Eps 3 Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo
Baca online Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo
Cersil Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo.
Dia maklum bahwa lawannya memang benar benar hebat, maka ia membalikkan kipasnya dengan permutaran pergelangan tangan, menggunakan ujung cabang kipas menotok telapak tangan kiri Si Brewok, sedangkan lengan kirinya sengaja ia gerakkan menangkis cengkeraman tangan kanan Ganya.
"Dukkk!"
Ganya dapat menyelamatkan tangan kirinya yang tertotok, akan tetapi dia sengaja mengadu lengan kanannya dengan lengan kir lawan.
Dua buah lengan yang sama kuat dan mengandung getaran tenaga sin kang bertemu, membuat keduanya terhuyung ke belakang!
Ganya memandang terbelalak dan kaget, sebaliknya Khu Tek San mermandang kagum.
Jarang ada orang yang dapat mengimbangi tenaga sin kangnya, akan tetapi lawan ini agaknya tidak kalah kuat olehnya.
Maka ia menerjang lagi dan terjadilah pertandingan yang amat dahsyat dan seru antara kedua orang gagah itu.
Melihat betapa pemimpin mereka sudah bertanding anak buah perampok itu berteriak dan maju menyerbu, disambut oleh Chi Kan yang sudah mengambil senjata baru dan enam orang temannya.
Perang kecil terjadi dengan ramainya, senjata tajam berdencingan bertemu lawan, teriakan teriakan dan maki makian saling susul menyeling suara berdebuknya kaki mereka yang sedang bertanding mengadu nyawa.
Maya berdiri memandang dengan kagum ke arah Khu Tek San.
Hebat memang penolongnya itu, permainan kipasnya indah sekali dan gerakannya armat kuat.
Akan tetapi ia menjadi gemas dan penasaran melihat betapa Kam Han Ki masih saja duduk di atas batu di bawah pohon seperti tadi, malah kini pemuda itu menggigiti rumput yang dicabutnya dari dekat kakinya, duduk menggigiti batang rumput sambil termenung dengan alis berkerut.
Memang saat itu Han Ki kembali teringat akan kekasihnya yang makin sering diingatnya setelah perjalanan mendekati kota raja.
"Eh, kenapa engkau malah melamun saja?"
Maya yang tidak sabar lagi mendekati Han Ki, menegur dan mengguncang pundaknya.
"Lihat, Paman Khu Tek San melawan seorang yang lihai sekali sedangkan para piauwsu dikeroyok banyak perarmpok!"
Han Ki seperti baru sadar dari alam mimpi.
Akan tetapi ia hanya menoleh ke kanan memandang pertandingan antara Khu Tek San dan Ganya.
Pada saat itu, seorang anggauta perampok yang agaknya ingin membantu pemimpinnya dan menyerbu Tek San dari belakang, kena di,sambar dadanya oleh ujung batang kipas sehingga perampok ini terbanting ke belakang, roboh dan merintih rintih.
"Khu Ciangkun tidak akan kalah!"
Kata Han Ki setelah memandang sebentar, lalu kembali menunduk menggigiti batang rumput.
Memang di dalam hatinya, pemuda ini merasa enggan untuk membantu para Piauwsu menghadapi perampok pcrampok itu.
Yang akan dirampok adalah benda benda yang akan dijadikan barang sumbangan atas menikahnya Raja Yucen dan....
Sung Hong Kwi, kekasihnya!
Karena itu, dia tidak peduli.
Kalau mau dirampas para perampok barang barang yang menyebalkan hatinya itu, biarlah!
Kembali Maya mengguncang pundaknya.
"Han Ki, lihatlah! Para perampok hendak merampas gerobak!"
Han Ki menoleh dan benar saja, kini sebagian daripada anak buah perampok ada yang mendekati gerobak berisi barang barang berharga, bahkan di antara mereka berkata nyaring sambil terkekeh.
"Mari kita naikkan gadis itu ke atas kereta dan sekalian kita bawa pergi!"
Kini lima orang perampok tinggi besar sambil tersenyum menyeringai datang menghampiri Maya yang berdiri tegak dan siap melakukan perlawanan!
Melihat ini.
Han Ki menggerakkan tangan ke bawah, menggenggam pasir kasar dan mengayun tangan itu ke arah para perampok.
Akibatnya hebat!
Lima orang perampok yang sudah mendekati Maya.
itu roboh berpelantingan ke kanan kiri, mengaduh aduh karena pasir pasir kasar itu menembus kulit dan menancap di dalam daging lengan lengan mereka!
Perih pedih panas gatal rasanya.
Teriakan teriakan kesakitan ini disusul pula oleh tujuh orang perampok yang berada di dekat gerobak sehingga dua kali mengayun tangan yang menggenggam pasir.
Han Ki telah berhasil membuat dua belas orang perampok roboh tak dapat berkelahi lagi!
Maya berdiri terbelalak.
Dia menjadi heran dan bingung.
Hanya melihat ada sinar kehitaman menyambar dua kali dibarengi desingan angin yang datang dari arah Han Ki dan perampok perampok itu sudah roboh!
Ilmu sihirkah ini?
Gerakan Han Ki sedemikian cepatnya sehingga Maya tidak dapat mengikutinya dengan pandang mata.
Menyaksikan robohnya dua belas orang kawan mereka secara aneh itu, para perampok yang lain menjadi gentar dan marah.
Demikian pula pimpinan perampok, Si Brewok yang lihai itu.
Perhatiannya terpecah ketika ia mendengar pekik-pekik kesakitan dan melihat robohnya banyak anak buahnya tanpa melakukan pertandingan.
Sebagai seorang ahli yang pandai, ia dapat melihat gerakan Han Ki dan diam diam menjadi terkejut bukan main.
Kiranya orang muda yang duduk melamun itu memiliki kepandaian yang lebih dahsyat lagi daripada orang gagah yang dilawannya.
Karena perhatiannya terpecah dan hatinya gentar, Khu Tek San dapat melihat "lowongan"
Dan memasuki lowongan itu dengan pukulan kipasnya ke arah leher lawan. Ganya terkejut, cepat mengelak, akan tetapi terlambat.
"Krekk!"
Tulang pundak kiri kepala perampok ini patah dan ia mencelat mundur sambil bersuit keras memberi tanda kepada anak buahnya untuk mundur!
Sebagai bekas pasukan yang berdisiplin, anak buah perampok yang masih bertempur itu segera melompat ke belakang dan melarikan diri, meninggalkan dua belas orang teman yang masih mengaduh aduh dan bergulingan di atas tanah!
Tujuh orang piauwsu menjadi lega sekali karena para perampok pergi dan di antara mereka hanya ada dua orang yang terluka ringan.
Melihat dua belas orang perampok bergulingan itu, mereka menjadi gemas dan menggerakkan golok golok perak mereka untuk membunuh.
"Cring cring cring....!"
Para piauwsu terkejut dan berteriak sambil terhuyung ke belakang.
Kiranya golok golok mereka telah tertangkis oleh kerikil-kerikil kecil yang disambitkan secara tepat mengenai golok mereka dan dengan tenaga yang amat kuat sehingga golok mereka tergetar!
Ketika mereka menoleh, kiranya Han Ki yang tadi mencegah mereka dan kini pemuda itu bangkit berdiri.
"Para piauwsu harap jangan melakukan permbunuhan! Barang barang telah diselamatkan, lebih baik melanjutkan perjalanan, mengapa mau membunuh orang?"
Mendengar teguran Han Ki ini, Chi Kan membantah.
"Akan tetapi penjahat ini tadinya hendak merampok gerobak dan Siocia, dan tentu akan membunuh kita semua. Mengapa sekarang tidak boleh kami bunuh? Orang orang jahat seperti mereka ini kalau tidak dibasmi, kelak tentu akan menimbulkan malapetaka kepada orang lain,"
Han Ki menggeleng kepala.
"Belum tentu, Chi piauwsu! Ada akibat tentu ada sebabnya. Mereka ini dulunya bukan perampok dan kalau sekarang menjadi perampok tentu bersebab. Kalau saja pasukan mereka tidak dipukul hancur, kalau saja mereka tidak dipengaruhi seorang pemimpin yang jahat, kalau saja Kaisar Sung tidak menikahkan puterinya, kalau saja kalian tidak mengantar barang barang berharga ke kota raja dan masih banyak kalau kalau lagi, kiranya mereka ini tidak menjadi perampok. Pula, aku yang merobohkan mereka, karenanya aku pula yang berhak memutuskan. Mereka ini tidak boleh dibunuh!"
Melihat betapa para piauwsu masih penasaran, Khu Tek San segera berkata.
"Cu wi Piauwsu harap jangan banyak membentak lagi.
Kalau tadi Siauw susiok tidak turun tangan, bukankah gerobak dan nyawa kalian akan hilang?
Mari kita melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mereka yang terluka ini!' Para piauwsu tadi sudah menyaksikan kegagahan Khu Tek San, maka biarpun mereka masih penasaran karena tiada seorang pun menyaksikan bahwa Han Ki yang merobohkan dua belas orang perampok itu, tidak banyak bicara lagi dan perjalanan dilanjutkan menuju ke kota raja.
Ketika rombongan itu memasuki kota raja, semua menjadi gembira, kecuali Han Ki.
Terutama sekali Maya menjadi gembira bukan main dan amat kagum menyaksikan rumah rumah besar dan kota yang dihias indah itu.
Jelas bahwa kota raja menyambut pernikahan puteri Kaisar secara besar besaran!
Namun, keadaan kota raja itu membuat hati Han Ki terasa makin perih seperti ditusuk tusuk pedang.
Hiasan hiasan indah dengan bunga bunga dan kertas kertas berwarna warna!
itu seolah olah mengejeknya, mengejek atas kepatahan hatinya dan terputusnya ikatan cinta kasih antara dia dan Sung Hong Kwi!
Setelah menghaturkan terima kasih rombongan piauwsu memisahkan diri, Khu Tek San mengajak Maya dan Han Ki langsung menghadap Menteri Kam.
Dengan ramah dan gembira Menteri Kam menerima kedatangan mereka bertiga itu di dalam ruangan sebelah dalam.
"Suhu..... !"
Khu Tek San berlutut memberi hormat kepada gurunya.
Han Ki berdiri lesu dan Maya juga berdiri akan tetapi dia terbelalak memandang ke arah laki laki tua yang berpakaian seperti pembesar, kakek yang berwajah penuh kesabaran namun pandang matanya tajam penuh wibawa.
Dia segera mengenal kakek ini!
Ketika dia dahulu ditawan sepasang iblis dari India kakinya digantung di pohon oleh Mahendra dan hampir saja ia disembelih seperti seekor ayam, kakek itulah yang mendongnya!
Jadi kakek inilah guru penolongnya?
Dan kakek inilah saudara tua Raja Khitan, ayah angkatnya?
"Bagus sekali, engkau dapat pulang dengan selamat, Tek San.
Dan engkau telah melakukan tugasmu dengan baik, Han Ki!
Akan tetapi anak perempuan ini....
siapakah dia?"
Menteri Kam Liong memang tidak ingat lagi akan anak perempuan yang dulu ditolongnya dari tangan Mahendra, sehingga kini tidak mengenal Maya.
Apalagi dahulu ia hanya melihat wajah anak yang digantung itu dari jauh dan mengira anak dusun biasa.
"Maaf, Suhu. Hampir saja teecu mengalami kegagalan dan tewas dalam tugas kalau tidak tertolong oleh Susiok yang amat lihai. Adapun anak ini bukan lain adalah puteri dari mendiang Raja dan Ratu Khitan."
Menteri Kam Liong terbelalak memandang Maya.
"Aiihhh....! Kasihan sekali engkau Anakku....!"
Kam Liong turun dari bangkunya, memegang lengan Maya, ditariknya dan dirangkulnya anak itu.
"Aku adalah uwamu sendiri, Maya."
Akan tetapi Maya tidak merasa terharu.
Dia memiliki hati yang keras, dan kini timbullah rasa tidak senangnya kepada Menteri Kam.
Kalau benar orang tua ini uwanya, kalau benar memiliki kepandaian tinggi dan kedudukan tinggi berpengaruh, kenapa tidak sejak dahulu membantu dan melindungi keselamatan keluarga Raja Khitan?
Uwa macam apa ini!
"Tidak, aku tidak mempunyai uwa tidak mempunyai saudara atau keluarga., Keluargaku habis terbasmi di Khitan.
Dan aku pun bukan puteri Raja Khitan hanya anak angkat!
Harap kau orang tua tidak mengaku keluarga hanya untuk menghiburku."
"Maya....!"
Khu Tek San menegur kaget dan marah.
Akan tetapi Menteri Kam Liong tersenyum pahit.
Dia mempunyai pandangan tajam dan dapat menyelami hati bocah itu.
Dia sendiri pun merasa nelangsa hatinya mengapa tidak dapat menyelamatkan saudara saudaranya di Khitan.
Maka ia pun tidak tersinggung ketika Maya melepaskan pelukannya, melangkah mundur dekat Han Ki dan tadi mengeluarkan ucapan seperti itu.
Dia memandang kagum.
Biarpun dia tahu bahwa bocah ini memang bukan puteri kandung Raja dan Ratu Khitan, namun bocah ini patut menjadi puteri mereka, patut menjadi keponakan Mutiara Hitam karena mermiliki watak yang khas dimiliki wanita gagah perkasa Mutiara Hitam, adik tirinya itu!
Hati Tek San tidak enak sekali menyaksikan sikap Maya terhadap gurunya.
Dia cepat berkata.
"Kalau Suhu memperbolehkan, biarlah Maya tinggal di tempat teecu karena di sana dia dapat bermain-main dengan anak teecu Siauw Bwee."
Menteri Kam Liong mengangguk angguk.
"Sebaiknya begitu, kalau dia mau. Maukah engkau tinggal di rumah Tek San, Maya? Apakah ingin tinggal di sini bersama uwakmu?"
"Aku ingin tinggal bersama Paman Khu"
Jawab Maya tegas.
"Kalau begitu, engkau pulanglah lebih dulu, Tek San dan bawa Maya bersamamu. Akan tetapi engkau segera kembali ke sini karena banyak hal penting yang ingin kubicarakan dengan engkau dan Han Ki"
Khu Tek San memberi hormat, lalu mengajak Maya keluar dari gedung itu menuju ke rumahnya sendiri.
Ternyata panglima itu pun memiliki sebuah rumah gedung yang cukup mewah.
Maya mendapat kenyataan pula bahwa penolongnya ini bukan sembarang orang, dan tentu memiliki kedudukan yang cukup tinggi.
Hal ini bukan hanya terbukti dari rumah gedungnya yang mentereng, melainkan juga terbukti dari sikap para perwira yang bertemu di jalan.
Semua menghormat kepada Panglima Khu yang masih berpakaian preman itu.
Para pelayan menyambut kedatangan panglima ini penuh hormat, akan tetapi Khu Tek San yang sudah tidak sabar untuk dapat segera bertemu dengan anak isterinya, menggandeng tangan Maya dan setengah berlari memasuki gedung.
Di sebelah dalam disambutlah dia oleh seorang wanita cantik dan scorang anak gadis cilik yang cantik jelita pula.
"Ayahhh....!"
Anak perempuan yang usianya lebih muda dua tahun daripada Maya itu dengan sikap manja lari menghampiri ayahnya.
Tek San tertawa, disambarnya anak itu dan diangkatnya tinggi tinggi lalu dipeluk dan dicium pipinya.
"Ha ha ha, Siauw Bwee, engkau sudah begini besar sekarang"
Kemudian suami ini saling pandang dengan isterinya, penuh kerinduan penuh kemesraan yang tak dapat mereka perlihatkan di depan dua orang anak perempuan itu.
Hanya pandang mata mereka yang saling melekat mesra mewakili tubuh mereka.
"Maya, inilah bibimu!"
Kata Tek San yang melanjutkan.
"Niocu, dia ini adalah Puteri Maya, puteri mendiang Raja dan Ratu Khitan."
"Aihhh....!"
Isteri Khu ciangkun menghampiri dan mengelus rambut kepala Maya.
Anak ini menahan nahan air matanya yang hendak runtuh sejak tadi.
Melihat betapa Siauw Bwee disambut mesra oleh kasih sayang ayahnya, dia teringat akan nasib diri sendiri.
Dahulu pun ayahnya Raja Khitan, amat cinta kepadanya.
Akan tetapi sekarang?
Dia, tidak punya siapa siapa!
Setelah tangan halus bibinya mengusap rambutnya, dia menjadi makin terharu.
"Maya, inilah Siauw Bwee, anakku. Bermainlah dengan dia dan anggap dia adikmu sendiri. Siauw Bwee, inilah Cicimu, Maya."
Siauw Bwee diturunkan dari pondongan ayahnya. Gadis cilik ini tersenyum manis dan ramah kepada Maya, menghampirinya dan memegang tangannya.
"Enci Maya....!"
Begitu bertemu hati Maya telah tertarik dan suka seKali kepada Siauw Bwee. Dia pun lupa akan kedukaannya, merangkul pundak Siauw Bwee dan berkata.
"Adik Siauw Bwee....!"
"Enci Maya, mari kita main main di taman. Di kolam taman terdapat ikan baru. Lucu sekali, sisiknya seperti emas, ekornya seperti selendang sutera, tubuhnya seperti katak dan kedua matanya membengkak dan menjendol keluar di atas selalu memandang langit!"
Dua orang anak perempuan itu tertawa tawa dan berlarian menuju ke taman.
Setelah kedua orang anak itu pergi, barulah suami isteri yang saling mencinta dan sudah berpisah lama ini dapat menumpahkan rasa rindu mereka.
Mereka saling menubruk, berciuman dan tanpa berkata kata.
Tek San melingkarkan lengan kanan di pinggang yang ramping itu kemudian mereka berdua berjalan jalan memasuki kamar.
Tak lama kemudian, Khu Tek San sudah kembali ke gedung Menteri Kam yang duduk berdua dengan Han Ki.
Pemuda itu kelihatan lebih murung lagi, wajahnya pucat dan matanya sayu.
"Aku sudah mendengar penuturan Han ki tentang peristiwa yang terjadi dan menimpa kalian."
Menteri Kam berkata setelah muridnya duduk.
"Memang semua itu telah diatur oleh... hemmm, Suma Kiat!"
Khu Tek San mengangguk angguk.
"Suhu, kalau tidak salah dugaan teecu, semua perbuatan yang dilakukan oleh Siangkoan Lee terhadap teecu, hanyalah untuk memukul Suhu. Betulkah?"
Menteri itu menghela napas panjang dan mengangguk.
"Benar demikian. Orang itu sampai kini masih saja belum dapat melenyapkan rasa benci dan dendam yang meracuni hidupnya sendiri. Diam diam dia telah bersekongkol dengan pasukan-pasukan asing, berusaha memburukkan namaku di depan Kaisar dengan bermacam cara. Untung tak pernah berhasil dan Kaisar masih tetap percaya kepadaku. Akan tetapi, Suma Kiat masih belum puas juga dan siasatnya yang terakhir ini benar benar menjengkelkan dan membahayakan."
"Siasat apalagi, Suhu?"
Tanya Khu Tek San dengan kening berkerut dan hati khawatir.
Mempunyai seorang musuh seperti Jenderal Suma Kiat benar benar amat berbahaya karena selain ia tahu betapa tinggi ilmu kepandaian jenderal itu, juga Jenderal Suma Kiat amat licik, curang dan mempunyai pengaruh di antara para thaikam dan menteri menteri yang tidak setia.
"Dia berhasil membujuk Kaisar untuk menyerahkan puteri selirnya kepada Raja Yucen!"
Menteri tua itu menggeleng-geleng kepala dan memandang Han Ki yang menundukkan muka.
"Hal itu apa sangkut pautnya dengan kita, Suhu?"
"Ah, kau tidak tahu, muridku, Suma Kiat amat cerdik dan pandai mengatur siasat untuk merobohkan lawan lawan dan musuh musuhnya. Ketika usaha muridnya yang bernama Siangkoan Lee itu gagal untuk menangkap dan membunuhmu, muridnya cepat pulang ke kota raja. Raja Yucen marah marah karena dibakar hatinya oleh murid itu, mengirim protes kepada Kaisar mengapa seorang Panglima Sung diselundupkan untuk menjadi matamata di Kerajaan Yucen! Dan kembali Suma Kiat yang memberikan jasa jasa baiknya untuk mengangkat diri sendiri di depan Kaisar sambil sekaligus berusaha menjatuhkan aku! Dia menyalahkan aku mengenai kemarahan Raja Yuceng kemudian membujuk Kaisar agar menyerahkan puteri selirnya yang tercantik untuk menjadi isteri muda Raja Yucen. Sengaja dia mengusulkan agar Puteri Sung Hong Kwi yang dihadiahkan!"
Khu Tek San mendengar tarikan napas panjang dari Han Ki dan ia mengerling ke arah permuda itu.
Heranlah hatinya mellhat pemuda itu mengepal tinju dan marah sekali.
Sudah lama ia melihat sikap Han Ki yang penuh duka, dan kini ia menjadi makin ingin tahu apa gerangan yang menyusahkan hati pemuda sakti ini.
Menteri Kam agaknya tahu akan isi hati Khu Tek San, maka ia lalu berkata tenang.
"Karena engkau merupakan orang sendiri, kiranya Han Ki tidak perlu menyembunyikan lagi rahasianya. Ketahuilah, Tek San. Puteri Sung Hong Kwi yang akan dijodohkan dengan Raja Yucen itu adalah kekasih Han Ki. Dia ingin minta aku mengajukan pinangan kepada Kaisar, akan tetapi ternyata telah didahului Suma Kiat karena aku yakin benar mengapa dia justeru mengusulkan agar puteri itu yang dihadiahkan kepada Raja Yucen. Agaknya, hubungan cinta kasih antara Han Ki dan puteri itu telah bocor dan diketahui Suma Kiat, maka kembali dia melakukan hal itu untuk memukul Han Ki dan tentunya yang dijadikan sasaran terakhir adalah aku sendiri karena Han Ki adalah saudara sepupuku!"
"Hemm, sungguh mengherankan sekali sikap Suma goanswe itu. Bukankah beliau itu masih ada hubungan keluarga dengan Suhu?"
Tanya Tek San penasaran.
Gurunya mengelus jenggot dan menghela napas panjang melihat betapa Han Ki juga memandangnya dengan sinar mata penuh pertanyaan.
"Memang begitulah, antara Suma Kiat dan aku terdapat pertalian keluarga. Ibunya bermama Kam Sian Eng dan ibunya itu adalah adik kandung Kam Bu Sin, ayah Han Ki ini. Mereka berdua adalah adik tiri ayahku, Kam Bu Song pendekar sakti Suling Emas. Memang ada hubungan keluarga, dan dia itu masih misanku sendiri. Namun menurut riwayat nenek moyang keluarga Suma memang selalu memusuhi keluarga Kami Sungguh menyedihkan kalau diingat."
"Habis bagaimana sekarang baiknya, Suhu?"
Menteri itu menggerakkan pundaknya.
"bagaimana baiknya? Kita menanti dan melihat saja bagaimana perkembangannya. Kota raja sudah dalam keadaan pesta karena perjodohan itu telah diumumkan, bahkan besok akan tiba utusan dari Raja Yucen, diikuti oleh panglima besar dan guru negara sendiri, yaitu utusan untuk meresmikan hari pernikahan. Engkau harus hadir pula, Tek San, untuk memperlihatkan kepada Kaisar bahwa engkau benar benar berdiri di pihak Kerajaan Sung. Dan kehadiranmu malah merupakan ujian bagi ketulusan sikap orang orang Yucen. Kalau memang mereka menghendaki hubungan baik, setelah Kaisar menyerahkan puterinya tentu mereka tidak akan berani bicara lagi tentang penyelundupan di Yucen. Kalau terjadi sebaliknya, berarti mereka itu masih mendendam dan tidak mempunnyai iktikad baik terhadap Kerajaan Sung. Dan engkau harus hadir pula dalam perjamuan menyambut para tamu agung itu, Han Ki, sebagai pengawalku."
Tek San dan Han Ki menyatakan persetujuan mereka, namun di dalam hatinya, Han Ki merasa makin berduka, Dia harus hadir dalam perjamuan menyambut utusan calon suami Hong Kwi!
Bahkan tak salah lagi dia pun harus pula ikut minum arak untuk menghaturkan selamat kepada pengantin!
"Enci Maya, aku sudah minta perkenan Ayah,akan tetapi tetap tidak boleh!
Katanya keramaian yang diadakan di istana untuk menyambut dan menghormati utusan Raja Yucen, yang hadir adalah Kaisar sendiri dan para menteri, para thaikam dan orang orang besar saja."
"Anak anak mana boleh turut?"
Khu Siauw Bwee berkata dengan muka kecewa kepada Maya yang membujuknya agar dia minta perkenan ayahnya diperbolehkan ikut menonton keramaian di istana.
Khu Siauw Bwee adalah puteri tunggal Khu Tek San, lebih muda satu dua tahun dari Maya.
Dia seorang anak perempuan yang cantik mungil, dengan pandang mata lembut namun tajam sekali menandakan bahwa dia memiliki kecerdikan, sikapnya tidak manja karena memang ayah bundanya pandai mendidik.
Seperti juga Maya, sejak kecil Siauw Bwee digembleng ilmu silat dan ilmu sastra oleh ayah bundanya.
Berkat ketajaman otaknya, biarpun masih kecil, belum sepuluh tahun usianya, Siauw Bwee telah memiliki ketabahan dan kepandaian silat yang membuat tubuhnya lincah dan kuat.
Maya tidak rasa kecewa hatinya ketika mendengar mereka tidak boleh ikut.
"Ahh, sayang sekali. Aku ingin melihat bagaimana sih rupanya Kaisar Sung dan puteri puterinya juga ingin sekali melihat utusan Yucen. Terutama sekali melihat puteri puteri istana yang kabarnya cantik cantik seperti bidadari."
"Ihhhh, seperti apa sih kecantikan mereka? Kulihat mereka itu tidak ada yang lebih cantik daripada engkau, Enci Maya. Engkau barulah boleh disebut seorang gadis yang cantik!"
Siauw Bwee berkata sungguh sungguh sambil memandang wajah Maya yang amat mengagumkan hatinya.
"Aihhh, sudahlah jangan menggoda, Adikku. Dahulu di istana orang tuaku, aku boleh melakukan apa saja, maka sekarang, melihat ayahmu melarang engkau padahal hanya ingin menonton keramaian sungguh sungguh aku merasa penasaran sekali. Apa sih buruk dan ruginya kalau kita ikut menonton? Hemm, aku ada akal baik, Moi moi. Kalau kau suka, kita akan dapat bergembira sekali dan....hemm, kaudengar baik baik....! Maya lalu berbisik bisik di dekat telinga Siauw Bwee. Wajah Siauw Bwee berubah dan matanya terbelalak.
"Ihh, Enci Maya! bagaimana kalau sampai ketahuan?"
Dengan ibu jari tangah kanannya, Maya menuding dadanya sendiri.
"Akulah yang akan bertanggung jawab,jangan engkau khawatir!"
Sambil tertawa terkekeh kekeh, kedua orang anak perempuan itu memasuki kamar mereka dan mengunci pintu.
Terdengar mereka berdua masih tertawa-tawa, entah apa yang mereka lakukan dan bicarakan.
Apa yang menjadi dugaan Menteri Kam ketika ia menceritakan kepada Muridnya memang tepat.
Peristiwa yangg menimpa diri Khu Tek San di Yucen, yaitu pecahnya rahasianya sebagai mata-mata kemudian tertangkapnya oleh rekan rekannya sendiri di perbatasan, adalah akibat perbuatan Siangkoan Lee yang memenuhi perintah gurunya, Suma Kiat.
Memang Jenderal Suma Kiat ini tidak pernah dapat melupakan sakit hatinya dan kebenciannya terhadap keturunan Suling Emas.
Ketika ia mendapat laporan dari Siangkoan Lee betapa usaha muridnya itu semua gagal oleh Mutiara Hitam, kemudian oleh Kam Han Ki, hatinya menjadi makin marah dan penasaran.
Maka diaturnyalah siasat baru untuk memukul Han Ki dan Menteri Kam Liong yaitu membujuk Kaisar agar mengambil hati Raja Yucen dengan menyerahkan seorang di antara puteri selirnya.
"Puteri Paduka Sung Hong Kwi terkenal sebagai bunga istana, hal ini bahkan terkenal sampai ke Yucen. Kalau Paduka menghadiahkan puteri itu kepada Raja Yucen, Paduka akan memetik tiga keuntungan,"
Demikian antara lain bujukan yang diucapkan Suma Kiat yang didukung oleh para thaikam.
"Tiga keuntungan yang bagaimana engkau maksudkan?"
Kaisar bertanya.
"Pertama, puteri Paduka akan terangkat sebagai seorang Junjungan yang dihormati di Yucen dan mengingat akan keadaan Permaisuri Yucen yang lemah dan sakit-sakit, banyak harapan beliau akan dapat menjadi permaisuri. Ke dua, dengan menarik Raja Yucen sebagai mantu paduka, mantu yang rendah karena hanya menikah dengan puteri selir, berarti Paduka mengangkat kedudukan Paduka jauh lebih tinggi daripada Raja Yucen. Kemudian ke tiga, dengan ikatan jodoh itu, tentu saja Yucen tidak akan memusuhi Sung, bahkan setiap saat dapat diharapkan bantuan mereka."
Tentu saja Jenderal Suma Kiat tidak menyatakan rahasia hatinya bahwa kalau perjodohan itu dilakukan, terutama sekali karena ia ingin menghancurkan hati Kam Han Ki yang ia tahu dari para penyelidiknya mempunyai hubungan cinta kasih dengan puteri itu dan karenanya ingin pula ia menghantam Menteri Kam melalui Han Ki!
Demikianlah, secara cepat sekali, ikatan jodoh diadakan dan hari itu kota raja telah berpesta merayakan perjodohan itu.
Penduduk yang tidak tahu apa apa hanya ikut merasa germbira bahwa Kaisar hendak mantu, apalagi yang akan mempersunting Puteri Sung Hong Kwi adalah Raja Yucen sehingga hal ini dapat diartikan bahwa kota raja terhindar dari satu di antara bahaya serbuan musuh musuhnya.
Rombongan utusan Raja Yucen tiba dan mendapat sambutan meriah, bahkan malamnya istana mengadakan perjamuan meriah, untuk menghormati mereka.
Sesuai pula dengan kebiasaan di Yucen, maka ruangan yang memang di istana diatur dengan bangku bangku kecil tanpa tempat duduk karena biasa mereka itu makan minum sambil duduk di lantai menghadapi bangku kecil terdapat makanan.
Mereka terdiri dari dua puluh orang lebih, dipimpin oleh guru negara dan panglima besar Yucen, duduk berjajar-jajar menghadapi bangku masing masing merupakan barisan keliling yang saling berhadapan.
Juga Kaisar sendiri bersama menteri menteri yang berkedudukan tinggi, hadir dalam perjamuan itu, di antaranya tampak Menteri Kam Liong, Panglima Khu Tek San, Kam Han Ki pengawal pribadi Menteri Kam, Jenderal Suma Kiat, dan lain pembesar penting lagi.
Kaisar sendiri menghadapi bangkunya di tempat yang lebih tinggi dan dilayani para thaikam dan pelayan.
Panglima panglima yang pangkatnya belum cukup tinggi, hanya dipersilakan duduk di ruangan sebelah, di atas kursi-kursi berjajar, ada lima puluh kursi banyaknya.
Mereka yang memenuhi ruangan ini hanya ikut makan minum, ikut mendengarkan percakapan dan menonton pesta orang orang besar di ruangan dalam, akan tetapi tidak berhak ikut dalam percakapan.
Selagi perjamuan itu mulai ramai dan gembira karena pihak tamu maupun dari pihak tuan rumah berkali kali diadakan penghormatan dengan mengisi cawan arak dan minum demi keselamatan masing-masing pihak, di sebelah luar, di pintu ruangan para panglima rendahan, terjadi sedikit keributan.
Enam orang pengawal yang menjaga pintu sedang ribut mulut dengan seorang berpakaian panglima yang bertubuh tinggi kurus berwajah tampan sekali.
Para pengawal tidak mengenal panglima muda ini, maka mereka menolaknya untuk memasuki ruangan itu.
Si Panglima Muda marah marah dan memaki maki.
"Kalian ini serombongan pengawal berani menolak seorang panglima? Aku, adalah seorang panglima kerajaan, masa tidak boleh menonton keramaian menyambut utusan calon besan Kaisar? Apakah kalian ingin dipecat dan dihukum?"
Suara Panglima itu nyaring dan bening. Pemimpin pengawal menjadi gugup akan tetapi berusaha membantah.
"Maaf, Ciangkun, akan tetapi hamba.... tidak mengenal Ciangkun, bahkan belum permah melihat Ciangkun?"
"Goblok! Mana mungkin kallan dapat mengenal semua panglima yang amat banyaknya dan yang banyak bertugas di luar kota? Cukup kalau kalian mengenal pakaian dan tanda tanda pangkatnya yang kupakai! Awas, aku adalah panglima yang dipercaya oleh Menteri Kam!"
Mendengar disebutnya Menteri Kam, para pengawal mundur ketakutan dan terpaksa mempersilakan panglima muda itu memasuki ruangan yang disediakan bagi para panglima rendahan yang tidak diundang ke ruangan dalam ikut menyambut tamu tamu agung!
Enam orang pengawal ini saling pandang, kemudian mereka berbisik bisik, membicarakan panglima muda itu dengan hati heran.
Panglima yang masih begitu muda yang tampan sekali, bertubuh jangkung dan galaknya bukan main!
Kalau saja para pengawal itu berani mengikuti Si Panglima tampan ini, tentu keheranan mereka akan bertambah beberapa kali lipat melihat Si Panglima itu kini telah berubah menjadi dua orang bocah yang duduk di baris terdepan!
Memang bukan orang lain, panglima itu sebenarnya adalah Maya dan Siauw Bwee!
Akal bulus Maya membuat mereka dapat memasuki istana melalui beberapa tempat penjagaan dengan menyamar sebagai seorang panglima, menggunakan pakaian Khu Tek San!
Dua orang gadis cilik ini sejak kecil digembleng limu silat, maka bukan merupakan hal yang aneh dan sukar bagi mereka untuk penyamaran itu.
Maya berdiri di atas pundak Siauw Bwee sehingga tubuh mereka yang bersambung ini setelah ditutup pakaian Khu Tek San berubah menjadi tubuh seorang panglima yang jangkung kurus dan berwajah tampan sekali, wajah Maya.
Setelah berhasil mengelabuhi penjagaan terakhir di depan ruangan itu, Maya dan Siauw Bwee girang sekali.
Pakaian luar panglima itu segera mereka copot.
Maya meloncat turun dan kedua orang anak perempuan yang berani itu menyelinap dan memilih tempat duduk di bagian paling depan sehingga mereka dapat menonton ke ruangan dalam di mana Kaisar sedang menjamu tamu tamunya!
Para panglima yang melihat munculnya dua orang gadis cilik dekat mereka, menjadi heran dan ada yang menegur.
Maya mendahului Siauw Bwee yang sudah mulai agak gelisah.
"Dia adalah puteri Panglima Khu yang hadir di situ, dan aku adalah keponakan Menteri Kam yang hadir pula di situ. Kami ikut dengan mereka dan ditempatkan di sini. Apakah Cu wi Ciangkun berkeberatan?"
Memang hebat sekali, amat tabah dan cerdik. Sekecil itu dia sudah dapat "berdiplomasi"
Dan menggunakan kata kata yang menyudutkan para panglima itu.
Tentu saja tidak ada scorang pun di antara mereka berani menyatakan keberatan menerima puteri Panglima Khu yang terkenal, apalagi keponakan Menteri Kam!
Bahkan mereka tersenyum senyum gembira karena dua orang bocah itu biarpun masih keeil, merupakan "pemandangan"
Yang menarik dan memiliki kecantikan yang mengagumkan.
Para utusan Kerajaan Yucen sudah mulai merah mukanya oleh pengaruh arak wangi dan percakapan mulai lebih bebas dan berani.
Menteri Kam yang duduk tak jauh dari Kaisar, bersikap tenang saja dan beberapa kali mengerling ke arah Jenderal Suma Kiat yang duduk dekat panglima besar dan Guru Negara Yucen.
Sejak tadi Jenderal Suma ini bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan kedua orang tamu agung, bahkan sering kali berbisik bisik, kelihatannya akrab sekali.
Han Ki yang berdiri di belakang Menteri Kam sebagai pengawal tidak bergerak seperti arca, akan tetapi sinar matanya kadang kadang layu kadang kadang berapi kalau memandang ke arah para utusan Raja Yucen.
Khu Tek San juga duduk dengan tenang.
Tiba tiba panglima besar Kerajaan Yucen yang bertubuh tinggi besar, bercambang bauk, matanya tajam dan sikapnya gagah sekali, berpakaian perang yang megah mewah, mengangkat tangan ke atas dan memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki ke arah Kaisar, suaranya terdengar garang dan keren.
"Perkenankan hamba menghaturkan selamat kepada Kaisar yang ternyata memiliki banyak menteri dan jenderal yang pandai dan setia. Kalau tidak demikian, hamba rasa kegembiraan malam ini takkan kita rasakan bersama, akibat perbuatan seorang Menteri Sung yang tidak patut terhadap Kerajaan Yucen. Hamba sebagai utusan Sri Baginda di Yucen, sama sekali tidak menyalahkan Kerajaan Sung, karena hamba tahu bahwa yang menjadi biang keladi hanyalah seorang menteri yang bersikap lancang seolah-olah lebih berkuasa daripada kaisarnya sendiri!"
Semua yang hadir menahan napas, menghentikan percakapan dan makan, menanti dengan jantung berdebar karena utusan itu menginggung hal yang gawat.
Semua orang mengerti siapa yang dimaksudkan oleh panglima besar Yucen itu.
Menteri Kam dan Khu Tek San saling pandang sejenak, akan tetapi keduanya masih bersikap tenang tenang saja.
Kaisar sendiri mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu.
Tak senang hatinya dan untuk menjawab, lidahnya terasa berat.
Tiba tiba Jenderal Suma Kiat sudah membuka mulut berkata.
"Tai ciangkun dari Yucen benar benar seorang yang jujur dan berhati polos! Setelah Tai ciangkun tidak menyinggung atau menyalahkan Kaisar, sebaiknya menunjuk secara jujur menteri mana yang dimaksudkan agar tidak membikin hati para menteri di sini menjadi tidak enak."
"Ha ha ha, Suma goanswe pun menyukai sikap jujur seperti kami. Bagus sekali! Yang kami maksudkan adalah Menteri Kam Liong, yang telah melakukan perbuatan tidak patut sekali, mengirim muridnya dan menyelundupkannya menjadi panglima kerajaan kami untuk melakukan pekerjaan mata mata! Bukankah perbuatan itu amat busuk? Untung Sri Baginda Kerajaan Sung amat bijaksana, kalau tidak, bukankah perbuatan licik Menteri Kam itu cukup berbahaya untuk mencetuskan perang?"
Kembali keadaan di ruangan itu sunyi sekali dan hati semua orang makin bimbang dan tegang.
Sri Baginda sendiri, yang tentu saja menyetujui akan penyelundupan Khu ciangkun ke Yucen, kini hanya dapat memandang kepada Menteri Kam Liong.
Sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba tampak seorang panglima bertubuh jangkung memasuki ruangan itu dan terdengar suaranya nyaring.
"Rombongan utusan Yucen ini datang membawa perdamaian ataukah mencari pertentangan? Menghina seorang menteri berarti menghina Kaisar dan kerajaan!"
Semua orang terkejut sekali melihat munculnya seorang panglima muda tinggi kurus yang tidak terkenal ini, dan seorang pengawal Yucen yang berdiri menjaga di belakang Sri Panglima Besar, sudah menghadang ke depan dan melintangkan tombaknya memandang panglima tinggikurus itu.
"Eh, eh, mau apa engkau?"
Panglima tinggi kurus itu membentak Si Pengawal Yucen sambil melangkah maju mendekat.
Pengawal itu mengira bahwa Panglima Sung ini akan menyerang majikannya, maka cepat menggerakkan tombaknya menodong.
Tiba tiba kedua tangan panglima yang kurus itu bergerak menyambar tombak dan semua orang memandang terbelalak ketika tiba tiba bagian perut panglima kurus itu bergerak ke depan seperti kaki tangan yang bertubi tubi mengirim tendangan dan pukulan.
"Buk buk....!"
Pukulan pukulan aneh yang keluar dari perut itu mengenai tubuh Si Pengawal yang sama sekali tidak menduga.
Siapa akan menduga lawan memukul dengan perut yang bisa bergerak seperti kaki tangan itu?
Biarpun pukulan pukulan itu tidak keras, namun Si Pengawal terhuyung mundur saking kagetnya dan tombaknya terlepas!
Panglima besar Yocen dan guru negara marah sekali.
Mereka sudah bangkit memandang panglima berdiri dan Koksu (Guru Negara) Yucen yang berjenggot panjang berambut putih berseru.
"Beginikah caranya menerma utusan kerajaan calon besan?"
Semua orang, termasuk Kaisar sendiri masih terlalu heran dan bingung menyaksikan munculnya panglima tinggi kurus yang aneh itu sehingga mereka tak dapat menjawab.
Kaisar sendiri mulai marah dan sudah membuat gerakan memerintahkan pengawal menangkap panglima tinggi kurus itu ketika Menteri Kam tiba tiba meloncat dan menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar.
"Mohon Paduka sudi mengampunkan hamba dan mengijinkan hamba untuk menyelesaikan urusan ini agar perdamaian tetap dipertahankan."
Kaisar mengangguk.
"Cu wi Ciangkun dan Taijin dari Yucen harap suka memaafkan karena dia ini hanyalah seorang anak kecil yang bertindak menurutkan perasaan dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan. Mengenai urusan yang diajukan oleh Tai ciangkun dari Yucen tadi, biarlah saya akan memberi penjelasan."
"Menteri Kam Liong! Apakah engkau hendak melindungi pula seorang panglima yang bersikap begitu (Lanjut ke
Jilid 08) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 lancang dan membikin malu kerajaan?"
Tiba tiba Suma Kiat berkata marah.
"Pertanyaan yang tepat!"
Panglima Besar Yucen berseru.
"Dan siapa mau menerima alasan bahwa dia ini masih seorang anak kecil? Alasan yang dicari-cari untuk menyelamatkan diri!"
Menteri Kam Liong dengan sikap tenang lalu bangkit dan menghampiri panglima kurus yang masih berdiri tegak itu, tangannya meraih dan mulutnya menegur.
"Maya, jangan kurang ajar, hayo cepat minta ampun kepada Hong siang!"
Panglima kurus itu mencoba menghindar, namun terlambat dan jubahnya telah direnggut robek oleh tangan Menteri Kam Liong yang kuat.
Berbareng dengar robeknya jubah, tampaklah penglihatan yang aneh dan membuat semua orang menjadi geli.
Kiranya panglima tinggi kurus itu adalah dua orang anak perempuan, yang seorang berdiri di atas pundak temannya.
Pantas saja tadi dari "perut"
Panglima itu keluar kaki tangan yang menyerang dari dalam jubah!
Maya, segera meloncat turun dari pundak Siauw Bwee.
Tadi, sewaktu semua panglima menonton tegang, dia dan Siauw Bwee diam diam telah melakukan penyamaran mereka lagi, tentu saja atas desakan Maya yang ingin menolong Menteri Kam!
Sebagai seorang puteri Kerajaan Khitan, tentu saja Maya mengerti akan tata-susila istana, dermikian pula Siauw Bwee yang menjadi puteri seorang panglima terkenal.
Mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar dan dengan suara halus mohon ampun.
Kam Han Ki tak dapat menahan ketawanya dan untung bahwa pada saat itu, Kaisar sendiri pun tertawa disusul oleh para pembesar yang hadir di situ.
Memang amat lucu setelah melihat bahwa yang berbuat lancang kurang ajar itu ternyata hanyalah dua orang anak perempuan!
"Siauw Bwee....!"
Khu Tek San menegur dan biarpun Panglima ini hanya memanggil namanya, Siauw Bwee mengenal bahwa ayahnya amat marah dan dia menoleh ke arah ayahnya dengan muka pucat.
Akan tetapi Maya cepat berkata lantang.
"Mohon Paman Khu, juga Sri Baginda dan semua orang tidak menyalahkan adik Siauw Bwee atau siapa saja karena semua ini sayalah yang bertanggung jawab!"
Bukan main kagum rasa hati Kaisar melihat sikap Maya. Bocah ini bukan anak sembarangan, pikirnya dan kepada Menteri Kam, Kaisar bertanya.
"Siapakah mereka ini?"
"Ampunkan mereka, karena mereka itu adalah anak anak yang tidak tahu apa apa. Hamba bersedia menerima hukumannya. Maya ini adalah anak keponakan hamba, sedangkan Khu Siauw Bwee adalah puteri Khu Tek San."
Kaisar mengangguk angguk.
Pantas,pikirnya.
Dia sudah tahu bahwa menterinya, Kam Liong, adalah seorang yang sakti, putera dari Pendekar Suling Emas, tidak aneh kalau kemenakannya sehebat bocah cantik itu.
Dan gadis cilik yang seorang lagi memang pantas menjadi puteri Panglima Khu Tek San yang terkenal sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan setia, berkepandaian tinggi karena panglima itu adalah murid Menteri Kam Liong!
Sambil tertawa Kaisar berkata.
"Dua orang bocah yang bersemangat, tabah dan lucu sekali. Kami memaafkan kenakalan mereka, Heii, kalian terimalah ini!"
Kaisar menyambar dua butir buah appel merah dan menyambitkan dua butir buah itu ke arah Siauw Bwee dan Maya.
Bukan sambitan biasa melainkan sambitan untuk menguji.
Dengan cekatan sekali, Siauw Bwee dan Maya berhasil menangkap buah appel yang menyambar ke arah mereka.
Kemudian mereka menghaturkan terima kasih.
"Bagus! Mereka ini kelak akan menjadi pendekar pendekar wanita yang hebat!"
Kaisar berkata.
"Akan tetapi kalian sekarang harus pergi. Tidak boleh ada anak anak kecil hadir dalam pertermuan yang penting ini."
Bukan main gembiranya hati Menteri Kam Liong.
Kiranya Kaisar dapat mengampunkan sedemikian mudahnya.
Maka ia cepat memerintahkan Han Ki untuk mengantar kedua orang bocah itu pergi meninggalkan ruangan.
Keadaan menjadi tenteram dan kembali setelah Maya dan Siauw Bwee pergi, sungguhpun para panglima di ruangan luar masih terheran-heran, terutama sekali para pengawal yang tadi kena diakali oleh dua orang anak perempuan itu.
Biarpun pihak Kaisar dan para pembesar Sung telah menjadi tenang dan lega, sebaliknya para utusan Yucen merasa terhina dan mendapat malu.
Betapapun juga, telah disaksikan semua orang betapa seorang pengawal Yucen dengan mudah dapat dikalahkan oleh dua orang anak perempuan nakal!
Juga Suma Kiat menjadi tidak senang, maka diam diam ia memberi tanda kedipan mata kepada Panglima Besar Yucen.
Panglima ini maklum dan berkata dengan suara lantang.
"Kami utusan Kerajaan Yucen merasa makin kagum menyaksikan kebijaksanaan Kaisar yang besar! Dan kami bukanlah anak anak kecil yang merasa tersinggung oleh perbuatan dua orang bocah. Akan tetapi, kami yang menjunjung tinggi janji yang keluar dari mulut seorang gagah! Tadi kami mendengar akan kesanggupan Menteri Kam Liong yang akan membereskan persoalan. Terus terang saja, kami seluruh pembesar Yucen merasa penasaran kalau mengingat betapa Menteri Kam telah mempermainkan kami dengan mengirimkan muridnya sebagai penyelundup dan memata-matai kami!"
Kam Liong dengan sikapnya yang masih tetap tenang, menjawab.
"Tuduhan Tai ciangkun dari Kerajaan Yucen tidak dapat disangkal dan memanglah sesungguhnya saya mengaku bahwa saya telah mengutus murid saya dan Panglima Sung yang bermama Khu Tek San untuk menyelundup ke Yucen dan menjadl panglima di sana sambil mengawasi gerak-gerik dan mempelajari keadaan di Yucen untuk mengenal kerajaan itu. Akan tetapi, bukankah hal ini sudah wajar dan lumrah, Ciangkun? Setiap negara tentu akan mengirim penyelidik penyelidik untuk mengetahui keadaan negara tetangga, dan biarpun secara bersembunyi, saya tahu bahwa banyak pula penyelidik penyelidik dari Yucen yang menyelidiki dan bekerja sebagai mata mata di Kerajaan Sung. Muridku sedikit banyak berjasa bagi Yucen, dan tidak menimbulkan kerugian, hanya memang benar dia menyelidiki keadaan Yucen dan melaporkan kepada saya. Tanpa mengenal sedalam-dalamnya, bagaimana kami akan tahu tentang kerajaan lain terhadap kerajaan kami? Sekianlah jawaban saya."
Panglima Besar Yucen tertawa.
"Kiranya Kam taijin pandai bersilat lidah! Sejak dahulu, semua orang tahu siapakah Kerajaan Yucen, dan bagaimana macamnya, perlu apa mesti diselidiki dengan cara menyelundupkan seorang panglima! Keadaan di Yucen sudah pasti, kerajaannya sudah ada dan pemerintahannya berjalan terus, seperti ini. Perlu apa diselidiki lagi?"
Panglima Yucen itu mengeluarkan sebuah bola besi sebesar kepalan tangan dan menyambung.
"Bangsa kami terkenal sebagai bangsa besi yang sudah ada beratus tahun yang lalu, seperti senjata peluru besi ini. Apakah Kamtaijin juga akan menyelidiki bola besiku ini!"
Sambil tertawa Panglima Yucen itu melontarkan bola besi ke atas dan...
semua orang memandang kaget, heran dan kagum melihat betapa bola besi itu berputaran cepat sekali dan menyambar ke kanan kiri seperti dikendalikan, kemudian menyambar ke arah Menteri Kam Liong!
Keahlian mempergunakan bola besi sebagai senjata itu membuktikan betapa kuatnya tenaga sin kang Panglima Besar Yucen ini dan semua ahli yang hadir di situ menjadi khawatir akan keselamatan Menteri Kam Liong.
Hanya Khu Tek San seorang yang memandang dengan wajah t1dak berubah karena panglima gagah ini yakin bahwa permainan sin kang seperti itu hanya merupakan permainan kanakkanak bagi gurunya.
Memang dermiklanlah Menteri Kam Liong bersikap tenang, tangan kanannya sudah tampak mermegang sebuah kipas dan sekali ia menggerakkan kipasnya dan mengebut, bola besi itu berputaran di atas kepalanya, dekat dengan kipas yang dikebut kebutkan seperti seekor kupu-kupu mendekati bunga, seolah olah ada daya tarik yang keluar dari gerakan kipas itu yang membuat bola besi ikut terputar putar.
Sambil mempermainkan kipasnya menguasai bola besi, Kam Liong berkata.
"Tai ciangkun. Bola besi ini memang sebuah bola besi, akan tetapi siapakah yang tahu akan keadaan dalamnya tanpa memeriksanya lebih dulu? Apakah dalamnya kosong? Ataukah berisi? Serupa ataukah lain dengan keadaan luarnya? Saya kira Ciangkun sendiri tak dapat menjawab tepat, bukan? Memang sukar menjawab tepat tanpa melihat dalamnya. Marilah kita bersama melihat apa isi bola besi ini sesungguhnya!"
Setelah berkata demikian, kipas di tangan kanan Menteri Kam itu bergerak cepat sekali, menyambar tiga kali ke arah bola besi.
Terdengar suara keras tiga kali dan...
bola besi itu telah terbabat malang melintang tiga kali sehingga.
terpotong menjadi delapan, seperti sebuah jeruk dipotong potong pisau tajam dan kini delapan potong besi itu diterima tangan kiri Menteri Kam Liong yang dengan tenang lalu meletakkan potongan potongan bola besi itu di atas meja depan panglima besar dari Yucen!
"Ah, ternyata isinya padat dan tetap besi, sama seperti di luarnya.
Cocok sekali dengan keadaan Kerajaan Yucen, bukan?
Akan tetapi baru diketahui setelah diselidiki dalamnya seperti yang telah kami lakukan dengan mengirimkan murid kami ke Yucen."
Wajah Panglima Yucen menjadi merah sekali, matanya terbelalak.
Juga wajah Jenderal Suma Kiat menjadi pucat.
Yang diperlihatkan oleh Menteri Kam tadi adalah kesaktian yang amat luar biasa, tenaga sin kang yang hebat dan keampuhan kipas pusaka yang keramat!
Koksu Negara Yucen maklum akan hal ini maka dia lalu berkata.
"Hebat sekali kepandaian Kam taijin. Dan keterangannya cukup jelas. Menurut pendapat saya tidak perlu memperpanjang urusan kecil itu selagi urusan besar masih belurm dibicarakan selesai."
Ucapan ini melegakan hati setiap orang dan perundingan untuk menentukan hari pertemuan pengantin dilanjutkan sambil diseling makan minum dan hiburan tari nyanyi oleh seniwati seniwati istana.
Berkat sikap Menteri Kam yang bijaksana, pesta menyambut utusan Yucen itu berlangsung dengan tenteram dan lancar.
Menteri Kam sendiri, kelihatan lega akan tetapi di dalarm hatinya, dia merasa amat khawatir karena dia telah mendengar dari Han Ki akan hubungan pemuda itu dengan Sung Hong Kwi, dan ia dapat menduga betapa hancur perasaan hati adik sepupunya Itu.
Kalau ia, pikir-pikir dan kenangkan segala peristiwa yang terjadi akhir akhir ini, Menteri Kam merasa berduka sekall.
Kerajaan Khitan hancur, adik tirinya tewas, dan kini Kam Han Ki kembali mengalami nasib buruk, kekasihnya direbut orang!
Kalau teringat akan itu sermua, hati Menteri Kam menjadi dingin, semangatnya mengendur dan timbul keinginannya untuk mengajak muridnya sekeluarga, Han Ki dan Maya pergi saja mengundurkan diri menjauhi keramaian kota raja bahkan sebaliknya menyusul ayahnya, Suling Emas yang bertapa dengan ibu tirinya, bekas Ratu Yalina.
Makin menyesal lagi kalau ia memandang kepada Suma Kiat yang kini nampak makan minum dengan gembira melayani para tamu.
Suma Kiat itu sebenarmya masih merupakan keluarga dekat dengannya.
Tidak hanya keluarga.
karena terikat hubungan antara ayahnya, Suling Emas, dan ibu Suma Kiat yaitu Kam Sian Eng yang menjadi adik Suling Emas.
Juga dari pihak ibunya dan ayah Suma Kiat terdapat hubungan dekat, yaitu kakak beradik.
lbunya, Suma Ceng, adalah adik kandung Suma Boan, ayah Suma Kiat.
Dia dan Suma Kiat adalah keluarga dekat, namun Suma Kiat selalu membencinya dan selalu memusuhinya, sungguhpun tidak berani berterang.
"Susiok couw (Paman Kakek Guru), apakah perbuatan kami tadi akan menimbulkan bencana....?"
Dalam perjalanan pulang bersama Maya diantar oleh Han Ki, Siauw Bwee bertanya kepada pemuda itu.
"Aihhh! Kau benar benar terlalu sekali, Siauw Bwee! Masa Han Ki yang masih muda, patut menjadi kakak kita, kau sebut Susiok couw? Benar benar terlalu menyakitkan hati sebutan itu!"
Maya mencela.
"Habis bagaimana?"
Siauw Bwee membantah.
"Memang dia itu paman guru ayahku, tentu saja aku menyebutnya Susiok couw! Atau Susiok kong?"
"Wah, tidak patut! Tidak patut! Jangan mau disebut kakek, Han Ki!"
Maya berkata lagi. Mau tidak mau Han Ki tersenyum.
"Kalian berdua ini seperti langit dengan bumi, jauh bedanya akan tetapi sama anehnya! Maya terhitung masih keponakanku, menyebutku dengan nama begitu saja seperti kepada seorang kawan. Sebaliknya, Siauw Bwee terlalu memegang peraturan sehingga aku disebut kakek guru! Kalau benar kalian menganggap aku sebagai kakak, biarlah kalian menyebut kakak saja."
"Bagus kalau begitu! Aku menyebutmu Han Ki Koko."
Maya berseru girang.
"Koko, engkau kelihatan begini berduka, apakah kesalahan aku dan Enci Maya tadi tertalu hebat sehingga engkau khawatir kalau kalau ayahku dan Menteri Kam akan tertimpa bencana akibat perbuatan kami?"
Siauw Bwee mengulang pertanyaannya, kini ia menyebut koko (kakak). Han Ki menggeleng kepalanya.
"Kurasa tidak. Kakakku, Menteri Kam bukanlah seorang yang dapat dicelakakan begitu saja oleh lawan. Aku tidak khawatir...."
"Akan tetapi, mengapa wajahmu begini muram? Engkau kelihatan berduka sekali, tidak benarkah dugaanku, Enci Maya?"
Maya mengangguk.
"Memang hatinya hancur lebur, patah berkeping keping dan luka parah bermandi darah, siapa yang tidak tahu!"
Han Ki memandang Maya, alisnya berkerut dan ia membentak.
"Engkau tahu apa?"
Maya tersenyum.
"Tahu apa? Tahu akan rahasia hatimu yang remuk karena setangkai kembang itu akan dipetik orang lain!"
Han Ki terkejut sekali, menghentikan langkahnya dan menghardik.
"Maya! Dari mana kautahu??"
Siauw Bwee juga memandang dengan mata terbelalak, masih belum mengerti betul apa yang diartikan oleh Maya dan mengapa Han Ki kelihatan kaget dan marah.
"Dari mana aku tahu tidak menjadi soal penting"
Jawab Maya yang tidak mau berterus terang karena dia mendengar tentang hal itu dari percakapan antara ayah bunda Siauw Bwee yang ia dengar dari luar jendela kamar!
"Yang penting adalah sikapmu menghadapi urusan ini.
Kenapa kau begini bodoh, menghadapi peristiwa ini dengan berduka dan meremas hancur perasaan hati sendiri tanpa mencari jalan keluar yang Menguntungkan?
Mengapa kau begini lemah, Koko?"
Han Ki terbelalak.
"Bodoh? Lemah? Apa... apa maksudmu, Maya? Jangan kau kurang ajar dan mempermainkan aku!"
"Siapa mempermainkan siapa? Engkau adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Koko, sungguhpun aku belum yakin benar akan hal itu. Kalau engkau memiliki kepandaian, apa sukarnya bagimu untuk pergi mengunjungi kekasihmu itu? Dan kalau benar dia itu mencintaimu seperti yang ku.... eh, kuduga, tentu dia akan lebih suka ikut minggat bersamamu daripada menerima nasib menjadi permainan Raja Yucen yang liar!"
Han Ki memandang Maya dengan mata terbelalak, terheran heran akan tetapi harus ia akui bahwa "nasihat"
Maya itu cocok benar dengan isi hatinya!
"Sudahlah jangan bicara lagi urusan itu.
Mari kuantar pulang cepat cepat karena aku masih mempunyai banyak urusan lain."
Maya bertolak pinggang.
"Koko engkau memang orang yang kurang penerima! Kalau engkau setuju dengan omonganku, mengapa pakai pura pura segala? Kau langsung pergilah menemui kekasihmu sebelum terlambat. Adapun kami berdua, kami bukanlah anak anak kecil yang tidak bisa pulang sendiri. Tadi pun kami pergi berdua, masa untuk pulang harus kau temani? Pergilah, kami dapat pulang sendiri, bukan, Adik Siauw Bwee?"
Siauw Bwee mengangguk. Han Ki menarik napas panjang.
"Baiklah, kalian pulang berdua, akan tetapi harus langsung pulang dan jangan berkeliaran lagi. Siauw Bwee, jangan engkau selalu menuruti permintaan Maya. Bocah ini memang liar!"
Setelah berkata demikian, Han Ki cepat cepat meloncat pergi, tidak memberi kesempatan kepada Maya untuk membalas makiannya.
"Awas dia! Kalau bertemu lagi denganku!"
Maya membanting banting kaki dengan gemas.
"Dia... dia hebat sekali, ya Enci Maya?"
Siauw Bwee berkata lirih memandang ke arah lenyapnya bayangan Han Ki.
"Hebat apanya, manusia sombong itu!"
Maya mendengus marah.
"Mari kita pergi, Siauw Bwee."
Malam telah larut dan sunyi sekali di sepanjang jalan.
Semua rumah telah menutup daun pintu dan sebagian besar penghuni kota raja sudah tidur nyenyak.
Ketika mereka tiba di jembatan Ayam Putih yang panjang menyeberangi air sungai yang menghubungkan kota raja dengan saluran besar ke selatan, mereka melihat seorang laki laki tua di tengah jembatan yang sunyi.
Maya dan Siauw Bwee adalah seorang anak yang tabah sekali, akan tetapi ketika mereka melihat dan mengenal kakek yang menghadang itu, mereka menjadi terkejut juga.
Kakek itu adalah kakek berambut putih berjenggot panjang yang hadir di istana, yaitu Koksu Negara, Kerajaan Yucen!
Maya menggandeng tangan Siauw Bwee dan berjalan terus tanpa memandang seolah olah dia tidak mengenal kakek ltu.
Akan tetapi kakek itu tertawa dan berkata.
"Anak anak setan kalian hendak ke mana? Hayo ikut bersama kami!"
Maya sudah menaruh curiga bahwa tentu kakek itu tidak mengandung niat baik, maka begitu kakek itu melangkah datang, ia sudah membalikkan tubuh dan mengirim pukulan ke arah lambungnya!
Siauw Bwee juga memiliki reaksi yang cepat sekali karena tanpa berunding lebih dulu dia sudah dapat cepat menyusul gerakan Mayaq mengirim pukulan ke arah perut kakek itu.
"Buk! Bukk!"
Kakek itu sama sekali tidak mengelak dan membiarkan dua orang anak perempuan itu memukulnya.
Maya dan Siauw Bwee berseru kaget karena larmbung dan perut yang mereka pukul, itu seperti bola karet yang membuat pukulan mereka membalik.
Sebelum mereka dapat mengelak, kakek itu telah mencengkeram pundak mereka, membuat mereka menjadi lemas.
Kemudian Koksu dari Yucen itu sambil tertawa melemparkan tubuh Maya dan Siauw Bwee melalui langkan jerbatan melemparkannya ke sungai!
Maya dan Siauw Bwee terkejut setengah mati.
Tubuh mereka tak dapat digerakkan dan kini melayang menuju ke sungai yang armat dalam.
Akan tetapi, tiba tiba tubuh mereka disambar tangan yang kuat dan kiranya di bawah jermbatan telah menanti dua orang laki laki diatas perahu.
Mereka inilah yang menyambar tubuh mereka.
"Bawa mereka pergi sekarang juga!"
Terdengar Koksu Yucen berteriak dari atas jembatan kepada dua orang itu.
"Dia merupakan hadiah sumbanganku untuk Coa bengcu yang berulang tahun. Haha ha!"
Maya dan Siauw Bwee yang tadinya merasa girang karena mengira bahwa mereka tertolong, menjadi makin marah karena kini mereka tahu bahwa dua arang di perahu ini adalah pembantu-pembantu koksu itu!
Malam gelap, perahu gelap dan mereka, tidak dapat melihat muka.
dua orang laki laki itu.
Perahu digerakkan, meluncur ke selatan.
Maya dan Siauw Bwee dibelenggu kaki tangannya sehingga setelah mereka terbebas dari totokan, mereka tetap saja tidak mampu bergerak, hanya rebah miring di atas perahu dengan hati penuh kemarahan.
Setelah malam berganti pagi, barulah kedua orang anak perempuan itu dapat itu melihat wajah dua orang laki laki yang menawan mereka.
Maya memperhatikan wajah kedua orang itu dan menurut penglihatannya, dua orang itu bukanlah orang jahat, maka timbullah harapannya.
"Eh, Paman yang baik. Kalian adalah orang baik baik, melihat wajah, pakaian dan sikap kalian. Mengapa kalian mau membantu koksu jahat yang menangkap kami dua orang anak perempuan yang tidak berdosa?"
Dua orang laki laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun, bersikap gagah dan golok besar tergantung di punggung mereka.
Mendengar ucapan Maya, mereka saling pandang, kemudian seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat di pipi kanan, berkata.
"Kami hanyalah pelaksana pelaksana tugas yang dibebankan kepada kami. Kami tidak tahu siapa kalian dan mengapa kalian ditawan, akan tetapi kami harus menaati perintah atasan."
Maya belum cukup dewasa, akan tetapi dia memiliki kecerdikan luar biasa dan ia dapat menangkap rasa tidak senang dan sungkan di balik ucapan laki-laki bertahi lalat itu.
Maka ia menjadi makin berani dan berkata.
"Ah, kiranya Paman berdua juga menjadi anak buah Yucen?"
La berhenti sebentar, lalu mengirim serangan halus dengan kata kata.
"Heran sekali, bukankah Paman berdua ini orang orang Han? Mengapa kini mermbantu kerajaan asing?"
"Kau anak kecil tahu apa!!"
Tiba tiba orang ke dua yang mukanya kuning membentak.
Ucapan ini sama benar dengan ucapan Han Ki yang pernah menjengkelkan hati Maya, akan tetapi sekali ini ia menangkap rasa sakit hati di balik kata kata itu, rasa hati yang tersinggung dan yang menyatakan betapa tepatnya ucapannya tadi.
"Biarpun aku anak kecil, akan tetapi aku tahu betapa seorang gagah selalu mengutamakan kegagahan, membela negara dan menentang yang lalim."
Maya melanjutkan.
Si Tahi Lalat kini berkata "Hemm, kulihat engkau bukan anak sembarangan.
Ketahuilah bahwa kami berdua telah dibikin sakit hati oleh perbuatan anak buah Jenderal Suma Kiat sehingga keluarga kami terbasmi habis.
Karena itu, apa perlunya kami mengabdi permerintah Sung?
Pula, kami menjadi anak buah dari Koksu Negara Yucen yang memiliki ilmu kesaktian tinggi, sehingga tidaklah memalukan di dunia kang ouw karena kami mengabdi kepada seorang tokoh besar yang jarang ada bandingannya."
Biarpun tubuhnya masih terbelenggu dan ia rebah miring, Maya mengangguk-angguk dan berkata mengejek.
"Hemm... bicara tentang kesaktian dan kegagahan ya? Buktinya, koksu itu pengecut hanya berani melawan dua orang anak perempuan. Dan sukar bagiku untuk mengatakan kalian ini orang gagah macam apa, menawan dua orang anak perempuan kecil masih perlu membelenggu seperti ini! Apakah kalau kami tidak dibelenggu kalian takut kalau kalau kami akan membunuh kalian?"
Maya memang pandai sekali bicara dan amat cerdik.
Kata katanya lebih runcing daripada pedang dan lebih tajam daripada golok, secara tepat menusuk perasaan dan kegagahan dua orang laki laki itu.
"Bocah, engkau benar benar bermulut lancang!"
Bentak yang bermuka kuning.
"Aku tentu tidak berani bicara kalau tidak ada kenyataannya. Coba, kalau berani membebaskan belenggu kami, barulah aku percaya bahwa kalian tidak takut kepada kami."
Si Tahi Lalat segera mencabut goloknya yang berkelebat empat kali, dan semua belenggu pada kaki tangan Maya dan Siauw Bwee menjadi putus.
"Nah, apakah kalian sekarang hendak menyerang kami?"
Tanyanya menyeringai. Maya dan Siauw Bwee bangun, duduk dan menggosok gosok pergelangan kaki tangan yang terasa nyeri.
"Terima kasih,"
Kata Maya.
"Kami tidak akan menyerang karena tak mungkin karmi dapat menang."
"Kami pun tidak suka, membelenggu kalian dua orang anak perempuan, akan tetapi disiplin di pasukan kami keras sekali. Kalau sampai kami tidak berhasil rmengantar kalian sampai di tempat yang ditentukan, tentu kami berdua harus menebus dengan nyawa karmi. Itulah sebabnya kami membelenggu kalian, tidak ada maksud lain!"
Maya mengangguk angguk.
"Ahh, sekarang aku percaya bahwa kalian adalah orang orang gagah yang terdesak oleh keadaan dan nasib buruk, seperti yang kami alami sekarang ini. Eh, Paman yang baik. Kami akan kaubawa ke manakah?"
"Nasib kalian tidaklah seburuk yang kalian khawatirkan,"
Kata Si Tahi Lalat.
"Entah apa sebabnya sampai kaliah dimusuhi oleh Koksu, akan tetapi tentu kalian telah melakukan hal hal yang amat tidak menyenangkan hatinya maka kalian ditangkap dan diserahkan kepada kami untuk membawa kalian pergi. Akan tetapi, kalian sekarang merupakan sumbangan sumbangan yang amat berharga karena kalian dijadikan surmbangan oleh Koksu, diberikan kepada seorang bengcu yang terkenal sakti dan berpengaruh di pantai Lautan Po hai."
"Sungguh lucu! Mengapa menyumbangkan dua orang anak perempuan? Apa maksudnya? Dan apa maksudmu mengatakan bahwa nasib kami tidak buruk? Apakah kalau kami diberikan sebagai sumbangan begitu saja merupakan nasib baik?"
Maya mendesak terus.
"Sudahlah, kalian akan mengerti sendiri kalau kita sudah tiba di istana"
Kata Si Tahi Lalat yang sikapnya segan menceritakan keadaan bengcu itu.
"Hanya aku dapat memastikan bahwa kalian tidak akan dibunuh dan bahkan akan hidup dengan senang dan terhormat. Percayalah dan harap saja jangan kalian mencoba untuk memberontak karena kalau sampai terpaksa kami berdua menggunakan kekerasan, hal itu sesungguhnya bukan kehendak kami."
"Kami tidak akan memberontak, kecuali kalau kami menghadapi bahaya. Bukankah begitu, Adik Siauw Bwee?"
Siaw Bwee mengangguk, kemudian anak yang lebih pendiam dibandingkan dengan Maya itu berkata.
"Agaknya kedua Paman tidak tahu siapa kami, ya? Kalau tahu, kukira kallan berdua tidak akan lancang menawan kami, biarpun kalian melakukannya atas perintah Koksu Yucen."
Dua orang laki laki itu kini memandang penuh perhatian.
"Siapakah kalian ini?"
"Aku sih hanya puteri Panglima Khu Tek San yang tidak ada, artinya, akan tetapi enciku ini adalah Puteri Khitan, puteri Raja Khitan!"
Siauw Bwee berkata tidak peduli akan tanda kedipan mata dari Maya yang hendak mencegahnya.
Dua orang itu kelihatan kaget, sekali, saling pandang dan berkatalah Si Tahi Lalat.
"Kami hanya melakukan perintah!"
Dengan kata kata itu agaknya dia hendak membela diri, dan semenjak saat itu, kedua orang itu tidak banyak bicara lagi melainkan bergegas mempercepat gerakan dayung mereka sehingga perahu meluncur cepat.
Perahu itu keluar dari Terusan Besar, membelok ke kiri, yaitu ke timur memasuki sungai yang mengalir ke arah Lautan Po hai.
Tidak jauh dari pantai Lautan Po-hai, mereka mendarat dan mengajak Maya dan Siauw Bwee memasuki sebuah hutan besar.
Setelah melalui daerah pegunungan yang penuh hutan liar, tibalah mereka di sebuah pedusunan besar yang pada waktu itu sedang menampung banyak tamu dari empat penjuru, tamu tamu penting karena mereka adalah tokoh tokoh kang ouw dan liok lim.
Tokoh tokoh golongan putih dan hitam, atau kaum bersih dan sesat, yang pada saat itu dapat berkumpul dan saling jumpa karena mereka itu kesemuanya menghormati ulang tahun seorang tokoh besar yang pada hari itu merayakannya di dusun itu.
Tokoh besar ini lebih terkenal dengan sebutannya, yaitu Coa bengcu (Pemimpin she Coa), tokoh yang sudah lama dikenal sebagai seorang pemimpin rakyat dan tidak mengakui kedaulatan Kaisar dengan alasan bahwa Kaisar amat lemah dan tidak memperhatikan keadaan rakyat yang makin menderita keadaannya.
Coa bengcu ini amat terkenal dan biarpun jarang ada tokoh kang ouw yang pernah menyaksikannya sendiri, namun menurut berita, ilmu kepandaian Coa bengcu ini hebat sekali, baik kepandaian ilmu silatnya.
maupun ilmu perangnya.
Dan perjuangannya yang gigih untuk membela rakyat membuat namanya menjulang tinggi sehingga para pembesar setempat tidak berani mengganggunya, bahkan tokoh tokoh di seluruh dunia kang ouw dan liok lim menghormatinya.
Demikianlah, ketika Bengcu ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh, bukan hanya tokoh tokoh golongan bersih dan kaum sesat yang datang untuk memberi hormat dan memberi selamat, bahkan Koksu Negara Yucen sendiri sampai berkenan mengirim utusan memberi selamat dan mempersembahkan dua orang gadis cilik!
Dan sudah terkenal pula bahwa Coa bengcu amat suka kepada orang orang muda, baik laki laki maupun perempuan, terutama yang tampan-tampan dan yang cantik cantik, untuk dididik menjadi murid murid atau seperti dikatakannya sendiri, sebagai anak anak angkatnya!
Siapakah sebenarnya Coa bengcu ini?
Dia adalah seorang pelarian bekas tokoh Im yang kauw yang dahulu berpusat di perbatasan barat dan telah dihancurkan oleh pemerintah.
Biarpun mengadakan perlawanan gigih, para tokoh Im yang-kauw terbasmi kocar kacir dan lenyaplah perkumpulan Im yang kauw, yang hanya namanya saja perkumpulan yang menentang permerintah pada waktu itu.
Coa Sin Cu adalah seorang tokoh kelas dua dari Im yang kauw.
Dia berhasil menyelamatkan diri dan lari ke timur, untuk belasan tahun ia menggembleng diri dan berguru kepada orang orang sakti sehingga kepandaiannya meningkat secara hebat.
Setelah ilmu kepandaiannya meningkat tinggi, Coa Sin Cu mulai dengan gerakannya memimpin rakyat yang tertindas, menentang mereka yang mengandalkan kekuasaan memeras rakyat.
Pengaruhnya makin besar, pengikutnya makin banyak sehingga akhinya terkenallah sebutannya Coa bengcu sampai ke seluruh pelosok.
Hanya tokoh-tokoh lama saja yang mengenal Coa bengcu ini sebagai Coa Sin Cu yang dulu menjadi tokoh Im vang kauw.
Di tengah dusun yang terletak di pegunungan tak jauh dari pantai Lautan Po hai, terdapat sebuah bangunan yang tidak mewah, bahkan sederhana, namun kokoh kuat dan besar sekali.
Mempunyai halaman yang armat luas dan yang terkurung dinding tembok tinggi seperti benteng atau asrama pasukan!
Inilah tempat tinggal Coa bengcu dan di situ pula pada hari itu diadakan keramaian merayakan hari ulang tahun Coa bengcu.
Tuan rumah Coa bengcu sendiri, telah berada di ruangan depan menyambut datangnya para utusan atau wakil berbagai partai, juga para tokoh kang ouw dan liok lim yang datang sendiri untuk memberi selamat dan sumbangan sumbangan.
Isteri Bengoi, seorang wanita yang usianya setengah dari usia suaminya, kurang lebih tiga puluh tahun, cantik dan sikapnya gagah pula karena nyonya Bengcu ini pun bukan orang sembarangan melainkan seorang murid Hoasan pai, duduk di samping suaminya sambil tersenyum senyum bangga menyaksikan pengaruh suaminya yang menarik datangnya semua orang gagah dari dua golongan itu.
Adapun putera tunggal Coabengcu yang bermama Coa Kiong, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, anak tiri nyonya Bengcu, yang sudah ditinggal mati ibu kandungnya, sibuk menerima barang barang sumbangan yang ditumpuk di atas belasan buah meja besar di sudut ruangan.
Tidak kurang dari lima puluh orang utusan pelbagai partai telah hadir dan duduk di atas kursi kursi yang telah disediakan, menerima hidangan yang dilayani oleh anak anak buah Coa bengcu, pemuda pemuda dan pemudipemudi yang tampan tampan dan cantik-cantik serta memiliki gerakan vang cekatan sekali.
Biarpun di antara para tamu itu terdapat banyak tokoh liok lim, golongan bajak, perampok dan orang orang yang biasa melakukan kejahatan, namun mereka tidak berani bersikap kurang ajar terhadap pelayan pelayan wanita yang cantik cantik itu karena sermua orang maklum belaka bahwa pelayan pelayan itu adalah anak buah atau murid murid Coa bengcu.
Banyak sekali barang sumbangan yang serba indah, perhiasan perhiasan emas dan perak, ukiran naga dan burung hong terbuat dari batu batu kermala, sutera-sutera yang indah sekali warnanya, bahkan ada pula senjata senjata pusaka yang ampuh.
Akan tetapi semua itu masih belum mengherankan karena ada pula orang orang yang menyumbangkan benda benda luar biasa anehnya.
Seorang tamu yang baru tiba, bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk, mukanya lebar, berseru dengan suara nyaring.
"Saya Kiang Bu adalah seorang miskin, karena itu selain ucapan selamat kepada Coa bengcu, tidak dapat menyumbangkan benda berharga kecuali barang hina tak berharga ini. Sudilah Bengcu menerimanya!"
Coa bengcu memandang orang itu lalu tertawa.
"Ha ha ha, Tho te kong (Malaikat Bumi) sungguh berlaku sungkan sekali. Terima kasih atas ucapan selamat dan sumbangan yang amat berharga, harap menyerahkan sumbangan itu kepada Puteraku."
Kiang Bu yang berjuluk Tho tee kong segera melangkah lebar dan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Coa Kiong putera tuan rumah yang menerimanya dan meletakkannya di atas meja.
"Karena sumbanganku ini tidak berharga dan lain daripada yang lain, harap Siauw enghiong suka membukanya agar semua tamu dapat melihatnya,"
Kata pula Kiang Bu.
Ketika memandang ayahnya dan melihat ayahnya mengangguk tanda setuju, barulah Coa Kiong berani membuka bungkusan kain itu.
Tiba tiba wajahnya berubah dan matanya memandang Si Malaikat Bumi dengan marah, juga banyak tamu yang melihat isi bungkusan, mengeluarkan seruan tertahan.
Siapa yang tidak akan menjadi kaget melihat bahwa bungkusan itu terisi sebuah kepala manusia yang masih belepotan darah?
"Apa....
apa maksudmu ini?"
Coa Kiong membentak dan tangan kanan pemuda ini sudah meraba gagang pedang, matanya terbelalak memandang kepala orang yang kini terletak di atas meja.
Tiba tiba Coa bengcu tertawa girang.
"Ha ha ha! Barang hina tak berharga itu ternyata merupakan sumbangan yang tak ternilai harganya bagiku. Terima kasih, Tho tee kong. Aku telah mengenal kepala Bhe ciangkun dan memang sudah lama aku ingin melihat orang kejam dan penindas laknat itu kehilangan kepalanya! Kiong ji, suruh pelayan membuang kepala itu dan memberikan kepada anjing anjing agar digerogoti habis!"
Barulah semua orang termasuk Coa Kiong sendiri, tahu bahwa sumbangan itu benar benar amat berharga karena Si Malalkat Bumi telah membunuh orang yang dibenci Coa bengcu!
Perwira She Bhe yang berkuasa di pantai Po hai memang terkenal ganas dan kejam kekuasaannya seolah olah melampaui kekuasaan Kaisar sendiri dan dia menjadi raja tanpa mahkota di daerah pantai Po hai!
Dua orang yang membawa Maya dan Siauw Bwee tiba di tempat itu dan langsung mereka menghadap Coa bengcu, memberi hormat dan berkata.
"Kami berdua diutus oleh Koksu Kerajaan Yucen untuk menyampaikan ucapan selamat beliau kepada Bengcu, dan menyerahkan sumbangannya."
Sejenak kakek yang dihormati itu memandang kepada dua orang itu, akan tetapi pandang matanya segera terarah kepada Maya dan Siauw Bwee, seolah-olah melekat dan tidak menyembunyikan rasa kekagumannya.
Isterinya yang melihat keadaan suami itu lalu berbisik.
"Mereka menanti jawaban!"
Barulah Coa bengcu sadar dan ia tertawa bergelak sambil merangkap kedua tangan didepan dada.
"Ha ha ha,sungguh Pek mau Seng jin mencurahkan kehormatan besar sekali kepada kami! Seorang koksu negara masih mau memperhatikan orang tiada harganya seperti aku benar-benar menunjukkan perbedaan antara Permerintah Yucen dan Permerintah Sung! Terima kasih, terima kasih. Tidak tahu, sumbangan apakah yang dikirim Pek mau Seng jin, Koksu Kerajaan Yucen itu yang akan membuat kami sekeluarga bahagia bukan main?"
"Sumbangan atau hadiah yang harus kami sampaikan kepada Bengcu adalah dua orang anak perempuan inilah!"
Kata Si Tahi Lalat.
Semua tamu kembali menjadi terheran dan keadaan menjadi tegang karena mereka menganggap bahwa sumbangan ini sama sekali tidak dapat dianggap berharga.
Melihat sikap para tamu itu, dua orang utusan itu menjadi tidak enak hati, maka Si Muka Kuning cepat menyambung keterangan temannya.
"Hendaknya Bengcu mengetahui bahwa dua. orang anak perempuan ini bukanlah anak sembarangan. Yang lebih besar ini bermama Maya, dia adalah puteri dari Raja dan Ratu Khtan, sedangkan yang lebih kecil bernama Khu Siauw Bwee, puteri Khu Tek San seorang panglima yang terkenal di Kerajaan Sung!"
Terdengar seruan seruan kaget di sana sini, dan wajah Coa bengcu yang tadinya memang sudah berseri gembira, kini menjadi makin berseri penuh kagum.
"Sungguh merupakan hadiah yang tak termilai harganya!"
Katanya kemudian seperti kepada diri sendiri ia berkata.
"Puteri Raja Khitan....? Puteri Panglima Khu....?"
Tiba tiba seorang tamu meloncat bangun sambil berseru keras.
"Mohon kebijaksanaan Bengcu agar saya boleh membunuh bocah she Khu itu untuk membalas anak buah saya yang dahulu dibasmi oleh Khu Tek San ayahnya!"
Yang bicara ini adalah bekas kepala rampok yang kenamaan di Lembah Huang ho perbatasan Propinsi Shan tung.
"Puteri Khitan itu patut dibunuh!"
Tiba tiba seorang lain meloncat dan berseru nyaring memandang ke arah Maya dengan mata terbelalak marah.
"Kalau dia puteri Raja Khitan, berarti dia itu cucu Suling Emas yang sudah banyak menimbulkan malapetaka di kalangan kamil"
Yang bicara kali ini adalah seorang pendeta berambut panjang yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, pakaiannya hitam dan kotor seperti tubuhnya.
Akan tetapi dia adalah seorang tokoh dunia hitam yang tekenal dengan julukannya.
saja, yaitu Pat jiu Sin kauw (Monyet Sakti Tangan Delapan).
Dia amat terkenal dan ditakuti karena Pat-jiu Sin kauw ini adalah murid dari seorang datuk hitam yang amat terkenal, yaitu Thai lek Kauw ong, seorang di antara lima datuk besar golongan sesat puluhan tahun yang lalu.
"Benar! Puteri Khu Tek San harus dibunuh! Khu Tek San adalah murid Menteri Kam Liong dan siapakah menteri itu? Bukan lain putera Suling Emas pula!"
Teriak yang lain.
"Harap Bengcu serahkan saja puteri Khitan kepada saya!"
Teriak yang lain.
Ributlah keadaan di ruangan itu karena banyak sekali tokoh dunia hitam yang ingin mendapatkan dua orang anak perempuan itu setelah mereka ketahui bahwa Maya adalah cucu Suling Emas sedangkan Siauw Bwee adalah cucu murid pendekar sakti itu.
Coa bengcu bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengannya, ke atas untuk minta para tamunya agar jangan membuat gaduh.
Setelah suasana meredap terdengarlah suaranya lantang.
"Aku mengerti apa yang terkandung di hati Saudara saudara yang menaruh dendam. Akan tetapi dua orang anak perempuan ini adalah sumbangan dari Koksu Yucen kepadaku, bagaimana aku dapat memberikan begitu saja kepada orang lain? Bukannya aku orang she Coa bersikap kukuh melainkan aku harus menghormat kepada Koksu Yucen. Kalau aku menyerahkan begitu saja dua orang anak ini, bukankah berarti aku kurang menaruh penghargaan? Karena itu, biarlah dua orang anak ini kuanggap benda benda yang amat berharga dan sudah sewajarnyalah kalau untuk dapat memiliki benda amat berharga, diadakan sayembara!"
Memang Coa bengcu ini orangnya cerdik sekali.
Dia memiliki kedudukan yang tinggi dan berpengaruh, namun dia tahu bahwa kalau terjadi bentrokan antara dia dengan pemerintah, dia harus menganadalkan bantuan orang orang pandai ini, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam terutama sekali.
Dia sayang kepada dua orang gadis cilik yang jelas memiliki kelebihan mencolok kalau dibandingkan dengan murid-muridnya perempuan yang manapun juga.
Kalau dia berkukuh menahan, tentu dia akan menimbulkan rasa tidak senang kepada para tamunya.
Kalau dia, berikan begitu saja, selain dia, merasa tidak enak kepada Koksu Yucen, juga dia merasa sayang sekali.
Maka dia mengusulkan diadakan sayembara, karena dengan demikian, masih ada harapan baginya untuk mendapatkan dua orang gadis itu tanpa menimbulkan rasa tidak suka di hati orang lain.
"Apakah yang Bengcu maksudkan dengan sayembara?"
Beberapa suara terdengar dan semua orang menanti jawaban dengan dugaan yang sama. Coa bengcu tertawa.
"Perlukah kujelaskan lagi? Apakah yang paling diandalkan orang orang golongan kita kecuali sedikit ilmu sliat? Maka hanya orang terpandai di antara kita sajalah yang berhak memiliki dua orang anak ini. Yang minta begini banyak bagaimana dapat kuberikan kecuali dengan jalan beradu menguji kepandaian? Pula dua orang anak ini bukan anak sembarangan, melainkan keturunan orang orang pandai seperti Menteri Kam Liong dan Panglima Khu. Kalau yang bertanggung jawab atas diri kedua orang bocah ini tidak memiliki kepandaian tinggi, mana mungkin dapat menghadapi mereka? Setujukah Cu wi sekalian?"
"Setuju! Akur! Tepat sekali!"
Para tamu berteriak, yaitu mereka yang ingin sekali mendapatkan Maya dan Siauw Bwee.
Adapun tokoh tokoh wakil partai-partai yang termasuk golongan bersih atau putih, diam saja karena mereka ini tidak ingin mendapatkan kedua orang anak perempuan, juga tidak ingin mencampuri urusan mereka yang menaruh dendam kepada nenek moyang anak anak itu.
Kembali Coa bengcu mengangkat kedua tangan minta agar semua orang tidak berteriak teriak membuat berisik.
Setelah semua orang diam, tiba tiba terdengar Maya berkata.
"Kalian ini orang orang gagah macam apa? Berunding seenak perut sendiri untuk memperebutkan aku dan adikku, tanpa bertanya persetujuan kami yang tersangkut! Sudah jelas bahwa kami adalah dua orang manusia pula, masa kalian hendak menganggap sebagai benda mati? Beginikah sikap orang orang gagah? Ataukah kalian ini semua bangsa penjahat yang t1dak mengenal prikemanusiaan?"
Semua orang menjadi merah mukanya dan kembali mereka membuat gaduh dengan teriakan teriakan memaki Maya, yaitu mereka yang membenci keluarga Raja Khitan dan keluarga Suling Emas.
Setelah mereka mereda, Coa bengcu berkatat "Kita tidak perlu mendengarkan ucapan bocah ini.
Sebagai tawanan, tentu saja mereka berdua tidak berhak untuk bicara.
Kita sermua menerima sebagai pemberian hadiah Koksu Yucen!
Cu wi sekalian.
Karena jumlah kita terlalu banyak, maka untuk mempersingkat waktu dan mempermudah jalannya pibu kami akan mengadakan syarat syarat yang berat lebih dulu.
Hanya mereka yang memenuhi syarat syarat itu barulah dapat memasuki pibu.
Syaratnya dua macam dan akan kulakukan untuk memberi contoh."
Setelah semua orang menyatakan setuju, Coa bengcu membisikkan perintah kepada murid muridnya.
Tak lama kemudian, dari pintu belakang tampak dua belas orang murid laki laki yang muda-muda dan bertubuh kuat memikul sebuah arca besi berupa seekor singa.
Pemuda-pemuda itu adalah orang orang yang kuat, namun mereka membutuhkan tenaga dua belas orang untuk menggotong arca itu, dapat dibayangkan betapa beratnya singa besi itu.
Ketika singa besi itu diturunkan di atas lantai ruangan, lantai itu tergetar sehingga sebagian besar para tamu baru melihat saja sudah ngeri dan di dalam hatinya mundur teratur.
Mereka maklum bahwa tuan rumah yang lihai itu tentu hendak menggunakan benda berat ini untuk mengukur calon pengikut sayembara memperebutkan dua orang gadis cilik.
Memang benar dugaan para tamu itu.
Coa bengcu melangkah maju mendekati arca besi itu lalu berkata sambil tersenyum.
"Nama besar Suling Ermas sudah terkenal di seluruh dunia juga puterinya yang berjuluk Mutiara Hitam. Sayang sekali bahwa puluhan tahun pendekar ini mengasingkan diri, juga di dunia kang ouw tidak pernah lagi terdengar Mutiara Hitam. Sudah amat lama aku ingin sekali dapat bertemu dan menguii mereka, sungguhpun aku benar benar meragukan kebiasaan sendiri untuk menandingi mereka. Kini secara kebetulan, dua orang keturunannya berada di sini dan menjadi rebutan. Maka, hanya mereka yang benar tenar pandai saja yang dapat diharapkan akan dapat mampu menandingi Suling Emas dan keturunannya apabila kelak keluarganya datang mencari dua orang anak ini. Nah, untuk memilih calon pengikut sayembara, syarat pertama adalah mengangkat singa besi ini sampai ke atas pundak seperti yang akan kulakukan sekarang!"
Setelah berkata demikian dan memberi hormat kepada para tamu, Coa bengcu yang pada hari itu tepat berusia enam puluh tahun itu, menggulung lengan baju lalu membungkuk memegang singa besi pada kaki depan dan belakang kemudian mengeluarkan seruan keras sekali dan....
ia telah berhasil mengangkat singa besi itu, bukan hanya sampai ke pundak, bahkan sampai ke atas kepala!
Kedua tangannya tergetar, kedua kakinya menggigil sedikit, dan kembali kakek yang kuat itu berseru keras lalu menurunkan singa besi ke bawah sehingga lantai tergetar ketika benda berat itu jatuh berdebuk di atas lantai sampai melesak ke bawah sedalarm beberapa senti meter!
Tepuk sorak para tamu menyambut demonstrasi tenaga yang amat kuat itu.
"Cu wi sekalian, silakan kalau ada yang merasa sanggup mengangkat singa besi ini, adapun syarat ke dua adalah mengambil sebatang paku yang kutancapkan di balok melintang penyangga langit-langit itui"
Setelah berkata dermikian, tangan kakek itu merogoh saku dan bergerak.
"Cuat cuat cuat....!"
Sinar hitam tampak berkelebatan menyambar ke atas dan ternyata di atas balok yang amat tinggi itu telah menancap belasan batang paku yang berjajar rapi!
Kemudian kakek itu menggerakkan kakinya, tubuhnya ringan sekali melayang ke atas dan tangannya mencabut sebatang di antara paku paku itu lalu ia turun kembali, kakinya, menginjak lantai tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Kembali semua orang bertepuk tangan memuji karena kakek itu telah mendemonstrasikan ilmu gin kang yang amat tinggi.
Balok melintang di atas itu amat tinggi sehingga seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, Tentu tidak akan dapat mencabut paku itu.
"Sekarang kami mempersilakan Cuwi mencoba,"
Kata Coa bengcu sambil melangkah kermbali ke tempat duduknya.
Maya membanting kakinya dengan marah dan gemas, akan tetapi maklum bahwa dia tidak akan dapat melarikan diri, Setelah dilepas ia lalu menarik tangan Siaw Bwee dan kembali ke tempat tadi malah kini mengajak Siauw Bwee duduk di atas kursi yang masih kosong dekat Coa bengcui Kalau tidak bisa lari dan terpaksa menonton biarlah mereka berdua menonton yang enak dan mengaso di atas kursi demikian Maya menghibur diri sendiri.
Bahkan ketika melihat di meja terdapat hidangan, tanpa malu malu dan tanpa permisi Maya menyarmbar dua potong roti juga memberikan sebuah kepada Siauw Bwee lalu makan roti, juga menuangkan minuman pada dua buah cawan.
Orang orang yang menyaksikan sikap Maya ini, diam diam menjadi kagum dan di dalam hati memuji ketabahan anak perempuan itu yang jelas amat berbeda dengan anak anak biasa.
Akan tetapi para tamu itu lebih tertarik untuk melihat siapa kiranya di antara mereka yang akan dapat mengangkat singa besi dan meloncat setinggi itu.
Suara ketawa mereka riuh rendah menyambut kegagalan empat orang yang berturut turut mencoba untuk mengangkat singa besi.
Akan tetapi jangankan sampai terangkat melewati pundak.
Yang dua orang hanya dapat mengangkat singa besi itu setinggi lutut dan melepas kembali, sedangkan yang dua setelah mengelurkan suara "ah ah uh uh"
Dan menarik narik singa besi itu sedikit pun tak dapat menggerakkannya!
Menyaksikan kegagalan ermpat orang berturut turut empat orang yang kelihatan kuat sekali hati, para tamu menjadi keder dan banyak yang tidak berani mencoba khawatir gagal dan hal itu sedikit banyak akan menurunkan derajat nama mereka.
Dan memang inilah yang dikehendaki oleh Coa bengcu, Yaitu agar pibu dapat diselesaikan dengan singkat dan mudah di antara sedikit orang orang yang memang memiliki kepandaian tinggi!
"Hemm?
biarkan aku mencobanya", Terdengar suara keras dan ketika bayangan orang itu berhenti bergerak di dekat singa besi, kiranya dia adalah bekas kepala perampok di lembah Huang ho yang dahulu gerombolannya dibasmi oleh Khu Tek San.
Kepala rampok ini bertubuh tinggi kurus, kini dia sudah membungkuk memegang singa besi dengan kedua tangan, mengerahkan tenaganya dan terangkatlah singa besi Itu sampai ke atas pundaknya, kermudian cepatia melepaskannya kembali singa besi jatuh berdebuk di atas lantai depan kakinya.
Biarpun demikian, bekas kepala rampok ini telah lulus dalam ujian pertama karena, dia telah berhasil mengangkat benda itu sampai ke pundak.
Tepuk sorak menyambut hasil orang pertama yang memasuki sayembara itu dan Siauw Bwee memandang dengan mata penuh kekhawatiran.
Tadi dia sudah mendengar bahwa orang ini adalah musuh ayahnya, maka kalau orang ini sampai menang dan dia terjatuh ke tangannya, tentu akan celaka nasibnya.
Melihat sikap Siauw Bwee ini, Maya berbisik.
"Dia memang kuat, akan tetapi tidak sekuat Coa bengcu, harap kau jangan khawatir."
Kini kepala rampok itu mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya meloncat tinggi akan tetapi hmpir saja ia gagal kalau tidak cepat cepat mengulur tangan dan dua ujung jari tengah dan telunjuknya berhasil menjepit dan mencabut sebatang paku.
Kembali ia disambut dengan sorakan memuji.
Setelah kepala perampok ini, maju seorang laki laki gendut pendek yang melangkah penuh gaya.
Usianya kurang lebih empat puluh tahun dan mukanya berseri seri, mulutnya, tersenyum senyum penuh aksi, apalagi kalau dia memandang ke arah gadis gadis cantik murid Bengcu yang melayani para tarmu dan kini menonton sambil berdiri berjajar di pinggir.
Terang bahwa langkahnya dibuat buat, berlenggang lenggok meniru langkah seekor harimau supaya kellhatan gagah menyeramkan.
Akan tetapi, karena tubuhnya gemuk sekali dan agak pendek, langkahnya tidak mendatangkan kegagahan melainkan mendatangkan pemandangan yang lucu, bukan seperti langkah harimau melainkan seperti langkah seekor babi buntung!
"Heh heh heh, maafkan....!
Sebetulnya saya tidak berani berlaku lancang.
Akan tetapi, karena sayembara ini memperebutkan hadiah yang luar biasa, dua orang nona kecil mungil yang jelita itu, tak dapat saya menahan hasrat hati saya untuk meramaikan sayembara.
Ehemm, saya hanya memiliki sedikit kermampuan, dan kalau nanti mengecewakan, harap Cu wi tidak mentertawakan saya.
Nama saya Ngo Kee, julukan saya.
adalah Tai lek Siauw hud (Babi Tertawa Bertenaga Besar)."
Melihat sermua tamu tersenyum dan ada yang tertawa karena memang lagaknya amat lucu seperti seorang badut, Si Gendut yang berjuluk hebat itu kelihatan makin senang, mengerling ke arah Maya dan Siauw Bwee dengan lagak memikat, membasahi bibir bawah dengan lidahnya yang bundar sehingga makin lucu tampaknya, kemudian ia membungkuk dan memegang kedua kaki singa besi, kemudian mengerahkan tenaga dan...
kiranya orang lucu ini bukan membual kosong karena singa besi itu telah dapat diangkatnya!
Semua orang tercengang dan bertepuk Tangan.
Hal ini membuat Si Gendut makin bangga.
la mengerahkan seluruh tenaganya, tidak mau mengangkat sampai di situ saja,menahan napas dan mendorongkan kedua lengannya ke atas!
"Uhhh....
brooooottt!!"
Si Gendut cepat menurunkan singa besi ke atas lantai dan semua tamu tertawa geli.
Para pelayan murid Bengcu menutupi mulut dengan tangan agar jangan tampak mereka tertawa.
Maya sendiri terpingkal pingkal dan Siauw Bwee juga tertawa, memijat hidung sendiri sehingga membuat Maya makin terpingkal-pingkal.
Kiranya karena terlalu mengerahkan tenaga sebagian hawa yang memenuhi perut gendut itu menerobos keluar melalui pintu belakang tanpa dapat dicegah lagi.
Si Gendut mengeluarkan kentut besar!
Biarpun merasa jengah dan mukanya menjadi merah, namun Ngo Kee ini tertawa tawa dan menyoja ke kanan kiri sebagai tanda terima kasih atas pujian semua orang dengan agak merendah seperti seorang iagoan keluar kalangan dengan kemenangan!
Kemudian ia memandang ke atas, ke arah paku paku yang menancap di balok melintang.
la lalu melepas sepatunya, menghampiri dinding dan...
mulailah ia merayap naik melalui dinding seperti seekor cecak!
Ia menggunakan kedua telapak kaki telanjang itu merayap cepat melalui dinding sampai ke atas, kemudian dengan mudah menggunakan tangan kirinya mencabut sebatang paku.
Setelah tercabut, Si Gendut ini bukan merayap turun kembali, melainkan melepaskan dirinya jatuh ke bawah seperti sebongkah batu!
Semua orang terkejut sekali menduga bahwa tubuh itu tentu akan terbanting remuk.
Akan tetapi sungguh aneh, ketika tubuh itu tiba di atas lantai, tubuh itu terus menggelundung dan sama sekali tidak terbanting keras, bahkan kini dia sudah meloncat bangun sambil mengangkat paku itu tinggi tinggi!
Para tokoh berilmu tinggi yang hadir di situ mengangguk angguk.
Si Gendut itu biarpun tingkahnya seperti badut, namun memiliki tenaga kuat dan kepandaian tinggi.
Mungkin gin-kangnya tidak setinggi Coa bengcu, namun dia telah mampu mempergunakan ilmu merayap di tembok seperti cecak, hal ini menandakan bahwa sin kang di tubuhnya sudah kuat sekali sehingga ia dapat menggunakan telapak kaki tangannya, untuk melekat pada dinding seperti telapak kaki cecak!
"Aihh, aku suka kalau dia yang menang Enci Maya.
Setiap hari dia akan kusuruh membadut,"
Bisik Siauw Bwee yang masih tertawa tawa ditahan.
"Hussh, siapa sudi? Jangan jangan ketika melepas kentut tadi ada ampasnya yang ikut terbawa keluar!"
Jawab Maya.
"Ihhh....! Jijik....!"
Keduanya tertawa-tawa lagi dan hal ini memang amat mengherankan.
Dua orang anak perempuan yang masih kecil dalam keadaan seperti itu menjadi tawanan, bahkan dijadikan barang sumbangan dan kini dijadikan hadiah perebutan sayembara, masih enak enak makan minum dan tertawa tawa melihat kelucuan Thai lek Siauw hud Ngo Kee!
Sedikit pun mereka tidak kelihatan takut atau putus asa, padahal kalau anak anak lain yang mengalami hal seperti mereka tentu sudah ketakutan setengah mati!
Puluhan tamu maju mencoba setelah melihat hasil baik kepala rampok dan Si Gendut, akan tetapi yang berhasil hanya tujuh orang lagi saja, termasuk Pat jiu Sin kauw, Si Monyet Sakti berpakaian hitam itu.
Dan hanya Pat jiu Sin kauw seorang yang dapat mengangkat singa besi semudah yang dilakukan Bengcut kemmudian menurunkan semua paku dengan kebutan lengan bajunya dari bawah, menerima sebatang kemudian melontarkan paku paku lainnya kembali ke atas dengan sapuan lengan bajunya!
Ternyata lihai sekali pendeta rambut panjang ini!
Memang masih banyak tokoh yang pandai hadir di situ, yang kiranya akan dapat melakukan dua syarat itu tanpa kesukaran, akan tetapi mereka ini tidak mempunyai niat untuk mengikuti sayembara.
Para tokoh partai memang tidak mau mencampuri urusan mereka, sedang kan tokoh tokoh kaum sesat tidak mau ikut karena tidak tertarik kepada hadiahnya!
Kini terkumpul sepuluh orang bersama Coa bengcu yang telah lulus dan berhak mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang paling pandai di antara mereka dan berhak memiliki dua orang gadis cilik.
Mereka itu telah berkumpul di tengah dan hendak merundingkan dengan Coa bengcu bagaimana pibu akan diatur.
Saat itu kembali dipergunakan oleh Maya yang menggandeng tangan Siauw Bwee, sekali ini tidak lari melainkan berjalan pelahan ke pintu.
"He. ke mana kalian mau lari?"
Tiba-tiba seorang murid Coa-bengcu berseru dan mendengar ini, Maya mengajak Siauw Bwee lari secepatnya ke pintu.
Coa-bengcu, puteranya dan murid-muridnya, juga tamu-tamu yang lulus ujian, meloncat dan mengejar pula.
Akan tetapi betapa heran hati mereka ketika melihat bahwa kedua orang anak perempuan itu telah lenyap!
Mereka mengejar keluar dan tampaklah dua orang anak perempuan itu berjalan pergi, digandeng oleh seorang kakek tua yang hanya kelihatan tubuh belakangnya oleh semua orang.
Mereka semua mengejar dan berteriak-teriak.
Akan tetapi, dua orang anak perempuan itu berlari di kanan kiri Si Kakek yang rambutnya panjang dan sudah putih semua, sama sekali tidak mempedulikan teriakan-teriakan mereka.
Yang amat luar biasa dan membuat Coa-bengcu dan para tokoh pandai mengkirik (bulu tengkuk meremang) adalah kenyataan bahwa betapapun cepat mereka mengejar sambil mengerahkan ilmu lari cepat, mereka tidak juga dapat menyusul kakek dan kedua orang anak perempuan itu!
Mereka mulai penasaran dan marah, mencabut senjata rahasia dan menyerang.
Berhamburan senjata rahasia bermacam-macam, ada piauw, paku, jarum, uang logam, peluru besi, pisau terbang, kesemuanya menyambar dengan cepat ke arah punggung Si Kakek rambut putih.
Semua senjata rahasia itu mengenai tubuh belakang kakek itu, tepat sekali, dan anehnya, tidak sebatang pun mengenai punggung Maya dan Siauw Bwee.
Dan lebih aneh lagi, semua senjata rahasia yang dilontarkan dengan tenaga sinkang dan yang tepat mengenai tubuh belakang Si kakek runtuh tak meninggalkan bekas pada tubuh belakang itu!
Akhirnya, semua tokoh kang-ouw dan liok-lim yang melakukan pengejaran, menjadi gentar dan ngeri.
Mereka adalah tokoh-tokoh kelas tinggi, ahli-ahli senjata rahasia, dan senjata rahasia mereka itu sebagian besar mengandung racun.
Namun, tak seorang pun di antara mereka dapat menyusul kakek itu, dan tak sebuah pun senjata rahasia melukai punggungnya.
Kini para tokoh itu menghentikan pengejaran, saling pandang dengan mata terbelalak.
"Siancai....! Kiranya di dunia ini hanya satu orang saja yang memiliki kepandaian seperti itu....!"
Seorang tosu yang menjadi tamu berkata lirih.
Ucapannya ini menyadarkan semua orang dan mereka menjadi gentar sekali.
Mereka menduga-duga siapa gerangan tokoh itu.
"Suling Emaskah....?"
Tosu itu, seorang tokoh dari Kun-lun-pai, menggeleng kepala.
"Kalau tidak salah dugaan pinto, hanyalah manusia dewa yang dapat memiliki kepandaian sehebat itu, beliau adalah.... Bu Kek Siansu...."
"Aihhh....! Mana mungkin? Mana mungkin tokoh yang sudah ratusan tahun itu masih hidup? Aku lebih percaya kalau dia tadi adalah Bu Beng Lojin, julukan Suling Emas setelah mengasingkan diri!"
"Akan tetapi, biasanya pendekar itu bergerak secara berterang dan merobohkan semua lawan dengan berdepan. Sebaliknya kakek itu seolah-olah hendak menghindarkan bentrokan. Agaknya memang benar dugaan Totiang, beliau adalah Bu Kek Siansu...."
Demikianlah, para tokoh itu menjadi ribut membicarakan peristiwa aneh itu dan tentu saja otomatis sayembara ditiadakan.
Betapapun juga, tidak ada yang merasa penasaran karena kalau memang benar bahwa yang membawa pergi dua orang anak perempuan itu adalah Bu Kek Siansu seperti yang mereka duga, tentu saja mereka tak dapat berbuat apa-apa.
Siapakah orangnya di dunia ini yang akan mampu menandingi manusia dewa itu?
Maya dan Siauw Bwee masih terheran-heran dan mereka melongo memandang wajah kakek berambut panjang putih yang menggandeng tangan mereka.
Tadi, ketika mereka ketahuan dan dikejar, mereka tiba di pintu dan tahu-tahu tubuh mereka seperti ditarik keluar.
Tahu-tahu mereka telah digandeng oleh seorang kakek dan mereka meluncur ke depan dengan kecepatan yang mengerikan.
Tentu saja Maya dan Siauw Bwee tahu bahwa mereka dikejar-kejar, bahkan telinga mereka yang (Lanjut ke
Jilid 09) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 terlatih telah mendengar menyambarnya banyak senjata rahasia dari belakang, akan tetapi kakek tua renta itu masih enak-enak saja berjalan!
Langkah kakek ini biasa saja, akan tetapi mengapa tubuh mereka meluncur ke depan seperti angin cepatnya?
Mereka berdua adalah anak-anak yang sejak kecil digembleng ilmu silat dan banyak mendengar akan orang-orang sakti, maka mereka dapat menduga bahwa tentu mereka tertolong oleh seorang kakek yang sakti.
Akan tetapi, mereka tidak tahu orang macam apakah kakek yang menolong ini.
Seorang baik-baikkah?
Ataukah jangan-jangan seorang manusia iblis yang lebih jahat daripada sekumpulan manusia sesat tadi!
"Kong-kong (Kakek), engkau siapakah?"
Tanya Siauw Bwee, agak sesak napasnya karena gerakan yang amat cepat meluncur ke depan seperti terbang itu membuat orang sukar bernapas.
Akan tetapi kakek itu tidak menjawab, seolah-olah tidak mendengar pertanyaan ini.
Masih melangkah satu-satu dan wajahnya tegak memandang ke depan, kedua tangan menggandeng tangan Siauw Bwee dan Maya.
Kedua orang anak perempuan itu menengadah, menanti jawaban yang tak kunjung datang.
Maya menjadi curiga dan tidak sabar.
"Kakek yang aneh, kalau engkau tidak suka bicara dengan kami, mengapa engkau membawa kami lari dari mereka?"
Kembali kakek itu tidak menjawab sama sekali.
"Enci Maya, jangan-jangan dia tuli!"
Siauw Bwee berkata tak lama kemudian setelah dinanti-nanti tetap tidak ada jawaban dari kakek tua renta itu.
"Hemm, kalau hanya tuli masih untung! jangan-jangan dia ini malah lebih jahat daripada Bengcu dan kawan-kawannya tadi. Celaka, kita terjatuh ke tangan manusia Iblis!"
Kata Maya, suaranya mulai ketus karena marah.
"Anak-anak, kalian menghadapi urusan besar, harap jangan lengah dan bergantunglah kepada tanganku. Kalau kalian ingin tahu, orang-orang menyebut aku orang tua Bu Kek Siansu."
"Ohhh....!"
Siauw Bwee melongo.
"Ahhh....!"
Maya juga berseru dengan mata terbelalak!
Kedua orang anak perempuan ini sudah mendengar penuturan orang tua masing-masing, akan seorang manusia dewa yang kesaktiannya luar biasa, bernama Bu Kek Siansu yang muncul dan lenyap tanpa ada yang tahu bagaimana caranya.
Bahkan ilmu-ilmu silat keluarga Suling Emas, yaitu sebagian kecil yang pernah mereka pelajari, bersumber daripada pemberian manusia dewa ini.
Tak terasa lagi hati mereka menjadi besar, akan tetapi juga dengan hormat dan takut.
Mereka mentaati permintaan kakek itu, mencurahkan perhatian ke depan dan tidak bertanya-tanya lagi!
Bahkan Maya yang biasanya liar ini kini menjadi jinak!
Mereka menyerahkan nasib mereka sepenuhnya kepada kakek itu dan ketika kakek itu mempercepat langkahnya sehingga mereka merasa pening, dua orang anak perempuan ini lalu memejamkan mata.
Dengan ilmu kepandaian yang tinggi, Han Ki berhasil menyelinap ke dalam taman bunga di istana, melompati pagar tembok yang tinggi setelah memancing perhatian para peronda dengan melemparkan batu ke sebelah barat.
Ketika para peronda itu, perhatian mereka terpecah dan kesempatan itu dipergunakan Han Ki melompati pagar tembok dan menyelinap ke bawah pohon-pohon menuju ke taman bunga.
Jantungnya berdebar keras dan ia tahu bahwa dia melakukan hal yang amat berbahaya dan gawat.
Puteri Sung Hong Kwi, kekasihnya, kini telah diputuskan menjadi jodoh orang lain, bahkan di halaman tamu istana Kaisar sendiri sedang menjamu urusan-urusan Raja Yucen calon suami Hong Kwi.
Akan tetapi, dengan nekat dan berani mati dia menyelundup ke dalam taman untuk menemui kekasihnya itu seperti biasa dahulu ia lakukan.
Hal ini adalah karena dorongan ucapan Maya yang membesarkan semangat.
Hebat bukan main bocah itu, pikir Han Ki sambil tersenyum.
Besar hatinya.
Dia harus bertemu dengan Hong Kwi.
Benar kata Maya, biarpun dia itu masih belum dewasa.
Kalalu memang Hong Kwi mencintainya, mengapa mereka tidak melarikan diri saja berdua?
Urusan perjodohan adalah selama hidup, bagaimana ia dapat dipaksa!
Jantungnya berdebar makin tegang ketika dari tempat sembunyinya di balik sebatang pohon besar, dia melihat kekasihnya yang mengenakan pakaian indah sekali, pakaian baru calon mempelai, dari sutera berwarna-warni, dangan hiasan rambut terbuat dari permata, terhias mutiara, yang membuat kekasihnya nampak makin cantik gilang-gemilang sehingga mendatangkan keharuan di hati Han Ki.
Puteri Sung Hong Kwi sedang duduk di atas bangku marmer di dekat kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai putih.
Ikan-ikan emas berenang ke sana ke mari, berpasang-pasangan.
Melihat ini, teringatlah Hong Kwi akan pertemuan-pertemuannya yang penuh kasih sayang, penuh kemesraan dengan pemuda idamannya, Kam Han Ki!
Dia mendengar betapa kekasihnya itu melakukan tugas keluar, tugas yang amat berbahaya.
Kekasihnya belum juga pulang dan tahu-tahu ia akan diberikan kepada Raja Yucen yang belum pernah dilihatnya.
Teringat akan ini, dan melihat betapa ikan-ikan emas itu berenang berpasangan, kadang-kadang bercumbu dan berkasihkasihan, tak tertahan pula kesedihannya dan Puteri Sung Hong Kwi menutup mukanya dengan ujung lengan bajunya yang panjang, menangis tersedu-sedu!
"Han Ki-koko....!"
Gadis bangsawan itu menjerit lirih, lirih sekali tertutup isaknya, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Han Ki dan tak terasa lagi dua butir air mata terloncat ke atas pipi pemuda itu.
Seorang pelayan wanita yang Han Ki kenal sebagal satu-satunya pelayan yang paling dikasihi dan setia kepada nona majikannya, berlutut dan mengelus-elus pundak nona majikan itu sambil ikut menangis.
Han Ki tak dapat menahan keharuan dan kerinduan hatinya lebih lama lagi menyaksikan kekasihnya menangis sedemikian sedihnya.
Ia meloncat keluar dan berlutut di depan kaki Sung Hong Kwi.
"Dewi pujaan hatiku.... kekasihku...., Hong Kwi....!"
Pelayan itu cepat bangkit berdiri dan pergi dari tempat itu, kedua pipinya masih basah air mata dan dadanya masih terisak-isak.
Hong Kwi mengangkat mukanya perlahan, ketika ia memandang wajah Han Ki yang berada di dekat didepannya, matanya yang basah terbelalak, ia takut kalau-kalau pertemuan ini hanya terjadi dalam alam mimpi.
Kemudian ia menjerit lirih dan menubruk, merangkul leher pemuda itu.
"Koko.... ah, Koko....! Aku.... aku telah...."
Han Ki mengangkat tubuh kekasihnya dan memangkunya, sambil duduk di atas bangku Hong Kwi menyandarkan pipinya di dada Han Ki sambil menangis tersedu-sedu.
Han Ki membelai rambutnya, dahinya, kemudian menunduk dan menciumi wajah kekasihnya, menghisap air mata mengalir deras sambil berbisik.
"Aku tahu, Dewiku. Aku tahu kesemuanya yang telah menimpa dirimu. Karena itulah aku datang mengunjungimu malam ini...."
"Aduh, Koko.... bagaimana dengan nasibku....? Bagaimana cinta kasih kita? Kita sudah saling mencinta, saling bersumpah sehidup semati di bawah sinar bulan purnama! Bagaimana....?"
Ia tersedu kembali.
"Jangan berduka, Hong Kwi. Aku datang untuk mengajakmu pergi. Mari kita pergi dari sini sekarang juga!"
"Aihhh....!"
Puteri bangsawan itu terkejut sekali, tersentak duduk dan memandang wajah kekasihnya penuh selidik.
"Kau maksudkan.... minggat?"
"Mengapa tidak? Bukankah kita saling mencinta?' Han Ki teringat akan ucapan Maya, seolah-olah bergema suara anak perempuan itu di telinganya di saat itu.
"Kita pergi bersama, takkan saling berpisah lagi selamanya. Kita pergi jauh dari sini dan aku akan melindungimu sebagai suami yang mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Marilah, Hong Kwi....!"
"Tidak! Tidak bisa begitu, Koko....! Aku lebih baik mati. Lebih baik kaubunuh saja aku sekarang ini. Aahhh, untuk apa aku hidup lebih lama lagi....? Koko, kau bunuhlah aku....!"
Han Ki memeluk kekasihnya dan dia menjadibingung.
Ia dapat memaklumi isi hati kekasihnya.
Kekasihnya adalah seorang puteri Kaisar, tentu saja tidak bisa lari minggat begitu saja karena hal ini selain akan menyeret namanya ke dalam lumpur hina, juga akan mencemarkan nama Kaisar dan karenanya membikin malu kerajaan!
"Hong Kwi, aku tidak melihat jalan lain kecuali membawamu lari dari sini menjauhi segala kesusahan ini.
Apakah engkau melihat jalan lain yang lebih baik, Hon Kwi kekasihku?"
"Ada jalan yang lebih baik Koko!"
Tiba-tiba gadis bangsawan itu kelihatan bersemangat dan biarpun kedua pipinya masih basah, namun sepasang pipi itu sekarang menjadi kemerahan, merah jambon berbeda sekali, dengan bibirnya yang merah segar, dan matanya, berseri-seri aneh.
"Koko, aku telah bersumpah hanya mencinta kau seorang, mencinta dengan seluruh, jiwa ragaku. Jiwa dan hatiku selamanya adalah kepunyaanmu, tidak dapat dirampas oleh siapapun juga. Akan tetapi tubuh ini... ah, bagaimana aku dapat membiarkan tubuhku dimiliki orang lain? Engkaulah yang berhak memiliki, Koko! Aku menyerahkan tubuhku kepadamu, ahhh.... kalau tak terhimpit seperti ini, sampai mati pun aku tidak akan dapat bicara seperti ini, Koko... ambillah tubuhku.... barulah aku akan dapat menahan hatiku kalau tubuhku dimiliki orang lain, secara paksa!"
Han Ki meloncat turun dari bangku dan melangkah mundur dua tindak.
Mukanya pucat sekali dan bulu tengkuknya berdiri!
Sampai lama dia tidak, dapat berkata apa-apa hanya memandang wajah gadis yang dicintanya itu.
"Bagaimana, Koko....? Apakah.... apakah cintamu tidak cukup besar untuk memenuhi permintaanku terakhir ini?"
Hong Kwi juga bangkit berdiri dan menghampiri Han Ki, merangkul pinggangnya sehingga tubuh mereka merapat.
"Tidak, Hong Kwi! Tidak mungkin itu! Aku.... ah...., janganlah mengajak aku menjadi seorang pria yang keji dan kotor! Lebih baik aku mati daripada mengotori dirimu yang murni! Tidak, betapapun besar hasrat hatiku, betapa darahku telah mendidih bergolak pada saat ini dengan kerinduan dan kemesraan sepenuhnya, betapa nafsu berahiku terhadapmu! sudah hampir menggelapkan mataku, namun.... aku.... aku tidak akan melakukan hal itu, Hong Kwi!"
"Kalau begitu, bagaimana baiknya.... Koko? Ahhh, engkau membuat aku makin putus asa dan menderita...."
Gadis bangsawan itu terisak-isak lagi sambil berpelukan dengan Han Ki. Han Ki mengelus-elus rambut yang halus hitam dan harum itu.
"Kekasihku, pujaan hatiku, nasib kita boleh buruk, hati kita boleh tersiksa, namun semua itu tidak boleh menggelapkan kesadaran kita. Kalau engkau suka pergi denganku, biarpun hal ini merupakan pelanggaran besar, namun kita akan dapat hidup bersama menanggung semua akibat bersama pula, maka aku mengajakmu minggat. Adapun kalau menurutkan permintaanmu tadi, aku menjadi seorang lakl-laki hinadina, setelah melakukan pelanggaran suslia, menikmati pelanggaran, mencemarkan dan menodaimu, lalu pergi begitu saja, membiarkan engkau yang akan menanggung semua akibatnya! Betapa hina dan rendahnya apalagi terhadap engkau satu-satunya wanita yang kucinta didunia ini!"
"Aduhhh, Koko.... bagaimana baiknya....?"
"Hong Kwi kelahiran, perjodohan dan kematian merupakan tiga hal yang tidak dapat diatur oleh manusia karena sudah ada garisnya sendiri. Keadaan sekarang ini membuktikan bahwa Thian tidak menghendaki kita menjadi suami isteri, atau jelasnya, kita tidak saling berjodoh, betapapun murni cinta kasih yang terjalin antara kita. Memang sudah nasib kita.... ah, Hong Kwi...."
Dua orang yang dimabok cinta dan kedukaan itu, seperti tergetar oleh sesuatu, tertarik oleh tenaga gaib, saling mencium dengan perasaan penuh duka, haru dan cinta tercampur menjadi satu.
"Aduhhh.... Sri Baginda datang...."
Bisikan yang keluar dari mulut pelayan itu membuat sepasang orang muda yang sedang berpelukan dan berciuman itu terkejut sekali dan saling melepaskan pelukannya.
"Koko....! Cepat.... Bersembunyi...."
Hong Kwi berseru lirih.
"Di mana....? Lebih baik aku pergi saja...."
"Jangan! Kau bisa ketahuan dan.... dan kita celaka! Lekas.... kolam itu, kau masuklah dan bersembunyi di bawah daun teratai...."
Karena kini sudah tampak rombongan pengawal Kaisar datang memasuki taman membawa lampu, Han Ki tidak melihat jalan lain.
Ia meloncat dan air muncrat ke atas ketika pemuda itu menyelam ke bawah permukaan air yang dalamnya hanya sampai ke pinggang, bersembunyi di bawah daun-daun teratai yang lebar.
Dia menengadahkan mukanya, mengeluarkan hidungnya saja di bawah daun teratai agar dapat bernapas sedangkan matanya kadang-kadang ia buka untuk melihat melalui air yang bening.
"Hong Kwi, mengapa malam-malam begini engkau masih berada di taman.... eh, kau.... habis menangis?"
Kaisar menegur puterinya dengan suara keren dan marah.
Memang Kaisar tahu bahwa puterinya ini tidak suka dijodohkan dengan Raja Yucen, maka hati Kaisar menjadi mengkal dan penasaran.
Apalagi ketika ia tadi mendengar bisikan Jenderal Suma Kiat yang mendengar dari muridnya, Siangkoan Lee, bahwa mulai saat itu keadaan Sang Puteri harus dijaga karena ada kemungkinan masuknya seorang "pengganggu kesusilaan"!
Sung Hong Kwi yang berlutut tidak menjawab, hanya menundukkan mukanya.
"Apakah ada orang luar masuk ke sini malam ini?"
Kembali Sri Baginda bertanya dengan suara keren. Hong Kwi menggeleng kepala tanpa menjawab.
"Heh, pelayan! Apakah ada orang datang ke sini tadi?"
Kaisar bertanya kepada pelayan yang berlutut di belakang nonanya.
"Ham.... hamba ti.... tidak melihatnya...."
Pelayan itu menjawab lirih sambil membentur-benturkan dahi di atas tanah di depannya.
"Periksa semua tempat di sekitar sini!"
Kaisar memerintahkan para pengawalnya yang segera berpencar ke segala sudut, mencari-cari dan menerangi tempat gelap dengan lampu-lampu yang mereka bawa.
Jantung Sung Hong Kwi dan pelayan itu hampir copot saking tegang dan takutnya.
"Mulai saat ini, engkau harus selalu berada dalam kamar, tidak boleh sekali-kali keluar. Mengerti?"
Kaisar membentak dan kembali Hong Kwi mengangguk.
Para pengawal selesai menggeledah dan melapor bahwa tidak ada orang luar di dalam taman itu.
Dengan uring-uringan karena sikap puterinya, Kaisar lalu mendengus dan meninggalkan taman itu diiringkan para pengawalnya.
Setelah rombongan Kaisar lenyap memasuki pintu belakang, barulah Hong Kwi dan pelayannya berani bangkit berdiri.
Han Ki yang juga melihat semua kejadian itu dari dalam air, berdiri dengan muka, rambut dan seluruh pakaian basah kuyup!
Ia bergidik ketika merasa sesuatu menggelitik lehernya.
Ditangkapnya ikan emas yang berenang di leher bajunya dan dilepaskannya kembali ke air.
"Hong Kwi....!"
Ia berkata lalu meloncat keluar.
"Koko.... ahhh...., hampir saja....! Aku harus segera masuk. Han Ki-koko, selamat berpisah, selamat tinggal.... sampai jumpa pula di akherat kelak...."
Puteri itu terisak dan lari pergi diikuti pelayannya yang juga menangis, meninggalkan Han Ki yang berdiri melongo di tepi kolam dalam keadaan basah kuyup dan tubuh seolah-olah kehilangan semangat.
"Hong Kwi...."
Ia mengeluh, kemudian membalikkan tubuh dan....
kiranya dia terkurung sepasukan pengawal Istana yang dipimpin oleh....
Jenderal Suma Kiat sendiri bersama muridnya Siangkoan Lee dan masih banyak panglima tinggi istana!
"Kam Han Ki!
Engkau manusia rendah budi, engkau membikin malu keluargamu saja!
Membikin malu aku pula karena biarpun jauh engkau terhitung keluargaku juga.
Cihh!
Sungguh menyebalkan.
Berlututlah engkau menyerah agar aku tidak perlu menggunakan kekerasan!"
Han Ki pernah jumpa dengan Suma Kiat yang masih terhitung kakak misannya sendiri, karena ibu Suma Kiat ini adalah adik kandung mendiang ayahnya.
Akan tetapi dalam perjumpaan yang hanya satu kali itu, Suma Kiat bersikap dingin kepadanya, maka kini ia menjawab.
"Goanswe, perbuatanku tidak ada sangkut-pautnya dengan siapapun juga. Ini adalah urusan pribadi, biarlah semua tanggung jawab kupikul sendiri, dan aku tidak akan menyeret nama keluarga, apalagi namamu!"
Wajah Suma Kiat menjadi merah saking marahnya.
Dia gentar menghadapi Menteri Kam Liong karena maklum akan pengaruh kekuasaan dan kelihaian menteri itu.
Akan tetapi dia tidak takut menghadapi Han Ki.
Biarpun ia tahu bahwa Han Ki yang lenyap selama belasan tahun itu kini kabarnya telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia belum membuktikannya sendiri dan pula pemuda yang hanya dijadikan pengawal Menteri Kam itu kini melakukan kesalahan yang amat berat yaitu berani menyelundup ke dalam taman istana dan melakukan hubungan gelap dengan puteri Kaisar, calon isteri Raja Yucen Pula, saat ini dia sudah mengirim laporan kepada Kaisar bahwa pemuda itu benar-benar berada di taman sehingga menangkap atau membunuhnya bukan merupakan kesalahan lagi.
"Kam Han Ki manusia berdosa! Setelah engkau melakukan pelanggaran memasuki taman seperti maling, apakah kau tidak lekas menyerahkan diri dan hendak melawan petugas negara?"
Kembali Suma Kiat membentak sambil mencabut pedangnya.
Melihat gerakan jenderal ini, semua anak buah pasukan dan para panglima juga mencabut senjata masing-masing.
Han Ki tidak mau banyak bicara lagi karena ia maklum bahwa tidak ada pilihan lain bagi dia yang sudah "tertangkap basah"
Ini, yaitu menyerahkan diri atau berusaha untuk melarikan diri.
Tidak, dia tidak akan menyerahkan diri karena dia tidak merasa bersalah!
Dahulu pernah ia mendengar wejangan gurunya Bu Kek Siansu yang pada saat itu bergema di dalam telinganya.
"Jika engkau dengan pertimbangan hati nuranimu merasa bahwa engkau melakukan sesuatu yang salah, engkau harus mengalah terhadap seorang yang lemah pun. Sebaliknya, jika engkau yakin benar bahwa engkau tidak bersalah, tidak perlu takut mempertahankan kebenaranmu menghadapi orang yang lebih kuat pun."
Kini Han Ki tidak merasa bersalah.
Berasalah kepada siapa?
Dia dan Hong Kwi sudah saling mencinta, dengan murni dan tulus.
Kaisarlah yang salah, Karena hendak memberangus kemerdekaan hati puterinya sendiri!
Tidak, dia tidak bersalah karena itu dia tidak akan menyerahkan diri.
Dia akan melarikan diri dan tidak akan mencampuri urusan kerajaan lagi, dia tidak akan dekat dengan Istana!
Berpikir demikian, Han Ki lalu membalikkan tubuh dan meloncat ke arah pagar tembok taman itu.
Akan tetapi, ia berseru keras dan cepat berjungkir-balik dan meloncat kembali ke depan Suma-goanswe karena di dekat pagar tembok telah menghadang banyak pengawal dan tadi ketika ia meloncat hendak lari, mereka telah melepas anak panah ke arah tubuhnya.
"Ha-ha-ha! Kam Han Ki, engkau maling cilik sudah terkurung. Lebih baik menyerah untuk kuseret ke depan kaki Hong-siang agar menerima hukuman!"
Suma Kiat tertawa mengejek.
Hati pemuda itu menjadi panas, akan tetapi dia tidak melupakan kakak sepupunya, Menteri Kam.
Kalau dia melakukan perlawanan, mengamuk sehingga membunuh para pengawal, panglima atau Jenderal Suma, tentu Menteri Kam Liong akan celaka karena bukankah dia menjadi pengawal Menteri Kam?
Dia akan mencelakakan orang yang dihormatinya itu kalau dia mengamuk, maka dia mengambil keputusan untuk mencari jalan keluar tanpa membunuh orang.
"Sampai mati pun aku tidak akan menyerah kepadamu, Suma-goanswe!"
Katanya gagah sambil mencabut pedangnya juga.
"Apa? Kau hendak melawan? Serbu!"
Suma Kiat berseru dan mendahului kawan-kawannya menerjang maju dengan pedangnya berkelebat melengkung ke arah pusar Han Ki sedangkan tangan kirinya sudah mengirim totokan maut yang amat berbahaya ke arah pangkal leher.
Ilmu kepandaian Suma Kiat amatlah dahsyat dan ganas.
Jenderal ini mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dan aneh dari ibu kandungnya.
Ibunya adalah Kam Sian Eng, adik tiri Suling Emas yang pernah menjadi tokoh yang menggemparkan para datuk golongan hitam karena selain sakti juga aneh dan setengah gila, membuat sepak terjangnya aneh-aneh mengerikan dan ilmu silatnya juga dahsyat menyeramkan.
Melihat serangan Jenderal itu diam-diam Han Ki terkejut.
Sinar pedang yang menyerang ke arah pusarnya itu membuat lingkaran melengkung yang sukar diduga dari mana akan menyerang sedangkan totokan jari tangan kiri itu dikenalnya sebagai totokan yang bersumber dari ilmu menotok jalan darah dari Siauw-lim-pai yang amat lihai dan berbahaya, yaitu Im-yang Tiam-hoat!
"Cringgg....!
Dukkk!"
Han Ki yang sudah mendengar dari Menteri Kam akan kelihaian Jenderal yang masih keluarga sendiri ini, sengaja menangkis pedang lawan dan menangkis pula totokannya sehingga dua pedang dan dua lengan bertemu susul-menyusul.
Suma Kiat terkejut karena pedang dan lengan kirinya gemetar dan tubuhnya bertolak ke belakang, tanda bahwa pemuda ini memiliki sin-kang yang amat kuat.
Namun ia berseru keras dan menyerang lagi, dibantu para panglima dan pengawal sehingga di lain saat Han Ki telah terkurung rapat dan dihujani senjata dengan gencar sekali.
Pemuda ini terpaksa memutar pedangnya dengan cepat, membentuk lingkaran sinar pedang yang menyelimuti seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga semua senjata para pengeroyok terpukul mundur oleh sinar pedangnya yang berkilauan.
Namun, pemuda ini harus mengerahkan seluruh tenaganya karena sekali saja pedangnya terpukul miring, tentu akan terdapat lowongan dan tubuhnya akan menjadi sasaran senjata para pengeroyok yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu.
Tiba-tiba Han Ki mengeluarkan lengkingan dahsyat yang menggetarkan jantung para pengeroyoknya dan membuat sebagian dari mereka ragu-ragu dan menunda gerakan senjata.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Han Ki untuk memutar pedangnya membalas dengan ancaman serangan ke arah kepala para pengeroyoknya.
Demikian ganas dan cepat sambaran pedangnya itu sehingga para pengeroyoknya menjadi terkejut, cepat mengelak dengan merendahkan tubuh atau meloncat ke belakang.
Kesempatan yang amat baik, pikir Han Ki dan sekali ia mengenjot tubuhnya sambil menangkis serangan susulan pedang Suma Kiat dan golok di tangan Siangkoan Lee, ia telah meloncat jauh ke kiri, ke atas wuwungan bangunan kecil di tengah taman di mana ia sering kali mengadakan pertemuan rahasia dengan Sung Hong Kwi.
"Penjahat cabul hendak lari ke mana?"
Terdengar bentakan keras dan sebatang tombak menusuknya dari kanan, sebatang pedang dari depan sedangkan dari kiri menyambar sehelai cambuk besi.
"Cringg.... tranggg.... wuuuttt!"
Han Ki terkejut bukan main dan untung dia masih dapat menangkis tombak dan pedang serta mengelak dari sambaran pecut besi.
Kiranya di tempat itu telah menjaga tiga orang panglima yang kepandaiannya cukup tinggi, terbukti dari serangan-serangan tadi yang amat kuat dan cepat.
Ia melempar diri ke bawah, berjungkir-balik dan langsung meloncat ke bawah, makin ke tengah mendekati Istana karena untuk lari ke pagar tembok tidak mungkin lagi, terhalang oleh pengejarnya.
"Siuuttt!"
Kembali Han Ki harus meloncat ke atas menghindarkan diri dari sambaran toya yang amat kuat, yang tadi datang menyambutnya dari bawah.
Ia mencelat mundur sambil memandang.
Kiranya di situ telah berjaga seorang panglima pengawal yang bertubuh tinggi besar dan memegang sebatang toya kuningan yang berat.
Kini panglima itu terus menerjangnya dan toyanya yang diputar menimbulkan angin bersuitan.
Han Ki mengelak ke kanan kiri dan mengerahkan tenaga lalu membabat dari samping.
"Tranggg!"
Bunga api berhamburan dan panglima tinggi besar itu berseru kaget, tubuhnya terguling lalu ia bergulingan dan baru meloncat bangun setelah agak jauh, memandang ujung toyanya yang buntung oleh sambaran pedang di tangan Han Ki tadi!
Sementara itu, Suma Kiat, Siangkoan Lee dan para panglima yang tadi mengeroyoknya, telah mengejar sampai di situ dan kembali Han Ki dikurung dan dikeroyok.
Makin lama makin bertambah banyak jumlah pengeroyok karena tanda bahaya telah dipukul sehingga panglima dan pengawal yang berada di istana muncul semua!
Betapapun tinggi ilmu kepandaian Han Ki, namun menghadapi pengeroyokah begitu banyak orang lihai sedangkan dia menjaga agar jangan sampai membunuh lawan, tentu saja Han Ki menjadi kewalahan.
Dia memang menerima gemblengan seorang manusia sakti seperti Bu Kek Siansu, menerima pelajaran ilmu sllat yang amat tinggi, Bahkan telah mempelajarl inti sari ilmu silat sehingga segala macam ilmu silat yang dimainkan lawan dapat ia kenal sumber dan gerakan dasarnya.
Akan tetapi selama belasan tahun ini waktunya habis untuk berlatih dan belajar.
Dia belum mempunyai banyak pengalaman dalam pertempuran, apalagi dikeroyok begini banyak panglima dan pengawal yang pandai!
Namun, harus dipuji keuletan pemuda ini.
Biarpun tubuhnya dihujani serangan senjata dari segenap penjuru, ia masih dapat mempertahankan diri, memutar pedang menangkis dengan gerakan lincah ke sana ke mari, bahkan masih sempat menggunakan tangan kirinya kadang-kadang untuk menyampok senjata lawan dan kadang-kadang menggunakannya dengan pengerahan sin-kang untuk mendorong pengeroyok sampai terjengkang atau terhuyung mundur.
Entah berapa belas orang pengeroyok yang ia robohkan dengan tendangan kedua kakinya, merobohkan mereka tanpa membunuh, hanya mematahkan tulang kaki dan mengakibatkan luka ringan saja.
Jenderal Suma Kiat yang memimpin pengeroyokan ini, berulang-ulang menyumpah-nyumpah.
Dia dibantu oleh pasukan pengawal, bahkan para panglima yang menjadi rekan-rekannya, yang ia tahu memiliki kepandaian tinggi, dengan jumlah seluruhnya tidak kurang dari lima puluh orang, masih belum mampu membekuk pemuda itu setelah mengeroyok selama tiga empat jam!
Bahkan ada belasan orang anak buah pengawal yang roboh tertendang atau terdorong oleh pemuda itu!
Benar-benar amat memalukan!
"Panggil semua panglima yang berada di luar istana!
Datangkan bala bantuan pengawal luar istana!"
Bentak Suma Kiat kepada anak buahnya yang cepat melaksanakan perintah itu.
Han Ki masih memutar pedangnya dan makin lama makin mendekati istana.
Dia tahu bahwa tidak mungkin dia dapat bertahan terus.
Tubuhnya basah kuyup, bukan oleh air kolam ikan tadi yang sudah menjadi, kering kembali melainkan dari keringatnya sendiri.
Tubuhnya mulai terasa lelah dan lemas, juga amat panas seolah-olah dari dalam tubuhnya timbul api yang membakarnya.
Tubuhnya sudah menerima banyak pukulan dan bacokan senjata lawan dan biarpun sin-kangnya telah melindungi tubuh sehingga luka-luka itu tidak berat, namun membuat kaki tangannya terasa linu dan berat.
"Habis aku sekali ini...."
Keluhnya diam-diam, namun ia tidak putus asa dan masih terus melawan sampai malam terganti pagi!
Telapak tangannya yang memegang gagang pedang sampai kehilangan rasa, seolah-olah telah menjadi satu dengan gagang pedangnya.
Tak mungkin aku melarikan diri melalui pagar tembok, pikirnya.
Pagar tembok itu tentu telah terkepung ketat.
Jalan satu-satunya hanyalah sekalian masuk ke dalam istana!
Kalau berada di taman terbuka ini, dia dapat dikeroyok banyak orang, akan tetapi kalau dia main kucing-kucingan di dalam istana yang banyak kamar-kamarnya dan tidak terbuka seperti di taman, tentu dia dapat membatasi jumlah pengeroyok.
Siapa tahu dia dapat menyelinap dan melarikan diri, atau setidaknya bersembunyi di dalam istana yang amat besar itu.
Bukankah dahulu pernah dikabarkan ada orang sakti mengacau istana hanya untuk "menyikat"
Hidangan Kaisar dan orang itu dapat bersembunyi di dapur sampai berpekan-pekan?
Dia harus dapat menyelinap ke Istana sebelum keadaan cuaca menjadi terang, pikirnya dan dengan penuh semangat Han Ki memutar pedang berloncatan ke sana sini seperti orang nekat.
Semenjak dikeroyok tadi, Han Ki selalu melindungi dirinya, dan hanya merobohkan pengeroyok yang tidak terlalu kuat dengan tendangan atau dorongan kaki kiri, dan hal ini agaknya dimengerti oleh Suma Kiat dan kawan-kawannya.
Akan tetapi kini pemuda itu menggerakkan pedangnya sedemikian hebat seolah-olah hendak mengamuk dan membunuh, maka para pengepungnya menjadi kaget dan jerih, otomatis meloncat mundur.
Han Ki membuat gerakan ke bawah cepat sekali, tangannya menyambar segenggam pasir dan sambil berseru keras ia menyambitkan pasir itu ke depan, ke arah para pengepungnya.
"Awas senjata rahasia!"
Bentaknya, Suma Kiat dan para panglima yang berilmu tinggi dapat menyampok pasir-pasir itu runtuh tanpa berkedip, akan tetapi pengeroyok-pengeroyok yang kurang pandai, menjadi kaget dan cepat membuang diri ke bawah.
Yang kurang cepat segera memekik kesakitan karena biarpun hanya butiran-butiran pasir kalau dapat menembus kulit mendatangkan rasa nyeri dan perih sekali!
Ketika semua orang memandang ke depan, pemuda yang luar biasa itu telah lenyap karena Han Ki telah meloncat cepat sekali dan menerobos masuk melalui pintu yang menuju ke kompleks bangunan istana dengan merobohkan dua orang penjaga pintu itu sambil berlari.
Penjaga penjaga itu terpelantlng ke kanan kiri sedangkan tombak panjang mereka patah-patah!
"Kejar!
Tangkap dia, mati atau hidup!"
Suma Kiat membentak para pengawal yang sejenak melongo penuh rasa kaget dan gentar menyaksikan sepak terjang Han Ki yang benar-benar amat hebat itu.
Dikeroyok begitu banyak orang pandai sampai setengah malam, masih belum dapat ditangkap bahkan kini berani memasuki istana.
Tentu saja semua orang cepat menyerbu, berlumba memasuki istana, ada yang menerobos dari pintu-pintu belakang, ada pula yang meloncat naik ke atas wuwungan.
Mereka harus cepat-cepat menangkap pemuda itu karena setelah kini pemuda itu menyelinap masuk ke istana, keadaan Kaisar dan keluarganya dapat diancam bahaya!
Bala bantuan dari luar Istana sudah datang dan kini puluhan orang pengawal dipimpin sendiri oleh panglima-panglima kerajaan mulai mengadakan pengejaran dan mencari Han Ki yang lenyap!
Ke manakah perginya Han Ki?
Han Ki yang berhasil menerobos memasuki Istana, terus berlari melalui lorong-lorong di antara kamar-kamar dan bangunan-bangunan kecil, ruangan-ruangan yang luas.
Dia tidak mengenal jalan, hanya lari ke arah yang sunyi tidak ada orangnya.
Napasnya terengah-engah, mukanya berkilat penuh keringat, seluruh tubuhnya berdenyut-denyut saking lelahnya dan setelah tidak bertempur lagi, terasa betapa perihnya luka-luka bekas gebukan-gebukan senjata lawan.
Tiba-tiba ia berhenti di luar sebuah kamar besar dan menyelinap di balik jendela.
Ia mendengar suara wanita berliam-keng (berdoa), membaca kitab suci di dalam kamar itu.
Ketika ia mengintai, tampak olehnya seorang nenek tua di kamar itu, duduk membaca kitab dihadap seorang pelayan wanita.
Han Ki menjadi tegang hatinya.
Ia tahu bahwa nenek itu adalah ibu suri, Ibu dari Kaisar, seorang nenek yang sudah keriputan dan tua, yang seolah-olah kini telah mengasingkan diri bersembunyi di dalam kamarnya siang malam dan kerjanya hanya membaca kitab-kitab suci.
Selagi Han Ki hendak melanjutkan larinya, tiba-tiba ia mendengar suara para pengawal yang menge jarnya.
Ada serombongan pengawal yang datang dari kanan.
Han Ki sudah menggerakkan kaki untuk lari ke kiri, akan tetapi dari arah kiri terdengar pula suara pengawal-pengawal yang menuju ke tempat itu!
"Kita harus mengepung seluruh jalan dalam Istana, memeriksa seluruh kamar.
Tak mungkin dia bisa menghilang seperti setan!"
Suara itu adalah suara Suma Kiat yang sudah datang dekat!
Celaka, pikir Han Ki.
Dia sudah amat lelah, tidak mungkin kuat melawan terus kalau tempat sembunyinya diketahui mereka.
Dan kini, jalan dari kanan kiri sudah tertutup.
Untuk meloncat ke atas menerobos langit-langit, ia tahu merupakan hal berbahaya sekali, karena para pengawal tentu tidak melupakan penjagaan di atas sehingga begitu dia muncul tentu akan disambut serangan yang berbahaya sekali.
Tiba-tiba ia mendapat akal dan didorongnya daun jendela, kemudian ia meloncat ke dalam, menutup daun jendela dan menggunakan saputangan yang tadi dipakai mengusap peluh menutupi bagian bawah mukanya agar Ibu suri tidak mengenal dia!
Gerakannya begitu ringan sehingga Ibu suri yang sedang asyik membaca kitab itu tidak mendengarnya.
Akan tetapi, pelayan wanita yang berlutut di depannya, tentu saja dapat melihat Han Ki yang muncul dari jendela di belakang Ibu suri, maka pelayan itu bangkit berdiri dengan mata terbelalak.
"Jahgan menjerit!"
Han Ki berkata, lalu menodongkan pedangnya di belakang Ibu suri.
"Kalau menjerit, pedangku akan merampas nyawa!"
Pucatlah muka pelayan itu, kedua kakinya menggigil, tubuhnya gemetar dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri berlutut.
Ibu suri yang sedang membaca kitab itu menghentikan bacaannya lalu menoleh.
Ketika melihat seorang pemuda bertopeng saputangan memegang sebatang pedang telanjang di belakangnya, nenek ini tidak menjadi kaget atau takut, hanya terheran lalu bertanya lirih sambil bangkit berdiri.
"Engkau siapakah dan apa artinya perbuatanmu ini?"
Hati Han Ki sudah lemas menyaksikan sikap tenang nenek itu.
Kalau nenek itu menjadi panik dan mencoba berteriak, tentu akan ditotoknya dan dipaksanya diam.
Akan tetapi nenek itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan menegurnya dengan suara halus dan sikap tenang penuh wibawa dan keagungan.
Tanpa dapat ditahan lagi, Han Ki menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Hamba dikejar-kejar pengawal dan mohon perlindungan...."
Sejenak nenek itu menunduk, memandang wajah yang setengahnya tertutup saputangan itu.
"Hemm, apakah engkau yang diributkan semalam, engkau yang berani memasuki taman istana dan mengadakan pertemuan dengan Hong Kwi?"
"Benar, hambalah orang itu!"
"Siapa namamu?"
"Hamba Kam Han Ki...."
"She Kam? ada hubungan apa engkau dengan Kam Bu Song?"
"Paduka maksudkan Suling Emas? Dia adalah Pek-hu (uwa) hamba...."
"Hemmm....! Seorang pemuda gagah perkasa yang menghadapi bahaya sebagai akibat perbuatan sendiri, mengapa menjadi begini lemah? Mengapa tidak menghadapi bahaya itu sendiri, bahaya yang amat berharga kalau memang hatimu terdorong cinta kasih? Mengapa membawa-bawa aku seorang tua untuk ikut terseret akibat perbuatanmu? Kam Han Ki, benarkah sikapmu ini?"
Han Ki terkejut bukan main.
Mukanya seperti ditampar dan ia merasa malu sekali.
Memang, apakah tujuannya bersembuny di kamar nenek ini?
Paling-paling dia akan menyeret nenek ini ke dalam kecemaran, seorang nenek yang begitu luhur budinya!
Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar.
Han Ki terkejut, akan tetapi, nenek itu sambil berdiri dan masih memegangi kitabnya, menegur halus.
"Siapa di luar?"
"Hamba Jenderal Suma dan pengawal hendak mencari seorang buronan. Harap Paduka suka mengijinkan hamba memeriksa di dalam!"
Terdengar jawaban dari luar.
"Masuklah, daun pintu tidak dikunci,"
Jawab Si Nenek dengan tenang!
Daun pintu didorong terbuka dari luar dan Han Ki sudah bertindak cepat.
Ia, melompat bangun dan mengancam dengan pedangnya di dekat leher nenek itu.
Hal ini ia lakukan sekali-kali bukan untuk mengancam Si Nenek, melainkan untuk menolong nenek itu dari kecemaran.
Kalau dia menodong dan seolah-olah memaksa nenek itu, berarti bahwa ibu suri sama sekali tidak melindunginya, tidak menyembunyikannya!
Akan tetapi maksudnya ini agaknya tidak dimengerti oleh Si Pelayan yang terbelalak ketakutan dan menubruk kaki nyonya majikannya.
Pada saat itu, muncullah Jenderal Suma Kiat bersama dua orang panglima pengawal.
Mereka memandang tajam ke arah Han Ki dan sejenak menjadi bingung melihat betapa ibu suri ditodong oleh Han Ki yang memakai kedok saputangan menutupi separuh mukanya.
"Kam Han Ki, apakah engkau sudah menjadi pengecut, mengancam seorang wanita yang tak berdaya?"
Tegur Suma Kiat dengan suara marah sekali dan pedangnya sudah tergetar di tangannya, demikian pula kedua orang panglima sudah mencabut senjata dan di belakang mereka, di luar pintu terdapat banyak pengawal, berdesakan untuk melihat dan siap mengeroyok ketika mendengar bahwa orang buronan itu bersembunyi di kamar Ibu suri dan menodong nenek itu!
Han Ki tidak menjawab dan kini nenek itu berkata.
"Goanswe dan para Ciangkun, harap jangan membikin ribut di dalam kamarku. Kalian boleh saja hendak menangkap orang ini, akan tetapi jangan sekali-kali di dalam kamarku. Keluarlah dan lakukan apa saja kalau orang ini sudah keluar kamar."
Suara nenek itu halus akan tetapi mengandung kepastian yang tidak boleh dibantah lagi.
Suma Kiat dan dua orang panglima pengawal memberi hormat dan setelah melempar pandang mata marah sekalilagi ke arah Han Ki, mereka lalu keluar dari kamar itu.
"Orang muda yang gagah, sekarang keluarlah dan hadapi segala akibat perbuatanmu dengan gagah seperti pek-humu Suling Emas. Bagi seorang gagah, pilihan hanya dua, mati atau hidup akan tetapi keduanya tiada bedanya asal bersandar kebenaran dan kegagahan. Hidup sebagai seorang pendekar, mati sebagai seorang gagah, itulah kemuliaan terbesar dalam kehidupan seorang jantan."
"Terima kasih dan hamba mohon maaf sebanyaknya!"
Kata Han Ki, semangatnya timbul kembali oleh nasihat nenek itu dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah mencelat keluar menerobos jendela kamar itu.
Baru saja ia turun di luar kamar, lima orang pengawal sudah menerjangnya dari kanan kiri.
Akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja lima orang pengawal ini roboh dan mengalirlah darah pertama sebagai akibat gebrakan pedang Han Ki!
Dia didesak hebat, maka sekarang dia tidak berlaku sungkan lagi, pedangnya dikerjakan dan biarpun tidak membunuh mereka, kini Han Ki merobohkan orang dengan niat agar yang dirobohkan tak dapat mengeroyoknya lagi!
Ia meloncati tubuh lima orang itu dan lari, akan tetapi setibanya di ruangan yang besar di mana Suma Kiat dan para panglima telah menanti, dia dikurung dan kini dikeroyok oleh Suma Kiat, Siangkoan Lee dan belasan orang panglima pilihan yang kesemuanya berkepandaian tinggi!
Di antara para panglima itu ada yang mengenal dia, bahkan ada yang menjadi rekan Panglima Khu Tek San.
Mereka itu hanya melaksanakan tugas, dan pada saat itu, Han Ki tidak lagi dianggap sebagai rekan, melainkan sebagai seorang buronan yang telah mengacaukan istana dan menghina Kaisar maka harus ditangkap atau dibunuh!
Han Ki mengamuk dengan hebat.
Pedangnya lenyap menjadi sinar yang bergulung-gulung, seperti seekor naga sakti bermain di angkasa, mengeluarkan suara berdesing dan kadang-kadang bercuitan menyeramkan para pengeroyoknya.
Akan tetapi sekali ini, para pengeroyoknya adalah orang-orang yang pandai, yang hanya kalah dua tiga tingkat dibandingkan dengan dia, ditambah lagi keadaan tubuhnya yang penuh luka dan lelah sekali, maka mulailah Han Ki terdesak hebat!
Setengah malam suntuk ia telah bertanding dikeroyok banyak orang pandai, dan kini, di ruangan terbatas, ia dikeroyok oleh tujuh belas orang pandai, tentu saja Han Ki menjadi repot sekali.
Betapapun juga, ucapan nenek di dalam kamar tadi telah menggugah semangatnya.
"Aku tidak bersalah! Aku datang menemui wanita yang kucinta! Apa dosaku? Kalian semua tahu bahwa aku tidak melakukan kejahatan, dan aku sudah banyak mengalah. Kalau kalian tidak mau mundur, terpaksa aku mengadu nyawa!"
"Pemberontak keji, maling cabul tak tahu malu!"
Suma Kiat membentak dan menerjang hebat.
"Rrrrtt.... cring-cring....!"
Han Ki menangkis sekian banyaknya senjata dan tangan kirinya menggunakan pukulan ke samping secara aneh dan tak terdaga-duga.
Biarpun pukulan dengan tangan kiri ini tidak mungkin dapat mengenai tubuh lawan, namun angin pukulan yang mengandung sin-kang kuat itu membuat dua orang pengeroyok terlempar ke belakang dan terbanting pada dinding!
Sejenak kedua orang pengeroyok itu menjadi pening dan semua pengeroyok diam-diam merasa kagum lalu mengeroyok lebih hati-hati.
Mereka semua maklum bahwa adik sepupu Menteri Kam ini hebat sekali kepandaiannya.
Kembali Han Ki terkena pukulan-pukulan, bahkan bajunya robek-robek termakan senjata tajam para pangerayoknya.
Darahnya mulai mengalir dari kedua bahu, pundak dan kedua pahanya.
Darahnya sendiri membasahi tubuh, akan tetapi dalam seratus jurus lamanya, dia hanya terluka dan belum tertangkap, sebaliknya ia telah merobohkan empat orang pengeroyok dengan pedangnya sehingga mereka tidak mampu mengeroyok lagi, dan melukai ringan tubuh orang lain!
Di antara yang terluka ringan adalah Siangkoan Lee murid Suma Kiat yang tergores pedang dadanya sehingga kulit dadanya robek berdarah!
Akan tetapi kehilangan darah dan kelelahan membuat Han Ki merasa pening dan sering kali terhuyung.
Keadaannya sudah payah sekali dan tiba-tiba sebatang toya berhasil mengemplang pergelangan tangan yang memegang pedang.
Pukulan yang keras sekali dan hanya berkat sinkangnya saja maka tulang lengan itu tidak remuk, akan tetapi pedangnya terlepas dari pegangan.
Detik-detik lain merupakan hujan pukulan yang diakhiri dengan totokan Suma Kiat membuat tubuh Han Ki roboh mandi darah dan tak berkutik lagi, pingsan!
Suma Kiat melarang para panglima itu membunuh Han Kt.
Hal ini bukan sekali-kali karena rasa sayang terhadap anggauta keluarga, bahkan sebaliknya.
Saking bencinya, Suma Kiat tidak ingin melihat Han Ki dibunuh begitu saja.
Ia ingin melihat pemuda itu dijatuhi hukuman gantung atau penggal leher disaksikan orang banyak sehingga puaslah hatinya.
Kalau dibunuh sekarang dalam keadaan pingsan, terlalu "enak"
Bagi Han Ki yang dibencinya!
Tubuh Han Ki dibelenggu lalu diseret dan dilempar ke dalam kamar tahanan di belakang Istana, dijaga kuat oleh pengawal yang diatur oleh Suma Kiat sendiri.
Selain tidak ingin melihat Han Ki tewas secara enak, juga dia menahan pemuda itu dengan niat lain, dengan siasat untuk memancing Menteri Kam melakukan pelanggaran sehingga ia dapat pula mencelakakan Menteri Kam Liong yang amat dibencinya!
Dalam keadaan pingsan dan terbelenggu kaki tangannya, Han Ki dilemparkan ke atas pembaringan batu dalam kamar tahanan yang sempit, kemudian pintu beruji besi yang kokoh kuat dikunci dari luar dan di luar kamar tahanan dijaga ketat oleh pasukan pengawal.
Ketika Han Ki siuman dari pingsannya dan membuka mata, ia tidak mengeluh.
Ia sadar benar dan maklum bahwa dia telah ditawan.
Dia tidak menyesal.
Mati bukan apa-apa bagi seorang gagah, apalagi kalau ia teringat akan Hong Kwi, kematian hanya merupakan kebebasan daripada penderitaan batin akibat kasih tak sampai.
Namun hatinya diliputi penyesalan dan kekhawatiran kalau ia teringat akan Menteri Kam Liong, kakak sepupunya itu.
Dia maklum bahwa semua perbuatannya yang tentu dianggap mengacau Istana dan dianggap berdosa besar, pasti akan mengakibatkan hal yang tidak baik terhadap Menteri Kam padahal ini sungguh tidak ia kehendaki dan ia merasa menyesal sekali.
Betapapun juga, dia lalu mengerahkan tenaga sehingga tubuhnya dapat rebah telentang, matanya memandang langit-langit kamar tahanan.
Sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya, dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Han Ki dapat "mematikan rasa"
Sehingga tubuhnya tidaklah terlalu menderlita.
Ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan dan siap menerima datangnya maut dalam bentuk apapun juga.
Dugaan Han Ki memang sama sekali tidak meleset.
Peristiwa yang terjadi itu membawa akibat yang amat jauh dan hebat, dia pun tidak tahu nasib apa yang menimpa Maya dan Siauw Bwee, yang ia tinggalkan di tengah jalan.
Ketika Menteri Kam Liong dan muridnya, Panglima Khu Tek San meninggalkan Istana yang mengakhiri pesta penyambutan tamu agung sampai tengah malam, membuat hati guru dan murid ini lega karena semenjak munculnya Maya dan Siauw Bwee tadi membuat hati mereka amat tidak enak, mereka berpisah.
Panglima Khu pulang ke gedungnya sendiri dengan tergesa-gesa.
Dia ingin segera sampai di rumah dsn menegur puterinya yang telah berbuat lancang menggegerkan Istana bersama Maya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika sampai di rumah, dia disambut teguran isterinya mengapa Siauw Bwee dan Maya tidak diajak pulang!
"Apa....?
Mereka sudah pulang lebih dulu, malah diantar oleh Kam-susiok!"
Panglima ini berkata dengan suara keras.
Maka paniklah keluarga Khu dan Panglima itu pun segera menyuruh anak buahnya untuk berpencar mencari puterinya dan Maya.
Juga dia sendiri ikut mencari, karena sungguhpun ia tidak usah merasa khawatir akan keselamatan dua orang anak perempuan yang diantar oleh susioknya itu, namun peristiwa yang terjadi di istana sebagai akibat kelancangan Maya dan Siauw Bwee membuat hatinya tidak enak.
Apalagi karena urusan Yucen dan Jenderal Suma jelas memperlihatkan sikap bermusuhan dengan gurunya.
Akan tetapi, malam itu ternyata terjadi hal yang amat menggelisahkan hati panglima ini secara susul-menyusul, karena waktu ia meninggalkan rumahnya lagi untuk mencari jejak puterinya dan Maya, ia dikejutkan oleh berita bahwa Kam Han Ki mengamuk di taman istana dan dikeroyok oleh para pengawal!
Tentu saja ia terkejut sekali, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?
Ia dapat menduga bahwa tentu hal itu ada hubungannya dengan pertalian cinta kasih antara Kam Han Ki dan Puteri Sung Hong Kwi.
Panglima Khu menjadi bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan kedua orang anak perempuan itu belum didapatkan, kini mendengar Han Ki menggegerkan istana!
Apakah yang terjadi dengan puterinya dan Maya?
Tiada jalan lain bagi Panglima Khu selain bergegas mendatangi gurunya di gedung Menteri Kam Liong.
Seperti telah diduganya, gurunya telah mendengar perihal Han Ki di Istana, tentu mendapat pelaporan dari anak buah yang setia, dan kini Menteri yang tua itu duduk termenung dan menyambut kedatangan Tek San dengan muka gelisah.
"Kau tentu datang untuk melaporkan tentang Han Ki, bukan? Aku sudah mendengar semua dan.... ah, betapapun juga, dia seorang pemuda yang tentu saja belum cukup kuat untuk menahan pukulan cinta terputus. Bagaimana aku dapat menyalahkan dia?"
"Bukan hanya urusan Kam-susiok saja yang menggelisahkan teecu dan membuat teecu menjelang pagi begini mengunjungi Suhu, melainkan juga lenyapnya kedua orang anak itu...."
"Apa....?"
Menteri tua itu menjadi terkejut.
"Seperti Suhu ketahui, Maya dan Siauw Bwee pulang lebih dulu diantar oleh Kam-susiok, akan tetapi ternyata kedua orang anak itu belum sampai ke rumah teecu dan tahu-tahu ada berita Kam-susiok mengamuk di taman Istana. Teecu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, maka teecu datang menghadap Suhu mohon petunjuk. Menteri Kam Liong mengelus jenggotnya dan menarik napas panjang berkali-kali. Khu Tek San mendengar gurunya berkata lirih.
".... mengapa.... mengapa....?"
Dan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan gurunya itu.
Memang yang mengerti hanya Menteri Kam Liong sendiri.
Di dalam hatinya ia merasa berduka dan bertanya mengapa keturunan keluarga Suling Emas selalu ditimpa kemalangan?
"Kita harus bersabar, Tek San.
Urusan Han Ki adalah urusan yang gawat dan biarlah besok aku menghadap Kaisar minta keterangan, dan akan kuusahakan agar aku dapat bertemu Han Ki dan bertanya tentang dua orang anak itu.
Aku harus membela Han Ki yang kabarnya masih belum tertangkap, sebaiknya sekarang juga aku melihat keadaan."
Khu Tek San mengerti betapa gurunya bingung dan berduka, maka ia cepat berkata.
"Harap Suhu tunggu saja di rumah karena kalau Suhu yang datang ke sana, tentu akan terjadi salah paham, disangka Suhu akan membantu Kam-susiok. Sebaiknya teecu saja yang menyelidiki ke sana dan melihat keadaan."
Menteri Kam Liong mengangguk-angguk dan membiarkan muridnya keluar.
Dia memang bingung sekali menghadapi urusan yang sulit itu.
Tidak membantu Han Ki tidak mungkin karena di antara semua keluarganya, hanya Han Ki seorang yang paling dekat.
Kalau membantu berarti ia terancam bahaya bermusuhan dengan istana!
Sampai Han Ki tertawan dan dimasukkan dalam penjara, Khu Tek San menyaksikan semua pertandingan itu.
Dia tidak berani turun tangan membantu, dan setelah mendapat kenyataan betapa Han Ki tertawan dan dijebloskan kamar tahanan, ia bergegas pulang ke rumah Menteri Kam untuk membuat laporan.
Menteri Kam Liong mengurut jenggotnya yang panjang, wajahnya agak pucat dan ia berkata lirih.
"Aku harus menolongnya! Harus membebaskannya, kalau perlu dengan mengorbankan diriku...."
"Suhu....!"
Tek San berseru kaget. Menteri Kam Liong memandang muridnya yang setia.
"Tek San, engkau muridku yang amat baik, seperti keluargaku sendiri, maka tak perlu aku menyimpan rahasia. Saudara-saudaraku cerai-berai tidak karuan, dan keturunan ayahku yang laki-laki hanya ada tiga orang, yaitu aku sendiri, mendiang Raja Khitan dan Han Ki. Raja Khitan telah tewas dan aku sendiri tidak berdaya menolong adikku itu. Aku sendiri sudah tua dan tidak mempunyai anak. Kalau Han Ki tewas, bukankah keluarga Kam akan kehilangan turunan? Aku harus menyelamatkan dia, apa pun yang akan menimpa diriku. Tentu saja aku akan mempergunakan jalan halus membujuk Kaisar untuk mengampuni Han Ki, akan tetapi apabila tidak berhasil, aku akan mempergunakan kekerasan membebaskannya. Juga kalau kedua orang anak perempuan itu benar-benar lenyap di luar pengetahuan Han Ki, aku akan mendatangi Suma Kiat dan demi Tuhan, sekali ini aku tidak akan segan-segan untuk memukul pecah kepalanya kalau sampai dia berani mengganggu Maya dan Siauw Bwee. Kau pulanglah!"
Dengan hati berat dan penuh kekhawatiran karena hal-hal yang amat tidak enak menimpa secara bertubi-tubi, Tek San lalu mengundurkan diri.
Puterinya hilang, paman gurunya ditawan, dan gurunya menghadapi kesukaran yang amat berat sedangkan dia sendiri tidak berdaya menolong!
Lebih gelisah lagi hati Khu Tek San setelah lewat tiga hari, tidak ada seorang pun di antara anak buahnya yang disuruh menyelidik mengetahui ke mana perginya dua orang anak perempuan itu!
Han Ki yang berhasil dihubungi Menteri Kam hanya menceritakan bahwa dia berpisah dengan dua orang anak itu yang pulang berdua, sedangkan dia langsung menuju ke taman istana sampai tertawan.
Ketika gurunya memanggilnya, Tek San mendapatkan gurunya itu menjadi kurus dan pucat.
Betapa hebat penderitaan batin menteri itu selama tiga hari ini.
"Tek San, aku gagal mintakan ampun untuk Han Ki. Bahkan Kaisar menetapkan hukuman mati untuk Han Ki yang dilaksanakanbesok. Si Bedebah Suma Kiat! Dialah yang membakar hati Kaisar sehingga, Han Ki tak dapat diampuni, bahkan Kaisar marah kepadaku mengapa tidak dapat mencegah perbuatan Han Ki yang mencemarkan nama baik keluarga Kaisar! Aku sudah mengambil keputusan, muridku. Malam ini, menjelang pagi, aku harus turun tangan membebaskan Han Ki dan kalau berhasil, aku akan pergi bersama dia menyusul ayahku di Go-bi-san. Aku hidup seorang diri, perbuatanku ini tentu akan menggegerkan, akan tetapi tidak ada keluargaku yang menderita akibatnya. Adapun tentang dirimu sebaiknya engkau mengundurkan diri saja setelah keributan yang kusebabkan mereda."
Tek San kaget sekali.
"Akan tetapi.... bagaimana dengan puteri teecu dan Maya?"
"Aku sudah mendatangi Suma Kiat dan dia bersumpah tujuh turunan bahwa dia tidak mencampuri urusan lenyapnya dua orang anak itu. Aku percaya kepadanya. Kurasa, orang-orang Yucen mengambil bagian, bahkan mungkin pelaku-pelaku terpenting atas hilangnya dua orang anak itu. Mungkin mereka hendak membalas penghinaan yang dilakukan dua orang anak itu di dalam pesta. Kalau aku sudah berhasil menyelamatkan Han Ki, aku sendiri yang akan mencari mereka, menyelidik di antara tokoh Yucen yang hadir pada malam hari itu.
"Suhu, teecu akan membantu Suhu menolong Susiok!"
Kam Liong terkejut dan memandang wajah muridnya yang berdiri tegak penuh keberanian.
Ia tidak ragu-ragu akan keberanian dan kegagahan muridnya, akan tetapi sekali ini, mereka bukan melakukan tugas demi kepentingan negara yang tidak perlu memperhitungkan untung rugi pribadi, melainkan melakukan urusan pribadi!
Tentu saja amat jauh bedanya.
"Jangan, Tek San. Urusan pada malam nanti adalah urusan pribadi. Aku tidak ingin melihat engkau terbawa-bawa dan keluargamu menjadi celaka karena keluarga kami. Biarlah kulakukan sendiri sehingga kalau gagal, tidak mengorbankan pula keselamatanmu."
"Maaf, Suhu. Mengapa Suhu berkata demikian? Teecu telah menerima budi besar dari Suhu, bahkan semua kemuliaan yang teecu nikmati sekarang ini adalah berkat pertolongan Suhu. Ketika teecu ditawan di perbatasan, kalau tidak muncul Kam-susiok yang menolong, tentu teecu sudah mati pula. Kini Kam-susiok membutuhkan bantuan, bagaimana teecu dapat tinggal diam saja? Apalagi melihat Suhu terjun ke dalam bahaya, masa teecu harus diam menonton saja? Tidak, teecu mohon agar diperbolehkan membantu Suhu. Dengan tenaga dua orang, kiranya akan lebih mudah menolong Kam-susiok."
"Akan tetapi.... keluargamu?"
"Siauw Bwee telah lenyap dan yang menjadi tanggungan teecu hanyalah isteri teecu. Hari ini juga teecu akan menyuruh dua orang kepercayaan teecu untuk mengantarkan isteri teecu lolos dengan diam-diam dari kota raja. Hal itu mudah dilakukan."
"Tapi.... ah, tugas malam nanti amat berbahaya, Tek San. Kalau ketahuan, tentu kita akan menghadapi pengeroyokan banyak sekali panglima yang pandai...."
"Justeru karena itulah maka sebaiknya kalau Suhu mengajak teecu. Biarpun kekuasaan Suhu lebih besar daripada teecu, karena memang pangkat Suhu lebih tinggi, akan tetapi sebagai seorang panglima, agaknya teecu dapat mempengaruhi para pengawal yang akan lebih taat pada seorang panglima daripada seorang menteri seperti Suhu. Ijinkan teecu pulang untuk mengatur kepergian isteri teecu keluar kota raja dan menentukan tempat yang akan dijadikan tempat sembunyi, kemudian teecu akan kembali ke sini untuk mengatur siasat malam nanti."
Karena maklum akan kekerasan hati muridnya yang amat setia dan gagah perkasa sehingga makin dilarang tentu makin penasaran, apalagi memang dia amat membutuhkan tenaga Tek San, akhimya Menteri Kam Liong hanya dapat mengangguk menyetujui.
Tek San menjadi girang dan cepat ia pulang ke gedungnya, berbisik-bisik mengatur kepergian isterinya, dengan isterinya yang berwajah pucat dan mata merah, karena terlalu banyak menangis memikirkan lenyapnya puteri mereka.
Hari itu juga, menjelang senja, nyonya Khu menyamar sebagai seorang wanita biasa, dikawal oleh dua orang pengawal kepercayaan Khu Tek San, keluar kota raja menuju ke selatan.
Tidak ada orang yang tahu akan hal itu, bahkan para pelayan di gedung itu sendiri tidak tahu!
Malam itu Menteri Kam dan Panglima Khu berunding di ruangan dalam, dan Menteri Kam memanggil pelayannya yang setia, pelayan yang juga dapat disebut sebagai muridnya karena pelayan ini amat tekun mempelajari ilmu silat yang dilihatnya setiap kali Menteri Kam, mengajar Tek San.
Pelayan ini bernama Gu Toan, semenjak kecil sudah cacat, tubuhnya, yaitu punggungnya bongkok dan wajahnya buruk.
Akan tetapi dia mempunyai kesetiaan yang amat luar biasa, dan pendiam namun cerdik sekali sehingga apa saja yang dilihatnya akan selalu teringat olehnya dan setiap perintah majikannya selalu dilakukan penuh ketaatan sehingga setiap perintah akan ia laksanakan dengan taruhan nyawanya!
"Gu Toan,"
Kata Menteri Kam kepada pelayannya yang memandang penuh duka karena ia maklum bahwa majikannya yang dijunjung tinggi, dihormati dan dikasihinya itu sedang menderita tekanan batin karena urusan yang amat hebat itu.
"Engkau sudah mendengar semua, bukan? Nah, malam nanti menjelang pagi aku akan melaksanakan rencanaku bersama Tek San. Kepadamulah kupercayakan untuk menyimpan peninggalanku, kitab-kitab yang sudah kubungkus itu. Hanya engkau seorang yang kupercaya untuk menyelamatkan benda-benda pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain karena aku khawatir sekali kalau-kalau ilmu keturunanku akan dipergunakan orang untuk perbuatan jahat."
"Hamba mengerti, Taijin."
"Dan sepergiku, engkau tidak boleh berada di gedung ini lagi, siap untuk menantiku di pintu gerbang sebelah selatan. Engkau mencari tempat sembunyi di sana, menanti aku dan membawa benda-benda pusaka itu. Kalau aku berhasil menolong Han Ki, tentu aku akan keluar dari pintu gerbang selatan itu dan engkau boleh pergi bersamaku. Akan tetapi kalau sampai pagi aku tidak muncul, berarti aku gagal dan kau boleh cepat-cepat memberi kabar ke Go-bi-san, kau carilah tempat pertapaan Ayah, Suling Emas dan ceritakan semua peristiwa yang terjadi di sini. Mengertikah?"
Pelayan setia itu mengangguk-angguk dan dua titik air mata menetes turun ketika ia menggerakkan kepala.
"Nah, kau berkemaslah,"
Kata Menteri Kam, diam-diam berterima kasih dan lega hatinya bahwa dia mempunyai seorang pelayan demikian setia.
Malam itu, guru dan murid ini tidak tidur.
Setelah makan minum, mereka berdua hanya duduk bersamadhi, mengumpulkan tenaga sambil menanti datangnya saat yang mereka tentukan, yaitu antara tengah malam dan pagi, waktu yang paling sunyi karena para penjaga pun sudah banyak yang tertidur dan sisanya tentu sudah mengantuk berjaga sampai hampir pagi.
Menjelang pagi, pada saat seluruh kota raja tertidur dan keadaan sunyi senyap, tampak tiga bayangan orang berkelebat keluar dari gedung Menteri Kam Liong.
Mereka itu bukan lain adalah Menteri Kam Liong sendiri, Panglima Khu Tek San, dan si bongkok Gu Toan yang membawa bungkusan besar di punggungnya yang berpunuk dan bongkok itu.
Setelah memberi hormat untuk terakhir kalinya kepada majikannya, Gu Toan memisahkan diri, membelok ke selatan dan terus berlari menuju pintu gerbang selatan.
Bagi dia tidaklah sukar untuk keluar dari pintu gerbang pada saat seperti itu karena ketika ia memperlihatkan surat perintah Menteri Kam kepada penjaga yang memandangnya dengan mata mengantuk, dia lalu dibukakan pintu gerbang dan berlarilah Si Bongkok ini keluar pintu gerbang, (Lanjut ke
Jilid 10) Istana Pulau Es (Seri ke 05
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 mencari tempat persembunyian di luar tembok kota raja di sebelah selatan, menanti dengan hati penuh gelisah.
Menteri Kam Liong dan muridnya bergerak cepat sekali, bayangan mereka melesat ke depan sehingga di malam gelap itu sukarlah mengikuti gerakan mereka dan kalau kebetulan ada yang melihat tentu tidak menduga bahwa berkelebatnya dua sosok bayangan itu adalah dua orang manusia.
Mereka mengenakan pakaian ringkas sungguhpun sengaja memakai pakaian kebesaran mereka.
Menteri Kam Liong memakai pakaian yang biasa ia pakai di rumah, dengan lengan baju lebar akan tetapi kedua celananya bagian bawah ditutup dengan sepasang sepatu kulit yang panjang menutupi betisnya.
Kepalanya diikat dengan kain pembungkus kepala ringkas sehingga biarpun pakaiannya adalah pakaian menteri, namun karena ringkas sederhana ia tampak sebagai seorang tokoh kang-ouw!
Adapun Khu Tek San memakai pakaian panglima, bahkan mengenakan baju perang yang terlindung kulit tebal di bagian bahu, dengan dada, perut dan kaki di bawah lutut.
Pedang panjang tergantung di pinggangnya.
Rambutnya tidak dibungkus, hanya diikat ke atas dengan sehelai sutera pengikat rambut.
Panglima dengan kumisnya yang meruncing ke kanan kiri ini kelihatan gagah perkasa!
Mereka berdua langsung memasuki daerah istana dari tembok belakang.
Tembok itu amat tinggi dan agaknya Khu Tek San takkan mampu melompatinya, apalagi dengan pakaiannya yang berat itu kalau gurunya tidak membantunya dengan dorongan kuat dari bawah.
Keduanya berhasil meloncat turun ke sebelah dalam dan mulailah mereka berjalan menuju ke bangunan penjaga di belakang istana yang terjaga ketat.
Tepat seperti yang diduga dan diperhitungkan Menteri Kam Liong, sebagian besar para penjaga tertidur pulas.
Sebagian lagi melenggut saking mengantuk, dan hanya ada belasan orang saja yang dapat bertahan, menjaga sannbil main kartu.
Melihat munculnya dua orang dari dalam gelap, mereka terkejut, akan tetapi mereka tidak jadi menyambar senjata atau berteriak ketika mengenal bahwa yang muncul adalah Panglima Khu Tek San dan Menteri Kam Liong.
Mereka yang tidak tidur atau mengantuk, cepat-cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada dua orang berpangkat itu.
"Maaf.... hamba.... hamba tidak tahu...."
Kepala pengawal berkata gugup, karena munculnya dua orang itu, terutama sekali Menteri Kam, benar-benar mengejutkan hatinya.
"Tak perlu ribut-ribut. Buka pintu untuk kami!"
Kata Panglima Khu dengan suara penuh wibawa.
"Bu.... buka pintu.... tapi.... hamba tak boleh...."
Kepala pengawal menjadi bingung memandang kepada pintu besi yang terkunci dengan gembok kuat sekali itu.
"Aku memerintahkan, dan di sini hadir pula Kam-taijin yang ingin memeriksa tawanan, engkau masih berani banyak cerewet?"
Panglima Khu membentak dan melangkah maju dengan sikap mengancam.
"Maaf.... hamba tidak membantah, Ciangkun.... hanya hamba telah dipesan oleh Suma-goanswe...."
"Bukalah!"
Kata Menteri Kam Liong dengan suara halus namun lebih mantap daripada suara Khu-ciangkun.
"Kalau ada kemarahan dari Suma-goanswe, aku yang bertanggung jawab."
Mendengar ini, penjaga itu tidak berani rewel lagi dan ia lalu membuka kunci pintu besi yang menghubungkan tempat penjagaan dengan bangunan penjara.
Menteri Kam dan Khu Tek San saling memberi tanda dengan kedipan mata, tubuh mereka bergerak seperti terbang menerjang para penjaga itu dan dalam beberapa detik saja para penjaga itu telah terpelanting roboh karena tertotok sehingga dipandang sepintas lalu keadaan mereka seperti kawan-kawan mereka yang tidur pulas.
Guru dan murid itu cepat memasuki pintu besi dan kembali mereka bertemu dengan serombongan penjaga di depan penjara.
Penjaga di situ ada sepuluh orang, akan tetapi yang masih berjaga hanya tiga orang saja.
Tanpa banyak cakap, selagi tiga orang ini memandang kaget dan bengong sehingga lupa memberi hormat, tiga kali lengan baju Menteri Kam mengebut dan tiga orang penjaga itu pun roboh "pulas"
Di tempatnya.
Setelah melampaui penjagaan-penjagaan dengan mudah, akhirnya mereka berdua tiba di depan kamar tahanan Han Ki dan melihat pemuda itu menggeletak pingsan di atas pembaringan batu dalam keadaan kaki tangan terbelenggu dan pingsan!
Ternyata bahwa luka-lukanya yang tidak dirawat, dan tiga hari tidak diberi makan minum, akhirnya membuat pemuda yang sudah tidak peduli akan keselamatannya itu pingsan!
Di depan pintu kamar tahanan ini terdapat dua orang penjaga yang berbeda dengan para penjaga di depan karena mereka ini adalah dua orang panglima kaki tangan Suma Kiat.
Begitu melihat munculnya Menteri Kam Liong dan Panglima Khu, dua orang itu meloncat kaget.
Seorang di antara mereka memutar golok menerjang Menteri Kam Liong dan yang seorang lagi meloncat ke sudut ruangan itu.
"Plak!"
Panglima muda yang menerjang Menteri Kam dengan pedangnya itu terbanting roboh dan pedangnya patah menjadi dua, sedangkan Panglima Khu yang melihat panglima ke dua lari ke sudut ruangan dan menarik sebuah tali yang tergantung di situ, cepat menubruk dan sekali pukul ia merobohkan panglima itu.
Akan tetapi terlambat.
Kiranya tali yang ditarik itu menghubungkan sebuah tempat rahasia dan terdengarlah bunyi berkerincing yang nyaring sekali.
Suara itu segera disusul oleh bunyi kentung tanda bahaya yang membangunkan semua penjaga sehingga mereka berteriak-teriak dan membunyikan tanda bahaya pula.
"Tek San! Cepat, kau pondong Han Ki, biar aku yang melindungimu keluar!"
Menteri Kam yang biasanya amat halus gerak-geriknya, kini dengan sikapnya meloncat ke depan, sekali renggut saja putuslah rantai yang mengikat pintu, mendorong daun pintu dan meloncat ke dalam kamar tahanan diikuti oleh muridnya.
Menteri Kam Liong kembali menggunakan jari-jari tangannya yang.
kuat, mematahkan belenggu kaki tangan Han Ki yang masih pingsan.
Dengan cepat Khu Tek San lalu memondong tubuh Han Ki yang lemas dan pada saat itu, terdengar bunyi alat tanda bahaya dipukul gencar di luar pintu kamar tahanan.
"Suma Kiat, engkau benar-benar orang yang tak tahu diri!"
Menteri Kam Liong membentak marah ketika melihat bahwa yang memukul tanda bahaya itu adalah Jenderal Suma Kiat yang sudah mengejar ke situ bersama pasukan panglima pilihan dari istana.
Kiranya Jenderal ini sudah menduga bahwa Menteri Kam tentu akan turun tangan sebagaimana yang diduga dan diharapkan, maka ia sengaja membiarkan pengawal biasa menjaga tempat tahanan, sedangkan dia sendiri bersama panglima-panglima pilihan yang berkepandaian tinggi menanti di dalam ruangan tersembunyi yang dihubungkan dengan tempat tahanan melalui sebuah tali.
Dia menempatkan dua orang panglima pilihannya secara bergilir di depan kamar tahanan dan begitu ada bahaya, mereka disuruh menarik tali itu.
Di ruangan tersembunyi, Jenderal Suma Kiat dan para panglima melakukan penjagaan secara bergilir sehingga menjelang pagi itu, begitu alat rahasia berbunyi, mereka semua dibangunkan dan menyerbu ke tempat tahanan!
"Ha-ha-ha, Kam Liong, sudah kuduga bahwa akhirnya engkau menjadi pemberontak juga!, Kalian terjebak seperti tiga ekor tikus, ha-ha-ha!"
"Tek San, ikuti aku!"
Kam Liong membentak sambil mencabut sepasang senjatanya yang ampuh dan menggiriskan hati semua lawannya, yaitu sebatang suling emas dan sebuah kipas!
Dengan gerakan kilat Kam Liong sudah keluar dari dalam kamar tahanan, diikuti oleh Tek San yang memanggul tubuh Han Ki dengan lengan kirinya sedangkan tangan kanannya sudah mencabut pedang, siap untuk membela Han Ki dan dirinya sendiri.
Setibanya di luar, Kam Liong sudah disambut serangan-serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Suma Kiat, Siangkoan Lee dan lima orang panglima kelas satu dari para tokoh pengawal Kaisar.
Melihat ini, makin gemas hati Kam Liong karena hadirnya pengawal-pengawal pribadi Kaisar ini membuktikan bahwa pengeroyokan ini telah direncanakan dengan seijin Kaisar sendiri!
Dia tahu bahwa panglima-panglima pengawal pribadi Kaisar adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi, hanya sedikit saja di bawah tingkat kepandaian Tek San, maka ia tahu bahwa keadaan mereka bertiga berbahaya sekali.
Cepat ia memutar sulingnya dan tampak sinar yang gemilang menyilaukan mata disusul bunyi nyaring beradunya senjata dan di antara tujuh buah senjata lawan yang mengeroyoknya, sebatang pedang dan sebatang golok terlepas dari pegangan pemiliknya!
Kam Liong membarengi tangkisannya dengan mengebutkan kipasnya ke arah muka mereka.
Kebutan ini mendatangkan angin dahsyat yang menyambar ke arah tujuh orang pengeroyok.
Saking hebatnya sambaran angin kipas, tujuh orang itu cepat mundur dan mereka memutar senjata melindungi tubuh mereka ketika kembali ada sinar kuning emas menyambar merupakan lingkaran sinar yang menyilaukan mata.
"Trangggg, tringg.... cringggg....!"
Kembali para pengeroyok berteriak kaget dan hanya Suma Kiat dan Siangkoan Lee saja yang mampu mempertahankan diri dengan tangkisan senjata mereka, sedangkan para panglima pengawal lainnya terhuyung ke belakang.
"Tek San, bawa dia lari, aku menjaga di belakang!"
Menteri Kam Liong berteriak sambil memutar suling emasnya menangkis datangnya sinar bekeredepan dari senjata-senjata rahasia yang dilepas oleh para pengawal.
Karena maklum bahwa kini pasukan pengawal yang menyerbu amat banyaknya dan kalau mereka tidak cepat-cepat dapat keluar dari kota taja tentu mereka terancam bahaya hebat, Khu Tek San mengerti akan maksud suhunya, maka ia pun lalu meloncat sambil memutar pedang melindungi tubuh Han Ki yang dipanggulnya.
Pemuda itu masih pingsan dan sama sekali tidak bergerak.
Hal ini amat merugikan, karena Tek San mengerti benar bahwa apabila pemuda perkasa ini tidak pingsan dan ikut melawan, agaknya tidaklah amat sukar bagi mereka bertiga untuk menyelamatkan diri lari keluar deri kota raja!
Sepak terjang Kam Liong dan Tek San menggentarkan hati para pengeroyok.
Kini Kam Liong tidak lagi berlaku sungkan karena dia maklum bahwa persoalannya menjadi gawat, persoalan mati atau hidup.
Dia mengerti bahwa kalau sampai mereka tertawan, tentu akan menerima hukuman mati dan yang lebih menggelisahkan hatinya adalah tercemarnya nama keluarganya sebagai pemberontak, demi keselamatan Han Ki, karena kalau kali ini mereka tertawan dan mati semua, akan habislah keturunan keluarga ayahnya.
Maka diputarnya senjata suling dan kipasnya dengan hebat menghadang para pengeroyok yang hendak mengejar Khu Tek San yang menggendong tubuh Han Ki yang masih pingsan.
Melihat betapa orang-orang yang dibencinya dapat lolos keluar dari penjara, bahkan kini telah menyerbu keluar dari dinding tembok istana, Suma Kiat marah sekali dan menambah jumlah pesukan, juga memerintahkan agar pasukan-pasukan keamanan dikerahkan untuk memblokir semua jalan keluar dari kota raja!
Sementara itu, dia sendiri memimpin para panglima yang makin banyak jumlahnya, tetap mengeroyok Kam Liong yang mengamuk bagaikan seekor naga yang bermain-main di angkasa, mengamuk sehingga kipasnya menimbulkan angin bersuitan dan suling emasnya merupakan gulungan sinar kuning emas yang menyambar ke sana ke mari.
Karena kini Kam Liong benar-benar meangamuk, bahkan hanya untuk membela diri namun terutama sekali untuk melapangkan jalan bagi Khu Tek San untuk menyelamatkan Han Ki, maka sinar suling emasnya mulai merobohkan para pengeroyok tanpa mengenal ampun lagi.
"Suma Kiat! Jika kau tidak ingin melihat kota raja banjir darah, biarkan kami pergi!"
Bentaknya berulang-ulang sambil mengamuk karena di dalam hatinya, menteri tua ini tidak senang harus membunuhi para pengawal.
Hal ini amat berlawanan dengan hatinya yang sebetulnya penuh kesetiaan kepada kerajaan.
"Pengkhianat dan pemberontak laknat! Tak mungkin kalian dapat meninggalkan kota raja dengan tubuh bernyawa!"
Suma Kiat membentak sambil menyerang lebih ganas lagi.
Kam Liong berduka dan juga marah sekali.
Dia terpaksa harus menjadi seorang pengkhianat dan pemberontak rendah, akan tetapi dia siap mengorbankan nyawa dan kehormatannya untuk menyelamatkan keturunan terakhir dan keluarganya.
"Aku dan muridku akan menyerahkan nyawa asal Han Ki kau bebaskan!"
Teriaknya pula.
Akan tetapi, baik Suma Kiat maupun temannya yang sebagian memang tidak suka kepada menteri yang setia dan jujur yang selalu menentang kelaliman para pembesar, malah mengurungnya dengan ketat.
"Tek San! Lari....!"
Kam Liong berteriak, mencurahkan tenaganya menerjang Suma Kiat.
Suma Kiat yang amat lihai itu kewalahan menghadapi sambaran sinar kuning emas dan dia tentu menjadi korban kalau saja lima orang temannya tidak melindunginya dengan tangkisan-tangkisan senjata mereka.
Enam orang itu sampai terpental ke belakang dan terhuyung-huyung ketika senjata mereka bertemu dengan sinar kuning emas yang amat kuat itu.
Kesemuanya ini dipergunakan Kam Liong untuk meloncat ke dekat Tek San, sinar sulingnya merobohkan tiga orang pengeroyok muridnya sehingga Tek San dapat melarikan diri.
Menteri tua yang sakti itu pun lalu mengejar dan melindungi larinya Tek San dari belakang.
"Wirrr.... wirrr....!"
Hujan anak panah mulai berdatangan, menyambar dari belakang, kanan dan kiri ke arah tiga orang pelarian itu.
Namun, pedang di tangan Tek San dan suling di tangan Kam Liong diputar cepat, meruntuhkan semua anak panah yang menyambar, juga kebutan kipas membuat anak-anak panah terlempar dan menyeleweng ke kanan kiri.
Mereka berdua menangkis sambil berlari terus menuju ke selatan karena mereka bermaksud melarikan diri keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Akan tetapi, dari segala sudut dan lorong di kota raja, berbondong-bondong muncul pasukan-pasukan yang menghujankan anak panah dan mengeroyok, seperti semut banyaknya sehingga usaha melarikan diri dua orang guru dan murid itu selalu terhalang dan sukar, hanya dapat maju dengan lambat.
"Kita harus dapat keluar sebelum terang cuaca!"
Kam Liong berkata kepada muridnya.
"Larilah cepat, biar aku yang menghadapi semua rintangan!"
Kam Liong bicara sambil melakukan gerakan, seperti burung garuda menyambar di sekeliling tubuh muridnya, dengan demikian merobohkan lima orang pengeroyok dan membuka jalan bagi murid-muridnya.
"Suhu....!"
Tek San berkata, suaranya menggetar dan pedangnya merobohkan dua orang pengeroyok.
"Hemm, bicaralah!"
Kam Liong berkata nyaring, suaranya penuh wibawa karena jago tua yang banyak pengalaman ini dapat menangkap keraguan dan kedukaan di dalam suara muridnya yang amat dikenalnya itu.
"Cet-cet cettt....!"
Belasan batang senjata piauw menyambar dari atas.
"Keparat!"
Kam Liong berseru, sulingnya diputar menangkis dan kipasnya berhasil menangkap atau menjepit tiga batang senjata piauw.
Kemudian sekali kipas digerakkan, tiga sinar meluncur menuju ke atas genteng rumah di pinggir jalan disusul jerit mengerikan dan robohnya dua orang pengawal dari atas genteng itu, dahi mereka "termakan"
Piauw mereka sendiri.
"Suhu.... kalau sampai gagal.... harap Suhu maafkan teecu....!"
Kam Liong merasa hatinya tertusuk karena keharuan.
Muridnya ini benar-benar seorang jantan yang mengagumkan, tidak mengecewakan menjadi muridnya.
Dalam keadaan seperti itu, Khu Tek San tidak mengkhawatirkan keselamatan nyawa sendiri yang terancam maut, melainkan berkhawatir kalau-kalau tugasnya akan gagal sehingga dia akan mengecewakan hati gurunya.
"Jangan cerewet! Cepat lari!"
Kam Liong membentak, akan tetapi biarpun dia membentak, muridnya dapat menangkap getaran suara penuh haru dan bangga sehingga besarlah hati Tek San, maklum bahwa kalau toh mereka gagal, gurunya tidak akan menyalahkan dia, atau jelas akan memaafkannya.
Maka ia pun berseru keras, pedangnya berkelebat merobohkan dua orang pengeroyok di depannya, disusul dengan luncuran tubuhnya yang meloncat tinggi melampaui kepala para pengeroyok dan lari secepatnya, memondong tubuh Han Ki yang pingsan.
"Kejar...."
"Tangkap....!"
"Bunuh mereka semua....!"
Teriakan terakhir ini keluar dari mulut Suma Kiat yang meninggalkan Kam Liong dan mengejar larinya Tek San!
Khu Tek San sedang berlari cepat ketika tiba-tiba ia mendengar suara angin senjata dari sebelah belakang.
Cepat ia miringkan tubuhnya dan menggerakkan pedang menangkis ke belakang, diputar melindungi tubuh belakang.
"Tring-tranggg....!"
Khu Tek San terkejut karena tangannya yang memegang pedang menjadi tergetar hebat. Cepat ia membalik dan menggerakkan pedang untuk menjaga diri.
"Suma Kiat, engkau orang tua yang tidak patut dihormat!"
Tek San membentak marah dan memutar pedangnya.
Suma Kiat adalah adik misan gurunya, akan tetapi dia mengerti betul bahwa pembesar ini selalu membenci dan memusuhi gurunya, bahkan dia tahu pula bahwa yang mengatur pengeroyokan kali ini pun sesungguhnya adalah Suma Kiat.
"Cringgg....!"
Dua batang pedang bertemu dan Tek San terhuyung mundur.Jangankan sedang memondong tubuh Han Ki dan sudah amat lelah karena terus menerus dikeroyok, biarpun tidak memondong tubuh orang dan dalam keadaan segar pun, tingkat kepandaian Khu Tek San tentu saja tidak dapat menandingi tingkat Suma Kiat yang sudah tinggi.
Suma Kiat memiliki kepandaian yang hebat dan aneh-aneh sehingga kiranya hanya Menteri Kam Liong seoranglah yang dapat menundukkannya.
Kini menghadapi Khu Tek San, Suma Kiat tertawa mengejek.
"Khu. Tek San, lebih baik menyerah dan menjadi tawanan daripada mampus dan menjadi setan penasaran di ujung pedangku. Berlututlah!"
"Suma Kiat, lebih baik seribu kali mati daripada berlutut dan menyerah kepada saorang seperti engkau!"
Khu Tek San berseru marah dan menyerang.
Sembil tersenyum-senyum mengejek Suma Kiat menggerakkan pedangnya dan dalam beberapa jurus saja Tek San sudah terdesak hebat.
Akan tetapi pedang Suma Kiat itu selalu mengancam tubuh Han Ki yang dipondong oleh Tek San dan hal inilah yang membuat Tek San menjadi bingung sekali, terpaksa selalu menangkis tanpa dapat balas menyerang.
Memang Suma Kiat amat cerdtk.
Dia maklum bahwa kalau Kam Liong dan Tek San sudah begitu nekat melarikan seorang tahanan istana, hal ini berarti bahwa guru dan murid itu sudah tidak mempedulikan lagi akan keselamatan diri mereka sendiri dan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menyelamatkan Han Ki.
Maka, kini dia menyerang Han Ki yang dipondong Tek San sehingga bekas panglima itu menjadi benar-benar repot sekali.
Ketika pedang Suma Kiat membacok ke arah kepala Han Ki yang bergantung di belakang pundak kanan Tek San, panglima ini cepat menagkis.
"Tranggg....!"
Pedang Suma Kiat yang terpental itu dilanjutkan ke bawah, membacok ke arah kaki Han Ki yang tergantung di depan tubuhnya.
Tek San terkejut sekali.
Karena ketika menangkis tadi pedangnya sendiri yang terpental maka kini tidak ada kesempatan lagi baginya untuk menggunakan pedang menangkis, sedangkan kaki Han Ki terancam bahaya.
Maka ia cepat menggerakkan tubuhnya mengelak dan pedang lewat menyambar ke bawah.
Dia dapat menyelamatkan kaki Han Ki, akan tetapi ujung pedang masih menyerempet pahanya sendiri yang kanan.
"Cett!"
Darahnya muncrat keluar dari luka di pahanya, namun tidak dirasakan oleh Tek San yang sudah membarengi dengan tusukan kilat ke dada Suma Kiat.
Ketika Suma Kiat mengelak dengan loncatan ke belakang karena tusukan itu berbahaya sekali, Tek San sudah meloncat pergi sejauh mungkin.
Dua orang panglima menghadangnya, akan tetapi sekali menggerakkan pedang menjadi gulungan sinar panjang, dua orang panglima itu memekik dan roboh terluka.
Tek San berlari terus.
"Keparat, hendak lari ke mana kau!"
Suma Kiat menggerakkan tangan kiri dan dua sinar merah meluncur ke arah Tek San.
Panglima perkasa ini terancam bahaya maut karena sinar itu adalah dua batang jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi), semacam senjata rahasia maut yang hebat, yang diwarisi oleh Suma Kiat dari ibunya.
Jarum-jarum ini kalau dilepas oleh tangan yang ahli seperti tangan Suma Kiat, meluncur cepat tanpa mengeluarkan suara dan sekali mengenai tubuh akan menyusup-nyusup dan racunnya akan terbawa oleh darah sehingga seketika korbannya akan tewas.
Dan saat itu, Tek San yang sudah terluka dan sedang berlari cepat tidak tahu bahwa tubuhnya terancam bahaya maut!
"Trik-trik!"
Dua buah jarum merah kecil itu runtuh dan sinar kuning emas menyambar ke arah Suma Kiat.
"Suhu, awas...."
Siangkoan Lee berseru dan Suma Kiat cepat membuang tubuhnya ke belakang terus bergulingan.
Untung bahwa Siangkoan Lee memperingatkan gurunya, nyaris dia menjadi korban suling emas yang ampuh.
Kiranya yang menolong Tek San adalah Kam Liong yang sudah berhasil membubarkan pengeroyokan atas dirinya yang dilakukan oleh Siangkoan Lee dan para panglima, menghadang menteri sakti ini, membantu muridnya.
"Tek San, lari....!"
Kembali Kam Liong berteriak dan Tek San sudah meloncat lagi sambil lari terus ke selatan.
Kam Liong mengikuti dari belakang sambil melindungi muridnya itu.
Biarpun dihadang, dikepung dan dihujani senjata-senjata rahasia, dikeroyok oleh puluhan orang banyaknya, guru dan murid ini tetap dapat maju terus ke selatan, merobohkan banyak sekali pengawal dan panglima.
Kota raja menjadi geger seolah-olah kedatangan serbuan pasukan musuh yang kuat dan banyak jumlahnya.
Ketika para penduduk mendengar bahwa kegegeran itu disebabkan oleh Menteri Kam Liong dan Panglima Khu Tek San yang melarikan tawanan, mereka menjadi ketakutan dan tidak berani keluar dari pintu, Diam-diam sebagian besar dari mereka berdoa untuk keselamatan Menteri Kam Liong yang dicinta dan disegani rakyat!
Panglima-panglima dan pembesar yang bersimpati kepada Menteri Kam Liong, merasa berduka dan gelisah sekali.
Mereka bersimpati kepada menteri itu, akan tetapi kalau menteri itu kini tiba-tiba menjadi pemberontak dan melarikan tawanan, bagaimana mereka berani mencampuri?
Mereka dapat dicap pemberontak dan malapetaka besar akan menimpa keluarga mereka.
Sinar matahari pagi telah menerangi bumi ketika akhirnya Kam Liong dan Tek San yang berlari sambil bertempur itu mendekati pintu gerbang selatan di mana telah berjaga seratus orapg perajurit, bahkan Suma Kiat, Siangkoan Lee dan puluhan orang panglima telah pula mendahului para pelarian ini memperkuat penjagaan di pintu gerbang ini!
"Tek San, saat terakhir yang menentukan telah tiba.
Kita mati atau selamat di sini!
Terowongan pintu gerbang itu sempit, tidak akan lebih dari dua puluh orang dapat mengepung kita di sana.
Kita membuka jalan darah, harus dapat memasuki terowongan.
Kau di depan terus langsung mendobrak dan membuka pintu, aku yang mempertahankan kejaran mereka dari belakang.
Cepat!"
Tek San terpincang-pincang, paha kanannya terluka dan punggungnya juga sakit tertusuk tombak pengeroyok, akan tetapi semua rasa nyeri tidak dipedulikan.
Sambil mengangguk ia memutar pedangnya, membuka jalan darah merobohkan empat orang panglima lalu memasuki terowongan pintu gerbang.
Menteri Kam Liong juga sudah terluka.
Ketika tadi ia dikeroyok oleh Siangkoan Lee dan belasan orang panglima, ia mengamuk, merobohkan belasan orang panglima dan puluhan orang perajurit pengawal, akan tetapi pundak kirinya kena totokan golok, dan kipasnya ketika menangkis lima pedang sekaligus, mematahkan semua pedang akan tetapi daun kipasnya terobek.
Biarpun demikian menteri tua putera pendekar sakti Suling Emas ini masih tetap kuat dan mengamuk terus dengan sepasang senjatanya yang mengerikan.
Suling emas di tangannya seolah-olah menjadi makin berkilauan "tercuci"
Darah puluhan orang lawan yang dirobohkannya, kipasnya yang robek menjadi dua itu seolah-olah menjadi makin lihai.
Akan tetapi, karena kini ia bergerak di depan mulut terowongan pintu gerbang, ia menghadapi pengeroyokan yang amat banyak.
Seluruh serbuan kini dia tahan seorang diri.
Di dalam hatinya, Menteri Kam Liong sudah mengambil keputusan nekat.
Ia akan mempertahankan mulut terowongan pintu gerbang itu sampai napas terakhir untuk memberi kesempatan muridnya melarikan Han Ki.
Dia sudah tua, tidak ada seorang pun keluarganya, maka kematian bukan apa-apa baginya, juga tidak akan menyedihkan hati orang lain.
Akan tetapi, muridnya belum begitu tua mempunyai anak isteri pula, sedangkan Han Ki masih seorang pemuda remaja.
Mereka itu harus hidup, dan dia rela mengorbankan nyawanya demi dua orang yang disayangnya itu.
Setelah merobohkan tiga orang penjaga lagi, yang merupakan orang-orang terakhir penjaga pintu gerbang, Khu Tek San terpincang-pincang menghampiri pintu gerbang.
Tenaganya sudah hampir habis dan darah yang mengucur dari luka di pahanya terlalu banyak, membuat ia menjadi lemas dan pandang matanya berkunang.
Adapun Kam Liong menghadapi pengeroyokan terlalu banyak orang, tidak sempat memperhatikan muridnya.
Dia seorang yang sakti, akan tetapi dia pun hanya seorang manusia dari darah daging sehingga melakukan pertempuran menghadap pengeroyokan orang-orang pandai terus menerus semenjak malam sampai pagi benar-benar amat melelahkan.
Apalagi setelah pundaknya terluka, maka dalam pengeroyokan terakhir yang merupakan pengepungan paling hebat ini, biarpun ia telah berhasil melukai pangkal lengan Suma Kiat dengan gagang kipasnya, merobohkan Siangkoan Lee yang patah tulang pundaknya karena pukulan suling, membinasakan banyak sekali pengeroyok lain, Namun kakek sakti ini sendiri menerima hantaman-hantaman yang cukup banyak, membuat ia terluka di beberapa tempat dan, seluruh tenaganya diperas hampir habis, napasnya terengah-engah dan pandang matanya menjadi kabur.
Khu Tek San dengan terengah-engah sudah dapat mendekati pintu gerbang.
Cepat ia mempergunakan tangannya untuk merenggut palang pintu, akan tetapi betapa kagetnya ketika pintu itu sama sekali tidak dapat dibukanya.
Palang pintu yang terbuat dari baja itu seolah-olah melekat atau berkerut.
Memang palang pintu itu amat berat, biasanya ditarik oleh empat orang penjaga.
Akan tetapi apa artinya bagi Khu Tek San benda seberat itu?
Biasanya, kekuatannya melebihi kekuatan sepuluh orang biasa.
Agaknya tanpa ia sadari, tenaganya sudah hampir habis, tubuhnya sudah lemas karena kehilangan darah dan kelelahan membuat dia hampir pingsan.
Hanya berkat semangatnya yang tak kunjung padam sajalah yang membuat orang gagah ini masih mampu bertahan selama ini.
Guru dan murid itu tidak pernah putus asa, apalagi sekarang setelah mereka tiba di pintu gerbang.
Sekali lolos dari pintu gerbang, akan lebih mudah bagi mereka untuk melarikan diri.
Dengan ilmu lari cepat mereka, hanya ada beberapa orang saja yang akan dapat mengejar mereka dan beberapa orang itu tentu saja tidak ada artinya baagi mereka berdua.
Setelah melakukan pertempuran selama setengah malam dan dapat tiba di pintu gerbang, hati guru dan murid ini sudah menjadi lega dan mulailah timbul harapan besar di hati mereka untuk akhirnya dapat lolos dengan selamat.
Akan tetapi, Kam Liong kurang memperhitungkan kelicikan dan kecerdikan Suma Kiat.
Biarpun sudah terluka dan merasa jerih untuk ikut mengeroyok kakak misannya yang benar-benar amat sakti itu, Suma Kiat masih memimpin pengepungan dan melihat betapa Khu Tek San sudah berusaha membuka pintu gerbang, hatinya menjadi gelisah sekali.
Suma Kiat juga sudah memperhitungkan bahwa kalau sampai mereka berdua itu berhasil keluar tembok kota raja, akan sukarlah mengejar dua orang yang berilmu tinggi itu.
Maka diam-diam ia lalu memberi perintah kepada pasukan pemanah yang pilihan untuk naik ke atas pintu gerbang, di bawah pimpinannya sendiri Suma Kiat menanti saat baik, selagi Khu Tek San berkutetan membuka palang pintu, dia memberi aba-aba.
Terdengarlah bunyi nyaring bercuitan ketika belasan batang anak panah meluncur dari atas menuju ke tubuh Han Ki dan Khu Tek San.
"Tek, San awas anak panah....!"
Kam Liong yang sudah mulai payah saking lelahnya itu masih sempat memperingatkan muridnya.
Tek San terkejut sekali.
Kalau tidak diperingatkan, tentu ia menjadi korban karena seluruh perhatian dan tenaganya ia kerahkan untuk membuka daun pintu gerbang.
Mendengar suara gurunya, cepat ia memutar pedang dan berhasil, menangkis runtuh semua anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya.
Akan tetapi, begitu semua anak panah runtuh dan Tek San dengan terengah-engah menghentikan gerakan pedangnya, tiba-tiba sebatang anak panah yang amat cepat meluncur datang, hampir tidak bersuara saking cepatnya dan tahu-tahu anak panah itu sudah menancap di leher kiri Khu Tek San.
Itulah anak panah yang dilepas hebat sekali, tepat dan kuat oleh tangan Suma Kiat sendiri!
"Suhu....!"
Khu Tek San berseru, pedangnya terlepas dan ia terhuyung ke depan.
Teriakan maut itu mengejutkan Kam Liong dan di luar kesadarannya, menteri sakti itu menengok dan seperti juga muridnya yang memandang terbelalak ke depan, ia pun memandang penuh keheranan karena tiba-tiba pintu gerbang yang tadi amat sukar dibuka oleh Khu Tek San itu kini telah terpentallebar dan tampaklah pemandangan di luar pintu gerbang yang amat aneh.
Puluhan orang perajurit penjaga seperti telah berubah menjadi arca, ada yang berdiri ada yang rebah, akan tetapi kesemuanya tidak bergerak dan hanya melotot memandang ke arah seorang kakek tua renta yang berdiri di depan pintu gerbang itu, menggandeng dua orang anak perempuan di kedua tangannya.
Dua orang anak itu adalah Maya dan Khu Siauw Bwee!
Pada saat itu, Kam Liong berteriak keras karena tiba-tiba sebatang tombak menusuk perutnya!
Tusukan maut yang dilakukan tepat sekali oleh seorang panglima, menggunakan kesempatan selagi Menteri Kam Liong menengok dan terkejut, bukan hanya menyaksikan muridnya yang terpanah lehernya, juga menyaksikan munculnya kakek tua renta yang amat aneh itu.
"Ayahhhh....!"
Khu Siauw Bwee menjerit melepaskan tangan Si Kakek dan lari masuk menubruk ayahnya yang sudah terjungkal sehingga tubuh Han Ki juga terlempar ke atas tanah.
"Pek-hu....!"
Maya menjerit ketika melihat Kam Liong terhuyung ke belakang dengan sebatang tombak menancap di perut hampir menembus punggung.
Akan, tetapi guru dan murid yang gagah perkasa itu tak dapat bertahan lama.
Setelah melihat Maya dah Siauw Bwee, keduanya memandang dengan wajah berseri, kemudian hampir berbareng, guru dan murid ini menghembuskan napas terakhir, ditangisi oleh dua orang anak perempuan itu.
Para panglima dan pengawal yang tadinya terbelalak dan terheran-heran menyaksikan munculnya kakek tua renta itu, kini sadar kembali dan mereka cepat bergerak maju hendak menyerang.
"Cukuplah pembunuhan-pembunuhan ini....!"
Tiba-tiba kakek tua renta itu berkata halus dan tubuhnya seolah-olah digerakkan angin melayang ke depan, ke dua tangannya dikembangkan dan pergelangan tangannya digoyang-goyang seperti orang mencegah.
Anehnya, dari kedua tangan itu menyambar angin halus yang amat kuat sehingga semua panglima dan pengawal yang menerjang maju itu terpelanting ke kanan kiri, ada pula yang terjengkang ke belakang, seolah-olah ada tenaga mujijat yang mendorong mereka mundur.
Dengan tenang, kakek itu menghampiri Maya dan Siauw Bwee, berkata lirih.
"Orang hidup mesti mati. Hal yang sudah wajar dan semestinya, mengapa ditangisi?"
Sungguh mengherankan, dua orang perempuan itu yang dilanda duka, terutama sekali Siauw Bwee yang melihat ayahnya tewas, seolah-olah lupa akan kedukaan mereka dan bangkit berdiri, memandang kakek itu dengan wajah sayu.
Kakek itu membungkuk, mengangkat tubuh Han Ki, disampirkan di atas pundaknya.
Pada saat itu terdengar teriakan yang diseling isak tangis dan dari luar pintu gerbang masuklah seorang laki-laki bongkok, langsung meloncat ke dekat jenazah Kam Liong, berlutut dan menangis.
Orang itu bukan lain adalah Gu Toan, pelayan dan juga murid Kam Liong yang amat setia.
Kakek tua renta itu mengangguk-angguk.
"Bahagialah orang yang memiliki kesetiaan seperti engkau. Akan tetapi, menangis tiada gunanya. Lebih baik urus jenazah majikanmu dan muridnya, kuburkan abunya di kuburan keluarga mereka,"
Gu Toan menengok dan begitu pandang matanya bertemu dengan pandang mata kakek itu ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek tua renta sambil berkata.
"Hamba mohon petunjuk."
Kakek itu tersenyum, menggerakkan tangan dan telapak tangannya menekan kepala Gu Toan.