Eps 7 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.
Ucapan yang halus dan sikap yang tenang itu menambah kemarahan Kiu-bwe Coali, karena ia merasa seolah-olah diejek.
Ia menudingkan cambuknya ke arah muka nenek itu sambil membentak.
"Perempuan tua bangka Mongol yang bosan hidup! Buka mata dan telingamu baik-baik. Engkau berhadapan dengan Kiu-bwe Coali dan kalau engkau tidak lekas berlutut minta ampun, cambukku akan mencabut nyawamu!"
"Ck ck ck..."
Nenek itu menggeleng kepala perlahan sehingga anting-antingnya yang seperti gelang itu bergoyang-goyang, akan tetapi mulutnya masih tersenyum.
"Kiranya Kiu-bwe Coali, seorang dari Cap-sha-kui yang namanya menggelapkan angkasa di selatan? Wah, hebat sekali. Kiu-bwe Coali, aku sudah tua, nyawa ini tidak akan dapat kupertahankan selamanya dan sekali hendak pergi meninggalkan badan, siapa yang mampu menangguhkannya? Akan tetapi jangan harap dapat memaksaku berlutut karena aku tidak mempunyai kesalahan apapun kepadamu."
"Keparat! Berani engkau membantah dan menantangku? Apakah kau bosan hidup?"
Pada saat itu terdengar auman yang keras dan menggetarkan bumi.
Kiu-bwe Coali terkejut bukan main ketika tiba-tiba seekor harimau yang amat besar muncul dan berlari menghampiri nenek berjubah putih itu.
Harimau itu juga memandang kepadanya dan menggereng marah, matanya mencorong dan bibir atasnya mendesisdesis, meringis memperlihatkan gigi dan taring yang amat kuat.
Diam-diam Kiu-bwe Coali merasa ngeri dan jerih juga.
Biarpun ia lihai, akan tetapi menghadapi seekor harimau yang demikian besarnya, ia maklum betapa besar bahayanya melawan binatang seperti ini.
"Houwcu... diamlah dan jangan ribut,"
Kata nenek itu dengan suara membujuk dan harimau itu lalu mendekam di samping si nenek berjubah putih.
"Huh, biarpun engkau mempunyai peliharaan kucing itu, jangan dikira aku takut!"
Kiu-bwe Coali menantang.
Nenek itu tetap tersenyum, akan tetapi sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar mencorong, seperti mata binatang pelibaraannya.
"Kiu-bwe Coali, sungguh mengherankan sekali bahwa orang dengan watak seperti engkau ini dapat hidup sampai usia tua. Aku bukan orang yang suka mempergunakan kekerasan, tidak suka berkelahi, akan tetapi juga bukan orang yang takut akan ancaman-ancaman dan gertak-gertak kosong belaka!"
"Akan tetapi yang suka mengandalkan perlindungan binatang buas!"
Ejek Kiu-bwe Coali yang masih merasa ragu-ragu untuk turun tangan mengingat adanya harimau yang nampaknya buas sekali itu.
Kalau hanya harimau biasa saja, ia tidak akan gentar.
Akan tetapi harimau ini sungguh luar biasa besarnya dan nampaknya kuat bukan main.
"Begitukah? Aku tidak minta perlindungan Houwcu, dia hanya marah karena hidungnya dapat mencium bau busuk. Eh, Houwcu, pergilah bersembunyi sebentar agar perempuan kejam ini tidak menjadi ketakutan."
Seperti seekor binatang jinak yang mengenal perintah majikannya, harimau itu pergi setelah beberapa kali menoleh ke arah Kiu-bwe Coali sambil menggereng seperti merasa curiga dan marah.
Kemudian dia menghilang di balik pohon-pohonan dan tidak terdengar lagi suaranya.
"Nah, dia sudah pergi, Kiu-bwe Coali. Sekarang engkau mau apa?"
"Mau membunuhmu!"
Bentak Kiu-bwe Coali marah dan nenek ini sudah melakukan serangan dengan cambuknya.
Cambuk itu mengeluarkan suara ledakan-ledakan dan biarpun sudah ada dua ekornya yang putus ketika ia menghadapi Cia Sun tadi, akan tetapi masih ada sisa tujuh ekor yang kini menyambar dan melakukan totokan-totokan yqng dahsyat.
"Hemmm..."
Nenek berjubah putih itu berseru kaget menyaksikan kehebatan gerakan serangan Kiu-bwe Coali dan ia melompat ke belakang sambil mengebutkan kebutan putih di tangannya.
"Pratt-pratt-prattt!"
Cambuk itu bertemu dengan kebutan beberapa kali dan nenek berjubah putih itu terhuyung ke belakang.
"Heh heh heh, kematian sudah di depan mata, bersiaplah engkau, tua bangka!"
Kiu-bwe Coali mengejek dan terus menyerang lagi.
Ia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada nenek itu sehingga bertanya namapun tidak.
Demikian watak orang-orang Cap-sha-kui yang rata-rata sombong dan kejam itu.
Dan itulah kesalahannya.
Andaikata ia tadi bertanya dan ia tahu dengan siapa dia berhadapan, tentu ia akan bersikap hati-hati dan mungkin ia akan pergi tanpa berani mengganggu nenek berjubah putih itu.
Akan tetapi ia terlalu sombong dan pada saat itu hatinya sedang marah karena kekalahannya terhadap Cia Sun.
Didesak oleh serangan-serangan yang dahsyat itu, nenek jubah putih mengelak sambil berloncatan dan anehnya, ia sama sekali tidak pernah membalas.
Akan tetapi iapun terkejut memperolch kenyataan betapa hebat dan berbahayanya serangan-serangan yang dilakukan oleh Kiu-bwe Coali itu, maka begitu melompat ke belakang ia menudingkan kebutannya sambil berkata halus.
"Kiu-bwe Coali, membenci orang lain beranti membenci diri sendiri. Engkau menyerang orang lain sama saja dengan menyerang diri sendiri!"
Kiu-bwe Coali tidak perduli walaupun ucapan nenek itu seperti menembus ke dalam dadanya.
Dengan ganas ia menubruk dengan cambuknya.
"Tartartarrr..."
Cambuk meledak-ledak lalu menerjang ke arah nenek itu.
Akan tetapi, entah kekuatan apa yang terdapat dalam kebutan berbulu putih, tiba-tiba saja cambuk itu membalik dan memukul muka Kiu-bwe Coali sendiri!
"Ihhh..."
Kiu-bwe Coali berteriak keras dan berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja tiga ekor cambuk itu mengenai muka dan lehernya dan nampaklah jalur-jalur merah berdarah di muka dan lehernya.
Ia terbelalak, akan tetapi tidak menjadi takut, bahkan makin marah.
"Kubunuh kau... kau harus mampus!"
Ia berteriak marah sekali dan kembali ia meloncat ke depan.
Nenek itu mengacungkan kebutannya ke atas, lalu membanting kebutan itu ke bawah.
Aneh sekali, tiba-tiba saja tubuh Kiu-bwe Coali yang sedang meloncat itu tiba-tiba saja terbanting ke bawah oleh tenaga yang tidak nampak.
"Brukkk..."
Kiu Bwe Coali terbelalak dan menjadi semakin marah karena bantingan itu tidak melukainya, walaupun membuat napasnya agak sesak dan jalannya menjadi pincang.
Ketika ia mengangkat mukanya, nenek itu sudah berjalan pergi sambil membawa kebutannya, seolah-olah tidak lagi mau memperdulikannya!
Kemarahannya memuncak.
Dilihatnya nenek itu menuruni sebuah lereng yang curam.
"Tunggu, ke mana engkau hendak lari, keparat?"
Ia mengejar dan menuruni lereng yang diapitapit jurang yang curam itu. Nenek itu menengok.
"Kiu-bwe Coali, aku melihat awan hitam mempengaruhimu. Mundurlah sebelum terlambat!"
Ucapannya itu halus dan bernada serius.
Akan tetapi orang macam Kiu-bwe Coali mana mau mengalah dan mundur sebelum kalah?
Setelah mengejar sampai jarak empat meter, tiba-tiba Kiu-bwe Coali menggerakkan cambuknya dan meluncurlah belasan jarum halus menyerang ke arah tubuh belakang nenek itu.
Akan tetapi, nenek itu membalikkan tubuhnya dan kembali mengacungkan kebutannya dan belasan batang jarum halus yang sedang meluncur itu, tiba-tiba saja membalik ke arah Kiu-bwe Coali sendiri!
Nenek buruk itu terbelalak, terkejut bukan main karena kembalinya belasan batang jarumnya itu amat cepatnya, lebih cepat dari pada ketika ia pakai menyerang.
Ia tidak mau kalau senjatanya makan tuan.
Untuk menangkis tidak sempat lagi saking cepatnya Jarum-jarum itu meluncur, maka iapun meloncat ke kiri untuk mengelak dan...
terdengarlah jeritan menyayat hati ketika tubuhnya meluncur ke bawah, ke dalam jurang yang amat curam!
Nenek ini dalam kemarahannya telah menjadi lengah dan kehilangan kewaspadaan sehingga lupa bahwa di kanan kiri tempat itu terdapat jurang-jurang yang curam sehingga ketika ia mengelak dan melompat ke kiri, ia telah melompat ke dalam jurang.
Jeritan itu berhenti dan nenek berjubah putih menjenguk dari tepi jurang, memandang ke bawah.
Masih nampak olehnya tubuh Kiu-bwe Coali yang dari atas nampak kecil seperti boneka menggelinding ke bawah, terlempar-lempar ketika menimpa batu-batu dan akhirnya terbanting ke dasar jurang dan diam tak bergerak lagi.
"Ckckckk..."
Nenek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu bertepuk tangan.
Tepukan tangan itu terdengar nyaring sekali dan agaknya merupakan isyarat bagi harimau peliharaannya karena kini muncullah harimau besar itu, berlari-lari mendatangi.
Nenek itu lalu naik ke punggung harimau, menggerakkan kebutannya dan harimau itupun berlari ke arah dari mana Kiu-bwe Coali tadi datang.
Tak lama kemudian tibalah nenek dan harimaunya itu di tempat di mana Cia Sun sedang berusaha untuk mengobati Sui Cin.
Dari jauh nenek itu sudah melihat mereka dan iapun menyuruh harimaunya berhenti.
Ia mengintai dan sampai lama ia mengamati dua orang muda itu.
Berulang kali ia menarik napas panjang dan menggumam seorang diri.
"Ah, agaknya akan perempuan itu keracunan dan tentu perbuatan Kiu-bwe Coali itu. Kasihan, aku melihat cahaya gelap menyelubungi wajahnya."
Nenek ini bukan orang sembarangan.
Kalau tadi Kiu-bwe Coali tidak begitu sombong dan mau bertanya nama, agaknya ia belum tentu akan tewas, mati konyol karena terjatuh ke dalam jurang karena nama nenek itu tentu akan membuatnya merasa jerih dan membuatnya tidak berani sembarangan menyerang.
Nenek itu terkenal sekali di daerah utara, di luar Tembok Besar dan bahkan seluruh penduduk Mongol dan Mancu amat takut kepadanya.
Di Mongol, ia dikenal sebagai seorang dukun wanita yang terkenal sakti dan ampuh.
Apalagi, di samping menjadi dukun yang diakui mempunyai banyak macam ilmu yang aneh-aneh, juga ia merupakan keturunan dari Yelu Cetai, seorang arif bijaksana yang dahulu menjadi penasihat Raja Jenghis Khan!
Biarpun sudah lama Kerajaan Goan, yaitu penjajah Mongol, terjatuh dan sisasisa orang Mongol kembali ke utara di luar Tembok Besar, namun nama keluarga Yelu Cetai masih dikenal orang, bahkan ratusan tahun kemudian, nenek itu sebagai keturunan keluarga Yelu, masih dihormati orang-orang Mongol, apalagi karena ia memang seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali ilmu sihirnya.
Bahkan para kepala suku yang banyak terdapat di daerah itu semua menghormatinya.
Ia menjadi tempat bertanya nasihat para pimpinan suku dan bahkan pertikaianpertikaian yang timbul di antara mereka seringkali baru dapat didamaikan kalau Yelu Kim demikian nama nenek itu, sudah turun tangan melerai.
Di kalangan orang Mongol yang masih percaya akan Hal-hal mukjizat dan ketahyulan, Nenek itu dikabarkan sakti seperti dewa, dapat menghidupkan orang mati dan mematikan orang hidup!
Sebetulnya, Yelu Cetai dahulu adalah seorang bangsawan Khitan akan tetapi ahli dalam kebudayaan bangsa pribumi Han sehingga dia dianggap sebagai seorang berbangsa pribumi.
Keturunannya banyak yang menikah campuran sehingga darah Yelu Kim sekarang adalah darah campuran, bahkan ada pula darah Bangsa India di barat.
Itulah sebabnya mengapa wajahnya memiliki kecantikan yang asing dan aneh.
Namanya terkenal sekali, bahkan tokoh-tokoh besar di pedalaman yang sering menjelajah ke utara, sudah mendengar akan kehebatan nama ini.
Maka sayanglah bahwa Kiu-bwe Coali tidak menanyakan namanya sehingga nenek iblis itu tewas tanpa mengetahui bahwa lawannya adalah orang yang paling terkenal di Mongol.
Sebagai seorang yang dihormati, Yelu Kim yang berdarah bangsawan itu bersikap agung dan ramah, akan tetapi di balik kehalusan sikapnya itu tersembunyi kekuatan yang menakutkan dan memang nenek ini Kadang-kadang mempunyai sikap yang aneh dan mengejutkan orang, Kadang-kadang ia murah hati sekali dan mudah mengampuni, akan tetapi ada kalanya ia bersikap amat keras hati dan amat kejam.
Padahal, pada dasarnya Yelu Kim bukanlah seorang kejam, melainkan seorang yang bijaksana dan adil, dan pandangannya sedemikian jauh sehingga banyak orang tidak mengerti dan menganggap ia kejam.
Nenek yang sudah beberapa kali menikah ini tidak pernah mengecap kebahagiaan hidup keluarganya, dan ia tidak pernah mempunyai anak sehingga kini hidup kesepian dalam usia tua.
Dan sebagai seorang janda tua yang hidup kesepan, ia suka akan binatang peliharaannya.
Akan tetapi kalau para janda itu suka memelihara kucing atau anjing, nenek ini memelihara seekor harimau yang amat besar dan menakutkan.
Dan harimau ini bukan hanya menjadi binatang peliharaan dan kesayangan, bahkan juga dapat menjadi binatang tunggangan dan binatang yang menjaga dan melindungi keselamatannya.
Melihat binatang ini saja membuat orang yang tadinya berniat buruk terhadap Yelu Kim harus berpikir panjang lebih dulu karena harimau itu nampaknya amat menyayang dan setia kepada majikannya.
Demikianlah sedikit tentang nenek aneh itu yang kini mengintai Cia Sun dan Sui Cin yahg sedang duduk bersila.
Sui Cin yang merasa betapa hawa yang panas menjalar ke dalam tubuhnya merasa nyaman sekali dan hampir tertidur.
Sebaliknya Cia Sun dengan pengerahan sinkang berusaha untuk membangkitkan kembali tenaga gadis itu yang seakan-akan menjadi lumpuh.
Namun, dia tidak pernah menemui perlawanan sehingga hal ini menandakan bahwa Sui Cin belum juga menemukan kembali kekuatannya.
Sinkang atau hawa sakti dalam tubuh gadis itu belum bangkit.
Telah lewat tiga jam lamanya sejak Cia Sun mencoba untuk mengobati gadis itu dan terpaksa dia berhenti dulu untuk menyimpan tenaganya sendiri.
Dia melepaskan kedua tangannya dan Sui Cin sadar dari keadaan seperti tidur itu.
Mereka lalu duduk beristirahat, berhadapan di atas rumput tebal, saling memandang.
Melihat betapa sepasang mata gadis itu memandang kepadanya penuh pertanyaan, Cia Sun menarik napas panjang.
"Cin-moi, kita harus mengaso dulu. Sungguh heran, aku belum menemui perlawanan, agaknya sinkang di dalam tubuhmu sama sekali tidak bangkit. Entah pengaruh racun apa yang dipergunakan Kiu-bwe Coali sehingga bisa melumpuhkan kekuatan dalam tubuhmu seperti ini."
Gadis itu memandang wajah yang gagah dan nampaknya sedih itu, dan hatinya terharu.
Ia tidak mengenal pemuda ini, atau lebih tepat lagi, ia sudah lupa lagi siapa adanya pemuda ini, namun menurut penuturan pemuda ini, di antara mereka terdapat hubungan dekat dan bahwa pemuda itu adalah putera ketua Pek-Liong-Pang di Lembah Naga, seorang pendekar!
Dan melihat sepak terjangnya tadi, memang pemuda ini seorang pendekar yang mengagumkan, bukan hanya telah menyelamatkannya dari ancaman maut di tangan nenek iblis Kiu-bwe Coali, akan tetapi juga bersikap sopan dan mengagumkan ketika berusaha mengobatinya dengan pengerahan sinkang.
Seorang pemuda yang hebat, dan sinar mata pemuda itu kalau ditujukan kepadanya membuat jantungnya tergetar karena jelas terasa dan nampak olehnya betapa pemuda ini jatuh cinta kepadanya, atau mungkin juga sudah sejak dahulu mencintanya.
"Sudahlah, Sun-twako, biarkan saja. Tidak perlu engkau menghambur-hamburkan tenagamu untuk mencoba mengobatiku. Aku tidak menderita rasa nyeri, hanya lemas dan tidak mampu membangkitkan tenaga sinkangku..."
"Akan tetapi, engkau tentu menderita. Engkau sakit, mukamu pucat dan matamu layu, Cin-moi, bagaimanapun juga, aku harus berusaha mengobatimu sampai sembuh. Setidaknya aku akan mencarikan obat, mencarikan ahli untukmu."
Pada saat itu, Cia Sun meloncat berdiri dan memandang ke arah pohon-pohon di mana kini sudah berdiri seorang nenek yang memegang sebuah kebutan putih.
Karena baru saja dia berkelahi melawan seorang nenek iblis, maka munculnya nenek ini tentu saja mendatangkan kecurigaan besar dan mengingat bahwa Sui Cin masih tidak berdaya, diapun cepat lari menghampiri nenek itu dengan pandang mata penuh curiga.
Nenek itu adalah Yelu Kim dan kini tiba-tiba saja sikap nenek ini berubah sama sekali.
Pandang matanya nampak jahat dan kejam, senyumnya penuh ejekan.
"Orang muda, kau kah yang tadi bertanding dengan Kiu-bwe Coali?"
Cia Sun mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
"Benar sekali, dan setelah nenek iblis itu melarikan diri sekarang muncul engkau. Siapakah kau ini, nek, dan ada hubungan apa engkau dengan Kiu-bwe Coali?"
Senyum mengejek di mulut nenek itu melebar dan pandang matanya nampak heran dan tidak percaya.
"Engkau yang semuda ini mampu mengalahkan Kiu-bwe Coali?"
"Kalau nenek iblis itu tidak melarikan diri, tentu ia sekarang sudah tewas di tanganku. Seorang manusia berwatak iblis seperti ia memang sudah sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi. Dan engkau, siapakah engkau, dan apa maksudmu muncul di sini?"
"Aku tidak percaya bahwa engkau mampu mengalahkan Kiu-bwe Coali, dan aku datang untuk mencoba apakah kepandaianmu benar-benar sehebat itu."
Berkata demikian, nenek itu langsung saja menubruk ke depan dan mengelebatkan kebutannya.
Ujung kebutan yang menjadi kaku meluncur dan menotok ke arah tiga jalan darah di dada, leher dan pundak Cia Sun secara bertubi-tubi.
"Hemm, kiranya engkau sebangsa nenek iblis itu!"
Bentak Cia Sun yang cepat mengelak dan diapun membalas dengan tamparan-tamparan tangannya yang ampuh.
Melihat tamparan ini yang mengandung hawa pukulan amat dahsyat, nenek Yelu Kim terkejut bukan main dan tahulah ia bahwa memang pemuda ini lihai sekali.
Tidaklah mengherankan kalau Kiu-bwe Coali sampai melarikan diri dalam keadaan marah-marah sehingga hampir menubruknya.
Iapun menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan dan mengelak ke sana-sini sambil membalas dengan cambuknya.
Beberapa kali nenek itu mengelebatkan kebutannya dan setiap kali Cia Sun kehilangan lawannya.
Pemuda ini terkejut sekali, apalagi ketika melihat nenek itu sudah berada dalam jarak empat lima tombak di sebelah depan.
Dia mengejar dan berkelahi lagi, akan tetapi nenek itu seringkali berkelebatan lenyap dan tanpa diketahuinya, Cia Sun sudah terpancing meninggalkan tempat di mana Sui Cin duduk bengong tadi.
Gadis ini merasa gelisah karena ia tidak dapat membantu Cia Sun menghadapi nenek yang nampaknya juga lihai sekali itu.
Makin gelisah rasa hati Sui Cin melihat betapa kini Cia Sun yang masih berkelahi melawan nenek aneh itu, telah lenyap di sebuah tikungan, terhalang oleh pohon-pohon.
Iapun melangkahkan kaki untuk mengejar karena walaupun ia sendiri tidak berdaya, tidak mampu membantu karena tenaganya belum pulih, kaki tangannya masih lemas, akan tetapi ia harus menyaksikan bagaimana kelanjutan perkelahian itu.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan dan tahu-tahu muncullah seekor harimau yang amat besar, yang melompat keluar dari balik semak-semak belukar.
Harimau itu demikian besar dan nampak garang sekali sehingga Sui Cin berdiri terpukau dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Kalau ia berada dalam keadaan biasa, tentu ia akan mampu melawan binatang ini mengandalkan kepandaiannya.
Akan tetapi dalam keadaan kehilangan tenaga itu, mana mungkin ia mampu menyelamatkan diri?
Ia mencoba untuk membalikkan tubuh dan lari, akan tetapi tiba-tiba harimau itu menubruk dan tahu-tahu sudah menghadang di depannya.
Sui Cin menjadi panik.
Rasa ngeri mencekam hatinya dan ia berusaha untuk memanjat sebatang pohon yang berada di samping kirinya.
Ia berhasil naik dahan pohon, akan tetapi harimau itu mengaum dan menubruk pohon.
Pohon yang batangnya sebeser paha manusia itu roboh, membawa Sui Cin bersama roboh ke bawah!
"Ahhhh..."
Demikian ngeri rasa hati gadis yang biasanya amat gagah perkasa ini dan iapun jatuh pingsan.
Sementara itu, nenek pemegang kebutan ketika mendengar auman-auman harimau itu, tersenyum dan berkata.
"Orang muda, cukuplah kita bermain-main. Ilmu silatmu hebat sekali, membuat aku kagum bukan main. Nah, selamat tinggal!"
Ia menggerakken kebutannya dan tiba-tiba saja tubuhnya lenyap dari depan Cia Sun.
Pemuda ini tercengang, mencari dengan pandang matanya ke sana-sini, akan tetapi sia-sia belaka, ia tidak dapat melihat kembali nenek itu.
Maka iapun cepat kembali ke tempat tadi karena iapun mendengar suara auman-auman harimau tadi dan mengkhawatirkan keselamatan Sui Cin.
Ketika tiba di tempat tadi, di mana dia meninggalkan Sui Cin untuk melawan nenek itu, dia terkejut bukan main.
Sui Cin tidak ada lagi di situ.
"Cin-moi..."
Dia berseru memanggil mengharap kalau-kalau gadis itu bersembunyi ketika mendengar suara auman harimau.
Akan tetapi, panggilannya yang dilakukan dengan pengerahan khikang itu hanya bergema dari jauh, tidak ada jawaban same sekali.
"Cin-moi, di mana kau...?"
Dia berteriak lagi dan mulai mencari ke sana sini dengan hati khawatir.
Akan tetapi dia tidak dapat menemukan bayangan ataupun jejak gadis itu.
Akhirnya dia menghentikan usahanya mencari dan duduk termenung di atas sebongkah batu besar, alisnya berkerut.
Timbul kecurigaannya kepada nenek tadi.
Nenek tadi adalah seorang yang amat pandai dan biarpun ilmu silatnya tidak begitu hebat, juga tenaganya tidak terlalu kuat baginya, namun nenek itu memiliki ilmu yang luar biasa, yaitu pandai menghilang.
Ataukah itu hanya semacam ilmu sihir saja?
Dan nenek itu seperti sengaja memancingnya menjauhi Sui Cin.
Kemudian setelah terdengar auman harimau, nenek itupun menghilang!
Kini dia teringat bahwa agaknya nenek itu memang sengaja memancingnya untuk menjauhi Sui Cin.
Jelas bahwa ada hubungan antara hilangnya gadis itu dengan si nenek aneh.
Cia Sun mengepal tinju dan bangkit berdiri.
Sinar matanya tajam dan keras.
"Nenek siluman, sampai di manapun juga, aku akan mengejarmu!"
Dan diapun pergi meninggalkan tempat itu, memulai tugasnya untuk menyelidiki dan mencari Sui Cin dengan jalan mencari menek itu karena dia merasa yakin bahwa Sui Cin tentu diculik oleh nenek itu, mungkin dilakukan oleh pembantu-pembantunya.
Daerah pegunungan itu penuh dengan batu-batu karang yang besar-besar, seperti barisan bukit-bukit kecil atau jajaran bangunan-bangunan kuno yang aneh-aneh bentuknya.
Dan di daerah ini banyak terdapat gua-gua alam yang besar-besar dan juga aneh-aneh bentuknya.
Di atas sebuah di antara bukit-bukit batu itu, terdapat sebuah gua yang amat besar.
Pintu gua ini luas, besar dan tinggi, juga amat bersih, tanda bahwa gua itu dirawat dengan baik.
Lantainya amat rata dan halus, dan dari luar gua sudah nampak bahwa di sebelah dalam gua itu memang dijadikan tempat tinggal manusia, nampak tirai-tirai kain di balik pintu.
Nenek itu duduk bersila di atas sebuah tikar yang terbentang di ruangan depan gua.
Ia adalah nenek Yelu Kim.
Pakaiannya tetap bersih dan rapi dan wajahnya berseri.
Tangan kanannya membawa kebutan bulu putih dan di depannya terdapat sebuah guci yang mengkilap dan indah, entah terisi apa karena tertutup.
Terdengar auman harimau dari depan gua.
Untuk mencapai gua itu orang harus mendaki dari bawah.
Nenek itu memandang ke bawah dan mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Mongol untuk menyuruh harimau peliharannya itu mendaki naik membawa gadis yang diseretnya itu.
Harimau besar itu mendaki naik, menyeret tubuh Sui Cin dengan menggigit punggung baju gadis itu.
Gadis itu masih dalam keadaan pingsan dan agaknya tidaklah sukar bagi harimau itu untuk menyeret tubuh Sui Cin menaiki anak tangga menuju ke mulut gua di mana nenek itu menanti dengan wajah berseri.
"Letakkan ia di sini, Houwcu,"
Kata nenek itu sambil menudingkan kebutannya.
Harimau itu membawa Sui Cin ke depan si nenek dan melepaskannya di atas lantai.
Tubuh Sui Cin rebah terlentang.
"Nah, kau boleh pergi mengaso, Houwcu,"
Kata pula nenek Yelu Kim dan harimau itu mengeluarkan suara mengaum panjang lalu berlari pergi menuruni anak tangga.
Nenek itu lalu membuka baju atas Sui Cin dan melakukan pemeriksaan, meraba sana-sini, mengetuk sana-sini dan akhirnya ia menutupkan lagi baju gadis itu dan mengangguk-angguk.
"Sungguh keji sekali Kiu-bwe Coali, meracuni seorang anak perempuan dengan racun ular bunga kuning, racun yang melumpuhkan kaki tangannya."
Kemudian, dengan gerakan ringan nenek itu mengangkat tubuh Sui Cin, dipondongnya tubuh itu dan dibawanya masuk ke dalam gua.
Ternyata gua itu amat lebar dan di sebelah dalamnya terdapat sebuah kamar tidur dan sebuah ruangan yang luas.
Nenek itu merebahkan tubuh Sui Cin di atas pembaringan kayu yang berada di sudut ruangan luas itu.
Kemudian ia membuat api di tungku dan memasak obat.
Sebelum obat itu siap, Sui Cin sadar dari pingsannya.
Ia mengeluh dan seketika teringat akan harimau itu, maka iapun bangkit duduk dan matanya terbelalak memandang ke kanan kiri.
Tidak dilihatnya ada harimau di situ sehingga melegakan hatinya.
Akan tetapi ketika ia melihat nenek yang sedang memasak obat, ia cepat turun dari pembaringan dan alisnya berkerut.
Tentu saja ia mengenal nenek yang tadi berkelahi melawan Cia Sun itu.
"Nenek iblis! Apa yang telah kau lakukan terhadap Sun-twako?"
Bentaknya marah, akan tetapi perasaannya menjadi gentar ketika ia mencoba mengerahkan tenaga, masih saja tidak dapat membangkitkan tenaganya.
Yelu Kim masih duduk berjongkok di depan tungku api, menoleh dan tersenyum.
"Ah, engkau sudah sadar, nona? Aku dan Houwcu sudah banyak mengejutkan hatimu, bukan? Lupakanlah itu, karena aku berniat baik terhadap dirimu."
"Hemmm, siapa mau percaya omongan seorang nenek iblis sepertimu? Di mana Sun-twako dan mau apa engkau membawaku ke tempat ini?"
Nenek itu tersenyum dan sebelum menjawab, ia mengambil tempat obat dari atas api dan menuangkan air obat yang berwarna coklat itu dan yang mengebulkan uap panas ke dalam sebuah mangkok.
Bau sedap harum mencapai hidung Sui Cin, bau masakan obat.
"Aku tidak menyalahkan engkau kalau terjadi salah pengertian. Dengarlah, nona, aku Yelu Kim jangan kau samakan dengan Kiu-bwe Coali."
"Kalau tidak sama, mengapa engkau menyerang Sun-twako?"
"Memang kusengaja memancing dia meninggalkanmu agar mudah bagi Houwcu untuk membawamu ke sini."
Mata Sui Cin terbelalak.
"Apa? Harimau itu peliharaanmu dan dia kau suruh datang menculikku?"
Nenek itu masih tersenyum dan mengangguk.
"Aku tidak berniat jahat, anakku yang baik."
Sui Cin mendengus marah.
"Tidak berniat jahat akan tetapi menyuruh harimaumu mengejutkan hatiku dan menculikku, dan engkau sendiri menyerang dan memancing Sun-twako meninggalkan aku? Bagus, kau kira ada orang mau percaya omonganmu ini?"
"Terserah kepadamu, nona. Akan tetapi, kalau aku berniat buruk, apakah kau kira kau masih hidup sekarang ini, dan juga temanmu itu masih hidup?"
"Di mana Sun-twako?"
"Aku meninggalkan dia. Dia terlalu kuat dan aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Setelah engkau dibawa harimauku, akupun meninggalkannya."
"Tapi... tapi apa artinya semua ini dan apa kehendakmu melakukan hal itu terhadap kami?"
"Sabarlah dan dengarkan kata-kataku dengan baik. Terserah kepadamu apakah engkau akan percaya kepadaku atau tidak, akan tetapi sesungguhnya aku tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu atau terhadap temanmu yang gagah perkasa itu. Namaku Yelu Kim dan di daerah Mongol ini aku dihormati orang, bahkan dianggap sebagai orang tua yang patut dimintai nasihat oleh para kepala suku."
Nenek itu mulai bercerita dan ia merasa heran melihat betapa gadis ini sama sekali tidak kaget mendengar namanya.
Timbul keinginan hatinya mengenal siapa adanya gadis ini dan apakah ia salah pilih, mengira gadis ini adalah seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan boleh diandalkan kelak.
"Nona, engkau sendiri siapakah, siapa namamu dan siapa pula gurumu, mengapa engkau sampai berada di daerah ini dan keracunan?"
Melihat sikap orang yang begitu ramah dan halus, berkuranglah kecurigaan Sui Cin.
Bagaimanapun juga, dari sikap dan bicaranya, sukarlah menyamakan nenek ini dengan nenek iblis Kiu-bwe Coali.
Ia menarik napas panjang.
Bagaimanapun juga, dalam keadaan kehilangan tenaga ini iapun tidak akan mampu menjaga diri dan keselamatannya berada di tangan nenek ini, maka sebaiknyalah kalau ia bersikap halus mengimbangi sikap nenek itu.
"Ah, aku menjadi bingung kalau ditanya begitu, nek. Ketahuilah, aku telah lupa sama sekali akan keadaan diriku atau riwayatku. Karena aku kehilangan ingatan inilah maka Kiu-bwe Coali dapat menipuku, memberiku minum racun itu yang melumpuhkan kaki tanganku. Aku sampai sekarang (Lanjut ke
Jilid 23) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 tidak ingat lagi siapa adanya diriku, apalagi nama orang tua atau guruku, bahkan aku sendiri tidak tahu untuk apa aku berada di daerah ini..."
Mendengar ucapan itu dan melihat sikap yang sedih dari Sui Cin, nenek itu terkejut dan tertarik sekali.
Ia memandang tajam penuh selidik.
"Apa? Engkau kehilangan ingatanmu? Bagaimana bisa terjadi demikian dan kapan terjadinya?"
"Bagaimana aku tahu, nek? Yang kuingat hanyalah bahwa kepalaku terpukul batu yang dilontarkan seorang musuh yang lihai. Aku lupa segala dan ada dorongan dalam hatiku untuk pergi keluar Tembok Besar dan di sinilah aku. Aku bertemu dengan Kiu-bwe Coali yang sejak dahulu menjadi musuh besarku. Akan tetapi aku tidak mengenalnya dan baru aku tahu setelah ia memberi minum racun dan aku terjatuh ke dalam tangannya, aku ditawan dan ia mengaku bahwa ia adalah musuh besarku. Hampir aku tewas olehnya, akan tetapi untung muncul Cia Sun yang menolongku. Menurut Sun-twako, antara aku dan dia masih ada hubungan dekat, akan tetapi akupun sudah tidak ingat lagi siapa dia. Dia berusaha mengobatiku dari pengaruh racun yang melumpuhkan, dan engkau muncul..."
Nenek itu tertarik sekali dan mengangguk-angguk.
"Ah, kalau begitu, selain menyembuhkan engkau dari keracunan, akupun harus berusaha membangkitkan kembali ingatanmu itu, nona."
Sui Cin memandang tajam.
"Mengapa, nek? Mengapa engkau hendak menolongku dengan cara seperti itu? Memisahkan aku dari Sun-twako dan menyuruh harimau peliharaanmu itu untuk membawaku ke sini?"
"Nona, di tengah jalan aku bertemu dengan Kiu-bwe Coali dan iblis itu tanpa sebab menyerangku. Akan tetapi akhirnya ia tewas oleh ulahnya sendiri, terjatuh ke dalam jurang. Lalu ketika aku melanjutkan perjalanan, aku melihat engkau sedang diobati oleh pemuda itu. Aku dapat menduga bahwa engkau tentu terluka oleh Kiu-bwe Coali. Aku merasa kasihan kepadamu dan ingin mengobatimu, akan tetapi juga aku dapat menduga bahwa engkau tentu memiliki ilmu silat tinggi, dan agaknya hanya engkau lah yang akan mampu membantuku menyelesaikan sebuah persoalan. Akan tetapi aku tidak mau kalau pemuda itu mencampurinya, maka aku lalu menggunakan akal untuk memancingnya meninggalkanmu dan aku menyuruh Houwcu untuk membawamu ke sini."
Sui Cin mengerutkan alisnya.
Tahulah ia kini bahwa nenek ini hendak menolongnya, akan tetapi juga hendak minta bantuannya.
Pertolongan yang bersyarat, pikirnya.
"Nenek yang baik, hendaknya engkau ketahui lebih dahulu bahwa kalau minta bantuanku untuk melakukan kejahatan, aku tidak sudi dan biarlah aku tidak menerima pengobatanmu!"
Nenek itu tertawa.
"Nona, sekali lagi kukatakan bahwa jangan engkau menyamakan aku dengan mendiang Kiu-bwe Coali."
"Sungguh aneh sekali. Engkau yang mampu mengalahkan bahkan membunuh seorang iblis seperti Kiu-bwe Coali, masih mengharapkan bantuanku. Apakah yang dapat kulakukan untuk seorang sakti seperti engkau?"
"Sudahlah, tidak perlu engkau membuang banyak tenaga. Mari kuobati engkau lebih dulu, baru nanti kuceritakan apa yang harus kau lakukan untukku. Mari, kau minumlah obat ini dan racun ular itu akan menjadi tawar dan kelumpuhanmu akan lenyap, tenagamu akan pulih kembali."
"Tapi... tapi engkau belum menceritakan syaratmu..."
Sui Cin meragu.
"Tidak usah. Biar kusembuhkan dulu engkau, baru kemudian kuceritakan dan andaikata engkau menganggap syarat itu terlalu berat atau tidak berkenan di hatimu, engkau boleh tidak usah melakukannya. Nah, kau tahu sekarang bahwa aku tidak berniat buruk. Minumlah dan engkau akan sembuh."
Sui Cin yang tahu bahwa kalau ia tidak minum obat, keselamatannya tentu terancam maut, maka iapun lalu nekat.
Memang benar ucapan nenek ini, kalau nenek ini bermaksud buruk dan hendak membunuhnya, apa sukarnya?
Apa perlunya nenek ini susah-susah membawanya ke sini dan memberinya obat kalau maksudnya buruk?
Ia lalu menerima mangkok itu dan minum isinya.
Cairan berwarna coklat itu rasanya tidaklah seburuk rupanya.
Baunya sedap dan rasanya agak manis, maka tanpa ragu-ragu lagi diminumnya obat itu sampai habis.
Tiba-tiba ia merasa betapa dalam perutnya bergerak-gerak dan terdengar suara berkeruyukan seperti perut yang lapar sekali.
Ia terkejut dan memandang nenek itu dengan tajam.
Akan tetapi nenek Yelu Kim tersenyum.
"Nona, kau duduklah bersila dan cobalah perlahan-lahan menghimpun tenagamu. Jangan tergesa-gesa, kalau pintu pusar sumber tiantian sudah terbuka, salurkan tenagamu perlahan-lahan agar tidak merusak jaringan syaraf yang penting. Nah, mulailah. Lebih baik pejamkan matamu."
Sui Cin menurut dan iapun bersila.
Makin lama makin keras gerakan dalam perutnya dan perlahan-lahan ia merasa betapa hawa panas bangkit dari pusarnya dan ada kekuatan yang naik.
Ia lalu menguasai tenaga itu dan perlahan-lahan menyalurkannya ke seluruh tubuh, perlahan-lahan dan hati-hati sampai ia merasa biasa kembali dengan tenaga sakti yang tadi seperti tenggelam itu.
Tak lama kemudian ia merasa segar dan sehat kembali dan dibukanya kedua matanya.
Nenek Yelu Kim berdiri memandang kepadanya dengan senyum ramah.
Kini lenyaplah keraguan dari hati Sui Cin dan iapun cepat bangkit dan memberi hormat kepada wanita itu, malu kepada diri sendiri mengingat betapa ia tadi bersikap kasar dalam keraguannya.
"Harap locianpwe sudi memaafkan kekasaranku tadi dan terima kasih atas pertolongan locianpwe."
Nenek itu tersenyum.
"Nantl dulu, aku ingin melihat apakah aku tidak salah menilai orang. Nona, sambutlah seranganku ini!"
Dan kebutan di tangannya bergerak menyambar, ujung kebutan melakukan totokan kilat ke arah pundak Sui Cin.
Gadis ini terkejut, namun otomatis ia bergerak mengelak dan setelah ia mengerti bahwa nenek itu hendak mengujinya, maka iapun bergerak lincah menghadapi serangan kebutan bertubi-tubi itu, bahkan berani menangkis menggunakan tenaga sinkangnya.
"Plakk!"
Tangkisannya itu membuat Yelu Kim terhuyung ke belakang dan nenek ini menjadi semakin girang.
Ia mempercepat gerakan kebutannya, akan tetapi segera ia merasa pusing setelah Sui Cin menggunakan ginkangnya yang istimewa.
Nenek ini dapat menghilang dengan bantuan sihirnya, akan tetapi sekarang ia menghadapi kecepatan Sui Cin, ia menjadi bingung karena Kadang-kadang bayangan gadis itu seperti lenyap dan tahu-tahu telah berada di samping atau belakangnya.
Ia melompat mundur dan memandang kagum.
"Cukup, cukup! Aih, girang hatiku karena aku sama sekali tidak kecewa. Engkau bahkan melampaui semua harapan dan dugaanku, nona."
"Ah, locianpwe terlalu memuji. Sekarang harap locianpwe ceritakan, bantuan apakah yang dapat kulakukan untukmu!"
Nenek itu kembali tersenyum.
"Nanti dulu, nona, jangan tergesa-gesa. Urusan itu penting sekali dan aku tidak mau bantuan orang untuk mewakiliku tanpa kukenal benar siapa adanya orang itu. Karena itu, biarlah aku akan mencoba untuk menyembuhkan dulu luka di dalam kepalamu yang membuatmu kehilangan ingatan itu."
Sepasang mata Sui Cin terbelalak dan wajahnya berseri saking girangnya.
"Locianpwe dapat menyembuhkan aku dan mengembalikan ingatanku yang hilang?"
Tanyanya penuh harapan. Nenek itu mengangguk.
"Mudah-mudahan demikian agar tidak percuma sebutan semua rakyat Mongol yang menyebut aku Dewi Penyelamat. Marilah masuk ke dalam kamarku dan aku akan mulai dengan pengobatan itu, nona. Akan tetapi engkau harus percaya penuh kepadaku dan bersabar karena mengobati bagian kepala harus sangat hati-hati dan teliti."
Demikianlah, nenek Yelu Kim yang ternyata memiliki ilmu pengobatan yang tinggi itu memeriksa kepala Sui Cin dan mulai memberi pengobatan dengan urutan-urutan pada jalan darah dan juga memberi obat minum yang rasanya amat pahit.
Namun Sui Cin yang sudah menaruh kepercayaan penuh kepada nenek yang ramah itu mentaati semua petunjuknya dengan sabar.
Kemudian ia melihat betapa nenek ini dibantu oleh beberapa orang pelayan wanita Mongol yang datang setiap kali tenaga mereka diperlukan dan agaknya mereka itu tinggal di luar gua yang hanya ditempati nenek Yelu Kim seorang diri saja.
Juga ia melihat betapa harimau besar yang pernah mengejutkannya itu ternyata adalah seekor binatang yang amat jinak jika berada di dekat nenek Yelu Kim.
Bahkan ia sendiri mulai bersababat dengan binatang itu yang agaknya mengerti bahwa ia bukanlah seorang musuh melainkan seorang kawan baik.
Hui Song memasuki kota kecil yang merupakan benteng terakhir di daerah utara dari pasukan pemerintah.
Benteng itu berada di dekat Tembok Besar, sebelah selatan tembok dan penduduknya cukup banyak karena kota Sanhaikoan ini benar-benar merupakan kota dekat laut dan gunung.
Penghuninya sebagian besar adalah orang-orang Han utara, akan tetapi banyak juga terdapat orang-orang Mongol dan Mancu, yaitu para pedagang yang datang dari luar Tembok Besar.
Karena kota benteng ini merupakan pertahanan terakhir dari pemerintah Kerajaan Beng.
Pada waktu itu, kekuasaan Kerajaan Beng meliputi daerah yang cukup luas.
Ke selatan sampai lautan dan propinsi paling selatan adalah Kiangsi dan Yunnan, ke barat hanya sampai Secuan dan Shensi saja dan ke utara hanya sampai batas Tembok Besar.
Tentu saja luasnya wilayah ini merupakan warisan atau rampasan dari kekuasaan Kerajaan Goan atau penjajah Mongol yang memang berambisi untuk memperluas wilayah.
Sanhaikoan merupakan kota penghubung antara Tiongkok dan daerah Mongol dan Mancu, dan menjadi satu di antara benteng-benteng terakhir di utara, dan merupakan benteng terakhir dan terkuat di daerah timur laut.
Karena itu, benteng ini diperkuat dengan pasukan yang cukup besar, dipimpin oleh seorang gubernur yang dibantu oleh seorang panglima perang.
Karena letaknya di tepi lautan, di tepi teluk besar Pohai, maka sebagian besar dari pada penghuninya adalah pelautpelaut dan nelayan yang biasa bekerja keras, di samping banyak pula yang menjadi pedagang karena ramainya lalulalang di daerah perbatasan ini.
Kotanya cukup besar, banyak terdapat rumah makan dan rumah penginapan.
Akan tetapi, penjagaan kota itu cukup ketat dan para penjaga keamanan selalu mengadakan pemeriksaan untuk mencegah terjadinya kerusuhan di kota benteng itu.
Ketika Hui Song memasuki kota itu, dia melihat banyak orang, kesemuanya pria, menuju ke satu jurusan.
Dia sedang melakukan penyelidikan dan pencarian terhadap diri Sui Cin, maka melihat ramainya orang pergi ke jurusan tengah kota, diapun lalu menyusup di antara banyak orang sambil bertanya-tanya.
Siapa tahu dia akan bertemu dengan Sui Cin di pusat keramaian, karena dia tahu bahwa Sui Cin suka sekali menyamar sebagai pria.
Dia tersenyum geli kalau teringat akan hal itu.
Betapa bodohnya dia dahulu, kena dipermainkan gadis itu yang menyamar sebagai pria dan dia sama sekali tidak tahu bahwa "pemuda gembel"
Yang lucu dan jenaka itu adalah Sui Cin!
Akan tetapi sekarang, biar gadis itu akan menyamar seribu kali, dia pasti akan dapat mengenalnya.
"Sobat, ada peristiwa apakah maka orang-orang begini banyak berbondong-bondong ke suatu arah? Ke manakah kalian hendak pergi?"
Tanyanya kepada seorang laki-laki brewok yang wajahnya membayangkan keramahan.
Orang itu memandang kepada Hui Song dan memicingkan matanya.
"Hemm, agaknya engkau baru datang dari selatan, ya?"
"Benar,"
Hui Song menjawab terus terang.
"aku sedang melancong."
Si brewok itu menggeleng kepala.
"Aihh, melancong dalam waktu begini, sungguh berbahaya."
"Eh, ada apakah?"
"Negara sedang tidak aman. Didesas-desuskan orang bahwa akan ada pemberontakan besar. Karena itu, sejak sepekan ini, Kok-taijin dan Ji-ciangkun mengadakan sayembara penerimaan perwira-perwira baru, juga perajurit-perajurit cadangan untuk menjaga kalau-kalau benteng ini diserang musuh."
"Ah, begitukah? Sayembara apakah itu?"
"Tentu saja semacam pibu (adu kepandaian silat). Setiap orang yang mampu mengalahkan pengujinya, akan diterima. Akan tetapi jangan harap untuk dapat mengalahkan penguji untuk penerimaan calon perwira itu. Kalau hendak masuk perajurit, boleh saja karena pengujinya tidak begitu berat. Akan tetapi penguji para calon perwira itu, waah, luar biasa sekali. Raksasa itu tak terkalahkan sehingga dalam sepekan ini, belum ada seorangpun yang lulus ujian! Dan hari ini kami semua ingin melihat apakah masih ada orang berani menghadapi raksasa itu."
Hati Hui Song tertarik sekali dan diapun ikut bersama rombongan orang yang berduyun menuju ke alun-alun, semacam lapangan rumput yang luas dan yang berada di tengah kota.
Kota itu memang merupakan kota tentara, dikurung tembok benteng yang tinggi dan kokoh kuat, dan di dalamnya terdapat pula lapangan-lapangan untuk berlatih baris dan olah raga bagi para perajurit.
Ternyata di tempat itu sudah terdapat banyak orang.
Mereka berdiri mengepung sebuah panggung yang tingginya setombak dan di belakang panggung itu terdapat sebuah bangunan kecil di mana duduk seorang pembesar sipil dan seorang pembesar militer yang dijaga oleh belasan orang pengawal yang bersenjata tombak dan golok.
Dan di atas panggung berdiri seorang laki-laki yang tinggi besar.
Hui Song dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki tenaga yang amat besar.
Dia sendiri mungkin hanya setinggi leher orang itu dan tubuhnya tidak ada setengahnya dibandingkan dengan tubuh raksasa itu.
Kepalanya gundul, akan tetapi alisnya tebal dan hitam, kepala itu besar, dengan sepasang telinga yang lebar, mulut, hidung dan matanya juga besar.
Tubuhnya yang hanya memakai cawat menutupi pinggul dan selangkangnya itu, kelihatan menyeramkan.
Pada bagian dada, lengan, paha dan betis ditumbuhi rambut yang panjang-panjang seperti monyet.
Selain cawat itu, betisnya diikat semacam tali hitam dan sepatunya berwarna abuabu.
Perutnya besar gendut, akan tetapi penuh kekuatan dan nampak keras.
Lengan dan kakinya juga penuh tonjolan dan gembungan otot-otot yang kekar.
Pundaknya seperti pundak sapi jantan.
Pendeknya, raksasa ini cukup menakutkan bagi orang yang harus menghadapinya sebagai lawan.
Dan melihat bentuk mukanya, Hui Song dapat menduga bahwa raksasa itu tentu bukan Bangsa Han, melainkan suku Mongol atau Mancu.
Dan melihat dandanannya yang hanya mengenakan cawat, diapun dapat menduga bahwa orang itu tentu ahli silat yang amat kuat.
Seorang pengawal yang agaknya bertugas sebagai tukang bicara, dengan suara lantang berkata sambil berdiri di sudut panggung.
"Saudara-saudara sekalian! Bagi mereka yang belum mengenalnya, kami perkenalkan penguji calon perwira yang diajukan oleh Ji-ciangkun, dan inilah dia jagoan kami, ahli gulat yang bernama Moghul!"
Pegulat raksasa itu mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberi hormat ke empat penjuru disambut tepuk sorak para penonton yang kagum kepadanya karena selama ini belum ada seorangpun mengalahkannya.
Akan tetapi banyak juga di antara penonton memandangnya penuh kebencian.
"Biarkan aku maju menghadapinya, paman,"
Kata seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun yang berbaju hitam dan nampaknya gagah.
Hui Song memperhatikan percakapan antara orang ini dan seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berada di tempat itu pula, tidak jauh darinya.
"Aih, sudahlah, Bianji, jangan mencari penyakit. Engkau tidak tahu, selama beberapa hari ini sudah ada belasan orang-orang gagah yang naik melawannya, hanya untuk menjadi bulanbulan dan permainannya, kemudian dilempar ke bawah panggung dalam keadaan menyedihkan, sedikitnya tentu tulang lengan atau kaki mereka patah-patah. Dia lihal sekali, kuat dan kebal,"
Kata yang tua.
"Akan tetapi aku tidak takut, paman. Bukankah aku sudah mempelajari silat bertahun-tahun?"
Bantah yang muda.
"Ah, apa kau kira belasan orang muda yang maju pada hari-hari yang lalu itupun bukan ahli-ahli silat? Percuma saja, mereka itu satu demi satu, begitu tertangkap oleh tangan raksasa itu, tidak mampu berkutik, dibanting, ditekuk dan dipatah-patahkan tulangnya."
"Saudara-saudara sekalian,"
Kembali tukang bicara itu berteriak nyaring.
"Sampai hari ini belum ada seorangpun calon perwira yang lulus! Apakah benar di kota kita ini tidak ada orang gagah? Kami hanya membutuhkan lima sampai sepuluh orang saja. Tidak perlu mengalahkan Moghul, asal dapat bertahan melawan dia sampai habis terbakarnya sebatang hio saja sudah dianggap lulus. Kamipun tahu bahwa tidak ada orang yang akan mampu menandingi dan mengalahkan Moghul, si manusia gajah! Ucapan itu merupakan tantangan. Dengan mengatakan pertanyaan apakah di kota Sanhaikoan tidak ada orang gagah, pertanyaan yang sengaja dikeluarkan oleh si pembicara tadi, si pembicara membangkitkan amarah dan penasaran dalam hati orang-orang yang merasa mempunyai kepandaian.
"Paman, aku akan mencoba..."
Pemuda baju hitam tadi segera melangkah maju mendekati panggung.
"Abian... jangan..."
Pamannya mencegah, akan tetapi si baju hitam itu sudah meloncat naik ke atas panggung.
Gerakannya cukup cekatan ketika meloncat dan para penonton menyambut penantang pertama ini dengan sorakan dan tepuk tangan memberi semangat.
Si baju hitam itu lalu menghampiri bawah panggung tempat duduk dua orang pembesar dan memberi hormat.
"Hamba Kui Bian mohon perkenan paduka untuk mencoba kebodohan hamba."
Ji-ciangkun memberi isyarat dengan tangannya.
"Majulah dan mudah-mudahan engkau dapat lulus."
Seorang pengawal siap dengan sebatang hio dan dinyalakannya ujung itu.
Asap mengepul dan hio itu ditancapkan di tempat hio yang ditaruh di sudut depan panggung yang luas tempat bertanding itu.
Si baju hitam lalu bangkit dan menghampiri raksasa.
Moghul yang sudah siap dengan kedua tangan bertolak pinggang dan mulut menyeringai, lagaknya memandang rendah sekali.
Si baju hitam kini menghadapi Moghul dan sudah memasang kuda-kuda dengan sikap gagah.
Akan tetapi raksasa itu hanya memandang saja dan menyeringai, dan melihat si baju hitam diam saja, diapun berkata dengan bahasa Han yang kaku.
"Majulah, hio telah menyala."
Si baju hitam tiba-tiba berteriak.
"Lihat serangan!"
Dan diapun menggerakkan tubuhnya yang meluncur ke depan.
Ternyata dia menggunakan tendangan dengan tubuh seperti terbang dan kedua kakinya itu meluncur ke arah dada si raksasa Mongol.
Agaknya Moghul tidak menduga akan diserang seperti ini, maka dia terkejut sekali dan tidak mampu mengelak atau menangkis.
"Blukk..."
Sepasang kaki itu menghantam dada telanjang itu dengan kuat sekali dan akibatnya, tubuh yang besar itu terjengkang ke atas papan panggung, menimbulkan suara berdebuk nyaring.
Sementara itu, si baju hitam sudah berjungkir balik dan tubuhnya sudah berdiri kembali ke atas papan dengan tegak.
Sorak-sorai menyambut jatuhnya si raksasa ini dan Hui Song melihat betapa pembesar sipil yang duduk di atas panggung itu mengangguk-angguk sambil tersenyum girang dan mengelus jenggotnya.
Agaknya pembesar ini girang melihat bahwa akhirnya muncul seorang gagah yang mampu merobohkan si raksasa dalam satu serangan saja.
Sementara itu, Ji-ciangkun mengerutkan alisnya, agaknya tidak senang melihat jatuhnya jagoannya.
Memang tubuh raksasa Moghul itu kebal.
Kiranya tendangan yang amat keras dan membuat dia terjengkang itu sama sekali tidak melukainya.
Sebelum lawan sempat menyerang lagi, dia sudah meloncat bangun dan gerakannya ini amat mengherankan.
Sukar dapat dipercaya seorang yang segendut dia dapat bergerak demikian cepatnya.
Dengan marah Moghul balas menyerang.
Dia mementang kedua lengannya seperti seorang jago gulat atau seperti seekor biruang yang hendak menerkam, kemudian menerjang ke depan, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri hendak menangkap kedua pundak lawan.
Akan tetapi si baju hitam itu cukup gesit, dengan gerakan yang cepat dia menyelinap di antara kedua tangan itu dan meloncat ke samping dan kembali melayang dan kedua kakinya menerjang dengan tendangan terbang seperti tadi, akan tetapi sekali ini dari samping kanan Moghul.
Raksasa ini agaknya kini tahu akan kelihaian lawan, terutama tendangan terbang yang berbahaya itu.
Maka diapun lalu menangkis dengan lengan kanannya yang besar.
"Bresss..."
Dan kembali dia terguling.
Biarpun dia dapat menangkis, namun tenaga tendangan kedua kaki yang dibantu berat badan yang melayang itu agaknya tidak mampu ditahannya dan untuk kedua kalinya dia roboh terpelanting.
Agaknya si baju hitam itu sudah lama mengamati gerakan si raksasa Moghul dan tahu bagaimana untuk mengalahkannya, maka dia menggunakan tendangan-tendangan terbang itu untuk menyerang secara tiba-tiba dan dengan kekuatan yang amat besar.
Sekali ini si raksasa Mongol itu agak terlambat bangun dan agaknya kesempatan ini hendak dipergunakan oleh si baju hitam untuk mencari kemenangan.
Diapun sudah meloncat ke depan untuk mengirim tendangan beruntun.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Moghul mengulur tangan dan dengan kecepatan kilat, jari-jari tangannya yang besar itu telah menangkap kaki kiri lawan!
Si baju hitam mengeluarkan seruan kaget, kakinya terasa nyeri seperti dijepit jepitan baja dan ketika Moghul yang masih mencengkeram kakinya itu meloncat bangun, tubuh si baju hitam hampir terbanting dan kakinya terangkat pula ke atas.
Akan tetapi, selagi Moghul menyeringai girang karena melihat akalnya yang pura-pura lambat bangun tadi kini berhasil, tiba-tiba si baju hitam mengeluarkan bentakan keras dan kaki kanannya menyambar ke atas, ke arah muka lawan.
Moghul terkejut.
Kalau hanya tubuhnya yang ditendang, dia dapat menerimanya dengan lindungan kekebalannya.
Akan tetapi kini yang diserang adalah mukanya di mana terdapat bagian-bagian yang tidak mungkin bisa kebal seperti mata dan hidung.
Dan tendangan itu cepat bukan main datangnya, lagi tidak terduga-duga.
"Desss..."
Cengkeraman tangan pada kaki kiri si baju hitam itu terlepas dan Moghul terhuyung ke belakang, kedua tangannya menutupi mukanya.
Hidungnya mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Kembali terdengar sorak-sorai menyambut kemenangan si baju hitam ini, dan juga Kok-taijin tersenyum girang akan tetapi Ji-ciangkun menggeleng-geleng kepala dengan alis berkerut.
Akan tetapi Moghul belum kalah karena dia hanya menderita luka ringan saja, berdarah pada hidungnya.
Dia menekan batang hidungnya dan darah itupun berhenti mengalir.
Kini matanya agak kemerahan dan mulutnya membayangkan kemarahan besar.
Dan hio yang bernyala itupun belum padam, baru terbakar setengahnya.
Dengan demikian berarti bahwa si baju hitam belum menang.
Menurut peraturannya, kalau dia dapat bertahan sampai hio itu habis terbakar, Atau kalau dia dapat merobohkan Moghul sampai si raksasa itu mengaku kalah, barulah calon perwira itu dinyatakan menang.
Kini Moghul menerjang maju dengan kedua lengan bergerak mencengkeram dari atas ke bawah.
Melihat serangan yang ganas ini, si baju hitam kembali menyambutnya dengan tendangan.
Agaknya si baju hitam itu tidak mempunyai akal lain kecuali hendak mengalahkan lawan dengan tendangan-tendangannya yang memang ampuh.
Dia tidak tahu bahwa Moghul, selain kebal dan bertenaga besar, juga memiliki kecerdikan.
Begitu melihat lawan menyambutnya dengan tendangan, Moghul juga menggerakkan kakinya ke depan, menerima tendangan kaki kanan lawan itu dengan kaki kanannya sendiri.
Dua batang kaki menyambar, sebatang amat kecil dibandingkan dengan kaki Moghul.
"Bresss..."
Dua batang kaki itu bertemu dan kini tubuh si baju hitam yang terpelanting keras, lalu terguling-guling di atas papan panggung.
Semua penonton terdiam dan Kok-taijin mengerutkan alisnya.
Juga Hui Song mengerutkan alisnya, bukan karena kekalahan si baju hitam, melainkan karena dia melihat betapa si raksasa itu curang.
Mungkin hanya dia yang tahu, juga tentunya si baju hitam, bahwa di sebelah dalam kain yang dilibat-libatkan di betis raksasa itu, yang diikat dengan tali-temali, tersembunyi perisai baja!
Tentu saja kaki si baju hitam yang terdiri dari kulit daging dan tulang, Terasa nyeri bukan main bertemu dengan kaki besar yang dilindungi baja ini.
Ketika si baju hitam dapat bangkit berdiri, dia agak terpincang.
Akan tetapi, dia masih belum mau menerima kalah dan sudah menyerang lagi dengan layangan kedua kaki meluncur ke depan.
Agaknya dia hendak mengalahkan lawan dengan tendangan terbang seperti tadi.
Si raksasa menyeringai.
Dia kini berdiri dengan kedua kaki terkangkang lebar, tubuh direndahkan, dan kedua tangannya yang besar itu melindungi mukanya.
Tubuhnya kokoh kuat seperti batu karang dan memang sekali ini dia sudah siap-siap menghadapi tendangan terbang yang lihai itu.
Dia tidak memandang rendah lagi tendangan itu dan mengerahkan tenaga untuk memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.
Kedua kaki si baju hitam itu menyambar dengan tumbukan keras mengenai dada yang bidang dari Moghul.
"Bresss..."
Dan sekali ini tubuh Moghul hanya bergoyang-goyang saja, akan tetapi sebaliknya tubuh si baju hitam terlempar ke belakang dan terbanting keras.
Dan sebelum si baju hitam sempat melompat bangun, tahu-tahu Moghul sudah melangkah lebar menghampirinya dan begitu tubuh si baju hitam bangkit, Moghul mengirim tendangan!
Agaknya si raksasa ini masih marah karena tadi beberapa kali menjadi bulanbulan tendangan yang membuatnya roboh, maka kini dia hendak membalas dengan tendangan pula.
Melihat tendangan yang menyambar ke arah perutnya, si baju hitam yang tak sempat mengelak itu terpaksa menggunakan lengan tangan menangkis keras.
"Dukkk..."
Dan si baju hitam mengeluh kesakitan dan terguling, tulang lengan yang menangkis itu patah bertemu dengan sepatu besar si raksasa.
Hui Song yang mendengarkan dengan seksama ketika terjadi pertemuan antara lengan dan sepatu itu, mengerti bahwa juga sepatu itu dalamnya berlapis baja!
Kini Moghul mendesak terus dengan tendangan-tendangannya.
Si baju hitam yang sudah patah tulang lengannya, terhuyung-huyung dan sebuah tendangan yang keras mengenai lututnya, membuat dia terpelanting.
Dan Moghul menghampirinya, lalu menggunakan kedua kakinya bergantian menginjak kedua kaki si baju hitam.
Si baju hitam berteriak kesakitan dan ternyata kedua kakinya itu retak-retak tulangnya diinjak oleh Moghul.
Sambil tertawa-tawa Moghul sekali lagi menendang dan tubuh yang sudah terkulai itu terlempar ke bawah panggung, menimpa para penonton yang kini terdiam dan terbelalak ngeri menyaksikan betapa Moghul menyiksa korbannya.
Ada pula beberapa orang yang menang bertaruh bersorak girang memuji dan menyambut kemenangan raksasa Moghul.
Memang di antara para penonton, banyak yang mengadakan taruhan dalam setiap pertandingan dan kini orang-orang yang bertaruh memegang Moghul berani melipatgandakan taruhannya dengan satu banding tiga!
Agaknya mereka sudah merasa yakin benar bahwa tidak ada yang akan mampu lulus jika harus berhadapan dengan Moghul!
Setelah si baju hitam itu kalah dan diusung pergi oleh pamannya, muncul pula beberapa orang pemuda berturut-turut, mencoba peruntungan mereka.
Akan tetapi, mereka itu satu demi satu dirobohkan oleh Moghul dengan tulang kaki atau tangan patah-patah.
Agaknya si raksasa itu semakin lama semakin kuat saja sehingga berturut-turut, bersama si baju hitam, sudah ada lima orang calon yang dirobohkan dan terpaksa digotong pergi dalam keadaan pingsan dan patah-patah tulangnya.
Keadaan menjadi sunyi dan semua penonton mengerutkan alisnya, kecuali mereka yang menang bertaruh.
Si tukang bicara sudah berteriak-teriak lagi melakukan tugasnya, menantang dan menganjurkan orang-orang gagah untuk maju.
"Saudara-saudara yang gagah perkasa, silakan, siapa mau maju lagi? Benarkah tidak ada seorangpun yang mampu bertahan menandingi Moghul sampai habis terbakarnya sebatang hio saja? Apakah kalian tidak malu kalau dikatakan bahwa di Sanhaikoan tidak ada seorangpun yang dapat disebut gagah? Ingat, yang masuk menjadi perwira akan memperoleh pangkat tinggi dan gaji besar, juga mempunyai tugas amat mulia, membela negara dari gangguan para pemberontak!"
Demikian si tukang bicara itu membujuk, menantang dan memanaskan hati para penonton.
Akan tetapi agaknya, mereka yang merasa memiliki kepandaian silat, sudah menjadi gentar dan melihat betapa lima orang tadi, yang gagah-gagah, kalah dan menderita siksaan mengerikan, dan merasa bahwa mereka tidak akan mampu menandingi raksasa itu.
Maka, para penonton hanya bisa saling pandang dengan perasaan mendongkol, penasaran, juga kecewa dan menyesal.
Kini perasaan mereka semua hanya ingin melihat si raksasa Moghul itu dikalahkan.
Sayembara memasuki ketentaraan itu kini berobah menjadi semacam pibu atau adu kepandaian untuk mengalahkan raksasa yang kini nampaknya semakin sombong itu.
Moghul kini berdiri di tengah-tengah panggung, bertolak pinggang dan tubuhnya yang telanjang berkilauan karena keringat.
Dia terbelalak memandang ke empat penjuru, mulutnya menyeringai lebar.
"Ha ha ha, apakah tidak ada lagi yang maju? Aku belum lelah, belum keluar keringat!"
Tentu saja ucapan ini hanya dipergunakan untuk menyombongkan diri saja.
Dia lalu menggerak-gerakkan kaki tangannya dan terdengar suara berkerotokan dan nampak betapa otot-ototnya mengembang, membayangkan kekuatan yang dahsyat.
Sejak tadi Hui Song hanya menonton saja dan pemuda ini merasa heran.
Dia tahu bahwa raksasa itu memang hebat dan sukar dikalahkan.
Mengapakah pembesar setempat mengadakan syarat yang demikian beratnya untuk menjadi calon perwira?
Jelaslah bahwa di antara para ahli silat biasa saja, jarang ada yang dapat bertahan sampai habis terbakarnya sebatang hio kalau menandingi seorang jago gulat yang demikian kuatnya seperti Moghul, apalagi raksasa itu masih berlaku curang, menyembunyikan besi di dalam sepatu dan pembalut kakinya.
Seolah-olah pembesar setempat itu bahkan hendak menghalangi masuknya orang-orang pandai ke dalam ketentaraan.
Dan dia tadi melihat betapa setiap kali ada peserta yang unggul, biarpun Kok-taijin nampak gembira, si panglima itu nampak tidak senang dan bahkan khawatir.
Mengapa begini?
Bukankah si panglima itu justeru yang membutuhkan perwira-perwira baru untuk membantunya?
Dan Moghul juga dia yang memilih sebagai penguji.
Bukankah dengan demikian, Ji-ciangkun itu bahkan hendak mencegah masuknya orang-orang gagah menjadi perwira baru?
Semua ini, ditambah pula oleh sikap Moghul yang sombong, dan melihat betapa para penonton menjadi penasaran, mendorong Hui Song untuk meloncat ke atas panggung.
Dia harus menyelidiki semua ini.
Pula, kalau dia sudah memperoleh kedudukan, biarpun hanya untuk sementara, dia akan lebih mudah menggunakan pasukan untuk mencari Sui Cin, selain itu, diapun dapat membantu dengan pasukannya kalau para pemberontak itu bergerak dari utara seperti yang disangkanya.
Begitu muncul pula seorang pemuda yang melihat tubuhnya hanya sedang-sedang saja dan tidak ada apa-apanya yang istimewa, Moghul tertawa girang dan matanya bersinar-sinar seperti seekor kucing melihat seekor tikus yang akan dapat dipermainkannya sepuas hatinya.
Akan tetapi, para penonton sudah bersorak-sorai lagi menyambut kehadiran Hui Song, walaupun sorak-sorai itu hanya untuk melepaskan ganjalan hati yang menjadi penasaran karena si pembicara tadi mengatakan bahwa tidak ada orang gagah lagi di Sanhaikoan.
Di lubuk hati mereka, timbul kekhawatiran baru akan melihat pemuda tampan ini nanti juga dilemparken ke bawah panggung dalam keadaan menyedihkan, luka-luka atau patah-patah tulang kaki tangannya.
Hui Song menghampiri panggung di mana dua orang pembesar itu duduk, memberi hormat dan berkata dengan suara nyaring.
"Saya Cia Hui Song mohon ijin memasuki sayembara."
Kok-taijin mengangguk-angguk dan Ji-ciangkun melambaikan tangan berkata.
"Baik, majulah dan lawanlah Moghul dengan sungguh-sungguh."
Hui Song memberi hormat lagi, lalu dia bangkit dan menghampiri Moghul.
Dia tadi sudah melihat betapa jago gulat ini mempergunakan keuntungan karena lawannya berpakaian.
Raksasa ini sekali tangkap dan berhasil mencengkeram baju lawan, tentu akan celakalah lawan itu.
Dengan gerakan-gerakan ilmu gulat, lawan yang sudah ditangkap bajunya akan dapat diangkat atau dibanting.
Sedangkan tubuh si raksasa ini sendiri yang telanjang, berkeringat dan licin.
Teringat akan ini, dia tidak mau dirugikan oleh pakaiannya.
Setidaknya, karena Moghul mempergunakan ilmu gulat dan cengkeraman, dia khawatir kalau pakaiannya akan robek.
Maka sambil tersenyum Hui Song berkata.
"Moghul, tunggu dulu. Engkau telanjang badan, tidak adil kalau aku memakai baju ini. tunggu aku akan melepaskan pakaian ini dulu."
Dan diapun menanggalkan jubah dan baju atasnya, kini hanya memakai sebuah celana saja.
Dia melangkah ke tepi panggung dan menghadap penonton.
"Di antara cuwi sekalian, apakah ada yang kebetulan membawa minyak? Atau gajih? Kalau ada, maukah membantuku dan memberi sedikit?"
Tanya Hui Song kepada mereka.
Para penonton menjadi heran, akan tetapi memang kebetulan ada yang membawa karena memang tadi dia berbelanja dan datang ke tempat itu mampir dari berbelanja.
Dia menghampiri dekat panggung dan menyerahkan sebotol minyak.
Hui Song mengambil sedikit di kedua telapak tangannya, dan dia lalu menggosok seluruh tubuh bagian atas yang telanjang itu dengan minyak.
Tentu saja para penonton saling pandang dan menjadi terheran-heran, akan tetapi melihat ini, Moghul terkejut dan diam-diam dia memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.
Setelah menitipkan bajunya kepada seorang penonton terdekat, Hui Song lalu menghadapi Moghul dan sebatang hio dibakar oleh seorang petugas.
"Apakah engkau seorang jago gulat?"
Moghul bertanya kepada Hui Song setelah pemuda itu berdiri di depannya.
Hui Song menggelengkan kepala.
"Bukan, akan tetapi melihat tubuhmu berminyak, akupun melumuri tubuhku dengan minyak,"
Katanya dengan sikap tolol.
"Orang muda, engkau menanggalkan baju dan melumuri tubuhmu dengan minyak, apakah kau akan menghadapi aku bertanding gulat? Ataukah dengan ilmu silat?"
"Dengan apa saja asal aku dapat mengalahkanmu dan dapat diterima menjadi perwira,"
Jawab Hui Song seenaknya.
"Kau pandai gulat?"
Tanya Moghul. Hui Song menggeleng kepala.
"Pandai silat?"
Kembali Hui Song menggeleng kepala.
Mendengar percakapan ini, semua penonton terbelalak.
Sudah gilakah pemuda ini?
Tidak bisa gulat atau silat, akan tetapi berani naik ke panggung melawan Moghul!
Apakah pemuda ini mencari mati?
Moghul sendiri tertawa bergelak, kepalanya ditarik ke belakang, wajahnya bordongak dan perutnya sampai bergelombang ketika dia tertawa.
"Ha ha ha, bocah nakal, lebih baik pulanglah saja dan minum susu ibumu sebelum terlambat, ha-ha!"
Para penonton juga merasa ngeri membayangkan pemuda yang lemah ini akan disiksa habis-habisan, maka di antara mereka ada yang berteriak-teriak minta agar Hui Song turun saja dari atas panggung.
Akan tetapi Hui Song bersikap tenang.
Dia bahkan menghampiri tempat hio yang sudah ditancapi sebatang hio bernyala, lalu dia menggunakan jari menjepit ujung hio itu sehingga apinya padam.
"Hei, apa yang kau lakukan itu?"
Si petugas yang tadi membakar hio menegur.
"Terlalu cepat kalau dibiarkan terbakar. Kalau begini kan bisa lama bermain-main dengan gajah bengkak itu? Biarlah kami berdua main-main sampai seorang di antara kami roboh tak mampu melawan lagi!"
Jawab Hui Song dengan sikap yang masih tenang.
Mendengar ini, semua orang menjadi terkejut dan semakin terheran.
Pemuda ini benar-benar sudah gila!
Kalau tidak, mana mungkin berani bersikap seperti itu, menantang si raksasa untuk bertanding sampai seorang di antara mereka menggeletak tak mampu melawan lagi?
Seolah-olah dia akan mampu bertahan sekian lamanya!
Akan tetapi, sikap Hui Song ini membuat Moghul menjadi marah.
Dia merasa ditantang dan bahkan dipandang rendah oleh pemuda hijau itu.
"Majulah dan aku akan mematahkan seluruh tulang-tulang tubuhmu!"
Bentaknya sambil melangkah lebar menghampiri Hui Song yang sudsh kembali ke tengah panggung.
"Engkau ini tikus kecil berani banyak lagak!"
Hui Song tersenyum jenaka.
"Dan engkau ini babi kebiri terlalu banyak kaok-kaok, cobalah tangkap aku kalau bisa!"
Para penonton mulai tertawa melihat betapa pemuda ingusan itu berani mempermainkah si raksasa dan memakinya babi kebiri.
Moghul memandang marah, matanya menjadi semakin lebar dan alisnya bangkit berdiri, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menubruk ke depan, kedua tangannya mencengkeram hendak menangkap tubuh Hui Song, seperti seekor kucing menubruk tikus.
Akan tetapi, dengan gaya yang lucu namun cepat, Hui Song sudah menyelinap dan menyuruk ke bawah lengan si raksasa sambil berseru.
"Sayang luput!"
"Plak! Plak! Pungg..."
Akan tetapi tamparan-tamparan tangannya itu membalik dan perut yang ditamparnya mengeluarkan suara seperti sebuah tambur besar dipukul.
"Wah, gentong ini kosong!"
Hui Song masih mengeluarkan suara ejekan keras sehingga para penonton semakin geli tertawa.
Akan tetapi, suara ketawa mereka terhenti seketika karena pada saat itu, Moghul telah berhasil menangkap lengan kiri Hui Song dengan tangan kanannya.
Dengan gerakan seekor jago gulat yang mahir, tangan kirinya menyusul dan sudah menangkap pundak pemuda itu.
Kemudian, secepat kilat tahu-tahu tubuh Hui Song sudah diangkat ke atas kepala.
Semua orang memandang pucat dan Moghul menyeringai, mengeluarkan suara ha ha huh huh seperti orang terengah-engah saking girangnya.
Dia hendak membanting lawannya ke atas lantai panggung dan sudah mengerahkan tenaga agar bantingannya dapat dilakukan sekuatnya.
Akan tetapi, tiba-tiba dia memekik kesakitan dan kedua lengannya menjadi lemas.
Kiranya Hui Song menggunakan jari-jari tangannya, biarpun pergelangan tangan sudah ditangkap, untuk mencengkeram dan mencabuti bulu-bulu panjang di dada dan lengan raksasa itu, berbareng dengan itu, ujung sepatunya telah menotok jalan darah di dekat punggung lawan, membuat Moghul kehilangan tenaga untuk beberapa detik lamanya.
Ini sudah cukup bagi Hui Song untuk meronta dan melepaskan diri dari pegangan kedua tangan lawannya.
Dia menggeliatkan tubuhnya yang sudah dilumuri minyak tadi dan terlepas lalu meloncat ke belakang sambil berkata.
"Heh heh , tubuhku licin, berkat minyak!"
Kembali penonton tertawa dengan hati lega.
Biarpun sampai kini pemuda itu belum juga memperlihatkan ilmu silat atau ilmu gulat, namun semua gerakannya yang kelihatannya ngawur itu ternyata telah membuat si raksasa tidak berdaya!
Lumpuhnya kedua tangan Moghul tidak lama dan tentu saja raksasa ini menjadi semakin penasaran dan marah.
Apalagi melihat betapa pemuda itu kini berdiri sambil bertolak pinggang dengan kedua kaki terpentang lebar, berkata kepadanya.
"Hei, babi bengkak, coba sekarang engkau mengangkat dan membantingku kalau mampu!"
Tantangan ini mendatangkan rasa heran dan khawatir kepada para penonton, kecuali beberapa orang di antara mereka yang bermata tajam dan sudah dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang pendekar yang lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya.
Akan tetepi yang merasa girang adalah Moghul.
Tadi dia penasaran dan kecewa karena sungguh tidak disangkanya, pemuda yang sudah berada dalam cengkeramannya dan tinggal banting saja itu dapat lolos.
Kini dia ditantang, tentu saja dia merasa girang.
Sekali ini, kalau aku dapat menangkapnya, tak mungkin dia akan dapat lolos, pikirnya.
Dengan langkah lebar dia lalu menghampiri dan tadinya mengira bahwa pemuda itu tentu hanya mempermainkannya dan akan mengelak kalau ditangkap.
Akan tetapi ternyata tidak!
Ketika kedua tangannya yang besar itu menangkap pinggang Hui Song dan dia mengerahkan tenaga untuk mengangkatnya, ternyata tubuh kecil itu tidak bergeming dan tidak dapat diangkatnya!
Tubuh yang kecil itu, yang agaknya akan dapat diangkat walaupun hanya dengan satu tangan saja oleh Moghul, kini terasa berat sekali, Atau seolah-olah kedua kaki pemuda itu sudah berakar pada lantai panggung.
Moghul tidak percaya dan semakin penasaran.
Dikerahkannya kekuatannya sehingga urat dan otot di kedua lengan dan dadanya menggembung dan dicobanya lagi untuk mengangkat tubuh Hui Song.
Namun tetap tak terangkat olehnya.
Kedua tangannya pindah ke pundak, lalu ke pinggang lagi, tetap saja tidak terangkat.
Tiba-tiba Hui Song merendahkan tubuhnya, menggunakan kedua tangannya untuk menyangga paha dan perut si raksasa, mengerahkan sinkangnya dan sambil mengeluarkan lengking suara yang nyaring, dia meluruskan tubuh dan Moghul sudah terangkat ke atas olehnya!
Tentu saja perbuatannya ini disambut sorak-sorai gemuruh, bahkan Ji-ciangkun terbelalak dan mukanya berobah agak pucat sementara itu Kok-taijin bertepuk tangan saking gembiranya.
"Brukkkk..."
Tubuh tinggi besar itu dilempar oleh Hui Song, bukan dibanting, melainkan hanya dilempar, akan tetapi akibatnya, bagian papan lantai panggung di ujung depan yang tertimpa tubuh raksasa itu ambrol!
Di bawah suara ketawa dan sorak-sorai para penonton.
Moghul merangkak ke luar lagi dari lantai papan panggupg.
yang ambrol dan kini mukanya menjadi hitam, matanya merah sekali dan ada hawa pembunuhan membayangi wajahnya ketika dia melangkah maju lagi menghampiri Hui Song.
Karena kini tidak ada lagi hio yang terbakar, maka orang tidak tahu lagi berapa lama batas pertandingan itu dan agaknya Moghul juga belum mau menerima kalah.
"Eh-eh, engkau masih juga belum mau mengaku kalah?"
Hui Song bertanya mengejek.
Raksasa itu tidak menjawab, melainkan menubruk dengan dahsyat, penuh kemarahan.
Akan tetapi tiba-tiba dia terbelalak karena tubuh pemuda di depannya itu lenyap.
Semua penonton dapat melihat betapa pemuda itu mengelak tubrukan lawan sambil meloncat ke atas, tinggi sekali melampaui kepala Moghul dan ketika tubuhnya berjungkir balik dengan indahnya seperti seekor burung walet di udara, tubuh itu menukik turun dan tahu-tahu Hui Song telah hinggap di atas kedua pundak raksasa itu sambil tertawa-tawa!
Sejenak Moghul kebingungan, akan tetapi melihat kedua batang kaki Hui Song bergantung di depan dadanya, dia cepat menangkap kedua kaki itu.
Akan tetapi tiba-tiba kedua kaki itu membalik dan menjepit lehernya dan kini tubuh atas Hui Song bergantung di belakang punggungnya dalam keadaan menelungkup.
"Wah, wah, celaka, kain cawatmu bau sekali, babi bengkak!"
Hui Song berseru dan dengan kedua kaki masih menjepit leher, dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkap ujung kain cawat di belakang pinggul Moghul dan membukanya.
Tentu saja nampak kedua bukit pinggul raksasa itu yang berkulit halus dan lebih putih dari pada bagian tubuh lainnya.
Semua penonton tertawa bergelak melihat ini karena dengan ditariknya cawat itu, nampaklah semua tubuh bagian bawah raksasa itu dari belakang!
Kini Moghul sama sekali tidak ingat untuk melakukan serangan lagi karena kedua kaki yang menjepit lehernya itu membuat dia merasa sukar bernapas.
Kedua kaki itu sedemikian kuatnya seperti jepitan baja dikalungkan di lchernya saja.
Dengan susah payah dia mencoba untuk melepaskan jepitan kedua kaki itu, Namun sia-sia dan tiba-tiba Hui Song yang bergantungan di belakang tubuhnya itu menggunakan kedua tangannya untuk menotok belakang lutut Moghul.
Raksasa itu mengeluh keras dan kedua kakinya tertekuk.
Hui Song melepaskan jepitan kakinya dan meloncat turun kemudian dia berdiri mengejek di depan Moghul.
Raksasa ini merasa betapa kedua kakinya nyeri sekali akibat totokan di belakang lutut tadi, akan tetapi kemarahan membuat dia mata gelap.
Dia bangkit berdiri dan kini menyerang dengan pukulan tangannya yang dikepalkan, tidak menggunakan ilmu gulat lagi.
Hui Song agaknya sudah merasa cukup mempermainkannya, maka diapun menyambut pukulan lengan kanan ini dengan tangkisan tangan kirinya, dengan jari-jari terbuka dan tangan dimiringkan seperti golok membacok ke arah lengan kanan lawan.
"Krekkk..."
Moghul memekik dan lengan kanannya menjadi lumpuh karena tulang lengan itu sudah patah!
Dasar manusia yang keras kepala.
Dia masih menyerang terus dengan tangan kirinya.
Kembali Hui Song menangkis dan kini lengan kiri itupun patah lengannya.
Pemuda itu teringat betapa raksasa ini sudah menyiksa banyak orang dengan mematahkan tulang kaki tangan mereka, maka diapun cepat melakukan tendangan susulan dua kali yang mematahkan tulang kedua kaki raksasa itu.
Moghul roboh dan tak dapat bangkit kembali karena kedua kaki dan tangannya sudah tidak dapat digerakkan, sudah patah-patah tulangnya.
Hui Song kini membungkuk, menyambar sebuah lengan dan kaki, lalu mengangkat tubuh raksasa itu ke atas, memutar-mutarnya cepat lalu melemparkannya ke bawah panggung.
Tubuh itu melayang dan jatuh terbanting ke atas tanah, di luar kepungan para penonton!
Sorak-sorai bagaikan meledak dan seperti akan meruntuhkan panggung itu sendiri.
Semua penonton mengangkat kedua tangan dan ada yang berjingkrak-jingkrak menari kegirangan.
Akan tetapi, semua penonton kini berdiam dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kekhawatiran ketika melihat betapa Ji-ciangkun bersama belasan orang pengawalnya telah berdiri di atas panggung dan mengurung pemuda yang baru saja memperoleh kemenangan secara mutlak itu.
"Tangkap keparat ini!"
Bentak Ji-ciangkun kepada para perajuritnya yang nampak ragu-ragu.
Tentu saja Hui Song juga berdiri dengan mata terbelalak heran dan diapun merasa penasaran sekali.
"Ciangkun, apa sebabnya aku akan ditangkap?"
Bantahnya.
"Orang muda, engkau masih belum mengakui kesalahan-kesalahanmu? Pertama, engkau telah memadamkan hio yang terbakar, dan kedua, engkau telah melukai penguji yang menjadi jagoan kami. Berarti engkau menyalahi peraturan dan tidak memandang kepada kami, berani mempermainkan dan melukai orang kami, dan itu berarti bahwa engkau telah memberontak, berani melawan pejabat tinggi!"
Akan tetapi pada waktu itu, Kok-taijin muncul pula dan terdengar pembesar sipil ini berkata.
"Tidak, dia jangan ditangkap, ciangkun. Biarlah kuampunkan kesalahan-kesalahannya dan aku akan mengambil dia menjadi seorang pengawal pribadiku. Orang she Cia, maukah engkau menjadi seorang pengawal pribadiku?"
Hui Song merasa semakin heran.
Agaknya ada pertentangan secara rahasia antara kedua pejabat itu dan diapun menjura kepada gubemur itu.
"Saya bersedia, taijin."
Ji-ciangkun nampak marah, akan tetapi karena Kok-taijin merupakan wakil dari kerajaan yang merupakan penguasa tertinggi di daerah itu, maka diapun tidak berani menentang secara terang-terangan dan diapun memberi isyarat kepada para perajuritnya untuk mundur dan meninggalkan panggung.
Kok-taijin mengajak Hui Song mengikutinya pulang ke dalam gedungnya dan pemilihan calon perwira itupun dibubarkan.
Setelah tiba di dalam gedungnya, Kok-taijin mengajak Hui Song memasuki sebuah kamar untuk bicara empat mata.
Pembesar yang berwibawa itu menyuruh Hui Song duduk di atas kursi, berhadapan dengan dia terhalang sebuah meja kecil dan setelah dia menyuruh seorang pelayan menghidangkan minuman dan menyuruh pelayan lain mempersiapkan sebuah kamar untuk pengawal pribadi baru ini, dia lalu mengajak Hui Song bercakap-cakap.
"Cia-sicu, aku sudah terlalu banyak mengenal para pendekar gagah maka begitu engkau muncul, walaupun engkau bersikap ketolol-tololan, aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentu seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Dan timbul keheranan dalam hatiku, karena janggal dan anehlah kalau seorang pendekar berilmu seperti engkau ini hendak masuk menjadi seorang perwira. Sebetulnya, apakah yang mendorongmu naik ke panggung dan melawan Moghul?"
Diam-diam Hui Song memuji kecerdikan pembesar ini yang ternyata mempunyai pandangan tajam sekali.
Dan diapun tidak perlu lagi bersembunyi karena dia tahu bahwa pembesar ini boleh dipercaya, tidak seperti Ji-ciangkun yang sikapnya mencurigakan itu.
"Harap taijin suka memaafkan saya. Sesungguhnya ada dua hal yang mendorong saya memasuki sayembara itu. Pertama karena saya merasa jengkel melihat kekejaman Moghul yang menyiksa para pengikut sayembara yang kalah dan saya ingin membalaskan mereka itu dan menghukumnya. Kedua, saya merasa heran sekali mengapa kalau pemerintah membutuhkan perwira-perwira baru, dengan mengajukan Moghul sebagai penguji maka seolah-olah pemerintah daerah bahkan menghalangi adanya perwira-perwira baru. Sukarlah dicari orang yang akan mampu mengalahkan raksasa itu. Maka, saya ingin sekali menyelidiki kejanggalan ini."
Pembesar ini mengangguk-angguk.
"Tepat seperti yang sudah kuduga, Cia-sicu. Oleh karena itulah maka aku turun tangan dan mengangkatmu menjadi pengawal pribadi. Sesungguhnya, sudah lama aku merasa curiga akan gerak-gerik Ji-ciangkun yang berobah semenjak beberapa bulan yang lalu ini. Dahulu diapun merupakan seorang panglima yang setia kepada pemerintah, akan tetapi entah mengapa, semenjak beberapa bulan ini terjadi perobahan pada sikapnya dan Moghul itupun pilihan dia. Dialah yang tadinya tidak setuju ketika aku mengusulkan untuk menerima perajurit dan perwira baru karena adanya desas-desus pemberontakan. Cia-sicu, tentu engkau pun sudah mendengar tentang desas-desus itu, bukan?"
Hui Song mengangguk.
"Bukan berita bohong, taijin. Memang ada datuk-datuk kaum sesat yang sedang menghimpun tenaga untuk mengadakan pemberontakan, dan terus terang saja, saya sampai ke daerah inipun adalah untuk menyelidiki tentang hal itu."
"Bagus kalau begitu, sicu. Bagaimana kalau engkau tinggal di sini, pura-pura saja menjadi pengawal pribadiku, kemudian tugas yang sesungguhnya bagimu adalah menyelidiki Ji-ciangkun? Siapa tahu dia mempunyai hubungan dengan para tokoh yang hendak memberontak itu."
"Baik, taijin. Saya dapat menggunakan waktu kira-kira sebulan untuk melakukan penyelidikan di sini."
Demikianlah, mulai hari itu, Hui Song berpakaian pengawal dan menjadi pengawal pribadi Kok-taijin.
Tentu saja hal ini hanya untuk menyembunyikan tugasnya yang sebenarnya, yaitu menyelidiki Ji-ciangkun.
Hanya dia sendiri dan Gubernur Kok yang tahu, bahkan keluarga gubernur itu sendiripun tidak mengetahuinya.
Gubernur Kok tinggal dengan seorang isterinya, beberapa orang selir dan hanya mempunyai seorang anak, yaitu seorang anak perempuan yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.
Sebagai seorang pengawal pribadi, Hui Song mengenal baik semua keluarga Kok-taijin dan dengan pakaian pengawal, tidak begitu sukar baginya untuk melakukan penyelidikan, karena tidak dicurigai.
Pada suatu malam, beberapa hari kemudian, dua bayangan yang amat gesit gerakannya, berlompatan memasuki benteng dengan melewati tembok benteng yang tinggi.
Anehnya, ketika para penjaga melihat dua orang ini, mereka diam saja, bahkan ada perwira yang memberi hormat kepada mereka, lalu perwira ini melapor kepada Ji-ciangkun yang berada di sebelah dalam gedungnya.
"Ciangkun, dua orang tamu yang ditunggu sudah datang,"
Perwira itu melaporkan.
"Baik. Persilakan mereka menanti ke dalam kamar tunggu dan suruh para pengawal menjaga di luar, jangan menerima tamu dari luar pada malam hari ini, aku tidak mau diganggu."
Perwira itu memberi hormat dan keluar, menanti di pekarangan gedung atasannya itu.
Tak lama kemudian, dua sosok bayangan berlompatan turun dan mereka itu ternyata adalah seorang tosu tinggi kurus dan seorang hwesio gendut yang bukan lain adalah Huito Cinjin dan Kangthouw Lomo, dua orang tokoh dari Cap-sha-kui yang pernah bersama-sama Siangto Sianli Gui Siang Hwa murid Raja Iblis memikat Hui Song ke Gua Iblis Neraka tempo hari!
Sang perwira menyambut mereka dengan hormat, lalu mempersilakan mereka menanti Ji-ciangkun di dalam ruangan tamu yang luas.
Tiga orang ini memasuki pintu ruangan tamu, sama sekali tidak tahu bahwa seorang perajurit pengawal yang berdiri di situ dengan tombak di tangan sama sekali bukanlah perajurit benteng itu, melainkan Hui Song yang telah menyamar!
Dengan bantuan Kok-taijin, tidak sukar bagi Hui Song untuk menyamar dengan pakaian perajurit benteng dan menyelundup masuk untuk melakukan penyelidikan.
Malam itu, tanpa disangka-sangkanya dia melihat dua orang tamu dari Ji-ciangkun, yang bukan lain adalah kenalan lamanya, yaitu Huito Cinjin dan Kangthouw Lomo yang pernah nyaris menewaskannya di Gua Iblis Neraka.
Terkejut, heran dan juga giranglah hati Hui Song bahwa kecurigaannya terhadap Ji-ciangkun ternyata kini terbukti kebenarannya.
Jelaslah bahwa Ji-ciangkun tentu bersekongkol dengan kaum sesat yang hendak memberontak, karena dua orang kakek iblis itu adalah para pembantu Raja dan Ratu Iblis dan tentu kini menjadi semacam utusan dari Raja Iblis untuk bersekongkol dengan Ji-ciangkun.
Maka, setelah keadaan sunyi dan dia memperoleh kesempatan, Hui Song lalu melakukan pengintaian ke dalam ruangan tamu.
Tidak salah penglihatannya tadi, yang duduk di dalam ruangan itu adalah Huito Cinjin, Kangthouw Lomo, bersama Ji-ciangkun dan Moghul!
Agaknya orang Mongol jago gulat itu memang kuat sekali.
Biarpun tulang kedua kaki tangannya patah, akan tetapi kini, dengan bantuan kursi roda, dia mampu menghadiri pertemuan itu dengan kaki tangan dibalut kuat.
Tentu dia menggunakan obat yang amat manjur, pikir Hui Song kagum juga.
Dia sudah mendengar betapa Bangsa Mongol mempunyai obat-obat yang amat mujarab untuk luka-luka atau patah tulang.
Dan kini makin mengertilah dia.
Kiranya Moghul yang dijadikan jagoan penguji itupun merupakan seorang di antara tokoh persekutuan pemberontak itu!
Dari percakapan di antara empat orang itu, tahulah dia bahwa Moghul bukanlah orang biasa.
Dia mengaku sebagai keturunan para Raja Mongol yang pernah memerintah di Tiongkok dan kini dia berusaha untuk membangun kembali kekuasaan bangsanya yang sudah jatuh.
Jadi terdapat persekutuan antara tiga unsur di sini.
Yang pertama adalah seorang panglima pemerintah sendiri yang berambisi untuk memberontak, yaitu Panglima Ji Sun Ki.
Kedua adalah Moghul yang mewakili orang-orang Mongol yang menjadi anak buahnya.
Dan ketiga adalah rombongan kaum sesat yang diketuai Raja Iblis!
Suatu persekutuan yang amat berbahaya, pikir Hui Song yang mengintai dan mendengarkan dengan hati-hati.
"Pemuda itu...?"
Kata Kangthouw Lomo sambil menenggak araknya ketika dia mendengar Ji-ciangkun bercerita tentang pemuda yang mengalahkan Moghul dalam sayembara pemilihan perwira baru.
"Ah, dialah orang she Cia, putera ketua Cin-Ling-Pai itu! Pantas saja kalau saudara Moghul kalah karena dia memang lihai bukan main."
"Dan sekarang telah menjadi pengawal pribadi Kok-taijin?"
Huito Cinjin menyambung.
"Wah, berbahaya sekali itu. Dia harus disingkirkan lebih dahulu!"
Ji-ciangkun mengerutkan alisnya.
Dia terkejut bukan main mendengar bahwa pemuda yang sikapnya ketolol-tololan itu, yang telah mengalahkan Moghul, ternyata bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar!
"Tidak mudah begitu saja menyingkirkannya, bukan hanya karena dia lihai, akan tetapi karena dia sudah menjadi pengawal pribadi Kok-taijin.
Kita harus bertindak hati-hati dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan di hati Kok-taijin sebelum gerakan kita itu dilakukan.
Jelaslah bahwa Kok-taijin tidak dapat dibujuk dan dia akan menjadi penghalang terbesar.
Maka, biarlah aku mengerahkan orang-orangku untuk mengamati orang she Cia itu.
Sama sekali aku tidak mengira bahwa dia adalah seorang pendekar, maka aku tidak menaruh curiga."
Mendengar ini, Hui Song sudah merasa cukup.
Kalau kini Ji-ciangkun sudah mengerti siapa dirinya, tentu dia akan selalu diawasi dan hal itu membuat dia tidak akan leluasa bergerak.
Maka dia lalu secara hati-hati meninggalkan tempat itu dan malam itu juga dia menghadap Kok-taijin yang menjadi terkejut karena pembesar ini tadinya sudah mengaso dan bahkan hampir tidur pulas ketika dibangunkan.
"Cia-sicu, ada apakah...?"
Tanyanya kaget.
"Taijin, mari kita bicara di dalam. Ada hal penting sekali,"
Jawab Hui Song.
Mereka lalu memasuki ruangan dalam dan di situ Hui Song menceritakan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
Diceritakannya kepada pembesar itu bahwa Ji-ciangkun benar-benar bersekongkol dengan orang-orang yang hendak memberontak, betapa Moghul sebenarnya menurut pengakuannya adalah keturunan Jenghis Khan dari Raja-raja Mongol yang hendak membangkitkan kembali kekuasaan bangsanya, kemudian diceritakannya tentang dua orang tokoh Cap-sha-kui yang menjadi para pgmbantu Raja Iblis yang memimpin para datuk sesat yang hendak memberontak.
Mendengar penuturan itu, Kok-taijin terkejut bukan main.
Pembesar ini mengerutkan alisnya.
"Ah, tak kusangka sudah sejauh itu! Dan biarpun di Sanhaikoan ini aku menjadi penguasa tertinggi, akan tetapi untuk menangkap Ji-ciangkun, aku kekurangan kekuatan. Di sini aku hanya mempunyai pasukan pengawal dan penjaga keamanan yang jumlahnya tidak ada seribu orang sedangkan Ji-ciangkun menguasai pasukan yang beribu-ribu banyaknya. Kita harus bertindak hati-hati dan tidak ada jalan bagiku kecuali melaporkan ke kota raja. Akan tetapi hal itu membutuhkan waktu lama dan melaporkan kepada kaisar harus disertai bukti-bukti sedangkan bukti itu belum ada. Maka, sicu, aku minta bantuanmu. Sampaikan suratku kepada komandan benteng Cengtek. Komandan itu adalah seorang panglima yang setia dan kalau dia menerima suratku, tentu dia akan percaya dan dia akan mengirimkan pasukan yang besar ke sini untuk membantuku. Tidak ada orang lain yang dapat kupercaya untuk melakukan tugas ini, sicu. Berangkatlah malam ini juga."
Hui Song tidak dapat menolak karena dia sendiripun maklum akan gawatnya keadaan.
Agaknya pihak pemberontak itu akan menduduki Sanhaikoan lebih dulu untuk menjadi markas dan basis pemberontakan mereka.
Maka, malam itu juga, dia diberi seekor kuda yang paling baik, membawa surat dari Kok-taijin dan berangkatlah dia meninggalkan Sanhaikoan.
Dugaan Hui Song memang tidak banyak selisihnya dengan kenyataan sebenarnya.
Kedatangan Huito Cinjin dan Kangthouw Lomo ke markas Sanhaikoan itu selain untuk berunding di mana dua orang kakek itu membongkar keadaan diri Cia Hui Song, juga dua orang kakek itu diutus oleh Raja Iblis untuk mengundang Ji-ciangkun agar pada malam itu juga datang menemui Raja Iblis di suatu tempat tersembunyi tidak jauh dari Sanhaikoan!
Setelah dia memanggil para perwira pembantu dan kepercayaannya, memberi tahu kepada mereka agar mulai saat itu juga mereka semua mengamat-amati semua gerakan gubernur itu, Ji-ciangkun lalu berangkat naik kuda bersama dua orang tamunya.
Dia tidak membawa pengawal karena memang tidak boleh sembarang orang datang menghadap Raja Iblis.
tadinya Moghul juga diundang, akan tetapi mengingat bahwa orang Mongol itu berada dalam keadaan terluka dan tidak dapat berjalan, yang berangkat hanyalah Ji-ciangkun saja bersama dua orang tokoh Cap-sha-kui itu.
Malam itu terang bulan dan tiga orang yang menunggang kuda itu berhenti di sebuah lereng bukit.
Dua orang kakek itu memberi isyarat kepada Ji-ciangkun untuk menghentikan kuda masing-masing dan menambatkan kuda mereka itu pada batang pohon.
"Dari sini kita harus berjalan kaki dan jangan sekali-kali mengeluarkan suara,"
Kata Huito Cinjin berbisik.
"Lihat saja isyarat tangan kami. Kalau bicara sebelum ditanya, dapat mengakibatkan bencana,"
Kata pula Kangthouw Lomo. (Lanjut ke
Jilid 24) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 Mendengar ucapan dua orang kakek itu dan melihat sikap mereka seperti orang yang amat takut, diam-diam Ji-ciangkun bergidik.
Dia sendiri belum pernah bertemu dengan Raja dan Ratu Iblis, dan dia hanya mendengar bahwa Raja Iblis adalah seorang pangeran yang bernama Toan Jitong dan bahwa tokoh ini memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia dan mempunyai watak yang amat aneh dengan wibawa melebihi kaisar sendiri!
Setelah mereka berjalan kira-kira setengah jam lamanya, menyusupnyusup melalui semak-semak belukar, akhirnya mereka tiba di sebuah lereng terbuka dan dari jauh, di bawah sinar bulan purnama, nampaklah tembok-tembok nisan kuburan berjajarjajar.
Dua orang kakek itu berhenti memandang ke arah tanah kuburan itu dan ketika Ji-ciangkun memandang kepada mereka, dua orang itu tanpa bicara menuding ke arah tanah kuburan itu.
"Di sanakah...?"
Ji-ciangkun berbisik.
"Sssstt!"
Huito Cinjin menegur dan menaruh telunjuk ke depan mulut, lalu mengangguk membenarkan.
Mereka lalu maju lagi perlahan-lahan menghampiri tanah kuburan yang sudah nampak dari jauh itu.
Ketika mereka tiba di luar tanah pekuburan, tiba-tiba dua orang kakek itu memegang lengan Ji-ciangkun dan memberi isyarat agar diam dan tidak mengeluarkan suara, mereka hanya memandang ke depan.
Panglima itu ikut memandang dan matanya terbelalak, wajahnya berobah pucat.
Memang amat mengerikan apa yang terlihat olehnya di tengah kuburan itu.
Biarpun sinar bulan redup, namun lambat laun matanya sudah terbiasa dan dia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di tengah kuburan itu.
Di antara kuburan-kuburan yang nampak sudah kuno dan tidak terawat, nampak dua orang yang sedang berlatih ilmu kesaktian yang amat luar biasa.
Seorang di antara mereka, adalah seorang pria yang rambutnya sudah putih semua, awut-awutan dan riap-riapan, Jenggot dan kumisnya pendek, tubuhnya jangkung dan wajah yang tertimpa sinar bulan itu nampak seperti topeng saja, agak kehijauan dan dingin seperti muka mayat, sepasang matanya yang kehijauan mencorong seperti mata harimau, pakaiannya yang berwarna putih dan kuning itu longgar dan kedodoran, usianya sukar ditaksir berapa karena biarpun rambutnya sudah putih semua, akan tetapi wajah seperti topeng itu sukar ditaksir usianya, mungkin saja empat puluh atau mungkin juga enam puluh tahun lebih.
Dan orang ini sedang duduk di atas tumpukan tengkorak-tengkorak manusia!
Sedikitnya ada lima puluh buah tengkorak yang ditumpuk berbentuk kerucut itu dan dia kini duduk bersila di atas tumpukan tengkorak itu.
Baru duduk di atas tumpukan tengkorak saja sudah merupakan hal yang sukar dilakukan, Karena tengkorak yang hanya bertumpuk-tumpuk itu tentu akan runtuh kalau di puncaknya diduduki orang.
Akan tetapi kakek itu dapat duduk dengan tegak, bersila dan matanya memandang tajam ke depan.
Di depannya, terpisah kurang lebih tiga tombak, ada tumpukan tengkorak lain seperti yang didudukinya.
Dan di atas tumpukan tengkorak kedua berdiri seorang wanita, akan tetapi berdiri dengan kepala di bawah dan kedua kaki lurus ke atas!
Wanita inipun rambutnya putih riap-riapan, pakaian dan wajahnya sama dengan yang pria, mukanya yang ada garis-garis cantik itu nampak dingin dan kaku, dan pakaiannya juga longgar dan kedodoran sehingga karena ia berdiri jungkir balik di atas tumpukan tengkorak, jubahnya tersingkap ke bawah dan nampak celananya yang berwarna putih.
"Sudah siap?"
Terdengar suara yang halus akan tetapi mengandung getaran kuat dari pria yang duduk bersila itu.
"Siap,"
Jawab wanita itu dengan tubuh yang jungkir balik itu sama sekali tidak bergoyang.
"Mulai..."
Kata pula yang pria.
Kedua orang itu kini meggerakkan sepasang tangan ke depan, dengan gerakan mendorong, dengan jari-jari tangan terbuka dan telapak tangan menghadap ke depan.
"Tarrrr..."
Terdengar ledakan di tengah udara antara keduanya seolah-olah ada suatu tenaga tak nampak yang saling bertemu dan beradu di udara!
Dan mereka berdua melakukan adu tenaga ini berulang kali.
Setiap kali tentu terdengar suara ledakan itu, akan tetapi, kini setiap ledakan makin mendekati si wanita, seolah-olah tenaga yang bertemu itu kini tidak seimbang lagi dan tenaga si wanita terpukul mundur.
"Jagalah ini..."
Tiba-tiba si pria berseru dan kembali mereka saling dorong.
"Tarr... brukkkkk..."
Tubuh wanita itu jungkir balik meloncat ke atas dan tumpukan tengkorak yang tadi terinjak kepalanya itu berantakan, dan ada beberapa buah tengkorak yang pecah berhamburan seperti diterjang tenaga dahsyat!
"Tenagaku masih kurang kuat..."
Wanita itu menarik napas ketika ia sudah turun dan berdiri tak jauh dari pria yang masih duduk bersila itu.
"Siapa bilang? Engkau sudah kuat sekali dan hampir aku tidak tahan. Lihat ini!"
Diapun melayang turun dari atas tumpukan tengkorak dan begitu menendang, tumpukan tengkorak itu berantakan dan ada empat buah tengkorak yang berada paling atas, remuk menjadi debu!
Melihat pertunjukan yang seperti sulap atau sihir itu, diam-diam Ji-ciangkun menjadi terkejut ngeri dan juga gentar hatinya.
Apalagi ketika tiba-tiba dua orang berambut putih itu menoleh ke arah mereka.
"Majulah kalian!"
Wanita itu berseru sambil menggapai dengan jari-jari tangannya yang berkuku runcing.
Huito Cinjin dan Kangthouw Lomo segera maju, sedangkan Ji-ciangkun mengikuti dari belakang.
Dua orang kakek itu menjatuhkan diri berlutut di depan Raja Iblis, dan panglima itu yang merasa bahwa dia hanyalah sekutu, bukan anak buah iblis-iblis itu, hanya menjura dengan hormat.
"Inikah Ji-ciangkun dari Sanhaikoan?"
Tanya wanita itu yang bukan lain adalah Ratu Iblis.
Seperti biasa, ialah yang menjadi juru bicara suaminya, sedangkan Raja Iblis hanya berdiri memandang dengan sepasang matanya yang mencorong kehijauan.
"Benar, toanio, saya adalah Ji Sun Ki, panglima di Sanhaikoan. Saya datang memenuhi undangan Ongya melalui Cinjin dan Lomo."
Raja Iblis memberi isyarat kepada mereka untuk duduk di atas tanah, sedangkan dia sendiri duduk di atas tumpukan kecil tengkorak.
Isterinya duduk pula di atas tumpukan kecil tengkorak, sedangkan dua orang kakek pembantu mereka itupun masing-masing mengambil sebuah tengkorak untuk dijadikan tempat duduk.
Ji-ciangkun sendiri merasa ngeri kalau duduk di atas tengkorak manusia itu, maka dia hanya menduduki sebuah batu nisan.
"Ji-ciangkun,"
Terdengar suara Raja Iblis.
Jarang dia bicara, akan tetapi agaknya kini dia merasa betapa pentingnya merangkul panglima ini untuk mulai menyalakan api pemberontakan.
"Apakah sewaktu-waktu benteng itu dapat kita kuasai?"
Agak lega rasa hati Ji-ciangkun mendengar suara Raja Iblis.
Ternyata suaranya halus dan bahasanya rapi seperti biasa dipergunakan para bangsawan atau orang terpelajar.
"Semua sudah saya persiapkan, Ongya. Sepuluh ribu perajurit yang tergabung dalam pasukan di benteng Sanhaikoan, sebagian besar dikuasai oleh perwira-perwira pembantu saya. Yang mungkin akan menentang tidak lebih dari dua tiga ribu perajurit saya yang akan mudah diatasi. Akan tetapi, Kok-taijin sukar diajak berdamai dan tidak mungkin bekerja sama. Dari dialah mungkin datangnya tentangan dan halangan."
"Kekuatannya?"
Tanya Raja Iblis itu tenang.
"Lumayan. Ada seribu orang pasukan pengawal yang akan selalu membelanya. Apalagi baru-baru ini dia memperoleh seorang pengawal pribadi yang lihai..."
Ji-ciangkun berhenti karena pada saat itu Huito Cinjin yang melihat keraguannya menyambung.
"Ongya, orang yang menjadi pengawal pribadi Kok-taijin itu telah mengalahkan Moghul dan dia bukan lain adalah putera ketua Cin-Ling-Pai!"
Raja Iblis mengerutkan alisnya dan mengelus jenggotnya yang pendek.
"Hemm, bukankah Bin Mo To dari Ceng-tao itu sudah memberikan janjinya akan membantu, dan juga mantunya, ketua Cin-Ling-Pai akan membantu pula kalau sudah tiba waktunya? Apakah keluarga itu akan melanggar janji?"
"Hamba tidak tahu, Ongya. Akan tetapi kita memang tidak boleh terlalu percaya kepada orang-orang seperti ketua Cin-Ling-Pai itu. Apalagi Bin Mo To yang sudah lama mencuci tangan, tidak seperti dahulu ketika dia masih berjuluk Tung-hai-sian."
"Pemuda itu harus dibunuh, juga kalau mungkin, secepatnya Kok-taijin yang menjadi penghalang itu harus dibunuh!"
Kata Raja Iblis kepada Ji-ciangkun. Ji-ciangkun mengerutkan alisnya.
"Maaf, Ongya. Saya sudah menyuruh anak buah mengawasi pemuda she Cia itu. Dan kalau perlu, kiranya tidak begitu sukar membunuhnya dengan pengeroyokan. Akan tetapi membunuh Kok-taijin saya kira tidak bijaksana, bahkan akibatnya bisa amat merugikan."
"Mengapa?"
"Seperti telah saya katakan tadi, Kok-taijin mempunyai pasukan pengawal yang setia kepadanya, kurang lebih seribu orang. Kalau saya menyerangnya secara berterang, tentu seribu orang pengawal itu akan memberontak dan melawan, dan kalau terjadi demikian, tentu dua tiga ribu orang pasukan yang belum dapat saya tundukkan itu akan bergabung. Hal ini akan menimbulkan perang sendiri dalam benteng dan biarpun kita dapat menang, namun tentu akan mengalami kerugian banyak pasukan. Lebih baik kalau dapat kita pergunakan akal agar benteng jatuh ke tangan kita tanpa banyak korban, dan lebih baik lagi kalau kita dapat memaksa Kok-taijin menakluk kepada kita."
"Caranya? Dengan menawannya dan memaksanya?"
Raja Iblis bertanya. Ji-ciangkun menggeleng kepala.
"Biarpun dia seorang sipil, namun Kok-taijin memiliki hati yang keras. Andaikata dia ditangkap dan disiksa sekalipun, jangan harap dia akan mau menakluk. Akan tetapi, dia hanya mempunyai seorangi anak, yaitu anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun. Kalau kita menculik anak itu, besar kemungkinan dia mau tunduk dan menurut, demi keselamatan anaknya yang amat disayangnya.
"Bagus! Lakukanlah itu, Ji-ciangkun. Ingat kami tidak akan mau bergabung denganmu sebelum kau berhasil menguasai benteng Sanhaikoan. Setelah berhasil, barulah engkau akan resmi menjadi panglima besar semua pasukan kita dan kelak engkau tentu akan tetap menjadi panglima kerajaan baru kita."
Wajah Ji-ciangkun berseri gembira membayangkan kedudukan yang akan diperolehnya kalau gerakan mereka berhasil.
Dan dia yakin akan berhasil setelah dia bertemu dengan bekas pangeran yang sakti luar biasa ini.
Setelah mengadakan perundingan dengan matang dan Raja Iblis menyatakan siap membantu kalau terdapat kesukaran dalam pengambilalihan kekuasaan di Sanhaikoan itu, Ji-ciangkun lalu kembali ke Sanhaikoan, dikawal oleh dua orang kakek iblis.
Sementara itu, Hui Song yang keluar dari Sanhaikoan dengan berkuda, baru kira-kira meninggalkan benteng itu sejauh sepuluh li, dia mendengar suara derap kaki kuda dari belakang.
Pemuda ini dapat menduga bahwa derap kaki banyak kuda itu tentulah pasukan dan ke mana lagi malam-malam begitu ada pasukan membalapkan kuda mereka kalau bukan untuk mengejar dirinya?
Dia sama sekali tidak merasa takut, akan tetapi karena dia sedang membawa tugas yang amat penting, dia tidak mau menunda perjalanan itu dengan perkelahian melawan pasukan yang mengejarnya.
Maka diapun lalu berhenti, mengumpulkan bekalnya dan diikatnya buntalan itu di punggungnya, kemudian dia mencambuk kuda itu, diusir dan dikejarnya agar kuda itu lari ke lain jurusan, bukan ke jurusan Cengtek, melainkan ke timur.
Kuda itu ketakutan dan lari cepat, dia masih mengejarnya dengen lemparan-lemparan batu sehingga kuda itu lari tunggang-langgang.
Setelah itu, Hui Song meloncat naik ke atas dahan pohon dan bersembunyi di balik daun-daun lebat.
Tak lama kemudian, muncullah serombongan pasukan itu dan ternyata jumlah mereka ada seratus orang!
Akan sukar juga kalau dia harus melawan orang sedemikian banyaknya, dan juga akan membuang-buang waktu saja.
Pasukan itu berhenti, memeriksa tanah dengan obor-obor dan akhirnya mereka membelok ke kiri, mengejar kuda yang meninggalkan jejak di atas tanah itu.
Setelah pasukan itu membalapkan kuda ke timur, barulah Hui Song meloncat turun dari atas pohon, lalu mempergunakan ilmu lari cepat, lari ke selatan lalu ke barat, menuju ke Cengtek.
Jarak yang ditempuhnya akan makan waktu sehari semalam, dan pada besok malam baru dia akan tiba di Cengtek.
Kota Cengtek merupakan kota yang cukup besar dan ramai.
Kota ini merupakan semacam benteng pertahanan pula atau merupakan pintu menuju ke kota raja Peking, karena itu di kota ini terdapat benteng yang cukup besar dan kuat.
Yang menjadi komandan pasukan di Cengtek adalah seorang jenderal bernama Lui Siong Tek, seorang laki-laki tinggi besar dan gagah perkasa, berusia empat puluh lima tahun.
Dia menguasai selaksa pasukan tetap dan dengan mudah dia akan memperlipat gandakan pasukannya itu dengan pasukan-pasukan lain yang berada di sekeliling daerah itu, yang merupakan mata rantai pertahanan di utara di sebelah dalam Tembok Besar untuk melindungi kota raja dari serbuan-serbuan yang mungkin datang dari bangsabangsa liar di utara.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa seorang pembesar yang mempunyai kekuasaan penuh di suatu daerah, akan merasa yang paling berkuasa, seolah-olah menjadi raja kecil di wilayah kekuasaannya.
Pembesar itu akan lupa bahwa dia hanyalah seorang petugas yang bekerja untuk atasan di kota raja.
Dan seorang pembesar militer seperti Lui-goanswe ini, di waktu negara sedang aman dan tidak ada perang, akan menjadi malas dan lengah, membiarkan diri tenggelam dalam kesenangan-kesenaangan yang mudah saja didapat karena kekuasaan dan kekayaannya.
Demikian pula dengan Lui Siong Tek, karena wilayahnya dalam keadaan aman dan tenteram, diapun membiarkan dirinya hanyut dalam kesenangannya yang telah memperbudaknya sejak dia masih amat muda, yaitu bersenang-senang dengan wanita cantik.
Ketika Hui Song tiba di Cengtek, sebelum dia mengunjungi pembesar itu, dia lebih dahulu menyelidiki dan mencari keterangan perihal komandan yang menjadi panglima di benteng kota itu.
Dan dia mendengar bahwa komandan itu adalah seorang yang gagah perkasa, yang pandai mengatur pasukan dan sudah amat terkenal, akan tetapi juga memiliki kelemahan, yaitu suka mengumpulkan wanita-wanita cantik dan mempunyai banyak selir yang tak terhitung banyaknya.
Bahkan ada kabar angin bahwa pembesar itu kini mempunyai seorang selir baru dan setiap hari bersenang-senang dengan selir barunya itu.
Setelah mendapat keterangan di mana adanya pembesar itu, malam itu juga Hui Song lalu memasuki benteng melalui tembok benteng yang tidak terjaga ketat.
Kalau pemimpinnya malas, anak buahnyapun tentu saja malas, dan kalau pemimpinnya lengah, anak buahnyapun lengah, maka penjagaan di sekitar benteng itupun tidak ketat.
Para penjaga hanya bergerombol di pintu gerbang, mengobrol atau bermain kartu sehingga dengan mudah Hui Song dapat melompati tembok dan meloncat ke sebelah dalam, menyelinap di antara bangunan-bangunan besar di dalam benteng itu dan dengan mudah saja dia dapat memasuki sebuah gedung terbesar di tengah benteng.
Itulah gedung tempat tinggal Lui-goanswe yang nampak sunyi saja, tanpa ada penjagaan di sekitar gedung, dan agaknya semua penghuninya telah tidur.
Hui Song menyelinap masuk ke dalam gedung itu dan tak lama kemudlan dia sudah mengintai ke dalam sebuah ruangan yang terang dan di mana dia mendengar suara orang bercakap-cakap.
Ketika dia mengintai ke dalam, dia melihat seorang laki-laki tinggi besar dan berwajah gagah, mukanya dihias jenggot dan kumis lebat, berusia empat puluh tahun lebih, sedang makan minum dilayani oleh dua orang pelayan wanita muda dan di depannya duduk pula seorang wanita cantik.
Melihat wanita itu, jantung Hui Song berdebar keras dan dia kaget sekali karena dia mengenal baik wanita cantik ini yang bukan lain adalah Gui Siang Hwa, wanita yang pernah memperdayainya dan nyaris membunuhnya, murid dari Raja Iblis itu!
Dan ternyata bahwa pada saat dia mengintai, mereka sudah selesai makan.
Tiba-tiba wanita cantik itu bangkit berdiri dan berkata kepada dua orang pelayan wanita.
"Bersihkan meja!"
Lalu ia menggandeng tangan pria itu dan dengan sikap manja menariknya bangkit dari kursinya.
Pria itu hanya tersenyum dan Hui Song melihat bahwa keduanya hanya memakai pakaian tidur yang tipis dan longgar saja.
Karena dia tahu betapa lihainya Gui Siang Hwa, Hui Song merasa terheran-heran melihat hadirnya gadis iblis itu di tempat itu, cepat dia meloncat dan menyelinap ke dalam sebuah kamar yang berdekatan dengan ruangan itu karena dia melihat kamar itu terbuka daun pintunya dan kosong.
Tempat itulah yang paling baik untuk bersembunyi.
Sebelum dia menghadap Lui-goanswe, dia harus lebih dahulu menyelidiki apa artinya murid Raja Iblis itu berada di tempat ini.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia mendengar suara langkah kaki dan percakapan dua orang itu menuju ke kamar di mana dia telah bersembunyi.
Celaka, pikirnya.
Agaknya dia telah salah masuk dan yang dimasukinya agaknya malah kamar tidur mereka!
Tidak ada waktu lagi untuk keluar dari situ, maka jalan satu-satunya bagi Hui Song hanyalah bersembunyi dan cepat dia menyusup ke bawah tempat tidur.
Dan tepat seperti yang diduganya, langkah kaki itu menuju ke kamar dan dari bawah tempat tidur, di bawah kain tilam tempat tidur itu, dia dapat melihat dua pasang kaki memasuki kamar itu, lalu daun pintu ditutup dan sambil tertawa-tawa mereka berdua langsung saja menuju ke tempat tidur!
Tempat tidur berderit ketika tertimpa pinggul wanita itu yang sudah merangkul sang pria yang ditariknya duduk di sampingnya.
"Aih, manis, kenapa engkau begini tergesa-gesa? Baru saja kita habis makan..."
Kata pria itu yang bukan lain adalah Jenderal Lui Siong Tek berkata sambil tertawa menerima cumbuan wanita cantik yang bertubuh menggiurkan itu.
"Hemm, siapa sih yang kepingin? Apa kau kira aku tergesa-gesa mengajakmu tidur? Tak tahu malu..."
Dengan sikap genit wanita itu mencela.
"Ha ha ha, engkau menarikku dari meja makan, lalu kini menarik-narikku ke atas tempat tidur, mau apalagi kalau..."
"Pikiranmu memang penuh dengan itu-itu saja!"
Siang Hwa terkekeh manja dan merangkul leher pria itu.
"Aku tidak mau bicara di depan para pelayan maka aku tergesa-gesa mengajakmu masuk kamar. Bukan untuk itu, melainkan untuk bicara."
"Bicara apakah, Siang Hwa? Engkau minta apakah?"
"Lui-ciangkun, benarkah... benarkah engkau cinta padaku...?"
Jenderal itu merangkul dan menciumnya.
"Aihhh, Siang Hwa, masihkah engkau tidak yakin akan cintaku? Semenjak kita berjumpa di hutan itu, ketika aku berburu dan engkau berjalan sendirian, aku sudah menyangka engkau seorang bidadari dan aku sudah jatuh cinta padamu."
"Ciangkun, sudah sepekan lebih aku berada di sini, melayanimu dengan sepenuh hati, akan tetapi mengapa engkau belum juga mau memenuhi permintaanku, tidak mau membalaskan dendam sakit hatiku?"
"Aaahh... itu...?"
Tiba-tiba saja jenderal itu kehilangan kegembiraan dan gairahnya, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Hui Song cepat menyusup ke dalam kolong lagi, menarik kepalanya yang tadinya dikeluarkan agar dia dapat mendengar dan melihat lebih jelas, karena setelah jenderal itu duduk di tepi tempat tidur, dia akan dapat kelihatan kalau menjulurkan kepalanya.
"Ciangkun, sejak kita saling jumpa dan saling mencinta, tidak ada permintaan lebih dariku kecuali yang satu itu. Lui-ciangkun, aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu, hanya untuk itu..."
Jenderal itu mengerutkan alisnya dan kelihatan berduka.
"Sayangku, kenapa justeru itu yang kau minta? Mintalah yang lain. Apa saja tentu akan kupenuhi, kecuali itu. Aku adalah seorang panglima yang setia, yang sejak nenek moyangku menjunjung tinggi nama dan kehormatan, mana mungkin engkau memintaku agar aku memberontak terhadap pemerintah?"
Hui Song terkejut bukan main mendengar ini.
Ah, dia mengerti sekarang.
Gadis iblis ini tentu sedang melakukan tugasnya, dan tugas itu adalah menggoda dan membujuk panglima benteng Cengtek ini untuk bersekutu dengan pemberontak!
Kiranya Raja Iblis sudah mendengar akan kelemahan jenderal ini terhadap wanita cantik, maka menyuruh muridnya sendiri yang selain lihai juga cantik manis itu untuk menjebak sang jenderal dan kini Siang Hwa sedang menjalankan peranannya dengan amat baik.
Mendengar ucapan sang jenderal, Siang Hwa membujuk-bujuk lagi.
"Ciangkun, di dalam hidupku ini tidak ada lagi hal lain yang kuinginkan kecuali membalas dendam. Ayah bundaku, saudara-saudaraku semua tewas oleh pemerintah, difitnah dan dihukum mati sekeluargaku! Aku harus membalas dendam dan satu-satunya jalan hanyalah memberontak terhadap pemerintah! Ciangkun, engkau memegang kekuasaan atas puluhan ribu tentara, betapa akan mudahnya kalau engkau mau memenuhi permintaanku itu..."
"Hushhh... diamlah dan jangan bicara lagi tentang hal itu, sayang. Mudah saja kau bicara begitu. Kalau bukan engkau yang bicara, tentu sudah kutangkap atau kubunuh karena kata-katamu itu berarti pemberontakan. Dan mudah saja melawan pemerintah, ya? Apa artinya balatentara puluhan ribu ini menghadapi balatentara pemerintah yang ratusan ribu? Sudahlah, jangan melamun yang bukan-bukan dan anggap saja malapetaka yang menimpa keluargamu itu memang sudah menjadi nasibmu yang ditentukan takdir."
"Ciangkun, kiraku bukan aku saja yang mendendam kepada pemerintah. Engkau dapat mencari kawan-kawan dalam hal ini, dan aku sanggup mencarikan kawan-kawan sehaluan. Lui-ciangkun, aku... aku akan mencintamu sampai mati kalau engkau mau memenuhi permintaanku ini..."
Dan wanita itu merangkul dan menciumi. Akan tetapi tiba-tiba jenderal itu menghardik.
"Siang Hwa, cukup! Aku tidak mau bicara lagi tentang hal itu! Kau dengar baik-baik, aku adalah seorang panglima yang setia, kehormatan dan kesetiaanku lebih berat dari pada dirimu, bahkan lebih berat dari pada nyawaku sendiri, mengerti?"
Diam-diam Hui Song merasa kagum juga kepada jenderal ini.
Boleh jadi dia memiliki kelemahan terhadap wanita, mata keranjang dan menjadi hamba nafsu kelamin, akan tetapi harus diakui bahwa dia seorang laki-laki yang gagah dan teguh pendiriannya.
"Bagus! Begitukah, ciangkun? Setelah kuserahkan segala-galanya selama sepekan ini kepadamu, menyenangkan hatimu, menahan kemuakan hatiku sendiri, semua itu hanya untuk sia-sia belaka? Kalau begitu, ketahuilah bahwa aku adalah murid dari Pangeran Toan Jitong yang akan memimpin pemberontakan, dan karena penampikanmu, engkau tidak boleh hidup lebih lama lagi!"
Hui Song terkejut bukan main dan seperti kilat cepatnya dia sudah menerobos keluar dari dalam kolong tempat tidur.
Namun terlambat.
Dia mendengar jenderal itu memekik keras dan tubuh yang tinggi besar itu terguling roboh di atas lantai tanpa nyawa lagi karena jari-jari tangan gadis iblis itu telah menusuk pelipisnya!
Gui Siang Hwa telah menyambar segulung kertas dari atas meja, akan tetapi gadis itu terkejut setengah mati ketika tiba-tiba muncul seorang pemuda dari kolong tempat tidur, apalagi ketika di bawah sinar lampu ia melihat dan mengenal wajah pemuda itu.
"Kau... kau... Cia Hui Song..."
Serunya dengan suara gemetar dan muka berobah pucat.
"Perempuan jahat!"
Hui Song memaki marah karena dia melihat betapa munculnya terlambat dan jenderal itu tidak dapat ditolong lagi.
Maka diapun segera langsung menyerang ke arah wanita itu dengan maksud untuk merobohkannya dan menangkapnya, apalagi dia melihat bahwa Siong Hwa mengambil gulungan kertas yang menurut dugaannya tentu merupakan benda penting.
Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu tertawa dan tangan kirinya bergerak ke depan.
Sinar hijau yang berbau harum menyambar ke arah muka Hui Song.
Pemuda ini sudah mengenal kelicikan dan kelihaian wanita itu, maka diapun mengelak dengan lemparan diri ke kiri.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Siang Hwa untuk melompat keluar dari dalam kamar terus melarikan diri dalam keadaan masih memakai pakaian dalam dan kedua kakinya telanjang tanpa sepatu.
"Mau lari ke mana kau?"
Bentak Hui Song sambil mengejar.
Akan tetapi, suara ribut-ribut itu memancing datangnya serombongan penjaga dan Hui Song mendengar Siang Hwa berkata.
"Tolong, pengawal... Penjahat itu membunuh Lui-ciangkun..."
Karena para pengawal mengenal Siang Hwa sebagai kekasih baru Jenderal Lui, mereka percaya dan serta merta mereka menghadang dan menyerang Hui Song dengan senjata mereka!
"Perempuan itulah pembunuhnya!
Ia siluman jahat..."
Hui Song berseru, akan tetapi mana mungkin para penjaga percaya kepadanya?
Mereka tidak mengenalnya, sebaliknya, wanita itu telah mereka kenal baik sebagai kekasih atasan mereka.
Mereka mengurung sambil berteriak-teriak.
Dengan gemas Hui Song tidak mau melayani mereka, mendorong mereka roboh terpelanting ke kanan kiri dan melanjutkan pengejarannya.
Akan tetapi, serbuan para penjaga itu membuatnya terlambat dan dia sudah kehilangan jejak Siang Hwa yang sudah menghilang entah ke jurusan mana.
Hui Song membanting-banting kaki dan diapun tidak mau melanjutkan pengejarannya.
Keadean sudah amat gawat.
Tidak perlu membuang waktu.
Bagaimanapun juga, Jenderal Lui telah tewas dan dia harus menyerahkan surat dari Kok-taijin kepada wakil dari jenderal itu.
Dengan hati tabah Hui Song lalu kembali lagi ke benteng.
Tentu saja dia disambut oleh para penjaga dengan tombak di tangan.
Hui Song mengangkat tangan kanan ke atas dan berkata dengan suara nyaring.
"Sobat-sobat harap jangan salah sangka. Aku adalah tamu dari Sanhaikoan, membawa pesan dari Kok-taijin untuk Lui-ciangkun. Akan tetapi, kebetulan sekali kedatanganku melihat betapa Lui-ciangkun dibunuh oleh perempuan iblis itu..."
"Bohong! Wanita itu adalah selir Lui-ciangkun dan dia ini..."
"Tenang dulu, sobat! Pikirlah baik-baik. Di mana adanya perempuan itu sekarang? Kalau memang ia orang baik-baik, kenapa ia melarikan diri? Karena kalian menghadangku, maka aku sampai tidak berhasil menangkapnya. Lui-ciangkun telah dibunuhnya, dan ketahuilah bahwa wanita itu adalah seorang tokoh pemberontak!"
Akan tetapi para penjaga tidak mau percaya begitu saja walaupun ada di antara mereka yang mencari-cari dan tidak dapat menemukan Siang Hwa.
Di dalam gedung Lui-ciangkun sudah geger dan terdengar tangisan dari isteri-isterinya.
"Sebaliknya kalian bawa aku menghadap wakil dari Lui-ciangkun. Biar yang menentukan apakah aku bersalah atau tidak!"
Usul ini dapat diterima oleh para penjaga dan dengan pengawalan ketat, Hui Song digiring masuk ke dalam benteng dan dihadapkan kepada Bhe-ciangkun yang menjadi wakil dari Lui-ciangkun.
Bhe-ciangkun adalah seorang panglima yang sudah berpengalaman dan usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Sekali pandang saja dia dapat menduga bahwa yang dibawa menghadap padanya adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan memiliki kepandaian tinggi, juga sikapnya tabah dan gagah, sama sekali tidak membayangkan watak yang jahat.
Dengan jujur Hui Song membuat laporan di depan panglima itu.
"Harap ciangkun maafkan bahwa saya telah menimbulkan keributan dan salah sangka. Saya adalah utusan pribadi dari Kok-taijin di Sanhaikoan, membawa surat untuk Lui-goanswe. Karena tidak ingin membuang waktu, malam-malam saya langsung memasuki benteng hendak menghadap Lui-goanswe. Akan tetapi, saya melihat seorang wanita yang saya kenal, yaitu Gui Siang Hwa. Ia adalah murid Raja Iblis yang sedang menghimpun para datuk sesat untuk memberontak, maka kehadirannya di Cengtek tentu saja membuat saya heran dan curiga. Demikianlah, saya melakukan pengintaian di kamar Lui-goanswe dan tak saya sangka-sangka, iblis perempuan itu membunuh Lui-goanswe ketika rayuan dan bujukannya terhadap panglima itu agar ikut memberontak ditolak oleh Lui-goanswe. Dan ia pergi membawa gulungan kertas dari dalam kamar. Saya mengejarnya, akan tetapi para penjaga salah sangka dan tertipu oleh perempuan jahat itu, sehingga ia dibiarkan pergi dan saya malah yang dikeroyok."
Dengan tenang Bhe-ciangkun mendengarkan pula laporan para penjaga dan mendengar bahwa memang ternyata wanita bernama Gui Siang Hwa itu telah lenyap dan wanita itu pergi dalam keadaan setengah telanjang.
Bhe-ciangkun menerima surat kiriman dari Kok-taijin.
Begitu membaca surat itu, wajahnya berobah dan dia lalu mengajak Hui Song untuk masuk ke dalam sebuah kamar untuk diajak bicara empat mata.
Tentu saja para penjaga merasa heran dan baru mereka tahu bahwa mereka tadi telah salah tangkap.
Sementara itu, setelah tiba di dalam kamarnya bersama Hui Song, Bhe-ciangkun berkata.
"Ah, kiranya pengkhianat Ji Sun Ki itu bersekongkol dengan pemberontak?"
Hui Song mengangguk.
"Dia malah merencanakan dengan para pemberontak untuk membujuk Kok-taijin, akan tetapi tidak berhasil. Agaknya mereka akan menguasai Sanhaikoan untuk dijadikan basis gerakan pemberontakan mereka. Karena itu, Kok-taijin mengharap bantuan pasukan dari sini, ciangkun."
Hui Song lalu menceritakan semua tentang sayembara dan bagaimana dia memasuki sayembara karena curiga dan kemudian dia membantu Kok-taijin.
"Hemm, agaknya para tokoh pemberontak itu berusaha keras untuk mempengaruhi pula Lui-goanswe dan ketika mereka tidak berhasil, Lui-goanswe dibunuh dan gulungan kertas itu adalah catatan keadaan kekuatan di benteng ini. Sungguh berbahaya sekali. Cia-sicu, jasamu besar sekali dan jangan khawatir, aku akan mempersiapkan pasukan besar untuk sewaktu-waktu menggempur pasukan Ji-ciangkun kalau dia benar-benar berani memberontak."
"Terima kasih, ciangkun. Tugas saya di sini sudah selesai. Saya mengkhawatirkan keadaan di Sanhaikoan, maka saya akan kembali ke sana secepatnya."
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi Hui Song kembali ke Sanhaikoan dan Bhe-ciangkun memberi seekor kuda yang baik, lengkap dengan satu stel busur dan anak panah yang memang diminta oleh Hui Song sekedar untuk penjagaan diri karena dia maklum bahwa setelah dirinya terlihat oleh Siang Hwa, bukan tidak mungkin gadis itu mempersiapkan teman-temannya untuk menghadangnya apabila dia kembali ke Sanhaikoan.
Kekhawatiran Hui Song itu sama sekali tidak terbukti.
Dia tidak tahu bahwa pada saat itu, Siang Hwa dan kawan-kawannya sedang sibuk untuk suatu urusan yang lebih penting lagi, yaitu persiapan untuk menguasai benteng Sanhaikoan!
Hal ini terjadi di luar sangkaan dan perhitungan Hui Song.
Tak disangkanya bahwa secepat itu Ji-ciangkun akan bergerak untuk merampas dan menguasai benteng untuk kaum pemberontak.
Dipercepatnya pengambil-alihan benteng Sanhaikoan oleh para pemberontak ada hubungannya dengan pertemuan antara Hui Song dan Siang Hwa di dalam kamar Lui-ciangkun di Cengtek itu.
Setelah bertemu dengan Hui Song dan menyampaikan berita ini secepatnya kepada gurunya dan Raja Iblis juga segera minta kepada Ji-ciangkun untuk bergerak pada hari itu juga!
Raja Iblis dapat menduga bahwa munculnya Cia Hui Song di Cengtek itu tentu ada hubungannya dengan Kok-taijin, bahkan dia hampir yakin bahwa pemuda itu yang menjadi pengawal pribadi Kok-taijin itu tentu menjadi utusan gubernur Sanhaikoan untuk minta bantuan kepada benteng Cengtek!
Karena desakan yang mendadak ini, Ji-ciangkun menjadi sibuk.
Dia belum melaksanakan rencananya menculik Kok Hui Lien, anak perempuan dari Kok-taijin itu.
Karena desakan Raja Iblis, mau tidak mau harus mempergunakan kekerasan.
Demikianlah, pada hari itu juga dia mengerahkan pasukannya untuk mengepung gedung Kok-taijin.
Gubernur ini yang sudah siap siapa menghadapi segala kemungkinan, segera mengumpulkan para pengawalnya.
Pasukan pengawal yang berada di luar gedung segera berkumpul dan menjaga rumah majikan mereka dengan ketat.
Ji-ciangkun masih hendak mempergunakan bujukan.
Setelah gedung dikepung, dia menyampaikan pesan kepada gubernur itu melalui para pengawal, agar sang gubernur menyerah saja dari pada harus diserbu dengan kekerasan.
Akan tetapi Gubernur Kok membalas dengan makian dan semua pengawalnya juga siap untuk melindunginya.
Terjadilah penyerbuan yang dilakukan oleh pasukan Ji-ciangkun.
Akan tetapi, para pengawal melakukan perlawanan dengan gagah perkasa sehingga terjatuhlah banyak korban di antara kedua pihak.
Sampai sehari lamanya, gedung Kok-taijin masih dapat dipertahankan oleh para pengawal walaupun jumlah mereka sudah banyak berkurang dan gedung itu masih tetap dikurung.
Dalam keadaan seperti itulah Hui Song muncul.
Dari para penghuni Sanhaikoan yang lari mengungsi keluar kota, dia mendengar akan terjadinya pertempuran antara pasukan Ji-ciangkun melawan para pengawal Kok-taijin dan bahwa gedung gubernur telah dikepung pasukan Ji-ciangkun.
Maka diapun membalapkan kudanya dan ketika dia memasuki pintu gerbang kota benteng itu, keadaan masih kacau-balau.
Hui Song tidak perduli dan terus membedal kudanya menuju ke gedung Gubernur Kok.
Dia menerjang semua perajurit yang berani menghalanginya dan ketika para pengawal Gubernur Kok mengenalnya, mereka membukakan pintu dan membiarkan Hui Song memasuki pintu gerbang yang mereka jaga ketat.
Sedih juga hati Hui Song melihat betapa mayat para pengawal sudah bertumpuk-tumpuk dan berserakan, dan betapa besar jumlah pasukan Panglima Ji yang mengepung rumah gedung itu.
Melihat perbandingan jumlah pasukan, jelaslah bahwa tak mungkin pihak gubernur akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Dia segera menghadap Kok-taijin yang berkumpul di ruangan dalam bersama keluarganya.
Keluarga gubernur itu sudah menangis dan nampak ketakutan, hanya sang gubemur yang masih bersikap tenang dan tabah, walaupun wajahnya juga pucat sekali.
"Cia-sicu..."
Gubemur itu girang sekali melihat Hui Song dan merangkulnya.
"Ah, engkau dapat datang juga? Bagaimana dengan tugasmu?"
Dengan singkat dan cepat Hui Song menceritakan pengalamannya dan bahwa Bhe-ciangkun di Cengtek sudah menyanggupi untuk mengirim pasukan.
Akan tetapi dia menambahkan bahwa dia dan mereka yang berada di Cengtek sama sekali tidak menduga bahwa pengkhianat Ji Sun Ki akan bertindak demikian cepatnya, sehingga tentu saja bantuan dari Cengtek tidak dapat diharapkan akan datang hari ini.
Mendengar ini, sang gubernur menarik napas panjang dan menjatuhkan diri di atas kursi dengan lemas.
Para keluarga wanita makin keras menangis ketika mendengar bahwa tidak ada harapan datangnya pertolongan.
"Diam! Jangan menangis lagi!"
Bentak sang gubernur.
Suara tangisan itu membuat dia semakin bingung.
Kemudian dia menoleh kepada Hui Song dan berkata.
"Biarlah, kalau mereka terlambat datang, aku akan memimpin semua pengawalku melakukan perlawanan sampai titik darah terakhir!"
"Taijin, saya mempunyai usul. Bagaimana kalau taijin menyelamatkan diri keluar dari Sanhaikoan? Biarlah saya yang akan mengawal taijin menyelamatkan diri, dibantu oleh pasukan pengawal."
Gubernur itu menggeleng kepala.
"Tidak ada gunanya, sicu. Mana mungkin menyelamatkan seluruh keluarga yang begini besar keluar dengan selamat? Dan engkau tentu akan repot sekali, tidak mungkin dapat melindungi kami semua. Pula, sebagai seorang gubernur, mana aku ada muka untuk melarikan diri ketakutan seperti anjing mau disembelih? Tidak, aku akan tetap bersama kcluargaku di sini, akan kuhadapi semua dengan tabah. Lebih baik aku tewas sebagai seorang pejabat yang membela kehormatannya sampai akhir dari pada harus lari terbirit-birit ketakutan. Hanya ada satu permintaanku kepadamu, sicu. Kau selamatkanlah Hui Lian, anakku satu-satunya ini."
Dan gubemur itu menuntun tangan Hui Lian, ditariknya ke depan Hui Song.
Hui Song yang baru beberapa hari lamanya berdekatan dengan gubernur itu, sudah dapat mengenal wataknya yang gagah dan teguh, maka diapun tahu bahwa berbantah tidak akan ada gunanya.
Di samping itu, diapun menyangsikan apakah dia dan para pengawalnya akan berhasil kalau hendak menyelamatkan gubemur itu sekeluarganya karena pihak musuh terlampau banyak dan kalau kereta yang membawa gubernur itu dihujani snak panah, bagaimana pula dia akan dapat melindungi mereka?
Berbeda halnya kalau hanya menyelamatkan satu orang saja, apalagi yang bertubuh kecil seperti anak perempuan ini.
Dan diapun tahu akan hati seorang ayah seperti Gubernur Kok, yang lebih senang melihat puterinya selamat dari pada dirinya sendiri.
"Baik, taijin, akan saya coba untuk menyelamatkan adik ini,"
Katanya sambil memegang tangan anak perempuan itu.
Anak itu tidak nampak ketakutan karena agaknya ia belum mengerti benar apa sebetulnya yang sedang terjadi.
Rambutnya yang hitam diikat menjadi dua di atas kepalanya, seperti sepasang sayap burung saja dan ia memakai pita merah.
Ia tersenyum ketika tangannya digandeng Hui Song yang biarpun belum dikenalnya benar, namun agaknya ia tahu bahwa orang ini adalah sahabat ayahnya.
Akan tetapi ketika Hui Song menggandengnya dan mengajaknya keluar dari ruangen itu, anak itu menangis.
"Ayah..., Ibu..., Aku ikut ayah dan ibu..."
Ibunya menangis, akan tetapi Kok-taijin memberi isyarat kepada Hui Song untuk membawa anak itu keluar.
Hui Song lalu mengangkat dan memondongnya.
Anak itu meronta-ronta, akan tetapi tidak berdaya dalam pondongan Hui Song.
"Diamlah, adik yang manis, kita keluar untuk menyelamatkanmu. Marilah!"
Hui Song membujuk dengan halus. Dia lalu berlari keluar dan meloncat ke atas punggung kudanya.
"Adik yang manis, kau rangkullah leherku dan kugendong di belakangku. Jangan takut, aku akan menyelamatkanmu,"
Katanya dan diapun sudah mengambil busur dan mempersiapkan anak panahnya, lalu membedal kudanya keluar.
Para pengawal sudah tahu bahwa pemuda ini bertugas menyelamatkan puteri sang gubernur, maka mereka melindunginya dengan anak panah yang mereka luncurkan ke depan.
Pertempuran sudah terjadi lagi dan kini Hui Song membalapkan kudanya di antara pertempuran.
Dia dihujani anak panah, akan tetapi semua itu dapat dia runtuhkan dengan busurnya dan Kadang-kadang diapun melepas anak panah merobohkan beberapa orang perajurit musuh yang berani menghadang.
Kadang-kadang dia menggunakan tangan atau tendangan kakinya merobohkan musuh yang berani mendekat.
Kebakaran-kebakaran terjadi ketika para perajurit Ji-ciangkun menghujankan panah api ke arah gedung.
Hui Song melompati pagarpagar yang terbakar dengan kudanya.
Ketika ada beberapa batang anak panah menyambar dari atas, dia membalas dengan anak panahnya, dan robohlah dua orang perajurit yang menyerangnya dari atas benteng.
Dan para petajurit agaknya gentar juga menyaksikan sepak terjangnya, karena siapapun yang menghalang di depannya, kalau tidak terpelanting ditabrak kuda pendekar itu, tentu roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya.
Akhirnya, biarpun dengan susah payah, berhasillah Hui Song membawa anak perempuan itu keluar dari pintu gerbang Sanhaikoan.
Legalah hatinya dan dia terus membalapkan kudanya memasuki sebuah hutan.
Akan tetapi, tiba-tiba ada benda-benda berkilauan menyambarnya dengan kecepatan luar biasa.
Hui Song terkejut sekali dan sambil memondong tubuh Hui Lian, dia meloncat turun dari atas punggung kudanya.
Kuda itu ketakutan, sejak tadi memang kuda itu sudah panik di antara pertempuran yang terjadi di Sanhaikoan, setelah dia terbebas dari beban penunggangnya, dia membalap melarikan diri.
Setelah meloncat turun dan menengok ke kanan dari mana pisau-pisau terbang tadi menyambar, tahulah dia siapa yang tadi menyerangnya.
Si pisau terbang Huito Cinjin sudah berdiri di situ, bersama Kangthouw Lomo si gendut dan tak ketinggalan pula Gui Siang Hwa!
Mereka bertiga berdiri di situ dan memandang kepadanya dengan senyum mengejek.
"Hemm, kembali si tampan gagah putera ketua Cin-Ling-Pai mencampuri urusan kita,"
Kata Siang Hwa biarpun suaranya mengandung ejekan, namun sinar matanya tidak dapat menyembunyikan perasaan kagum dan sukanya kepada pendekar yang tampan dan gagah itu.
"Ha ha ha, sekali ini kita tidak boleh membiarkan tikus ini terlepas!"
Kangthouw Lomo tertawa dan Huito Cinjin yang merasa penasaran karena serangan pisau-pisau terbangnya tadipun gagal, kini sudah mencabut sepasang belatinya dan siap untuk menyerang dengan sikap mengancam.
Hui Lian yang berada dalam gendongan Hui Song, ketakutan dan menangis.
Anak itu mulai memanggil-manggil ayah ibunya dan kembali Siang Hwa tertawa.
"Hihik, kiranya Cia Hui Song yang gagah perkasa itu kini menjadi seorang pangasuh anak-anak."
Dan kini wanita itu mengeluarkan sebatang pedang yang tadi terselip di punggungnya dan suaranya menjadi keren dan ganas ketika ia berkata.
"Tidak, sekali ini dia tidak boleh lolos. Pekerjaanku di Cengtek hampir saja gagal karena campur tangannya."
Kangthouw Lomo juga sudah mengambil guci araknya dan membuka tutup guci, minum araknya sambil menyeringai.
Hui Song maklum bahwa dia kini menghadapi tiga orang musuh besarnya yang pernah hampir menewaskannya di dalam Guba Iblis Neraka.
Selain maklum akan kelihaian dan kecurangan mereka, juga dia ingin sekali membalas kelicikan mereka ketika di dalam gua dahulu itu.
Sekali ini dia harus dapat membasmi tiga orang iblis ini, karena kalau tidak, mereka ini hanya akan menimbulkan kekacauan-kekacauan saja di dalam dunia.
Maka, diapun segera menurunkan anak perempuan itu, melepaskannya di bawah sebatang pohon tidak jauh dari situ.
"Adik yang baik, kau duduklah di sini dulu, dan jangan pergi ke manapun,"
Katanya.
Anak itu berhenti menangis dan duduk sambil memeluk batang pohon, seolah-olah hendak mencari perlindungan pada sebatang pohon yang kokoh kuat itu.
Setelah melepaskan anak itu, Hui Song merasa lega dan dia lalu dengan senyum di bibir, sikapnya tenang dan tabah sekali, menghampiri tiga orang musuh yang sudah siap mengeroyoknya itu.
"Huito Cinjin, Kangthouw Lomo dan Gui Siang Hwa, kalian ini tiga orang manusia berhati iblis, jangan harap akan dapat melakukan kecurangan lagi kepadaku. Sekali ini aku akan menghajar dan menghukum kalian yang sudah terlalu banyak melakukan dosa!"
Pendekar ini memang tidak pernah membawa pedang dan sudah biasa menghadapi lawan yang tangguh dengan tangan kosong saja.
Bagi seorang pendekar seperti Hui Song yang sudah mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Cin-Ling-Pai, bertangan kosongpun tidak kurang berbahayanya dari pada kalau dia bersenjata dan setiap benda bisa saja menjadi senjata baginya.
Tiga orang lawan yang sudah memegang senjata andalan mereka masing-masing itu melihat Hui Song melangkah maju tanpa senjata, diam-diam merasa gentar juga.
Orang yang sudah berani maju bertangan kosong, apalagi dengan sikap sedemikian tenangnya, tentu memiliki ilmu silat yang amat tinggi.
Dan merekapun sudah pernah menguji kehebatan ilmu silat pemuda ini, maka kini mereka bertiga bersikap hati-hati dan diam-diam mereka mempersiapkan senjata rahasia masing-masing.
Namun, gerakan mereka itu sudah diketahui oleh Hui Song.
Apalagi pemuda ini sudah mengenal kecurangan mereka.
Kalau dia teringat kepada gadis yang menjadi pujaan hatinya, Sui Cin, yang sekarang entah berada di mana, yang mengalami gegar otak dan kehilangan ingatannya, bahkan nyaris tewas ketika terkena sambitan batu yang dilontarkan oleh Kangthouw Lomo, dia merasa sakit hati sekali.
Sekali ini dia harus mampu membalaskan penderitaan Sui Cin dan dia sendiri, juga melenyapkan tiga orang manusia jahat ini dari permukaan bumi berarti mengurangi terjadinya kejahatan yang timbul dari perbuatan mereka.
"Bocah sombong, bersiaplah untuk mampus!"
Tiba-tiba Huito Cinjin menyerang dengan kedua pisaunya.
Gerakannya memang cepat dan lengannya yang panjang itu bergerak dari atas bawah dan kanan kiri, ujung pisaunya yang runcing tajam menyambar-nyambar seperti patukan maut.
Namun, dengan lincahnya Hui Song mengelak dan menangkis hantaman Kangthouw Lomo yang sudah menyusul pula dengan serangan hantaman ciu-ouw di tangannya.
"Dess..."
Tangkisan Hui Song membuat tubuh gendut itu terhuyung dan pada saat itu nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu pedang di tangan Siang Hwa telah menyambar ke arah leher Hui Song.
"Mampuslah kau!"
Bentak Siang Hwa dan pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika menyambar lewat karena dengan mudah saja Hui Song dapat mengelak dengan merendahkan dirinya sedangkan kaki kanan pemuda itu sudah meluncur ke kanan, menghantam ke arah perut gendut Kangthouw Lomo.
Kakek ini terkejut dan menangkis dengan tangan kirinya yang dimiringkan sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukkk..."
Kembali kakek itu terhuyung.
Terkejutlah kakek gendut ini.
Dia adalah seorang tokoh Cap-sha-kui, yang terkenal memiliki tenaga besar, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja sudah dua kali dia terhuyung karena terdorong oleh kekuatan besar sekali dalam pertemuan tenaga itu.
Hal ini tidaklah mengherankan.
Hui Song telah mewarisi tenaga sakti Thian-te Sin-ciang dari ayahnya dan ketika dia digembleng selama tiga tahun oleh Dewa Kipas Siangkiang Lojin, tenaganya itu bertambah kuat saja.
Terjadilah perkelahian yang amat seru antara Hui Song dengan ketiga orang pengeroyoknya.
Biarpun tiga orang lawannya mempergunakan senjata, Hui Song sama sekali tidak nampak terdesak.
Dengan mudahnya dia dapat mengelak dari semua seranan, atau Kadang-kadang menangkis dengan lengannya yang tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan senjata lawan.
Bahkan jari-jari tangan pemuda ini berani menangkis pedang di tangan Siang Hwa, membuat gadis itu terpekik kagum dan kaget karena jari-jari tangan pemuda itu kalau menangkis pedang, membuat pedangya terpental dan mengeluarkan suara berdencing seolah-olah pedangnya bertemu dengan baja.
Hui Song sama sekali tidak terdesak, bahkan diapun dapat membagi-bagi pukulan atau tendangan sebagai balasan.
Badan pemuda itu Kadang-kadang dilindungi ilmu kekebalan yang luar biasa kuatnya, yaitu ilmu kebal Tiat-po-san yang membuat kulitnya tidak tembus oleh bacokan senjata tajam.
Karena ini, biarpun beberapa kali pisau atau pedang mengenai tubuhnya karena dia memang tidak merasa perlu untuk menghindarkan diri, senjata-senjata tajam itu bertemu dengan kulit dan membalik.
Hanya baju pemuda itu saja yang robek oleh senjata-senjata tajam itu.
Dan permainan ilmu silat sakti Thai-kek Sin-kun yang mempunyai daya tahan amat kuat itu membingungkan tiga orang lawannya, membuat mereka sukar sekali mencari tempat lowong, seolah-olah seluruh tubuh pemuda itu dilindungi oleh bayangan lengan yang merupakan benteng yang kokoh kuat.
Huito Cinjin menjadi penasaran dan tidak sabar.
Dia mengeluarkan pekik nyaring dan ada tiga sinar berkelebat terbang ke arah Hui Song.
Itulah tiga batang pisau terbang yang dilepasnya kepada pemuda itu.
"Tring tring tringg..."
Jari-jari tangan Hui Song menyambut dengan sentilansentilan dan tiga batang pisau terbang itu membalik ke arah pemlliknya!
Nyaris leher Huito Cinjin terkena pisaunya sendiri kalau dia tidak cepat merendahkan tubuhnya.
Akan tetapi pada saat dia merendahkan tubuh, tiba-tiba tubuh Hui Song berkelebat datang dan sebuah tendangan kaki kiri pendekar muda itu tidak mampu dihindarkan oleh si kakek yang berpakaian tosu itu, walaupun dia mencoba mengelak dengan miringkan tubuhnya.
"Dess..."
Pinggulnya disambar kaki Hui Song dan kakek ini terlempar dan terbanting jatuh.
Dia menyeringai karena merasa pinggulnya nyeri sekali dan ketika dia bangkit bangun dan berjalan, langkahnya terpincang-pincang.
Hanya kemarahan dan rasa malu yang membuat dia nekat menyerang lagi dengan sepasang pisaunya.
Guci arak di tangan si gendut Kangthouw Lomo menyambar ke arah dada Hui Song.
Pemuda ini tidak ingin berkelahi terlalu lama karena kalau dia tidak cepat merobohkan mereka ini mungkin teman-teman mereka akan datang atau andaipun tidak, dia akan berada dalam ancaman bahaya kalau sampai ada pengejaran dari pasukan anak buah Ji-ciangkun.
Maka, melihat datangnya guci arak yang menyambar ke dadanya, dia cepat mengerahkan tenaga Tiat-po-san melindungi dadanya.
Pada saat guci itu menghantam dadanya, dia membarengi tamparan tangan kanannya dengan tenaga Thian-te Sin-ciang ke arah perut gendut itu.
"Bunggg..."
Terdengar perut itu berdengung ketika terkena hantaman dan tubuh si gendut itu terjengkang dan terguling-guling sampai jauh.
Akan tetapi, ternyata dia juga memiliki kekebalan bukan hanya di kepalanya, melainkan juga di perutnya.
Perutnya itu kuat seperti bola karet yang penuh hawa, Maka ketika kena hantaman Thian-te Sin-ciang, isi perut itu tidak terluka hanya tubuhnya saja yang terlempar dan hanya terasa nyeri karena babak-belur saja terguling-guling.
Kakek berbaju hwesio ini bangkit dan mukanya berobah merah karena malu dan marah.
Dia tertatih-tatih maju lagi mengayunayun guci araknya di atas kepala.
Sementara itu, melihat betapa dua orang pembantunya sempat dirobohkan Hui Song, Siang Hwa menjadi marah.
Gerakan pedangnya semakin gencar dan ia menerjang ke depan bagaikan kesetanan dan tiba-tiba tangan kirinya mengebutkan saputangan merah yang mengandung racun pembius itu.
Akan tetapi sekali ini, Hui Song sudah bersiap-siap.
Dia menahan napas dan meniup ke arah debu yang mengepul dari sapu tangan dan buyarlah debu itu, bahkan membalik ke arah Siang Hwa sendiri.
"Keparat!"
Siang Hwa berteriak marah. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring Huito Cinjin.
"Cia Hui Song, hentikan perlawananmu atau anak ini akan kusembelih!"
Hui Song terkejut bukan main.
Dia meloncat mundur dan ketika menengok ke arah suara itu, mukanya berobah pucat.
Kiranya Huito Cinjin sudah menjambak rambut anak perempuan itu dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya yang memegang pisau tajam berkilauan itu ditempelkan di leher anak kecil yang mulai menangis ketakutan itu!
"Jahanam busuk!
Lepaskan anak itu dan mari kita bertanding sampai satu di antara kita roboh tewas!"
Hui Song membentak marah akan tetapi tosu itu menyeringai.
"Kau menyerah atau anak ini kusembelih lebih dulu... aihhhh..."
Tiba-tiba tosu itu menjerit dan terhuyung, dari lambungnya bercucuran darah segar dan diapun terguling roboh dan berkelojotan.
Kiranya diam-diam muncul seorang pria yang menggunakan pedang menusuk lambung kakek berpakaian tosu itu.
Gerakannya demikian aneh dan cepat sehingga tosu itu tidak sempat mengelak dan kini dia menyelipkan pedangnya di sarung pedang, kemudian menyambar tubuh Kok Hui Lian dengan lengan kanannya lalu dia melompat pergi dari situ tanpa mengeluarkan sepatahpun kata.
"Ciang-suheng..."
Hui Song berseru, kaget dan juga girang.
Dia mengenal orang yang lengan kirinya buntung itu karena orang itu adalah Ciang Su Kiat, bekas murid Cin-Ling-Pai yang membuntungi lengan kiri sendiri karena dipersalahkan oleh ketua Cin-Ling-Pai.
Akan tetapi, laki-laki buntung sebelah lengannya itu tidak menjawab, menolehpun tidak, bahkan berlari semakin cepat.
Larinya cepat sekali sehingga mengagetkah hati Hui Song yang dapat menduga bahwa bekas suhengnya itu kini memiliki kepandaian tinggi.
Tentu saja Kangthouw Lomo dan Siang Hwa terkejut sekali melihat betapa kawan mereka tewas secara tidak terduga-duga, hanya karena serangan satu kali saja dari orang buntung tadi.
Akan tetapi mendengar Hui Song menyebut "suheng"
Kepada orang itu, tentu saja mereka terkejut dan gentar.
Baru Hui Song sudah begini lihai, apalagi suhengnya!
0rangorang yang berwatak kejam biasanya berjiwa pengecut.
Tanpa banyak kata lagi, dua orang itu lalu membalikkan tubuhnya dan lari!
Melihat ini, Hui Song mengejar.
"Keparat, kalian hendak lari ke mana?"
Bentaknya dan diapun mengerahkan ginkangnya melakukan pengejaran.
Semenjak berlatih di bawah bimbingan Si Dewa Kipas, ilmu meringankan tubuh pemuda ini memang meningkat dengan hebat.
Belum lama dia mengejar, dia sudah dapat menyusul Kangthouw Lomo yang larinya tidak secepat Siang Hwa.
"Iblis tua, engkau hendak lari ke mana?"
Hui Song membentak.
Karena maklum bahwa lari tiada gunanya, Kangthouw Lomo menjadi nekat.
Dia membalik dan menghantamkan guci araknya ke arah muka Hui Song.
Pemuda yang sudah marah ini tidak mengelak, bahkan menggunakan tangan kanan yang terbuka memapaki pukulan itu dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Prokkk..."
Guci arak itu pecah berantakan dan isinya, setengahnya masih berisi arak, berhamburan memercik ke mana-mana dan terciumlah bau arak yang sangat menyengat hidung.
Melihat senjatanya yang amat disayangnya itu pecah, Kangthouw Lomo marah bukan main.
Dia lalu melangkah mundur dan menundukkan kepalanya, Tubuhnya direndahkan dan seperti seekor kerbau mengamuk, dia lalu lari ke depan, menggunakan kepalanya yang botak itu untuk menyeruduk ke arah perut Hui Song!
Hebat bukan main serangan ini dan agaknya kakek yang sudah putus harapan dan nekat ini mempergunakan senjatanya yang terakhir, yaitu kepalanya.
Kepalanya memang sudah terlatih, dapat membentur pecah batu karang, kuat bukan main.
Hui Song belum tahu sampai di mana kekuatan yang berada dalam kepala itu, maka diapun tidak mau sembrono menerima serudukan itu begitu saja.
Cepat dia miringkan tubuhnya dan ketika kepala botak itu meluncur lewat dekat perutnya, dia menggerakkan tangan kanannya, mengerahkan Thian-te Sin-ciang dan tangan kanannya itu seperti sebatang golok atau sebuah palu godam menyambar turun dari atas, tepat ke arah tengkuk di belakang kepala botak besar itu.
"Ngekkk..."
Tengkuk itu besar dan kuat seperti tengkuk kerbau, akan tetapi kekuatan yang berada di tangan Hui Song amat hebat.
Maka sekali pukul saja, kakek itu mengeluh dan terpelanting roboh dan matanya mendelik, nyawanya putus bersama dengan patahnya tulang tengkuknya!
Tewaslah Kangthouw Lomo.
Hui Song sejenak meragu.
Siapakah yang harus dikejar?
Siang Hwa ataukah bekas suhengnya?
Siang Hwa sudah tidak nampak lagi dan dia tahu betapa lihainya wanita itu.
Kalau sampai wanita itu mendahuluinya mencapai guru-gurunya, dia akan celaka.
Bagaimanapun lihainya, dia masih ragu-ragu apakah dia akan dapat menandingi Raja dan Ratu Iblis yang dia tahu sakti bukan main itu.
Dan diapun mengkhawatirkan keselamatan puteri gubernur, maka dia mengejar ke arah larinya Ciang Su Kiat.
Akan tetapi, iapun kehilangan jejak bekas suhengnya ini dan akhirnya dia menghibur hatinya sendiri bahwa puteri gubernur itu tentu selamat berada di tangan Ciang Su Kiat yang dia yakin memiliki jiwa pendekar yang gagah perkasa.
Maka diapun lalu kembali ke Sanhaikoan untuk melihat bagaimana perkembangan di kota benteng itu.
Akan tetapi, dia tidak dapat masuk.
Sanhaikoan sudah jatuh ke tangan pasukan Ji-ciangkun yang memberontak!
Dan pintu gerbang dijaga ketat.
Juga di atas tembok-tembok benteng terdapat barisan anak panah yang siap menyerang siapa saja yang berani naik.
Apa gunanya lagi memasuki Sanhaikoan, pikirnya.
Keluarga gubernur telah terbasmi dan dari para pengungsi dia mendengar bahwa gubernur sekeluarganya telah tewas dalam gedungnya yang terbakar habis.
Sebagian dari pasukan pengawal menyerah kepada pasukan Ji-ciangkun dan pembersihan masih terus dilakukan.
Siapapun juga yang mencurigakan ditangkap, dan yang condong memihak Kok-taijin dibunuh.
Kekacauan terjadi di kota Sanhaikoan dan karena dia sudah dikenal sebagai pengawal pribadi Kok-taijin, tentu saja Hui Song tidak begitu bodoh untuk memasuki kota itu.
Dia lalu mengambil keputusan untuk kembali ke Cengtek dan mengabarkan jatuhnya Sanhaikoan ke tangan pemberontak itu kepade Bhe-ciangkun yang kini menjadi komandan sementara di Cengtek menggantikan kepalanya yang telah tewas.
Mendengar tentang jatuhnya Sanhaikoan itu, Bhe-ciangkun tidak berani sembarangan turun tangan dan segera mengutus anak buahnya untuk cepat menunggang kuda ke kota raja dan mengirimkan berita ke kota raja, menanti keputusan dan perintah selanjutnya dari pusat pemerintahan mengenai pemberontakan Ji-ciangkun itu.
Pemuda yang berjalan seorang diri di luar Tembok Besar itu amatlah gagahnya.
Usianya masih muda, paling banyak dua puluh dua tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tenang serius sehingga dia nampak jauh lebih dewasa dari pada usia yang sebenarnya.
Rambutnya yang hitam dan lebat itu dikuncir tebal dan panjang, dikalungkan ke lehernya yang nampak kokoh kuat itu.
Pakaiannya amat sederhana, terbuat dari kain kasar saja, namun bersih dan di sebelah luarnya dia mengenakan jubah pendek terbuat dari kulit harimau.
Dandanan sederhana dan gagah ini memberi kesan bahwa dia adalah seorang pemuda yang gagah, seorang pendekar muda atau setidaknya seorang pemburu, atau orang yang biasa hidup menghadapi kesukaran dan kekerasan.
Sinar matanya tajam mencorong dan membayangkan kekerasan hati, walaupun terdapat kelembutan dan kejujuran, terutama pada bentuk dagu dan tarikan mulutnya.
Pemuda tinggi tegap yang gagah perkasa ini adalah Siangkoan Ci Kang yang pada waktu itu sudah berusia dua puluh satu tahun.
Seperti telah kita ketahui, pemuda ini adalah putera tunggal dari mendiang Siangkoan Lojin yang berjuluk Iblis Buta yang merupakan seorang datuk kaum sesat yang amat ditakuti.
Akan tetapi, datuk sesat ini tewas di tangan Ratu Iblis.
Dan sebelumnya, seperti telah diceritakan di bagian depan, Ci Kang melarikan diri dari ayahnya setelah antara anak dan ayah ini terdapat bentrokan paham, bahkan oleh para tokoh Cap-sha-kui pemuda itu dianggap musuh yang harus ditangkap atau dibunuh.
Kemudian, pemuda ini bertemu dengan Ciu-sian Lokai, tokoh sakti yang berpakaian pengemis itu, dan digembleng sebagai muridnya.
Di bawah bimbingan Ciu-sian Lokai, bakat dan watak yang baik dan gagah pemuda ini berkembang, bahkan Ciu-sian Lokai, seperti telah diadakannya perjanjian dan perlombaan mendidik murid dengan Gobi Sanjin, telah menanamkan pandangan hidup Cia Han Tiong, ketua Pek-Liong-Pang di Lembah Naga, kepada muridnya itu.
Maka, biarpun Ci Kang terlahir di kalangan sesat dan sejak kecil bergaul dengan datuk-datuk sesat, melihat segala macam tindakan yang kejam, ganas dan curang, kini dapat melihat dengan jelas betapa buruknya kehidupan di antara teman-teman ayahnya itu.
Jiwa kependekarannya semakin bangkit dan biarpun dia tetap ingin menentang segala bentuk kejahatan, Namun dia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk meluruskan yang bengkok, menyadarkan yang sesat, dan bukannya mematahkannya atau membunuhnya, sesuai dengan pesan-pesan Ciu-sian Lokai yang mentrapkan pandangan hidup Cia Han Tiong kepada muridnya ini.
Setelah lewat tiga tahun, Ciu-sian Lokai menyuruh muridnya untuk pergi ke Benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar.
Gurunya itu memberi tahu kepadanya bahwa di tempat ini akan diadakan pertemuan para pendekar untuk membicarakan tentang bangkitnya para datuk sesat yang hendak mengadakan gerakan bemberontakan dan pemuda itu ditugaskan oleh gurunya untuk ikut pula menentang usaha para datuk sesat.
Berangkatlah Ci Kang meninggalkan gurunya akan tetapi bagaimanapun juga, dia teringat akan ayahnya yang sudah tua dan buta.
Biarpun ayahnya menjadi seorang datuk sesat, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang anak terhadap ayahnya membuat Ci Kang lebih dahulu pergi mengunjungi ayahnya di Pohai, Sensi, sebelum dia melakukan perjalanan keluar Tembok Besar di utara.
Akan tetapi, dia tidak dapat bertemu dengan ayahnya, bahkan dia mendengar berita bahwa ayahnya telah tewas di tangan Raja dan Ratu Iblis, datuk sesat baru yang kini menguasai seluruh datuk sesat ketika terjadi pertemuan antara para datuk di lereng Pegunungan Tapie-san.
Dia hanya menarik napas panjang, tahu bahwa kematian ayahnya di tangan datuk sesat itu hanyalah akibat dari pada sikap dan perbuatan ayahnya (Lanjut ke
Jilid 25) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 sendiri.
Dia akan menentang para datuk sesat, terutama Raja Iblis, akan tetapi bukan karena dendam terhadap kematian ayahnya, melainkan karena sudah menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kejahatan.
Andaikata ayahnya masih hidup sekalipun, dia akan menentang kejahatan yang dilakukan ayahnya dan anak buahnya.
Ketika pada pagi hari itu dia berjalan seorang diri di luar Tembok Besar di wilayah yang dahulu pernah dikuasai oleh Jeng-hwa-pang, tempat itu masih nampak sunyi.
Pemuda ini tidak tahu bahwa dia datang terlalu pagi.
Waktu yang ditentukan oleh para pendekar untuk mengadakan pertemuan di tempat itu masih satu bulan lagi.
Akan tetapi, akhirnya dia tiba juga di bekas benteng Jeng-hwa-pang yang tembok-temboknya masih kokoh kuat akan tetapi kini hanya menjadi sebuah dusun kecil yang dihuni oleh orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan sebagai pemburu dan juga menjadi tempat persinggahan para pedagang atau mereka yang sering berlalu-lalang melalui Tembok Besar.
Hatinya agak tegang dan berdebar karena dia merasa gembira.
Biarpun dia dahulu selalu bergaul dengan datuk sesat, Akan tetapi dia selalu menentang perbuatanperbuatan mereka yang tidak baik dan dia merasa tidak pernah suka bergaul dengan mereka.
Akan tetapi kini, dia datang ke tempat itu sebagai seorang pendekar yang menghadiri pertemuan antara kaum pendekar!
Hatinya merasa gembira sekali karena dia akan bertemu dan berkenalan dengan orang-orang gagah yang menurut gurunya akan berkumpul di tempat ini dan di antara mereka terdapat orang-orang sakti yang berilmu tinggi.
Sungguh merupakan pertemuan yang akan membuka matanya dan menambah pengalaman dan meluaskan pengetahuannya.
Ketika dia tiba di tempat itu, dia pertama-tama melihat serombongan orang gagah, terdiri dari tujuh orang lima pria dua wanita.
Usia mereka antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun dan sikap mereka nampak gagah sekali dengan pedang di punggung mereka.
Karena dari sikap mereka saja Ci Kang sudah dapat menduga bahwa mereka adalah pendekar-pendekar yang datang menghadiri pula pertemuan maka diapun menghampiri mereka.
Mereka bertujuh sedang duduk di bawah pohon, di luar bekas benteng itu dan tujuh ekor kuda yang baik ditambatkan di batang pohon itu.
Di atas sebuah di antara sela-sela kuda, dia melihat berkibarnya sebuah bendera kecil berwarna kuning yang bertuliskan tiga buah huruf Hoa-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Bunga) dan ada gambar sepasang pedang melintang.
Ci Kang belum pernah mendengar tentang nama perkumpulan itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu ini nama sebuah perkumpulan pendekar pedang yang tangguh.
Dia semakin gembira dan cepat menjura kepada mereka dengan sikap hormat dan wajah ramah.
"Selamat berjumpa, cuwi-enghiong (para pendekar sekalian)! Cuwi tentu tokoh-tokoh dari Hoa-kiam-pang yang terkenal."
Seorang di antara mereka, seorang laki-laki jangkung yang kurus dan paling tua di antara mereka, agaknya menjadi pemimpin rombongan, bersama yang lain membalas penghormatan itu dan si jangkung kurus menjawab.
"Selamat bertemu, sobat. Kami hanyalah murid-murid Hoa-kiam-pang yang diutus oleh para pemimpin kami untuk melihat-lihat keadaan. Selamat berkenalan! Bolehkah kami mengenal siapa adanya sobat yang gagah ini?"
Ci Kang tersenyum ramah.
"Saya bernama Siangkoan Ci Kang dan saya diutus oleh suhu untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang akan diadakan di tempat ini. Bukankah cuwi juga datang untuk keperluan itu?"
Si jangkung kurus memandang tajam.
"Pertemuan itu akan diadakan sebulan lagi. Engkau datang terlalu pagi, sobat. Kami sendiri datang hanya untuk melihat-lihat keadaan, apakah tempat ini aman untuk pertemuan itu dan selain kami, ada pula belasan orang sahabat dari berbagai perkumpulan pendekar yang juga datang, melihat keadaan."
"Benarkah? Ah, saya ingin sekali belajar kenal dengan para pendekar itu."
"Mereka berkumpul di sebelah dalam bekas benteng, di sebuah kedai arak kecil yang dibuka oleh penduduk tempat ini. Mari, saudara Siangkoan Ci Kang, mari kita perkenalkan."
Tujuh orang itu lalu mengajak Siangkoan Ci Kang memasuki bekas benteng Jeng-hwa-pang dan ketika mereka menghampiri sebuah kedai arak, beberapa orang yang nampaknya gagah-gagah dan yang duduk minum arak di kedai itu memandang penuh perhatian.
"Cuwi-enghiong!"
Kata murid Hoa-kiam-pang yang jangkung kurus itu memperkenalkan.
"ini seorang pendatang baru, seorang pendekar muda bernama Siangkoan Ci Kang..."
"Dia tokoh sesat!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dan seorang pemuda tampan gagah meloncat keluar kedai dan menghadapi Ci Kang dengan mata mencorong penuh kemarahan.
Ci Sang terkejut dan memandang.
Dia tidak lupa.
Pemuda ini adalah seorang di antara para pendekar yang dahulu membela Jenderal Ciang di dalam perayaan pasta ulang tahun Ang-kauwsu di kota Paofan!
Pemuda ini selalu bersama Ceng Sui Cin, gadis cantik gagah puteri Pendekar Sadis itu.
Ah, benar.
Pemuda ini adalah putera ketua Cin-Ling-Pai seperti yang diketahuinya dari para tokoh Cap-sha-kui!
Tentu saja seruan yang dikeluarkan oleh Hui Song ini mengejutkan semua pendekar yang berkumpul di situ.
Seperti kita ketahui, Hui Song tidak dapat kembali ke Sanhaikoan yang sudah diduduki oleh pemberontak dan diapun pergi ke benteng Jeng-hwa-pang di mana dia bertemu dengan beberapa orang pendekar dan dia bercerita tentang gerakan para pemberontak kepada mereka.
Ketika tujuh orang murid Hoa-kiam-pang itu muncul bersama Ci Kang, dia segera mengenal pemuda berbaju kulit harimau ini dan tentu saja dia menjadi marah.
"Dia ini tokoh pemberontak sesat, tentu datang untuk memata-matai kita!"
Hui Song berseru lagi sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Ci Kang.
Ci Kang menjura dengan sikap hormat dan gagah, akan tetapi juga tenang, walaupun ucapan putera ketua Cin-Ling-Pai itu seperti pedang menusuk jantung.
"Maaf, saya datang sebagai utusan suhu yang berjuluk Ciu-sian Lokai, harap cuwi tidak salah sangka."
Nama Ciu-sian Lokai tidak terkenal di dunia kang-ouw karena memang kakek ini, seperti juga kakek-kakek sakti lain yang baru bermunculan setelah dunia kang-ouw dikacau oleh Cap-sha-kui dan terutama sekali karena munculnya Raja dan Ratu Iblis.
Oleh karena itu, nama ini tidak mendatangkan kesan di hati pendekar muda yang berkumpul di situ.
Akan tetapi, Hui Song juga bukan seorang pemuda sembrono dan dia mau yakin dulu apakah benar pemuda ini yang pernah dilihatnya membantu Cap-sha-kui lolos dari kepungan beberapa tahun yang lalu.
"Hemm, namamu Siangkoan Ci Kang, engkau putera tunggal dari datuk sesat Siangkoan Lojin Si Iblis Buta, bukan?"
"Benar, akan tetapi saya tidak pernah mencampuri semua perbuatan jahat dunia sesat,"
Jawab Ci Kang dengan jujur dan gagah.
"Hemm, bukankah engkau pernah beberapa kali menggunakan anak panah membantu para tokoh Cap-sha-kui lolos dari tangkapan?"
Hui Song mendesak lagi. Siangkoan Ci Kang terlalu jujur dan gagah untuk menyangkal. Dia mengangguk.
"Benar..."
"Nah, mau bicara apa lagi? Engkau mata-mata kaum sesat, terimalah ini!"
Hui Song menerjang sambil mengirim tamparan dengan tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat dahsyat.
Tamparannya itu mendatangkan angin bersiut menyambar ke arah muka Siangkoan Ci Kang.
Pemuda ini tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membantah dan melihat betapa serangan Hui Song demikian hebatnya, diapun menggerakkan lengan menangkis.
"Dukkk..."
Keduanya mengeluarkan seruan kaget karena pertemuan lengan itu membuat kedua orang pemuda itu terdorong ke belakang seolah-olah bertemu dengan gelombang tenaga yang amat kuat.
Mereka saling pandang dan tahulah mereka bahwa keduanya menemukan lawan yang amat tangguh.
Sementara itu, para pendekar yang berada di situ semua mengenal Hui Song sebagai putera ketua Cin-Ling-Pai yang berkepandaian tinggi.
Tentu saja mereka lebih percaya kepada Hui Song.
Apalagi, pemuda berjubah kulit harimau itu sudah mengaku sebagai putera Si Iblis Buta.
Hal ini saja sudah cukup membuat mereka semua memusuhinya, dan serentak mereka lalu mencabut senjata dan menerjang maju.
Dihujani senjata, Ci Kang cepat berloncatan dengan amat gesitnya mengelak ke sana-sini.
Dia tahu bahwa percuma saja membantah dan bicara untuk membersihkan dirinya dan tidak baik kalau sampai dia bentrok dengan para pendekar ini, maka sambil mengeluh panjang dia lalu meloncat dan melarikan diri dari tempat itu.
"Aku datang hendak membantu kalian menentang kejahatan, sayang kalian tidak percaya!"
Teriaknya dan tubuhnya sudah berkelebat cepat sakali meninggalkan benteng itu.
Hui Song tidak melakukan pengejaran dan para pendekar itupun tidak karena mereka maklum betapa lihainya putera Si Iblis Buta itu.
Hui Song sendiri tentu saja dapat mengimbangi kecepatan gerakan Ci Kang dan dapat melakukan pengejaran kalau dia mau, akan tetapi dia teringat bahwa bagaimanapun juga Siangkoan Ci Kang itu pernah menyelamatkan Sui Cin dan biarlah kini dia berlaku murah untuk membalas budi Ci Kang terhadap gadis pujaan hatinya itu.
Ci Kang berlari cepat sekali dengan hati murung.
Dia lari ke barat dan tidak tahu harus pergi ke mana.
Dia telah datang terlalu pagi dan dia tidak dapat menghadiri pertemuan para pendekar itu tanpa adanya gurunya.
Kalau ada Ciu-sian Lokai di situ, baru dia akan dapat hadir karena tentu gurunya yang akan dapat memberi kesaksian akan kebersihan dirinya.
Dia tidak menyalahkan Cia Hui Song putera ketua Cin-Ling-Pai itu, melainkan hanya merasa mendongkol sekali.
Bagaimanapun juga, memang pemuda Cin-Ling-Pai itu pernah melihat dia membantu dan menyelamatkan orang-orang Cap-sha-kui bersama ayahnya.
Sudah tentu saja Hui Song curiga kepadanya.
Dan satu-satunya orang yang akan dapat menanggung dirinya agar dipercaya oleh para pendekar hanyalah gurunya, Ciu-sian Lokai yang belum nampak ada di tempat itu.
Hatinya murung sekali dan ketika dia memasuki sebuah desa kecil di mana terdapat sebuah kedai arak, diapun memasuki kedai itu.
Kedai yang cukup besar, bahkan terlalu besar untuk sebuah dusun yang penghuninya sedikit dan agaknya hanya terdiri dari orang-orang miskin atau pemburu-pemburu.
Agaknya kedai ini dibuka orang belum begitu lama dan agaknya dibuka untuk menjadi pemberhentian orang-orang yang melakukan perjalanan dan lewat di tempat ttu.
Bagaimanapun juga, bau arak yang sedap menarik perhatian Ci Kang dan diapun yang diganggu rasa mendongkol perlu beristirahat menenangkan hatinya.
Ci Kang mengambil tempat duduk di atas kursi yang kasar buatannya, menghadapi sebuah meja yang kasar pula.
Seorang pelayan cepat menghampirinya dan dengan membungkuk-bungkuk penuh senyum menjilat pelayan itu menyapanya.
"Selamat siang, tuan. Tuan hendak makan dan minum apakah?"
"Bawakan aku seguci besar arak!"
Kata Ci Kang.
Pemuda ini setelah menjadi murid Ciu-sian Lokai, mewarisi kebiasaan gurunya, suka minum arak.
Tentu saja dia tidak minum terlalu banyak walaupun banyaknya arak dapat dilawannya dengan kepandaiannya sehingga dia tidak akan terpengaruh, akan tetapi saat itu hatinya sedang mendongkol dan dia hendak minum sebanyaknya!
"Seguci besar...?
Apakah tuan menunggu datangnya banyak teman?"
"Tidak, aku hanya seorang diri..."
"Tapi, arak seguci besar cukup untuk sepuluh orang..."
"Jangan cerewet! Bawa arak itu dan aku akan membayarnya!"
Bentak Ci Kang marah.
Hatinya yang sedang kesal itu tidak sabar lagi mendengar kerewelan si pelayan.
Pelayan itu membungkuk-bungkuk pergi dan Ci Kang mendengar pelayan itu berbisik-bisik dengan teman-temannya dalam bahasa sandi yang mengejutkan hatinya.
Bahasa rahasia seperti itu hanya dipergunakan orang-orang dari golongan hitam!
Dan pelayan itu berkata kepada teman-temannya agar berhati-hati karena tamu yang datang ini tentulah seorang pendekar.
Ci Kang melirik sambil lalu dan dia melihat bahwa pelayan itu berbisik-bisik dengan teman-temannya.
Jumlah mereka semua ada enam orang!
Heran dan curigalah hatinya.
Sebuah kedai arak begini besar di dalam sebuah dusun miskin kecil!
Dan dibukanya tentu masih baru pula.
Lebih lagi, dilayani oleh enam orang!
Dan mereka menggunakan kata-kata sandi, bahasa rahasia dari golongan hitam.
Ci Kang duduk dengan wajah muram.
Kenyataan bahwa dia duduk di warung golongan hitam membuat hatinya semakin kesal.
Keadaan dirinya membuat dia merasa mendongkol dan juga murung dan sedih.
Dia dilahirkan di tengah keluarga sesat, walaupun mendiang ayahnya dahulu bukanlah orang jahat.
Dia dibesarkan di antara para datuk sesat.
Dia tidak menyukai cara hidup demikian sehingga dia menentang ayahnya sendiri, bahkan hampir dibunuh ayahnya karena tidak menuruti kehendak ayahnya.
Di dunia golongan kotor, dia tidak dapat hidup dan dimusuhi.
Kemudian, setelah digembleng selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lokai dan dia mulai hidup baru, di antara golongan bersih, diapun dihina dan diserang, tidak diterima!
Hati siapa takkan merasa murung?
Pada saat itu muncul tiga orang berpakaian seperti orang dusun.
Tubuh mereka kurus-kurus dan melihat pakaian mereka yang kotor, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang kekurangan makan kekurangan pakaian.
Melihat mereka, pemilik atau kuasa kedai yang bertubuh gendut dan bermuka ramah itu segera menghampiri dan menyambut ke depan pintu.
"Eh, kalian bertiga ada keperluan apakah?"
Tegur pemilik kedai dengan ramah.
"Maaf, twako, kami datang mengganggu lagi..."
Kata seorang di antara mereka.
"Kalian butuh apa lagi? Bukankah kemarin dulu kami sudah menyumbangkan tiga karung beras untuk dibagi-bagi antara kalian penduduk dusun ini? Apakah beras itu sudah habis?"
"Belum, toako dan terima kasih atas segala pertolongan twako yang dilimpahkankan kepada kami para penduduk dusun selama ini. Akan tetapi, kamipun bukan orang-orang yang hanya mengandalkan hidup dari minta-minta saja. Kami ingin bercocok tanam, akan tetapi tanah itu perlu digarap dan kami tidak mempunyai Alat-alatnya. Kalau twako sudi menolong kami untuk sekali ini dan kami dapat mengerjakan tanah, selanjutnya kami tentu akan mampu mencukupi diri sendiri..."
Si gendut itu meraba jenggotnya yang agaknya baru beberapa pekan dicukur dan kini mulai tumbuh dengan liar.
Dia mengangguk-angguk dan melirik ke arah para tamu yang kebetulan sedang duduk minum arak dan makan di kedai itu, seolah-olah dia ingin agar semua percakapan itu didengar oleh mereka.
Dan memang, percakapan yang cukup keras itu didengarkan oleh mereka, juga Ci Kang memperhatikan.
"Baiklah, kami akan membantu dan membelikan Alat-alat pertanian untuk kalian. Nah, pulanglah dulu, dan malam nanti saja kita rundingkan kembali kalau kedaiku sedang sepi."
"Baik, twako, dan terima kasih, twako, sungguh engkau merupakan tuan penolong kami."
Dan tiga orang itu memberi hormat sampai hampir berlutut, kemudian pergi dengan wajah berseri-seri.
Dari percakapan dan melihat sikap para penduduk dusun miskin itu saja mudah diketahui bahwa pemilik kedai ini adalah seorang yang dermawan dan baik hati.
Akan tetapi sikap ini justeru membuat Ci Kang mengerutkan alisnya.
Mereka itu jelas golongan hitam yang menggunakan kata-kata sandi, akan tetapi mengapa kini mereka bersikap begitu dermawan terhadap para penduduk miskin?
Sungguh suatu keadaan yang amat aneh dan tidak sewajarnya!
Ketika pesanannya tiba, yaitu seguci besar arak, yang menggotongnya dua orang pelayan diantar pula oleh si kuasa kedai yang gendut dan ramah itu.
Si gendut ini membungkukbungkuk dengan ramah, akan tetapi matanya yang tajam itu memandang wajah Ci Kang penuh perhatian, tersenyum-senyum dan berkata.
"Harap sicu sudi memaafkan bahwa pelayan kami agak terlambat karena gangguan para petani tadi. Kasihan sekali mereka itu, memang perlu dibantu dan dibimbing."
Jelaslah bagi Ci Kang bahwa si gendut kuasa kedai ini memang sengaja memancing percakapan dengan dia.
Dia tidak dapat menduga apa maunya, akan tetapi karena hatinya sedang kesal, dia tidak mau menanggapi, bahkan sama sekali tidak mengacuhkan dan segera menyambar guci arak dan minum langsung dari bibir guci tanpa cawan atau mangkok lagi.
Dia mau minum sepuasnya, biarpun dia bukan seorang pecandu arak, akan tetapi sekali ini dia ingin minum sampai mabok untuk mengusir kekesalan hatinya!
Mengingat betapa dia dituduh mata-mata oleh para pendekar dan hampir dikeroyok, hatinya merasa panas dan penasaran sekali.
Dia kini menjadi orang setengah matang, kepalang tanggung, masuk golongan hitam dimusuhi karena dia menentang mereka, masuk golongan putih dimusuhi pula karena tidak dipercaya.
"Sialan! Manusia tiada guna!"
Gerutunya dalam hati sambil menenggak lagi araknya.
Melihat pemuda tinggi besar yang bertubuh tegap dan berpakaian seperti seorang pemburu dengan jubah kulit harimau, dan melihat caranya minum arak, semua orang yang berada di dalam kedai itu memandang dan mereka semua dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah seorang yang gagah perkasa.
"Saya berani bertaruh apa saja bahwa sicu tentulah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amal terkenal."
Kembali terdengar suara si gendut.
Ci Kang merasa semakin kesal dan baru dia melihat bahwa si gendut itu masih berdiri di dekat mejanya.
Dia hanya mengerling dengan alis berkerut tanpa menjawab atau berkata sesuatu.
Kalau melihat kerut di antara alisnya, sepatutnya si gendut itu mengerti bahwa pemuda itu tidak suka diajak ngobrol.
Akan tetapi agaknya dia tidaklah secerdik itu.
"Tentu tidak salah lagi bahwa sicu adalah seorang di antara para pendekar yang hendak mengadakan pertemuan, bukan? Sicu, kapankah diadakannya pertemuan itu dan di mana? Saya ingin sekali mengetahui agar dapat membuat persiapan dagangan saya. Pada hari itu tentu akan banyak para pendekar lewat di sini dan..."
"Plakk!"
Tangan Ci Kang menyambar ke arah muka orang gendut itu.
Si gendut ternyata memiliki gerakan cepat untuk ukurannya, dan berusaha mengelak, akan tetapi tangan itu mengejarnya dan akhirnya mengenai pipinya tanpa dia dapat menghindarkannya lagi.
"Aduhh..."
Si gendut terhuyung dan meraba pipinya yang menjadi merah sekali.
"Eh, kenapa kau memukul orang...?"
Dua orang pelayan cepat menghampiri untuk melerai, akan tetapi tanpa bangkit dari kursinya, tangan kanan dan kakinya bergerak menyambut dua orang pelayan itu.
Terdengar mereka mengaduh dan dua orang itupun terpelanting roboh.
Kini si gendut menjadi marah dan dengan suara menggereng seperti harimau, diapun menubruk dengan kedua tangannya yang membentuk cakar harimau, menyerang ke arah kepala dan dada pemuda yang kini sudah menggerakkan tubuh memutar kursinya sehingga meja yang tadi berada di depannya kini berada di sebelah kirinya.
"Wuuuttt..."
Serangan si gendut itu cukup kuat, mendatangkan angin dan ini membuktikan bahwa dugaan Ci Kang memang benar.
Si gendut itu yang nampaknya seorang pengurus kedai arak yang ramah dan murah hati, ternyata memiliki kepandaian silat yang cukup lihai.
Akan tetapi, ketika Ci Kang mengangkat tangan kirinya menangkis, menyambut kedua lengan itu, terdengar suara "krekk!"
Dan lengan kanan si gendut itu patah.
Sebelum si gendut sempat menghindar, secepat kilat kaki Ci Kang menendang lutut dan si gendut mengaduh, lalu jatuh berlutut.
Tangan kanan Ci Kang mencengkeram rambut orang itu dan menekan kepala itu ke bawah.
Dua orang pelayan yang tadi dirobohkan, terkejut bukan main melihat kepala mereka sudah dikalahkan, dan mereka berdua itu dalam keadaan berlutut hanya dapat memandang penuh kekhawatiran.
Juga tiga orang lain yang menjadi pengurus kedai itu, berdiri berkelompok di dekat pintu menuju dapur dengan muka ketakutan.
Tiba-tiba seorang di antara para tamu yang sedang duduk menghadapi hidangannya, menggebrak meja dan bangkit berdiri.
Orang ini adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, pakaiannya sederhana namun bersih dan gerak-geriknya halus, wajahnya tampan dan dia sejak tadi duduk menghadapi hidangan di depan mejanya, makan dan minum sendirian saja.
Pakaiannya serba putih dan dia lebih pantas menjadi seorang sasterawan dari pada seorang ahli silat.
Akan tetapi ketika dia menggebrak meja, mangkok piring di atas mejanya itu mencelat ke atas dan menimbulkan suara berisik ketika jatuh kembali ke atas mejanya.
Pemuda berpakaian putih ini bangkit dan menoleh, memandang kepada Ci Kang yang masih menjambak rambut si gmdut yang hanya mengeluh panjang pendek.
Dengan tangan kanan menekan sandaran kursi, pemuda baju putih itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Ci Kang.
"Manusia sombong dan kasar! Berani kau menghina orang mengandalkan sedikit kepandaian?"
Sepasang alis hitam tebal yang seperti sayap burung geruda terbentang itu bergerak-gerak dan sepasang mata yang tajam itu mengeluarkan sinar berapi.
Hati Ci Kang menjadi semakin panas.
Orang berpakaian putih tentulah kawan golongan hitam yang menyamar menjadi penguruspengurus kedai ini, pikirnya.
"Habis, kau mau apa?"
Diapun membentak sebagai jawaban ucapan pemuda baju putih itu.
Pemuda baju putih itu memandang tajam dan suaranya penuh wibawa.
"Hayo lepaskan paman itu dan kau harus mohon maaf atas sikapmu yang kasar dan sombong, baru aku akan melupakan kesombonganmu!"
Ci Kang adalah seorang yang sejak kecil dididik dalam kekerasan.
Dasar wataknya jujur dan keras, dan karena sejak kecil hidup di tengah golongan sesat, dia sudah terbiasa dengan sikap dan perbuatan keras dan kasar.
Akan tetapi, dia selalu menentang kejahatan, dan setelah dia digembleng selama beberapa tahun oleh Ciu-sian Lokai, dia sudah dapat mengatasi kekerasan hatinya.
Dia selalu bersikap mengalah dan sabar, sesuai dengan pelajaran yang diterimanya dari kakek Dewa Arak itu.
Akan tetapi, penolakan dan penentangan para pendekar terhadap dirinya membuat hatinya kesal dan murung dan mudah marah.
Kini, melihat sikap pemuda baju putih yang menentangnya pemuda baju putih yang dianggapnya tentulah kawan dari gerombolan penjahat yang membuka kedai arak ini, dia tidak lagi dapat menahan kemarahannya.
Gerombolan penjahat ini harus dihajarnya, demikian dia mengambil keputusan.
"Kau mau membelanya? Nih, terimalah!"
Dengan gerakan tangannya yang kuat, Ci Kang bangkit dan melontarkan tubuh gendut yang dicengkeram rambutnya itu ke depan.
Tubuh gendut itu terlempar melayang ke arah pemuda baju putih!
Kalau mengenai dan menubruk pemuda baju putih itu, tentu dia akan terpelanting pula.
Akan tetapi, pemuda baju putih itu dengan sikap tenang menyambut tubuh itu dengan dua tangannya dan dia sudah berhasil menangkap tubuh itu pada lengan dan pundaknya, lalu menurunkan tubuh gendut itu sehingga tidak sampai jatuh terbanting.
Ketika dia memandang, ternyata Ci Kang sudah duduk lagi menghadapi meja dan mengangkat guci arak, menuangkan isinya ke mulut menggunakan tangan kiri, sedangkan lengan kanannya terletak di atas meja.
"Engkau sungguh manusia sombong yang patut dihajar!"
Si baju putih itu dengan cepat melangkah maju dan menggerakkan tangannya menotok ke arah leher Ci Kang yang sedeng minum araknya.
Tiba-tiba Ci Kang menurunkan gucinya dan tanpa bangkit dari kursinya, dia menggerakkan tangan kanannya ke atas untuk menangkis tangan lawan.
Gerakannya cepat mengandung tenaga amat kuat kerena memang dia mengerahkan sinkangnya untuk menangkis dengan harapan sekali tangkis akan dapat mengalahkan lawan, sedikitnya mematahkan tulang lengan lawan.
"Dukkk..."
Akibat benturan dua lengan itu membuat keduanya mengeluarkan teriakan tertahan saking kagetnya.
Tubuh pemuda baju putih itu terdorong ke belakang sampai empat langkah, sedangkan sebaliknya, biarpun tubuh Ci Kang tidak terlempar karena dia sedang duduk, namun kursi yang didudukinya pecah berantakan!
Ci Kang sudah meloncat bangun dan alisnya berkerut semakin dalam.
Kecurigaannya makin kuat.
Orang ini tentu seorang tokoh sesat walaupun belum pernah dia melihatnya.
Seorang tokoh muda yang entah datang dari mana dan agaknya diam-diam menjadi pelindung gerombolan penjahat yang menyamar menjadi pengusaha kedai arak.
Teringatlah dia betapa si gendut tadi berusaha memancingnya agar dia suka bicara tentang pertemuan para pendekar dan kini diapun menduga bahwa tentu tokoh sesat ini bertugas menyelidiki pertemuan itu!
"Bagus, kiranya engkau seorang yang memiliki kepandaian juga.
Sayang, kepandaian itu kau pergunakan untuk kejahatan!"
Setelah berkata demikian, Ci Kang melompat ke depan dan menyerang dengan pukulan tangannya yang kuat.
Orang berbaju putih itu sudah mengenal kekuatan tangan lawan, maka diapun bersikap hati-hati sekali.
Dengan mudah dia mengelak dari serangan Ci Kang lalu membalas dengan tendangan.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat dalam restoran itu antara Ci Kang dan pemuda baju putih.
Dan para tamu segera meninggalkan meja masing-masing, menjauh akan tetapi menonton perkelahian itu.
Dari sikap mereka, hampir semua berpihak kepada baju putih!
"Pemburu dari mana dia?"
Terdengar orang bertanya-tanya.
"Entah, dia baru datang, akan tetapi dia jahat sekali!"
"Dia telah memukuli Coutwako, pengurus kedai yang baik hati!"
"Tentu dia penjahat!"
Demikianlah percakapan antara mereka yang sedang menonton perkelahian itu.
Ci Kang menjadi semakin heran mendengar semua ini.
Kenapa semua orang menganggapnya jahat?
Akan tetapi dia tidak perduli karena dia maklum bahwa tentu semua orang telah tertipu oleh sikap penjahat-penjahat yang menyamar menjadi pemilik kedai arak ini.
Hanya dia yang tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang golongan hitam.
Dan diapun merasa penasaran sekali.
Pemuda baju putih ini hebat bukan main!
Bukan hanya dalam kegesitan dan tenaga si baju putih ini dapat menandinginya, juga dalam ilmu silat pemuda ini agaknya dapat pula mengimbanginya.
Gerakannya demikian kuat dan tenang, dan semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkisnya dengan baik.
Ci Kang yang sedang murung itu masih dapat menenangkan hatinya dan menahan kemarahannya dan ini adalah berkat gemblengan dari Ciu-sian Lokai selama ini.
Sebelum dia menjadi murid Si Dewa Arak, mungkin saja tadi dia telah membunuh para pengurus kedai itu, dan mungkin kini dia akan mengeluarkan serangan-serangan maut untuk membunuh pemuda baju putih yang disangkanya tentu juga seorang tokoh sesat yang membela para penjahat yang menyamar menjadi pengurus kedai.
"Manusia jahat! Terimalah ini..."
Tiba-tiba si baju putih itu membalas dengan serangan yang amat mengejutkan hati Ci Kang.
Pemuda itu menyerangnya dengan pukulan aneh, dengan kedua tangan disilangkan dan didorongkan sambil merendahkan tubuhnya.
Akan tetapi dari kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan panas yang amat dahsyat, yang menyambar kepadanya seperti badai mengamuk!
Tahulah Ci Kang bahwa pemuda itu ternyata memiliki pukulan sakti yang amat berbahaya dan kini menyerangnya dengan ganas sekali.
Maka diapun cepat mengerahkan sinkangnya dan mendorongkan kedua tangannya dengan telapakan terbuka ke depan.
Kembali dua tenaga raksasa saling bentur dan sekali ini sebelum dua pasang tangan bertemu, lebih dulu hawa pukulan itulah yang saling beradu.
Dan sekali ini, Ci Kang merasakan betapa tubuhnya tergetar hebat oleh hawa panas itu dan biarpun dia tidak sampai terhuyung ke belakang, namun pasangan kuda-kuda kakinya tergeser.
Terkejutlah dia.
Tak disangkanya sama sekali bahwa lawannya sehebat itu.
Dan dia yang sudah banyak pengalamannya tentang ilmu-ilmu kaum sesat, tidak dapat mengenal ilmu pukulan apa yang dipergunakan pemuda baju putih ini.
Maka mulailah timbul keraguannya.
Jangan-jangan pemuda baju putih ini bukan seorang tokoh sesat, melainkan seorang pendekar yang juga tertipu oleh para pengurus kedai dan menganggap para pengurus kedai itu orang baik-baik dan dermawan, dan mengira bahwa dialah yang jahat!
Pemuda baju putih itu agaknya juga terkejut ketika melihat betapa pukulannya yang ampuh tadi dapat ditahan oleh Ci Kang dan hanya membuat pemuda berpakaian pemburu itu bergeser sedikit saja kakinya.
"Seorang pemuda yang berilmu tinggi, akan tetapi mempergunakannya untuk kekejaman dan kejahatan! Orang macam engkau ini harus dibasmi agar tidak menyebar kekejaman lagi!"
Pemuda baju putih itu berseru marah dan kini dia menyerang semakin hebat, dengan gerakan-gerakan aneh yang setiap gerakan mengandung daya serang mematikan!
Ci Kang terkejut mendengar ucapan itu, apalagi melihat serangan bertubi-tubi yang amat hebatnya dan mendengar pula kata-kata para penonton yang jelas berpihak kepada si pemuda baju putih.
Semua orang agaknya menganggap dia yang jahat!
Cepat dia mengelak beberapa kali lalu meloncat ke belakang sambil berteriak.
"Kalian semua seperti orang buta saja! Tidak tahukah kalian siapa enam orang pengurus kedai ini? Mereka adalah orang-orang dari golongan hitam, kaum sesat atau penjahat-penjahat yang menyamar! Mereka hanya pura-pura saja dermawan, akan tetapi mereka adalah penjahat-penjahat keji yang memusuhi para pendekar!"
Pemuda baju putih itu agaknya tidak percaya, bahkan semakin marah.
"Sudah busuk perbuatannya, busuk pula mulutnya melontarkan fitnah keji!"
Dan diapun menyerang lagi dengan pukulan tangan kanan.
"Wuuuttt... dukk!"
Kembali Ci Kang menangkis dan keduanya tergetar dan terpaksa melangkah mundur beberapa tindak.
"Sobat, engkau masih belum percaya? Lihat, ke manakah mereka itu? Mereka telah lari setelah aku membuka kedok mereka!"
Ci Kang berseru dan pemuda baju putih itu menengok dan diapun tidak melihat seorangpun di antara enam pengurus kedai tadi.
"Kebakaran... Kebakaran..."
"Pembunuhan... Rampok... rampok..."
Di luar kedai terdengar suara gaduh dan tiba-tiba di bagian belakang kedai itupun dimakan api.
Asap sudah masuk ke dalam ruangan itu dan semua orang sudah cerai-berai dalam keadaan panik dan sebentar saja yang tertinggal di dalam kedai tinggal Ci Kang dan si pemuda baju putih.
Akan tetapi keduanya segera sadar bahwa di luar tentu terjadi Hal-hal yang membutuhkan pertolongan mereka, maka seperti orang berlomba, ke dua orang muda itu meloncat keluar kedai.
Dan memang keadaan di dusun kecil itu kacau balau.
Kebakaran-kebakaran terjadi di sana-sini dan orang-orang berlarian simpang siur dengan panik.
Ci Kang melihat betapa enam orang pangurus kedai tadi, dengan belasan orang lain yang jelas terdiri dari golongan sesat, sedang membakari rumah dan merampoki barang-barang yang mereka angkut keluar.
Tentu saja Ci Kang menjadi marah bukan main.
Akan tetapi dia sudah keduluan pemuda baju putih yang sudah meloncat dan menerjang orang-orang yang membakari rumah-rumah dan merampoki barang-barang itu.
Di beberapa tempat terdapat mayat bergelimpangan, agaknya mayat dari mereka yang hendak melawan keganasan para perampok.
Ci Kang menerjang segerombolan orang yang sedang melakukan pembakaran rumah.
Empat orang penjahat yang bertubuh tinggi besar dan berwajah kejam mengeroyoknya dengan senjata golok mereka.
Akan tetapi, dengan mudah Ci Kang menyambut serangan mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat empat orang itu kocarkacir dan jatuh bangun.
Mereka merasa penasaran dan hendak melawan terus, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja Ci Kang membuat mereka tak berdaya, mematahkan tulang lengan atau kaki mereka dan akhirnya empat orang penjahat itu lari tunggang-langgang, yang patah tulang kakinya menyeret kaki itu terpincang-pincang.
Ci Kang tidak mengejar mereka.
Gurunya, Si Dewa Arak, selalu menekankan kepadanya betapa tidak baiknya melakukan pembunuhanpembunuhan.
Bahkan sedapat mungkin jangan melakukan kekerasan, kata gurunya itu.
Andaikata terpaksa harus menggunakan kekerasan terhadap penjahat, cukup kalau menundukkan dan sekedar memberi hukuman saja agar mereka tidak berani melanjutkan kejahatan mereka, akan tetapi sama sekali tidak boleh dibunuh.
Ajaran Si Dewa Arak ini sungguh berlawanan sekali dengan kebiasaan hidup di lingkungan kaum sesat, akan tetapi Ci Kang menerimanya dengan hati senang dan patuh karena memang cocok sekali dengan pendiriannya sendiri yang tidak suka akan kejahatan dan kekerasan karena dia sudah muak hidup di lingkungan yang penuh dengan kekerasan.
Tiba-tiba Ci Kang terkejut oleh suara teriakan-teriakan yang mengerikan.
Dia cepat menoleh dan wajahnya berobah merah.
Dia melihat pemuda baju putih itu mengamuk dan sepak terjangnya menggiriskan sekali.
Sudah ada tujuh atau delapan orang penjahat termasuk si gendut dari kedai arak dan anak buahnya, berserakan menjadi mayat.
Pemuda itu menurunkan tangan mautnya dan tidak memberi ampun kepada para penjahat.
Masih ada beberapa orang penjahat yang mengeroyoknya, akan tetapi Ci Kang maklum bahwa mereka semua itu tentu akan tewas di tangan si pemuda baju putih kalau dia tidak mencegahnya.
Cepat dia meloncat dan ketika tangan pemuda baju putih itu menyambar dengan serangan maut kepada seorang penjahat yang goloknya sudah terlempar, dia menubruk dan menangkis.
"Dukkk..."
Untuk ke sekian kalinya kembali dua lengan yang mengandung tenaga kuat itu saling bertemu, menggetarkan tubuh kedua pihak.
Pemuda baju putih itu mengerutkan alisnya dan matanya memandang terbelalak kepada Ci Kang.
"Gilakah kau?"
Bentak pemuda itu kepada Ci Kang.
"Tadi engkau menyerang mereka dan aku yang tidak mengenal siapa mereka membela mereka. Sekarang, setelah mengetahui bahwa mereka ini adalah penjahat-penjahat terkutuk dan hendak membasmi mereka, engkau muncul melindungi mereka!"
Pemuda baju putih itu benar-benar terkejut, heran dan penasaran melihat tingkah Ci Kang yang dianggapnya aneh sekali itu.
"Sobat, engkau memang gagah perkasa, akan tetapi terlalu kejam! Memang sudah menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kejahatan, akan tetapi bukan membunuh!"
Pemuda itu mengerutkan alisnya.
"Kau perduli apa?"
Dan diapun sudah menerjang lagi ke depan, merobohkan seorang penjahat dengan tamparan tangan kirinya yang ampuh.
Sekali terkena tamparan itu, golok yang menangkisnya terlempar dan orang itu tidak mampu menghindarkan dirinya lagi, dadanya kena dihantam dan terdengar tulang-tulang iga yang patah-patah dan orang itu menjerit dan roboh berkelojotan.
"Kau kejam..."
Ci Kang menghardik dan ketika orang baju putih itu hendak mengejar para penjahat yang menjadi gentar dan melarikan diri, Ci Kang sudah menghadangnya.
"Kau kini membela mereka? Gila dan biar kubasmi sekalian!"
Orang berbaju putih itu membentak dan menyerang Ci Kang.
Tentu saja Ci Kang cepat mengelak dan untuk mencegah orang itu menyebar maut lebih banyak lagi, diapun membalas dan kini mereka kembali berkelahi dengan amat serunya.
Kerena masing-masing kini sudah yakin akan kelihaian lawan, maka merekapun berkelahi lebih seru dan lebih hebat dari pada tadi, masing-masing mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang hebat.
Kini para penjahat sudah lari semua dan juga para penghuni dusun sudah sejak tadi melarikan diri.
Sebagian besar dari rumahrumah dusun itu terbakar.
Namun, dua orang muda itu agaknya lupa akan keadaan sekeliling karena mereka itu asyik berkelahi dan terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatian, menggunakan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga kalau tidak mau kalah!
Dan kepandaian keduanya memang hebat, setingkat dan seimbang.
Entah berapa lama perkelahian itu akan berlangsung sampai ada yang kalah.
Sudah hampir seratus jurus berlalu dan keduanya masih terus saling hantam dengan gigihnya.
Tiba-tiba terdengar suara jerit minta tolong.
Suara wanita yang ketakutan!
Mendengar suara ini, seketika dua orang muda itu melupakan perkelahian mereka dan meloncat lalu berlari ke arah suara itu seperti orang berlomba.
Jerit tangis itu kini semakin jelas, keluar dari sebuah rumah yang sudah terbakar bagian belakangnya.
"Tolong...! Toloooonggg...! ahh, tolonglah aku..."
Demikianlah suara itu terdengar dari dalam rumah yang sedang terbakar.
"Brakkkkk..."
Dua tempat pada dinding rumah itu jebol ketika si pemuda baju putih dan Ci Kang secara berbareng menerjang tembok.
Keduanya berlari memasuki rumah itu dan melihat seorang gadis yang terbelenggu kedua tangannya pada tiang rumah sedang meronta-ronta ketakutan melihat api mulai membakar dinding kamar itu!
Seorang gadis yang cantik sekali, berpakaian sederhana akan tetapi justeru pakaian sederhana itulah yang membuat kecantikannya semakin menonjol.
Karena kedua lengannya ditelikung ke belakang dan ia meronta-ronta, maka lekuk lengkung dan tonjolan-tonjolan pada tubuhnya nampak jelas dan amat menggairahkan!
Melihat munculnya dua orang itu, sepasang mata yang jeli itu terbelalak ketakutan, akan tetapi agaknya ia dapat menduga bahwa mereka adalah orang orang yang hendak menolongnya, bukan orang-orang jahat yang menyerang dusun itu.
"Ah, tolonglah saya..."
Ia memohon.
Pada saat itu, dinding di bagian belakang kamar itu, yang mulai terbakar, runtuh ke bawah mengancam gadis itu yang tentu akan tertimpa runtuhan dinding tembok!
Dua orang muda yang gagah perkasa itu bergerak cepat sekali.
Pemuda baju putih itu sudah meloncat dan sekali sambar dia sudah merenggut putus tali yang mengikat gadis itu dengan tiang, lalu meloncat sambil memondong tubuh itu, sedangkan Ci Kang meloncat menggempur dinding yang runtuh itu dengan kedua tangannya.
"Braaakkkk..."
Runtuhan dinding itu pecah berantakan dan diapun cepat meloncat keluar menyusul.
Di luar rumah yang terbakar itu, dia melihat pemuda baju putih sudah menutunkan gadis tadi yang kini berdiri kebingungan dan masih menangis.
Ketika Ci Kang tiba pula di situ, gadis itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang pemuda itu sambil menangis.
"Sudahlah, jangan menangis dan ceritakan apa yang telah terjadi."
Kata Ci Kang sambil memandang kepada pemuda baju putih yang berdiri tenang dan menghadapi gadis itu dengan pandang mata penuh selidik.
Gadis itu menyusut air matanya.
Usianya tidak sangat muda lagi, kurang lebih dua puluh lima tahun.
Akan tetapi usia ini bagi seorang wanita merupakan usia yang sedang masaknya, bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.
Pakaiannya sederhana namun rapi, wajahnya cantik dan terutama sekali mulutnya manis sekali.
"Saya menghaturkan terima kasih kepada jiwi taihiap... yang sudah menyelamatkan nyawa saya yang tidak berharga..."
"Sudahlah,"
Kata pemuda baju putih.
"Tak perlu bicara tentang itu. Yang penting sekarang ceritakan apa yang telah terjadi maka kau beraaa dalam rumah terbakar itu dalam keadaan terbelenggu."
Pada waktu itu, dusun kecil yang terbakar ini sudah ditinggalkan orang dan agaknya hanya mereka bertiga saja yang masih berada di situ, kecuali mayat-mayat yang menggeletak di sana-sini, korban kekejaman para perampok.
"Saya bernama Ji Hwa dan tinggal bersama ayah dan ibu di luar dusun, di lereng bukit sana itu... dan saya berada di sini karena mengunjungi paman dan bibi saya, pemilik rumah ini. Ketika tadi para penjahat datang, paman melawan dan bibi entah lari ke mana, dan saya... perampok ganas itu menawan saya, hendak dibawa pergi. Tapi ketika paman melawan, perampok itu mengikat saya di tiang tadi dan dia lalu berkelahi dengan paman di luar rumah... selanjutnya... saya tidak tahu apa yang terjadi, rumah terbakar dan saya ketakutan sekali..."
Ia menengok ke kiri di mana terdapat mayat-mayat bergelimpangan, membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Siapakah pemimpin para perampok itu, nona?"
Ci Kang bertanya.
"Apakah engkau mengenal para pengurus kedai arak itu?"
Dia menunjuk ke arah kedai arak yang sudah habis terbakar.
Gadis itu menggeleng kepala dan kelihatan ketakutan.
"Saya tidak tahu... akan tetapi... saya merasa yakin bahwa ayah saya tahu akan semua itu. Pernah dia berkata kepada saya bahwa dusun ini terancam kekuasaan para penjahat..."
"Hemm, kalau begitu mari kuantar kau pulang, nona. Aku ingin bicara dengan ayahmu,"
Kata Ci Kang.
"Akupun ingin bertemu dengan ayahmu, nona,"
Kata pula pemuda baju putih itu. Ci Kang memandang pemuda itu sambil tersenyum mengejek.
"Agaknya dalam segala hal engkau tidak mau kalah, sobat. Perlu apa engkau ikut pula dengan kami?"
Pemuda itu tersenyum pahit.
"Aku belum tahu benar siapa engkau dan orang macam apa adanya dirimu. Melihat engkau pergi berdua dengan seorang gadis yang tak berdaya ini, sungguh hatiku merasa tidak enak. Aku baru lega kalau melihat ia sudah berkumpul kembali dengan orang tuanya."
"Sialan!"
Ci Kang membentak.
"Engkau masih tidak percaya kepadaku? Nah, mari kita saling mengenal. Namaku Ci Kang."
"She mu?"
Tanya pemuda itu, ingin tahu nama keluarga Ci Kang.
"Tidak perlu kuperkenalkan."
Ci Kang memang tidak ingin memperkenalkan nama keluarga ayahnya yang terkenal sebagai Siangkoan Lojin atau Si Iblis Buta.
"Namaku Sun,"
Kata pemuda baju putih itu, juga tidak mau menyebutkan she nya melihat betapa Ci Kang menyembunyikan she nya pula.
Pemuda ini sesungguhnya she Cia.
Ya, dia adalah Cia Sun, putera dari Cia Han Tiong yang tinggal di Lembah Naga!
Seperti telah kita ketahui, pemuda ini merasa penasaran sekali akan sikap ayahnya.
Ibunya tewas di tangan musuh dan ayahnya mengampuni musuh-musuh itu.
Dalam keadaan penasaran dan penuh duka dan dendam ini, dia bertemu lalu diambil murid oleh Gobi Sanjin dan digembleng selama tiga tahun.
Oleh gurunya ini, di dalam batinnya ditanam jiwa kependekaran yang tegas dan keras menentang kejahatan.
Gemblengan ini, ditambah oleh rasa dendam atas kematian ibunya, membuat Cia Sun menjadi seorang pendekar yang tidak mau mengampuni orang-orang jahat dan dia menganggap sebagai tugasnya untuk menentang kejahatan dan membasmi para penjahat, membunuh mereka tanpa mengenal ampun lagi!
Seperti juga Ci Kang yang disuruh oleh gurunya, Ciu-sian Lokai untuk pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar untuk mengadakan pertemuan dengan para pendekar, juga Cia Sun diutus oleh Gobi Sanjin untuk pergi ke tempat itu.
Munculnya Raja dan Ratu Iblis yang dibantu oleh Cap-sha-kui dan para datuk kaum sesat membuat orang-orang sakti dan para pendekar berusaha menentangnya dan mereka akan mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.
Setelah memperkenalkan nama masing-masing tanpa menyebut nama keturunan, dua orang muda itu lalu mengawal gadis yang bernama Ji Hwa itu pulang.
Mereka keluar dari dusun kecil yang sudah sunyi itu dan menuju ke utara di mana terdapat sebuah bukit yang penuh dengan pohon-pohon rindang.
"Jauhkah rumahmu dari sini, nona?"
Tanya Cia Sun yang masih belum percaya benar kepada gadis ini dan selalu tidak meninggalkan kewaspadaannya.
"Tidak jauh, di lereng bukit itu, taihiap. Akan tetapi harap jangan sebut nona padaku, namaku Hwa dan biasa disebut Hwa Hwa saja."
Cia Sun mengerutkan alis dan tidak menjawab.
Gadis ini baru saja mengalami peristiwa yang menakutkan dan mengejutkan, baru saja terlepas dari maut dan nyaris terbakar hidup-hidup dalam rumah tadi.
Akan tetapi sekarang sudah bicara sambil senyum-senyum dan kerling mata gadis ini membuat hatinya terasa tidak enak.
Biarpun Cia Sun sampai saat itu belum pernah bergaul rapat dengan wanita, namun dia mengenal kerling yang tajam memikat, kerling yang membayangkan kegenitan yang disembunyikan, sikap yang agaknya tidak wajar dan berpura-pura.
Rumah itu besar dan kuno sekali, terletak di lereng bukit.
Rumah yang besar dan kuno, terpencil sendiri dan dari jauh tidak nampak karena tersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak belukar.
Karena kuno, besar dan sudah rusak tak terpelihara, bangunan itu nampak menyeramkan, pantasnya hanya dihuni oleh setan-setan dan iblis-iblis saja.
"Di sinikah engkau dan orang tuamu tinggal?"
Ci Kang bertanya ketika mereka tiba di depan rumah.
"Bekerja apakah orang tuamu?"
Kiranya diapun, seperti Cia Sun, mulai merasa heran dan curiga melihat betapa gadis itu bersama orang tuanya tinggal di tempat yang serem seperti ini.
Gadis yang minta disebut Hwa Hwa itu tersenyum memandang Ci Kang.
"Kalau melihat pakaian taihiap, agaknya pekerjaan ayah tidak asing bagi taihiap. Dia seorang pemburu dan karena itu kami memilih tempat di bukit dekat hutan-hutan ini."
Dengan sikap ramah dan lincah gadis itu mempersilakan dua orang pemuda itu untuk memasuki gedung kuno.
"Marilah, harap jiwi taihiap sudi masuk dan menemui ayah dan ibu yang berada di dalam. Saya merasa yakin bahwa ayah akan dapat bercerita banyak tentang penjahat-penjahat yang tadi mengacau dusun."
Cia Sun dan Ci Kang saling pandang sejenak.
Biarpun mereka masih merasa penasaran dan ada rasa tidak suka satu kepada yang lain, akan tetapi kini mereka berada dalam sebuah perahu yang sama.
Maka, biarpun hanya sedikit, terdapat suatu kepentingan bersama di antara mereka dan setelah saling pandang, tahulah mereka bahwa masing-masing tidak akan mau kalah dan merasa malu kalau mundur.
Mereka lalu mengikuti gadis itu memasuki bangunan dan ternyata memang bangunan itu kuno dan tidak terawat.
Banyak bagian yang sudah rusak, akan tetapi sebagian besar masih kokoh kuat karena memang bangunan kuno itu kuat buatannya.
"Mari silakan, jiwi taihiap. Saya kira ayah dan ibu sedang bersamadhi di dalam kamar samadhi,"
Kata gadis itu sambil mengajak mereka menuju ke sebuah ruangan yang pintunya kecil.
Mendengar ini, kembali Cia Sun dan Ci Kang melirik.
Kalau mereka sedang bersamadhi, tentu orang tua gadis ini termasuk orang-orang yang pandai ilmu silat, atau kalau tidak tentu orang-orang yang saleh.
Mereka melewati pintu kecil itu dan memasuki sebuah ruangan yang bentuknya aneh.
Kamar itu tidak berjendela, dan bentuknya bundar.
Lantainya tertutup babut tipis yang sudah lapuk, dan tidak terdapat perabot rumah, akan tetapi cukup bersih keadaannya.
Di dekat dinding nampak seorang kakek dan seorang nenek sedang duduk bersila dalam keadaan bersamadhi.
Dan melihat keadaan dua orang kakek dan nenek ini, dua orang pemuda itu merasa heran dan terkejut.
Kakek itu berpakaian serba polos putih kuning, rambutnya putih semua riap-riapan, jenggot dan kumisnya pendek terpelihara baik-baik, tubuhnya jangkung dan wajahnya aneh menyeramkan.
Wajah itu memang bagus bentuknya, membayangkan ketampanan, akan tetapi wajah itu nampak bekitu dingin, agak kehijauan kulitnya dan matanya terpejam.
Sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi tentu sudah enam puluh tahun lebih.
Adapun nenek itu juga mempunyai keadaan yang sama, baik pakaiannya yang sederhana kedodoran maupun rambutnya yang juga sudah putih semua dan riap-riapan.
Rambutnya lebih panjang ketimbang rambut kakek itu, dan bentuk atau raut wajah wanita inipun menunjukkan bekas kecantikan, hanya nampak begitu dingin seperti topeng.
"Silakan duduk, jiwi taihiap dan maaf, di sini tidak ada bangku atau kursi, terpaksa kita duduk di atas lantai,"
Kata Hwa Hwa dengan ramahnya.
Cia Sun dan Ci Kang yang sudah terlanjut masuk, lalu duduk di atas lantai berbabut itu, bersila dengan sikap hormat karena mereka berdua meragu orang-orang macam apa adanya kakek dan nenek ini.
Yang jelas, bukan orang-orang sembarangan saja, demikian mereka berpikir.
Setelah dua orang pemuda itu duduk, Hwa Hwa lalu keluar dari dalam kamar itu, sampai di ambang pintu menoleh dan berkata sambil tersenyum.
"Maafkan, saya akan mempersiapkan minuman untuk jiwi..."
Sebelum dua orang muda itu menolak, pintu yang sempit itu tiba-tiba sudah ditutup dari luar oleh Hwa Hwa dan baru nampak oleh dua orang muda itu bahwa pintu itu berbuat dari pada besi yang kokoh kuat!
Akan tetapi karena di dalam ruangan itu masih terdapat kakek dan nenek tadi, Cia Sun dan Ci Kang bersikap tenang saja dan kini mereka berdua memandang kepada kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba kakek dan nenek itu membuka matanya dan terkejutlah dua orang pendekar muda itu melihat betapa dua pasang mata itu amat tajam, mencorong seperti bukan mata manusia biasa!
Mata kakek dan nenek itu mencorong dan kehijauan!
Terkejutlah Cia Sun dan Ci Kang, tahu bahwa mereka itu ternyata bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang memiliki tenaga sinkang amat kuat, kalau tidak demikian, tak mungkin mereka memiliki sinar mata seperti itu.
Akan tetapi keduanya tetap tenang saja dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, tentu saja dengan penuh kewaspadaan karena kini mereka mulai dapat menduga bahwa sikap gadis yang bernama Hwa Hwa tadi hanya pura-pura saja.
Tiba-tiba terdengar suara kakek itu yang bicara seolah-olah tanpa menggerakkan bibir.
"Berlutut..."
Dua orang pemuda itu terkejut dan heran, akan tetapi biarpun mereka menduga bahwa kakek itu menyuruh mereka berlutut, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan perintah itu.
Mereka hanya memandang tajam, menentang dua pasang mata hijau yang mencorong itu.
Kini, nenek itulah yang bicara, suaranya lirih akan tetapi mendesis dan menusuk jantung.
"Kalau murid kami sudah membawa kalian ke sini, tentu kalian bukan orang-orang biasa dan ada harganya untuk menjadi pembantu-pembantu kami. Nah, orang-orang muda, berilah hormat kepada Ongya!"
Dua orang muda itu kini terkejut bukan main.
Mereka berdua sudah mendengar dari guru masing-masing tentang Raja dan Ratu Iblis yang menganggap dirinya raja dan ratu, Dan betapa semua tokoh sesat yang takluk kepada mereka menyebut Raja Iblis itu Ongya karena memang dia dahulunya seorang pangeran bernama Toan Jitong.
Kini Cia Sun dan Ci Kang memandang penuh perhatian dan merekapun baru sadar bahwa mereka sebenarnya berhadapan dengan Raja dan Ratu Iblis yang amat ditakuti itu, yang kini kabarnya sedang menggerakkan para datuk kaum sesat termasuk Cap-sha-kui untuk menguasai dunia!
Bahkan karena adanya gerakan mereka inilah maka para pendekar dan orang sakti hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk merencanakan langkah-langkah untuk menentang gerakan berbahaya itu.
Dan kini, tanpa mereka sangka-sangka, mereka telah dipancing oleh seorang gadis cantik yang ternyata murid iblis-iblis ini, dan telah berhadapan dengan mereka, berada di sebuah ruangan tertutup!
"Apakah jiwi yang berjuluk Raja dan Ratu Iblis?"
Dengan hati tabah, sedikitpun tidak gentar suaranya Ci Kang bertanya.
Nenek itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa, walaupun mulutnya tidak tertawa.
"Kalau kalian sudah tahu, cepat memberi hormat!"
Katanya.
Akan tetapi, seperti dikomando saja, Cia Sun dan Ci Kang sudah meloncat berdiri.
Mereka berdua sudah banyak mendengar tentang suami isteri iblis ini, dan mereka tahu bahwa sudah menjadi kewajiban mereka untuk menentang dua orang ini.
Mereka sama sekali tidak merasa takut, walaupun mereka sudah mendengar betapa lihainya kakek dan nenek ini.
"Inilah penghormatanku!"
Kata Cia Sun yang sudah menyerang kakek yang duduk bersila itu.
"Dan ini bagianku!"
Bentak Ci Kang, secepat kilat diapun menyerang ke arah si nenek.
Serangan dua orang muda itu hebat sekali, mendatangkan angin pukulan dahsyat karena mereka berdua yang maklum akan kelihaian kakek dan nenek itu sudah mengerahkan sinkang dan menyerang sekuat tenaga.
Kakek dan nenek itu mendengus dan mengulur tangan menyambut.
Mereka hanya mendorong tangan mereka ke depan dan segumpal uap menyambar dan menyambut serangan Cia Sun dan Ci Kang.
"Bresss..."
Tubuh dua orang muda itu terdorong ke belakang dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya terbanting pada dinding di belakang lalu terguling ke atas lantai!
Pada saat itu, lantai tertutup babut itu terbuka dan tentu saja dua orang pemuda yang baru saja terguling, cepat meloncat ke depan.
Hanya bagian di mana kakek dan nenek itu duduk saja yang tidak terjeblos dan jalan satu-satunya hanyalah mencoba untuk menyerang lagi kakek dan nenek yang masih duduk bersila di atas lantai, bagian yang tidak terbuka.
"Desss..."
Kini empat pasang tangan itu bertemu langsung secara dahsyat sekali dan akibatnya, kakek dan nenek itu mengeluarkan seruan kaget bukan main.
Benturan tangan mereka dengan tangan pemuda-pemuda itu membuat tubuh mereka tergetar dan terguncang hebat!
Akan tetapi karena mereka duduk di atas lantai, sedangkan tubuh Cia Sun dan Ci Kang melayang, tentu saja kedua orang pemuda itu yang tidak mempunyai landasan, terdorong mundur dan tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka terjatuh ke dalam lubang di bawah mereka.
Mereka mempergunakan ginkang dan tidak sampai terbanting, juga mereka tiba di dasar lubang itu dengan kaki lebih dulu, dalam keadaan berdiri.
Akan tetapi tiba-tiba tempat di mana mereka terjatuh itu menjadi gelap gulita karena lantai dari kamar di atas tadi telah tertutup kembali!
Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dan tercium bau harum yang menyengat hidung.
"Asap beracun..."
Cia Sun berseru dan keduanya segera menahan napas dan meraba-raba mencari jalan keluar.
Akan tetapi kamar di mana mereka tersekap itu ternyata terbuat dari besi dan tidak ada pintunya!
Mereka lalu meloncat ke atas dan menghantam ke arah lantai kamar atas yang kini menjadi langit-langit bagi mereka itu.
"Bress! Bress!"
Akan tetapi lantai itu terlalu kuat dan tubuh mereka terlempar lagi ke bawah.
Mereka seperti dua ekor tikus memasuki perangkap dan kini kamar itu mulai penuh dengan asap wangi beracun.
Mereka menahan napas sekuat mungkin, akan tetapi tentu saja kekuatan ini ada batasnya.
Betapapun saktinya kedua orang muda itu, jantung mereka harus berdenyut terus dan untuk ini, jantung membutuhkan hawa murni melalui pernapasan.
Akhirnya Cia Sun dan Ci Kang tidak kuat bertahan lagi dan merekapun terpaksa menyedot asap itu dan tubuh mereka terguling dan mereka pingsan oleh asap pembius.
Sebelum mereka kehilangan kesadaran, mereka mendengar suara ketawa merdu, suara dari Hwa Hwa yang sebetulnya adalah Gui Siang Hwa, murid terkasih dari Raja Iblis atau Pangeran Toan Jitong.
Ketika Cia Sun dan Ci Kang siuman kembali, mereka telah saling berpisah, Cia Sun yang siuman mendapatkan dirinya telah berada di atas pembaringan sebuah kamar dalam keadaan terbelenggu dan tertotok jalan darahnya!
Dia berusaha membebaskan jalan darahnya ketika terpaksa usaha ini dihentikannya karena ada langkah kaki orang memasuki kamar.
Kiranya yang masuk adalah gadis cantik yang telah menjebaknya itu!
Tentu saja Cia Sun menjadi marah sekali dan memandang dengan mata melotot.
"Hemm, perempuan hina! Kiranya engkau adalah seorang penjahat betina yang sengaja menjebak kami! Engkau tentu kaki tangan perampok yang mengacau di dusun itu!"
Bentak Cia Sun.
Siang Hwa tersenyum manis dan menghampiri, lalu duduk di tepi pembaringan dan membelai pundak yang nampak karena baju di bagian pundak Cia Sun robek ketika dia meloncat dan mendobrak lantai atas.
Cia Sun merasa betapa bulu-bulu tubuhnya meremang ketika jari-jari tangan yang berkulit halus itu menelusuri pundaknya dengan belaian sayang.
Dia menggerakkan pundaknya untuk menolak, akan tetapi karena dia berada dalam keadaan tertotok, pundaknya hanya bergerak sedikit saja, membuat Siang Hwa tertawa geli.
"Hihik, pemuda yang gagah dan tampan. Sun-koko, dugaanmu itu terbalik. Bukan aku kaki tangan mereka, akan tetapi mereka adalah kaki tanganku, para pembantuku. Sun-koko, tahukah engkau kenapa suhu dan subo tidak langsung saja membunuhmu? Akulah yang minta ampun. Nyaris aku dibunuh karena mintakan ampun untukmu, koko. Akan tetapi, aku menangis dan meratap minta agar engkau tidak dibunuh..."
"Hemm, apa maksudmu?"
Cia Sun bertanya, merasa heran mendengar bahwa murid kedua iblis itu mintakan ampun untuknya.
Tiba-tiba Siang Hwa merangkul leher pemuda yang masih rebah terlentang karena belum dapat bangun itu.
Tentu saja Cia Sun terkejut bukan main akan tetapi dia tidak mampu meronta atau mengelak, apalagi memukul.
Kedua tangannya ditelikung ke belakang, juga kedua kakinya terikat dan selain itu, kaki tangannya lumpuh oleh totokan.
"Sun-koko, tidak dapatkah engkau menebak? Aku cinta padamu..."
Aku cinta padamu, karena itu mati-matian aku mempertahankan nyawamu.
Kalau engkau mau membalas cintaku, kita akan hidup bahagia dan menjadi pembantu-pembantu suhu yang amat dipercaya.
Ah, koko, marilah kita hidup bahagia bersamaku..."
Siang Hwa mendekatkan mukanya dan siap untuk mencium dengan sikap yang amat memikat.
Bau harum semerbak keluar dari rambut dan leher gadis itu, akan tetapi hal ini sama sekali bukan membuat Cia Sun terpikat atau terangsang, sebaliknya mengingatkan dia akan bau harum asap beracun yang membuat dia dan Ci Kang terbius.
"Ci Kang... di mana dia?"
Gadis itu tersenyum manis dan karena mukanya sangat dekat, Cia Sun dapat melihat rongga mulut yang merah, lidah yang meruncing merah dan deretan gigi yang putih bersih.
Mulut yang penuh daya pikat, akan tetapi yang mendatangkan rasa jijik dan marah kepadanya karena maklum bahwa di balik kecantikan ini tersembunyi kejahatan yang mengerikan.
"Sun-koko, temanmu itu sudah dibunuh, dan kalau tidak ada aku, engkau tentu dibunuh pula. Karena itu, marilah kita mengecap kebahagiaan, mari kita menikmati hidup berdua..."
Gadis itu kini menunduk dan mencium bibir Cia Sun. Akan tetapi ia terkejut dan mengeluh.
"Aihhh..."
Ia merasa betapa bibir itu kaku dan dingin, betapa pemuda itu sama sekali tidak membalas perasaan cintanya, bahkan pemuda itu kini memandang marah.
"Iblis betina, perempuan tak tahu malu, jahanam busuk! Jangan harap aku akan dapat terbujuk olehmu. Bujuk rayumu tiada gunanya dan kalau mau membunuh aku, bunuhlah! Lebih baik seribu (Lanjut ke
Jilid 26) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 kali mati dari pada harus tunduk kepada ular betina seperti kamu ini!"
Siang Hwa melepaskan rangkulannya dan memandang dengan alis berkerut.
Pandang matanya membayangkan kekecewaan besar.
"Sun-koko, pikirlah baik-baik... engkau masih muda, gagah perkasa, haruskah mati konyol begitu saja? Sun-koko, aku cinta padamu dan aku dapat membahagiakanmu..."
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 15