Eps 6 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.
"Saya sudah melarangnya, ayah. Cin-Ling-Pai tidak pernah mencampuri urusan pemerintah,"
Kata Cia Kong Liang. Kakek itu mengangguk-angguk, lalu memandang kepada Hui Song yang diam saja.
"Hui Song, benarkah bahwa engkau bermaksud membantu kaisar dan menentang mereka yang hendak memberontak terhadap kaisar?"
Pemuda itu mengangguk, mengharap bantuan kakeknya dalam hal ini untuk menghadapi kekakuan ayahnya.
"Kongkong, dalam perantauanku aku melihat dan mendengar sendiri adanya para datuk kaum sesat yang dipimpin oleh Raja dan Ratu Iblis, yang merencanakan pemberontakan terhadap kaisar. Tidak benarkah kalau aku membantu pihak yang akan melindungi kerajaan dan menentang usaha pemberontakan itu?"
"Ha-ha-ha, tentu saja, cucuku. Engkau benar, dan sekarang pendekar memang sepatutnya kalau berjiwa pahlawan, membela negara nusa dan bangsa. Akan tetapi hal ini harus pula diperhitungkan dan dilihat kenyataan bagaimana sifat kaisar atau pemerintah yang dipimpinnya, bagaimana keadaan orang-orang yang memegang tampuk pimpinan itu! Kalau mereka itu lalim, kalau mereka itu menjadi penindas rakyat, apakah kita sebagai pendekar dan pahlawan juga harus membela kelaliman?"
"Nah, dengarkan ucapan kongkongmu itu Hui Song!"
Kata Cia Kong Liang.
"Terdapat kebijaksanaan dalam kata-kata itu!"
"Akan tetapi, mereka yang hendak memberontak itu adalah datuk-datuk sesat yang amat jahat, kongkong!"
Hui Song membantah. Kakek itu tersenyum sabar.
"Cucuku, engkau harus dapat membagi-bagi antara pejuangan para pahlawan dan perjuangan para pendekar. Pendekar adalah pembela kebenaran dan keadilan perorangan saja, karena itu dia memang harus memilih mana yang baik mana yang jahat, untuk membela yang baik dan menentang yang jahat. Akan tetapi dalam perjuangan para pahlawan berbeda lagi. Dalam perjuangan itu, untuk sementara sifatsifat pribadi perorangan tidak masuk hitungan lagi, yang penting adalah membela nusa bangsa dan kepentingan rakyat banyak."
"Jadi... dengan kata lain, kongkong membenarkan para datuk sesat yang hendak memberontak itu?"
Kakek itu tetap tersenyum ramah.
"Sudah kukatakan tadi, dalam hal ini kita harus memejamkan mata untuk sementara terhadap sifat-sifat pribadi karena hal itu mengenai urusan negara. Yang penting kita melihat keadaan mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Bagaimanakah keadaannya? Sepanjang pendengaranku, biarpun kini Liu-thaikam telah tertangkap dan tewas, namun keadaan kergjaan masih penuh dengan kotoran. Hanya beberapa orang menteri saja dan beberapa orang jenderal, yang merupakan pejabat-pejabat bersih. Lainnya bertangan kotor dan semua ini tidak terlepas dari tanggung jawab kaisar. Sri baginda kaisar masih terlalu muda dan terlalu membiarkan dirinya dimabok kesenangan, tidak memperdulikan pemerintahan. Kalau keadaan ini dibiarkan berlarutlarut, maka rakyatlah yang akan menderita. Oleh karena itu, kalau terjadl pemberontakan, hal itu kuanggap wajar, sebagai akibat dari tidak baiknya pemerintahan. Bukan berarti bahwa aku membenarkan para pemberontak, akan tetapi jelas bahwa pemerintahan seperti keadaannya sekarang tidak patut memperoleh bantuan para pendekar yang berjiwa patriot!"
"Akan tetapi, kongkong, bukankah sejak jaman dahulu yang disebut orang gagah dan patriot itu (Lanjut ke
Jilid 19) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 adalah orang-orang yang setia kepada kerajaan dan membela pemerintah mati-matian?
Bukankah orang orang seperti itu akan selalu menentang pemberontakan?"
"Hui Song, engkau belum mengerti!"
Bentak ayahnya.
"Seorang patriot adalah seorang gagah yang membela rakyat, membela nusa bangsa! Kalau pemerintahannya baik dan mengangkat nasib rakyat jelata, maka patriot tentu akan membela pemerintah itu mati-matian karena berarti membela rakyat pula. Sebaliknya, kalau pemerintahnya lalim dan dia membantu pemerintah, berarti dia membantu kelaliman dan ikut pula menindas rakyat. Yang seperti ini namanya bukan pahlawan, bukan patriot, melainkan antek-antek pembesar lalim!"
"Akan tetapi, ayah. Yang namanya pemberontak itu, sejak dahulu, bukankah dikutuk dan dianggap pengkhianat dan jahat?"
"Belum tentu! Tidak semua pemberontak jahat. Kalau orang memberontak terhadap pemerintah yang baik, maka jelas bahwa dia jahat dan pamrihnya untuk mencari keuntungan. Akan tetapi kalau dia memberontak terhadap pemerintah yang lalim, dia tidak dapat dinamakan jahat."
"Tapi pemberontak mengobarkan api perang saudara dan mengorbankan banyak harta milik dan nyawa rakyat jelata!"
"Itu pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik!"
Kakek Bin Mo To menjawab cepat.
"Untuk dapat membangun sesuatu yang lebih baik, kita harus berani membongkar yang lama dan buruk dan hal ini selalu mendatangkan pengorbanan. Cucuku, ingat bahwa dalam setiap pergantian kekuasaan, calon kaisar yang setelah menjadi kaisar melakukan perbaikanperbaikan dan bertindak bijaksana, tadinya adalah seorang pemberontak pula terhadap kekuasaan lama yang lalim."
Hui Song termenung.
Kewalahan juga dia dikeroyok oleh ayah dan kongkongnya, dan kini timbul keraguan dalam hatinya.
Gerombolan yang hendak memberontak itu dipimpin oleh Raja dan Ratu Iblis, yang dia ketahui jahat hanya dari pendengaran saja.
Akan tetapi Raja Iblis itu adalah seorang bekas pangeran, jadi, bukan tidak mungkin kalau pemberontakannya itu didorong oleh jiwa patriot untuk menghalau kaisar dan antek-anteknya yang tidak memperdulikan nasib rakyat.
Dia menjadi bingung, bimbang dan ragu, lalu mengundurkan diri dan menyendiri dalam kamarnya.
Malam itu Hui Song tak dapat tidur, gelisah dicekam keraguan dan kebingungan.
Sebagai seorang muda, dia merasa penasaran dan ingin menyelidiki sendiri.
Ingin dia melihat sendiri siapakah yang benar.
Pendapat ayah ibu dan kakeknya, ataukah pendapat Dewa Kipas dan golongannya?
Dia harus pergi, sekarang juga, untuk melakukan penyelidikan sendiri.
Pada keesokan harinya, ketua Cin-Ling-Pai dan isterinya hanya menemukan sesampul surat di dalam kamar Hui Song.
Dalam surat itu Hui Song mohon maaf dari ayah ibunya dan bilang bahwa dia ingin melakukan penyelidikan tentang usaha pemberontakan yang dipimpin para datuk sesat itu.
"Saya akan menyelidiki dengan seksama sebelum mengambil keputusan apa yang akan saya lakukan terhadap pemberontakan itu,"
Demikian Hui Song mengakhiri suratnya.
"Anak bandel!"
Cia Kong Liang mengepal tinju dengan marah, dan isterinya menangis.
Anak tunggal yang baru saja tiba setelah pergi bertahun-tahun, hanya semalam saja tinggal di rumah lalu pergi lagi tanpa pamit, entah ke mana.
"Ah, sudahlah. Tidak aneh kalau putera kalian haus akan petualangan. Bukankah kematangan seorang pendekar juga hanya bisa didapat melalui pengalaman? Biarkan Hui Song memperdalam pengetahuannya dalam perantauan,"
Kata Bin Mo To menghibur.
"Tapi, ayah. Aku ingin melihat dia menikah atau setidaknya bertunangan dulu dengan muridku Siang Wi. Eh, mana Siang Wi...?"
Isteri ketua Cin-Ling-Pai itu memanggil-manggil muridnya, akan tetapi tidak nampak bayangan Siang Wi.
Ketika para murid Cin-Ling-Pai ditanya, mereka mengatakan bahwa sejak pagi mereka tidak pernah melihat Hui Song maupun Siang Wi.
"Jangan-jangan muridmu itu pergi bersama puteramu,"
Kata Bin Mo To.
"Entahlah... akan tetapi baik sekali kalau memang begitu. Aku senang sekali kalau mereka pergi berdua meluaskan pengalaman. Kuharap saja dugaanmu itu benar, ayah,"
Kata Bin Biauw.
Selanjutnya, dalam percakapan di antara mereka, kakek Bin Mo To perlahan-lahan membujuk mantunya untuk mendukung setiap perjuangan menentang kaisar.
"Setiap usaha menentang pemerintahan yang buruk patut didukung oleh orang orang gagah. Dan perjuangan menentang kelaliman, siapapun juga yang memimpin perjuangan itu, adalah usaha yang benar dan baik,"
Antara lain Bin Mo To berkata dengan nada suara serius.
Mendengar ucapan ayahnya dan melihat sikap ayahnya sejak kemarin jelas mendukung pemberontakan terhadap kaisar, Bin Biauw mengerutkan alisnya dan memandang ayahnya dengan heran.
"Ayah, ada apa pulakah ini? Bukankah sejak puluhan tahun, semenjak aku menikah, ayah telah mencuci tangan dan tidak ingin mencampuri lagi segala urusan dunia? Kenapa kini tiba-tiba saja ayah begitu menaruh perhatian terhadap usaha pemberontakan itu dan mendukungnya?"
Bin Mo To tersenyum.
Anaknya ini memang cerdik sekali dan agaknya sudah amat mengenal gerak-geriknya.
Memang tepat sekali apa yang diduga dan ditanyakan Bin Biauw tadi.
Dia memang menaruh perhatian besar, bahkan mendukung gerakan itu.
Kiranya, gerakan yang dipimpin Raja dan Ratu Iblis, setelah diadakan pertemuan antara para datuk sesat, telah mengguncangkan dunia kaum sesat.
Berita itu disambut dengan ramai dan di daerah Ceng-tao juga terguncang oleh berita itu.
Biarpun Bin Mo To sudah lama mengundurkan diri dari dunia kang-ouw, akan tetapi dia tetap saja dikenal dan disegani oleh para tokoh hitam di wilayah pantai timur.
Bekas kawan-kawan kakek itu datang berkunjung dan urusan gerakan pemberontakan itu mereka bicarakan.
Mendengar bahwa gerakan itu dipimpin Raja Iblis yang sesungguhnya juga seorang pangeran bernama Toan Jitong, dan memperoleh dukungan Cap-sha-kui dan sebagian besar para datuk dan tokoh sesat, Bin Mo To tertarik sekali.
Dia sendiri sudah tua akan tetapi dia ingat akan mantunya.
Dia sama sekali tidak ingin menentang kerajaan karena bujukan atau karena paksaan, melainkan ada suatu hal yang mendorongnya.
Dia sudah muak akan kekayaan yang dirasakannya tidak mampu mendatangkan kabahagiaan.
Kini dia ingin melihat mantunya, sebagai suami anaknya, dapat meraih kedudukan.
Kalau orang seperti mantunya, ketua Cin-Ling-Pai, dapat ikut membantu perjuangan, dan kelak kalau pemberontakan itu berhasil, tentu mantunya akan memperoleh pangkat tinggi.
Dan anaknya akan terangkat dalam kemuliaan, juga dia sebagai mertua akan ikut pula naik derajatnya!
Inilah sebabnya mengapa Bin Mo To datang mengunjungi mantunya dan kebetulan sekali cucu dan mantunya bicara tentang pemberontakan.
Kini dia memperoleh jalan untuk membujuk mantunya.
"Anakku, ayahmu ini sudah tua, mana ada tenaga lagi untuk ikut berjuang? Perjuangan adalah untuk yang muda-muda. Akan tetapi, aku hanya dapat mendukung dalam batin. Dan siapa yang tidak akan mendukung perjuangan menumbangkan kekuasaan lalim karena hal itu berarti membebaskan rakyat dari kelaliman pemerintah?"
Demikian dia menjawab pertanyaan-pertanyaan puterinya tadi.
"Akan tetapi, sepanjang pendengaran saya, Kaisar Ceng Tek bukan seorang kaisar lalim, hanya masih terlalu muda sehingga dia lemah dan mudah dipermainkan oleh para pejabat tinggi yang membantunya,"
Kata Cia Kong Liang. Kakek itu mengangguk-angguk.
"Mungkin benar, akan tetapi kalau dia lemah dan membiarkan para pejabat merajalela dengan kelaliman mereka, apa bedanya? Tetap saja rakyat yang tertindas, dan hal itu berarti bahwa kaisar yang bersalah karena dia harus bertanggung jawab atas kelaliman para pembantunya."
Bin Mo To terus membujuk mantunya, dan dibantu oleh Bin Biauw yang memihak ayahnya, akhirnya Cia Kong Liang tertarik juga dan berjanji akan membantu kelak kalau saatnya telah tiba.
Hati Hui Song masih diliputi rasa penasaran dan dia nampak termenung ketika dia berjalan seorang diri melalui jalan raya yang kasar dan sunyi itu.
Hari itu amat panas dan perutnya terasa amat lapar.
Tengah hari sudah lewat dan dusun di depan sudah nampak genteng-gentengnya.
Sudah tiga hari dia meninggalkan Cin-ling-san dan kini Gunung Cin-ling-san sudah tertinggal jauh di belakang, hanya nampak puncaknya saja dari situ.
Dia merasa penasaran dan gelisah.
Benarkah ayahnya dan kakeknya dan salahkah gurunya Si Dewa Kipas, juga Dewa Arak yang menjadi guru Sui Cin?
Benarkah ayah dan kakeknya bahwa pemerintah tidak baik dan sudah sepatutnya kalau ditumpas?
Akan tetapi...
membantu gerakan gerombolan seperti Cap-sha-kui itu?
Ah, tidak mungkin dapat dia lakukan!
Orang-orang seperti mereka itu amat jahat dan perjuangan murni bagaimanapun yang menjadi alasannya, dia tidak sudi bekerja sama dengan kaum sesat itu.
Dan diapun yakin bahwa Sui Cin juga tidak mungkin sudi membantu para datuk hitam itu.
Bagaimanapun juga, dia tidak boleh sembrono, tidak boleh secara membuta membenarkan satu pihak saja tanpa penyelidikan sendiri.
Dia tahu bahwa kaisar memang dikelilingi pembesar lalim dan korupsi merajalela di seluruh negeri.
Setiap orang pejabat disangsikan kejujurannya karena terlalu banyak pejabat yang mempergunakan hak dan kekuasaannya untuk menindas dan untuk mengeruk kekayaan bagi diri sendiri.
Pada jaman itu, sukarlah ditemukan pejabat yang jujur dan benar-benar merupakan pelindung rakyat.
Dan memang sudah menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kebobrokan ini, akan tetapi dia sangsi apakah tepat kalau dia membantu pemberontakan para datuk sesat, walaupun pemberontakan itu berdalih mengenyahkan pemerintah lalim.
Sukar dia membayangkan sebuah pemerintahan baru yang lebih baik kalau kekuasaan berada di tangan para datuk sesat!
Dia sudah mendekati dusun di depan ketika terdengar derap kaki kuda dari arah belakangnya.
Hui Song cepat minggir karena jalan itu sempit, memberi kesempatan kepada si penunggang kuda untuk lewat lebih dulu.
Dan ternyata kuda itu lewat dengan cepat di sampingnya, seekor kuda yang besar dan baik.
Hui Song dapat mengenal kuda baik, akan tetapi begitu penunggang kuda lewat di sampingnya, hidungnya mencium bau yang harum sekali, membuat dia memperhatikan si penunggang kuda.
Seorang wanita muda yang berwajah cantik, bertubuh ramping dengan pakaian yang sederhana potongannya namun bersih dan baru dan minyak wangi yang dipergunakan wanita itu sungguh harum.
Wajah gadis ini mengingatkan Hui Song kepada Sui Cin karena memiliki ciri kecantikan yang sama.
Rambutnya hitam panjang, berjuntai di punggung dan diikat pita merah.
Bagian atasnya yang tidak tertutup menjadi kusut karena tiupan angin, namun kekusutan itu tidak mengurangi kecantikannya, bahkan menambah manis.
Sebatang bunga putih menghias di atas telinga kirinya.
Telinganya memakai antinganting emas dan selain itu tidak ada perhiasan menempel di tubuhnya.
Yang membuat gadis itu nampak lebih manis adalah sebuah tahi lalat hitam yang menghias di atas dagu sebelah kiri, agak di bawah mulut.
Dan ketika gadis itu mengerling ketika lewat, Hui Song merasa jantungnya berdebar.
Lirikan itu sungguh tajam dan mengandung banyak arti, lirikan yang dapat dikatakan genit memikat!
Lirikan yang dihias senyum membayang pada bibir yang tipis merah membasah itu.
Dan ketika kuda itu sudah lewat, dari belakang Hui Song dapat melihat betapa gadis itu memiliki pinggang yang amat ramping dan pinggulnya menari-nari di atas punggung kudanya ketika kuda itu berlari congklang.
Agak sukar menduga orang macam apa adanya gadis itu.
Usianya tentu tidak kurang dari dua puluh empat tahun.
Melihat pakaiannya yang cukup sederhana, dengan baju luar berkembang, ia seperti seorang gadis dusun biasa saja.
Akan tetapi perawatan mukanya menunjukkan bahwa ia seorang gadis kota.
Ia tidak membawa senjata, seperti seorang gadis lemah biasa saja, akan tetapi melihat cara ia menguasai kudanya, membayangkan bahwa ia bukan seorang gadis yang begitu lemah, dan terutama sekali jelas bahwa ia menguasai ilmu menunggang kuda dengan cukup baik.
Kuda dan penunggangnya itu bersembunyi di balik debu yang ditimbulkan oleh kaki kuda dan akhirnya menghilang di balik pagar tembok dusun, melalui pintu gerbang yang terbuka lebar.
Hui Song sudah melupakan gadis itu ketika dia memasuki dusun, Sebuah dusun yang cukup besar dan hatinya girang melihat bahwa di dalam dusun Lokcun itu terdapat rumah penginapan dan juga terdapat sebuah restoran yang cukup besar.
Setelah memesan sebuah kamar dalam rumah penginapan sederhana itu, dia lalu keluar memasuki kedai makan yang cukup besar dan ramai dikunjungi tamu.
Ada belasan meja di situ dan lebih dari setengahnya diduduki tamu yang makan sore.
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dan melihat sikap mereka yang bebas mudah diduga bahwa mereke adalah langgananlangganan restoran itu.
Akan tetapi di sudut yang terpisah Hui Song melihat dua orang kakek duduk berhadapan dan keadaan kakek itu menarik perhatiannya sehingga diapun memilih meja yang tidak berjauhan dengan dua orang tamu itu, hanya terpisah dua meja kosong.
Dua orang kakek itu berusia kurang lebih enam puluh tahun.
Seorang di antara mereka bertubuh tinggi kurus dan tubuh itu nampak menjadi semakin jangkung karena dia memakai sebuah topi hitam yang tinggi, topi seperti yang biasa dipakai oleh tosu atau kepala agama atau pertapa.
Jubahnya juga lebar dan kedodoran menutupi semua tubuhnya dari leher sampai kaki yang mengenakan sepatu kulit setinggi betis.
Rambutnya panjang dibiarkan terurai di depan dan belakang, mencapai dadanya.
Tubuhnya yang kurus itu seperti tulang dibungkus kulit, seperti tengkorak berkulit, dengan sepasang mata kecil yang dalam.
Kumis dan jenggotnya membentuk lingkaran hitam di sekeliling mulutnya.
Adapun orang kedua tidak kalah anehnya.
Orang ini tubuhnya besar dan perutnya gendut, dibiarkan perutnya itu nampak karena bajunya terbuka tanpa kancing, atau kancingnya agaknya sudah putus semua karena besarnya perut, atau memang baju itu kurang lebar untuk dapat menutupi perutnya.
Perut gendut dan dadanya terbuka.
Jubahnya juga lebar dan panjang di bagian belakang, sampai hampir menyentuh tanah.
Sebuah guci arak tergantung di pinggang kanan.
Kepalanya yang bundar itu dicukur gundul kecuali di tengah-tengah, di atas ubun-ubun terdapat segumpal rambut yang diikat dengan tali kasa.
Kakek ini seperti hwesio akan tetapi bukan hwesio sedangkan temannya itu seperti tosu akan tetapi bukan tosu.
Pada jaman itu, banyak para pendeta dan pertapa yang meninggalkan pantangan makan daging dan berkeliaran memasuki rumahrumah makan, maka kehadiran dua orang itupun tidak menimbulkan perhatian orang.
Namun tidak demikian bagi Hui Song.
Pemuda ini amat tertarik dan menaruh perhatian karena sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dari sinar mata, gerak-gerik dan sikap dua orang kakek itu, dia dapat menduga bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan.
Tiba-tiba percakapan di sebelah kirinya di antara empat orang muda yang sudah setengah mabok menarik perhatian Hui Song.
Pesanan makanan sudah dihidangkan dan sambil makan diapun memasang telinga mendengarkan percakapan yang terdengar cukup lantang, dan jelas dapat dikenal suara orang setengah mabok.
"Huh, di jaman seperti sekarang ini, mana ada orang benar?"
Terdengar suara yang lantang seorang pemuda bermuka hitam.
Dengan kepala bergoyang-goyang dan mulut menyeringai tanda kemabokannya, dia melanjutkan.
"Sekarang ini jamannya pagar makan tanaman, mereka yang menjadi pelindung malah mengganyang yang dilindungi sendiri. Tidak ada orang dapat dipercaya sekarang ini!"
"Benar, benar! Jamannya sudah berubah, penjahat-penjahat kabarnya berjiwa patriot, sebaliknya orang-orang yang menjadi pendeta melakukan Hal-hal memalukan. Lihat saja, di mana-mana terdapat pendeta-pendeta yang lahap makan daging dan mabok-mabokan minum arak, huh!"
Mudah saja diketahui bahwa orang kedua yang mukanya kekuningan ini dalam maboknya telah menyindir dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu dan hwesio itu.
Empat orang pemuda itupun melirik ke arah dua orang kakek itu penuh ejekan, sedangkan Hui Song juga mengamati dari sudut kerlingnya.
Diam-diam Hui Song mencela empat orang pemuda mabok-mabokan ini yang tak tahu diri, tidak mengenal gelagat berani sekali menyinggung dua orang kakek yang sama sekali tidak pernah mengganggu mereka itu.
Dan dia khawatir kalau-kalau dua orang kakek itu marah.
Akan tetapi dari kerling matanya dia melihat bahwa dua orang kakek itu diam saja, seolah-olah tidak mendengar percakapan lantang itu dan melanjutkan makan minum tanpa memberi komentar, bahkan sedikitpun juga tidak menoleh ke arah meja empat orang yang menyindir mereka itu.
Agaknya mereka sudah selesai makan sekarang.
Keduanya bangkit berdiri, membayar harga hidangan lalu melangkah keluar.
Ketika mereka berjalan menuju keluar pintu, mereka melewati meja Hui Song.
Tiba-tiba pemuda itu terkejut bukan main karena ketika dua orang itu lewat, dia merasa ada dua hawa yang amat berlainan.
Si jangkung berjalan di depan dan ketika dia lewat, Hui Song merasakan hawa yang amat panas lewat pula, sebaliknya ketika si gendut yang lewat, ada hawa yang amat dingin.
Akan tetapi Hui Song belum menduga buruk, dan kedua orang itu kini lewat di dekat meja empat orang muda yang masih bercakap-cakap dengan asyik dan melirik ke arah dua orang kakek itu dengan mulut menyeringai penuh ejekan.
Tidak terjadi sesuatu dan dua orang kakek itupun tidak kelihatan bergerak melakukan serangan.
Akan tetapi setelah tiba di ambang pintu, mereka menoleh dan tiba-tiba empat orang pemuda itu mengeluarkan teriakan-teriakan kesakitan dan merekapun terguling roboh.
Kursi-kursi mereka terbawa roboh dan semua tamu tentu saja memandang terbelalak melihat betapa empat orang muda itu berkelojotan dan mata mereka mendelik, dari mata, hidung, mulut dan telinga keluar darah!
Karena tidak menaruh curiga, tidak seorangpun di antara para tamu itu menoleh kepada dua orang kakek.
Akan tetapi Hui Song memandang kepada mereka dan melihat betapa mereka itu melepas senyum keji lalu mereka membalik dan terus melangkah lebar keluar dari rumah makan itu.
Hui Song cepat meninggalkan mejanya setelah meninggalkan harga makanan di atas meja.
Sekali melewati empat orang yang kini sudah tidak bergerak lagi dan sudah tewas itu tahulah dia tanpa memeriksa bahwa empat orang itu tewas karena pukulan beracun atau senjata gelap beracun, maka diapun langsung saja mengejar keluar.
Dia celingukan dan akhirnya dia melihat bayangan dua orang yang dicarinya itu, sudah jauh di depan, mendekati pintu gerbang dusun Lokcun.
Diapun cepat melakukan pengejaran.
Tepat seperti yang telah diduganya, dua orang kakek itu ternyata lihai.
Begitu tiba di luar dusun, mereka berdua lalu berkelebat dan berlari cepat sekali, bagaikan terbang saja!
Akan tetapi, Hui Song adalah seorang pendekar muda gemblengan yang telah mewarisi bermacam ilmu yang hebat-hebat.
Apalagi selama tiga tahun dilatih Si Dewa Kipas, dia telah memperoleh kemajuan pesat dan latihan beban besi pada kedua kakinya kini membuat ginkangnya juga memperoleh kemajuan.
Ketika dia meloncat dan berlari, tubuhnya amat ringan dan diapun dapat berlari amat cepatnya melakukan pengejaran.
Dua orang kakek itu agaknya maklum bahwa ada orang yang mengejar, karena mereka itu tiba-tiba membelok memasuki hutan dan gerakan lari mereka semakin cepat.
Hui Song terus mengejar dan akhirnya, karena makin lama jarak di antara mereka semakin dekat, tiba-tiba dua orang yang merasa tidak akan dapat melepaskan diri dari pengejarannya, berhenti di sebuah tempat terbuka yang merupakan padang rumput kecil di antara hutan di lereng bukit itu.
Mereka berdiri tegak dan mengambil sikap menantang, juga sinar mata mereka membayangkan kemarahan.
Begitu Hui Song tiba di depan mereka, kedua orang kakek itu memandang dengan penuh selidik, kemudian si jangkung yang mukanya kelihatan kering dan galak itu menegur.
"Orang muda, siapakah engkau dan kenapa engkau mengikuti dan mengejar kami?"
Hui Song maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang pandai.
Dia tidak mau bersikap sembrono sebelum mengenal mereka dan tahu mengapa mereka membunuh orang-orang sedemikian mudah dan kejinya, maka diapun menjura dengan hormat.
"Harap jiwi locianpwe suka memaafkan kalau aku bersikap kurang hormat dan melakukan pengejaran. Secara kebetulan aku melihat jiwi melakukan pembunuhan di dalam restoran terhadap empat orang itu..."
"Hemm, engkau yakin bahwa kami yang membunuh mereka?"
Tanya si gendut.
"Pembunuhan itu dilakukan dengan serangan beracun dan hanya jiwi yang mampu melakukan serangan seperti itu. Mengapa jiwi membunuh mereka?"
Dua orang kakek itu saling pandang, nampaknya terkejut melihat betapa pemuda yang pandai berlari cepat ini ternyata bermata tajam.
Si jangkung lalu menarik napas panjang dan berkata dengan nada suara menantang.
"Baik, memang kami yang membunuh mereka. Habis, kau mau apa? Siapa engkau?"
Hui Song mulai mengerutkan alisnya.
Jawaban kedua orang ini sungguh merupakan tantangan dan sikap mereka bukan seperti sikap orang baik-baik.
Akan tetapi dia masih tersenyum dan menjawab.
"Namaku Cia Hui Song dan kalau benar jiwi yang membunuh mereka, aku ingin sekali mengetahui mengapa jiwi melakukan pembunuhan sedemikian keji. Apakah hanya karena ucapan yang mereka keluarkan di restoran itu?"
"Ha-ha, engkau sudah tahu akan tetapi masih juga bertanya. Telingamu sendiri tentu sudah menangkap penghinaan mereka yang ditujukan kepada kami,"
Kata si gendut dan perutnya bergerak aneh, seperti ada seekor kelinci besar yang hidup di dalam perutnya dan kini berlari ke sana-sini.
Melihat ini, Hui Song terkejut.
Si gendut ini memiliki sinkang yang amat kuat, pikirnya.
"Kalau hanya ocehan orang-orang yang mabok saja membuat jiwi demikian ringan tangan membunuh orang, sekaligus empat nyawa, sungguh aku tidak dapat menerimanya begitu saja,"
Katanya dan sinar matanya mencorong menyambar ke arah wajah kedua orang kakek itu yang kelihatan terkejut sekali.
Baru sekarang mereka melihat betapa sepasang mata pemuda itu mencorong seperti itu, juga mereka berpikir-pikir mendengar nama keturunan Cia itu, diam-diam menduga-duga apakah pemuda ini ada hubungannya dengan keluarga Cin-Ling-Pai yang juga she Cia.
"Bagus, bagus! Engkau orang muda yang bernyali besar! Kami sudah membunuh empat orang lancang mulut dan kurang ajar itu. Nah, kalau engkau tidak dapat menerimanya, habis engkau mau apa?"
Tantang lagi si jangkung sambil bertolak pinggang di sebelah dalam jubahnya dengan cara menyisipkan tangannya ke dalam jubah.
Hui Song yang bermata tajam melihat gerakan tak wajar ini dan dia sudah bersikap waspada dan siap siaga.
"Jiwi sebagai pembunuh-pembunuh harus ikut bersamaku untuk menyerahkan diri kepada petugas keamanan. Kejahatan yang jiwi lakukan harus diadili."
Dua orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha!"
Si gendut berkata.
"Engkau ini seperti seekor burung yang baru turun dari sarang dan belajar terbang, tidak mengenal peraturan kang-ouw. Bagi kami, hukum berada di tangan kami sendiri. Siapa bersalah terhadap kami akan kami hukum sendiri dan tidak ada pengadilan yang boleh mengadili kami!"
Tentu saja Hui Song sudah mengenal kehidupan dunia kang-ouw yang tidak mengenal hukum pemerintah itu.
"Karena itulah maka aku harus menentang kejahatan yang tidak diadili. Jiwi membunuh orang tak berdosa, tak mungkin dapat dilepaskan begitu saja tanpa hukuman..."
Tiba-tiba tangan kiri yang tadinya menyusup ke balik jubah itu bergerak dan Hui Song cepat meloncat ke samping, membiarkan tiga sinar menyambar lewat.
Itulah pisau-pisau kecil yang menyambar cepat sekali dan bau amis yang tercium olehnya ketika pisau-pisau itu lewat, tahulah dia bahwa senjata-senjata rahasia itu beracun.
Akan tetapi yang mencabut nyawa empat orang di dalam restoran itu bukanlah senjata seperti ini, melainkan lebih kecil lagi atau mungkin juga hanya pukulan jarak jauh yang mengandung racun.
"Kau bocah yang bosan hidup!"
Melihat pemuda itu dapat menghindarkan serangan gelap kawannya, si gendut membentak dan kedua tangannya bergerak ke depan, dengan jari-jari terbuka dia memukul dengan gerakan mendorong ke arah dada Hui Song.
Angin pukulan dahsyat menyambar ke depan dan mengeluarkan hawa dingin!
Hui Song mengenal pukulan ampuh yang mengandung sinkang kuat, maka diapun mengerahkan tenaga dan menyambut dengan kedua tangan pula.
"Syuuuttt... dukkk..."
Dua tenaga dahsyat bertemu di udara dan biarpun tangan mereka belum bersentuhan, masih dalam jarak beberapa senti, namun benturan tenaga sinkang dahsyat itu sudah memperlihatkan akibatnya.
Tubuh si gendut terpental ke belakang dan Hui Song tetap tegak walaupun tubuhnya terguncang hebat.
Dua orang kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran, lalu merekapun melompat dan melarikan diri!
Hui Song tidak mengejar.
Dia maklum bahwa dua orang kakek itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amatlah berbahaya mengejar dua orang selihai itu padahal mereka sudah melarikan diri dan agaknya tidak menginginkan permusuhan dengan dirinya.
Bagaimanapun juga, empat orang itu telah tewas dan dia bukan seorang petugas keamanan.
Andaikata empat orang itu belum tewas dan berada dalam ancaman bahaya, sudah menjadi tugasnya untuk melindungi mereka.
Akan tetapi, mereka telah tewas karena kelancangan mulut mereka sendiri.
Sambil menduga-duga siapa adanya dua orang kakek yang seperti pendeta akan tetapi mempunyai watak seperti iblis kejamnya itu, mudah membunuh orang hanya karena urusan amat kecil, dia lalu kembali memasuki dusun Lokcun.
Matahari sudah condong ke barat ketika dia memasuki dusun dan menuju ke rumah penginapan di mana dia sudah menyewa sebuah kamar.
Bagaimanapun juga, hati Hui Song tertarik sekali dengan keadaan dusun ini.
Dusun yang kecil saja akan tetapi cukup ramai karena di sekitar bukit itu terdapat bukit yang menghasilkan banyak rempahrempah sehingga penduduknya cukup makmur.
Yang menarik hatinya adalah munculnya dua orang kakek itu di tempat kecil seperti ini.
Setelah mandi dan makan malam, dia mencari keterangan kepada pelayan penginapan itu tentang keadaan dusun dan terutama sekali dia menyelidiki apakah di tempat itu terdapat kuilnya mengingat bahwa dua orang kakek itu berpakaian seperti pendeta.
"Dahulu memang terdapat sebuah kuil di pinggir dusun sebelah selatan,"
Pelayan itu menerangkan.
"akan tetapi semenjak empat lima tahun ini, kuil itu kosong, bahkan tidak ada orang berani mendekati, terutama sekali di waktu malam."
"Eh, kenapa?"
Hui Song bertanya.
"Karena... tempat itu angker, ada setannya."
"Hemm, benarkah itu? Ada setannya bagaimana dan mengapa kuil itu ditinggalkan? Ke mana perginya para pendetanya?"
"Kuil itu dahulu adalah kuil Kwan Im Posat yang diurus oleh lima orang nikouw, yaitu seorang nikouw tua bersama empat orang muridnya yang usianya kira-kira tiga puluh tahun. Akan tetapi pada suatu malam, terdengar jeritan-jeritan dari kuil itu dan pada keesokan harinya, kami para penduduk melihat mereka berlima telah tewas dalam keadaan mengerikan!"
Pelayan itu bergidik dan kelihatan ketakutan.
"Bagaimana? Terbunuhkah?"
"Mereka terbunuh... dan agaknya iblis-iblis saja yang dapat melakukan pembunuhan itu. Kepala mereka berobah hitam membengkak, dan empat orang nikouw muda itu kesemuanya telanjang bulat."
Hui Song mengerutkan alisnya.
Bukan iblis, pikirnya, melainkan orang atau orang-orang yang amat kejam dan jahat, dan bukan tidak mungkin empat orang nikouw muda itu diperkosa penjahat sebelum mereka dibunuh.
"Dan semenjak peristiwa itu, kuil itu dibiarkan kosong dan sekarang, seperti keteranganmu tadi, ada setannya? Bagaimana pula itu?"
Pelayan itu mengangguk-angguk.
"Para penduduk mengurus jenazah mereka dan sejak hari itu, kuil dibiarkan kosong dan tidak ada yang berani tinggal, bahkan mendekatipun tidak berani, apalagi di waktu malam. Sering terdengar suara-suara aneh dan nampak bayangan-bayangan setan di sekitar kuil. Bahkan beberapa orang pemberani yang mengumpulkan tenaga sebanyak sepuluh orang pernah tidur di sana untuk membuktikan dan mereka semua tertidur pulas atau pingsan dan tahu-tahu tubuh mereka digantung di atas pohon, dengan kaki di atas dan kepala di bawah!"
"Mati...?"
Tanya Hui Song kaget.
"Tidak, hanya pingsan. Akan tetapi tentu saja hal itu membuat kami semua makin takut dan sejak itu tidak ada orang berani mencoba-coba mendekati kuil di waktu malam, apalagi tidur di situ."
Mendengar keterangan ini, Hui Song makin tertarik.
Hampir yakin hatinya bahwa tempat itu tentu saja menjadi tempat yang amat baik bagi orang-orang jahat untuk menyembunyikan diri mereka.
Dan dia teringat akan dua orang kakek siang tadi.
Bukan tidak mungkin kalau mereka itupun mempergunakan tempat yang ditakuti orang itu untuk bersembunyi atau setidaknya melewatkan malam.
Malam itu Hui Song keluar dari penginapan dan berjalan menuju ke selatan.
Setelah tiba di depan kuil, dia melihat bahwa tempat itu memang terpencil dan sunyi.
Gelap sekali di situ, dan kuil itu nampak sunyi kosong dan menyeramkan.
Pohon-pohon besar yang tumbuh di depan dan kanan kiri kuil menambah keseraman.
Batang-batang pohon itu nampak kehitaman dan cabang serta ranting-ranting yang belum lebat menutupi sebagian genteng kuil yang nampak masih kokoh namun kotor tidak terpelihara itu.
Memang sebuah tempat yang amat sunyi, juga menyeramkan apalagi kalau mengandung cerita tentang setan-setan.
Baru mengingat akan kematian lima orang nikouw itu saja sudah mendatangkan kengerian, apalagi sudah terjadi keanehan pada sepuluh orang pemberani yang berani tidur di situ.
Di pohon-pohon itukah mereka kedapatan tergantung dengan kepala di bawah?
Hui Song mengayun tubuhnya, meloncat ke atas pohon dan mengintai.
Sampai beberapa lama dia mengintai dengan sembunyi di atas cabang, di balik daun-daun lebat.
Namun tidak nampak sesuatu dan tidak terdengar sesuatu dari dalam kuil.
Ketika dia memandang dari atas ke arah empat penjuru, nampak kelapkelip sinar lampu rumahrumah agak jauh dari kuil, sedangkan di kuil dan sekelilingnya sunyi saja, sunyi dan gelap.
Malam makin larut dan kini nampak bulan sepotong tersembul naik dari awan awan gelap yang menutupinya.
Awan-awan terakhir meninggalkannya sehingga kini cahaya bulan menerangi pohon dan genteng kuil, cukup terang bagi Hui Song sehingga dia dapat melihat berkelebatnya bayangan orang!
Bukan setan, melainkan orang!
Tentu saja, kalau ada penduduk dusun yang kebetulan melihat bayangan itu, akan menyangka bahwa itu adalah bayangan setan karena memang bayangan itu berkelebat dengan amat cepatnya, akan sukar dlikuti oleh pandang mata orang biasa.
Hui Song melihat seorang gadis cantik berhenti di atas wuwungan kuil, setelah tadi gadis itu menjadi bayangan berkelebatan di bawah, kemudian dengan ringan sekali melayang naik.
Dan diapun terkejut dan terheran.
Dia mengenal gadis ini!
Bukan lain adalah gadis penunggang kuda yang melewatinya di luar dusun, ketika dia akan memasuki dusun Lokcun.
Dan kini tidak menunggang kuda, melainkan berlompatan dengan gesit dan ringan.
Akan tetapi pakaian yang dipakainya masih seperti tadi.
Gadis yang sederhana akan tetapi manis sekali.
Karena kaget tadi, dan karena ingin memandang lebih jelas, Hui Song membuat gerakan sehingga ranting-ranting dari cabang yang diinjaknya bergoyang dan daun-daunnya ikut pula bergoyang.
Sedikit saja, seperti goyangan angin, namun cukup bagi wanita itu yang memandang ke sekeliling untuk dapat melihat ketidak-wajaran ini.
Hanya ranting-ranting di cabang itu yang bergoyang, sedangkan angin tidak ada sedikitpun juga di malam itu.
"Wuuuttt... citcittt..."
Dua sinar putih menyambar ke arah Hui Song ketika gadis itu menggerakkan jari tangan kirinya.
Kiranya ada dua batang jarum sulam yang meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah tubuh pemuda itu.
"Aihh... galak amat..."
Hui Song melompat keluar dari balik rumpun daun dan berdiri di atas wuwungan, berhadapan dengan gadis itu sambil tersenyum.
Dua batang jarum dia serahkan kepada gadis itu.
"Sayang jarummu ini, nona, engkau akan kehilangan dan tidak dapat melanjutkan pekerjaanmu menyulam."
Dia sudah melihat bahwa jarum itu tidak mengandung racun, maka diapun tidak menyangka buruk.
Dengan pandang mata kagum dan tangan cekatan, gadis itu mengambil kembali dua batang jarumnya dan menyimpannya di dalam saku di balik baju luar.
"Siapa kau?"
"Nanti dulu, nona. Kita sudah saling bertemu di luar dusun dan kenapa engkau begitu mudah menyerangku dengan Jarum-jarummu? Kalau aku tidak hati-hati dan jarummu itu menembus kepala atau dadaku, bukankah sekarang juga aku sudah tidak dapat menjawab pertanyaanmu tadi?"
Sejenak sepasang mata yang tajam dan jeli itu menatap wajah Hui Song penuh selidik dan kekerasan, yang tadi membayang di wajah manis itu mulai melembut.
Wajah pemuda yang tampan, gagah dan juga penuh senyum itu amat menarik dan mengagumkan hatinya.
Akan tetapi ia masih menaruh curiga.
"Engkau memata-matai dan menyelidiki tempatku!"
Bentaknya.
Hui Song tersenyum dan kembali pada sepasang mata tajam itu terbayang kekaguman.
Sungguh ganteng pemuda ini, apalagi kalau tersenyum.
"Nona, menurut cerita orang di dusun ini, kuil ini adalah tempat tinggal para setan. Bagaimana menjadi tempat tinggalmu? Aku yakin engkau bukan setan."
"Untuk sementara aku memilih tempat sunyi ini sebagai tempat berteduh, dan engkau malam-malam begini datang dan bersembunyi di dalam pohon, tentu bermaksud buruk. Agaknya engkau mengandalkan sedikit kepandaianmu menangkap Jarum-jarumku. Nah, lihat serangan!"
Gadis itu kembali menjadi galak dan tiba-tiba saja melakukan serangan yang cukup keras dan cepat.
"Dukk! Plakk!"
Hui Song menangkis dua kali dan setiap kali ditangkis, tubuh gadis itu terdorong mundur.
Hal ini amat mengejutkan hati gadis itu.
Tak disangkanya bahwa pemuda ini benar-benar amat lihai, maka iapun lalu mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya menyambar-nyambar, serangannya semakin hebat dan cepat.
Jari-jari tangannya berubah kaku keras dan dia menyelingi pukulan-pukulan dengan cengkeraman atau totokan ke arah jalan-jalan darah yang berbahaya.
Akan tetapi, Hui Song menghadapi semua serangan itu dengan tenang saja.
Ia mengelak ke sana-sini, Kadang-kadang menangkis dan tidak pernah membalas.
"Eiiit, perlahan dulu, nona. Kenapa galak amat? Kita tidak pernah bermusuhan, mengapa engkau menyerangku dengan pukulan-pukulan maut? Eiiit, sayang tak kena!"
Nona itu semakin penasaran dan tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah saputangan sutera putih dari lengan bajunya.
Saputangan itu dipergunakannya sebagai senjata dan biarpun saputangan itu hanya merupakan kain sutera tipis lemas, namun di tangannya berubah menjadi senjata ampuh, Kadang-kadang merupakan cambuk yang melecut dan mengeluarkan suara ledakan, Kadang-kadang menjadi kaku dan keras seperti besi baja!
Hui Song masih tetap tenang.
Saputangan sutera itu boleh jadi berbahaya bagi lain orang, akan tetapi baginya tidak ada artinya.
Pula, dia mendapat kenyataan bahwa saputangan itu tidak mengandung racun, seperti Jarum-jarum tadi, maka hatinya semakin senang.
Seorang gadis manis seperti ini tidak mau berlaku curang, tentu seorang gadis baik-baik, Mungkin seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa, seorang pendekar wanita seperti Sui Cin.
Dia mulai membanding-bandingkan.
Gadis ini juga cantik manis, dan juga galak seperti Sui Cin, akan tetapi kalau dinilai dari kepandaian silatnya, Sui Cin tentu saja lebih lihai, apalagi sekarang setelah Sui Cin digembleng oleh Dewa Arak!
Dia ingin sekali menguji sampai di mana kemajuan dan kelihalan Sui Cin sekarang.
Gadis itu semakin kagum saja, terbukti dari seruan-seruannya ketika setiap serangannya selalu dapat dihindarkan oleh lawan dengan amat baik.
Dan diapun menyerang semakin nekat.
Melihat ini, Hui Song mengerutkan alisnya.
Nona ini bukan orang sembarangan, memiliki ilmu silat tinggi, tentu sudah tahu bahwa dia sengaja mengalah dan tidak pernah membalas.
Akan tetapi mengapa nona ini nekat menyerang terus?
"Nona, hentikanlah seranganmu dan mari kita bicara.
Di antara kita tidak ada permusuhan.
Kalau engkau tidak mau berhenti, terpaksa aku akan membalas!"
Terpaksa dia mengancam dan dia mengepal tinju kanan, siap untuk membalas serangan kalau lawannya tetap berkeras hati tidak mau menyudahi perkelahian itu.
Tiba-tiba saputangan sutera itu menyambar lagi ke arah muka Hui Song dan kini benda itu menjadi lemas.
Karena yang diserang adalah mukanya dan karena dia sudah mengambil keputusan untuk membalas, Hui Song menarik tubuh atasnya ke belakang dan saputangan itu tidak mengenai muka, hanya lewat saja.
Akan tetapi tiba-tiba hidungnya mencium bau yang sangat wangi dan tiba-tiba saja kepalanya pening dan pandang matanya gelap.
"Celaka..."
Teriaknya, sadar bahwa sekali ini, entah bagaimana caranya, saputangan itu mengandung bubuk beracun yang ketika dikebutkan telah menyambar dan masuk ke dalam hidungnya, membuat dia keracunan.
"Tukk!"
Jari tangan gadis itu sudah menyambar dan menotok pinggang, membuat Hui Song yang sudah setengah pingsan itu seketika menjadi lemas.
Dia masih mendengar suara gadis itu terkekeh disusul kata-katanya memuji.
"Engkau gagah perkasa..."
Dan diapun tidak ingat apa-apa lagi.
Juga dia tidak sadar sama sekali ketika gadis itu memondongnya dan membawanya melompat turun dari atas genteng, lalu membawanya masuk ke dalam sebuah kamar dalam kuil itu.
Kalau saja Hui Song tahu siapa gadis ini, tentu dia tidak akan bersikap sembrono dan mengalah seperti tadi.
Gadis yang berusia dua puluh empat tahun ini memang kelihatannya saja cantik manis dan lemah lembut, juga tidak nampak membawa senjata atau bersikap menyeramkan.
Akan tetapi sesungguhnya ia merupakan seorang tokoh besar dunia hitam pada waktu itu, dan walaupun ia baru saja keluar dari tempat pertapaan bersama gurunya, ia boleh dibilang menduduki tempat tinggi di kalangan kaum hitam, terbawa oleh nama gurunya yang ditakuti semua orang di dunia kaum sesat.
Siapakah gurunya?
Bukan lain adalah Pangeran Toan Jitong atau Si Raja Iblis sendiri!
Tokoh sakti Toan Jitong yang dijuluki Raja Iblis dan isterinya yang berjuluk Ratu Iblis itu walaupun merupakan sepasang tokoh yang memiliki kesaktian luar biasa, hanya mempunyai seorang murid itulah.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa sayangnya mereka kepada murid itu dan tentu saja murid itu digembleng dan diberi pelajaran ilmu-ilmu yang hebat.
Murid itu bernama Gui Siang Hwa, seorang gadis yatim piatu yang dipelihara suami isteri itu semenjak berusia sepuluh tahun dan digembleng dengan ilmu-ilmu yang hebat.
Selain ahli dalam bermacam ilmu silat, memiliki sinkang kuat dan ginkang yang hebat, juga gadis ini amat ahli dalam pengolahan dan penggunaan racun, terutama sekali racun yang berbau wangi.
Karena pandainya bermain racun wangi, dan karena memang ia cantik manis, maka sebentar saja ia memperoleh julukan Siangtok Sianli (Dewi Racun Wangi).
Siang Hwa sudah berusia dua puluh empat tahun, akan tetapi ia belum menikah.
Biarpun kedua orang gurunya sudah membujuknya, namun ia belum mau menikah karena ia belum menemukan seorang pria yang dianggapnya pantas menjadi suaminya.
Akan tetapi karena sejak kecil berada di lingkungan penjahat, wataknyapun menjadi binal dan seperti para penjahat lain, gadis inipun menjadi budak nafsunya sendiri.
Di luarnya saja kelihatan halus dan sopan, juga alim dan lembut.
Akan tetapi, seperti para rekannya, iapun dapat bertindak kejam sekali, penuh dengan akal dan muslihat busuk, dan terutama sekali, sejak mulai dewasa, ia sudah suka berhubungan dengan pria-pria tampan yang menarik hatinya.
Bahkan ia termasuk seorang wanita mata keranjang yang akan mempergunakan segala akal, kalau perlu mempergunakan ilmu kepandaian silatnya yang tinggi, untuk berhasil mendapatkan pria yang disukainya.
Seperti telah kita ketahui, Toan Jitong dan isterinya pada tiga tahun yang lalu telah mengumpulkan para datuk sesat untuk mengadakan pertemuan dan di dalam pertemuan ini Raja Iblis dan isterinya mengangkat diri mereka sendiri menjadi pimpinan para datuk untuk merencanakan pemberontakan.
Pada waktu diadakan pertemuan itu, Siang Hwa berusia dua puluh satu tahun dan ia sendiri tidak memperlihatkan diri dalam pertemuan itu karena ia mempunyai tugas lain yang diberikan gurunya kepadanya.
Ia harus bersembunyi dan melakukan penjagaan rahasia bersama belasan orang teman yang menjadi kaki tangan gurunya.
Setelah pertemuan para datuk itu selesai, Raja Iblis dan isterinya lalu menggembleng lagi murid mereka sambil mengatur persiapan untuk melakukan rencana pemberontakan mereka.
Murid inilah yang mendapat tugas mewakili mereka mengadakan pertemuan-pertemuan dan persekutuan rahasia dengan para tokoh dan juga para pembesar penting.
Berkat kecantikannya, kecerdikan dan juga kepandaiannya, Siang Hwa berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik sekali dan pada waktu itu, sudah banyaklah pembesar-pembesar yang mempunyai kekuatan pasukan telah diam-diam menjadi sekutu para pemberontak yang sudah siap siaga dan sewaktu-waktu mereka akan dapat mengerahkan pasukan untuk bersama-sama menggempur kota raja dan merampas kekuasaan dari Kaisar Ceng Tek!
Selain membujuk para pembesar untuk bersekutu, juga Siang Hwa bertugas membujuk orang-orang gagah dari dunia kang-ouw, yang biasanya bahkan menjadi lawan kaum sesat, untuk bekerja sama demi perjuangan membasmi kelaliman!
Dalam rangka tugas inilah Siang Hwa berada di dusun Lokcun itu.
Dara ini mempergunakan kuil sunyi yang ditakuti orang itu untuk tempat tinggal sementara sehingga ia dapat melakukan pertemuanpertemuan rahasia dengan para pembantunya tanpa dilihat orang.
Sungguh tidak disangkanya bahwa malam hari itu ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang selain amat tampan dan ganteng, juga amat gagah perkasa sehingga ia sendiri tidak mampu mengalahkannya dengan ilmu silat.
Munculnya pemuda seperti Hui Song ini sungguh di luar dugaan Siang Hwa dan begitu bertemu ia sudah jatuh cinta!
Inilah pemuda yang selama ini diidam-idamkannya.
Banyak sudah ia bertemu dengan pemuda tampan, bahkan sudah sering pula ia menyerahkan diri kepada pria-pria yang disukainya, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan disukainya, yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya.
Akan tetapi para pria itu tidak masuk hitungan, hanya merupakan alat penghiburnya saja untuk melampiaskan nafsu.
Ia hanya mau menjadi isteri seorang pemuda yang selain disukanya juga memiliki kepandaian lebih tinggi darinya, dan pemuda ini sungguh amat lihai.
Maka, terpaksa ia harus mempergunakan akal dan saputangannya yang berbahaya itu, yang kalau tidak dikehendakinya merupakan saputangan biasa, akan tetapi pada saat ia terdesak, ia dapat menarik alat halus pada saputangan itu yang akan membuka tempat penyimpanan bubuk beracun wangi yang amat ampuh.
Selain tugas untuk menghubungi para orang gagah di dunia kang-ouw agar mau bekerja sama menentang kaisar, juga ada suatu tugas rahasia lain, yang pada waktu itu amat menganggu hati Siang Hwa.
Gurunya menunjuk ia untuk memimpin teman-teman yang boleh dipercaya dan yang memiliki kepandaian tinggi, untuk menyelidiki dan mencari sebuah harta karun yang berada di sebuah tempat rahasia yang amat sulit dan sukar dikunjungi.
Ia sudah berkali-kali mencoba dengan teman-temannya menyelidiki tempat itu, namun selalu gagal, bahkan beberapa orang temannya berkorban nyawa di tempat itu sedangkan tempat penyimpanan harta karun itu tetap saja belum dapat ia temukan.
Gurunya berpesan bahwa kalau ia tidak mampu, barulah kedua orang gurunya akan turun tangan sendiri.
Teman-temannya sudah menganjurkan dan menasihatkannya untuk melapor kepada Raja dan Ratu Iblis saja bahwa ia dan teman-temannya tidak sanggup lagi.
Akan tetapi Siang Hwa adalah seorang gadis yang keras hati dan angkuh.
Ia merasa malu kalau harus menghadap kedua orang gurunya dan melaporkan kegagalannya.
Ini berarti mengakui kelemahan sendiri!
Tidak, ia harus mencoba lagi dan untuk itu ia harus mendapatkan seorang kawan yang lihai, setidaknya memiliki tingkat kepandaian, terutama ginkang yang setingkat dengannya!
Di antara para pembantunya, terdapat dua orang kakek yang menjadi orang-orang kepercayaan gurunya.
Mereka itu adalah Huito Cinjin (Manusia Sakti Pisau Terbang) dan Kangthouw Lomo (Setan Tua Kepala Baja) yang siang hari tadi sudah pernah berjumpa dengan Hui Song.
Mereka adalah dua orang kakek yang tadi membunuh empat orang pemuda mabok di dalam restoran.
Dua orang kakek ini bukan orang sembarangan, bukanlah penjahat biasa.
Mereka itu adalah dua di antara Cap-sha-kui yang tentu saja memiliki kepandaian hebat!
Dan dari dua orang kakek inilah Siang Hwa mendengar bahwa di dusun itu muncul seorang pemuda yang amat lihai, seorang pemuda bernama Cia Hui Song yang bukan hanya mampu menghindarkan diri dari sambaran pisau-pisau maut yang dilempar oleh Huito Cinjin, akan tetapi bahkan sanggup menahan pukulan Kangthouw Lomo yang amat kuat itu.
Mendengar ini, Siang Hwa merasa tertarik sekali, juga curiga.
Jangan-jangan pemuda itu adalah mata-mata pihak musuh, pikirnya.
Ia tahu bahwa gerakan gurunya mengumpulkan orang-orang kang-ouw dan niat hendak memberontak itu tentu sudah terdengar oleh dunia persilatan dan tidak merupakan hal aneh kalau ada pihak yang akan menentangnya.
Ruangan yang meniadi tempat tidur itu tidak berapa luas dan keadaannya tidak dapat dibilang bagus, apalagi mewah.
Namun, kalau orang melihat keadaan kuil yang sudah tidak dipakai dan rusak itu, Dia akan heran melihat betapa di dalam kuil kosong yang rusak itu terdapat sebuah kamar di dalamnya, kamar yang cukup teratur dan terawat.
Kamar itu bersih walaupun sederhana dan berbau harum.
Di dalam kamar itu hanya terdapat sebuah dipan kayu dan sebuah meja kayu.
Satu-satunya hiasan hanyalah sehelai tirai sutera yang juga dipergunakan sebagai penutup jendela yang sudah berlubang dan daun jendelanya rusak.
Inilah ruangan yang dipergunakan oleh Siang Hwa untuk menjadi kamar tidurnya, sementara ia bersembunyi di dalam kuil itu.
Dan setelah berhasil membuat Hui Song pingsan dan tidak berdaya lalu menawannya, ia membawa pemuda itu ke dalam kamar dan setelah mendudukkan tubuh Hui Song ke atas pembaringan dan mengikat kedua tangan pemuda itu dengan erat, Ia lalu menyandarkan Hui Song dengan usapan-usapan pada muka, terutama di depan hidungnya, menggunakan obat bubuk penawar racun yang membuat pemuda itu jatuh pingsan.
Tak lama kemudian, sadarlah Hui Song.
Dia menggerakkan cuping hidungnya karena yang pertama terasa olehnya adalah keharuman yang menusuk hidungnya.
Lalu dia membuka mata dan terbelalak menatap wajah manis yang berada begitu dekat dengan mukanya.
Wajah cantik manis yang berbau harum, dengan sepasang mata setengah terpejam, bibir setengah terbuka, menantang dengan tahi lalat kecil di atas dagu.
Dia terkejut dan otomatis meronta, akan tetapi dia semakin kaget mendapat kenyataan bahwa kedua lengannya tak dapat digerakkan, terbelenggu pada pergelangan tangannya.
Diapun teringat kini dan alisnya berkerut, matanya menatap tajam wajah cantik yang amat dekat itu.
Siang Hwa juga merasa bahwa tawanannya sadar, maka ia membuka mata menatap sambil tersenyum dan semakin mendekat sehingga tangannya menyentuh dada Hui Song.
Pemuda itu bergidik ketika jari-jari tangan halus itu menyentuh dadanya yang ternyata sudah telanjang karena baju di bagian dadanya terbuka.
Jari-jari tangan itu bergerak halus seperti cecak merayap di sepanjang dadanya, membuat Hui Song merasa malu dan canggung, akan tetapi dia tidak mampu mengelak karena punggungnya bersandar pada kepala dipan dan kedua lengannya tidak mampu digerakkan, Dia hanya dapat menarik kepalanya ke belakang untuk menjauhi muka manis yang begitu dekat sehingga napas gadis itu menyapu pipinya.
"Ehh...? Kau... kau perempuan curang!"
Dia membentak, teringat bagaimana dia sampai tertawan oleh gadis ini.
"Kau... kau laki-laki yang gagah perkasa, seorang jantan perkasa yang mengagumkan hatiku..."
Siang Hwa berbisik dan merangkul, mendekap dan membenamkan mukanya di dada yang bidang dan telanjang itu.
Sejenak mereka diam saja dan gadis itu dapat merasakan dan mendengar degup jantung yang amat kuat di balik dada itu, sedangkan Hui Song memejamkan kedua matanya.
Seluruh tubuhnya tergetar oleh dekapan yang penuh gairah dan nafsu ini.
Terasa olehnya betapa dari seluruh tubuh wanita ini seperti keluar hawa panas yang membakarnya dan dia terpaksa harus mengerahkan sinkang untuk melawan dorongan nafsu yang mulai timbul dalam benaknya.
Pengerahan sinkang ini menolongnya dan dia membuka mata.
Pada saat itu, dia melihat berkelebatnya bayangan orang di luar jendela!
Ada seorang wanita yang mengintai ke dalam!
Penglihatan ini sungguh amat membantunya dan seketika kegelisahan dan kebimbangannya lenyap.
Tidak, dia tidak boleh jatuh ke dalam rayuan gadis jalang ini!
"Pergilah kau, perempuan curang dan jalang!"
Dia membentak.
Siang Hwa tidak menjadi marah, melainkan memandang dengan sinar mata lembut dan sikap memikat.
"Kalau aku menghendaki tetap tadi aku sudah membunuhmu. Akan tetapi tidak, aku tidak ingin membunuhmu, karena itu aku harus menggunakan siasat untuk mengalahkanmu tanpa melukaimu atau membunuh. Kau maafkanlah aku."
"Hemm, siapakah engkau dan mengapa engkau menawanku?"
"Aku... namaku Siang Hwa, Gui Siang Hwa, seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara. Aku ingin sekali bersahabat denganmu, akan tetapi engkau begitu gagah perkasa, tanpa menggunakan akal aku tidak akan dapat merobohkanmu. Engkau... yang bernama Cia Hui Song, bukan?"
Diam-diam pemuda itu terkejut.
Kiranya wanita ini bukan saja lihai dan berbahaya, akan tetapi juga cerdik sekali.
Dia sendiri belum mengenal gadis ini, bahkan mendugapun tidak dapat siapa gerangan gadis cantik ini, akan tetapi gadis ini sudah mengenal namanya.
"Engkau sudah mengenalku. Engkau bilang ingin bersahabat dengan aku, akan tetapi engkau menyerangku, kemudian merobohkan aku dengan bubuk beracun dan kini menawanku, siapa mau percaya omonganmu?"
"Cia-taihiap, aku... begitu melihatmu, kemudian melihat kepandaianmu, aku... suka sekali kepadamu, aku... jatuh cinta dan aku ingin sekali bersahabat denganmu. Akan tetapi karena aku takut engkau akan memberontak dan tidak percaya kepadaku, maka terpaksa aku merobohkanmu secara itu dan kalau sekarang engkau berjanji mau menerima uluran tangan dan hatiku, aku tentu akan segera melepaskan ikatan kedua tanganmu..."
"Hemm, apa yang kau maksudkan dengan uluran tangan dan hati itu?"
Hui Song sudah berusia dua puluh empat tahun, akan tetapi dia masih asing dengan istilahistilah mengenai cinta dan dia belum berpengalaman tentang wanita.
Siang Hwa tersenyum, mendekat dan meraba lalu mengelus dada telanjang itu, dan ia mendekatkan mukanya, bibirnya bergerak hendak mencari dan mencium bibir pemuda itu.
Hui Song terpaksa menarik kepalanya ke belakang dan terdengar gadis itu berbisik.
"Taihiap, uluran tangan dan hatiku adalah penyerahan seluruh jiwa ragaku kepadamu, aku cinta padamu, taihiap..."
Dan Siang Hwa tiba-tiba mencium bibir Hui Song yang tidak dapat mengelak lagi.
"Perempuan hina tak tahu malu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari luar jendela dan mendengar ini, tiba-tiba Siang Hwa melepaskan rangkulannya dan sekali meloncat ia sudah keluar dari dalam kamar itu.
Begitu ia tiba di luar kamar, seorang gadis yang manis menyambutnya dengan serangan sepasang pedang mengeluarkan sinar berkilat.
Siang Hwa terkejut bukan main.
Sebagai seorang ahli silat pandai, ia mengenal gerakan pedang yang amat lihai, maka iapun cepat mengelak dengan loncatan ke belakang.
Akan tetapi gadis itu mendesaknya dengan kilatan-kilatan sepasang pedang yang dimainkan dengan cepat, indah dan berbahaya.
"Siapa engkau?"
Siang Hwa membentak sambil meloncat mundur lagi ke ruangan depan kamarnya yang luas.
"Perempuan hina, aku adalah algojomu untuk mengakhiri kecabulanmu!"
Gadis itu berteriak semakin marah dan penasaran melihat betapa serangan-serangannya tidak pernah berhasil.
Ia menerjang lagi ke depan dan sepasang pedang di kedua tangannya itu berkelebatan membentuk dua gulungan sinar yang berkilauan.
"Bagus! Ilmu pedangmu bagus juga!"
Siang Hwa berseru dan begitu tangan kanannya meraba pinggang, ia telah mengeluarkan sebatang pedang yang kebiruan.
Kiranya pedangnya itu terbuat dari baja yang tipis sekali, tipis dan lemas sehingga dapat disimpan di pinggang sebagai ikat pinggang!
Dan begitu ia mengelebatkan pedangnya, nampak sinar kebiruan.
"Trang! Cringg..."
Gadis itu mengeluarkan seruan kaget.
Pedang kebiruan itu dengan gerakan aneh dan cepat, telah menangkis dan begitu membentur sepasang pedangnya, ia merasa betapa tangannya kesemutan.
Cepat ia meloncat ke belakang sambil memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya.
Terdengar Siang Hwa terkekeh dan iapun kini membalas dengan serangan-serangan dahsyat yang membuat gadis pemegang siang-kiam (sepasang pedang) itu menjadi repot untuk menangkis dan menghindarkan diri dari sambaran sinar biru yang amat lihai itu.
Mendengar suara gadis di luar kamar itu, Hui Song segera mengenalnya.
Itulah suara Tan Siang Wi, sumoinya!
Tentu saja dia merasa gelisah sekali karena dia tahu bahwa sumoinya bukanlah lawan Siang Hwa yang amat lihai itu.
Dia berusaha melepaskan diri, akan tetapi pengaruh obat bius masih melemaskannya dan tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya juga amat kuat.
Dia harus menanti sampai tenaganya pulih kembali akan tetapi saat itu sumoinya berada dalam bahaya maut.
Dia sudah mendengar suara berdencingan senjata pedang yang saling beradu dan dengan pendengarannya diapun dapat mengenal gerakan sumoinya yang kini mulai kacau dan terdesak, lebih banyak menangkis dari pada menyerang.
"Gui Siang Hwa, jangan celakai sumoiku..."
Akhirnya karena khawatir sumoinya celaka, dia berteriak.
Terdengar suara ketawa merdu wanita itu disusul tangkisantangkisan yang menimbulkan suara berdenting.
"Hihik, kiranya sumoimu sendiri? Tentu saja aku tidak akan membunuhnya kalau begitu!"
Dan suara ini disusul keluhan Tan Siang Wi dan terdengar jatuhnya tubuh gadis Cin-Ling-Pai itu.
"Sumoi, awas bubuk beracun obat biusnya!"
Kembali Hui Song berteriak dengan khawatir.
Akan tetapi sumoinya tidak menjawab dan suasana menjadi sunyi.
Yang terdengar hanyalah suara ketawa Siang Hwa dan tak lama kemudian wanita itu masuk lagi ke dalam kamar sambil mengempit tubuh Siang Wi yang sudah pingsan!
Kiranya suara terjatuh tadi adalah robohnya Siang Wi terkena obat bius seperti yang pernah dialaminya tadi.
Sambil tersenyum kepada Hui Song, Siang Hwa berkata.
"Lihat, kalau tidak berat kepadamu, tentu ia telah menjadi mayat. Cia-taihiap, dengan perbuatanku tidak membunuh engkau dan sumoimu, bukankah sudah cukup bukti bahwa aku ingin bersahabat denganmu?"
Hui Song maklum bahwa pada saat itu, sebelum dia dapat membebaskan dirinya, keselamatan nyawanya dan nyawa sumoinya memang berada di tangan gadis lihai ini.
"Baiklah, kalau memang benar engkau ingin bersahabat denganku, apa salahnya? Akan tetapi, engkau tidak boleh memaksakan kehendakmu mengenai... mengenai cinta. Hal seperti ini tidak boleh dipaksakan, sama sekali tidak boleh!"
Siang Hwa mengerutkan alisnya.
Belum pernah atau jarang sekali ada pria menolak cintanya.
Hampir semua pria yang disenanginya menyambut cintanya dengan kedua tangan terbuka, sebagian kecil saja karena takut kepadanya dan sebagian besar karena memang mereka tergila-gila oleh kecantikannya.
Akan tetapi pemuda Cin-Ling-Pai ini, ia yakin benar bahwa tentu pemuda she Cia ini adalah pemuda Cin-Ling-Pai karena ia tadi mengenal beberapa macam gerakan dasar dari Cin-Ling-Pai, pemuda ini tidak tergila-gila kepadanya, juga sama sekali tidak takut walaupun sudah tertawan dan tidak berdaya!
Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini.
pemuda gagah perkasa seperti ini selain amat mengagumkan hatinya dan menjatuhkan hatinya seperti yang belum pernah dialaminya, Juga dapat merupakan seorang sahabat dan sekutu yang amat baik.
Gurunya tentu akan girang sekali kalau bisa mendapatkan pembantu seperti Cia Hui Song ini dan tentu akan memujinya sebagai seorang yang pandai menarik tenaga yang amat kuat sebagai sekutu.
Hatinya amat kecewa dan nafsu berahinya yang tadinya memuncak itu tiba-tiba saja menjadi menurun banyak.
Baiklah, bagaimanapun juga, aku harus dapat memanfaatkan pertemuannya dengan pemuda istimewa ini.
Kalau tidak dapat menariknya sebagai kekasih, setidaknya untuk saat ini, biarlah ia menariknya sebagai sahabat dan sekutu.
Kalau sudah menjadi sahabat, perlahan-lahan ia akan dapat merayunya dan ia masih penuh kepercayaan akan kemampuan dirinya dalam hal ini, bahkan hampir merasa yakin bahwa akhirnya pemuda ini akan roboh ke dalam pelukannya juga.
"Cia-taihiap, kau kira aku ini orang macam apakah? Aku tidak biasa memaksakan cinta, dan walaupun aku jatuh hati kepadamu dan mencintamu sejak pertama kali bertemu, akan tetapi aku hanya mengharapkan engkau akan dapat menerima uluran tangan dan hatiku, aku tidak akan memaksamu. Baiklah, apakah engkau mau berjanji untuk bersahabat denganku?"
Hui Song juga bukan orang bodoh.
Dia tahu bahwa gadis ini lihai dan berbahaya sekali dan dalam keadaan seperti itu, dia tidak dapat memilih.
Dia sendiri sudah merasa betapa tenaganya sudah pulih dan dia merasa yakin bahwa kalau dia menghendaki, pada saat itupun dia akan mampu mengerahkan tenaga dan membebaskan diri dari belenggu.
Akan tetapi, dengan adanya Siang Wi yang masih tak mampu bergerak, akan berbahaya sekali kalau dia melakukan hal itu.
Dan wanita ini hanya minta kepadanya untuk bersahabat.
Apa salahnya?
"Baiklah, apa salahnya kalau kita bersahabat?
Akan tetapi sikapmu tidak seperti bersahabat.
Engkau menawan aku dan sumoi..."
"Sabarlah, aku akan membebaskanmu. Dalam keadaan sekacau ini, bagaimana aku tahu bahwa kalian adalah orang baik-baik? Siapa tahu kalau-kalau kalian ini mata-mata dari pihak pemberontak? Kalau kau mau berjanji menjadi sahabatku dan membantuku dengan suatu urusan, aku tentu akan membebaskanmu dan juga sumoimu dan minta maaf."
Diam-diam Hui Song merasa heran.
Wanita ini agaknya tahu pula akan rencana pemberontakan para datuk sesat.
Akap tetapi hal inipun tidaklah berapa aneh.
Bukankah berita itu telah tersiar di dunia kang-ouw dan melihat kepandaiannya, wanita inipun tentu seorang kang-ouw yang lihai dan sudah mendengar pula akan berita itu.
Dan agaknya wanita ini menentang kaum pemberontak, akan tetapi dia harus yakin akan hal ini.
"Nona, seorang dengan kepandaian seperti engkau ini mana takut akan segala kekacauan? Dan pemberontakan apa yang nona maksudkan?" (Lanjut ke
Jilid 20) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20
"Hemmm, tidak tahukah engkau bahwa kini ada rencana pemberontakan yang diatur oleh para datuk di dunia kang-ouw?"
Hui Song mengangguk.
"Aku sudah mendengar. Bukan datuk kang-ouw, melainkan datuk kaum sesat, bahkan Cap-sha-kui bersatu dan bersekutu dengan para datuk jahat dan dipimpin oleh Raja dan Ratu Iblis!"
Hui Song memandang tajam untuk melihat reaksi pada wajah gadis itu.
"Ihh..."
Siang Hwa menarik muka kaget dan ngeri.
"Sampai sedemikian jauh dan hebat? Kalau begitu, kerajaan terancam bahaya!"
"Nona, engkau mempunyai kepandaian tinggi, lalu dengan adanya kenyataan ini apakah yang akan kau lakukan? Apakah engkau hendak bergabung dengan mereka yang akan memberontak itu?"
Muka Siang Hwa menjadi merah, sebetulnya mukanya merah karena malu dan tidak enak hati, akan tetapi Hui Song mengiranya merah karena marah sehingga diam-diam dia merasa girang dan menduga bahwa gadis ini bukan teman para pemberontak.
"Hemm, Cia-taihiap, apakah engkau juga hendak membantu Cap-sha-kui dan para pemberontak itu?"
Siang Hwa yang cerdik balas bertanya sambil menatap tajam. Hui Song menggeleng kepala.
"Aku bukan penjahat dan bukan pula pemberontak, dan aku lebih suka menentang Cap-sha-kui dari pada menjadi sahabat mereka!"
"Bagus, kalau begitu kita sepaham!"
Siang Hwa berkata dengan senyum lebar.
"Tadinya aku meragukan apakah engkau dan sumoimu itu mata-mata pemberontak. Maafkan aku, kalau begitu aku harus membebaskanmu, taihiap."
Berkata demikian, ia mendekat dan hendak melepaskan tali yang mengikat kedua pergelangan tangan Hui Song.
Akan tetapi ia berhenti dan menatap wajah itu.
"Tapi... kau belum berjanji untuk membantuku."
"Setelah kita bersahabat, tentu saja aku akan membantumu, asal saja bukan untuk perkara kejahatan."
"Hemm, apakah kau belum percaya padaku, taihiap? Aku bukan penjahat. Berjanjilah bahwa engkau akan membantuku, dan aku akan membebaskan kau dan sumoimu. Akan tetapi, sumoimu tidak boleh ikut serta."
"Mengapa?"
"Urusan itu adalah rahasiaku sendiri, orang lain, kecuali engkau yang kuminta bantuan tidak boleh tahu."
Hui Song mengangguk, mengerti.
Pula, diapun tidak senang kalau sumoinya mencampuri urusannya.
Pertama, watak sumoinya itu angkuh dan keras sehingga di mana-mana mudah menimbulkan keributan dan permusuhan, kedua, tingkat ilmu kepandaian sumoinya, walaupun pada umumnya dapat dianggap cukup lihai, akan tetapi belum boleh diandalkan kalau bertemu dengan datuk-datuk sesat dan ke tiga, dia tahu betapa sumoinya mencintanya dan mengharapkan dia menjadi suaminya dan hal ini membuat dia merasa canggung dan tidak enak untuk berhadapan dengan gadis itu.
"Kalau begitu, aku akan membebaskanmu sekarang!"
Siang Hwa mendekat tetapi Hui Song tersenyum.
"Tidak perlu lagi, nona. Kalau aku mau, sejak tadipun aku sudah bisa membebaskan diri sendiri."
Berkata demikian, dia mengerahkan tenaga sinkang, disalurkan kepada lengannya dan sekali kedua lengan itu bergerak merenggut, terdengar suara keras, dan belenggu itupun putusputus.
"Ihhh..."
Siang Hwa terkejut dan melompat ke belakang, meraba pinggang dan matanya terbelalak.
Akan tetapi Hui Song tersenyum.
"Jangan kaget dan jangan khawatir, nona. Aku tadi hanya ingin melihat apakah benar-benar engkau berniat baik maka aku sengaja membiarkan diri terbelenggu."
"Aihh... engkau... sungguh hebat, taihiap,"
Katanya kagum.
"Dan sekarang aku akan membebaskan sumoimu,"
Iapun cepat menghampiri Siang Wi, menggunakan obat penawar racun bius tadi.
Tak lama kemudian terdengar Siang Wi mengeluh dan membuka mata.
Begitu melihat gadis yahg tadi merayu suhengnya itu duduk berjongkok di dekatnya, Siang Wi mengeluarkan teriakan marah dan langsung saja ia mengirim pukulan-pukulan bertubi ke arah tubuh lawan yang amat dibencinya karena cemburu itu.
Siang Hwa meloncat ke belakang dan mengelak sambil menangkis beberapa kali.
Gerakannya amat diperhatikan Hui Song dan pemudia ini diam-diam harus mengakui bahwa tingkat ilmu silat dari Gui Siang Hwa memang amat tinggi, gerakannya cekatan, cepat sekali dan juga indah walaupun aneh dan liar sifatnya.
Mudah nampak olehnya bahwa gerakan gadis itu jauh lebih lihai dari pada gerakan sumoinya dan kalau dilanjutkan, tentu sumoinya akan kalah walaupun Siang Hwa tidak mempergunakan racun bius.
"Sumoi, hentikan seranganmu!"
Bentak Hui Song.
Mendengar bentakan ini, Siang Wi menahan serangannya dan membalik, memandang kepada Hui Song dengan mata terbelalak mengandung sinar marah penasaran.
"Suheng, ia... ia... si wanita cabul ini, tak tahu malu dan patut dibunuh!"
"Sumoi, tenanglah. Nona Gui ini adalah segolongan, tadi hanya terjadi salah paham antara kami..."
"Tapi... tapi aku melihat dengan mataku sendiri, mendengar dengan telingaku sendiri betapa ia telah menawanmu, dan merayumu secara tak tahu malu..."
"Sstt, sumoi. Sudahlah. Kukatakan tadi hanya salah paham. Kini kami sudah bersahabat, dan kami akan melakukan kerja sama untuk suatu urusan yang tak boleh diketahui orang lain. Karena itu, kuminta agar engkau suka meninggalkan tempat ini sekarang juga. Kembalilah kau ke Cin-ling-san dan jangan mengikuti aku lagi."
"Tapi... suheng..."
"Sudahlah, sumoi. Kau jangan banyak membantah. Ketahuilah bahwa kalau tidak berniat baik, kita berdua tadi sudah tewas di tangan nona Gui. Pergilah!"
Tan Siang Wi berdiri dengan muka pucat, kedua tangan dikepal dan kini kedua matanya mulai basah.
Ia memandang kepada dua orang itu secara bergantian, tatapan matanya pada Siang Hwa penuh kebencian, sedangkan kalau ia memandang suhengnya sepasang matanya memancarkan permohonan dan kekecewaan.
"Suheng... haruskah aku pergi... Engkau mengusir aku begitu saja?"
Hui Song mengangguk.
Dia tidak ingin menyakiti hati sumoinya, akan tetapi mengingat akan watak sumoinya yang keras, dia harus bersikap tegas.
Dia sudah berjanji kepada Siang Hwa dan dia tidak boleh melanggar janji itu.
Pula, diam-diam dia menaruh hati curiga kepada Siang Hwa dan ingin menyelidiki siapa sesungguhnya wanita ini dan peran apa yang dipegangnya.
Dia merasa bahwa ada sesuatu di balik diri wanita ini, karena seorang wanita selihai Siang Hwa tidak mungkin secara kebetulan saja bertemu dengan dia, mengajak bersahabat dan minta bantuannya untuk mengurus sesuatu yang rahasia.
"Sumoi, harap jangan banyak bicara lagi. Pergi dan kembalilah ke Cin-ling-san."
Kini beberapa tetes air mata jatuh menitik.
"Suheng... engkau... selalu mengecewakan dan menyakiti hatiku..."
"Maafkan, sumoi..."
Akan tetapi Tan Siang Wi sudah menyambar sepasang pedangnya yang tadi jatuh ke atas lantai ketika ia roboh pingsan dan berloncatan pergi meninggalkan tempat itu.
Sunyi keadaan di dalam ruangan itu setelah Siang Wi pergi dan akhirnya terdengar tarikan napas panjang dari Siang Hwa.
"Aihhh... agaknya dengan kegantengan dan kegagahanmu engkau ditakdirkan untuk menjatuhkan dan mengecewakan hati wanita, taihiap. Sudah dua orang wanita kulihat hari ini yang menjadi korbanmu. Pertama adalah diriku sendiri, dan kedua adalah sumoimu!"
Hui Song juga menarik napas panjang.
Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada Siang Wi, sumoinya itu.
Sejak kecil sumoinya mencintanya dan cinta kanak-kanak itu makin lama semakin kuat dan akhirnya menjadi cinta kasih seorang wanita terhadap seorang pria, cinta kasih yang mengharapkan untuk diikat dan dikukuhkan menjadi perjodohan suami isteri.
Dan dia tahu benar bahwa hatinya tidak mencinta sumoinya, walaupun dia sayang kepada sumoinya itu yang dianggap sebagai adik sendiri.
Akan tetapi gadis di depannya ini?
Dia belum mengenalnya benar dan tidak tahu apakah benar gadis ini cinta kepadanya seperti yang diakuinya.
Dia harus bersikap hati-hati terhadap wanita ini.
"Maafkan aku kalau memang demikian, nona. Akan tetapi semua itu terjadi tanpa kesengajaan dari pihakku, dan ingat, cinta tidak mungkin dapat dipaksakan."
Siang Hwa tersenyum pahit dan mengangguk-angguk, diam-diam dia semakin kagum dan membayangkan betapa akan nikmatnya kelak kalau sampai ia berhasil membujuk pria ini menjadi kekasihnya dan berada dalam dekapannya.
"Aku tidak menyalahkanmu, Cia-taihiap, dan aku merasa kasihan kepada sumoimu itu yang agaknya mencintamu dengan amat mendalam."
"Nona, ingin sekali aku mengetahui bagaimana engkau dapat mengenal namaku?"
Mereka kini duduk berhadapan di atas dua buah bangku yang berada di dalam ruangan itu, terhalang sebuah meja kecil.
Siang Hwa tersenyum.
"Aku mendengar dari Ciang-tosu dan Ciong-hwesio yang menjadi teman-temanku dalam urusan yang kumintakan bantuanmu ini."
Hui Song teringat akan dua orang kakek itu dan diapun tersenyum mengejek.
"Wah, Jangan-jangan dua orang kakek berpakaian tosu dan hwesio yang kejam itu, yang membunuh empat orang muda di dalam restoran dan..."
"Benar mereka!"
Kata Siang Hwa dengan sikap sungguh-sungguh.
"Dan harap taihiap jangan mentertawakan dan salah sangka terhadap mereka! Mereka itu adalah bekas-bekas tosu dan hwesio dan biarpun kini bukan lagi terikat agama, mereka sudah terbiasa memakai jubah seperti yang dahulu mereka pakai ketika masih menjadi pendeta. Kini mereka adalah pertapapertapa dan mereka juga turun di dunia ramai untuk menentang kaum pemberontak."
"Ahh..."
Hui Song terheran dan juga kagum.
"Akan tetapi mengapa mereka begitu kejam, menyebar maut di restoran, membunuh empat orang muda yang tidak berdosa?"
Gadis itu tersenyum, manis sekali kalau tersenyum, terutama karena tahi lalat kecil di atas dagu itu.
"Orang-orang muda yang tidak berdosa? Taihiap tidak tahu..."
"Mungkin mereka melakukan kesalahan, akan tetapi kesalahan itu hanyalah berupa ejekan terhadap mereka yang berpakaian pendeta, dan itupun dilakuken dalam keadaan mabok."
"Taihiap salah mengerti. Empat orang muda itu tidaklah sebersih itu, tidak seperti yang taihiap sangka. Mereka adalah mata-mata pemberontak yang menyamar, sebagai pemuda-pemuda pemabokan dan kalau Ciang-tosu dan Ciong-hwesio tidak mempergunakan pukulan beracun, mereka tentu tidak mudah dikalahkan dan tempat kami tentu sudah ketahuan dan kami diserbu oleh para pemberontak."
Hui Song terbelalak heran, juga terkejut karena sungguh hal itu tidak pernah disangkanya sama sekali.
"Aku merasa gembira sekali dapat bersahabat dengan taihiap, apalagi akan mendapatkan bantuanmu. Ketika kedua orang locianpwe itu memberi tahu kepadaku tentang diri taihiap, kami bertiga sudah mengambil kesimpulan bahwa tentu engkau adalah seorang tokoh Cin-Ling-Pai dan ternyata dugaan kami benar seperti yang taihiap nyatakan sendiri ketika taihiap bicara dengan sumoi taihiap itu dan menyebutnyebut Cin-ling-san."
"Memang aku adalah putera ketua Cin-Ling-Pai,"
Kata Hui Song yang merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan keadaan dirinya.
"Ahh..."
Gadis itu bangkit dan menjura.
"Kalau begitu aku telah berlaku kurang hormat dan maafkanlah kelancanganku, taihiap."
"Sudahlah, nona. Kedudukan dan nama tidak merubah keadaan seseorang. Sebaiknya nona ceritakan, urusab apakah itu yang membutuhkan bantuanku?"
"Urusan ini amat penting dan rahasia, taihiap. Ketahuilah bahwa kami yang mewakili beberapa orang-orang kang-ouw di wilayah selatan, mengutus aku dan dibantu oleh dua orang locianpwe itu untuk menyelidiki sebuah harta karun."
"Hemm..."
Hui Song termenung.
Tak disangkanya bahwa urusan itu hanyalah urusan menyelidiki dan mencari harta karun!
"Bukan sembarang harta karun, taihiap.
Kalau engkau mengira bahwa kami adalah orang-orang yang haus akan harta karun, engkau keliru!
Ketahuilah bahwa kami mencari harta karun itu justeru dalam usaha kami menentang usaha para pemberontak.
Para pemberontak itu akan menjadi kuat sekali kalau harta karun itu tidak kita dahului dan kita ambil."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, nona."
"Begini, taihiap. Tempat di mana harta karun itu berada kini juga diintai oleh para pemberontak. Kabarnya malah Raja dan Ratu Iblis sendiri juga mencarinya. Akan tetapi, kami lebih beruntung karena kami sudah dapat menemukan tempat itu. Hanya saja... tempat itu sukar didatangi, bahkan aku telah kehilangan nyawa beberapa orang teman ketika mencoba untuk mencari harta karun di tempat itu."
"Ah, begitu berbahayakah? Apa yang menyebabkan bahaya itu?"
"Tempatnya amat sukar dilalui dan tempat itu terkenal dengan nama Gua Iblis Neraka! Agaknya tempat itu memang sengaja dibuat agar tidak ada orang yang berani memasuki. Kabarnya, dahulu dibuat oleh seorang tosu sakti, yang mencuri harta karun dari kaisar lalim dan disimpan di tempat itu, dan disediakan untuk mereka yang akan menentang kaisar lalim di kemudian hari. Harta karun itu sudah hampir seribu tahun umurnya dan sampai kini belum juga ada yang berhasil menemukannya."
"Kalau demikian sukarnya, mengapa engkau minta bantuanku? Kalau orang seperti engkau dan teman-temanmu tidak sanggup, mana mungkin aku akan bisa membantumu?"
"Begini, taihiap. Di antara kami yang depat menyeberangi jembatan batu pedang, hanya aku seorang. Kedua locianpwe itupun hanya sanggup maju belasan meter saja. Dan aku sudah menyeberangi jembatan batu pedang itu, namun selanjutnya aku tidak sanggup menggerakkan batu penutup lubang di sebelah dalam. Aku membutuhkan bantuan orang yang memiliki ginkang dan sinkang yang melebihi aku dan ternyata engkau amat lihai, jauh melampaui tingkatku dan..."
"Dan dengan mudah aku yang lebih lihai ini tertawan olehmu!"
Hui Song mengejek. Siang Hwa tertawa.
"Aih, engkau sakit hati benarkah, taihiap? Sudahlah, biar aka mengaku bahwa aku telah bertindak curang dan maafkanlah aku. Nah, rahasia itu sudah kuceritakan dan kalau engkau membantu kami, hal itu berarti bahwa engkau sudah menentang para pemberontak. Kalau kita berhasil, berarti kita telah memukul para pemberontak dan melumpuhkan setengah dari kekuatan mereka!"
Tentu saja Hui Song tertarik sekali.
Biarpun dua orang kakek itu dianggapnya kejam, dan ternyata tidak dapat dinamakan kejam kalau empat orang muda itu adalah mata-mata pentberontak, dan biarpun gadis ini pernah bersikap tidak menyenangkan hatinya, akan tetapi mereka ini adalah orang-orang yung menentang pemberontak yang dipimpin Raja dan Ratu Iblis, berarti masih rekan sendiri dalam usahanya menentang para pemberontak.
"Baik, kapan kita berangkat ke sana?"
"Sekarang juga, taihiap."
"Baik, mari kita berangkat, singgah di rumah penginapan karena aku akan mengambil buntalan pakaianku lebih dahulu."
Wanita itu tertawa, pergi ke sebelah kamar dan kembali membawa sebuah buntalan yang terisi semua pakaian Hui Song yang tadi ditinggalkan di dalam kamar rumah penginapan itu.
"Eh? Bagaimana... kapan..."
"Taihiap, ketika aku mendengar dari kedua locianpwe tentang dirimu, aku tertarik sekali dan aku lalu pergi ke rumah penginapan itu, diam-diam memasuki kamarmu. Ternyata engkau tidak ada, maka aku lalu mengambil pakaianmu, kubawa ke sini karena aku bermaksud untuk mencarimu sampai dapat. Ketika kulihat engkau berada di balik pohon, aku menyimpan pakaian ini, lalu aku pergi lagi untuk muncul berlarian di atas genteng agar nampak olehmu dan selanjutnya kita bertanding..."
Ia terkekeh lirih dan menutupi mulut, gayanya manis sekali. Wajah Hui Song menjadi kemerahan.
"Sudahlah, mari kita pergi."
"Pakaianmu biar disimpan di sini dulu."
Berangkatlah mereka berdua, seperti dua sahabat lama, meninggalkan kuil tua itu setelah Siang Hwa memadamkan penerangan dan menutupkan pintu kamar sederhana itu.
Dari luar, kuil itu nampak sunyi dan menyeramkan.
Mereka melakukan perjalanan cepat keluar dusun menuju ke arah timur.
Pada pagi harinya, setelah melakukan perjalanan beberapa jam lamanya, mereka tiba di kaki bukit dan di luar sebuah hutan telah menanti dua orang yang dari jauh sudah dikenal oleh Hui Song, yaitu dua orang kakek yang pernah bertanding dengan dia, si tosu tinggi kurus dan si hwesio gendut!
Dua orang itu nampak terkejut melihat Hui Song, akan tetapi Siang Hwa segera tersenyum dan memperkenalkan.
"Jiwi locianpwe jangan khawatir. Cia-taihiap telah menjadi sahabat kita yang sehaluan dan sudah kujelaskan semua tentang jiwi kepadanya. Cia-taihiap adalah putera ketua Cin-Ling-Pai dan agaknya dialah yang memiliki kemampuan untuk membuat usaha kita berhasil."
Dua orang itu kini sikapnya berbeda dengan ketika pertama kali bertemu dengan Hui Song.
Mendengar ucapan Siang Hwa, mereka segera menjura kepada Hui Song dengan sikap hormat dan ramah.
"Cia-taihiap, maafkan kami yang telah bersikap tidak patut kepadamu,"
Kata Ciang-tosu yang sebenarnya adalah Huito Cinjin, seorang di antara Cap-sha-kui yang belum pernah dikenal Hui Song.
"Ha-ha-ha, ada peribahasa mengatakan bahwa Tidak Berkelahi Maka Tidak Kenal ternyata benar! Cia-taihiap, kita sudah saling bertanding, maka saling mengenal isi perut masing-masing! Ha-ha-ha!"
Ciong hwesio yang sebenarnya adalah Kangthouw Lomo juga berkata.
"Cia-taihiap, harap maafkan. Ciang-tosu memang selalu serius dan Ciong-hwesio sebaliknya suka bergurau!"
Siang Hwa cepat berkata untuk memberi isyarat kepada kedua orang temannya bahwa ia memperkenalkan mereka kepada Hui Song sebagai Ciang-tosu dan Ciong-hwesio.
"Siancai... memperoleh seorang pembantu seperti Cia-taihiap sungguh merupakan suatu kebahagiaan besar!"
Kata Ciang-tosu.
"Omitohud, sungguh pinceng yang tidak becus sehingga merepotkan saja kepada putera ketua Cin-Ling-Pai."
Kata pula Ciong-hwesio.
Berangkatlah empat orang itu melanjutkan perjalanan menuju ke utara.
Perjalanan itu dilakukan dengan cepat dan setelah mereka melewati dan menyeberangi Sungai Chingho, tibalah mereka di kaki Pegunungan Luliangsan yang amat luas itu.
Perjalanan sampai ke situ sudah makan waktu lima hari dan selama lima hari itu, Siang Hwa dan dua orang kakek itu selalu bersikap ramah dan sopan sehingga keraguan dan kecurigaan hati Hui Song semakin menipis.
Gadis itu memang seorang pendekar wanita, pikirnya, hanya agaknya memiliki kelemahan terhadap pria yang menarik hatinya, ataukah memang gadis ini benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Di sepanjang perjalanan, Siang Hwa tidak memperlihatkan sikap genit.
Bujuk rayu yang amat berani, yang dilakukan ketika Hui Song tertawan itu, kini sama sekali tidak nampak lagi dan ia hanya kelihatan amat memperhatikan Hui Song dan selalu berusaha menyenangkan hatinya, seperti biasanya seorang wanita yang jatuh cinta.
Setelah melewatkan malam di kaki bukit, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat lagi, sekali ini memasuki hutan dan melalui jalan yang amat sukar, naik turun bukit dan jurang, melalui jalan liar berbatu-batu yang runcing dan tajam.
Jelas bahwa orang biasa akan sukar melalui jalan seperti itu, dan kalaupun ada orang pandai yang dapat, untuk apa mereka bersusah payah mendatangi tempat ini?
Tanpa tujuan penting, kiranya tidak akan ada orang begitu gila untuk menyusahkan diri memasuki daerah yang liar dan sukar dilalui ini.
Setelah matahari naik tinggi, di bawah pimpinan Ciang-tosu yang agaknya mengenal baik jalan liar itu, tibalah mereka di daerah berbukit-bukit dan mereka berhenti di depan sebuah bukit yang dikelilingi jurang.
Hui Song terbelalak kagum.
Bukit ini seperti sebuah rumah besar saja, dan pintunya adalah sebuah gua yang besar.
Agaknya gua ini dahulunya ditutup dengan pintu batu yang amat besar.
Akan tetapi pintu batu itu kini sudah terbuka miring dan pada pintu batu yang amat tebal dan beratnya tentu ribuan kati itu terdapat ukiran tulisan tiga huruf yang berbunyi GUA IBLIS NERAKA.
Sungguh amat indah, megah dan juga menyeramkan.
Siapakah orangnya yang sudah dapat membuat pintu batu seperti itu dan siapa pula yang kuat membukanya?
Kalau menggunakan tenaga manusia biasa, sedikitnya membutuhkan lima puluh orang yang menggabungkan tenaganya.
Dan gua yang sudah terbuka itu nampak begitu luas, seolah-olah bukan gua melainkan sebuah pintu tembusan menuju ke sebuah dunia yang lain lagi, dunia penuh dengan batu-batu raksasa yang aneh-aneh bentuknya, seperti diukir saja.
Ataukah ini merupakan istana besar yang dihuni setan?
Empat orang itu begitu terpesona dan asyik memandang ke dalam, berdiri seperti patung-patung di depan gua yang pintunya terbuka itu sehingga mereka tidak tahu sama sekali bahwa sejak tadi, sebelum mereka tiba di tempat itu, jauh tinggi di atas pohon terdapat seorang gadis yang mendekam di atas dahan dan bersembunyi di balik daun-daun lebat, mengintai ke arah mereka!
Seorang gadis manis yang cantik jelita, berusia kurang lebih sembilan belas tahun, berwajah periang dan bermata kocak, berpakaian sederhana.
Kalau saja Hui Song dapat melihat gadis itu, tentu dia akan berteriak kegirangan karena gadis itu adalah wanita yang selama ini selalu terbayang olehnya, dibawa ke dalam mimpi, dan tak pernah dilupakannya.
Gadis itu adalah Ceng Sui Cin!
"Sebaiknya kita masuk sekarang sebelum gelap,"
Kata Ciang-tosu atau Huito Cinjin sambil menunjuk ke dalam dengan tangan kirinya.
"Mari, taihiap, kita masuk, biar aku yang menjadi penunjuk jalan karena aku yang sudah beberapa kali pernah masuk ke sini!"
Kata Siang Hwa.
Hui Song yang sudah tertarik sekali mengangguk.
Mereka berempat lalu masuk ke dalam gua, Siang Hwa dan Hui Song di depan, diikuti oleh dua orang kakek itu.
Setelah mereka berempat masuk, Sui Cin dari atas "melayang!
ke bawah.
Ya, gerakannya itu seperti seekor burung melayang saja, demikian ringan dan cepatnya.
Ternyata gadis ini jauh berbeda dengan Sui Cin tiga tahun yang lalu.
Gerakannya sungguh luar biasa dan ia telah benar-benar menguasai ilmu Bueng Huiteng (Lari Terbang Tanpa Bayangan) dengan baik.
Dengan gerakan yang amat sigap, iapun menyelinap mesuk ke dalam gua di sebelah sana pintu dan ternyata di bagian dalam itu merupakan daerah yang luas dan berbatu-batu sehingga memudahkan gadis ini untuk menyelinap di antara batu-batu, bersembunyi dan membayangi empat orang yang berloncatan di sebelah depan.
Setelah melalui perjalanan berlikuliku di antara batu-batu besar, empat orang itu berhenti di depan terowongan dan memandang ke depan.
"Inilah jembatan batu pedang itu!"
Kata Siang Hwa dan Hui Song memandang terbelalak ke depan.
Hebat memang.
Bukan jembatan, melainkan lorong yang penuh dengan batu-batu meruncing seperti dibuat oleh tangan manusia sakti saja.
Lorong itu demikian penuh dengan batu-batu meruncing ini sehingga untuk melewati lorong itu, satu-satunya jalan haruslah berloncatan dari batu ke batu, di atas ujungujung batu runcing seperti pedang itu!
Dan untuk mengerjakan ini bukanlah hal yang mudah, membutuhkan ginkang yang sudah matang dan juga tenaga sinkang yang kuat.
"Nah, di sinilah semua teman mogok. Ciang-tosu dan Ciong-hwesio sudah pernah mencoba, akan tetapi mereka hanya sampai beberapa meter saja. Aku sendiri sudah tiga kali melewati jembatan ini dengan hasil baik, akan tetapi selanjutnya aku tidak sanggup lagi. Di sebelah depan sana terlalu berbahaya dan sukar,"
Siang Hwa menerangkan.
"Apakah kesukarannya?"
Hui Song bertanya.
"Menuturkannya membuang-buang waktu saja dan tidak ada gunanya. Marilah kita melewati jembatan ini dulu, di depan engkau akan dapat melihatnya sendiri, taihiap. Mulai dari sinilah aku membutuhkan bantuan seorang seperti engkau maka selanjutnya engkaulah yang memimpin karena kepandaianmu jauh lebih lihai dan dapat dipercaya dari pada aku sendiri."
"Nanti dulu, nona. Selama beberapa hari aku mengikutimu dan membantumu tanpa banyak bertanya. Kini kita telah tiba di tempat ini dan kukira aku berhak mengetahui segala sesuatu tentang pekerjaan yang kita lakukan. Tempat apakah ini sebenarnya dan harta pusaka itu milik siapakah? Bagaimanapun juga, aku sungguh tidak akan mau membantu kalau terdapat kenyataan bahwa kita sedang melakukan pencurian atau perampasan."
Mendengar ini, Siang Hwa dan dua orang kakek itu saling pandang dan nampak keraguan pada pandang mata dua orang kakek itu.
Akan tetapi Siang Hwa mengangguk dan berkata.
"Memang sudah sepatutnya kalau taihiap mengetahuinya, dan orang yang lebih mengetahuinya mengenai harta pusaka itu adalah Ciang-tosu."
Dan ia menoleh kepada kakek berpakaian tesu itu.
"Cianglocianpwe, Cia-taihiap adalah orang segolongan dan sehaluan, tiada salahnya kalau mendengar tentang harta pusaka ini. Harap locianpwe suka menjelaskannya."
"Siancai, sesungguhnya cerita mengenai harta pusaka ini merupakan rahasia besar, tadinya rahasia keluarga pinto, kini menjadi rahasia kita yang menentang pemberontakan. Akan tetapi karena Cia-taihiap, biarlah pinto membuka rahasia dan menceritakannya."
Kakek yang berlagak seperti pendeta beragama To itu mulai bercerita.
Kiranya dia adalah keturunan Bangsa Mongol, bahkan nenek moyangnya pada hampir dua ratus tahun yang lalu merupakan pejabat tinggi atau ningrat dalam Kerajaan Goan yang berbangsa Mongol.
Ketika itu pemerintahan Mongol yang memakai nama Dinasti Goan menguasai seluruh Tiongkok dan cerita tosu ini terjadi pada waktu pemerintahan dipegang oleh Kaisar Shun Ti (1333-1368).
Pada waktu itu hasil tanah rampasan dari daerahdaerah yang tadinya masih belum mau mengakui kekuasaan Kerajaan Goan kemudian ditaklukkan, dibagi-bagi di antara para ningrat Mongol.
Pembagian itu amat besar karena paling kecil tanah yang dibagikan kepada mereka itu mencapai luas seratus hektar!
Terjadilah perampasan-perampasan karena para pejabat tinggi menjadi "mabok tanah"
Dan timbullah tuantuan tanah dalam arti yang sebenarnya karena mereka itu masing-masing memiliki tanah yang ratusan, bahkan ribuan hektar luasnya!
Tentu saja orang yang menguasai tanah sampai sekian luasnya itu merupakan raja kecil dalam tanah yang dikuasainya.
Tanahtanah itu oleh para tuan tanah disewakan kepada buruhburuh tani dengan memungut hasil tanah yang amat menekan, seolah-olah para petani itu diperas keringatnya dan dihisap sebagian besar hasil tenaga mereka.
Dan para petani itu tetap mau saja diperas seperti itu karena mereka hanya bermodal tenaga, tidak memiliki tanah secuilpun.
Tanpa adanya tanah, kepandaian dan tenaga mereka untuk bercocok tanam tidak ada artinya dan mereka perlu makan setiap hari.
Dengan adanya kekuasaan mutlak yang dipergunakan dengan sewenang-wenang ini, maka banyak di antara para pejabat tinggi dan ningrat ini yang berhasil menumpuk harta kekayaan yang sukar dibayangkan banyaknya.
Dan di antara mereka itu terdapat nenek moyang Ciang-tosu atau yang sesungguhnya berjuluk Huito Cinjin itu!
Pembesar Mongol ini menumpuk harta kekayaan yang amat besar, kemudian menurunkan harta kekayaan itu kepada keturunannya sampai akhirnya pemerintah Mongol ditumbangkan oleh rakyat yang memberontak pada tahun 1368 dan brakhirlah pemerintahan penjajah Mongol dan lahirlah Dinasti Bengtiauw yang dipimpin oleh bangsa sendiri sampai saat Hui Song mendengar cerita itu dituturkan oleh Ciang-tosu.
Akan tetapi, seperti juga banyak pembesar tinggi pemerintah Mongol lainnya, nenek moyang Ciang-tosu berhasil melarikan sebagian besar harta kekayaannya dan menyembunyikannya ke dalam tempat rahasia yang dinamakan Gua Iblis Neraka itu.
Dengan bantuan beberapa orang pandai, pembesar Mongol itu menyembunyikan harta kekayaan berupa emas dan batu-batu permata dan setelah berhasil menyembunyikannya, pembesar ini memerintahkan para pengawalnya untuk membunuh semua pembantu sehingga tempat itu menjadi rahasia yang hanya diketahuinya sendiri saja.
Rahasia ini dibawanya lari ketika pemerintahan bangsanya jatuh dan hanya sedikit harta benda yang dapat dibawanya lari ke utara.
Dan rahasia itu menjadi warisan bagi anak cucunya.
Akan tetapi, tidak mudah bagi anak cucunya untuk dapat mengambil harta pusaka yang tersimpan di tempat yang rahasia dan berbahaya itu.
Ketika menyimpan rahasia itu, orang-orang pandai yang membantunya menggunakan ala-talat rahasia sehingga ketika mereka keluar, ala-talat itu digerakkan dan batu-batu runtuh menimbun dan menghapus jejak sehingga amatlah sukar bagi orang untuk menemukan harka itu, biarpun dia sudah tahu di mana letaknya.
Apalagi bagi orang luar.
Dan jalan menuju ke harta karun itupun amatlah sulit dan berbahayanya.
Inilah sebabnya, mengapa sampai hampir dua ratus tahun, tidak ada orang yang menemukan harta itu yang masih tersimpan dan tertimbun dengan aman di tempat yang menyeramkan itu.
"Keturunan pembesar penyimpan harta karun itu, yang terakhir adalah pinto sendiri. Akan tetapi, biarpun pinto juga mewarisi pengetahuan tentang harta itu dan memiliki peta yang menunjukkan tempatnya, untuk apakah harta itu bagi pinto yang sejak muda menjadi pendeta? Pula, kepandaian pinto terlalu rendah untuk dapat menggali dan menemukan harta pusaka itu, maka sampai kini pinto tinggal diam saja. Barulah setelah pinto mendengar bahwa rahasia harta karun ini sampai ke telinga para pemberontak dan mereka berusaha mencari dan menguasainya untuk dipakai biaya melakukan pemberontakan, hati pinto tergerak dan bersama kawan-kawan sehaluan pinto berusaha mendapatkan harta karun itu mendahului para pemberontak!"
"Jalan selanjutnya bukan terjun ke bawah, melainkan melompati sumur pasir itu dan berusaha mendarat di seberang,"
Kata Siang Hwa.
"Menyeberang ke sana? Tapi, di depan itu hanya tebing..."
"Inilah mengapa aku mengatakan bahwa tempat ini amat sukar, taihiap. Dan bagian ini bukanlah yang paling sukar. Aku sendiri sudah sampai ke sana. Kau lihat batu menonjol di tebing itu, yang berwarna agak kehitaman? Nah, tonjolan batu itu dapat dipakai tempat mendarat. Di sebelah atas tonjolan itu terdapat lekukan yang cukup dalam dan lebar untuk tangan berpegangan dan bergantung, sedangkan di bawah tonjolan batu itu terdapat pula lekukan yang lebih besar lagi untuk tempat kaki berpijak. Kau dapat melihatnya, taihiap?"
Hui Song mengangguk-angguk dan dia merasa kagum kepada nona ini.
Seorang diri, Siang Hwa dapat menemukan tempat mendarat yang luar biasa itu, sungguh merupakan kecerdikan dan juga keberanian yang jarang terdapat.
Dia sendiri, kalau tidak diberi tahu, belum tentu akan dapat menemukan kemungkinan meloncati sumur pasir dan mendarat di tebing yang curam itu.
"Kalau ragu-ragu, biarlah aku yang melompat lebih dulu, taihiap,"
Kata Siang Hwa.
Mendengar ini, tersinggung rasa harga diri Hui Song.
Kalau gadis itu berani meloncati, mengapa dia tidak?
Dan pula, setelah melihat tonjolan batu dan lekukan-lekukan pada dinding itu, dia maklum bahwa meloncati dan hinggap di tebing itu bukan merupakan pekerjaan yang terlalu sukar baginya.
"Tidak, biarkan aku melompat lebih dulu."
Tanpa menanti jawaban, Hui Song mengerahkan tenaganya dan meloncat.
Dengan mudah saja tubuhnya melayang ke depan dan di lain saat dia sudah hinggap di tebing itu, tangan kanannya mencengkeram lekukan di atas tonjolan batu dan kaki kirinya hinggap di lekukan bawah.
"Bagus, sekarang harap merayap ke kiri. Di balik batu itu terdapat batu datar, harap berputar di balik batu dan meninggalkan tempat mendarat itu untukku, taihiap."
Hui Song merayap ke kiri, berpegang kepada lekukan-lekukan di permukaan tebing yang tidak rata dan sebentar saja dia menemukan tempat yang dimaksud oleh gadis itu.
Memang, di balik tebing terdapat batu datar dan diapun berputar dan berdiri di atas batu datar itu.
Kiranya di balik tebing terdapat lereng yang batunya datar.
Dia memandang ketika gadis itu meloncat dan ternyata Siang Hwa mampu pula meloncati sumur pasir itu dengan mudah, hinggap di tempat dia mendarat tadi.
Tak lama kemudian gadis itu telah berdiri di sampingnya, dan sebuah tangan yang hangat lunak memegang tangannya.
Dia merasa betapa tangan gadis itu agak dingin gemetar.
"Kenapa?"
Tanyanya heran.
Jari-jari tangan itu mencengkeram dengan hangat, lalu melepaskan kembali pegangannya.
"Maaf, taihiap. Aku selalu merasa tegang sekali kalau sudah meloncati sumur mengerikan itu, teringat kepada teman-teman yang telah ditelannya."
Ia bergidik. Kemarahan Hui Song karena kemesraan yang lancang itu lenyap dan dia merasa kasihan.
"Engkau tidak sendirian, nona. Akupun merasa tegang dan ngeri. Tempat ini memang sungguh menyeramkan dan sukar dilalui. Akan tetapi aku berjanji akan membantu sampai engkau dapat menemukan tempat penyimpanan harta karun itu, terutama demi untuk menentang para penjahat yang hendak memberontak."
"Terima kasih, Cia-taihiap, mari kita lanjutkan perjalanan ini. Tidak jauh lagi, akan tetapi masih harus melalui dua tempat yang lebih sukar dan lebih berbahaya lagi. Nah, Kau lihat, di depan itu terbentang rawa yang menghalang perjalanan menuju ke tempat penyimpanan harta karun itu. Perjalananku yang sudah-sudah, untuk pertama kalinya ketika aku melakukan perjalanan seorang diri menyelidik, hanya sampai di tepi rawa ini dan aku tidak mampu melanjutkan. Kemudian aku datang lagi dibantu oleh seorang yang cukup lihai dan kami berhasil menyeberang, akan tetapi pada rintangan terakhir kami gagal dan pulangnya, temanku itu celaka dan tewas di rawa itu."
Kalau saja Hui Song tahu akan kebohongan gadis ini, tentu dia akan bergidik ngeri.
Memang benar gadis itu pernah berhasil menyeberangi rawa dengan bantuan seorang gagah, akan tetapi setelah gagal menemukan harta pusaka, khawatir karena rahasia harta karun itu telah diketahui orang luar, secara keji ia lalu membunuh orang gagah yang tadinya membantunya itu di tengah rawa!
Mendengar ini, Hui Song memandang rawa itu dengan penuh perhatian.
Mereka kini sudah tiba di tepi rawa.
Sebuah rawa yang kecil saja, akan tetapi sungguh tidak mungkin dilewati tanpa mempergunakan alat.
Melompati rawa ini hanya mampu dilakukan oleh burung dan binatang bersayap lainnya saja.
Rawa itu merupakan air lumpur yang ditumbuhi bermacam tumbuh-tumbuhan yang biasa hidup di atas lumpur dan tidak melihat perahu atau alat lain untuk menyeberang.
"Bagaimana cara menyeberangi rawa ini dan apa bahayanya, nona?"
Tanyanya. Siang Hwa tersenyum.
"Nampaknya aman dan tenang, bukan? Akan tetapi ketahuilah, taihiap, di bawah permukaan air berlumpur yang kelihatan tenang itu bersembunyi binatang-binatang iblis yang amat mengerikan dan liar sekali. Binatang yang siap mengintai dari bawah untuk menerkam dan menyerang siapa saja yang berani melintas di permukaan rawa."
"Binatang apakah itu?"
"Lihat, akan kupancing keluar mereka!"
Kata Siang Hwa, kemudian ia mengambil sebatang kayu dan menggunakan kayu itu untuk mengaduk-aduk dan menggerak-gerakkan permukaan air berlumpur di tepi rawa.
Tak lama kemudian air berlumpur itu berguncang dan muncullah moncong beberapa ekor binatang seperti buaya dan mereka bergerak ganas, memukul-mukul dengan ekor mereka yang seperti gergaji ke arah kayu itu bahkan ada yang menggunakan moncongya untuk menyerang.
Moncong itu mengerikan.
Panjang dan ketika dibuka, amat lebarnya, penuh dengan gigi yang tajam meruncing seperti gigi gergaji pula!
Dan gerakan ini memancing datangnya segerombolan binatang ini sehingga dalam waktu singkat saja di seluruh permukaan rawa itu nampak moncong atau ekor tersembul keluar!
Mungkin ada ribuan ekor di seluruh rawa itu.
"Ah, sungguh berbahaya!"
Hui Song bergidik ngeri.
Bagaimana mungkin mereka akan dapat melawan sekian banyaknya binatang liar dan buas ini?
"Lalu begaimana kita akan dapat menyeberang?"
Siang Hwa tersenyum, agaknya bangga akan pengetahuan dan kecerdikannya.
"Kita tidak dapat menggunakan perahu. Selain akan sukar meluncur, juga sekali terpukul ekor binatang itu, perahu kayu akan hancur berkeping-keping. Kita menggunakan bambu. Kalau kita berdiri di atas bambu dan mendayung, tentu bambu akan meluncur laju dan kalau kita berdua, kita dapat berjaga di kedua ujung bambu. mengusir dan menghantam setiap ekor binatang yang berani mendekat dengan pentungan kayu yang dapat kita cari di sini. Seorang diri saja akan amat berbahaya karena kalau kita diserang dari depan belakang, selagi berdiri di atas bambu dan mengatur keseimbangan badan pula, akan sukarlah menyelamatkan diri."
Gadis itu lalu mengajak Hui Song pergi mengambil ala-talat itu yang disembunyikannya di balik bukit kecil tidak jauh dari situ.
Mereka lalu menggotong sebatang bambu yang panjangnya kurang lebih tiga meter, kedua ujungnya meruncing.
Bambu ini sudah tua dan kering, kuat dan ulet sekali dan Siang Hwa juga sudah menyediakan dayung sebanyak dua batang dengan gagang panjang.
Dayung ini terbuat dari kayu dilapis baja dan ujungnya bahkan seluruhnya terbuat dari besi, maka dayung ini dapat dipergunakan untuk mendayung perahu istimewa berupa sebatang bambu itu, juga dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh untuk menghadapi binatang-binatang seperti buaya itu.
"Hemm, kiranya engkau sudah mempersiapkan segalanya, nona,"
Kate Hui Song kagum.
"Sudah kukatakan bahwa sudah beberapa kali aku datang ke tempat ini, taihiap. Namun sampai kini tanpa hasil dan sekaranglah timbul harapanku akan berhasil, dengan bantuanmu. Mari kita menyeberang. Biar aku menjaga di ujung depan dan engkau di ujung belakang, taihiap."
"Baiklah!"
Kata Hui Song yang merasa betapa jantungnya berdebar juga ketika batang bambu itu diturunkan di atas permukaan air berlumpur.
Siang Hwa meloncat ke atas bambu dan berjalan sampai ke ujung depan, diikuti oleh Hui Song.
Jangan dikira mudah berdiri di atas batang bambu besar yang terapung di atas air berlumpur.
Bambu itu bergoyang-goyang dan condong untuk berputar sehingga orang yang tidak memiliki ginkang yang tinggi dan pandai mengatur keseimbangan tubuh, tentu akan terbawa berputar dan terpelanting ke dalam air berlumpur itu.
Dan di kanan kiri bambu itu kini sudah nampak moncong-moncong mengerikan dan ekor-ekor yang panjang dan kuat!
"Jangan sembarangan memukul mereka, taihiap.
Kalau ada yang mencoba menyerang, baru kita memukul, akan tetapi sekali pukul harus mengenai kepalanya dan harus menewaskannya, kalau tidak dia akan mengamuk dan berbahayalah kita.
Sesudah seekor kita tewaskan, kita harus cepat mendayung bambu ini meluncur maju, karena bangkainya akan dijadikan rebutan kawan-kawannya sendiri sehingga air lumpur akan berguncang hebat."
Hui Song mengangguk-angguk, matanya tidak berani berkedip memandang ke sekelilingnya dan diapun menggerakkan dayungnya membantu Siang Hwa yang sudah mulai mendayung.
Bambu yang ujungnya runcing itu menggeleser lembut dan meluncur dengan cepatnya di atas permukaan air berlumpur itu, menyusup di antara alang-alang dan tumbuh-tumbuhan lain.
Baru belasan meter bambu mereka meluncur, setelah banyak pasang mata di belakang moncong-moncong itu memandang seperti terkejut dan terheran, mulailah datang serangan itu.
Seekor binatang liar menerjang dari depan menyambut ujung bambu.
Melihat bahaya ini, Siang Hwa menggerakkan dayungnya, menyambut dengan hantaman keras.
"Prakkk!"
Pecahlah kepala binatang itu dan dengan dayungnya Siang Hwa mencongkel dan melempar bangkai binatang itu agak jauh.
Hui Song melihat betapa tempat di mana bangkai itu jatuh kini penuh dengan binatang yang mengeroyok dan memperebutkan bangkai yang sebentar saja sudah dirobek-robek dan ditelan habis.
Air lumpur menjadi merah warnanya.
Diam-diam dia bergidik juga membayangkan bagaimana kalau tubuh manusia yang dijadikan rebutan seperti itu!
"Cepat dayung!"
Siang Hwa berteriak.
Mereka mendayung dan bambu meluncur ke depan, akan tetapi terpaksa Hui Song harus berhenti mendayung karena tiba-tiba seekor binatang yang amat besar berenang dengan cepat dan memukulkan ekornya ke arahnya.
Dayungnya terlampau pendek untuk mencapai kepala buaya itu, maka dia hanya mempergunakan dayung untuk menangkis ekor.
Buaya itu kesakitan dan marah, membalik dan dengan moncong dibuka lebar dia menyerang, hendak menggigit apa saja.
Hui Song menggerakkan dayungnya dan pecahlah kepala binatang itu.
Seperti yang dilakukan oleh Siang Hwa tadi, dengan dayungnya dia mendorong dan melemparkan bangkai itu agak jauh dari bambu.
Bangkai itu segera menjadi rebutan seperti tadi.
Akan tetapi, agaknya binatang-binatang itu menganggap bahwa dua orang penunggang bambu itu mendatangkan rejeki dan memberi makanan kepada mereka, kini mereka semua bareng menghampiri dan nampak betapa moncong-moncong itu muncul banyak sekali di kanan kiri, depan dan belakang perahu.
"Dayung cepat..."
Siang Hwa berteriak khawatir melihat begitu banyaknya binatang yang mendekati bambu.
Kembali mereka mendayung sambil mengerahkan tenaga sinkang dan karena tenaga Hui Song memang besar sekali, dayungnya membuat bambu itu meluncur dengan amat lajunya.
Akan tetapi, baru sampai di tengah-tengah rawa, bambu itu sudah dikurung oleh ratusan ekor binatang buas itu yang kini agaknya menjadi marah karena tidak mendapatkan makanan lagi.
Binatang ini agaknya mempunyai watak seperti ikan-ikan hiu di lautan.
Mereka bekerja sama dengan rukun, akan tetapi sekali mencium darah, mereka tidak memperdulikan darah kawan atau lawan.
Semua yang berdarah akan diserbu dan diganyang dengan lahapnya!
Melihat ancaman hebat ini, Siang Hwa berteriak.
"Taihiap, cepat, kita berkumpul di tengah dan saling melindungi!"
Mereka berdua melangkah ke tengah-tengah bambu dan beradu punggung, menghadapi penyerbuan binatang-binatang buas itu.
"Bunuh sebanyaknya dan lemparkan bangkai mereka ke sana-sini, untuk mencerai-beraikan mereka!"
Kembali gadis itu berkata dengan tenang, namun hanya sikapnya yang tenang, suaranya agak gemetar.
Diam-diam Hui Song merasa kagum.
Dia sendiri merasa ngeri dan dia tahu bahwa kalau hanya sendirian saja, akan lebih besarlah bahayanya, walaupun dia tentu akan memperoleh akal untuk menyelamatkan dirinya.
Kini, binatang-binatang liar itu menyerbu dari kanan kiri dan kedua orang muda itu menggerakkan dayung mereka untuk menyambut.
Terdengar suara keras pecahnya kepala binatang itu berkali-kali disusul terlemparnya bangkai-bangkai mereka ke kanan kiri.
Bangkai-bangkai itu menjadi rebutan, akan tetapi karena yang menyerbu amat banyaknya, biarpun sebagian ada yang memperebutkan bangkai kawan sendiri, yang menyerbu bambu itu tetap saja masih amat banyak.
Hui Song merasa tidak leluasa kalau menghadapi sekian banyaknya binatang itu hanya dengan berdiri di atas bambu dan menyambut setiap binatang yang berani menyerang paling dekat.
Maka dia lalu meloncat dari atas bambu, menghantam seekor buaya, lalu kakinya hinggap di atas kepala seekor buaya lain, menghantam lagi dan dengan cara berloncatan dari kepala ke kepala, dia dapat membagi-bagi pukulan dengan lebih baik.
Sebentar saja, belasan ekor buaya telah pecah kepalanya dan terjadilah perebutan bangkai yang hiruk-pikuk.
Melihat sepak terjang pendekar itu, Siang Hwa terkejut dan juga amat kagum.
Biarpun dia tahu bahwa pendekar itu lihai sekali, namun dia tidak pernah mengira bahwa Hui Song akan seberani dan sehebat itu.
"Mari, taihiap, kini ada kesempatan untuk melarikan diri!"
Katanya setelah kini para binatang itu sibuk sendiri saling serang dan memperebutkan bangkai-bangkai yang banyak itu.
Mereka lalu mendayung lagi setelah dengan sigapnya Hui Song meloncat kembali ke atas bambu.
Bambu meluncur cepat dan biarpun ada beberapa ekor binatang yang memburu, namun mereka sudah dapat tiba di seberang dengan selamat.
Mereka menarik bambu itu ke darat dan menyembunyikannya ke belakang serumpun semak-semak.
"Hayaaa... berbahaya juga..."
Kata Hui Song sambil menyusuti peluh dari lehernya dengan saputangan.
Siang Hwa juga menyusuti keringatriya dan memandang kagum.
"Akan tetapi engkau hebat, taihiap. Sungguh hebat dan membuatku kagum sekali. Memang amat berbahaya tadi, dan sekiranya bukan engkau yang mendampingiku, tentu tamatlah riwayat Gui Siang Hwa pada hari ini!"
"Ah, sudahlah jangan terlalu memuji, nona. Engkau sendiri juga mengagumkan sekali. Nah, sekarang apa pula yang akan kita hadapi?"
"Tinggal satu lagi, taihiap, akan tetapi satu yang paling sukar dan biarpun sudah dibantu oleh teman lihai yang akhirnya tewas di rawa, tetap saja aku tidak mampu mengatasi kesukaran terakhir ini. Mari kita lanjutkan perjalanan."
Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah gua kecil yang tertutup batu bundar yang besar.
"Nah, di belakang batu besar inilah tempat penyimpanan harta karun, yaitu menurut peta rahasia yang menjadi warisan Ciang-tosu. Akan tetapi, biarpun aku sudah berusaha mati-matian bersama teman itu, tetap saja kami tidak berhasil menggerakkan batu ini yang seolah-olah melekat pada gua di belakangnya."
Hui Song tertarik sekali dan memandang batu besar bulat itu.
Batu itu memang besar, akan tetapi karena bentuknya bulat, rasanya kalau orang memiliki tenaga sinkang yang sudah cukup kuat, tentu akan mampu mendorongnya sehingga menggelinding atau tergeser dari tempat semula.
Gadis ini cukup lihai dan kuat, apalagi dibantu seorang teman yang juga lihai, bagaimana sampai tidak berhasil mendorong batu bulat ini ke samping?
Dia tidak boleh mempergunakan tenaga kasar saja.
Kalau dua orang itu dengan tenaga digabung tidak berhasil menggeser batu ini, tentu ada rahasianya.
Dia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono.
Maka mulailah dia meneliti dan mendekati batu itu meraba sana-sini dan memeriksa ke sekelilingnya.
Akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa memang batu ini, biarpun tidak melekat dan menjadi satu dengan mulut gua, namun ditahan oleh sesuatu yang membuat batu itu sukar dilepaskan dari mulut gua.
Tentu ada alat rahasianya.
"Taihiap, mari kita mencoba untuk menyatukan sinkang dan mendorong batu ini agar tergeser dan membuka pintu gua,"
Kata gadis itu. Akan tetapi Hui Song menggeleng kepalanya.
"Nona, kurasa akan percuma saja mempergunakan tenaga kasar memaksa batu ini tergeser. Batu ini besarnya membuat ia tidak mungkin dipecahkan dan biarpun garis tengahnya ada dua meter, mestinya dapat didorong dan digeser. Kalau tidak dapat digeser, itu berarti bahwa di balik batu ini ada sesuatu yang mungkin sengaja dipasang untuk menahan batu ini agar tidak pindah dari tempatnya. Aku mempunyai akal yang akan lebih mudah kita laksanakan."
"Bagaimana, taihiap?"
Gadis itu memandang penuh harapan.
"Kekuatan manusia ada batasnya. Akan tetapi kekuatan yang timbul dari berat jenis batu ini sendiri akan sukar dapat ditahan oleh alat yang membuat batu itu tidak bergoyah dari tempatnya. Mari kita membuat batu itu melepaskan diri sendiri dengan berat jenisnya."
Mula-mula Siang Hwa tidak mengerti, akan tetapi melihat pemuda itu mulai menggali tanah di sebelah batu besar, ia mengerti dan cepat membantu penggalian itu.
Karena mereka berdua adalah orang-orang pandai yang bertenaga besar, sebentar saja mereka sudah menggali cukup lebar dan dalam.
Tiba-tiba Hui Song berteriak mendorong tubuh gadis itu ke samping.
Batu itu bergerak!
Tak lama kemudian batu itupun menggelinding masuk ke dalam lubang galian di sebelah kirinya dan terbukalah setengah pintu gua itu!
"Awas, jangan masuk dulu dengan sembrono!"
Hui Song memperingatkan dan betapapun ingin hati Siang Hwa, ia cukup waspada dan mentaati peringatan ini.
Terdengar suara keras dan tiba-tiba dari dalam lubang gua itu menyambar tujuh batang anak panah menghitam yang sudah berkarat disusul oleh debu yang mengepul keluar, debu yang jelas mengandung racun!
Kedua orang muda itu menyingkir dan bergidik melihat anak panah itu meluncur lewat dan jatuh ke dalam jurang di belakang mereka.
"Aih, sungguh berbahaya sekali!"
Kata Siang Hwa.
Hui Song mempergunakan tenaga sinkang untuk pukulan jarak jauh, mendorong dengan kedua telapak tangannya ke arah lubang gua mengusir sisa debu dan juga untuk menahan kalau-kalau dari dalam ada serangan mendadak.
Mereka berindap masuk dan ternyata bukan manusia menyerang mereka, melainkan alat rahasia yang agaknya dipasang orang untuk menyerang siapa saja yang berani membuka batu dan memasuki gua itu.
Ternyata seperti dugaan Hui Song, di belakang batu itu terdapat sambungan besi yang terkait pada kaitan baja yang ditanam di lantai dua.
Pantas saja tenaga manusia tidak mampu mendorong batu itu dari luar.
Setelah batu itu bergantung pada lubang yang mereka gali, kaitan baja itu tidak kuat menahan berat batu yang patah.
Akan tetapi begitu gua terbuka dan batu tergeser, berjalanlah Alat-alat rahasia yang membuat tujuh anak panah itu meluncur keluar dan kantong terisi debu beracunpun jatuh pecah berhamburan.
Semua itu digerakkan dengan per yang bekerja setelah batu itu tergeser.
Setelah meneliti semua itu, Hui Song menggeleng kepala kagum.
"Sungguh hebat sekali kepandaian orang yang memasangkan alat rahasia ini."
Akan tetapi Siang Hwa tidak begitu memperhatikan lagi semua alat rahasia itu.
"Taihiap, mari kita masuk. Menurut peta, harta karun tersimpan dalam jarak dua puluh satu langkah dari pintu dan tersembunyi di dalam dinding gua sebelah kiri. Biar kuukur jarak itu!"
Dengan sikap gembira dan penuh ketegangan, Siang Hwa lalu melangkah sambil menghitung dari pintu gua.
Setelah dua puluh satu langkah dia berhenti.
"Tentu di sini tempatnya,"
Katanya sambil berjongkok dan memeriksa dinding sebelah kiri.
Hui Song mendekati, hatinya juga ikut merasa tegang.
"Ihh... apa ini...?"
Tiba-tiba gadis itu berteriak.
"Awas..."
Hui Song berseru dan cepat tangan kanannya mencengkeram pundak Siang Hwa untuk ditariknya ke belakang dan tangan kirinya menangkis ketika ada benda hitam tiba-tiba saja meluncur ke arah dada gadis itu.
"Trakkk!"
Benda itu ternyata sebuah tombak kuno yang menghitam dan mudah diduga pula bahwa tombak ini, seperti juga anak panah tadi, mengandung racun.
Akan tetapi bukan itu yang mengejutkan hati Hui Song dan Siang Hwa, melainkan jatuhnya pula sebuah kerangka manusia lengkap dari dinding itu.
Tadi Siang Hwa meraba-raba dinding itu dan menemukan besi kaitan yang segera ditariknya dan begitu penutup dinding terbuka, kerangka itu terjatuh berikut tombak yang meluncur!
Hui Song menyingkirkan tombak itu, kemudian bersama Siang Hwa menyalakan lilin-lilin yang sudah mereka bawa sebagai bekal tadi.
Di bawah penerangan sinar lilin-lilin yang lumayang terang, mereka melihat bahwa di balik pintu yang menutup dinding tadi terdapat sebuah peti besar hitam.
"Itulah harta karunnya!"
Siang Hwa berseru girang sekali dan melonjak seperti anak kecil.
Hui Song tersenyum dan pemuda inipun dapat merasakan gejolak hatinya yang ikut bergembira.
Usaha mereka berhasil dan semua jerih payah tadi tidak sia-sia.
"Hati-hati, nona. Jangan-jangan ada jebakan lagi atau senjata rahasia. Mari kita turunkan peti itu perlahan-lahan."
Hui Song lebih dulu mencoba dengan mencongkel-congkel peti itu menggunakan sepotong batu, bahkan Siang Hwa lalu menghunus pedang dan memukul-mukul di atas peti.
Akan tetapi tidak terjadi sesuatu.
Barulah mereka berani menarik dan menurunkan peti besar itu yang ukurannya lebih dari setengah meter persegi.
"Mengapa begini ringan?"
Hui Song berkata.
"Kita buka saja, coba lihat isinya!"
Kata Siang Hwa tak sabar.
Peti itu dapat dibuka dengan mudah dan merekapun bersikap hati-hati ketika membuka tutup peti.
Tidak terjadi sesuatu, akan tetapi keduanya terbelalak memandang ke dalam peti karena peti itu ternyata kosong sama sekali!
Bagaikan awan tipis ditiup angin, lenyaplah semua kegembiraan yang memenuhi hati, terganti rasa kecewa yang amat menghimpit batin.
"Peti kosong..."
Teriak Siang Hwa kemudian setelah ia dapat mengeluarkan suara.
"Mungkin bukan ini, mungkin di tempat lain,"
Kata Hui Song membangkitkan harapan.
"Tidak, tidak!"
Pasti ini.
Tempatnya sudah tepat, dan memang beginilah gambaran peti dalam peta Liangtosu...
Yang dimaksudkan seperti apa yang diceritakan suhunya.
"Tapi... sudah kosong. Ah, inilah sebabnya mengapa ada kerangka manusia ini, dan pasti ada orang mendahului kita. Dalam peta tidak pernah disebutkan adanya kerangka manusia atau tombak!"
"Didahului orang? Akan tetapi siapa dapat mendahuluimu, nona? Bagaimana pula dia dapat masuk kalau tadi batu itu masih utuh dan kaitannya juga baru saja terlepas? Dan siapa pula kerangka manusia? Mari kita selidiki!"
Hui Song dan Siang Hwa masing-masing membawa lilin karena bagian dalam gua itu sudah mulai remang-remang, melakukan pemeriksaan dengan hati kecewa dan tegang.
Hui Song ingin sekali membuktikan kebenaran dugaan Siang Hwa bahwa ada orang mendahului mereka.
Kalau benar demikian, harus ada tanda-tandanya bagaimana orang itu dapat memasuki gua itu.
Ataukah orang itu yang memasang semua alat rahasia di dalam gua itu?
Akan tetapi, bukankah jebakan dan Alat-alat rahasia itu sudah diketahui oleh Siang Hwa melalui peta, kecuali alat terakhir berupa tombak meluncur tadi?
Tidak, kalau benar ada yang mendahului, tentu orang itu mengambil jalan lain yang tidak perlu merusak kaitan batu bundar penutup mulut gua!
Akhirnya usahanya berhasil.
Dia menemukan sebuah lubang di lantai gua sebelah kanan, dan ketika dia menyingkirkan tanah yang menutupi lubang itu, lubang itu ternyata menuju ke bawah dan menembus keluar gua, melalui bawah batu!
Mengertilah dia kini dan dia berseru kagum.
"Ah, orang itu memasuki gua dengan jalan membuat lubang terowongan di bawah batu. Sungguh cerdik sekali!"
Katanya.
"Dan kerangka ini adalah kerangka seorang Mongol dan pembunuhnya atau orang yang telah mengambil harta karun ini tentu ada hubungannya dengan perkumpulan rahasia Harimau Terbang di Mongol!"
"Apa...? Bagaimana engkau bisa tahu, nona?"
Hui Song mendekati gadis itu yang sedang memeriksa sebuah lencana yang terbuat dari emas.
"Aku pernah mempelajari ciri-ciri khas dari tulang pipi dan dagu orang Mongol aseli dan tengkorak kerangka ini jelas adalah tengkorak seorang Mongol. Dan lencana ini kudapatkan genggamannya, agaknya sampai tewas, orang ini terus menggenggam sebuah lencana yang besar kemungkinannya dapat dirampasnya dari leher lawannya yang membunuhnya. Lencana ini adalah tanda anggauta Harimau Terbang, sebuah perkumpulan rahasia di Mongol, yaitu menurut tulisan Mongol yang diukir di atasnya."
Hui Song melihat lencana itu dan dia merasa semakin kagum terhadap Siang Hwa.
Kiranya gadis ini selain lihai, juga mempunyai pengetahuan yang luas.
"Jadi kalau begitu kesimpulannya..."
"Seorang atau lebih orang yang lihai dan cerdik sekali telah tahu akan rahasia harta karun ini, dan telah mendahului kita, mungkin sudah belasan bulan melihat betapa mayat ini telah menjadi kerangka yang masih utuh.
Dia atau mereka memasuki gua dengan jalan membuat lubang terowongan kecil itu.
Kemudian agaknya terjadi perebutan di sini, dan orang ini tewas sedangkan dia hanya dapat merampas lencana yang agaknya dipakai oleh lawan sebagai kalung tanpa diketahui lawan itu.
Orang itu, atau lebih dari seorang, lalu mengambil seluruh isi peti harta karun, memasukkan mayat orang ini ke dalam lubang bersama peti, memasang sebuah tombak untuk menyerang orang yang datang kemudian membuka tempat penyimpanan peti harta pusaka, (Lanjut ke
Jilid 21) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 Bagaimana pendapatmu, taihiap?"
Hui Song mengangguk-angguk. Perkiraan yang tepat sekali dan dia sendiripun tidak dapat menerka lain.
"Dugaanmu agaknya tepat sekali, nona. Memang hanya seperti itulah kiranya yang dapat terjadi. Alat-alat rahasia di balik batu penutup gua itu dibuat oleh mereka atau dia yang menyimpan harta pusaka itu, sedangkan mayat dan tombak tadi memang ditaruh kemudian, dan pasti oleh si pencuri harta pusaka. Lalu sekarang bagaimana?"
Tiba-tiba Siang Hwa menangis!
Hal ini amat mengejutkan hati Hui Song.
Dia terkejut dan terheran, sama sekali tidak pernah dapat membayangkan seorang yang gagah dan lihai seperti Siang Hwa dapat menangis sesenggukan seperti anak kecil begitu, Akan tetapi dia segera teringat bahwa bagaimanapun juga, Siang Hwa adalah seorang wanita, dan harus diakuinya bahwa mendapatkan peti harta pusaka yang telah kosong itu sungguh merupakan pukulan batin yang amat hebat!
Dia sendiri yang sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan hatta itu, yang hanya terlibat secara kebetulan saja, merasa amat kecewa, menyesal dan tertekan batinnya.
Apalagi Siang Hwa!
Gadis ini sudah lama menyelidiki tempat ini, sudah berkali-kali gagal, bahkan sudah banyak temannya tewas dalam tugas penyelidikan.
Kini, setelah berhasil menemukan tempat dan peti harta pusaka, setelah harapan sudah memuncak di ambang keberhasilan, tiba-tiba saja segala-galanya hancur dan gagal sama sekali!
Dia merasa kasihan, lalu teringat bahwa harta pusaka itu diperebutkan hanya demi menentang pemberontakan, bukan untuk kepentingan diri pribadi.
"Sudahlah, nona. Kiranya tidak ada gunanya ditangisi lagi. Pula, kita mencari harta pusaka untuk menghalangi pusaka itu terjatuh ke tangan pemberontak. Dan sekarang seperti dugaanmu tadi, yang mengambilnya adalah orang Mongol, bukan para datuk sesat yang hendak memberontak. Yang penting adalah tidak terjatuh ke tangan pemberontak, jadi sama saja apakah pusaka itu terjatuh ke tangan kita ataukah orang lain asal jangan pemberontak, bukankah begitu?"
Siang Hwa memandang tajam dan sepasang matanya seperti berkilauan di bawah cahaya lilin.
"Taihiap, engkau tentu akan suka membantu kami untuk melakukan pengejaran ke Mongol, membantu kami merampas kembali harta pusaka itu, bukan?"
Hui Song mengerutkan alisnya.
"Untuk apa, nona? Aku... aku mempunyai urusan lain..."
Dia teringat akan tugasnya seperti yang dipesankan oleh gurunya.
Tentu saja dia tidak berani berterus terang kepada Siang Hwa tentang usaha para pendekar menentang para datuk sesat yang merencanakan pemberontakan, walaupun dia menganggap Siang Hwa juga seorang di antara para orang gagah yang menetang pemberontakan.
Akan tetapi, ucapan gadis itu meyakinkan hatinya dan memperkuat kepercayaannya.
"Taihiap, bukankah kita sehaluan, yaitu hendak menentang para pemberontak? Nah, usaha mendapatkan harta karun itu merupakan pukulan paling hebat bagi mereka, selain mereka gagal memperoleh harta yang akan dapat mereka pergunakan untuk membiayai pemberontakan, juga kita dapat menggunakan harta itu untuk keperluan gerakan menentang mereka."
Timbul kepercayaan di hati Hui Song.
Jangan-jangan gadis ini adalah seorang di antara pimpinan para patriot yang hendak membela negara!
"Nona Gui, aku harus pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang..."
Dia memancing sambil menatap tajam wajah gadis itu.
Akan tetapi wajah Siang Hwa tidak menunjukkan sesuatu, hanya sepasang mata itu yang berkilat penuh penyelidikan mengamati wajah Hui Song.
"Cia-taihiap, sudah terlalu lama aku sibuk dengan tugasku mencari harta karun ini sehingga aku agak terlambat mengikuti perkembangan gerakan kawan-kawan kita di luar. Tentu di sana akan diadakan pertemuan rahasia antara kita, bukan?"
Hui Song mengangguk.
"Para pendekar akan mengadakan pertemuan di sana, kalau aku harus membantumu, aku khawatir akan terlambat."
"Ah, kalau begitu aku tidak boleh mengganggumu! Apakah engkau akan datang sebagai wakil dan utusan Cin-Ling-Pai?"
Betapa inginnya hati Hui Song untuk mengaku demikian.
Akan tetapi dia teringat akan sikap ayahnya dan dia tidak berani berbohong, maka diapun tidak menjawab secara langsung melainkan hanya menggeleng kepala.
"Baiklah, kalau begitu terpaksa kami akan melanjutkan sendiri pencarian kami, dan sekarang kita harus keluar dari tempat ini sebelum malam tiba, taihiap."
Akan tetapi, melihat gadis itu mengangkat lilin tinggi di atas kepala dan terus berjalan menuju ke sebelah dalam gua, Hui Song bertanya.
"Eh, jalan ke mana, nona?"
"Taihiap, menurut peta yang dimiliki Ciang-tosu, gua ini merupakan terowongan yang menuju ke belakang bukit. Seperti yang kau lihat, di depan sana ada sinar terang, berarti di sana ada lubang mulut gua di belakang bukit ini. Mari kita mengambil jalan ke sana, dan melihat keadaannya. Siapa tahu kalau-kalau penjahat-penjahat yang mencuri harta itu menyembunyikan harta itu di sana, walaupun harapan ini tipis sekali. Akan tetapi setelah berhasil memasuki tempat yang luar biasa ini, tiada salahnya kalau kita melihat sebentar bagaimana macamnya tembusan gua ini, bukan?"
Hui Song mengangguk dan mengikuti gadis itu.
Setelah maju belasan meter dan membelok, benar saja nampak mulut gua dan kini tidak perlu lagi mereka memakal lilin karena cahaya terang memasuki gua dari pintu atau mulut gua itu.
Matahari sudah condong ke barat, akan tetapi sinarnya masih nampak terang.
Silau juga rasanya mata yang sudah lama berada di dalam gua gelap, hanya diterangi api lilin, kini tiba-tiba harus menghadapi cahaya matahari di luar gua itu.
Dan pemandangan di depan gua itu sungguh indah, juga amat mengerikan.
Depan gua itu merupakan batu datar yahg lebarnya dua meter dan panjangnya kurang lebih lima belas meter, akan tetapi selanjutnya tidak ada apa-apa lagi, merupakan jurang yang amat curam!
Mengerikan kalau memandang ke bawah, yang nampak hanya kabut.
Tidak ada jalan keluar dari tempat itu, merupakan jalan mati yang berakhir dengan jurang yang amat dalam.
Di depan nampak puncak bukit batu karang menonjol, jaraknya dari tepi jurang itu tidak terlampau jauh, hanya kurang lebih lima puluh meter, akan tetapi karena adanya jurang yang amat curam itu, nampak menganga mengerikan dan nampak lebih jauh dari kenyataannya.
"Ini merupakan jalan buntu dan mati, tidak ada jalan keluar dari sini. Tidak, nona, pencuri harta pusaka itu tidak mengambil jalan sini, melainkan kembali melalui terowongan kecil yang mereka buat di bawah batu,"
Kata Hui Song sambil menjenguk ke bawah dari tebing jurang itu.
Tidak terdengar jawaban sampai lama.
Hui Song menengok dan terbelalak sambil memutar tubuh, memandang dengan terheran-heran kepada tiga orang itu.
Siang Hwa, Ciang-tosu dan Ciong-hwesio sudah berdiri menghadang di depan mulut gua dengan wajah beringas!
Senyum mengejek menghias bibir Siang Hwa yang biasanya bersikap manis dan halus itu.
"Cia Hui Song, pencuri itu tidak keluar dari sini, akan tetapi sekarang engkau harus keluar dari sini!"
"Nona, apa artinya ini?"
Hui Song bertanya, sikapnya masih tenang namun waspada karena dia maklum bahwa tiga orang ini telah membohonginya, buktinya kini dua orang kakek yang katanya tidak dapat melewati jembatan batu-batu pedang itu ternyata telah dapat menyusul ke sini.
"Artinya, engkau harus mampus di sini untuk menebus dosa-dosamu. Pertama, engkau berani menghina dengan menolak perasaan hatiku kepadamu, dan kedua, engkau tidak bersedia membantu kami mencari harta karun itu ke Mongol, dan ketiga, engkau sebagai orang luar telah tahu akan harta karun itu, maka untuk menutup rahasia ini dan untuk menebus dosamu, engkau harus mati. Nah, terjunlah ke dalam jurang itu."
"Tapi... bukankah kita sehaluan...?"
Hui Song bertanya, bukan karena takut melainkan karena penasaran dan heran.
"Ha ha Ha-ha!"
Kakek gendut yang disebutnya Ciong-hwesio tertawa bergelak.
"Sehaluan? Ha ha ha..."
"Nona, apa artinya semua ini?"
Hui Song membentak kepada Siang Hwa, merasa cukup dipermainkan dan menuntut penjelasan, namun matanya tiduk lepas dari sikap mereka itu karena dia cukup mengenal kelihaian dan kecurangen mereka.
"Orang tampan yang berhati dingin, engkau ingin tahu dan masih belum dapat menerkanya? Baik, dengarlah sebelum engkau mati. Aku Gui Siang Hwa adalah murid Pangeran Tuon Jitong dan aku mewakili suhu mencari harta karun. Mereka ini adalah para pembantu suhu yang berjuluk Huito Cinjin dan Kangthouw Lomo..."
Mata Hui Song terbelalak dan ingin dia menampar muka sendiri karena merasa menyesal sekali atas kebodohannya.
Dia seperti pernah mendengar nama kedua orang kakek itu, mengingat-ingat lagi mengangguk-angguk.
"Kiranya dua orang dari Cap-sha-kui...? Bagus sekali kiranya kalian bertiga adalah komplotan busuk itu sendiri!"
"Cia Hui Song, lebih baik kau cepat meloncat ke bawah, atau engkau lebih suka kami yang memaksamu?"
Siang Hwa menghunus pedang tipisnya.
Huito Cinjin juga sudah menghunus keluar sepasang pisau belati, sedangkan kakek gendut Kangthouw Lomo melepaskan tali guci arak yang tadinya tergantung di pinggang.
Kiranya guci arak kecil ini juga dapat dipergunakan sebagai senjata oleh si gendut ini!
Hui Song tersenyum mengejek, timbul kembali kegembiraan dan ketabahannya.
Lebih baik menghadapi lawan secara berterang begini dari pada menghadapi mereka yang disangkanya teman sehaluan yang dapat dipercaya.
"Perempuan hina, jangan disangka bahwa aku takut menghadapi kalian bertiga. Dahulu, karena tidak mengira bahwa engkau adalah seorang iblis betina, aku terjebak. Jangan harap sekarang akan dapat mengulangi lagi kecuranganmu itu!"
"Manusia sombong!"
Bentak Huito Cinjin yang tadinya diberi nama Ciang-tosu itu dan tiba-tiba sinar kilat menyambar ketika kedua tangannya bergerak.
Dua batang pisau itu telah menyambar ke arah tenggorokan dan perut Hui Song dengan kecepatan kilat!
Memang inilah keistimewaan kakek itu, bahkan nama julukannya Huito (Pisau Terbang).
Akan tetapi sekali ini Hui Song sudah siap siaga dengan penuh kewaspadaan, maklum bahwa yang dihadapinya adalah lawan-lawan yang tangguh, berbahaya dan juga curang sekali.
Maka begitu melihat ada dua sinar berkelebat, dengan tenang saja dia menggerakkan tangannya dan dengan sentilan jari tangannya, dua batang pisau itu runtuh ke atas tanah dan menancap sampai hanya nampak gagangnya saja!
Tosu itu terkejut dan kedua tangannya sudah memegang dua batang pisau lainnya.
Siang Hwa yang sudah maklum akan kelihaian Hui Song, sudah menerjang ke depan dan pedangnya sudah berkelebat membentuk gulungan sinar yang menyambar-nyambar.
Hui Song dengan tenang mengelak ke sana-sini, dan karena tempat itu memang sempit, diapun mengelak sambil membalas dengan tendangan kakinya yang hampir saja mengenai lutut lawan.
Gadis itu terpaksa meloncat ke belakang dan menyerang lagi, sekali ini dibantu oleh dua orang kawannya yang masing-masing mempergunakan sebuah guci arak dan sepasang pisau belati.
Hui Song melihat bahwa dua orang kakek itupun ternyata lihai sekali, maka diapun bergerak dengan hati-hati.
Namun, di belakangnya terdapat jurang yang amat curam dan dia didesak oleh tiga orang yang kepandaiannya tinggi dan bersenjata, maka betapapun lihainya, dia tersudut dan terancam bahaya maut.
Gerakannya kurang leluasa, terutama karena ada ancaman maut ternganga di belakangnya dan tiga orang lawan yang cerdik itu agaknya memang hendak mendesak dan memaksanya untuk terjun ke dalam jurang.
Tiba-tiba Siang Hwa mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tangan kirinya sudah mengeluarkan saputangannya yang mengandung bubuk obat bius.
Akan tetapi Hui Song sudah siap pula menghadapi ini.
Mulutnya meniup dan bubuk obat bius itu buyar membalik, juga dia menahan napas dan baru berani menarik napas setelah racun itu lenyap.
Pada saat itug kembali Huito Cinjin menyerang dengan sepasang belatinya dan tiba-tiba, ketika pemuda itu mengelak, tosu itu melepaskan dua batang pisaunya menjadi sambitan dari jarak yang amat dekat!
Hui Song tidak menjadi gugup dan berhasil menyampok dua batang pisau itu.
Pada saat itu, Siang Hwa sudah menyerang dengan pedangnya menusuk ke arah perut sedungkan si gendut menghantam dari samping ke arah kepalanya menggunakan guci arak itu!
Hui Song meloncat dan hendak menangkap hantaman guci arak, akan tetapi pedang Siang Hwa membalik dan tahu-tahu sudah menyerempet pahanya.
"Brettt..."
Ujung pedang itu merobek celana kakinya yang kanan, merobek celana itu dari paha ke bawah sampai betis, akan tetapi ujung pedang itu tidak mampu membuat luka dalam, hanya membuka sedikit kulit kaki yang biarpun mengeluarkan darah namun bukan merupakan luka yang berat, hanya lecet saja.
"Iblis-iblis busuk yang curang!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dari dalam gua itu berkelebatan bayangan orang yang amat cepat dan ringan gerakannya.
Begitu tiba di luar mulut gua, bayangan ini sudah menendang ke arah perut gendut Kangthouw Lomo dan tangan kirinya mencengkeram ke arah kepala Huito Cinjin!
Gerakannya demikian cepatnya sehingga hampir saja perut gendut itu tercium ujung sepatu.
Si gendut cepat mundur, akan tetapi tetap saja pinggnnggnya terserempet tendangan yang membuat dia terhuyung.
Huito Cinjin juga terkejut akan tetapi mampu menghindarkan diri.
"Sui Cin..."
Hui Song berseru girang bukan main ketika mengenal wajah gadis yang baru datang itu.
Tadinya ketika melihat bayangan berkelebat datang membantunya dan melihat bahwa bayangan itu adalah seorang gadis, dan masih belum mengenalnya, akan tetapi kini dia dapat melihat jelas dan kegembiraan yang amat besar menyelinap dalam hatinya ketika dia menyebut nama gadis itu.
Sui Cin meloncat dekat dan mereka saling melindungi.
"Song-ko, jangan khawatir, aku membantumu. Mari kita hajar tiga ekor tikus ini... eh, mana mereka?"
Ternyata Siang Hwa dan dua orang kakek itu sudah lenyap dari depan mulut gua. Hui Song terkejut.
"Mari kita kejar..."
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara keras dan ada pintu besi yang bergerak menutup mulut gua itu, agaknya digerakkan oleh alat rahasia yang membuat daun pintu besi itu keluar dari dalam dinding.
Ternyata Siang Hwa amat cerdiknya.
Melihat datangnya seorang gadis yang amat lihai membantu Hui Song, ia merasa khawatir dan cepat ia mengajak dua orang pembantunya lari masuk ke dalam gua dan menggerakkan pintu rahasia yang memang sudah diketahuinya.
Hui Song dapat menduga kecurangan itu yang amat membahayakan keselamatan dia dan Sui Cin, maka diapun menerjang daun pintu itu.
"Brungggg..."
Daun pintu tergetar akan tetapi tidak pecah oleh terjangan kaki tangan Hui Song.
Ternyata daun pintu itu terbuat dari baja yang tebal.
"Song-ko, kita dapat lari melalui tebing di depan itu!"
Kata Sui Cin sambil menunjuk ke arah puncak bukit yang merupakan tebing di depan, di seberang jurang yang tak nampak dasarnya saking dalamnya itu.
"Kita dapat meloncat ke sana."
Hui Song memandang dan menggeleng kepala.
"Terlalu berbahaya..."
Dia sendiri merasa sanggup meloncat ke sana, akan tetapi bagaimana dengan Sui Cin?
Terlalu berbahaya bagi Sui Cin, bukan baginya dan meloncati jarak itu sambil menggendong tubuh Sui Cin jelas tidak mungkin.
Sui Cin sudah lama mengenal Hui Song dan mengerti apa yang berada dalam batin pemuda itu.
"Song-ko, jangan khawatir, aku dapat meloncat ke sana..."
Pada saat itu terdengar suara ketawa Siang Hwa dari balik daun pinto baja.
"Ha ha ha, orang she Cia. Lebih baik engkau ajak temanmu itu meloncat turun ke dalam jurang karena mau tidak mau kalian harus melakukannya!"
Dan tiba-tiba pintu baja itu terbuka sedikit dan meluncurlah pisau-pisau terbang, Jarum-jarum dan juga batu-batu yang dilemparkan oleh tiga orang itu!
Karena mereka adalah orang-orang yang lihai, tentu saja lemparan mereka itu amat kuat dan berbahaya, terutama pisau-pisau terbang yang menjadi kepandaian khas dari Huito Cinjin.
Sibuk juga Hui Song dan Sui Cin mengelak dan memukul runtuh senjata-senjata rahasia itu dan dalam gerakan Sui Cin, Hui Song melihat kecepatan yang amat luar biasa.
Besarlah hatinya.
Agaknya selama tiga tahun ini Sui Cin yang digembleng oleh Dewa Arak Wuyi Lojin telah memperoleh kemajuan pesat, terutama dalam ilmu ginkang seperti dapat dilihatnya ketika gadis itu tadi menyerbu menolongnya dan kini ketika mengelak dari sambaran senjata-senjata rahasia.
Dia dan Sui Cin meloncat ke arah pintu, akan tetapi pintu itu cepat sudah tertutup kembali dari dalam!
"Memang tidak ada jalan lain,"
Kata Hui Song mengerutkan alisnya yang tebal.
"Kalau kita berdiam di sini, tentu mereka akan mencari akal untuk mencelakakan kita. Kalau cuaca sudah gelap, sukarlah kita untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan gelap mereka. Menerjang pintupun percuma saja. Akan tetapi, benarkah engkau sanggup meloncat ke sana, Cin-moi?"
"Tentu saja sanggup, biar aku melompat lebih dulu agar hatimu tidak akan khawatir lagi."
"Jangan Cin-moi. Jangan, biar aku yang melompat lebih dulu sehingga engkau dapat memperoleh tempat pendaratan yang aman di sana."
"Baiklah, Song-ko. Akan tetapi cepat, itu di sebelah kanan kulihat banyak lekukan pada dinding batu, kau loncatlah ke sana, Song-ko."
"Baik, Cin-moi."
"Berhati-hatilah."
Hui Song mengambil ancang-ancang, lalu berlari dan meloncat sambil mengerahkan ginkangnya, menuju ke tempat pendaratan di tebing bukit di depan.
Tubuhnya meluncur seperti seekor burung saja dan tepat tiba pada dinding di mana terdapat banyak lekukan, agak ke bawah.
Dengan cekatan tangannya mencengkeram lekukan batu dan kedua kakinya hinggap pada lekukan batu pula.
Dia telah mendarat dengan selamat!
Dia menoleh dan tersenyum kepada Sui Cin, lalu berseru.
"Cin-moi, sekarang kau meloncatlah. Ke sebelah kenanku ini, banyak lekukan dan baik untuk mendarat. Aku akan menjagamu di sini!"
Dia sudah siap dengan tangan kirinya untuk menolong kalau-kalau loncatan Sui Cin tidak mencapai sasaran.
Bagaimanapun juga, dia belum tahu sampai di mana kemampuan ginkang gadis itu.
"Baik, Song-ko, aku meloncat!"
Gadis itu meloncat dengan gerakan yang indah dan cekatan, akan tetapi pada saat itu, Hui Song melihat dua orang kakek itu keluar dari pintu mulut gua yang tiba-tiba terbuka dan melihat betapa kakek gendut itu melontarkan batu-batu yang sebesar kepala orang ke arah Sui Cin yang sedang meloncat.
"Cin-moi, awas..."
Teriaknya, akan tetapi terlambat.
Gadis itu tentu saja sama sekali tidak pernah menduganya bahwa ia akan diserang dari belakang dan dalam keadaan melayang itu, sukar baginya untuk mengelak.
"Bukkk..."
Sebuah batu sebesar kepala tepat mengenai belakang kepalanya.
"Oughhh..."
Gadis itu mengeluh dan tubuhnya terkulai.
Untung baginya bahwa loncatannya tadi amat kuat sehingga tubuhnya kini melayang ke arah Hui Song.
Pemuda ini cepat menangkap lengan kiri Sui Cin dan gadis itu bergantung pada pegangannya dengan tubuh lemas.
Gadis itu tidak pingsan, akan tetapi kelihatan lemas dan pandang matanya nanar dan agaknya timpukan yang mengenai belakang kepalanya itu membuatnya nanar dan pening.
"Jangan takut... tenang saja... aku menolongmu..."
Hui Song menghibur dengan kata-kata lembut sambil menguatkan hatinya yang dicekam kegelisahan.
Pada saat itu, dia mendengar desir angin dari belakang dan tahulah dia bahwa ada beberapa batang pisau terbang menyambar ke arah tubuh belakangnya.
Dia tidak mungkin dapat mengelak atau menangkis, maka Hui Song mengerahkan tenaga sinkang, disalurkannya ke punggung.
Empat batang pisau mengenai tengkuk dan punggungnya, akan tetapi semua runtuh dan hanya merobek bajunya saja, sama sekali tidak mampu menembus kulit tubuhnya yang dilindungi tenaga sinkang yang amat kuat.
Dia lalu menarik tubuh Sui Cin ke dinding batu, kemudian memanjat dengan satu tangan saja dibantu pengerahan tenaga pada kedua kakinya dan akhirnya, dengan susah payah, berhasillah dia mencapai puncak yang tidak begitu jauh lagi dan memondong tubuh Sui Cin yang lemas, dibawa meloncat ke balik puncak sehingga terlepas dari sasaran senjata-senjata rahasia lawan.
Hui Song duduk di balik batu besar dan merebahkan tubuh Sui Cin.
Gadis itu masih sadar, akan tetapi sepasang matanya yang terbuka itu nampak kosong dan tubuhnya lemas.
Cepat Hui Song meraba kepala bagian belakang gadis itu.
Hanya terluka sedikit saja akan tetapi banyak darah yang keluar.
Dia menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan aliran darah, kemudian mengurut tengkuk dara itu perlahan-lahan.
Dia dapat menduga bahwa otak dalam kepala dara itu terguncang oleh hantaman batu sehingga membuat gadis itu nanar dan pening.
Dia khawatir kalau-kalau ada kerusakan di dalam susunan syaraf otak.
Dengan sinkangnya yang disalurkan ke dalam telapak tangannya, dia membantu gadis itu untuk menyembuhkan luka di dalam kepala.
Rasa hangat yang menyelinap ke dalam kepala itu agaknya terasa nyaman sekali karena tak lama kemudian, keluhan-keluhan kecil dan rintihan yang tadinya keluar dari mulut Sui Cin terhenti dan tak lama kemudian gadis itupun tertidur pulas.
Hui Song membebaskan jalan darah yang ditotoknya agar tidak menghalangi darah yang mengalir ke otak dan dia menjaga tubuh yang lemah itu tertidur pulas terlentang di depannya.
Dia tidak berani membuat api unggun karena khawatir kalau-kalau para iblis itu melakukan pengejaran.
Tiga orang musuh itu lihai dan curang, dan Sui Cin sedang dalam keadaan terluka, maka berbahayalah kalau dia membuat api unggun dan tiga orang itu dapat mencarinya.
Karena maklum bahwa dalam keadaan seperti itu Sui Cin tidak dapat mengerahkan sinkang melawan hawa dingin, dia lalu menanggalkan jubah dan bajunya, menyelimuti tubuh Sui Cin dengan itu dan dia sendiri bertelanjang dada.
Malam itu udara cerah dan bulan bersinar terang.
Hawanya dingin sekali akan tetapi dengan kekuatan sinkangnya, Hui Song mampu bertahan terhadap hawa dingin itu.
Dia duduk dekat Sui Cin dan tiada jemunya mengamati wajah gadis itu, wajah yang selama ini selalu terbayang olehnya terbawa dalam mimpi.
"Sui Cin... ah, Cin-moi... tak kusangka bahwa begitu berjumpa, engkau telah menyelamatkan nyawaku..."
Bisiknya dengan perasaan hati penuh haru.
Dia tahu bahwa tadi, selagi dia diserang oleh tiga orang jahat yang curang itu di tepi tebing, kalau tidak muncul dara ini, besar sekali kemungkinannya dia akan terjengkang dan tewas!
Masih bergidik dia membayangkan bahwa gadis cantik yang tadinya dianggap sahabat dan teman sehaluan, yang dianggap sebagai seorang pendekar yang sedang bergerak menentang pera datuk yang hendak memberontak, ternyata malah merupakan tokoh sesat itu sendiri, bukan sembarang orang melainkan murid Raja Iblis!
Dan dua orang kakek yang berdandan seperti tosu dan hwesio itu ternyata adalah dua orang di antara Cap-sha-kui.
Sungguh berbahaya sekali.
Jelaslah bahwa memang Siang Hwa, gadis murid Raja Iblis itu, sedang mencari harta karun itu untuk membiayai pemberontakan yang dipimpin oleh gurunya.
Dan semua yang terjadi tadi memang merupakan perangkap baginya.
Tenaganya hendak dipergunakan untuk mencari harta karun dan setelah harta karun itu lenyap didahului orang, dianggap tidak berguna lagi dan tentu saja akan dibunuh.
Hui Song mengepal tinju dan tersenyum dingin.
"Bagaimanapun juga, bagus sekali bahwa aku telah mengetahui akan adanya harta pusaka itu dan akan kuperjuangkan agar harta pusaka itu jangan jatuh ke tangan para pemberontak!"
Untunglah bahwa pencuri harta pusaka itu meninggalkan jejak berupa tanda lencana perkumpulan Harimau Terbang di Mongol.
Dia sendiripun harus pergi keluar Tembok Besar untuk menghadiri pertemuan antara para pendekar dan sebelum itu dia akan dapat menyelidiki tentang harta karun yang dicuri itu di Mongol.
Akan tetapi sekarang ini, yang terpenting adalah menolong Sui Cin.
Dia hanya mengharap dara ini tidak terluka terlalu parah.
Pada keesokan harinya, setelah matahari terbit, Hui Song melihat Sui Cin menggeliat dan mengeluh halus.
Dia yang tadinya duduk bersila di bawah pohon, cepat menghampiri sambil tersenyum, jantungnya berdebar girang karena kini dia akan dapat bercakap-cakap dengan gadis pujaan hatinya itu.
"Cin-moi..."
Panggilnya lirih sambil mendekat.
Sui Cin membuka mata, bangkit duduk sambil menoleh.
Begitu melihat Hui Song, ia mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya mencelat ke depan, menyerang dengan tendangan ke arah dada pemuda itu.
Gerakannya demikian ringan dan cepat.
Andaikata Hui Song sudah tahu sebelumnya bahwa dia akan diserang, biarpun gerakan gadis itu amat cepat, agaknya dia masih akan mampu menghindar.
Akan tetapi perbuatan Sui Cin itu sama sekali tidak pernah disangkanya, maka dia terkejut dan heran dan karena itu gerakannya mengelak kurang cepat sehingga ujung sepatu gadis itu masih saja menyambar pundaknya.
"Bukk..."
Tubuh Hui Song terpelanting dan Sui Cin sudah meloncat lagi datang dan mengirim serangan bertubi-tubi dengan tangan dan kakinya.
"Heiii..."
Hui Song terpaksa bergulingan untuk mengelak.
Akan tetapi betapapun dia berteriak mencegah, gadis itu seperti kesetanan dan menyerang terus semakin hebat saja.
Hui Song terpaksa mempergunakan kepandaiannya, meloncat ke sana-sini dan Kadang-kadang harus menangkis karena serangan-serangan gadis itu cepat bukan main.
"Cin-moi, ingatlah... Cin-moi..."
"Engkau jahat, kejam, curang..."
Sui Cin memaki-maki dan menyerang terus.
Makin lama, Hui Song menjadi semakin bingung dan khawatir.
Beberapa kali tubuhnya sudah terkena pukulan atau tendangan, walaupun tidak mengakibatkan luka parah karena dia sudah menjaga diri dengan kekuatan sinkang, namun terasa nyeri dan beberapa kali dia jatuh bangun.
"Cin-moi, aku... aku Hui Song, lupakah kau padaku?"
Beberapa kali dia berseru karena kini dia mulai menduga bahwa agaknya gadis ini kehilangan ingatannya, padahal kemarin masih menolongnya, berarti masih ingat kepadanya.
Tidak salah lagi, tentu hantaman batu yang mengenai belakang kepala gadis itulah yang menyebabkan kini Sui Cin seperti lupa kepadanya.
Akan tetapi Sui Cin agaknya tidak perduli dan menyerang terus lebih hebat lagi.
Dia mendapat kenyataan betapa kini Sui Cin dapat bergerak amat cepatnya, Kadang-kadang seperti berkelebat lenyap saja.
Dia merasa kagum dan dapat menduga bahwa tentu kehebatan gadis ini adalah hasil dari bimbingan dari Wuyi Lojin selama tiga tahun.
Makin lama makin repotlah dia kalau harus bertahan saja.
Gerakan gadis itu terlalu cepat dan kalau hanya dihadapi dengan elakan dan tangkisan, akhirnya dia tentu akan terkena pukulan telak yang akibatnya akan berbahaya sekali.
Maka, terpaksa untuk menahan gelombang serangan Sui Cin, Hui Song mulai membalas.
Gerakannya mantap dan pukulan atau sambaran tangannya amat kuat sehingga ketika Sui Cin menangkis, gadis ini terhuyung.
"Sui Cin, ingatlah..."
Hui Song masih terus mencoba untuk menyadarkan.
Akan tetapi, gadis itu menyerang lagi dan keduanya berkelahi dengan amat serunya.
Kini Hui Song juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya.
Dia yakin bahwa Sui Cin kehilangan ingatan dan percuma sajalah kalau dibujuk atau diingatkan dengan omongan.
Ia harus dapat merobohkan gadis ini, membuatnya tidak berdaya, baru dia akan berusaha untuk mencarikan obat atau untuk mengingatkan kembali.
Dia membalas dan terjadilah pertandingan yang hebat.
Sui Cin bergerak amat cepat berkat ilmu ginkang bimbingan Wuyi Lojin sedangkan Hui Song sendiri mempunyai gerakan yang juga cepat dan mengandung tenaga sinkang yang membuat gadis itu agak kewalahan.
Tiba-tiba Sui Cin terhuyung ke belakang dan memegangi kepala dengan tangan kiri.
Hui Song menahan gerakannya.
Gadis itu terhuyung bukan oleh serangannya dan kini kelihatan memejamkan kedua matanya dan mengeluh.
"Aihh... kepalaku... pening..."
"Cin-moi, engkau kenapakah...? Sudah ingat lagikah engkau...?"
Hui Song menghampiri dan hendak memegang tangan gadis itu.
Akan tetapi Sui Cin merenggutkan tangannya dan menampar.
Untung Hui Song dapat cepat meloncat ke belakang sehingga tamparan yang amat berbahaya itu luput.
Sui Cin memandang wajah pemuda itu dengan mata mengandung kemarahan, akan tetapi ia mengeluh lagi, memegang kepalanya, lalu ia meloncat jauh dan lari meninggalkan tempat itu.
"Cin-moi, tunggu..."
Hui Song berteriak memanggil dan melakukan pengejaran.
Akan tetapi, biarpun berkali-kali memanggil, gadis itu sama sekali tidak menjawab atau menoleh, apalagi berhenti.
Dan larinya cepat sekali, secepat kijang!
Betapapun Hui Song telah mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat, tetap saja dia tidak mampu menyusul bahkan semakin jauh tertinggal.
Dia sendiri telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu ginkang, namun tentu saja kalau dibandingkan dengan Sui Cin yang telah menguasai Bueng Huiteng dari Wuyi Lojin, dalam hal berlomba lari, dia masih kalah jauh.
"Cin-moi..."
Teriaknya penuh kekhawatiran ketika dia melihat betapa bayangan gadis yang jauh meninggalkannya itu kini lenyap ke dalam sebuah hutan lebat.
Dia mengejar terus akan tetapi menjadi bingung karena di dalam hutan itu dia sudah kehilangan jejak dan bayangan Sui Cin.
Berkali-kali dia memanggil sambil berlari ke sana-sini, namun hasilnya nihil dan akhirnya pemuda ini menjatuhkan diri duduk di bawah pohon sambil menghapus keringat yang membasahi leher dan mukanya.
"Sui Cin, ke mana kau pergi dan apa yang akan terjadi dengan dirimu?"
Teringat kembali bahwa gadis itu agaknya sedang menderita kehilangan ingatan, dia lalu meloncat bangun dan kembali mencari-cari dengan penuh semangat.
Mengenai keselamatan diri gadis itu dia tidak begitu mengkhawatirkan karena biarpun berada dalam keadaan lupa ingatan, ternyata gadis itu kini merupakan seorang wanita yang luar biasa lihainya.
Dia sendiripun tadi sampai hampir kewalahan menghadapi Sui Cin.
Tidak, tidak ada orang akan dapat sembarangan saja mencelakai gadis yang lihai itu.
Akan tetapi dia khawatir bagaimana akan jadinya gadis yang kehilangan ingatan itu.
Akan tetapi dia bingung ke mana harus mencarinya, sedangkan ada dua macam tugas penting yang harus dilaksanakannya.
Pertama, memenuhi pesan Siangkiang Lojin untuk mendatangi bekas benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar.
Kedua, dia harus menyelidiki tentang harta karun yang agaknya dilarikan orang ke Mongol.
Urusan kedua ini tidak kalah pentingnya karena kalau sampai harta karun itu terjatuh ke tangan Raja Iblis, maka pemberontakpemberontak itu akan semakin berbahaya, memiliki harta untuk membiayai pemberontakan mereka.
Maka secara untunguntungan diapun melakukan pencarian ke arah utara, sambil mencari Sui Cin, sekalian menuju ke tempat yang harus didatanginya.
Pemuda ini melakukan perjalanan cepat, di sepanjang perjalanan bertanya-tanya dan menyelidiki kalau-kalau ada orang melihat Sui Cin lewat di situ.
Bagaimana Sui Cin dapat muncul di depan Gua Iblis Neraka dan membantu Hui Song yang terdesak tiga orang lawannya dan berada dalam bahaya?
Seperti telah kita ketahui, Sui Cin berpisah dari Hui Song tiga tahun yang lalu setelah ia bersama pemuda itu dan dua orang kakek sakti menyaksikan pertemuan para datuk bahkan sempat membuat kacau dalam pertemuan para datuk sesat itu, gadis ini lalu diajak pergi oleh Wuyi Lojin atau Dewa Arak untuk mempelajari ilmu.
Seperti juga halnya Hui Song yang dibawa pergi dan digembleng ilmu oleh Siangkiang Lojin Si Dewa Kipas, Sui Cin juga diberi tahu oleh gurunya bahwa ia harus pergi ke utara, ke bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk mengadakan pertemuan dengan para pendekar yang siap menentang para datuk sesat yang dipimpin oleh Raja dan Ratu Iblis dengan rencana pemberontakan mereka.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sui Cin mampir ke Pulau Teratai Merah, akan tetapi ayah ibunya tidak berada di pulau itu.
Mereka kabarnya pergi untuk mencarinya.
Maka Sui Cin lalu meninggalkan surat dan pergi lagi menuju ke utara.
Secara kebetulan saja dalam perjalanannya itu ia tiba di dusun Lokcun, beberapa hari sebelum Hui Song tiba di situ.
Ketika ia lewat di depan kuil kosong, ia melihat dua orang penghuni dusun berlari-larian dengan muka pucat.
Sebagai seorang pendekar wanita tentu saja ia menjadi tertarik.
Waktu itu sudah senja dan matahari sudah mulai mengundurkan diri dari ufuk barat.
"Kalian mengapa berlari-lari ketakutan? Ada apakah?"
Tegurnya kepada dua orang dusun yang usianya sudah empat puluhan tahun itu.
Dua orang itu berlari semakin cepat ketika tiba-tiba saja ada seorang wanita cantik berlari di belakang mereka tanpa mereka dengar sebelumnya.
Akan tetapi Sui Cin sekali meloncat sudah berdiri menghadang mereka dan mengembangkan kedua lengannya.
"Nanti dulu, kalian harus memberi tahu mengapa kalian berlari ketakutan?"
Dua orang itu memandang kepada Sui Cin dengan mata terbelalak dan muka pucat, lalu seorang di antara mereka berkata.
"Nona... kami... kami dikejar setan..."
Sui Cin memandang ke belakang mereka dan diam-diam ia merasa ngeri.
Kalau hanya penjahat, tentu ia sama sekali tidak merasa takut.
Akan tetapi setan?
Ah, mana ada setan berani mengejar manusia, pikirnya.
"Mana setannya? Di mana?"
Tanyanya.
"Di... di kuil, nona. Memang kuil itu terkenal berhantu, akan tetapi kami tidak memasuki kuil, hanya lewat. Tiba-tiba kami mendengar suara tangis disusul tawa seorang wanita, dan ada bayangan berkelebatan lenyap begitu saja di depan kami..."
Dua orang itu masih menggigil, dan yang seorang segera menarik tangan kawannya lalu diajak lari dari tempat itu sambil mengomel.
"Hayo kita pergi, siapa tahu ia ini..."
Keduanya lari tunggang langgang meninggalkan Sui Cin yang tersenyum seorang diri.
Sialan, ia malah disangka setan!
Akan tetapi sikap dan keterangan dua orang dusun itu membuatnya penasaran.
Benarkah ada setan?
Bagaimanapun juga, ia harus membuktikan sendiri, tidak percaya omongan orang begitu saja tentang setan.
Selama hidupnya in belum pernah melihat setan, dan kiranya semua orang pemberani juga belum pernah melihatnya.
Yang pernah melihat setan biasanya hanya orang-orang yang sudah mempunyai rasa takut di dalam hatinya, dan sebagian besar setan hanya ada dalam dongengan dan cerita orang lain saja.
Bagaimanapun juga, ia merasa betapa jantung di dalam dadanya berdebar keras ketika ia menghampiri kuil tua itu.
Cuaca sudah mulai gelap sehingga kuil kuno itu nampak menyeramkan.
Sui Cin bergerak dengan hati-hati.
Mungkin tidak ada setan, akan tetapi kalau dua orang dusun itu melihat bayangan, berarti setidaknya tentu ada orang di sekitar atau di dalam kuil.
Dan orang yang dapat berkelebat lenyap di depan dua orang dusun itu begitu saja, jelas bukan orang sembarangan, melainkan memiliki kepandaian tinggi.
Ia harus hati-hati dan tidak sembrono.
Andaikata ada orang pandai di situ, ia masih belum tahu siapa orang itu dan dari golongan apa.
Dan ia merasa betapa tidak patut dan kurang ajar mendatangi tempat orang begitu saja.
Dengan hati-hati sekali, Sui Cin mempergunakan ilmu ginkangnya yang hebat sehingga tubuhnya bagaikan seekor burung saja berkelebat dan melayang ke atas pohon-pohon, lalu melayang ke atas genteng kuil.
Kedua kakinya tidak mengeluarkan bunyi apa-apa sehingga mereka yang berada di dalam kuil, biarpun memiliki kepandaian tinggi, tidak mendengar gerakannya dan tidak tahu akan kedatangan pendekar wanita ini.
Sui Cin melakukan pemeriksaan dari atas genteng kuil dan akhirnya ia dapat melihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam kuil itu!
Ia tersenyum.
Bukan setan bukan iblis, melainkan seorang gadis cantik dan dua orang kakek yang sedang bercakap-cakap dengan suara perlahan di dalam ruangan kuil itu, ruangan yang buruk dan temboknya sudah banyak yang retak-retak.
"Dua orang dusun tadi tidak curiga?"
Tanya si gadis cantik.
"Ha ha ha, seperti biasa, orang-orang dusun itu tahyul. Mereka menyangka kami setan dan lari tunggang langgang,"
Jawab kakek gendut sambil tertawa.
"Bagus! Biarlah mereka menyebarkan berita bahwa tempat ini berhantu. Kita tidak ingin diganggu,"
Kata pula si gadis cantik.
"Aku lelah sekali malam ini, besok pagi-pagi kita harus mencoba lagi di Gua Iblis Neraka."
"Kurasa percuma saja,"
Kata kakek kurus.
"batu besar itu mana bisa kita buka? Sudah kita coba dengan bantuan banyak kawan tetap gagal. Apakah tidak lebih baik kalau kita melapor saja kepada Ongya?"
Gadis itu menggeleng kepala.
"Tidak, suhu dan subo kini sedang sibuk dan sukar mencari mereka. Pula, mereka sudah menugaskan ini kepadaku, mana bisa kutinggalkan begitu saja sebelum berhasil? Kita harus mencoba lagi besok pagi-pagi, kalau gagal, biar aku akan mencari bantuan lagi."
Agaknya dua orang kakek itu merupakan pembantu-pembantu si gadis cantik karena mereka kelihatan tunduk dan taat.
Mereka berdua lalu duduk bersila di ruangan itu sedangkan si gadis cantik memasuki sebuah kamar yang agaknya menjadi kamar tidurnya di dalam kuil itu.
Yang diintai oleh Sui Cin itu adalah Gui Siang Hwa, murid Raja Iblis yang berjuluk Siangtok Sianli dan dua orang pembantunya, yaitu Huito Cinjin si kakek kurus dan Kangthouw Lomo si kakek gendut, dua orang tokoh dari Cap-sha-kui.
Ia tidak mengenal siapa adanya tiga orang itu, akan tetapi gadis ini dapat menduga bahwa tiga orang yang berada di dalam kuil itu tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Percakapan mereka amat menarik perhatiannya, terutama sekali mengenai Gua Iblis Neraka itu.
Ingin sekali ia tahu siapa adanya mereka dan tempat macam apakah gua itu.
Karena ia ingin sekali tahu, maka malam itu ia kembali ke penginapan dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah bersembunyi di balik pohon dekat kuil.
Pagi-pagi sekali ia melihat tiga orang itu berkelebat keluar dan berlari cepat meninggalkan kuil.
Ia semakin tertarik karena ternyata tiga orang itu memang benar memiliki kepandaian tinggi dan dapat berlari cepat sekali.
Akan tetapi dalam hal ilmu berlari cepat, ia adalah ahlinya dan tanpa kesukaran sama sekali ia dapat membayangi tiga orang itu dari jauh tanpa mereka ketahui.
Ketika tiga orang yang dibayangi itu tiba di Gua Iblis Neraka, Sui Cin semakin tertarik sekali.
Ia mengikuti kegiatan mereka, ikut pula menyeberangi jembatan batu pedang dan melihat betapa mereka gagal membuka batu besar yang menutupi gua di sebelah dalam.
Dari percakapan mereka yang dapat ditangkapnya, akhirnya Sui Cin tahu bahwa mereka itu sedang mencari harta karun yang terdapat di balik batu besar itu!
Tentu saja hatinya menjadi semakin tertarik dan ketika akhirnya dengan putus asa mereka gagal lagi, Sui Cin mendengar bahwa gadis cantik itu hendak mencari bantuan.
Ketika mereka pergi, Sui Cin tinggal di situ dan ia sendiripun lalu melakukan penyelidikan.
Akan tetapi iapun tidak mampu membuka batu besar penutup gua, dan karena ia tidak tahu rahasia harta itu, tidak tahu di mana letaknya yang tepat, iapun lalu menanti kembalinya gadis cantik yang akan membawa pembantu-pembantu itu.
Ia mulai curiga mendengar dan melihat sikap dua orang kakek yang amat kasar, dan melihat sikap gadis yang genit.
Biarpun belum merasa yakin benar karena belum ada buktinya, namun perasaannya mengatakan bahwa tiga orang itu bukanlah orang baik-baik dan tentu termasuk golongan sesat.
Ia bersabar menunggu untuk melihat perkembangannya lebih jauh dan ia tinggal di dalam gua itu seorang diri sampai beberapa hari lamanya.
Akhirnya, pada suatu hari ia melihat munculnya tiga orang itu, sekali ini ditemani oleh seorang pemuda!
Dan ketika dengan cepat ia bersembunyi di dalam pohon di atas gua dan melihat pemuda gagah itu, hampir ia berteriak saking girang dan kagetnya.
Tentu saja ia mengenal Hui Song!
Akan tetapi karena ia masih menaruh hati curiga kepada tiga orang itu, ia menahan diri dan merasa heran sekali bagaimana Hui Song depot bergaul dengan mereka dalam keadaan yang demikian karib.
Apalagi melihat sikap gadis cantik itu yang demikian memikat dan dalam sikap dan gerak-geriknya nampak sekali bahwa gadis itu mencinta Hui Song, mendatangkan perasaan tidak enak dalam hati Sui Cin.
Ia membayangi terus dan terheran-heran melihat betapa kini Hui Song dan gadis itu menyeberangi jembatan batu pedang sedangkan dua orang kakek itu berhenti dan mengatakan bahwa mereka tidak sanggup maju lagi.
Padahal, ia pernah melihat kedua orang kakek itu menyeberangi jembatan batu pedang ini bersama si gadis cantik, dan walaupun dengan agak sukar, kedua orang itu mampu menyeberangi.
Mengapa kini berpura-pura tidak dapat menyeberang?
Ia semakin curiga, apalagi ketika melihat betapa setelah menanti beberapa lama dan Hui Song sudah lenyap bersama gadis itu, kedua orang kakek ini berindap-indap menyeberangi batu pedang!
Mulailah Sui Cin mencium sesuatu yang tidak beres dan ia mengkhawatirkan keselamatan Hui Song di tangan tiga orang ini dan iapun cepat membayangi dua orang kakek itu masuk ke bagian dalam.
Demikianlah, keinginan tahu Sui Cin menyelidiki tiga orang itu dan rahasia di dalam Gua Iblis Neraka telah menyelamatkan Hui Song.
Ketika pemuda ini dikeroyok tiga, Sui Cin muncul membantu dan menyelamatkannya karena Hui Song memang amat terancam bahaya ketika itu.
Akan tetapi, dalam usaha mereka berdua untuk melarikan diri, Sui Cin terkena lontaran batu Kangthouw Lomo yang mengakibatkan dalam kapalanya terguncang dan ia kehilangan ingatannya!
Ketika ia siuman, ia lupa segala dan melihat Hui Song, ia lalu menyerangnya.
Hal ini adalah karena yang masuk ke dalam ingatannya pada saat terakhir adalah orang-orang jahat yang dilawannya.
Maka begitu melihat Hui Song sebagai orang pertama pada saat ia siuman, iapun menganggap bahwa Hui Song adalah orang jahat dan diserangnya pemuda itu mati-matian.
Akan tetapi pemuda itu ternyata merupakan lawan yang amat kuat dan ia merasa kepalanya pusing maka iapun melarikan diri, mempergunakan ilmu lari cepat Bueng Huiteng yang membuat pemuda itu tidak mampu mengejarnya.
Sui Cin sudah tidak ingat apa-apa lagi, yang diingatnya hanyalah bahwa ia bertemu dengan lawan, seorang pemuda jahat dan curang yang amat lihai, yang telah menyambitkan benda keras dan mengenal kepalanya karena kepala itu masih terasa sakit, dan yang tidak dapat ia kalahkan tadi.
Ia hanya tahu bahwa lawan itu mengejarnya, dan karena kepalanya pening, apalagi ia tidak mampu mengalahkan, Maka akan berbahayalah kalau sampai pria itu dapat mengejarnya.
Maka, Sui Cin mengerahkan tenaganya dan berlari dengan cepat sekali.
Sehari lamanya ia berlari terus, hanya Kadang-kadang lambat dan mengaso kalau ia sudah merasa lelah sekali.
Setelah malam tiba, baru ia berhenti dan beristirahat di dalam sebuah hutan.
Gadis ini sudah lupa sama sekali akan masa lalunya.
Bahkan namanya sendiripun ia lupa!
Iapun tidak mempunyai apa-apa lagi karena semua, pakaiannya tertinggal di tempat persembunyian di dekat Gua Iblis Neraka.
Malam itu ia menangkap seekor kelinci dan setelah memanggang dagingnya lalu makan daging panggang.
Lalu ia duduk melamun di depan api unggun, mengerahkan pikiran untuk mengingat-ingat, akan tetapi tetap saja ia tidak tahu apa-apa.
Yang diketahuinya hanyalah, bahwa ia dikejar-kejar seorang lawan tangguh, dan bahwa ia harus pergi ke utara, jauh melewati Tembok Besar.
Entah bagaimana, mungkin karena urusan menghadapi pemberontakan para datuk sesat itu amat terkesan di dalam batinnya, maka inilah yang teringat olehnya, yaitu bahwa ia harus pergi ke utara, keluar Tembok Besar!
Biarpun sudah kehilangan ingatannya tentang masa lalu, namun Sui Cin tidak kehilangan semangat dan kelincahannya.
Ia tetap nampak segar dan wajahnya selalu berseri-seri, melakukan perjalanan dengap cepat, terus menuju ke utara.
Sama sekali tidak ada tanda-tandanya bahwa ia sedang menderita luka dan guncangan yang membuat ia kehilangan ingatannya.
Hanya kalau sedang duduk seorang diri melamun dan mencoba untuk mengingat-ingat keadaan dirinya, siapa dirinya dan bagaimana asal usulnya, ia nampak bengong dan bingung.
Karena ia tidak sadar betul ke mana ia harus pergi, Setelah melewati Tembok Besar, Sui Cin memasuki daerah Mongol tanpa ia ketahui di mana ia berada dan ke mana ia harus pergi.
Ia merasa gembira melihat daerah yang sama sekali asing baginya ini.
Akan tetapi ia merasa bingung ketika bertemu dengan serombongan orang Mongol, ia sama sekali tidak mengerti bahasa mereka!
Setelah rombongan itu pergi ia melamun.
Untuk apa ia datang ke tempat asing ini?
Ia hanya merasa betapa ada dorongan dalam hatinya bahwa ia harus pergi keluar Tembok Besar, akan tetapi di mana dan untuk apa ia tidak tahu!
Ia mengambil keputusan untuk merantau selama beberapa hari.
Kalau selama itu ia tidak juga dapat teringat untuk keperluan apa ia berada di tempat ini, ia akan kembali ke selatan, ke daerah di mana bahasa orang-orangnya ia dapat mengerti artinya.
Pada suatu hari, dalam keadaan kesepian, ia melihat serombongan orang Mongol lagi dan sekali ini di antara mereka terdapat beberapa orang wanita Mongol yang memakai pakaian wanita Han.
Sui Cin teringat akan pakaiannya sendiri.
Pakaiannya sudah kotor dan banyak yang robek-robek.
Hanya beberapa kali saja, di tempat sunyi di mana tidak terdapat orang lain, ia mencuci pakaiannya dan menjemur pakaian itu.
Ia sendiri bertelanjang bulat, karena tidak mempunyai pakaian cadangan.
Dan kini pakaiannya sudah kotor lagi, bahkan sudah robek-robek.
Ia bukan seorang gadis pesolek, bahkan biasanya iapun memakai pakaian seadanya dan seenaknya saja, bahkan Kadang-kadang nampak nyentrik.
Walaupun Sui Cin seorang gadis puteri Pendekar Sadis yang kaya raya, namun sejak kecil ia lebih suka berpakaian sederhana.
Dalam keadaan kehilangan ingatan inipun ia tidak berubah.
Hanya ia sejak kecil memang suka akan kebersihan sehingga biarpun pakaiannya buruk dan lama, akan tetapi harus selalu bersih.
Dan kini, dengan pakaian hanya satu-satunya sehingga tak dapat diganti dan sudah kotor, ia merasa tersiksa sekali.
Karena itulah, melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian bagus-bagus dan bersih itu, ia kepingin sekali.
Akan tetapi, di saku bajunya sama sekali tidak ada apa-apanya, apalagi uang untuk membeli pakaian.
Dengan hati amat kepingin akan tetapi tidak berdaya membeli dan juga merasa malu untuk mencoba-coba minta, Sui Cin diam-diam mengikuti rombongan yang terdiri dari belasan orang itu.
Mereka membawa dua buah kereta untuk wanita dan anak-anak, sedangkan para prianya berjalan sambil berjagajaga.
Malam itu, ketika rombongan berhenti dan bermalam di sebuah dusun, Sui Cin beraksi dan pada keesokan harinya, keluarga itu ribut-ribut karena kehilangan dua stel pakaian wanita yang masih baru.
Dua stel pakaian itu menghilang tanpa bekas!
Dan pada pagi hari itu, Sui Cin dengan pakaian baru tersenyum-senyum gembira.
Ia telah berganti pakaian dan merasa dirinya segar sehabis mandi di luar dusun dan mengenakan pakaian baru dan bersih, bahkan kini masih ada satu stel yang dibuntalnya dengan pakaian lamanya.
Hanya satu hal yang masih membuatnya tidak senang, yaitu bahwa ia sama sekali tidak dapat berhubungan dengan orang-orang itu karena tidak mengerti bahasanya.
Dan iapun tidak ingin pakaian yang dipakainya itu dikenal oleh rombongan semalam, maka iapun melanjutkan perjalanannya, kini membelok ke timur.
Pada keesokan harinya, selagi berjalan seorang diri menimbangnimbang apakah tidak sebaiknya kulau ia kembali ke selatan, tiba-tiba ia melihat seorang nenek sedang menangis di tepi sebuah hutan.
Nenek itu berjongkok dan menangisi seekor ular yang mati dan melingkar di atas tanah.
Nenek itu jelek sekali.
Mukanya penuh keriput dan buruk, tubuhnya kurus dan punggungnya bongkok melengkung, rambutnya yang putih riap-riapan.
Pakaiannya jubah kedodoran dan ketika Sui Cin mendekat, ia mencium bau yang tidak enak.
Akan tetapi, biarpun demikian, tetap saja hati gadis itu merasa gembira dan ia terus menghampiri.
Yang membuatnya bergembira adalah karena ia dapat mengerti kata-kata tangisan atau keluhan nenek itu!
Nenek itu mempergunakan bahasa Han dari selatan, walaupun agak kaku, namun ia dapat mengerti dengan jelas.
"Aduhhh, anakku yang baik... ah, kenapa engkau mati dan kenapa engkau tega sekali meninggalkan aku seorang diri... huhuhuhh... ke mana aku harus mencari pengganti sepertimu, yang setia, patuh dan tangguh? Huhuhuuhhh..."
Dalam keadaan biasa, tentu Sui Cin akan merasa ngeri mendekati nenek itu.
Wajahnya demikian buruk menakutkan, dan sikapnya itu seperti orang gila.
Mana ada orang menangisi kematian seekor ular besar?
Akan tetapi, karena sudah berhari-hari baru sekarang ia mendengar kata-kata yang dapat dimengertinya, hatinya gembira sekali dan ia merasa kasihan kepada nenek ini.
Memang bukan hanya gadis itu yang mempunyai perasaan demikian.
Semua orangpun, kalau berada di tempat asing, atau lebih tepat lagi, kalau berada di negara asing, di antara bangsa asing yang berbahasa asing pula, akan merasa gembira sekali kalau berjumpa dengan orang sebangsa, atau setidaknya sebahasa!
Seolah-olah bertemu dengan seorang saudara di antara orang-orang asing.
"Nenek yang baik, mengapa engkau begini bersedih? Engkau kematian binatang peliharaanmu? Mengapa ular ini bisa mati, nek?"
Nenek itu menghentikan tangisnya dengan tiba-tiba, lalu menoleh.
Matanya yang melotot lebar itu amat mengerikan, akan tetapi Sui Cin tersenyum manis kepadanya, dengan sikap menghibur.
Nenek ini seperti anak kecil saja, pikirnya, menangisi binatang peliharaannya yang mati.
Kalau binatang peliharaan seperti kucing, anjing, kuda atau ternak lainnya, bahkan burung kesayangan, masih wajar.
Akan tetapi yang ditangisi kematiannya ini adalah seekor ular besar yang mengerikan!
"Siapa kau...?"
Nenek itu tiba-tiba bertanya, seolah-olah merasa heran ada orang menegurnya, apalagi dalam bahasa Han.
Kemudian matanya terbelalak dan mengeluarkan sinar berkilat.
"Eh, engkau... engkau gadis she Ceng itu..."
Nenek itu berseru dan bangkit berdiri.
Setelah ia berdiri, bongkoknya nampak sekali.
Sui Cin juga bangkit berdiri, memandang kepada nenek itu dengan wajah berseri.
"Nenek yang baik, engkau mengenalku? Engkau tahu benar bahwa aku she Ceng? Sesungguhnya, nek, aku telah lupa segala tentang diriku, maka... tolonglah kau beritahu siapa diriku ini, nek?"
Nenek itu tertawa, suara ketawanya terkekeh lirih dan mata yang lebar itu berkilauan membayangkan kecerdikan dan kelicikan, juga kekejaman luar biasa.
Kalau saja Sui Cin tidak kehilangan ingatannya, tentu ia akan terkejut setengah mati berjumpa dengan nenek ini, karena nenek ini adalah seorang musuh lamanya, yaitu Kiu-bwe Coali (Nenek Ular Ekor Sembilan), seorang di antara Cap-sha-kui yang kejam dan lihai!
Dan agaknya nenek yang menjadi datuk kaum sesat ini tidak melupakan Sui Cin, maka ia nampak terkejut sekali.
Akan tetapi begitu melihat sikap Sui Cin yang lupa akan keadaan dirinya, nenek itu terkekeh girang.
"Ah, bagaimana engkau bisa melupakan dirimu sendiri, nona?"
Tanyanya, sikapnya kelihatan ramah dan wajahnya yang amat buruk itu tidak begitu menakutkan lagi.
"Entahlah, nek. Seingatku, ada yang menghantam kepalaku, mungkin batu yang dilontarkan seorang musuhku kepadaku dan mengenai belakang kepalaku. Akan tetapi aku menjadi pening dan sampai sekarang aku lupa segalanya tentang diriku. Bahkan engkau yapg ternyata sudah mengenal akupun sama sekali aku tidak ingat lagi. Siapakah aku ini, nek? Tolonglah bantu aku agar kembali ingatanku. Siapakah aku ini?"
"Anak baik, siapakah musuhmu yang menyerangmu dengan lontaran batu itu?"
Sui Cin menggeleng kepala.
"Akupun tidak tahu, nek. Hanya setahuku, dia seorang pemuda yang lihai sekali ilmu silatnya, dan aku tidak akan melupakan wajahnya karena sekali waktu aku harus membalas perbuatannya itu!"
Sui Cin mengepal tinju dengan gemas.
"Heh heh heh, anak baik, engkau bukan orang lain, masih terhitung cucu keponakanku sendiri."
Sui Cin terbelalak, terkejut, heran dan juga girang.
"Aih, benarkah itu, nek? Siapakah engkau dan siapa pula namaku, siapa pula orang tuaku?"
"Engkau benar-benar tidak ingat kepadaku? Lihat ini, apakah engkau lupa kepada benda ini?"
Kui-bwe Coali mengeluarkan senjatanya, yaitu cambuk ekor sembilan yang ampuh dan menyeramkan itu.
Akan tetapi Sui Cin memandang biasa saja dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, nek, aku tidak mengenal cambuk itu."
Legalah hati Kiu-bwe Coali.
Agaknya gadis ini memang benar-benar kehilangan ingatannya dan tidak ingat lagi akan segala hal yang dikenalnya di masa lalu.
Bagus, pikirnya, memudahkan ia untuk melumpuhkan gadis ini!
"Namamu...
Bi Hwa, Ceng Bi Hwa, ayah ibumu sudah tidak ada, engkau yatim piatu dan pernah engkau ikut belajar silat kepadaku selama beberapa tahun dahulu.
Mendiang ayahmu adalah keponakanku, jadi engkau adalah cucu keponakanku.
Aku dijuluki orang sesuai dengan senjataku ini, ialah Kiu-bwe Coali."
Nenek itu memegang cambuk ekor sembilan di tangan kanannya dan diam-diam ia mempersiapkan diri untuk menyerang, kalau gadis itu teringat kembali akan nama julukannya.
Akan tetapi, Sui Cin sama sekali tidak ingat, hanya mengulang namanya dengan alis berkerut.
"Bi... Ceng Bi Hwa... ah, aku sama sekali tidak ingat lagi namaku sendiri, nek, Harap maafkan aku..."
Kemudian ia memberi hormat kepada nenek itu.
"Terimalah hormatku, nek."
Kiu-bwe Coali mengangguk-angguk sambil terkekeh girang.
"Bagus, bagus... jangan khawatir, cucuku. Setelah engkau bertemu dengan nenekmu ini, engkau tentu akan menemukan kembali ingatanmu, Heh heh ."
"Aih, benarkah, nek? Benarkah engkau hendak mengobatiku? Ah, aku akan girang sekali kalau aku dapat mengingat semua keadaan diriku."
"Tentu saja! Bukankah engkau cucu keponakanku yang tersayang? Jangan khawatir, dengan mudah saja aku akan dapat menyembuhkanmu dan mengembalikan ingatanmu. Akan tetapi sebelum itu, aku ingin sekali menyelidiki bagaimana keadaan orang yang kehilangan ingatannya. Perlu bagiku untuk pengobatan. Bi Hwa, apakah engkau lupa pula dengan semua ilmu silatmu yang pernah kuajarkan kepadamu?"
Sui Cin mengerutkan alisnya dan menggeleng.
"Aku lupa bahwa engkau yang mengajarkan ilmu silat kepadaku, nek, dan lupa lagi ilmu silat apa adanya itu. Akan tetapi gerakan ilmu silat itu sudah mendarah daging di tubuhku, menjadi gerakan otomatis kaki tanganku sehingga aku bergerak tanpa kuingat lagi. Agaknya... agaknya aku tidak melupakan ilmu silat itu, nek."
"Hemm... aneh, aneh. Akan tetapi sebaiknya kalau kucoba untuk membuktikan kebenaran omonganmu. Nah, kau bergeraklah menurut nalurimu, aku akan mencoba untuk menyerangmu dengan cambukku. Setelah ujian ini, baru nanti aku akan mengobatimu sampai sembuh, cucuku tersayang."
Nenek itu menggerakkan cambuknya ke atas, terdengar bunyi meledak-ledak ketika sembilan ekor cambuknya itu seperti hidup sendiri-sendiri, bergerak-gerak bagaikan sembilan ekor ular hidup!
Dan tiba-tiba cambuk itu menyambar ke arah Sui Cin.
"Tar-tar-tarr..."
Sui Cin terkejut melihat gerakan cambuk yang hebat ini.
Tak disangkanya nenek yang aneh seperti orang gila atau seperti anak kecil ini, yang menangisi kematian seekor ular, dan yang ternyata adalah bibi dari ayahnya seperti yang dikatakan nenek itu, kiranya memiliki kepandaian hebat dan serangan cambuk itu benar-benar amat berbahaya.
Sembilan ekor ujung cambuk itu bergerak seperti ular-ular hidup dan masing-masing kini menyerang secara bertubi ke arah sembilan jalan darah di tubuhnya!
Tentu saja iapun cepat menggerakkan tubuhnya dan tiba-tiba saja tubuh gadis di depannya itu berkelebat dan lenyap!
Terkejutlah Kiu-bwe Coali.
Seingatnya, gadis yang ia ketahui adalah puteri Pendekar Sadis ini, walaupun memang lihai, namun tidak sehebat ini kelihaiannya.
Gadis yang berada di depannya ini memiliki ginkang yang mentakjubkan!
Ia menjadi penasaran sekali, akan tetapi mulutnya terkekeh.
"Heh heh, bagus, engkau masih memiliki kegesitanmu. Nah, bersiaplah, aku akan menyerang sungguh-sungguh!"
Dan cambuk itu diputar, mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan kini nenek itu menyerang dengan hebat sekali.
Dahsyat dan buas serangannya, ujung cambuk yang sembilan itu mematukmatuk dan menotoknotok, mencari jalan darah di tubuh Sui Cin.
Gadis ini secara otomatis menggerakkan tubuhnya, dengan ginkang yang baru-baru ini dipelajarinya dari Wuyi Lojin, tubuhnya berkelebatan seperti bayangbayang yang cepat sekali menyambar-nyambar di antara gulungan sinar-sinar hitam dari cambuk nenek itu.
Tentu saja ia tidak membalas kerena ia menganggap bahwa nenek itu hanya sekedar menguji apakah ia tidak melupakan ilmu silatnya yang menurut nenek itu diajarkan oleh nenek itu kepadanya!
Tentu saja niat yang terkandung di dalam hati Kiu-bwe Coali tidaklah demikian.
Ia hanya ingin melihat sampai di mana kelihaian gadis ini.
Kalau mungkin, tentu lebih mudah baginya membunuh gadis puteri Pendekar Sadis itu secara langsung saja dengan cambuknya ini.
Akan tetapi, kalau ternyata gadis itu terlalu lihai, dalam keadaan hilang ingatan, ia akan dapat mempergunakan akal lain yang lebih halus untuk menjerat dan melumpuhkannya.
Kini, melihat gerakan Sui Cin yang demikian hebatnya ketika berkelebatan mengelak dari sambaran cambuknya, nenek itu terkejut.
Tak disangkanya gadis itu kini sedemikian hebatnya, memperoleh kemajuan yang demikian pesat, jauh lebih hebat dibandingkan dahulu.
Maka, iapun maklum bahwa dengan cambuknya, ia tidak akan mampu membunuh gadis ini, dan iapun lalu melompat ke belakang menghentikan serangannya.
"Bagus, bagus... Heh heh , engkau masih belum lupa akan ilmumu. Baiklah, sekarang aku akan memberi obat kepadamu agar engkau dapat pulih kembali, agar ingatanmu sehat kembali."
Hati Sui Cin merasa lega dan girang sekali.
Tadi ia sudah merasa khawatir melihat betapa nenek itu menyerangnya secara dahsyat dan berbahaya.
"Terima kasih, nek."
Nenek itu lalu duduk bersila di atas tanah, Sui Cin juga berjongkok di depannya, (Lanjut ke
Jilid 22) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22 melihat nenek itu mengeluarkan seguci arak, sebuah cawan dan sebuah botol kecil dari balik jubah yang lebar itu.
Ia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan, hanya setengah cawan, kemudian menuangkan bubuk kehijauan dari botol kecil ke dalam cawan berisi arak setengahnya itu.
Sambil terkekeh ia mengocok arak itu sehingga bubukan hijau bercampur ke dalam arak.
"Nah, ini obat mujarab sekali, cucuku. Sekali minum engkau akan merasa mengantuk, tertidur dan setelah engkau bangun dari tidur, ingatanmu akan pulih kembali,"
Katanya sambil menyodorkan minuman itu.
Sui Cin menerimanya dan langsung membawa cawan itu ke bibirnya.
Akan tetapi begitu cawan itu menempel di bibirnya, ia tidak jadi minum dan memandang nenek itu dengan alis berkerut.
"Eh, ada apakah, cucuku? Hayo minum obat itu dan engkau akan sembuh."
"Tapi, nek. Aku tidak tahu apa isi obat ini, hanya perasaanku melarang aku untuk meminumnya karena mengandung bau amis beracun!"
"Heh heh heh heh, tentu saja, memang obat itu mengandung racun dari ular sendok merah! Memang obat itu racun, racun itu obat, asal kita tahu cara mempergunakannya saja. Eh, Bi Hwa, apakah engkau tidak percaya kepada nenekmu sendiri, kepada orang yang menimang-nimangmu di waktu engkau kecil, kepada orang yang telah mengajarkan semua ilmu itu kepadamu? Apa kau kira aku akan meracunimu? Pikiranmu telah jadi hilang ingatan, akan tetapi tentu belum begitu gila untuk mengira bahwa aku, nenekmu yang menyayangmu, akan meracunimu!"
Merah wajah Sui Cin.
Tentu saja ia merasa tidak enak sekali.
Ia tidak tahu pasti apakah minuman itu akan mencelakakannya, akan tetapi nenek ini mengenalnya, dan nenek ini tadi sudah mengujinya dan kini hendak menyembuhkannya.
Mengapa ia ragu-ragu?
Ia mendekatkan lagi cawan itu sambil memejamkan mata, iapun menuangkan arak itu ke dalam mulut dan terus ditelannya.
Ia menahan diri untuk tidak muntah oleh bau amis itu!
Begitu arak itu memasuki perutnya, ia merasa ada hawa panas berputaran di dalam perutnya.
Itulah hawa ginkang dari pusar yang otomatis memberontak dan hendak melawan ketika perut itu dimasuki benda berbahaya.
Akan tetapi, racun itu sudah bekerja dan Sui Cin merasa betapa tubuhnya lemas dan matanya mengantuk.
"Heh heh heh, engkau sudah mulai mengantuk, bukan? Nah, tidurlah dan setelah bangun nanti engkau sudah akan sembuh sama sekali. Tidurlah, cucuku yang baik, tidurlah."
Nenek itu sambil tersenyum melihat Sui Cin yang lemas itu merebahkan tubuhnya di atas tanah, dan Sui Cin mendengar nenek itu bersenandung, seperti sedang meninabobokkan cucunya!
Suara itu aneh sekali, dan tidak enak didengar, akan tetapi karena rasa kantuk tak tertahankan lagi, iapun tertidurlah.
Sui Cin tidak tahu berapa lama ia tertidur pulas, akan tetapi ketika ia sadar kembali, matahari telah naik tinggi dan ia berada dalam keadaan terikat pada sebatang pohon!
Tentu saja ia terkejut sekali dan otomatis ia mencoba untuk meronta.
Akan tetapi, usahanya sia-sia belaka karena ia mendapat kenyataan yang amat mengejutkan, yaitu bahwa kaki tangannya lemas tidak bertenaga!
Ia teringat akan nenek itu dan tahulah ia bahwa ia telah tertipu!
"Nenek iblis jahanam!"
Ia memaki dan terdengar suara terkekeh di belakangnya.
Lalu muncullah nenek itu, yang tadinya tertidur pula di atas rumput, agaknya menanti sampai korbannya terbangun.
Kini nenek itu menyeringai dan berdiri di depan Sui Cin, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena tanah.
"Heh heh heh, nona yang tolol, Heh heh heh!"
Ia terkekeh-kekeh girang melihat korbannya.
Nenek ini, sebagai seorang di antara Cap-sha-kui, memang memiliki hati yang kejam sekali dan kepuasan hatinya adalah kalau ia dapat menyiksa korbannya.
Maka, kini dapat menawan nona yang menjadi musuhnya itu dalam keadaan tidak berdaya, tentu saja hatinya girang bukan main.
"Nenek iblis, kiranya engkau telah menipuku! Hayo kalau memang engkau gagah, lepaskan aku dan kita bertanding sampai mati!"
Sui Cin berteriak memaki.
"Heh heh heh, andaikata kulepaskan juga, engkau takkan mampu bertahan lebih dari satu dua jurus. Dan aku tidak menipu, karena memang aku adalah Kiu-bwe Coali, musuh besarmu, ha ha ha!"
Diam-diam Sui Cin terkejut.
Kiranya hilangnya ingatannya berakibat demikian hebat sampai musuh lamanya tidak ia kenal dan akibatnya ia mudah terjebak.
"Jadi kalau begitu... namaku itu... bukan... bukan Ceng Bi Hwa..."
"Heh heh heh, namamu Ceng Sui Cin, engkau puteri Pendekar Sadis, Heh heh heh, dan sekarang jatuh ke tanganku. Aku ingin menikmati kematianmu yang akan terjadi perlahan-lahan... Ha-ha. Eh, nona manis, apa engkau suka dengan ular?"
"Ular...?"
Sui Cin yang merasa bingung itu bertanya.
"Ya, ular... Heh heh , engkau tahu, aku adalah Kiu-bwe Coali, Ratu Ular!"
Dan nenek itu lalu membunyikan cambuknya berkali-kali.
Terdengar suara meledak-ledak dan suara ledakan ini seperti bergema sampai jauh.
Tidak lama kemudian, terbelalak mata Sui Cin melihat datangnya banyak ular dari empat penjuru, seperti tertarik oleh suara cambuk yang masih meledak-ledak itu, dan suara mendesis yang keluar dari mulut ompong Kiu-bwe Coali.
Ular-ular itu menggeleser di atas tanah, membuat rumput-rumputan bergerak-gerak dan terdengarlah suara mereka mendesis-desis, lidah mereka itu keluar masuk dan kini mereka semua berkumpul mengelilingi tempat itu.
"Bagus, bagus, Heh heh heh, anak-anakku, kalian sudah datang..."
Sui Cin bergidik.
Teringat ia akan nenek itu yang menangisi kematian seekor ular yang juga disebut anaknya.
Nenek ini gila atau lebih dari itu, jahat dan keji seperti iblis.
Kini nenek itu membuat suara dengan mulutnya, suara mendesis dibarengi ledakan cambuknya dan beberapa ekor ular yang besar mengembangkan lehernya.
Itulah ular-ular sendok yang amat berbahaya karena amat kuat.
Sekali saja digigit oleh ular seperti ini, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak memperoleh obat penawarnya yang ampuh, orang itu tentu akan mati!
Sui Cin yang kehilangan ingatannya itu tidak mengenal ular seperti itu, akan tetapi ia tahu bahwa ular-ular ini tentu berbahaya sekali.
Tiga ekor ular sendok yang paling besar berjoget di depannya, dengan lidah merah menjilat-jilat keluar, mata yang tak berkedip itu memandang kepedanya, kepalanya lenggang-lenggok seperti menggoda dan hendak mempermainkan Sui Cin.
"Heh heh heh, mereka bertiga ini yang kupilih untuk menggerogoti dagingmu, sedikit demi sedikit, ha ha ha!"
Kata nenek itu dan makin gencar cambuknya berbunyi, makin lincah lagi tiga ekor ular itu menari-nari di depan Sui Cin, makin lama makin mendekati gadis yang terikat kaki tangan dan pinggangnya pada batang pohon itu.
Sui Cin memandang tak berkedip kepada tiga ekor ular ini, menahan hatinya agar jangan sampai ia menjerit kengerian.
Sementara itu, puluhan ekor ular lainnya yang mengurung tempat itu ikut pula bergerak-gerak seperti menari, akan tetapi mereka tidak berani mendekati tiga ekor ular sendok itu.
"Heh heh heh, Ceng Sui Cin, engkau baru tahu bahwa aku ini adalah ratu ular, ya? Aku dapat memerintah ular-ular ini menurut sekehendakku. Dan pertama-tama, aku akan memerintahkan mereka itu menyusup ke dalam pekaianmu, menelusuri seluruh tubuhmu sampai kau hampir mati karena geli dan ngeri. Kemudian, aku akan memerintahkan mereka itu merobek-robek semua pakaianmu sampai kau bertelanjang bulat. Nah, sesudah itu mulailah pesta untuk mereka. Gigit sana-sini, betis, paha, lengan dan bagian-bagian yang tidak berbahaya, menjilati darah dari luka-luka itu. Kemudian mukamu, pipimu yang halus itu, hidungmu yang mancung, bibirmu yang merah, akan digerogoti perlahan-perlahan. Engkau takkan mudah mati, akan kusiksa dulu sampai puas, sebagai hukuman ayahmu, Si Pendekar Sadis, ha ha ha!"
Cambuknya meledak-ledak dan tiga ekor ular itu mulai nampak beringas.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara suling yang ditiup dengan indah dan kuatnya, menyelinap suara itu di antara ledakan-ledakan cambuk dan akibatnya sungguh aneh.
Ular-ular yang mengelilingi tempat itu nampak gelisah dan ketakutan, lalu perlahan-lahan mereka meninggalkan tempat itu!
Kini hanya tinggal tiga ekor ular sendok itu saja yang masih bertahan, menari-nari di depan Sui Cin.
Akan tetapi suara suling terdengar semakin kuat dan tiga ekor ular itu kelihatan ragu-ragu dan bingung, kacau oleh suara ledakan-ledakan cambuk yang kini bercampur suara suling yang agaknya lebih terasa dan lebih mempengeruhi mereka!
"Eh, keparat jahanam kurang ajar!"
Nenek Kiu-bwe Coali memaki dan menoleh.
Matanya terbelalak marah ketika ia melihat seorang pemuda datang sambil meniup suling, sikapnya tenang dan gagah.
Sui Cin juga melihat datangnya pemuda ini dan iapun merasa girang karena ia mengerti bahwa suara suling pemuda itu telah mengusir ular-ular yang tadinya mengurung tempat itu, dan kini suara suling itu membuat tiga ekor ular itu menjadi bimbang dan bingung, seperti kehilangan pegangan.
Ia dapat menduga bahwa suara suling itu menghancurkan pengaruh nenek iblis terhadap ular-ularnya dan timbullah harapannya walaupun ia sendiri masih lemas dan tidak mampu meloloskan diri dari belenggu.
Pemuda yang mampu meniup suling seperti itu tentu memiliki kepandaian tinggi, ia menduga.
Sementara itu, Kiu-bwe Coali yang menengok dan memandang pemuda itu, segera mengenalnya dan wajahnya agak berubah, kemarahannya memuncak.
"Kau..."
Keparat, kau putera ketua Pek-Liong-Pang di Lembah Naga itu?"
Nenek itu menggerakkan cambuknya dan mengeluarkan suara mendesis.
Karena semua ularnya sudah pergi terusir oleh suara suling tadi, kini tinggal tiga ekor ular sendok yang hendak dikerahkan untuk menyerang pemuda itu.
Akan tetapi, dengan tenang pemuda itu melangkah maju ketika tiga ekor ular sendok menerjangnya dengan semburan-semburan uap hitam dari mulut mereka.
Tiba-tiba pemuda yang bukan lain adalah Cia Sun itu, meniup sulingnya dengan kuat.
Terdengar suara melengking yang membuat Sui Cin sendiri terpaksa harus berusaha mematikan rasa menulikan telinga karena suara melengking itu amat tinggi dan dahsyat, menusuk telinga menikam jantung.
Akan tetapi agaknya suara itu memang sengaja ditujukan untuk menyerang atau menyambut tiga ekor ular itu.
Tiga ekor ular yang sudah mengangkat kepala tinggi-tinggi itu, tiba-tiba mendengar suara ini lalu terkulai dan berkelojotan seperti dalam keadaan kesakitan hebat.
Cia Sun melangkah maju dan tiga kali kakinya menginjak, pecahlah kepala tiga ekor ular itu.
Tubuh mereka masih berkelojotan, akan tetapi karena kepala sudah hancur terinjak kaki yang kuat itu, mereka berkelojotan dalam keadaan sekarat!
Dapat dibayangkan betapa marahnya Kiu-bwe Coali melihat tiga ekor ular andalannya itu mati.
Sambil mengeluarkan suara melengking ia menerjang ke depan, cambuknya meledak-ledak di atas kepalanya dan tangan kirinya yang berkuku panjang itupun dipergunakan untuk menyerang dengan cakarancakaran dan cengkeraman-cengkeraman maut karena kuku-kuku panjang tangan kiri itu mengandung racun.
Akan tetapi, dengan amat tenangnya, Cia Sun mengelak mundur dua langkah kemudian sekali tangan kirinya bergerak mendorong ke depan, angin pukulan dahsyat menyambar bagaikan hawa berapi, panas dan kuat.
Kiu-bwe Coali menyambut dengan cambuk dan tangan kirinya dan akibatnya, ia terpental ke belakang!
"Ehhh..."
Nenek itu berseru kaget bukan main.
Kalau tadi ia dikejutkan oleh kecepatan gerakan Sui Cin, kini ia dikejutkan pula oleh kekuatan sinkang yang menyambar keluar dari tangan kiri pemuda ini.
Ia pernah melawan pemuda ini, bahkan pernah ia hampir merobohkan Cia Sun dengan bantuan ular-ularnya beberapa tahun yang lalu.
Akan tetapi, pada waktu itu, biarpun pemuda ini sudah amat lihai, tenaga sinkangnya tidaklah sehebat sekarang ini.
Tentu saja nenek ini tidak tahu bahwa Cia Sun tiga tahun yang lalu tidak dapat disamakan dengan Cia Sun sekarang.
Seperti kita ketahui, pemuda ini diajak pergi oleh seorang kakek sakti yang hanya memperkenalkan diri sebagai Gobi Sanjin dan di antara puncak-puncak Pegunungan, Gobisan yang sunyi, pemuda ini telah digembleng dengan hebat.
Setelah oleh gurunya yang baru itu dia dinyatakan sudah cukup menerima ilmu, gurunya menyuruhnya pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar, tidak begitu jauh dari Lembah Naga, untuk menghadiri pertemuan para pendekar.
"Dunia sudah berubah,"
Demikian Gobi Sanjin yang gendut itu berkata.
"para datuk sesat, seperti iblis-iblis, keluar dari neraka dan siap mengacau dunia. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang mereka itu dan para pendekar sudah bersepakat untuk mengadakan pertemuan di tempat itu. Pergilah ke sana. Akan tetapi jangan lupa, engkau mempunyai semacam tugas lain. Jika engkau bertemu dengan seorang murid dari Ciu-sian Lokai, nah, dia itu lawanmu. Bukan musuh, melainkan lawan dan antara aku dan Ciu-sian Lokai sudah saling berjanji untuk mengadu murid kami masing-masing. Engkau tidak boleh kalah karena hal itu akan membuatku malu."
Tugas pertama diterima dengan gembira oleh Cia Sun, akan tetapi tugas kedua ini sebenarnya tidak berkenan di dalam hatinya.
Bagaimana dia harus melawan dan berkelahi dengan seorang yang tidak dikenalnya, tanpa sebab, bahkan bukan musuh, melainkan hanya karena perjanjian antara guru mereka untuk saling mengadu murid-murid mereka?
Seperti ayam aduan atau jengkerik saja.
Akan tetapi, perintah guru tidak mungkin diabaikan dan diapun menyanggupi.
Demikianlah, pemuda dari Lembah Naga ini meninggalkan gurunya dan dalam perjalanan menuju ke bekas benteng Jeng-hwa-pang, di daerah Mongol ini, secara kebetulan saja dia melihat seorang gadis yang akan dikorbankan kepada ular-ular berbisa oleh seorang nenek mengerikan.
Cia Sun segera mengenal nenek itu sebagai Kiu-bwe Coali, seorang di antara Cap-sha-kui, akan tetapi hampir dia berteriak ketika dia mengenal pula Sui Cin!
Gadis yang dibelenggu dan menghadapi ancaman mengerikan dari ular-ular sendok itu adalah Sui Cin puteri Pendekar Sadis yang selama ini tidak pernah dia lupakan.
Akan tetapi, Cia Sun adalah seorang pemuda yang tenang.
Melihat keadaan Sui Cin, dia tidak tergesa-gesa bertindak sembrono untuk menyelematkannya dengan kekerasan begitu saja.
Dia tahu betapa lihainya nenek itu dan tiga ekor ular sendok itu sudah siap mematuk, apalagi tempat itu dikelilingi oleh puluhan ekor ular.
Maka, sambil bersembunyi dia lalu meniup sulingnya yang selalu dibawanya, dan mengerahkan khikang untuk mengusir ular-ular itu.
Barulah dia muncul dan dia masih terus menggunakan sulingnya untuk mengalihkan perhatian tiga ekor ular sendok itu dari Sui Cin kepada dirinya.
Setelah ular-ular itu menyerangnya, barulah dia turun tangan membunuh binatang-binatang itu.
Melihat betapa nenek iblis itu menyerangnya dengan ganas, Cia Sun tidak tinggal diam menahan diri begitu saja.
Nenek ini adalah seorang di antara Cap-sha-kui, datuk-datuk sesat yang amat jahat dan karenanya haruslah dibasmi.
Dulu, pernah dia hampir celaka diserang nenek ini bersama pengeroyokan ular-ularnya dan pada waktu itu untung muncul Sui Cin yang membantunya.
Kini, Sui Cin yang menjadi korban kejahatan nenek itu, dan untung dia yang tanpa disengaja tiba di tempat itu sehingga dapat menyelamatkan Sui Cin.
Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat Sui Cin kelihatan begitu lemah, tidak mampu membebaskan diri dari belenggu yang tidak begitu kuat itu.
Apa yang telah terjadi dengan gadis itu?
Dan mengapa Sui Cin memandangnya dengan sinar mata keheranan seperti itu, sama sekali tidak kelihatan bahwa gadis itu mengenalnya?
Apakah Sui Cin sudah pangling kepadanya?
Setelah mengelak dari sambaran cambuk ekor sembilan, Cia Sun membalas dengan serangan tamparan tangan kirinya, disusul totokan suling yang tadi dipergunakannya untuk mengusir ular.
Nenek itu mengelak dan menggerakkan lagi cambuknya yang mengeluarkan suara meledak-ledak.
Terjadilah perkelahian yang seru, serangmenyerang dengan dahsyatnya.
Akan tetapi, segera nenek itu mendapatkan kenyataan pahit bahwa lawannya ini luar biasa kuatnya, terlalu tangguh baginya.
Semua serangannya gagal, bukan hanya gagal, akan tetapi setiap kali benturan tenaga, ia tentu terdorong dan terhuyung.
Hatinya mulai merasa jerih.
Akan tetapi Cia Sun yang mengambil keputusan untuk membunuh nenek jahat ini, mendesak terus dengan pukulan-pukulannya yang ampuh.
Pada suatu saat nenek itu terdesak dan terhuyung ke belakang.
Dengan gerakan aneh tangan kanan Cia Sun menyambar ke arah ubun-ubun kepala nenek itu dengan cengkeraman maut yang dahsyat.
Nenek itu terkejut, cepat menggerakkan cambuknya menangkis dan langsung melibat lengan kanan lawan, kemudian kepalanya bergerak dan rambutnya yang riap-riapan itu menyambar ke arah leher Cia Sun untuk menotok jalan darah maut.
Pemuda itu tidak menjadi gugup, tangan kirinya menyambar dan menangkap bulu-bulu cambuk, kemudian kaki kiri Cia Sun melayang ke depan mengirim tendangan yang mengarah leher lawan.
Hebat sekali tendangan ini dan dilakukan selagi kedua tangan mereka tidak bebas.
Kiu-bwe Coali terkejut dan cepat mengelak dengan miringkan kepala, akan tetapi tetap saja ujung sepatu kaki Cia Sun mengenai pundaknya.
"Dukkk..."
Tubuh nenek itu terpelanting dan ujung bulu cambuknya rontok karena sebagian putus oleh cengkeraman tangan Cia Sun, sedangkan rambut kepalanya juga banyak yang jebol.
Ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan serangah susulan, akan tetapi pemuda itu tidak mau mendesak lawan yang sudah roboh, hanya bersiap-siap melanjutkan perkelahian itu.
Kiu-bwe Coali tidak terluka berat, akan tetapi ia maklum bahwa kalau dilanjutkan, tentu akhirnya ia akan kalah karena pemuda itu sungguh lihai bukan main.
Ia khawatir bahwa kalau ia melarikan diri, pemuda itu tentu akan mengejarnya, maka iapun mempergunakan akal.
Sambil menudingkan cambuknya yang sudah bodol itu ke arah Sui Cin yang masih terbelenggu, ia berkata.
"Kau membelanya? Biarlah ia mampus sekarang juga!"
Dari tengah gagang cambukhya meluncur Jarum-jarum halus yang digerakkan oleh alat di gagang cambuk.
Cia Sun terkejut bukan main.
Tangannya cepat membuat gerakan memukul ke arah depan gadis itu dan Jarum-jarum halus beracun itupun runtuh semua!
Kiu-bwe Coali semakin kaget.
Pemuda ini benar-benar hebat, pikirnya dan hatinya menjadi semakin gentar.
Kini cambuknya menuding ke arah pemuda itu dan kembali ada belasan batang jarum halus menyambar ke arah Cia Sun.
"Nenek iblis jahat!"
Cia Sun membentak dan begitu ia mengebutkan lengan bajunya, Jarum-jarum itu bukan hanya runtuh, melainkan membalik ke arah nenek itu!
Kiu-bwe Coali mengebutkan cambuknya dan Jarum-jarum itupun runtuh.
"Heh heh heh, orang muda, kau boleh juga. Akan tetapi temanmu itu jangan harap akan dapat hidup lagi, ia telah keracunan. Lihat, wajahnya sudah mulai kehilangan cahayanya!"
Cia Sun terkejut dan menoleh.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kiu-bwe Coali untuk meloncat dan melarikan diri.
Cia Sun tiduk mau mengejar karena dia mengkhawatirkan keadaan Sui Cin.
Dia tahu bahwa nenek itu tidak membohong.
Keadaan Sui Cin memang tidak wajar.
Gadis yang dahulu dia kenal sebagai seorang pendekar wanita yang hebat, puteri tunggal Pendekar Sadis, kini demikian lemah dan tidak berdaya sehingga terbelenggu seperti itupun tidak mampu membebaskan diri.
Tentu gadis itu telah terluka, atau keracunan seperti yang dikatakan nenek itu.
Diapun cepat meloncat dekat dan melepaskan ikatan kaki tangan dan pinggang gadis itu.
Sejak tadi Sui Cin menjadi saksi perkelahian itu dan iapun merasa kagum kepada pemuda berpakaian serba putih sederhana yang lihai itu.
Setelah semua belenggu yang mengikat kaki tangannya putus dan ia menjadi bebas, ia segera merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih, engkau telah menyelamatkan aku dari tangan nenek iblis itu."
Cia Sun membalas penghormatan itu sambil tersenyum.
"Adik Sui Cin, kenapa engkau begini sungkan? Di antara kita mana ada sebutan pertolongan?"
Sui Cin memandang dengan mata terbelalak dan jelas nampak oleh Cia Sun betapa gadis ini sekarang menjadi semakin cantik menarik.
"Saudara yang gagah perkasa, apa maksudmu...?"
Kini Cia Sun yang melongo.
"Cin-moi... lupakah engkau kepadaku? Aku Cia Sun..."
Akan tetapi gadis itu memandang bingung.
"Cia Sun...? Aku... aku tidak mengenal nama itu..."
"Ehh...? Bagaimana ini? Bukankah engkau... adik Ceng Sui Cin?"
Sui Cin menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.
"Aku tidak tahu... aku tidak tahu..."
Cia Sun merasa khawatir sekali dan memandang tajam.
"Apa maksudmu? Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau bukan adik Ceng Sui Cin?"
"Aku tidak tahu apakah namaku Ceng Sui Cin ataukah Ceng Bi Hwa..."
"Apa pula ini? Bagaimana engkau tidak yakin akan nama sendiri?"
"Aku tidak tahu, aku sudah lupa segalanya... dan nama Ceng Sui Cin atau Ceng Bi Hwa itupun kudengar dari nenek itu..."
"Engkau adalah adik Ceng Sui Cin, tak salah lagi! Coba ingat-ingat baik-baik, aku adalah Cia Sun, dari Lembah Naga. Lupakah engkau kepada nama itu? Antara ayahmu dan ayahku terdapat hubungan yang amat erat... bukankah ayahmu adalah paman Ceng Thian Sin yang berjuluk Pendekar Sadis?"
Dengan sedih Sui Cin menggeleng kepala.
"Aku lupa semua, aku tidak tahu apa-apa, aku lupa siapa sebenarnya diriku. Aku hanya ingat bahwa aku terkena lemparan batu pada kepalaku, dan aku dikejarkejar seorang musuh lihai. Kemudian aku bertemu dengan nenek itu dan ia telah menipuku, memberi minum yang katanya obat mengembalikan ingatanku. Akan tetapi ternyata obat itu adalah racun, aku menjadi lemas dan dibelenggunya seperti tadi... dan ia mengaku bernama Kiu-bwe Coali, katanya ia adalah musuh besarku..."
"Tentu saja! Ia adalah seorang di antara Cap-sha-kui yang jahat. Lupakah engkau?"
"Aku tidak ingat lagi siapa itu Cap-sha-kui..."
"Aih, Cin-moi. Aku pernah hampir celaka di tangan nenek ini beberapa tahun yang lalu, dan engkau lah yang muncul menolongku. Apakah engkau tidak ingat?"
Sui Cin menggeleng kepalanya.
"Aku lupa segala... kepalaku pening, ahh... batu itu menghantam kepalaku amat kerasnya..."
Gadis itu duduk kembali dan memejamkan mata untuk berusaha mengumpulkan tenaganya, akan tetapi ia mengeluh.
Tenaganya hilang.
"Aku lemas sekali, seluruh tenagaku lenyap... ini tentu karena racun yang diberikan nenek iblis itu kepadaku..."
"Cin-moi, kalau begitu aku mengerti sekarang. Engkau tentu telah kehilangan ingatanmu, entah mengapa, mungkin seperti yang kau ingat itu, terkena lemparan batu sehingga otokmu terguncang dan ingatanmu hilang atau kabur. Kemudian, dalam keadaan hilang ingatan itu engkau bertemu dengan Kiu-bwe Coali dan nenek iblis yang curang itu telah menipumu, menggunakan keadaan dirimu yang lupa ingatan, kemudian meracunimu. Engkau keracunan, Cin-moi. Dan inilah yang harus lebih dahulu disembuhkan. Mari kubantu engkau..."
Cia Sun lalu duduk bersila di belakang Sui Cin, akan tetapi gadis itu meloncat bangun dan memandang dengan sinar mata meragu.
"Adikku yang baik, apakah engkau tidak percaya kepadaku?"
"Aku tidak kenal denganmu..."
"Cin-moi, dalam keadaan hilang ingatan, aku tidak merasa heran kalau engkau tidak lagi mengenal aku, bahkan namamu sendiripun engkau lupa, juga siapa orang tuamu. Akan tetapi, biarpun aku sekarang menjadi seorang kenalan baru, apakah engkau tetap tidak percaya kepadaku setelah tadi melihat betapa aku mati-matian membantumu dari ancaman nenek iblis itu?"
Sui Cin boleh jadi kehilangan ingatannya tentang mesa lalu, akan tetapi ia tidak kehilangen kegagahan dan keadilannya.
Ia mengangguk.
"Baiklah, aku yang salah. Lalu, apa yang hendak kau lakukan dalam usahamu mengobatiku?"
"Aku tidak tahu racun apa yang diminumkan nenek itu kepadamu, Cin-moi, karena itu tentu saja akupun tidak tahu apa obat penawarnya. Akan tetapi setidaknya, dengan pengerahan sinkang, barangkali aku akan dapat memulihkan tenagamu, atau setidaknya aku akan dapat mencegah racun itu menjalar dan membahayakan keselamatan nyawamu."
Kembali Sui Cin mengangguk.
"Baiklah, saudara..."
"Cin-moi, dahulu engkau selalu menyebut twako kepadaku, dan namaku Cia Sun..."
Pemuda itu berkata halus.
"Baik, Sun-twako, silakan dan sebelumnya aku menghaturkan terima kasih."
Gadis itu duduk bersila kembali.
Cia Sun duduk di belakangnya dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung gadis itu.
Segera Sui Cin merasa betapa ada hawa panas menjalar ke dalam tubuhnya melalui telapak kedua tangan itu yang menempel punggung dan ia bergidik.
Ia tahu bahwa pemuda itu sungguh lihai, akan tetapi mengerti juga bahwa nyawanya seolah-olah berada di telapak tangan pemuda itu.
Ia menyerah dengan ikhlas dan memejamkan kedua matanya.
Kiu-bwe Coali lari sambil memaki-maki.
"Keparat! Anjing monyet tikus sialan!"
Ia merasa betapa nasibnya amatlah buruknya.
Sudah baik-baik bertemu dengan puteri Pendekar Sadis, malah sudah berhasil ia meringkus tanpa banyak susah dan selagi ia menikmati kepuasan hatinya menyiksa gadis itu sebelum membunuhnya, tahu-tahu muncul pemuda lihai itu, putera ketua Pek-Liong-Pang dari Lembah Naga!
Dan nyaris ia celaka, mungkin tewas di tangan pemuda itu!
Hanya dengan susah payah dan berkat kecerdikannya ia mampu lolos dari ancaman maut, walaupun cambuk ekor sembilan dan rambutnya rontok dan bodol!
"Sialan..."
Gerutunya.
Mungkin ia kurang perhitungan ketika melakukan perjalanan, keliru memilih hari baik!
Memang menggelikan sekali ulah nenek iblis itu.
Akan tetapi, kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan hidup ini, akan nampaklah oleh kita bahwa kenyataan hidup sehari-hari di antara kita tidaklah banyak bedanya dengan sikap nenek Kiu-bwe Coali itu.
Kitapun sudah terbiasa sejak kecil untuk menggantungkan diri pada nasib!
Kiu-bwe Coali bersungut-sungut dan marah-marah, menyalahkan nasibnya.
Padahal semua kegagalan yang menimpa dirinya bukan lain merupakan buah yang dipetik dari pohon yang ditanamnya sendiri!
Ia bersungut-sungut dan karena ia berjalan cepat sambil melamun, hampir saja ia menabrak seorang yang sedang berjalan perlahan dari depan.
Orang itu menyerongkan langkah, memiringkan tubuh sehingga tabrakan terhindar.
Kiu-bwe Coali hanya merasakan angin berseliwer halus ketika orang itu lewat di sampingnya dan barulah ia sadar bahwa hampir saja ia bertubrukan dengan orang lain.
Hatinya yang sedang murung itu menjadi panas dan marah, apalagi ketika ia mengangkat muka dan melihat bahwa yang hampir bertubrukan dengannya itu juga seorang nenek yang pakaiannya indah dan bersih.
Nenek inipun sudah tua, tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, malah lebih tua dari nenek Kiu-bwe Coali.
Akan tetapi jelas nampak perbedaan antara kedua orang nenek itu.
Kalau Kiu-bwe Coali berwajah buruk sekali, sebaliknya nenek ini menunjukkan bahwa di waktu mudanya ia tentu seorang wanita yang amat cantik.
Akan tetapi bukan kecantikan seorang wanita Han, melainkan kecantikan asing, dengan matanya yang lebar, hidungnya yang terlalu mancung dan dagunya yang panjang meruncing itu.
Juga dandanannya jauh berbeda dengan wanita Han, bahkan juga berbeda dengan pakaian wanita-wanita Mongol pada umumnya.
Rambutnya yang sudah putih itu dikuncir dua, bukan dikuncir melainkan dibagi dua dan diikat dengan kain lebar.
Telinganya yang lebar itu memakai anting-anting gelang yang besar pula.
Lehernya memakai kalung dari untaian batu-batu putih bundar seperti tasbeh.
Jubahnya berwarna putih bersih, dengan rangkapan berwarna biru dan kuning yang indah.
Tangannya memegang sebatang kebutan yang juga berbulu putih seperti rambutnya.
Nenek ini nampak agung dan berwibawa, juga gerak-geriknya halus seperti wanita bangsawan.
Mulutnya tersenyum membayangkan kebesaran hati ketika ia memandang kepada Kiu-bwe Coali.
Sejenak Kiu-bwe Coali mempergunakan sepasang matanya yang agak juling itu untuk memandang dan hatinya menjadi semakin panas.
Nenek itu dianggapnya terlalu sombong dan genit!
Sudah tua masih berdandan begitu rapinya, memakai kalung dan anting-anting pula, dan pakaiannya bagus-bagus!
"Perempuan tak tahu malu!"
Bentaknya sambil menggoyang-goyang cambuknya.
"Di mana kau taruh matamu maka engkau berani hampir menubruk aku?"
Nenek berjubah putih-putih itu tersenyum.
"Sobat, jangan marah-marah dulu dan ingatlah baik-baik, siapa yang hendak menubruk tadi? Engkau berjalan setengah berlari sambil melamun sehingga tidak melihat ke depan dan kalau aku kurang cepat menyingkir tentu telah kau tabruk."
Suaranya halus dan dari suara dan kata-katanya jelas bahwa ia adalah seorang wanita Mongol yang pandai berbahasa Han.
Kata-katanya menunjukkan bahwa ia terpelajar, karena ia menggunakan bahasa yang halus, lebih halus dari pada kata-kata yang keluar dari mulut Kiu-bwe Coali, seorang nenek berbangsa Han aseli.
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 6
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 11