Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Sakti 6

Eps 6 Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo.

"Yo-toako hanya berpegang kepada, tanda-tanda itu saja untuk mencari anak yang hilang terculik itu, maka tentu saja amat sukar karena tanda-tanda itu terdapat di bagian tubuh yang selalu tertutup...."

"Katakan cepat, tanda-tanda apa itu?"

Tanya Eng Eng dengan suara nyaring karena ia sudah tidak sabar sekali.

"Pertama, anak itu mempunyai sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya, dan ke dua, ia pun mempunyai sebuah noda merah sebesar ibu jari kaki di telapak kaki kanannya."

Eng Eng meloncat ke belakang, terbelalak dan seluruh tubuhnya menggigil.

Melihat ini, Cia Sun menguatkan tubuhnya dan bangkit berdiri, menghampiri dengan pandang mata khawatir.

"Kenapa, Eng-moi.... dan be.... benarkah ada tanda-tanda itu pada dirimu....? Benarkah bahwa engkau ini Sim Hui Eng?"

Suara pangeran itu juga gemetar karena dia merasa tegang, khawatir kalau-kalau gadis ini bukan Sim Hui Eng seperti yang disangkanya.

Sampai lama Eng Eng tidak mampu bicara, mukanya yang pucat kelihatan seperti mau menangis dan ketika ia bertanya, suaranya hampir tidak dapat didengar.

"Bagaimana.... perasaanmu terhadap aku kalau aku tidak memiliki tanda-tanda itu, kalau aku bukan Sim Hui Eng?"

"Eng-moi, masihkah engkau meragukan cintaku kepadamu? Ketika aku jatuh cinta dan meminangmu, engkau adalah puteri ketua Pao-beng-pai, bukan? Engkau tetap engkau bagiku, satu-satunya gadis yang kucinta, baik engkau mempunyai tanda atau tidak, baik engkau puteri Siangkoan Kok atau bukan, atau puteri siapapun juga. Aku tetap cinta padamu, Eng-moi, biar engkau akan membunuhku sekalipun. Tapi.... untuk meyakinkan, benarkah engkau memiliki tanda-tanda itu?"

Tiba-tiba Eng Eng menjatuhkan diri berlutut dan menangis terisak-isak.

Tentu saja pangeran itu terkejut dan khawatir, lalu dia pun berlutut di depan gadis itu.

"Eng-moi, kenapa, Eng-moi....? Ah, maafkan kalau aku membuat hatimu berduka, Eng-moi. Lebih baik aku melihat engkau marah-marah kepadaku seperti tadi daripada melihat engkau bersedih seperti ini, Eng-moi."

Ucapan itu membuat Eng Eng semakin mengguguk.

Cia Sun merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat keadaan kekasihnya itu dan dia pun menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.

"Eng-moi, ada apakah...."

Akhirnya Eng Eng dapat bicara tanpa menurunkan kedua tangannya dari muka, dan air mata mengalir melalui celah-celah jari kedua tangannya.

"Kau.... kau lihat sendiri.... apakah.... ada tanda-tanda itu...."

Ia lalu menyingkap baju di bagian pundak kiri dan melepas sepatu dan kaos kakinya yang kanan.

Cia Sun memandang pundak yang berkulit putih mulus itu dan di sana, jelas sekali nampak sebuah titik hitam, sebuah tahi lalat.

Dan pada telapak kaki yang putih kemerahan itu nampak pula noda merah.

"Kau.... kau benar-benar Sim Hui Eng....!"

Serunya seperti bersorak gembira. Eng Eng kini merangkul ke arah kaki Cia Sun.

"Pangeran...., ampunkan aku.... aku telah berbuat kejam dan tidak adil kepadamu.... aku.... aku layak kau pukul. Balaslah, Pangeran, pukullah aku, siksalah aku, bunuhlah aku.... huuu-huhuuuuu....!"

Gadis itu tersedu-sedu, menangis dengan perasaan menyesal, malu, dan juga marah kepada diri sendiri dan amat iba kepada pria yang dicintanya namun yang telah disiksanya tanpa salah itu.

Bahkan pangeran itu telah mencegah pasukan membunuh Lauw Cu Si sehingga dia merupakan satu-satunya orang yang telah menemukan rahasia dirinya.

Pangeran ini telah berjasa kepadanya.

Sebaliknya, ia menuduhnya sebagai pembunuh dan ia telah menyiksanya dengan kata-kata, dengan perbuatan.

Ingin ia menciumi sepatu pangeran itu untuk menyatakan penyesalannya.

Melihat betapa gadis yang dicintanya itu merangkul kakinya dan mencium sepatunya, Cia Sun cepat merangkul, menarik dan mendekap kepala itu, seolah-olah hendak membenamkannya ke dadanya untuk disimpan di dalam dada dan tidak akan dilepaskannya lagi selamanya.

Dia sendiri pun membenamkan mukanya yang basah air mata ke dalam rambut itu.

Sampai beberapa lamanya mereka berpelukan dan bertangisan, dan Eng Eng beberapa kali mengusap dan membelai muka yang masih ada bekas-bekas tamparan tangannya itu dengan jari-jari gemetar.

Setelah gelora keharuan hati mereka mereda, Cia Sun membiarkan Eng Eng duduk bersandar di dadanya.

Dia membelai rambut yang kusut itu dan berbisik.

"Sudahlah, Eng-moi, sudah cukup engkau menyesali diri. Aku tidak akan menyalahkanmu. Memang batinmu mengalami guncangan hebat. Akhirnya semua kegelapan lewat dan kini kita berdua tinggal menyongsong sinar kebahagiaan."

"Pangeran...."

Cia Sun menghentikan kata-kata itu dengan sentuhan bibirnya pada bibir Eng Eng.

"Hushhh...., kalau kau menyebutku pangeran, lalu apa bedanya dengan seluruh wanita yang menjadi kawula dan menyebutku seperti itu. Engkau adalah calon isteriku, engkau tunanganku, engkau kekasihku, ingat?"

Eng Eng tersipu, akan tetapi tersenyum penuh bahagia.

"Kakanda.... Cia Sun...."

Betapa merdunya panggilan itu.

"Adinda Hui Eng...."

Sang pangeran berbisik dan sebutan nama yang terdengar asing baginya itu mengingatkan Eng Eng akan keadaan dirinya.

"Kakanda Pangeran, dengan hati berdebar penuh ketegangan, sekarang aku menanti engkau memberitahu kepadaku, siapa sebenarnya orang tuaku? Ayah ibuku masih hidup?"

"Engkau akan terkejut, berbahagia dan bangga sekali kalau mendengar siapa ayah ibumu, Eng-moi. Ketika engkau masih kuanggap sebagai puteri Siangkoan Kok, aku sudah kagum dan cinta padamu. Ketika aku mendengar dari bibi Lauw Cu Si siapa ayah ibumu, kekagumanku kepadamu bertambah-tambah. Ketahuilah bahwa ayahmu bernama Sim Houw dan ibumu bernama Can Bi Lan eh, kenapa kau, Eng-moi (adinda Eng)?"

Mendengar disebutnya dua nama itu sebagai ayah ibunya, Eng Eng sudah meloncat berdiri sehingga terlepas dari rangkulan pangeran itu.

Ia berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Ayahku.... Pendekar Suling Naga dan ibuku Si Setan Kecil....! Aihhhhh.... Kakanda.... celakalah aku sekali ini...."

Cia Sun cepat bangkit dan merangkul gadis itu.

"Tenanglah, Moi-moi, kenapa engkau berkata begitu? Bukankah sepatutnya engkau berbangga? Ayah ibumu adalah suami isteri pendekar yang sakti dan nama mereka terkenal sekali di dunia persilatan!"

"Aih, engkau tidak tahu, Koko! Ah, betapa malunya aku berhadapan dengan mereka. Ketahuilah, aku pernah mewakili Pao-beng-pai mendatangi tiga keluarga besar para pendekar itu dan menantang mereka mengadu kepandaian. Bahkan dalam peristiwa itu, Siauw-kwi Can Bi Lan, ibu kandungku itu maju untuk menandingiku, akan tetapi aku, si tinggi hati tak tahu diri ini, aku bahkan menghinanya dan menantang Pendekar Suling Naga, ayahku sendiri untuk maju menandingiku! Aku telah bersikap angkuh dan menghina tiga keluarga besar dan ternyata Pendekar Suling Naga adalah ayahnya sendiri. Bagaimana aku dapat ber-hadapan dengan mereka, Koko?"

Dalam rangkulan Cia Sun, seluruh tubuh Eng Eng gemetar seperti orang terserang demam.

"Jangan risaukan hal itu, Eng-moi. Engkau tidak dapat disalahkan. Ketika itu, engkau mewakili Pao-beng-pai dan engkau tentu menganggap para pendekar itu sebagai musuh. Apalagi engkau hanya melaksanakan tugas, karena ketika itu engkau menganggap bahwa kau adalah puteri ketua Pao-beng-pai. Dan aku mengerti mengapa engkau mendapatkan tugas itu. Mungkin bibi Lauw Cu Si yang kau angap sebagai ibumu itulah yang mempunyai peran penting, sengaja membujuk Siangkoan Kok agar engkau melakukan penghinaan terhadap keluarga besar para pendekar itu."

Gadis itu menatap wajah Cia Sun.

"Eh, kenapa begitu?"

"Aku sudah melakukan penyelidikan dan mengetahui siapa sebetulnya mendiang bibi Lauw Cu Si itu. Ia adalah seorang keturunan pimpinan Beng-kauw yang telah hancur. Karena ia seorang tokoh sesat, tentu saja ia memusuhi keluarga besar dari Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Siluman. Itu pula yang menyebabkan ia menculikmu, yaitu untuk membalas dendam kepada Pendekar Suling Naga dan isterinya yang terkenal sebagai pendekar-pendekar yang menentang golongan sesat. Dengan mengadu-kan engkau melawan keluarga pendekar itu, melawan golongan orang tuamu sendiri, agaknya bibi Lauw Cu Si menemukan kepuasan tersendiri."

"Akan tetapi, Koko. Kalau orang tuaku itu Pendekar Suling Naga dan isterinya yang merupakan sepasang suami isteri pendekar yang sakti, kenapa aku sampai dapat terculik? Dan kenapa pula mereka tidak mencari si penculik dan merampasku kembali?"

"Pertanyaan seperti itu juga kuajukan kepada Yo-toako ketika kami membicarakan anak hilang itu. Menurut ketera-ngan Yo-toako, Pendekar Suling Naga dan isterinya sudah sejak kehilangan puteri mereka itu berusaha sampai bertahun-tahun untuk menemukan anak mereka kembali. Namun semua usaha itu sia-sia belaka. Agaknya, si penculik, yaitu bibi Lauw Cu Si, dengan cerdik sekali telah menghilang, yaitu menjadi isteri Siangkoan Kok dan tak seorang pun mengira bahwa engkau adalah anak yang diculik. Semua orang, bahkan Siangkoan Kok sendiri, menganggap engkau adalah puteri bibi Lauw Cu Si."

Eng Eng mengangguk-angguk, semua rasa penasaran hilang, akan tetapi tetap saja ia mengerutkan alisnya.

Kalau saja ia mendengar bahwa ayah ibunya adalah orang-orang biasa, bahkan petani miskin sekalipun, ia tentu akan berbahagia sekali dan merasa rindu untuk segera dapat bertemu dengan orang tuanya yang aseli.

Akan tetapi, Pendekar Suling Naga!

Semua pengalamannya ketika ia menantang tiga keluarga besar itu terkenang dan makin dikenang, semakin merah wajahnya karena ia merasa malu bukan main.

"Koko, aku.... aku takut untuk bertemu dengan mereka, aku takut dan malu...."

Cia Sun merangkul pundaknya, dan mengajaknya menghampiri kuda mereka. Matahari telah naik tinggi dan di jalan raya sana lalu lintas sudah mulai ramai.

"Eng-moi, buang saja semua perasaan itu. Percayalah, orang tuamu tidak pernah berhenti memikirkanmu, bahkan sekarang pun masih minta bantuan Yo-toako untuk mencarimu. Mereka akan berbahagia sekali kalau dapat menemukan anak mereka kembali, dan tentang kemunculanmu tempo hari, mereka tentu akan dapat mengerti. Jangan khawatir, akulah yang akan menemanimu ke sana menghadap mereka, dan aku yang tanggung bahwa mereka tentu akan menerima dengan bahagia dan tidak akan ada yang menyesalkan tindakanmu dahulu."

"Aih, aku merasa ngeri bertemu mereka, Koko. Bagaimana kalau aku tidak usah memperlihatkan diri saja kepada mereka? Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku.... aku tidak mau membuat suami isteri pendekar itu mendapat malu besar dan nama baik mereka tercemar karena mempunyai anak seperti aku...."

"Hushh, jangan berkata begitu, Moi-moi. Coba jawab apakah engkau mencinta aku seperti aku mencintamu?"

"Apakah hal itu masih perlu ditanyakan lagi, Koko? Aku mencintamu, bahkan kekejamanku terhadapmu tadi pun karena terdorong cintaku padamu, karena panasnya hatiku mendengar engkau mencinta Sim Hui Eng yang kukira gadis lain. Aku cinta padamu, Koko."

"Bagus, dan karena kita saling mencinta, apakah engkau mau menjadi isteriku?"

Gadis itu mengangguk.

Sebagai puteri ketua Pao-beng-pai yang sejak kecil hidup dalam suasana kekerasan, ia tidak canggung atau malu mengaku tentang perasaan cintanya.

"Tentu saja aku mau,koko!"

"Nah, kalau begitu, karena aku seorang pangeran yang tidak mungkin meninggalkan tata-susila dan adat-istiadat, aku akan melamarmu dengan terhormat dan baik-baik. Dan untuk itu, engkau harus mempunyai wali, mempunyai orang tua. Sekarang, mari kita pergi ke Lok-yang, ke rumah orang tuamu. Setelah engkau diterima dengan baik, aku akan kembali ke kota raja dan aku akan mengirim utusan untuk meminangmu secara terhormat."

Gadis itu mengerutkan alisnya, akan tetapi begitu sinar matanya bertemu dengan pandang mata pangeran itu, ia pun mengangguk dan menurut saja ketika digandeng ke arah dua ekor kuda mereka yang sedang makan rumput.

Tak lama kemudian, sepasang orang muda yang berbahagia ini pun sudah melarikan kuda, menuju ke Lok-yang.

Karena Cia Sun merupakan seorang keluarga kaisar, bahkan cucu kaisar, seorang pangeran yang pandai bergaul dan terkenal di kalangan para pejabat daerah, maka di sepanjang perjalanan dengan mudah saja dia mendapatkan pelayanan yang penuh penghormatan, mendapatkan tempat bermalam di rumah para kepala daerah, dijamu pesta dan mendapatkan penukaran kuda-kuda baru sehingga perjalanan ini cukup menyenangkan bagi Eng Eng.

Yo Han mendaki lereng bukit itu.

Bukit Naga.

Thian-li-pang berada di lereng paling atas, dekat puncak.

Sudah hampir setengah tahun dia merantau, mencari Sim Hui Eng, puteri Pendekar Suling Naga.

Namun, usahanya sia-sia.

Tak pernah dia berhasil mendengar keterangan tentang penculikan terhadap putri pendekar sakti itu.

Dia sudah memasuki dunia kang-ouw, bahkan banyak menundukkan tokoh-tokoh sesat, hanya untuk dimintai keterangan kalau-kalau ada yang mengetahui, siapa yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga dua puluh tahun yang lalu.

Akan tetapi semua usahanya, dari bujuk halus sampai kekerasan, tidak ada hasilnya.

Agaknya tidak ada seorang pun tahu siapa yang menculik puteri pendekar itu.

Penculiknya agaknya lihai dan cerdik bukan main sehingga setelah menculik anak itu, dia seperti menghilang ke dalam bumi membawa anak culikannya!

Akhirnya Yo Han mengambil kesimpulan bahwa tanpa banyak tenaga pembantu, Akan sukarlah menemukan anak yang hilang itu.

Dia teringat kepada Thian-li-pang.

Dia telah dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang dan anak buah Thian-li-pang adalah orang-orang berpengalaman dan memiliki hubungan luas dalam dunia kang-ouw.

Mungkin para tokoh kang-ouw yang ditanyainya, merasa enggan untuk membuka rahasia rekan mereka sendiri yang melakukan penculikan, karena dia dianggap sebagai Pendekar Tangan Sakti, seorang pendekar yang menentang kejahatan.

Kalau anak buah Thian-li-pang yang melakukan penyelidikan, mungkin akan lebih mudah.

Orang-orang kang-ouw tentu akan bersikap lebih terbuka di antara golongan sendiri.

Benar sekali, kenapa sejak dahulu dia tidak minta bantuan para anggauta Thian-li-pang, pikirnya menyesali diri sendiri.

Paman Lauw Kang Hui tentu akan senang membantuku dan lebih besar harapannya untuk dapat menemukan orang yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga!

Demikianlah, pada pagi hari itu, Yo Han mendaki lereng Bukit Naga.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa Thian-li-pang telah terjadi perubahan yang amat besar.

Tidak tahu bahwa Lauw Kang Hui dan beberapa orang tokoh Thian-li-pang telah tewas, terbunuh oleh Ouw Seng Bu, yang kini menjadi ketua Thian-li-pang!

Memang Thian-li-pang telah berubah sama sekali semenjak dipegang pimpinannya oleh Ouw Seng Bu.

Pemuda yang telah menemukan ilmu silat yang amat hebat ini membiarkan para anggauta Thian-li-pang berbuat apa saja dengan bebasnya.

Bahkan dia menjalin hubungan lagi dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti yang pernah dilakukan Thian-li-pang dahulu sebelum muncul Yo Han yang membersihkan perkumpulan pejuang itu, Dan Ouw Seng Bu bahkan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan semua kelompok pejuang dengan dia yang menjadi pemimpin besar.

Kalau semua kekuatan kelompok pejuang sudah dipersatukan, baik itu dari golongan pendekar maupun golongan sesat, dan dia yang menjadi pemimpin besar, tentu perjuangan mengusir penjajah Mancu akan berhasil.

Dan kalau sudah berhasil, dia yang menjadi pemimpin besar, tentu berhak untuk menjadi kaisar kerajaan baru!

Besar sekali jangkauan cita-cita pemuda ini.

Setelah secara kebetulan bertemu dengan Cu Kim Giok di dekat Ban-kwi-kok, menolong gadis itu dari ancaman Siangkoan Kok, dan berhasil pula menundukkan bekas ketua Pao-beng-pai yang berjanji untuk membantunya, Ouw Seng Bu mengajak, Kim Giok berkunjung ke Bukti Naga.

Cu Kim Giok sudah mendengar tentang perkumpulan Thian-lipang yang di dunia kang-ouw (sungai telaga, atau persilatan) dikenal sebagai sebuah perkumpulan para patriot yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Itulah sebabnya, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Ouw Seng Bu, pemuda tampan dan gagah yang mengaku sebagai ketua Thian-li-pang.

Dan di sepanjang perjalana menuju ke Bukit Naga, Kim Giok melihat betapa sikap Seng Bu memang amat baik.

Pemuda itu pendiam, juga sopan, juga ramah terhadap dirinya.

Cu Kim Giok adalah puteri tunggal suami isteri pendekar.

Ayahnya, Cu Kun Tek, merupakan pendekar keturunan langsung dari keluarga Cu, majikan Lembah Naga Siluman.

Ibunya tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya, karena ibunya adalah murid mendiang Bu Beng Lokai.

Tentu saja sebagai anak tunggal, Kim Giok telah mewarisi ilmu-ilmu, dari ayah ibunya, dan biarpun usiarya baru delapan belas tahun lebih, Kim Giok telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai.

Akan tetapi, tentu saja ia kurang pengalaman karena kali ini merupakan yang pertama ia merantau seorang diri untuk meluaskan pengalamannya.

Biarpun demikian, ia sudah membawa banyak bekal nasihat dan pesan kedua orang tuanya.

Andaikata Seng Bu bersikap ceriwis terhadap dirinya, terdapat kegenitan dalam pandang mata atau kata-katanya saja, tentu ia akan menjauhkan diri.

Akan tetapi, sikap Seng Bu sungguh baik.

Dia nampak seperti seorang pemuda pendiam yang sopan dan berwatak pendekar sejati!

Inilah sebabnya mengapa Kim Giok mekasa tertarik sekali, kagum dan merasa suka.

Rasa kagumnya semakin bertambah ketika Kim Giok dan Seng Bu tiba di Bukit Naga, di pusat perkampungan Thian-li-pang.

Para anggauta Thian-li-pang rata-rata kelihatan gagah perkasa dengan pakaian yang rapi dan bersih, baik prianya maupun wanitanya, dan mereka semua itu menyambut kedatangan Seng Bu dengan sikap yang amat menghormat!

Masih begitu muda, akan tetapi telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pejuang Yang terkenal gagah perkasa.

Dan melihat perkampungan Thian-li-pang itu, Kim Giok menaksir bahwa anggauta perkumpulan itu tidak kurang dari seratus orang banyaknya.

Akan tetapi, hati gadis itu merasa penasaran ketika pada keesokan harinya ia melihat lima orang tamu yang datang menghadap ketua Thian-li-pang.

Dua orang di antara tamu-tamu itu adalah dua orang tosu (pendeta) berambut panjang yang pada baju di dadanya terdapat lukisan teratal putih.

Orang-orang Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih)!

Dan tiga orang pendeta lainnya mengenakan gambar pat-kwa (segi delapan) pada dada-nya.

Ia pernah mendengar akan nama perkumpulan pemberontak yang namanya tidak bersih di dunia kang-ouw karena para anggauta-nya tidak pantang melakukan segala macam kejahatan!

Setelah lima orang tamu itu meninggalkan perkampungan Thian-li-pang barulah Kim Giok memberanikan diri me-nemui ketua Thian-li-pang untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya.

Ia melihat pemuda itu sedang duduk di ruangan rapat yang luas, sedang memberi perintah kepada belasan orang pembantunya.

Melihat ini, Kim Giok yang sudah tiba di ambang pintu, mundur kembali.

Akan tetapi Seng Bu telah melihatnya dan ketua ini berseru dengan camah.

"Nona Cu, masuk sajalah. Di antara kita orang sendiri tidak ada rahasia. Masuk dan silakan duduk."

Setelah gadis itu memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari mereka yang sedang melakukan perundingan, Seng Bu melanjutkan.

"Harap tunggu sebentar, Nona, pembicaraan kami sudah hampir selesai."

Kim Giok mengangguk dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka, akan tetapi Seng Bu tidak melirihkan suaranya ketika melanjutkan pengarahannya kepada para pembantunya.

"Kalian sudah tahu akan tugas-tugas kalian? Terserah kalian membagi tugas, kalian harus ingat apa yang terpenting dalam tugas kalian. Yang pertama menghubungi semua kelompok pejuang, membujuk mereka agar suka bekerja sama dengan mengemukakan alasan seperti yang kujelaskan tadi. Kalau ada yang tidak bersedia bekerja sama, selidiki keadaan mereka, siapa para pemimpinnya dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka agar aku dapat mengambil tindakan. Dan ke dua, selidiki kelemahan-kelemahan yang ada pada keluarga kaisar, terutama orang-orang yang dekat hubungannya dengan kaisar. Sudah mengerti semua?"

Belasan orang itu menyatakan mengerti dan Seng Bu lalu mempersilakan mereka keluar.

Sikap pemuda itu demikian tegas dan berwibawa sehingga Kim Giok yang ikut mendengarkan merasa kagum sekali.

Setelah belasan orang pembantunya keluar, Seng Bu menghampiri Kim Giok dan duduk berhadapan dengan gadis itu.

Sikapnya seperti biasa amat sopan dan ramah, menghormati gadis yang dianggap sebagai seorang tamu agung di Thian-li-pang.

"Nona Cu, selamat pagi. Maafkan, bahwa aku meninggalkanmu seorang diri karena kesibukanku menerima tamu malam tadi dan memberi tugas kepada para pembantuku. Apakah semalam Nona enak tidur, dan apakah pelayanan kepada Nona tidak ada yang mengecewakan?"

"Terima kasih, Pangcu (Ketua). Pelayanan cukup memuaskan dan aku merasa terlalu disanjung di sini. Pangcu, aku sengaja datang mencarimu karena aku melihat sesuatu yang membuat hatiku merasa penasaran sekali dan aku mengharapkan jawabanmu yang sejujurnya."

Seng Bu menatap wajah gadis itu.

Sejak pertama kali berjumpa, dia telah terpesona.

Dia bukanlah seorang pria yang mudah terpikat kecantikan wanita.

Akan tetapi, belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis muda seperti Kim Giok.

Gadis ini manis sekali dan terutama yang membuat dia terpesona adalah sepasang matanya.

Mata itu demikian indahnya.

Selain ini, ilmu silat gadis itu pun cukup tinggi, dan sikapnya demikian pendiam dan gagah.

Semua ini ditambah lagi kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri pendekar dari Lembah Naga Siluman!

Kiranya sukar dicari keduanya gadis seperti ini.

Selama ini, Seng Bu sibuk menggembleng diri dengan ilmu yang ditemukan di dalam sumur maut, maka dia pun tidak sempat memikirkan hal lain.

Apalagi, dia memang bukan tergolong pemuda yang suka bergaul dengan gadis-gadis cantik.

Dan baru sekarang dia merasa kagum dan tertarik kepada se-orang gadis.

"Nona Cu, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Kalau ada hal yang membuat engkau merasa penasaran, tanyakanlah dan aku akan menjawab sejujurnya."

Kim Giok juga menatap tajam sehingga dua pasang mata bertaut, seperti saling menyelidik, kemudian Kim Giok berkata.

"Pangcu, bukan aku sebagai tamu ingin mencampuri urusan tuan rumah. Akan tetapi, aku suka menjadi tamu Thian-li-pang karena aku merasa yakin bahwa perkumpulanmu ini adalah perkumpulan orang-orang gagah yang merupakan pejuang-pejuang sejati seperti yang pernah kudengar dibicarakan orang di dunia kang-ouw. Aku percaya itu, apalagi setelah aku mengenalmu. Akan tetapi apa yang kulihat hari ini membuat aku merasa penasaran bukan main. Aku melihat para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai menjadi tamu Thian-li-pang! Bagaimana ini? Aku sudah mendengar bahwa kedua perkumpulan itu adalah perkumpulan jahat yang banyak ditentang oleh para pendekar!"

Seng Bu tersenyum, dengan berani menentang pandang mata gadis itu tanpa merasa canggung.

"Ah, kiranya itu yang membuatmu penasaran, Nona. Hal ini membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, Nona. Akan tetapi, apakah Nona tertarik oleh urusan perjuangan? Lika-liku perjuangan amat rumit, Nona. Dipandang sepintas lalu dari segi kependekaranmu, memang rasanya janggal kalau melihat kami berhubungan dengan orang-orang dari golongan yang ditentang para pendekar. Akan tetapi, dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan golongan terpaksa harus dikesampingkan. Yang ter-penting adalah urusan perjuangan, urusan usaha untuk membebaskan bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah Mancu."

"Maksudmu bagaimana, Pangcu?"

"Tentu engkau telah mengetahui hampir satu setengah abad negara kita dijajah bangsa Mancu, dan selama satu setengah abad itu semua usaha perjuangan rakyat untuk merebut kembali tanah air selalu gagal. Mengapa begitu? Karena tidak ada persatuan di antara para kelompok yang berjuang! Bahkan banyak kelompok perjuangan yang saling gempur sendiri, bersaing dan memperebutkan kebenaran demi kepentingan pribadi atau golongan. Itulah sebab utama kegagalan perjuangan selama ini, dan kami dari Thian-li-pang melihat kekeliruan itu, maka kini kami berusaha untuk mengubahnya."

"Caranya?"

"Mempersatukan semua golongan, tanpa membedakan mana golongan putih mana golongan hitam, mana golongan pendekar atau mana yang dinamakan kaum sesat. Pendeknya, siapa saja, dari golongan manapun, apa pun pekerjaannya, bagaimana bentuk sepak terjangnya, asalkan dia itu menentang pemerintah penjajah Mancu, dia adalah sekutu kita! Dengan cara ini, maka di seluruh negeri akan terdapat persatuan yang kokoh dan kalau sudah tercapai persatuan itu, maka menggulingkan pemerintah penjajah bukan merupakan masalah yang sukar lagi."

"Jadi pendirian itukah yang membuat Pangcu tidak memandang bulu dalam memilih sahabat, dan suka menerima Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai sebagai sahabat pula?"

"Benar, Nona. Kalau misalnya Thian-li-pang, Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-pai, yang ketiganya merupakan perkumpulan pejuang, bersatu padu dan bersama-sama menentang penjajah, bukankah itu akan jauh lebih kuat daripada kalau kami berjuang sendiri-sendiri secara terpisah? Apalagi kalau seluruh kekuatan yang ada, baik dari golongan hitam maupun putih, dapat bersatu padu!"

"Tidak dapat disangkal kebenaran pendapat itu, Pangcu. Akan, tetapi kita kaum pendekar bagaimana mungkin bekerja sama dengan kaum sesat? Justeru tugas utama kita adalah untuk menentang segala perbuatan jahat dari kaum sesat, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat tapi jahat!"

Ketua yang masih muda itu tersenyum ramah.

Dia bicara penuh semangat, akan tetapi tidak terbawa perasaan, masih tetap tenang dan tersenyum sehingga membuat gadis itu pun tidak terbawa dan terseret dalam perbantahan yang memperebutkan kebenaran sendiri.

"Sudah kukatakan tadi bahwa dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan kepentingan golongan harus disingkirkan lebih dahulu. Tanpa sikap seperti itu, bagaimana mungkin ada persatuan dan tanpa persatuan bagaimana mungkin ada kekuatan? Buktinya, semua usaha perjuangan yang lalu selama ini, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam, gagal semua. Karena terpecah-pecah! Kalau kita menuruti kepentingan pribadi dan golongan, misalnya kalau kita tidak mau bersatu dengan golongan sesat dan memusuhi mereka, maka kita akan terpecah belah dan akibatnya melemahkan diri sendiri. Dengan demikian, yang untung adalah pemerintah penjajah! Mengertikah engkau, Nona?"

Cu Kim Giok bukan seorang gadis yang bodoh.

Ia termenung dan menelan ucapan ketua itu dalam hatinya, dan mulailah ia mengerti akan apa yang dimaksudkan Seng Bu.

"Aku mengerti, Pangcu. Akan tetapi karena sejak kecil orang tuaku menanamkan jiwa kependekaran dalam hatiku, rasanya amat berat bagiku menerima kenyataan dari kebenaran pendapatmu tadi. Kalau kita para pendekar tidak menentang golongan sesat, bukankah kehidupan rakyat akan menjadi semekin parah dan sengsara, tertindas kejahatan tanpa ada yang membela dan melindungi?"

"Tentu saja kita tidak kalau terjadi kejahatan di depan mata kita, Nona. Kita wajib melindungi menjadi korban kejahatan. Akan tetapi, urusan itu merupakan urusan yarg tidak diutamakan kepentingannya, lebih penting urusan perjuangan sehingga kalau pun kita menentang kejahatan, harus dicegah agar jangan sampai menimbulkan keretakan persatuan antara golongan. Ketahuilah, Nona, bahwa peristiwa kejahatan hanya merupakan akibat dari tidak sehatnya pemerintah. Seperti sebuah penyakit, kejahatan, ketidakamanan, ketidakmakmuran dan bahkan kesengsaraan rakyat hanya merupakan bintik-bintik kecil akibat penyakit itu. Memberantas dan mengobati bintik-bintiknya saja tidak akan banyak manfaatnya karena bintik-bintik itu akan muncul lagi setelah diobati selama penyakitnya masih ada. Kita harus lebih mementingkan pengobatan penyakitnya, sumber penyakit itu sendiri. Dalam hal ini, sumber penyakitnya terletak pada pemerintahan. Bangsa dan tanah air kita dicengkeram penjajah Mancu, tentu saja pemerintahnya tidak sehat dan memeras rakyat jelata. Kalau penjajahan itu dapat kita bongkar dan kita ganti dengan pemerintah bangsa sendiri, maka penyakit itu sembuh pada sumbernya dan tidak akan timbul bintik-bintik berbahaya. Segala bentuk kejahatan akan dapat kita tumpas. Penindasan yang dilakukan para penjahat itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penindasan dan penghisapan yang dilakukan penjajah terhadap kita."

Kim Giok tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia kagum sekali dan kini ia dapat mengerti sepenuhnya.

"Sekarang aku mengerti, Pangcu, dan aku tidak penasaran lagi melihat Thian-li-pang bersahabat dengan golongan sesat, kalau maksudnya untuk mempersatukan tenaga melawan penjajah."

Sejak percakapan itu, Kim Giok semakin kagum dan tartarik kepada ketua Thian-li-pang itu, dan sebaliknya Seng Bu juga telah jatuh hati kepada puteri Lembah Naga Siluman.

Ketika Seng Bu minta agar gadis itu tinggal di Thian-li-pang sebagai tamu kehormatan selama beberapa hari, Kim Giok tidak menolak.

Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Yo Han mendaki Bukit Naga, Cu Kim Giok telah tinggal selama lima hari di perkampungan Thian-li-pang.

Hubungannya dengan Seng Bu semakin akrab namun ketua itu masih tetap bersikap sopan dan tidak pernah menyatakan perasaan hatinya.

Kim Giok sudah mendengar banyak dari Seng Bu tentang Thian-li-pang, dan ia mendengar pula kisah yang aneh, peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu tentang pembunuhan terhadap ketua Thian-li-pang yang dilakukan oleh seorang yang tadinya dianggap sebagai pemimpin Thian-li-pang, yaitu Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.

Ia sudah mendengar nama itu, maka menyatakan keheranannya kepada Seng Bu mengapa Yo Han yang dianggap sebagai pemimpin besar malah membunuh ketua Thian-li-pang.

Dengan cerdik Seng Bu menceritakan bahwa pembunuhan itu dilakukan Yo Han untuk membalas dendam atas kematian gurunya yang bernama Ciu Lam Hok.

Demikian pandainya Seng Bu bercerita sehingga Kim Giok percaya dan gadis ini pun merasa tidak senang kepada pendekar yang di juluki Si Tangan Sakti itu.

Kita kembali kepada Yo Han yang sedang mendaki Bukit Naga dengan santai.

Kembali ke tempat ini, di mana selama bertahun-tahun dia hidup dalam sumur maut bersama gurunya, mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, mendatangkan segala macam kenangan lama padanya.

Bahkan kenangan itu berkembang sampai akhirnya dia terkenang kepada Tan Sian Li, satu-satunya wanita yang pernah dicintanya sejak dia masih seorang pemuda remaja.

Akan tetapi, percakapannya dengan Cia Sun, setidaknya menimbulkan lagi harapan baru dalam hatinya.

Ketika dia meninggalkan Sian Li, di rumah orang tua gadis itu yang menjadi suhu dan subonya pertama kali, harapannya sudah hancur lu-luh.

Dia mendengar betapa suhu dan subonya hendak menjodohkan Sian Li dengan seorang pangeran di kota raja!

Tentu saja seorang pangeran jauh lebih pantas menjadi suami seorang gadis seperti Si Bangau Merah itu daripada dia!

Dia yatim piatu miskin dan papa, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap!

Akan tetapi, kebetulan dia bertemu dengan Pangeran Cia Sun, bersahabat bahkan pernah senasib sependeritaan yang mendorong mereka mengangkat saudara.

Dan dari adik angkatnya yang pangeran ini dia mendengar bahwa adik angkatnya itulah pangeran yang hendak dijodohkan dengan Sian Li!

Akan tetapi, di samping berita mengejutkan itu, terdapat kenyataan yang membuat dia tumbuh lagi sema-ngatnya, timbul pula harapannya, yaitu bahwa Pangeran Cia Sun dan Tan Sian Li tidak saling mencinta.

Pangeran itu bahkan mencinta gadis lain, yaitu puteri ketua Pao-beng-pai!

Dalam perjalanannya menuju ke Thian-li-pang, dia pun sudah mendengar akan pembasmian Pao-beng-pai yang dilakukan pasukan pemerintah.

Dia mengira bahwa tentu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun, yang melakukan penyerbuan itu, walaupun ada kesangsian di hatinya apakah sang pangeran mau melakukan hal itu mengingat akan cintanya terhadap Siangkoan Eng.

Tiba-tiba Yo Han menghentikan langkahnya dan dia mengerutkan alisnya.

Dia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan suara itu makin mendekat, tanda bahwa mereka yang bercakap-cakap itu sedang berjalan menuruni lereng.

Yo Han menyelinap ke balik pohon besar.

Sudah lama dia meninggalkan Thian-li-pang dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya.

Walaupun dia percaya sepenuhnya kepada Lauw Kang Hui yang diserahi pimpinan perkumpulan itu, namun sebaiknya kalau dia menyelidiki keadaannya karena bagaimanapun juga, kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak benar di Thian-li-pang, dialah yang bertanggung jawab.

Gurunya berpesan agar dia menyelamatkan Thian-li-pang dari penyelewengan, maka biarpun dia tidak memimpin langsung, dia harus selalu mengawasi.

Mereka yang tertawa-tawa tadi sekarang telah datang dekat dan dari balik batang pohon, Yo Han mengintai.

Alisnya terangkat dan kemudian berkerut tidak senang ketika dia melihat dua orang anggauta Thian-li-pang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dua orang pendeta muda yang dari tanda gambar di dadanya diketahuinya sebagai dua orang anggauta Pat-kwa-pai!

Dia merasa heran bukan main.

Bagaimana mungkin anggauta Thian-li-pang bergaul demikian akrabnya dengan anggauta Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai golongan sesat yang menggunakan kedok perjuangan, atau dapat juga dikatakan pemberontak-pemberontak yang tidak segan menggunakan kejahatan dan kekejaman dalam pemberontakan mereka?

Yo Han menahan diri, ingin tahu lebih banyak, maka dari jauh dia membayangi empat orang itu.

Dia tidak mengenal para anggauta Thian-li-pang.

Yang dikenalnya hanyalah Lauw Kang Hui dan pimpinannya, bahkan dia tidak tahu nama para pimpinan mudanya satu demi satu.

Akan tetapi melihat sikap mereka, siapa lagi mereka itu kalau bukan anggauta Thian-li-pang?

Dan mereka telah berada di wilayah Thian-li-pang, maka kehadiran dua orang anggauta Pat-kwa-pai sungguh mencurigakan sekali.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Yo Han untuk membayangi mereka, kadang malah demikian dekat sehingga dia dapat mendengarkan sebagian dari percakapan mereka.

Setelah mendengar percakapan itu dia pun yakin bahwa dua orang itu adalah anggauta Thian-li-pang.

"Kenapa kalian khawatir?"

Terdengar seorang di antara dua anggauta Thian-li-pang itu berkata kepada dua orang tosu itu.

"Kalau hanya kami berdua yang menghilang dari tempat penjagaan, tidak akan kentara. Pula siapa sih yang akan berani mendaki Bukit Naga dan mengganggu wilayah Thian-li-pang? Baru mendengar nama Thian-li-pang saja, nyali mereka sudah terbang melayang!"

Mereka tertawa-tawa.

"Pula, berapa lamanya untuk sekedar bersenang-senang dengan kalian di dusun bawah sana? Andaikata para pimpinan mengetahui kalau kami pergi bersama kalian, tentu tidak akan dimarahi. Bu-kankah Thian-li-pang bersahabat baik dengan Pat-kwa-pai?"

Kembali mereka tertawa-tawa dan tidak tahu betapa Yo Han mengepal tinju mendengarkan percakapan itu.

Akhirnya, empat orang itu tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Naga.

Di dusun itu terdapat sebuah kedai arak dan ke sanalah mereka masuk.

Yo Han yang memakai caping lebar, duduk pula dengan memilih tempat jauh di sudut dan capingnya tidak dilepas sehingga mukanya tertutup.

Ketika pelayan datang menghampiri, dia memesan arak dan semangkuk bubur.

Terdengar ribut-ribut di meja empat orang itu.

Agaknya pemilik kedai arak menghampiri mereka dan menuntut agar mereka lebih dahulu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman yang mereka pesan.

"Sudah terlalu sering teman-teman kalian makan minum di sini tanpa membayar! Aku tidak mau dirugikan, harap kalian suka membayar lebih dulu."

Kata pemilik kedai itu, seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang kurus agak bongkok.

Seorang anggauta Thian-li-pang yang tinggi bermuka kuning, bangkit dan bertolak pinggang.

"Apa katamu? Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Kami berdua adalah anggauta Thian-ii-pang dan dua orang sahabat kami ini adalah anggauta Pat-kwa-pai. Kami adalah pejuang! Kami adalah pahlawan bangsa, pembela rakyat dan tanah air! Masa hanya mengeluarkan sedikit makanan dan minuman saja bagi kami engkau tidak rela? Kami berjuang dengan taruhan nyawa dan engkau tidak mau menjamu makan minum kepada kami?"

Seorang di antara dua orang tosu Pat-kwa-pai menggebrak meja dan dengan sikap bengis berkata.

"Hayo cepat keluarkan hidangan untuk kami atau engkau ingin kedaimu ini kami hancurkan?"

"Kalian sungguh kejam!"

Pemilik kedai itu membantah dan mempertahankan miliknya.

"Kalau hanya dua tiga orang saja yang datang minta makan minum, kami rela, akan tetapi kalau setiap hari datang dan jumlah kalian sampai puluhan orang selalu minta makan dan minum dengan gratis, kami dapat bang-krut! Kami pun mempunyai keluarga yang harus hidup dari hasil usaha kami yang kecil ini."

"Jahanam, masih banyak cakap? Engkau memang perlu dihajar!"

Bentak seorang anggauta Thian-li-pang bermuka kuning tadi dan sekali kaki kanannya terayun menendang, pemilik kedai itu terpelanting keras.

"Penuhi permintaan kami tanpa banyak cakap lagi atau engkau akan kuhajar sampai mampus!"

Bentaknya.

"Ayah....!"

Dari dalam berlari keluar seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan ia segera menubruk ayahnya yang sudah bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.

Melihat gadis itu, yang cukup manis, seorang di antara dua orang anggauta Pat-kwa-pai tersenyum menyeringai dan segera menangkap lengan gadis itu dan menariknya lalu memaksanya duduk di sebuah bangku dekat meja mereka.

"Haha-ha, tukang warung. Cepat keluarkan hidangan itu atau kami akan membawa pergi gadismu. Nona, kau temani kami makan minum di sini dan cepat suruh pelayan mengeluarkan hidangan dan arak terbaik."

Katanya. Gadis itu tidak berani meronta, bahkan membujuk ayahnya yang sudah bangkit berdiri.

"Ayah, turuti saja permintaan mereka."

Empat orang itu tertawa bergelak melihat pemilik kedai dengan terhuyung memasuki dapur untuk menyediakan hidangan bagi empat orang itu.

"Manis, engkau lebih bijaksana daripada ayahmu. Untung engkau muncul, kalau tidak tentu ayahmu telah menjadi mayat."

Kata si muka kuning sambil mencolek dagu gadis itu. Gadis itu membuang muka dan berkata.

"Kami telah memenuhi permintaan kalian, menyuguhkan hidangan, harap jangan ganggu aku lagi."

Gadis itu bangkit berdiri.

"Duduk saja, engkau tidak boleh pergi."

Kata seorang tosu Pat-kwa-pai.

"Aku akan membantu ayah mempersiapkan hidangan untuk kalian."

Bantah gadis itu.

"Dan menaruh racun dalam hidangannya, ya? Ha-ha-ha, kami tidak sebodoh itu, Manis. Kami berempat makan minum dan engkau harus menemani kami, ikut pula makan minum sehingga kalau hidangan itu beracun, engkau yang akan lebih dulu keracunan!"

Si muka kuning menekan pundak gadis itu sehingga ia terduduk kembali. Tiba-tiba terdengar suara lembut namun nadanya mengejek.

"Ini rumah makan macam apa, membiarkan empat ekor buaya darat mengotorinya! Sungguh mendatangkan bau busuk sekali, empat orang maling kecil mengaku pejuang seperti empat ekor tikus mengaku harimau!"

Jelas sekali makna ucapan itu dan empat orang tadi tentu saja mengerti bahwa merekalah yang dimaki tikus dan maling!

Hampir mereka tidak percaya ada orang berani memaki mereka seperti itu.

Mengatakan mereka maling kecil dan tikus.

Tentu saja mereka terbelalak dan muka mereka berubah kemerahan ketika mereka menoleh dan memandang ke arah meja di sudut kanan, di mana duduk seorang laki-laki yang mengenakan sebuah caping lebar sehingga muka dan kepala orang itu tertutup sama sekali.

Akan tetapi tidak dapat diragukan lagi.

Orang bercaping itulah yang mengeluarkan ucapan menghina tadi karena ucapannya datang dari arah itu dan di sudut itu tidak ada orang lain kecuali dia.

Serentak empat orang itu meninggalkan gadis puteri pemilik kedai dan dengan langkah lebar mereka menghampiri meja di mana Yo Han duduk.

Yo Han bersikap tenang saja, bahkan kini menuangkan arak ke dalam cawannya yang telah kosong.

"Heiii, kaukah yang tadi menge-luarkan ucapan menghina kami!"

Bentak seorang di antara mereka. Yo Han mengangkat cawan araknya dan membawanya ke mulut.

"Heiii, apakah engkau tuli? Kalau benar engkau yang tadi bicara, coba ulangi ucapanmu kalau engkau berani!"

Kata si muka kuning yang ingin mendapat kepastian bahwa orang bercaping ini yang tadi bicara.

Apalagi melihat orang bercaping itu ternyata masih muda, maka dia agak merasa ragu apakah benar pemuda itu berani mengeluarkan ucapan seperti itu.

"Kalian berempat memang maling kecil dan tikus-tikus busuk. Pergilah!"

Kata Yo Han, menahan kemarahannya mengingat bahwa dua di antara mereka adalah termasuk anak buahnya sendiri, anggauta Thian-li-pang! "Jahanam!"

"Keparat!"

Empat orang itu marah sekali dan menggerakkan tangan memukul dari depan belakang dan kanan kiri.

Yo Han menggerakkan tangan yang memegang cawan arak ke sekelilingnya dan empat orang itu berteriak dan terhuyung mundur karena muka mereka disiram arak.

Biapun hanya arak, dan tidak banyak pula karena isi cawan itu dibagi empat, namun ketika mengenai muka, terutama mata, membuat mereka sejenak tidak mampu membuka mata dan kulit muka terasa perih.

Setelah menggosok-gosok mata dan dapat melihat lagi, empat orang itu mencabut golok mereka dan serentak menyerang sambil memaki dengan kamarahan memuncak.

Orang-orang yang sedang makan minum di situ menjadi ketakutan dan berhamburan lari keluar, juga pemilik kedai dan puterinya, beserta para pelayan, sudah bersembunyi di balik meja dengan tubuh gemetar ketakutan.

Yo Han masih tetap duduk, akan tetapi kedua tangan mengambil sepasang sumpit dan juga dua buah mangkok yang kosong.

Begitu empat orang dengan golok mereka menyerbu dekat, kembali kedua tangan Yo Han bergerak.

Dua sumpit menembus pundak kanan dua orang tosu sehingga golok mereka terlepas dan mereka mengaduh-aduh, sedangkan dua buah mangkok menghantam muka dua orang anggauta Thian-li-pang dengan keras.

Dua orang Thian-li-pang itu terjengkang roboh dengan muka berdarah karena mangkok yang menghantam muka mereka tadi pecah-pecah dan melukai mereka.

Tidak sampai membunuh mereka, akan tetapi mereka terjengkang roboh dengan muka berlumuran darah dan pingsan!

Dua orang tosu terbelalak dan tidak berani melawan lagi, bahkan melarikan diri keluar dari rumah makan itu ketika Yo Han dengan sikap sembarangan saja mencengkeram baju di punggung kedua orang anggauta Thian-li-pang itu dan melempar tubuh mereka yang pingsan ke sudut ruangan itu di mana mereka rebah bertumpuk.

Kemudian, dia melanjutkan makan minum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Pemilik rumah makan tadi bersama puterinya segera menghampiri Yo Han dan membungkuk-bungkuk.

"Terima kasih atas pertolongan Tai-hiap, akan tetapi.... ah, bagaimana dengan nasib kami? Tentu mereka akan datang dan akan menghancurkan rumah kami, bahkan mungkin kami akan mereka bunuh...."

"Benar apa yang dikatakan Ayah, Tai-hiap,"

Kata gadis itu sambil menangis.

"Harap Tai-hiap suka melepaskan dua orang itu, karena sudah pasti kami yang menderita karena pembalasan mereka."

"Paman dan Nona, jangan khawatir. Aku akan menanti di sini sampai mereka semua datang. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tidak akan diganggu lagi oleh mereka. Tenang sajalah. Nanti akan kuganti semua kerugian karena kerusakan yang diakibatkan karena keributan ini. Sekarang, tolong tambahkan arak seguci untukku. Aku akan menanti mereka datang semua."

Biarpun khawatir sekali ayah anak itu tidak berani membantah lagi.

Mereka tadi sudah melihat betapa mudahnya pemuda bercaping ini mengalahkan empat orang pengacau, akan tetapi mereka tahu belaka betapa kuatnya Thian-li-pang dan kalau mereka semua itu datang, apakah pemuda itu akan mampu menghadapi mereka seorang diri saja?

Dua orang tosu Pat-kwa-pai yang sedang bermain-main ke Thian-li-pang tadi, tentu saja tidak mau tinggal diam.

Mereka terluka dan masing-masing menderita kesakitan dengan sebatang sumpit masih menancap dan menembusi pundak mematahkan tulang pundak, dan dua orang teman mereka ditawan.

Mereka cepat mendaki lereng Bukit Naga yang menjadi sarang Thian-li-pang dan sambil meringis kesakitan mereka melapor kepada para anggauta Thian-li-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang perkampungan perkumpulan itu.

Tentu saja para anggauta Thian-li-pang menjadi gempar dan marah mendengar bahwa dua orang kawan mereka dirobohkan seorang asing di dusun yang berada di kaki bukit.

Mereka segera melapor kepada kepala jaga.

Mereka menganggap urusan itu terlalu kecil untuk dilaporkan kepada ketua, bahkan mereka tidak ingin ketua mendengar bahwa mereka tidak mampu membereskan urusan kecil itu.

"Di mana jahanam itu sekarang? tanya seorang murid yang tingkatnya lebih tinggi.

"Di dalam kedai arak dusun itu,"

Kata dua orang tosu itu. Murid yang termasuk tingkat atas dari Thian-li-pang itu mengumpulkan empat orang saudara lain.

"Kalian tetap berjaga saja di sini, kami berlima yang akan menghajarnya."

Katanya dan lima orang yang memiliki tingkat tiga di Thian-li-pang itu segera turun dari lereng bukit sambil berlari cepat.

Sebentar saja, lima orang murid Thian-li-pang yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun ini telah tiba di depan kedai arak itu.

Mereka melihat betapa kedai arak itu sepi sekali, dan ada beberapa orang yang mengintai dari jauh dengan sikap ketakutan.

Dengan sikap gagah lima orang itu memasuki kedai dan ternyata di dalam ruangan kedai yang biasanya penuh tamu itu, sekarang kosong.

Hanya ada seorang tamu sedang minum-minum seorang diri di sudut dan mereka melihat orang itu mengenakan caping lebar sehingga tidak nampak mukanya.

Dan mereka melihat pula dua orang adik seperguruan mereka duduk bersandar dinding di lantai sudut itu dengan muka berlumuran darah!

Ketika dua orang itu melihat lima orang kakak seperguruan mereka muncul di pintu rumah makan, mereka segera bangkit.

"Suheng, tolonglah kami...."

Kata mereka dan mereka hendak menghampiri kawan-kawan mereka, akan tetap begitu tangan Yo Han bergerak, dua butir kacang menyambar dan mengenai dada kedua orang itu, membuat mereka mengeluh dan roboh kembali!

Melihat itu, lima orang yang baru datang tentu saja menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk!"

Bentak seorang di antara mereka dan lima orang itu serentak menyerang Yo Han dari sekelilingnya.

Yo Han masih tetap duduk di atas bangkunya, kedua tangannya bergerak, juga kedua kakinya menyambar dan empat orang pengeroyok roboh terpelanting!

Orang kelima yang melihat ini, terbelalak kaget dan dengan jerih dia melangkah mundur.

Empat orang yang roboh itu mencoba untuk mencabut pedang dan menyerang lagi, akan tetapi sebelum mereka dapat melakukan serangan, kembali kaki tangan Yo Han bergerak tanpa dia turun dari bangkunya dan empat orang itu roboh kembali, pedang mereka terlepas berkerontangan dan mereka tidak mampu bangkit.

Melihat ini orang ke lima segera meloncat keluar dan melarikan diri ketakutan.

Dia tidak tahu bahwa memang Yo Han sengaja melepasnya, dengan maksud agar dia melapor kepada pimpinan Thian-li-pang.

Dengan tenang dia lalu turun dari bangkunya, dan bagaikan mencengkeram punggung baju mereka dan melemparkan mereka satu demi satu ke sudut sehingga kini di situ berserakan dan bertumpuk enam orang anggauta Thian-li-pang.

Ketika melakukan.

ini, enam orang itu dapat sekilas melihat tampangnya dan dua di antara mereka terbelalak.

"Sin.... ciang.... Tai-hiap...."

Mereka berbisik dan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya.

Tentu saja mereka ketakutan sekali karena mereka telah melawan pemimpin besar Thian-li-pang!

Apalagi mereka juga menyadari bahwa mereka telah melakukan penyelewengan besar dari garis-garis yang ditentukan pemimpin besar ini, menyadari bahwa Thian-li-pang telah berubah semenjak ketua Lauw Kang Hui tewas dan pimpinan dipegang oleh Ouw Seng Bu.

Yo Han tidak peduli dan melanjutkan minum seorang diri.

Dia harus meluruskan kembali Thian-li-pang seperti pesan mendiang suhunya, yaitu kakek Ciu Lam Hok.

Dia sengaja merobohkan para anggauta Thian-li-pang dan menumpuk mereka di sudut ruangan rumah makan itu untuk memancing datangnya para pimpinan Thian-li-pang ke situ, terutama sekali Lauw Kang Hui.

Dia tidak langsung datang ke Thian-li-pang karena maklum betapa besar bahayanya kalau dia melakukan itu.

Kalau benar para pemimpin Thian-li-pang sudah menyeleweng dan dia dimusuhi, Maka mendatangi pusat Thian-li-pang sama dengan menghadapi buaya besar karena Thian-li-pang memiliki anggauta yang rata-rata kuat, juga para pemim-pinnya lihai di samping tempat itu berbahaya dan penuh rahasia.

Dia harus dapat memancing para pemimpinnya keluar ke rumah makan ini, agar lebih leluasa dia turun tangan menghajar mereka dan memaksa mereka ke jalan benar seperti dikehendaki mendiang Ciu Lam Hok gurunya.

Sementara itu, anggauta Thian-li-pang yang ketakutan dan lari pulang, membuat para anggauta lainnya menjadi gem-par.

Mereka tidak berani menganggap persoalan itu kecil lagi, apalagi ketika rekan mereka menceritakan betapa empat kawannya roboh dengan mudah sekali oleh si caping lebar yang aneh.

Mereka lalu berangkat untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.

Ketika itu, ketua Thian-li-pang yang baru, Ouw Seng Bu, sedang menjamu dua orang tamu yang dihormatinya, yaitu Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok.

Seperti telah diceritakan dibagian depan, Cu Kim Giok tertarik kepada Ouw Seng Bu dan menganggap pemuda itu seorang ketua perkumpulan besar Thian-li-pang yang tampan, gagah perkasa dan berjiwa patriot, membuat ia merasa tunduk dan kagum bukan main.

Adapun Siangkoan Kok, bekas ketua Pao-beng-pai, juga dapat ditundukan Ouw Seng Bu dengan ilmunya yang luar biasa sehingga kini Siankoan Kok yang sudah hancur perkumpulannya itu mau menggabungkan diri untuk menentang pemerintah dan mencari kedudukan yang tinggi.

Demikian besar rasa kagum Cu Kim Giok kepada Ouw Seng Bu sehingga ia tidak berkeberatan untuk makan bersama dua orang tosu wakil Pek-lian-kauw dan dua orang tosu wakil Pat-kwa-pai yang datang sebagai tamu Thian-li-pang.

Padahal, sejak kecil ia sudah mendengar dari ayah ibunya bahwa pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang banyak melakukan kejahatan, walaupun perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah Mancu.

Alasan yang dikemukakan Ouw Seng Bu bahwa untuk menentang penjajah, semau kekuatan harus bersatu, tanpa membeda-bedakan antar golongan putih atau hitam, dapat ia terima bahkan membenar-kannya.

Demikianlah, pada saat itu, Ouw Seng Bu, makan minum semeja dengan Siangkoan Kok, Co Kim Giok, dan empat orang tosu, yaitu dua tokoh Pat-kwa-pai dan dua orang tokoh Pek-lian-kauw.

Wakil Pat-kwa-pai yang bertubuh tinggi kurus bernama Im-yang-ji, murid kepala dari ketua Pat-kwa-paiyang lihai, bersama adik seperguruannya.

Adapun wakil Pek-lian-kauw adalah kui Thian-cu yang sudah kita kenal ketika dia mewakili Pek-lian-kauw hadir dalam pesta yang diadakan Siangkoan Kok ketika masih menjadi ketua Pao-beng-pai, bersama seorang adik seperguruannya pula.Ouw Seng Bu yang merasa bergembira sekali telah mendapatkan dua sekutu yang boleh dibanggakan, Siangkoan Kok yang selain amat lihai juga dapat diharapkan menghimpun banyak orang menjadi anak buah mereka, dan Cu Kim Giok.

Gadis puteri majikan Lembah Naga Siluman ini tentu saja merupakan seorang sekutu yang amat besar artinya, karena tentu akan dapat menjadi jembatan agar para tokoh kang-ouw lainnya suka bergabung dengan Thian-li-pang.

Selain itu, sejak pertemuan yang pertama kalinya, hati Ouw Seng Bu sudah terjerat dan dia tahu bahwa dia jatuh cinta kepada gadis yang bermata indah, dan amat manis itu.

"Mari kita minum untuk persatuan antara kita yang kokoh kuat untuk menumbangkan penjajah dan mengusir mereka dari tanah air tercinta!"

Kata Ouw Seng Bu penuh semangat.

Enam orang lain yang duduk semeja itu menyambut dengan penuh semangat pula, bahkan Cu Kim Giok merasa bangga karena ia merasa yakin bahwa ayah ibunya tentu akan merasa bangga pula melihat puteri mereka kini bersekutu dengan para pejuang yang hendak menumbangkan pemerintah penjajah Mancu!

Baru saja mereka mengosongkan cawan, seorang anggauta Thian-li-pang tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu.

Dia adalah kepala jaga, dan biarpun dalam hal tingkatan, orang ini masih adik seperguruan Ouw Seng Bu, yaitu murid mendiang Lauw Kang Hui, akan tetapi karena kini Ouw Seng Bu telah menjadi ketua dan orang itu bukan lain hanya seorang anak buah, ketua Thian-li-pang yang masih muda itu mengerutkan alisnya dan merasa terganggu.

"Hemmm, ada urusan apa sampai engkau datang mengganggu kami?"

Bentaknya dengan sikap berwibawa.

"Harap maafkan kelancangan saya, Pangcu. Akan tetapi saya hendak melapor bahwa ada seseorang yang telah merobohkan dan menawan enam orang anggauta kita di kedai arak dusun bawah sana."

Kerut di antara mata Seng Bu semakin mendalam dan matanya mencorong marah.

"Hemmm, muncul seorang pengacau saja kalian tidak mampu membereskannya sendiri dan masih melapor kepada kami?"

"Maaf, Pangcu. Mula-mula, dua orang anggauta kita bersama seorang teman anggauta Pat-kwa-pai dan seorang anggauta Pek-lian-kauw minum di kedai itu, bertemu dengan si pengacau yang merobohkan dua orang anggauta kita, akan tetapi hanya melukai dua orang tosu sahabat dan membiarkan mereka pergi. Dua orang anggauta Thian-li-pang itu ditawannya di kedai. Kemudian, lima orang saudara tua kami turun lereng untuk memberi hajaran. Akan tetapi, empat orang di antara mereka roboh dan ditawan, seorang dapat melarikan diri melapor dan menurut laporannya, empat orang saudara tua itu dalam segebrakan saja roboh oleh pengacau yang bercaping lebar itu."

"Hemmm....!"

Ouw Seng Bu diam-diam terkejut.

Yang disebut saudara tua adalah para anggauta yang tingkatnya sejajar dengannya, yaitu murid atau murid keponakan mendiang Lauw Kang Hui.

Kalau empat orang di antara mereka roboh dengan mudah oleh pengacau itu, dapat dibayangkan betapa lihainya orang itu.

"Ah, siapa berani melukai anggauta Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?"

Seru Im Yang-ji, tokoh Pat-kwa-pai dengan marah.

Dia sudah mulai mabuk maka mudah sekali panas hati mendengar bahwa seorang anak buahnya dilukai orang.

"Toyu, kita harus menghajar orang itu!"

Katanya kepada dua orang tosu Pek-lian-kauw. Kui Thian-cu mengangguk dan bangkit berdiri, memberi hormat kepada Seng Bu sambil berkata.

"Pangcu, biarlah kami berempat yang menghajar orang itu dan menyeretnya ke sini agar Pangcu dapat menghukumnya. Pangcu tidak perlu marah-marah dan terganggu makan, minum. Sebaiknya, Pangcu, Nona dan Siangkoan Lo-cian-pwe melanjutkan makan minum. Kami berempat akan segera kembali menyeret si pengacau itu."

Ouw Seng Bu mengangguk dan bangkit berdiri membalas penghormatan empat orang tosu itu.

"Kalau Cu-wi hendak menghajar si pengacau yang telah melukai anggauta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, silakan dan harap jangan membunuhnya karena saya ingin melihatnya dan menanyainya mengapa dia berani memusuhi kita."

Empat orang tosu itu mengangguk dan ke luar dari ruangan itu dengan langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Ouw Seng Bu menoleh kepada Cu Kim Giok sambil tersenyum.

"Aih, ada-ada saja. Sayang sekali masih terdapat orang-orang yang tidak menghargai perjuangan kita sehingga mereka itu bukan mem-bantu kita, bahkan memusuhi kita dan rela menjadi antek penjajah Mancu. Siapa tidak akan merasa menyesal kalau orang-orang pandai yang termasuk golongan pendekar, seperti Sin-ciang Tai-hiap Yo Han itu, membiarkan dirinya menjadi anjing penjilat dan antek penjajah Mancu"

"Sangat menyakitkan hati memang!"

Kata Siangkoan Kok sambil menuangkan arak dari cawan ke dalam mulutnya.

"Bahkan para pendekar dari keluarga pendekar terbesar di dunia persilatan, rela mengekor kepada penjajah Mancu. Harap maafkan aku, nona Cu. Selama ini, aku belum pernah mendengar keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman menjadi antek Mancu walaupun hubungan keluargamu dekat sekali dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Dua keluarga pendekar itu sejak dahulu membantu penjajah Mancu, sungguh mengecewakan sekali. Apakah mereka tidak tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa liar yang menjajah tanah air dan bangsa? Kita berjuang untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, dan mereka tidak membantu kita malah memusuhi kita!"

Wajah Kim Giok berubah agak kemerahan.

Selain pengaruh arak, juga hatinya tersentuh.

Ia telah jatuh cinta kepada Ouw Seng Bu dan merasa yakin akan kebenaran pemuda itu, akan kemurnian perjuangan melawan penjajah, dan ia pun tahu bahwa di antara keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, memang terdapat hubungan yang akrab dengan kerajaan Mancu, bahkan ada pertalian hubungan darah.

Biarpun ayah ibunya tidak pernah memusuhi kerajaan Mancu secara berterang, akan tetapi juga mereka tidak pernah menjadi pembantu langsung atau pejabat.

Akan tetapi, harus diakui bahwa keluarga orang tuanya dekat dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir.

Kini pandangannya kepada Siangkoan Kok juga berubah.

Kakek ini adalah seorang pejuang sejati, pikirnya, seperti juga Seng Bu, walaupun kakek ini berwatak keras dan aneh, tidak seperti Seng Bu (Lanjut ke

Jilid 14) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 yang halus dan tampan.

"Biarpun, keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir tidak memusuhi kita secara terang-terangan, namun mereka tidak mau bersatu dengan kita untuk menghancurkan penjajah. Kita harap saja nona Cu akan dapat membujuk mereka dan membuka mata mereka betapa pentingnya perjuangan menentang penjajah. Yang kukhawatirkan hanyalah satu orang saja yaitu Sin-ciang Tai-hiap...."

"Hemmm, orang itu memang berbahaya dan dia pun telah menjadi antek penjajah. Bahkan dia bergaul akrab sekali dengan seorang pangeran Mancu, yaitu Pangeran Cia Sun."

Kata Siangkoan Kok yang lalu menceritakan dengan singkat betapa Yo Han dan Pangeran Cia Sun pernah menyelundup ke dalam perkumpulannya, Pao-beng-pai sehingga mengakibatkan perkumpulannya itu dihancurkan pasukan pemerintah.

"Jelas bahwa pasukan itu dibawa datang oleh Yo Han dan Cia Sun yang bekerja sebagai mata-mata,"

Katanya.

"Yo Han memang harus dibasmi. Dia pun merupakan ancaman bagi Thian-li-pang, karena dia pernah diangkat oleh men-diang suhu Lauw Kang Hui sebagai pemimpin Thian-li-pang. Dia dapat sewaktu-waktu muncul di sini dan menggunakan hak kekuasaannya untuk mengubah Thian-li-pang, dari perkumpulan pejuang menjadi perkumpulan pengekor kerajaan Mancu."

Kata Seng Bu penasaran.

"Biarpun dia datang. Kita sambut dia dengan pedang aku akan membantumu menundukkannya, Pangcu."

Kata Siangkoan Kok yang masih merasa sakit hati kalau teringat kepada Yo Han dan Cia Sun yang dianggap menjadi penyebab kehancuran Pao-beng-pai.

"Akan tetapi, dia lihai bukan main, paman Siangkoan,"

Kata Seng Bu.

"Sebaiknya kalau kita menggunakan siasat untuk menundukkannya, dan kuharap Paman dan juga nona Cu suka memban-tuku untuk menundukkannya kalau dia berani datang di sini."

"Tentu saja aku akan membantumu, Pangcu,"

Kata Kim Giok tanpa ragu lagi, Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang yang jahat, pikirnya, telah mengkhianati Thian-li-pang, membunuh ketua Thian-li-pang, bahkan bergaul dengan Pangeran Cia Sun dari kerajaan Mancu.

Yo Han telah membunuh banyak tokoh Thian-li-pang dan orang sejahat itu memang harus ditentang.

"Kalau perlu, kita minta bantuan tenaga ketua Pek-lian-kauw dan ketua Pat-kwa-pai,"

Kata Siangkoan Kok yang diam-diam juga merasa jerih terhadap Sin-ciang Tai-hiap.

"Memang aku sudah mempunyai rencana, dan sudah mengirim surat kepada mereka,"

Kata Seng Bu.

Mereka melanjutkan makan minum dan merasa yakin bahwa dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat kwa-pai tadi akan mampu membereskan kerusuhan dan menyeret pengacaunya ke markas Thian-li-pang.

Empat orang tosu itu memasuki rumah makan dengan hati-hati, dan di belakang mereka nampak dua belas orang anggauta Thian-li-pang tingkat tertinggi, siap dengan pedang di tangan.

Ketika mereka memasuki pintu depan rumah makan, Kui Thian-cu tokoh Pek-lian-kauw yang memimpin rombongan.

itu, memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.

Tadi dia sudah merundingkan dengan Im-yang-ji dan dua orang tosu lain untuk mempermainkan pengacau yang berada di rumah makan itu dengan mempergunakan kekuatan sihir.

Kini, mereka berempat mengerahkan kekuatan sihir, mempersatukan kekuatan mereka, mulut mereka berkemak-kemik membaca mantram, mata mereka memandang ke arah caping yang menutupi kepala dan muka Yo Han, kemudian mereka menudingkan telunjuk kanan ke arah caping itu.

Kui Thian-cu yang menjadi juru bicara mereka berempat, segera berkata dengan suara bergema dan mengandung kekuatan sihir.

"Caping yang berada di atas kepala pengacau, terbanglah ke sini!"

Para anggauta Thian-li-pang yang bergerombol di luar pintu rumah makan itu terbelalak heran dan kagum melihat betapa caping yang menutupi kepala orang yang duduk membelakangi mereka di sudut itu tiba-tiba saja terbang melayang ke atas meninggalkan kepala itu, dan empat orang tosu itu sudah siap untuk mentertawakan Yo Han.

Akan tetapi wajah mereka yang tadinya menyeringai itu berubah seketika ketika caping yang melayang ke atas itu kini menyambar ke arah mereka seperti peluru yang berputar-putar mengeluarkan suara berdesing!

Tentu saja mereka terkejut bukan main dan mereka cepat mengelak.

Caping itu seperti berubah menjadi seekor burung elang yang menyambar-nyambar kepala mereka sehingga mereka sibuk berloncatan ke sana-sini.

Akhirnya, setelah gagal memperoleh korban caping itu melayang kembali ke arah kepala pemiliknya dan hinggap di atas kepala seperti burung terbang kembali ke sarangnya!

Kini empat orang tosu itu saling pandang, maklum bahwa pemilik caping itu telah mempermainkan mereka dan bahwa kekuatan sihir mereka tadi sama sekali tidak berhasil!

Kui Thian-cu yang melihat betapa ruangan itu terlalu sempit dan banyak terhalang meja dan bangku sehingga kawan-kawannya tidak akan leluasa untuk mengeroyok lawan yang agaknya amat lihai ini, segera membentak.

"Orang bercaping sombong! Engkau berani melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw. Kalau engkau memang berkepandaian, dan bukan seorang pengecut, keluarlah dan mari kita mengadu kepandaian di luar yang luas! Kalau engkau tidak mau keluar, kami akan membakar rumah ini!"

Setelah berkata demikian, Kui Thian-cu memberi isyarat dan bersama teman-temannya, dia pun melangkah keluar dan menanti di luar rumah makan.

Mendengar ucapan yang bernada mengancam itu, pemilik kedai dan puterinya menjadi ketakutan, nekat keluar dari persembunyian mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han.

"Tai-hiap.... tolonglah.... harap Tai-hiap keluar dari sini dan berkelahi diluar saja....jangan sampai rumah kami dibakar....!"

Juga enam orang anggauta Thian-li-pang yang masih meringkuk di sudut ruangan itu dan tidak berani bergerak, menjadi pucat ketakutan.

Mereka sejak tadi takut pergi dari situ, takut kalau dirobohkan lagi oleh si caping lebar yang amat lihai.

Akan tetapi sekarang ada ancaman dari tosu tadi, kalau mereka diam saja di situ, tentu mereka akan ikut terbakar!

Yo Han tentu saja tidak ingin merugikan si pemilik rumah makan, tanpa men-jawab dia pun menyambar buntalan pakaiannya, menggendong buntalan pakai-annya, mengeluarkan sepotong emas dan melemparkannya ke atas meja.

"Ini untuk pengganti semua kerugianmu, Paman,"

Katanya sambil melangkah keluar perlahan-lahan.

Tentu saja ayah dan anak itu terkejut dan gembira bukan main.

Pemberian itu puluhan kali lebih banyak daripada kerugian yang mereka derita.

Sementara itu, ketika si caping lebar melangkah lambat-lambat keluar dari rumah makan, empat orang tosu dan selosin anggauta Thian-li-pang memandang dengan hati tegang.

Yo Han melangkah dengan muka ditundukkan sehingga mereka belum dapat melihat wajahnya.

Setelah tiba di depan empat orang tosu itu, Yo Han berhenti melangkah.

"Heiii, orang asing!"

Bentak Kui Thian-cu marah.

"Siapakah engkau dan apa pula sebabnya engkau melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-liankauw?"

Tanpa mengangkat mukanya yang menunduk dan tertutup caping, Yo Han menjawab, suaranya terdengar dingin.

"Sejak dahulu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw adalah penjahat-penjahat yang berkedok perjuangan, tidak aneh kalau hari ini mereka melakukan kejahatan. Akan tetapi, Thian-li-pang adalah pejuang-pejuang sejati, sekarang anak buahnya menyeleweng, patut disesalkan dan dibuat penasaran!"

"Keparat, enak saja engkau membuka mulut! Perlihatkan mukamu, atau engkau begitu pengecut untuk memperkenalkan diri?"

"Kui Thian-cu, aku bukan orang asing bagimu,"

Kata Yo Han dan kini dia mengangkat mukanya sehingga sekilas nampak wajahnya, akan tetapi dia sudah menunduk kembali.

Mereka yang sudah mengenalnya, terkejut, termasuk Kui Thian-cu.

"Ah, kiranya Sin-ciang Tai-hiap? Sejak kapan engkau memusuhi Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?"

"Kui Thian-cu, aku tidak memusuhi siapapun, akan tetapi akan menghajar siapa saja yang berbuat jahat. Anak buah Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai melakukan kejahatan bersama anak buah Thian-li-pang yang menyeleweng, maka kuhajar mereka. Pergilah dan jangan mencampuri urusanku dengan Thian-li-pang, ini merupakan urusan dalam Thian-li-pang sendiri."

Akan tetapi Kui Thian-cu sudah marah sekali, apalagi memang dia tahu bahwa ketua Thian-li-pang, sekutunya, harus membunuh orang ini yang merupakan ancaman bagi perkumpulan itu.

"Serang dan bunuh dia!"

Bentaknya dan dia pun sudah menggerakkan pedangnya, diikuti Im Yang-ji dan dua tosu lain yang sudah mencabut pedang.

Yo Han dikeroyok empat orang tosu!

Yo Han bergerak cepat, tubuhnya berkelebatan dan menyelinap di antara gulungan sinar empat batang pedang itu.

Sementara itu, selosin anak buah Thian-li-pang tadi terkejut bukan main ketika melihat wajah Yo Han.

Akan tetapi, mereka semua telah menjadi anak buah Ouw Seng Bu dan mereka sudah ikut melakukan penyelewengan, maka tentu saja mereka pun tidak menghendaki Yo Han yang berkuasa di Thian-li-pang karena hal itu akan berarti hilangnya semua kesenangan yang selama ini mereka peroleh semenjak Seng Bu menjadi ketua.

Maka, mereka pun serentak ikut mengeroyok!

Seorang di antara mereka diam-diam sudah lari naik ke lereng bukit untuk melapor kepada ketuanya.

Ketika dia tiba di pusat, Thian-li-pang, Ouw Seng Bu yang menjamu Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok, baru saja selesai makan minum.

"Celaka, Pangcu. Sin-ciang Tai-hiap Yo Han telah muncul. Dialah orang yang mengacau tadi!"

Anggauta itu melapor dengan suara gemetar.

Mendengar ini, Ouw Seng Bu me-loncat bangkit dan dia nampak gugup.

Akan tetapi, melihat Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok di situ, dia menenangkan diri.

"Di mana dia sekarang?"

"Dia berada di luar rumah makan, dikeroyok oleh keempat orang tosu dan sebelas orang anggauta kita, Pangcu. Saya lari pulang untuk melapor kepada Pangcu."

Ouw Seng Bu yang amat cerdik itu bertindak cepat sekali.

"Paman Siangkoan Kok, harap Paman tidak mem-perlihatkan diri kepada Yo Han dan bersembunyi di dalam kamar Paman. Nona Cu, harap engkau beristirahat di dalam kamarmu sampai nanti aku memberitahukan segalanya kepadamu. Aku akan menghadapi Yo Han dan menerimanya dengan baik-baik untuk mencegah jatuhnya banyak korban."

Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok mengangguk dan mereka pergi ke kamar masing-masing yang sudah diberikan kepada mereka sejak mereka tiba di situ.

Ouw Seng Bu cepat mengumpulkan anak buahnya dan dengan tegas memesan agar mereka semua memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada Yo Han dan bersikap seperti dahulu agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Pendekar Tangan Sakti.

Kemudian, dia menuju ke kamar Cu Kim Giok dan mengetuk daun pintunya.

Setelah Cu Kim Giok muncul, Ouw Seng Bu berkata.

"Nona Cu, sekarang saatnya engkau membantuku. Aku ingin menalukkan Yo Han tanpa mendatangkan banyak korban, dan aku akan berpura-pura tidak tahu bahwa dia yang telah menyebar pembunuhan di sini. Engkau bersikaplah sebagai seorang tamuku, seorang sahabat baikku...."

"Tapi, apa manfaatnya kehadiranku...."

"Banyak sekali, Nona. Engkau akan menimbulkan kepercayaan di hatinya bahwa kita tidak mempunyai maksud tertentu terhadap dirinya. Kalau melihat engkau sebagai tamuku, pasti dia akan percaya kepadaku. Marilah, Nona, aku.... sungguh aku membutuhkan pertolonganmu. Ataukah.... engkau begitu tega tidak mau membantuku?"

Ouw Seng Bu.

Sudah dapat melihat selama dia bergaul dengan Kim Giok bahwa gadis itu pun membalas perasaan hatinya, bahwa.

gadis itu pun jatuh cinta kepadanya, maka dia mempergunakan sikap lunak dan menarik rasa iba gadis itu.

Dia berhasil, Cu Kim Giok mengangguk.

"Baiklah, Pangcu. Aku akan, membantumu."

"Engkau tidak perlu bicara atau berbuat apa pun, hanya mengaku saja bahwa engkau menjadi sahabatku. Nah, aku tidak ingin menyuruhmu berbuat jahat atau berbohong bukan?"

Mereka berdua segera berlari cepat menuruni lereng bukit dan ketika mereka memasuki dusun dan tiba di depan kedai arak, mereka berdua tertegun.

Apa yang telah terjadi?

Yo Han dikeroyok oleh empat orang tosu lihai dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, juga oleh sebelas orang murid Thian-li-pang tingkat atas.

Para pengeroyok itu semua menggunakan pedang sedangkan Yo Han bertangan kosong!

Akan tetapi, tubuhnya yang dapat dibuat ringan seperti bayangan itu berkelebatan di atas belasan batang pedang dan setiap kali terbuka kesempatan, Begitu kaki atau tangannya bergerak menyambar, tentu seorang pengeroyok dapat dirobohkan!

Dia mengenal gerakan silat orang-orang Thian-li-pang, mengenal cakar beracun mereka, maka dengan mudah dia dapat mengenal bagian lemah mereka sehingga setiap kali dia menggerakkan tangan atau kaki, seorang anggauta Thian-li-pang terjung-kal.

Dia tidak mau membunuh mereka, hanya merobohkan dan membuat mereka tidak mampu bangkit kembali karena patah tulang atau menotok mereka sehingga tidak mampu bergerak kembali.

Akhirnya, sebelas orang Thian-li-pang roboh tak dapat bangkit kembali dan tinggal dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat-kwa-pai saja yang masih mengeroyoknya dengan serangan membabi-buta karena sejak tadi, serangan pedang mereka tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu.

"Orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, kalian pergilah. Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian dan jangan mencampuri utusan kami orang-orang Thian-li-pang!"

Dua kali Yo Han menegur dan menyuruh mereka pergi. Ketika empat orang itu terus mengamuk tanpa mempedulikan kata-katanya, Yo Han menjadi marah.

"Kalian ini orang-orang bandel yang pantas menerima hajaran!"

Dia pun bergerak cepat, menggunakan ilmu silat Bu-kek Hoat-keng dan angin berpusing cepat sekali, Membuat empat orang tosu itu ikut terputar dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, pedang mereka beterbangan lepas dari tangan dan mereka pun seperti dilontarkan tenaga yang amat kuat, terlempar dan terbanting sampai beberapa meter jauhnya!

Agaknya Si Tangan Sakti memang tidak ingin membunuh mereka sehingga mereka hanya terbanting keras tanpa menderita luka parah.Pada saat mereka terbanting itulah, Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok menuruni lereng.

Ouw Seng Bu mengenal gerakan Yo Han itu.

Dia pun merasa sanggup bergerak menimbulkan angin berpusing seperti itu seperti yang pernah dia pelajari dalam sumur!

Empat orang tosu mendapat hati ketika melihat Seng Bu.

Mereka dengan muka meringis kesakitan karena pinggul mereka tadi terbanting keras, bangkit menyongsong kedatangan Seng Bu.

"Pangcu...."

Kata mereka, akan tetapi Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat.

"Harap To-tiang berempat suka memaafkan kami dan meninggalkan tempat ini. Biarkan kami menyelesaikan urusan dalam Thian-li-pang."

Empat orang tosu itu merasa heran, akan tetapi karena mereka sudah maklum bahwa ketua baru itu tentu akan menggunakan siasat, mereka pun memberi hormat,dan pergi dari tempat itu tanpa banyak cakap lagi.

Kini Seng Bu berdiri berhadapan dengan Yo Han dan keduanya saling pandang.

"Kira-nya Sin-ciang Tai-hiap yang datang! Harap maafkan siauwte dan para anggauta Thian-li-pang yang tidak tahu akan kedatangan Tai-hiap dan tidak sempat menyambut seperti mestinya."

Dia memberi hormat. Yo Han mengerutkan alisnya, memandang penuh selidik. Dia tadi mendengar Kui Thian-cu menyebut "pangcu"

Kepada pemuda tampan ini! Dengan sikap tenang namun suaranya tegas dan menyelidik, Yo Han berkata.

"Wajahmu tidak asing bagiku. Bukankah engkau seorang di antara para murid suheng Lauw Kang Hui? Kenapa tosu tadi menyebutmu sebagai pangcu? Di mana suheng Lauw Kang Hui dan apa yang terjadi dengan Thian-li-pang? Mengapa bersahabat dengan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan mengapa pula ada murid Thian-li-pang yang dapat melakukan kejahatan di dusun ini?"

Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, Seng Bu merasa seperti dihujani serangan yang berbahaya. Dia memberi hormat lagi.

"Tai-hiap, banyak sekali hal-hal yang amat hebat telah terjadi di tempat kita. Suhu.... suhu telah....mati dibunuh orang.... dan aku terpaksa untuk sementara mewakili dan diangkat menjadi pangcu karena tidak ada orang lain yang dapat memegang kedudukan itu sebagai pemimpin sementara. Suhu Lauw-Kang Hui dibunuh orang, demikian pula suci Lauw Sek, suheng Lauw Kin, susiok Su Kian den susiok Thio Cu. Semua tewas dibunuh orang...."

"Ahhh??"

Yo Han benar-benar merasa terkejut.

"Siapakah yang membunuh mereka?"

"Panjang ceritanya, Taihiap. Marilah, kita naik ke tempat kita dan di sana nanti aku menceritakan semuanya. Banyak sekali rahasia tersembunyi di balik semua peristiwa yang mengerikan itu, Taihiap."

Yo Han masih mengerutkan alisnya, akan tetapi dia mengangguk dan ketika mereka mulai mendaki bukit dan melihat gadis manis yang datang bersama Ouw Seng Bu ikut pula mendaki, dia berhenti dan ber-tanya.

"Nanti dulu, siapakah Nona ini?"

"Taihiap, Nona ini adalah nona Cu Kim Giok, ia seorang sahabat baikku dan sekarang menjadi tamu terhormat di Thian-li-pang. Ia bukan gadis sembarangan, Taihiap. Kuyakin Taihiap pernah mendengar tentang keluarga majikan Lembah Naga Siluman, yaitu keluarga Cui Nah, Nona ini adalah puteri dari pendekar besar Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman."

"Ahhh, kiranya Nona dari keluarga yang terkenal itu,"

Kata Yo Han sambil memberi hormat. Kim Giok cepat membalas penghormatan itu.

"Harap Yo-taihiap tidak bersikap merendah. Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Taihiap. Sayang dalam pertemuan tiga keluarga besar di rumah Paman Suma, Ceng Liong di Hong-oun, Taihiap tidak ikut hadir."

Yo Han tersenyum dan sejenak mamandang gadis itu penuh selidik.

"Jadi engkau adalah sahabat baik dari.... eh, ketua Thian-li-pang ini?"

"Benar, dan baru beberapa hari aku menjadi tamu dari Thian-li-pang."

"Taihiap agaknya sudah lupa kepadaku. Aku murid termuda dari mendiang suhu Lauw Kang Hui, namaku Ouw Seng Bu,"

Ketua itu memperkenalkan diri. Yo Han mengangguk-angguk.

"Ya, aku sekarang teringat. Jadi semua murid tertua dari suheng Lauw Kang Hui telah dibunuh orang?"

Diam-diam Cu Kim Giok mengerling dan mengamati wajah pendekar itu.

Menurut cerita yang didengarnya dari.

Seng Bu, orang inilah yang membunuh Lauw Kang Hui dan para muridnya.

Apakah sekarang dia berpura-pura?

Ataukah ada rahasia lain di balik pembunuhan itu dan pembunuh-nya bukan Sin-ciang Tai-hiap melainkan orang lain?

Wajah tampan dengan sinar mata tajam mencorong itu sukar diduga apa yang terkandung dalam hatinya.

"Taihiap, nanti saja akan kuceritakan semua setelah kita tiba di rumah."

Kata Seng Bu dan Yo Han mengangguk.

Mereka lalu mendaki lereng bukit dan ketika mereka tiba di pintu gerbang perkampungan Thian-li-pang, para murid Thian-li-pang menyambut mereka dengan sikap meriah dan gembira.

"Sin-ciang Tai-hiap telah datang!"

Demikian mereka berteriak dan bersorak sambil memberi hormat.

Yo Han menerima penyambutan itu dengan senyum, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran bukan main.

Betapa jauh bedanya antara sikap, para anggauta Thian-li-pang yang berada di perkampungan ini dengan mereka yang tadi berada di dusun!

Seolah tidak wajar lagi!

Setelah mereka memasuki ruangan dalam, Seng Bu berkata kepada Cu Kim Giok.

"Nona Cu, maafkan saya, harap Nona suka beristirahat dan meninggalkan kami berdua untuk membicarakan soal perkumpulan kami."

Cu Kim Giok mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu.

Seng Bu menutup pintu ruangan itu, kemudian dia pun mempersilakan Yo Han untuk duduk.

Yo Han duduk dan menghela napas panjang.

"Nah, sekarang ceritakanlah semua. Apa yang telah terjadi di sini? Ceritakan semua dengan jelas."

Tiba-tiba Ouw Seng Bu menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han sambil menangis! Yo Han mengerutkan alisnya dan menegur dengan tegas.

"Ouw Seng Bu, sikapmu ini sungguh memalukan sekali! Engkau telah ditunjuk sebagai ketua, akan tetapi anak buah Thian-li-pang menyeleweng, Thian-li-pang mengadakan persekutuan dengan partai-partai sesat seperti Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, dan sekarang engkau menangis seperti anak kecil atau seperti wanita lemah, yang cengeng. Engkau tidak patut menjadi ketua Thian-li-pang!"

"Yo-taihiap, harap maafkan dan kasihanilah saya! Saya terpaksa menjadi ketua karena tidak ada orang lain lagi. Hanya sayalah satu-satunya murid mendiang suhu yang dianggap paling kuat. Akan tetapi, setelah suhu dan para susiok dan suheng tewas, saya menjadi bingung dan tidak dapat mengendalikan semua murid, tidak dapat mencegah kalau ada yang melakukan penyelewengan. Mereka itu condong untuk mem-berontak dan saya tidak berdaya menghadapi mereka. Juga saya tidak berani menolak ketika Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw melakukan pendekatan, takut kalau-kalau mereka akan memusuhi kami. Sekarang Tai-hiap telah pulang, maka saya menyerahkan kepada Tai-hiap untuk mengatur kembali perkumpulan kita ini."

"Sudahlah, duduklah dan sekarang ceritakan apa yang terjadi dan bagaimana suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain sampai dibunuh orang, dan siapa pembunuh mereka itu."

Seng Bu duduk dan menghapus air matanya.

"Peristiwa yang terjadi itu amat mengerikan dan penuh rahasia, Yo-taihiap. Kami hanya melihat ada bayangan hitam yang menangkap mereka seorang demi seorang dan membawa mereka masuk ke dalam sumur tua itu. Dan setelah mereka itu dibawa masuk sumur, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya dan kami semua menganggap bahwa mereka tentu telah tewas terbunuh."

"Hemmm, siapakah bayangan hitam itu?"

Yo Han bertanya, alisnya berkerut, penasaran sekali.

"Itulah yang membuat kami semua penasaran, Tai-hiap. Tak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat baya-ngan hitam seperti setan, menangkap mereka dan membawa loncat ke dalam sumur. Tentu saja peristiwa itu membuat semua anggauta menjadi panik dan ketakutan, dan untuk meredakan kepanikan mereka, terpaksa saya untuk sementara menggantikan kedudukan suhu dan memimpin mereka."

"Akan tetapi, kenapa kalian tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikit apa yang terjadi di sana? Siapa tahu suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain belum tewas?"

Seng Bu kelihatan terkejut dan ketakutan.

"Maafkan kami, Yo-taihiap. Tentu saja kami juga berpikir demikian, mengharapkan mereka belum tewas dan sewaktu-waktu akan muncul keluar. Akan tetapi, untuk menyelidikinya, untuk memasuki sumur tua itu, siapa yang berani?"

"Tidak berani? Aih, tak kusangka orang-orang Thian-li-pang berubah menjadi penakut dan pengecut!"

Lalu sambil menatap tajam wajah Seng Bu dia melanjutkan.

"Dan engkau sendiri, yang telah menerima menjadi ketua, kenapa engkau tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikinya?"

Seng Bu menundukkan mukanya.

"Maafkan kami semua, Yo-taihiap. Sebetulnya kami ingin sekali, akan tetapi kami takut. Kalau suhu dan para susiok, suci dan suheng sendiri tidak berdaya dibawa masuk ke sumur oleh bayangan hitam itu, lalu bagaimana mungkin kami akan mampu menandinginya? Memasuki sumur berarti mati konyol, dan kami semua, tidak berani."

Yo Han menghela napas panjang, teringat akan mendiang kakek Ciu Lam Hok.

Gurunya itu adalah seorang yang gagah perkasa, bahkan kedua orang paman gurunya, mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, biarpun keduanya menyeleweng dari jalan kebenaran, tetap saja mereka berdua adalah orang-orang yang gagah perkasa.

Demikian pula murid mereka, Lauw Kang Hui, memiliki keberanian dan kegagahan.

Akan tetapi bagaimana sekarang para murid Thian-li-pang begitu penakut dan pengecut?

Gurunya berpesan agar dia mengawasi Thian-li-pang dan mengusahakan agar Thian-li-pang pulih kembali menjadi perkumpulan besar yang berjiwa pahlawan pembela nusa bangsa.

"Sudah berapa lamakah peristiwa hilangnya suheng Lauw Kang Hui ke dalam sumur tua itu terjadi?"

"Sudah kurang lebih tiga bulan, Yo taihiap."

Yo Han merasa penasaran dan khawatir.

Kalau sampai tiga bulan mereka tidak keluar dari dalam sumur tua itu, kecil sekali harapannya mereka masih hidup.

Akan tetapi, mati atau hidup mereka itu, dia harus mengetahui dengan pasti.

"Baik, kalau begitu biar aku sendiri yang akan memasuki sumur itu dan melakukan penyelidikan."

Yo Han berkata. Ouw Seng Bu memandang dengan mata terbelalak.

"Akan tetapi, Tai-hiap. Itu berbahaya sekali!!"

Yo Han tersenyum.

"Seorang gagah tidak gentar menempuh bahaya, asal itu dilakukan demi kebaikan. Lupakah engkau akan pelajaran kegagahan dari Thian-li-pang?"

"Be.... benar, Tai-hiap. Akan tetapi.... sumur tua itu penuh rahasia dan menyeramkan, tentu banyak iblis menjadi penghuninya di sana dan tak seorang pun berani memasukinya. Saya takut kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Taihiap...."

"Mati hidup di tangan Tuhan. Aku tidak minta ditemani siapapun kalau memang kalian takut. Biar aku sendiri yang masuk dan kalian berjaga di luar sumur raja. Sediakan sehelai tali yang kuat dan panjang, sekaran juga aku akan memasuki sumur menyelidiki keadaan suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain."

"Baik, Taihiap."

"Dan mulai saat ini, Thian-li-pang harus memutuskan hubungan dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw. Para murid dilarang bergaul dengan mereka, dan kalau ada yang melanggar, akan dihukum berat. Dua orang anggauta Thian-li-pang yang membuat kerusuhan di rumah makan, harus dihukum kurung selama sepekan. Nah, laksanakan!"

"Baik, Taihiap."

Ouw Seng Bu membuka daun pintu dan berseru memanggil pembantunya.

Para murid kelas tertinggi dari Thian-li-pang datang berlarian dan berkumpul di luar pintu ruangan itu.

Seng Bu lalu berkata dengan suara lantang kepada mereka.

"Seluruh anggauta agar bersiap-siap dan berkumpul di dekat sumur tua dan sediakan sehelai tambang yang kuat dan panjang. Sin-ciang Tai-hiap sendiri akan turun ke dalam sumur melakukan penyelidikan sekarang juga!"

Terdengar seruan-seruan kaget di antara para anggauta Thian-li-pang, akan tetapi mereka segera menanti perintah ketua mereka dan diantar oleh Ouw Seng Bu pergi ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang dan tiba di dekat sumur tua.

Sumur pertama yang pernah menjadi tempat tahanan kakek Ciu Lam Hok yang berada di tempat itu juga, tidak terlalu jauh dari situ, telah ditutup dengan batu-batu sehingga tidak nampak lagi lubangnya.

Sumur ke dua ini lebih besar, juga amat dalam karena kalau dijenguk dari atas, tidak nampak dasarnya, hanya gelap menghitam.

Sebetulnya, tanpa tambang sekalipun Yo Han akan mampu menuruni sumur itu dengan merayap, akan tetapi lebih mudah menggunakan tali, juga untuk naik kembali, mudah kalau ada talinya.

Hampir seratus orang anggauta Thian-li-pang sudah berkumpul di tempat itu, mengelilingi sumur tua, wajah mereka tegang.

Seorang di antara mereka menyerahkan segulungan tali yang kuat dan panjang kepada Ouw Seng Bu.

"Tai-hiap, apakah tali ini memenuhi syarat?"

Tanya Seng Bu sambil memperlihatkan tali itu kepada Yo Han.

Yo Han menerima gulungan tali, kemudian melepas ujungnya ke dalam sumur setelah ujung itu diikatkan kepada sebongkah batu.

Ternyata sumur itu dalam sekali dan sampai lama barulah batu di ujung tali tiba pada dasar sumur dan tali itu memng cukup panjang dan kuat.

Setelah batu tiba pada dasar sumur dan tali mengendur, masih ada sisa tiga empat meter, Yo Han melibatkan sisa tali itu pada sebatang pohon dekat sumur, lalu menyerahkan ujungnya kepada Seng Bu.

"Jaga dan pegangi ujung tali ini, aku akan segera turun ke bawah. Kalau aku sudah memberi tanda tarikan tiga kali pada tali kau boleh tarik aku keluar."

"Baik, Yo-taihiap. Harap Taihiap berhati-hati, siapa tahu ada bahaya mengintai di bawah sana."

Kata Seng Bu.

"Jangan khawatir, aku sudah siap menghadapi apa saja,"

Kata Yo Han.

Setelah berkata demikian, Yo Han menuruni sumur malalui tali yang ujungnya dipegang oleh Seng Bu, bagaikan seekor monyet saja, dengan cekatan dia menuruni tali itu, waspada memperhatikan ke bawah karena dia maklum bahwa seperti yang dikatakan Ouw Seng Bu tadi, mungkin di bawah sana mengintai bahaya yan mengancam keselamatannya.

Sama sekali Yo Han tidak pernah mengira bahwa bahaya mengintai dari atas, bukan dari bawah!

Tadi dia telah menduga bahwa sumur ituu menyerong, yaitu ketika dia mengulur tali yang ujungnya digantungi batu.

Batu itu tadi menyentuh dinding sumur dan menggelinding ke bawah, tidak lagi tergantung bebas.

Itu berartu bahwa sumur itu menyerong, tidak lurus ke bawah.

Kini ternyata memang benar.

Tubuhnya menyentuh dinding sumur yang kasar dan dia merayap terus.

Dan nampaklah sinar dari samping, yang tidak nampak dari atas karena letaknya yang menyerong itu.

Dan begitu kakinya menyentuh lantai batu, dia pun melihat lima sosok mayat yang sudah tinggal tulang dibungkus pakaian yang robek-robek.

Lima orang!

Dia teringat akan keterangan Ouw Seng Bu yang menceritakan bahwa yang dibawa masuk ke dalam sumur oleh bayangan hitam adalah Lauw Kang Hui, Su Kian, Thio Cu, Lauw Kin dan Lu Sek.

Lima orang tokoh Thian-li-pang telah benar-benar tewas di dasar sumur!

Akan tetapi kedudukan lima sosok mayat itu bertumpuk, nampaknya seperti dilemparkan dari atas!

Dia menghampiri mayat-mayat itu.

Sudah tidak dapat dikenal lagi, apalagi diselidiki sebab kematian mereka.

Juga tempat itu hanya remang-remang, terlalu gelap untuk dapat memeriksa dengan teliti.

Dia harus memeriksa ke dalam sana.

Mungkin si pembunuh masih berada di dasar sumur yang ternyata dasarnya merupakan terowongan berbatu-batu.

Dia pun melepaskan tali yang tadi masih dipegangnya, lalu berindap-indap memasuki lorong penuh batu-batu besar itu.

Kalau benar ada orangnya, mungkin bersembunyi di balik batu besar.

Dia sudah siap kalau-kalau ada serangan gelap dari dalam.

Tidak ada penyerangan, tidak ada gerakan apa pun dari dalam.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara bersiutan dari atas.

Yo Han terkejut melihat tali yang dipakai turun tadi kini menyambar turun seperti seekor ular yang panjang sekali!

Tali itu dilepas dari atas!

Sejenak dia tertegun karena heran dan kaget, akan tetapi cepat dia menarik tali itu karena dalam sekejap mata dia yakin bahwa tali itu akan ada gunanya baginya.

Dia masih belum dapat menduga mengapa Ouw Seng Bu melepaskan tali itu.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas yang bergema ke bawah dan dia terkejut.

Itulah suara Ouw Seng Bu dan dia tahu bahwa orang yang dapat melepas suara tawa mengandung khikang amat kuat seperti itu tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Suara tawa itu disusul sorak-sorai dan tiba-tiba saja terjadi hujan batu dari atas sumur!

Yo Han melompat lebih dalam, lagi dan cepat dia mendorong sebuah batu besar sekali ke depan terowongan sehingga hujan batu itu tidak menggelundung ke dalam terowongan melainkan tertahan oleh batu besar dan terus bertumpuk menutupi lubang sumur!

Kini mengertilah dia.

Ouw Seng Bu dan para anggauta Thian-li-pang telah berkhianat dan dia telah tertipu.

Ouw Seng Bu berhasil memancingnya memasuki sumur dan sumur itu lalu ditimbuni batu.

Yo Han yang pada dasarnya seorang yang memiliki iman yang kokoh kuat kepada Tuhan, tidak menjadi gugup.

Mati hidupnya sudah dia serahkan kepada kekuasaan Tuhan.

Dia akan berusaha sekuatnya mempertahankan hidupnya, akan tetapi berhasil atau gagalnya dia serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dia tahu bahwa tidak mungkin keluar melalui sumur yang sudah tertutup banyak batu itu.

Dia tidak mati tertimpa batu karena batu besar tadi merupakan pengganjal dan penghalang batu-batu kecil memasuki terowongan.

Dia tidak akan mati tertimbun batu.

Juga agaknya dia tidak akan mati kehabisan napas karena ada saluran udara segar di situ, mungkin masuk melalui celah-celah batu, seperti juga sinar matahari yang dapat masuk ke situ.

Dia tidak akan mati kehausan, karena dinding itu basah dan tidak sukar menampung air dengan membuat lekukan pada dinding,basah untuk menampung air.

Dia akan mati kelaparan?

Mungkin, kalau dia tidak dapat keluar dan kalau di tempat itu tidak terdapat benda yang bisa dimakan.

Yo Han menggulung tali dan duduk di atas gulungan tali agar tidak basah.

Dia duduk bersila dan membiarkan hati dan pikirannya tenang.

Dia membutuhkan ketenangan.

Dalam menghadapi bahaya, dia harus dapat tenang agar akal pikirannya dapat dipergunakan sebaik-baiknya, dan di dalam ketenangan itu kepasrahannya kepada kekuasaan Tuhan dapat lebih mendalam.

Sementara itu, di atas sumur, Ouw Seng Bu tertawa gembira ketika bersama para anak buah yang sudah dipersiapkan sebelumnya, menimbun sumur tua itu dengan batu.

"Ha-ha-ha, Yo Han. Rasakan sekarang engkau, mampus di dalam sumur tua, menjadi setan penasaran! Sin-ciang Taihiap, engkau tidak lagi menjadi penghalang bagiku."

Akan tetapi, Ouw Beng Bu segera menghentikan tawanya ketika dia melihat Cu Kim Giok datang berlari-larian.

Gadis itu mendengar sorak-sorai anak buah Thian-li-pang, merasa tertarik dan segera datang ke tempat itu.

Ia masih melihat anak buah Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam sebuah sumur tua dan ia merasa heran sekali.

"Ouw-pangcu, apakah yang telah terjadi?"

Tanya gadis itu heran sambil mendekati Seng Bu. Seng Bu segera memasang wajah yang serius.

"Aih, hampir saja aku pun celaka menjadi korban kelihaian Yo Han, Nona. Mari kita bicara di dalam dan akan kuceritakan semua."

Kepada anak buahnya dia memesan agar sumur itu ditutup sampai tidak nampak lagi lubangnya.

Kemudian dia mengajak Kim Giok kembali ke bangunan induk pusat perkampungan Thian-li-pang.

Setelah mereka duduk berdua di dalam kamar belakang, Kim Giok dengan hati tegang bertanya.

"Ceritakan, Pangcu. Apakah yang telah terjadi dan di mana adanya Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?"

Seng Bu menghela napas dan tiba-tiba dia mengeluh, wajahnya berubah pusat dan napasnya terengah.

"Aduhhh...."

Dia memejamkan matanya dan tangan kirinya menekan ke arah dada kanannya.

Tentu saja Kim Giok terkejut bukan main, cepat bangkit dan menghampiri pemuda itu.

"Ouw-pangcu, ada apakah? Engkau.... terluka....?" Sambil menekan dada kanan dengan telapak tangannya, wajahnya menyeringai kesakitan, napasnya sesak, dia menjawab terengah-engah.

"Dia memang lihai... sekali, dan jahat kejam. Dia... dia tadi tiba-tiba memukulku, di dekat sumur... aku nyaris terjungkal, akan tetapi... aku mampu bertahan, aku melawan.. dibantu oleh saudara-saudaraku.. akhirnya kami berhasil... dia terjatuh ke dalam sumur akan tetapi aku.... aku terkena pukulannya...."

"Ahhh!"

Kim Giok terbelalak.

"Dan kalian.... tadi menimbun sumur itu dengan batu? Dia terkubur hidup-hidup.... ?"

Gadis itu memandang ngeri.

"Aih, Nona, kau tidak tahu.... dia amat kejam dan lihai.... kalau berhasil lolos.... kami semua tentu akan dibunuhnya. Lihat, lihat bekas tangannya ini...."

Seng Bu merobek baju di dadanya dan mata yang indah itu semakin terbelalak kaget.

Dada Seng Bu, di bagian kanan, terdapat bekas telapak tangan dengan lima jarinya, menghitam!

"Ohhhhh....!"

Dia menahan teriakannya.

"Ini.... pukulan.... mautnya.... untung aku sudah berjaga diri...., tapi nyeri bukan main.... auhhh....!"

Seng Bu terkulai dan dia tentu akan terjatuh dari kursinya kalau saja Kim Giok tidak cepat-cepat merangkulnya.

Melihat Seng Bu pingsan, Kim Giok memondongnya dan merebahkannya di atas lantai.

Ia mengurut kedua pundak dan tengkuk, dan pemuda itu membuka mata kembali.

"Aduhhh....!"

"Bagai mana rasanya, Pangcu?"

"Nona, pukulan itu beracun, harus cepat dibersihkan hawa beracun itu dengan pengerehan sin-kang. Maukah.... maukah engkau membantuku, Nona? Aku lemah sekali....!"

"Tentu saja, Pangcu. Bagaimana aku dapat membantumu?"

"Tempelkan kedua telapak tanganmu di punggungku dan kerahkan sin-kang, agar kekuatan kita dapat bersatu mendorong keluar hawa beracun itu."

"Baik, Pangcu."

Melihat dengan susah payah Seng Bu bangkit duduk, tanpa ragu Kim Giok membantunya duduk bersila.

Ia membantu pula Seng Bu membuka bajunya sehingga punggungnya nampak dan ia pun bersila di belakang pemuda itu, menempelkan kedua telapak tangan di punggung itu dan memejamkan mata, mengerahkan sin-kang membantu pemuda itu "mengusir"

Hawa beracun.

Diam-diam Seng Bu menggunakan tangan kiri mengusap dan menekan dada yang ada tanda, telapak tangan menghitam.

Perlahan-lahan, tanda menghitam itu pun lenyap, Kim Giok yang kurang pengalaman sama sekali tidak menyangka bahwa noda hitam itu dibuat oleh Seng Bu sendiri ketika dia menekan dada kanannya tadi.

Dengan kepandaiannya yang aneh, dia mampu membuat kulit dadanya kehitaman seperti terkena pukulan beracun.

"Perlahan-lahan, pernapasan Seng Bu menjadi normal kembali dan dia pun memutar tubuhnya, memegang kedua tangan gadis itu dan menatapnya dengan pandang mata penuh kasih sayang. Kim Giok juga menatapnya dan gadis itu menunduk malu.

"Giok-moi (adik Giok), terima kasih.... engkau telah menyelamatkan nyawaku...."

Dengan tersipu Kim Giok menarik kedua tangannya, lalu bangkit berdiri dan memutar tubuh membelakangi pemuda itu agar tidak kelihatan bahwa ia merasa malu sekali.

"Ihhhhh, Pangcu...."

"Kim Giok, setelah apa yang kau lakukan kepadaku tadi masihkah kita harus bersungkan-sungkan? Jangan menyebut pangcu kepadaku, sebutan itu terlampau kaku, Giok-moi, aku merasa engkau bukan seperti seorang sahabat baru, me-lainkan seperti sudah bertahun-tahun kukenal. Jangan sebut aku pangcu, aku akan merasa, bahagia kalau engkau menyebut aku koko (kanda)."

"Bu-koko, engkau terlalu berkelebihan. Apa yang kulakukan tadi hanya sekedar membantumu mengusir hawa beracun. Apakah sekarang engkau sudah sembuh, sudah sehat kembali?"

"Lihatlah, Giok-moi. Tidak ada bekasnya lagi. Lihatlah!"

Kim Giok membalikkan tubuhnya dan sekilas memandang ke arah dada yang telanjang itu, dada yang bersih kulitnya, tidak lagi nampak tanda telapak tangan menghitam seperti tadi.

Ia merasa lega dan girang, akan tetapi juga malu dan ia tersipu, menundukkan muka tidak mau memandang lagi.

"Bu-ko, pakailah pakaianmu. Engkau membuat aku merasa malu."

Seng Bu tertawa.

"Ha-ha-ha, setelah kita menjadi sahabat baik seperti ini, perlukah kita merasa sungkan dan malu, Moi-moi? Entah mengapa, aku sudah tidak merasa malu sama sekali terhadap dirimu, seolah-olah kita telah akrab selama bertahun-tahun."

Seng Bu membetulkan bajunya yang robek di bagian dada dan dia nampak senang sekali.

Memang hatinya gembira, Yo Han, orang yang paling ditakutinya, telah tiada, dan kini dia melihat tanda-tanda bahwa Cu Kim Giok gadis yang dicintanya, jelas memperlihatkan tanda-tanda suka kepadanya.

Setidaknya, gadis ini tadi amat mengkhawatirkan keadaannya dan tanpa malu-malu suka membantu mengobati dirinya.

Kini mereka duduk berhadapan, hanya terhalang meja kecil.

Beberapa kali pandang mata mereka bertemu dan dalam pandangan mata itu saja sudah terpancar perasaan hati masing-masing, biarpun terkandang Kim Giok menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.

"Giok-moi, kenapa engkau menunduk dan kelihatan malu-malu?"

"Habis, engkau memandangku seperti itu!"

"Seperti apa?"

Seng Bu menggoda.

"Pandang matamu membuat aku merasa canggung dan malu, Bu-ko."

Tiba-tiba Seng Bu memegang kedua tangan gadis itu yang berada di atas meja dan menggenggam tangan itu!

"Giok-moi, perlukah aku jelaskan lagi apa artinya pandang mataku itu?

Aku memandangmu penuh kasih sayang.

Aku cinta padamu, Giok-moi."

Kim Giok menundukkan mukanya yang kini menjadi merah sekali.

"Bagaimana, Giok-moi? Marahkah engkau akan kelancanganku ini?"

Kim Giok menggeleng kepala, tetap menunduk.

"Lalu, kenapa engkau diam saja? Apakah engkau tidak sudi menerima perasaan cintaku?"

Kini gadis itu mengangkat mukanya yang kemerahan.

"Bu-ko, aku pun kagum dan suka padamu. Akan tetapi, kita tidak perlu tergesa-gesa membicarakan perasaan kita itu. Kita baru saja berkenalan dan kalau kita sudah menjadi sahabat baik, itu sudah menyenangkan sekali, bukan?"

Seng Bu seorang yang cerdik.

Ia memang benar-benar mencinta Kim Giok sepenuh hatinya.

Dia tidak ingin membuat gadis itu tidak senang atau menjadi rikuh.

Dia bahkan rela melakukan apa saja untuk gadis yang dicintanya itu.

"Baiklah, Giok-moi. Maafkan aku. Kita memang telah menjadi sahabat baik ,dan biarlah urusan antara kita itu kita bicarakan kelak seperti yang kaukehendaki. Aku hanya ingin agar engkau tahu betul bahwa engkaulah satu-satunya wanita yang tinggal di dalam hatiku."

Lega rasa hati Kim Giok dan ia menjadi semakin suka kepada pemuda yang penuh pengertian itu.

"Terima kasih, Bu-ko atas pengertianmu. Sekarang mari kita bicara tentang apa yang terjadi tadi. Aku masih merasa heran sekali kenapa Sin-ciang Tai-hiap hendak membunuhmu setelah dia membunuhi banyak tokoh Thian-li-pang. Aku pernah mendengar namanya yang dipuji-puji oleh para pendekar dari dua keluarga besar pendekar Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir. Mereka menyatakan bahwa Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang pendekar yang budiman dan bijaksana. Akan tetapi kenapa di sini dia menjadi begitu kejam dan jahat?"

Ouw Seng Bu menghela napas panjang.

"Aku tidak heran dan sebaiknya engkau juga tidak perlu mengherankan hal itu, Giok-moi. Kedudukan dan kekuasaan seringkali membuat orang lupa diri!. Dia hendak menguasai Thian-li-pang hendak menonjolkan diri dan menguasai dunia lewat Thian-li-pang."

"Akan tetapi, aku mendengar bahwa dia telah diangkat menjadi pemimpin Thian-li-pang, hanya kedudukan ketua dia serahkan kepada mendiang Lauw Pangcu. Kenapa dia malah membunuh Lauw Pangcu dan beberapa orang tokoh Thian-li-pang, dan sekarang hendak membunuhmu pula? Sungguh aku tidak mengerti."

"Giok-moi, agaknya engkau hanya mengerti ekornya tidak mengerti kepalanya. Memang benar dia menjadi pemimpin besar Thian-li-pang seperti dikehendaki oleh para tokoh tua Thian-li-pang. Akan tetapi, sikapnya tidak sejalan dengan sikap para pimpinan Thian-li-pang. Dia tidak suka Thian-li-pang mempergunakan kekerasan menentang pemerintah penjajah, bahkan dia tidak setuju bersama-sama berjuang mengusir penjajah Mancu dari tanah air. Bahkan mungkin sekali dia hendak membawa Thian-li-pang agar menjadi antek penjajah. Itulah sebabnya dia membunuhi para pimpinan Thian-li-pang yang pendiriannya tegas tegas menentang penjajah. Melihat aku yang diangkat menjadi ketua menghimpun tenaga, bekerja sama dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, juga dengan kelompok pejuang lainnya, dia menjadi marah dan dengan berpura-pura hendak menyelidiki kematian para pimpinan Thian-li-pang di dekat sumur tua itu, tiba-tiba dia menyerangku dan hendak membunuh-ku dan melemparku ke sumur tua seperti yang dia lakukan kepada para pimpinan lain. Untung para dewa masih melindungiku dan sebaliknya dia yang terlempar ke dalam sumur tua itu."

"Aihhh,"

Cu Kim Giok menghela napas panjang.

"Ayah dan ibu pernah mengatakan bahwa kedudukan memang suka membuat orang menjadi kejam. Kuharap saja engkau tidak ikut-ikutan mabuk kekuasaan, Ha-ko."

"Tidak mungkin, Giok-moi. Apalagi kalau engkau suka membantuku dan berada di sampingku. Sejak Thian-li-pang berdiri, nenek moyangku adalah pejuang-pejuang yang gigih, yang rela mengorbankan nyawa demi membela nusa bangsa. Aku melanjutkan cita-cita mereka, dan aku akan berjuang semata-mata demi membebaskan rakyat dan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu, bukan untuk mencari kedudukan atau harta benda. Tentu engkau percaya kepadaku, bukan?"

"Tentu saja aku percaya padamu, Bu-ko. Kalau tidak percaya, tentu aku tidak akan suka membantumu. Dan selanjutnya, langkah apa yang akan kauambil?"

"Aku akan mengadakan perundingan dengan para pimpinan puncak Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, juga kelompok pejuang lainnya. Seperti juga pendirian orang-orang sombong, macam Yo Han, masih banyak tokoh dunia kang-ouw yang mengambil jalan sendiri, membeda-bedakan kelompok dan tidak mau bekerja sama untuk menghancurkan penjajah. Cara kerja sendiri-sendiri ini, apalagi kalau disertai persaingan, menimbulkan pertentangan antara para pejuang sendiri dan hal ini melemahkan perjuangan dan memperkuat kedudukan pemerintah penjajah. Oleh karena itu, kita haruslah beruaaha untuk lebih dulu menundukkan para kelompok dan tokoh dunia persilatan. Kalau seluruh dunia kang-ouw sudah dapat bekerja sama, kukira menggulingkan pemerintah penjajah Mancu bukan merupakan hal yang sukar lagi."

Kim Giok yang sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu, tertarik oleh gaya bicara dan sikapnya, mengangguk-angguk dan merasa kagum karena ia manganggap bahwa pendapat pemuda itu tepat.

Sedikit banyak, ayah ibunya juga sudah menanamkan perasaan cinta tanah air dan bangsa kepadanya, juga sudah menceritakan tentang kekuasaan bangsa Mancu yang menjajah bangsanya.

"Pendapatmu itu tepat sekali dan aku akan membantumu, Bu-koko!"

Katanya penuh semangat. Tentu saja Seng Bu menjadi girang bukan main.

"Terima kasih, Giok-moi. Dengan adanya engkau di sampingku, bintang dan bulan di langit pun akan dapat kuraih!"

Mereka saling pandang dengan senyum mesra dan ketika mereka mendengar suara gaduh kembalinya anak buah Thian-li-pang, mereka pun keluar dari ruangan itu.

Dengan bantuan yang besungguh-sungguh dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu memperoleh kemajuan pesat dalam menyatuan kekuatan.

Siangkoan Kok yang kini dia angkat menjadi wakil ketua Thian-li-pang, mendatangi banyak perkumpulan silat dan perguruan-perguruan silat yang terkenal, mula-mula membujuk mereka untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang berjuang menentang pemerintah Mancu.

Kalau ada yang menolak, Siangkoan Kok mengalahkan dan menundukkan para pimpinannya sehingga akhirnya perkumpulan itu menaluk juga karena takut dibasmi.

Tentu saja dengan mudah Siangkoan Kok mengajak mereka yang dahulunya memang sudah bersekutu dengan Pao-beng-pai agar kini bekerja sama dengan Thian-li-pang karena Pao-beng-pai telah dihancurkan pasukan pemerintah.

Hanya ada satu dua perkumpulan saja yang memiliki pimpinan yang terlampau kuat bagi Siangkoan Kok.

Untuk menak-lukkan pimpinan perkumpulan yang lihai ini, Ouw Seng Bu sebagai ketua Thian-li-pang turun tangan sendiri dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmunya yang aneh akan tetapi juga dahsyat bukan main.

Thian-li-pang menjadi semakin besar dan berpengaruh.

Melihat kemajuan yang dicapai kekasihnya, tentu saja Kim Giok merasa gembira dan kagum.

Beberapa kali ia menawarkan diri untuk membujuk orang tuanya agar mau membentu perjuangan Thian-li-pang karena kalau ayah ibunya suka membantu, tentu mereka itu akan dapat menarik perhatian para pendekar lainnya.

Akan tetapi Ouw Seng Bu selalu menolak dengan halus.

"Belum tiba saatnya, Giok-moi. Ayah ibumu tentu akan merasa heran dan terkejut melihat hubungan kita yang akrab dan hal itu saja sudah membutuhkan pendekatan yang lembut. Apalagi kalau ditambah dengan bujukan agar mereka membantu perjuangan. Biarlah, nanti kalau Thian-li-pang sudah kuat benar, aku sendiri akan menghadap mereka, untuk melamarmu dan kalau kita sudah menjadi suami isteri, orang tuamu menjadi mertuaku, tentu dengan sendirinya mereka akan membantu perjuangan kita."

Kim Giok tidak membantah lagi.

Sikap Seng Bu terhadap dirinya selalu lembut dan sopan, dan pemuda itu memegang janji, tidak pernah lagi bicara tentang cinta mereka seperti yang pernah dijanjikannya.

Hal ini membuat ia menjadi semakin kagum dan suka, dan diam-diam ia pun sudah mengambil keputusan untuk memilih pemuda ini sebagai calon suaminya.

Ouw Seng Bu memang cerdik luar biasa.

Setiap kali dia berlatih silat Bu-kek Hoat-keng yang ditemukannya di dalam sumur dan dia tahu bahwa latihan itu membuat dia berubah dan merasa aneh, Dia selalu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, apalagi setelah kini Kim Giok berada di Thian-li-pang.

Juga, dia melarang keras anak buahnya agar bertindak seperti pejuang-pejuang yang gagah dan menjauhkan diri dari perbuatan yang akan menjadi celaan orang.

Hal ini untuk menjaga nama baik Thian-li-pang dan untuk menarik hati para pendekar agar mau bergabung dengan mereka.

Untuk biaya perkumpulannya, diam-diam, tanpa kekerasaan yang menyolok, mereka masih menguasai semua tempat pelesir dan tempat judi, juga dengan halus namun mengandung ancaman maut, mereka dapat memeras para pedagang untuk setiap bulan menyerahkan uang sumbangan kepada Thian-li-pang!

Ada pula anggauta yang tugasnya melakukan pencurian di rumah para hartawan dan bangsawan, Namun mereka yang bertugas mencuri adalah anggauta yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan setiap kali melakukan pencurian, mereka selalu menutupi muka dengan kain hitam.

Juga, mereka dipesan agar sampai mati pun tidak mengaku bahwa mereka orang Thian-li-pang, yaitu kalau mereka sampai tertangkap ketika melakukan pencurian.

Pesan ini harus ditaati, karena Seng Bu mengancam akan -menyiksa dan mem-bunuh seluruh keluarga anggauta Thian-li-pang yang melanggar pesan itu.

Demikianlah, dengan hasil yang cukup berlimpah, Seng Bu dapat memperkuat Thian-li-pang menjadi perkumpulan yang cukup mewah, walaupun kini tidak ada lagi anggauta yang melakukan kejahatan secara berterang.

Sebenarnya, sejak kecil Ouw Seng Bu memang digembleng untuk menjadi seorang pendekar dan patriot.

Sebelum dia secara kebetulan menemukan ilmu di dalam sumur tua dan mempelajarinya, dia adalah seorang murid Thian-li-pang yang baik dan gagah perkasa.

Bahkan mendiang Lauw Kang Hui menaruh harapan besar kepada muridnya ini.

Akan tetapi, sejak dia melatih diri dengan ilmu Bu-kek Hoat-keng secara keliru, terjadi kelainan pada batinnya, seolah-olah dia mendapat gangguan jiwa.

Dia menjadi aneh, ganas, kejam, licik dan haus akan kekuasaan dan kemenangan!

Watak aneh ini memang tidak begitu kelihatan, tidak menonjol apabila dia tidak sedang berlatih ilmu itu, akan tetapi telah menjadi watak kedua yang telah tenggelam di dasar hatinya dan se-waktu-waktu dapat muncul secara tidak terduga, walaupun pada lahirnya dia nampak tetap sebagai seorang pendekar yang gagah dan baik.

Pada suatu hari, Thian-li-pang menerima banyak tamu yang memang diundang, yaitu para pimpinan perkumpulan yang sudah menaluk kepada Thian-li-pang dan ada pula orang pimpinan perkumpulan yang belum bekerja sama dan yang sengaja diundang dalam kesempatan itu untuk dibujuk dan diajak bekerja sama.

Tidak kurang dari lima puluh orang tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir, sebagian besar dari mereka yang telah mau bekerja sama dengan Thian-li-pang adalah mereka yang terdiri dari golongan hitam.

Dalam pertemuan yang diadakan seperti dalam pesta ini, Cu Kim Giok dipersilakan hadir dan tentu saja ia dianggap sebagai seorang tamu kehormatan dan kursinya berada di sebelah kanan kursi ketua Thian-li-pang.

Ouw Seng Bu nampak tampan dan gagah pada hari itu, dengan pakaian yang baru dan wajahnya berseri menyaksikan betapa semua undangan datang hadir.

Ini membuktikan bahwa Thian-li-pang mulai dikenal dan ditaati.

Siangkoan Kok yang juga nampak gagah berwibawa, duduk di sebelah kirinya, dan kehadiran tokoh besar ketua Pao-beng-pai ini saja sebagai pembantunya, sebagai wakil ketua, sudah menambah kewibawaan Seng Bu sebagai ketua Thian-li-pang.

Kabar tentang kelihaian pemuda ini terdengar luar di dunia Kang-ouw.

Setelah semua tamu hadir dan disuguhi arak.

Siangkoan Kok mewakili ketuanya, bangkit berdiri dan mengucapkan selamat datang dengan mengangkat secawan arak, mengajak semua yang hadir minum.

Kemudian dia melanjutkan dengan suara lantang.

"Cu-wi (Anda sekalian) tentu sudah mengenal saya. Tentu Cu-wi merasa heran mengapa saya sebagai bekas ketua Pao-beng-pai yang telah gagal dan hancur oleh sebuah pasukan pemerintah, sekarang menjadi wakil Thian-li-pang. Hendaknya Cu-wi ketahui bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan yang sehaluan dengan Pao-beng-pai, yaitu perkumpulan para pejuang yang hendak merobohkan pemerintah penjajah dan membebaskan rakyat dan tanah air dari belenggu penjajah bangsa Mancu. Oleh karena itu, bagi Cu-wi yang belum mengadakan perjanjian kerja sama dengan kami, untuk membantu perjuangan kami, diharapkan sekarang juga menyatakan kesediaan untuk kerja sama itu, demi tanah air dan bangsa."

Sambutlah tepuk sorak menyatakan setuju dengan ucapan Siangkoan Kok.

Dan para pemimpin kelompok yang datang sebagai tamu undangan dan belum bersekutu dengan Thian-li-pang, segera menyatakan kesediaan mereka.

Akan tetapi pada saat itu, para penjaga, yaitu murid-murid Thian-li-pang yang berada di luar ruangan pertemuan, melaporkan dengan suara lantang.

"Rombongan pemimpin Bu-tong-pai datang berkunjung!"

Semua orang terkejut dan merasa heran, termasuk Ouw Seng Bu dan Siangkoan Kok.

Bu-tong-pai termasuk satu di antara partai-partai persilatan yang tidak dapat diharapkan untuk bekerja sama, yaitu partai-partai seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Hoa-san-pai yang menganggap diri mereka sebagai partai "bersih"

Dan yang tidak mau bergaul dengan kelompok lain yang mereka anggap kotor, hitam atau sesat!

Bahkan dahulu Pao-beng-pai juga tidak berhasil menarik golongan itu sebagai teman seperjuangan.

Dan sekarang, rombongan pemimpin Bu-tong-pai datang berkunjung?

Dengan tenang Seng Bu dari Siangkoan Kok bangkit menyambut ketika lima orang tosu itu memasuki ruangan dengan sikap mereka yang tenang dan gagah.

Mereka terdiri dari lima orang tosu yang berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun, dipimpin oleh Thian Tocu yang berusia enam puluh tahun, berjenggot panjang dan memegang sebatang tongkat.

Tosu ini adalah seorang ketua kuil yang menjadi cabang perguruan Bu-tong-pai di kota Hun-kiang, kurang lebih lima puluh li dari Bukit Naga.

Empat orang tosu lainnya adalah adik-adik seperguruannya dan lima orang tosu ini rata-rata memiliki ilmu silat Bu-tong-pai yang sudah tinggi tingkatnya.

Kalau Thian To-cu membawa sebatang tongkat, empat orang sutenya membawa pedang di punggung mereka.

Mereka berpakaian sederhana, dengan jubah tosu yang lebar berwarna biru menyelimuti pakaian yang berwarna kuning muda, dan rambut mereka digelung ke atas.

Sikap mereka tenang dan lembut.

Siangkoan Kok mengenal Thian To-cu karena tokoh Bu-tong-pai ini pernah berkunjung ketika Pao-beng-pai mengadakan pesta ulang tahun, maka cepat dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Ah, kiranya To-tiang Thian Tocu dan para To-tiang tokoh Bu-tong-pai yang datang berkunjung."

Dia menoleh kepada Seng Bu, dan berkata.

"Pangcu, mereka adalah Thian To-cu To-tiang dan para tokoh Bu-tong-pai lainnya. Dan Cu-wi To-tiang (Para Bapak Pendeta Sekalian), ini adalah Ouw Pangcu, ketua Thian-li-pang kami."

Ouw Seng Bu yang pandai membawa diri segera memberi hormat dan berkata.

"Maaf, karena Cu-wi To-tiang tidak memberitahui lebih dahulu akan kunjungan ini, kami terlambat menyambut. Silakan Cu-wi mengambil tempat duduk."

Lima orang tosu itu tidak mempedulikan Siangkoan Kok, dan sejak tadi mereka semua mengamati Ouw Seng Bu dengan penuh perhatian.

Mereka telah mendengar banyak berita tentang ketua baru Thian-li-pang yang sepak terjangnya mengejutkan.

Kabarnya, ketua itu masih muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan menarik bekas ketua Pao-beng-pai yang terkenal sebagai seorang datuk itu menjadi wakilnya, dan (Lanjut ke

Jilid 15) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 juga bahwa kini Thian-li-pang telah menalukkan hampir semua kelompok dan kekuatan di dunia kang-ouw.

Melihat bahwa ketua itu memang masih muda, bersikap lembut dan sopan, mereka lalu mengangkat kedua tangan depan dada.

"Siancai...."

Kata Thian To-cu dan meman-dang kagum.

"Kiranya Ouw-pangcu, ketua Thian-li-pang masih amat muda, akan tetapi telah membuat nama besar. Terima kasih, kami datang hanya untuk melihat bukti dan mengajukan beberapa perta-nyaan, bukan untuk bertamu. Kami bahkan tidak tahu bahwa pagi ini Thian-li-pang mengadakan pertemuan dengan banyak tokoh kang-ouw."

Tosu itu memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa yang hadir adalah orang-orang kang-ouw dari daerah itu, dan sebagian besar di antara mereka adalah golongan hitam.

Bahkan ada pendeta Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-pai hadir pula di situ.

Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya sebentar dan wajahnya sudah cerah dan ramah kembali.

"Kalau begitu kehendak To-tiang, silakan."

"Begini Ouw Pangcu. Sejak Sin-ciang, Tai-hiap, yaitu Yo Taihiap menjadi pemimpin Thian-li-pang dan kemudian kedudukan ketua diserahkan kepada pangcu Lauw Kang Hui, Thian-li-pang terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gagah berani dan bijaksana, bahkan berhubungan dekat dengan para pendekar di dunia persilatan. Akan tetapi, tiba-tiba saja kami mendengar bahwa Thian-li-pang mengalami perubahan. Kabarnya, para pemimpinnya terbunuh dan kedudukan ketua dipegang oleh Ouw Pangcu. Yang lebih mengherankan lagi, menurut desas-desus itu, para pimpinan Thian-li-pang yang lama itu dibunuh oleh Yo Tai-hiap! Kami semua merasa heran dan sama sekali tidak percaya, hanya karena urusan itu merupakan urusan dalam Thian-li-pang, kami terpaksa berdiam diri. Akan tetapi, melihat sepak terjang Thian-li-pang akhir-akhir ini, terpaksa pinto dan adik-adik seperguruan memberanikan diri lancang berkunjung untuk mengajukan pertanyaan kepada Pangcu."

"To-yu, kalau hendak bertanya, tanya saja. Kenapa berbelit-belit seperti itu?"

Tiba-tiba Siangkoan Kok berseru dengan suara lantang karena dia sudah tidak sabar lagi mendengar ucapan tosu Bu-tong-pai itu.

"Benar To-tiang, tanyalah, kami tidak menyembunyikan sesuatu."

Kata Seng Bu.

"Ouw Pangcu, kami melihat betapa Thian-li-pang telah mengubah seluruh sikapnya. Thian-li-pang menalukkan hampir semua perkumpulan dan kelompok pejuang, mengadakan hubungan dengan semua pihak tanpa pilih bulu, dan Thian-li-pang juga menguasai semua tempat hiburan, tempat maksiat, dan Thian-li-pang melakukan pemerasan kepada para hartawan. Padahal, semua ini tidak dilakukan ketika Lauw Pangcu masih menjadi ketua. Kenapa setelah para pimpinan Thian-li-pang tewas secara rahasia, tiba-tiba Ouw Pangcu yang menjadi ketua tanpa pengumuman kepada para kenalan, dan Ouw Pangcu mengadakan perubahan yang berlawanan dengan sikap Thian-li-pang dahulu? Kami melihat Thian-li-pang telah menyimpang dari jalan benar, maka kami terus terang saja merasa curiga dengan perubahan ini. Yang lebih mengejutkan kami, ada desas-desus disebarkan oleh orang-orang Thian-li-pang bahwa beberapa hari yang lalu, Ouw Pangcu telah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han di sini! Nah, itulah penasaran yang mendorong kami datang pada pagi ini, untuk minta penjelasan dari para pimpinan Thian-li-pang!"

Siangkoan Kok bangkit berdiri dengan muka berubah merah dan mata melotot.

"Tosu Bu-tong-pai, kalian berani mencampuri urusan pribadi Thian-li-pang!"

Ouw Seng Bu juga bangkit berdiri dan menya-barkannya.

"Sudahlah, Paman. Biarkan aku menghadapi mereka."

"Tapi, Pangcu. Mereka ini sungguh tidak tahu aturan!"

"Paman Siangkoan Kok, duduklah dan biarkan aku menangani urusan ini!"

Kata pula Seng Bu dan nada suaranya mengandung sesuatu yang membuat Siangkoan Kok duduk kembali dengan muka cemberut dan mata masih merah ketika dia memandang ke arah lima orang tosu Bu-tong-pai itu, dan untuk mendinginkan hatinya, dia pun menuangkan arak dari cawan ke dalam mulutnya.

Kini Ouw Seng Bu menghampiri lima orang tosu itu dan berhadapan dengan mereka.

Sikapnya masih tenang saja dan Cu Kim Giok yang sejak tadi hanya menjadi penonton yang berhati tegang, merasa kagum akan sikap kekasihnya itu.

Betapa tenang dan lembutnya pemuda yang menjadi ketua Thian-li-pang itu!

"Ngo-wi To-tiang (Bapak Pendeta berlima), kami akan menjawab semua pertanyaan To-tiang tadi.

Tadi To-tiang Thian To-cu menyinggung tentang terbunuhnya suhu Lauw Kang Hui dan beberapa orang pimpinan kami.

Memang hal itu benar, dan pembunuhnya adalah Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.

Hal ini dapat kami ketahui dari luka yang terdapat pada mayat korban karena pukulan itu hanya dapat dilakukan oleh Yo Han saja.

Mengapa dia melakukan semua pembunuhan itu?

Mungkin untuk membalaskan sakit hati gurunya, kakek yang menjadi orang hukuman di sini karena menentang pimpinan.

Mungkin juga dia hendak menguasai Thian-li-pang dan memusuhi kami yang berlawanan pendapat dan sikap dengan dia.

Tentang perubahan yang terjadi di Thian-li-pang semenjak saya dipilih menjadi ketua, memang benar.

Kami menganggap bahwa perjuangan bukan monopoli golongan pendekar saja, melainkan menjadi tugas setiap orang warga negara untuk menyelamatkan bangsa dari penjajah Mancu.

Dan kami berkeyakinan bahwa tanpa adanya persatuan dari semua pihak, perjuangan akan gagal.

Oleh karena itu, kami sengaja mengadakan hubungan dengan semua pihak yang menentang pemerintah, dan kami akan menundukkan dan memaksa golongan yang menjadi antek penjajah untuk membantu perjuangan kami.

Adapun penguasaan atas semua tempat pelesiran dan meminta sumba-ngan dari kaum hartawan, memang hal itu kami lakukan karena dari mana kami akan memperoleh biaya?

Kalau tempat-tempat maksiat itu dibiarkan tanpa pengontrolan kami, tentu akan menjadi sarang golongan penjahat.

Juga, apa salahnya mengajak para hartawan membantu perjuangan dengan menyumbangkan sedikit harta mereka?

Kalau kebijaksanaan kami mengenai perjuangan bangsa ini tidak cocok dengan keinginan Bu-tong-pai, maaf, hal itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Bu-tong-pai.

Kami sendiri pun belum pernah mencampuri urusan dapur dan kamar Bu-tong-pai."

"Siancai.... keterangan Ouw Pangcu masuk diakal sungguhpun belum meyakinkan kami tentang Sin-ciang Tai-hiap. Lalu bagaimana dengan berita tentang tewasnya Sin-ciang Tai-hiap Yo Han di tangan Pangcu? Benarkah itu, ataukah hanya berita isapan jempol belaka?"

Cu Kim Giok mengerutkan alisya.

Sikap tosu itu terlalu sombong, pikirnya, dan terbelalak memandang rendah kepada Ouw Seng Bu.

Akan tetapi sikap ketua Thian-li-pang itu tetap tenang Menghadapi ucapan yang nadanya tidak percaya dan meremehkan itu.

"To-tiang, Yo Han memang muncul di sini dan dia berusaha untuk membunuhku. Dia datang dan pura-pura hendak menyelidiki kematian suhu dan yang lain-lain, akan tetapi ketika berada di bagian belakang perkampungan kami, dia menyerangku dan nyaris membunuhku. Untung aku dapat mempertahankan diri dan dengan bantuan para anggauta Thian-li-pang, kami berhasil membuat dia jatuh terjungkal ke dalam sumur tua dan tewas, walaupun aku sendiri menerima pukulan darinya."

"Siancai....! Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang pendekar budiman, dan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bagaimana mungkin dapat dikalahkan demikian mudahnya? Cerita Pangcu itu sukar untuk diterima begitu saja...."

Sepasang mata Seng Bu mencorong dan suaranya terdengar dingin sekali.

"To-tiang tidak percaya kepada keteranganku?"

"Bagaimana kami dapat percaya?"

Kata Thian To-cu.

"Kalau kami melihat buktinya, barulah kami dapat percaya."

"To-tiang adalah seorang tokoh besar dan pemimpin Bu-tong-pai, bagaimana dapat bersikap seperti anak kecil begini?"

Tiba-tiba terdengar suara merdu dan lantang.

"Akulah yang menjadi saksi akan kebenaran keterangan Ouw Pangcu. Aku yang membantunya mengobati lukanya di dada yang terkena pukulan tangan Sin-ciang Tai-hiap Yo Han!"

Semua orang memandang dan lima orang tosu Bu-tong-pai kini memperhatikan Kim Giok dengan pandang mata penuh selidik.

"Siancai, kalau boleh kami mengetahui, siapakah Nona dan apa hubungan Nona dengan Ouw Pangcu?"

"To-tiang, Nona ini adalah Nona Cu Kim Giok, puteri dari majikan Lembah Naga Siluman, pendekar Cu Kun Tek. Ia keturunan keluarga Cu, penghuni Lembah Naga Siluman. Apakah To-tiang juga meragukan ucapannya dan tidak percaya?"

Kata Ouw Seng Bu.

Lima orang tosu itu nampak kaget, akan tetapi Thian To-cu mengerutkan alisnya dan pandang matanya kepada gadis itu nampak ragu.

Seorang gadis cantik manis bermata indah yang usianya paling banyak baru delapan belas tahun!

Kalau benar gadis itu puteri keluarga yang amat terkenal itu, bagaimana dapat berada di Thian-li-pang?

"Maafkan kami, Nona.

Kami belum pernah melihat Nona, walaupun kami sudah mendengar akan nama besar keluarga Lembah Naga Siluman.

Bagaimana kami dapat yakin bahwa Nona adalah puteri majikan Lembah Naga Siluman?"

"Singgg....!!"

Nampak sinar berkelebat menyilau-kan mata dan Kim Giok sudah mencabut pedangnya.

"Pendeta yang sombong, lihat baik-baik, apakah engkau masih meragukan pedangku ini?"

Bentak Kim Giok.

Pedang Koai-liong Po-kiam nampak berkilat menyilaukan mata dan ketika dicabut tadi, suara berdesingnya mengandung suara seperti harimau mengaum.

Melihat pedang itu, Thian To-cu terkejut dan cepat dia memberi hormat.

"Koai-liong Po-kiam! Ah, maafkan kami, nona Cu. Setelah Nona maju sebagai saksi, kami tidak meragukan kebenarannya. Akan tetapi, yang membuat kami sukar percaya adalah bagaimana mungkin Sin-ciang Tai-hiap dapat dikalahkah oleh Ouw Pangcu yang murid mendiang Lauw Pangcu? Padahal, Lauw Pangcu sendiri, gurunya, tidak akan mampu menandingi Sin-ciang Tai-hiap! Bukankah hal ini amat aneh dan sukar dipercaya?"

"Ngo-wi To-tiang,"

Kata Ouw Seng Bu, suaranya terdengar dingin dan pan-dang matanya mencorong.

"Haruskah seorang murid lebih lemah dibandingkan gurunya? Ingat, To-tiang, orang muda mempunyai kesempatan jauh lebih banyak untuk memperoleh kemajuan daripada gurunya yang sudah tua. Kalau Ngo-wi masih belum percaya akan kemampuanku sehingga aku terpilih menjadi ketua Thian-li-pang dan mampu menandingi Yo Han, silakan To-tiang berlima maju dan menguji kemampuanku!"

Mendengar tantangan ini, lima orang tosu Bu-tong-pai saling pandang.

Mereka adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, dan kini mereka berlima ditantang untuk menghadapi seorang pemuda!

"Ha-ha-ha-ha-ha, aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa lima orang kakek Bu-tong-pai yang sombong ini tidak akan mampu bertahan sampai tiga puluh jurus melawan Ouw Pangcu.

Ha-ha-ha!"

Siangkoan Kok berkata sambil tertawa mengejek dan minum araknya.

Itulah ejekan yang amat merendahkan lima orang tosu itu!

Mempertaruhkan kepalanya!

Akan tetapi ini bukan sekedar bualan kosong belaka.

Siangkoan Kok sudah mengenal lima orang tosu itu dan tahu akan tingkat kepandaian mereka berlima.

Dia sendiri pun akan mampu menandingi pengeroyokan lima orang tosu itu.

Walaupun dia belum dapat memastikan bahwa dia akan berada di pihak pemenang.

Kalau tidak lima orang itu disatukan hanya sebanding dengan tingkatnya, maka tidak mungkin mereka berlima mampu bertahan sampai tiga puluh jurus menghadapi pemuda ketua Thian-li-pang yang memiliki ilmu kepandaian aneh namun dahsyat itu.

"Siancai! Thian-li-pang sungguh memandang rendah Bu-tong-pai, dan kami ingin sekali membuktikan apakah ketua baru Thian-li-pang memang seorang sakti yang mampu menewaskan Sin-ciang Taihiap. Ouw Pangcu, kami berlima mohon petunjuk!"

Berkata demikian, Thian To-cu melintangkan tongkatnya di depan dada, sedangkan empat orang sutenya juga sudah mencabut pedang masing-masing dan mereka membuat suatu barisan ngo-heng-tin (barisan lima unsur).

Ouw Seng Bu maklum bahwa dia harus memperlihatkan kepandaiannya, Bukan saja untuk menundukkan dan sekedar memberi hajaran kepada lima orang tosu yang memandang rendah kepadanya itu, melainkan juga untuk mendatangkan kesan kepada mereka yang belum mau bekerja sama atau tunduk kepada Thian-li-pang.

Dia tahu bahwa peristiwa ini tentu akan disebarluaskan oleh mereka yang hadir dan sebentar saja dunia kang-ouw akan mendengar betapa ketua Thian-li-pang telah mengalahkan lima orang tosu tokoh Bu-tong-pai.

Dia lalu maju dan menghadapi lima orang tosu yang sudah memasang barisan di tengah ruangan itu, di tempat yang cukup luas dan semua tamu menonton dengan hati penuh ketegangan.

Melihat Ouw Seng Bu menghadapi lima orang tosu itu dengan tangan kosong, padahal lima orang itu memegang senjata dan mereka membentuk suatu barisan, hati Kim Giok menjadi resah.

"Ouw Pangcu, pergunakan pedangku ini!"

Katanya dan dia pun sudah meloncat ke depan, mencabut pedang Koailiong Po-kiam dan menyerahkan pedang itu kepada Seng Bu.

Ouw Seng Bu merasa girang bukan main.

Dengan ilmunya yang ajaib, yaitu Bu-kek Hoat-kehg, dia tidak gentar menghadapi pengeroyokan lima orang tosu itu walaupun dia tidak memegang senjata.

Akan tetapi, sikap gadis itu yang menyerahkan pedangnya kepadanya, membuktikan bahwa Kim Giok benar sayang kepadanya dan mengkhawatirkan keselamatannya.

Dia pun menerima pedang itu.

"Terima kasih, sebetulnya tanpa pedang pun aku tidak gentar menghadapi lima orang tosu yang tinggi hati ini."

"Ouw Pangcu, sambutlah serangan kami!"

Kata Thian To-cu sambil menggerakkan tongkatnya menyerang.

Seng Bu menyambut dengan pedang Koai-liong Po-kiam dan terdengar suara mengaung menyeramkan karena dia mengge-rakkan pedang itu dengan mengerahkan sin-kangnya.

Thian To-cu yang mengenal pedang ampuh, menarik kembali tongkatnya dan meloncat ke samping.

Dua orang tosu lain sudah menyerang dari kanan kiri, Diikuti dua orang lain lagi yang sudah siap untuk melakukan serangan sambung menyambung, dan Thian To-cu sendiri yang sudah menyelinap ke arah belakang lawan juga siap dengan tongkatnya.

Seng Bu maklum bahwa lima orang tosu itu menjadi berbahaya karena mereka bergerak mengikuti kedudukan bintang Ngo-heng yang perubahannya otomatis dan kadang amat ganas itu.

Seng Bu mengerahkan tenaga Bu-kek Hoat-keng dan memutar pedangnya.

Tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata dan suara mengaung-ngaung itu sungguh menggetakkan hati para pengeroyok.

Karena cara Seng Bu bergerak amatlah aneh, seperti kacau balau akan tetapi semua serangan senjata lawan dapat digagalkan, lima orang tosu itu terseret oleh kekacauan gerakannya sehingga kerapian gerakan barisan Ngo heng-tin itu juga menjadi retak.

Tiba-tiba Seng Bu mengeluarkan teriakan melengking yang begitu nyaring mengerikan, sehingga bukan saja membuat lima orang lawannya terkejut, juga semua orang yang berada di situ tergetar dan merasa ngeri.

Teriakan itu bukan seperti suara manusia, mengandung gaung yang aneh dan seketika membuat lima orang tosu itu seperti kehilangan kesadaran.

Kemudian terdengar suara keras lima kali berturut-turut dan empat batang pedang beserta sebatang tongkat telah tersambar dan patah-patah oleh sinar pedang Koai-liong Po-kiam!

Lima orang tosu itu berlompatan mundur dengan kaget bukan main.

Dalam waktu belasan jurus saja, senjata mereka telah patah-patah dan ini berarti bahwa mereka telah kalah.

Ucapan Siangkoan Kok tadi terbukti!

"Ha-ha-ha, sekawanan tosu sombong sekarang baru menyaksikan tingginya langit!"

Siangkoan Kok tertawa bergelak, diikuti oleh mereka yang memang sudah tunduk kepada Thian-li-pang.

Seng Bu yang tadinya seperti kesetanan, kini sudah tenang kembali dan dia pun menghampiri Kim Giok dan mengembalikan pedang gadis itu.

Gadis itu masih duduk tercengang.

Tadi ia melihat betapa pemuda pujaan itu seperti telah berubah.

Gerakannya demikian aneh, seperti bukan orang bersilat, seperti orang gila atau binatang buas mengamuk, dan suaranya tadi!

Juga matanya mencorong aneh dan mengerikan.

Akan tetapi sekarang dia telah kembali menjadi seorang pemuda yang tampan dan lembut seperti biasanya, yang mengembalikan pedangnya dengan senyum manis.

Ia pun menerima pedang itu dan menyarungkannya kembali, tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pemuda itu.

"Terima kasih, Giok-moi,"

Kata Seng Bu dan dia pun kembali menghadapi lima orang tosu yang masih berdiri tertegun.

"Apakah To-tiang berlima masih penasaran? Masih tidak percaya bahwa aku telah mengalahkan Yo Han yang hendak membunuhku dan kini dia telah tewas di dalam sumur tua?"

Tanyanya, tersenyum, akan tetapi senyum-nya dingin dan pandang matanya mengejek dan merendahkan.

Lima orang tosu itu merasa penasaran sekali.

Sukar bagi mereka untuk menerima kekalahan dari seorang pemuda, padahal mereka tadi maju bersama.

"Ouw Pangcu, senjata kami rusak karena keampuhan pedang Koai-liong Pokiam, akan tetapi kami belum merasa kalah."

Kata Thian To-cu.

"Lalu To-tiang mau apa?"

Seng Bu menantang.

"Kita lanjutkan pertandingan dengan tangan kosong agar kalah menang ditentukan oleh kepandaian, bukan oleh keampuhan senjata."

"Baik, kalau To-tiang masih penasaran, silakan!"

Seng Bu menantang.

"Ha-ha-ha, dasar tosu-tosu tolol, tak tahu diri!"

Siangkoan Kok mencela dari tempat duduknya.

"Semua orang tahu bahwa orang-orang Bu-tong-pai mengandalkan ilmu pedangnya. Kalau menggunakan pedang saja kalah, apalagi bertangan kosong. Mencari penyakit, ha-ha-ha, para tosu tolol yang mencari penyakit!"

Bekas ketua Pao-beng-pai ini tertawa-tawa.

Mendengar ejekan ini, lima orang tosu Bu-tong-pai menjadi marah.

Mereka sudah memasang kuda-kuda dan Thian To-cu berseru.

"Ouw Pangcu, sambut serangan kami!"

Orang-orang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cu Kim Giok, Siangkoan Kok dan beberapa orang di antara tamu, terkejut melihat cara lima orang tosu itu membuka penyerangan mereka.

Thian To-cu berada di depan, empat orang sutenya menempelkan telapak tangan di punggungnya.

Jelas bahwa mereka berlima itu menyatukan tenaga sakti mereka untuk mengalahkan Seng Bu.

Kim Giok terkejut sekali, maklum betapa kuatnya tenaga lima orang tosu yang dipersatukan itu.

Bahkan Siangkoan Kok sendiri mengerutkan kening dan memandang khawatir.

Akan tetapi, Kim Giok menahan teriakannya untuk mencegah kekasihnya menyambut serangan itu karena memang sudah terlambat.

Seng Bu sama sekali tidak mengelak, bahkan dia juga mendorongkan kedua telapak tangan ke depan untuk menyambut serangan gabungan itu.

"Desss....!!"

Dua pasang telapak tangan bertemu dengan dahsyatnya dan lima orang tosu itu terjengkang roboh!

Ilmu yang dikuasai Seng Bu memang hebat dan aneh.

Biarpun dipelajarinya secara ngawur dan tidak menurut aturan, namun tidak kehilangan keampuhannya, bahkan lebih aneh lagi dan mengandung racun yang hebat.

Ilmu Bu-kek Hoat-keng aselinya, biarpun dahsyat, namun dapat dikendalikan, Dan memang memiliki daya penolak atau mengembalikan kekuatan lawan yang menyerangnya.

Akan tetapi, yang dikuasai Seng Bu sudah berubah, tenaga dahsyat itu tidak dapat dikendalikannya dan mengandung racun hebat.

Akan tetapi daya tolaknya masih ampuh sehingga ketika lima orang tosu itu menyerangnya dengan tenaga gabungan yang dahsyat, tenaga itu membalik dan memukul diri mereka Sendiri!

Peristiwa robohnya lima orang tosu ini mengejutkan semua orang, dan amat mengagumkan dan melegakan hati Kim Giok.

Bahkan Siangkoan Kok terkejut dan kagum bukan main, membuat dia semakin yakin akan kelihaian ketua Thian-li-pang yang masih muda itu.

Lima orang tosu itu bangkit dengan muka pucat.

Yang paling parah adalah Thian To-cu yang muntah darah.

Seng Bu memberi hormat dan berkata.

"To-tiang berlima melihat sendiri bukti ketanguhan kami. Sebaiknya kalau To-tiang membawa Bu-tong-pai bekerja sama dengan kami untuk berjuang dan kalau Bu-tong-pai menolak, kami harap tidak lagi mengganggu kami."

"Maafkan kami yang tak tahu diri, kami mengaku kalah."

Kata Thian To-cu dan dibantu empat orang sutenya, dia pun meninggalkan tempat itu diikuti suara tawa Siangkoan Kok.

Thian To-cu dengan susah payah menuruni Bukit Naga, dibantu oleh empat orang sutenya yang juga menderita luka guncangan dalam dada.

Mereka terpukul oleh tenaga mereka sendiri yang membalik, akan tetapi yang paling parah adalah Thian To-cu karena dia bukan saja terguncang hebat oleh pukulan-nya yang membalik, juga dia dilanda hawa beracun yang membuat dadanya sesak dan warna kulit dadanya menghitam!

Setelah tiba di kaki bukit, Thian To-cu tidak tahan lagi dan roboh pingsan!

Pada saat empat orang to-su dengan bingung merubung suheng mereka dan berusaha menyadarkannya, mereka mendengar, suara seorang wanita yang bertanya.

"To-tiang sekalian, apakah yang terjadi dan kenapa To-tiang itu? Eh, bukankah kalian tosu-tosu dari Bu-tongpai?"

Empat orang tosu itu menengok.

Seorang gadis telah berdiri di situ.

Gadis yang masih amat muda, belum dua puluh tahun usianya.

Cantik jelita dan gagah sekali sikapnya.

Pakaiannya berwarna merah.

"Aih, bukankah dia Thian To-cu To-tiang dari Bu-tong-pai?"

Kata lagi gadis itu dengan nada suara heran.

"Kenapa dia?"

Kini dua di antara empat orang tosu itu teringat bahwa gadis ini pernah satu kali singgah di kuil mereka.

"Kiranya Ang-ho Li-hiap (Pendekar Wanita Bangau Merah)!"

Seru seorang di antara mereka.

"Kami berlima baru turun dari bukit, berkunjung ke Thian-li-pang dan kami dilukai oleh ketuanya."

"Ahhhhh?"

Gadis itu adalah Tan Sian Li, Si Bangau Merah.

Tentu saja ia merasa heran bukan main mendengar ketua Thian-li-pang melukai lima orang tosu Bu-tong-pai.

Bukankah Thian-li-pang merupakan perkumpulan para patriot gagah perkasa?

Bahkan Yo Han menjadi pemimpin besar mereka.

Kenapa kini ketuanya memukul orang-orang Bu-tongpai?

Kalau ia tidak salah ingat, Yo Han pernah bercerita tentang Thian-li-pang dan ketuanya adalah Lauw Kang Hui, seorang kakek yang gagah perkasa.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah menolong tosu yang terluka itu.

Bu-tong-pai adalah perkumpulan orang gagah, para muridnya banyak yang menjadi pendekar.

Bahkan ayahnya menghormati Bu-tong-pai, maka sudah sepantasnya kalau ia mencoba menolong para tosu itu.

"Biarkan aku memeriksanya, siapa tahu, akan dapat mengobati dan menyembuhkannya,"

Katanya.

Melihat sikap gadis muda itu yang tenang dan tegas, empat orang tosu itu mundur dan membiarkan Sian Li melakukan pemeriksaan.

Sian Li berjongkok dekat tubuh Thian To-cu yang masih pingsan, lalu memegang pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya.

Ia mengerutkan alisnya.

Dari denyut nadi itu ia maklum bahwa keadaan tosu itu cukup gawat dan dia menderita luka dalam yang mengandung hawa beracun!

"Coba ceritakan, apa yang terjadi bagaimana dia sampai terluka dalam seperti ini."

Katanya.

Empat orang tosu itu menceritakan tentang perkelahian mereka melawan ketua Thian-li-pang, tentang adu tenaga yang mengakibatkan mereka semua terluka.

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Hemmm, sungguh aneh. Aku harus memeriksa keadaan tubuhnya. Tolong bukakan bajunya, aku ingin memeriksa dadanya."

Seorang tosu membuka baju yang menutupi dada Thian To-cu dan mereka terkejut melihat dada itu kehitaman.

Sian Li meraba dada itu dan mengangguk-angguk.

"Dia telah terkena hawa beracun yang aneh sekali. Bagaimana mungkin ketua Thian-li-pang dapat melakukan pukulan sekeji ini?"

"Pemuda itu memang keji, aneh, seperti iblis!"

"Pemuda? Bukankah ketua Thian-li-pang sudah tua?"

"Dia masih muda sekali, Lihiap, paling tua dua puluh empat tahun."

"Ahhh? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui dan sudah tua?"

"Bukan. Lauw Kang Hui sudah mati, dan dialah ketua baru yang penuh rahasia."

Sian Li merasa heran.

"Biarlah kucoba mengobati suheng kalian ini lebih dahulu."

Katanya dan gadis murid Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini lalu mengeluarkan dua batang jarum emas.

Ia mengobati Thian To-cu dengan cara menusuk jarum.

Tidak sampai setengah jam ia mengobati tosu tua itu, warna hitam di dada pendeta itu lenyap dan tosu Bu-tong-pai itu siuman, dan biarpun masih agak lemah, telah mampu bangkit.

"Siancai...., kiranya Si Bangau Merah yang telah mengobatiku. Terima kasih atas pertolonganmu, Tan-lihiap."

Kata Thian To-cu.

"To-tiang, apa sih yang telah terjadi di Thian-li-pang? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui, dan bagaimana sekarang tiba-tiba muncul ketua baru yang masih muda dan memiliki ilmu pukulan keji itu? Aku sendiri hendak naik ke sana dan mencari kalau-kalau Han-koko berada di sana."

"Siapakah Han-koko itu, Lihiap?"

Tanya Thian To-cu.

"Yang kumaksudkan adalah koko Yo Han, Sin-ciang Tai-hiap. Bukankah dia merupakan pemimpin besar Thian-li-pang?"

Mendengar ini, Thian To-cu menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram.

"Siancai.., suatu keanehan terjadi di atas sana, Lihiap."

Dia memandang ke atas bukit.

"Karena terjadinya perubahan aneh di Thian-li-pang, maka kami berlima datang berkunjung untuk melakukan penyelidikan dan meminta keterangan. Akan tetapi, kami dihadapkan kepada kenyataan pahit, bahkan kami sampai terluka."

Tentu saja, Sian Li tertarik sekali.

"Ceritakan, To-tiang. Apa sih yang terjadi dengan Thian-li-pang?"

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 6

Baca Juga: Bu Kek Siansu 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert