Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Sakti 7

Eps 7 Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo.

"Mula-mula kami mendengar berita yang meresahkan hati, bahwa para pimpinan Thian-li-pang, yaitu Lauw Kang Hui dan beberapa orang pembantunya, telah tewas. Kemudian terdengar berita bahwa Thian-li-pang mempunyai seorang ketua baru dan sejak itu sepak terjang Thian-li-pang menjadi aneh. Mereka menundukkan hampir semua perkumpulan silat dan tokoh kang-ouw di daerah ini, membujuk atau memaksa mereka untuk bekerja sama. Bahkan golongan sesat, bersekutu pula dengan golongan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, sebetulnya, kami dari Bu-tong-pai tidak ingin mencampuri urusan dalam, sampai ada sebuah berita yang membuat kami merasa penasaran sekali dan memaksa kami untuk datang berkunjung. Berita itu adalah bahwa para pemimpin Thian-li-pang itu dibunuh oleh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han."

"Ahhhh.... tidak mungkin....!!"

Sian Li berseru, kaget bukan main.

"Kami juga tidak percaya akan berita itu, Lihiap. Kami mengenal siapa Sin-ciang Tai-hiap. Apalagi membunuh para pimpinan Thian-li-pang padahal dia pemimpin besar di sana, bahkan para penjahat pun tidak ada yang dibunuh-nya. Dia menundukkan penjahat dan menasihatinya, membujuknya sehingga banyak pen-jahat kembali ke jalan benar. Akan tetapi, ada berita lain yang terlalu aneh. Yang mendorong kami melakukan penyelidikan, yaitu bahwa baru beberapa hari ini, Sin-ciang Tai-hiap dibunuh oleh ketua baru Thian-li-pang!"

"Ahhhhh....!!"

Kini Sian Li meloncat berdiri dan mukanya berubah pucat sekali, matanya terbelalak.

"Aku.... aku tidak percaya!!"

"Kami juga tidak percaya akan keterangan yang diberikan ketua baru Thian-li-pang itu sehingga terjadi bentrokan antara kami dan dia. Akan tetapi, dia ternyata amat lihai dan memiliki ilmu pukulan yang amat keji. Kami kalah dan pergi dalam keadaan luka."

"Kalau begitu, aku harus menyelidiki ke sana. Selamat berpisah, To-tiang!"

Setelah berkata demikian, nampak berkelebat bayangan merah dan Sian Li sudah lenyap dari depan para tosu itu.

Thian To-cu menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.

"Sungguh berbahaya sekali, akan tetapi mudah-mudahan Tan-lihiap akan mampu menandingi iblis itu,"

Katanya.

Mereka berlima merasa prihatin sekali, akan tetapi juga tidak berdaya.

Dengan hati diliputi kegelisahan mendengar Yo Han dibunuh ketua baru Thian-li-pang yang kabarnya masih muda itu, Sian Li berloncatan dan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki Bukit Naga.

"Berhenti!!"

Tiba-tiba terdengar seruan dan dari balik pohon dan semak belukar, berloncatanlah sepuluh orang anggauta Thian-li-pang dan mereka mengepung Sian Li.

Ketika melihat bahwa yang datang tanpa diundang dan mereka kepung itu hanya seorang gadis cantik berpakaian serba merah, sepuluh orang anggauta Thian-li-pang itu tertegun lalu mereka tertawa-tawa dan mereka menyarungkan kembali golok mereka karena mereka tentu saja memandang rendah seorang gadis, cantik seperti Sian Li.

Akan tetapi, biarpun mereka kagum akan kecantikan Sian Li, mereka tidak berani bersikap kurang ajar.

Ketua mereka mempunyai hubungan luas dengan dunia kang-ouw dan kalau ternyata gadis ini seorang sahabat ketua mereka, maka kekurang-ajaran mereka cukup untuk menjadi alasan mereka dihukum berat oleh ketua mereka.

"Nona, siapakah Nona dan ada keperluan apakah mendaki Bukit Naga? Apakah Nona seorang tamu dari Thian-li-pang?"

Karena merasa amat khawatir akan keselamatan Yo Han yang kabarnya dibunuh ketua Thian-li-pang, Sian Li langsung saja bertanya.

"Apakah kalian ini anak buah Thian-li-pang?"

"Benar, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apa Nona datang berkunjung?"

"Siapakah nama ketua Thian-li-pang sekarang?"

Tanya Sian Li. Orang-orang itu saling pandang, masih ragu-ragu karena belum tahu apakah gadis ini teman ataukah lawan.

"Ouw pangcu kami bernama Ouw Seng Bu,"

Kata pemimpin mereka, seorang yang bertubuh kurus kering dan mukanya kuning.

"Katakan kepada Ouw-pangcu bahwa aku ingin bertemu. Namaku Tan Sian Li."

Mendengar bahwa gadis cantik ini hendak bertemu dengan ke-tua mereka, orang-orang Thian-li-pang itu tidak berani bersikap lancang.

Si kurus kering berkata.

"Mari silakan mengikuti kami, Nona. Kami akan melaporkan kepada ketua kami."

Sian Li mengikuti mereka memasuki perkampungan Thian-li-pang dan berhenti di depan gedung induk yang menjadi tempat tinggal ketua Thian-li-pang.

Si kurus kering segera masuk untuk melaporkan kepada Ouw Seng Bu.

Pada saat itu, Ouw Seng Bu sedang bercakap-cakap dengan Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok.

Siangkoan Kok sedang melaporkan tentang hasilnya menalukkan partai-partai persilatan dan perkumpulan besar di dunia kang-ouw untuk bekerja sama dengan mereka mendukung perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah.

Cu Kim Giok hanya sebagai pendengar saja.

Gadis ini semakin kagum kepada Ouw Seng Bu dan tidak lagi memandang rendah kepada Siangkoan Kok atau para tokoh perkumpulan sesat yang telah bergabung dengan Thian-li-pang.

Ia menganggap bahwa di dalam perjuangan menentang penjajah, memang semua kekuatan harus dipersatukan, seperti yang dikatakan pemuda yang dicintanya itu.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa kadang-kadang kekasihnya itu bertindak kejam, namun ia menghibur hatinya yang merasa tidak cocok itu bahwa memang demikianlah perjuangan.

Ia menganggap kekasihnya seorang pejuang sejati, seorang pahlawan dan pendekar.

Dan sikap Ouw Seng Bu terhadap dirinya demikian baik, sopan, ramah dan penuh perhatian, penuh kasih sayang!

Daun pintu ruangan itu diketuk orang.

Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya.

"Masuk!"

Katanya lantang. Si kurus kering membuka daun pintu dan masuk, disambut bentakan Ouw Seng Bu.

"Ada urusan apa sampai engkau berani mengganggu kami?"

"Maaf, Pangcu. Kami mengadakan penjagaan di lereng dan bertemu dengan seorang gadis berpakaian merah yang menanyakan Pangcu dan minta bertemu dengan Pangcu. Karena itu, kami mengajaknya datang dan sekarang ia menanti di ruangan depan."

"Siapakah namanya dan apa keperluannya?"

"Ia tidak mengatakan keperluannya, hanya ingin bicara dengan Pangcu dan namanya Tan Sian Li..."

"Ah, ia Sian Li..!!"

Seru Cu Kim Giok kaget, heran dan juga girang.

"Si Bangau Merah...!!"

Seru pula Siangkoan Kok.

"Kalian sudah mengenalnya?"

Tanya Ouw Seng Bu heran.

"Siapakah gadis itu, Giok-moi?"

"Bu-koko, Tan Sian Li adalah puteri paman Tan Sin Hong."

Jawab Kim Giok.

"Kami pernah saling bertemu dalam pesta ulang tahun Paman Suma Ceng Liong."

"Ia adalah Si Bangau Merah, puteri Pendekar Bangau Putih dan ibunya adalah keturunan keluarga Istana Gurun Pasir."

Kata pula Siangkoan Kok.

"Ahhh....!"

Ouw Seng Bu terkejut sekali.

"Ada keperluan apa ia datang ke sini? Aku tidak mengenalnya."

Lalu kepada si kurus kering dia berkata.

"Persilahkan Nona Tan Sian Li untuk menunggu di kamar tamu. Aku segera menemuinya di sana."

Setelah si kurus kering pergi, dia menoleh kepada Kim Giok.

"Giok-moi, engkau mengenalnya dengan baik. Apa yang harus kulakukan?"

"Aku agak khawatir, Koko, karena aku pernah mendengar bahwa Sian Li saling mencinta dengan Yo Han. Jangan-jangan ia datang untuk...."

Wajah Ouw Seng Bu berubah.

"Ah, kalau begitu kita harus membuat per-siapan untuk mengatasinya. Ia merupakan ancaman bagi kita."

"Koko, harap engkau jangan meng-ganggu Sian Li. Kita harus mencari jalan agar ia tidak memusuhi kita, bahkan membujuknya agar membantu perjuangan kita."

Kata Kim Giok.

"Engkau benar, Giok-moi. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak mau dan hendak membalas dendam karena kematian Yo Han?"

"Kalau begitu, kita habisi gadis itu karena membahayakan kita!"

Kata Siangkoan Kok.

"Aku tidak setuju!"

Kata Cu Kim Giok tegas.

"Aku tidak rela kalau ia dibunuh! Ia masih kerabat dekat orang tuaku. Tidak mungkin aku membiarkan orang membunuhnya!"

"Giok-moi, apakah engkau membiarkan ia membalas dendam atas kematian Yo Han dan menghancurkan Thian-li-pang kita? Apakah engkau rela kalau ia membunuhku? Kalau kita biarkan ia pergi, dan ia mengajak ayahnya dan semua keluarga menyerang, kita akan celaka. Keluarga Suling Emas dan Gurun Pasir merupakan kerabat dekat dan bagaimana kita dapat menanggulangi mereka yang memiliki banyak orang sakti?"

"Tidak, aku tidak ingin ia membunuhmu, akan tetapi juga tidak ingin engkau membunuhnya. Kita mencari jalan terbaik. Aku akan membujuknya agar Ia mau melihat kenyataan bahwa Yo Han tewas karena ulah sendiri dan agar ia tidak memusuhi kita."

"Andaikata usahamu itu gagal?"

"Kalau begitu, terserah, akan tetapi aku tetap melarang ia dibunuh."

"Baiklah, Giok-moi, kalau ia berkeras kita tangkap dan tawan saja ia sebagai tamu, agar ia melihat sepak terjang kita dalam perjuangan."

Terdengar ketu-kan pada daun pintu dan suara si kurus kering tadi.

"Lapor, Pangcu. Nona Tan sudah menanti di ruangan tamu."

"Baik, kami segera datang. Mari, Giok-moi!"

Siangkoan Kok tidak ikut karena kalau dia muncul di depan Si Bangau Merah, tentu akan mengejutkan gadis itu dan mendatangkan kesan buruk karena mereka pernah bermusuhan dan bertanding.

Sian Li sudah menjadi tidak sabar menanti terlalu lama, maka ketika mendengar langkah orang dari dalam, ia sudah bangkit berdiri.

Dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat bahwa yang muncul adalah seorang pemuda tampan bersama seorang gadis yang dikenalnya sebagai Cu Kim Giok!

Akan tetapi, ia takut kalau salah lihat dan mungkin gadis itu orang lain yang hanya mirip Cu Kim Giok, maka dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian.

"Sian Li....!"

Cu Kim Giok yang berseru sambil menghampiri Si Bangau Merah.

"Kiranya engkau!"

"Jadi benar engkau Cu Kim Giok? Kim Giok, bagaimana engkau dapat berada di sini?"

"Panjang ceritanya, Sian Li. Perkenalkan, ini adalah Ouw Seng Bu, pangcu dari Thian-li-pang. Silakan duduk!"

Sian Li masih keheranan, akan tetapi ia pun duduk berhadapan dengan mereka setelah membalas penghormatan Ouw Seng Bu kepadanya.

Pangcu yang masih muda itu bersikap sopan dan hormat sekali.

"Sungguh merupakan kehormatan besar menerima kunjunganmu, Nona. Bukankah Nona yang berjuluk Si Bangau Merah? Sudah lama kami mengenal nama besar Nona di dunia kang-ouw."

Kata Ouw Seng Bu.

"Ouw-pangcu, aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Kuharap engkau suka menjawab sejujurnya!"

"Sian Li, Ouw-pangcu adalah seorang pendekar, seorang pahlawan bangsa yang sedang berjuang untuk menentang penjajah Mancu. Tentu saja dia akan men-jawab semua dengan sejujurnya."

Kata Cu Kim Giok.

"Kim Giok, aku berurusan dengan Ouw-pangcu, harap engkau tidak mencampuri."

Kata Sian Li, masih ragu dan heran melihat keakraban antara gadis itu dan ketua Thian-li-pang.

Memang ia merasa ingin tahu sekali bagaimana Kim Giok dapat berada di situ, akan tetapi ia mengesampingkan keinginan tahu ini karena ia lebih mementingkan jawaban tentang Thian-li-pang dan terutama tentang Yo Han seperti yang didengarnya dari para tosu Bu-tong-pai.

"Tanyalah, Nona. Saya akan menjawab sejujurnya."

Kata Ouw Seng Bu.

Sian Li berpikir, biarpun ia ingin sekali segera mendengar tentang Yo Han, akan tetapi ia ingin mengajukan pertanyaan secara teratur.

"Ouw-pangcu, aku mendengar bahwa Thian-li-pang menaklukkan banyak partai persilatan dan memaksa para tokoh kang-ouw untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang, bahkan Thian-li-pang bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pal. Benarkah itu dan mengapa demikian! Setahuku, Thian-li-pang adalah perkumpulan pejuang yang gagah perkasa yang menentang partai-partai sesat."

Ouw Seng Bu tersenyum.

Sebelum pendekar wanita itu mengajukan pertanyaan, dia telah dapat mengira apa yang akan dipertanyakan, maka, dia pun tentu saja sudah siap dengan jawabannya.

"Itulah pertanyaanmu, Nona? Memang kami akui bahwa Thian-li-pang telah mengubah siasat. Kami yakin benar bahwa tanpa adanya persatuan, pengerahan seluruh tenaga yang ada di tanah air, mustahil akan dapat mengenyahkan penjajah Mancu dari tanah air kita. Karena itulah, maka kami memang membujuk, bahkan kalau perlu memaksa, menyadarkan semua pihak untuk bekerja sama dalam satu perjuangan menentang penjajah dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Karena itu, kami tidak berpantang untuk bersekutu dengan pihak manapun, termasuk Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang kami anggap sebagai rekan-rekan seperjuangan."

"Aku setuju sekali dengan tindakan itu, Sian Li,"

Kata Kim Giok.

"Begitukah? Sekarang pertanyaan ke dua. Aku mendengar bahwa para pimpinan Thian-li-pang, termasuk pangcu Lauw Kang Hui, telah tewas dibunuh orang. Benarkah itu, dan kalau benar, apa yang terjadi dan siapa pelakunya?"

Dengan jantung berdebar namun wajah tetap tenang, sepasang matanya mencorong mengamati wajah ketua Thian-li-pang itu, Sian Li menanti jawaban.

Ouw Seng Bu menghela napas panjang sebelum menjawab.

"Pertanyaan ini amat menyedihkan hati saya, akan tetapi selalu saja orang menanyakannya. Memang benar, Nona. Suhu Lauw Kang Hui, juga suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin, susiok Su Kian dan su-siok Thio Cu, mereka semua telah terbunuh. Bagaimana terjadinya, kami semua tidak mengetahui jelas. Yang kami tahu adalah bahwa mereka itu tewas dan dari tanda pukulan pada tubuh mereka, jelaslah bahwa pembunuhnya adalah Sin-ciang Tai-hiap Yo Han."

"Tidak mungkin!"

Sian Li berteriak.

"Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah seorang pendekar besar, bahkan dia juga tokoh pimpinan dan kehormatan Thian-li-pang. Bagaimana mungkin dia mem-bunuh para tokoh Thian-li-pang sendiri?"

"Kami sendiri memang merasa heran dan berduka, Nona. Sin-ciang Tai-hiap Yo Han dahulunya adalah pujaan kami semua, menjadi tokoh kami. Akan tetapi banyak sekali anggauta Thian-li-pang yang menyaksikan kematian para tokoh kami itu dan jelas bahwa mereka melihat bekas pukulan pada tubuh mereka, pembunuhnya adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han."

"Hemmm, begitukah? Sekarang pertanyaan terakhir. Aku mendengar bahwa engkau, Ouw Seng Bu, telah membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han. Benarkah itu?"

Berkata demikian, Sian Li bangkit berdiri, matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang.

Ouw Seng Bu nampak tegang dan gelisah lehernya basah oleh peluh.

"Nona Tan Sian Li, sungguh hal ini amat menyedihkan. Entah apa yang terjadi pada diri Sin-ciang Tai-hiap karena dia telah berubah sama sekali. Dia datang dan menyerang saya ketika saya berada didekat sumur keramat di belakang bukit. Saya terkena pukulannya yang ampuh sehingga hampir saya tewas. Akan tetapi, para saudara di Thian-li-pang membela saya dan akhirnya Yo-taihiap tergelincir ke dalam sumur tua itu. Karena kami semua takut kepadanya yang seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang kejam dan hendak membunuhi kami, terpaksa kami pergunakan batu-batu untuk menutup sumur itu."

"Tidak....! Bohong....! Aku tidak percaya! Kau kira aku tidak mengenal siapa Yo Han? Dia adalah kakak angkatku, suhengku, dan orang yang paling kucinta di dunia ini. Aku mengenalnya dan tidak mungkin dia melakukan semua itu. Bohong!"

"Maaf, Sian Li,"

Kata Cu Kim Giok.

"terpaksa sekali ini aku mencampuri. Aku yang menanggung bahwa keterangan Ouw pangcu tadi benar, karena aku sendiri yang menjadi saksi. Aku yang mengobati luka yang diderita oleh Ouw-pangcu akibat pukulan Yo Han! Dia terluka parah dan hampir tewas, bagaimana engkau mengatakan dia berbohong?"

"Aku tidak mengerti kenapa orang seperti engkau dapat berada di sini dan membela ketua Thian-li-pang yang baru ini, Kim Giok, akan tetapi aku tidak peduli. Siapapun yang mengatakan bahwa Yo Han melakukan itu semua, aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya. Ouw Seng Bu, bawa aku ke tempat sumur itu, di mana kau katakan tadi Yo Han tergelincir masuk!"

Ouw Seng Bu menghela napas panjang.

"Sungguh, ini merupakan masalah yang membuat kami semua berduka, Nona. Akan tetapi kalau itu yang kaukehendaki, marilah!"

Tanpa banyak cakap lagi, Sian Li mengikuti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok keluar dari ruangan tamu dan menuju ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang, melalui sebuah bukit kecil.

Ia tidak peduli ketika melihat puluhan orang anggauta Thian-li-pang mengikuti mereka dari jarak jauh.

Setelah tiba di sumur yang dimaksudkan, Ouw Seng Bu berhenti dan menunjuk ke arah sumur itu.

"Di situlah dia tergelincir masuk, Nona."

Mendengar bahwa kekasihnya tergelincir ke dalam sumur tua itu dan ditimbuni batu-batu, Sian Li merasa jantung-nya seperti diremas dan kedua kakinya menjadi limbung ketika dengan terhuyung ia menghampiri sumur itu.

Ketika ia tiba di tepi sumur dan melongok ke dalam, ingin rasanya ia menjerit melihat betapa sumur itu telah tertutup batu, memang tidak penuh sekali, akan tetapi dasarnya tidak nampak karena tertutup batu-batuan.

Wajahnya menjadi pucat dan matanya mencorong akan tetapi basah ketika ia membalikkan tubuhnya.

Ia melihat bahwa Seng Bu berdiri tegak dan di belakangnya nampak puluhan orang anak buah Thian-li-pang.

Kim Giok berdiri di samping Ouw Seng Bu dan kelihatan bingung dan gelisah.

"Ouw Seng Bu, cepat perintahkan anak buahmu untuk menggali sumur ini, mengangkat semua batu yang telah ditimbunkan ke dalamnya!"

"Aih, Nona, bagaimana mungkin sumur ini merupakan sumur keramat bagi kami Thian-li-pang...."

"Tidak peduli! Batu-batu itu dilemparkan ke dalam sumur oleh orang-orang Thian-li-pang, maka mereka pula yang harus mengangkatnya dari dalam sumur. Aku ingin melihat bukti keteranganmu tadi. Aku ingin melihat....mayat.... Han-koko. Kalau engkau tidak mau menuruti permintaanku, berarti engkau membohongi aku, dan aku akan membunuhmu!"

"Sian Li, kuharap engkau jangan bersikap seperti ini. Percayalah, kami tidak membohongimu. Lebih baik kita sekarang mengerahkan tenaga kita untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, itu lebih mulia daripada kita saling bentrok sendiri. Tidak ada yang membohongimu, Sian Li. Agaknya telah terjadi sesuatu sehingga Yo Han menjadi berubah...."

"Tutup mulutmu, Kim Giok! Han-koko selamanya tidak berubah. Dia seorang pendekar dan orang gagah sejati. Sedangkan Ouw Seng Bu ini orang macam apa? Kita tidak mengenal dengan baik, siapa tahu semua ini hanya akal busuknya saja. Buktinya, dia telah bersekongkol dengan golongan sesat!"

Pada saat itu terdengar seruan keras dan para anggauta Thian-li-pang otomatis membuat gerakan mengepung sumur tua itu sehingga dengan sendirinya Sian Li juga ikut terkepung!

Dan dari rombongan itu muncullah Siangkoan Kok bersama dua orang berjubah pendeta yang bukan lain adalah Im Yang Ji tokoh Pat-kwa-pai dan Kui Thian-cu tokoh Pek-lian-kauw.

Ouw Seng Bu kini melangkah maju dengan sikapnya yang gagah.

Dengan suara yang dibuat menyesal dia berkata.

"Nona, semua ini adalah kesalahanmu sendiri. Engkau tidak percaya kepada kami dan hendak membongkar sumur keramat ini, berarti engkau telah menghina Thian-li-pang. Karena kami sedang menghimpun tenaga untuk perjuangan, maka sikapmu yang bermusuhan ini tentu saja akan membahayakan kami, misalnya engkau melapor kepada pemerintah penjajah. Karena itu, menyerahlah, terpaksa kami akan menawanmu."

"Singgg....!"

Nampak sinar emas mencorong dan di tangan gadis berpakaian merah itu telah terdapat sebatang suling berselaput emas yang panjangnya seperti pedang.

"Hem, sikapmu ini saja sudah menunjukkan dengan jelas bahwa engkau telah berbohong! Aku yakin bahwa engkau memutar-balikkan kenyataan. Han-koko belum tewas, atau andaikata dia tewas pun tentu engkau sengaja menjebaknya! Aku yakin akan hal itu. Engkau hendak menawanku dan menyuruh aku menyerah? Jangan mimpi! Si Bangau Merah tidak mengenal kata menyerah. Kalian hendak mengandalkan pengeroyokan? Boleh, boleh! Kulihat bekas ketua Pao-beng-pai, Siangkoan Kok, telah berada pula di sini dan dua orang tosu yang tentu merupakan orang-orang sesat!"

"Tangkap gadis sombong ini!"

Ouw Seng Bu membentak dan Siangkoan Kok, dua orang tosu Pat-kwa-pai dan Peklian-kauw, segera menggerakkan senjata mereka.

Ouw Seng Bu sendiri juga menerjang maju dengan tangan kosong.

Para anggauta Thian-li-pang menge-pung ketat.

Menghadapi para pengeroyok yang mulai menyerangnya, Sian Li memutar sulingnya dan nampaklah gulungan sinar emas menyambar-nyambar di antara berkelebatnya bayangan merah.

Gerakan gadis ini cepat bukan main, juga amat indah dan gulungan sinar emas itu mengandung tenaga kuat sehingga dalam beberapa gebrakan saja, beberapa batang senjata anak buah Thian-li-pang terlepas dari pegangan, bahkan dua orang anggauta perkumpulan itu roboh terkena sambaran sinar suling emas.

"Semua mundur, biarkan kami saja yang menghadapinya!"

Bentak Ouw Seng Bu yang maklum akan kelihaian Si Bangau Merah itu.

Para anggauta Thian-li-pang yang memang sudah merasa jerih segera mengendurkan pengepungan dan kini yang menghadapi Sian Li hanya tinggal empat orang, yaitu Siangkoan Kok, Im Yang-ji, Kui Thian-cu dan Ouw Seng Bu sendiri.

Akan tetapi Cu Kim Giok masih belum bergerak, dan hanya menonton tiga orang sekutunya yang kini mulai menggerakkan senjata menyerang gadis berpakaian merah yang memegang suling emas itu.

Agaknya, Ouw Seng Bu masih tidak percaya kalau tiga orang sekutunya yang merupakan tokoh-tokoh kang-ouw yang amat tangguh itu tidak akan mampu menundukkan Sian Li.

"Bu-koko, engkau tidak boleh membunuhnya. Aku akan marah sekali kepadamu kalau engkau membunuhnya."

"Giok-moi, ia berbahaya sekali. Kalau sampai lolos, ia tentu akan melapor kepada pemerintah dan kalau pasukan besar pemerintah datang menyerbu, kita belum siap menghadapi mereka."

"Tangkap saja, tawan saja akan tetapi jangan bunuh. Aku tidak rela kalau ia dibunuh. Kita adalah pejuang-pejuang, tidak akan membunuhi kaum pendekar, Koko!"

Ouw Seng Bu mengangguk.

Dia pun maklum bahwa membunuh Si Bangau Merah akan mendatangkan akibat yang amat berbahaya, karena kalau sampai Pendekar Sakti Bangau Putih mendengar bahwa puterinya terbunuh oleh Thian-li-pang, dan pendekar sakti itu mengerahkan kekuatan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, bagaimana mungkin Thian-li-pang akan kuat bertahan?

"Paman Siangkoan Kok dan kedua To-tiang, tangkap saja Si Bangau Merah, jangan bunuh dan jangan lukai.

Kami ingin menawannya."

Serunya kepada tiga orang sekutunya.

Mendengar seruan ketua Thian-li-pang itu, tiga orang tokoh yang mengeroyok Sian Li mengubah gerakan mereka.

Siangkoan Kok menggunakan pedangnya hanya untuk menangkis suling di tangan gadis itu, sedangkan yang melakukan serangan adalah tangan kirinya, dengan cengkeraman, tamparan atau totokan.

Demikian pula dengan dua orang tosu pengeroyok.

Im Yang-ji tokoh Pat-kwa-pai memutar pedang hanya untuk mengurung gadis itu dengan sinar pedangnya dan yang menyerang adalah tangan kirinya dengan ilmu totokan yang ampuh dari Pat-kwa-pai dengan gerakan ilmu silat Pat-kwa-kun.

Juga Kui Thian-ou, tokoh Pek-lian-kauw menyerang dengan ujung lengan bajunya yang kiri, menotok untuk merobohkan Sian Li, sedangkan pedangnya juga hanya untuk membendung gerakan suling emas yang dahsyat itu.

Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Sian Li masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian tokoh Pat-kwa-pai atau tokoh Pek-lian-kauw itu.

Akan tetapi, bagaimanapun gadis yang usianya belum genap dua puluh tahun itu masih ketinggalan kalau dibandingkan dengan kepandaian Siangkoan Kok, datuk sesat yang banyak pengalaman itu.

Menghadapi pengeroyokan tiga orang tokoh itu, tentu saja Sian Li merasa berat sekali dan dalam beberapa gebrakan saja ia sudah merasa betapa tangannya yang memegang suling tergetar hebat.

Ia pasti tidak akan mampu bertahan terlalu lama kalau tiga orang pengeroyoknya itu menyerang dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi ketika Ouw Seng Bu mencegah mereka agar tidak membunuhnya, maka hal itu membuat Sian Li dapat bertahan lebih baik.

Bahkan beberapa kali sambaran sinar sulingnya hampir saja mengenai tubuh lawan.

Melihat betapa tiga orang sekutunya yang biasanya dapat diandalkan untuk menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw.

yang tidak mau bekerja sama itu sampai sekian lamanya belum juga mampu menundukkan Si Bangau Merah.

Ouw Seng Bu menjadi tidak sabar lagi.

Dia melompat ke dalam medan perkelahian itu.

"Bu-koko, jangan bunuh atau lukai Sian Li!"

Cu Kim Giok berteriak.

Ouw Seng Bu juga tidak bodoh untuk membunuh seorang tokoh seperti Si Bangau Merah, apalagi kalau Cu Kim Giok yang dicintanya itu melarangnya.

Dia sudah meloncat dan mengeluarkan ilmunya yang aneh, yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan.

Akan tetapi dia menjaga agar tangannya yang mengandung racun ampuh itu tidak sampai membunuh gadis yang diserangnya.

Ketika ada angin pukulan yang amat dingin datang menerpanya, Sian Li yang memang sudah terdesak, terkejut bukan main.

Ia mengenal pukulan ampuh, dan untuk meloncat menghindar, tidak ada jalan lagi.

Senjata tiga orang pengeroyoknya yang terdahulu sudah menutup semua jalan keluar dengan sinar pedang mereka.

Terpaksa ia mengerahkan sinkang dan menyambut pukulan itu.

"Desss....!!"

Sian Li terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan Siangkoan Kok untuk melancarkan totokan jari tangannya dan tubuh Sian Li yang terhuyung itu nyaris terkena totokan.

Gadis yang memiliki ginkang luar biasa ini, cepat memutar sulingnya dan tubuh itu mencelat ke samping.

Dalam keadaan yang amat gawat itu ia masih mampu menghindarkan diri dari totokan!

Akan tetapi, kini empat orang lihai itu sudah mengepungnya.

Pada saat yang amat gawat bagi Sian Li itu muncullah dua orang yang tanpa banyak cakap lagi segera terjun ke dalam perkelahian itu.

Mereka itu seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Pangeran Cia Sun dan Sim Hui Eng, atau tadinya bernama Siangkoan Eng!

Seperti kita ketahui, Pangeran Cia Sun ditawan oleh Sim Hui Eng yang mengira pangeran itu yang menyebabkan kematian ibunya dan kehancuran Pao-beng-pai.

Kemudian pangeran itu membuka rahasia Hui Eng sehingga gadis itu mengetahui bahwa ia bukanlah puteri Siangkoan Kok, bukan pula puteri mendiang Lauw Cu Si yang selama ini dianggap ibu kandungnya.

Bahkan dalam pertemuan itu, mereka saling menemukan cinta mereka dan akhirnya Cia Sun mengajak kekasihnya untuk menemui orang tua kandungnya yang aseli, yaitu pendekar sakti Sim Houw dan Can Bi Lan.

Dalam perjalanan, mereka mendengar tentang sepak terjang Thian-li-pang yang menundukkan banyak tokoh dan perkumpulan kang-ouw.

Hal ini menimbulkan kecurigaan di hati Cia Sun.

Dia sudah menjadi saudara angkat Yo Han dan dia tahu bahwa Thian-li-pang adalah sebuah perkumpulan pejuang, perkumpulan para pendekar gagah perkasa yang memperjuangkan kemerdekaan bagi tanah air dan bangsanya.

Bahkan saudara angkatnya itu, Si Tangan Sakti Yo Han, menjadi ketua kehormatan perkumpulan itu.

Akan tetapi sekarang apa yang didengarnya?

Perkumpulan itu memaksa para tokoh kang-ouw untuk tunduk, bahkan juga terdengar bahwa para anggauta perkumpulan itu tidak segan melakukan kejahatan.

"Aku harus datang ke sana, aku harus menegur kakakku Yo Han!"

Kata pangeran itu.

Sim Hui Eng siap membantu kekasihnya untuk menegur Yo Han agar menghentikan sepak terjang Thian-li-pang yang tidak baik itu.

Demikianlah, mereka membelokkan perjalanan dan menuju ke Bukit Naga, pusat perkumpulan Thian-li-pang.

Ketika tiba di tempat itu dan melihat Sian Li dikeroyok empat orang, Sim Hui Eng berkata kepada pangeran Cia Sun.

"Koko, itu Si Bangau Merah Tan Sian Li yang dikeroyok!"

Cia Sun memandang dan merasa kagum.

Gadis berpakaian serba merah itu memang lihai bukan main.

Begitu gagah ia memainkan suling emasnya, dan gadis itulah yang dijodohkan dia!

Kalau saja tidak ada Sim Hui Eng yang dicinta dan mencintanya, tentu akan berubah sikapnya terhadap pilihan orang tuanya itu.

Akan tetapi dia mencinta Sim Hui Eng, dan tidak ada seorang bidadari pun yang akan mampu memisahkan dia dan Hui Eng.

(Lanjut ke

Jilid 16) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16

"Kalau begitu, kita harus membantunya."

"Benar, kita harus membantunya. Lihat, para penge-pungnya itu lihai, bahkan bekas ayahku yang jahat itu pun ikut mengeroyoknya."

Dengan kemarahan meluap teringat akan perbuatan Siangkoan Kok yang amat jahat, terbayang kembali betapa ia dihajar dan hampir dibunuh bekas ketua Pao-beng-pai, apa yang di-lakukan orang yang bertahun-tahun ia anggap ayah kandungnya itu terhadap Tio Sui Lan, muridnya sendiri, membuat ia marah dan ketika ia melompat dan menerjang ke arah Siangkoan Kok, serangannya dahsyat bukan main.

Pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kirinya menyambar dahsyat dengan jarum-jarum maut!

"Ehhh....

kau....!??"

Siangkoan Kok terkejut bukan main ketika mengenal penyerangnya.

Akan tetapi, Hui Eng tidak memberi dia banyak kesempatan dan gadis itu sudah menyerang terus, membuat Siangkoan Kok terpaksa melayaninya dengan sungguh-sungguh karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian bekas puterinya ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.

Adapun Cia Sun sudah memutar pedangnya pula membantu Sian Li sehingga Si Bangau Merah itu kini mendapat keringanan, tidak lagi terdesak seperti tadi.

Sian Li sendiri terkejut dan heran melihat Sim Hui Eng.

Ia masih mengenal gadis itu sebagai gadis Pao-beng-pai yang pernah datang mengacau dalam pesta keluarga di rumah pendekar Suma Ceng Liong.

Dan kini gadis itu membantunya, bahkan bertanding seru melawan bekas ketua Pao-beng-pai sendiri!

Juga ia tidak mengenal siapa pemuda bertubuh tegap bermuka bundar putih dan tampan itu, yang datang membantunya pula.

Akan tetapi Si Bangau Merah segera melihat kenyataan bahwa biarpun bantuan mereka berdua itu telah menolongnya dari himpitan para pengeroyok akan tetapi tingkat kepandaian mereka belum cukup tinggi untuk mampu merebut kemenangan dari para pimpinan Thian-li-pang.

"Bu-koko, jangan bunuh mereka! jangan!!"

Kembali Cu Kim Giok berseru.

Melihat kesempatan setelah ia tidak lagi begitu terhimpit berkat pertolongan kedua orang itu, Sian Li segera memutar sulingnya dan berkata.

"Sobat, mari kita pergi!"

Ia memutar sulingnya dengan ilmu silat Kim-siauw-kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan tangan kirinya masih meluncurkan pukulan jarak jauh sehingga dua orang tosu dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw terpaksa harus mundur.

Cia Sun maklum bahwa kalau Si Bangau Merah berteriak mengajak mereka pergi, hal itu tentu berarti bahwa pihak musuh terlampau kuat.

Maka dia pun berseru.

"Eng-moi, kita pergi!"

Tiga orang muda itu berloncatan dengan cepat untuk melarikan diri. Ketika Ouw Seng Bu hendak mengejar, Kim Giok berseru.

"Koko, jangan kejar mereka!"

Ouw Seng Bu meragu dan hal ini menguntungkan Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng.

Kecuali Ouw Seng Bu dan Siangkoan Kok, tidak ada yang akan mampu menahan mereka pergi.

Dan, agaknya karena Ouw Seng Bu ragu-ragu untuk melakukan pengejaran oleh pencegahan Cu Kim Giok, maka Siangkoan Kok juga jerih untuk melakukan pengejaran sendiri.

Semua keraguan ini membuat Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng dapat berlari cepat meninggalkan sarang Thian-li-pang.

Setelah mereka lari sampai ke kaki bukit dan tidak ada yang kelihatan melakukan pengejaran Sian Li menghentikan langkahnya dan dengan sendirinya Cia Sun dan Hui Eng juga berhenti berlari.

Dengan leher basah oleh keringat, mereka saling pandang dan akhirnya Sian Li yang lebih dulu bicara, suaranya agak ketus dan ucapannya ditujukan kepada Hui Eng.

"Sekarang boleh kau katakan kepadaku, apa artinya ini semua? Engkau yang pernah mengacau dan memusuhi keluarga kami, kenapa sekarang mendadak membantuku? Bukankah engkau tokoh Pao-beng-pai dan Siangkoan Kok tadi ketua Pao-beng-pai?"

Sebelum Hui Eng menjawab, dan hal ini terasa sukar baginya, Cia Sun yang mendahuluinya memberi keterangan.

"Nona Tan Sian Li, memang telah terjadi perubahan besar sekali atas diri Eng-moi ini. Jangankan engkau atau orang lain, ia sendiri pun terheran ketika mendengar tentang keadaan dirinya."

Sian Li mengerutkan alisnya dan kini mengamati wajah pemuda itu dengan penuh selidik. Sikapnya masih dingin.

"Hemmm, sebelum engkau bercerita, katakan dulu siapa engkau ini dan bagaimana engkau dapat mengenal namaku!"

Wajah pangeran itu berubah menjadi kemerahan dan dia pun salah tingkah.

"Ehhh.... sebetulnya.... yang mengenalimu tadi bukanlah, aku, melainkan Eng-moi ini, Nona. Aku bernama Cia Sun...."

"Cia....??"

Kini Sian Li terbelalak memandang pemuda itu dan perlahan-lahan kedua pipinya berubah kemerahan.

"Cia Sun....? Kau.... maksudkan pangeran....?"

"Benar, Nona. Aku adalah Pangeran Cia Sun yang oleh orang tua kita...."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya.

"Sudahlah, Pangeran. Harap engkau suka menceritakan tentang semua ini, tentang Enci ini, tentang perubahan yang kau katakan tadi."

Sian Li memotong untuk mengalihkan pembicaraan karena ia menjadi rikuh sekali kalau harus bicara tentang hubungan antara mereka.

Siapa yang tidak menjadi rikuh dan gugup kalau secara tiba-tiba dihadapkan kepada seorang pemuda yang oleh ayah ibunya dicalonkan menjadi suaminya.

"Nona, ketika Eng-moi ini memusuhi keluargamu dan para pendekar, adalah seorang gadis yang bernama Siangkoan Eng, puteri dari ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Kok. Adapun sekarang, Eng-moi bukanlah puteri ketua Pao-beng-pai, bahkan musuhnya, karena Eng-moi ini sebenarnya adalah puteri dari suami isteri pendekar Sim Houw dan Can Bi Lan, yang hilang ketika masih kecil."

Sian Li terbelalak.

"Aihhh....! Jadi engkau.... engkau inikah puteri Paman Sim Houw yang hilang itu? Engkau yang dicari-cari semua pendekar, dicari oleh Han-koko dan aku pun ikut membantu mereka mencarimu? Dan engkau bahkan pernah datang menemui kami sebagai seorang musuh yang sengaja menantang kami?"

"Benar sekali, adik Sian Li. Ketika itu, aku sama sekali tidak pernah mimpi bahwa aku bahkan anggauta keluarga dekat dengan keluarga yang kutantangi sama sekali tidak tahu bahwa aku bukanlah anak kandung Siangkoan Kok dan isterinya. Wanita yang sejak aku kecil mengaku sebagai ibu kandungku adalah Lauw Cu Si, seorang keturunan Beng-kauw yang memusuhi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir."

Kemudian, secara singkat namun jelas, diceritakanlah semua tentang dirinya, tentang Siangkoan Kok dan Lauw Cu Si kepada Sian Li yang mendengarkan dengan bengong.

Cerita itu sungguh seperti dongeng dan tentu saja ia tidak dapat menyalahkan Hui Eng atas sikapnya ketika memusuhi keluarganya dahulu.

Bahkan ia lalu memegang kedua tangan Hui Eng.

"Aihhh, enci Hui Eng. Sungguh malang nasibmu, sejak kecil dipisahkan dari ayah ibu kandung dan dipelihara oleh orang-orang sesat. Akan tetapi dasar engkau keturunan suami isteri pendekar, maka biarpun engkau mendapat didikan para tokoh sesat, tetap saja engkau setelah dewasa berjiwa pendekar dan menentang kejahatan. Lalu, bagamana ceritanya, engkau dapat bertemu dan berkenalan dengan.... Pangeran Cia Sun ini dan kalian dapat datang tepat pada waktunya selagi aku terancam oleh pengeroyokan mereka tadi?"

"Kami saling berkenalan ketika aku dan kakak angkatku Yo Han...."

"Kakak angkatmu, Pangeran?"

Sian Li. terbelalak.

"Benar, Nona. Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan aku telah saling mengangkat saudara. Kami bertemu di Pao-beng-pai, kemudian kami mengangkat saudara setelah kami menjadi tawanan di Pao-beng-pai. Untung ada adik Eng ini yang membebaskan kami. Kemudian, Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah dan isteri Siangkoan Kok, yang dianggap ibu kandung oleh Eng-moi, tewas. Aku yang mengkhawatirkan nasib Eng-moi, ikut pasukan untuk mencarinya. Akan tetapi ia tidak ada dan aku sempat bertemu dengan isteri Siangkoan Kok yang tewas oleh suaminya sendiri. Sebelum meninggal dunia, wanita itulah yang membuka rahasia Eng-moi kepadaku."

Pangeran itu menghentikan kisahnya dan kini Hui Eng yang melanjutkan.

"Aku mengira bahwa Pangeran Cia Sun yang membawa pasukan menghancurkan Pao-beng-pai. Aku tidak peduli Pao-beng-pai yang jahat itu hancur akan tetapi aku mendendam karena wanita yang tadinya kuanggap ibu kandungku itu tewas. Maka, aku menyusul dia dan menawannya, dengan maksud membunuhnya di depan makam ibuku. Akan tetapi, aku mendengar ceritanya dan aku mengetahui keadaan diriku. Kami.... kami berbaik kembali apalagi setelah aku mendengar bahwa wanita yang kuanggap ibu kandungku itu tewas di tangan Siangkoan Kok."

"Tapi, kenapa kalian dapat datang ke Thian-li-pang?"

Tanya Sian Li yang masih terkesan oleh kisah yang terjadi antara kedua orang itu.

Pangeran Cia Sun yang mengambil keputusan untuk berterus terang lalu menyambung cerita kekasihnya.

"Nona, kita sama-sama mengetahui bahwa orang tua kita telah menjodohkan kita, akan tetapi sebaiknya aku berterus terang kepadamu, nona Tan Sian Li. Biarpun setelah bertemu denganmu aku merasa bahwa orang tuaku telah melakukan pilihan yang tepat dan bahkan terlalu baik untukku, akan tetapi aku telah saling jatuh cinta dengan Eng-moi dan kami telah bersumpah untuk menjadi suami isteri. Maafkan aku kalau menyinggung..."

Sian Li tersenyum! Senyum yang cerah dan sedikit pun tidak mengandung penyesalan sehingga melegakan hati Cia Sun dan Hui Eng.

"Aku bahkan merasa lega dan gembira dengan pernyataanmu ini, Pangeran. Terus terang saja, aku sendiri pun sama sekali tidak setuju dengan tindakan ayah dan ibuku yang memilihkan seorang calon suami untukku, seorang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui bagaimana orangnya. Nah, sekarang ceritakan bagaimana kalian dapat datang ke sini."

"Aku hendak mengantar Eng-moi menghadap ayah ibu kandungnya yang tinggal di Lok-yang. Akan tetapi dalam perjalanan itu kami mendengar akan sepak terjang orang-orang Thian-li-pang. Aku merasa penasaran sekali bagaimana Thian-li-pang berubah menjadi perkumpulan yang menyeleweng, padahal, kakak angkatku Yo Han menjadi ketua kehormatannya. Aku lalu mengajak Eng-moi untuk berkunjung, dan kalau ada Yo-toako, aku ingin menegurnya."

Sian Li kembali terheran-heran.

"Pangeran, apakah engkau tidak tahu bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan pejuang yang hendak membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah!? Dan engkau sendiri seorang pangeran kerajaan Ceng...."

"Benar, Nona. Aku seorang Pangeran Mancu, pemerintah penjajah. Akan tetapi aku sendiri tidak menyetujui penjajahan dan menganggap bahwa perjuangan para orang gagah itu memang sudah benar dan menjadi hak mereka. Aku tidak ingin mencampuri urusan itu, aku bercita-cita menjadi orang biasa yang tidak mencampuri urusan pemerintahan. Bahkan kami sekeluarga pun tidak mau mempunyai ambisi untuk memegang kedudukan. Karena itu, selama perkumpulan pejuang benar-benar merupakan pahlawan dan patriot sejati, aku menghormati mereka. Akan tetapi kalau mereka itu melakukan penyelewengan dan menjadikan perjuangan sebagai kedok untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan, aku pasti akan menentang mereka."

Sian Li menganggak-angguk kagum dan ia memandang kepada Hui Eng.

"Aih, enci Eng, engkau telah mendapatkan seorang calon suami yang gagah perkasa. Sekarang tahu-lah aku mengapa ayah dan ibu berkeras hendak menjodohkan aku dengan Pangeran Cia Sun! Harap kau lanjutkan ceritamu, Pangeran."

Mendengar ucapan San Li yang begitu jujur dan terbuka, memuji pangeran itu begitu saja tanpa disembunyikan, sepasang kekasih itu tersipu akan tetapi juga merasa suka dan kagum kepada Si Bangau Merah.

"Kami segera mendaki Bukit Naga ini dan melihat engkau dikeroyok tadinya aku merasa ragu karena tidak tahu urusannya. Akan tetapi begitu Eng-moi mengenalmu dan menyebutkan namamu, kami berdua segera terjun dan mem-bantumu."

Sian Li menghela napas panjang.

"Pertolongan Tuhan datang melalui apa saja, bahkan yang tidak pernah terduga sekalipun. Siapa pernah menduga bahwa ia akan diselamatkan oleh orang yang ditunangkannya akan tetapi tak pernah dikenalnya dan ditolaknya, dan oleh orang yang tadinya jelas memusuhi keluarganya? Kalian datang tepat sekali pada saatnya, karena tadi aku sudah hampir tidak tahan menghadapi mereka, terutama sekali Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang yang amat lihai itu."

"Sekarang tiba giliranmu, Nona. Kami ingin sekali mengetahui bagaimana engkau dapat berada di sana tadi dan di keroyok banyak orang lihai?"

Tanya Cia Sun.

Ditanya begitu, Sian Li teringat akan Yo Han dan tiba-tiba wajahnya menjadi muram.

Kalau saja ia bukan seorang gadis yang tabah dan berhati baja, tentu ia sudah menangis karena teringat bahwa mungkin sekali pria yang dikasihinya itu telah tewas.

Cia Sun dan Hui Eng melihat perubahan muka Sian Li itu dan mereka saling pandang.

Ketika beberapa kali Sian Li hanya menghela napas panjang dan menunduk, alisnya berkerut, Cia Sun menjadi tidak sabar lagi.

"Nona, apakah yang telah terjadi? Apakah ada sesuatu yang membuat engkau enggan menceritakan kepada kami? Kalau begitu, engkau tidak usah menceritakannya...."

"Tidak, Pangeran, bukan begitu, akan tetapi, ah, hatiku risau dan gelisah. Maafkan kelemahanku dan biar kuceritakan dari semula. Sebelum kuceritakan semuanya, sebaiknya kalau aku pun membuat pengakuan kepadamu, pengakuan yang hanya dapat kulakukan setelah engkau berterus terang tentang hubunganmu dengan enci Hui Eng. Pangeran, aku dan kakak Yo Han.... kami berdua.... ehhh..."

Melihat keraguan Sian Li dan perubahan mukanya yang menjadi merah sekali dan bibirnya yang mengulum senyum malu-malu, Cia Sun tersenyum.

"Kalian saling mencinta?"

Sian Li mengerling kepadanya dan mengangguk.

"Ha, sudah kuduga, Nona. Engkau memang pantas sekali menjadi calon isteri Yo-toako. Nah, teruskan ceritamu."

"Ketika tiga orang keluarga besar berkumpul di rumah Paman Suma Ceng Liong, aku tidak melihat Yo Han koko di sana. Aku tahu bahwa dia sedang membantu Paman Sim Houw untuk mencarikan puterinya yang hilang. Karena itu, aku lalu mengambil keputusan untuk membantunya mencarikan enci Hui Eng."

Mendengar ini, Hui Eng berkata.

"Aih, kalian, semua begitu baik, bersusah payah mencari aku, akan tetapi aku sendiri telah bertindak jahat, mengacau di sana...."

Suaranya penuh penyesalan.

"Ah, enci Eng. Seperti yang dikatakan Pangeran tadi, ketika itu engkau bukanlah enci Sim Hui Eng yang sekarang, melainkan Siangkoan Eng puteri ketua Pao-beng-pai. Yang sudah lewat anggap saja mimpi buruk, Enci."

"Engkau benar adik Sian Li. Teruskan ceritamu."

Sian Li lalu menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ia pun mendengar tentang kejahatan orang-orang Thian-li-pang, maka ia pun merasa penasaran dan ingin menyelidiki.

Ia bertemu dengan para tokoh Bu-tong-pai di lereng Bukit Naga dan mendengar penuturan mereka yang membuat ia terkejut setengah mati, yaitu bahwa kabarnya, Yo Han tewas di tangan ketua Thian-li-pang yang baru.

"Apa....?? Tidak mungkin itu!"

Cia Sun berseru kaget setengah mati.

"Aku sendiri juga tidak percaya, Pangeran. Lebih tidak percaya lagi ketika OuW Seng Bu, ketua baru itu, menceritakan bahwa Han-koko telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang, dan bahwa Han-koko datang untuk membunuh dia. Dia melawan di dekat sumur tua dan dia terluka oleh pukulan Han-koko, akan tetapi para anak buah mengeroyok Han-koko yang katanya tergelincir masuk ke dalam sumur tua itu. Dan....dan.... mereka menimbuni sumur tua itu dengan batu."

Suara Sian Li terdengar lirih dan penuh kegelisahan.

"Tapi, aku tetap tidak percaya! Memang ketua baru Thian-li-pang itu lihai, akan tetapi tidak mungkin dia mampu membuat Yo-toako terjatuh ke dalam sumur. Tidak mungkin Yo-toako tewas, aku tidak percaya!"

Kata Cia Sun keras sambil mengepal tinju, akan tetapi suaranya mengandung isak tertahan, tanda bahwa dia juga merasa gelisah sekali.

"Pangeran, biarlah adik Sian Li melanjutkan ceritanya. Lalu apa yang terjadi kemudian, Li-moi?"

"Aku menuntut kepada Ouw-pangcu agar anak buah Thian-li-pang menggali sumur itu dan menyingkirkan timbunan batu-batu. Akan tetapi dia melarang dengan alasan sumur itu keramat bagi Thian-li-pang dan tidak boleh diganggu. Kami bercekcok lalu berkelahi dan aku dikeroyok oleh mereka."

"Aku tetap tidak percaya! Nona, apakah engkau percaya akan keterangan itu? Bohong, ketua Thian-li-pang itu tentulah orang jahat yang berhasil menguasai Thian-li-pang dengan ilmunya. Mungkin dia yang telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang dan menjatuhkan fitnah kepada Yo-toako. Kita harus menyelidiki hal ini!"

"Aku pun tidak percaya, Pangeran. Akan tetapi, satu hal yang mencemaskan hatiku adalah kesaksian yang diberikan oleh Cu Kim Giok."

"Cu Kim Giok? Siapakah itu?"

Tanya Sim Hui Eng dan Cia Sun hampir berbareng.

"Cu Kim Giok adalah puteri Paman Cu Kun Tek dan Bibi Pauw Li Sian dari Lembah Naga Siluman. Ia keturunan terakhir keluarga Lembah Naga Siluman dan masih terhitung kerabat yang ada hubungan pertalian kekeluargaan denganku. Aku merasa heran bukan main melihat ia berada di sana, bahkan nampak akrab sekali dengan Ouw-pangcu itu. Kim Giok yang memberi kesaksian bahwa Ouw-pangcu memang terluka parah oleh pukulan Han-koko. Kehadiran Kim Giok di sana bukan sembarangan saja, pasti tersembunyi rahasia di balik itu semua."

"Aih, jangan-jangan gadis itu dipengaruhi oleh Ouw Seng Bu itu."

"Aku pun menduga begitu, Pangeran. Akan tetapi, jelas bahwa Kim Giok tidak menjadi jahat karenanya. Buktinya, ia yang berkali-kali memperingatkan Ouw-pengcu agar jangan membunuhku atau melukaiku. Agaknya ia pun percaya bahwa Ouw-pangcu berada di pihak yang benar, bahwa ketua baru itu seorang pejuang, seorang pendekar dan pahlawan, dan agaknya ia pun membenarkan Ouw-pangcu dalam urusannya dengan Han-koko. Pasti ada apa-apanya di balik semua ini."

"Pangeran, adik Sian Li, kita semua sudah saling menceri-takan apa yang kita alami. Sekarang tidak ada gunanya untuk menduga-duga dan berheran-heran. Yang terpenting, kita harus menyelidiki sumur tua itu dan kita harus dapat melihat kenyataan apakah benar Yo-taihiap tewas seperti dikatakan Ouw-pangcu itu. Dengan demikian, kita tidak ragu lagi dan setelah itu baru kita putuskan, tindakan apa yang akan kita ambil."

"Tepat sekali apa yang dikatakan oleh dinda Hui Eng, Nona. Kami semua harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari bukti tentang keadaan Yo-toako. Karena bukan tidak ada sebabnya kalau orang-orang Thian-li-pang menimbuni sumur yang mereka anggap keramat itu dengan batu. Walaupun kita tidak percaya akan berita tewasnya Yo-toako, namun kita harus mendapat kepastian."

Sian Li mengangguk.

"Memang kalian benar, dan aku pun sudah mengambil keputusan, tidak akan pergi dari sini sebelum mendapat kenyataan yang jelas tentang diri Han-koko."

Mereka bertiga lalu turun lagi untuk mencari pedusunan di mana mereka bisa membeli makanan.

Setelah membawa bekal makanan kering dan minuman, mereka bertiga lalu berangkat lagi mendaki, Bukit Naga dan mencari jalan agar dapat memasuki daerah perkampungan Thian-li-pang dari belakang, langsung menuju ke sumur tua yang berada di bagian belakang terpisah sebuah bukit kecil dari perkampungan perkumpulan itu.

"Adik Gan Bi Kim, kau tunggu dulu....!!"

Gan Bi Kim menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh.

Ia melihat pemuda itu berlari cepat menghampirinya.

Wajah Bi Kim berseri gembira ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah Gak Ciang Hun pemuda yang selalu terbayang di pelupuk matanya semenjak mereka bertemu lalu berpisah.

Dalam keadaan berduka karena kasihnya yang gagal terhadap Yo Han, ia bertemu pemuda itu yang juga mengalami derita patah hati karena kasihnya terhadap Si Bangau Merah tidak terbalas.

Mereka seolah-olah saling menemukan, saling menghibur dan saling mengisi kekosongan hati masing-masing.

Akan tetapi, pertemuan singkat itu segera diakhiri perpisahan, membuat Gan Bi Kim merasa kehilangan.

Mereka bertiga, ia, Gak Ciang Hun, dan Tan Sian Li, saling berpisah di jalan per-empatan.

Sian Li melakukan perjalanan ke utara, Ciang Hun ke selatan, dan Bi Kim ke timur.

Mereka bertiga bertujuan sama, yaitu membantu pencarian terhadap puteri Sim Houw yang hilang sejak kecil, yaitu Sim Hui Eng.

"Gak-toako....!"

Bi Kim berseru dan kini ia pun lari menghampiri, menyambut pemuda itu dengan hati terbuka dan kedua tangan di julurkan ke depan.

Semenjak berpisah, ia merasa kehilangan dan kesepian, kehilangan gairah dan semangat.

"Kim-moi (adik Kim)....!"

Kedua orang itu, saling menjulurkan kedua tangan, saling tatap tanpa kata.

Dua pasang mata itu bersinar-sinar, kemudian mata Ciang Hun berkaca-kaca sedangkan Bi Kim yang berusaha keras menahan keras guncangan hatinya, tidak urung meneteskan beberapa butir air mata saking merasa lega dan bahagia dapat bertemu kembali dengan orang yang amat dikenangnya.

Ketika terdapat beberapa orang pejalan kaki mendata-ngi, Ciang Hun menggandeng tangan Bi Kim ke tepi jalan dan mengajaknya duduk di atas batu besar.

"Mari kita bicara di sini, Kim-moi,"

Katanya. Setelah duduk saling berhadapan di atas batu, Bi Kim berkata.

"Toako, aku tadi merasa seperti dalam mimpi ketika mendengar panggilanmu kemudian melihat bahwa benar-benar engkau yang datang. Kiranya bukan mimpi dan betapa bahagianya rasa hatiku melihatmu, Toako."

Ciang Hun menggenggam tangan yang masih digandengnya.

Dari tangan mereka yang saling genggam itu saja sudah terasa getaran hati mereka yang berbahagia.

"Kim-moi, aku girang sekali bahwa engkau merasa berbahagia melihat aku mengejarmu. Tadinya aku khawatir kalau-kalau engkau akan marah."

"Marah? Aih, Toako, ketika kita saling berpisah, aku merasa kehilangan pegangan, seolah hidupku hampa. Akan tetapi, apakah yang menyebabkan engkau kembali kepadaku? Apakah ada sesuatu yang penting?"

Ciang Hun tersenyum dan menggeleng kepala, nampak agak tersipu, akan tetapi dengan sejujurnya dia berkata.

"Kim-moi, setelah kita saling berpisah, entah mengapa, hatiku selalu terasa berat. Lalu kupikir betapa besar bahaya yang mengancammu dalam perjalanan seorang diri. Apalagi mengingat bahwa kita sama-sama hendak membantu dan mencari Sim Hui Eng, maka apa salahnya kalau kita mencari bersama? Dengan berdua, atau bertiga dengan Sian Li, kita akan lebih kuat menghadapi bahaya, bukan? Nah, aku lalu berbalik mengejarmu."

Bi Kim tersenyum.

"Kalau begitu pikiran kita sama. Aku pun senang sekali engkau akan menemaniku, Toako. Marilah kita segera menyusul Sian Li ke utara."

"Aku pernah mendengar bahwa Yo Han menjadi pemimpin Thian-li-pang di Bukit Naga. Sian Li mungkin sekali men-cari Yo Han yang dicintanya itu untuk membantunya karena Yo Han sedang mencari Hui Eng. Mari kita cari Sian Li ke sana, siapa tahu ia pergi ke Thian-li-pang di Bukit Naga."

Setelah Ciang Hun berada di sampingnya, tentu saja Bi Kim mengikuti saja ke mana pemuda itu pergi.

Mereka berdua melakukan perjalanan cepat ke utara dan kini mereka merasakan betapa perjalanan mereka amat menyenangkan, tidak lagi kesepian dan kehilangan.

Kita tinggalkan dulu kedua orang ini dan kita tengok keadaan Sian Li, Hui Eng, dan Cia Sun.

Tiga orang ini sudah mengambil keputusan untuk menyelidiki sumur tua di belakang Thian-li-pang untuk mencari bukti kebenaran berita bahwa Yo Han berada di dalam sumur dan ditimbuni batu-batu.

Setelah membuat persiapan secukupnya, tiga orang pendekar ini mendaki Bukit Naga dari arah belakang Thian-li-pang.

Mereka adalah orang-orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka biarpun perjalanan pendakian itu amat sulit bagi orang biasa, mereka dapat juga tiba di belakang bukit yang memisahkan sumur itu dari pusat Thian-li-pang.

Tempat ini memang merupakan tempat yang seolah terasing.

Juga dianggap keramat oleh para murid Thian-li-pang sehingga tanpa ijin ketua, Tak seorang pun anggauta berani memasuki daerah yang menyeramkan itu.

Hari masih pagi sekali ketika mereka mulai mendaki bukit dan kini matahari sudah mulai menyengatkan cahayanya setelah mereka tiba di dekat sumur yang ditimbuni batu-batu.

Tempat itu nampak sunyi, tidak nampak ada seorang pun anak buah Thian-li-pang.

Hal ini melegakan hati tiga orang pendekar, membuat mereka lebih leluasa untuk melakukan pemeriksaan.

Andaikata di situ terdapat anak buah Thian-li-pang, mereka tentu akan merobohkan dulu sebelum dapat melakukan pemeriksaan.

Sian Li mengerutkan alisnya ketika menjenguk ke dalam sumur tua itu.

Sumur itu tertutup banyak batu-batu dan rasanya tidak mungkin batu-batu itu dapat digali dan disingkirkan hanya oleh mereka bertiga.

Tentu akan memakan waktu berhari-hari!

"Ahhh, benarkah Yo-toako ditimbuni batu-batu itu di dalam sumur ini?"

"Aku sama sekali tidak dapat percaya!"

Sim Hui Eng juga memandang ngeri ke dalam sumur itu.

"Aihhh, adik Sian Li, bagaimana kita akan dapat menyingkirkan batu-batu itu? Tidak tahu sampai berapa dalamnya sumur ini dan berapa banyaknya batu yang menimbuninya."

"Bagaimanapun juga, kita harus membongkar batu-batu itu dan mengangkatnya keluar dari sumur. Kalau tidak begitu, bagaimana kita akan dapat membuktikan bualan ketua baru Thian-li-pang itu?"

Sian Li berkata.

"Nanti dulu, Pangeran. Coba engkau dan enci Eng menyerang dan mengeroyokku di dekat sumur ini, aku ingin melihat kemungkinan Han-koko tergelincir ke dalam sumur. Mungkin atau tidak hal itu terjadi kalau kita sedang dikeroyok. Harap kalian mengeroyok dengan sungguh-sungguh, karena kalau benar Han-koko berkelahi melawan ketua Thian-li-pang itu, dan dikeroyok oleh para sekutunya, berarti Han-koko menghadapi banyak lawan tangguh. Nah, mulailah."

Mengerti apa yang dimaksudkan Si Bangau Merah, Cia Sun dan Hui Eng mengangguk, kemudian keduanya sudah menyerang gadis itu dari kanan kiri.

Sian Li mengelak dan menangkis, dan mem-biarkan dirinya terdesak sampai ke tepi sumur.

Dengan cara tidak membalas, ia terdesak mundur sampai ke tepi sumur.

Tiba-tiba, nampak bayangan merah berkelebat ke atas dan gadis itu sudah meloncati kedua orang lawannya, bagaikan seekor burung bangau melayang, melampaui kepala mereka.

"Cukup!"

Katanya.

"Nah, kalian lihat sendiri, aku saja kiranya dalam keadaan gawat menghadapi pengeroyokan, dapat meloloskan, diri dengan mengandalkan gin-kang. Apalagi Han-koko yang memiliki tingkat gin-kang jauh lebih tinggi dariku. Jadi, mustahil kalau sampai mereka itu dapat membuat Han-koko tergelincir ke dalam sumur, bukan?"

"Tepat, Nona. Aku pun sama sekali tidak percaya bahwa Yo-toako demikian bodoh untuk dapat dibuat tergelincir ke dalam sumur yang bibirnya cukup tinggi ini."

Kata Pangeran Cia Sun sambil menyentuh bibir sumur yang tingginya ada 1 satu meter itu.

"Dia pasti berbohong!"

"Adik Sian Li, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang. Apakah tidak lebih baik kita serbu saja Thian-li-pang, menangkap ketuanya dan memaksanya untuk mengaku, atau memaksa dia mengerahkan anak buahnya untuk membongkar batu-batu dalam sumur ini?"

Kata Hui Eng.

"Atau kalau kekuatan mereka terlampau besar bagi kita, biar aku mencari bantuan ke benteng pasukan yang terdekat."

"Nanti dulu, Pangeran. Aku memang mengkhawatirkan keselamatan Han-koko, akan tetapi kurasa andaikata benar dia tewas, tentu bukan karena perkelahian melawan orang-orang jahat itu. Dia mungkin saja tewas atau tertawan karena terjebak, dan mungkin saja tidak berada di dalam sumur ini, melainkan ditawan di suatu tempat rahasia di Thian-li-pang."

"Ahhh, itu mungkin sekali!"

Kata Cia Sun.

"Bagaimana kalau kita bertiga mencari secara terpencar? Dengan terpencar, selain lebih mudah menyusup, juga pencarian dapat dilakukan lebih luas,"

Kata Hui Eng. Wajah Sian Li nampak berseri.

"Demikianlah sebaiknya, enci Eng! Akan tetapi.... ah, aku merasa tidak enak sekali karena selain merepotkan kalian, juga menyeret kalian ke dalam bahaya besar mengingat betapa lihainya mereka."

"Ihhh, nona Tan, mengapa engkau mengatakan demikian? Kakak Yo Han adalah kakak angkatku, sudah sepatutnya kalau aku rela mengorbankan nyawa sekalipun untuk membelanya!"

Kata Cia` Sun.

"Ucapan itu tepat sekali,"

Sambung Hui Eng.

"Adik Sian Li, bukankah keluarga orang tua kita sejak dahulu merupakan keluarga besar para pendekar? Aku telah terseret ke dalam dunia sesat, akan tetapi sekarang tibalah saatnya aku menebus semua kekuranganku itu dan memperlihatkan kepada dunia bahwa aku masih tetap keturunan keluarga pendekar!"

Sian Li memandang dengan haru.

"Kalau begitu, semoga Tuhan melindungi kita semua. Aku akan mengambil jalan dari sini ke kiri, dan engkau ke kanan, enci Eng. Pangeran sendiri melakukan penyelidikan di sini dan terus ke bagian belakang Thian-li-pang."

"Dan kapan kita bertemu lagi? Di mana?"

"Di sini saja. Setelah kita melakukan penyelidikan, kita kembali ke sini dan siang atau sore ini kita harus sudah kembali ke sini mengumpulkan hasil penyelidikan kita."

Kata Sian Li.

Setelah bersepakat, Sian Li berkelebat ke kiri dan Hui Eng meloncat ke kanan.

Dalam sekejap mata saja kedua orang gadis perkasa itu telah lenyap, meninggalkan Cia Sun seorang diri.

Pangeran ini termenung, hatinya diliputi penuh kekhawatiran.

Pertama-tama tentu saja dia mengkhawatirkan.

Hui Eng, gadis yang dicintanya, kemudian dia mengkhawatirkan Yo Han dan Sian Li.

Pihak musuh terlampau kuat, dan jumlah mereka terlalu banyak.

Dia memang tidak ingin mencampuri urusan pemerintah tidak mencampuri urusan perjuangan atau pemberontakan.

Akan tetapi sekali ini dia harus mencari bantuan pasukan pemerintah, bukan untuk membasmi pemberontak, melainkan untuk melindungi dua orang gadis itu dan mencari keterangan tentang Yo Han.

Biarpun dia tahu bahwa Hui Eng memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, bahkan belum tentu di bawah tingkat kepandaian Si Bangau Merah, akan tetapi menghadapi Thian-li-pang yang memiliki anak buah ratusan orang banyaknya, Belum lagi sekutu-sekutunya yang banyak dan lihai, apa yang dapat diperbuat oleh dua orang gadis itu dibantu olehnya sendiri?

Setelah berpikir keras, Cia Sun meninggalkan tempat itu, bukan untuk menyelidiki ke Thian-li-pang, melainkan kembali menuruni bukit itu untuk memasuki dusun di mana tadi mereka membeli bekal makanan.

Dia tahu bahwa kurang lebih seratus li dari dusun itu terdapat benteng Siang-heng-koan di mana terdapat pasukan pemerintah.

Dia sendiri tidak mungkin pergi ke sana karena dia harus mem-bantu dua orang gadis itu.

Melihat seorang laki-laki sedang menggarap sawah di luar dusun itu, Cia Sun cepat memanggilnya dari tepi sawah.

Laki-laki itu bertubuh kuat berkat pekerjaan berat di sawah dan setiap hari mandi cahaya matahari, usianya sekitar empat puluh tahun.

"Toako, kesinilah sebentar aku mempunyai urusan penting untuk dibicarakan!"

Kata Cia Sun.

Melihat seorang pemuda di tepi sawah memanggilnya dan pemuda itu bukan seperti seorang pemuda dusun, petani itu segera menghampiri dan tubuh atas telanjang itu nampak kekar, celananya yang hitam penuh lumpur.

"Ada urusan apakah Kongcu memanggil aku?"

Tanya heran.

"Sobat, maukah engkau mendapatkan penghasilan yang lebih besar jumlahnya daripada penghasilan sawahmu, selama beberapa tahun?"

"Ehhh? Apa maksudmu Kongcu? Aku tidak mengerti...."

Cia Sun mengeluarkan tiga potong besar emas dari sakunya dan memperlihatkannya kepada petani itu.

"Emas ini akan kuberikan kepadamu kalau engkau suka melakukan sesuatu untukku."

Sepasang mata itu terbelalak.

Biarpun selama hidupnya belum pernah dia melihat emas sebanyak itu, apalagi memiliki-nya, akan tetapi dia cukup dewasa untuk mengetahui bahwa tiga potong besar emas itu bukan saja amat mahal harganya dan merupakan jumlah yang lebih besar daripada hasilnya sepuluh tahun bekerja di sawah, bahkan dengan emas itu dia akan mampu membeli sawah yang luas dan rumah tinggal yang cukup baik!

"Apa yang harus kulakukan untuk Kongcu?

Biarpun aku orang miskin, aku tidak mau kalau disuruh mencuri atau membunuh orang, biar dibayar berapa banyaknya pun!"

"Aih, siapa suruh engkau melakukan kejahatan? Tugasmu hanya mudah saja, yaitu mengantarkan surat ke benteng Siang-heng-koan."

"Benteng pasukan....? Ah, mana aku berani, Kongcu? Aku akan ditangkap!"

"Suratku akan membuka pintu benteng dan engkau akan diterima dengan kehormatan sebagai utusanku. Katakan dulu, sanggupkah engkau?"

Karena hanya disuruh mengantar surat, dengan penuh semangat petani itu berkata.

"Aku.... eh, saya sanggup, Kongcu!"

"Kalau begitu, mari kita ke rumahmu, akan kubuatkan surat itu."

Petani itu bergegas mencuci kaki tangannya, lalu mengenakan baju dan capingnya, memanggul cangkulnya dan bersama Cia Sun dia pulang.

Rumahnya diujung dusun, sebuah rumah yang amat sederhana dan miskin.

Mereka disambut isteri petani itu bersama empat orang anak mereka yang merasa terheran-heran melihat petani itu pulang bersama seorang pemuda tampan bukan petani.

Petani itu menyuruh anak isterinya ke belakang dan dia duduk di tengah rumah bersama tamunya.

Atas permintaan Cia Sun, petani itu keluar sebentar untuk membeli alat tulis dan menyewa seekor kuda yang kuat.

Kemudian, Cia Sun menulis surat kepada komandan benteng Siang-heng-koan dan surat itu dibubuhi tanda tangan dan cap yang selalu di-bawanya.

"Nah, sekarang juga engkau cepat pergi menunggang kuda ke benteng itu dan emas ini boleh kau miliki. Dengan emas ini, engkau akan dapat mengubah keadaan hidup keluarga-mu. Akan tetapi awas, kalau sampai surat ini tidak kau sampaikan ke pasukan benteng itu akan kukerahkan pasukan untuk menangkapmu dan engkau dengan seluruh keluargamu akan dihukum berat. Katakan siapa namamu!"

Kata Cia Sun sambil menyerahkan surat itu.

"Nama hamba Ki Siok...."

Kata petani itu, kini nampak takut dan hormat.

"Kalau boleh hamba mengetahui nama Kongcu...."

"Katakan saja kepada komandan benteng itu bahwa engkau diutus oleh seorang yang bernama Sun dan serahkan suratku itu. Akan tetapi ingat, tidak boleh orang lain mengetahui tentang urusan kita ini dan siapapun juga tidak boleh melihat surat ini. Juga isteri dan anak-anakmu tidak boleh mengetahui."

"Baik, baik, hamba mengerti...."

Kata petani itu ketakutan karena sebodoh-bodohnya, dia pun dapat menduga bahwa pengirim surat ini tentulah bukan orang sembarangan, buktinya memiliki emas sebanyak itu, bersikap royal, dan berani mengirim surat kepada komandan benteng.

Setelah melihat sendiri Ki Siok me-ninggalkan dusun menuju ke benteng Siang-heng-koan cepat Cia Sun kembali mendaki Bukit Naga dan ke tempat yang tadi.

Matahari telah naik tinggi, tengahari hampir lewat, namun dekat sumur tua itu nampak sepi, belum kelihatan kedua orang gadis itu kembali.

Dia pun menunggu dengan hati berdebar tegang penuh kekhawatiran.

Kekuasaan Tuhan mencakup dan menyelimuti seluruh yang ada, seluruh yang nampak dan yang tidak nampak oleh mata manusia.

Keadaan di seluruh alam semesta ini terjadi karena Kekuasaan Tuhan.

Ke-kuasaan Tuhan berada di dalam yang paling dalam, di luar yang paling luar, mencakup yang paling kecil sampai paling besar, yang terendah sampai yang tertinggi.

Kekuasaan Tuhan jugalah yang mencipta, memelihara, dan mengadakan sampai yang meniadakan.

Segala sesuatu terjadi karena Kehendak Tuhan.

Segala macam suka, duka, indah buruk, hanya merupakan ulah pikiran yang bergelimang nafsu daya rendah.

Sebab akibat merupakan mata rantai kait mengait yang dibentuk oleh hati akal pikiran kita sendiri.

Tidak ada yang lebih kuat daripada Kekuasaan Tuhan, yang juga bekerja di dalam tubuh kita, dari ujung rambut sampai ke kuku jari kaki.

Kekuasaan Tuhan bekerja sepenuhnya kalau kita menyerah.

Penyerahan total yang meniadakan ulah hati akal pikiran sehingga kekuasaan Tuhan mutlak bekerja.

Kalau sudah begitu, tidak ada yang tidak mungkin.

Hanya Tuhanlah Maha Sempurna, Maha Kuasa.

Sega-la kehendakNya jadilah!

Ketika dia terjebak di dalam sumur tua, dan sumur itu ditimbuni batu-batu dari atas, Yo Han mengerahkan segala daya hati akal pikirannya yang memang tugasnya untuk mempertahankan manusia agar hidup dalam dunia ini.

Dia berhasil menutup terowongan dalam sumur itu dengan batu besar sehingga batu-batu yang dilemparkan dari atas sumur itu tertahan oleh batu besar.

Yo Han duduk bersila di atas gulungan tali, memusatkan semua rasa diri, seolah-olah tenggelam dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam lautan penyerahan.

Sampai malam lewat, dia tidak menyadari dan dia merasa seperti hidup di dalam lautan, atau di dalam udara tanpa datar.

Tubuhnya ringan, tidak ada secuil pun pikiran mengganggu batin, bahkan tidak ada lagi rasa enak atau tidak enak.

Seperti orang tidur atau orang mati, begitu kiranya keadaan.

Yo Han.

Hanya bedanya, dia sadar.

Dia menyadari bahwa dia berada di dasar sumur tua dan tidak ada jalan keluar.

Namun pada saat dia duduk bersila seperti itu, dia tidak merasa khawatir, tidak merasa apa-apa seolah-olah tidak peduli dan tiada bedanya baginya.

Malam lewat dan setelah ada sinar matahari menyorot masuk melalui celah-celah di antara batu-batu di atas, dia seperti terbangun.

Dan teringatlah dia akan semua yang terjadi kemarin.

Kemarin?

Hanya samar-samar dia teringat bahwa malam telah lewat, berarti dia telah semalam berada di terowongan sumur itu.

Lima orang pimpinan Thian-li-pang telah tewas dan mayat mereka dilempar ke dalam sumur yang kini ditimbuni batu-batu.

Kini semuanya jelas baginya.

Ouw Seng Bu membunuhi para pimpinan Thian-li-pang karena ingin menguasai perkumpulan itu.

Gila!

Bukankah Ouw Seng Bu murid Lauw Kang Hui bahkan merupakan murid tersayang?

Kalau hanya murid mendiang Lauw Kang Hui, bagaimana mungkin dia mampu membunuh lima orang tokoh pimpinan Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi itu.

Dan bagaimana pula para murid Thian-li-pang mau menerima dia sebagai ketua baru?

Dan yang membuat dia lebih heran lagi, bagaimana gadis yang diperkenalkan kepadanya sebagai puteri Cu Kun Tek, pendekar sakti dari Lembah Naga Siluman, dapat berada di Thian-li-pang, bahkan bersahabat baik dengan Ouw Seng Bu?

"Aku harus dapat keluar dari sini.

Harus!

Aku harus dapat membongkar semua rahasia Ouw Seng Bu, kalau tidak Thian-li-pang akan diselewengkan, dunia kang-ouw akan kacau balau dan kejahatan akan menjadi-jadi.

Semoga Tuhan memberi bimbingan kepadaku."

Katanya dalam hati.

Perutnya mulai terasa lapar, akan tetapi dia menampung rembesan air yang menetes-netes turun dari atas dengan kedua tangan dan setelah minum air beberapa teguk, laparnya hilang.

Mulailah dia memeriksa semua dinding terowongan itu.

Dinding itu terjal ke atas, licin dan keras, tidak mungkin dipanjat, apalagi di atasnya tidak nampak lubang yang cukup besar seperti mulut sumur, melainkan tertutup dan sinar yang masuk pun melalui celah-celah dari samping atas yang tidak nampak dari situ.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit dan Yo Han melihat seekor tikus yang cukup besar, sebesar anak kucing, berlari keluar dari sebuah lubang dan menggigit sebuah benda hitam kehijauan.

Dia merasa heran bagaimana binatang itu dapat membawa sesuatu dengan gigitan, dan mengeluarkan bunyi mencicit pula.

Tikus itu lenyap menyelinap ke dalam lubang kecil dan tak lama kemudian terdengar suara mencicit-cicit anak tikus.

Yo Han tersenyum.

Betapa besar kekuasaan Tuhan, pikirnya.

Bahkan di tempat seperti ini pun terdapat mahluk hidup.

Belum yang tidak nampak olehnya, seperti cacing dan kutu-kutu lainnya, mungkin dalam tetesan-tetesan air itu pun terdapat mahluk hidupnya!

Hatinya semakin tenang karena dia yakin bahwa kekuasaan Tuhan berada di mana-mana, sehingga kalau memang Tuhan menghendaki dia tidak mati, tentu ada jalan keluar dari situ!

Tikus itu!

Dia membawa benda hitam kehijauan dan kembali ke sarang, memberi makan kepada anak-anaknya.

Benda tadi tentulah makanan.

Teringatlah dia akan jamur-jamur atau tanaman dalam air yang terdapat di terowongan gua di mana dia pernah mempelajari ilmu dari Kakek Ciu Lam Hok!

Kini Yo Han memandang ke arah lubang dari mana tikus tadi keluar.

Bukan lubang sesempit kepalan tangan ke mana tikus tadi menghilang, melainkan lubang yang cukup besar, agaknya dia akan dapat memasuki lubang itu dengan merangkak rendah.

Siapa tahu, itu merupakan jalan keluar, setidaknya jalan menuju ke tempat makanan!

Andaikata bukan jalan keluar sekalipun, kalau dari sana dia bisa mendapatkan makanan sebagai penyambung hidup, itu sudah lumayan namanya.

Akan tetapi, baru dua meter lebih dia merang-kak melalui lubang sempit itu, lubang mengecil dan tubuhnya tidak dapat maju lagi.

Terpaksa Yo Han mempergunakan tenaganya untuk membongkar batu-batu di depannya, memperbesar terowongan itu sehingga dia dapat maju lagi.

Tentu saja pekerjaan ini memakan waktu dan setelah sehari penuh bekerja, dia baru dapat maju sejauh empat meter dan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena lelah dan gelap.

Dia merangkak mundur dan minum air dengan menadah air rembesan dari atas dengan kedua tangannya sampai kenyang.

Malam itu, Yo Han mengatur tali sehingga merupakan tempat tidur darurat, lumayan untuk membiarkan tubuhnya beristirahat dengan rebah terlentang.

Sudah menjadi lajim bagi kita bahwa dalam keadaan menderita sengsara, kalau semua daya kita sudah tidak mampu menolong keadaan kita, maka kita baru teringat kepada Tuhan!

Kita lalu merengek-rengek dan memohon kepada Tuhan agar kita dibebaskan daripada penderitaan.

Tentu saja setiap orang dari kita tidak mau kalau dikatakan bahwa kita hanya teringat kepada pencipta kita kalau kita membutuhkan saja.

Di waktu kita dalam keadaan senang, sewaktu kita berhasil, maka kita tidak ingat lagi kepada Tuhan dan merasa bahwa semua hasil itu adalah karena kepintaran kita!

Keberhasilan mendatangkan kesombongan, kita menjadi tinggi hati dan merasa diri hebat.

Sebaliknya, dalam keadaan gagal dan menderita, baru kita merasa betapa kita lemah tak berdaya, dan kita baru berdoa dan, meminta-minta kepada Tuhan.

Segela macam permintaan kita ajukan, kita mohon diberi rejeki, mohon diberi kenaikan pangkat, mohon diluluskan ujian, mohon disembuhkan dari penyakit, dan segala macam permohonan lagi.

Kita lupa bahwa segala sarana yang lengkap telah diberikan Tuhan kepada kita untuk mencapai itu semua.

Untuk mendapat rejeki, kita sudah diberi anggauta tubuh lengkap, berikut hati akal pikiran untuk kerja dan mencari rejeki, untuk naik pangkat kita harus bekerja dengan jujur, setia dan baik, untuk lulus ujian kita harus belajar dengan rajin, untuk sembuh dari penyakit kita harus berobat dan untuk mencegah datangnya penyakit kita harus hidup bersih dan sehat, dan sebagainya.

Akan tetapi, kesenangan merupakan semua penggunaan sarana tidak sehat.

Karena penggunaan akal pikiran secara tidak sehat sehingga melahirkan perbuatan yang tidak sehat pula, maka timbullah semua akibat buruk.

Kalau sudah begitu, kita minta-minta kepada Tuhan agar kita dibebaskan daripada akibat perbuatan kita sendiri itu.

Berbahagialah manusia yang lahir batinnya menyerah dengan tawakal dan ikhlas kepada Tuhan, mendasari semua ikhtiar sehat di atas penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih.

Bagi seorang yang sudah dapat menyerah lahir batin, maka segala apa pun yang datang menimpa diri, merupakan kehendak Tuhan yang penuh rahasia, Tuhan mengetahui apa yang paling tepat untuk kita, baik itu merupakan hukuman atau ujian.

Hu-kuman memang tepat untuk mengingatkan kita akan dosa kita dan ujian memperkuat batin dan iman kita.

Orang yang menyerah kepada Tuhan hanya mengenal ucapan syukur dan berterima kasih kepada Tuhan, dan hanya mengenal satu permohonan, yaitu permohonan ampun atas segala dosa yang diperbuatnya di masa lalu dan bimbingan di masa depan.

Tidak banyak mengeluh kalau sedang ditimpa duka, dan tidak mabuk kalau sedang di jenguk suka.

Pada keesokan harinya, begitu ada sinar memasuki terowongan itu, Yo Han sudah bekerja lagi dengan rajin.

Dia tidak tergesa-gesa, tidak terlalu memeras tenaganya agar tidak sampai kehabisan tenaga dan kelelahan karena perutnya yang kosong mengurangi banyak tenaganya.

Setelah tiga hari lamanya membongkar batu-batu dan hanya minum air, setelah tenaganya hampir habis, lubang itu membesar lagi sehingga dia dapat melanjutkan merangkak ke depan dan ditemukannya jamur atau tumbuhan di antara dinding batu yang basah seperti yang dibawa oleh induk tikus untuk memberi makan kepada anak-anaknya.

Yo Han pernah makan jamur ini atas petunjuk mendiang kakek Ciu Lam Hok, maka tanpa ragu lagi dia pun makan beberapa potong jamur.

Dan terhindarlah dia dari bahaya kelaparan!

Kini dia dapat melanjutkan usahanya mencari jalan keluar dengan menjelajahi lubang-lubang yang banyak terdapat di bawah permukaan bukit itu, merupakan lubang dan terowongan bawah tanah dari batu karang yang kuat.

Sambil mengerahkan seluruh anggauta badannya, seluruh panca inderanya, didasari penyerahan kepada Tuhan, yakin bahwa kekuatan Tuhan akan membimbingnya, Yo Han terus bekerja dengan tekun, tak pernah putus asa walaupun beberapa kali lubang yang diikutinya tiba di dinding buntu dan terpaksa dia harus mencari lubang lain.

Kalau Yo Han dengan penuh semangat mencari jalan keluar, maka di atasnya, di permukaan bukit itu, terjadi hal-hal yang hebat, yang tentu akan menggelisahkan hati Yo Han kalau dia mengetahuinya.

Bayangan tubuh Sim Hui Eng yang ramping padat itu berkelebat cepat, menyelinap di antara pohon-pohon.

Ia sedang melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang, untuk mengetahui lebih banyak tentang perkumpulan itu dan kalau mungkin menyelidiki apakah benar Yo Han telah tewas, ataukah ditahan dalani rumah perkumpulan itu.

Gadis yang anggun dan cantik ini, tidak lagi bersikap dingin angkuh seperti dahulu ketika ia masih menjadi puteri ketua Pao-beng-pai, menggunakan ginkangnya dan gerakannya sedemikian cepat sehingga tidak akan kelihatan oleh orang-orang Thian-li-pang.

Akan tetapi, hal ini hanya dugaanya saja karena ia mengira bahwa musuh tidak tahu akan kedatangannya.

Padahal, sejak ia bersama Sian Li dan Cia Sun berada di dekat, sumur tua, Para murid Thian-li-pang telah melakukan penjagaan dan Ouw Seng Bu sendiri telah mengamati gerak-gerik ketiga orang itu.

Tentu saja kini gerakan Hui Eng juga sudah selalu diamati.

Setelah gadis itu kini berpisah jauh dari Sian Li dan Cia Sun, dan ia melihat bagian kanan perkampungan itu nampak tidak terjaga ketat, dengan berani ia melompati pagar dan memasuki bagian belakang sebuah bangunan besar yang hendak diselidikinya.

Mungkin ia dapat mendengar percakapan murid Thian-li-pang atau syukur kalau menemukan sesuatu yang akan dapat menunjukkan tentang Yo Han.

Akan tetapi baru saja ia tiba di ruangan terbuka yang tadinya sepi itu, terdengar gerakan orang dan ketika ia cepat memutar tubuhnya, ia melihat dirinya sudah terkepung oleh puluhan orang, anak buah Thian-li-pang yang kesemuanya menyeringai dengan gaya mengejek!

"Hemmm....!"

Hui Eng tidak menjadi gentar dan ia sudah mempersiapkan pedang dan kebutannya.

Dua orang pria yang agaknya menjadi pimpinan tiga puluh orang lebih anak buah Thian-li-pang itu melangkah maju dan berkata dengan suara yang mengandung ejekan.

"Nona, sebaiknya engkau menyerah dan kami hadapkan kepada pangcu daripada tubuhmu yang mulus itu halus lecet-lecet dan mungkin terluka."

Sinar mata Hui Eng mencorong marah.

"Aku? Menyerah kepada kalian? Makanlah ini!"

Pedangnya menyambar ganas.

Dua orang anggauta Thian-li-pang yang memimpin rombongan itu merupakan murid yang sudah agak tinggi tingkatnya.

Mereka terkejut melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyambar, akan tetapi mereka masih dapat melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari maut.

Para anggauta Thian-li-pang sudah mengepung ketat dan menggerakkan senjata mereka mengeroyok gadis itu.

"Tar-tar-tarrr....!!"

Sinar merah menyambar-nyambar dan bulu-bulu kebutan yang halus itu mero-bohkan empat orang pengeroyok.

Hui Eng mengamuk.

Pedang dan kebutannya menyambar-nyambar menjadi dua gulungan sinar putih dan merah, dan dalam waktu belasan jurus saja sudah ada belasan orang anggauta Thian-li-pang roboh!

"Semua mundur!"

Terdengar bentakan dan muncullah Siangkoan Kok!

Datuk ini dengan muka merah karena marah menghadapi bekas puterinya, juga muridnya yang tadinya amat disayangnya.

"Eng Eng, cepat menyerah!"

Akan tetapi Hui Eng memandang kepada orang yang dahulu dianggap guru dan ayahnya itu dengan mata mencorong.

"Kenapa aku harus menyerah kepadamu? Aku tidak sudi!"

Siangkoan Kok melotot.

"Eng Eng, lupakah engkau bahwa aku adalah gurumu, juga pernah menjadi ayahmu yang menyayangmu?"

"Aku tidak lupa, semuanya aku tidak lupa, juga betapa engkau dengan kejam hampir membunuhku, dan engkau membunuh pula sumoi Tio Sui Lan, membunuh pula isterimu yang pernah menjadi ibuku. Aku tidak lupa dan sekaranglah saatnya aku membalaskan semua itu!"

Setelah berkata demikian, dengan nekat Hui Eng sudah menerjang maju menyerang datuk yang pernah menjadi guru dan ayahnya itu.

"Keparat, kalau begitu engkau tidak layak dikasihani!"

Bentaknya dan Siangkoan Kok menangkis, lalu balas menyerang.

Guru dan murid itu segera saling serang dengan dahsyat dan terjadilah pertandingan yang amat seru karena keduanya menyerang untuk membunuh.

Melawan bekas gurunya sendiri itu saja Hui Eng sudah kewalahan, karena betapapun juga, semua ilmunya ia dapatkan dari Siargkoan Kok, sehingga semua gerakannya telah diketahui datuk itu.

Biarpun ia mengenal pula gerakan lawan, akan tetapi ia kalah pengalaman dan ilmunya kalah matang.

Apalagi kini muncul dua orang tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang tanpa banyak cakap sudah maju membantu Siangkoan Kok.

Hui Eng terdesak hebat dan ia hanya mampu memutar pedang dan kebutannya untuk menangkis saja, tidak mendapat kesempatan lagi untuk membalas serangan tiga orang lawannya.

Melihat kedua orang tosu yang membantunya itu menyerang dengan sungguh-sungguh, timbul kekhawatiran di hati Siangkoan Kok bahwa gadis itu akan roboh dan tewas, atau akan terluka berat.

Hal ini tidak dikehendaki oleh Ouw-pangcu, juga dia sendiri tidak ingin melihat bekas murid dan puterinya itu tewas.

Dia masih sayang kepada Eng Eng, bahkan kini, setelah gadis itu bukan lagi puteri-nya, timbul keinginan di hatinya untuk menarik gadis itu sebagai pengganti isterinya.

Dia masih sayang kepada Eng Eng dan rasa sayang sebagai guru dan ayah itu dapat dialihkan menjadi kasih sayang seorang pria terhadap seorang wanita yang menjadi isterinya.

"Jangan lukai atau bunuh gadis ini. Kita tangkap hidup-hidup sesuai perintah pangcu!"

Kata Siangkoan Kok dan mendengar seruan ini, kedua orang tusu lalu mengubah gerakan mereka, tidak lagi menyerang dengan pedang mereka, me-lainkan menggunakan pedang untuk menangkis dan menyerang dengan totokan tangan kiri untuk merobohkan gadis itu tanpa membunuhnya.

Setelah melakukan perlawanan mati-matian, akhirnya Hui Eng terkena totokan dan roboh terkulai lemas!

Siangkoan Kok cepat menelikungnya dan membawanya ke dalam, lalu memasuk-kannya ke dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari besi.

"Jaga baik-baik dan jangan sampai ia lolos!"

Pesannya kepada beberapa orang Thian-li-pang yang melakukan penjagaan.

"Akan tetapi, siapa yang berani mengganggunya akan dihukum berat!"

Siangkoan Kok, Im Yang-ji dan Kui Thian-cu lalu meninggalkan tempat tahanan itu karena mereka sudah mendengar berita bahwa kini Ouw-pangcu sedang berusaha untuk menawan Si Bangau Merah.

Seperti juga Hui Eng, Sian Li melakukan penyelidikan melalui samping, perkampungan Thian-li-pang.

Ia pun meloncati pagar dan sama sekali tidak mendapatkan perlawanan karena di balik pagar tembok itu tidak nampak seorang pun anggauta Thian-li-pang.

Akan tetapi, tidak mudah untuk menjebak Si Bangau Merah.

Ia cukup waspada dan melihat keadaan yang sepi itu, ia pun maklum bahwa agaknya pihak musuh telah mengetahui akan kedatangannya dan sengaja mengosongkan tempat itu untuk memasang perangkap.

Dengan gin-kangnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, Sian Li berkelebat dan menyelinap ke dalam sebuah taman kecil dan dari sini ia pun meloncat ke atas benteng dan bersembunyi di balik wuwungan.

Gerakannya demikian cepatnya sehingga para anggauta Thian-li-pang yang mengawasinya kehilangan jejaknya.

Bahkan Ouw Seng Bu yang diam-diam juga mengamatinya dari dalam, menjadi terkejut dan bingung karena Si Bangau Merah itu tidak nampak lagi.

Dari balik wuwungan, Sian Li mengintai ke bawah dan ia tersenyum mengejek ketika melihat beberapa orang anak buah Thian-li-pang mulai bermunculan dari tempat persembunyian mereka.

Seperti telah diduganya, orang-orang Thian-li-pang telah mengetahui akan kedatangannya dan sengaja bersembunyi untuk membiarkan ia masuk ke dalam jebakan mereka.

Akan tetapi karena ia lenyap bersembunyi di wuwungan, mereka mulai menjadi bingung dan ada yang keluar mencari-cari.

Sian Li mengambil jalan memutar dan melihat seorang anggauta Thian-li-pang mencari ke arah belakang dengan pedang di tangan dan orang itu melongok-longok, Ia lalu bergerak mendekati dari atas.

Setelah cukup dekat, Sian Li menggerakkan tangan kanannya dan sepotong genteng yang ia patahkan dari ujung wuwungan menyambar dan tepat mengenai tengkuk orang itu.

Dia mengeluh, pedangnya terlepas dan roboh terkulai, pingsan.

Sian Li menanti beberapa lamanya.

Setelah yakin tidak ada orang melihat penyerangnya itu, ia melayang turun dan menarik lengan orang yang tak mampu bergerak itu ke dalam sebuah ruangan kosong, dan ia menutup-kan daun pintu ruangan itu.

Anggauta Thian-li-pang itu terkejut bukan main ketika totokannya punah dan dia siuman, dia melihat gadis berpakaian merah itu menodongkan pedang tajam yang menggigit kulit lehernya.

Pedangnya sendiri!

"Kalau engkau tidak mengaku terus terang, pedang ini akan menembus tenggorokanmu!"

Sian Li mendesis dan mata orang itu terbelalak, mukanya berubah pucat, apalagi ketika dia merasa perihnya kulit leher di mana ujung pedangnya sendiri menempel.

"Saya... saya mengaku terus terang...."

Katanya lirih.

"Hayo katakan di mana Sin-ciang Taihiap Yo Han? Jangan bohong!"

Orang itu semakin ketakutan.

"Dia.... dia.... di tempat.... tahanan...."

Berdebar rasa hati Sian Li karena lega. Seperti telah diduganya. Ouw Seng Bu membohonginya.

"Di mana tempat itu? Hayo antar aku ke sana!"

"Saya... saya tidak berani.... ahhh...!"

Pedang itu menusuk, masuk ke kulit lehernya sampai setengah senti, mendatangkan rasa nyeri dan ketakutan hebat.

Sedikit saja nona baju merah itu menusukkan pedang itu, tentu lehernya akan tembus dan matilah dia.

"Baik.... baik...."

Katanya. Sian Li menarik pedangnya.

"Hayo jalan dulu, awas, kalau engkau memberi tanda atau berteriak, akan kucincang tubuhmu."

Dengan tubuh gemetar ketakutan, anak buah Thian-li-pang itu membawa Sian Li menyelinap melalui lorong kecil.

Setiap kali melihat ada anak buah Thian-li-pang lainnya, orang itu ditarik oleh Sian Li untuk bersembunyi dan pedangnya menodong punggungnya.

Akhirnya, setelah melalui jalan berliku-liku, orang itu membawa Sian Li memasuki ruangan bagian belakang.

Bangunan di situ cukup besar dan mereka memasuki gang dan tiba di depan pintu sebuah kamar yang terbuat dari besi dan ada jerujinya yang kokoh kuat.

Pintu kamar itu dipasangi rantai yang dikunci.

"Dia.... dia di sana...."

Orang itu menuding ke dalam kamar tahanan itu.

Sian Li menggerakkan tangan kirinya dan orang itu terkulai lemas, tak mampu bergerak lagi karena tertotok.

Sian Li menghampiri jeruji pintu kamar itu dan melihat ke dalam.

Jantungnya berdebar.

"Han-koko....!"

Ia berseru, akan tetapi lirih karena tidak ingin membuat gaduh.

Ia melihat Yo Han duduk bersila, membelakangi pintu.

Ia memang tidak melihat wajah orang itu, akan tetapi perawakannya membuat ia mengenal pemuda itu, apalagi anak buah Thian-li-pang tadi mengatakan (Lanjut ke

Jilid 17) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 bahwa Yo Han ditawan di kamar itu.

"Han-koko....!"

Ia memanggil lagi, akan tetapi orang yang bersila membelakanginya itu tidak menjawab, tidak bergerak.

Agaknya Yo Han terluka parah dan sedang menghimpun hawa murni, maka tidak dapat menjawabnya, pikir Sian Li.

Ia melihat betapa Yo Han menarik napas panjang dan menahan napas itu sampai lama.

Ah, Yo Han tentu terjebak musuh dan menderita luka, maka dapat tertawan, pikir Sian Li.

Sekaranglah saatnya membebaskannya, karena kalau sampai Ouw Seng Bu dan sekutunya muncul, tidak akan mudah baginya untuk membebaskan kekasih hatinya itu.

"Han-koko, jangan khawatir, aku akan menolongmu!"

Katanya.

Ia memperhitungkan bahwa kalau kamar tahanan itu dipasangi jebakan, tentu Yo Han akan memperingatkannya.

Sian Li mengeluarkan sulingnya.

Suling itu hanya disaput emas, akan tetapi sebetulnya di sebelah dalamnya terbuat dari baja pilihan yang amat kuat.

Ia mengerahkan tenaganya, tenaga gabungan Im-yang-sin-kang dari keluarga Pulau Es seperti yang ia pelajari dari Suma Ceng Liong, memutar sulingnya dengan ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan sinar emas menyambar ke arah lantai yang membelenggu daun pintu kamar tahanan itu.

"Tranggg.... trakkk!"

Rantai itu patah dan Sian Li mendorong daun pintu kamar tahanan itu sehingga terbuka.

Dengan cepat, namun hati-hati dan tidak kehilangan kewaspadaan, ia pun memasuki kamar tahanan itu.

Pada saat itu terdengar suara gaduh di luar dan ketika ia menengok, nampak banyak anak buah Thian-li-pang memasuki rumah tahanan itu.

Hemmm, ia telah ketahuan musuh, pikirnya.

Ia harus cepat membebaskan Yo Han.

"Han-koko, mari kita pergi...."

Ia menahan kata-katanya dan terbelalak ketika orang yang tadinya bersila membelakanginya itu meloncat ke depan, membalikkan tubuhnya dan ia berhadapan dengan Ouw Seng Bu!

Kiranya, ketua Thian-li-pang itu yang tadi duduk bersila membelakanginya.

Memang perawakan ketua baru ini mirip dengan perawakan Yo Han, dan agaknya sang ketua ini sengaja menyamar sehingga ram-but yang dikucir bergantung dan melingkar leher itu pun sama, juga pakaiannya.

"Ha-ha-ha, Bangau Merah! Sudah kukatakan bahwa Yo Han telah berkhianat, dan dia telah mati di dalam sumur tua, dan engkau masih juga tidak percaya? Sekarang, lebih baik engkau menyerah dan membantu kami berjuang melawan penjajah, sesuai dengan nama besar keluargamu sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa."

"Keparat Ouw Seng Bu! Engkau tentu telah menjebak Han-koko! Sekarang aku harus membalas dendam kepadamu!"

Setelah berkata demikian, Sian Li memutar suling dan menerjang maju. Akan tetapi, Ouw Seng Bu menghindar dengan loncatan ke kiri.

"Ha-ha-ha, engkau sudah terkepung dan masih bicara besar? Lihat di luar kamar ini anak buahku telah menghadang dan mengepung. Engkau tidak akan dapat lolos, Tan San Li. Melawan pun tidak ada gunanya karena kalau Yo Han saja tidak mampu menandingi aku, apa lagi engkau."

"Jahanam busuk sombong!"

Sian Li berteriak dan ia pun menyerang lagi dengan dahsyat.

Diam-diam Ouw Seng Bu terkejut karena serangan Si Bangau Merah itu memang dahsyat dan kuat bukan main.

Sulingnya berubah menjadi sinar emas yang mengeluarkan suara melengking-lengking aneh.

Dia melompat ke tepi kamar, tangannya menekan tombol di dinding dan di dinding di belakangnya terbuka.

Dia melompat masuk.

"Pengecut, hendak lari ke mana kau?"

Bentak Sian Li yang mengejar cepat.

Ia pun ,meloncat masuk ke dalam kamar lain di mana Ouw Seng Bu sudah menunggu sambil tersenyum mengejek.

Pemuda itu menggerak-gerakkan kedua lengan tangannya secara aneh dan terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan!

Dia telah menghimpun tenaga dari ilmunya yang sesat, yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latih.

Dan kini wajahnya berubah, masih tampan, akan tetapi senyumnya yang tadinya ramah dan manis itu berubah menjadi wajah menyeringai yang amat menyeramkan, sadis dan dingin, matanya liar dan suara tawanya seperti setan tertawa.

Ketika Sian Li melihat keadaan Ouw Seng Bu seperti itu, ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang yang tidak waras, atau miring otaknya!

Ia tidak tahu bahwa keadaah itu merupakan akibat dari ilmu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan.

"Iblis gila!"

Bentaknya dan ia mengerang lagi dengan Sulingnya.

Kamar yang ini berbeda dengan kamar tahanan di depan tadi.

Dinding yang tadi terbuka menembus ke kamar tahanan kini sudah menutup kembali dengan sendirinya dan kamar ini lebih luas.

Hantaman sulingnya ke arah kepala pemuda itu meloncat ke samping dan ketika suling itu mengejar dengan sambaran ke samping, dia menangkis dengan tangan kirinya.

"Takkk....!"

Dua tenaga dahsyat bertemu dan akibatnya tubuh Sian Li terdorong ke belakang sampai tiga langkah.

Gadis itu terkejut bukan main.

Sulingnya yang ditangkis tadi tergetar hebat dan ada tenaga aneh yang amat dingin menyusup melalui suling dan tangannya dan tenaga itu amat kuat sehingga dia terdorong dan terhuyung.

Baiknya ia masih mengerahkan.

tenaga sin-kang untuk menolak pengaruh hawa dingin aneh itu.

"Ha-ha-heh-heh-heh!"

Ouw Seng Bu terkekeh menyeramkan dan membusungkan dadanya.

"Si Bangau Merah, engkau tidak akan menang melawan aku. Ilmuku yang amat hebat ini tidak dapat ditandingi siapapun juga dan sebentar lagi aku akan menjadi jagoan nomor satu di dunia, mengusai dunia kang-ouw, bahkan setelah menjatuhkan pemerintah penjajah Mancu, akulah yang layak dan pantas menjadi kaisar. Ha-ha-ha!"

"Gila, dia gila akan tetapi memiliki ilmu yang ajaib,"

Pikir Sian Li.

Ia harus dapat merobohkan orang ini, kalau tidak, ia tentu akan celaka.

Baru orang ini saja sudah demikian hebat, kalau para sekutunya datang mengeroyok, ia tahu bahwa ia tidak akan mampu menandingi mereka.

Sian Li mengeluarkan pekik melengking dan kini ia memutar suling emasnya, memainkan ilmu pedangnya yang paling ampuh, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Bangau Merah) yang ia pelajari dari ayahnya, Pendekar Sakti Bangau Putih.

Sulingnya berubah menjadi sinar emas bergulung-gulung menyilaukan mata, dan tubuhnya juga lenyap berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan terbungkus sinar emas.

Dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyerang ke arah Ouw Seng Bu.

Akan tetapi sambil terkekeh-kekeh aneh, Ouw Seng Bu berdiri tegak dan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan aneh, kadang diputar seperti baling-baling, dan dari kedua tangan itu menyambar hawa dahsyat yang membuat semua serangan Sian Li tertolak kembali, mental sebelum mengenai tubuh lawan!

Ketika Ouw Seng Bu melangkah maju mendekat, hawa pukulan kedua tangannya semakin kuat sehingga kini gulungan sinar emas itu makin menyempit, tanda bahwa Si Bangau Merah terdesak oleh tenaga aneh itu.

Pada saat itu terdengar suara wanita.

"Bu-ko, jangan bunuh atau lukai ia!"

Mendengar teriakan itu, Ouw Seng Bu terkekeh.

"Heh-heh-heh, tidak, tidak, sayang, jangan khawatir!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia meloncat ke belakang dan berlari keluar dari ruangan itu melalui sebuah lorong yang lebarnya sekitar dua meter dan panjang.

"Jangan lari!"

Bentak Sian Li yang mengejar.

Terdengar suara keras dan jorong itu sudah tertutup dari depan dan belakang oleh pintu rahasia.

Sian Li terkejut, merasa terjebak dalam lorong yang tertutup, akan tetapi karena Ouw Seng Bu masih berada di situ bersamanya, ia tidak takut dan memutar suling lebih cepat untuk menjaga agar orang itu tidak melarikan diri melalui sebuah pintu rahasia.

"Heh-heh-heh, engkau takkan dapat lolos, Bangau Merah!"

Kata Ouw Seng Bu.

Tiba-tiba dari lantai lorong itu keluar asap kemerahan memenuhi lorong.

Sian Li mencium bau harum menyengat dan tahulah ia bahwa asap itu mengandung racun pembius!

Akan tetapi, tidak ada jalan keluar dan jalan satu-satunya hanya menyerang mati-matian pada lawan yang masih tertawa-tawa walaupun asap merah makin menebal.

Gadis perkasa yang cerdik ini menyesal akan kebodohannya sendiri.

Tentu saja, pikirnya.

Ouw Seng Bu telah memakai obat penawar!

Asap sudah terpaksa disedotnya ketika ia bernapas.

"Keparat keji, pengecut, curang....!"

Ia menyerang lagi akan tetapi kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan ia pun roboh terkulai pingsan.

Ketika siuman kembali, Sian Li mendapatkan dirinya rebah di atas sebuah dipan.

Ia melihat betapa kaki tangannya diikat rantai baja panjang.

Cepat ia turun dari pembaringan itu dan mengerahkan tenaga sin-kang untuk mematahkan rantai kaki tangannya.

"Jangan, Sian Li. Jangan patahkan, rantai kaki tanganmu."

Terdengar suara orang.

Ia menengok dan melihat Hui Eng juga berada di kamar itu.

Juga gadis ini dirantai kaki tangannya, dengan rantai panjang yang membu-at ia mampu bergerak ke sana sini, mampu mempergunakan tangan kakinya akan tetapi rantai itu tidak sampai pintu kamar tahanan yang beruji.

"Ah, kiranya engkau pun sudah tertawan. Bagaimana dengan pang...."

Sian Li teringat. Mereka berada di tangan pemberontak Thian-li-pang, sungguh berbahaya kalau mereka mengetahui bahwa Cia Sun adalah pangeran Mancu.

"Di mana Sun-toako?"

"Entah, kami berpencar, bukan? Aku dikepung dan dikeroyok, tertangkap."

"Tapi kenapa engkau melarang aku mematahkan rantai ini! Kurasa engkau pun akan mampu mematahkan rantai kaki tanganmu."

"Agaknya aku akan mampu mematahkan rantai ini, akan tetapi apa gunanya? Mereka jelas tidak ingin membunuh kita, dan rantai ini bagaimanapun juga masih memberi kebebasan bergerak kepada kita. Dengan mematahkannya, belum berarti kita bebas. Kamar ini kokoh kuat dan terjaga kuat, juga mereka dapat mempergunakan perangkap untuk menangkap kita kembali. Kalau sampai mereka menggantikan rantai ini dengan belenggu yang membuat kita tidak mampu bergerak leluasa, bukankah hal itu lebih menyiksa? Kita harus tenang dan sabar, tidak menuruti kemarahan."

Sian Li mengangguk membenarkan.

"Mereka itu lihai, dan orang she Ouw itu agaknya miring otaknya. Dia itu gila, akan tetapi mempunyai ilmu seperti iblis sendiri. Belum pernah selama hidupku bertemu dengan lawan setangguh dengan ilmu seaneh itu."

"Aku.... aku mengkhawatirkan pangeran...."

Kata Hui Eng lirih.

"Agaknya dia tidak seperti kita, tidak tertangkap. Mudah-mudah saja begitu karena kalau dia masih bebas, berarti kita masih mempunyai harapan akan dapat tertolong. Aku sekarang mengerti bahwa anggauta Thian-li-pang yang kutangkap tadi sengaja dipasang sebagai umpan perangkap. Mereka itu lihai dan licik sekali. Aku sekarang sungguh mencemaskan keadaan Han-koko."

Mereka terdiam karena mendengar langkah kaki yang ringan menghampiri dari luar kamar tahanan.

Muncullah Cu Kim Giok, gadis manis dengan mata indah, akan tetapi kini wajahnya agak muram dan matanya mengadung penyesalan.

"Hemmm, engkau sungguh tidak tahu malu masih berani muncul di depan kami!"

Sian Li langsung menyambut dengan ucapan keras.

"Ingin aku melihat wajah Paman Cu Kun Tek dan Bibi Pouw Li Sian yang gagah perkasa kalau melihat puterinya seperti ini, membantu orang-orang jahat!"

Cu Kim Giok memandang sedih.

"Aihhh, tak kusangka akan begini jadinya. Sungguh, aku bersumpah, Sian Li, aku bukan orang yang membela orang jahat. Semua ini hanya salah sangka dari pihakmu saja. Aku berani tanggung bahwa Ouw Seng Bu adalah seorang yang gagah perkasa, seorang pendekar berjiwa pahlawan. Dia mau mengorbankan apa saja dengan perjuangan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah. Salahkah aku kalau aku membantu perjuangan yang suci? Engkau terlalu berprasangka dan menganggap buruk. Tentang kematian Pendekar Tangan Sakti Yo Han, sungguh bukan kesalahan Ouw-toako. Aku sendiri menjadi saksi. Yo Han yang berusaha membunuhnya seperti yang telah dilakukan kepada para pimpinan Thian-li-pang, dan Ouw-koko hanya membela diri. Kalau Yo Han tidak tergelincir ke dalam sumur, dan tidak ditimbuni batu, tentu Ouw-koko yang tewas di tangannya. Percayalah Ouw-koko adalah seorang yang baik, seorang pendekar yang...."

"Gila! Ya, dia seorang yang miring otaknya, Kim Giok. Tidak tahukah engkau akan hal itu atau pura-pura tidak tahu? Cu Kim Giok, katakan kepada iblis gila Ouw Seng Bu itu bahwa kalau benar Han-koko tewas di tangannya, aku Tan Sian Li akan menggerakkan seluruh keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir untuk membalas dendam! Aku tidak akan berhenti berusaha sampai aku dapat memenggal lehernya dan membawa kepalanya dan hatinya untuk sembahyang kepada Han-koko!"

Berkata demikian, karena membayangkan kematian Yo Han, kedua mata Sian Li menjadi basah dan suaranya gemetar, walaupun mengandung ancaman yang membuat Kim Giok merasa ngeri.

"Sian Li, engkau rela mengorbankan apa pun untuk membela Yo Han, karena engkau menganggap dia benar dan mencintanya. Apakah aku tidak boleh membela orang yang kuanggap benar dan yang kucinta?"

Dengan muka penuh kesedihan Kim Giok meninggalkan tempat itu dengan cepat dan kedua orang gadis perkasa itu masih sempat mendengar isak tangis yang dibawa lari gadis dari Lembah Naga Siluman itu.

"Sungguh aneh! Ia mencinta Ouw Seng Bu....!"

Kata Sian Li lirih.

"Ih, kenapa hal itu kau anggap aneh, Sian Li?"

Tanya Hui Eng, tersenyum.

"Akan tetapi Ouw Seng Bu itu orang gila! Iblis gila!"

Hui Eng tertawa geli dan Sian Li memandang heran.

Memang nampak aneh dan lucu melihat gadis itu tertawa-tawa geli, padahal mereka berada dalam tawanan musuh dengan kaki tangan dipasangi rantai!

Sungguh merupakan keadaan yang patut mendatangkan tangis, bukan tawa geli!

Ini saja sudah membuktikan betapa tabah hati Sim Hui Eng, menghadapi keadaan yang gawat.

Dan hal ini membesarkan pula hati Sian Li.

Mempunyai seorang kawan sependeritaan setabah ini memang membesarkan hati.

"Hemmm, apa yang perlu ditertawakan? Apanya yang lucu?"

Tanya Sian Li.

"Engkau yang lucu,"

Kata Hui Eng.

"Kenapa engkau seperti orang kebakaran jenggot melihat gadis itu mencinta Ouw Seng Bu?"

"Hushhh! Mana aku berjenggot?"

Cela Sian Li akan tetapi kini ia pun tertawa geli.

"Sian Li, cinta membuat orang yang kita cinta nampak selalu benar selalu baik, selalu menarik, sebaliknya benci membuat orang yang kita benci nampak selalu salah, selalu buruk, selalu menyebalkan. Buktinya, engkau ditunangkan dengan pangeran Cia Sun, engkau malah memilih Yo Han. Dan pangeran memilih aku, padahal ketika itu aku masih puteri ketua Pao-beng-pai yang memberontak terhadap kerajaan keluarganya. Dan aku pun memilih dia, padahal aku selalu tidak suka kepada penjajah Mancu, dan aku yakin, Yo Han juga tidak akan suka memilih lain gadis kecuali engkau. Nah, apa anehnya kalau sekarang gadis itu mencinta Ouw Seng dan menganggap dia selalu baik dan benar?"

Sian Li termenung.

Kebenaran ucapan Hui Eng meresap ke dalam hatinya.

Memang apa yang dikatakan Hui Eng patut direnungkan.

Kita semua selalu mengambil kesimpulan, mempunyai pendapat tentang sesuatu berdasarkan penilaian kita, dan kita menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk.

Kita lupa bahwa sesuatu itu tidak ada yang abadi, tidak ada yang tetap dan selalu akan berubah-ubah.

Kita tidak mungkin dapat menentukan seseorang itu baik atau buruk, karena si orang yang kita nilai itu sudah pasti akan mengalami perubahan, dan perubahan ini akan mendatangkan kesan berbeda-beda bagi kita, ada kalanya kita anggap baik dan ada kalanya pula kita anggap buruk.

Orang yang hari ini kita anggap sebaik-baiknya orang, mungkin pada suatu saat kelak akan kita anggap seburuk-buruknya orang, demikian sebaliknya.

Mengapa demikian?

Pertama, karena tidak ada apa atau siapapun di dunia ini yang tidak mengalami perubahan.

Dan kedua, karena pendapat tentang sesuatu berdasarkan penilaian, dan setiap penilaian, diakui atau pun tidak, disadari maupun tidak, selalu berdasarkan kepentingan si-aku, si penilaian.

Penilaian muncul di mana ada pertimbangan untung rugi, disenangkan atau tidak disenangkan.

Kalau seseorang atau sesuatu benda itu menguntungkan dan menyenangkan, bagaimana mungkin kita menilainya jelek dan jahat?

Sebaliknya, kalau seseorang atau sesuatu itu merugikan dan tidak menyenangkan, sudah pasti kita menilainya tidak baik, tidak mungkin kita menilainya bagus atau baik.

Biarpun orang sedunia mengatakan bahwa seorang yang baik dan patut dipuji, akan tetapi kalau memusuhi kita, merugikan dan tidak menyenangkan kita, mungkinkah kita menilainya sebagai seorang yang baik dan patut dipuji?

Sebaliknya, andaikata orang sedunia mencaci sebagai seorang yang jahat dan patut dikutuk, akan tetapi kalau baik terhadap kita, menguntungkan dan menyenangkan kita, dapatkah kita mengutuknya dan menilainya sebagai seorang yang jahat?

Bahkan seorang kekasih yang dicinta setengah mati pun, dicinta karena dia menyenangkan kita, dipuja karena menguntungkan perasaan kita.

Seandainya pada suatu hari dia itu melakukan sesuatu yang merugikan kita, tidak menyenangkan kita misalnya menipu kita, menyeleweng dengan orang lain, tidak mau melayani kita sebagai kekasih, dapatkah kita tetap menilainya baik dan mencintanya?

Biasanya, cinta itu berubah menjadi benci!

Mengapa?

Karena benci itu merupakan akibat penilaian yang buruk terhadap seseorang!

Kalau menyenangkan, dinilai baik dan dicinta, kalau sekali waktu tidak menyenangkan, dinilai buruk dan dibenci!

Hujan tinggal tetap hujan, air yang jatuh dari atas, akan tetapi kalau hujan itu merupakan kita seperti banjir, menghalangi kesenangan, kita akan menganggapnya buruk dan mengomel.

Kalau hujan itu datang dan kita anggap menyenangkan dan menguntungkan, seperti para petani yang mengharapkan datangnya air untuk sawah ladang mereka, maka kita akan menilainya baik dan hati kita senang, mulut tidak lagi mengomel dan cemberut, melainkan tertawa-tawa dan bersyukur!

Demikianlah panggung sandiwara dalam kehidupan ini, lebih lucu dan konyol daripada panggung para pelawak.

Kita dipermainkan nafsu yartg sudah menyusup ke dalam diri kita lahir batin, dan karena nafsu selalu mengejar kesenangan, maka timbullah suka duka dan penilaian baik buruk, persahabatan permusuhan dan segala macam kebalikan-kebalikan yang mendatangkan konflik lahir batin pula.

Dapatkah kita hidup tanpa menilai dan menerima kenyataan apa adanya?

Apapun yang terjadi dan menimpa kehidupan kita merupakan suatu kenyataan hidup yang patut kita hadapi dengan segala kewaspadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan!

Tuhan Maha Pencipta.

Seluruh isi alam maya pada ini adalah milik Sang Maha Pencipta, jadi Dialah yang menentukan segala.

Kewajiban kita hanyalah berusaha, berikhtiar untuk mempertahankan hidup ini yang berarti membantu kodrat Tuhan yang telah menghidupkan kita, dan mengisi kehidupan ini agar hidup kita bermanfaat bagi diri sendiri, bagi kaluarga dan bagi lingkungan.

Bermanfaat berarti tidak merusak.

Dengan dengan pasrah, dengan menyerahkan kepada Tuhan yang mencipyakan kita, menyerah penuh keiklasan dan ketawakalan, barulah mungkin bagi kita untuk menerima segala yang terjadi dengan penuh kesadaran, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu, pada akhirnya ditentukan oleh kekuasaannya.

"Aku mengerti sekarang, enci Eng, dan aku merasa kasihan kepada Kim Giok. Aku hampir yakin bahwa ia telah terbujuk, bahwa Ouw Seng Bu itu seorang yang tidak waras, orang gila yang teramat cerdik dan licik, juga memiliki ilmu silat yang aneh dan berbahaya sekali."

"Kita lihat perkembangannya, adik Sian Li. Kita harus bersabar dan melihat apa yang akan mereka lakukan terhadap kita. Aku yakin mereka akan menghubungi kita, mungkin melalui Cu Kim Giok tadi. Tidak perlu kita bergerak dengan sia-sia, sebaiknya menanti datangnya kesempatan baru kita mematahkan rantai ini dan mencoba untuk lolos."

Sian Li mengangguk, diam-diam merasa lega dan girang karena mempunyai teman seperti ini boleh diandalkan.

Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tiba di kaki Bukit Naga.

Terdapat sebuah kuil tua kosong di kaki bukit sebelah itu dan karena hari menjelang senja, mereka mengambil keputusan untuk melewatkan malam di kuil tua itu.

Tadi mereka telah membeli bekal makanan dari dusun terakhir.

Di luar kuil tua yang tidak digunakan lagi itu, mereka berhenti dan terkejut melihat ada seorang tosu duduk bersila di bagian depan kuil.

Ciang Hun yang sudah berpengalaman, tidak berani lancang dan dia menghampiri tosu itu.

Bi Kim mengikutinya dari belakang, siap menghadapi, segala kemungkinan karena tahu bahwa mereka telah berada di daerah Bukit Naga.

"Harap To-tiang memaafkan kami berdua. Karena kemalaman di perjalanan kami ingin melewatkan malam di kuil tua ini, kalau saja tidak mengganggu To-tiang."

"Siancai, silakan, Kongcu dan Siocia."

Kata pendeta itu dengan sikap acuh.

Pada saat kedua orang muda itu hendak melangkah masuk, dari dalam keluar empat orang tosu lainnya dan tentu saja, hal ini membuat Ciang Hun terkejut.

"Ah, maafkap kami, Cu-wi To-tiang. Kiranya kuil ini sekarang menjadi tempat tinggal To-tiang sekalian?"

Tosu tertua yang tadi duduk bersila di luar berkata lembut.

"Sama sekali bukan, Kongcu. Kami berlima juga sedang berteduh dan melewatkan malam di sini. Kuil ini kosong dan tidak dipergunakan lagi."

"Ah, kalau begitu kebetulan dan terima kasih To-tiang."

Ciang Hun dan Bi Kim lalu membersihkan lantai di sudut ruangan depan karena ternyata hanya ruangan depan itu saja yang masih agak utuh dan bersih, sedangkan ruangan tengah dan belakang kuil itu sudah rusak dan kotor.

Lima orang tosu itu duduk bersila, dan dua orang muda di sudut itu lalu menyalakan lilin yang tadi mereka beli sehingga ruangan itu tidak menjadi gelap lagi.

Malam tiba dan hawa udara amat dinginnya.

Dua orang di antara para tosu itu lalu membuat api unggun dari kayu-kayu yang agaknya telah mereka cari dan kumpulkan siang tadi.

Keadaan menjadi semakin terang oleh cahaya api unggun dan ada kehangatan di situ.

Bi Kim mengeluarkan buntalan makanan yang mereka beli tadi, dan dengan ramah dan hormat Ciang Hun dan Bi Kim menawarkan makanan kepada lima orang tosu itu.

"Cu-wi To-tiang mari silakan Cu-wi To-tiang makan malam bersama kami, kita makan seadanya, To-tiang."

Kata Bi Kim.

"Silakan, To-tiang, kami akan gembira sekali untuk menjamu Cu-wi dengan makanan kami yang sederhana."

Kata pula Ciang Hun.

"Siancai, Ji-wi adalah dua orang muda yang ramah dan baik. Terima kasih, Kongcu dan Siocia, kami tadi sudah makan dan tidak merasa lapar. Silakan Ji-wi makan, harap jangan sungkan-sungkan."

Kata tosu tertua.

Karena maklum bahwa mereka berdua menghadapi perjalanan yang mungkin sukar dan membutuhkan banyak pengerahan tenaga, maka dua orang muda itu tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai makan bak-pao dan dendeng yang tadi mereka beli sebagai bekal.

Setelah mereka selesai makan, membersihkan mulut dan tangan dengan air yang mereka bawa, mereka diundang duduk dekat api unggun oleh para tosu.

Dengan gembira dua orang muda itu duduk mengelilingi api unggun bersama lima orang pendeta itu.

"Kalau pinto (saya) tidak salah lihat, Ji-wi bukanlah dua orang muda biasa, melainkan dua orang muda yang memiliki kepandaian silat. Bolehkah pinto mengetahui nama Ji-wi dan apa keperluan Ji-wi mendatangi daerah yang berbahaya ini?"

Karena yakin bahwa lima orang pendeta ini adalah orang-orang beribadat yang baik, maka Ciang Hun tidak merasa perlu untuk menyembunyikan keadaan mereka.

"To-tiang, saya bernama Gak Ciang Hun dan nona ini adalah Gan Bi Kim. Kami berdua melaku-kan perjalanan ke sini untuk mencari seorang sahabat kami yang jejaknya menuju ke bukit ini."

Tiba-tiba Gan Bi Kim berkata.

"Mungkin sekali Cu-wi To-tiang ada yang melihat sahabat kami itu lewat di sini!"

"Aih, benar juga!"

Seru Ciang Hun girang.

"Apakah Cu-wi To-tiang melihat sahabat kami itu lewat di sini? ia seorang gadis muda...."

"Pakaiannya serba merah?"

Potong seorang tosu.

"Benar, benar!"

Ciang Hun berseru girang.

"Siancai, yang kalian cari itu bukankah Si Bangau Merah, nona Tan Sian Li?"

Dua orang muda itu hampir berteriak karena girangnya.

"Benar sekali, To-tiang!"

Kata Gak Ciang Hun.

"Apakah To-tiang melihatnya? Di mana?"

Tanyanya dengan penuh gairah.

"Nanti dulu, kalau Ji-wi mengenal Si Bangau Merah, tentulah Ji-wi bukan orang-orang sembarangan. Kongcu she Gak? Hemmm....? pinto mendengar tentang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san), apakah hubungan Kongcu dengan para pendekar she Gak itu?"

"Saya adalah puteranya...."

"Ahhh! Sungguh kami merasa beruntung bertemu dengan putera Beng-san Siang-heng!"

"Kalau boleh kami mengetahui, siapakah Cu-wi To-tiang?"

Tanya Ciang Hun, kini memandang penuh perhatian. Tosu tertua itu menghela napas panjang.

"Pinto disebut Thian-tocu, seorang murid Bu-tong-pai dan empat orang ini adalah para sute pinto. Baru kemarin pinto berlima bertemu dengan Si Bangau Merah, bahkan ia yang mengobati. Pinto dari pukulan beracun. Karena masih belum pulih kekuatan pinto, maka kami berhenti di sini untuk memulihkan tenaga."

"Lalu, ke manakah perginya adik Sian Li?"

Tanya Ciang Hun. Tosu itu menghela napas panjang.

"Kami khawatir sekali. Ia pergi mendaki Bukit Naga itu dan hendak berkunjung ke Thian-li-pang, padahal keadaan Thian-li-pang telah berubah sama sekali. Perkumpulan itu telah menyeleweng dan dipimpin oleh seorang ketua baru yang seperti Iblis. Kami sungguh mengkhawatirkan keselamatan pendekar wanita itu."

"To-tiang, apakah yang telah terjadi?"

Tanya Gan Bi Kim, ikut pula merasa khawatir mendengar ucapan tosu itu.

Thian-tocu lalu menceritakan semua penga-laman mereka berlima.

Mereka sengaja mendatangi Thian-li-pang karena mendengar berita tentang sepak terjang Thian-li-pang yang menyeleweng, menundukkan para tokoh-tokoh kang-ouw dengan kekerasan, melakukan pemerasan.

"Bahkan lebih mengejutkan lagi adalah berita tentang terbunuhnya Pendekar Tangan Sakti Yo Han oleh ketua baru Thian-li-pang...."

"Ahhh....!! Benarkah itu, To-tiang?"

Ciang Hun berseru kaget.

"Kami pun tidak percaya. Ketika kami tanyakan hal itu kepada Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang, dia mengatakan bahwa Yo Han telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, kemudian Yo Han juga menyerang dia. Dalam perlawanan yang dibantu anak buahnya, Yo Han tewas. Demikian keterangan Ouw pangcu. Kami tidak percaya sehingga terjadi perkelahian, akan tetapi ketua baru itu seperti iblis, lihai bukan main dan pinto terkena pukulan beracun darinya. Kami merasa kalah dan turun bukit, bertemu di jalan dengan Si Bangau Merah yang mengobati pinto. Kami sungguh mengkhawatirkan Si Bangau Merah yang hendak melakukan penyelidikan ke tempat berbahaya itu."

"Kalau begitu, adik Sian Li terancam bahaya. Kita harus cepat ke sana, Kim moi!"

Kata Ciang Hun, khawatir sekali.

"Gak-taihiap, sebaiknya kalau kita berhati-hati menghadapi Thian-li-pang. Selain ketuanya amat lihai, juga kini Thian-li-pang bergabung dengan tokoh-tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti. Siangkoan Kok bekas ketua Pao-beng-pai juga para tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai berada di sana. Sebaiknya kalau Ji-wi bersabar sampai lewat malam ini dan besok pagi-pagi barulah mendaki ke sana."

"Kita?"

Ciang Hun bertanya.

"Kongcu, melihat Ji-wi yang muda-muda begini bersemangat untuk membantu Si Bangau Merah, menentang bahaya dengan gagah berani, kami yang tua-tua merasa malu kalau hanya tinggal diam saja. Kami akan menemani Ji-wi membantu pendekar wanita Bangau Merah, walaupun kami tahu bahwa kekuatan kita ini tidak ada artinya dibandingkan kekuatan mereka yang mempunyai ratusan orang anak buah."

"Kita tidak bermaksud menyerang Thian-li-pang, To-tiang, hanya hendak menyelidiki kalau-kalau adik Sian Li terancam bahaya. Kita harus membantunya."

"Kami siap membantu, Kongcu."

Demikianlah, malam itu mereka lewatkan dengan beristirahat dan menghimpun tenaga karena siapa tahu, besok mereka akan menghadapi musuh dan bahaya yang harus ditentang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Hun, Bi Kim dan lima orang tosu Bu-tong-pai telah mendaki Bukit Naga.

Mereka bergerak cepat akan tetapi dengan hati-hati sekali dan tosu-tosu itu yang memimpin pendakian karena mereka lebih mengenal daerah itu daripada kedua orang muda yang baru pertama kali itu berkunjung ke situ.

Akan tetapi gerak-gerik tujuh orang ini tidak terlepas dari pengintaian anak buah Thian-li-pang.

Ouw Seng Bu maklum bahwa sebelum pemuda yang datang bersama Sian Li dan Hui Eng itu tertangkap, tentu Thian-li-pang akan terancam bahaya, apalagi ketika dia mendengar dari Siangkoan Kok bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran Mancu!

Maka dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan tersembunyi dan siang malam harus melakukan pengamatan terhadap seluruh permukaan bukit itu.

Karena itu begitu tujuh orang itu mendaki bukit, para anak buah Thian-li-pang telah mengetahuinya dan diam-diam setiap gerak-gerik mereka telah diamati dan diikuti.

Sementara itu, di dalam rumah tahanan Cu Kim Giok kembali datang mengunjungi dua orang tawanan, Hui Eng dan Sian Li.

Kini Sian Li telah dapat menekan kemarahan hatinya dan melihat munculnya Kim Giok, ia bertanya, suaranya tenang saja.

"Kim Giok, apalagi yang hendak kau katakan kepada kami?"

"Sian Li, engkau melihat sendiri betapa Thian-li-pang bersikap baik kepada kalian yang bahkan tidak dianggap sebagai musuh, melainkan sebagai tamu. Aku mengharap dengan sepenuh hatiku agar kalian berdua dapat melihat kenyataan bahwa Thian-li-pang sesungguhnya mengharapkan persahabatan dan kerja sama dengan kalian, bukan permusuhan."

"Kim Giok, aku sekarang mengerti bahwa engkau saling mencinta dengan Ouw Seng Bu, maka engkau membantu dan membelanya. Aku tidak akan mempersoalkan baik buruknya Ouw-pangcu itu, akan tetapi kalau memang benar Thian-li-pang hendak berbaik dan bersahabat dengan kami, kenapa kami dijebak, dikeroyok dan ditahan di dalam kurungan ini? Kenapa kami tidak dibebaskan saja? "Sian Li, percayalah, aku sudah minta-minta kepada pangcu agar kalian dibebaskan, akan tetapi dia mengajukan alasan kuat sehingga aku sendiri pun tidak berdaya karena alasannya memang tepat. Dia mengatakan bahwa di dalam perjuangan, kita harus dapat membedakan mana kawan mana lawan. Sekarang ini, kalian memperlihatkan sikap sebagai lawan, kalau kalian dibebaskan, sungguh amat berbahaya bagi perjuangan Thian-li-pang. Kalian lihai, dan kalian dapat mendatangkan bencana kepada kami, kecuali tentu saja kalau kalian suka bekerja sama dengan kami dan sama-sama berjuang menentang pemerintah penjajah Mancu. Karena itu, aku memohon kepada kalian, jangan memusuhi Thian-li-pang, jangan memusuhi Ouw-pangcu, jangan memusuhi kami. Sungguh aku bersumpah, kami tidak mempunyai niat buruk terhadap kalian, hanya ingin mengajak kalian bekerja sama."

"Cu Kim Giok, tidak perlu engkau membujuk kami, tentu engkau sudah tahu bahwa kami tidak akan sudi bekerja sama dengan golongan sesat. Sebetulnya, melihat engkau membantu Ouw-pangcu, hatiku tidak rela, dan aku tidak ingin lagi bicara denganmu. Akan tetapi mengingat ayah ibumu, orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, aku minta engkau berterus terang mengenai satu hal. Benarkah Yo Han telah tewas di sumur tua itu?"

Kim Giok menghela napas panjang.

Jawaban itu memang sudah diduganya.

Akan tetapi bagaimanapun juga, apa pun yang terjadi, ia akan tetap membela Seng Bu karena ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu.

"Sian Li, dengan menyesal sekali terpaksa kukatakan bahwa memang benar Yo Han tewas di dalam sumur,"

Katanya lirih dan mendengar keterangan ini, Sian Li menahan jeritnya, mukanya menjadi pucat dan ia berdiri termangu seperti patung, kedua tangan yang dipasangi rantai pada pergelangannya itu menggenggam dan melihat keadaan Si Bangau Merah itu, Hui Eng bertanya kepada Cu Kim Giok dengan suara yang tegas.

"Cu Kim Giok, katakan terus terang, demi nama baik nenek moyangmu yang terkenal sebagai pendekar-pendekar besar Lembah Naga Siluman, apakah engkau melihat sendiri kematian Yo Han itu?"

Kini Cu Kim Giok memandang kepada Hui Eng dengan alis berkerut.

"Hemmm, tidak perlu aku menjawab pertanyaanmu. Engkau sendiri adalah puteri ketua Paobeng-pai yang pernah mengacau dan memusuhi keluarga besar bahkan kemudian menurut ayahmu, engkau menjadi seorang pengkhianat dan anak yang durhaka. Aku mau bicara dengan Tan Sian Li, bukan denganmu!"

"Kim Giok, engkau tidak tahu dengan siapa engkau bicara. Ketahuilah bahwa enci Eng ini adalah Sim Hui Eng, puteri Paman Sim Houw yang hilang itu dan kini ia telah mengetahui siapa dirinya."

"Ahhh...!"

Cu Kim Giok terkejut.

"Kalau... kalau begitu, kalian berdua harus mau bekerja sama, aku tidak ingin melihat kalian celaka. Aku mohon kepada kalian, terimalah uluran tangan Ouw Pangcu untuk bekerja sama dan berjuang, atau setidaknya, jangan memusuhi kami. Kalau kalian mau berjanji di depan pangcu, aku yang akan menanggung..."

"Sudahlah, Kim Giok. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaan enci Hui Eng tadi. Apakah engkau melihat sendiri tewasnya Han-koko di sumur tua itu?"

Tanya Sian Li tak sabar.

"Ketika Yo Han datang, aku memang melihatnya, bahkan kami berkenalan. Dia pun bicara dengan baik-baik kepada Ouw-pangcu, kemudian dia bicara empat mata dengan Ouw-pangcu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu aku mendapatkan Ouw-pangcu sudah terluka parah terkena pukulan di dadanya, sedangkan para anggauta Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam sumur tua, Barulah aku tahu bahwa Ouw-pangcu hampir terbunuh Yo Han dan karena bantuan para anak buah, Yo Han dapat didesak dan terjerumus ke dalam sumur. Para anggauta Thian-li-pang menimbuni sumur itu dengan batu karena maklum bahwa kalau Yo Han dapat keluar, tentu akan mengamuk dan semua orang dibunuhi."

Keterangan bahwa Kim Giok tidak melihat sendiri kematian Yo Han, membuat hati Sian Li merasa lega kembali.

Ia tetap tidak percaya bahwa Yo Han telah tewas.

Lebih tidak percaya lagi bahwa Yo Han membunuhi para pimpinan Thian-li-pang dan berusaha membunuh Ouw Seng Bu.

Ia mengenal pria yang dikaslhinya itu.

Yo Han tidak mau membunuh orang, apalagi para pimpinan Thianli-pang di mana dia menjadi ketua kehormatan.

Tidak masuk di akal semua berita itu, walaupun ia percaya bahwa puteri Lembah Naga Siluman ini tidak berbohong.

Tentu gadis ini telah dipengaruhi Ouw Seng Bu dan tertipu!

Pada saat itu, dua orang pengawal masuk dan berkata kepada Cu Kim Giok dengan sikap hormat.

"Nona, pangcu minta agar Nona suka menemuinya di ruangan dalam."

Sikap dan ucapan penjaga itu saja sudah membuktikan bahwa ketua baru Thian-li-pang amat menghormati gadis itu.

Ia bukan dipanggil, melainkan diminta!

Cu Kim Giok menoleh kepada dua orang gadis tawanan, kemudian pergi meninggalkan tempat tahanan itu, diikuti dua orang penjaga dengan sikap hormat.

Setibanya di ruangan dalam, Ouw Seng Bu sudah menyambutnya dan kedua orang penjaga itu pun mengundurkan diri.

"Ada urusan apakah, Bu-Ko?"

Tanya Kim Giok.

"Giok-moi, ada lagi orang-orang yang menyelidiki tempat kita dan kini mereka telah tertangkap."

"Siapakah mereka?"

Kim Giok mengerutkan alisnya.

Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju kalau Thian-li-pang menangkapi orang, apalagi kalau mereka yang ditawan itu tokoh-tokoh pendekar seperti Sian Li dan Hui Eng.

Kalau sampai Thian-li-pang memusuhi para pendekar dan perkumpulan para pendekar di dunia persilatan, hal itu sungguh tidak baik dan tidak benar.

Seluruh keluarganya tentu akan marah dan menyalahkan ia membantu perkumpulan yang memusuhi dunia persilatan dan menawani para pendekar.

"Lima di antara mereka adalah para tosu Bu-tong-pai yang tempo hari, dan dua yang lain adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Bagaimana dengan hasil pembicaramu dengan Si Bangau Merah dan puteri Paman Siangkoan Kok tadi?"

Kim Giok mengerutkan alisnya.

"Mereka masih belum mau berbaik, dan puteri Paman Siangkoan Kok itu ternyata adalah puteri dari Paman Sim Houw yang hilang dicullik orang ketika masih kecil. Ini menambah gawat keadaan, Koko, karena Paman Sim Houw adalah Pendekar Suling Naga yang sakti, pendekar besar tokoh di Lok-yang. Kalau ayah Sian Li, Pendekar Bangau putih dan Pendekar Suling Naga mengetahui puteri mereka ditawan di sini dan memusuhi kita, sungguh amat berbahaya bagimu, Koko. Lalu siapa pula dua orang pemuda dan gadis yang tertawan bersama lima orang tosu Bu-tong-pai itu?"

Ouw Seng Bu kelihatan muram dan berduka.

"Giok-moi, sesungguhnya engkau sendiri pun tahu bahwa aku tidak pernah mencari perkara dan tidak pernah memusuhi mereka. Adalah mereka sendiri yang datang memusuhi Thian-li-pang. Aku pun merasa heran mengapa para pendekar itu tidak mau menyadari dan mereka bahkan berpihak kepada kerajaan Mancu, penjajah yang mencengkeram tanah air dan bangsa? Nah, cobalah engkau temui dua orang muda itu dan syukur kalau dapat membujuk mereka dan lima orang tosu, menyadarkan mereka akan pentingnya persatuan antara kita untuk membebaskan rakyat daripada cengkeraman penjajah."

Kim Giok merasa lemas karena pekerjaan membujuk ini merupakan pekerjaan yang amat berat baginya.

Akan tetapi, ia yakin bahwa kekasihnya benar, maka ia pun siap untuk membelanya.

Bagaimana lima orang Bu-tong-pai dan dua orang muda itu dapat tertawan?

Seperti kita ketahui, Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu mendaki Bukit Naga untuk melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang yang mereka curigai kebersihannya.

Mereka tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka telah diikuti oleh para anggauta Thian-li-pang.

Seorang di antara para anggauta itu melapor kepada Seng Bu yang segera ditemani Siangkoan Kok, Im-yang-ji dan Kui Thian-cu, juga beberapa orang tokoh sesat lain yang telah bergabung, menyambut rombongan yang mendaki bukit itu.

Sebelum tiba di perkampungan Thian-li-pang, Gak Ciang Hun dan kawan-kawannya secara tiba-tiba saja sudah dikepung oleh puluhan orang Thian-li-pang dan mereka berhadapan dengan Ouw Seng Bu dan kawan-kawannya.

Dengan sikap hormat Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat kepada lima orang tosu dan dua orang muda itu.

"Selamat pagi Ngo-wi To-tiang dan kalian berdua sobat muda. Tidak tahu, entah angin baik apa yang meniup kalian datang ke sini. Kami harap saja Ngo-wi To-tiang telah menyadari bahwa akhirnya kita semua, tidak peduli dari golongan apa, mempunyai tekad yang sama, yaitu bersatu padu menghadapi penjajah Mancu dan mengusir mereka dari tanah air kita."

Thian-tocu, tokoh Bu-tong-pai yang menjadi pemimpin rombo-ngan tokoh Bu-tong-pai yang lima orang itu, membalas penghormatan Ouw Seng Bu dan berkata dengan sikap dan suara yang dingin.

"Ouw-pangcu, kami berlima datang kembali bukan dengan maksud untuk menyerah, walaupun kami mengakui bahwa kami telah kau kalahkan dalam pertandingan. Kami bertemu dengan dua orang sahabat muda ini dan kami menemani mereka untuk berkunjung ke Thian-li-pang. Ketahuilah bahwa saudara muda ini adalah saudara Gak Ciang Hun, putera dari mendiang Beng-san Siang-eng, dan ini adalah nona Gan Hi Kim."

"Ah, kiranya Gak-enghiong yang datang berkunjung. Kami dari Thian-li-pang merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Gak-enghiong dan nona Bi Kim. Kami memang sedang menghimpun tenaga dari seluruh penjuru tanah air untuk mengadakan persiapan menyerang penjajah Mancu dan mengusirnya. Kami mendengar bahwa keluarga Gak dari Beng-san merupakan pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan besar yang tentu akan suka bekerja sama dengan kami untuk mengusir penjajah Mancu."

Gak Ciang Hun sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai betapa cerdik dan liciknya ketua baru Thian-li-pang itu dan kini begitu bertemu, ketua itu ternyata telah memperlihatkan dua macam kelihaiannya.

Pertama, dia serombongannya tiba-tiba saja sudah dikepung, ini berarti bahwa sejak mendaki bukit, mereka telah diketahui dan dibayangi.

Dan ke dua, begitu bertemu, ketua itu telah bersikap demikian ramah dan hormat sehingga dia sendiri andaikata belum mendengar dari para tosu, tentu akan terpikat hatinya oleh keramahan pemuda tampan itu.

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah mendengar bahwa pemuda ini seorang yang palsu dan dikabarkan telah membunuh Yo Han, dia pun menyambut dingin saja.

"Pangcu, kami sengaja datang ke Thian-li-pang untuk mencari nona Tan Sian Li. Apakah ia berada di sini?"

"Ah, kau maksudkan Si Bangau Merah? Benar, ia berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami. Ia sudah menyatakan setuju untuk membantu kami, untuk bekerja sama menentang penjajah Mancu. Kalau Gak-enghiong ingin bertemu dengannya, mari, silakan masuk ke perkampungan kami!"

Kata Seng Bu dengan wajah cerah berseri.

Mendengar ini, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tercengang.

Jawaban yang tidak mereka sangka sama sekali dan mereka berdua sudah merasa gembira.

Akan tetapi, Thian-tocu, tosu Bu-tong-pai itu sudah berkata dengan suara lantang.

"Ouw-pangcu, tidak perlu engkau membohongi Gan-taihiap dan kami. Kami sama sekali tidak percaya bahwa nona Tan Sian Li mau bekerja sama denganmu. Kami sudah berjumpa dengannya dan mendengar bahwa engkau telah membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han, bagaimana mungkin ia mau bekerja sama denganmu? Kalau kaukatakan bahwa engkau telah menjebaknya dan menawannya, kami akan lebih percaya!"

Wajah Seng Bu berubah merah dan matanya kini mencorong memandang kepada tosu Bu-tong-pai itu.

Dia merasa heran bagaimana tosu ini dapat sembuh sedemikian cepatnya, padahal dia tahu benar bahwa tosu ini telah terkena tangan beracun sehingga terluka parah.

"To-tiang, kalau pihakmu hendak menjadi antek penjajah Mancu dan tidak mau bekerja sama dengan kami para pejuang patriot bangsa, itu urusanmu. Akan tetapi jangan banyak mulut di sini. Kami pernah mengampuni kalian dan membiarkan kalian pergi. Apakah kini kalian minta mati?"

Perubahan sikap ketua Thian-li-pang ini membuat Gak Ciang Hun yang tadinya tertarik, menjadi terkejut dan tidak senang.

Sikap ketua Thian-li-pang itu amatlah aneh.

Baru saja wajahnya nampak tampan dan ramah ceria, akan tetapi kini kelihatan begitu bengis, dingin dan sadis, bahkan matanya yang mencorong itu mengandung nafsu membunuh yang mengerikan.

"Ouw-pangcu, agaknya membunuh merupakan pekerjaan biasa bagimu dan mungkin menjadi kegemaranmu. Kalau memang engkau merasa sebagai seorang yang gagah, jangan menyangkal perbuatanmu sendiri dan akui sajalah apa yang telah terjadi dengan nona Tan Sian Li. Kecuali kalau engkau memang pengecut, tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatanmu...."

"Tutup mulutmu, tosu jahanam!"

Seng Bu membentak dan dia sudah menggerakkan tangannya menampar ke arah Thian-tocu sambil mengerahkan ilmunya yang dahsyat.

Hawa beracun yang amat kuat menyambar ke arah tosu Bu-tong-pai itu.

Melihat ini, Gak Ciang Hun yang mengenal pukulan ampuh, meloncat ke depan dan menangkis dari samping untuk menolong, tosu itu.

"Dukkk....!!"

Mendapat tangkisan ini, Seng Bu mengeluarkan seruan kaget dan dia mundur dua langkah, akan tetapi Gak Ciang Hun lebih kaget lagi karena dia sempat terhuyung!

Padahal, putera pendekar kembar Gak ini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, pernah menerima pemindahan tenaga sinkang dari kakeknya, mendiang Bun-beng Lo-jin Gak Bun Beng!

Akan tetapi, ketika menangkis, dia merasa betapa dari tangan ketua Thian-li-pang itu menyambar hawa dingin yang aneh sekali, yang membuat dia sampai terhuyung.

"Pangcu dari Thian-li-pang, kalau memang ucapan Thian-tocu To-tiang tadi tidak benar, engkau berhak menyangkal, akan tetapi kalau benar, memang sepatulnya engkau berterus terang, bukan lalu menyerang seperti yang kau lakukan tadi! "

Ciang Hun menegur. Senyum iblis muncul di mulut Ouw Seng Bu.

"Heh-heh-heh, kami menerima kalian sebagai sahabat, akan tetapi kalau kalian menghendaki kekerasan baiklah. Seperti yang kami lakukan terhadap Si Bangau Merah, kami menawarkan persahabatan dan kerja sama, akan tetapi kalau kalian menolak dan bersikap memusuhi kami, terpaksa kami harus menawan kalian seperti yang telah kami lakukan terhadap Si Bangau Merah!"

Mendengar ini, Ciang Hun mengecutkan alisnya.

"Pangcu, kami tidak menghendaki persahabatan, juga tidak mencari permusuhan. Akan tetapi kalau engkau telah menawan nona Tan Sian Li, kami menuntut agar engkau suka membebaskannya sekarang juga.

"Heh-hah, bagaimana kalau kami tidak mau membebaskannya?"

"Ouw Seng Bu, kalau engkau tidak mau membebaskan Tan-lihiap, kami akan mengadu nyawa denganmu!"

Bentak Thian-tocu marah.

Lima orang tosu Bu-tong-pai itu sudah mencabut pedang mereka, siap untuk bertanding mati-matian untuk menolong Si Bangau Merah.

"Ouw-pangcu, kami harap engkau suka membebaskan nona Tan Sian Li, agar kami tidak harus menggunakan kekerasan."

Siangkoan Kok yang sejak tadi mendengarkan saja, kini menjadi tidak sabar.

"Pangcu, serahkan saja kepadaku untuk menelikung pemuda sombong ini!"

"Dan lima orang tosu Bu-tong-pai ini serahkan kepada kami!"

Kata Kui Thian-cu dan Im Yang-ji.

Ouw Seng Bu mengangguk dan para pembantunya itu segera bergerak menyerang.

Lima orang tosu Bu-tong, Ciang Hun dan Bi Kim menggerakkan senjata mereka menyambut dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah.

Baru tiga orang pembantu Seng Bu itu saja, bekas ketua Pao-beng-pai, wakil Pek-lian-kauw dan wakil Pat-kwa-pai sudah merupakan lawan berat bagi lima orang tosu dan banyak anggauta Thian-li-pang tingkat tinggi yang melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi, bagaimanapun juga Gak Ciang Hun adalah keturunan pendekar sakti, permainan pedangnya mantap dan kuat, tenaga sin-kangnya pun mampu menandingi lawan yang manapun sehingga Siangkoan Kok yang menandinginya, tidak dapat mendesaknya dengan cepat.

Gan Bi Kim juga terdesak hebat oleh Kui Thian-cu yang mengejeknya, lima orang tosu kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Thian-li-pang.

Melihat betapa Siangkoan Kok belum juga mampu menundukkan Ciang Hun, Seng Bu menjadi tidak sabar lagi.

Dia tahu bahwa bekas ketua Pao-beng-pai itu cukup tangguh dan tidak akan kalah, akan tetapi dia tidak ingin perkelahian itu berlangsung terlalu lama.

Kalau sampai Kim Giok me-ngetahui, gadis itu tentu akan merasa tidak senang.

Juga, tidak baik kalau mereka ini sampai terbunuh.

Kalau dia dapat membujuk orang-orang yang lihai itu untuk bersekutu dengannya, Hal itu akan amat menguntungkan dan memperkuat kedudukannya.

Maka, dia pun segera meloncat ke depan dan menyerang Gak Ciang Hun dengan totokan jari tangannya, menggunakan ilmunya yang aneh, akan tetapi membatasi tenaganya agar jangan sampal melukai berat atau membunuh pemuda itu.

Dengan lengking yang aneh menyeramkan, Seng Bu menyerang dan Ciang Hun yang menghadapi Siangkoan Kok saja sudah merasa sibuk karena ilmu kepandaian kakek tinggi besar itu memang hebat, kini merasa ada sambaran angin dingin dari samping.

Dia mengelak ke kiri dan pada saat itu, Siangkoan Kok menyerangnya dengan pedang, dibarengi pula dengan tamparan tangan kiri.

Ciang Hun menangkis pedang lawan, memutar tubuh dan menyambut tamparan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula.

"Trang.... plakkk!"

Kedua tangan itu bertemu dan melekat dan pada saat itu, totokan kedua yang dilakukan Seng Bu tiba.

Ciang Hun tidak mampu menghindar lagi dan dia pun roboh lemas terkena totokan ampuh jari tangan Seng Bu.

"Tangkap mereka, jangan bunuh!"

Teriaknya dan teriakan Seng Bu ini menolong.

Gan Bi Kim yang sudah terdesak, juga lima orang tosu itu, akhirnya roboh dan hanya lima orang tosu itu yang luka-luka, namun bukan luka yang terlalu parah, sedangkan Gan Bi Kim juga roboh terkena totokan Im Yang-ji.

Demikianlah, lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun, dan Bi Kim tertawan oleh Thian-li-pang dan mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang cukup lebar, tidak dirantai seperti halnya Sian Li dan Hui Eng, akan tetapi kamar tahanan itu berjeruji tebal dan kokoh kuat, sedangkan di depannya terdapat penjagaan yang ketat terdiri dari belasan orang anak buah Thian-li-pang.

Ketika Cu Kim Giok berdiri di depan jeruji kamar tahanan itu dan melihat Ciang Hun, wajahnya berubah agak pucat dan matanya terbelalak.

Ia tidak begitu peduli melihat lima tosu Bu-tong-pai, Juga ia tidak mengenal gadis cantik yang ikut tertawan di kamar itu, akan tetapi ia segera mengenal Gak Ciang Hun yang pernah dijumpainya di dalam pesta pertemuan keluarga besar di rumah pendekar Suma Ceng Liong.

"Kau...?"

Serunya kaget.

"Bukankah engkau... saudara Gak Ciang Hun...?"

Ciang Hun memandang dingin. Dia sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai tentang gadis itu.

"Hemmm... dan engkau Cu Kim Giok, puteri paman Cu Kun Tek dan bibi Pouw Li Bian dari Lembah Naga Siluman. Sungguh meng-herankan sekali melihat engkau di sini menjadi kaki tangan seorang jahat seperti Ouw Seng Bu, pangcu baru dari Thian-li-pang."

Wajah Kim Giok berubah kemerahan.

"Gak-twako!"

Serunya dengan nada protes.

"Agaknya engkau pun sudah dipengaruhi lima orang tosu yang sombong ini. Ouw Seng Bu bukan-lah seorang jahat. Dia ketua Thian-li-pang yang berjiwa pahlawan dan yang bertekad untuk meng-usir penjajah Mancu dari tanah air!"

"Pahlawan yang bergaul dengan para penjahat dan golongan sesat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai? Bukan orang jahat akan tetapi membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han, membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, bahkan menawan Tan Sian Li? Dan engkau masih mengatakan dia tidak jahat?"

"Gak-twako, engkau salah mengerti! Yang membunuh para pimpinan Thian-li-pang adalah Yo Han, bahkan dia hendak membunuh Ouw-pangcu. Adapun Tan Sian Li terpaksa ditawan karena ia hendak membunuh Ouw-pangcu dan mengamuk. Juga Ouw-pangcu yang hampir dibunuh Yo Han sampai terluka parah, dan Yo Han terjerumus ke dalam sumur tua karena dikeroyok para anggauta Thian-li-pang yang membela ketuanya. Tentang pergaulan dengan para tokoh kang-ouw, hal ini adalah karena kita semua bersatu padu menghimpun kekuatan untuk menentang penjajah Mancu! Kalau tidak bersatu dengan semua golongan bagaimana mungkin penjajah Mancu dapat diusir dari tanah air? Harap engkau dapat memaklumi, Gak-twako. Dan sekali kalau engkau, enci ini, dan para tosu Bu-tong-pai suka bekerja sama dengan kami, berjuang bahu-membahu menentang penjajah Mancu."

"Cukuplah, kami tahu bahwa engkau telah terbius oleh racun yang diberikan Ouw Seng Bu kepadamu sehingga engkau tidak lagi dapat melihat kenyataan, tidak dapat lagi, membedakan yang benar dan yang salah."

Kata Ciang Hun marah.

"Sudahlah, Nona, pergilah dan jangan ganggu kami. Bujuk rayumu itu tidak ada gunanya. Kami hanya merasa menyesal sekali bahwa seorang gadis keturunan keluarga Lembah Naga Siluman seperti Nona ini sampai dapat ditipu dan dibius oleh seorang penjahat gila seperti Ouw Seng Bu!"

Kata Thian-tocu.

Kim Giok tidak dapat menahan lagi mendengar semua itu.

Ia membalik-kan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu, wajahnya merah dan kedua matanya terasa panas mena-han tangis.

Ia merasa bingung sekali melihat betapa kekasihnya mempunyai semakin banyak musuh dari golongan para pendekar dan hal ini amat merisaukan hatinya.

Setelah memasuki kamarnya sendiri, Kim Giok tidak dapat lagi menahan tangisnya dan ia menelungkup di atas pembaringannya dan menangis.

Terjadi perang di dalam batinnya.

Mau tidak mau ia mempunyai kecondongan untuk membela dan mempercaya Sian Li, Hui Eng dan juga Ciang Hun.

Akan tetapi perasaan ini ditentang oleh cinta dan kepercayaannya kepada Seng Bu.

Seng Bu begitu baik kepadanya, begitu mencintanya dan menurut pendapatnya, kekasihnya itu seorang yang gagah perkasa dan bijaksana, dan merasa bahwa kekasihnya tidak salah, bahkan mendatangkan harapan besar bagi nusa bangsa untuk mengusir penjajah dari tanah air.

Sementara itu, Sian Li dan Hui Eng sudah menghentikan siu-lian mereka dan merasa tubuh mereka segar dan penuh kekuatan.

Akan tetapi Hui Eng melihat kemuraman membayangi wajah Sian Li yang cantik.

Ia tahu bahwa Si Bangau Merah itu tentu memikirkan Yo Han, maka ia pun menghibur.

"Adik Sian Li, tenangkan hatimu. Tidak baik dalam keadaan seperti ini membiarkan diri dicekam kerisauan, membuat kita menjadi lemah."

Katanya lirih. Sian Li mengangkat muka memandang wajah Hui Eng, lalu menghela napas panjang.

"Engkau benar, enci Eng. Akan tetapi aku tidak pernah dapat melupakan Han-koko. Membayangkan dia berada dalam sumur yang ditimbuni batu.... ah, bagaimana hatiku takkan risau?"

"Kerisauan hatimu tidak akan menolong apa-apa, adik Sian Li, tidak ada manfaatnya sama sekali. Jangan biarkan hatimu ditekan kerisauan yang menegangkan dan percaya sajalah bahwa Tuhan tentu akan selalu menolong orang yang baik dan benar. Dan aku yakin bahwa Yo Han adalah orang yang berada di pihak benar. Kalau Tuhan tidak menghendaki dia mati, biarpun dia benar-benar berada di dalam sumur itu, aku yakin dia tidak akan mati. Yang penting sekarang memikirkan bagaimana kita dapat lolos dari sini dan melanjutkan penyelidikan kita tentang Yo-twako itu."

"Akan tetapi bagaimana mungkin itu dilakukan, enci Eng? Kita dapat mematahkan rantai yang mengikat kaki tangan kita, akan tetapi kita tidak akan dapat membuka pintu besi dan jeruji itu, terlalu kuat. Selain itu, para penjaga di luar tentu akan bertertak-teriak dan kalau Ouw Seng Bu datang bersama para pembantunya, mereka itu terlalu banyak dan terlalu kuat bagi kita."

"Tenangkan hatimu, adik Sian Li. Aku masih mempunyai harapan. Lupakah eng-kau kepada kanda Cia Sun?"

Kata Hui Eng dan kedua pipinya menjadi kemerahan ketika ia teringat kepada pangeran yang menjadi kekasihnya dan kini menjadi tumpuan harapannya itu.

Baca Juga: Mutiara Hitam 9

Baca Juga: Istana Pulau Es 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert