Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Sakti 3

Eps 3 Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Sakti - Kho Ping Hoo.

Semua tamu meninggalkan rumah besar di perkampungan Pao-beng-pai di Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) itu.

Kecuali Yo Han dan Cia Ceng Sun!

Dua orang pemuda ini menerima undangan khusus dari pihak pimpinan Pao-beng-pai untuk tinggal selama beberapa hari di situ dengan alasan agar perkenalan semakin menjadi akrab.

Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Yo Han karena dia memang ingin sekali memperoleh keterangan tentang penculik puteri bibinya yang dia harapkan dapat mendengar dari perkumpulan itu.

Juga Cia Ceng Sun merasa girang.

Dia melihat bahwa Pao-beng-pai merupakan bahaya besar bagi pemerintahan kakeknya, maka sebagai seorang pangeran, Dia berkewajiban untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam agar dia memperoleh bahan untuk membuat pelaporan sehingga pemerintah dapat diselamatkan dan para pemberontak ini dapat dibasmi.

Hanya ada sebuah hal yang membuat hati pangeran ini gelisah.

Yaitu Siangkoan Eng!

Dia merasa menyesal sekali mengapa seorang gadis seperti itu menjadi puteri kepala pemberontak!

Dua orang pemuda itu masing-masing memperoleh sebuah kamar di bagian belakang, kamar yang cukup mewah.

Dan biarpun mereka mendapatkan kamar sendiri, namun kedua pemuda itu maklum bahwa diam-diam pihak keluarga tuan rumah selalu mengikuti gerak-gerik mereka.

Beberapa orang selalu memasang mata kalau mereka berada di dalam kamar.

Hal ini membuat keduanya berhati-hati dan tidak berani sembarangan bertindak, Juga mereka maklum bahwa betapapun ramahnya sikap keluarga tuan rumah, namun agaknya mereka masih belum percaya benar.

Mereka duduk berdua saja, di ruangan depan pada senja hari itu.

Yo Han dan Siangkoan Kok.

Sudah dua hari Yo Han tinggal di rumah keluarga Siangkoan Kok dan dia mulai mengenal ketua itu sebagai seorang yang mempunyai cita-cita besar, yaitu menumbangkan pemerintah Mancu.

Juga ketua itu mulai mengaku bahwa dia adalah keturunan keluarga Kerajaan Beng yang telah dijatuhkan pasukan Mancu seratus tahun lebih yang lalu.

Ketua Pao-beng-pai ini bercita-cita untuk membangun kembali Kerajaan Beng!

Yo Han melihat kenyataan bahwa yang dinamakan "perjuangan"

Oleh Siangkoan Kok ini pada hakekatnya tiada lain hanyalah suatu usaha balas dendam dan ambisi pribadi.

Betapa banyaknya orang yang menggunakan kedok perjuangan, demi rakyat, demi bangsa dan sebagainya, yang pada hakekatnya menyembunyikan kepentingan pribadi.

Siangkoan Kok bukan berjuang melihat penderitaan rakyat, melainkan bercita-cita untuk merampas kembali kerajaan dan tentu dia bercita-cita menjadi raja kalau dia berhasil membangun kembali Kerajaan Beng.

Perjuangan itu baru aseli kalau dilakukan oleh seluruh rakyat sebagai akibat penderitaan atau penindasan.

Perjuangan yang mengutamakan rakyat tanpa mengikutsertakan rakyat sendiri, masih diragukan kemurniannya.

Siangkoan Kok tidak mengajak rakyat, melainkan mempunyai anak buah sendiri, dan merangkul orang-orang dari dunia persilatan, baik golongan hitam maupun putih.

Akan tetapi bagaimana dengan rakyat jelata?

Benarkah mereka itu kini dalam keadaan tertindas.

Yang dia tahu, biarpun Kaisar Kian Liong seorang Mancu, namun dia dikenal sebagai seorang kaisar yang bijaksa-na, membangun dan berusaha memakmurkan rakyat, bukan dengan jalan penindasan.

Karena itu, nama kaisar itu harum di kalangan rakyat, bukan sebagai kaisar penindas.

Yo Han setuju kalau pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, bukan oleh bangsa Mancu.

Akan tetapi, dia tidak setuju kalau untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah itu diadakan pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini yang bukan lain berambisi pribadi dari pemimpin-pemimpon kelompok yang tidak puas dan yang mencari kekuasaan bagi diri sendiri.

Pemberontakan kecil macam itu hanya akan menyengsarakan rakyat belaka.

Seperti yang sudah-sudah, gerombolan pemberontak itu selalu mengganggu rakyat pula.

Seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, bahkan Thian-li-pang juga pernah menyeleweng.

Kalau perkumpulan yang bertujuan menumbangkan penjajah itu dimasuki orang-orang , dari golongan sesat, sudah pasti akan terseret ke dalam kejahatan dan mengganggu rakyat dengan dalih perjuangan!

Dan dia tidak setuju sama sekali!

Kalau ada pemimpin sejati yang dapat membangkitkan rakyat untuk menentang penjajah, maka dia siap untuk berdiri di barisan terdepan!

Akan tetapi karena kehadirannya di Pao-beng-pai bukan untuk urusan pemberontakan, melainkan dalam usahanya mencari jejak penculik puteri bibinya, dia pun tidak banyak membantah ketika mendengarkan ketua itu bicara penuh semangat tentang gerakannya.

"Nah, bagaimana pendapatmu, Yo-sicu? Setelah engkau mendengarkan semua cita-cita dan rencanaku, bersediakah engkau bekerja sama dengan kami, baik engkau pribadi maupun engkau sebagai pimpinan Thian-Li-pang? Kita berjuang bahu-membahu, menumbangkan penjajah dan kelak kita bersama pula yang akan memetik buahnya, kita yang akan menikmati hasilnya."

Nah, tersembul sedikit setan itu, pikir Yo Han.

Kita yang akan memetik buahnya, menikmati hasilnya!

Jadi, apa yang dinamakan perjuangan itu hanya merupakan suatu cara untuk dapat mendatangkan atau menghasilkan buah yang dapat dinikmati!

Dia menahan diri untuk tidak mengucapkan suara hatinya yang ingin membantah dan mencela.

"Pangcu (Ketua)...."

"Aih, setelah kita bergaul begini akrab sebagi kawan seperjuangan, tidak perlu lagi engkau menggunakan sebutan, yang asing itu. Sebut saja paman kepadaku, Yo Han!"

Hemmm, orang ini memang pandai mempergunakan orang lain, pandai memanfaatkan tenaga orang lain dengan sikap yang amat menyenangkan.

"Terima kasih, Paman Siangkoan Kok. Pengangkatan ketua di Thian-li-pang sendiri kutolak, bukan karena aku tidak suka kedudukan, melainkan karena aku ingin bebas agar aku dapat melakukan balas dendam atas kematian ayah ibuku. Mereka tewas karena dijerumuskan oleh Setan Cilik (Siauw Kwi) Can Bi Lan! Dan sebaiknya aku dalam keadaan bebas dan tidak terikat dalam usahaku membalas dendam ini. Setelah aku berhasil membunuh Can Bi Lan dan suaminya, mungkin barulah aku akan memimpin Thian-li-pang dan aku akan bekerja sama denganmu."

Siangkoan Kok mengangguk-angguk, lalu kedua matanya menatap tajam wajah pemuda itu.

"Yo Han, demikian besarkah kebencianmu terhadap Can Bi Lan dan Sim Houw?"

Yo Han balas memandang, memperlihatkan heran dan alisnya berkerut.

"Paman, kenapa Paman masih bertanya lagi? Kalau tidak karena ulah Can Bi Lan dan suaminya, dan seluruh anggauta keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga, tentu sampai kini ibuku masih menjadi seorang tokoh kang-ouw yang disegani! Hemmm, kalau saja aku bisa mendapatkan seorang teman yang dapat dipercaya dan yang memiliki kepandaian yang boleh diandalkan, ingin sekali aku mengajaknya untuk mendatangi suami isteri itu dan membunuh mereka!"

Ketua Pao-beng-pai itu tersenyum.

"Heh-heh-heh, Yo Han, begitu mudahnya engkau bicara! Mungkin kalau hanya Can Bi Lan atau Siauw Kwi, aku atau engkau akan mampu menandingi bahkan mengalahkannya. Akan tetapi Sim Houw? Dia adalah Pendekar Suling Naga, dengan suling pedangnya yang terkenal di seluruh dunia dan sukar dicari bandingnya! Sungguh berbahaya sekali menghadapinya!"

"Aku tidak takut, Paman. Pernah aku berusaha menyerbu mereka, akan tetapi aku seorang diri tidak mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, kalau saja aku dapat bertemu dengan seseorang yang kucari-cari dan sampai sekarang sayang sekali belum kutemukan, bersama dia rasanya sanggup aku membasmi keluarga Sim itu!"

Kata Yo Han penuh semangat.

"Hemmm, siapakah orang itu, Yo Han?"

"Namanya aku tidak tahu, Paman, bahkan aku tidak tahu apakah dia pria ataukah wanita. Yang kuketahui adalah bahwa dia pada dua puluh tahun yang lalu telah menculik puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan! Apakah Paman mengetahui siapa penculik itu?"

"Hemmm, apakah engkau datang ke sini sengaja hendak mencari penculik itu?"

"Memang sudah lama aku mencarinya, Paman. Aku mengunjungi pertemuan yang Paman adakan untuk mencari tahu tentang penculik itu, dan juga untuk mencari teman sehaluan."

"Kenapa engkau mencari penculik itu!"

"Karena, kalau dia sudah berani menculik puteri suami isteri itu, berarti dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan juga amat membenci mereka. Nah, dengan orang seperti itu, kiranya aku akan dapat mengajaknya untuk membalas dendam. Apakah Paman mengetahui siapa orangnya dan di mana aku dapat bertemu dan bicara dengannya?"

Yo Han sengaja menahan diri dan tidak bertanya tentang anak yang diculik, seolah dia tidak peduli dan tidak tertarik tentang anak itu, yang diperlukan adalah si penculik untuk diajak kerja sama!

Ketua Pao-beng-pai menggeleng kepalanya.

"Tentang penculikan itu pun baru sekarang aku mendengar darimu, Yo Han. Bahkan aku pribadi tidak pernah mempunyai urusan langsung dengan Sim Houw dan Can Bi Lan."

Yo Han mengerutkan alisnya, kecewa.

"Kalau Paman tidak tahu, aku akan segera pergi dari sini untuk bertanya kepada tokoh-tokoh kang-ouw lainnya...."

"Nanti dulu, Yo Han. Engkau bilang bahwa kalau engkau sudah berhasil menemukan penculik itu dan kau ajak menyerang musuh-musuhmu, engkau akan memimpin Thian-li-pang dan bekerja sama dengan kami? Kalau benar demikian, mungkin saja aku dapat membantumu. Anak buahku banyak, dan kami mempunyai hubungan baik dengan dunia kang-ouw. Kalau kusebar mereka untuk melakukan penyelidikan, kiraku dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menemukan siapa penculik itu."

"Terima kasih, Paman! Sebetulnya aku pun sudah mempunyai pikiran seperti itu, akan tetapi mana berani aku membikin repot Paman? Kalau Paman suka membantuku, sungguh aku merasa berterima kasih sekali dan aku pasti akan membalas budi itu dengan kerja sama!"

"Baiklah, aku akan membantumu dan sekarang juga akan kuperintahkan anak buah Pao-beng-pai untuk mencari tahu dan menyelidiki siapa adanya orang yang telah menculik anak dari Pendekar Suling Naga. Engkau tunggu saja dan tinggal di sini selama beberapa hari lagi sampai kita mendapatkan hasilnya. Nah, mari kita minum, Yo Han!"

Mereka lalu minum arak dan tak lama kemudian Siangkoan Kok memanggil para pembantunya dan memerintahkan mereka menyebar anak buah untuk mecari berita tentang penculik anak Pendekar Suling Naga.

Sementara itu, pada senja hari itu, di dalam taman yang luas dari perkampungan Pao-beng-pai, nampak Siangkoan Eng berjalan-jalan bersama Cia Ceng Sun.

Tidak ada seorang pun anggauta Pao-beng-pai berani mengganggu atau mendekati dua orang muda yang nampak berjalan-jalan di taman sambil bercakap-cakap nampak akrab sekali itu.

Memang kedua orang muda ini saling, tertarik dan saling mengagumi.

Siangkoan Eng adalah seorang gadis yang hidup di tengah keluarga kang-ouw.

Biarpun ayahnya seorang bekas bangsawan dan berusaha sekuatnya untuk hidup seperti seorang bangsawan, Namun karena lingkungannya adalah orang-orang kang-ouw yang menjadi anak buah ayahnya, maka ia sudah biasa hidup bebas tanpa ikatan segala macam peraturan.

Maka, kini ia dapat bergaul dengan Cia Ceng Sun dengan bebas tanpa rikuh dan sungkan, bahkan ayah ibunya juga membiarkannya saja karena kedua orang tua ini tidak keberatan kalau puteri mereka bergaul dengan seorang pemuda yang demikian baik seperti Cia Ceng Sun.

Setelah tiba di dekat kolam ikan yang indah, mereka duduk di atas bangku panjang.

Tempat itu memang indah dan romantis.

Bunga-bunga beraneka warna mekar semerbak.

Di sana-sini sudah dinyalakan lampu-lampu gantung beraneka warna pula dan di pohon dekat kolam itu tergantung dua buah lampu berwarna kemerahan sehingga dalam kerema-ngan senja, kedua orang muda itu nampak seperti diselimuti ca-haya kemerahan.

"Kongcu, setelah engkau berada di sini, selama dua hari dua malam ini, bagaimana pendapatmu tentang keluarga kami, perkumpulan kami dan tempat ini?"

Siangkoan Eng yang oleh ayah ibunya disebut Eng Eng dan oleh semua anak buahnya disebut Siocia (Nona) itu bertanya sambil menatap wajah pemuda yang tampan itu.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bagaimana kalau engkau tidak menyebut aku kongcu (tuan muda) lagi? Terdengarnya begitu asing dan tidak sepantasnya kalau seorang gadis seperti engkau menyebut aku kongcu."

Eng Eng tersenyum.

"Hemmm, engkau sendiri menyebut aku siocia (nona), tentu saja aku menyebutmu kongcu. Habis, kalau tidak menyebut kongcu, harus menyebut bagaimana?"

"Sebut saja kakak, dan aku akan menyebutmu adik. Bagaimana pendapatmu?"

"Tidakkah itu terbalik? Kurasa aku lebih tua darimu!"

"Tidak mungkin. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun!"

"Kalau begitu sama, aku pun dua puluh tiga tahun. Baiklah, mulai sekarang, aku akan menyebutmu toa-ko (ka-kak), Sun-toako."

"Dan aku akan menyebutmu Eng-moi (adik Eng)."

"Sun-toako...."

"Eng-moi...."

Keduanya saling pandang dan tertawa gembira.

"Nah, sekarang kita merasa seperti adik kakak, bukan? Eng-moi, kini aku tidak merasa sungkan lagi untuk menanyakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi, dan harap kau tidak marah kepadaku."

"Tanyalah, Toako"

"Engkau seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan gagah perkasa, puteri seorang ketua pula, dan usiamu sudah dua puluh tiga tahun. Akan tetapi kulihat engkau masih sendiri, belum berkeluarga sendiri. Kenapa, Eng-moi?"

Karena pandainya Cia Ceng Sun mengatur pertanyaan itu dengan sikap bersaudara dan kata-kata yang halus, Eng Eng tidak merasa tersinggung, walaupun kedua pipinya berubah kemerahan juga.

"Aih, itukah? Bagaimana aku dapat membangun rumah tangga sendiri kalau aku belum bertemu dengan orang yang cocok, Toako? Banyak memang pinangan berdatangan terhadap diriku, akan tetapi selama ini aku belum bertemu dengan seorang yang berkenan di hatiku. Kalau sudah bertemu yang cocok, mengapa tidak? Dan engkau sendiri, bagaimana, Toako? Tentu engkau sudah berkeluarga dan mempunyai satu dua orang anak."

"Ha-ha-ha, dugaanmu keliru, Eng-moi. Seperti juga engkau, aku masih hidup sebatang kara, belum mendapatkan jodoh. Mungkin karena selama ini juga belum ada yang cocok bagiku seperti keadaan-mu."

Hening sejenak, seolah keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing sementara senja mulai ditelan keremangan menjelang malam tiba.

Kemudian terdengar Eng Eng bicara lirih seperti kepada dirinya sendiri.

"Betapa serupa keadaan kita...."

Kemudian ia menghela napas panjang dan melanjutkan sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah sinar matanya hendak menembus cuaca yang semakin remang.

"Toako, wanita seperti apakah yang kiranya dapat kau anggap cocok untuk menjadi jodohmu?"

Mendengar pertanyaan ini dan melihat sikap gadis itu, berdebar rasa jantung Cia Ceng Sun.

Dia merasa seperti ditodong dan rasanya sukar untuk mengelak atau menangkis, sukar untuk tidak meng-aku terus terang.

Sejak dia melihat gadis ini, dia sudah terpesona, apalagi setelah melihat sepak terjang gadis itu, kemudian sampai mereka mengadu ilmu, dia telah tergila-gila, dia telah jatuh cinta!

Dengan kuat sekali perasa-an ini menekannya dan terasa benar olehnya.

Biarpun dia tidak melupakan pesan ayahnya agar dia jangan jatuh cinta kepada wanita lain karena dia sudah ditunangkan dengan Si Bangau Merah, namun tetap saja dia tidak mampu menolak gelora hatinya, tidak dapat menipu diri sendiri.

Dia jatuh, cinta kepada Siangkoan Eng.

Padahal, gadis ini adalah puteri seorang pemimpin pemberontak, keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng!

"Eng-moi, aku mau berterus terang saja, harap engkau tidak marah."

"Eh? Kenapa aku harus marah kalau engkau bicara terus terang tentang seorang wanita yang menurut pendapatmu cocok untuk menjadi jodohmu?"

"Eng-moi, setelah aku tiba di sini, bertemu denganmu, maka tahulah aku bahwa gadis yang kucari-cari untuk menjadi jodohku itu adalah.... yang seperti engkau inilah...."

"Seperti aku? Apa maksudmu, Sun-ko?"

"Maksudku.... eh, mana ada gadis yang sama denganmu. Maksudku, bahwa yang kucari-cari itu adalah engkau! Engkaulah gadis yang kuidam-idamkan menjadi jodohku. Eng-moi, tentu saja kalau engkau sudi menerimaku."

"Hemmm, engkau hendak meminangku? Kenapa? Karena aku seperti gadis dalam mimpimu?"

"Bukan begitu maksudku, eh.... ah, terus terang saja, semenjak aku bertemu denganmu, aku terpesona dan aku jatuh cinta padamu, Eng-moi. Nah, aku sudah berterus terang, terserah kepadamu."

Hening pula, sekali ini agak lama dan keduanya menundukkan muka.

Seolah lenyap semua kegagahan dan keberanian mereka.

Untuk mengangkat muka dan saling pandang pun merupakan hal yang bagi mereka membutuhkan keberanian besar sekali pada saat seperti itu.

Akhirnya, setelah beberapa kali meragu karena mendengar gadis itu berulang kali menghela napas panjang, Cia Ceng Sun memberanikan diri berkata.

"Eng-moi, harap kau suka memaafkan aku kalau aku menyinggung perasaanmu."

Memang sungguh aneh sekali pengaruh cinta terhadap diri seseorang.

Cia Ceng Sun adalah Pangeran Cia Sun, cucu kaisar!

Padahal, dalam kedudukannya sebagai pangeran, dengan kegagahan dan ketampanannya, biasanya seorang pangeran seperti dia tinggal menunjuk saja gadis mana yang disukainya dan gadis itu akan datang kepadanya, baik dengan suka rela maupun atas kehendak orang tua si gadis.

Dan sekarang, dia bersikap seperti seorang pemuda yang malu-malu dan gelisah ketika menyatakan cintanya kepada seorang gadis biasa, bukan puteri bangsawan, bukan puteri istana!

Dan sikapnya ini bukan sekali-kali disesuaikan dengan penyamarannya sebagai pemuda biasa, memang sesungguhnya dia merasa lemah tak, berdaya menghadapi Siangkoan Eng!

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Toako Sesungguhnya, aku sendiri merasa bahwa sekarang setelah bertemu denganmu, aku pun telah menemukan pria yang selama ini kuharapkan...."

Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya dan menundukkan mukanya yang berubah merah.

Biarpun Eng Eng seorang gadis yang gagah perkasa dan wataknya dingin dan aneh, namun sekali ini ia merasa sedemikian malu dan salah tingkah sehingga jantungnya berdebar keras dan seluruh tubuhnya seperti panas dingin kedua kakinya gemetar!

"Eng-moi....!"

Bukan main girangnya rasa hati Cia Ceng Sun mendengar pengakuan itu.

Dia bukanlah seorang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul dengan wanita, walaupun dia bukan tergolong pemuda yang mata keranjang dan suka pelesir seperti para pangeran lainnya.

Mendengar pengakuan Siangkoan Eng yang sama sekali tidak pernah disangkanya, dia lalu menggeser duduknya dan memegang kedua tangan gadis itu.

Mereka saling berpegang tangan, dan gadis itu mengangkat mukanya dan pandang matanya sayu, bahkan seperti hendak menangis.

Empat buah tangan yang (Lanjut ke

Jilid 06) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 saling berpegangan itu menggigil dan menggetar.

"Eng-moi, terima kasih, Eng-moi! Aihhh, engkau membuat aku berbahagia sekali. Aku cinta padamu, Eng-moi."

Biarpun Eng Eng amat mengharapkan kata-kata itu namun setelah diucapkan, ia merasa lucu dan ia tersenyum.

"Sun-ko, kita baru dua hari berkenalan dan sudah saling mengaku cinta."

"Apa salahnya? Kita saling mencinta, baru bertemu sedetik pun apa bedanya? Aku akan mengirim wali untuk meminangmu kepada orang tuamu, Eng-moi."

"Aku hanya akan menunggu, Sun-ko...."

Hening kembali sejenak dan mereka masih saling berpegang tangan.

Akan tetapi tiba-tiba Cia Ceng Sun melepaskan tangannya dan menunduk, seperti orang melamun dengan alis berkerut.

"Kenapa, Koko?"

Eng Eng bertanya, khawatir.

"Ada satu hal yang mengganjal hatiku, Eng-moi. Yaitu cita-cita ayahmu. Biarpun sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat, akan tetapi aku tidak pernah dan tidak suka bermusuhan. Aku tidak ingin terlibat pemberontakan terhadap pemerintah, juga tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, maka tidak mungkin aku dapat membantu keluargamu. Aku lebih suka berterus terang, Eng-moi, daripada berpura-pura dan palsu."

Gadis itu tersenyum dan kembali dia menangkap kedua tangan pemuda itu yang tadi melepaskan diri.

"Koko, aku justeru bangga sekali karena sikapmu yang berterus terang ini. Aku sendiri pun hanya melaksanakan kewajiban. sebagai puteri ayah. Aku tidak peduli tentang perjuangan dan hanya membantu ayah sebagaimana patutnya seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Adapun tentang permusuhan antara keluarga kami dengan tiga keluarga besar itu, aku sendiri sudah sering memberitahu kepada ayah betapa tidak wajarnya memusuhi seluruh anggauta keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga. Tidak wajar dan juga amat berbahaya karena tiga keluarga besar itu mempunyai orang-orang yang sakti dan amat sukar untuk dikalahkan."

"Hemmm, mengapa ayahmu memusuhi mereka?"

"Menurut ayah, sejak orang-orang Mancu menyerbu dan menumbangkan Kerajaan Beng, semua anggauta keluarga-keluarga itu tidak pernah menentang, bahkan membantu orang Mancu."

"Eng-moi, aku adalah orang yang menghargai kejujuran. Aku sudah berterus terang kepadamu mengatakan bahwa aku tidak mungkin dapat membantu ayahmu. Nah, bagaimana tanggapanmu, Eng-moi? Kalau kita sudah berjodoh maukah engkau meninggalkan ini semua dan tidak lagi mencampuri urusan pemberontakan dan permusuhan, melainkan hidup dalam suasana tenteram dan damai di sampingku?"

"Koko, betapa sudah lama sekali aku merindukan ketenteraman dan kedamaian itu. Aku akan berbahagia sekali kalau hidup dengan tenteram dan damai di sampingmu, akan tetapi.... tentu ayah dan ibu tidak akan mau membiarkan...."

"Percayalah kepadaku, Eng-moi. Aku yang akan melindungimu,"

Kata Cia Ceng Sun dengan sikap gagah dan baru sekali itu selama hidupnya Eng Eng merasa lemah dan amat membutuhkan perlindungan orang lain kecuali ayah ibunya.

Ketika Cia Ceng Sun menariknya, ia pun merebahkan diri di atas dada pemuda itu, menyembunyikan mukanya di bawah dagu.

Mereka tenggelam dalam kemesraan.

Sebagai hasil percakapan dengan Siangkoan Kok, pada keesokan harinya Yo Han mendapat keterangan dari ketua Pao-beng-pai itu bahwa penyelidikan anak buahnya berhasil!

"Penculik anak Pendekar Suling Naga Sim Houw itu adalah Tiat-liong Sam-heng-te (Tiga Kakak Beradik Naga Besi).

Mereka adalah orang-orang yang sejak dahulu bermusuhan dengan Pendekar Suling Naga, dan mereka membalas dendam dengan menculik puteri pendekar itu."

Dapat dibayangkan betapa besar kegirangan hati Yo Han mendengar keterangan itu.

Tak disangkanya akan semudah itu dia mendapatkan jejak penculik puteri bibinya!

"Di mana mereka bertiga, Paman?

Ingin sekali aku menemui mereka untuk kuajak bekerja sama!

Dan apakah anak itu masih ada pada mereka?

Kalau masih ada, dapat kita pergunakan untuk memeras dan memaksa orang tuanya!

Hemm, sekali ini aku akan berhasil membalas dendam orang tuaku!"

Melihat kegembiraan Yo Han, Siangkoan Kok tertawa.

"Kebetulan sekali mereka tinggal tidak terlalu jauh dari sini, dalam waktu setengah hari engkau akan tiba di tempat tinggal mereka. Menurut keterangan anak buah yang melakukan penyelidikan, anak perempuan dahulu mereka culik masih hidup dan tinggal bersama mereka."

Hampir Yo Han bersorak saking gembiranya dan dia hanya cukup menekan dan mengurangi saja luapan kegembiraan karena dalam perannya sebagai musuh bibinya, Dia pun sepatutnya bergembira karena memperoleh sekutu yang dapat dipercaya dan menemukan anak perempuan yang akan dapat dipergunakan sebagai sandera yang amat berharga.

Siangkoan Kok lalu memberi keterangan tentang tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te, yaitu di sebuah lereng di bukit yang tak jauh dari situ, di mana terdapat sebuah gua terowongan yang mereka bangun menjadi tempat tinggal tiga bersaudara itu.

Dengan tulus hati Yo Han mengucapkan terima kasih kepada Siangkoan Kok, kemudian berpamit untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat itu.

Siangkoan Kok mengucapkan selamat jalan sambil berpesan agar pemuda itu tidak melupakan hubungan baik antara mereka dan kelak dapat membantunya dengan bekerja sama antara Pao-beng-pai dan Thianli-pang.

Yo Han menyanggupi, lalu berangkat.

Di pekarangan depan, dia berjumpa dengan Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng yang nampak berjalan berdampingan dalam suasana yang akrab sekali.

Yo Han dapat melihat bahwa ada apa-apa di antara keduanya, maka dia pun tersenyum.

Memang mereka merupakan pasangan yang pantas sekali, pikirnya.

Namun diam-diam dia menyayangkan bahwa seorang pemuda yang hebat seperti Cia Ceng Sun itu kini terlibat dalam keluarga pimpinan pemberontak, bahkan yang memusuhi tiga keluarga besar.

Ah, itu bukan urusannya, pikirnya sambil menggerakkan pundak.

Karena mereka berdua sudah sama-sama tinggal di situ sebagai tamu Pao-bengpai, tentu saja dua orang pemuda ini sudah saling berkenalan walaupun hubungan mereka tidak akrab sekali.

Yo Han lebih sering bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok, sebaliknya Cia Ceng Sun lebih sering berduaan dengan Siangkoan Eng.

"Ehhh, engkau hendak pergi, saudara Yo?"

Tanya Cia Ceng Sun melihat pemuda itu hendak meninggalkan pekarangan sambil menggendong buntalan pakaian di punggungnya.

Eng Eng hanya mengangguk saja ketika bertemu pandang dengan Yo Han.

Biarpun dia merasa kagum kepada Yo Han, namun ia selalu merasa curiga, karena bagaimanapun juga, ia tahu bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang yang amat tangguh dan menurut ayahnya, tenaga sinkang pemuda itu seimbang dengan ayahnya!

Apalagi pemuda ini pernah membuat nama besar dengan julukan Pendekar Tangan Sakti.

Menghadapi orang yang lebih lihai, tentu saja ia merasa khawatir dan juga curiga.

"Benar, saudara Cia. Aku sudah berpamit dari Paman Siangkoan Kok dan harus melanjutkan perjalananku hari ini juga. Nah, selamat tinggal dan semoga engkau berhasil dalam segala cita-citamu. Selamat tinggal, Nona Siangkoan, dan terima kasih atas kebaikan keluarga Nona selama aku tinggal di sini."

Dengan sikap tidak terlalu hormat dan ugal-ugalan seperti tokoh yang perannya dia mainkan, Yo Han tersenyum lalu membalikkan tubuh meninggalkan mereka, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.

"Hemmm, dia seorang pendekar yang hebat! Masih begitu muda sudah memiliki kesaktian yang dahsyat,"

Cia Ceng Sun memuji.

"Tapi aku tidak terlalu percaya kepadanya, bahkan aku mencurigainya, Koko."

Kata Eng Eng.

"Ehhh? Kenapa? Bukankah dia tokoh Thian-li-pang dan kini bersahabat baik dengan ayahmu? Bahkan dia menyebut paman kepada ayahmu. Hemmm, aku jadi berpikir jangan-jangan ayahmu lebih condong memilih dia sebagai calon mantu daripada aku!"

Eng Eng mencubit tangan kekasihnya dengan gemas.

"Ihhh! Aku akan minggat kalau ayah memaksa aku menikah dengan pria lain kecuali engkau. Apakah engkau masih belum percaya kepadaku, Koko?"

"Maaf, aku hanya bergurau. Sekarang juga aku akan menghadap ayah ibumu dan menyatakan keinginan kita, menceritakan hati kita, dan kalau ayah ibumu mengijinkan, aku segera akan pergi dan mencari seorang wakil untuk kukirim ke sini melakukan pinangan."

"Nah, begitu lebih baik daripada membicarakan orang lain. Sebaiknya nanti saja. setelah mereka sarapan, engkau mengatakan isi hatimu kepada mereka. Akan kuusahakan agar engkau diundang sarapan sehingga kita berempat dapat berkumpul dan bercakap-cakap."

Demikianlah, tak lama kemudian mereka telah makan pagi bersama, Cia Ceng Sun, Siangkoan Eng, Siangkoan Kok dan isterinya, Lauw Cu Si.

Setelah makan pagi yang agaknya dilakukan Siangkoan Kok dengan sikap tergesa-gesa karena dia hendak bepergian, Cia Ceng Sun mempergunakan kesempatan itu untuk bicara.

"Lo-cian-pwe (Orang Tua Gagah), saya mohon sedikit waktu untuk bicara dengan Lo-cian-pwe berdua, bersama Engmoi juga."

Katanya dengan sikap sopan dan sikap tenang.

Bagaimanapun juga, dia seorang pangeran dan tentu saja memiliki wibawa yang besar sehingga menghadapi ketua Pao-beng-pai itu pun dia dapat bersikap tenang.

"Hemmm, soal apakah yang hendak kaubicarakan, Cia sicu?"

"Soal saya dan adik Eng Eng. Harap Lo-eian-pwe berdua mengetahui bahwa kami berdua telafi bersepakat untuk saat ini mengaku terus terang kepada Ji-wi (Anda Sekalian) bahwa kami saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama sebagai suami isteri. Saya segera akan pergi dan mengirim seorang wali untuk melakukan pinangan kepada Ji-wi, secara resmi."

Mendengar pinangan yang diajukan begitu tiba-tiba dengan pengakuan bahwa pemuda itu sudah saling mencinta dengan puteri mereka dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, suami isterinya itu saling pandang.

Siangkoan Kok menoleh kepada puterinya yang juga sedang memandang kepadanya dengan sikap yang tenang pula.

"Eng Eng, benarkah apa yang dikatakan Cia Ceng Sun tadi? Bahwa kalian saling mencinta dan engkau setuju untuk menjadi isterinya?"

Dengan sikap gagah dan penuh tanggung jawab, Eng Eng mengangguk dan berkata.

"Benar, Ayah. Kurasa usiaku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sekarang, dan dialah pilihan hatiku."

Siangkoan Kok tertawa bergelak dan sukar menduga apakah suara tawa itu karena gembira atau karena geli atau untuk mengejek.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Orang muda she Cia! Engkau tahu bahwa Eng-Eng adalah puteri tunggal kami yang sangat kami sayang. Ia puteri ketua Pao-beng-pai, cantik dan tinggi ilmunya, lebih tinggi daripada ilmu yang kau kuasai. Kalau ia menghendaki jodoh seorang pangeran sekalipun, hal itu bukan mustahil akan terlaksana. Eng Eng kaya raya, berilmu tinggi dan cantik! Dan engkau ini siapakah berani hendak berjodoh dengannya?. Dari keturunan apa? Engkau cukup tampan, dan biarpun tidak selihai puteriku, kepandaianmu lumayan dan tidak memalukan. Akan tetapi selain itu, apalagi yang dapat kau berikan kepada puteri kami?"

Panas juga rasanya perut Cia Ceng Sun mendengar ucapan laki-laki yang akan menjadi ayah mertuanya itu.

Betapa dia diremehkan dan dipandang rendah!

"Apa yang Lo-cian-pwe minta?

Kalau Lo-cian-pwe mengajukan syarat, tentu akan saya coba untuk memenuhinya."

Katanya sederhana, namun sikapnya tegas.

Mendengar ucapan yang nadanya menantang itu, Eng Eng mengerutkan alisnya dan merasa khawatir, bahkan ia mengerling ke arah kekasihnya dan mengedipkan mata mencegah, namun sia-sia karena pemuda itu sudah mengeluarkan kata-katanya.

"Ha-ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! Seorang gadis seperti Eng Eng memang tidak sepatutnya didapatkan dengan mudah seperti orang memetik buah apel dari pohon saja! Nah, permintaanku tidak banyak. Pertama engkau harus dapat memberi tanda mata yang patut bagi seorang calon isteri macam Eng Eng, dan ke dua, dalam pesta pernikahan kalian nanti, aku minta agar keluarga Kaisar menjadi tamunya!"

"Ayah!! Permintaan itu keterlaluan!"

Teriak Eng Eng, dan Ibunya juga berseru kaget.

"Aih, mana ada permintaan seperti itu? Yang pertama mungkin dapat di-laksanakan, akan tetapi yang ke dua mustahil! Kita ini apa dan siapa, minta keluarga kaisar menjadi tamu dalam pesta pernikahan anak kita?"

Kata Lauw Cu Si.

"Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut. Semua ini kulakukan demi menaikkan derajat anak kita, berarti naiknya derajat kita pula! Bagaimana, Cia-sicu, sanggupkah engkau memenuhi kedua permintaan itu?"

"Saya sanggup!!"

Kata Cia Ceng Sun dengan suara lantang dan tegas sehingga mengejutkan tiga orang itu yang kini memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

"Sun-koko! Bagaimana engkau berani menyanggupi syarat yang mustahil itu?"

Teriak Eng Eng.

"Tenang-lah, Eng-moi. Demi cintaku kepadamu, aku akan berani menyeberangi lautan api sekalipun. Akan kuusahakan sedapat mungkin untuk kelak mengundang keluarga kaisar. Aku mempunyai banyak kenalan di antara para pembesar dan juga penghuni istana!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Setidaknya, kesanggupan-mu sudah membuktikan adanya cinta kasihmu yang besar terhadap anak kami Cia-sicu. Sekarang, tanda mata apa yang pantas kau berikan kepada Eng Eng sebelum engkau pergi mengirim wakil untuk melakukan pinangan resmi?"

"Harap Lo-cian-pwe sekalian menunggu sebentar, akan saya ambil dari kamar saya."

Pemuda itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan makan. Ketika Eng Eng hendak mengejar, baru saja ia bangkit ayahnya melarang.

"Eng Eng, engkau harus pandai menghargai diri sendiri. Tunggu saja di sini, kita lihat bersama apa yang dapat dia, berikan kepadamu. Engkau tidak ingin kelak kecewa dengan pilihanmu, bukan? Biarkan Ayah yang mengujinya!"

Eng Eng tidak jadi bangkit.

Ia pun tahu bahwa sikap ayahnya yang begitu keras bukan karena ayahnya tidak suka mempunyai mantu Cia Ceng Sun, melainkan karena ayahnya ingin mendapatkan mantu yang benar-benar mencintainya, seorang mantu yang berani dan pandai.

Agak lama pemuda itu pergi dan ketika dia masuk kembali ke dalam ruangan itu, ternyata dia telah berganti pakaian dan telah membawa buntalan pakaiannya.

"Sun-koko! Engkau... hendak pergi...?"

Eng Eng terkejut sekali karena sebelum-nya kekasihnya tidak mengata-kan hendak pergi sekarang juga.

"Benar, Eng-moi. Aku harus cepat berusaha untuk memenuhi permintaan ayahmu, yaitu mengirim wali untuk meminang, dan mempersiapkan agar kelak keluarga istana dapat menghadiri pesta pernikahan kita."

Dia lalu menghadapi Siangkoan Kok dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku bajunya.

"Lo-cianpwe, untuk sementara ini, saya tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada ini. Harap Lo-cianpwe sekalian tidak merasa kecewa dengan pemberian tanda mata yang tidak berharga ini."

Ketika Siangkoan Kok menerima benda itu, dia dan isterinya yang duduk di dekatnya terbelalak kagum.

"Tidak berharga?"

Seru Lauw Cu Si.

"Wah! Belum pernah selama hidupku melihat kalung mutiara seindah ini!"

Siangkoan Kok, seorang keturunan bangsawan, juga terbelalak kagum.

Dia mengenal barang yang amat berharga dan langka sehingga terlontar pertanyaannya penuh keheranan.

"Dari mana engkau memperoleh benda mustika seperti ini?"

"Lo-cian-pwe, sudah saya katakan bahwa saya mewarisi harta kekayaan orang tua saya, dan itu merupakan satu di antara benda peninggalan itu."

"Nah, Ayah jangan meman-dang rendah kepada Sun-koko!"

Eng Eng juga berseru, bangga sekali walaupun diam-diam ia juga merasa heran bahwa kekasihnya memiliki simpanan benda yang demikian langka dan berharga, yang dikatakannya tadi.

"tidak berharga."

Kalau kalung seperti itu tidak berharga, lalu yang berharga itu yang bagaimana?

Siangkoan Kok setelah memeriksa benda berharga itu, lalu menyerahkannya kepada isterinya yang kini mendapat giliran mengaguminya bersama Eng Eng, lalu berkata kepada pemuda itu.

"Baik, tanda mata itu kami terima dan kami anggap cukup pantas. Sekarang pergilah untuk mengirim utusan dan wali untuk melakukan pinangan resmi, kemudian atur agar dalam pesta pernikahannya, keluarga kaisar dapat hadir. Kalau engkau membohongi kami, awas, aku tidak akan mengampunimu."

"Baik, Lo-cian-pwe. Nah, saya minta diri. Eng-moi, aku pergi dulu dan doakan saja agar usahaku berhasil."

"Selamat jalan, Koko, dan jangan terlalu lama membiarkan aku menunggumu di sini."

Kata gadis itu. Setelah memberi hormat, Cia Ceng Sun lalu pergi meninggalkan rumah itu. Tiba-tiba Siangkoan Kok lalu berkata kepada puterinya.

"Eng Eng, aku mempunyai urusan penting, karena itu engkau harus dapat mewakill aku. Kau bawa beberapa anak buah yang boleh diandalkan, dan kau bayangi pemuda itu."

"Ayah! Apa artinya ini? Kami sudah saling mencinta!"

"Anak bodoh! Justeru karena engkau mencintanya, engkau harus mengenal betul siapa dia! Bayangi dia dan buktikan sendiri bagaimana dia berusaha untuk dapat kelak menghadirkan keluarga istana di dalam pesta pernikahanmu. Jangan sampai kita dibohongi dan ditipu. Mengerti? Jangan percaya dulu sebelum melihat buktinya, betapapun cintamu kepadanya. Engkau tidak ingin kelak hidup sengsara, bukan? Dan ingat, engkau bayangi dia, jangan bantu dan jangan perlihatkan diri, jangan khianati ayahmu karena semua ini demi kebaikan masa depanmu sendiri."

Eng-Eng mengerti dan ia mengangguk.

Bahkan diam-diam ia merasa gembira karena dengan membaya-ngi Cia Ceng Sun, berarti dia selalu dekat dengan kekasihnya itu, walaupun ia tidak boleh memperlihatkan diri.

Dan memang perlu untuk diketahui siapa sebenarnya kekasihnya itu yang menyanggupi ayah-nya untuk menghadirkan keluarga kaisar dalam pesta pernikahannya!

Dia pun cepat berkemas, Lalu mengajak empat orang pelayannya yang ia percaya, yaitu empat orang gadis yang berpakaian kuning, merah, biru dan putih.

Mereka berlima lalu cepat meninggalkan perkampungan Pao-beng-pai dan dengan mudah mereka dapat menyusul Cia Ceng Sun dan membayangi pemuda itu dari jauh.

Cia Ceng Sun sudah keluar dari Bankwi-kok (Lembah Selaksa Setan) melalui jalan keluar yang sudah diberi tandatanda sehingga dia tidak akan tersesat ke dalam daerah yang berbahaya penuh rahasia, dan dia kini tiba di lereng paling rendah dari Kwi-san (Bukit Setan).

Sunyi saja di situ.

Matahari sudah naik tinggi dan sinarnya mulai terasa hangat di badan.

Tiba-tiba Cia Ceng Sun yang penglihatan dan pendengarannya tajam dan peka, melihat berkelebatnya bayangan di balik semak-semak di sebelah kirinya.

Dia berhenti, menoleh ke kiri dan membentak.

"Siapa mengintai di sana? Keluarlah dan jangan bersembunyi seperti binatang liar!"

Sesosok bayangan melompat keluar dari kiri, disusul bayangan lain melayang dari kanan dan dia telah berhadapan dengan dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun.

Dua orang itu segera memberi hormat kepadanya dengan berlutut sebelah kaki.

"Mohon maaf kalau hamba berdua mengejutkan hati Pangeran,"

Kata seorang di antara mereka yang kumisnya tebal.

"Hamba berdua diutus ayah Paduka, Pangeran Cia Yan, untuk menjemput Paduka dan mengawal Paduka pulang sekarang juga karena ada urusan penting."

Kata orang ke dua yang kepalanya botak.

"Ssttt!"

Pangeran Cia Sun atau Cia Ceng Sun menaruh telunjuk ke depan bibir untuk memberi isyarat agar kedua orang itu menahan kata-kata mereka, lalu menoleh ke sekeliling.

"Harap Paduka jangan khawatir, Pangeran. Kami berdua telah melakukan pemeriksaan dan tempat ini sunyi."

Kata si kumis tebal.

"Andaikata ada yang melihatnya juga, siapa yang akan beranl mengganggu Paduka?"

Sambung si botak.

Tentu saja kedua orang pengawal istana ini merasa heran melihat sikap sang pangeran.

Kenapa mesti bersikap begitu hati-hati dan takut?

Dia seorang pangeran.

Siapa akan berani mengganggunya tentu akan berhadapan dengan pasukan pemerintah!

Pangeran Cia Sun mengerutkan alisnya.

"Ada urusan penting apakah sampai kalian diutus mencari aku? Aku bisa pulang sendiri!"

Katanya tak senang.

"Pula, bagaimana kalian dapat tahu bahwa aku berada di sini?"

Si kumis tebal tersenyum bangga.

"Pangeran, tidak percuma kami berdua menjadi jagoan istana, pengawal-pengawal yang dipercaya. Ketika Paduka pergi ayah Paduka Pangeran Cia Yan memerintahkan kami berdua untuk membayangi Paduka dari jauh dan menjaga keselamatan Paduka. Tugas ini amat mudah karena Paduka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan cukup kuat untuk membela diri sendiri. Maka kami hanya menyebar anak buah untuk membayangi dari jauh. Kami mengetahui bahwa Paduka hadir pula di, dalam pertemuan Pao-beng-pai walaupun kami tidak mungkin dapat masuk ke tempat berbahaya itu."

"Untung kalian tidak masuk, kalau hal itu terjadi, selain kalian celaka, tentu penyamaranku akan gagal pula. Lalu bagaimana?"

Tanya sang pangeran. Kini si Botak yang melanjutkan.

"Kami merasa khawatir karena setelah semua tamu keluar dari Ban-kwi-tok, Paduka tidak keluar-keluar. Kami merasa bahwa tentu ada sesuatu yang terjadi maka cepat kami mengirim laporan kepada ayah Paduka. Dan kami menerima perintah agar menjemput Paduka dan mengajak Paduka pulang secepatnya. Ayah Paduka tidak berkenan mendengar Paduka bergaul dengan orang-orang kangouw yang mencurigakan itu, juga Paduka ditunggu karena ada tamu penting."

"Siapa tamu penting itu?"

Dua orang pengawal itu saling pandang dan tersenyum penuh arti.

"Paduka tentu akan senang sekali kalau tiba di rumah. Tunangan Paduka telah menanti bersama orang tuanya."

"Tunanganku? Jangan bicara sembarangan!"

"Hamba tidak berbohong. Pendekar wanita Si Bangau Merah."

"Ahhh! Sudahlah, kalian ini sungguh menjengkelkan. Bukankah kalian juga tahu bahwa aku pandai menjaga diri sendiri? Seperti anak kecil saja, di jemput dan dikawal!"

Tiba-tiba sang pangeran terkejut dan membalikkan tubuh dengan cepat, juga dua orang pengawalnya memutar tubuh ke kanan dan terbelalak.

Di situ, di hadapan mereka, telah berdiri lima orang gadis yang cantik-cantik, yang empat orang berpakaian empat macam warna, dan yang di depan luar biasa cantiknya, pakaiannya berkembang, rambutnya digelung ke atas dan dihias sebuah tiara kecil, tangan kirinya memegang sebatang hudtim atau kebutan berbulu merah dengan gagang emas, sepasang matanya mencorong memandang kepada Pangeran Cia Sun seperti mengeluarkan api!

"Pangeran Cia Sun!"

Terdengar suaranya dingin sekali.

"Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!"

"Eng-moi !"

Pangeran Cia Sun berseru sambil melangkah maju untuk mendekati gadis kekasihnya itu.

"Diam! Engkau tak berhak menyebutku seperti itu!"

Bentak Siangkoan Eng marah.

Si kumis tebal dan si botak menjadi marah.

Mereka meloncat ke depan Pangeran Cia Sun seperti melindunginya dan menghadapi lima orang gadis cantik.

"Apakah kalian telah menjadi gila Beliau ini adalah Pangeran Cia Sun, cucu Sribaginda Kaisar! Beranikah kalian bersikap kurang hormat kepada beliau? Apakah kalian sudah bosan hidup?"

Kedua orang pengawal itu sudah mencabut pedang mereka untuk melindungi sang pangeran.

"Bereskan mereka!"

Kata Siangkoan Eng dan empat orang pelayannya sudah berloncatan menghadapi dua orang pengawal itu sambil mencabut pedang mereka.

"Kalian yang sudah bosan hidup!"

Bentak nona baju kuning dan ia memimpin penyerangan kepada dua orang jagoan istana itu.

Terjadilah pertanding seru dan hebat.

Dua orang jagoan istana itu terkejut setengah mati karena mendapat kenyataan bahwa empat orang gadis cantik itu lihai bukan main menggerakkan pedang mereka dan sebentar saja mereka berdua terdesak dan terkepung, harus memutar pedang secepatnya untuk me-lindungi diri.

Sementara itu, Siangkoan Eng maju menghampiri Par geran Cia Sun dan membentak lagi.

"Menyerahlah atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"

"Eng-moi, ingatlah aku"aku.."

"Tidak perlu banyak cakap lagi!"

Bentak Siangkoan Eng dan ia sudah menyerang dengan kebutannya, menotok ke arah leher Cia Sun.

Pangeran ini mengelak, akan tetapi Eng Eng menyerang terus, bahkan semakin hebat.

"Eng-moi ah, engkau keterlaluan, tidak memberi kesempatan kepadaku"

Kata sang pangeran yang terus mengelak sampai beberapa kali.

"Engkau mata-mata busuk, pengkhianat, manusia berhati palsu, tidak perlu bicara lagi!"

Kini penyerangan semakin hebat sehingga terpaksa Pangeran Cia Sun menangkis cengkeraman tangan kanan gadis itu.

Begitu kedua lengan bertemu, dia hampir terjengkang!

Cia Sun terkejut dan baru dia yakin benar bahwa dalam pertandingan tempo hari, gadis itu selalu mengalah.

Kini buktinya, pertemuan tenaga mereka membuktikan bahwa gadis itu jauh lebih kuat dari padanya.

Kini Cia Sun yang melawan setengah hati, tidak mau membalas serangan, hanya mengelak dan menangkis saja.

"Engkau keliru, Eng-moi. Aku memang pangeran yang menyamar menjadi orang biasa untuk dapat leluasa memperdalam pengetahuan dan pengalaman aku tidak berniat buruk, aku bertemu denganmu dan jatuh cinta"

Karena bicara, maka pertahanan pangeran itu kurang kuat dan sebuah totokan jari tangan kanan Eng Eng membuat dia terkulai dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi!

Dan pada saat itu pun, dua orang pengawal itu roboh mandi darah dan tewas di ujung pedang empat orang gadis pelayan Eng Eng.

"Belenggu kedua tangannya dan bawa pulang, masukkan ke dalam kamar tahanan dan jangan ganggu dia sampai ayah pulang."

Katanya kepada empat orang gadis pelayan yang segera meringkus Cia Sun yang sudah tidak mampu bergerak, Membelenggu kedua tangan ke belakang lalu menggotongnya seperti seekor kijang yang baru saja ditangkap oleh sekawanan pemburu.

Mayat kedua orang pengawal itu ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Sepuluh menit kemudian, barulah beberapa orang muncul dan membawa pergi dua jenazah jagoan istana itu.

Mereka adalah anak buah yang tadi tidak berani muncul.

Sang pangeran yang perkasa dan dua orang jagoan istana itu saja tidak mampu menandingi lawan, apalagi mereka yang hanya anak buah biasa.

Dari jauh, gua itu nampak hitam gelap.

Akan tetapi, waktu itu, matahari telah tinggi dan bersinar seterang-terangnya.

Tengah hari itu, Yo Han tiba di depan gua di lereng bukit yang menjadi tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te seperti yang diceritakan oleh Siangkoan Kok kepadanya.

Dengan sinar matahari yang amat terang, maka setelah tiba di depan gua, ternyata tidaklah begitu gelap seperti nampaknya, dari jauh.

Salah satu gua yang besar dan merupakan sebuah ruangan depan karena di situ terdapat perabot-perabot seperti bangku dan kursi.

Gua itu seperti sebuah rumah besar saja, di sebelah dalam terdapat sebuah pintu kayu yang memisahkan ruangan depan dengan ruangan dalam.

Beberapa kali Yo Han memanggil-manggil ke arah dalam gua, namun tidak terdapat jawaban.

Dia tidak berani lan-cang memasuki tempat tinggal orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Mungkin gua ini merupakan terowongan yang dalam dan penghuninya berada di bagian belakang sehingga tidak mendengar panggilannya, pikirnya.

Dia lalu mengerahkan khikang dan berseru dengan suara yang seperti menembus ke seluruh ruangan di dalam gua terowongan itu.

"Tiat-liong Sam-heng-te! Harap suka keluar untuk bicara dengan aku, Yo Han."

Suara itu bergema dan gemanya terdengar dari luar.

Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Tentu saja sedang keluar, pikir Yo Han.

Dia teringat bahwa anak yang diculik itu kabarnya masih hidup dan berada di sini pula.

Kebetulan!

Kalau Tiat-liong Sam heng-te keluar, tentu anak itu berada seorang diri saja!

Kesempatan yang amat baik untuk meng-ajaknya pergi dari sini, kembali kepada orang tuanya.

"Sim Hui Eng! Apakah engkau berada di dalam?"

Kembali dia berteriak dengan pengerahan khikang.

Dan sekarang ada tanggapan dari dalam!

Ada suara langkah kaki menuju keluar.

Daun pintu itu terbuka sedikit dan nampak wajah seorang gadis cantik mengintai dari balik daun pintu itu.

"Nona, aku Ingin bicara denganmu!"

Yo Han berseru.

Akan tetapi wajah itu lenyap dari balik pintu dan Yo Han cepat meloncat ke dalam gua dan mengejar.

Gadis itu kini berhenti di ruangan tengah dan tidak lari lagi, melainkan memandangrya dengan heran ketika Yo Han masuk ke ruangan itu.

"Kenapa engkau masuk ke sini ?"

Kini gadis itu menegur, suaranya mengandung rasa takut.

"Jangan masuk, nanti ketiga orang ayahku marah!"

Tiga orang ayah!

Yo Han merasa kasihan sekali.

Agaknya gadis itu seperti orang bingung, bahkan mengaku mempunyai tiga orang ayah.

Mana mungkin seorang gadis mempunyai tiga orang ayah?

Sudah jelas, pasti ini yang namanya Sim Hui Eng, puteri bibinya.

Hatinya terharu.

"Aku mau bicara denganmu."

Kata pula Yo Han sambil mendekat.

"Jangan masuk, nanti ayah marah. Dan aku tentu akan dihukum!"

Yo Han mengerutkan alisnya dan mengepal tinju. Tentu tiga orang penculik itu bersikap kejam terhadap gadis ini, pikirnya.

"Kalau begitu, mari kita keluar dan bicara di luar agar ayahmu. tidak marah."

Katanya.

Gadis itu mengangguk dan ketika Yo Han melangkah keluar, ia mengikuti.

Akan tetapi, kembali gadis itu kembali berhenti, bahkan kini masuk ke sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri.

Yo Han menengok dan melihat gadis itu berhenti lagi bahkan memasuki sebuah ruangan yang agak lebih terang, dia pun melangkah kembali menghampiri.

"Nona, kenapa engkau berhenti?"

Gadis itu kelihatan gelisah dan mengerutkan alisnya, pandang matanya tidak percaya dan curiga.

"Mau bicara apa sih dengan aku? Aku tidak mengenalmu!"

"Akan tetapi aku mengenalmu. Engkau tentu Sim Hui Eng"

Gadis yang manis itu menggeleng kepala.

"Namaku bukan Sim Hui Eng dan aku tidak mengenalmu."

"Mungkin engkau sendiri tidak tahu bahwa namamu yang sebenarnya adalah Sim Hui Eng karena engkau diculik orang sejak kecIl. Nona, aku hampir yakin bahwa engkaulah gadis yang kucari, dan aku dapat membuktikan kebenaran hal itu."

"Hemmm, apakah bukti itu?"

"Kalau engkau mau memperlihatkan pundak kirimu dan tapak kaki kananmu kepadaku, di sana ada tanda-tanda."

"Ihhh, engkau orang kurang ajar! Bagaimana mungkin aku dapat memperlihatkan pundak dan kakiku kepadamu?"

Gadis itu berseru marah dan mukanya berubah kemerahan.Yo Han berpikir.

Memang sulit juga.

Akan tetapi, agaknya Tiat-liong Samheng-te, tiga orang yang oleh gadis itu disebut ayah, sedang tidak berada di situ dan ini merupakan peluang yang baik sekali.

Dia harus dapat melihat bukti itu dan kalau gadis itu tidak mau memperlihatkannya, dia harus memaksanya.

Tidak ada lain jalan.

Kalau tiga orang yang diaku ayah gadis itu berada di situ, tentu hal ini akan lebih sulit untuk dilaksanakan.

Dia harus memeriksa pundak dan kaki gadis itu agar yakin apakah dugaannya bahwa gadis itu Sim Hui Eng itu benar.

"Nona, aku tidak bermaksud kurang ajar. Akan tetapi aku harus dapat melihat bukti Itu, apakah pundak dan kakimu ada tanda-tanda, kelahiran itu ataukah tidak."

Katanya dan dia pun cepat memasuki ruangan yang terang itu.

Gadis itu menyambutnya dengan serangan pisau yang tadi disembunyikannya di belakang tubuhnya.

Yo Han tidak merasa heran.

Tentu gadis ini salah paham dan menganggap dia hendak kurang ajar.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa tanpa paksaan, sukar untuk dapat melihat kaki dan pundak seorang gadis, dia pun mengelak dan begitu tangan yang memegang pisau itu menyambar lewat, dia sudah menangkap lengan kanan yang memegang pisau dan secepat kilat jari tangan kanannya menotok dan gadis itu tidak mampu bergerak lagi!

la tentu roboh kalau saja Yo Han tidak cepat merangkulnya dan merebahkannya di atas lantai.

Pada saat dia merangkul itulah, dia mendengar suara aneh di belakangnya.

Dia menoleh dan terkejut melihat betapa jalan masuk ke ruangan itu, Tiba-tiba saja tertutup oleh jeruji besi yang meluncur dari atas.

Karena dia sedang merangkul tubuh gadis itu, maka dia tidak sempat lagi untuk meloloskan diri, dan dia pun terkurung dalam ruangan itu bersama gadis yang masih tertotok.

Celaka, tentu mereka yang disebut Tiat-liong Sam-heng-te itu.

yang menjebaknya, karena mengira dia akan kurang ajar terhadap puteri mereka.

Akan tetapi dia dapat memberi penjelasan nanti dan begitu kedua tangannya bergerak, baju di pundak kiri gadis itu dan sepatu di kaki kanannya telah terbuka.

Bajunya dia robek dan sepatunya dia lepaskan.

Akan tetapi, matanya terbelalak ketika melihat kulit pundak dan kulit telapak kaki yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun!

Wah mungkin dia lupa, pikirnya.

Jangan-jangan terbalik, pundak kanan dan kaki kiri yang harus dia periksa!

Tanpa banyak ragu lagi, Yo Han kembali merobek baju di pundak kanan dan melepas sepatu yang kiri dan dia tertegun.

Kulit pundak kanan dan kaki kiri itu pun putih mulus, tidak terdapat tanda apa pun seperti yang diharapkan dan disangkanya.

Dia telah keliru!

Kalau begitu, Siangkoan Kok telah berbohong kepadanya.

Dan ini tentu berarti suatu tipuan, suatu jebakan!

Cepat dia meloncat berdiri untuk mencoba keluar dari situ dengan menjebol jeruji besi, akan tetapi pada saat itu juga, dari arah pintu, kanan kiri dan atas, menyembur masuk asap yang kekuningan.

Yo Han menahan napas dan memaksa diri mendekati jeruji besi untuk menjebolnya.

Akan tetapi, di balik asap tebal nampak orang-orang yang mempergunakan tombak yang ditusukkan ke dalam melalui celah-celah jeruji ke dalam sehingga terpaksa dia mundur lagi.

Cepat dia memeriksa ke belakang, kanan dan kiri, akan tetapi dinding gua itu merupakan dinding batu alam, entah berapa tebalnya.

Tidak ada jalan lari!

Dan dia pun tidak mungkin menahan napas terus-terusan.

Dia mulai bernapas dan asap sudah memenuhi gua itu, dia terbatuk-batuk lalu mencium bau yang masam, menyesakkan dada dan Yo Han terguling roboh.

Pingsan!

Yo Han bermimpi.

Dalam mimpi itu dia mengejar-ngejar seorang gadis cantik yang dapat berlari kuat sekali, juga kecepatan larinya luar biasa sekali.

Akan tetapi akhirnya, di puncak sebuah bukit dia dapat menyusul dan menangkap gadis itu, dirangkulnya dari belakang, lalu dia merobek baju gadis itu!

Bukan untuk apa-apa melainkan untuk melihat pundaknya!

Dia melihat sepasang pundak putih mulus, lalu gadis itu menendangnya dan dia jatuh terjungkal ke dalam jurang yang dalam sekali!

Dia membuka matanya.

Tidak, dia tidak mati, tidak jatuh ke jurang.

Lalu dia teringat.

Heran, dia tidak berada di lantai batu, tidak berada di ruangan gua lagi, walaupun masih ada pintu jeruji besi di depannya.

Dia rebah di atas lantai ubin, di sebuah kamar yang cukup luas, kamar yang tidak berjendela, akan tetapi pintunya berjeruji amat kuat dan di luar pintu terdapat banyak penjaga dengan senjata tajam dan runcing di tangan.

Dia berada dalam tahanan!

Yo Han bangkit duduk dan mendengar gerakan orang di belakang-nya, disusul suara tawa orang itu, tawa kecil yang bukan mengejek, bukan pula mentertawakan, melain-kan tertawa karena merasa lucu.

Dia cepat menengok dan melihat orang yang dikenalnya, yaitu pemuda bernama Cia Ceng Sun yang pernah bersama dia menjadi tamu kehormatan keluarga Siangkoan atau perkumpulan Pao-beng-pai!

"Kiranya engkau juga di sini, saudara Cia Ceng Sun.

Dan kenapa pula engkau tertawa.

Melihat tempat ini, jelas bahwa kita berada dalam kamar tahanan.

Kenapa engkau malah tertawa?"

Yo Han bangkit berdiri dan menghampiri pemuda itu yang duduk di depan kayu panjang, lalu duduk di sampingnya.

Cia Ceng Sun menahan tawanya dan menepuk pundak Yo Han.

"Heh-heh-heh, Yo-toako, lucu akan tetapi menyenangkan melihat engkau dibawa masuk dalam keadaan pingsan ke kamar ini. Berarti aku mempunyai teman yang menyenangkan. Lucunya, kita berdua yang dipilih oleh Pao-beng-pai menjadi tamu kehormatan dan sekutu, dan kita berdua pula yang kini menjadi tawanan. Bukankah itu lucu sekali?"

Yo Han kagum melihat betapa pemuda itu dalam tawanan masih mampu berkelakar dan tertawa demikian gembira.

Wajah yang tampan itu sedikit pun juga tidak membayangkan perasaan takut, bahkan agaknya pengalaman ini amat menyenangkan hatinya.

"Saudara Cia, kenapa engkau sampai ditawan? Bukankah Siangkoan Kok dan terutama sekali Siangkoan Siocia (Nona Siangkoan) amat suka padamu?"

Cia Ceng Sun menarik napas panjang, akan tetapi wajah-nya masih cerah.

"Ini merupakan rahasia besar yang sukar untuk kuceritakan kepadamu. Akan tetapi kenapa engkau sendiri yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali sampai dapat tertawan mereka? Ini baru aneh!"

Yo Han memandang dengan serius.

"Saudara Cia, kita ini senasib. Bahkan mungkin sekali kita berdua terancam bahaya maut. Kalau kita tidak bekerja sama, bagaimana mungkin akan mampu lolos. dari ancaman bahaya? Dan untuk dapat bekerja sama, haruslah lebih dulu dapat saling percaya, bukan?"

Cia Ceng Sun mengangguk.

"Engkau benar sekali, Yo-toako."

"Nah, aku percaya padamu, apakah engkau tidak percaya padaku sehingga tidak dapat menceritakan keadaanmu kepadaku? Dengan mengetahui keadaan kita masing-masing, barulah kita dapat bekerja sama."

"Kalau engkau percaya padaku, nah, ceritakanlah mengapa engkau ditawan, Yo-toako."

Yo Han menghela napas.

Pemuda ini selain cerdik, juga agaknya hendak merahasiakan dirinya.

Dia harus memperlihatkan kejujuran dulu agar pemuda itu benar-benar dapat percaya padanya.

"Baiklah. Namaku memang Yo Han dan seperti telah kau ketahui dalam pertemuan itu, aku adalah seorang tokoh Thian-li-pang, bahkan dianggap sebagai pimpinan. Hanya sikapku memusuhi tiga keluarga besar para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman adalah palsu. Aku sengaja memperlihatkan sikap bermusuhan karena aku sedang menyelidiki hilangnya seorang anak dari ketiga keluarga besar itu yang terjadi dua puluh tahun yang lalu."

Ceng Sun tertarik sekali.

"Wah, sungguh menarik dan aneh. Bagaimana mung-kin mencari anak hilang yang sudah lewat dua puluh tahun? Anak siapa yang hilang itu dan bagaimana caranya engkau hendak mencarinya, Yo-toako?"

Yo Han lalu bercerita tentang hilangnya puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, yaitu bibi gurunya yang bernama Can Bi Lan, hilang diculik orang dua puluh tahun yang lalu.

"Itulah sebabnya aku sengaja menyatakan permusuhanku terhadap suami isteri itu, karena aku mendu-ga bahwa penculiknya tentulah musuh mereka dan musuh mereka itu siapa lagi kalau bukan tokoh kang-ouw, tokoh sesat yang lihai? Aku sengaja memancing untuk mencari pencullk itu dan ketika kuceritakan hal ini kepada Siangkoan Kok, dengan mengatakan bahwa yang menculik puteri suami isteri pendekar itu adalah Tiat-liong Sam-heng-te, dan memberi tahu di mana tiga orang tokoh sesat itu tinggal. Aku segera ke sana dan bertemu seorang gadis yang tentu saja kukira anak yang hilang itu. Aku ajak dia bicara dan kepadanya aku mengaku terus terang bahwa aku mencari anak yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Aku bahkan memaksa membuka bajunya dan sepatunya untuk menemukan tanda kelahiran di pundak dan kaki. Akan tetapi ternyata gadis itu bukan anak yang kucari, dan ternyata ia adalah umpan yang sengaja dipasang oleh Pao-beng-pai untuk menjebak dan menangkap aku."

Ceng Sun tertawa geli.

"Heh-hehheh, orang-orang Pao-beng-pai memang cerdik dan licik bukan rmain. Bagaimana mereka dapat menangkapmu dan membuatmu pingsan, Toako?"

Yo Han lalu menceritakan betapa dia dijebak dan ruangan dalam gua tertutup jeruji besi, kemudian ada asap bius yang menyerangnya sehingga dia akhirnya roboh pingsan.

"Agaknya Siangkoan Kok memang sudah mencurigaiku atau mendengar tentang sepak terjangku sebagai Pendekar Tangan Sakti, maka dia memasang jebakan itu. Aku terlalu yakin bahwa gadis itu benar puteri Paman Sim Houw, maka aku ceroboh dan bodoh, menceritakan maksudku sehingga aku diketahui dan di jebak. Sekarang aku telah menceritakan semua dengan terus terang kepadamu, Saudara Cia, engkau mengetahui siapa aku dan mengapa aku berada di sini, mengapa pula aku ditangkap. Tiba giliranmu untuk menceritakan siapa adanya engkau dan mengapa pula engkau berada di sini dan akhirnya ditawan juga."

"Yo-toako, ini merupakan rahasia besar yang gawat dan hanya dapat kuceritakan kepada orang yang benar-benar kupercaya."

Yo Han mengerutkan alisnya.

"Saudara Cia! Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku sudah menceritakan segala rahasiaku kepadarnu yang berarti aku percaya padamu?"

"Bukan begitu, Yo-twako. Akan tetapi karena rahasiaku amat besar dan gawat, aku tidak boleh bercerita kepada orang lain kecuali seorang saudaraku. Nah, kalau engkau mau mengangkat saudara dengan aku, barulah aku mau bercerita."

Yo Han mengerutkan alisnya.

Dia kagum dan suka kepada pemuda ini, akan tetapi sama sekali tidak pernah mimpi akan mengangkat saudara!

Akan tetapi, mereka berdua kini menjadi tawanan dan nyawa mereka terancam, kalau tidak ada saling percaya dan saling pengertian, maka akan sukar bekerja sama.

Padahal, dengan kerja sama pun belum tentu me-reka akan dapat lolos menghadapi Pao-beng-pai yang memiliki banyak anggauta dan amat kuat itu, apalagi memiliki pimpinan yang berilmu tinggi.

"Baiklah,"

Akhirnya dia berkata.

"Bagus, mari kita bersumpah di sini saja, Toako."

Kata Ceng Sun dan mereka pun berlutut di atas pembaringan. Yo Han segera mengucapkan sumpahnya.

"Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini, saya menganggap saudara Cia Ceng Sun "

"Namaku yang sebenarnya Cia Sun, Yo-twaka."

Pemuda itu memotong.

Yo Han membuka matanya dan menoleh.

Temannya itu juga berlutut di sebelahnya dan nama Cia Sun ini tidak berarti apa-apa baginya.

Dia tidak mengenal nama Cia Sun seperti juga dia tidak mengenal nama Cia Ceng Sun.

Akan tetapi dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua nama itu, entah apanya.

Dia tidak peduli dan mengulang.

"Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini saya menganggap saudara Cia Sun sebagai adik angkat saya, akan saling memberi dan saling mengasihi seperti kakak dan adik kandung."

Cia Sun mengangguk-angguk, lalu dia pun mengucapkan sumpahnya seperti yang diucapkan Yo Han.

Setelah itu, mereka lalu turun dari pembaringan dan saling memberi hormat.

Cia Sun berkata lebih dahulu sambil memberi hormat.

"Yo-toako, terimalah hormat adikmu Cia Sun."

"Cia-siauwte, aku merasa berterima kasih sekali. Nah, sekarang, kau ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu agar kakakmu ini mengetahui segalanya dan kita dapat saling bantu."

"Mari kita duduk kembali di pembaringan itu."

Mereka lalu duduk di tepi pembaringan dan Cia Sun mulai dengan pengakuannya.

"Namaku memang benar Cia Sun dan kalau engkau tidak mengenal nama ini adalah karena aku hanyalah putera Pangeran Cia Yan yang tidak begitu terkenal di luar istana."

"Ah, pantas !!!"

Yo Han berkata sambil menepuk pahanya.

"Apanya yang pantas?"

"Ketika mendengar she Cia, aku sudah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang kukenal atau yang menarik. Kiranya Paduka adalah cucu Sribaginda Kaisar!"

"Hushhh ! Begitukah sikap seorang kakak terhadap adiknya Yo-toako, aku akan merasa terhina kalau kakakku sendiri menyebutku paduka. Bagimu aku adalah adik Cia Sun, tanpa embel-embel pangeran dan sebagainya!"

Melihat sikap pangeran itu yang kelihatan tak senang, Yo Han cepat memegang lengannya.

"Maafkan aku, siuwte. Aku hanya bergurau. Nah, coba lanjutkan ceritamu, mengapa engkau sampai tersesat ke tempat ini dan mengapa pula engkau ditawan oleh Pao-beng-pai."

"Aku memang sedang merantau, Toako. Aku bosan di istana dan karena sejak kecil aku suka belajar silat, aku ingin sekali mengenal dunia persilatan, mengenal dunia kang-ouw. Aku lalu mohon kepada orang tuaku untuk merantau meluaskan pengalaman. Demikianlah, aku tiba di sini ketika mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-bengpai."

"Hemmm, apakah engkau merantau sekalian hendak menyelidiki tentang gerakan anti pemerintah?"

"Tidak sama sekali. Hanya kebetulan saja aku mendengar. Akan tetapi, begitu bertemu dengan nona Siangkoan, seketika aku jatuh cinta!"

Yo Han tersenyum, akan tetapi sikapnya bersungguh-sungguh.

"Aku tidak merasa heran, Cia-te (adik Cia), karena ia memang seorang gadis luar biasa. Ilmu silatnya tinggi, wajahnya cantik jelita dan anggun, tidak kalah oleh puteri yang manapun."

"Akan tetapi, engkau tentu mengetahui sendiri betapa cintaku kepadanya itu bahkan menyiksa perasaanku, mengingat bahwa ayahnya adalah ketua Pao-beng-pai yang tentu saja memusuhi keluargaku."

"Hemmm, memang liku-liku cinta kadang membingungkan. Akan tetapi bagaimana dengan perasaan nona itu sendiri kepadamu, Cia-te?"

"Ia pun tidak menolak cintaku, bahkan setuju ketika aku mengajukan pinangan secara langsung kepada ayahnya."

Yo Han memandang kaget dan kagum.

"Engkau berani langsung meminangnya, Cia-te? Itu membutuhkan keberanian hebat! Meminang puteri orang yang baru saja dikenalnya! Dan bagaimana tanggapan orang tuanya?"

"Eng-moi dan ibunya setuju, dan ayahnya mengajukan syarat, minta tanda ikatan dan juga kelak dalam pesta pernikahan harus dihadiri Kaisar."

"Gila!!"

"Engkau tahu siapa aku sebenarnya, Twako. Kalau aku menikah, sudah pasti kakekku, Sri baginda Kaisar, akan menghadirinya. Karena itu, aku menerima syarat itu dan sebagai tanda pengikat, aku memberikan seuntai kalung mutiara yang amat mahal harganya."

"Jadi engkau mengaku sebagai pangeran?"

"Aku tidak sebodoh itu. Tentu saja aku tidak mengaku sebagai pangeran. Dan Eng-moi sudah berjanji padaku bahwa kelak setelah menikah dengan aku, ia tidak akan mencampuri urusan pemberontakan dan permusuhan."

"Aihhh, siauwte! Kalau engkau tidak mengaku sebagai pangeran akan tetapi menyanggupi untuk mendatangkan Sribaginda Kaisar dalam pesta pernikahanmu, hal itu tentu akan membuat mereka curiga sekali!"

Cia Sun menghela napas panjang.

"Itulah kesalahanku. Aku tidak menduga sedemikian jauhnya. Aku lalu berpamit kepada mereka, berjanji untuk mengirim utusan meminang secara reami. Dalam perjalanan, muncul tanpa kusangka-sangka dua orang perwira pengawal yang diutus ayah untuk memanggil aku pulang karena aku ditunggu oleh tunanganku dan keluarganya"

"Aah, engkau sudah bertunangan dan engkau masih meminang nona Siangkoan Eng?"

Yo Han bertanya dengan suara mengandung teguran.

Dia mulai memandang pemuda tampan dan halus itu sebagai adiknya sendiri maka dia secara otomatis menegurnya.

"Ah, engkau tidak tahu, Twako. Aku ditunangkan oleh orang tuaku dengan gadis itu, akan tetapi bagaimana aku dapat mencinta seorang gadis yang baru sekali aku melihatnya, itu pun ketika ia masih kecil? Aku tidak berani menentang kehendak orang tuaku, akan tetapi biarpun aku sudah ditunangkan, namun aku masih merasa bahwa hatiku bebas. Anehkah kalau aku jatuh cinta kepada Eng-moi? Sudah jelas Eng-moi mencintaku dan aku mencintanya, sedang-kan Si Bangau Merah itu, belum tentu ia suka kepadaku atau aku suka kepadanya."

Sepasang mata Yo Han terbelalak.

"Si Bangau Merah....?"

Pangeran itu tersenyum.

"Ya, tunanganku itu adalah seorang gadis pendekar yang berjuluk Si Bangau Merah, namanya Tan Sian Li. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan ibunya adalah puteri bekas panglima Kao Cin Liong. Ia masih keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Kenalkah engkau kepadanya, Twako?"

Yo Han dapat menenangkan kembali hatinya yang terguncang keras mendengar bahwa tunangan pangeran ini adalah Tan Sian Li, kekasihnya!

Dia mendengar keterangan orang tua Sian Li bahwa kekasihnya itu telah ditunangkan dengan seorang pangeran, akan tetapi siapa dapat menduga bahwa pangeran itu adalah pemuda ini, Cia Sun yang kini menjadi adik angkatnya?

"Aku mengenal nama besarnya.

Cia-te, pernahkah engkau melihatnya sekarang?"

Tanyanya, dan diam-diam dia membandingkan antara Sian Li dan Siangkoan Eng.

Memang keduanya cantik jelita, keduanya memiliki ilmu silat tinggi.

Akan tetapi bagi dia, tentu saja Sian Li lebih hebat, lebih segala-galanya.

Biarpun demikian, dia yakin bahwa kalau pangeran ini sebelumnya telah melihat Sian Li, belum tentu dia akan mudah terpikat oleh gadis lain yang secantik Siangkoan Eng sekalipun.

"Sudah kukatakan tadi, aku baru bertemu satu kali dengannya, itu pun ketika kami masih remaja. Bahkan aku sudah hampir lupa bagaimana wajahnya, dan tidak tahu pula bagaimana wataknya."

"Cia-te, lanjutkanlah ceritamu. Setelah engkau bertemu dengan kedua orang perwira pengawal itu, lalu bagaimana?"

"Selagi mereka bercakap-cakap dengan aku, tiba-tiba saja muncul Eng-moi bersama empat orang pelayannya. Aku terkejut dan mencoba untuk memberi penjelasan. Akan tetapi ia sudah marah sekali, menganggap aku sebagai pangeran menjadi mata-mata dan tentu akan memusuhi Pao-beng-pai. Ia merobohkan aku dan menawanku, sedangkan dua orang perwira itu diserang oleh empat orang pengawalnya. Mereka tentu tewas. Nah, segala penjelasanku tidak diterima oleh ketua Pao-beng-pai maupun Siangkoan Eng sendiri, aku lalu dimasukkan ke dalam kamar tahanan ini. Eh, belum lama aku berada di sini, engkau digotong masuk dalam keadaan pingsan."

Setelah saling mendengar pengalaman mereka yang diceritakan dengan sejujurnya, segera kedua orang pemuda yang mengangkat saudara dalam keadaan aneh itu, menjadi akrab sekali.

Mereka bercakap-cakap saling menceritakan riwayat mereka, akan tetapi ada satu hal yang masih tetap dirahasiakan oleh Yo Han, yaitu tentang hubungan-nya dengan Tan Sian Li, Si Bangau Merah yang menjadi tunangan pangeran itu.

Dia merahasiakan hal ini karena dia tidak ingin menimbulkan suasana yang tidak enak di antara mereka.

Kenyataan bahwa pangeran ini tidak saling mencinta dengan Sian Li, Bahkan pangeran itu kini jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, menimbulkan perasaan senang dan harapan baru dalam hatinya.

Dan timbul pula tekad dalam hatinya untuk membantu pangeran itu agar dapat melangsungkan perjodohannya dengan Siangkoan Eng.

Tentu saja, tanpa dia sadari, tanpa dia sengaja, dibalik sikapnya ini terdapat dasar kuat dari hasrat hatinya agar pangeran itu dapat terlepas dari ikatannya dengan Sian Li!

Tengah malam telah lewat, akan tetapi Siangkoan Eng masih belum juga tidur.

Ia sejak sore tadi mondar-mandir di dalam kamarnya dengan wajah muram.

Ia menderita tekanan batin dan kebingungan sejak ia menangkap Cia Ceng Sun dan memasukkannya ke dalam kamar tahanan, kemudian melapor kepada ayahnya bahwa Cia Ceng Sun itu sebenarnya adalah seorang pangeran Mancu.

Ayahnya marah bukan main.

"Jahanam, aku sudah curiga! Pantas dia enak saja menerima syaratku bahwa dalam pesta pernikahan harus hadir kaisar! Kiranya kaisar adalah kakeknya sendiri! Dia tentu datang untuk memata-matai kita! Celaka! Kalau begitu, bagus sekali engkau sudah menawannya, anakku. Kita dapat memper-gunakannya sebagai sandera penting untuk melindungi diri kalau-kalau ada penyerangan dari pemerintah. Dan kalau dia sudah tidak ada gunanya lagi, kusiksa dia sampai mampus!"

Setelah Siangkoan Eng berada di dalam kamarnya sendiri, ucapan ayahnya yang terakhir itu selalu terngiang di telinganya.

Cia Ceng Sun yang ternyata adalah Pangeran Cia Sun itu akan disiksa ayahnya sampai mati!

Dan ia tidak dapat menipu diri.

Ia tetap mencinta pemuda itu, pangeran atau bukan!

Apalagi kalau ia teringat akan percakapannya dengan Cia Sun, mengingat betapa pemuda itu berjanji akan membawanya ke dalam kehidupan yang tenteram penuh kedamaian, tidak mau terlibat dalam pemberontakan dan permusuhan.

Ia bahkan hampir yakin bahwa pemuda itu bukan datang untuk memata-matai Pao-beng-pei.

Akan tetapi, karena terkejut dan marah mendengar pemuda itu seorang pangeran yang menyamar sebagai pemuda biasa, ia telah menangkapnya.

Kini pemuda itu telah menjadi tawanan ayahnya, tawanan penting dan ia tidak mungkin dapat minta kepada ayahnya untuk mengampuni atau membebaskan Cia Sun.

Kini Siangkoan Eng menjatuhkan diri duduk di tepi pembaringan, wajahnya muram dan sedih hampir menangis.

Lalu ia bertepuk tangan dua kali dan seorang pelayan menjawab dengan ketukan pada pintu dalam.

Ia memerintahkan pelayan memasuki kamar.

Pelayan itu kelihatan heran melihat nonanya belum tidur.

"Panggil Sui Lan ke sini!"

Katanya singkat.

Pelayan itu mengangguk dan cepat keluar.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan daun pintu sebelah luar dan suara pelayan tadi melapor bahwa Nona Sui Lan telah datang.

"Sui Lan, masuklah!"

Kata Siangkoan Eng.

Daun pintu depan terbuka dan masuklah seorang gadis cantik berusia dua puluh satu tahun.

Gadis itu kelihatan baru bangun tidur, agaknya tadi sedang tidur ketika pelayan memanggilnya.

Gadis bernama Tio Sui Lan ini adalah murid yang pandai dari Siangkoan Kok dan merupakan teman bermain Siangkoan Eng, juga menjadi orang kepercayaannya, bahkan juga sumoinya (adik seperguruan).

"Suci, tengah malam begini memanggilku, ada kepentingan apakah gerangan yang dapat kulakukan untukmu?"

Dan karena mereka memang bergaul akrab, ia pun menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, sebelah sucinya itu.

"Duduklah, dan maaf kalau aku mengganggu tidurmu, Sui Lan." (Lanjut ke

Jilid 07) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Aih, Suci, kenapa sungkan kepadaku? Dan engkau kelihatan belum tidur, dan wajahmu kusut dan muram seperti orang bersedih. Ada apakah, Suci?"

Siangkoan Eng memegang lengan gadis manis itu.

"Sumoi, engkaulah orang yang paling kupercaya. Hatiku sedang risau. Engkau tahu sendiri bahwa pemuda yang tadinya kita kenal sebagai Cia Ceng Sun itu telah ditunangkan denganku. Kami saling mencinta. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa dia seorang pangeran dan aku sendiri yang telah menawannya sehingga kini dia dikurung dalam tahanan."

"Akan tetapi, itu sudah benar, Suci. Bukankah dia dapat menjadi orang berbahaya sekali dan telah merugikan kita? Dia memata-matai kita dan dia bahkan telah menipu Suci. Aku yakin bahwa cintanya pun hanya pura-pura."

"Diam! Jangan lagi berkata demikian atau aku akan lupa bahwa engkau sumoiku dan akan kuhajar kau!"

Tiba-tiba Siangkoan Eng membentak dan gadis itu memandang dengan wajah pucat.

"Maafkan aku, Suci...."

Siangkoan Eng menghela napas panjang dan kembai ia memegang lengan gadis itu.

"Engkaulah yang harus memaafkan aku. Aku begini bingung sehingga mudah tersinggung. Ketahuilah, sampai detik ini aku tidak dapat menghilangkan cintaku kepadanya, apalagi membencinya. Dan aku yakin bahwa dia bukan mata-mata, dan dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sekali telah terburu nafsu sehingga menangkapnya."

Diam-diam Siu Lan terkejut akan tetapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya, takut salah.

Ia terharu karena sucinya atau juga nonanya yang biasanya keras hati itu kini menjadi lemah oleh cinta!

"Akan tetapi, Suci telah terlanjur menangkapnya, lalu apa yang dapat kulakukan untukmu?"

"Engkau merupakan satu-satunya murid ayah yang dipercaya ayah, dan juga semua anggauta Pao-beng-pai tunduk kepadamu. Apalagi baru saja engkau berjasa dalam menjebak dan menangkap Pendekar Tangan Sakti Yo Han, pimpinan Thian-li-pang itu. Nah, karena Cia Sun ditahan dalam satu kamar tahanan dengan Yo Han, maka aku minta engkau suka berkunjung ke sana dan melihat keadaan Cia Sun."

Sui Lan membelalakkan matanya.

"Malam-malam begini? Ini sudah tengah malam, Suci. Lalu apa alasanku tengah malam begini berkunjung ke tempat tahanan?"

"Katakan saja kepada penjaga bahwa engkau mendapat tugas dari ayah untuk mengamati penjagaan agar kedua orang tahanan itu tidak sampai lolos. Perhatikan apakah Cia Sun diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti kuperintahkan kepada mereka, apakah dia mendapatkan makanan sepantasnya, bagaimana keadaannya. Kemudian, engkau harus dapat menyerahkan ini kepada Cia Sun tanpa diketahui penjaga."

Siangkoan Eng menyerahkan sebuah surat yang dilipat-lipat menjadi kecil kepada sumoinya.

"Suci, engkau melibatkan aku dalam pekerjaan yang amat berbahaya, karena kalau suhu tahu tentu aku akan dibunuhnya. Setidaknya, aku berhak mengetahui, apa yang akan kau lakukan agar aku dapat menyesuaikan sikapku. Aku pasti akan membantumu, Suci. Akan tetapi, apakah maksudmu memberiku tugas ini? Apa artinya semua ini dan apa rencanamu?"

Siangkoan Eng merangkul sumoinya.

"Sumoi, kalau engkau berkhianat kepadaku dan melaporkan kepada ayah, aku akan celaka. Engkau saja yang dapat kupercaya. Aku memberi surat kepada Cia Sun, minta agar dia bersiap-siap menyambut rencanaku malam ini."

"Dan apa rencanamu itu, Suci?"

Siangkoan Eng mengusir semua ke-raguannya.

Memang berbahaya sekali.

Kalau ia memberitahu kepada sumoinya dan gadis itu melaporkan kepada ayahnya, bukan saja rencananya gagal, akan tetapi bahkan amat membahayakan keselamatan Cia Sun dan ia sendiri.

Akan tetapi, ia tidak melihat jalan lain.

"Sumoi, setelah larut malam nanti, aku akan membebaskan Cia Sun."

Gadis itu terbelalak, kaget dan heran.

"Suci! Engkau yang menangkapnya dan melaporkannya kepada suhu, dan engkau pula yang kini akan membebaskannya. Bagaimana pula ini?"

"Sudahlah, Sumoi. Ini demi cinta, dan untuk itu aku siap mempertaruhkan nyawaku. Maukah engkau membantuku? Atau engkau akan melapor kepada ayah?"

Sui Lan merangkul sucinya.

"Suci, engkau tahu bahwa aku menganggapmu seperti kakak sendiri. Aku hidup sebatang kara dan di dunia, ini, hanya engkaulah satu-satunya sahabatku, juga saudaraku. Percayalah, aku akan melaksanakan tugasmu dengan baik. Akan tetapi, dia satu kamar dengan orang she Yo itu. Bagaimana?"

"Justeru aku ingin memanfaatkan dia. Kita tahu, ilmu silat Si Tangan Sakti itu hebat. Kalau mereka berdua melarikah diri bersama, aku yakin ayah sendiri tidak akan mampu menangkap mereka dan Cia Sun tentu akan dapat bebas."

Siangkoan Eng lalu turun dari pembaringan.

"Nah, lakukanlah tugasmu, Sumoi. Hati-hati, jangan ada yang melihat ketika engkau menyerahkan surat itu karena kalau ketahuan penjaga, semua rencanaku dapat gagal sama sekali!"

"Percayalah padaku, Suci."

Sui Lan meninggalkan kamar sucinya dan setelah Sui Lan pergi, Siangkoan Eng duduk termenung.

Sementara itu, Sui Lan dengan langkah biasa pergi ke sebuah bangunan khusus yang berada di perkampungan Pao-beng-pai itu, bangunan yang dipergunakan sebagai tempat tawanan.

Para penjaga tentu saja tidak melarang ia masuk, bahkan memberi hormat, apalagi ketika Sui Lan mengatakan bahwa ia mendapat tugas khusus dari ketua untuk memeriksa keadaan tawanan.

Juga para penjaga sebelah dalam yang berlapis-lapis, semua mengenal baik siapa gadis ini.

Murid tersayang dari Siangkoan Kok, juga orang kepercayaan pimpinan Pao-beng-pai.

Bahkan semua orang tahu bahwa Pendekar Tangan Sakti Yo Han tokoh Thian-li-pang dapat ditawan berkat pancingan nona ini.

Diam-diam Sui Lan menyangsikan kemungkinan berhasilnya rencana sucinya.

Bagaimana mungkin tawanan dapat lolos dari tempat ini?

Selain penjagaan berlapis-lapis dan ketat, juga jalan keluar melalui rintangan-rintangan berupa jebakan-jebakan rahasia yang sukar ditembus.

Akhirnya tibalah ia di depan kamar tahanan yang berjeruji tebal itu.

Dan ia melihat dua orang tawanan itu duduk bersila, saling berhadapan dan mengobrol!

Kelihatan mereka demikian tenangnya!

Pangeran itu bahkan nampak gembira dan mereka berdua menoleh dan memandang ketika ia berdiri di depan jeruji kamar itu.

Melihat Sui Lan, Yo Han tersenyum masam.

"Nah, itulah ia gadis lihai yang telah dipergunakan sebagai umpan sehingga aku terjebak,"

Kata Yo Han tanpa terdengar suara atau pandang mata membenci gadis itu.

Sesuai dengan perintah sucinya, Sui Lan memperhatikan keadaan kedua orang tawanan itu, terutama Cia Sun.

Ia melihat betapa mereka dalam keadaan sehat, bahkan wajah mereka tidak memperlihat-kan rasa takut atau murung.

Jelas bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti diperintahkan sucinya.

Sui Lan memberi isyarat kepada para penjaga untuk menjauh.

Mereka mentaati, akan tetapi tentu saja memandang dari jauh dan mendengarkan.

Sui Lan mengambil sikap seperti orang mengejek.

"Hemmm, kalian sudah tertangkap seperti dua ekor tikus, masih berlagak. Akuilah saja bahwa kalian telah memata-matai Pao-beng-pai. Benar tidak? Kalian menyamar dan berpura-pura, sungguh licik dan pengecut!"

Sui Lan sengaja mengejek dan memaki dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para petugas yang melakukan penjagaan di bagian terdalam tempat itu.

Yo Han tersenyum.

Dia seorang yang cerdik dan dia melihat sikap yang tidak wajar dari gadis itu, bahkan dapat merasakan betapa suara gadis itu sengaja ditinggikan agar terdengar semua orang.

Apa yang tersembunyi di balik sikap yang disengaja itu?

Pasti ada!

Karena itu, dia segera menanggapi, disesuaikan dengan sikap gadis itu yang sengaja menghina mereka.

Kesengajaan ini dapat dia lihat dari suara dan sikapnya yang tidak sewajar-nya.

"Aha, kiranya engkau gadis palsu, gadis licik dan curang! Bukan kami yang curang, melainkan Pao-beng-pai. Kalau tidak licik, pengecut dan curang, coba bebaskan kami dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"

Sui Lan semakin marah.

"Jahanam! Engkau telah merobek bajuku, engkau melepas sepatuku, engkau laki-laki mesum dan kurang ajar! Kalau tidak dihalangi suhu, tentu engkau sudah kubunuh!"

"Ha-ha-ha, engkau mampu membunuhku? Kita lihat saja!"

Kata Yo Han, dan Cia Sun memandang kakak angkatnya itu dengan mata terbelalak.

Dia mengenal Yo Han tidak seperti itu!

Begitu kasar kata-katanya terhadap seorang gadis!

"Keparat busuk, rasakan dan makan jarumku ini!"

Tangan kiri gadis itu bergerak dan sinar lembut meluncur ke dalam kamar tahanan melalui celah-celah jeruji yang cukup lebar.

Dipandang oleh para penjaga dari jauh, jelas bahwa gadis itu menyerang Yo Han dengan jarum rahasia yang ampuh!

Akan tetapi, Yo Han menangkap sinar putih yang menyambarnya, dan menyimpannya ke dalam saku bajunya dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh para penjaga.

Memang jarum yang disambikan Sui Lan, akan tetapi jarum yang membawa lipatan kertas kecil!

Melihat sambitannya tidak mengenai sasaran, Sui Lan memaki-maki lalu pergi meninggalkan tempat itu, memesan kepada para penjaga agar menjaga dengan ketat.

"Kecuali Suhu sendiri, suci Siangkoan Eng, dan aku sendiri, siapapun dilarang memasuki tempat ini! Mengerti?"

Bentaknya kepada para penjaga sebelum ia pergi dari situ.

"Dua jam kemudian, malam telah amat larut dan hawa yang dingin membuat semua orang mengantuk. Demikian pula para penjaga di bangunan tempat tahanan itu. Akan tetapi mereka tidak berani tidur dan melakukan penjagaan ketat secara bergantian. Ketika Siangkoan Eng muncul dan membentak para penjaga yang agak mengantuk, mereka terkejut dan cepat mengambil sikap tegak dan siap. Sikap Siangkoan Eng galak terhadap para penjaga, dan me-marahi setiap orang penjaga yang kelihatan mengantuk atau habis tidur.

"Kalian tidak boleh lengah sedikit pun! Dua orang tawanan ini amat lihai dan amat penting. Aku harus memeriksa segala kemungkinan, jangan sampai mereka lolos!"

Katanya dengan suara galak.

Suaranya terdengar sampai kamar tahanan di mana dua orang pemuda itu duduk bersila.

Mendengar suara ini, berubah wajah Cia Sun dan jantung kedua orang tawanan itu berdebar tegang.

Tak lama kemudian, setelah memeriksa di sepanjang jalan, tibalah Siangkoan Eng di lorong terakhir yang menuju ke kamar tahanan.

Dua belas orang penjaga lorong itu, menyambut dengan sikap yang tegak dan siap.

"Tidak ada yang tertidur di antara kalian?"

Bentak Siangkoan Eng.

"Tidak, Nona."

"Bagus! Siapa yang memegang kunci kamar tahanan? bentaknya pula.

"Dia mempunyai tanggung jawab yang amat penting!"

"Saya, Nona!"

Kata seorang di antara para penjaga yang bertubuh tinggi besar, bermuka bopeng, yaitu kepala regu yang menjaga kamar tahanan dan lorong itu.

"Sudah kau periksa benar bahwa pintu itu terkunci rapat?"

"Sudah, Nona?"

"Berikan kuncinya kepadaku. Hendak kuperiksa sendiri!"

Kata Siangkoan Eng.

"Awas kau kalau menguncinya tidak benar!"

"Silakan, Nona!"

Kata si bopeng sambil menyerahkan sebuah kunci yang besar.

Karena sikap Siangkoan Eng yang galak dan keras itu, para penjaga nampak takut kepadanya, tidak berani mendekat sehinga ketika gadis itu menghampiri pintu jeruji besi kamar tahanan, para penjaga hanya melihat dari jarak sepuluh meter.

Pada saat gadis itu menghampiri pintu jeruji, mereka melihat betapa dua orang tawanan itu tidur di lantai, di tengah kamar, agak mendekat pintu.

Mereka tidur mendengkur, dan Siangkoan Eng mencoba kunci pintu, apakah terkunci dengan benar atau tidak.

Pada saat itu, dua orang tawanan itu bergerak bagaikan kilat cepatnya dan Yo Han sudah menotok gadis itu melalui celah jeruji, lalu mencengkeram pundak dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mengancam lehernya.

Cia Sun juga cepat mencabut pedang yang terselip di pinggang Siangkoan Eng, lalu menghardik kepada para penjaga yang berloncatan mendekat.

"Semua berhenti dan jangan ada yang bergerak. Kalau ada yang bergerak, kami akan membunuh Siangkoan Eng!"

Bentakan itu berpengaruh karena para penjaga yang dua belas orang banyaknya itu tidak berani berkutik, seperti berubah menjadi arca di tempat masing-masing.

Tentu saja mereka tidak menghendaki nona mereka dibunuh dan nampaknya, nona mereka memang sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri, sudah ditotok, dicengkeram lagi dan mereka semua tahu atau sudah mendengar betapa lihainya dua orang tawanan itu, terutama sekali Yo Han yang mencengkeram nona mereka.

Cia Sun merampas kunci dan melalui celah jeruji, dia membuka kunci pintu, lalu mereka berdua keluar.

Yo Han menelikung kedua lengan gadis itu ke belakang punggung, lalu membebaskan totokannya.

"Hayo antar kami keluar. Bergerak sedikit saja melawan, lehermu akan kupatahkan!"

Katanya geram.

Siangkoan Eng kelihatan terkejut dan marah, akan tetapi ia pun tahu bahwa ia tidak berdaya.

Ketika melihat para penjaga memandangnya dengan bingung, ia pun berkata gemas.

"Biar mereka lewat. Lain kali masih ada kesempatan bagi kita untuk menangkap mereka kembali dan kalian akan mendapat bagian menyiksa mereka!"

Para penjaga terpaksa membiarkan gadis itu digiring keluar oleh kedua tawanan.

Demikian pula para penjaga di tengah dan di luar, tidak ada yang berani berkutik melihat nona mereka diancam seperti itu.

Dan Siangkoan Eng juga menyuruh mereka mundur dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat sambil mengeluarkan ancaman bahwa kelak mereka semua pasti akan dapat membalas dan menangkap kembali dua orang itu.

Karena menggiring Siangkoan Eng, tentu saja para penjaga tidak berani menggunakan alat rahasia untuk menjebak.

Nona mereka terancam dan sekali menggerakkan tangan, kedua orang tawanan itu dapat membunuhnya dengan mudah.

Tentu saja mereka tidak berani berkutik, bahkan membunyikan tanda bahaya pun tidak berani, apagi nona mereka memerintahkan mereka tidak melawan dan membiarkan dua orang ta-wanan itu lewat.

Dengan amat mudahnya karena tidak ada penjaga yang berani menghalangi, Yo Han dan Cia Sun dapat keluar dari perkampungan Pao-beng-pai itu menggiring Siangkoan Eng.

Setelah mereka keluar dari pintu gerbang, barulah para penjaga berani berlari-lari untuk memberi laporan kepada Siangkoan Kok.

Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok terbangun dan terkejut, juga marah sekali mendengar betapa kedua orang tawanan itu lolos bahkan menggiring Siangkoan Eng yang dibuat tidak berdaya, kedua orang tawanan itu telah lari jauh.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, agak jauh di tempat sepi, Yo Han melepaskan kedua tangannya.

"Eng-moi...."

Cia Sun memegang kedua lengan gadis itu. Siangkoan Eng memandangnya dengan muka sedih, lalu berkata dengan suara lirih.

"Engkau pergilah...."

"Eng-moi, kenapa engkau tidak ikut kami saja pergi meninggalkan neraka itu?"

Bujuk Cia Sun.

"Neraka itu tempat tinggal ayah ibuku, Koko. Bagaimana aku dapat meninggalkan ibuku begitu saja? Tidak, kalian pergilah cepat sebelum ayah dan para anggauta Pao-beng-pai datang."

"Eng-moi, aku bersumpah, akan kem-bali dan membawamu sebagai isteriku. Aku cinta padamu, Eng-moi."

"Aku pun cinta padamu, tidak peduli engkau ini pangeran atau pengemis.... kata Siangkoan Eng terisak, akan tetapi isaknya terhenti ketika Cia Sun, tanpa sungkan dan malu di depan Yo Han, merangkul dan menciumnya. Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari perkampungan itu sehingga mereka berdua saling melepaskan rangkulan.

"Pergilah sebelum terlambat."

Kata Siangkoan Eng.

"Benar, Cia-te, kita harus cepat pergi. Nona, maafkan kami, terpaksa aku harus menotokmu."

"Silakan,"

Kata Siangkoan Eng.

Yo Han cepat menotok gadis itu sehinga lemas tak mampu bergerak, bahkan dia pun menotok mulutnya sehingga gadis itu tidak dapat bersuara pula.

Cia Sun menyambut tubuh yang lemas itu agar tidak terjatuh, lalu merebahkannya telentang di atas rumput.

Setelah menciumnya sekali lagi, Cia Sun terpaksa melompat dan mengejar Yo Han yang sudah lari terlebih dahulu karena kini terdengar langkah kaki orang-orang berlari datang dan nampak pula mereka membawa obor.

Siangkoan Kok dan isterinya yang memimpin orang-orang mereka melakukan pengejaran, Menemukan puteri mereka dalam keadaan telentang di atas rumput, tak dapat bersuara maupun bergerak.

Dengan marah Siangkoan Kok memerintahkan anak buahnya mencari dan melakukan pengejaran sampai ke bawah bukit, sementara dia dan isterinya membebaskan totokan pada diri Siangkoan Eng.

Dengan muka merah dan mata berkilat menahan kemarahannya, Siangkoan Kok yang tidak mau ribut-ribut memarahi puterinya di tempat terbuka, lalu mengajak isteri dan puterinya kembali ke rumah mereka, dan memerintahkan semua anak buahnya untuk terus mencari.

Kini mereka bertiga berada di dalam rumah, di ruangan dalam di mana tidak ada pelayan yang boleh masuk.

Semua pelayan diperin-tahkan untuk keluar dari ruangan itu, dan mereka menanti di luar dengan wajah pucat karena mereka maklum bahwa ketua mereka marah bukan main.

"Nah, sekarang katakan terus terang, apa yang telah kau lakukan!"

Siangkoan Kok membentak puterinya yang telah duduk di samping ibunya.

Siangkoan Eng mengangkat muka menatap wajah ayahnya, sedikit pun tidak merasa takut walaupun ia tahu bahwa ayahnya marah sekali karena kedua orang tawanan itu dapat meloloskan diri.

"Apa yang harus kukatakan, Ayah? Tadi, untuk merasa yakin bahwa kedua orang tawanan itu tidak dapat melarikan diri, aku memeriksa tempat tawanan itu. mendadak, ketika aku memeriksa kunci pintu kamar tahanan itu, Pendekar Tangan Sakti yang tadinya kukira tidur pulas, meloncat. dan telah menyergapku melalui celah jeruji besi. Gerakannya tak terduga dan cepat sekali sehingga aku dapat ditotoknya. Mereka membuka piritu dengan kunci setelah membuat aku tidak berdaya, dan mengancam para penjaga untuk membu-nuhku kalau mereka mencoba menghalangi larinya kedua orang tawanan itu. Nah, setelah berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka lalu menotok dan meninggalkan aku, sampai Ayah menemukanku."

"Kau bohong! Kau pembohong besar!!"

Siangkoan Kok membentak dan matanya melotot lebar.

Dalam kemarahannya, pria yang tinggi besar dan gagah ini kelihatan semakin besar dan garang menyeramkan.

Akan tetapi, Siangkoan Eng tenang-tenang saja.

"Ayah, kenapa Ayah mengatakan aku bohong? Untuk apa aku berbohong? Mengapa aku harus membohongi Ayah?"

"Mengapa? Karena engkau sudah jatuh cinta kepada pangeran Mancu itu! Karena engkau sudah tergila-gila padanya! Tak tahu malu, merendahkan diri tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu!"

"Hemmm, apa alasan Ayah menuduhku berbohong?"

"Apa alasannya. Bocah murtad, pengkhianat! Selama hidupku, belum pernah aku melihat engkau demikian penakut dan tolol sehingga dapat dikelabui musuh, dapat disergap dan ditundukkan dari da-lam kamar tahanan, kemudian demikian penakut sehingga ketika engkau ditawan dan digiring keluar, engkau memerintahkan para anak buah kita untuk membiarkan dua orang itu pergi! Kau boleh mengelabui orang lain, akan tetapi tidak mungkin dapat membohongi aku! Aku sudah mengenal watakmu. Engkau tak mengenal takut, engkau cerdik, tak mungkin dapat ditundukkan dua orang tawanan semudah itu, kecuali kalau engkau memang sengaja hendak membantu mereka lolos!"

"Itu hanya dugaan Ayah belaka. Mana buktinya?"

Tantang Siangkoan Eng yang memang sejak kecil digembleng ayah ibunya tidak mengenal takut.

"Bocah setan. Engkau masih menantangku untuk menunjukkan bukti? Kau kira aku belum melakukan penyelidikan dan belum membongkar rahasiamu yang busuk dan memalukan?"

Siangkoan Kok membentak ke arah pintu memanggil pelayan dan ketika seorang pelayan wanita masuk dengan sikap takut-takut, dia membentak.

"Panggil ke sini Sui Lan! Cepat!!"

Pelayan itu lari tunggang langgang dan diam-diam Siangkoan Eng terkejut.

Apakah Sui Lan telah mengkhianatinya dan melapor kepada ayahnya?

Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi.

Ia hampir yakin akan kesetiaan sumoinya itu kepadanya.

Tak lama kemudian Sui Lan masuk dan memberi hormat kepada suhunya, dengan suara biasa ia berkata seperti orang melapor.

"Maaf, Suhu. Sudah teecu (murid) dengar dari laporan anak buah bahwa. pencarian itu tidak berhasil...."

"Diam!"

Siangkoan Kok membentak.

"Jangan bicara kalau tidak kutanya, dan setiap jawaban harus kau jawab sejujurnya!".

"Baik, Suhu."

Gadis itu pun duduk di atas bangku yang ditunjuk oleh gurunya.

Berbeda dengan Siangkoan Eng yang masih nampak tenang, Tio Sui Lan kelihatan agak pucat dan matanya mengandung kegelisahan melihat kemarahan gurunya.

Setelah melihat muridnya yang sesungguhnya merupakan murid yang paling disayangnya itu duduk, Siangkoan Kok lalu menghadapi puterinya lagi.

Dia tetap berdiri, bagaikan gunung karang di depan puterinya yang duduk di samping ibunya Lauw Cu Sin, wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih cantik itu, mengerutkan alisnya dan hanya mendengarkan, pandang matanya juga gelisah.

"Nah, sekarang Sui Lan telah berada di sini. Eng Eng, apakah engkau masih tidak mau mengakui pengkhianatanmu terhadap Pao-beng-pai dan bahwa engkau telah membantu kedua orang itu mem-bebaskan diri?"

"Ayah hanya menuduh tanpa bukti."

Kembali Siangkoan Eng atau Eng Eng membantah, sikapnya tetap berani.

"Brakkkkk!!"

Meja di samping kirinya dihantam tangan kiri Siangkoan Kok dan papan meja itu hancur berkeping-keping.

"Engkau masih berani mengatakan aku menuduhmu tanpa bukti? Anak durhaka, dengar baik-baik. Aku telah menyelidiki dan menanyai para penjaga. Dua jam sebelum engkau muncul, si iblis cilik Sui Lan ini datang ke tempat tahanan, memasuki tempat tahanan dan mengatakan kepada para penjaga bahwa aku sengaja memerintahkan ia untuk menjaga para tawanan. Dan para penjaga melihat Sui Lan cekcok dengan para tahanan, lalu ia menyambitkan jarum ke arah para tahanan. Para penjaga melihat berkelebatnya sinar putih halus! Sui Lan, jawab. Benarkah itu?"

"Benar, Suhu. Teecu marah dan menyerang orang she Yo dengan jarum teecu dan...."

"Bohong! Ingin kau kurobek mulutmu? Mana mungkin jarum rahasiamu bersinar putih? Tentu bukan jarum yang kau sambitkan, melainkan surat, gulungan kertas atau alat lain untuk mengirim pesan!"

"Suhu...."

"Diam!"

Tangan Siangkoan Kok menyambar ke arah muridnya dan gadis itu terpelanting dari bangkunya dan bajunya robek lebar memperlihatkan sebagian dadanya.

Sui Lan bangkit dan berlutut, sambil membetulkan letak bajunya.

Untung gurunya tidak berniat membunuhnya sehingga ia tidak terluka.

"Eng Eng, engkau masih hendak membantah? Engkau mengirim pesan lewat Sui Lan kepada pangeran Mancu itu. Kemudian, dua jam setelah itu, engkau sendiri yang datang berkunjung, pura-pura melakukan pemeriksaan dan sengaja engkau membiarkan dirimu dibuat tidak berdaya! Engkau bahkan membantu mereka lolos karena engkau sudah tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu. Tak tahu malu!"

Kini tahulah Eng Eng bahwa Sui Lan tidak berkhianat.

Rahasianya terbongkar semata-mata karena kecerdikan ayahnya yang memang luar biasa.

Ia menghela napas panjang.

"Ayah, aku melakukan hal itu demi menjaga baik nama Ayah"

Mata itu melotot.

"Apa kau bilang? Menjaga nama baikku?"

Karena heran, maka untuk sementara kemarahannya tertunda.

"Ayah adalah ketua Pao-beng-pai yang baru saja memperkenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw, dikenal sebagai pemimpin perkumpulan patriot yang gagah perkasa. Akan tetapi, Ayah telah menawan Pendekar Tangan Sakti secara curang. Bagaimana kalau sampai terdengar dunia persilatan? Pula, aku yakin bahwa Pangeran Cia Sun bukan seorang mata-mata Mancu. Biarpun dia pangeran Mancu, akan tetapi dia bukan mata-mata, melainkan seorang pemuda yang ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman di dunia kang-ouw. Mana mungkin pangeran melakukan pekerjaan mata-mata yang berbahaya? Tentu keluarganya tidak akan menyetujuinya."

"Cukup! Katakan saja engkau tergila-gila kepada pangeran Mancu itu!"

Dengan sama lantangnya Siangkoan Eng yang yakin bahwa ayahnya amat menyayangnya dan tidak mungkin ia sampai terancam malapetaka oleh tangan ayahnya, menjawab.

"Tidak kusangkal, Ayah. Memang aku mencinta Cia Sun dan dia mencintaku. Akan tetapi, bukankah Ayah juga sudah menerima pinangannya, menerima pula tanda pengikat perjodohannya, dan bahkan Ayah mengajukan syarat yang sudah disanggupinya? Apakah Ayah ingin menarik kembali janji dan ucapan Ayah?"

"Jahanam kau! Kau ingin Ayah mempunyai mantu seorang pangeran Mancu?"

"Mengapa tidak, Ayah? Dia pangeran biasa, bukan calon kaisar!"

"Keparat, anak durhaka, engkau memang patut dihajar!"

Bentak Siangkoan Kok dan dia pun menerjang ke depan, tangannya terayun memukul ke arah kepala Eng Eng.

Gadis itu terkejut, sama sekali tidak pernah menduga bahwa ayahnya akan sedemikian marahnya sehingga mau memukulnya, hal yang selama ini belum pernah dilakukan ayahnya.

Yang mengejutkan hatinya adalah ketika melihat betapa tangan ayahnya itu memukul ke arah kepalanya.

Pukulan maut!

Kalau kepalanya terkena pukulan itu, tentu akan pecah dan ia akan tewas seketika!

Otomatis, sebagai seorang ahli silat yang gerakannya otomatis, dengan cepat ia menggerakkan lengan ke atas untuk menangkis karena untuk mengelak, ia tidak berani dan hal itu tentu akan membuat ayahnya menjadi semakin marah.

"Desss....!!"

Biarpun ia telah menangkis, karena ia tidak berani pula mengerahkan seluruh tenaganya, hantaman ayahnya itu tetap saja hebat bukan main.

Tenaga dahsyat menerpa dan menerjang dirinya, membuat kursi yang didudukinya patah-patah dan tubuhnya terjengkang sampai berguling-guling.

Sungguh hal ini tidak disangkanya sama sekali.

Kepalanya terasa pening, dadanya nyeri karena hawa pukulan itu menerjang masuk lewat lengannya.

Dari mulutnya keluar darah dan Eng Eng yang kemudian rebah menelungkup itu, menggerakkan tubuh telentang dan ia bertopang pada siku kanannya, kemudian tangan kirinya diangkat ke arah ayahnya, bibirnya berdarah dan matanya terbelalak.

"Ayah....?!!?"

Terkandung penasaran, keheranan dan kekagetan dalam suara itu.

Melihat keadaan Eng Eng, Siangkoan Kok bukan mereda kemarahannya, melainkan menjadi semakin marah karena tangkisan puterinya tadi dianggapnya sebagai perlawanan.

"Engkau memang patut dibunuh!"

Ben-taknya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menerjang ke depan dan mengayun pedangnya untuk memenggal leher Eng Eng yang masih bertopang pada sikunya.

"Singgg....! Tranggg....!!"

Pedangnya tertangkis pedang lain dan dia cepat meloncat ke belakang, mukanya merah sekali ketika dia melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah isterinya sendiri, Lauw Cu Si!

Wanita cantik itu berdiri dengan pedang di tangan, dan dengan mata mencorong ia menghadapi suaminya.

"Engkau harus melangkahi mayatku dulu kalau hendak membunuhnya!"

Katanya, suaranya tenang akan tetapi mengandung ancaman yang mengerikan.

Kalau saja yang menantang itu orang lain, tanpa banyak cakap lagi tentu Siangkoan Kok akan membunuhnya.

Akan tetapi, isterinya adalah keturunan Beng-kauw.

Biarpun Beng-kauw telah hancur, namun di dunia persilatan masih terdapat banyak sekali bekas tokoh Beng-kauw yang lihai sekali.

Kalau dia membunuh isterinya, apalagi tanpa sebab yang kuat, ten-tu dia akan berhadapan dengan banyak musuh yang amat berbahaya dan ini berarti akan melemahkan Pao-beng-pai.

Melihat keraguan ayahnya, Eng Eng yang masih merasa sesak dadanya dan kini sudah bangkit duduk berkata memelas.

"Ayah, bukankah aku ini anakmu, darah-dagingmu? Seekor binatang buas sekalipun tidak akan membunuh anak sendiri...."

"Dia bukan ayahmu! Engkau bukan anaknya!"

Tiba-tiba Lauw Cu Si berkata dan wajah Eng Eng seketika pucat sekali, matanya terbelalak dan hampir ia jatuh pingsan.

"Ibu.... dia.... dia bukan ayahku....?"

Ia berbisik-bisik berulang-ulang. Ibunya sudah berlutut dan merangkulnya.

"Tenanglah, tidak akan ada manusia di dunia ini dapat membunuhmu tanpa melangkahi mayatku!"

Kata ibu itu sambil merangkul puterinya dan memandang suaminya dengan sinar mata menantang. Siangkoan Kok menjadi merah sekali mukanya.

"Baik, kalian ibu dan anak memang jahanam! Memang kau bukan anakku! Ibumu menjadi isteriku telah membawa engkau! Seorang gadis telah mempunyai anak tanpa ayah. Huh, perempuan macam apa itu! Dan sekarang, kalian hendak mengkhianati aku!"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menyarungkan pedangnya lalu hendak melangkah keluar.

Akan tetapi dia melihat Sui Lan yang masih berlutut dengan muka pucat dan baju robek.

"Engkau juga mengkhianatiku. Mestinya engkau kubunuh! Akan tetapi, aku tidak membunuhmu, dan mulai sekarang, engkau menggantikan perempuan laknat itu dan melayaniku sebagai isteriku!"

Sekali tangannya bergerak dia telah menyambar tubuh Sui Lan dan memondongnya keluar dari kamar itu.

"Tidak, Suhu....! Jangan, Suhu....! Tidaaaaakkk....!"

Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi Siangkoan Kok tidak peduli dan melangkah lebar menuju ke kamarnya sendiri, menutupkan daun pintu dengan keras dan tangis Sui Lan makin sayup.

"Ibu.... ahhh, Ibu.... aku harus menolong sumoi...."

Eng Eng mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi ia terhuyung dan jatuh ke dalam rangkulan ibunya.

"Hemmm, apa yang dapat kau lakukan, Eng Eng? Mari, kurawat lukamu, kita masuk kamarmu. Aku tidak sudi lagi memasuki kamar yang tadinya menjadi kamar kami itu. Aku pindah ke kamarmu."

"Tapi, Ibu....! Kasihan Sui Lan. Ibu, tolonglah sumoi. Setidaknya, ayah.... ah, suami Ibu masih memandang muka Ibu. Tolonglah, cegahlah agar sumoi tidak menjadi korban."

Ibunya menggoyang kedua pundak, sikapnya acuh saja.

Ia adalah seorang bekas tokoh besar Beng-kauw, perkumpulan sesat.

Ia adalah seorang tokoh sesat sehingga peristiwa seperti itu tidak ada artinya baginya.

Ia tidak peduli seujung rambut pun.

"Tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hendak membunuhmu, baru aku bangkit. Akan tetapi Sui Lan? Huh, aku tahu bahwa sudah lama Siangkoan Kok memandang kepadanya penuh berahi. Agaknya sekarang ini kesempatan baginya. Sui Lan bersalah, kalau aku mencegahnya sekalipun, tentu ia akan dibunuh gurunya. Biarlah, jangan ambil peduli!"

Ibu itu menarik puterinya ke kamar Eng Eng yang berada agak jauh di samping kiri. Eng Eng menangis karena merasa tidak berdaya.

"Lebih baik ia mati.... lebih baik ia mati...."

Ia berulang-ulang berbisik, akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya dan membawanya ke kamar.

Eng Eng mencoba untuk mengusir bayangan sumoinya yang meronta dalam pondongan pria yang selama ini dianggapnya ayahnya, ditaatinya dan disayangnya.

"Ibu, kenapa selama ini Ibu tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dia itu bukan ayahku?"

Tanya Eng Eng ketika ibunya memeriksa tubuhnya, lalu menyalurkan tenaga sin-kang untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya karena terguncang hawa pukulan Siangkoan Kok yang kuat.

Kemudian ia pun minum obat yang diberikan ibunya.

Setelah puterinya menelan obat, barulah ia menjawab.

"Untuk apa? Selama ini dia menyayangmu seperti anak sendiri. Baru setelah kalian bertentangan dalam urusan gerakan Pao-beng-pai, dia hampir membunuhmu. Engkau masih terlalu kecil ketika aku menjadi isterinya, maka kupikir sebaiknya tidak perlu kau tahu bahwa dia bukan ayahmu, sampai tadi ketika dia hampir membunuhmu."

"Kalau begitu.... nama keluargaku bukan Siangkoan?"

"Tentu saja bukan!"

"Lalu siapa? Siapakah nama ayah kandungku dan di mana dia, Ibu?"

"Hemmm, dia sudah mati. Kalau engkau tidak suka nama marga Siangkoan boleh kau pakai nama keluargaku, yaitu Lauw. Namaku Lauw Cu Si dan kalau engkau tidak suka nama Siangkoan, boleh kau ganti Lauw, jadi namamu Lauw Eng."

"Tapi, siapa nama ayah kandungku, Ibu? Aku ingin menggunakan nama marganya!"

"Sudahlah aku tidak mau bicara tentang dia. Aku tidak suka mengingatnya!"

Suara wanita itu mulai terdengar ketus sehingga Eng Eng merasa heran sekali.

"Akan tetapi, kenapa, Ibu? Kalau ayah kandungku sudah mati, kenapa Ibu tidak mau memberitahukan namanya? Dan di mana kuburannya? Aku ingin bersembahyang di depan kuburannya."

"Cukup! Aku tidak sudi menyebut namanya. Aku sudah lupa namanya. Aku benci pada-nya!!"

Suara itu semakin galak. Eng Eng terkejut dan semakin heran.

"Tapi, dia sudah mati, Ibu...."

"Dia sudah mati atau masih hidup, aku paling benci padanya, sudah, kalau engkau bicara tentang dia lagi, aku akan marah sekali!"

Eng Eng tidak berani melanjutkan.

Dia sudah kehilangan ayahnya, atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang disayangnya dan ditaatinya dan kini dia tidak ingin kehilangan ibunya pula.

Pasti terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang amat menyakitkan hati ibunya yang telah dilakukan ayah kandungnya maka ibunya begitu membencinya setengah mati.

Kalau benar demikian, berarti ayah kandungnya telah melakukan sesuatu yang amat jahat.

Hatinya terasa perih dan nyeri sekali.

Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri akan tetapi ternyata hanya ayah tiri itu seorang jahat, dan ayah kandungnya sendiri pun dahulunya orang jahat.

Ketika ia terkenang kepada Pangeran Cia Sun, Eng Eng merasa jantungnya seperti ditusuk.

Ia merasa rendah diri.

Dua orang pemuda itu berhasil meninggalkan Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Iblis) yang berada di bagian barat Kwi-san (Bukit Iblis), bahkan turun dari bukit itu dan setelah jauh, menjelang tengah hari, mereka duduk beristirahat di bawah pohon besar dalam sebuah hutan kecil yang sunyi.

Melihat betapa wajah Cia Sun agak murung, Yo Han berkata.

"Mengapa engkau kelihatan murung, Cia-te? Bukankah sepatut-nya kita bersyukur karena telah terhindar dari ancaman maut di sana?"

Pangeran itu memandang kakak angkatnya.

"Yo-twako, aku takut. Aku khawatir sekali apa yang akan terjadi dengan Eng-moi. Aku amat mencintanya...."

Yo Han tersenyum.

"Engkau aneh sekali, Cia-te. Ketika engkau dan aku berada dalam tahanan dalam keadaan tidak berdaya, setiap saat dapat saja kita dibunuh, engkau sama sekali tidak merasa takut, bahkan selalu nampak gembira. Akan tetapi sekarang, setelah terbebas dari bahaya, engkau malah takut."

Cia Sun menghela napas panjang.

"Biasanya aku tidak pernah takut, Yo-twako. Akan tetapi sekarang, aku gelisah sekali dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku dapat menghilang-kan perasaan takut atau gelisah ini."

"Tidak ada cara untuk menghilangkan takut, Cia-te. Takut adalah perasaan kita sendiri, yang ingin menghilangkan itu pun perasaan kita sendiri. Takut timbul karena ulah pikiran, dan keinginan menghilangkan juga ulah pikiran, Cia-te. Kalau kita tidur, pikiran kita bekerja, maka takut pun tidak ada. Pikiran menimbulkan rasa takut, duka, dan sebagainya. Namun, kesadaran akan rasa takut itu sendiri, tanpa adanya usaha melenyapkan, akan mendatangkan perubahan, mendatangkan kesadaran dan dengan sendirinya takut pun tidak nampak bekasnya."

Apa yang dikatakan Yo Han bukan teori, melainkan pengalaman yang sudah dialami sendiri oleh pemuda itu.

Takut bersumber dari pikiran, dan pikiran bergelimang nafsu, membentuk aku.

Keakuan inilah yang menjadi sumber segala perasaan.

Aku terancam, pikiran membayangkan segala hal buruk yang dapat menimpa diriku, maka timbullah takut.

Aku yang mengaku-aku adalah pikiran bergelimang nafsu.

Nafsu membuat kita selalu ingin senang, tidak mau susah, maka membayangkan kesusahan yang akan menimpa diri, menimbulkan rasa takut.

Takut adalah ulah pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi, membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa kita.

Yang sehat takut sakit, kalau sudah datang sakit, bukan sakit lagi yang ditakuti, melainkan mati, lalu takut akan keadaan sesudah mati dan selanjutnya.

Membayangkan hal-hal yang belum terjadi, itulah sebab rasa takut.

Kalau pikiran tidak membayangkan hal-hal yang belum terjadi, takut pun tidak ada.

Iblis menggoda kita manusia melalui nafsu-nafsu kita sendiri.

Nafsu sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan, disertakan kepada kita sejak kita lahir.

Nafsu diikutsertakan untuk menjadi alat kita, menjadi budak kita yang membantu kita dalam kehidupan di dunia lain.

Tuhan Maha Murah, Tuhan Maha Asih.

Dengan memiliki nafsu, kita dapat menikmati kehidupan di dunia ini melalui panca-indera kita, melalui semua alat tubuh kita lahir batin.

Iblis melihat ketergantungan kita kepada nafsu, mempergunakan nafsu untuk menyeret kita sehingga kita bukan lagi memperalat dan memperbudak nafsu, melainkan kita yang diperalat dan diperbudak, dan kalau sudah begitu, Kita tidak berdaya, menjadi permainan nafsu yang akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan, menjadi seperti kanak-kanak yang diberi makanan enak, tak mengenal batas makan sebanyaknya untuk kemudian menderita sakit yang menyengsarakan.

Kalau sudah menderita akibat menuruti nafsu, barulah timbul penyesalan, dan alat lain dalam tubuh mem-protes, akal sehat melihat betapa merugikan dan tidak menyenangkan akibat dari menuruti dorongan nafsu tadi.

Akan tetapi, usaha menghentikan pengaruh nafsu itu takkan berhasil, atau sukar sekali mendatangkan hasil.

Usaha itu datangnya dari hati akal pikiran pula, padahal hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu.

Bagaimana mungkin nafsu meniadakan nafsu, atau nafsu mengalahkan dirinya sendiri?

Tidak mungkin!

Bahkan akal pikiran yang sudah dipengaruhi nafsu daya rendah itu membela pekerjaan nafsu.

Contohnya banyak kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita ini.

Adakah manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang benar?

Adakah seorang pun pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu buruk?

Adakah seorang koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu jahat dan buruk?

Semua tahu belaka!

Seperti contoh ter-dekat dan teringan, adakah seorang pun perokok atau pemabuk yang tidak tahu bahwa merokok atau bermabukan itu tidak baik?

Tentu tidak ada!

Setiap orang tahu, akan tetapi apa daya?

Pengetahuan ini tidak mampu menghentikan ikatan pengaruh nafsu.

Yang berjudi, walau tahu benar bahwa berjudi itu tidak baik, tidak mampu menghenti-kan kebiasaannya berjudi!

Demikian pula dengan perokok, pencuri, koruptor dan sebagainya!

Kenapa begitu?

Karena pengetahuan itu ada di pikiran, dan pikirannya pun sudah bergelimang nafsu.

Bahkan hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu membela perbuatan-perbuatan itu.

Seorang pencuri dibela pikirannya sendiri bahwa dia mencuri karena terpaksa, karena tidak ada pekerjaan, karena ingin menghidupi keluarga, dan sebagainya.

Seorang koruptor dibela oleh pikirannya sendiri bahwa dia korupsi karena semua orang pun melaku-kannya, karena gajinya tidak mencukupi karena keluarganya ingin hidup mewah, dan seribu satu macam alasan lagi.Kalau semua usaha gagal, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi pengaruh nafsu kita sendiri?

Dalam pertanyaan ini sudah terkandung jawabannya.

Selama kita berusaha melakukan sesuatu, kita tidak akan berhasil, karena yang berusaha menundukkan nafsu adalah nafsu itu sendiri.

Kalau kita sudah ingin menundukkan nafsu, hanya waspada mengamati gejolak nafsu kita, tanpa ada keinginan mengubahnya, maka akan terjadi perubahan!

Tanpa adanya si-aku yang berusaha, tanpa adanya si-aku yang alias nafsu melalui pikiran yang merajalela, nafsu bagaikan api yang tidak ditambah minyak.

Kekuasaan Tuhan akan bekerja!

Dalam urusan kehidupan sehari-hari, mencari sandang pangan papan, hidup sebagai manusia yang berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tentu saja kita harus mempergunakan hati akal pikiran.

Akan tetapi dalam urusan rohanian, alat-alat jasmani kita tidak berdaya.

Hanya kekuasaan Tuhan yang mutlak berkuasa.

Maka, kita hanya menyerah!

Kekuasaan Tuhan yang akan mengembalikan nafsu-nafsu kita pada kedudukan asalnya, yaitu menjadi peserta dan alat kita, bukan sebaliknya kita yang diperalat.

"Yo-twako, sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Mengapa dalam kehidupan ini selalu kita dipermainkan senang dan susah, puas dan kecewa? Bahkan apa yang menyenangkan menjadi membosankan. Kenyataan hidup terlalu sering berlawanan dengan apa yang kita idamkan dan harapkan. Sekelumit kesenangan segera diseling segunung kesusahan. Bukankah kita manusia ini se-perti selalu mencari-cari? Apa yang kita cari? Kebahagiaan? Di mana dan apa kebahagiaan itu? Pertanyaan ini selalu menggangguku dan sudah kutanyakan kepada banyak sekali orang-orang pandai, namun tak pernah aku memperoleh jawaban yang meyakinkan dan memuaskan."

Yo Han tersenyum lebar.

"Pertanyaanmu itu agaknya telah menjadi pertanyaan dunia sepanjang masa, pertanyaan seluruh manusia di permukaan bumi ini, Cia-te. Kita mencari-cari kebahagiaan, mengejar-ngejar kebahagiaan, namun tak pernah menemukannya. Kalau ada kalanya merasa menemukan, ternyata dalam waktu singkat yang kita tadinya anggap sebagai kebahagiaan itu berubah menjadi kesengsaraan. Kita mengejar dan mencari terus selama kita hidup."

"Akan tetapi, adakah orang yang benar-benar menemukan kebahagiaan itu, Twako? Dan dimanakah sebenarnya kebahagiaan itu?"

"Cia-te. Mari kita selidiki bersama. Mungkinkah kita mencari sesuatu yapg tidak kita kenal?"

"Tentu saja mustahil!"

Jawab sang pangeran tanpa ragu.

"Tepat. Karena itu, sebelum kita bertanya di mana adanya kebahagiaan yang kita cari. Apakah kebahagiaan itu, Cia-te?"

"Kebahagiaan! Tentu saja kebahagiaan adalah suatu perasaan, yaitu perasaan bahagia!"

"Kalau begitu pertanyaan yang menyusul. Apakah engkau pernah mengalami perasaan bahagia itu, Cia-te?"

Pangeran Cia Sun tertegun dan mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk.

"Rasanya pernah dan sering malah. Kalau aku merasa bebas dari kepusingan apa pun, merasa bebas dan lega, seperti ketika aku berada seorang diri di tepi laut yang sunyi, seperti kalau aku berada di puncak gunung yang sunyi pada suatu senja memandang matahari tenggelam, seolah-olah aku melayang di antara sinar senja, ketika aku saling tatap dan bercakap-cakap dengan Eng-moi, yah, seringkali aku merasakan itu mungkin aku selalu mencari-cari saat atau detik-detik seperti itu...."

"Nah, itulah, Cia-te! Sekali saat kita merasa berbahagia seperti yang kau alami itu. Akan tetapi nafsu menguasai hati akal pikiran. Karena nafsu selalu mengejar keenakan dan kesenangan, maka nafsu di hati akal pikiran membuat kita ingin mengabadikan perasaan bahagia di saat itu! Kita ingin memilikinya! Dan kita terseret oleh nafsu, yaitu menjadikan saat indah dan suci itu menjadi semacam kesenangan. Jadi, yang kita cari selama ini, yang dicari-cari oleh setiap orang manusia di dunia ini, hanyalah kesenangan yang mengenakan topeng kebahagiaan. Yang dapat dikejar oleh kesenangan, Cia-te. Mudah saja mengejar kesenangan makanan nafsu itu, melalui mata, hidung, telinga, mulut dan lain anggauta badan luar dan dalam. Kesenangan timbul dari kenangan, dari pengalaman, diulang-ulang, karenanya mati dan selalu disusul kebosanan. Kebahagiaan sudah ada dan selalu ada, hidup bagaikan awan berarak di angkasa, bagaikan gelombang di samudera, tak dapat ditangkap dan dimiliki, tak dapat diulang-ulang, dirasakan saat demi saat tanpa bayangan kenangan masa lalu."

Pangeran Cia Sun tertawa dan memegangi kepala dengan kedua tangannya.

"Aduh, kepalaku yang pening, Twako. Apakah kalau begitu, menurut Twako, amat tidak baik kalau dalam hidup ini kita bersenang-senang?"Yo Han tertawa pula.

"Wah, bukan begitu, Cia-te! Menikmati keenakan dan kesenangan dalam hidup merupakan anugerah yang sudah sepatutnya kita nikmati. Kita berhak menikmati keenakan dan kesenangan melalui panca-indra. Akan tetapi, diperhamba nafsu lain lagi akibatnya. Kita lalu menjadi hamba, setiap saat hanya mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan dengan melupakan segala macam cara. Di sini perlunya kita mempergunakan alat kita yang lain, yaitu akal budi, untuk mempertimbangkan, kesenangan macam apa yang baik dan tidak baik, yang sehat dan tidak sehat. Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan."

Pangeran itu mengangguk-angguk.

"Sekarang, bagaimana baiknya, Twako? Aku sebenarnya ingin sekali memperisteri Eng-moi, akan tetapi jelas bahwa ayahnya pasti tidak akan menyetujuinya. Dia anti pemerintah, anti Mancu, sedangkan aku seorang pangeran Mancu."

"Memang keadaan kalian itu sulit sekali, Cia-te. Akan tetapi, aku tetap yakin bahwa lahir, jodoh dan mati ditentukan dan sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan. Maka, bersabarlah dan sebaiknya sekarang engkau kembali dulu karena dipanggil keluargamu. Sebaliknya kalau kau ceritakan persoalanmu kepada orang tuamu. Mungkin mereka akan dapat menemukan jalan sehingga akhirnya engkau akan dapat berjodoh dengan kekasihmu itu."

Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih.

"Agaknya mustahil kalau ayah mengijinkan aku menikah dengan Eng-moi, kalau dia mengetahui bahwa Eng-moi adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang menentang pemerintah."

"Kalau begitu, lebih sulit lagi. Akan tetapi percayalah, Cia-te, betapapun sulit dan mustahilnya suatu urusan bagi kita manusia, kalau Tuhan menghendaki, segala kesulitan itu akan terlampaui dan perkara dapat diatasi dengan segala ikh-tiarmu dengan penyerahan kepada kekuasaanNya."

"Dan sekarang, engkau sendiri hendak ke mana, Twako? Aku akan kembali ke kota raja. Maukah engkau ikut denganku ke sana? Akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku."

Diam-diam Yo Han merasa ngeri.

Ikut ke sana dan bertemu dengan Sian Li?

Ah, tidak!

Dia tidak ingin membuat adik angkatnya ini menjadi terganggu kalau tahu bahwa dia memiliki hubungan dekat sekali dengan gadis tunangannya itu.

Juga dia tidak mau membuat Sian Li menjadi rikuh.

Di samping itu, dia pun tidak ingin menyiksa diri sendiri dengan menyaksikan pertunangan antara adik angkatnya dengan gadis yang dicintanya.

"Terima kasih, Cia-te. Akan tetapi, aku harus melanjutkan pelaksanaan tugasku, yaitu mencari puteri bibi guruku yang hilang sejak kecil itu."

"Pekerjaan yang teramat sulit, Twako. Bagaimana mungkin mencari seorang yang belum pernah kau kenal sama sekali? Apalagi ia hilang ketika berusia tiga tahun dan jarak waktunya sudah dua puluh tahun. Ia sendiri mungkin tidak ingat lagi akan keadaan dirinya ketika berusia tiga tahun."

"Tidak ada perkara yang sulit, kalau saja aku dibimbing kekuasaan Tuhan, Cia-te. Engkau tentu ingat kata-kataku tadi. Aku tidak akan putus asa dan akan terus mencari. Setidaknya, aku mengetahui tanda pada tubuhnya ketika ia lahir, yaitu di pundak kirinya dan di kaki kanannya."

Pangeran itu tertawa geli.

"Ha-ha-ha, sekarang mengertilah aku mengapa gadis yang mengirim surat Eng-moi kepadaku melalui jarum yang disambitkan padamu itu memaki-makimu! Kiranya engkau pernah menyang-ka gadis itu sebagai gadis yang kau cari dan engkau tentu membuka bajunya untuk melihat pundaknya, juga membuka sepatunya untuk melihat kakinya. Pantas ia marah-marah!"

Pangeran itu tertawa geli dan Yo Han juga ikut tertawa dengan muka kemerahan.

"Apalagi ketika engkau menjawabnya dengan sikap kasar, aku sempat terheran-heran melihat sikapmu, Twako. Eh, kiranya engkau bersandiwara dan tahu bahwa gadis itu tentu mempunyai maksud tertentu. Nyatanya ia menyambitmu dengan jarum yang ada surat Eng-moi sehingga kita dapat siap melaksanakan sandiwara ketika Eng-moi datang membebas-kan kita."

"Memang itulah gadis yang disuruh Siangkoan Kok untuk menjebakku. Baru kemudian kuketahui bahwa dia adalah murid terbaik dari ketua Pao-beng-pai itu. Nah, sekarang sebaiknya kita saling berpisah di sini, Cia-te. Percayalah, ka-lau engkau memang berjodoh dengan nona Siangkoan Eng, kelak engkau pasti dapat menjadi suaminya, dan kalau tugasku selesai, kelak pada suatu hari aku pasti akan mengunjungimu di kota raja."

Dua orang pemuda itu bangkit dan setelah saling memberi hormat dan saling rangkul, mereka mengambil jalan masing-masing.

Pangeran Cia Sun kembali ke kota raja sedangkan Yo Han mengambil jalan yang belum dia ketahui menuju ke mana karena dia pun tidak tahu ke mana harus mencari Sim Hui Eng.

Dia akan melanjutkan ikhtiarnya itu dengan menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw, terutama golongan sesat untuk menyelidiki siapa pelaku penculikan atas diri puteri bibi gurunya itu.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun.

Tubuhnya sedang namun tegap dengan dada yang bidang dan kekar dengan otot-otot menggelembung sehingga nampak jantan dan gagah.

Wa-jahnya juga tampan dan bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bentuk yang manis, dengan dagu kokoh dan matanya mencorong seperti bintang.

Pakaiannya sederhana bentuk-nya, namun bersih, dan rambutnya pun tersisir rapi.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Apalagi pada pagi hari itu, dia berlatih silat seorang diri di bawah pohon besar itu dengan gerakan yang perkasa, cepat tangkas dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga daun-daun pohon itu bergoyang-goyang seperti dilanda angin.

Makin lama, gerakan pemuda itu semakin cepat dan tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya, tangannya bergerak memukul ke arah sebatang pohon sebesar paha orang.

Tangan itu tidak sampai menyentuh batang pohon, ada satu setengah meter jaraknya, namun terdengar suara "kraaakkk!"

Dan batang pohon itu pun patah dan tumbang!

Mulut pemuda itu kini tertarik dan menyeringai aneh, dan pada saat itu, nampak berkelebat seekor burung yang terkejut mendengar robohnya pohon kecil itu.

Burung itu terbang dekat pohon besar dan pemuda itu tiba-tiba saja meloncat ke atas dan tangannya bergerak ke arah burung.

Burung itu tiba-tiba terjatuh seperti sebuah batu dan disambar oleh tangan pemuda itu yang juga melayang turun.

Sambil membuang bangkai burung itu, dia menengadah, lalu wajah yang tampan itu menyerigai, dan dia pun tertawa bergelak seperti kesetanan!

Lalu dia berjongkok, memeriksa bangkai burung yang sudah menjadi hitam seluruh tubuhnya, keracunan.

Kembali dia tertawa, akan tetapi tawa ini aneh karena berhenti tiba-tiba seperti tercekik.

Dia lalu memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau ada yang melihat atau mendengarnya, kemudian dia pun meloncat dan menyelinap ke balik semuk belukar dan tahu-tahu tubuhnya lenyap.

Kalau ada orang yang melihat dan mencarinya, menyingkap semak belukar, orang itu tentu akan melihat adanya sebuah sumur yang amat dalam di balik semak belukar itu.

Sumur yang tua dan kalau dilihat dari atas, tidak nampak dasarnya, saking dalam dan gelapnya.

Dapat dibayangkan betapa besar bahayanya kalau orang berani menuruni sumur itu, dengan tangga atau tali sekalipun, karena dia tidak tahu apa yang berada di dasar sumur.

Mungkin gas beracun, atau ular berbisa.

Orang itu tentu akan semakin heran dan kagum kalau melihat betapa pemuda tadi memasuki sumur dengan cara merayap melalui dinding sumur.

Gerakannya cepat seperti seekor cicak saja yang merayap menuruni dinding!

Dan kini, pemuda itu sudah berada di ruangan bawah tanah yang mendapat sinar matahari dari celah-celah batu retak di atas.

Pemuda itu tertawa-tawa seorang diri, menghadapi sebuah dinding yang penuh dengan coret-coretan huruf dan gambar-gambar yang sebagian sudah terhapus.

"Ha-ha-ha-ha-ha, susiok-kong (kakek paman guru) Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya itu mencoba untuk melenyapkan Bu-kek-hoat-keng! Ha-ha-ha, arwahnya tentu sekarang akan cemberut kalau melihat betapa usahanya itu tidak sempurna, dan bahwa ilmu Bu-kek-hoat-keng akhirnya dapat dimiliki orang yang paling berhak, yaitu aku, Ouw Seng Bu, ha-ha-ha!"

Seperti orang sinting pemuda itu tertawa-tawa dan kini dia menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk ke permukaan dinding batu.

Sungguh hebat bukan main.

Gerakan jari-jari tangannya itu membuat dinding batu rontok bagaikan tepung saja, seolah-olah dinding batu itu hanya merupakan tanah yang lunak.

Sebentar saja, terhapuslah sudah semua huruf dan gambar yang tercoret di dinding itu.

Siapakah pemuda itu.

Seperti kata-katanya tadi, dia bernama Ouw Seng Bu dan merupakan seorang tokoh muda dari Thian-li-pang.

Belasan tahun yang lalu, ketika dia sendiri masih seorang anak laki-laki kecil berusia delapan atau sembilan tahun, Thian-li-pang, perkumpulan orang-orang gagah anti penjajah Mancu itu dipimpin oleh mendiang Ouw Ban sebagai ketuanya.

Ouw Ban mempunyai dua orang putera, yang pertama adalah Ouw Cun Ki yang diselundupkan ke istana untuk membunuh kaisar Mancu, akan tetapi tertawan dan dihukum mati.

Yang ke dua adalah Ouw Seng Bu yang ketika peristiwa itu terjadi, masih kecil.

Kemudian, terjadi perpecahan di kalangan para pimpinan Thian-li-pang sehingga Ouw Ban tewas di tangan guru-gurunya sendiri, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong (baca kisah Si Bangau Merah).

Kemudian, muncul Yo Han yang secara kebetulan mewarisi ilmu kepandaian kakek yang buntung kaki tangannya di dalam sumur rahasia, yaitu mendiang kakek Ciu Lam Hok, sute dari Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memiliki ilmu kesaktian hebat.

Munculnya Yo Han membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh-pengaruh sesat dan jahat partai-partai lain seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan kehadiran Yo Han menyerahkan pimpinan Thian-li-pang, kepada Lauw Kang Hui sebagai ketuanya.

Lauw Kang Hui telah sadar dan membawa kembali Thian-li-pang ke jalan lurus, sebagai perkumpulan orang gagah yang menentang penjajah Mancu.

Juga dia merasa iba.

kepada Ouw Seng Bu, putera suhengnya dan mengajarkan ilmu silat kepada keponakannya itu.

Ouw Seng Bu berlatih dengan rajin.

Di depan paman guru yang kini menjadi gurunya dan di depan para tokoh Thian-li-pang, dia memperlihat-kan sikap sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan pendiam.

Namun, pemuda ini tidak pernah melupakan pesan mendiang ayahnya dahulu ketika dia masih kecil bahwa sekali waktu, dia harus berani menyelidiki dan memasuki sumur di bawah tanah, mencari peninggalan kakek paman gurunya yang sakti.

Demikianlah, setelah dia memiliki ilmu kepandaian dan cukup gagah, dalam usia delapan belas tahun, dia nekat mencari dan menemukan sumur di balik semak belukar itu dan nekat memasukinya dengan tali yang panjang.

Setelah mencari-cari dan membongkar-bongkar batu besar di dalam gua dan terowongan di bawah tanah, akhirnya dia menemukan dinding penuh coretan dan gambaran itu yang tadinya tertutup batu besar.

Agaknya kakek Ciu Lam Hok dahulu pernah membuat coretan dan gambaran di dinding itu, kemudian menghapus sebagian dan menutupi dinding dengan batu besar.

Dia pun tahu bahwa itulah ilmu Bu-kek-hoat-keng yang merupakan ilmu rahasia kakek buntung itu, maka dengan penuh ketekunan dia mulai mempelajari ilmu itu secara rahasia.

Selama lima tahun dia rajin belajar tanpa (Lanjut ke

Jilid 08) Si Tangan Sakti (Seri ke 16 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 mengetahui bahwa karena ilmu yang aneh itu tidak lengkap, maka dia pun menyimpang dari jalur yang semestinya.

Tanpa disadarinya, dia telah melakukan latihan yang salah, bahkan kadang-kadang berlawanan.

Berkali-kali dia jatuh pingsan karena salah pengerahan tenaga sin-kang, akan tetapi akhirnya, setelah lima tahun belajar dengan tekun dan rahasia, tanpa diketahui siapapun juga, dia berhasil menguasai ilmu yang aneh dan dahsyat bukan main.

Tanpa disadari, penyelewengan cara latihan yang salah itu juga mendatangkan perubahan pada dasar wataknya, pusat susunan syarafnya.

Dia memang masih nampak pendiam dan lembut, jujur dan baik di depan para pimpinan Thian-li-pang, akan tetapi pada saat-saat tertentu, kalau dia sedang berada seorang diri, terutama sekali sehabis dia berlatih ilmu silat Bu-kekhoat-keng yang tidak lengkap itu, dia menjadi seperti kesetanan, seperti sinting, tertawa-tawa sendiri, kadang-kadang menangis sendiri, dan pandang matanya yang biasanya lembut dan jujur itu mencorong penuh kecerdikan!

Juga latihan yang salah itu membuat dia berhasil menguasai pukulan yang mengandung hawa beracun yang dapat membuat yang dipukulnya tewas dengan tubuh menghitam seperti menjadi hangus!

Hal ini diketahuinya ketika beberapa kali dia menguji kecepatannya, membunuh burung atau binatang lain yang ditemuinya.

Sekali pukul, binatang itu akan tewas dengan tubuh hangus!

Pagi hari itu, dia merasa telah menamatkan ilmunya, maka dia menghapus semua coretan di dinding itu dengan jari-jari tangannya yang memiliki kekuatan demikian dahsyatnya sehingga sekali garuk saja permukaan dinding itu rontok dan semua coretan lenyap.

Setelah merasa puas karena di situ tidak terdapat apa pun juga yang dapat dipelajari orang lain, Ouw Seng Bu lalu merayap keluar dari dalam terowongan gua bawah tanah melalui sumur, menutupkan kembali sumur itu dengan semak belukar, kemudian dia pun berjalan dengan santai kembali ke markas Thian-li-pang yang berada di dekat puncak Bukit Naga.

Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca cerah sekali.

Wajah pemuda itu kini kembali menjadi lembut dan senyumnya ramah gembira, jauh berbeda dengan ketika dia berlatih silat dan di dalam tanah tadi.

Dia kini menjadi seorang pemuda yang nampak ramah dan murah senyum, pendiam dan lembut menyenangkan!

Ketua Thian-li-pang yang bernama Lauw Kang Hui ini telah tua sekali, usianya sudah tujuh puluh tiga tahun.

Biarpun dia masih nampak tinggi besar dengan muka merah, gagah dan berwi-bawa, namun bagaimana-pun juga, usia tua membuat semangatnya banyak menurun.

Diam-diam Lauw Kang Hui sedang melihat-lihat siapa kiranya yang pantas untuk dijadikan penggantinya.

Dia sendiri tidak mempunyai keturunan, dan di antara para anggauta Thian-li-pang dan murid-muridnya, hanya ada dua orang muridnya yang agaknya cukup dapat dipercaya.

Yang pertama adalah murid wanita yang telah berusia empat puluh tahun, berwajah buruk dan berwatak kasar namun setia kepada Thian-li-pang, bernama Lu Sek.

Wanita ini sudah janda dan tidak mempunyai anak.

Suaminya tewas dalam pertempuran membela Thian-li-pang.

Bahkan, menurut penilaian Lauw Kang Hui, di antara para muridnya, Lu Sek ini yang paling lihai, memiliki tingkat yang paling tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan apa yang dicapai Ouw Seng Bu, yaitu murid ke dua yang dipercayanya dan dianggap merupakan calon penggantinya.

Dia masih bimbang, apakah harus menunjuk Lu Sek ataukah Ouw Seng Bu untuk menjadi penggantinya, menjadi ketua Thian-li-pang.

Lu Sek, biarpun wanita, berwibawa dan penuh semangat.

Juga janda itu memiliki hubungan dekat dengan Lauw Kin, duda yang berusia lima puluh tahun dan tidak mempunyai anak pula.

Lauw Kin masih keponakan Lauw Kang Hui sendiri, putera tunggal adiknya yang mati muda.

Hati ketua itu lebih condong memilih Lu Sek untuk menjadi calon penggantinya.

Ilmu silatnya yang paling tinggi di antara semua murid Thian-li-pang, apalagi kalau dibantu Lauw Kin yang mungkin menjadi suaminya.

Selain itu, agak tidak enak hatinya kalau mencalonkan Ouw Seng Bu, karena bagaimanapun juga, Seng Bu adalah putera mendiang suhengnya, Ouw Ban yang pernah menjadi ketua Thian-li-pang, yang telah menyelewengkan Thian-li-pang ke jalan sesat.

Lauw-pangcu (Ketua Lauw) telah sarapan pagi dan duduk di ruangan depan ketika dia melihat Seng Bu melangkah masuk dari luar.

Kebetulan sekali, pikir-nya.

Dia harus lebih dahulu memberitahu muridnya itu agar kalau pada suatu hari dia mengambil keputusan, muridnya ini tidak merasa kecewa.

Beberapa kali dalam sikap muridnya itu dia melihat tanda bahwa Seng Bu mengharap-kan kelak menjadi ketua Thian-li-pang, bahkan para tokoh Thian-li-pang sebagian besar juga menduga bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini pantas menjadi calon penggantinya.

Kalau saja di situ terdapat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tentu tidak sukar baginya untuk mengambil keputusan ber-dasarkan petunjuk pendekar muda yang sakti itu.

Akan tetapi, sudah lima tahun lebih Yo Han yang dianggap menjadi pemimpin besar atau penasihat Thian-li-pang tidak pernah terdengar beritanya.

Dia harus mengambil keputusan sendiri dan dia harus dapat bersikap bijaksana demi keutuhan para tokoh Thian-li-pang.

Dia berteriak memanggil nama muridnya itu.

Seng Bu cepat memasuki ruangan di mana gurunya duduk seorang diri, dan dia lalu memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi.

"Duduklah di sini, Seng Bu,"

Kata ketua yang sudah berusia lanjut itu sambil menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya, sebelum muridnya itu berlutut.

"Terima kasih, Suhu,"

Kata Seng Bu yang merasa heran dan tahu bahwa tentu ada urusan penting maka suhunya mempersilakannya duduk di kursi, tidak membiarkan dia berlutut seperti biasa.

Dia duduk dan menundukkan muka dengan sikap siap mendengarkan dan mentaati semua perintah gurunya.

"Seng Bu, apakah engkau sudah sarapan pagi dan dari mana engkau sepagi ini sudah berkeringat?"

"Teecu baru saja berlatih silat, Suhu, nanti setelah mandi teecu akan sarapan di dapur,"

Jawab Seng Bu dengan sikap hormat.

"Bagus, engkau memang rajin. Kalau engkau mencontoh suci-mu Lu Sek rajinnya dalam berlatih silat, kurasa engkau akan mampu mencapai tingkatnya."

"Teecu tidak berani, Suhu. Tidak mungkin mengejar Lu-suci yang amat lihai."

Lauw Kang Hui tersenyum. Muridnya ini selalu bersikap rendah diri dan sopan, selalu menyenangkan hati orang lain.

"Seng Bu, apakah dua ilmu simpananku yang terakhir kuajarkan padamu, sudah dapat kau kuasai dengan baik?"

"Suhu maksudkan Tok-jiauw-kang (Cengkeraman Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang)? Setiap hari teecu sudah berlatih diri dengan tekun dan mohon petunjuk Suhu."

Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

"Aku sudah terlalu tua untuk dapat berlatih dengan kedua ilmu itu denganmu, Seng Bu. Sebaiknya engkau minta kepada Lu Sek untuk latihan bersama agar engkau dapat memperoleh banyak kemajuan."

"Baik, Suhu. Teecu (murid) akan mohon bantuan Lu-suci."

"Aku ingin sekali lagi mengingatkanmu, Seng Bu. Hanya kepada Lu Sek dan engkau dua orang sajalah aku mengajarkan dua ilmu simpananku itu. Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa kedua macam ilmu itu adalah ilmu yang amat berbahaya dan mematikan lawan. Kalau engkau tidak terancam maut dan terpaksa sekali, jangan engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerang lawan. Mengerti?"

"Teecu mengerti, Suhu"

Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

"Sampai sekarang kalau teringat aku masih merasa menyesal bukan main karena dahulu aku pernah mempergunakan kedua ilmu secara sembarangan sehingga menjatuhkan banyak korban yang tidak semestinya kubunuh. Sekarang aku menghendaki agar seluruh murid Thian-li-pang, selain menjadi patriot-patriot yang menentang penjajah Mancu, juga menjadi pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, dan tidak mempergunakan ilmu untuk memaksakan kehendak dan berbuat kejahatan."

"Teecu mengerti."

"Ingat, kalau sampai terjadi penyelewengan oleh siapapun juga, andaikata aku yang sudah tua tidak mampu lagi menghukum, kelak kalau Sin-ciang Tai-hiap Yo Han datang berkunjung, dia tentu akan turun tangan dan menindak mereka yang melakukan penyelewengan."

"Teecu mengerti, Suhu."

Seng Bu menunduk menyembunyikan senyum mengejek yang mendesak keluar ke mulutnya.

Lalu dia bersikap biasa dan hormat kembali, mengangkat mukanya yang jujur dan bertanya kepada suhunya.

"Suhu, apakah Sin-ciang Tai-hiap itu luar biasa lihainya? Apakah Suhu sendiri tidak akan mampu menandinginya?"

Lauw Kang Hui tersenyum.

"Ha-ha-ha, Seng Bu, jangan samakan aku dengan dia! Bahkan kedua orang kakek gurumu sekalipun, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, tidak akan mampu menandingi Pendekar Tangan Sakti Yo Han."

"Luar biasa sekali! Bukankah usianya masih sangat muda, Suhu? Hanya beberapa tahun lebih tua dari teecu? Teecu masih ingat ketika masih kanak-kanak, dia tidak banyak lebih tua dari teecu."

"Benar, dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Akan tetapi, dia telah mewarisi ilmu yang mujijat dari kakek paman gurumu, mendiang supek Ciu Lam Hok di sumur bawah tanah."

"Maaf, Suhu. Teecu mendengar bahwa kakek itu buntung kaki dan tangannya. Dalam keadaan seperti itu, ilmu silat macam bagaimanakah yang dapat beliau ajarkan kepada Sin-ciang Tai-hiap?"

Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

"Ilmu yang mujijat, ilmu yang luar biasa dan tiada keduanya di dunia ini. Ilmu itu disebut Bu-kek-hoat-keng dan hanya Sin-ciang Tai-hiap seorang saja yang menguasainya. Sukar dicari tandingannya."

"Suhu maksudkan bahwa kalau memiliki ilmu Bu-kek-hoat-keng itu, orang akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan?"

Lauw Kang Hui mengangguk-angguk.

"Mungkin saja. Akan tetapi, Yo Han Taihiap bukan orang semacam itu. Tidak, dia tidak mau menonjolkan diri, bahkan menjadi ketua Thian-li-pang saja dia menolaknya. Karena dia maka Thian-li-pang harus menjaga diri menjadi perkumpulan yang gagah dan menegakkan kebenaran dan keadilan."

"Teecu mengerti, Suhu. Bolehkah teecu mengundurkan diri sekarang untuk pergi mandi?"

"Nanti dulu, ada satu hal lagi ingin kubicarakan denganmu, Seng Bu."

"Urusan apakah itu, Suhu? Teecu siap mendengarkan."

"Engkau tentu tahu bahwa mengurus Thian-li-pang tidaklah mudah, selain harus ketat mengawasi sepak terjang anak buah Thian-li-pang, juga harus mampu menghadapi ancaman dari luar. Aku sekarang sudah semakin tua dan lemah, kurang bersemangat. Coba katakan, siapakah di antara para anggauta Thian-li-pang yang waktu ini memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi sesudah aku, Seng Bu?"

Siapa lagi kalau bukan aku, bisik hati pemuda itu.

Bahkan suhunya sendiri pun tidak akan mampu menandinginya!

Baca Juga: Bu Kek Siansu 8

Baca Juga: Mutiara Hitam 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert