Suling Emas 3

Eps 3 Suling Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.

Hatinya pernah penasaran, biarpun beberapa kali ia meyakinkan hatinya bahwa kehadiran Lai Kui Lan bersama seorang pemuda itu sama sekali bukan urusannya dan bahwa tidak patut mengintai keadaan muda-mudi yang mungkin sedang di lautan madu asmara, namun kecurigaannya mendesak-desaknya sehingga tak lama kemudian, di dalam kegelapan malam, Kwee Seng sudah melayang naik ke atas genteng hotel dan melakukan pengintaian.

Hal ini ia lakukan dengan guci arak masih di tangan, karena untuk melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan kesusilaan ini ia harus menguatkan hati dengan minum arak.

Akan tetapi ketika ia mengintai ke dalam kamar dua orang itu, hampir saja ia terjengkang saking marah dan kagetnya.

Tak salah lagi apa yang dikuatirkan hatinya!

Ia melihat Lai Kui Lan terbaring telentang diatas pembaringan dalam keadaan lemas tak dapat bergerak, mukanya yang pucat itu basah oleh air mata, terang bahwa gadis itu tertotok hiat-to (jalan darah) di bagian thian-hu hiat dan mungkin juga jalan darah yang membuat gadis itu menjadi gagu!

Akan tetapi air mata itu menceritakan segalanya!

Menceritakan bahwa keadaan gadis seperti itu bukanlah atas kehendak Si Gadis sendiri, melainkan terpaksa dan karena tak berdaya.

Adapun pemuda tadi, duduk ditepi pembaringan sambil berkata lirih membujuk-bujuk.

"Nona yang baik, mengapa kau menangis?"

Dengan gerakan halus dan mesra pemuda itu mengusap-usap kedua pipi yang penuh air mata.

"Aku tertarik oleh kecantikanmu, dan andaikata aku tidak tahu bahwa kau adalah suci dari Jenderal kam Si Ek, tentu aku tidak akan berlaku sesabar ini! Aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku berikut hatimu, ingin kau membalas cintaku dan kau akan kuajak ke Khitan, menjadi isteriku, isteri seorang panglima! Dengan ikatan ini, tentu adik seperguruanmu akan suka bersekutu dengan kami. Nona, kau tinggal pilih, menyerah kepadaku dengan sukarela, ataukah kau ingin menjadi orang terhina karena aku menggunakan kekerasan? Kau tidak ingin dinodai seperti itu, bukan? Aku Bayisan, panglima terkenal di Khitan, tidak kecewa kau menjadi kekasihku..."

Pemuda itu menundukkan mukanya hendak mencium muka gadis yang tak berdaya itu.

Tiba-tiba pemuda yang bernama Bayisan itu meloncat bangun, membatalkan niatnya mencium karena tengkuknya terasa panas dan sakit.

Matanya jelalatan kesana ke mari, cuping hidungnya kembang kempis karena ia mencium bau arak.

Ia meraba tengkuknya yang ternyata basah dan ketika ia (Lanjut ke

Jilid 06) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 mendekatkan tangannya kedepan hidung, ia berseru kaget.

"Keparat, siapa berani main-main dengan aku?"

"Penjahat cabul jahanam! Ditempat umum kau berani melakukan perbuatan biadab, sekarang bertemu dengan aku tak mungkin kau dapat mengumbar nafsu iblismu!"

Terdengar suara Kwee Seng dari atas genteng.

Bayisan bergerak cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang keluar dari jendela kamar dan beberapa menit kemudian ia sudah meloncat naik keatas genteng.

Akan tetapi ia tidak melihat orang diatas genteng yang sunyi itu!

Bayisan celingukan, napasnya terengah-engah karena menahan amarah, sebatang pedang sudah berada ditangan kanannya.

"Heeeei! Jahanam cabul, aku disini. Mari kita keluar dusun kalau kau memang berani!"

Tahu-tahu Kwee Seng suah berada agak jauh dari tempat itu, melambai-lambaikan guci araknya ke arah Bayisan.

Tentu saja orang Khitan ini makin marah dan sambil berseru keras ia mengejar.

Kwee Seng lari cepat dan terjadilah kejar-kejaran di malam gelap itu, menuju keluar dusun.

Di luar dusun inilah Kwee Seng menantikan lawannya.

Mereka berhadapan.

Kwee Seng tenang dan ketika lawannya datang ia sedang meneguk araknya.

Bayisan marah sekali, mukanya merah matanya jalang, pedang ditangannya gemetar.

Ketika mengenal pemuda pelajar pemabokan itu, ia makin marah.

"Eh, kiranya kau, pelajar jembel tukang mabok! Kau siapakah dan mengapa kau lancang dan mencampuri urusan pribadi orang lain?"

Bayisan membentak menahan kemarahannya karena ia maklum bahwa yang berdiri didepannya bukan orang sembarangan sehingga ia harus bersikap hati-hati dan mengenal keadaan lawan lebih dulu.

Bayisan terkenal sebagai seorang pemuda yang selain tinggi ilmunya.

Juga amat cerdik dan keji.

Di Khitan ia terkenal sebagai seorang panglima muda yang tangguh dan pandai.

Kwee Seng tertawa.

"Aku orang biasa saja, tidak seperti engkau ini, Panglima Khitan merangkap penjahat cabul! Aku mendengar tadi namamu Bauw I San? Belum pernah aku mendengar nama itu! Pernah aku mendengar nama Kalisani sebagai tokoh Khitan yang dipuji-puji, akan tetapi nama Bouw I San (Bayisan) tukang petik bunga (penjahat cabul) aku belum pernah!"

"Hemm, manusia sombong! Aku memang bernama Bayisan Panglima Khitan, kau mendengarnya atau belum bukan urusanku. Aku suka gadis itu dan hendak mengambilnya sebagai kekasih, kau mau apa? Apakah kau iri? Kalau kau iri, apakah kau tidak bisa mencari perempuan lain? Tak tahu malu engkau, hendak merebut perempuan yang sudah menjadi tawananku!"

"Heh-heh-heh, Bayisan hidung belang! Jangan samakan aku dengan engkau! Kau suka mengganggu wanita, aku tidak! Kau penjahat cabul, aku justeru membasmi penjahat cabul! Aku Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!"

Kalimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng meringis karena ia teringat akan Liu Lu Sian yang tidak cinta kepadanya.

Dilain pihak, Bayisan kelihatan terkejut dan marah mendengar disebutnya nama ini.

"Akhh, keparat! Jadi kau ini Kwee Seng, pelajar jembel tak tahu malu itu? Kau telah terlepas dari tangan maut Suhuku Ban-pi Lo-cia, sekarang kau tak mungkin terlepas dari tanganku!"

Setelah berkata demikian, Bayisan menyerang hebat dengan pedangnya.

Pedang itu digerakkan keatas akan tetapi dari atas menyambar kebawah dengan bacokan kearah kepala, kemudian disusul gerakan menusuk dada.

Hebat serangan ini, karena sekaligus dalam satu gerakan saja telah menjatuhkan dua serangan yaitu membacok kepala dan menusuk dada!

Akan tetapi Kwee Seng menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya mencelat kebelakang sejauh dua meter sambil meneguk araknya.

Sekaligus dua serangan itu gagal sama sekali!

"Aih...

aihhh...

jadi kau ini murid Ban-pi Lo-cia?

Pantas...

pantas....

Gurunya hidung belang, muridnya mata keranjang!"

Akan tetapi dengan gerakan kilat Bayisan sudah menerjang maju dan permainan pedangnya benar-benar hebat.

Kiranya Bayisan bukanlah sembarang murid dari Ban-pi Lo-cia, agaknya sudah menerima gemblengan dan mewarisi ilmu silat bagian yang paling tinggi, disamping ilmu silat yang dipelajarinya dari orang-orang pandai didaerah utara dan barat.

Pedang ditangannya berkelebatan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan angin yang ditimbulkan mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan.

Diam-diam kwee seng kagum juga.

Sayang sekali, pikirnya.

Jarang ada orang muda dengan ilmu kepandaian sehebat ini, maka amatlah sayang kepandaian begini baik jatuh pada diri seorang pemuda yang bermoral rendah.

Orang dengan kepandaian seperti ini tentu akan dapat menjunjung tinggi nama besar suku bangsa Khitan yang memang terkenal sejak dulu sebagai suku bagsa yang kuat dan pengelana yang ulet.

Menghadapi pedang Bayisan yang tak boleh dipandang ringan ini, terpaksa Kwee Seng mengeluarkan kipasnya dan dengan kipas di tangan kir, barulah ia menghalau semua ancaman bahaya dari pedang itu.

Sebaliknya, Bayisan kaget sekali.

Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw muncul jago muda bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-o-eng.

Akan tetapi gurunya tidak bicara tentang kehebatan pemuda itu, maka sungguh kagetlah ia ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan kipas ditangan mampu menghadapi pedangnya, malah kini semua jalan pedangnya serasa buntu, lubang untuk menyerang tertutup sama sekali!

Celaka, pikirnya, andaikata ia dapat menangkan sastrawan muda itu, hal yang amat meragukan, tentu akan makan waktu lama sekali.

Pertandingan melawan sastrawan ini tidak penting baginya, lebih penting lagi diri Lai Kui Lan yang ia tinggalkan dalam kamar hotel.

Pengaruh totokannya tidak akan tahan lama, apalagi gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.

Kalau ia terus melayani sastrawan ini dan Lai Kui Lan dapat membebaskan diri daripada totokan, tentu akan terlepas dan lari.

Kalau sudah lari kembali ke benteng, sukarlah untuk menangkapnya lagi.

Ia akan menderita!

rugi dua kali, pertama, kehilangan calon korban yang begitu menggiurkan, kedua, rencananya menarik Jenderal Kam Si Ek sebagai sekutu Khitan akan gagal sama sekali.

Berpikir demikian, pemuda Khitan yang cerdik ini lalu mengeluarkan seruan keras dan tinggi hampir merupakan suara lengking memekakkan telinga, kemudian pedangnya bergerak menusuk-nusuk seperti datangnya belasan batang anak panah.

Kwee Seng terkejut.

Lengking tadi hampir mencapai tingkat yang dapat membahayakan lawan.

Kalau pemuda Khitan ini tekun berlatih dan menerima bimbingan orang pandai, tentu akan berhasil memiliki ilmu pekik semacam Saicu-ho-kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan hanya dengan pengerahan suara saja!

Apalagi lengking itu disusul serangan pedang sehebat itu.

Benar-benar pemuda Khitan ini mengagumkan dan berbahaya.

Kwee Seng cepat memutar kipasnya dan karena ia kuatir kipasnya akan rusak menghadapi hujan tusukan itu, ia mengalah dan meloncat ke belakang.

Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Bayisan untuk menggerakan tangan kirinya.

Benda-benda hitam menyambar dan Kwee Seng mencium bau yang amat tidak enak ketika ia mengelak dan jarum-jarum hitam itu lewat didepan mukanya.

Jarum-jarum beracun yang lebih jahat daripada jarum beracun milik Liu Lu Sian!

Untuk menghilangkan bau tidak enak, ia meneguk araknya.

Akan tetapi Bayisan meloncat pergi sambil berkata.

"Jembel busuk, Tuanmu tidak ada waktu lagi untuk..."

Hanya sampai disini kata-kata Bayisan karena tiba-tiba ia terguling roboh dan tubuhnya lemas!

Kiranya secepat kilat Kwee Seng tadi telah menyemburkan dari mulutnya dan menyusulkan sebuah totokan dengan ujung kipasnya.

Gerakannya melompat seperti kilat menyambar dengan cepatnya sehingga tidak terduga-duga oleh Bayisan yang lebih dulu sudah tersembur arak pada punggungnya.

Robohlah tokoh Khitan itu, terguling telentang.

Ia berusaha bangkit namun tak berhasil dan roboh lagi.

Di ain saat Kwee Seng sudah berdiri di dekatnya dan menudingkan gagang kipas pada dadanya.

Kini suara Kwee Seng keren berpengaruh.

"Bayisan? Kau terhitung apa dengan Kalisani?"

Bayisan orangnya cerdik sekali.

Kalau perlu ia sanggup bersikap pengecut untuk menyelamatkan diri.

Seketika ia mengerti bahwa nyawanya tergantung pada jawabannya ini.

Tanpa ragu-ragu ia berkata.

"Dia Kakak Misanku, tunggu saja kau akan pembalasannya karena kau berani menghinaku!"

Kwee Seng tertawa bergelak dan melangkah mundur.

"Ho-ho-ha-ha! Kau hendak menggunakan nama Kalisani untuk menakut-nakuti aku? Aha, lucu! Justeru karena engkau saudara misannya, justeru karena memandang mukanya, aku mengampuni jiwamu yang kotor, bukan sekali-kali karena aku takut kepadanya. Huh, manusia rendah yang mencemarkan nama besar orang-orang gagah Khitan!"

Kwee Seng meludah, mengenai muka Bayisan, lalu pemuda ini meninggalkan Bayisan, berlari cepat ke dusun.

Ketika ia memasuki kamar lewat jendela, ia melihat Lai Kui Lan masih telentang diatas pembaringan, air matanya bercucuran, akan tetapi kini gadis itu sudah dapat mulai bergerak-gerak lemah.

Kwee Seng cepat menggunakan ujung kipasnya menotok jalan darah dan terbebaslah Kui Lan.

Gadis ini meloncat bangun, mukanya membayangkan kemarahan besar.

Ia bersikap seperti orang hendak bertempur, kedua tangannya yang kecil mengepal, matanya berapi-api memandang ke sana ke mari, mencari-cari.

"Mana dia? Mana jahanam terkutuk itu? Aku hendak mengadu nyawa dengan jahanam itu!"

"Tenanglah, Nona. Bayisan sudah pergi kupancing dia keluar dusun dan dia sekarang terbaring disana, tertotok gagang kipasku. Untung bahaya lewat sudah, Nona, dan kiranya tak baik menimbulkan gaduh di hotel ini sehingga memancing datang banyak orang dan akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang amat tak baik bagi nama Nona..."

Tiba-tiba Lai Kui Lan memandang Kwee Seng dan menjatuhkan diri didepan pemuda itu sambil menangis.

Kwee Seng kebingungan dan menyentuh pundak gadis itu dengan halus.

"Ah, apa-apaan ini Nona? Mari bangkit dan duduklah, kalau hendak bicara, lakukanlah dengan baik, jangan berlutut seperti ini."

Lai Kui Lan menahan isaknya, lalu bangkit dan duduk diatas kursi. Kwee Seng tetap berdiri dan menenggak araknya yang tidak habis-habis itu.

"Kwee-taihiap, kau telah menolong jiwaku..."

"Ah, kau tidak terancam bahaya maut, bagaimana bisa bilang aku menolong jiwamu?"

"Kwee-taihiap bagaimana bisa bilang begitu? Bahaya yang mengancamku di tangan jahanam itu lebih hebat daripada maut..."

Gadis itu menangis lagi lalu cepat menghapus air matanya dengan saputangan.

"Sampai mati aku Lai Kui Lan tidak dapat melupakan budi Taihiap..."

Tiba-tiba sepasang pipinya menjadi merah dan sinar matanya menatap wajah Kwee Seng penuh rasa terima kasih.

Melihat sinar mata itu, Kwee Seng membuang muka dan menenggak araknya lagi.

"Lupakanlah saja, Nona, dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa kejahatan selalu pasti akan hancur."

"Ah, dimana dia? Aku harus membunuhnya!"

"Dia tertotok diluar dusun?"

Setelah berkata demikian, gadis itu cepat keluar dan berlari didalam gelap.

Kwee Seng menggeleng-gelengkan kepalanya.

Memang Bayisan patut dibunuh, akan tetapi ia merasa tidak enak kepada Kalisani, tokoh Khitan yang dikagumi semua orang dunia kang-ouw.

Maka ia tidak menghendaki nona itu membunuh Bayisan, dan diam-diam ia mengikuti Lai Kui Lan dari jauh.

Akan tetapi hatinya lega ketika ia melihat bahwa ketika Lai Kui Lan tiba diluar dusun, Bayisan sudah tak tampak lagi bayangannya.

Kembali ia merasa kagum.

Pemuda Khitan itu benar-benar luar biasa, dapat membebaskan diri dari totokan sedemikian cepatnya.

Ketika dengan hati kecewa Kui Lan kembali ke kamar itu, ia tidak melihat Kwee Seng, hanya melihat sehelai kertas bertulis diatas meja.

Ia memungutnya dan membaca tulisan yang rapi dan bagus.

Para pelayan telah melihat nona datang bersama dia, tidak baik bagi nona tinggal lebih lama ditempat ini, lebih baik kembali.

Surat itu tak bertanda tangan, akan tetapi Kui Lan maklum siapa orangnya yang menulisnya.

Dengan helaan napas panjang, lalu meloncat keluar lagi dan berlari-lari menuju benteng sutenya.

Gadis ini tidak tahu bahwa diam-diam dari jauh Kwee Seng mengikutinya untuk menjaga kalau-kalau gadis ini bertemu lagi dengan Bayisan.

Setelah gadis itu memasuki benteng, barulah ia berjalan perlahan kembali ke hotelnya, memasuki kamar lalu tidur dengan nyenyak.

Pada keesokan malamnya, Kwee Seng berjalan perlahan mendaki bukit Liong-kui-san.

Baiknya malam hari itu angkasa tidak terhalang mendung sehingga bulan yang masih besar menyinar terang, menerangi jalan setapak yang amat sukar dilalui.

Diam-diam pemuda ini kagum akan keadaan gunung yang tak dikenalnya ini, bergidik menyaksikan jurang-jurang yang amat dalam, dan ia merasa menyesal mengapa ia kemarin minta supaya Lu Sian datang ke tempat seperti ini.

Kalau ia tahu gunung ini begini berbahaya, tentu ia memilih tempat lain.

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan ia maklum pula bahwa Lu Sian cukup pandai untuk untuk dapat mendaki gunung ini, ia melanjutkan pendakiannya.

Tepat pada tengah malam ia tiba di puncak bukit.

Puncak ini merupakan tempat datar yang luasnya lima belas meter persegi, ditumbuhi rumput tebal, dan disebelah selatan dan barat merupakan tempat pendakian yang sukar, adapun disebelah utara dan timur tampak jurang ternganga, jurang yang tak dapat dibayangkan betapa dalamya karena yang tampak hanya warna hitam gelap mengerikan.

Jauh sebelah bawah, agaknya di jurang sebelah timur, terdengar suara air gemericik, akan tetapi tidak tampak airnya.

Ketika tiba di tempat itu, Kwee Seng menengok ke belakang dan menarik napas panjang.

Sejak tadi ia tahu bahwa ada orang mengikutinya, dan tahu pula bahwa orang itu bukan lain adalah Lai Kui Lan.

Ketika tiba di bagian yang sukar dan banyak batunya tadi, diam-diam ia menyelinap dan mengambil jalan lain turun lagi maka ia melihat bahwa orang yang membayanginya tadi itu adalah Lai Kui Lan.

Ia diam saja dan tidak menegur, lalu melanjutkan perjalanannya, malah menjaga agar ia tidak mengambil jalan terlalu sukar agar nona yang membayanginya itu dapat mengikutinya dengan aman.

Ia menduga-duga apa maksud nona itu dan akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa nona itu tentu ingin pula melihat kelanjutan daripada urusannya dengan Lu Sian.

Tiba-tiba ia teringat, Lu Sian seorang yang aneh wataknya.

Kalau diketahui bahwa ada orang ketiga hadir, tentu akan marah, bukan tak mungkin timbul keganasannya dan menyerang Kui Lan.

Oleh karena inilah maka Kwee Seng tidak jadi naik, cepat ia berlari turun lagi menyongsong Kui Lan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika melihat Kwee Seng secara tiba-tiba berdiri didepannya, tak jauh dari puncak.

Mereka berdiri berhadapan saling pandang, dan Kui Lan menjadi makin gugup.

"Eh... ah... Kwee-taihiap....aku... aku ingin bercerita kepadamu tentang... tentang mengapa aku sampai datang bersama... jahanam itu. Karena aku tidak bisa menjumpai Taihiap disana, aku... aku lalu datang kesini karena aku tahu bahwa malam ini Taihiap tentu akan datang disini."

Kata-kata ini diucapkan tergesa-gesa dan tergagap sehingga Kwee Seng merasa kasihan, tidak mau menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendesak.

"Kau aneh sekali, Nona Lai. Mengapakah kau hendak menceritakan hal itu? Akan tetapi biarlah, karena kulihat bahwa orang yang hendak kujumpai disini belum datang di puncak, baiklah kau bercerita. Nah, sekarang aku bertanya, bagaimana kau bisa bertemu dan tertawan oleh Bayisan? Duduklah biar enak kita bicara."

Lai Kui Lan bernapas lega, lalu ia duduk diatas sebuah batu, berhadapan dengan Kwee Seng yang duduk diatas tanah.

"Kemarin, setelah Taihiap meninggalkan aku di hutan itu."

Ia mulai bicara, suaranya menggetar.

"aku tak dapat menahan hatiku yang merasa kasihan dan kagum kepada Taihiap. Aku kecewa karena Taihiap tidak sudi menerima undanganku, kami sesungguhnya membutuhkan petunjuk-petunjuk orang sakti seperti Taihiap. Aku tidak putus asa dan berusaha mengejar Tahiap yang menunggang kuda."

Ia berhenti sebentar untuk melihat dan menunggu reaksi dari Kwee Seng, akan tetapi pemuda ini diam saja maka ia melanjutkan ceritanya.

"Setelah keluar dari hutan itu, tiba-tiba muncul Bayisan. Dia menyatakan kehendaknya, yaitu bermaksud untuk membujuk sute untuk bersekutu dengan orang-orang Khitan. Tentu saja aku menjadi marah dan memaki lalu kami bertempur dengan kesudahan aku kalah dan tertawan. Dia lihai bukan main,orang Khitan keparat itu. Demikianlah, dalam keadaan tak berdaya aku dibawa ke rumah penginapan itu. Untung Tuhan melindungi diriku sehingga dapat bertemu dengan Taihiap. Kwee-taihiap, kuulangi lagi permohonanku, sudilah kiranya Taihiap berkunjung ke benteng, berkenalan dengan Suteku dan kami mohon petunjuk-petunjuk dari Tahiap dalam suasana yang kacau balau ini. Kami seakan-akan hampir kehilangan pegangan, Taihiap, demikian banyaknya muncul raja-raja yang membangun kerajaan-kerajaan kecil sehingga sukar bagi kami untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk."

Didalam hatinya Kwee Seng memuji.

Nona ini, seperti juga Kam Si Ek, adalah seorang yang amat cinta kepada negara, orang-orang berjiwa patriot yang akan rela mengorbankan jiwa raga demi negara dan bangsa.

Tak enaklah kalau menolak terus.

"Baiklah, Nona Lai. Setelah selesai urusanku disini, aku akan singgah di benteng Jenderal Kam."

"Terimakasih, Taihiap, terimakasih...!"

Dengan suara penuh kegembiraan Kui Lan menjura, berkali-kali.

"Ssttt, ada orang di puncak. Nona Lai, karena kau sudah terlanjur berada disini, aku pesan, kau bersembunyilah dan jangan sekali-kali kau keluar, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, apapun juga yang terjadi. Maukah kau memenuhi permintaanku ini?"

Lai Kui Lan dapat mengerti isi hati Kwee Seng, dengan muka sedih ia mengangguk.

Akan tetapi karena muka itu tertutup bayangan, Kwee Seng tidak melihat kesedihan ini, Kwee Seng lalu bangkit dan meninggalkan Kui Lan, mendaki puncak.

Benar saja dugaannya, ketika ia tiba di puncak, di sana telah berdiri Liu Lu Sian.

Bukan main jelitanya gadis ini.

Dibawah sinar bulan yang tak terhalang sesuatu, gadis ini seperti seorang dewi dari khayangan.

Sinar bulan membungkus dirinya, rambutnya mengeluarkan cahaya, matanya seperti bintang.

"Kiranya kau tidak lupa akan janjimu. Kwee Seng, aku sudah berada disini, siap menerima ilmu seperti yang kau janjikan dahulu."

Kata Liu Lu Sian, akan tetapi suaranya amat tidak menyenangkan hati, karena terdengar dingin, alangkah jauh bedanya dengan pribadinya yang seakan-akan menciptakan kehangatan dan kemesraan.

Ia tahu bahwa gadis itu selain tidak membalas cinta kasihnya, juga mendendam kepadanya.

Karena itu, ia pun tidak mau menggunakan sebutan moi-moi (adinda), karena kuatir kalau-kalau hal itu akan menambah kemarahan Si Gadis dan akan menimbulkan cemoohan terhadap dirinya yang sudah terang tergila-gila kepada Lu Sian.

"Lu Sian, sebetulnya ilmu yang kupergunakan untuk menandingimu dahulu itu hanyalah Ilmu Silat Pat-sian-kun biasa saja."

"Tak perlu banyak alasan, Kwee Seng. Kalau ada ilmu yang hendak kau turunkan kepadaku seperti janjimu, lekas beri ajaran!"

Kwee Seng menggigit bibirnya, lalau berkata.

"Kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat itu."

Ia lalu bersilat dengan gerakan lambat dan memang ia mainkan Ilmu Silat Pat-sian-kun-hwat dengan tangan kosong, akan tetapi jelas bahwa gerakan-gerakan ini diperuntukkan senjata pedang.

Sebetulnya ilmu silat ini ada enam puluh jurus banyaknya.

Akan tetapi ketika Kwee Seng menerima petunjuk dari Bukek Siansu Si Manusia Dewa, ia hanya meringkasnya menjadi seperempatnya saja, jadi hanya enam belas jurus inti yang sudah meliputi seluruhnya dan mencakup semua gerak kembang atau gerak pancingan, gerak serangan atau gerak pertahanan.

Setelah mainkan enam belas jurus itu, Kwee Seng berhenti dan memandang kepada Lu Sian sambil berkata.

"Nah, inilah ilmu silatku yang hendak kuajarkan kepadamu, Lu Sian, Sudahkah kau memperhatikan gerakannya? Harap kau coba latih, mana yang kurang jelas akan kuberi penjelasan."

"Ah, kau membohongi aku!"

Lu Sian berseru marah.

"Ilmu silat macam itu saja, dilihat dari gerakannya jauh kalah lihai daripada Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Ayah! Mana bisa kau kalahkan aku dengan ilmu itu? Kwee Seng, aku tahu, setelah kau tidak bisa mendapatkan cintaku, kau hendak membalasnya dengan menyuguhkan ilmu silat pasaran untuk menghinaku!"

Gemas hati Kwee Seng, dan perih perasaannya. Gadis ini terlalu kejam kepada orang yang tidak menjadi pilihan hatinya.

"Lu Sian, sipa membohongimu? Ketika aku menghadapimu dahulu, aku tidak menggunakan ilmu lain kecuali ini!"

"Aku tidak percaya! Coba kau sekarang jatuhkan aku dengan ilmu itu!"

"Baiklah. Biar kugunakan ini sebagai pedang."

Kwee Seng mengambil sebuah ranting pohon yang berada di tempat itu.

"Kau mulailah dan lihat baik-baik, aku hanya akan menggunakan Pat-sian-kun!"

Lu Sian mencabut pedangnya, lalu menerjang dengan gerakan kilat, mainkan jurus berbahaya dari ilmu pedang ciptaan ayahnya, yaitu Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang memang diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa).

Melihat pedang nona itu berkelebat menusuk kearah dadanya dengan kecepatan luar biasa, Kwee Seng menggeser kakinya kekiri lalu ranting di tangan kanannya melayang dari samping menempel pedang dari atas dan menekan pedang lawan itu kebawah disertai tenaga sin-kang.

Pedang Lu Sian tertekan dan tertempel seakan-akan berakar pada ranting itu!

Betapapun Lu Sian berusaha melepaskan pedang, sia-sia belaka.

"Nah, tangkisan ini dari jurus keempat yaitu pat-sian-khat-bun (Delapan Dewa Buka Pintu) dan dapat dilanjutkan dengan serangan jurus kedelapan Pat-sian-hian-hwa (Delapan Dewa Serahkan Bunga), pedang menyambar sesuka hati, boleh memilih sasaran, akan tetapi untuk contoh aku hanya menyerang bahu."

Tiba-tiba ranting yang tadinya menekan pedang itu lenyap tenaga tekannya dan selagi pedang Lu Sian yang telepas dari tekanan ini meluncur keatas, ranting cepat melesat dan menyabet bahu kanan Lu Sian!

Lu Sian meringis, tidak sakit, akan tetapi amat penasaran.

"Coba hadapi ini!"

Teriaknya dan pedangnya membuat lingkaran-lingkaran lebar, dari dalam lingkaran itu ujung pedang menyambar-nyambar laksana burung garuda mencari mangsa, mengancam tubuh bagian atas dari lawan.

"Seranganmu ini kuhadapi dengan jurus kelima yang disebut Pat-sian-hut-si (Delapan Dewa Kebut Kipas) untuk melindungi diri."

Kata Kwee Seng dan tiba-tiba ranting ditangannya berputar cepat merupakan segunduk sinar bulat melindungi tubuh atasnya dan dilanjutkan dengan serangan jurus ke empat belas yang disebut Delapan Dewa Menari Payung!"

Tiba-tiba gulungan sinar bulat itu berubah lebar seperti payung dan tahu-tahu dari sebelah bawah, ranting telah meluncur dan menyabet paha Lu Sian sehingga mengeluarkan suara "plak!"

Keras. Kalu saja ranting itu merupakan pedang tentu putus paha gadis itu! "Aduh ...!"

Lu Sian menjerit karena pahanya yang disabet terasa pedas dan sakit.

"Kwee Seng, kau kurang ajar...!"

"Maaf, bukan maksudku menyakitimu. Sudah percayakah kau sekarang?"

"Tidak! Kau akali aku! Aku minta kau ajarkan ilmu-ilmu silatmu yang terkenal, seperti Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Menaklukan Lautan), atau Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang), atau Ilmu Pukulan Bian-sin-kun (Tangan Sakti Kapas)!"

Kwee seng terkejut.

Bagaimana nona ini bisa tahu akan ilmu-ilmu silat rahasia simpanannya itu?

Ia menjadi curiga.

Kalau Pat-jiu Sin-ong mungkin tahu, akan tetapi nona ini?

Suaranya keren berwibawa ketika ia menjawab.

"Liu Lu Sian, harap kau jangan minta yang bukan-bukan. Aku hanya hendak mengajarkan kau Pat-sian-kun, dan kau harus menerima apa yang hendak kuberikan kepadamu."

"Kau hendak melanggar janji?"

"Sama sekali tidak. Aku berjanji kepada ayahmu hendak mengajarkan ilmu yang dapat mengalahkan ilmu pedangmu itu, dan kurasa Pat-sian-kun yang dapat menjadi Pat-sian Kiam-hoat dapat mengalahkan ilmu pedangmu Pat-mo Kiam-hoat!"

"Hoa-ha-ha-ha! Kau menggunakan akal untuk menipu anak kecil, Kwee-hiante. Sungguh keterlaluan sekali!"

Kwee Seng kaget dan cepat menengok.

Kiranya Pat-jiu Sin-ong sudah berdiri disitu, tinggi besar dan bertolak pinggang sambil tertawa.

Cepat Kwee Seng memberi hormat sambil berkata.

"Ah, kiranya Beng-kauwcu telah berada disini!"

Akan tetapi didalam hatinya ia tidak senang dan tahulah ia sekarang mengapa Lu Sian mengenal semua ilmu simpanannya, tentu sebelumnya telah diberi tahu oleh orang tua ini yang hendak mempergunakan puterinya untuk menjajaki kepandaiannya dan kalau mungkin mempelajari ilmu simpanannya.

"Beng-kauwcu, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku menggunakan akal untuk menipu puterimu?"

"Ha-ha-ha! Kau bilang tadi bahwa Pat-sian-kun dapat menangkan Pat-mo Kiam-hoat! Tentu saja kau dapat menangkan Lu Sian karena memang tingkat kepandaianmu agak lebih tinggi daripada tingkatnya."

Dengan ucapan "agak lebih tinggi"

Ini terang orang tua itu memandang rendah kepada Kwee Seng, akan tetapi pemuda itu mendengarkan dengan tenang dan sabar.

"Andaikata aku yang mainkan Pat-mo Kiam-hoat, apakah kau juga masih berani bilang dapat mengalahkannya dengan Pat-sian-kun?"

"Orang tua yang baik, mana aku yang muda berani main-main denganmu? Kita sama-sama tahu bahwa ilmu silat sama sekali bukan merupakan syarat mutlak untuk menangkan pertandingan, melainkan tergantung daripada kemahiran seseorang. Betapa indah dan sulitnya sebuah ilmu kalau si pemainnya kurang menguasai ilmu itu, dapat kalah oleh seorang ahli mainkan sebuah ilmu biasa saja dengan mahir. Puterimu dahulu kuhadapi dengan Pat-sian-kun, hal ini kau sendiri tahu. Aku berjanji hendak menurunkan ilmu yang kupakai mengalahkan dia, malam ini kuturunkan kepadanya Pat-sian-kun, apalagi yang harus diperbincangkan?"

"Orang muda she Kwee! Dua kali kau menghina kami keluarga Liu!"

Si Ketua Beng-kauw membentak, suaranya mengguntur sehingga bergema diseluruh punucak, membikin kaget burung-burung yang tadinya mengaso dipohon.

Dari jauh terdengar auman binatang-binatang buas yang merasa kaget pula mendengar suara aneh ini.

"Pa-jiu Sin-ong, aku tidak mengerti maksudmu."

Jawab Kwee Seng, tetap tenang.

"Dengan setulus hati aku menjatuhkan pilihanku kepadamu, aku akan girang sekali kalau kau menjadi suami anakku. Akan tetapi kau pura-pura menolak ketika berada disana. Ini penghinaan pertama. Kemudian kau mengadakan perjalanan dengan puteriku, kuberi kebebasan karena memang aku senang mempunyai mantu engkau. Dalam perjalanan ini kau jatuh cinta kepada Lu Sian, sikapmu menjemukan seperti seorang pemuda lemah. Ini masih kumaafkan karena memang kukehendaki kau mencintainya dan menjadi suaminya. Akan tetapi Lu Sian melihat kelemahanmu dan tidak mau membalas cintamu, melainkan mengharapkan ilmumu. Dan sekarang, kau yang katanya mencintainya mati-matian, ternyata hanya hendak menipunya, karena kalau betul mencinta, mengapa tidak rela mewariskan ilmu simpananmu? Inilah penghinaan kedua!"

Panas hati Kwee Seng.

Terang sudah sekarang bahwa orang tua ini secara diam-diam mengawasi gerak-geriknya.

Ia menjadi malu sekali mengingat akan kebodohan dan kelemahannya.

Akan tetapi orang tua ini terang berlaku curang dan tak tahu malu.

"Pat-jiu Sin-ong! Sama kepala lain otak, sama dada lain hati! kau menganggap aku menipu, aku menganggap kau dan puterimu yang hendak mendesakku dan bahkan kau hendak menggunakan rasa hatiku yang murni terhadap puterimu untuk memuaskan nafsu tamakmu akan ilmu silat. Tidak, beng-kauwcu aku tetap dengan pendirianku, karena Pat-sian-kun yang mengalahkan Pat-mo-kun yang dipergunakan puterimu, maka sekarang aku hanya dapat menurunkan Pat-sian-kun saja."

"Singgg!!!"

Tiada menduga, kilat menyambar.

Kiranya kilat itu keluar dari pedang di tangan Pat-jiu Sing-ong yang telah dihunusnya secara cepat sekali sehingga seperti main sulap saja, tahu-tahu ditangannya sudah ada sebatang pedang yang kemilau.

Inilah Beng-kong-kiam (Pedang Sinar Terang) yang sudah puluhan tahun menemani tokoh ini merantau sampai jauh kebarat, pedang yang minum entah berapa banyaknya darah manusia.

"Kalau begitu, kau cobalah hadapi Pat-mo-kiam dengan begitu Pat-sian-kiam!"

Teriaknya.

Terkejutlah Kwee Seng.

Menghadapi seorang tokoh seperti Pat-jiu Sin-ong, bukanlah hal main-main, karena berarti merupakan pertempuran selama dua hari dua malam melawan Ban-pi Lo-cia berkesudahan seri, tiada yang kalah atau menang.

Ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya kepandaian kakek ini, dan sekarang kakek ini mengajak ia bertanding pedang!

Dia tidak mempunyai pedang, biasanya ia menggunakan suling sebagai pengganti pedang.

Akan tetapi sulingnya tidak ada lagi!

Namun Kwee Seng adalah seorang pemuda gemblengan yang telah memiliki batin yang kuat sekali.

Kalau baru-baru ini batinnya tergoncang dan lemah oleh asmara, hal ini tidaklah aneh karena ia masih muda, tentu saja menghadapi Dewi Asmara ia tidak akan kuat bertahan!

Dengan sikap tenang Kwee Seng mengambil ranting yang tadi ia lepaskan di atas tanah lalu menghadapi kakek itu sambil berkata.

"Pat-jiu Sin-ong, aku tidak mempunyai senjata lainnya selain ini. Kalau kau bertekad hendak memaksaku, silakan."

"Ha-ha-ha-ha, Kwee Seng. Coba kau keluarkan Pat-sian-kun yang kau agung-agungkan itu menghadapi Pat-mo-kun! Lu Sian, mundur kau jauh-jauh dan jangan sekali-kali campur tangan!"

Lu Sian meloncat mundur, menonton dari pinggir jurang.

Pat-jiu Sin-ong memutar-mutar pedangnya diatas kepala sambil tertawa bergelak.

Hebat sekali kakek ini.

Pedangnya yang diputar diatas kepala itu berdesingan mengaung-ngaung seperti suara sirene dan lenyaplah bentuk pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang melebihi sinar bulan terangnya.

"Kwee Seng, inilah jurus ketiga dari Pat-mo-kun, sambutlah!"

Teriak pat-jiu-Sin-ong, disusul dengan men yambarnya sinar terang kearah Kwee Eng.

Karena Pat-mo Kiam-hoat ini sengaja dicipta untuk menghadapi Pat-sian Kiam-hoat, maka tentu saja gerakannya ada persamaan dan Kwee Seng mengenal baik gaya serangan ini, akan tetapi ia maklum bahwa jurus ini kalau dimainkan oleh pat-jiu Sin-ong amatlah jauh bedanya dengan permainan Lu Sian.

Jurus apa saja kalau diperagakan oleh tangan kakek Ketua Beng-kauw ini merupakan jurus maut yang amat hebat dan berbahaya.

Sekali pandang ia tahu bahwa jurus lawannya ini harus ia hadapi dengan Pat-sian-kun, jurus kesebelas.

Setiap jurus Pat-sian-kun yang sudah ia ringkas itu dapat menghadapi empat macam jurus lawan.

Sambil mengerahkan tenaganya ia menggerakkan ranting ditangan kanannya, memutar-mutar ranting itu seperti gerakan seekor ular berenang.

Dengan tepat rantingnya berhasil menangkis pedang.

"Krakkkk!"

Ranting itu patah menjadi dua. Pat-jiu Sin-ong menarik pedangnya sambil tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, kau sungguh tak memandang mata kepadaku, Kim-mo-eng! Apa kau kira dapat mempermainkan aku hanya dengan sepotong ranting saja seperti yang kau lakukan kepada Lu Sian?"

"Kau tahu bahwa aku tidak memiliki senjata pedang, Pat-jiu Sin-ong."

Jawab Kwee Seng dengan sikap tenang, akan tetapi diam-diam ia senang juga karena ternyata Ketua Beng-kauw ini biarpun wataknya aneh dan kadang-kadang kejam ganas, namun masih memiliki kegagahan seorang tokoh besar sehingga tadi menarik kembali pedangnya karena senjata lawan yang tak berimbang kekuatannya itu patah.

"Lu Sian, kau pinjamkan pedangmu kepadanya, biar dia mencoba membuktikan omongannya bahwa Pat-sian-kun dapat mengalahkan Pat-mo-kun kita."

Lu Sian mengeluarkan suara ketawa mengejek mencabut pedangnya dan melontarkannya ke arah Kwee Seng.

Jangan dipandang ringan lontaran ini, karena pedang itu bagaikan anak panah terlepas dari busurnya terbang ke arah Kwee Seng.Ahli silat biasa saja tentu akan "termakan"

Oleh pedang terbang ini.

Akan tetapi dengan tenang Kwee Seng mengulur tangan dan tahu-tahu ia telah menangkap pedang itu dari samping tepat pada gagangnya.

"Ha-ha-ha, sekarang kau sudah bersenjata pedang. Kalau kalah jangan mencari alasan lain. Awas, sambut ini jurus ketujuh Pat-mo-kun!"

Kata Pat-jiu Sin-ong sambil menggerakkan pedangnya membabat kearah iga kiri Kwee Seng dilanjutkan dengan putaran pedang membalik keatas menusuk mata kanan.

Diam-diam Kwee Seng mendongkol.

Terang bahwa Ketua Beng-kauw ini sengaja mengejek dan memandang rendah kepadanya sehingga setiap menyerang menyebut urutan nomor jurus Pat-mo-kun.

Kalau ia tidak memperhatikan kelihaiannya, kakek yang sombong ini akan menjadi semakin sombong, pikirnya.

Maka ia cepat memutar pedang pinjamannya itu, pedang yang amat ringan dan enak dipakai.

Tahu bahwa pedang Toa-hong-kiam ini merupakan pedang pusaka yang ampuh juga, hatinya besar dan cepat ia mainkan Pat-sian Kiam-sut dengan pengerahan tenaga sin-kangnya.

Dua kali serangan lawan dapat ia tangkis dengan meminjam tenaga lawan kemudian pedangnya terpental seperti terlepas dari tangannya, padahal sebetulnya terpentalnya pedang itu terkendali sepenuhnya oleh tenaga sin-kangnya, maka dapat ia atur sehingga pedang itu terpental dengan ujungnya mengarah tenggorokan lawan yang sama sekali tidak menyangkanya.

Pat-jiu Sin-ong diam-diam kaget juga,karena ia tidak mengira bahwa serangan pertamanya itu seakan-akan malah dijadikan batu loncatan oleh Kwee Seng sehingga bukan merupakan serangan lagi melainkan merupakan tenaga bantuan bagi lawan untuk balas menyerang dengan tenaga sedikit namun dapat mematikan!

Ketika Pat-jiu Sin-ong menarik kembali pedangnya dan menangkis sambil menggetarkan pedangnya untuk membuka kesempatan serangan balasan, kembali pedang Kwee Seng yang tertangkis itu terpental dan langsung membabat leher!

Kaget sekali hati Pat-jiu Sin-ong.

Bukan kaget menghadapi serangan ini baginya mudah saja menghindari diri daripada babatan.

Akan tetapi yang mengejutkan hatinya adalah menyaksikan perubahan jurus-jurus Ilmu Silat Pat-sian-kun ini.

Ia mengenal bahwa semua gerakan Kwee Seng adalah benar-benar Pat-sian-kun dimainkan seperti ini sehingga menjadi ilmu silat yang lihai sekali dan benar-benar ia melihat bahwa kalau ia melanjutkan serangan-serangan dengan Pat-mo-kun, ia selalu akan terserang oleh Kwee Seng karena setiap kali ia menangkis dengan jurus Pat-mo-kun, pedang di tangan Kwee Seng yang tertangkis itu terpental dan langsung menjadi jurus lain yang melanjutkan serangan!

Pat-jiu Sin-ong mengeluarkan seruan keras, lengking suaranya hebat sekali, seakan-akan menggetarkan bumi yang berada dibawah kaki, gemanya sampai panjang susul-menyusul di kanan kiri puncak.

Kwee Seng cepat mengerahkan sin-kangnya karena jantungnya berguncang mendengar lengking tinggi ini.

Diam-diam ia makin kagum.

Kakek ini bukan main hebatnya, dan lengking tadi tak salah lagi tentulah Ilmu Coan-im-I-hun-to (Ilmu Kirim Suara Pengaruhi Semangat Lawan) yang terkenal sekali dari Ketua Beng-kauw.

Kalau saja sin-kangnya tidak sudah amat kuat, tentu ia akan menjadi setengah lumpuh mendengar seruan ini, bahkan ia percaya mereka yang tidak memiliki ilmu tinggi, mendengar lengking ini bisa jantungnya dan tewas seketika!

Ia dapat melindungi jantung dan perasaannya daripada pengaruh lengking tadi, sedangkan permainan pedangnya tetap tenang dan selalu menggunakan kesempatan melanjutkan serangan-serangan yang terus ia dasarkan pada Ilmu Silat Pat-sian-kun.

Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang satria perkasa, sekali berjanji hendak menggunakan Pat-sian-kun, ia akan terus menggunakan ini, biar andaikata ia terancam bahaya maut sekalipun!

Setelah gema suara lengking itu mereda, Kwee Seng sambil menusukkan pedangnya kearah pusar lawan dengan jurus Pat-sian-lauw-goat (Delapan Dewa Mencari Bulan) berkata.

"Orang tua, apakah begitu perlu Pat-mo-kun harus kau bantu dengan Coan-im-kang (Tenaga Mengirim Suara) untuk mengalahkan pat-sian-kun?"

Merah wajah Pat-jiu Sin-ong. Ia mengerahkan tenaga menangkis tusukan kearah pusar sambil menjawab.

"Pat-mo Kiam-sut belum kalah, jangan kau banyak tingkah dan menjadi sombong!"

Akan tetapi ketika pedang Kwee Seng tertangkis pedang itu kembali sudah terpental dan membentuk jurus Pat-sian-ci-lou (Delapan Dewa Menunjuk Jalan) yang menusuk kearah leher.

Gerakan Kwee Seng begitu cepat dan susulan serangannya secara otomatis sehingga lawannya tiada kesempatan untuk membalas.

Karena jelas bahwa Pat-mo-kun selalu "tertindih"

Oleh Pat-sian-kun, makin lama makin panaslah hati Pat-jiu Sin-ong, yang membuat dadanya serasa akan meledak!

Ia menggereng dan kini Pat-mo Kiam-sut ia mainkan cepat sekali dalam usahanya untuk mendobrak dan membobol garis kurungan Pat-sian-kun.

Pedangnya bergulung-gulung merupakan sinar terang, berubah-ubah bentuknya, kadang-kadang merupakan sinar bergulung-gulung membentuk lingkaran-lingkaran.

Hebat sekali memang Pat-mo Kiam-sut yang diciptakan oleh kakek sakti itu.

Namun Kwee Seng sudah mengetahui rahasia Pat-mo-kun, karena sesungguhnya Pat-mo-kun diciptakan dengan dasar Pat-sian-kun dan Kwee Seng adalah seorang ahli Pat-sian-kun.

Maka pemuda sakti ini dapat menggerakkan pedangnya yang selalu mengatasi gerakan lawan, selalu mengurung dan selalu menindih, sebagian besar dia yang menyerang.

Lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh gulungan sinar pedangnya lebih luas dan lebih lebar, seakan-akan "menggulung"

Lingkaran sinar Pat-jiu Sin-ong!

Dua jam lebih mereka bertanding dan selama ini Pat-jiu Sin-ong selalu mainkan Pat-mo-kun sedangkan dilain pihak Kwee Seng mainkan Pat-sian-kun.

Biarpun Kwee Seng juga tidak pernah dapat menyentuh lawan dengan pedangnya, namun dalam pertandingan selama dua jam ini, jelas bahwa Pat-sian-kun lebih unggul karena delapan puluh prosen Kwee Seng menyerang sedangkan lawannya selalu harus mempertahankan diri dengan sekali waktu membalas serangan yang tiada artinya.

Makin lama pat-jiu Sin-ong makin marah.

Bukan marah kepada Kwee Seng melainkan panas perutnya karena benar-benar Pat-mo Kiam-sut tidak dapat mengatasi Pat-sian-kun.

Memang watak ketua Beng-kauw ini aneh sekali, tidak mau ia dikalahkan.

Ia sebenarnya amat suka kepada Kwee Seng, bahkan ia akan merasa gembira sekali kalau puteri tunggalnya dapat menjadi isteri Kwee Seng ini yang ia kagumi.

Akan tetapi kalau ia harus kalah, nanti dulu!

Watak ini pula agaknya yang menurun kepada Lu Sian.

"Kwee Seng! Kalau Pat-mo-kun tidak dapat mengatasi Pat-sian-kun, itupun belum cukup menjadi alasan untukmu menurunkannya kepada anakku! Apa artinya Pat-sian-kun yang biarpun sedikit lebih unggul dan dapat mengalahkan ilmuku yang lain, bukan hanya Lu Sian, aku sendiri akan membuang semua ilmu silatku dan hanya mempelajari satu macam ilmu saja, yaitu Pat-sian-kun!"

Setelah berkata demikian, kakek itu kini memutar pedangnya sedemikian hebatnya sehingga gulungan sinarnya bergelombang datang hendak menelan Kwee Seng!

Di samping gelombang gulungan sinar pedang itu, masih terdengar angin menderu menyambar ketika tangan kiri kakek itu ikut menerjang dengan dorongan-dorongan jarak jauh yang mengandung angin pukulan kuat sekali!

"Hei...hei...!

Orang tua, apakah kepalamu kebakaran?

Hati boleh panas kepala harus tetap dingin!"

Kwee Seng sibuk sekali memutar pedangnya untuk melindungi diri sambil mengucapkan kata-kata memperingatan.

"Ha-ha-ha, orang muda, kau mulai takut?"

Kata-kata takut adalah pantangan bagi semua orang gagah, tak terkecuali Kwee Seng. Mendengar ia disangka takut, hatinya panas sekali.

"Siapa takut?"

Bentaknya dan pandangnya berkelebat-kelebat dalam usaha membalas serangan.

Namun, Pak-sian Kiam-sut kurang lengkap kalau harus melayani gelombang serangan ilmu pedang itu apalagi masih dibantu dengan sambaran angin pukulan tangan kiri yang demikian ampuhnya.

Kwee Seng masih terus mempertahankan dengan permainan Pat-sian Kiam-hoat, dan biarpun ia mampu membendung gelombang serangan, namun ia terdesak dan harus mundur-mundur kearah jurang hitam!

"Ha-ha-ha, Kim-mo-eng!

Begini sajakah kepandaianmu?

Apakah kau hanya mengandalkan Pat-sian-kun untuk menjagoi dan mengangkat nama sebagai seorang pendekar sakti?

Ha-ha-ha, sungguh lucu!"

Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak.

Kwee Seng biarpun sudah menerima gemblengan semenjak kecil, namun ia tetap masih seorang pemuda yang kalau dibandingkan dengan pat-jiu Sin-ong, tentu saja kalah pengalaman dan kalah cerdik.

Ia tidak mengira sama sekali bahwa kakek itu memang sengaja menyerangnya dengan ilmu silat pilihan untuk mendesaknya dan sengaja pula memanaskan hatinya agar ia suka menggunakan ilmu simpanannya.

Kakek yang haus akan ilmu silat itu menggunakan semua ini untuk memancing keluar ilmu-ilmu simpanannya!

Kwee Seng tidak menduga akan hal ini, maka mendengar ejekan itu ia lalu berseru keras dan tiba-tiba angin yang mengeluarkan suara bersiutan menyambar dari tangan kirinya yang sudah mengeluarkan kipasnya!

Kini ia merasa dirinya lengkap!

Tangan kanan memegang pedang mainkan Pat-sia Kiam-hoat sedangkan tangan kiri memegang kipas mainkan Ilmu Kipas Lo-hai-san-hoat!

Bukan main hebatnya.

Namun pasangan ilmu pedang dan ilmu kipas yang selama ini mengangkat namanya sehingga ia dijuluki Kim-mo-eng, hanya dapat membendung gelombang penyerangan Pat-jiu Sin-ong saja, tanpa dapat banyak membalas.

Karena ia tidak ingin terdesak terus kepinggir jurang yang hanya tinggal tiga meter dibelakangnya, terpaksa Kwee Seng merobah gerakan pedangnya dan kini pedangnya mulai main Ilmu pedang Cap-jit-seng-kiam yang jarang ia keluarkan karena ilmu pedang ini merupakan ilmu pedang rahasia yang menjadi inti sari daripada ilmu pedang simpanannya.

Melihat pemuda itu mengeluarkan ilmu pedang simpanannya, diam-diam hati Pat-jiu Sin-ong menjadi girang sekali.

Ia tahu bahwa mengalahkan pemuda ini bukan merupakan hal mudah dan memang maksudnya untuk dapat mengalahkannya cepat-cepat sebelum menguras dan mempelajari ilmu-ilmu pemuda ini yang benar-benar merupakan ilmu pilihan.

Hebat pertandingan itu dan diam-diam Kwee Seng harus mengakui bahwa selama hidupnya, baru kali ini ia menemui tanding yang luar biasa kuatnya.

Bahkan harus ia akui bahwa kalau dibandingkan dengan Ban-pi Lo-cia, ketua Beng-kauw ini lebih kuat sedikit.

Biarpun ia telah mengerahkan kepandaian dan tenaganya, tetap saja ia tidak mampu mendesak ke tengah.

Apalagi ketika tiba-tiba ia teringat akan watak gila kakek ini yang ingin mengumpulkan semua ilmu hebat di dunia sehingga Kwee Seng yang sadar bahwa ia sedang dipancing, cepat-cepat mengacaukan gerakan Cap-jit-seng-kiam itu dengan ilmu silat lainnya.

Melihat perubahan ini, hati Pat-jiu Sin-ong yang tadinya kegirangan menjadi kecewa dan timbullah kemarahannya sehingga ia memperhebat permainannya untuk mendesak dan menekan Kwee Seng agar pemuda itu terpaksa mengandalkan Cap-jit-seng-kiam lagi.

Sekarang waktu sudah berjalan tiga jam lebih dan subuh mulai membayang.

Pada saat Kwee Seng terdesak hebat, tiba-tiba pemuda ini berseru keras dan terhuyung-huyung kebelakang.

Tadi ketika ia sedang sibuk mempertahankan diri menghadapi gelombang serangan, tiba-tiba telinganya menangkap bunyi mendesir dari arah kiri.

Ia terkejut sekali, maklum bahwa ada senjata rahasia yang amat halus menghujaninya, cepat ia mengebutkan kipasnya dan berhasil menyampok banyak sekali jarum-jarum halus, akan tetapi sebatang jarum masih berhasil memasuki pundaknya, mendatangkan rasa sakit sekali.

Pundaknya seketika menjadi kaku dan setengah lumpuh, juga rasa gatal membuktikan bahwa jarum itu mengandung racun jahat.

Kwee Seng terhuyung kebelakang dan terpaksa melepaskan pedang ditangan kanannya yang sudah menjadi lumpuh dan pada saat itu, kembali ia dihujani jarum yang lebih banyak lagi.

Dalam keadaan terhuyung ini, Kwee Seng yang maklum bahwa jarum-jarum itu amat berbahaya, menyampok dengan kipasnya sambil melompat mundur, akan tetapi ia lupa bahwa ketika ia terhuyung-huyung kebelakang tadi ia telah mendekati jurang sehingga jarak satu meter.

Maka ketika ia melompat kebelakang sambil menyampok kipasnya, memang ia dapat membebaskan diri daripada penyerangan jarum-jarum rahasia, namun tak dapat dicegah lagi tubuhnya terjerumus kedalam jurang dan melayang-layang ke bawah tanpa dapat ditahannya!

Terdengar jerit mengerikan dari belakang semak-semak dan muncullah Lai Kui Lan yang lari ke tepi jurang sambil menangis.

"Pengecut keparat!"

Bentak Pat-jiu Sin-ong sambil lari dan menghantamkan pedangnya kearah bayangan hitam yang tadi menyerangkan jarum-jarum rahasianya kearah Kwee Seng.

"Locianpwe, saya membantumu..."

Bayangan itu yang bukan lain adalah Bayisan si Orang Khitan, mengelak sambil memprotes.

Akan tetapi pat-jiu Sin-ong Liu Gan tidak mempedulikan protes ini.

"Siapa butuh bantuanmu? Kau pengecut curang patut mampus!"

Pedangnya menyambar lagi akan tetapi alangkah herannya ketika bayangan hitam itu kembali dapat mengelak.

Dua kali serangannya dapat dielakkan!

Ini tandanya bahwa orang muda ini bukanlah orang sembarangan.

"Siapa kau?"

Bentaknya, menahan serangannya karena gerakan pemuda itu menarik perhatiannya, membuatnya ingin tahu siapa gerangan pemuda yang dapat mengelak sampai dua kali ini.

"Saya bernama Bayisan dari Khitan musuh besar Kwee Seng..."

"Keparat orang Khitan! Kau telah bersikap pengecut!"

Kembali pat-jiu Sin-ong menyerang, kali ini lebih hebat.

Bayisan gelagapan dan maklum bahwa ia tidak boleh main-main menghadapi kakek ini, maka ia cepat melompat kebelakang dan melarikan diri dalam gelap, Pat-jiu Sin-ong mengejar sambil memaki-maki.

Sementara itu, Liu Lu Sian yang pucat mukanya menyaksikan Kwee Seng terjerumus kedalam jurang hitam yang hanya dapat berarti maut, merasa heran melihat seorang gadis pakain putih lari ke tepi jurang sambil menangis dan ketika ia mendekat, ia tekejut mengenal wanita itu sebagai wanita pakaian putih yang ia hadapi diatas genteng gedung dalam benteng Jenderal Kam Si Ek, gadis yang menjadi suci (kakak seperguruan) Kam Si Ek!

Pada saat itu, Lai Kui Lan membalikkan tubuhnya dengan pipi basah air mata ia mendamprat Lu Sian.

Lu Sian yang ingat bahwa gadis itu adalah kakak seperguruan Kam Si Ek yang dikaguminya, menjawab halus.

"Cici yang baik, kalau memang sejak tadi kau mengintai, tentu kau maklum bahwa bukan aku maupun ayahku yang membuat Kwee Seng terjerumus kedalam jurang, melainkan seorang yang mengaku bernama Bayisan dan yang sekarang dikejar-kejar ayah. Akan tetapi, engkau, bagaimana kau mengenal Kwee Seng dan mengapa pula kau menangisinya?"

Tiba-tiba wajah Kui Lan menjadi merah sekali. Dia seorang gadis yang jujur, maka dengan menabahkan hati ia berkata.

"Kwee-taihiap telah menolongku daripada Si Laknat Bayisan. Aku berhutang budi, berhutang nyawa dan kehormatan kepada Kwee-taihiap! Biarpun kau telah menyia-nyiakan cinta kasihnya, berlaku kejam kepadanya namun aku.. aku.. ah..."

Ia menangis lagi.

"Cici! Kau cinta padanya?"

Perasaan Lu Sian tersinggung dan ia merasa kasihan juga pada gadis ini.

"Ya! Aku cinta padanya! Aku... aku... takkan sudi berjodoh dengan orang lain! Sekarang ia telah tewas...ah, apa lagi yang kuharapkan di dunia ini? Aku... aku akan berdoa selamanya untuk arwahnya..."

Sambil terisak Kui Lan lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak dengan cepat sekali.

Lu Sian menarik napas panjang, diam-diam ia menyesal pula akan kesudahan pertandingan antara ayahnya dan Kwee Seng.

Ia tidak membalas cinta kasih Kwee Seng karena hatinya sendiri sudah tercuri oleh kegagahan dan kejantanan kam Si Ek, akan tetapi ia pun tidak bisa membenci Kwee Seng, tidak menghendaki pendekar itu mati secara begitu menyedihkan.

Setelah malam mulai berganti fajar, ayahnya muncul.

Lu Sian cepat menyongsong ayahnya dengan penuh harapan ayahnya dapat menangkap dan membunuh Bayisan yang mencurangi Kwee Seng.

Akan tetapi wajah ayahnya muram dan terdengar ayahnya berkata marah.

"Iblis jahanam Bayisan itu! Kepandainnya boleh juga, ilmu lari cepatnya hebat dan ia menggunakan kegelapan malam menghilang dari kejaranku. Lu Sian, kau seorang gadis yang goblok sekali!"

Lu Sian membelalakkan matanya, terheran-heran mendengar teguran ayahnya.

Akan tetapi, kalau ayahnya sedang marah, gadis ini tak berani banyak bicara, maklum bahwa kalau ayahnya marah sukar untuk dikendalikan.

"Kau menolak Kwee Seng sama dengan membuang mutiara ke dalam laut, apakah kau hendak memilih batu kali? Dimana didunia ini ada calon suami yang lebih baik dan gagah daripada Kwee Seng? Siapapun juga yang kau pilih, aku tentu tidak akan merasa cocok setelah kau menolak Kwee Seng."

"Ayah, dalam soal perjodohan, aku ingin memilih sendiri. Aku tidak cinta kepada Kwee Seng, betapapun gagah dan pandai dia!"

"Huh! Kau keras kepala dan sombong! Tidak akan ada Kwee Seng kedua didunia ini."

"Tidak ada Kwee Seng kedua memang, akan tetapi pasti ada yang melebihi dia!"

"Tak mungkin! Sudah, mari kita pulang saja. Kejadian ini benar-benar membikin hatiku penuh kekecewaan dan penyesalan."

"Ayah, kau menyesal karena kau tidak dapat menguras kepandaian simpanan Kwee Seng. Kau tidak peduli tentang perjodohanku, asal kau dapat menambah ilmu-ilmu yang kau kumpulkan!"

Karena rahasianya ditebak tepat oleh puterinya, Pat-jiu Sin-ong menjdi marah.

"Kau anak kecil tahu apa? Betapa pun sukaku mengumpulkan ilmu, namun aku masih memikirkan calon suamimu. Kalau kau berjodoh dengan Kwee Seng, berarti sekali panah mendapatkan dua ekor harimau. Pertama, kau mendapat jodoh pemuda paling hebat didunia, ke dua, setelah ia menjadi suamimu, berarti ia menjadi keluarga kita dan ilmu-ilmunya juga menjadi ilmu keluarga kita yang akan membikin Beng-kauw makin bersinar. Tolol kau. Hayo pulang!"

"Tidak, Ayah. Aku belum ingin pulang. Aku ingin berkelana."

Bantah Lu Sian yang sebenarnya ingin mendekati Kam Si Ek pujaan hatinya.

Pat-jiu Sin-ong melotot, akan tetapi hatinya sudah terlalu kecewa untuk memusingkan urusan ini.

Sudah terlalu sering puterinya ini berkelana seorang diri dan ia pun tidak kuatir karena puterinya memiliki kepandaian yang lebih daripada cukup untuk menjaga diri.

"Sesukamulah, anak bandel. Akan tetapi kalau dalam waktu setahun kau tidak pulang membawa jodohmu yang setimpal, kau akan kucari dan kuseret pulang, kukurung dalam kamar sampai lima tahun tak boleh keluar. Sebaliknya kalau kau pulang membawa jodoh yang menyebalkan, akan kubunuh laki-laki itu dan kau akan kujodohkan dengan seorang anggota Beng-kauw pilihanku sendiri. Nah, kau dengar baik-baik pesanku itu!"

Setelah berkata demikian, kakek itu mendengus dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.

Sejenak Liu Lu Sian tertegun.

Betapa pun besar rasa sayang ayahnya terhadap dirinya, namun ayahnya berwatak keras dan ucapannya tadi tentu akan dipegang teguh.

Bagaimana kalau kelak ayahnya tidak menyetujui pilihannya?

Ah, bagaimana nanti sajalah, demikian ia menghibur hati.

Lalu ia memungut pedangnya yang tadi dilepaskan oleh Kwee Seng, sejenak berdiri ditepi jurang melongok kebawah, bergidik melihat jurang yang hitam tak berdasar dan mendengar suara berkericiknya air jatuh dibawah, lalu ia menarik napas panjang dan berjalan pergi meninggalkan puncak itu.

Ketika tubuhnya melayang kebawah dengan kelajuan yang menyesakkan napas, Kwee Seng maklum bahwa nyawanya terancam maut yang ia sendiri tak mungkin dapat menolong.

Ia terjatuh ditempat yang tak ia ketahui betapa dalamnya, yang gelap pekat tak tampak sesuatu disekelilingnya.

Oleh karena itu, ia tidak berani menggerakkan tubuh dan menyerahkan nasibnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Suatu sikap yang baik sekali dan patut dicontoh.

Memang, sepandai-pandainya manusia, sekali-kali ia akan mengalami hal yang membuat ia sama sekali tidak mampu berdaya, dan dimana ikhtiar dan usaha sudah tiada gunanya lagi, memang jalan terbaik menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa keraguan lagi, sebulat-bulatnya.

Tepatlah kata para bijaksana bahwa segala sesuatu didunia ini, kesudahannya berada dalam kekuasaan Tuhan.

Apabila Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun si orang bersembunyi dilubang semut, maut pasti akan tetap akan datang menjemput.

Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki seseorang tetap hidup, biarpun seribu bahaya datang mengurung, pasti ada jalan orang itu akan tertolong.

Kwee Seng sudah hampir pingsan karena napasnya sesak, kepalanya pening dan semangatnya serasa melayang-layang.

Betapapun tabahnya, namun malapetaka yang dihadapinya ini membuatnya merasa ngeri, membayangkan apa yang akan menyambut tubuhnya yang pasti akan terbanting hancur luluh pada dasar jurang.

Terlalu lama rasanya ia menanti, terlalu lama rasanya maut mempermainkan dirinya, tidak segera datang menjangkau.

Ya Tuhan, bisiknya, mengapa sebelum mati hamba-Mu ini harus mengalami siksaan begini mengerikan?

Tiba-tiba...

"byuuurr!!"

Tubuhnya terhempas ke dalam air yang amat dingin.

Sebagai seorang ahli silat yang ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi, tubuh Kwee Seng segera membuat reaksi, bergerak membalik mengurangi tamparan air.

Namun tetap saja ia merasa betapa kulit punggungnya seperti pecah-pecah, nyeri, perih dan panas rasanya.

Untung baginya air itu cukup dalam sehingga ketika tubuhnya tenggelam, ia cepat menendang kebawah dan tubuhnya muncul lagi kepermukaan air.

Masih gelap pekat di situ, dan tiba-tiba Kwee Seng merasa serem dan terkejut karena tubuhnya terseret arus air yang bukan main kuatnya.

Kembali ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Sekali tadi Tuhan telah menyelamatkannya, ini alamat baik, pikirnya.

Ia hanya menggerakkan kaki tangan agar tubuhnya jangan tenggelam.

Arus air itu kuat bukan main, tubuhnya dibawa berputar-putar sampai kepalanya menjadi pening.

Kembali rasa takut mencekam hatinya.

Ia berputaran, hal ini berarti bahwa ia terbawa oleh pusaran air yang kuat.

Benar dugaannya, makin lama makin cepat ia berputaran dan tiba-tiba tubuhnya tanpa dapat ia pertahankan lagi, disedot ke dalam air!

Kwee Seng sudah siap.

Ia mengambil napas cukup banyak dan ketika ia berada dibawah air ia menggerakkan kaki tangannya kuat-kuat sehingga ia berhasil bebas daripada pusaran air dibawah yang tidak sekuat diatas.

Kini tubuhnya hanyut oleh arus dan ketika ia menggerakkan kakinya muncul kembali di permukaan air, hatinya girang melihat bahwa kini ia terbawa oleh air sungai yang sempit dan kuat arusnya, akan tetapi yang tidak begitu gelap lagi sehingga ia dapat melihat.

Kanan kiri merupakan tebing tinggi, mungkin ada lima ratus meter tingginya, tebing batu gunung yang hijau berkilau dan licin rata.

Akan tetapi sungai kecil itu ternyata cukup dalam, kalau tidak, arus yang kuat itu pasti akan menghantamkannya pada batu-batu.

Karena tidak ada tempat untuk mendarat, diapit-apit tebing tinggi, terpaksa Kwee Seng membiarkan dirinya hanyut.

Ada seperempat jam ia hanyut dan tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, wajahnya pucat dan hatinya ngeri.

Betapa tidak akan ngeri hatinya melihat bahwa tak jauh didepannya, air itu tertumbuk pada tebing lain yang juga tinggi dan kiranya air itu memasuki terowongan didalam tebing!

Bagaimana akalnya?

Untuk mendarat tidak mungkin, kanan kiri tebing tinggi dan licin, didepan pun tebing yang sama, menahan arus air tak mungkin!

Celaka, pikirnya, kali ini aku akan dibanting hancur oleh arus air kepada tebing di depan!

Akan tetapi ia tidak mau menyerah kepada maut begitu saja selama ia masih dapat berikhtiar.

Ia cepat mengambil napas sampai memenuhi rongga dadanya, kemudian ia menyelam sedalam mungkin.

Ikhtiarnya ini menyelamatkannya dari cengkraman maut.

Arus air pecah-pecah bagian atasnya menghantam tebing, akan tetapi dibagian bawah dengan kecepatan luar biasa menerobos ke dalam sebuah lubang yang lebar garis tengahnya kurang lebih dua meter.

Kalau saja terowongan didalam perut gunung ini terlalu panjang, tentu Kwee Seng takkan tertolong lagi nyawanya.

Ia terseret arus yang amat cepat, ia hanya menahan napas meramkan mata, sedapat mungkin mengerahkan sin-kang ditubuhnya karena tubuhnya mulai terbentur-bentur batu.

Kalau ia bukan seorang gemblengan, tentu sudah remuk tulang-tulangnya.

Akan tetapi siksaan alam ini terlalu hebat dan ia sudah hampir pingsan ketika tiba-tiba ia melihat cahaya terang diatas.

Cepat ia menggerakkan kedua kakinya yang terasa sakit-sakit itu dan tubuhnya mumbul keatas.

Ia masih berada dalam terowongan yang amat besar, merupakan gua panjang yang amat menyeramkan.

Air mengalir ditengah terowongan, kini air makin melebar dan makin dangkal.

Diatas bergantungan batu-batu yang meruncing seperti tombak besar, dinding yang hijau berkilauan terkena cahaya matahari yang entah menembus dari mana.

Karena air amat dangkal akhirnya tubuhnya yang lemas itu tersangkut pada batu.

Kwee Seng mengeluh, kepalanya puyeng, tubuhnya sakit-sakit semua, (Lanjut ke

Jilid 07) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 lemas dan tangan kanannya kaku lumpuh akibat racun jarum yang masih menancap didalam pundak kanannya.

Rambut awut-awutan menutupi muka, pakaiannya yang basah kuyup itu tidak karuan macamnya, robek sana-sini.

Ia mengerahkan tenaganya untuk bangkit berdiri.

Kiranya air hanya tinggal sepaha dalamnya.

Ketika ia merangkak minggir, air makin dangkal akan tetapi ia beberapa kali terjatuh dan kakinya tersangkut batu.

Air yang amat jernih, akan tetapi pandang mata Kwee Seng amat gelap, pikirannya amat keruh.

Ia tidak tahu bahwa tak jauh dari situ berdiri seorang wanita tua, seorang nenek-nenek yang memandang kearahnya penuh perhatian.

Nenek ini tubuhnya kecil kurus, mukanya amat tua penuh keriput, pakaiannya bersih akan tetapi penuh tambalan.

Mata nenek ini terang jernih bersinar-sinar.

"Sungguh aneh seorang manusia terbawa arus maut bisa sampai kesini dalam keadaan masih hidup!"

Nenek itu berkata penuh keheranan, akan tetapi ia segera melangkah, gerakannya cepat dan cekatan sekali ketika ia melihat Kwee Seng mengeluh panjang dan terguling roboh di tepi sungai, tak bergerak lagi karena sudah pingsan.

Amatlah mengherankan dan mengagumkan betapa nenek-nenek tua renta yang kurus itu setelah memeriksa nadi tangan Kwee Seng, lalu mengangkat tubuh Kwee Seng bagaikan mengangkat tubuh seorang bayi saja, begitu mudah dan ringan, lalu membawa tubuh Kwee Seng kesebuah ruangan dibawah tanah yang tak jauh dari sungai itu, melalui terowongan yang berlika-liku.

Dengan hati-hati nenek itu merebahkan tubuh Kwee Seng diatas pembaringan batu, kemudian sekali lagi memeriksa tubuhnya.

Ia mengeluarkan suara kaget ketika melihat betapa pundak kanan Kwee Seng berwarna hitam.

"Aihhh, kejamnya orang yang menggunakan jarum beracun!"

Serunya, cepat-cepat ia mengambil obat dari pojok dimana terdapat meja dan lemari batu, kemudian ia menggunakan sebatang pisau merobek kulit pundak Kwee Seng, mengeluarkan jarum hitam yang bersarang disitu.

Dengan beberapa kali pijatan disekitar pundak ia mengeluarkan darah hitam dan menempelkan sebuah batu yang warnanya putih dan ringan sekali, besarnya sekepalan tangan.

Aneh bukan main, batu putih ringan itu dalam sekejap mata menjadi berubah hitam dan berat, dan kiranya darah yang berada disekitar luka telah disedot oleh batu itu!

Setelah mencuci batu dan mengeringkannya kembali diatas api, nenek itu kembali menggunakan batu mujijat untuk menyedot darah.

Sampai lima kali hal ini dilakukan, setelah batu itu warnanya berubah merah, barulah ia berhenti, menggunakan obat bubuk dituangkan ke dalam luka dan membalut luka itu dengan sehelai kain sutera yang agaknya adalah sebuah ikat pinggang.

Tekanan batin dan penderitaan lahir yang dialami Kwee Seng agaknya memang hebat sehingga ia seakan-akan keluar kembali dari lubang kubur, terlepas dari cengkraman maut yang mengerikan, sehingga ketika ia roboh pingsan itu, selama tiga hari tiga malam ia tetap dalam keadaan tidak sadar.

Ia tidak tahu betapa luka-lukanya dirawat secara tekun oleh seorang nenek tua, tidak tahu betapa setiap hari nenek itu menjaga dan merawatnya siang malam, tidur sambil duduk bersila didekat pembaringan batu.

Pada hari keempat, pagi-pagi sekali, Kwee Seng siuman dari pingsannya.

Ia merasa tubuhnya sakit-sakit dan lemah, ketika ia membuka matanya, ia melihat langit-langit batu yang kasar.

Pandang matanya terus menjalari dinding batu itu yang penuh dengan tulisan lebih tepat ukiran karena dinding itu penuh tulisan huruf yang agaknya diukir.

Huruf-hurufnya halus dan indah, jelas membayangkan tulisan tangan wanita, dan sekilas pandang tahulah ia bahwa tulisan-tulisan itu merupakan syair-syair yang amat indah pula walaupun mengandung peluapan hati berduka.

Ketika mendapat kenyataan bahwa ia rebah diatas pembaringan batu didalam sebuah "kamar"

Batu seperti gua, teringatlah Kwee Seng dan cepat ia bangkit duduk.

Pada saat itu ia melihat seorang nenek duduk bersila diatas lantai, dekat pembaringan batu.

"Tubuhmu masih lemah, engkau masih perlu beristirahat lebih lama lagi. Berbaringlah, aku akan masak ikan dan sayur untukmu."

Suara itu halus sekali, teratur dan sopan-santun.

Kwee Seng terbelalak kaget.

Nenek ini bukan orang sembarangan, itu sudah jelas.

Akan tetapi, disamping ini, nenek itu membayangkan sifat seorang terpelajar tinggi, seorang yang tahu akan tata susila dan sopan santun, sama sekali berbeda dengan sikap orang-orang kang-ouw, pantasnya seorang nenek yang biasa hidup didalam istana raja-raja!

Ketika merasa pundaknya sakit dan ketika diliriknya ia melihat pundaknya sudah dibalut, dan tidak ada rasa kaku maupun gatal tanda bahwa pengaruh racun sudah lenyap, tahulah Kwee Seng bahwa nenek ini merupakan penolongnya.

Cepat ia turun dari pembaringan, mengeluh karena hampir saja ia terjungkal saking lemahnya tubuh, kemudian ia terpaksa berlutut karena nenek itu tetap duduk bersila.

"Locianpwe (Orang Tua Yang Mulia) telah sudi memberi pertolongan kepada saya orang muda yang menderita, saya Kwee Seng takkan melupakan budi kebaikan ini."

Nenek itu tertawa dan menggunakan punggung tangan kanan menutupi mulutnya, gerakan khas wanita sopan yang tak pernah mau tertawa secara terbuka didepan siapapun juga.

Kemudian terdengar pula suaranya yang halus dengan gaya bahasa yang biasa dipergunakan oleh para bangsawan.

"Saling tolong tidak mengenal tua dan muda, dan akupun tidak bermaksud menolongmu, melainkan kaulah yang datang dan membutuhkan pertolonganku. Air itu disebut Arus Maut, mahluk berjiwa apapun juga yang terseret kedalam Neraka Bumi ini, tentu telah tak bernyawa lagi. Akan tetapi engkau terseret masuk dalam keadaan bernyawa. Ahhh, entah setan yang mana mengirim engkau datang kepadaku untuk menemaniku!"

"Maaf, Locianpwe, saya kira bukan setan yang Locianpwe maksudkan. Tentu Tuhan yang telah melindungi saya..."

"Sudah terlalu lama dahulu aku menggantungkan nasibku kepada Tuhan, terlalu banyak hati ini memohon, terlalu sering mulut ini menyebut, akan tetapi buktinya.... Ah, kalau toh ada Tuhan itu sama sekali tidak peduli kepada diriku...."

Bukan main pahitnya suara dalam kata-kata ini dan Kwee Seng dapat menduga bahwa nenek ini tentu telah mengalami penderitaan hidup yang amat luar biasa sehingga hatinya seakan-akan menjadi beku dan penuh penyesalan mengapa hidupnya selalu menderita seakan-akan Tuhan tidak mempedulikannya.

Karena menghadapi seorang nenek yang agaknya sakti dan malah menjadi penolongnya, ia tidak mau membantah lagi walaupun ia merasa penasaran dan terheran-heran mengapa seorang nenek tua yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, begitu dangkal pandangannya tentang kebesaran dan keadilan Tuhan.

"Bolehkah saya mengetahui nama Locianpwe yang mulia?"

Akhirnya ia bertanya.

"Ah, aku sendiri tidak tahu siapa namaku, akan tetapi karena kau sudah berada disini menemaniku, biarlah kelak kau yang memilihkan nama untukku. Siapa saja terserah kepadamu."

Kembali nenek itu menutupi mulut menahan suara tawanya, kemudian ia bangkit berdiri, gerakannya ringan dan cekatan.

"Ah, sampai lupa aku. Kau tentu lapar, untung pada musim seperti ini, daun kelabang dibawah Guha Seratus Golok tumbuh dengan suburnya. Daun kelabang merupakan sayur yang selain enak juga dapat mempercepat kembalinya kesehatanmu, dan dimasak dengan ikan ekor putih bukan main lezatnya."

Setelah berkata demikian, nenek itu pergi meninggalkannya.

Kwee Seng memandang dengan melongo.

Tadi ia berlutut didepan nenek itu yang duduk bersila, mereka berhadapan dalam jarak satu meter sehingga jelas ia dapat mencium keharuman dari tubuh nenek itu.

Hal ini tentu saja amat janggal, seorang nenek berbau harum?

Apakah memakai minyak bunga?

Dan mata nenek itu.

Bukan main!

Diam-diam meremang bulu tengkuk Kwee Seng, bergidiklah dia.

Tak mungkin nenek itu manusia.

Ah, masih hidupkah dia?

Ataukah sebetulnya sudah mati dan inikah keadaan neraka dimana ia dihukum dan diharuskan tinggal bersama seorang iblis betina?

Nenek tadi menyebut air itu Arus Maut dan tempat ini disebutnya Neraka Bumi!

Gerak-geriknya memang seperti manusia yang berilmu, akan tetapi suaranya begitu halus, matanya seperti mata...

ah, sukar mencari perbandingan, pendeknya begitu jernih, begitu tajam, bagian putihnya tiada cacat, bagian hitamnya berkilau seakan menyinarkan api.

Serasa ia mengenal mata ini!

Ah, tak mungkin!

Tiba-tiba nenek itu membalikkan tubuh dan dari jauh ia berkata, suaranya bergema diseluruh ruangan.

"Oya, di ruangan paling kiri terdapat kamar kitab, kalau kau suka kau boleh membaca kitab yang mana saja. Kitab-kitab tua yang sukar sekali dibaca, aku sendiri ogah membacanya!"

Suara ini menyadarkan Kwee Seng daripada lamunannya.

Mengapa ia harus merasa ngeri?

Manusia maupun setan, nenek itu telah membuktikan niat baik terhadap dirinya.

Telah menolongnya, mengangkatnya dari sungai, merawat lukanya sampai sembuh, dan kini malah bersiap menyediakan makanan untuknya.

Kitab-kitab kuno?

Lebih baik melihat-lihat daripada duduk menanti orang masak, karena teringat akan masakan, perutnya yang perih akan makin terasa.

Ia bangkit berdiri, menahan napas dan mengumpulkan kembali kekuatannya.

Kwee Seng merasa betapa lemahnya tubuh, seakan-akan habis semua tenaganya.

Hemm, untung nenek itu berniat baik, kalau mengandung niat jahat terhadapnya, dalam keadaan seperti ini, tentu ia takkan mampu mengadakan perlawanan sama sekali.

Dengan terhuyung-huyung ia menyeret kedua kakinya menuju ke kiri melalui jalan terowongan mencari kamar kitab-kitab itu.

Ketika memasuki kamar dalam tanah paling kiri, ia berseru heran dan kagum.

Dinding kamar itu merupakan rak buku dan disitu berdiri banyak sekali kitab yang berjajar rapi.

Sekilas pandang ia menaksir bahwa disitu terdapat tidak kurang dari seratus buah kitab yang tebal!

Sebelum menjadi ahli silat, Kwee Seng adalah seorang kutu buku (penggemar bacaan), apalagi kitab-kitab kuno yang mengandung filsafat-filsafat berat.

Kini melihat kitab kuno berderet-deret rapi, ia seperti seorang kelaparan melihat daging segar.

Lupa ia akan semua kelemahan tubuhnya, setengah tubuhnya, setengah meloncat ia mendekati rak buku batu itu dan jari-jari tangannya gemetar ketika ia memeriksa judul-judul buku.

Ternyata kitab-kitab itu adalah kitab-kitab mengenai Agama To, sebagian pula merupakan kitab dongeng-dongeng raja-raja jaman dahulu, kitab berisi syair-syair para pujangga kuno.

Sampai bingung Kwee Seng akan melihat bacaan mana yang akan ia dahulukan.

Karena ingin sekali tahu semua kitab itu, ia tidak mau mengambil sebuah diantaranya, melainkan ia membuka lembaran pertama dari semua kitab untuk mengetahui judulnya.

Dua buah kitab amat menarik hatinya, yaitu kitab Siulian (Meditasi) dan yang sebuah lagi kitab tentang rahasia letak dan gerakan-gerakan bintang-bintang.

Yang mula-mula ia buka dan baca adalah kitab tentang samadhi itu dan alangkah girang hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu benar-benar merupakan kitab rahasia yang amat berharga, dimana dijelaskan tentang pelbagai ilmu samadhi, cara-caranya dan segala yang berhubungan dengan samadhi mengenai peredaran jalan darah, pernapasan dan lain-lain.

Ia pernah melatih diri bersamadhi untuk melatih lwee-kang dan memperkuat sin-kangnya, akan tetapi pelajaran yang ia dapat dahulu amatlah dangkal dan tak berarti kalau dibandingkan dengan isi kitab ini.

Bagaikan seorang miskin menemukan sebuah batu permata yang tak ternilai harganya, Kwee Seng membawa kitab Samadhi dan Perbintangan itu keluar dari kamar kitab dan kembali ke ruangan tadi.

Betapapun juga, ia harus minta ijin dulu dari Si Pemilik Kitab.

Mengingat ini, ia tercengang.

Ternyata wanita itu bukan sembarang orang!

Dengan memiliki kitab-kitab seperti ini, jelas bahwa nenek itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang amat tinggi!

Heran ia memikirkan, siapa gerangan nenek itu yang mengaku tidak punya nama, bahkan minta ia kelak yang memilihkan nama untuknya!

Ia sedang tekun membalik-balik lembaran kitab Samadhi ketika nenek itu yang muncul membawa mangkok-mangkok batu dengan masakan yang masih mengebul dan masih menyiarkan bau yang sedap-sedap aneh.

Cepat Kwee Seng menutup kitabnya dan berlutut lagi sambil berkata.

"Mohon maaf sebanyaknya bahwa saya berani lancang mengganggu Locianpwe yang budiman, berani pula memasuki kamar kitab yang terahasia mengambil dua buah kitab ini. Apabila Locianpwe memperkenankan, saya mohon pinjam dua ini untuk saya baca."

Nenek itu tak bergerak kulit mukanya, menaruh mangkok-mangkok masakan diatas meja batu, lalu menghadapi Kwee Seng, memandang kearah dua kitab itu.

"Hemm, bangkitlah. Tak enak melihat kau sedikit-sedikit berlutut seperti itu. Kita berdua seakan-akan hidup di dunia tersendiri, terpisah dari dunia ramai, mengapa harus memakai banyak tatacara yang palsu? Kwee Seng, duduklah dan mari kita makan. Kau memilih kitab-kitab itu? Hemm, kitab tentang Samadhi dan kitab Perbintangan? Ah, justeru dua kitab itu yang aku sendiri paling tidak doyan (tidak suka)! Terlalu ruwet dan kalimat-kalimatnya amat kuno, pengertianku tentang sastra tidak sampai disitu. Kau bacalah, dan boleh memiliki dua kitab itu."

Bukan main girangnya hati Kwee Seng.

"Locianpwe amat mulia, terima kasih atas pemberian ...."

"Siapa memberi? Kitab-kitab itu sudah berada disini sebelum aku lahir! Mari kita makan, perutmu kosong dan kita lanjutkan bicara nanti saja."

Untuk menghormati ajakan orang yang demikian manis budi, Kwee Seng tidak banyak cakap lagi, lalu menghadapi hidangan.

Ternyata masakan itu adalah masakan ikan yang gemuk bersama sayur-sayuran yang berwarna hitam.

Kelihatannya sayur itu menjijikkan, terasa gurih dan sedap.

Tanpa malu-malu lagi Kwee Seng makan dengan lahapnya dan mendapat kenyataan bahwa perutnya menjadi hangat dan badannya terasa segar setelah makan hidangan aneh itu.

Sehabis makan Kwee Seng hendak membantu Si Nenek mencuci mangkok batu, akan tetapi cepat-cepat Si Nenek mencegahnya.

"Mencuci mangkok adalah pekerjaan wanita, kalau kau membantu dan canggung sampai membikin pecah mangkok batu, aku harus bersusah payah membuat lagi."

Nenek itu lalu pergi lagi dan ketika Kwee Seng mengikutinya, ternyata Neraka Bumi ini merupakan tempat tinggal yang lengkap juga.

Ada air mancur yang jernih, dan disuatu sudut tumbuh bermacam sayuran aneh yang daun-daunnya berwarna hitam kehijauan, ada yang kemerahan.

Tidak kekurangan kayu bakar disitu, agaknya dari kayu-kayu dan ranting-ranting yang terbawa aliran Arus Maut, ditampung dan dikeringkan ditempat itu, dimana terdapat sinar matahari menyinar masuk melalui tebing yang tak dapat diperkirakan tingginya.

Jalan lain untuk keluar dari Neraka Bumi ini tidak ada sama sekali!

Mereka telah terkurung hidup-hidup dan agaknya hanya melalui terowongan air itu saja jalan keluar masuk neraka ini!

Untuk memasukinya saja mempertaruhkan nyawa, apalagi keluarnya, harus melawan arus yang begitu deras, agaknya tidak mungkin lagi.

Mendapat kenyataan ini, Kwee Seng lesu dan duka, akan tetapi kalau ia teringat akan derita hidup karena putus cinta, ditolak kasihnya oleh Liu Lu Sian, ia tidak ingin lagi kembali ke dunia ramai.

Tempat itu biarpun menyeramkan dan sederhana, namun cukup enak untuk menjadi tempat tinggal.

Makanan cukup, air cukup, sinar matahari pun tidak kurang, dan disitu terdapat seorang nenek yang merawatnya begitu teliti penuh perhatian seperti seorang nenek merawat cucunya sendiri.

Masih terdapat ratusan lebih kitab kuno tebal-tebal yang agaknya tak mungkin dapat habis biarpun ia baca setiap hari sampai selama ia hidup.

Mau apa lagi?

Namun ternyata kitab Samadhi itu amat menarik perhatian Kwee Seng.

Makin dibaca makin menarik, makin di pelajari makin sulit.

Akan tetapi, setiap kali ia mencoba bersamadhi menurut petunjuk-petunjuk isi kitab, Kwee Seng mendapat kenyataan bahwa hasilnya luar biasa.

Tenaga dalamnya cepat pulih kembali, behkan ia merasa betapa dengan latihan menurut kitab itu.

Tenaganya menjadi makin kuat, pikirannya makin jernih dan tubuhnya terasa nyaman selalu.

Makin tekunlah ia mempelajari isi kitab dan kadang-kadang saja ia membaca kitab kedua tentang perbintangan.

Kitab ini pun menarik hatinya karena setelah membaca tentang pergerakan bintang-bintang ia mendapat pandangan yang luas tentang ilmu silat, apalagi tentang ilmu pedangnya Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang)!

Nenek itu jarang sekali bicara, namun dalam sikap diamnya, nenek itu kelihatan amat memperhatikan segala keperluannya.

Bahkan pakaiannya yang robek-robek itu telah ditambali oleh Si Nenek.

Seringkali Kwee Seng memutar otak untuk menerka siapa gerangan nenek ini yang tak pernah mau mengaku namanya maupun riwayatnya.

Ketika Kwee Seng mencoba untuk mendesak, nenek itu bersungut-sungut dan menjawab dengan suara kesal.

"Sudahlah, kau sebut saja aku nenek, habis perkara. Aku tidak suka kau sebut sebut locianpwe segala. Orang macam aku ini ada kepandaian apa sih?"

Tertegun Kwee Seng kadang-kadang menyaksikan sikap nenek ini.

Begitu mudah ngambul dan marah, kadang-kadang diam termenung seperti orang menyedihkan sesuatu.

Untuk menyenangkan hatinya terpaksa ia menghilangkan panggilan locianpwe dan memanggilnya nenek.

Anehnya kadang nenek itu tertawa menutupi mulutnya mendengar sebutan ini.

Dan yang amat membingungkan hati Kwee Seng, setiap kali nenek itu memandangnya dengan mata bening jernih memancarkan semangat bernyala-nyala dan amat tajam, ia merasa seakan-akan pernah melihat mata macam ini.

Akan tetapi entah kapan dan dimana, ia tidak dapat ingat lagi karena memang rasanya baru pertama kali ini ia bertemu dengan seorang nenek yang begini aneh.

Dengan mendapat hiburan kitab samadhi itu waktu tidak terasa lagi oleh Kwee Seng.

Saking tekunnya ia melatih diri dalam samadhi dan memperdalam ilmu silatnya dari kitab Perbintangan, tak terasa lagi ia telah terkurung didalam Neraka Bumi itu selama hampir seribu hari!

Tiga tahun lewat tanpa terasa oleh Kwee Seng yang semakin girang menyaksikan kemajuan ilmu silatnya.

Tenaga sin-kangnya hebat sekali sehingga ketika ia mencoba kedua tangannya, hawa pukulannya sanggup menahan aliran air yang deras untuk beberapa detik!

Dengan latihan-latihan berdasarkan ilmu perbintangan, ia dapat menggunakan dua buah ranting untuk "mendaki"

Naik sepanjang dinding tebing yang licin dan keras dengan cara menancap-nancapkan dua ranting itu secara bergantian, merayap seperti seekor kelabang!

Hubungannya dengan nenek itu makin akrab dan selama itu Si Nenek memperlihatkan sikap yang penuh kasih sayang, benar-benar ia merasa seperti dekat dengan seorang nenek sendiri, atau bahkan dengan ibu sendiri!

Tidaklah mengherankan ketika pada suatu hari Kwee Seng menyatakan keinginannya untuk mencari jalan keluar, nenek itu menangis tersedu-sedu!

"Kalau kau pergi ...

aku...

aku mati saja..."

Si Nenek berkata dalam tangisnya.

"Nenek, mengapa begitu?"

Kwee Seng menghibur.

"Percayalah, kalau aku bisa mendapatkan jalan keluar, tentu kau akan kuajak keluar dari neraka ini dan..."

"Tidak...! Tidak...! Mau apa aku mencari derita didunia ramai? Aku mau mati disini!"

Kwee Seng terharu, melangkah maju dan menyentuh pundak nenek itu.

"Harap kau jangan berpendirian begitu, Nek...!"

"Jangan sentuh aku!"

Tiba-tiba nenek itu menggerakkan pundaknya dan Kwee Seng merasa betapa dari pundak itu keluar tenaga dorongan yang cukup hebat.

Ia merasa heran.

Memang hebat tenaga dorongan pundak yang hanya digerakkan begitu saja, akan tetapi ia harus akui bahwa tenaga itu tidaklah sehebat yang ia sangka.

Tenaga murni dari sin-kang nenek ini agaknya tidak akan melebihi tenaga sin-kangnya sendiri.

Hal ini amatlah mengherankan.

"Nenek yang baik. Aku harus mengaku bahwa aku telah menerima budimu bertumpuk-tumpuk, sampai mati pun aku takkan mampu membalas budimu. Oleh karena itu, perkenankanlah aku mencari jalan keluar dan membawamu didunia ramai, dan aku bersumpah akan menganggap kau sebagai nenek atau ibu sendiri, dan aku akan berbakti kepadamu, merawatmu, menjagamu untuk membalas budi..."

"Cukup! Aku tak mau dengar lagi!"

Nenek itu lalu meninggalkannya dengan sikap marah.

Kwee Seng duduk terlongong, terheran-heran.

Akan tetapi sikap nenek itu tentu saja tidak memadamkan niatnya untuk mencari jalan keluar.

Betapa pun besar ia berhutang budi, masa ia yang masih muda mengubur diri sampai mati ditempat itu?

Tiba-tiba terdengar suara berkerosokan hebat disebelah atas, dan keadaan menjadi gelap.

Cepat-cepat Kwee Seng menyalakan lampu dari minyak yang dikumpulkan dari ikan sehingga keadaan di situ menjadi remang-remang.

Nenek itu datang berjalan perlahan.

"Suara apakah itu, Nek?"

"Hujan! Agaknya akan datang musim hujan besar. Dulu pernah sampai tiga puluh hari lebih tidak cahaya matahari, gelap disini dan Arus Maut mengalir deras mengamuk, membabi buta."

"Wah, celaka! Tentu disini terendam air, Nek?"

"Jangan kuatir. Air itu membanjir kedepan, terus keluar melalui terowongan. Tak pernah banjir disini, akan tetapi sukar menangkap ikan. Maka sebelum banjir besar dan gelap datang, kita harus banyak mengumulkan ikan untuk bahan makan, juga mengumpulkan sayur."

Tiga hari mereka kerja keras, setiap saat menangkap ikan dan mengumpulkan kayu bakar, sayur-sayur.

Kemudian tibalah musim gelap dan hujan yang dikuatirkan.

Air yang mengalir kedalam terowongan itu menjadi liar dan besar, batu-batu diterjangnya hanyut, suaranya memenuhi ruangan itu, bergema menakutkan.

Lubang diatas melalui tebing-tebing tinggi itu tidak dijenguk matahari lagi.

Gelap pekat, hanya diterangi lampu minyak yang hanya kadang-kadang kalau perlu saja dinyalakan, harus seringkali dipadamkan, apalagi di waktu mereka tidur, untuk menghemat minyaknya.

Si Nenek tidak marah-marah lagi.

Dalam keadaan terancam itu mereka seringkali duduk bercakap-cakap.

Pada hari keempat, didalam gelap pekat karena lampu sudah dipadamkan, nenek itu bertanya suaranya halus menggetar penuh perasaan.

"Kwee Seng, apakah masih ada niat hatimu untuk keluar dari sini?"

Kwee Seng terharu. Suara itu menggetar, jelas bahwa nenek itu amat kuatir ditinggalkan.

"Sesungguhnya, Nek. Aku yang masih muda tak mungkin harus mengubur disini terus selamanya. Aku akan keluar dan tentu saja besar harapanku untuk mengajakmu keluar. Kau memiliki kepandaian, tentu dapat pula keluar bersamaku."

Hening sejenak.

Ingin sekali Kwee Seng dapat melihat wajah nenek itu atau lebih tepat melihat matanya, karena wajah nenek yang keriputan itu tak pernah membayangkan isi hatinya.

Akan tetapi matanya dapat membayangkan.

Namun didalam gelap itu ia hanya menanti, tak dapat melihat apa-apa.

"Kwee Seng..."

Tertahan lagi.

"Ya, Nek? Ada apa?"

"Kau bilang hendak merawatku selama aku hidup. Akan tetapi aku tidak tahu orang macam apa kau ini, dari mana asalmu dan bagaimana kau sampai dapat tiba ditempat ini. Belum pernah kau bercerita tentang dirimu."

Kwee Seng tersenyum didalam gelap.

Memang tak pernah ia bercerita.

Bukankah nenek itu pun tak pernah menanyakan dan tak pernah pula menceritakan tentang dirinya?

Pertanyaan nenek itu merupakan harapan.

Agaknya Si Nenek hendak menimbang-nimbang untuk ia ajak keluar di dunia ramai!

"Aku seorang yatim piatu, Nek.

Orang tuaku meninggal sejak aku masih kecil.

Aku hidup mengabdi kepada orang-orang, menjadi buruh tani, menggembala kerbau.

Didunia ini tidak ada seorang pun keluargaku.

Aku seorang mahasiswa gagal, kepalang tanggung.

Siucai (lulusan mahasiswa) bukan, buta huruf pun bukan.

Lebih senang ilmu silat, itu pun serba tanggung-tanggung."

"Ilmu silatmu hebat, kepandaianmu luar biasa, ini aku tahu."

Bantah Si Nenek.

"Ah, agaknya mendapat sedikit kemajuan berkat dua buah kitab yang kau pinjamkan, Nek."

Kemudian Kwee Seng menceritakan semua pengalamannya, karena makin banyak ia bicara, makin terlepas lidahnya.

Ia menganggap seakan-akan ia berhadapan dengan neneknya atau ibunya sendiri.

Segala dendam dan sakit hati ia keluarkan, ia tumpahkan karena justeru selama ini ia membutuhkan seorang yang dapat ia ceritakan untuk menumpahkan semua dendam dan sakit hati.

Ia bercerita tentang Ang-siauw-hwa, kembangnya pelacur di see-ouw yang bernama Khu Kim Lin itu, ia bercerita pula tentang Liu Lu Sian yang menampik cinta kasihnya.

Ia menuturkan pertempurannya melawan Pat-jiu Sin-ong yang mengakibatkan ia terjungkal kedalam Arus Maut dan yang menyeretnya ke dalam Neraka Bumi itu.

"Nah, begitulah riwayatku, Nek. Nek, apakah kau tertidur?"

Kwee Seng mendongkol dan bertanya agak keras.

Ia bercerita dua jam lebih, mulutnya sampai lelah, akan tetapi nenek itu diam saja, agaknya sudah tertidur pulas!

Akan tetapi ternyata tidak.

Ia mendengar suara nenek itu menjawab, suara yang serak seperti orang menangis.

"Nek, mengapa kau menangis?"

"Aku... aku kasihan kepadamu, Kwee Seng. Orang macam Liu Lu Sian itu mana pantas kau cinta? Agaknya... agaknya lebih patut kau mencinta Ang-siauw-hwa."

"Hemm, memang agaknya begitu. Dan terus terang saja, aku mengalami kebahagiaan yang takkan terlupa olehku selamanya bersama Ang-siauw-hwa, walaupun hanya satu malam. Ah, siapa sangka, ia meninggal dunia dalam usia muda..."

"Kurasa lebih baik begitu. Dia sudah menjadi pelacur, apakah baiknya? Hina sekali itu! Lebih baik mati! Akan tetapi, apakah... kau dapat mencintanya andai kata ia tidak mati?"

"Hemm, kurasa... hal itu mungkin. Dia wanita yang hebat! Dan wataknya... ah, jauh lebih menyenangkan daripada Liu Lu Sian..."

Hening pula sejenak, akan tetapi Kwee Seng masih mendengar nenek itu terisak-isak menangis, ia mendiamkannya saja, mengira bahwa nenek itu masih terharu mendengar riwayat hidupnya yang memang tidak menyenangkan.

Ia pun menjadi terharu.

Nenek ini sudah amat mencintainya, seperti kepada anak sendiri, atau cucu sendiri sehingga mendengar semua penderitaannya, nenek ini menjadi amat berduka!

Akan tetapi setelah lewat satu jam nenek itu masih saja terisak-isak, Kwee Seng menjadi kuatir juga.

"Nek, apa kau menangis? Sudahlah, harap jangan menangis, menyedihkan hati, Nek."

Akan tetapi nenek itu tetap menangis.

Kwee Seng curiga dan khawatir.

Jangan-jangan nenek yang sudah tua renta ini jatuh sakit karena kesedihannya.

Ia mencetuskan batu api dan membakar daun kering, menyalakan pelita.

Akan tetapi begitu lampu menyala, menyambarlah angin yang kecil akan tetapi keras dan api itu pun padam.

Kiranya Si Nenek meniupnya dari jauh, memadamkan api.

Kwee Seng mengangkat pundak.

"Nek, kau mengkuatirkan hatiku karena menangis sejak tadi. Diamlah, Nek. Apakah kau sakit?"

Tidak ada jawaban pula, akan tetapi suara isak itu mengendur dan mereda, akhirnya terdiam.

Lega hati Kwee Seng dan ia sudah merebahkan diri telentang, bermaksud untuk beristirahat dan tidur.

Akan tetapi beberapa menit kemudian terdengar suara Si Nenek, agak jauh dari tempat ia berbaring.

"Kwee Seng..."

"Ya, Nek. Ada apa?"

"Kalau kau keluar dari sini..."

Berhenti seakan sukar dilanjutkan.

"Ya....?"

Kwee Seng mendesak.

".... Aku tidak akan ikut. Tapi aku hanya mempunyai sebuah permintaan..."

"Ya...? Permintaan apa, Nek? Tentu aku siap untuk melaksanakan semua permintaanmu."

"Kwee Seng, bukankah kau bilang bahwa kau berhutang budi kepadaku dan sanggup untuk membalas budi dengan merawatku selamanya?"

"Betul, Nek, betul. Karena itu kau harus ikut..."

"Tak perlu kau lakukan hal itu. Tak perlu bersusah payah merawatku selama hidup. Sebagai gantinya, aku hanya minta sedikit.."

"Apa, Nek? Katakanlah."

Hening kembali sampai lama, menegangkan hati Kwee Seng yang makin tidak mengerti akan keanehan nenek itu.

"Ya, Nek? Bagaimana kehendakmu?"

"Kwee Seng, keadaan hujan dan gelap ini akan makan waktu sedikitnya lima belas hari lagi."

"Ya, betul agaknya. Lalu?"

"Selama itu kau tidak boleh mencoba keluar..."

Kwee Seng tertawa.

Hanya inikah permintaannya?

Gila benar.

Mengapa bersusah-susah mengucapkannya?

"Ha-ha-ha!

Tentu saja, Nek.

Tidak usah meminta pun bagaimana aku dapat keluar kalau Arus Maut begitu hebat mengamuk?"

"Selama gelap dan hujan kau tinggal disini dan..."

"Ya...?"

Kwee Seng mulai tidak sabar.

".... dan... kita menjadi suami isteri sampai hujan berhenti!"

"Apa?"

Kini Kwee Seng terloncat keatas dan jatuh berdebuk diatas tanah.

Begitu saja ia terguling dari atas pembaringan batu, saking kagetnya.

Ia terhenyak diatas lantai, terlongong keheranan, seketika menjadi bisu tak dapat mengeluarkan suara.

Setelah lidahnya tidak kaku lagi, suara yang dapat keluar dari mulutnya hanya.

"apa...? ah... bagaimana...?"

Ia tidak percaya kepada telinganya sendiri. Suara nenek itu penuh kegetiran, terdengar lirih mengandung rasa malu.

"Hanya itu permintaanku. Kita menjadi suami isteri sampai pada saat kau berhasil keluar dari sini, yaitu setelah hujan berhenti."

Kwee Seng meloncat berdiri, mengepal tinjunya, mengerutkan keningnya.

"Apa? Gila ini! Tak mungkin!"

Sunyi sejenak, lalu terdengar nenek itu tersedu-sedu menangis, ditahan-tahan sehingga suara tangisnya tertutup, agaknya kedua tangan nenek yang kecil itu menutupi mulut dan hidung agar sedu sedannya tidak terlalu keras.

Kemudian terdengar suara nenek itu makin jauh dari situ, diantara tangisnya.

"Ah, aku tahu...kau tentu menolak..."

Kwee Seng terduduk diatas pembaringan batu, ada sejam lebih tak bergerak-gerak, seakan-akan ia sudah pula berubah menjadi batu.

Suara sedu-sedan nenek itu seakan-akan pisau menusuk-nusuk jantungnya.

Apakah nenek itu sudah menjadi gila?

Nenek-nenek yang melihat keriput di mukanya tentu berusia enam puluh tahun kurang lebih, bagaimana ingin menjadi isterinya?

Mana ia sudi melayani kehendak nenek yang gila-gilaan ini?

Menjemukan sekali!

Sialan!

Kwee Seng mengumpat diri sendiri.

Ada wanita yang mencintanya, seorang nenek-nenek hampir mati!

Mana mungkin ia membalas cinta seorang nenek-nenek yang buruk rupa?

Teringat ia akan Ang-siauw-hwa.

Teringat pula Liu Lu Sian.

Gadis puteri Beng-kauw itu pun menolak cintanya.

Padahal ia tergila-gila kepada nona itu.

Penolakan cinta yang menyakitkan hati.

Kwee Seng terkejut teringat akan hal ini.

Nenek itu pun mencintanya, mencinta dengan suci, sudah dibuktikan dengan perawatan dan pelayanan yang demikian sungguh-sungguh penuh kasih sayang selama seribu hari!

Dan dia menolak cinta nenek itu.

Menolak begitu saja!

Padahal nenek itu pun hanya menghendaki pembalasan cinta hanya untuk beberapa hari lamanya!

Ah, betapa sakit hati nenek itu, dapat ia membayangkannya.

Ia menjadi seorang yang tak kenal budi!

Mungkin nenek itu pun hanya ingin diakui sebagai isteri saja, hanya ingin ia dekati dan ia sebut isteri, tak lebih daripada itu.

Mungkin nenek itu, ingin menjadikan pengalaman manis ini sebagai kenang-kenangan manis untuk dibawa mati!

Nenek ini semenjak kecil berada disini, demikian pengakuannya beberapa hari yang lalu secara pendek ketika ia tanya.

Berarti bahwa nenek ini tak pernah mengalami dewasa didunia ramai!

Sebagai wanita yang selamanya tak pernah menjadi isteri orang, tentu timbul keinginan untuk menerima perlakuan manis dari seorang pria yang mengaku sebagai suaminya!

Ah, betapa bodohnya.

Apa sih artinya pengorbanan sekecil ini?

Hanya bermain sandiwara, menyebut nenek itu sebagai isteri, bicara manis dan menghibur dengan kata-kata penuh sayang.

Kiranya cukup bagi Si Nenek yang tak mungkin menghendaki lebih daripada itu.

Berjam-jam Kwee Seng duduk termenung.

Terjadi perang didalam hatinya sendiri, sedangkan suara sedu-sedan nenek itu tetap terdengar olehnya makin lama makin menusuk jantung.

Teringat ia akan pengalamannya bersama Ang-siauw-hwa.

Selama ia hidup, baru sekali itu ia bercinta kasih dengan seorang wanita.

Mencinta dan dibalas cinta.

Merasai kemesraan seorang kekasih yang mencinta sepenuh hatinya.

Mendengar bisikan halus yang menyatakan cinta kasih Ang-siauw-hwa, melihat mata indah dari dekat, mata yang memandang kepadanya penuh bayangan kasih sayang, mata yang..!

Kwee Seng tersentak kaget.

Mata itu!

Mata nenek itu!

Itulah mata Ang-siauw-hwa!

Tak salah lagi.

Mata Ang-siauw-hwa Si Kembang Pelacur Telaga Barat.

Sama jernihnya, sama lebarnya, sama tajamnya dan lirikannya pun sama.

Mata Ang-siauw-hwa!

Pantas ia merasa seperti pernah mengenal mata itu apabila Si Nenek memandangnya.

"Ahhh...!"

Terdengar Kwee Seng berseru melalui kerongkongannya.

Akan tetapi Ang-siauw-hwa sudah mati.

Hanya persamaan yang kebetulan saja.

Banyak mata wanita yang cantik-cantik hampir serupa dan agaknya nenek ini dahulu pun seorang wanita cantik.

Seorang wanita terpelajar dan cantik jelita.

Kecantikan hanya sebatas kulit.

Kalau orang sudah mencinta, apa artinya usia?

Apa artinya keburukan rupa?

Nenek itu masih menangis terus.

Dari suara tangisnya, Kwee Seng tahu bahwa nenek itu tentu pergi menyendiri di kamar kitab.

Memang seringkali nenek itu tidur disana, ditempat yang sunyi, tempat istirahat yang paling jauh dalam "rumah tinggal"

Itu.

Kalau ia menangis terus sampai jatuh sakit dan mati, maka akulah pembunuhnya!

Aku membalas budinya dengan menghancurkan hatinya.

Ah, betapa rendah perbuatan ini!

Kwee Seng berdiri, meraba-raba dalam gelap, membawa pelita dan batu api, akan tetapi tidak berani menyalakannya.

Pertama, karena ia takut kalau-kalau nenek itu marah melihat ia menyalakan pelita.

Kedua, karena untuk melakukan "sandiwara"

Yang bertentangan dengan hatinya ini, lebih baik di dalam gelap, tanpa melihat wajah Si Nenek!

Ia meraba-raba dan akhirnya kedua kakinya yang sudah hafal keadaan disitu, membawanya kedepan pintu kamar kitab.

Nenek itu masih terisak-isak perlahan.

"Nek... aku datang..."

"...pergi! Mau apa lagi kau datang? Kalau kau mengejekku, mau menghinaku..., demi setan... akan kubunuh kau!"

"Tidak, aku berhutang budi kepadamu, berhutang nyawa, bagaimana aku sampai hati melukai hatimu? Aku datang kepadamu untuk... untuk memenuhi permintaanmu..."

Tiba-tiba isak tangis itu berhenti dan sejenak keadaan menjadi sunyi sekali.

Tak terdengar sesuatu oleh Kwee Seng, seakan-akan nenek itu tidak hanya berhenti menangis tapi juga berhenti bernapas!

Kemudian tedengar gerakan nenek itu mendekat, terdengar suaranya menggetar berbisik.

"Apa...? Kau.. kau tidak menipuku...? Kau... kau mau menerimaku sebagai... sebagai isterimu...?"

"Ya!"

Jawab Kwee Seng dengan suara penuh keyakinan.

"Karena inilah cara terbaik untuk menyenangkan hatimu, untuk membalas budimu. Aku menerima permintaanmu dengan kesungguhan hati, walaupun kita sama tahu bahwa aku tidak mencintamu."

Hal inilah yang mengganggu perasaan hati Kwee Seng tadi, maka kini ia terpaksa mengucapkannya agar ia tidak merasa seperti seorang penipu.

"Ah, terimakasih...!"

Nenek itu tahu-tahu sudah merangkulnya dan menangis, mendekapkan muka pada dadanya, berbisik-bisik.

"Terimakasih... Kwee-koko (Kanda Kwee)... sekarang matipun aku tidak akan penasaran lagi..."

Girang rasa hati Kwee Seng.

Ternyata dugaannya cocok.

Nenek ini ingin mendapatkan kenang-kenangan manis untuk dibawa mati.

Biarlah ia memenuhi hasrat hati ini, bukan menipu, melainkan bersandiwara, karena bukankah tadi ia sudah menyatakan sejujurnya bahwa ia memenuhi permintaan ini hanya untuk membalas budi, sama sekali bukan karena cinta?

Betapapun juga, meremang bulu tengkuknya mendengar suara halus nenek itu menyebutnya "kakanda"!

"Niocu.."

Katanya perlahan sambil mengelus rambut di kepala yang bersandar didadanya.

Menggigil tubuh yang bersandar dan merapat padanya itu ketika mendengar sebutan "niocu".

"Karena keadaan tidak mengijinkan, maka kita menikah tanpa upacara. Biarlah Tuhan yang menyaksikan pernikahan kita tanpa upacara ini, menyaksikan bahwa pada saat ini aku, Kwee Seng menyatakan dirimu sebagai isteriku."

"Dan aku, Nenek Neraka Bumi, pada saat ini menyatakan bahwa kau menjadi suamiku... ah, Koko, betapa rindu hatiku selama tiga tahun ini! Hampir gila aku dibuatnya, melihat engkau sama sekali tidak pernah pedulikan aku...!"

Nenek itu memeluknya makin erat.

Biarpun keadaan disitu amat gelap, Kwee Seng masih meramkan matanya!

Akan tetapi hidungnya kembang-kempis, bau harum yang selalu ia rasakan apabila nenek itu mendekatinya, kini makin menghebat.

Sedap harum mengusir rasa muak dan jijik yang tadinya mulai menggerogoti hatinya.

Dan lengan yang merangkulnya begitu halus!

Begitu halus dan hangat.

Dan ia teringat betapa sepasang mata nenek ini amat indahnya.

Didalam gelap itu, terbayanglah oleh Kwee Seng akan semua kemesraan yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, yaitu ketika ia berjumpa dengan Ang-siauw-hwa.

Hatinya tergerak dan tanpa ia sadari, ia balas memeluk dan ia menundukkan mukanya.

Tanpa ia ketahui, nenek itu pun sedang menghadapkan muka kepadanya, sehingga muka mereka bertemu.

Kwee Seng tersentak kaget.

Muka itu halus kulitnya seperti muka Ang-siauw-hwa ketika dahulu ia menciumnya.

Ah, Kwee Seng, kau sudah menjadi gila, ia mengumpat diri.

Ini nenek, tua bangka bermuka keriputan, hampir mati!

Pikirannya dan perasaannya membantah, namun kenyataannya, ia bukan seorang nenek yang sudah tua, melainkan dalam perasannya ia memeluk Ang-siauw-hwa!

Beberapa kali ia menciumi muka wanita dalam pelukannya ini, tangannya meraba-raba membelai muka, rambut dan leher.

Ia yakin, ini Ang-siauw-hwa!

Akan tetapi Ang-siauw-hwa sudah meninggal dunia!

Mana mungkin?

"Kwee-koko...

ah, betapa cintaku kepadamu..."

Nenek itu berbisik-bisik dan terisak penuh kebahagiaan dan haru. Suaranya pun suara Ang-siauw-hwa! "Kwee-koko, betapa rindunya aku kepadamu..."

Kwee Seng teringat akan batu api dan pelita yang ia letakkan diatas lantai.

Tangannya meraba-raba dan lain saat ia telah mencetuskan batu api sehingga bunga api berpijar-pijar memberi penerangan sekilatan saja.

Namun sinar terang sekilat itu cukuplah sudah.

Tangannya menggigil.

Dalam kilatan sinar bunga api itu ia melihat muka yang halus, cantik jelita, hidung mancung bibir merah mata indah.

Muka Ang-siauw-hwa!

"Koko, jangan nyalakan pelita, aku...

malu..."

Dalam gelap Kwee Seng terbelalak. Akan tetapi ia segera memeluk wanita itu, penuh kasih sayang, penuh kerinduan yang selama ini ditekan-tekannya.

"Kekasihku..., kau.. kau Kim Lin... Ang-siauw-hwa... alangkah rinduku kepadamu!"

Kwee Seng menjadi seperti gila.

Ia menumpahkan seluruh rasa rindu dan cintanya, bahkan cinta kasihnya yang pernah ia kandung terhadap diri Liu Lu Sian, ia tumpahkan kepada nenek itu!

Kesadarannya kadang-kadang memperingatkannya bahwa yang berada dalam pelukannya adalah seorang nenek akan tetapi ia tidak mau menerima peringatan ini, karena menurut perasaannya ia berkasih-kasihan mesra dengan seorang wanita muda yang dalam anggapannya kadang-kadang seperti Ang-siauw-hwa dan kadang-kadang seperti Liu Lu Sian!

Memang didunia, tiada yang sempurna kecuali Tuhan.

Apalagi manusia, mahluk yang banyak sekali melakukan penyelewengan-penyelewengan, mahluk yang selemah-lemahnya, setiap orang manusia tentu ada saja kelemahannya di samping kebaikan-kebaikannya.

Pemuda ini dahulunya tidak suka minum arak, mencium arak pun menimbulkan rasa muak.

Akan tetapi setelah ia terguncang batinnya oleh Lu Sian di dalam pesta Beng-kauw, ia menjadi pemabok, minum tanpa batas lagi, tenggelam ke dalam nafsunya, seperti orang mabok, lupa daratan lupa segalanya.

Lupa bahwa ia barkasih-kasihan dengan seorang nenek?

Dalam anggapannya, ia memperisteri seorang wanita yang muda dan cantik jelita!

Inilah kelemahan Kwee Seng, pendekar muda yang sakti itu.

Perasaannya terlalu halus, terlalu lemah, mudah terpengaruh.

Belasan hari lamanya dalam gelap gulita itu ia berkasih-kasihan dengan nenek Neraka Bumi yang dianggapnya seorang gadis jelita setengah Ang-siauw-hwa setengah Liu Lu Sian!

Tak pernah nenek itu membolehkan dia menyalakan pelita.

Tak pernah Kwee Seng meninggalkan kamar kitab, dilayani nenek itu yang bergerak cepat menyediakan segala kebutuhan makan mereka, semua dilakukan didalam gelap.

Akan tetapi Kwee Seng merasa bahagia, tak pernah teringat pula olehnya tentang diri nenek tua renta yang berkeriputan kedua pipinya.

Dua pekan lewat dengan cepatnya bagi dua orang mahluk yang berkasih-kasihan itu.

Malam itu Kwee Seng tidur dengan nyenyaknya, tidur dengan senyum menghias bibirnya, dengan bayangan kepuasan batin menyelimuti wajahnya.

Ia mimpi tentang rumah gedung seperti istana, dimana ia tidur dalam sebuah kamar yang terhias indah, di atas pembaringan dari kayu cendana berukir, di samping isterinya, seorang puteri yang cantik jelita!

Hawa udara amat dingin, menyusup ke tulang sum-sum, membuatnya setengah sadar.

Ketika membuka matanya sedikit, ia melihat keadaan remang-remang, teringat ia akan isteri dalam mimpi, tangannya meraba-raba dan menyentuh rambut halus didekatnya, ia membalik dan memeluk isterinya puteri cantik jelita, menarik napas panjang penuh kebahagiaan.

Tiba-tiba Kwee Seng teringat dan kaget.

Ia tidak mimpi!

Ia berada dalam kamar kitab bersama isterinya.

Dan mengapa keadaan tidak gelap lagi?

Ada cahaya memasuki kamar.

Ah, musim gelap dan banjir sudah berhenti!

Ia dapat melihat tangannya, dapat melihat rambut hitam halus yang melibat-libat tangan dan lehernya, dapat melihat kepala yang ia dekap didadanya.

Kegelapan yang mengerikan telah pergi!

Ia melompat bangun, bukan main gembiranya.

Saking gembiranya, ia hendak memeluk isterinya, hendak memberi tahu bahwa kegelapan sudah pergi.

Ia membungkuk dan...

tiba-tiba ia terbelalak dan tubuhnya mencelat mundur seakan-akan dipagut ular berbisa.

Yang tidur melingkar karena hawa dingin, tidur pulas dengan napas panjang, rambut hitam gemuk terurai kacau, pakaian tambalan, ternyata sama sekali bukan gadis jelita seperti yang ia anggap selama belasan hari ini, melainkan seorang nenek tua bermuka penuh keriput!

Teringatlah Kwee Seng akan segala hal yang selama ini tertutup oleh gelora nafsunya sendiri.

Sadarlah ia bahwa selama belasan hari ini ia berkasih-kasihan dengan seorang nenek-nenek!

Bukan lagi mengorbankan diri untuk menyenangkan hati nenek-nenek itu, bukan lagi mengorbankan diri untuk membalas budi, sama sekali bukan, karena selama belasan hari ini dialah yang memperlihatkan kasih sayang yang mesra!

Dialah yang seakan-akan tergila-gila, dan ternyata ia telah tergila-gila kepada seorang nenek-nenek!

Mendadak Kwee Seng tertawa dan kedua tangannya menampari mukanya sendiri.

"Plak-plak-plak-plak!"

Begitu terus menerus berkali-kali sampai kedua pipinya menjadi merah biru dan bengkak-bengkak, kemudian ia lari keluar dari kamar itu sambil masih terus tertawa-tawa.

Cepat sekali ia lari seperti dikejar setan.

Memang ia dikejar setan.

Setan bayangan pikirannya sendiri.

Kesadaran yang telah membuka matanya kini berubah menjadi setan yang mengejar-ngejarnya, yang mengejeknya, sehingga ia malu!

Malu dan harus ia pergi dari situ cepat-cepat.

Begitu cepat larinya sehingga ia tidak mendengar lagi seruan jauh dibelakangnya, seruan suara halus memanggil-manggilnya.

Begitu tiba ditepi sungai didalam terowongan, yaitu Arus Maut yang sudah mulai menurun airnya dan tidak begitu ganas lagi, tanpa berpikir panjang Kwee Seng yang lari ketakutan terhadap kejaran setan itu segera meloncat ketengah.

"Byuuur!"

Air muncrat tinggi.

Akan tetapi biarpun ia sudah terjun kedalam air dan menyelam didalam air dingin, tetap saja bayangan itu mengejar-ngejarnya dan mengejeknya, Kwee Seng meramkan mata, menggerakkan kaki tangannya melawan arus air sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Ia tidak tahu betapa di pinggir sungai itu, seorang wanita berlutut dan menangis, memanggil-manggil namanya dengan suara mengharukan, seorang wanita yang rambutnya riap-riapan; rambut yang hitam halus dan panjang, seorang wanita yang pakaiannya tambal-tambalan, yang mukanya basah air mata, muka yang cantik jelita kedua pipinya kemerahan hidungnya mancung bibirnya merah matanya jernih, muka yang muda dan jelita.

Kwee Seng tidak sempat melihat betapa wanita muda yang cantik ini menangis, ditangan kanannya tergenggam gagang kipasnya yang dahulu rusak ketika ia terseret arus dan tinggal gagangnya saja, tidak sempat melihat betapa tangan kiri wanita jelita itu tergenggam sebuah topeng daripada kulit yang amat halus buatannya, topeng seorang nenek-nenek tua renta..!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Liu Lu Sian yang sesungguhnya merupakan tokoh penting, kalau tidak yang terpenting, dalam cerita ini.

Sebelum kita melupakan gadis perkasa yang sudah mendatangkan banyak gara-gara karena kecantikan dan kegagahannya ini, marilah kita mengikuti perjalanan dan pengalamannya yang amat menarik.

Seperti yang telah diceritakan dibagian depan, Liu Lu Sian tidak mau ikut pulang dengan ayahnya, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, yang memeberi waktu satu tahun kepadanya untuk merantau dan "memilih suami".

Gadis itu masih berdiri termangu-mangu diatas puncak bukit, memandang kearah jurang dimana Kwee Seng terjungkal dan lenyap.

Betapapun juga, ia merasa kasihan kepada Kwee Seng yang ia tahu amat mencintanya.

Untuk penghabisan kali ia menjenguk ke jurang hitam itu dan berkata lirih.

"Salahmu dan bodohmu sendiri, mudah saja menjatuhkan hati terhadap setiap gadis cantik."

Kemudian ia menyimpan pedangnya dan berlari menuruni puncak bukit.

Ia kembali menuju ke benteng, akan tetapi tidak langsung kesana, melainkan berkuda memasuki sebuah dusun yang masih ramai karena penduduknya mengandalkan keamanan dusun mereka dengan benteng yang letaknya tidak jauh dari situ.

Sewaktu Lu Sian makan dalam sebuah warung untuk sekalian beristirahat menentramkan pikirannnya yang terguncang dan sambil makan ia mengenangkan keadaan Jenderal Kam Si Ek yang amat menarik hatinya, ia mendengar derap kaki banyak kuda memasuki dusun.

Pelayan warung kelihatan gugup sekali dan diluar terdengar orang berteriak-teriak.

Tadinya Lu Sian tidak mempedulikan keadaan ini, akan tetapi ketika derap kaki kuda, mendekat, ia kaget sekali mendengar gemuruh kaki kuda, menandakan bahwa yang datang adalah pasukan yang banyak jumlahnya.

Dan ketika ia menengok ke jalan, orang-orang sudah lari cerai-berai bersembunyi.

"Ada apakah, Lopek?"

Tanyanya kepada tukang warung yang juga kelihatan takut.

"Nona, tidak ada waktu lagi bicara panjang. Aku harus segera barsembunyi dan kalau nona sayang keselamatanmu, sebaiknya ikut bersembunyi pula."

"Ada apakah? Barisan apa yang datang itu?"

"Entah barisan apa. Akan tetapi terang bahwa ada pasukan berkuda yang banyak sekali lewat kampung ini, dan pada saat seperti sekarang ini, semua pasukan merupakan perampok-perampok yang jahat, apalagi kalau melihat wanita cantik."

Setelah berkata demikian, tukang warung itu tanpa menanti Lu Sian lagi sudah lari melalui pintu belakang!

Lu Sian tersenyum mengejek dan melanjutkan makannya.

Apa yang perlu ia takutkan?

Pasukan itu boleh jadi ganas dan menggangu orang baik-baik, akan tetapi terhadap dia, mereka akan bisa apakah?

Boleh coba-coba ganggu kalau hendak berkenalan dengan pedangnya!

Akan tetapi ketika mendengar derap kaki kuda itu sudah dekat, ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk keluar warung menonton.

Kiranya pasukan yang cukup besar, lebih dari lima puluh orang pasukan berkuda, dengan kuda yang bagus-bagus, dipimpin oleh seorang komandan muda yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam.

Pada saat Lu Sian keluar, ia melihat seorang menyimpangkan kudanya ke pinggir jalan dimana terdapat seorang wanita muda sedang membetot-betot tangan puteranya yang berusia tiga tahun.

Anak ini agaknya senang melihat begitu banyaknya orang berkuda dan menangis tidak mau ikut ibunya.

Wanita itu masih muda, usianya takkan lebih dua puluh lima tahun.

Wajahnya lumayan kulitnya kuning bersih.

"Aihh, manis kau tinggalkan saja anak nakal itu dan mari ikut denganku, malam ini bersenang-senang denganku. Ha-ha-ha!"

Penunggang kuda itu membungkukan tubuhnya kekiri dan tangannya yang berlengan panjang itu sudah diayun hendak menyambar pinggang wanita muda yang menjerit ketakutan.

"Tar-tar!"

Dua kali cambukan mengenai lengan tentara yang hendak berbuat tidak sopan itu, disusul bentakan nyaring.

"Mundur kau! Masuk barisan kembali! Di wilayah Kam-goanswe, apakah kau berani hendak mencemarkan namaku? Orang tolol!"

Kiranya yang mencambuk dan membentak itu adalah Si Opsir Muda.

Wanita itu cepat-cepat menggendong anaknya yang menangis dan lenyap kebelakang sebuah rumah.

Akan tetapi mata opsir tinggi besar hitam itu kini mengerling kearah Lu Sian, jelas bayangan matanya penuh kekaguman dan kekurangajaran.

Akan tetapi agaknya si opsir menahan napsunya dan melanjutkan kudanya, memimpin barisannya menuju ke benteng.

Hanya sekali lagi ia menengok dan tersenyum kepada Lu Sian.

Juga hampir semua anggota barisan menengok kearahnya, tersenyum-senyum menyeringai.

Muak rasa hati Lu Sian dan ia masuk kembali kedalam warung.

Akan tetapi kejadian itu membuat ia duduk termenung, lenyap nafsu makannya.

Kam Si Ek agaknya amat disegani oleh para tentara pikirnya.

Benar-benar seorang muda yang mengagumkan.

Akan tetapi mengapa pemuda seperti itu suka menjadi seorang jenderal, padahal sebagian besar anak buahnya terdiri dari orang-orang yang suka mempergunakan kedudukan dan kekuasaan serta kekuatan menindas Si Lemah?

Ia harus menguji kepandaiannya.

Setelah rombongan tentara itu lenyap berangsur-angsur penduduk kembali ke rumah masing-masing jalan penuh lagi oleh orang-orang yang hilir mudik.

Pemilik warung juga datang kembali dan ia terheran-heran melihat Lu Sian masih duduk disitu.

"Eh, kau masih berada disini, Nona? Hebat, benar-benar Nona memiliki ketabahan yang luar biasa. Untung bahwa dusun ini dekat dengan benteng Kam-goanswe, kalau tidak, tentu sudah rusak binasa dusun ini sejak lama seperti dusun-dusun lain yang dilewati rombongan seperti itu."

"Lopek (Paman Tua), apakah semua tentara selalu berbuat kejahatan seperti itu terhadap rakyat?"

"Boleh dibilang semua. Tergantung kepada komandannya. Kalau si komandan baik, anak buahnya pun baik. Ah, kalau saja semua perwira seperti Jenderal Kam, tentu hidup ini akan lebih aman dan tenteram. Semoga orang seperti Kam-goanswe diberi panjang umur!"

Lu Sian termenung.

Orang muda seperti Kam Si Ek memang sukar dicari keduanya.

Dalam hal ilmu silat, tentu saja tidak mungkin dapat mengalahkan Kwee Seng.

Akan tetapi dalam hal-hal lain Kam Si Ek jauh menang kalau dibandingkan dengan Kwee Seng.

Teringat ia penuh kekaguman betapa Kam Si Ek menghadapi rayuan tiga orang wanita cantik.

Dan ia merasa jantungnya berdebar ketika ia teringat ucapan Kam Si Ek sebulan lebih yang lalu ketika panglima muda itu naik kepanggung dipesta Beng-kauw untuk menolong seorang pemuda yang kalah.

Masih terngiang ditelinganya kata-kata Kam Si Ek ketika itu.

"Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang .... Akan tetapi .... Bukan beginilah caranya. Maafkan, Nona, biarlah aku mengaku kalah terhadapmu."

Itulah kata-katanya, kata-kata yang jelas merupakan pengakuan bahwa pemuda ganteng itu juga "ada hati"

Terhadapnya.

Malam hari itu, dengan mengenakan pakaian ringkas akan tetapi setelah menghias diri serapi-rapinya, Lu Sian membawa pedangnya, berlari cepat menuju ke benteng Kam Si Ek.

Ia menjadi heran dan juga lega melihat bahwa penjagaan disekitar benteng sekarang sama sekali tidaklah sekuat kemarin, bahkan beberapa orang penjaga yang berada dipintu benteng, kelihatan sedang bermain kartu dibawah sinar pelita reng.

Dengan mudah Lu Sian lalu melompati tembok benteng melalui sebatang pohon, dan beberapa menit kemudian ia telah berloncatan keatas genteng.

Akan tetapi ketika ia berada diatas genteng gedung tempat tinggal Kam Si Ek yang berada ditengah-tengah kumpulan bangunan itu, ia mendengar suara orang berkata-kata dengan keras, seperti orang bertengkar.

Cepat ia berindap dan dengan hati-hati melayang ke bawah memasuki gedung dari belakang, dan dilain saat ia mengintai dari sebuah jendela ke dalam ruangan dimana terjadi pertengkaran.

Ia melihat seorang wanita berpakaian serba putih yang bukan lain adalah Lai Kui Lan kakak seperguruan Kam Si Ek.

Kui Lan berdiri ditengah ruangan sambil bertolak pinggang, mukanya kemerahan metanya berapi-api marah sekali.

Di hadapannya duduk tiga orang perwira, dengan muka tertawa-tawa mengejek.

Seorang di antaranya, yang duduk ditengah bukan lain adalah komandan pasukan yang tadi dilihat Lu Sian ketika pasukan lewat didusun.

"Lai Li-hiap, sebagai bekas pembantu Sutemu, saya harap Li-hiap (Nona Yang Gagah) suka ingat bahwa urusan mengenai ketentaraan adalah urusan kami, Li-hiap tidak berhak mencampurinya."

Kata perwira yang duduk dikiri.

"Betul, sudah cukup lama kami terpaksa bersabar dan tak berkutik di bawah kekerasan Kam-goanswe. Sekarang Phang-ciangkun (Panglima Phang) yang memegang komando di benteng ini, Lai-hiap tidak berhak mencampuri urusan kami!"

Kata perwira ke dua yang duduk di sebelah kanan.

"Sudah terlalu banyak Li-hiap biasanya mencampuri urusan ketenteraan, sewenang-wenang menghukum anak buah kami padahal biarpun Li-hiap adalah kakak sepergurun Kam-goanswe namun Li-hiap tetap seorang biasa, bukan anggauta ketentaraan."

Makin marahlah Lai Kui Lan. Ia menuding telunjuknya ke arah dua orang bekas pembntu adik seperguruannya itu.

"Kalian manusia-manusia yang pada dasarnya sesat! Suteku menjalankan disiplin keras, menghukum tentara menyeleweng, itu sudah semestinya! Dan aku membantu Suteku menegakkan nama baik benteng ini, mencegah anak buah melakukan penganiayaan kepada rakyat, juga sudah merupakan kewajiban setiap orang gagah. Didepan Sute, kalian berpura-pura baik, sekarang, baru setengah hari Sute pergi memenuhi panggilan gubernur untuk menghadapi bahaya serangan bangsa Khitan, kalian sudah memperlihatkan sifat asli kalian yang buruk! Membiarkan anak buah kalian menculik wanita, merampas harta benda rakyat. Orang-orang macam kalian ini mana patut memimpin tentara? Pantasnya dikirim ke neraka!"

Dua orang perwira itu marah dan bangkit berdiri sambil mencabut golok mereka, sedangkan Kui Lan masih berdiri tegak tanpa mencabut senjata, memandang dengan senyum mengejek karena ia sudah maklum sampai di mana kepandaian kedua orang bekas pembantu sutenya itu.

Akan tetapi komandan baru benteng itu, Phang-ciangkun yang tinggi besar dan berkulit hitam itu segera berdiri, tertawa dan menjura kepada Kui Lan.

"Nona, betapapun juga, kedua orang saudara ini berkata benar bahwa semenjak saat berangkatnya Sutemu tadi, secara sah akulah yang menjadi komandan di sini dan bertanggung jawab terhadap semua peristiwa. Nona, sebagai seorang yang sudah lama hidup di dalam benteng, tentu Nona tahu akan peraturan-peraturan di sini, tahu bahwa segala apa yang terjadi adalah tanggung jawab sepenuhnya daripada komandan benteng. Mengapa Nona sekarang hendak turun tangan sendiri? Bukankah ini (Lanjut ke

Jilid 08) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 berarti Nona melakukan pemberontakan dan sama sekali tidak memandang mata kepada komandan barunya?

Nona, harap nona suka bersabar dan daripada kita bertengkar yang hanya akan menimbulkan hal-hal tidak baik dan memalukan kalau terdengar anak buah, lebih baik mari kita bergembira, makan minum bersama dan bersenang-senang!"

Setelah demikian, komandan muda itu memandang kepada Kui Lan dengan sinar mata bercahaya, muka berseri-seri mulut tersenyum, jelas membayangkan maksud hati yang kurang ajar.

Hampir meledak rasa dada Kui Lan saking marahnya.

Akan tetapi ia tahu bahwa sutenya sendiri akan marah kalau ia menimbulkan keributan didalam kekuasaan komandannya, maka ia segera berkata keras.

"Aku akan menyusul Sute, akan kuceritakan semua dan awaslah kalian kalau dia kembali!"

Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan meloncat keluar dari dalam rumah itu. Tiga orang perwira itu tertawa-tawa bergelak.

"Ha-ha-ha, perempuan galak itu pergi! Baik sekali! Dia memang akan mendatangkan kesulitan saja kalau tetap tinggal disini. Dia hendak menyusul Kam Si Ek? Ha-ha-ha!"

Kata seorang yang duduk dikiri. Temannya, yang duduk di kanan berkata pula sambil tertawa.

"Begitu datang ke kota, Kam Si Ek akan terjeblos ke dalam perangkap. Sucinya menyusul, biarlah ditangkap sekali. Phang-ciangkun, mari kita bersenang-senang makan minum sepuasnya, dan anak buah kami tadi berhasil menangkap beberapa ekor anak ayam, kau boleh pilih yang paling mungil, ha-ha-ha!"

Mereka bertiga tertawa-tawa gembira, akan tetapi hanya sebentar karena secara tiba-tiba saja mereka berhenti tertawa, berdiri dan mencabut senjata.

Didepan mereka telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa.

Gadis yang bertubuh ramping padat, berpakaian indah tapi ringkas sehingga mencetak bentuk tubuhnya, rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat dengan pita sutera kuning, wajahnya jelita sekali dengan sepasang mata bintang, hidung mancung dan bibir merah.

Begitu dia muncul, ruangan itu penuh bau yang harum semerbak.

Ditangannya tampak sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, gagang pedang berupa kepala naga.

Tiga orang perwira itu berdiri ternganga, tidak hanya kaget melihat tadi ada sinar berkelebat dan ternyata berubah menjadi seorang gadis, kan tetapi juga terpesona, kagum menyaksikan kecantikan yang tiada taranya ini.

Phang-ciangkun agaknya teringat akan gadis ini, gadis yang siang tadi keluar dari sebuah rumah makan.

Ia adalah seorang yang sudah banyak mengalami pertempuran, seorang yang sudah mengeras oleh tempaan pengalaman, maka cepat ia dapat menenteramkan hatinya, malah segera tertawa dan berkata.

"Ah, Nona yang cantik seperti bidadari! Kau sudah menyusul datang? Apakah hendak menemaniku makan minum?"

Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget karena tahu-tahu meja didepannya telah melayang ke arahnya.

Tidak tampak siapa yang melakukan ini, hanya kelihatan gadis jelita itu sedikit menggerakkan kaki.

Dengan goloknya, Phang-ciangkun menangkis dan membacok meja yang pecah menjadi dua sedangkan dia sendiri melompat kepingir, akan tetapi tetap saja ada kuah sayur asin yang menyambar kemukanya, membuat matanya pedas sekali.

Dua orang temannya berseru marah dan meloncat maju dengan golok di tangan, menerjang Lu Sian.

"Tahan!"

Teriak Phang-ciangkun, yang betapapun juga, merasa sayang kepada gadis yang luar biasa cantiknya ini, tidak ingin melihat gadis itu terbunuh dan ingin menawannya hidup-hidup.

Dua orang temannya menahan golok dan meloncat mundur.

"Nona, kau siapakah? Dan apa sebabnya kau datang mengamuk? Tidak ada permusuhan diantara kita!"

Dengan telunjuknya yang kecil runcing Lu Sian menuding kearah muka hitam itu.

"Ihh, manusia keparat! Kau masih bisa bilang tidak ada permusuhan? kau menipu Kam Si Ek, kemudian merampas kedudukannya, menghina sucinya. Dan kau masih bilang tidak ada apa-apa?"

"Eh, kau apanya Kam Si Ek?"

"Tak usah kau tahu!"

Jawab Lu Sian dan tahu-tahu pedangnya berkelebat menjadi sinar berkilauan yang bergulung-gulung dan menyambar kearah Phang-ciangkun.

Perwira ini kaget bukan main.

Itulah sinar pedang yang luar biasa, tanda bahwa pemainnya adalah seorang kiam-hiap (pendekar pedang) yang mahir.

Ia cepat memutar golok besarnya, dan dua orang perwira pembantunya juga meloncat dari kanan kiri membantunya.

Akan tetapi mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang pandai memerintah anak buah, menggunakan kekuasaan dan kekasaran untuk bertindak sewenang-wenang, yang hanya berani dan sombong karena mengandalkan anak buah banyak.

Mana bisa mereka menghadapi pedang Toa-hong-kiam di tangan Liu Lu Sian, dara perkasa yang telah digembleng secara luar biasa sejak kecil oleh ayahnya?

Tak sampai sepuluh jurus, Phang-ciangkun sudah terjungkal dengan leher terputus, dan dua orang perwira pun terjungkal, seorang tertembus dadanya oleh pedang, yang seorang lagi sengaja dirobohkan dengan sebuah totokan pada lambungnya.

Sebelum roboh tiga orang itu sempat berteriak-teriak memanggil bala bantuan, akan tetapi ketika penjaga diluar gedung menyerbu kedalam, mereka hanya melihat Pang-ciangkun dan seorang perwira pembantunya menggeletak tak bernyawa lagi, sedangkan perwira pembantu lainnya telah lenyap.

Para penjaga berserabutan lari mencari dan mengejar, ada yang melaui jendela yang terbuka, ada yang melalui pintu depan dan belakang.

Kentong dan gebreng dipukul bertalu-talu karena tadinya mereka itu semua bersenang-senang karena mereka terbebas daripada tindakan disiplin keras dari Kam Si Ek.

Dengan cepat sekali Liu Lu Sian melarikan diri dari benteng sambil mengempit tubuh perwira yang dirobohkan dengan totokan tadi.

Setelah tiba didalam hutan yang sunyi dan gelap, ia membanting perwira itu keatas tanah sambil membebaskan totokannya dengan ujung sepatu yang menendang.

Perwira itu mengerang kesakitan dan ia segera berlutut minta-minta ampun.

Memang sebenarnyalah, hanya seorang pengecut yang biasa bertindak sewenang-wenang apabila kebetulan kekuasaan berada di tangannya, akan tetapi begitu kekuasaannya lenyap dan ia terancam bahaya, ia tidak akan merasa malu-malu untuk memperlihatkan sifat pengecutnya.

"Hayo lekas ceritakan, rencana jahat apa yang dilakukan komplotan Phang-ciangkun untuk mencelakakan Kam Si Ek! Sekali kau membohong, pedangku akan memenggal lehermu!"

Merasa betapa pedang yang dingin menempel di tengkuknya, dengan suara tergagap-gagap perwira itu berkata.

"Ampunkan saya, Lihiap (Pendekar Wanita), saya... saya hanya orang bawahan, tidak ikut-ikut...! Yang mengatur semua adalah Phang-ciangkun dan teman-temannya di Shan-si. Karena iri terhadap nama besar dan kekuasaan Kam-goanswe, untuk diajak berunding mengenai urusan negara. Kesempatan ini dipergunakan Phang-ciangkun yang mengundang Kam-goanswe ke ibu kota, akan tetapi disana ia telah bersekongkol dengan teman-temannya untuk menangkap Kam-goanswe dan melaporkan kepada Gubernur bahwa Kam-goanswe tidak mau menghadap dan malah merencanakan pemberontakan."

"Hemm, keji!"

Lu Sian makin keras menempelkan pedangnya.

"Hayo katakan dimana Kam Si Ek akan ditahan!"

"Saya... saya tidak tahu betul, hanya... hanya mendengar dari Phang-ciangkun bahwa pencegatan akan dilakukan di kota Poki dan mereka bermarkas dalam Kelenteng Tee-kong-bio di kota itu... dan... ahh!!"

Jerit terakhir ini mengiringkan nyawanya yang melayang ketika pedang Yoa-hong-kiam memisahkan kepala dari badannya.

Lu Sian berlari pulang ke rumah penginapan, akan tetapi alangkah marahnya ketika mendapat kenyataan bahwa pasukan tentara yang tadinya mengejarnya telah mendatangi rumah penginapan, merampas kuda dan pakaiannya, bahkan memukuli Si Pemilik rumah penginapan dan merampas harta benda orang itu pula.

Penduduk sudah mendengar akan kehebohan didalam benteng, tentang terbunuhnya ciangkun baru.

Mereka merasa kuatir sekali karena Jenderal Kam sudah pergi, dan diam-diam mereka mengharapkan bantuan Lu Sian.

Maka ketika gadis ini muncul, mereka itu, terutama sekali orang-orang tua para gadis yang terculik ke dalam benteng, berlutut mohon bantuan Lu Sian untuk membebaskan gadis-gadis itu.

Tanpa menjawab Lu Sian lenyap kedalam gelap, dengan hati panas ia kembali ke benteng!

Tak lama kemudian, menjelang tengah malam, kembali timbul geger didalam benteng.

Kandang kuda kebakaran, belasan orang penjaga tewas dan kuda yang paling baik, tunggangan Phang-ciangkun sendiri, seekor kuda pilihan, telah lenyap!

Akan tetapi, Lu Sian sama sekali tidak peduli tentang nasib gadis-gadis yang tertawan.

Memang demikianlah watak Liu Lu Sian.

Ia terlalu mementingkan diri sendiri, dan hanya mau turun tangan mati-matian untuk membela kepentingan sendiri atau kepentingan orang yang ia cinta.

Urusan orang lain ia sama sekali tidak peduli.

Kota Poki adalah sebuah kota di propinsi Shan-si, kota yang cukup besar dan ramai.

Tembok kotanya tinggi dan keadaan kota itu cukup subur dan makmur karena selain letaknya di kaki gunung Cin-ling-san, juga disebelah selatan kota ini mengalir Sungai Wei-ho yang airnya cukup untuk keperluan para petani didaerah itu.

Pintu gerbang-pintu gerbang kota selalu terbuka lebar dan orang-orang hilir mudik keluar masuk pintu gerbang, berikut-kereta-kereta yang membawa banyak dagangan.

Selain ini, juga sebagai kota pelabuhan sungai, banyak barang mengalir masuk atau keluar melalui jalan sungai, menambah kesibukan para pedagang di dalam kota.

Lu Sian tidak mau memasuki kota itu dengan kudanya.

Selain kuda yang ia tunggangi adalah kuda milik Pang-ciangkun yang mungkin akan dikenal orang, juga kedatangannya ke kota itu adalah untuk menyelidiki Kam Si Ek.

Ia menitipkan kudanya pada seorang petani yang tinggal di dusun sebelah selatan kota, kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Sebuah perahu menyeberangkannya ke kota Poki dan ia memasuki kota yang ramai itu sambil berjalan perlahan.

Akan tetapi, kemanapun juga Liu Lu Sian pergi dan dimanapun ia berada, selalu gadis ini menjadi perhatian orang.

Tak lama sesudah ia masuk kota Poki, segera ia menjadi pusat perhatian, terutama laki-laki, yang terpesona oleh kecantikannya yang luar biasa.

Lu Sian tidak pedulikan mereka ini sungguhpun keadaan macam ini selau mendatangkan rasa bangga di dalam hatinya.

Yakin akan kecantikannya yang membikin semua orang laki-laki menoleh untuk mengaguminya, Lu Sian berjalan dengan langkah cepat, lalu masuk kedalam rumah penginapan yang cukup besar, memesan kamar.

Setelah berada dirumah penginapan, bebaslah ia daripada perhatian orang di jalan, sungguhpun beberapa orang tamu penginapan dan para pelayan tetap saja menatapnya dengan pandang mata serigala jantan kelaparan!

Karena tidak ingin menarik perhatian banyak orang, Lu Sian memanggil seorang pelayan mendekati kamarnya, seorang pelayan yang sudah setengah tua dan berwajah jujur.

"Paman pelayan, tahukah kau dimana letaknya Klenteng tee-kong bio di kota ini? Aku hendak pergi bersembahyang kesana."

Muka yang membayangkan kejujuran itu berkerut-kerut, lalu Si Pelayan menengok kekanan kiri lebih dulu, baru menjawab dengan suara perlahan.

"Nona, kalau hendak bersembahyang, banyak kelenteng-kelenteng ternama di kota ini. Mengapa harus kesana? Lebih baik ke Kwan-im-bio disebelah timur jembatan besar, atau ke Hai-ong-bio didekat sungai atau..."

"Tidak, aku hanya ingin bersembahyang ke Tee-kong-bio."

Jawab Lu Sian yang sudah menduga bahwa agaknya Tee-kong-bio merupakan tempat yang tidak menyenangkan hati pelayan itu, maka cepat disambungnya.

Aku hendak bersembahyang membayar kaul, maka harus ke Tee-kong-bio.

Dimanakah letaknya kelenteng itu?"

Memang tentu saja tidak sukar mencari kelenteng didalam kota sebesar Poki saja, akan tetapi daripada bertanya-tanya orang dijalan dan menarik perhatian, lebih baik kalau sudah mengetahui tempatnya sehingga dapat langsung kesana.

"memang, Siocia (Nona), bukan sekali-kali saya hendak mencampuri urusan nona. Akan tetapi sungguh-sungguh keadaan kelenteng itu tidak cocok untuk didatangi seorang tamu seperti nona. Kelenteng itu selalu sunyi, tak pernah ada pengunjungnya, tidak terawat sehingga hampir merupakan sebuah kelenteng kuno yang sudah tak terpakai lagi. Yang datang kesitu hanyalah orang-orang gelandangan, hwesio-hwesio yang suka minta derma paksa dan... ah, sudahlah, saya sudah bercerita cukup. Kelenteng itu letaknya disebelah utara kota, dekat pintu gerbang, tempat yang sunyi. Sebaiknya Nona jangan pergi kesana..."

"Cukup, aku dapat menjaga diri. Terima kasih atas keteranganmu."

Kata Lu Sian yang merasa tak sabar lagi mendengar ucapan Si Pelayan.

Pelayan itu melihat sinar mata marah dari Lu Sian, membalikkan tubuhnya dan pergi sambil mengangkat pundak.

Karena amat menguatirkan nasib Kam Si Ek, siang itu juga Lu Sian keluar dari rumah penginapan.

Ia hanya membawa pedangnya yang disarungkan dipunggung.

Kembali banyak pasang mata laki-laki menoleh kearahnya, bahkan banyak yang berhenti berjalan dan mengikutinya dengan pandang mata kagum.

Akan tetapi Lu Sian tidak menghiraukan mereka, mulutnya memperlihatkan senyum mengejek.

Ketika ia lewat dijalan yang menuju ke utara, jalan yang agak sunyi, ia melihat sekelompok orang muda terdiri dari lima orang yang tadinya bercakap-cakap dipinggir jalan, saling berbisik ketika melihatnya, kemudian mereka itu sengaja berdiri ditengah jalan sikap yang menjemukan.

Melihat mereka itu ia tidak takut biarpun ia membawa-bawa pedang, agaknya mereka itu terdiri dari orang-orang yang mengandalkan diri sendiri, agaknya mereka tahu sedikit akan ilmu silat maka hendak menggodanya.

Lu Sian tidak mau membuang banyak waktu dengan urusan-urusan kecil.

Ia menghadapi urusan besar hendak mencari dan menolong Kam Si Ek, apa gunanya melayani segala macam laki-laki kurang ajar seperti mereka itu!

Ia mengerahkan lwee-kangnya dan terus melangkah dengan tindakan gagah, sama sekali tidak melirik kearah mereka.

Sebaliknya, lima orang laki-laki itu membuka mata lebar, mengeluarkan suara tak menentu dan seperti dikomando mereka lalu menyingkir kepinggir jalan dengan mata masih melotot lebar dan mulut ternganga.

Siapa orangnya yang tak menjadi gentar melihat seorang gadis cantik yang berpedang dipunggungnya, berjalan seenaknya akan tetapi bekas telapak kakinya membuat tanah yang diinjaknya ambles sampai sejengkal dalamnya?

Seekor gajah pun takkan meninggalkan tapak kaki seperti itu di atas jalan yang banyak batunya!

Lu Sian mempercepat jalannya ketika kelenteng itu sudah tampak dari jauh.

Genteng-gentengnya banyak yang pecah dan sepasang ukiran naga di atas genteng kelenteng itu pun sudah luntur warnanya dan mustika naga di tengah yang diperebutkan dua ekor naga itu sudah pecah-pecah pula.

Tembok bangunan kelenteng juga sudah tampak batanya.

Agaknya kelenteng Tee-kong-bio ini dahulunya besar juga, akan tetapi karena tidak terawat, maka menjadi amat buruk.

Pekarangannya luas, bahkan dibelakangnya juga terdapat kebun yang luas, bangunannya besar, akan tetapi didepan kelenteng sudah tidak tampak asap hio (dupa) mengebul seperti sudah menjadi tanda pada tiap rumah kelenteng.

Namun, ditembok besar masih terdapat ukiran dengan huruf-huruf besar yang juga sudah lenyap warnanya, yaitu huruf TEE KONG BIO (Kelenteng Malaikat Bumi).

Dilihat dari depan, kelenteng itu demikian sunyi seakan-akan tidak ada penghuninya.

Pintu depannya yang terdiri dari sepasang daun pintu amat besar dan tebal, juga tertutup.

Tanpa ragu-ragu lagi Lu Sian memasuki pekarangan dan sesampainya didepan pintu, ia menggunakan tangannya mendorong.

Terdengar suara berkerit seperti biasa bunyi daun pintu yang lama tidak dibuka tutup.

Lu Sian menanti sebentar, akan tetapi suasana tetap lengang, tidak ada sambutan pada suara daun pintu itu.

Kiranya hanya daun pintu yang terdepan itu saja yang terkunci.

Dari luar kini tampak jendela-jendela dan daun-daun pintu sebelah dalam terbuka belaka, ada yang terbuka separuh ada yang terbuka seluruhnya.

Akan tetapi jelas bahwa tempat ini pernah dikunjungi orang-orang, malah bekas telapak kaki pada debu dilantai masih baru.

Keadaan di dalamnya sama dengan keadaan diluar, penuh debu dan kotor tidak terpelihara.

Disana-sini tampak kertas-kertas butut, ada pula tikar-tikar butut.

Meja toapekong (arca kelenteng) tidak tertutup kain lagi, dan tempat toapekong juga kosong.

Hanya arca-arca yang sudah hampir rusak, singa-singaan batu yang tiada harganya, masih tetap ditempatnya.

Barang-barang lain yang berharga tidak tampak lagi.

Dengan penuh ketabahan Lu Sian melangkah masuk.

Ruangan tengah juga kosong, tidak tampak manusia.

Dengan hati-hati ia melangkah lagi.

Terdengar suara gerakan disebelah kelenteng.

Ia waspada dan mencabut pedangnya dengan tangan kanan, lalu memasuki sebuah kamar diruangan tengah itu.

Diatas meja yang terbuat daripada bata tampak sebuah pot kembang dimana tumbuh kembang yang masih segar, dan disudut ruangan terdapat sebuah arca singa.

Selain itu kosong, tidak tampak apa-apa lagi.

Lu Sian melangkah diambang pintu yang tak berdaun lagi, memasuki kamar.

"Wer-wer-wer ......!!"

Tiga buah benda melayang cepat mengarah leher dan dadanya. Lu Sian cepat miringkan tubuhnya dan tiga batang pisau menancap pada dinding dibelakangnya.

"Hui-to (Golok Terbang)!"

Lu Sian berseru kaget karena maklum bahwa hanya orang-orang pandai saja yang dapat melontarkan golok terbang sekaligus tiga buah secara demikian kuat.

Ia maklum menghadapi lawan tangguh.

"Hanya pengecut saja yang menyerang orang secara menggelap!"

Bentaknya marah. Dari arah dalam terdengar orang tertawa disusul jawaban.

"Hanya pengecut saja yang memasuki tempat orang tanpa permisi!"

Merah sepasang pipi Lu Sian. Ia maklum akan kebenaran kata-kata itu. Akan tetapi sebagai seorang yang wataknya tidak mau kalah, ia membentak.

"Kalau kau bukan pengecut, keluarlah!"

Terdengar daun pintu berkerit dan muncullah seorang laki-laki yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Lu Sian.

Ia mengira bahwa penyerangnya tentu seorang hwesio yang biasanya mendiami kelenteng, atau orang jahat yang telah menculik Kam Si Ek.

Akan tetapi yang muncul adalah seorang pemuda yang tampan, berkepala kecil bertopi batok, wajahnya yang muda dan tampan membayangkan kelicikan, terutama pada mulutnya yang tersenyum mengejek dan matanya yang seperti mata burung hantu.

Juga pemuda itu tercengang ketika bertemu dengan Lu Sian, benar-benar tercengang sampai memandang dengan melongo.

"Aduhai, Kwam Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) yang cantik jelita agaknya yang datang berkunjung..!"

Katanya, masih terpesona. Sebaliknya, Lu Sian marah dan mendongkol sekali.

"Cih, tak tahu malu! mengaku-aku ini tempat kediamanmu sedangkan tempat ini adalah sebuah kelenteng tua yang sudah kosong dan kau sama sekali bukan pendeta!"

Orang itu segera menjura, sikapnya manis dibuat-buat, matanya tetap mengincar wajah cantik dan mulutnya tersenyum.

"Bukan, Nona. Sama sekali aku bukan pendeta, melainkan seorang pemuda, berdarah bangsa Khitan yang gagah berani, namaku Bayisan..."

"Tak peduli namamu anjing atau kucing aku tidak sudi mengenalnya! Yang jelas, serangan gelapmu tadi tak mungkin dapat kudiamkan saja tanpa terbalas!"

Sambil berkata demikian, Lu Sian melangkah maju, pedangnya siap menerjang. Akan tetapi pemuda itu tetap bersikap tenang, bahkan tertawa lebar.

"Aku tadi tidak tahu bahwa yang datang adalah seorang dara perkasa yang cantik jelita, kalau aku tahu, mana aku tega menyerang dengan hui-to? Untung kau demikian pandai mengelak, kalau tidak... ah, sayang sekali kalau mukamu sampai lecet."

"Keparat bermulut busuk!"

Lu Sian marah dan pedangnya bergerak mengeluarkan suara berdesing.

Bayisan cepat meloncat mundur dengan wajah kaget sekali.

Pedang itu menyambar hebat, menyerempet meja batu yang menjadi terbelah dua seperti agar-agar terbabat pisau tajam saja!

"Kau...

kau...

puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan!

Kau puteri Ketua Beng-kauw yang bernama Liu Lu Sian!"

Diam-diam Lu Sian terkejut.

Begini hebatkah kepandaian orang asing ini sehingga melihat sekali gerakan pedangnya saja sudah dapat mengenalnya?

Ia terkejut dan heran, terpaksa menunda serangannya, membentak.

"Hemm, kau sudah tahu siapa aku, tidak lekas berlutut?"

Akan tetapi Bayisan malah tertawa girang sampai terbahak-bahak.

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger