Ceritasilat Novel Online

Kisah Sepasang Rajawali 6

Eps 6 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.

Diam-diam, biarpun merasa gentar hatinya, Syanti Dewi makin girang karena makin marah kakek ini, makin mudahlah memancingnya untuk pergi turun puncak mengobati Bun Beng yang amat dia khawatirkan keselamatannya itu.

Syanti Dewi sengaja tersenyum mengejek, kemudian berkata.

"Locianpwe, harap jangan marah-marah dulu. Kedatanganku ini memang sengaja hendak melihat kelihaian Locianpwe karena saya amat tertarik sekali. Keadaan Locianpwe sama benar dengan keadaan pamanku. Pamanku juga seorang yang amat ahli dalam ilmu pengobatan, tidak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya, dan saya percaya dia masih lebih pandai daripada Locianpwe, sedikitnya tentu tingkatnya lebih tinggi satu dua tingkat! Akan tetapi celakanya seperti Locianpwe pula, dia juga menderita penyakit yang dia tidak mampu obati sendiri. Maka saya sengaja datang untuk menantang Locianpwe mengadu ilmu dengan pamanku itu yang kini berada di rumah ketua Pek-san-pai."

"Tidak sudi! Kau hanya memancing agar aku mengobati dia! Huh, setelah kau bersikap kurang ajar, masih mengharapkan aku menyembuhkan pamanmu? Dia tentu seorang undangan dari pihak Pek-san-pai untuk menghadapi jagoan Hek-san-pai, bukan? Huh, aku sudah tahu semua tentang mereka. Pergilah dan biar pamanmu mampus! Aku tidak sudi mengobatinya!"

Dapat dibayangkan betapa perih rasa hati Syanti Dewi.

Sudah bersusah payah dia berlagak dan menggunakan muslihat, namun tetap tidak berhasil.

Betapapun juga, dia tidak putus harapan dan menyembunyikan perasaan hatinya.

Kakek yang tadinya girang melihat dara itu terpukul dan mengharapkan dara itu akan menangis, menjadi terkejut melihat dara itu kini tersenyum lagi, bahkan berkata nyaring dengan nada penuh ejekan.

"Locianpwe, kalau kau takut, katakan saja takut! Pamanku bukanlah orang undangan Pek-san-pai maupun Hek-san-pai. Pamanku seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi, dia bukan hanya tidak memihak, malah dia berhasil mendamaikan Pek-san-pai dan Hek-san-pai sehingga mulai sekarang tidak akan ada lagi perang di antara keduanya. Pamanku berhasil mendamaikan dan menginsyafkan mereka. Akan tetapi melihat pamanku sakit dan Locianpwe juga sakit dan memiliki keadaan yang sama, maka aku sengaja datang menantang Locianpwe untuk mengadu kepandaian."

"Apa....?"

Kakek itu memukulkan tongkatnya ke atas sebongkah batu dan batu itu pecah berhamburan dan bunga api berpijar.

Syanti Dewi terkejut sekali melihat kakek itu marah-marah.

"Pamanmu telah mendamaikan mereka? Celaka tiga belas! Pamanmu jahat bukan main! Pamanmu dengki dan jahat!"

Biarpun dia takut, namun mendengar Gak Bun Beng dimaki-maki, Syanti Dewi menjadi marah.

"Harap Locianpwe tidak sembarangan memaki orang! Pamanku adalah seorang pendekar sakti yang budiman, yang telah mengakurkan dua pihak yang masih bersaudara seperguruan itu dari permusuhan. Mengapa Locianpwe malah memakinya jahat dan dengki?"

"Bodoh....! Bodoh....! Mengapa aku sampai susah payah tinggal di sini, mendekati Hek-san-pai dan Pek-san-pai kalau tidak ada permusuhan tahunan itu? Permusuhan itu menimbulkan banyak korban yang terluka, baik yang ringan maupun yang berat. Sekarang, pamanmu lancang dan dengki, menghentikan permusuhan dan berarti tidak akan ada pertempuran lagi. Bukankah itu berarti aku akan kehabisan langganan orang yang sakit terluka?"

Mengertilah kini Syanti Dewi dan makin heran dia akan jalan pikiran kakek yang aneh ini.

Pandangan kakek itu benar-benar aneh dan menyeleweng dari umum, tidak lumrah.

Syanti dewi kembali tersenyum.

"Memang agaknya pamanku sengaja berbuat demikian, akan tetapi Locianpwe akan dapat berbuat apa? Dalam ilmu pengobatan pun, Locianpwe akan kalah. Aku berani tanggung bahwa pamanku akan sanggup menyembuhkan penyakit yang diderita Locianpwe ."

"Omong kosong!"

"Mari kita buktikan saja! Mari, kalau Locianpwe berani ikut bersama saya dan coba Locianpwe mengobati pamanku, kemudian baru pamanku mengobati Locianpwe. Hendak kulihat siapa di antara kalian yang lebih sakti!"

Terbakar juga hati Yok-kwi oleh sikap dan kata-kata Syanti Dewi.

"Baik! Aku pasti akan datang mengusir penyakitnya, akan tetapi kalau dia tidak mampu menyembuhkan penyakitku, dia akan kubunuh dan mungkin kau juga."

"Boleh, itu taruhanku!"

Jawab Syanti Dewi girang dan dara ini berlari cepat turun dari puncak, diikuti oleh Yok-kwi yang berjalan dibantu tongkatnya.

Ketua Pek-san-pai dan ketua Hek-san-pai yang masih berada di situ menyambut dengan heran dan girang, juga kagum melihat bahwa Syanti Dewi benar-benar berhasil mengajak Yok-kwi turun puncak.

Karena nama besar Yok-kwi yang berwatak aneh itu, semua orang memandang dengan segan dan takut, bahkan mereka tidak berani marah ketika kakek itu memasuki pondok tanpa membalas penghormatan mereka, bahkan tidak mengacuhkan mereka yang dianggapnya seperti arca saja.

Dia langsung mengikuti Syanti Dewi memasuki ruangan besar di mana tubuh Bun Beng yang tadinya pingsan itu dibaringkan.

"Paman....!"

Syanti Dewi lari menghampiri pembaringan itu dan Bun Beng yang sudah siuman mengangkat muka, tersenyum kepada Syanti Dewi.

"Dewi, apa yang kau lakukan? Ke mana kau pergi....?"

"Aku mengundang Sin-ciang Yok-kwi, Paman. Nah, ini dia sudah datang."

Bun Beng menengok dan kedua orang sakti itu saling bertemu pandang.

Diam-diam Bun Beng terkejut melihat kakek aneh itu, karena dia dapat melihat sinar aneh dari wajah kakek bertongkat itu.

Sebelum Bun Beng sempat membuka mulutnya, Yok-kwi yang sudah marah sekali dan memandang rendah kepadanya, sudah melangkah maju dan berkata.

"Keponakanmu ini menyombongkan kepandaianmu dan menantangku untuk menandingimu tentang ilmu pengobatan. Biarlah kuobati kau lebih dulu, baru kau mengobati aku, kalau kau mampu!"

Tanpa menanti jawaban, Yok-kwi lalu berdiri tegak, matanya terpejam, pernapasannya seperti terhenti seketika.

Kalau Syanti Dewi dan yang lain-lain memandang heran, adalah Bun Beng yang memandang kagum karena dia maklum bahwa kakek itu telah mengerahkan seluruh panca inderanya untuk mengumpulkan tenaga murni.

Kemudian, Yok-kwi membuka matanya yang kini mengeluarkan cahaya berkilat, dan tongkatnya sudah bergerak mengetuk-ngetuk dan menotok-notok seluruh tubuh Bun Beng, dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala!

Tentu saja Syanti Dewi terkejut dan khawatir, akan tetapi melihat Bun Beng tersenyum saja hatinya menjadi lega.

"Ahhh....!"

Sin-ciang Yok-kwi tiba-tiba berseru kaget ketika dengan tangan kirinya dia menekan-nekan dada dan perut Bun Beng.

Yang mengejutkan hatinya itu adalah karena dia merasa betapa dari dalam pusar orang yang sakit itu keluar tenaga sakti yang amat kuat, yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin, namun kedua macam inti tenaga Yang dan Im itu luar biasa kuatnya.

Tahulah dia bahwa dara itu tidak berbohong dan memang orang yang sakit ini bukanlah seorang manusia biasa melainkan seorang yang memiliki kesaktian hebat!

Maka dia pun tidak berani main-main lalu memeriksa keadaan Gak Bun Beng lebih teliti lagi.

Orang-orang yang melihat cara kakek itu memeriksa orang sakit, biarpun hati mereka gentar terhadap kakek aneh yang galak itu, namun mereka merasa geli di dalam hati mereka.

Sin-ciang Yok-kwi memang luar biasa.

Dia memeriksa tubuh Bun Beng bukan hanya dengan mengetuk sana-sini dengan tongkatnya, memijat sana-sini dengan tangannya, juga dia menggunakan hidungnya untuk mencium-cium sana-sini dengan cuping hidung kembang kempis, malah akhirnya dia menjilat keringat di leher Gak Bun Beng, lalu menggerak-gerakkan mulut dan matanya terpejam seperti tingkah seorang yang mencicipi masakan apakah cukup asinnya!

"Aihhh, luka dalam dadanya memang hebat dan akan mematikan orang yang bertubuh kuat sekali pun.

Akan tetapi dia dapat bertahan, sungguh luar biasa!"

Akhirnya dia berkata.

"Bagi dia, luka itu tidak membahayakan, yang lebih hebat adalah keruhnya hati dan pikiran. Akan tetapi, aku bukan seorang ahli pengobatan yang pandai kalau tidak mampu menyembuhkan penyakit macam ini saja!"

Kakek itu lalu menuliskan resep yang terdiri dari bahan yang aneh-aneh, sungguhpun tidak sukar untuk dicari.

Di antara banyak daun, buah, bunga dan akar pohon dan tetumbuhan, juga terdapat arang kayu dan tujuh ekor kutu rambut dalam resep itu!

"Beri dia minum ini pasti sembuh.

Sepekan kemudian aku menanti dia di puncak Ci-lan-kok!"

Kata kakek itu lalu pergi dari situ menyeret tongkatnya tanpa memperdulikan ucapan-ucapan terima kasih dari Syanti Dewi dan dua orang ketua perkumpulan.

Akan tetapi tentu saja Syanti Dewi tidak memperdulikan sikap kakek aneh itu karena dia sudah cepat-cepat mempersiapkan obat seperti yang tertulis dalam resep.

Dengan bantuan dua orang ketua Pek-san-pai dan Hek-san-pai, akhirnya dalam hari itu juga terkumpullah semua bahan resep yang lalu dimasak oleh Syanti Dewi sampai airnya tinggal semangkuk, lalu setelah dingin diminumkan kepada Gak Bun Beng.

Pendekar itu masih berada dalam keadaan setengah pingsan, hanya teringat sedikit saja apa yang terjadi.

Akan tetapi setelah minum obat itu, sinar mukanya yang tadinya pucat kekuningan berubah menjadi agak merah.

Dengan penuh ketekunan Syanti Dewi, dibantu dua orang ketua, merawat dan meminumkan obat menurut resep Sin-ciang Yok-kwi dan dalam waktu lima hari saja Gak Bun Beng sudah sembuh sama sekali!

Pada pagi hari ke enam, ketika pendekar ini terbangun dengan tubuh yang ringan dan nyaman, masuklah dua orang ketua Pek-san-pai dan Hek-san-pai, bersama Syanti Dewi.

"Paman, kau sudah sembuh....!"

Syanti Dewi berseru girang sambil duduk di tepi pembaringan.

"Hemm, berkat perawatanmu yang baik, Dewi."

"Juga berkat bantuan kedua orang Paman Ketua, Paman Gak."

"Ahh, kalau begitu aku berhutang budi kepada Ji-wi (Kalian berdua),"

Kata Gak Bun Beng kepada kedua orang itu sambil mengangkat kedua tangan yang dirapatkan itu di depan dada.

"Ah, Taihiap.... kamilah yang harus berterima kasih."

Dua orang itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Gak Bun Beng.

Pendekar ini terkejut dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat bangun mereka itu.

"Jangan begitu, mari duduk dan kita bicara dengan baik,"

Kata Gak Bun Beng dan setelah mereka duduk di atas bangku-bangku dalam kamar itu, Bun Beng berkata lagi.

"Syukur bahwa kalian sudah sadar dan dapat hidup rukun sebagai saudara seperguruan."

Keduanya menjura.

"Kami telah sadar berkat bantuan Taihiap. Memang selama puluhan tahun kami berdua hidup sebagai musuh. Sungguh memalukan sekali. Sekarang kami insyaf dan kami akan berusaha menjadi orang baik-baik."

Gak Bun Beng menghela napas panjang.

"Ji-wi harus mengerti bahwa kebaikan tidak dapat diusahakan. Yang penting adalah menginsyafi dan menyadari akan keburukan kita sehingga semua keburukan itu hilang. Sumber air itu adalah pemberian alam, untuk siapa saja yang membutuhkan, cukup banyak. Mengapa harus diperebutkan? Lebih baik diusahakan agar airnya dapat mengalir di tempat-tempat yang membutuhkannya."

Dua orang ketua itu mengangguk-angguk.

Akan tetapi, sungguh sayang bahwa mereka itu kurang memperhatikan sehingga tidak dapat menangkap arti dari kata-kata Gak Bun Beng yang pertama kali tadi seperti juga manusia pada umumnya tidak pernah sadar akan keadaan dirinya sendiri seperti apa adanya.

Mata ini tidak pernah dipergunakan untuk memandang keadaan diri sendiri sehingga mengenal diri pribadi saat demi saat, melainkan dipakai untuk merenung jauh ke depan, memandang, melihat dan menjangkau hal-hal yang belum menjadi kenyataan.

Dua orang itu berjanji akan berusaha menjadi orang-orang baik!

Dapatkah kebaikan itu diusahakan dan dipelajari?

Kebaikan barulah sejati kalau menjadi sifat, seperti harum pada bunga.

Kebaikan yang telah berada dalam diri manusia menuntun semua gerak-gerik perbuatan si manusia itu sehingga segala yang dilakukanpun tentu baik tanpa disadari lagi bahwa itu adalah kebaikan.

Sebaliknya, kebaikan yang dipelajari, dilatih dan diusahakan, hanyalah akan menjadi pengetahuan belaka dan kalaupun ada perbuatan yang dianggap baik oleh orang yang memaksakan kebaikan dalam perbuatannya,, maka kebaikan itu hanyalah menjadi suatu cara untuk mencapai suatu tujuan, dan karenanya menjadi kebaikan palsu.

Seperti kedok belaka.

Kalau kita melakukan se-suatu yang kita anggap suatu kebaikan, tentu tersembunyi pamrih tertentu, baik pamrih lahir maupun batin di balik perbuatan yang kita lakukan itu.

Dan kebaikan yang diusahakan, yang berpamrih, bukanlah kebaikan namanya, melainkan palsu, hanya merupakan cara atau jembatan untuk memperoleh yang dipamrihkan tadi.

Kebaikan seperti itu serupa dengan seorang anak yang menyapu lantai dengan tekun dan bersih, namun pekerjaannya itu dilakukan karena dia mengingat bahwa ibunya akan memujinya, ayahnya tidak akan memarahinya kalau dia menyapu dengan baik.

Baginya yang penting bukanlah menyapu lantai dengan bersih, melainkan ingin dipuji ibunya dan agar tidak dimarahi ayahnya.

Sungguh jauh bedanya dengan kalau anak itu menyapu lantai dengan bersih karena memang dia CINTA AKAN PEKERJAANNYA ITU, karena dia memang suka melakukan pekerjaan itu tanpa pamrih apa-apa, bahkan dia tidak ingat lagi bahwa dia melakukan itu!

Kebaikan adalah suatu sifat.

Tidak dapat diusahakan atau dilatih.

Yang penting adalah mengenal diri sendiri, membuka mata memandang keadaan diri sendiri.

Kalau kita ingin menjadi orang baik, hal ini terdorong oleh kenyataan bahwa kita tidak baik, bukan?

Daripada mengejar kebaikan, lebih baik kita menyadari akan ketidakbaikan kita, akan kekotoran kita.

Kesadaran dengan pengertian mendalam ini akan menghentikan segala ketidakbaikan dan kekotoran itu, dan kalau sudah tidak ada ketidakbaikan lagi di dalam diri kita, perlukah kita berusaha menjadi baik?

Kalau sudah tidak ada kekotoran di dalam diri kita, perlukah kita mencari kebersihan?

Tidak perlu lagi, karena baik dan bersih itu sudah menjadi sifat setelah kejahatan dan kekotoran lenyap.

"Aku hanya ingat secara samar-samar tentang seorang kakek yang mengobatiku. Dia datang bersamamu, Dewi. Siapakah dia?"

Bun Beng bertanya kepada Syanti Dewi.

"Memang, dia adalah Sin-ciang Yok-kwi, Paman. Dialah yang mengobati Paman sampai sembuh. Akan tetapi dia itu orang gila, wataknya aneh dan mengerikan. Hanya dengan susah payah dan dengan akal saja aku berhasil mengajak dia ke sini mengobati Paman."

"Aihh, kalau begitu aku harus mengunjunginya dan menghaturkan terima kasih kepadanya."

Bun Beng berkata sambil bangkit berdiri.

"Saya kira tidak usah, Paman. Jangan-jangan dia malah akan menimbulkan keributan baru!"

Syanti Dewi lalu menceritakan akalnya menantang Sin-ciang Yok-kwi yang akan "diadu"

Dalam hal kesaktian dengan pamannya, akal yang dipergunakan untuk memancing Kakek Setan Obat itu agar mau mengobati Bun Beng.

Mendengar penuturan Puteri Bhutan itu, hati Bun Beng terharu sekali.

Puteri yang berwatak halus itu sampai rela memaksa diri menjadi seorang pembohong dan penipu besar hanya karena ingin menolongnya!

Dia lalu memegang tangan puteri itu dan berkata.

"Jangan khawatir, kita harus pergi ke Ci-lan-kok. Ji-wi, kami akan pergi sekarang. Mari, Dewi!"

Kedua orang ketua itu tidak dapat mencegah dan mereka bersama anak buah mereka hanya memandang dengan khawatir ketika melihat dua orang itu mendaki puncak Ci-lan-kok untuk menemui Sin-ciang Yok-kwi yang mereka takuti.

Di tengah perjalanan menuju ke puncak itu, Syanti Dewi berkata.

"Paman, perlukah kita menjumpainya? Aku telah membohonginya dan mengatakan bahwa Paman adalah seorang ahli pengobatan pula. Tentu dia akan marah-marah dan aku takut kalau-kalau hal ini akan menimbulkan sesuatu yang tidak menyenangkan, Paman."

"Tenanglah, Dewi. Aku memang bukan seorang ahli pengobatan, akan tetapi aku melihat sesuatu ketika dia memeriksaku. Samar-samar aku masih ingat bahwa tubuh kakek itu mengeluarkan hawa beracun yang amat berbahaya. Kalau benar demikian, aku harus menolongnya."

Syanti Dewi terkejut.

"Begitukah? Ah, kalau demikian, memang seharusnya Paman menolongnya!"

Gak Bun Beng menghentikan langkahnya dan memandang dara itu penuh kagum.

Makin lama dia mengenal Puteri Bhutan ini, makin kagumlah hatinya, makin menonjol dan tampak olehnya sifat-sifat baik dara ini, makin jelas pula tampak olehnya kasih sayang bersinar keluar dari dalam hati dara itu melalui sinar matanya dan senyumnya, dalam kata-katanya.

Dan makin gelisahlah dia!

"Syanti Dewi, kau baik sekali.

Selama ini....

ah, takkan terlupakan selama hidupku, engkau telah bersusah payah untukku, merawatku, membawaku lari dari kota raja melalui perjalanan yang sukar, membawa aku yang sedang sakit, kemudian mempertaruhkan nyawa memancing seorang aneh seperti Sin-ciang Yok-kwi untuk mengobatiku...."

"Sshhh...., cukuplah, Paman. Diantara kita, kalau mau bicara tentang kebaikan, takkan ada habisnya karena siapakah yang menyelamatkan nyawaku, siapa yang selama ini kugantungi harapanku, yang menjadi pelindungku, menjadi pembelaku? Apa yang kulakukan untuk Paman tidak ada artinya sama sekali dan memang sudah seharusnya. Kita hanya berdua, kalau tidak saling bantu, habis bagaimana? Pula.... yang penting sekarang ini, asal Paman sudah sembuh kembali, aku sudah merasa girang bukan main. Soal-soal lain tidak perlu dibicarakan lagi, Paman."

Mereka saling pandang.

Dua pasang mata bertemu pandang dan saling bertaut sampai lama.

Akhirnya Gak Bun Beng perlahan-lahan membuang muka, memejamkan mata seolah-olah tidak tahan dia melihat sinar mata penuh kasih yang ditujukan kepadanya dari sepasang mata yang bening indah itu!

Aku harus menjauhkan diri darinya, harus dan secepat mungkin, demikian suara hatinya.

Kalau dilanjutkan begini, berbahayalah aku!

Akan tetapi Milana pun telah menjadi isteri orang lain, tentu saja tidak berhak mencampuri urusannya!

"Kau kenapa, Paman?"

Syanti Dewi mendekat dan memegang tangan Bun Beng karena merasa khawatir sekali melihat Bun Beng memejamkan mata dan mengerutkan keningnya.

Bun Beng membuka matanya kembali, mata yang agak basah.

"Tidak apa-apa, Dewi, mari kita lanjutkan perjalanan kita menemui Sin-ciang Yok-kwi."

Ketika mereka tiba di depan kuil kuno, ternyata Sin-ciang Yok-kwi sudah menanti di depan kuil, duduk di atas batu besar dan memandang kepada Bun Beng dengan penuh perhatian.

Gak Bun Beng cepat menghampiri dan bersama Syanti Dewi dia menjura kepada kakek itu.

"Ha-ha-ha, bocah nakal! Apa kau masih tidak percaya akan kemampuanku mengobati? Sekarang pamanmu telah sembuh, bukan?"

"Terima kasih atas pertolongan Locianpwe dan sejak dahulupun saya tidak pernah meragukan kepandaian Locianpwe,"

Jawab Syanti Dewi.

"Ha-ha-ha, memang kau nakal dan kau sengaja memancingku. Heii, Gak Bun Beng! Apakah kau datang untuk memperlihatkan kepandaianmu? Benarkah kau pandai mengobati?"

Melihat sikap yang kasar dan terbuka dari kakek itu, Gak Bun Beng tersenyum dan sambil memandang wajah kakek itu dia berkata.

"Sin-ciang Yok-kwi, terus terang saja bahwa keponakanku ini berbohong kepadamu. Aku bukan ahli pengobatan, dan aku berterima kasih kepadamu bahwa kau telah menyembuhkan penyakitku. Akan tetapi, ketika engkau memeriksaku, aku mendapat kenyataan bahwa ada hawa beracun keluar dari dadamu. Kalau engkau memang tidak keberatan, aku suka untuk mengeluarkan hawa beracun dari tubuhmu."

Kakek itu kelihatan terkejut, kemudian membuka kancing bajunya di depan dada.

"Nah, kau boleh memeriksa!"

Bun Beng melangkah dekat, menggunakan kedua telapak tangannya ditempelkan ke dada kakek itu.

Terkejutlah dia!

Benar-benar terdapat hawa mujijat dalam dada kakek itu yang amat kuat dan aneh, yang tak dapat dikendalikan oleh kakek itu sehingga menjadi penyakit yang hebat.

"Tidak salah!"

Serunya.

"Ada hawa beracun yang kuat di dalam tubuhmu, Sin-ciang Yok-kwi. Akan tetapi karena bukan tabib, aku tidak tahu mengapa bisa demikian dan mengapa pula sampai berlarut-larut kau diamkan saja!"

"Engkau hebat,"

Yok-kwi berkata.

"Biarpun engkau tidak tahu akan ilmu pengobatan, namun dengan rabaan tangan yang penuh dengan sin-kang engkau sudah dapat mengetahui keadaanku yang tak kuketahui sendiri! Sekarang mengertilah aku. Dahulu, karena terlampau ingin menguasai ilmu pengobatan terhadap segala macam racun, aku sengaja menelan bermacam-macam racun lalu kuobati sendiri. Semua obatku bisa menolong memunahkan racun itu, akan tetapi agaknya hawa racun dan obat yang memunahkannya telah berkumpul sedikit demi sedikit di dalam tubuhku tanpa kurasakan sehingga kini tidak dapat kukeluarkan lagi. Kalau aku mengerahkan kekuatan sin-kang, tentu perlindungan di tubuhku kurang kuat dan hawa itu akan membunuhku. Untung selama ini aku tidak bertanding melawan musuh kuat, karena pengerahan sin-kang yang kuat tentu akan membunuhku sendiri. Hemm.... kau sudah menemukan penyakitku, biarpun tidak ada obatnya, aku tidak akan penasaran lagi andaikata penyakit ini akan mencabut nyawaku."

"Tidak, Sin-ciang Yok-kwi. Hawa itu dapat saja diusir dari dalam tubuhmu. Aku akan membantumu."

"Tapi.... hal itu membutuhkan tenaga yang amat kuat...."

"Akan kucoba. Duduklah bersila dan mari kita mulai. Dengan kekuatan kita berdua, mustahil hawa itu tidak akan dapat terusir keluar."

Sejenak kakek itu menatap wajah Bun Beng, kemudian bertanya.

"Gak Bun Beng, aku tidak pernah mendengar namamu sebagai seorang tokoh besar. Dari partai manakah engkau?"

Gak Bun Beng tersenyum dan menggeleng kepala.

"Bukan dari partai manapun juga. Apa sih bedanya itu? Mari, silakan."

Sin-ciang Yok-kwi lalu melempar tongkatnya ke samping dan duduk bersila di atas tanah.

Bun Beng juga segera duduk bersila di depan kakek itu, meluruskan kedua lengannya ke depan sehingga kedua tangannya menempel pada dada kakek itu.

Syanti Dewi hanya menonton dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Dia mengharapkan pendekar sakti itu akan mampu menyembuhkan kakek itu, akan tetapi di samping ini dia juga khawatir karena biarpun ilmu silatnya sendiri belum tinggi akan tetapi dia pernah mendengar betapa menyembuhkan orang dengan menggunakan sin-kang itu amat melelahkan.

Dia khawatir kalau-kalau Gak Bun Beng yang baru saja sembuh akan kehabisan tenaga dan jatuh sakit lagi.

Sin-ciang Yok-kwi terkejut bukan main ketika dia merasa betapa dari kedua tangan Bun Beng keluar hawa yang amat panas, mula-mula hanya hangat akan tetapi makin lama makin panas menyerap ke dalam dadanya.

Dia mengikutinya, juga dengan pengerahan sin-kangnya, membuat tubuhnya menjadi panas sampai mengepulkan uap!

Hawa panas yang masuk dari kedua telapak tangan Bun Beng itu amat kuatnya, terasa bergerak berputaran di dalam dadanya, hampir tak tertahankan panasnya sampai kakek ini mengeluarkan keringat dan napasnya mulai terengah-engah.

Bun Beng melihat ini, maka dia lalu mengurangi tenaga Hwi-yang Sin-kang (Hawa Sakti Inti Api) sehingga rasa panas yang menyerang Yok-kwi mulai berkurang dan makin lama makin dingin, akan tetapi tidak berhenti menjadi normal karena terus menjadi makin dingin sampai luar biasa sekali.

Kembali Yok-kwi terkejut dan kagum.

Dia sendiri adalah seorang ahli tenaga dalam dan memiliki sin-kang yang kuat.

Akan tetapi menghadapi hawa dingin yang keluar dari sepasang telapak tangan orang itu, dia tidak mampu mengikutinya terus dan tubuhnya segera menggigil kedinginan.

Dia tidak tahu bahwa Gak Bun Beng telah mengganti tenaga Hwi-yang Sin-kang tadi menjadi Swat-im Sin-kang (Hawa Sakti Inti Salju)!

Dua tenaga sin-kang yang bertentangan dan yang hanya dimiliki oleh penghuni Pulau Es.

Syanti Dewi memandang dengan bingung dan heran, juga khawatir!

Dia tidak tahu apa yang telah dan sedang terjadi.

Dia hanya melihat betapa kakek yang sakti itu tadinya menjadi merah mukanya, mengeluarkan banyak keringat dan tubuhnya beruap, napasnya agak terengah-engah, akan tetapi sekarang keadaannya berubah, mukanya menjadi pucat dan agak kebiruan, tubuhnya menggigil dan napasnya makin terengah-engah!

Dengan kekuatan sin-kangnya yang hebat, Perlahan-lahan Bun Beng mendorong keluar hawa mujijat yang mengeram di dalam dada dan perut kakek itu dan mulailah tampak uap hitam membubung keluar dari mulut, hidung dan tubuh atas kakek itu!

Gak Bun Beng maklum bahwa kalau dia melanjutkan pengerahan Swat-im Sin-kang, kakek itu tentu tidak akan dapat bertahan, maka melihat betapa hawa beracun itu sudah mulai keluar, dia merubah lagi pengerahan sin-kangnya dan kini dia mengerahkan Tenaga Sakti Inti Bumi yang halus dan lunak namun menyembunyikan kekuatan yang dahsyat pula.

Uap menghitam yang membubung keluar itu makin menipis, kemudian kakek itu mengeluarkan keluhan panjang dan tubuhnya terguling roboh, tepat pada saat Bun Beng lebih dulu menarik kembali tenaganya.

Pendekar ini cepat memejamkan matanya, mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya yang diperas keluar dari tubuhnya yang masih lemah tadi.

Syanti Dewi memandang dengan hati gelisah.

Dia melihat Yok-kwi terguling roboh dan tidak bangun kembali, sedangkan Gak Bun Beng masih duduk bersila dengan muka pucat.

Dan kakek kecil pendek yang tadi menyerang dengan lemparan senjata rahasia sehingga merobohkan Yok-kwi telah berdiri di belakang Gak Bun Beng.

Sambil menyeringai, Sin-kiam Lo-thong, bekas jagoan panggilan pihak Hek-san-pai, kini mencabut pedangnya dan menghampiri Gak Bun Beng!

Munculnya kakek bertubuh kanak-kanak ini memang mengejutkan dan tidak disangka-sangka.

Tadi ketika Gak Bun Beng dan Yok-kwi keduanya sedang mencurahkan seluruh perhatian kepada pengobatan itu, kakek ini muncul dan langsung saja menyerang Yok-kwi dengan jarum merah.

Karena tidak menyangka dan terkena jarum tepat pada lehernya, kakek itu roboh terguling dan pingsan, sedangkan Gak Bun Beng yang sedang mengerahkan Tenaga Inti Bumi secara tiba-tiba mengalami kekagetan dan menarik kembali tenaganya secara serentak, membuat tubuhnya yang masih lemah itu mengalami goncangan hebat sehingga dia terpaksa harus menghimpun hawa murni, kalau tidak jantungnya bisa pecah!

Sin-kiam Lo-thong tersenyum girang.

Dia menganggap bahwa Yok-kwi tentu telah tewas karena lehernya kemasukan jarum merahnya, sedangkan sebagai seorang ahli dia maklum akan keadaan Gak Bun Beng, maka dengan cepat dia sudah menghampiri pendekar itu dengan pedang terhunus.

"Manusia keji....!"

Syanti Dewi menjerit dan cepat dia menyambar batu sebesar kepala, menyambitkan batu itu sekuat tenaganya ke arah Sin-kiam Lo-thong yang sudah berada dekat sekali di belakang Gak Bun Beng.

Sin-kiam Lo-thong mengangkat lengan kirinya menangkis batu yang menyambarnya itu.

"Prakkk!"

Batu itu hancur berkeping-keping dan Sin-kiam Lo-thong sudah menggerakkan tangan kanannya, pedangnya membacok ke arah leher Gak Bun Beng.

"Ouhhh.... jangan....!"

Syanti Dewi menjerit dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

"Singgg....!"

Pedang di tangan Sin-kiam Lo-thong berkelebat menjadi sinar terang yang menyambar ke arah leher Gak Bun Beng.

Syanti Dewi memejamkan mata membayangkan betapa leher pendekar itu akan terbabat putus!

"Takkk!

Aughhh....!"

Mendengar pekik ini, Syanti Dewi membuka matanya dan dia terbelalak keheranan namun juga kegirangan melihat bahwa Gak Bun Beng masih tetap saja duduk seperti tadi, bersila dan lehernya masih utuh!

Sebaliknya, Sin-kiam Lo-thong terlempar ke belakang, pedangnya terlepas dari pegangan dan kini kakek bertubuh kanak-kanak itu merangkak hendak bangun dengan muka pucat dan ketakutan.

Kiranya seluruh tubuh Gak Bun Beng pada saat itu masih terlindung hawa sin-kang Inti Bumi sehingga ketika pedang itu menyambar tengkuk, otomatis tenaga sakti itu melindungi dan tidak hanya membuat pedang itu tidak melukai tengkuk, bahkan reaksi dari tenaga sakti itu membuat pedang terlempar dari tangan Lo-thong dan kakek itu sendiri terpukul hawa mujijat itu dan terlempar ke belakang!

Betapa kagetnya ketika Lo-thong melihat bahwa kini Yok-kwi telah bangun dan sedang menghampirinya dengan mata melotot penuh kemarahan.

Disangkanya Yok-kwi telah tewas.

Tidak mungkin orang yang sudah ditembusi jarum merah lehernya masih dapat hidup!

Dan memang Yok-kwi juga masih tertolong oleh hawa sin-kang yang dikerahkan Gak Bun Beng ketika (Lanjut ke

Jilid 18) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 mengobatinya tadi.

Hawa sin-kang yang amat kuat itu sedang berputar-putar di seluruh tubuhnya, maka ketika jarum merah menyambar dan mengenai lehernya, otomatis hawa sin-kang itu melindunginya, membuat lehernya kebal sehingga jarum merah itu tidak terus masuk, melainkan menancap setengahnya saja.

Yok-kwi tadi pingsan bukan karena jarum merah melainkan karena ditariknya Tenaga Inti Bumi oleh Bun Beng secara tiba-tiba.

Perubahan mendadak itulah yang membuat dia pingsan.

Akan tetapi dia pingsan hanya sebentar.

Ketika siuman dan mencabut jarum dari lehernya, dia melihat Lo-thong terlempar dan kini dia menghampiri kakek kecil itu dengan penuh kemarahan.

Sin-kiam Lo-thong meloncat dan hendak melarikan diri, akan tetapi Yok-kwi membentak.

"Pemberontak hina, hendak lari ke mana kau?"

Tangannya bergerak, jarum merah itu menyambar dan Lo-thong memekik nyaring, roboh dan berkelojotan karena jarumnya sendiri telah menembus ke dalam kepalanya melalui tengkuk!

"Paman....!"

Syanti Dewi menghampiri Bun Beng dan berlutut, mukanya masih pucat akan tetapi bibirnya tersenyum tanda girang.

Bun Beng membuka kedua matanya, tersenyum kepada Syanti Dewi, kemudian berdiri dan menengok.

Alisnya berkerut ketika dia melihat Lo-thong berkelojotan dalam sekarat.

"Yok-kwi, kenapa engkau membunuhnya?"

"Dia layak dibunuh dua kali!"

Jawab kakek itu.

"Kenapa?"

"Pertama, dia tadi hendak membunuh kita berdua. Kedua kalinya, dia adalah seorang anggauta pemberontak laknat, kaki tangan Pek-lian-kauw."

"Hemm....!"

Gak Bun Beng tidak berkata apa-apa lagi melainkan memandang kepada tubuh kecil yang sudah tidak bergerak lagi itu sambil menarik napas panjang.

Yok-kwi menghampirinya dan menjura.

"Gak-taihiap, selain amat berterima kasih bahwa engkau telah dapat menyembuhkanku, juga aku merasa amat kagum akan kesaktian Taihiap. Kalau sekiranya kakimu buntung sebelah, tentu engkau inilah yang patut menjadi Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang terkenal."

Gak Bun Beng tersenyum.

"Beliau adalah guruku."

Kakek itu terbelalak, lalu tertawa dan kembali menjura dengan hormat.

"Ha-ha-ha, kiranya begitu? Ah, maafkan aku yang tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Sungguh beruntung sekali aku dapat berjumpa dan bersahabat dengan seorang murid Pendekar Super Sakti. Gak-taihiap, namaku adalah Kwan Siok, nama yang puluhan tahun kusembunyikan sehingga orang menyebutku Yok-kwi. Dan aku datang ke sini bukan hanya untuk mengasingkan diri dan menguji kepandaian dengan mendekati dua perkumpulan yang saling bermusuhan, akan tetapi juga diam-diam aku memperhatikan keadaan para pemberontak yang mulai meluaskan pengaruhnya di perbatasan ini. Diam-diam aku membantu untuk membalas budi kepada Puteri Mi-lana...."

Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya ketika melihat Bun Beng memandangnya dengan mata bersinar-sinar kaget.

Akan tetapi ketika Bun Beng merasa betapa jari-jari tangan Syanti Dewi mencengkeram lengannya, dia dapat menenangkan hatinya sambll tersenyum dia berkata.

"Budi apakah yang kau terima dari puteri yang gagah perkasa dan terkenal itu?"

Yok-kwi menjura lagi.

"Maaf, tentu Taihiap mengenal baik Puteri Milana. Bukankah dia itu puteri dari Pendekar Super Sakti? Sebagai murid pendekar itu maka kau...."

"Tentu saja, dia terhitung sumoiku sendiri. Nah, katakanlah, budi apa yang kau terima darinya?"

"Ketika aku dikepung oleh musuh-musuhku, para tokoh Pek-lian-kauw yang sudah puluhan tahun menjadi musuhku, dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya maut Puteri Milana lewat dan menolongku. Kini, kota raja sedang ribut dengan adanya pertentangan antara para pengeran, dan ada usaha-usaha pemberontakan. Melihat Sang Puteri itu sibuk menangani sendiri untuk mengaman-kan kota raja, diam-diam aku membantu dengan mengamat-amati keadaan di sini."

Gak Bun Beng mengangguk-angguk.

"Aihh, kiranya engkau seorang yang berjiwa patriot, Kwan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah she Kwa)."

"Gak-taihiap, jangan menyebutku enghiong. Karena orang sudah memberiku nama Yok-kwi, biarlah kupakai terus nama itu. Kalau aku boleh mengetahui, mengapa Taihiap dan Nona ini sampai tiba di tempat sejauh ini?"

"Kami hendak pergi menjumpai Jenderal Kao Liang, untuk menceritakan keadaan di kota raja. Dan Nona ini...."

Gak Bun Beng ragu-ragu. Yok-kwi tertawa.

"Ha-ha, dia tentu saja adalah Sang Puteri dari Bhutan!"

Syanti Dewi mengeluarkan seruan tertahan dan Bun Beng memandang tajam penuh kecurigaan kepada kakek itu.

"Yok-kwi, bagaimana kau bisa tahu?"

"Mudah saja, Taihiap. Aku sudah mendengar akan Puteri Bhutan yang lenyap di tengah perjalanan dan kabar terakhir bahwa mungkin puteri itu tertolong oleh seorang sakti ketika hanyut di sungai. Sekarang, melihat Taihiap muncul di sini hendak menjumpai Jenderal Kao yang setia, bersama seorang dara yang sikap dan wibawanya seperti puteri, juga yang jelas adalah seorang dara berkebangsaan tanah barat, mudah saja menduga-duga."

"Kau memang cerdik sekali, Yok-kwi. Memang benar, dia adalah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan."

Yok-kwi menjura kepada Syanti Dewi.

"Harap Paduka sudi memaafkan segala kekurangajaran saya."

Syanti Dewi menghampiri Yok-kwi dan memegang tangan kakek itu.

"Aih, Locianpwe terlalu merendah. Sayalah yang minta maaf karena telah berani mempermainkan Locianpwe."

Yok-kwi tertawa bergelak sambil meraba jenggotnya.

"Mempermainkan saya? Ha-ha-ha, kalau tidak ada Paduka, agaknya aku Si Tua Bangka masih tetap menjadi orang yang berpenyakitan."

"Akan tetapi Paman Gak juga tentu belum sembuh."

Mereka tertawa gembira karena mendapat kenyataan bahwa mereka adalah orang segolongan.

"Kami akan segera melanjutkan perjalanan kami ke benteng Jenderal Kao di utara,"

Kata Bun Beng.

"Tidak jauh lagi, Taihiap. Dari sini ke utara, lewat bukit di depan itu lalu membelok ke timur. Saya akan tetap tinggal di sini dan siap setiap saat untuk membantu, biarpun sesungguhnya saya sudah muak berurusan dengan dunia ramai yang penuh kepalsuan."

Mereka berpisah dan Gak Bun Beng yang sudah sembuh sama sekali itu dapat melakukan perjalanan cepat bersama Syanti Dewi.

Akan tetapi, baru saja turun dari puncak Ci-lan-kok, mereka dihadang oleh orang-orang Hek-san-pai dan Pek-san-pai yang menyediakan dua ekor kuda untuk mereka.

Ketika Bun Beng menceritakan tentang Sin-kiam Lo-thong, Ketua Hek-san-pai menjadi pucat wajahnya.

"Aahh.... celaka, siapa tahu bahwa dia seorang pengkhianat? Inilah akibatnya kalau bermusuhan dengan keluarga sendiri. Dia datang dan menawarkan diri menjadi jago. Melihat kelihaiannya, saya menerimanya. Ah, Taihiap, biarlah yang sudah dilupakan saja. Sekarang, kami dari Hek-san-pai dan Pek-san-pai siap untuk membantu pemerintah menghadapi pemberontak setiap saat kami diperlukan."

Gak Bun Beng dan Syanti Dewi berpisah dari mereka, melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.

Akan tetapi karena tidak mengenal jalan di daerah yang sunyi itu, mereka salah jalan dan tanpa disengaja keduanya malah tiba di daerah sumur maut di mana Gak Bun Beng berhasil menolong dan menyelamatkan Jenderal Kao Liang dari pengeroyokan para pemberontak.

Demikianlah, seperti telah diceritakan di bagian depan, Gak Bun Beng dan Syanti Dewi muncul di tempat itu, agak terlambat sehingga biarpun pendekar sakti itu berhasil menolong Jenderal Kao, Namun dia tidak berhasil menyelamatkan Ceng Ceng yang terlempar ke dalam sumur maut.

Biarpun kemudian pendekar itu mencoba untuk menyelidiki dengan turun ke sumur melalui tambang, sia-sia belaka bahkan hampir saja dia celaka kena diserang gas beracun di dalam sumur.

Maka dengan penuh duka, terutama sekali Syanti Dewi yang masih menangis, Jenderal Kao mengajak mereka berdua pergi ke bentengnya.

Setelah tiba di dalam benteng, pertama-tama Jenderal Kao memerintahkan pasukannya untuk menyerbu benteng pembantunya, yaitu panglima Kim Bouw Sin dan menangkap Panglima itu.

Gak Bun Beng mengkhawatirkan bahwa akan terjadi perang saudara antara pasukan pemerintah sendiri dan hal ini akan merugikan sekali.

Maka dia lalu berkata kepada Jenderal Kao.

"Kalau Goanswe tidak berkeberatan, ijinkanlah saya untuk pergi menyelundup ke benteng itu dan menangkap Panglima Kim si pemberontak itu. Kalau dia dan kaki tangannya sudah ditangkap dan dilumpuhkan, tentu pasukannya yang tidak tahu apa-apa itu akan menyerah. Tenaga pasukan itu masih amat dibutuhkan, bukan? Perang terbuka antara saudara sendiri hanya akan melemahkan kedudukan pertahanan di perbatasan ini."

Kao Liang memandang dengan wajah berseri.

"Tepat sekali. Aku memang sudah mempunyai rencana demikian, hanya tidak berani minta bantuanmu karena engkau bukan anak buah kami, Taihiap. Dan untuk menyuruh orang lain, kiranya tidak ada di antara anak buahku yang memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi sehingga diharapkan akan berhasil menangkap pengkhianat itu tanpa menimbulkan perang saudara. Kalau Gak-taihiap bersedia, kita akan bersama menangkapnya, dan biarlah pasukanku hanya mengurung saja."

Jenderal Kao dan Bun Beng lalu mengatur rencana siasat mereka untuk menangkap Kim Bouw Sin dan kaki tangannya tanpa menimbulkan perang saudara.

Sementara itu Syanti Dewi dipersilakan untuk mengaso dan tinggal di dalam sebuah kamar dan dilayani dengan hormat, dianggap sebagai seorang tamu agung.

Bagaimanakah keadaan Ceng Ceng?

Benarkah seperti dugaan Jenderal Kao, Gak Bun Beng dan Syanti Dewi bahwa dara perkasa itu tewas di dalam sumur yang mengandung gas beracun dan sukar diukur dalamnya itu?

Untuk mengetahui keadaan Ceng Ceng, sebaiknya kita mengikuti semua pengalamannya.

Dara perkasa itu terkejut bukan main dan merasa ngeri ketika dia menyelamatkan Jenderal Kao Liang dengan menendang tubuh pembesar itu sehingga terpental keluar dari lubang sumur, dia sendiri terdorong dan terjerumus ke dalam lubang tanpa dapat dicegah lagi!

Dia merasa ngeri dan ketika tubuhnya melewati bagian yang ada gasnya, dia tak dapat bernapas dan pingsan.

Kalau saja dia lebih lama berada di bagian itu, tentu dia akan tewas oleh gas beracun.

Akan tetapi, ternyata bahwa gas itu keluar dari dinding sumur, bukan dari dasar sumur, maka setelah tubuhnya yang melayang ke bawah itu melewati sumber gas, Di sebelah bawah tidak ada gas beracun ini dan dia selamat, biarpun masih dalam keadaan pingsan dan masih terus melayang ke bawah, ke dalam sumur yang seperti tidak ada dasarnya itu.

Daiam keadaan pingsan meluncur ke bawah, tentu tubuhnya akan hancur lebur kalau terbanting ke dasar sumur itu.

Akan tetapi, tidak jauh dari dasar sumur yang merupakan lantai batu keras, tiba-tiba tubuh Ceng Ceng terhenti dan tertahan oleh sesuatu.

Kiranya dia telah ditangkap oleh seekor ular besar!

Ular ini besarnya melebihi paha seorang dewasa dan panjangnya lima meter lebih!

Dengan ekornya, ular itu telah "menangkap"

Tubuh Ceng Ceng, membelit pinggang dara itu dengan ekornya sehingga Ceng Ceng tidak sampai terbanting mati di dasar sumur.

Memang sudah menjadi kebiasaan ular besar ini untuk menangkap binatang apa saja yang kebetulan jatuh dari atas, yang kemudian menjadi mangsanya.

Kini, memperoleh korban seorang manusia, ular itu mulai mendekatkan kepalanya kepada Ceng Ceng, dan tubuhnya melingkari batu dinding yang menonjol.

Matanya ber kilat-kilat, lidahnya keluar masuk dan agaknya dia sudah mengilar sekali melihat calon mangsanya.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis tajam dari bawah, suara mendesis yang membuat ular itu tampak terkejut dan menoleh ke bawah.

Kembali terdengar suara mendesis-desis penuh kemarahan dari mulut seorang nenek yang duduk mendeprok di atas lantai sumur itu.

Mula-mula ular besar itu meragu, akan tetapi kemudian dengan perlahan dia merayap turun setelah menggigit punggung baju Ceng Ceng yang masih pingsan, membawa gadis ini turun menghampiri nenek yang duduk di bawah itu.

Setelah tiba di depannya, nenek itu berkata.

"Lepaskan dia!"

Ular itu melepaskan gigitannya sehingga tubuh Ceng Ceng menggeletak di atas lantai batu, kemudian mengangkat kepalanya dan mendesis-desis seperti ragu-ragu.

"Pergi....!"

Nenek itu menjerit lagi, tangan kirinya diangkat ke atas dan seperti seekor anjing jinak yang dibentak majikannya, ular besar itu mengeluarkan suara berkokok lalu merayap pergi, naik lagi ke atas.

Ceng Ceng mengeluh, membuka matanya dan cepat meloncat bangun, berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Cahaya dari atas mendatangkan penerangan yang cukup dan ketika dia menengok ke atas, dia seperti melihat benda bulat yang bercahaya di dalam tempat gelap ini.

Kemudian dia teringat dan tahu bahwa benda bulat bercahaya itu adalah mulut sumur yang demikian tingginya seperti sebuah matahari yang aneh.

Matanya mulai terbiasa dengan keadaan remang-remang itu dan dia menggigil teringat betapa tubuhnya terjatuh dari tempat yang sedemikian tingginya.

Akan tetapi mengapa dia tidak mati?

Mengapa tubuhnya tidak hancur, bahkan luka pun tidak, hanya terasa agak sakit di pinggangnya?

Mendadak ia meloncat mundur ketika melihat gerakan di depannya.

Ketika dia memandang, hampir dia menjerit saking ngerinya.

Tadi dia tidak melihat apa-apa karena memang tempat itu agak gelap dan di lantai dasar sumur itu yang kelihatan hanya warna hitam belaka.

Kini baru terlihat olehnya bahwa di depannya, duduk di atas lantai, terdapat seorang manusia yang keadaannya amat aneh dan mengerikan!

Ceng Ceng mengerahkan kekuatan pandang matanya agar dapat melihat lebih jelas lagi.

Jantungnya berdebar penuh ketegangan karena dia tidak tahu apakah mahluk yang berada di depannya ini.

Manusia ataukah setan?

Muka yang amat pucat dan kurus, hanya tengkorak terbungkus kulit, rambutnya panjang riap-riapan, tubuhnya kurus kering terbungkus kain lapuk, kedua kakinya ditekuk di bawah dan kini dia memandang kepada Ceng Ceng dengan sepasang mata yang berkilauan dalam gelap seperti mata kucing dan mulut yang tak bergigi lagi itu menyeringai aneh, amat mengerikan hati Ceng Ceng, apalagi ketika dia melihat betapa nenek itu merangkak mendekatinya dengan menggunakan kedua siku lengannya, mengesot karena kedua kaki itu ternyata lumpuh.

Mahluk ini lebih menyerupai binatang aneh atau setan daripada seorang manusia.

"Heh-heh-heh, kau cantik, cantik dan muda....!"

Nenek itu berkata, suaranya melengking tinggi mengejut-kan hati dan Ceng Ceng merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin.

"Kau.... siapakah....?"

Akhirnya dara itu dapat juga mengeluarkan suara melalui kerongkongannya yang terasa kering.

"Dan.... bagaimanakah aku dapat.... selamat tiba di sini....?"

Dia memandang ke atas, ke arah "matahari"

Yang tinggi itu dan bergidik. Tak mungkin manusia dapat hidup setelah terjatuh dari tempat setinggi itu, pikirnya.

"Heh-heh, kalau tidak ada Siauw-liong (Naga Kecil) itu, tubuhmu tentu sudah hancur di lantai batu ini, heh-heh!"

Nenek itu berkata sambil menudingkan telunjuk kirinya ke atas.

Ceng Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan hampir dia menjerit.

Otomatis dia meloncat ke belakang ketika dia melihat ular besar yang tadinya tak tampak olehnya itu, melingkar di dinding sumur dan memandang ke bawah dengan mata berkilat-kilat.

Seekor ular yang besar dan panjang sekali, yang disebut Naga Kecil oleh nenek itu!

Bagaimana ular besar itu dapat menolongnya?

Pinggangnya terasa sakit, tentu pernah dililit oleh tubuh ular itu.

Ceng Ceng bergidik ngeri.

"Dan sekarang engkau tentu sudah aman di dalam perutnya kalau saja tidak ada Ban-tok Mo-li, heh-heh-heh!"

"Ban-tok Mo-li....?"

Ceng Ceng bertanya heran. Dia tidak pernah mendengar nama julukan Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun).

"Ya, Ban-tok Mo-li Ciang Si, aku sendiri, heh-heh. Ular Siauw-liong itu menyambarmu ketika tubuhmu melayang turun, sebelum dia mengirimmu ke dalam perutnya, aku mencegahnya."

Mengertilah kini Ceng Ceng apa yang telah terjadi dengan dirinya.

Betapa pun menjijikkan dan menakutkan keadaannya, dia menduga bahwa nenek yang bernama Ban-tok Mo-li ini tentulah seorang yang memiliki kepandaian hebat dan telah menolongnya tadi, maka dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.

"Banyak terima kasih teecu haturkan kepada Locianpwe yang telah menolong teecu dari cengkeraman maut."

"Heh-heh, aku senang menolongmu, aku senang bertemu denganmu. Siapakah namamu?"

"Nama teecu (murid) adalah Lu Ceng."

"Kau dapat tiba di sini dengan selamat, ini namanya jodoh! Lu Ceng, mari pergi ke tempat tinggalku. Kau lihat, aku tidak bisa jalan. Maukah engkau menggendongku kalau memang benar kau berterima kasih kepadaku?"

Ceng Ceng bergidik, akan tetapi dia menekan perasaannya dan mengangguk.

Akan tetapi ketika dia hendak membungkuk untuk mengangkat tubuh nenek yang kedua kakinya lumpuh itu tiba-tiba tubuh itu melesat ke atas dan tahu-tahu telah berada di punggungnya!

Dia terkejut bukan main menyaksikan kelincahan luar biasa ini.

"Heh-heh, kau gendonglah aku lewat terowongan itu."

Nenek itu menuding ke depan.

Ceng Ceng lalu menggendong nenek itu melalui terowongan yang gelap sekali.

Kalau tidak ada nenek itu yang memberi petunjuk, tentu dia akan menabrak dinding.

Untungnya nenek itu sudah hafal benar akan jalan terowongan gelap ini karena dia selalu memperingatkan Ceng Ceng, membelok ke kiri, ke kanan, merendahkan tubuh agar tidak terbentur kepalanya dan sebagainya.

Setelah melalui terowongan yang berliku-liku dan gelap itu sepanjang ratusan meter, akhirnya tampak cahaya terang dan keluarlah Ceng Ceng dari terowongan, memasuki sebuah guha yang menghadapi jurang amat curamnya.

"Heh-heh-heh, di guha sinilah aku tinggal,"

Kata nenek itu, masih tetap duduk di atas punggung Ceng Ceng.

Dara ini melangkah ke depan, ke pinggir jurang di depan guha, menengok ke bawah dan bergidik ngeri.

Jurang itu selain curam tak mungkin dituruni, juga tidak nampak dasarnya karena terhalang oleh uap halimun saking dalamnya!

Menengok ke kanan kiri guha, juga merupakan dinding batu yang curam dan tegak lurus, licin dan tidak mungkin dijadikan jalan untuk meninggalkan tempat itu.

Dia benar-benar telah terjebak ke dalam tempat yang benar-benar terputus hubungannya dengan dunia ramai!

"Heh-heh-heh, kau mencari jalan keluar?

Tidak mungkin, Lu Ceng.

Aku sendiri sudah dua puluh tahun lebih berada di sini, tidak menemukan jalan keluar.

Jalan satu-satunya hanyalah melalui mulut sumur itu, dan tidak mungkin ada manusia dapat naik melalui jalan itu karena dinding sumur itu banyak mengeluarkan gas beracun.

Dan menuruni tebing-tebing jurang di sini, sama dengan membunuh diri.

Engkau sudah berjodoh denganku untuk menemaniku selama hidupmu di tempat ini, anak manis."

"Tidak! Tidak mungkin....!"

Ceng Ceng menjerit.

"Harap Locianpwe turun, teecu hendak mencari jalan keluar."

Melihat dara itu hendak menurunkannya, tiba-tiba nenek itu berkata.

"Tidak, aku tidak mau turun lagi selamanya darl punggungmu, heh-heh-heh!"

Ceng Ceng menjadi terkejut sekali, terkejut dan marah.

Kedua tangannya sudah bergerak hendak menangkap tubuh nenek itu dan memaksanya turun, akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa jari-jari tangan nenek itu menyentuh ubun-ubun kepalanya.

"Jangan bergerak! Kalau bergerak, kepalamu akan kuhancurkan!"

Nenek itu membentak, suaranya mendesis-desis seperti ular marah.

"Aku sudah terlalu lama hidup tanpa kaki, merayap seperti ular. Aku ingin hidup wajar, ingin melihat dunia ramai dan tak mungkin kulakukan tanpa kaki. Sekarang aku sudah mendapatkan kedua kaki, kakimu, dan aku tidak akan melepaskannya lagi!"

"Locianpwe.... gila....!"

Ceng Ceng berseru, matanya terbelalak dan ngeri dia membayangkan bahwa untuk selamanya nenek itu tidak mau turun dari punggungnya!

"Heh-heh, aku ahli racun yang nomor satu di dunia ini.

Ingat, julukanku adalah Ban-tok (Selaksa Racun) dan memang aku mengenal selaksa racun yang terdapat di dunia ini.

Aku bisa menggunakan ilmuku untuk menanam tubuhku ini di punggungmu, melekat untuk selamanya dan kedua kakimu menjadi pengganti kedua kakiku yang lumpuh, ha-ha-ha!"

Bukan main ngeri dan jijiknya rasa hati Ceng Ceng.

Dia telah diselamatkan oleh seorang nenek gila, seorang nenek yang berwatak seperti iblis.

Kiranya masih lebih baik mati daripada harus hidup seperti itu, selamanya menggendong nenek ini, siang malam, di waktu dia makan, di waktu tidur, mandi dan lain-lain.

Selamanya!

Mana mungkin?

Lebih baik mati!

Dia tidak takut mati, akan tetapi agaknya nenek tua renta ini masih sayang akan hidupnya, masih suka hidup.

Dara itu tersenyum dan dengan langkah seenaknya dia mendekati tebing jurang lalu berkata.

"Baiklah, Locianpwe. Kalau begitu mari kita mampus bersama!"

"Heiii....! Apa.... apa maksudmu....?"

Nenek itu menjerit sambil memandang ke bawah, ke dalam jurang yang tertutup kabut tebal itu.

"Locianpwe lebih suka hidup, akan tetapi aku lebih suka mati. Kita meloncat ke bawah, mungkin di bawah sana terdapat air yang akan menelan dan membuat kita mati tenggelam, mungkin juga batu-batu runcing tajam seperti pedang yang akan menerima tubuh kita sampai hancur berkeping-keping, atau batu keras yang menerima tubuh kita sampai gepeng. Mari kita mampus bersama!"

"Heiii, jangan....! Gila kau....! Dua puluh tahun aku bersusah-payah mempertahankan hidupku, masa sekarang akan kau akhiri begitu saja. Biarkan aku turun....!"

Akan tetapi kini Ceng Ceng menggunakan kedua tangannya memegang erat-erat dua kaki yang lumpuh itu.

"Tidak, aku tidak akan menurun-kanmu, aku akan mengajakmu mampus bersama, untuk menjadi temanku pergi ke neraka menerima siksaan di sana!"

"Lepaskan.... aihh.... aku tidak mau mati.... belum mau mati....!"

Kini nenek itu merengek dan hampir menangis.

Ceng Ceng tersenyum geli.

Biarpun dia telah terjebak ke tempat mengerikan itu, namun pada saat itu dia lupa akan kesengsaraannya dan dia gembira dapat mempermainkan nenek yang seperti iblis ini.

"Aku hanya mau menurunkan Locian-pwe dan tidak akan meloncat ke bawah kalau Locianpwe suka berjanji untuk mengangkat murid kepada teecu dan menurunkan semua ilmu kepandaian Locianpwe kepada teecu."

"Baik, aku berjanji.... lekas mundur jauhi tebing ini.... hihhh....!"

Ceng Ceng melompat mundur, melepaskan kedua kaki nenek itu dan Ban-tok Mo-li meloncat turun.

Mereka berhadapan dan kembali Ceng Ceng merasa ngeri dan jijik, akan tetapi juga kasihan menyaksikan nenek itu menelungkup seperti seekor kadal.

"Kau.... kau bocah nakal dan cerdlk, hi-hik! Kau memang pantas menjadi muridku, Lu Ceng. Aku memang membutuhkan teman di sini, dan kalau kau menjadi muridku, berarti kita tidak akan saling berpisah pula, Nah, mulai saat ini kau menjadi muridku."

Karena tidak ada pilihan lain dan agaknya dia harus pula mengandalkan kepandaian nenek ini untuk dapat keluar, selain itu juga dia ingin memperdalam ilmunya agar dia kelak dapat mencari sendiri jalan keluar kalau nenek itu tidak mau membantunya, Ceng Ceng lalu menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.

"Teecu Lu Ceng menghaturkan terima kasih kepada Subo (Ibu Guru)."

"Heh-heh-heh, engkau tidak tahu betapa beruntungnya kau hari ini, Lu Ceng. Engkau tidak tahu siapakah Ban-tok Mo-li Ciang Si yang kau angkat menjadi guru ini. Aku sendiri mungkin tidak terkenal, akan tetapi suhengku adalah seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu dari Pulau Neraka. Suhengku Bu-tek Siauw-jin (Manusia Hina Tanpa Tanding) adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang suka merantau dan dari Suheng itu aku memperoleh banyak ilmu mujijat. Hi-hik, kau beruntung sekali."

Mulai hari itu Ceng Ceng berdiam di tempat terasing ini bersama gurunya dan di dalam penyelidikannya, tempat itu benar-benar terputus dari dunia luar.

Untung bahwa di dalam terowongan terdapat sumber air yang terus menetes dari dinding batu, dan untuk menyambung hidup, selama puluhan tahun gurunya hanya makan daun-daun dari tanaman yang merambat di tepi jurang di luar guha, jamur-jamur yang banyak tumbuh di dalam terowongan, ribuan macam banyaknya, dan akar-akar tetumbuhan yang terpendam di dalam tanah di guha dan di luar guha.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak mau meniru gurunya yang kadang-kadang makan cacing dan binatang dalam tanah lainnya.

Dia merasa jijik dan karena dia tidak lumpuh seperti gurunya, akhirnya dia berhasil juga menyambit jatuh burung-burung yang kebetulan terbang di tempat tinggi itu.

Setelah berhari-hari tinggal dengan Ban-tok Mo-li Ciang Si, dia mendengar penuturan gurunya dan memperoleh kenyataan bahwa gurunya itu memang memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.

Tidak saja ilmu silatnya luar biasa, akan tetapi terutama sekali gurunya adalah seorang ahli besar dalam soal racun.

Berkat latihannya yang tekun selama beberapa puluh tahun, gurunya telah me-nguasai semua racun, bahkan seluruh tubuh gurunya mengandung racun yang dapat dipergunakan untuk membunuh lawan.

Dari tamparan tangannya, sampai jari kukunya, sabetan rambutnya, gigitan mulut yang tak bergigi lagi, sampai ludahnya mengandung racun yang cukup berbahaya dan dapat membunuh lawan!

Biarpun pada waktu itu dia belum melihat kemungkinan untuk dapat terbebas dari neraka itu, namun Ceng Ceng tidak putus asa dan tidak mau membenamkan dirinya dalam kedukaan atau keputusasaan yang menggelisahkan.

Dia tetap gembira, merasa yakin bahwa pada suatu saat kalau ilmu kepandai-annya sudah tinggi, dia pasti akan dapat keluar dari tempat itu.

Pikiran inilah yang membuatnya tetap gembira dan bahkan membuatnya makin tekun mempelajari ilmu dari nenek luar biasa itu.

Pada suatu hari, kurang lebih sebulan semenjak Ceng Ceng berada di tempat itu, sehabis latihan pagi, Ceng Ceng memberanikan dirinya bertanya kepada gurunya.

"Subo, bagaimanakah Subo sampai dapat berada di tempat ini, dan bagaimana pula Subo yang berilmu tinggi sampai dapat menderita penyakit lumpuh kedua kaki Subo?"

Pada saat itu, Ban-tok Mo-li Ciang Si sedang menggelung rambutnya.

Semenjak Ceng Ceng berada di situ, melihat kebersihan muridnya yang setiap hari mandi dan mencuci pakaian, dia terbawa oleh kebiasaan ini dan mulailah dia mau mengurus tubuh dan pakaiannya.

Pakaiannya kini bersih, dicucikan oleh muridnya dan rambutnya pun bersih dan disanggul, tidak seperti biasanya terurai dan kotor, membuatnya kelihatan seperti kuntilanak.

Mendengar pertanyaan muridnya itu, mukanya yang pucat menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar marah.

"Kalau yang mengajukan pertanyaan itu orang lain, tentu akan kubunuh seketika juga karena pertanyaan itu mengingatkan aku akan hal-hal yang tidak menyenangkan. Akan tetapi karena kau muridku, sebaiknya kau tahu karena hanya engkaulah yang kuharapkan kelak akan dapat membalaskan penderitaanku ini kepada mereka itu."

"Mereka siapakah, Subo? Dan apa yang mereka lakukan kepadamu?"

"Ahhh...."

Nenek itu menarik napas panjang.

"Mungkin hari ini atau besok mereka akan datang ke sini untuk menagih janji, mengambil kitab catatanku tentang racun...."

Ceng Ceng menekan jantungnya yang berdebar-debar keras penuh ketegangan.

Mereka akan datang ke tempat itu?

Hal ini membuktikan bahwa terdapat jalan untuk memasuki tempat ini dan berarti ada pula jalan keluarnya!

Biarpun dia tidak mengatakan sesuatu, gurunya dapat menduga jalan pikirannya dan gurunya berkata.

"Percuma saja, Lu Ceng. Sudah hampir dua puluh tahun aku berada di sini dan apakah kau kira aku selama itu tidak berusaha menemukan jalan keluar itu? Akan tetapi aku tidak berhasil. Jalan rahasia itu hanyalah diketahui oleh mereka berdua, karena memang tempat ini adalah milik mereka, dahulu adalah tempat pertapaan mereka."

"Siapakah mereka?"

"Dua orang iblis berwajah manusia yang terkenal dengan ulukan Siang Lo-mo (Sepasang Iblis Tua), dua orang kembar yang amat jahat."

"Mengapa mereka menganiaya Subo?"

Nenek itu kembali menarik napas panjang.

"Dua puluh tahun yang lalu mereka bertemu denganku dan hanya setelah mereka maju mengeroyok saja aku terpaksa kalah. Mengetahui bahwa aku memiliki ilmu yang tinggi tentang racun, mereka memaksaku untuk membuatkan kitab cacatan tentang selaksa racun. Aku tidak sudi, biarpun mereka memaksaku. Mereka amat keji, dengan marah mereka lalu menghancurkan tulang-tulang kedua kakiku."

"Aihhh.!"

Ceng Ceng menjerit ngeri.

"Kemudian mereka membawa aku yang pingsan ke dalam tempat ini. Ketika aku sadar, mereka mengancam akan datang membunuhku kalau aku tidak mau memenuhi permintaan mereka. Aku tetap menolak dan sampai sekarang mereka belum juga membunuhku. Karena aku tahu bahwa tidak dapat keluar dari sini, aku memperdalam ilmuku tentang racun dan aku siap untuk membunuh mereka. Paling akhir mereka mengancam bahwa mereka akan datang untuk yang terakhir, kalau aku tidak memberikan catatan racun, mereka tentu benar-benar akan membunuhku. Hari yang dijanjikan itu adalah hari ini atau besok pagi. Akan tetapi, aku sudah siap menghadapi mereka dan mereka akan mampus, hi-hi-hi....!"

"Maksud Subo, Subo hendak melawan dan akan dapat mengalahkan mereka?"

"Tidak, kalau melawan berterang, tidak mungkin dapat menangkan dua orang kembar itu. Akan tetapi sudah bertahun-tahun aku merencanakan akal, mari kau lihat saja dan bantu aku membuat persiapan!"

Ceng Ceng mengikuti subonya mema-suki guha dan sesampainya di mulut terowongan yang berada di sebelah dalam guha, nenek itu berhenti dan mengeluarkan bunyi mendesis-desis dan diseling suara melengking.

"Subo memanggil Siauw-liong (Naga Kecil)?"

Ceng Ceng yang sudah pernah mendengar subonya memanggil ular besar itu bertanya.

Selama sebulan di tempat itu baru pagi hari ini dia merasakan ketegangan hebat setelah mendengar bahwa tempat itu akan kedatangan musuh yang lihai, bukan hanya tegang karena musuh itu melainkan karena harapannya bahwa dia akan dapat menemukan jalan keluar yang dirahasiakan oleh sepasang kakek iblis itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara mendesis-desis dan muncullah ular besar yang merayap dari dalam terowongan.

Nenek itu juga merayap dekat, lalu memegang leher dan perut ular dengan kedua tangan, kemudian dengan gerakan tiba-tiba dia melemparkan ular itu ke atas, ke arah batu menonjol di atas guha.

Ular itu menggunakan ekornya melibat batu dan berdiam di situ tak berani bergerak lagi, melingkari batu.

Setelah melihat ular itu di tempat seperti yang dikehendakinya, Ban-tok Mo-li tertawa, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, membuka bungkusan yang ternyata berisi bubuk berwarna hitam.

Ditaburkannya bubuk itu di sepanjang jalan terowongan di mulut guha sebelah dalam.

Tidak ada tampak bekasnya namun lantai yang ditaburi bubuk sambil mengesot mundur itu, dari mulut terowongan sampai ke dalam sejauh tiga meter lebih telah terlapis dengan bubuk hitam.

"Ha-ha-ha, kau akan melihat mereka bergelimpangan, Lu Ceng."

Nenek itu tertawa sambil menganto-ngi lagi kertas pembungkus racun hitam tadi.

"Apakah Subo akan berhasil?"

Ceng Ceng bertanya ragu, mengingat akan cerita gurunya betapa lihai kedua orang kakek itu.

"Hi-hi-hik, tentu saja! Racun itu tidak tampak sama sekali, akan tetapi sekali menyentuhnya, biar memakai sepatu sekalipun, yang menginjaknya akan roboh dan tewas. Andaikata kakek kembar iblis busuk itu mampu melewatinya, tentu Siauw-liong yang girang melihat kedatangan korban akan menyerang mereka. Serangan ini tentu akan membuat mereka meloncat mundur lagi dan mau tidak mau akan menginjak racun hitam. Heh-heh-heh!"

"Kalau gagal bagaimana, Subo?"

"Hemm, gagal? Aku sudah siap dengan jarum-jarumku yang akan kusebar dari sebelah luar guha. Dan engkau selama ini sudah berlatih melempar jarum beracun dan pasir beracun, kau bantu aku menyerang dari samping kiri."

"Baik, Subo."

"Nah, kita siap sekarang."

Nenek itu lalu mengesot ke sebelah kanan mulut guha, bersembunyi di balik batu besar.

Ceng Ceng juga melompat ke samping kiri mulut guha, siap dengan jarum merah beracun dan pasir yang dikantonginya.

Jantungnya berdebar tegang.

Yang menjadi perhatian sepenuhnya adalah kemungkinan baginya untuk menemukan jalan rahasia keluar dari tempat itu!

Kalau selama sebulan ini dia kurang giat mencari jalan keluar adalah karena dia sudah putus harapan untuk dapat menemukan jalan keluar, karena dia tidak tahu bahwa memang terdapat jalan rahasia.

Kini, setelah mendengar cerita gurunya, timbul semangatnya.

Kalau orang lain mampu keluar masuk tempat ini, mengapa dia tidak?

Menanti merupakan pekerjaan yang paling melelahkan.

Apalagi dalam suasana di mana ketegangan mencekam hati seperti saat itu.

Sejak pagi Ceng Ceng menanti bersama subonya, di kanan kiri mulut guha, bersembunyi sambil mengintai ke sebelah dalam terowongan yang hitam pekat.

Apalagi dia sebagai manusia yang dipermainkan pikiran dan khayal pikirannya sendiri, sedangkan ular besar itu pun mulai kelihatan gelisah akan tetapi tidak berani merayap turun karena takut sekali kepada nenek itu.

Hanya kepalanya saja digoyang-goyang ke kanan kiri, matanya melirik-lirik dan lidahnya berkali-kali dijulurkan keluar sambil mengeluarkan suara mendesis-desis.

Setiap kali dia mendesis, nenek itu mendesis-desis keras dan ular itu terdiam.

Ceng Ceng sudah hampir tidak kuat lagi menahan.

Dia adalah seorang dara yang lincah gembira, mana dia dapat tahan untuk diam saja seperti arca selama berjam-jam?

Matahari telah naik tinggi dan sudah lebih dari tiga jam mereka menanti di situ.

Akan tetapi baru saja dia hendak membuka mulut mengajak subonya bicara, nenek itu menggerakkan tangan memberi isyarat agar dia tidak mengeluarkan suara.

Ceng Ceng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya.

Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main.

Dengan amat jelas terdengarlah suara orang tertawa, jauh dari sebelah dalam terowongan itu!

"Ha-ha-ha-ha!

Ban-tok Mo-li nenek ular yang buruk!

Keluarlah kau...., kami datang menagih janji!

Ha-ha-ha-ha!"

Ceng Ceng merasa ngeri.

Baru suaranya saja sudah membayangkan bahwa orang yang tertawa itu mempunyai kekejaman luar biasa!

Keadaan menjadi sunyi sekali dan amat menyeramkan setelah suara tertawa dan kata-kata itu habis gemanya.

Dara itu melirik ke arah subonya dan melihat betapa nenek itu juga tegang, memandang ke dalam guha sambil mengintai dari balik batu besar, jarum-jarum hitam di kedua tangannya.

Ceng Ceng juga mempersiapkan jarum merah di tangan kanan dan pasir di tangan kiri.

Pasir yang digenggamnya itu bukanlah pasir biasa melainkan pasir yang didapat di lantai guha itu dan yang sudah direndam dalam racun oleh subonya.

Dia sendiri sudah menggunakan obat pemunahnya sehingga tidak berbahaya baginya, namun lawan yang terkena pasir ini, sedikit saja lecet kulitnya tentu akan terancam bahaya maut karena dari luka itu racun pasir akan meracuni semua jalan darahnya!

Tiba-tiba tampak bayangan dua orang di sebelah dalam terowongan.

Karena di dalam terowongan itu memang gelap sekali, maka yang tampak hanya bayangannya saja, akan tetapi dengan jantung berdebar Ceng Ceng merasa pasti bahwa bayangan itu tentulah sepasang kakek kembar Siang Lo-mo, musuh dari gurunya.

Apakah mereka itu akan menginjak lantai yang beracun?

Ataukah akan meloncati tempat itu?

Akan tetapi kini dia mengerti akan siasat gurunya.

Gurunya mengajak dia bersembunyi, dan hal ini merupakan jebakan dan pancingan.

Kalau tidak kelihatan ada orang di situ, tentu dua orang kakek itu akan berhati-hati dan akan maju perlahan-lahan, tidak berani sembarangan meloncat begitu saja, khawatir akan terjebak.

Dan karena hati-hatinya, tentu dua orang kakek itu akan menginjak lantai yang sudah dipasangi racun dan yang tidak nampak sama sekali.

Ceng Ceng melihat dua orang atau dua bayangan itu bergerak melangkah maju, dan dia melihat pula betapa Siauw-liong, ular besar itu sudah mulai menjulurkan kepalanya ke bawah, agaknya dengan air liur membasahi lidahnya binatang itu sudah siap untuk mencaplok korban yang akan menjadi mangsanya itu.

Setapak demi setapak dan bayangan orang itu melangkah maju, makin mendekati lantai beracun, dan makin berdebar pula rasa jantung Ceng Ceng.

Mereka itu makin dekat dan tiba-tiba terdengar jerit melengking dan kedua orang itu roboh tepat di atas lantai beracun.

Mereka roboh begitu kaki mereka menyentuh lantai itu!

Bukan main ngeri, kagum dan juga girangnya hati Ceng Ceng karena melihat dua orang musuh tangguh dari gurunya itu dapat dirobohkan sedemikian mudahnya.

Dia hendak meloncat keluar akan tetapi mengurungkan niatnya ini ketika dia menoleh ke arah gurunya, dia melihat gurunya itu dengan muka pucat dan pandang mata gelisah memberi isyarat agar dia tetap bersembunyi.

Bahkan gurunya kini siap untuk melemparkan jarum-jarumnya ke depan!

Selagi Ceng Ceng terheran-heran dan bingung melihat sikap gurunya, tiba-tiba terdengar suara dua orang tertawa-tawa dan dari dalam terowongan berkelebatlah dua sosok bayangan orang.

Sambil tertawa-tawa dua orang itu meloncat ke depan, menginjak punggung dua orang pertama yang masih menelungkup di atas lantai beracun, kemudian dari punggung itu mereka meloncat ke depan dan barulah tampak oleh Ceng Ceng bahwa yang meloncat hanya satu orang sedangkan orang ke dua duduk di atas pundak orang pertama.

Orang pertama yang berada di bawah itu memakai sepatu kulit tebal dan orang ke dua yang duduk di atas pundak orang pertama itu tidak bersepatu, bahkan tidak berpakaian kecuali hanya sepotong cawat!

Tiba-tiba ular besar tadi menyerang ke bawah.

"Heh-heh-heh!"

Orang yang tidak berpakaian dan hanya bercawat itu terkekeh.

"Masih ada permainanmu yang lain lagi, Nenek Buruk?"

Bentaknya dan kedua tangannya bergerak cepat, dengan jari-jari tangan kurus panjang disodokkan ke arah kepala ular, jari-jari tangan itu telah menembus kulit ular seperti pisau-pisau runcing masuk ke dalam kepala dan leher ular besar itu!

Darah muncrat-muncrat dan tubuh ular itu melorot turun, mencoba untuk membelit dua orang tadi.

Pada saat itu, Ban-tok Mo-li sudah menggerakkan kedua tangannya bergantian dan sinar-sinar hitam menyambar ke arah dua orang kakek itu, disusul sinar-sinar merah dari jarum-jarum Ceng Ceng dan sinar putih dari pasir beracunnya.

Namun, sambil tertawa kakek yang telanjang itu telah memutar-mutar bangkai ular besar sehingga semua serangan jarum dan pasir mengenai tubuh ular, membuat ular itu mati seketika dan tidak berkelojotan lagi.

Kakek telanjang membuang bangkai ular dan melompat turun, kemudian kedua orang kakek itu melompat keluar mulut guha.

Ceng Ceng kini dapat memandang dengan jelas.

Wajah kedua orang kakek itu bentuknya sama benar dan jelas bahwa mereka adalah orang kembar.

Namun kesamaan ini lenyap oleh perbedaan-perbedaan lain yang amat mencolok.

Kakek pertama memakai pakaian lengkap dan serba baru, dari sepatu kulit sampai baju bulunya yang amat indah, mukanya pun berwarna pucat putih seperti kapur dan mukanya serius.

Melihat baju mantel bulu dan penutup kepala bulu halus yang mahal itu pantasnya dia adalah seorang hartawan besar yang mengenakan pakaian untuk musim salju dan agaknya dia terus merasa kedinginan!

Adapun kakek ke dua sama sekali tidak memakai pakaian kecuali cawat atau celana pendek sekali itu, tubuhnya yang kurus itu seperti selalu terasa gerah dan mukanya pun kemerahan seperti dipanggang!

Kakek inilah yang tertawa-tawa dan sikapnya seperti orang gembira biarpun wajahnya yang merah itu kelihatan menyeramkan seperti orang mabuk atau orang yang marah.

"Heh-heh-heh-heh, Ban-tok Mo-li, kaukira kami orang-orang bodoh? Untung kami menemukan dua orang di atas sana dan untung pula ada ular besar. Heh-heh!"

Kata kakek bermuka merah.

"Ban-tok Mo-li, cepat kau berikan kitab catatan racun kepada kami!"

Kakek muka putih menyam-bung.

Si Muka Putih ini berjuluk Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dunia Utara) sedangkan Si Muka Merah adalah adik kembarnya, berjuluk Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dunia Selatan).

Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, kedua orang kakek kembar ini lebih terkenal dengan sebutan Siang Lo-mo (Iblis Tua Kembar) dan pernah menyerbu ke Pulau Es memusuhi Pendekar Super Sakti namun dikalahkan oleh pendekar itu dan kedua orang isterinya yang sakti.

Mereka ini berasal dari Formosa (Taiwan) dan memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Si Muka Putih Pak-thian Lo-mo itu memiliki Im-kang yang amat kuat sehingga tubuhnya kedinginan terus maka dia selalu memakai pakaian tebal.

Sebaliknya, Si Muka Merah Lam-thian Lo-mo adalah seorang ahli Yang-kang sehingga tubuhnya yang kurus itu selalu telanjang karena dia merasa gerah terus.

"Aku tidak akan menyerahkan kitab apa pun kepada kalian dua manusia iblis!"

Ban-tok Mo-li memekik dengan marah, matanya memandang dengan sinar berapi penuh kebencian.

"Kau bosan hidup!"

Pak-thian Lo-mo membentak marah.

"Heh-heh-heh, siapa takut mampus? Kalian majulah, hendak kulihat siapa di antara kita yang akan mampus lebih dulu!"

Nenek itu menantang sambil tertawa mengejek.

"Singgg....!"

Pak-thian Lo-mo sudah melolos sabuknya yang panjang berupa pecut baja yang mengerikan.

"Eihh, Pak-heng (Kakak Pak), perlahan dulu. Jangan mudah dibujuk oleh nenek busuk ini. Keenakan kalau dia dibunuh begitu saja, ha-ha-ha!"

Lam-thian Lo-mo mencegah kakak kembarnya.

"Kalau dia berkeras tidak mau memberikan catatan itu memang sudah selayaknya dia mampus, akan tetapi harus mati perlahan-lahan dan kita siksa dulu sepuasnya!"

Agaknya Pak-thian Lo-mo yang amat menginginkan pengetahuan tentang segala macam racun itu, mengerti akan akal adik kembarnya, maka dia hanya bersungut-sungut sambil menyimpan kembali senjatanya yang ampuh.

"Ban-tok Mo-li dengarlah."

Lam-thian Lo-mo berkata sambil tertawa.

"Telah puluhan tahun engkau hidup seperti ular, kedua kakimu lumpuh, akan tetapi engkau masih dapat menggunakan kedua lenganmu untuk mengesot dan merangkak. Sekarang, kalau kau tidak mau menyerahkan catatan itu, kami akan melumpuhkan kedua lenganmu pula. Hendak kullhat bagaimana kau akan dapat merayap maju, apakah akan berlenggak-lenggok seperti ular, ha-ha-ha!"

"Heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo. Siapa tidak mengetahui kelicikan kalian manusia iblis yang sudah mau mampus?"

Nenek itu balas mengejek.

"Kalian takut mendekati aku, karena begitu mendekat, kalian tentu akan mampus, maka kalian menggertak. Hendak kulihat bagaimana kalian hendak membuntungi atau melum-puhkan kedua tanganku ini, hi-hik. Majulah!"

Dua orang kakek itu saling pandang.

Memang apa yang diucapkan oleh nenek ini benar.

Mereka berdua maklum betapa nenek ini setelah lumpuh kedua kakinya, selama dua puluh tahun memperdalam ilmunya sehingga kini merupakan lawan yang amat berbahaya, seolah-olah keadaan di sekeliling nenek itu beracun!

"Pak-heng, memang kau benar.

Nenek busuk ini harus dihajar.

Disangkanya kita tidak bisa menghajarnya dari jarak jauh!"

Kata Si Muka Merah.

"Memang dia harus dihajar sampai mampus!"

Jawab Si Muka Putih.

"Lam-te, mari kita serang dia dengan batu dari jauh, baru kita menggunakan senjata."

Pada saat itu, Ceng Ceng sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia meloncat ke depan sambil berseru.

"Dua orang kakek berhati kejam!"

"Lu Ceng, jangan....!"

Ban-tok Mo-li berteriak namun terlambat karena dara itu sudah menyerang kepada dua orang kakek itu dengan pukulan-pukulan tangannya.

"Ha-ha-ha, Ban-tok Mo-li sudah mempunyai seorang pembantu yang nekat!"

Lam-thian Lo-mo tertawa mengejek ketika dia bersama kakaknya dengan mudahnya mengelak dari serangan-serangan Ceng Ceng yang marah sekali.

"Sepasang manusia iblis keji! Kalian telah menyiksa Subo, telah membuat hidup Subo amat sengsara, dan kalian masih saja mendesak dan mengganggunya!"

Ceng Ceng memaki-maki sambil menyerang lagi dengan ganas.

Namun semua serangannya gagal karena dua orang kakek itu amat mudah mengelaknya tanpa banyak bergerak.

Melihat betapa Ceng Ceng membelanya mati-matian, nenek itu tercengang dan terheran-heran.

Tadinya dia adalah seorang pembenci manusia, siapa pun dibencinya dan dimusuhinya karena dia seperti merasa bukan manusia lagi.

Juga terhadap Ceng Ceng sebetulnya dia benci, hanya karena dia enggan kehilangan dara itu yang telah datang di tempat itu dan dapat menjadi temannya, bahkan dapat pula kelak dipaksa untuk mengajaknya keluar, maka dia tidak membunuh Ceng Ceng bahkan menerimanya sebagai murid.

Akan tetapi sekarang, melihat betapa dara itu membelanya mati-matian, dengan nekat melawan dua orang kakek itu, timbul perasaan terharu dan sayang kepada Ceng Ceng, maka tentu saja dia menjadi amat khawatir melihat betapa Ceng Ceng menyerang dua orang kakek yang tentu saja sama sekali bukan lawan muridnya itu.

"Lu Ceng muridku...., jangan....! Mundurlah dan biar aku yang menghadapi mereka!"

Nenek itu berteriak-teriak sambil mengesot maju.

Dua orang kakek kembar itu adalah orang-orang yang cerdik.

Sebetulnya mereka tidak ingin benar membunuh nenek itu karena memang tidak mempunyai permusuhan apa-apa.

Yang penting bagi mereka adalah kepandaian nenek itu tentang racun, dan semua penyiksaan dan ancaman yang mereka lakukan terhadap Ban-tok Mo-li semata-mata karena ingin memaksa nenek itu menyerahkan catatan tentang racun.

Kalau sampai mereka membunuh nenek itu tentu karena kecewa dan marah akan kekerasan hati nenek itu.

Kini mereka dapat melihat sikap Ban-tok Mo-li, dan mendengar dalam suara nenek itu terkandung rasa sayang kepada gadis yang menjadi muridnya itu, maka sekaligus mereka telah dapat menentukan sikap dan akal mereka.

Memang ada pertalian batin yang aneh di antara dua orang kembar ini, kadang-kadang tanpa kata-kata mereka sudah dapat mengerti isi hati masing-masing.

Lam-thian Lo-mo tertawa bergelak, lalu tubuhnya bergerak membalas serangan Ceng Ceng.

Dara ini terkejut bukan main menyaksikan serangan yang amat dahsyat itu.

Lengan telanjang itu menyerangnya dengan berbareng, yang kiri mencengkeram ke arah dadanya dengan jari-jari terbuka, yang kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya.

Dia cepat meloncat ke belakang sambil menggerakkan kedua tangan menangkis, akan tetapi tiba-tiba ada hawa dingin menyambar dari arah belakang dan sebelum dia sempat mengelak, kedua pergelangan tangannya sudah ditangkap oleh kedua tangan Pak-thian Lo-mo!

Ceng Ceng meronta-ronta, akan tetapi Lam-thian Lomo tertawa-tawa dan sudah menyambar ke bawah dan di lain saat tubuh dara itu sudah tergantung dan terlentang seperti seekor rusa ditangkap dan hendak disembelih.

Kedua tangannya dipegang oleh Pak-thian Lo-mo sedangkan kedua kakinya dipegang oleh Lam-thian Lo-mo.

Ceng Ceng hanya meronta-ronta memaki-maki, akan tetapi tidak berdaya melepaskan diri dari pegangan kedua orang kakek itu.

Kalau mereka menghendaki, betapa mudahnya bagi mereka untuk membunuh dara itu.

"Lu Ceng....!"

Ban-tok Mo-li menjerit ketika melihat muridnya tertawan.

"Siang Lo-mo, keparat busuk! Lepaskan murid-ku!"

"Ha-ha-ha!"

Lam-thian Lo-mo tertawa dan bersama kakak kembarnya dia menghampiri tepi jurang depan guha.

"Ban-tok Mo-li, kau lihatlah dulu muridmu yang cantik jelita dan muda belia ini terbang ke bawah sana agar tubuhnya hancur lebur di dasar jurang yang tak tampak dari sini, dengar saja jeritnya yang melengking nanti agar dapat kau nikmati sebelum kau mampus pula di tangan kami. Ha-ha-ha!"

Bersama kakak kembarnya, Lam-thian Lo-mo mengayun-ayun tubuh dara itu dan siap untuk melepaskan pegangan dan melemparkan tubuh itu ke dalam jurang.

"Tunggu....! Tahan....! Kalian menghendaki catatan racun? Sudah kubuatkan....!"

Nenek itu menjerit penuh kegelisahan melihat tubuh muridnya sudah hampir dilempar ke jurang.

"Ha-ha-ha-ha, siapa percaya omonganmu, nenek busuk?"

Lam-thian Lo-mo mengejek.

"Bedebah! Ini kitabnya! Sudah kupersiapkan!"

Nenek itu merogoh pinggangnya mengeluarkan se

Jilid kitab kecil bersampul hitam.

"Bagus! Berikan itu kepada kami dan kami akan membebaskan muridmu,"

Kata pula Lam-thian Lo-mo, girang bukan main karena isi kitab itu akan membuat mereka berdua bertambah lihai.

"Lemparkan dia kepadaku dan aku akan melemparkan kitab ini kepadamu!"

Nenek itu kini menahan karena melihat betapa musuh amat menginginkan kitab itu.

"Baik, aku akan melemparkannya kepadamu. Akan tetapi kau juga harus melemparkan kitab itu kepadaku."

Lam-thian Lo-mo berkata.

"Nanti dulu, Lam-te!"

Pak-thian berkata tenang.

"Jangan sampai dapat ditipu nenek busuk itu! Peganglah tangan gadis ini!"

Lam-thian Lo-mo memegang pergelangan kedua kaki Ceng Ceng dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya kini menggantikan kakak kembarnya memegangi kedua pergelangan tangan gadis itu.

Kuat sekali kedua tangan kakek kurus bermuka merah ini sehingga Ceng Ceng merasa betapa kedua kaki tangannya seperti dijepit alat dari baja dalam genggaman jari-jari tangan kakek itu.

Pak-thian Lo-mo lalu mengeluarkan sepasang sarung tangan putih, kemudian memakainya.

Setelah itu baru dia berkata.

"Nah, sekarang pertukaran boleh dilakukan, Lam-te."

"Ha-ha-ha, kau benar cerdik, Pak-heng. Aku sampai lupa bahwa tentu kitab itu penuh dengan racun berbahaya pula!"

Dia memandang nenek itu yang kelihatan marah-marah.

"Ban-tok Mo-li, lagi-lagi siasatmu tidak berhasil, ha-ha! Hayo lempar kitab itu kepada Pak-heng dan aku akan melemparkan dara ini kepadamu!"

"Keparat, iblis busuk!"

Nenek itu memaki dan melemparkan kitab hitam kepada Pak-thian Lo-mo pada saat Lam-thian Lo-mo melemparkan tubuh Ceng Ceng kepadanya.

Tubuh Ceng Ceng tentu akan terbanting kalau saja kedua tangan subonya tidak menyangganya dan menariknya agar dara itu duduk di sebelahnya dan dapat dilindunginya.

Sementara itu, Pak-thian Lo-mo sudah membalik-balik kitab kecil dan wajahnya yang serius itu kini berseri melihat catatan racun-racun dengan obat pemunahnya.

Dia mengangguk kepada adik kembarnya dan keduanya lalu melompat jauh melewati kepala Ceng Ceng dan Ban-tok Mo-li, melompati pula lantai beracun seperti tadi, yaitu Lam-thian Lo-mo, di atas pundak kakak kembarnya yang meloncat dan menginjak mayat dua orang tadi sebagai batu loncatan, kemudian keduanya menghilang di dalam terowongan gelap.

Ceng Ceng sudah bangkit berdiri hendak mengejar, akan tetapi tangannya dipegang oleh nenek itu.

"Kau mau apa?"

"Subo, aku hendak membayangi mereka untuk mencari jalan keluar mereka."

"Sssttt.... percuma. Mereka bergerak cepat sekali dan kalau sampai ketahuan kau membayangi mereka, tentu kau akan mereka bunuh."

Ceng Ceng mengurungkan niatnya, akan tetapi diam-diam dia mengingat se-mua peristiwa tadi, tentang kemunculan mereka, suara mereka ketika pertama kali datang, agar dia dapat menyelidiki dan mengira-ngira dari mana kiranya mereka itu datang ke dalam terowongan.

Dia menyangka bahwa sudah pasti di dalam terowongan yang gelap itu terdapat sebuah pintu rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan dunia luar.

"Jangan mengharapkan yang bukan-bukan, muridku. Selama betahun-tahun aku telah menyelidiki seluruh tempat itu, telah memeriksa seluruh terowongan, namun tidak berhasil menemukan. Sekarang lebih baik kau tekun belajar agar dapat menguasai semua ilmuku sehingga kelak kalau mereka berdua datang, kau akan mampu merobohkan mereka dan memaksa mereka mengantarmu keluar dari sini."

"Apakah mereka akan datang lagi setelah berhasil merampas kitab?"

Nenek itu menyeringai lalu tertawa.

"Heh-heh-heh, mereka mengira aku ini orang macam apa? Sudah kuatur sebelumnya dan biarpun racun yang kuoleskan pada kitab itu tidak berhasil karena kecerdikan Pak-thian Lo-mo, namun aku sengaja membuat obat ramuan pemunah satu diantara racun yang paling jahat secara keliru. Kalau mereka kelak mendapat kenyataan itu, apalagi kalau mereka membutuhkan obat pemunah, tentu mereka akan turun lagi ke sini! Dan sementara itu, engkau tentu sudah pandai dan dapat kita bersama membunuh mereka...."

"Membunuh....?"

"Maksudku, membunuh setelah mereka kita paksa membawa kita keluar."

Nenek itu cepat menyambung.

Ceng Ceng boleh jadi cerdik, namun dia tidak mampu melawan kecerdikan nenek itu sehingga tidak dapat menduga isi hati nenek itu yang sebenarnya.

Nenek itu sama sekali sudah tidak mempunyai keinginan untuk keluar dari tempat itu.

Apa gunanya keluar kalau dia sudah menjadi seorang manusia tak berguna seperti itu?

Hanya akan mendatangkan penghinaan dan rasa malu.

Akan tetapi dia ingin melihat muridnya ini berkepandaian tinggi agar kelak dapat membalaskan sakit hatinya, dapat membunuh dua orang kakek itu.

Soal mereka akan dapat keluar dari tempat itu atau tidak, sama sekali tidak diperdulikannya.

Ceng Ceng yang tidak melihat jalan lain lalu menghibur diri dengan belajar secara tekun sekali sehingga dia memperoleh kemajuan pesat dan perlahan-lahan dia pun mulai memasukkan sari-sari racun yang terdapat diantara jamur-jamur yang tumbuh di terowongan dan makin lama dia makin berbahaya karena mulailah dia menjadi seorang "manusia beracun"

Seperti ibu gurunya sehingga setiap tendangan, setiap pukulan, setiap tamparan atau cengkeraman, mengandung racun hebat.

Bahkan dia mulai melatih ilmu sin-kang beracun untuk membuat setiap anggauta tubuhnya, sampai ke ludah-ludahnya mengandung racun yang berbahaya!

Pertentangan antara para pangeran yang dipelopori oleh dua Pangeran Tua Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong di satu pihak dan Perdana Menteri Su yang setia kepada Kaisar, sungguhpun merupakan pertentangan yang tidak terang-terangan, namun telah mendatangkan keadaan yang panas dan kacau di kota raja.

Namun, berkat ketrampilan dan kegagahan Puteri Milana dan pasukah-pasukan yang dipimpin olehnya sebagai bantuan terhadap tugas suaminya, yaitu Perwira Pengawal Han Wi Kong, keadaan di kota raja dapat dibikln tenteram dan aman.

Kedua orang Pangeran Liong tidak berani membuat huru-hara di kota raja karena mereka tahu bahwa pihak Menteri Su dan Puteri Milana yang tentu saja bekerja sama itu hanya menanti sampai ada bukti-bukti pemberontakan mereka untuk dapat turun tangan menentang mereka secara terang-terangan.

Sebagai adik-adik dari Kaisar, tentu saja kedua orang Pangeran Liong ini mempunyai pengaruh yang cukup besar.

Tanpa adanya bukti penyelewengan mereka, Kaisar sendiri tidak dapat mengambil tindakan secara begitu saja.

Dan mereka cukup cerdik untuk menghapus semua bekas dan bukti pemberontakan mereka, karena mereka memiliki pembantu-pembantu yang amat pandai, orang-orang berilmu tinggi yang mewakili mereka melakukan hubungan dengan luar kota raja.

Pada hari itu, kota raja kelihatan ramai dan banyak pembesar keluar dari gedung masing-masing untuk mengunjungi Istana Pangeran Liong Bin Ong yang merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh!

Diadakan perayaan besar-besaran di dalam istana pangeran tua ini dan tentu saja para bangsawan (Lanjut ke

Jilid 19) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 dan keluarga kerajaan datang semua memenuhi undangan ini.

Bahkan Perdana Menteri Su dan Puteri Milana sendiri, merasa tidak enak kalau tidak menghadiri pesta itu, di mana mereka diundang dan termasuk tamu-tamu kehormatan!

Bahkan Kaisar sendiri mengirim hadiah ulang tahun dan mewakilkan kehadirannya dan ucapan selamatnya kepada Perdana Menteri Su.

Gedung istana yang besar dan megah itu dipajang meriah dan karena jumlah tamu amat banyak, maka yang datang terlambat terpaksa dipersilakan duduk di kursi-kursi yang diatur di luar ruangan depan, yaitu di dalam taman dan di samping kiri ruangan itu, taman yang sudah dihias dan dirubah menjadi ruangan tamu dengan penerangan cukup dan terlindung tenda-tenda besar.

Sejak siang tadi sampai malam, bunyi alat musik tidak pernah berhenti, dan bau arak wangi sampai dapat tercium oleh penduduk yang berdiri menonton pesta di luar pagar di tepi jalan raya depan istana pangeran itu.

Karena pesta itu diadakan di waktu malam, maka para tamu datang berbondong-bondong mulai sore dan setelah keadaan menjadi gelap dan tempat pesta itu diterangi oleh banyak sekali lampu penerangan, tempat itu telah penuh dengan para tamu.

Juga di luar pagar penuh dengan penduduk yang menonton, sebagian besar anak-anak.

Mereka ini tidak hanya ingin mendengarkan musik dan menonton orang pesta, akan tetapi juga ingin sekali melihat orang-orang besar dan bangsawan-bangsawan istana yang pada malam hari itu berkumpul di situ, padahal biasanya amat sukar bagi rakyat untuk menyaksikan mereka.

Mereka memperhatikan para penyambut tamu yang meneriakkan nama tamu yang terhormat sebagai laporan kepada pihak tuan rumah yang menyambut di ruangan agar pihak tuan rumah tahu siapa yang telah datang di pintu gerbang dan mempersiapkan sambutan sesuai dengan kedudukan para tamu terhormat itu.

Sejak tadi, pihak penyambut tamu di depan tiada hentinya meneriakkan nama-nama para bangsawan yang datang berbondong, dari pejabat militer yang tentu berkedudukan panglima sampai kepada pembesar yang merupakan orang-orang penting dalam pemerintahan.

Setiap ada nama bangsawan disebut, orang-orang yang berkerumun di luar memanjangkan leher untuk melihat bagaimana bentuk orangnya, karena banyak yang sudah mereka dengar namanya namun belum pernah melihat orangnya.

"Yang terhormat Perwira Pengawal Han Wi Kong bersama isteri, Yang Mulia Puteri Milana....!"

Seruan ini disambut oleh suara gaduh dan bahkan ada suara tepuk tangan di antara para penonton di luar pagar.

Siapakah yang tidak mengenal nama Puteri Milana?

Bagi penghuni kota raja, besar kecil semua mengenal nama ini dan merasa kagum serta berterima kasih karena puteri inilah yang selalu menentang para pengacau dan puteri ini yang selalu siap melindungi rakyat apabila terjadi penin-dasan dari pihak pemerintah atau alat pemerintah yang menyalahgunakan kekuasaannya.

"Hidup Yang Mulia Puteri Milana....!"

Terdengar seruan diantara para penonton itu dan bahkan anak-anak yang berada di situ berebut tempat untuk dapat melihat dengan lebih jelas wajah Puteri Milana yang mereka kagumi dan hormati itu.

Diantara para penonton ini, terdapat dua orang pemuda yang juga memandang dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri-seri kepada puteri yang baru turun dari kereta bersama suaminya, seorang perwira yang tampan dan gagah itu.

Perwira itu adalah Han Wi Kong, seorang pria berusia hampir empat puluh tahun yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan pendiam, berpakaian sebagai seorang perwira pengawal dengan sebatang pedang tergantung di pinggangnya.

Dengan sikap menyayang dan menghormat dia membantu isterinya turun dari kereta.

Begitu turun dan mendengar sambutan rakyat yang menonton, Puteri Milana menoleh keluar dan mengangkat tangan melambai sambil tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak dapat merubah wajahnya yang agak pucat dan dingin.

Dia memang cantik jelita, biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih namun tubuhnya masih ramping seperti seorang dara belasan tahun, pakaiannya indah namun sederhana dan rambutnya tidak dihias dengan emas permata.

Pakaiannya lebih menyerupai pakaian seorang pendekar wanita yang sering melakukan perjalanan jauh, ringkas dan sederhana daripada pakaian seorang puteri cucu kaisar dan isteri perwira.

Sehelai mantel berwarna ungu yang lebar menutupi pakaiannya dan menyembunyikan sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya.

Warna ungu mantelnya itu cocok sekali dengan warna pakaiannya yang serba kuning dan dengan tenang dia melangkah di samping suaminya, mukanya diangkat dan matanya lurus memandang ke depan, sikapnya tenang sekali padahal semua orang dapat menduga dan dia sendiri tahu bahwa dia memasuki guha macan!

Pangeran Liong Bin Ong menyambut Puteri Milana dan suaminya dengan penuh kehormatan dan dengan wajah berseri dan mulut tersenyum lebar, Lalu setelah mereka saling memberi hormat seperti yang semestinya karena pangeran itu masih terhitung paman kakeknya sendiri, Puteri Milana lalu diantar duduk di tempat kehormatan di mana telah duduk Perdana Menteri Su yang menyambut puteri itu dengan pandang mata penuh arti dan mulut tersenyum.

Setelah duduk di kursi yang disediakan untuknya, Milana memandang ke seluruh ruangan itu penuh perhatian.

Dia memperoleh kenyataan bahwa pihak tuan rumah telah mengatur sedemikian rupa sehingga golongan yang memihak Kaisar berada di satu kelompok, adapun para bangsawan yang diragukan kesetiaannya duduk tersebar mengelilingi kelompok itu.

Seolah-olah kelompok yang setia kepada Kaisar telah dikurung!

Namun dia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada hal yang perlu dirisaukan.

"Wah, Enci (Kakak) Milana hebat sekali, ya?"

Seorang di antara dua pemuda yang berada diantara para penonton berkata sambil menyiku lengan pemuda ke dua.

"Memang hebat! Mengapa kita tidak menghadap dia, Bu-te?"

Kata Suma Kian Lee kepada Suma Kian Bu yang kelihatan girang dan bangga sekali melihat kakaknya.

Dua orang pemuda Pulau Es itu baru saja tiba di kota raja siang tadi dan sebagai dua orang pemuda yang belum pernah melihat kota besar dan seindah itu, mereka menjadi kagum dan berkeliling kota, mengagumi segala keindahan yang amat luar biasa itu.

Akhirnya mereka terbawa oleh arus orang yang menuju ke depan istana Pangeran Liong Bin Ong yang sedang mengadakan perayaan itu dan mereka ikut pula menonton.

"Lee-ko, Ibu telah berpesan kepadaku agar aku pandai membawa diri di kota raja, jangan bersikap liar dan tidak sopan, karena hal itu akan memalukan Enci Milana sebagai seorang puteri istana. Aku tidak berani memanggilnya di tempat ini, Koko."

"Kau benar, Bu-te. Memang tidak pantas, apalagi pakaian kita sudah kotor begini. Enci Milana dihormat sedemikian rupa dan dikagumi rakyat, kalau kita menegurnya dan semua orang mendengar bahwa kita adalah adik-adiknya, tentu akan menimbulkan keributan dan akan memalukan Enci Milana. Kita menonton saja di sini dan nanti kalau dia pulang, kita ikuti dan kita menghadap di tempat tinggalnya."

Kian Bu mengangguk dan kedua orang muda itu lalu menonton ke dalam, bercampur dengan anak-anak dan orang-orang lain.

Tentu saja perhatian mereka selalu tertuju kepada Puteri Milana yang tempat duduk kelompoknya agak tinggi sehingga dapat terlihat dari luar.

Sementara itu, sambil kadang-kadang mengangkat cawan arak mengajak para tamunya minum, diam-diam Pangeran Liong Bin Ong tersenyum memandang ke arah kelompok yang duduk di bagian kehormatan.

Mereka yang memusuhiku berada di situ, pikirnya melamun.

Terutama sekali Perdana Menteri Su dan Puteri Milana, musuh besarnya dan penghalang utamanya.

Kalau pada saat itu dia me-ngerahkan kaki tangannya dan berhasil membunuh mereka, alangkah balknya!

Akan tetapi tentu saja hal itu akan menimbulkan geger!

Sebaiknya digunakan siasat seperti yang telah diaturnya dengan para pembantunya.

Betapapun hatinya menyesal mengapa dia tidak dapat membunuh mereka semua itu selagi kesempatan terbuka begini lebar.

Sekali dia mengerahkan para pengawal dan pembantunya, mereka yang kini terkurung itu tentu tidak akan mampu lolos!

Tiba-tiba seorang pengawalnya menghampiri pangeran tua ini, memberi hormat dan menyerahkan sepucuk surat tanpa berkata-kata.

Pangeran Liong Bin Ong menerima surat itu dan memberi isyarat supaya pengawalnya mundur, kemudian sambil tersenyum dibacanya surat kecil itu.

Mendadak mukanya berubah agak pucat ketika dia membaca surat laporan dari kepala pengawal yang disuruh melakukan penjagaan dan penyelidikan.

Tulisan pengawalnya itu adalah seperti berikut .

Menurut hasil penyelidikan, orang-orangnya Puteri Milana telah menyelinap diantara para tamu, para penabuh musik, dan diantara para penonton.

Bahkan pasukan istimewa Perwira Han Wi Kong melakukan baris pendam mengurung istana ini.

Pangeran Liong Bin Ong mengusap peluh dengan saputangannya.

Untung bahwa semua rencananya membunuh kelompok di tempat kehormatan itu hanyalah merupakan lamunan kosong belaka.

Kalau dilaksanakan, sebelum hal itu terjadi, tentu dia telah ditangkap dan istana itu diserbu!

Bukan main cerdiknya Puteri Milana dan dia mengerling ke arah puteri itu dan suaminya dengan sinar mata penuh kebencian.

Tentu saja para penjaganya tidak melihat baris pendam yang telah diatur oleh Han Wi Kong.

Tentu para anggauta pasukan istimewa itu melakukan pengurungan dengan bersembunyi, hanya siap sewaktu-waktu untuk menyerbu dan melindungi junjungan mereka!

Pangeran Liong Bin Ong masih memandang kepada Milana dan suaminya dengan penuh kemarahan dan kebencian.

Akan tetapi karena pada saat itu hidangan sedang dikeluarkan, dia menahan sabar dan bahkan dengan muka dimanis-maniskan dia berdiri dari kursinya, menghampiri para tamu terhormat sambil terbongkok-bongkok dan mempersilakan mereka menikmati hidangan yang dikeluarkan.

Mulailah para tamu makan minum sambil bercakap-cakap dan di bagian para tamu yang kebagian tempat duduk di dalam taman, tampak Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu ikut pula makan minum dengan lahapnya di sebuah meja!

Ternyata Suma Kian Bu tidak dapat menahan keinginan hatinya ketika dia melihat para tamu mulai makan minum.

Bau arak wangi dan masakan yang masih mengepulkan uap, membuat perutnya yang sudah lapar itu menjadi makin lapar, maka dia menyentuh lengan kakaknya dan memberi isyarat dengan kepala, kemudian tanpa menanti jawaban Suma Kian Lee yang mengerutkan alisnya, Suma Kian Bu pergi keluar dari rombongan para penonton yang memandang orang makan sambil menelan air liur itu.

Kian Bu mengajak Kian Lee ke bagian yang sunyi, kemudian mereka menggunakan waktu semua penonton memandang ke dalam, seperti dua ekor burung rajawali mereka meloncati pagar tembok dan menyusup melalui tempat gelap, akhirnya mereka dapat menyelinap masuk dan duduk di kursi paling belakang dari rombongan tamu yang kebagian tempat di taman!

Mereka bersikap biasa saja ketika para pelayan datang membawa hidangan dan mengangguk dengan sikap angkuh seolah-olah mereka juga tamu-tamu kehormatan ketika para pelayan menaruh hidangan dan memandang hidangan-hidangan dan arak yang diatur di atas meja itu dengan sikap angkuh dan acuh tak acuh, dengan pandangan yang jelas menyatakan bahwa mereka telah "biasa"

Dengan hidangan seperti itu, seperti sikap orang-orang muda bangsawan dan kaya raya.

Akan tetapi begitu para pelayan itu meninggalkan meja mereka untuk melayani para tamu lain, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu segera menyerbu hidangan-hidangan itu dan makan dengan lahapnya karena memang perut mereka sudah lapar dan selamanya mereka belum pernah makan hidangan mahal selezat itu.

Sementara itu, Pangeran Liong Bin Ong sudah memutar otaknya.

Rencananya gagal total.

Tadinya dia dan anak buahnya telah merencanakan siasat keji untuk membasmi musuh-musuhnya.

Rencana ini adalah memancing keributan sehingga terjadi pertempuran seolah-olah pihak pemberontak mengacaukan pestanya dan di dalam kekacauan ini dia akan mengerahkan kaki tangannya yang lihai untuk membunuh Puteri Milana dan Perdana Menteri Su, sedangkan dia telah merencanakan untuk membiarkan dirinya "diculik"

Oleh pengacau.

Hal ini untuk membuktikan kebersihannya, sehingga selain musuh-musuh yang diseganinya, Perdana Menteri Su dan Puteri Milana dapat ditewaskan, juga Kaisar akan kehilangan kecurigaannya terhadap dirinya.

Tentu saja yang "menculiknya"

Adalah kaki tangannya sendiri dan dia akan mencari akal untuk dapat lolos dari tawanan para penculik, kalau perlu dengan tuntutan penebusan kepada pihak istana.

Akan tetapi, siapa kira, Panglima Han Wi Kong, atau lebih tepat lagi Puteri Milana karena dia menduga keras bahwa puteri itulah yang mengatur semua ini, agaknya telah mencium rahasia itu atau juga telah menduga akan terjadinya sesuatu yang tidak wajar sehingga istana itu dikepung oleh pasukan terpendam sehingga tentu saja rencananya gagal karena kalau dilanjutkan, tentu akan ketahuan bahwa dialah yang mengatur kekacauan itu.

Sambil bersungut-sungut Liong Bin Ong memberi isyarat kepada seorang yang berdiri sebagai penjaga di sudut ruangan.

Orang ini sebetulnya adalah kepala pengawalnya yang sejak tadi memandang ke arah majikannya setelah dia menyuruh seorang pengawal menyerahkan laporan tertulisnya.

Melihat kepala pengawal itu memandang kepadanya, Pangeran Liong Bin Ong lalu mengangkat tangan kanannya ke atas, menekuk semua jari tangannya kecuali jari tengah dan telunjuk.

Ini merupakan isyarat rahasia bahwa dia menghendaki agar "siasat ke dua"

Dijalankan, karena siasat pertama gagal total.

Memang, sebagai seorang ahli siasat, Pangeran Liong Bin Ong dan anak buahnya telah mengatur rencana selengkapnya, yaitu telah direncanakan siasat cadangan untuk merubah rencana kalau yang pertama gagal.

Rencana ini akan mempergunakan siasat ke dua, tidak lagi untuk membunuh Perdana Menteri Su dan Puteri Milana.

Tak mungkin lagi dilakukan rencana pembunuhan setelah Puteri Milana dengan cerdiknya mengatur barisan pendam mengurung istana, bahkan menyelundupkan pengawal-pengawalnya ke dalam para tamu, para penonton bahkan ahli-ahli musik yang sedang menghibur para tamu.

Akan tetapi siasat ke dua dapat dijalankan, yaitu untuk membuat pihak Puteri Milana malu di depan para tamu bangsawan, yaitu dengan jalan mengadu kepandaian antara jago-jago yang telah dipersiapkan oleh Pangeran Liong Bin Ong sebelumnya, dan pihak tamu kehormatan yang akan ditantang dengan jalan halus.

Kalau sampai berhasil memancing kemarahan Puteri Milana dan puteri yang perkasa itu turun tangan sendiri, itulah yang diharapkan karena hal itu berarti bahwa siasat mereka berhasil.

Kalau Sang Puteri maju, maka hanya ada dua kerugian di pihak Puteri Milana.

Kalau Sang Puteri kalah, jelas hal ini yang dikehendaki Pangeran Liong Bin Ong, apalagi kalau dalam pertandingan itu Puteri Milana sampai dapat ditewaskan.

Andaikata sebaliknya, karena puteri itu memang amat lihai, setidaknya puteri itu telah merendahkan diri melayani jagoan-jagoan, dan merendahkan derajatnya sebagai puteri cucu Kaisar dan tentu hal ini akan mu-dah dijadikan bahan menghasut Kaisar agar Kaisar yang tua itu membenci cucunya yang dianggap mencemarkan kehormatan keluarga kerajaan!

Setelah semua tamu selesai makan, Pangeran Liong Bin Ong diam-diam memberi isyarat.

Tak lama kemudian, dari rombongan tamu yang berada di dalam taman, berdirilah dua orang, yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan kelihatan kasar dan kuat sekali, sedangkan orang ke dua tinggi kurus dengan muka kuning mata sipit, langkahnya gontai seperti orang lemah.

Kedua orang ini seperti orang mabuk berjalan menuju ke tempat kehormatan, lalu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai di tengah ruangan yang memang telah dipersiapkan untuk menjadi tempat gelanggang adu kepandaian di mana hanya terdapat meja besar tempat menyimpan semua hadiah dan sumbangan.

Kedua orang itu menghadap kepada Pangeran Liong Bin Ong dan Si Tinggi Kurus yang berkata dengan suara melengking nyaring sehingga terdengar oleh semua yang hadir, terutama sekali oleh mereka yang duduk di panggung kehormatan karena kedua orang itu berlutut menghadap ke situ.

"Mohon paduka sudi mengampunkan kami berdua. Akan tetapi kami berdua menagih janji paduka untuk menguji kami di depan para tamu yang mulia agar dapat memutuskan apakah kami patut menjadi pengawal pribadi paduka yang dapat dipercaya."

Semua orang tentu saja memandang dan selain merasa heran juga berkhawatir melihat keberanian dua orang itu mengganggu pesta dan tentu Pangeran Liong Bin Ong akan marah sekali.

Akan tetapi pangeran itu hanya memandang dengan tersenyum, sedangkan yang menjadi marah adalah Pangeran Liong Khi Ong yang tadi mendekati kakaknya, tak lama setelah pengawal mengantar surat.

Pangeran Liong Khi Ong bangkit berdiri dari kursinya dan sambil menudingkan telunjuknya kepada kedua orang itu dia membentak.

"Manusia-manusia kurang ajar! Berani kalian mengganggu pesta dengan bicara tentang pekerjaan?"

Pangeran Liong Khi Ong sudah menoleh kepada pengawal untuk memberi perintah menangkap mereka, akan tetapi tiba-tiba Pangeran Liong Bin Ong memegang lengan adiknya itu dan berkata nyaring sehingga semua tamu mendengar suaranya.

"Jangan persalah-kan mereka! Memang aku sudah berjanji kepada mereka untuk menguji mereka dalam pesta ini!"

Kemudian Pangeran Liong Bin Ong bangkit berdiri dan menghadapi para tamu di bagian kehormatan sambil berkata.

"Cu-wi sekalian yang mulia. Di dalam keadaan terancam oleh pengacauan-pengacau-an para pemberontak suku bangsa di luar tapal batas, kita perlu sekali menghimpun tenaga untuk menjadi pengawal-pengawal dan melindungl kita."

Puteri Mllana dan Perdana Menteri Su saling bertukar pandang dan Puteri Milana menahan senyum mengejek.

Betapa tak tahu malu pangeran tua yang menjadi paman kakeknya itu.

Sudah terang, biarpun belum ada bukti, bahwa kedua orang Pangeran Liong itulah yang mengandalkan semua pemberontak suku bangsa, sekarang masih berani bicara seperti itu!

"Dua orang saudara dari dunia kang-ouw ini mendengar bahwa kami sedang membutuhkan tenaga pengawal-pengawal yang sakti.

Kemarin dulu mereka datang menghadap kami dan melamar pekerjaan menjadi pengawal pribadi.

Karena kami sedang menghadapi perayaan, maka kami memutuskan untuk menguji mereka pada saat pesta ini, sekalian untuk memeriahkan suasana pesta.

Karena kami mengerti bahwa pada saat inilah terkumpul semua tokoh gagah perkasa yang tentu akan sudi turun tangan membantu kami untuk menguji mereka berdua apakah benar mereka memiliki kepandaian dan patut menjadi pengawal pribadi kami.

Yang tinggi besar bermuka hitam ini adalah Yauw Siu, seorang jagoan dari Pantai Po-hai!"

Si Muka Hitam bangkit berdiri dan dengan mengerahkan tenaga membuat otot-otot lengan dan lehernya tampak menggembung, dia membungkuk dan memberi hormat ke empat penjuru.

"Yang tinggi kurus bermuka kuning adalah Sun Giam, jagoan dari pegunungan selatan,"

Kata pula Pangeran Liong Bin Ong dan Si Tinggi Kurus juga memberi hormat ke empat penjuru.

"Silakan jika di antara Cu-wi ada yang suka membantu kami untuk menguji kedua orang calon pengawal ini!"

Pangeran Liong Bin Ong menutup kata-katanya lalu duduk kembali.

Suasana menjadi sunyi sekali.

Biarpun terdengarnya seperti seorang yang minta bantuan menguji dan sekaligus memeriahkan suasana pesta, namun bagi mereka yang diam-diam menentang pangeran ini, jelas terasa bahwa pangeran itu mengajukan dua orang jagoannya untuk menantang!

Betapapun, di antara para tamu kehormatan tidak ada yang sudi untuk memenuhi tantangan ini, karena mereka tidak sudi merendahkan diri melawan orang-orang yang dianggapnya rendah itu.

Kesunyian yang mencekam sekali dan tampak Puteri Milana menahan senyum, girang bahwa pancingan pangeran tua itu tidak berhasil.

Dua orang jagoan yang kini masih berdiri itu memandang ke sekeliling, dan kelihatan blngung karena tidak ada yang menyambut tantangan Pangeran Liong Bin Ong.

Timbullah kesombongan dalam hati Yauw Siu yang mengira bahwa diamnya para tamu ini adalah karena mereka gentar kepadanya!

Maka sambil mengangkat dada dia berkata nyaring setelah tertawa.

"Ha-ha-ha, harap para orang gagah yang hadir di sini tidak khawatir karena saya Yauw Siu yang berjuluk Hek-bin Tiat-liong (Naga Besar Bermuka Hitam) tidak perlu membunuh dalam pi-bu (mengadu kepandaian)!"

Tiba-tiba tampak seorang pembesar bangkit dari kursinya, pembesar ini gemuk dan dia adalah seorang pembesar sastrawan yang berwenang memeriksa hasil ujian para calon sastrawan, seorang pembesar yang mata duitan dan tentu saja suka makan sogokan para calon sastrawan yang mengikuti ujian.

Sambil tersenyum pembesar ini menjura ke arah Pangeran Liong Bin Ong dan berkata.

"Harap paduka maafkan saya. Melihat bahwa tidak ada orang yang suka membantu paduka untuk menguji kedua orang calon pengawal itu, bagaimana kalau saya mengajukan lima orang pengawal pribadi saya? Kedua orang itu kelihatan gagah perkasa dan tentu lihai sekali, maka tidak tahu apakah mereka berani menghadapi lima orang pengawal saya."

Sebelum Pangeran Liong Bin Ong menjawab, Yauw Siu si Muka Hitam sudah cepat menjawab.

"Boleh sekali! Silakan lima orang itu maju berbareng dan akan saya tandingi sendiri, tidak perlu Saudara Sun Giam turun tangan!"

Jawaban ini memancing suara berisik dari para tamu yang menganggap orang muka hitam itu sombong sekali.

Akan tetapi Pangeran Liong Bin Ong melambaikan tangan dan mengangguk tanda setuju.

Pembesar itu lalu menggapai ke belakang, maka muncullah lima orang pengawalnya yang berpakaian seragam biru, lima orang berusia tiga puluhan tahun dan kesemuanya bertubuh tegap dan gagah.

Setelah menjura dengan penuh hormat kepada semua yang hadir, lima orang itu melangkah maju menghadapi Yauw Siu, sedangkan Sun Giam sambil menyeringai sudah mundur dan duduk di atas lantai di pinggiran.

Yauw Siu sudah menghadapi lima orang gagah itu sambil tersenyum lebar, kemudian terdengar dia bertanya.

"Sebelum kita mulai, bolehkah saya bertanya Ngo-wi (Anda Berlima) ini murid-murid dari partai manakah?"

Pertanyaan itu sungguh terdengar menantang dan tinggi hati, akan tetapi seorang di antara lima orang pengawal itu menjawab.

"Kami adalah murid-murid dari Gak-bukoan (Perguruan Silat Gak) di Seng-kun."

"Ahhh! Ha-ha-ha, jadi Ngo-wi adalah murid-murid dari Gak-kauwsu? Bagus sekali! Aku sudah mengenal baik guru kalian itu dan tahu bahwa guru kalian mengandalkan ilmu menghimpun tenaga yang amat kuat di kedua lengannya dan terkenal dengan Ilmu Pukulan Pek-lek-jiu (Tangan Halilintar), bukan?"

Lima orang itu mengangguk dan Si Muka Hitam melanjutkan.

"Kalau begitu, biarlah kalian menguji tenagaku dan sebaliknya aku akan menguji apakah benar-benar kalian telah mempelajari ilmu secara baik-baik dari Gak-kauwsu."

Dia memberi isyarat kepada Sun Giam dan orang tinggi kurus ini melemparkan segulung tali yang besar dan kuat kepada temannya.

Yauw Siu lalu menyerahkan tali itu kepada lima orang pengawal sambil berkata.

"Harap Ngo-wi suka mengikat kedua kaki dan tangan, juga pinggangku, kemudian Ngo-wi di satu pihak menarik dan aku di laln pihak mempertahankan. Dengan demikian kita mengadu tenaga satu lawan lima. Bukankah ini menarik sekali dan mengingat akan hubungan diantara kita, tidak perlu ada yang sampai roboh terluka atau tewas?"

Si Muka Hitam yang sombong itu ternyata pandai bicara dan pandai pula berlagak sehingga menarik perhatian para tamu.

"Bagus! Itu adil sekali! Hayo kalian cepat lakukan!"

Dari tempat duduknya, pembesar sastrawan itu bertepuk tangan gembira.

Tentu saja hatinya menjadi lega dan dia mengharapkan kemenangan lima orang pengawalnya karena pertandingan yang ditentukan oleh Si Muka Hitam sendiri itu menguntungkan pihaknya.

Lima orang itu cepat memenuhi permintaan Yauw Siu.

Pergelanaan kaki dan tangan, juga pinggang Si Muka Hitam itu diikat dengan tali, kamudian mereka berlima memegang ujung tali di depan Si Muka Hitam.

Semua tamu menonton dengan gembira, bahkan diantara para pembesar itu kini sibuk bertaruh sehingga keadaan menjadi berisik dan gembira.

Dua orang pangeran tua saling pandang dan tersenyum-senyum, kadang-kadang mereka melirik ke arah Perdana Menteri Su dan Puteri Milana yang kelihatan masih tenang-tenang saja.

"Siap....! Tarik....!"

Tiba-tiba Yauw Siu berteriak dan lima orang pengawal itu sudah mengerahkan tenaganya menarik tali yang mengikat tubuh Si Muka Hitam.

Yauw Siu berdiri dengan tegak, mengerahkan tenaganya sehingga mukanya berubah menjadi makin hitam, urat-urat yang tampak di lengan dan leher yang tidak tertutup pakaian itu menggembung besar, matanya melotot dan betapa pun lima orang lawannya membetot dan mengerahkan tenaga sekuatnya, tetap saja tubuh Si Tinggi Besar itu tidak bergoyang sedikit pun!

"Tahan....!"

Yauw Siu memekik keras dan kedua tangannya digerakkan ke belakang.

Dua orang pengawal yang memegang dua ujung tali yang mengikat tangannya itu terhuyung ke depan.

Kembali Yauw Siu berseru dan kedua kakinya me-langkah mundur, juga mengakibatkan dua orang pengawal lain terbawa dan terhuyung, kemudian dia mengeluarkan bentakan keras, tubuhnya meloncat ke belakang dan lima orang itu jatuh tertelungkup dan terseret!

Tepuk tangan dan sorak memuji bergemuruh menyambut kemenangan Yauw Siu ini, yang sambil tertawa-tawa menggunakan jari-jari tangannya yang besar dan kuat untuk memutus-mutuskan tali yang mengikat kedua kaki, tangan dan pinggangnya.

Kembali demonstrasi tenaga yang amat kuat ini memancing tepuk tangan gemuruh.

Yauw Siu mengangguk dan membungkuk ke empat penjuru menerima sambutan dan pujian itu.

Sun Giam meloncat ke depan dan memberi isyarat kepada temannya untuk mundur.

Si Muka Hitam lalu mundur dan duduk di pinggiran, di atas lantai, sadangkan Sun Giam sendiri membantu lima orang itu berdiri, menggulung tali dan melemparnya kepada temannya.

Kemudian Sun Giam berkata, ditujukan kepada pembesar sastrawan yang bersungut-sungut menyaksikan kekalahan lima orang pengawalnya.

"Apakah Taijin mengijinkan kalau saya menghadapi mereka ini dalam ilmu silat untuk menguji saya?"

Wajah pembesar itu berseri.

Kini terbuka kesempatan untuk membersihkan dan menebus kekalahan tadi.

Dia tahu bahwa lima orang pengawalnya adalah ahli-ahli ilmu silat, maka sambil mengangguk dia berkata.

"Baik, kami setuju sekali!"

Sun Giam kini berkata, ditujukan kepada semua hadirin.

"Tadi sahabat saya, Yauw Siu, telah memperlihatkan kekuatan tubuhnya yang dahsyat. Kalau hanya tenaga dua puluh lima oranq biasa saja kiranya dia masih akan mampu menandinginya. Akan tetapi, dia belum memperlihatkan ilmu silatnya dan karena dia telah mengeluarkan tenaga, biarlah saya yang akan menghadapi lima orang murid perguruan Gak-bukoan ini."

Sambil menghadapi mereka, Si Muka Kuning ini berkata.

"Harap Ngo-wi suka mendemonstrasikan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu yang telah terkenal itu dan sekaligus maju menyerang saya."

Lima orang yang sudah kalah dalam mengadu tenaga itu, kini mengepung Si Muka Kuning kemudian terdengar seorang diantara mereka mengeluarkan aba-aba dan serentak menyeranglah mereka dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin dahsyat.

Akan tetapi, dengan gerakan lemas dan lincah Si Tinggi Kurus itu dapat mengelak ke sana ke mari sambil menggerakkan kedua tangannya menyampok setiap pukulan yang tidak sempat dielakkannya.

Tampaklah pemandangan yang mengagumkan di mana Sun Giam menggunakan kelincahannya dikeroyok lima orang itu.

Jelas tampak oleh mata para ahli yang duduk di situ bahwa Si Tinggi Kurus ini memang sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya maka sengaja hanya mengelak dan menangkis, padahal jelas mudah dilihat betapa tingkatnya jauh lebih tinggi daripada para pengeroyoknya.

"Ngo-wi, awas....!"

Tiba-tiba dia berkata halus, kaki tangannya bergerak dengan cepat sekali dan berturut-turut ter-dengar lima orang itu memekik disusul robohnya tubuh mereka di atas lantai karena totokan jari-jari tangan dan tendangan kaki Sun Giam.

Kembali terdengar sorak dan tepuk tangan memuji yang disambut oleh Sun Giam dengan membungkuk ke empat penjuru.

Seperti dua orang yang sudah biasa berdemonstrasi dan menjual kepandaian di depan umum, kini Yauw Siu dan Sun Giam sudah berdiri mengangkat tangan ke atas, memberi kesempatan kepada lima orang pengawal itu mengundurkan diri dan setelah pujian agak mereda, terdengar Yauw Siu berkata dengan suaranya yang lantang.

"Sahabatku Sun Giam telah memperlihatkan kepandaian. Akan tetapi kami berdua masih belum puas karena apa yang kami perlihatkan tadi tidak ada harganya dan tentu belum memuaskan hati junjungan kami Pangeran Liong Bin Ong. Oleh karena itu kami mohon dengan hormat sudilah kiranya para tokoh besar yang hadir di sini suka turun tangan menguji kami. Lima orang pengawal tadi, biarpun kepandaiannya cukup hebat, namun masih jauh di bawah tingkat kami!"

Hening sampai lama setelah Si Muka Hitam ini bicara. Melihat bahwa tidak ada sambutan, Sun Giam membuka mulutnya.

"Kami berdua mendengar sebelum memasuki kota raja bahwa kota raja menjadi pusat orang pandai, menjadi pusat para pengawal yang berilmu tinggi. Sungguh kami tidak percaya kalau sekarang tidak ada yang berani menghadapi kami!"

Ucapan ini mulai memanaskan hati para tamu yang merasa memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi ketika Han Wi Kong yang mukanya menjadi merah karena marah hendak bangkit.

Puteri Milana, isterinya yang duduk di sampingnya, mencegah dengan pandangan matanya.

Puteri ini masih kelihatan tenang-tenang saja karena dia sedang memutar otak mencari tahu atau menduga-duga apa gerangan yang tersembunyi di balik semua ini, yang dia yakin tentu diatur oleh Pangeran Liong Bin Ong.

Dia tidak mau sampai terpancing oleh pangeran yang cerdik itu, maka dia menyabarkan suaminya yang mulai marah melihat sikap dan mendengar kata-kata kedua orang jagoan Pangeran Liong Bin Ong itu.

Sebagian para pengawal yang hadir di tempat itu dalam melaksanakan tugas mengawal para pembesar militer dan sipil, biarpun merasa marah dan penasaran, namun mereka ini tidak berani lancang turun tangan di dalam perjamuan orang-orang besar seperti itu tanpa perintah dari junjungan masing-masing.

Sedangkan para pembesar jarang pula yang berani memerintahkan pengawalnya untuk menghadapi dua orang jagoan itu.

Mereka yang memang terpengaruh oleh Pangeran Liong Bin Ong tentu saja tidak suka menentang, sedangkan mereka yang berpihak Kaisar dan diam-diam tidak suka kepada pangeran ini, juga tidak berani menyuruh pengawal mereka karena mereka merasa segan untuk menentang pangeran ini secara terang-terangan, mengingat akan pengaruh kedua orang pangeran di situ setelah Sun Giam membuka mulutnya setengah menantang para pengawal kota raja.

Melihat betapa tidak ada sambutan sama sekali, Yauw Siu dan Sun Giam yang memang sudah menerima tugas dari Pangeran Liong Bin Ong untuk memanaskan suasana dan untuk menujukan tantangan kepada Puteri Milana secara halus, lalu saling pandang dan Yauw Siu bangkit berdiri, menghadap ruangan kehormatan dan berkata lantang.

"Kami berdua belum lama meninggalkan tempat pertapaan, saya meninggalkan pantai laut dan Sahabat Sun Giam meninggal-kan pegunungan. Namun, kami telah mendengar akan kehebatan ilmu kepandaian para tokoh di kota raja, maka kami sengaja datang ke kota raja untuk mencari pekerjaan agar kepandaian kami dapat dipergunakan demi kepentingan kerajaan! Apakah sekarang tidak ada orang gagah yang sudi menguji kami? Ataukah benar seperti dugaan Sahabat Sun Giam tadi bahwa orang-orang di kota raja agak.... penakut?"

"Manusia busuk....!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan berkelebatlah bayangan orang, dan tahu-tahu di depan kedua orang jagoan itu telah berdiri seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah, pakaiannya preman, jenggotnya panjang sekali dan wajahnya angker, mengandung wibawa.

"Di jaman kekacauan merajalela dan banyak manusia tak berbudi memberontak, muncul kalian yang bermulut besar! Ka-lau hanya menghadapi kalian berdua saja, tidak perlu orang-orang gagah di kota raja turun tangan. Aku Tan Siong Khi, cukuplah kiranya menghadapi orang-orang macam kalian yang bermulut besar!"

Orang ini memang Tan Siong Khi, pengawal Kaisar yang gagah perkasa, yang telah kita kenal karena dialah yang memimpin rombongan penjemput Puteri Raja Bhutan!

Sebelum dua orang jagoan itu sempat membuka mulut, tiba-tiba Pangeran Liong Khi Ong bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya kepada Tan Siong Khi sambil berkata.

"Bukankah engkau Pengawal Tan Siong Khi yang telah gagal melaksanakan tugas mengawal Puteri Bhutan sehingga puteri itu lenyap tak diketahui ke mana perginya?"

"Keparat! Berani engkau muncul di sini setelah engkau melakukan dosa dan kelalaian besar itu? Kebodohan dan kelalaianmu menyebabkan Sang Puteri lenyap tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Dan kau berani malam ini datang ke sini dan berlagak menjadi jagoan? Kenapa kegagahanmu tidak kau perlihatkan ketika rombonganmu dihadang musuh? Mengapa Sang Puteri yang kau kawal sampai lenyap sedangkan kau masih hidup? Aku akan minta kepada Sri Baginda untuk menjatuhkan hukuman seberatnya kepadamu!"

Semua tamu memandang dengan hati tegang.

Semua mengenal siapa adanya Tan Siong Khi, seorang pengawal kepercayaan Kaisar, bahkan menjadi pembantu dari Puteri Milana dalam mengamankan kota raja.

Mereka semua telah mendengar pula akan kegagalan pengawal itu menjemput Puteri Bhutan, calon isteri Pangeran Liong Khi Ong.

Maka sepantasnyalah kalau pangeran itu, yang urung menjadi pengantin, yang kehilangan calon isterinya marah-marah kepada pengawal ini.

"Mengapa kau berani datang ke sini? Hayo pergi....! Pergi kau....!"

Tan Siong Khi yang kelihatan tenang itu menoleh ke arah Perdana Menteri Su dan Putri Milana.

Dia melihat kedua orang pembesar itu mengangguk kepadanya dan memberi isyarat agar supaya dia pergi.

Sebetulnya munculnya Tan Siong Khi di tempat itu adalah karena dia ditugaskan oleh Kaisar untuk mengawal Perdana Menteri Su yang malam itu juga mewakili Kaisar, berarti dia menjadi pengawal utusan Kaisar.

Akan tetapi, sebagai seorang pengawal setia yang telah berpengalaman dan berpemandangan luas, di tempat umum itu dia tidak mau membela diri dengan menyebut nama perdana menteri, karena dia tidak mau menjadi penyebab terjadinya keributan atau perasaan tidak enak.

Setelah menerima isyarat, dia lalu menjura kepada Pangeran Liong Khi Ong dan berkata.

"Baik, hamba dengan langkah lebar meninggalkan tempat pesta melalui pintu gerbang depan."

Keadaan menjadi sunyi sekali setelah pengawal itu pergi.

Peristiwa tadi menimbulkan ketegangan.

Tiba-tiba suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh suara tertawa dari Yauw Siu.

Dia sudah bangkit berdiri dan berkata.

"Sungguh menyesal sekali bahwa Pengawal Tan Siong Khi tadi kiranya seorang yang telah melakukan dosa dan kelalaian besar dan sepatutnya dia dihukum. Kalau tidak agaknya dia memiliki sedikit kepandaian untuk diperlihatkan agar kami berdua dapat diuji. Harap Cu-wi yang merasa memiliki ilmu kepandaian sudi maju sebagai penggantinya. Kami maklum bahwa diantara Cu-wi banyak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, akan tetapi jangan khawatir bahwa kami akan celaka. Kami takkan mengecewakan Cu-wi. Selama kami me-rantau, kami belum pernah dikalahkan orang. Bahkan kami tadinya merencanakan untuk mencari Pulau Es...."

Tiba-tiba terdengar bentakan halus namun suara ini menembus semua kegaduhan dan memasuki telinga Yauw Siu seperti jarum-jarum menusuk.

"Mau apa kalian mencari Pulau Es?"

Yauw Siu terkejut sekali dan cepat menoleh ke arah Puteri Milana yang telah mengajukan pertanyaan itu.

Melihat sepasang mata yang amat tajam itu, diam-diam dia menjadi gentar juga.

Tentu saja Yauw Siu dan Sun Giam maklum siapa adanya puteri cantik dan agung itu.

Mereka maklum bahwa puteri itu adalah puteri dari Majikan Pulau Es, Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, dan ibunya adalah bekas pangilma besar wanita Puteri Nirahai!

Kalau saja mereka berdua tidak menjadi kaki tangan kedua orang Pangeran Liong, tentu mereka akan berpikir-pikir dulu untuk berani main-main di depan Puteri Milana.

Akan tetapi, justru tugas mereka adalah untuk memancing puteri itu agar bangkit kemarahannya dan membuat puteri itu menjadi serba salah.

Maju menghadapi mereka berarti merendahkan derajatnya, kalau tidak berarti terhina karena ditantang tanpa menanggapi!

"Kami hendak mencari Pulau Es karena kami tidak pernah bertemu tanding!

Kami mendengar bahwa Majikan Pulau Es adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!"

Jawab Sun Giam.

"Akan tetapi, sebelum melihat sendiri, bagaimana kami dapat percaya?"

Sambung Yauw Siu.

"Hanya kabarnya, banyak pula muridnya berada di kota raja, maka apa salahnya kalau ada muridnya yang mau mencoba-coba dengan kami agar dari kepandaian muridnya kami dapat mengukur pula tingkat gurunya? Kami adalah dua orang baru yang tidak tahu apakah benar di kota raja ada murid Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es yang terkenal itu."

Tentu saja Yauw Siu cukup cerdik untuk melindungi diri mereka dengan dalih bahwa mereka tidak tahu menahu tentang Pendekar Super Sakti, tidak tahu bahwa puteri Pendekar Super Sakti berada di tempat perjamuan itu karena kalau demikian halnya, tentu Puteri Milana yang cerdik akan merasa curiga dan menduga akan adanya pancingan dan jebakan.

"Biar aku menghajar mereka!"

Panglima Han Wi Kong berkata dan isterinya mengangguk.

Tadi Puteri Milana telah menyaksikan gerakan kedua orang jagoan itu dan dia maklum bahwa mereka berdua itu hanyalah memiliki tingkat yang biasa saja sehingga dia merasa yakin bahwa suaminya akan dapat mengalahkan mereka.

Mendengar dua orang jagoan kasar itu menyinggung nama ayahnya tanpa dia melakukan sesuatu, tentu akan mencemarkan nama dan kehormatannya.

Akan tetapi kalau dia turun tangan sendiri juga merupakan hal yang tidak baik karena dia adalah seorang puteri cucu Kaisar dan puteri Pendekar Super Sakti, amat rendahlah untuk melayani dua orang jagoan kasar!

Berbeda lagi kalau Han Wi Kong yang turun tangan karena suaminya itu juga bekas seorang pengawal kaisar yang kini turun tangan menghadapi mereka yang menantang-nantang semua orang gagah di kota raja!

"Manusia-manusia sombong!

Biar akulah yang akan menghadapi kalian!"

Bentak Han Wi Kong yang sekali melancat sudah berada di depan kedua orang itu.

Sun Giam dan Yauw Siu cepat menjura dengan hormat, kemudian Sun Giam menjura ke arah Pangeran Liong Bin Ong sambil berkata.

"Harap Paduka Pangeran sudi mengampunkan permohanan hamba berdua. Hamba berdua tentu tidak berani sembarangan mengangkat tangan menghadapi para tamu yang terdiri dari para pembesar dan bangsawan agung. Oleh karena itu, kami baru berani mengangkat tangan kalau yang datang ke gelanggang ini menganggap diri sendiri sebagai seorang kang-ouw, seorang ahli silat tanpa membawa-bawa kedudukannya."

Sebelum Pangeran Liong Bin Ong atau Liong Khi Ong sempat menjawab, Han Wi Kong sudah membentak.

"Aku tidak akan membawa kedudukanku karena aku pun bekas seorang pengawal! Aku maju karena ingin menyaksikan kepandaian kalian manusia sombong!"

Han Wi Kong cukup mengerti untuk tidak membawa-bawa nama ayah mertuanya, yaitu Pendekar Super Sakti, maka dia mengaku bahwa dia maju sebagai seorang bekas pengawal, jadi atas namanya sendiri.

"Bolehkah kami mengetahui nama besar paduka?"

Yauw Siu bertanya.

Tentu saja dia tadinya sudah memperoleh keterangan bahwa laki-laki gagah ini adalah suami Puteri Milana, akan tetapi dia ingin memancing agar dari mulut laki-laki ini keluar sendiri pengakuannya.

Akan tetapi Han Wi Kong sudah terlalu marah, dan menjawab dengan bentakan nyaring.

"Tidak perlu aku memperkenalkan nama kepada kalian! Semua yang hadir sudah tahu siapa aku! Hayo majulah kalian berdua!"

Sun Giam berseru.

"Ehh....! Maju berdua? Benarkah kami disuruh maju berdua?"

Han Wi Kong bukan seorang yang sombong atau sembrono.

Kalau dia berani menantang agar mereka maju berdua secara berbareng adalah karena tadi dia sudah menyaksikan sepak-terjang mereka dan merasa yakin akan dapat mengalahkan mereka berdua, apalagi dia ingin cepat merobohkan mereka yang sombong ini, tidak usah mereka disuruh maju satu demi satu!

"Ya, majulah kalian berdua mengeroyokku.

Aku ingin menguji kepandaian kalian yang sesungguhnya tidak patut menjadi pengawal seorang pangeran!"

"Bagus! Engkau yang menyuruh sendiri, Sobat. Kalau sampai kami kesalahan tangan membunuh, jangan persalahkan kami."

"Dalam pibu, membu-nuh atau terbunuh adalah soal biasa, mengapa kalian banyak cerewet lagi? Majulah!"

"Awas serangan. Hiaaaatttt....!"

Sun Giam sudah menyerang.

"Haiiittt....!"

Yauw Siu juga menyusul dengan pukulannya yang dahsyat.

"Hemmm....!"

Han Wi Kong menggeram dan cepat dia mengelak sambil memutar tubuh dan menangkis dengan kedua lengannya.

"Dukkk! Dukkk!"

Tubuh Han Wi Kong tergetar akan tetapi pukulan kedua orang lawannya juga terpental.

Diam-diam Han Wi Kong terkejut.

Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang ini ternyata memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat!

Mengapa tadi mereka tidak memperlihatkan tenaga sin-kang ini?

Di dalam otaknya segera dia mencari dan mengerti bahwa kedua orang ini telah menjebaknya!

Tadi mereka sengaja berpura-pura sebagai ahli-ahli silat biasa saja dan menyembunyikan kepandaian asli mereka dan dia sudah terjebak!

Dua orang ini ternyata bukan orang sembarangan dan segera dia memperoleh kenyataan akan hal itu karena kini mereka telah mainkan ilmu silat yang amat aneh, cepat, dan kuat sekali!

Wajah Puteri Milana juga berubah agak pucat.

Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia pun dapat melihat perubahan yang terjadi pada kedua orang jagoan itu.

Dan gerakan-gerakan mereka sekarang ini, jelas tampak olehnya bahwa mereka bukanlah jagoan-jagoan kasar seperti semula setelah melihat sepak-terjang mereka tadi.

Kiranya mereka adalah ahli-ahli yang tangguh, yang menyembunyikan kepandaian mereka di balik sikap kasar dan ugal-ugalan tadi.

Tentu untuk memancing!

Puteri Milana menjadi serba salah.

Memang, di dalam tahun-tahun pertama dari pernikahan mereka, dia telah menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada suaminya dan ilmu kepandaian suaminya sudah meningkat dengan pesat kalau dibandingkan dengan dahulu sebelum menjadi suaminya.

Namun, suaminya tidak memiliki dasar untuk menjadi seorang ahli ilmu silat tinggi dan tidak mungkin dapat melatih sin-kang dari Pulau Es.

Maka kini bertemu dengan dua orang jagoan itu, suaminya berada dalam keadaan terancam!

Kalau maju seorang lawan seorang, mungkin suaminya masih dapat mengimbangi, akan tetapi dikeroyok dua!

Memang demikianlah sebenarnya!

Dua orang itu bukanlah orang sembarangan dan tadi memang mereka berpura-pura, mengeluarkan ilmu-ilmu kasar untuk memancing dan menjebak.

Sebenarnya mereka adalah ahli-ahli silat yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah lama menjadi tangan-tangan kanan dari Raja Muda Tambolon, yaitu raja muda kaum pemberontak di perbatasan barat yang sedang merongrong Kerajaan Bhutan.

Karena kedua orang ini tidak pernah muncul di dunia kang-ouw maka mereka sama sekali tidak terkenal dan memang hal inilah yang dikehendaki oleh Pangeran Liong Bin Ong.

Tadinya, untuk keperluan memancing kemarahan Puteri Milana untuk menjatuhkan orangnya atau namanya ini, Pangeran Tua Liong Bin Ong hendak menggunakan tenaga Siang Lo-mo, sepasang kakek kembar yang amat lihai itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan dan perhitungannya bahwa Siang Lo-mo ketika tiba di kota raja telah bentrok dengan Milana di dalam rumah penginapan ketika Siang Lo-mo bertemu dengan Gak Bun Beng yang mereka kenal setama ini sebagai "orang sakit yang lihai".

Karena peristiwa itu, maka Pangeran Liong Bin Ong tidak berani dan tidak jadi menggunakan kedua orang kakek itu, dan mencari penggantinya.

Siang Lo-mo pula yang mengusulkan kepada Liong Bin Ong untuk mengundang Yauw Siu dan Sun Giam, dua orang diantara para pembantu Raja Tambolon.

Untuk menjaga nama keluarga isterinya, yaitu para penghuni Pulau Es, juga untuk menjaga nama isterinya dan dirinya sendiri, biarpun maklum bahwa kedua orang itu merupakan dua orang lawan yang terlalu tangguh baginya, namun Han Wi Kong tidak menjadi gentar dan dia sudah menerjang dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh.

Namun dua orang lawannya dapat mengelak dan menangkis dengan cepat, bahkan langsung membalas dengan serangan-serangan dahsyat yang kembali membuat Han Wi Kong terhuyung ke belakang ketika terpaksa menangkis dua serangan dari depan itu.

Segera berlangsunglah pertandingan yang seru sekali antara tiga orang itu, disaksikan oleh banyak pasang mata dengan tegang.

Diam-diam suasana tegang itu ditimbulkan oleh perasaan bahwa di dalam pertandingan ini seolah-olah terjadi persaingan antara Pangeran Tua Liong Bin Ong dan pihak Milana serta Perdana Menteri Su!

Semua tamu maklum belaka atau setidaknya sudah dapat menduga bahwa diantara kedua pihak itu memang terdapat permusuhan atau persaingan terpendam!

Dan kini, seolah-olah kedua orang jagoan itu mewakili pihak Pangeran Liong Bin Ong, sedangkan Han Wi Kong tentu saja mewakili pihak isterinya, Puteri Milana dan Perdana Menteri Su.

Tentu saja yang merasa paling tegang dan gelisah adalah Puteri Milana sendiri!

Diam-diam dia merasa menyesal mengapa tadi dia membiarkan suaminya turun tangan dan memasuki jebakan pihak Pangeran Liong Bin Ong sehingga kini suaminya terancam.

Dia adalah seorang yang amat cerdas, maka setelah berpikir sejenak maklumlah dia bahwa sesungguhnya yang diserang adalah dia!

Suaminya tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Liong Bin Ong yang menjadi paman kakek tirinya itu, akan tetapi dia tentu saja dianggap musuh oleh pangeran tua itu.

Maka pertandingan itu tentu dimaksudkan untuk memukul dia!

Mulai merah kedua pipi puteri yang gagah perkasa ini dan setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap untuk membela suaminya.

Dia merasa kasihan sekali kepada suaminya, seorang pria yang amat baik dan gagah perkasa.

Bertahun-tahun dia menjadi isteri Han Wi Kong hanya pada lahirnya saja, namun mereka sebetulnya hanyalah merupakan sahabat setelah keduanya maklum bahwa tidak ada cinta kasih antara pria dan wanita, Antara suami dan isteri di dalam hati mereka, atau setidaknya, di dalam hati Milana.

Han Wi Kong maklum akan hal ini, maka dia pun secara jantan dan bijaksana membebaskan isterinya dan hanya mengakui isterinya secara lahiriah saja untuk menjaga nama baik isterinya!

Bukan isterinyalah yang menemaninya di dalam kamarnya, melainkan dua orang selir cantik yang setengah dipaksakan oleh Milana untuk melayani suaminya itu!

Biarpun tidak ada hubungan kasih di dalam hatinya terhadap Han Wi Kong, namun Milana menganggapnya sebagai seorang sahabat yang paling baik di dunia ini, maka tentu saja dia merasa gelisah dan khawatir sekali menyaksikan keadaan suaminya dan dia sudah mengambil keputusan untuk melindungi suaminya dari bahaya.

"Yaaahhh!"

Tiba-tiba Han Wi Kong yang sudah terdesak terus-menerus itu mengeluarkan teriakan nyaring, tubuhnya menerjang dengan kecepatan kilat ke depan, kedua tangannya dikepal dan menghantam ke arah muka dan pusar Yauw Siu secara hebat sekali!

Milana terkejut menyaksikan gerakan suaminya ini.

Kalau suaminya terus memperkuat daya tahannya, biar terdesak kiranya masih tidak mudah bagi kedua orang pengeroyoknya untuk merobohkannya.

Akan tetapi agaknya suaminya itu tidak mau didesak terus dan kini mengeluarkan jurus nekat yang ditujukan kepada seorang diantara dua orang pengeroyoknya.

Agaknya Han Wi Kong sudah bertekad untuk merobohkan seorang lawan dengan resiko dia sendiri terpukul oleh lawan ke dua.

Milana maklum akan isi hati suaminya, yaitu bahwa biarpun suaminya roboh, setidaknya telah dapat merobohkan seorang lawan pula, sehingga tidaklah akan terlalu memalukan.

"Heiiiittt....!"

Yauw Siu berteriak, kaget juga menyaksikan serangan hebat ini, dia mencelat mundur dan ketika lawan terus mengejar, dia juga melonjorkan kedua lengannya dan bertemulah kedua tangannya dengan kepalan tangan Han Wi Kong.

"Desss.... bukkk....!"

Yauw Siu kalah tenaga karena memang sedang mundur, begitu kedua ta-ngannya bertemu dengan tangan lawan, dia terlempar dan terjengkang, akan tetapi pada saat itu juga, Sun Giam sudah menerjang dari samping dan pukulannya yang amat keras dan ditujukan kepada leher Han Wi Kong, biarpun sudah dielakkan oleh Han Wi Kong dengan miringkan tubuh, tetap saja masih mengenai pundaknya, membuat bekas panglima pengawal ini roboh pula!

Yauw Siu dan Sun Giam kini melompat ke depan, agaknya hendak mengirim pukulan maut kepada lawan yang sudah rebah miring dan belum sampai bangun itu, apalagi Yauw Su yang menjadi marah karena tubuhnya masih tergetar oleh pertemuan kedua tangannya tadi, dan pinggulnya masih panas dan nyeri karena dia terjengkang dan terbanting.

"Plakk! Plakk!"

Dua orang jagoan itu terkejut sekali dan terhuyung-huyung ke belakang.

Mereka terbelalak memandang puteri cantik yang sudah berdiri di depan mereka yang tadi menangkis kedua tangan mereka yang sudah diayun untuk menghantam Han Wi Kong, tangan halus sekali yang ketika menangkis terasa dingin seperti es dan membuat mereka menggigil dan terhuyung ke belakang.

"Bedebah! Kalian manusia curang, setelah mengeroyok masih hendak membunuh orang yang terluka? Tunggulah sebentar!"

Kata Puteri Milana dengan nada suara dingin sekali, lalu dia memapah suaminya kembali ke kursinya.

Setelah melihat bahwa luka suaminya tidaklah berat, hanya mengalami patah tulang pundak, dia lalu membalikkan tubuh hendak menandingi dua orang jagoan itu.

Akan tetapi betapa heran hatinya ketika di tengah tempat pibu itu kini telah muncul dua orang pemuda remaja yang menghadapi Yauw Siu dan Sun Giam sambil tersenyum mengejek!

Dan banyak tamu yang berbisik-bisik dan ada yang bertepuk tangan memuji karena ketika Milana sedang memapah suaminya tadi, dari tempat duduk para tamu di samping melayang dua sosok bayangan dan tahu-tahu dua orang pemuda itu telah berdiri di depan Sun Giam dan Yauw Siu.

Gerakan meloncat yang indah inilah yang menarik perhatian para tamu.

"Siapakah mereka?"

"Dari mana mereka datang?"

Pangeran Liong Bin Ong sendiri terkejut dan bingung, akan tetapi melihat bahwa yang muncul hanyalah dua orang pemuda yang masih remaja, dia percaya bahwa dua orang jagoannya itu akan dapat mengatasi mereka.

Sun Giam yang tinggi kurus bermuka kuning itu sudah meloncat ke depan dan matanya yang sipit menjadi makin sipit seperti terpejam ketika dia membentak marah.

"Bocah-bocah lancang mau apa kalian datang ke sini?"

Dua orang pemuda itu bukan lain adalah Kian Bu yang setengah memaksa kakaknya untuk muncul di gelanggang itu, dengan mendahului meloncat dan disusul oleh kakaknya.

Ketika tadi melihat Puteri Milana maju menyelamatkan laki-laki gagah yang maju menghadapi dua jagoan dan yang terkena pukulan, Kian Bu dan Kian Lee memandang penuh perhatian.

Mereka berdua tidak tahu siapa adanya laki-laki itu.

Mereka dahulu masih terlalu kecil ketika bertemu dengan Han Wi Kong sehingga mereka tidak ingat lagi.

Akan tetapi tentu saja hati mereka berpihak kepada laki-laki ini ketika melihat betapa laki-laki gagah ini menghadapi dua orang jagoan yang menantang Pulau Es!

Kalau tidak dicegah kakaknya, ketika mendengar tantangan tadi tentu dia sudah meloncat untuk menghajar Sun Giam dan Yauw Siu.

Kini melihat kakaknya menolong laki-laki itu dan membawanya duduk kembali ke kursinya, Kian Bu berbisik kepada kakaknya.

"Lee-ko, dia itu adalah Ci-hu (Kakak Ipar)!"

"Ah, benar....! Ci-hu telah terpukul oleh mereka!"

Kata Kian Lee.

"Dan Enci Milana akan maju sendiri, hayo kita dului!"

Tanpa menanti jawaban Kian Lee, Kian Bu sudah meloncat dan terpaksa Kian Lee mengikuti adiknya sehingga mereka berdua kini berhadapan dengan Sun Giam dan Yauw Siu.

Kian Bu tahu bahwa dia tidak bisa mengandalkan kakaknya untuk bicara, kakaknya yang pendiam itu, maka dia cepat mendahului kakaknya menjawab bentakan Sun Giam tadi.

"Siapa adanya kami bukan hal yang patut diributkan, akan tetapi yang penting adalah siapa adanya kalian berdua! Kalian berdua mengaku hendak melamar pekerjaan pengawal, akan tetapi kami tahu bahwa kalian tidak patut menjadi pengawal, karena kalian hanyalah dua orang badut yang tidak lucu!"

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya semua orang mendengar ucapan pemuda tampan yang suaranya lantang itu.

Betapa beraninya bocah itu menghina dua orang jagoan yang demikian kosen, yang telah berhasil mengalahkan bekas Panglima Pengawal Han Wi Kong, suami Puteri Milana sendiri!

Akan tetapi yang lebih heran dan juga amat marah adalah Sun Giam dan Yauw Siu.

Yauw Siu melangkah maju.

"Setan cilik, apa kau sudah bosan hidup?"

"Setan gede, kalian yang sudah bosan hidup berani menjual lagak di sini. Apa kalian kira kami tidak tahu bahwa tadi kalian bermain curang. Kalau kalian tidak main curang, mana kalian mampu menang menghadapi orang gagah tadi? Manusia macam kalian ini, jangankan menjadi pengawal, menjadi jongos pun tidak patut,"

Kata Kian Bu.

"Wah, pantasnya menjadi apa, Adikku?"

Kian Lee bertanya membantu adiknya.

"Jadi apa, ya? Pantasnya mereka ini tukang-tukang pukul kampungan, atau pencopet-pencopet di pasar, menjadi penjahat besar pun tidak patut!"

Tentu saja makin bising keadaan di situ karena para tamu maklum bahwa dua orang pemuda yang masih remaja itu dengan sengaja hendak mencari perkara dan sengaja menghina dua orang jagoan tangguh itu.

Hati mereka menjadi tegang dan bertanya-tanya siapa gerangan dua orang muda yang nekat itu.

Yang paling marah adalah Sun Giam dan Yauw Siu.

Mereka adalah dua orang yang kasar dan tak mengenal takut karena bertahun-tahun lamanya mereka menjadi orang-orang yang memiliki kekuasaan diantara gerombolan liar di bawah pimpinan Raja Tambolon, maka kini dimaki dan dihina oleh dua orang pemuda tanggung itu, hati mereka seperti dibakar rasanya.

Akan tetapi, di samping kekasaran mereka, dua orang ini pun cerdik dan mereka menahan kemarahan hati karena mengingat bahwa di tempat itu terdapat banyak orang pandai dan bahwa mereka berada di kota raja yang besar dan tidak boleh bertindak sembarangan.

Kalau saja tidak berada di tempat itu, tentu mereka sudah sejak tadi turun tangan membunuh dua orang pemuda yang berani menghina mereka seperti itu.

Mereka masih tidak tahu siapa dua orang pemuda ini.

Siapa tahu, melihat sikap mereka yang begitu berani, dua orang pemuda ini adalah putera-putera pembesar yang berkedudukan tinggi di kota raja!

Maka Sun Giam lalu memberi isyarat kepada kawannya agar menahan kemarahan, kemudian dia menoleh dan berlutut ke arah Pangeran Liong Bin Ong.

"Mohon paduka mengampuni hamba berdua!"

Katanya lantang.

"Tanpa perkenan atau perintah paduka, hamba tidak berani turun tangan sembarangan. Akan tetapi, dua orang pemuda ini telah menghina hamba berdua dan karena hamba adalah calon pengawal paduka, maka penghinaan yang dilakukan di sini berarti menghina paduka pula. Maka hamba ber-dua mohon perkenan untuk menghajar dua orang pemuda ini dengan perkenan paduka!"

Tadinya Liong Bin Ong juga terkejut dan marah, dan memang diam-diam dia merasa girang bahwa kedua orang jagoannya itu ternyata boleh diandalkan, berhasil melukai suami Milana dan mungkin akan berhasil membikin malu puteri yang menjadi musuhnya itu.

Dia menduga bahwa kedua orang pemuda itu jelas merupakan pendukung puteri itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mengangguk!

Tentu saja girang bukan main rasa hati Sun Giam dan Yauw Siu.

Kalau tadi mereka masih terpaksa menelan kesabaran adalah karena mereka ragu-ragu karena tidak mengenal dua orang pemuda itu, takut kalau kesalahan tangan.

Kini, setelah memperoleh perkenan Pangeran Liong Bin Ong, tentu saja hati mereka menjadi besar dan dengan muka beringas mereka menoleh kepada Kian Lee dan Kian Bu.

"Bocah-bocah lancang, hayo lekas beritahukan siapa kalian dan siapa orang tua kalian. Kami adalah orang-orang gagah yang tidak mau menghajar anak orang tanpa mengetahui siapa ayahnya!"

Kata Yauw Siu dengan lagak sombong karena dia kini tidak khawatir lagi terhadap ayah anak-anak ini setelah dilindungi oleh Pangeran Liong Bin Ong.

Semua tamu termasuk Milana yang sudah duduk kembali karena dia dapat melihat sifat luar biasa kedua orang anak itu, Memandang dan mendengarkan dengan penuh perhatian karena dia pun ingin sekali mendengarkan siapa gerangan dua orang pemuda remaja yang sudah begitu berani mengacaukan pesta Pangeran Liong Bin Ong!

Akan tetapi, diantara semua tamu yang hadir, hanya Milana seoranglah yang berani mempersiapkan diri untuk melindungi kedua orang pemuda remaja itu kalau-kalau terancam bahaya maut di tangan dua orang jagoan itu.

Puteri ini tentu saja tidak tega membiarkan mereka tewas karena membela dia, atau membela nama Pulau Es yang disebut-sebut dan ditantang oleh dua orang jagoan itu.

Sementara itu, melihat lagak sombong dari Yauw Siu, Kian Lee yang pendiam hanya memandang dengan matanya yang lebar terbelalak, akan tetapi adiknya, Kian Bu sudah tertawa riang dan mendahului kakaknya menjawab.

"Kalian adalah she Yauw dan she Su, dan ketahuilah bahwa kakakku ini namanya Ta-yauw-eng (Pendekar Pemukul Orang she Yauw) dan namaku adalah Ta-sun-eng (Pendekar Pemukul Orang she Sun)! Nah, kalian tidak lekas berlutut minta ampun?"

Jawaban yang tak disangka-sangka orang ini selain menimbulkan kemarahan hebat di dalam hati dua orang jagoan itu, juga membuat geli hati mereka yang berpihak kepada suami Puteri Milana yang terluka tadi.

Namun kegelisahan hati mereka bercampur dengan kekhawatiran karena mereka maklum betapa marahnya dua orang tukang pukul yang sudah memperoleh perkenan dari Pangeran Liong Bin Ong untuk menghajar dua orang pemuda remaja itu dan tentu mereka tidak akan bertindak kepalang tanggung.

Mungkin akan dibunuhnya dua orang pemuda remaja yang tampan dan sedikit pun tidak mengenal takut itu.

"Bocah setan! Kau sudah bosan hidup!"

Sun Giam dan Yauw Siu membentak dan keduanya menerjang dan menyerang Kian Bu.

"Heeiiitt....! Eiiittt....!"

Kian Bu sudah berloncatan ke belakang dengan sikap mengejek dan mempermainkan, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka mereka bergantian.

"Kiranya kalian ini benar-benar hanyalah tukang-tukang pukul kampungan yang beraninya mengeroyok orang! Tadi kalau tidak mengeroyok dan curang, tentu kalian telah roboh oleh orang gagah itu. Apa sekarang kau hendak mengeroyok aku pula?"

Wajah kedua orang jagoan itu menjadi merah.

Sudah banyak mereka menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru sekarang mereka merasa diperrnainkan oleh seorang anak-anak!

"Kalian juga berdua, majulah!"

Teriak Sun Giam menahan kemarahannya karena dia pun malu kalau dikatakan mengeroyok seorang bocah! "Eh-eh, nanti dulu!"

Kian Bu mengangkat kedua tangan ke atas menahan mereka, juga sekaligus menahan kakaknya yang sudah bersiap hendak menerjang Yauw Siu.

"Katanya kalian adalah orang-orang gagah, maka sekarang di depan begini banyak tamu agung, perlihatkanlah kegagahanmu. Kalian merupakan dua jago tua dan kami adalah dua orang jago muda, mari kita bertanding satu-satu agar lebih sedap ditonton dan lebih dapat dinikmati bagaimana kalian menghajar kami satu-satu! Betul tidak?"

"Betul....!"

Otomatis Yauw Siu menjawab karena tertarik oleh cara Kian Bu bicara.

"Hushhh!"

Sun Giam membentak dan barulah Yauw Siu sadar bahwa dia telah terseret oleh kata-kata bocah itu dan menanggapinya!

Terdengar suara tertawa diantara para tamu menyaksikan sikap (Lanjut ke

Jilid 20) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 dua orang jagoan itu. Yauw Siu yang menjadi malu sekali sudah melangkah maju.

"Baik, mari kita bertanding satu lawan satu!"

Bentaknya sambil membusungkan dadanya yang bidang dan kekar.

"Nanti dulu, kau tidak sabar amat!"

Kian Bu berkata sambil tersenyum.

"Lawanmu adalah kakakku, ingat? Kakakku adalah Ta-yauw-eng, jadi harus dia yang memukul engkau! Sedangkan aku adalah Ta-sun-eng, biarlah sekarang aku menghadapi Sun Giam lebih dulu, baru engkau."

"Setan! Siapa pun diantara kalian boleh maju, kalau perlu boleh maju berdua kulawan sendiri!"

Teriak Yauw Siu yang hampir tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Heiit, sabar, sabar! Hanya mau mengalami hajaran saja mengapa tergesa-gesa amat? Hayo, engkau orang she Sun, kau hadapilah aku Tukang Pemukul Orang she Sun!"

Sun Giam lebih pendiam daripada kawannya, dan juga dia tidak kelihatan menyeramkan seperti Yauw Siu yang tinggi besar bermuka hitam itu.

Akan tetapi, orang berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus, bermuka kuning dan matanya sipit ini sebetulnya memiliki keahlian yang lebih berbahaya dibandingkan dengan Yauw Siu.

Kalau Yauw Siu yang berjuluk Hek-bin-tiat-liong (Naga Besi Bermuka Hitam) itu adalah seorang yang bertenaga raksasa dan seorang ahli gwa-kang (tenaga otot), sebaliknya Sun Giam adalah seorang ahli lwee-keh (tenaga dalam) yang tangguh.

Hal ini diketahui dengan baik oleh Milana ketika wanita sakti ini tadi menangkis pukulan mereka berdua.

Tentu saja untuk dia pribadi, kepandaian mereka berdua itu tidak ada artinya, akan tetapi kini melihat betapa Sun Giam berhadapan dengan pemuda remaja yang usianya paling banyak enam belas tahun itu, tidak urung hati Milana menjadi tegang juga.

Sun Giam orangnya pendiam, akan tetapi menyaksikan lagak dan mendengarkan ucapan pemuda tampan yang amat memandang rendah kepadanya itu, dia juga sudah tak dapat menahan kemarahannya.

"Baik, bocah kurang ajar. Engkau yang menantang dan semua tamu agung yang hadir menjadi saksi. Kalau kau terpukul mampus nyawamu jangan penasaran dan menyalahkan aku!"

Setelah berkata demikian, Sun Giam sudah menggulung kedua lengan bajunya sehingga tampaklah kedua lengannya yang kurus kecil dan panjang.

Melihat ini, Kian Bu tertawa.

"He-he-he, kedua lenganmu kecil seperti kayu kering yang lapuk, perlu apa dipamerkan? Jangan-jangan untuk menyerangku menjadi patah-patah nanti!"

Kembali terdengar suara tertawa.

Biarpun semua orang masih ragu-ragu apakah pemuda remaja yang tampan dan nakal jenaka itu dapat menandingi Sun Giam, namun setidaknya godaan-godaan itu cukup membuat hati mereka yang tidak suka kepada dua orang jagoan itu menjadi senang.

Akan tetapi suara ketawa itu terhenti dan semua mata memandang penuh ketegangan ketika mereka melihat Sun Giam menggerak-gerakkan kedua lengannya dengan jari tangan berbentuk cakar dan terdengarlah bunyi berkerotokan mengerikan dari tulang-tulang lengan dan tangannya!

Juga tampak betapa kedua lengan itu berubah menjadi kehijauan dan mengeluarkan getaran hebat.

Milana menggenggam tangan kanannya.

Dia mengenal ilmu yang dimiliki oleh Sun Giam itu, semacam tok-ciang (tangan beracun) yang mengandung sin-kang kuat dan berbahaya karena beracun!

Dia mengerti bahwa hantaman kedua tangannya itu selain amat kuat, juga dapat menembus kulit daging dan meracuni tulang dan otot di tubuh lawan.

Dugaannya memang tidak salah, Sun Giam telah melatih semacam pukulan beracun dan kedua tangannya itu mahir dengan Ilmu Cheng-tok-ciang (Tangan Beracun Hijau) yang dahsyat!

"Wah-wah, kiranya engkau pandai main sulap.

Tentu kau dahulu adalah seorang penjual obat yang suka main di pasar-pasar, bukan?

Sayang permainanmu kurang menarik dan tidak kebetulan aku tidak membawa uang kecil!"

Kata Kian Bu sambil menyeringai. Tentu saja, sebagai putera Pulau Es, dia pun mengenal kedua tangan itu, akan tetapi dia memandang rendah.

"Bocah sombong, terimalah pukulan mautku!"

Sun Giam sudah menghardik sambil bergerak maju.

Gerakannya cepat sekali, kedua kakinya maju tanpa diangkat, hanya bergeser mengeluarkan suara "syet-syet!"

Dan kedua lengannya sudah bergerak-gerak, setelah dekat dengan Kian Bu dia membentak keras.

"Huiii....! Wut-wut-wut-wut!"

Empat kali beruntun kedua tangannya menyambar dahsyat, dimulai dengan tangan kiri membacok dengan tangan terbuka ke leher, disusul tangan kanan mencengkeram iga, kemudian tangan kiri menusuk lambung dan diakhiri dengan tangan kanan mencengkeram ke arah bawah pusar.

Setiap serangan merupakan cengkeraman maut yang dapat merenggut nyawa seketika.

"Aihh....! Wuusss.... plak-plak-plak....!"

Dengan gerakan lincah sekali Kian Bu mengelak lalu menang-kis tiga kali dengan tangannya, lagaknya seperti orang kerepotan akan tetapi semua tangkisannya tepat membuat kedua tangan lawan terpental.

"Sayang luput.... desss....!"

Kembali dia menangkis hantaman ke arah mukanya dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya menampar ke depan.

"Plakk....! Aughhh....!"

Sun Giam terkejut setengah mati.

Bukan hanya semua serangannya dapat dielakkan dan ditangkis, bahkan tahu-tahu pipi kirinya kena ditampar keras sekali sampai kepalanya mendadak menjadi puyeng dan matanya berkunang, pipi kirinya panas berdenyut-denyut!

Dia terhuyung ke belakang sambil mengusap pipi kirinya.

"Wah, mukamu menjadi hitam sebelah!"

Kian Bu menggoda.

"Mari biar kutampar yang sebelah lagi agar tidak menjadi berat sebelah!"

Bisinglah keadaan para tamu ketika menyaksikan hal yang dianggapnya amat aneh ini.

Pemuda nakal itu dalam segebrakan saja telah mampu menampar pipi Sun Giam!

Dan dilakukan dengan cara semudah itu, seperti mempermainkan seorang anak kecil saja, malah diejek seolah-olah Sun Giam merupakan lawan yang sama sekali tidak mempunyai kepandaian apa-apa.

Sun Giam mengeluarkan suara melengking dari kerongkongannya, lalu tubuhnya mencelat lagi ke depan, kini menggunakan jurus yang amat hebat, kedua lengannya sampai kelihatan menjadi amat banyak saking cepatnya kedua tangan itu bergerak mengirim pukulan-pukulan maut yang amat gencar bertubi-tubi dan saling susul-menyusul.

"Wuuut-tak-tak-tak-syuuuttt.... aih, lagi-lagi kena angin belaka!"

Kian Bu mengejek, tubuhnya berloncatan, berputaran, seperti menari-nari dan dengan gerakan aneh menyelinap ke sana-sini namun selalu dia dapat mengelak atau menangkis semua pukulan itu.

"Mampuslah!"

Sun Giam yang terus menyerang itu tiba-tiba berteriak, dan kaki kanannya melayang ke arah bawah pusar Kian Bu.

Kalau tendangan maut ini mengenai sasaran bagian tubuh yang paling lemah dari seorang pria itu, tentu sukar dapat menyelamatkan nyawa.

Semua orang yang ahli dalam ilmu silat diam-diam menahan napas menyaksikan serangan maut ini, kecuali Milana yang tampak tenang saja akan tetapi kini matanya mengeluarkan sinar aneh memandang pemuda remaja itu, duduknya enak dan sama sekali tidak bersiap-siap lagi untuk membantu.

"Wirrr....!"

Tendangan itu melayang dengan kecepatan yang sukar diikuti pandangan mata.

Kian Bu seolah-olah tidak melihat ini, akan tetapi begitu kaki lawan mendekat, dia menggeser tubuh ke kiri, membiarkan kaki lewat di sebelah kanan tubuhnya, tangan kanannya menyambar dan merangkul pergelangan kaki, sedangkan tangan kirinya menyambar ke depan.

"Plakkk!"

Kembali Sun Giam terhuyung ke belakang dan mengeluh, otomatis tangan kanannya mengusap pipi kanannya yang kena ditampar.

"Nah, sekarang baru berimbang, mukamu menjadi kemerah-merahan seperti muka seorang dara cantik yang segar, he-he-heh!"

Kian Bu berkata sambil bertepuk tangan.

Para tamu yang berpihak kepadanya juga tertawa dan bahkan ada yang bertepuk tangan pula.

Sun Giam menjadi mata gelap saking marahnya.

Dia tahu sekarang bahwa pemuda yang bengal ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang mujijat.

Bukan hanya dapat menangkis tangan beracunnya tanpa terluka sedikit pun, juga pemuda itu memiliki gerakan yang kelihatannya seenaknya dan sembarangan saja, namun selalu dengan tepat dapat menangkis semua pukulannya, dan setiap kali pukulannya tertangkis, Sun Giam merasa betapa seluruh lengannya dari ujung jari sampai ke ketiaknya, terasa tergetar hebat sekali tanda bahwa pemuda itu memiliki sin-kang yang amat luar biasa!

Dia maklum, akan tetapi tentu saja dia tidak mau menyerah begitu saja.

Dia tidak sudi menerima kenyataan bahwa dia kalah menghadapi seorang bocah bengal.

Maka sambil mengeluarkan lengking dahsyat, kembali ia menubruk, dengan kedua lengan dikembangkan dan kedua tangan membentuk cakar harimau, lagaknya persis seekor harimau kelaparan yang menubruk kambing.

Kembali banyak orang terkejut karena melihat betapa pemuda itu enak-enak saja tertawa dan bertepuk tangan, seolah-olah terkaman itu tidak ada artinya sama sekali atau dia tidak tahu betapa dirinya terancam bahaya maut yang mengerikan.

Dua lengan lawan itu bergerak-gerak dan sukar diduga ke arah mana akan menyerang dan sekali saja dirinya kena dicengkeram tentu akan hebat akibatnya.

Namun tentu saja ini pendapat para penonton, tidak demikian dengan pendapat Kian Bu sendiri.

Dia dapat melihat dengan jelas, dapat mengikuti gerakan kedua tangan lawan itu, maka dia enak-enak saja.

Ketika jaraknya sudah dekat, tiba-tiba dia pun mengulur kedua lengannya dan kedua tangannya menyambut cengkeraman kedua tangan lawan dan berbareng dia mengangkat lutut kirinya "memasuki"

Perut lawan.

"Ngekk....!"

Biarpun Sun Giam sudah mengerahkan lwee-kangnya untuk membuat perutnya keras dan kebal, namun hantaman lutut yang dilakukan dengan kuat dan tiba-tiba itu tidak urung membuat perutnya mulas dan napasnya sesak, dan pada saat itu Kian Bu sudah menggerakkan tangan kanan yang saling berpegangan dengan tangan kiri lawan, menariknya tiba-tiba sehingga tubuh Sun Giam tertarik dan terbawa maju, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya Kian Bu menekuk lengan kanannya itu, sikunya menyambar ke depan.

"Croott....!"

Siku itu mencium muka Sun Giam, tepat mengenai hidungnya.

Bagian ini sukar untuk diisi tenaga lwee-kang sekuatnya, maka biarpun batang hidung itu tidak remuk, akan tetapi getaran pukulan siku itu membuat darahnya muncrat keluar dari dalam!

"Aughhh....!"

Sun Giam mengeluh dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

Sibuklah kedua tangannya, yang satu mengelus perut yang mulas, yang satu lagi menutupi hidungnya yang berdarah.

"Bocah setan....!"

Tiba-tiba Yauw Siu memaki dan langsung dia menubruk ke arah Kian Bu.

"Heiii....! Eh, uh, luput! Eh, kau adalah lawan kakakku!"

Kian Bu mengelak ke sana ke mari dengan cekatan sekali sehingga setiap pukulan, setiap tubrukan mengenai tempat kosong.

Namun Yauw Siu yang marah sekali menyaksikan betapa temannya tadi dipermainkan, saking marahnya terus menerjang seperti seekor harimau, kedua lengannya yang besar panjang itu bergerak-gerak dan kedua tangannya menyambar-nyambar ganas.

Mukanya yang hitam menjadi makin hitam dan matanya melotot lebar menyeramkan.

Melihat betapa calon lawannya itu mengamuk dan menyerang adiknya, Kian Lee hanya berdiri tersenyum.

Tentu saja dia tahu bahwa orang kasar itu sama sekali bukan tandingan adiknya, biar ada sepuluh orang seperti itu belum tentu akan dapat mengalahkan adiknya, maka dia tenang-tenang saja dan membiarkan adiknya yang jenaka itu bergembira memborong semua lawan!

"Wah....

eiiittt....

Koko, bagaimana ini?"

Kian Bu masih mengelak terus.

"Ambil saja untukmu, biar aku menonton saja!"

Jawab Kian Lee.

"Begitukah? Ha-ha, Yauw Siu, engkau masih untung! Kalau melawan kakakku, tentu kepalamu akan hancur. Aku masih mending, kau hanya akan mengalami benjut-benjut saja!"

"Keparat....!"

Yauw Siu sudah menubruk lagi, kedua kaki dan tangannya di-pentang lebar, agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi Kian Bu untuk mengelak.

Dan pemuda ini pun sama sekali tidak mengelak lagi!

Bahkan dia memapaki, menyambut terkaman itu, kedua tangannya didorongkan ke depan dan....

tubuh tinggi besar itu seperti daun ditiup angin, terlempar ke samping dan terbanting keras.

Yauw Siu terkejut bukan main.

Dia tidak tahu bagaimana dia tadi terbanting roboh, yang dirasakannya hanyalah ada angin menyambar dahsyat, angin yang terasa amat dingin.

Akan tetapi dia merasa penasaran, cepat dia meloncat berdiri dan menerjang lagi seperti angin puyuh, mengamuk membabi buta mengirim pukulan dan tendangan.

Kian Bu mengeluarkan kepandaiannya.

Dengan amat mudah dia mengelak dengan jalan meloncat ke belakang dan tahu-tahu lenyaplah dia dari depan Yauw Siu yang menjadi bingung dan terbelalak memandang, mencari ke kanan kiri.

Terdengar gelak tawa para penonton karena mereka dapat melihat betapa tubuh pemuda lihai itu tadi mencelat dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu telah berada di belakang Yauw Siu sambil tersenyum-senyum.

Mendengar suara ketawa para penonton, Yauw Siu menjadi makin bingung dan matanya memandang liar.

Tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakang.

Dia membalik dan....

"Plak-plak!"

Kedua pipinya kena ditampar dan dia terhuyung-huyung ke belakang. Tepuk tangan menyambut "kemenangan"

Pemuda itu dan Pangeran Liong Bin Ong memandang pucat, memberi isyarat dengan pandang matanya kepada para pengawalnya.

Yauw Siu terkejut dan makin marah.

Biarpun dia kini juga maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang amat lihai, namun rasa malu dan marahnya membuat dia nekat.

"Srattt....!"

Dia telah mencabut sebatang ruyung lemas yang bergigi, yang tadi melingkar di pinggangnya.

"Singg.... wir-wir-wirrr....!"

Sun Giam kini juga sudah mengeluarkan senjatanya yang tadi melibat pinggangnya, yaitu sebuah senjata rantai baja dengan bola berduri di kedua ujungnya.

"Mundurlah, Bu-te!"

Kian Lee berkata dengan marah melihat betapa dua orang jagoan itu benar-benar tak tahu diri.

Betapapun juga, dia amat sayang kepada adiknya dan melihat kenekatan dua orang itu yang telah mengeluarkan senjata, dia cepat melompat maju.

Kian Bu meloncat ke belakang.

"Celakalah kalian sekarang,"

Katanya mengejek kepada dua orang jagoan itu.

Akan tetapi dua orang jagoan yang sudah amat marah itu tidak mempedulikan ejekan Kian Bu.

Melihat bahwa sekarang pemuda ke dua yang maju dengan tangan kosong saja, dengan sikap tenang sekali namun dengan wajah yang tampan itu membayangkan kemarahan dan mata yang tajam itu memandang tanpa berkedip, mereka sudah menerjang maju menggerakkan senjata masing-masing tanpa mempedulikan lagi teriakan-teriakan para tamu yang memaki mereka dan yang mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu.

Han Wi Kong yang pundaknya sudah dibalut dan sejak tadi memandang kagum, kini hendak bangkit dari tempat duduknya.

"Si keparat tak tahu malu!"

Desisnya. Akan tetapi tiba-tiba tangan Milana menyentuh lengannya.

"Biarkan saja...."

"Apa....? Kedua orang anak muda itu terancam...."

Milana menggeleng kepala, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar, wajahnya berseri-seri.

"Apakah kau tidak dapat menduga siapa mereka? Apakah kau tidak mengenal Sin-coa-kun, kemudian loncatan Soan-hong-lui-kun dan dorongan pukulan Swat-im Sin-ciang yang dilakukan Kian Bu tadi?"

"Kian Bu.... ahh dan yang satu itu....?"

"Kian Lee, siapa lagi?"

Han Wi Kong memandang terbelalak dan dengan penuh kekaguman dia melihat betapa Kian Lee menghadapi dua orang lawan bersenjata itu dengan sikap tenang sekali.

Dua gulungan sinar senjata itu menyambar-nyambar ke depan.

Kian Lee berkelebat mengelak diantara dua gulungan sinar senjata itu, gerakannya cepat sekali sehingga tidak dapat dilihat lagi bentuk tubuhnya, hanya bayangannya saja berkelebatan dan tiba-tiba terdengar dua kali teriakan keras, dua batang senjata itu terlempar dan dua orang jagoan itu terlempar dan roboh terbanting!

Kian Lee telah berdiri dengan sikap penuh wibawa, kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bersedakap dan dia menghardik.

"Kalian masih berani menjual lagak lagi di sini?"

Dua orang jagoan itu merangkak bangun, muka mereka menjadi pucat sekali, lalu mereka saling pandang dan membalikkan tubuhnya.

"Tunggu....!"

Klan Bu mencelat dari tempat dia berdiri, tahu-tahu telah berada di depan kedua orang itu.

"Tadi kalian melukai orang, terlalu enak kalau kalian dibiarkan pergi begitu saja tanpa dihukum!"

Kedua tangannya bergerak cepat menyambar ke depan.

Kedua orang jagoan yang masih merasa nanar itu berusaha membela diri, akan tetapi mereka jauh kalah cepat.

"Krek-krek! Krek-krek!"

Dua orang itu jatuh berlutut, kedua tulang pundak mereka telah dipatahkan oleh jari tangan Kian Bu yang hendak membalaskan orang gagah yang tadi patah tulang pundaknya.

"Nah, pergilah kalian!"

Bentaknya.

Dua orang itu mengeluh, menggigit bibir, memandang dengan mata melotot, kemudian bangkit berdiri dan pergi cepat meninggalkan tempat itu melalui pintu gerbang dengan gerak langkah yang amat lucu.

Kaki mereka melangkah cepat setengah berlari, akan tetapi kedua lengan mereka tidak dapat berlenggang, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuh.

"Tangkap dua orang pengacau itu....!"

Tiba-tiba Pangeran Liong Bin Ong berteriak memerintah sambil menudingkan telunjuknya ke arah Kian Lee dan Kian Bu.

Belasan orang pengawal bergerak maju mengepung dengan senjata di tangan.

"Eh, eh, kenapa kami hendak ditangkap?"

Kian Bu berseru heran sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Kaliah mengacau!"

Pangeran itu membentak pula karena dia pun melihat betapa banyak diantara para tamu menggelengkan kepala tidak setuju kalau dua orang muda itu ditangkap.

"Ah! Ah! Jadi kami yang mengacau?"

Kian Bu berteriak pula tanpa takut sedikit pun.

"Dua orang jagoan kampungan tadi telah mengeluarkan tantangan dan penghinaan terhadap Pulau Es, dan siapa pun tahu bahwa Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti! Pendekar itu adalah mantu dari Yang Mulia Kaisar dan ayah dari Puteri Milana yang hadir di sini sebagai tamu kehormatan! Kami berdua maju menghajar orang yang menghina mantu Kaisar malah dituduh pengacau! Kalau begini, siapa yang mengacau?"

Mendengar ucapan ini, Liong Bin Ong menjadi merah mukanya.

Apa yang diucapkan dua orang pemuda remaja itu terdengar oleh semua orang dan hampir semua orang mengangguk-angguk membenarkan.

"Siapa kalian?"

Bentaknya.

"Sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja kami tidak membiarkan orang-orang macam mereka itu menghina Pulau Es."

"Kian Bu....! Kian Lee....!"

Milana tak dapat menahan lagi kegirangan hatinya.

Dia sudah bangkit berdiri dan menghampiri dua orang pemuda itu yang serta merta berlutut di depan Milana.

"Enci Milana....!"

Mereka berkata hampir berbareng.

Milana tertawa dan sekaligus mengusap air matanya, menyuruh bangun mereka dan memeluk mereka, menarik mereka ke ruangan tamu kehormatan dan memperkenalkan mereka kepada Pangeran Liong berdua dan para tamu.

"Mereka adalah adik-adikku Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee dari Pulau Es!"

Melihat keluarga yang saling bertemu itu bergembira dan disambut oleh para tamu dengan girang, dua orang Pangeran Liong saling pandang dengan muka pucat.

Tentu saja mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadap adik-adik Puteri Milana, yaitu cucu Kaisar sendiri, apalagi karena semua tamu tadi jelas menyaksikan betapa dua orang pemuda itu mengalahkan dua orang jagoan yang dianggap menghina Pulau Es.

Berbondong para tamu datang dan menghaturkan selamat kepada Puteri Milana yang telah bertemu dengan dua orang adiknya yang gagah perkasa.

Dengan alasan kedatangan dua orang adiknya, Puteri Milana dan suaminya yang terluka pundaknya itu bergegas meninggalkan tempat pesta, pulang ke istana mereka sendiri.

Setelah Han Wi Kong yang patah tulang pundaknya itu memperoleh perawatan dari seorang tabib dan mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya sendiri, Milana mengajak dua orang adiknya bercakap-cakap sampai semalam suntuk.

Tidak ada habis-habisnya mereka saling menceritakan keadaan masing-masing, dan terutama sekali dengan penuh kerinduan hati Milana ingin mendengarkan segala hal mengenai Pulau Es.

Ketika dia mendengar tentang Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar yang pernah dilawannya di rumah penginapan itu ternyata pernah pula menyerbu Pulau Es dengan kawan-kawannya, puteri ini mengerutkan alisnya dan dengan penuh kekhawatiran dia dapat menduga bahwa Pangeran Liong ternyata dibantu oleh orang-orang pandai.

Beberapa hari kemudian, setelah membawa dua orang adiknya menghadap kepada Kaisar, Milana lalu memberi tugas kepada kedua orang adiknya yang dia tahu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk menjaga diri dan untuk menunaikan tugas rahasia itu.

Dia menyuruh Kian Lee dan Kian Bu pergi ke utara, menemui Jenderal Kao Liang dan menceritakan semua keadaan di kota raja, Mengajak Jenderal Kao yang amat setia dan yang menguasai sebagian besar pasukan itu untuk mengerahkan pasukan menumpas pemberontak-pemberontak tanpa menanti perintah Kaisar lagi karena Kaisar tentu saja terpengaruh oleh para pangeran yang menjadi saudaranya sendiri itu, dan tidak percaya bahwa mereka merencanakan pemberontakan.

Pendeknya Milana mengajak Jenderal Kao untuk mendahului gerakan pemberontakan dan sekaligus membasmi pemberontak yang belum sempat bergerak itu.

Tengah malam telah lewat.

Udara amat dingin membuat para penjaga yang berkumpul di gardu benteng mengantuk dan mereka berusaha untuk melawan dingin dengan api unggun besar.

Perang antara dinginnya hawa udara dan panasnya api unggun mendatangkan kehangatan yang membuat orang cepat mengantuk, apalagi setelah bertugas menjaga dan meronda sehari semalam menanti penggantian giliran besok pagi.

Banyak diantara para penjaga itu yang mendengkur tanpa dapat ditahan lagi, ada yang berbaring begitu saja di bawah gardu, ada yang tidur sambil bersandar gardu, dan yang belum tidur rata-rata sudah melenggut digoda kantuk yang berat.

Mereka sudah malas meronda.

Pula, perlu apa diadakan perondaan secara ketat?

Benteng itu penuh pasukan tentara, siapa berani mengantar nyawa memasuki benteng?

Kelengahan para penjaga karena ngantuknya ini makin memudahkan dua orang yang bergerak seperti iblis saja di malam hari itu.

Dengan gerakan ringan bukan main mereka meloncat ke atas pagar tembok, lalu melayang turun dan cepat menyelinap diantara bangunan-bangunan di dalam benteng, menghindarkan diri dari pertemuan dengan penjaga-penjaga yang bertugas di dalam.

Dua sosok bayangan orang itu berkelebatan kadang-kadang naik ke atas genteng dan berloncatan, kemudian melayang turun lagi dan menyelinap diantara bangunan-bangunan rumah asrama para pasukan tentara.

Dari gerak-gerik mereka, jelas bahwa selain memiliki kepandaian tinggi, juga dua orang ini sudah hafal akan keadaan di situ.

Tentu saja demikian karena seorang diantara mereka ini adalah Jenderal Kao Liang dan yang seorang lagi adalah Pendekar Sakti Gak Bun Beng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Jenderal Kao Liang dibantu Gak Bun Beng pergi ke benteng yang dikuasai oleh Panglima Kim Bouw Sin, untuk menumpas para pemberontak.

Menyetujui pendapat Bun Beng agar tidak mendatangkan perang saudara secara terbuka antara pasukan-pasukan sendiri, maka jenderal itu bersama Bun Beng memasuki benteng berdua saja secara diam-diam dan menggunakan waktu malam untuk menyelidik.

Sudah tentu saja andaikata Jenderal Kao masuk dari pintu gerbang, para penjaga akan mengenalnya dan tidak akan ada yang berani melarangnya, akan tetapi kalau hal itu dilakukan dan Kim Bouw Sin mendengar akan kedatangannya, tentu panglima yang memberontak itu akan mengadakan persiapan untuk mencelakakannya.

Maka mereka berdua memasuki benteng malam itu secara diam-diam, dan berkat pengetahuan jenderal itu tentang benteng di mana dahulu dia pernah menjadi komandannya, maka mereka berdua dapat dengan mudah menyelinap masuk dan langsung menuju ke tempat kediaman Panglima Kim Bouw Sin.

Akhirnya, Jenderal Kao dan Bun Beng sudah tiba di balik pintu ruangan besar di mana Panglima Kim Bouw Sin tampak sedang berunding dengan belasan orang, dan kelihatan panglima itu marah-marah.

"Kalian sungguh-sungguh tidak ada gunanya!"

Agaknya entah sudah berapa puluh kali dia memaki seperti itu.

"Sekarang, semua gagal dan kita akan celaka."

"Kim-ciangkun, apakah tidak sebaiknya kalau kita mengirim pasukan yang lebih kuat dan diam-diam berusaha lagi untuk...."

"Jangan sembrono! Setelah kegagalan itu, tentu Kao Liang akan berjaga dengan teliti dan kuat. Lebih baik kita cepat melaporkan kepada Pangeran Liong dan kalian yang ikut membantu di sumur maut harus cepat menyembunyikan diri sehingga andaikata dia datang memeriksa, dia tidak akan menemukan bukti apa-apa di sini."

"Bagus sekali siasatmu, akan tetapi rahasiamu telah terbuka, Kim Bouw Sin! Pengkhianat hina, pemberontak busuk, menyerahlah kalian!"

Bentakan suara Jenderal Kao yang amat nyaring ini tentu saja amat mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu.

Mereka meloncat bangun dan memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah jendela yang tiba-tiba bobol dari luar diikuti melayangnya tubuh dua orang yang kini sudah berdiri di situ memandang mereka dengan sinar mata berapi.

Kim Bouw Sin tidak mengenal siapa adanya laki-laki gagah berpakaian sederhana bercaping lebar yang berdiri di samping Jenderal Kao itu, akan tetapi mengerti bahwa rahasianya telah terbuka, dia cepat berseru.

"Bunuh mereka!"

Sebelum menyerbu masuk, Jenderal Kao yang melihat betapa diantara belasan orang itu terdapat Kim Bouw Sin dan tiga orang panglima pembantunya, juga terdapat dua orang yang dia lihat ikut mengeroyoknya di sumur maut, telah membisiki Gak Bun Beng bahwa mereka berdua harus dapat menangkap hidup atau mati Kim Bouw Sin, tiga orang pembantunya, dan dua orang pengeroyok itu.

Yang lain-lain hanyalah kaki tangan yang tidak begitu penting, akan tetapi tiga orang pembantu dan dua orang pengeroyok itu merupakan saksi penting sekali akan pemberontakan Kim Bouw Sin yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong seperti dapat dibuktikan dari perundingan mereka tadi.

Gak Bun Beng mengangguk dan menyerbulah mereka ke dalam ruangan itu.

Aba-aba yang dikeluarkan oleh mulut Kim Bouw Sin tidak perlu diulang kembali karena semua yang hadir dalam perundingan itu mengenal belaka siapa adanya laki-laki berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, gagah perkasa dan berpakaian panglima itu.

Sungguhpun kebanyakan diantara mereka tidak ada yang mengenal laki-laki yang lebih muda, berusia empat puluh tahunan berpakaian sederhana itu, namun mereka dapat menduga bahwa laki-laki itu tentulah kaki tangan Jenderal Kao.

Hanya dua orang yang ikut menyerbu ke sumur maut mengenal Bun Beng dan mereka ini menjadi begitu kaget dan ketakutan sehingga ketika Kim Bouw Sin dan yang lain-lain mencabut senjata dan menyerbu, dua orang ini lari menyelinap dan berusaha pergi dari tempat berbahaya itu.

Pada saat itu, Jenderal Kao Liang sudah mencabut pedang panjangnya dan dengan gagah perkasa menghadapi serbuan lima enam orang, sedangkan Gak Bun Beng dengan tangan kosong sedang menghadapi hujan senjata para kaki tangan Kim Bouw Sin yang rata-rata terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi melihat dua orang yang tadi ditunjuk oleh Jenderal Kao sedang berusaha menyelinap pergi, Bun Beng melepaskan topi caping lebarnya dan sekali tangannya bergerak, topi caping lebar itu meluncur, mengeluarkan suara berdesing, berputar-putar seperti gasing dan menyambar ke arah lutut kedua orang yang melarikan diri itu dari belakang.

"Crak-crakkk!"

Dua orang itu mengeluarkan suara menjerit dan roboh terjungkal karena kedua lutut kaki mereka seperti dibacok senjata tajam, membuat mereka berdua lumpuh tak dapat bangun kembali sedangkan mata mereka terbelalak memandang ke arah benda yang masih berputaran dan kini melayang kembali ke arah Gak Bun Beng.

Caping itu memang dilemparkan dengan gerakan istimewa pergelangan tangan sehingga berputar amat cepatnya, maka ketika menyentuh lutut kedua orang itu, dalam keadaan terputar seperti golok tajamnya dan bersentuhan dengan lutut mereka itu membuat caping tadi yang masih berputar cepat itu berbalik arah dan melayang kembali ke arah pemiliknya.

Memang hal ini telah diperhitungkan oleh Bun Beng melalui latihan-latihan yang tekun bertahun-tahun lamanya.

Dengan tenang Bun Beng menghadapi pengeroyokan orang banyak, tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas ketika dia melihat capingnya melayang kembali dan menyambar benda itu, terus dipakai di atas kepalanya dan mulailah dia menggunakan kaki tangannya menghadapi pengeroyok.

Jenderal Kao yang dikeroyok oleh Kim Bouw Sin sendiri bersama kaki tangannya, mengamuk hebat.

Pedangnya bergerak seperti seekor naga bermain-main di angkasa, lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi segulungan sinar yang menyilaukan mata tertimpa cahaya lampu di ruangan itu dan dalam belasan jurus saja dia telah berhasil merobohkan dua diantara tiga panglima pembantu Kim Bouw Sin yang mengakibatkan seorang tewas dan yang seorang lagi setengah mati karena kaki kanannya buntung dan pundaknya terluka parah.

Gan Bun Beng yang sudah lama sekali, belasan tahun sudah, tidak pernah melukai orang apalagi membunuh, merasa ngeri juga maka dia mengambil keputusan untuk cepat mengakhiri pertempuran itu tanpa terlalu banyak membunuh orang.

Tiba-tiba dari dalam perutnya, melalui kerongkongannya keluar pekik melengking yang luar biasa sekali, sedangkan kedua lengannya didorongkan ke depan.

Menyambarlah angin-angin pukulan yang berhawa dingin, dan semua pengeroyoknya yang berjumlah delapan orang itu roboh semua, sebagian karena sudah lumpuh mendengar pekik melengking itu dan sebagian lagi roboh oleh dorongan angin pukulan yang mengandung hawa dingin luar biasa itu.

Kemudian tubuhnya mencelat ke arah Jenderal Kao yang sedang mengamuk dan dengan beberapa kali menggerakkan tangan dan kakinya, robohlah seorang panglima pembantu dan dua orang yang tadi ditunjuk oleh Jenderal Kao, yaitu dua orang yang pernah mengeroyok jenderal itu di sumur maut.

Jenderal ini kagum dan juga girang sekali, pedangnya mendesak hebat kepada bekas pembantunya dan betapa pun Kim Bouw Sin mempertahankan dengan pedangnya, namun tidak sampai sepuluh jurus dia roboh, pedangnya terlepas dari pegangan dan lehernya sudah dicengkeram oleh jari-jari tangan kiri Jenderal Kao!

Melihat robohnya para panglima itu, sisa para pengeroyok menjadi jerih dan cepat melarikan diri keluar dari ruangan sambil berteriak-teriak minta bantuan.

Dari luar berbondong-bondong masuklah para pengawal dari penjaga yang bersenjata lengkap.

"Gak-taihiap, lekas bawa dua orang itu!"

Bun Beng sendiri bingung menghadapi keadaan yang amat gawat itu.

Kalau semua pasukan datang menyerbu, mereka berdua mana mungkin mampu melawan puluhan ribu orang tentara?

Maka dia tidak banyak bertanya, cepat dia menyambar dua orang yang dirobohkannya tadi, menotok mereka lalu mengempit tubuh mereka, mengikuti Jenderal Kao yang sudah memanggul tubuh Kim Bouw Sin dan meloncat keluar dari ruangan itu melalui jendela.

Terdengar suara anak panah yang banyak sekali mengaung dan berdesir me-nyambar, namun Jenderal kao dapat meruntuhkannya dengan putaran pedangnya sedangkan Bun Beng sudah melesat ke atas dengan cepat sekali, diikuti oleh Jenderal Kao.

"Mari kau ikuti aku!"

Jenderal Kao berkata dan keduanya lalu berloncatan melalui atap rumah-rumah di dalam benteng itu menuju ke menara!

Dengan kecepatan luar biasa keduanya dapat tiba di menara.

Belasan orang penjaga menara ketika melihat bahwa yang muncul adalah Jenderal Kao yang mengempit Panglima Kim Bouw Sin dan seorang pria gagah yang membawa dua orang, menjadi terkejut, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Hai, para penjaga! Aku Jenderal Kao datang untuk membasmi pemberontakan dan pengkhianatan. Hayo kalian lekas bunyikan tanda agar seluruh perajurit berkumpul!"

Dengan suara yang nyaring dan penuh wibawa jenderal itu membentak, lalu menambahkan.

"Ataukah kalian hendak ikut memberontak pula dan ingin kubunuh semua di sini?"

Para penjaga itu menjadi ketakutan, apalagi melihat bahwa panglima mereka telah tidak berdaya.

Dua orang diantara mereka cepat meniup terompet dan memukul tambur tanda berkumpul bagi seluruh penghuni benteng itu.

Sementara itu pagi sudah mulai tiba, biarpun cuaca masih remang-remang, namun tidaklah segelap tadi.

Para perajurit yang sedang tidur lelap itu terbangun dan menjadi kaget sekali, cepat-cepat mereka berpakaian dan berlari-lari menuju ke lapangan terbuka di bawah menara.

Dalam keadaan hiruk-pikuk itu, tentu saja berita tentang penyerbuan dua orang yang menggegerkan itu diterima dalam keadaan bingung dan simpang-siur oleh para perajurit sehingga mereka itu tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi dan menyangka bahwa tanda berkumpul itu tentu ada hubungannya dengan berita kekacauan itu.

Karena sudah terlatih, dalam waktu singkat saja semua perajurit telah berkumpul rapi di lapangan itu, menghadap ke menara dipimpin oleh perwira yang mengepalai pasukan masing-masing.

Dari atas menara, Jenderal Kao melihat bahwa tidak ada seorang pun panglima yang hadir.

Dari atas dia dapat melihat jelas karena para perajurit yang bertugas bagian penerangan telah memasang banyak lampu dan obor untuk menerangi tempat itu.

Padahal Kim Bouw Sin mempunyai lima orang pembantu sebagai panglima-panglima di benteng itu.

Tiga orang di antara yang lima itu ikut mengkhianati pemerintah dan telah dirobohkan, akan tetapi yang dua lagi, Panglima Kwa dan Panglima Coa, tidak nampak hadir.

Apakah yang dua itu pun ikut memberontak dan dalam keadaan berbahaya itu telah melarikan diri?

Setelah semua perajurit telah berkumpul, Jenderal Kao membawa Panglima Kim Bouw Sin yang setengah pingsan itu ke depan menara sehingga tampak oleh semua perajurit karena di bagian depan menara itu telah dipasangi lampu oleh para penjaga yang menjadi bingung sekali melihat betapa panglima mereka ditawan oleh Jenderal Kao yang terkenal galak dan ditakuti juga disegani dan dihormati semua perajurit itu.

Melihat munculnya Jenderal Kao yang memegang tengkuk Panglima Kim Bouw Sin dan memaksa bekas komandan benteng itu berdiri di sampingnya, terkejutlah semua perajurit dan di bawah menjadi bising.

"Semua tenang....!"

Suara Jenderal Kao bergema sampai jauh di bawah menara dan seketika keadaan menjadi hening, tidak ada seorang pun yang berani membuka suara.

Hati jenderal itu menjadi lega menyaksikan ketaatan ini.

Hal ini hanya berarti bahwa belum semua perajurit dipengaruhi oleh rencana pemberontakan Kim Bouw Sin yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong.

Dan dia pun bersyukur sekali bahwa dia menyetujui rencana Gak Bun Beng untuk mengakhiri urusan ini secara menyelundup ke dalam benteng, dibantu oleh pendekar yang sakti itu.

Kalau dia datang bersama sepasukan tentara, tentulah terjadi salah paham dan pasukan benteng itu akan dapat mudah dibujuk untuk melakukan perlawanan.

Akan tetapi sekarang, setelah semua panglima yang memimpin pemberontakan dirobohkan dan ditawan, mereka tidak sempat lagi membujuk dan para perajurit yang kebingungan baru bangun tidur itu tentu saja tidak berniat untuk memberontak karena yang muncul hanyalah seorang saja, yaitu Jenderal Kao Liang yang mereka takuti dan hormati.

Setelah melihat semua perajurit tenang dan suasana menjadi hening, jenderal itu bicara dan suaranya menggema dari atas menara.

"Para perwira dan para perajurit yang gagah perkasa! Diantara kalian tentu ada yang sudah tahu, ada yang dapat menduga dan mungkin ada pula yang belum tahu bahwa Panglima Kim Bouw Sin juga menjadi komandan kalian, yang menjadi pembantuku yang kupercaya, ternyata telah berkhianat dan menyelewengkan kalian ke arah pemberontakan yang amat hina dan rendah!"

Jenderal itu berhenti sebentar dan melihat banyak mata memandang dengan ketakutan. Cepat dia menyambung.

"Kalian tahu apa yang akan menimpa kalian kalau hal itu terlaksana? Kalian akan dibasmi, dihancurkan dan masing-masing akan menerima hukuman berat sekali, dicap sebagai pengkhianat dan pemberontak yang amat rendah sehingga sampai beberapa keturunan nama kalian menjadi busuk, bahkan nama nenek moyang terbawa-bawa ke dalam kehinaan! Untung bahwa aku mengetahui hal itu dan cepat malam ini aku turun tangan menangkap pengkhianat Kim Bouw Sin ini bersama kaki tangannya. Dan aku tahu bahwa kalian tidak berdosa, bahwa kalian hanya terbawa-bawa saja oleh atasan yang menyeleweng, oleh karena itu, kalau kalian mau insyaf dan mulai saat ini tunduk dan setia kepada pemerintah, aku Jenderal Kao Liang akan menanggung bahwa kalian tidak akan dihukum dan tidak dianggap berdosa. Bagaimana pendapat kalian?"

Hening sejenak, keheningan yang amat menegangkan hati Gak Bun Beng karena pendekar ini maklum bahwa kalau sampai jenderal itu gagal menguasai para perajurit ini sehingga mereka memberontak, tentu dia dan Jenderal Kao tidak dapat meloloskan diri lagi dari kepungan puluhan ribu orang perajurit itu!

"Hidup Jenderal Kao....!"

"Basmi pemberontak....!"

Gak Bun Beng bernapas lega dan diam-diam dia kagum sekali atas ketenangan dan kepribadian jenderal itu.

Jenderal Kao mengangkat kedua tangannya dan semua kebisingan yang di bawah berhenti.

"Yang memimpin pemberontakan adalah Kim Bouw Sin dan tiga orang pembantunya, mereka sudah kurobohkan, dibantu pula oleh tenaga-tenaga dari luar benteng. Akan tetapi aku tidak melihat adanya Panglima Kwa dan Panglima Coa, ke manakah kedua orang itu?"

Terdengar jawaban dari bawah, dari mulut seorang perwira.

"Kwa-ciangkun dan Coa-ciangkun telah ditangkap dan ditawan oleh Kim Bouw Sin!"

"Ahh!"

Jenderal Kao Liang berseru.

"Lekas bebaskan mereka dan hadapkan kepadaku!"

Dari bawah terdengar suara menyanggupi dan tampak beberapa orang perwira berlari ke dalam rumah tahanan dan tak lama kemudian mereka datang kembali membawa dua orang laki-laki bertubuh tegap yang pakaiannya kusut dan robek-robek, yang tubuhnya banyak luka-luka bekas cambukan.

Mereka ini berlari ke depan, dan cepat menjatuhkan diri berlutut di bawah menara, menghadap ke arah Jenderal Kao.

"Kwa-ciangkun dan Coa-ciangkun, apa yang terjadi? Mengapa kalian ditangkap oleh Kim Bouw Sin?"

Jenderal Kao bertanya.

"Kami berdua menentang pemberontakannya, tidak mau terbujuk, maka kami ditangkap dan kami disiksa untuk mau membantu, akan tetapi kami berdua lebih baik memilih mati daripada harus memberontak,"

Jawab Kwa-ciangkun.

"Para perwira dan perajurit! Kalian sudah mendengar sendiri. Itulah baru suara seorang perajurit sejati! Maka, untuk sementara waktu ini, aku mengangkat Kwa-ciangkun sebagai komandan benteng ini yang baru dan Coa-ciangkun menjadi wakilnya!"

Kembali terdengar sambutan sorak-sorai, sebagian besar dari para perajurit yang merasa beruntung sekali bahwa mereka yang tadinya terbujuk untuk membantu Kim Bouw Sin, memperoleh pengampunan yang demikian mudahnya.

Baru sekarang mereka melihat kenyataan betapa lemah kedudukan mereka, betapa lemah pemimpin mereka yang mengajak memberontak sehingga dengan munculnya dua orang saja, para pemimpin itu telah dibuat tidak berdaya sama sekali!

Kalau mereka terlanjur memberontak, menghadapi pasukan pemerintah di bawah pimpinan seorang panglima seperti Jenderal Kao, tentu mereka akan dibasmi hancur!

Jenderal Kao lalu menyerahkan pimpinan kepada kedua orang panglimanya yang baru.

Kwa-ciangkun dan Coa-ciangkun lalu menggunakan kesempatan itu untuk memberi "kuliah"

Kepada para perajurit sampai hari menjadi terang, sedangkan Jenderal Kao dan Gak Bun Beng menyerahkan para tawanan itu, Kim Bouw Sin dan dua orang kaki tangannya yang akan diajukan sebagai saksi, kepada para penjaga agar mereka itu ditawan dengan kaki tangan dibelenggu.

Akan tetapi ketika mereka turun dari menara dan memasuki ruangan pertempuran tadi, ternyata tiga orang pembantu panglima yang menjadi kaki tangan Kim Bouw Sin telah tewas semua, membunuh diri!

"Ahhh....

saya yang ceroboh, Panglima!"

Bun Beng berseru menyesal.

"Semestinya mereka itu kutotok lumpuh sebelum kita tinggalkan tadi."

"Tidak mengapa, Taihiap. Mereka pun sudah sepatut-nya mampus, manusia-manusia rendah yang hanya mengejar kesenangan tanpa mempedulikan lagi caranya itu sehingga mereka mau saja diperalat oleh Pangeran Liong untuk memberontak. Yang penting adalah Kim Bouw Sin sebagai tokoh utamanya dan dua orang pembantunya itu sebagai saksi karena mereka berdua ikut mengeroyokku di sumur maut."

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert