Eps 2 Suling Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.
"Kongcu, kau tidak tahu. Ang-siauw-hwa amat terkenal disini dan setiap ada pembesar pesiar, tentu dia dipesan. Aneh memang, biarpun Ang-siauw-hwa merupakan kembangnya semua wanita disini, namun dia bukanlah pelacur sembarangan. Dia hanya mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur atau minum arak, bahkan mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang-siauw-hwa mau diajak yang bukan-bukan."
"Bagus, dialah pilihanku! Panggil dia!"
Kwee Seng tertarik sekali. Akan tetapi orang-orang itu menggeleng kepala.
"Sekarang dia berada di perahu Lim-wangwe (Hartawan Lim) yang perahunya kelihatan disana itu. Ia menuding kearah tengah telaga dimana tampak sebuah perahu Lim-wangwe sendiri yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi tamunya. Sejak pagi tadi Ang-siauw-hwa berada disana, mungkin sampai semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu suara suling tiupan Ang-siauw-hwa."
Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee Seng tiupan suling yang merdu dan halus.
"Lebih baik jangan panggil dia, kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu pilih sendiri. Ang-siauw-hwa hanya mendatangkan ribut belaka."
"Ah, kenapa?"
Kwee Seng terheran. Beberapa orang memberi isyarat akan tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata.
"Pagi tadi timbul keributan karena dia, Lo Houw (Macan Tua), Seorang tukang pukul yang terkenal di daerah ini, memaksa hendak mengajak Ang-siauw-hwa dan biarpun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim-wangwe, Lo houw tidak mau peduli dan hendak merampas Ang-siauw-hwa, bahkan mengeluarkan kata-kata memaki Lim-wangwe. Kemudian ia mendatangi Lim-wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa kuatir. Kami mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami sayang kepada Lim-wangwe yang berbudi halus dan suka menolong kami yang miskin. Akan tetapi, apa terjadi? Lo Houw menyerang kesana dengan perahu, akan tetapi ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!"
Orang itu tertawa dan yang lain juga tertawa, biarpun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan takut kalau-kalau mereka terlihat orang.
"Ah, apa yang tejadi?"
Kwee Seng makin tertarik.
"Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo Houw meloncat ke perahu besar dan memaki-maki. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang diantara tamu Lim-wangwe dan dalam beberapa gebrakan saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!"
"Ha-ha, dia harus berenang ke tepi!"
Kata seorang lain.
Kwee Seng tersenyum.
Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan peristiwa pertempuran yang lebih hebat lagi.
"Biarlah, kalau ia sedang melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi mengajaknya menemaniku. Beri saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak dan cawannya bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih uangnya, lebihnya boleh kau miliki."
Kwee Seng mengeluarkan dua potong uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok-bongkok oleh tukang perahu setengah tua itu yang merasa kejatuhan rejeki.
"He, tukang perahu jembel! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak wangi, lima kati daging, lima macam sayur, mi lima kati dan nona-nona manis lima orang yang cantik-cantik dan muda-muda! Eh, kembang pelacur yang kalian obrolkan tadi, siapa namanya?"
Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan nyaring ini.
Ketika melihat orangnya, ia tertegun.
Bukan hanya Kwee Seng yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang dengan mata terbelalak, tak seorangpun menjawab.
Pembicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi daripada orang yang berukuran tinggi umum.
Melihat pakaiannya yang sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul, orang tentu mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha).
Akan tetapi yang meragukan, kalau benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging, arak, bahkan pelacur?
Anehnya pula, dia itu seorang diri, mengapa memesan demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar, juga memesan lima orang perempuan lacur?
Pertanyaan-pertanyaan inilah agaknya yang membanjiri pikiran para tukang perahu sehingga sampai lama mereka terheran-heran tak mampu menjawab.
"Heh! Jembel-jembel busuk, mengapa kalian diam saja? Apakah kalian tuli dan gagu?"
Laki-laki tinggi besar gundul yang usianya tentu lima puluh tahun itu membentak.
Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawa-tawa.
"Maaf eh, Lo-suhu tapi yang Lo-suhu pesan begitu banyak"
Hwesio itu menyeringai dan melirik kearah Kwee Seng yang berdiri dengan tenang, menaksir-naksir dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan hwesio aneh ini.
"Heh-heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan membayar arak, apakah kau kira aku seorang perantau lain tidak mempunyai uang?"
Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah lengannya kekar kuat penuh bulu.
Ia merogoh ke balik jubahnya dan keluarlah sebuah pundi-pundi berisi penuh uang.
Dibukanya tali pundi-pundi itu dan hwesio itu memperlihatkan potongan-potongan uang emas dan perak!
Para tukang perahu memandang melotot dan menelan ludah.
Belum pernah selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.
"Maaf, maaf, Lo-suhu, bukan sekali-kali saya meragukan Lo-suhu takkan dapat membayar. Hanya, Lo-suhu seorang diri, Pesanannya begitu banyak, apalagi pakai lima orang bidadari."
"Heh..heh, goblok! Apa salahnya? Malah kembangnya pelacur itu harus pula melayani aku, berapapun biayanya akan ku bayar."
"Tapi, Lo-suhu, Ang-siauw-hwa telah disewa Lim-wangwe di perahu mewah yang berada disana"
Tukang perahu itu menunjuk. Hwesio tinggi besar memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek.
"Biarlah nanti kujemput sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua. Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi-bagi!"
Hwesio itu mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang perahu seperti orang melempar sampah saja.
Gegerlah para tukang perahu.
Benar-benar hari itu mereka kejatuhan rejeki besar.
Seperti berlumba mereka lari kesana-kemari untuk memenuhi pesanan hwesio aneh.
Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya dan begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil yang sudah terisi makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah telaga tanpa mempedulikan lagi hwesio tadi.
Hemmmm, Menjemukan sekali.
Pikirnya.
Kalau para pembesar negeri suka mencuri uang negara dan makan sogokan seperti anjing-anjing kelaparan, kalau para pendetanya melanggar pantangan, minum arak, makan daging dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan negara?
Berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali.
Akan tetapi pemandangan telaga itu benar-benar indah sehingga kekecewaannya terobati.
Hari menjelang senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam ke dalam air telaga, kemerah-merahan dan indah sekali.
Kwee Seng mulai makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit memang ia tidak begitu suka minum arak.
Makin gelap cuaca tanda malam tiba, makin indah disitu.
Bulan muncul dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikitpun awan, permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, seakan-akan terbakar menjadi emas, berkilauan.
Angin bersilir membuat air emas itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok disana-sini mulailah menari-nari menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri.
Perahu-perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai memasang lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning, menambah indahnya pemandangan di telaga itu.
Tiba-tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup sampai, suaranya mengalun tinggi rendah sesuai dengan gerak air.
Kwee Seng tertarik dan mendayung perahunya kearah suara.
Ternyata suara suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng dapat mendengar suara suling dengan jelas sekali.
Akan tetapi ia segera menjadi kecewa.
Suara itu tadi indah kedengarannya karena dipermainkan oleh angin.
Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun peniupnya menguasai lagu dan irama, namun tiupannya kurang tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya.
Akan tetapi disamping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan jantungnya.
Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim-wangwe yang sedang menyambut lima orang tamunya dan mungkin sekali suling itu ditiup oleh Ang-siauw-hwa seperti yang diceritakan oleh para tukang perahu tadi!
Hemm, kalau benar wanita itu yang meniupnya, lumayan!
juga!
Setidaknya, kalau seorang pelacur saja dapat meniup suling seperti itu, benar-benar dia seorang pelacur yang luar biasa.
Ketika suling berhenti ditiup, terdengar tepuk tangan dan tertawa-tawa memuji dari dalam perahu, tanda bahwa orang-orang yang berada didalam perahu itu gembira dan kagum.
Tak lama kemudian, kembali suling itu berbunyi, kini mainkan lagu yang menjadi kegemaran Kwee Seng, yaitu Bulan mengembara cari kekasih.
Kalau tadi kwee Seng hanya kecewa mendengar tiupan suling yang dianggapnya kurang baik, kini telinganya terasa sakit mendengar betapa lagu kesayangannya dirusak orang.
Karena tidak dapat menahan lagi, pemuda yang sudah terpengaruh oleh hawa arak itu mengeluarkan sebatang suling dari dalam bajunya dan tak lama kemudian melengkinglah suara sulingnya melayang-layang di permukaan telaga, mendesak suara suling pertama yang keluar dari perahu besar.
Karena suara suling Kwee Seng luar biasa sekali kuatnya, maka suara pertama tenggelam dan tak terdengar lagi.
"Sahabat, alangkah indah bunyi sulingmu!"
Kwee Seng yang baru saja menghabiskan bait terakhir cepat memandang.
Seorang wanita dengan pakaian serba indah berwarna merah muda, berdiri di pinggiran perahu dan kelihatan seperti seorang dewi telaga.
"Ah, kalau saja aku bersayap, kuakan terbang membebaskan diri dari sini untuk belajar meniup suling darimu sahabat."
Kwee Seng tercengang.
Inikah pelacur yang berjuluk Ang-siauw-hwa?
Pantas saja terkenal menjadi kembangnya sekalian pelacur di daerah Telaga Barat ini, pikirnya sambil memandang kagum.
Tentang kecantikannya, tak dapat ia menilai teliti karena keadaan yang remang-remang itu tidak cukup menerangi wajah si gadis, akan tetapi, selain pandai meniup suling juga kata-katanya begitu halus dan teratur, dari ucapannya itu saja mudah diduga bahwa nona ini tentu pandai bersyair.
Dengan hati tertarik Kwee Seng mendayung maju perahu kecilnya untuk mendekati perahu besar dan agar ia dapat memandang lebih jelas.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara memanggil dari bilik perahu besar dan nona berpakaian serba merah muda itu membalikkan tubuh dan lenyap ke dalam perahu besar.
Kwee Seng sadar daripada kebodohannya.
Perempuan itu sudah disewa hartawan pemilk perahu besar, mau apa ia mendekat?
Ah, mengapa ia begitu tertarik kepada seorang wanita pelacur?
Kwee Seng sadar akan kebodohannya sendiri dan menggerakkan dayung untuk menjauhi perahu besar.
Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah perahu meluncur cepat ke arah perahu besar dan didalam perahu ini terdapat seorang hwesio tinggi besar bersama lima orang wanita pelacur yang sedang minum-minum dan tertawa cekikikan seperti segerombolan kuntilanak, Kwee Seng cepat mendayung perahunya menyelinap dan bersembunyi dibelakang perahu besar untuk mengintai karena ia merasa curiga menyaksikan gerak-gerik hwesio tinggi besar yang aneh itu.
Dari balik perahu besar itu Kwee Seng melihat jelas betapa hwesio tinggi besar itu sekali menggerakkan kaki telah melayang naik keatas papan dek tanpa menimbulkan guncangan sedikitpun juga.
Kwee Seng kaget dan kagum.
Hwesio ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi.
Ketika ia memandang ke perahu hwesio tadi, ia merasa muak.
Lima orang wanita pelacur yang memakai bedak tebal itu dalam keadaan setengah telanjang dan awut-awutan rambutnya, tertawa cekikikan dan bersenda gurau, agaknya sudah mabok semua!
Perahunya yang tidak di kuasai oleh hwesio telah oleng ke kanan kiri tanpa diketahui lima orang pelacur mabok.
Karena merasa muak, Kwee Seng tidak mempedulikan mereka dan ia kembali memandang kearah hwesio yang berdiri kokoh seperti batu karang diatas papan dek perahu besar.
"Heh, hartawan she Lim!"
Hwesio itu berseru dan suaranya yang parau keras itu menembus desir angin.
"Lekas serahkan Ang-siauw-hwa kepadaku, kutukar dengan lima orang yang berada di perahuku!"
Tiba-tiba dari pintu bilik perahu besar itu meloncat seorang laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian ringkas dan punggungnya terhias sebatang golok.
Gerakan laki-laki ini ringan dan cepat, tahu-tahu ia sudah berdiri didepan hwesio itu dengan mata berkilat.
"Eh, eh, hwesio jahat darimana berani mengganggu kesenangan kami? Apakah kau sahabat dari Si Jahanaman Lo Houw yang kulempar kedalam air?"
Hwesio itu memandang sejenak lalu tertawa.
"Heh-heh-heh, aku tidak tahu itu Lo Houw, dan tidak kenal pula tikus kecil macammu. Aku hanya datang untuk mengambil Ang-siauw-hwa, kutukar dengan lima pelacur itu."
"Wanita macam Ang-siauw-hwa yang disebut-sebut kembang pelacur di telaga ini patut mengawaniku bersenang-senang. Lekas suruh dia keluar dan berikan kepadaku sebelum perahu ini kubikin tenggelam berikut semua penumpangnya!"
"Hwesio sesat! Pergilah!"
Si Jangkung Kurus menerjang maju dengan gerakan kilat.
Cepat sekali gerakannya dan Kwee Seng yang menonton tahu bahwa si jangkung itu memiliki ilmu silat tangan kosong yang cukup hebat.
Hwesio ini mencari penyakit, pikirnya, penghuni perahu besar itu ternyata bukan orang-orang lemah.
Pukulan si jangkung itu selain cepat, juga jelas mengandung tenaga yang besar, tampak gerakannya begitu mantap dan sekali pukul, kedua tangan si jangkung itu secara berbareng menyerang dada dan lambung.
Anehnya, hwesio tinggi besar itu masih tertawa, sama sekali tidak mengelak.
Celaka, pikir Kwee Seng, betapapun lihainya, mana hwesio itu akan dapat menahan pukulan yang mengandung tenaga dalam itu?
"Buk!
Buk!"
Dua buah pukulan itu tepat mengenai dada dan lambung.
"Ha-ha-ha-ha!"
Si Hwesio malah tertawa bergelak, sedikit pun tidak terpengaruh dua pukulan itu.
Sejenak si jangkung terbelalak kaget, kemudian tampak sinar bergulung ketika ia mencabut goloknya dan membacok dengan cepat ke mengarah leher.
Celaka kata Kwee Seng, akan tetapi kali ini ia menyebut celaka bukan untuk si hwesio karena segera ia maklum bahwa hwesio itu benar-benar memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat tinggi dan pencabutan golok oleh si jangkung itu hanya akan berarti celaka bagi si jangkung.
Memang tidak berlebihan penafsiran Kwee Seng ini.
Hanya sedikit menggerakkan tubuhnya si hwesio sudah mampu mengelak dan sebelum si jangkung sempat menyerang lagi, tubuhnya sudah tertangkap dan sekali melontarkan tangkapannya sambil tertawa, hwesio tinggi besar itu sudah melempar lawannya jauh keluar perahu!
"Byurrrr!"
Air muncrat tinggi dan si jangkung megap-megap dalam usahanya menyelamatkan diri.
"Hwesio keparat, berani kau memukul Suteku (adik seperguruanku)?"
Kini muncul seorang pendek gemuk dengan sebatang toya (tongkat panjang) melintang di tangan.
Tanpa menanti jawaban, si gemuk ini sudah menggerakkan toyanya menghantam leher hwesio itu.
Sebagai kakak seperguruan si jangkung tadi, dapat di bayangkan betapa hebat serangan si gemuk pendek ini.
Batu karang yang kuat agaknya akan pecah terkena pukulan toya baja itu.
Namun, si hwesio sama sekali tidak mengelak, hanya miringkan tubuh dan menerima hantaman toya itu dengan pangkal lengannya.
"Bukkk!"
Si hwesio masih tertawa-tawa dan kedua lengannya bergerak.
Tahu-tahu si gemuk memekik keras dan tubuhnya terlempar keluar perahu.
Kembali terdengar air menjebur dan tubuh gemuk itu tenggelam timbul, agaknya lebih parah lukanya daripada sutenya.
Hebat!
Diam-diam Kwee Seng terkejut dan kagum.
Perhatiannya kini tertuju pada hwesio itu sambil mengingat siapa gerangan hwesio yang demikian lihainya itu.
Terang bahwa kepandaian dua orang yang dikalahkannya secara mudah tadi cukup tinggi dan hanya seorang sakti saja yang dapat mengalahkan mereka dengan sekali gebrakan.
Akan tetapi kalau memang hwesio ini seorang tokoh sakti, mengapa sikap dan kelakuannya begitu gila-gilaan?
Sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang tokoh sakti yang terkenal.
Merampas seorang pelacur!
Benar-benar mengherankan sekali!
Sementara itu, dari dalam bilik perahu sudah berloncatan tiga orang laki-laki.
Usia mereka rata-rata empat puluh tahun lebih, dan ketiganya memegang pedang.
Gerakan-gerakan mereka pun cepat dan ringan, malah agaknya lebih cekatan daripada dua orang yang sudah kalah oleh si hwesio.
Begitu keluar, mereka serentak mengurung dan menyerang hwesio itu dengan pedang mereka.
Kwee Seng melihat hwesio itu tertawa, akan tetapi segera perhatiannya tertarik oleh kejadian lain.
Ia melihat seorang wanita berpakaian merah muda berlari-lari ke pinggir perahu besar itu lalu wanita itu meloncat ke air!
Byurrr!
air muncrat tinggi dan tubuh wanita itu lenyap!
Celaka, Untuk ketiga kalinya selama beberapa menit itu Kwee Seng menyebut celaka, akan tetapi ia cepat mendayung perahunya kearah terjunnya si pakaian merah tadi.
Selagi ia hendak menyelam, tiba-tiba wanita itu muncul dan legalah hati Kwee Seng melihat bahwa wanita itu ternyata pandai berenang!
Ah, benar-benar pelacur yang aneh sampai berenang pun pandai!
Pelacur itu memang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa yang kini berenang cepat kearah perahu Kwee Seng.
"Kongcu yang pandai bersuling, kau tolonglah aku yang bernasib malang"
Katanya sambil berusaha mengangkat tubuh memegang pinggir perahu.
Akan tetapi beberapa kali usahanya tak berhasil karena pinggiran perahu itu terlampau tinggi dari permukaan air.
Kwee Seng lalu mengulur tangannya dan menarik tubuh wanita itu kedalam perahunya.
Ia memandang, kagum.
Memang patut dikagumi wanita ini.
Pakaiannya basah kuyup dan karena pakaian ini terbuat daripada sutera tipis dan halus, maka kini tercetaklah tubuhnya membayangkan bentuk tubuh yang padat ramping, dengan lekuk lengkung sempurna, tubuh seorang wanita muda yang sudah masak.
"Kenapa kau meloncat ke air?"
Kwee Seng bertanya, menekan gelora jantungnya yang membuat darah mudanya yang bergerak lebih cepat daripada biasanya.
"Ah, hwesio demikian hebat. Kalau aku dirampasnya bagaimana nasibku? Lim-wangwe yang sudah tua dan pendekar-pendekar itu semua bersikap sopan kepadaku, akan tetapi belum tentu hwesio itu begitu baik sikapnya. Ah, Kongcu, kau tolonglah aku biarlah aku akan mengerjakan apa saja yang kau kehendaki untuk membalas budimu ini."
Sambil berkata demikian, Ang-siauw-hwa mendekat dan bau harum menerjang hidung Kwee Seng yang tertegun melihat wanita itu tersenyum manis dan mengerling penuh arti.
"Aku aku bersedia menolong, tapi tapi aku tidak menghendaki apa-apa darimu"
Jawabnya gagap sambil menggerakkan dayung. Wanita di belakangnya menarik napas panjang.
"Ahhh.. sudah kuduga, kau seorang pelajar yang sopan dan penuh susila, mana mungkin mau berkenalan dengan seorang tuna susila macam Ang-siauw-hwa?"
Suaranya mulai terisak.
"Beginilah nasibku, kongcu hanya orang-orang rendah budi saja yang suka berkenalan denganku, dengan maksud yang kotor, akan tetapi orang baik-baik selalu menjauhkan diri dariku."
Kwee Seng menoleh, agak terharu juga. Memang demikianlah nasib wanita yang terperosok ke Lumpur kehinaan.
"Bukan begitu, Nona. Tadi pun aku hendak memesanmu menemaniku minum arak, menikmati keindahan telaga sambil bersuling dan bernyanyi atau mengarang syair. Akan tetapi karena kau telah disewa hartawan itu, aku berperahu seorang diri. Hanya perlu kau ketahui bahwa aku sekali-kali bukan menolongmu karena hendak minta upah. Nih, kau pakai jubah luarku untuk menahan dingin dan angin. Kita harus pergi cepat-cepat dari sini."
Setelah melemparkan jubah luarnya untuk dipakai berselimut Ang-siauw-hwa, Kwee Seng cepat mendayung perahunya.
Akan tetapi diatas perahu besar terdengar suara berkerontangan, disusul pekik-pekik kesakitan dan berturut turut tubuh tiga orang jago silat itu pun terlempar kedalam telaga.
Bahkan orang ke tiga terlempar kearah perahu Kwee Seng disusul bentakan hwesio itu yang parau dan nyaring.
"Ah, Ang-siauw-hwa kembang pelacur! Kau hendak lari kemana? Tak boleh lari sebelum melayaniku sampai puas!"
Melihat menyambarnya tubuh orang kearah perahunya, Kwee Seng menggerakkan dayung sehingga perahunya menyeleweng mengelak dan tubuh orang itu terbanting kedalam air, hanya tiga kaki dari kepala perahunya.
Air muncrat membasahi bajunya.
"Ah, celaka kita kongcu,"
Ang-siauw-hwa berseru ketakutan, tubuhnya yang sudah dingin itu kini ditambah rasa takut mulai menggigil.
"Tak usah takut, kita akan minggir lebih dulu"
Jawab Kwee Seng sambil mengerahkan tenaga mendayung sehingga perahunya meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Ang-siauw-hwa menengok dan melihat betapa hwesio yang menakutkan itu sudah meloncat ke dalam perahunya sendiri.
Sekali ia menggentakkan perahu, lima orang pelacur yang mabok-mabokan didalam perahu itu terlempar kedalam air pula!
"Menjemukan!
Tinggalah kalian di air!"
Kata hwesio itu sambil tertawa bergelak dan mulailah ia mendayung perahunya mengejar perahu Kwee Seng.
Sementara itu, para penghuni perahu sibuk menolong lima orang jago silat dan juga lima orang pelacur yang menjerit-jerit dan gelagapan seperti lima ekor anak ayam terlempar ke air.
"Kongcu, dia dia mengejar,"
Ang-siauw-hwa memeluk pinggang Kwee Seng dari belakang.
Bau harum dan kelunakan tubuh yang merapat di punggungnya membuat Kwee Seng meramkan matanya dan menahan napas.
Diam-diam hatinya mengeluh.
Usianya sudah dua puluh dua dan belum pernah ia berdekatan begini dengan seorang wanita.
Getaran yang menggelora di jantungnya melemahkan tenaga sakti sehingga kurang cepat ia mendayung perahu.
"He, orang muda tolol! Apakah kau bosan hidup? Berhenti dan berikan gadis itu kepadaku!"
Suara hwesio itu melengking di telinganya. Akan tetapi Kwee Seng tidak peduli dan cepat ia mengerahkan tenaga mendayung perahunya.
"Kau ingin mampus!"
Suara ini disusul oleh desir angin kearah kepala Kwee Seng.
Maklum bahwa ada benda menyambar, Kwee Seng mengibaskan tangannya dan dari ujung lengan bajunya menyambar angin yang memukul runtuh benda itu yang ternyata adalah sekepal kayu, agaknya gagang dayung yang diremas hancur oleh hwesio hebat itu!
Kwee Seng maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh, mungkin lawan yang paling tangguh yang selama hidupnya pernah ia hadapi.
Dengan adanya Ang-siauw-hwa didalam perahu, tentu saja hal ini berarti melemahkan kedudukannya sendiri apabila terjadi pertandingan melawan hwesio kosen itu, apalagi kalau diingat bahwa hwesio memang bermaksud merampas Ang-siauw-hwa.
Selain itu juga, bertanding diatas perahu amatlah berbahaya.
Kepandaiannya diatas air hanya terbatas dan sekali jatuh kedalam air, takkan ada gunanya lagi.
Inilah sebabnya maka Kwee Seng segera mengerahkan tenaga sekuatnya sehingga perahunya meluncur lebih cepat lagi meninggalkan perahu hwesio yang mengejarnya.
Sesampainya dipinggir telaga, Kwee Seng cepat menarik lengan Ang-siauw-hwa dan diajaknya melompat ke darat, lalu berkata lirih.
"Nona, cepatlah, kau lari dari sini!"
"Tapi, tapi kau bagaimana, Kongcu?"
"Jangan pikirkan aku, lekas lari."
Kwee Seng mendorong wanita itu dalam gelap, kemudian ia meloncat lagi kedalam perahunya dan mendayung kebagian lain dari tepi telaga itu untuk menyesatkan perhatian si hwesio terhadap Ang-siauw-hwa.
Usaha dan akalnya ini berhasil baik, karena perahu hwesio itu terus mengikutinya setelah mendekat, kemudian terdengar hwesio itu berseru keras.
"Bocah setan, sekali ini aku tidak akan memberi ampun kepadamu!"
Akan tetapi karena ia sudah terbebas daripada keselamatan Ang-siauw-hwa kini Kwee Seng tidak melarikan diri lagi.
Ia berdiri di kepala perahunya, berkipas-kipas diri sambil menanti dekatnya perahu si hwesio.
Setelah dekat ia berkata.
"Lo-suhu, seorang beribadat seharusnya mengekang nafsu memupuk kebajikan agar menjadi contoh bagi orang banyak. Mengapa Lo-suhu malah mengejar-ngejar seorang pelacur, hendak merampasnya dengan paksa dan memukul orang mengandalkan kepandaian?"
Suara Kwee Seng sopan dan halus akan tetapi di dalamnya mengandung teguran pedas.
"Heh he he he, bocah yang masih bau susu ibu! Macam engkau ini hendak memberi kuliah kepada Ban-pi Lo-cia? Heh he he!"
Ucapan diselingi tawa ini lalu diikuti bunyi keras seperti petir menyambar-nyambar diatas kepala Kwee Seng dan tampaklah sinar hitam melecut-lecut di udara.
Kiranya kakek itu sudah mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang bermain-main di atas kepala Kwee Seng seperti seekor ular hidup yang ganas.
Kwee Seng kaget setengah mati mendengar disebutnya nama Ban-pi Lo-cia (Dewa Locia Berlengan Selaksa)!
Nama ini adalah nama seorang tokoh yang tak pernah atau jarang sekali muncul di dunia kang-ouw, namun yang terkenal sebagai tokoh yang amat jahat, keji dan memiliki kesaktian hebat.
Kabar tentang tokoh ini yang ia dengar paling akhir adalah bahwa Ban-pi Lo-cia menghilang di utara, di daerah Khitan, karena memang ada berita bahwa dia mempunyai darah bangsa Khitan.
Bagaimana tokoh ini dapat muncul secara tiba-tiba di tempat ini?
Kekagetan dan keheranan hati Kwee Seng inilah agaknya yang membuat ia lengah sehingga ketika ada gulungan sinar hitam menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya dan tahu-tahu pinggangnya sudah telibat cambuk yang bergerak seperti ular.
Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakan tangan kanannya, tubuh Kwee Seng melayang seperti terbang, terbawa oleh ujung cambuk!
Kwee Seng terkejut, namun ia dapat menenangkan hati dan mencari akal.
Dengan kipas di depan dada untuk melindungi diri, ia mengerahkan sin-kang di tubuhnya untuk menahan tekanan ujung cambuk yang melilit pinggangnya, kemudian ia membiarkan dirinya terlempar melayang kearah Ban-pi Lo-cia yang berdiri diatas perahu sambil menyeringai!
Orang gendut itu ternyata amat memandang rendah terhadap Kwee Seng yang dianggapnya seorang pelajar yang tahu sedikit akan ilmu silat, maka ia bermaksud mempermainkannya.
Akan tetapi alangkah kaget hati raksasa gundul ini ketika tubuh Kwee Seng sudah melayang ke dekatnya, tiba-tiba angin pukulan yang hebat bertiup dari kipas disusul totokan kilat yang menuju ke jalan darah di lehernya, dilakukan oleh gagang kipas itu.
Begitu cepatnya gerakan ini sehingga hampir saja jalan darah Tiong-cu-hiat di lehernya tertotok!
Ketika raksasa itu mengelak ke belakang, tahu-tahu kaki Kwee Seng sudah menotol pundaknya dan menggunakan pundak raksasa ini sebagai batu loncatan, Kwee Seng mengerahkan tenaganya dan melompat sambil mengerahkan tenaga pada pinggang untuk membebaskan diri daripada libatan ujung cambuk.
Usahanya berhasil.
Ban-pi Lo-cia berseru heran dan tubuh Kwee Seng sudah melayang kembali keatas, tepat tiba di gerombolan pohon kembang di pinggir telaga yang cepat disambarnya dan dengan ayunan indah tubuh pemuda itu sudah berada di darat, berdiri dengan tenang dan dengan kipas di tangan sambil memandang kearah lawan yang masih berada diatas perahunya!
"He he he, kau boleh juga, bocah!"
Ban-pi Lo-cia berseru setengah marah setengah kagum, cambuknya bergerak cepat mengeluarkan ledakan-ledakan keras.
Ternyata cambuk itu memukul air di pinggir perahu dan bagaikan didorong tenaga gaib, perahunya meluncur cepat sekali ke pinggir telaga, kemudian sekali meloncat raksasa itu sudah melayang dan tiba di depan Kwee Seng!
Dua orang ini kini berhadapan dan saling memandang penuh perhatian.
Bulan bersinar terang bersih, indah sekali akan tetapi didalam keindahan itu tersembunyi kengerian yang ditimbulkan oleh pandang mata kedua orang yang saling bertentangan ini.
Pinggir telaga sudah sunyi karena mereka yang mendengar tentang hwesio tinggi besar yang mengamuk, sudah melarikan diri cepat-cepat akan tetapi ada pula beberapa orang yang bersembunyi dan melihat dua orang itu berhadapan dari jauh.
(Lanjut ke
Jilid 04) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Ban-pi Lo-cia, sudah lama sekali aku mendengar namamu, dan ternyata keadaanmu cocok benar dengan namamu!"
Kata Kwee Seng yang kini sudah mengeluarkan suling bambu yang tadi ditiupnya dan memegang suling itu di tangan kanannya sedangkan kipasnya ia pegang di tangan kiri.
Ia maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti ini ia harus dibantu sulingnya, karena hanya dengan kipas saja kiranya belum tentu ia akan dapat mencapai kemenangan.
"Heh, kau mengenalku? Dan kau bilang cocok seakan-akan kau telah mengenalku baik-baik. Orang muda lancang, keadaanku yang bagaimana kau sebut cocok dengan namaku?"
"Kau terkenal sebagai tokoh sakti yang aneh, kejam keji dan memuja kejahatan mengandalkan kepandaian. Nah, bukankah cocok benar dengan perbuatanmu sekarang?"
"Wah, sombong! Bocah bermulut lancang, siapa namamu?"
"Aku Kwee Seng, datang tidak menonjolkan nama, pergi tidak meninggalkan nama, hanya suling dan kipas ini yang kubawa."
"Heh.. heh, kata-kata muluk! Kau berlagak sopan dan terpelajar, akan tetapi bukankah kau sendiri juga memperebutkan kembang pelacur telaga ini? He-heh, orang muda, tiada bedanya antara engkau dan aku, hanya aku lebih suka secara terbuka dan terang-terangan, sebaliknya engkau suka sembunyi-sembunyi dan berkedok kesopanan. Aku paling jemu melihat segala yang palsu ini, maka kau bersiaplah mampus ditangan Ban-pi Lo-cia!"
Berbareng dengan habisnya ucapan itu, sinar hitam bergulung-gulung ke depan dibarengi ledakan-ledakan seperti petir menyambar kepala.
Hebat bukan main kalau Ban-pi Lo-cia mainkan cambuknya, cambuk sakti yang terkenal dengan nama Lui-kong-pian (Cambuk Halilintar).
Gerakan cambuk ini mengandung getran penuh dari sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Jangan kan terkena pukulan cambuk, baru mendengar bunyinya saja membuat lawan menjadi pening kepalanya, melihat sinarnya membuat mata lawan kabur, dan hawa pukulan yang mendahului datangnya ujung cambuk cukup kuat untuk menjungkalkan lawan yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya!
Cambuk ini kelihatannya hanya sebatang benda lemas dan licin, akan tetapi jangan dipandang ringan senjata ini.
Bahannya saja terbuat daripada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat dilihat belasan tahun sekali di lautan utara, diantara gunung-gunung es.
Di tangan Ban-pi Lo-cia, cambuk ini benar-benar menjadi halilintar.
Bisa lemas melebihi sutera, bisa kaku keras melebihi baja, dan hebatnya, tidak ada sebuah senjata pun di dunia yang mampu membabatnya putus.
Menyaksikan gerakan ini Kwee Seng maklum bahwa ia berhadapan lawan yang benar-benar sakti dan berbahaya, maka ia pun tidak berani main-main, segera ia menggerakkan suling dan kipasnya untuk menghadapi permainan cambuk halilintar yang dahsyat itu.
Karena tahu bahwa ilmu cambuk halilintar adalah ilmu sakti yang sukar dilawan dan harus dilawan dengan ilmu sakti lagi, maka Kwee Seng segera mainkan suling di tangan kanan menurut ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipasnya ia mainkan dengan ilmu kipas Lo-hai San-hoat.
Ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat (Delapan Dewa) dan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Mengacau Lautan) telah menjadi ilmu silat yang sakti dan hebat setelah ia menerima petunjuk-petunjuk dari seorang manusia dewa, yaitu Bu Kek Siansu, beberapa tahun yang lalu di puncak pegunungan Himalaya.
Kwee Seng tak pernah bertemu tanding yang dapat mengalahkannya.
Dan sekarang mengahadapi Ban-pi Lo-cia yang demikian sakti, terpaksa ia mengeluarkan dua ilmunya yang dimainkan dengan lincah dan penuh mengandung tenaga sin-kang.
Sulingnya ketika ia gerakkan mengeluarkan bunyi melengking tinggi, lengking yang dapat memecahkan anak telinga lawan dan tepat sekali dipergunakan untuk melawan pengaruh suara cambuk yang menggelegar.
Adapun kipasnya mengeluarkan angin amat kuat yang menyembunyikan totoka-totokan maut oleh ujung gagang kipas yang dua buah banyaknya.
Sesungguhnya, kipas inilah yang merupakan senjata penyerang Kwee Seng sedangkan sulingnya lebih banyak menjadi senjata penahan atau pelindung dengan suaranya yang menahan pengaruh suara cambuk dan gerakannya yang menangkis datangnya ujung cambuk.
Kalau Kwee Seng tidak merasa heran menyaksikan kehebatan ilmu cambuk lawannya, sebaliknya Ban-pi Lo-cia kaget dan heran bukan main menyaksikan gerakan lawan.
Raksasa gundul ini tadinya memandang rendah kepada Kwee Seng yang masih muda dan bersikap seperti seorang pelajar.
Sama sekali ia tidak menyangka bahwa pemuda itu demikian hebat.
Tangkisan suling pemuda itu sanggup menggetarkan cambuknya, sedangkan hawa pukulan kipas itu selalu mengancam jalan darahnya sehingga terpaksa ia harus berlaku hati-hati dan mengelak dengan bantuan gerakan ujung lengan baju kiri untuk menyelamatkan diri.
Padahal ia mengenal betul bahwa suling itu memainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipas itu mainkan ilmu silat Lo-hai San-hoat.
Akan tetapi alangkah bedanya dengan permainan orang lain.
Permainan pemuda ini telah membuat dua macam ilmu silat itu menjadi ilmu yang amat dahsyat, yang biarpun sudah ia kenal gerakan-gerakan dan perubahannya, namun masih sukar untuk dihadapi!
Diam-diam Ban-pi Lo-cia harus mengakui pendapat umum di dunia persilatan bahwa kehebatan seseorang bukan semata-mata tergantung kepada ilmu silatnya, melainkan kepada si orang itu sendiri, kematangan dan kesempurnaannya memepelajari ilmu itu.
Pula benar kalau orang mengatakan bahwa dalam menghadapi lawan, orang harus berlaku hati-hati terhadap pertapa, yang kelihatan tua dan lemah, terhadap pelajar yang kelihatan halus dan terhadap wanita yang biasanya digolongkan orang lemah!
"Tar-tar-tar!!"
Sekali serang, cambuk itu sudah menyambar secara berturut-turut hanya selisih beberapa detik saja kearah ubun-ubun kepala, leher, lalu pusar.
Kwee Seng menggerakkan suling menangkis serangan pada ubun-ubunnya, kemudian ia memiringkan tubuh mengubah kedudukan kaki untuk menghindarkan diri serangan pada leher.
Adapun pecutan pada pusarnya ia tangkis lagi dengan sulingnya sambil menggerakan kipasnya kedepan menotok jalan darah pada siku lawan.
Kalau totokan ini mengenai sasaran, tentu lawannya akan terpaksa melepaskan cambuk.
"Haiihhh!"
Ban-pi Lo-cia berseru keras, mengerahkan sin-kang dan ujung cambuknya terus melibat suling sedangkan totokan pada siku kanannya ia tangkis dengan ujung lengan sebelah kiri.
"Brettt!"
Robeklah ujung lengan baju oleh ujung kipas, akan tetapi totokan itu meleset tidak mengenai sasaran.
Kwee Seng terkejut karena tak mampu menarik kembali sulingnya yang terlibat, maka ia menggerakkan kaki maju setengah langkah, mencondongkan tubuh kedepan dan melanjutkan gerakan kipasnya, kini menusuk lambung lawan disusul kaki kanan menendang kearah pusar!
Diserang secara hebat ini, Ban-pi Lo-cia kembali berseru keras dan tubuhnya meloncat kebelakang.
Ia berhasil menyelamatkan diri dari bahaya, namun sekali renggut dengan pengerahan tenaga oleh Kwee Seng membuat suling yang terlibat lepas dari ujung cambuk!
Kwee Seng menahan rasa sakit pada telapak tangan yang memegang suling, terasa panas dan kesemutan.
"Hebat! Kau orang muda aneh dan hebat. Tapi rasakan kini tangan maut Ban-pi Locia!"
Seru raksasa itu dengan suara gembira dan wajah berseri.
Memang raksasa gundul ini mempunyai dua macam kesukaan, yaitu wanita-wanita muda yang cantik dan berkelahi!
Makin kuat lawannya, makin gembira hatinya dan makin muda cantik seorang wanita, makin tergila-gila dia sebelum mendapatkannya!
Kini Dewa Locia Berlengan Selaksa itu menjauhkan diri dari lawannya, cambuknya digerakkan dan lenyaplah cambuk itu, berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil, lingkaran yang telan-menelan membingungkan pandangan mata.
Juga diselingi bunyi nyaring seperti halilintar menyambar-nyambar di waktu hujan gerimis.
Dengan cambuknya yang panjang, raksasa ini dapat menyerang Kwee Seng dari jarak jauh tanpa bahaya diserang kembali oleh lawan yang hanya menggunakan dua senjata pendek.
Sambil menghujani lawan dengan lecutan cambuk yang merupakan jari-jari maut itu, Ban-pi Lo-cia lari mengelilingi Kwee Seng.
Kagetlah hati pemuda ini.
Tak disangkanya tokoh sakti yang terkenal ini selain sakti, juga amat licik dan curang, tidak segan-segan menggunakan akal pengecut untuk mengalahkan lawan.
Ia maklum bahwa karena dia berada dalam lingkaran, kedudukannya berbahaya, dan membutuhkan ketenangan sepenuhnya untuk menghadapi serangan seperti itu.
Maka ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri dengan kuda-kuda kaki sejajar di kanan kiri, tubuhnya agak merendah, suling diangkat tangan kanan tinggi melintang diatas kepala sedangkan kipas terbuka di tangan kiri melindungi bagian bawah.
Anehnya, Kwee Seng malah meramkan kedua matanya, akan tetapi seakan-akan dapat melihat jelas, ia menggeser kaki setiap kali lawannya berada dibelakang tubuhnya.
Serangan-serangan membanjir datang dari belakang, kanan dan kiri namun semua itu dapat ia tangkis dengan suling dan dapat ia kebut dengan kipas.
Hebat bukan main pertandingan ini, namun merupakan pertandingan yang berat sebelah karena Ban-pi Lo-cia selalu menyerang sedangkan Kwee Seng selalu melindungi diri tanpa mampu balas menyerang.
Mengapa Kwee Seng meramkan kedua matanya?
Apakah ia memandang rendah lawannya?
Bukan, sama sekali bukan!
Karena kehebatan lawannyalah maka ia terpaksa meramkan matanya.
Untuk menghadapi hujan serangan itu, ia membutuhkan ketenangan dan pengerahan panca inderanya, pencurahan perhatian sepenuhnya.
Kalau ia membuka mata, maka bayangan yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil itu akan menyilaukan mata dan mengacaukan perhatiannya.
Biarpun kedua matanya meram, namun sepasang telinganya cukup untuk menangkap gerakan lawan.
Dan mengapa pula pendekar sakti yang muda ini rela mengalah dan mempertahankan diri saja tanpa mencari kesempatan balas menyerang?
Ini pun merupakan siasat baginya, karena dengan cara ini, ia tidak mengeluarkan banyak tenaga, sebaliknya lawannya cepat lelah karena harus banyak bergerak dan lari-lari mengitarinya, sedangkan dengan penjagaannya yang kokoh dan kuat ia mampu mempertahankan diri.
Orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa yang diam itu lebih kuat daripada yang gerak.
Gentong air yang penuh tak tersembunyi, yang kosong berbunyi nyaring.
Orang yang mengerti pendiam, yang bodoh penceloteh.
Air yang diam dalam, yang bergerak dangkal.
Demikian pula dalam dunia persilatan, terutama bagi mereka yang sudah tinggi tingkatnya, terdapat keyakinan bahwa si penahan lebih kuat kedudukannya daripada si penyerang.
Setiap penyerang berarti membuka pertahanan sendiri yang menjadi lemah dan juga lengah, sebaliknya si penahan akan selalu menutup diri mempertahankan diri dengan kokoh dan kuat.
Karena bernafsu sekali ingin mengalahkan Kwee Seng dengan cepat, untuk beberapa jam lamanya Ban-pi Lo-cia lupa akan hal ini dan terus menerus menghujankan serangannya yang selalu sia-sia karena dapat ditangkis lawan.
Namun diam-diam Kwee Seng juga mengerti bahwa lawan yang sekali ini bukan lawan yang biasa, dan tidak dapat diharapkan cepat-cepat menjadi lelah.
Juga dalam tingkat ilmu silat dan tenaga, Ban-pi Lo-cia benar-benar sudah hebat sekali dan ia tidak berani mengaku sudah lebih pandai daripada lawan ini.
Sulingnya sudah retak-retak dan kedua tangannya sudah mulai lelah dipakai menangkis semua serangan itu.
Diam-diam Kwee Seng menggerakkan ujung jari kakinya, mengerahkan tenaga menjebol sepatunya sendiri sehingga ibu jari kaki kanannya tampak keluar dari sepatunya.
Ia mencari kesempatan baik.
Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakkan cambuk keatas kepala membuat lingkaran-lingkaran baru untuk memulai serangkaian serangan dahsyat, tiba-tiba ibu jari itu menyentil kedepan.
Segumpal tanah melayang cepat sekali memasuki lubang pertahanan Ban-pi Lo-cia yang terbuka dan cepat menghantam jalan darah dibawah lengan Si Raksasa.
"Kyaaaa!"
Ban-pi Lo-cia terhuyung-huyung mundur dan tangan kanannya menjadi setengah lumpuh, matanya melotot heran dan kaget.
Tentu saja Kwee Seng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia meloncat kedepan dan menerkam bagaikan seekor singa, menggerakkan suling dan kipasnya menghantamkan serangan-serangan maut.
Namun Ban-pi Lo-cia adalah seorang tokoh yang banyak pengalaman dan tubuhnya sudah kebal.
Serangan segumpal kecil tanah tadi hanya membuat ia terhuyung-huyung sejenak, dan kini tangan kirinya sudah cepat menyambar cambuknya sendiri dari tangan kanan yang agak lumpuh, kemudian cambuk itu melecut-lecut dengan bunyi keras, membentuk benteng sinar bergulung didepan tubuhnya sehingga suling dan kipas Kwee Seng dapat ditangkisnya.
Dalam menangkis ini, Si Raksasa mengerahkan lwee-kangnya.
Terdengar suara keras ketika cambuk beradu dengan suling dan kipas, akibatnya Keduanya terlempar ke belakang sampai tiga empat meter dan keduanya jatuh bergulingan diatas tanah!
Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi mukanya, raksasa gundul itu duduk di atas tanah sambil memandang dengan muka berseri.
"Heh-heh-heh, kau hebat orang muda!"
Kwee Seng juga sudah bangkit duduk dan mengatur napas memulihkan tenaganya.
"Dan kau jahat, Ban-pi Lo-cia!"
Jawabnya. Kembali Si Raksasa gundul tertawa.
"Aku pernah mendengar sayup sampai tentang seorang tokoh berjuluk Kim-mo-eng, yang tingkat kepandaiannya sudah masuk hitungan. Agaknya kau kah orangnya?"
"Tidak salah, para Locianpwe memberi sebutan Kim-mo-eng kepadaku."
"Heh-heh-heh, masih muda sudah sombong, ya? Kau kira Ban-pi Lo-cia kalah olehmu? Kita masih seri, belum ada yang menang atau kalah. Mari kita lanjutkan!"
Raksasa itu berdiri, cambuknya terayun-ayun di tangan kanan yang sudah pulih kembali. Kwee Seng juga bangkit berdiri.
"Aku selau melayani, kalau kau memang hendak berkelahi, dan aku selalu akan menghalangimu, kalau kau hendak melakukan hal-hal jahat!"
Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak lalu menerjang maju dan memaksa lawannya melakukan pertandingan jarak dekat yang lebih berbahaya.
Ia hendak mengadu tenaga dalam pertemuan tenaga tadi si raksasa ini dapat menduga bahwa dalam hal tenaga dalam, ia menang setingkat.
Dan hal ini memang harus diakui oleh Kwee Seng.
Pemuda itu kini mendapat kesempatan balas menyerang, namun ia sedapat mungkin menghindarkan adu tenaga karena hal ini akan banyak merugikannya.
Sulingnya sudah retak dan kalau terus-menerus diadu dengan cambuk, tentu akan hancur sedangkan cambuk lawannya sama sekali tidak mengalami kerusakan apa-apa, Kwee Seng mengerahkan gin-kang (meringankan tubuh) dan menggunakan kegesitannya untuk menghadapi serangan dengan balasan serangan pula.
Ia lebih muda, tubuhnya lebih kecil dan karenanya ia lebih gesit daripada lawannya yang tua dan tinggi besar.
Kini Kwee Seng benar-benar menguras ilmunya.
Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja ia tidak mampu mendesak lawan.
Sebaliknya, tidaklah muda bagi Ban-pi Lo-cia untuk mengalahkan lawan yang amat kuat ini.
Dalam benturan kedua yang sama dahsyatnya dengan tadi, keduanya kembali terjengkang sampai beberapa meter jauhnya.
Pertandingan telah setengah malam dan kini fajar mulai menyingsing, sinar merah mengambang di ufuk timur.
Mereka saling pandang, muka berpeluh, uap putih mengepul dari ubun-ubun kepala masing-masing.
"Bah, kau ini orang muda luar biasa. Selama hidup baru sekali ini bertemu orang muda seperti kau. Baru dua kali selama hidupku benar-benar gembira melakukan pertandingan. Pertama melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, kedua dengan kau inilah! Heh-heh-heh! Orang muda, aku pernah mendengar kau ini diambil murid Bu Kek Siansu. Manusia dewa itu katanya paling sakti, akan tetapi mengapa muridnya hanya seperti kau ini, manusia biasa yang dapat kulawan?"
"Aku tidak mendapat kehormatan sebesar itu menjadi murid beliau, aku hanya pernah beruntung menerima petunjuknya. Tak usah kau membawa-bawa nama suci Bu Kek Siansu. Kalau memang hendak bertanding, mari kita lanjutkan."
Kwee Seng kini bangkit lebih dulu. Ia mulai penasaran menghadapi lawan yang begini tangguh dan ulet.
"Heh-heh-heh, sampai mati, bocah sombong!"
Ban-pi Lo-cia menerjang maju dan kini ia membekuk cambuknya lalu menghantam dengan gerakan ilmu silat toya.
Pukulan yang hebat ini tak mungkin dielakkan lagi.
Terpaksa Kwee Seng menangkis dengan sulingnya, berbareng menyodokkan kipasnya.
"Brakkkk!! Uh-uh"
Kwee Seng terhuyung mundur, sulingnya hancur!
Akan tetapi Ban-pi Lo-cia juga terhuyung mundur, perutnya kena ditotok ujung kipas sehingga mendadak perut itu menjadi mulas!
Kalau orang lain terkena totokan ujung kipas yang mengandung tenaga sin-kang, tentu akan tembus perutnya atau rusak isi perutnya, mati seketika.
Akan tetapi Ban-pi Lo-cia yang sudah kebal itu hanya merasakan perutnya mulas seperti orang terlalu banyak lombok saja!
"Serrr..
serrrserrr!"
Belasan batang anak panah menyambar kearah Ban-pi Lo-cia.
Cepat kakek itu mengibaskan lengan bajunya dan anak-anak panah itu runtuh berhamburan.
Dari kanan kiri berlompatan keluar belasan orang yang bersenjata lengkap.
Inilah hwesio jahat itu!
Serbu Keroyok Kiranya belasan orang ini adalah lima orang jago silat bersama teman-temannya, sedangkan dibelakang mereka masih tampak puluhan orang yang merupakan regu penjaga keamanan.
Agaknya peristiwa ditengah telaga itu telah dilaporkan oleh hartawan Lim yang minta bantuan yang berwajib, sedangkan lima orang jago silat sudah mengundang teman-temannya untuk membantu.
Kwee Seng yang maklum bahwa sekian banyaknya orang itu bukanlah lawan Ban-pi Lo-cia, cepat menerjang lagi si raksasa gundul dengan kipasnya.
Ban-pi Lo-cia juga maklum bahwa Kwee Seng merupakan lawan seimbang, kalau sekarang dibantu oleh puluhan orang, ia bisa celaka.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, ia melompat dan sekali lompat ia telah melampaui kepala mereka yang mau mengeroyok.
Mendadak tujuh orang pengeroyok jatuh berturut-turut dan mati seketika karena kepala mereka telah kena disambar hawa pukulan Ban-pi Lo-cia yang sambil melompat pergi.
Dari jauh terdengar suaranya.
"Eeh, Kwee Seng. Belum selesai pertandingan kita, lain kali kita lanjutkan!"
"Sekarang pun boleh!"
Kwee Seng juga melompat dan mengejar karena ia makin penasaran, apalagi melihat raksasa itu pergi sambil membunuh tujuh orang.
Akan tetapi beberapa lama ia mengejar, tak tampak bayangan raksasa itu.
Kwee Seng tidak mau kembali ke tempat tadi, tidak suka ia bertemu dengan mereka yang tentu hanya akan merepotkannya saja.
Ia lalu mengambil jalan sunyi menjauhi telaga.
Ia merasa menyesal bahwa sulingnya telah hancur, tak dapat dipakai menyuling, apalagi sebagai senjata.
Dengan lesu ia melempar sulingnya yang hancur dan terasa betapa tubuhnya basah semua oleh peluh.
Ia perlu beristirahat memulihkan kekuatannya.
Ia hendak mencari tempat yang sunyi agar tidak terganggu orang lain.
"Kongcu"
Kalau suara ini parau dan kasar, agaknya Kwee Seng takkan mengacuhkannya.
Akan tetapi justeru tidak demikian.
Suara itu halus dan merdu, dan inilah yang membuat ia bagaikan terpagut ular dan cepat ia berpaling ke kiri.
Dia sendiri disitu!
Siapa lagi kalau bukan Ang-siauw-hwa, pakaiannya masih serba merah muda, dari pita penghias rambut sampai sepatunya.
Akan tetapi terang bukan pakaian yang semalam, karena pakaian ini selain kering juga bersih sekali.
Rambutnya digelung indah terhias perhiasan burung Hong dari emas dan permata.
Sepasang pipinya kemerahan, matanya bersinar-sinar, bibirnya tersenyum manis.
Akan tetapi wajah yang cantik itu kelihatan berbayang menjadi dua tiga oleh pandangan mata Kwee Seng yang berkunang-kunang.
Pertandingan setengah malam suntuk itu ternyata hebat pula akibatnya bagi pemuda ini.
"Kongcu, kau kenapa Kau terluka"
Kwee Seng memaksa diri tersenyum dan menggeleng kepala. Akan tetapi wanita itu sudah maju mendekat dan memegang tangannya.
"Ah, kau tentu terluka. Hwesio itu jahat sekali. Kau kelihatan lemah dan lelah, Kongcu. Aku sengaja menunggumu disini dan kebetulan kau lewat disini. Bukankah ini jodoh namanya?"
"Ooh"
Tanya Kwee Seng lemah, kata-kata ini mengejutkan dan mengherankan hatinya. Ang-siaw-hwa menarik lengannya.
"Tentu saja jodoh. Kongcu, marilah ikut Ang-siauw-hwa, kau perlu beristirahat, biarlah Ang-siauw-hwa merawatmu."
Dengan kata-kata yang mesra dan merdu ini wanita itu menggandeng tangan Kwee Seng dan dituntunnya pergi.
"Kenapa, kenapa kau begini baik kepadaku?"
Kwee Seng masih mencoba menolak. Akan tetapi Ang-siauw-hwa menarik tangannya dan diguncang-guncangnya.
"Kenapa? Karena kau telah menolong nyawaku, menyelamatkan kehormatanku. Kongcu, karena karena aku ingin belajar menyuling darimu."
"Menyuling?"
Akan tetapi keadaan Kwee Seng makin lemas.
Pertemuan ini mengganggu hati dan pikirannya dan amat merugikannya kerena seharusnya ia dapat beristirahat memulihkan tenaga dalam yang banyak dikerahkan dalam pertempuran.
Bagaikan seorang mimpi dan linglung ia membiarkan dirinya digandeng dan dituntun Ang-siauw-hwa dan ia hampir tidak sadar ke mana ia dibawa oleh wanita itu.
Ketika Kwee Seng membuka matanya, ia telah rebah diatas pembaringan yang hangat, bersih dan berbau harum.
Kamar itu indah sekali dan di pinggir pembaringan ia melihat Ang-siauw-hwa duduk memijiti pundak dan lengannya.
Melihat betapa diatas meja ada lilin tertutup sutera biru, ia heran dan tahu bahwa saat itu hari telah malam.
Akan tetapi melihat wanita cantik itu duduk begitu dekat dengannya dan hanya mengenakan pakaian yang tipis, ia meramkan matanya kembali.
"Ambilkan bubur dan sayur itu, kemudian kalian pergi tinggalkan kamar ini, aku hendak melayani Kongcu makan."
Terdengar Ang-siauw-hwa berkata perlahan.
Dari balik bulu matanya Kwee Seng melihat dua orang wanita pelayan yang tadinya duduk dibawah, bangkit berdiri.
Tak lama kemudian mereka datang lagi membawa baki terisi hidangan untuknya.
"Kongcu, kau harus makan dulu. Sudah sehari penuh kau tidur."
Kata Ang-siauw-hwa sambil menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Kwee Seng.
Pemuda ini bangkit duduk, memandang kesekeliling lalu berkata, penuh kegugupan dan malu-malu.
"Ah, agaknya aku tak sadar tertidur disini, menyusahkan Nona saja. Biarkan aku pergi"
Akan tetapi Ang-siauw-hwa merangkulnya.
"Mengapa begitu, Kongcu? Tidak sudikah Kongcu menerima pembalasan budi dariku? Apakah Kongcu seperti orang-orang lain memandang rendah kepadaku, seorang pelacur?"
Wanita itu masih memeluknya sambil menangis!
Kwee Seng menarik napas panjang.
Ia suka kepada nona ini, yang selain cantik jelita juga halus tutur sapanya, baik budinya.
Akan tetapi tentu saja ia tidak suka melibatkan dirinya dalam perhubungan dengan seorang pelacur.
"Sudahlah, Nona. Aku sekali-kali tidak memandang rendah kepadamu. Kau baik sekali."
Nona itu mengangkat mukanya dan biarpun air mata masih membasahi pipinya,ia tersenyum gembira.
"Marilah makan, Kongcu."
Katanya merdu.
Kwee Seng tidak menolak lagi, perutnya amat lapar.
Tidur sehari itu amat bermanfaat baginya, memulihkan sebagian tenaganya.
Setelah makan yang dilayani amat mesra oleh Ang-siauw-hwa, ia merasa tubuhnya segar kembali.
Ang-siauw-hwa menepuk tangannya dan dua orang pelayan datang dan segera diperintahnya untuk membersihkan mangkok piring, lalu menyuruh mereka pergi lagi.
Kemudian, dengan gerakan lemah gemulai dan mesra, tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi Ang-siauw-hwa lalu menghampiri Kwee Seng dan duduk diatas pangkuannya!
"Ah, Nona ini ini.."
Bagaimana Kwee Seng tergagap.
"Kongcu, budimu terlalu besar. Tak tahu aku dengan apa aku harus membalas budimu, selain dengan penyerahan diriku menjadi hambamu, menjadi budakmu dan melakukan apa saja untuk membalas budimu. Kongcu, bolehkah aku mengetahui namamu?"
Tidak karuan rasa hati Kwee Seng. Kepalanya sampai terasa pening dan dengan halus ia mendorong tubuh nona itu dari atas pangkuannya.
"Nona, duduklah yang betul dan mari kita bicara. Kau mau tahu namaku? Aku adalah Kwee Seng, seorang pelajar gagal yang tiada tempat tinggal, miskin dan tak berharga."
"Ah, Kwee-kongcu mengapa bicara begitu? Kau seorang budiman, gagah perkasa dan amat berharga. Kalau mau bicara tentang orang tak berharga, akulah orangnya"
Kembali nona itu menangis dan ia kini duduk diatas kursi dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
Kwee Seng melihat air mata menetes dari celah-celah jari tangan yang putih, halus dan kecil meruncing itu.
"Nona, kulihat kau bukan orang sembarangan. Kau terpelajar dan tidak kelihatan seperti gadis bodoh. Mengapa kau sampai""
Tidak kuasa ia melanjutkan kata-katanya menyebut pelacur.
"Sampai menjadi pelacur?"
Ang-siauw-hwa menurunkan tangannya dan mukanya menjadi merah sekali, air mata menetes disepanjang kedua pipinya yang halus kemerahan.
"Ah, panjang ceritanya, Kwee-kongcu. Ketahuilah, diwaktu kecilku, aku adalah seorang berdarah bangsawan, Ayahku seorang pangeran dari Kerajaan Tang."
Kaget seperti disambar petir rasa hati Kwee Seng.
"Ahhh! Mengapa sampai begini?"
Nona itu dengan suara pilu bercerita.
Ayahnya memang seorang pangeran bernama Khu Si Cai yang mempunyai sepasang puteri kembar.
Ketika kerajaan Tang runtuh, sekeluarga pangeran ini menjadi korban pula, semua tewas kecuali sepasang anak kembar itu yang berhasil di bawa lari oleh seorang pelayan.
Akan tetapi di tengah jalan mereka terhalang oleh keributan dan perang sehingga seorang di antara dua anak kembar itu terlepas dari gandengan tangan dan hilang.
Yang hilang bernama Khu Gin In, Sedangkan yang masih dapat diselamatkan oleh pelayan itu adalah Khu Kim In.
Anak ini lalu dipelihara pelayan itu, akan tetapi karena keadannya yang amat miskin, hampir saja mereka berdua mati kelaparan.
Akhirnya, pelayan itu terjerat oleh cengkraman seorang pemilik sarang pelacuran bernama bibi Cang yang mau membantu mereka karena melihat betapa cantiknya anak perempuan bernama Khu Kim In.
Makin lama, hutang mereka berumpuk dan akhirnya, setelah Khu Kim In berusia lima belas tahun, terpaksa Khu Kim In Dijual kepada bibi Cang sebagai pembayar hutang.
"Demikianlah, Kwee-kongcu. Akulah Khu Kim In. Tak dapat aku melepaskan diri dari cengkraman bibi Cang. Akan tetpai baiknya aku disayang oleh hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar sekitar tempat ini sehingga aku dapat mempengaruhi bibi Cang dan aku agak bebas. Aku boleh memilih sendiri laki-laki mana yang akan kulayani, dan karena aku banyak mendatangkan hasil sehingga bibi Cang menjadi kaya, maka aku pun ia perlakukan dengan baik serta mendapat kebebasan, malah aku mempunyai pelayan dan tempat tinggal menyendiri. Akan tetapi semua ini kulakukan dengan pengorbanan besar, Kongcu. Ayah bundaku tewas, Adik Gin In entah ke mana, dan aku harus mengorbankan kehormatan, menjadi perempuan hina yang dipandang rendah oleh orang-orang terhormat seperti kau"
Kembali Ang-siauw-hwa menangis.
Bukan main terharu hati Kwee Seng.
Alangkah buruknya nasib gadis ini.
Rasa haru dan kasihan membuat ia memegangi pundak wanita itu dengan halus dan menghibur.
"Sudahlah, Nona. Aku tidak memandang rendah kepadamu dan aku berjanji akan menebusmu dari bibi Cang, kemudian aku akan mencarikan orang tua yang baik yang suka memungutmu sebagai anak. Adapun tentang nona Khu Gin In, biarlah perlahan-perlahan kucarikan untukmu."
"Ah, Kwee-kongcu kau menumpuk budi kebaikan padaku."
Ang-siauw-hwa menubruk kwee Seng dan menangis sambil mendekap dada pemuda itu dengan mukanya.
Kini Kwee Seng tidak menolaknya, mengusap-usap rambut wanita itu dengan penuh perasaan kasihan dan sayang.
Seorang puteri pangeran sampai begini, pikirnya.
Karena ia yakin bahwa semua sikap nona ini bukan pura-pura, melainkan keluar dari setulusnya hati yang amat berhutang budi kepadanya, maka ia pun tidak tega untuk menolak pernyataan kasih sayangnya, apalagi memang ia amat tertarik oleh nona yang memiliki kecantikan jarang keduanya ini.
Setelah reda menangis, tanpa melepaskan pelukannya Ang-siauw-hwa berkata, suaranya mesra dan manja.
"Aku tertarik sekali oleh bunyi sulingmu, Kwee-koko, kuharap kau suka mengajarku."
Hati Kwee Seng berdebar sebutan Kongcu (Tuan Muda) berubah menjadi Koko (Kakanda) ini.
"Sulingku remuk oleh si Hwesio jahanam."
Jawabnya, masih mengagumi rambut hitam halus panjang dan harum itu.
"Disebelah barat telaga ada penjual suling yang baik, biarlah ku suruh pelayan membeli untukmu."
"Tak usah, biarlah kubeli sendiri besok. Memilih sebuah suling bukanlah sembarangan, harus dicoba dulu."
Malam itu merupakan malam yang amat mesra bagi Kwee Seng, akan tetapi juga malam yang menimbulkan kasihan di hatinya terhadap Ang-siauw-hwa, rasa kasihan yang tentu dengan mudah akan menggelimpang menjadi rasa cinta kalau saja ia tidak teringat bahwa nona ini adalah seorang pelacur!
Di lain fihak, sama sekali tidaklah aneh kalau Ang-siauw-hwa Khu Ki In jatuh cinta kepada Kwee Seng karena selama hidupnya, baru sekarang ia bertemu dengan pemuda yang tidak memandangnya sebagai seorang pelacur yang hina.
Biasanya, laki-laki yang manapun juga hanya akan menganggap ia sebagai barang permainan, yang datang kepadanya dengan kandungan nafsu dan mengharapkan kesenangan dan hiburan daripadanya.
Akan tetapi kwee Seng ini berbeda sekali, pemuda tampan ini menolongnya tanpa pamrih, menganggapnya manusia terhormat, maka sekaligus hatinya jatuh dan tidak mengherankan kalau dia dengan rela menyerahkan jiwa raga kepada Kwee Seng dan mengharapkan untuk dapat melayani pemuda itu selama hidupnya!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwee Seng berpamit kepada Ang-siauw-hwa yang masih setengah tidur diatas pembaringan.
"Moi-moi, aku pergi dulu hendak mencari suling yang baik."
Dengan mata masih setengah meram, Ang-siauw-hwa mengembangkan kedua lengannya yang berkulit putih halus kearah Kwee Seng, lalu berkata, suaranya mesra dan penuh cinta kasih.
"Kwee-koko jangan kau tinggalkan aku lagi."
Kwee Seng merasa terharu sekali.
Ia merasa yakin akan perasaan cinta wanita ini kepadanya.
Untuk sejenak jari-jari tangan mereka saling cengkeram lalu Kwee Seng melepaskannya dan berkata sambil tersenyum.
"Jangan kuatir, Moi-moi, aku takkan meninggalkanmu begitu saja sebelum kau pandai bersuling! Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, pagi itu Kwee Seng merasa gembira sekali."
Lenyap sudah rasa lelah dan lemah sebagai akibat pertandingan mati-matian melawan Ban-pi Lo-cia.
Sinar matahari pagi yang menyoroti permukaan air telaga dan pohon-pohon di sekitarnya, tampak amat indah menyegarkan.
Suara kicau burung pagi amat sedap, tidak seperti biasanya.
Dan pemuda ini tersenyum, matanya bersinar-sinar, dan kedua pipinya menjadi kemerahan bibirnya tersenyum aneh kalau ia teringat pada Ang-siauw-hwa!
Ia harus mencari suling yang baik, tidak saja yang baik suaranya, akan tetapi juga yang memenuhi syarat untuk menjadi senjata.
Bambu yang pilihan tua dan kering betul.
Benar seperti dikatakan Ang-siauw-hwa, disebelah barat telaga itu terdapat seorang penjual suling buatannya sendiri.
Akan tetapi Kwee Seng kecewa melihat bahwa biarpun pembuatannya amat halus, namun bahannya terbuat daripada bambu biasa saja.
"Saya mempunyai sebatang bambu berbintik hitam yang biasa disebut bambu berbintik hitam, Kongcu. Bambu itu saya beli mahal dari seorang perantau di Lembah Huang-ho, akan tetapi karena mahalnya, sampai sekarang belum saya bikin suling, takut tidak akan ada yang berani membelinya."
Akhirnya Si Tukang Pembuat Suling itu berkata.
Kwee Seng girang sekali.
Ia mengenal bambu naga hitam sebagai bambu yang kuat dan lurus maka amatlah baik untuk dijadikan suling dan dibuat senjata.
"Mana bambu itu? Kenapa tidak dari tadi kau bilang? Keluarkanlah, biar aku melihatnya."
Setelah bambu itu dikeluarkan, Kwee Seng menjadi girang sekali.
Benar bambu naga hitam yang amat baik, tua dan sudah kering betul.
Mereka tawar-menawar, kemudian Kwee Seng berkata.
"Jadilah. Harap kau buatkan suling dari bambu ini sekarang juga, aku akan menunggunya."
Setengah hari lebih Kwee Seng berada di rumah pembuat suling itu.
Akhirnya lewat tengah hari, suling itu pun jadi dan setelah mencobanya dan mendapat kenyataan bahwa memang sudah tepat ukuran lubang-lubangnya.
Kwee Seng membayar harga suling yang lima puluh kali lebih mahal daripada harga suling biasa, membeli pula sebuah suling biasa dan meninggalkan tempat itu.
Ia girang sekali, mempercepat larinya menuju ke rumah mungil yang menurut cerita Ang-siauw-hwa menjadi tempat istirahatnya tak jauh dari telaga.
"Moi-moi, kau lihatlah suling ini!"
Di depan pintu rumah Kwee Seng sudah berseru memanggil, rindu akan senyum manis dan pandang mata mesra yang pasti akan menyambutnya.
Akan tetapi sunyi saja disebelah dalam.
Kwee Seng mendorong daun pintu dan dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dua sosok tubuh malang-melintang dibelakang daun pintu.
Ketika ia membungkuk dan memeriksa, ternyata itu adalah dua orang pelayan wanita yang sudah tak bernyawa lagi tanpa menderita luka yang kelihatan.
Kwee Seng menjadi pucat mukanya.
"Moi-moi"
Serunya dan mendengar ada suara perlahan dari dalam kamar, sekali meloncat ia sudah menerjang daun pintu kamar dan masuk kedalam kamar.
Apa yang dilihatnya?
Memang Ang-siauw-hwa berada disitu, akan tetapi dalam keadaan yang jauh bedanya dengan malam tadi, Gadis itu telentang diatas pembaringan, pakaiannya hampir telanjang, rambutnya terlepas dari ikatan dan menutupi sebagian leher dan dada, bajunya yang berwarna merah muda itu robek-robek dan penuh darah yang keluar dari dadanya dimana tampak menancap sebuah gunting!
Kwee Seng Segera menubruknya, akan tetapi sekali pandang maklumlah ia bahwa nyawa gadis ini tak dapat ditolongnya lagi, karena gunting itu tepat menancap di ulu hati.
Ia diam-diam heran mengapa Ang-siauw-hwa tidak mati seketika dengan tusukan seperti itu.
"Moi-moi siapa melakukan ini?"
Ia mengguncang-guncang pundak wanita itu. Ang-siauw-hwa membuka matanya yang sudah layu dan tiba-tiba gadis itu tersenyum lemah.
"Kwee-koko kau datang terlambat tapi lebih baik begini tak mungkin aku dapat melihat mukamu setelah apa yang terjadi lebih baik aku akhiri hidupku."
"Apa katamu? Kau membunuh diri? Tapi mengapa, Moi-moi?"
"Koko pada saat kau pergi datang hwesio iblis itu, ah".. dua orang pelayanku dibunuhnya dan aku aku.. Wanita itu menangis dan napasnya terengah-engah. Setelah bertemu dengan engkau setelah aku bersumpah setia hanya padamu seorang, kebiadaban hwesio itu membuat aku tak mungkin dapat melihatmu lagi di dunia ini aku aku, ah.. koko, aku cinta padamu kau carikan saudaraku Gin In"
"Moi-moi"
Akan tetapi Ang-siauw-hwa atau Khu Lim In yang bernasib malang itu telah menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Kwee Seng.
Pada saat itu, dari luar terdengar suara perempuan memanggil.
"Ang-siauw-hwa Kenapa kau dua hari tidak kembali ke kota? Aku menanti-nantimu, banyak tamu menanyakan kau,"
Lalu terdengar jerit wanita.
Kwee Seng maklum bahwa tentu wanita yang datang itu Bibi Cang yang sudah melihat dua orang pelayan yang tewas, maka untuk tidak melibatkan diri dalam urusan pembunuhan ini, cepat ia merebahkan tubuh Ang-siauw-hwa diatas pembaringan, menunduk dan mencium bibir yang mulai layu itu dan secepat kilat ia melompat keluar kamar melalui jendela, membawa jubahnya yang kemarin dipinjam Ang-siauw-hwa, dan meninggalkan sulingnya didekat tubuh pelacur itu.
"Demikianlah, Sian-moi, pertemuanku dengan Ban-pi Lo-cia yang mengakibatkan sulingku hancur!"
Kwee Seng mengakhiri ceritanya kepada Liu Lu Sian.
Tentu saja dalam cerita itu ia tidak menjelaskan hubungannya dengan Ang-siaw-hwa secara jelas.
Dalam pandangannya, dibandingkan dengan Ang-siauw-hwa, Liu Lu Sian menang segala-galanya.
Kalau Ang-siauw-hwa diumpamakan setangkai bunga, maka pelacur itu adalah bunga botan yang tumbuh dilapangan rumput, tiada pelindung dan mudah dilayukan sinar matahari dan dirontokkan angin besar.
Akan tetapi Liu Lu Sian merupakan setangkai bunga mawar hutan yang semerbak harum, indah terlindungi pohon besar, disamping itu sukar dipetik karena tertutup duri-durinya yang runcing.
"Kwee-koko, mengapa ketika kau bercerita tentang dicemarkannya pelacur itu oleh Ban-pi Lo-cia, matamu berkilat marah! Seorang perempuan lacur macam Ang-siauw-hwa itu, mana ada harganya untuk dibela?"
Memang ini termasuk sebuah diantara watak Lu Sian yang aneh.
Kalau ada laki-laki menyatakan suka atau tertarik oleh wanita lain, biarpun laki-laki itu bukan apa-apanya, ia akan merasa iri hati dan cemburu!
Dilain fihak, Kwee Seng adalah seorang pemuda yang sama sekali belum berpengalaman tentang wanita dan asmara, maka ia tidak tahu dan tidak mengerti akan sikap ini.
Ia malah merah mukanya karena jengah mendengar teguran Lu Sian.
"Ah, mengapa kau bilang begitu, Sian-moi? Pelacur atau bukan, dia hanya seorang lemah yang diperkosa oleh seorang jahat yang kuat. Sudah menjadi kewajibanku untuk membelanya, dan sudah semestinya kalau aku marah melihat kejahatan Ban-pi Lo-cia. Aku mengharapkan perjumpaan sekali lagi dengan pendeta iblis itu!"
Makin tak senang hati Lu Sian karena dianggapnya bahwa kematian pelacur itu membuat Kwee Seng sakit hati dan ini menandakan bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada Si Pelacur.
"Koko, apakah kau mencinta perempuan hina itu?"
Tiba-tiba ia bertanya, matanya memandang tajam. Kwee Seng juga memandang dan melihat sinar mata bening tajam itu bertambah kagumlah hatinya.
"Tidak, aku hanya kasihan kepadanya."
Jawab Kwee Seng, suaranya jelas menyatakan isi hatinya. Akan tetapi agaknya Liu Lu Sian belum puas. Gadis ini mengerutkan keningnya dan mendesak lagi.
"Pernahkah kau jatuh cinta? Adakah seorang wanita yang kau cinta di dunia ini?"
Bertemu dengan pandang mata tajam bening penuh selidik itu, muka Kwee Seng menjadi makin merah.
Sebelum menjawab ia menggigit bibir menekan perasaan, kemudian katanya.
"Selama ini aku tidak pernah jatuh cinta. Hanya setelah bertemu dengan engkau, Sian-moi. Ah".. entahlah. Agaknya kalau ini yang dinamakan cinta, berarti aku jatuh cinta kepadamu!"
Mendengar kata-kata ini, lu Sian hanya tertawa, tertawa senang sekali. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata.
"Kwee-koko, mari kita melanjutkan perjalanan."
"Apa? Hampir tengah malam begini?"
Akan tetapi Lu Sian sudah melangkah ke kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawa buntalan pakaian dan memanggil pelayan dengan suara nyaring.
Ketika pelayan berlari-lari datang, ia cepat memerintahkan pelayan untuk menuntun dua ekor kuda mereka dan menyiapakannya di depan rumah penginapan.
"Mengapa tidak, Koko? Apa salahnya melakukan perjalanan malam? Setelah keributan tadi, aku tidak senang disini, ingin lekas-lekas pergi saja. Aku ingin berada ditempat bebas dan udara terbuka untuk mendinginkan kepala agar dapat aku enak memikirkan."
"Memikirkan sesuatu saja harus pergi tengah malam ditempat terbuka? Kwee Seng mengomel karena sesungguhnya ingin ia mengaso. Memikirkan apa saja, sih?"
Liu Lu Sian tersenyum manis.
"Memikirkan pernyataan cintamu tadi itu!"
Kwee Seng melongo dan pipinya menjadi merah, akan tetapi cepat-cepat ia pun mengambil pakaian dan keduanya lalu keluar dari rumah penginapan, melompat keatas kuda dan meninggalkan pelayan-pelayan yang memandang dengan mata terbelalak, terheran-heran menyaksikan dua orang muda yang lihai dan royal itu, yang meninggalkan hadiah tidak sedikit di tangan mereka sebelum pergi.
Begitu keluar dari kota, Lu Sian membalapkan kudanya, Kwee Seng terpaksa mengikutinya dengan perasaan heran.
Alangkah anehnya gadis ini, pikirnya, dan hatinya berdebar kalau ia teringat betapa tadi ia telah mengucapkan pengakuan cintanya kepada Lu Sian.
Akan tetapi ternyata gadis ini melakukan perjalanan setengah malam suntuk tanpa bicara dan Kwee Seng yang masih marasa malu karena pengakuan cintanya, tidak berani bicara sesuatu, hanya mengiringkan gadis itu dari belakang.
"He, paman tukang perahu! Mari kau seberangkan aku dan kudaku kesana! Berapa biayanya kubayar!"
Tukang perahu yang kurus dan bermata sipit memakai topi lebar itu segera meminggirkan perahunya, perahu yang cukup besar.
Ternyata ia seorang nelayan karena di atas dek perahu tampak alat-alat pancing dan jaring.
Dibagian belakang perahu duduk seorang anak tanggung memegang dayung bambu panjang.
"Baiklah, nona. Memang setiap hari kerjaku hanya menyeberangkan orang yang lari mengungsi. Akan tetapi dari seberang sana kesini. Sungguh heran sekali pagi-pagi buta begini nona malah hendak menyeberang kesana."
Kata si tukang perahu dengan suara penuh keheranan.
Lu Sian menuntun kudanya dan mengajaknya melompat keatas dek perahu, sedangkan Kwee Seng mengikutinya tanpa banyak bicara.
Dalam keadaan remang-remang kini ia dapat melihat wajah gadis itu, masih berseri-seri gembira dan cantik sekali.
Kali ini Lu Sian melirik kepadanya dan tersenyum-senyum manis, akan tetapi juga tidak bicara apa-apa.
"Ah, Paman, kau tadi bilang apa?"
Ketika perahu sudah meluncur ke tengah, Lu Sian bertanya.
"Orang-orang mengungsi dari sana? Ada terjadi apakah diseberang sana?"
Si Tukang Perahu memandang, keningnya berkerut.
"Apakah nona belum tahu? Daerah San-si mulai geger. Sejak gubernur Li Ko Yung berkuasa dan kerajaan Tang ditumbangkan belum pernah terjadi kehebohan di kalangan rakyat. Akan tetapi setelah Jenderal Muda Kam menentang kekuasaan gubernur dan tidak setuju dengan pemberontakan melawan kerajaan, keadaan menjadi geger karena jenderal Kam mempunyai banyak pengikut. Malah sesungguhnya rakyat banyak yang menyokong jenderal muda gagah perkasa itu. Banyaklah dilakukan penangkapan-penangkapan oleh gubernur, dengan tuduhan memberontak. Ah.."
"Dan bagaimana dengan jenderal itu? Apakah ditangkap juga? Dan dimana dia sekarang?"
Lu Sian agaknya tertarik sekali, akan tetapi Kwee Seng mendengar semua itu dengan hati dingin.
Memang sama sekali ia tidak ada perhatian terhadap keributan negara yang tiada hentinya, semenjak pemberontakan yang terjadi puluhan tahun yang lalu terus menerus, sampai tumbangnya Kerajaan Tang dan tanah air menjadi pecah-pecah karena diperebutkan.
Entah berapa banyaknya sekarang raja-raja dan raja-raja muda atau bekas-bekas gubernur yang mengangkat diri sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling curiga-mencurigai, seakan-akan sekelompok anjing masing-masing mendekap sebatang tulang.
Ia muak dengan itu semua, muak melihat manusia-manusia yang demi mencari kemuliaan dan kedudukan duniawi, berebutan tak tahu malu, mempergunakan rakyat yang dipecah-pecah untuk memihak demi kepentingan masing-masing tanpa menghiraukan korban berjatuhan di kalangan rakyat jelata yang selalu hidup miskin dan bodoh!
"Mana bisa Jenderal Kam ditangkap?
Biar gubernur sendiri takkan berani menangkapnya, hanya berani menangkapi rakyat yang tak berdaya!
Pula, tanpa adanya jenderal yang gagah perkasa dan dicinta rakyat itu, bagaimana mungkin Shan-si akan dapat bertahan terhadap serangan dari luar?"
"Paman yang baik, bukankah jenderal itu bernama Kam Si Ek?"
"Betul, bagaimana nona dapat mengenal nama jenderal kami itu sedangkan tadi nona tidak tahu apa-apa tentang keributan di daerah San-si?"
Kini Kwee Seng mulai memperhatikan apalagi ketika disebut nama Kam Si Ek.
Ia sudah mendengar akan kehebatan sepak terjang Jenderal Muda itu, bahkan belum lama ini Kam Si Ek muncul pula di pesta Beng-kauw dan telah memperlihatkan sikap dan wataknya yang memang gagah perkasa ketika mencegah Lu Sian menjatuhkan tangan maut kepada seorang pengagumnya.
Seorang pemuda gagah yang berwatak satria, tidak melayani tantangan Lu Sian padahal pemuda yang menjadi jenderal itu belum tentu kalah oleh gadis puteri Beng-kauwcu ini.
Laki-laki yang tidak tunduk oleh wajah cantik!
Tidak seperti aku, demikian Kwee Seng memaki diri sendiri.
"Ah, Sian-moi. Kau menyebrang sungai ini, apakah hendak melakukan perjalanan ke utara? Mau kemanakah? Ingat, perjalanan ini adalah perjalananku, kau hanya ikut denganku,"
Kata Kwee Seng setelah tukang perahu itu pergi ke kepala perahu untuk membantu penyebrangan karena air mulai agak deras alirannya dan tidak amanlah kalau hanya mengandalkan tenaga pembantunya yang masih anak-anak.
Dengan kerling tajam Lu Sian mencibirkan bibirnya yang merah.
Jantung Kwee Seng serasa ditarik-tarik.
Manisnya gadis ini kalau begitu!
"Kwee-koko, seorang suami boleh membawa kehendak sendiri, ada kalanya harus menghormati dan menuruti keinginan si isteri, tunangan pun bukan.
Bagaimana aku harus selalu menuruti kehendakmu!
Kau bukan suamiku, bukan tunanganku, juga bukan atau belum menjadi guruku karena kau belum menurunkan apa-apa seperti yang telah kau janjikan kepada ayah.
Aku ingin ke utara, kalau kau hendak mengambil jalan lain tanpa menurunkan kepandaian kepadaku yang berarti kau melanggar janji, terserah."
Kwee Seng mengeluh didalam hatinya. Terlalu sekali gadis ini menggodanya. Ia tertawa dengan sabar.
"Adik yang baik, kata-katamu seperti ujung pisau tajamnya. Aku sih tidak mempunyai tujuan tertentu, kemana pun boleh. Akan tetapi kalau di utara terjadi keributan perang, mengapa kau hendak kesana?"
Lu Sian tertawa dan giginya yang putih berkilau terkena matahari pagi yang mulai muncul dan sinarnya menembus celah-celah daun pohon.
"Justeru karena ada perang aku ingin kesana. Aku hendak menonton keramaian! Kwee-koko, ada tontonan bagus, mengapa kita lewatkan begitu saja? Pula, melakukan perjalanan bersamaku, biarpun menempuh bahaya, bukankah amat menyenangkan bagimu?"
Gadis itu mengerling, manis sekali dan Kwee Seng menahan napasnya.
Sinar matahari pagi jatuh pada kepala gadis itu, membuat sekeliling kepala seperti dilingkungi sinar keemasan!
"Kau cantik sekali, Moi-moi,"
Katanya perlahan, penuh kekaguman. Lu Sian tertawa. Gadis di pagi hari belum berhias.
"mana bisa cantik? Ihhh, kau sudah mabok lagi, Koko, kini bukan mabok arak, melainkan mabok asmara!"
Lu Sian tertawa-tawa menggoda, lalu berjongkok dipinggir perahu, tangannya menyambar air yang jernih dan mulailah ia mencuci mukanya, digosok-gosoknya sehingga seluruh kulit mukanya menjadi kemerahan dan segar laksana bunga mawar merah tersiram embun pagi.
Digoda secara terang-terangan seperti itu, Kwee Seng menjadi lemas dan selanjutnya ia tidak mau banyak bicara lagi, karena setiap godaan gadis itu merupakan tusukan di hatinya.
Mengapa ia tiba-tiba menjadi begini lemah?
Mengapa ia tidak pergi saja tinggalkan gadis ini?
Kemana perginya keangkuhannya yang selama ini ia banggakan?
Ah, ia masih mengharap.
Ia masih menanti.
Lu Sian telah mendengar pengakuan cintanya, dan gadis ini sukar sekali diraba isi hatinya.
Kadang-kadang begitu mesra seakan-akan gadis itu pun mencintainya sungguhpun ingin memperlihatkan kebalikannya, akan tetapi mengapa kadang-kadang begitu kejam menyerangnya dengan kata-kata sindiran?
Setelah menyeberang, kembali Lu Sian membalapkan kudanya.
Kwee Seng mengikuti dari belakang dan sebentar saja mereka sudah memasuki sebuah hutan.
Benar saja seperti yang dikatakan tukang perahu, setelah agak siang tampaklah berbondong-bondong orang mengungsi ke selatan.
Karena jalan mulai ramai dengan rombongan pengungsi, Lu Sian dan Kwee Seng mengambil jalan hutan yang kecil akan tetapi sunyi.
"Mengapa mengungsi saja harus beramai-ramai seperti itu? Memenuhi jalan saja."
Lu Sian mengomel karena jalan hutan yang dilalui sempit dan seringkali pohon-pohon kecil berduri mengganggunya.
"Rakyat sudah terlalu banyak mengalami tindasan dan kekerasan, Sian-moi. Mereka tahu bahwa mengungsipun tidak terlepas dari intaian bahaya gangguan orang jahat atau binatang buas maka mereka merasa lebih aman untuk melakukan pengungsian beramai-ramai. Pada perang sekacau ini biasanya orang-orang jahat suka mempergunakan kesempatan merampok."
"Hah, kau benar, koko dan agaknya kita yang akan menjadi korban. Kau dengar itu?"
Kwee Seng mengangguk.
"Derap kaki banyak kuda dari belakang! Akan tetapi belum tentu perampok-perampok yang mengejar kita, Moi-moi."
Mereka berdua berhenti dan menoleh ke belakang.
Tak lama kemudian derap kaki kuda berbunyi lebih jelas dan muncullah tiga orang penunggang kuda yang membalapkan kuda mereka cepat sekali.
Tiga ekor kuda tunggangan mereka itu besar-besar dan ternyata merupakan kuda pilihan, malah lebih besar dan baik daripada kuda tunggangan Kwee Seng dan Lu Sian.
Sedangkan tiga orang penunggangnya adalah wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan berpakaian mewah akan tetapi ringkas.
Pedang berukir indah bergantung dipunggung mereka, tangan kiri memegang kendali kuda, tangan kanan memegang cambuk.
Melihat kesigapan mereka menunggang kuda, mudah diduga mereka itu adalah wanita-wanita yang pandai ilmu silat, apalagi pedang mereka membayangkan pedang pusaka yang baik.
Yang terdepan paling tua usianya, antara dua puluh lima tahun, pakaiannya serba merah, yang kedua berusia dua puluh tahun, pakaiannya serba kuning dan yang ketiga baru delapan belas tahun berpakaian serba hijau.
Melihat raut muka mereka, dapat diduga bahwa mereka itu kakak beradik, dan sukar dikatakan mana yang paling cantik diantara mereka.
Semua cantik dan pandang mata mereka tajam.
Akan tetapi wajah yang berkulit halus itu diperbagus lagi dengan bedak dan yanci (pemerah bibir/pipi) sehingga menimbulkan kesan dihati Kwee Seng bahwa tiga orang wanita ini adalah gadis-gadis pesolek, seperti Ang-siauw-hwa.
Berbeda dengan Liu Lu Sian yang ia lihat tak pernah memakai bedak dan yanci, sungguhpun hal ini memang tidak perlu karena kulit muka Lu Sian sudah terlalu putih halus dan bibirnya selalu merah membasah, pipinya kemerahan seperti buah apel masak.
"Minggir! Minggir!"
Tiga orang gadis itu berseru nyaring tanpa mengurangi kecepatan lari kuda mereka.
Padahal jalan itu sempit sekali.
Terpaksa Kwee Seng menarik kendali kudanya, dipinggirkan.
Melihat Lu Sian tetap membiarkan kudanya menghadap jalan, Kwee Seng tidak mau membiarkan keributan terjadi, ia meraih kendali kuda tunggangan Lu Sian dan menarik binatang itu minggir pula.
Dua ekor kuda tunggangan pertama dan kedua lewat cepat sekali dan tercium bau harum minyak wangi.
Kuda ketiga yang ditunggangi gadis termuda, melambat dan gadis ini mengerling kearah Kwee Seng, lalu melempar senyum!
Setelah melirik penuh arti barulah gadis ke tiga ini membalapkan kudanya lagi.
Kwee Seng cepat menggerakkan tangannya menangkap pergelangan tangan Lu Sian.
Gadis ini menggenggam jarum-jarum yang merupakan senjata rahasia dan yang tadinya hendak ia sambitkan kepada tiga orang gadis itu!
"Moi-moi, mengapa mencari gara-gara dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal dan tidak ada permusuhan dengan kita?"
Lu Sian menjebirkan bibirnya, kebiasaan yang selalu membetot jantung Kwee Seng, lalu menyimpan kembali jarum-jarum rahasianya.
"Menjemukan! Koko, apakah kau selalu menjadi lemah hati dan siap menolong setiap orang perempuan cantik?"
Merah kedua pipi Kwee Seng.
"Bukan begitu, moi-moi. Aku hanya suka menolong kepada orang yang perlu ditolong, tak peduli dia perempuan atau laki-laki. Akan tetapi mereka itu tadi tidak mempunyai salah apa-apa, mengapa hendak kau serang?"
"Tidak salah apa-apa? Ihh, kenapa matanya lirak-lirik seperti tukang copet?"
Kwee Seng tertawa geli mendengar ini.
"Tukang copet? Ha-ha, perumpamaanmu sungguh tak tepat. Masa gadis cantik menjadi tukang copet? Dan lagi, aku Si Miskin ini apanya yang patut di copet?"
Lu Sian tersenyum juga.
"Apalagi kalau bukan hatimu yang akan dicopet?"
Kwee Seng membelalakan matanya memandang, akan tetapi gadis itu hanya mentertawakannya tanpa menutupi mulut, memperlihatkan deretan gigi putih dan lubang mulut kemerahan.
Kwee Seng merasa ditertawakan, hatinya sebal dan sakit.
"Mari kita lanjutkan perjalanan!"
Akhirnya ia berkata agak marah, akan tetapi Lu Sian tetap tertawa-tawa ketika membedal kudanya dibelakang pemuda itu.
"Ah, kau terburu-buru amat. Apakah hendak mengejar pencopet dan menyerahkan hatimu? Dia manis sekali, Kwee-koko! Kerlingnya tajam dan mengundang tantangan!"
Berkali-kali Lu Sian menggoda, akan tetapi Kwee Seng tidak menjawab dan terus membalapkan kudanya.
Akan tetapi agaknya tiga orang gadis tadi pun melarikan kuda cepat sekali, buktinya sampai tiga hari mereka berdua belum juga dapat menyusul tiga orang gadis itu.
Pada hari keempatnya, setelah bermalam didalam hutan yang dingin, Kwee Seng dan Lu Sian melanjutkan perjalanan.
Di persimpangan jalan mereka melihat banyak orang pengungsi pula, akan tetapi anehnya mereka itu bukan berjalan ke selatan, sebaliknya mereka menuju ke utara!
Bukan hanya Lu Sian yang merasa heran, juga Kwee Seng terheran-heran sehingga pemuda ini menanya kepada seorang pengungsi laki-laki yang sudah tua.
"Lopek, kalian semua hendak mengungsi ke manakah?"
"Kemana lagi kalau tidak ke benteng Naga Emas? Hanya disanalah tempat yang aman bagi kami, karena Kam-goan-swe (Jenderal Kam) berada disana."
"Mengapa dilain tempat tidak aman Lopek? Apakah yang mengancam keselamatan kalian?"
Kwee Seng mulai tertarik sedangkan Lu Sian juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengar pertanyaan ini kakek itu memandang heran.
"Kongcu datang dari manakah sehingga tidak tahu keadaan disini? Dimana-mana terdapat manusia-manusia serigala, bala tentara gubernur merajalela menganggu penduduk dan merampok harta memperkosa wanita dengan alasan membasmi pemberontak! Semua orang takut menentang Gubernur Li, hanya Kam-goan swe seorang yang berani melindungi kami. Kongcu dan Nona sebagai orang-orang asing sebaiknya jangan melakukan perjalanan di daerah ini, berbahaya."
Setelah berkata demikian, kakek itu melanjutkan perjalanan bersama rombongan pengungsi yang terdiri dari tiga puluh orang lebih itu.
"Lopek, masih jauhkah benteng itu dari sini?"
Tiba-tiba Lu Sian bertanya sambil mengajukan kudanya. (Lanjut ke
Jilid 05) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Kakek itu menoleh dan memandang, akan tetapi keningnya berkerut, tidak mau menjawab, malah lalu berjalan lagi dan timbul kemarahannya, membentak.
"Ah, Kakek! Apakah kau tuli dan bisu?"
Kakek itu cemberut, menoleh lagi dan mengomel.
"Tidak ada wanita baik di jaman edan ini!"
Tentu saja Lu Sian makin marah.
Melihat ini, Kwee Seng khawatir kalau-kalau Liu Sian akan turun tangan, maka ia cepat menggeprak kudanya, maju kedepan Lu Sian dan berkata kepada kakek itu.
"Lopek, sahabatku ini bertanya baik-baik, mengapa kau tidak mau menjawab? harap jangan salah melihat orang, sahabatku ini seorang pendekar wanita yang berhati mulia."
Lenyap kemarahan Lu Sian dan ia tersenyum-senyum mendengar pujian ini.
Adapun kakek itu lalu membalikkan tubuh, memandang ragu kepada Lu Sian lalu menjura.
"Harap nona suka maafkan. Baru pagi tadi sini lewat pula tiga orang gadis seperti nona, akan tetapi mereka itu kasar bukan main, bahkan lima orang kami mereka pukul dengan cambuk karena kurang cepat minggir untuk mereka lewat dengan kuda mereka yang besar-besar. Kalau nona hendak mengetahui, benteng itu tidak jauh lagi, kurang lebih tiga li lagi dari sini."
Setelah rombongan itu bergerak lagi dan Kwee Seng mulai menggerakkan kendali untuk melanjutkan perjalanan, Lu Sian menyentuh lengannya dan berkata.
"Kwee-koko, kita berhenti disini, mencari tempat mengaso sampai nanti malam."
"Ah, mengapa begitu? Hari masih siang, dan perjalanan masih jauh. Ada keperluan apa yang harus berhenti disini?"
"Keadaan benteng itu, Jenderal Kam itu, dan tiga orang gadis yang agaknya juga pergi kesana, menarik hatiku untuk menyelidiki. Malam nanti aku hendak menyelidiki kesana, melihat keadaan dan mencari tahu apakah sebenarnya yang terjadi."
"Ah, Moi-moi, mengapa kau mencari urusan yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita? Urusan Jenderal Kam adalah urusan negara, dan selama orang menyangkutkan diri dengan urusan negara, maka tak boleh tidak ia mempunyai cita-cita yang kotor. Tak perlu kita mencampurinya, Moi-moi."
Akan tetapi lu Sian sudah memutar kudanya dan mencari tempat yang enak untuk mengaso dan bermalam.
Akhirnya ia berhenti di bawah pohon yang besar, lalu turun dari kudanya.
Terpaksa Kwee Seng mengikutinya.
"Sudahlah, koko, aku lapar karena terlalu banyak bicara. Biar kucarikan daging untuk teman roti kering kita."
Gadis itu meloncat dan lenyap memasuki hutan yang gelap.
Tak lama kemudian ia tertawa-tawa sambil memegang dua ekor kelinci gemuk pada telinganya, Kwee Seng tidak berkata apa-apa, hanya membantu gadis itu menguliti kelinci dan membakar dagingnya.
Setelah mereka makan kenyang, Lu Sian merebahkan diri diatas rumput yang gemuk empuk.
Tak sampai sepuluh menit kemudian gadis itu sudah tidur nyenyak, mukanya miring berbantal tangan, napasnya panjang teratur, pipinya kemerahan, bulu matanya yang merapat kelihatan panjang membentuk bayangan pada pipi.
Berjam-jam Kwee Seng hanya duduk sambil memandangi tubuh yang rebah miring didepannya.
Pikirannya melayang-layang.
Alangkah cantiknya gadis ini.
Rambutnya yang hitam itu agak kacau, sebagian rambut yang terlepas dari ikatan menutupi pipi dan kening.
Dahi yang halus putih itu agak basah oleh peluh karena hawa memang panas menjelang senja itu.
Kwee Seng melihat ini lalu memadamkan api unggun yang tadi dipakai memanggang daging kelinci.
Kemudian ia duduk lagi menghadapi Lu Sian sambil menikmati wajah ayu itu.
Lu Sian bergerak sedikit dalam tidurnya, bibirnya tersenyum, tangannya menyibakkan rambut yang menutup pipi dan kening, lalu tubuhnya bergerak terlentang, terdengar bisikannya.
"Kwee-koko,"
Berdebar keras jantung Kwee Seng.
Gadis ini mengigau dan menyebut-nyebut namanya dalam tidur!
bukankah itu berarti bahwa Lu Sian juga menaruh hati kepadanya?
Ia memandang lagi.
Mulut yang manis itu masih tersenyum.
Tiada bosannya memandang wajah ini, bagaikan orang memandang setangkai bunga mawar segar.
Terpesona Kwee Seng memandangi rambut hitam panjang yang kini awut-awutan itu, mengingatkan ia akan syair tentang keindahan rambut yang pernah di bacanya .
halus licin laksana sutera hitam mulus melebihi tinta gemuk panjang berikal mayang mengikat kalbu menimbulkan sayang harum semerbak laksana bunga melambai meraih cinta asmara sinom berikal di tengkuk dan dahi pembangkit gairah dendam berahi!
Setelah kenyang pandang matanya menikmati keindahan rambut di kepala lalu pandang mata itu menurun, berhenti di alis dan mata yang terlindung bulu mata panjang melengkung, sejenak terpesona oleh bukit hidung.
Kecil mungil mancung dan patut halus laksana lilin diraut cuping tipis bergerak mesra mengandung seribu rahasia.
Makin berdebar jantung Kwee seng, hampir tak terahankan lagi, serasa hendak meledak.
Melihat rambut itu, bulu mata, hidung yang agak berkembang-kempis cupingnya, mulut manis yang tersenyum-senyum dalam tidur, pipi yang putih kemerahan, teringatlah ia akan Ang-siauw-hwa.
Bukan gadis pelacur itu yang terbayang, melainkan pengalaman mesra penuh asyik yang pada saat itu mendorong semua gairah birahi memenuhi hati dan pikirannya bagaikan awan mendung hitam menggelapkan kesadarannya.
Dengan tubuh gemetar menggigil, Kwee Seng lalu membungkuk kearah wajah ayu itu dan mencium bibir dan pipi Lu Sian sepenuh kasih hatinya.
Suara ketawa gadis itu mengejutkannya, membuyarkan sebagian awan mendung yang menutupi kesadarannya.
Terkejutlah Kwee Seng, mukanya pucat dan ia cepat-cepat menjauhkan diri, jantungnya berdebar keras dan barulah lega hatinya ketika ia melihat bahwa Lu Sian masih tidur.
Suara ketawa tadi pun agaknya hanya dalam keadaan mimpi.
Akan tetapi ciumannya tadi membuat ia makin dalam terjatuh ke jurang asmara!
Lewat senja, setelah matahari mulai bersembunyi, Lu Sian menggeliat dan membuka matanya.
"Ahhh, alangkah sedapnya tidur di sini. Eh kwee-koko, kau masih duduk disitu sejak tadi? Tidak mengaso?"
Gadis itu kini bangkit duduk dan membereskan rambutnya.
Duduk seperti itu, kedua kaki ditekuk kebelakang, tubuh tegak dada membusung, kedua lengan dikembangkan karena sepuluh buah jari tangannya sibuk menyanggul rambut dibelakang kepala, benar-benar merupakan pemandangan indah.
Hemm, kalau saja aku pandai melukis, alangkah indahnya gadis ini dilukis dalam keadaan begini, pikir Kwee Seng, demikian terpesona sehingga ia seakan-akan tidak mendengar akan kata-kata Lu Sian.
"Hih! Kwee-koko, apakah kau sudah berubah menjadi arca? Apa sih yang kau lihat?"
Tegur Lu Sian, senyumnya lebar dan sepasang matanya berkedip-kedip mengandung ejekan.
"Heh kau bilang apa tadi, Moi-moi"
Kwee seng tergagap. Kini Lu Sian tertawa.
"Kukira kau tidak mengaso kiranya kau agaknya malah tidur. Kwee-koko, aku ingin sekali mandi. Kalau saja ada anak sungai disini."
"Kudengar suara air gemericik di sebelah kiri sana, Sian-moi. Mungkin ada anak sungai atau air terjun disana."
"Bagus, mari kita ke sana, Koko."
Seperti seorang anak kecil, Lu Sian menyambar tangan Kwee Seng dan menariknya berlari-lari ke arah kiri.
Benar saja dugaan Kwee Seng, di situ terdapat sebatang sungai kecil yang amat jernih airnya, pula tidak dalam, hanya semeter kurang lebih.
Batu-batu licin di dasar tampak beraneka warna menambah keindahan dan kesejukan air.
"Hah, dingin dan segar, Koko!"
Teriak Lu Sian kegirangan ketika memasukkan tangannya ke dalam air di pinggir sungai.
"Koko, aku hendak mandi! Kau jangan melihat kesini sebelum aku masuk kedalam air. Awas, kalau kau menengok, kumaki kau kurang sopan dan kusambit kau dengan batu!"
Kwee Seng tertawa, terseret oleh kenakalan dan kegembiraan gadis itu.
"Siapa ingin melihat?"
Serunya sambil membalikkan tubuh berdiri membelakangi sungai.
Ia hanya mendengar gerakan gadis itu, suara pakaian dilepas, kemudian mendengar gadis itu turun ke dalam air.
Semua yang didengarnya ini menimbulkan bayangan yang amat menggodanya sehingga ia meramkan kedua matanya seakan-akan hendak mengusir bayangan itu dari depan mata.
"Sudah, Kwee-koko. Kau sekarang boleh saja melihat kesini, aku sudah aman tertutup air. Ah, enak benar, Koko. Kau mandilah segar bukan main."
Kwee Seng membalikkan tubuhnya dan ia terpaku ditempat ia berdiri.
Kedua kakinya menggigil dan matanya berkunang-kunang.
Aduh, Lu Sian apakah benar-benar sengaja kau sengaja ingin menggodaku?
Demikian keluhnya dalam hati.
Ketika ia menengok, ia melihat pakaian gadis itu bertumpuk dipinggir sungai, diatas sebuah batu besar, semua pakaian berikut sepatu dan pita rambut.
Kemudian, apa yang dilihatnya ditengah sungai itu benar-benar membuat ia berkunang dan lemas.
Memang gadis itu merendamkan tubuhnya didalam air sehingga yang tampak dari luar air hanya leher dan kepalanya.
Akan tetapi agaknya Lu Sian lupa bahwa air itu amat jernih!
Ataukah memang sengaja?
Air itu demikian jernihnya sehingga batu-batu didasarnya tampak.
Apalagi tubuh yang duduk diatasnya!
Pemandangan aneh tampak oleh Kwee Seng.
Tubuh padat berisi sempurna lekuk-lekungnya, bergoyang-goyang bayangannya oleh air.
Cepat-cepat ia menundukkan mukanya.
Kuatkan hatimu!
Ah, kuatkan hatimu sebelum!
kau kemasukan iblis!
Demikianlah dengan kaki gemetar Kwee Seng berdiri menundukkan mukanya, mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan dorongan nafsu.
"Moi-moi"
Ia berhenti karena suaranya kedengaran aneh.
"Hemm Kau mau bilang apa, Koko?"
Kwee Seng menarik napas panjang dan mulai tenanglah gelora isi dadanya.
"Sian-moi, aku tidak mandi. Kau mandilah yang puas, biar kunanti kau disana. Aku khawatir kalau-kalau kuda kita dicuri orang."
Tanpa menanti jawaban Kwee Seng lalu membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat semula dimana ia menjatuhkan diri duduk termenung memikirkan Lu Sian.
Gadis yang aneh!
Ia harus mengaku bahwa hatinya sudah jatuh betul-betul.
Ia memuja Lu Sian, memuja kecantikannya.
Padahal ia maklum sedalam-dalamnya bahwa watak gadis itu sama sekali tidak cocok dengan wataknya, bahwa kalau ia mempunyai isteri seperti Lu Sian, hidupnya akan banyak menderita.
Aku harus dapat menahan diri, semua ini godaan iblis, pikirnya.
Aku sejak semula tidak menghendakinya sebagai isteri, hanya karena sudah berjanji dengan Pat-jiu Sin-ong untuk menurunkan ilmu yang mengalahkannya, maka sekarang mengadakan perjalanan bersama.
Ah, mengapa ia menjanjikan hal itu?
Ia kena diakali Pat-jiu Sin-ong yang tentu saja ingin menguras ilmunya.
Kalau sudah menurunkan ilmu, aku harus cepat-cepat menjauhkan diri dari Lu Sian, pikirnya.
Akan tetapi, teringat akan perbuatannya mencuri ciuman tadi, kembali gelora di dadanya membuat Kwee Seng meramkan mata.
Gila!
Kau sudah gila!
Tiba-tiba Kwee Seng yang masih meram itu menampar kepalanya sendiri!
Heee!
"Apakah kau sudah gila?"
Teguran ini membuat Kwee Seng terkejut dan meloncat bangun sendiri!
Kiranya Lu Sian sudah berdiri di depannya, biarpun cuaca sudah mulai gelap, masih tampak gadis itu segar dan berseri-seri, makin cantik setelah mandi.
Gadis itu tertawa geli.
"Kwee-koko, kukira kau tadi menjadi gila, apa-apaan itu tadi kau menampar kepalamu sendiri?"
"Aku Ah.. kau tidak melihat tadi? Banyak nyamuk di hutan ini. Mengiang-ngiang di atas telinga, kucoba menepuk mampus nyamuk-nyamuk itu."
Baiknya Lu Sian percaya alasan ini.
"Kwee-koko, sekarang aku hendak pergi. Kau menanti disini saja, ya?"
"Kemana, Sian-moi? Ke benteng itu. Meyelidik! Ah, apakah perlunya? Jangan mencari perkara Sudahlah!"
"Kau seperti nenek bawel saja. Kalau tidak suka, kau tidak usah ikut. Aku tahu kau tidak suka, maka aku akan pergi sendiri. Biarlah kau menanti disitu bersama eh, nyamuk-nyamuk itu. Aku pergi, Koko!"
Setelah berkata demikian, Lu Sian mempergunakan kepandaiannya meloncat dan lari cepat, sebentar saja lenyap dari situ.
Kwee seng mengerutkan keningnya.
Gadis aneh.
Ia takkan berbahagia hidup disamping gadis itu sebagai isterinya.
Akan tetapi ah, mengapa hatinya seperti ini?
Mengapa timbul kekuatirannya kalau-kalau Lu Sian menghadapi malapetaka?
Biarlah kalau ia tertimpa bencana.
Salahnya sendiri.
Mencari perkara.
Mencampuri urusan orang lain!
Kwee Seng mengeraskan hatinya dan mulai membuat api unggun untuk mengusir nyamuk yang memang banyak terdapat di hutan itu.
Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak enak.
Terjadi perang di dalam hatinya antara membiarkan atau pergi menyusul Lu Sian.
Dengan pengerahan gin-kang dan ilmu lari secepatnya, sebentar saja Lu Sian telah tiba diluar tembok benteng.
Tembok benteng itu cukup tinggi, pintu gerbangnya berada di tengah, terjaga kuat oleh belasan orang prajurit.
Pintu belakang juga terjaga, malah tertutup rapat, sedangkan diatas tembok itu, pada setiap ujungnya terdapat bangunan kecil dimana tampak pula penjaga yang bersenjata lengkap.
Beberapa menit sekali, penjaga-penjaga meronda disekeliling tembok.
Pendeknya, benteng itu terjaga rapat sekali.
Untuk melompat tembok, terlampau tinggi dan andaikata dapat juga, pasti akan tampak oleh para penjaga diempat penjuru.
Akan tetapi, Lu Sian adalah seorang gadis yang banyak akal, berani dan lihai.
Ia memilih bagian yang agak sepi, menanti sampai peronda lewat, kemudian cepat sekali ia menggunakan pedangnya membongkar tembok!
Pedangnya bukanlah pedang biasa, melainkan pedang pusaka, pedang buatan daerah Go-bi, terbuat daripada logam baja biru dan oleh ayahnya diberi nama Toa-hong-kiam (Pedang Angin Badai), karena Pat-jiu Sin-ong memberikan pedang itu kepada puterinya ketika menurunkan Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-sut.
Pedang baja biru ini dapat dipergunakan untuk memotong besi dan baja.
Apalagi tembok yang terbuat daripada bata itu, dengan mudah saja dapat ditembusi Toa-hong-kiam.
Belum lima menit, Lu Sian telah berhasil membuat lubang yang cukup dimasuki tubuhnya.
Dilain saat tubuhnya berkelebat menyelinap masuk dan bagaikan seekor kucing ia sudah berloncatan cepat menghilang di antara kegelapan malam, mendekam di tempat gelap sambil memperhatikan keadaan didalam benteng.
Benteng itu cukup luas, kiranya cukup untuk menampung ribuan orang bala tentara.
Di dalamnya selain terdapat lapangan luas untuk berlatih para perajurit, juga terdapat bangunan-bangunan kecil berjajar yang agaknya menjadi tempat bermalam para perajurit.
Ada pula bangunan terbuka yang dipakai sebagai dapur, lalu kandang-kandang kuda dan gudang-gudang perlengkapan.
Ditengah sendiri terdapat empat buah bangunan besar yang bentuknya kembar.
Tak salah lagi, disinilah tempat para perwiranya.
Maka tanpa ragu-ragu Lu Sian lalu berindap-indap menghampiri empat bangunan ini karena memang kedatangannya ini terdorong oleh rasa hatinya ingin mengintai dan menyelidiki keadaan Jenderal Muda Kam Si Ek!
Disudut lubuk hatinya memang ia tak pernah melupakan Kam Si Ek, pemuda gagah perkasa dan ganteng yang pernah menggetarkan hatinya diatas panggung adu ilmu.
Sayangnya pemuda itu tidak mau melayaninya mengadu kepandaian.
Namun sikapnya yang gagah dan keras, wajahnya yang membayangkan kejantanan, telah menggerakkan hati Lu Sian sehingga ketika dalam perjalanan ini ia mendengar disebutnya nama Kam Si Ek, sekaligus bangkit hasrat hatinya untuk menemuinya dan mempelajari keadaannya, kalau perlu mencoba kepandaiannya!
Melihat bendera tanda pangkat jenderal didepan sebuah di antara empat gedung, hati Lu Sian berdebar.
Ia menyelinap ke belakang gedung ini, kemudian menggerakkan tubuhnya melayang naik ke atas genteng sebelah belakang, dan dengan hati-hati ia merayap diatas genteng menuju ke bagian tengah.
Ketika ia melihat sinar api penerangan yang besar dan mendengar suara orang, ia membuka genteng dan mengintai ke bawah.
Betapa girang hatinya ketika ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu Kam Si Ek sendiri, berada di dalam sebuah ruangan besar di bawahnya!
Biarpun seorang jenderal, Kam Si Ek ternyata berpakaian biasa, mungkin karena tidak sedang dinas.
Pakaiannya serba biru dan rambutnya digelung keatas, diikat sutera kuning.
Tubuhnya yang tegap itu kelihatan gagah dan penuh tenaga.
Ia duduk menghadapi meja besar yang penuh hidangan.
Yang membuat hati Lu Sian kaget dan tak senang adalah ketika ia melihat tiga orang gadis cantik yang pernah dilihatnya.
Kini tiga orang gadis itu mengenakan pakaian yang lebih mewah lagi, biarpun warna pakaiannya tetap sama, yaitu yang pertama serba merah, yang kedua serba kuning dan yang ketiga serba hijau.
Rambut mereka digelung rapi dan dihias emas permata mahal.
Muka mereka dilapisi bedak, bibir dan pipi ditambah warna merah dan bau minyak wangi mereka sampai tercium oleh Lu Sian yang mendekam di atas genteng!
Pada saat itu, dengan sikap gagah dan suara tegas Kam Si Ek berkata.
"Tidak bisa! Siauwte (aku) bukanlah seorang penghianat! Sejak dahulu, nenek moyangku adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang rela mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa, yang menduduki kedudukan tinggi di dalam ketentaraan tanpa pamrih untuk pribadinya, melainkan semata untuk berbakti kepada negara dan bangsa! Kedatangan Sam-wi Lihiap (Pendekar Wanita Bertiga) saya terima dengan penuh kehormatan, akan tetapi kalau Sam-wi mengajak siauwte sekongkol dengan Cu Bun, terpaksa saya menolak keras!"
Dengan suara manis sekali Si Pakaian Merah yang tertua di antara mereka bertiga, berkata halus.
"Kami bertiga Enci Adik sudah cukup mengenal kegagahan dan kesetiaan keluarga Kam. Kami mana berani membujuk Goan-swe (Jenderal) untuk bersekongkol dengan penghianat atau pemberontak? Akan tetapi, bukankah bekas Gubernur Cu Bun kini telah menjadi raja dari kerajaan Liang yang sudah berdiri belasan tahun lamanya? kini terjadi perebutan kekuasaan, dan raja tidak dapat membiarkan mereka yang memisahkan diri, tidak mau tunduk kepada kekuasaan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Liang yang menggantikan Kerajaan Tang. Karena itu, kami mengajak kepada Goan-swe untuk berjuang bersama, menghalau para pemberontak, terutama sekali bangsa buas dari luar yang hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengganas."
"Maaf, siaute terpaksa membantah, memang benar bahwa Gubernur Cu Bun berhasil menumbangkan Kerajaan Tang belasan tahun lalu. Akan tetapi, berhasil atau tidaknya sebuah kerajaan baru tergantung daripada dukungan rakyat. Dan untuk mendapat dukungan rakyat, terutama sekali rakyat harus diberi kehidupan yang tentram, penghasilan yang wajar dan sumber hidup yang layak. Akan tetapi apakah buktinya? Rakyat menjadi korban selalu. Dimana-mana timbul kejahatan, perebutan kekuasaan, kehidupan rakyat tidak aman, masih ditekan pajak, diperas oleh lintah-lintah darat yang berupa raja-raja kecil di dusun-dusun, masih diganggu oleh para tentara kerajaan yang buas melebihi perampok. Buktinya? Sam-wi dapat melihat betapa banyaknya penduduk dusun mengungsi, bingung mencari tempat aman sehingga di dalam benteng ini saja kami terpaksa menampung seratus orang lebih pengungsi. Bukankah ini sudah membuktikan bahwa Kerajaan Liang tidak didukung rakyat? Dan selama pemerintahan tidak mendapat dukungan rakyat, saya yakin takkan berhasil dan lekas runtuhlah pemerintahan itu."
Muka jenderal muda itu menjadi merah, bicaranya penuh semangat dan wajahnya yang tampan gagah itu mengeluarkan wibawa seperti seekor harimau yang menakutkan.
Kam-goanswe yang perkasa,kata Nona kedua yang berpakaian kuning.
"Bolehkah saya bertanya, Goanswe ini sebetulnya mengabdi kepada siapakah? Dahulu keluarga Goanswe mengabdi kepada Kaisar Tang yang terakhir. Setelah kaisar jatuh, Goanswe mengabdi kepada siapa? Kalau Goanswe tidak mengakui kekuasaan Raja Liang, apakah Goanswe mengabdi kepada gubernur Li?"
Kam Si Ek kini berdiri dari bangkunya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu seakan-akan makin besar. Ia mengepal tinjunya dan berkata.
"Aku hanya mengabdi kepada tanah air dan bangsa! Siapa saja yang mengganggu rakyatku, akan kulawan! Bangsa apa saja yang berani memasuki tanah airku akan kuhancurkan! Aku tidak mengabdi kepada Raja Liang, dan terhadap Gubernur Li Ko Yung yang menjadi teman seperjuanganku dahulu, dia tetap teman baik asal saja dia tidak menyeleweng daripada jalan benar."
Nona paling muda yang berbaju hijau mengedipkan matanya kepada kedua orang encinya, lalu bangkit berdiri menghampiri Kam Si Ek.
Ia menuangkan arak dan menjura kepada jenderal muda itu sambil berkata, suaranya halus merdu penuh rayuan.
"Maaf, maafKam-goanswe. Harap maafkan kedua enciku yang seakan-akan lupa bahwa saat ini bukanlah saat untuk bicara tentang urusan negara yang berat-berat. Kasihan sekali suasana menjadi begini panas, sebaliknya masakan menjadi dingin. Kam-goanswe, mari kita lanjutkan makan minum sambil membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Sudilah kau menerima secawan arak dariku sebagai cawan minta maaf!"
Ia melangkah maju, Tergopoh-gopoh Kam Si Ek balas menjura dan ia pun tersenyum.
"Lihiap benar, maaf. Aku sampai lupa diri."
Ia menerima cawan itu dan sekali tenggak habislah isinya. Si Baju Hijau tersenyum manis dan menuangkan arak lagi.
"Untuk kedua kalinya kuharap kau suka menerima secawan sebagai tanda persahabatan"
Dengan sikap yang amat mesra ia menyerahkan cawan dan dalam kesempatan ini jari-jarinya yang halus menyentuh tangan Kam Si Ek.
Pemuda itu kelihatan bingung dan kikuk, alisnya yang berbentuk golok dan hitam itu bergerak-gerak, agaknya ia ragu-ragu bagaimana harus menghadapi wanita yang tiba-tiba berubah sikap ini.
"Cukup.. cukup"
Katanya dan merenggut cawan arak itu agar tidak terlalu lama tangannya terpegang jari-jari halus mungil.
"Ah, Kam-goanswe, masa tidak mau menerima penghormatanku?"
Si Baju Hijau berkata manja dan berdiri makin mendekat sehingga sebagian tubuhnya merapat, dadanya sengaja menyentuh lengan kiri Kam Si Ek.
Hampir saja pemuda ini meloncat pergi, akan tetapi sebagai tuan rumah ia masih mempertahankan diri, hanya mengisar kaki menjauhi lalu berkata.
"Baiklah, kehormatan yang diberikan Lihiap kuterima!"
Ia minum lagi arak dari cawannya.
Akan tetapi alangkah terkejut dan kikuknya ketika ia melihat nona muda cantik berpakaian hijau ini tidak kembali ke bangkunya di seberang, melainkan menyeret sebuah bangku dan duduk disampingnya!
Ini dilakukan sambil tersenyum-senyum, matanya mengerling tajam penuh arti.
"Daripada berdebat yang bukan-bukan, yang sebetulnya tidak ada artinya sama sekali, bukankah lebih baik kita berteman? Kam-goanswe, kami sudah lama mendengar nama besarmu, sudah lama mengagumi Jenderal Muda Kam Si Ek yang gagah perkasa dan menjadi idaman setiap orang wanita di propinsi Shan-si! Kami bertiga enci adik tidak mempunyai niat buruk terhadap jenderal, melainkan hendak membantu usahamu, hendak menyerahkan jiwa raga mengabdi kepadamu, Kam-goanswe!"
Sambil berkata demikian, dengan lagak genit si baju hijau ini menggeser bangkunya sampai mepet dengan bangku Kam Si Ek.
Si Baju Merah dan kuning segera tertawa-tawa dan mengitari meja, menarik bangku dan mengisi cawan arak.
"Betul sekali kata adikku yang bungsu. Kam-goanswe, kami menyerahkan jiwa raga asal kau suka kami temani!"
Kata yang tertua sambil menyerahkan secawan arak dan tangan kirinya memegang pundak pemuda tampan itu.
"Percayalah, kami bertiga sanggup mengangkatmu menjadi yang dipertuan di daerah ini."
Kata si baju kuning yang memeluk leher Kam Si Ek dari belakang!
Dirayu dan dikeroyok tiga orang gadis-gadis cantik yang berbau harum ini, sejenak Kam Si Ek tertegun saking kaget dan herannya.
Kemudian ia serentak bangkit dari bangkunya, melangkah mundur tiga tindak, mukanya merah sekali dan ia berkata, suaranya keren.
"sam-wi ini apa maksudnya bersikap seperti ini?"
"Maksud kami sudah jelas, masa Goanswe tidak tahu? Sudah lama kami kagum dan sekarang begitu berjumpa kami jatuh cinta, apakah kau tidak menghargai perasaan suci kami ini? kata Si Baju Merah tanpa malu-malu lagi.
"Kam-goanswe, ribuan orang pemuda tergila-gila kepada kami dan semua kami tolak, sekarang melihatmu, kami bertiga sekaligus jatuh hati. Bukankah ini jodoh yang baik sekali?"
Kata Si Baju Kuning.
"Dengan kepandaian kami bertiga digabung kepandaianmu, apa sukarnya merampas kedudukan raja di waktu orang pandai sedang memperebutkan kekuasaan ini? Goanswe mempunyai tentara yang cukup banyak dan kuat."
Kata Si Baju Hijau.
"Gila!"
Kam-goanswe berseru marah.
"Pergilah kalian! Pergi dan jangan ganggu aku lagi. Pergi!"
Kam Si Ek marah bukan main, akan tetapi kemarahan ini agaknya belum menyamai kemarahan Liu Lu Sian yang mengintai di atas genteng.
Gadis ini marah sekali kepada tiga orang perempuan yang dianggap tak tahu malu itu.
Juga disamping kemarahannya ia pun kagum kepada Kam Si Ek!
Sungguh jantan!
Sungguh gagah dan keras hati, tidak tunduk oleh gadis-gadis cantik yang tergila-gila kepadanya.
"Dinggg!"
Tampak kilatan tiga batang pedang yang dicabut berbareng oleh tiga orang gadis jelita itu.
"Pilihan kami hanya dua. Kau menerima kerja sama dengan kami atau kau serahkan kepalamu untuk kami hadiahkan kepada Raja Muda Kerajaan Liang!"
"Bagus!"
Kam Si Ek melangkah mundur dua tindak dan mencabut goloknya yang berkilauan saking tajamnya. Telunjuk tangan kirinya menuding dan ia berkata bengis.
"Kalian tiga orang wanita muda tak tahu malu. Kalian datang mengaku sebagai See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat), berlagak pendekar wanita yang bermaksud membantu karena melihat kesengsaraan rakyat dalam jaman perang perebutan kekuasaan. Aku menerima kalian dengan baik dan hormat. Kiranya kalian mengandung maksud hati yang kotor dan hina. Kalau aku memberi tanda, alangkah mudahnya anak buahku yang ribuan orang banyaknya datang menangkap kalian untuk dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi aku Kam Si Ek seorang laki-laki sejati, tidak mengandalkan jumlah orang banyak. Majulah, dan sudah sepatutnya golokku mengakhiri riwayat kalian yang tersesat ke dalam jurang kenistaan!"
"Manusia sombong!"
Si Baju Merah meloncat dan bagaikan kilat menyambar pedangnya menusuk, berikut tubuhnya yang melayang kedepan, benar-benar seperti seekor naga menyambar.
Hebat serangan ini, akan tetapi Kam Si Ek yang sudah siap dengan goloknya, menangkis keras.
"Tranggg!!"
Wanita baju merah itu terpental ke samping, akan tetapi dengan gerakan indah ia membuat loncatan salto dua kali.
Adapun kedua orang adiknya juga sudah menerjang maju dengan loncatan-loncatan tinggi dan menyerang dengan pedang selagi tubuh mereka masih di udara.
Kam Si Ek terkejut sekali.
Tiga orang wanita ini benar-benar patut dijuluki Naga Barat, karena gerakan mereka benar-benar lincah dan cepat laksana naga menyambar.
Ia cepat mengelak sambil memutar golok sehingga berhasil menangkis tusukan pedang dari kanan kiri.
Akan tetapi tiga orang enci adik itu sudah mendesaknya dengan serangan pedang bertubi-tubi.
Kam Si Ek cepat memutar goloknya dan mainkan ilmu silat keturunan keluarga Kam.
Pertahanannya kuat sekali, namun didesak oleh tiga batang pedang yang bekerja sama baik sekali, ia hanya mampu menangkis sambil berloncatan ke sana ke mari, sebentar saja terdesak hebat.
Namun, sebagai seorang jantan Kam Si Ek berpegang kepada kata-katanya.
Ia tidak mau berteriak minta bantuan para penjaga yang berada di luar gedung itu dan tetap mempertahankan diri dengan goloknya.
Sewaktu pedang Si Baju Merah menusuk tenggorokan dan ia menangkis dengan golok, pedang Si Baju Kuning sudah membabat penggangnya.
Cepat ia bergerak dengan jurus Burung Walet Membalikkan Tubuh, membuat gerakan memutar untuk mengelak sambil memutar goloknya melindungi tubuh belakang.
Ia berhasil mengelak dan sekaligus menangkis babatan pedang Si Baju Hijau tepat pada waktunya.
Akan tetapi kembali pedang Si Baju Merah sudah menerjang datang, disusul dua buah pedang yang lain!
Karena ketiga orang gadis lihai itu kini menghujankan serangan di tiga bagian, yaitu bawah tengah dan atas, maka sibuk jugalah Kam Si Ek.
Dengan ilmu golok emasnya yang diputar merupakan benteng melindungi tubuhnya, ia hanya dapat melindungi bagian atas dan tengah saja, sehingga menghadapi penyerangan pedang dibagian bawah, ia harus meloncat-loncat yang membuat gerakan pemutaran goloknya terganggu.
Setelah lewat tiga puluh jurus, pemuda ini mulai berputar-putar dan terdesak ke sana ke mari, semua jalan keluar telah dihadang oleh tiga orang gadis yang tertawa-tawa mengejek.
"Jenderal sombong, daripada mati diujung pedang, bukankah lebih baik kau memeluk tiga orang gadis jelita? Ah, alangkah goblok engkau! Mana bisa engkau melawan See-liong-sam-ci-moi? Kami benar-benar mencintaimu, Kam-goanswe!"
"Lebih baik aku mati!"
Teriak Kam Si Ek ganas dan melihat kesempatan selagi Si Baju Merah bicara, golok emasnya menyambar dengan pembalasan serangan dahsyat.
Namun tiga batang pedang sudah menangkisnya dan kembali ia terkepung tiga gulungan sinar berkilau yang mematikan semua jalan ke luar itu.
Liu Lu Sian yang menonton dari atas genteng, segera mengetahui bahwa biarpun Kam Si Ek memiliki tenaga yang cukup kuat, namun di bidang ilmu silat agaknya belum dapat diandalkan benar, jauh di bawah tingkat tiga orang gadis itu.
Kemarahannya memuncak dan kekagumannya terhadap Kam Si Ek juga memuncak.
Ia segera mengambil jarum-jarum rahasianya dan tiga kali tangannya bergerak disertai pengerahan sin-kang yang sepenuhnya.
Senjata rahasia jarum ini adalah ajaran ayahnya, penggunaannya amat sukar karena jarum-jarum itu kecil dan ringan sekali, harus disambitkan dengan sin-kang tertentu baru dapat meluncurcepat melebihi anak panah.
Dan sekali jarum-jarum ini meluncur, sama sekali tidak mendatangkan suara, kalaupun ada, suara itu halus sekali sukar ditangkap telinga.
Hebat sekali kesudahannya.
Terdengar jerit melengking dan tiga orang gadis iti seperti disambar petir.
Si Baju Merah melepaskan pedangnya dan berputar-putar seperti mabok, disusul Si Baju Kuning yang melemparkan pedang dan mencekik lehernya sendiri, kemudian Si Baju Hijau terjungkal dan melingkar-lingkar diatas lantai.
Tiga orang gadis itu berkelojotan diatas lantai dan beberapa menit kemudian tak bergerak lagi.
Si Baju Merah kemasukan jarum tepat diubun-ubunnya, Si Baju Kuning terkena lehernya dan Si Baju Hijau terserang dadanya.
Jarum-jarum itu mengandung racun kelabang yang gigitannya menewaskan seketika, maka bukan main hebatnya.
Kam Si Ek berdiri dengan golok melintang didepan dada, matanya terbelalak lebar.
Pada saat itu berkelebat bayangan memasuki pintu dan muncullah seorang wanita berpakaian serba putih, wajahnya cantik dan terang, usianya sebaya dengan Kam Si Ek.
Wanita ini memegang sebatang pedang dan tangan kirinya menjambak rambut dua orang laki-laki berpakaian tentara lalu ia mendorong dua orang itu sehingga terguling diatas lantai, terus berlutut disitu dengan tubuh menggigil.
"Eh, Sute siapa mereka ini... ah, bukankah ini See-liong-sam-ci-moi yang menjadi tamu kita? Dan.. ah, mereka sudah tewas dan... kau memegang golok! Apa yang terjadi, Sute?"
Kam Si Ek menggunakan tangan kirinya menggosok mata lalu menyusut peluh di dahinya, menggeleng-geleng kepala.
"Bukan aku yang membunuh mereka, Suci. Tapi mereka patut tewas, mereka mempunyai niat busuk terhadap aku. Akan tetapi ....agaknya ada orang pandai membantu dan membunuh mereka.."
Wanita itu membanting-banting kakinya.
"Celaka! Mereka adalah tamu-tamu kita, mana patut tewas disini? Kalau ada orang yang membunuh mereka secara bersembunyi, belum tentu berniat baik. Kita harus cari dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Wanita baju putih itu meloncat keluar lagi.
"Nanti dulu, Suci. Dua orang ini... ada apakah?"
"Hemm, sialan benar. Dia dan lima orang lain melakukan pemerasan kepada beberapa orang pengungsi, malah mengganggu wanita. Yang lima kulukai, yang dua ini pemimpinnya, kubawa kesini untuk kau adili."
"Jahanam!"
Kam Si Ek menggerakkan kakinya menendang dan dua orang yang sial itu terlempar, kepala mereka membentur tembok, pecah dan tewas seketika.
Beginilah watak Kam Si Ek yang benci akan penyelewengan-penyelewengan.
Akan tetapi kakak seperguruannya, wanita baju putih itu sudah meloncat pergi keluar untuk mencari pembunuh See-liong-sam-ci-moi.
Kam Si Ek juga cepat lari keluar setelah menyambar gendewa dan anak panahnya.
Dalam ilmu silat boleh jadi dia kurang pandai, akan tetapi ilmu panahnya terkenal di seluruh Shansi, di samping ilmunya mengatur siasat perang dan ilmu menunggang kuda.
Ketika Kam Si Ek tiba di luar gedung, ia melihat para penjaga sudah ribut-ribut memandang keatas.
Ketika ia berdongak, ia melihat bahwa sucinya telah bertanding pedang dengan hebatnya melawan seorang gadis yang gerakannya lincah sekali.
Bulan malam itu menerangi jagat, akan tetapi dari bawah ia tidak dapat melihat siapa adanya gadis yang bertanding melawan enci seperguruannya itu.
"Goblok!"
Terdengar wanita itu memaki, suaranya nyaring dan merdu, melengking menembus kesunyian malam.
"Beginikah kalian membalas pertolongan orang?"
"Kau harus menyerah, tak boleh sembarangan membunuh orang ditempat kami,"
Jawab sucinya dengan suaranya yang tegas.
Pada saat itu, entah mengapa, tiba-tiba sucinya kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung diatas genteng dan sesosok bayangan yang bergerak seperti terbang telah menyambar tubuh wanita itu.
Lu Sian kaget melihat lawannya wanita baju putih itu tiba-tiba menghentikan penyarangannya dan terhuyung, kemudian ia lebih kaget lagi ketika tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan tahu-tahu ia telah disambar orang dan dipanggul pergi!
Ketika melihat bahwa yang memanggulnya adalah Kwee Seng, ia meronta-ronta, namun tidak berhasil melepaskan diri.
Ingin ia menusukkan pedangnya pada punggung pemuda ini, namun totokan tadi membuat tubuhnya terlalu lemas.
Kam Si Ek sudah sejak tadi merasa berhutang budi kepada wanita yang ternyata telah menolongnya kalau tidak segera tertolong, rasanya ia takkan mampu menangkan See-liong-sam-ci-moi.
Tadinya ia sudah hendak meloncat naik mencegah sucinya menyerang wanita itu, sekarang melihat seorang laki-laki muda berpakaian pelajar memondong wanita itu, ia menyangka bahwa tentulah pemuda itu, seorang jahat.
Cepat ia memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu dengan anak panah, sedangkan ia sendiri pun lalu mementang gendawanya.
Akan tetapi pemuda itu hanya menengok sambil tersenyum.
Wajah yang tampan itu tersinar bukan dan hatinya Kam Si Ek tercengang.
Pemuda itu tampan bukan main dan senyumnya manis sekali!
Tentu sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang hendak melarikan gadis dengan maksud kotor dan rendah!
"Lihat panah!"
Bentaknya dan sekali gendawanya menjepret, lima batang anak panah menyambar ke arah tubuh belakang Kwee Seng! "Bagus!"
Kwee Seng yang masih menengok itu tersenyum lebar dan memuji, karena kepandaian melepas panah itu benar-benar hebat.
Lima anak panah itu menuju kelima bagian jalan darah dipunggung dan kakinya, dan dengan kecepatan yang luar biasa!
Cepat tangan kirinya mencabut kipasnya dan ia harus mengerahkan lwee-kangnya untuk mengebut dan meruntuhkan anak-anak panah itu.
Akan tetapi kini para perajurit panah sudah pula ikut melepaskan anak panah, sedangkan Kam Si Ek dengan kecepatan luar biasa sudah pula menghujankan anak panahnya.
Terpaksa Kwee Seng kembali mengebut sambil mengerahkan sin-kang-nya, kemudian sekali berkelebat tubuhnya sudah meloncat jauh, kemudian berlari cepat setelah tubuhnya melayang turun dan sekali ia menggerakkan kakinya, ia telah meloncat ke atas tembok benteng.
Hujan anak panah lagi dari kanak kiri, namun pelepasan anak panah oleh para perajurit itu tentu saja tidak begitu dihiraukan oleh Kwee Seng.
Sekali kipasnya mengebut, angin kebutannya sudah membuat semua anak panah menyeleweng arahnya atau runtuh ke bawah.
Kemudian ia meloncat keluar tembok dan lenyap!
"Suci...!
Dimana kau...?"
Kam Si Ek berseru, akan tetapi ia tidak melihat kakak seperguruannya itu.
Namun ia mempunyai banyak pekerjaan, maka ia tidak mencarinya lagi, melainkan cepat mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan yang lebih kuat dan memerintah orang-orang untuk mengurus lima buah mayat yang menggeletak dilantai ruangan gedung.
Malam itu juga ia mengadili lima orang lain yang dilukai encinya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengancam para tentara dengan hukuman berat apabila ada yang berani melakukan penyelewengan.
Kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan duduk termenung.
Ia maklum bahwa tidak semua anggota bala tentaranya setia kepadanya, karena sesungguhnya, ia tidak mampu memberi belanja yang cukup kepada mereka.
Banyak diantara mereka yang diam-diam ingin mengabdi kepada Raja Liang atau kepada Gubernur Li yang juga sudah mengangkat diri sendiri sebagai raja muda di Shan-si.
"Tidak,"
Bantah suara hatinya.
"sebelum muncul pemimpin yang betul-betul akan membuat rakyat Shan-si khususnya hidup aman tentran dan makmur, aku tidak akan mengabdi kepada siapapun juga!"
Sementara itu, Lu Sian terus meronta-ronta, kedua kakinya digerak-gerakkan dan akhirnya Kwee Seng menurunkannya didalam hutan tempat mereka tadi beristirahat sambil membebaskan totokannya.
Dengan pedang didepan dada Lu Sian meloncat maju dan membentak.
"Kwee Seng, kali ini kau terlalu! Mengapa kau mengganggu urusanku? Apakah kau hendak pamer kepandaianmu?"
"Eh, Sian-moi..., aku hanya hendak mencegah kau menimbulkan keributan ditempat orang, aku... aku hanya bermaksud menolongmu..."
"Siapa butuh pertolongan mu? Siapa sudi? Kwee Seng, agaknya disamping kelemahan hatimu, kau juga memiliki kesombongan memandang rendah orang lain. Apa yang kulakukan, kau peduli apakah?"
"Sian-moi, mengapa kau berkata demikian? Bagaimana aku dapat tidak mempedulikan apa yang kau lakukan? Sian-moi... kau sudah tahu akan perasaan hatiku, tak perlu kusembunyikan lagi. Aku cinta padamu! Nah, sekarang terlepaslah sudah ganjalan hatiku. Aku mencintaimu, tentu saja aku tak dapat membiarkanmu terancam bahaya atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kam Si Ek seorang patriot sejati, seorang gagah perkasa, tak boleh diganggu..."
"Cukup! Biar seribu kali kau mencintaku, kau belum berhak untuk mengurusi persoalanku. Aku bukan apa-apamu, tahu? Kau boleh mencintaku sampai mampus, akan tetapi aku tidak mencintaimu! Dengar baik-baik, Kwee Seng, aku tidak cinta kepadamu! Kau memang tampan, kau memang gagah perkasa, memiliki kesaktian tinggi melebihi aku, akan tetapi kau lemah! Kau bukan laki-laki sejati, hatimu lemah, mudah jatuh. Kau kira aku cinta kepadamu? Ihh! Aku suka ikut bersamamu karena mengharapkan kepandaianmu yang kau janjikan kepadaku di depan ayah. Nah kau dengar sekarang? Setelah kau ketahui pendirianku, apakah kau kini hendak menarik janjimu lagi seperti layaknya seorang pengecut?"
Bukan main hebatnya serangan ini bagi Kwee Seng, seakan-akan ribuan batang jarum berbisa menusuk-nusuk jantungnya.
Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigil, matanya sayu dan dua butir air mata membasahi pipinya.
Kemudian ia menggertak gigi mengeraskan perasaan, menguatkan hatinya, mengepal tangan dan berkata sambil menengadahkan muka ke langit.
"Bagus sekali! Memang kau patut menjadi puteri Pat-jiu-Sin-ong! Aku yang bodoh. Ha-ha-ha, aku yang tolol. Orang macamku mana berharga menjatuhkan hati padamu? Tidak, Liu Lu Sian, aku tidak menarik janjiku! Kapan saja kau minta, akan kuturunkan ilmuku yang kupakai mengalahkan kau dipanggung Beng-kauw ketika itu. Memang aku cinta kepadamu, dan kau tidak mencintaiku sama sekali. Ha-ha-ha, biarlah, biar dirasakan oleh hati yang rakus ini, oleh pikiran yang pendek dan tak tahu diri ini, Si Cebol merindukan bulan, ha-ha-ha!"
Senang bukan main hati Liu Lu Sian.
Memang beginilah watak gadis puteri Beng-kauwcu ini.
Mungkin karena semenjak kecil terlalu dimanja, atau memang memiliki watak aneh keturunan ayahnya yang terkenal sebagai tokoh aneh di dunia kang-ouw, gadis ini suka sekali melihat laki-laki, sebanyak-banyaknya, jatuh hati kepadanya.
Suka Ia menggoda, menonjolkan kejelitaannya agar mereka makin dalam terperosok, kemudian akan ia kecewakan mereka, akan ia permainkan mereka dan melihat mereka menderita, ia akan mentertawakannya!
"Untung engkau masih belum terlalu rendah untuk menarik kembali janjimu.
Kwee Seng, aku menuntut janjimu itu pada besok malam, tepat tengah malam, disini juga.
Aku akan menjumpaimu disini dan..."
"Tidak, Liu Lu Sian. Tempat ini kurang sepi, mungkin ada orang lewat dan akan melihat kita. Kau lihat bukit disana itu. Tampaknya sukar didatangi, terjal dan liar. Jangan kira mudah menerima ilmu. Aku hanya mau menurunkan ilmuku kepadamu di puncak bukit itu. Besok malam tengah malam tepat, aku menantimu disana!"
Lu Sian menengok kearah timur.
Matahari mulai muncul dan tampaklah bayangan sebuah bukit yang tak berapa jauh dari tempat itu.
Bukit yang bentuknya aneh, puncaknya mencuat tinggi bentuknya seperti kepala naga atau kepala mahluk aneh.
"Baik, besok malam aku akan berada di puncak itu!"
Setelah berkata demikian, Lu Sian meloncat keatas kudanya dan melarikan kuda itu pergi meninggalkan Kwee Seng.
Pemuda itu berdiri tegak seperti patung, mendengarkan derap kaki kuda yang makin lama makin jauh, lalu ia meramkan matanya, serasa perih hatinya, serasa jantungnya dirobek dan serasa semangatnya terbang melayang mengikuti suara derap kaki kuda yang membawa lari Lu Sian, gadis yang selama ini memenuhi hatinya.
Tiba-tiba ia tertawa dan menampar kepalanya sendiri.
"Ha-ha-ha, tolol! Gila perempuan!!"
Kwee Seng lalu mengambil guci araknya dan minum dari guci araknya dan minum dari guci itu tanpa takaran lagi.
Arak menggelok memasuki kerongkongannya.
Tiba-tiba ia berhenti minum dan menengok memandang kearah gerombolan pohon kembang kecil yang belum kebagian sinar matahari pagi, masih gelap.
Biarpun perasaannya terganggu batinnya terpukul hebat, namun telinga pemuda ini masih amat tajam, perasaannya masih amat peka terhadap bahaya.
Ia mendengar gerakan orang disitu, maka tegurnya.
"Siapakah mengintai disitu?"
Sesosok bayangan putih berkelebat keluar dari belakang pohon-pohon dan seorang gadis berdiri dihadapan Kwee Seng dengan muka merah dan sinar mata membayangkan rasa malu.
Gadis ini cepat menjura dengan hormat sambil berkata.
"Harap Taihiap sudi memaafkan. Sesungguhnya bukan maksud saya untuk mengintai, akan tetapi keadaan tadi membuat saya tidak berani untuk keluar memperkenalkan diri."
Kwee Seng cepat membalas penghormatan gadis yang memakai pakaian serba putih ini.
Gadis bermata jernih, bermuka terang dan bersikap gagah, yang belum pernah ia kenal.
Akan tetapi ia segera teringat bahwa gadis inilah agaknya Si Bayangan Putih yang bertempur melawan Lu Sian diatas genteng benteng tadi.
"Hemm, kalau sudah lama Nona mengintai, agaknya tak perlu lagi memperkenalkan diri, tentu Nona sudah mengetahui segalanya!"
Kata Kwee Seng dengan hati mengkal karena adegan Lu Sian yang amat memalukan, yang merendahkan dirinya.
"Sekali lagi maaf, Taihiap. Sesungguhnya saya melihat dan mendengar semua dan sekarang tahulah saya bahwa gadis lihai yang secara aneh mendatangi benteng adik seperguruanku itu bukan lain adalah Nona Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu yang amat terkenal. Sungguh merupakan hal yang tidak pernah kami duga, dan andaikata dia datang memperkenalkan diri secara wajar, sudah pasti kami akan menyambutnya dengan segala kehormatan. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur dan saya merasa bersalah terhadap Kwee-taihiap yang amat saya kagumi karena kesaktiannya. Oleh karena itu, saya persilahkan Kwee-taihiap sudi singgah di benteng kami untuk mempererat persahabatan dan untuk menambahkan pengetahuan kami yang dangkal."
Diam-diam Kwee Seng kagum.
Biarpun hanya seorang wanita, seorang gadis muda, namun nona ini benar-benar jauh bedanya dengan wanita-wanita yang ia temui.
Nona ini membayangkan otak tajam, pandangan luas, sopan-santun dan hati-hati, seperti sikap orang yang sudah banyak pengalaman.
Ia lalu teringat bahwa ia belum menanyakan nama, dan sebagai seorang yang begitu luas pandangannya seperti nona ini, tentu saja tak mungkin akan memperkenalkan nama kalau tidak ditanya.
"Terima kasih, Nona baik sekali. Setelah nona mengetahui namaku, agaknya boleh juga aku mengenal nama nona yang terhormat?"
"Saya yang bodoh bernama Lai Kui Lan, membantu perjuangan Kam-sute (Adik Seperguruan Kam). Saya murid tunggal dari mendiang ayah Kam-sute, akan tetapi saya yang bodoh tak dapat mewarisi sepersepuluhnya dari ilmu silat keluarga Kam."
Kembali jawaban yang mengagumkan hati Kwee Seng. Ah, kalau saja Liu Lu Sian mempunyai watak dan sikap seperti nona baju putih ini, pikirnya.
"Sekali lagi terima kasih atas undangan Nona Liu yang manis budi. Akan tetapi, sebetulnya saya tidak ingin mengganggu ketenteraman Nona dan Kam-goanswe. Tadi pun saya hanya bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang mendatangkan kekacauan, maka maafkan kalau tadi saya melakukan kesalahan turun tangan terhadap Nona, karena maksud saya hanya menghentikan pertandingan."
Kui Lan menundukkan mukanya dan pipinya merah sekali. Akan tetapi ia menjawab dengan sikap sederhana merendah.
"Ilmu kepandaian Kwee-taihiap telah membuka mata saya. Saya ulangi lagi, atas nama Kam-sute juga, kami persilakan Kwee-taihiap untuk singgah dan menerima penghormatan kami."
"Tidak bisa, Nona Lai. Terima kasih. Saya harus pergi sekarang juga."
Setelah berkata demikian, Kwee Seng mengangkat kedua tangan memberi hormat, lalu melompat keatas kudanya dan meninggalkan guci araknya yang sudah kosong.
Hatinya yang penuh rasa nelangsa itu agaknya membuat ia tidak pedulian, sehingga guci arak kosong tidak pula dibawanya.
Setelah pemuda itu pergi, Lai Kui Lan berdiri termenung ditempat itu.
Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian pandang matanya bertemu dengan guci arak.
Ia melangkah maju, membungkuk dan mengambil guci arak itu.
Tanpa ia sadar, ia menekankan guci arak kosong itu pada dadanya, dan ia meramkan matanya seakan-akan guci arak yang tadi ia lihat diminum oleh Kwee Seng itu mewakili diri pemuda sakti yang telah membuat jantungnya menggetar-getar itu.
Kalau Lu Sian memandang rendah dan menghina Kwee Seng, sebaliknya Lai Kui Lan ini sekaligus jatuh cinta saking kagumnya melihat Kwee Seng dalam segebrakan merobohkan dia!
Memang aneh-aneh di dunia ini, apa lagi kalau menyangkut asmara yang mengamuk dihati orang-orang muda.
Lai Kui Lan yang berwatak gagah dan polos ini sekali jumpa jatuh dan mencintai Kwee Seng, akan tetapi yang dicintanya tidak tahu akan hal ini karena Kwee Seng kegilaan Liu Lu Sian.
Sebaliknya Lu Sian tidak mau membalas cinta kasih Kwee Seng dan gadis liar ini kagum kepada Kam Si Ek!
Ketika Lai Kui Lan sadar kembali akan keadaan dirinya, mukanya menjadi makin merah dan beberapa butir air mata terlontar keluar dari pelupuk matanya.
Teringat akan keadaan Kwee Seng ia bergidik.
Kasihan sekali pendekar itu.
Jatuh cinta kepada puteri Beng-kauwcu.
Ia sudah mendengar akan Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu, gadis jelita dan perkasa yang sudah menjatuhkan hati entah berapa banyak pemuda.
Ia mendengar pula tentang para muda yang menjadi korban di Beng-kauw.
Dan kini agaknya pendekar sakti Kwee Seng menjadi korban pula.
Kemudian ia teingat akan sutenya, Kam Si Ek.
Ada persamaan antara Liu Lu Sian dan Kan Si Ek.
Sutenya itu pun menjadi rebutan para gadis, membuat banyak gadis tergila-gila, akan tetapi sutenya tetap tidak mau menerima cinta seorang diantara mereka.
Banyak pula yang menjadi korban asmara, diantaranya tiga orang enci adik See-liong-sam-ci-moi-itu!
Teringat pula akan janji Kwee Seng untuk menurunkan ilmu pada besok tengah malam di puncak bukit sebelah timur, ia merasa ngeri.
Bukit itu terkenal dengan nama Liong-kui-san (Bukit Siluman Naga), biarpun bukan sebuah di antara gunung-gunung besar, namun didaerah itu amat terkenal sebagai bukit yang sukar didatangi orang, serem dan dikabarkan banyak setannya.
Kam Si Ek sendiri melarang anak buahnya naik gunung itu, karena memang keadaannya amat berbahaya dan harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat puncak bukit itu kelihatan aneh.
Banyak jurang-jurang yang tak terukur dalamnya, dan disana mengalir pula sungai yang deras airnya, sungai yang sumbernya dari dalam gunung dan yang kemudian menggabung dengan sungai Wu-kiang.
Sungai ini pun oleh penduduk diberi nama Liong-hiat-kiang (Sungai Darah Naga), karena pada saat tertentu sinar matahari membuat sungai itu kelihatan kemerahan seperti darah!
Kemudian Lai Kui Lan mengeluh dan berjalan dengan langkah gontai sambil mendekap guci arak.
Semangatnya seolah-olah melayang pergi mengikuti bayangan Kwee Seng Si Pendekar Muda yang sakti dan tampan!
Kwee Seng yang merana hatinya oleh pengakuan Liu Lu Sian yang tidak membalas cinta kasihnya, membalapkan kudanya menjauhi letak benteng Jendral Kam Si Ek.
Karena teringat akan janjinya kepada Liu Lu Sian, ia lalu membelokkan kudanya kearah timur dan hatinya lega ketika memasuki sebuah dusun tak jauh dari kaki gunung, sebuah dusun yang cukup ramai, bahkan disitu terdapat sebuah rumah penginapan sederhana yang membuka pula sebuah restoran.
Untung baginya, rumah penginapan itu dalam keadaan kosong tidak ada tamu sehingga keadaan sunyi dan ia tidak benyak menunggu.
Kwee Seng menjual kudanya dengan perantaraan pengurus hotel, kemudian ia minum mabok-mabokan sambil bernyanyi-nyanyi untuk mengusir pergi kerinduan dan kesedihan hatinya.
Sebentar saja para pelayan hotel memberinya nama Sastrawan Pemabok!
Dalam maboknya Kwee Seng menyanyikan sajak-sajak romantis ciptaan penyair terkenal Li Tai Po.
Pada senja hari itu Kwee Seng berdiri di ruangan belakang rumah penginapan, memandang sinar matahari yang mulai lenyap, hanya tampak sinar merah kekuningan menerangi angkasa barat.
Tangan kanannya memegang sebuah tempat arak terbuat daripada kulit labu kering.
Ia bersandar kepada langkan, memandangi angkasa barat yang berwarna indah sekali sambil sekali-kali meneguk arak dari tempat itu.
Teringat ia akan sajak karangan Li Tai Po, maka sambil mengangkat muka dan menggerak-gerakan tempat arak di depannya, Kwee Seng lalu menyanyikan sajak itu .
Kunikmati arak hingga tak sadar akan datangnya senja rontokan daun bunga memenuhi lipatan bajuku mabok kuhampiri anak sungai mencerminkan bulan ohhh, burung terbang pergi, sunyi dan rawan Kwee Seng berhenti bernyanyi dan meneguk araknya.
Biarpun hawa arak sudah memenuhi kepalanya, membuat kepalanya serasa ringan dan hendak melayang-layang namun sebagai seorang ahli silat yang sakti, telinganya menangkap suara langkah kaki orang.
Sambil minum terus dan arak menetes-netes dari bibirnya, Kwee Seng melirik kesebelah kanan.
Ia masih berdiri bersandarkan langkan.
"Heh-heh-heh, matahari pergi tentu terganti munculnya bulan..."
Ia berkata-kata seorang diri akan tetapi diam-diam ia memperhatikan orang-orang yang baru datang.
Mengapa ada orang datang dari belakang rumah penginapan?
Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda dan seorang gadis, ia tidak berani memandang langsung, melainkan mengerling dan memperhatikan dari sudut matanya.
Alangkah herannya ketika ia mengenal wanita itu.
Bukan lain adalah gadis baju putih, Lai Kui Lan, suci (kakak seperguruan) dari Jenderal Kam Si Ek!
Pakaiannya masih sutra putih seperti pagi tadi, wajahnya masih terang dan manis seperti tadi, akan tetapi ada keanehan pada diri gadis ini.
Kalau pagi tadi Lai Kui Lan amat peramah dan sinar matanya bening terang, kini gadis itu sama sekali tidak menengok kearahnya, seakan-akan tidak mengenalnya atau tidak melihatnya, padahal tak mungkin tidak melihatnya karena ditempat itu tidak ada orang lain.
Dan sinar mata gadis itu, seperti kehilangan semangat, tidak sewajarnya!
Apalagi lengan kiri gadis itu digandeng dengan erat oleh Si Pemuda yang memandang penuh curiga kepadanya.
Kwee Seng membalikkan tubuh, menggoyang-goyang kepalanya seperti seorang pemabokan dan mengangkat tempat arak kearah pemuda itu dengan gerakan menawarkan.
Akan tetapi diam-diam ia memperhatikan Si Pemuda.
Seorang pemuda sebaya dengannya, berwajah cukup tampan akan tetapi membayangkan keanehan dan kekejaman, sepasang alisnya yang tebal hitam itu bersambung dari mata atas kiri ke atas mata kanan.
Kepalanya kecil tertutup kain penutup kepala yang bentuknya lain daripada biasa.
Pada muka itu terbayang sesuatu yang asing, seperti terdapat pada wajah orang-orang asing.
Tubuhnya tidak berapa besar namun membayangkan kekuatan tersembunyi yang hebat, sedangkan sinar matanya pun membayangkan tenaga dalam yang kuat.
Diam-diam Kwee Seng terkejut dan menduga-duga siapa gerangan pemuda ini, dan mengapa pula Lai Kui Lan ikut dengan pemuda ini dengan sikap seolah-olah seekor domba yang dituntun ke penjagalan.
Seekor domba yang dituntun kepenjagalan!
Kalimat ini seakan-akan berdengung ditelinga Kwee Seng, membuatnya termenung lupa akan araknya ketika dua orang itu sudah memasuki kamar tengah, mendengar suara Si Pemuda yang berat dan parau minta kamar dijawab oleh pengurus rumah penginapan.
Kemudian, masih lupa akan araknya, Kwee Seng berjalan perlahan menuju ke kamarnya sendiri, kalimat tadi masih terngiang ditelinganya.
Mungkin, bisik hatinya.
Mungkin sekali Lai Kui Lan menjadi domba dan pemuda itu kiranya patut pula menjadi seorang penyembelih domba, seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul).
Kalau tidak demikian, mengapa sikap Lai Kui Lan begitu aneh seperti orang terkena sihir?
Seperti seorang yang melek akan tetapi tidak sadar?
Makin gelap keadaan cuaca diluar hotel, makin gelap pula pikirnya Kwee Seng menghadapi teka-teki itu.