Eps 5 Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo.
Kedua telapak tangannya berwarna menghitam dan terasa panas bukan main!
"Kau....!
Aku....
keracunan....!"
Katanya.
"Ha-ha-ha, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak kusedot kembali hawa beracun itu, engkau akan mati. Perlukah dilanjutkan? Atau engkau mengaku kalah?"
Siangkoan Kok menarik napas panjang dan menyarungkan pedangnya.
Dia harus mengaku kalah, kalau ingin hidup!
"Baiklah, Ouw-pangcu.
Aku mengaku kalah.
Akan tetapi sebelum kita bicara, punahkan dulu racun dari kedua tanganku."
"Baik, duduklah bersila, Siangkoan-pengcu, dan acungkan kedua telapak tanganmu ke atas, menghadap ke belakang,"
Kata Seng Bu.
Siangkoan Kok duduk bersila, mengangkat kedua tangan ke atas dan menghadapkan kedua telapak tangan yang menghitam itu ke belakang!
Seng Bu yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng secara keliru, memang telah mendapatkan pukulan yang mengandung hawa beracun.
Kalau Siangkoan Kok tidak memiliki sin-kang yang amat kuat, tentu dia telah tewas dengan tubuh hangus.
Untung bahwa ketua Pao-beng-pai itu memiliki sin-kang kuat sehingga hawa beracun itu berhenti sampai di pergelangan tangannya saja, dihambat oleh sin-kangnya.
Kini, Seng Bu menjulurkan kedua tangannya dan ditempelkan pada kedua tangan Siangkoan Kok.
Sampai beberapa menit lamanya dia mengerahkan sin-kangnya sehingga tubuh kedua orang itu menggigil dan perlahan-lahan, warna menghitam di kedua tangan Siangkoan Kok menjadi hilang, tersedot ke dalam kedua tangan Seng Bu!
Setelah Seng Bu melepaskan kedua tangannya dan meloncat ke belakang, Siangkoan Kok memeriksa kedua tangannya dan ternyata kedua telapak tangannya sudah bersih, lalu memandang kepada Seng Bu dengan kagum.
"Ouw-pangcu, sekarang aku percaya. Engkau masih muda akan tetapi lihai bukan main, dan aku akan suka menjadi sekutumu. Karena Pao-beng-pai sudah terbasmi pasukan pemerintah penjajah, maka biarlah aku membantumu untuk memperkuat Thian-li-pang dan kita bersama jatuhkan pemerintah kerajaan Mancu!"
"Nanti dulu, Siangkoan-pangcu. Urusan di sini harus dibereskan dulu. Sebaiknya kalau engkau minta maaf kepada Nona Cu, dan memberi hukuman kepada lima orang bekas anak buahmu."
Siangkoan Kok menghela napas panjang.
Dia maklum bahwa pemuda yang mengaku ketua Thian-li-pang itu lihai bukan main, memiliki ilmu pukulan yang amat aneh dan berbahaya.
Dia akan me-lihat keadaan di Thian-li-pang.
Kalau memang pantas dia bantu, apa salahnya?
Baginya, yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu!
Dan memang tidak menguntungkan kalau dia bermusuhan dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman.
"Nona Cu, maafkan sikapku tadi."
Dia menjura kepada gadis itu. Tentu saja Kim Giok segera membalas penghormatan ketua Pao-beng-pai itu.
"Tidak mengapa, Pangcu, hanya kesalahpahaman saja."
Katanya.
Kini Siangkoan Kok menoleh ke arah lima orang anak buahnya yang menyeringai.
Ketika dia melangkah maju menghampiri mereka, lima orang itu memandang dengan wajah pucat dan mata ketakutan.
Melihat sikap ketua mereka yang sudah amat mereka kenal, mereka ketakutan dan maklum bahwa ketua mereka itu marah kepada mereka.
Dengan kaki menggigil, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi, Siangkoan Kok menggerakkan tangan kirinya lima kali dan lima orang itu pun terjengkang dan tewas seketika!
Melihat ini, terkejutlah Kim Giok.
Lima orang itu memang jahat dan patut dihajar, akan tetapi hukuman mati itu ia anggap terlalu keras.
Akan tetapi karena yang membunuh adalah ketua mereka sendiri, ia pun tidak dapat mencampuri.
Sementara itu, Seng Bu merasa senang dan puas melihat cara Siangkoan Kok membuktikan kesungguhan niat kerja sama dengan dia.
Dia kini menghadapi Kim Giok dan berkata, sikapnya sudah pulih ramah dan sopan.
"Nona Cu, secara kebetulan kita saling bertemu dan berkenalan di sini. Mendengar tadi Nona berkata bahwa Nona sedang merantau untuk meluaskan pengalaman, sudikah Nona menerima undanganku untuk berkunjung ke Thianli-pang bersama Siangkoan Pangcu ini? Pasti Nona akan mendapat pengala-man dan pengetahuan lebih luas."
Karena memang merasa tertarik dan kagum sekali melihat pemuda yang ternyata mampu menundukkan Siangkoan Kok, pula ia pun tahu bahwa tanpa bantuan Ouw Seng Bu, mungkin ia sudah menderita celaka di tangan ketua Pao-beng-pai dan anak buahnya, maka Kim Giok mengangguk dan mengucapkan terima kasihnya.
Akan tetapi, Siangkoan Kok agaknya merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama mereka.
"Ouw-pangcu, aku bukan seorang yang suka mengingkari janji. Aku pasti akan datang berkunjung ke Thian-li-pang, karena bukan hanya engkau yang membutuhkan bantuanku, akan tetapi juga aku sendiri amat membutuhkan kerja sama dengan orang sepertimu. Memang engkau benar, tanpa kerja sama antara kekuatan-kekuatan yang ada, perjuangan kita menentang penjajah tidak akan berhasil. Nah, silakan engkau dan Nona Cu pergi dulu, Ouw-pangcu, aku akan menyusul segera berkunjung ke sana."
Ketua Thian-li-pang itu setuju dan demikianlah, dia mengajak Cu Kim Giok untuk pergi lebih dahulu.
Setelah mereka pergi, Siangkoan Kok menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung memandang ke arah mayat lima orang anak buahnya yang malang melintang.
Dia mengerutkan alisnya.
Terpaksa dia membunuh mereka, untuk memuaskan hati Ouw Seng Bu.
Kini hatinya panas bukan main.
Ketua Thian-li-pang itu memaksanya membunuh anak buahnya sendiri.
Dia, Siangkoan Kok, adalah keturunan kaisar kerajaan Beng, berdarah bangsawan tinggi.
Bagaimana mungkin dia begitu direndahkan untuk menjadi pembantu saja dari seorang pemuda ingusan macam Ouw Seng Bu, betapapun lihainya pemuda itu karena menguasai ilmu pukulan beracun yang hebat?
Tidak, dia harus menjadi kepala, dia harus menjadi pemimpin, dia harus menjadi yang nomor satu.
Dia akan mencari akal untuk mengalahkan dan menjatuhkan Ouw Seng Bu.
Dia mengepal tinju, kemudian dia melempar-lemparkan lima buah mayat itu ke dalam jurang yang dalam agar tidak kelihatan terlantar di tempat itu.
Siangkoan Kok menuruni lembah Bukit Setan.
Tiba di lembah terakhir dia berhenti dan memutar tubuhnya, memandang ke arah Ban-kwi-kok yang nampak menghitam dari situ.
Selama bertahun-tahun dia membangun kekuatan di tempat itu.
Dan terpaksa, kini dia harus meninggalkan tempat itu yang sudah kosong dan hancur.
Selama belasan tahun dia menghimpun tenaga para anak buahnya, hanya untuk hancur dalam waktu sehari saja!
Dia merasa berduka dan menyesal sekali, maklum bahwa dia memang telah bersikap bodoh.
Dia terlalu mengandalkan kekuatan perkumpulannya.
Perkumpulan yang menentang pemerintah, seharusnya menyembunyikan diri, menghimpun kekuatan secara diam-diam pula, tidak memamerkan kekuatan sehingga terbasmi sebelum sempat memberontak.
Dia harus mulai dari permulaan, menghimpun pembantu-pembantu yang lebih cakap daripada yang sudah.
Akan tetapi dia tahu betapa sukarnya hal itu tercapai.
Yang jelas, dahulu dia dibantu oleh isterinya, Lauw Cu Si yang selain setia juga amat lihai ilmunya, sebagai keturunan para pimpinan Beng-kauw.
Tidak mudah mencari seorang pengganti isteri seperti Lauw Cu Si yang pandai dan lihai.
Kemudian dia berhasil menggembleng Eng Eng yang dianggap seperti anak sendiri sehingga Eng Eng yang tinggal bersamanya sejak berusia dua setengah tahun, menjadi seorang gadis yang memiliki kelihaian melebihi ibunya!
Dua orang wanita itu tadinya merupakan pembantu-pembantu yang amat boleh diandalkan, terutam Eng Eng.
Akan tetapi sekarang, semuanya telah hancur.
Bahkan isterinya telah tewas, dan Eng Eng telah lari, dan dia tahu bahwa sekarang Eng Eng bukan lagi anaknya, melainkan musuhnya!
Dan semua pembantu yang telah dididiknya, juga murid-muridnya, telah habis, entah tewas entah ditawan pasukan pemerintah.
Dia hanya seorang diri di dunia ini.
Bahkan lima orang bekas anak buahnya tadi pun terpaksa dibunuhnya.
"Aku tidak boleh putus asa,"
Bisik Siangkoan Kok kepada dirinya sendiri sambil mengepal tinju.
"Aku harus mencari lagi pembantu-pembantu yang lebih kuat lagi."
Kalau saja orang-orang seperti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok tadi dapat menjadi pembantu-pembantu-nya!
Kalau Ouw-pangcu tidak muncul, mungkin dia sudah dapat membujuk atau memaksa Cu Kim Giok menjadi pembantunya yang baru, atau menjadi selirnya!
Dia bukan tergila-gila karena kecantikan dan kemudaan Kim Giok, melainkan ingin memiliki gadis itu agar dapat menjadi pembantunya yang setia.
Dengan keputusan hati yang penuh harapan, penuh semangat, pria perkasa ini melanjutkan perjalanan, dengan langkah lebar dia menuruni lereng terakhir.
Di dalam sakunya masih terdapat banyak emas permata untuk bekal perjalanannya, walaupun hal ini tidak dipentingkan benar karena kalau dia membutuhkan biaya, tidak sukar baginya untuk mengambil dari rumah orang yang manapun.
Ketika dia memasuki sebuah dusun yang cukup ramai di kaki Kwi-san, Matahari telah condong ke barat dan cuaca sudah mulai remang-remang, maka Siangkoan Kok mengambil keputusan untuk melewatkan malam di dusun itu.
Biarpun dia bekas ketua Pao-beng-pai yang bermarkas di Lembah Selaksa Setan, di lereng Bukit Setan itu, namun penduduk dusun di kaki bukit ini tidak pernah melihatnya.
Oleh karena itu, tak seorang pun mengenal pria tinggi besar gagah perkasa yang pada senja hari itu memasuki dusun.
Akan tetapi, biarpun dia sendiri belum pernah memasuki dusun itu, Siangkoan Kok sudah mendengar dari anak buahnya bahwa dusun itu cukup ramai, penduduknya hidup cukup makmur karena sawah ladang di daerah itu amat subur, dan bahwa kepala dusunnya kaya.
So-chung-cu (Kepala dusun So) bersama isterinya dan puterinya yang pada sore hari itu sedang duduk di serambi depan, Tidak menduga buruk ketika melihat seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, berpakaian cukup pantas seperti seorang kota yang pakaiannya dari kain sutera, memasuki halaman rumah mereka.
Bahkan Lurah So segera bangkit berdiri sambil memandang penuh perhatian ketika orang itu datang meng-hampiri mereka.
Akan tetapi dia merasa heran karena merasa tidak mengenal tamu yang datang itu.
Kalau seorang pejabat dari kota, kenapa datang tanpa pengawal?
Kini mereka berdiri berhadapan.
Juga isteri Lurah So dan puterinya yang berusia delapan belas tahun, bangkit berdiri dan memandang kepada tamu itu.
Karena tamu pria itu sudah setengah tua, maka dua orang wanita itu tidak merasa sungkan.
Andaikata yang datang itu seorang laki-laki muda, tentu So Biauw Hwa, puteri lurah itu, akan masuk ke dalam bersama ibunya.
"Apakah engkau kepala dusun di sini?"
Tiba-tiba tamu itu mendahului tuan rumah.
Suaranya menggelegar dan sikapnya berwibawa, juga sikapnya tidak menghormat si kepala dusun seperti sikap penduduk dusun di situ pada umumnya.
Akan tetapi, So-chung-cu tidak marah karena dia menduga bahwa tentu tamu ini seorang dari kota, mungkin pejabat atau pedagang.
Dia hanya memandang sejenak lalu mengangguk.
"Benar, saya kepala dusun di sini. Siapakah Saudara dan dari mana hendak ke mana? Ada keperluan apa Saudara berkunjung ke rumah kami?"
Siangkoan Kok mengamati lurah itu.
Seorang laki-laki yang sebaya dengannya, tinggi kurus.
Isterinya berusia empat puluhan tahun, masih cantik, dan puterinya yang berusia delapan belas tahun itu berwajah manis dan matanya lebar indah seperti mata kelinci.
Ruangan depan itu pun memiliki prabot rumah yang cukup mewah, tanda bahwa lurah ini memang cukup keadaannya.
"Saya orang yang kebetulan lewat di dusun ini dan karena kemalaman, saya ingin melewatkan malam di sini, di rumah ini."
Kata Siangkoan Kok dengan sikap acuh, seolah-olah dia sudah merasa yakin bahwa permintaannya itu pasti dikabulkan.
Mulailah Lurah So mengerutkan alisnya, juga isteri dan puterinya memandang dengan alis berkerut.
Tamu ini sungguh tidak sopan, dan permintaannya agak keterlaluan.
Tidak memperkenalkan nama, tidak menceritakan maksud kedata-ngannya, datang-datang menyatakan ingin menginap di rumah itu, bahkan tidak minta diterima!
"Hemmm, kalau ada tamu kemalaman di sini, kami sudah menyediakan tempat umum untuk bermalam, yaitu di balai dusun.
Akan tetapi setiap orang tamu harus mendaftarkan namanya, tempat tinggalnya, agar kami tahu siapa yang datang bermalam.
Nah, Saudara boleh pergi ke balai dusun, itu di sebelah kiri, tiga rumah dari sini, dan di sana sudah ada petugas yang akan melayanimu.
Silakan!"
Kata tuan rumah itu, mengusir dengan nada halus.
Akan tetapi, jawaban yang diberikan tamu itu sungguh membuat keluarga lurah itu menjadi terbelalak.
Siangkoan Kok berkata dengan nada suara marah.
"Lurah So, tidak perlu banyak cakap lagi. Sediakan sebuah kamar terbaik di rumah ini untukku! Sediakan air hangat untuk mandi. Setelah itu, aku ingin makan malam yang enak, sediakan masakan yang lengkap, sembelih ayam dan bebek, dan aku ingin makan dilayani wanita yang muda-muda dan cantik-cantik!"
Berkata demikian, Siangkoan Kok mengerling ke arah isteri dan puteri lurah itu.
Dia bukan seorang mata keranjang, akan tetapi dia ingin memperlihatkan kekuasaannya, ingin dihormati secara berlebihan.
Kalau dia pernah memaksa mendiang Tio Sui Lan, muridnya karena dia marah kepada isterinya dan ingin mendapatkan ganti isterinya.
Dan Sui Lan yang pada saat itu paling dekat dengannya, maka dia mengambil murid itu sebagai isteri secara paksa.
Sebelum itu, dia tidak pernah mengganggu wanita lain karena bukan kepada wanita cantiklah curahan nafsu dalam diri Siangkoan Kok, melainkan kepada pengejaran cita-citanya, yaitu membangun kembali kerajaan Beng dan dia yang menjadi kaisar!
Tentu saja Lurah So marah bukan main mendengar permintaan kurang ajar seperti itu.
Seorang pejabat tinggi dari kota pun tentu tidak akan mengajukan permintaan seperti itu secara langsung, seolah-olah dia merupakan abdi dari orang itu!
Lurah So tidak mau banyak cakap lagi, lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah lima orang dari samping rumah, membawa seekor anjing yang dirantai.
Anjing itu besar dan nampaknya menyeramkan.
Lima orang itu adalah penjaga atau peronda yang malam itu akan bertugas jaga di dusun itu, melakukan perondaan dan memang rumah samping Lurah So menjadi pusat penjagaan.
"Usir orang yang tidak sopan ini keluar dari dusun!"
Perintah Lurah So dengan geram sambil menunjuk ke arah Siangkoan Kok.
Lima orang itu menghampiri dengan sikap bengis.
Para petugas ronda di dusun itu memang dipilih warga dusun yang bertubuh kuat dan masih muda.
Biarpun mereka bukan tukang pukul, akan tetapi lima orang itu yang merasa mendapat wewenang, lalu menghampiri Siangkoan Kok dengan sikap bengis mengancam.
Sementara itu, isteri dan puteri Lurah So yang merasa ketakutan, sudah lari masuk ke dalam rumah.
"Hayo engkau cepat pergi dari sini!"
Kata seorang penjaga.
"Kalau tidak cepat pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!"
Bentak orang kedua. Siangkoan Kok memandang kepada mereka dengan senyum mengejek.
"Aku tidak mau pergi dan hendak kulihat, kekerasan macam apa yang hendak kalian lakukan terhadap diriku!"
Mendengar kata-kata dan melihat sikap penuh tantangan ini, lima orang penjaga menjadi marah.
Mereka berlima maju dan mengulur tangan hendak menangkap orang setengah tua itu.
Akan tetapi, begitu Siangkoan Kok menggerakkan kedua tangannya, lima orang itu terdorong dan terjengkang, terguling-guling sampai beberapa meter jauhnya!
Anjing yang tadinya dipegang ujung rantainya oleh seorang dari mereka, terlepas dan anjing itu menggonggong, lalu menubruk ke arah Siangkoan Kok dengan moncong dibuka lebar, memperlihatkan gigi bertaring yang runcing.
Melihat serangan anjing besar itu, Siangkoan Kok menjadi marah.
Tangan kirinya, dengan jari terbuka menyambut tubrukan anjing itu, menyambar dari samping ke arah kepala anjing.
"Krekkk!"
Anjing itu terbanting roboh dan berkelojotan dengan kepala pecah.
Lima orang penjaga itu terkejut dan mereka sudah mencabut golok masing-masing sambil berloncatan berdiri.
Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok menggerakkan kakinya, tubuhnya berkelebat ke depan, kakinya dan tangannya bergerak dan lima batang golok itu beterbangan lepas dari tangan pemegangnya.
"Apakah kalian ingin mampus seperti anjing itu?"
Bentaknya dan sekali tangan kirinya meraih, dia sudah mencengkeram baju di tengkuk Lurah So.
"Kalau permintaanku yang pantas itu tidak dituruti, aku akan membunuh Lurah So sekeluarganya, dan membakar rumah ini. Kalau ada penghuni dusun ini berani melawanku, akan kubunuh mereka semua!"
Dia melepaskan lagi cengkeramannya dan Lurah So dengan muka pucat lalu menyuruh para penjaga itu mundur, kemudian dia membungkuk dan memberi hormat kepada Siangkoan Kok.
"Maafkan kami.... karena tidak tahu kami telah berani membangkang perintah Tai-hiap (Pendekar Besar)."
"Cukup sudah! Cepat sediakan yang kupinta tadi. Kamar terbaik, mandi air hangat, lalu makan malam yang meriah dilayani wanita-wanita muda dan cantik!"
"Silakan, Taihiap.... silakan, biar Taihiap mempergunakan kamar kami sendiri. Silakan!"
Dengan langkah lebar Siangkoan Kok memasuki rumah lurah itu, diiringkan Lurah So yang masih ketakutan.
Lima orang penjaga membawa pergi bangkai anjing dan dengan ketakutan mereka menceritakan apa yang terjadi di rumah Lurah So kepada penghuni dusun.
Semua orang dusun dicekam ketakutan, akan tetapi mereka tidak berdaya, takut untuk melakukan sesuatu karena keselamatan keluarga Lurah So telah dicengkeram tamu aneh itu.
Terpaksa Lurah So melayani tamunya, memberikan kamarnya sendiri kepada Siangkoan Kok, menyuruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi dan memerintahkan juru masak untuk menyembelih ayam dan bebek, membuat masakan dan mempersiapkan makan malam sebaik mungkin untuk tamu aneh yang amat ditakuti itu.
Diam-diam dia menyuruh puterinya pergi meninggalkan rumah, mengungsi ke mana saja agar jangan sampai diganggu tamu itu.
Sementara itu, pada sore hari itu juga, seorang gadis berusia delapan belas tahun lebih juga menuruni lereng Kwi-san.
Gadis ini cantik jelita, dengan wajah yang bulat telur, kulitnya putih kemerahan, mata lebar dan sinarnya tajam, hi-dungnya mancung dan mulutnya selalu terhias senyum yang amat manis karena ujung bibirnya dimeriahkan lesung pipit.
Dari pakaiannya yang serba merah, mudah diduga siapa adanya gadis jelita ini, apalagi kalau nampak sebatang suling berselaput emas terselip di pinggangnya.
Ia adalah Si Bangau Merah Tan Sian Li!
Seperti telah kita ketahui, gadis perkasa ini hadir pula bersama ayah ibunya di dalam pesta ulang tahun dan pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong.
Diam-diam ia kecewa karena tidak melihat Yo Han di sana, kemudian terjadi pengacauan yang dilakukan Eng Eng dari Pao-beng-pai.
Hal ini dijadikan alasan oleh Sian Li untuk meninggalkan ayah ibunya dengan diam-diam di rumah Suma Ceng Liong, meninggalkan surat untuk ayah ibunya bahwa ia pergi untuk membantu Yo Han mencari puteri Sim Houw, yaitu Sim Hui Eng, dan juga untuk menyelidiki Pao-beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar.
Karena tidak tahu ke mana Yo Han pergi, maka Sian Li mencari tanpa tujuan tertentu.
Ke manapun ia pergi, ia bertanya-tanya tentang pendekar yang berjuluk Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti), namun tidak pernah menemukan orang yang dapat menunjukkan di mana adanya pendekar yang dicarinya itu.
Akhirnya, ia menuju ke Bukit Setan untuk menyelidiki Pao-beng-pai.
Dalam perjalanan menuju ke sanalah ia mendengar akan penyerbuan pasukan pemerintah terhadap gerombolan pemberontak itu, mendengar betapa Pao-beng-pai dibasmi oleh pasukan pemerintah.
Namun, ia tetap pergi ke sana dan berhasil naik sampai ke Lembah Selaksa Setan, melihat betapa bekas sarang Pao-beng-pai telah menjadi puing karena dibakar oleh pasukan pemerintah.
Sian Li sama sekali tidak tahu bahwa ketika dia meninggalkan lembah itu, di lembah sebelah bawah, terjadi perkelahian antara Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok yang kemudian dibantu oleh Ouw Seng Bu.
Hanya beberapa jam selisihnya ketika ia melewati lembah itu.
Ia terus menuruni lembah dan ketika tiba di kaki bukit, ia hendak menuju ke dusun yang tadi dilihatnya dari lembah terakhir.
Pada saat itu memasuki hutan kecil yang berada di kaki bukit, untuk menuju ke dusun di seberang hutan, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya.
"Nona Tan Sian Li....!!"
Sian Li terkejut, menghentikan lang-kahnya dan membalikkan tubuhnya memandang. Segera ia mengenal pemuda yang datang berlari-lari menghampirinya itu.
"Twako (Kakak) Gak Ciang Hun....!"
Serunya girang dan juga heran sekali.
Terakhir ia berjumpa dengan pemuda itu di rumah Suma Ceng Liong ketika diadakan pertemuan antara tiga keluarga besar.
"Bagalmana engkau dapat berada di sini?"
Dengan wajah berseri-seri karena gembira dapat menemukan gadis itu, Ciang Hun menjawab.
"Aku memang menyusul dan mencarimu setelah kami semua mengetahui kepergianmu."
Sian Li mengerutkan alisnya.
"Kenapa, Gak-twako? Mau apa engkau menyusul dan mencariku?"
Ciang Hun menyadari kesalahannya.
Hampir saja dia membuka rahasia hatinya.
Tentu saja dia menyusul Sian Li karena msngkhawatirkan gadis itu dan ingin membantu-nya.
Semua ini terdorong oleh perasaan cintanya kepada Sian Li!
Akan tetapi, dia tidak berani menceritakan itu.
"Aku.... aku pun ingin ikut mencari puteri paman Sim Houw yang hilang sejak kecil, aku ingin pula ikut menyelidiki Pao-beng-pai. Aku sudah mendapat perkenan ibu, maka aku cepat pergi menyusulmu, Nona. Kurasa, dengan tenaga kita berdua, akan lebih kuat dan...."
"Gak-twako, jangan sebut aku nona. Engkau membuat aku merasa sungkan saja. Bagaimanapun juga, di antara kita masih ada hubungan, baik hubungan keluarga atau perguruan. Nah, kalau aku menyebutmu kakak, sepatutnya kau menyebut aku adik, bukan?"
Wajah Ciang Hun menjadi kemerahan dan dia salah tingkah.
Memang pemuda ini, walaupun sudah berusia dua puluh sembilan tahun, namun belum berpengalaman dalam pergaulan dengan wanita, maka dia merasa canggung dan rikuh.
"Baiklah, Siauw-moi. Aku memang mencarimu ke Kwi-san, karena engkau ingin pula menyelidiki Pao-beng-pai. Akan tetapi aku menjadi bingung ketika mendengar bahwa Pao-beng-pai telah dibasmi oleh pasukan pemerintah. Maka aku hanya berkeliaran di sekitar kaki bukit sampai tadi kebetulan sekali aku me-lihatmu, maka aku mengejarmu."
Siang Li yang merasa lelah, tidak begitu senang membayangkan dirinya melakukan perjalanan berdua saja dengan Ciang Hun.
Bukan Ciang Hun yang diharapkannya, melainkan Yo Han!
Dan ia mendapat kesan bahwa pandang mata Gak Ciang Hun terhadapnya begitu penuh kagum, begitu mesra.
Ini hanya berarti bahwa pemuda perkasa ini agaknya menaruh hati kepadanya, hal yang sama sekali tidak ia harapkan!
Sian Li adalah seorang gadis yang berwatak tegas dan keras.
Ia lalu duduk di atas batu, di bawah pohon yang rindang.
Matahari sudah condong ke barat, namun sinarnya masih (Lanjut ke
Jilid 11) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 cukup panas dan duduk di tempat teduh itu amat nyaman, apalagi karena ia sudah melakukan perjalanan melelahkan menuruni Lembah Selaksa Setan tadi.
"Gak-twako, sesungguhnya, perjalananku meninggalkan ayah ibu tempo hari terutama sekali untuk mencari kanda Yo Han."
Ia berkata dengan tekanan suara kepada nama pemuda itu, dan matanya memandang tajam. Ciang Hun mengerutkan alisnya.
"Yo Han? Kau maksudkan, Pendekar Tangan Sakti?"
Sian Li mengangguk dan ia semakin yakin akan dugaannya melihat betapa sinar mata pemuda itu menunduk dan alisnya berkerut, jelas nampak dia terpukul.
Sebaiknya berterus terang, pikir gadis itu, daripada membiarkan dia berlarut-larut hanyut dalam khayal.
"Benar, Gak-twako. Aku ingin mencari Han-koko. Dia bertekad untuk menemukan puteri Paman Sim Houw yang hilang, maka aku akan mencarinya karena aku tidak ingin ikut ayah dan ibu ke kota raja."
Ciang Hun yang sudah dapat menguasai kekecewaan mendengar betapa gadis yang sejak pertemuannya pertama kali telah merampas semangatnya ini mencari-cari Yo Han, membuat dia menduga bahwa tentu ada perhatian khusus dari gadis ini terhadap pendekar itu, untuk mengalihkan perhatiannya sendiri, dia bertanya.
"Kenapa engkau tidak ingin ikut dengan orang tuamu ke kota raja, Nona.... eh, Siauw-moi?"
"Hemmm, orang tuaku mengajak aku ke kota raja untuk membicarakan urusan perjodohanku. Aku tidak suka itu. Aku hendak dijodohkan dengan putera Pangeran Cia Yan, bahkan ikatan itu sudah dilakukan sejak dahulu dan kini orang tuaku hendak mematangkan urusan itu. Aku tidak suka menjadi calon mantu pangeran!"
Ciang Hun memandang wajah gadis itu yang nampak cemberut, namun tidak mengurangi kecantikan-nya.
"Akan tetapi, kenapa, Siauw-moi? Bukankah menjadi mantu pangeran merupakan suatu peng-hormatan besar, engkau akan hidup mulia dan terhormat, dan kurasa putera pangeran itu pun seorang pemuda yang baik maka sampai diterima oleh ayah ibumu...."
"Tidak peduli bagaimanapun baiknya, aku tidak sudi! Ah, Twako, kurasa tidak perlu lagi aku merahasiakan. Hanya ada seorang saja pria yang aku ingin menjadi suamiku, pria yang kucinta sejak dahulu, dia adalah Han-koko...."
"Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?"
Ciang Hun bertanya, tidak merasa heran karena hal ini sudah diduganya.
Gadis itu meng-angguk, merasa puas karena ia memang ingin berterus terang agar Gak Ciang Hun tidak lagi mengharapkannya.
"Dia memang seorang pendekar yang gagah perkasa. Aku pun kagum dan meng-hormatinya. Pilihan hatimu tidak keliru, Siauw-moi. Akan tetapi bagaimana dengan pilihan orang tuamu, pangeran itu....?"
"Aku tidak mau! Ayah dan ibu harus dapat mengerti. Aku hanya mencinta Han-ko, aku akan mencari-nya."
"Kalau begitu, aku akan membantumu, Siauw-moi. Aku akan membantumu mencari sampai kita dapat menemukan Yo Han!"
Kata Ciang Hun penuh semangat.
Dia memang berjiwa pendekar.
Biarpun baru saja harapannya hancur lebur, bahwa cintanya kepada Sian Li takkan mungkin terbalas, bahwa dia hanya bertepuk tangan sebelah, namun dia tidak menjadi patah hati.
Tidak, dia dapat menerima dan menghadapi kenyataan.
Apalagi mendengar bahwa pilihan hati Sian Li adalah Yo Han, pendekar yang dia kagumi, dan dia tahu bahwa Yo Han jauh lebih baik dari dirinya sendiri!
Dia tahu bahwa dia bukan jodoh Sian Li, akan tetapi hal ini bukan berarti dia membenci Sian Li.
Tidak, dia tetap menyayangnya, karena bagaimanapun juga, di antara mereka masih ada hubungan dan ikatan antara tiga keluarga besar.
Dia harus membantu gadis itu, menemukan kekasihnya, calon suaminya, menemukan kebahagiaannya.
Sian Li mengangkat muka memandang wajah yang menunduk itu.
Diam-diam ia merasa terharu, dan juga kagum.
Saorang pria yang hebat, pikirnya.
Betapa akan mudahnya jatuh cinta kepada pria ini, sekiranya di sana tidak ada Yo Han!
Ia mengulur tangan dan menyentuh lengan Ciang Hun.
"Benarkah, Twako? Aih, engkau memang baik hati sekali. Engkau dan ibumu selalu berbuat baik. Terima kasih, Twako!"
Ciang Hun mengangkat muka dan tersenyum melihat Sian Li begitu gembira.
Begitu kekanak-kenakan!
"Mari kita lanjutkan perjalanan, matahari sudah condong ke barat.
Sebentar lagi gelap, kita harus dapat melintasi hutan ini sebelum malam tiba."
"Marilah, Gak-twako. Tadi kulihat dari atas bahwa di seberang hutan kecil ini terdapat sebuah dusun. Kita ke sana sebelum malam tiba, Twako."
Mereka memasuki hutan itu dengan langkah cepat, akan tetapi ketika mereka hampir tiba di seberang, mereka mendengar isak tangis seorang wanita.
Mereka terkejut dan heran, bahkan sempat bulu tengkuk mereka meremang karena di waktu senja dan cuaca sudah hampir gelap, terdengar isak tangis di hutan.
Siapa lagi kalau bukan siluman atau iblis yang mengeluarkan suara seperti itu untuk menakut-nakuti mereka?
Memang mereka merasa ngeri.
akan tetapi mereka adalah dua orang pendekar yang tidak mudah lari ketakutan, Mereka menghentikan langkah dan memperhatikan, suara tangis wanita itu ditanggapi suara seorang wanita lain.
"Sudahlah jangan menangis. Tidak ada yang tahu bahwa kita bersembunyi di sini...."
Orang yang menangis itu berkata dengan suara ketakutan.
"Tapi.... Ibu.... bagaimana dengan ayah? Bagaimana kalau dia dipukul atau dibunuh iblis jahat itu....?"
Mendengar percakapan ini, Sian Li cepat menghampiri, diikuti oleh Ciang Hun.
Kedua orang wanita yang sedang duduk di dalam gubuk kecil tempat para pemburu beristirahat itu, menahan jerit mereka ketika di dalam cuaca yang sudah remang-remang itu mendadak muncul dua bayangan orang.
Akan tetapi mereka tidak jadi menjerit ketika melihat bahwa yang muncul adalah seorang gadia cantik bersama seorang pemuda tampan.
"Jangan takut, Bibi dan Cici, kami bukan orang jahat. Namaku Tan Sian Li dan ini kakak Gak Ciang Hun. Kami kebetulan lewat di sini dan mendengar percakapan kalian. Kenapa kalian bersembunyi di sini dan siapa yang mengancam keselamatan suami Bibi?"
Melihat sikap Sian Li yang gagah, juga pemuda di dekatnya itu bersikap gagah, wanita itu lalu memberi hormat dan berkata.
"Aku adalah isteri Lurah So di dusun sana, dan ini So Biauw Hwa puteri kami. Baru saja rumah kami didatangi seorang laki-laki yang amat kasar dan jahat. Dia dengan paksa hendak bermalam di rumah kami, minta disediakan kamar terbaik, mandi air hangat, dan pesta-pesta, minta dilayani wanita-wanita cantik. Dia memukul para penjaga, dan membunuh anjing kami. Dia menakutkan sekali. Karena takut kalau anakku diganggu, maka ia kuajak melarikan diri dan bersembunyi di sini."
"Hemmm, apakah orang itu perampok dan banyak temannya?"
Tanya Sian Li, penasaran dan sudah marah kepada para perampok yang bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi nyonya itu menggeleng kepala.
"Dia hanya seorang diri, dan agaknya tidak seperti perampok, pakaian-nya pantas, hanya sikapnya yang seperti raja memerintah kami. Ah, kami takut sekali, khawatir kalau sampai suamiku dicelakakan olehnya...."
"Siauw-moi, mari kita ke sana!"
Kata Gak Ciang Hun yang juga sudah marah mendengar kelakuan tamu yang demikian kurang ajar.
"Mari, Bibi dan Cici, mari antar kami ke rumah kalian. Kami akan hajar dan usir tamu tak tahu diri itu!"
Kata Sian Li.
Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, ibu dan anak ini menjadi berani dan timbul pula harapan mereka agar cepat terbebas dari ancaman tamu yang jahat itu.
Hari telah menjadi gelap ketika mereka berempat memasuki dusun.
Suasana dusun yang tadinya ramai itu kini mendadak menjadi sepi sekali karena semua rumah menutupkan pintu dan jendelanya.
Tak seorang pun berani menampakkan diri di luar rumah, mereka semua telah mendengar akan munculnya seorang manusia yang jahat dan amat lihai di rumah kepala dusun, Ketika mereka berempat tiba di rumah Lurah So, dari luar mereka sudah mendengar ribut-ribut, Suara itu datangnya dari ruangan makan seperti yang diberitahukan ibu dan anak itu, dan mereka semua langsung menuju ke ruangan makan di sebeah belakang.
Dan mereka melihat betapa laki-laki setengah tua yang tinggi besar itu sedang bertanding melawan seorang gadis yang bersenjatakan siang-kiam (sepasang pedang).
Gadis itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun, wajahnya bulat dengan dagu runcing dan rambutnya yang hitam itu lebat dan panjang sekali, digelung dua di belakang kepala.
Matanya bersinar lembut dan mulutnya amat indah, dengan bibir yang kemerahan dan lekuknya amat menggairahkan.
Tubuhnya ramping dan gadis ini memang cantik manis.
Juga ilmu sepasang pedangnya cukup lumayan.
Jelas bahwa ia marah sekali, menyerang pria itu dengan mati-matian, Akan tetapi, Ciang Hun dan Sian Li melihat betapa pria itu memang lihai bukan main, Biarpun hanya menggunakan tangan kosong, namun pria itu sama sekali tidak terdesak oleh sepasang pedang lawannya, bahkan dia menggulung lengan baju dan dengan lengan telanjang dia berani menangkis pedang, seolah-olah lengannya terbuat dari baja saja!
Sian Li dan Ciang Hun tidak mengenal wanita cantik manis yang biarpun melihat kehebatan lawan, namun tidak nampak gentar dan terus menyerang itu.
Karena mereka tidak tahu siapa gadis itu, Juga ibu dan anak itu tidak mengenalnya, maka Sian Li dan Ciang Hun meragu untuk turun tangan.
Gadis yang mulutnya menggairahkan itu adalah Gan Bi Kim!
Para pembaca kisah Si Bangau Merah akan mengenal Gan Bi Kim.
Ia adalah puteri seorang pejabat tinggi, yaitu kepala gudang pusaka kerajaan dan tinggal di kota raja, bernama Gan Seng.
Ketika Yo Han tamat belajar ilmu silat dari kakek yang buntung lengan dan kakinya, yaitu mendiang Ciu Lam Hok, sebelum mati kakek itu memesan kepada muridnya agar suka berkunjung kepada cicinya yang tinggal di kota raja.
Cici dari kakek Ciu Lam Hok adalah nenek Ciu Cing, yaitu ibu kandung Gan Seng ayah Bi Kim.
Ketika Yo Han berkunjung ke sana nenek Ciu Cing menangisi kematian adiknya Ciu Lam Hok dan ketika menyembahyangi arwah adiknya, di depan meja sembahyang ini nenek itu menjodohkan cucunya, Gan Bi Kim, dengan murid adiknya, yaitu Yo Han.
Dan kebetulan sekali Bi Kim jatuh cinta pula kepada Yo Han, walaupun Yo Han sendiri tidak mencintanya karena sejak remaja, Yo Han telah jatuh cinta kepada Tan Sian Li, Si Bangau Merah!
Yo Han meninggalkan keluarga Gan di kota raja.
Bi Kim merasa penasaran karena belum mendapatkan kepatian dari Yo Han, maka ia pun mendesak ayahnya untuk mengundang jagoan-jagoan istana dan mengajarkan ilmu silat kepadanya.
Ternyata ia berbakat dan terutama sekali ia pandai memainkan sepasang pedang.
Setelah ditunggu-tunggu tidak juga Yo Han datang, bahkan tidak ada berita, Gan Bi Kim merasa penasaran.
Ia merasa bahwa ia telah menguasai ilmu pedang dan pandai menjaga diri, maka pada suatu hari, ia pun lolos dari gedung ayahnya, meninggalkan sepucuk surat dan menyatakan kepada ayah ibunya bahwa ia pergi untuk mencari tunangannya, yaitu Yo Han!
Pada sore hari itu, kebetulan sekali ia pun tiba di dusun itu.
Ia sudah lelah dan ingin bermalam di dusun itu.
Akan tetapi betapa herannya melihat semua rumah di dusun itu tertutup pintu dan jendelanya, bahkan di jalan pun tidak nampak seorang pun manusiai Akan tetapi, ia tahu benar bahwa dusun itu bukan dusun kosong.
Pekarangan rumah bersih terpelihara, juga sawah ladang dan tanaman di sekeliling perumahan durun.
Dan lebih dari itu, ia pun mendengar gerakan orang-orang di dalam rumah-rumah yang tertutup rapat dan, yang tidak dipasangi lampu walaupun senja telah mendatang.
Karena merasa heran dan penasaran ketika mendengar tangis anak kecil dari sebuah rumah dan tangis itu berhenti tiba-tiba seolah-olah mulut anak yang menangis itu didekap tangan, ia tidak sabar lagi dan mengetuk daun pintu rumah itu.
"Paman atau bibi, bukalah pintunya. Aku bukan orang jahat, aku seorang gadis yang kebetulan kemalaman dan ingin bermalam di dusun ini. Biarkan aku menginap semalam di rumah kalian, akan kuberi pengganti kerugian!"
Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak, akhirnya terdengar jawaban seorang wanita dari dalam, tanpa membuka pintu.
"Nona, maafkan kami.... tempat kami penuh sesak.... eh, kalau Nona ingin bermalam.... datanglah ke rumah kepala dusun, di sebelah itu, sepuluh rumah dari sini."
Terpaksa Bi Kim meninggalkan rumah itu, menuju ke kanan sampai ia tiba di depan rumah kepala dusun.
Mudah saja menemukan rumah itu karena jauh lebih besar dibandingkan rumah-rumah lain, dan hanya rumah besar ini saja yang daun pintu sebelah depan terbuka, dan di dalam rumah itu dipasangi lampu penerangan yang cukup banyak.
Ketika ia memasuki pekarangan, beberapa orang bermunculan dari tempat gelap, agaknya mereka ini pun ketakutan.
"Nona mencari siapakah?"
Seorang setengah tua bertanya dengan suara gemetar, juga tiga orang temannya nampak ketakutan.
"Aku seorang yang kebetulan lewat dan kemalaman di dusun ini, aku hendak minta pertolongan lurah agar suka menerimaku semalam ini."
Empat orang itu saling pandang, kemudian menengok ke arah dalam rumah dan orang setengah tua tadi berbisik.
"Nona, pergilah dari sini. Di rumah ini kedatangan seorang penjahat yang menakutkan. Dia sedang memaksa lurah untuk menjamunya dengan pesta. Dia jahat sekali!"
Mendengar ini, Gan Bi Kim tersenyum dan meraba gagang siang-kiam yang tergantung di punggungnya.
"Aku tidak takut, bahkan kalau ada penjahat mengganggu rumah ini, aku akan mengusirnya."
Kembali empat orang itu saling pandang.
"Kalau begitu, masuklah, pergilah ke ruangan belakang, ruang makan. Akan tetapi, kami tidak berani mengantarmu, Nona."
Kata mereka dan kembali mereka menyelinap ke dalam bayangan-bayangan yang gelap.
Tentu saja Bi Kim merasa heran dan penasaran.
Dengan langkah lebar ia memasuki rumah itu.
Sunyi saja, agaknya semua orang, seperti empat orang pria tadi, sudah lari menyingkir dan bersembunyi ketakutan.
Akan tetapi terdengar suara di ruangan belakang dan ia pun menuju ke sana.
Ruangan itu luas dan terang sekali.
Sebuah meja makan besar penuh hidangan yang masih mengepulkan uap berada di tengah ruangan.
Seorang pria tinggi besar duduk makan minum seorang diri, dilayani oleh tiga orang wanita muda.
Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, tinggi kurus, berdiri di sudut, memandang dengan sikap takut-takut.
Mendengar langkah kaki, pria yang sedang makan itu menoleh dan melihat Bi Kim, wajahnya berseri, matanya memandang penuh selidik dan dengan suaranya yang parau berwibawa dia bertanya.
"Siapa kau? Mau apa kau masuk ke sini?"
Karena tidak tahu mana, lurah yang ia cari, Bi Kim memandang kepada pria yang sedang makan itu, bertanya.
"Aku ingin bertemu dengan lurah dusun ini. Mana dia?"
"Aku.... akulah Lurah So dari dusun ini, Nona...."
Lurah So berkata dengan gagap. Kini Bi Kim menoleh kepada pria tinggi besar yang bukan lain adalah Siangkoan Kok itu.
"Hemmm, jadi orang inikah yang datang mengacau?"
Tanya Bi Kim sambil menoleh kepada Lurah So.
Akan tetapi lurah ini tidak berani mengeluarkan suara, bahkan menunduk karena takut membuat marah tamunya.
Juga tiga orang wanita muda itu tidak berani bergerak.
"Ha-ha-ha, engkau cantik. manis, Nona, engkau jauh lebih cantik daripada tiga orang perempuan di dusun ini. Sayang puteri lurah ini telah melarikan diri. Biar engkau menjadi penggantinya menemaniku makan minum. Mari, Nona, duduklah di sini, makan minum sepuasnya!"
"Hemmm, kiranya engkau ini jahanam busuk, manusia tak tahu diri, begitu datang ke rumah orang bertindak sewenang-wenang. Setelah aku datang, jangan harap engkau akan dapat menjual lagak lagi. Hayo pergilah cepat meninggalkan rumah ini, meninggalkan dusun ini, atau sepasang pedangku akan membuat engkau menjadi setan tanpa kepala!"
Berkata demikian, untuk menggertak, Bi Kim mencabut sepasang pedangnya.
Sepasang pedang yang baik karena ayahnya mencarikan sepasang pedang pilihan untuk puterinya.
Nampak kilat menyambar ketika gadis.
itu mencabut sepasang pedangnya.
Akan tetapi, Siangkoan Kok tertawa dan sama sekali tidak kelihatan gentar.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Aku memang lebih senang kalau gadis cantik yang menemani aku makan minum bukan seorang wanita lemah. Nah, sekararg kita bertaruh, Nona. Kalau aku kalah olehmu, biar aku pergi tanpa banyak cakap lagi. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menemani aku makan minum sampai mabuk. Bagaimana?"
Wajah Bi Kim berubah merah sekali, matanya mencorong penuh kemarahan.
"Jahanam busuk!"
Katanya melihat orang itu bangkit dan menghampirinya.
"Engkau memang layak dibasmi!"
Dan sepasang pedangnya sudah menyambar ganas.
Akan tetapi, Siangkoan Kok dapat mengelak dengan mudah dan dia segera mengenal bahwa ilmu pedang nona ini bukan ilmu sembarangan, melainkan ilmu pedang yang tinggi nilainya.
Hal ini tidak mengherankan karena Bi Kim dilatih oleh jagoan-jagoan istana yang lihai.
Maka, timbul penyakit lama Siangkoan Kok.
Dia tidak segera mengalahkan gadis yang tingkatnya masih jauh di bawahnya itu, bahkan dia menggulung kedua lengan bajunya agar tidak sampai robek, menggunakan kedua lengan untuk menangkis serangan pedang sambil memperhatikan jurus-jurus ilmu pedang itu untuk menambah pengetahuannya yang sudah ba-nyak.
Tentu saja Lurah So dan tiga orang gadis dusun yang dipaksa menjadi pelayan tadi merasa ketakutan, apalagi melihat betapa tamu yang ditakuti itu mampu melawan si gadis yang berpedang hanya dengan tangan kosong saja.
Juga Bi Kim sendiri terkejut bukan main.
Tak disangkanya bahwa penjahat ini memang luar biasa, memiliki kesaktian.
Apalagi ia, bahkan guru-gurunya belum tentu mampu menandingi kakek ini!
Pada saat pertandingan itu berlangsung, muncullah Sian Li dan Ciang Hun.
Akan tetapi karena kedua orang pendekar ini tidak mengenal Bi Kim, tentu saja mereka tidak dapat turun tangan membantu.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi, siapa gadis ber-siang-kiam itu dan mengapa pula berkelahi melawan kakek, yang amat lihai itu.
Seperti yang mereka duga, kakek itu hanya mempermainkan lawannya dan setelah dia mengenal benar ilmu pedang pasangan dari Bi Kim, tiba-tiba Siangkoan Kok membentak nyaring dan tahu-tahu sepasang pedang itu telah berpindah tangan!
Dia menyeringai ketika Bi Kim meloncat ke belakang dengan kaget.
"Ha-ha-ha, engkau kalah, Nona. Nah, engkau harus menemani aku makan minum sampai mabuk!"
"Tidak sudi! Sebelum mati aku tidak akan mengaku kalah!"
Bentak Bi Kim dan ia pun menerjang lagi, kini dengan tangan kosong.
Kini Sian Li dan Ciang Hun tidak ragu-ragu lagi.
Jelas bahwa gadis itu merupakan orang yang menentang penjahat lihai itu, maka keduanya sudah melompat ke depan untuk mencegah Bi Kim bertindak nekat.
Dengan sepasang pedang saja bukan lawan kakek itu, apalagi bertangan kosong.
"Tahan....!"
Kata Sian Li dan dari samping ia telah menang-kap pergelangan tangan Bi Kim dan menariknya ke samping.
Bi Kim yang tertangkap pergelangan tangannya, merasa tenaganya lumpuh, maka ia terkejut sekali dan menurut saja ditarik ke samping.
Siangkoan kok mengerutken alisnya memandang kepada Sian Li yang berpakaian merah dan Ciang Hun yang gagah.
"Huh, siapa lagi ini kalian yang datang mengganggu kesenanganku!"
Katanya sambil melemparkan sepasang pedang rampasan itu ke arah Bi Kim.
Biarpun hanya dilempar sambil lalu saja, namun sepasang pedang itu meluncur bagaikan anak panah ke arah Sian Li dan Ciang Hun!
Jelas bahwa kakek yang lihai itu sengaja hendak menguji kepandaian dua orang muda yang baru muncul!
Dengan tenang Sian Li menangkap pedang yang meluncur ke arahnya, dari samping dengan jalan menjepitnya di antara telunjuk dan ibu jarinya, seperti anak-anak menangkap capung pada ekornya.
Sedangkan Ciang Hun lebih repot, mengelak ke samping lalu memutar tubuh dan menangkap pedang itu pada gagangnya dari belakang!
Dari cara menangkap pedang ini saja sudah dapat dinilai bahwa tingkat kepandaian Si Bangau Merah lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Gak Ciang Hun!
Siangkoan Kok agak terkejut.
Kiranya dua orang muda ini hebat!
Sama sekali tidak boleh dipandang ringan, tidak dapat disamakan dengan kepandaian Bi Kim.
Ciang Hun dan Sian Li menyerahkan sepasang pedang itu kembali kepada Bi Kim, kemudian Sian Li menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Siang-koan Kok.
"Engkau ini orang tua yang kelihatan gagah perkasa, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, sungguh menjijikkan sikapmu di dusun ini, bertindak seperti perampok kecil saja!"
Wajah Siangkoan Kok berubah kemerahan.
"Bocah bermulut lancang!"
Setelah berkata demikian, dia menubruk ke arah Sian Li dan mengirim serangan kilat.
Namun, nampak bayangan merah berkelebat dan Sian Li sudah dapat mengelak dari serangan dahsyat itu, dan ketika tubuhnya turun, di depan kakek itu, ia sudah memegang sebatang suling berselaput emas, sikapnya gagah dan tenang sekali.
Siangkoan Kok terkejut, apalagi ketika melihat suling emas itu?
Alisnya berkerut mengingat-ingat.
Pakaian merah!
Tentu saja!
"Hemmm, apakah engkau ini yang berjuluk Si Bangau Merah?"
Tanyanya sambil memandang penuh selidik. Sian Li menggerakkan sulingnya dan terdengar suara berdesing, disusul ucapannya yang lantang.
"Memang benar aku yang dijuluki Si Bangau Merah."
"Bagus! Ha-ha-ha, hari ini aku sungguh beruntung, dapat bertemu dengan tokoh-tokoh muda dunia kang-ouw. Dan engkau siapa orang muda?"
Tanyanya.
"Tidak mengapa, biarkan aku menebak siapa engkau!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan tangannya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Ciang Hun.
Pemuda ini sama sekali tidak menduga akan diserang, maka dia tidak sempat mengelak lagi, lalu mengerahkan tenaga sin-kangnya dan menggerakkan kedua tangan terbuka me-nyambut.
"Dukkkkk!"
Keduanya terdorong ke belakang.
Ciang Hun sudah berjongkok dan berlutut dengan sebelah kaki, kedua tangannya depan dada, kedua telapak tangannya menghadap ke atas.
Siangkoan Kok terbelalak.
"Wah, apakah engkau memiliki sin-kang yang disebut Tenaga Inti Bumi? Engkau mengambil tenaga dari tanah?"
Diam-diam Gak Ciang Hun tertegun dan kagum.
Sekali beradu tenaga yang membuat dia terlempar dan terpaksa memasang kuda-kuda Dewa Menyangga Bumi untuk memulihkan tenaga dan siap menghadapi serangan lanjutan lawan, dan kakek itu sudah mengenal dasar ilmunya.
Memang dia tadi menggunakan tenaga yang menjadi ilmu warisan keluarga Gak, bahkan mendiang kakeknya, Bu-beng Lo-kai atau dahulu bernama Gak Bun Beng sebelum meninggal dunia telah mengoperkan tenaga kepadanya sehingga biarpun bakatnya tidak sangat baik, namun dia telah dapat menghimpun tenaga ginkang itu.
"Orang muda, apa hubunganmu dengan mendiang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san)?"
Tanyanya lagi. Ciang Hun tidak ingin menyombongkan dirinya akan tetapi dia pun bangga dengan nama besar kedua ayahnya.
"Mereka adalah ayah kandungku!"
Jawabnya gagah sama sekali tidak merasa sungkan mengaku bahwa dia memiliki dua orang ayah kandung!
Memang suatu hal yang aneh dalam keluarga itu.
Ayahnya adalah sepasang pendekar kembar yang mencintai seorang wanita, maka keduanya menjadi suami wanita itu dan lahirlah Ciang Hun, anak dari seorang ibu dan dua orang ayah.
"Ha-ha-ha-ha-ha, pantas kalian berani mengganggu kesenanganku. Nah, mengingat bahwa kalian keturunan orang-orang pandai, mari kuundang kalian makan minum denganku, Bangau Merah dan orang muda she Gak! Dan engkau juga! Nona. Permainan siang-kiam (sepasang pedang) darimu tadi cukup lumayan, membuktikan bahwa engkau pun telah dilatih oleh guru yang pandai. Ha-ha-ha, marilah orang-orang muda, kita mempererat perkenalan dengan makan minum!"
Siangkoan Kok tidak berpura-pura dengan keramahan ajakannya ini.
Tadinya dia adalah majikan yang dihormati seperti seorang raja kecil.
Akan tetapi sekarang semua kemuliaan itu habislah sudah.anak buahnya dibasmi pasukan pemerintah, Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) telah diobrak-abrik, seluruh hartanya habis.
Habislah sudah kesemuanya, bahkan dia kehilangan anak yang disayangnya walaupun hanya anak tiri, kehilangan isteri yang dia bunuh sendiri, juga kehilangan murid tersayang yang diambilnya secara paksa menjadi isteri, juga murid ini dia bunuh.
Sekarang, dia sebatang kara, tidak memiliki apa-apa lagi.
Karena itu, melihat tiga orang muda ini, yang gagah perkasa dan juga dua orang di antaranya adalah gadis-gadis perkasa yang cantik, timbul keinginan hatinya untuk bersahabat dengan mereka.
Siapa tahu dia dapat menguasai mereka dan dengan bantuan tiga orang muda seperti ini dia tentu akan mampu membangun lagi perkumpulannya yang terbasmi dan dia akan jaya kembali.
Sejak tadi Sian Li memperhatikan pria yang tinggi besar gagah dan berwibawa itu.
Ketika ia melakukan perjalanan untuk menyelidiki Pao-beng-pai, ia telah mencari keterangan tantang perkumpulan itu, tentang ketuanya dan tentang puteri ketua yang pernah datang mengacau pertemuan tiga keluarga besar.
Pao-beng-pai telah terbasmi dan di tempat yang tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai, terdapat kakek yang lihai ini.
"Bukankah engkau yang bernama Siangkoan Kok, majikan di Ban-kwi-kok dan ketua Pao-beng-pai yan telah hancur?"
Pertanyaan yang dilontarkan Sian Li ini sungguh amat mengejutkan hati semua orang.
Bukan hanya Gak Ciang Hun dan Dan Bi Kim yang terkejut juga Lurah So dan semua orang yang tadi sibuk melayani kakek itu.
Lurah So dan para pembantunya menjadi pucat mendengar bahkan kakek itu adalah ketua Pao-beng-pai, perkumpulan yang mereka takuti.
Mereka semua sudah mendengar akan Pao-beng-pai dan ketuanya, yaitu Siangkoan Kok majikan Lembah Selaksa Setan, akan tetapi hanya namanya saja yang mereka ketahui, belum pernah melihat orangnya.
"Ha-ha-ha, engkau hebat, Si Bangau Merah! Tidak percuma engkau mendapat julukan itu karena engkau memang cerdik, lihai dan bermata tajam. Aku memang Siangkoan Kok!"
"Bagus! Kiranya engkau ketua Pao-beng-pai! Dan gadis siluman yang berani menantang keluarga kami itu adalah puterimu. Suruh ia keluar untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya!"
Sian Li membentak.
"Sian-moi, kiranya tak perlu bicara lagi dengan iblis seperti ini!"
Kata Ciang Hun yang sudah mencabut pedangnya.
"Benar, jahanam ini iblis yang kejam dan jahat yang harus dibasmi!"
Kata pula Gan Bi Kim yang sudah siap dengan sepasang pedangnya pula.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian hanyalah pendekar-pendekar muda yang menjadi antek penjajah Mancu!"
Bekas ketua Pao-beng-pai itu mengejek sambil menertawakan mereka. Wajah Sian Li berubah merah.
"Jahanam busuk! Kalau kami menentangmu, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah. Bagi kami, engkau bukanlah pejuang, melainkan penjahat busuk yang suka mengganggu rakyat. Bersiaplah untuk mampus!"
Sian Li sudah menerjang dengan senjata sulingnya, Ciang Hun dan Bi Kim juga cepat menggerakkan senjata mereka, mengeroyok.
Siangkoan Kok adalah seorang datuk yang lihai sekali.
Akan tetapi, sekarang dia menghadapi pengeroyokan tiga orang muda yang tangguh, terutama sekali Si Bangau Merah dan Gak Ciang Hun.
Dua orang muda ini adalah keturunan pendekar-pendekar lihai, maka dia tidak berani memandang rendah dan kakek itu sudah mencabut pedangnya, memutar senjata itu menyambut serangan para pengeroyoknya.
Kalau tiga orang muda itu menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga dan kepandaian mereka, menyerang dengan semangat besar, sebaliknya Siangkoan Kok hanya melindungi dirinya dengan gulungan sinar pedang.
Dia tidak bersemangat untuk berkelahi.
Apalagi mengingat bahwa dua orang di antara para pengeroyoknya adalah keturunan keluarga pendekar yang tangguh.
Dia tidak ingin menambah jumlah musuh di luar pasukan pemerintah yang telah membasmi perkumpulannya, bahkan mungkin dia ingin bekerja sama dengan kelompok lain untuk membalas dendam kepada pemerintah penjajah Mancu, seperti yang telah dijanjikannya kepada ketua Thian-li-pang di Bukit Setan.
Selain itu, dia juga merasa gentar kalau-kalau Pendekar Bangau Putih, ayah Si Bangau Merah ini, dan juga Pendekar Tangan Sakti Yo Han akan muncul.
Maka, setelah memutar pedangnya dengan dahsyat, membuat tiga orang pengeroyoknya dengan hati-hati mundur menjaga jarak, tiba-tiba Siangkoan Kok meloncat ke kiri dan sebelum tiga orang muda yang mengeroyoknya sempat men-cegah, dia sudah mencengkeram leher baju Lurah So dan menempelkan pedangnya di leher lurah yang menjadi pucat ketakutan itu.
"Kalau ada yang menyerangku, aku akan lebih dulu menyembelih lurah ini!"
Bentak Siangkoan Kok sambil mendorong tubuh lurah itu di depannya dan terus mendorongnya keluar rumah.
Ciang Hun, Sian Li, dan Bi Kim tentu saja tidak berani menyerang lagi.
Bagaimanapun juga, mereka tidak mau mengorbankan nyawa lurah yang tidak berdosa itu.
Mereka hanya dapat memandang ketika lurah itu didorong keluar oleh Siangkoan Kok.
Sian Li hanya dapat mengancam ketua Pao-beng-pai itu.
"Siangkoan Kok, kalau engkau membunuhnya, aku bersumpah untuk mengejarmu dan tidak akan berhenti sampai aku dapat membunuhmu!"
Ketua Pao-beng-pai itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, aku sedang malas bertanding, Nona manis, dan aku menangkapnya hanya untuk mencegah kalian men-desakku, bukan untuk membunuhnya. Lurah ini telah begitu baik untuk melayaniku makan minum, tentu aku tidak akan membunuhnya."
Setelah tiba di luar rumah, Siangkoan Kok berlompatan jauh sambil tetap menggandeng Lurah So dan baru setelah tiba di tepi sebuah hutan dia melepaskan lurah itu dan menghilang ke dalam hutan.
Sian Li dan yang lain juga tidak mau mengejar, mengejar seorang seperti Siangkoan Kok yang melarikan diri ke dalam hutan amatlah berbahaya.
Melihat tiga orang muda yang berhasil mengusir ketua Pao-beng-pai, Lurah So yang dilepaskan oleh kakek itu tanpa dilukai, segera menghampiri dan memberi hormat, menghaturkan terima kasih kepada mereka dan memohon agar malam itu mereka suka bermalam di rumahnya.
"Pertama, agar kami sekeluarga sempat mengha-turkan terima kasih kepada Sam-wi (Kalian Bertiga), dan kedua, agar hati kami sekeluarga merasa aman dan tenteram. Kalau Sam-wi pergi sekarang, malam ini pasti kami tidak dapat tidur dan ketakutan membayangkan iblis itu kembali ke rumah kami."
Demikian antara lain Lurah So membujuk mereka.
Karena alasan itu masuk akal juga, akhirnya Ciang Hun, Sian Li dan Bi Kim menerima undangan itu.
Seluruh penghuni dusun itu bersukaria karena lurah mereka terbebas dari gangguan ketua Pao-beng-pai yang mereka takuti.
Dan para penghuni itu memuji-muji pemuda dan dua orang gadis perkasa itu.
Keluarga Lurah So juga menghaturkan terima kasih dan mengadakan pesta kecil untuk menyambut mereka.
Sehabis makan minum, akhirnya tiga orang muda itu mendapat kesempatan untuk bicara bertiga saja di ruangan belakang rumah Lurah So.
Tidak ada anggauta keluarga yang berani meng-ganggu mereka bertiga yang sedang bercakap-cakap.
Dalam kesempatan ini, Gan Bi Kim berkenalan dengan Gak Ciang Hun dan Tan Sian Li.
"Aku berterima kasih sekali kepada Tai-hiap (Pendekar Besar) dan Li-hiap (Pendekar Wanita),"
Kata Gan Bi Kim.
"Aku sungguh tidak tahu diri, dengan ilmu silatku yang masih rendah aku berani menentang ketua Pao-beng-pai yang lihai itu. Kalau Ji-wi (Anda Berdua) tidak datang, entah bagaimana jadinya dengan diriku."
Kata Bi Kim.
"Aih, Nona, harap jangan merendahkan diri. Ilmu pedangmu sudah cukup hebat, hanya ilmu kepandaian ketua Pao-beng-pai itu memang luar biasa. Hanya setelah kita bertiga maju bersama, baru dapat mengusirnya."
Kata Ciang Hun.
"Benar, Enci, di antara kita tidak perlu sungkan, kita adalah dari golongan yang sama, yaitu menentang perbuatan jahat. Siapakah engkau, Enci, dan bagaimana engkau dapat tiba di tempat ini dan berkelahi dengan ketua Pao-beng-pai itu?"
Gan Bi Kim menghela napas panjang.
"Aku hanya orang biasa saja, adik yang gagah, tidak seperti engkau yang berjuluk Si Bangau Merah dan kakak ini yang keturunan orang-orang sakti. Ketua Pao-beng-pai itu sampai mengenal kalian dan merasa gentar. Aku bernama Gan Bi Kim berasal dari kota raja dan aku sedang melakukan perjalanan mengembara untuk meluaskan pengalaman setelah aku mempelajari sedikit ilmu silat dari para guru di kota raja sebagai bekal untuk membela diri. Ketika tiba di sini, aku mendengar akan kejahatan kakek. tadi yang menguasai rumah keluarga Lurah So, maka aku datang untuk menegur dan mengusirnya, tidak tahu bahwa kakek itu adalah ketua Pao-beng-pai yang amat lihai. Nah, sekarang aku mengharapkan keterangan tentang kalian, karena aku hanya mendengar julukanmu, tidak tahu siapa namamu dan nama kakak ini."
"Namaku Tan Sian Li, enci Kim."
Kata Sian Li yang segera merasa akrab dengan gadis kota raja yang dari sikapnya saja dapat diduga bahwa ia seorang gadis terpelajar, bahkan ada sikap agung dan anggun seperti gadis pingitan atau gadis bangsawan.
"Dan namaku Gak Ciang Hun, nona Gan,"
Ciang Hun memperkenalkan diri dan dia seperti terpesona memandang gadis itu.
Ada sesuatu yang amat menarik hatinya pada gadis itu, entah sinar matanya yang lembut, atau mulutnya yang memiliki bibir yang mempesonakan.
"Aih, Gan-toako, kita segolongan dan aku sudah merasa akrab dengan enci Kim. Kiranya tidak perlu bersungkan-sungkan menyebut ia nona segala!"
Kata Sian Li yang wataknya terbuka dan jujur. Bi Kim tersenyum dan memandang kepada pemuda itu.
"Li-moi berkata benar, Gak-toako. Aku pun merasa seolah-olah sudah mengenal kalian selama bertahun-tahun."
Ciang Hun tersenyum girang.
"Baiklah, Kim-moi (adik Kim)."
"Enci Kim, engkau seorang gadis kota raja, lembut dan pandai, kenapa bersusah-susah bertualang seperti gadis kang-ouw? Kalau aku sendiri lain lagi, memang aku dari keluarga petualang, aku seorang gadis kang-ouw yang sudah biasa hidup berkelana. Tapi engkau...."
Bi Kim tersenyum dan memegang lengan Sian Li.
"Aih, jangan berkata seperti itu, Li-moi. Engkau lebih dalam segala-galanya dibandingkan aku, kenapa mesti memuji-muji aku? Engkau lebih lihai, engkau lebih cantik, lebih muda! Aku mendengar dari para guruku di kota raja tentang dunia persilatan yang luas, mendengar tentang tokoh-tokoh dunia persilatan, bahkan aku pernah mendengar nama besar Si Bangau Putih dan puterinya, Si Bangau Merah. Maka, aku tertarik dan ingin meluaskan pengalamanku dengan merantau."
Tentu saja Bi Kim tidak mau menceritakan bahwa kepergiannya adalah untuk mencari Yo Han, pemuda idamannya yang telah ditunangkan dengannya oleh neneknya.
"Dan engkau sendiri, dari mana hendak ke mana, Li-moi? Dan juga engkau, Gak-toako?"
"Panjang ceritanya,"
Kata Sian Li.
"Beberapa pekan yang lalu, diadakan pertemuan dari tiga keluarga besar Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga Siluman. Aku pun hadir dan dalam pertemuan itu, muncul puteri ketua Pao-beng-pai yang menantang kami. Ia dapat dikalahkan dan pergi. Aku menjadi penasaran dan pergi menyelidiki Pao-beng-pai...."
"Dan karena aku mengkhawatirkan keselamatan siauw-moi Tan Sian Li, maka aku lalu mengejarnya dan berhasil, maka kami melakukan perjalanan bersama."
Sambung Ciang Hun.
"Tapi aku mendengar berita bahwa Pao-beng-pai telah dibasmi oleh pasukan pemerintah,"
Kata Bi Kim.
"Benar, kami terlambat dan kami tidak dapat bertemu dengan gadis iblis itu, melainkan dengan, ayahnya di sini."
"Jadi kalian berdua saja berani datang mencari puteri ketua Pao-beng-pai? Itu berbahaya sekali! Baru ketuanya saja tadi sudah selihai itu. Apalagi kalau perkumpulan itu belum terbasmi dan terdapat banyak anak buahnya."
Kata Gan Bi Kim kagum akan keberanian dua orang itu.
"Aku bukan hanya menyelidiki Pao-beng-pai, enci Kim. Sebetulnya, penyelidikan terhadap Pao-beng-pai hanya sambil Lalu saja. yang terutama sekali kepergianku adalah untuk mencari Han-koko...."
Sian Li berhenti sebentar sambil memandang kepada Gak Ciang Hun yang nampak tenang saja karena pemuda ini sudah pernah mendengar pengakuan Si Bangau Merah.
"Han-koko? Siapa itu Han-koko?"
Tanya Bi Kim tersenyum.
Sian Li baru ingat bahwa Bi Kim sama sekali tidak mengenal kekasihnya itu, dan sebagai seorang gadis yang tidak merasa perlu merahasiakan hubungannya dengan Yo Han terhadap seorang sahabat yang dipercayanya, ia pun tertawa.
"Aih, aku sampai lupa bahwa engkau belum mengenal Han-ko, enci Kim. Dia berjuluk Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti) bernama Yo Han.... eh, engkau kelihatan terkejut, apakah engkau sudah mengenalnya, Enci?"
"Tentu saja aku terkejut,"
Bi Kim tersenyum, menahan debaran jantungnya.
"Siapa yang tidak pernah mendengar akan nama besar Sin-ciang Tai-hiap? Dan engkau menyebutnya Han-koko? Agaknya engkau mempunyai hubungan yang erat dengan dia. Masih ada hubungan keluargakah, Li-moi?"
Sian Li tersenyum dan tiba-tiba saja kedua pipinya menjadi kemerahan dan sambil menundukkan mukanya dengan tersipu ia berkata.
"Boleh dibilang begitulah karena dia.... dan aku.... kami saling mencinta dan mengharapkan kelak menjadi suami isteri."
Karena mukanya ditundukkan ketika mengatakan itu, Sian Li tidak melihat betapa mata Bi Kim terbelalak, mukanya pucat napasnya terengah sejenak.
Bahkan ia lalu menunduk dan mengusapkan tangannya ke arah kedua matanya untuk mengusir cepat dua titik air matanya.
Akan tetapi, Ciang Hun yang sejak tadi mengamatinya, melihat perubahan ini dan diam-diam dia pun merasa terkejut dan heran, hatinya menduga-duga.
Ketika Sian Li mengangkat muka memandang kepada sahabat barunya itu, Bi Kim sudah dapat menguasai perasaan hatinya.
Baru saja ia mengalami guncangan batin yang hebat.
Siapa orangnya tidak akan merasa seperti ditikam jantungnya kalau mendengar pengakuan, seorang gadis yang dikaguminya bahwa gadis itu saling mencinta dengan pria yang selama ini dicari dan dirindukannya karena pria itu adalah tunangannya!
Menurut gejolak hatinya, ingin ia marah-marah kepada Sian Li.
Akan tetapi ia lalu mengingat-ingat kembali, membayangkan sikap Yo Han terhadap dirinya.
Pemuda yang ditunangkan dengannya oleh neneknya itu belum pernah menyatakan cinta kepadanya, bahkan minta waktu untuk dapat memberi jawaban dan mengambil keputusan tentang niat neneknya menjodohkan mereka.
"Kau kenapakah, enci Kim? Kelihatan termenung...."
Kata Sian Li. Bi Kim mengangkat muka memandang kepadanya dan tersenyum manis! Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, adik manis, hanya aku merasa terharu mendengar bahwa pendekar wanita Bangau Merah saling mencinta dengan Pendekar Tangan Sakti. Li-moi, melihat usiamu yang masih muda, tentu belum lama engkau berkenalan dengan Pendekar Tangan Sakti."
Sian Li memandang Bi Kim dengan lucu dan tertawa terkekeh.
"Hi-hi-hik, engkau keliru sama sekali, enci Kim. Usiaku memang baru delapan belas tahun, akan tetapi aku telah berkenalan dan akrab dengan Han-ko sejak aku berusia empat tahun!"
Bi Kim terbelalak, memandang kepada Gak Ciang Hun, lalu menatap lagi wajah Sian Li.
"Aku.... aku tidak mengerti...."
Katanya bingung. Sian Li tersenyum dan memegang lengan Bi Kim.
"Tidak perlu heran, enci Kim. Ketahuilah, ketika aku berusia empat tahun, Han-ko ikut orang tuaku, bahkan menjadi murid ayah dan ibu. Kemudian kami berpisah dan baru belasan tahun kemudian kami saling bertemu kembali dan langsung kami saling jatuh cinta, maksudku.... sejak kanak-kanak pun kami sudah saling mencinta, walaupun sifat cinta itu berubah...."
Kembali sepasang pipi itu menjadi merah sekali, semerah warna pakaiannya.
Setelah mendengar semua itu tahulah Bi Kim bahwa tidak mungkin ia dapat mengharapkan Yo Han menjadi calon jodohnya.
Bukan Sian Li yang merampas tunangannya.
Gadis ini dan Yo Han sudah saling mencinta, bahkan sejak kecil!
Kalau ia berkeras mempertahankan usul neneknya mengenai perjodohan itu, berarti ialah yang merampas kekasih orang!
Keangkuhan yang timbul dari harga dirinya sebagai seorang dari keluarga bangsawan, membuat Bi Kim dapat menekan perasaannya dan saat itu juga ia sudah mematahkan hubungan batinnya dengan Yo Han.
Ia tidak boleh dan tidak akan suka mencinta Yo Han yang telah menjadi kekasih si Bangau Merah!
Untuk mengalihkan perhatian dan melupakan rasa nyeri seperti ada pisau menikam ulu hatinya, Bi Kim bertanya dengan suara heran.
"Adik manis, kenapa engkau mencari kekasihmu itu? Dan kenapa pula dia meninggalkanmu?"
Pertanyaan yang wajar saja dari seorang gadis kepada gadis lain, walaupun sesungguhnya pertanyaan itu mengandung keinginan untuk mengetahui lebih jelas tentang hubungan antara Sian Li dan Yo Han.
"Ahhh, banyak sekali yang menyebabkannya, Enci dan sebetulnya hal ini me-rupakan rahasiaku..."
"Siauw-moi, aku merasa lelah dan mengantuk. Bagaimana kalau engkau lanjutkan percakapanmu dengan adik Bi Kim saja, dan aku beristirahat lebih dulu?"
Kata Ciang Hun yang merasa tidak enak karena agaknya kehadirannya hanya akan membuat canggung dua orang gadis itu bercakap-cakap secara akrab.
Sian Li tersenyum dan mengangguk, diam-diam merasa terharu dan juga senang karena pemuda itu sungguh tahu diri dan dapat memaklumi keadaan dirinya.
Ia selalu merasa tidak enak kepada Ciang Hun kalau di depan pemuda itu harus menceritakan segala hal mengenai Yo Han, padahal Ciang Hun mencintanya.
"Gak-toako seorang pemuda yang bijaksana dan baik sekali, aku amat kagum dan menghormatinya, apalagi di antara dia dan aku masih ada hubungan kekeluargaan, maksudku, dia masih keturunan keluarga perguruan Pulau Es, sedangkan kakekku keturunan keluarga Gurun Pasir dan nenekku keluarga Pulau Es."
Kata Sian Li kepada Bi Kim setelah mereka tinggal berdua saja.
"Aku pun kagum kepadanya. Dia seorang pemuda yang lihai, pendiam dan sopan,"
Kata Bi Kim.
"Akan tetapi, kalau engkau enggan menceritakan tentang dirimu dan kekasihmu, aku pun tidak akan memaksamu, Li-moi."
"Ah, tidak sama sekali, Enci. Kepadamu aku tidak merasa sungkan atau enggan untuk menceritakan, hanya kalau ada Gak-toako...., aku tidak tega untuk banyak bercerita tentang Han-koko dan aku...."
"Tidak tega?"
Bi Kim memandang penuh selidik, terheran-heran.
"Kenapa tidak tega?"
"Karena dia mencintaku, enci Kim. Dan aku tentu saja tidak dapat membalas cintanya, walaupun aku suka dan hormat kepadanya. Aku sudah menceritakan tentang hubunganku dengan Han-koko, dan Gak-twako dapat menerima kenyataan itu dengan hati lapang. Dia bijaksana sekali! Dan aku tidak ingin menying-gung perasaannya kalau banyak bercerita tentang Han-ko di depannya."
Bi Kim semakin terheran-heran dan kagum.
Dara ini sungguh luar biasa, pikirnya.
Begitu jujur, begitu terbuka!
"Aih, kasihan dia kalau begitu, Li-moi.
Pahit sekali memang kalau orang bertepuk sebelah tangan dalam soal asmara.
Nah, sekarang ceritakan, kenapa engkau saling berpisah dengan kekasihmu?"
Sian Li bercerita.
Tanpa tedeng aling-aling lagi.
Diceritakannya tentang ayah ibunya yang agaknya tidak menyetujui hubungan cintanya dengan Yo Han, bahkan ayah ibunya telah memilihkan jodoh untuknya, yaitu seorang pangeran!
"Akan tetapi aku tidak mau, Enci.
Aku tidak sudi dijodohkan dengan pangeran itu, walaupun pangeran itu terkenal gagah dan tampan, kabarnya pandai ilmu silat juga."
"Siapakah pangeran itu? Mungkin aku sudah tahu."
"Dia Pangeran Cia Sun."
"Diam-diam Bi Kim semakin heran dan terkejut. Tentu saja ia tahu siapa pangeran itu. Seorang pangeran yang menjadi pujaan hampir semua gadis di kota raja. Setiap orang gadis merindukannya dan mengharapkan menjadi isterinya! Bahkan ia sendiri, sebelum ditunangkan dengan Yo Han, pernah beberapa kali melihat pangeran itu dan ia sendiri pun merasa terpikat! Dan gadis ini.... Si Bangau Merah ini, malah menolak dijodohkan dengan Pangeran Cia Sun. Bukan main! "Hem, menurut penilaianku, dia seorang pangeran yang baik sekali, berbeda dengan para pangeran lainnya. Dia tidak congkak, manis budi dan dekat dengan rakyat."
"Biar seratus kali lebih baik dari itu, aku tidak sudi, Enci. Aku hanya mau berjodoh dengan Han-ko! Nah, ketika ayah dan ibu mengajakku menghadiri pertemuan tiga keluarga besar, aku mengharapkan dapat bertemu dengan Han-koko di sana. Akan tetapi ternyata dia tidak ada. Lalu muncul puteri ketua Pao-beng-pai membuat kekacauan dan menantang-nantang kami. Setelah ia dapat diusir pergi, aku lalu diam-diam meninggalkan ayah ibu karena aku ingin mencari Han-koko dan menyelidiki Pao-beng-pai. Sebetulnya, aku ingin membatalkan niat ayah. dan ibu mempertemukan aku dengan pangeran itu di kota raja, dan mencari Han-koko sampai dapat."
"Ke mana sih perginya kekasihmu itu, Li-moi?"
Tanya Bi Kim, diam-diam merasa heran dan geli juga melihat betapa ada persamaan antara ia dan Si Bangau Merah ini.
Ia pun sedang mencari-cari Yo Han seperti yang dilakukan Sian Li.
Hanya bedanya, ia mencari pemuda itu sebagai tunangan, sedangkan Sian Li sebagai kekasih!
Amat besar bedanya memang, dan kenyataan ini menikam hatinya.
Pertunangannya belum resmi itu atas kehendak neneknya, sedangkan saling mencinta tentu saja atas kehendak mereka yang bersangkutan!
"Han-koko menerima tugas berat, yaitu mencari puteri Pendekar Suling Naga Sim Houw yang hilang diculik orang sejak anak itu masih kecil sekali, baru dua tiga tahun usianya.
Sampai sekarang, dua puluh tahun lebih sudah berlalu dan tak pernah ada berita tentang anak itu.
Semua usaha yang dilakukan Pendekar Suling Naga dan isterinya tidak berhasil.
Bahkan andaikata anak itu ditemukan juga, anak itu tidak mengenal orang tua kandungnya, dan suami isteri itu pun tidak akan dapat mengenal puteri mereka.
Dan Han-koko bertugas mencari anak yang hilang itu!"
"Aih, betapa sukarnya tugas itu. Bagaimana mungkin dapat mencarinya kalau tidak pernah melihat anak yang kini tentu telah menjadi seorang gadis dewasa itu?"
Kata Bi Kim yang ikut merasa prihatin mendengar betapa tunangannya, pria yang dicintariya akan tetapi yang mencinta gadis lain itu dibebani tugas yang demikian, sulitnya.
Andaikata dapat menemukan gadis itu, bagaimana dapat yakin bahwa ia adalah anak yang hilang itu?
"Memang ada ciri khasnya, Enci.
Menurut keterangan orang tuanya, anak itu memiliki dua buah tanda yang khas, yaitu sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya dan sebuah noda merah di telapak kaki kanannya.
Nah, kurasa di dunia ini tidak ada dua orang yang memiliki tanda-tanda yang serupa seperti itu!"
"Aku akan ingat ciri itu, Li-moi, agar aku dapat membantu mencarinya."
"Terima kasih, enci Kim. Engkau baik sekali. Aku merasa bingung harus ke mana mencari kekasihku itu. Aku amat merindukannya, Enci, dan dia tentu akan berbahagia sekali kalau dapat mencari gadis itu bersamaku."
Tanpa disadarinya, ucapan itu menikam ulu hati Bi Kim yang segera berpamit untuk beristirahat di kamarnya.
Mereka bertiga mendapatkan masing-masing sebuah kamar di keluarga Lurah So yang amat menghormati tiga orang pendekar itu.
Bi Kim rebah di atas pembaringan kamarnya, menelungkup dan menangis menahan isak agar jangan sampai suara tangisnya terdengar oleh orang lain di luar kamar.
Ia merasa hatinya seperti diremas-remas, pedih dan perih bukan main rasanya.
Ingatannya melayang-layang pada segala peristiwa yang lalu, ketika untuk pertama kali ia bertemu dengan Yo Han.
Pertama kali Yo Han datang berkunjung ke rumah keluarga ayahnya sebagai murid mendiang paman-kakeknya Ciu Lam Hok, keluarga ayahnya sedang dilanda malapetaka.
Ayahnya yang menjadi penanggung jawab gedung pusaka kerajaan, diancam hukuman berat karena banyak benda pusaka penting hilang dicuri orang.
Yo Han menyelidiki dan ternyata yang melakukan pencurian adalah Coan-ciangkun yang sengaja melakukan hal itu untuk memaksa keluarga Gan menyerahkan ia untuk menjadi isteri panglima itu.
Yo Han berhasil menyela-matkan Gan Seng, ayahnya dan dalam keadaan berbahagia itu, neneknya yang bersembahyang di depan meja sembahyang paman-kakeknya, menetapkan perjodohannya dengan Yo Han!
Semua itu terbayang kembali olehnya.
Ikatan pertunangan itu pula yang mendorongnya untuk dengan tekun tanpa mengenal waktu, melatih diri dengan ilmu silat dari guru-guru silat yang pandai dari istana atas bantuan ayahnya sehingga kini ia menguasai ilmu kepandaian silat yang lumayan.
Semua itu dilakukannya demi cintanya kepada Yo Han yang dianggap calon suaminya.
Calon suaminya seorang pendekar besar, maka akan janggallah kalau ia tidak mengerti ilmu silat sama sekali.
Kemudian, karena merasa rindu kepada tunangannya itu yang tak kunjung datang, ia lalu meninggalkan rumah orang tuanya dan pergi mencari Yo Han!
Dan sekarang, Si Bangau Merah Tan Sian Li yang mengagumkan hatinya itu mengaku terus terang bahwa Sian Li saling mencinta dengan Yo Han, bahkan hubungan mereka jauh lebih dahulu daripada pertemuannya dengan pemuda itu.
Pantas saja Yo Han belum dapat menerima usul perjodohan yang diajukan neneknya!
Kiranya pemuda itu telah mempunyai seorang kekasih!
Bi Kim terpaksa mendekap mukanya dengan bantal karena tangisnya menjadi-jadi.
Nafasnya sampai terasa sesak karena ia menahan-nahan sekuatnya agar jangan sampai terdengar suara tangisnya.
Segala macam perasaan yang mengandung susah senang adalah permainan nafsu.
Nafsu memang selalu mempunyai satu arah tujuan, yaitu kesenangan yang dinikmati tubuh melalui panca-indra.
Kesenangan itu dalam sekejap mata dapat berubah menjadi kebalikannya, yaitu kesusahan kalau penyebab kesenangan itu lepas dari tangan.
Cinta asmara antara pria dan wanita merupakan suatu perasaan manusia yang paling rumit dan aneh.
Dalam perasaan yang ada pada tiap diri seorang manusia yang normal ini, Yang agaknya memang sudah menjadi anugerah atau peserta sejak manusia dilahirkan, terkandung banyak hal.
Ada pengaruh naluri daya tarik antara lawan jenis yang alami, naluri yang ada pada setiap mahluk ciptaan Tuhan, yang bergerak maupun yang tidak, daya tarik yang merupakan syarat mutlak bagi pengembang-biakan mahluk itu.
Daya tarik alami ini yang membuat lawan jenis kelamin saling tertarik, saling mendekati lalu terjadi penyatuan yang melahirkan mahluk baru sebagai proses penciptaan yang amat indah dan suci.
Di samping naluri, ini yang sifatnya suci dan alami, masuk pula pengaruhi nafsu dan dalam cinta asmara, nafsu memainkan peran sepenuhnya sehingga memberikan kesenangan selengkapnya kepada manusia yang dilanda cinta.
Kenikmatan dirasakan manusia melalui kesenangan yang terkandung dalam panca indra.
Kalau orang sedang bercinta, mata melihat keindahan pada orang yang dicinta, telinga mendengar kemerduan, hidung mencium keharuman dan segala macam perasaan, sentuhan dan apa saja terasa teramat indah!
Namun, karena nafsu memegang peran yang begitu besarnya, maka seperti akibat daripada permainan nafsu, semua kesenangan itu setiap saat dapat berubah menjadi kesusahan.
Tidak ada kesenangan melebihi senangnya orang bercinta, dan tidak ada kesusahan hati melebihi orang gagal dalam bercinta!
Dunia seakan kiamat, harapan seakan-akan hancur lebur, hidup seakan-akan tiada artinya lagi!
Dalam saat seperti itu, betapa banyaknya orang yang kurang tabah dan kurang sadar melakukan perbuatan dungu seperti membunuh diri, atau membunuh orang yang menggagalkan cintanya termasuk orang yang dicintanya itu sendiri!
Dalam mabuk cinta, kita lupa bahwa segala kesenangan itu ada batasnya, dan tidak abadi!
Jelas bahwa nafsu yang bermain di dalam cinta kasih tidak abadi pula.
Yang abadi adalah sesuatu yang datangnya bukan dari nafsu yang menggelimangi hati akal pikiran.
Yang aseli dan abadi adalah cinta yang tidak dikotori nafsu dan cinta inilah yang menjadi dasar dari segala perasaan yang baik, cinta ini yang mungkin biasa kita namakan kasih sayang!
Kasih ini terdapat dalam sinar matahari, dalam titik-titik air hujan, dalam gelombang samudera, dalam bersilirnya angin semilir, dalam merekahnya dan harumnya bunga-bunga, dalam senyum ranum dan matangnya buah-buahan, dalam air mata seorang ibu dalam belaian tangannya, dalam pandang mata seorang ayah, dalam tangis seorang bayi dan masih banyak lagi.
Gan Bi Kim menjadi korban dari ulah nafsu itu.
Ia merasa seolah-olah hidupnya hancur lebur.
Dalam keadaan seperti itu, ia tidak tahu bahwa kesusahan, seperti juga kesenangan, tidak abadi, bahkan tidak panjang umurnya, walaupun dibandingkan kesenangan, kesusahan lebih lama dirasakan manusia.
Tidak mungkin senang terus tanpa kesusahan, seperti tidak mungkinnya susah terus tanpa kesenangan.
Bahkan di waktu siang hari pun, tidak selalu terang benderang, kadang-kadang digelapkan awan mendung, dan malam gelap gulita pun kadang-kadang diterangi bulan atau bintang-bintang!
Dalam keadaan senang, orang lupa bahwa kesusahan sudah berada di ambang pintu.
Dalam keadaan susah, seseorang seolah-olah merasa bahwa tidak ada harapan lagi dan selalu dia akan menderita susah, seperti sakit yang tak mungkin dapat diobati lagi!
Bi Kim merasa semakin tidak tahan.
Berduka di dalam kamar yang asing, seorang diri digerogoti kenangan lama, membuat ia merasa sumpek dan pengap.
Malam telah tiba dan suasana sunyi.
Ia membuka daun pintu dan melangkah keluar, melalui gang masuk ke dalam taman bunga milik keluarga lurah itu.
Agak lega rasanya ketika ia berada di luar, di udara terbuka.
Ia melangkah terus.
Malam tidak gelap benar karena ada banyak sekali bintang di langit, tak terhitung banyaknya karena langit cerah tanpa mendung sehingga hampir semua bintang bermunculan ada yang tersenyum, ada yang berkedip-kedip.
Bunga-bunga di taman itu banyak yang mekar indah karena memang waktu itu musim bunga sudah berumur dua bulan sehingga suasana di taman itu indah sekali, bermandikan cahaya bintang yang kehijauan.
Ditambah lagi suara jangkerik dan belalang seperti sekumpulan musik yang mendendangkan lagu ma-lam dalam irama yang bebas namun tidak kacau, bahkan serasi.
Tiba-tiba suasana itu, yang pada mulanya menghibur, kini bagaikan menyentuh perasaannya, menda-tangkan keharuan yang mendalam sehingga ia terhuyung, menutupi muka dengan tangannya dan menangis.
Kini ia berada di luar rumah dan ia tidak begitu menahan isak tangisnya, dan terdengar rintihan kalbunya keluar melalui mulutnya dalam bentuk tangis lirih dan sedu sedan.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Gak Ciang Hun yang sejak tadi duduk melamun seorang diri di dekat kolam ikan, kini bangkit dan memandang kepadanya dari sebelah kiri.
Pemuda itu menghela napas panjang, dan alisnya berkerut.
Dia telah melihat perubahan sikap gadis itu sejak Sian Li mengaku bahwa ia dan Yo Han saling mencinta.
Dia melihat betapa Gan Bi Kim terbelalak dengan muka pucat dan napasnya terengah ketika mendengar pengakuan Sian Li itu dan betapa gadis itu berusaha untuk menenangkan diri secepatnya.
Dia menduga-duga, akan tetapi tidak menemukan jawabannya.
Dan kini, selagi dia melamun seorang diri di dalam taman mengenangkan nasib dirinya yang menderita penolakan cintanya terhadap Sian Li, atau lebih tepat lagi menderita putusnya cinta karena Sian Li mengaku bahwa gadis itu hanya mencinta Yo Han, tiba-tiba saja dia melihat Bi Kim menangis sedih seorang diri di dalam taman!
Karena merasa ter-haru dan iba, bagaikan terkena pesona dan seperti tidak disadarinya, Ciang Hun melangkah perlahan menghampiri.
Setelah dekat, dia berkata lirih.
"Adik Bi Kim...."
Bi Kim tersentak kaget, seperti diseret dari dunia lamunan kembali ke dunia kenyataan yang pahit dan membingungkan.
Cepat-cepat ia menghapus air mata dengan tangannya, mengucek-ucek kedua matanya, memaksa bibirnya tersenyum.
"Aih, kiranya Gak-toako.... kaget sekali aku karena tidak mengira di sini ada orang lain."
Hati Ciang Hun semakin terharu.
Gadis ini jelas sedang menderita batin yang membuatnya berduka, akan tetapi masih berusaha untuk bersikap wajar yang amat canggung.
Dia pun tidak berpura-pura lagi karena dia merasa kasihan dan ingin sekali dapat membantunya, kalau memang gadis itu membutuhkan bantuan.
"Kim-moi, sejak tadi aku berada di sini, ingin menikmati malam musim bunga yang indah ini. Malam amat cerah, langit bersih terhias bintang-bintang. Kenapa engkau malah berduka dan menangis, Kim-moi?"
"Aku... aku tidak berduka, tidak menangis...."
Bi Kim cepat membantah, akan tetapi suaranya membuktikan bahwa ia memang habis menangis, bahkan sisa tangisnya, masih terkandung dalam getaran suaranya.
(Lanjut ke
Jilid 12) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Ah, Kim-moi, biarpun kita baru berkenalan hari ini, akan tetapi tentu engkau juga sudah merasakan seperti yang kami rasakan, yaitu bahwa kita adalah satu golongan dan seperti keluarga sendiri. Di antara saudara atau sahabat baik, kalau yang seorang mengalami kesulitan, sudah sepantas-nya kalau yang lain membantu, bukan? Andaikata aku yang mengalami kesusahan, apakah engkau tidak bersedia untuk menolongku, Kim-moi?"
"Tentu saja, Toako! Engkau sendiri dan Li-moi tadi pun sudah menolongku dari ancaman ketua Pao-beng-pai. Tentu aku akan mengulurkan tangan membantumu kalau aku bisa."
"Nah, demikian pula dengan aku, Kim-moi. Sekarang aku mengulurkan tangan dan aku bersedia untuk membantumu mengatasi kesusahanmu. Nah, maukah engkau menceritakan mengapa engkau begini bersedih?"
Ditanya orang lain tentang kesedihannya dengan suara yang demikian penuh perhatian dan ikut merasakan, keharuan memenuhi hati Bi Kim dan tak tertahankan lagi air matanya bercucuran.
Akan tetapi ia menggigit bibir dan tidak mau mengeluarkan suara tangis.
Ia menggeleng kepala dan menghapus air matanya dengan saputangannya yang sudah basah.
"Engkau.... engkau atau siapapun di dunia ini tidak akan dapat menolongku, Toako....memang sudah ditakdirkan bahwa nasibku amat buruk...."
Kembali ia mengusapkan saputangan ke arah kedua matanya.
"Siauw-moi, tidak ada nasib buruk itu! Segala sesuatu yang terjadi menimpa diri kita sudah sewajarnya, dan ada sebab akibatnya. Bukan nasib buruk, karena nasib buruk itu hanya pandangan se-seorang yang kecil hati dan tidak tabah menghadapi kenyataan hidup. Kenyataan hidup memang tidak selalu putih, ada kalanya hitam, tidak selalu manis, ada kalanya pahit. Akan tetapi, manis atau pun pahit, kalau kita dapat menerimanya sebagai suatu kenyataan hidup yang tidak terlepas dari hukum alam, maka kita dapat menghadapinya dengan tabah. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, asalkan kita tabah, tidak meninggalkan daya ikhtiar dan didasari penyerahan kepada Yang Maha Kuasa, Kim-moi. Aku tadi sudah melihat perubahan pada sikapmu. Ketika Li-moi bercerita dengan terus terang, memang wataknya terbuka dan jujur, bahwa ia dan Yo Han saling mencinta, aku melihat engkau terbelalak kaget dan mukamu pucat sekali. Kim-moi, aku yakin bahwa kedukaanmu tentu ada hubungannya dengan cerita Li-moi itu, atau setidaknya, ada hubungannya dengan Yo Han. Benarkah dugaanku?"
Bi Kim menundukkan mukanya, sampai lama tidak menjawab, hanya menarik napas panjang berulang kali.
Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengelak lagi, dan kalau sampai Sian Li mengetahui hal ini, sungguh amat tidak enak.
Pemuda ini dapat dipercaya, dan dengan bantuan pemuda ini ia akan lebih mudah menyembunyikan rahasianya dari Sian li.
"Gak-toako,"
Katanya sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam.
"Kalau aku berterus terang kepadamu, maukah engkau berjanji untuk merahasiakan ini dari adik Sian Li?"
"Aku berjanji demi kehormatanku, Kim-moi."
"Ketahuilah, Toako, bahwa guru dari Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah adik nenekku. Pada suatu hari, Yo-toako datang berkunjung ke kota raja dan dia berhasil menolong ayahku yang terancam malapetaka karena beberapa buah pusaka istana lenyap padahal ayahku menjabat sebagai pengatur gedung pusaka itu. Karena bersyukur, di depan meja sembahyang paman kakekku itu, nenekku lalu menjodohkan aku dengan Yo-toako."
"Ah, begitukah....,"
Gak Ciang Hun menggumam lirih.
"Ya begitulah, Toako. Biarpun perjodohan itu belum diresmikan, akan tetapi sejak saat itu, aku sudah menganggap diriku sebagai calon isteri Yo Han. Dan dapat kau bayangkan betapa kaget rasa hatiku ketika tadi aku mendengar bahwa adik Tan Sian Li saling mencinta dengan Yo Han."
Ciang Hun mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.
"Apakah Yo Han sudah menyetujui ikatan jodoh itu?"
Gadis itu menggeleng.
"Belum, Toako. Bahkan dia minta agar urusan perjodohan itu ditangguhkan sampai dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Usul perjodohan itu datang dari nenek, dan dia belum menyatakan setuju atau tidak setuju."
"Akan tetapi.... maafkan pertanyaanku ini, apakah kalian sudah saling mencinta?"
Gadis itu menarik napas panjang dan wajahnya nampak memelas sekali walaupun tidak kelihatan jelas di bawah sinar ribuan bintang yang lembut, namun tarikan muka itu membuat Ciang Hun maklum bahwa pertanyaannya mendatangkan kepedihan hati.
"Terus terang saja, Toako, aku amat kagum kepadanya dan selama ini aku menganggap bahwa aku cinta padanya. Akan tetapi.... ah, cinta sepihak tidak mungkin, bukan? Dia sudah saling mencinta dengan adik Sian Li.... aku akan memberitahu kepada nenekku dan orang tuaku bahwa aku tidak mungkin berjodoh dengannya."Hening sejenak, kemudian Bi Kim tercengang melihat pemuda itu tertawa, akan tetapi suara tawanya sumbang.
"Haha-ha-heh-heh, alangkah lucunya! Betapa lucunya....!!"
Tentu saja Bi Kim mengerutkan alisnya dan wajahnya berubah merah, pandang matanya bersinar tajam karena marah.
Ia mengira bahwa pemuda itu mengejeknya!
Padahal, ia telah mempercayainya dan menceritakan rahasia hatinya yang sebetulnya tidak harus diceritakan kepada siapa pun.
"Toako, kau.... kau mentertawakan aku....!!"
Bentaknya marah.
Ciang Hun menyadari sikapnya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman itu, maka dia menghentikan tawanya dan cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada meminta maaf.
"Maafkan aku, Siauw-moi. Aku sama sekali bukan mentertawakan engkau melainkan mentertawakan diriku sendiri karena sungguh amat lucu keadaan kita berdua!"
Kembali dia tertawa akan tetapi menahan sehingga tawanya tidak bersuara. Bi Kim masih mengerutkan alisnya.
"Hemmm, apanya yang lucu dengan ceritaku tadi?"
"Dengarlah, Kim-moi. Sudah lama aku pun jatuh cinta kepada adik Tan Sian Li! Dan kau tahu, sebelum aku sempat menyatakan cintaku kepadanya, ia mengaku kepadaku seperti yang diceritakan kepadamu tadi, yaitu bahwa ia mencinta Yo Han dan hanya mau berjodoh dengan Yo Han. Kau tentu mengerti betapa hancurnya perasaan hatiku, namun aku dapat menerima kenyataan pahit itu. Sama sekali tidak aku duga bahwa engkau mengalami hal yang sama benar dengan aku, dan kita berdua sama-sama mendengar keputusan yang menghancurkan itu dari mulut Li-moi. Hanya bedanya di antara kita, engkau mencinta yang laki-laki, aku mencinta yang perempuan. Ha-ha-ha, bukankah lucu sekali?"
Ciang Hun tertawa-tawa lagi dan sekali ini, Bi Kim juga tertawa.
Mereka berdua tertawa-tawa, akan tetapi tawa mereka sumbang dan makin lama, suara tawa mereka semakin sumbang dan akhirnya Bi Kim menangis, dan Ciang Hun juga mengeluh dan menahan tangisnya!
Dalam keadaan seperti itu, keduanya dapat saling merasakan betapa sedih dan perihnya hati yang hampa karena cinta sepihak.
Perasaan yang mendatangkan iba diri karena diri serasa tiada harganya, tidak ada yang menyayang!
Dan timbullah perasaan iba yang mendalam satu lama lain.
"Kim-moi, kita harus dapat menerima kenyataan.... sudahlah, Kim-moi, jangan bersedih lagi...."
Karena merasa iba sekali, Ciang Hun mendekat dan menyentuh lengan gadis itu.
Bagaikan tanggul penahan air bah yang bobol, bendungan itu pecah dan setengah menjerit Bi Kim menangis dan merangkul Ciang Hun, menangis di dada pemuda itu sampai mengguguk.
Semua perasaan pedih perih dan duka yang sejak tadi ditahan-tahannya dalam hati, kini terlepas semua melalui tangisnya yang meledak-ledak.
Ciang Hun mengelus rambut itu dan dia pun berdongak memandang langit penuh bintang-bintang, kedua matanya sendiri basah.
Dia maklum bahwa gadis itu sedang ditekan perasaan yang amat berat, maka jalan terbaik adalah membiarkannya menangis melarutkan semua tekanan batin yang dapat menimbulkan penyakit luar dan dalam.
Setelah tangisnya itu agak mereda, seperti badai yang mereda, Ciang Hun berkata.
"Eh, Kim-moi, lihatlah betapa bodohnya kita. Apakah dengan gagalnya cinta kasih kita, lalu dunia ini akan kiamat? Lihat di langit itu, jutaan bintang mentertawakan kita yang lemah. Kita bukan orang lemah, kita harus mampu menanggulangi semua tantangan hidup. Kegagalan hanya akan memperkuat batin kita, mematangkan kita. Sama sekali keliru kalau kita putus asa dan membiarkan diri tenggelam dalam kecewa dan duka."
Bi Kim sadar dan ia pun seperti baru menyadari bahwa ia telah menangis di atas dada Ciang Hun.
Ia melepaskan rangkulannya dan tersipu.
Ia menghapus sisa air matanya, memandang kepada pemuda itu, mencoba untuk tersenyum.
"Engkau benar, Toako. Maafkan atas kelemahanku, dan maafkan kelakuanku tadi yang tidak pantas."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Siauw-moi, tidak ada yang tidak pantas. Aku mengerti perasaanmu dan aku dapat merasakan pula kepahitan yang melanda hatimu. Kita sama-sama mengalaminya, akan tetapi sama-sama pula dapat mengatasinya, bukan?"
"Terima kasih, Gak-toako."
Ciang Hun lalu menasehati agar gadis itu kembali ke kamarnya karena akan kurang baik dugaan orang kalau ada yang melihat mereka berada di taman berdua saja pada waktu malam seperti itu.
Bi Kim menyetujui dan ia pun kembali ke kamarnya, meninggalkan Ciang Hun yang termenung seorang diri di taman itu.
Mulai saat itu, tumbuhlah perasaan aneh di dalam hati kedua orang itu.
Mereka saling merasa kasihan, dan perasaan ini menumbuhkan suatu perasaan baru dari cinta kasih, ingin saling menghibur, saling membahagiakan!
Pohon cinta memang dapat tumbuh dengan perantaraan belas kasihan, atau kekaguman, senasib, kesamaan pandangan, kesamaan selera dan banyak perasaan, lain lagi.
Dan sekali orang jatuh cinta, maka segala yang ada pada diri orang yang dicintai nampak indah, segala yang dilakukan orang yang dicinta selalu menyenangkan hati.
Tidak terlalu berlebihan kalau orang mengatakan bahwa cemberut seorang yang dicinta menjadi pemanis, sebaliknya senyum seorang yang dibenci makin menyebalkan!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Li sudah bangun dan mandi.
Ketika ia keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan pakaian bersih, seperti biasa pakaiannya serba merah sehingga ia nampak segar dan jelita bagaikan setangkai bunga mawar merah di waktu pagi, masih segar membasah bermandikan embun pagi, ia melihat Gan Bi Kim dan Gak Ciang Hun juga sudah mandi dan mereka duduk di ruangan dalam di luar kamar mereka.
Setelah mereka duduk bertiga, Sian Li berkata.
"Pagi ini aku akan melanjutkan perjalananku, dan sebelum aku bertemu dengan Han-ko, aku tidak akan pulang."
"Memang, sebaiknya kalau kita bertiga pergi dari sini,"
Kata Ciang Hun.
"Tidak enak kalau mengganggu keluarga Lurah So terlalu lama."
"Adik Sian Li, aku akan mencoba untuk membantumu, ikut mencarikan anak yang hilang itu. Siapa tahu aku akan bertemu dengan gadis yang mempunyai tanda-tanda di pundak kiri dan kaki kanan itu. Siapa namanya?"
"Namanya Sim Hui Eng,"
Jawab Sian Li.
"Aku pun akan membantumu mencari Yo Han, kalau jumpa akan kuberitahu bahwa engkau mencarinya. Paling lambat pada hari Sin-cia (Tahun Baru Imlek), berhasil atau tidak, aku akan memberi kabar kepadamu, di rumah orang tuamu di Ta-tung."
Kata Ciang Hun. Sian Li tersenyum memandang kepada dua orang sahabatnya itu.
"Terima kasih, kalian baik sekali. Karena kita bertiga mencari orang, maka akan lebih besar harapan-nya akan berhasil kalau kita berpencar. Kita mencari dengan berpencar dan berjanji saling jumpa lagi pada hari Sin-cia. Bagaimana pendapat kalian?"
"Setuju!"
Kata Ciang Hun.
"Pada hari Sin-cia, aku akan berkunjung ke rumahmu, Li-moi."
"Dan bagaimana dengan kau, Enci Kim? Di mana kita akan bertemu hari Sin-cia nanti?"
"Aku setuju dengan pendapat Gak-toako. Aku pun akan berkunjung ke rumahmu pada hari Sin-cia, Li-moi."
"Bagus! Aku akan menanti kunjungan kalian dengan hati gembira. Ayah dan ibu juga tentu akan bergembira sekali bila menerima kunjungan kalian. Nah, sekarang kita berangkat!"
Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamit kepada Lurah So sekeluarga, kemudian meninggalkan rumah dan dusun itu.
Setelah tiba di perempat jalan, mereka berpisah.
Sian Li menuju ke utara, Ciang Hun ke selatan dan Bi Kim ke timur.
Gadis itu duduk di bawah pohon, agak jauh dari jalan raya dan tidak nampak dari jalan karena tempat itu agak tertutup oleh hutan kecil yang berada di luar tembok kota raja.
Gadis yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun itu anggun dan cantik jelita.
Pakaiannya indah dan rambutnya digelung tinggi dan dihias tiara kecil.
Melihat pakaiannya pantasnya ia seorang puteri bangsawan yang kaya raya.
Namun sungguh aneh, ia berada seorang diri di tempat sunyi itu, bahkan lebih aneh lagi, ia duduk termenung dengan air mata mengalir menuruni kedua pipinya.
Kalau orang mengetahui sikap gadis itu, dia tentu dan semakin terheran-heran.
Gadis itu adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang ketika itu disebut Sang Puteri atau Nona Dewi.
Oleh semua anggauta Pao-beng-pai dan bahkan di dunia kang-ouw, ia dikenal sebagai puteri ketua Pao-beng-pai Siangkoan Kok, dan nama gadis itu adalah Siangkoan Eng atau biasa dipanggil ayah ibunya Eng Eng saja.
Akan tetapi, telah terjadi peristiwa hebat yang mendatangkan perubahan besar dan yang membuat Eng Eng kini duduk termenung di bawah pohon itu sambil mencucurkan air mata!
Padahal, dahulu sebagai puteri ketua Pao-beng-pai ia dikenal sebagai seorang wanita perkasa yang dingin dan keras, belum pernah menangis!
Kalau orang yang pernah mengenalnya melihat ia kini duduk menangis, tentu orang itu akan merasa terkejut dan heran bukan main.
Bagaimana ia tidak akan menangis?
Setabah-tabahnya, sekeras-keras hatinya, saat itu Eng Eng dilanda perasaan yang hancur lebur.
Ia berduka, kecewa, penuh penasaran dan dendam.
Karena membebaskan Yo Han dan Cia Sun, ia hampir dibunuh ayahnya.
Kemudian ayahnya menyakiti hati ibunya dengan memaksa Tio Sui Lan, murid ayahnya dan sahabat baiknya, menjadi isteri pengganti ibunya.
Sui Lan diperkosa ayahnya tanpa ia dan ibunya dapat berbuat sesuatu!
Dan setelah ia terluka parah oleh pukulan ayahnya, terjadi hal yang lebih hebat lagi, yaitu ibunya membuka rahasia bahwa ayahnya itu, Siangkoan Kok, sebetulnya hanyalah ayah tirinya!
Dan ketika ia bertanya kepada ibunya, siapa ayah kandungnya, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa ibunya itu amat membenci ayah kandungnya.
Semua peristiwa itu membuat ia merasa sedih bukan main.
Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri, ternyata orang lain dan amat kejam terhadap ibunya dan terhadap dirinya sendiri.
Kemudian, ibunya malah amat membenci ayah kandungnya dan tidak mau memberitahukan siapa nama ayah kandungnya, masih hidup ataukah sudah mati.
Semua ini menghancurkan hatinya dan ia pun malam itu juga melarikan diri dari rumah, meninggalkan Pao-beng-pai dan bersembunyi di sebuah gua yang banyak terdapat di Ban-kwi-kok.
Di Lembah Selaksa Setan ini terdapat gua-gua besar yang ditakuti orang, yang menurut tahyul dijadikan tempat tinggal para setan dan iblis.
Karena itu, jangankan rakyat biasa, bahkan para anggauta Bankwi-kok sendiri jarang ada yang berani datang, apalagi bermalam di gua-gua itu.
Dalam kedukaannya, Eng Eng tidak mengenal takut.
Ia bersembunyi di sebuah gua dan setiap hari dan malam ia hanya duduk bersamadhi, menghimpun tenaga sakti untuk mengobati luka yang diderita akibat pukulan ayah tirinya!
Ayah tirinya amat jahat, hampir membunuhnya, memperkosa Sui Lan, dan menurut ibunya, ayah kandungnya juga amat jahat sehingga dibenci ibunya.
Dunia seperti hancur rasanya bagi Eng Eng.
Pada keesokan hatinya, selagi bersamadhi, ia mendengar suara ribut-ribut.
Agaknya terjadi pertempuran di Ban-kwi-kok!
Kalau saja ia tidak terluka, dan kalau saja ia belum bentrok dengan ayah tirinya, tentu ia akan membela Pao-beng-pai dengan taruhan nyawa.
Akan tetapi, sekali ini ia diam saja, tidak bergerak dan tetap duduk bersila.
Ia masih belum pulih, kalau ia bertempur melawan musuh yang agak tangguh saja, ia akan celaka.
Selain itu, ia tidak sudi membantu ayah tirinya lagi.
Bahkan hatinya condong untuk menentang dan melawan!
Kalau saja ia tidak ingat betapa sejak kecil ia dididik dan digembleng oleh ayah tirinya yang ia tahu sayang kepadanya, tentu sekarang ia sudah menganggap ayah tiri itu musuhnya!
Karena perasaan itu, ia pun diam saja dan tidak keluar dari dalam gua.
Akan tetapi setelah pertempuran itu berhenti, baru ia teringat akan ibunya!
Betapapun ia marah kepada ibunya yang mengatakan membenci ayah kandungnya, tetap saja kini ia mengkhawatirkan ibunya.
Ayah kandungnya sakti, juga ibunya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga mereka akan mampu membela diri dengan baik.
Akan tetapi, ia tidak tahu siapa yang melakukan penyerbuan ke Pao-beng-pai dan ia harus melihat bagaimana keadaan ibunya, agar hatinya lega.
Karena keadaan amat sunyi, ia pun keluar dari dalam gua dan pergi ke sarang Pao-beng-pai.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat para anggauta Pao-beng-pai banyak yang tewas, sisanya entah lari ke mana.
Yang lebih mengejutkan hatinya lagi adalah ketika ia menemukan mayat ibunya dan mayat Sui Lan!
Ia menubruk dan menangisi mayat ibunya.
Ketika dua orang anggauta Pao-beng-pai yang melihat munculnya nona mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, Eng Eng bertanya apa yang telah terjadi.
Dua orang anggauta Pao-beng-pai lalu bercerita bahwa pasukan pemerintah datang menyerbu Pao-beng-pai.
Tanpa bertanya lagi Eng Eng dengan sendirinya menganggap bahwa Sui Lan dan ibunya tewas di tangan para penyerbu!
"Dan di mana Pangcu (Ketua)?"
Ia tidak mau menyebut ayah.
"Kami tidak tahu, Nona. Melihat bahwa tidak ada jenazah Pangcu di sini, tentu beliau telah berhasil menyelamatkan diri."
"Bagaimana pasukan pemerintah mampu naik ke tempat ini melalui semua jebakan rahasia?"
Tanyanya penasaran.
"Kami melihat bayangan Cia Ceng Sun yang pernah menjadi tawanan di sini, Nona. Tentu dia yang menjadi penunjuk jalan."
Eng Eng terkejut, bangkit berdiri dan dengan muka pucat ia mengepal tinju, hatinya berteriak memaki Cia Sun.
Tahulah ia.
Tentu pangeran Mancu itu yang telah membawa pasukan datang menyerbu!
Pangeran itu tentu dahulu datang sebagai mata-mata.
Laki-laki berhati palsu!
Kelak aku akan membuat perhitungan denganmu, geramnya dalam hati.
Dibantu dua orang anggauta Pao-beng-pai itu, Eng Eng lalu mengubur jenazah ibunya dan Sui Lan, di lereng sebuah bukit yang bersih.
Demikianlah, kini ia berada di luar kota raja, bersembunyi di hutan itu dan menangis.
Ia bukan seorang wanita cengeng yang menangisi kematian ibunya berulang kali.
Sudah cukup ia menangisi di depan jenazah dan di depan makam sederhana ibunya.
Kini ia mencucurkan air mata bukan karena teringat kematian ibunya.
Ia menangis karena teringat akan Cia Sun!
Ia akan mencari, menangkap dan menyiksa, membunuh Cia Sun!
Akan tetapi, sukar membayangkan bagaimana ia akan dapat melakukan itu.
Ia amat mencinta pangeran itu!
Mengenangkan sikap manis dan mesra pangeran itu, bagaimana mungkin tangan ini akan mampu melukainya, menyakitinya, apalagi membunuhnya?
Inilah yang membuat ia bercucuran air mata menangis!
Senja datang dan suasana semakin sepi.
Eng Eng mengepal kedua tangannya.
"Eng Eng! Lemah!"
Ia memaki diri sendiri.
Bagaimanapun juga, dia adalah musuh besar.
Dialah yang menyebabkan Pao-beng-pai runtuh dan terbasmi, bahkan dia pula yang menyebabkan ibuku tewas!
Aku bukan membalas dendam untuk Pao-beng-pai, bukan pula membalas dendam untuk Siangkoan Kok, melainkan ia harus membalas dendamnya atas kematian Sui Lan dan ibunya, terutama ibunya.
Pangeran Cia Sun harus membayar lunas hutangnya!
Setelah menghapus air mata dan mengeraskan hatinya, Eng Eng memasuki pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Karena Ia kelihatan seperti seorang gadis bangsawan atau hartawan, tidak membawa senjata karena senjata istimewanya, Yaitu sebatang hud-tim (kebutan) terselip di pinggang, di balik baju, maka para penjaga di pintu gerbang hanya memandang kagum, tidak mengganggunya.
Malam itu gelap.
Udara mendung.
Gelap dan dingin karena angin malam meniupkan hawa yang lembab.
Karena gelap dan dingin, orang-orang lebih suka tinggal di dalam rumah yang lebih hangat dibandingkan hawa di luar.
Apalagi di rumah kaum bangsawan dan hartawan, di mana terdapat perapian yang mendatangkan hawa hangat.
Kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, tidak ada yang mau meninggalkan rumah.
Jalan-jalan raya juga sepi dari lalu lintas.Kesepian itu membantu Eng Eng yang sudah mengenakan pakaian serba hitam.
Rambutnya digelung dan diikat ke belakang, tidak disanggul rapi seperti biasa, juga tidak dihias tiara.
Pakaiannya yang serba hitam dan ringkas itu membuat gerakannya yang cepat sukar diikuti pandang mata.
Senjata kebutan berbulu merah dan bergagang emas terselip di pinggang depan, dengan bulunya digulung rapi, sedangkan pedang beronce merah tergantung di punggung.
Sekuntum jarum hitam juga tergantung di pinggang.
Eng Eng kini membekali diri dengan senjata lengkap karena ia hendak menangkap Pangeran Cia Sun di rumah gedung keluarga pangeran itu.
Sore tadi setelah memasuki kota raja, ia telah melakukan penyelidikan dan tidak sukar untuk mendapat keterangan tentang rumah tinggal Pangeran Cia Sun.
Sebuah gedung besar dan megah berdiri di sudut kanan kota raja.
Itulah tempat tinggal Pangeran Cia Sun dengan keluarga ayahnya, yaitu Pangeran Cia Yan seorang di antara putera-putera Kaisar Kian Liong (1736 -1796).
Seperti kita ketahui, biarpun secara resmi Pangeran Cia Yan adalah anak angkat Kaisar Kian Liong, yaitu seorang keponakan yang diangkat menjadi putera, namun sesungguhnya, Pangeran Cia Yan adalah putera kaisar itu sendiri, hasil hubungan gelapnya dengan kakak iparnya.
Karena itu, biarpun resminya pangeran akuan, atau anak angkat, namun Kaisar Kian Liong menyayangnya seperti anak sendiri.
Pangeran Cia Yan tidak dapat diangkat menjadi putera mahkota, namun dia merupakan seorang di antara para pangeran yang disayang kaisar.
Malam itu, di sekitar gedung milik Pangeran Cia Yan juga sunyi.
Karena dia sendiri tidak memegang jabatan penting, juga tidak merasa mempunyai musuh, maka gedung tempat tinggal keluarga Pangeran Cia Yan ini tidaklah dijaga ketat seperti tempat kediaman para pangeran lainnya.
Hanya ada enam orang yang berjaga malam dan melakukan perondaan di sekitar gedung besar itu untuk menjaga keamanan.
Tentu saja amat mudah bagi Eng Eng untuk menyusup masuk dengan melompati pagar tembok tanpa diketahui para penjaga.
Ia melompat pagar tembok belakang dan masuk ke taman bunga yang terpelihara rapi.
Sambil menyelinap di antara pohon dan semak bunga, ia menghampiri bangunan besar dan beberapa menit kemudian, ia sudah dapat meloncat ke atas genteng dan melakukan pengintalan dari atas.
Lampu-lampu di luar genteng sudah banyak yang dipadamkan sehingga gerakan Eng Eng tidak dapat terlihat ketika ia berkelebatan di atas genteng.
Dengan cara mengintai dari atas, akhirnya ia mendengar percakapan di bawah yang dilakukan dengan suara keras.
Jantungnya berdebar tegang ketika ia mendengar suara Pangeran Cia Sun!
Suara yang lembut namun kuat.
"Ayah dan Ibu, sekali lagi saya mohon maaf, bukan sekali-kali saya ingin memban-tah dan tidak menaati perintah Ayah dan Ibu. Bukan sekali-kali saya menolak karena menganggap pilihan Ayah dan Ibu kurang baik untuk saya. Sama sekali tidak! Saya telah mendengar tentang Si Bangau Merah, mendengar bahwa ia seorang pendekar wanita yang ber-kepandaian tinggi, berwatak gagah perkasa dan berbudi baik, juga ia cantik jelita, keturunan keluarga pendekar sakti yang terkenal."
"Nah, mau apa lagi? Engkau sendiri bilang, ia keturunan pendekar besar, ia gagah perkasa, berbudi baik dan cantik jelita. Apakah semua itu belum memenuhi syarat bagimu untuk menjadi isterimu?"
Terdengar suara Pangeran Cia Yan, ayah pemuda itu, membentak.
"Benar sekali kata Ayahmu, anakku. Selain gadis itu amat baik bagimu, juga kami telah mengikat janji dengan orang tuanya, yaitu Pendekar Bangau Putih dan isterinya. Masih kurang apakah Si Bangau Merah itu, anakku?"
Kalau tadinya Eng Eng yang mendengar semua itu sudah merasa gemas dan ingin segera menangkap orang yang menyebabkan kehancuran Pao-beng-pai dan terutama kematian ibunya, Kini mendengar apa yang dipercakapkan, dia tertarik sekali dan ingin ia mendengar apa yang akan dikatakan pangeran itu ten-tang ikatan jodoh.
Ia sendiri tentu saja tadinya mencinta pangeran itu dan mengharapkan menjadi isterinya, dan tentu ia akan marah sekali kalau mendengar pangeran itu akan menikah dengan orang lain.
Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda.
Ia tidak mungkin menjadi isteri Cia Sun, dan tidak semestinya mencintanya, bahkan sepatutnya membencinya karena pria yang tadinya menjadi kekasihnya itu sekarang telah menjadi musuh besarnya.
Biarpun ia tidak peduli lagi apakah pangeran itu akan menikah dengan gadis lain ataukah tidak, tetap saja ia tidak dapat membohongi hatinya sendiri.
Ia ingin sekali mengetahui apa jawaban pangeran itu dan bagaimana isi hatinya!
Maka, ia pun mendengarkan dengan jantung berdebar tegang.
"Sebagai seorang gadis, memang harus saya akui bahwa Si Bangau Merah itu baik dan tidak ada kekurangannya, Ayah dan Ibu. Akan tetapi untuk menjadi isteriku, ia memiliki kekurangan besar sekali artinya, yaitu ia tidak memiliki cinta! Saya tidak mencintanya dan ia pun tidak mencintaku. Dan saya hanya mau menikah dengan gadis yang saya cinta!"
Eng Eng merasa betapa kedua kakinya gemetar dan ia mengerahkan tenaga untuk melawannya karena ia tidak ingin gerakan tubuhnya terdengar orang.
Ucapan pangeran itu terasa begitu nyaman di hatinya, seolah-olah hatinya dibelai oleh tangan yang lembut.
Dia musuh besarku, aku benci dia, demikian dengan pengerahan tenaga Eng Eng melawan perasaan hatinya sendiri dan mendengarkan terus.
"Omong kosong!"
Kata sang ayah.
"Kalau kalian sudah saling bertemu dan saling bergaul, cinta itu akan datang dengan sendirinya. Ia cantik dan engkau tampan, kalian sama-sama suka ilmu silat, kalau kalian saling bergaul, pasti kalian akan saling jatuh cinta."
"Itu mungkin saja kalau saya belum jatuh cinta kepada orang lain, Ayah. Akan tetapi saya telah mencinta seorang gadis lain, dan saya hanya mau menikah dengan gadis yang saya cinta itu."
Kini kedua kaki Eng Eng menggigil dan hampir saja ia tak mampu bertahan lagi.
Ia memejamkan mata, menahan napas dan dengan susah payah baru berhasil menguasai jantungnya yang melonjak-lonjak mendengar pengakuan itu.
"Dia musuhku, aku benci padanya, dia musuhku!"
Demikian berulang-ulang ia melawan gejolak hatinya sendiri, dan ia mendengarkan terus.
"Kalau engkau jatuh cinta kepada gadis lain, hal itu pun tidak menjadi persoalan. Engkau menikah dengan Si Bangau Merah, dan gadis yang kau cinta itu menjadi selirmu...."
Kata sang ibu.
"Maaf, Ibu. Saya tidak mau mempunyai selir!"
"Hemmm, apa salahnya dengan itu?"
Bantah ayahnya.
"Engkau seorang pangeran, sudah sepatutnya mempunyai selir. Semua pangeran di sini mempunyai selir, tidak hanya seorang malah."
"Akan tetapi saya tidak, Ayah. Saya hanya mencinta gadis itu, dan saya tidak mau menikah dengan wanita lain."
Pangeran itu berkeras.
"Aihhh, engkau keras kepala, Cia Sun. Siapa sih gadis yang telah menjatuhkan hatimu seperti ini? Siapa namanya?"
Tanya sang ibu.
Di atas genteng, di luar kehendaknya sendiri, Eng Eng menerawang dan matanya setengah terpejam, mulutnya tersenyum simpul, hatinya senang sekali.
Semua ucapan pangeran itu terdengar olehnya bagaikan sebuah lagu yang amat merdu.
Dan ia mendengarkan terus, siap untuk memperkembangkan senyumnya mendengar ibu pangeran itu menanyakan namanya!
"Ibu, gadis yang saya cinta itu, yang saya pilih untuk menjadi calon isteri saya, ia she (bermarga) Sim dan namanya Hui Eng...."
Terdengar gerakan di atas genting, Cia Sun mendengar suara itu akan tetapi dia mengira itu suara kucing.
Ketika mendengar disebutnya nama itu, seketika wajah yang tadinya tersenyum itu menjadi pucat, senyumnya berubah menjadi ternganga, matanya terbelalak.
Kemudian wajah yang pucat itu berubah kemerahan dan kedua tangannya dikepal.
"Jahanam keparat kau!"
Bentaknya di dalam hatinya dan kini kebenciannya terhadap Cia Sun memuncak.
"Engkau membohongi aku, engkau merayu dan menipuku!"
Sekarang ia mengerti.
Cia Sun telah menyelundup ke dalam Pao-beng-pai, untuk menyelidiki keadaan perkumpulan, itu, dan ketika orang mulai mencurigainya, dengan ketampanan dan kehalusan budinya, pangeran itu merayunya dan menjatuhkan hatinya.
Semua itu palsu!
Semua itu hanya untuk berhasil dalam tugasnya sebagai mata-mata.
Pangeran itu telah mempunyai seorang kekasih yang akan dijadikan isterinya.
Namanya Sim Hui Eng!
Keparat!
dan dia masih berani berpura-pura meminangku!
"Jahanam kau!"
Eng Eng tidak dapat menahan lagi kemarahan-nya dan beberapa kali loncatan membuat ia berada di luar jendela ruangan di mana pangeran dan ayah ibunya bercakap-cakap.
Ia mengerahkan tenaga dan menerjang daun jendela.
"Brakkk....!"
Daun jendela pecah berantakan dan Eng Eng sudah berdiri di depan pangeran itu yang terbelalak memandang kepadanya.
"Kau....!"
Seru Cia Sun, akan tetapi pada saat itu, dari jarak dekat, selagi pangeran itu tertegun karena sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dalam keadaan seperti itu dengan kekasihnya.
Eng Eng menggerakkan tangan kirinya dan dua batang jarum hitam menyambar cepat, mengenai kedua pundak Cia Sun.
"Ahhhhh....!"
Pemuda itu mengeluh dan roboh terpelanting.
Sebelum tubuhnya terbanting, dengan cepat Eng Eng sudah menggerakkan tubuhnya, lengan kirinya mengempit tubuh Cia Sun yang terkulai lemas dan sekali meloncat, dia sudah keluar dari rongga jendela yang berlubang.
Suami isteri yang tadinya terbelalak itu, baru sempat berteriak-teriak melihat betapa putera mereka diculik seorang wanita yang cantik dan berpakaian serba hitam.
"Tolong....! Pangeran diculik....!"
Teriak isteri Pangeran Cia Yan.
"Tangkap penculik! Tangkap penjahat!"
Pangeran Cia Yan juga berteriak-teriak.
Suami isteri itu mencoba untuk mengejar lewat pintu.
Akan tetapi, dua orang penjaga yang mencoba untuk menghalangi bayangan hitam yang mengempit tubuh Pangeran Cia Sun, roboh oleh tendangan Eng Eng dan gadis itu pun menghilang dalam kegelapan malam.
Karena malam itu sunyi, gelap dan dingin, maka tidak sukar bagi Eng Ehg untuk melarikan Cia Sun dari rumahnya.
Sejenak pemuda itu sendiri tertegun dan bingung.
Kedua pundaknya terasa panas sekali dan tubuhnya lemas.
Akan tetapi dia menahan rasa nyeri itu dan setelah gadis itu tidak berlari lagi, dia berkata dengan heran.
"Bukankah engkau Eng-moi? Eng-moi, kenapa kau lakukan ini kepadaku?"
Eng Eng diam saja, tidak menjawab, ia sedang memikirkan bagaimana dapat membawa pangeran ini keluar dari kota raja.
Sebentar lagi, kota raja tentu akan penuh dengan pasukan yang melakukan pengejaran dan pencarian.
Untuk keluar begitu saja dari pintu gerbang sambil mengempit tubuh Pangeran Cia-Sun, tentu me-nimbulkan kecurigaan dan ia akan segera dikepung perajurit.
Sementara itu, Pangeran Cia Sun berpkir, apa yang membuat orang yang dicintainya dan yang dia tahu juga mencintanya kini bersikap seperti ini, bahkan tega untuk melukainya dan menculiknya.
Dan dia pun teringat.
Ketika terjadi penyerbuan ke Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah, dia pun nampak di antara para penyerbu.
Tentu Eng Eng mengira bahwa dia yang membawa pasukan itu melakukan penyerbuan.
"Eng-moi, engkau hendak membalas dendam atas penyerbuan ke Pao-beng-pai? Eng-moi, bukan.... bukan aku yang melakukan. Engkau salah duga. Mari kita bicara baik-baik dan kau dengarkan semua keteranganku."
Mendengar ucapan ini, Eng Eng mendapatkan akal untuk dapat membawa keluar pangeran ini dari kota raja tanpa kesulitan.
Ia harus dapat membawa pangeran ini keluar.
Ia akan menyiksanya, memaksanya mengakui dosanya dan ia akan membunuh pangeran ini di depan makam ibunya!
"Aku memang ingin bicara denganmu, di luar kota raja.
Kalau engkau membawaku keluar dari pintu gerbang, aku mau bicara denganmu di sana.
Kalau tidak, aku akan membunuhmu di sini juga tanpa banyak cakap lagi."
Cia Sun bergidik.
Dia tidak takut mati.
Biarpun dia seorang pangeran, namun dia berjiwa pendekar dan kematian bukan sesuatu yang menakutkan baginya.
Yang membuat dia merasa ngeri adalah sikap dan suara gadis yang dicintanya itu.
Begitu tidak wajar, begitu dingin dan penuh ancaman maut!
Dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu sedang dibakar api dendam dan kebencian.
"Baiklah, Eng-moi. Bebaskan totokanmu dan hentikan kenyerian ini agar tidak ada orang curiga. Aku akan mencari dua ekor kuda untuk kita."
"Jangan mengira engkau akan dapat lari dariku, sebelum kau lari, aku akan membunuhnya!"
Kata Eng Eng, kemudian dia memberi sebuah pil merah untuk ditelan oleh Cia Sun setelah ia membebaskan totokannya.
Setelah menelan pil itu, Cia Sun tidak begitu menderita lagi.
Kebetulan ada serombongan penjaga keamanan kota terdiri dari enam orang menunggang kuda datang dari depan.
Cia Sun cepat memberi isyarat kepada rombongan berkuda.
Ketika mereka telah dekat dan melihat siapa yang menahan mereka, enam orang itu terkejut, turun dari atas kuda dan memberi hormat kepada Pangeran Cia Sun.
"Kami membutuhkan dua ekor kuda, berikan dua ekor yang terbaik,"
Kata pangeran itu.
Enam orang itu tergopoh memilihkan dua ekor kuda dan Cia Sun segera mengajak Eng Eng untuk menunggang kuda dan segera melarikan kuda ke pintu gerbang selatan seperti dikehendaki Eng Eng.
Sejam kemudian, kota raja geger karena Pangeran Cia Yan minta bantuan pasukan keamanan untuk menangkap penculik yang melarikan Pangeran Cia Sun.
Terjadilah geger dan kekacauan, apalagi ketika ada perajurit yang melapor bahwa Pangeran Cia Sun tidak diculik, melainkan pergi dengan suka rela bersama seorang yang berpakaian hitam, bahkan pangeran itu sendiri yang minta dua ekor kuda kepada rombongan perajurit dan menunggang kuda keluar dari pintu gerbang selatan.
Tentu saja berita ini membuat para perwira yang memimpin pengejaran itu menjadi bingung dan ragu.
Bagaimana kalau Pangeran Cia Sun tidak diculik melainkan pergi dengan suka rela?
Tentu pangeran itu akan marah kalau pasukan melakukan pengejaran.
Karena kebingungan inilah maka pengejaran dilakukan setengah hati, dan andaikata mereka dapat bertemu Pangeran Cia Sun, tentu mereka tidak akan berani lancang menangkap gadis berpakaian hitam seperti diperintahkan Pangeran Cia Yan.
Mereka tentu akan melihat bagaimana sikap Pangeran Muda Cia Sun.
Karena memang sudah merencanakan lebih dahulu, tanpa ragu-ragu Eng Eng mengajak pangeran itu memasuki hutan kecil di mana tadi ia menangis, dan mereka lalu turun dari atas kuda, menambatkan kuda dan membiarkan dua ekor kuda itu makan rumput.
Karena tubuhnya masih terasa sakit akibat tusukan dua batang jarum di pundaknya, jarum-jarum hitam yang mengandung racun, Cia Sun lalu menjatuhkan diri di atas rumput, memandang kepada gadis itu yang berdiri memandangnya dengan sinar mata yang bernyala-nyala.
Biarpun tempat itu gelap, namun Cia Sun seolah-olah dapat melihat sepasang mata yang memandang marah itu.
Malam masih amat dingin, akan tetapi mendung telah tersapu angin dan langit kini nampak bersih dengan sinar bulan sepotong sehingga mereka dapat saling melihat, walaupun hanya remang-remang.
"Nah, katakanlah. Eng-moi, apa artinya semua ini? Benarkah dugaanku tadi bahwa engkau marah kepadaku karena mengira aku yang memimpin pasukan menyerbu Pao-beng-pai?"
Sejak tadi Eng Eng menahan kemarahannya terutama kemarahan karena mendengar percakapan antara pangeran itu dan orang tuanya tadi.
Kini, kemarahannya meledak!
"Engkau manusia paling busuk di dunia!
Engkau manusia palsu, jahanam keparat yang berbudi rendah!"
"Silakan memaki dan mencaci, bahkan engkau boleh saja membunuhku, Eng-moi, akan tetapi, setidaknya jelaskan dulu mengapa engkau begini marah kepadaku, agar andaikata engkau membunuhku, aku tidak akan mati penasaran.
"Huh, tidak perlu engkau merayuku lagi dengan omonganmu yang seperti madu berbisa! Engkaulah yang membuat banyak orang mati penasaran, termasuk ibuku dan Tio Sui Lan! Engkau menyamar, menyelundup ke Pao-beng-pai untuk memata-matai Pao-beng-pai. Engkau bahkan merayuku sehingga aku terbujuk dan membebaskanmu, mengkhianati Pao-beng-pai sendiri. Ternyata engkau hanya palsu, engkau mempermainkan aku, engkau memimpin pasukan membasmi Pao-beng-pai, membunuhi keluargaku! Engkau sungguh keji, kejam dan curang!"
Suara Eng Eng terkandung isak tangis.
"Hemmm, kalau begitu tepat dugaanku. Engkau marah kepadaku karena mengira aku yang memimpin pasukan menyerbu Pao-beng-pai. Semua itu tidak benar, Eng-moi! Aku tidak memimpin pasukan itu! Baru sebentar aku pergi, bagaimana aku dapat mengumpulkan pasukan besar untuk menyerbu Pao-beng-pai? Tidak, aku tidak mengerahkan pasukan itu. Aku mendengar bahwa ada pasukan yang pergi menyerbu Pao-beng-pai, karena tempatnya sudah diketahui. Ketika Pao-beng-pai mengadakan pertemuan itu, di antara para tamu terdapat orang-orang yang menentang dan merekalah yang memberi laporan kepada pemerintah. Panglima Ciong yang memimpin pasukan itu menyerbu, dan aku menyusul cepat untuk menyelamatkan engkau dan ibumu."
"Omong kosong! Rayuan gombal! Siapa dapat percaya? Kalau bukan engkau yang menjadi penunjuk jalan, bagaimana mungkin pasukan dapat naik ke Lembah Selaksa Setan, dapat melampaui semua jebakan dan membasmi Pao-beng-pai? Tidak perlu engkau mencoba untuk membohongi aku lagi!"
Saking marahnya, tubuh Eng Eng bergerak, tangannya menyambar ke arah dada Cia Sun.
"Bukkk!"
Pukulan tangan terbuka itu keras sekali dan tubuh Cia Sun terjengkang dan terguling-guling.
Eng Eng mengejar dan kembali tangannya menampar ke arah kepala orang yang sudah rebah di atas tanah itu.
Akan tetapi tangan itu tertahan di udara, tidak jadi memukul.
Cia Sun terbatuk-batuk, dadanya terasa sesak.
Akan tetapi dia masih tersenyum ketika mengangkat kepala memandang.
"Kenapa tidak kau lanjutkan, Eng-moi? Pukullah, hajar dan siksalah aku, bunuhlah kalau hal itu akan dapat meredakan kemarahanmu."
"Kenapa.... kenapa engkau tidak melawan? Tidak mengelak atau menangkis? bentaknya.
"Untuk apa? Aku rela mati di tanganmu kalau engkau menghen-daki itu, Eng-moi. Hanya kuminta, sebelum engkau membunuhku, dengarlah dulu keteranganku...."
"Huh, keterangan bohong! Penuh tipuan!"
"Andaikata benar aku berbohong se-kalipun, kumohon pada-mu, dengarlah kebohonganku sebelum engkau membunuhku. Setelah aku memberi keterangan, nah, engkau boleh percaya atau tidak, boleh membunuhku atau tidak, terserah."
"Bohong! Kau penipu! Ah, untuk kebohongan itu saja, aku dapat membunuhmu seratus kali!"
Dan kini Eng Eng menampar lagi, menendang dan menampar lagi sampai Cia Sun terguling-guling dan tidak mampu bergerak lagi.
Pingsan!
Ketika Eng Eng hendak memberi pukulan terakhir, ia teringat akan niat semula, yaitu membu-nuh pemuda itu di depan makam ibunya, maka ia pun menahan diri.
"Biar aku bersabar sampai besok. Engkau akan mampus di depan makam ibuku, bedebah!"
Katanya dan ia pun duduk dibawah pohon, bersamadhi.
Akan tetapi, samadhinya tidak pernah berhasil.
Ia bahkan gelisah dan beberapa kali mendekati Cia Sun, untuk mendapat kepastian bahwa pemuda itu belum tewas.
Malam terganti pagi.
Pagi yang amat indah.
Sinar matahari pagi agaknya mengusir semua kegelapan, kegelapah alam yang berpengaruh terhadap keadaan hati.
Sinar matahari mendatangkan kehidupan.
Burung-burung berki-cauan dan sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja.
Ayam jantan berkeruyuk saling saut.
Semua nampak cerah gembira, bahkan daun-daun nampak berseri.
Seluruh mahluk seolah-olah menyambut munculnya sinar kehidupan dengan puja-puji kepada Yang Maha Kasih.
Sang Maha Pencipta, melalui suara, melalui keharuman, melalui keindahan.
Keharuman rumput dan tanah basah, daun dan bunga, keharuman udara itu sendiri.
Eng Eng juga terpengaruh oleh semua keindahan itu.
Hatinya terasa ringan dan perasaan marahnya tidak terasa lagi olehnya.
Namun, ketika ia menengok ke arah Pangeran Cia Sun, ia teringat segalanya dan ia pun bangkit menghampiri.
Cia Sun sudah siuman, namun seluruh tubuhnya terasa nyeri.
Melihat gadis itu menghampiri, dia pun bangkit duduk, memandang kepada gadis itu dengan senyum sedih!
Senyum itu seperti pisau menusuk kalbu bagi Eng Eng.
"Eng-moi, kenapa kepalang tanggung? Kenapa engkau tidak membunuh aku semalam?"
Tanya Cia Sun.
Eng Eng hampir tidak percaya.
Pemuda bangsawan ini masih bersikap demikian manis kepadanya.
Bukan, bukan sikap yang terdorong rasa takut, melainkan sikap yang demikian wajar.
Masih tersenyum, dan pandang mata kepadanya itu demikian lembut dan mesra, jelas nampak sinar kasih sayang di dalamnya.
Padahal, ia sudah menyiksa-nya sampai pingsan, nyaris membunuhnya!
"Aku akan membunuhmu di depan makam ibuku!"
Katanya singkat.
"Eng-moi, arwah ibumu akan berduka kalau engkau melakukan itu. Aku bukan pembunuh ibumu, aku bahkan berusaha menyelamatkannya, dan ia meninggal dunia di dalam rangkulanku"
"Bohong!!"
"Eng-moi, untuk apa aku berbohong? Aku tidak takut mati, bahkan aku tidak akan penasaran mati di tanganmu. Aku hanya tidak ingin melihat engkau salah tindakan dan menyesal di kemudian hari, aku hanya ingin agar engkau mengetahui dengan betul siapa sebenarnya dirimu. Aku telah mengetahui rahasia besar mengenai dirimu, Eng-moi, dan aku akan menceritakan semua, kalau engkau bersedia mendengarkan. Memang semua akan kedengaran amat aneh bagimu, dan mungkin engkau akan menganggap aku berbohong, akan tetapi demi Tuhan, aku tidak berbohong."
Agaknya sinar matahari memang berpengaruh besar terhadap hati manusia, setidaknya terhadap Eng Eng.
Gadis itu merasa agak tenang dan ia dapat melihat kenyataan bahwa tidak ada ruginya mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh pemuda itu.
Bohong atau tidak, pemuda itu memang berhak untuk membela diri.
Dan melihat wajah yang tampan dan yang tadinya amat disayangnya itu agak bengkak-bengkak oleh tamparannya semalam, timbul juga perasaan iba di dalam hatinya.
"Bicaralah, aku tetap tidak akan percaya padamu."
Katanya dengan sikap ketus yang dipaksakan.
Ia bahkan tidak menatap langsung wajah yang bengkak-bengkak itu, karena ia merasa tidak enak, mengingatkan ia betapa ia telah bertindak kejam terhadap satu-satunya pria di dunia ini yang dicintanya.
Lega rasa hati Cia Sun, dia sama sekali tidak akan menyesal kalau dia dibunuh wanita yang dicintanya ini, hanya dia akan merasa menyesal karena perbuatan itu merupakan suatu perbuatan yang berdosa bagi Eng Eng.
Dia tidak ingin melihat kekasihnya ini menjadi seorang yang jahat.
"Eng-moi, setelah engkau membebaskan aku, aku lalu cepat pulang ke kota raja. Akan tetapi, setelah tiba di sana, aku mendengar bahwa Panglima Ciong memimpin pasukan untuk menyerbu Pao-beng-pai. Aku terkejut dan cepat aku kembali lagi ke sana untuk menyusul pasukan itu karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu dan keselamatan ibumu. Namun aku terlambat. Setelah tiba di Ban-kwi-kok, pasukan telah menyerbu ke perkampungan Pao-beng-pai...."
"Tanpa penunjuk jalan, tidak mungkin pasukan akan mudah memasuki daerah Pao-beng-pai yang dipasangi banyak jebakan rahasia!"
Eng Eng memotong dan kini sepasang matanya mengamati wajah pemuda itu penuh selidik dan hatinya menuduh bahwa tentu pemuda itu yang menjadi penunjuk jalan.
"Dugaanmu memang benar, Eng-moi. Hal ini pun kuketahui kemudian dari para perwira yang memimpin penyerbuan itu. Ada memang penunjuk jalan yang memungkinkan pasukan itu dapat menyerbu dengan mudah...."
"Engkaulah penunjuk jalan itu!"
Bentak Eng Eng. Cia Sun tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Bukan, Eng-moi, bukan aku. Penunjuk jalan itu adalah seorang gadis, murid Pao-beng-pai sendiri, bernama Tio Sui Lan...."
"Bohong tidak mungkin....!"
Teriak Eng Eng, akan tetapi teriakan mulutnya ini tidak sesuai dengan perasaan hatinya yang menjadi bimbang.
Setelah apa yang dilakukan Siangkoan Kok kepada Sui Lan, memaksanya menjadi isteri dan memperkosanya, bukan hal yang tidak mungkin kalau Sui Lan lalu berkhianat.
Dan pula, Sui Lan tentu saja mengenal semua jalan rahasia naik ke sarang Pao-beng-pai, sedangkan Cia Sun tidak akan mengetahui banyak tentang jebakan-jebakan itu.
Kalau Sui Lan yang menjadi penunjuk jalan, tentu saja pasukan itu akan menyerbu naik dengan mudah.
"Terserah kepadamu, Eng-moi, untuk percaya atau tidak. Aku hanya mendengar keterangan para perwira. Ketika pasukan tiba di kaki bukit dan mulai mendaki, tiba-tiba muncul gadis itu yang kemudian menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Ketika pasukan menyerbu, Siangkoan Kok sedang berkelahi dengan isterinya dan ibumu sudah terdesak. Gadis yang mengkhianati gurunya itu lalu menyerang Siangkoan Kok, akan tetapi dengan mudah ia roboh dan tewas di tangan gurunya sendiri!"
"Tapi ibuku....! Tentu ia terbunuh oleh pasukan pemerintah!"
Kata Eng Eng, mulai tertarik karena apa yang diceritakan Cia Sun itu agaknya memang masuk akal.
Ia sudah melihat mayat Sui Lan dan luka yang mengakibatkan kematiannya memang luka beracun yang dikenalnya sebagai racun dari pedang Siangkoan Kok!
Dengan sikap tenang Cia Sun menggeleng kepala, kini senyumnya menghilang dan dia mengerutkan alisnya, mengenang kembali peristiwa menyedihkan itu.
"Sudah kuceritakan tadi, ketika pasukan menyerbu, aku cepat ikut di barisan depan karena aku ingin mencegah agar engkau dan ibumu tidak sampai ikut diserang. Ketika kami tiba di sana, kami melihat ibumu berkelahi dengan ayahmu dan ibumu roboh tertendang ayahmu. Aku cepat mencegah ketika pasukan hendak menyerang ibumu yang sudah roboh, dan memerintahkan mereka mengejar ayahmu yang melarikan diri. Aku lalu memondong tubuh ibumu yang pingsan dan ternyata ia telah menderita luka-luka parah, tentu ketika berkelahi melawan ayahmu."
Cia Sun berhenti sebentar untuk mengamati wajah Eng Eng dan melihat bagaimana tanggapan dan sikap gadis itu terhadap ceritanya.
"Terus, lalu bagaimana?"
Eng Eng mulai tertarik dan pada saat seperti itu, ia lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap Cia Sun.
"Kubawa ibumu ke dalam rumah dan kurebahkan di bangku panjang. Kucoba untuk merawatnya, akan tetapi sia-sia. Ibumu hanya siuman untuk bicara sedikit kepadaku, meninggalkan pesan-pesan dan akhirnya ia meninggal dunia dalam rangkulanku."
"Ibuku...., bagaimana aku dapat mempercayaimu? Engkau berbohong. Ketika engkau merayuku, engkau hanya pura-pura...."
"Tidak, Eng-moi. Langit dan Bumi menjadi saksi bahwa aku sungguh mencintamu, sejak pertama kali kita bertemu, sampai sekarang...."
"Bohong! Pendusta!"
Eng Eng marah kembali karena ia teringat akan percakapan antara pemuda ini dan orang tuanya, tentang pengakuan Cia Sun kepada ayah ibunya bahwa pemuda itu telah mencinta seorang gadis lain.
"Eng-moi, kenapa engkau tidak percaya kepadaku dan menuduhku berbohong?"
Cia Sun bertanya dan dia merasa kepalanya pening sekali, bumi seperti berputaran.
Itu adalah akibat racun dari jarum Eng Eng, juga karena dia mengalami tamparan-tamparan malam tadi.
Namun, dia mempertahankan diri agar tidak jatuh pingsan lagi.
Dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh permohonan.
Eng Eng melompat berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada pangeran itu dengan sinar mata membakar.
Makin diingat tentang percakapan keluarga pangeran itu, semakin panaslah hatinya.
"Bagaimana aku dapat percaya omongan perayu busuk macam engkau? Engkau telah mencinta seorang gadis lain dan masih engkau berani mengatakan bahwa engkau mencintaku?"
Biarpun kepalanya sudah pening sekali, akan tetapi mendengar ucapan itu, Cia Sun membelalakkan matanya dan berkata dengan suara mengandung penasaran.
"Sekali ini, engkau yang berbohong, Eng-moi! Aku tidak pernah dan tidak akan mencinta gadis lain kecuali engkau seorang!"
"Pendusta besar! Kedua telingaku sendiri mendengar pengakuanmu kepada ayah ibumu bahwa engkau mencinta gadis lain yang bernama Sim Hui Eng! Hayo sangkal kalau engkau berani! Kuhancurkan mulutmu kalau engkau berdusta!"
Cia Sun mencoba untuk tersenyum, akan tetapi karena rasa nyeri berdenyut-denyut di kepalanya,membuat kepala seperti akan pecah rasanya, senyumnya menjadi pahit sekali.
"Aku tidak berdusta, Eng-moi. Memang benarlah, aku mencinta Sim Hui Eng, sejak pertama kali jumpa sampai sekarang dan aku akan tetap mencintanya karena Sim Hui Eng adalah engkau sendiri, Eng-moi.... ahhh...."
Cia Sun tidak dapat menahan lagi rasa nyeri di dada dan kepalanya.
Dia pingsan lagi.
Dia tidak tahu betapa Eng Eng memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Sampai lama Eng Eng mengamati wajah Cia Sun, pandang matanya meragu.
Ia bernama Sim Hui Eng?
Apa pula artinya ini?
Benarkah semua yang diceritakan Cia Sun?
Ia harus tahu apa artinya semua itu.
Cia Sun mengaku kepada orang tuanya bahwa dia hanya mencinta gadis yang bernama Sim Hui Eng, dan kini dia menjelaskan bahwa Sim Hui Eng adalah ia sendiri!
Bagaimana pula ini?
Namanya seperti dikenal Cia Sun adalah Siangkoan Eng, kemudian karena ibunya membuka rahasia bahwa ia bukan puteri kandung Siangkoan Kok, ia pun tidak sudi lagi memakai nama keluarga Siangkoan, lebih memilih marga ibunya, yaitu Lauw.
Dan kini, tiba-tiba saja Pangeran Cia Sun mengatakan bahwa ia she Sim, dan nama lengkapnya Hui Eng!
Jangan-jangan pangeran ini tidak berbohong dan sudah mengenal ayah kan-dungnya.
Ayah kandungnya!
Ibunya amat membenci ayah kandungnya.
Benarkah ayah kandungnya she Sim?
Benarkah semua cerita Cia Sun?
Sayang bahwa pemuda ini keburu jatuh pingsan sehingga tidak dapat melanjutkan keterangannya.
Eng Eng berlutut di dekat tubuh Cia Sun.
Hatinya sempat berdegup ketika ia berada begitu dekat dengan pangeran itu, dan keharuan mulai menggigit perasaannya ketika ia melihat wajah yang tampan itu bengkak-bengkak.
Ia cepat mengeluarkan sebutir pil, lalu menggunakan bekal air minumnya untuk memasukkan pil itu ke dalam mulut Cia Sun yang dibukanya dengan penekanan kepada rahang pemuda itu.
Pil itu sukar ditelan maka terpaksa ia mendekatkan mulutnya dan meniup ke dalam mulut pemuda itu sehingga pil itu dapat tertelan karena ia telah menotok beberapa jalan darah, membuat pemuda itu hanya setengah pingsan.
Kemudian ia mengurut sana-sini, mengobati luka-luka memar itu dengan semacam obat gosok yang selalu dibawanya sebagai bekal.
Kemudian, ia menempelkan tangan kirinya ke dada pemuda itu, menyalurkan sin-kang untuk membantu pemuda itu terbebas dari luka sebelah dalam tubuhnya.
Akhirnya Cia Sun membuka matanya dan dia tersenyum melihat gadis itu bersimpuh di dekatnya dan menempelkan telapak tangan ke dadanya.
Terasa betapa lembutnya telapak tangan yang mengeluarkan hawa panas itu.
"Ah, Eng-moi, engkau masih mau mengobati dan menolongku? Terima kasih...."
Katanya lembut dan wajah yang kini hanya tinggal membiru karena bengkaknya sudah hilang itu tersenyum!
Senyum itulah yang menikam jantung Eng Eng.
Kalau pangeran itu marah-marah dan memaki-makinya, kiranya tidak akan sesakit itu hatinya.
Sejak ditangkapnya tadi, sampai disiksanya, pangeran itu tidak pernah marah, bahkan selalu berbicara lembut, pandang matanya penuh kasih dan mulutnya tersenyum.
"Aku mengobatimu hanya agar engkau tidak mampus sekarang,"
Katanya, suaranya diketus-ketuskan.
"Hayo katakan, apa maksudmu dengan kata-katamu tadi bahwa aku bernama Sim Hui Eng! Jangan mempermainkan aku kalau kau tidak ingin kusiksa lebih berat lagi!"
"Sejak tadi aku tidak pernah mempermainkanmu, tidak pernah berdusta, Eng-moi. Engkau yang kurang sabar mendengarkan keteranganku. Nah, sekarang kulanjutkan ceritaku tadi. Sebelum ibumu meninggal dunia dalam rangku-lanku, ia menceritakan suatu rahasia yang amat mengejutkan hatiku, juga tentu akan mengejutkan hati-mu dan mungkin engkau semakin tidak percaya kepadaku. Nah, sudah siapkah engkau mendengarkan ceritaku tentang pengakuan ibumu?"
Eng Eng merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Kini ia hampir yakin bahwa pangeran ini tidak pernah berbohong kepadanya!
Tidak pernah berbohong dan ia sudah menculiknya, menyiksa-nya dan bahkan nyaris membunuhnya.
Kemungkinan ini membuat darahnya berdesir meninggalkan mukanya, membuat wajahnya menjadi pucat sekali.
"Ceritakan semua!"
Perintahnya.
"Rahasia yang dibuka bibi Lauw Cu Si ini seluruhnya mengenai dirimu, Eng-moi. Pertama-tama, engkau bukanlah anak kandung Siangkoan Kok ketua Paobeng-pai!"
Cia Sun mengira bahwa gadis itu akan terkejut sekali mendengar ini.
Akan tetapi dia kecelik.
Gadis itu sedikit pun tidak kelihatan kaget atau heran, bahkan mulutnya seperti membentuk senyum mengejek.
"Aku sudah tahu. Dia adalah ayah tiriku."
Katanya pendek. Cia Sun menggeleng kepalanya.
"Bukan, Eng-moi. Sama sekali bukan ayah tirimu. Dia bukan apa-apamu."
Eng Eng terbelalak.
"Apa.... apa maksudmu? Aku dibawa ibu ketika masih kecil, berusia dua tiga tahun ketika ibuku menikah dengan Siangkoan Kok! Kenapa kau katakan dia bukan ayah tiriku?"
"Inilah rahasia besar yang dibuka ibumu kepadaku, Eng-moi. Memang benar ketika bibi Lauw Cu Si itu menikah dengan Siangkoan Kok, ia membawa seorang anak kecil dian anak itu adalah engkau, Eng-moi. Akan tetapi, engkau bukanlah anak kandung bibi Lauw Cu Si!"
"Ehhh....!!??"
Eng Eng berseru setengah menjerit.
"Apa"
Apa maksudmu....!!?"
Tangan gadis itu menangkap lengan Cia Sun dan mencengkeramnya, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya semakin pucat.
"Aku mendengar dari Nyonya Siangkoan Kok yaitu bibi Lauw Cu Si, Eng-moi. Agaknya karena tahu bahwa ia akan tewas, maka ia membuka rahasia itu kepadaku. Engkau bukan anak kandungnya, engkau telah ia culik dari orang tuamu ketika engkau masih kecil, kemudian diaku sebagai anaknya sendiri."
"Tapi.... tidak mungkin! Apa buktinya? Bagaimana aku dapat mengetahui benar tidaknya ceritamu ini?"
"Sabar dan tenanglah, Eng-moi. Aku pun tadinya terkejut dan kalau bukan bibi Lauw Cu Si sendiri yang bercerita, aku pun pasti tidak akan percaya. Akan tetapi, aku lalu teringat kepada Yo-toako! Engkau ingat Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?"
Eng Eng mengerutkan alisnya. Tentu saja ia teringat kepada pendekar yang amat lihai itu.
"Apa hubungannya dia dengan ceritamu itu?"
"Eng-moi, ingatkah engkau akan pengakuan Yo-toako bahwa dia hendak mencari seorang gadis yang diculik orang sejak kecil? Gadis itu bernama Sim Hui Eng dan Yo-toako bertugas untuk mencarinya. Bahkan dia kemudian ditipu Siangkoan Kok yang menyuruh mendiang Tio Sui Lan untuk memancingnya ke dalam gua kemudian menjebak dan menangkapnya. Nah, gadis yang dicari-carinya itu adalah engkau, Eng-moi. Engkaulah gadis yang ketika kecil diculik itu, dan penculiknya adalah bibi Lauw Cu Si yang selama ini kau anggap sebagai ibumu sendiri."
Eng Eng masih terbelalak dan seperti berubah menjadi patung. Ia tentu saja masih diombang-ambingkan kebimbangan.
"Tapi.... tapi apa buktinya bahwa.... ibuku meninggalkan pesan itu kepadamu, dan apa buktinya bahwa aku benar-benar gadis yang bernama Sim Hui Eng itu? Tanpa bukti, bagaimana mungkin aku dapat mempercayai ceritamu?"
Cia Sun menghela napas panjang.
"Tentu saja aku tidak dapat membuktikan bahwa mendiang bibi Lauw Cu Si membuka rahasia itu kepadaku, juga ketika kami bicara, tidak ada seorang pun saksinya. Dan ia sudah meninggal dunia, jadi tidak mungkin lagi ditanyai. Akan tetapi, aku mempunyai suatu tanda rahasia yang ada pada dirimu, seperti yang diceritakan Yo-toako kepadaku. Ketika Yo-toako menerima tugas mencari anak yang hilang diculik itu, orang tua anak itu memberitahukan kepadanya adanya dua tanda rahasia di badan anak itu yang merupakan ciri-ciri khas atau tanda sejak lahir. Kalau aku katakan tanda-tanda itu. dan kemudian ternyata cocok dengan keadaan dirimu, apakah engkau masih akan menganggap aku pendusta yang patut kau siksa dan kau bunuh di depan makam bibi Lauw Cu Si?"
Tentu saja Eng Eng menjadi bingung dan salah tingkah.
Ia merasa ngeri kalau membayangkan bahwa pangeran itu benar dan sama sekali tidak berdusta, sama sekali tidak menipunya, dan ia telah menyiksanya seperti itu!
(Lanjut ke
Jilid 13) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13
"Katakanlah, tanda-tanda apa yang ada pada anak yang diculik itu?"
Tanyanya, suaranya jelas terdengar gemetar.
Baca Juga: Mutiara Hitam 11
Baca Juga: Suling Emas 2