Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pulau Es 2

Eps 2 Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Pada suatu hari, Puteri Tao Kwi Hong menemukan sebuah kitab kuno yang sudah berdebu dan ia tertarik sekali karena pada sampulnya terdapat gambar segi lima dengan gambar Im-yang.

Didalamnya dan ada sepasang pedang bersilang di atasnya.

Gambar pedang itulah yang menarik perhatiannya dan ketika ia membukanya, ternyata itu merupakan sebuah kitab kuno ilmu pedang!

Akan tetapi bahasanya kuno dan banyak sekali huruf yang tidak dikenalnya.

Ia lalu mengatakan kepada penjaga perpustakaan bahwa ia hendak meminjam kitab itu untuk dibacanya.

Penjaga perpustakaan tidak berani menolak permintaan puteri dari Pangeran Mahkota, hanya berpesan agar setelah selesai dibaca, kitab itu harus dikembalikan dan mencatatnya dalam buku catatannya.

Kwi Hong membawa pulang kitab itu dan memperlihatkannya kepada kakeknya.

"Ah, aku pernah mendengar tentang adanya ilmu pedang Ngo-heng Sin-kiam yang telah hilang dari peredaran dan tidak ada lagi yang mampu memainkannya. Agaknya inilah kitabnya! Ah, engkau beruntung sekali dapat menemukan kitab ini, Kwi Hong!"

"Akan tetapi isinya sukar dimengerti, Kong-kong. Banyak huruf yang tidak kukenal. Bagaimana dapat mempelajarinya kalau banyak huruf tidak dapat diketahui artinya?"

Sin-tung Koai-jin sendiri bukan seorang ahli sastra yang pandai.

Ketika dia membuka-buka kitab itu, alisnya berkerut dan harus dia akui bahwa dia bahkan hampir tidak dapat membaca kitab itu.

"Kita tidak boleh memperlihatkan kitab ini kepada sembarang orang, Kwi Hong. Akan tetapi untuk dapat membaca ini, engkau harus menanyakan kepada ahli-ahli sastra kuno yang banyak terdapat di kota raja. Lalu bagaimana baiknya?"

Kwi Hong adalah seorang gadis yang amat cerdik. Setelah berpikir sejenak, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya berseri.

"Aku mempunyai akal, Kong-kong. Aku akan menuliskan semua huruf yang tidak aku kenal dan huruf-huruf itulah yang akan kutanyakan artinya kepada ahli sastra kuno. Dengan demikian dia tidak akan dapat membaca kitab ini, hanya beberapa huruf kuno saja."

"Bagus! Akalmu itu sungguh cemerlang. Aku akan mencari ahli sastra kuno dan engkau boleh mulai menuliskan huruf-huruf yang tidak kaukenal itu!"

Demikianlah, dengan akal itu, akhirnya Kwi Hong dapat membaca semua isi kitab itu dan dapat mempelajari ilmu pedang pasangan yang amat hebat.

Dalam melatih gerakannya yang kadang terasa sukar, dia diberi petunjuk oleh kakeknya dan akhirnya, dalam waktu dua tahun, dara ini berhasil menguasai Ngo"heng Sin-kiam dengan baik.

Dengan menguasai ilmu pedang pasangan itu, kakeknya sendiri akan kewalahan menandinginya!

Demikian hebatnya ilmu pedang itu dan untuk mengimbangi ilmu pedang itu, kakeknya membuatkan sepasang pedang yang indah dan baik.

Kwi Hong memang manja dan sifatnya agak bengal.

Seringkali, setelah menguasai ilmu silat yang cukup mendalam, ia minggat dari istana untuk merantau di dalam bahkan luar kota raja, jauh dari jangkauan para pengawal karena ia merasa tidak leluasa dan tidak senang kalau harus keluar selalu diikuti pengawal yang menjaga keselamatannya!

Tentu saja sebagai seorang gadis yang cantik jelita, ketika keluar seorang diri, banyak pula yang tidak tahu bahwa ia puteri pangeran, berani kurang ajar dan menggodanya.

Akan tetapi Kwi Hong merobohkan mereka satu demi satu sehingga namanya menjadi terkenal di kota raja dan daerahnya.

Karena ia selalu memakai hiasan burung bangau dari emas di sanggul rambutnya, Ia mendapat julukan "Si Nona Bangau Emas!"

Setelah Kwi Hong berusia tujuh belas tahun dan ia telah menguasai Ngo-heng Sin-kiam, ia mulai minggat lagi dari istana dan kini ia merantau sampai jauh dari kota raja.

Bukan saja namanya yang terkenal membuat pria yang hendak mengganggunya menjadi jerih, akan te"tapi kini ke manapun ia pergi ada sepasang pedang bersilang di punggungnya, membuat laki-laki yang hendak kurang ajar kepadanya menjadi lebih gentar lagi.

Agaknya cerita yang sering didengar dari kakeknya sebagai seorang pendekar, menumbuhkan jiwa pendekar dalam diri gadis ini.

Biarpun ia seorang gadis bangsawan yang seharusnya berada di istana, dihormati dan dilayani, gerak-geriknya lembut dan halus, namun jiwa pendekar bergejolak dalam dirinya dan ia suka pergi tanpa pamit sampai berpekan-pekan, dan selama berada di luaran ia selalu bertindak sebagai pendekar wanita, menentang para penjahat dan membela yang lemah!

Pada suatu hari, Kwi Hong memasuki kota Tung-san, yaitu sebuah kota kecil di sebelah, selatan kota raja.

Karena merasa perutnya lapar, gadis ini lalu memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar.

Pada siang hari itu, rumah makan telah dipenuhi para tamu dan hampir semua orang menengok memandang kepada gadis yang baru masuk itu, terutama para tamu pria.

Siapa yang tidak akan menoleh dan terpesona memandang gadis itu.

Dalam usianya yang tujuh belas tahun, Kwi Hong memang merupakan seorang dara yang cantik jelita dan manis sekali.

Rambutnya hitam sekali, panjang dan halus lebat.

Rambut itu digelung ke atas tinggi dan dihias burung bangau emas, di bagian belakang diikat dengan pita merah.

Di atas dahinya yang halus mulus itu terdapat anak rambut yang melingkar-lingkar, terutama di depan kedua telinganya.

Alisnya seperti dilukis, hitam melengkung, kecil panjang.

Anggun sekali.

Sepasang matanya dihias bulu mata yang lentik, dan mata itu sendiri bersinar tajam dan jeli dan jernih, dengan ujung kedua mata itu agak sipit menjungkat ke atas sehingga kalau ia mengerling nampak manis bukan main.

Hidungnya kecil mancung, setimpal sekali dengan mulutnya.

Mulut itu memang mempesonakan.

Mulut yang kecil dengan sepasang bibir yang selalu kemerahan, merah basah dan berkulit tipis penuh.

Di kanan kiri mulutnya terdapat lesung pipit yang membuat mulut itu makin menarik.

Sukar dikatakan mana yang lebih mempesonakan.

Matanya ataukah mulutnya.

Di kedua anggauta muka itulah letak inti daya tarik Kwi Hong.

Dagunya runcing dan lehernya panjang putih mulus.

Sepasang pipinya yang selalu kemerahan seperti buah tomat walaupun tidak me"makai pemerah pipi.

Wajah cantik itu hanya dipolesi bedak tipis-tipis saja karena Kwi Hong bukan seorang gadis pesolek.

Pakaiannya juga tidak terlalu mewah bagi seorang puteri istana, walaupun cukup indah.

Celana sutera biru tua dan bajunya biru muda, dengan sabuk kuning emas, sepatunya hitam mengkilap.

Seorang gadis yang amat menarik hati, akan tetapi juga gagah karena terdapat sepasang pedang melintang di punggungnya.

Pedang itulah yang membuat semua mata pria yang memandang tidak memandang langsung, melainkan melirik karena mereka agak gentar melihat pedang di punggung itu.

Jelas bahwa gadis jelita itu adalah seorang gadis yang pan"dai ilmu silat.

Seorang pelayan rumah makan tergopoh menyambut.

Hatinya gembira bukan main mendapat kesempatan menyambut tamu yang demikian cantiknya sehingga semua tamu yang lain menaruh perhatian.

Dia membungkuk sebagai tanda menghormat dan berkata dengan suara hormat pula.

"Selamat siang, Nona. Silakan, di sudut sana masih ada meja kosong."

Kwi Hong mengangguk dan tanpa mempedulikan lirikan mata begitu banyak orang ia pun melangkah mengikuti pelayan itu menuju ke meja kosong ,di sudut kiri rumah makan itu.

Selama ia melakukan perjalanan merantau keluar dari istana, sudah terlalu sering ia melihat pandang mata laki-laki seperti itu.

Memang tadinya hal ini amat meng"ganggu dan membuat ia marah, akan tetapi akhirnya ia mengetahui bahwa hampir semua laki-laki adalah mata keranjang dan tidak dapat melewatkan seorang gadis cantik.

Asalkan tidak ada yang mengganggunya dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar, kalau hanya pan"dang mata saja, dara ini tidak lagi mengambil peduli dan pura-pura tidak melihatnya.

Bahkan sedikit banyak ada perasaan bangga di hatinya karena diperhatikan banyak pria itu berarti bahwa dirinya memang cantik jelita dan menarik!

Hanya bangga akan diri sendiri, sama sekali bukan senang karena ia tahu bah"wa sebagian besar dari mereka itu pandang matanya penuh gairah dan nafsu.

"Nona hendak memesan makanan apa?"

"Beri aku nasi dan panggang ayam, juga masak Sayur jamur dan lidah bebek."

"Minumnya, Nona? Arak?"

"Tidak, cukup air teh saja."

"Baik, Nona."

Pelayan itu lalu pergi untuk memenuhi pesanan Kwi Hong.

Tiba-tiba dari meja sebelah terdengar orang berbisik-bisik.

Ketika Kwi Hong melirik, dia melihat tiga orang laki-laki berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun saling berbisik dan tersenyum-senyum.

Jangan-jangan mereka akan bersikap kurang ajar, pikir Kwi Hong.

Akan tetapi ia bersikap tenang saja dan berpura-pura tidak melihatnya.

Akhirnya, benar seperti yang ia duga, seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus, bangkit berdiri dan meng"hampiri, berdiri di depannya dan berkata sambil sedikit membungkuk.

"Nona, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Bagaimana kalau Nona kami undang makan bersama kami? Kebetulan kami hanya bertiga, dan meja kami masih dapat menerima seorang lagi. Silakah, Nona. Pesanan Nona biar diantar ke meja kami."

Kwi Hong mengerutkan alisnya.

Seorang pria yang tidak dikenal menegur seorang gadis, apalagi mengundang makan, sudah merupakan hal yang tidak wajar.

Akan tetapi karena laki-laki jangkung kurus ini bersikap sopan, ia pun menahan kemarahannya.

"Tidak, terima kasih. Aku ingin makan sendirian saja dan harap jangan mengganggu aku."

Mendengar jawaban ini, laki-laki tinggi kurus itu hanya senyum-senyum agak malu karena penolakan itu didengar oleh para tamu lain.

Akan tetapi seorang di antara kawan-kawannya, yang bertubuh gendut dan bermuka merah karena terlalu banyak minum arak, berkata dengan suara mengejek.

"Aih, nona manis, harap jangan menjual mahal! Kami adalah pemuda-pemuda hartawan yang mampu membayar pesanan makanan apa saja yang Nona sukai!"

Mendengar ucapan kurang ajar ini, sekali melompat Kwi Hong sudah berada di dekat si gendut itu.

"Apa yang kaukatakan?"

Bentaknya. Laki-laki gendut itu agaknya tidak tahu diri atau dia sudah terlalu mabuk.

"Ha-ha-ha, aku bilang jangan jual mahal, nona manis, aku...."

Tiba-tiba tangan kiri Kwi Hong bergerak menjambak rambut kepala pria itu dan membenamkan mukanya pada panci terisi kuah panas di depannya.

"Haepp....haeppppp....!"

Laki-laki itu gelagapan dan setelah Kwi Hong melepaskan jambakannya, laki-laki itu melonjak-lonjak kepanasan karena mukanya seperti dibakar, matanya tidak dapat dibuka.

Kwi Hong sudah duduk kembali ke depan mejanya.

Ia tidak menyangka sama sekali bahwa dua orang Laki-laki teman si gendut menjadi marah melihat teman mereka diperbuat seperti itu oleh Kwi Hong.

Mula-mula dua orang itu menolong si gendut, mencuci dan membersihkan mukanya yang menjadi semakin merah seperti udang direbus dan ketika dia sudah mampu membuka matanya, kedua matanya menjadi sipit dan kemerahan.

Kemudian dua orang itu meloncat ke depan meja Kwi Hong dengan sikap marah.

"Nona, engkau kejam sekali! Berani engkau menghina kami? Kami adalah murid-murid dari Pek-houw Bu-koan (Perguruan Silat Harimau Putih)!"

Melihat kedua orang itu kini nampak"nya marah kepadanya, Kwi Hong tersenyum mengejek.

"Tidak peduli kalian dari perguruan Harimau Putih atau Harimau Belang, siapa berani menghinaku pasti akan kuhajar! Masih untung aku tidak menghancurkan mulutnya!"

"Engkau sombong!"

Kata orang yang tubuhnya pendek besar dan dia sudah mengayun tangannya untuk menampar muka Kwi Hong.

Akan tetapi Kwi Hong sudah mengelak sambil duduk dan sekali kakinya menendang, orang itu pun terjengkang dan mengaduh karena perutnya tiba-tiba menjadi mulas terkena tendangan ujung kaki yang bersepatu hitam itu.

Si tinggi kurus kini menerjang maju dengan kedua tangannya, agaknya hendak menangkap Kwi Hong.

Akan tetapi Kwi Hong tetap duduk di atas kursihya dan ketika kedua tangan itu datang ia sudah menggerakkan kedua tangannya menotok ke arah pergelangan tangan, lalu kembali kakinya menendang ke depan.

Si tinggi kurus merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kaku dan sebelum dia sempat mengelak, tahu-tahu kaki gadis itu sudah menendangnya dan dia pun terjengkang ke belakang seperti si pendek besar.

Kini si gendut sudah dapat bangkit.

Dia menghunus sebatang pedang dari atas meja, akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, Kwi Hong sudah menyambar sebatang sumpit dan sekali sambit, pemuda gendut itu mengaduh-aduh dan pedangnya jatuh ke lantai.

Ternyata lengan kanannya sudah ditembusi sumpit itu!

Dua orang kawannya terkejut, akan tetapi sebelum mereka mencabut pedang, Kwi Hong menggertak.

"Kalau kalian nekat, sumpit-sumpit ini akan menembus jantung kalian!"

Berkata demikian, dia melemparkan sumpit ke arah tembok dan dua batang sumpit itu menancap sampai, setengah lebih ke dalam tembok!

Melihat ini, dua orang itu terbelalak dan tidak jadi mencabut pedang mereka, lalu menarik kawan si gendut yang terluka dan larl dari rumah makan itu.

Terdengar teriakan si gendut.

"Nona kejam, kalau engkau memang gagah, tunggu pembalasanku!"

Akan tetapi Kwi Hong duduk kembali seolah tidak ada terjadi sesuatu dan ketika hidangan yang dipesannya tiba, ia segera makan dengan sikap tenang sekali.

Para tamu lain yang menyaksikan peris"tiwa itu, segera bicara sendiri membicarakan gadis yang mereka anggap hebat luar biasa itu.

Semua orang di Tung-san mengenal siapa murid-murid perguruan Harimau Putih yang suka bersikap ugal-ugalan mengandalkan perguruan mereka yang memiliki banyak murid dan guru mereka yang terkenal dengan julukan Pek-houw-eng (Pendekar Harimau Putih)?

Tidak ada yang berani menentang mereka.

Para murid itu bukan orang-orang jahat dan tidak pernah melakukan kejahatan, hanya sikap mereka ingin menang sendiri saja dan tidak mau ditentang, seolah mereka yang menguasai kota Tung-san.

Tidak jauh dari situ, di tengah-tengah itu, sejak tadi seorang pemuda memperhatikan peristiwa itu dan melihat betapa gadis itu menghajar tiga orang tadi, dia tersenyum-senyum puas.

Pemuda itu seorang pemuda yang berusia antara dua puluh atau dua puluh satu tahun.

Pakaiannya sederhana, akan tetapi wajahnya tampan dan gagah.

Tubuhnya sedang saja, matanya lebar, hidung mancung dan mu"lutnya ramah selalu dihias senyum.

Dagu"nya agak berlekuk sehingga menambah kejantanannya.

Siapakah pemuda gagah tampan sederhana ini?

Dia bukan lain adalah Tao Keng Han.

Seperti kita ketahui, Keng Han terjebak di pulau kosong, tidak dapat meninggalkan pulau karena tidak ada perahu.

Akan tetapi dia pun tidak ingin meninggalkan pulau itu sebelum dia menguasai ilmu-ilmu Pusaka Pulau Es yang dia temukan tergores pada dinding sebuah ruangan bawah tanah.

Dia melatih diri dengan Hui-yang Sin-kang dan Swat"im Sin-kang, dua tenaga sakti yang sifatnya panas dan dingin, Dan dia dapat menguasai ilmu ini karena dalam tubuhnya sudah terdapat kekuatan dahsyat yang sifatnya dingin dan panas itu.

Dengan menguasai dua ilmu sinkang itu, dia kini dapat mengendalikan dua tenaga sakti dalam tubuhnya.

Hampir tiga tahun dia hanya melatih diri dengan dua ilmu pengerahan tenaga sakti ini.

Setelah dia berhasil baik, barulah dia melatih dua ilmu silat yang terdapat di dinding itu, yaitu ilmu silat Toat-beng Bian-kun yang sifatnya lemas namun mengandung kekuatan dahsyat sekali dan kedua adalah Hong In Bun-hoat yang halus dan nampak indah seperti orang menari sambil menuliskan huruf, akan tetapi mengandung daya serangan yang luar biasa hebatnya.

Dua tahun dia menghabiskan waktu untuk melatih ilmu ini dengan baik sehingga tanpa terasa lagi dia sudah lima tahun tinggal di Pulau Hantu itu.

Setelah dia menguasai semua ilmu itu, dia lalu menggunakan, sebatang golok untuk merusak dinding itu sehingga coretan huruf-huruf itu lenyap dan rusak.

Dia tidak ingin ilmu itu kelak dipelajari orang lain, apalagi dipelajari orang jahat.

Ilmu itu terlalu hebat dan kalau terjatuh ke tangan orang jahat tentu akan membahayakan dunia.

Selama lima tahun, dia hanya makan jamur laut, Ikan laut, dan daging ular serta sayur-sayuran aneh dan buah-buahan aneh pula.

Tanpa disadarinya sendiri, makanan yang dimakannya se"lama lima tahun itu memberinya kekuatan yang hebat pula.

Dia tidak menyadari bahwa dia kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki kekuatan yang amat dahsyat!

Kini, setelah semua ilmu habis dipelajari timbul keinginannya untuk meninggalkan pulau itu.

Dia lalu menggunakan golok menebang pohon yang cukup besar, dan membuat perahu sedapatnya sehingga jadilah sebuah perahu kecil yang sederhana sekali.

Untuk layarnya, dia menggunakan kain-kain sutera yang dulu dikumpulkan dari milik para perampok.

Juga dia membuat dayung dari kayu.

Setelah perahu itu jadi, Keng Han lalu membawa pakaian yang dibuatnya sendiri, dan mulailah dia berlayar meninggalkan pulau itu.

Ketika dia mendorong perahu itu ke air, beberapa ekor ular merah menyerangnya, akan tetapi sambil tertawa dia menggunakan tangannya menyampok ular-ular itu yang baginya kini sama sekali tidak berbahaya lagi.

Bahkan biasanya ular-ular itu dia tangkapi untuk dimasak dagingnya!

Demikianlah, setelah berhasil mendarat di pantai, meninggalkan pulau itu dengan selamat, mulailah Keng Han melakukan perjalanan, menuju ke kota raja.

Dia hendak mencari ayahnya!

Dan dalam perjalanan inilah dia tiba di kota Tung-san.

Ketika dia mendarat, dia segera membuat pakaian yang biasa, membeli dari toko dan untuk itu dia memiliki banyak emas dan perak.

Segera dia berganti pakaian dan membuang pakaian buatan sendiri yang amat sederhana seperti jubah pendeta itu.

Selama dalam per jalanan, dia tidak pernah mengalami gangguan karena penampilannya sebagai pemuda biasa dan sederhana.

Ketika dia lapar dan memasuki rumah makan di Tung-san itu, dia menyaksikan peristiwa yang terjadi di antara gadis cantik jelita itu yang menghajar tiga orang pemuda berandalan dan dia tersenyum kagum.

Jarang ada gadis yang demikian pemberani dan lihai pula, Apalagi gadis itu agaknya puteri seorang bangsawan atau hartawan, melihat dari pakaiannya.

Keng Han menjadi kagum, akan tetapi tidak seperti para pria lain, dia menyembunyikan kekagumanya dan dengan hati geli mendengar betapa orang"orang di beberapa meja itu saling beri bisik memuji-muji kelihaian dan kecantikan gadis itu.

Akan tetapi pemilik rumah makan merasa khawatir sekali, bukan saja khawatir akan keselamatan gadis itu, juga terutama sekali khawatir kalau-kalau rumah makannya akan menjadi medan pertempuran sehingga akan merugikan isi rumah makan dan membikin takut para langganannya.

Dia tidak ingin terjadi pertempuran besar di situ, apalagi sam"pai pembunuhan.

Maka dia segera meng"hampiri Kwi Hong yang sedang makan dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke depan dada.

"Maafkan kalau saya mengganggu Nona yang sedang makan."

Katanya dengan jerih. Kwi Hong yang sedang makan itu mengerutkan alisnya dan menoleh sedikit ke arah orang itu.

"Engkau mau apa?"

Tanyanya tak senang.

"Maafkan, Nona. Akan tetapi Nona agaknya tidak tahu. Pek-houw Bu-koan itu adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang besar dan berpengaruh sekali di kota ini. Nona telah memukul tiga orang murid mereka. Tentu mereka itu akan datang membalas dendam kepadamu, oleh karena itu saya anjurkan Nona segera meninggalkan tempat ini dan pergi sebelum terlambat."

"Aku tidak takut! Biar mereka semua datang, kalau, berani menggangguku, akan kuberi hajaran satu demi satu!"

Kata Kwi Hong.

"Akan tetapi, Nona. Kalau terjadi perkelahian di sini bagaimana dengan rumah makanku ini? Tentu akan hancur berantakan dan para langgananku akan berlarian meninggalkan rumah makanku. Aku akan menderita kerugian besar...."

Pemilik rumah makan itu hampir me"nangis. Baginya, yang terpenting adalah keselamatan rumah makannya."

"Hemmm, Jadi engkau pemilik rumah makan ini? Jangan khawatir, kalau terjadi kerusakan, aku akan memaksa mereka untuk mengganti semua kerugianmu, atau aku sendiri yang akan menggantinya. Sekarang, pergilah dan jangan ganggu aku yang sedang makan!"

Kwi Hong melanjutkan makannya dan pemilik rumah makan itu tidak berani bicara lagi melainkan pergi dengan muka pucat dan wajah penuh kekhawatiran.

Kembali Keng Hah yang mendengarkan semua itu, tersenyum kagum.

Gadis yang tabah luar biasa dan juga bertanggung jawab.

Sungguh seorang gadis yang memiliki kepribadian yang kuat dan berwibawa.

Ingin dia melihat kelanjutan peristiwa itu dan kalau memang diperlukan, dia siap membantu gadis itu.

Kwi Hong makan dengan tenang saja, padahal tentu saja, Ia tahu bahwa ucapan pemilik rumah makan itu bukan hanya kosong belaka dan memang besar sekali kemungkinan tiga orang tadi akan meng"undang kawan-kawan mereka bahkan guru mereka.

Akan tetapi sedikit pun ia tidak merasa gentar, bahkan ia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada Pek-houw Bu-koan kalau benar mereka itu hendak membela tiga orang muda yang kurang ajar tadi.

Kekhawatiran pemilik rumah itu ternyata terbukti benar.

Serombongan orang terdiri dari tiga puluh orang lebih mendatangi rumah makan itu, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang mengenakan pakaian serba putih.

Itulah guru silat Pek-houw Bu"koan yang berjuluk Pendekar Harimau Putih!

Melihat ini, pemilik rumah makan lalu berlari keluar dan berlutut di depan kaki orang berpakaian putih itu.

"Teng kauwsu (Guru Silat Teng), mohon di kasihani, harap jangan berkelahi di dalam rumah makan kami dan menghancurkan segalanya. Kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa tadi dan kami sama sekali tidak bersalah...."

Guru silat yang berjuluk Pek-houw-eng dan menjadi kepala dari Pek-houw Bu-koan itu. mendengus.

"Hemmm, mana perempuan yang telah menghina murid-murid kami itu?"

"Ia masih makan di dalam, Teng"kauwsu. Akan tetapi harap Kauwsu suka bersabar dan menanti sampai ia keluar. Kasihanilah tamu-tamu lain yang tidak bersalah dan jangan merusak rumah ma"kan kami."

"Hemmm, baiklah. Hei, kalian jaga di empat sudut, jangan biarkan perempuan itu meloloskan diri!"

Perintahnya kepada anak buahnya dan dia sendiri men jaga di depan pintu pekarangan rumah makan itu.

Para tamu lain yang melihat kedatangan rombongan itu, menjadi ketakutan.

Mereka segera membayar harga makanan dan bergegas meninggalkan tempat itu, takut, terlibat.

Kwi Hong melihat hal ini, akan tetapi ia tetap tenang.

dan melanjutkan makannya.

Ia melihat semua tamu telah pergi, kecuali seorang pemuda berpakaian sederhana yang duduk di meja tengah ruangan itu.

Ia tidak peduli.

Setelah selesai makan, Ia menyeka mulutnya dan memanggil pelayan.

Dengan sikap seenaknya ia membayar harga makanan, barulah ia melenggang keluar dari rumah makan itu.

Keng Han mengikutinya dengan pandang mata dan akhirnya dia membayar pula harga makanan dan menyelinap keluar.

Karena memang sudah dinanti, begitu keluar dari rumah makan yang sudah sunyi itu, Kwi Hong telah datang dihadang oleh Pek-houw-eng Teng Coan bersama tiga puluh orang muridnya!

Guru silat itu tercengang juga.

Tak disangkanya bahwa perempuan yang telah menghina dan menghajar tiga orang muridnya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita dan masih remaja!

Paling banyak tujuh belas tahun usianya!

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia harus tetap menjaga nama dan kehormatan Pek-houw Bu-koan!

"Nona, berhenti dulu!"

Bentak Teng Coan ketika melihat Kwi Hong melangkah terus tanpa mempedulikan dia dan para muridnya, dan sengaja dia menghadang di depan gadis itu.

Kwi Hong mengangkat muka memandang seolah baru sekarang ia melihat ada orang menghadangnya.

"Hemmm, siapakah engkau dan mau apa engkau menahan perjalananku?"

Tanyanya dengan sikap acuh tak acuh.

"Nona, benarkah engkau yang tadi telah menghina dan memukuli tiga orang murid kami?"

"Hemmm, kalau memang betul, mengapa?"

"Nona, engkau terlalu kejam. Tanpa alasan yang kuat engkau melukai murid"murid kami, akan tetapi melihat bahwa engkau hanya seorang gadis remaja, maka biarlah aku akan habiskan urusan itu kalau saja engkau suka mohon maaf sambil berlutut di depan kakiku!"

Guru silat itu merasa tidak enak sendiri kalau harus berkelahi dengan seorang gadis remaja, maka dia hendak menghapus penghinaan itu dengan balas menghina dara itu.

Kalau dara itu mau berlutut dan minta maaf, dia pun sudah akan puas dan semua orang tentu akan melihat dan membicarakannya.

Akan tetapi Kwi Hong mengerutkan alisnya.

"Apa katamu? Aku berlutut minta maaf kepadamu? Jadi engkau guru mereka? Sepatutnya engkau yang mintakan maaf bagi mereka kepadaku. Tahukah engkau apa sebabnya aku menghajar tiga orang muridmu? Semua orang melihatnya betapa mereka bertiga itu bersikap kurang ajar kepadaku, maka aku mewakilimu untuk menghajarnya! Sepatutnya engkau menghaturkan terima kasih dan mohon maaf, kepadaku!"

Keng Han yang menonton pertemuan itu hampir tertawa bergelak mendengar ucapan itu.

Gadis itu benar-benar hebat.

Selain tabah dan berani, ternyata juga amat pandai bicara dan bicaranya tidak ngawur!

Akan tetapi kepala perguruan silat itu menjadi merah mukanya dan dia menggertak.

"Nona, engkau masih tidak mau minta maaf? Lihatlah, tiga puluh orang muridku siap untuk membalaskan dendam saudara mereka. Apakah engkau tidak takut? Cepatlah minta maaf agar urusan ini segera beres dan habis."

"Kalau engkau dan mereka itu datang untuk membela orang-orang yang bersalah, aku sama sekali tidak takut, bahkan kalian semua ini patut dihajar karena membela yang salah!"

Kwi Hong marah.

"Bagus, engkau ternyata keras kepala dan sombong, sudah sepatutnya aku menghajarmu!"

Teriak guru silat itu agar semua orang mendengar bahwa dia terpaksa melawan seorang gadis remaja karena gadis itu sombong dan tidak mau minta maaf.

Setelah berkata demikian dengan gerakan sembarangan saja tangannya menampar ke arah pundak gadis itu.

Bagaimanapun juga, Teng Coan bukan penjahat, bahkan julukannya adalah Pendekar Harimau Putih, maka dia menganggap dirinya seorang pendekar sejati.

Dia tidak menyerang dengan sungguh"sungguh, maksudnya cukup asal menjatuhkan gadis itu saja untuk menghukumnya.

Akan tetapi dia kecelik kalau mengira dengan satu tamparan dapat mengalahkan Kwi Hong.

Dengan amat mudahnya Kwi Hong menarik pundaknya ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin kosong saja.

Melihat tamparannya dapat dielakkan dengan mudah, Teng Coan menjadi penasaran dan kembali tangan kirinya menampar, kini lebih cepat dan kuat ditujukan ke arah muka gadis itu.

"Wuuuttttt....!"

Kembali tamparannya mengenai tempat kosong karena dengan mudah dielakkan oleh Kwi Hong yang menggeser kakinya ke kiri lalu tangannya bergerak cepat membalas serangan lawan dengan tonjokan ke arah dada guru silat itu.

Kwi Hong tidak me"mandang rendah lawan, maka tonjokannya tidak dilakukan dengan setengah tenaga melainkan dengan cepat dan amat kuat.

Melihat ini.

Teng Coan cepat menarik tangannya dan sambil miring ke kiri dia menggunakan tangan kanan untuk me"nangkis pukulan Kwi Hong.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya dengan maksud membuat pukulan itu bukan hanya tertangkis, akan tetapi agar gadis itu terdorong dan lengannya terasa sakit bertemu dengan lengannya sendiri.

"Dukkkkk....!"

Dua buah lengan tangan bertemu, lengan tangan yang bertulang besar dan berotot kekar melawan lengan tangan yang bertulang kecil dan berkulit putih halus seolah tidak berotot.

Akan tetapi akibatnya sungguh amat mengherankan.

Tubuh guru silat itu terhuyung ke belakang sedangkan Kwi Hong tetap berdiri tegak sambil tersenyum!

Kini anak buah atau murid-murid Teng Coan sudah tidak sabar lagi.

Dengan senjata golok dan pedang di tangan, mereka maju mengeroyok.

Melihat ini, Teng Coan tidak melerai bahkan dia pun menghunus pedangnya.

Karena menghadapi banyak orang yang memegang senjata tajam, Kwi Hong melompat jauh ke belakang sambil mengerahkan kedua tangannya ke punggung dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Para penonton menjadi panik melihat mereka semua sudah memegang senjata tajam.

Banyak yang menjauhkan diri dan memandang dengan ngeri dan khawatir akan keselamatan gadis cantik itu.

Akan tetapi, begitu Kwi Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut serbuan para murid Pek-houw-bukoan, terdengar jerit-jerit kesakitan dan tiga orang sudah roboh dan terluka.

Ada yang pundaknya, ada yang pangkal lengannya, ada pula yang pahanya terserempet pedang di tangan Kwi Hong yang amat lihai itu.

Keng Han yang melihat itu, tidak mengkhawatirkan Kwi Hong.

Melihat gerakan sepasang pedang itu, maklumlah dia bahwa gadis itu memang lihai bukan main dan tidak akan kalah biarpun dikeroyok banyak orang.

Akan tetapi karena pengeroyoknya terlampau banyak, mungkin saja gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan dan inilah yang dikhawatirkannya.

"Nona, jangan membunuh orang!"

Teriaknya dan Keng Han melompat maju.

Kaki tangannya bergerak dan para pengeroyok itu berpelantingan seperti diamuk badai.

Mereka hanya merasa ada hawa yang mendatangkan angin demikian kuatnya sehingga mereka semua terdorong ke belakang dan terjengkang bergulingan!

Sementara itu, Kwi Hong sudah bertanding melawan guru silat Teng Coan.

Akan tetapi baru sekarang Pek-houweng Teng Coan menyadari betapa lihainya gadis itu.

Sepasang pedang itu menutup semua lubang dan sebaliknya dapat menyerang dari arah manapun sehingga dia yang menjadi repot harus melindungi dirinya dari serangan sepasang pedang yang baginya seolah-olah telah berubah menjadi lima buah banyaknya itu!

Dan bayangan pedang-pedang yang menyerangnya itu saling mendukung, susul menyusul datangnya seperti rangkaian yang tidak pernah putus!

Belum sampai dua puluh jurus, setelah dengan susah payah dia melindungi tubuhnya, akhirnya pedang kiri Kwi Hong mengenai pundak kanannya sehingga tangan kanannya menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan.

"Singgg....!"

Tahu-tahu sepasang pedang di tangan Kwi Hong telah menyilang di lehernya sehingga dia tidak mampu bergerak karena bergerak berarti lehernya akan terluka.

"Nah, perintahkan semua muridmu untuk mundur!"

Bentak Kwi Hong kepada Teng Coan.

Guru silat ini dengan muka sebentar pucat sebentar merah saking malunya, melirik dan melihat betapa para muridnya itu sedang diamuk seorang pemuda dengan tamparan dan tendangan.

"Semua murid, hentikan serangan!"

Bentaknya dan para murid Pek-houw"bukoan segera berlompatan ke belakang.

Mereka memang sudah jerih melihat sepak terjang pemuda yang tiba-tiba muncul membantu Kwi Hong itu.

Dan kini mereka melihat betapa guru mereka sudah dikalahkan gadis itu, maka semangat mereka hilang.

Keng Han menghampiri guru silat itu dan berkata dengan suara halus namun mengandung teguran.

"Engkau adalah pemimpin perguruan, sepatutnya engkau dapat mengajarkan kesusilaan dan sopan santun kepada para muridmu di samping ilmu silat. Ilmu silat bukan untuk main ugal-ugalan dan menang-menangan sendiri. Tiga orang muridmu itu tadi bersikap kurang ajar terhadap Nona ini dan akulah seorang di antara para saksi yang berada di dalam rumah makan. Engkau baru dapat disebut orang gagah kalau mau mengakul kesalahanmu, maka suruhlah murid-muridmu tadi minta ampun kepada Nona ini!"

Pek-houw-eng Teng Coan menyadari kesalahannya.

Dia terburu nafsu mendengarkan laporan tiga orang muridnya.

Sekarang baru dia bertemu batunya, menghadapi gadis remaja saja dia kalah.

"Hayo kalian bertiga cepat maju ke sini!"

Bentaknya kepada para muridnya.

Tiga orang murid yang tadi membuat kekacauan di rumah makan maju dengan sikap takut.

Kwi Hong sendiri sudah menyimpan pedang dan ia memandang kepada pemuda sederhana itu dengan heran dan kagum.

Ia juga dapat melihat betapa pemuda itu dengan tangan kosong telah merobohkan belasan orang murid tanpa melukai mereka.

Tentu pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Setelah tiga orang murid itu mendekat, Teng Coan lalu menggerakkan tangannya, tiga kali menampar dan tiga orang muridnya itu terpelanting.

"Hayo cepat berlutut dan minta maaf kepada Nona ini!"

Kata Teng Coan, kini kemarahannya sepenuhnya ditujukan kepada tiga orang murid itu yang menimbulkan gara-gara sehingga dia mendapat malu di depan banyak orang.

Kalau bukan karena ulah tiga orang murid itu tentu dia tidak sampai terlihat orang"orang dikalahkan oleh seorang gadis remaja!

Tiga orang murid itu merangkak ke depan kaki Kwi Hong dan memberi hormat sambil berlutut.

"Nona, kami mohon maaf atas kesalahan kami!"

Kata mereka. Kwi Hong tersenyum.

"Sudah, bangkitlah. Aku tahu bahwa kebanyakan orang muda memang ugal-ugalan. Akan tetapi kalian jangan sekali-kali menggoda wanita. Sepatutnya orang-orang yang belajar silat seperti kalian malah menjadi pelindung dan pembela wanita dari gangguan orang jahat. Apakah kalian ingin menjadi orang jahat yang suka mengganggu wanita?" ' "Tidak, tidak...., Nona."

Kata mereka serempak.

"Bagus, kalian harus menjadi pendekar"pendekar yang sejati, yang menghormati wanita dan membela mereka sebagaimana patutnya seorang pendekar yang menentang si jahat dan melindungi si lemah. Nah, sudahlah, kuhabiskan urusan sampai di sini!"

"Terima kasih, Nona."

Tiga orang itu bangkit berdiri dan mundur ke tempat kawan-kawannya. Pek-houw-eng Teng Coan juga memberi hormat kepada Kwi Hong dan Keng Han.

"Hari ini aku Teng Coan menerima pelajaran dari Ji-wi, untuk itu kami menghaturkan terima kasih dan mulai hari ini, aku akan meneliti kelakuan murid-murid perguruan dan kami bertindak sesuai dengan nasihat Ji-wi (Kalian berdua)."

Setelah berkata demikian, dengan sikap bengis dia membentak para muridnya untuk kembali ke perguruan dan tempat itu kembali sepi.

Para penonton juga bubaran dan tentu saja Kwi Hong menjadi bahan pembicaraan mereka.

Setelah melihat tindakan Kwi Hong yang gagah, beberapa orang di antara mereka teringat akan pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Emas.

Bukankah gadis itu memakai perhiasan bangau emas di rambutnya.

"Si Bangau Emas, ia tentu Si Bangau Emas yang terkenal gagah dan pemberantas kejahatan!"

Demikian segera tersiar berita itu dan nama Si Bangau Emas, semakin dikagumi orang.

Sementara itu, Kwi Hong memandang kepada Keng Han.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah, pikirnya, dan amat sederhana.

Kebetulan Keng Han juga se"dang memandang kepadanya.

Dua pasang mata yang bersinar tajam saling bertemu dan bertaut sejenak, lalu Kwi Hong mem"bungkuk dan berkata.

"Terima kasih atas bantuanmu, Sobat!"

"Tidak perlu berterima kasih, Nona. Aku tahu bahwa tanpa dibantu sekalipun Nona akan mampu menghajar mereka semua, akan tetapi melihat demikian banyaknya orang pria mengeroyok seorang gadis, bagaimana aku dapat tinggal diam? Terpaksa aku mencampuri, Nona."

"Ah, tidak mengapa. Aku melihat ilmu silatmu amat hebat, Sobat. Bolehkah aku mengetahui siapa namamu dan dari perguruan silat manakah engkau?"

Keng Han tidak ingin memperkenalkan diri sebagai seorang she Tao, putera pangeran mahkota!.

Dia akan merahasiakan keadaan dirinya itu sampai dia dapat bertemu ayahnya.

"Aku bernama Keng Han...., Si Keng Han, dan guruku adalah seorang hwesio perantauan dari Tibet. Dan engkau sendiri, bolehkah aku mengetahui siapa namamu, Nona? Dan siapa pula gurumu? ilmu sepasang pedang yang kau mainkan itu demikian hebat, tentu suhumu seorang yang amat terkenal pula."

Seperti juga Keng Han, Kwi Hong tidak ingin orang mengenalnya sebagai puteri Pangeran Mahkota Tao Kuang.

Ia tidak ingin menarik perhatian orang.

Kebetulan namanya Kwi Hong nama Kwi itu boleh dipakai sebagai nama marga.

"Namaku Kwi Hong, dan guruku adalah kakekku sendiri. Ilmu silatku biasa saja, tidak dapat dibandingkan dengan kepandaiamu, Saudara Keng Han. Atau bolehkah aku menyebutmu Han-koko saja. Bukankah kita telah menjadi kenalan dan sahabat sekarang?"

Girang sekali hati Keng Han.

Gadis ini selain tabah, lihai ilmu silatnya, lihai pula bicaranya, juga wataknya amat polos!

Sungguh watak yang menyenangkan sekali.

"Tentu Saja dan aku pun tentu boleh menyebutmu Moi-moi saja, karena aku yakin bahwa engkau jauh lebih muda dari padaku."

"Hik-hik-hik, Han-ko. Engkau bicara seolah engkau ini telah menjadi kakek-kakek saja. Memang aku lebih muda darimu, akan tetapi kuyakin selisihnya tidak seberapa banyaknya. Berapa usiamu sekarang?"

"Sudah hampir dua puluh satu tahun, Nona....eh, Hong-moi."

"Nah, dan aku sudah hampir delapan belas tahun! Selisihnya hanya sedikit saja, tiga tahun. Eh, Han-ko, sebetulnya engkau hendak ke manakah dan datang dari mana?"

Pertanyaan ini lebih lagi tidak dapat dijawab sejujurnya oleh Keng Han.

Tidak mungkin dia menceritakan bahwa dia datang dari Pulau Hantu dan kini hendak pergi mencari ayahnya.

Pangeran Mahkota.

"Aku adalah seorang perantau, Hong-moi. Aku sedang menuju ke kota raja untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Aku belum pernah ke sana dan aku mendengar hahwa kota raja amat besar dan indah."

"Ah, kebetulan sekali, aku pun hendak pergi ke kota raja. Kita dapat melakukan perjalanan bersama, Han-ko."

"Aih, apakah engkau.... tidak me"rasa....janggal, Hong-moi? Melakukan perjalanan bersama Seorang pemuda seperti aku yang sama sekali asing bagimu? Apa akan kata orang nanti?"

"Peduli amat dengan pendapat orang, Han-ko. Kalau aku terlalu mempedulikan pendapat orang lain, tidak mungkin aku dapat berkelana seperti ini seorang diri. Aku selalu meneliti langkah sendiri, ka"lau aku tidak melakukan sesuatu yang tidak besar, habis perkara. Orang lain boleh menilai bagaimanapun sesuka perut mereka, aku tidak peduli. Kita telah berkenalan, kita telah menjadi sahabat, sama-sama menghadapi orang-orang yang sesat jalan. Nah, bukankah kita tidak asing lagi satu sama lain? Atau.... engkau yang tidak suka melakukan perjalanan bersamaku, Han-ko?"

Keng Han menghela napas panjang.

Tepat dugaannya, gadis ini seorang yang polos dan keras hati.

Tentu gadis ini minggat dari rumahnya karena kalau terang-terangan, tentu orang tuanya tidak akan mengijinkannya merantau seorang diri seperti itu!

"Hong-moi, bagaimana aku dapat tidak suka melakukan perjalanan bersamamu?

Tentu saja aku suka sekali, apalagi engkau dapat menjadi penunjuk jalan.

Aku tadi ragu hanya karena mengingat akan dirimu, jangan sampai engkau menjadi celaan orang."

"Biarkan saja orang mencelaku, asal tidak di depanku. Kalau ada yang berani mencela di depanku, tentu akan kutampar mulutnya sampai semua giginya copot. Han-ko, yang penting adalah kita sendiri, bukan? Kalau kita berdua melakukan perjalanan dengan sewajarnya, sebagai dua orang sahabat yang saling menghormati dan saling menghargai, tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, siapa yang akan berani mencela?"

Bukan main kagumnya hati Keng Han, seorang gadis yang masih begini muda, akan tetapi pengetahuannya tentang kehidupan dan tentang kemanusiaan demikian mendalam.

Tentu seorang gadis yang amat terpelajar, di samping ahli silat yang pandai.

"Engkau benar, Hong-moi. Mendengar pendapatmu, aku menjadi tidak ragu lagi, dan bahkan besar dan bangga hatiku mendapatkan seorang sahabat yang masih muda akan tetapi demikian bijaksana sepertimu. Nah, mari kita berangkat, Hong-moi. Mana jalan yang menuju ke kota raja?"

"Kita keluar dari pintu gerbang utara dan terus menuju ke utara, tentu akan sampai ke kota raja, Han-ko. Mari kita berangkat."

Mereka lalu berangkat meninggalkan Tung-san melalui pintu gerbang utara.

Ternyata perjalanan itu melalui daerah pegunungan yang sunyi.

Baru kurang lebih sepuluh li mereka berjalan, tiba-tiba dari depan datang seorang petani berlari-lari dan nampak ketakutan.

Keng Han menghadang dan bertanya.

"Paman, ada apakah Paman berlari-lari seperti orang ketakutan?"

"Ah, orang muda, jangan pergi ke sana. Aku melihat perkelahian antara orang-orang yang berkepala gundul dan berjubah merah. Tiga orang mengeroyok seorang dan agaknya mereka hendak membunuhnya. Aku menjadi ketakutan ah, jangan-jangan mereka akan mengejarku pula....!"

Orang itu berlari lagi ketakutan.Mendengar ini, Keng Han menjadi tidak enak hati.

Tiga orang gundul berjubah merah mengingatkan dia akan tiga orang pendeta Lama yang pernah mencari gurunya, (Lanjut ke

Jilid 04) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 Gosang Lama, yang berkepandaian amat tinggi sehingga ketika dia memukulnya, tangannya sendiri merasa kesakitan dan sekali dorong saja seorang di antara mereka merobohkannya!

Jangan-jangan yang dimaksudkan petani tadi adalah tiga orang pendeta Lama itu dan yang dikeroyok adalah gurunya!

"Mari kita ke sana!"

Katanya dan dia pun berlari cepat, dikejar oleh Kwi Hong.

"Tunggu aku, Han-ko!"

Teriak gadis itu yang mengejar dengan secepatnyd sehingga ia dapat menyusul Keng Han.

Tak lama kemudian mereka melihat tiga orang berpakaian pendeta berjubah merah sedang mengeroyok seorang kakek yang berpakaian biasa seperti seorang petani yang kepalanya botak hampir gundul.

Ketika mereka tiba di situ kakek yang dikeroyok itu agaknya sudah terluka parah dan sempoyongan hampir roboh.

Melihat ini Kwi Hong yang penasaran melihat seorang dikeroyok tiga, sudah menerjang maju dan membentak.

"Pengecut-pengecut tidak tahu malu! Mengeroyok seorang tua!"

Dan ia menyerang pendeta terdekat. Pendeta itu menangkis serangannya. Dukkk....!"

Dan tubuh Kwi Hong terhuyung ke belakang.

Ia merasa terdorong oleh tenaga yang kuat sekali ketika lengannya tertangkis tadi.

Maklum bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, Kwi Hong lalu mencabut sepasang pedangnya dan menyerang pendeta itu dengan ilmu Ngo-heng-kiam.

Pendeta itu terkejut melihat kehebatan serangan sepasang pedang dan menggunakan lengan bajunya yang lebar untuk menangkis sam"bil mundur.

Sementara itu, Keng Han melihat bahwa kakek yang terluka parah itu adalah Gosang Lama.

Dia cepat menyambar tubuh yang hampir roboh itu.

"Suhu....!"

Teriaknya.

"Keng Han...., pergilah.... mereka lihai sekali. Larilah!"

Kata Gosang Lama ketika melihat muridnya.

Akan tetapi Keng Han segera merebahkan gurunya dan meloncat berdiri.

Ketika memutar tubuhnya, dia melihat betapa Kwi Hong sudah bertanding melawan seorang pendeta jubah merah kotak-kotak, sedangkan dua pendeta lain hanya menonton.

Dia menjadi marah sekali dan meloncat ke depan dua orang pendeta yang menonton pertandingan itu.

"Pendeta-pendeta keparat dan kejam!"

Bentaknya dan karena dia maklum bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh sekali maka dia lalu menyerang dengan pukulan yang dilatihnya di Pulau Hantu.

Tangan kanannya memukul dengan kan"dungan hawa yang amat panas sedangkan tangan kirinya memukul dengan kandungan hawa yang amat dingin.

Melihat pemuda itu memukul dan ada angin menyambar dahsyat, dua orang pendeta itu terkejut dan cepat menangkis dengan tangan mereka.

"Wuuuuuttt.... desssss....!"

Pertemuan tenaga itu hebat sekali dan akibatnya dua orang pendeta itu terjengkang dan terbanting.

Yang seorang merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa panas sekali dan yang kedua merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa yang amat dingin.

Mereka tidak terluka parah akan tetapi terkejut bukan main.

Seorang pemuda dapat menggunakan pukulan berlawanan dalam satu saat sungguh luar biasa sekali!

Dan mereka pernah dengar bahwa ilmu-ilmu tangguh seperti itu hanya di"miliki oleh pendekar keluarga Pulau Es!

Mereka menjadi jerih dan dalam bahasa Tibet mereka memanggil teman yang bertanding melawan Kwi Hong untuk melarikan diri.

Pemuda itu terlalu tang"guh, apalagi di situ masih terdapat Kwi Hong yang memiliki ilmu sepasang pedang yang hebat.

Mereka lalu melarikan diri dengan cepat, jubah mereka berkibar di belakang mereka.

Keng Han hendak mengejar, akan tetapi dia mendengar suara gurunya mengeluh.

"Keng Han, jangan....!"

Mendengar suara gurunya ini, Keng Han tidak jadi mengejar dan berlutut di samping tubuh gurunya.

Ternyata Gosang Lama telah terluka parah sekali, napasnya terengah-engah.

Melihat keadaan gurunya ini Keng Han mencoba untuk membantunya dengan menempelkan kedua tangan di dada gurunya dan mengerahkan sinkangnya.

Akan tetapi tiba-tiba mata Gosang Lama mendelik dan napasnya makin ngos-ngosan!

Keng Han terkejut dan segera menghentikan pengerahan tenaganya.

Bagaimana napas Gosang Lama tidak akan menjadi terengah-engah kalau ada dua hawa yang berlawanan memasuki tubuhnya yang sudah terluka parah "Ah, Suhu.

Bagaimana keadaanmu?"

Dia mengguncang pundak kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun itu.

Gosang Lama hanya menggeleng kepalanya dan mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara berbisik.

Keng Han mendekatkan telinganya dan mengerahkan pendengarannya untuk menangkap pesan terakhir itu.

"Semua ini.... gara-gara.... Dalai Lama...., Keng Han, kau bunuh Dalai Lama untuk membalas dendamku.... kemudian kau hancurkan Bu-tong-pai.... itu juga musuh besarku.... ada puteraku....Gulam Sang temui dia, ajak kerjasama.... aku.... aku...."

Kepala itu terkulai dan Gosang Lama telah menghembuskan napas terakhir, membawa semua rahasia hidupnya bersamanya.

"Suhu....!"

Keng Han menangis sambil memeluk tubuh yang masih hangat itu. Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya.

"Han-ko, yang sudah mati tidak ada gunanya ditangisi lagi. Suhumu sudah meninggal, sebaiknya diurus jenazahnya."

Ucapan ini menyadarkannya.

Tadi dia menangis karena terharu.

Selama lima tahun dia digembleng oleh kakek ini dengan penuh kesungguhan hati dan kakek inilah satu-satunya gurunya.

Teringat akan kebaikan kakek itu maka dia tadi terharu dan menangis.

Ucapan Kwi Hong menyadarkannya dan dia berhenti menanis.

Dia menghapus air matanya, menoleh kepada Kwi Hong dan berkata, suaranya sudah tenang lagi.

"Engkau benar, Hong-moi. Aku terlalu lemah tadi."

Dengan dibantu oleh Kwi Hong, Keng Han menggali lubang dan mengubur jenazah Gosang Lama dengan sederhana dan khidmat.

Setelah itu dia berlutut di depan makam gurunya sambil berjanji.

"Suhu, teecu akan melaksanakan semua perintah Suhu."

Kwi Hong mengerutkan alisnya mendengar ucapan Keng Han ini.

"Han-ko, pesan terakhir suhumu itu sungguh luar biasa sekali."

Keng Han menoleh kepada gadis itu.

"Luar biasa? Apanya yang luar biasa? Suhu menyuruh aku membasmi musuh"musuh besarnya yang telah berlaku jahat kepadanya."

"Pertama, agaknya suhumu itu juga seorang pendeta. Seorang pendeta memesan kepada muridnya untuk membalas dendam! Sungguh luar biasa dan aneh sekali. Biasanya seorang pendeta bahkan melarang muridnya mengandung dendam di hati. Dan kedua kalinya, pesan itu sungguh amat tidak mungkin kaulakukan, Han-ko."

"Tidak mungkin?"

Keng Han mengerutkan alisnya.

"Kenapa tidak mungkin, Hong-moi?"

Dia merasa penasaran sekali walaupun alasan pertama tadi juga men"jadi bahan pemikirannya.

Dia pun sudah banyak membaca kitab agama yang melarang adanya dendam di hati, akan tetapi mengapa suhunya malah menyuruh dia membalas dendam?

Akan tetapi tidak mungkin dia mengingkari janjinya kepada suhunya sendiri!

"Tidak mungkin karena permintaan suhumu itu luar biasa beratnya.

Kau tahu siapa itu Dalai Lama?"

Keng Han menggeleng kepalanya. Memang dia belum pernah membaca atau mendengar tentang Dalai Lama.

"Belum pernah. Siapa sih dia?"

"Dalai Lama adalah pendeta kepala dari para pendeta Lama di Tibet. Kekuasaannya besar sekali, bahkan melebihi kekuasaan raja. Dan di Tibet terdapat banyak sekali pendeta berilmu tinggi yang tentu akan melindungi Dalai Lama. Kurasa engkau tidak akan dapat menyentuh sehelai rambut pun dari Dalai Lama. Beliau sendiri merupakan seorang yang amat tinggi ilmunya. Bagaimana mungkin engkau melaksanakan tugas yang amat berbahaya itu?"

"Bagaimana besar pun bahayanya, tugas yang diberikan oleh suhu harus kulaksanakan, Hong-moi. Aku tidak takut!"

Kata Keng Han dengan suara tegas.

"Hemmm, dan tugas kedua lebih aneh lagi."

"Membasmi Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar suhu? Apa anehnya? Kalau mereka itu musuh besar suhu memang harus dibasmi!"

"Tahukah engkau siapa Bu-tong-pai itu, Han-ko?"

"Yang pernah kudengar, Bu-tong-pai adalah satu di antara perguruan-perguruan silat yang terkenal."

"Bukan hanya terkenal karena ilmu silatnya, melainkan lebih terkenal lagi bahwa murid-murid Bu-tong-pai merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan pembela kebenaran dan keadilan. Bu-tong-pai adalah perkumpulan para pendekar. Bagaimana engkau disuruh untuk membasminya? Sungguh heran sekali aku. Kalau gurumu itu musuh besar Bu-tong-pai, maka...."

Kwi Hong tidak mau melanjutkan kata-katanya karena dia tidak ingin menyinggung perasaan hati Keng Han.

"Maka bagaimana, Hong-moi? Engkau hendak bilang bahwa guruku yang berada di pihak yang salah?"

"Mungkin saja, karena Bu-tong-pai selalu menentang kejahatan dan tidak pernah murid mereka melakukan kejahatan."

"Apapun alasannya, kalau mereka itu musuh besar suhu, harus kulaksanakan janjiku kepada suhu untuk membasmi mereka!"

Kata Keng Han berkeras.

"Jangan, Han-ko. Engkau mempertaruhkan nyawamu!"

"Tidak sudah sepatutnyakah budi kebaikan guru dibalas dengan taruhan nyawa?"

"Han-ko...."

Kwi Hong merasa bingung sekali.

Dara ini mengkhawatirkan Keng Han, pemuda yang menarik perhatiannya dan yang mendatangkan suatu perasaan aneh di dalam hatinya.

Ia merasa sayang sekali kalau sampai Keng Han menderita celaka dalam tugasnya itu, apalagi memusuhi Bu-tong-pai!

Pemuda itu dapat dianggap sebagai seorang penjahat!

"Han-ko, urungkan niatmu itu!

Marilah engkau pergi bersamaku ke kota raja....!"

"Tidak, Hong-moi. Aku mengubah tujuan perjalananku. Aku sekarang juga harus pergi mencari Dalai Lama di Tibet!"

"Akan tetapi perjalanan itu jauh sekali, Han-ko."

"Aku tidak peduli."

Dia bangkit berdiri.

"Selamat tinggal, Hong-moi. Aku berangkat sekarang, juga."

Dia lalu melompat pergi.

"Han-ko....tunggu....!"

Teriakan ini membuat Keng Han menahan larinya dan dia berhenti. Gadis itu mengejar dan menyusulnya.

"Ada apa, Hong-moi?"

"Han-ko, aku ikut denganmu!"

Katanya dengan tegas, lupa sama sekali bahwa ia adalah puteri Pangeran Mahkota! "Aku akan ikut ke Tibet!"

Benar-benar Kwi Hong sudah lupa diri dan lupa keadaan.

Hasrat hatinya hanya ingin bersama pemuda itu, tidak ingin berpisah.

Akan tetapi Keng Han masih memiliki kesadaran.

Tidak mungkin dia membawa seorang gadis yang baru dikenalnya melakukan perjalanan sejauh itu.

Apa akan kata orang tua gadis itu?

Juga ini di luar kepantasan.

"Tidak, Hong-moi. Ini adalah urusan pribadiku yang harus kuselesaikan sendiri. Aku tidak ingin engkau terbawa"bawa. Kalau sudah selesai tugasku, mungkin kita dapat bertemu kembali. Nah, selamat tinggal!"

Dia menggunakan ilmunya berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah lenyap dari pandang mata gadis itu.

Dan tanpa disadarinya, kedua mata Kwi Hong menjadi basah!

Ia merasa menyesal sekali.

Pemuda sehebat itu menerima tugas seberat dan seaneh itu.

Ia menoleh dan memandang kepada makam Gosang Lama.

"Hemmm, aku sangsi apakah dia seorang baik-baik."

Gumamnya, kemudian ia pun meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja.

Kita tinggalkan dulu Kwi Hong yang kembali ke kota raja dan Keng Han yang pergi ke Tibet dan mari kita menengok keadaan perkumpulan Thian-li-pang.

Thian-li-pang terkenal sebagai sebuah perkumpulan para pendekar dan patriot yang diam-diam menghendaki kemerdekaan bagi nusa dan bangsanya, terbebas dari penjajahan bangsa Mancu.

Perkum"pulan Thian-li-pang tadinya dibawa menyeleweng oleh seorang sesat, akan tetapi kemudian setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, kembali ke jalan benar.

Biarpun sama-sama menentang kekuasaan Mancu, Thian-li-pang tidak sudi bekerja sama dengan dua perkumpul"an lain yang dianggap sesat, yaitu Pek"lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, yaitu Yo Han, seorang pendekar yang terkenal dengan julukan Pendekar Tangan Sakti, perkumpulan itu menjadi makin besar dan maju, pusat perkumpulan ini berada di puncak Bukit Naga.

Para murid Thian-li-pang memegang keras peraturan yaitu tidak boleh sembarangan membunuh, biar yang dibunuh pejabat pemerintah kerajaan Mancu sekalipun.

Sasaran mereka bukan para pembesar yang baik, akan tetapi para pembesar yang melakukan penindasan terhadap rakyat jelata.

Yo Han mengerti betul bahwa belum tiba saatnya untuk memberontak terhadap pernerintah Mancu.

Keadaan pemerintah Mancu masih terlampau kuat.

Bahkan banyak bangsa Han yang mendukungnya, termasuk perkumpulan-perkumpulan besar dan pendekar-pendekar sakti.

Yo Han hanya memimpin para murid untuk bertindak sebagai pendekar-pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang yang jahat dan melindungi yang lemah tertindas.

Karena itu, pemerintah pun tidak melakukan usaha untuk membasminya sebagai pemberontak, karena tindakan para muridnya seperti para pendekar, bukan seperti pemberontak.

Ketua Thian-li-pang yang bernama Yo Han adalah seorang pendekar besar yang namanya amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar sakti berjuluk Pendekar Tangan Sakti.

Selain terkenal amat lihai, juga dia bijak"sana sekali.

Pendekar yang satu ini pantang membunuh lawan, Bahkan para penjahat yang ditundukkannya selalu diberi nasihat agar kembali ke jalan benar dan tidak dibunuh.

Oleh karena itu, banyak sekali penjahat besar yang berhutang budi kepadanya, telah kembali ke jalan benar karena sikap pendekar ini.

Yo Han telah berusia hampir lima puluh tahun, akan tetapi dia masih nampak tampan dengan matanya yang bersinar tajam dan cerdik.

Wajahnya ber"bentuk lonjong dengan dagu runcing berlekuk, kini ditumbuhi jenggot sedang yang sebagian sudah berwarna putih.

Rambutnya yang panjang juga bercampur sedikit uban.

Akan tetapi alisnya yang menghias dahinya yang lebar masih tetap hitam tebal.

Hidungnya mancung dan mulutnya ramah sekali, selalu dihias senyum.

Tubuhnya sedang saja, namun tegap berisi.

Inilah ,pendekar sakti Yo Han yang menjadi ketua Thian-li-pang di Bukit Naga.

Isterinya juga bukan orang sembarangan.

Isterinya yang bernama Tan Sian Li, dahulunya ketika masih menjadi gadis sudah terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Merah.

Julukan ini karena pakaiannya yang selalu berwarna kemerahan dan juga karena ilmu silatnya yang khas, yaitu Ang"ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah).

Biarpun tingkat ilmu kepandaiannya tidak sehebat suaminya, namun Tan Sian Li merupakan seorang wanita yang sukar dicari tandingnya.

Wanita ini adalah campuran keturunan dari para Pendekar Gurun Pasir dan Pendekar Pulau Es bahkan juga pernah mempelajari ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) dan menggunakan sebatang suling yang berselaput emas.

Akan tetapi ilmu"nya yang paling diandalkan adalah Ang"ho Sin-kun yang ia pelajari dari ayahnya karena ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih yang namanya juga amat terkenal di dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu.

Kini usia Tan Sian L i sudah empat puluh tahun, tujuh tahun lebih muda dari suaminya.

Dalam usianya yang empat puluh tahun, ia masih nampak cantik jelita.

Wajahnya bulat telur dan kulitnya putih mulus.

Matanya lebar,hidungnya mancung dan mulutnya selalu senyum mengejek dengan dihias lesung pipit di kanan kiri.

Wataknya keras dan agak galak.

Selain pandai ilmu silat, Tan Sian Li ini juga pernah mempelajari ilmu pengobatan tusuk jarum dari mendiang Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat).

Suami isteri ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapan belas tahun.

Puteri mereka ini diberi nama Yo Han Li, yaitu gabungan dari nama Yo Han dan Tan Sian Li.

Dengan ayah dan ibu seperti itu, tentu saja Han Li amat cantik manis dan juga sejak kecil ia telah digembleng ilmu silat sehingga setelah berusia delapan belas tahun ilmu kepandaiannya sudah setingkat dengan ibunya!

Namun, Han Li yang cantik ini berwatak pendiam dan anggun, tidak seperti ibunya yang dahulu lincah dan galak.

Yo Han dan isterinya memimpin Thian-li-pang dengan bijaksana dan keras memegang peraturan sehingga para murid semua patuh dan tunduk.

Tidak ada diantara mereka yang berani melanggar pantangan perkumpulan.

Mereka tidak boleh mencari perkara, tidak boleh meng"ganggu rakyat, tidak boleh bermain judi, dan kalau bertemu lawan, tidak boleh membunuh.

"Kita memang membenci kaum penjajah dan sudah menjadi cita-cita kita bersama untuk membebaskan rakyat kita dari cengkeraman penjajah. Akan tetapi kini belum saatnya. Kekuatan kita tidak ada artinya dibandingkan kekuatan kerajaan Mancu. Kalau saatnya sudah tiba dan dalam pertempuran dengan bangsa Mancu, larangan membunuh dengan sendirinya dihapus. Demi membela bangsa dan memerdekakan tanah air dari cengkeraman penjajah, kita harus berjuang mati-matian, dibunuh atau membunuh."

Demikian antara lagi Yo Han memberi peringatan kepada para murid atau anggauta Thian-li-pang.

Perguruan-perguruan lain amat menghormati Thian-li-pang dan terjalin hubungan baik antara Thian-li-pang dengan partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain.

Sudah beberapa kali Pek"lian-pai dan Pat-kwa-pai mencoba untuk menghubungi Thian-li-pang untuk bekerja sama memberontak, Akan tetapi Thian"li-pang selalu mengelak dan tidak bersedia bekerja sama dengan mereka.

Yo Han mengenal benar mereka yang memimpin kedua partai ini.

Mereka adalah orang-orang golongan sesat yang menggunakan kedok perjuangan untuk keuntungan mereka sendiri.

Untuk membiayai perkumpulan mereka, Yo Han menyuruh para muridnya bekerja.

Mereka membuka piauw-kiok (pengawal barang kiriman) dan juga menjadi penjaga-penjaga keamanan.

Karena barang kiriman yang dikawal Thian-li"pang selalu aman dan tidak pernah diganggu penjahat, maka usaha mereka itu maju sekali dan hasilnya dapat untuk biaya perkumpulan mereka.

Di samping itu, ada pula para murid yang bekerja sendiri, ada yang berdagang, ada yang menjadi karyawan, ada pula yang bertani.

Yo Han sendiri membuka sebuah toko rempah-rempah dan isterinya suka menolong orang sakit dengan pengobatan tusuk jarum.

Pada suatu hari, sebuah kereta yang mewah berhenti di depan rumah ketua Thian-li-pang ini.

Para murid Thian-li"pang merasa heran karena kereta seperti itu tentu milik seorang bangsawan tinggi.

Segera mereka melapor kepada ketua mereka dan mendengar ada kereta bangsawan datang Yo Han bersama isterinya segera keluar menyambut karena mereka sudah dapat menduga siapa yang datang berkunjung.

Dari kereta itu turun seorang laki"laki bertubuh tegap, berusia empat puluh tiga tahun, bermuka bundar berkulit putih dengan mata tajam dan hidungnya agak besar, alisnya tebal dan mulutnya tersenyum-senyum.

Di sampingnya turun pula seorang wanita yang usianya sebaya, anggun dan cantik, Tubuhnya masih ramping, juga wajahnya nampak berseri ketika melihat Yo Han dan Tan Sian Li keluar menyambut.

Rambutnya digelung tinggi dan dihias dengan hiasan rambut dari emas permata.

Wajahnya yang can"tik dan anggun itu agak dingin, akan tetapi senyumnya demikian manis sehingga dapat mengusir kesan dingin itu.

Paling akhir keluar seorang pemuda bangsawan yang gagah dan tampan.

Siapakah mereka ini yang menjadi tamu-tamu Thian-li-pang?

Mereka memang keluarga bangsawan tinggi karena pria setengah tua itu bukan lain adalah Pangeran Cia Sun, seorang pangeran yang tidak penting kedudukannya di kota raja, karena ayahnya yaitu Pangeran Cia Yan hanya menjadi "anak angkat"

Mendiang Kaisar Kiang Liong.

Pangeran Cia Sun ini juga agaknya tidak terlalu membanggakan kedudukannya sebagai pangeran, Bahkan di waktu mudanya dia suka pergi berkelana di dunia kang-ouw.

Dia memang pandai ilmu silat dan dia mengenal banyak pendekar dan tokoh kang-ouw.

Bahkan dia pernah bersahabat baik dan mengangkat saudara dengan Yo Han.

Pernah dia rnelakukan perjalanan petualangan di waktu mudanya dengan Yo Han sehingga hubungan mereka akrab sekali, pernah mengalami suka duka bersama dan menghadapi ancaman maut bersama!

Wanita cantik anggun dingin itu adalah isterinya yang bernama Sim Hui Eng.

Wanita ini juga bukan wanita sembarangan.

Ketika masih muda, ia pernah menjadi puteri angkat ketua Lembah Ban"kwi-kok, yaitu ketua Pouw-beng-pai, juga sebuah perkumpulan sesat yang berkedok perjuangan melawan penjajah.

Akan tetapi ternyata kemudian bahwa Sim Hui Eng ini adalah puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan, Sepasang suami isteri pendekar sakti yang hilang diculik orang ketika berusia tiga tahun.

Baru setelah gadis, ia bertemu kembali dengan ayah bundanya dan sekarang ia menjadi isteri Pangeran Cia Sun, hidup berbahagia dengan suaminya tercinta di kota raja.Pemuda itu adalah putera mereka, anak tunggal yang diberi nama Cia Kun.

Sebagai putera ayah ibu yang pandai, tentu saja dia tidak asing dengan ilmu silat.

Selain mempelajari sastra seperti layaknya pemuda keluarga bangsawan tinggi, Cia Kun juga digembleng ilmu silat oleh ayah dan ibunya sendiri.

Bahkan oleh ibunya dia telah diajar ilmu yang amat tangguh dari ibunya, yaitu Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi)!

Dan sebagai anak tunggal, watak Cia Kun agak manja dan tinggi hati, walaupun watak itu agak tertutup oleh ketampanan wajahnya yang menimbulkan rasa suka di hati orang yang bertemu dengannya.

"Yo-twako....!"

Cia Sun lari menghampiri Yo Han dan merangkulnya.

"Cia-te....!"

Yo Han juga memeluknya dengan terharu.

Mereka memang seperti kakak adik saja, dan setelah bertahun-tahun tidak saling jumpa, mereka merasa saling rindu, Sim Hui Eng juga segera saling memberi hormat dengan Tan Sian Li.

Ketika melihat Han Li, Sim Hui Eng memandang dan tersenyum manis.

"Ini tentu puterimu Han Li itu! Aih, sudah begini besar, sudah dewasa dan cantik jelita seperti ibunya!"

"Aih, engkau terlalu memuji. Han Li ini bodoh seperti ibunya. Hayo, Han Li, beri hormat kepada Paman Cia Sun dan Bibi Sim Hui Eng!"

Kata Tan Sian Li kepada puterinya yang berada di belakangnya.

Han Li cepat memberi hormat kepada suami isteri itu akan tetapi ia hanya memandang saja sejenak kepada Cia Kun.

"Dan ini tentu putera kalian, bukan? Siapa namanya? Cia Kun, bukan? Ah, sudah lama tidak berjumpa, sekarang telah menjadi seorang perjaka dewasa yang gagah dan tampan seperti ayahnya!"

Kata Yo Han memuji.

"Cia Kun, hayo cepat memberi hormat kepada pamanmu Yo Han yang sering kuceritakan padamu itu, dan kepada bibimu Tan Sian Li."

Cia Kun mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada suami isteri itu.

"Aihhh, kenapa kalian berdua hanya saling pandang saja?"

Tiba-tiba Sim Hui Eng menegur puteranya dan juga Han Li.

"Cia Kun, gadis ini adalah Yo Han Li, puteri paman dan bibimu, engkau harus menyebutnya adik. Dan Han Li, jangan malu-malu terhadap Cia Kun, ini adalah putera kami atau kakakmu!"

Mendapat teguran itu, Han Li segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat yang segera disambut oleh Cia Kun dengan hormat pula.

"Mari silakan masuk!"

Tan Sian Li mempersilakan tarmu-tamunya masuk dan duduk di ruangan dalam.

Sebuah pesta kecil segera diadakan oleh tuan rumah untuk menjamu para tamu yang mereka sayang dan hormati itu.

Para anak buah Thian-li-pang hanya saling pandang dan saling berbisik saja, melihat ketua mereka menyambut tamu keluarga bangsawan dari istana demikian akrabnya.

Namun, tak seorang pun di antara mereka berani menyatakan ketidak-senangan hati mereka dan hanya memendam di dalam hati saja.

Tengah makan minum, Yo Han berkata.

"Cia-te kunjunganmu, sekeluarga ini menggembirakan hati kami sekeluarga. Akan tetapi di balik itu juga mengherankan. Adakah suatu keperluan penting yang kalian bawa dengan kunjungan ini?"

Cia Sun saling pandang dengan isterinya, lalu tersenyum dan menjawab.

"Memang ada, Yo-toako. Akan tetapi sebaiknya urusan itu kita bicarakan setelah selesai makan agar lebih santai dan leluasa."

Demikianlah, setelah makan, mereka pindah duduk di ruangan tamu di samping yang lebih luas dan setelah semua pelayah meninggalkan ruangan, baru Cia Sun bicara.

"Sebetulnya, Yo-toako, kunjungan kami ini selain karena merasa rindu kepada kalian, juga kami membawa niat yang amat baik untuk mempererat tali kekeluargaan di antara kita. Melihat kenyataan bahwa anak-anak kita telah dewasa dan kebetulan anakmu wanita dan anak kami pria, maka kami mengusulkan agar diantara mereka diikat tali perjodohan. Bagaimana pendapatmu dengan usul kami itu, Toako dan Toa-so?"

Mendengar ucapan itu, Yo Han Li bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu dengan muka kemerahan.

Melihat ini keempat orang tua itu hanya tersenyum, maklum bahwa sudah wajar kalau seorang gadis merasa malu mendengar dirinya dibicarakan untuk urusan perjodohan!

Sementara itu, Cia Kun juga merasa tidak enak dan melihat ini, Yo Han berkata kepadanya.

"Cia Kun, kalau engkau ingin menemani adikmu, pergi ke taman bunga di sebelah. Biar kami orang-orang tua bicara dengan leluasa."

Cia Kun berterima kasih sekali dan cepat dia pun bangkit lalu melangkah ke taman bunga yang berada di pinggir bangunan itu.

"Yo-toako, tentu saja kami tidak minta keputusan yang tergesa-gesa dan kalau engkau hendak membicarakan dulu dengan Toaso (Kakak ipar), silakan. Kami akan sabar menunggu."

"Tidak perlu, Cia-te. Apa yang akan menjadi keputusan kami adalah sama dan dapat kami jawab sekarang juga. Sebelumnya kami mengharapkan maaf kalau kami hendak bicara terus terang dan sejujurnya."

"Kenapa minta maaf? Bicara terus terang dan sejujurnya bahkan yang kami harapkan. Nah, utarakan pendapatmu itu, Yo-toako."

"Begini, Cia-te berdua. Andaikata Cia-te bukan seorang Pangeran Mancu, tentu pinangan itu akan kami terima dengan kedua tangan dan hati terbuka. Akan tetapi sungguh sayang, Cia-te adalah. seorang Pangeran Mancu. Sedangkan kami, Cia-te tentu maklum sendiri bahwa kami adalah orang-orang yang berjuang dan bercita-cita memerdekakan bangsa dari tangan kaum penjajah. Kami berjiwa patriot yang mendambakan kemerdekaan bangsa. Bagaimana mungkin kami berbesan dengan Pangeran Mancu? Nah, Cia-te tentu dapat memaklumi alasan kami yang berkeberatan untuk menerima usul itu."

"Akan tetapi, Yo-toako!"

Sim Hui Eng membantah.

"Suamiku bukan seorang yang berjiwa penjajah. Hal ini aku yakin Toako telah mengetahui sendiri!"

"Aku tahu. Cia-te adalah seorang yang berjiwa pendekar gagah perkasa. Akan tetapi aku juga yakin dia bukan seorang pengkhianat keluarga dan bangsanya. Kita berdua berdiri di seberang yang berlawanan. Kalau kelak terjadi perang antara para pejuang dan para penjajah, lalu bagaimana anak-anak kita akan bersikap? Aku tentu tidak suka kalau melihat mantuku membantu penjajah memerangi pejuang, sebaliknya aku pun tidak suka melihat mantuku menjadi seorang pengkhianat bagi keluarga dan bangsanya sendiri. Tidak, Cia-te berdua. Ikatan perjodohan ini tidak mungkin kita lakukan. Biarlah mereka berdua menjadi sahabat saja seperti halnya kita."

"Ahhh, Yo-toako, engkau membuat semua harapanku terbanting hancur berantakan. Semula aku datang dengan penuh harapan untuk mengekalkan persaudaraan kita, siapa kira engkau menolaknya dengan keras."

Kata Cia Sun menyesal sekali.

"Maafkan kami, Cia-te. Ada suatu saat di mana kita harus mengambil sikap tegas agar di kelak kemudian hari tidak akan menderita karena keputusan yang diambil tergesa-gesa."

"Aku mengerti maksudmu, Toako. Dan aku tidak menyalahkan engkau. Aku mendengar bahwa Thian-li-pang, di bawah pimpinanmu, menunjukkan sikap sebagai para pendekar, bukan pemberontak, karena itu aku datang penuh harapan. Siapa tahu...."

"Kami memang bukan pemberontak, Cia-te. Akan tetapi cita-cita kami untuk kemerdekaan bangsa tidak pernah padam. Kalau sudah tiba saatnya, tentu kami akan bergerak dengan rakyat jelata menuntut kemerdekaan kami."

"Sudahlah, dasar nasib kami tidak baik. Kalau begitu, kami mohon pamit, Yo-toako. Harap suruh orang memanggil putera kami."

Dengan sikap tenang walaupun hatinya merasa tidak enak sekali Yo Han mengutus seorang pelayan untuk memanggil Cia Kongcu yang berada di taman bunga.

Ketika itu, Cia Kun sudah dapat bertemu dengan Han Li di taman.

Ketika pemuda itu memasuki taman bunga, dia melihat gadis itu sedang duduk di antara banyak bunga sedang berkembang dengan indah"nya.

Bermacam bunga ditanam di taman itu dan kebetulan sekali waktu itu musim bunga sedang berkembang.

Keharuman bunga semerbak di mana-mana dan pemandangan di taman itu sungguh indah.

Tentu saja kalau dibandingkan dengan taman bunga di istana, taman bunga di Thian-li-pang itu bukan apa-apanya, bahkan tidak ada artinya.

"Li-moi, engkau di sini?"

Tegur pemuda itu setelah menghampiri Han Li.

Han Li membalikkan tubuhnya, memandang kepada pemuda itu dengan kedua pipi kemerahan.

Ia merasa tersipu karena baru saja orang tua mereka membicarakan tentang perjodohan mereka dan ia merasa heran akan keberanian pemuda itu menyusulnya ke taman bunga.

"Ah, kiranya engkau, Kun-ko. Aku di sini sedang menikmati bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali bunga-bunga di taman ini, bukan?"

Cia Kun memiliki watak yang tinggi hati. Mendengar ucapan itu, dia memandang ke sekeliling, lalu katanya.

"Ah, tidak artinya apabila dibandingkan dengan taman bunga kami di istana, Li-moi. Datanglah ke taman bunga kami dan engkau akan takjub melihat keindahan bunga-bunga yang ratusan macam di sana!"

Han Li mengerutkan alisnya.

Tentu saja hatinya tidak senang mendengar ini.

Pemuda itu meremehkan keindahan ta"man bunganya!

"Hemmm, tentu saja di istana segalanya serba lebih besar dan lebih indah.

Akan tetapi aku tidak ingin melihatnya!"

Katanya agak ketus karena hatinya tersinggung. Agaknya Cia Kun menyadari kesalahannya dan dia segera berkata.

"Akan tetapi di sini ada setangkai bunga yang tidak ada duanya, bahkan di istana juga tidak ada, Li-moi. Bunga itu amat cantik jelita, membuat hatiku terkagum-kagum, Li-moi."

"Ah, benarkah?"

Han Li kelihatan girang dan memandang ke sekelilingnya.

"Bunga mana yang kau maksudkan itu, Toako?"

"Bunga itu adalah engkau, Li-moi. Dirimu yang amat mengagumkan hatiku! Dan orang tua kita sedang membicarakan urusan perjodohan kita, Li-moi. Tidakkah hatimu senang sekali, seperti juga perasaan hatiku?"

Han Li mengerutkan alisnya dan memandang pemuda itu dengan tajam.

"Kun"ko aku tidak suka mendengar omonganmu ini! Pergilah dan jangan ganggu aku lebih lama lagi!"

Cia Kun hendak membantah akan tetapi pada saat itu datang pelayan berlarian yang melapor bahwa Cia Kongcu dipanggil oleh orang tuanya, karena hendak diajak pulang.

Cia Kun merasa heran, akan tetapi dia segera memberi hormat kepada Han Li sambil berkata.

"Maafkan aku, Li"moi. Kita berpisah dulu, sampai bertemu kembali."

Han Li hanya mengangguk dan tidak pedulikan lagi pemuda itu yang meninggalkan taman.

Cara pemuda itu membandingkan taman bunganya dengan taman istana, kemudian cara pemuda itu menyatakan perasaan hatinya, sungguh mendatangkan kesan tidak menyenangkan di dalam hatinya.

Ia akan membantah ayah bundanya kalau sampai ia dijodohkan dengan pemuda itu.

Akan tetapi hatinya merasa lega karena ayah bundanya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal perjodohan itu dalam percakapan mereka.

Tiga hari kemudian, datang dua orang tosu dari Bu-tong-pai berkunjung ke Thian"li-pang.

Karena Thian-li-pang di bawah bimbingan Yo Han memang mempunyai hubungan baik dengan semua partai dan perguruan silat besar termasuk Bu-tong"pai, maka Yo Han sendiri yang menyambut kunjungan kedua orang tosu utusan Bu-tong-pai itu dan mempersilakan mereka berdua memasuki ruangan tamu.

Yo Han menyambut dua orang tamu itu bersama isterinya dan ketika mempersilakan mereka duduk, dia mengamati kedua orang itu.

Dua orang tosu yang nampak gagah dan bertubuh tegap.

Yang seorang berusia kurang lebih lima puluh tahun, yang kedua lebih muda beberapa tahun.

Yang pertama bertubuh tinggi kurus dengan sepasang mata sipit sekali, sedangkan yang lebih muda bertubuh tinggi besar dan memiliki mata yang tajam dan agak liar.

Terutama sekali mata itu seperti hendak menelan bulat-bulat nyonya rumah yang cantik jelita itu.

Diam-diam Yo Han merasa tidak senang dengan sikap tosu yang lebih muda itu.

"Yo-pangcu (ketua Yo),"

Kata yang lebih tua sambil mengangkat kedua tangan depan dada.

"pinto (saya) bernama Thian-yang-cu dan ini adalah sute pinto bernama Bhok-im-cu. Pinto berdua mendapat perintah dari suhu Thian It Tosu untuk datang berkunjung ke sini dan menyampaikan salam suhu kepada Yo"pangcu sekeluarga."

Yo Han tersenyum dan membalas penghormatan itu.

"Totiang berdua, terima kasih atas kunjungan Ji-wi To-tiang (totiang berdua) dan salam dari Thian It Tosu telah kami terima dengan baik. Sampaikan juga salam hormat kami kepada beliau kalau Ji-wi pulang nanti. Dan selain menyampaikan salam, ada kepentingan lain apa pula yang membawa Ji-wi datang berkunjung ini?"

"Memang ada keperluan lain, Pangcu. Kami membawa sepucuk surat dari guru kami untuk disampaikan kepada Pangcu."

Kata Thian-yang-cu sambil mengeluarkan sesampul surat yang dia berikan kepada Yo Han.

Sementara itu, Tan Sian Li mengerutkan alisnya karena beberapa kali dia memergoki Bhok-im-cu memandang kepadanya dengan mata lahap sekali.

Ia merasakan benar betapa mata tosu itu mengaguminya dan hal ini dianggapnya sama sekali tidak pantas, apalagi tamu itu seorang tosu.

Setelah, menerima surat itu, Yo Han membacanya.

Alisnya berkerut dan pandang matanya mengandung keheranan ketika dia menyerahkan surat itu kepada isterinya untuk dibaca.

Juga Tan Sian Li merasa heran setelah membaca surat itu.

Di dalam surat yang ditulis sendiri oleh Thian It Tosu, dinyatakan bahwa Bu-tong"pai"

Mengajak Thian-li-pang untuk memberontak dan bergerak.

Waktunya sudah tiba dan untuk apa menunda dan menanti lagi, demikian isi surat itu.

Nadanya keras dan penuh kebencian kepada pemerintah Mancu.

Yang membuat suami isteri itu heran adalah bahwa biasanya Thian It Tosu bersikap lunak dan biarpun berjiwa patriot seperti mereka, namun tosu tua itu tidak pernah menyatakan keinginannya untuk memberontak sekarang.

Kekuatan pihak pemerintah masih terlampau besar sedangkan para pejuang belum bersatu, bahkan banyak golongan pendekar masih mendukung pemerintah Mancu.

Bergerak dan memberontak sekarang sukar diharapkan hasilnya dan sama dengan bunuh diri.

Itulah sebabnya mereka terheran-heran membaca surat yang keras itu, yang mengajak mereka untuk memberontak dan bergerak sekarang juga.

Setelah isterinya selesai membaca surat dan mengembalikannya kepadanya, Yo Han menyimpan surat itu dan memandang kepada kedua orang utusan itu.

"Apakah Ji-wi Totiang telah diberi"tahu akan isi surat ini?"

"Tentu saja sudah, Pangcu!"

Kata Bhok-im-cu dengan suara lantang dan mulutnya tersenyum, matanya kembali mengerling genit ke arah nyonya rumah.

"Kami berdua adalah murid-murid utama yang dipercaya oleh suhu, maka selain mengirimkan surat, kami juga diberi wewenang untuk membicarakan urusan dalam surat itu dengan Pangcu."

"Hemmm, begitukah? Nah, kalau begitu, ingin kami bertanya, dengan alasan apakah Bu-tong-pai hendak mengajak kami untuk bergerak sekarang?"

Kini Thian-yang-cu yang menjawab.

"Menurut suhu, alasannya adalah bahwa sekarang tiba saatnya yang amat baik. Kaisar Cia Cing yang sekarang ini tidak dapat disamakan dengan mendiang Kaisar Kiang Liong. Kedudukannya lemah, apalagi di mana-mana terjadi pemberontakan dan perlawanan dari suku-suku bangsa liar maupun dari bajak laut. Kalau sekarang kita menyerbu dan dapat membunuh kaisar, maka pemberontakan kita akan berhasil baik."

Yo Han menggeleng kepalanya.

"Aku sangsikan benar akan keberhasilan itu. Kalau hanya dengan menyerbu istana dan membunuh kaisar saja lalu berarti dapat memenangkan perang dan menggulingkan pemerintah Mancu, ah, hal itu hanya merupakan lamunan kosong belaka. Kita harus ingat akan ratusan ribu bala tentara pemerintah yang berada di luar istana. Mereka itu dapat menyerbu dan menghancurkan kita, kemudian dalam sehari saja mereka dapat mengangkat seorang kaisar baru. Lalu apa artinya pengorbanan kita? Tidak semudah itu, Totiang!"

Bhok-im-cu mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri.

"Apakah itu berarti bahwa Pangcu tidak menyetujui niat guru kami yang berjiwa patriot? Demi kemerdekaan bangsa, kami rela mempertaruhkan nyawa. Kalau Pangcu merasa takut, Pangcu boleh membantu di belakang saja dan biarkan kami yang maju di depan!"

Biarpun ucapan itu memanaskan hati, Yo Han tetap tersenyum dan bersikap tenang.

"Totiang, ingatlah bahwa perjuangan kita ini bukan sekadar hendak menjatuhkan seorang kaisar untuk diganti kaisar baru, melainkan mengusir penjajah dari tanah air. Untuk itu, kita harus mampu menggerakkan seluruh kekuatan para pejuang dan bukan hanya membunuh kaisarnya, melainkan mengalahkan semua kekuatan mereka dan mengusir mereka dari tanah air. Dan untuk itu, kami rasa waktunya belum tepat. Kita masih belum bersatu, dan di belakang kita rakyat belum siap."

"Kalau menanti seperti yang Pangcu katakan itu, sampai mati pun kita tidak akan pernah bergerak. Membunuh kaisar berarti mengacaukan keadaan mereka. Sekali lagi, kalau Pangcu takut...."

"Bhok-im-cu Totiang"

Bentak Yo Han memotong kata-kata orang itu.

"Mengapa aku mesti takut? Kalau Totiang tidak takut, aku pun tidak takut. Apa yang dapat Totiang lakukan, aku pun tentu dapat! Aku bukan takut, hanya menggunakan perhitungan akal, bukan hanya ingin mati konyol seperti seorang laki"laki yang tolol!"

Bhok-im-cu menjadi merah mukanya.

"Bagus! Sudah lama pinto mendengar akan kehebatan Pendekar Tangan Sakti Yo Han. Pinto hanya memiliki sedikit saja kepandaiah, akan tetapi kalau Yo-pangcu dapat menyamainya, biarlah pinto mengaku kalah!"

Bhok-im-cu sudah mencabut sebatang golok. Melihat ini, Thian-yang-cu terkejut dan hendak mencegah sutenya.

"Sute, jangan bersikap kasar!"

Celanya.

"Suheng, aku hanya ingin minta petunjuk Yo-pangcu saja. Jangan khawatir!"

Jawab Bhok-im-cu.

Di sudut ruangan itu, terpisah sedikitnya dua puluh meter dari situ, terdapat sebuah orang-orangan dari kayu.

Patung ini gunanya untuk belajar ilmu totok bagi murid-murid Thian-li-pang dan sekali Bhok-im-cu menggerakkan tangannya, goloknya sudah meluncur dengan cepat sekali dan tahu-tahu golok itu sudah menancap di ulu hati patung itu, menancap sampai setengahnya!

Melihat ini, Yo Han tersenyum.

Harus diakui bahwa tosu itu selain pandai sekali menyambit dengan golok, semacam ilmu yang disebut hui-to (golok terbang), juga memiliki tenaga yang cukup hebat sehingga dalam jarak sejauh itu goloknya mampu menancap sampai setengahnya pada patung kayu yang keras itu.

"Pinjam pedangmu!"

Kata Yo Han kepada isterinya.

Tan Sian Li yang berjuluk Si Bangau Merah ini memang selalu membawa dua batang suling yang berselaput emas.

Ia mencabut dan menyerahkan pedangnya kepada suaminya.

Yo Han menerima pedang itu dan tanpa membidik pula dia sudah menggerakkan tangan, melontarkan pedang itu ke arah patung.

Pedang meluncur bagaikan sebatang anak panah, mengeluarkan suara berdesing panjang.

"Sing.... cringgg....!"

Pedang itu dengan tepat mengenai gagang golok sehingga gagang golok terbelah dua, akan tetapi pedang masih meluncur dan tepat menancap pada patung itu, dekat sekali dengan golok dan pedang itu menembus sampai ke gagangnya!

"Maaf, Totiang, kalau aku tanpa sengaja merusak gagang golokmu.

Nah, ambillah golokmu itu!"

Dengan muka merah Bhok-im-cu meng"hampiri patung itu dan mencabut goloknya yang sudah pecah gagangnya itu, kemudian menghampiri tuan rumah dan memberi hormat.

"Kepandaian Yo-pangcu memang bukan berita kosong belaka. Pinto kagum sekali."

Sementara itu, Thian-yang-cu yang mendongkol melihat sikap sutenya, sudah memberi hormat dan berkata.

"Yo-pangcu, sekarang kami mohon diri dan maafkanlah kelakuan kami yang tidak sepatutnya."

"Selamat jalan, Ji-wi Totiang dan sampaikan pesanku kepada Thian It Tosu bahwa pada saatnya nanti kami akan menerima undangannya dan menghadiri pertemuan itu."

Dua orang tosu itu lalu meninggalkan Thian-li-pang. Setelah mereka pergi, Tan Sian Li mendengus.

"Hemmm, kenapa para tosu Bu-tong-pai sekarang menjadi begitu pongah? Sikap tosu tadi tidak mencerminkan pimpinan yang baik. Mengapa engkau berjanji mau datang memenuhi undangan Thian It Tosu?"

Suaminya menghela napas panjang.

"Biarpun sikap tosu tadi tidak patut, akan tetapi aku tetap menghormat Thian It Tosu sebagai seorang tokoh yang lebih tua. Dalam suratnya dia menyatakan untuk mengundang semua perkumpulan yang berjiwa patriot untuk hadir. Dan aku akan menghadirinya, biarpun hanya untuk mencegah terjadinya penyerbuan ke istana yang tergesa-gesa, tidak ada manfaatnya bahkan hanya akan membuat kita semua menjadi buruan pemerintah saja."

Baru setelah dua orang tosu itu pergi, muncul Han Li. Gadis ini memandang kepada ayah ibunya, dan bertanya.

"Ayah dan Ibu, siapakah dua orang tosu tadi dan apa keperluan mereka?"

"Mereka adalah murid-murid Bu-tong"pai dan mereka mengundang kami untuk menghadiri pertemuan rapat yang hendak diadakan ketua Bu-tong-pai."

Jawab Yo Han sambil menghampiri patung dan mencabut pedang isterinya dari situ.

"Eh, kenapa pedang Ibu menancap di patung itu? Apa yang terjadi, Ibu? Engkau kelihatan seperti tidak senang hati!"

Han Li kembali bertanya, kini ditujukan kepada ibunya.

"Hemmm, seorang di antara dua tosu Bu-tong-pai tadi memperlihatkan ilmu golok terbangnya menantang ayahmu sehingga terpaksa ayahmu melayaninya."

"Tosu sombong itu menjemukan!"

Kata Tan Sian Li, masih mendongkol karena Bhok-im-cu tadi memandangnya dengan sinar mata kurang ajar.

"Sudahlah, urusan itu dihabiskan sampai di sini saja!"

Kata Yo Han dan mereka bertiga meninggalkan ruangan tamu itu.

Keng Han melakukan perjalanan cepat menuju ke barat.

Dia masih membayangkan wajah Kwi Hong dan merasa kagum sekali kepada gadis itu.

Seorang gadis yang hebat, pikirnya.

Kalau saja dia tidak ingat akan kepantasan dan juga akan keselamatan gadis itu, tentu dengan senang hati dia menerima tawaran Kwi Hong yang menyatakan hendak ikut dan membantunya menuntut Dalai Lama yang telah menyuruh orang membunuh gurunya!

Pada suatu hari, tibalah dia di sebuah dusun di daerah pegunungan.

Ketika dia mendaki bukit itu, dari jauh dia sudah mendengar suara ribut-ribut di depan dan melihat orang-orang dusun berkumpul di luar dusun.

Dia mempercepat jalannya dan berlari mendaki lereng.

Setelah tiba di sana dia tertegun.

Mula-mula jantung"nya berdebar karena mengira bahwa Kwi Hong yang mengamuk itu, akan tetapi ternyata bukan, melainkan seorang gadis lain yang sama cantiknya dengan Kwi Hong.

Bahkan gadis ini agaknya memiliki gerakan ilmu pedang yang lebih hebat daripada ilmu pedang yang dikuasai Kwi Hong juga jauh lebih ganas.

Gadis itu dikeroyok oleh sedikitnya tiga puluh orang, akan tetapi berbeda dengan ketika Kwi Hong dikeroyok para murid Pek-houw Bu-koan dan yang membuat dia terpaksa turun tangan membantu, gadis ini agaknya sama sekali tidak perlu dibantu!

Setiap kelebatan pedangnya merobohkan seorang pengeroyok, bukan hanya melukai ringan, melainkan merobohkan dan menewaskannya seketika!

Melihat orang-orang dusun yang menonton bersorak setiap kali ada pengeroyok yang roboh, Keng Han mengambil kesimpulan bahwa gadis itu tentulah orang yang dianggap baik oleh penduduk dusun dan mungkin sekali pembela mereka.

Dan melihat para pengeroyok itu rata-rata orang yang kasar dan buas, dia lalu mengambil keputusan untuk menjadi penonton saja.

Karena di situ terdapat banyak penduduk dusun, agar tidak menarik perhatian, diam-diam dia melompat ke atas pohon besar yang berada dekat dengan tempat pertempuran itu.

Dari atas pohon Keng Han dapat melihat lebih jelas lagi dan kini nampak olehnya betapa hebatnya gerakan gadis itu.

Gadis itu lebih tua dari Kwi Hong, lebih matang dan dewasa.

Kwi Hong masih dapat dikatakan seorang gadis remaja.

Dan gerakan pedangnya yang amat hebat itu diimbangi pula dengan gerakan tangan kirinya yang menyambar-nyambar.

Sekali tangan kiri menyambar dan mengenai tubuhlawan, maka pengeroyok itu tentu terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali!

Dan agaknya gadis itu berkelahi dengan gembira.

Mulutnya yang amat manis itu tersenyum-senyum, se"nyum mengejek dan sepasang matanya yang bersinar-sinar seperti bintang kejora itu berseri.

Sudah dua puluh orang lebih yang malang melintang menjadi korban amukan gadis itu.

Sisanya tinggal sepuluh orang anak buah dan dua orang pimpinan mereka.

Dua orang pemimpin ini adalah dua orang pria setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menakutkan, bengis dan kasar.

Mereka menggunakan golok besar sebagai senjata.

Melihat anak buahnya banyak yang menjadi korban amukan gadis itu, dua orang itu lalu melompat ke belakang dan memberi aba-aba kepada anak buahnya.

"Pergunakan paku-paku beracun!"

Mendengar ini, agaknya para anak buah baru menyadari dan ingat akan senjata rahasiaa mereka yang ampuh.

Mereka juga berlompatan ke belakang, dan serentak mereka mengeluarkan senjata rahasia itu dan menghujankan ke arah gadis itu.

Gadis itu sama sekali tidak menjadi gugup.

Pedangnya diputar dan paku-paku itu rontok, dan ketika tangan kirinya bergerak, ia sudah menangkap beberapa batang paku beracun itu dan begitu ia menggerakkan tangan menyambitkan paku-paku itu ke arah penyerangnya, empat orang terjungkal roboh oleh senjata mereka sendiri.

Agaknya gadis itu marah diserang dengan cara curang.

Tubuhnya tiba-tiba melayang bagaikan seekor burung ke arah dua orang pimpinan itu.

Mereka terkejut dan mengangkat golok untuk menangkis.

Namun, pedang itu bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dua orang pimpinan itu telah roboh dengan dada tertusuk pedang.

Bukan main hebatnya gerakan itu.

Menyerang dengan tubuh masih di udara, sekaligus merobohkan dua orang pemimpin para pengeroyok yang melihat gerakan golok mereka juga bukan orang-orang lemah.

Keng Han bergidik.

Gadis itu lihai bukan main, akan tetapi juga kejam tak mengenal ampun.

Sisa para pengeroyok kini melarikan diri cerai berai dan gadis itu tidak mengejar mereka.

Orang-orang dusun yang tadi menjadi telah roboh dengan dada tertusuk pedang.

Bukan main hebatnya gerakan itu.

Penonton, kini serentak menjatuhkan diri berlutut ke arah gadis itu, dipimpin oleh seorang tua yang agaknya menjadi kepala dusun.

"Kami semua menghaturkan terima kasih atas pertolongan Lihiap dengan membasmi gerombolan penjahat yang selalu mengganggu kehidupan kami. Akan tetapi, bagaimana kalau kawan-kawan mereka datang henpak membalas dendam, Lihiap?"

Gadis itu mencibirkan bibirnya, membersihkan pedangnya pada pakaian para korbannya lalu menyimpan kembali pedangnya di pinggang, baru ia berkata.

"Hemmm, kalian ini memang pengecut-pengecut besar! Kalian mempunyai banyak laki-laki mengapa membiarkan diri ditekan dan diganggu gerombolan perampok itu? Kalau kalian bersatu, jumlah kalian ratusan orang, tentu akan mampu melakukan perlawanan! Mulai sekarang bersatulah dan kalau ada gerombolan perampok datang mengganggu, lawanlah. Kalau ada yang hendak membalas dendam katakan saja bahwa yang membunuh mereka adalah aku, Bi Kiam Niocu (Nona Pedang Cantik). Nah, sekarang urus dan kuburlah mereka semua ini, aku harus pergi!"

Gadis itu melangkah pergi dan kebetulan lewat di bawah pohon di mana Keng Han bersembunyi. Tiba-tiba ia ber"henti dan tersenyum-senyum..

"Engkau yang di atas pohon, tidak lekas turun?"

Keng Han terkejut akan, tetapi diam saja, pura-pura tidak mendengar.

Dia merasa malu telah ketahuan persembunyiannya, juga dia khawatir akan terjadi kesalah-pahaman kalau dia turun.

Maka dia diam saja.

"Nonamu bilang turun, engkau tidak cepat turun?"

Gadis itu kembali berseru.

Para penduduk yang mendengar ini sudah cepat memandang ke atas pohon dan kini mereka melihat seorang pemuda duduk nongkrong di atas cabang pohon, mereka memandang dengan hati tegang, tidak tahu siapa pemuda itu, kawan dari para penjahat tadi ataukah bukan.

Keng Han sudah terlanjur diam saja.

Dia merasa malu untuk melompat turun dan tiba-tiba tubuh gadis itu melayang ke atas.

Tidak nampak kapan ia men"cabut pedang akan tetapi tiba-tiba ada sinar terang menyambar ke arah cabang pohon.

"Krakkk....?"

Cabang pohon itu terpotong dan jatuh ke bawah.

Tentu saja tubuh Keng Han ikut melayang ke bawah.

Akan tetapi tubuh pemuda itu tidak terbanting karena Keng Han sudah dapat menguasai dirinya dan hinggap di atas tanah dengan ringan.

Gadis itu kini sudah berada di depannya.

Pedangnya sudah disarungkannya kembali dan sepasang matanya meman"dang dengan liar dan penuh ancaman.

"Engkau anak buah mereka?"

Tanyanya dan sikapnya siap untuk menyerang sehingga diam-diam Keng Han juga bersiap siaga untuk membela diri.

"Sama sekali bukan. Aku seorang perantau yang kebetulan lewat dan melihat pertempuran tadi aku lalu menonton dari atas pohon."

Agaknya wanita itu dapat membedakan pemuda yang gerak-geriknya lembut ini dengan para anggauta gerombolan yang kasar dan buas, maka pandang matanya menjadi lembut.

"Hemmm, engkau tidak terbanting jatuh, agaknya engkau memiliki kepandai"an ilmu silat yang boleh juga."

"Ah, tidak, aku hanya belajar satu dua jurus untuk membela diri dari tangan orang-orang kejam."

"Apa? Kau berani mengatakan aku orang kejam?"

Wanita itu membentak marah.

"Tidak, hanya memang kenyataannya engkau kejam sekali, Nona. Orang demikian banyaknya kaubunuh tanpa berkedip mata, apalagi namanya itu kalau tidak kejam?"

"Engkau melihat bagaimana mereka, perampok-perampok itu melakukan terhadap penduduk dusun? Mereka menperkosa, menyakiti, membunuh dan merampok! Sudah sepatutnya mereka kubunuh! Dan kau berani bilang aku kejam?"

"Ya, memang engkau kejam sekali."

Kata Keng Han bersikeras karena sudah tidak dapat mundur lagi.

"Setan cilik! Tanyakan kepada penduduk dusun ini! Heiii,warga dusun! Adakah di antara kalian yang menganggap aku kejam karena membunuhi para perampok ini?"

Serentak mereka semua menjawab.

"Tidaaak! Yang kejam adalah para perampok itu!"

"Nah, kau dengar itu, bocah kepala batu?"

"Aku tidak mau ikut-ikutan dengan mereka. Aku tadi melihat betapa kau membunuhi orang-orang yang tidak mampu melawanmu dan itu sungguh kejam sekali!"

"Bagus, kalau begitu hanya ada dua pilihan untukmu. Pertama, kau ambil sebatang golok mereka dan membunuh diri di depanku atau, engkau boleh membela diri dari seranganku, aku yang akan membunuhmu!"

"Nah, inilah bukti baru dari kekejamanmu, Nona. Aku yang tidak bersalah apa pun hendak kaubunuh. Bukankah itu kejam sekali namanya!"

"Tidak peduli! Engkau memanaskan perutku, engkau berani memaki aku kejam. Hayo kaupungut golok di sana itu dan membunuh diri di depanku."

"Aku mendengar bahwa bunuh diri adalah perbuatan seorang pengecut, dan aku bukan pengecut. Aku berani hidup dan tidak takut mati demi membela kebenaran."

"Aha!"

Wanita itu mencibir.

"kiranya engkau seorang pendekar pembela kebenaran?"

"Bukan hanya pendekar yang harus membela kebenaran. Biar orang awam seperti aku pun berkewajiban untuk membela kebenaran!"

"Jadi engkau tidak mau membunuh diri mentaati perintahku?"

Tanya wanita itu, nadanya mengancam. Keng Han menggeleng kepalanya.

"Tidak mau!"

Jawabnya tegas.

"Kalau begitu, engkau harus membela dirimu dari seranganku. Aku akan menyerangmu, kalau sampai sepuluh jurus aku tidak mampu membunuhmu, biarlah aku mengampuni nyawamu. Akan tetapi kalau sebelum sepuluh jurus kau mati, jangan arwahmu menyalahkan aku!"

"Engkau memang wanita kejam!"

Keng Han memaki marah dan memandang dengan mata melotot.

Dia tidak menganggap wanita itu jahat, karena wanita itu telah.

membantu para penduduk dusun dari gangguan gerombolan perampok, akan tetapi wanita itu terlalu kejam, terlalu mudah membunuh orang.

"Lihat serangan!"

Wanita itu berseru dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat sekali menampar ke arah pelipis kanan Keng Han.

Namun dengan mudah saja Keng Han menarik kepalanya ke belakang sehingga tamparan tangan kiri itu lewat dii depan hidungnya dan dia mencium bau harum ke luar dari lengan baju itu.

Agaknya wanita itu pun terkejut melihat betapa tamparannya dengan mudah dielakkan oleh pemuda itu, maka, ia pun menyusulkan serangan yang lebih hebat lagi, menotok ke arah dada Keng Han.

Kembali pemuda ini bergerak, miringkan tubuhnya dari totokan itu pun luput!

Ketika wanita itu mendesak terus dengan pukulan ketiga yang amat ganas, Keng Han menggerakkan tangan menangkis pukulan yang mengarah mukanya itu.

"Dukkk!"

Pertemuan dua tenaga sin"kang itu membuat wanita itu terdorong mundur dua langkah.

Tentu saja ia terkejut bukan main dan merasa penasaran sekali.

Pemuda itu ternyata bukan hanya mampu mengelak, bahkan tangkisannya demikian kuat membuat ia terdorong mundur!

Dengan kemarahan berkobar wanita itu menyerang terus secara bertubi-tubi, namun sampai jurus ke sembilan, serangannya selalu gagal.

Keng Han juga harus mengeluarkan kepandaian"nya karena dia mendapat kenyataan betapa dahsyat dan hebatnya serangan-serangan itu.

Hanya dengan ilmu silat sakti Hong-in Bun-hoat dia berhasil lolos dari serangkaian serangan itu.

Tiba-tiba ada sinar hitam menyambar.

Keng Han terkejut bukan main karena sinar hitam itu adalah rambut wanita itu yang bergerak secara luar biasa sekali dan tahu-tahu telah melibat muka dan lehernya!

Bau harum menusuk hidungnya dan selagi dia tertegun, tidak tahu harus berbuat apa karena untuk merenggut rambut itu dia merasa tidak tega, sebuah totokan mengenai kedua pundak secara beruntun dan dia pun tidak mampu bergerak lagi!

"Hi-hi-hik!"

Wanita itu tertawa puas.

"Ternyata pada jurus ke sepuluh engkau tidak berdaya, orang muda keras kepala! Sekarang bersiaplah untuk mampus!"

"Hemmm, aku sudah dapat menduga bahwa engkau hanyalah seorang wanita yang suka menjilat ludah sendiri dan melanggar janji sendiri!"

Kata Keng Han yang maklum bahwa keselamatan nyawanya terancam.

"Keparat!"

Bentak wanita itu.

"Engkau masih berani memaki aku sebagai penjilat ludah sendiri? Kapan aku melakukan pelanggaran janji itu?"

"Memang belum akan tetapi hampir. Tadi engkau berjanji bahwa kalau sampai sepuluh jurus engkau tidak mampu membunuhku, engkau akan mengampuni nyawaku. Sekarang, sudah lewat sepuluh jurus engkau tidak mampu membunuhku, namun engkau akan membunuh aku juga! Bukankah itu berarti menjilat ludah sendiri? Cih, tak tahu malu!"

Keng Han sengaja mengejek karena dia sudah sedikit mengenal watak wanita ini, yaitu angkuh dan tidak mau dianggap rendah budi. (Lanjut ke

Jilid 05) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Baik, aku tidak membunuhmu, akan tetapi aku tidak berjanji akan membebaskanmu. Engkau akan menjadi tawananku dan kalau kelakuanmu baik, kelak barangkali aku akan membebaskanmu!"

Setelah berkata demikian, ia menangkap lengan kanan Keng Han yang tidak dapat digerakkan itu dan menarik Keng Han pergi dari situ.

Keng Han terseret akan, tetapi wanita itu tetap menariknya dan berlari dengan cepat sekali meninggalkan dusun itu.

Para penduduk dusun hanya, menonton saja dan menganggap bahwa pemuda itu tentu mempunyai kesalahan maka pendekar wanita yang telah menolong mereka menjadi marah.

Wanita cantik itu kini mencengkeram baju di punggung Keng Han dan membawa lari Keng Han sampai mengangkatnya seperti menenteng seekor ayam saja.

Keng Han membiarkan dirinya dibawa pergi.

Dia sama sekali tidak merasa khawatir karena dia merasa yakin bahwa dengan hawa sakti yang terkandung di tubuhnya, dengan menyalurkan hawa itu dia akan mampu membebaskan dirinya sendiri dari pengaruh totokan.

Ketika wanita itu sudah menuruni bukit dan masuk sebuah hutan, Keng Han mulai menyalurkan tenaga dari tan-tian untuk membebaskan dirinya dari pengaruh totokan.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa jalan darahnya yang pokok tetap saja tidak, dapat ditembus.

Dia hanya mampu menggerakkan kedua kaki dan lengannya dengan perlahan saja dan belum dapat menggerakkan jari-jarinya!

Dia mencoba dan mencoba, akan tetapi hasilnya sama saja.

Barulah dia merasa khawatir karena kini dia merasa bahwa dia benar-benar berada dalam cengkeraman wanita kejam ini.

Tiba-tiba wanita itu berhenti.

Di depannya sudah berdiri dua orang tosu.

Mereka itu bukan lain adalah Thian-yang"cu yang tinggi kurus dan Bhok-im-cu yang tinggi besar.

Bhok-im-cu ini biarpun sudah menjadi seorang tosu, akan tetapi dia masih, tidak dapat meninggalkan wataknya di waktu muda, yaitu mata keranjang.

Kini pun dia memandang Wanita itu dengan mata liar seolah matanya menggerayangi seluruh bagian tubuh wanita cantik itu dan mulutnya berliur seperti seekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk.

Akan tetapi, suhengnya, sudah menegur wanita itu dengan suara yang lantang.

"Nona, siapakah Nona dan mengapa Nona menawan seorang muda ini?"

"Apa urusanmu, tanya-tanya? Pergilah, jangan menghadang di jalan atau aku akan marah!"

Kata gadis itu dengan suara ketus.

"Aih, Nona. Engkau begini cantik mengapa bersikap begini kasar? Sayang kecantikanmu kalau begitu!"

Kata Bhok"im-cu mencela. Gadis itu melotot.

"Apa engkau ingin mampus? Pergilah, atau aku terpaksa akan menghajar kalian!"

Gadis itu kini membentak marah.

Ia mendorong Keng Han ke belakang dan pemuda itu terhuyung lalu roboh terguling karena tubuhnya masih terasa lemas walaupun sebetulnya dia sudah mampu menggerakkan kaki tangannya dengan kaku, belum sempurna benar.

"Siancai....!"

Thian-yang-cu berseru.

"Engkau tentu seorang wanita jahat, Nona. Dan kami dari Bu-tong-pai tidak mungkin tinggal diam saja melihat orang berbuat jahat. Bebaskan pemuda ini atau jelaskan mengapa engkau menawannya, kalau engkau tidak ingin kami terpaksa turun tangan mencampuri urusanmu!"

"Tosu bau!

Kalian kira aku takut kepada kalian?"Gadis itu membentak marah dan ia pun sudah menggerakkan kaki tangannya, menyerang ke arah kedua orang tosu itu.

Thian-yang-cu dan Bhok-im-cu adalah dua orang tosu murid utama, tentu saja sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Mereka dapat menghindarkan diri dan Thian-yang-cu membalas dengan serangan tendangannya.

Gadis itu mengelak cepat dan kembali tangannya meluncur untuk melakukan totokan ke arah dada lawan.

Bhok-im-cu juga menyerang dan dia merangkul dari belakang untuk meringkus nona itu.

Serangannya ini membuat gadis itu bertambah marah karena mengira bahwa tosu itu hendak berkurang ajar.

Ia mengelak sambil membalik dan sebuah tendangan kilat menyambar ke arah perut Bhok-im-cu.

Hanya dengan melempar tubuh ke samping dan bergulingan saja Bhok-im-cu dapat meloloskan diri dari tendangan yang dahsyat itu.

Akan tetapi dia terkejut sekali dan bersikap hati-hati, maklum bahwa nona itu memang lihai bukan main.

Thian-yang-cu adalah seorang murid pertama Bu-tong-pai, tentu saja dia tidak mau bertindak sembrono terhadap gadis yang belum diketahui kesalahannya itu.

Dia hanya mencurigai gadis yang menawan seorang pemuda, belum ada bukti bahwa gadis itu seorang jahat.

Oleh karena itu, dia pun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi setelah beberapa gebrakan, dia terkejut bukan main karena gadis itu ternyata memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Terpaksa dia menambah tenaga pada tangannya dan dia sudah menyerang cepat, memukul ke arah pundak gadis itu.

Akan tetapi agaknya gadis itu sudah tahu bahwa si tosu tidak mempergunakan se"luruh tenaganya maka ia miringkan sedikit pundaknya sehingga pukulan itu mengenai pangkal lengan dan berbareng pada saat itu ia sudah meluncurkan jari tangannya menotok dada Thian-yang-cu sehingga tosu ini terpelanting roboh dan tidak mampu bangkit kembali.

Melihat ini, Bhok-im-cu terkejut dan marah.

Lenyaplah sifatnya yang main-main melihat gadis cantik.

Dia menubruk dengan marah, akan tetapi dengan gerakan memutar yang indah, gadis itu dapat mengelak dan mengirim tendangan yang me"ngenai perutnya dan Bhok-im-cu juga terpelanting roboh.

Sebetulnya kedua orang tosu ini tidak akan demikian mudah dirobohkan kalau saja mereka tidak memandang ringan lawannya.

"Hemmm, tosu-tosu bau dari Bu-tong"pai hanya memiliki sedikit kepandaian sudah berani mencampuri urusan orang? Kalian yang lancang tidak pantas dibiarkan hidup!"

Gadis itu lalu melangkah maju, siap untuk membunuh.

Akan tetapi pada saat itu Keng Han yang belum dapat menggerakkan kaki tangannya dengan baik, sudah melompat dan menerkam seperti seekor singa menerkam kambing, tahu-tahu tubuhnya sudah menimpa punggung gadis itu, kedua lengannya mendekap dan kedua kakinya juga mengait.Gadis itu terkejut sekali, ia meronta untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak mampu karena dekapan Keng Han kuat bukan main.

"Hei, bocah gila! Lepaskan aku, lepaskan....!"

Gadis itu berteriak-teriak.

"Tidak, engkau tidak boleh membunuh orang!"

Kata Keng Han.

Dengan gemas ia meronta pula, mencoba melepaskan dekapan itu, bahkan menampar dan menyikut.

Akan tetapi tamparan dan sikunya menghantam tubuh yang keras dan kenyal seperti karet sehingga tamparan itu membalik.

Ia terkejut bukan main.

"Anak setan! Tidak tahu malu kau! Hayo lepaskan....!"

Gadis itu menjerit"jerit.

Entah mengapa, merasa betapa tubuhnya didekap lengan dan tubuh yang tegap dari seorang pemuda, mendadak saja ia merasa seluruh tubuhnya lemas, jantungnya berdebar keras dan keringat dingin membasahi lehernya.

Ia tidak peduli lagi melihat kedua tosu itu merangkak dan pergi dengan cepat dari situ.

"Berjanji dulu bahwa engkau tidak akan membunuh orang, baru aku mau melepaskanmu."

Keng Han yang kini juga menyadari bahwa perbuatannya itu sungguh tidak pantas, mendekap tubuh seorang gadis seperti itu.

Baru sekarang terasa olehnya betapa hangat dan lunak tubuh itu berada dalam dekapannya!

"Aku berjanji....!"

Kata gadis itu hampir menangis.

Keng Han melepaskannya dan begitu dilepaskan, sebuah tamparan mengenai pipi Keng Han, membuat dia terpelanting roboh.

Akan tetapi dia bangkit kembali dan berdiri memandang gadis itu sambil meraba pipinya dan tersenyum.

"Engkau.... engkau sudah mampu bergerak? Bagaimana mungkin ini?"

"Melihat engkau hendak membunuh orang, agaknya mendatangkan tenaga bagiku untuk menggerakkan tubuh. Nona, mengapa engkau begitu kejam? Sedikit-sedikit membunuh orang, menganggap nyawa orang seperti nyawa nyamuk saja!"

"Huh, kau tahu apa? Orang-orang jahat itu, kalau tidak dibunuh merekalah yang akan menyusahkan atau membunuh kita. Dari pada dibunuh orang, lebih baik membunuh lebih dulu, bukan?"

Gadis itu lalu mendekati Keng Han dan memeriksa tangannya.

Jari-jari tangan Keng Han dengan kaku terlihat jelas bahwa dia masih belum dapat bergerak leluasa.

"Jalan darahmu baru setengahnya terbuka."

Kata gadis itu.

"Biarlah aku membukanya sama sekali!"

Gadis itu lalu menggerakkan jari-jari tangannya dan kini terbebaslah seluruh jalan darah di tubuh Keng Han.

Akan tetapi di luar dugaan Keng Han, tiba-tiba telapak tangan kiri gadis itu menghantam dadanya.

"Plakkk....!"

Tidak terlalu nyeri, akan tetapi dia merasa betapa ada hawa panas memasuki dadanya. Gadis itu tertawa.

"Hemmm, kenapa engkau memukul dadaku lalu tertawa?"

Tanya Keng Han penasaran, tidak marah karena tamparan tadi tidak mengandung tenaga sakti sehingga seperti main-main saja.

"Jangan kira bahwa setelah aku membebaskan totokanmu, engkau akan dapat pergi dan bebas dariku. Engkau mau atau tidak mau harus menemani aku."

"Hemmm, kenapa begitu? Kalau aku tidak mau dan pergi, engkau mau apa?"

"Tidak mau apa-apa, hanya melihat engkau mati dalam waktu sebulan dan tidak ada obat di dunia ini yang mampu menyembuhkanmu. Aku telah membebaskan totokanmu, akan tetapi aku telah memukulmu dengan tok-ciang (tangan beracun). Kalau tidak percaya, lihatlah dadamu!"

Keng Han penasaran dan membuka bajunya.

Di sana, di dadanya sebelah kiri, nampak ada tanda lima telapak jari merah, jelas sekali.

Diam-diam Keng Han mentertawakan gadis itu.

Pukulan beracun tidak akan mencelakainya, dan sekali mengerahkan tenaga dia akan mampu melenyapkan tanda jari merah itu.

Tubuhnya sudah kebal racun berkat makan daging ular merah dan gigitan bina"tang itu.

Akan tetapi dia diam saja dan memakai kembali bajunya.

"Nona, kenapa engkau hendak memaksaku mengikutimu?"

Tanyanya.

"Engkau sudah berani memaki, mengatakan aku kejam, bahkan tadi engkau berani merangkulku. Hemmm....untuk itu saja sudah cukup alasan bagiku untuk membunuhmu. Akan tetapi tidak, aku tidak akan membunuhmu. Terlampau enak untukmu. Engkau harus ikut aku, menyaksikan, kekejamanku seperti yang kaukatakan itu, dan engkau akan mati perlahan-lahan. Racun di tubuhmu itu sebulan lagi baru akan bekerja. Dan melihat engkau masih muda, biar aku melihat kelakuanmu selama sebulan ini. Kalau kelakuanmu selama ini baik saja, aku akan mengobatimu, kalau sebaliknya, engkau akan mati tersiksa."

Kejamnya!

Maki Keng Han dalam hatinya.

Dia tahu gadis ini seorang yang berilmu tinggi, dan tidak jahat, hanya kejam dan tangannya ringan sekali membunuh orang, biarpun orang yang dibunuhnya itu jahat atau bersalah kepadanya.

Dua orang tosu Bu-tong-pai itu pun tentu sudah dibunuhnya hanya karena mencampuri urusannya dan hendak membebaskannya.

Dan dia merasa sayang sekali.

Gadis ini cantik jelita, dan tidak jahat.

Mungkin kalau melakukan perjalanan bersamanya selama sebulan, dia akan dapat membujuknya dan memberinya nasihat sehingga tidak kejam lagi.

"Akan tetapi aku mempunyai urusan penting sekali. Aku harus pergi ke Tibet!"

Kata Keng Han.

"Hemmm, ke Tibet atau ke neraka, apa bedanya bagiku? Aku tidak mempunyai tujuan tertentu, dan tidak mengapa bagiku kalau harus pergi ke Tibet sekalipun. Akan tetapi mau apa engkau pergi ke Tibet? Apakah ingin menjadi hwesio dan mempelajari agama?"

"Aku hendak mencari dan bertemu dengan Dalai Lama!"

Gadis itu tertegun dan memandang kepadanya dengan sinar matariya yang tajam. Mata yang indah itu mengamatinya penuh selidik.

"Agaknya banyak keanehan terdapat pada diri pemuda ini. Ilmu silatnya cukup baik, dapat menghindarkan diri dari sembilan jurus serangannya, bahkan dapat hampir membebaskan diri dari totokannya. Dan kini hendak Mencari dan bertemu dengan Dalai Lama?"

Tanyanya dengan hati tertarik.

"Mau apa? Dia seorang yang sewenang-wenang. Aku akan menuntutnya, bertanya mengapa dia mengutus orang-orang untuk membunuh guruku!"

Tiba-tiba gadis itu tertawa.

Tawanya lepas bebas, tidak ditutup-tutup!

seperti gadis lain akan tetapi ketika ia tertawa bebas itu, wajahnya nampak lucu dan cerah, nampak semakin manis seperti wajah seorang kanak-kanak.

Lenyaplah garis-garis kekerasan dan sifat dingin dari wajahnya yang menjadi anggun dan menyenangkan sekali, sehingga Keng Hong terpesona.

Gadis ini sesungguhnya canttk bukan main kalau saja mau melenyapkan kekerasan hatinya.

"Seharusnya engkau lebih sering tertawa, Enci!"

Katanya tiba-tiba, menyebut enci karena setelah gadis itu tertawa, dia merasa hubungannya dekat dengannya.

"Ehhh?"

Gadis itu dua kali terkejut. Oleh ucapan itu sendiri dan oleh sebutan enci.

"Mengapa?"

"Kalau tertawa, wajahmu indah sekali!"

Tiba-tiba wajah itu menjadi dingin kembali, tangan itu sudah diangkat hendak menampar, akan tetapi ditahannya.

"Apa kau ingin ditampar?"

"Kenapa ditampar? Apa salahku?"

"Kau bilang wajahku indah sekali."

"Habis, harus bilang apa? Apakah aku harus mengatakan bahwa wajahmu buruk sekali, padahal kenyataannya memang indah kalau engkau tertawa?"

Gadis itu menghela napas panjang, agaknya merasa kewalahan untuk berbantah dengan Keng Han.

"Siapa sih namamu?"

"Namaku Keng Han, Si Keng Han."

Jawabnya, menyembunyikan nama marganya yang dia tahu hanya akan, menimbulkan persoalan baru.

"Dan engkau siapa?"

Kembali helaan napas panjang.

"Orang menyebut aku Bi-kiam Nio-cu. Aku hampir lupa akan nama sendiri, kalau tidak salah Siang Bi Kiok. Akan tetapi engkau pun harus menyebut Bi-kiam Nio-cu kepadaku. Berapa usiamu?"

"Usiaku dua puluh tahun."

"Biarpun engkau lebih muda dariku, jangan menyebut enci padaku. Sebut saja Bi-kiam Nio-cu. Eh, gurumu yang dibunuh oleh utusan Dalai Lama itu, siapa namanya?"

"Dia pun seorang bekas Lama, namanya Gosang Lama."

"Aku tidak pernah mendengar nama itu. Akan tetapi, sungguh keinginanmu untuk menuntut Dalai Lama ini sangat aneh. Orang dengan kepandaian seperti engkau ini akan menuntut Dalai Lama? Engkau mencari mati!"

"Aku tidak takut. Budi seorang guru amat besar, pantas dibela dengan taruhan nyawa."

"Hemmm, engkau seorang pemuda yang aneh sekali. Mungkin karena inilah aku tidak membunuhmu. Nah, sekarang carilah binatang buruan untukku. Perutku terasa lapar sekali, Keng Han."

"Engkau tidak takut kalau aku melarikan diri, Niocu?"

"Mengapa takut? Engkau tidak akan melarikan diri, kalau engkau tidak ingin mati keracunan sebulan kemudian. Obat penawarnya berada padaku. Nyawamu berada di tanganku."

"Hemmm, baiklah, Niocu. Aku pun ingin melakukan perjalanan bersamamu. Siapa tahu dalam sebulan ini aku dapat membujukmu agar jangan bertindak kejam lagi."

Setelah berkata demikian, Keng Han lalu memasuki hutan itu dan mencari binatang buruan.

Setelah berada seorang diri, dia mengerahkan tenaga dari dalam tan-tian menuju ke dadanya dan dalam waktu sebentar saja dia sudah mengusir racun itu dari tubuhnya.

Ketika dia membuka bajunya, ternyata tanda telapak jari merah itu telah lenyap.

Dia tersenyum dan merasa heran kepada diri sendiri.

Kenapa dia tidak lari saja meninggalkan gadis itu?

Atau melawannya?

Kalau dia berhati-hati, belum tentu dia kalah.

Wanita itu hanya memiliki kelebihan dalam ilmu totok yang memang hebat.

Bahkan tenaga sinkangnya tidak mampu menahan totokan wanita itu!

Juga dia merasa heran mengapa wanita itu mau saja mengikutinya pergi ke Tibet!

Tiba-tiba dia melihat seekor kijang muda muncul dari semak belukar.

Cepat dia menunduk dan bersembunyi di balik semak-semak, untung baginya bahwa angin datang dari arah kijang itu.

Kalau sebaliknya, tentu kijang itu tahu bahwa ada manusia di dekatnya dan kalau ia sudah melarikan diri, bagaimana mungkin dapat mengejarnya?

Sambil bertiarap itu, tangannya mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan setelah mengintai dan membidik dengan tepat, tiba-tiba dia bangkit dan melontarkan batu itu ke arah kepala kijang.

"Wuuuttttt.... dakkk!"

Tepat sekali batu itu menghantam kepala bagian belakang kijang itu.

Binatang itu berkuik satu kali lalu roboh dan mati dengan kepala retak.

Dengan girang Keng Han lalu mengambil bangkai binatang itu dan dipanggulnya, dibawa kembali ke tempat dimana tadi Bi-kiam Nio-cu menunggu.

Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu menanti kembalinya Keng Han.

Sambil duduk di bawah sebatang pohon, di atas sebuah batu datar.

Hawa udara amat panas, akan tetapi di bawah pohon itu teduh dan angin yang semilir membuatnya mengantuk.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara berdetak di belakangnya.

Ketika ia menengok, beberapa helai jala menyambar ke arah tubuhnya dari atas.

Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi terlalu banyak jala yang menyerangnya sehingga tanpa dapat dielakkannya lagi, tubuhnya telah terbungkus dua helai jala hitam.

Ia meronta dan mencoba untuk mencabut pedangnya, akan tetapi hal ini sukar dilakukan karena tali jala-jala itu ditarik dan kedua tangannya terbalut dan seperti teringkus jala.

Dan jala itu agaknya ter"buat dari tali yang amat kuat.

Ia sudah diringkus dan ketika ia memandang, dari celah-celah jala, ia melihat belasan orang laki-laki berada di situ.

Beberapa orang memegang jala yang meringkusnya dan ketika mereka itu maju mengikatnya bersama jala, ia pun tidak berdaya.

"Jahanam pengecut.Lepaskan aku dan mari kita bertanding kalau memang kalian gagah!"

Ia mendamprat akan tetapi sia-sia belaka karena orang-orang itu hanya tertawa.

Seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan yang memegang tongkat besar, agaknya menjadi pemimpin mereka, memberi aba-aba dan mereka semua berloncatan pergi sambil menggotong Bi-kiam Nio-cu seperti mengotong seekor binatang buruan yang terjerat.

Wanita itu memaki-maki, menantang-nantang akan tetapi tidak ada yang mempedulikan dan ternyata mereka itu rata-rata dapat berlari cepat, didahului oleh si rakasasa pemegang tongkat besar itu.

Orang-orang itu berpakaian sederhana sekali, dari kulit binatang dan melihat wajah mereka yang brewokan mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup di dalam hutan.

Mereka membawa Bi-kiam Nio-cu ke sebuah bukit yang penuh dengan gua-gua batu yang besar.

Setelah tiba di depan gua-gua itu, sang pemimpin lalu membawa tawanan itu dengan sebelah tangan, ditentengnya memasuki sebuah di antara gua-gua terbesar.

Bi-kiam Nio-cu kini diam saja.

Ia tidak takut, melainkan mengumpulkan tenaga, siap untuk memberontak dan menyerang kalau dirinya dibebaskan dari ikatan tali dan jala itu.

Akan tetapi, raksasa yang membawanya itu melemparkannya di atas sebuah dipan kayu yang kasar, kemudian dia mengambil guci dan cawan dan tak lama kemudian dia sudah minum arak seorang diri.

sambil terkekeh-kekeh senang.

Ketika tiba di tempat tadi, Keng Han tidak melihat Bi-kiam Nio-cu.

"Niocu....! Dia memanggil beberapa kali akan tetapi. tidak ada jawabah. Dia lalu memeriksa tempat itu dan melihat bekas tapak kaki banyak orang di situ. Agaknya Nio-cu didatangi banyak orang dan terjadi pergulatan, pikirnya, melihat banyak semak dan pohon kecil yang rusak. Celaka, jangan-jangan Nio-cu ditangkap gerombolan penjahat, pikirnya. Biarpun pikiran ini agak aneh mengingat bahwa Nio-cu seorang wanita yang tidak mudah ditangkap begitu saja, namun Keng Han merasa khawatir. Dia lalu mencari dan mengikuti jejak belasan pasang kaki itu yang menuju ke bukit di luar hutan. Dia terus menelusuri jejak-jejak kaki itu dan mendaki bukit.

"Heh-heh-heh, engkau sungguh cantik. Pantas menjadi isteriku dan menemani aku di sini."

Akhirnya raksasa muka hitam itu .

berkata sambil menghentikan minumnya dan menghampiri Bi-kiam Nio"cu yang masih meringkus terikat di atas dipan.

Wanita ini dapat berusaha untuk membalik dan telentang sehingga ia dapat melihat keadaan di kamar itu.

Sebuah kamar gua yang lebar.

Terdapat tiga buah bangku sebuah meja dan sebuah dipan kayu itu.

Sederhana sekali.

Ketika laki-laki tinggi besar itu menghampi mau tidak mau ia merinding juga.

Akan tetapi ia tetap tenang.

Kalau saja ia membuka ikatan dan jala ini, pikirnya.

Akan tetapi raksasa itu mengangkatnya, masih dalam buntalan jala dan memangkunya.

Meraba-raba lehernya yang putih mulus, meraba-raba pipinya.

"Cuh....!!"

Bi-kiam Nio-cu yang tidak dapat menahan kemarahannya meludahi muka pria itu. Raksasa muka hitam itu tidak marah bahkan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, engkau kuda betina yang liar! Bagus! Aku senang dengan yang liar!"

Kini tangannya merogoh di antara celah-celah jala dan mengambil pedang dari pinggang Bi-klam Nio-cu! Dia me"mandang pedang itu, mengangguk-angguk.

"Pedang yang baik, tidak pantas seorang wanita secantik engkau bermain-main dengan senjata tajam seperti ini!"

Dia melontarkan pedang itu dan "ceppp!!"

Pedang menancap di atas meja.

Gagangnya bergoyang-goyang ketika pedang itu menancap sampai setengahnya.

Diam-diam Bi-kiam Nio-cu memperhatikan dan mengertilah ia bahwa laki-laki kasar ini memiliki kepandaian, setidaknya memiliki tenaga yang kuat.

Maka ia menjadi semakin waspada.

Biarlah pedangnya diambil, ia tidak takut.

Masih ada tangannya, kakinya, bahkan rambutnya untuk membela diri.

"Engkau cantik, engkau liar, engkau menarik!"

Raksasa itu mulai menimangnya dan aneh cara menimangnya.

Dia melempar-lemparkan tubuh Bi-kiam Nio"cu yang masih terikat itu ke atas, diterimanya dan dilontarkannya kembali.

Dia mempermainkan tubuh wanita itu seperti sebuah bola saja.

Demikian ringan dia melempar-lemparkan tubuh itu.

Bi-kiam Nio-cu bergidik ngeri.

Laki-laki ini berbahaya, pikirnya, dan celakalah aku kalau sampai tidak dapat lolos dari tangannya.

Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan di luar gua.

Ada orang-orang berkelahi di luar gua itu.

Kepala gerombolan itu lalu melempar tubuh Nio-cu ke atas pembaringan pula dan dia bergegas keluar, membawa tongkatnya yang besar.

Setelah ditinggal seorang diri, Nio"cu kembali berusaha untuk membebaskan dirinya dan sekali ini ia berhasil.

Ternyata ketika raksasa tadi melambung-lambungkannya ke atas, tali pengikat tubuhnya mengendur sehingga ia mampu membebaskan kedua lengannya.

Ia mencoba untuk membikin putus tali jala itu, akan tetapi usahanya gagal.

Maka ia lalu berlompatan sambil masih diselubungi jala, mendekati jala di mana pedangnya diletakkan oleh raksasa tadi.

Dan dengan pedang di tangannya, ia mampu membebaskan diri dan membikin putus tali-tali jala.

Sebentar saja ia sudah bebas!

Dengan kemarahan meluap-luap, ia lalu menerjang keluar dan melihat betapa di luar, Keng Han sedang bertanding melawan kepala gerombolan itu dan dikeroyok banyak anak buahnya.

Melihat ini, hatinya merasa girang bukan main.

Keng Han berusaha menolongnya dan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri melawan raksasa yang tangguh itu!

"Keng Han, serahkan anjing besar itu kepadaku!"

Bentaknya dengan suara melengking dan ia sudah menerjang ke depan memutar pedangnya menyerang raksasa yang memegang tongkat itu.

Keng Han girang melihat Bi-kiam Nio-cu sela"mat dan dia meloncat mundur sambil berseru.

"Nio-cu, mari kita lari saja!"

"Tidak, aku harus membunuh anjing ini dan semua pengikutnya!"

Bi-kiam Nio"cu membantah dan menyerang terus.

Serangannya amatlah hebatnya sehingga si tinggi besar itu terdesak mundur.

Kepala gerombolan itu terkejut bukan main melihat gadis tawanannya bebas, maka dia berteriak.

"Pergunakan jala! Tangkap merekal!"

"Awas jala mereka amat lihai, Keng Han!"

Seru Bi-kiam Nio-cu sambil memutar pedangnya lebih cepat lagi, mendesak si kepala gerombolan dengan amat hebatnya sehingga raksasa itu terpaksa harus memutar tongkatnya melindungi diri.

Sementara itu, beberapa orang anak buahnya sudah mencoba membantu ketua mereka dengan menggunakan jala.

Akan tetapi sekali ini, Bi-kiam Nio-cu sudah siap dengan pedangnya.

Begitu jala menyambar, ia melompat dan menggerakkan pedangnya ke belakang dan terdengar jerit mengerikan dan si pemegang jala roboh mandi darah.

Dalam waktu sebentar saja, tiga orang pemegang jala sudah tewas di tangan Bi-kiam Nio-cu!

Sementara itu, Keng Han juga dikeroyok banyak orang.

Dia bergerak dengan cepat, merobohkan para pengeroyoknya hanya, dengan dorongan kedua tangannya, dan ketika dirinya tertutup jala, dengan mengerahkan tenaga jala itu pecah dan talinya putus-putus!

Gegerlah anak buah gerombolan itu dan mereka seperti puluhan ekor semut mengeroyok dua ekor jangkerik.

Gerakan Bi-kiam Nio-cu amatlah berbahaya.

Sebetulnya tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian si raksasa muka hitam.

Tadi ia tertangkap karena tidak menyangka dan tidak bersiap sehingga dapat tertangkap jala musuh.

Sekarang, dengan pedang di tangan mana mungkin ia tertangkap jala?

Bahkan para pemegang jala itu semua tewas di tangannya dan kini wanita itu mendesak lawannya dengan hebat.

Si tinggi besar muka hitam menjadi jerih.

Melihat anak buahnya banyak yang tewas dan menghadapi permainan pedang yaog demikian tangguh, apalagi melihat betapa pemuda itu pun tidak dapat ditangkap anak buahnya, nyalinya sudah terbang melayang dan dia menyerang hebat untuk mencari kesempatan melarikan diri.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan tongkatnya meluncur dengan cepat ke arah dada Bi-kiam Nio-cu.

Ketika gadis ini mengelak ke kiri, tongkat itu menghantam dari kanan ke kiri dengan kecepatan kilat.

Karena serangan itu berbahaya sekali untuk ditangkis mengingat tenaga rakasa itu besar sekali, Bi-kiam Nio"cu melompat ke belakang dengan sigapnya.

Kesempatan inilah yang dinantikan kepala gerombolan itu.

Begitu lawannya melompat ke belakang, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri tunggang-langgang!

"Jahanam hendak lari ke mana kau?"

Bi-kiam Nio-cu mengejar dan melontarkan pedangnya.

inilah satu di antara kepandaiannya yang hebat.

Ia dapat melontarkan pedang itu dengan cepat dan pedangnya meluncur bagaikan anak panah saja menuju sasarannya, yaitu punggung lebar kepala gerombolan itu.

"Singgggg.... cappp!"

Pedang itu tepat mengenai punggung dan menembus ke dada.

Kepala gerombolan itu terbelalak, mengeluh panjang lalu roboh menelungkup, tewas seketika.

Bi-kiam Nio-cu sudah berada di dekatnya dan mencabut pedang itu, lalu membersihkannya pada pakaian si raksasa muka hitam.

Kemudian ia pun mulai mengamuk!

Anak buah gerombolan yang sedang mengeroyok Keng Han itu diamuknya dan pedangnya merobohkan beberapa orang lagi.

Sisa anak buah gerombolan cepat melarikan diri melihat ketua mereka telah tewas.

Bi-kiam Nio"cu hendak mengejar akan tetapi ditahan oleh Keng Han.

"Musuh yang sudah lari tidak perlu dikejar lagi, Nio-cu!"

Katanya. Bi-kiam Nio-cu menyimpan pedangnya dan dengan puas ia memandang kepada belasan orang yang sudah menggeletak tanpa nyawa itu.

"Hemmm, sayang masih ada yang mampu meloloskan diri. Seharusnya mereka itu dibasmi habis!"

"Sudahlah, Nio-cu. Kalau mereka semua tewas, tentu kita juga yang repot, harus mengubur mereka. Biarlah yang masih hidup nanti mengubur mayat kawan-kawannya. Sesungguhnya, apa yang telah terjadl Nio-cu?"

"Mereka bertindak curang dan berhasil menangkap aku dengan jala, lalu mereka membawaku ke sini. Ketika tadi engkau menyerang mereka di luar gua, kepala perampok itu meninggalkan aku dan aku sempat meloloskan diri lalu mengamuk. Dan engkau bagaimana engkau bisa menyusul aku ke sini?"

"Aku sudah mendapatkan binatang buruan, seekor kijang yang muda, dan ketika aku kembali ke tempat kita tadi, engkau sudah tidak ada. Aku melihat tapak-tapak kaki yang banyak sekali, lalu aku mengikuti tapak kaki itu ke sini. Ketika mereka melihatku, mereka lalu mengepung dan mengeroyokku sehingga terjadi perkelahian. Mari Nio-cu, kita kembali ke sana. Bukankah perutmu su"dah lapar? Akan tetapi, sebaiknya kalau aku kubur dulu mayat-mayat mereka"

"Bodoh! Untuk apa mengubur mereka? Biar teman-teman mereka yang mengurus mayat mereka. Mari kita pergi!"

Bi-kiam Nio-cu mendengus marah dan Keng Han mengikutinya.

Dia pun percaya bahwa sisa anak buah gerombolan tentu akan kembali ke situ untuk mengubur teman"teman mereka yang tewas.

Mereka lalu cepat pergi meninggalkan bukit itu dan memasuki hutan tadi.

Keng Han meng"ambil bangkai kijang dan dia simpan di atas sebatang pohon besar dan mulai mengambil dagingnya untuk dipanggang.

Bi-kiam Nio-cu memandang dengan sinar mata termenung kepada Keng Han yang sedang membakar daging kijang.

Ia sudah menaruh bumbu pada daging itu.

Kalau melakukan perjalanan, wanita ini selalu membawa bekal bumbu, seperti garam, merica dan lain-lain untuk penyedap makanan.

Ia merasa heran sekali.

Mengapa hatinya begini tertarik kepada Keng Han dan ia tidak menghendaki pemuda itu jauh darinya?

Selama ini, sampai usianya dua puluh dua tahun, ia selalu merasa tidak suka kepada laki-laki.

Sejak ia belajar ilmu silat dari gurunya, seorang pendeta wanita yang hidup mengasingkan diri, gurunya selalu menekankan betapa jahatnya kaum pria.

Karena ini, sejak kecil sudah tumbuh semacam perasaan tidak suka kepada pria.

Apalagi setelah ia mulai remaja ia melihat betapa mata laki-laki seperti mata elang saja menatapnya, seperti mata elang melihat anak ayam, ingin menerkam.

Semakin tidak suka hatinya terhadap pria, makin dewasa ia makin muak.

Entah berapa banyaknya pria yang sudah dibunuhnya, hanya karena berani memandangnya terlalu lama, menegurnya secara kurang ajar atau hendak menggodanya.

Akan tetapi kini ia merasa heran sekali.

Mengapa ia begini tertarik kepada Keng Han yang bahkan lebih muda darinya?

Apalagi kalau ia membayangkan ketika pemuda itu mendekapnya untuk menghalanginya melakukan pembunuhan.

Seolah masih terasa dekapan yang kuat dan hangat itu!

Dan jantungnya berdebar aneh.

Daging kijang panggang itu sudah matang dan mereka lalu makan daging yang, lunak dan sedap itu.

Bi-kiam Nio"cu mengeluarkan seguci arak dan mereka makan minum dengan lahapnya karena memang perut mereka terasa lapar.

Akan tetapi diam-diam harus diakui oleh Nio"cu bahwa belum pernah ia makan daging panggang selezat ini!

Setelah selesai makan, Bi-kiam Nio"cu berkata.

"Selama perjalanan kita ke Tibet, engkau harus selalu mentaati omonganku, Keng Han. Aku jauh lebih berpengalaman darimu, kalau engkau tidak mendengar omonganku, bisa-bisa engkau akan celaka."

"Tidak, Nio-cu. Aku tidak akan nelakukan perjalanan bersamamu. Aku sekarang juga akan memisahkan diri dari"mu dan aku akan melakukan perjalanan ke Tibet seorang diri saja "` "Ehhh, kenapa begitu?"

"Karena engkau kejam sekali. Kembali engkau membunuhi banyak orang dan aku merasa tidak senang sekali melihat engkau begitu kejam."

"Engkau tidak boleh meninggalkan aku. Kalau engkau meninggalkan aku, dalam beberapa hari engkau akan mati keracunan. Ingat, tubuhmu sudah kupukul dengan Tok-ciang, dan hanya aku yang dapat memberi obat pemunahnya."

"Biarlah! Lebih baik mati keracunan daripada menjadi saksi kekejamanmu."

"Demiklan besarkah perasaan bencimu kepadaku, Keng Han?"

Dalam ucapannya itu terkandung kesedihan yang mengherankan hati Nio-cu sendiri.

"Aku tidak membencimu, Nio-cu. Kalau tadinya aku suka melakukan perjalanan denganmu, tadinya aku meng"harap akan dapat menasihatimu agar tidak terlalu kejam. Akan tetapi engkau tetap kejam sekali, maka aku tidak tahan lagi untuk melakukan perjalanan denganmu. Nah sekarang aku harus meninggalkanmu, Niocu. Selamat tinggal!"

Keng Han mengemasi buntalan pakaiannya sendiri, memanggulnya lalu melangkah pergi dari situ.

Melihat kenekatan pemuda itu, Nio-cu cepat bangkit berdiri dan berseru.

"Nanti dulu, Keng Han! Engkau akan mati dalam beberapa hari lagi. Biarlah kusembuhkan dulu lukamu karena pukulan"ku yang beracun itu!"

Nio-cu menghampiri Keng Han dan menyuruhnya membuka bajunya.

Ketika melihat ke arah dada kiri pemuda itu, ia terbelalak dan ternganga keheranan.

Kulit dada itu putih bersih, sama sekali tidak ada tanda telapak tangan merah seperti yang seharusnya ada.

"Aih....aneh sekali....!"

Keng Han pura-pura' bertanya.

"Tanda tapak tangan merah itu telah lenyap! ini tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin? Kenyataannya telah lenyap dan berarti aku telah sembuh. Tidak perlu lagi engkau mengobatiku."

Kata Keng Han sambil menutupkan kembali bajunya.

"Hemmm, kau mempermainkan aku! Sambutlah serangan ini!"

Wanita, itu lalu menyerang dengan hebatnya! "Ehhh, apa yang kau lakukan ini?"

Keng Han melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan itu.

Akan tetapi wanita itu mengejarnya dan terus menyerang kalang-kabut dengan gencar sekali.

Keng Han terpaksa mainkan ilmu silat Hong-In Bun-hoat untuk menghindarkan diri.

Ternyata ilmu silatnya ini hebat sekali.

Dia seolah tidak bersilat, hanya menuliskan huruf-huruf di udara dan semua serangan Bi-kiam Nio-cu dapat dielakkan atau ditangkis!

Tentu saja wanita itu menjadi penasaran sekali.

Ia mengeluarkan ilmu totokannya yang ampuh, yaitu Tok-ciang.

Ilmu ini bukan hanya menotok, akan tetapi juga menampar dan kedua tangan itu berubah merah!

Dan biarpun Keng Han mampu mengelak sampai puluhan jurus, suatu ketika dia tidak dapat menghindar"kan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya membuat tubuhnya lemas dan tidak berdaya!

Bi-kiam Nio-cu menambahkan beberapa totokan pada kedua pundak dan dadanya sehingga tubuh Keng Han benar-benar tidak mampu bergerak lagi.

Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa kalau dia mengerahkan tenaga dari pusar"nya, totokan itu pasti akan dapat di"punahkannya dalam waktu tidak terlalu lama.

Dia hanya memandang dengan mata melotot kepada wanita itu.

"Wanita kejam! Apakah engkau juga hendak membunuhku? Lakukanlah, aku tidak takut mati!".

"Keng Han, mengapa engkau begini keras kepala? Apakah tidak ada manusia di dunia ini yang kau taati?"

"Tentu saja ada. Yang kutaati hanyalah ayah bundaku dan juga guruku. Kalau orang lain, hanya yang benar yang akan kutaati, yang tidak benar tidak!"

Wanita itu tersenyum.

"Keng Han, aku melihat ilmu silatmu hebat sekali. Akan tetapi buktinya engkau masih kalah olehku. Maukah engkau menjadi muridku?"

"Hemmm, untuk apa menjadi muridmu? Untuk belajar membunuh? Ilmu silatku sudah cukup untuk menjaga diri."

"Akan tetapi engkau tidak berdaya menghadapi ilmu totokanku. Bagaimana kalau engkau mempelajari Ilmu menotok dariku? Ilmuku menotok itu disebut Tok-ciang Tiam-hiat-hoat. Kalau engkau memiliki ilmu ini tentu tidak mudah engkau dikalahkan orang."

Keng Han tertarik sekali.

Harus diakui bahwa ilmu totokan dari wanita itu lihai bukan main.

Dua kali sudah dia roboh karena totokan itu.

Dan kalau totokan lain dapat ditolak dengan sin"kangnya, ternyata totokan ini tidak.

Baru setelah lama mengerahkan tenaga sin"kang, dia mampu membebaskan diri.

Padahal totokan lain dapat ditolak oleh kekebalan tubuhnya karena sinkang dalam tubuhnya.

"Kalau engkau suka mengajarkan ilmu totokan itu kepadaku, tentu saja aku suka mempelajarinya."

Akhirnya setelah berpikir-pikir sejenak, dia menjawab.

"Bagus, aku suka mengajarkannya untukmu. Engkau tadi telah berusaha menolongku, sudah sepatutnya kalau aku membalas budimu. Akan tetapi untuk mengajarkan ilmu itu, engkau harus mengangkatku sebagai guru. Ini peraturan perguruanku, dan aku tidak mau melanggar peraturan. Nah, kubebaskan totokan pada tubuhmu agar engkau dapat melakukan upacara pengangkatan guru."

Secepat kilat tangan wanita itu ber"gerak menotok beberapa kali ke tubuh Keng Han dan segera pemuda itu merasa betapa tubuhnya dapat bergerak kembali seperti biasa.

Karena dia memang ingin sekali mempelajari ilmu itu, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi-kiam Nio-cu dan memberi hormat sambil menyebut "subo" (ibu guru).

Bi-kiam Nio-cu tertawa terkekeh, girang bukan main.

"Bangkitlah Keng Han. Mulai saat ini, engkau adalah muridku dan aku adalah gurumu, bukan?"

"Benar, Subo. Dan apakah Subo akan mengajarkan Tok-cian Tiam-hiat-hoat itu kepada teecu (murid)?"

"Jangan tergesa-gesa, Keng Han. Mulai sekarang engkau harus mentaati segala perintahku, mengerti?"

"Akan tetapi...."

"Akan tetapi apa? Ingat, aku adalah gurumu dan bukankah engkau sudah mengatakan bahwa engkau hanya taat kepada orang tua dan gurumu?"

"Ahhhk....? Jadi Subo hanya menggunakan akal agar aku selalu taat....?"

"Bukan hanya itu, aku memang ingin engkau menjadi muridku, akan tetapi murid yang taat. Nah, sekarang ceritakan kepadaku tentang suhumu yang katanya terbunuh oleh utusan Dalai Lama. Ingat, aku akan membantumu bertemu Dalai Lama dan hanya aku yang dapat menolongmu."

Keng Han lalu menceritakan dengan singkat tentang tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang telah membunuh Go"sang Lama, Oh tentang pesan terakhir Gosang Lama agar dia membunuh Dalai Lama yang mengutus tiga grang Lama Jubah Merah itu, dan juga membunuh ketua Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar gurunya itu.

Setelah Keng Han selesai bercerita, Bi-kiam Nio-cu menarik napas panjang dan berkata.

"Gurumu itu agaknya seorang yang benar-benar kejam. Aku membunuhi orang jahat kaukatakan kejam, akan tetapi gurumu itu seperti hendak membunuh engkau sendiri! Engkau mimpi untuk dapat membunuh Dalai Lama dan ketua Bu-tong-pai, sukarnya seperti naik ke langit! Aku sendiri, terus terang saja, tidak berani mencoba untuk melakukan dua hal itu, akan tetapi aku dapat membantumu bertemu dengan Dalai Lama dan juga dengan ketua Bu-tong-pai."

Keng Han merasa girang sekali.

"Bantuan itu saja sudah cukup bagi teecu, Subo. Kalau sudah bertemu dengan mereka, aku akan menuntut mereka dan minta keterangan mengapa mereka memusuhi suhu Gosang Lama. Selanjutnya biarlah aku sendiri yang akan menghadapi mereka."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat.

Kini Keng Han merasa lebih senang karena ternyata gurunya yang baru ini mengenal jalan ke Tibet sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi seperti ketika dia melakukan perjalanan seorang diri.

Dia percaya bahwa gurunya ini, biarpun masih muda, namun berilmu tinggi dan sudah memiliki banyak pengalaman.

Ingin dia menanyakan riwayat subonya yang tentu menarik.

Apakah subonya sudah memiliki suami?

Ataukah masih memiliki keluarga lain, dan kalau ada di mana tempat tinggalnya?

Namun, dia khawatir kalau dibentak karena subo"nya kadang bersikap galak kepadanya, maka sampai lama dia tidak pernah mengajukan pertanyaan ini.

Malam itu gelap sekali, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu terpaksa melewatkan malam di sebuah gua.

Menurut Nio-cu, dusun yang terdekat dari situ masih lima puluh li lebih sehingga mereka akan ke"malaman di tengah jalan kalau melanjut"kan perjalanan.

Lebih baik melewatkan malam di gua itu, agak terlindung dari angin dan hawa dingin.

Keng Han me"ngumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun di depan gua.

Dia pun mencari rumput kering untuk alas lantai gua sehingga gurunya akan dapat mengaso.

Akan tetapi Nio-cu duduk saja dekat api unggun dan termenung mengamati api, yang bernyala.

Keng Han duduk di de"pannya, terhalang api unggun.

"Keng Han, ke sinilah. Duduk di dekatku sini, aku ingin bercakap-cakap denganmu."

Keng Han pindah duduk di sebelah gurunya, diam saja. Setelah agak lama mereka berdiam diri, Nio-cu menghela napas panjang dan berkata.

"Keng Han, apakah engkau berbahagia?"

Pemuda, itu heran mendengar pertanyaan ini.

"Bahagia? Apakah artinya bahagia itu, Subo? Kita sudah makan tadi, perutku kenyang, badan yang letih kini dapat beristirahat, dekat api unggun yang hangat sehingga tubuh ini terasa enak. Hatiku juga merasa senang karena kita tidak mendapat gangguan. Ya, boleh jadi aku berbahagia saat ini, Subo."

"Aih, betapa rinduku akan kebahagiaan. Aku tidak pernah merasa berbahagia. Senang, memang. Akan tetapi itu lain. lagi. Senang hanya sebentar saja lewat dan berlalu. Aku ingin bahagia! Ah, betapa aku ingin bahagia, akan tetapi bagaimana caranya? Di manakah kebahagiaan itu? Aku ingin mencarinya, Keng Han. Dapatkah engkau membantuku?" .

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 1

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert