Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Sakti 4

Eps 4 Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi mulutnya menjawab tanpa ragu.

"Tentu saja Lu-suci, Suhu."

"Tepat sekali Seng Bu. Oleh karena itu, kurasa engkau pun akan setuju kalau aku mengangkat suci-mu itu menjadi calon penggantiku, menjadi calon ketua Thian-li-pang, bukan?"

"Teecu setuju, Suhu."

Katanya sambil menunduk, karena dia harus menyembunyikan lagi tarikan sinis pada mulutnya.

"Melihat hubungan suci-mu dengan suhengmu Lauw Kin, kurasa mereka akan menjadi pasangan yang akan mampu me-mimpin Thian-li-pang. Dan engkaulah yang kuharapkan akan dapat membantu mereka. Maukah engkau berjanji untuk membantu mereka sekuat tenagamu, Seng Bu? Karena engkaulah orang ke dua yang kupercaya setelah suci-mu."

"Teecu berjanji akan membantu Lu-suci, Suhu."

"Bagus! Legalah hatiku sekarang dan besok kita mengadakan upacara besar, mengumpukan seluruh anggauta untuk mengumumkan pengangkatan Lu Sek menjadi calon ketua Thian-li-pang, Lauw Kin menjadi wakil ketua dan engkau menjadi pembantu utama. Nah, sekarang engkau boleh pergi."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi seluruh anggauta Thian-li-pang telah berkumpul di ruangan besar yang biasa dipergunakan untuk rapat dan juga berlatih silat.

Dibawah bimbingan Lauw Kang Hui, Thian-li-pang dalam lima tahun lebih ini sejak kematian Ouw Ban, telah kembali ke jalan benar.

Akan tetapi, banyak anggauta yang dikeluarkan dan disaring sehingga kini hanya mempunyai sedikit saja.

Namun, seluruh anggauta itu merupakan orang-orang gagah yang berwatak pendekar dan juga yang berjiwa patriot.

Para anggauta yang langsung menjadi murid-murid Lauw Kang Hui hanya ada belasan orang.

Yang terutama di antara mereka tentu saja adalah Lu Sek, Lauw Kin, dan Seng Bu.

Para murid lain memiliki tingkat yang lebih rendah dari tiga orang ini, walaupun tentu saja mereka jauh lebih lihai daripada para anggauta biasa yang hanya mempelajari ilmu silat Thian-li-pang dari para murid ini.

Selama ini, Lauw Kin yang mewakili pamannya, juga gurunya dan ketuanya, untuk membimbing para angauta dalam berlatih silat.

Lu Sek mewakili ketua untuk urusan luar Thian-li-pang.

oleh karena itu, desas-desus tentang akan diangkatnya kedua orang ini menjadi ketua dan wakil ketua, diterima olah para anggauta Thian-li-pang dengan wajar dan gembira karena memang selema ini kedua tokoh itulah yang aktif mewakili sang ketua yang sudah lanjut usia itu mengurusi Thian-li-pang bagian luar dan bagian dalam.

Ketika Lauw Kang Hui keluar dari dalam, seluruh anggauta Thian-li-pang sudah berkumpul dan tiga belas orang murid ketua itu pun sudah berada di situ, paling depan dan mereka semua segera bangkit berdiri ketika Lauw-pang-cu muncul.

Setelah menerima penghormatan semua murid dan anggauta Thian-li-pang, Lauw Kang Hui duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.

Setelah duduk, dia pun memberi isyarat kepada tiga belas orang muridnya yang mengambil tempat duduk di bangku yang tempatnya lebih rendah, sementara itu para anggauta Thian-li-pang tetap berdiri dengan rapi.

Suasana menjadi hening karana semua anggauta tidak berani mengeluarkan suara, siap menanti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka.

Juga para murid duduk dengan sikap tenang dan patuh.

"Para murid dan anggauta Thian-li-pang semua, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan dan laksanakan dengan patuh. Seperti kalian ketahui, lebih lima tahun sejak Sin-ciang Tai-hiap Yo Han menyerahkan kepemimpinan Thian-li-pang kepadaku, telah terjadi banyak perubahan. Biarpun dalam hal perjuangan kita belum dapat berbuat banyak, namun kita telah mampu membelokkan arah kemudi dan kembali ke jalan benar sebagai perkumpulan yang membela kebenaran dan keadilan, sesuai dengan apa yang diinginkan Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi, sekarang aku telah semakin tua, usiaku sudah tujuh puluh empat tahun sudah kekurangan semangat. Sudah lama kita, menanti-nanti datangnya Yo-taihiap, akan tetapi dia tidak kunjung datang. Oleh karena itu, sekarang aku akan menentukan pilihanku, untuk mengangkat calon-calon pimpinan Thian-li-pang sehingga kalau sewaktu-waktu aku mati, tidak akan terjadi kekacauan karena tidak ada pimpinan. Sementara itu, andaikata nanti Yo-taihiap datang dan tidak setuju dengan pilihanku, maka tentu saja calon yang kupilih dapat saja diganti sesuai dengan kehendak Yo-taihiap. Setujukah kalian semua?"

Serentak seratus orang lebih itu menyambut dengan suara penuh semangat.

"Setujuuuuu....!!"

Sambil tersenyum gembira atas sambutan meriah itu, Lauw-pang-cu mengangkat tangan minta agar semua orang diam, lalu dia melanjutkan dengan suara gembira.

"Bagus! Nah, sekarang hendak kuumumkan siapa yang kupilih menjadi calon pimpinan Thian-li-pang yang akan menggantikan aku sewaktu-waktu kukehendaki atau sewaktu-waktu aku meninggalkan dunia. Pertama, yang akan menjadi ketua adalah muridku Lu Sek. Biarpun ia seorang wanita, namun tingkat kepandaiannya adalah yang paling tinggi di antara kalian semua. Pula, ia sudah berpengalaman dan sudah biasa mewakili aku. Adapun yang menjadi wakilnya kutetapkan murid dan juga keponakanku Lauw Kin. Sedangkan pembantu utama mereka adalah muridku Ouw Seng. Kalau memang kelak dibutuhkan, ketua boleh mengangkat para pembantu lainnya. Setujukah kalian? Kalau ada yang tidak setuju, boleh mengajukan pendapatnya!"

Akan tetapi, tak seorang pun yang menolak dan kembali mereka berseru menyatakan persetujuan mereka.

Upacara sembahyang untuk mengesahkan pengangkatan calon pimpinan Thian-li-pang segera dilakukan seperti yang telah menjadi kebiasaan perkumpulan itu.

Setelah upacara sembahyang dilakukan, para anggauta dipersilakan bubaran dan kembali ke tempat masing-masing melakukan tugas sehari-hari.

Akan tetapi, tiga orang pimpinan baru itu masih ditahan oleh Lauw Kang Hui untuk diberi pengarahan dan nasihat-nasihat.

Dalam kesempatan ini, Lauw Kang-hui minta kepada tiga orang muridnya itu untuk mulai membawa Thian-li-pang pada cita-cita semula, yaitu menggulingkan pemerintah penjajah Mancu.

"Pemerintah penjajah Mancu amat kuat, tentu saja dengan jumlah anggauta kita yang hanya seratus orang lebih, tidak mungkin kita akan mampu melawan bala tentara Mancu. Kita harus dapat menghimpun kekuatan dengan mengajak rakyat jelata untuk menentang penjajah, dan terutama sekali harus bersatu dengan para perkumpulan pejuang lain. Aku ingin sekali mendengar berita dari Thio Cu yang kuutus sebagai wakil Thian-li-pang mengunjungi pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai karena kalau benar Pao-beng-pai merupakan perkumpulan anti penjajah, kita boleh bersekutu dengan mereka. Akan tetapi kalau Pao-beng-pai hanya merupakan perkumpulan penjahat yang berkedok perjuangan seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, kita tidak perlu mendekati mereka."

Mendengar ucapan gurunya itu, Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk-angguk setuju, akan tetapi diam-diam Ouw Seng Bu tidak senang hatinya.

Dia berpendapat bahwa itulah kekeliruan Thian-li-pang maka sampai sekarang tidak memperoleh kemajuan, seperti ketika masih dipegang pimpinannya oleh mendiang ayahnya.

Dahulu, Thian-li-pang terkenal dengan keberaniannya, bahkan beberapa kali mencoba untuk membunuh kaisar dan para pangeran Mancu sehingga Thian-li-pang ditakuti dan terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih.

Akan tetapi sekarang, Thian-li-pang hanya tinggal namanya saja.

Yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu, dan untuk itu, semua kekuatan harus dikerahkan, tidak peduli dari golongan manapun juga.

Biar penjahat, maling dan perampok sekalipun, kalau memang mau harus diajak untuk menentang penjajah, harus dianggap kawan seperjuangan.

Juga dia mempunyai pendapat bahwa sesungguhnya, dialah yang paling berhak untuk memimpin Thian-li-pang, bukan saja karena dia memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka semua, melainkan terutama sekali karena dialah keturunan ketua yang dulu.

Kalau dia yang menjadi ketua, dia akan membuat Thianli-pang menjadi perkumpulan pejuang yang paling hebat.

Siapa tahu, di tangan dialah penjajah Mancu dapat digulingkan, dan bukan mustahil pula, kalau dia telah menjadi jagoan nomor satu di dunia, yang paling lihai di antara semua tokoh persilatan, memiliki pengikut yang paling besar, Setelah penjajah roboh, dia yang akan diangkat menjadi kaisar baru!

Cita-cita ini muncul dalam hati Ouw Seng Bu semenjak dia mempelajari ilmu rahasia di dalam gua bawah tanah.

Selagi empat orang pimpinan Thian-li-pang itu berbincang-bincang, muncullah Thio Cu yang baru saja pulang dari perjalanan mengunjungi Pao-beng-pai bersama beberapa orang saudaranya.

Kedatangannya tentu saja disambut oleh para anggauta Thian-li-pang.

Thio Cu sendiri setelah mendengar bahwa Lauw Pang-cu berada di ruangan besar bersama tiga orang yang baru saja dipilih menjadi calon pimpinan baru, segera pergi menghadap, sedangkan kawan-kawannya sibuk menceritakan apa yang mereka alami dalam pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai.

Lauw Kang Hui gembira sekali ketika melihat Thio Cu datang menghadap.

"Aih, baru saja aku membicarakan engkau, Thio Cu,"

Kata kakek itu kepada Thio Cu yang menjadi seorang di antara murid-muridnya.

"Cepat ceritakan bagaimana keadaan Pao-beng-pai, siapa ketuanya dan bagaimana keadaannya. Kuatkah mereka? Apakah mereka itu perkumpulan pejuang aseli seperti kita? Dan apa yang terjadi dalam pertemuan itu?"

"Banyak hal menarik yang terjadi di sana, Suhu, juga hal yang aneh-aneh. Ketua Pao-beng-pai bernama Siangkoan Kok, kabarnya dia keturunan dari keluarga kaisar Kerajaan Beng-tiauw. Isterinya bernama Lauw Cu Si, nama keturunaannya sama dengan Suhu, dan kabarnya ia adalah keturunan dari partai Beng-kauw yang telah hancur. Ilmu kepandaian mereka tinggi sekali, Suhu. Teecu (murid) menyaksikan sendiri betapa ketua Pao-beng-pai itu dalam beberapa jurus saja mengalahkan Thian Ho Sianjin bersama tiga orang tokoh lain yang maju berbareng mengeroyoknya...."

"Wahhh....! Maksudmu Thian Ho Sianjin ketua Pat-kwa-pai?"

Tanya Lauw Kang Hui terkejut.

"Benar, Suhu!"

Lauw Kang Hui terbelalak.

Dia sendiri tidak akan mampu mengalahkan ke tua Pat-kwa-pai itu, dan sekarang, Thian Ho Sianjin dibantu tiga orang kawannya kalah oleh Siangkoan Kok dalam beberapa jurus saja!

"Bahkan kemudian, Kui Thian-cu, tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal pandai bermain pedang itu, dikalahkan dengan mudah oleh puteri ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Eng.

Beberapa orang tokoh yang maju menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai, semua juga dikalahkan dengan mudah."

"Bukan main!"

Seru Lu Sek yang juga tertegun seperti gurunya mendengar kehebatan pimpinan Pao-beng-pai.

Diam-diam Ouw Seng Bu juga kagum sekali dan timbul keinginan hatinya untuk mengenal lebih dekat keluarga Siangkoan yang amat lihai itu.

Mampukah dia menandingi mereka?

"Bagaimana dengan para wakil perguruan-perguruan silat besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain?"

Tanya pula Lauw Pangcu semakin tertarik.

"Empat partai besar itu dianggap sebagai tamu kehormatan dan dipersilakan duduk di kursi-kursi kehormatan sejajar dengan ketua Pao-beng-pai. Perkumpulan itu mengajak semua aliran baik dari partai bersih maupun golongan sesat, untuk bersama-sama menggulingkan pemerintah penjajah Mancu...."

"Tepat sekali!"

Tiba-tiba Ouw Seng Bu berseru nyaring sehingga mengejutkan semua orang yang mengenalnya sebagai seorang pemuda yang biasanya pendiam.

"Apanya yang tepat, Seng Bu? Apa maksudmu?"

Tanya Lauw Kang Hui dan wajah Seng Bu berubah merah.

Dia menyesali diri sendiri kenapa tidak dapat menahan diri.

Akan tetapi berkat kecerdikannya yang luar biasa, dia sudah mampu menguasai dirinya dan menyediakan jawaban yang tepat.

"Maksud teecu, perkumpulan yang kuat seperti Pao-beng-pai itu tepat sekali untuk dijadikan sekutu menentang penjajah, bukankah begitu Lu-suci dan Suheng?"

Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk, akan tetapi Lauw Kang Hui menarik napas panjang.

"Belum tentu. Kita harus mengenal benar keadaan mereka. Lalu apa pula yang terjadi di sana, Thio Cu?"

"Ada peristiwa yang pasti akan mengejutkan hati Suhu. Teecu melihat Sin-ciang Tai-hiap Yo Han berada pula di sana."

"Ahhh....!!"

Seruan ini keluar dari mulut keempat orang itu. Berita ini benar-benar merupakan kejutan besar.

"Apa yang dilakukan Pendekar Tangan Sakti di sana? Ceritakan, Thio Cu, ceritakan!"

Kata Lauw Kang Hui, tertarik sekali.

"Yo-taihiap termasuk mereka yang ingin menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai. Kui Thian-cu dari Pek-lian-kauw mengenalnya dan memaki Yo-taihiap sebagai iblis dari Thian-li-pang. Teecu lalu maju membelanya, mengatakan bahwa Yo-taihiap adalah pemimpin Thian-li-pang. Kemudian, Yo-taihiap memperkenalkan diri kepada pimpinan Pao-beng-pai bahwa dia memusuhi pemerintah Mancu, juga dia memusuhi tiga keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman. Juga dia mencela empat partai besar sebagai para pendekar yang tak bersemangat, tidak mau menentang penjajah. Celaannya memarahkan Ciong Tojin dari Kun-lun-pai dan Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai, akan tetapi Yo-taihiap menantang mereka. Dua orang pendeta itu mengeroyoknya, akan tetapi mereka kalah! Kemudian Hoat Cinjin dari Go-pi-pai mengenal Yo-taihiap sebagai Sin-ciang Tai-hiap. Ketua Pao-beng-pai tertarik dan dia sendiri turun tangan menguji kepandaian Yo-taihiap. Mereka mengadu sin-kang dan agaknya mereka sama-sama kuat, sehingga Siangkoan Kok menerima Yo-taihiap sebagai tamu agung dan sahabat yang akan bekerja sama."

Semua orang mendengarkan cerita itu dengan hati tertarik.

Kalau tadi mereka kagum terhadap keluarga ketua Pao-beng-pai, kini mereka kagum dan bangga pula terhadap Yo Han yang mereka anggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang.

"Kalau begitu, Yo-taihiap hendak membawa Thian-li-pang agar bekerja sama dengan Pao-beng-pai?"

Tanya Lauw Kang Hui.

"Teecu tidak mengerti, Suhu. Ada yang aneh dalam sikap Yo-taihiap. Ketika teecu pada waktu semua tamu berpamitan, bertanya kepadanya kalau teecu dapat membantunya dia menyuruh teecu cepat-cepat pergi dan mengatakan agar teecu tidak mencampuri urusan pribadinya di sana."

"Urusan pribadi?"

Lauw Kang Hui bertanya heran.

"Suhu, kalau begitu, tentu Yo-taihiap tidak bermaksud untuk bergabung dengan Pao-beng-pai untuk urusan perjuangan. Mungkin dia hendak minta bantuan Pao-beng-pai untuk menghadapi musuh-musuhnya, dan kalau teecu tidak salah dengar, tadi Thio-suheng mengatakan bahwa dia memusuhi para pendekar dari tiga keluarga benar."

Kata Seng Bu.

"Hemmm, mungkin pendapatmu itu benar, Seng Bu. Bagaimana pendapatmu, Thio Cu? Engkau melihat semua peristiwa di sana, tentu lebih tahu."

"Teecu kira pendapat sute Seng Bu tadi benar. Ketika memperkenalkan diri, Yo Taihiap juga menyatakan bahwa dia amat membenci dan memusuhi dua orang, yaitu Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya yang bernama Can Bi Lan, masih bibi-guru sendiri dari Yo-taihiap. Dia mengatakan bahwa ayah ibunya tewas karena kedua orang itu dan dia mendendam kepada mereka."

"Jelas bahwa Yo-taihiap memang hendak mengurus persoalan pribadi maka kita pun tidak boleh tergesa-gesa bekerja sama dengan Pao-beng-pai,"

Kata Lauw Kang Hui.

"Akan tetapi, Suhu, bukankah kalau kita bekerja sama dengan perkumpulan yang kuat itu, maka perjuangan kita akan menjadi lebih berhasil?"

Seng Bu bertanya dengan nada memrotes.

"Sute, engkau tahu apa? Kita harus mentaati Suhu dan juga menunggu isyarat dari Yo-taihiap."

Lu Sek menegur sutenya dengan alis berkerus. Seng Bu menghela napas.

"Baik maafkan aku, Suci. Oya, Suci, kemarin Suhu memberi petunjuk agar aku mengajak Suci untuk menjadi lawan berlatih agar ilmu-ilmu yang sedang kulatih dapat memperoleh kemajuan."

Dia mengalihkan perhatian.

"Aih, Sute. Thio-suheng sedang bercerita tentang pengalamannya, engkau malah membicarakan urusan latihan."

"Maaf, aku takut lupa...."

Lauw Kang Hui tertawa.

"Ha-ha-ha, memang benar, Lu Sek. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi pasangannya berlatih. Dan hanya engkau yang dapat melayaninya."

Lu Sek mengangguk dan mengerti.

Ia tahu apa yang dimaksudkan oleh sutenya dan suhunya.

Memang, dua macam ilmu silat guru mereka, yaitu Tok-jiuaw-kang dan Kiam-ciang, hanya diajarkan kepada dia dan sutenya saja.

Selain guru mereka, hanya mereka berdua yang dapat memainkan ilmu itu, maka tentu saja hanya mereka berdua yang dapat menjadi pasangan berlatih.

"Baik, kita bicarakan soal latihan itu lain hari saja, Sute."

Katanya kepada Seng Bu yang mengangguk sambil tersenyum.

Thio Cu melanjutkan ceritanya tentang pengalamannya di pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai itu.

Akan tetapi tidak ada yang menarik lagi bagi para pendengarnya karena yang menarik bagi mereka hanyalah tentang Yo Han dan tentang keluarga Siangkoan.

Tentu saja Thio Cu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda bernama Cia Ceng Sun yang dia ceritakan itu sesungguhnya adalah seorang pangeran Mancu!

Kalau saja dia tahu dan menceritakan hal itu, sudah pasti peristiwa dan kenyataan ini akan menarik perhatian para pendengarnya.

Demikianlah, mulai hari ini, walaupun mereka belum ditunjuk sebagai ketua dan wakil ketua secara resmi, baru dicalonkan, namun Lu Sek dan Lauw Kin makin berkuasa di Thian-li-pang, sedangkan Lauw Kang Hui hanya menjadi penasihat saja, walaupun dia masih disebut dan dianggap sebagai ketua.

Ouw Seng Bu menyelinap ke dalam hutan di kaki Bukit Naga itu, lalu dia duduk di atas batu besar.

Belum sepuluh menit dia duduk, terdengar gerakan orang dan dia pun cepat menoleh ke arah suara itu.

Muncul seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya penuh brewok.

"Paman Su, engkau sudah datang? Bagaimana kabarnya?"

Tanya Seng Bu tanpa turun dari batu besar.

Laki-laki itu adalah seorang anggauta Thian-li-pang dan dia pun cepat maju menghampiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

"Ouw Kongcu (Tuan Muda Ouw), aku membawa kabar baik. Pek Sim Siansu sendiri yang mengirim salam untuk Kongcu dan sebagai tanda persahabatan beliau mengirimkan benda ini kepada Kongcu, dengan harapan agar pertengahan bulan depan Kongcu suka memenuhi undangannya. Kunjungan Kongcu akan disambut dengan gembira."

Tiba-tiba Seng Bu melirik ke arah kanan.

Dia mendengar gerakan orang, walaupun gerakan itu hampir tak bersuara.

Dia tahu bahwa ada orang mengintai dan mendengarkan percakapannya dengan orang itu.

Jantungnya berdebar tegang.

Celaka, pikirnya.

Su Kian adalah bekas kepercayaan mendiang ayahnya, dan sampai sekarang tetap setia kepada ayahnya, walaupun dia telah menjadi anggauta Thian-li-pang yang ikut bersumpah untuk kembali ke jalan benar dan taat kepada ketua Lauw.

Su Kian merupakan satu-satunya orang yang dipercayanya, dan yang siap membantu agar dia dapat menguasai Thian-li-pang dan memimpin perkumpulan ini seperti mendiang ayahnya dahulu, Melanjutkan perjuangan ayahnya menentang kerajaan Mancu secara kekerasan.

Dan dia telah mengutus Su Kian untuk menghubungi Pek-lian-kauw dan menceritakan kepada pimpinan Pek-lian-kauw akan niatnya untuk bekerja sama setelah dia dapat menguasai Thian-li-pang seluruhnya.

Biarpun dia tahu bahwa ada orang yang memiliki kepandaian tinggi mengintai dan menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian, juga mendengar percakapan mereka tadi, namun Seng Bu bersikap tenang dan mendengarkan laporan Su Kian sampai habis, bahkan dia menerima benda pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadanya.

Ketika buntalan kain kuning itu dibuka isinya adalah sebuah mainan terbuat dari batu giok yang berbentuk seekor naga!

Indah sekali dan tentu berharga mahal bukan main.

Tiba-tiba Seng Bu melemparkan benda indah dan mahal itu ke atas tanah dan dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Su Kian sambil memaki dengan suara nyaring dan marah.

"Su Kian, berani engkau membujuk aku untuk menerima uluran tangan Pek-lian-kauw? Engkau pengkhianat, sepantas-nya engkau dibunuh!"

Tangannya bergerak cepat sekali dan Su Kian yang terbelalak matanya dan ternganga mulutnya itu tidak sempat mengelak, menangkis atau bahkan mengeluarkan suara apa pun.

Totokan itu cepat datangnya dan dia pun terpelanting lemas.

Pada saat itu, muncul sesosok bayangan berkelebat.

dan Lu Sek sudah berdiri di sana, diikuti Lauw Kin dan di belakang mereka masih nampak bayangan beberapa orang berkelebat.

Seng Bu hanya mengerling saja dan melihat bahwa yang muncul adalah belasan orang saudara seperguruannya dipimpin oleh Lu Sek, tangannya kembali bergerak ke depan, mencengkeram ke arah kepala Su Kian dan orang itu pun tewas seketika terkena cengkeraman Tok-jiauw-kang.

Mukanya membiru.

"Sute, kenapa engkau membunuhnya?"

Lu Sek melompat dekat dan menegur Seng Bu. Seng Bu mengerutkan alisnya, nampak marah sekali.

"Pengkhianat ini layak dibunuh seratus kali!"

Katanya.

"Suci, dia mengkhianati kita, mengadakan hubungan dengan Pek-lian-kauw, bahkan membujuk aku untuk bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Lihat, dia hendak menyampaikan pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadaku!"

Dia membungkuk dan mengambil mainan berbentuk naga dari batu giok tadi dan sekali mengerahkan tenaga menjempit benda itu di antara kedua tangannya, benda itu pun remuk berkeping-keping dan dilemparkan ke atas tanah dengan pandang mata muak.

Lu Sek masih mengerutkan alisnya dan kini semua murid ketua Thian-lipang sudah berada di situ, menghadapi Seng Bu dengan setengah lingkaran.

"Aku sudah mendengarnya. Akan tetapi, kenapa engkau membunuhnya padahal tadi engkau sudah merobohkannya dengan totokan?"

Tanya pula Lu Sek dengan sinar mata penuh selidik, sedangkan para tokoh Thian-li-pang lainnya memandang kepada pemuda itu.

Seng Bu memandang ke arah mayat Su Kian dengan alis berkerut.

Dia marah dan kecewa sekali harus membunuh pembantunya yang paling dipercayanya itu.

Terpaksa dia membunuhnya karena yang menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian terlalu banyak.

Tak mungkin dia membunuh belasan orang ini untuk menutupi rahasianya.

Tadi pun dia sudah sengaja menotoknya untuk melihat siapa yang muncul setelah melakukan pengintaian.

Kalau hanya satu dua orang saja yang mengintai, tentu dia akan membunuh mereka dan memulihkan pembantunya.

Akan tetapi yang muncul belasan orang sehingga dia terpaksa dengan hati berat, cepat membunuh Su Kian untuk membungkamnya dan menyimpan rahasianya.

"Suci, tadinya aku ingin menangkapnya dan menyeretnya ke depan Suci. Akan tetapi melihat Suci sudah datang, aku tidak dapat menahan kemarahanku dan membunuhnya!"

"Hemmm, memang dia pantas dibunuh, akan tetapi kenapa begitu tergesa-gesa? Semestinya engkau membiarkan dia hidup agar dia dapat membuat pengakuan dan kita dapat membongkar semua rahasianya, sampai berapa jauh dia melakukan pengkhianatan dan hubungan dengan Pek-lian-kauw. Sekarang, dia telah mati, tentu kita tidak mendapatkan keterangan yang berharga."

Melihat suci-nya menegurnya, Seng Bu menundukkan mukanya.

"Maafkan aku, Suci, dalam kemarahanku, aku tidak ingat lagi akan hal yang penting itu. Akan tetapi, sebelum aku membunuhnya, dia tadi sudah menceritakan betapa dia mengadakan hubungan dengan pimpinan Pek-lian-kauw dan betapa Pek-lian-kauw ingin menyambung kembali hubungannya dengan kita seperti dahulu, mengajak kita bekerja sama menghadapi penjajah. Bahkan dia membujukku dengan hadiah naga kemala yang katanya diberikan kepadaku oleh Pek Sim Siansu ketua Pek-lian-kauw."

"Sudahlah, Sute. Kalau kita bekerja sama dengan Pek-lian-kauw, mereka hanya akan menyeret para anggauta kita ke dalam jalan sesat, melakukan kejahatan demi keuntungan diri sendiri dengan kedok perjuangan. Su Kian telah menjadi pengkhianat, dan dia sudah terhukum mati. Akan tetapi, satu hal yang membuat aku tidak senang, kenapa engkau melupakan pesan Suhu, Ouw-sute? Lupakah kau akan pesan Suhu tentang penggunaan Tok-jiauw-kang? Kenapa engkau mempergunakan ilmu itu untuk membunuhnya? Dengan pukulan biasa pun engkau akan sanggup membunuhnya."

Sikap dan ketegasan dan suara sucinya membuat Seng Bu diam-diam merasa tersinggung.

Hemmm, baru saja diangkat menjadi calon ketua, sudah begini tinggi hati dan angkuh, pikirnya.

Akan tetapi dia menunduk menyembunyikan pandang matanya, mengambil sikap mengalah dan mengaku salah.

"Maaf, Suci. Karena marah aku menjadi mata gelap dan tidak ingat mempergunakan ilmu itu. Karena belum menguasai ilmu itu dengan sempurna maka aku kelepasan tangan."

Tentu saja ucapan ini sama sekali bohong, akan tetapi menyenangkan hati Lu Sek yang merasa bahwa tingkat kepandaian sutenya yang merupakan orang nomor dua di antara para murid suhunya, masih jauh di bawah tingkatnya sendiri.

"Harap Suci tidak melapor kepada Suhu agar aku tidak mendapat teguran. Cukup Suci yang me-negurku dan aku menyadari kesalahanku."

"Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang ceritakan, bagaimana engkau dapat berada di sini dan mengadakan pertemuan dengan Su Kian. Tadi kami melihat gerakan Su Kian yang mencurigakan, maka diam-diam kami membayanginya karena memang sudah lama aku memper-hatikan gerak-geriknya yang mencurigakan."

"Begini, Suci. Malam tadi dia menemuiku dan mengatakan bahwa pagi hari ini dia ingin membicarakan sesuatu yang teramat penting, yang katanya menyangkut urusan Thian-li-pang. Tadinya aku merasa heran mengapa dia tidak bicara secara terbuka saja, akan tetapi dia mengatakan bahwa hanya aku yang dia percaya, maka dia minta agar aku datang ke sini sekarang dan dia akan menceritakan kepentingannya itu. Dapat Suci bayangkan betapa kaget hatiku mendengar pelaporannya tentang hubungannya dengan Pek-lian-kauw, dan ketika dia membujukku untuk mau bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan memberikan benda itu, aku menjadi marah sekali. Selanjutnya, Suci mungkin telah mendengar dan melihat sendiri."

Lu Sek mengangguk-angguk.

"Pengalaman ini agar dapat menjadi peringatan kepadamu, Sute, bahkan kita sama sekali tidak boleh menyim-pang dari jalan yang diambil Thian-li-pang, sesuai dengan pengarahan Yo-taihiap dan bimbingan Suhu selama ini."

Yo-taihiap lagi, Yo-taihiap lagi, demikian Seng Bu mengomel dalam hati.

Macam apakah Yo Han itu sehingga semua orang seolah-olah tunduk dan taat kepadanya?

Bertahun-tahun tidak pernah muncul, tidak melakukan sesuatu untuk Thian-li-pang, akan tetapi semua pimpinan Thian-li-pang selalu menyebut-nyebut namanya penuh hormat!

Mereka lalu kembali ke markas Thian-li-pang setelah Lu Sek menyuruh para sutenya menguburkan jenazah Su Kian sebagaimana mestinya, di tempat itu juga.

Bagi seorang pengkhianat, tidak ada tempat peristirahatan di makam keluarga Thian-li-pang!

Seng Bu ikut pulang dengan wajah biasa, akan tetapi hatinya mengalami tekanan yang berat.

Dia terpaksa harus membunuh Su Kian, satu-satunya orang kepercayaannya di Thian-li-pang.

Bahkan hanya Su Kian yang tahu bahwa dia telah mewarisi ilmu Bu-kek-hoat-keng, Dan Su Kian pula yang selama ini menjadi perantara baginya untuk berhubungan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Dia sudah mengambil keputusan untuk mengambil alih kepimpinan Thian-li-pang dan bergabung dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti dulu ketika ayahnya masih menjadi ketua Thian-li-pang.

Dan sudah cukup lama, melalui Su Kian, dia mengadakan hubungan rahasia dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Ketika mereka berjalan pulang, Seng Bu melangkah mendekati Lu Sek yang berjalan berdampingan dengan Lauw Kin yang bukan rahasia lagi menjadi sahabat baik dan bahkan kedua orang itu sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.

Hubungan antara janda dan duda yang tidak mempunyai anak dan masih bersaudara seperguruan ini direstui oleh Lauw Kang Hui.

"Suci, aku merasa menyesal sekali atas kejadian tadi...."

Seng Bu berkata. Lu Seng mengerutkan alisnya dan menoleh, memandang kepada sutenya itu dengan sinar mata heran dan penuh selidik.

"Sute, apa sih yang mendatangkan perubahan kepadamu? Biasanya engkau pendiam, akan tetapi hari ini engkau banyak bicara. Bukankah urusan itu sudah selesai?"

"Aku tetap merasa menyesal sekali telah kelepasan tangan, Suci. Hal itu terjadi karena aku belum menguasai Tok-jiauw-kang sepenuhnya. Aku teringat akan pesan Suhu agar aku mengajak engkau untuk memberi petunjuk dalam latihan. Maukah engkau memberi petunjuk kepadaku, Suci?"

"Hemmm, baiklah. Nanti akan kusediakan waktu untuk itu."

"Bagaimana kalau besok pagi-pagi sekali, Suci? Aku biasa berlatih di dekat sumur tua yang ditutup itu, di sana sunyi dan kurasa latihan ini tidak baik kalau sampai terlihat murid lain."

"Baiklah, besok pagi kusediakan waktu."

"Aku akan menunggumu pada saat matahari mulai menyingsing, Suci."

Tanpa menanti jawaban, Seng Bu kembali menjauhkan diri dan berjalan bersama para murid Thian-li-pang lainnya.

Setelah Seng Bu menjauhkan diri, Lauw Kin berkata kepada Lu Sek.

"Kulihat Ouw-sute itu setia kepada Thian-li-pang, tegas dan semangatnya untuk maju besar sekali. Kita beruntung mendapatkan seorang pembantu seperti dia. Kelak dia boleh diharapkan untuk membawa Thian-li-pang maju."

Lu Sek menghela napas.

"Tadinya aku juga mengira Suhu akan mengangkat dia menjadi calon ketua. Dia memang berbakat dan ilmu silatnya maju pesat, hanya di bawah tingkatku saja. Akan tetapi, agaknya Suhu melihat bahwa dia masih terlalu muda dan kadang-kadang wataknya amat aneh. Seperti yang tadi dia lakukan, dia menggunakan Tok-jiauw-kang untuk membunuh Su Kian, padahal ilmu itu merupakan ilmu simpanan yang hanya boleh dipergunakan kalau terpaksa menghadapi lawan berat dan nyawanya terancam saja. Dan dia mempergunakannya untuk membunuh seorang anggauta Thian-li-pang sendiri begitu saja!"

"Akan tetapi, pengkhianat itu memang sudah sepatutnya dibunuh."

"Itu memang benar, akan tetapi dia tidak perlu mempergunakan Tok-jiauw-kang. Mungkin karena dia memang belum menguasai ilmu itu dengan sempurna. Ilmu itu memang amat sulit, sama sulitnya dengan ilmu Kiam-ciang. Biar besok kuberi petunjuk kepadanya, sesuai dengan perintah Suhu."

Lauw Kin tidak bicara lagi, akan tetapi hatinya mengandung kekhawatiran.

Tadi dia seperti melihat sinar mata yang aneh dari pandang mata Seng Bu terhadap sucinya, seperti kilatan mata yang tajam dan dingin!

Lu Sek telah tiba di tempat sunyi itu pagi-pagi sekali.

Matahari belum nampak di langit timur, akan tetapi sinarnya telah menerangi langit itu dan cuaca sudah mulai terang.

Keruyuk ayam jantan hanya terdengar kadang-kadang, tidak sesering tadi, akan tetapi burung masih ramai berkicau membuat persiapan untuk berangkat kerja mencari makan hari itu.

Pada tengahari saja, tempat ini jarang dikunjungi orang.

Apalagi orang luar, bahkan orang-orang Thian-li-pang sendiri kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, merasa segan datang ke tempat ini.

Seolah-olah ada hukum tak tertulis dan terucapkan bahwa daerah ini merupakan daerah pantangan.

Itu adalah daerah liar di mana terdapat sumur yang dahulu pernah menggegerkan Thian-li-pang.

Sumur itu pernah dijadikan hukuman atau siksaan oleh nenek moyang Thian-li-pang.

Bahkan seorang tokoh besar Thian-li-pang telah dibuang hidup-hidup di dasar sumur oleh para suhengnya sendiri, demikian menurut dongeng yang dikenal oleh para murid Thian-lipang.

Tokoh besar itu dibuntungi kaki tangannya dan dibuang ke sumur itu.

Namun dia tidak mati-mati, dan seringkali terdengar teriakan dan lolongnya yang mengerikan.

Tokoh rahasia ini amat sakti dan akhirnya, tokoh sakti ini menjadi guru dari Yo Han yang pernah tinggal di Thian-li-pang sehingga Yo Han akhirnya menjadi tokoh yang dianggap pemimpin besar Thian-li-pang, yang mengubah jalur Thian-li-pang yang tadinya menyeleweng dan sesat.

Dan biarpun telah dikabarkan bahwa kakek sakti yang bernama Cu Lam Hok itu telah mati, namun tempat itu masih dianggap keramat.

Sumur yang telah ditutup oleh para tokoh besar Thian-li-pang untuk membunuh kakek buntung itu, kini dianggap sebagai tempat yang dihuni iblis dan hantu.

Bahkan ada murid Thian-li-pang yang berani bersumpah bahwa dia pernah mendengar lolong dan pekik mengerikan itu keluar dari dalam sumur yang sudah ditutup itu.

Tempat ini amat sunyi.

Karena para murid Thian-li-pang sendiri menganggap tempat itu angker dan keramat, maka tempat itu jarang dijamah tangan dan tidak terpelihara sehingga di situ tumbuh alang-alang dan semak belukar yang membuat tempat itu kelihatan semakin menyeramkan.

Biarpun ia seorang ahli silat tingkat tinggi yang tangguh dan tak pernah mengenal takut, namun diam-diam Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang kalau ia teringat akan dongeng menyeramkan dari tempat itu.

Ia mulai menyesal mengapa ia menyanggupi sutenya untuk berlatih.

silat di tempat seperti itu?

Akan tetapi, ia tidak terlalu menyalahkan sutenya yang biasa berlatih di tempat ini karena untuk melatih kedua ilmu simpanan guru mereka yang hanya diajarkan kepada mereka berdua, Guru mereka berpesan agar kalau mereka berlatih ilmu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang, mereka harus berlatih di tempat tersembunyi agar tidak kelihatan oleh murid-murid lain dan menimbulkan perasaan iri.

Ia sendiri selalu berlatih di dalam kamar yang tertutup dan memang tidak begitu menyenangkan berlatih di kamar tertutup, tidak seperti di tempat terbuka seperti ini.

Apalagi untuk melatih kedua ilmu itu, ia harus mengerahkan tenaga sinkang yang amat kuat dan ini membuat tubuh menjadi panas dan banyak mengeluarkan keringat, apalagi kalau latihan di kamar tertutup yang pengap.

Ia berhenti, menengok ke sekeliling.

Sumur mengerikan itu masih nampak tembok bibirnya, di antara semak-semak dan di sekitar sumur itu masih terdapat banyak batu-batu besar, agaknya kelebihan batu-batu yang dipakai untuk menutup sumur.

Mengerikan!

"Ouw-sute....!"

Ia memanggil sambil memandang sumur itu, seolah-olah ia mengharapkan sutenya itu akan muncul keluar dari sumur tua itu.

Ia tahu bahwa masih ada sumur ke dua yang tertutup semak belukar sama sekali, beberapa ratus meter dari situ, akan tetapi sumur ke dua ini lebih menyeramkan lagi karena belum tertutup dan merupakan lubang gelap hitam tak kelihatan dasarnya dan kabarnya mengandung hawa beracun dan menjadi tempat tinggal ular-ular berbisa.Tiba-tiba ia terbelalak dan merasa bulu tengkuknya dingin meremang.

Ia memandang ke arah sesosok bayangan yang benar-benar muncul dari sumur itu!

Perlahan-lahan sosok bayangan itu bangkit berdiri tanpa mengeluarkan suara, berdiri tegak seperti iblis yang datang untuk membalas dendam, haus darah!

Lu Sek mentertawakan diri sendiri.

Ia seorang pendekar gagah perkasa, tidak takut dan tidak percaya kepada segala macam ketahyulan!

"Sute, engkaukah itu?"

Serunya dan ia pun melangkah maju agak mendekat.

Bayangan itu meloncat dan ternyata dia benar Ouw Seng Bu.

Karena cuaca belum terang benar, dan kemunculannya tepat di belakang sumur itu, maka tentu saja membuat ia berkhayal melihat iblis sendiri keluar dari dalam sumur yang sudah tertutup.

Akan tetapi, ketika Seng Bu melangkah maju mendekat dan ia dapat melihat wajahnya, Lu Sek mengerutkan alisnya.

"Ouw-sute, engkaukah itu?"

Kembali ia bertanya.

Memang ia mengenali sutenya, akan tetapi sinar mata sutenya itu, senyum pada mulut sutenya itu.

Betapa asing dan aneh baginya.

Belum pernah selama ini ia melihat sinar mata dan senyum seperti itu pada wajah Ouw Seng Bu.

Sinar mata yang mencorong seperti mata binatang buas, penuh kebengisan dan kekejaman.

Dan senyum itu!

Mengerikan sekali.

Senyum itu demikian dingin penuh ejekan, membuat Lu Sek merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya meremang.

Akan tetapi, bayangan khayal menyeramkan itu membuyar ketika ia mendengar suara sutenya.

"Lu-suci, aku sudah menunggumu sejak tadi."

"Ouw-sute, kenapa tergesa-gesa? Matahari juga belum muncul, baru nampak sinarnya saja."

"Suci, latihan kedua ilmu simpanan dari suhu ini merupakan ilmu yang hanya diajarkan kepada kita berdua. Murid lain tidak boleh mempelajarinya, bahkan suheng Lauw Kin juga tidak diajari kedua ilmu itu. Maka, sebaiknya kalau kita latihan secara tersembunyi. Di tempat ini sunyi, juga pagi-pagi seperti ini, belum ada anggauta Thian-li-pang yang keluar. Amat baik kalau kita berlatih sekarang, Suci. Aku ingin agar dapat menguasai Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang sepenuhnya. Agar aku dapat paham benar, sebaiknya kalau kita melatih dua macam ilmu itu sekaligus. Bagaimana, Suci?"

"Baiklah. Akan tetapi kita harus berhati-hati. Kedua macam ilmu pukulan ini amat berbahaya dan dapat mendatangkan luka beracun atau bahkan kematian. Kita tidak boleh kesalahan tangan. Nah, aku sudah siap, engkau mulailah!"

Kata Lu Sek sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

Ouw Seng Bu tersenyum dan kembali Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin.

Senyum itu sungguh aneh dan tidak wajar, seperti senyum iblis!

"Suci sambutlah seranganku ini!"

Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan pukulan tangan miring dan terdengar suara bersiut dibarengi angin dahsyat.

Itulah Kiam-ciang (Tangan Pedang).

Ilmu ini membuat tangan yang memukul itu seperti sebatang pedang saja, dapat membuntungi anggauta badan lawan, bahkan dapat menyambut senjata tajam lawan seperti sebatang pedang!

Melihat betapa pukulan yang menyambar itu amat dahsyat, Lu Sek cepat mengelak.

Akan tetapi begitu tangan kiri Seng Bu yang menyambar itu luput, tangan kanannya sudah meluncur ke arah dada sucinya dan ketika terpaksa Lu Sek menangkis serang mencengkeram.

Kembali ada angin menyambar dan itulah sebuah jurus Tok-jiauw-kang yang amat ampuh!

"Ihhh....!!"

Lu Sek berseru kaget.

"Sute, gerakanmu sudah hebat,"

Dan karena serangan sutenya ini benar-benar amat kuat ia berseru kaget, akan teramat berbahaya, juga tidak sopan karena mencengkeram ke arah dadanya tapi kembali ia merasa ngeri melihat.

sutenya.

Sinar mata sutenya yang demikian aneh, Tidak begitu seharusnya dalam latihan.

Tidak sopan namanya.

Akan tetapi masih menganggap bahwa sutenya tidak sengaja, maka ia pun cepat mengelak lalu balas menyerang dengan Kiam-ciang yang dikombinasikan dengan cengkeraman Tok-jiauw-kang.

Akan tetapi tentu ia menahan dan membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai sutenya yang ia tahu belum begitu sempurna menguasai kedua ilmu itu!

Akan tetapi, semua serangannya ternyata dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Seng Bu, dan pemuda itu membalas lagi semakin lama semakin dasyat!

"Duk-duk-plakkk!"

Tiga kali beruntun kedua tangan mereka saling bertemu ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan sutenya yang amat dasyat, dan karena ia membatasi tenaganya, akibatnya ia terdorong dan terhuyung ke belakang.

"Sute, gerakanmu sudah hebat dan amat kuat!"

Ia berseru kaget, akan tetapi kembali ia merasa ngeri melihat sinar mata sutenya yang demikian aneh,mencorong dan senyumnya semakin menakutkan.

Bahkan tanpa mengeluarkan kata apa pun, sutenya kini meloncat ke depan dan menerjang lagi dengan dasyat.

Lu Sek semakin kaget.

Sutenya nyerangnya dengan Kiam-ciang atau Tok-jiauw-kang, akan tetapi dengan tenaga yang dahsyat dan sama sekali bukan orang yang sedang mengajaknya berlatih.

Sutenya menyerangnya seperti orang yang berkelahi, menyerang sungguh-sungguh, dengan pukulan-pukulan maut!

Terpaksa ia mengerahkan tenaganya untuk memukul mundur sutenya.

Ketika sutenya memukul ke arah dadanya dengan Kiamciang, ia pun mengerahkan seluruh tenaga dan menangkis dengan gerakan Kiam-ciang pula.

"Wuuuttt.... desss....!!"

Dua tenaga bertemu melalui pukulan tangan miring dan akibatnya, tubuh Lu Sek terjengkang dan tentu ia terbanting roboh kalau saja tidak cepat membuat gerakan bergulingan.

Ketika ia meloncat bangun, ia merasa napasnya agak sesak dan ia memandang kepada sutenya dengan mata terbelalak.

"Sute, kau...."

"Lu-suci, kita belum selesai latihan. Sambut seranganku ini!"

Katanya dan tanpa memberi kesempatan lagi kepada Lu Sek, Seng Bu sudah menerjang lagi dengan pukulan kombinasi antara Kiam-ciang dan Tok-jiauw-kang (Cakar Beracun).

"Hemmm....!"

Kini Lu Sek menjadi marah.

Kiranya sutenya ini benar-benar hendak memamerkan kepandaiannya dan biarpun ia terkejut menyaksikan kemajuan sutenya, namun ia merasa lebih unggul dan ia pun tidak mau kalah.

Apalagi, ia adalah menjadi ketua Thian-li-pang.

Bagaimana ia sampai dapat dikalahkan seorang pembantunya, juga sutenya yang minta petunjuk dalam ilmu silat darinya?

Lu Sek kini mengerahkan seluruh tenaga-nya dan memainkan kedua ilmu itu sebaik mungkin.

Terjadilah serang-menyerang yang hebat dan seru.

Memang harus diakui oleh Seng Bu bahwa dalam hal penggunaan kedua ilmu itu, dia masih kalah mahir dibandingkan sucinya.

Kalau dia hanya mempergunakan kedua ilmu itu tanpa menambah tenaga mujijat yang dihimpunnya melalui latihan ilmu rahasia Bu-kek-hoat-keng, jelas dia tidak akan mampu menandingi sucinya.

Akan tetapi, setiap kali beradu lengan, diam-diam dia mengerahkan tenaga mujijat itu dan selalu sucinya terpental dan terhuyung ke belakang.

Karena kalah tenaga, maka Seng Bu dapat menutupi kekalahannya dalam kemahiran memainkan kedua ilmu itu, bahkan kini dia yang mendesak hebat!

"Desss....!!"

Kembali kedua tangan mereka saling bertemu dan kembali Lu Sek terpental dan terjengkang, dengan dada terasa makin sesak.

Dan pada saat itu, Seng Bu sudah meloncat ke depan dan mengirim tamparan susulan dengan Kiam-ciang ke arah kepala sucinya yang masih belum sempat bangun.

"Sute, kau....!"

Lu Sek mengangkat tangan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Plakkk!"

Tubuhnya terdorong dan bergulingan, dan dari mulutnya keluar darah, dadanya terasa nyeri.

"Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini?"

Bentak Lauw Kin yang tiba-tiba sudah berada di situ.

Melihat tunangannya terdesak bahkan muntah darah, tentu saja Lauw Kin terkejut dan marah sekali.

Dia memang sudah merasa curiga kepada Seng Bu kemarin, maka pagi ini dia sengaja datang ke tempat itu untuk melihat keadaan tunangannya.

Dan ternyata kekhawatirannya terbukti.

Dalam berlatih melawan Seng Bu, agaknya tunangannya terluka, dan latihan itu agaknya menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

"Dia.... dia menjadi gila....!"

Kata Lu Sek yang sudah dapat bangkit kembali.

"Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini? Kenapa engkau melukai. ketua kita?"

Kembali Lauw Kin menegur Ouw Seng Bu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba Seng Bu tertawa dan kedua orang itu saling pandang, merasa ngeri.

Itu bukan tawa manusia waras!

Mirip tawa iblis, atau tawa orang sinting.

"Heh-heh-ha-ha-hah....! Engkau boleh maju sekalian, Lauw-suheng. Atau engkau tidak berani? Takut berlatih melawan sutemu seperti Lu-suci? Heh-heh-heh, ketua dan wakil ketua Thian-li-pang begini pengecut! Sungguh tidak pantas!"

Lauw Kin dan Lu Sek terbelalak, terkejut dan heran, akan tetapi juga marah sekali.

Gila atau tidak, Ouw Seng Bu ini sungguh merupakan seorang murid yang murtad!

"Ouw-sute, sadarlah!

Sudah gilakah engkau?"

Bentak Lu Sek marah, akan tetapi karena ia tadi melihat kenyataan betapa lihai sutenya ini, ia kini sudah siap waspada dan sudah meraba gagang pedangnya, sedangkan Lauw Kin meraba gagang goloknya.

"Ha-ha-ha, berani atau takut, tetap saja aku akan menyerang kalian! Nah, sambutlah ini!"

Dia sudah menyerang lagi dengan tamparan-tamparan Kiam-ciang.

Karena maklum betapa serangan itu amat berbahaya, Lu Sek meloncat ke belakang, diikuti Lauw Kin dan mereka kini sudah mencabut pedang dan golok.

"Ouw-sute, sadarlah! Atau terpaksa kami akan menghadapimu dengan senjata. Engkau dapat merupakan bahaya besar bagi Thian-li-pang kalau tidak mau sadar dan berubah gila!"

Ouw Seng Bu tersenyurn dan sekali ini bukan hanya Lu Sek yang merasa ngeri, juga Lauw Kin memandang dengan terbelalak karena dia pun tidak lagi mengenal sutenya dengan senyum seperti itu.

"Kalian mencabut senjata? Bagus, bagus! Kesempatan bagiku untuk menguji kepandaianku sendiri. Nah, sambutlah seranganku dengan senjata kalian, heh-heh-heh!"

Sambil tertawa-tawa Ouw Seng Bu sudah menyerang lagi, Akan tetapi kedua orang kakak seperguruannya itu terkejut dan terheran bukan main karena kini gerakan sute mereka itu sama sekali berlainan dengan gerakan ilmu silat yang pernah mereka pelajari.

Gerakan itu aneh sekali dan nampaknya seperti gerakan yang kacau, gerakan pesilat yang mungkin gila!

Karena maklum betapa besar bahayanya kalau sute yang gila ini dibiarkan saja, Lu Sek sudah meloncat ke depan menyambut serangan itu dengan pedangnya, dengan maksud merobohkan sutenya, menangkap atau kalau perlu membunuhnya.

Lu Sek yang memiliki gerakan ringan dan cepat itu, sudah memutar pedang dan meloncat ke depan, menyambut gerakan kedua tangan sute yang seperti hendak mencakar itu dengan sambaran pedangnya!

"Wuuut....

singgg....!

Krakkk....!"

Pedang itu bertemu dengan jari tangan kanan Seng Bu dan pedang itu patah-patah, kemudian tangan kiri Seng Bu menampar ke depan dengan jari tangan terbuka, bukan gerakan Kiam-ciang, melainkan gerakan aneh.

Angin yang panas sekali menyambar ke arah dada Lu Sek dan wanita itu mengeluarkan jerit tertahan, tubuhnya roboh dan tak bergerak lagi.

Ketika Lauw Kin memandangnya, dia terbelalak dengan wajah pucat melihat betapa tunangannya itu telah tewas dalam keadaan tubuh menghitam seperti hangus terbakar!

(Lanjut ke

Jilid 09) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Kau.... jahanam.... kau membunuhnya....!"

Lauw Kin menjadi marah dan sedih sekali. Dengan nekat dia maju menggerakkan goloknya, menerjang maju dan menyerang Seng Bu dengan cepat sekali.

"Bagus, memang engkau harus pergi untuk selamanya agar tidak menjadi penghalang bagiku!"

Bentak Seng Bu dan dia menyambut golok itu dengan kedua tangannya.

Tangan kirinya begitu saja, dengan jari terbuka, menerima golok itu dan mencengkeramnya.

Bukan main hebatnya jari-jari tangan itu karena begitu kena dicengkeram, golok itu pun patah-patah dan remuk!

Kemudian, tangan kanan Seng Bu sudah memukul ke depan.

Dada Lauw Kin terkena tamparan itu dan dia pun terjengkang dan tewas seketika di dekat mayat tunangannya dengan tubuh hangus pula.

Ouw Seng tertawa bergelak seperti seekor binatang buas, akan tetapi hanya sebentar karena kemudian sikapnya itu berubah kembali.

Dia tidak tertawa lagi, juga sinar matanya tidak liar dan mulutnya, tidak mengandung senyum iblis.

Dia nampak tenang dan termenung berdiri memandang ke arah dua mayat suheng dan sucinya yang telah dibunuhnya.

Pikirannya bekerja, penuh kelicikan.

Dia sudah berhasil membunuh ketua dan wakil ketua Thian-li-pang.

Hanya ada satu lagi pengganjal yang akan menjadi penghalang dia memimpin Thian-li-pang, yaitu gurunya sendiri, Lauw Kang Hui!

Kakek itu tentu tidak akan tinggal diam kalau mendengar betapa kedua orang murid tersayang itu tewas, apalagi kalau tahu bahwa dia membunuh mereka, pikirnya.

Kalau penghalang yang tinggal seorang ini disingkirkan, siapa lagi yang akan berani dan mampu menghalanginya menjadi ketua Thian-li-pang?

Tak lama kemudian, di pagi hari buta itu, dia sudah mengetuk pintu kamar Lauw Kang Hui.

Seperti biasa, kakek ini sejak pagi sekali sudah terbangun dan sudah duduk samadhi.

Mendengar ketuken pintu, hatinya merasa tidak senang.

Siapa berani demikian lancangnya mengganggu samadhinya di pagi hari seperti itu?

"Siapa?"

Tanyanya, suaranya halus namun mengandung ketidaksabaran karena merasa terganggu.

"Suhu, teecu ingin melaporkan hal yang amat penting dan gawat!"

Terdengar suara Seng Bu dari luar, juga lirih akan tetapi dapat didengar jelas oleh orang pertama Thian-li-pang itu.

"Masuklah, pintunya tidak terkunci."

Kata Lauw Kang Hui. Seng Bu masuk dan berlutut di depan gurunya.

"Seng Bu, ada apakah engkau sepagi ini menggangguku dari samadhi?"

"Maaf, Suhu. Telah terjadi sesuatu dengan suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin. Marilah Suhu tengok sendiri dan melihat keadaan mereka.

"Hemmm, ada apa dengan mereka?"

"Mereka.... ahhh, teecu khawatir sekali, Suhu. Marilah, kita ke sana dan Suhu melihat sendiri!"

Kata Seng Bu sambil bangkit dan keluar dari kamar itu.

Tentu saja Lauw Kang Hui menjadi heran dan tertarik, lalu dia bangkit dan mengikuti muridnya.

Dia menjadi semakin heran ketika muridnya itu pergi ke tempat sunyi yang dikeramatkan, yaitu di daerah yang terdapat sumur yang dahulu dipakai sebagai tempat menghukum kakek Ciu, yaitu mendiang supeknya (uwa gurunya).

Lauw Kang Hui mengerutkan alisnya.

"Seng Bu, kenapa engkau mengajakku ke tempat ini?"

Dia merasa tidak enak juga melihat ke arah dua buah sumur itu, yang sebuah tertimbun batu, yang sebuah lagi tersembunyi di balik semak belukar dan tempat ini merupakan tempat yang mengerikan.

"Lihatlah, Suhu."

Kata Seng Bu dan dia berhenti tak jauh dari semak yang menyembunyikan sumur ke dua yang masih belum ditimbuni apa-apa.

Lauw Kang Hui menghampiri dan dia terbelalak memandang kepada tubuh dua orang muridnya yang rebah telentang dengan muka, leher dan tangan menghitam seperti arang!

Kakek itu mengeluarkan suara tertahan, berjongkok untuk memeriksa mereka, makin heran dan terkejut ketika mendapat kenyataan.

bahwa mereka tewas oleh pukulan beracun yang tidak dikenalnya.

"Apa yang telah terjadi? Siapa yang telah membunuh mereka?"

Tanyanya sambil berdiri dan memandang Seng Bu dengan muka agak pucat dan mata terbelalak.

Dan tiba-tiba dia melihat perubahan pada wajah yang tampan itu.

Sepasang mata pemuda itu menco-rong liar, dan senyum aneh berkembang di bibirnya, senyum iblis!

"Mereka mengajak teecu berlatih silat dan mereka roboh terpukul oleh teecu,"

Katanya dengan nada suara mengejek walaupun kata-katanya masih menghormat.

Sepasang mata kakek itu semakin dilebarkan dan dia mengamati muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.

"Tidak mungkin! Engkau tidak akan mampu mengalahkan mereka, apalagi memukul mati seperti ini!"

"Hemmm, kalau Suhu tidak percaya, boleh Suhu buktikan sendiri. Apalagi mereka, Suhu pun tidak akan mampu menandingiku dan aku dapat membunuhmu dengan mudah."

Tentu saja kakek itu menjadi marah bukan main.

"Engkau telah gila!"

Teriaknya marah.

"Dan engkau akan mati bersama mereka!"

Kata Seng Bu dan dia pun kini sudah menggerakkan kaki tangannya menyerang gurunya sendiri.

Lauw Kang Hui kini sudah menjadi marah sekali.

Dua orang muridnya tersayang tewas, padahal mereka baru saja dia angkat menjadi ketua dan wakil ketua.

Kalau tadinya dia masih tidak percaya bahwa Seng Bu yang membunuh mereka, bukan saja karena dia tahu betapa tingkat kepandaian Seng Bu masih kalah dibandingkan Lu Sek juga tidak ada alasan mengapa pemuda ini harus membunuh suci dan suhengnya, kini tiba-tiba dia teringat.

Ketua dan wakil ketua dibunuh!

Ini berarti bahwa Seng Bu merasa iri dan ingin merebut kedudukan ketua!

Akan tetapi, dia tidak sempat berpikir lagi karena melihat Seng Bu berani menyerangnya, dia cepat mengerahkan tenaga dan menangkis, dengan maksud sekali tangkis dapat merobohkan dan menangkap murid yang agaknya tiba-tiba menjadi gila itu.

"Dukkk....!!"

Lauw Kang Hui mengeluarkan gerengan kaget dan marah ketika benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke belakang!

Seng Bu sendiri hanya tergetar saja, namun dapat mempertahan-kan kuda-kudanya.

Ini tidak mungkin, pikirnya!

Akan tetapi, pemuda itu menyeringai dan kini melakukan gerakan yang aneh, lalu menerjang lagi ke depan, tangan kirinya menyambar.

Hawa pukulan yang panas sekali menerjangnya!

Kakek itu cepat menyambut dengan kedua tangannya.

"Desss....!!"

Dan sekali ini, dia terjengkang!

Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, Lauw Kang Hui meloncat bangun berdiri dan memandang kepada murid itu dengan mata hampir tidak percaya.

"Ilmu.. siluman apakah itu..?"

Saking herannya, dia bertanya, keheranan yang melampaui kemarahannya.

"Ha-ha-heh-heh-heh, Suhu, engkau selalu memuji-muji Yo Han dengan ilmu Bu-kek Hoat-keng! Nah, inilah Bu-kek Hoat-keng! Bukan hanya Yo Han yang menguasainya, aku pun telah menguasainya dan kalau dia berani muncul, akan kuhancurkan kepalanya. Sekarang, bersiaplah untuk menemani suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin!"

Lauw Kang Hui marah bukan main dan dia pun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kepandaiannya, bahkan melakukan gerakan ilmu silat Tokjiauw-kang dan Kiam-ciang yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Maklum bahwa kalau dia mengandalkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari kakek itu, dia tidak mungkin akan menang, maka Seng Bu segera memainkan ilmunya yang didapat dengan rahasia di dalam sumur, yaitu ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya secara ngawur dan terbalik-balik.

Dan memang hebat bukan main ilmu ini.

Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang aselinya, seperti yang dikuasai Yo Han, sudah merupakan ilmu ajaib, memiliki daya atau pengaruh yang aneh, yaitu selain gerakannya aneh dan lihai, mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, kalau ada lawan, betapapun lihainya, menyerang dengan kemarahan dan kebencian dalam hati, maka serangan itu akan membalik dan menghantam si penyerang sendiri!

Kini, ilmu aneh yang dipelajari secara ngawur dan terbalik oleh Seng Bu itu, memberinya ilmu yang luar biasa kejamnya, walaupun pengaruh ilmu itu membalik kepada dirinya, membuat dia kalau sedang kumat seperti orang gila, atau lebih tepat seperti iblis sendiri.

Lauw Kang Hui adalah seorang datuk yang sudah memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.

Jarang ada tokoh mampu menandinginya.

Akan tetapi sekarang, bertanding mati-matian melawan muridnya sendiri, dia mulai terdesak setelah mampu bertahan sampai lima puluh jurus.

Kedua lengan sudah terasa panas seperti dibakar setelah beberapa kali bertemu dengan lengan Seng Bu.

Dia merasa menyesal, mengapa tadi tidak membawa golok besar, senjata andalangya.

Sejak melepaskan kedudukan ketua Thian-li-pang dan bersamadhi, dia sudah menyingkirkan golok itu, maka tadi ketika pergi ke tempat ini, dia pun tidak membawa senjata.

"Heh-he-heh, Lauw Kang Hui, sekarang engkau mati!"

Kata Seng Bu, sikapnya sama sekali berubah dan tidak lagi menyebut suhu.

Lauw Kang Hui menjadi nekat dan dia pun mengerahkan seluruh tenaganya, menerjang ke depan.

"Hyaaaaattt....!!"

Bentaknya dan suara gerengannya seperti seekor binatang buas yang terluka.

Seng Bu tersenyum mengejek.

Ketika kedua tangan gurunya yang mendorong itu meluncur ke arah dadanya, tiba-tiba dia merendahkan diri hampir berjongkok sehingga kedua tangan Lauw Kang Hui menyambar lewat atas kepalanya dan pada detik itu juga, tangan kiri Seng Bu sudah mencuat ke depan, menghantam dengan telapak tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui.

"Hukkk.... !!"

Mata kakek itu melotot, punggungnya melengkung dan dia pun terbanting ke belakang, terjengkang.

"Kau.... Kau...."

Suaranya terhenti karena dia muntah darah, tubuhnya berkelojotan sebentar, matanya mendelik memandang Seng Bu dan akhirnya dia tidak bergerak lagi, Kulit tubuhnya berubah menghitam seperti dibakar sampai hangus!

Kembali Seng Bu mengeluarkan suara tawa yang mengerikan itu sambil berdiri memandang tiga buah mayat yang hangus.

Tiba-tiba sikapnya berubah lagi, termenung dan pendiam, dan segera dia lari ke perkampungan Thian-li-pang, dan dipukulnya kentungan tanda bahaya dengan gencar.

Tentu saja para anggauta Thian-li-pang terkejut.

Bahkan yang masih tidur, segera terbangun dan mereke berlari-larian menuju ke gardu di mana Seng Bu memukuli kentungan dengan gencar seperti orang kesetanan.

Setelah semua anggauta berkumpul, kurang lebih seratus orang banyaknya, dan mereka bertanya-tanya mengapa pembantu ketua baru itu memukuli kentungan tanda bahaya.

Seng Bu menghentikan perbuatannya dan dengan napas terengah dia berkata.

"Celaka, terjadi pembunuhan besar-besaran!"

"Apa? Siapa yang dibunuh? Di mana? Apa yang terjadi?"

Pertanyaan-pertanyaan itu saling susul dengan gencar, ditujukan kepada Seng Bu.

"Mari kalian semua ikut aku dan lihat sendiri!"

Katanya dan dia pun berlari keluar dari perkampungan, diikuti oleh semua anggauta.

Melihat pemuda itu lari menuju ke sumur tua yang merupakan tempat yang ditakuti dan dikeramatkan, para anggauta menjadi semakin heran, akan tetapi mereka mengikuti terus sampai akhirnya Seng Bu berhenti di dekat sumur tua yang tertutup semuk belukar.

"Nah, kalian lihat sendiri!"

Katanya sambil menunjuk ke arah tiga sosok mayat di atas tanah.

Ketika para angguta melihat tiga buah mayat itu, mula-mula mereka tidak mengenal, akan tetapi setelah mereka mengamati wajah-wajah menghitam itu dan mengenal mereka, tentu saja mereka menjadi gempar.

Ketua lama, ketua baru dan wakilnya telah mati dibunuh orang, mati dalam keadaan yang amat menyedihkan, dengan seluruh tubuh menjadi hangus!

Segera terdengar jerit tangis dan keadaan menjadi amat gaduh, di samping pertanyaan yang dihujankan kepada Seng Bu.

"Ouw-sute, apa yang telah terjadi?"

"Ouw-suheng, siapa pembunuh mereka?"

Demikian pertanyaan yang datang dari para suhengnya, sutenya atau suci-nya, juga para paman dan bibi gurunya. Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas.

"Harap kalian suka tenang dulu. Dalam keadaan gaduh begini, bagaimana aku dapat bicara? Tenanglah, tenang dan hentikan lolong dan tangis itu!"

Suaranya halus namun tegas dan mengandung kekuatan yang membuat semua orang menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara agar dapat mendengarkan dengan jelas.

Setiap orang anggauta Thian-li-pang merasa marah, sedih dan ingin sekali tahu apa yang telah terjadi.

"Tadi aku bangun pagi-pagi sekali dan berjalan-jalan, seperti sering kulakukan. Ketika tiba di dekat tempat ini, aku melihat sesosok bayangan berlari cepat menuruni lereng. Aku segera mengejarnya karena curiga, akan tetapi aku hanya dapat mengenalnya dari jauh saja. Pagi masih terlampau gelap dan dia menghilang di dalam hutan di kaki bukit itu. Aku lalu kembali ke sini, untuk melihat mengapa orang itu datang ke sini dan aku menemukan Suhu, Suci dan Suheng telah menggeletak dan tak bernyawa lagi. Aku lalu cepat turun dan memukul kentungan untuk memberitahu kepada kalian."

"Tapi siapakah orang yang melarikan diri itu? Apakah dia pembunuh jahanam itu?"

"Biarpun tidak melihat dia membunuh Suhu bertiga, akan tetapi aku yakin dia yang membunuh."

"Siapa dia? Kau tadi mengatakan, mengenalnya dari jauh. Siapakah pembunuh itu?"

"Dia adalah.... Si Tangan Sakti Yo Han!"

Kata Seng Bu dengan suara tegas.

"Yo-taihiap....!"

"Ah, tidak mungkin!"

"Bagaimana dia yang mengangkat Lauw-pangcu menjadi ketua malah membunuhnya?"

"Aku tidak percaya!"

Riuh rendah suara mereka yang menyanggah dan menentang keterangan Seng Bu.

Tak seorang pun di antara para anak buah Thian-li-pang percaya bahwa Yo Han yang melakukan pembunuhan terhadap tiga orang pimpinan Thian-li-pang itu.

Kembali Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas, minta agar semua orang tenang dan mendengarkannya.

Setelah semua orang diam, Seng Bu berkata.

"Kalian percaya atau tidak, akan tetapi aku yakin bahwa Yo Han yang telah membunuh Suhu, Suci dan Suheng."

"Tapi engkau tidak melihat dia dengan jelas!"

Kini Thio Cu, seorang yang termasuk tokoh Thian-li-pang, masih adik seperguruan Lauw Kang Hui walaupun tingkatnya kalah jauh, Thio Cu ini adalah seorang yang mewakili Thian-li-pang ketika meng-hadiri pertemuan para tokoh di sarang Pao-beng-pai, dan dia memberi isyarat kepada semua orang untuk tidak membuat gaduh lagi.

"Ouw Seng Bu, bagaimana engkau dapat merasa yakin bahwa Yo-taihiap yang melakukan pembunuhan itu? Coba jelaskan alasanmu!"

Seng Bu mengangguk.

"Begini, Thio-sausiok (paman guru Thio). Kita semua mengetahui belaka bahwa Yo Han adalah murid mendiang kakek guru Ciu Lam Hok, bukan? Nah, kakek paman guru Ciu Lam Hok pernah dibuntungi dan dihukum ke dalam sumur tua oleh kedua kakek guru pendiri Thian-li-pang. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau kini kita mencurigai Yo Han. Dia tentu mendendam kepada Thian-li-pang dan kini dia datang membunuh para pimpinannya."

Semua orang terdiam, akan tetapi Thio Cu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.

"Alasan itu kurang kuat. Kalau memang dia mendendam kepada Thian-li-pang kenapa tidak dari dulu dia membasmi Thian-li-pang? Dia bahkan menunjuk suhu Lauw-pangcu menjadi ketua. Tidak, Seng Bu. Itu bukan merupakan bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo-taihiap."

Mendengar ucapan Thio Cu ini, para anggauta Thian-li-pang menyatakan persetujuan mereka.

"Kalau minta bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo Han? Lihat saja keadaan tiga mayat itu. Tubuh mereka hangus, jelas akibat pukulan beracun yang amat hebat. Aku yakin bahwa itu hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng dan ilmu itu, seperti kita telah mendengarnya, dikuasai oleh Yo Han ketika dia belajar di dalam sumur. Bukti itu sudah amat kuat. Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng. Dan aku yang kelak akan membalaskan sakit hati ini!"

"Hemmm, Ouw Seng Bu, jangan tekebur kau! Andaikata benar, pembunuhnya adalah Yo-taihlap, jelas bahwa mereka bertiga ini saja tidak mampu mengalahkan Yo-taihiap, apalagi engkau! Pula, tidak ada yang dapat membuktikan bahwa mereka ini tewas karena pukulan Bu-kek Hoat-keng yang dilakuksn oleh Yo-taihiap."

"Thio-suciok, lupakah engkau bahwa aku adalah pembantu ketua baru, mendiang Lu-suci? Setelah Lu-suci dan Lauw-suheng sebagai ketua dan wakilnya di Thian-li-pang tewas, maka aku sebagai pimpinan ke tiga, berhak untuk menggantikan mereka menjadi pemimpin Thian-li-pang! Nah, dengan demikian, akulah orangnya yang berhak untuk menyelidiki urusan pembunuhan ini."

Thio Cu mengerutkan alisnya.

"Tidak, urusan ini terlalu besar! Pembunuhan ini harus dibongkar! Dan tentang pemilihan ketua baru, sebaiknya kalau kita menunggu munculnya Yo-taihiap agar dia yang mengadakan pemilihan ketua baru!"

"Thio-susiok, aku telah dipilih Suhu untuk menjadi orang ke tiga di Thian-li-pang, dan engkau berani memandang rendah kepadaku? Sekarang begini saja. Siapa di antara para anggauta Thian-li-pang yang menyetujui pendapat susiok Thio Cu, silakan berdiri di belakangnya! Yang menganggap aku sebagai pimpinan Thian-li-pang sehubungan dengan kematian Suhu, Suci dari Suheng, harap jangan mendekati mereka!"

Ada lima orang yang kini berdiri di belakang Thio Cu.

Mereka adalah orang-orang yang masih disebut paman guru oleh Seng Bu.

Tentu karena mereka me-rasa lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya sebagai anggauta Thian-li-pang, mereka berpihak kepada Thio Cu.

Kini enam orang itu, dipimpin oleh Thio Cu, berdiri berhadapan dengan Seng Bu.

Melihat sikap mereka yang menantang, Seng Bu tiba-tiba tertawa dan semua orang terkejut.

Suara tawa itu amat menyeramkan, dan kini mereka melihat betapa mata pemuda itu mencorong aneh, senyumnya dingin mengerikan.

"Paman Thio Cu dan lima Paman lain, kalian berenam tetap tidak percaya bahwa Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng? Tidak percaya bahwa ilmu pukulan Bu-kek Hoat-keng yang telah dipergunakan Yo Han membunuh mereka?"

"Kami tidak percaya karena tidak ada buktinya. Siapa dapat membuktikan tuduhanmu itu?"

Tanya Thio Cu.

"Akulah orangnya yang dapat membuktikannya! Aku menguasai ilmu itu, bukan hanya Yo Han, maka aku yakin benar bahwa Yo Han menggunakan ilmu Bu-kek Hoat-keng untuk membunuh mereka bertiga!"

Tentu saja ucapan ini mengejutkan dan mengherankan semua orang.

Thio Cu dan kawan-kawannya mengerutkan alisnya, memandang aneh kepada Seng Bu, menyangka bahwa pemuda itu telah menjadi gila.

"Ouw Seng Bu, jangan engkau bicara yang bukan-bukan. Siapa dapat mempercayai omonganmu yang seperti orang gila itu?"

Kembali Beng Bu tertawa dan kini dia menoleh ke arah semua anggauta Thian-li-pang.

"Kalian semua lihat baik-baik. Thio Cu dan lima orang ini tetap tidak percaya. Biarlah mereka membuktikan sendiri dan kalian menjadi saksi. Aku akan mempergunakan Bu-kek Hoat-keng kepada mereka seperti yang dilakukan Yo Han kepada Suhu, Suci dan Suheng, dan kalian nanti lihat akibatnya!"

"Seng Bu, apakah engkau sudah gila?"

Thio Cu berseru lagi.

"Kalian berenam, bersiaplah untuk membuktikan kebenaran tuduhanku!"

Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking yang amat menyeramkan, seperti suara iblis dari neraka atau seekor binatang buas sedang menderita hebat, tubuhnya bergerak ke depan secara aneh, kedua tangannya bergerak seperti orang mabuk.

Thio Cu dan lima orang saudaranya yang mengira Seng Bu telah menjadi gila, cepat bersiap siaga untuk menangkap dan menundukkan murid keponakan yang mendadak menjadi gila itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget perasaan hati mereka ketika mereka dilanda angin topan yang dasyat.

Mereka sudah berusaha menangkis, namun semua tangkisan sia-sia belaka, lengan mereka seperti lumpuh dan enam orang itu terkena tamparan tangan kiri Seng Bu pada dada mereka.

Bagaikan daun-daun kering dihembus angin badai, tubuh mereka terlempar dan terjengkang, roboh malang-melintang, berkelojotan dan tewas!

Dan yang membuat semua anggauta Thian-li-pang terbelalak dan memandang ngeri adalah ketika mereka melihat betapa wajah dan tubuh enam orang itu menjadi kehitaman dan hangus!

Seng Bu telah biasa kembali.

Kini dengan penuh wibawa dia berdiri bertolak pinggang, menghadapi semua anggauta Thian-li-pang dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa.

"Ada lagi di antara kalian yang tidak percaya kepadaku bahwa pembunuh Suhu, Suheng dan Suci adalah Yo Han? Dan apakah ada lagi yang tidak setuju kalau aku mulai saat ini menjadi ketua Thian-li-pang dan memimpin kalian?"

Tidak ada seorang pun berani menjawab. Peristiwa itu terlampau hebat dan semua orang masih tertegun, seperti patung.

"Hayo jawab, apakah ada yang hendak menentangku?"

Seng Bu mem-bentak, suaranya kini terdengar menyeramkan, mengejutkan semua orang.

Mereka itu serentak menjatuhkan diri berlutut menghadap Seng Bu, seolah-olah takut kalau-kalau pemuda itu menjadi marah dan menjatuhkan tangan saktinya kepada mereka.

"Tidak ada.... tidak ada...."

"Kami semua tunduk kepada Pang-cu...."

"Hidup Ouw-pangcu!"

Seng Bu tersenyum, senyum biasa yang membuat wajahnya nampak tampan menarik.

"Bagus, aku akan memimpin kalian, membawa Thian-li-pang maju, tidak seperti sekarang ini. Thian-li-pang akan menjadi perkumpulan terbesar! Kalau Yo Han berani datang, aku akan membunuhnya dengan ilmu yang sama! Sekarang, kita bereskan semua jenazah ini. Tidak perlu dikubur, kita mesukkan saja ke dalam sumur tua itu!"

Semua orang terbelalak dan bergidik, Akan tetapi tidak ada yang berani membantah.

Melihat sikap para anggauta itu ragu-ragu, Seng Bu tidak sabar dan dia menghampiri jenazah-jenazah itu, lalu sekali angkut, kedua tangannya sudah mencengkeram empat batang tubuh, masing-masing tangan mengangkat dua mayat, lalu dengan langkah lebar dia menghampiri semak belukar, dan melempar-lemparkan empat batang tubuh itu ke dalam sumur tua!

Dua kali dia membawa delapan mayat, dan mayat terakhir, yaitu mayat Lauw Kang Hui, dibawanya dan dimasukkannya pula ke dalam sumur tua!

Semua orang hanya terbelalak, bergidik dan takut sekali kepada pemuda yang biasanya lembut dan ramah itu.

Mereka kini memandang Seng Bu seolah-olah pemuda itu kini berubah menjadi iblis yang amat menakutkan.

"Kalian tahu mengapa aku tidak mengubur jenazah mereka dan membiarkan mereka menjadi penunggu sumur tua?"

Tanya Seng Bu kepada para anah buah Thian-li-pang.

Tak seorang pun dapat menjawab, bahkan tidak berani membuka mulut, hanya menggeleng kepala menyatakan bahwa mereka tidak tahu.

"Aku bukanlah orang yang tidak mengenal aturan. Aku melempar semua mayat ke dalam sumur tua dengan makaud tertentu,"

Kata Seng Bu dengan sikap biasa, ramah lembut dan berwibawa.

"Biarlah mereka itu menjadi arwah penasaran, hal ini kusengaja. Nanti kalau aku sudah berhasil menangkap Yo Han, dia akan kulemparkan ke dalam sumur, baik masih hidup atau sudah mati. Dengan demikian, arwah Suhu, Suci dan Suheng akan merasa senang, dapat membalas kepada Yo Han. Juga arwah enam orang anggauta Thian-li-pang semua akan ikut mengeroyok dan menyiksa Yo Han."

Semua anggauta diam saja, masih tertegun dan masih terkejut dan ketakutan.

"Sekarang semua kembali dan berkumpul di ruangan besar. Aku sebagai ketua baru akan mengadakan peraturan baru. Kita harus dapat menjadikan Thian-li-pang sebagai perkumpulan yang besar dan makmur, tidak seperti sekarang ini. Miskin dan tidak pernah melakukan apa-apa yang sesuai dengan perjuangan kita menentang pemerintah Mancu."

Setelah mereka berada di sarang Thian-li-pang, Seng Bu mengumpulkan seluruh anggauta dan dia membuat peraturan baru yang membongkar semua peraturan lama.

Dan mulai haro itu, Thian-li-pang kembali seperti sebelum Yo Han memasukinya, Yaitu menjadi perkumpulan yang dengan kedok perjuangan melakukan apa saja untuk dapat mengumpulkan harta.

Mereka menguasai tempat-tempat pelesir di kota-kota, menundukkan Jagoan-jagoan yang memimpin kelompok-kelompok penjahat sehingga semua penjahat harus mengakui Thian-li-pang sebagai pimpinan dan menyerahkan sebagian dari hasil kejahatan mereka sebagai tanda menaluk atau pajak.

Mereka yang berani menentang, dihancurkan dengan mudah karena selain Thian-li-pang mempunyai banyak anggauta yang tangguh, juga ketuanya adalah seorang yang lihai.

Tidak sukar bagi para anggauta Thian-li-pang untuk mengambil cara hidup baru ini, yang sebetulnya hanya merupakan pengulangan atau kambuhan saja dari cara hidup mereka yang terdahulu.

Dan memang hasilnya dapat dirasakan oleh para anggauta, yakni kemakmuran dan serba kecukupan, Walaupun uangnya didapat dari hasil kekerasan dan kejahatan.

Dalam waktu beberapa bulan saja, nama Thian-li-pang semakin tersohor dan perkumpulan ini menjadi perkumpulan yang kaya dan berpengaruh, juga amat ditakuti orang.

Ouw Seng Bu mempunyai alasan sendiri untuk membenarkan tindakannya itu.

Pernah dia mengumpul-kan semua anggautanya dan dengan panjang lebar dia menandaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.

Mereka yang tadinya merasa penasaran juga melihat ketua mereka kini menjalin hubungan baik lagi dengan Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai dan gerombolan-gerombolan lain yang di dunia kang-ouw terkenal sebagai gerombolan jahat dan golongan hitam, menjadi hilang perasaan penasaran itu setelah mendengar keterangan ketua mereka yang baru dan masih muda itu.

"Perjuangan menentang pemerintah penjajah Mancu adalah perjuangan yang suci,"

Demikian antara lagi Seng Bu berkata.

"cita-citanya hanya satu, yaitu menentang dan menggulingkan pemerintah penjajah, mengusir penjajah Mancu dari tanah air dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajah! Perjuangan tidak mengenal golongan putih atau golongan hitam. Yang terpenting adalah cita-cita tercapai. Demi tercapainya cita-cita perjuangan, apa pun boleh kita lakukan, tidak ada pantangan lagi!"

Ucapan Seng Bu disambut dengan gembira oleh semua anak buah Thian-li-pang cara yang dipakai ketua mereka itu tentu saja membuka kesempatan besar bagi mereka untuk memuaskan keinginan mereka sendiri dengan membonceng perjuangan!

Mereka dapat saja menggunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka kepada rakyat, Dapat melakukan perampokan atau pencurian karena semua itu menjadi benar dan baik kalau mereka menggunakan alasan demi perjuangan!

Tujuan menghalalkan segala cara!

Itulah pendirian mereka yang telah dicengkeram oleh nafsu.

Nafsu selalu menghendaki agar keinginannya tercapai, tersalurkan dan terpuaskan.

Mengejar keinginan atau ambisi berarti membiarkan nafsu merajalela menguasai diri sehingga kesadaran lenyap, akal sehat menjadi sakit, pertimbangan patah-patah.

Nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan menyeret kita melakukan segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang sifatnya merusak.

Tujuan mengumpulkan harta sebanyaknya menghalalkan kita melakukan penipuan, korupsi, pencurian dan sebagainya, karena harta dianggap sebagai sumber kesenangan.

Tujuan memperoleh kedudukan yang dianggap sebagai sumber kemuliaan, kehormatan dan kesenangan menghalalkan kita melakukan pengkhianatan, kelicikan, penipuan dan menghantam siapa saja yang menghalangi kita, kalau perlu membunuh penghalang itu!

Semua ambisi, semua keinginan, tidak lain hanyalah pengejaran terhadap apa yang dianggap menjadi sumber kesenangan.

Pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela semua perbuatan itu, dengan memberi istilah yang indah-indah dan muluk-muluk terhadap pengejaran keinginan itu, misalnya perjuangan, cita-cita dan sebagainya.

Yang terpenting justeru terletak kepada cara itu.

Cara berarti tindakan, cara berarti saat ini, sekarang.

Tujuan hanya merupakan khayal, belum ada.

Yang menentukan adalah cara itu, tindakan itu, sekarang ini.

Yang sekarang ini menentukan yang nanti, karena yang nanti hanya merupakan akibat dan kelanjutan dari yang sekarang.

Tidak mungkin mencapai tujuan yang baik dengan cara yang buruk, tidak mungkin mencapai tujuan yang bersih dengan cara yang kotor.

Kalau caranya kotor, akhirnya yang didapat sebagai akibat cara itu pun pasti kotor.

Kalau orang melakukan sesuatu sambil membayangkan tujuan yang hendak dicapai oleh tindakannya itu, maka besar kemungkinan dia terseret oleh nafsu dan dibutakan oleh kemilau tujuan yang hendak dicapai.

Tindakan yang benar adalah tindakan yang tidak terbimbing nafsu, melainkan tindakan yang dasarnya penyerahan kepada Tuhan sehingga tindakan itu akan selalu terbimbing oleh kekuasaan Tuhan.

Tindakan seperti ini merupakan tindakan yang dilakukan demi tindakan yang penuh kasih terhadap tindakan itu, Karena kekuasaan Tuhan berlimpahan dengan kasih.

Kalau kita mencintai apa yang kita lakukan, mencintai apa yang kita kerjakan, demi pekerjaan itu sendiri tanpa membayangkan hasilnya, maka apa yang akan kita lakukan itu sudah pasti benar dan baik, sebagai kemampuan kita.

Kalau kita belajar dan mencintai apa yang kita lakukan, sudah pasti dengan sendirinya kita memperoleh kemajuan dan ijazah tanpa kita mengejarnya.

Ijazah itu hanya merupakan akibat atau buah daripada pohon yang kita tanam sendiri, yaitu mengerjakan pelajaran itu.

Sebaliknya, kalau kita belajar demi mendapatkan ijazah, maka kita akan mudah terseret karena yang kita pentingkan hanya ijazahnya, bukan pelajarannya sehingga mungkin kita akan melakukan penyelewengan dengan menyontek, dengan membeli, menyogok dan sebagainya.

Bukan berarti bahwa kita harus menolak kesenangan.

Sama sekali bukan.

Hidup menikmati kesenangan merupakan anugerah dari Tuhan!

Kalau Tuhan tidak menghendaki, tentu kita tidak diberi perlengkapan sebagai sarana untuk dapat menikmati kesenangan itu.

Kita berhak menikmati kesenangan karena itu pemberian Tuhan.

Akan tetapi kesenangan yang tidak dibuat-buat, tidak dicari-cari, tidak dikejar-kejar.

Kesenangan letaknya di dalam perasaan hati, dan rasa senang yang menyelinap di dalam hati, tanpa dikejar-kejar, itulah kesenangan sejati yang biasa kita namakan kebahagiaan.

Kesenangan yang dikejar dan diberi adalah kesenangan nafsu.

Dan biasanya, kesenangan seperti ini lebih nikmat dikenang dan dibayangkan daripada dialami pada saatnya.

Hal ini timbul karena perbandingan dengan apa yang kita kenang, apa yang kita bayangkan.

Seolah-olah semua kenikmatan itu sudah menjadi hambar, dihisap habis oleh kenangan dan bayangan masa lalu dan masa depan.

Tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan, pada saat itu, kalau kesenangan menyelinap di hati, itulah kebahagiaan.

Seperti melihat penglihatan indah, mendengar suara merdu, mencium bau harum.

Kita memperoleh kebahagiaan pada saat itu, dan habis pula pada saat itu.

Kalau kita menyimpannya dalam ingatan, maka kebahagiaan itu berubah menjadi kesenangan.

Pikiran, ingatan paling suka menguyah-nguyah pengalaman yang nikmat, lalu membayangkan dengan latar belakang kenangan.

Dari sini timbulnya pengejaran, dan kalau yang dikejar sudah dapat, Akan terasa hambar karena tidak seindah yang dikenang dan dibayangkan!

Kebahagiaan adalah saat demi saat, tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan.

Bahkan hidup adalah sekarang, saat ini, saat demi saat.

Yang lalu sudah mati dan hanya kenangan, yang akan datang hanya bayangan khayal.

Ouw Seng Bu telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, ilmu yang menjadi aneh karena dia mempelajarinya dari catatan yang tidak lengkap, dipelajari tanpa bimbingan guru sehingga pelajaran yang tidak lengkap dan terbalik-balik itu menyeretnya ke alam yang mendekati kegilaan.

Memang dia menjadi lihai bukan main, akan tetapi, ilmu itu pun mempengerahi hati akal pikirannya, membuat dia kadang-kadang kumat seperti orang gila, bahkan lebih mengerikan lagi, seperti iblis sendiri yang menjelma dalam tubuh manusia.

"Apa kau bilang? Heh, Sun-ji (anak Sun), lupakah engkau siapa dirimu ini? Engkau adalah cucu Kaisar, tahu? Engkau adalah seorang pangeran, cucu kaisar sendiri! Dan kau katakan bahwa engkau jatuh cinta kepada puteri ketua Pao-beng-pai, kaum pemberontak itu? Gila!"

"Ayah, apakah cucu kaisar itu bukan manusia? Dan puteri Pao-beng-pai juga bukan manusia? Kami berdua sama-sama manusia, pria dan wanita, maka apa yang perlu diherankan kalau kami saling jatuh cinta?"

Bantah Pangeran Cia Sun di de-pan ayahnya dan ibunya.

Dia baru saja pulang dan langsung melapor kepada ayah ibunya bahwa dia jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, puteri ketua Pao-beng-pai dan minta kepada orang tuanya agar meminang gadis itu untuk menjadi isterinya.

"Anakku, bagaimana engkau dapat berkata seperti itu?"

Ibunya membujuk dengan lembut dan meletakkan tangannya di pundak puteranya.

"Tentu saja engkau tidak mungkin dapat disamakan dengan pemuda biasa yang lain, dapat menikah dengan sembarang gadis saja."

"Akan tetapi, Ibu. Kami sudah saling mencinta, dan cinta tidak mengenal pang-kat atau derajat!"

Bantah Cia Sun.

"Cia Sun!"

Ayahnya, Pangeran Cia Yan, membentak marah.

"Ingat, sejak engkau masih kecil, kami telah mengikat tali perjodohanmu dengan puteri Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong. Puterinya itu seorang gadis yang cantik jelita, berbudi, gagah perkasa dan bahkan mendapat julukan Si Bangau Merah. Kami bangga sekali mempunyai mantu seperti gadis itu. Dan baru-baru ini, ayah ibu gadis itu datang ke sini. Mereka menantimu, akan tetapi sia-sia saja mereka menanti walaupun kami telah mengirim orang untuk mencarimu dan memanggilmu pulang. Dalam pertemuan itu ayah ibumu sudah mematangkan urusan itu, dengan resmi kami mengambil keputusan untuk menjodohkan engkau dengan Tan Sian Li. Ialah calon jodohmu, bukan wanita lain!"

"Tapi, Ayah. Aku dan ia tidak saling mencinta, bahkan bertemu muka pun belum pernah!"

Cia Sun membantah.

"Sudah cukup!"

Pangeran Cia Yan membentak marah.

"Engkau yang belum pernah membalas budi ayah ibumu, sekarang bahkan hendak menjadi anak yang murtad dan tidak berbakti? Pendeknya, Tan Sian Li adalah calon isterimu, bukan perempuan lain!"

Ibunya cepat melerai.

"Anakku, kenapa engkau menjadi bingung? Tentu saja engkau dapat mengambil wanita lain sebagai selir kalau engkau menyukai gadis-gadis lain...."

Ayahnya memotong.

"Tentu saja engkau boleh mempunyai selir, akan tetapi selir-selirmu pun harus gadis baik-baik agar jangan menodai nama keluarga kita. Kita ini keluarga Cia, keluarga Kaisar, tahu? Kalau engkau mencinta gadis lain, tentu boleh kau jadikan selir, dan gadis itu... siapa tadi kau bilang? Ah, puteri ketua Pao-beng-pai? Kau maksudkan perkumpulan pemberontak yang baru-baru ini mengadakan pertemuan rahasia dengan para pemberontak lain untuk menggulingkan pemerintah? Gila!"

"Tapi Siangkoan Eng tidak seperti ayahnya, Ayah. Ia sama sekali tidak jahat, bahkan ia berjanji kalau menjadi isteriku, tidak akan mencampuri urusan dunia kang-ouw, tidak akan mencampuri urusan pemberontakan lagi...."

"Ihhh, engkau agaknya sudah terkena guna-guna. Dan Pao-beng-pai....? Hemmm, kiranya engkaulah pemuda yang ditawan mereka itu?"

"Ayah tahu tentang itu?"

Cia Sun memandang ayahnya dengan heran.

"Memang aku telah ditawan mereka, dan kalau tidak ada Eng-moi, tentu aku telah mereka bunuh, atau dijadikan sandera untuk mengacau pemerintah, Ayah."

"Sudah, jangan bicara lagi tentang gadis Pao-beng-pai itu. Sekarang pun pasukan telah bergerak ke sana untuk membasminya sampai ke akar-akarnya dan membunuh seluruh pimpinannya."

Cia Sun terbelalak.

"Ahhh? Apa yang Ayah katakan?"

Pangeran Cia Yan mengangguk-angguk dan tersenyum, merasa menang. Lalu dia berkata bangga.

"Apa kau kira pemerintah bodoh? Di antara, para tamu, terdapat mata-mata kita yang diselundupkan. Kalau engkau saja dapat menyelundup menjadi tamu, apalagi mata-mata yang cerdik. Sekarang Ciong-ciang-kun (perwira Ciong) telah membawa pasukan untuk membasmi gerombolan pemberontak itu dan...."

Pangeran Cia Yan terkejut melihat puteranya bangkit berdlri dan melangkah pergi.

"....Hei, kau mau ke mana?"

Cia Sun menoleh dan berkata.

"Ayah, Ibu, aku harus pergi, aku harus menyelamatkan Eng-moi dan ibunya. Mereka tidak bersalah, mereka tidak boleh ikut terbasmi!"

Dan pemuda itu pun berlari cepat meninggalkan rumah orang tuanya, tidak mempedulkan teriakan ayah ibunya yang memanggilnya.

Kedua orang tua itu hanya menghela napas panjang dan menggeleng kepala saja.

"Itulah sebabnya aku ingin sekali dia menjadi suami seorang wanita perkasa seperti Si Bangau Merah,"

Kata Pangeran Cia Yan kepada isterinya.

"Semenjak dia suka belajar silat, wataknya pun berubah menjadi keras kepala dan berjiwa petualang. Kalau dia tidak men-dapatkan seorang isteri yang pandai dan berwibawa, berilmu tinggi, tentu tidak ada yang akan mampu mengendalikannya."

Cia Sun cepat berlari ke markas pasukan untuk mencari Perwira Ciong yang sudah dikenalnya.

Akan tetapi dia terlambat.

Perwira itu telah berangkat bersama pasukan-nya yang berjumlah seribu orang.

Cia Sun cepat melakukan pengejaran, menunggang seekor kuda.

Pada waktu itu memang banyak ter-dapat perkumpulan atau kelompok orang-orang yang melakukan usaha untuk menentang pemerintah kerajaan Mancu.

Namun, satu demi satu, perkumpulan pejuang yang disebut pemberontak oleh kerajaan Mancu, dapat dihancurkan.

Kekuatan pasukan Mancu masih amat kuat, sedangkan para pejuang itu tidak mempunyai persatuan yang kokoh.

Mereka bahkan membentuk kelompok sendiri-sendiri, Bukan hanya itu bahkan di antara mereka kadang terdapat bentrokan sendiri yang tentu saja melemahkan kekuatan mereka.

Banyak pula bermunculan perkumpulan pejuang yang lebih condong menjadi perkumpulan golongan sesat atau golongan hitam, karena mereka melakukan segela macam bentuk kejahatan.

Pao-beng-pai merupakan satu diantara perkumpulan pejuang yang pada hakekatnya memang membenci, bahkan mendendam kepada kerajaan Mancu.

Hal ini adalah karena pemimpinnya atau pendirinya, Siangkoan Kok, adalah seorang keturunan keluarga kerajaan Beng yang telah dijatuhkan oleh bangsa Mancu.

Oleh karena itu, gerakan perjuangan Pao-beng-pai ini lebih condong kepada gerakan untuk membalas dendam atau merampas kembali tahta kerajaan Beng yang sudah dirampas oleh bangsa Mancu yang mendirikan kerajaan Ceng.

Namun, karena Siangkoan Kok, keturunan keluarga kerajaan Beng itu juga seorang datuk sesat, bahkan isterinya, Lauw Cu Si, juga keturunan pimpinan Beng-kauw yang terkenal sebagai perkumpulan sesat, maka Pao-beng-pai juga merupakan perkumpulan yang tidak pantang melakukan kekejaman atau kejahatan.

Pihak pemerintah selalu mengamati perkembangan perkumpulan-perkumpulan pemberontak seperti itu.

Pemerintah memang maklum bahwa tidak mudah membasmi seluruh pemberontak sampai ke akar-akarnya.

Sudah seringkali pasukan pemerintah menghancurkan gerombolan pemberontak, akan tetapi para anak buahnya yang berhasil meloloskan diri, segera bergabung lagi dengan kelompok pemberontak lain.

Oleh karena itu, pemerintah hanya memperhatikan kelompok yang besar-besar dan berbahaya saja.

Ketika Pao-beng-pai mengada-kan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw, tentu saja peristiwa ini tidak terlepas dari perhatian para mata-mata yang disebar oleh pemerintah.

Setelah menyaksikan pertemuan itu, mendengar betapa Pao-beng-pai menyusun kekuatan, mengajak semua pihak yang menentang pemerintah untuk bergabung dan bekerja sama untuk melakukan pemberontakan, mata-mata cepat memberi kabar ke kota raja.

dan para panglima yang bertugas menumpas setiap pemberontakan segera mengambil tindakan tegas dan cepat.

Panglima Ciong, yang terkenal sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan pandai, yang sudah seringkali melakukan pembasmian terhadap para pemberontak, segera ditugaskan untuk memimpin pasukan seribu orang menyerbu dan membasmi Pao-beng-pai di Han-kwi-kok, lembah Bukit Iblis.

Siangkoan Kok marah sekali ketika mendengar bahwa puterinya, Siangkoan Eng, pergi dari Ban-kwi-kok tanpa pamit.

Selama belasan hari ini dia memang tidak pernah menengok lagi kepada isteri dan puterinya itu, sejak dia marah-marah hampir membunuh Eng Eng.

Dia tidak mempedulikan mereka, dan berpengantinan dengan isterinya yang baru, yaitu bekas muridnya yang dipaksanya untuk melayaninya dan menjadi pengganti isterinya.

Dengan kemarahan meluap-luap, pria tinggi besar berusia lima puluh lima tahun ini, pergi mencari Lauw Cu Si, isterinya yang sedang menangis di ruangan belakang.

Mukanya merah sekali dan begitu melihat isterinya, yang menangis, dia pun membentak.

"Ke mana perginya anak durhaka itu? Engkau tentu yang sengaja menyuruhnya minggat, bukan?"

Bentakan ini disertai tangannya menggebrak meja dan bagaikan tergetar seluruh ruangan itu.

Lauw Cu Si yang sedang menangisi kepergian puterinya, dan tadi duduk, segera menghentikan tangisnya dan bangkit berdiri.

Nyonya berusia empat puluh tahun ini masih cantik.

Kalau biasanya ia selalu tunduk dan penurut, kini ia bangkit berdiri dan tegak menghadapi suaminya, mukanya diangkat dan sepasang matanya bersinar-sinar, menatap wajah suaminya dengan penuh keberanian dan kemarahan, kemudian, telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka suaminya dan terdengar suaranya, suara yang menggetar dan mengandung kemarahan yang hebat.

"Kau....! Kau manusia binatang, kau iblis busuk, engkaulah yang membuat Eng Eng melarikan diri, meninggalkan aku! Engkau yang harus bertanggung jawab. Ia bukan anakmu, bukan darah dagingmu, bukan apa-apamu. Ia milikku, anakku, akan tetapi engkau hampir membunuhnya! Sekarang ia pergi dan engkau yang harus bertanggung jawab!"

Kemarahan Siangkoan Kok meluap-luap. Selama ini, isterinya itu belum pernah memakinya seperti itu.

"Perempuan busuk tak mengenal budi! Aku telah mengangkatmu dari lembah kehinaan setelah Beng-kauw hancur, juga memelihara anakmu seperti anakku sendiri. Dan begini balas kalian kepadaku? Kalau tahu akan begini, sudah sejak dulu Eng Eng kubunuh, dan kau juga!"

"Apa? Kau hendak membunuh kami? Cobalah kalau engkau mampu! Kau kira aku takut padamu?"

Wanita itu saking sedihnya ditinggal pergi anaknya, menjadi marah dan nekat.

Walaupun ia tahu benar bahwa ilmu kepandaiannrya masih kalah dibandingkan suaminya, ia berani menantang!

"Bagus, kalau begitu mampuslah kau Lauw Cu Si, perempuan tak tahu diri!"

Siangkoan Kok menerjang isterinya de-ngan dahsyat.

Namun, Lauw Cu Si yang sudah nekat, cepat mengelak dan membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.

Bahkan wanita ini sudah mencabut pedangnya, lalu menyerang bertubi-tubi.

Siangkoan Kok juga mencabut pedangnya dan suami isteri ini lalu berkelahi mati-matian.

Lauw Cu Si adalah seorang tokoh sesat, keturunan ketua Beng-kauw dan ia memiliki ilmu silat yang dahsyat dan keji pula.

Tingkat kepandaiannya sudah tinggi dan ia hanya kalah sedikit saja dibandingkan suaminya, maka tidaklah terlalu mudah bagi Siangkoan Kok untuk membunuh isterinya.Para murid dan anggauta Pao-beng-pai yang melihat perkelahian ini, menjadi bingung sekali.

Mereka tidak berani mencampuri.

Orang-orang yang mungkin berani mencampuri hanyalah Siangkoan Eng, atau mungkin juga Tio Sui Lan, murid kepala dari Siangkoan Kok yang kini menjadi selirnya itu.

Akan tetapi pada saat itu, Eng Eng tidak ada, sudah pergi tanpa pamit, dan ketika para murid mencari Tio Sui Lan, mereka juga tidak dapat menemukan murid utama yang selama beberapa hari ini menjadi isteri ketua mereka.

Karena bingung, tidak tahu harus berbuat apa, para murid dan anggauta Pao-beng-pai itu bahkan menjauh, sama sekali tidak berani mencampuri perkelahian antara sang ketua dan isterinya, karena mereka tahu bahwa mencampuri berarti akan mati konyol.

Pada saat semua orang menjadi bingung itu, terdengar suara gaduh di lereng bukit, suara tambur dan terompet, suara sorakan riuh rendah.

Siangkoan Kok sudah dapat menekan dan mendesak Lauw Cu Si.

Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kemerahan, dan biarpun Lauw Cu Si sudah melawan dengan nekat saking marahnya, tetap saja ia kalah tingkat dan terdesak, bahkan ia telah menderita beberapa luka karena tusukan dan bacokan pedang.

Suara tambur dan terompet itu mengejutkan Siangkoan Kok.

Akan tetapi Lauw Cu Si tidak peduli.

Satu-satunya perhatian wanita ini hanyalah ingin membunuh pria yang selama ini dipuja dan ditaatinya, karena pria ini hampir saja membunuh puterinya, dan kini ingin membunuhnya.

Namun, Siangkoan Kok yang kini terkejut dan bingung mendengar suara gaduh dan disusul sorak-sorat dan suara pertempuran, cepat menggerakkan kakinya menendang.

Karena isterinya memang sudah terdesak oleh pedangnya, maka tendangan itu tidak dapat dielakkan Lauw Cu Si.

"Desss....!"

Kaki Siangkoan Kok yang besar dan kuat itu menghantam perut isterinya, dan Lauw Cu Si terjengkang dan terlempar, roboh terbanting dan pingsan!

Siangkoan Kok sudah tidak lagi mempedulikan isterinya karena dari teri-akan-teriakan para anak buah Pao-beng-pai, dia dengan terkejut sekali mengetahui bahwa sarangnya diserbu pasukan pemerintah!

Pada saat itu, muncul Tio Sui Lan bersama belasan orang perwira!

Wanita muda itu menudingkan telunjuknya ke arah Siangkoan Kok sambil berkata.

"Inilah si jahanam Siangkoan Kok, si manusia iblis!"

Melihat munculnya murid yang telah dipaksanya menjadi isterinya itu bersama belasan orang perwira, Siangkoan Kok segera tahu apa yang terjadi.

Murid ini telah mengkhianatinya!

Pantas sejak pagi Sui Lan tidak nampak.

Ketika dia bangun tidur tadi, dia tidak melihat Sui Lan di sisinya.

Hal ini sudah membuatnya marah-marah, apalagi ketika mendengar bahwa Eng Eng telah minggat meninggal-kan Pao-beng-bai, kemarahannya memuncak.

Selama ini Eng Eng menjadi puterinya yang patuh, bahkan menjadi pembantu utama, menjadi tokoh kedua sesudah dia di Pao-beng-pai.

Kini, tahu-tahu murid yang telah dipaksanya menjadi isteri selama belasan hari itu, tiba-tiba muncul dengan belasan orang perwira pemerintah yang membawa pasukan dan yang agaknya kini melakukan penyerbuan ke situ.

"Pengkhianat kau....!!"

Teriaknya sambil melotot memandang kepada wanita yang malam tadi masih menjadi kekasihnya tercinta.

Akan tetapi Sui Lan tersenyum mengejek, dan kedua matanya bercucuran air mata!

"Engkaulah manusia iblis!

Dan ini pembalasanku, Siangkoan Kok!"

Teriaknya dan dengan nekat Sui Lan yang sudah memegang pedang itu kini menerjang dan menyerang pria yang selama ini menjadi gurunya yang ditaati, kemudian ketaatannya hancur bersama kehormatannya yang direnggut secara paksa oleh orang yang dihormatinya itu.

Para perwira itu terkejut.

Tadi ketika mereka memimpin pasukan mendaki lereng Kwi-san menuju Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) setelah semalam mengurung tempat itu, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik yang menuruni lereng.

Segera wanita itu dikepung.

Wanita itu adalah Tio Sui Lan!

Ketika melihat bahwa tempat itu telah terkepung pasukan pemerintah, Sui Lan yang tadinya hendak melarikan diri, menjadi girang sekali.

Ia lalu menyatakan ingin membantu pasukan menghancurkan Pao-beng-pai.

Ia mengatakan bahwa tanpa petunjuk jalan yang mengenal tempat itu, penyerbuan akan menghadapi kesulitan karena di sekeliling Ban-kwi-kok dipasangi jebakan-jebakan yang amat berbahaya.

Usulnya diterima dan demikianlah, berkat petunjuk wanita yang menjadi peng-khianat karena sakit hati itu, pasukan pemerintah dapat naik sampai mengurung sarang Pao-beng-pai dengan mudah.

Kini, setelah berhasil menyusup dengan diam-diam dan penyerbuan dilakukan serentak sehingga menggegerkan.

para anggauta Pao-beng-pai, Sui Lan menjadi petunjuk jalan bagi para perwira untuk mencari pemimpin pemberontakan dan melihat pemimpin pemberontak itu baru saja merobohkan isterinya sendiri.

Dan melihat Sui Lan tiba-tiba menyerang Siangkoan Kok, para perwira tentu saja terkejut dan khawatir karena mereka semua sudah mendengar betapa lihainya katua Pao-beng-pai itu.

Mereka serentak maju, namun terlambat.

Ketika Sui Lan menyerang Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini sedemikain marah-nya sehingga dia menyambut bekas murid dan juga bekas kekasih paksaan itu dengan pedangnya.

Sambutan yang dahsyat dan penuh ke-beranian sehingga pedangnya seperti kilat menyambar.

"Tranggg.... crakkk!"

Pedang di tangan Tio Sui Lan terlempar, disusul tubuhnya yang roboh mandi darah karena pedang di tangan Siangkoan Kok telah menembus dadanya!

Wanita yang malang itu tewas seketika karena pedang ketua Pao-beng-pai itu beracun, juga pedang itu menembus jantungnya.

Belasan orang perwira cepat menerjang dan mengeroyoknya.

Mereka adalah jagoan-jagoan dari kota raja.

Biarpun kalau maju seorang demi seorang, mereka bukan lawan Siangkoan Kok, akan tetapi karena maju bersama, tentu saja ketua Pao-beng-pai menjadi kewalahan dan repot sekali.

Apalagi melihat keadaan di luar rumah yang gaduh.

Dia ingin melihat keadaan para anggautanya, maka dia pun meloncat ke belakang dan menghilang melalui sebuah pintu yang segera tertutup sendiri ketika belasan orang perwira itu hendak mengejar.

"Itu isterinya, kita basmi saja sekalian!"

Teriak seorang perwira.

Saat itu, Lauw Cu Si sudah siuman dari pingsannya dan ia sudah bangkit duduk lalu berdiri sambil memegang pedangnya yang tadi terlepas ketika ia roboh tertendang suaminya.

Melihat belasan orang perwira itu mengepungnya, ia pun melintangkan pedang di depan dada.

"Hemmm, bunuhlah aku. Aku memang telah terperosok, bodoh sekali menjadi isteri Siangkoan Kok!"

Katanya dengan sikap gagah walaupun tubuhnya sudah luka-luka oleh pedang suaminya dan terutama sekali, tendangan tadi masih terasa dan melemahkan tubuhnya.

"Bunuh ia!"

Teriak para perwira dan siap hendak mengeroyok.

"Tahan, jangan serang!"

Terdengar seruan dan ketika para perwira menoleh, mereka terkejut dan heran mengenal Pangeran Cia Sun sudah berada di situ dengan pedang di tangan.

"Lebih baik cepat mengejar ketua Pao-beng-pai dan membasmi anak buahnya!"

Belasan orang perwira itu meragu.

"Tapi... ia dapat berbahaya bagi Paduka..."

Kata seorang perwira sambil menunjuk ke arah wanita itu.

"Tidak! Aku mengenalnya, ia tidak jahat. Kalian pergilah!"

Para perwira memberi hormat lalu cepat berloncatan keluar dari ruangan itu, untuk memimpin anak buah mereka yang sedang bertempur melawan para angauta Pao-beng-pai.

"Bibi....!"

Kata Cia Sun.

"Di mana Eng-moi....?"

Wanita itu hanya menggeleng kepala, hendak menggerakkan kakinya, akan tetapi ia terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat dirangkul Cia Sun.

"Bibi.... menderita luka-luka....? Oleh para perwira itu?"

Wanita itu menggeleng, hendak bicara, akan tetapi tiba-tiba ia muntah darah.

Melihat ini, terkejutlah Cia Sun, maklum bahwa wanita itu terluka parah.

Dipondongnya Lauw Cu Si yang setengah pingsan itu dan terpaksa dia melangkahi mayat Tio Sui Lan yang tadinya membuat dia terkejut bukan main ketika pertama kali memasuki ruangan itu, mengira itu mayat kekasihnya.

Dia merebahkan tubuh Lauw Cu Si ke atas sebuah bangku panjang.

Kini Lauw Cu Si dapat bicara, walaupun terengah-engah dan menahan rasa nyeri.

"Jahanam itu.... Siangkoan Kok.... yang memukulku...."

Tentu saja Cia Sun merasa heran sekali.

"Bibi, di mana Eng-moi?"

"Ia sudah pergi kemarin, tanpa pamit. Itu yang membuat Siangkoan Kok marah...."

"Tapi kenapa Eng-moi pergi?"

"Ketika Siangkoan Kok tahu bahwa Eng Eng membebaskanmu, dia menghajar Eng Eng dan hendak membunuhnya. Aku mencegahnya dan membuka rahasia bahwa dia tidak berhak membunuh Eng Eng yang bukan anaknya...."

"Bukan puterinya?"

Tentu saja Cia Sun terkejut dan heran.

"Ketika aku menjadi isterinya, aku membawa Eng Eng yang sudah berusia dua tahun lebih...."

"Ah, kalau begitu Eng-moi puteri Bibi dengan suami lain?"

Wanita itu kembali menggelengkan kepala, hendak bicara akan tetapi kembali ia batuk-batuk dan muntah darah, tendangan yang mengenai dadanya itu memang hebat sekali, membuat ia menderita luka dalam yang parah.

Sejenak ia terngengah-engah, wajahnya pucat sekali.

Cia Sun sudah merasa bingung sekali mendengar bahwa Eng Eng yang ternyata bukan puteri kandung ketua Pao-beng-pai itu telah pergi tanpa pamit.

Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap ibu Eng Eng yang keadaannya payah itu.

"Engkau.... benar.... seorang pangeran?"

Cia Sun mengangguk.

"Aku memang Pangeran Cia Sun, Bibi, akan tetapi aku mencinta Eng-moi."

"Kalau begitu, dengar baik-baik...."

Suaranya makin lemah seperti berbisik.

"Aku.... aku tidak dapat bertahan lama, aku akan mati.... dan inilah saatnya aku membuka rahasia...., dan engkau tepat orangnya yang kuberitahu.... dengar, Eng Eng bukan puteri Siangkoan Kok juga bukan anakku...."

"Ehhh? Lalu.... ia anak siapa, Bibi?"

"Ayah ibunya adalah orang-orang yang selalu dimusuhi golongan kami.... golongan Beng-kauw.... aku amat membenci ayah ibunya, terutama ayahnya, karena itulah.... aku.... menculik Eng Eng ketika ia berusia tiga tahun. Akan tetapi, aku.... aku amat mencintanya seperti anakku sendiri.... juga Siangkoan Kok menyayangnya sampai engkau muncul...."

"Ahhh....!"

Bermacam perasaan mengaduk hati pangeran itu.

Ada perasaan kaget, heran, akan tetapi juga kasihan dan bahkan ada perasaan girang.

Girang bahwa kekasihnya itu bukan anak kandung ketua Pao-beng-pai dan isterinya!

"Akan tetapi....

ke mana aku harus mencarinya, Bibi?

Aku harus mencari dan menemukannya, aku mencintanya dan akan mengambilnya sebagai isteriku!"

Cia Sun terkejut melihat wanita itu napasnya sudah empas-empis, dan agaknya sudah tidak mampu menjawabnya, matanya sudah terpejam.

"Bibi....! Bibi....! Katakan di mana Eng-moi!"

Cia Sun mengguncang-guncang pundak wanita yang sudah sekarat itu. Wanita itu membuka matanya yang sudah sayu dan suaranya hanya bisik-bisik saja.

"Suling Naga.... itulah ayah kandungnya.... tinggal di Lok-yang.... cari.... cari ke sana...."

Leher itu terkulai, mata itu terpejam dan wanita itu pun mati. Cia Sun bangkit berdiri, termenung. Sebutan "Suling Naga"

Terngiang di telinganya.

Dan dia tertegun.

Dia pernah mendengar nama besar Pendekar Suling Naga yang tinggal di Lok-yang.

Kalau dia tidak salah ingat, namanya Sim Houw, seorang pendekar yang sakti, terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat, pedang yang berbentuk suling, pedang suling, atau suling pedang.

Jadi Eng Eng adalah puteri pendekar sakti itu!

Ketika masih kecil diculik oleh Lauw Cu Si karena wanita itu sebagai orang Beng-kauw menganggap pendekar itu sebagai musuh besar.

"Ahhh....!!"

Tiba-tiba dia terbelalak.

Dia teringat kepada Yo Han.

Bukankah Yo Han mencari puteri pendekar itu yang hilang?

Kalau begitu, anak yang dicari oleh Yo Han itu bukan lain adalah Eng Eng!

Dia mengingat-ingat.

Yo Han, yang telah menjadi saudara angkatnya ketika mereka berdua dikurung sebagai tahanan di sarang Pao-beng-pai, pernah menceritakan bahwa anak yang dicari itu (Lanjut ke

Jilid 10) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 mempunyai ciri-ciri yang khas, dan ada noda merah sebesar ibu jari kaki di tapak kaki kanannya.

Mendengar suara pertempuran di luar, Cia Sun khawatir kalau-kalau gadis itu kembali dan ikut pula bertempur membela Pao-beng-pai melawan pasukan pemerintah.

Cepat dia menyelinap keluar dan mencari-cari.

Pertempuran hampir selesai.

Pihak pemberontak tidak mampu menandingi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya, apalagi dipimpin oleh para jagoan istana.

Bahkan Siangkoan Kok juga tidak nampak dan ketika dia tanyakan kepada para perwira, mereka pun tidak tahu ke mana perginya ketua pemberontak itu.

Ternyata Siangkoan Kok telah meloloskan diri, tidak mempedulikan anak buahnya yang dibantai pasukan.

Setelah mencari keterangan dan merasa yakin bahwa Eng Eng tidak pernah kembali dan tidak terlibat dalam per-tempuran itu, Cia Sun segera meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari kekasihnya.

Banyak anggauta Pao-beng-pai tewas, sisanya ditawan.

Gagallah gerakan Pao-beng-pai, seperti dialami oleh banyak kelompok pemberontak terdahulu.

Gadis itu berdiri termenung di lereng itu, memandang ke depan, ke arah bukit menghitam yang dinama-kan orang Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan).

Memang nampak menyeramkan dari lereng itu, seolah-olah lembah itu memang sepantasnya dihuni oleh setan dan iblis.

Para penduduk dusun di sekitar kaki Bukit Setan itu, menganggap Ban-kwi-kok sebagai lembah yang keramat dan tak seorang pun berani mendaki ke sana.

Akan tetapi, menurut keterangan para penghuni dusun, baru sebulan yang lalu lembah itu diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Kabar itu mengatakan bahwa terjadi pertempur-an besar, kemudian pasukan pemerintah turun dan membawa banyak tawanan, kemudian lembah itu nampak terbakar.

Biarpun desas-desus mengatakan bahwa gerombolan yang bersembunyi di lembah itu telah terbasmi habis, Dan lembah itu telah kosong, perkampungan gerombolan pemberontak telah dibakar, namun masih saja tidak ada seorang pun berani naik ke sana.

Gadis itu masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya.

Cantik manis dan nampak gagah dengan pakaiannya yang sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya yang padat dan ramping, dan pakaian itu bersih.

Wajahnya yang manis, dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar tajam, juga sederhana, tidak dipoles bedak dan gincu.

Akan tetapi, kulit mukanya memang sudah halus dan putih, dan kedua pipinya kemerahan karena sehat, demikian pula sepasang bibirnya merah tanpa gincu.

Biarpun ia muda dan cantik manis, namun di sepanjang perjalanan, tidak pernah atau jarang sekali ada pria yang berani mengganggunya.

Hal ini adalah karena penampilannya yang pendiam dan gagah, dengan sebatang pedang di punggung sehingga mudah diduga bahwa ia bukan wanita sembarangan yang boleh diganggu begitu saja, melainkan seorang wanita kang-ouw, seorang pendekar wanita.

Dan memang dugaan itu benar.

Gadis muda ini adalah Cu Kim Giok, puteri dari pendekar Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian.

Cu Kun Tek adalah pendekar yang merupakan keturunan para pendekar Cu majikan Lembah Naga Siluman.

Cu Kun Tek terkenal mewarisi ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman), juga ilmu tangan kosongnya Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), dan Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) hebat sekali.

Adapun ibu gadis itu, yang bernama Pouw Li Sian, bahkan lebih lihai dibandingkan suaminya.

Pouw Li Sian ini adalah murid mendiang Bu Beng Lokai yang sakti.

Ketika Cu Kim Giok diajak oleh ayah ibunya menghadiri ulang tahun dan pertemuan tiga keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong, gadis ini merasa gembira bukan main dan bangkitlah keinginannya untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau seperti yang dilakukan para pendekar.

Ayah ibunya tidak merasa keberatan.

Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar yang dahulu di waktu mudanya sudah biasa melakukan penjalanan merantau memperluas pengalaman.

Pula, puteri mereka telah mewarisi ilmu kepandaian mereka dan tingkat kepandaian gadis itu hanya sedikit selisihnya dengan tingkat mereka sehingga Kim Giok telah memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dan menjaga diri sendiri.

Tentu saja Kim Giok juga amat tertarik dengan peristiwa yang terjadi di rumah Suma Ceng Liong, Yaitu munculnya seorang gadis cantik lihai yang mengaku sebagai seorang puteri tokoh Pao-beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar, oleh karena itulah pada siang hari itu, ia tiba di Kwi-san dan kini termangu berdiri di lereng itu setelah ia mendengar keterangan penduduk tentang penyerbuan pasukan pemerintah yang membasmi gerombolan Pao-beng-pai di Lembah Selaksa Setan.

Ah, pikirnya, aku datang terlambat.

Andaikata tidak terlambat, tentu akan dapat menyaksikan terbasmi-nya gerombolan itu, dan kalau perlu ia akan membantu pasukan.

Bukan semata karena ia ingin mem-bantu pemerintah.

Ayah ibunya berpesan agar ia tidak melibatkan diri dengan pemerintah Mancu.

Akan tetapi, ia dapat mempergunakan kesempatan selagi gerombolan itu ditumpas, untuk membalas sikap sombong dara gadis Paobeng-pai itu terhadap tiga keluarga besar.

Ia menduga-duga bagaimana dengan nasib gadis cantik itu.

Apakah ikut terbunuh?

Atau tertawan?

Tidak ada gunanya lagi mendaki ke lembah yang sudah hancur itu.

Tentu tidak ada lagi orang di sana.

Cu Kim Giok membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan lereng itu.

Akan tetapi baru belasan langkah ia berjalan, tiba-tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar gerakan orang.

ia berhenti melangkah dan memandang ke sekeliling penuh kewaspadaan dan tiba-tiba bermunculan lima orang laki-laki yang nampak bengis.

Mereka itu berloncatan dari balik semak belukar.

Melihat bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang cantik manis, mereka cengar-cengir dan menyeringai dengan sikap kurang ajar, dengan mata yang liar dan bengis.

Kim Giok bersikap tenang, namun matanya yang indah tajam itu menyapu mereka.

Lima orang itu berusia antara tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun, tubuh mereka rata-rata kekar dan kuat.

Pakaian mereka butut dan kotor, tentu telah lama tidak pernah berganti pakaian.

Melihat pakaian kotor itu seperti seragam abu-abu, teringatlah ia akan beberapa orang laki-laki yang ikut datang mengawal gadis Pao-beng-pai yang berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong tempo hari.

Agaknya mereka ini sisa anggauta Pao-beng-pai, pikir gadis yang cukup cerdik ini.

Dan memang dugaannya benar.

Lima orang itu adalah mereka yang berhasil lolos dari penyerbuan pasukan pemerintah.

Karena takut muncul di tempat umum, lima orang ini bersembunyi saja di Kwi-san, tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai.

Mereka mengharapkan dapat bertemu dengan seorang di antara para pimpinan mereka karena mereka tahu bahwa ketua mereka tidak tewas, Juga tidak ikut tertawan.

Hanya nyonya ketua mereka yang tewas.

Bahkan nona puteri ketua juga tidak ikut tertawan.

Ketika dari tempat persembu-nyian mereka nampak ada gadis yang datang ke tempat itu, mereka tadinya mengira bahwa gadis itu tentulah Siangkoan Eng, dan mereka merasa girang sekali.

Akan tetapi setelah mereka muncul, mereka melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan puteri ketua mereka, melainkan seorang gadis lain yang asing sama sekali, akan tetapi gadis itu cantik manis dan menarik.

Seorang di antara mereka, yang ber-hidung besar dan bermata lebar, agaknya menjadi pimpinan mereka, melangkah maju dan tertawa bergelak.

Perutnya yang besar itu nampak karena bajunya kehilangan kancing dan terbuka.

Perut itu terguncang-guncang naik turun ketika dia tertawa.

"Ha-ha-ha-ha-ha, kawan-kawan, alangkah beruntungnya kita hari ini! Kita kedatangan seorang bidadari yang cantik jelita, yang agaknya menaruh iba kepada kita dan datang untuk menghibur kita. Ha-ha-ha-ha-ha!"

Teman-temannya ikut pula tertawa.

Mereka selama sebulan lebih dicekam ketakutan, kekurangan dan kedukaan.

Dan hari ini tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, mereka berhadapan dengan seorang gadis cantik!

Tentu saja mereka bergembira.

Anak buah Pao-beng-pai terdiri dari bermacam orang, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berjiwa sesat.

Kalau membutuhkan, mereka tidak segan untuk melakukan perampokan dan berbagai kejahatan lainnya.

Kini, melihat seorang gadis seorang diri di tempat sunyi itu, tentu saja timbul gairah mereka, seperti lima ekor harimau kelaparan melihat munculnya seekor domba seorang diri.

"Heh-heh-heh, Nona manis, siapakah engkau, siapa namamu dan mengapa engkau berada di sini seorang diri? Apakah engkau datang sengaja hendak menghibur kami berlima? Ha-ha-ha!"

Si hidung besar kembali berkata dan kini mereka berlima, sambil tersenyum menyeringai, sudah mengambil posisi mengepung gadis itu agar tidak dapat melarikan diri.

Akan tetapi, sebetulnya lima orang itu harus tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang bukan gadis sembarangan saja.

Hal ini sebetulnya dapat dilihat dari sikap Kim Giok.

Biarpun dikepung lima orang itu, ia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengancam dirinya, tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.

"Aneh... aneh sekali...."

Ia tidak menjawab pertanyaan, bahkan bergumam sambil menggelengkan kepalanya.

"Apanya yang aneh, Nona manis? Kami bukan orang-orang aneh, kami adalah laki-laki sejati dan engkau sebentar lagi akan membuktikannya sendiri, heheh!"

Kata si hidung besar sambil melangkah maju mendekat.

"Aneh mengapa masih ada sisa anak buah Pao-beng-pai, kenapa kalian tidak mampus atau tertawan."

Kata Kim Giok, masih tenang saja.

Mendengar ucapan gadis itu, lima orang bekas anak buah Pao-beng-pai nampak terkejut, saling pandang dan kini mengepung lebih ketat dengan sikap bengis mengancam.

"Nona, siapakah engkau sebenarnya dan mau apa engkau datang ke tempat ini?"

Suara si hiudung besar galak dan mengandung ancaman, tidak menggoda seperti tadi.

"Namaku tiduk ada sangkut-pautnya dengan kalian. Juga aku tidak mempunyai sangkut paut dengan pembasmian Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Aku hanya heran mengapa kalian tidak ikut mampus atau tertawan. Nah, karena di antara kita tidak ada urusan, minggirlah dan biarkan aku lewat!"

Kata Kim Giok yang memang tidak ingin mencari keributan dengan bekas anak buah Pao-beng-pai yang sudah hancur itu.

Kalau ia bertemu dengan gadis tokoh.

Pao-beng-pai yang pernah mengacau di rumah Suma Ceng Liong, tentu akan lain lagi sikapnya.

Akan tetapi ketika ia melangkah, lima orang itu cepat menghadangnya dan tetap mengepungnya.

Bahkan kini sikap mereka kembali seperti tadi, dengan pandang mata tidak sopan.

"Hemmm, engkau tidak boleh pergi sebelum menghibur kami, Nona manis!"

Dan si hidung besar cepat menggerakkan kedua lengannya yang panjang, jari-jari tangan yang besar panjang itu hendak merangkul.

"Wuuut.... plakkk! Aughhh....!"

Tubuh tinggi besar si hidung besar itu terjengkang.

Ternyata ketika kedua tangannya sudah hampir menyentuh kedua pundak gadis itu untuk merangkul, gadis itu dengan gerakan cepat sekali menyelinap ke samping sehingga tubrukan itu luput dan sekali Kim Giok menggerakkan tangan kiri menampar, Leher bawah telinga si hidung besar kena ditampar dan orang itu pun terjengkang dan terbanting, melotot dan meraba lehernya dengan mata terbelalak dan mulut mengaduh-aduh.

Empat orang temannya menjadi kaget dan marah.

Mereka berempat cepat me-nyerbu, seolah-olah hendak berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus gadis manis itu.

Namun, sekali ini mereka membentur karang.

Gerakan Kim Giok cepat bukan main, kaki dan tangannya menyambar-nyambar dan dalam segebrakan saja, empat orang itu pun terpelanting dan roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya!

Lima orang itu mengaduh-ngaduh dan menyumpah-nyumpah.

Dasar golongan kasar yang tidak tahu diri dan yang selalu merasa diri mereka paling pandai, Lima orang itu tidak melihat kenyataan bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan gadis manis yang mereka sangka domba itu.

Mereka tidak menyadari bahwa yang disangka domba itu sesungguhnya seekor singa betina yang amat tangguh!

Mereka merasa penasaran dan kini nafsu berahi mereka terbang lenyap, terganti oleh nafsu amarah yang hanya dapat diredakan dengan darah!

Mereka mencabut golok mereka dan berloncatan berdiri.

Kim Giok sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lima orang lawannya, maka ia pun tidak mau mencabut pedangnya, hanya berdiri tegak sambil tersenyum manis.

Lima orang itu sudah menggerakkan golok mereka dan bagaikan binatang-binatang yang haus darah, mereka sudah menyerang Kim Giok, serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh!

Namun, pandang mata mereka menjadi kabur ketika gadis itu bergerak cepat dan lenyap bentuk tubuhnya, hanya nampak bayangannya berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor capung.

Itulah Pat-hong-sin-kun yang membuat tubuh gadis itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin!

Dan ketika lima orang itu membacok-bacok membabi-buta ke arah bayangan tubuh gadis itu tanpa hasil, Kim Giok kembali membagi tamparan dan tendangan, kini ia menambahi tenaganya sehingga lima orang lawan yang terkena tamparan atau tendangan, roboh untuk tidak dapat bangkit dengan cepat, hanya mengaduh-aduh, ada yang patah tulang, ada yang nanar dan ada pula yang mendadak mulas perutnya!

Kim Giok berdiri bertolak pinggang, memandang lima orang lawan yang masih mengeluh kesakitan itu.

"Hemmm, pantas saja Pao-beng-pai terbasmi pasukan pemerintah. Kiranya kalian hanya mengaku sebagai pejuang, akan tetapi sesungguhnya hanyalah segerombolan penjahat kecil yang tak tahu malu. Perampok dan pengganggu wanita. Orang-orang macam kalian ini mengaku pejuang?"

"Nona, ucapanmu lancang sekali!"

Tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan dalam, juga amat berwibawa karena Kim Giok merasa betapa isi dadanya tergetar oleh suara itu.

Ia terkejut dan cepat menoleh ke kanan, ke arah datangnya suara dan semakin kagetlah ia ketika melihat bayangan mendaki lereng itu dari arah kanan.

Kalau orang itu yang tadi mengeluarkan suara, alangkah kuatnya khi-kang dari orang itu.

Jelas bahwa dia mampu mengirim suara dari jauh dengan demikian kuatnya, dan hal ini menunjukkan bahwa dia akan berhadapan dengan seorang yang amat lihai.

Gerakan orang itu pun cepat bukan main.

Sebentar saja dia telah berada di situ, berdiri tegak berhadapan dengan Kim Giok.

Gadis ini memang penuh perhatian.

Seorang pria jantan berusia lima puluh lima tahun yang amat gagah, bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat bagaikan batu karang, mukanya persegi merah dan jenggotnya terpelihara rapi, di punggungnya nampak gagang pedang dengan ronce merah.

"Pangcu....!!"

Lima orang itu segera memaksa diri memberi hormat dengan berlutut kepada.

orang yang baru tiba ini dan tahulah Kim Giok bahwa pria ini adalah ketua Pao-beng-pai!

Tentu orang ini ayah dari gadis lihai yang pernah mengacau pesta pertemuan keluarga.

di rumah Suma Ceng Liong!

Biarpun maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang amat lihai, namun puteri dari sepasang pendekar Lembah Naga Siluman ini sedikit pun tidak merasa gentar.

Hanya ia bersikap waspada.

Pria itu menengok ke arah lima orang anggauta Pao-beng-pai itu dan mendengus, marah, lalu dia menghadapi Kim Giok lagi, pandang matanya tajam mencorong itu mengamati Kim Giok penuh selidik, dari kepala sampai ke kakinya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah, Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini, dikepung oleh belasan orang jagoan istana yang datang bersama muridnya, Tio Sui Lan, murid utama yang kemudian dia paksa menjadi isterinya setelah dia bercekcok dengan isterinya, Lauw Cu Si.

Dia membunuh Sui Lan dan melukai Cu Si, akan tetapi ketika dia menghadapi pengeroyokan belasan orang jagoan istana yang membuatnya terdesak, dan mendengar keributan di luar dengan adanya penyerbuan pesukan pemerintah, dia cepat meninggalkan para pengeroyoknya.

Setelah tiba di luar, dia melihat betapa tempat itu diserbu oleh pasukan yang besar sekali jumlahnya.

Tahulah dia bahwa semua usahanya telah gagal, gerakannya hancur.

Karena maklum bahwa melawan pasukan itu pun tidak akan ada gunanya dan akhirnya bahkan hanya akan membahayakan diri sendiri, dia pun meninggalkan Ban-kwi-kok!

Dia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena maklum betapa akan sia-sianya melakukan perlawanan terus.

Sebagai seorang yang amat cerdik dan licik, dia tidak mau berlaku nekat dan mengorbankan diri.

Tidak, demi cita-citanya, biarpun sekali ini kelompoknya dihancurkan, kalau dia masih hidup, dia dapat membentuk dan membangun kembali Pao-beng-pai, berjuang terus sampai dapat menjatuhkan kerajaan Ceng, mengusir orang-orang Mancu dari tanah air!

Karena dia ingin mengetahui keadaan bekas markas Pao-beng-pai yang telah dibasmi dan dibakar, maka siang hari itu dia mendaki Kwi-san dan kebetulan dia melihat dan mendengar apa yang terjadi di lereng itu biarpun dia masih jauh.

"Nona, siapakah engkau yang begitu lancang memaki dan menghina Pao-beng-pai?"

Bentaknya dengan alis berkerut dan wajah bengis.

Kim Giok adalah seorang gadis yang sejak kecil dilatih ayah ibunya sendiri, bukan hanya ilmu silat tinggi, akan tetapi juga kebudayaan dan ia tahu sopan santun.

Menghadapi seorang yang kedudukannya tinggi seperti ketua Pao-beng-pai, ia memang ada menaruh hormat.

Akan tetapi mengingat betapa puteri orang ini pernah menghina dan mengacau dalam pertemuan tiga keluarga besar, ia merasa tidak senang dan ia pun tidak memberi hormat.

"Kalau aku tidak salah duga, tentulah engkau ini ketua Pao-beng-pai yang telah dibasmi pasukan pemerintah!"

Katanya, dan ia pun menentang pandang mata pria itu dengan penuh keberanian.

"Benar, akulah Siangkoan Kok. Sekarang katakan, siapa engkau dan kenapa engkau menghina Pao-beng-pai!"

"Maaf, Pangcu. Aku sama sekali tidak menghina Pao-beng-pai. Bahkan aku akan menghormati Pao-beng-pai kalau memang perkumpulan itu benar-benar merupakan perkumpulan orang-orang gagah yang berjuang menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja. Aku mendengar tentang penyerbuan pasukan pemerintah terhadap Pao-beng-pai dan aku ingin melihat keadaan di sini. Aku, Cu Kim Giok, ingin meluaskan pengalaman dan kesempatan ini tidak kulewatkan begitu saja. Akan tetapi, apa yang kudapatkan? Lima orang itu muncul, mengaku sebagai anggauta Pao-beng-pai dan mereka bersikap sebagai penjahat-penjahat kecil, hendak merampok dan mengganggu wanita. Kalau memang anggauta-anggauta Pao-beng-pai seperti itu, lalu apa yang harus kukatakan terhadap Pao-beng-pai?"

Siangkoan Kok melirik ke arah anak buahnya yang kini sudah bangkit berdiri bergerombol sambil memandang penuh harapan, ingin melihat ketua mereka menundukkan gadis yang telah menghajar mereka itu.

Lalu dia berkata.

"Tidak sembarang orang boleh menilai kami. Nona, aku ingin melihat dulu sampai di mana kepandaianmu, baru aku akan mengambil keputusan, apa yang harus kulakukan terhadap dirimu."

"Pangcu, kalau engkau membela mereka itu, aku berani mengatakan bahwa memang Pao-beng-pai dipimpin oleh orang yang tidak baik!"

Kata Kim Giok berani.

"Kita bicara lagi setelah kita mengadu kepandaian. Nah, sambutlah seranganku ini!"

Setelah berkata demikian, Siang-koan Kok menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala gadis itu.

Angin yang dahsyat menyambar, disusul angin yang menyambar dari samping karana tangan kedua sudah mengikuti serangan pertama itu dengan mencengkeram ke arah perut.

Kim Giok memang kurang pengalaman bertanding, namun ia telah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, maka ia segera mengenal serangan yang berbahaya.

Cepat ia pun mengerahkan gin-kangnya dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang untuk mengelak sehingga serangan kedua tangan Siangkoan Kok yang beruntun itu luput.

Diam-diam Siangkoan Kok maklum bahwa gadis ini biarpun masih muda, memang cukup berisi, Agaknya tidak kalah dibandingkan dengan mendiang Tio Sui Lan, murid pertamanya.

Dia mendesak dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berpusing.

Kembali Kim Giok menggunakan gin-kang dan mengelak dengan gerakan cepat sekali, membuat tubuhnya hanya merupakan bayangan yang berkelebatan mengelak di antara hujan serangan lawan.

Karena maklum bahwa lawannya benar-benar tangguh, Kim Giok mencabut pedangnya dan nampaklah sinar berkilat dan terdengar bunyi desing yang aneh, seperti gerengan binatang buas, seperti auman harimau.

Itulah Koai-liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman), pedang milik ayahnya yang diberikan kepadanya agar gadis itu dapat melindungi diri dengan baik.

Melihat sinar pedang dan dengungnya yang menyeramkan itu, diam-diam Siangkoan Kok terkejut dan kagum bukan main.

"Ahhh, po-kiam (pedang pusaka) yang hebat!"

Teriaknya dan begitu Kim Giok memainkan pedangnya, dia pun semakin kaget dan cepat mencabut pedangnya sendiri, kaget karena dia maklum bahwa biarpun dia memiliki tingkat kepandaian tinggi, namun terlalu berbahaya baginya kalau menghadapi pedang seperti itu dengan tangan kosong saja.

Apalagi gerakan ilmu pedang gadis itu pun hebat dan dahsyat, bagaikan seekor naga yang mengamuk.

Segera terjadi pertandingan pedang yang amat seru.

Setelah lewat belasan jurus, tiba-tiba Siangkoan Kok meloncat jauh ke belakang dan berseru.

"Tahan dulu!"

Kim Giok berdiri tegak, pedang juga tegak lurus di depan dadanya.

"Nona, bukankah itu Koai-liong Kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang kau mainkan? Dan tentu pedang itu Koai-liong-pokiam! Apa hubunganmu dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman?"

Kim Giok tersenyum.

"Namaku Kim Giok, tentu engkau dapat menduganya, Pangcu."

"Ah, benar! Engkau tentu keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman! Sudah lama aku mendengar tentang keluarga Cu yang gagah perkasa. Ah, sungguh beruntung hari ini dapat menguji kepandaian seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman. Nah, sambutlah seranganku ini dan keluarkan seluruh ilmu pedang Naga Siluman itu, Nona!"

Setelah berkata demiklan, Siangkoan Kok menerjang ke depan dengan dahsyat karena dia tahu betapa lihainya pedang dan ilmu pedang gadis muda itu.

Dia memang sejak dahulu ingin sekali menguasai semua ilmu silat tinggi di seluruh dunia, maka dia sejak dahulu memancing para tokoh persilatan untuk mengadu ilmu dan dengan cara itu, dia dapat mempelajari ilmu mereka.

Kini, berhadapan dengan seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja dia tidak mau melewatkan kesempatan baik itu untuk memaksa Kim Giok memainkan ilmu pedang itu.

Justeru kelihaian Siangkoan Kok terletak kepada kekuatan ingatannya sehingga sekali melihat, dia sudah hampir dapat mengingat dan menguasai gerakan itu.

Karena pengetahuannya yang luas tentang ilmu--ilmu dari para tokoh besar, maka dia pun tentu saja menjadi lihai bukan main.

Karena didesak lawan yang lihai, tentu saja terpaksa Kim Giok memainkan Kaoi-liong Kiam-sut sepenuh-nya, bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya.

Hebat memang ilmu pedang gadis ini.

Pedangnya berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung, seolah-olah ada naga yang melayanglayang dan mengamuk.

Melihat ini, lima orang anak buah Pao-beng-pai itu diam-diam memaki diri mereka sendiri, seperti buta tidak melihat bahwa gadis itu adalah seorang yang demikian lihainya.

Bergidik mereka membayangkan betapa tadi mereka berani hendak kurang ajar kepada gadis itu.

Kalau tadi gadis itu mencabut pedangnya, mungkin sekarang mereka telah menjadi setan-setan tanpa kepala!

Betapapun hebatnya ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, akan tetapi ketangguhan seseorang bukan hanya bergantung sepenuhnya kepada ilmu silatnya, melainkan lebih banyak kepada keadaan orang itu sendiri.

Dibandingkan Siangkoan Kok, tentu saja Kim Giok kalah segala-galanya, walaupun mungkin ilmu pedangnya tidak kalah dibandingkan ilmu pedang lawan.

Ia kalah tenaga, kalah pengalaman bertanding, juga jauh kalah matang dalam gerakan ilmu pedang.

Setelah lewat seratus jurus, karena ditekan terus sehingga ia harus berulang kali memainkan ilmu pedangnya, ia sudah mandi keringat dan napasnya mulai tersengal.

Tahulah gadis ini bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh oleh pedang lawan.

Namun, ia sudah dilatih ayah ibunya untuk tidak mengenal takut dan pantang menyerah kepada seorang yang jahat.

Lebih baik mati dengan pe-dang di tangan daripada menyerah kepada pada seorang yang jahat dan yang tentu akan membuat ia lebih menderita daripada kalau ia roboh dan tewas.

Baru lima orang anak buahnya saja sudah seperti itu, apalagi ketuanya!

Maka, ia pun terus menggerakkan pedangnya dengan nekat, walaupun tenaganya sudah banyak berkurang.

Makin lama, semakin repotlah Kim Giok, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, itu pun setiap kali menangkis, pedangnya terpental dan lengannya tergetar hebat.

Pada saat itu, terdengar suara tawa yang aneh, tawa mengejek yang mengandung getaran yang membuat kedua orang yang sedang bertanding itu terpaksa menghentikan gerakan mereka karena mereka merasa betapa jantung mereka terguncang.

Mempergunakan kesempatan terlepas dari desakan karena lawan menghentikan gerakan pedangnya, Kim Giok melompat ke belakang dan menengok ke arah orang yang tertawa itu.

Juga Siangkoan Kok menoleh.

Yang tertawa itu adalah seorang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun, gagah dan tampan sekali.

Alisnya hitam tebal dan panjang, matanya mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya yang tersenyum itu manis, dagunya juga kokoh dan mukanya bersih.

Tubuhnya tegap berisi otot yang membuat dia nampak gagah.

Pakaiannya tidak mewah namun rapi dan bersih.

Pemuda itu sudah menghentikan tawanya dan kebetulan dia memandang kepada Kim Giok.

Dua pasang mata bertemu pandang, melekat, kemudian wajah Kim Giok berubah kemerahan dan ia pun menundukkan mukanya.

Hatinya berdebar aneh dan harus diakui bahwa ia merasa amat tertarik kepada pemuda yang tampan dan gagah itu.

Akan tetapi, sebaliknya Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, matanya me-lotot marah.

Tentu saja dia memandang rendah kepada pemuda yang tidak dikenalnya itu, yang berarti tidak terkenal pula.

"Heh siapa engkau berani mentertawakan aku dan mencampuri urusanku?"

Pemuda itu bukan lain adalah Ouw Seng Bu yang belum lama ini telah berhasil menguasai Thian-li-pang dan menjadi ketuanya.

Dia mendengar tentang kehancuran Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah.

Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Pao-beng-pai sekarang karena dia ingin memperkuat Thian-li-pang dengan bersekutu dan bekerja sama dengan para perkumpulan lain yang besar seperti Pek-lian-kauw, Pat-kwapai, dan Pao-beng-pai.

Biarpun dia sendiri belum pernah melihat Siangkoan Kok, namun dia sudah menyelidiki dan mendengar bagaimana keadaan ketua Pao-beng-pai itu.

Maka, ketika melihat pria setengah tua yang gagah perkasa itu bertanding melawan seorang gadis yang juga lihai, akan tetapi gadis itu terdesak, Ouw Seng sengaja mengeluarkan suara tawa yang dilakukan dengan pengerahan khi-kang sehingga kedua orang yang sedang bertanding itu terkejut dan meng-hentikan pertandingan mereka.

Mendengar teguran Siangkoan Kok, Seng Bu yang datang untuk mencari kawan, tersenyum.

"Bukankah aku berhadapan dengan Siangkoan Kok, pangcu dari Pao-beng-pai?"

Tanyanya, kini sikapnya sopan dan ramah.

Siangkoan Kok mengamati pemuda itu.

Dia seorang yang berpengalaman dan dari suara tawa pemuda itu tadi saja, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang lemah.

Akan tetapi karena dia tidak mengenalnya, maka dia memandang rendah.

"Engkau sudah tahu namaku, mengapa masih berani lancang mencampuri urusanku?"

Bentaknya.

"Siapa engkau?"

"Namaku Ouw Seng Bu dan seperti juga engkau, aku seorang pangcu (ketua) pula. Aku adalah pangcu dari Thian-li-pang."

"Bohong!"

Siangkoan Kok membentak marah.

Sementara itu, lima orang bekas anak buahnya kini sudah memegang golok masing-masing dan siap untuk membantu ketua mereka kalau diperintahkan.

Adapun Kim Giok, walau tidak mengenal siapa pemuda itu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah condong berpihak kepadanya sehingga kalau sampai pemuda itu terancam bahaya, tanpa diminta pun ia pasti akan membantunya.

"Ha-ha-ha, orang muda. Jangan eng-kau mencoba untuk membohongi aku. Kau kira aku tidak tahu siapa ketua Thian-li-pang? Ketuanya adalah Lauw Kang Hui, dan pemimpin besarnya adalah Sinciang Tai-hiap Yo Han. Bukankah begitu? Engkau ini, orang bernama Ouw Seng Bu tidak pernah dikenal. sebagai ketua Thian-li-pang!"

Seng Bu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Itu menandakan bahwa Pao-beng-pai yang sudah hancur tidak lagi pandai meneliti keadaan di dunia kang-ouw. Engkau agaknya tidak tahu, Pangcu, bahwa Lauw-pangcu dari Thian-li-pang telah tewas dan akulah yang menjadi penggantinya. Adapun Yo Han, ah, dia bukan orang Thian-li-pang dan dia tidak mempunyai urusan apa pun dengan Thian-li-pang."

Siangkoan Kok masih sangsi, akan tetapi karena dia memang tidak tahu perkembangan di dunia kang-ouw, maka dia tidak membantah lagi.

"Kalau engkau benar ketua Thian-li-pang, itu pun tidak memberi hak kepadamu untuk mencampuri urusanku! Nah, mau apa engkau datang ke sini?"

"Pangcu, aku mendengar bahwa Paobeng-pai diserbu pasukan pemerintah. Begitulah jadinya kalau kita tidak mau bekerja sama antara perkumpulan pejuang. Aku datang hendak mengulurkan tangan kepadamu, mengajakmu bekerja sama. Thian-li-pang sejak dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih. Beberapa kali kami sudah menyusup ke istana dan biarpun belum berhasil, namun nama kami cukup ditakuti. Akan tetapi setelah tiba di sini, markas Pao-beng-pai sudah hancur, dan aku melihat Pangcu bahkan bertanding melawan seorang gadis muda. Siapakah Nona ini dan mengapa pula bertanding melawan Pangcu?"

"Huh, ia berani berkeliaran di sini dan memukul anak buahku!"

Kata Siangkoan Kok dengan singkat karena dia tidak menghendaki orang luar mencampuri urusannya.

Akan tetapi Seng Bu yang amat tertarik kepada gadis cantik manis yang juga lihai ilmu pedangnya itu, kini sudah menghadapi Kim Giok lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Nona sudah mengenal namaku. Aku Ouw Seng Bu, ketua Thian-li-pang dan kalau boleh aku bertanya, siapakah Nona dan mengapa bertanding melawan Pangcu dari Pao-beng-pai yang amat lihai?"

Kim Giok cepat membalas penghormatan itu dengan senyum ramah, lalu ia menjawab.

"Namaku Cu Kim Giok dan aku sedang merantau untuk meluaskan pengalaman. Ketika tiba di sini aku mendengar bahwa Pao-beng-pai dibasmi pasukan pemerintah, maka aku sengaja hendak melihat bekas-bekasnya di sini. Tiba-tiba muncul lima orang itu yang hendak merampok dan bersikap kurang ajar kepadaku. Aku menghajar mereka. Lalu muncul Pangcu dari Pao-beng-pai ini yang memaksaku untuk bertanding."

Mendengar ini, Seng Bu kembali menghadapi Siangkoan Kok.

"Aih, Pangcu semestinya malu terhadap Cu-siocia (nona Cu) ini. Anak buahmu yang bersalah, sepantasnya engkau yang minta maaf kepadanya dan menghukum anak buahmu, bukan malah menantang Cu-siocia untuk bertanding."

Katanya mencela. Wajah ketua Pao-beng-pai menjadi merah sekali dan matanya mencorong tajam.

"Ouw Seng Bu, engkau ini siapa berani berkata seperti itu kepadaku? Kalau engkau mengulurkan tangan ingin bekerja sama dengan aku, setidaknya aku tentu harus tahu orang macam apa engkau ini dan apakah engkau pantas duduk sejajar dengan aku!"

"Hemmm, sudah kudengar bahwa Siangkoan Kok adalah seorang yang berwatak angkuh dan selalu memandang rendah orang lain. Baiklah, akan tetapi bagaimana kalau aku mampu menandingi ilmu silatmu?"

"Ouw Seng Bu, kalau engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku mau menjadi sekutumu, bahkan aku akan membantu Thian-li-pang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mampu menandingi aku, engkau harus cepat berlutut minta ampun kepadaku dan tidak mencampuri urusanku lagi. Kalau engkau bukan ketua Thian-li-pang, tentu akan kubunuh engkau."

"Bagus! Nah, aku sudah siap, Siangkoan Pangcu. Akan tetapi karena aku ingin bersahabat denganmu, bukan bermusuhan, maka sebaiknya kita bertanding dengan tangan kosong saja."

"Baik, sambutlah seranganku ini, orang she Ouw!"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok yang sudah menyimpan pedangnya, menerjang dengan pukulannya yang mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat.

Karena dia ingin cepat-cepat mengalahkan lawannya, maka dia mengerahkan tenaganya yang disebut Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi) dan begitu kedua tangan kakinya bergerak menggunakan ilmu ini, terdengar suara berkerotokan pada buku-buku tulangnya!

Lima orang anak buah Pao-beng-pai biarpun masih menderita nyeri, kini memandang dengan wajah gembira karena mereka merasa yakin bahwa ketua mereka yang sakti akan dapat mengalahkan pemuda itu pula.

Akan tetapi, Kim Giok memandang dengan sinar mata khawatir.

Pemuda itu jelas muncul dan membantunya, bahkan berani menegur bekas ketua Pao-beng-pai untuk membelanya.

Dan ia tahu betapa lihainya Siangkoan Kok, apalagi kini mengeluarkan ilmu yang demikian mengerikan.

Ia tidak dapat maju membantu, karena satu di antara pesan yang ditekankan ayah bundanya adalah agar ia menjadi seorang yang gagah dan pantang untuk bertindak curang.

Dan maju melakukan pengeroyokan merupakan suatu perbuatan yang curang dan ia tidak mau melakukannya.

Maka ia hanya menjadi penonton yang risau, dan hanya siap untuk melindungi kalau pemuda she Ouw itu terancam maut.

Menghadapi serangan yang amat dahsyat dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu juga maklum bahwa kalau dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Lauw Kang Hui saja, dia tidak akan menang.

Bahkan mendiang gurunya itu, Lauw Kang Hui, masih kalah setingkat dibandingkan bekas ketua Pao-beng-pai ini.

Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar.

Dia sudah cepat mengeluarkan ilmu rahasianya, yaitu Bu-kek Hoat-keng!

Begitu kedua tangannya bergerak, terdengar bunyi aneh bersiutan dan angin pukulan kedua tangannya mendatangkan angin berpusing.

Dengan mudah saja dia menangkis lima kali pukulan lawan yang datang beruntung susul menyusul, kemudian dia pun membalas dengan cepat dan tak kalah dahsyatnya!

Siangkoan Kok terkejut bukan main.

Sedikit banyak, dia sudah mengenal ilmu andalan dari Lauw Kang Hui.

Biarpun dia belum dapat menirukan, namun dia sudah banyak mendengar dua ilmu andalan Thian-li-pang, yaitu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang.

Dia akan mengenal dua ilmu ini.

Dan karena mengenal, setidaknya dia akan lebih mudah menghadapi dan melawannya.

Akan tetapi, gerakan pemuda ini sama sekali tidak dikenalnya!

Dia hanya merasa ada angin berpusing datang menyambar dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambutnya.

"Plak! Desss....!!"

Siangkoan Kok berjungkir balik ke belakang, dan setelah membuat salto tiga kali barulah dia terbebas dari dorongan tenaga yang tentu akan membuatnya terjengkang kalau saja dia tidak membuat salto tadi.

Seng Bu sendiri terkejut dan kagum melihat gin-kang yang diperlihatkan lawan.

Akan tetapi dia menyerang terus dan sekali ini, Siangkoan Kok yang maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang mujijat, tidak mau mengadu tenaga secara langsung, melainkan menggunakan kecepatan gerakan untuk menghindar dan membalas serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat!

Beberapa kali kalau kedua tangan mereka saling bertemu, keduanya terdorong mundur.

Tanpa diketahui orang lain, terjadi perubahan pada diri Seng Bu, seperti biasa kalau dia memainkan ilmunya itu.

Sepasang matanya menjadi liar, senyumnya menjadi dingin mengerikan dan beberapa kali dia mengeluarkan suara tawa yang aneh.

"Siangkoan Kok, engkau takkan menang melawanku!"

Beberapa kali dia mengeluarkan ucapan ini yang didahului dan diakhiri suara tawa ha-ha-hi-hi-hi seperti orang gila.

Hal ini membuat Siangkoan Kok merasa penasaran dan semakin marah.

Dia sudah mengerahkan semua jurus yang menjadi andalannya, namun dia tidak mampu menembus benteng pertahanan lawan, biarpun lawannya juga belum mampu merobohkan atau mendesaknya.

Mereka memiliki tingkat yang seimbang!

"Ouw Seng Bu, mari kita bertanding dengan senjata!"

Bentaknya sambil meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.

Seng Bu hanya terkekeh dan melihat pemuda itu agaknya tidak membawa senjata, Kim Giok cepat menghampiri dan menyodorkan pedangnya.

"Kau pergunakanlah pedangku ini!"

Ouw Seng Bu memandang gadis itu dengan matanya yang mencorong liar sehingga Kim Giok terkejut, akan tetapi pemuda itu menerima juga Koai-liong-kiam, lalu menghadap siangkoan Kok dan tertawa.

"Heh-heh-heh, Siangkoan Kok. Perlukah diteruskan? Kalau aku membiarkan saja pun engkau akan mampus. Lihat baik-baik kedua telapak tanganmu."

Mendengar ini, Siangkoan Kok cepat memeriksa kedua tangannya dan wajahnya berubah pucat.

Baca Juga: Suling Emas 3

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert