencari mereka yang dapat datang dan pergi seperti iblis itu?"
Hui Song juga berkata jengkel.
"Aku tahu di mana mereka dapat dicari!"
Tiba-tiba Ci Kang berkata dan semua mata memandang kepadanya.
Hui Song sudah memandang dengan sinar mata sinis, dan hatinya berbisik.
"Tentu saja kau tahu karena engkau segolongan dengan mereka."
Akan tetapi pada saat itu terdengar Cia Sun berkata.
"Benar, Ci Kang dan aku tahu di mana mereka berada. Mari kita cari mereka di sarang rahasia mereka!"
Ci Kang dan Cia Sun sebagai penunjuk jalan lalu lari cepat diikuti oleh yang lain.
Ketika melihat bahwa dua orang pemuda itu mengambil jalan menuju ke Sanhaikoan, Hui Song berseru kaget.
"Eh, kenapa ke Sanhaikoan?"
"Memang, di sanalah mereka bersembunyi. Tempat rahasia mereka berada di Sanhaikoan, dan tentu saja hal ini tidak terduga-duga oleh siapapun sehingga di sana mereka dapat bersembunyi dengan aman,"
Kata Cia Sun.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, akan tetapi malam sudah sangat larut, bahkan hampir pagi ketika akhirnya mereka tiba di Sanhaikoan.
Perang sudah selesai setelah Sanhaikoan dan Cengtek direbut kembali oleh balatentara pemerintah.
Ketika enam orang pendekar itu memasuki Sanhaikoan, mereka disambut dengan ramah oleh Yang-tai ciangkun dan para pendekar yang tadinya membantu pasukan dan kini masih berada di Sanhaikoan.
Ketika mendengar bahwa Raja dan Ratu Iblis diduga keras bersembunyi di dalam sebuah tempat rahasia di Sanhaikoan dan tempat itu diketahui oleh Ci Kang dan Cia Sun, Yang-ciangkun terkejut sekali dan cepat menyerahkan seratus orang pasukan pengawal untuk membantu enam orang pendekar itu mengepung tempat rahasia.
Pagi hari itu juga, Wuyi Lojin, Siangkiang Lojin, Cia Sun, Hui Song, Ci Kang dan Sui Cin berangkat ke tempat rahasia itu diikuti pula oleh beberapa orang pendekar yang merasa tertarik walaupun mereka merasa jerih juga mendengar bahwa enam orang itu hendak menyergap Raja dan Ratu Iblis yang amat sakti, juga diikuti oleh seratus orang perajurit pengawal pilihan.
Tempat rahasia itu dikepung oleh pasukan dan enam orang pendekar berjaga di luar lubang sumur dan lubang terowongan di balik semak-semak yang merupakan dua jalan keluar dari tempat rahasia itu.
"Kami akan bersembunyi dulu,"
Kata Wuyi Lojin kepada para pendekar muda.
"kalau Raja Iblis melihat kami dan dia mempergunakan tongkat sakti itu, bagaimanapun juga kami berdua tidak dapat melanggar sumpah sendiri dan tidak akan dapat melawan."
"Baiklah, suhu,"
Kata Sui Cin.
"Nanti saja kalau kami sudah mengeroyoknya, suhu dan Siangkiang locianpwe keluar membantu sehingga dia tidak sempat mengeluarkan tongkatnya itu."
Setelah dua orang kakek yang takut melanggar sumpah terhadap tongkat sakti yang berada di tangan Raja Iblis itu bersembunyi, Hui Song lalu menjenguk ke dalam lubang sumur dan berteriak sambil mengerahkan khikangnya.
"Pangeran Toan Jit Ong, Raja Iblis yang terkutuk, keluarlah menerima kematian!"
Tidak ada jawaban dari bawah, juga tidak nampak gerakan sesuatu.
Yang ada hanya gema suara teriakan Hui Song yang terdengar mengaum dan menyeramkan, seperti jawaban atas teriakan tadi, jawaban yang bukan keluar dari mulut manusia.
Melihat ini, seorang perwira yang memimpin pasukan pengawal itu menjadi tidak sabar lagi.
"Siapkan kayu bakar dan tiupkan asap ke dalam sumur!"
Perwira ini hendak menggunaken siasat mengisi tempat persembunyian itu dengan asap agar mereka yang berada di sebelah dalam akan terpaksa keluar karena tidak tahan diasapi dari luar.
Melihat kesibukan para perajurit pengawal mempersiapkan perintah sang perwira, Wuyi Lojin yang berada dalam persembunyiannya terkekeh.
"Heh heh heh, kelinci-kelinci yang diasapi tentu akan keluar sekarang!"
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan delapan orang perajurit yang berada paling dekat dengan lubang sumur berteriak dan roboh terjengkang.
Mereka tewas seketika karena Jarum-jarum beracun telah menyambar tenggorokan mereka.
Dan dari dalam lubang sumur itu kini melayang dua sosok tubuh seorang laki-laki dan seorang perempuan, tampan dan cantik dan keduanya mengenakan pakaian indah pesolek.
Tentu saja para prajurit pengawal menjadi kaget dan marah melihat robohnya delapan orang teman mereka.
Dengan senjata golok atau tombak mereka segera mengepung dan menyerang.
Akan tetapi, dua orang muda itu amat lihai dan begitu mereka berdua menggerakkan pedang kembali robohlah empat orang perajurit yang mengeroyok mereka.
Sementara itu, ketika mengenal bahwa dua orang itu adalah Sim Thian Bu dan Gui Siang Hwa, Ci Kang sudah marah sekali.
Sim Thian Bu adalah murid mendiang ayahnya dan terhitung sutenya walaupun Thian Bu lebih tua darinya.
Dia sudah meloncat maju, hampir berbareng dengan Sui Cin yang juga sudah marah sekali melihat Siang Hwa.
"Sim Thian Bu manusia keparat!"
Ci Kang membentak marah.
"Hayo menyerah sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan!"
Ternyata gemblengan Ciu-sian Lokai telah merobah sifat pemuda ini.
Biarpun dia marah sekali dan tahu bahwa bekas sutenya ini adalah seorang jahat yang sepatutnya dibasmi, namun dia ingin memberi kesempatan kepada Thian Bu untuk menyerah dan menerima hukuman, kalau mungkin merobah sifatnya yang jahat.
Akan tetapi, Sim Thian Bu tersenyum mengejek.
"Siangkoan Ci Kang manusia busuk! Engkau seperti harimau berkedok domba, ha ha ha! Siapa tidak tahu bahwa engkau adalah putera mendiang Siangkoan Lojin Si Iblis Buta? Engkau pura-pura alim dan menjadi pendekar? Ha-ha-ha, alangkah lucunya!"
Setelah berkata demikian, Sim Thian Bu sudah menggerakkan pedangnya menusuk dada Ci Kang.
Namun, dengan mudah saja, Ci Kang mengelak dan menendang ke arah pergelangan lengan lawan yang juga dapat dielakkan.
Mereka segera berkelahi dengan seru walaupun Ci Kang hanya bertangan kosong dan lawannya berpedang.
Sementara itu, Sui Cin yang marah melihat murid Raja Iblis itu sudah menyerang tanpa banyak cakap lagi.
Iapun menggunakan tangan kosong saja, menubruk dan mencengkeram ke arah pundak Siang Hwa sambil membentak.
"Perempuan iblis, bersiaplah untuk mati!"
Siang Hwa, seperti juga Thian Bu, maklum bahwa ia telah terkepung banyak orang pandai, maka tanpa banyak cakap iapun juga mengelak dan mengelebatkan pedangnya membalas serangan Sui Cin dengan nekat.
Akan tetapi sabetan pedangnya juga hanya mengenai tempat kosong, bahkan ia terkejut bukan main melihat tubuh lawannya berkelebat lenyap dan tahu-tahu telah menyerang dengan tamparan ke arah kepalanya dari samping!
Tahulah ia bahwa gadis cantik yang menjadi lawannya ini adalah seorang ahli ginkang yang tangguh, maka iapun cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya melindungi tubuh.
Terjadi perkelahian yang cepat dan mati-matian antara Sui Cin dan Siang Hwa.
Cia Sun dan Hui Song hanya menonton dan siap-siap membantu dua orang teman mereka kalau perlu, akan tetapi mereka tidak mengeroyok karena maklum bahwa Ci Kang dan Sui Cin akan mampu menundukkan dua orang musuh itu.
Membantu teman yang lebih kuat dari pada lawan merupakan pantangan bagi mereka.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan tanah dengan batu muncrat dari tempat tidak jauh dari situ.
Ledakan itu ternyata mengakibatkan tanah itu berlubang besar dan dari dalam lubang itu nampak empat orang yang memanggul kayu pikulan berbentuk joli tanpa atap berloncatan keluar dengan kecepatan yang luar biasa.
Mereka adalah empat orang yang berpakaian seragam, bukan pakaian perajurit melainkan pakaian jago silat dan di atas joli terbuka itu duduk dua orang yang membuat semua orang terkejut dan ngeri melihatnya.
Dua orang itu adalah Raja dan Ratu Iblis!
Tentu saja para perajurit segera mengepungnya dan belasan batang tombak dan golok berkelebatan menyerang empat orang pemikul joli terbuka itu.
Akan tetapi, segera terjadi kekacauan dan semua orang terkejut melihat betapa empat orang pemikul joli itu memiliki gerakan yang bukan main cepatnya.
Kadang-kadang mereka berloncatan seperti terbang, lalu turun dan lari, sedangkan kakek dan nenek yang Kadang-kadang duduk Kadang-kadang bangkit berdiri itu menggerak-gerakkan tangan mereka dan hawa pukulan menyambar dahsyat, membuat belasan orang perajurit terpelanting ke kanan kiri tanpa dapat bangkit kembali!
Tentu saja hal ini menggegerkan para perajurit dan perwira mereka memberi aba-aba agar terus mengepung dan mengejar.
Melihat betapa Raja dan Ratu Iblis sudah keluar, Hui Song mengeluarkan bentakan dan diapun sudah berloncatan diantara para perajurit untuk membantu mereka mengepung dan mengeroyok Raja dan Ratu Iblis.
Cia Sun mengenal empat orang penggotong tandu atau joli tanpa atap itu.
Mereka berempat itu bukan lain adalah Hui-thian Sukwi, empat orang Cap-sha-kui yang memang memiliki ginkang yang luar biasa sekali.
Maka diapun cepat lari menghampiri dan ikut pula mengepung.
Juga para pendekar ikut membantu sehingga kini empat orang pemikul tandu itu dikepung dari empat jurusan!
Akan tetapi, gerakan Hui-thian Sukwi sungguh luar biasa cepatnya.
Sebentar mereka berloncatan ke atas kepala para perajurit dan dua orang kakek dan nenek di atas tandu itu menyebar maut dengan pukulan-pukulan jarak jauh mereka.
Hanya para pendekar yang dapat menghindarkan diri atau menangkis sambaran angin dahsyat itu, akan tetapi para perajurit pengawal banyak yang roboh dan tewas.
Agaknya Raja Iblis yang lebih banyak menyebar maut sedangkan Ratu Iblis "mengemudi"
Empat orang pemanggul tandu itu dengan teriakan-teriakannya.
"Kanan... Maju... Mundur... ke kiri!"
Dan Hui-thian Sukwi mempergunakan kecepatan gerak kaki mereka untuk berloncatan sesuai dengan petunjuk Ratu Iblis.
Sambil berloncatan, kaki merekapun tidak pernah bergerak dengan sia-sia, karena tendangan-tendangan mereka lakukan yang (Lanjut ke
Jilid 37) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37 merobohkan pula banyak perajurit pengawal yang mengepung.
"Kejar! Kepung, robohkan para pemikul tandu!"
Perwira pasukan memberi aba-aba dan kini empat orang pemikul tandu itu berloncatan tinggi sampai di tenda besar yang didirikan oleh para perajurit setiba mereka di situ.
Tenda itu diterjang dan tiangtiangnya roboh oleh tendangan empat orang pemikul tandu yang berloncatan ke atas.
Dan hantamanhantaman yang dilakukan oleh telapak tangan Raja Iblis sedemikian hebatnya sehingga mayat-mayat para pengeroyok roboh berserakan.
"Kepung rapat!"
Teriak perwira pasukan ketika melihat empat orang pemikul tandu itu meloncat tinggi dan hinggap di atas tiangtiang kayu bekas tenda besar.
Para perajurit mengepung dan menyerang dengan tombak.
"Loncat turun ke depan!"
Terdengar Ratu Iblis mengomando dan Raja Iblis melancarkan pukulan ke arah tiang melintang di depannya.
"Krakkkk..."
Tiang yang besar itu patah tengahnya dan tiangtiang itupun roboh menimpa para perajurit sedangkan empat orang pemikul tandu meloncat jauh ke depan.
Melihat betapa Raja Iblis menyebar maut, Hui Song dan Cia Sun menjadi marah sekali.
Mereka tidak dapat leluasa bergerak karena kesimpangsiuran para perajurit yang mengeroyok.
"Kita serang berbareng dengan loncatan ke atas!"
Tiba-tiba Cia Sun berbisik dan Hui Song mengangguk.
Tiba-tiba dua orang pemuda perkasa ini meloncat jauh ke atas, melampaui kepala beberapa orang perajurit dan mereka itu langsung menerjang Raja Iblis dari kanan dan belakang!
Memang mereka sudah memperhitungkan agar loncatan mereka tiba di sebelah kanan dan belakang Raja Iblis dan mereka menyerang dengan berbareng.
Sambil meloncat itu, dari sebelah kanan Cia Sun sudah mengirimkan pukulan dengan sejurus Hokmo Cap-shaciang, sebuah ilmu pukulan tangan kosong yang mukjizat dan luar biasa ampuhnya.
Pukulan itu mendatangkan angin kuat dan nampak seperti ada sinar kemerahan menyambar dahsyat ke arah leher Raja Iblis.
Pada saat yang sama pula, Hui Song sudah menyerang dengan pukulan Thian-te Sin-ciang yang juga merupakan pukulan amat ampuh, ditujukan ke arah punggung Raja Iblis.
Menghadapi penyerangan dua orang pemuda yang amat lihai ini, Raja Iblis mengeluarkan suara mendengus marah dan juga kaget.
Cepat dia memutar tubuhnya ke kanan, tangan kirinya diputar menahan pukulan Cia Sun sedangkan tangan kanannya menangkis pukulan Hui Song.
Sementara itu, Ratu Iblis tidak tinggal diam melihat suaminya menghadapi penyerangan dahsyat itu dan iapun mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan mendorong ke arah Cia Sun dan Hui Song dari sebelah kanan suaminya.
"Plakkk! Desss..."
Tubuh Hui Song dan Cia Sun yang menyerang sambil melompat itu, karena tidak mempunyai tempat berpijak dan saking kuatnya tenaga Raja dan Ratu Iblis, terpental ke belakang dan terpaksa berjungkir balik menghindarkan diri dari berbanting, akan tetapi tenaga mereka juga demikian kuatnya sehingga Raja dan Ratu Iblis yang tadi mengerahkan tenaga, membuat empat orang Hui-thian Sukwi terhuyung karena tiba-tiba saja panggulan mereka menjadi berat luar biasa.
Sementara itu, perkelahian antara Sui Cin dan Gui Siang Hwa terjadi amat serunya.
Akan tetapi, bagaimanapun juga, Siang Hwa harus mengakui keunggulan Sui Cin.
Sebelum gadis ini digembleng oleh Wuyi Lojin, belum tentu Sui Cin akan dapat mengalahkan Siang Hwa dengan mudah.
Akan tetapi, selama tiga tahun ini Sui Cin mengalami gemblengan yang amat mendalam sehingga ilmu-ilmunya yang banyak macamnya, yang diwarisinya dari ayah ibunya itu, kini menjadi matang.
Oleh karena itu, biarpun Siang Hwa mempergunakan pedang, bahkan telah mempergunakan pula saputangan suteranya yang mengandung racun, ia sama sekali tidak berdaya dan semua serangannya dapat digagalkan dengan mudah oleh Sui Cin, sebaliknya desakan gadis Pulau Teratai Merah ini membuat ia repot dan terhuyung-huyung.
Beberapa kali ia sudah menerima tamparan Sui Cin dan hanya kekebalan dirinya saja yang membuat Siang Hwa masih dapat bertahan sampai puluhan jurus.
Akan tetapi, ketika jari tangan Sui Cin yang kecil mungil dan meruncing itu menyambar pundaknya dengan totokan yang amat cepat, Siang Hwa terpelanting dan pedangnya terlepas ketika tangan kanannya ditendang oleh Sui Cin.
Pada saat itulah para prajurit menubruk dengan tombak dan golok mereka sehingga wanita cabul itu tewas dalam keadaan mengerikan, tubuhnya hancur oleh belasan batang golok dan tombak.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Ci Kang juga sudah merobohkan sutenya, yaitu, Sim Thian Bu.
Memang sejak semula Sim Thian Bu sendiri sudah gentar menghadapi putera mendiang gurunya ini.
Sejak dahulu dia tidak pernah dapat menang terhadap Ci Kang.
Apalagi setelah Ci Kang digembleng dengan hebatnya oleh Ciu-sian Lokai, tentu saja gerakan-gerakannya menjadi semakin matang dan kuat.
Namun, karena perasaan Ci Kang menjadi halus dan lembut, dia merasa tidak tega untuk membunuh bekas sutenya.
Beberapa kali dia membujuk agar Thian Bu menyerah saja dan kalau mau bertobat, dia yang akan mintakan ampun kepada Yang Taiciangkun.
Akan tetapi semua bujukannya disambut dengan ucapan-ucapan menghina oleh Thian Bu sehingga perkelahian itu menjadi lama.
Akhirnya, sebuah tendangan yang dilakukan dengan posisi miring dari Ci Kang amat tidak terduga oleh Thian Bu.
Tendangan itu mengenai lambung Sim Thian Bu, membuatnya tersungkur roboh.
Pada saat itu, para perajurit juga menubruk dan menghunjamkan senjata mereka.
Namun, sebelum tewas, Thian Bu masih sempat melontarkan pedangnya membunuh seorang di antara mereka.
Dia sendiri, seperti juga Siang Hwa, tewas di ujung belasan batang tombak dan golok.
Pada saat Hui-thian Sukwi terhuyung karena pertemuan tenaga antara Raja dan Ratu Iblis melawan Hui Song dan Cia Sun, tiba-tiba muncullah Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin!
Dua orang kakek ini melihat kesempatan baik sekali.
Pada saat itu, Raja Iblis tidak memegang tongkat yang mereka takuti.
Mereka melayang seperti yang dilakukan Hui Song dan Cia Sun tadi, dan mereka sudah menerjang ke arah Raja dan Ratu Iblis yang berdiri di atas joli terbuka.
Empat orang pemikul sedang terhuyung maka tidak sempat membawa pemimpin mereka meloncat dan terpaksa Raja dan Ratu Iblis yang kaget melihat munculnya dua orang kakek ini, menyambut serangan mereka dengan dorongan tangan.
Raja Iblis menyambut hantaman tangan Siangkiang Lojin sedangkan Ratu Iblis juga menyambut pukulan Wuyi Lojin dengan dorongan kedua telapak tangannya.
"Wuuuuttt... desss..."
Pertemuan tenaga sinkang sekali ini lebih hebat lagi.
Akibatnya, tubuh Raja dan Ratu Iblis terdorong dan condong ke belakang sedangkan tubuh dua orang kakek penyerang yang tadi meloncat terdorong ke belakang dan hampir mereka terjengkang, akan tetapi empat orang Hui-thian Sukwi sampai jatuh berjongkok karena kaki mereka tiba-tiba tidak kuat lagi menahan tenaga yang menekan dari atas!
Pada saat itu Sui Cin, Ci Kang, Hui Song dan Cia Sun sudah menerjang maju, masing-masing menyerang seorang dari Hui-thian Sukwi.
Empat orang tokoh Cap-sha-kui ini terkejut sekali.
Mereka baru saja jatuh berjongkok dan serangan empat orang muda itu sedemikian dahsyatnya sehingga mereka terpaksa melepaskan pikulan joli dan bangkit untuk meloncat mengelak atau menangkis.
Segera terjadi perkelahian antara mereka dan empat orang muda itu dan joli itupun terlempar ke samping!
Akan tetapi, Raja dan Ratu Iblis sudah berloncatan turun dan ketika Wuyi Lojin dan Siangkang Lojin hendak menyerang, tiba-tiba mereka berdua terbelalak dan mundur karena Raja Iblis sudah mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya!
Para pendekar yang hadir cepat maju menyerang, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja mereka terpental roboh dan kini para perajurit pengawal mengepung lagi, mengeroyok kakek dan nenek itu.
Akan tetapi, para perajurit ini seperti sekelompok nyamuk menyerang api lilin saja, setiap kali kakek dan nenek itu menggerakkan tangan, tentu banyak orang yang roboh terpelanting.
Karena itu, para perajurit menjadi gentar dan Raja Iblis bersama isterinya dengan mudah berloncatan lalu melarikan diri dengan cepat sekali, tak pernah dapat disusul oleh para pengejarnya.
Apalagi karena para pengejarnya itu sudah gentar, bahkan dua orang kakek yang paling lihai di antara mereka, Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin, juga mengejar dari jauh saja karena mereka itu juga gentar, bukan gentar terhadap Raja dan Ratu Iblis, melainkan terhadap tongkat sakti itu!
Mereka takut kepada sumpah mereka sendiri, takut melanggar sumpah.
Hal ini membuat kakek dan nenek iblis itu dengan mudah keluar dari Sanhaikoan dan melarikan diri menuju ke padang pasir di sebelah selatan, kemudian membelok ke barat.
Sementara itu, dalam keadaan panik dan juga karena memang jauh kalah tinggi tingkat kepandaiannya, keempat orang Hui-thian Sukwi yang menghadapi empat orang pendekar muda sudah roboh semua.
Su Cin, Hui Song, Ci Kang dan Cia Sun juga melihat betapa Raja dan Ratu Iblis melarikan diri.
Maka mereka memperhebat serangan mereka sehingga empat orang pendekar muda itu sudah berloncatan dan lari mengejar pula.
Walaupun mereka itu tadi tertinggal jauh, karena kehebatan ilmu ginkang mereka, akhirnya mereka dapat juga menyusul Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin yang tidak berani terlalu cepat.
"Suhu, di mana mereka?"
Tanya Sui Cin.
"Wah, mereka tadi menghilang di balik bukit sana itu,"
Kata Wuyi Lojin kepada Sui Cin.
"Sayang kami berdua tidak berani mengejar terlalu cepat. Si laknat itu telah memegang tongkatnya!"
Kata pula Si Dewa Kipas.
"Akan tetapi kami tidak takut tongkat iblisnya itu!"
Kata Hui Song dengan gemas dan diapun terus berlari cepat ke depan, diikuti oleh tiga orang pendekar muda lainnya, sedangkan dua orang kakek itu terpaksa mengejar pula dari belakang mereka dengan gelisah.
Dari arah jalan yang diambil oleh Raja dan Ratu Iblis, Ci Kang dan Cia Sun teringat akan tempat persembunyian Raja Iblis di sebuah gedung tua di lereng bukit itu, di mana terdapat gua dalam tanah dan di sana untuk pertama kali mereka bertemu dengan Hui Cu.
Tidak salah lagi, tentu ke sana Raja dan Ratu Iblis pergi!
Maka, mereka lalu menjadi penunjuk jalan dan berlari cepat ke arah bukit itu.
Kini yang melakukan pengejaran hanya tinggal mereka berenam lagi karena pasukan pengawal dari Sanhaikoan bersama para pendekar sudah tidak mengejar, tidak sanggup mengejar secepat itu, dan pula, mereka lebih sibuk dan mementingkan untuk menolong teman-teman yang terluka dan mengurus mereka yang tewas ketika terjadi pengeroyokan atas diri Raja dan Ratu Iblis bersama pembantu-pembantu mereka yang pandai Para pengejar itu mempercepat lari mereka ketika mereka melihat betapa di sebelah depan, pada persimpangan jalan menuju ke Cengtek dan ke bukit tempat gedung kuno persembunyian Raja dan Ratu Iblis, terdapat keributan.
Agaknya di sana terjadi pertempuran yang seru antara banyak orang yang melakukan pengeroyokan.
"Ayah..."
Hui Song berseru kaget sekali ketika melihat bahwa yang mengeroyok Raja dan Ratu Iblis adalah ayahnya bersama sumoinya Tan Siang Wi, dan tiga puluh lebih orang anggota Cin-Ling-Pai, sisa dari para murid Cin-Ling-Pai.
Betapa lihainya Raja dan Ratu Iblis, namun dikeroyok oleh puluhan orang murid Cin-Ling-Pai yang dipimpin sendiri oleh ketuanya, mereka harus bersikap hati-hati.
Mereka berdua dikurung ketat dan para murid Cin-Ling-Pai yang merasa dendam kepada Raja Iblis, berkelahi dengan semangat tinggi dan mati-matian.
Memang sudah ada lima enam orang di antara murid Cin-Ling-Pai yang roboh akan tetapi mereka masih bersemangat.
Juga ketua Cin-Ling-Pai, Cia Kong Liang, nampak terluka pada pahanya, Akan tetapi pendekar ini masih bergerak dengan gagah perkasa, mendesak Raja Iblis dibantu oleh Tan Siang Wi dan puluhan orang murid Cin-Ling-Pai.
Ketika Cia Kong Liang melihat munculnya puteranya, dia merasa girang sekali.
Sebaliknya, Raja Iblis menjadi terkejut bukan main.
Menghadapi orang-orang Cin-Ling-Pai mereka tidak merasa takut dan biarpun harus mengerahkan kepandaian dan dalam waktu yang agak lama, mereka yakin akan mampu mengalahkan puluhan orang musuh itu.
Akan tetapi kemunculan empat pendekar muda dan dua orang kakek itu membuat mereka gentar juga!
Memang benar bahwa dua orang kakek itu tidak akan berani turun tangan melihat tongkat sakti di tangan Raja Iblis, akan tetapi empat orang pendekar muda itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan!
Mereka berempat itu bahkan lebih tangguh dari pada ketua Cin-Ling-Pai sendiri!
Kini tanpa banyak cakap lagi, Hui Song, Sui Cin, Cia Sun dan Ci Kang sudah menerjang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis.
Para murid Cin-Ling-Pai bernapas lega dari mereka yang merasa bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh berada di bawah untuk dapat mengimbangi perkelahian antara orang-orang sakti itu, lalu mundur dan hanya mengurung tempat itu sambil menonton dan siap-siap membantu pihak mereka.
Perkelahian kini menjadi seru bukan main setelah Sui Cin, Hui Song, Cia Sun dan Ci Kang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis!
Benar-benar merupakan perkelahian tingkat tinggi di mana setiap orang mengeluarkan semua kepandaian mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.
Empat orang muda itu tangkas dan lihai, dengan Jurus-jurus mereka yang merupakan ilmu-ilmu silat pilihan.
Cia Sun dan kawan-kawannya maklum akan kelihalan kakek dan nenek itu, Maka mereka berempat tidak merasa sungkan untuk maju berempat melawan dua orang.
Bahkan Cia Kong Liang berdiri bengong penuh kagum.
Puteranya itu kini telah memiliki kepandaian yang amat hebat, bahkan berani bertemu tangan beradu sinkang melawan Raja Iblis!
Diapun hanya berdiri di pinggir dan siap membantu kalau-kalau puteranya dan para pendekar muda itu terancam bahaya.
Dua orang kakek Si Dewa Arak dan Dewa Kipas hanya nonton di antara para murid Cin-Ling-Pai tanpa berani turun tangan.
Akan tetapi, Wuyi Lojin mendapat akal.
Dia melihat betapa gerakan-gerakan muridnya, Sui Cin, walaupun sudah hebat sekali, namun ada beberapa bagian yang masih lemah.
Dia lalu berteriak-teriak memberi petunjuk kepada Sui Cin dan begitu gadis ini mendengar petunjuk-petunjuk gurunya, ia menyerang makin dahsyat membuat Ratu Iblis kewalahan!
Melihat ini, segera Siangkiang Lojin berteriak memberi petunjuk kepada Hui Song yang segera dapat memperbaiki dan memperhebat gerakan-gerakannya setelah mendengar petunjuk-petunjuk dari kakek gendut itu.
Melihat ini, Cia Kong Liang semakin heran dan baru dia dapat menduga bahwa kakek gendut ini tentu seorang guru baru dari puteranya.
Selagi dua orang kakek itu berlomba memberi petunjuk kepada murid masing-masing, tiba-tiba terdengar suara dua orang lain yang berseru memberi petunjuk kepada Cia Sun dan Ci Kang!
Dua orang kakek ini girang sekali karena mengenal suara guru-guru mereka, Ciu-sian Lokai dan Gobi Sanjin!
Lengkaplah sudah guru keempat pendekar muda itu.
Mereka berempat berada di situ akan tetapi karena tongkat sakti di tangan Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong, Mereka berempat tidak berani berkutik dan hanya dapat memberi petunjuk kepada murid masing-masing.
Akan tetapi petunjuk-petunjuk ini berharga sekali karena kini gerakan keempat orang muda itu menjadi semakin dahsyat sehingga Raja dan Ratu Iblis sendiri menjadi repot, terdesak dan permainan silat mereka menjadi kalang kabut.
Selain itu, mereka berdua sudah amat tua sehingga dalam hal daya tahan tubuh dan pernapasan, mereka kalah jauh dibandingkan empat orang lawan mereka.
Empat orang muda itu mengeroyok secara bergantian dan mereka seperti membentuk barisan segi empat, membuat suami isteri iblis itu kewalahan.
Ketika memperoleh kesempatan yang baik, tiba-tiba Sui Cin menubruk maju dari tamparan tangannya yang penuh dengan tenaga Thian-te Sin-ciang itu mengenai punggung Ratu Iblis.
"Uakkk..."
Ratu Iblis tidak roboh akan tetapi dari mulutnya muncrat darah segar, tanda bahwa tamparan itu telah melukainya.
Dan pada saat yang hampir bersamaan, dengan jurus Hokmo Cap-shaciang yang mukjizat, Cia Sun juga sudah berhasil memukul lambung Raja Iblis.
"Desss..."
Demikian hebatnya pukulan itu, akan tetapi juga demikian lihainya Raja Iblis sehingga Cia Sun yang memukul malah terpelanting sendiri!
Akan tetapi dari dalam dada Raja Iblis itu keluar suara keluhan pendek, kemudian dia dan isterinya secara tiba-tiba meloncat dan melarikan diri ke arah bukit!
"Cepat kejar!"
Hui Song berseru dan mereka berempat lalu mengejar, diikuti oleh empat orang kakek, Cia Kong Liang dan para murid Cin-Ling-Pai yang tertinggal jauh di belakang.
Kakek dan nenek itu berlari seperti terbang cepatnya menuju ke arah gedung kuno di lereng bukit.
Melihat ini, Ci Kang berseru.
"Cepat, kalau mereka memasuki gedung, akan sukar bagi kita karena gedung itu menyimpan banyak rahasia! Mungkin mereka bisa lolos melalui jalan rahasia!"
Mendengar ucapan ini, semua orang melakukan pengejaran secepatnya.
Akan tetapi mereka kalah dulu dan kini kakek dan nenek itu sudah tiba di depan gedung.
Hal ini membuat delapan orang pengejar itu menjadi gelisah.
Juga Cia Kong Liang mendengar ucapan Ci Kang tadi dan diapun yang berada agak jauh di belakang delapan orang itu merasa gelisah.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras sekali dan gedung kuno di depan itu hancur berantakan!
Kakek dan nenek itu tentu saja merasa terkejut sekali dan Raja Iblis terbelalak memandang kepada seorang gadis yang baru saja muncul dari belakang gedung yang sudah hancur itu.
"Hui Cu..."
Ratu Iblis berseru kaget.
"Apa yang telah kau lakukan?"
Gadis itu memandang kepada ibunya dengan wajah muram, lalu berbalik memandang kepada Raja Iblis dengan sinar mata penuh kemarahan.
"Maafkan aku, ibu. Terpaksa aku menghancurkan gedung ini. Bagaimanapun juga aku harus menentang kejahatannya!"
Ia menuding ke arah muka Raja Iblis.
"Anak keparat! Kalau begitu, engkau harus mampus!"
Raja Iblis tiba-tiba meloncat ke depan dan menyerang Hui Cu dengan pukulannya yang dahsyat.
Pukulan itu dahsyat bukan main, datang menerjang Hui Cu seperti kilat menyambar.
Gadis itu menggerakkan kedua tangannya menangkis untuk melindungi tubuhnya.
"Desss..."
Tubuh gadis itu terlempar sampai beberapa meter ke belakang dan terbanting ke atas tanah.
Akan tetapi, berkat Latihan-latihan yang diterima dari ibunya, gadis itu tadi dapat melindungi dirinya dengan sinkang sehingga ia hanya kesakitan saja dan tidak sampai terluka parah, maka ia hanya mengeluh dan perlahan-lahan bangkit lagi.
Melihat ini, Raja Iblis menjadi penasaran dan semakin marah.
"Heh, satu kali pukulan belum cukup, ya?"
Katanya dan dia sudah menerjang lagi ke depan untuk menyusulkan pukulan maut kepada puterinya.
Akan tetapi pada saat itu, Ratu Iblis sudah meloncat mendahului suaminya dan menghadang di depan suaminya.
"Jangan bunuh anakku!"
Katanya dengan sinar mata mencorong seperti seekor harimau betina yang melindungi anaknya.
Sepasang mata Raja Iblis yang biasanya jarang bergerak itu kini terbelalak.
Hampir dia tidak percaya melihat isterinya kini berdiri menghadang dan menentangnya.
Selama ini, isterinya amat taat kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dengan taruhan nyawa sekalipun.
Akan tetapi sekali ini, isterinya menghadapinya dengan sikap seorang musuh!
Dia tidak tahu betapa di atas segalanya, seorang ibu mencinta anak tunggalnya dan berani menentang apa saja, berani kehilangan apa saja demi anaknya itu.
"Kau... kau berani menentang aku?"
Tanyanya, masih tidak dapat percaya.
"Jangan bunuh anakku!"
Hanya itulah yang dapat dikatakan Ratu Iblis karena sesungguhnya, nenek ini amat takut dan juga cinta kepada Raja Iblis, akan tetapi agaknya, kasihnya terhadap anak kandung yang tunggal itu lebih besar lagi.
"Kau membela anak keparat yang sudah menghancurkan tempat kita itu?"
Tanyanya lagi.
"Jangan bunuh anakku!"
"Hemm, kalau begitu kalian harus mampus!"
Dan Raja Iblis sudah menerjang isterinya dengan dahsyat.
Ratu Iblis menangkis dan iapun terjengkang, sungguhpun tidak sehebat puterinya tadi.
Ia meloncat bangun dan kini Hui Cu juga sudah meloncat dekat ibunya.
Ketika Raja Iblis menyerang lagi, dia disambut oleh isterinya dan puterinya!
Terjadilah perkelahian yang seru dan yang membuat para pendekar yang sudah tiba di situ memandang bengong dan mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Mereka mengejar Raja dan Ratu Iblis, akan tetapi kini musuh-musuh yang dikejar itu bahkan saling hantam sendiri.
Hal ini membuat mereka bingung, tidak tahu harus membantu siapa!
Betapapun lihainya Ratu Iblis, menghadapi suaminya sama saja dengan menghadapi gurunya.
Dan kepandaian Hui Cu belum ada artinya kalau dibandingkan dengan ayahnya itu, maka dalam waktu tiga puluh jurus saja, pukulan tangan kiri Raja Iblis telah menyambar dengan tepat mengenai dada isterinya sendiri.
"Dukkk..."
Tubuh nenek itu terjengkang dan terbanting keras.
"Ibu..."
Hui Cu menubruk ibunya dan pada saat itu, dengan kemarahan meluap Raja Iblis menyerang anaknya.
Akan tetapi, Sui Cin, Hui Song, Ci Kang dan Cia Sun seperti dikomando telah menerjang maju, menyerang Raja Iblis yang sedang hendak membunuh puterinya itu.
Serangan empat orang muda yang parkasa itu sungguh dahsyat, membuat Raja Iblis terpaksa menarik kembali serangannya terhadap Hui Cu dan berloncatan ke belakang untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang berbahaya itu.
Kini, gedung kuno yang menjadi harapannya untuk dapat menyembunyikan atau melarikan diri telah dihancurkan puterinya sendiri, dan pembantunya yang paling dapat diandalkan, yaitu Ratu Iblis, telah tewas atau setidaknya sudah tidak mampu membantunya lagi.
Melarikan diri dari empat orang muda perkasa inipun percuma karena dia sendiri sudah amat lelah dan kalau disuruh berlomba lari, tentu dia akan kehabisan napas dan akhirnya tersusul juga.
Kini, lalu mengeluarkan suara pekik melengking dan selagi tenaganya masih ada, tiada lain jalan bagi Pangeran Toan Jit Ong atau Raja Iblis kecuali melawan dan berusaha mengamuk, menjatuhkan semua lawan yang empat ini karena empat orang kakek itu tidak ada yang berani maju melanggar sumpah mereka sendiri.
Oleh karena itu, Raja Iblis lalu mengeluarkan suara pekik melengking dan membalas serangan empat orang pengeroyoknya yang cepat menghindar pula.
Kini terjadilah perkelahian yang hebat dan mati-matian antara Raja Iblis yang dikeroyok oleh empat orang pendekar muda perkasa itu.
Dan kini, empat orang kakek sakti tidak perlu lagi memberi petunjuk kepada murid masing-masing.
Dengan hilangnya Ratu Iblis, maka kekuatan Raja Iblis banyak berkurang dan empat orang muda itu mulai mendesak dan memperketat pengepungan mereka.
Bahkan Ci Kang dan Hui Song berhasil menyarangkan pukulan masing-masing ke tubuh Raja Iblis.
Akan tetapi, kakek ini memiliki kekebalan yang amat kuat sehingga nampaknya pukulan dua orang muda itu tidak berbekas.
Betapapun juga, sama sekali tidak berarti bahwa pukulan itu tidak ada artinya.
Biarpun kulit kebal dapat membuat pukulan-pukulan itu membalik, namun di sebelah dalam tubuhnya, Raja Iblis mengalami getaran hebat dan diapun telah mengerahkan terlampau banyak tenaga untuk menahan pukulan-pukulan tadi.
Gerakannya jelas nampak semakin lemah dan semakin lambat.
Hal ini membuat empat orang pengeroyoknya bertambah semangat dan kembali tubuh kakek itu terkena pukulan, sekali ini Sui Cin yang menampar lambungnya, disusul Cia Sun mendaratkan pukulannya ke arah pundak.
Kakek itu terhuyung ke belakang dan ketika Hui Song menyusulkan sebuah tendangan keras yang mengenai perutnya, kakek itu mencelat ke belakang dan dari mulutnya tersembur darah segar.
Namun, dia memekik dan menubruk maju.
Hampir saja Sui Cin kena dicengkeram kalau saja Hui Song tidak cepat menolongnya dengan tangkisan yang membuat pemuda itu terjengkang, akan tetapi Sui Cin luput dari cengkeraman maut!
Ci Kang menampar pula dari belakang, tamparan yang keras mengenai tengkuk Raja Iblis.
Tubuh kakek itu terputar dan kembali dia terhuyung-huyung.
Dan tiba-tiba saja kakek itu terpelanting dan jatuh menelungkup tak bergerak lagi.
Empat orang pendekar muda itu tidak berani mendekat, khawatir kalau-kalau Raja Iblis hanya pura-pura roboh dan kalau mereka mendekat dengan gegabah, mereka mungkin celaka oleh serangan mendadak.
Akan tetapi, beberapa menit mereka menanti, tubuh kakek itu tetap tidak bergerak dan tiba-tiba terdengar Ciu-sian Lokai terkekeh.
"Ha-ha, akhirnya Raja Iblis mati juga!"
Mendengar ucapan suhunya ini, barulah Ci Kang berani menghampiri dan membalikkan tubuh yang menelungkup itu.
Nampak darah memenuhi tanah di bawah tubuh dan ternyata sebatang pedang telah menancap di dada kakek itu.
Pedangnya sendiri!
Kakek itu, setelah melihat bahwa dia tidak akan menang, lalu membunuh diri, memilih mati di tangan sendiri dari pada di tangan empat orang muda itu!
Kini mereka semua menujukan perhatian kepada Hui Cu yang masih menangisi ibunya.
Nenek itu masih belum tewas walaupun napasnya sudah empas-empis.
Tiba-tiba ia berkata.
"Yang mana yang bernama Cia Sun...?"
Mendengar pertanyaan ini, Cia Sun mendekat dan berlutut di sebelah Hui Cu yang masih terisak menangis.
Melihat Cia Sun, nenek itu mengangguk lemah.
Ia sudah mengenal pemuda ini, sudah pernah jumpa di dalam gua bawah tanah.
"Engkau seorang pemuda yang gagah, dan aku girang Hui Cu mencintamu. Cia Sun, maukah kau berjanji untuk melindungi anakku Hui Cu dan menjadi suaminya? Ia mencintamu..."
Suaranya lemah dan agaknya nenek ini telah mengerahkan tenaga terakhir untuk bicara itu.
Cia Sun mengerutkan alisnya.
Dia tidak perduli terhadap nenek ini yang dia tahu adalah seorang nenek yang keji dan jahat sekali.
Akan tetapi dia harus mengakui pada diri sendiri bahwa dia merasa suka dan sayang kepada Hui Cu yang dianggapnya seorang gadis yang amat baik.
Tadi saja sudah terbukti bahwa Hui Cu menentang kejahatan dengan membakar gedung kuno itu.
Akan tetapi, dia tidak mencinta Hui Cu dan hal ini sudah dia katakan terus terang kepada Hui Cu!
Hal seperti ini mana mungkin dibicarakan di depan orang banyak?
Hanya akan membuat Hui Cu berduka dan malu saja.
Akan tetapi, nenek itu berada dalam sakratulmaut dan dia harus bicara terus terang.
"Sayang, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku akan melindungi Hui Cu sebagai seorang sahabat, akan tetapi... aku tidak bisa menjadi suaminya..."
Nenek itu terbelalak dan tangis Hui Cu semakin menjadi.
"Apa? Kau... kau tidak cinta padanya? Engkau berani menolak?"
Nenek itu tiba-tiba bangkit dan mengerahkan tenaga untuk menyerang Cia Sun, akan tetapi ia terpelanting dan napasnya putus.
Hui Cu bangkit, mukanya pucat ketika ia memandang kepada mayat ibunya.
"Ibu... kau... kau kejam... kejam..."
Dan gadis itupun melarikan diri dengan amat cepatnya.
"Hui Cu..."
Cia Sun memanggil, akan tetapi gadis itu tidak menoleh dan terus lari dengan amat cepatnya.
Cia Sun tidak dapat berbuat lain kecuali menghela napas panjang.
Sementara itu, Hui Song menghampiri ayahnya dan merekapun saling pandang dengan wajah muram dan hati berduka.
"Ayah... kongkong dan ibu..."
Cia Kong Liang mengangguk.
"Aku sudah tahu, mereka tewas oleh Raja dan Ratu Iblis, dan engkau sudah membalaskan kematian mereka."
"Ayah..."
Hui Song menahan air matanya, mendekati ayahnya dan merekapun saling berpegang tangan.
Dari tangan mereka terasa getaran dan kedua orang pria yang kuat ini saling menghibur dengan pegangan tangan mereka itu.
"Aku telah tertipu, Song-ji..."
"Sudahlah, ayah. Aku sudah mendengar dari para suheng. Akan tetapi, ayah telah cepat berbalik pikiran setelah mengetahuinya dan bagaimanapun juga, Cin-Ling-Pai telah banyak membantu pemerintah dalam menentang pemberontak."
"Song-ji, perkenalkan aku dengan para locianpwe ini. Apakah locianpwe itu gurumu?"
Ketua Cin-Ling-Pai berkata.
"Juga siapakah gadis gagah itu? Siangkoan Ci Kang dan Cia Sun aku sudah kenal."
Hui Song lalu memperkenalkan Siangkiang Lojin sebagai gurunya, juga Wuyi Lojin guru Sui Cin, Ciu-sian Lokai guru Ci Kang dan Gobi Sanjin guru Cia Sun.
"Dan ini adalah nona Ceng Sui Cin, puteri tunggal dari locianpwe Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah."
"Ah, puteri Pendekar Sadis?"
Ketua Cin-Ling-Pai bertanya sambil memandang penuh perhatian kepada Sui Cin.
"Pantas lihai bukan main!"
"Dan ia adalah gadis yang kucinta, ayah, sudah kucalonkan ia menjadi isteriku!"
Kata Hui Song dengan cepat sambil mengerling ke arah Ci Kang dan Cia Sun.
Dia tahu bahwa dua orang muda itu agaknya juga menaruh hati kepada Sui Cin, maka kini di depan banyak orang, dengen terang-terangan dia mengaku cintanya kepada gadis itu kepada ayahnya.
Mendengar ucapan muridnya itu, Siangkiang Lojin tertawa dan perutnya yang gendut itu bergerak-gerak.
"Ha-ha-ha-ha, ketua Cin-Ling-Pai sungguh beruntung mempunyai seorang putera yang jujur dan berani berterus terang tidak malu-malu kucing!"
Cia Kong Liang tersenyum.
Di dalam hati kecilnya, dia kurang suka kalau puteranya berjodoh dengan puteri Pendekar Sadis, karena dalam pandangannya, Pendekar Sadis adalah seorang pendekar yang terlalu kejam terhadap musuhnya.
Akan tetapi dia sudah memperoleh banyak pengalaman dalam peristiwa pemberontakan itu sehingga dia menekan perasaannya dan dia menjura kepada kakek gendut itu.
"Berkat bimbingan locianpwe anakku yang bodoh menjadi tabah. Nona Ceng, terus terang saja, setelah mendengar kata-kata anakku, bagaimana pendapatmu tentang itu?"
Pertanyaan yang diajukan ketua Cin-Ling-Pai ini lebih terang-terangan lagi dari pada puteranya.
Pendekar ini bertanya kepada seorang gadis begitu saja tentang pendapatnya mengenai pemyataan cinta puteranya!
Sui Cin adalah seorang gadis yang berwatak polos, jenaka dan bebas.
Terutama sekali ia mencinta kebebasan yang sejak kecil memang diberikan oleh ayah bundanya kepadanya maka sikap Hui Song dan ayahnya itu tidak membuat ia bingung walaupun kedua pipinya kini menjadi lebih merah dari pada biasanya.
"Locianpwe, Song-ko adalah seorang sahabatku yang baik. Aku suka kepadanya..."
"Suka ataukah cinta? Hehe, kukira muridku juga bukan seorang yang pemalu dan berpura-pura. Sui Cin, suka berbeda dengan cinta!"
Tiba-tiba Wuyi Lojin berkata sambil terkekeh.
Sui Cin melirik kepada gurunya.
Sialan.
Gurunya ini lebih terang-terangan lagi sehingga ia merasa tersudut.
"Yaah, mungkin aku juga cinta padanya dan tentang perjodohan... wah, biarlah hal itu ayah ibuku yang memutuskan!"
Jawaban ini membuat semua orang tersenyum dan Hui Song nampak girang bukan main.
Cia Sun diam-diam menarik napas panjang dan diapun hanya menundukkan muka saja, sedangkan Ci Kang juga menundukkan muka.
Hanya mereka sendirilah yang dapat merasakan kepahitan yang sejenak menyelubungi hati mereka mendengar jawaban Sui Cin yang terang-terangan menyatakan cintanya kepada Hui Song itu.
Cia Kong Liang mengangguk-angguk.
"Baiklah, kalau memang kalian saling mencinta, kelak aku akan menemui Pendekar Sadis untuk membicarakan soal perjodohan kalian. Sekarang aku harus mengucapkan terima kasih kepada para locianpwe yang telah menolong calon mantuku ini, juga tidak lupa aku berterima kasih sekali kepada Ci Kang dan Cia Sun, terutama Ci Kang karena tanpa adanya dia ini, mungkin aku sekarang sudah mati dikeroyok oleh para pemberontak anak buah Raja Iblis."
"Nanti dulu, ayah!"
Tiba-tiba Hui Song berkata dengan suara nyaring sehingga mengejutkan hati semua orang.
Hati pendekar muda ini yang sedang bergelora penuh cinta asmara terhadap Sui Cin, agaknya masih belum dapat melenyapkan rasa marah dan cemburu teringat akan perbuatan yang pernah dilakukan Siangkoan Ci Kang kepada kekasihnya.
Membayangkan peristiwa yang lalu, betapa Ci Kang dengan kekerasan merangkul dan menciumi Sui Cin, hatinya menjadi panas dan kini mendengar Ci Kang dipujipuji ayahnya, dia tidak dapat menerimanya.
"Kita tidak dapat menilai hati orang melalui satu perbuatannya saja. Siapa tahu ketika Siangkoan Ci Kang menolong ayah, hal itu dilakukan secara kebetulan atau memang untuk mencari muka. Dia itu sesungguhnya seorang yang jahat, seorang tokoh sesat, ayah!"
Siangkoan Ci Kang mengangkat muka memandang kepada Hui Song.
Sedikitpun tidak nampak penyesalan pada wajahnya yang gagah, bahkan sinar matanya masih lembut seperti biasa.
Dia maklum apa yang sedang terjadi di dalam batin pemuda tampan itu.
Dia tahu betapa cemburu dan kemarahan membuat Hui Song membenci padanya, atas perbuatannya kepada Sui Cin tempo hari.
Dan dia tidak menyalahkan Hui Song.
Apalagi Hui Song, dia sendiripun marah dan menyesal sekali atas peristiwa yang terjadi itu dan sukar baginya untuk memaafkan diri sendiri.
Oleh karena itu, dia menanti saja apa yang hendak dikatakan Hui Song yang nampaknya penasaran sekali dan siap membuka keburukan namanya di depan semua orang.
Akan tetapi, jawaban Cia Kong Liang sungguh di luar dugaan semua orang, terutama sekali Hui Song.
Ketua Cin-Ling-Pai itu menjawab tenang.
"Hui Song, agaknya aku lebih mengenal dia dari pada engkau. Aku sudah tahu, dan dia mengaku sendiri bahwa dia adalah putera tunggal mendiang Siangkoan Lojin..."
"Baik sekali kalau ayah sudah mengetahuinya,"
Kata Hui Song memotong.
"Akan tetapi tahu jugakah ayah bahwa Siangkoan Lojin itu adalah Si Iblis Buta, yang sebelum muncul Raja dan Ratu Iblis menjadi datuk kaum sesat yang dibantu oleh Cap-sha-kui!"
Ayahnya menarik napas panjang dan mengangguk.
"Aku tahu kesemuanya itu, Song-ji, dan keadaan keluarganya itu bahkan semakin mengagumkan hatiku terhadap Ci Kang, karena dia bagaikan sekuntum bunga teratai yang hidup di tengah lumpur, tetap indah dan bersih. Aku melihat sendiri betapa hebat sepak terjangnya dalam menentang kejahatan..."
"Ayah belum tahu apa yang tersembunyi di balik kedok domba itu! Ayah, dia jahat sekali! Dia pernah berusaha untuk memperkosa adik Sui Cin..."
"Song-ko..."
Sui Cin terkejut dan menegur karena ia menganggap bahwa tidak pantas pemuda itu membuka rahasia itu.
"Cin-moi, kalau tidak kuberitahukan sekarang, tentu semua orang menganggap dia seorang yang sebaik-baiknya dan hal itu amat berbahaya,"
Bantah Hui Sang.
Cia Kong Liang mengerutkan alisnya, sejenak matanya memandang kepada puteranya dengan marah.
Sebagai seorang yang berpandangan tajam diapun dapat menduga bahwa di dalam batin puteranya itu penuh dengan kebencian dan cemburu.
Kemudian dia mengalihkan pandang matanya, memandang wajah Siangkoan Ci Kang dan pemuda itu sama sekali tidak membantah, hanya menundukkan mukanya yang menjadi agak pucat, wajah yang membayangkan penyesalan besar.
Ucapan Hui Song itu membuat semua orang terkejut.
Bahkan Cia Sun yang tadinya amat percaya dan suka kepada Ci Kang yang gagah perkasa, kini memandang dengan alis berkerut dan kakek Ciu-sian Lokai yang biasanya suka berkelakar dan jenaka itu, wajahnya berobah dan alisnya berkerut ketika dia memandang kepada muridnya.
"Siangkoan Ci Kang!"
Tiba-tiba kakek tinggi kurus yang berpakaian pengemis ini berkata, suaranya keras galak, matanya mengeluarkan sinar berkilat.
"Benarkah apa yang dituduhkan orang kepadamu? Benarkan itu bahwa engkau pernah hendak memperkosa nona Ceng Sui Cin ini?"
Semua orang kini memandang kepada Ci Kang, terutama sekali Cia Sun yang merasa bingung dan sukar dapat mempercaya berita bahwa sahabatnya itu pernah hendak memperkosa Sui Cin.
Ci Kang mengangkat mukanya yang agak pucat itu, pertama-tama memandang ke arah Sui Cin yang juga memandang kepadanya, kemudian dia memandang kepada gurunya, lalu menunduk kembali dan suaranya lirih dan jelas.
"Benar, suhu. Saya pernah melakukan hal itu."
Sepasang mata Ciu-sian Lokai terbelalak, juga semua orang terkejut mendengar pengakuan blak-blakan ini.
"Ci Kang! Engkau memalukan aku yang menjadi gurumu! Aku tidak pernah mengajarkan engkau untuk bertindak biadab seperti itu!"
Dengan sikap tenang Ci Kang menjawab.
"Suhu mengajarkan agar saya bersikap jujur dan berani mempertanggung-jawabkan semua tindakan saya."
"Hemm, engkau telah melakukan perbuatan terkutuk, lalu apa tanggung jawabmu?"
Desak kakek tinggi kurus itu dengan marah.
"Saya akan menerima segala hukuman yang dijatuhkan kepada saya untuk perbuatan itu, suhu,"
Jawab Ci Kang dengan tenang dan sedikitpun tidak kelihatan gentar.
Kakek tinggi kurus itu menarik napas panjang dan wajahnya nampak lega.
"Ah, setidaknya engkau cukup gagah untuk mengakui kesalahan dan menerima hukuman. Nah, aku yang akan menghukummu di depan orang banyak ini. Aku harus mencabut sebagian kepandaianmu dan melumpuhkan separuh badanmu!"
Berkata demikian, Ciu-sian Lokai melangkah maju menghampiri muridnya dan Ci Kang hanya berdiri tenang sambil menundukkan mukanya saja, menanti datangnya hukuman dengan pasrah.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Cia Sun meloncat ke depan dan menghadang Ciu-sian Lokai.
"Locianpwe, harap maafkan kalau aku mencampuri urusan ini karena Ci Kang adalah sababatku yang baik dan aku mengenal benar kegagahannya. Kita semua sudah mendengar tuduhan paman Cia Hui Song dan juga Ci Kang tidak menyangkal tuduhan itu dan dia demikian gagahnya untuk mempertanggunjawabkan perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Akan tetapi di sini kita mempunyai seorang saksi utama yang belum menyatakan kesaksiannya. Cin-moi, mengapa engkau berdiam diri saja? Pendapat semua orang bisa saja keliru, hanya engkau seoranglah yang dapat menjelaskan apa sesungguhnya yang telah terjadi. Aku hanya dapat mempercaya keteranganmu saja dalam hal ini. Benarkah tuduhan paman Hui Song terhadap Ci Kang tadi?"
Kini semua orang memandang kepada Sui Cin.
Gadis itu sejak tadi menjadi merah mukanya dan ia sampai kehilangan suaranya saking kaget dan malunya mendengar betapa Hui Song membuka rahasia Ci Kang itu.
Kini, secara langsung Cia Sun bertanya kepadanya dan iapun menarik napas panjang lalu memandang kepada Ci Kang dengan sinar mata kasihan.
"Apa yang dituduhkan Song-ko memang benar dan tadinya akupun menyangka bahwa saudara Ci Kang melakukan perbuatan yang amat jahat terhadap diriku. Hal itu terjadi ketika dia dan aku menjadi wakil suku bangsa untuk memilih pimpinan dan dia terluka oleh Jarum-jarumku. Karena merasa menyesal, akupun mengunjunginya dalam perkemahan dan mengobatinya. Akan tetapi, setelah dia sadar, dia malah melakukan usaha untuk memaksaku... dan pada saat itu, Song-ko muncul dan terjadi perkelahian sampai saudara Ci Kang melarikan diri. Pada waktu itu, tentu saja Song-ko menyangka bahwa saudara Ci Kang hendak memperkosaku, bahkan aku sendiripun mempunyai dugaan demikian."
"Nah, sudah jelas! Tunggu apa lagi?"
Seru Hui Song.
"Nanti dulu, Song-ko!"
Kata Sui Cin, mengerutkan alisnya.
"Hati yang penuh cemburu mengundang kebencian dan selalu berprasangka buruk. Aku tadi mengatakan bahwa pada waktu peristiwa itu terjadi, akupun menduga bahwa saudara Ci Kang telah melakukan perbuatan yang rendah dan jahat. Akan tetapi, kemudian baru aku tahu bahwa hal memalukan itu terjadi bukan karena kesalahannya! Sama sekali dia tidak bersalah!"
Hui Song memandang dengan mata terbelalak dan wajah Cia Sun berseri.
Sudah dia duga.
Dia tidak akan mungkin dapat percaya bahwa sahabatnya itu melakukan hal yang sedemikian rendahnya.
Dia, biarpun belum lama bergaul dengan Ci Kang, sudah mengenal pemuda ini sebagai seorang jantan yang berjiwa gagah perkasa.
"Nona Ceng Sui Cin, bicaralah yang jelas. Nona mengakui bahwa muridku ini telah berusaha memperkosamu, akan tetapi selanjutnya nona katakan bahwa dia tidak bersalah! Apa artinya keteranganmu yang bertentangan itu?"
Ciu-sian Lokai mendesak.
Kini Ci Kang sendiri merasa amat tertarik.
Selama ini, dia hanya merasa amat menyesal atas perbuatannya terhadap Sui Cin itu.
Dia sendiri tidak tahu mengapa dia sampai melakukan hal terkutuk itu.
Kini, mendengar keterangan Sui Cin, tentu saja dia tertarik sekali dan dia mengangkat muka memandang kepada gadis itu.
"Ketika aku mengunjungi perkemahan saudara Ci Kang untuk mengobatinya, aku membawa juga obat dari subo Yelu Kim. Dan ternyata obat itu manjur. Akan tetapi baru kemudian aku mendengar dari subo Yelu Kim bahwa obat itu mengandung racun perangsang dan racun inilah yang membuat saudara Ci Kang melakukan perbuatan itu terhadap diriku. Dia keracunan, bukan sengaja hendak berbuat keji terhadap diriku. Dia tidak bersalah, yang salah adalah obat pemberian subo Yelu Kim itu."
Bukan main lega rasa hati Cia Sun, Ciu-sian Lokai dan terutama Ci Kang sendiri.
Pemuda ini menjadi merah lagi mukanya dan dia memandang kepada Sui Cin dengan perasaan terima kasih yang besar.
Gadis itu seolah-olah telah mengangkatnya keluar dari dalam jurang kehinaan yang membuatnya berduka dan murung.
Akan tetapi diapun marah kepada nenek Yelu Kim dan dia mengepal tinju.
"Ah, nenek Yelu Kim sungguh keji dan jahat!"
Katanya.
"Saudara Ci Kang hendaknya tidak salah sangka terhadap subo Yelu Kim!"
Sui Cin berkata melihat sikap pemuda itu.
"Subo Yelu Kim tidak berniat jahat dengan pemberian obat itu."
"Tidak jahat? Nona, ia hampir membuat aku menjadi seorang hina, membuat aku hampir putus asa karena penyesalan, dan engkau masih mengatakan bahwa dia tidak jahat?"
Ci Kang berseru heran. Sui Cin menggeleng kepala dan tersenyum simpul.
"Tidak, ia sama sekali tidak jahat, saudara Ci Kang. Semua terjadi karena selah pengertian. Ketika subo melihat betapa aku merasa menyesal melukaimu dan hendak mengobatimu, ia salah sangka. Ia mengira bahwa aku jatuh cinta padamu... dan... dengan obat itu, ia bermaksud hendak membantuku..."
Ingat, subo adalah pemimpin suku-suku liar, jadi...
dalam hal itu, mungkin saja cara berpikirnya dan kebiasaan suku liar itu sendiri jauh berbeda dengan kita..."
Cia Kong Liang memandang kepada puteranya.
"Song-ji, engkau sudah mendengar sendiri sekarang! Lain kali, jangan sembarangan menjatuhkan tuduhan kalau belum mengerti benar apa yang menjadi sebab-sebab perbuatan itu. Tuduhan yang tanpa dasar bisa merupakan fitnah keji."
Wajah Hui Song menjadi merah padam, akan tetapi dengan gagah diapun menjura kepada Ci Kang.
"Siangkoan Ci Kang, maafkanlah aku. Akan tetapi, siapa dapat menduga tentang racun itu? Cin-moi sendiri sebelum mendengar dari nenek Yelu Kim juga tidak tahu. Jadi, aku tidak menuduh secara membabi-buta, harap kau dapat memakluminya."
Diam-diam Ci Kang merasa kagum.
Pemuda itu, biarpun karena cemburunya menjatuhkan tuduhan penuh kebencian kepadanya, namun kini mau mengakui kesalahannya secara gagah perkasa dan minta maaf.
Seperti juga ayahnya yang telah melakukan salah langkah yang amat hebat dan membawa anak buah membantu para pemberontak, akan tetapi setelah sadar berani bertindak membetulkan langkah, bahkan dengan pengorbanan nyawa isteri dan ayah mertuanya, dan banyak pula anak murid yang menjadi korban.
"Sui Cin! Apa saja yang telah kau lakukan selama ini?"
Tiba-tiba terdengar suara teguran yang nyaring, suara seorang wanita dan begitu suara itu berhenti, nampak dua bayangan orang berkelebat dan di situ telah berdiri seorang pria berusia hampir lima puluh tahun yang tampan dan gagah, bersama seorang wanita yang usianya sebaya, cantik dan berpakaian mewah indah seperti pria itu pula.
Mereka ini adalah Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis, bersama isterinya, Toan Kim Hong yang pernah berjuluk Lamsin (Malaikat Selatan).
"Ayah... Ibu..."
Sui Cin berseru girang bukan main dan cepat ia lari menghampiri mereka dan saling rangkul dengan ibunya.
Gadis itu pakaiannya sederhana saja, bahkan agak nyentrik, sedangkan ibunya berpakaian rapi dan mewah, sungguh besar perbedaan pakaian mereka.
Akan tetapi wajah mereka sama-sama cantik dan manis.
"Ayah, ibu, mari kuperkenalkan kepada orang-orang gagah ini!"
Kata Sui Cin dengan lincah gembira sambil menuntun tangan ibunya.
"Cuwi yang gagah, mereka ini adalah ayahku dan ibuku! Ayah, ibu, empat orang kakek ini adalah tokoh-tokoh sakti yang memimpin para pendekar menghadapi Raja Iblis dan kaki tangannya. Ini adalah suhu Wuyi Lojin yang terkenal dengan sebutan Dewa Arak dan beliau ini telah menjadi guruku, membimbingku selama tiga tahun."
"Heh heh , aku tua bangka ini telah lancang dan tak tahu diri berani menjadi guru puteri Pendekar Sadis yang amat lihai!"
Kata Wuyi Lojin. Akan tetapi sambil tertawa Ceng Thian Sin menjura.
"Bimbingan locianpwe terhadap anak kami yang bodoh merupakan budi yang besar sekali dan kami berterima kasih."
Sui Cin melanjutkan.
"Dan ini adalah locianpwe Siangkiang Lojin yang disebut Dewa Kipas, lihai dan lucu, juga amat baik hati. Dan yang ini locianpwe Ciu-sian Lokai dan Gobi Sanjin. Pemuda ini adalah Cia Sun toako, putera dari paman Cia Han Tiong..."
Cia Sun cepat memberi hormat kepada Pendekar Sadis dan isterinya.
Ceng Thian Sin girang sekali melihat Cia Sun dan memegang pundak pemuda itu sambil memandang wajahnya dengan penuh perhatian.
"Ah, kanda Cia Han Tiong memiliki seorang putera yang gagah perkasa, aku girang sekali."
"Ayah dan ibu, ini adalah enci Tan Siang Wi dan ini koko Cia Hui Song dan ayahnya, ketua Cin-Ling-Pai, lociawpwe Cia Kong Liang."
Mereka berhadapan dan saling pandang, kemudian Ceng Thian Sin dan isterinya menjura dengan hormat kepada ketua Cin-Ling-Pai yang dibalas dengan sikap sederhana oleh Cia Kong Liang sambil berkata.
"Gembira sekali dapat bertemu lagi dengan jiwi di tempat ini."
Sebelum mereka sempat bercakap-cakap, tiba-tiba nampak seorang laki-laki berlari-lari mendatangi dan dengan napas agak terengah-engah, pria ini lalu maju dan menudingkan telunjuknya ke arah Hui Song.
"Itu dia! Itulah dia si Jahanam Cia Hui Song, keparat tak mengenal budi. Penjahat keji yang terkutuk itu!"
Orang itu lalu menoleh ke arah Pendekar Sadis dan isterinya.
"Orang gagah, engkau telah berjanji, cepat tangkap dan seret dia seperti yang telah kau janjikan!"
Sementara itu, melihat pria ini, Hui Song sudah melangkah maju.
"Eheh, saudaraku, Lamnong, apakah yang telah terjadi? Kenapa engkau bersikap seperti ini?"
Lamnong meloncat ke belakang dan matanya melotot.
"Jangan sentuh aku! Apakah engkau mau bunuh aku juga? Sebelum engkau membunuhku, biarlah semua orang gagah ini mendengar perbuatan apa yang telah kau lakukan kepada keluargaku, kepada suku kami!"
Hui Song mengerutkan alisnya dan memandang bingung. Apakah Lamnong telah menjadi gila, pikirnya.
"Saudara Lamnong, mengapa kau begini?"
"Tak usah berpura-pura. Anak buahku sendiri melihat dengan mata sendiri, dan dia tidak mungkin berbohong. Kami telah menerimamu sebagai seorang sahabat baik, membagimu makanan yang kami makan, minuman yang kami minum. Akan tetapi engkau telah membalas dengan perbuatan terkutuk! Engkau telah membantu pemberontak, menghancurkan semua anak buahku, bahkan engkau telah merampas Isteri-isteriku, memaksa mereka untuk berjina denganmu dan akhirnya membunuh mereka. Engkau manusia iblis! Terkutuk!"
Lamnong maju menyerang dengan nekat, akan tetapi sekali dorong saja Hui Song membuat dia terpelanting.
Ceng Thian Sin sudah maju dan menangkis tangan Hui Song yang hendak menampar Lamnong.
"Dukkk..."
Dan Hui Song merasa lengannya tergetar hebat, maka diapun meloncat ke belakang.
"Aku dan isteriku bertemu dengan dia ini yang hampir gila karena duka mendengar betapa keluarganya hancur. Dan anak buahnya melihat sendiri semua yang telah diceritakannya tadi, karena itu, sebelum kesemuanya jelas, jangan persalahkan dia."
"Tapi, tapi... saya tidak..."
Hui Song tergagap, tentu saja tidak berani melawan ayah Sui Cin! "Song-ji!"
Tiba-tiba terdengar suara ayahnya membentak marah.
"Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Tak mungkin orang menuduhmu membabi-buta tanpa sebab! Hayo ceritakan sejujurnya!"
"Ayah, sungguh mati aku tidak pernah melakukan perbuatan itu..."
"Cia Hui Song, engkau selain jahat juga pengecut, tidak berani mengakui perbuatan sendiri! Anak buahku melihat dengan mata kepala sendiri. Dia melihat engkau dalam kamar bersama Isteri-isteriku yang kau paksa melayanimu! Hayo katakan, tidak benarkah engkau berada di dalam kamar tidur bersama mereka?"
Hui song maklum bahwa terjadi kesalah-pahaman yang hebat.
Memang kalau orang melihat ketika dia ditawan Sim Thian Bu, melihat betapa selir-selir Lamnong dipaksa datang melayaninya, orang bisa saja salah paham.
"Aku tidak menyangkal. Memang aku berada dalam kamar bersama Isteri-isterimu, akan tetapi..."
"Nah, taihiap sudah mendengar sendiri. Harap taihiap tangkapkan penjahat ini untukku seperti yang telah taihiap janjikan!"
Kata Lamnong kepada suami isteri Pulau Teratai Merah itu.
"Pemuda tak tahu malu!"
Tiba-tiba Toan Kim Hong membentak dan tubuhnya sudah menyambar ke depan, ke arah Hui Song.
Tangannya terulur untuk mencengkeram pundak Hui Song karena nyonya ini sudah menjadi marah sekali dan merasa yakin akan keterangan Lamnong.
"Dukkk..."
Tiba-tiba Ci Kong Liang menggerakkan tubuhnya dan dengan cepatnya dia telah menangkis lengan wanita itu sehingga keduanya merasa betapa lengan mereka tergetar hebat oleh pertemuan tenaga dahsyat itu.
Toan Kim Hong memandang dan tersenyum mengejek, sinar matanya berkilat.
"Hemmm, bagus sekali! Tadinya ketua Cin-Ling-Pai telah melakukan salah perhitungan dan membantu pemberontak yang bersekutu dengan kaum sesat, apakah kini hendak mengulang lagi dengan membantu anak yang menyeleweng dan melakukan perbuatanperbuatan rendah?"
Akan tetapi dengan sikap angkuh dan tenang, Cia Kong Liang menjawab.
"Kesalahan anak harus dipertanggung-jawabkan orang tuanya! Aku sebagai ayahnya masih hidup, mana bisa aku membiarkan saja orang lain hendak menghukum anakku? Aku sendiri masih dapat menghajarnya!"
Campur tangan Toan Kim Hong tadi membuat ketua Cin-Ling-Pai tersinggung sekali dan kemarahannya tentu saja ditumpahkannya kepada Hui Song yang dianggap menjadi biang keladinya.
Tangannya bergerak ke kiri dan tahu-tahu dia sudah mencabut pedang yang tadinya tergantung di punggung Siang Wi.
Muridnya terkejut bukan main.
"Suhu..."
Siang Wi berseru dengan muka pucat, akan tetapi gurunya memandang dengan mata penuh teguran sehingga gadis ini menunduk dan takut, akan tetapi mukanya yang pucat menjadi semakin pucat ketika ia melirik ke arah Hui Song.
"Hui Song, engkau tahu bahwa kita orang-orang Cin-Ling-Pai selalu berani mempertanggung-jawabkan perbuatan kita dan bahwa kita selalu siap menerima hukuman untuk perbuatan kita. Nah, untuk perbuatanmu itu, aku perintahkan engkau untuk membuang sebelah lenganmu. Engkau hendak melakukannya sendiri ataukah harus aku yang melaksanakannya?"
Semua orang terbelalak dan Sui Cin mengeluarkan seruan tertahan, matanya dibuka lebarlebar memandang kepada Hui Song.
Ia sendiri tidak dapat percaya bahwa pemuda yang dicintanya itu telah melakukan perbuatan yang demikian jahatnya seperti yang dituduhkan Lamnong.
Akan tetapi kalau saksi telah ada, bahkan ayah bundanya sendiri sudah percaya, apa yang dapat ia lakukan?
Hatinya merasa tegang bukan main dan rasanya ia ingin lari saja meninggalkan tempat yang menegangkan itu.
Hui Song yang biasanya lincah gembira itu, kini wajahnya menjadi agak pucat dan lesu.
Dia mengenal watak ayahnya yang keras dan memegang peraturan dengan patuh, sedikitpun tidak dapat ditawartawar lagi.
Membantah ayahnya tiada gunanya, hanya menimbulkan gambaran bahwa dia tidak berani menghadapi akibat dari pada hukuman itu saja.
Akan tetapi, menerima hukuman itupun merupakan sesuatu yang amat penasaran karena dia sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan laknat seperti yang dituduhkan Lamnong kepadanya.
"Ayah, aku bukan seorang pengecut yang suka mengelak hukuman, kalau memang aku bersalah. Dan aku merasa tidak bersalah. Akan tetapi, kalau ayah menetapkan demikian, terserah kepada ayah!"
Dengan berani dia menatap pandang mata ayahnya dan melihat betapa sinar mata orang tua itu suram dan layu.
Teringatlah dia bahwa baru saja ayahnya kehilangan ibunya dan juga kongkongnya.
Dia tahu betapa hebat penderitaan yang terasa dalam batin ayahnya dan kini harus menghadapi urusannya pula.
Dia merasa kasihan sekali.
"Ayah, kalau hal itu menyenangkan hatimu, laksanakanlah hukuman itu!"
Katanya dengan gagah dan ikhlas.
Ucapan Hui Song ini oleh Cia Kong Liang yang sedang merasa terhimpit batinnya itu diterima sebagai tantangan dan keikhlasan itu dianggap sebagai pengakuan bersalah, maka dia mengambil keputusan bulat untuk melaksanakan hukuman itu atas diri putera tunggalnya!
Hatinya akan hancur dan kecewa sekali, Akan tetapi di samping itu masih akan terhibur oleh rasa bangga bahwa keluarganya tetap bersikap jantan dan tidak lari dari pada pertangungan jawab!
Maka, karena tahu akan kelihaian puteranya, diapun menggerakkan pedangnya dengan jurus yang diambil dari ilmu Pedang Siangbhok Kiamsut.
Bukan main hebatnya serangan ini, ketika pedang yang dipinjamnya dari Siang Wi karena pedangnya sendiri lenyap ketika dia tertawan, berkelebat menyambar ke arah lengan Hui Song!
Biarpun yang hadir di situ adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi, namun tak seorangpun di antara mereka yang berani mencampuri.
Apa yang sedang terjadi itu adalah urusan antara anak dan ayah dan sang ayah adalah ketua Cin-Ling-Pai yang sikapnya demikian keras, angkuh dan penuh wibawa.
Mereka semua hanya memandang dengan mata terbelalak dan hati diliputi ketegangan.
"Crakkkk..."
Terdengar jeritan Siang Wi dan Sui Cin dan nampak sebuah lengan kiri sebatas siku terbabat putus dan jatuh ke atas tanah, darahpun muncrat keluar dari lengan yang buntung.
"Ci Kang..."
Cia Sun dan Ciu-sian Lokai menubruk Ci Kang yang agak terhuyung itu.
Kiranya tadi, ketika melihat pedang menyambar ke arah tubuh Hui Song, Ci Kang yang berdiri dekat dengan Hui Song, cepat menangkis dengan lengan kirinya.
Dia sudah mengerahkan sinkang ketika menangkis.
Akan tetapi, gerakan pedang itu bukanlah gerakan biasa, melainkan merupakan jurus ampuh dari Ilmu Pedang Siangbhok Kiamsut (Ilmu Pedang Kayu Harum), maka tak dapat dihindarkan lagi, lengan kiri Ci Kang mulai bawah siku terbabat buntung!
Cia Sun merangkul sahabatnya dan Ciu-sian Lokai menyuruh muridnya duduk bersila, lalu dia menotok jalan darah di pundak dan pangkal lengan untuk menghentikan darah yang bercucuren keluar.
"Aku membawa obat luka yang amat manjur!"
Kata Toan Kim Hong yang bersama suaminya bersikap biasa saja.
Mereka berdua ini sudah terlalu sering menyaksikan Hal-hal yang amat hebat terjadi di dunia persilatan, dilakukan oleh kaum persilatan yang memang berwatak aneh-aneh.
Biarpun mereka terkejut juga melihat kenekatan Ci Kang, namun mereka tidak sampai menjadi bingung seperti yang lain.
Dengan cekatan nyonya ini lalu menaruhkan obat bubuknya pada lengan yang buntung dan membalut lengan buntung itu dengan sehelai saputangan bersih.
Ci Kang tadi duduk bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk melawan rasa nyeri dan kini sudah bersikap biasa.
Cia Kong Liang yang terbelalak kaget melihat betapa pedangnya ditangkis orang dan malah membuntungkan lengan Ci Kang yang dikaguminya, melepaskan pedang itu dan dia hanya dapat mengeluh dan menghapus peluhnya dengan saputangan, tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Setelah pemuda itu diobati dan semua orang memandang kepadanya, barulah ketua Cin-Ling-Pai itu berkata kepada Ci Kang.
"Ci Kang, apa artinya perbuatanmu itu? Mengapa engkau melakukan itu?"
Ci Kang mengangkat muka memandang ketua Cin-Ling-Pai itu dan tersenyum masam.
"Locianpwe tidak boleh menghukum orang yang tidak bersalah dan akulah agaknya satu-satunya orang yang menjadi saksi bahwa Cia Hui Song memang tidak bersalah."
Tentu saja ketua Cin-Ling-Pai itu terkejut bukan main, juga semua orang yang hadir di situ kini memandang Ci Kang dengan penuh perhatian.
Lamnong melangkah maju dengan marah.
"Orang muda, apa yang kau lakukan ini memang aneh dan gagah perkasa, dan untuk pengorbanan lenganmu guna orang lain ini sudah membuat aku kagum sekali. Akan tetapi jangan kau main-main dengan kesaksian itu. Ingat, orang-orangku sendiri sampai mati tidak akan berbohong dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa Cia Hui Song ini telah..."
"Harap suka dengarkan dulu penjelasanku. Akupun mendengar rahasia itu secara kebetulan saja dan dibicarakan oleh pelaku-pelakunya sendiri."
Dia lalu dengan singkat menceritakan betapa dia melihat Hui Song ditawan oleh Sim Thian Bu dan kemudian mendengar pula percakapan antara Sim Thian Bu dan Hui Song, betapa Sim Thian Bu membujuk Hui Song untuk menakluk kepada Raja Iblis, juga mendengar betapa Thian Bu telah memaksa Isteri-isteri Lamnong untuk merayu Hui Song dan sengaja membiarkan kakek anak buah Lamnong untuk melihat adegan itu sehingga nama baik Hui Song akan tercemar dan akan terjadi bentrok antara Lamnong dan Hui Song.
"Semua itu kudengar sendiri dan aku tahu siapa Sim Thian Bu. Dia adalah bekas suteku dan aku tahu akan kejahatannya. Cia Hui Song telah difitnah dan laporan kakek anak buah bangsa Mancu itu memang benar, hanya dia tidak tahu bahwa pada waktu dia melihat empat orang Isteri-isteri (Lanjut ke
Jilid 38 -Tamat) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 38 (Tamat) saudara Lamnong berada dalam satu kamar bersama Hui Song, dia sedang dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak."
"Ahhh..."
Lamnong berseru dan laki-laki ini lalu menangis!
Dia sudah dihimpit kedukaan karena keluarganya binasa semua, kini ditambah lagi dengan kekeliruan sangka sehingga mengakibatkan sahabat baiknya Cia Hui Song hampir saja terhukum.
"Hemm..."
Cia Kong Liang juga mengeluarkan seruan tertahan dan bermacam perasaan terkandung dalam seruan itu.
Ada perasaan lega karena ternyata putera kandungnya itu tidak berdosa, akan tetapi juga ada perasaan menyesal karena pedangnya, walaupun tidak disengaja, telah membuntungkan lengan Ci Kang yang gagah perkasa.
"Ci Kang... ah, Ci Kang..."
Tiba-tiba Hui Song menjatuhkan dirinya berlutut di depan Ci Kang dan merangkul pundak pemuda tinggi besar itu.
Biarpun Hui Song seorang pemuda perkasa yang gagah berani dan berbatin kuat, namun sekali ini keharuan membuat dia tidak kuasa menahan mengalirnya air matanya.
"Aku... aku telah berdosa kepadamu dan engkau malah melimpahkan budi tiada hentinya kepadaku! Engkau pernah membebaskan aku dari tawanan Sim Thian Bu dan aku malah mengajakmu berkelahi. Engkau datang ke benteng Jeng-hwa-pang untuk bergabung dengan para pendekar dan aku malah menghinamu dan mengajak para pendekar menyerangmu karena engkau putera mendiang Iblis Buta. Dan aku... tadi aku telah menuduhmu melakukan perbuatan keji terhadap Cin-moi... dan kini... engkau malah membelaku, engkau membersihkan namaku dan engkau... engkau bahkan rela mengorbankan sebuah lenganmu untukku... Ci Kang, mengapa engkau begini baik sedangkan aku begini jahat dan kejam karena cemburu?"
Ci Kang menepuk-nepuk pundak Hui Song dengan tangan kanannya, lalu dia bangkit berdiri, mengebutngebutkan bajunya dengan tangan kanan, wajahnya pucat dan senyumnya pahit.
"Sudahlah Hui Song. Aku melakukan ini memang sudah seharusnya, dan di samping itu, aku... aku..."
Dia mellrik ke arah Sui Cin.
"aku tidak ingin melihat nona Sui Cin menderita, dan kalau lenganmu buntung, tentu nona Sui Cin akan menderita. Aku... aku hanya anak seorang datuk sesat yang amat jahat, biarlah buntungnya lenganku ini sedikit meringankan hukuman bagi ayah kandungku di neraka... nah, selamat tinggal. Suhu, ampunkan teecu, selamat tinggal!"
Dia menjura kepada Ciu-sian Lokai, lalu memungut buntungan lengannya dari atas tanah.
"Ci Kang... Kau... maafkanlah aku..."
Sui Cin terisak sambil menyentuh lengan kanan pemuda itu.
Sejenak Ci Kang memandang kepada wajah gadis itu, menarik napas panjang dan berbisik lirih.
"Nona... semoga engkau berbahagia..."
Dan diapun cepat meloncat dan melarikan diri pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba Ciu-sian Lokai tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Gobi Sanjin, bagaimana sekarang? Masih engkau menganggap keliru sikap pendekar besar Cia Han Tiong? Lihat, bagaimana seorang putera datuk sesat yang amat kejam dan jahat telah berobah menjadi seorang pendekar budiman yang mengagumkan. Ha ha ha!"
Gobi Sanjin mengelus mukanya dan diapun menarik napas panjang.
"Engkau benar... engkau benar... akan tetapi bagaimanapun juga, muridku tidak berobah menjadi seorang yang jahat, melainkan tetap seorang pendekar yang adil dan jujur."
Tentu saja tidak ada yang mengerti apa maksudnya percakapan antara dua orang kakek itu, bahkan Cia Sun sendiri hanya memandang heran mendengar betapa nama ayahnya terbawa dalam percakapan itu.
Sementara itu, Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin melangkah maju dan keduanya tertawa ha-ha-hi-hi setelah tadi saling memberi isyarat dengan pandang mata mereka.
Mereka itu seperti saling dorong dengan sikap mereka, seperti dua orang anak-anak yang malu-malu ingin mengatakan sesuatu, dan akhirnya Wuyi Lojin mengalah dan kakek pendek inilah yang bicara.
"Heh heh heh, kebetulan sekali di sini hadir orang-orang gagah Cia Kong Liang dan suami isteri Ceng Thian Sin, dan juga anak-anak mereka atau murid-murid kami. Sungguh kebetulan sekali karena saat inilah yang teramat baik untuk bicara soal perjodohan. Pangcu dari Cin-Ling-Pai sudah mendengar bahwa puteranya jatuh cinta kepada muridku, Ceng Sui Cin dan bagaimana pendapat pangcu kalau saat pertemuan ini, selagi kita semua berkumpul, dibicarakan tentang ikatan jodoh antara Hui Song dan Sui Cin?"
Ketua Cin-Ling-Pai itu mengerutkan alisnya, memandang kepada kakek pendek itu lalu menarik napas panjang dua kali.
"Locianpwe, sudah banyak aku mencampuri urusan dan semuanya menjadi gagal dan rusak. Oleh karena itu, urusan perjodohan Hui Song terserah kepadanya dan kepada locianpwe yang sudah menjadi gurunya. Aku sih setuju saja, akan tetapi sekarang aku masih mempunyai kepentingan lain, biarlah lain hari saja kita bicarakan hal itu. Cuwi maafkan, aku harus pergi dulu. Song-ji, mari bantu aku mencari dan mengurus jenazah ibumu dan kongkongmu."
Mendengar ini, semua orang terkejut dan baru teringat bahwa ketua Cin-Ling-Pai ini baru saja tertimpa musibah, bahkan belum sempat mencari jenazah isterinya dan ayah mertuanya.
Juga Hui Song tidak berani membantah perintah ini, maka pemuda itupun menoleh kepada Sui Cin, melempar pandang mata penuh arti lalu memberi hormat kepada empat orang kakek itu dan juga kepada Ceng Thian Sin dan isterinya.
Kemudian ketua Cin-Ling-Pai menjura kepada semua orang lalu pergi dengan cepat diikuti Hui Song, Siang Wi dan para anggota Cin-Ling-Pai.
Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin saling pandang, keduanya menggerakkan pundak seperti kehabisan akal, akan tetapi Siangkiang Lojin tidak kekurangan akal.
"Aha, sayang sekali ketua Cin-Ling-Pai mempunyai urusan yang amat penting, akan tetapi di sini masih ada orang tua dan juga guru dari Ceng Sui Cin, masih ada kesempatan untuk membicarakan urusan itu walaupun hanya sepihak."
Mendengar ini, Wuyi Lojin juga tertawa.
"Heh-heh, benar juga, benar juga. Bagaimana, Ceng-sicu dan juga toanio, jiwi sudah mendengar bahwa antara puteri jiwi dan putera ketua Cin-Ling-Pai itu ada hubungan kasih dan mereka berdua sudah bersepakat untuk mengikat perjodohan, dan kami berdua sebagai guruguru mereka sudah merasa cocok sekali!"
"Hemm, aku tidak suka mempunyai mantu pemuda itu!"
Tiba-tiba Toan Kim Hong berseru. Suaminya menyambung.
"Sesungguhnya, keluarga Cia dari Cin-Ling-Pai itu terlalu angkuh dan ketinggian hati itu membuat kami tidak suka untuk berbesan dengan mereka..."
"Ayah! Ibu!"
Sui Cin berteriak marah.
"Agaknya ayah dan ibu masih ingin memaksaku untuk menerima pinangan si pesolek Can Koan Ti itu, ya? Ayah dan ibu ingin sekali berbesan dengan Pangeran Can Seng Ong, seorang pangeran dan juga gubernur di Cekiang! Baiklah, ayah dan ibu saja yang menikah dengan mereka. Akan tetapi aku tidak sudi!"
Setelah berkata demikian, Sui Cin meloncat dan melarikan diri sambil menangis! "Sui Cin..."
Teriak Pendekar Sadis marah, akan tetapi anaknya tidak perduli dan sudah lari cepat lenyap dari situ.
Ketika dia mendengar suara gerakan halus dan menengok, ternyata Wuyi Lojin dan Siangkiang Lojin, dua orang kakek, telah lenyap pula dari situ.
"Hemm, anak itu menjadi besar kepala karena ulah dua orang kakek itu,"
Kata Toan Kim Hong marah.
"Setelah merantau dan berguru, Sui Cin malah menjadi seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya! Kakek itu perlu dihajar!"
Dan nyonya yang galak itu sudah melompat untuk melakukan pengejaran.
Akan tetapi ia dipeluk dari belakang oleh suaminya.
"Eh, eh, eh, jangan marah-marah dulu. Ingat, dua orang kakek itu adalah orang-orang sakti yang mencinta Sui Cin dan bermaksud baik. Pula, jangan kira bahwa kita akan mudah saja dapat mengalahkan mereka."
"Aku tidak takut!"
"Eit eitt, nanti dulu. Tentu saja kita tidak mengenal takut, akan tetapi itu kalau berhadapan dengan orang-orang jahat dan untuk menentang kejahatan. Sekarang persoalannya lain lagi. Mereka bukan orang jahat, bahkan guru Sui Cin dan mereka berniat baik. Mari kita kejar mereka dan kita bicara dengan baik. Ingat, Sui Cin hanya anak tunggal kita, demi kebahagiaannya kita harus dapat merundingkan hal ini dengan perlahan dan dengan baik."
Setelah dibujuk suaminya, Toan Kim Hong mulai sabar dan merekapun meninggalkan tempat itu.
Kini di situ tinggal Cia Sun dan dua orang kakek, Ciu-sian Lokai dan Gobi Sanjin yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Ciu-sian Lokai tertawa bergelak.
"Ha ha ha, betapa lucunya manusia di dunia ini, sungguh dunia ini tiada lain hanya sebuah panggung sandiwara dan manusia-manusianya menjadi badut-badut yang Kadang-kadang tidak lucu sama sekali. Lihat itu Raja Iblis dan Ratu Iblis. Raja Iblis tadinya seorang pangeran besar, bahkan kemudian dia sudah merobah diri menjadi seorang pertapa yang berilmu tinggi sekali. Akan tetapi, ternyata dia masih belum puas dengan hidupnya dan menjangkau yang lebih tinggi. Dan apa jadinya sekarang? Dia dan isterinya hanya merupakan seonggok daging!"
Kakek itu menggeleng-geleng kepala. Gobi Sanjin juga menarik napas panjang.
"Manusia berbunuh-bunuhan, mayat berserakan, semua itu hanya untuk mengejar cita-cita kosong dan saling mempertahankan kebenaran masing-masing, kebenaran kosong! Lihat itu..."
Dia menunjuk ke arah pasukan yang sudah tiba di situ dan kini sedang mengurus mayat-mayat yang berserakan.
"Semua kalau sudah menjadi mayat, ya sama saja, sama-sama membusuk. Ketika masih hidup, juga bergelimang dalam kebusukan walaupun semua cita-cita untuk kebaikan. Betapa lucunya, lucu dan menyedihkan. Betapa hidup hampir dipenuhi sengsara belaka."
Mendengar percakapan kedua orang kakek itu, Cia Sun teringat kepada ayahnya dan tiba-tiba saja dia melihat betapa ayahnya adalah seorang bijaksana dan berbatin mulia.
Ayahnya tidak mendendam, walaupun kehilangan isteri.
Ayahnya dapat menerima segala hal yang menimpa dirinya dengan tenang, penuh kewaspadaan, tidak dikuasai oleh nafsu-nafsu amarah dan kebencian.
Dan tiba-tiba saja dia merasa rindu kepada ayahnya.
Juga dia harus menemui ayahnya untuk suatu hal.
Dia tahu bahwa Sui Cin tidak dapat diharapkannya lagi, bahwa Sui Cin mencinta Hui Song.
Akan tetapi pertemuan dan perkenalannya dengan Tan Siang Wi, murid Cin-Ling-Pai itu, menghidupkan kembali harapannya untuk dapat berbahagia di samping seorang wanita.
Dia amat tertarik kepada Siang Wi, gadis yang manis dan gagah perkasa itu.
Diapun tahu bahwa gadis itu sebetulnya mencinta Hui Song, dan seperti juga dia mencinta tanpa balasan, hanya bertepuk tangan sebelah.
Siang Wi mencinta Hui Song dan dia mencinta Sui Cin, akan tetapi dua orang yang mereka cinta itu ternyata saling mencinta.
Maka, kalau kini dia tertarik kepada Siang Wi, alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan Siang Wi, dengan demikian, rasa penasaran terobati dan mereka dapat saling menghibur!
"Suhu, teecu ingin menengok ayah,"
Tiba-tiba dia berkata kepada Gobi Sanjin.
Kakek ini maklum akan isi hati muridnya.
Dia tahu bahwa muridnya ini agaknya patah hati karena cintanya terhadap Sui Cin tidak terbalas.
Sebagai orang-orang yang waspada, baik Ciu-sian Lokai maupun Gobi Sanjin sama-sama maklum bahwa murid masing-masing itu telah jatuh cinta kepada puteri Pendekar Sadis, dan keduanya telah ditolak karena gadis itu ternyata mencinta putera ketua Cin-Ling-Pai.
"Engkau mau pulang ke Lembah Naga? Baiklah, karena pekerjaan di sinipun sudah selesai, pulanglah dan laporkan segala yang terjadi kepada ayahmu. Kelak, kalau ada jodoh kita pasti akan bertemu lagi,"
Kata Gobi Sanjin.
Cia Sun lalu pergi dan diikuti pandang mata dua orang kakek itu.
Mereka berdua itu masih tenggelam ke dalam pikiran masing-masing, menyaksikan semua peristiwa di dunia ini, melihat semua ulah manusia yang berlomba mencari kebahagiaan namun hanya berakhir dengan kesengsaraan.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya sambil duduk di bawah pohon di tempat sunyi itu.
Ia tidak perduli pakaiannya kotor terkena tanah yang agak basah.
Ia duduk dan menopang kepala yang ditundukkan, muka yang disembunyikan di antara kedua lengannya yang bersilang dan melintang di atas kedua lututnya.
Sui Cin adalah seorang gadis yang biasanya keras hati, berandalan, gembira dan tidak pernah menangis.
Bahkan tangis dianggapnya suatu kecengengan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang gagah.
Akan tetapi sekali ini, makin diingat keadaan dirinya, makin sedih hatinya dan makin keras tangisnya.
Apalagi di situ tidak terdapat orang lain sehingga ia boleh menangis sepuas hatinya tanpa dilihat orang lain.
Betapa hatinya tidak akan berduka?
Peristiwa yang menimpa diri Ci Kang, yang mengakibatkan buntungnya lengan kiri pemuda itu, membuat hatinya terasa pedih karena ia tahu bahwa Ci Kang mengorbankan lengannya semata-mata untuk dirinya, Karena Ci Kang hendak melindungi Hui Song yang diketahuinya menjadi pilihan hatinya.
Juga ia maklum bahwa biarpun tidak menyatakan sesuatu, Cia Sun juga patah hati karena cinta kepadanya dan tidak dibalasnya.
Hatinya telah melekat kepada Hui Song dan hanya pemuda itulah yang telah menawan hatinya.
Ia mencinta Hui Song dan mengharapkan untuk menjadi isteri putera ketua Cin-Ling-Pai itu.
Akan tetapi, ayah dan ibunya tidak setuju!
Dan mengingat betapa setelah bertahun-tahun berpisah dari ayah bundanya, kini begitu bertemu ia terpaksa berselisih paham dengan mereka, sungguh merupakan peristiwa yang amat menyedihkan hatinya.
Kalau menurutkan perasaan hatinya, ia boleh tidak ambil perduli terhadap ayah bundanya dan langsung saja menemui Hui Song dan hidup bersama pemuda itu selamanya.
Akan tetapi ia tahu bahwa perbuatannya itu akan menghancurkan perasaan hati orang tuanya yang hanya mempunyai anak ia seorang saja.
"Huhuhuuuhhh..."
Ia tersedu lagi dan menyembunyikan mukanya di antara lengan, tubuhnya terguncang karena tangisnya.
Sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya dan terdengar suara ketawa terkekeh.
"Heh-heh-heh, sungguh lucu melihat engkau menangis! Engkau sama sekali tidak pantas kalau menangis, Sui Cin, seperti masakan kurang garam!"
Sui Cin mengangkat mukanya dan memandang kepada kakek katai yang menjadi gurunya itu dengan mulut cemberut.
"Suhu malah mengejek, ya? Tidak tahu orang sedang susah, malah diejek. Apa artinya orang menangis seperti masakan kurang garam?"
Katanya dengan marah.
"Heh-heh-heh, bagaimana rasanya masakan kurang garam? Tentu saja hambar dan tidak enak. Tangismu juga demikian, tidak enak dipandang, tidak sedap didengar, tidak menyedihkan malah menggelikan. Maka, jangan menangis!"
Akan tetapi, Sui Cin teringat kembali akan keadaan dirinya dan tanpa memperdulikan ejekan gurunya, iapun menangis lagi.
"Ha-ha-ha, muridmu ternyata hanya seorang bocah perempuan yang cengeng dan lemah sekali, Ciu-sian! Ha-ha-ha!"
Sui Cin kembali mengangkat mukanya dan memandang kepada Siangkiang Lojin dengan mata melotot.
"Siapa cengeng?"
Katanya marah.
"Kalau kalian berdua yang mengalami hal seperti aku, mungkin sudah membunuh diri!"
Dua orang kakek itu saling berpandangan lalu keduanya tertawa bergelak.
"Kami tidak pernah jatuh cinta, apalagi kerepotan dalam memilih jodoh!"
Kata kakek pendek berjenggot panjang Wuyi Lojin atau Dewa Arak.
"Sudahlah, Sui Cin, engkau adalah muridku yang baik, yang gagah perkasa, yang berbatin kuat. Kenapa kini menangis seperti anak kecil hanya karena sikap orang tuamu?"
"Aih, suhu. Bagaimana aku tidak akan menjadi sedih? Ayah dan ibu memperlihatkan sikap keras dan terang-terangan menolak ikatan jodoh antara aku dan Song-ko. Lalu apa yang harus kulakukan? Menurut mereka yang hendak menjodohkan aku dengan putera Gubernur Cekiang? Aku tidak sudi!"
"Wah, kenapa harus memikirkan orang tua yang tidak ingin membahagiakan anak?"
Kakek pendek itu berseru.
"Tapi, suhu. Ayah Song-ko juga mengambil sikap tidak perduli, bahkan tidak mau mengambil keputusan ketika suhu berdua mengajukan pertanyaan. Lalu apa yang dapat kulakukan?"
"Ha ha ha, kenapa gelisah? Kalau ayah Hui Song tidak mau mengurusi lagi puteranya, masih ada aku gurunya yang dapat mewakili dan akulah yang akan mengajukan pinangan untuk muridku Hui Song. Beres, kan?"
"Tapi, kalau locianpwe meminangku kepada ayah dan ditolak?"
"Heh heh heh, masih ada aku di sini! Jangan perdulikan orang tuamu yang mau senang sendiri itu. Aku adalah gurumu dan aku berhak mewakili mereka dan menerima pinangan si gendut ini!"
Kata Wuyi Lojin. Siangkiang Lojin tertawa bergelak.
"Benar! Benar! Orang-orang tua yang tidak becus seperti ayah bundamu dan ayah Hui Song itu biar kita tinggalkan saja!"
"Itu benar, Sui Cin. Kalau ayah bundamu hendak memaksamu menikah dengan orang yang tidak kau sukai, biarkan mereka berdua saja yang menikah dengan pilihan mereka!"
Kata Wuyi Lojin penuh semangat.
"Tepat! Orang tua yang tidak dapat membahagiakan anaknya, berarti orang tua itu tidak mencinta anaknya, melainkan mencinta dirinya sendiri saja dan patut kita tentang!"
Sambung Siangkiang Lojin.
"Jangan takut, Sui Cin. Kalau ayah ibumu marah dan hendak memaksamu, kami berdua yang akan menentang mereka dan melindungimu!"
Gurunya berkata dengan penuh semangat.
Tiba-tiba saja kedua orang kakek itu berhenti bicara dan memandang ke kiri.
Sui Cin juga mendengar suara mencurigakan dari sebelah kiri dan terkejutlah gadis ini ketika melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah muncul Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, ayahnya!
Pendekar ini nampak gagah perkasa, dengan pakaiannya yang indah dan baru, dengan topinya yang dihias bulu.
Seorang pendekar yang tampan gagah walaupun usianya sudah hampir lima puluh tahun dan sikapnya penuh wibawa ketika dia berdiri memandang kepada Sui Cin dengan sinar mata mencorong marah.
"Sui Cin!"
Bentak pendekar ini.
"Engkau hendak menentang orang tuamu?"
Suara pendekar ini penuh kemarahan dan Sui Cin menjadi gentar sekali.
Belum pernah ayahnya marah seperti itu terhadap dirinya.
Belum pernah ia melihat sinar mata ayahnya mencorong seperti itu, seolah-olah mengeluarkan api yang hendak membakar dirinya.
Gadis ini dengan sikap gentar lalu menyembunyikan diri atau beraling di belakang tubuh Wuyi Lojin yang pendek kecil.
Sejenak, Dewa Arak dan Dewa Kipas terbelalak memandang kepada Pendekar Sadis yang sudah berdiri di depan mereka dengan gagahnya.
Kalau tadi mereka mengeluarkan ucapan-ucapan keras terhadap Pendekar Sadis dan isterinya, hal itu hanya mereka lakukan untuk menghibur hati Sui Cin.
Kini, setelah orang yang tadi dicela dan ditantangnya berdiri di depan mereka, keduanya menjadi bingung dan tak tahu harus berkata atau berbuat apa.
"Suhu... locianpwe... lekas kalian bertindak..."
Sui Cin berbisik dari belakang tubuh Dewa Arak, karena ia sendiri merasa takut untuk menghadapi ayahnya yang sedang marah itu.
Akan tetapi dua orang itu hanya saling pandang, lalu memandang kepada Ceng Thian Sin, saling pandang lagi dan keduanya seperti sudah kehilangan suara.
"Suhu... locianpwe... ingat janji kalian tadi..."
Kembali Sui Cin berbisik.
"Heh, kerdil tua bangka, muridmu benar, engkau harus ingat janjimu tadi!"
Tiba-tiba Dewa Kipas berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah dahi Dewa Arak.
"Apa? Gendut brengsek! Engkau yang berjanji akan melindunginya!"
Si kakek kerdil membalas, tangan kanannya mendorong perut gendut dan telunjuk kirinya membalas menuding ke arah dahi si gendut dan untuk ini, terpaksa dia harus berjingkat karena terlalu pendek.
"Kau yang berjanji!"
"Kau juga berjanji!"
Keduanya tidak mau mengalah dan agaknya siap untuk saling hantam sendiri.
Sebetulnya, tentu saja dua orang sakti seperti Dewa Arak dan Dewa Gendut bukan orang-orang pengecut yang tidak berani bertanggung jawab.
Akan tetapi karena mereka tidak setulus hati menentang Pendekar Sadis dan kini mereka saling dorong dan saling tuduh, maka terjadilah keributan di antara mereka sendiri yang memang suka bersaing.
Ceng Thian Sin tadinya berdiri dengan sikap marah dan kedua tangan terkepal, akan tetapi melihat tingkah dua orang kakek itu, sinar matanya yang tadi mencorong marah kini berobah.
Mulut yang tadi cemberut kini mengarah senyum.
Memang sebenarnya Ceng Thian Sin tidak benar-benar marah.
Tadi, dengan ilmu kepandaiannya, dia dan isterinya sebentar saja dapat menyusul Sui Cin dan ketika mereka tiba di tempat itu, mereka berdua sempat mendengar bualan atau tantangan-tantangan yang diucapkan oleh dua orang kakek sakti.
Biarpun mereka berdua tadi mengeluarken kata-kata yang kasar dan keras seolah-olah menantang, akan tetapi Pendekar Sadis dan isterinya adalah dua orang pendekar yang berpengalaman dan mereka berduapun maklum bahwa dua orang kakek sakti itu sudah tahu akan kedatangan mereka dan bahwa kedua orang kakek itu sengaja menantang-nantang sambil mengerahkan khikang agar suara mereka terdengar oleh suami isteri yang sudah datang dan bersembunyi di balik batu karang itu.
Dua orang suami isteri itu mendengar semua percakapan dan semua tantangan, dan mereka berdua kinipun yakin bahwa puteri mereka mencinta Hui Song dan betapa dua orang kakek yang menjadi guru Hui Song dan Sui Cin itu telah menyetujui perjodohan mereka.
Hal ini saja sudah meyakinkan hati keduanya bahwa pilihan hati puteri mereka tidaklah keliru, karena kalau demikian halnya, tentu dua orang kakek sakti itu tidak akan mati-matian membelanya.
Pendekar Sadis yang berpura-pura marah itu, ketika melihat betapa dua orang kakek saling tuding, tidak dapat menahan kegelian hatinya dan pada saat itu, bayangan lain lalu berkelebat dan isterinya sudah berdiri di sisinya.
Melihat ini, dua orang kakek itu agaknya menjadi semakin ketakutan.
"Nah, hayo keluarkan kegarangarmu tadi, tua bangka kerdil!"
Bentak Dewa Kipas.
"Dan, di mana kegagahanmu? Engkau memikirkan enaknya perutmu sendiri saja, tidak memikirkan kepentingan muridmu!"
Balas Dewa Arak.
Tiba-tiba terdengar Pendekar Sadis tertawa bergelak, diikuti oleh isterinya.
Melihat kedua suami isteri ini tertawa-tawa, Sui Cin terbelalak heran dan dua orang kakek yang tadinya ribut-ribut itupun berdiri bengong memandang.
"Sudahlah, jiwi locianpwe tidak perlu bersandiwara lagi. Kami berdua bukanlah orang tua yang tidak ingin melihat kebahagiaan anak tunggal kami,"
Kata Toan Kim Hong dengan suara lantang kepada dua orang kakek itu.
"Ayah... Ibu..., Benarkah... benarkah ayah ibu menyetujui...?"
Sui Cin berteriak dan lari menghampiri ayah bundanya.
Dua orang tua itu hanya membuka lengan mereka menyambut dan di lain saat Sui Cin sudah berada dalam rangkulan ayah bundanya, menangis terisak-isak tanpa dapat mengeluarkan kata-kata lagi, sekali ini menangis saking bahagia dan terharu.
Toan Kim Hong menciumi muka anaknya dan Ceng Thian Sin menepuk-nepuk pundak Sui Cin sambil berkata.
"Kami hanya ingin menguji dan melihat sampai di mana cintamu terhadap Hui Song, maka kami berpura-pura tidak setuju."
"Ayah dan ibu... ah, betapa bahagianya hatiku. Suhu dan Siangkiang Locianpwe, lihat betapa ayah ibuku sudah setuju. Tinggal kalian yang harus memenuhi janji!"
Kini Sui Cin dengan muka masih basah air mata, dengan sepasang mata masih basah kemerahan, menghadapi dua orang kakek itu sambil tersenyum.
"Wah, cebol, kita ditagih!"
Siangkiang Lojin berseru tertawa dan tiba-tiba dia menjura kepada Wuyi Lojin sambil berkata dengan sikap sungguh-sungguh dan serius sekali.
"Wuyi Lojin, aku sebagai guru dari Cia Hui Song, dengan ini menyatakan meminang muridmu yang bernama Ceng Sui Cin!"
Wuyi Lojin juga menanggalkan sikap pura-pura dan gurauannya, kini diapun menjura dengan hormat kepada Siangkiang Lojin dan berkata.
"Aku sebagai guru Ceng Sui Cin, menerima dengan baik pinangan itu dan merasa setuju sekali kalau muridku menjadi calon jodoh muridmu."
Setelah berkata demikian, dua orang kakek itu menghadapi Ceng Thian Sin dan isterinya, memandang tajam dan seolah-olah menanti keputusan mereka.
Ceng Thian Sin menarik napas panjang.
"Perjodohan adalah urusan yang ditentukan oleh Thian, dan syarat utamanya adalah cinta kasih antara pria dan wanita yang hendak mengikatkan diri satu sama lain melalui pernikahan. Kami sebagai orang tua pihak wanita, hanya dapat menanti datangnya pinangan dari orang tua pihak pria. Hal ini tentu saja jiwi locianpwe cukup maklum dan kami menanti di Pulau Teratai Merah! Sui Cin, mari kita pulang."
Sui Cin yang sudah merasa berbahagia sekali melihat orang tuanya menyetujui perjodohannya dengan Hui Song, mengerti akan maksud ayahnya.
Tentu saja, sebagai seorang gadis, ia hanya dapat menanti datangnya pinangan dari orang tua atau wakil Hui Song.
Maka iapun menghadapi dua orang kakek itu.
"Sampai sekarang, janji-janji kalian dua orang kakek yang kucinta dan kuhormati belum dipenuhi. Aku hanya dapat menanti kalian di Pulau Teratai Merah dan di sana aku akan membuatkan masakan-masakan istimewa untuk kalian."
Ceng Thian Sin, Toan Kim Hong, dan Sui Cin memberi hormat kepada dua orang kakek itu lalu berkelebat pergi.
Tinggal dua orang kakek itu yang bengong lalu saling pandang dan menarik napas panjang.
"Waaah, ini akibat kelancanganmu main-main, gendut!"
Kata Wuyi Lojin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak berambut.
"Kini kita harus mendatangi ketua Cin-Ling-Pai dan harus dapat membujuknya untuk pergi ke Pulau Teratai Merah untuk melakukan pinangan itu."
"Jangan khawatir!"
Dewa Kipas menepuk-nepuk perutnya yang gendut.
"Aku yakin ketua Cin-Ling-Pai akan cukup bijaksana untuk mau mengunjungi Pulau Teratai Merah. Pengalaman pahitnya dalam urusan pemberontakan itu tentu merupakan obat yang membuatnya sadar bahwa hidup ini tidak berguna kalau tidak dapat membahagiakan orang lain, terutama orang-orang yang terdekat dengannya. Demi kebabagiaan puteranya, tentu dia mau merendahkan diri sedikit untuk berkunjung ke Pulau Teratai Merah. Mari kita berdua pergi mengunjunginya dan membujuknya."
Dua orang kakek itupun lalu pergi dengan langkah santai.
Pesta pernikahan yang dirayakan di puncak Pegunungan Cin-ling-san, di rumah perkumpulan Cin-Ling-Pai itu meriah sekali.
Lebih dari seribu orang tamu memerlukan datang menghadiri perayaan itu dari berbagai penjuru.
Sebagian besar dari para tamu adalah golongan kang-ouw atau tokoh-tokoh dunia persilatan.
Hal ini tidaklah mengherankan karena nama besar Cin-Ling-Pai sudah dikenal di dunia persilatan.
Apalagi mengingat siapa adanya keluarga besan-besan dari ketua Cin-Ling-Pai yang sekaligus merayakan pernikahan dari puteranya dan murid perempuannya itu.
Putera ketua Cin-Ling-Pai, Cia Hui Song, menikah dengan Ceng Sui Cin, puteri tunggal Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya yang amat terkenal.
Sedangkan murid perempuannya yang disayang seperti puteri sendiri, Tan Siang Wi, menikah dengan Cia Sun, putera tunggal dari ketua Pek-Liong-Pang, pendekar dari Lembah Naga yang juga terkenal.
Tiga besar itu, Cia Kong Liang, Cia Han Tiong, dan Ceng Thian Sin, bersepakat untuk merayakan dua pernikahan itu di Cin-Ling-Pai, karena bagaimanapun juga, mereka semua adalah pendekar-pendekar yang mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-Ling-Pai.
Nama besar tiga keluarga ini menjamin terlaksananya perayaan pesta pernikahan itu dengan aman.
Tidak ada yang berani mati mengganggu dan semua orang bergembira.
Pesta dilakukan sejak pagi sampai jauh malam dan semua tamu meninggalkan Cin-Ling-Pai setelah malam dengan hati gembira dan kagum, dengan perut kenyang.
Setelah semua tamu pulang, keadaan di Cin-Ling-Pai sunyi kembali.
Dua pasang pengantin sudah memasuki kamar pengantin masing-masing dan hanya mereka berempat yang dapat merasakan kebahagiaan mereka, sedangkan orang-orang lain hanya tersenyum penuh arti menduga-duga atau membayangkan saja betapa bahagianya dua pasang pengantin yang kini tinggal berdua saja dalam kamar mereka.
Akan tetapi, di dalam bayangan pohon-pohon yang gelap, tidak jauh dari rumah besar di mana dua pasang pengantin itu berasyik-mesra, nampak sesosok bayangan.
Bayangan ini tidak gembira sama sekali, bahkan sejak berjam-jam ia berada di dalam kegelapan itu seperti sebuah patung, dan kini nampak tubuhnya terguncang-guncang.
Bayangan itu menangis.
Lirih hampir tanpa suara, akan tetapi air matanya bercucuran yang dicobanya untuk diusap dengan kedua tangannya yang gemetar.
Bayangan itu adalah Toan Hui Cu!
Gadis ini merasa betapa hancur perasaan hatinya melihat pria yang dikasihinya, yang diharapkannya, Cia Sun, kini menikah dengan seorang gadis lain!
Terasa olehnya betapa malang nasibnya, betapa sengsara keadaan dirinya.
Semenjak kecil ia hidup terasing, kemudian ia terancam oleh ayah kandungnya sendiri yang jahat seperti iblis.
Ayah ibunya adalah raja dan ratu penjahat dan kini mereka telah tewas.
Ia tidak mempunyai siapapun lagi di dunia ini, sebatangkara, tidak memiliki apa-apa dan terpaksa harus menghadapi kehidupan yang dianggapnya amat mengerikan dan kejam.
Ia tidak berpengalaman hidup di dunia ramai.
Satu-satunya harapan dalam hatinya digantungkan kepada Cia Sun.
Akan tetapi kini pemuda itu telah menjadi milik wanita lain dan ia tahu bahwa bagaimanapun juga, ia tidak berhak mendekati Cia Sun, tidak dapat mengharapkan lagi perlindungannya.
Melihat Cia Sun menikah dengan wanita lain, baginya seperti melihat Cia Sun juga telah mati meninggalkan dirinya, seperti ayah bundanya.
Maka, dapat dibayangkan betapa sedihnya, membuatnya hampir putus asa dan membuatnya tidak berani melanjutkan hidup yang dianggapnya kejam dan mengerikan itu.
"Ibu... oh, ibu... bagaimana dengan aku ini, ibu..."
Ia merintih dan tangisnya makin menjadi, sesenggukan karena pada saat itu yang dapat disambati hanyalah ibunya, satu-satunya orang yang pernah mencintanya dan kini ibunyapun sudah meninggalkannya.
"Ibu..."
Kedua pundaknya terguncang-guncang.
"Hui Cu..."
Suara ini lirih dan ada tangan menyentuh pundaknya dengan halus.
Hui Cu tertegun.
Suara Cia Sunkah itu?
Ia cepat menoleh penuh harapan dan di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, ia melihat wajah yang amat dikenalnya, wajah Siangkoan Ci Kang, orang kedua setelah Cia Sun yang dikaguminya.
Wajah yang gagah, agak pucat dan basah air mata!
Seketika tahulah Hui Cu bahwa Ci Kang juga seperti ia sendiri, sudah lama berada di situ, menangis seperti ia sendiri, menangisi kepergian Sui Cin!
"Hui Cu, engkau menangis?"
"Engkau juga menangis..."
Engkau... kehilangan Cia Sun...?"
"Dan engkau kehilangan Sui Cin..."
Hui Cu berhenti sebentar dan memandang ke arah lengan kiri yang buntung itu.
"... dan kehilangan lengan kirimu karena Sui Cin pula..."
Mengertilah Ci Kang bahwa agaknya ketika melarikan dirinya, Hui Cu tidak pergi jauh dan mengintai sehingga tahu akan apa yang terjadi selanjutnya, tentang buntungnya lengannya.
Dia mengangguk dan keduanya berdiam diri.
Kini tangis mereka terhenti, agaknya memperoleh hiburan setelah saling bertemu dan saling mengerti akan kesengsaraan hati masing-masing.
Setelah keduanya diam sampai beberapa saat lamanya sambil saling berpandangan, Ci Kang menarik napas panjang dan mengangguk.
"Ya, aku kehilangan lengan kiri, aku seorang yang bodoh, dan aku... aku hanya anak seorang penjahat kawakan yang rendah dan hina."
"Akupun anak penjahat, bahkan raja dan ratu iblis, penjahat yang paling besar. Kita sama-sama keturunan penjahat, orang-orang hina dan rendah..."
Tangan kanan yang kuat itu makin erat memegang pundak Hui Cu.
"Engkau benar, Hui Cu. Kita sama-sama keturunan penjahat, bagaikan burung gagak yang paling rendah dan dianggap kotor, mana bisa disamakan dengan burung-burung Hong? Biarlah burung gagak berkawan dengan burung gagak pula, keturunan penjahat bersanding dengan keturunan penjahat pula. Hui Cu, bagaimana pendapatmu kalau kita, yang senasib sependeritaan ini, mulai sekarang hidup bersama? Maukah engkau melanjutkan hidup yang kejam ini di sampingku, untuk selamanya, suka sama dinikmati, duka sama diderita? Maukah engkau?"
Mereka saling berpandangan.
Dua pasang mata itu sampai lama tidak berkedip, saling pandang dengan tajam, seolah-olah ingin menyelami isi hati masing-masing.
"Tapi... tapi... apakah engkau cinta padaku, Ci Kang?"
Senyum pahit menghias bibir pemuda itu.
"Aku tidak tahu, Hui Cu. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu apa artinya cinta itu. Akan tetapi aku kasihan padamu, dan aku suka dan kagum padamu."
Hui Cu menarik napas panjang dan Ci Kang merasa betapa pundak yang tadinya meregang kaku di bawah telapak tangannya itu kini menjadi lunak dan hangat.
"Akupun kagum padamu, suka dan akupun kasihan padamu. Aku tidak tahu apakah perasaan kita yang sama ini, kagum suka dan kasihan, dapat memupuk cinta. Akan tetapi, aku menerima tawaranmu seperti seorang kehausan mendapatkan air jernih, Ci Kang. Aku sudah putus harapan dan kau tiba-tiba datang dan aku... aku... ahhh..."
Gadis itu tiba-tiba menjadi lemas dan ia menjatuhkan dirinya di atas dada yang bidang itu sambil menangis, menyembunyikan mukanya di dada yang kokoh kuat itu.
Dengan hati merasa seperti tanah kering merekah menerima siraman air segar, Ci Kang merangkulkan lengan kanannya ke pundak gadis itu.
Sejenak mereka berdiri seperti itu, tak bergerak kecuali pundak Hui Cu yang bergoyang-goyang oleh tangisnya yang tidak berbunyi.
Setelah tangis itu mereda, Ci Kang berbisik.
"Hui Cu, sudah bulatkah hatimu menerimaku? Ingat, aku seorang yang cacat, lengan kiriku buntung..."
"Tapi hatimu tidak cacat, Ci Kang."
Dan gadis itupun membiarkan dirinya ditarik dan diajak pergi dari situ.
Mereka berjalan perlahan-lahan, dengan lengan kanan Ci Kang masih merangkul dan perlahan-lahan hati mereka menjadi semakin cerah dan tabah karena kini mereka merasa yakin akan kuat menempuh hidup baru berdua, tidak sendirian lagi, dan mereka akan hadapi dengan tabah apapun yang akan mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya.
Sampai di sini, ijinkan pengarang menyudahi kisah Asmara Berdarah ini dengan harapan mudah-mudahan di samping merupakan sebuah bacaan penghibur hati di kala senggang, cerita inipun mampu menyuguhkan sesuatu yang bermanfaat bagi para pembaca.
Sampai jumpa di kisah PENDEKAR MATA KERANJANG T A M A T Lereng Lawu, akhir Mei 1979 dino,
http.//indozone.net
/literatures/literature/77 26 Oktober 2005 jam 9.22pm
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 6
Baca Juga: Si Tangan Sakti 5